P. 1
Makalah an Nilai Moral Dan Sikap

Makalah an Nilai Moral Dan Sikap

|Views: 736|Likes:

More info:

Published by: Kurnia Indah Cahyani on Jan 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

MAKALAH

PERKEMBANGAN NILAI, MORAL DAN SIKAP

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik

1

Sebaliknya. Para pahlawan menjalani kehidupannya untuk memperjuangkan sebuah kemerdekaan sejati. Dan masih banyak lagi definisi-definisi subyektif tentang kehidupan ini. Pembahasan ini meliputi definisi. Maka dari itu. manusia akan menjadi baik manakala ia menginternalisasi nilai-nilai kehidupan yang baik. Sehingga sampai ada pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang paling baik”. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan upaya pengembangan nilai. Hidup itu adalah pilihanm demikian kata yang lain. karakteristik. Pemahaman dan penghayatan yang dilakukan akan membawanya kepada kearifan hidup yang berujung pada munculnya sikap hidup yang sesuai dengan nilai kehidupan. bahwa hidup adalah memperjuangkan apa yang menjadi nilai-nilai kehidupan itu sendiri. dalam makalah ini akan kami bahas mengenai perkembangan nilai. moral dan sikap manusia. namun pada dasarnya ia hanya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu nilai kebaikan dan nilai keburukan. Implikasinya. Namun yang terpenting. 2 . maka saat itulah hati sanubarinya akan bersuara memberikan pilihan atas nilai-nilai tersebut. Ketika manusia telah mengetahui nilai-nilai kehidupannya. Para ilmuwan menjalani kehidupannya nilai untuk memperjuangkan sebuah nilai kebenaran pengetahuan dan pembelajaran. demikianlah kata Sutrisno Bachir. dan upaya pengembangannya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh pemaknaan dari kehidupan yang kesemuanya itu sebenarnya menjelaskan hakikat kehidupan itu sendiri. Nilai-nilai kehidupan itu beraneka ragam. Dengan demikian. manusia pasti akan mencari tahu nilai-nilai kehidupan itu. baik melewati proses internalisasi dan pembelajaran dari pengalaman yang ia alami. Setiap individu diciptakan Tuhan bebas untuk menentukan jalan hidupnya berdasarkan pada nilai-nilai kehidupan yang ada.Bab I Pendahuluan “Hidup adalah perbuatan”. manusia akan menjadi buruk ketika ia menginternalisasi nilai-nilai kehidupan yang buruk. moral dan sikap.

misalnya nilai kesopanan dan kesederhanaan. Berbicara soal moral berarti berbicara soal perbuatan manusia dan juga pemikiran dan pendirian mereka mengenai apa yang baik dan apa yang tidak baik. mengenai apa yang patut dan tidak patut untuk dilakukan sehingga dapat dikatakan moral merupakan standar perilaku yang disepakati yang dapat dipakai untuk mengukur perilaku diri sendiri sekaligus perilaku orang lain. suatu keharusan yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai-nilai hidup.Bab II Pembahasan Masa remaja merupakan suatu proses pertumbuhan dan kelanjutan pengetahuan menuju bentuk sikap dan tingkah laku yang mengarah pada kedewasaan. Misalnya. Bisa juga diartikan sebagai harga (value) dari sesuatu. Sedikit demi sedikit kondisi kejiwaan mereka berkembang. nilai bersifat normatif. yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Nilai bersifat abstrak. 2007:71). baru kemudian akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut. Jadi. dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indra. nilai-nilai perlu dikenal terlebih dahulu. Mereka mulai bisa mengendalikan emosi sehingga moral dan sikap mereka menunjukkan nilai dalam kehidupan. maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimaksud. kemudian dihayati dan didorong oleh moral. Kondisi psikologis remaja mengalami ketidakstabilan. mereka perlu dibimbing untuk mengenal nilai-nilai dalam kehidupan 3 . Meskipun abstrak. Nilai dapat diartikan sebagai ukuran baik atau buruknya sesuatu. Dengan kata lain. nilai merupakan suatu realitas. sesuatu yang ada dan dibutuhkan manusia. seseorang yang selalu bersikap sopan santun akan selalu berusaha menjaga tutur kata dan sikap sehingga dapat membedakan tindakan yang baik dan yang buruk. Perilaku bermoral tersebut didasarkan atas nilai-nilai yang ada.(Bambang Santosa. Dalam keadaan seperti itu. lebih memaknai apa yang mereka alami serta lebih peka pada kondisi emosional di sekitar mereka.

Berkembangnya kejiwaan dan intelektual membuat keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Pada stadium 2. Menurut Furter(1965). mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki tempat yang sangat penting. Dengan sendirinya. III. tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian dapat dipandang dari berbagai sisi yaitu sisi manfaat dan kerugiannya. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan.anak menganggap baik dan buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya berupa kepatuhan dan hukuman atas kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat.yang tidak terbatas pada adat kebiasaan dan sopan santun saja. tetapi juga nilainilai keagamaan. II. Tingkat II : Konvensional 4 . keadilan. mereka akan belajar tentang moral dari orang-orang dan keadaan di sekelilingnya. Pra-konvensional Konvensional Post-konvensional Tingkatan tersebut diawali dari stadium nol dimana anak menganggap baik apa yang sesuai dengan permintaan dan keinginannya. yaitu: I. jika anak tidak mau belajar maka dia tidak akan diijinkan untuk bermain dengan temannya. Ada 3 tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg. estetik dan nilai-nilai intelektual dalam bentuk-bentuk sesuai dengan perkembangan remaja. Penilaian moral menjadi semakin kognitif sehingga mereka terdorong untuk berani mengambil keputusan dari bebagai masalah yang dihadapinya dengan lebih mengesampingkan sifat egisentris yang juga melibatkan emosi (Sunarto. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan. Tingkat I : Pra-konvensional Pada stadium 1. kehidupan moral merupakan problematik yang pokok dalam masa remaja. Misalnya. untuk dapat memahami. 1999:171). anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya atau ditentukan oleh orang lain.

remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri. Pada stadium 4. Remaja terdorong untuk mengidentifikasi peristiwa yang dialaminya sehingga dapat membedakan sikap mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dilakukandan akhirnya akan menentukan bagaimana moral yang dimilikinya. dia dapat menimbang apakah membolos itu merupakan perbuatan 5 .Pada stadium 3. Saat pergaulan anak tersebut makin luas pada usia remaja. pembentukan moralnya dipengaruhi oleh lingkungannya. dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Perkembangan nilai. Dimulai dari lingkungan keluarga. Janin memiliki hubungan batin yang erat dengan orang tuanya terutama ibu sehingga merespon persaan yang dirsakan orang tuanya. menjadikan penilaian moral sebagai nilainilaipribadi yang tercermin pada tingkah lakunya. Jadi moral anak yang akan lahir dapat dipengaruhi oleh perilaku orang tuanya selama anak tersebut berada dalam kandungan. anak merasakan bahwa perbuatan baik yang diperlihatkan bukan hanya agar dapat diterima lingkungan. contohnya seorang remaja yang mulai belajar menghormati orang yang lebih tua dengan bersikap ramah dan santun. moral dan sikap dipengaruhi oleh berbagai faktor yang semuanya dimulai sejak manusia berada dalam kandungan. remaja menyadari adanya hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial melalui kata hati yang dirasakannya. jika dia menjalankan kewajibannya sebagai anggota masyarakat maka lingkungan aka memberikan perlindungan dan rasa nyaman padanya. Ketika anak berada dalam masa perkembangan. dia akan mengenal lebih banyak nilai-nilai kehidupan melalui kejadian-kejadian di sekitarnya. Tingkat III : Post-konvensional Pada stadium 5. Contohnya. Maksudnya. anak mulai memasuki umur belasan tahun. Pada stadium 6 (Prinsip Universal). tetapi juga bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan atau norma sosial. dimana orang tua mengenalkan nilai-nilai sederhana seperti kesopanan terhadap ayah dan ibu.

Pada tahap ini. Dalam kenyataan di sekitar kita. seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerima aturan dan harapan masyarakat. Menurut Kohlberg faktor kebudayaan juga mempengaruhi perkembangan moral. Terdapat perbedaan. Pengertian moral dan nilai pada anak-anak umur sepuluh atau sebelas tahun berbeda dengan anak-anak yang lebih tua (dewasa). Pengertian mengenal aspek moral pada anak-anak yang lebih besar itu lebih lentur dan nisbi. moral dan sikap remaja yang seiring dengan pematangan kepribadian remaja tersebut.bagi masyarakat Timur hal tersebut sangat tidak lazim bahkan dianggap tidak bermoral atau memalukan. Akan tetapi. Pada anak-anak terdapat anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak untuk dipatuhi karena diberikan oleh orang dewasa atau Tuhan yang tidak bisa diubah lagi. tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvesional.baik atau tidak. Hal ini mencerminkan bahwa perkembangan moral masyarakat Timur bisa disebut lebih sopan moralnya dalam hal berbusana daripada masyarakat Barat. Dapat dikatakan bahwa lingkungan adalah faktor yang paling penting bagi perkembangan nilai.perbedaan individual dalam pemahaman nilai-nilai 6 . Pada tingkatan awal mereka hanya menghindari hukuman. Untuk sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang berkembang. Sebagai contoh. Perbedaan seseorang juga dapat dilihat pada latar belakang kebudayaan tertentu. bagi masyarakat di Negara Negara barat menggunakan pakaian-pakaian minim (seksi) di khalayak umum adalah hal yang biasa bahkan menjadi budaya dan kebiasaan. dapat diamati bahwa moral masyarakat Negara-negara Barat berbeda dengan moral yang dimiliki oleh Negara Negara Timur. Hal ini dikarenakan latar kebudayaan yang sangat berbeda. Ia bisa menawar atau minta mengubah sesuatu aturan kalau disetujui oleh semua orang. Sedangkan tingkatan berikutnya sudah ada pengertian bahwa untuk memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang lain.

Jadi mungkin terjadi 7 .dan moral sebagai pendukung sikap dan perilakunya.

Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu. Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai-nilai dan moral. Perwujudan nilai. moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan suatu pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri.moral dan sikap remaja adalah berikut: a. moral. mengundang. tetapi juga merangsang anak tersebut supaya lebih aktif dalam beberapa pembicaraan dan pengambilan keputusan. Di lingkungan keluarga. b. Pedoman ini untuk menumbuhkan identitas diri. moral. dan serta tingkah laku. Nilai nilai keagamaan perlu mendapat perhatian. atau member kesempatan akan lebih efektif daripada lingkungan yang ditandai dengan adanya larangan. teman sepergaulan. perkembangan moraldan tingkah laku seperti yang diharapkan. Tidak hanya memberikan evaluasi. 8 . Sedangkan disekolah misalnya anak diberi kesempatan untuk kerja atau diskusi kelompok. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai.kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflikkonflik yang selalu terjadi di masa ini. Sehingga anak berperan secara aktif dalam tanggung jawab dan pengambilan keputusan.larangan yang bersifat serba membatasi. serta organisasi atau kelompok. Menciptakan iklim lingkungan yang serasi. Tidak semua individu mencapai pengembangan nilai-nilai hidup.jujur dan konsekuen dalam tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hidup tersebut. dan sikap tidak terjadi dengan sendirinya. Menciptakan komunikasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu lingkungan yang lebih bersifat mengajak. karena agama juga mengatur tingkah laku baik buruk.individu atau remaja yang tidak mencapai perkembangan nilai. dan moral dan kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan secara positif. Untuk remaja.

moral. Pembelajaran tersebut harus dilakukan secara kontinyu yang diawali dari lingkugan keluarga. 2. bahkan akan membekas sampai ia dewasa.Bab III Penutup Kesimpulan 1. Pada saat itu otak anak berkembang optimal yakni usia 0 .3 tahun. Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. yakni keluarga. sekolah. Pendampingan Pendampingan yang dimaksud disini adalah berasal dari lingkungan sekitar.masing individu Rekomendasi Pembelajaran nilai. Biasanya seseorang bersikap sesuai dengan nilai dan moral yang diyakininya. sehingga kebenaran dan kesalahan tidak bisa dinilai secara mutlak oleh masing . dan sikap yang efektif di mulai dari lingkungan yang paling kecil. yang 9 . Moral adalah adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya 3. Nilai adalah suatu ukuran atau parameter terhadap suatu obyek tertentu. anak akan mampu merekam semua kejadian di sekitarnya secara optimal. Langkah kontinyu tersebut antara lain : Pendekatan kepada anak Untuk mencapai ketersampaian pesan kepada anak didik tentunya seorang pendidik atau orang tua harus memiliki atau pun memilih keterampilan untuk menggunakan pendekatan yang sesuai dengan pola pikir dan perkembangan psikologi anak. 4. dan masyarakat.

sehingga pembelajaran nilai dan moral tersebut akan lebih efektif. akan lebih dekat dan lebih memahami karakter dan kepribadian orang yang diampunya. biasanya lebih mendengarkan orang yang lebih tua namun bukan orang tua. Selain itu biasanya seorang pamong.usianya tidak jauh berbeda. 1 0 . karena seseorang yang menginjak usia remaja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->