P. 1
Kendala-Kendala Yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang Dalam Malaksanakan Pengelolaan Kelas

Kendala-Kendala Yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang Dalam Malaksanakan Pengelolaan Kelas

|Views: 1,002|Likes:
Published by adee13
Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Malaksanakan Pengelolaan Kelas
Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Malaksanakan Pengelolaan Kelas

More info:

Published by: adee13 on Jan 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI MAHASISWA PRAKTIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS

TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DALAM MELAKSANAKAN PENGELOLAAN KELAS DI SEKOLAH-SEKOLAH LATIHAN TAHUN 2004

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Wigiarto NIM 5114000037

Pendidikan Teknik Bangunan JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

i

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Selasa : 26 Juli 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Lashari, M.T.
NIP. 131471402

Drs. Supriyono
NIP. 131571560

Pembimbing Pembimbing I

Penguji Penguji I

Drs. Supriyono
NIP. 131571560

Drs. Supriyono
NIP. 131571560

Pembimbing II

Penguji II

Drs. Sumiyadi, M.T.
NIP. 131287400

Drs. Sumiyadi, M.T.
NIP. 131287400

Penguji III

Drs. Harijadi GBW, M.Pd.
NIP. 131404318

Mengetahui, Dekan Fakultas Teknik

Prof. Dr. Soesanto, M.Pd.
NIP. 130875753

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO “Berani Hidup, Berani Mati”

PERSEMBAHAN untuk ibu bapakku tercinta, untuk keluarga dan saudara-saudaraku tercinta, untuk (Alm.) kakek nenekku tercinta, untuk sahabatku Imam dan Badru, untuk keluarga besar kos Tut Wuri Handayani , untuk rekan-rekan mahasiswa PTB.

iii

SARI Wigiarto. 2005. Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Malaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latiahan Tahun 2004. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Supriyono, Pembimbing II: Drs. Sumiyadi. Kata kunci: Kendala-Kendala, Mahasiswa Praktikan, Pengelolaan Kelas. Peningkatan kualitas Praktik Pengalaman Lapangan merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Berkaitan dengan hal itu, agar PPL berkualitas maka diperlukan adanya perbaikan-perbaikan dan pembinaan-pembinaan seperlunya sesuai masalah di lapangan, salah satunya mengenai kemampuan dalam mengelola kelas. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah kendala-kendala apa yang dihadapi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kendala-kendala apa yang dihadapi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004.Dalam penelitian ini subyek yang menjadi populasi adalah semua mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES Semarang, yang telah melaksanakan atau menempuh Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada tahun 2004, yaitu sebanyak 76 orang. Teknik yang digunakan dalam pengambilan data pada penelitian ini adalah teknik kuesioner (angket) dan teknik dokomentasi. Analisa data yang digunakan adalah analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pelaksanaan pengelolaan kelas dari mahasiswa dalam kriteria cukup menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 67.42%. Sikap siswa di dalam kelas kelas dalam kriteria cukup menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 60.48%. Fasilitas keadaan ruang kelas dalam kriteria menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 55.68%. Fasilitas bukubuku pelajaran dalam kriteria cukup menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 65.15%. Fasilitas media pengajaran dalam kriteria cukup menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 63.92%. Bimbingan dan bantuan guru pamong dalam kriteria cukup menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 65.91%. Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing dalam kriteria menjadi kendala dengan tingkat persentase sebesar 47.73%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan adalah Mahasiswa praktikan hendaknya lebih siap dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar baik dari segi materi maupun metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta kondisi kelas yang optimal. Dalam rangka meningkatkan sikap positif siswa terhadap mahasiswa praktikan, hendaknya mahasiswa praktikan berusaha meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan siswa melalui sistem pengajaran yang efektif Bagi pihak-pihak sekolah latihan hendaklah mengusahakan menambah atau menyempurnakan berbagai fasilitas yang dimiliki, baik mengenai

iv

fasilitas keadaan ruang kelas, buku-buku pelajaran, maupun media pengajaran sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar yang efektif. Bagi guru pamong dalam membimbing mahasiswa praktikan hendaknya lebih intensif dalam proses bimbingan terutama dalam hal pengelolaan kelas. Bagi dosen pembimbing hendaknya dalam proses bimbingan juga lebih intensif dan peka terhadap permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa praktikan terutama apabila ada masalah yang harus dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Penelitian ini masih terbatas pada deskriptif kendala-kendala dalam pelaksanaan pengelolaan kelas, oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut lagi pada masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa praktikan dalam melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, pencipta seluruh alam semesta, karena dengan segala karunia-Nya skripsi ini telah selesai disusun. Dalam penyusunan skripsi yang berjudul Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan

Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan banyak terima kasih kepada : 1. Dr. Ari Tri Soegito, S.H, M.M. Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Prof. Dr. Soesanto, M.Pd. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Supriyo, M.Pd. Kepala UPT PPL Universitas Negeri Semarang. 4. Drs. Lashari, M.T. Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. 5. Drs. Supriyono. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan dan petunjuk sehingga tersusunnya skripsi ini. 6. Drs. Sumiyadi, M.T. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan petunjuk sehingga tersusunnya skripsi ini. 7. Drs. Harijadi GBW, M.Pd. Dosen Penguji. Penyusunan skripsi ini masih jauh dari sepurna dan masih banyak

kekurangan pada isi maupun tata tulisnya, oleh karena itu pada kesempatan ini pula penulis minta maaf yang sebesar-besarnya. Saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan agar tercipta karya tulis sejenis yang lebih baik.

vi

Penulis

berharap

mudah-mudahan

hasil

dalam

penelitian

ini

dapat

memberikan sumbangan yang berarti dan berguna bagi perkembangan pendidikan pada umumnya dan peningkatan kualitas pelaksanaan PPL pada khususnya.

Semarang,

Juli 2005

Penulis

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN ..............................................................................

i ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................ iii SARI.................................................................................................................... iv KATA PENGANTAR.......................................................................................... vi DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii DAFTAR TABEL................................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1.2 Permasalahan ...................................................................................... 1.3 Penegasan Istilah................................................................................. 1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................ 1.5 Manfaat Penelitian .............................................................................. 1.6 Sitematika Skripsi ............................................................................... BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengelolaan Kelas ............................................................................... 2.1.1 Pengertian Pengelolaan............................................................... 2.1.2 Pengertian Kelas ........................................................................ 9 9 9 1 3 4 7 7 7

2.1.3 Pengertian Pengelolaan Kelas ..................................................... 10 2.2 Fungsi Guru dalam Pengelolaan Kelas................................................. 12 2.3 Kepribadian Guru dalam Pengelolaan Kelas......................................... 13

viii

2.4 Disiplin Kelas...................................................................................... 13 2.5 Kondisi dan Situasi Proses Belajar Mengajar ....................................... 14 2.5.1 Kondisi Emosional ..................................................................... 15 2.5.2 Kondisi Fisik .............................................................................. 20 2.6 Media/sumber Pengajaran ................................................................... 21 2.7 Praktik Pengalaman Lapangan............................................................. 23 2.7.1 Pengertian Praktik Pengalaman Lapangan................................... 23 2.7.2 Tujuan Praktik Pengalaman Lapangan ........................................ 24 2.7.3 Fungsi Praktik Pengalaman Lapangan......................................... 24 2.7.4 Sasaran Praktik Pengalaman Lapangan ....................................... 24 2.7.5 Status Praktik Pengalaman Lapangan ......................................... 25 2.8 Kerangka Berpikir............................................................................... 25 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi............................................................................................ 28 3.2 Sampel.............................................................................................. 29 3.3 Variabel Penelitian ............................................................................ 30 3.4 Rancangan Penelitian ........................................................................ 31 3.5 Teknik Pengambilan Data.................................................................. 32 3.5.1 Metode Dokumentasi ............................................................... 33 3.5.2 Metode Angket ........................................................................ 33 3.6 Prosedur Penelitian ........................................................................... 34 3.6.1 Persiapan Penelitian.................................................................. 34 3.6.2 Proses Penelitian ...................................................................... 35

ix

3.6.3 Tahap Akhir Penelitian ............................................................. 38 3.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi Penelitian..................................... 39 3.8 Analisis Data..................................................................................... 39 3.8.1 Editing ..................................................................................... 40 3.8.2 Skoring .................................................................................... 40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ................................................................................. 43 4.1.1 Variabel Mahasiswa ................................................................. 44 4.1.2 Variabel Siswa ......................................................................... 48 4.1.3 Variabel Fasilitas ...................................................................... 51 4.1.4 Variabel Pembimbing................................................................ 59 4.2 Pembahasan Penelitian ...................................................................... 67 4.2.1 Pelaksanaan Pengelolaan Kelas................................................. 68 4.2.2 Sikap Siswa di Dalam Kelas ..................................................... 70 4.2.3 Fasilitas di Sekolah Latihan ...................................................... 71 4.2.4 Bimbingan di Sekolah Latihan .................................................. 73 4.2.5 Faktor Dominan ....................................................................... 76 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan........................................................................................... 77 5.2 Saran ................................................................................................ 78 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 80 LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................... 82

x

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Deskriptif Faktor Pelaksanaan Pengelolaan Kelas ................................. 44 Tabel 4.2. Indikator Kelancaran Praktikan dalam Menyampaikan Materi Pelajaran 45 Tabel 4.3. Indikator Tipe kepemimpinan yang Praktikan Terapkan dalam Pelaksanaan PBM ................................................................................. 46 Tabel 4.4. Indikator Tindakan yang Diambil Praktikan dalam Mengatasi Siswa yang Mengganggu Kelas.............................................................................. 47 Tabel 4.5. Indikator Usaha Praktikan dalam Menciptakan Suasana Humor............ 47 Tabel 4.6. Deskriptif Faktor Sikap Siswa Di Dalam Kelas..................................... 48 Tabel 4.7. Indikator Sikap Siswa Di Sekolah Latihan Apabila Diberi Kesempatan untuk Bertanya.................................................................................... 49 Tabel 4.8. Indikator Perhatian Siswa Di Sekolah Latihan Terhadap Praktikan dalam Melaksanakan KBM............................................................................ 50 Tabel 4.9. Indikator Siswa yang Membuat Gaduh di Dalam Kelas atau Mengganggu Siswa Lain ......................................................................................... 51 Tabel 4.10. Deskriptif Faktor Keadaan Ruang kelas.............................................. 51 Tabel 4.11. Indikator Pencahayaan Ruang Kelas dalam Menunjang Pelaksanaan PBM ................................................................................................. 52 Tabel 4.12. Indikator Kemampuan Praktikan dalam Memperhatikan Setiap Individu (Siswa) dalam KBM.......................................................................... 53 Tabel 4.13. Deskriptif Faktor Buku-buku Pelajaran .............................................. 54 Tabel 4.14. Indikator Buku Paket yang Disediakan Sekolah untuk Siswa.............. 55

xi

Tabel 4.15. Indikator Penggunaan Sumber atau Literatur Lain Selain Buku Paket dalam PBM ...................................................................................... 55 Tabel 4.16. Deskriptif Faktor Media Pengajaran ................................................... 56 Tabel 4.17. Indikator Kesulitan Praktikan dalam Mendapatkan Media Pengajaran. 57 Tabel 4.18. Indikator Penyediaan Media Pengajaran oleh Sekolah dalam Menunjang Pelaksanaan PBM .............................................................................. 58 Tabel 4.19. Indikator Penggunaan Media Lain Selain Papan Tulis......................... 58 Tabel 4.20. Indikator Manfaat Media Pengajaran dalam Memperlancar Komunikasi antara Praktikan dengan Siswa dalam Pelaksanaan PBM.................... 59 Tabel 4.21. Deskriptif Faktor Bimbingan dan Bantuan Guru Pamong.................... 60 Tabel 4.22. Indikator Kesempatan Observasi Pelaksanaan KBM yang Diberikan Guru Pamong pada Praktikan............................................................ 61 Tabel 4..23. Indikator Bantuan Guru Pamong kepada Praktikan dalam Menghadapi Siswa yang Mengganggu PBM......................................................... 61 Tabel 4.24. Indikator Bimbingan yang Dilaksanakan Guru Pamong pada Praktikan ......................................................................................................... 62 Tabel 4..25. Indikator Saran Khusus Guru Pamong pada Praktikan dalam Menghadapi Problem Siswa yang Mengganggu di Kelas .................. 63 Tabel 4.26. Indikator Konsultasi dengan Guru Pamong yang Praktikan Laksanakan ........................................................................................................ 63 Tabel 4.27. Indikator Jumlah Partisipasi Mengajar yang Ditunggu Guru Pamong .. 64 Tabel 4.28. Deskriptif Faktor Bimbingan dan Bantuan Dosen Pembimbing ........... 64

xii

Tabel 4.29. Indikator Bimbingan yang Dilakukan Dosen Pembimbing Setelah Praktikan Berpartisipasi Mengajar ..................................................... 65 Tabel 4.30. Indikator Saran Khusus yang Diberikan Dosen Pembimbing kepada Praktikan dalam Menghadapi Problem Siswa..................................... 66 Tabel 4.31. Indikator Jumlah Konsultasi Praktikan dengan Dosen Pembimbing..... 67 Tabel 4.32. Indikator Jumlah Partisipasi Mengajar yang Ditunggu Dosen Pembimbing ...................................................................................... 67

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Mahasiswa PPL Tahun 2004 .................................................. 83 Lampiran 2. Kisi-kisi Angket ................................................................................ 86 Lampiran 3. Lembar Pengantar Kuesioner Penelitian ............................................ 88 Lampiran 4. Kuesioner (Angket) Penelitian........................................................... 89 Lampiran 5. Hasil Ujicoba Instrument................................................................... 97 Lampiran 6. Perhitungan Validitas Angket............................................................ 98 Lampiran 7. Perhitungan Reliabilitas Angket......................................................... 105 Lampiran 8. Penentuan Kriteria pada Analisis Deskriptif Persentase...................... 107 Lampiran 9. Distribusi Jawaban Responden .......................................................... 114 Lampiran 10 Hasil Penelitian. ............................................................................... 115 Lampiran 11. Harga Interpretasi Nilai r ................................................................ 117 Lampiran 12. Harga Kritik dari r Product Moment ............................................... 118 Lampiran 13. Surat Penetapan Dosen Pembimbing ............................................... 119 Lampiran 14. . Surat Permohonan Ijin Penelitian................................................... 120

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam semester-semester sebelumnya, sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan agar mereka memperoleh pengalaman dan ketrampilan lapangan dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekolah atau di tempat latihan lainnya. Tugas-tugas yang harus dilaksanakan mahasiswa praktikan dalam

melaksanakan PPL harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, karena kesiapan calon pendidik dapat dilihat dari tingkat keberhasilan mahasiswa dalam melaksanakan PPL. Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan meliputi : praktik mengajar, praktik administrasi, praktik bimbingan dan konseling serta kegiatan yang bersifat kokurikuler dan/atau ekstra kurikuler yang berlaku di sekolah/tempat latihan (UPT PPL 2004:3). Masalah pokok yang dihadapi guru baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah kemampuan dalam mengelola kelas. Aspek pengajaran yang paling sering didiskusikan oleh pakar pendidikan dan para pengajar adalah mengelola kelas. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku kompleks dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga siswa

2

dapat mencapai tuntutan pengajaran secara efektif dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama bagi guru yang paling sulit adalah mengelola kelas. Oleh karena itu, mahasiswa praktikan sebagai calon guru dituntut harus dapat menguasai pengelolaan kelas dalam proses belajar mengajar yang efektif. Mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengajaran terutama dalam mengelola kelas di sekolah latihan masih mendapat beberapa kendala karena masih kurangnya pengalaman di lapangan dan persiapan sebelum melaksanakan praktik mengajar Hal ini dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Banguinan yang telah melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan di sekolah latihan. Walaupun pada kenyataannya mahasiswa sudah dibekali dengan berbagai persiapan dini sebelum melaksanakan praktik baik materi maupun kesiapan lainnya, praktikan masih juga mendapat kendala-kendala dalam mengelola kelas sehingga pengalaman yang didapatkan dalam praktik mengajar tidak dapat diperoleh secara maksimal. Peningkatan kualitas Praktik Pengalaman Lapangan merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Berkaitan dengan hal itu, agar PPL berkualitas maka diperlukan adanya perbaikan-perbaikan dan pembinaan-pembinaan seperlunya sesuai masalah lapangan, salah satunya mengenai kemampuan mengelola kelas. Untuk itulah masalah tersebut sangat penting untuk diteliti sebagai usaha membantu mencari jalan keluar memecahkan masalah yang ada.

3

Penelitian mengenai pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan yang telah dilakukan masih belum dapat menjawab permasalahan pokok yang sebenarnya dihadapi oleh mahasiswa praktikan yaitu dalam mengelola kelas. Hal ini disebabkan pembatasan masalah yang terlalu luas sehingga tidak dapat mengungkap masalah pokok yang menjadi tujuan penelitian tersebut. Untuk itulah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi mahasiswa praktikan dalam mengelola kelas dengan pembatasan masalah yang cukup representatif. Berdasarkan asumsi dan pandangan tersebut di atas serta rencana populasi ini, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian. Penulis mengambil judul “Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004."

1.2 PERMASALAHAN Permasalahan yang peneliti ajukan adalah; Kendala-kendala apa yang dihadapi mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 ?

4

1.3 PENEGASAN ISTILAH Istilah-istilah yang dipakai dalam penelitian yang berjudul ” Kendala-kendala yang dihadapi mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004”, adalah sebagai berikut: a. Kendala-kendala artinya halangan-halangan atau rintangan-rintangan

(Poerwodarminta 1984:474). Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah halangan-halangan atau rintanganrintangan yang dihadapi mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 pada saat melaksanakan PPL. b. Mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang melaksanakan atau telah menempuh PPL tahun 2004. c. Melaksanakan yaitu mengerjakan, melakukan, menjalankan (rancangan),

mempraktikan (teori), menyampaikan harapan atau cita-cita (Poerwodarminta 1984:553). Jadi melaksanakan adalah mengerjakan sesuatu perbuatan sengaja yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berhubungan. Yang dimaksud dalam

5

penelitian ini adalah mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang mengerjakan, melakukan, menjalankan, mempraktikan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004. d. Pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap personel untuk melakukan kegiatan kreatif yang terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas (Nawawi, 1986: 2). Dalam penelitian ini adalah pengelolaan kelas yang dilaksanakan oleh mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang di sekolah-sekolah latihan tahun 2004. e. Sekolah-sekolah latihan yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang merupakan lembaga pendidikan sekolah menengah kejuruan yang dipakai mahasiswa praktikan program studi Pendidikan Teknik Bangunan dalam melaksanakan kegiatan PPL. f. Universitas Negeri Semarang adalah lembaga pendidikan tinggi yang salah satu misi utamanya menyiapkan tenaga terdidik untuk siap bertugas dalam bidang pendidikan, baik sebagai guru maupun tenaga kependidikan lainnya yang tugasnya bukan sebagai tenaga pengajar (UPT PPL 2004:ii). Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan KendalaKendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik

6

Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 pada penelitian tersebut adalah halangan-halangan atau rintangan-rintangan yang dihadapi mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang melaksanakan atau telah menempuh PPL tahun 2004 dalam mengerjakan, melakukan, menjalankan, mempraktikan pengelolaan kelas di Sekolah Menengah Kejuruan yang digunakan sebagai sekolah latihan. Untuk mempermudah proses penelitian ini, maka masalah yang ada dibatasi mengenai Pengelolaan kelas yaitu kepemimpinan atau ketatalaksanaan guru atau guru praktikan dalam mengurus kelasnya. Hal ini mencakup kegiatan-kegiatan

menciptakan dan memelihara kondisi-kondisi yang optimal bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Aspek-aspek pengelolaan kelas yang dimaksud di sini adalah dikuasainya situasi mengajar yang baik, sehingga dapat dikuasainya situasi belajar mengajar yang lebih baik, memperhatikan suasana kelas sehingga jalannya pelajaran tidak terganggu dengan cara menjaga ketertiban dan disiplin siswa, menciptakan suasana emosional yang lebih baik, dengan menunjukkan sikap dan perhatian kelas dan anak, pada umumnya belum dilaksanakan mahasiswa dengan baik (Purnomo 1988/1989:40). Dalam pengelolaan kelas ini memperhatikan faktor mahasiswa praktikan, siswa, fasilitas dan pembimbing dalam lingkup proses kegiatan belajar mengajar di kelas.

7

1.4 TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui kendala-kendala apa yang dihadapi mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolahsekolah latihan tahun 2004.

1.5 MANFAAT PENELITIAN Secara akademik hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai: a. Bahan pertimbangan bagi guru dan calon guru, agar selalu berusaha meningkatkan kemampuan profesionalnya terutama mengenai kemampuan mengelola kelas, sehingga akan memperlancar pelaksanaan tugasnya. b. Bahan pertimbangan bagi guru pamong maupun dosen pembimbing PPL dalam rangka melaksanakan tugasnya melakukan bimbingan PPL secara efektif dan berkualitas.

1.6 SISTEMATIKA SKRIPSI Sistematika dalam skripsi ini adalah sebagai berikut: Bagian pengantar skripsi, meliputi: halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, sari, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran, serta isi skripsi yang terdiri dari lima bab yaitu: Bab I Pendahuluan , yang berisi tentang latar belakang, permasalahan, penegasan istilah/batasan masalah , tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

8

Bab II Landasan Teori, yang terdiri dari kajian pustaka yang merupakan dasar penting bagi penulisan dalam menerapkan teori-teori yang digunakan untuk menyusun skripsi sehingga penelitian yang dilakukan mempunyai landasan yang kuat. Sumber landasan teori adalah buku-buku referensi, kamus, maupun hasil penelitian yang relevan. Pada intinya landasan teori dalam penelitian ini membicarakan tentang pengelolaan kelas, yaitu meliputi pengelolaan kelas, fungsi guru dalam pengelolaan kelas, kepribadian guru dalam pengelolaan kelas, disiplin kelas, kondisi dan situasi belajar mengajar, media/sumber pengajaran, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Bab III Metode Penelitian, yang berisi tentang penjelasan mengenai metode yang akan diterapkan dalam penelitian, yang terdiri dari populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, rancangan penelitian, teknik pengambilan data, prosedur penelitian, dan analisa data. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, yang berisi tentang hasil perhitungan data dan pembahasan tentang hasil penelitian. Bab V Penutup, yang terdiri dari simpulan dan saran. Yang berisi tentang simpulan dari hasil penelitian dan saran-saran penelitian yang terkait dengan hasil penelitian. Selain itu juga disertakan daftar pustaka pada bagian akhir skripsi dan lampiran-lampiran yang mendukung pembahasan skripsi.

9

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengelolaan Kelas

2.1.1 Pengertian Pengelolaan Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata management. Istilah Inggris tersebut lalu dibahasa Indonesiakan menjadi manajemen atau menejemen.

Pengelolaan berarti penyelenggaraan (Poerwodarminta 1984:412). Pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar segala sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien (Soekarno 1996:81). Jadi pengelolaan dapat pula diartikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatankegiatan orang lain.

2.1.2 Pengertian Kelas Kelas dalam arti tradisional, menunjukkan suatu ruang (dibatasi empat dinding) atau tempat siswa belajar. Tiap bangunan sekolah dibagi atas ruanganruangan kelas yang sekaligus menunjukkan urutan tingkatannya. Kelas dalam arti luas dapat diartikan sebagai kegiatan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa-siswa dalam suatu ruangan untuk suatu tingkat tertentu pada waktu atau jam tertentu (Ametembun 1981:2). Kelas dapat pula diartikan sebagai ruangan di sekolah yang digunakan untuk interaksi belajar mengajar antara siswa dengan guru (Nurbahri 1986:2).

10

Dalam dikdaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Dari batasan pengertian tersebut, maka ada persyaratan untuk menjadikan kelas. Syaratnya yaitu adanya sekelompok siswa pada waktu yang sama bersamasama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama, yang dimaksud disini adalah kelas dengan sistem pengajaran klasikal dalam pelaksanaan pengajaran secara tradisional (Suharsimi 1992:17-18). Kelas adalah suatu kelompok siswa yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari seorang guru. Sebagai suatu kelompok sosial kelas pada hakekatnya adalah suatu unit sosial yang bersama-sama memiliki tujuan dan terbentuk secara formal yang berada di bawah satu pimpinan, yaitu guru.

2.1.3 Pengertian Pengelolaan Kelas Pengelolaan kelas yaitu kepemimpinan atau ketatalaksanaan guru dalam menyelenggarakan kelasnya. Hal ini mencakup kegiatan-kegiatan menciptakan dan memelihara kondisi-kondisi yang optimal bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Pengelolaan yang efektif merupakan persyaratan mutlak bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif (Ametembun 1981:3). Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru/wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tesedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan siswa. (Nurbahri 1986:1).

11

Pengelolaan kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas. Oleh karena itu, kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Maka, agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap siswa dalam belajar, kelas perlu dikelola sebaik-baiknya. Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar tercapai kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar yang diharapkan (Suharsimi 1992:57-58). Pengelolaan kelas menunjuk kepada berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Dalam kaitan ini termasuk juga kegiatan mengatur orang dan tingkah lakunya., mengatur ruangan dan bendabenda untuk mencapai berbagai kemudahan dalam belajar (Joni 1990:3-4). Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar, dengan kata lain adalah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terselenggaranya proes belajar mengajar (Usman 1989:88). Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian dengan mengelola kelas produksinya harus sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan pengelolaan kelas pada hakekatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan

12

pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.

2.2 Fungsi Guru Dalam Pengelolaan Kelas Fungsi guru dalam praktik penyelenggaraan kelasnya yaitu: a. Fungsi Instruksional Sepanjang sejarah keguruan, tugas dan fungsi guru adalah mengajar, sedang fungsi instruksional guru yaitu: (1) menyampaikan sejumlah keteranganketerangan dan fakta-fakta kepada siswa-siswanya, (2) memberikan tugas kepada siswa, (3) memeriksa atau mengoreksi pekerjaan siswa (Ametembun 1981:4). b. Fungsi Educational Fungsi educational ini harus merupakan fungsi sentral guru. Dalam fungsi ini setiap guru Indonesia harus berusaha mendidik siswa-siswanya menjadi manusia dewasa yang pancasilais (Ametembun 1981:4) c. Fungsi Managerial Fungsi managerial guru adalah guru yang sanggup memimpin kelasnya (Ametembun 1981:5). Guru yang setiap hari berhubungan dengan siswa-siswanya mengemban tugas sebagai pendidik yang berkewajiban membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa mewujudkan kedewasaan masing-masing. Bantuan itu tidak sekedar mengenai aspek intelektual, akan tetapi berkenaan juga dengan aspek sikap, minat, perkembangan emosi, dan perkembangan sosial. Ilmu pengetahuan berupa materi pelajaran adalah alat dan bukan tujuan didalam proses pendidikan siswa. Di lingkungan sekolah siswa-siswa harus dibantu agar dapat memanfaatkan materi

13

pengetahuan itu bagi kehidupannya baik sebagai individu , maupun sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara.

2.3 Kepribadian Guru dalam Pengelolaan Kelas Dalam rangka mengelola kelas, kepribadian seorang guru yang berdiri di depan kelas sangatlah dominan. Justru karena kelas merupakan wadah perpaduan dari berbagai sifat pribadi yang berbeda-beda ada yang agresif, tenang, sabar, pendiam, dan sebagainya. Guru dapat menciptakan integritas kelas yaitu dapat menjalin persatuan dan kesatuan kelas secara harmonis, dan ini justru harus memancar dari kepribadian guru sebagai suri tauladan bagi siswa-siswanya. Jadi beberapa sifat guru yang perlu dimiliki dan perlu dikembangkan demi efektifitas pekerjaan sebagai guru adalah tampang yang simpatik, hubungan manusiawi yang baik, dan kepercayaan pada diri (Ametembun 1981: 313). Dalam karya profesi keguruan terutama dalam rangka mengelola kelas, kepribadian merupakan faktor penting bahkan sangat menentukan kesuksesan atau kegagalan seorang guru. Bagaimanapun lengkap dan modernnya alat-alat

perlengkapan kelas namun faktor manusialah yang menentukan.

2.4 Disiplin Kelas Masalah disiplin kelas merupakan suatu problema yang penting dalam pengelolaan kelas seorang guru. Bahkan ia merupakan suatu kriteria penting dalam menilai kualitas kepemimpinan seorang guru. Disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang bergabung dalam suatu organisasi tunduk kepada peraturanperaturan (tata tertib) yang telah ditetapkan dengan senang hati. Jadi disiplin kelas

14

adalah keadaan tertib dimana guru dan siswa-siswa yang tergabung dalam suatu kelas tunduk kepada peraturan-peraturan (tata tertib) yang telah ditetapkan dengan senang hati. Seorang guru harus menyadari bahwa suasana yang tertib dalam suatu kelas merupakan prasyarat mutlak bagi proses belajar mengajar yang efektif (Ametembun 1981:9). Menegakkan disiplin tidak bertujuan untuk mengurangi kebebasan atau kemerdekaan siswa, tetapi sebaliknya ingin memberikan kebebasan yang lebih kepada siswa dalam batas-batas kemampuannya. Akan tetapi jika kebebasan siswa terlampau dikurangi, dikekang dengan peraturan maka siswa akan berontak, mengalami frustasi dan kecemasan. Di sekolah, disiplin banyak digunakan untuk mengontrol tingkah laku siswa yang dikehendaki agar tugas-tugas di sekolah dapat berjalan dengan optimal (Joni 1980:21). Dengan demikian disiplin yang berdaya guna untuk menumbuhkan ketertiban di dalam kelas bukanlah disiplin yang kaku dan statis. Disiplin kelas bukanlah sekedar pemberian hukuman atau paksaan agar siswa melaksanakan tata tertib kelas yang ditetapkan oleh guru dan peraturan sekolah. Disiplin dalam hal ini adalah usaha membina secara terus menerus kesadaran dalam bekerja atau belajar dengan baik dalam arti setiap orang menjalankan fungsinya secara efektif.

2.5 Kondisi dan Situasi Proses Belajar Mengajar Salah satu faktor yang dapat mendorong berlangsungnya proses belajar mengajar secara lebih baik adalah penyediaan kondisi dan situasi yang

menguntungkan. Kondisi yang dimaksud bisa berupa kondisi emosional dan kondisi fisik.

15

2.5.1 Kondisi Emosional Suasana emosional di dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan belajar.

2.5.1.1 Tipe Kepemimpinan Tipe kepemimpinan guru atau administrator akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Bila seorang guru menerapkan tipe kepemimpinan yang otoriter, maka akan menghasilkan sikap siswa yang apatis. Tapi dipihak lain juga akan menumbuhkan sifat yang agresif. Tipe kepemimpinan yang otoriter siswa hanya akan aktif kalau ada guru dan kalau guru tidak mengawasi maka semua aktifitas akan menjadi menurun. Aktifitas proses belajar mengajar akan sangat bergantung pada guru dan menuntut banyak perhatian dari guru. Tipe kepemimpinan yang cenderung pada laizerfaire (bebas terbatas), tipe kepemimpinan ini biasanya tidak produktif, walaupun ada pemimpin. Kalau guru ada siswa lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya ingin diperhatikan. Dalam tipe kepemimpinan ini, biasanya aktifitas siswa lebih produktif kalau gurunya tidak ada. Tipe ini paling cocok bagi siswa yang aktif, penuh kemauan, berinisiatif dan tidak selalu menunggu pengarahan. Tipe kepemimpinan guru yang lebih menekankan pada sikap demokratis, yang lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan siswa dengan dasar saling memahami dan saling percaya. Sikap ini dapat membantu menciptakan suasana yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi proses belajar mengajar yang optimal. Siswa akan belajar secara produktif baik pada saat diawasi guru maupun

16

tanpa diawasi guru. Dalam kondisi semacam ini biasanya problem pengelolaan kelas bisa dibatasi sedikit mungkin (Joni 1980: 7-8). Seorang guru yang melaksanakan kepemimpinan demokratis di lingkungan kelasnya , pada umumnya lebih berhasil dalam menciptakan suasana emosional yang baik di dalam kelas. Daripada seorang guru yang menerapkan tipe kepemimpinan yang otoriter dan tipe kepemimpinan yang laizerfaire. Dewasa ini tipe kepemimpinan yang otoriter murni sulit untuk diterima di lingkungan bidang pendidikan, karena mengakibatkan lembaga pendidikan termasuk juga kelas sebagai unit kerja akan berlangsung secara statis dan tidak memungkinkan anak-anak berkembang secara maksimal sesuai dengan bakat minat dan kemampuan masingmasing anak. Sedangkan tipe kepemimpinan laizerfaire kurang dapat diwujudkan di lingkungan suatu kelas untuk menciptakan dinamika kelas yang positif karena setiap personal tidak bergerak kearah tujuan yang sama.

2.5.1.2 Sikap Guru Menunjukkan sikap tanggap, guru yang menunjukkan sikap tanggap, sikap tanggap ini bisa ditunjukkan dengan berbagai cara, misalnya memandang secara seksama, cara ini dapat mengundang dan melibatkan siswa dalam kontak pandang serta interaksi secara pribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerjasama dan menunjukkan rasa persahabatan. a. Gerak mendekati, gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktifitas siswa. Gerak mendekati hendaknya dilakukan

17

secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam, atau memberikan kritikan dan hukuman (Usman 1989:91). b. Kewajiban guru di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar adalah bertanggungjawab dan memperhatikan semua siswa dan dalam segala

kesempatan. Perlu diusahakan agar guru dapat memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh semua siswa. Tidak seharusnya bagi guru untuk terlalu terlibat pada kegiatan seorang atau beberapa orang siswa saja. Apabila diperlukan guru hendaknya menjauhi tempat duduknya sendiri dengan menghabiskan waktunya untuk keliling melihat bagaimana siswa bekerja dan memperhitungkan kecepatan kemajuannya. Dengan demikian maka guru tidak terlibat dalam kegiatan siswa, akan tetapi selalu siap membantu bila diperlukan (Popham dan Eva 1981:123). c. Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketidak acuhan siswa. Apabila ada siswa yang menimbulkan gangguan atau menunjukkan ketidak acuhan, guru dapat memberikan reaksi dalam bentuk teguran.(Usman 1981:124). d. Teknik mendekati. Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru dapat membuatnya takut dan karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang melanggar disiplin tersebut, tanpa perlu menegur (Popham dan Eva 1981:123). e. Memberikan isyarat. Apabila siswa berbuat kenakalan kecil, guru dapat memberinya isyarat bahwa ia sedang diawasi. Isyarat itu dapat berupa petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan. Isyarat-isyarat ini akan membuat si pelanggar untuk menghentikan perbuatannya (Popham dan Eva 1981:124).

18

f. Tidak mengacuhkan. Untuk menerapkan cara ini guru harus luwes tidak perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa hasil yang baik. Misalnya apabila guru mengira bahwa siswa itu minta diperhatikannya. Jika menurut perkiraan masalah itu tidak menggangu kelas, maka sebaiknya diabaikan saja. Tetapi jika ada kemungkinan teman-teman terganggu atau tergoda oleh situasi tersebut, maka guru perlu bertindak (Popham dan Eva 1981:124). g. Menggunakan teknik yang keras, guru dapat menggunakan teknik ini, apabila dihadapkan pada perilaku siswa yang jelas tidak dapat dikendalikan. Contoh yang paling terkenal yaitu situasi dimana para remaja, biasanya gadis-gadis terkikihkikih. Hal semacam itu sering menular dan berlangsung terus walaupun si pelanggar sendiri bermaksud sendiri menghentikannya. Tindakan yang efektif dengan mempersilahkan seorang siswa yang tidak terkendalikan itu pergi keluar. Jangan berniat mengusir selamanya, cukuplah bila ia diperkenankan

mengendalikan dirinya diluar lalu boleh kembali ke kelas (Popham dan Eva 1981:125).

2.5.1.3 Sikap Siswa yang Mengganggu Kelas a. Menarik perhatian orang lain. Tingkah laku siswa yang mencari perhatian misalnya suka pamer, melawak dan membuat onar. b. Mencari kekuasaan. Sikap siswa yang selalu mencari pertentangan pendapat, tak mau diperintah, berbohong atau tidak mau berbuat apapun sama sekali (Soekarno 1996:83).

19

Berhubung dengan hal tersebut ada teknik sederhana untuk mengenali sikap siswa yang menggangu kelas, yaitu: a. Jika guru merasa terganggu dengan tingkah laku seorang siswa, ini tanda bahwa siswa tersebut mencari perhatian. b. Jika guru merasa terancam / dikalahkan, itu berarti tingkah laku siswa mencari kekuasaan (Soekarno 1996:83). Di dalam kelas guru dituntut menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar (PBM) dengan situasi yang hidup dan produktif. Guru harus mengusahakan persaingan yang positif dan mencegah konflik yang merugikan. Sebagai pengelola di dalam kelas guru harus mampu menguasai dan memahami masalah-masalah pengelolaan kelas (yang mengganggu disiplin kelas).

2.5.1.4 Pembinaan Raport Sekali lagi ditekankan bahwa pembinaan hubungan baik dengan siswa dalam masalah pengelolaan kelas sangat penting. Dengan hubungan baik antara guru dan siswa, diharapkan senantiasa siswa gembira, penuh gairah dan semangat bersikap optimistik dalam belajar yang sedang dilakukan. Misalnya guru yang berusaha menciptakan suasana humor. Rasa humor guru dalam hubungan dengan siswa akan mempunyai pengaruh yang positif dalam pengelolaan kelas, sepanjang rasa humor itu berstruktur dengan baik. Rasa humor ini pun dapat merupakan saluran dari berbagai tekanan emosional (Joni 1980:9). Guru harus berusaha menciptakan suasana emosional yang baik di dalam kelas. Sehingga terbentuk hubungan yang baik antara guru dengan siswa. Di sini

20

guru adalah fungsi pembentukan hubungan pribadi itu. Jadi peranan guru adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat.

2.5.2 Kondisi Fisik Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh terhadap perbuatan belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatkan intensitas proses perbuatan belajar siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. a. Ruang tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Ruangan tempat belajar harus memungkinkan siswa bergerak leluasa tidak berdesak-desakan dan saling mengganggu antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya pada saat melaksanakan kegiatan belajar. b. Penataan tempat duduk siswa. Keadaan tempat duduk yang dipergunakan oleh siswa dapat mempengaruhi proses belajar. Kalau tempat duduknya bagus, dalam arti siswa dapat duduk dengan tenang dan nyaman, maka siswa dapat belajar dengan tenang pula. Akan tetapi kalau tempat duduk sudah rusak tidak ada sandarannya maka proses belajar siswa akan mendapat hambatan (Sukewi 1989:75). Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dimana dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar. Beberapa pengaturan tempat duduk antara lain yaitu berbaris berbanjar, pengelompokan terdiri dari 8 sampai 10 siswa, setengah lingkaran atau membentuk

21

lingkaran, individu yang biasa terjadi di ruangan praktik, laboratorium (Joni 1980:120). c. Ventilasi dan pengaturan cahaya. Ruang belajar yang pengap akan menyebabkan kebosanan bekerja

(melaksanakan kegiatan belajar), apalagi kalau ruangan itu gelap (Wijaya dan Rusyan 1991:120). Maka sangatlah wajar apabila para guru mengetahui tentang fasilitas-fasilitas fisik yang dibutuhkan untuk situasi kelas yang baik. Misalnya ruangan kelas yang cerah atau terang dengan udara yang segar dan bunyi atau suara tidak menggema (Ametembun 1981:77). Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa, jendela harus cukup besar, sehingga memungkinkan hangat sinar matahari masuk. Dengan ventilasi yang baik memungkinkan siswa belajar dengan baik yaitu siswa dapat melihat tulisan dengan jelas, baik tulisan di papan tulis maupun di buku bacaan, cahaya harus datang dari kanan, tidak menyilaukan.

2.6 Media/sumber Pengajaran Media atau sumber-sumber pengajaran ialah segala macam alat atau situasi yang memperkaya atau memperjelas pemahaman siswa terhadap apa yang dipelajarinya, yang memperkaya pengalaman mereka (Soelaiman 1979:265). Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. a. Berkenaan dengan media pengajaran bagi siswa antara lain: (a) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat

menumbuhkan motivasi belajar.

22

(b) Bahkan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik. (c) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi

verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga apabila guru mengajar untuk setiap mata pelajaran. (d) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga beraktifitas lain, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lainnya. b. Berkenaan dengan taraf berfikir siswa Taraf berfikir siswa mengikuti perkembangan dimulai dari taraf berfikir kongkrit menuju berfikir kompleks. Melalui media pengajaran hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan. Penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: (a) Media grafik/media dua dimensi seperti gambar, foto, bagan, poster, kartu dan lain-lain. (b) Media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model pahat, model penampang, model susun, model kerja dan lain-lain. (c) Model proyeksi seperti slide, film strip, dengan OHP. Untuk dapat menggunakan media/sumber pengajaran dengan baik, perlu memperhatikan hal-hal atau langkah-langkah sebagai berikut: (a) Mengenal, memilih dan menggunakan sesuatu media.

23

(b) Membuat alat bantu pekerjaan yang sederhana, dengan maksud agar mudah didapat dan tidak menimbulkan berbagai penafsiran yang berbeda, (c) Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar, misalnya untuk kegiatan penelitian, eksperimen dan lain-lain. (d) Menggunakan buku pegangan atau buku sumber. (e) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar. (f) Kemampuan menggunakan micro teaching unit dalam program pengalaman lapangan (Wijaya dan Rusyan 1991:136).

2.7 Praktik Pengalaman Lapangan Salah satu kelompok pengetahuan yang memberikan pada pendidikan guru ialah kelompok pengetahuan profesional, yang bertujuan memberi kualifikasi profesional kepada calon guru, demikian Soelaiman berpendapat. Kelompok ini terdiri dari dua macam program yaitu mengenai teori pendidikan untuk membekali pengetahuan teori dan praktik mengajar yang membekali calon guru dengan pengalaman praktis untuk menjadi guru. Sedangkan Rokhman mengemukakan bahwa pada umumnya program pendidikan guru dibagi atas dua bagian yaitu ilmu keguruan dan praktik keguruan. Tujuan dari praktik keguruan tersebut adalah untuk menyiapkan calon guru agar mampu dan siap menerima serta menjalankan tugasnya sebagai seorang guru yang baik (Soelaiman 1979:330).

2.7.1 Pengertian Praktik Pengalaman Lapangan Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori

24

yang diperoleh dalam semester-semester sebelumnya, sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan agar mereka memperoleh pengalaman dan ketrampilan lapangan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah atau di tempat latihan lainnya. Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan meliputi: praktik mengajar, praktik administrasi, praktik bimbingan dan konseling serta kegiatan yang bersifat kokurikuler dan/atau ekstra kurikuler yang berlaku di sekolah/tempat latihan (UPT PPL 2004:3).

2.7.2 Tujuan Praktik Pengalaman Lapangan Praktik Pengalam Lapanagn bertujuan membentuk mahasiswa praktikan agar menjadi calon tenaga kependidikan yang profesional, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan berdasarkan kompetensi, yang meliputi kompetensi profesional,

kompetensi personal, dan kompetensi kemasyarakatan (UPT PPL 2004:4).

2.7.3 Fungsi Praktik Pengalaman Lapangan Praktik Pengalaman Lapangan berfungsi memberikan bekal kepada

mahasiswa praktikan agar mereka memiliki kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi kemasyarakatan (UPT PPL 2004:4).

2.7.4 Sasaran Praktik Pengalaman Lapangan Praktik Pengalaman Lapanagn mempunyai sasaran agar mahasiswa praktikan memiliki seperangkat pengetahuan sikap dan ketrampilan yang dapat menunjang tercapainya penguasaan kompetensi profesional, kompetensi personal, dan

kompetensi kemasyarakatan.

25

2.7.5 Status Praktik Pengalaman Lapangan Mata kuliah Praktik Pengalaman Lapangan merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan tenaga kependidikan berdasarkan kompetensi yang termasuk di dalam struktur program kurikulum Universitas Negeri Semarang. Oleh karena itu Praktik Pengalaman Lapangan wajib dilaksanakan oleh mahasiswa Program Kependidikan Universitas Negeri Semarang (UPT PPL 2004:5).

2.8 Kerangka Berpikir Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam semester-semester sebelumnya, sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan agar mereka memperoleh pengalaman dan ketrampilan lapangan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah atau di tempat latihan lainnya. Masalah pokok yang dihadapi guru baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah kemampuan dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku kompleks dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga siswa dapat mencapai tuntutan pengajaran secara efektif dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama bagi guru yang paling sulit adalah pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yaitu kepemimpinan atau ketatalaksanaan guru dalam menyelenggarakan kelasnya. Hal ini menyangkut kegiatan-kegiatan menciptakan dan

26

memelihara kondisi yang optimal bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan syarat mutlak bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Aspek-aspek pengelolaan kelas yang dimaksud di sini adalah dikuasainya situasi mengajar yang baik, sehingga dapat dikuasainya situasi belajar mengajar yang lebih baik, memperhatikan suasana kelas sehingga jalannya pelajaran tidak terganggu dengan cara menjaga ketertiban dan disiplin siswa, menciptakan suasana emosional yang lebih baik, dengan menunjukkan sikap dan perhatian kelas dan anak pada umumnya belum dilaksanakan mahasiswa dengan baik, serta pemanfaatan fasilitas yang ada guna mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Peningkatan kualitas Praktik Pengalaman Lapangan merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Berkaitan dengan hal itu, agar PPL berkualitas maka diperlukan adanya perbaikan-perbaikan dan pembinaan-pembinaan seperlunya sesuai masalah lapangan, salah satunya mengenai pengelolaan kelas.

27

Peningkatan Kualitas Mahasiswa Praktikan

Kendala-kendala Mahasiswa Praktikan

Masalah

Pengelolaan Kelas

Tabulasi dan Analisa Data

Input Data

Variabel:Mahasiswa Siswa Fasilitas Pembimbing

Pembahasan Masalah

v Tidak menjadi kendala Kriteia Kendala-Kendala v Cukup menjadi kendala v Menjadi kendala v Sangat menjadi kendala

Perbaikan dan Pembinaan Kualitas Mahasiswa Praktikan

Gbr.1.1. Bagan Sistem Alur Kerangka Berpikir

28

BAB III METODE PENELITIAN

Suatu metode atau cara yang tepat sangat diperlukan dalam setiap tindakan untuk melaksanakan arah atau rencana yang telah ditentukan. Hal ini ditujukan agar segala rencana tersebut dapat dilaksanakan secara tepat dan berdaya guna. Demikian pula yang telah dilakukan dalam suatu penelitian senantiasa ditujukan untuk memecahkan masalah-masalah secara ilmiah, dan sebagai hasil penelitian tersebut dapat diuji dan dibuktikan secara ilmiah. Hasil penelitian dipandang memiliki bobot ilmiah apabila dalam pelaksanaan penelitian ilmiah tesebut mempergunakan metode dan langkah yang tepat serta benar disesuaikan dengan kerangka penelitian ilmiah. Mengenai bobot ilmiah sutu penelitian dikemukakan oleh seorang ahli dalam bidang penelitian yaitu “… .tinggi rendahnya suatu hasil dari research tidak diukur besar kecilnya pembiayaan melainkan terutama tergantung dari aspek-aspek metodologi dan hasilnya” (Hadi 2001:51). Adapun aspek-aspek yang akan dibahas dalam metode penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.1 Populasi Dalam bahasa penelitian seluruh sumber data yang memungkinkan, memberikan informasi yang berguna bagi masalah penelitian disebut populasi atau univers. Jika seluruh sumber data atau populasi diteliti atau diungkap informasinya, kesimpulan yang diperoleh dapat dipercaya, akan tetapi peluangnya sangat kecil

29

mengingat keterbatasan waktu, tenaga, biaya dan lain-lain (Sudjana dan Ibrahim 2001:84). Dalam penelitian ini subyek yang menjadi populasi adalah semua mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES Semarang, yang telah melaksanakan atau menempuh Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada tahun 2004, yaitu sebanyak 76 orang, (Lampiran 1 halaman 83). Mengingat jumlah mahasiswa yang menjadi populasi penelitian ini terbatas dan relatif kecil, sehingga dapat dijangkau oleh kemampuan peneliti. Maka seluruh populasi dijadikan sampel penelitian, oleh karena itu penelitian ini merupakan penelitian populasi. Teknik sampling yang dipergunakan adalah teknik total sampling, yaitu mengambil semua populasi sebagai teknik penelitian.

3.2 Sampel Dalam pengambilan sampel penelitian, apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi (Suharsimi 1998:120). Karena populasi dalam penelitian ini jumlahnya kurang dari 100 orang maka subjek atau populasinya diambil semua, sehingga penggambilan sampel penelitian menggunakan tehnik total sampling.

30

3.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah obyek yang sedang di teliti atau diselidiki (Hadi 2001:4). Menurut ahli yang lain, menyebutkan bahwa variabel penelitian adalah

gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian (Suharsimi 1998:111). Jadi variabel penelitian menurut penulis adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai obyek pengambilan data di dalam suatu penelitian. Berdasarkan pada permasalahan yang akan di ungkap, maka variabel yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah Kendala-Kendala yang Dihadapi

Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan

Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004. Selanjutnya variabel dalam penelitian ini diidentifikasi untuk memperoleh variabel yang lebih kecil dengan cara memecah-mecah variabel menjadi sub variabel. Memecah-mecah variabel menjadi sub variabel ini juga disebut kategorisasi yakni memecah variabel menjadi kategori-kategori data yang harus dikumpulkan oleh peneliti. Kategori-kategori ini dapat diartikan sebagai indikator penelitian (Suharsimi 1998:104). Kategori, indikator, sub variabel dalam penelitian ini disusun berdasarkan teori yang relevan dengan menyesuaikan terhadap permasalahan yang akan diungkap. Dari kategorisasi tersebut maka dalam penelitian ini diperoleh variabelvariabel yaitu: variabel mahasiswa, variabel siswa, variabel fasilitas dan variabel pembimbing.

31

Variabel-variabel tersebut selanjutnya diperinci menjadi sub-sub variabel yang lebih kecil yaitu: a. Variabel mahasiswa, mencakup: Pelaksanaan pengelolaan kelas b. Variabel siswa, mencakup: Sikap siswa di dalam kelas c. Variabel fasilitas, meliputi: 1) Keadaan ruang kelas 2) Buku-buku pelajaran 3) Media pengajaran d. Variabel pembimbing, meliputi: 1) Bimbingan dan bantuan guru pamong 2) Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing Indikator-indikator informasi tentang tersebut akan digunakan untuk mengungkapkan

Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program

Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di SekolahSekolah Latihan Tahun 2004 yang di akan disusun dalam item-item pertanyaan yang terdapat pada instrumen penelitian ini yaitu angket atau kuesioner. 3.4 Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survei. Metode survei adalah penelitian yang diadakan

32

untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keteranganketerangan secara faktual dalam suatu kelompok atau daerah. Survei adalah cara mengumpulkan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu atau jangka waktu yang bersamaan dan jumlahnya biasanya besar. Dalam metode survei juga dikerjakan dalam menangani situasi atau masalah yang serupa dan hasilnya dapat digunakan dalam pembuatan rencana (Suharsimi 1998:92). Penelitian deskriptif biasanya mempunyai dua tujuan, yaitu untuk mengetahui perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi terjadinya suatu aspek fenomena sosial tertentu, umpamanya interaksi sosial, dan lain-lain (Singarimbun 1985:4). Penelitian semacam ini, tidak untuk menguji hipotesis. Dan biasanya berusaha untuk mengungkapkan jawaban melalui pertanyaan apa, bagaimana, berapa dan bukan pertanyaan mengapa. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel, bukan informasi tentang individu-individu. Dengan demikian pertanyaan-pertanyaanya disusun untuk memberikan informasi tentang variabel-variabel dan bukan untuk menghubungkan satu variabel dengan variabel yang lainnya. Sekalipun informasi tersebut mengandung dan menunjukkan adanya hubungan antara variabel. Pertanyaan lebih bersifat

memancing informasi untuk pemecahan masalah (Sudjana dan Ibrahim 2001:75).

3.5 Teknik Pengambilan Data Tehnik yang digunakan dalam pengambilan data pada penelitian ini terdiri dari 2 bagian yaitu : a. Metode dokumentasi b. Metode Angket.

33

3.5.1 Metode Dokumentasi Metode dokumentasi dalam penelitian ini sifatnya hanya membantu melengkapi saja, yaitu untuk memperoleh informasi tentang daftar peserta PPL yang dijadikan populasi, nama dan lokasi sekolah latihan yang dipergunakan untuk mengetahui lokasi sekolah latihan.

3.5.2 Metode Angket Kuesioner atau angket sebagai alat pengumpul data di gunakan untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pendapat, aspirasi, harapan, persepsi, keinginan, keyakinan dan lain-lain dari individu atau responden. Caranya, melalui pertanyaan-pertanyaan yang sengaja diajukan kepada individu atau responden oleh peneliti (Sudjana dan Ibrahim 2001:102). Ahli lain menyebutkan bahwa “kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui” (Suharsimi 1998:140). Angket memiliki keuntungan dan kelemahan sebagai alat pengumpul data dalam suatu penelitian. Keuntungan angket adalah tidak memerlukan hadirnya peneliti, dapat dibagikan dijawab oleh responden secara serentak kepada banyak responden, dapat

dengan tidak ada batas waktu, dapat dibuat anonim

sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu menjawab, dan dapat di buat standar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama. Sedangkan kelemahan angket yaitu kadang responden kurang teliti dalam menjawab pertanyaan sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak terjawab,

34

sehingga sukar dicari validitasnya, walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden sengaja memberikan jawaban tidak betul atau kurang jujur, sering tidak kembali terutama jika dikirimkan lewat pos dan waktu kembalinya tidak bersamaan bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat (Suharsimi 1998:141-142 ). Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuesioner langsung tertutup dengan menggunakan pilihan ganda. Kuesioner tertutup adalah apabila item pertanyaan dalam angket tersebut sudah tersedia jawabannya dan responden tinggal memilihnya (Suharsimi 1998:141). Adapun berikut : a. Bahwa subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri . b. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti. c. Bahwa apa yang dikatakannya benar dan dapat dipercaya. alasan menggunakan metode kuesioner langsung adalah sebagai

3.6 Prosedur Penelitian

3.6.1 Persiapan Penelitian

3.6.1.1 Penyusunan Instrumen Penelitian Langkah-langkah penyusunan instrumen dalam penelitian adalah

mengadakan pembatasan materi yang digunakan untuk menyusun instrumen yang mengacu pada ruang lingkup tentang Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas

35

Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004. Dalam tahap ini kuesioner yang telah disusun akan diungkap tentang faktor-faktornya, antara lain : a. Variabel mahasiswa, mencakup: - Pelaksanaan pengelolaan kelas b. Variabel siswa, mencakup: - Sikap siswa di dalam kelas c. Variabel fasilitas, meliputi: - Keadaan ruang kelas - Buku-buku pelajaran - Media pengajaran d. Variabel pembimbing, meliputi: - Bimbingan dan bantuan guru pamong - Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing

3.6.2 Proses Penelitian Pada tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan yang meliputi hal-hal sebagai berikut :

3.6.2.1 Uji Validitas dan Reliabilitas

3.6.2.1.1 Validitas Untuk menguji tingkat validitas dan reliabilitas instrumen maka dilakukan kegiatan uji coba dengan sasaran sebagai sampel penelitian. Validitas adalah suatu

36

ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi 1998:160). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Validitas yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah validitas logis, artinya dalam menyusun instrumen sesuai teori, seperti dengan cara memecah variabel menjadi sub-sub variabel, baru kemudian menyusun pertanyaan (Suharsimi 1996:159). Untuk mencari validitas masing-masing faktor angket digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson: rXY =

{N × ∑ X

N × ∑ XY − (∑ X ) × (∑ Y )
2 2

− (∑ X ) N × ∑ Y 2 − (∑ Y )

}{

2

}

Keterangan: rXY = koefisien korelasi X dan Y X Y = skor faktor = skor total faktor (Arikunto 1998:171). Analisis validitas angket menggunakan rumus korelasi product moment, dimana pengujian validitas dilakukan dengan cara menentukan validitas faktor. Untuk menentukan valid tidaknya instrumen suatu faktor adalah dengan mengkorelasikan hasil perhitungan koefisien korelasi (r) pada taraf signifikan 5 % atau taraf kepercayaan 95 %. Dari uji validitas instrumen dengan 10 responden didapatkan harga rXY masing-masing faktor > harga r
tabel.

Apabila rXY > rtabel maka angket tersebut valid.

Pada α = 5% dengan n = 10 diperoleh rtabel = 0,632. karena rXY > rtabel, maka dapat

37

disimpulkan bahwa angket tersebut memiliki tingkat validitas tinggi. Dengan demikian instrumen tersebut dapat mengukur dan mengungkap data yang diinginkan..

3.6.2.1.2 Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data, karena instrumen tersebut sudah baik (Suharsimi 1998:170). Sehingga dapat dikatakan disini bahwa reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan atau keampuhan instrumen. Dalam penelitian ini digunakan reliabilitas internal yaitu reliabilitas yang diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan (Suharsimi 1998 :152). Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha yaitu :
2  k  Σσ f 1 − r11 =   2 σt  k − 1  

   

dimana : r11 k Σσf2 σt2 = Reliabilitas instrumen = Banyaknya faktor = Jumlah varians faktor = Varians total. (Suharsimi 1998:193).

Dari uji reliabilitas instrumen dengan 10 responden didapatkan harga r11 = 0.939. Selanjutnya adalah mengkonsultasikan pada harga r
tabel.

Apabila r11 > rtabel maka

angket tersebut reliabel. Pada α = 5% dengan n = 10 diperoleh rtabel = 0,632. Karena

38

r11

> rtabel, maka dapat disimpulkan bahwa angket tersebut reliabel. Untuk

mengetahui tingkat reliabilitas, nilai r11 dikonsultasikan dengan tabel harga interpretasi nilai r (lampiran 13 hal.122). Berdasarkan tabel harga interpretasi nilai r, tingkat reliabilitas angket berada pada rentang 0,800 – 1 berarti instrumen tersebut mempunyai reliabilitas tinggi. Sehingga angket tersebut mempunyai tingkat kepercayaan tinggi untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data. Karena dalam mengisi angket uji coba, responden tidak mengalami kesulitan dan setelah diuji validitas dan reliabilitasnya memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai alat pengumpul data, maka angket tersebut dapat langsung ditindak lanjuti untuk digunakan sebagai kuesioner penelitian.

3.6.2.2 Tahap Penyebaran dan Penarikan Kuesioner Tahap ini dilakukan setelah instrumen selesai diuji cobakan, kuesioner disebarkan secara langsung dengan cara mendatangi dan secara langsung bertemu dengan responden. Pemberian jawaban terhadap kuesioner diberikan secara langsung dihadapan peneliti, dengan alasan agar jawaban yang diinginkan benar-benar berasal dari responden tanpa ada pengaruh dari pihak lain. Setelah selesai kuesioner langsung dikembalikan kepada peneliti.

3.6.3 Tahap Akhir Penelitian Pada tahap ini dilakukan pengolahan dan analisis data, data yang diperoleh dari responden setelah terkumpul diteliti yang kemudian dimasukkan dalam penskoringan. Data yang terkumpul berupa data kuantitatif yaitu data yang berupa

39

angka-angka atau bilangan-bilangan. Setelah selesai dilakukan pengklasifikasian terhadap hasil skoring maka dilakukan pembahasan untuk mengungkap persentase dari masing-masing faktor kuesioner.

3.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penelitian Selama proses melakukan penelitian ini banyak faktor yang sangat mempengaruhi jalannya penelitian, faktor-faktor tersebut antara lain adalah : a. Penyebaran angket memakan banyak waktu, karena angket harus ditunggu dan langsung dikembalikan. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa angket harus dijawab berdasarkan pemahaman yang dimiliki responden pada saat itu. Sehingga jawaban yang diinginkan benar-benar murni sesuai dengan

pemahaman yang mereka miliki dan keaslian jawaban dapat terjamin. b. Kesibukan, baik responden maupun peneliti memberikan pengaruh yang besar tehadap penyelesaian penyebaran angkat secara cepat.

3.8 Analisis Data Analisis data atau pengolahan data merupakan salah satu langkah yang terpenting dalam suatu penelitian, apabila analisis salah, maka dalam pengambilan kesimpulan tentu akan salah juga. Untuk menganalisis data diperlukan tehnik analisis yang sesuai dengan data yang akan dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabel frekuensi, karena data-data yang akan di analisis berupa frekuensi, maka cara menganalisisnya dapat menggunakan teknik statistik (Hadi 2002:315).

40

Menurut seorang ahli dalam bidang penelitian menyebutkan bahwa data yang bersifat kuantitatif, yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran diproses dengan cara dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh persentase. Pencarian persentase dilaksanakan untuk mengetahui status sesuatu yang dipersentasekan dalam kalimat yang bersifat kualitatif (Suharsimi 1998:246). Pada tahap ini dilakukan langkah-langkah kegiatan pendahuluan dari analisis kuantitatif yang meliputi :

3.8.1 Editing Merupakan suatu proses yang dilakukan setelah semua kuesioner

dikembalikan dan terkumpul semua, kemudian dikoreksi apakah jawaban–jawaban dalam kuesioner tersebut telah terisi semua atau belum. Proses editing dapat dilakukan juga setelah kuesioner selesai di jawab responden langsung pada saat itu juga.

3.8.2 Skoring Merupakan kegiatan berupa pemberian nilai atau skor pada item jawaban dalam daftar pertanyaan atau angket, untuk memperoleh data kuantitatif yang kemudian dianalisis dengan tujuan untuk mengetahui keadaan atau kategori dari tiaptiap aspek atau variabel. Untuk keperluan analisis ini terlebih dahulu jawaban yang akan diberikan oleh responden diberi skor, dengan pedoman sebagai berikut : a. Jawaban a. diberi skor 4 b. Jawaban b. diberi skor 3

41

c. Jawaban c. diberi skor 2 d. Jawaban d. diberi skor 1 Penggunaan analisis data statistik ini dengan pertimbangan bahwa dengan menggunakan analisis ini akan lebih efektif dalam mengerjakannya dan bentuknya lebih sederhana, sehingga mudah dipahami dan diketahui oleh orang lain yang membacanya. Analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan Deskriptif Persentase (%) atau disebut prosentages corection. Adapun rumus Deskriptif Persentase adalah sebagai berikut : DP = n x100% N

Keterangan : DP n N = Deskriptif Persentase (%) = Skor empirik (Skor yang diperoleh) = Skor Ideal / Jumlah total nilai responden (Ali 1993:186). Untuk menentukan kategori/jenis Deskriptif Persentase yang diperoleh masing-masing komponen dalam variabel, dari perhitungan Deskriptif Persentase kemudian ditafsirkan kedalam kalimat. Cara menentukan tingkat kriteria adalah sebagai berikut : a. Menentukan angka persentase tertinggi Skormaksimal x100% Skormaksimal b. Menentukan angka persentase terendah skor min imal x100% skormaksimal

42

c. Menentukan rentang persentase d. Menentukan interval kelas persentase Untuk mengetahui tingkat kriteria tersebut, selanjutnya skor yang diperoleh (dalam %) dengan analisis deskriptif persentase dikonsultasikan dengan kriteria deskriptif persentase (Lampiran 8 hal.107).

43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Pengolahan data hasil penelitian dari jawaban yang diperoleh dari responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tertuang dalam kuesioner tentang indikator Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 berupa data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berupa angkaangka atau bilangan-bilangan. Selanjutnya data yang bersifat kuantitatif, yang berwujud angka-angka hasil perhitungan dari jawaban responden terhadap pertanyaan tentang indikator KendalaKendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 dihitung dengan menggunakan analisis data statistik dengan rumus deskriptif persentase. Hasil analisis data disajikan dengan cara dijumlahkan dan dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh persentase. Hasil persentase tersebut kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam memahami hasil akhir dalam mengkualifikasikan hasil penelitian tersebut. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mendeskripsikan variabel Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan

44

Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 berdasarkan data yang diperoleh dari masing-masing indikator pada variabel yang ada.

4.1.1 Variabel Mahasiswa Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan

Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 pada variabel mahasiswa dihitung secara parsial tiap indikator yang ada.

4.1.1.1 Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Data pelaksanaan pengelolaan kelas dijaring dengan menggunakan 4 butir pertanyaan, yaitu butir 1 sampai butir 4, perolehan hasil seperti pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Deskriptif Faktor Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Indikator No. Keterangan Butir Skor % Soal 202 19.13 % 1 Kelancaran praktikan dalam menyampaikan materi pelajaran 183 Tipe kepemimpinan yang praktikan terapkan 2 17.33 % dalam pelaksanaan PBM 180 Tindakan yang diambil praktikan dalam 17.05 % 3 mengatasi siswa yang mengganggu kelas 147 Usaha praktikan dalam menciptakan suasana 4 13.92 % humor 712 67.42 % Kriteria Cukup menjadi kendala

45

Hasil perhitungan data pelaksanaan pengelolaan kelas diperoleh skor sebesar 712. Skor tersebut mencapai 67.42 % dari skor maksimal sebesar 1056, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori cukup menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 cukup mendapatkan kendala dari faktor pelaksanaan pengelolaan kelas dari mahasiswa. Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 1, yang mengungkap apakah pada saat melaksanakan proses belajar mengajar, praktikan mampu menyampaikan materi pelajaran dengan lancar, sehingga akan memperlancar jalannya pengelolaan kelas ? Jawaban dari 66 praktikan (responden) adalah 25.76% menyatakan ya lancar, karena sudah mempersiapkan diri, 54.54% menyatakan kadang-kadang tidak lancar karena belum terbiasa berbicara di depan kelas, 19.70% menyatakan kurang lancar karena kurang persiapan diri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Kelancaran Praktikan dalam Menyampaikan Materi Pelajaran No. Kelancaran praktikan dalam menyampaikan Jumlah % materi pelajaran Responden 25.76% 17 Ya Lancar, karena sudah mempersiapkan diri. a 36 Kadang-kadang tidak lancar karena belum b 54.54% terbiasa berbicara di depan kelas. 13 Kurang lancar karena kurang mempersiapkan c 19.70% diri. 0 Sering tidak lancar karena sering gugup dan d 0.00% gemetar. Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 2 mengungkap tipe kepemimpinan apa yang praktikan terapkan di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan

46

pengelolaan kelas) untuk menumbuhkan suasana emosional yang baik di dalam kelas dari praktikan (responden) adalah 24.24% menyatakan menerapkan tipe

kepemimpinan yang demokratis, 30.30% menerapkan tipe kepemimpinan yang berdisiplin, 43.94% menerapkan tipe kepemimpinan yang bersifat laizerfaire, dan 1.52% menerapkan tipe kepemimpinan yang bersifat otoriter. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Tipe kepemimpinan yang Praktikan Terapkan dalam Pelaksanaan PBM Jumlah % NO. Tipe kepemimpinan yang praktikan terapkan dalam pelaksanaan PBM Responden 24.24% 16 Tipe kepemimpinan yang demokratis. a 20 Tipe kepemimpinan yang berdisiplin. b 30.30% 29 Tipe kepemimpinan yang bersifat laizerfaire. c 43.94% 1 Tipe kepemimpinan yang bersifat otoriter d 1.52% Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 3, mengungkap tindakan apa yang diambil praktikan bila ada siswa yang mengganggu ketertiban kelas, misalnya ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain? Jawaban dari praktikan adalah 12.12% menyatakan dengan menggunakan pesan non verbal baik berupa isyarat tangan, bahu, kepala, alis dsb, 51.52% menyatakan dengan cara mendekati siswa tersebut, 33.33% menyatakan dengan cara menegur atau memberi ceramah tentang kesalahan pada waktu itu, dan 3.03% menyatakan dengan menyuruhnya keluar kelas Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.4.

47

Tabel 4.4 Tindakan yang Diambil Praktikan dalam Mengatasi Siswa yang Mengganggu Kelas NO. Tindakan yang diambil praktikan dalam Jumlah % mengatasi siswa yang mengganggu kelas Responden 8 12.12% a dengan menggunakan isyarat non verbal, baik berupa isyarat tangan, bahu, kepala, alis dsb 34 dengan cara mendekati siswa tersebut b 51.52% 22 dengan cara menegur atau memberi ceramah c 33.33% tentang kesalahan pada waktu itu dengan menyuruhnya keluar kelas 2 d 3.03% Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 4, mengungkap usaha praktikan dalam mempertahankan kondisi kelas yang optimal di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan) apakah praktikan berusaha menciptakan suasana humor ? Jawaban dari praktikan adalah 6.06% menyatakan selalu, agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran, 21.21% menyatakan sering agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran, 62.12% menyatakan kadang-kadang bila diperlukan, dan 10.61% menyatakan jarang karena hanya mengganggu saja. Untuk lebih jelasnya dapa dilihat seperti pada tabel 4.5.

Tabel 4.5 Usaha Praktikan dalam Menciptakan Suasana Humor NO. Usaha praktikan dalam menciptakan suasana Jumlah humor Responden 4 Selalu, agar siswa tidak bosan mengikuti a pelajaran 14 Sering, agar siswa tidak tegang dalam b mengikuti pelajaran 41 Kadang-kadang bila diperlukan c 7 Jarang karena hanya mengganggu saja d Jumlah 66

% 6.06% 21.21% 62.12% 10.61% 100,00%

48

4.1.2 Variabel Siswa Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan

Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 pada variabel siswa dihitung secara parsial tiap indikator yang ada.

4.1.2.1 Sikap Siswa di dalam Kelas Data sikap siswa di dalam kelas dijaring dengan menggunakan 3 butir pertanyaan, yaitu butir 5 sampai butir 7, perolehan hasil seperti pada tabel 4.6.

Tabel 4.6. Deskriptif Faktor Sikap Siswa Di Dalam Kelas Indikator No. Butir Soal 5 Sikap siswa di sekolah latihan apabila diberi kesempatan untuk bertanya Perhatian siswa di sekolah latihan terhadap 6 praktikan dalam melaksanakan KBM Siswa yang membuat gaduh di dalam kelas 7 atau mengganggu siswa lain Kriteria

Keterangan Skor % 169 165 145 21,34 % 20,83 % 18,31 %

479 60,48 % Cukup menjadi kendala

Hasil perhitungan data sikap siswa di dalam kelas memperoleh skor sebesar 479. Skor tersebut mencapai 63,61 % dari skor maksimal 792, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori cukup menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap siswa di dalam kelas cukup menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan.

49

Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 5 yang mengungkap bagaimana sikap siswa di dalam kelas di sekolah latihan apakah mendukung dilaksanakiannya proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) misalnya bila diberi kesempatan untuk bertanya? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 6.06% menyatakan siswa memberikan respon aktif bertanya, 43.94% menyatakan sebagian siswa menggunakan kesempatan bertanya, dan 50.00% menyatakan hanya sedikit siswa yang menggunakan kesempatan bertanya. Untuk lebih jelasnya dapa dilihat seperti pada tabel 4.7.

Tabel 4.7. Sikap Siswa Di Sekolah Latihan Apabila Diberi Kesempatan untuk Bertanya NO. Sikap siswa di sekolah latihan apabila diberi Jumlah % kesempatan untuk bertanya Responden 6.06% 4 Siswa memberi respon aktif bertanya. a 29 Sebagiab besar siswa menggunakan b 43.94% kesempatan bertanya. 33 Hanya sedikit siswa yang bertanya c 50.00% 0 Siswa diam saja d 0.00% Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 6 mengungkap, bagaimana perhatian siswa di sekolah latihan, ketika praktikan melaksanakan proses belajar mengajar? Jawaban dari

praktikan (responden) adalah 7.58% menyatakan siswa sangat memperhatikan dan selalu aktif bertanya, 48.48% menyatakan siswa cukup memperhatikan dan siswa selalu menulis materi pelajaran yang praktikan sampaikan, 30.30% menyatakan siswa kurang memperhatikan dan ada beberapa siswa yang mengantuk dan 13.64% menyatakan siswa jarang memperhatikan dan mereka berbicara sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.8.

50

Tabel 4.8. Perhatian Siswa Di Sekolah Latihan Terhadap Praktikan dalam Melaksanakan KBM NO. Perhatian siswa di sekolah latihan terhadap Jumlah % praktikan dalam melaksanakan KBM a Siswa sangat memperhatikan dan selalu aktif bertanya. b Siswa cukup memperhatikan dan selalu menulis materi pelajaran c Siswa kurang memperhatikan dan ada yang mengantuk d Siswa jarang yang memperhatikan dan mereka berbicara sendiri. Jumlah 66 100,00% 9 13.64% 20 30.30% 32 48.48% Responden 5 7.58%

Pertanyaan butir 7 mengungkap selama praktikan melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti melaksanakan pengelolaan kelas) apakah ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain? Jawaban dari responden adalah 4.54% menyatakan tidak ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas, 22.73% menyatakan jarang siswa yang membuat gaduh di dalam kelas dan 60.61% menyatakan kadang-kadang ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas dan 12.12% menyatakan sering ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas. Untuk lebih jelasnya seperti pada tabel 4.9.

51

Tabel 4.9. Siswa yang Membuat Gaduh di Dalam Kelas atau Mengganggu Siswa Lain NO. Siswa yang membuat gaduh di dalam Jumlah % kelas atau mengganggu siswa lain Responden 3 4.54% a tidak ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas 15 jarang siswa yang membuat gaduh di b 22.73% dalam kelas 39 kadang-kadang ada siswa yang membuat c 60.61% gaduh di dalam kelas 8 sering ada siswa yang membuat gaduh di 12.12% d dalam kelas Jumlah 66 100,00%

4.1.3 Variabel Fasilitas Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 pada variabel fasilitas dihitung secara parsial tiap indikator yang ada.

4.1.3.1 Keadaan ruang kelas Data keadaan ruang kelas dijaring dengan menggunakan 2 butir pertanyaan, yaitu pertanyaan butir 8 dan butir 9, perolehan hasil seperti pada tabel 4.10.

Tabel 4.10. Deskriptif Faktor Keadaan Ruang kelas Indikator No. Butir Soal 8 Pencahayaan ruang kelas dalam menunjang pelaksanaan PBM Kemampuan praktikan dalam memperhatikan 9 setiap individu (siswa) dalam KBM Kriteria

Keterangan Skor % 180 114 34.09 % 21.59 %

294 55.68 % Menjadi kendala

52

Hasil perhitungan data keadaan ruang kelas diperoleh skor sebesar 295. Skor tersebut mencapai 55.68% dari skor maksimal 528. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keadaan ruang kelas menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah – sekolah latihan tahun 2004. Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 8, yang mengungkap tentang pencahayaan ruang kelas apakah menunjang untuk dilaksanakannya proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas)? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 10.61% menyatakan sangat menunjang karena ventilasi baik, 54.54% menyatakan cukup menunjang karena ventilasi cukup baik, 31.82% menyatakan kurang menunjang karena ventilasi kurang baik, dan 0.03% menyatakan tidak menunjang karena ventilasi tidak baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.11.

Tabel 4.11. Pencahayaan Ruang Kelas dalam Menunjang Pelaksanaan PBM Jumlah % NO. Pencahayaan ruang kelas dalam menunjang pelaksanaan PBM Responden 10.61% 7 sangat menunjang karena ventilasi baik a 36 cukup menunjang karena ventilasi cukup b 54.54% baik 21 kurang menunjang karena ventilasi kurang c 31.82% baik 2 kurang menunjang karena ventilasi tidak d 3.03% baik Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 9 mengungkap tentang keadaan fisik ruang kelas. Ditinjau dari lingkungan fisik ruang kelas apakah praktikan dalam melaksanakan proses

53

belajasr mengajar mampu memusatkan perhatian pada setiap individu ? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 3.03% menyatakan ya, mampu karena tempat duduk guru memakai kursi yang tinggi, 7.58% menyatakan ya, mampu karena di depan kelas lantainya lebih tinggi (seperti panggung), 48.48% menyatakan ya, mampu karena tempat duduk guru sejajar dengan tempat duduk siswa, dan 40.91% menyatakan kurang, karena di depan kelas lantainya tidak tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.12.

Tabel 4.12. Kemampuan Praktikan dalam Memperhatikan Setiap Individu (Siswa) dalam KBM Jumlah % NO. Kemampuan Praktikan dalam Memperhatikan Setiap Individu (siswa) Responden dalam KBM 2 3.03% a Ya, mampu karena tempat duduk guru memakai kursi yang tinggi. 5 Ya, mampu karena di depan kelas 7.58% b lantainya lebih tinggi (seperti panggung). 32 Ya, mampu karena tempat duduk guru 48.48% c sejajar dengan tempat duduk siswa. Kurang, karena di depan kelas lantainya d tidak tinggi 27 40.91% Jumlah 66 100,00%

4.1.3.2 Buku-buku Pelajaran Data buku-buku pelajaran di jaring dengan menggunakan 2 butir pertanyaan, yaitu pertanyaan butir 10 dan pertanyaan butir 11, perolehan hasil seperti pada tabel 4.13.

54

Tabel 4.13. Deskriptif Faktor Buku-buku Pelajaran Indikator No. Butir Soal 10 Buku paket yang disediakan sekolah untuk siswa Penggunaan sumber atau literatur lain 11 selain buku paket dalam PBM Kriteria

Keterangan Skor % 149 195 28.22% 36.93%

344 65.15% Cukup Menjadi kendala

Hasil perhitungan data buku-buku pelajaran diperoleh skor sebesar 344. Skor tersebut mencapai 65.15% dari skor maksimal sebesar 528, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori cukup menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa buku-buku pelajaran cukup menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas pada sekolah-sekolah latihan tahun 2004. Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 10 yang mengungkap apakah buku paket untuk siswa yang disediakan oleh sekolah memadai untuk dilaksanakannya proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas)? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 12,12% menyatakan ya, sangat memadai karena semua siswa mendapat buku, 22.73% menyatakan ya, cukup memadai karena sebagian besar siswa yang mendapat buku paket, 43.94% menyatakan kurang memadai, karena hanya sebagian saja siswa yang mendapat buku paket, dan 21.21% menyatakan tidak memadai karena sekolah tidak menyediakan. Untuk lebih lebih lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.14.

55

Tabel 4.14. Buku Paket yang Disediakan Sekolah untuk Siswa Jumlah NO. Buku paket yang disediakan sekolah untuk siswa Responden 8 a Memadai karena semua siswa mendapat buku paket. 15 Cukup memadai karena sebagian siswa b mendapat buku 29 Kurang memadai karena hanya sebagian c siswa yang mendapat buku paket. Tidak memadai karena sekolah tidak 14 d menyediakan Jumlah 66

% 12.12% 22.73% 43.94% 21.21% 100,00%

Pertanyaan butir 11 mengungkap, dalam mempertahankan kondisi kelas yang optimal, selain menggunakan buku paket apakah praktikan selalu menggunakan sumber atau literatur lain? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 31.82% menyatakan selalu, agar siswa lebih memperhatikan dalam mengikuti pelajaran, 31.82% menyatakan sering, agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran, 36.36% menyatakan kadang-kadang sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.15.

Tabel 4.15. Penggunaan Sumber atau Literatur Lain Selain Buku Paket dalam PBM NO Penggunaan sumber atau literatur lain selain Jumlah % . buku paket dalam PBM Responden 21 31.82% a Selalu, agar siswa lebih memperhatikan dalam mengikuti pelajaran 21 Sering agar siswa tidak bosan dalam mengikuti b 31.82% pelajaran. 24 Kadang-kadang sesuai dengan kebutuhan c 36.36% 0 Tidak pernah karena sudah cukup dengan buku d 0.00% paket Jumlah 66 100,00%

56

4.1.3.3 Media Pengajaran Data media pengajaran dijaring dengan menggunakan 4 butir pertanyaan, yaitu pertanyaan butir 12 sampai butir 15, perolehan hasil seperti pada tabel 4.16. Tabel 4.16. Deskriptif Faktor Media Pengajaran Indikator No. Butir Soal 12 Kesulitan praktikan dalam mendapatkan media pengajaran Penyediaan media pengajaran oleh sekolah 13 dalam menunjang pelaksanaan PBM Penggunaan media lain selain papan tulis 14 Manfaat media pengajaran dalam 15 memperlancar komunikasi antara praktikan dengan siswa dalam pelaksanaan PBM Kriteria

Keterangan Skor % 161 168 146 200 15.25 % 15.91 % 13.83 % 18.94 %

675 63,92 % Cukup Menjadi kendala

Hasil perhitungan data media pengajaran memperoleh skor sebesar 675. skor tersebut mencapai 63.92% dari skor maksimal sebesar 1056. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori cukup menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media pengajaran cukup menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas pada sekolah-sekolah latihan tahun 2004. Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 12 yang mengungkap apakah praktikan merasa kesulitan dalam mendapatkan media pengajaran yang dibutuhkan (yang menunjang proses belajar mengajar atau pelaksanaan pengelolaan kelas)? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 28.79% menyatakan tidak merasa kesulitan, karena sekolah sudah menyediakan, 10.61% menyatakan tidak merasa kesulitan karena bisa membuat sendiri, 36.36% menyatakan agak sulit karena memakan banyak waktu dan biaya dalam pembuatannya, dan 24.24% menyatakan

57

sulit karena sekolah tidak menyediakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.17.

Tabel 4.17. Kesulitan Praktikan dalam Mendapatkan Media Pengajaran Jumlah % NO. Kesulitan praktikan dalam mendapatkan media pengajaran Responden) 19 28.79% a Tidak merasa kesulitan karena sekolah sudah menyediakan. 7 10.61% Tidak merasa kesulitan karena bisa b membuat sendiri 24 Agak sulit karena memakan banyak waktu 36.36% c dan biaya dalam pembuatannya Sulit karena sekolah tidak menyediakan 16 24.24% d Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 13 mengungkap apakah media atau alat pengajaran yang disediakan oleh sekolah jumlahnya menunjang untuk dilaksanakannya proses belajar mengajar sehingga akan memperlancar jalannya pengelolaan kelas? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 4.55% menyatakan menunjang karena semua media pengajaran sudah tersedia, 48.48% menyatakan cukup menunjang karena sebagian besar media pengajaran sudah tersedia, 43.94% menyatakan kurang menunjang karena hanya sebagian saja media pengajaran yang sudah tersedia dan 3.03% menyatakan tidak menunjang karena sekolah tidak menyediakan media pengajaran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.18.

58

Tabel 4.18. Penyediaan Media Pengajaran oleh Sekolah dalam Menunjang Pelaksanaan PBM NO. Penyediaan media pengajaran oleh sekolah Jumlah % dalam menunjang pelaksanaan PBM Responden 3 4.55% a Menunjang karena semua media pengajaran yang sudah tersedia 32 Cukup menunjang karena sebagian besar b 48.48% media pengajaran sudah tersedia 29 Kurang menunjang karena hanya sebagian c 43.94% media pengajaran yang sudah tersedia 2 Tidak menunjang karena sekolah tidak 3.03% d menyediakan media pengajaran Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 14 mengungkap, di dalam mempertahankan kondisi kelas yang optimal, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) apakah praktikan menggunakan media lain selain papan tulis? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 7.58% menyatakan selalu agar siswa lebih memperhatikan dalam mengikuti pelajaran, 12.12% menyatakan sering agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran, 72.24% menyatakan kadangkadang, sesuai dengan kebutuhan, dan 6.06% menyatakan tidak pernah karena sudah cukup dengan papan tulis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.19.

Tabel 4.19. Penggunaan Media Lain Selain Papan Tulis NO. Penggunaan media lain selain papan tulis a b c d Selalu agar siswa lebih memperhatikan dalam mengikuti pelajaran Sering agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran Kadang-kadang, sesuai dengan kebutuhan Tidak pernah karena sudah cukup dengan papan tulis Jumlah

Jumlah Responden 5 8 49 4 66

% 7.58% 12.12% 74.24% 6.06% 100,00%

59

Pertanyaan butir 15 mengungkap apakah dengan media pengajaran tersebut pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) yang praktikan laksanakan (komunikasi antara praktikan dengan siswa) menjadi efektif? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 24.24% menyatakan ya karena siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran, 54.55% menyatakan ya, karena memperlancar komunikasi dengan para siswa dan 21.21% menyatakan ya, karena suasana menjadi hangat dan bersahabat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.20.

Tabel 4.20. Manfaat Media Pengajaran dalam Memperlancar Komunikasi antara Praktikan dengan Siswa dalam Pelaksanaan PBM Jumlah % media pengajaran dalam NO. Manfaat memperlancar komunikasi antara praktikan Responden dengan siswa dalam pelaksanaan PBM 24.24% 16 Siswa lebih bersemangat dalam mengikuti a pelajaran 36 Memperlancar komunikasi dengan para 54.55% b siswa 14 Suasana menjadi hangat dan bersahabat 21.21% c 0 Menggunakan media, walaupun banyak d 0.00% memakan waktu dan bertele-tele Jumlah 66 100,00%

4.1.4 Variabel Pembimbing Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas di Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004 pada variabel - variabel dihitung secara parsial tiap indikator yang ada.

60

4.1.4.1 Bimbingan dan Bantuan Guru Pamong Data bimbingan dan bantuan Dosen Pembimbing dijaring dengan

menggunakan 6 butir pertanyaan, yaitu pertanyaan butir 16 sampai butir 21, perolehan hasil seperti pada tabel 4.21.

Tabel 4.21. Deskriptif Faktor Bimbingan dan Bantuan Guru Pamong Indikator No. Keterangan Butir Skor % Soal 178 11.24 % 16 Kesempatan observasi pelaksanaan KBM yang diberikan guru pamong pada praktikan 183 11.55 % Bantuan guru pamong kepada praktikan 17 dalam menghadapi siswa yang mengganggu PBM 169 10.67 % Bimbingan yang dilaksanakan guru pamong 18 pada praktikan 165 10.42 % Saran khusus guru pamong pada praktikan 19 dalam menghadapi problem siswa yang mengganggu di kelas 212 13.38 % Konsultasi dengan guru pamong yang 20 praktikan laksanakan 137 Jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu 8.65 % 21 guru pamong 1044 65.91% Kriteria Cukup Menjadi kendala

Hasil perhitungan data bimbingan dan bantuan guru pamong diperoleh skor sebesar 1044. Skor tersebut mencapai 65.91% dari skor maksimal sebesar 1584. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori cukup menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pengelolaan kelas mahasiswa praktikan pada sekolah-sekolah latihan cukup menjadi kendala dalam hal bimbingan dan bantuan guru pamong. Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 16 yang mengungkap, apakah praktikan diberi kesempatan oleh guru pamong untuk mengadakan observasi

61

pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) yang dilakukan teman praktikan? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 12.12% menyatakan ya, setiap kali teman praktikan mengajar, 56.06% menyatakan pernah beberapa kali, 21.21% menyatakan pernah satu kali, dan 10.61% menyatakan tidak pernah. Untuk lebih jelasnya dapat diliaht seperti pada tabel 4.22.

Tabel 4.22. Kesempatan Observasi Pelaksanaan KBM yang Diberikan Guru Pamong pada Praktikan NO. Kesempatan observasi pelaksanaan KBM Jumlah % yang diberikan Guru Pamong pada praktikan Responden 12.12% 8 Setiap kali teman praktikan mengajar a 37 Pernah beberapa kali b 56.06% 14 Pernah satu kali c 21.21% 7 Tidak pernah d 10.61% Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 17 mengungkap, bila praktikan menghadapi problem siswa yang mengganggu pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) apakah guru pamong memberikan bantuan untuk

menyelesaikannya? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 6.06% menyatakan ya, setiap kali ada siswa yang mengganggu, 68.18% menyatakan ya, pernah beberapa kali, 22.73% menyatakan ya, pernah satu kali dan 3.03% menyatakan tidak pernah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.23 sebagai berikut.

Tabel 4.23. Bantuan Guru Pamong kepada Praktikan dalam Menghadapi Siswa yang Mengganggu PBM NO. Bantuan Guru Pamong kepada praktikan dalam Jumlah % menghadapi siswa yang mengganggu PBM Responden 4 Setiap kali teman praktikan mengajar a 6.06% Pernah beberapa kali b 45 68.18% Pernah satu kali c 15 22.73% Tidak pernah d 2 3.03% Jumlah 66 100,00%

62

Pertanyaan butir 18 mengungkap, setelah praktikan melaksanakan proses belajar mengajar apakah guru pamong mengadakan bimbingan? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 12.12% menyatakan guru pamong selalu memberikan saran perbaikan serta pengarahan, 37.88% menyatakan guru pamong sering memberikan saran perbaikan serta pengarahan, 43.94% menyatakan kadang-kadang memberi saran perbaikan dan pengarahan, dan 6.06% menyatakan jarang memberi saran perbaikan dan pengarahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.24 berikut ini.

Tabel 4.24. Bimbingan yang Dilaksanakan Guru Pamong pada Praktikan Jumlah % NO. Bimbingan yang dilaksanakan Guru Pamong pada praktikan Responden 8 12.12% a Selalu memberikan saran perbaikan dan pengarahan 25 Sering memberi saran perbaikan dan 37.88% b pengarahan 29 Kadang-kadang memberi saran perbaikan 43.94% c dan pengarahan Jarang memberi saran perbaikan dan 4 6.06% d pengarahan Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 19 mengungkap, apakah guru pamong di sekolah latihan memberi saran khusus, yang membantu kesuksesan praktikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) misalnya bila menghadapi problem siswa yang suka membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 13.64% menyatakan selalu memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya, 27.27% menyatakan guru pamong sering memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya, 54.55% menyatakan Kadang-kadang memberikan saran dan

63

pengarahan serta cara mengatasinya, dan 4.54% menyatakan Jarang memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.25.

Tabel 4.25. Saran Khusus Guru Pamong pada Praktikan dalam Menghadapi Problem Siswa yang Mengganggu di Kelas Jumlah % NO. Saran khusus Guru Pamong pada praktikan dalam menghadapi problem siswa yang Responden mengganggu di kelas 13.64% 9 Selalu memberikan saran dan pengarahan a serta cara mengatasinya 18 Sering memberikan saran dan pengarahan b 27.27% serta cara mengatasinya 36 Kadang-kadang memberikan saran dan c 54.55% pengarahan serta cara mengatasinya 3 Jarang memberikan saran dan pengarahan d 4.55% serta cara mengatasinya Jumlah 66 100,00%

Pertanyaan butir 20 mengungkap, berapa kali konsultasi dengan guru pamong yang praktikan laksanakan? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 36.36% menyatakan setiap kali penampilan, 50.00% menyatakan setiap dua kali penampilan, 12.12% menyatakan berkonsultasi dengan guru pamong setiap tiga kali penampilan, dan 1.52% menyatakan setiap empat kali penampilan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.26.

Tabel 4.26. Konsultasi dengan Guru Pamong yang Praktikan Laksanakan Jumlah % NO. Konsultasi dengan Guru Pamong yang praktikan laksanakan Responden 36.36% 24 Setiap kali penampilan a 33 Setiap 2 kalli penampilan 50.00% b 8 Setiap 3 kali penampilan c 12.12% 1 Setiap 4 kali penampilan d 1.52% Jumlah 66 100.00%

64

Pertanyaan butir 21 mengungkap berapa jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu guru pamong? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 16.67% menyatakan 8 kali atau lebih, 6.06% menyatakan 6-7 kali penampilan, 45.45% praktikan menyatakan 4-5 kali penampilan, dan 31.82% menyatakan 3 kali penampilan atau kurang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.27. Tabel 4.27. Jumlah Partisipasi Mengajar yang Ditunggu Guru Pamong yang Jumlah % NO. Jumlah Partisipasi Mengajar Ditunggu Guru Pamong Responden 16.67% 11 8 kali atau lebih a 4 6-7 kali penampilan 6.06% b 30 4-5 kali penampilan c 45.45% 21 3 kali penampilan atau kurang d 31.82% Jumlah 66 100.00%

4.1.4.2 Bimbingan dan Bantuan Dosen Pembimbing Data bimbingan dan bantuan dosen pembimbing dijaring dengan

menggunakan 4 butir pertanyaan, yaitu pertanyaan butir 22 sampai butir 25 dan perolehan hasil seperti pada tabel 4.28.

Tabel 4.28. Deskriptif Faktor Bimbingan dan Bantuan Dosen Pembimbing Indikator Keterangan No. Butir Skor % Soal 125 11.84 % 22 Bimbingan yang diadakan dosen pembimbing setelah praktikan berpartisipasi mengajar 126 11.93 % Saran khusus yang diberikan dosen 23 pembimbing kepada praktikan dalam menghadapi problem siswa 145 13.73 % Jumlah konsultasi praktikan dengan dosen 24 pembimbing 108 Jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu 10.23 % 25 dosen pembimbing 504 47.73 % Kriteria Menjadi kendala

65

Hasil perhitungan data bimbingan dan bantuan dosen pembimbing diperoleh skor 504. skor tersebut mencapai 47.73% dari skor maksimal 1056. berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan setelah dikonsultasikan termasuk kategori menjadi kendala. Dengan demimkian dapat dikatakan bahwa mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 tidak mendapat kendala dalam hal bimbingan dan bantuan dosen pembimbing. Hal ini tertuang dalam pertanyaan butir 22 mengungkap, apakah setelah praktikan melaksanakan partisipasi mengajar dosen pembimbing selalu mengadakan bimbingan? Jawaban dari praktikan ( responden) adalah 6.06% menyatakan dosen pembimbing selalu memberikan saran perbaikan dan pengarahan, 12.12%

menyatakan dosen pembimbing sering memberikan saran perbaikan dan pengarahan, 46.97% menyatakan dosen pembimbing kadang-kadang memberikan perbaikan dan pengarahan, dan 34.85% menyatakan dosen pembimbing jarang memberikan saran perbaikan dan pengarahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.29.

Tabel 4.29. Bimbingan yang Dilakukan Dosen Pembimbing Setelah Praktikan Berpartisipasi Mengajar Jumlah % NO. Bimbingan yang dilakukan Dosen Pembimbing setelah praktikan berpartisipasi mengajar Responden 4 6.06% a Selalu memberikan saran perbaikan dan pengarahan 8 Sering memberikan saran perbaikan dan b 12.12% pengarahan 31 Kadang-kadang memberikan perbaikan dan 46.97% c pengarahan 23 Jarang memberikan saran perbaikan dan d 34.85% pengarahan Jumlah 66 100.00% Pertanyaan butir 23 mengungkap, apakah dosen pembimbing memberikan saran khusus yang membantu kesuksesan praktikan dalam melaksanakan proses

66

belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) misalnya dalam menghadapi problem siswa yang suka membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 9.09% menyatakan selalu memberikan saran pengarahan dan cara mengatasinya, 9.09% menyatakan dosen pembimbing sering memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya, 45.46% menyatakan Kadang-kadang memberikan saran pengarahan dan cara mengatasinya, dan 36.36% menyatakan jarang memberikan saran pengarahan dan cara mengatasinya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.30.

Tabel 4.30. Saran Khusus yang Diberikan Dosen Pembimbing kepada Praktikan dalam Menghadapi Problem Siswa Jumlah % NO. Saran Khusus yang diberikan Dosen Pembimbing kepada praktikan dalam Responden menghadapi problem siswa 6 9.09% a Selalu memberi saran pengarahan dan cara mengatasinya 6 Sering memberikan saran pengarahan dan b 9.09% cara mengatasinya 30 Kadang-kadang memberikan saran 45.46% c pengarahan dan cara mengatasinya Jarang memberikan saran pengarahan dan 24 d 36.36% cara mengatasinya Jumlah 66 100.00%

Pertanyaan butir 24 mengungkap, berapa kali praktikan berkonsultasi dengan dosen pembimbing? Jawaban dari praktikan (responden) adalah 9.09% menyatakan empat kali atau lebih, 22.73% menyatakan tiga kali, 46.97% menyatakan sebanyak dua kali, dan 21.21% menyatakan satu kali atau tidak pernah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.31.

67

Tabel 4.31. Jumlah Konsultasi Praktikan dengan Dosen Pembimbing NO. Jumlah konsultasi praktikan dengan dosen Jumlah pembimbing Responden 6 Empat kali atau lebih a 15 Tiga kali b 31 Dua kali c 14 Satu kali atau tidak pernah d Jumlah 66

% 9.09% 22.73% 46.97% 21.21% 100.00%

Pertanyaan butir 25 mengungkap tentang jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu dosen pembimbing? Jawaban dari praktikan adalah 4.54% menyatakan empat kali atau lebih, 6.06% menyatakan tiga kali, 37.88% menyatakan dua kali, dan 51.52% menyatakan satu kali atau tidak pernah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada tabel 4.32.

Tabel 4.32. Jumlah Partisipasi Mengajar yang Ditunggu Dosen Pembimbing NO. Jumlah Partisipasi Mengajar yang Jumlah % Ditunggu Dosen Pembimbing Responden 4.54% 3 Empat kali atau lebih a 4 Tiga kali b 6.06% 25 Dua kali c 37.88% 34 Satu kali atau tidak pernah d 51.52% Jumlah 66 100.00%

4.2

Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil analisis data penelitian, maka dapat diketahui bahwa

pelaksanaan pengelolaan kelas, sikap siswa siswa di dalam kelas, buku-buku pelajaran, media pengajaran, bimbingan dan bantuan guru pamong termasuk kategori 62.50%-81.25% dalam kriteria cukup mendapat kendala. Sedangkan keadaan ruang kelas, bantuan dan bimbingan dosen pembimbing termasuk kategori 43.75%-62.50% dalam kriteria mendapat kendala.

68

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pengelolaan kelas mahasiswa praktikan program studi Pendidikan Teknik Bangunan jurusan Teknik Sipil FT UNNES di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 cukup mendapat kendala baik dari mahasiswa, sikap siswa di dalam kelas, fasilitas buku-buku pelajaran, fasilitas media pengajaran maupun bantuan dan bimbingan guru pamong.

Mahasiswa praktikan mendapat kendala dari fasilitas keadaan ruang kelas dan dari bantuan dan bimbingan dosen pembimbing.

4.2.1 Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Pelaksanaan pengelolaan kelas memperoleh persentase jawaban sebesar 67.42% dalam kategori cukup menjadi kendala. Pada waktu melaksanakan proses belajar mengajar dalam menyampaikan materi pelajaran, praktikan rata-rata menyatakan kadang-kadang lancar, karena belum terbiasa berbicara di depan kelas sehingga pelaksanaan pengelolaan kelas cukup terganggu. Kalau sekarang masih ada penilaian dari pihak tertentu yang mengatakan penguasaan materi pelajaran kurang, mungkin merupakan kasus dan bukan rata-rata atau kriteria yang mereka gunakan adalah kriteria guru yang sudah berpengalaman selam lima tahun. Upaya dalam menumbuhkan suasana emosional yang baik di dalam kelas, praktikan rata-rata menerapkan tipe kepemimpinan yang bersikap laizerfaire. Tipe kepemimpinan yang cenderung pada laizerfaire (bebas terbatas), tipe kepemimpinan ini biasanya tidak produktif, walaupun ada pemimpin. Kalau guru ada siswa lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya ingin diperhatikan. Dalam tipe kepemimpinan ini, biasanya aktifitas siswa lebih produktif kalau gurunya tidak ada.

69

Tipe ini paling cocok bagi siswa yang aktif, penuh kemauan, berinisiatif dan tidak selalu menunggu pengarahan. Tipe kepemimpinan laizerfaire kurang dapat diwujudkan di lingkungan suatu kelas untuk menciptakan dinamika kelas yang positif karena setiap personal tidak bergerak kearah tujuan yang sama Tindakan yang praktikan lakukan bila ada siswa yang mengganggu ketertiban kelas, rata-rata praktikan dengan cara mendekati siswa. Tindakan ini dilakukan jika dengan menggunakan isyarat non-verbal siswa masih membuat gaduh. Teknik mendekati ini biasanya cukup efektif bila seorang siswa mulai bertingkah. Kehadiran guru dapat membuatnya takut, dan akan menghentikan dari perbuatan mengganggu ketertiban kelas, tanpa perlu menegur. Namun apabila siswa tetap tidak menghiraukan, tindakan yang dilakukan praktikan selanjutnya adalah dengan cara menegur atau memberi ceramah tentang kesalahan yang dibuat pada saat itu. Usaha dalam mempertahankan kondisi kelas yang optimal di dalam melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) praktikan rata-rata kadang-kadang berusaha menciptakan suasana humor bila diperlukan. Rasa humor guru dalam hubungan dengan siswa akan berpengaruh positif dalam pengelolaan kelas. Sepanjang rasa humor tersebut berstruktur dengan baik. Rasa humor inipun dapat merupakan saluran dari berbagai tekanan emosional. Dengan demikian mahasiswa praktikan mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 cukup mendapat kendala pada faktor pelaksanaan penyelenggaraan kelas.

70

4.2.2 Sikap Siswa di Dalam Kelas Sikap siswa di dalam kelas memperoleh persentase jawaban sebesar 63,61% dalam kategori cukup mendapat kendala. Praktikan rata-rata menyatakan sikap siswa di dalam kelas (dalam proses belajar mengajar) bila diberi kesempatan bertanya, hanya sedikit siswa yang memberikan respon aktif bertanya atau jarang siswa yang memberikan respon aktif bertanya. Selama praktikan melaksanakan praktik mengajar, pada umumnya siswa cukup memperhatikan dan siswa selalu menulis materi pelajaran yang disampaikan praktikan. Selama praktikan melaksanakan proses belajar menagajar, rata-rata praktikan menyatakan kadang-kadang ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas. Ini bisa dimaklumi, karena mahasiswa praktikan baru pertama kali melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya. Sehingga belum begitu mampu menghadapi sikap siswa yang melanggar disiplin kelas. Di dalam kelas guru dituntut menyelengarakan proses belajar mengajar dengan situasi yang hidup dan produktif. Guru harus mengusahakan persaingan yang positif dan mencegah konflik yang merugikan sehingga tecipta suasana kelas yang kondusif. Dengan demikian faktor sikap siswa di dalam kelas cukup menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004.

71

4.2.3 Fasilitas di Sekolah latihan

4.2.3.1 Fasilitas Keadaan Ruang kelas Fasilitas keadaan ruang kelas memperoleh persentase jawaban sebesar 55.68% dalam kriteria mendapat kendala. Ditinjau dari pencahayaan ruang kelas, rata-rata praktikan menyatakan cukup menunjang karena ventilasi cukup baik. Tapi sebagian siswa juga menyatakan bahwa pencahayaan ruang kelas di sekolah latihan kurang menunjang karena ventilasi kurang baik. Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa, jendela harus cukup besar, sehingga memungkinkan hangat sinar matahari masuk. Dengan ventilasi yang baik memungkinkan siswa belajar dengan baik yaitu siswa dapat melihat tulisan dengan jelas, baik tulisan di papan tullis maupun di buku bacaan, cahaya harus datang dari kanan, tidak menyilaukan. Praktikan rata-rata menyatakan mampu memusatkan perhatian pada setiap siswa, karena tempat duduk guru sejajar dengan tempat duduk siswa. Ada sebagian praktikan menyatakan, bahwa praktikan kurang mampu memusatkan perhataian pada setiap siswa karena di depan kelas lantainya tidak tinggi. Hal ini menyebabkan praktikan mengalami kesulitan dalam mengontrol tingkah laku siswa di dalam kelas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor keadaan ruang kelas menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004.

72

4.2.3.2 Fasilitas Buku-buku Pelajaran Fasilitas buku-buku pelajaran memperoleh persentase 65.15% dalam kriteria cukup menjadi kendala. Dikatakan demikian karena buku-buku yang disediakan oleh sekolah kurang memadai, sehingga proses belajar mengajar berjalan kurang efektif. Siswa jarang yang memiliki buku pegangan sendiri sehingga siswa hanya mencatat materi pelajaran yang disampaikan oleh praktikan. Rata-rata praktikan selain menggunakan buku-buku paket, mereka juga menggunakan sumber atau literatur lain yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Hal ini dilakukan karena materi yang ada pada buku paket tidak sepenuhnya dapat melengkapi materi yang ada. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fasilitas buku-buku pelajaran cukup menjadi kendala bagi mahasiswa praktikan mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004.

4.2.3.3 Fasilitas Media Pengajaran Fasilitas media pengajaran memperoleh persentase jawaban sebesar 63.92% dalam kriteria cukup menjadi kendala. Dikatakan demikian karena media pengajaran yang disediakan oleh sekolah kurang memadai, sehingga kurang menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas). Rata-rata praktikan menyatakan bahwa media pengajaran yang dibutuhkan cukup sulit didapatkan karena di sekolah kurang memadai.

73

Rata-rata prakttikan juga menyatakan bahawa media atau alat yang disediakan oleh sekolah jumlahnya kurang menunjang karena hanya sebagian saja media pengajaran yang sudah tersedia. Di dalam usaha mempertahankan kondisi kelas yang optimal, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas), praktikan rata-rata menyatakan kadang-kadang menggunakan media lain selain papan tulis sesuai dengan kebutuhan. Dengan media pengajaran yang praktikan gunakan, praktikan rata-rata menyatakan bahwa pengajaran menjadi lebih efektif komunikasi dengan para siswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 cukup mendapat kendala dalam hal penyediaan media pengajaran. karena memperlancar

4.2.4 Bimbingan di Sekolah Latihan

4.2.4.1 Bimbingan dan Bantuan Guru Pamong Bimbingan dan bantuan guru pamong memperoleh persentase jawaban sebesar 65.91% dalam kriteria cukup mendapat kendala. Praktikan rata-rata diberi kesempatan beberapa kali oleh guru pamong untuk mengadakan observasi pelasanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) yang dilakukan oleh praktikan lain. Hal ini dimaksudkan agar praktikan dapat belajar dari pengalaman mengajar praktikan lainnya sekaligus sebagai studi banding dalam praktik mengajar oleh praktikan.

74

Apabila praktikan menghadapi problem siswa yang mengganggu proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas), praktikan rata-rata

menyatakan bahwa guru pamong pernah beberapa kali memberikan bantuan untuk menyelesaikannya. Guru pamong juga sering memberikan saran perbaikan dan pengarahan setelah praktikan melaksanakan partisipasi mengajar sebagai bentuk bimbingan apakah ada koreksi dan perbaikan terhadap praktik mengajar yang telah dilaksanakan. Sebagian praktikan menyatakan bahwa guru pamong kadang-kadang memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya apabila dalam menghadapi problem siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain sehingga dapat membantu kesuksesan praktikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas). Sebagian praktikan rata-rata menyatakan mengadakan konsultasi dengan guru pamong setiap dua kali penampilan, bahkan sebagian juga mengadakan konsultasi pada setiap kali penampilan mengajar. Dengan semakin banyak intensitas konsultasi atau bimbingan yang dilakukan oleh praktikan pada guru pamong maka kesulitan maupun kendala yang dihadapi dapat mudah diatasi. Sedangkan jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu guru pamong, praktikan rata-rata menyatakan 1 sampai 5 kali penampilan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

75

Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 cukup mendapat kendala pada bimbingan dan bantuan guru pamong.

4.2.4.2 Bimbingan dan Bantuan Dosen Pembimbing Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing memperoleh persentase jawaban sebesar 47.73% dalam kriteria mendapat kendala. Setelah praktikan melaksanakan partisipasi mengajar, dosen pembimbing kadang-kadang memberikan saran

perbaikan dan pengarahan. Sebagian praktikan menyatakan bahwa dosen pembimbing kadang-kadang memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya apabila dalam menghadapi problem siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain sehingga dapat membantu kesuksesan praktikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas). Sebagian praktikan menyatakan berkonsultasi dengan dosen pembimbing rata-rata dua kali. Sedangkan jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu dosen pembimbing adalah satu kali atau bahkan tidak pernah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mahasiswa praktikan mahasiswa praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 mendapat kendala pada bimbingan dan bantuan dosen pembimbing.

76

4.2.5 Faktor Dominan Berdasarkan hasil penelitian, faktor praktikan dalam melaksanakan

pengelolaan kelas, faktor sikap siswa di dalam kelas, faktor fasilitas buku-buku pelajaran, faktor fasilitas media pengajaran, dan faktor bimbingan dan bantuan guru pamong dalam kriteria cukup menjadi kendala. Sedangkan faktor fasilitas keadaan ruang kelas dan faktor bimbingan dan bantuan dosen pembimbing dalam kriteria menjadi kendala. Faktor bimbingan dan bantuan dosen pembimbing memperoleh persentase skor terkecil dengan kriteria menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor ini merupakan faktor dominan yang menjadi kendala dalam melaksanakan pengelolaan kelas oleh mahasiswa praktikan pada sekolah-sekolah latihan.

77

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah bahwa kendalakendala yang dihadapi mahasiswa praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas di sekolah-sekolah latihan tahun 2004 adalah faktor praktikan dalam melaksanakan pengelolaan kelas, faktor sikap siswa di dalam kelas, faktor fasilitas buku-buku pelajaran, faktor fasilitas media pengajaran, dan faktor bimbingan dan bantuan guru pamong dalam kriteria cukup menjadi kendala. Sedangkan faktor fasilitas keadaan ruang kelas dan faktor bimbingan dan bantuan dosen pembimbing dalam kriteria menjadi kendala. Secara terperinci adalah sebagai berikut: a. Pelaksanaan pengelolaan kelas dari mahasiswa dengan tingkat persentase sebesar 67.42%. b. Sikap siswa di dalam kelas kelas dengan tingkat persentase sebesar 60.48%. c. Fasilitas keadaan ruang kelas dengan tingkat persentase sebesar 55.68%. d. Fasilitas buku-buku pelajaran dengan tingkat persentase sebesar 65.15%. e. Fasilitas media pengajaran dengan tingkat persentase sebesar 63.92%. f. Bimbingan dan bantuan guru pamong dengan tingkat persentase sebesar 65.91%. g. Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing dengan tingkat persentase sebesar 47.73%.

78

5.2 Saran Berdasarkan simpulan tersebut maka saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Mahasiswa praktikan hendaknya lebih siap dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar baik dari segi materi maupun metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta kondisi kelas yang optimal. b. Dalam rangka meningkatkan sikap positif siswa terhadap mahasiswa praktikan, hendaknya mahasiswa praktikan berusaha meningkatkan hubungan dan

kerjasama dengan siswa melalui sistem pengajaran yang efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi guru dalam pengelolaan kelas, menciptakan kondisi emosional dan kondisi fisik yang menguntungkan di dalam kelas, serta mengoptimalkan fungsi media pengajaran dengan baik. c. Bagi pihak-pihak sekolah latihan hendaklah mengusahakan menambah atau menyempurnakan berbagai fasilitas yang dimiliki, baik mengenai fasilitas keadaan ruang kelas, buku-buku pelajaran, maupun media pengajaran sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar yang efektif. d. Bagi guru pamong dalam membimbing mahasiswa praktikan hendaknya lebih intensif dalam proses bimbingan terutama dalam hal pengelolaan kelas. e. Bagi dosen pembimbing hendaknya dalam proses bimbingan juga lebih intensif dan peka terhadap permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa praktikan terutama apabila ada masalah yang harus dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.

79

f. Penelitian ini masih terbatas pada deskriptif kendala-kendala dalam pelaksanaan pengelolaan kelas, oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut lagi pada masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa praktikan dalam melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

80

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohamad. 1993. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa Ametembun, N.A. 1981. Guru dan Administrasi Sekolah. Bandung: FIP IKIP Bandung. ---------------------- 1981. Managemen Kelas. Bandung : FIP IKIP Bandung. Hadi, Sutrisno. 2001. Statistik Jilid 1. Yogyakarta: ANDI -----------------. 2002. Metodologi research Jilid 1. Yogyakarta: ANDI Joni, Raka T. 1980. Pengelolaan Kelas. Jakarta: Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) Depdikbud. Nawawi, Handari. 1986. Organisasi Kelas dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung. Nurbahri. 1986. Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar PMP. Jakarta: Depdikbud Universitas Terbuka. Poerwodarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Popham, W, James dan Eva L Baker. 1981. Bagaimana Mengajar Secara Sistimatis. Yogyakarta: Yayasan Kanisius. Purnomo, Daniel. 1988/1989. Identifikasi Pengembangan Ketrampilan Mengajar Mahasiswa Program Diploma IKIP Semarang Dalam Kelas Praktik Tahun Ajaran 1988/1989. Semarang: FIP IKIP Semarang. Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1985. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Soekarno, Thomas. 1996. Manajemen Kelas dan Interaksi Manusiawi dalam Proses Belajar Mengajar. Semarang: IKIP Semarang PRESS. Sugiyanto dan Sudjarwo. 1993. Materi Pokok Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta: Depdikbud, Universitas Terbuka. Soelaiman, Darwis A. 1979. Pengantar Pada Teori dan Praktik Pengajaran. Semarang: IKIP Semarang PRESS. Sudjana, Nana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

81

Suharsimi, Arikunto. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali. ------------------------. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Sukewi. 1989. Pengelolaan Kelas. Semarang: IKIP Semarang PRESS. UPT PPL. 2004. Pedoman PPL Universitas Negeri Semarang. Semarang: Depdiknas UNNES UPT PPL Usman, Moh, Uzer. 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wijaya, Cece dan Rusyan Tabrani. 1991. Kemapuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Rosdakarya.

82

88

Lampiran 3
LEMBAR PENGANTAR KUESIONER PENELITIAN

Dalam rangka penyusunan skripsi yang berjudul“Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam Melaksanakan Pengelolaan Kelas pada Sekolah-Sekolah Latihan Tahun 2004.", maka saya membutuhkan bantuan anda. Bantuian yang saya maksud adalah kesediaan anda untuk menjawab seperti terlampir berikut ini. Oleh karena itu saya mohon agar jawaban anda benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenar-benarnya, sehingga jawaban anda dapat saya gunakan untuk analisa data denagan tepat dan obyektif. Atas bantuan dan kesediaan anda saya ucapkan banyak terima kasih

Hormat saya

Wigiarto
NIM.5114000037

89

Lampiran 4
KUESIONER PENELITIAN

Judul Penelitian: “Kendala-Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Praktikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang dalam

Melaksanakan

Pengelolaan

Kelas

pada Sekolah-Sekolah

Latihan Tahun 2004."

IDENTITAS RESPONDEN NIM :

Petunjuk pengisian: Ø Pilih salah satu alternatif jawaban yang paling tepat dengan cara memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, dan d pada setiap butir pertanyaan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Ø Identitas dan jawaban responden dijaga kerahasiaannya oleh peneliti.

Pertanyaan-pertanyaan :

I. Kuesioner untuk variabel mahasiswa Ø Pelaksanaan pengelolaan kelas 1. Pada waktu anda melaksanakan proses belajar mengajar apakah anda mampu menyampaikan materi pelajaran dengan lancar, sehingga akan memperlancar jalannya pengelolaan kelas ? a. ya, lancar karena sudah mempersiapkan diri b. kadang-kadang lancar, karena belum terbiasa berbicara di depan kelas c. kurang lancar karena kurang mempersiapkan diri d. sering tidak lancar, karena sering gugup dan gemetar

90

2. Untuk menumbuhkan suasana emosional yang baik di dalam kelas, tipe kepemimpinan apa yang anda terapkan ? a. tipe kepemimpinan guru yang bersikap demokratis b. tipe kepemimpinan guru yang bersikap berdisiplin c. tipe kepemimpinan guru yang bersikap laizerfaire* d. tipe kepemimpinan guru yang bersikap otoriter

3. Selama anda melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) tindakan apa yang anda lakukan bila ada siswa yang mengganggu ketertiban kelas, misalnya ada siswa yang membuat gaduh di dala m kelas atau mengganggu siswa lain ?

a. dengan menggunakan isyarat non verbal, baik berupa isyarat tangan, bahu, kepala, alis dsb b. dengan cara mendekati siswa tersebut c. dengan cara menegur atau memberi ceramah tentang kesalahan pada waktu itu d. dengan menyuruhnya keluar kelas

4. Di dalam usaha mempertahankan kondisi kelas yang optimal dalam pelaksanaan pengelolaan kelas, apakah anda berusaha menciptakan suasana humor ? a. selalu, agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran b. sering, agar siswa tidak merasa tegang dalam mengikuti pelajaran c. kadang-kadang bila diperlukan d. jarang karena hanya mengganggu saja

*Laizerfaire : bebas terbatas

91

II. Kuesioner untuk variabel siswa Ø Sikap siswa di dalam kelas 5. Bagaimana sikap siswa di sekolah latihan anda, apakah mendukung dilaksanakannya proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) misalnya bila diberi kesempatan untuk bertanya ? a. siswa memberikan respon aktif bertanya b. sebagian siswa menggunakan kesempatan untuk bertanya c. hanya sedikit siswa yang bertanya d. siswa diam saja 6. Bagaimana perhatian siswa di sekolah latihan anda, ketika anda melaksanakan praktik mengajar ? a. sangat memperhatikan dan selalu aktif bertanya b. cukup memperhatikan dan siswa selalu menulis materi pelajaran yang saya sampaikan c. kurang memperhatikan dan ada beberapa siswa yang mengantuk d. jarang yang memperhatikan dan mereka berbicara sendiri (membuat gaduh)

7. Selama anda melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pengelolaan kelas), apakah ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain ? a. tidak ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas b. jarang siswa yang membuat gaduh di dalam kelas c. kadang-kadang ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas d. sering ada siswa yang membuat gaduh di dalam kelas

92

III. Kuesioner untuk variabel faslitas A. Keadaan ruang kelas 8. Ditinjau dari pencahayaan ruang kelas, apakah menunjang untuk

dilaksanakannya proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas)? a. sangat menunjang karena ventilasi baik b. cukup menunjang karena ventilasi cukup baik c. kurang menunjang karena ventilasi kurang baik d. kurang menunjang karena ventilasi tidak baik

9. Ditinjau dari lingkungan fisik ruang kelas, apakah anda mampu memusatkan perhatian pada setiap individu ? a. ya, karena tempat duduk guru memakai kursi yang tinggi b. ya, karena di depan kelas lantainya lebih tinggi (seperti panggung) c. ya, karena tempat duduk guru sejajar dengan tempat duduk siswa d. kurang, karena di depan kelas lantainya tidak tinggi

B. Buku-buku pelajaran 10. Apakah buku paket untuk siswa yang disediakan sekolah memadai / menunjang untuk dilaksanakannya proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) ? a. ya, memadai karena semua siswa mendapat buku paket b. ya, cukup memadai karena sebagian besar siswa mendaat buku paket c. kurang memadai, karena hanya sebagian siswa yang mendapatkan buku paket d. tidak memadai, karena sekolah tidak menyediakan buku paket

93

11. Dalam mempertahankan kondisi kelas yang optimal selain menggunakan buku paket, apakah anda selalu menggunakan sumber atau literatur lain ? a. selalu, agar siswa lebih memperhatikan dalam mengikuti pelajaran b. sering, agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran c. kadang-kadang sesuai dengan kebutuhan d. tidak pernah karena sudah cukup dengan buku paket saja.

C. Media pengajaran 12. Apakah anda merasa kesulitan untuk mendapatkan media pengajaran yang anda butuhkan ? a. tidak, karena sekolah sudah menyediakan b. tidak, karena biasa membuat sendiri c. agak sulit karena banyak memakan waktu dan biaya dalam pembuatannya d. ya, sulit karena sekolah tidak menyediakan.

13. Apakah dengan media atau alat pengajaran yang disediakan oleh sekolah jumlahnya menunjang untuk dilaksanakannya proses belajar mengajar, sehingga akan memperlancar jalannya pengelolaan kelas ? a. ya, menunjang karena semua media pengajaran sudah tersedia b. ya, cukup menunjang karena sebagian besar media pengajaran yang sudah tersedia c. kurang menunjang karena hanya sebagian saja media pengajaran yang sudah tersedia d. tidak menunjang karena sekolah tidak menyediakan media pengajaran

94

14. Di dalam usaha mempertahankan kondisi kelas yang optimal, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar ( dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) apakah anda menggunakan media lain selain papan tulis ? a. selalu, agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran b. sering, agar siswa lebih memperhatikan dalam mengikukti pelajaran c. kadang-kadang sesuai dengan kebutuhan d. tidak pernah karena sudah cukup dengan buku paket saja

15. Apakah dengan media pengajaran yang anda gunakan, pengajaran anda (komunikasi anda dengan siswa) menjadi lebih efektif ? a. ya, karena siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran b. ya, karena memperlancar komunikasi dengan para siswa c. ya, karena suasana menjadi hangat dan bersahabat d. ya, walaupun banyak memakan waktu dan bertele-tele.

IV. Kuesioner untuk variabel pembimbing A. Bimbingan dan bantuan guru pamong 16. Apakah anda diberi kesempatan oleh guru pamong untuk mengadakan observasi pelaksanaan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) yang dilakukan teman anda ? a. ya, setiap kali teman saya mengajar b. ya, pernah beberapa kali c. ya, pernah satu kali d. tidak pernah 17. Bila anda menghadapi problem siswa yang menggangu proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) apakah guru pamong anda memberikan bantuan untuk menyelesaikannya ? a. ya, setiap kali ada siswa yang mengganggu b. ya, pernah beberapa kali c. ya, pernah satu kali d. tidak pernah

95

18. Apakah setelah anda melaksanakan partisipasi mengajar guru pamong mengadakan bimbingan ? a. selalu memberikan saran perbaikan dan pengarahan b. sering memberikan saran perbaikan dan pengarahan c. kadang-kadang memberikan saran perbaikan dan pengarahan d. jarang memberikan saran perbaikan dan pengarahan

19. Apakah guru pamong anda memberikan saran khusus, yang membantu kesuksesan anda dalam melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) misalnya dalam menghadapi problem siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau menggangu siswa lain ? a. selalu memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya b. sering memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya c. kadang-kadang memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya d. jarang memberikan saran dan pengarahan

20. Berapa kalikah konsultasi dengan guru pamong yang anda laksanakan? a. setiap kali penampilan b. setiap dua kali penampilan c. setiap tiga kali penampilan d. setiap empat kali penampilan

21. Jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu guru pamong? a. 8 kali penampilan atau lebih b. 6-7 kali penampilan c. 4-5 kali penampilan d. 1-3 kali penampilan

96

B. Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing 22. Apakah setelah anda melaksanakan partisipasi mengajar dosen pembimbing mengadakan bimbingan ? a. ya, selalu memberi saran perbaikan dan pengarahan b. ya, sering memberikan saran perbaikan dan pengarahan c. kadang-kadang memberikan saran perbaikan dan pengarahan d. jarang memberikan saran perbaikan dan pengarahan

23. Apakah dosen pembimbing anda memberikan saran khusus yang membantu kesuksesan anda dalam melaksanakan proses belajar mengajar (dalam arti pelaksanaan pengelolaan kelas) misalnya bila menghadapi problem siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain? a. selalu memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya b. sering memberikan saran dan pengarahan serta cara mengatasinya c. kadang-kadang mengatasinya d. jarang memberikan saaran dan perbaikan memberikan saran dan pengarahan serta cara

24. Berapa kali anda berkonsultasi dengan dosen pembimbing ? a. empat kali atau lebih b. tiga kali c. dua kali d. satu kali atau tidak pernah

25. Jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu dosen pembimbing adalah ? a. empat kali atau lebih b. tiga kali c. dua kali d. satu kali atau tidak pernah

120

Lampiran 11. Harga Interpretasi Nilai r
Harga Interpretasi Nilai r Besarnya nilai r Antara 0,800 sampai dengan 1,00 Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Antara 0,400 sampai dengan 0,600 Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Antara 0,000 sampai dengan 0,200 (Arikunto 1998:260) Interpelasi Tinggi Cukup Agak Rendah Rendah Sangat rendah (tak berkorelasi)

Lampiran 12

Harga Kritik dari r Product Moment
N (1) 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Interval 95% (2) 0,997 0,950 0,878 0,811 0,754 0,707 0,666 0,632 0,602 0,576 0,553 0,532 0,514 0,497 0,482 0,468 0,456 0,444 0,433 0,423 0,413 0,404 0,396 Kepercayaan 99% (3) 0,999 0,990 0,959 0,917 0,874 0,874 0,798 0,765 0,735 0,708 0,684 0,661 0,641 0,623 0,606 0,590 0,575 0,561 0,549 0,537 0,526 0,515 0,505 N (1) 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Interval 95% (2) 0,388 0,381 0,374 0,367 0,361 0,355 0,349 0,344 0,339 0,334 0,329 0,325 0,320 0,316 0,312 0,308 0,304 0,301 0,297 0,294 0,291 0,288 0,284 0,281 0,297 Kepercayaan 99% (3) 0,496 0,487 0,478 0,470 0,463 0,456 0,449 0,442 0,436 0,430 0,424 0,418 0,413 0,408 0,403 0,396 0,393 0,389 0,384 0,380 0,276 0,372 0,368 0,364 0,361 N (1) 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 125 150 175 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 Interval 95% (2) 0,266 0,254 0,244 0,235 0,227 0,220 0,213 0,207 0,202 0,195 0,176 0,159 0,148 0,138 0,113 0,098 0,088 0,080 0,074 0,070 0,065 0,062 Kepercayaan 99% (3) 0,345 0,330 0,317 0,306 0,296 0,286 0,278 0,270 0,263 0,256 0,230 0,210 0,194 0,181 0,148 0,128 0,115 0,105 0,097 0,091 0,086 0,081

Sumber: (Suharsimi, 1997: 366)

98

Lampiran 6
Perhitungan Validitas Angket 1. Perhitungan Validitas Faktor 1
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 14 15 15 12 15 12 11 8 8 8 118 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 196 225 225 144 225 144 121 64 64 64 1472 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 1232 1320 1245 960 1185 852 759 496 400 400 8849

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 1 diketahui: N X Y X
2

10 118 720

= 1472 = 53664 = 8849 10 × 8849 − (118)(720)
2

Y2 XY rXY =

{10 ×1472 − (118) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.926

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.926 sedang rtabel =0.632 dengan taraf signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 1 valid

99

2. Perhitungan Validitas Faktor 2 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 10 11 10 8 9 8 9 9 6 6 86 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 100 121 100 64 81 64 81 81 36 36 764 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 880 968 830 640 711 568 621 558 300 300 6376

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 2 diketahui: N X Y X2 Y2 XY rXY = 10 86 720 764

= 53664 = 6376 10 × 6376 − (86 )(720)
2

{10 × 764 − (86) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.872

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.872sedang rtabel =0.632 dengan taraf signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 2 valid

100

3. Perhitungan Validitas Faktor 3 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 8 7 6 8 6 6 5 6 4 4 60 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 64 49 36 64 36 36 25 36 16 16 378 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 704 616 498 640 474 426 345 372 200 200 4475

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 3 diketahui: N X Y X2 Y2 XY rXY = 10 60 720 7378

= 53664 = 4475 10 × 4475 − (60)(720 )
2

{10 × 7378 − (60) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.855

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.855 sedang rtabel =0.632 dengan taraf signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 3 valid

101

4. Perhitungan Validitas Faktor 4 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 6 8 6 6 7 6 5 4 4 4 56 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 36 64 36 36 49 36 25 16 16 16 330 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 528 704 498 480 553 426 345 248 200 200 4182

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 4 diketahui: N X Y X2 Y2 XY rXY = 10 56 720 330

= 53664 = 4182 10 × 4182 − (56 )(720 )
2

{10 × 330 − (56) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.867

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.867sedang rtabel =0.632 dengan taraf signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 4 valid

102

5. Perhitungan Validitas Faktor 5 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 13 13 14 14 12 11 12 10 8 8 115 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 169 169 196 196 144 121 144 100 64 64 1367 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 1144 1144 1162 1120 948 781 828 620 400 400 8547

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 5 diketahui: N X Y X2 Y2 XY rXY = 10 115 720

= 1367 = 53664 = 8547 10 × 8547 − (115)(720 )
2

{10 × 1367 − (115) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.937

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.937 sedang rtabel =0.632 dengan taraf

signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 5 valid

103

6. Perhitungan Validitas Faktor 6 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 24 22 19 21 19 18 17 15 12 12 179 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 576 484 361 441 361 324 289 225 144 144 3349 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 2112 1936 1577 1680 1501 1278 1173 930 600 600 13387

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 6 diketahui: N X Y X2 Y2 XY rXY = 10 179 720

= 3349 = 53664 = 13387 10 × 13387 − (179)(720 )
2

{10 × 3349 − (179) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.971

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.971 sedang rtabel =0.632 dengan taraf signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 6 valid

104

7. Perhitungan Validitas Faktor 7 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 13 12 13 11 11 10 10 10 8 8 106 Y 88 88 83 80 79 71 69 62 50 50 720 X2 169 144 169 121 121 100 100 100 64 64 1152 Y2 7744 7744 6889 6400 6241 5041 4761 3844 2500 2500 53664 XY 1144 1056 1079 880 869 710 690 620 400 400 7848

Rumus yang digunakan: rXY =

{N ∑ X
= = =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

}{

2

}

Dari tabel perhitungan Validitas faktor 7 diketahui: N X Y X2 Y2 XY rXY = 10 106 720

= 1152 = 53664 = 7848 10 × 7848 − (106 )(720 )
2

{10 × 1152 − (106) }{10 × 53664 − (720) }
2

= 0.949

Dari hasil perhitungan diperoleh rXY = 0.949sedang rtabel =0.632 dengan taraf signifikansi 5%. Jadi rXY > rtabel Berarti faktor 7 valid

Lampiran 7

105

Perhitungan Reliabilitas Angket

Rumus
2    k  ∑ σ f  r11 =  1− 2   σt   k − 1   

Kriteria Apabila r11 > rtabel , maka angket tersebut reliabel. Perhitungan 1. Varians total ∑Y
2

σ t2 =

(∑ Y )2 −
N N

σ t2 =

(720 )2 53664 −
10 10

= 182,400

2. Varians faktor ∑X2 −

(∑ X )2
N

σ2 = f

N 1472 −

(118)2
10 = 7,960

σ 21 = f

10

σ 22 = f

(84 )2 764 −
10 10

= 2,440

σ 23 = f

(60)2 378 −
10 10 330 −

= 1,800

(56 )2
10 = 1,640

σ 24 = f

10

106

σ 25 = f

1367 −

(115)2
10 = 4,450

10

σ 26 = f

(179 )2 3349 −
10 10

= 14,490

σ 27 = f

(106)2 1152 −
10 10

= 2,840

∑ σ 2 = σ 2 1 + σ 2 2 + σ 2 3 + σ 2 4. + σ 2 5 + σ 2 6 + σ 2 7 f f f f f f f f ∑ σ 2 = 7,960 + 2,440 + 1,800 + 4,450 + 14,490 + 2,840 = 35,620 f 3. Koefisien reliabilitas 35,620   7  r11 =   = 0,939 1 −  7 − 1 182,400  Pada = 5% dengan N = 10 diperoleh rtabel = 0,632

Karena r11 > rtabel , maka dapat disimpulkan bahwa angket tersebut reliabel.

Lampiran 2 Kisi-kisi Angket
Variabel Penelitian Indikator Nomor pertanyaan

1. Variabel Mahasiswa Ø Pelaksanaan pengelolaan kelas

v Kelancaran praktikan dalam menyampaikan materi pelajaran v Tipe kepemimpinan yang praktikan terapkan dalam pelaksanaan PBM v Tindakan yang diambil praktikan dalam mengatasi siswa yang mengganggu kelas v Usaha praktikan dalam menciptakan suasana humor

1 2 3 4

2. Variabel Siswa Ø Sikap siswa di dalam kelas

v Sikap siswa di sekolah latihan apabila diberi kesempatan untuk bertanya v Perhatian siswa di sekolah latihan terhadap praktikan dalam melaksankan KBM v Siswa yang membuat gaduh di dalam kelas atau mengganggu siswa lain v Pencahayaan ruang kelas dalam menunjang pelaksanaan PBM v Kemampuan praktikan dalam memperhatikan setiap individu (siswa) dalam KBM v Buku paket yang disediakan sekolah untuk siswa v Penggunaan sumber atau literatur lain selain buku paket dalam PBM v Kesulitan praktikan dalam mendapatkan media pengajaran

5 6 7

3. Variabel fasilitas a. Keadaan ruang kelas

8 9

b. Buku-buku pelajaran

10 11 12

c. Media pengajaran

Variabel Penelitian

Indikator v Penyediaan media pengajaran oleh sekolah dalam menunjang pelaksanaan PBM v Penggunaan media lain selain papan tulis v Manfaat media pengajaran dalam memperlancar komunikasi antara praktikan dengan siswa dalam pelaksanaan PBM

Nomor pertanyaan 13 14 15

4. Variabel pembimbing a. Bimbingan dan bantuan guru pamong

v Kesempatan observasi pelaksanaan KBM yang diberikan guru pamong pada praktikan v Bantuan guru pamong kepada praktikan dalam menghadapi siswa yang mengganggu PBM v Bimbingan yang dilaksanakan guru pamong pada praktikan v Saran khusus guru pamong pada praktikan dalam menghadapi problem siswa yang mengganggu di kelas v Konsultasi dengan guru pamong yang praktikan laksanakan v Jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu guru pamong

16

17 18 19 20 21 22 23 24 25

b. Bimbingan dan bantuan dosen pembimbing

v Bimbingan yang diadakan dosen pembimbing setelah praktikan berpartisipasi mengajar v Saran khusus yang diberikan dosen pembimbing kepada praktikan dalam menghadapi problem siswa v Jumlah konsultasi praktikan dengan dosen pembimbing v Jumlah partisipasi mengajar yang ditunggu dosen pembimbing

85

Lampiran 1

DAFTAR PENEMPATAN MAHASISWA PPL TAHUN 2004 PROGRAM STUDI PEND. TEKNIK BANGUNAN JURUSAN TEKNIK SIPIL

No.

Nama Mahasiswa

NIM

Sekolah Latihan

1 OKTA PRASETYA 2 JUNAIDY ABDILLAH 3 NURUL H 4 WAHYUNI 5 EDI SUGIHARTO 6 PUJI HANDOKO 7 ANDI W 8 ARI SUTRIYONO 9 NOVITA K S 10 WIGIARTO 11 ENY MIRAWATI 12 M. TASDIK 13 ISMONO HADI P 14 SUGIARSO 15 FAIX NAZARUDIN 16 ARIES GUNANTO 17 HARRY PURWOKO 18 AHMAD MALIK 19 ROBY RAFIA ALAM 20 SONY WIDYATMOKO 21 MUSTARIYADI 22 ARI SUDARMADJI 23 ALEX ARIANTO 24 HASAN UDIN 25 AGUS DWI B

5114000030 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000021 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000032 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000045 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000042 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000011 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000040 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5114000052 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5119000001 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5114000037 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5114000026 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5114000010 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5114000023 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5114000012 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5114000013 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000001 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000020 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000050 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000033 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000006 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000049 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000041 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5114000039 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114000029 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114000017 SMK NEGERI 7 SEMARANG

86

No.

Nama Mahasiswa

NIM

Sekolah Latihan

26 SUPARNO 27 GATOT HARSONO 28 YUTI 29 LUKMAN W 30 URIP WIDODO 31 PRIMA EMIRIANTI 32 AGUNG HANDOKO 33 SYAIFUL HUDA 34 FREDI IRMAWAN 35 DWI PUJI R 36 SASI AGUSTUS S 37 ADE IMAM T 38 ARIF FITRIANTO 39 M. NUR IKHSAN S 40 PURWO D

5114000043 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114000014 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114000031 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114990023 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114000008 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5114000028 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5114981978 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5114000025 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5114000003 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5114000002 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5114000004 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5114000036 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5114000024 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5114000005 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5114000044 SMK 1 NEGERI MAGELANG

41 ANDOYO 42 EKO YUNIANTO 43 MUH IBNU BUDI S 44 EKAMAI YANAWATI 45 ARTHA CAROLINA 46 ARI NUGRAHENI AM 47 EKO WARDOYO 48 ENDANG S 49 MUH FERI A 50 HERLAMBANG JA 51 OWI W 52 FAJAR EKO W 53 AZHAR FARIDH

5101401020 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5101401033 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5101401032 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5101401005 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5101401022 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5101401035 SMK NEGERI 3 SEMARANG 5101401022 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5101401005 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5101401026 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5101401008 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5101401031 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5101401004 SMK NEGERI 4 SEMARANG 5101401012 SMK NEGERI 5 SEMARANG

87

No.

Nama Mahasiswa

NIM

Sekolah Latihan

54 ADHI KURNIAWAN 55 ANDRIAN S 56 KASNO 57 IDA NURMAWATI 58 MUHAMMAD S 59 ALI WARDONO 60 ZAENAL ABIDIN 61 RIMANG JATMIKO A 62 SUPRIYADI 63 HASTONO ELISSA 64 BAYU W 65 EDI PURMANTO 66 DWI IRYANI 67 TOHARI 68 DIANA W 69 OVAN YUDHA S 70 HERY JUNIANTO 71 AHMAD HARUN 72 AMIN S 73 AGUS P 74 MAHMUDATUS S 75 NURYATNO 76 SRIYATMI

5101401002 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5101401018 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5101401014 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5101401027 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5101401019 SMK NEGERI 5 SEMARANG 5101401017 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5101401015 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5101401042 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5101401024 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5101401030 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5114000034 SMK NEGERI 7 SEMARANG 5101401025 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5101401023 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5101401003 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5101401039 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5101401011 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5101401010 SMK 1 ADIWERNA TEGAL 5101401036 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5101401007 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5101401029 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5101401041 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5101401038 SMK 1 NEGERI MAGELANG 5101401007 SMK 1 NEGERI MAGELANG

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->