P. 1
metodologi ilmu pemerintahan

metodologi ilmu pemerintahan

|Views: 489|Likes:
Published by Siti Ijah

More info:

Published by: Siti Ijah on Jan 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN PENDEKATAN LINTASIDISIPLIN KYBERNOLOGI POLITIK

Sebuah Telaah Awal Taliziduhu Ndraha, Kybernolog Judul di atas tidak berarti ada suatu disiplin bernama Ilmu Pemerintahan dan Politik. Dari sudutpandang Kybernologi, fenomena pemerintahan merupakan bidang kajian bersama bagi semua disiplin ilmu pengetahuan, juga bagi Ilmu Politik, sebagaimana fenomena politik merupakan bidang kajian bersama, yang dipelajari juga oleh Kybernologi. Sejak dekade duapuluhan abad yang lalu di Eropa, dua-duanya setara, berderajat Doktor. Setiap disiplin mempunyai metodologi. Oleh sebab itu, saya menafsirkan judul di atas sebagai penggunaan atau penerapan Metodologi Ilmu Pemerintahan dalam mengamati ruang politik (perpolitikan) dengan segala peristiwa yang berproses di dalamnya. Sebaliknya juga (bisa) dilakukan oleh para ilmuwan Ilmu Politik terhadap fenomena pemerintahan. Sudah barang tentu berbeda halnya jika orang berpendapat bahwa fenomena pemerintahan adalah fenomena politik sehingga apa yang disebut Ilmu Pemerintahan dianggap hanya satu bidang kajian Ilmu Politik seperti sejauh ini terdapat di lingkungan UGM (Laporan Lampung, lihat Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan, 2008). Lima tahun sebelumnya, pendekatan Kybernologi seperti ini telah dilakukan terhadap fenomena pertanian. Pada tgl 10 dan 11 Desember 2003 bertempat di Departemen Pertanian Ragunan Jakarta Selatan berlangsung Lokakarya Penyusunan Evaluasi Kinerja Pembangunan Pertanian. Sesi pertama lokakarya diisi dengan penyajian makalah berjudul Kybernologi Pertanian. Sejumlah pelaku acara, baik penyaji, pembahas, maupun moderator, adalah pembelajar Kybernologi. Laporan lokakarya ini terdapat dalam Bab IV Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (April 2005). Tidaklah mengherankan manakala Disertasi Dr Ir A. H. Rahadian, MSi, dan Dr Ir H. Abdul Samad Melleng, MM, dua di antara sejumlah pembelajar, peserta Program S3 kerjasama IIP-UNPAD dari Departemen Pertanian, disemangati oleh semangat dua hibrida baru Kybernologi Pertanian vs Agro-Pemerintahan. Laporannya ada di Bab IV Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). Ternyata tidak sampai setahun kemudian “kajian Lampung” ini mendorong penggunaan Metodologi Ilmu Pemerintahan terhadap fenomena politik, dan menghasilkan hibrida baru yang kelak dapat diberi nama Kybernologi Politik, sementara hibrida lainnya telah dikenal bernama Politik Pemerintahan telah dilakukan di lingkungan Fakultas Politik Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). (Bab IX Kybernologi Sebuah Metamorphosis, 2008). Dengan penyesuaian sana-sini, tulisan terakhir dikemas di bawah judul seperti di atas. 1

8 Oktober 09. pasti dikejar. ada yang memromosikan partainya.” Nampaknya. . .” Bukan hanya parpol. Atau melancarkan “Surat Buat Semua” (Kompas 5 Agustus 08. Sebuah keluarga kumuh sekali-sekalinya seperti mendadak (padahal sudah direkayasa sebelumnya) dikunjungi seorang selebriti TV biasanya perempuan didampingi seorang kamerawan lelaki yang membawa sebuah bingkisan yang berharga disertai ucapan selamat dan pelukan mesra dari siperempuan.” Atau label “kemanusiaan. menggunakan komunikasi politik dalam bentuk iklan. wuih bau dan joroknya!. mendadak sontak diburu. . menjelang setiap pemilihan umum (pemilu).” agar kampanye “. halaman 11). juga di halaman 8. Mula-mula ia menyapa sini-sana. Sebenarnya metodologi ini sudah lama digunakan oleh sektor bisnis. dan bahwa “bersama kita bisa!” mewujudkannya. memperkenalkan diri siapa dia. YANG DIINGAT APANYA? Sekarang manusia jadi rebutan. maunya supaya bla bla bla. “Amien Rais Beri Nasihat. memikat ratusan ribu pemudik. Bahasa gaulnya taktik tebarpesona. Juga oleh wartawan dan tim konsultan pemilu. mengidentifikasi dirinya dengan simbol-simbol tertentu guna menarik simpati. Apakah dengan memberikan sebingkis hadiah kepada keluarga kumuh itu. mengapa dia dan bukan orang lain. . Itulah yang terbaca tgl 7 Oktober 09 di halaman 8 Kompas. Ada yang memperkenalkan diri sebagai “Generasi Baru. Siasat partai politik (parpol) demikian jualah. kemiskinan berkurang? Andalah yang menjawab. dicari. Parpol lantas menirunya dengan menggunakan label kepedulian kiri kanan. Bahkan penyandang tuna sekalipun. manusia yang sehariharinya dianggap sampah. yang satu dengan semboyan “Berjuang Untuk Rakyat. “Narasi Baru Partai bla bla bla. perseorangan juga yang merasa terpanggil untuk dipilih. Apa pasal? Rupanya ia mempunyai sesuatu yang setara .” seperti yang terbaca --.dalam Kompas. .” bintang tunggal di angkasa dua nol nol sembilan. Foto diri berpakaian rapi dengan senyuman manis. tokoh politik bisa berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat.lagi-lagi --.” sedangkan yang lain dengan semboyan “Hidup adalah Perbuatan. Rupanya jasad yang tinggal kulit pembalut tulang itu semasih bisa nyoblos (nyontreng) atau memberi tanda bahwa ia masih bernyawa.” pembawa “Harapan Baru. Yang penting adalah udang di balik batunya: guna menaikkan rating TV doang. baik nasional maupun lokal (pilkada). Yang sehari-harinya dipandang sampah! Kabarnya menjelang pemilu 2009 KPU telah menyiapkan alat dan cara buat para penyandang tuna dan onggokan sampah ini suatu saat bagi orang lain tahun depan. . dibutuhkan. Terutama marketing. Tentu saja itu bingkisan apa segepok uang diterima bak jatuh dari langit dengan syukur dan cium tangan oleh keluarga yang ketiban. dirayu dan diiming-iming oleh Tim Kampanye atau Tim Sukses yang tersebar di mana-mana. legislatif maupun eksekutif. terlunta-lunta.MANUSIA. memunculkan sisi kemanusiaan. Memperkenalkan diri saja menggunakan berbagai cara.

UUD45. Tidak kurang dari Kementerian Negara Daerah Tertinggal menetapkan lima prinsip pembangunan daerah tertinggal.dengan “Vox Dei. mengapa golput semakin membadai. indah. Semuanya bertepuk tangan. Soeharto menjawab. ibarat sapulidi yang terikat dengan tali di pangkalnya. sementara itu mata manusia selamanya tidak dibutuhkan supaya ia tidak melihat kenyataan lalu pasrah belaka. dan GBHN.” “sesuai dengan adatistiadat dan budaya setempat. sesudah itu kemudian “Vox Populi” hanya dihargai seikatkepala. jumlah orang miskinpun jamin bisa naik bisa turun dalam sekejap. gampang. siapa yang mempersoalkannya? Cacing yang terinjak. atau limasepuluh-ribuan buat nyeterik mentari seharian sembari berteriak “Hidup!!!” dan mendengar slogan-slogan. Sebenarnya. 2 APATAH SALAH IBU MENGANDUNG? Apakah di masa lebih tiga dasawarsa Soeharto berkuasa. bersih. Semuanya lancar sesuai skenario dan arahan sutradara. walau kemiskinan tetap bahkan semakin berkualitas. dan Adrianus Meliala berbicara tentang kejahatan Negara (Kompas 23 November 06). menggeliat lalu mati.” berdialog dengan rakyat. di waktu sesudahnya manusia diingat karena butuh telinganya untuk mendengar kebohongan. Diperhatikan! Masih teringat tiap kali Soeharto “turun kebawah. Rakyat bertanya.” suara Tuhan.” dan “tidak diskriminatif. seragam. sebaju kaosoblong.” Tetapi mengapa. dan dimainkan statistiknya. pak Budi.” “sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Syamsuddin Haris menulis tentang korupsi dan delegitimasi DPR (Kompas 5 Agustus 08). sementara Budiarto Shambazy menyatakan: “Saya janji mau ‘nyoblos’ capres yang punya resep mengurangi jumlah orang miskin?” (Kompas 7 Oktober 08. rakyat mencurahkan uneg-unegnya.” “berwawasan lingkungan. manusia seutuhnya tidak diperhatikan? Itu termasuk ritual Pancasila. dipanggung sandiwara. Jadi ada yang tidak beres! Rupanya bukan SALAH IBU MENGANDUNG (rakyat begitulah adanya) melainkan 3 SALAH BAPA MEMANDANG (MENGGUNAKAN KACAMATA KEKUASAAN) Pemerintah ingin supaya mereka yang-diperintah berperilaku tertib. siapa yang peduli? Anti klimaks memang. Itulah yang terjadi di ruang politik. bila diperintah bergerak serentak. Kenyataan selalu bersifat . Dengan sebuah tandatangan diubah saja tolokukur. Tetapi mengapa Mei sembilan-puluhdelapan rakyat yang sama meng“ impeach”-nya? Sekarangpun begitu. Rupanya pada saat-saat menjelang pemilu seperti sekarang manusia diingat karena butuh suaranya. hehehe). Luarbiasa! Bahwa kendatipun demikian. halaman 15. disatukan oleh kepatuhan dan kesetiaan pada rezim yang berkuasa. Tetapi sabda alam lain. membelalak dibohongi. Soeharto menyimak dengan senyumnya yang memikat. yaitu “berorientasi pada masyarakat. teratur. Itulah sisi rakyat sebagai pelanggan.

demikian sebaliknya. misalnya antara ruang Ilmu Politik dengan ruang Ilmu Pemerintahan. fihak yang satu tidak kompatibel menggunakan norma-normanya untuk mengevaluasi fihak yang lain. Pemerintah tidak eksis tanpa yang-diperintah. di samping hubungan eksistensial. elusdada. tutupmulut. Demikian juga penelitian antar disiplin seperti telah dikemukakan dalam pengantar tulisan ini. kapan saja dan di mana saja. jika sudah melampaui ambang batas kesabarannya. (Riantiarno dalam Semar Gugat. . Dalam kondisi kategorial itu. Misalnya “janji” dalam kampanye. dan jika tidak mempan. timbullah konflik. Jika itu terjadi. yaitu “suatu daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Jadi harus digunakan pendekatan lintasbudaya. Definisi Daerah Tertinggal (DT) menurut Pemerintah. Dalam sejarah. force. sindiran. pria dan wanita. violence. pelanggan) adalah bahasa cacing (diam. coercion. Menurut Teori Budaya. masingmasing memiliki referensi yang berbeda tentang hal yang sama. Di sana dijelaskan bahwa kedua pendekatan itu direkonstruksi berdasarkan Metodologi Kualitatif. kekuasaan (Negara. . Setiap eksistensi terdiri dari dua sisi ini. terang dan gelap. 1995). Menurut fihak yang berkampanye. Hubungan ini merupakan salah satu anggap dasar Teori Governance. Tetapi menurut fihak pelanggan. “janji” adalah “apa yang dijanjikan. Oleh perbedaan budaya itu. sedangkan bahasa subkultur sosial (SKS.” yang dianggap sudah terpenuhi pada saat “janji” itu dipercaya (dibayar).” dan oleh sebab itu ditagih pada suatu saat. dia bisa juga murka tidak alang kepalang dia adalah semar dia badai dan topan itu yang menggeliat karena gencetan yang bergerak karena penindasan yang menggilas karena hinaan yang sanggup mengubah roda zaman rakyat jelata di mana saja. Pemerintah) dan kemasyarakatan adalah dua subkultur yang berbeda yang hadir di dalam setiap masyarakat. Jadi harus digunakan pendekatan lintasdisiplin. Masing-masing ilmu memiliki metodologinya sendiri. Siang dan malam. kiasan. “janji” yang dijualnya kepada pelanggan adalah “janji.jamak dan serbadua. benar dan salah. . “Relatif kurang berkembang dibandingkan . antara keduanya terbentuk perlahan tapi pasti hubungan lain yang bersifat kategorial. Frame-of-reference (FOR) subkultur yang satu tidak sah untuk digunakan buat mengukur dan mengevaluasi subkultur yang lain yang FOR-nya berbeda. Dalam bahasa Teori Governance. jahitmulut. Pendekatan lintasbudaya dan pendekatan lintasdisiplin yang digunakan dalam penelitian antar ruang atau antar disiplin yang berbeda terdapat dalam Bab 36 Kybernologi (2003). bahasa yang digunakan subkultur kekuasaan (SKK) adalah bahasa authority.” sebagai contoh.

maju atau berkembang. dalam hal ini Pemerintah melalui penelitian pesanan oleh konsultan dalam bentuk projek. sumberdaya alam. sedangkan yang di atas rerata. FOR fihak B. dan kebijakan pembangunan. rerata skor sejumlah variabel makro. dan menggunakan FOR peneliti atau fihak yang berkepentingan.dengan daerah lain” dalam “skala nasional” Berdasarkan definisi itu. sarana dan prasarana daerah. terdiri dari berbagai X X1 X2 jembatan Y A1 --------------. beragam. Dengan demikian. Di ruang politik terdapat Pemerintah (A) dengan FORnya sendiri. pengembangan daerah perbatasan. yang diimplementasikan ke dalam lima program. bisa terbentuk fihak ketiga (C). Dengan metodologi itu. pencegahan dan rehabilitasi bencana. yang disoroti dengan menggunakan Metodologi Ilmu Pemerintahan (Gambar 1) oleh yangdiperintah (B). ditetapkanlah tiga kebijakan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT). atau skala nasional. Dengan akal sehat segera dapat diketahui bahwa Pemerintah membuat definisi DT tersebut menurut pendekatan kuantitatif. fihak Yangdiperintah. yaitu “pecahan” . yaitu manusia atau masyarakat “terlihat” seperti yang dikehendaki atau sesuai dengan rancangan Pemerintah. FOR fihak A dapat dianggap seragam. Sementara fihak A dapat dianggap homogen. yaitu kebijakan pemihakan. yaitu pengembangan ekonomi lokal. dengan subkultur (FOR) yang berbeda. kerawanan bencana alam dan konflik sosial. Pemerintah menetapkan 199 kabupaten sebagai Daerah Tertinggal (termasuk 20 kabupaten di perbatasan). yang ditelusuri dalam tulisan ini adalah Metodologi Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) yang digunakan dalam mempelajari fenomena politik. pemberdayaan masyarakat.B1 sudut A sudut B A <----------------------------->B Gambar 1 Triangulasi Antara A Dengan B Guna Menemukan Titiktemu X. Daerah di bawah rerata ditetapkan sebagai tertinggal. Sudut = Sikap sub-FOR. sumberdaya manusia. dan pemberdayaan masyarakat. fihak B yaitu masyarakat. analisis deduktif. 4 METODOLOGI Sesuai dengan judul. Berdasarkan anggapan bahwa ketertinggalan itu disebabkan oleh faktor geografik. Definisi DT akan lain jika Pemerintahan menggunakan Metodologi Kualitatif menurut Metodologi Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). benda itu terlihat hitam. heterogen (beragam). Rupanya SALAH BAPA MEMANDANG (menggunakan kacamata kekuasaan). percepatan. Pendekatan kuantitatif beranjak dari teori. pengembangan sarana dan prasarana. Ibarat seorang yang melihat suatu benda putih dengan kacamata hitam.

Artinya tidak ada kompromi. and thoughts behind the action of others. Menurut Max Weber. cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat. . Misalnya ungkapan Jawa yang diucapkan hari ini Jumat tgl 10. . Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. semakin sulit menemukan titiktemu X. identitasnya tetap orang Melayu. jika besaran sudut (A + B) < 180°. motivation. Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya. Semakin berbeda besaran sudut A ketimbang besaran sudut B. Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. 100% kategorial. Fihak-fihak yang terhubung dengan (berjembatan) suatu pengertian. belief. yaitu titik-titik A1B1.” Jembatan itu bisa dibangun pada setiap titik yang berseberangan pada garis AX1 dan garis BX2. Si Melayu murka karena merasa ditipu mentah-mentah. Titik temu terjadi entah kapan. bukan di lokasi baru): “Mengapa implementasi kebijakan relokasi PKL gagal?” Pertanyaan itu muncul karena .” maka dunia bisa kiamat. lokasi lama. or the like) of an individual actor. . Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy. Satu-satunya jembatan antar(a) berbagai fihak yang FOR-nya berbeda-beda yang dapat dilalui oleh suatu fihak tanpa berubah menjadi seperti yang lain. yang dicari bukan “titiktemu” X melainkan “garistemu” Y yang pada Gambar 1 disebut “jembatan.” demikian Schwandt. Demikian juga sebaliknya. Pengertian dan saling-mengerti. semakin jauh jalan dan jarak yang ditempuh untuk menemukan titiktemu X. Padahal sebenarnya yang dimaksudkan oleh si Jawa adalah “kapan-kapan. Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding). Kondisi itu terjadi. Adakah kemungkin terjadinya “temu” dalam kondisi besaran sudut (A + B) = 180° atau (A + B) > 180°? Jawabannya ialah “ada. entah di mana. Semakin majemuk FOR. berbunyi “. disebut saling-mengerti.” jika oleh orang Melayu “besok” disimak “Sabtu tgl 11. Titik temu itu jadi mustahil manakala besaran sudut (A + B) = 180° atau (A + B) > 180°.fihak B.e. .” Dengan menggunakan FOR pemerintah (FOR politik).” Konflik dapat dihindarkan jika orang Melayu mengerti ungkapan Jawa tersebut tanpa berubah menjadi orang Jawa. semakin berbeda besaran sudut A ketimbang sudut B.” dengan syarat. seorang pejabat atau peneliti politik bertanya (berdasarkan laporan bahwa para PKL kembali mengais di KL semula. motives. manakala salah satu mensakralisasi ideologinya sehingga baginya dua terdiri dari putih dan hitam belaka. besok. intention. . bukan emphaty). adalah pengertian (understanding). “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i.

. .implementor kebijakan adalah pemerintah. A A A turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. . melainkan sebagai manusia yang ingin hidup meski melarat. Sudah barang tentu. Ia menggunakan metodologi kuantitatif jika ia berargumentasi: “Domba yang hilang hanya satu persen. Jawaban teoretik terhadap pertanyaan “Mengapa PKL kembali mengais di lokasi lama?” tentu saja menyentuh si implementor: “Karena kebijakan relokasi PKL tidak diimplementasikan. . ” Jawaban hipotetik ini membangun jembatan yang kokoh antara A1 dengan B1. mudah dirayu dan gampang diajak bertepuktangan. Persoalannya. Seorang gembala yang kehilangan seekor di antara 100 domba peliharaannya dalam perjalanan kembali ke kandang pada suatu saat bisa menggunakan metodologi kuantitatif dan bisa kualitatif. Oleh sebab itu. Sedangkan lapis bawah ke bawah boro-boro menyumbang. PKL jangan dilihat sebagai pelanggar UU/Perda yang harus diusir dan digelandang oleh satuan PPP. sudah cukup baginya. struktursupra dengan strukturinfra. fokus perhatian penelitian berFOR pelanggan bertolak dari pengenalan dan pengertian terhadap PKL. pertanyaan ini yang paling disukai. Jika fokus perhatian penelitian berFOR pemerintah terarah pada implementor kebijakan. . Kybernologi meminjam konstruksi Ilmu Politik yang menggambarkan body-of-knowledge (BOK) dengan model atasbawah (below). karena bisa menyumbang pajak besar. . dengan menempatkan kekuasaan di atas dan rakyat di bawah.” Tetapi ia menggunakan metodologi kualitatif jika ia mengambil keputusan untuk berhenti dan mencari seekor yang hilang sampai dapat. tenaga kurang. Mudah-mudahan melalui penelitian pesanan berbentuk projek dengan konsultan rekanan yang beken dapat ditemukan alasan pembenaran bahwa biaya kurang. perhatian terhadap PKL harus jernih dan cerah. dan dilindungi oleh Pasal 27 (2) dan Pasal 34 UUD1945. Lapis tengah dan lapis atas ke atas biasanya kekasih kesayangan kekuasaan. bahkan menjadi beban bagi struktursupra. Pejabat tidak perlu mengenal dan mengerti kondisi pelanggan. Jembatan antara A1 dengan B1 tidak terbangun. mobil kurang. sehingga ada dasar untuk meminta semakin banyak anggaran. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi . Tetapi seorang pejabat atau peneliti yang menggunakan FOR pelanggan (FOR Kybernologi). Angka-angka. mangkanya sudah barang tentu kecuali menjelang pemilu! Iya nggak?). bagaimana membangun jembatan? Siapa mengempati siapa? Verstehen tentang apa atau siapa yang perlu ditemukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. dan grafik. persentase. bertanya “Mengapa PKL kembali mengais di lokasi lama?” Jawaban terhadap dua macam pertanyaan itu sangat berbeda. dsb. . dan oleh sebab itu dianggap sampah masyarakat (tapi nyontreng atawa nyoblos sih bisa. Rakyat yang di bawah itu berlapislapis. masih ada 99% lagi. . . .

berbuka diri mengamati. ialah Nelson Mandela B B Gambar 2 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik Ini hanya ilustrasi. membangun rapport. dan sebaliknya. Namun kenyataannya. prilaku & perkataan B sebagaimana adanya begitu keluar dari B tanpa dipengaruhi oleh A. definisi kekuasaan pasti lain. Ialah Semar. turun dan turun lagi untuk mengenal. Teori tentang Verstehen terdapat dalam Bab 14 Kybernologi Beberapa Konsturksi Utama. ketimbang kemudahan bagi presiden atau walikota turun. dapat terbentuk di dalam benak seorang peneliti. Makna ilustrasi di atas ialah. Yang penting ialah maknanya. sehingga oleh B ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. maka jika waktu yg digunakan A = utk berbicara 10 menit. empathic understanding yang sejati tentang apa saja.B dgn tulus. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. emik & etik. 10 x 10 = 100 menit. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. dan menyelamatkan manusia terhilang di liang terbawah? Mengapa ALLAH peduli terhadap alam semesta dan Turun melalui FirmanNYA untuk Menyelamatkan bumi renta dan manusia berdosa? Peneliti bisa menggunakan Metodologi Ilmu Pemerintahan berdesain kualitatif seperti Gambar 2. Mengingat B heterogen. kemiskinan. Lakukanlah! 1010081417 0609090652SDG File mip dan politik unila . Jika pejabat atau peneliti menempuh prosedur seperti itu. Tidak dipersoalkan apakah hilangnya si domba karena kesalahannya sendiri. misalnya. naik dan naik lagi untuk memasuki kawasan istana negara atau halaman balaikota untuk menyampaikan isi hatinya. sambil merekam. katakanlah terdiri dari 10 sub-B. 2005. kemungkinan bagi seorang PKL naik ke atas. A melawan arus? Ya. Melalui metodologi itu. mendengar & merekam isyarat. Tetapi percayalah. mengamati & merekam amatannya. memahami. membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. tidak menaati peraturan. memang keduabelah fihak bisa memulai pemasangan jembatan dari fihaknya (B1) ke fihak lain (A1). manakah yang lebih terbuka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->