BAB I PENDAHULUAN

Hak-hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati). Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Meskipun demikian bukan berarti dengan hak-haknya itu dapat berbuat semau-maunya. Sebab apabila seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan melanggar hak asasi orang lain, maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. 1.1 Latar Belakang Pada hakikatnya “Hak Asasi Manusia” terdiri atas dua hak dasar yang paling fundamental, ialah hak persamaan dan hak kebebasan. Dari kedua hak dasar inilah lahir hak-hak asasi lainnya atau tanpa kedua hak dasar ini, hak asasi manusia lainnya sulit akan ditegakkan. Mengingat begitu pentingnya proses internalisasi pemahaman Hak Asasi Manusia bagi setiap orang yang hidup bersama dengan orang lainnya, maka suatu pendekatan historis mulai dari dikenalnya Hak Asasi Manusia sampai dengan perkembangan saat ini perlu diketahui oleh setiap orang untuk lebih menegaskan keberadaan hak asasi dirinya dengan hak asasi orang lain. Wacana hak asasi manusia bukanlah wacana yang asing dalam diskursus politik dan ketatanegaraan di Indonesia. Kita bisa menemuinya dengan gamblang dalam perjalanan sejarah pembentukkan bangsa ini, di mana perbincangan mengenai hak asasi manusia menjadi bagian daripadanya. Jauh sebelum kemerdekaan, para perintis bangsa ini telah memercikkan pikiran-pikiran untuk memperjuangkan harkat dan martabat manusia yang lebih baik. Pecikan pikiran tersebut dapat dibaca dalam surat-surat R.A. Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, karangan-karangan politik yang ditulis oleh H.O.S.

1

menjadi sumber inspirasi ketika konstitusi mulai diperdebatkan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tujuan pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia adalah untuk mempertahankan hak-hak warga negara Indonesia. Agus Salim. 2 . petisi yang dibuat oleh Sutardjo di Volksraad atau pledoi Soekarno yang berjudul ”Indonesia Menggugat” dan Hatta dengan judul ”Indonesia Merdeka” yang dibacakan di depan pengadilan Hindia Belanda. 1. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa itu HAM dan bagaimana perkembangan HAM di Indonesia dari sebelum merdeka sampai saat ini. Douwes Dekker.Cokroaminoto.2. yang terkristalisasi dengan kemerdekaan Indonesia. Percikan-percikan pemikiran pada masa pergerakan kemerdekaan itu. Di sinilah terlihat bahwa para pendiri bangsa ini sudah menyadari pentingnya hak asasi manusia sebagai fondasi bagi negara. tindakan sewenang-wenang dari aparat negara dan mendorong tumbuh/berkembangnya pribadi manusia yang dimensional. Soewardi Soeryaningrat.

maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. norma. 2. Sebab apabila seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan melanggar hak asasi orang lain. Secara garis besar Prof. membagi perkembangan HAM pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 ). maka suatu pendekatan historis mulai dari dikenalnya Hak Asasi Manusia sampai dengan perkembangan saat ini perlu diketahui oleh setiap orang untuk lebih menegaskan keberadaan hak asasi dirinya dengan hak asasi orang lain. periode setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ). sikap yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya berlangsung sudah cukup lama. 3 . Meskipun demikian bukan berarti dengan hak-haknya itu dapat berbuat semau-maunya. Mengingat begitu pentingnya proses internalisasi pemahaman Hak Asasi Manusia bagi setiap orang yang hidup bersama dengan orang lainnya. Dari kedua hak dasar inilah lahir hak-hak asasi lainnya atau tanpa kedua hak dasar ini. Pada hakikatnya “Hak Asasi Manusia” terdiri atas dua hak dasar yang paling fundamental. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. ialah hak persamaan dan hak kebebasan.BAB II PERKEMBANGAN HAM Pemahaman Ham di Indonesia sebagai tatanan nilai. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia ( 2001 ). Pengertian Hak-hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati).1. hak asasi manusia lainnya sulit akan ditegakkan.

tanpa halhal itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Gazalli (2004) Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa sejak lahir dan melekat dengan potensinya sebagai makhluk dan wakil tuhan. Hal tersebut diperoleh bersama dengan kelahirannya atau kehadirannya didalam kehidupan bermasyarakat. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia 3. Adapun sejarah HAM itu sendiri dibagi menjadi 2 kelompok yaitu : sejarah internasional HAM dan sejarah nasional HAM : 4 .Selain itu pengertian HAM menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut : 1. 2.2 Sejarah Singkat Hak Asasi Manusia Sebelum membahas perkembangan HAM terlebih dahulu kita harus mengetahui sejarah singkat Hak asasi manusia itu sendiri. dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukum. Menurut Tilaar (2001) Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia. Musthafa Kemal Pasha (2002) Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir yang melekat pada esentialnya sebagai anugerah Allah SWT. 2. 4. Undang-undang No: 39 Tahun 1999 Hak asasi manusia sebagai seperangkat hak yang melekat pada hak-hak keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati.

Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Roesseau dan Montesqueu. Pada masa itu mulai timbul adagium yang intinya adalah bahwa manusia sama di muka hukum (equality before the law). Mulailah 5 .2. Dari sinilah lahir doktrin raja tidak kebal hukum lagi dan mulai bertanggungjawab kepada hukum. Sejarah Internasional Hak Asasi Manusia Umumnya para pakar Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM dimulai dengan lahirnya Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris. walaupun kekuasaan membuat Undang-undang pada masa itu lebih banyak berada di tangan raja. kekuasaan raja mulai dibatasi sebagai embrio lahirnya monarkhi konstitusional yang berintikan kekuasaan raja sebagai simbol belaka. Untuk mewujudkan semua itu. dengan lahirnya “Bill of Rights” di Inggris pada tahun 1689. Jadi. Para pejuang HAM dahulu sudah berketatapan bahwa hak persamaan harus diwujudkan betapapun beratnya resiko yang dihadapi karena hak kebebasan baru dapat diwujudkan kalau ada hak persamaan. John Locke di Inggris dan Thomas Jefferson di Amerika dengan hak-hak dasar kebebasan dan persamaan yang dicanangkannya. walaupun di Perancis sendiri belum dirinci apa HAM itu. Magna Charta antara lain mencanangkan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. Sejak itu mulai dipraktekkan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan harus mempertanggungjawabkan kebijakasanaannya kepada parlemen.1. Adagium ini memperkuat dorongan timbulnya negara hukum dan demokrasi. tetapi di Amerika Serikat lebih dahulu mencanangkan secara lebih rinci. sudah mulai dinyatakan dalam bahwa raja terikat kepada hukum dan bertanggungjawab kepada rakyat. Motesquieu dengan Trias Politikanya yang mengajarkan pemisahan kekuasaan guna mencegah tirani. menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat dimintai pertanggungjawaban di muka umum. tetapi ia sendiri tidak terikat pada hukum).2. Jadi. Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh perkembangan yang lebih konkret. Bill of rights melahirkan asas persamaan. maka lahirlah teori Roesseau (tentang contract social/perjanjian masyarakat). Dengan demikian.

translated into world terms. means economic understandings which will secure to every nation a healthy peacetime life for its inhabitants-every where in the world. The second is freedom of every person to worship God in his own way-every where in the world. Dipertegas juga dengan freedom of expression (bebas mengelaurkan pendapat). the right of property (perlindungan terhadap hak milik) dan hak-hak dasar lainnya. Dinyatakan pula presumption of innocence.654 tersebut di bawah ini : “The first is freedom of speech and expression everywhere in the world. berhak dinyatakan tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. freedom of religion (bebas menganut keyakinan/agama yang dikehendaki). termasuk ditangkap tanpa alasan yang sah dan ditahan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. dimana hak-hak yang lebih rinci lagi melahirkan dasar The Rule of Law. p.” Semua hak-hak ini setelah Perang Dunia II (sesudah Hitler memusnahkan berjuta-juta manusia) dijadikan dasar pemikiran untuk melahirkan rumusan HAM 6 . translated into world terms. Antara lain dinyatakah tidak boleh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. dikutip dari Encyclopedia Americana.dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam oerut ibunya. ia harus dibelenggu. artinya orang-orany yang ditangkap kemudian ditahan dan dituduh. Jadi. meliputi hak-hak yang menjamin tumbuhnyademokrasi maupun negara hukum yang asas-asasnya sudah dicanangkan sebelumnya. means a worldwide reduction of armaments to such a point and in such a through fashion that no nation will be in a position to commit an act of physical agression against any neighbor-anywhere in the world. dalam French Declaration sudah tercakup semua hak. The fourth is freedom from fear-which. Selanjutnya pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration. The third is freedom from want which. Perlu juga diketahui The Four Freedoms dari Presiden Roosevelt yang dicanangkan pada tanggal 6 Januari 1941.

mengandung pengertian bahwa Deklarasi HAM seduania itu harus senantiasa menjadi kriteria objektif oleh rakyat dari masing-masing negara dalam menilai setiap kebijakan yang dikelauarkan oleh pemerintahnya. bahwa ke-30 pasal yang termaktub dalam Deklarasi HAM sedunia itu adalah standar nilai 7 . Bagi negara-negara anggota PBB. Sejarah Nasional Hak Asasi Manusia Deklarasi HAM yang dicetuskan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Desember 1948. Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makana ganda. Dengan demikian setiap pelanggaran atau penyimpangan dari Deklarasi HAM sedunia si suatu negara anggota PBB bukan semata-mata menjadi masalah intern rakyat dari negara yang bersangkutan. Sedangkan makna ke dalam. baik ke luar (antar negara-negara) maupun ke dalam (antar negara-bangsa).2. agar terhindar dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat menghancurkan nilainilai kemanusiaan. Adapun hakikat universalitas HAM yang sesungguhnya.yang bersifat universal. Makna ke luar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar negara-bangsa. melainkan juga merupakan masalah bagi rakyat dan pemerintahan negara-negara anggota PBB lainnya. Mereka absah mempersoalkan dan mengadukan pemerintah pelanggar HAM di suatu negara ke Komisi Tinggi HAM PBB atau melalui lembaga-lembaga HAM internasional lainnya unuk mengutuk bahkan menjatuhkan sanksi internasional terhadap pemerintah yang bersangkutan. 2. yang kemudian dikenal dengan The Universal Declaration of Human Rights yang diciptakan oleh PBB pada tahun 1948.2. tidak berlebihan jika dikatakan sebagai puncak peradaban umat manusia setelah dunia mengalami malapetaka akibat kekejaman dan keaiban yang dilakukan negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Deklarasi itu sifatnya mengikat. berlaku bagi semua bangsa dan pemerintahan di negara-negaranya masing-masing.

Yang perlu dijaga ialah keseimbangan antara hak dan kewajiban serta antara kepentingan perseorangan dengan 8 . Tetapi apabila para Dewam Adat sendiri berselisih. Antara lain dinyatakan dalam buku Lontarak (Tomatindo di Lagana) bahwa apabila raja berselisih faham dengan Dewan Adat. maka rakyatlah yang memustuskan. semuanya sudah diterpkan oleh Raja-Raja dahulu. Semua kandungan nilai-nilainya berlaku untuk semua. Demikian juga tidak mungkin kita mengatakan ada hak kalau tanpa kewajiban. HAM di Sulawesi Selatan telah dikenal sejak lama. Orang yang dihormati haknya berkewajiban pula menghormati hak orang lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa HAM sudah lama lahir di Indonesia. namun hal ini kurang diperhatikan karena sebagian ahli hukum Indonesia sendiri agaknya lebih suka mempelajari teori hukum Barat. maka Raja harus mengalah. namun dalam perkembangannya tidak menonjol karena kurang dipublikasikan. kemudian ditulis dalam buku-buku adat (Lontarak). Human Rights selalu terkait dengan hak individu dan hak masyarakat. Juga ada yang bertanya mengapa bukan Social Rights. dari kelas sosial dan latar belakang primordial apa pun serta bertempat tinggal di mana pun di muka bumi ini. Sebagai contoh. Dengan demikian tidak perlu dipergunakan istilah Social Rights karena kalau kita menghormati hak-hak perseorangan (anggota masyarakat). Jadi jelaslah kalau ada hak berarti ada kewajiban.kemanusiaan yang berlaku bagi siapapun. Ada yang bertanya mengapa tidak disebut hak dan kewajban asasi. Bukankan Social Rights mengutamakan masyarakat yang menjadi tujuan ? Sesungguhnya dalam Human Rights sudah implisit adanya kewajiban yang harus memperhatikan kepentingan masyarakat. Jadi asas-asas HAM yang telah disorot sekarang. Contoh : seseorang yang berhak menuntut perbaikan upah. Jadi saling hormat-menghormati terhadap masing-masing hak orang. Semua manusia adalah sama. haruslah terlebih dahulu memenuhi kewajibannya meningkatkan hasil kerjanya. Di Indonesia HAM sebenarnya telah lama ada. kiranya sudah termasuk pengertian bahwa dalam memanfaatkan haknya tersebut tidak boleh mengganggu kepentingan masyarakat.

sebagai partai yang berlandaskan paham Marxisme lebih condong pada hak – hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu – isu yang berkenan dengan alat produksi.3. Periode Sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 ) • Boedi Oetomo. pemimpin Boedi Oetomo telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi – petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dalam surat kabar goeroe desa.1. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia Pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. membagi perkembangan HAM pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 ). 9 . lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri. periode setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ). 2. Artinya. tetapi tidak memperkosa hak-hak orang lain. • Sarekat Islam. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia ( 2001 ). 2.kepentingan umum (kepentingan masyarakat). • Partai Komunis Indonesia. Secara garis besar Prof. sikap yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya berlangsung sudah cukup lama. seseorang memiliki kebebasan bertindak semaunya. Selain itu. menekankan pada usaha – usaha unutk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial. Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. • Perhimpunan Indonesia. norma.3. dalam konteks pemikiran HAM. perlu dijaga juga keseimbangan antara kebebasan dan tanggungjawab.

komitmen terhadap HAM pada periode awal sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945. hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ) a) Periode 1945 – 1950 Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum dasar Negara ( konstitusi ) yaitu. hak persamaan di muka hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan Negara. • Partai Nasional Indonesia. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. • Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia. Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. UUD 45. hak untuk menentukan nasib sendiri.2. menekankan pada hak politik yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat.• Indische Partij. hak berserikat.3. hak untuk berkumpul. hak berserikat dan berkumpul. mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan. Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan 10 . pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. 2. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum.

telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak politik. Pemikiran HAM pada periode ini menapatkan momentum yang sangat membanggakan. b) Periode 1950 – 1959 Periode 1950 – 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan sebutan periode Demokrasi Parlementer. Pertama. c) Periode 1959 – 1966 Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi Parlementer. Seperti dikemukakan oleh Prof. Indikatornya menurut ahli hukum tata Negara ini ada lima aspek. Akibat dari sistem demokrasi terpimpin Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran supratruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik. pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. semakin banyak tumbuh partai – partai politik dengan beragam ideologinya masing – masing.partai politik. Dalam kaitan dengan HAM. Ketiga. 11 . Keempat. Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Kedua. Kelima. Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi betul – betul menikmati kebebasannya. Pada sistem ini ( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada dan berada ditangan presiden. wacana dan pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami “ pasang” dan menikmati “ bulan madu “ kebebasan. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan kontrol yang semakin efektif terhadap eksekutif. fair ( adil ) dan demokratis.

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprti kasus Tanjung Priok. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM mengalami kemunduran. Sementara itu. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhaap penegakan HAM. dilindungi dan ditegakkan.d) Periode 1966 – 1998 Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Begitu pula dalam rangka pelaksanan TAP MPRS No. Selanjutnya pada pada tahun 1968 diadakan seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil ( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. XIV/MPRS 1966 MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam piagam tentang Hak – hak Asasi Manusia dan Hak – hak serta Kewajiban Warganegara. karena HAM tidak lagi dihormati. ada semangat untuk menegakkan HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai –nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang terlebih dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal HAM. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan Pengadilan HAM. Selain itu sikap defensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara – Negara Barat untuk memojokkan Negara yang sedang berkembang seperti Inonesia. kasus 12 . Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran.

e) Periode 1998 – sekarang Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen Internasional dalam bidang HAM. dan saran kepada pemerintah perihal pelaksanaan HAM. peraturan pemerintah dan ketentuan perundang – undangam lainnya. ketetapan MPR ( TAP MPR ). Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. Undang – undang (UU). Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES No. pertimbangan. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi pemerintah dari represif dan defensif menjadi ke strategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. 13 . pada tahap penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang – undangan tentang HAM seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang – undang Dasar 1945 ).Keung Ombo. Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang beralwanan dengan pemjuan dan perlindungan HAM. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993. kasus DOM di Aceh. dan sebagainya. serta memberi pendapat. kasus di Irian Jaya.

pendidikan. Sebaiknya penegakan HAM di Indonesia sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak pandang bulu. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM. HAM tidak bisa di langgar. 3. Tidak seorang pun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar Hak orang lain. 14 . 3. ras. agama.BAB III PENUTUP Dalam bab ini penulis akan membahas kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan isi penulisan makalah ini : 3.1 Kesimpulan 1. Saran 1. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin.2. HAM adalah bagian dari manusia secara tematis. dibeli ataupun diwarisi. HAM tidak perlu diberikan. 4. 2. politik atau asal usul sosial budaya. Perkembangan HAM yang merupakan hak dasar manusia mengalami perubahan menurut keadaan suatu zaman.

Sebaiknya para sejarahwan mulai meninjau perkembangan HAM di Indonesia pada saat dipimpin raja-raja.2. jangan hanya condong ke sejarah lahirnya HAM di Eropa maupun Amerika. 15 .

. 4.com/wp-content/uploads/.com sekitarkita.html http://ivantoebi..wikipedia.web.com/2009/03/29/perkembangan-ham-diindonesia/ www. 5.id/2010/06/sejarah-hak-asasimanusia-di-indonesia.files. http://www. 3.membuatblog.com/.wordpress./herlambang-sejarahdan-perkembangan-ham..pdf herlambangperdana. 2.pdf 16 .wordpress..DAFTAR PUSTAKA 1./ham_historis_sosiologis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful