BAB I PENDAHULUAN

Hak-hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati). Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Meskipun demikian bukan berarti dengan hak-haknya itu dapat berbuat semau-maunya. Sebab apabila seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan melanggar hak asasi orang lain, maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. 1.1 Latar Belakang Pada hakikatnya “Hak Asasi Manusia” terdiri atas dua hak dasar yang paling fundamental, ialah hak persamaan dan hak kebebasan. Dari kedua hak dasar inilah lahir hak-hak asasi lainnya atau tanpa kedua hak dasar ini, hak asasi manusia lainnya sulit akan ditegakkan. Mengingat begitu pentingnya proses internalisasi pemahaman Hak Asasi Manusia bagi setiap orang yang hidup bersama dengan orang lainnya, maka suatu pendekatan historis mulai dari dikenalnya Hak Asasi Manusia sampai dengan perkembangan saat ini perlu diketahui oleh setiap orang untuk lebih menegaskan keberadaan hak asasi dirinya dengan hak asasi orang lain. Wacana hak asasi manusia bukanlah wacana yang asing dalam diskursus politik dan ketatanegaraan di Indonesia. Kita bisa menemuinya dengan gamblang dalam perjalanan sejarah pembentukkan bangsa ini, di mana perbincangan mengenai hak asasi manusia menjadi bagian daripadanya. Jauh sebelum kemerdekaan, para perintis bangsa ini telah memercikkan pikiran-pikiran untuk memperjuangkan harkat dan martabat manusia yang lebih baik. Pecikan pikiran tersebut dapat dibaca dalam surat-surat R.A. Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, karangan-karangan politik yang ditulis oleh H.O.S.

1

1. Percikan-percikan pemikiran pada masa pergerakan kemerdekaan itu. 2 . yang terkristalisasi dengan kemerdekaan Indonesia.2. menjadi sumber inspirasi ketika konstitusi mulai diperdebatkan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Soewardi Soeryaningrat. Tujuan pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia adalah untuk mempertahankan hak-hak warga negara Indonesia. Di sinilah terlihat bahwa para pendiri bangsa ini sudah menyadari pentingnya hak asasi manusia sebagai fondasi bagi negara. petisi yang dibuat oleh Sutardjo di Volksraad atau pledoi Soekarno yang berjudul ”Indonesia Menggugat” dan Hatta dengan judul ”Indonesia Merdeka” yang dibacakan di depan pengadilan Hindia Belanda.Cokroaminoto. Douwes Dekker. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa itu HAM dan bagaimana perkembangan HAM di Indonesia dari sebelum merdeka sampai saat ini. tindakan sewenang-wenang dari aparat negara dan mendorong tumbuh/berkembangnya pribadi manusia yang dimensional. Agus Salim.

ialah hak persamaan dan hak kebebasan. periode setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ).1. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia ( 2001 ). Pada hakikatnya “Hak Asasi Manusia” terdiri atas dua hak dasar yang paling fundamental. hak asasi manusia lainnya sulit akan ditegakkan. maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Secara garis besar Prof. Pengertian Hak-hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati). 2. sikap yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya berlangsung sudah cukup lama. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Mengingat begitu pentingnya proses internalisasi pemahaman Hak Asasi Manusia bagi setiap orang yang hidup bersama dengan orang lainnya.BAB II PERKEMBANGAN HAM Pemahaman Ham di Indonesia sebagai tatanan nilai. 3 . Sebab apabila seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan melanggar hak asasi orang lain. Dari kedua hak dasar inilah lahir hak-hak asasi lainnya atau tanpa kedua hak dasar ini. maka suatu pendekatan historis mulai dari dikenalnya Hak Asasi Manusia sampai dengan perkembangan saat ini perlu diketahui oleh setiap orang untuk lebih menegaskan keberadaan hak asasi dirinya dengan hak asasi orang lain. norma. membagi perkembangan HAM pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 ). Meskipun demikian bukan berarti dengan hak-haknya itu dapat berbuat semau-maunya.

Adapun sejarah HAM itu sendiri dibagi menjadi 2 kelompok yaitu : sejarah internasional HAM dan sejarah nasional HAM : 4 .Selain itu pengertian HAM menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut : 1. Hal tersebut diperoleh bersama dengan kelahirannya atau kehadirannya didalam kehidupan bermasyarakat. Musthafa Kemal Pasha (2002) Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir yang melekat pada esentialnya sebagai anugerah Allah SWT. 2. Menurut Tilaar (2001) Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia 3. dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukum. 2. Undang-undang No: 39 Tahun 1999 Hak asasi manusia sebagai seperangkat hak yang melekat pada hak-hak keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati. Gazalli (2004) Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa sejak lahir dan melekat dengan potensinya sebagai makhluk dan wakil tuhan. 4.2 Sejarah Singkat Hak Asasi Manusia Sebelum membahas perkembangan HAM terlebih dahulu kita harus mengetahui sejarah singkat Hak asasi manusia itu sendiri. tanpa halhal itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia.

tetapi di Amerika Serikat lebih dahulu mencanangkan secara lebih rinci. Jadi. kekuasaan raja mulai dibatasi sebagai embrio lahirnya monarkhi konstitusional yang berintikan kekuasaan raja sebagai simbol belaka. Motesquieu dengan Trias Politikanya yang mengajarkan pemisahan kekuasaan guna mencegah tirani. Sejarah Internasional Hak Asasi Manusia Umumnya para pakar Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM dimulai dengan lahirnya Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris. Mulailah 5 . John Locke di Inggris dan Thomas Jefferson di Amerika dengan hak-hak dasar kebebasan dan persamaan yang dicanangkannya. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Roesseau dan Montesqueu. maka lahirlah teori Roesseau (tentang contract social/perjanjian masyarakat). Adagium ini memperkuat dorongan timbulnya negara hukum dan demokrasi. Untuk mewujudkan semua itu.1. Jadi. Sejak itu mulai dipraktekkan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan harus mempertanggungjawabkan kebijakasanaannya kepada parlemen. Pada masa itu mulai timbul adagium yang intinya adalah bahwa manusia sama di muka hukum (equality before the law). walaupun kekuasaan membuat Undang-undang pada masa itu lebih banyak berada di tangan raja.2. Dengan demikian. menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat dimintai pertanggungjawaban di muka umum.2. Dari sinilah lahir doktrin raja tidak kebal hukum lagi dan mulai bertanggungjawab kepada hukum. dengan lahirnya “Bill of Rights” di Inggris pada tahun 1689. tetapi ia sendiri tidak terikat pada hukum). Magna Charta antara lain mencanangkan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. Para pejuang HAM dahulu sudah berketatapan bahwa hak persamaan harus diwujudkan betapapun beratnya resiko yang dihadapi karena hak kebebasan baru dapat diwujudkan kalau ada hak persamaan. walaupun di Perancis sendiri belum dirinci apa HAM itu. sudah mulai dinyatakan dalam bahwa raja terikat kepada hukum dan bertanggungjawab kepada rakyat. Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh perkembangan yang lebih konkret. Bill of rights melahirkan asas persamaan.

p. The third is freedom from want which. translated into world terms. meliputi hak-hak yang menjamin tumbuhnyademokrasi maupun negara hukum yang asas-asasnya sudah dicanangkan sebelumnya. dalam French Declaration sudah tercakup semua hak. means a worldwide reduction of armaments to such a point and in such a through fashion that no nation will be in a position to commit an act of physical agression against any neighbor-anywhere in the world. artinya orang-orany yang ditangkap kemudian ditahan dan dituduh. Dinyatakan pula presumption of innocence. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir.” Semua hak-hak ini setelah Perang Dunia II (sesudah Hitler memusnahkan berjuta-juta manusia) dijadikan dasar pemikiran untuk melahirkan rumusan HAM 6 . Antara lain dinyatakah tidak boleh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. means economic understandings which will secure to every nation a healthy peacetime life for its inhabitants-every where in the world. Jadi. Perlu juga diketahui The Four Freedoms dari Presiden Roosevelt yang dicanangkan pada tanggal 6 Januari 1941. the right of property (perlindungan terhadap hak milik) dan hak-hak dasar lainnya. translated into world terms. The fourth is freedom from fear-which. termasuk ditangkap tanpa alasan yang sah dan ditahan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah.dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam oerut ibunya. dimana hak-hak yang lebih rinci lagi melahirkan dasar The Rule of Law. freedom of religion (bebas menganut keyakinan/agama yang dikehendaki). Selanjutnya pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration. berhak dinyatakan tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. dikutip dari Encyclopedia Americana.654 tersebut di bawah ini : “The first is freedom of speech and expression everywhere in the world. The second is freedom of every person to worship God in his own way-every where in the world. ia harus dibelenggu. Dipertegas juga dengan freedom of expression (bebas mengelaurkan pendapat).

bahwa ke-30 pasal yang termaktub dalam Deklarasi HAM sedunia itu adalah standar nilai 7 . berlaku bagi semua bangsa dan pemerintahan di negara-negaranya masing-masing. Dengan demikian setiap pelanggaran atau penyimpangan dari Deklarasi HAM sedunia si suatu negara anggota PBB bukan semata-mata menjadi masalah intern rakyat dari negara yang bersangkutan. melainkan juga merupakan masalah bagi rakyat dan pemerintahan negara-negara anggota PBB lainnya. baik ke luar (antar negara-negara) maupun ke dalam (antar negara-bangsa). tidak berlebihan jika dikatakan sebagai puncak peradaban umat manusia setelah dunia mengalami malapetaka akibat kekejaman dan keaiban yang dilakukan negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. 2. mengandung pengertian bahwa Deklarasi HAM seduania itu harus senantiasa menjadi kriteria objektif oleh rakyat dari masing-masing negara dalam menilai setiap kebijakan yang dikelauarkan oleh pemerintahnya. Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makana ganda. Makna ke luar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar negara-bangsa.2. Adapun hakikat universalitas HAM yang sesungguhnya. Sedangkan makna ke dalam. Bagi negara-negara anggota PBB. agar terhindar dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat menghancurkan nilainilai kemanusiaan. Mereka absah mempersoalkan dan mengadukan pemerintah pelanggar HAM di suatu negara ke Komisi Tinggi HAM PBB atau melalui lembaga-lembaga HAM internasional lainnya unuk mengutuk bahkan menjatuhkan sanksi internasional terhadap pemerintah yang bersangkutan.2.yang bersifat universal. yang kemudian dikenal dengan The Universal Declaration of Human Rights yang diciptakan oleh PBB pada tahun 1948. Sejarah Nasional Hak Asasi Manusia Deklarasi HAM yang dicetuskan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Desember 1948. Deklarasi itu sifatnya mengikat.

namun hal ini kurang diperhatikan karena sebagian ahli hukum Indonesia sendiri agaknya lebih suka mempelajari teori hukum Barat. HAM di Sulawesi Selatan telah dikenal sejak lama.kemanusiaan yang berlaku bagi siapapun. Sebagai contoh. dari kelas sosial dan latar belakang primordial apa pun serta bertempat tinggal di mana pun di muka bumi ini. Juga ada yang bertanya mengapa bukan Social Rights. Di Indonesia HAM sebenarnya telah lama ada. Jadi jelaslah kalau ada hak berarti ada kewajiban. Orang yang dihormati haknya berkewajiban pula menghormati hak orang lain. Tetapi apabila para Dewam Adat sendiri berselisih. Contoh : seseorang yang berhak menuntut perbaikan upah. Yang perlu dijaga ialah keseimbangan antara hak dan kewajiban serta antara kepentingan perseorangan dengan 8 . kemudian ditulis dalam buku-buku adat (Lontarak). Demikian juga tidak mungkin kita mengatakan ada hak kalau tanpa kewajiban. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa HAM sudah lama lahir di Indonesia. maka rakyatlah yang memustuskan. Dengan demikian tidak perlu dipergunakan istilah Social Rights karena kalau kita menghormati hak-hak perseorangan (anggota masyarakat). namun dalam perkembangannya tidak menonjol karena kurang dipublikasikan. semuanya sudah diterpkan oleh Raja-Raja dahulu. Human Rights selalu terkait dengan hak individu dan hak masyarakat. kiranya sudah termasuk pengertian bahwa dalam memanfaatkan haknya tersebut tidak boleh mengganggu kepentingan masyarakat. maka Raja harus mengalah. Ada yang bertanya mengapa tidak disebut hak dan kewajban asasi. Jadi asas-asas HAM yang telah disorot sekarang. Semua kandungan nilai-nilainya berlaku untuk semua. Antara lain dinyatakan dalam buku Lontarak (Tomatindo di Lagana) bahwa apabila raja berselisih faham dengan Dewan Adat. haruslah terlebih dahulu memenuhi kewajibannya meningkatkan hasil kerjanya. Semua manusia adalah sama. Jadi saling hormat-menghormati terhadap masing-masing hak orang. Bukankan Social Rights mengutamakan masyarakat yang menjadi tujuan ? Sesungguhnya dalam Human Rights sudah implisit adanya kewajiban yang harus memperhatikan kepentingan masyarakat.

9 . tetapi tidak memperkosa hak-hak orang lain. membagi perkembangan HAM pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 ). pemimpin Boedi Oetomo telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi – petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dalam surat kabar goeroe desa. Artinya.1. periode setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ). sebagai partai yang berlandaskan paham Marxisme lebih condong pada hak – hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu – isu yang berkenan dengan alat produksi. seseorang memiliki kebebasan bertindak semaunya. 2. Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat.kepentingan umum (kepentingan masyarakat). Secara garis besar Prof. lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri. Selain itu. norma.3. Periode Sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 ) • Boedi Oetomo. • Perhimpunan Indonesia. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia Pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. • Sarekat Islam. 2. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia ( 2001 ). menekankan pada usaha – usaha unutk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial. sikap yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya berlangsung sudah cukup lama. dalam konteks pemikiran HAM. • Partai Komunis Indonesia. perlu dijaga juga keseimbangan antara kebebasan dan tanggungjawab.3.

• Partai Nasional Indonesia. UUD 45. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ) a) Periode 1945 – 1950 Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka.• Indische Partij. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. hak untuk menentukan nasib sendiri. pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. • Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia. Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. menekankan pada hak politik yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat. hak berserikat.3. hak berserikat dan berkumpul. hak untuk berkumpul. Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan 10 . hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum dasar Negara ( konstitusi ) yaitu. hak persamaan di muka hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan Negara. 2. komitmen terhadap HAM pada periode awal sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945. mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan.2. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan.

Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami “ pasang” dan menikmati “ bulan madu “ kebebasan. Pertama. Pemikiran HAM pada periode ini menapatkan momentum yang sangat membanggakan. Dalam kaitan dengan HAM. Pada sistem ini ( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada dan berada ditangan presiden. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. Kedua. Keempat. parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan kontrol yang semakin efektif terhadap eksekutif. b) Periode 1950 – 1959 Periode 1950 – 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan sebutan periode Demokrasi Parlementer. fair ( adil ) dan demokratis. wacana dan pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan. telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak politik. Akibat dari sistem demokrasi terpimpin Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran supratruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik. pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. c) Periode 1959 – 1966 Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi Parlementer. Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi betul – betul menikmati kebebasannya. Kelima. semakin banyak tumbuh partai – partai politik dengan beragam ideologinya masing – masing.partai politik. 11 . Indikatornya menurut ahli hukum tata Negara ini ada lima aspek. Seperti dikemukakan oleh Prof. Ketiga.

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprti kasus Tanjung Priok. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhaap penegakan HAM. dilindungi dan ditegakkan. Sementara itu. pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM mengalami kemunduran. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai –nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang terlebih dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal HAM. XIV/MPRS 1966 MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam piagam tentang Hak – hak Asasi Manusia dan Hak – hak serta Kewajiban Warganegara. ada semangat untuk menegakkan HAM. Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan Pengadilan HAM. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. kasus 12 . Selain itu sikap defensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara – Negara Barat untuk memojokkan Negara yang sedang berkembang seperti Inonesia. karena HAM tidak lagi dihormati. Selanjutnya pada pada tahun 1968 diadakan seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil ( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Begitu pula dalam rangka pelaksanan TAP MPRS No.d) Periode 1966 – 1998 Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM.

pada tahap penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang – undangan tentang HAM seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang – undang Dasar 1945 ). pertimbangan.Keung Ombo. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993. dan saran kepada pemerintah perihal pelaksanaan HAM. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia. 13 . Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang beralwanan dengan pemjuan dan perlindungan HAM. Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. ketetapan MPR ( TAP MPR ). Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES No. e) Periode 1998 – sekarang Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi pemerintah dari represif dan defensif menjadi ke strategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. kasus DOM di Aceh. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen Internasional dalam bidang HAM. serta memberi pendapat. dan sebagainya. Undang – undang (UU). Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. peraturan pemerintah dan ketentuan perundang – undangam lainnya. kasus di Irian Jaya.

2. Saran 1.2. Tidak seorang pun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar Hak orang lain. pendidikan. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM. 14 . politik atau asal usul sosial budaya. Sebaiknya penegakan HAM di Indonesia sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak pandang bulu. 3. agama. dibeli ataupun diwarisi.BAB III PENUTUP Dalam bab ini penulis akan membahas kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan isi penulisan makalah ini : 3. 3. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. HAM adalah bagian dari manusia secara tematis. HAM tidak perlu diberikan. Perkembangan HAM yang merupakan hak dasar manusia mengalami perubahan menurut keadaan suatu zaman. HAM tidak bisa di langgar.1 Kesimpulan 1. ras. 4.

2. jangan hanya condong ke sejarah lahirnya HAM di Eropa maupun Amerika. 15 . Sebaiknya para sejarahwan mulai meninjau perkembangan HAM di Indonesia pada saat dipimpin raja-raja.

web.com/. 4.wordpress.id/2010/06/sejarah-hak-asasimanusia-di-indonesia./herlambang-sejarahdan-perkembangan-ham.pdf 16 .wikipedia..files.../ham_historis_sosiologis.com/2009/03/29/perkembangan-ham-diindonesia/ www. 5.pdf herlambangperdana. 2.com/wp-content/uploads/.com sekitarkita. 3.html http://ivantoebi.wordpress.membuatblog.. http://www.DAFTAR PUSTAKA 1.