P. 1
pragmatisme

pragmatisme

|Views: 54|Likes:
Published by nsmtt

More info:

Published by: nsmtt on Jan 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2011

pdf

text

original

Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi

kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi. Pertama, Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan prak¬tis ide itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas, atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia, tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.Kedua, Pragmatisme menafi¬kan peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Maka, Pragmatisme berarti telah menafikan ak¬tivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif.Ketiga. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide ±baik individu, kelompok, dan masyarakat± dan perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan ±menurut Pragmatisme itu sendiri± setelah melalui pengujian kepada selur¬uh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka, Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. ______________________________________________________________________________ _ 1. Pengantar Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupa¬kan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Tentu saja, Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. William James mengata¬kan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan ³nama baru bagi sejumlah cara berpi¬kir lama´. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (1561-1626), yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialis¬me maupun Neorealisme dan Neopositivisme. Pragmatisme, tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme, yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan

tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. agar diperoleh gambaran komprehensif tentang posisi Pragma¬tisme dalam konstelasi pemikiran Barat. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmus-nya yang mendasarkan pada pengenalan inder¬awi. ajaran Thomas Aquinas yang meno¬njol di Abad Pertengahan. 2. telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme. Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya. sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan. adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). Asal Usul Pragmatisme Setelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika. yakni suatu gerakan atau usaha ±yang berkisar antara tahun 1400-1600 M± untuk menghidupkan kembali kebu¬dayaan klasik Yunani dan Romawi. seperti masalah Tuhan. Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance. Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani. Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi. Pragmatisme dapat dipandang berba¬haya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia±yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia± sebagaimana akan diterangkan nanti. kosmos. yakni keterlepasannya dari agama. a. Jadi. yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles.gaya lama maupun baru. Hakikat Pragmatisme Deskripsi mengenai Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan ringkas tentang sejar¬ah mata rantai pemikiran Barat. Gerakan ini bertolak dari . maupun periode Scholastik (1000 ± 1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya. sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan pera¬daban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance. mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat menge¬lak dari sebuah tugas mulia yang menantang. Atas dasar itu. Semangat Renaissance ini. atau dengan kata lain. yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan. Jadi. Dalam konteks inilah. tetapi pada karakternya yang terlepas dari agama. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak. Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. yang berbeda dengan teknik deduk¬tif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya. baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430). Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance. dan etika. semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri. sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme. manusia. Juga Fran¬cis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya.

Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada. Sedang pada Masa Aufklarung. hukum. Pada abad XIX. berbeda dengan dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. fokus pembahasannya adalah pemberian inter¬pretasi baru terhadap dunia. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Namun yang mereka kembangkan . seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan. yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727). dengan Rasionalisme dari Descartes. George Berkeley (1685-1753) mengembangkan ³immaterialisme´. Meskipun demikian. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual. perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650). Calvin. dan aliran Empirisme dengan tokohtokohnya Thomas Hobbes (1558-1679). Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Yang ada adalah ciri-ciri yang diamati. Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Obyek luar ditangkap oleh indera. pembaha¬sannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia. manusia. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut ³pembebasan akal´. dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. Namun demikian. tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran. Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke. sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. penindasannya yang telanjang. pendidikan dan sebagainya. Fichte (17621814). Pandangan Locke dan Berkeley dikem¬bangkan lebih lanjut oleh David Hume (1711-1776). Katholik dan Protestan. John Locke (1632-1704). Pada abad sebelumnya. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman. yang menentang Trinitas. Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance. sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya. mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553). sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri. Kant juga mempercayai Empirisme. seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss). ekonomi. seraya mempertahan¬kan doktrin Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tatasurya. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). dan Pascal (1623-1662). yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja. Filsafat Kant disebut Kritisisme. filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio.korupsi umum dalam gereja ±seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)± . dan Tuhan. dengan dua ide pokoknya. Selain George Berkeley dan David Hume. namun tidak berarti semua dari pengalaman. Pada abad XVII. agama. yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume. atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. F. Baruch Spinoza (1632-1677). dan keyakinan bahwa ³pengetahuan tentang manusia´ akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia.

dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. b. salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekan¬kan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Arti Pragmatisme Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Jadi. Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuer¬bach. Dari ketiganya. Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel. sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesis-sintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya. Selain John Dewey. Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme. tetapi lebih memprioritaskan ide-ide. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872). tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Materialisme. seorang tokoh Pragmatis¬me yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. aliran mereka disebut dengan Idea¬lisme.tidaklah filsafat Kant seutuhnya. Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth). suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). kendati¬pun ada pula pengaruh Idealisme Jerman (Hegel) pada John Dewey. Hegel merupakan tokoh yang menonjol. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Dengan kata lain. baik langsung maupun tidak. atau yang mereka namakan positif. Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim. yaitu Positivisme. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857). yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Mereka terbagi dalam dua pandangan. Karenanya. Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (1820-1895). nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri. karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya. Karl Marx. sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan Wil¬liam . yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952). dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. adalah pandan¬gan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah ³data-data yang nyata/empirik´. yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme). Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah ³faedah´ atau ³manfaat´. Pembahasan tentang Pragma¬tisme akan diuraikan lebih rinci pada keterangan selanjutnya pada poin b berikut. yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Posi¬tivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terha¬dap kehidupan masyarakat itu sendiri. dan Pragmatisme. seperti Feuerbach. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme. dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia.

Peirce membagi kebenaran menjadi dua. mendeduksi fakta dari prinsip. melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Empirisme radikal melihat bahwa hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut : 1. sebe¬narnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce.James. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. berbeda dengan empirisme tradi¬sional yang kurang memperhatikan hubungan-hubungan antar fakta. Pertama adalah Trancendental Truth. Merasakan adanya masalah. Kebenaran akan selalu berubah. Menurut James. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psi¬kologis. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini ±yang juga disebut Practicalisme± . Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa. berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. dengan demikian. Pertama. . Dalam The Meaning of The Truth (1909). harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi. Semua kebenaran pernyataan ini. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembang¬kan suatu teori problem solving. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta. yang sifatnya tidak pasti. terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. dan kebenaran logis atau literal. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta partikular. yaitu kebenaran dalam pernyataan. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa). Rasionalis berusaha mende¬duksi yang umum ke yang khusus. sedang di sisi lain. 2. Hanya saja. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernya¬taan). harus merupakan hubungan yang dialami. yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. James. Tetapi Empirisme James adalah Empirisme Radikal. kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah. Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide. sejalan dengan perkem¬bangan pengalaman. dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpi¬kir induktif.Kedua. tidak diketahui kebenaran teori itu. Menganalisis masalah itu. Yang kedua adalah Complex Truth. Sedang pemikir Empirisme. Atas dasar itu. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. siap diuji dengan perdebatan atau diskusi. pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktif. Ketiga. kebenaran itu merupakan suatu postulat. yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin.

Bahkan. mencoba. ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. antara dua pemikiran yang kontradiktif. Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Sedang yang kedua. Aqidah ini. 4. Yang pertama. Kritik dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehi¬dupan (sekularisme). alam semesta. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Memilih dan menganalisis hipotesis. Menguji. yakni keharusan menun¬dukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterika¬tannya terhadap peraturan Al Khaliq ini.3. dan kehidupan. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Al Khaliq. Demikianlah Pragmatisme berkhotbah dan menggurui dunia. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Sedangkan yang kedua. Jadi. apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. dalam konteks ideologis. maka sudah cukuplah . Kedua pemikiran ini. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokohtokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V ± XV M). Aqidah pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. Dengan demikian. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Meskipun berbeda-beda penekanannya. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemi¬kiranpemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. Kritik Terhadap Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran : a. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia. 3. Penyelesaian jalan tengah. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Jadi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. 5. Dan dari sinilah dibahas. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan.

bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan aqidah ini. Memang. b. Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi adanya Metode Ilmiah. Dan kebatilan Kapitalisme cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. Tetapi menjadikan Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan. tak dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah). Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah. di sini bukan tempatnya untuk melakukan pembahasan tentang eksistensi Al Khaliq atau pembahasan mengenai peraturan yang ditetapkan Al Khaliq untuk manusia. sesungguhnya sudah cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan. b. dan bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal. Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini. Metode Akliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran Metode Ilmiah. Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji. Sebab. Maka. Ini adalah suatu kekeliruan. seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang batil ±termasuk dalam hal ini Pragmatisme± pada hakekatnya adalah batil juga. membuktikan bahwa Al Khaliq itu ada dan Dialah yang menciptakan manusia. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang mengingkari keberadaanNya. sebagaimana disebutkan Taqiyuddin An Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33. dan bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi. Namun yang menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri dan penjelasan mengenai kebatilannya. bukan Metode Ilmiah. dan kehidupan. Kritik dari Segi Metode Berpikir Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah). Dan informasi sebelumnya ini. atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya tercabang dari Metode Akliyah. alam semesta. diperoleh melalui Metode Akliyah. yaitu proses transfer realitas melalui indera ke dalam otak. melalui serang¬kaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. ada dua point : a. Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari Metode Akliyah. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik/materi¬al yang dapat diindera. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya. yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi sebelumnya yang bermukim dalam otak. Sebab. metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan akal) yang qath¶i (yang bersifat pasti). bukan Metode Ilmiah. Metode Akliyah adalah sebuah metode berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana definisi akal itu sendiri. Kendatipun demikian. Dia tak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tak . Argumen untuk ini.

sebab jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide. kelompok. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. logika. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Kedua. teori. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. sebagaimana yang terdapat dalam Pragmatisme. Maka. Atau dengan kata lain. Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir. Maka. yaitu perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Atas dasar dua argumen ini. Ketiga.terindera seperti sejarah. . maka Metode Ilmiah adalah cabang dari Metode Akliyah. Sedang Metode Akliyah. ajaran. bukan Metode Ilmiah. kegunaan prak¬tis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifika¬si instinktif. bahasa. c. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. 4. bahwa ukuran perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah. Sebab Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal haram. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standarstandar tertentu. Ide ini keliru dari tiga sisi. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. Maka. Dengan kata lain. atau hipotesis. Maka dari itu. dan hal-hal yang ghaib. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam Jelas sekali bahwa Pragmatisme ±sebagai standar ide dan perbuatan± sangat bertentan¬gan dengan Islam. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide ±baik individu. bukan konsekuensi-konsekuesi yang dihasil¬kan dari aktivitas-aktivitas manusia. tidak diukur dari keberhasi¬lan penerapan ide itu sendiri. Pertama. Allah SWT berfirman : ³Berilah keputusan di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah´ (Al Maaidah : 48) Syaikh An Nabhani menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisn¬ya. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan prak¬tis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah Metode Akliyah. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuas¬kannya kebutuhan manusia. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan ±menurut Pragmatisme itu sendiri± setelah melalui pengu¬jian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. dan masyarakat± dan perubahan konteks waktu dan tempat.

5. shadaqah jariyah. Hal ini karena nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram. karena ide tersebut dibangun di atas landasan ideologi yang kufur. Dan apa yang dilarangnya bagimu. ilmu yang bermanfaat. anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.Penutup : Dekonstruksi Pragmatisme. bukan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebu¬tuhan manusia. yaitu Syari¶at Islam. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw. tetapi kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara¶. seperti misalnya sabda Rasulullah saw : ³Apabila anak Adam meninggal dunia. manfaat itu bukan standar kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil oleh manusia sesuai kehendaknya. Allah SWT berfirman : ³Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. maka terputuslah amalnya. Allah SWT juga telah berfirman : ³Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu. maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek kemanfaatan. Jelas. yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar halal haram. janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah. bukan kemanfaatan secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara¶.´ (HSR. Muslim) Benar. Namun demikian. Sebab ukuran perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah. dihasilkan dengan metode berpikir yang tidak tepat. ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara¶. bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan. tetapi dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Ameri¬ka. termasuk ide Pragmatisme. Suatu Kewajiban Pragmatisme adalah ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar. maka tinggalkanlah dia«´ (Al Hasyr : 7) Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah. kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara¶. Islam memang memperhatikan kemanfaatan. karena Pragmatisme adalah suatu kemungkaran. serta mengandung kerancuan dan kekacauan pada dirinya sendiri. kecuali tiga perkara. dan bukan manfaat. maka seorang muslim wajib menghancurkan dan membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja . Jadi. Oleh karena itu. janganlah kita mengambil apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul. Tetapi maknanya adalah.Selain itu. maka ambillah dia. Maka. dan janganlah kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya«´ (Al A¶raaf :3) Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas adalah. termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas kita. Sedang kemanfaatan yang dibenarkan Islam. sebab semuanya bukan termasuk apa yang diturunkan Allah. bukan sembar¬ang manfaat. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan. bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya.

di Bogor.yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju kepada kebangkitannya. [ ] -±±±±±±±*Makalah disampaikan dalam Halaqah Syahriyah (Kajian Bulanan) Hizbut Tahrir. **Syabab (Aktivis) Hizbut Tahrir. . bulan Agustus 1995.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->