P. 1
Sinyal-Sinyal Tubuh Fisikis Kita

Sinyal-Sinyal Tubuh Fisikis Kita

|Views: 43|Likes:
Published by Hendra Lisna
disadari atau tidak, kita justru lebih banyak melakukan "intervensi" terhadap tubuh kita, dibandingkan memperlakukannya secara alamiah
disadari atau tidak, kita justru lebih banyak melakukan "intervensi" terhadap tubuh kita, dibandingkan memperlakukannya secara alamiah

More info:

Published by: Hendra Lisna on Jan 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2011

pdf

text

original

"tidak usah memberitahu tubuh kita untuk melakukan ini dan/atau itu, sebaliknya malah, berikan saja

ruang bagi tubuh kita agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya"
Terinspirasi dari buku yang berjudul “The Miracle of Enzyme”, oleh Hiromi Shinya, M.D.

"tidak usah memberitahu tubuh kita untuk melakukan ini dan/atau itu" Tidak usah sok tahu mengupayakan sebuah tindakan intervensi bagi tubuh kita, mengapa? Karena kita tidak tahu secara pasti akan kondisi didalam tubuh kita pada tingkat sel. Namun demikian, kita bisa merasakan bagaimana kondisi tubuh kita sebenarnya apabila kita cukup peka. Maksud kata peka disini adalah, apakah kita dapat merasakan kondisi yang sedang terjadi pada tingkat sel didalam tubuh kita, ketika tubuh kita sudah pada level 50% akan jatuh sakit? Atau 25%? Atau malahan pada saat ada masalah pada level 15%, bahkan pada saat 10% pun kita sudah bisa merasakannya? Yang manakah level kepekaan kita sejauh ini? Gunanya jelas, agar kita memiliki cukup waktu untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Tindakan yang diperlukan??? Apakah yang dimaksudkan disini adalah intervensi??? Sama sekali BUKAN intervensi ! * hal ini akan diuraikan lebih lanjut setelah ini Makanya tidak usah heran apabila kita pun sering mendengar, dari kerabat, tetangga, bahwa si anu didiagnosa mengidap suatu penyakit tertentu, namun sudah pada stadium lanjut. Ketahuilah bahwa tubuh kita ini senantiasa memberikan sinyal. Kuku yang getas, rambut rontok, gatal pada kulit, batuk, bersin, dan masih segudang lagi bentuknya. Itulah sinyalnya, yang artinya didalam tubuh kita sedang terjadi sesuatu, dari yang levelnya ringan hingga level “kelas berat”. Namun demikian, kita juga harus paham akan arti dari sinyal tersebut. Ada beberapa kemungkinan, mengapa terdiagnosanya suatu penyakit pada diri seseorang, seringnya sudah pada kondisi memasuki stadium lanjut (jarang yang pada stadium awal, sehingga masih terbuka lebar kesempatan bagi sebuah kesembuhan): Faktor eksternal: ■ Hal yang paling serius yang merupakan sumber “malapetaka”-nya (biang keroknya, hehe..)
adalah lantaran terkait dengan faktor kejiwaan dari masyarakatnya sendiri (tingkat kesadaran). Yaitu, umumnya, kebanyakan orang lebih mementingkan materi, karier, jabatan atau kedudukan, dan yang sejenisnya. Padahal apalah arti dari semuanya itu, apabila tanpa disertai dengan jiwa dan tubuh yang sehat?! ■ Kebanyakan orang berpendapat, “kan sudah ada dokter, jadi kalau sakit ya dibawa ke dokter aja”. Padahal, pada sisi lainnya, kalangan dokter sendiri mengakui bahwa pada hakekatnya bukan mereka (dokter) yang menyembuhkan penyakit dari pasien-pasiennya (tentang poin ini, kita akan membahasnya pada kesempatan lain). Dan sebagai catatan saja, idealnya seorang dokter adalah mengupayakan sebuah ruang bagi tubuh pasiennya guna melakukan self healing, bukan malah melakukan intervensi. ■ Pembohongan publik oleh iklan-iklan yang tidak bertanggung jawab, meliputi produk makanan dan minuman, hingga produk kesehatan itu sendiri. Semua ini, apalagi kalau bukan lantaran tujuan dari semua bisnis pada umumnya dengan orientasi profitnya itu. ■ Dan masih banyak lagi.

Faktor internal: ■ Karena saking sibuknya akan keseharian (seperti yang diuraikan diatas), maka tidak cukup
kesadaran pada diri kita untuk “handle with care” akan tubuh kita, yang terkait dengan pengembangan wawasan kita terhadap ranah kesehatan fisik, maupun mental (lagian kan sudah ada dokter, hehe..).

■ Sehingga tidak paham akan sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh kita. ■ Atau menganggap sepele akan keluhan-keluhan atau sinyal-sinyal ini, yang kemungkinannya
adalah lantaran ketidak pahaman itu sendiri. Padahal bisa jadi, ini merupakan tanda-tanda dari stadium awal atau malah pra-stadium awal (kita akan membahas tentang sinyal tubuh ini pada kesempatan lainnya). ■ Dan seterusnya, dan sebagainya.

"sebaliknya malah, berikan saja ruang bagi tubuh kita" Jika seseorang terdiagnosa akan adanya kanker pada tubuhnya, maka tindakan medis yang sudah dikenal secara umum adalah terapi kemo atau kemoterapi. Sebenarnya ini adalah bentuk intervensi, walaupun tindakan ini dikategorikan sebagai tindakan medis. Alasannya adalah 8 dari 10 orang yang menjalani kemo, pada akhirnya meninggal dunia (sayangnya, saya tidak memiliki link-nya untuk dihadirkan sebagai rujukan, karena hal ini saya dengar di radio setahun yang lalu). Pada sisi lainnya, yang menolak untuk dikemo, dan menggantinya dengan merubah gaya hidupnya secara total, yaitu dengan back to nature, malahan sembuh dari kankernya (Anda bisa mencari tahu lebih jauh lagi sendiri tentang back to nature ini di internet). Istilah back to nature inilah yang dimaksudkan dengan memberikan ruang bagi tubuh kita, yang mengandung makna memberikan dukungan dengan mengikuti ketentuan dari tubuh kita. Jadi: “kita yang menuruti apa maunya dari tubuh kita, bukan malah sebaliknya” Alasannya adalah: ■ Kita ini bagian dari alam, malahan berasal dari alam! Jadi "memberikan ruang" disini ■ Tubuh kita ini sangat smart, fully automatic mode (auto detect, auto adjust, auto correct, self
healing, dan segala bentuk auto lainnya, hehe..; lah iyalah.., siapa dulu Penciptanya, iya kan?!). mengandung makna "alamiah".

■ Untuk alasan yang lainnya, saya yakin Kawan Pembaca sekalian pasti sudah dapat
membayangkannya, hehe..

Dan, intervensi yang dimaksudkan disini bukan hanya meliputi tindakan medis saja (cerita diatas hanya mewakili belaka). Lebih jauhnya adalah tentang bagaimana kebiasaan atau life syle kita terkait dengan apa yang diasup dalam keseharian kita. Hal inilah yang justru harus mendapatkan perhatian kita. Mengapa? Ya lantaran dari sifat akumulasinya. Karena penyakit itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari sebuah akumulasi, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, akhirnya tahun demi tahun. Inilah yang tidak disadari, karena kita beranggapan bahwa semuanya ini sudah merupakan suatu kebiasaan (bisa juga dikatakan sudah merupakan sebuah paradigma di alam bawah sadar kita). Pertanyaannya sekarang adalah, merupakan sebuah kebiasaan yang bisa dikategorikan relatif benar, atau malah kebalikannya? Pernahkah kita mencari konfirmasinya? Eh, sekali lagi, ini untuk kebaikan tubuh kita, Kawan! Tidak usah 99% benar, lah (terlalu sesumbar, agak mustahil terdengarnya apabila dikaitkan dengan situasi saat ini), katakanlah 85%, atau 75% benar saja, sepertinya sudah relatif cukup baik. Banyak sekali hal yang berkembang di masyarakat kita saat ini yang bisa dikategorikan kedalam istilah intervensi (terkait dengan kebiasaan makan & minum kita). Ini bisa meliputi: ■ Aneka program diet yang berkaitan dengan pelangsingan tubuh, dimana harga pelayanan atau
paketnya pun tidak bisa dikatakan murah, & no guarantee.

■ Aneka produk untuk melancarkan buang air besar (BAB) yang dijual bebas di pasaran, dari yang ■ Aneka produk untuk nge-boost stamina atau konsentrasi. ■ Obat-obatan untuk flu, batuk dan pilek.
harganya relatif tidak mahal hingga yang kelas menengah-atas.

■ Orang-orang yang dengan latahnya menjalani program diet atau kebiasaan seputar Vegetarian. ■ Dan banyak lagi. “Lah, kan semua produk itu sudah ada ijinnya?!” Hehe.., yang bilang produk-produk tersebut tidak ada ijinnya, siapa?! Ya, memang akan lebih parah lagi kalau ternyata tidak memiliki ijin edar (alias gelap)! Lantas, apa hal utama keberatan disini? Karena ada pokok-pokok yang dilanggar dari poin-poin yang telah diuraikan diatas, misalnya: ■ Menyalahi prinsip auto adjust. Ambil contoh saja mengenai produk untuk pelangsingan tubuh.
Padahal tubuh kita itu auto adjust. Bukannya mendukungnya, malahan merecokinya dengan intervensi. Apa arti auto adjust disini? Artinya, tubuh kita ini akan meng-adjust atau mengatur sendiri berapa berat badan ideal terkait dengan tinggi badan, usia, jenis kelamin kita, dan sebagainya. Asalkan saja kita paham apa yang tubuh kita butuhkan. Koq bisa? Lah, kan semuanya sudah tercetak dari “sono”nya (ada di DNA kita masing-masing). Jadinya, apabila kita mengambil program tersebut diatas (lantaran tidak paham) malah buang-buang duit, kan?! ■ Contoh lagi, misalnya mengenai produk untuk memperlancar BAB. Apabila produk ini dikonsumsi secara jangka panjang, maka tanpa disadari kita telah “menyunat” daya auto regulate dari tubuh kita, sehingga yang selanjutnya terjadi malahan lahirlah ketergantungan dari tubuh kita terhadap produk tersebut. Akhirnya, sebuah pemborosan juga, kan?! ■ Program Vegetarian itu baik, namun, apakah kita yang menjalaninya ini sudah memiliki dasar pengetahuan yang cukup tentang keseimbangan gizi? Yang dikuatirkan adalah, ujung-ujungnya bukannya sehat, malah terjadi mal-nutrisi. ■ Dan sebagainya.

Jadi, kalau terkait dengan apa yang kita makan & minum, sebenarnya perbanyak saja asupan terhadap makanan & minuman yang sifatnya alamiah atau yang langsung berasal dari alam (bukan yang sudah melalui proses pengolahan lebih lanjut melalui tangan manusia). Mengapa? Ya, yang namanya bisnis, ya profit-lah orientasinya, bukan kesehatan konsumennya (pada umumnya begitu), iya kan?!

"agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya" Artinya adalah sebagaimana "yang dari sono-nya", yang erat kaitannya dengan istilah segala jenis “auto” dan "alamiah" tersebut diatas. Mungkin Kawan Pembaca sekalian agak sedikit bingung, mengapa kesannya kita lebih banyak mengulas dengan menggunakan metode pendekatan big picture? Justru ini maksudnya, seperti terbaca diatas, dibawah judulnya, sebuah pengantar, memang dimaksudkan hanya sebagai sebuah pemicu saja, agar setelah ini kita semua diharapkan bergerak untuk mencarinya sendiri-sendiri (sumbernya sendiri banyak terdapat di internet saat ini, namun kita harus cukup kritis dan bijak didalam menyingkapi informasi yang disajikan), lantaran kebutuhan kita masing-masing pun tidak sama.

penutup Saya sendiri (penulis) dulunya juga merupakan “korban” dari berbagai iklan yang ada. Tubuh saya ini dulunya adalah “gudang”nya obat. Ditambah lagi “langganan” sakit tenggorokan sekitar 2-3 bulan sekali. Merupakan sebuah prestasi bagi saya dikala itu, apabila dalam kurun waktu 6 bulan saya tidak jatuh sakit (terkena flu atau sakit tenggorokan), hehe..

Kemudian, dengan bermodalkan kesadaran dan tekad, saya berusaha merubah total kebiasaan yang sudah “berkarat” selama sekian puluh tahun itu, yang terkait dengan makanan dan minuman didalam keseharian saya (sebaiknya jangan instan, karena bisa jadi malah akan membebani tubuh kita). Setahap demi setahap, dan hasilnya baru dapat saya rasakan secara nyata setelah melewati tahun ke-3 (memasuki awal tahun ke-4). Koq, lama? Iyalah, kan “berkarat”-nya sudah sekian puluh tahun, hehe.. Memang disaat awal perjalanannya hampir putus asa juga, akibat sudah ter-”brain washed” oleh iklan-iklan yang ada, yang memberitahu kita hanya butuh waktu 6 bulan saja, bahkan katanya cukup hanya dengan 3 bulan. Padahal, kalau dari pengalaman saya, setelah melampaui waktu 1 tahun pun belum terlihat sebuah perubahan. Begitupun setelah melampaui tahun ke-2. Perubahan awal baru terasa setelah melewati 2,5 tahun (artinya ini sudah didalam tahun ke-3). Dan perubahan yang nyata baru terasa setelah memasuki awal tahun ke-4. Apa hal konkrit yang dirasakan? Karena tubuh kita ini sifatnya adalah sistemik, maka otomatis akan mengalami improvement secara keseluruhan, seperti: ■ Tubuh terasa lebih bugar dan bertahan cukup lama dalam aktivitas keseharian (tidak cepat
“low-bat”, hehe..).

■ Membaiknya daya kerja otak (lebih konsenterasi, presisi dan kritis). ■ Mood pun menjadi lebih stabil, sehingga membuahkan sebuah kejiwaan yang cukup jernih
didalam menyingkapi sebuah kejadian/ peristiwa/ tantangan, dan sebagainya (mungkin inilah hal yang harus diberi garis bawah; ya, sudah diberi garis bawah, hehe..).

Sekarang ini, puji syukur kepada Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang, tubuh saya ini sudah berganti menjadi “gudang” jus (antioksidan), dan tidak “langganan” sakit tenggorokan lagi, hehe.. Demikian Kawan Pembaca sekalian, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, dan berharap kiranya kita akan bertemu lagi pada pembahasan yang lainnya, terima kasih.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->