Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi

kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi. Pertama, Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan prak¬tis ide itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas, atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia, tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.Kedua, Pragmatisme menafi¬kan peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Maka, Pragmatisme berarti telah menafikan ak¬tivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif.Ketiga. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide ±baik individu, kelompok, dan masyarakat± dan perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan ±menurut Pragmatisme itu sendiri± setelah melalui pengujian kepada selur¬uh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka, Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. ______________________________________________________________________________ _ 1. Pengantar Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupa¬kan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Tentu saja, Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. William James mengata¬kan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan ³nama baru bagi sejumlah cara berpi¬kir lama´. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (1561-1626), yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialis¬me maupun Neorealisme dan Neopositivisme. Pragmatisme, tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme, yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan

Gerakan ini bertolak dari . atau dengan kata lain. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat menge¬lak dari sebuah tugas mulia yang menantang. 2. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). a. Juga Fran¬cis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya. ajaran Thomas Aquinas yang meno¬njol di Abad Pertengahan. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejar¬ah mata rantai pemikiran Barat. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. kosmos. Asal Usul Pragmatisme Setelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. Atas dasar itu. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. seperti masalah Tuhan. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. Semangat Renaissance ini. yang berbeda dengan teknik deduk¬tif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. yakni keterlepasannya dari agama. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). dan etika. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan pera¬daban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance.gaya lama maupun baru. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. manusia. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. Dalam konteks inilah. maupun periode Scholastik (1000 ± 1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Jadi. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmus-nya yang mendasarkan pada pengenalan inder¬awi. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragma¬tisme dalam konstelasi pemikiran Barat. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. Pragmatisme dapat dipandang berba¬haya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia±yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia± sebagaimana akan diterangkan nanti. Jadi. yakni suatu gerakan atau usaha ±yang berkisar antara tahun 1400-1600 M± untuk menghidupkan kembali kebu¬dayaan klasik Yunani dan Romawi.

Calvin. Meskipun demikian. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut ³pembebasan akal´. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Pada abad XVII. Pandangan Locke dan Berkeley dikem¬bangkan lebih lanjut oleh David Hume (1711-1776). Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. dan Pascal (1623-1662). penindasannya yang telanjang. manusia. yang menentang Trinitas. Namun demikian. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Kant juga mempercayai Empirisme. Filsafat Kant disebut Kritisisme. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. Sedang pada Masa Aufklarung. ekonomi. Fichte (17621814). tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. F. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio. Selain George Berkeley dan David Hume. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Pada abad XIX. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. dan aliran Empirisme dengan tokohtokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). Baruch Spinoza (1632-1677). Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). pendidikan dan sebagainya. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. agama. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. John Locke (1632-1704). Namun yang mereka kembangkan . dengan dua ide pokoknya. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Obyek luar ditangkap oleh indera. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. pembaha¬sannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia.korupsi umum dalam gereja ±seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)± . fokus pembahasannya adalah pemberian inter¬pretasi baru terhadap dunia. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. Pada abad sebelumnya. seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. dengan Rasionalisme dari Descartes. seraya mempertahan¬kan doktrin Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. Yang ada adalah ciri-ciri yang diamati. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). George Berkeley (1685-1753) mengembangkan ³immaterialisme´. Katholik dan Protestan. sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. hukum. dan keyakinan bahwa ³pengetahuan tentang manusia´ akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia. namun tidak berarti semua dari pengalaman. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. dan Tuhan.

Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Jadi. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Karenanya. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan Wil¬liam . Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah ³faedah´ atau ³manfaat´. seorang tokoh Pragmatis¬me yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. kendati¬pun ada pula pengaruh Idealisme Jerman (Hegel) pada John Dewey. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. aliran mereka disebut dengan Idea¬lisme. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Mereka terbagi dalam dua pandangan. yaitu Positivisme.tidaklah filsafat Kant seutuhnya. seperti Feuerbach. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Posi¬tivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terha¬dap kehidupan masyarakat itu sendiri. dan Pragmatisme. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekan¬kan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Dari ketiganya. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. Karl Marx. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). Selain John Dewey. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuer¬bach. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). baik langsung maupun tidak. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesis-sintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. b. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Materialisme. Dengan kata lain. atau yang mereka namakan positif. Pembahasan tentang Pragma¬tisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya pada poin b berikut. adalah pandan¬gan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah ³data-data yang nyata/empirik´. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (1820-1895). Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil.

berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpi¬kir induktif. sedang di sisi lain. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular.Kedua. Semua kebenaran pernyataan ini. yaitu kebenaran dalam pernyataan. Kebenaran akan selalu berubah. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. kebenaran itu merupakan suatu postulat. berbeda dengan empirisme tradi¬sional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. Pertama adalah Trancendental Truth. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. 2. Menganalisis masalah itu. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. sebe¬narnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Merasakan adanya masalah. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. Menurut James. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. Hanya saja. Sedang pemikir Empirisme. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. harus merupakan hubungan yang dialami. Yang kedua adalah Complex Truth. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. Atas dasar itu. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembang¬kan suatu teori problem solving. Pertama. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. dan kebenaran logis atau literal. yang sifatnya tidak pasti. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernya¬taan). melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. sejalan dengan perkem¬bangan pengalaman. Rasionalis berusaha mende¬duksi yang umum ke yang khusus. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut : 1. siap diuji dengan perdebatan atau diskusi. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. mendeduksi fakta dari prinsip. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini ±yang juga disebut Practicalisme± . maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini.James. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. . dengan demikian. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. Peirce membagi kebenaran menjadi dua. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psi¬kologis. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Dalam The Meaning of The Truth (1909). John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. James. tidak diketahui kebenaran teori itu. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Ketiga. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman.

ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Kritik Terhadap Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : a. Jadi. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Yang pertama. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterika¬tannya terhadap peraturan Al Khaliq ini. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. Kedua pemikiran ini. Sedangkan yang kedua. Dan dari sinilah dibahas. Menguji. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemi¬kiranpemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. Aqidah ini. Sedang yang kedua. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. dan kehidupan. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Jadi. Kritik dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehi¬dupan (sekularisme). yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokohtokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V ± XV M). ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. 5. Bahkan. mencoba. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. antara dua pemikiran yang kontradiktif. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). 3. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. 4. yakni keharusan menun¬dukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama.3. Dengan demikian. alam semesta. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Memilih dan menganalisis hipotesis. Penyelesaian jalan tengah. dalam konteks ideologis. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. maka sudah cukuplah . Meskipun berbeda-beda penekanannya.

Kendatipun demikian. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. b. b. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. Dan informasi sebelumnya ini. di sini bukan tempatnya untuk melakukan pembahasan tentang eksistensi Al Khaliq atau pembahasan mengenai peraturan yang ditetapkan Al Khaliq untuk manusia. Sebab. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. diperoleh melalui Metode Akliyah. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil ±termasuk dalam hal ini Pragmatisme± pada hakekatnya adalah batil juga. bukan Metode Ilmiah. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. Ini adalah suatu kekeliruan. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Memang. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah.bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. Argumen untuk ini. bukan Metode Ilmiah. Sebab. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak . Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath¶i (yang bersifat pasti). Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Maka. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/materi¬al yang dapat diindera. melalui serang¬kaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. dan kehidupan. alam semesta. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaanNya. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. ada dua point : a. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. Namun yang menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah.

dan hal-hal yang ghaib. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. c. teori. Maka. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide ±baik individu. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme ±sebagai standar ide dan perbuatan± sangat bertentan¬gan dengan Islam. Kedua. 4. bukan Metode Ilmiah. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Pertama. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. Dengan kata lain. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. ajaran. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisn¬ya. Maka dari itu. Allah SWT berfirman : ³Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah´ (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur.terindera seperti sejarah. . tidak diukur dari keberhasi¬lan penerapan ide itu sendiri. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. bahasa. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasil¬kan dari aktivitas-aktivitas manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi. Maka. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan prak¬tis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan ±menurut Pragmatisme itu sendiri± setelah melalui pengu¬jian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standarstandar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifika¬si instinktif. kegunaan prak¬tis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. atau hipotesis. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuas¬kannya kebutuhan manusia. Atau dengan kata lain. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. dan masyarakat± dan perubahan konteks waktu dan tempat. kelompok. maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Atas dasar dua argumen ini. logika. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka. Sedang Metode Akliyah. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Ketiga. sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah.

bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara¶. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. 5.Selain itu. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Ameri¬ka. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. yaitu Syari¶at Islam. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara¶. Namun demikian. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja . Dan apa yang dilarangnya bagimu. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya«´ (Al A¶raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. kecuali tiga perkara.´ (HSR. Maka. maka tinggalkanlah dia«´ (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. Jelas. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara¶. bukan sembar¬ang manfaat. Oleh karena itu. Muslim) Benar. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. Jadi. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. maka ambillah dia. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : ³Apabila anak Adam meninggal dunia. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. maka terputuslah amalnya.Penutup : Dekonstruksi Pragmatisme. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil oleh manusia sesuai kehendaknya. Tetapi maknanya adalah. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. dan bukan manfaat. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya. ilmu yang bermanfaat. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. Allah SWT juga telah berfirman : ³Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara¶. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. Allah SWT berfirman : ³Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. shadaqah jariyah. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebu¬tuhan manusia. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. termasuk ide Pragmatisme. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.

bulan Agustus 1995. . **Syabab (Aktivis) Hizbut Tahrir. di Bogor.yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. [ ] -±±±±±±±*Makalah disampaikan dalam Halaqah Syahriyah (Kajian Bulanan) Hizbut Tahrir.