P. 1
Muhammad Sutarsa - Pembuat Komitmen, Wewenang, dan Tanggung Jawabnya (2010)

Muhammad Sutarsa - Pembuat Komitmen, Wewenang, dan Tanggung Jawabnya (2010)

|Views: 574|Likes:
Published by Ahmad Abdul Haq
Download: http://bit.ly/dI1Ff9
Download: http://bit.ly/dI1Ff9

More info:

Published by: Ahmad Abdul Haq on Jan 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

," • -.

I
1
I
PEMBUAT KOMITMEN,
WEWENAN6, DAN
TANGGUNGJAWABNYA
(Dalam Pelaksanaan Anggaran pada Kantor/Satuan Kerja)
. Muhammad Sutarsa
~ i t ... a
wtr'& .
Penerbit
. i
PEMBUAT KOMITMEN, WEWENANG, DAN TANGGUNGJAWABNYA
(Dalam Pelaksanaan Anggaran pada Kantor!Satuan Kerja)
Muhammad Sutarsa
Editor: Dr. Herry Kamaroesid
'itra
WIfZ
Penerblt
EdisiAsli
Hak Cipta © 2010, Penerbit Mitra Wacana Media
Telp. : (021) 824-31931
Faks. : (021) 824-31931
Website : http!!www.mitrawacanamedia.eom
E-mail: mitrawacanamedia@gmail.eom
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh
isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk
memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa
°izin tertulis dari Penerbit.
UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan at au
memperbanyak suatu ciptaan at au memberi izin untuk itu, dipidana
dengan pi dana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
alan menjua! kepada ?mum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Sutarsa, Muhammad
Pembuat Komitmen, Wewenang, dan Tanggungjawabnyal
Muhammad Sutarsa
Edisi Pertama
-Jakarta: Mitra Waeana Media, 2010
1 jil., 17 x 24 em, 102 hal.
ISBN 978-602-8495-94-3
1. Pemerintahan
I. Judul
2. Pembuat Komitmen
II. Muhammad Sutarsa
KATA PENGANTAR
D
engan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah, Tuhan yang Maha Esa, penulis
berhasil menyelesaikan penulisan sebuah buku yang berjudul : "PEMBUAT
KOMITMEN, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWABNYX: dalam Pelaksanaan
Anggaran pada kantorlsatuan kerja di lingkungan kementrian negarallembaga. Buku ini
penulis susun dalam rangka pengembangan kompetensi penulis selaku widyaiswara pada
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anggaran dan Perbendaharaan di lingkungan Badan
Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang
sekaligus untuk memberikan kontribusi bagi para penyelenggara negara khususnya dalam
pengelolaan anggaran pada kantorlsatuan kerja kementerian negara/lembaga.
Buku ini penulis susun untuk menarnpung aspirasi para penyelenggara negara dalam
pengelolaan anggaran yang selama ini memberikan penafsiran yang berbeda satu sarna lain
ten tang kewenangan, tugas dan tanggungjawab para pembuat komitmen. Seringkali mereka
bertanya : "Siapakah sebenarnya penandatangan kontrak atau S P K ? ~ Siapakah sebenarnya
yang berwenang menandatangani kuitansi persetujuan pembayaranr: dan apakah setiap
pembayaran harus ditandatangani pembuat komitmen?': Hal inilah yang menimbulkan
aspirasi penulis untuk menulis buku sebagaimana judul diatas.
Penulis meneoba merangkum dan meramu beberapa ketentuan perundang-undangan
tentang pengelolaan keuangan negara dan buku-buku yang penulis anggap dapat dijadikan
sebagai landasan berfikir dan dasar penulisan, sehingga akan menghasilkan tulisan yang
dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya, karena penulis selalu ingat pepatah yang
mengatakan bahwa: "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang kehadirannya, perbuatannya
dapat memberi manfaat bagi orang lain':
_________ Pembuat Komitmen. Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
pemahaman para pengelola keuangan negara dan/atau para pejabat perbendaharaan di
lingkungan kementrian negara/lembaga.
B. KAJIAN PAKET UNDANC-UNDANC
1. undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
Pasall ayat (1), menjelaskan pengertian tentang keuangan negara adalah sebagai berikut:
"Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan
uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik
negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut': Selanjutnya dalam
pasal 2 dijelaskan lagi bahwa hak negara itu meliputi memungut pajak, mengeluarkan
dan mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman. Sedangkan kewajiban negara adalah
menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan
pihak ketiga.
Pemahaman keuangan negara menurut undang-undang ini mengandung arti bahwa
hanya negara yang mempunyai hak untuk memungut pajak kepada pihak ketiga yang
menjadi obyek pajak. Hanya negara yang mempunyai hak untuk mengeluarkan dan
mengedarkan uang dan melakukan pinjaman, yang berarti bahwa kementrian negara atau
pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan dan mengedarkan
uang sendiri atau melakukan pinjaman dalam rangka pelaksanaan pemerintahan daerah.
Hal ini menunjukkan bahwa negara merupakan satu kesatuan yang utub, meskipun
terdiri atas beberapa pemerintahan daerah, dimana pemerintahan daerah yang walaupun
melaksanakan pengelolaan keuangan daerah sendiri namun tidak boleh melakukan
. tindakan-tindakan, membuat peraturan-peraturan yang bertentangan:dtilgan ketentuan
pemerintah pusat.
Hal tersebut di atas dapat dilihat bagaimana kekuasaan atas pengelolaan keuangan
negara dilakukan oleh Presiden selaku kepala pemerintahan dalam pasal6, pada;
Ayat 1, Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan
keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan.
Ayat 2, Kekuasaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1):
a. dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan Wakil
pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan,
b. dikuasakan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaranl
Pengguna Barang kementrian negara/lembaga yang dipimpinnya,
Pendahuluan
c. diserahkan kepada Gubernur/Bupati/Walikota selaku kepala pemerintahan
daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam
kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan,
d. tidak termasuk kewenangan dibidang moneter, yang meliputi antara lain
mengeluarkan dan mengedarkan uang, yang diatur dengan undang-undang.
Menggarisbawahi penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kekuasaan
atas pengelolaan keuangan negara tidak seluruhnya didelegasikan dan tidak seluruhnya
diserahkan, yang berarti bahwa dengan prinsip desentralisasi, pemerintah daerah diberikan
kesempatan yang luas untuk mengelola keuangan daerah dan untuk memajukan daerahnya
dengan menggali sumber pendapatan aseli daerah (PAD). Sehingga setiap pemerintah
daerah berpacu dan berupaya membangun daerahnya dengan menggali, menggunakan
atau memanfaatkan potensi daerah masing-masing, sepanjang tidak bertentangan dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku. ')
Sementara itu bagi menteri/pimpinan lembaga diberikan kewenangan seluas-luaJnya
untuk mengelola dan menggunakan anggaran kementrian negarallembaga, selaku
Pengguna Anggaran/Pengguna Barang yang telah menerima pendelegasian kewenangan
dari Presiden. Sehingga para menteri/pimpinan lembaga dapat mengatur dan mengelola
anggaran di lingkungan kementrian negaranembaga sesuai dengan batas kewenangan yang
diberikan oleh Presiden.
Dengan demikian menteri teknis/pimpinan lembaga, secara operasional sangat
bertanggungjawab atas pengelolaan anggaran di lingkungan kementrian negaranembaga
yang dipimpinnya, yang pada hakekatnya adalah Chief Operational Officer (COO)
Menteri Keuangan, secara teknis tidak mencampuri urusan keuanganpada kementrian·
negaranembaga dan yang menjadi tanggungjawab menteri!pimpinan lembaga selaku
Pengguna Anggaran, akan tetapi Menteri Keuangan diberi kewenangan untuk melakukan
pengendalian dalam pengelolaan keuangan negara, selaku Pengelola Anggaran.
Pengelola Anggaran pada hakekatnya adalah Chief Financial Officer (CFO), yang
mempunyai tugas antara lain:
a. menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro,
b. menyusun rancangan APBN dan rancangan Perubahan APBN,
c. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran,
d. melaksanakan fungsi bendahara umum negara (BUN),
e. menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
....."".c;:;q""' .. = ..• ="'.""'.""' ....... .,..-----.--.- .
---------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Ketentuan yang terkandung dalam Undang-Undang ini, merupakan landasan pokok
dalam pengelolaan keuangan negara, yang memisahkan fungsi comptabel oleh Menteri
Keuangan untuk mengatur kebijakan pengelolaan keuangan negara dan fungsi teknis
oleh menteri/pimpinan lembaga untuk mengatur secara teknis pengelolaan anggaran
di lingkungan kementriari negara/lembaga yang dipimpinnya. Hal ini mengisyaratIcan
bahwa menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran diberi kewenangan penuh
untuk menggunakan anggarannya sendiri berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi
yang menjadi tanggungjawabnya. Pengguna Anggaran, berwenang untuk merencanakan
anggaran sendiri, melaksanakan anggaran sendiri dan mengawasi sendiri pelaksanaan
anggaran di lingkungan kementrian negarallembaga. Menteri Keuangan selaku Pengelola
Anggaran hanya mengesahkan rencana anggaran yang disusun oleh Pengguna Anggaran,
mengendalikan pe1aksanaan anggaran agar Pengguna Anggaran tidak kebablasan dan
. sewenang-wenang dengan batasan kewenangan pelaksanaan anggaran yang diberikan oleh
Presiden. Dengan demikian, Pengelola Anggaran hanya memberi rambu-rambu dalam
pelaksanaan anggaran kementrian negara/lembaga, agar tertib, efektif, efisien, dan dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
Berdasarkan landasan pokok pengelolaan keuangan negara, Undang-Undang Nomor 1
tahun 2004 merupakan kaidah hukum administrasi negara yang mengatur pelaksanaan
anggaran (Perbendaharaan Negara), agar pelaksanaan anggaran dapat dilakukan secara
transparan, terbuka yang ditujukan sebesar-besamya bagi kemakmuran dan kesejahteraan
rakyat. Perbendaharaan Negara merupakan pengelolaan dan pertanggungjawabankeuangan
negara, yang 4arus dilaksanakan secara efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.
. : ....'.:r.. .
Undang-undang ini, mengatur bagaimana mekanisme kewenangan pelaksanaan
anggaran bagi kementrian negara/lembaga yang harus dilaksanakan dengan kepatuhan dan
kepatutan, yang dijelaskan dalam pasal 3 Undang-UndangNomor 1 tahun 2004 tentang
asas umum pelaksanaan anggaran, antara lain:
a. Undang-Undang APBN merupakan dasarbagi pemerintah Pusat untukmelakukan
penerimaan dan pengeluaran negara.
b. Setiap pejabat dilarang untuk melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran
atas beban APBNI APBD jika anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut
tidak tersedia atau tidak cukup tersedia.
c. Semua pengeluaran negara dan/atau daerah, termasuk subsidi dan bantuan lainnya
yang sesuai dengan program pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah,
dibiayai dengan APBN/ APBD.
Pendahuluan
------------------.----
Makna yang tersirat dalam ketentuan tersebut menjelaskan bahwa Pengguna Anggaran
diberi kewenangan yang luas dalam pelaksanaan anggaran, akan tetapi harus dilaksanakan
dengan kepatutan dan kepatuhan terhadap rambu-rambu yang ditetapkan oIeh Pengelola
Anggaran. Setiap pelaksanaan anggaran harus dilandasi dengan undang-undang yang
mengatur tentang pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara
yang setiap tahun diundangkan setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Para pejabat perbendaharaan tidak diperkenankan melakukan kegiatan atau tindakan yang
tidak tersurat atau tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggarannya untuk kegiatan
yang akan dilaksanakan. Sehingga semua kegiatan, tindakan, pembiayaan, pengeluaran
belanja negara hanya dapat dilakukan sepanjang hal tersebut tersurat dan tersedia dalam
dokumen anggaran yang disusun, direncanakan, ditetapkan oleh Pengguna Anggaran,
setelah disahkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
Presiden selaku penanggungjawab pengelolaan keuangan negara, telah menetapkan
bahwa seIuruh kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara dalam rangka memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa selama ditetapkan dan menjadi
program pemerintah pusat disediakan dan dibebankan kepada APBN. Hal ini mengandung
arti bahwa dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat, stakeholder atau
pihak lain yang berhubungan dengan pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah, setiap
masyarakat. stakeholder yang dilayani tidak layak untuk dibebani biaya, kecuali diatur lain
yang ditetapkan oleh pemerintah atau undang-undang.
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
Paket ketiga dalam reformasi pengelolaan keuangan negara adalah uncbng-undang yang
mengatur mekaQisrp.e pemeriksaan atas tanggung jawab pengelolaan keuangan negara
yang dilaksanakan pemerintah. Lahirnya ketiga paket undang-undang ini diharapkan akan
menjadi landasan yang kokoh dalam pengelolaan keuangan negara untuk menciptakan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini dilakukan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) yang bebas dan mandiri, dengan maksud agar keuangan negara
dapat dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis,
efektif, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan dengan memperhatikan rasa keadilan
dan kepatutan.
Pemeriksaan oIeh BPK dilakukan melalui proses identifikasi masalah, analisis, dan
evaluasi yang dilakukan secara indepeden, obyektif, dan professional berdasarkan stan dar
pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi
mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
/
/
..
__ -------Pembuat Komitmen. Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah melalui berbagai kegiatan
yang dilaksanakan oleh setiap satuan kerja di lingkungan kementrian negara/lembaga,
secara pasti dan nyata akan mengakibatkan belanja negara, sehingga menurut Peraturan
Presiden No.8 tahun 2006, P2K adalah pejabat yang diberikan kewenangan selaku pengguna
barang/jasa pada kantor/satuan kerja, yang melakukan perikatan-perikatan/kontrak kerja
dengan penyedia barang/pihak ketiga. Hal ini perIu dipahami bahwa tindakan yang dapat
mengakibatkan belanja negara bukan semata terhadap kegiatan pengadaan barang/jasa
pemerintah belaka, akan tetapi banyak kegiatan lain yang juga dapat mengakibatkan
pengeluaran/belanja negara. Misalnya kegiatan pengangkatan pegawai negeri, ditetapkannya
surat pengangkatan dan kepangkatan kepegawaian, diterbitkannya surat tugas dalam hal
penyelenggaraan tugas kepemerintahan, seperti perjalanan dinas dan sebagainya.
Semua kegiatan dan/atau tindakan P2K tersebut di atas dilakukannya dengan
menerbitkan surat-suratkeputusan ataupun berupa Kontrak atau Surat Perintah Kerja (SPK),
yang menurut bahasa perbendaharaan adalah Surat Keputusan Otorisasi (SKO). Dengan
diterbitkannya SKO akan mengakibatkan belanja yang membebankan anggaran negara.
SKO menurut lew merupakan surat keputusan yang ditetapkan oleh seorang Otorisator.
Dengan demikian seorang P2K menurut bahasa lew adalah seorang Otorisator.
Sampai saat ini semua penyelenggara pengelola keuangan negara sangat paham bahwa •
menurut lew ada tiga pejabat perbendaharaan yang mengelola keuangan negara, yaitu:
1. Otorisator, yakni pejabat yang tindakannya dapat mengakibatkan pengeluaran
belanja negara dan/atau pendapatan negara.
2. Ordonator, yakni pejabat yang memiliki kewenangan melakukan penelitian dan
pcngujian atas tagihan yang membebankan anggaran belanja negara
3. Comptabel,pejabat.. yang memiliki kewenangan untuk menerima,
dan/atau menyetorkan, menatausahakan dan
mempertanggungjawabkan uang atau barang yang berada dalam penguasannya.
yang lebih dikenal dengan sebutan "
Dengan lahirnya paket undang-undang sebagaimana tersebut di atas, ketiga fungsi
ini melekat pada satuan kerja, atas dasar pemisahan kewenangan pengelolaan keuangan
negara sebagai pemegang kewenangan administratif yang dalam bahasa lew dikenal
dengan Beheer", sedangkan pada Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara dan/atau KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara (Kuasa BUN)
hanya pemegang kewenangan kebendaharawanan atau menu rut lew. adalah "Comptabel
Beheer".
Pendahuluan
Mengamati beberapa pemahaman pejabat perbendaharaan tersebut di atas, secara
substantif tidak berbeda dengan pengertian menu rut lew, akan tetapi kita mulai melakukan
perubahan-perubahan terhadap kewenangan dan tanggungjawab para pengelola keuangan
negara.
KewenangaX@ dan tanggungjawab P2K, sangat menentukan dalam pengelolaan
anggaran negara pada kantorlsatuan kerja masing-masing. Setiap tindakan yang dilakukan
berkaitan dengan anggaran negara harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, ketelitian,
kecermatan dan penuh rasa tanggungjawab agar akibat yang ditimbulkannya benar-benar
sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam undang-undang dan tidak mengakibatkan
pemborosan serta. penyalahgunaan keuangan negara. Kalau dikemudian hari ternyata
terdapat tindakan P2K mengakibatkan kerugian negara, siapakah yangbertanggungjawab?
P2K atau KPA? lalu jika sudah diangkat P2K, siapakah yang berhak menandatangani SPK
ataukontrak dengan pihak ketiga/Penytidia Barang, P2K ataukah KPA? Hal-hal inilah
yang seringkali dipertanyakan oleh sebagian pengelola keuangan di lingkungan kantorl
satuan kerja.
Munculnya pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas disebabkan karena
tidak jelasnya pemberian kewenangan dan tugas yang diberikan kepada P2K, kurangnya
pemahaman tentang peran dan fungsi KPA, P2K dan Penguji Tagihan, sehingga seringkali
terjadi tumpang-tindih tugas dan kewenangan antara KPA dan P2K di beberapa kantorl
satuan kerja.
Semua ini terjadi sebagai akibat pemahaman yang bervariasi atas ketentuan perundang-
undangan yang ditetapkan. MenteriKeuangan selaku PengelolaAnggaran tidakmenentukan
persyaratan atau kriteria lang harus dimiliki terhadap para pejabat perbendaharaan yang
melakukan pengelolaanK,euangan negara pada kementrian negarallembagalkantorlsatuan
kerja. Hal ini mengisyaratkan bahwa, Menteri Keuangan menyerahkan sepenuhnya kepada
masing-masing MenterilPimpinan Lembaga untuk menentukan sendid kriteria dan
kompetensi yang harus dimiliki oleh pejabat perbendaharaan yang akan ditetapkannya.
Begitupun tentangjumlah P2K yang diperlukan pada setiap kantorlsatuan kerja, diserahkan
sepenuhnya kepada masing-masing Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PAl
KPA), yang penetapannya disesuaikan dengan jumlah kegiatan yang ada serta beban volume
kerja pada setiap kegiatan kantorlsatuan kerja masing-masing.
Oleh karena itu untuk lebih memaharni peran dan fungsi P2K dan KPA, perIu diperjelas
lebih dalam lagi makna yang terkandung dalam Undang-Undang No.1 tahun 2004 tentang
jabatan tersebut dalam pelaksanaan anggaran belanja negara.
Buku ini, sengaja penulis sajikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
mungkin timbul dalam pengelolaan anggaran negara yang sekaligus untuk memudahkan
____ -----Pembuat Komltmen. Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Mudah-mudahan dengan diterbitkannya buku ini, sedikit banyak akan membantu
memberikan pemahaman bagi para pengelola keuangan/anggaran pada kantorlsatuan
kerja.
Untuk itu penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Keluarga penulis, isteri dan anak yang merelakan waktunya diberikan kepada
penulis yang terkadang sampai larut malam untuk menyelesaikan suatu tulisan
dalam rangka kegiatan belajar-mengajar dan pelatihan,
2. Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Bapak I.Gde Made E. Rata,
3. Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Bapak Dodi Iskandar,
4. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anggaran dan Perbendaharaan, Bapak
Agus Hermanto,
S. Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan pada Pusdiklat Anggaran dan
Perbendaharaan, Bapak Heru Wahyudi,
6. Semua rekan-rekan widyaiswara pada Pusdiklat Anggaran dan para dosen pada
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan,
7. Semua pihak yang turut berperanserta memberikan kontribusi penyelesaian
penulisan buku ini.
Semoga tulisan yang sangat sederhana ini, yang mungkin masih banyak kekurangannya
masih dapat dimanfaatkan bagi setiap pembaca yang memerlukannya, dan itu sangat
penclis -sadari. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan gun a perbaikan-perbaikan dalam penulisan berikutnya. Semoga kiranya
buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Amiiiin.
.: . .' ,-'-'
Jakarta, Maret 2010
Muhammad Sutarsa
(mury)
1
DAFTARISI
Kata Pengantar ......................................................................................................... iii
Abstraksi ....................................................................... ............................................ 1
BAB 1 Pendahuluan ........................................................................................ 5
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 5
B. Kajian Paket Undang-Undang .............................................................. 8
BAB2 Pelaksanaan Anggaran Belanja KantorlSatuan Kerja......................... 15
A. Penyelenggara Perbendaharaan............................................................ 16
B. Kewenangan dan Tugas Pokok Pejabat Perbendaharaan .................. 18
C. Ruang Lingkup Belanja Negara............................................................. 22
D. Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Pada Kerja ....... 24
BAB3 Mekanisme Kegiatan dalam Pengadaan Barang dan
Jasa Pemerintah.................................................................................... 29
A. Prinsip Dasar dan Kebijakan Pengadaan............................................. 30
B. Cara Pengadaan....................................................................................... 32
C. Pelaksana Pengadaan.............................................................................. 33
D. Proses pengadaan......................................................... ........................... 34
E. Metode Pengadaan.................................................................................. 34
F. Penyusunan dan Pelaksanaan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa ...... 38
G. Contoh Bentuk Kontrak.......................................................................... 43
l
f
__________ Pembuat Komitmen. Wewenangdlln Tanggungjawabnya ---------
BAB4
Wewenang dan Tanggung Jawab Pejabat Pembuat Komitmen. ••••.••••• 49
A. Tugas dan Wewenang ............................................................................ . 49
B. Ruang Lingkup dan Kegiatan .............................................................. . 53
C. Mekanisme Pembayaran atas Beban APBN ....................................... . 55
D. Peran dan Tanggung Jawab Pejabat Pembuat Komitmen ................. . 73
BAB5 Pertanggungjawaban Pejabat Pembuat Komitmen ............................ . 75
A. Penyusunaan dan Penyampaian Laporan Keuangan ....................... .. 75
,. " B. Penyusunan dan Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban ... .. 76
Daftar Pustaka ..................................................................... : .................................. . 81
Lampiran-Iampiran ................................................................................................ .. 85
ABSTRAKSI
P
embuat Komitmen, adalah salah satu jabatan dalam mekanisme penge10laan keuangan
negara yang diperkenalkan mulai tahun anggaran 2005. Pembuat Komitmen lebih
banyak dikenal dalam hal pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah, yang ditetapkan
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2006 sebagai perubahan yang substantif
atas Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003, tentang Pelaksanaan Pengadaan Barang
dan Jasa Pemerintah.
Pembuat Komitmen seringkali diindentikkan dengan pemimpin proyek/pemimpin
bagian proyek ketika sistem penganggaran menganut "Doel Budgeting System" (Sistem
anggaran berdasarkan tujuan/Output). Pembuat Komitmen diberi kewenangan me1akukan
penandatanganan kontrak-kontrak pengadaan barang/jasa yang membebani anggaran
belanja negara. Dengan demikian setiap tindakan pembuat komitm.en senantiasa
mengakibatkap. belanja negara. Menumt Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 pada bab II
pasal4 ayat 2 e, tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja merupakan
kewenangan menterilpimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran. Menteri/Pimpinan
Lembaga adalah pemegang pelimpahan kewenangan pengelolaan keuangan negara pada
kementrian negarallembaga yang dipimpinnya, yang dalam bahasa Indiche Comptabiliteit
Wet (ICW) adalah seorang "Otorisator': Sementara menteri/pimpinan lembaga selaku
Pengguna Anggaran mendelegasikan kewenangannya kepada Kuasa Pengguna Anggaran
untuk melaksanakan anggaran dan bertanggungjawab atas pengelolaan anggaran pada
kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/lembaga yang dipimpinnya, yang
berarti bahwa KPA adalah seorang otorisator pada tingkat kantor/satuan kerja. Laiu
siapakah sebenarnya yang menguasai anggaran pada kantor/satuan kerja? Atau siapakah
yang lebih berwenang antara Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dengan Pejabat Pembuat
- ~
, il
,!
____ - ____ Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Komitmen (P2K)? Apakah kedua pejabat perbendaharaan tersebut merupakan otorisator?
Hal inilah yang akan penulis jelaskan dalam buku yang penulis susun, yang diharapkan
dapat membantu para penyelenggara negara dalam pelaksanaan anggaran pada kantor/
satuan kerjanya masing-masing.
Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggung Jawabnya, merupakan buku yang
penulis sajikan untuk lebih menjelaskan siapa Pejabat Pembuat Komitmen (P2K), batasan
kewenangan dan tanggung jawabnya dalam pelaksanaan anggaran pada kantor/satuan kerja
di lingkungan kementrian negara/lembaga.
Dalam buku ini penulis akan menjelaskan:
1. Siapakah yang dapat diangkat Iditetapkan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Seberapa banyak dapat ditetapkan Pejabat Pembuat Komitmen dalam satu kantor/
satuan kerja.
3. Apa saja kewenangan Pejabat Pembuat Komitmen dalam pelaksanaan anggaran.
4. Untuk melaksanakan kewenangan tersebut, apa saja tugas dan tanggungjawabnya.
5. Secara strukturallfungsional dimanakah kedudukan Pejabat Pembuat Komitmen
dalam struktur organisasi satuan kerja.
Penulis juga menyarankan agar setiap satuan kerja/pengelola keuangan:
1. Lebih sering membuka website Ditjen Perbendaharaan, untuk mengetahui terjadinya
perubahan-perubahan ketentuan dalam pelaksanaan anggaran.
2. . Mempelajari kembaU lebih dalam mengenai undang-undang pengelolaan keuangan
negara dan beberapa petunjuk pelaksanaannya, antara lain;
a. Undang-Undang Nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak
b. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
c. Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
d. Undang-Undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara.
e. Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah ( dan perubahannya, Peraturan Presiden Nomor 8 tahun
2006 )
£ Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran
dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
---------------Abstraksi ------________ _
g. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Nomor PER-66/PB/2005 tentang
Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
3. Melakukan pembimbingan dan pelatihan pengelolaan anggaran kepada para pejabat.
perbendaharaan dan/atau pengelola keuangan pada masing-masing satuan kerja untuk
meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dalam pengelolaan anggaran.
___ ------Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggungjawabnya
T
i
-BAB1-
Pendahuluan
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Undang-Undang No.I7 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang No. I
tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang No.IS tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, merupakan salah
satu paket reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara. The New Financial
Management Reform (Reformasi Pengelolaan Keuangan Negara), telah diawali dengan
lahirnya paket undang-undang sebagaimana tersebut di atas.
lndische Comptabiliteit Wet (ICW), lnstructie en verdure bepalingen voor de Alegemeene
Reijkenkamer (JAR), dan Reglement voor het Administratief Beheer (RAB) dinyatakan tidak
berlaku lagi dengan lahirnya paket undang-undang pengelolaan keuangan negara, namun
demikian, banyak hal dalam paket undang-tindang tersebut di atas fuerupakan saduran
yang diadopsi dari lew atau IAR, yang salah satunya adalah tentang Pejabat Pembuat
Komitmen.
Pejabat Pembuat Komitmen, yang selaftjutnya kita sebut saja P2K, menurut Peraturan
Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-66!PB/200S adalah pejabat yang diangkat oleh Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) setelah mendapat pendelegasian kewenangan dari Menteril
~
~ t u a LembagaSelaku Pengguna Anggaran. P2K adalah pejabat yang tindakannya dapat
mengakibatkan belanja negara, penanggungjawab kegiatan. Sedang dalam Keputusan
Presiden No. 80 tahun 2003, yang secara substantif diubah dengan Peraturan Presiden No.8
tahun 2006 ten tang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, adalah
pejabat yang diangkat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran sebagai pemilik
pekerjaan yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah.
I
: ..
---------Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggungjawabnya ---------
Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK adalah pemeriksaan yang dilakukan atas:
a.. Pemeriksaan pengelolaan keuangan negara, yakni pemeriksaan yang dilakukan
terhadap keseluruhan proses kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pengelola
keuangan negara sesuai dengan kedudukan dan kewenangan yang diberikan dan
menjadi tanggungjawabnya, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
dan pertanggungjawaban.
b. Pemeriksaan atas tanggung jawab keuangan negara, yakni pemeriksaan yang
dilakukan terhadap kewajiban pemerintah untuk melaksanakan pengelolaan
keuangan negara secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien,
ekonomis, efektif, dan transpararr, dengan memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan.
Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK sebagaimana dimaksud di atas dilakukan dalam
bentuk:
a. Pemeriksaan keuangan, yakni pemeriksaan yang dilakukan terhadap laporan
keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah da1am rangka memberikan
opini pada masyarakat ten tang tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan pemerintah. Laporan dimaksud adalah Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP), yang disajikan berdasarkan ketentuan yang dijelaskan
menurut Peraturan menteri keuangan Nomor 1711PMKOS/2007 tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat (perubahan atas PMK
No.59/PMK06/200S).
b. Pemeriksaan kinerja, yakni pemeriksaan atas aspek ekonorni dan efisiensi,
serta pemeriksaan atas aspek efektifitas yang lazim dilakukanbagi kepentingan
manajemen oleh aparat pengawasan intern pemerintah. Dengan kata lain
pemeriksaan dilakukan dengan maksud agar kegiatan yang dibiayai dengan
keuangan negara diselenggarakan secara ekonomis dan efisien serta memenuhi '
sasaran yang ditetapkan secara efektif.
c. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu, yakni pemeriksaan yang dilakukan dengan
tujuan khusus, diluar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja, termasuk
didalamnya pemeriksaan atas hal-hal lain yang berkaitan dengan keuangan dan
pemeriksaan investigatif.
Mengacu kepada maksud yang tersirat dalam ketentuan di atas bahwa BPK berwenang
melakukan pemeriksaan secara menyeluruh baik dari aspek pengelolaan (manajemen)
oleh Para penvelenggara negara ataupun dari aspek hukum yang dijadikan sebagai standar
Pendahubum
pemeriksaan, apakah terjadi penyimpangan, penyelewengan, dan/atau penyalahgun
keuangan negara. Yang tentu saja pengelolaan keuangan yang menjadi tanggungjawab K ~ :
atau P2K pada suatu kantorlsatuan kerja, merupakan salah satu o b ~ e k ik
d·l k J pemer saan yang
1 a ukan oleh BPK pada kurun waktu tertentu sesuai dengan kewenangan yang diberikan
kepada BPK bersangkutan yang ditetapkan dalam undang-undang ini.
\
\
_________ Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggungjawabnya
I,

-BAB2-
Pelaksanaan Anggaran Belanja Kantorl

A
nggaran belanja negara, adalah sejumlah biaya yang telah ditetapkan untuk digunakan
dalampelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negaraselamasatu tahunanggaran.
Anggaran belanja negara merupakan kumpulan anggaran dan kegiatan pemerintah yang
akan dilaksanakan oleh kementrian negarallembaga sesuai kewenangan dan fungsi yang
diberikan oleh Presiden selaku kepala pemerintahan. Penetapan anggaran belanja negara
merupakan suatu proses yang eukup panjang dan direneanakan dengan eukup matang
oleh kementrian negara/lembaga berikut kantorlsatuan kerja di Iingkungannya untuk
melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan selama satu tahun anggaran.
MenterilPimpinan Lembaga,selaku Pengguna Anggaran berwenangmenyusun reneana
kerja kementerian negarallembaga untuk tahun yang sedang disusun dengan mengaeu
pada prioritas pembangunan nasional dan pagu indikatif yang ditetapkan dalam Surat
Edaran Bersama Menteti Pereneanaan dan Menteri Keuangan. Rencana kerja ini memuat
kebijakan, program, dan kegiatan yang dilengkapi sasaran kinerja dengan menggunakan
pagu indikatif untuk tahun anggaran yang sedang disusun dan prakiraan maju untuk tahun
anggaran berikutnya.
Selanjutnya MenterilPimpinan Lembaga setelah menerima Surat Edaran Menteri
Keuangan tentang pagu sementara bagi masing-masing program pada pertengahan bulan
Juni, menyesuaikan reneana kerja Kementerian Negara/Lembaga menjadi RKA-KL yang
dirind menurut unit organisasi dankegiatan. RKA-KL ini dibahas olehKementerian Negaral
Lembaga bersama dengan komisi terkait di DPR. HasH pembahasan RKA-KL disampaikan
kepada Kementerian Keuangan dan Kementerian Pereneanaan untukdilakukan penelaahan
apakah sudah sesuai dengan Reneana Kerja Pemerintah dan sesuai dengan pagu semen tara,
prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya dan standar biaya yang
telah ditetapkan.
r
I ...
··
... .. ,_J __ ••
t
r
'I
---------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Kemudian Menteri Keuangan menghimpun RKA-KL yang telah ditelaah untuk
selanjutnya bersama-sama dengan Nota Keuangan dan Rancangan APBN dibahas dalam
Sidang Kabinet. Hasil pembahasan ini disampaikan Pemerintah kepada DPR selambat-
lambatnya pertengahan bulan Agustus untuk dibahas bersama dan untuk ditetapkan
menjadi Undang-undang APBN selambat-lamEat ya-p akhir bulan Oktober. -
yang telah disepakati DPR ditetapkan dalam eputusan Presiden tentang 'ndan APBN,
Rindan APBN inilah yang menjadi dasar oa' asia . Kementerian Negara/
Lembaga untuk menyusun konsep dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA). Konsep
DIPA ini disampaikan kepada Menteri Keuangan selambat-Iambatnya minggu kedua bulan
Desember untuk disahkan Menteri Keuangan selambat-Iambatnya tanggal31 Desember.
DIPA, sebagai dokumen anggaran yangtelah ditetapkan oleh pp.nggunaAnggaranlKuasa
Pengguna Anggaran dan telah disahkan oleh Menteri Keuangan c.q. Dirjen Perbendaharaan/
Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan, dijadikan sebagai landasan pelaksanaan kegiatan
dan anggaran bagi satuan kerja selama satu tahun anggaran. DIPA adalah rujukan satuan
kerja dalam pelaksanaan kegiatan dan anggaran, karena tidak ada kegiatan dan tid¥ ada
pengeluaran yang dilaksanakan satuan kerja, yang tidak tersurat dalam DIPA. DIPAJ juga
sebagai pengendali kegiatan dan anggaran bagi satuan kerja, karena dengan memahami dan
mempelajari DIPA, seharusnya satuan kerja dapat merencanakan kapan dimulai dan harus
bagaimana melakukan suatu kegiatan dalam upaya meningkatkan daya serap anggaran dan
kegiatan kantor/satuan kerja yang bersangkutan.
Dengan demikian DIPA merupakan rencana kerja dan anggaran kantor/satuan kerja
. selama satu tahun anggaran yang telahdisahkan oleh Menteri Keuangan, sedangkan oleh
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara selaku Kuasa Bendahara Umum Negara, DIPA
dijacl..ika.n.sebagai dasar pembayaran.
A. PENYELENCCARA PERBENDAHARAAN
Telah dijelaskan di atas bahwa menteri/ketua lembaga adalah Pengguna Anggaran yang
bertanggungjawab penuh dalam pelaksanaan anggaran di lingkungan kementrian negara/
lembaga. Kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/lembaga merupakan
ujung t-ombak pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kementrian negara/lembaga, untuk
melaksanakan tugas-tugas kebendaharaan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh
menterilketua iembaga.
Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004, Menteri/Pimpinan
Lembaga berwenang antara lain untuk:
V V I>rv IfV Pelaksanaan Anggaran Belanja KantorlSatuan Kerja -------
/' 1. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran; .
> 2. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (KPA); )
3. melakukan tindakan yang rnengakibatkan pengeluaran anggaran belanja;
4. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah
&A.l \A pembayaran;
M. '" ,.J . S. menggunakan barang milik negara (BMN);
1'1 I 6. mengawasi pelaksanaan anggaran;
7. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan berkaitan dengan pelaksanaan
anggaran di lingkungan kementrian negara/lembaga bersangkutan.
Berdasarkan """t;:; Keuangan Nomor 1 34/PMK.06/2005. Menteril
Pimpinan Lembaga dalam melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran
belanja negara di lingkungan kantorlsatuan kerja, mengangkat para pejabat perbendaharaan
untuk melaksanakan kegiatan dimaksud, yang antara lain adalah Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA), sebagai penerima pendelegasian kewenangan penggunaan anggaran pada kantor/
satuan kerja, Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran belanja
negara, yang selanjutnya menurut Peraturan Direktur Jenderal Anggaran Nomor PER-66/
PB/200S, disebut Penanggungjawab Kegiatan/Pembuat Komitmen yang kemudian dikenal
Pembuat Komitmen (P2K). Sedangkan pejabat yang melakukan pengujian
dan penntah pembayaran, yang selanjutnya disebut dengan PPSPM, diberi kewenangan
untuk melakukan penelitian dan pengujian atas setiap tindakan Pejabat Pembuat
Komitmen, agar setiap pengeluaran belanja negara sesuai dengan rencana yang ditetapkan
dalam dokumen anggaran, berupaya agar setiap pembebanan anggaran tidak menyebabkan
pemborosan dan penyimpangan anggaran, serta tidak mengakibatkan penyelewengan dan
penyalahgunaan wewenang yang dapat mengakibatkan pemborosan anggarari dan kerugian
negara.
Untuk mengetahui seberapa besar daya serap pelaksanaan anggaran dan untuk
mengetahui seberapa besar kegiatan telah dilaksanakan serta untuk melaksanakan
pembayaran kegiatan yang relatip kedl dan sederhana, ditetapkan Bendahara Pengeluaran,
yang diberi kewenangan untukmelakukan pembayaran yang tidakmelebihiRp.lO.OOO.OOO,OO
{sepuluh juta rupiah) untuk setiap transaksi/kuitansi dan mencatat seluruh transaJ<sil )
kegiatan serta keluar-masuknya anggaran pada kantorlsatuan kerja bersangkutan. v' l tJr:1. I (.JJoV""
Bagi satuan kerja yang memiliki sumber Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
dan telah ditetapkan sebagai instansi pengguna PNBP, wajib menunjuk dan mengangkat
Bendahara Penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan negara, dalam rangka
pelaksanaan anggaran pendapatan.
I
I'
I •
---------Pembunt Komi/men, \l\fewcllrlng dan Tallggwlgjmvabllya - --------
Para pejabat perbendaharaan terselmt di atas merupakall pengguna anggaran di
lingkungan kantorlsatuan kerja yang lebih dikenal dengan:
a. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) J t
b. Pejabat Penguji Tagihan, Penerbit Surat Perintah Membayar (PPSPM)
c. Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) /
d.
e.
Bendahara Pengeluaran
Bendahara Penerimaaan
P-e.ng:gun:al Ang'galan1
I Y
1
KuasaPenggunaAnggaran
------------
\
B. KEWENANCAN DAN TUCAS POKOK PEJABAT PERBENDAHARAAN
1. Kuasa pengguna Anggaran (KPA)
Pembagian kewenangan delam pengelolaan keuangan negara sebagaimana dijelaskan dalam
Undang-Ul1'dang Nomor 17 tahun 2003, bahwa Presiden telah mendelegasikan kewenangan
penggunaan anggaran kepada menterilpimpinan lembaga untuk melaksanakan anggaran
di lingkungan kementrian negara/lembaga yang dipimpinnya.
Pengguna Anggaran bertanggungjawab penuh atas pelaksanaan anggaran bagi
kementrian negara/lembaga termasuk satuan kerja/kantor yang berada dal am lingkungan
kementrian negara/lembaga bersangkutan.
----------PelakSallaall AlIggaran Belanja Kantor/Satuall Kerja ----_____ _
Untuk melaksanakan kewenangan sebagaimana tersebut di atas, Pengguna Anggaran
mengangkat dan menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) untuk melaksanakan
anggaran di lingkungan kantorlsatuan kerja bersangkutan. KPA memiliki kewenangan
menggunakan anggaran bagi kantorlsatuan kerja yang dipimpinnya dan bertanggungjawab
penuh at as pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggungjawabnya.
KPA dalam pelaksanaan anggaran bagi satuan kerja dapat diberi kewenangan
mengangkat Pejabat Penguji Tagihan Penerbit Surat Perintah Membayar (PPSPM) dan
Bendahara Pengeluaran di lingkungan satuan kerja bersangkutan sesuai dengan batas
kewenangan yang diberikan Pengguna Anggaran. Apabila dalam satuan kerja bersangkutan
I ternyata memiliki banyak kegiatan dan volume kerja, maka KPA dapat mengangkat satu
atau beberapa Pejabat Pembuat Komitmen yang diberikan kewenangan melakukan tindakan
dan kegiatan yang mengakibatkan pengeluaran belanja negara dalam setiap kegiatan yang
menjadi tangggungjawabnya. Setiap Pembuat Komitmen bertanggungjawab atas segala
tindakannya baik berupa fisik, kegiatan dan anggaran yang dikelolanya. Seorang KPA dapat
melaksanakan kegiatan yang mengakibatkan pengeluaran belanja negara bagi satuan kerj a
bersangkutan yang secara otomatis (ex officio) sebagai Pembuat Komitmen. v
Dengan kata lain KPA dapat merangkap sebagai P2K sepanjang tidak merangkap pula
sebagai PPSPM.
Bagi kantorlsatuan kerja yang memiliki Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Fungsional, dan/atau telah ditetapkan sebagai Instansi Pengguna PNBP, maka KPA dapat
mengangkat Bendahara Penerimaan dan menetapkan Atasan Langsung Bendahara untuk
mengelola PNBP dimaksud.
2. Pejabat penguji Tagihan Penerbit Surat Perintah Membayar
(PPSPM) .
Pengguna Anggaran, sebagai pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan
angggaran di kementrian negara/lembaga yang dipimpinnya, berwenang menetapkan dan
mengangkat pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan pengujian terhadap tagihan
yangmembebankan anggaran belanja, yang sekaligus menerbitkan surat perintah membayar
atas beban anggaran dimaksud yang disampaikan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN) . Pejabat Penguji Tagihan Penerbit Surat Perintah Membayar, yang
selanjutnya disebut PPSPM, diangkat dan ditetapkan untuk setiap kantorlsatuan kerj a,
sehingga dalam s<;!iap satuan kerja hanya terdapat seorang PPSPM, dan
seorang Pengeluaran. l P 1 A A.(u.v.-l. 0-- P P ,c,gI
2- f!pv I hh J-. f r'l. :l..? 1/'1·
..
r -
I
--- ------- Pembuat Komitmell, Wcwena1lg dan Tanggungjawabl1ya ---------
sangat bertanggungjawab atas pengeluaran belanja satuan kerja, karena
PPSPMJIlerupakan pejabat terakhir di lingkungan satuan kerja yang melakukan penelitian
dan pengujian tagihan pihak ketiga (yang berhak menerima pembayaran). PPSPM dapat
menolak dan/atau melanjutkan permintaan pembayaran pihak ketiga, sesuai dengan
ketentuan yang dipersyaratkan. Permintaan pembayaran diteruskan dengan menerbitkan
SPM sepanjang ketentuan yang persyaratkan telah terpenuhi. Akan tetapi PPSPM dapat
menolak bahkan wajib menolak setiap permintaan pembayaran yang diajukan KPA apabila
ketentuan yang dipersyaratkan tidak atau kurang terpenuhi menurut ketentuan yang
dipersyaratkan. Dalam hal ini seorang PPSPM tidak boleh ragu dalam pelaksanaan tugas
dan tanggung jawabnya, sehingga dapat menimbulkan "conjlic of interest", mengingat yang
mengajukan permintaan pembayaran adalah KPA/P2K yang struktural adalah atasan
Iangsungnya sendiri.
3. Pejabat Pembuat Komitmen (P2K)
P2K adalah pejabat yang diangkat dan ditetapkan oIeh PA/KPA untuk melaksanakan tugas
kebendaharaan, yang tindakannya dapat mengakibatkan pengeluaran belanja negara.
Dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud memungkinkan pula terjadinya penerif aan
dan/atau pendapatan negara. KPA memberi kewenangan kepada P2K untuk melakukan
tindakan dan kegiatan yang berkaitan dengan pengeluaran belanja negara untuk dan atas
nama KPA. Pengangkatan dan penetapan P2K diserahkan sepenuhnya kepada PA/KPA,
yang tentunya disesuaikan dengan banyaknya kegiatan serta besar-kecilnya beban volume
kerja pada kegiatan satuan kerja masing-masing.
4. Bendahara pengeluaran
Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional, yang diangkat oIeh menteri/pimpinan
lembaga gubernur/bupati/walikota untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam
rangka pelaksanaan anggaran belanja pad a kantorlsatuan kerja di lingkungan kementrian
negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah. Tugas Bendahara Pengeluaran sebagaimana
tersebut di atas adalah untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan,
dan mempertanggungjawabkan uang yang berada dalam penguasaannya untuk keperluan
belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN.
Berdasarkan Undang- Undang Nomor 17 tahun 2003, bahwa setiap orang yang
diberi tugas menerima, menyimpan, membayar, dan/atau menyerahkan uang atau surat
berharga atau barang-barang negara adalah bendahara yang wajib menyampaikan Iaporan
pertanggungjawabannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dan bendahara
- ---------Pelaksanaall AlIggaran Belanja Kantor/Satl/all Kerja --- - _____ _
dimaksud bertanggungjawab secara pribadi atas kerugian keuangan negara yang berada
dalam pengurusannya.
Pasal 21 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004, menyatakan bahwa Bendahara
Pengeluaran diberi kewenangan untuk mengelola Uang Persediaan (UP) yang diberikan
kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untukkelancaran pelaksanaan tugas
kementrian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah, dan Bendahara Pengeluaran
melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang berada dalam pengelolanya,
setelah:
a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA).
b. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah
pembayaran.
c. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan.
Dalam ayat berikutnya ditegaskan pula bahwa Bendahara Pengeluaran wajib menolak
perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran apabila persyaratan
sebagaimana ditentukan tersebut di atas tidak terpenuhi, dan Bendahara Pengeluaran
bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya.
Menggarisbawahi penjelasan-penjelasan dalam undang-undang tersebut di atas,
maka tugas dan kewenangan Bendahara Pengeluaran dalam pelaksanaan belanja negara
sangat berat, karena apa yang dilakukannya/dibayarkannya bukan tanggungjawab KPAI
P2K sebagaimana Atasan Langsung Bendahara ketika menganut pembayaran dengan
mekanisme sistem Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD). Seorang Bendahara
Pengeluaran bukan saja dapat menolak akan tetapi lebih dari itu, yakni "wajib" menolak
manakala persyaratan yang ditentukan dalam setiap permintaan pembayaran/perintah
bayar oleh seorang KPA/P2K yang secara struktural adalah atasan langsungnya, ternyata
tidak terpenuhi. Seorang Bendahara Pengeluaran tidak boleh "conflict of interest" dalam
tugas dan kewenangannya, seorang Bendahara Pengeluaran harus komitmen dan konsisten
dalam pelaksanaan tugas yang harus bersandar kepada landasan pelaksanaan, bukan semata
untuk kepentingan pimpinan apabila ternyata tidak sesuai dengan koridor hukum yang
telah ditetapkan.
Oleh karena itu, penulis sering menjelaskan bahwa Bendahara Pengeluaran pad a
hakekatnya adalah "Menteri Keuangan" yang ditempatkan pada kantorlsatuan kerja di
Iingkungan kementrian negara/lembaga untuk membantu tugas-tugas Menteri Keuangan
pada satker berkenaan dan bertanggungjawab kepada Menteri Keuangan (Bendahara
Umum Negara). Sehingga dengan kewenangan tersebut, Bendahara dapat dan
wajib menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang
----- ---- - Pembuat Komitmel1, WewenQllgdan Tallggwlgjawabllya ---------
telah meJ.!.etapkannya sebagai Bendahara Pengeluaran, manakala persyaratan pembayaran
tidak terpenuhi menurut ketentuan yang telah ditetapkan, yang merujuk kepada PMK
No.134/PMK.06/2005 dan Perdirjen Perbendaharaan No.PER-66/PB/2005.
5. Bendahara Penerimaan
Adalah pejabat yang diangkat dan ditetapkan oleh PA/KPA untuk melaksanakan tugas
kebendaharaan negara dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan, untuk menerima,
menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uanglbarang
yang berada dalam penguasaannya. Oleh karena itu bagi satuan kerja yang potensial memiliki
sumber pendapatan negara bukan pajak (PNBP), wajib mengangkat dan menetapkan Bendahara
Penerimaan. Bendahara Penerimaan akan melaksanakan tugas kebendaharaan pada satuan
kerja yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Instansi Penggguna PNBP.
Para pejabat perbendaharaan tersebut di atas (Kuasa Pengguna Anggaran, Penguji
Tagihan dan Penerbit SPM, dan Bendahara Pengeluaran), akan tercantum namanya dalam
DIPA sebagai dokumen pelaksanaan anggaran. DIPA menjadi acuan bagi kantorlsatuan
kerja untuk melaksanakan kegiatan dan anggaran, menjadi acuan bagi KPPN untuk
melakukan pengujian dan pengendalian pelaksanaan anggaran dan menjadi acuan bagi
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit dalam pelaksanaan anggaran.
---------
.
c. RUANC LlNCKUP BELANJA NECARA
Belanja >negara, menurut Undang- Uridang Nomor 17 tahun 2003 adalah kewajiban
pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Dengan demikian
__________ Pelaksanaml Anggaran Be/allja Kallior/Sali/all Kerja --- - --- - - _
setiap unsur belanja mengandung arti terjadi pengeluaran negara yang mengakibatkan
berkurangnya nilai bersih kekayaan negara. Dalam APBN terdapat sisi pendapatan dan
sisi belanja, yang berarti bahwa belanja adalah lawan dari pendapatan. Olehkarena itu
setiap penerimaan yang dapat menambah nilai kekayaan bersih negara adalah pendapatan
negara.
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa setiap kegiatan dan anggaran yang
dilaksanakan oleh para pejabat perbendaharaan harus mengacu kepada DIPA satuan
kerja masing-masing yang telah memuat semua rencana kegiatan dan anggaran yang
akan dilaksanakan selama satu tahun anggaran. DIPA disusun dan ditetapkan oleh PAl
KPA/Pejabat yang ditunjuk yang merupakan keluaran perencanaan yang telah disusun
da'lam RKA-K/L masing-masing. Apa yang terkandung di dalam DIPA seyogyanya dapat
diselesaikan sesuai dengan yang direncanakan berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi
masing-masing satuan kerja, karena DIPA disusun, ditetapkan, dan akan dilaksanakan
sendiri oleh satuan kerja. Menteri Keuangan (dalam hal ini Dirjen Perbendaharaan danl
atau Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan di daerah) hanya sebatas mengesahkan setelah
dilakukan penelahaan untuk meneliti kesesuaian antara RKA- K/L hasil pembahasan dengan
konsep DIPA yang diusulkan/direncanakan satuan kerja masing-masing.
Komponen belanja yang tertuang dalam DIPA, menurut Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 91/PMK.05/2007 tentang Bagan Akun Standar (perubahan PMK No.l31
PMK.06/2005 tentang Bagan Perkiraan Standar), meliputi:
1. Belanja Pegawai,
2. Belanja Barang,
3. Belanja Modal,
4. Belanja Beban Bunga,
5. . Belanja Subsidi, .;.
6. Belanja Bantuan Sosial,
7. Belanja Hibah,
8. Belanja Lain-lain
Tidak semua jenis belanja sebagaimana tersebut di atas terdapat pada setiap DIPA
satuan kerja kementrian negara/lembaga, akan tetapi sekurang-kurangnya setiap satuan
-
Jserja terdapN..J_{tiga) jenis belanja, yaitu: 1)' '..(j _ fylJ (IJ •
,
1. Belanja Pegawai,
2. Belanja Barang,
3. Belanja Modal.
yang dibebankan kepada sumber dana masing-masing.
".
-------- -- Pembuat Komitmen, Wewenang dati Tanggungjawahnya - - -------
Sum-ber dana dalam DIPA meliputi:
\W"\,.
«l'-J

1
L, r l,tJ
l. beban Rupiah Murni
\" )1JAI>
) ,lA 1 .. ...,
2. beban PHLN

.-) '"
3. beban PNBP
71) l? t u
\o} V
Setiap satuan kerja be1um tentu memiliki ketiga sumber dana tersebut di atas, akan tetapi
sekurang-kurangnya terdapat sumber dana dari Rupiah Murni.
D. MEKANISME PELAKSANAAN ANCCARAN PADA KANTOR/ SATUAN
KERJA
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang selanjutnya disebut APBN, adalah rencana
keuangan pemerintah pusat se1ama satu tahun anggaran yang te1ah mendapatkan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sehingga APBN merupakan kerangka operasional
pemerintah jangka pendek yang ditetapkan dengan undang-undang. Pe1aksanaan APBN
diimplementasikan dengan perumusan dan penyusunan konsep DIPA yang mengacu
kepada Peraturan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP)
untuk satuan kerja pusat dan Surat Rincian Alokasi Anggar untuk satuan kerja
daerah. t: '
Konsep DIPA yang disusun satuan kerja kementrian negara/lembaga ditelaah bersamal /'ofV-.
sama an tara Menteri Keuangan c.q. Ditjen Perbendaharaan di pusat/Kanwil Ditjen
Perbendaharaan daerah dengan satuan kerja terkait untuk menghasilkan kesesuaian
antara Konsep DIPA dengan SRAA terkait. Sangat sederhana sebenarnya apabila setiap
satuan kerja mengikuti petunjuk dan memahami makna yang terkandung,.dalam setiap
petunjuk pelaksanaan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan kepada safuan kerja
bersangkutan sebe1um konsep DIPA disusun. Akan tetapi yang terjadi adalah seringkali
ketika menyusun konsep DIPA, se.tiap satuan kerja masih berpedoman kepada RKA-KI
L yang diusulkan semula atau sebelum dilakukan pembahasan dengan DPR, sehingga
an tara konsep DIPA dengan 'SRAA tidak terdapat kesesuaian. Kesalahan akan semakin
fatal, manaka-la dalam pene1ahaan, sumber daya manusia para pene1aah, baik dari satuan
kerja ataupun Kanwil DJPBN be1um memahami secara maksimal apa yang tersirat dalam
ketentuan-ketentuan yang terkait dengan pene1aahan DIPA. Kondisi ini akan menyebabkan
terjadinya revisi DIPA yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan.(Direktur Jenderal
Perbendaharaan/Kepala Kanwil Ditjen Perhendaharaan/Pejabat yang ditunjuk).
DIPA yang te1ah disahkan oleh Menteri Keuangan merupakan dokume.n pe.laksanaan
anggaran yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dan penganggaran bagi
___ ______ ._ PcI"ksanaan Anggaran Belcmja Kantor/Satuan Kerja ---------_
satuan kerja berkenaan. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) , sebagai penerima kuasa
dalam pe1aksanaan anggaran pada kantorlsatuan kerja bertangggungjawab penuh atas
pe1aksanaan anggaran satuan kerja yang dipimpinnya. KPA berwenang me1akukan
kegiatan dan/atau perikatan/perjanjian dengan pihak ketiga/penyedia barang/jasa yang
dapat mengakibatkan penge1uaran belanja atas beban anggaran dalam DIPA berkenaan.
Akan tetapi sebaliknya KPA tidak diperkenankan melakukan perikatan dan/atau
perjanjian dengan siapapun apabila dokumen pe1aksanaan belum disahkan oleh Menteri
Keuangan. Dengan demikian setiap proses pengadaan barang/jasa sehubungan dengan
pelaksanaan kegiatan kantorlsatuan kerja hanya dapat dilakukan sepanjang kegiatan
bersangkutan tersurat dan telah dialokasikan anggaran dalam dokumen anggaran.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2006 (perubahan ke-empat Keputusan
Presiden Nomor 80 tahun 2003), bahwa proses pengadaan barang/jasa sehubungan
dengan pe1aksanaan kegiatan satuan kerja di lingkungan kementrian negarallembaga
dapat dilakukan sepanjang anggaran untuk kegiatan bersangkutan te1ah dialokasikan,
dengan ketentuan bahwa penerbitan Surat Penetapan Pemenang BaranglJasa (SPPBI
J) dan penandatanganan kontrak untuk kegiatan/proyek dimaksud dilakukan sete1ah
dokumen anggaran disahkan oleh Menteri Keuangan.
Dalam pe1aksanaan anggaran oleh satuan kerja, KPA tidak dapat melakukan tindakan
dengan sewenang-wenang, walaupun KPA memiliki kekuasaan atas anggaran pada satuan
kerja yang dipimpinnya, namun tindakan KPA masih dikendalikan oleh Kuasa BUN (KPPN)
sesuai dengan batas kewenangan yang ditetapkan. Oleh karena itu DIPA yang diterima
KPPN dijadikan sebagai dasar untukmengendalikan anggaran, melakukan pengujian secara
formal dan substantif atas setiap tagihan yang membebankan anggaran negara me1alui DIPA
satuan kerja bersangkutan. KPPN akan menguji ketersediaan dana atas beban kegiatanl
subkegiatan yang dimintakan, menguji kebenaran perhitungan tagiha }'ang dimintakan,
menguji kebenaran sahnya dokumen yang dipersyaratkan, serta erhitungan paja y ang ·
mungkin harus diluqasi pihak penagih. juga menguji kebenaran atau sahnya hak
penagih. -?t f\ h <tiS .J.u", "'.-J.r
Kewenangan KPPN untuk melakukan pengujian tagihan yang membebankan
anggaran belanja nega.ra sangat berbeda dengan ketika KPKN masih memiliki kewenangan
"ordonansering'; kebenaran tujuan penggunaan dana atau ketika itu dikenal dengan aspek
"doelmatigheid" tidak lagi menjadi urusan KPPN. Kebenaran atas aspek hukum yang ketika
itu dikenal dengan aspek "wetmatigheid" juga tidak lagi menjadi sasaran pengujian KPPN,
tetapi semua itu diserahkan sepenuhnya kepada satuan kerj a. Dengan kata lain bahwa
semua kegi atan atau tindakan yang dilakukan satuan kerj a yang menyebabkan pengeluaran
belanja negara sepenuhnya menjadi tanggung jawab satuan kerja, atau menjadi tanggung
jawab KPA.
-.
_ ___ _ _ ____ Pembuat Komi/men, Wewenang dan TcmggutJgjmvabnya ----- ----
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/200S tentang Pedoman Pembayaran
Dalam Pelaksanaan APBN, merupakan petunjuk pelaksanaan yang harus dipedomani oleh
para pihak yang terkait dalam pelaksanaan anggaran. Dan UI1tuk memudahkan pelaksanaan,
secara teknis ditegaskan lagi dengan Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-66/
PB/200S tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban APBN.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana terse but di atas, dijelaskan
dalam pasal (4) bahwa, MenterilPimpinan Lembaga menetapkan para pejabat yang ditunjuk
sebagai:
1. Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang;
2. Pejabat yang bertugas rnelak,!kan pernungutan penerirnaan negara;
3. Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran
belanja;
4. Pejabat yang bertugas rnelakukan pengujian dan perintah rnembayar;
5. Bendahara Penerimaan untuk rnelaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka
pelaksanaan anggaran pendapatan;
6. Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka
pelaksanaan anggaran belanja.
Penetapan para pejabat perbendaharaan sebagairnana tersebut di atas dilakukan dengan
ketentuan bahwa:
1. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA):
a. Tidak boleh merangkap sebagai Bendahara Penerimaan atau Bendahara
Pengeluaran.
b. Tidak boleh merangkap sebagai Pejabat Pembuat Kornitmen (P2K) yang I
sekaligus merangkap pula sebagai PPSPM. . 1;. t
c. Boleh merangkap sebagai P2K dan/atau sebagai PPSPM (hanya merangkap
salah satu jabatan).
2. Pejabat Penguji Tagihan Penerbit SPM (PPSPM) :
a. Tidak boleh dirangkap oleh P2K.
b. Tidak boleh dirangkap oleh Bendahara (Penerimaan atau Pengeluaran)
c. Boleh dirangkap oleh KPA.
3. Pejabat Pernbuat Komitmen (P2K):
a. Tidak boleh dirangkap oleh PPSPM.
b. Tidak boleh dirangkap oleh Bendahara (Penerimaan atau Pengeluaran)
c. Boleh dirangkap oleh KPA
----------Pelaksanaan Anggaran Belanja Kanlor/Saluan Kerja _________ _
Mekanisme pelaksanaan anggaran yang dilakukan oleh pejabat perbendaharaan dalarn
satu satuan kerj a kementrian negara/lembaga merupakan Sis tern Administrasi Manunggal
Satu Atap (SAMSAT) , yang seluruhnya dilakukan untuk dan atas nama Kuasa Pengguna
Anggaran.
Setiap tagihan yang membebankan anggaran belanja negara harus disertai dengan surat
- bukti sahnya suatu tagihan dan diajukan berdasarkan perrnintaan pembayaran(Surat
Permintaan Pembayaran) oleh KPA kepada PPSPM. Sesuai dengan kewenangannya
PPSPM melakukan pengujian atas SPP yang diajukan KPA dan rnenerbitkan Surat Perintah
Membayar (SPM) yang disarnpaikan ke KPPN apabila sernua persyaratan yang ditentukan
telah terpenuhi baik kelengkapannya atau kebenaran dan sahnya dokumen pendukung.
Namun ternyata kelengkapan dokumen pendukung belurn terpenuhi atau syarat-
syarat yang dltetapkan belurn terpenuhi, maka SPP dikernbalikan kepada KPA untuk
diperbaiki/dilengkapi sebagairnana mestinya.
SPM yang mernenuhi persyaratan dan sahnya suatu tagihan akan diterbithn Surat
Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN yang ditujukan kepada Bank Operasional
mitra .kerj.a apabila SPM terdapat kesalahan dan/atau anggaran yang
tersedla/dlsedlakan tJdak mencukupi, maka SPM akan dikernbalikan kepada PPSPM llntllk
diperbaiki sebagaimana mestinya .
_________ Pembuat Komitmen. Wewenang dan Tanggungjawabnya ---------
'. ,
-.
-BAB3-
Mekanisme Kegiatan dalam
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah
M
ekanisme pengadaan barang dan jasa pemerintah saat ini diatur berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 yang selanjutnya dapat disebut Keppres
No.SO tahun 2003, yang secara substantiftelah diubah dengan Peraturan Presiden No.S tahun
2006 yang selanjutnya disebut Perpres No. 8 tahun 2006, tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, yang secara teknis telah diubah sampai dengan
perubahan yang ke-tujuh. Kegiatan P2K dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa
pemerintah harus berpedoman kepada Keputusan Presiden Nomor SO tahun 2003 yang
mengatur tentang pengadaan barangljasa yang membebani APBN sebagaimana alur di
halaman berikut.
Mekanisme pengadaan barangljasa pemerintah penulis uraikan atas beberapa item
sebagai berikut:
A. Prinsip Dasar dan Kebijakan Pengadaan
B. Cara Pengadaan
C. Pelaksana Pengadaan
D. Proses Pengadaan
E. Metode Pengadaan
F. Penyusunan Kontrak Pengadaan
Mekanisme Kegiatan sebagaimana terse but di atas telah dijelaskan dalam keputusan
Presiden Nomor SO tahun 2003. Secara substantif dalam pelaksanaannya telah dilakukan
pada perubahan ke (empat), yakni dengan Peraturan Presiden Nomor S tahun 2006.
______ ____ Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggung;awabnya ---------
"pcncrilllaan 1)l"[lIp" komisi, !'orongan, lIraup"n bmt"k lain ,cbagai akiba[ dari pcngad.an
b:lrang/ ja,a :lJ;llalt hak ncga ra yang barus di,ctor kc kas nega ra (uu llo.1 /2004 ps. 16)"
DIT.PA/
KANWIL
DJPb
KONTR:AKTOR
, I SUpPLIER'. 6
.. ~ : '.
23.03.2010
DIKLAT BENDAHARA
PENGELUARAN
Sumber: Modul Pusdiklat Anggaran
A. PRINSIP DASAR DAN KEBIJAKAN PENGADAAN
Sebagaimana dijelaskan dalam Keputusan . Presiden Nomor 80 tahun 2003 bahwa
dalam pengadaan barang atau' jasa yang diperlukan untukmenunjang pelaksanaan tugas
pokok dan fungsi satuan kerja, mengharuskan P2K mengacu kepada ketentuan-ketentuan
yang ditet apkan didalamnya, yang antara lain:
1. prinsip Dasar pengadaan
a). efisien, menggunakan setiap rupiah yang terbatas untuk mencapai sasaran yang
ditetapkan dalam waktu sesingkat mungkin dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal ini mengandung arti bahwa setiap P2K tidak mengada-ada baik dari sisi waktu
atau biaya dalam setiap pengadaan barang atau jasa.
b). efektif, setiap pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah
ditetapkan yang clap at memberi manfaat dalam penyelenggaraan pemerintahan
________ Mekanisme Kegiatan dn/am Pcngadaan BaranK dan ]asa Peme,;nlah - --____ _
sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini berarti tidak akan pernah
terjadi pengadaan barang/jasa, yang bcrhenti hanya "output" saja akan t ~ t a p i
setiap pengadaan barang/jasa benar-benar d·ibeli untuk digunakan /dilakukan
pengadaan dan dapat memberi hasil yang sesuai bagi penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi serta pelayanan prima kepada masyarakat.
c). terbuka dan bersaing, artinya memberikan kesempatan yang sarna kepada setiap
masyarakat penyedia yang memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan yang telah
ditetapkan.
d). transparan, prinsip ini menjelaskan keterbukaan terhadap semua informasi dan
ketentuan yang ditetapkan untuk semua calon penyedia barang/jasa yang berminat
dalam setiap pengadaan barang/jasa pemerintah.
e). adil/tidak diskriminatif, prinsip ini menjelaskan tentang pemberlakuan yang
sarna kepada semua masyarakat penyedia barang/jasa dengan tidak memberi
keuntungan/pelayanan yang berbeda yang mengarah untuk menguntungkan
kepada penyedia tertentu saja.
f) . akuntabel, artinya setiap bentuk pengadaan harus dilakukan sesuai dengan
prinsip-prinsip dan ketentuan yang telah ditetapkan untuk mencapai sasaran yang
diinginkan yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Kebijakan pengadaan
a). Setiap pengadaan barang/jasa, P2K wajib mengutamakan penggunaan produksi
dalam negeri, atau rancang bangun dan perekayasaan nasional sepanjang telah
diakui dan memiliki standar yang ditetapkan. Kebijakan ini dimaksudkan untuk
memberi kesempatan pengembangan industri dalam negeri dan perluasan
lapangan kerja bagi nrasyarakat.
b). Meningkatkan peran serta masyarakat penyedia dari golongan ekonomi kecil,
koperasi dan sejenisnya dalam setiap pengadaan barang/jasa pemerintah.
c). P2K wajib menyederhanakan ketentuan dan tata cara pengadaan yang dapat
menarik minat masyarakat penyedia dan tidak mengada-ada yang dapat
mempersulit para calon penyedia barang/jasa.
d). P2K, panitia/pejabat pengadaan harus senantiasa untuk meningkatkan
profesionalisme, kemandirian dan tanggungjawab dalam pengadaan barang/jasa
pemerintah.
e). P2K wajib dan berusaha meningkatkan penerimaan dari sektor pajak dalam
setiap bentuk pelaksanaan pengadaan/j asa pemerintah yang menjadi tanggung
jawabnya.
-------Pembuat KomI/men. Wewenangdan Tanggungjawabnya --------
P2K harus berupaya untuk menumbuhkembangkan peran serta usaha nasional,
O· artinya kesempatan bagi penyedia nasional selama kebutuhan tersebut ada dan
memungkinkan.
g). Setiap pengadaan barang/jasa harus dilakukan dalam wilayah hukum NKRI dan
sesuai dengan ketentuan yang telab ditetapkan.
h). Setiap pengadaan barang/jasa wajib diumumkan seeara terbuka
setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat penyedia yang bermmat
dan persyaratan, keeuali untuk pekerjaan/kegiatan/pengadaan yang .
sifatnya rabasia.
B. CARA PENCADAAN
1. Dengan tara Swakelola
Pengadaan swakelola adalah kegiatan pengadaan yang direncanakan sendiri, dilaksanakan
sendiri, dan diawasi sendiri.
Kegiatan ini hanya dapat dilakukan apabila tidak ada satupun penyedia barang/pihak
ketiga atau rekanan yang memilild kemampuan, kemauan ata.u
kegiatan dimaksud. Atau apabila ada penyedia barang/jasa yang
akan dapat dilaksanakan dalam waktu yang eukup lama, tldak efislen, tidak efektif, dan
akan memerlukan biaya yang sangat tinggi.
2. Dengan tara Melalul Penyedia Barang/Plhak Ketlga
Pengadaan melalui penyedia barangljasa, adalah kegiatan pengadaan yang proses
dilakukan oleh penyedia barangljasa atau pengadaan terhadap barang-baranglJasa yang
diperlukan, yang memang sudah banyak tersedia dan ada pada penyedia barangljasa.
Kegiatan ini harns dilakukan oleh P2K sepanjang barang ataupun jasa yang
satuan kerja cukup banyak tersedia di pasaran atau yang dikuasai oleh
barang/jasa. Dengan kata lain pekerjaan, barang atau jasa yang banyak
tersedia oleh/pada pihak ketiga, harus dilakukan melalui pihak ketiga/penyedla barang/Jasa,
sehingga tidak boleh suatu satuan kerja atau P2K melakukan pekerjaan seeara swakelola,
keeuali ditentukan lain.
Contohnya:
a). penggantian kunci pintu kamar mandi, tidak boleh dilakukan membeli
. kund sendiri dan dipasang sendiri tanpa menggunakan jasa pihak kehga/tukang
kayu, dan sebagainya.
f' <',0$'
t
11 .....
'.
,
}
-------Mekanisme Kegiatan dalam Pengadaan Barangdan Jasa Pemerini4h ______ _
b). pengecatan pagar kantor sepanjang 20 m2, tidak boleh dHakukan dengan cara
membeli cat sendiri dan dikerjakan sendiri tanpa menggunakan pihak ketiga/
tukang cat, dan sebagainya.
ApabHa pekerjaan tersebut dilakukan, bukan hanya melanggar ketentuan yang
ditetapkan dalam Surat Keputusan Presiden sebagaimana tersebut di atas, akan tetapi juga
tidak memberikan peluang atau kesempatan kepada para usaha keeH perseorangan untuk
berperan aktif sebagai penyedia barang/jasa pemerintah. Terhadap hal-hal tersebut diatas,
yang menjadi pihak ketiga/penyedia jasa adalah clapat dilakukan oleh pihak penyedia
perseorangan (personal). Oleh karena itu yang dimaksud dengan pihak ketiga/penyedia
barangljasa dapat bersifat perseorangan atau kelembagaan.
C. PELAKSANA PENCADAAN
1. Oleh PeJabat Pengadaan
Adalah kegiatan pengadaan barang atau jasa yang nilainya relatif keeil, yang nHai per
transaksi setinggi-tingginya sebesar Rp.SO.OOO.OOO,OO (lima puluh juta rupiah).
2. Oleh Panitla Pengadaan. yang jumlahnya gasallganjil.
. a) .. Jumlah personilnya.sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang.
Yakni kegiatan pengadaan barang abiu jasa yang nila:i per transaksinya setinggi-
tingginya sebesar Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) untuk jasa konsultansi
atau setinggi-tingginya sebesar Rp500.000.000,OO (lima ratus juta rupiah) untuk
pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya. 7: .
b). Jumlah personilnya sekurang-kurangnya 5 (lima) orang.
Yakni kegiatan pengadaan barang atau jasa yang nilai per transaksinya di
atas Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) untuk jasa konsultansi atau di
atas Rp.500.000.000,OO (lima ratus juta rupiah) untuk pengadaan barangljasa
pemborongan/jasa lainnya.
3. Unit Lavanan Pengadaan (E· Procurement Unit)
Adalah unit layanan pengadaan barang/jasa melalui media elektronik, yang melakukan
transaksi tanpa bertatap muka antara pihak penyedia dan pengguna barangljasa.
, .
_ _ _ ---Pembuat Komit mell, Wewenal1g dan Tanggungjawabnya ----------
Transaksi pengadaan diumumkan melalui website pengadaan yang dapat dibuka oleh
semua masyarakat penyedia yang berminat dengan cara men-download dan upload dat a
masing-masing pihak, sehingga terjadi interaksi pengadaan melalui sarana elektronik yang
digunakan.
D. PROSES PENGADAAN
Proses pengadaan dilakukan dengan cara:
1. prakualifikasi
Yakni kegiatan pengadaan barang at au jasa yang dilakukan dengan cara melakukan
kualifikasi kepada penyedia barang/pihaklketiga sebelum memasukkan penawaran harga.
2. paskakualifikasi
Yakni kegiatan pengadaan barang atau jasa yang dilakukan dengan cara kualifikasi kepada
penyedia barang/pihak ketiga setelah memasukkan penawaran harga.
Kualifikasi kepada penyedia barang/pihak ketiga dilakukan dengan mengacu kepada
stan dar persyaratan yang harus dimiliki oleh setiap penyedia barang/jasa sebagaimana yang
ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003
(P.eraturan Presiden Nomor8 tahun 2006)
E. METODE
Mekanisme pengadaan barang atau jasa yang dilakukan dengan metode:
1. pelelangan Umum/Seleksi Umum
Pelaksanaan pengadaan dengan cara pelelangan umum/seleksi umum dilakukan oleh
panitia pengadaan, dengan membuat pengumuman pelelangan di mediacetak at au
elektronik sebagaimana yang dipersyaratkan dalam keppres Nomor 80 tahun 2003.
Pelelangan Umum dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang sel uas-luasnya
kepada penyedia barang/jasa yang berminat melalui persaingan sehat dan transparan dan
diharapkan memperoleh harga yang serendah-rendahnya untuk kualitas/spesifikasi barang
yang diinginkan. Pengumuman pelelangan dilakukan di media cetak sekurang-kurangnya 7
--------Mekanisme Kegiatan dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah --------
(tujuh) hari dan pada media elektronik satu kali penayangan, llntuk mendapatkan penawar
sebanyak-banyaknya, sehingga menghasilkan persaingan yang sehat diantara masyarakat
penyedia, agar diperoleh harga yang serendah-rendahnya yang menguntungkan negara
serta memperoleh barang sesuai spesifikasilkualitas yang diinginkan.
. Pelelangan Umum/seleksi umum dilakukan untuk setiap pengadaan yang nilainya
dl atas Rp.l00.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan dipilih dari sekurang-kurangnya 3
(tiga) penyedia barang/jasa yang memasukkan penawaran. Proses Pelelangan Umum
pada prinsipnya menggunakan Paskakualifikasi, sedangkan Seleksi Umum dengan
Prakualifikasi.
Bentuk kontrak pengadaan dengan cara Pelelangan Umum/Seleksi Umum menurut
Keppres 80 tahun 2003 pasal 31 adalah dengan membuat Surat Perjanjian/Kontrak
Pengadaan antara P2K dengan Penyedia Barang sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam
lelang, dengan melampirkan Jaminan Pelaksanaan sekurang-kurangnya 5% dari
mlal kontrak, kecuali untuk Jasa Konsultansi.
2. Pelelangan Terbatas/SeleksiTerbatas
Pelaksanaan pengadaan dengan cara pelelangan terbataslseleksi terbatas dilakukan
oleh panitia pengadaan, dengan membuat pengumumam di media cetak atau elektronik
sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Keppres Nomor 80 tahun 2003.
Pengumuman dalam pelelangan terbatas/seleksi terbatas tidak dengan cara
mengumumkan secara luas kepada penyedia yang berminat, akan tetapi dengan cara
para penyedia barang/jasa yang diyakini mampu menyediakan barang/jasa
yang dnnglI1kan. Namun demikian, karena dalam prinsip pengadaan harus dilakukan
secara terbuka, transparan, memenuh.i rasa keadilan dan kepatutan, maka dengan prinsip
tersebut, apabila terdapat peserta yang tidak diundang akan tetapi ingin
menglkutl proses pelelangan, keikutsertaan penyedia barang tersebut tidak boleh ditolak
sepanjang mengikuti kualifikasi yang dipersyaratkan dalam dokumen lelang.
. Pelelangan Terbatas/Seleksi Terbatas dilakukan untuk setiap pengadaan yang nilainya
dl. atas Rp.l00.000.DOO,00 (seratus juta rupiah) dan dipilih dari sekurang-kurangnya 3
(tIga) barang/jasa yang memasukkan penawaran. Untuk pemilihan penyedia jasa
konsultansl yang menggunakan metode Seleksi Terbatas ini, pada dasarnya menggunakan
proses Prakualifikasi, yang akan memilih sekurang-kurangnya 5 (lima) penyedia jasa
konsultansi dan sebanyak- banyaknya 7 (tujuh) penyedia jasa konsultansi, yang akan
dlmasukkan dalam Daftar Pendek. Apabila hanya terdapat 4 (empat) penyedia jasa atau
kurang, maka harus dilakukan kualifikasi ulang dengan mengundang peserta baru, akan
· ,
--------- Pembuat Komitme/!, Wewellang dan Tanggungjawabnya - ~ ______ _ _
tetapi apabila terjaring lebih dari 7 (tujuh) penyedia jasa, maka hanya dipilih 7 (tujuh)
penyedia jasa terbaik sesuai dengan urutan hasil kualifikasi.
Bagi penyedia jasa konsultansi yang telah lulus Prakualifikasi dapat mengajukan
penawaran harga sesuai yang ditetapkan dalam dokumen lelang, sedangkan yang tidak
Iulus Prakualifikasi dinyatakan gugur sebagai peserta lelang.
Bentuk kontrak pengadaan dengan cara Pelelangan Terbatas adalah dengan membuat
Surat Perjanjian/Kontrak Pengadaan sesuai yang ditetapkan dalam dokumen lelang dengan
melampirkan Jaminan Pelaksanaan sekurang-kurangnya 5% dari Nilai Kontrak, kecuali
untuk Jasa Konsultan.
3. Pemilihan Langsung/Seleksi Langsung
Pelaksanaan pengadaan dengan cara pemilihan langsung/seleksi langsung dilakukan untuk
pengadaan barang/jasa yang nilai per transaksinya di atas Rp.50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp.lOO.OOO.OOO,OO (seratus juta rupiah) dan dilaksanakan oleh
panitia pengadaan. Pemilihan dilakukan dengan cara membuat pengumuman pada papan
pengumuman resmi atau pada instansi untuk memberikan kesempatan kepada penyedia
barang/jasa yang berminat. Pemilihan dilakukan terhadap sekurang-kurangnya dari 3
(tiga) penawar.
Bentuk kontrak pengadaan dengan cara -Pemilihan Langsung adalah cukup dengan
Surat Perintah Kerja (tidak dilarang dengan Surat Perjanjian) dengan melampirkan
Jaminan Pelaksanaan sekurang-kurangnya 5% ·da.rj Nilai SPK/Kontrak, kecuali untuk Jasa
Konsultansi.
4. Penunjukkan Langsung
Pelaksanaan pengadaan -dengan cara penunjukkan langsung dapat dilakukan oleh panitia
pengadaan atau pejabat pengadaan, yang nilai per transaksinya tidak boleh lebih dari
Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Pelaksanaan pengadaan ini adalah pelaksanaan
pengadaan barang/jasa yang sederhana yang banyak terdapat di sekitar kita/kantor. Proses
pemilihan dengan penunjukkan langsung dilakukan dengan cara Prakualifikasi, yakni
melakukan kualifikasi kepada para penyedia yang akan ditunjuk sebelum memasukkan
penawaran harga.
Bentuk kontrak pengadaan dengan cara Penunjukan Langsung adalah cukup dengan
Surat Perintah Kerja untuk pengadaan yang nilainya di atas Rp. 5.000.000,00 (lima juta
rupiah) sampai dengan Rp.50.000.000,OO (lima puluh juta rupiah), sedangkan pengadaan
yang nilainya di bawah Rp.5.000.000,OO (lima juta rupiah) cukup dengan kuitansi yang
--------Mekanisme Kegialall da/am Pengadaan Barallg dall fasa Pemeri"ta" ------__
dibubuhi meterai secukupnya. Dalam hal pengadaan dengan nilai "pas" Rp.5.000.000,00
(lima juta rupiah), tidak lebih dan tidak kurang, maka bentuk kontrak tidak diatur
dalam pasal 31 Keppres 80 tahun 2003, sehingga untuk memenuhi rasa aman dan tidak
mengundang polemik dalam pelaksanaan belanja, sebaiknya P2K menggunakan SPK dan
kuitansi. Andaikata P2K tidak menggunakan SPK untuk tagihan yang nilainya sebesar
Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah), akan tetapi hanya menggunakan kuitansi sesuai yang
dipersyaratkan, maka hal inipun bukan merupakan pelanggaranlkesalahan dalam
tindakan, karena suatu tindakan dapat dinyatakan pelanggaran atau berbuat salah manakala
ada kaidah hukum yang tidak dipatuhi oleh setiap penyelenggara negara.
Dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah, P2K bersama-sama dengan Panitial
Pejabat Pengadaan menyusun Dokumen Pemilihan Penyedia BaranglJasa atau yang sering
dikenal dengan dokumen lelang. Dalam dokumen lelang dimuat persyaratan dan/atau
kualifikasi penyedia yang dapat mengikuti proses pelelangan, kualifikasi/spesifikasi dan
jumlah barang/jasa yang diinginkan serta dokumen pendukung lain yang harus disertakan
dalam dokumen penawaran harga.
Sebelum menyusun dokumen lelang, P2K menetapkan paket-paket pengadaan yang
akan dilakukan selama satu tahun anggaran, sesuai dengan kebutuhan, waktu dan volume
yang tersurat dalam DrPA dan ketentuan lainnya yang dipersyaratkan dalam keppres
Nomor 80 tahun 2003, seperti penyusunan dan penetapan BPS, penyusunan draft kontrak,
dan lain sebagainya.
Untuk melaksanakan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana
tersebut di atas, seorang P2K harus memiliki sertifikasi keahlian pengadaan barang/jasa
sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Keppres Nomor 80 tahun 2003. Dengan demikian
yang harus memiliki sertifikasi keahlian pengadaan barangljasa pemerintah bukan hanya
panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit pelayanan pengadaan (E-Procurement Unit),
akan tetapi juga wajib dimiliki oleh P2K.
Tugas dan kewenangan P2K dalam mekanisme pengadaan barang/jasa, antara lain
adalah:
1. menetapkan BPS
2. mensahkan dokumen pemilihan
3. menetapkan penyedia barang/jasa sebagai pemenang
4. menyusun draft kontraklperjanjian
5. menandatangani kontraklperjanjian
6. menolak atau menyetujui pembayaran tagihan oleh pihak ketiga/penyedia barangl
jasa
7. dan sebagainya.
----------- Pembuat Komitmel!, Wewenangdan Tanggungjawabnya ________ _
F. PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN KONTRAK PENGADAAN
BARANO/ JASA
Sebelum penyusunan kontrak dilakukan oleh P2K dengan pihak Penyedia Barang, sebaiknya
dipahami lebih dini apa yang dimaksud dengan kontrak pengadaan barangljasa pemerintah
dan pengertian kontrak pada umumnya.
1. Pengertlan Kontrak
Kalau kita lihat dalam pasal1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH perdata),
yang dimaksud dengan kontrak adalah bentuk perikatan atau perjanjian yang dimaknai
bahwa, "Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan
dirinya terhadap satu orang atau lebih". Definisi perbuatan dalam makna tersebut banyak
didefinisikan berbeda-beda. Namun para ahli hukum sepakat bahwa yang dimaksud dengan
perbuatan tersebut adalah "perbuatan hukum berdasarkan kesepakatan pihak yang saling
mengikat (terkait) yang dapat menimbulkan akibat hukum". Bahkan menurut Van Dunne,
yang dimaksud dengan perjanjian adalah «Suatu hubungan an tara dua pihak atau lebih
berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum".
Dengan demikian yang dimaksud dengan perjanjian/kontrak adalah merupakan
perikatan antara dua pihak atau lebih untuk melakukan tindakan yang disepakati bersama
yang dapat mengakibatkan tindakan hukum. Oleh karena itu proses pengadaan barangl
jasa pemerintah yang mengakibatkan terjadinya penyerahan barang atau jasa oleh Penyedia
Barang/Jasa dan terjadinya penyerahan uang/pembayaran .oleh P2K/KPA sebagai akibat
penyerahan barang/jasa tersebut harus dibuatkan perjanjian/kontrak, untuk disepakati
dan dilaksanakan bersama sesuai bunyi kesepakatan di dalam kontraklperjanjian yang
ditandatangani bersama-sama. ,Dan setiap tindakan yang dapat mengakibatkan hukum
I.' .
harus ditandatangani diatas meterai secukupnya sebagaimana dijelaskan dalam ketetapan
undang-undang tentang bea meterai.
2. Jenis Kontrak
Para ahli hukum kontrak banyak menetapkan beberapa jenis kontrak yang berbeda satu
dengan lainnya yang mengkajinya dari berbagai sumber hukum, baik nama, bentuk, aspek,
dan sebagainya, yang diantaranya adalah:
b.I. Kontrak menurut bentuknya.
Berdasarkan pasal1682 dan pasal1320 KUH Perdata, bentuk kontrak meliputi:
1
-------Mekanisme KegUitan dalam Pengadaan Barang dan /QSa Pemerintah
a). Kontrak Lisan ak k.t h y dengan
Adalah bentuk kontrak yang dilakukan para pih ter al an a
kesepakatan lisan saja.
b). Kontrak Tertulis . ihak terkait dibuat dalam
Ad 1 h bentuk kontrak yang dilakukan oleh para p .
be:t:k tulisan. Contohnya perjanjian yang dibuat. oleh para pihak yang
k . sa Notaris dalam bentuk Akta Notans. mengguna an Ja
b.2. digolongkan berd,:rkan ::: k"::P:::=.
sebagaimana dijelaskan dalam pasal1319 KUH Per ata, y 0
(kontrak bernamaJ dan kontrak innominaat (tidak bernama). uk k trak
Contoh kontak nominaat adalah, kontrak jual-beli, kontrak tukar men on
k trak pinjam pakai, kontrak perdamaian dan sebagamya.
sewa-menyewa, on tumbuh dan berkembang
Contoh kontrak innominaat adalah, kontrak yang d . lnya kontrak
k blum dikenal dalam KUH Per ata, Illlsa
kontrak karya, kontrak production sharing, dan
sebagainya.
b 3 Kontrak menurut sumbernya.
. .. k trakyang dibedakan menurut sumbernya, menurut apa yang Ada lIma macam on
di"elaskan oleh Sudikno Mertokusumo, yakni: .
J ..• be al d . hukum keluarga, contohnya perkawman.
) efJanJlan yang ras an d
a. p . .. bald . yang berhubungan dengan benda-ben a,
b). pefJanpan yang eras arl •
h ralihan kepemilikan (pemindahtanganan).
conto nya: pe bah h k Belanda
c). perjanjian yang berasal dari hukum acara, yang dalam asa u urn
dikenal dengan bewijsovereenkomst. . .
d). perjanjian yang menimbulkan kewajiban,
e). perjanjian yang bersumber dari hukum pu
3. Kontrak Pengadaan
t d 1 Keputusan Presiden Nomor d ikian kalau kita mengamati apa yang tersura a am .
:07'ob: ;:3. yang telob diubob]>'da Perubahan Ketig. dengan perabuan
70 tahun 2005, bahwa untuk kontrak pengadaan barang/Jasa hanya dibedaka
c.l. Bentuk imbalan;
c.l.l.lump sum;
c.1.2. harga satuan;
c.1.3. gabungan lump sum dan harga satuan;
l
I
".
_________ • Pembuat Komitmen, Wewenangda;, Tanggungjawabnya
c.1.4. terima jadi (turn key);
c.1.5. persentase.
c.2. Jangka waktu pelaksanaan;
c.2.1. tahun tunggal;
c.2.2. tahun jamak.
c.3. Jumlah pengguna barang/jasa;
c.3.1. pengadaan tunggal;
c.3.2. pengadaan bersama.
Kontrak pengadaan barang/jasa sebagaimana dijelaskan dalam Keppres Nomor 80
tahun 2003 tersebut diatas adalah sebagai berikut:
1) Kontrak Lump Sum, adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian
seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti
dan tetap, dan semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian
pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barangljasa.
2) Kontrak harga satuan, adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian
pekerjaan dalam batas waktu tertentu, berdasarkanharga satuan yang pasti dan
tetap untuk setiap harga satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu,
yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara, sedangkan
pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan
yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barangljasa.
3) Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan, adalah kontrak yang merupakan
gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan.
4) Kontrak terima jadi, adalah kontrak pengadaan barangljasa pemborongan atas
penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga
pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi, peralatan dan jaringan
utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria
kinerja yang telah ditetapkan.
5) Kontrak persentase, adalah kontrak pelaksanaan jasa konstruksi di bidang
konstru"ksi atau pekerjaan pemborongan tertentu, dimana jasa konsultan yang
bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai
pekerjaan fisik konstruksilpemborongan tersebut.
6) Kontrak tahun tunggal, adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat
dana anggaran untuk masa satu tahun anggaran.
7) Kontrak tahun jarnak, adalah kontrak pe1aksanaan pekerjaan yang mengikat
dana anggaran untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan atas
--------Mekanisme Kegialan daIam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah --------
persetujuan oleh Menteri Keuangan (dana beban APBN) atau Gubernur/Bupati/
Walikota (dana beban APBD provinsi/Kabupaten/Kota)
8) Kontrak pengadaan tunggal, adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek
dengan penyedia barangljasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu
dalam waktu tertentu.
9) Kontrak pengadaan bersama, adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau
beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan
pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang
jelas dari masing-masing unit kerja dan didanai bersama yang dituangkan ke
dalam kesepakatan bersama.
4. Pelaksanaan Kontrak Pengadaan
Setiap pembuatan kontraklperjanjian pengadaan barang/jasa dengan penyedia barang/jasa
harus menyusun kerangka kontrak yang meliputi:
a. Pembukaan (komparasi), yang berisikan;
a.I. Judul kontrak;
a.2. Nomor kontrak;
a.3. Tanggal kontrak;
a.4. Kalimat pembuka;
a.s. Penandatanganan kontrak;
a.6. Para Pihak yang terkait dalam kontrak
b. lsi kontrak;
lsi kontrak merupakan pernyataan-pernyataan para pihak terkait yang dalam hal
ini adalah P2K dan Penyedia Barang/jasa untuk menyetujui. dan sepakat melakukan
kontrak pengadaan atas obyek yang disepakati sesuai dengan jenis pekerjaannya.
Untuk pengadaan atas obyek pekerjaan/kegiatan yang diperjanjikan disepakati
besaran nilai atau harga kontrak yang harus dituliskan baik dengan angka ataupun
dengan huruf serta rincian sumber pembiayaan yang dibebankan.
lsi kontrak juga harus memuat dokumen-dokumen pendukung yang
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kontrak pengadaan,
serta kesepakatan tentang hak dan kewajiban para pihak untuk melaksanakan
hak dan kewajibannya sebagaimana yang tersurat dalam kontrak, yang antara
lain mengenai jumlah, spesifikasi barang/pekerjaan yang diperjanjikan dan harga
yang disepakati bersama, serta jangka waktu dan kapan dimulainya pelaksanaan
pekerjaan.
1
I
I
----------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Dalam isi kontrak juga dituangkan apabila terjadinya kelalaian dan sanksi
yang diberikan apabila para pihak terkait me1alaikan kewajibannya, serta hal-
hal yang terjadi diluar kemampuan para pihak terkait dan cara penyelesaian jika
terjadi perselisihan dian tara para pihak terkait.
c. Penutup
Pada akhir surat perjanjian/kontrak berisi penutup yang menjelaskan kesepakatan
untukme1aksanakan hak dan kewajiban sebagaimana yangtertuang dalam kontrak,
sesuai dengan ketentuan perundang -undangan yang berlaku, yang diakhiri dengan
penandatanganan para pihak yang terkait diatas meterai secukupnya, yakni KPA/
P2K dan penyedia barang.
Dalam pelaksanaankontrak pengadaan barang/jasa, P2K yang paling bertanggungjawab
atas kegiatan yang dilaksanakannya, harus memperhatikan beberapa hal antara lain:
1). Penerbitan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), yang harus diterbitkan selambat-
lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal penandatanganan kontrak dan
kapan paling lamb at pe1aksanaan kontrak dimulai.
2). Penggunaan Program Mutu Barang, yang berisikan penggunaan mutu barang
yang harus disusun berdasarkan kesepakatan para pihak serta gambaran informasi
berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan, jadwal dan prosedur pelaksanaan, serta
organisasi penyedia barang/jasa dan P2K.
3). Mobilisasi, merupakan pekerjaan untuk mendatangkan peralatan dan persiapan
fasilitas yang diperlukan .dalam pelaksanaan kontrak seperti gudang, bengkel, dan
para pekerja yang akan me1aksanakan kegiatan, yang harus dilaksanakan paling
lambat 30 (tiga pulull) hari sejak diterbitkan SPMK.
4). Pemeriksaan bersamJ
Pemeriksaan bersama dilakukan pada tahap awal periode pelaksanaan kontrak
dan pada saat pelaksanaan kontrak, untuk mengetahui apakah dalam pelaksanaan
ada hal-hal yang dapat merubah isi kontrak.
5) .. Pembayaran uang muka kepada penyedia barang/jasa.
Pembayaran uang muka kepada penyedia barang/jasa harus dituangkan dalam .
kontrak sesuai besaran yang dibolehkan, yakni 20 % dari nilai kontrak untuk
penyedia barang/jasa yang masuk kategori usaha besar/kuat atau 3D % dari nilai
kontrak untuk penyedia barang/jasa yang masuk dalam kategori usaha keeil. Setiap
pembayaran uang muka harus diawali dengan permohonan tertulis penyedia
kepada P2K disertai reneana penggunaannya yang dilampiri dengan jaminan
--------Mekanisme Kegiatan dalam Pengadaan Barang dan lasa Pemerintah _______ _
uang muka yang dipersyaratkan. Dalam perjanjian/kontrak juga harus dije1askan
tata eara pengembalian uang muka dalam setiap tahapan pembayaran hingga
tereapainya penyelesaian pekerjaan 100 %.
6). Pembayaran pada setiap Prestasi Pekerjaan.
Setiap pembayaran yang dilakukan berdasarkan prestasi pekerjaan harusdije1askan
tahapan-tahapan yang harus diselesaikan serta besaran pembayaran yang akan
diberikan pada setiap tahapan penye1esaian pekerjaan, yang dinyatakan dengan·
berita aeara penyelesaian prestasi pekerjaan dalam setiap tahapan.
7). Terjadinya kegiatan/pekerjaan
Apabila dalam pelaksanaan kontrak terdapat hal-hal yang mengakibatkan
perubahan, maka P2K dapat membentuk panitia untuk melakukan penelitian
dan pemeriksaan jika mungkin terjadi perbedaan/perubahan yang signifikan,
yang memungkinkan terjadinya penambahan dan/atau pengurangan volume
pekerjaan, atau terjadi perubahan spek pekerjaan yang harus disesuaikan dengan
kondisi lapangan.
8). Pemberian sanksi, denda dan ganti rugi.
Di dalam kontrak juga harus dijelaskan bagaimana sanksi diberikan dan bagaimana
tata cara pemberian ganti rugi atas setiap kelalaian para pihak terkait.
9). Bila terjadi kahar (force majeur).
Hal-hal yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan kontrak dituangkan dalam pasal
yang menje1askan bila terjadi kahar atau peristiwa yang terjadi diluar kemampuan
para pihak, dimana penyedia barang/jasa harus sudah memberitahukan dalam
waktu 14 (empat b.e1as) hari sejak terjadinya kahar.
10). Pemberhentian dan pemutusan hubungan pekerjaan/kontrak.
Pemutusan kontrak yang ketika sedang dalam pelaksanaan kontrak bisa

terjadi apabila: . .
a). peristiwa terjadi diluar kemampuan/kekuasaan kedua belah pihak;
b). penyedia barang/jasa tidak melaksanakan kewajibannya sesuai isi kontrak
c). Para pihak melakukan kolusi, keeurangan atau tindakan korupsi.
mekanisme pemutusan kontrak hams dituangkan dalam isi kontrak.
C. CONTOH BENTUK KONTRAK
Dibawah ini dituangkan salah satu bentuk kontrak pengadaan barang/jasa pelaksanaan jasa
konstruksi:
----------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
a.
Syarat-syarat kontrak
Dokumen kontrak harus disusun dsk prinsip dan syarat hukum
kontrak sbb:






b).
Para pihak hrs jelas, yaitu orang atau badan hukum yg
punya kewenangan /berhak dan mempunyai kemampuan
bertindak
Obyek yg diperjanjikan adl. Barang yang nyata dan ada
dalarn perniagaan
Kontrak dibuat secara sah dan mengikat para pihak
Hak dan kewajiban para pihak sarna
Dibuat tanpa ada paksaan, kekhilafan dan kekeliruan.
Tidak bertentangan dgn peraturan perundangan yang ada
Sumber: bahan ajar Pe/alesanaan PBI M.Sutarsa
Kewajiban penyedia jasa.a.l:
• Dalam pelaksanaan wajib mematuhi hukum yg berlaku
di Indonesia.
• Wajib merinci setiap biaya yg berhubungan dg
pelaksanaan, sehingga dpt dilakukan pemeriksaan
keuangan.
• Tindakan yg perIu mendapat persetujuan pengguna jasa
spt. mobilisasipersonil, membuat subkontrak.
c). Personil konsultan dan subkonsultan
3. Syarat-syarat khusus kontrak.
Adalah ketentuan yg merupakan perubahan, tambahan dan/ atau
penjelasan dari ketentuan yang ada pada syarat-syarat umum
kontrak.
4. Dokumen lainnya. (11 hal 110)
a. Jasa pemborongan a.l:
Surat penunjukan, Surat penawaran, Spek. Tek, gambar dll.
b. Jasa konsultansi a.l:
Surat penunjukan, KAK,Hasil negosiasi, Dok. penawaran. dU.
Sumher: bahan ajar Pe/aksanaan PBI M.Sutarsa
--------Mekanisme Kegiatan dalam Pengadaan Barang dan lasa Pemerintah _______ _



Contoh Bentuk Kontrak jasa konstruksi
PembukaanPada hari ini, Senin, tanggal Tiga Belas Pebruari tahun
Dua Ribu Tujuh, kami yang bertanda tangan di bawah ini, sepakat
melakukan perjanjian pekerjaan sebagai berikut :
Para Pihak terkait
1. N a m a: Arnir Hutasoit, MPA
Jabatan Pejabat Pembuat Komitmen pada Kantor Bea dan
Cukai Tanjung Pinang
Alarnat : Jalan Raya Da Do Pitie Tanjung Pinang
yang selanjutnya disebut Pihak Kesatu.
2. N a m a: John Simamora, Npm.
Jabatan : Direktur P.T. Ogah Kaya
Alamat : Jalan Raya Kurang Bagus No.77 Pekanbaru
yang selanjutnya disebut Pihak Kedua
Barang yg diperjanjikan
Kedua pihak sepakat melakukan perjanjian untuk pekerjaan pembuatan
gedung pemeriksaan dan pengujian arus barang berlantai dua sesuai
spesifikasi teknis yang terurai dalam dokumen pemilihan yang disepakati.
• Nilai/harga barang yg diperjanjikan
Pihak Kesatu bersedia membayar pekerjaan dimaksud kepada Pihak
Kedua seluruhnya sebesar Rp.896.000.000,- ( delapan ratus sembilan
puluh enam juta rupiah) termasuk pajak-pajak yang harus dilunasi
oleh Pihak Kedua
• Jangka Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan pekerjaan tersebut akan diselesaikan oleh Pihak Kedua
dalam waktu 6 (enam ) bulan sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai
Kerja ( SPMK ), dengan masa pemeliharaan selama 6 (enam) bulan
sejak pekerjaan selesai 100 % yang dinyatakan dengan Berita Acara
Serah Terima Pekerjaan, yang disahkan oleh Konsultan Pengawas.
Sanksi
Apabila terjadi kelalaian atau kelambatan penyelesaian pekerjaan,
Pihak Kedua akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar satu
permil per-hari kelambatanatau maksimum lima persen dari
Nilai Kontrak.
Sumher: bahan ajar Pe/aksanaan PBI M.Sutarsa II
I,'
'.
----------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
• Tata Cara Pembayaran
Pembayaran kepada Pihak Kedua dilakukan sebagai berikut :
1.Pihak Kedua dapat diberikan uang muka kerja sebesar 30 %
dari nilai kontrak setelah Kontrak ditandatangani, dengan
syarat Pihak Kedua menyerahkan jaminan uang muka
sekurang-kurangnya sebesar uang muka yang diberikan,
yang dikeluarkan oleh Bank yang ditunjuk oleh Menteri
Keuangan sebagai bank penjarnin.
2. Pembayaran tahap pertarna dapat dibayarkan kepada
Pihak Kedua sebesar 25 % dari nilai kontrak apabila
pekerjaan telah diselesaikan sekurang-kurangnya 30%,
yang dinyatakan dengan Berita Acara Prestasi Pekerjaan.
3. Pembayaran tahap kedua dapat dibayarkan kepada Pihak
Kedua sebesar 50 % dari nilai kontrak apabila pekerjaan
telah diselesaikan sekurang-kurangnya 60%, yang
dinyatakan dengan Berita Acara Prestasi Pekerjaan.
4. Pembayaran tahap ketiga dapat dibayarkan kepada Pihak
Kedua sebesar 75 % dari nilai kontrak apabila pekerjaan
telah diselesaikan sekurang-kurangnya85%, yang
dinyatakan dengan Berita Acara Prestasi Pekerjaan.
5. Pembayaran tahap keempat dapat dibayarkan sebesar 95 %
dari nilai kontrak apabila pekerjaan telah diselesaikan 100
%, yang dinyatakan dengan Berita Acara Serah Terima
Penyelesaian Pekerjaan 100 %.
6. Pembayaran_terakhir dibayarkan seluruh nilai pekerjaan
100% setelah selesainya mas a pemeliharaan, yang
dinyatakan dengan BeritaAcara Penyelesaian Pemeliharaan
Pekerjaan
7. Setiaptahapan pembayarandilakukancicilanpengembalian
uang muka yang diberikan sebesar 25 % dari uang muka
yang diterima Pihak Kedua, masing-masing dengan Berita
Acara Pembayaran yang ditandatangani kedua belah
pihak.
Sumber: bahan ajar Pelaksanaan PB! M.Sutarsa
--------Mekanisme Kegiatan dalam Pengadaan Barang dan !asa Pemerintah --------
Jaminan Uang Muka dan Jaminan Pemeliharaan
1. Aseli Jaminan Uang Muka agar diserahkan Pihak Kedua
kepada Pihak Pertama paling larnbat pada saat pengajuan
permintaan uang muka
2. Aseli jaminan uang muka akan dikembalikan pada saat
pengembalian uang muka selesai atau paling lambat setelah
pekerjaan dinyatakan selesai 100 %.
3. Apabila masa pemeliharaan melampaui akhir tahun
anggaran. Pihak Kedua dapat mengajukan pembayaran
terkahir sebesar.5 % dari nilaikontrakdengan menyerahkan
asli jarninan pemeliharaansekurang-kurangnya sebesar
nilai jarninan pemeliharaan yang diberikan.
4. Aseli Jaminan Pemeliharaan akan dikembalikan paling
larnbat empat belas hari setelah selesainya masa
pemeliharaan bersamaan dengan Jarninan Pelaksanaan.
• Apabila Terjadi Kahar
Apabila terjadi sesuatu hal yang mengakibatkan terhentinya
atau tidak dapat dilanjutkannya pekerjaan diluar kemampuan
Pihak Kedua, akan dilakukan musyawarah antara Pihak Kesatu
dan Pihak Kedua sampai memperoleh kesepakatan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
• Apabila Terjadi Perselisihan
1. Apabila terjadi perbedaan pendapat dan I atau perselisihan
antara Pihak Kesatu dan Pihak Kedua yang tidak dapat
diselesaikan oleh kedua belah pihak, penyelesaian akan
meminta hakim Abitrase untuk menyelesaikan peerbedaan
tersebut.
2. Apabila melalui hakim Abitrase penyelesaian juga tidak
dapt diterima kedua belah pihak, maka pabila terpaksa
keputusan sepenuhnya diserahkan kepada pihak
Pengadilan setempat.
Sumba: bahan ajar Pelaksanaan PB! M.Sutarsa
r-- ...
".
__________ Pembuat Komi/men, Wewenang dan Tanggungjawabnya ---------
• Penutup

Keterangan:
Demikian perjanjian ini kami sepakati dan kami
tandatangani bersama secara sadar tanpa paksaan dari pihak
manapun juga.
Para Pihak Terkait
Pekanbaru, 6 Pebruari 2007
Pihak Kedua,Pihak Kesatu,
meterai kedua
meterai kesatu
( John Simamora )
( Amir Hutasoit )
Sumber: bahan ajar Pelaksanan PBJ M. Sutarsa
Lembar asH kontrak sekurang-kurangnya 2 (dua) lembar, yang kedua-duanya diberi meterai
secukupnya (Rp.6.000,OO). Lembar asH pertama ditanda tanganioleh Pemberi Kerja atau
P2K/KPA diatas meterai yang tersedia dan lembar asH kedua tanda tangan Penerima
Pekerjaan atau Penyedia Barang/Jasa diatas meterai yang tersedia.· Setelah semua lembaran
kontrak ditandatangani kedua belah pihak,maka kontrak asH pertama diserahkan kepada
penyedia barang dan kontrak asH kedua dipegang oleh P2K/KPA.
-BAB4-
Wewenang dan Tanggung Jawab
Pejabat Pembuat Komitmen
A. TUOAS DAN WEWENANO
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa salah satu kewenangan
Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran adalah melakukan tindakan yang
mengakibatkan pengeluaran belanja negara. Dalam pelaksanaannya, Pengguna Anggaran
mendelegasikan kewenangannya kepada Kuasa Pengguna Anggaran untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan pada tiap-tiap satuan kerja baik di tingkat eselon J, eselon n, atau eselon III
di lingkungan kementi"ian negarallembaga bersangkutan, sesuai dengan batas kewenangan
yang diberikan. Dengan demikian seorang KPA dapat melakukan tindakan yang dapat
mengakibatkan pengeluaran belanja negara pada kantorlsatuan kerja yang dipimpinnya ..
Tindakan KPA tersebut dapat dilalrukan sendiri atau didelegasikan kepada pejabat lain
dengan mengangkat seorang atau lebih, "pejabat pembuat komitmen".
Setiap satuan kerja memiliki kegiatanyang berbeda satu sama lain tergantung besaran
bebankerja dan volume kegiatan masing-masing. Oleh karena itu setiap satuan kerja dapat
memiliki lebih dari satu kegiatan dan setiap kegiatan akan memiliki volume kerja yang
berbeda. Hal inilah yang memungkinkan pengangkatan P2K pada suatu satker dapat lebih
dari satu jabatan.
Apabila seorang KPA menguasai dan bertanggungjawab atas DIPA satuan kerja yang
dipimpinnya, maka seorang P2Khanya menguasai dan bertanggungjawabatas suatu kegiatan
yang diberikan dan berada di bawah tanggungjawabnya, sesuai dengan kewenangan yang
diberikan kepadanya. Dan setiap P2K dapat dibantu oleh seorang Pemegang Uang Muka
Kegiatan (PUMK), yang saat ini berdasarkan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/
PMK.OS/2008 disebut dengan Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP), dan staf pengelola
keuangan lainnya untuk melaksanakan kegiatan dan anggaran yang dikuasainya.
:1
li
I!
i
_________ Pembuat Komi/men, Wewenang dan Tanggungjawabnya
1. TUgas pembuat Komltmen
a.
Melaksanakan tugas dan/atau kegiatan sesuai dengan batas yang diberikanoleh
Kuasa Pengguna Anggaran.
b. Menandatangani surat tugas/surat perjanjian/surat perintah kerjalsurat-surat
lainnya yang dapat mengakibatkan pengeluaran belanja negara.
atau jasa pemerintah. . C
-------- Wewenangdan Tanggung lawab Pejabat Pembuat Komitmen --------
e. Mengendalikan pelaksanaan kontraklperjanjian.
f. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada pimpinan
atasannya.
g. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteril
Pimpinan Lembaga/KapolrilPanglima TNIIKesekretariatan Komisi, dengan Berita
Aeara Serah Terima pekerjaan barang/jasa.
e. Menandatangani Berita Aeara yang berkaitan dengan pekerjaan/pengadaan barang J
d. Menyusun pengadaan berkaitan dengan pdaksanaan pengadaan tJ-(
barang/jasa pemenntah. . ,-4 . 4.
h. Menandatangani Pakta Integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa
pemerintah.
2.
e. Menandatangani surat -surat lainnya yang berkaitan dengan anggaran
belaoja oegara. 7
TUgas Pembuat Komitmen dalam Bidang Kepegawaian .
a.
b.
c.
Menandatangani surat -surat keputusan kepegawaian sesuai dengan batas
kewenangan yang diberikan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna
Anggaran.
Menandatangani surat tugas dan/atau Surat Perintah Perjalanan Dinas pegawai
sehubungan dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi.
Menandatangani surat keplltllsan pengangkatan dalam jabatan, baik jabatan
fungsional atau jabatan struktural sesuai dengan batas kewenangan yang diberikan
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran.
3. TUgas pembuat Komitmendalam Kegiatan pengadaan Barang/ Jasa
pemerintah { -ptrf"
/7'( yo-
a.
b.
e.
d.
Menyusun kegiatan pereneanaan pengadaan barangljasa. ./ i
Menetapkan paket-paket kegiatan/pengadaan bagi satuan kerja dengan
memperhatikan ketentuan mengenai peningkatan produksi dalam negeri dan
pemberian kesempatan bagi usaha keeil, termasuk koperasi kedl dan kelompok
masyarakat.
Bersama-sama
pengadaan.
dengan panitia pengadaan menyusun dokumen pemilihan
Bersama-sama dengan panitia pengadaan menyusun dan mempersiapkan
dokumen perjanjian/kontrak pengadaan (draft surat perjanjian/kontrak).
Wewenang Pembuat Komitmen
a. Menetapkan dan mengesahkan Harga Perhitungan/Perkiraan Sendiri (HPS), yang
disusun bersama-sama Panitia Pengadaan.
b. Menetapkan jadwal dan tata eara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun
oleh Panitia PengadaanlPejabat Pengadaan/Unit Layanan Pengadaan.
c. Menetapkan besaran Uang Muka yang menjadi hak Penyedia Barang/Jasa sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
d. Menetapkan pemenang pengadaan barang/jasa yang diusulkan oleh Panitia
e.
f.
Pengadaan dengan Surat Keputusan.
Menandatangani Surat Perjanjian/Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa yang
ditetapkan sebagai pemenang dalam pemilihan/pelelangan.
Meneairkan jaminan penawaran/jaminan uang mukaljaminan pelaksanaanl
jaminan pemeliharaan, apabila pihak ketiga/penyedia barang/jasa, lalai dalam
kewajibannya terhadap pelaksanaan kontraklperjanjian.
g. . Menghentikanlmemutus kontraklperjanjian dengan Penyedia Barang/Jasa,
apabila ternyata Penyedia BaranglJasa terbukti melakukan KKN/sanggahan
peserta/pengaduan masyarakat terbukti.
h. Menetapkan dan mengesahkan hasil hasil pengadaan barangljasa sesuai dengan
batas kewenangannya.
5. Hal-hal yang Harus Dlperhatikan oleh Pembuat Komitmen
a. Pejabat Pembuat Komitmen dilarang melakukan kegiatan yang dapat
mengakibatkan pengeluaran belanja negara apabila dokumen pelaksanaan
anggaran belum disahkan dan/atau kegiatan dimaksud tidak tertuang dalam
dokumen pelaksanaan anggaran.
I
! I
I
__________ Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
b.
c.
d.
e.
f.
Dokumen pelaksanaan anggaran disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan (DIPA
Pusat) dan/atau Kepala Kanwil Oitjen Perbendaharaan (DIPA Daerah). yang
bertindak untuk dan at as nama Menteri Keuangan.
Pejabat Pembuat Komitmen dilarang untuk melakukan perikatan/perjanjian
dengan pihak ketiga/Penyedia Barang/Jasa. apabila biaya untuk kegiatan/belanja
barang/jasa. tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam dokumen pelaksanaan
anggaran.
Pejabat Pembuat Komitmen dapat melakukan proses pengadaan barang/jasa
pemerintah sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk
membiayai kegiatan bersangkutan telah dialokasikan. dengan ketentuan bahwa
penerbitan Surat Penetapan Pemenang Penyedia BaranglJasa (SPPBJ) dilakukan
setelah dokumen pelaksanaan disahkan oleh Menteri Keuangan.
Pejabat Pembuat Komitmen bertanggungjawab dari s ~ i fisiko administrasi.
k ~ a n dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilakukannya.
Pejabat Pembuat Komitmen dapat diangkat lebih dari satu orang sesuai dengan
kebutuhan dan/atau kegiatan satuan kerja bersangkutan.
6. Pengangkatan dan Persyaratan Pejabat Pembuat Komitmen
a.
b.
c.
Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dan ditetapkan oleh Pengguna Anggaran/
Kuasa- Pengguna Anggaran.
Pengangkatan Pejabat Pembuat Komitmen jumlahnya disesuaikan dengan kegiatan
dan kebutuhan kantor/satuan kerja.
Pembuat Komitmen berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan barangljasa harus
memenuhi kriteria sebagai berikut:
O. memiliki integritas moral
2). memiliki disiplin tinggi
3). memiliki tanggungjawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk
melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.
4). memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah sesuai
ketentuan.
5). memiiiki kemampuan untuk mengambil keputusan. bertindak tegas dan
keteladanan dalam sikap dan perilaku serta tidak pernah terlibat KKN.
Persyaratan sebagaimana dimaksud di atas secara nyata dijelaskan dalam Peraturan
Presiden Nomor 8 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, yang merupakan perubahan ke - empat Keputusan Presiden Nomor 80 tahun
2003.
. ,
--------- Wewenangdall TanggungJawab Pejabat Pembuat Komitmen --------
Sedangkan yang dimaksud dengan persyaratan manajerial. berdasarkan penjelasan
Keppres Nomor 80 tahun 2003 antara lain adalah:
1. Berpendidikan sekurang-kurangnya Diploma 3 (D3) sesuai dengan keahlian yang
diperlukan.
2. Memiliki sertifikat keahlian pengadaan barangljasa pemerintah.
3. Memiliki pengalaman minimal 2 (dua) tahun memimpin/mengorganisasi
kelompok kerja yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan barangljasa.
4. Memiliki ketataan yang tinggi dalam melaksanakan setiap tugas/pekerjaannya.
5. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan. bertindak tegas dan
keteladanan dalam sikap dan perilaku antara lain tidak terlibat KKN (Korupsi.
Kolusi dan Nepotisme).
6. Penilaian kondite dan prestasi kerja (Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan)
untuk masa 3 (tiga) tahun terakhir dengan nilai rata-rata "bail<':
Berdasarkan kriteria yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai Pejabat Pembuat
Komitmen. keteladanan seorang pejabat dan/atau pemimpin sangat dipertaruhkan. Tidak
cukup dengan kualitas pendidikan formal yang mendasari pengangkatan dimaksud.
akan tetapi lebih diutamakan sikap mental dan perilaku yang harus dikedepankan untuk
dicontoh oleh setiap bawahan, rekan kerja. pemimpin dan/atau semua stakeholder yang
dilayaninya.
Pejabat. Pembuat Komitmen, harus dapat memberi contoh bagaimana seseorang
bersikap jujur. konsisten dan komitmen terhadap semua ketentuan yang harus dipatuhi.
Kebenaran akan perilaku dan perbuatan, kejujuran akan sikap, ucap dan kata.
keserasian antara ucapan dan perbuatan. ketaatan akan hukum dan peraturan perundang-
undangan. saling menghormati dalam hak dan kewajiban, serta hal-hal lain yang dapat
memberi keteladanan dalam ucapan dan perilaku. merupakan cerminan seorang Pejabat
Pembuat Komitmen.
B. RUANO LlNOKUP DAN KECIATAN
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Pengguna AnggaraniKuasa Pengguna
Anggaran mengangkat dan menetapkan para pejabat pengelola anggaran bagi kantor/satuan
kerja di lingkungan kementrian negarallembaga masing-masing sesuai dengan tugas dan
kewenangan yang diberikan.
· .
"
_______ __ Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Para pejabat/petugas dimaksud adalah:
1. Pejabat Pembuat Komitmen. (P2K)
2. Pejabat Penguji Tagihan Penerbit SPM. (PPSPM)
3. Bendahara Penerimaan
4. Bendahara Pengeluaran
5. Pejabat Pengadaan
6. Panitia Pengadaan
7. atau Bendahara Pengeluaran Pembantu
8. Pembuat DaftarGaji (PDG). ) . f Vr
l //---=r
'---...... / d I h . b
Pejabat Pembuat KomTtmen sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, a a a peJa at
yang diangkat dan ditetapkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk
melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran belanja negara di lingkungan
kantorlsatuan kerja bersangkutan. Tindakan yang mengakibatkan pengeluaran belanja
negara dimaksud antara lain dilakukan dengan berbagai kegiatan, baik kegiatan dalam
bidang kepegawaian atau pengembangan sumber daya manusia maupun kegiatan
berupa pengadaan barang dan/atau jasa keperluan kantorlsatuankerja bersangkutan. Setlap
P2K bertanggungjawab tethadap semua kegiatan yang dilakukannya pada suatu kegiatan
yang menjadi tanggungjawabnya, baik secara fisik, administrasi, maupun keuangan atau
anggaran yang membebani kegiatan tersebut.
Pejabat Pembuat Komitmen pada tingkat satuan kerja eselon III, lebih banyak dijabat
rangkap oleh seorang Kepala KantorlSatuan kerja, yang sekaligus selaku Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA). Hal ini memungkinkan karena terbatasnya jumlah pegawai, atau karena
sedikitnya beban volume kerja satuan kerja di tingkat ini, sehingga kegiatan teknis atau
manajerial dilakukan oleh hanya satu orang pejabat. Namun tidak sedikit kantorlsatuan
kerja eselon III yang memiliki beban volume kerja yang besar, memisahkan jabatan KPA
dengan P2K, sehingga seorang Kepala Kantor hanya merangkap jabatan selaku KPA,
sedangkan P2K ditetapkan pejabat lainnya yang secara struktural berada satu tingkat atau
lebih dibawah kepala kantor.
Pejabat Pembuat Komitmen pada satuan kerja :eselon Illsetingkat, tidak dijabat oleh
kepala kantorlsatuan kerja, akan tetapi ditetapkan pejabat strukturallainnya yang berada
satu tingkat atau lebih dibawah kepala kantor. Begitupun untuk jabatan Penguji Tagihanl
Penerbit SPM, pada satuan kerja eselon II atau III, lebih banyak diserahkan kepada pejabat
struktural lainnya yang berada satu tingkat atau lebih dibawah kepala kantor, sehingga
sangat sedikit seorang kepala kantor/satuan kerja yang merangkap selaku PPSPM.
--------- Wewenangdan Tanggung/awab Pejabat Pembuat Komi!men -----___ _
Pejabat Pembuat Komitmen pada satuan kerja eselon I sangat bervariasi dan tergantung
kepada besaran dan beratnya beban volume kerja pada satuan kerja masing-masing,
sehingga pada satuan kerja tingkat eselon I, jumlah P2K pada umumnya lebih dari satu
pejabat. Hal ini dimaksudkan agar setiap P2K berkonsentrasi penuh terhadap kegiatan
yang menjadi tanggungjawabnya, sehingga setiap kegiatan dapat dilaksanakan sesuai
jadwal, sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh satuan kerja kementrian negara/lembaga
bersangkutan. Patut diketahui bahwa setiap P2K bertanggungjawab penuh atas kegiatan
yang dilaksanakannya baik secara fisik, administrasi ataupun dari segi keuangan/anggaran
yang untuk membiayai kegiatan tersebut. Untuk mengantisipasi keberhasilan
atas pelaksanaan kegiatan pada masing-masing satuan kerja, seorang KPA harus benar-
benar melakukan kualifikasi para pejabat yang akan ditunjuklditetapkan sebagai P2K
berdasarkan kompetensi, kemampuan dan pemahaman dalam bidang kegiatan yang kelak
diserahkan kepada P2K berkenaan.
Sementara itu kegiatan P2K sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa tindakan P2K
merupakan penerimaan pendelegasian kewenangan KPA, yang setiap tindakan tersebut
dapat mengakibatkan pengeluaran belanja negara yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi satuan kerja. Setiap kegiatan P2K harus senantiasa mengacu atau
berpedoman pada dokumen pelaksanaan anggaran atau DIPA ataupun dokumen lain yang
dapat disamakan dengan DIPA, karena DIPA merupakan dokumen pelaksanaan anggaran
satuan kerja yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan. P2K tidak dapat melakukan
kegiatan atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran belanja negara, sepanjang
kegiatan tersebut tidak terdapat dalam DIPA dan/atau kegiatan tersebut tidak tersedia atau
tidakcukup tersedia anggarannya dalam DIPA berkenaan. Kegiatan yang dituangkan dalam
DIPA merupakan kegiatan yang direncanakan oleh masing-masing satuan kerja berkaitan
dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi· satuan kerja. Apabila dalam pelaksanaan
kegiatan dimaksud ternyata terdapat atau menemui hal-hal yang tidak dapat dilaksanakan
dan/atau ada hal-hal yang dianggap sangat prioritas yang harus dilaksanakan yang belum
tersedia atau belum cukup tersedia anggaran dalam DIP A dimaksud, maka satuan kerja
dapat melakukan revisi DIPA sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Pengeluaran belanja
negara dimaksud antara lain tindakan-tindakan yang dilakukan dengan berbagai kegiatan
yang menghasilkan barang atau jasa yang diperlukan bagi satuan kerja/kantor untuk
menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi.
C. MEKANISME PEMBAYARAN ATAS BEBAN APBN
Pejabat Pembuat Komitmen (P2K), adalah pejabat yang tindakannya dapat mengakibatkan
pengeluaran belanja negara dan P2K merupakan kepanjangan tangan dari KPA selaku
__________ Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
penguasa/pengguna anggaran pada \antor/SaLUan kerja, sehingga setiap tindakan P2K
dilakukan untuk dan atas nama KPA. Dalam mekanisme pengadaan barang/jasa pemerintah
pada satuan kerja, P2K bertanggung jawab atas hasil pengadaan yang diperolehnya. P2K
bertanggungjawab secara fisik, administrasi atau dari segi anggaran yang dikeluarkannya.
. Hal inilah yang harus menjadi perhatian seorang P2K. Kegagalan atas hasil pengadaan
yang diperoleh, kesalahan pembayaran atas barang yang diperjanjikan, semuanya menjadi
tanggungjawab P2K, bukan dilemparkan kepada pejabat atau panitia pengadaan. Tugas
pejabat pengadaan atau panitia pengadaan hanya sebatas pada mekanisme pemilihan
sampai kepada mengusulkan calon pemenang yang akan ditetapkan oleh P2K, atau setelah
Penyedia Barang ditetapkan oleh P2K, dengan Surat Penetapan Pemenang PenyediaBarangl
Jasa (SPPBIJ)
Mekanisme pembayaran terhadap pelaksanaan pengadaan barangljasa atau kegiatan
berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi satuan kerja dilaksanakan dengan
mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman
Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN dan petunjuk pelaksanaannya, Peraturan Direktur
Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PBI200S tentang Mekanisme Pelaksanaan
Pembayaran Atas Beban APBN.
Dalam pelaksanaan anggaran seorang KPA, P2K, atau Bendahara Pengeluaran harus
dapat membedakan ketentuan yang mengatur mekanisme pengadaan barangljasa, dengan
ketentuan yang mengatur mekanisme pembayaran. Seringkali para pengelola anggaran
masih ragu menafsirkan ketentuan dalam pelaksanaan anggaran tersebut dan bahkan
masih banyak yang belum memahami apa yang menjadi persyaratan pembayaran dan
bagaimana pula tata cara pengadaan barang yang diperlukan satuan kerja. Contohnya,
masih ada beberapa KPA atau P2K yangmewajibkan kepada Bendahara Pengeluaran
untuk menandatangani kuitansi pembayaran yang dilakukan dengan cara Langsung (SPP-
LS) kepada pihak ketiga/penyedia barang. Padahal berdasarkan ketentuan tersebut di atas,
pembayaran dengan cara langsung tidak membebani anggaran uang persediaan . yang
dikuasai Bendahara Pengeluaran. Bendahara Pengeluaran hanya wajib menandatangani
kuitansi pembayaran yang disetujuinya yang pembayarannya dilakukan dengan cara tunai
alau cek yang membebani Uang Persediaan (UP). Apabila kuitansi yang akan dibayar
secara tunai oleh Bendahara Pengeluaran dan telah ditandatangani KPA/P2K, Bendahara
Pengeluaran akan melakukan verifikasi, menguji dan memeriksa persyaratan dan sahnya
suatu tagihan. ApabHa ternyata kuitansi tidak memenuhi persyaratan pembayaran yang
ditentukan, maka Bendahara Pengeluaran dapat bahkan wajib menolak kuitansi tagihan
yang diajukan KPA/P2K dengan tidak menandatangani kuitansi dimaksud. Dalam hal ini
terjadi internal kontrol diantara para pejabat perbendaharaan di lingkungan satuan kerja
--------- Wewenangdan Tanggung]awab Pejabat Pembuat Komitmen -----___ _
untuk mengurangi terjadinya kesalahan pembayaran, penyalahgunaan wewenang dan/atau
kegiatan yang dapat mengakibatkan kebocoran dan pemborosan keuangan negara.
Pemahaman terhadap setiap ketentuan dalam persyaratan pembayaran, ketelitian dan
kecermatan dalam pengujian dan pemeriksaan/verifikasi, konsistensi dan komitmen dalam
tugas, merupakan salah satu kunci keberhasilan kinerja para pejabat perbendaharaan.
Oleh karena itu, KPA, P2K, PPSPM, dan Bendahara Pengeluaran harus senantiasa
meningkatkan kompetensi dan kualitasnya dalam tugas dan tanggungjawabnya sebagai
pejabat perbendaharaan. P2K yang berhadapan dan bertanggungjawab langsung dengan
prosedur dan mekanisme pembayaran harus memiliki kompetensi dan kualifikasi tentang
persyaratan dan tata cara pencairan anggaran belanja Negara. Oleh karena itu P2K sangat
bertanggungjawab atas segala tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran belanja
negara pada anggaran dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 dan Perdirjen Perbendaharaan
Nomor PER-66/PB/200S, mengatur mekanisme pembayaran antara lain sebagai berikut:
1. Cara pembayaran
2. Macam dan persyaratan pembayaran
3. Mekanisme pembayaran
4. Prosedur pembayaran
Mekanisme pembayaran kepada pihak ketiga/penyedia barang yang membebani
,
anggaran belaja negara dalam ketentuan tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
rJ'1'v c,JH-.. ,
[AU"; \ rlN PI\) {'Ii·
\..:
1. Cara Pembayaran
a. Dilakukan dengan cara langsung kepada pihak r-tt,
menerima pembayaran, dengan cara pemindahbukuan d . rekening Ka
rekening Penyedia Barang/Pihak Ketiga melalui KPPN, yang dikenal
dengan cara LS.
Pembayaran dengan cara LS, wajib dilakukan untuk setiap transaksi
pembayaran yang nilainya di atas Rp.lO.OOO.OOO,OO (sepuluh juta rupiah). -'-"I ' '{
Pembayaran dengan cara LS dilakukan tidak selalu harus menunggu transaksi
yang nilainya di atas Rp.lO.OOO.OOO,OO (sepuluh juta rupiah) akan tetapi dapat
dilakukan sepanjang memenuhi kriteria persyaratan SPP-LS walaupun nilairiya
kurang dari Rp.l O.QOO.OOO,OO (sepuluh juta rupiah).
------- --- Pembunt Komitmen. WewcnQllgdafl TanggwIgjawabtlya ------ - --
Kriteria dimaksud adalah:
1). barang yang diperjanjikan/yang akan dibelildibayarkan sudah jelas/pasti.
contohnya: 50 (lima puluh) rim kertas HVS 80 gram @ Rp.40.000.00 (empat
puluh ribu rupiah) .
2). nilai atau besaran yang harus dibayarkan sudah jelas/pasti.
contohnya: belanja yang harus dibayarkan adalah Rp.2.000.000,00 (dua juta
rupiah) N Pt .
3). mata anggaran/a!smi belanja yang akan membebankannya sudah jelas/pasti.
tersebut di at as adalah 521111
4). pihak barangnya sudah jelas/ pasti dan memiliki rekening
pada bank yang akan dituju.
contohnya: Toko Ogah Ribut dengan rekening No.112.123456.001 pada Bank
Mandiri, Jalan Iskandarsyah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
5) . pihak ketiga/penyedia barang bersangkutan sudah memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP), yang telah ditetapkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
(PKP).
b. Dilakukan dengan cara tunai atau pemberian cek kepada pihak ketiga/penyedia
barang/yang berhak menerima pembayaran melalui Bendahara Pengeluaran,
yang dikenal dengan cara UP (Uang Persediaan), yang dikelola Bendahara
Pengeluaran.
Tagihanyang diajukan kepada Bendahara Pengeluaran menggunakan
kuitansi cukup atau disertai SPK untuk tagihan yang nilainya diatas J
Rp.5.000.000,OO {.lima juta rupiah), setelah disetujui KPNP2K bersangkutan.
Pembayaran dengan cara UP dilakukan untuk setiap transaksi pembayaran
yang nilainya paling tinggi sebesar Rp.lO.OOO.OOO,OO (sepuluh juta rupi ah).
c. Setiap pembayaran kepada diawali dengan dibuatkannya Surat Permintaan
Pembayaran (SPP) oleh KPA/P2K, baik permintaan pembayaran Uang Persediaan
(UP), permintaan penggantian uang persediaan (GUP), ataupun permintaan
pembayaran dengan cara Langsung (LS), berdasarkan sahnya bukti-bukti tagihan
yang diajukan Penyedia Barang/Pihak Ketiga/Pihak Penagih atas pekerj aan/barang
yang diperjanjikan.
2. Macam dan Persyaratan Pembayaran
Pembayaran tagihan yang di ajukan yang membebankan anggaran beJanj a negara dapat
dibayarkan sepanjang terpenuhinya syarat-syarat pembayaran yang diajukan baik dari segi
administratif (kelengkapan dokumen), ataupun dari segi materiel (kebenaran/keabsahan
--------- "Vcwc17cngdan TangglmgJawab Pej obat Pembuat Kumilmeu _ _ ____ _ _ _ _
dokumen) dan dari s gi hukum (kebenaran menurut ketentuan perundang- undangan van
a
ditetapkan) . ' b
Berdasarkan Peraturan Di rjen Perbendaharaan sebagaimana tersebut di atas,
persyaratan dimaksud dapat dibedakan menurut macam pembayaran dengan penjelasan
sebagai berikut:
a. SPP-UP
Permintaan pembayaran uang persediaan yang pertama kali diajukan P2K,
ditujukan ke rekening Bendahara Pengeluaran untukdikelola dan didaur ulang
selama satu tahun anggaran, dengan melampirkan Surat Pernyataan dari KPAI
1 P2K, yang isinya menyatakan bahwa:
o. Uang Persediaan akan digunakan untuk keperluan riel selama satu bulan J
1[1'''(-2) U P d· ·d k k .
. ang erse laan tI a a an dlgunakan untuk pembayaran yang seharusnya
dengan cara LS, yang nilainya diatas Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). J
1 3). Uang Persediaan akan dipertanggungjawabkan apabila telah digunakan
sekurang-kurangnya 75 % dari UP yang diterima. J
b. SPP-TUP
Tambahan Uang Persediaan diajukan apabila UP yang diterima tidak mencukupi
untuk yang tidak dapat ditunda lagi/keperluan mendesak
SPP-TUP harus melampirkan:
O. Rincian Rencana Penggunaan Dana (RPD) yang ditandatangani KPA/P2K
keperluan bulan berkenaan.
2). Melampirkan Surat Pernyataan yang ditandatangani KPAlP2K, yang berisi:
a) . Dana TUP akan habis digunakan selama satu bulan berkenaan sejak
Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) diterbitkan oleh KPPN.
b). Sis a danaTUP akan disetorkan ke-r:ekening Kas Negara, ternyata
tidale habis digunakan dalam satu bulanberkenaan.
c). Dana TUP tidak akan digunakan untuk pembayaran yang seharusnya
dilakukan dengan cara LS, yang nilainya diatas Rp.lO.OOO.OOO,OO (sepuluh
juta rupiah).
3). Melampirkan rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir J
c. SPP-GUP
Persediaan yang telah digunakan sekurang-kurangnya 75% dari UP yang
dltenma Bendahara Pengeluaran dan dapat didaur-ul ang/dimintakan pengganti an
dengan melampirkan persyaratan sebagai ber ikut:
1). Kuitansi/tanda bukt i pembayaran ya ng sah, sesll ai format yang ditetapkan.
2). SPK llntuk pembayaran dengan niJai di atas Rp.5.000.000,OO (lima juta
rupiah).
_____ _____ Pembuat Komitmen. Wewe/lang dan Ta/lggulIgjawabnya ---------
Keberhasi lan pencapaian kegiatan pada suatu kantor/satuan kerja tergantung kepada
kinerja dan keberhasilan P2K dalam kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya.
2. Tanggung Jawab Pejabat Pembuat Komitmen
a.
b.
c.
P2K bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kontrak pengadaan barang/jasa
pemerintah.
P2K wajib melakukan pengendalian dan pengawasan dalam pelaksanaan kontrak
pengadaan barang/jasa pemerintah . .
P2K bertanggungjawab atas kegiatan, uraian tugas, sasaran dan kinefJa yang akan
dicapai.
d. P2K bertanggungjawab atas hasil kerja, fisik, administrasi dan anggaran yang
e.
f.
dikuasainya.
P2K wajib menyimpan dan memelihara seluruh dokumen pelaksanaan pengadaan
yang dilakukannya, dan hams mempertanggungjawabkannya bila sewaktu-waktu
diperlukan dalam pemeriksaan oleh aparat pemeriksa fungsional.
P2K wajib menyampaikan laporan kegiatan yang dilakukannya kepada KPA/PA,
dengan tembusan kepada aparat pemeriksa fungsional. (Inspektorat Jenderal,
BPKP)
• ! ,.,
-BAB5-
Pertanggungjawaban
Pejabat Pembuat Komitmen
A. PENVUSUNAAN DAN PENVAMPAIAN LAPORAN KEUANCAN
Pejabat Pembuat Komitmen (P2K), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa
tindakan yang dilakukannya adalah untuk dan atas nama KPA. KPA sebagaimana dijelaskan
dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 dan dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor S9/PMK.06/200S yang telah diubah dengan peraturan Menteri K e u a ~ g a n Nomor
171/PMK.OS/2007 ten tang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat,
wajib menyampaikan laporan keuangan kepada KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum
Negara paling lambat tanggal 7 setiap bulannya untuk periode laporan bulan sebelumnya.
Laporan dimaksud meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Arus Kas dan
Catatan Atas Laporan Keuangan. Laporan keuangan dibuat untuk mengetahui sejauhmana
daya serap kegiatan yang telah dituangkan dalam DIPA pada masing-masing satuan kerja,
laporan keuangan juga dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan kinerja yang telah
dicapainya.
Bagi KPPN, laporan keuangan sangat diperlukan sebagai bahan untuk menyusun
laporan keuangan yang berada dalam wilayah kerja yang menjadi tanggungjawabnya
kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN).
KPA yang merangkap sebagai P2K, menyusun laporan dimaksud melalui UAKPA
yang diserahi tugas dan tanggungjawab menyusun laporan keuangan atas semua transaksi
anggaran yang terjadi pada satuan kerja bersangkutan. Bagi KPA yang menetapkan dan
mengangkat lebih dari satu P2K, sehubungan dengan banyak dan besarnya volume kegiatan,
laporan disusun berdasarkan laporan P2K da1am pelaksanaan kegiatan masing-masing .
Dengan demikian setiap P2K wajib menyampaikan laporan kegiatannya kepada KPAI
----------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
PA sesuai dengan bidang tugas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan
keuangan dimaksud dibuat oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) yang
diberi kewenangan untuk menyusun laporan keuangan kantorlsatuan kerja, sebagaimana
yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.OS/2007. Untuk
menyusun laporan keuangan, UAKPA melakukan koordinasi dan rekonsiliasi dengan
Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) dan Bendahara Pengeluaran. UAKPB
menyampaikan Arsip Data Komputer (ADK) kepada UAKPA berkenaan terjadinya mutasil
transaksi BMN pada masing-masing satuan kerja.
B. PENYUSUNAN DAN PENYAMPAIANLAPORAN
PERTANCCUNCJAWABAN
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sangat bertanggungjawab atas anggaran kantorlsatuan
kerja yang dipimpinnya. Setiap rupiah yang tertuang dalam DIPA masing-masing satuan
kerja harus dapat digunakan sesuai dengan rencana kegiatan yang ingin dicapainya dengan
transparan, hemat, efisien, efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pelaksanaan tugasnya KPA didampingi PPSPM dan Bendahara Pengeluaran
serta mengangkat dan menetapkan satu atau lebih P2K sesuai dengan banyak dan besarnya
volume kerja pada masing-masing satuan kerja.
P2K bertanggungjawab penuh atas anggaran dankegiatan yang menjadi
tanggungjawahnya, sesuai dengan beban tugas dan tanggungjawab yang diberikan KPAI
PA. Dalam pelaksanaan tugasnya, dan untuk memudahkan koordinasi dalam pelayanan
kepada masyarakat, P2K dapat didampingi oleh seorang Bendahara Pengeluaran Pembantu .
(BPP) atau Pemegang Uang Muka (PUM). Semua transaksi yang terjadi pada satuan kerja
bersangkutan ditatausahakan/dicatat oleh Bendahara Pengeluaran untuk mengetahui daya
serap dan untuk memudahkan pengendalian anggaran yang dikuasai satuan kerja masing-
masing.
Bendahara Pengeluaran sebagaimana dijelaskan dalam PMK Nomor 134/PMK.06/200S
wajib melakukan pencatatan atas semua transaksi yang terjadi pada satuan kerja
bersangkutan, walaupun secara formal hanya bertanggungjawab atas uang persediaan yang
berada dalam pengelolaannya. Dengan demikian semua penerimaan negara, pendapatan
----------Pertanggungjawaban Pejabat Pembuat Komitmen _________ _
negara, pengeluaran dan belanja negara pada suatu satuan kerja dapat diketahui berdasarkan
pembukuan/penatausahaan yang dilakukan oleh Bendahara pengeluaran.
Oleh karen a yang bertanggungjawab atas realisasi anggaran kegiatan pada
kantorl satuan kefJa, waJ1b menyampaikan laporan pertanggungjawabannya kepada KPPN
selaku Kuasa Bendahara Umum Negara (Kuasa BUN).
Sebagaimana diamanahkan oleh Peraturan Menteri KeuanganNomor 73/PMK.OS/2008
tentang Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara
Kementnan Negara/LembagalKantorlSatuan kerja, Bendahara wajib menyampaikan
laporan pertanggungjawaban (LPT) yang disampaikan kepada:
a.
b.
c.
Menteri Keuangan (melalui KPPN selaku Kuasa BUN).
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Menteri Teknis/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan.
Laporan Pertanggungja\faban dimaksud harus disampaikan kepada KPPN paling
0 pada bulan berikutnya untuk bulan laporan sebelumnya. Sebelum laporan
ddakukan rekonsiliasi antara Bendahara Pengeluaran dengan UAKPA satuan
J keCJa laporan yang dibuat dapat memberikan informasi yang akurat,
dapat dlpertanggung)awabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
l d:;' tata carn penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban
: mengacu epa a Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-47/PB/2009
tanggal23 Nopember 2.009.
Apabila. KPA menyampaikan laporan keuangan dan ·laporan
telah ditetapkan diatas, maka satuan kerja bersangkutan
akan dlkenakan sanksl berupa penundaan penerbitan SP2D atas SPM -GUP ISPM-TUP
d· . k k yang
laJU an e KPPN. Sanksi yang diberikan tidak membebaskan satuan kerja/bendaharal
UAKPA dari kewajiban untuk menyusun dan menyampaikan laporan dimaksud.
.Alur pembayaran dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban KPA oleh masing-
Bendahara Pengeluaran pembantu (BPP) dan Bendahara Pengeluaran pada satuan
ker)a dapat dilihat di bawah ini:
I
I
___ Pem[,ual Komilmell, Wewella/'g dall l illlggu"gjawab"ya -------
1. Alur Pembayaran dan Penyusunan
LPJ-BPP
Pihak ke 3
6b
Uji &
periksa
PPSPM
Bukukan
BENDAHARA
Sumber: Sosialisasi PMK No. 73/PMK.OS/200, Dirjen Perbendaharaan
KPPN
Perlallggw,gjawaball Pejabal Pembual Komilmell ----- --_
2. Alur Penyusunan LP J Bendahara
n
BENDAHARA
Lonse,PJ
~ P L
KPPN
Pihak ke 3+-, -------_______ .2
Sumber. Sosialisasi PMK No. 73/PMK OS/2008 D" P rb d . . "rJen e en aharan
__ ---.----Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggungjawabnya
"
I
DAFrAR PUSTAKA
A. DOKUMEN
1. Undang - Undang Nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan
Pajak
2.
3.
_____ -',Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
_____ -',Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
4. ,Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara.
5. Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 (dan perubahannya, Peraturan Presiden
Noinor 8 tahun 2006) terkhir sampai dengan perubahan ke tujuh, tentang Ped6man
Pelaksanaan Pengadaan BaranglJasa Pemerintah.
6. • Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
7. , Nomor 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (perubahan Keppres No.42 Thun 2002).
8. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 134/PMK.06/2005 tentang
Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
9. ______ , Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan Pemerintah Pusat
- .
----------Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
10. , Nomor 171/PMKOS/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan
keuangan pemerintah Pusat (perubahan PMK Nomor S9/PMK.06/2005)
11. , Nomor 80/PMK05/2007 tentang Petunjuk Penyusunan dan
Penelahaan Rencana Kerja Anggaran Kementrian Negara/Lembaga (RKA- KL) dan
Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan, dan Pelaksanaan Daftar Isian Perbendaharaan
(DIPA) Tahun Anggaran 2008.
12. , Nomor 73/PMKOS/2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan
Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/Lembaga/
Kantor/Satuan Kerja.
13. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 tentang
Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
14. , Nomor PER-47/PB/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan
dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/
Lembaga/Kantor/Satuan Kerja.
B. BUKU·BUKU
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, (1990), Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
2. Rahardjo, Budi, (2005), Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Jakarta,
Lindamas.
3. Rasul, Sjahruddin,(2003), Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran
Dalam PrespektifUU No.17 /2003 tentang Keuangan Negara, Jakarta, Perum Percetakan
Negara Republik Indonesia.
4. Salim H.S, (2003), Perkembangan Hukum Kontraklnnominaat Di Indonesia, Mataram,
Sinar Grafika.
5. Siagian, Sondang P. (1988), Filsafat Administrasi, Jakarta, CV Haji Masagung.
------------'----DaftarPustaka-____________ _
C. LAIN - LAIN
1.
2.
3.
4.
Direktorat Pengelolaan Kas, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Penatausahaan Kas
dan Penyusunan Laporan Pertanggung Jawaban Bendahara Instansi, (2008), Sosialisasi
PMK No.73/PMK.OS/2008, Jakarta,
Sutarsa Muhammad, Pembuat Komitmen dan Pejabat Penguji Tagihan, (ModuI),
(2006), Jakarta, Pusdiklat Anggaran.
----.' Pengujian Tagihan Anggaran Non Belanja Pegawai, (ModuI), (2008),
Bogor, PusdlkIat Anggarandan Perbendaharaan.
. , PeIaksanaan Anggaran Non BelanJ'a Pegawai, (ModuI) (2008) J k t
SkI h T' . Ak ' , a ar a,
e 0 a mggl untansi Negara.
r-
------PembuatKomitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya -------
.,
LAMPlRAN - LAMPlRAN
" ..
1. Bentuk LPJ Bendahara Penerimaan
I. Keadaan Pembukuan
JenisBuku SaldoAwal Penambahan Pengurangan SaldoAkhir
A. BPKas
1. BP Kas (tunailbank) ............... .............. . ...............
B. BP selain Kas
1.BP ....
2.BP .....
3.BP ......
4. BP I . a i n ~ a i n
II. Keadaan kas
Uang tunai + di Rek. Bank
III. Hasil rekonsiliasi internal
1. Penerimaan yang telah {Iisetor ke Kas Negara =
2. Pembukuan menurut UAKPA =
3. Selisih pembukuan Bendahara dengan UAKPA(1-2) = ....... .
iV. Penjelasan Selisih Kas dan Selisih Pembukukan
1. Jelaskan selisih kas (I.A - II) ......... ..
2. Jelaskan selisih pembukuan (111.3) ...... ..
Sumber: Sosialisasi PMK No.73/PMK.OS/2008. DIPBN
I r
l
Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggungjawabnya ------- I
2. Bentuk LPJ BPP
I. Keadaan Pembukuan
JenisBuku SaldoAwal Penambahan Pengurangan
A. BPKas/UM
1. BP Kas (Iunailbank) ............... .............. ................
2. BP UM Perjadin ................. .............. ............ , ...
B. BP selain Kas/uM
1. BPUP .............. .............. ..............
• Belanja MA ..... . ...........
• Belanja MA ..... .............
• Pengembalian UP .............
2. BP LS-Bdh .............. ............ - ..............
• Pembayaran .............
• Seloran alas LS-Bdh .............
3. ............. ............. .............
4. BP Lain-lain .............. .............. ..............
II. Keadaan kas
Uang lunai + di Rek. Bank
III. Selisih Kas
( 1.A.1 -II)
V. Penjelasan SelisihKas
jelaskan selisih kas ...........
Sumber: Sosialisasi PMK No.73IPMK.OSI200B, VJPBN
Sal do Akhir
.............
.............
........... ,'
.............
..............
..............
.............
..............
'1
I
'J

n
,
--------Pertanggungjawaban Pejabat Pembuat Komitmen -----__ _
3. Bentuk lPJ Bendahara Pengeluaran
I. Keadaan Pembukuan
JenisBuku
A BP KaslUM/BPP
1. BP Kas (tunailbank)
2. BP UM
3. BP BPP (kas di BPP)
B. BP selain Kas/UM/BPP
l.BP. UP
2. BPlS-Bdh
3. BPPajak
4. BP
II. Keadaan kas
tunai + di Rek. Bank
III. Selisih Kas
( IA1-II)
SaldoAwal Penambahan
•,1 ............ ..............
1111 •• , .... 01 •• 1. ..............
•••• 01 ......... ...............
.............. ..............
.............. . .............
............. .............
.............. ..............
IV. Selisih UP (hasil rekonsiliasi internal)
1. Saldo BP UP + Kuitansi UP yg belurn disahkan = .......
2. Saldo UP rnenurut UAKPA (SAl)· =
·3. Selisih pembukuan UP (1·2)
Pengurangan
I •••••••••••••••
, •• ".ltll"'ltl
•••• It ••••••••••
..............
..............
.............
..............
V. Penjelasan Selisih Kas dan Selisih Pembukukan UP
1. Jelaskan selisih kas .......... .
2. Jelaskan selisih pembukuan UP ........
Sumber: Sosialisasi PMK No.73IPMK.OSI200B DJPBN
SaldoAkhir
. .. , .........
. ............
. ............
. .............
. ............
. .............
..............
. ............
, .............
------------- Pembuat Komitmen, Wewenangdan Tanggungjawabnya -----------
SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN
Tanggal: (1) Nomor: (2)
Sifat Pembayaran
Jenis Pembayaran
.\
1. Departemenl : (5) 7 Keglatan (11)
Lembaga 8 Kode Keglatan (12)
2. UnH Organls.s; : (6)' 9 Kode flings!, Sub flings!, Program (13)
3 Satker/SKS : (7) 10 Kewenangan Pelaksanaan (14)
4. LokasI : (8)
5 Tempat
6 Alamat
.. ' .
Kepada
vth. PeJabat Penerbit Surat Perintah Membayar
Satker/ satker sementara ......(15)..................
dl .........(16)............................
Serdasarkan DIPA/ (17)....... Nomar: (18)................................tanggal .. (19)........belsama Inl!caml aJukan pennlntaan
pembayaran sebagal berilwt:
1. Jumlah pernbayaran yang dlmlnta!can : dengan ang!ca : (20)
dengan huNt : (21)
2. Untuk kepertuan : (22)
3. Jenls belanja : (23)
4. Atasnama : (24)
5. Alamat : (25)
6. Mempunyal rekenlng : (26)
: Nomor rekenlng: (27)
7. NoD dan Tanggal SPK/ korOk :(28) 0
8. Nllal SPK/ Kontrak : Rp.{29)
9. Dengan hnJelasan
No I. KEG. SUB KEG. DAN MAK PAGU SPP/ SPM SPP INI JUMLAH S1SA
Urut II.
BERSANGKUTAN DAlAM sd. YANG sd. SPP INI DANA
SEMUA KODE KEGIATAN
........
(Rn) (Ro) (Rn)
DALAM DIPAI (30\... .....
I 2 3 4 5 6",,4+5 7
I. KEGlATAN, SUB KEGIATAN, MAK
(32) (33) (34) (35) (36) (37)
JUMLAH 1 38 39 40 41 42
II. SEMUA KEGIATAN
(43) (44) (45) (46) (47) (48)
JUMLAH II 49 50 51 52 (53)
UANG PERSEDIAAN
LAMPIRAN Dokumen Surat Bukti STS ....(56)... lembar
Pendukung: ...(54). Berkas Penge!uaran (55)... l.embar
Iliterima oIeh penguJI SPP/ penerbit SPM ........,,' tanggal seperti dlatas
satkerl satker sementara ...(57) Pejabat I'embuat KomiImen
Pada tanggal (58) satker/ satker sementara ...(59)....
NIP NIP
I
I.;.;
II
,
l
i
-------------Pertanggu/lgjawaba/l Pejabat Pembuat Komitmen - ___________ _
1. Kemenlerian I
Lembaga
2. Unit Organisasi
3. Lokasi
4. Kantor I Satuan
Kerja
5. Alamat
No. Tanggal
Urut NomorBuldi
Pembukuan
Jumlah Lampiran :
Lembar
DAFTAR RINCIAN PERMINTAAN PEMBAYARAN
( )
6. DIPA Nomor
JenisSPP Tangaal
( ) 1.GUP 7. Kode Kegialan
( ) 2. GUP
( ) 8. Kode Sub Kegiatan :
Pagu Sub Kegialan 9. Tahun Anggaran
Rp.
Buldi Pengeluaran
Nama Penerima dan Keperluan NPWP
Jumlah SPP ini (Rp.)
SPMlSPP sebelum SPP ini alas beban sub kegiatan ini
Jumlah S.d. SPP ini atas beban sub kegiatan ini
10. Bulan
Jumlah Kotor
MAl< Yang dibayarkan
(RD.l
an. Kuasa Pengguna Anggaran
Pembuat Komitmen
Nama
NIPINRP
r
!
----------Pembuat Komitmen. Wewenang dan Tanggungjawabnya ----------
SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB BELANJA
Nomor:
1. Nama Saluan
2. Kode Saluan
3. Tanggal , No. OIPA
4. Sub Keglatan
5. Klaslfikasl Belanja
Yang bertanda - tangan di bawah ini Kuasa Pengguna Anggaran Saluan ................•..•............. menyatakan bahwa saya bertanggung jawab
penuh atas segala pengeluaran yang lelah dibayar lunas oleh Bendahara Pengeluaran kepada yang berhak menenma dengan perincian
sebagai benkul :
No. MAK Penerlma Uralan
Buktl
Jumlah
Tanggal Nomor
Jumlah
Bukli-bukli belanja tersebut di atas disimpan sesuai kelentuan yang pada Satuan ........................ .
untuk kelengkapan administrasi dan pemeriksaan aparat pengawasan fungsionai.
Oemikian Surat Pemyalaan ini dibual dengan sebenamya.
Kuasa Pengguna AnggaranIPembual Komltmen.
• SPT8 dibuat berdasarkan klBsifikasi belanja (4 digit)
NAMA
NIPINRP
-
1
-----------Pertanggungjawaban Pejabat Pembuat Komitmen--________ _
KUITANSI UP
Lampiran 3 Perbendaharaan
Nornor PER- IPBI2005
Tanggal Desember 2005
TA: (1)
Nomor Bukti: (2)
MAK: (3)
KUITANSI/ BUKTI PEMBAYARAN
Sudah terima dari: Kuasa Pengguna Anggaran
satkerl satker sementara ...... (4) .................. ..
Jumlah uang: Rp: ...... (5) ............. .
Terbilang: .................. (6) ................................................. ..
Untuk ......(7·)·.· .......·.·.·.·.·.·.·.·.·.·... · ...· ... · ............................... .
Tempat/ Tgl. (8)
Jabatan Penerima Uang
T. Tangan dan stempel
(9)
(Nama Jelas)
Setuju bayar
Kuasa Pengguna Anggaran,
Setuju dan lunas dibayar Tgl. ...
Bendahara Pengeluaran
T. Tangan
T.Tangan
(10) (11)
(Nama Jelas) (Nama Jelas)
Barangl pekerjaan tersebut telah diterimal diselesaikan dengan lengkap dan baik
Pejabat yang bertanggungjawab
T. Tangan
(12)
(Nama Jelas)
(
r
;
f
t
j
,
h
t
r-'"
'1:
I
--,
.------ Pembuat Komi/men, Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
PETUNJUK PENGISIAN KUITANSI UANG PERSEDIAAN (UP)
Nomor 1
Nomor 2
Nomor 3
Nomor 4
Nomor 5
Nomor 6
Nomor 7
Nomor 8
Nomor 9
Nomor 10
Nomor 11
Nomor 12
Diisi tahun anggaran berkenaan
Diisi nomor urut kuitansilbulti pembukuan
Diisi MAKI AB yang dibebani transaksi pembayaran
Diisi nama satkerlSKS yang bersangkutan
Diisi jumlah uang dengan angka
Diisi jumlah uang dengan huruf
Diisi uraian pembayaran yang meliputi jumlah barangljasa dan sppesifikasi
teknisnya
Diisi temp at dan tanggal penerima uang
Diisi tanda tangan, nama jelas, stempel perusahaan (apabila ada) dan
meterai secukupnya sesuai ketentuan yang berlaku
Diisi tanda tangan, nama jelas dan NIP KPA/P2K serta stempel dinas
(dalam format, nomor 10 ini tidak nampak, yang seharusnya berada
disebelah kiri tanda tangan Bendahara Pengeluaran)
Diisi tanda tangan, NIP bendahara pengeluaran dan tanggallunas bayar
Diisi tanda tangan, nama jelas, NIP pejabat yang ditunjuk dan
bertanggungjawab dalam penerimaan barang/jasa.
-I
-----------Per/anggungjawaban Pejabat Pembuat Komi/men---------_
KUITANSI LS
TA:(l)
Nomor Bukti : (2)
MAK:(3)
KUITANSI BUKTI PEMBAYARAN
Sudah terima dari : Kuasa Pengguna Anggaran/Pembuat Komitmen
Satker/Satker sementara : ............... (4) •.•••••••••••••••
Jumlah uang: Rp ...................... (5) ... , .. .
Terbilang : ................................. (6) ............................................................ .
Untuk pembayaran : ................ (7) .......................................................... .
Tempat/Tgl... ... (8)
Jabatan Penerima uang
T.Tangan
(9)
(Nama Jelas )
Setuju dibayar :
a.n. Kuasa pengguna Anggaran
Pembuat Komitmen
T.tangan dan stempel
(10)
( Nama Jelas )
,
l
---------Pembuat Komitmen, Wewetlallgdan Tanggungjawabnya ---------
Nomor 8
Nomor 9
Nomor 10
PETUNJUK PENGISIAN KUITANSI LANGSUNG (LS)
Diisi tahun anggaran berkenaan
Diisi nomor urut kuitansilbukti pembukuan
Diisi MAKI AB yang dibebani transaksi pembayaran
Diisi nama satkerlSKS yang bersangkutan
Diisi jumlah uang dengan angka
Diisi jumlah uang dengan huruf
Diisi uraian pembayaran yang meliputi lingkup pekerjaan yang
diperjanjikan, tanggal, nomor kontrklSPK, berita acara yang diperlukanl
dipersyaratkan.
Diisi tempat tanggal penerima uang
Diisi tanda tangan, nama jelas, stempel perusahaan (apabila ada) dan
meterai secukupnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Diisi tanda tangan, nama jelas dan NIP KPA/P2K serta stempel dinas
Catatan: Dalam SPP-LS tidak diperlukan tanda tangan Bendahara Pengeluaran, karena
SPP-LS tidak melalui Bendahara Pengeluatan.
1
.',
----------Pertanggungjawaban Pejabat Pembuat Komitmen ---______ _
DAFTAR PERHITUNGAN
JUMLAH MAKSIMAL PENCAIRAN DANA (MP)
SATKER PENGGUNA PNBP
1. Nama kantorlSatker .......................................... .
2. Nomor dan tgl. DIPA ........................................... .
3. Target Pendapatan ........................................... .
4. Pagu Pengeluaran ......................................... ..
5. Perhitungan maksimal Pencairan Dana
a. Jumlah Setoran PNBP
b.
c.
1)
2)
Jumlah setoran s.d SSBP yang lalu .................. Rp ............ .
Jumlah setoran tambahan SSBP ini .................. Rp ............. *)
3) Jumlah setoran s.d SSBP ini ........................... Rp .......... ..
Jumlah dana yang dapat digunakan ( .... % x 5.a.3) ....... Rp .......... ..
Realisasi Pencairan dana s.d SPM yang lalu
1) SPM-UP 20% pagu Rp ............... ..
2) SPM-TUP (isi) Rp ................ ..
3) SPM-GU............ Rp ................. .
4) SPM-LS............. Rp ................ ..
5) Jumlah ...................................................... . Rp ............. (-)
d. Jumlah Maksimal Pencairan Dana (5b - 5c.5) ...... ..... Rp .............. ..
e. Jumlah SPM ini ...... ............... ............... ...... ..... Rp .............. .
....................... , .. ~ .......... 20 .... .
Kepala Kantor .......................... .
Nama ..................................... .
NiP ...................................... ..
*) Foto copy SSBP Ibr 4 terlampir
(+)
~

~
i:
ii
:li
~

"
.1
I)
'·1
\ I
'.
_________ Pembuat Komltmen. Wewellangdall Tanggungjawabnya ---------
DAFTAR REALISASI PENDAPATAN
DAN PENGGUNAAN DANA DIPA TAHUN ..... .
1. Nama kantorlSatker . . ........................................ .
2. Kode Kegiatan ........................................... .
3. Kode Kantor ........................................... .
4. Tanggal dan nomor DIPA .......................................... .
5. Perhitungan realisasi Pendapatan dan penggunaan dana DIPA
a. Jumlah Setoran PNBP dari 1 Januari 20 .. s.d 31 Desember 20 ..
SSBP lembar 4 ....... Lembar .......................... , ... ..... Rp ............ .
b. Jumlah dana yang dapat digunakan ( ........ % x 5.a) Rp ............ .
c. Realisasi Pencairan dana 1 Januari 20 .. s.d 31 Desember 20 ..
1) SPM-UP 20% pagu Rp ................ .
2) Jml SPM-TUP (isi) Rp ................ .
3) Jml SPM-GU (isi) Rp ................ .
4) Jml SPM-LS Rp ............... .
5) Jumlah... ...... ... ..................... ...... ...... ... ...... ..... Rp ............ .
(-)
d. Sisa Dana (5b - 5c.5) ..................................... ,. ... ... ... Rp ............ .
6. Sisa UP + TUP yat!I!iJ belum digunakan pad a tgl. 31 Desember ....
a. SPM-UP 20% pagu Rp ................ .
b. Jml SPM-TUP (isi) Ro .. · .. ··· ...... ··· (+)
c. Jumlah UP + TUP .......................................... .
d. Jml SPM-GU Nihil.. ....................................... .
Rp .......... .
Ro .... ······· (-)
e. Sisa UP + TUP yang belum digunakan .................. .
f. Jumlah UP + TUP disetor ke rekening Kas Negara
Rp .......... .
RD· .... ··· .. *)
*) Bukti setoran sisa UP + TUP terlampir
.......................•............. 20 .... .
Kepala Kantor .......................... .
Nama .............................. ········
NiP ................................ ········
_________ Pembuat Komitmm, 'Vrwenangdan Tanggungjawabnya ---------
3), Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB), yang ditandatangani oleh
KPA/P2K, sesuai format yang ditetapkan,
4). Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh KPA/P2K, jika terdapat
transaksi yang harus dipungut pajak oleh Bendahara Pengeluaran selaku
Wajib Pungut.
d. Alur pembayaran SPP-GUP
Proses permintaan pembayaran yang membebankan anggaran belanja negara oleh
kerja telah diatur menurut ketentuan sebagaimana alur di bawah ini:
Alur pembayaran SPP-GUP:
1. Atur Pembayaran dengan UP
Uji &
7a
7b
Uji&

. ,'
,.... "j •••


' ...., ..
.
," ."
' .. :-="
ErO'i"
Pihak ke 3
Sumber: Sosialisasi PMK NO.73/PMK.05/2008, Dirjen Perberulaharatlll
Keterangan:
1). P2K melalui Pejabat Pengadaan melakukan pengadaan barang kepada pihak penyedia
barang dan penyedia barang menyerahkan barang yang diperjanjikan dan kuitansi
tagihan pembayaran kepada P2K.
--------Wewenangdan Tanggung /awab Pejabat Pembual Komitmen ----_, __ _
2) P2K menerima barang dan kuitansi tagihan dari Pihak III/penyedia barang
menandatangani kuitansi dan menyerahkan kuitansi kepada Bendahara Pengeluaran
untuk dibayarkan kepada penyedia barang. .
3). Bendahara Pengeluaran menguji dan memeriksa keabsahan dan kebenaran kuitansi
tagihan serta membayarkan tagihan kepada penyedia barang.
4}. Bendahara Pengeluaran menyerahkan kuitansi yang telah ditandatanganinya kepada
P2K untuk diproses lebih lanjut.
5}. P2K menyusun kuitansi tagihan dan membuat SPP penggantian UP (SPP-GUP) kepada
PPSPM.
6}. PPSPM memeriksa dan menguji SPP-GU sesuai tugas dan' kewenangannya dan
menerbitkan SPM dan menyampaikan SPM-GU ke KPPN.
7). KPPN menguji dan memeriksa SPM-GU sesuai dengan tugas dan 'kewenangannya lalu
menerbitkan SP2D-GU (sepanjang memenuhi syarat penibayaran) dan;
a. menyampaikan SPID-GU lembar ke-2 kepada PPSPM (satker).
b. menyampaikan SP2D-GU asli kepada Bank Operasional I mitra kerja KPPN.
c. Bank Operasional I melakukan kredit ke rekening Bendahara Pengeluaran.
e. SPP-LS Belanja Pegawai
SPP-LS belanja pegawai meliputi:
I}. Pembayaran gaji induk, gaji susulan, kekurangan gaji/rapel, gaji terusan/uang ,
duka wafatltewas .
Lampiran SPP ini
a}. Daftar Pembayaran yang meliputi; Daftar Gaji bulanan, Daftar Gaji
Susulan, daftar perhitungan kekurangan gaji/rapel, daftar perhitungan
gaji terusan/uang duka wafatltewas.
b}. Foto copy Surat kepangkatan/pengangkatan daIam jabatan/perubahan,
status, untuk perubahan PNS yang terjadi dalam gaji induklkekurangan
gaji.
c), Surat Keterangan Kematian, surat keterangan ahli waris, foto kopi surat
nikah, daftar keluarga dari pejabat yang berwenang, untuk gaji terusanl
uang duka wafatltewas.
Persyaratan dalam point (a). (b). dan (c) tersebut di atas, disesuaikan
dengan peruntukkannya.
---------- Pembuat Komitmen. Wewenang dan Tanggungjawabnya ---------
2). Pembayaran uang lembur.
SPP untuk pembayaran uang lembur, diberikan kepada pegawai yaog
diperintahkan kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak dapat
diselesaikan pada jam kerja, berdasarkan Surat Perintah Kerja Lembur yang
ditandatangani KPA/P2K.
SPP ini dilampiri:
a). SPK Lembur
b). Daftar perhitungan lembur
c). Daftar hadir kerja
d). Daftar hadir lembur
Persyaratan tersebut di atas memberi isyarat bahwa kepada para pegawai yang
tidak hadir kerja, terlambat datang ke temp at kerja pada waktunya, pulang
kerja lebih awal/sebelum waktunya, tidak diperkenankan untuk ikut bekerja
lembur.
3). Pembayaran honor/vakasi.
Pembayaran honor/vakasi merupakan pembayaran yang diberikan
sebagaimana imbalan atas hasil kerja pengujian, pemeriksaan hasil ujianl
kertas ujian/jawaban ujian. Pembayaran ini hanya terdapat pada satker
tertentu berkaitan dengan tupoksi.
f. SPP-LS Non Belanja Pegawai
SPP-LS non belanja pegawai adalah SPP yang diajukan KPAlP2K untuk dibayarkan
kepada pihak ketiga/penyedia barang atas penyerahan barangljasa berdasarkan
perikatanfperjanjianlkontrak pengadaan barangljasa, menurut ketentuanl
kesepakatan yang dituangkan dalam perikatan dimaksud.
Peinbayaran dengan eara SPP-LS ini dilakukan dengan cara pemindahbukuan
antar rekeningbank, melalui KPPN dengan Bank Operasional selaku mitra kerja
KPPN.
SPP ini harus dilampiri (sesuai peruntukkannya):
1). Surat Perintah Kerja/KontraklSurat Perjanjian/Surat Pesanan, sejenisnya.
2). Berita Aeara (Serah Terima Pekerjaan/Barang/Jasa)
3). Berita Aeara Pembayaran (untuk pembayaran dengan termiyn/tahapan)
4). Kuitansi bermeterai secukupnya
5). Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB)
6). Resume KontraklSPK
--------- Wewenangdan TanggungJawab Pejabat Pembuat Komitmen _____ _
7). Surat Setoran Pajak (SSP)
8). Faktur Pajak
9). Jaminan bank (Bankgaransi)
10). Surat Pernyataan SPP-LS yang ditandatangani oleh KPAlP2K, yang isinya
menyatakan bahwa, penetapan penyedia barang/jasa/pihak ketiga dilakukan
berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Keppres Nomor 80 tahun
2003. (misalnya: dengan eara penunjukkan langsung, pelelangan umum, dan
sebagainya).
g. SPP-LS Langganan Daya dan lasa j
SPP-LS untukpembayaranlangganan daya dan jasameliputipembayaranlangganan
listrik kepada PT.PLN, pembayaran langganan telepon kepada PT.Telkorri dan
langganan air bersih kepada PDAM.
SPP ini dilampiri "asli tembusan" rekening tagihan bulan yang akan
dibayarkan (karena rekening asli tidak dapat diserahkan sebelum dibayar lunas),
atau pernyataan tagihan dari kantor Telkom/PLN eabanglPDAM setempat, yang
telah meneantumkan: NPWP bersangkutan.
h. SPP beban PNBP /
SPP beban PNBP adalah SPP yang membebani dana PNBP fungsional satuan kerja
bersangkutan, dibuat oleh KPAlP2K. SPP PNBP menggunakan mekanisme dan
formula tersendiri sebagaimana diatur dalam Perdirjen Perbendaharaan Nomor
PER-66/PB/200S.
Unit Pengguna PNBP dapat diberikan UP- PNBP sebesar 20 % x Pagu PNBP
atau maksimum sebesar Rp.SOO.OOO.OOO,OO (lima ratus juta rupiah).
Permintaan dana PNBP berikutnya selalu menggunakan formula maksimum
peneairan dana sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Dirjen perbendaharaan
Nomor PER-66/PB/200S sebagaimana tersebut di atas.
Formula penarikan PNBP yang dapat digunakan dalam setiap permintaan
pembayaran dimaksud adalah:
MP = (PPP x IS) - IPS
MP = Maksimum Peneairan
PPP = Proporsi Pagu terhadap Pendapatan
JS = Jumlah Setoran
IPS = Jumlah Peneairan Sebelumnya
'.
---------Pembuat Komitmen, Wewenang dan Tanggungjawabnya ---------
3. Mekanisme Pembayaran
Pembayaran atas tagihan yang diajukan oleh penyedia barang/jasa/pihakketiga, berdasarkan
Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/200S adalah sebagai berikut:
a. Semua tagihan yang membebani anggaran belanja negara dapat dilakukan
berdasarkan bukti-bukti yang sah (kuitansi pembayaran).
Setiap kuitansi harus dibubuhi meterai secukupnya sesuai dengan ketentuan
tentang bea meterai, yakni sebesar Rp.3.000,oo (tiga ribu rupiah) untuk kuitansi
yang bernilai di atas Rp.2SO.000,OO (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai
dengan Rp.l.OOO.OOO,OO (satu juta dan bermeterai Rp.6.000,OO untuk
kuitansi yang bernilai di atas Rp.l.OOO.OOO,OO (satu juta rupiah). Untuk tagihan
sampai dengan Rp.2SO.OOO,OO (dua ratus lima puluh ribu rupiah), tidak wajib
dibubuhi rneterai.
b. Kuitansi pembayaran dibuat berdasarkan harga/nilai barangljasa yang disepakati
bersama antara P2K dan Penyedia Barang/Jasa menurut SPKlKontrak/Perjanjian/
Pesanan yang ditandatangani bersama di atas meterai sesuai dengan ketentuan
yang belaku, atau berdasarkan harga jual dari toko jika dilakukan pembelian/
pengadaan langsung kepada toko penjual, dalarn hal nilai pengadaan relatifkecil!
tidak me1ampaui Rp.5.000.000,OO (lima juta rupiah).
c. Penulisan kuitansi pada bagian angka dan huruf dari nilai pembelian/pembayaran,
jumlah (kuantitas) barang, tanggal dan bulan transaksi, tidak boleh ada coretan
atau tip exlhapusanlperbaikan.
d. Permintaan pernbayaran (SPP) dibuat setelah barangljasa/kegiatan te1ah
diserahterimakan/ diselesaikan yang dinyatakan dengan Berita Acara Serah Terima
(barang/jasa/kegiatan yang diperjanjikan), atau barang/pekerjaan sudah diterima
dengan jumlah yang cukup dan kualitas sesuai yang diminta yang ditandatangani
olehpenerima harang dalam hal pengadaan/pembelianlkegiatan dilakukan secara
iangsung tanpa SPK untuk nilai transaksi tidak melebihi Rp.5.000.000,OO (lima
juta rupiah).
e. SPP ditandatangani KPA/P2K dan dilampiri persyaratan sebagaimana yang telah
ditentukan tersebut di atas sesuai dengan peruntukkannya.
f. SPP dan kelengkapan dokumen pendukungnya disampaikan kepada PPSPM
satuan kerja bersangkutan untuk dilakukan penelitian dan pengujian sesuai
dengan yang dipersyaratkan (telah dijelaskan sebelumnya).
g. SPP yang memenuhi syarat pembayaran sesuai yang diterbitkan Surat
Perintah Membayar (SPM) oleh PPSPM yang selanjutnya disampaikan kepada
KPPN demmn melamoirkan dokumen vendukung SPM. SPM yang diterbitkan
--------- Wewenangdan TanggungJawab Pejabat Pembuat Komitmen ___ . ____ _
penyedia barang dalam hal transaksi berkenaan mengakibatkan pajak terutang
sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan tentang perpajakan.
h. SPP yang tidak memenuhi persyaratan dikembalikan kepada KPA/P2K untuk
diperbaiki atau dilengkapi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
i. SPM yang diterima KPPN akan diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana
(SP2D) sebesar nilai neto (bersih), setelah KPPN memungut potongan-potongan
yang harus dilunasi penyedia barang/pihak ketiga kepada negara, sepanjang SPM
memenuhi persyaratan pembayaran.
. j. SP2D yang diterbitkan KPPN disampaikan kepada Bank Operasional mitra kerja
KPPN.
k.
1.
SPM yang tidak memenuhi persyaratan pembayaran sebagaimana yang telah
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, dikembalikan kepada PPSPM
untuk diperbaiki sebagaimana mestinya.
Bank Operasional mitra kerja KPPN akan memindahbukukan pembayaran dari
rekening kas ke rekening penyedia barang/jasa/pihak ketiga padabank
tujuan masing-masing.
m. Pihak Ketiga/penyedia barang/rekanan atau yang berhak menerima tagihan akan
menerima berita kredit dari bank tujuan masing-masing yang didebet langsung ke
rekening bersangkutan sebesar nilai SP2D (neto).
4. Prosedur Pembayaran
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Pihak Ketiga/Penyedia BaranglJasa menyerahkan barangljasa yang diperjanjikan
sesuai SPK/Kontrak/SP kepada KPA/P2K.
KPA/P2K memeriksa barang/jasa/pekerjaan yang diserahterimakan baik dalam
jumlah, kualitas dan kondisi baranglpekerjaan yang diperjanjikan.
Penyedia BaranglJasaIPihak Ketiga menyerahkan Berita Acara Serah Terima
(BAST) dan kuitansi yang sudah ditandatanganinya kepada KPNP2K.
KPA/P2K memeriksa kebenaran/kesesuaian isi dan uraian BAST serta kuitansi
yang diterima.
KPA/P2K menandatangani BAST dan kuitansi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
KPA/P2K membuat SPP dan menyampaikannya kepada PPSPM, apabila
persyaratan permintaan pembayaran telah terpenuhi.
PPSPM meneliti dan menguji SPP yang diterimanya dan memeriksa kelengkapan
persyaratan administrasi sesuai dengan yang ditentukan.
h. SPP yang memenuhi persyaratan administrasi, diteliti dan diuji kebenarannva
l
'.
---------Pembuat Komitmen, Wewenang dan TanggungJawabnya ---------
1). aspekhukum dan peraturan pemndang-undangan yang berlaku (sebelumnya
lebih dikenal dengan "Wetmatigheid")
2). aspek kebenaran formal hak penagih (sebelumnya lebih dikenal dengan
"Reghtmatigheid")
3). aspekkebenaran tujuan penggunaan dana yang ditentukan (sebelumnyalebih
dikenal dengan "Doelmatigheid")
. i. PPSPM menerbitkan SPM dan menyampaikannya kepada KPPN dengan
melampirkan dokumen pendukung sesuai dengan jenis SPM yang
dipersyaratkan.
j. KPPN menerbitkan SP2D terhadap SPM yang memenuhi persyaratan
dan menyampaikannya kepada Bank Operasional mitra kerja KPPN dan
mengembalikan SPM kepada PPSPM (Satuan Kerja) terhadap SPM yang tidak
memenuhi persyaratan.
5. Penatausahaan Pembayaran
a. Setiap transaksi pembayaran kepada pihak ketiga/penyedia barang/yang berhak
menerima pembayaran atas beban APBN hams dicatat atau dibukukan dalam
dokumen penatausahaan yang ditentukan oleh semua instansi/pihak terkait
b. Belanja (AB), untuk mengetahui ketersediaan pagu anggaran pada masing-masing
pos yang tersedia tersebut di atas. Kegiatan penatausahaan pada satuan kerja
diatas (pada item a dan b) sekaligus untuk mengetahui seberapa besar daya serap
kegiatan/anggaran yang dilakukan.
c. KPPN selaku Kuasa BUN, menatausahakan setiap SP2D yang diterbitkan
berdasarkan SPM yang diterima, menurut Kegiatan, Subkegiatan dan Klasifikasi
Belanja dalam DIPA Satuan Kerja masing-masing, sebagai wujud pengujian formal
dan substantif serta pengendalian anggaran yang dikuasai satuan kerja.
d. Bank Operasional I (BO I) melakukan penatausahaan atas SP2D yang dicairkan
dengan tata cara dalam pengelolaan keuangan negara sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
e. Penatausahaan pada kantor/satuan kerja ditatausahakan oleh Bendahara
Pengeluaran ke dalam Buku Kas Umum (BKU) dan buku pembantu lainnya
yang terkait untuk mengetahui seberapa besar daya serap dana yang tersedia
dalam DIPA satuan kerja bersangkutan, serta untuk mengendalikan pengeluaran
anggaran agar pencapaian kinerja dapat lebihefisien dan efektif sesuai tujuan yang
ditetapkan.
--------- Wewenangtlan Tanggung/awab Pejabat Pembuat Komitmen _______ _
f.
(Tata cara penatausahaan transaksi yang terjadi pada satuan kerja ke dalam Buku
Kas Umum agar berpedoman pada Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor 47/
PB/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan dan Penyusunan Laporan
Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/Kantor/Satuan Kerja.
Pejabat Penguji Tagihan Penerbit SPM pada masing-masing satuan kerja
menatausahakan setiap pembayaran atas SPM yang diterbitkan menurut Kegiatan,
Subkegiatan, Klasifikasi Belanja dan Mata Anggaran Keluaran (MAK)/ Akun
pemindahbukuan antar rekening kas negara dengan rekening tujuan, sesuai
dengan tugas dan kewenangannya.
6. Alur Pembayaran SPP-LS
KPA/P2K menyusun dan menyampaikan SPP-LS kepada PPSPM untuk dimintakan
pembayaran atas tagihan penyedia barang dengan alur sebagaimana gambar di bawah 1ni:
Alur pembayaran atas SPP-LS kepada Pihak ketiga:
2. Alur Pembayaran Langsung
Uji& .. ' ....
~ ~ _ 3 ________ ~ _ r i ~ ~
~
2
PPK
KPPN'
4b
6
'P.i,<CA
Posting Bukukan
UAKPA BENDAHARA
.. _. ___________ =4C__
Pihakke 3
Sumber: Dokumerr Sosialisasi PMK No. 731PMK. 0512008. Dirjen Perbendaharaan
i
! ~ Ii
I,
---------Pembuat I\omitmen. Wewenangdan Tanggungjawabnya ---------
Keterangan:
1. P2K menetapkan penyedia barang dan menyusun kontraklSPK dengan Pihak IIII
penyedia' barang untuk ditandatangani bersama dan Pihak III/penyedia barang
menyerahkan barang sesuai yang diperjanjikan.
2. P2K SPP-LS dan menyampaikannya kepada PPSPM untuk dimintakan
pembayarannya atas barang yang diperjanjikan.
3. PPSPM ;menguji dan memeriksa SPP-LS dan menyampaikan SPM yang diterbitkan
kepada KPPN.
4. KPPN melakukan pemeriksaan dan pengujian SPM -LS yang diterima, lalu menerbitkan
SP2D yang disampaikan kepada:
a). PPSPM (lembar kedua)
bY. BankOperasional I (lembar aseli)
c). Bank Operasional I melakukan pemindahbukuan ke rekening Pihak III
5. PPSPM menyampaikan SP2D lembar kedua yang diterima kepada UAKPA untuk
dijadikan sebagai bahan laporan keuangan.
6. UAKPA menyampaikan SP2D yang telah dicatat kepada Bendahara Pengeluaran untuk
dicatat sebagai bahan penyusunan LPJ.
7. perhltungan Pajak yang Wajlb Dlpungut
a., P2K dan Bendahara Pengeluaran harus memperhatikan setiap transaksi yang
dibayarkan kepada penyedia barang/pihak ketiga atas kewajiban pajak yang harus
dilunasi oleh penyedia baranglpihak ketiga:
b. Setiap transaksi yang dibayarkan dengan cara LS ataupun dengan beban Uang
Persediaan (UP) harus diperhitungkan dan/atau dipungut pajak sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan. !
c. Pembayaran dengan cara LS diperhitungkan dan dituangkan dalam SPK/Kontrak
Pengadaan dan dituangkan dalam Surat Permintaan Pembayaran (SPP), dengan
melampirkan Surat Setoran Pajak dan faktur Pajak, yang pemungutannya afan
dilakukan oleh KPPN selaku Kuasa BUN. '
. '
d. Pembayaran dengan cara tunai atas beban Uang Persediaan, diperhitungkan
dan dipungut langsung oleh Bendahara Pengeluaran selaku Wajib Pungut pada
saat dilakukan pembayaran kepada pihak ketiga/penyedia barang/jasa, dengan
menyerahkan bukti Surat Setoran Pajak (SSP) untuk ditandatangani oleh penerima
-------- Wewenang dan TanggungJawab Pejabat Pembuat Komitmen _______ _
selaku Wajib Setor. Pajak yang dipungut oleh Bendahara Pengeluaran
waJIb dlsetorkan ke rekening Kas Negara sesuai dengen ketentuan yang berlaku.
8. Tata tara Pemungutan Pajak
a.
b.
c.
Pajak terutang (Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan) adalah kewajiban
yang harus dilunasi atas setiap Penghasilan Kena Pajak (PKP).
Kena Pajak yang dipungut oleh Bendahara Pegeluaran adalah setiap
transaksl pengadaan/pembelian barang yang nilainya di atas Rp.1.000.000,00
(satu juta rupiah) setiap pembayaran kegiatan/jasa yang dibayarkan di
atas PTKP. Sehingga dengan kata lain bahwa setiap
hanya diperhitungkan/dipungut pajak oleh bendahara pemerintah, jika nilai
transaksinya di atas Rp.l.OOO.OOO,OO (satu juta rupiah). Apabila nilai transaksi
pengadaan/pembelian barang sampai dengan Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah),
maka pajak tidak diperhitungkan/dipungut oleh Bendahara Pengeluaran (untuk
nil.ai sebesar Rp.l.OOO.OOO,OO pajak disetorkan/diperhitungkan sendiri oleh wajib
untuk pembayaran kegiatan jasa hanya diperhitungkanl
dlpungut pajak penghasilan pasal 23, untuk pembayaran yang nilainya sampai
dengan Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah). Untuk pembayaran yang nilainya di
atas Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah) akan diperhitungkan/dipungut Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan sesuaidengan ketentuan
perpajakan yang berlaku. .
Tata cara perhitungan pajak adalah sebagai berikut:
1). Contoh transaksi dengan nilai pembelian/pengadaan baningljasa sebesar
Rp 1.100.000,t)0 (sam juta seratus rupiah)
Transaksi ini akan dikenakan PPN 10 % dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)'
dan PPh pasal22 sebesar 1,5 % dari DPP.
Mencari DPP sebagai berikut:
DPP = 100/110 X Rp.1.l00.000,OO = Rp.l.000.000,OO
PPN = 10 % x DPP = 10/100 X Rp.l.000.000,OO = Rp. 100.000,00
PPh 22 = 1,5 % x DPP = 1,5/100 x Rp.l.000.000,OO = Rp. 15.000,00
Keterangan:
a). Harga barang (Rp1.l00.000.00,OO) di pasaran selalu bernilai bruto,
yakni nilai 110 % = (100% harga fisiklDPp, dan + 10 %, PPN yang
dipungut)
b). dalam APBN, kita menggunakan azas bruto.
_________ Pembuat Komitmen. Wewenangdan Tanggungjawabnya --------
2). 'I'ransaksi dengan nilai pembelian/pengadaan barang/jasa sebesar
Hp.2.200.000.,00 (dua juta dua ratus rupiah)
Transaksi ini akan diperhitungkan/dipungut pajak sebagai berikut:
a) PPN 10 % = 10 % x DPP dan
b) PPh Pasal22 = 1,5 % x DPP
DPP = 100/110 x Rp.2.200.000,0 = Rp.2.0oo.000,00
c) PPN 10 % = 10/100 x Rp.2.000.000,00 = Rp. 200.000,00
d) PPh 22 = 1,5/100 x Rp.2. 000. 000, 00 = Rp. 30.000,00
atau transaksi pengadaan dengan perhitungan secara langsung (dari nilai
bruto) sebagai berikut:
a). PPN 10 % = 10/110 x Rp.2.200.000,00 = Rp.200.000,00
b). PPh 22 = 1,5 % x (nilai bruto - PPN)
1,5/100 x (Rp.2.200.000,00 - Rp.200.000,00) = Rp. 30.000,00
3). Transaksi perbaikan komputer senilai Rp. 700.000,00
Transaksi ini tidak dipungut PPN, akan tetapi hanya dikenakan PPh pasal
23 sebesar 2 % dari nilai pembayaran, yakni 2/100 x Rp.700.000,00 =
Rp.14.000,00
(Ingat: 1. Transaksi atas pembayaran jasa, tidak mengenal Penghasilan Tidak
Kena Pajak atau PTKP; 2. Prosentasi PPh Pasal23 dapat berubah-ubah)
4). Transaksi perbaikan k"t!ndaraan dinas sebesar Rp.3.3oo.000,00
(nilai kuitansi ditulis total tidak diuraikan menurut transaksi)
Transaksi ini akan dipungut PPN 10 % dan PPh psI 23 sebesar 2%, dengan
perhitungan sebagai berikut;
Perhitungan dengan mencari dan berdasarkan DPP:
a). PPN, 10 % = 10/100 x DPP dan
PPh 23, 2%, = 2f100 x DPP
b) DPP = 100/110 x Rp.3.300.000,00
c). PPN, 10 % = 10%xDPP
= 10/IQO x Rp.3.000.000,00
d). PPh 23, 2% = 2%xDPP
= 2/100 x Rp.3.000.000,00
= Rp.3. 000. 000, 00
=Rp. 300.000,00
=Rp. 60.000,00
atau dengan perhitungan secara langsung (dari nilai bruto), sebagai berikut:
a). PPN. 10 % = 10/110 x Rp.3.3000.000,OO = Rp.300.000,OO
b). PPh 23 = 2/100 x (Rp.3.300.000,OO - Rp.300.000,00) = Rp. 60.000,00
-------- Wewenangdan Tanggung /awab Pejabat Pembual Komitmen ----___ _
Jika nilai kuitansi diuraikan menurut pekerjaannya seperti di bawah ini:
a) Penggantian spare-part kendaraan = Rp.2.200.000.00
b) Ongkos kerja/tukang = Rp.l.l00.000,OO
maka perhitungannya (dari nilai bruto) adalah:
c) PPN =10 % = 10/110 x Rp.2.200.000,OO = Rp.200. 000, 00
d) PPh 22 = 1,5 %
= 1,51100 x (Rp 2.200.000,00 - Rp.200:000,00) = Rp.30.000,00
e) PPh 23 = 2% x ongkos kerja/tukang
= 2/100 x Rp.l.100.000,00 =:= Rp.22.000,OO
sehingga untuk kuitansi yang nilai pembayaran diuraikan antara
penggantian spare-part dan ongkos tukang, akan dipungut dua jenis
pajak penghasilan yakni PPh 22 untuk pembelian/penggantian spare-
part dan PPh 23 untuk jasa.
5). Transaksi untuk pembayaran honor PNS (memiliki penghasilan tetap) diluar
penerimaan gaji.
Bahwa PNS adalah subyek pajak, akan tetapi tidak semua PNS menjadi obyek
pajak.
Obyek pajak bagi PNS adalah setiap PNS yang telah menduduki pangkat
golongan III ke atas, sehingga golongan I dan golongan II belum menjadi
obyek pajak, oleh karena itu PNS golongan I dan golongan II tidak dikenakan
PPh pasal21 atas penghasilan yang diterirna baikdari gaji ataupun penghasilan
non gaji.
Contoh:
a). Jika seorang PNS bemama Asratus, pangkat Pembina golongan IV/a,
menerima penghasilan sebagai berikut:
1). penerimaan gaji Rp.3.400.000,00
2). penerimaan honor sebagai panitia pengadaan barang sebesar
Rp.600.000.-
maka akan dipungut:
PPh 21 sebesar 15 % x penghasilan diluar gaji =
15/100 x Rp.600.000,OO = Rp.90.000,OO
(penerimaan gaji telah dipungut PPh dan diberikan tunjangan PPh
yang besarannya sarna dengan potongan PPh).
b). Seorang PNS bemama Oktria, pangkat PengaturMuda golongan lIla,
menerima penghasilansebagai berikut:
·--l
____ ------ Pembuat Komitmen. Wewenang dan Tanggungjawabnya
) P
enerimaan gaji sebesar Rp. 2.100.000,00 I'
1 . . ·tia pengadaan barang Jasa
2). penerimaan honor sebaga1 anggota pani
sebesar Rp.200.000,00 1 II
maka akan dipungut pajak Rp.O,OO karena Oktria masih go
bukan obyek pajak dan tidak dikenakan atau dipungut pajak.
. h . yang dlbayar bulanan
6). Transaksi untuk pembayaran honor pegawal anan
Contoh: R 60 000 00 per hari
) Seorang buruh harian menerima upah sebesar p. . :. gk
a. . sebagai tenaga Cleaning Service yang dikontrak oleh ungan
H
bersangkutan ayar secara
kementrian negara/lembaga. onor yang .
bulanan sebesar 30 hari x Rp.60.000,OO = Rp.1.800.000,00 seSUal dengan
bunyi kontrak. . di un ut PPh
Maka untuk pegawai harian yang dlbayar bulanan, akan p g
asa121 sebesar 5 % x penghasilan di atas PTKP.
yang ditetapkan sebesar Rp.1.320.000,OO maka:
Perhitungan PPh 21 adalah = 5 % x (Rp.1.800.000,00 - Rp.1.320.000,00)
= 5/100 x Rp.480.000,00 = Rp.24.000,00
PTKP pegawai harian saat ini adalah Rp.150.00
0
,OO per hari atau
M t . Keuangan No. 2541
R 1 320 000 00 per bulan (Peraturan en en .
p.. . , ) PTKP d at berubah setlap
PMKl03/2008 tanggal 31 Desember 2008 . a
p
. . P2K
t berdasarkan ketentuan yang berlaku, oleh karena 1tu .
saa 'ku' ti teIJadmya
atau bendahara pengeluaran harus dapat mengI b se ap
perubahan PTKP. . ksi atau
Untuk pegawai harian lepas yang dibayar pada setiap 'd k
b). . . ghasilan yang d1tenma tI a
dibayar mingguan, apab11a setIap pen . .
el
. Rp i 50 000 00 per 'hari, maka penghasUan pegawal yang
m ampaul . . , . . PTKP.
bersangkutan tidak dipungut pajak karena tidak melam
paUl
. . d
. k tuk PPh pasal21 dlmaksu :
Berikut ini contoh-contoh pungutan paJa un
Contoh: . baikan nset pada instansi
1) Bapak Samin menerima upah atas Jasa per ge k' k
. 0000 k PakSaminakandikena anpaJa
P
emerintah sebesar Rp.250.0 , ma a 00 _
I
d' k sebesar 5% x Rp250.000, -
terutang yang harus dipungut lsetor an
Rp.12.500,00 . .' . dak berfungsi
P k Sabar melakukan perbaikan instalas1 bstrtk yang tI .'
2). a . kan k 'tansi dengan nnClan
karena terjadi korrsleting. Pak Sabar mengaJu U1
sebagai berikut:
-------- Wewenangdan TanggungJawab Pejabat Pembuat Komitmen --------
penggantian spare-part, kabel dan sebagainya Rp. 780.000,00
ongkos kerja/biaya perhaikan Rp. 500.000,00 +
Jumlah = Rp.1.280,000,OO
(Satu juta dua ratus delapan puluh ribu rupiah)
Terhadap transaksi ini akan dikenakan pajak sebagai berikut:
2.1. penggantian sparepart tidak dipungut pajak (PPN atau PPh) karena
tidak melampaui PTKP
2.2. ongkos kerja dikenakan PPh psi 23 final sebesar 2 % x Rp.500.000,OO
= Rp.l0.000,OO
D. PERAN DAN TANCCUNC JAWAB PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
P2K selaku pejabat yang bertanggungjawab secara fisik, administrasi dan keuangan dalam
kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya, memegang peranan yang sangat penting dalam
setiap proses pengadaan barang/jasa pemerintah ataupun dalam proses pembayaran yang
membebankan anggaran belanja pada kantorlsatuan kerja bersangkutan.
Secara formal, seluruh kegiatan dan anggaran yang tertuang dalam DIPA menjadi
tanggungjawab KPA selaku pengguna anggaran pada kantorlsatuan kerja bersangkutan,
namun dalam hal diangkat P2K lain yang diserahi tugas dan tanggungjawab untuk setiap
kegiatan yang didelegasikan, maka kegiatan tersebut menjadi tanggungjawab P2K yang
menerima pendelegasian dati KPA. Dalam hal ini, P2K dapat bertindak untuk dan atas
nama KPA pada kegiatan satuan kerja yang menjadi tanggungjawabnya.
1. Peran PeJabat Pembuat KOlilltmen
P2K, sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah pejabat yang tindakannya dapat
mengakibatkan pengeluaran belanja negan. P2K bertindak untuk dan atas nama KPA
dalam kegiatan yang menJadi tanggungjawabnya. Oleh karena itu P2K memegang peran
yang sangat penting dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Semua kegiatan, kebijakan
berkaitan dengan pelaksanaan tugas yang diberikan KPA, sangat menentukan keberhasilan
kinerja satuan kerja. P2K berperan untuk menetapkan kebijakan dalam pengadaan barangl
jasa yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas satuan kerja. P2K berperan untuk
mengelola dan mengendalikan anggaran pada kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya,
oleh karena itu pengangkatan dan penetapan P2K harus disesuaikan dengan kompetensi
dan kemampuan.pejabatbersangkutan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->