KEWARGANEGARAAN

MAKALAH MENGENAL DAN MEMAHAMI OTONOMI DAERAH

Oleh :

ALITA PRATIWI YUSRA 1010534008

JURUSAN AKUNTANSI INTERNASIONAL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

.............. Kendala atau ketimpangan-ketimpangan yang sering terjadi dalam penerapan kebijakan otonomi daerah........... Analisis langkah-langkah yang harus diambil pemerintah dalam mengontrol otonomi daerah....2 BAB II......................3 C.... .......................................2 E........ PEMBAHASAN A.........................2010 DAFTAR ISI Halaman Cover Daftar Isi……………………………………………………………………………......... Arti otonomi daerah.................3 B....................2 D.........4 E....... Metode Pengumpulan Data……………………………………………………........ Tujuan Penulisa…………………………………………………………………....................................ii BAB I.... Latar Belakang…………………………………………………………………............... Kesimpulan........6 DAFTAR PUSTAKA...................... Manfaat Penulisan………………………………………………………………..................................................7 .... PENDAHULUAN A........................................ Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam pemberian otonomi daerah........... Rumusan Masalah………………………………………………………………..........i Kata Pengantar…………………………………………………………….......4 D.........2 C................................................................................. PENUTUP A....1 B...………...... Upaya pejabat daerah untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi......5 BAB III.................................................

21 Desember 2010 . Adapun wawasan tujuan diberikannya Otonomi tugas Daerah makalah dan ini yaitu untuk menambah dengannya. tentang yang berhubungan Walaupun dalam penyusunan dan penulisan makalah ini penulis menemukan beberapa kesulitan.i KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul "Mengenal dan Memahami Otonomi Daerah" dapat diselesaikan tepat waktunya. sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Harapan penulis semoga penulisan makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam proses pengembangan dan pengamalan otonomi daerah. Khususnya dari dosen mata kuliah kewarganegaraan sebagai pedoman untuk penulis pada penulisan – penulisan selanjutnya. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah kewarganegaraan yang telah membimbing penulis dalam penulisan makalah ini. namun akhirnya penyusunan dan penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Limau Manis. Makalah ini merupakan tugas individu dalam mata kuliah Kewarganegaraan.

32 Tahun 1956 tentang Perimbangan Keuangan antara Negaradengan Daerah-daerah yang Berhak Mengurus Rumah Tangganya Sendiri (LN Tahun1956 No. dinyatakan tidakberlaku lagi. Dalam keseluruhan perangkat perundang-undanganyang mengatur kebijkan otonomi daerah itu.3037).3153).kebijakan nasional otonomi daerah ini telah dikukuhkan pula dalam materiperubahan Pasal 18 UUD 1945. 56 dan TLN Tahun 1979No.22 Tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah yang dilengkapi oleh UU No. Dari hal tersebut tersebut penulis mencoba membahas tentang otonomi daerah agar dapat memahami dan memaknai segala sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut.Dalam penulisan makalah ini penulis merumuskan beberapa masalah yang akan di bahas pada bab selanjutnya yang telah disusun secara sitematis. Undang-Undang yang dinyatakan tidak berlaku lagi itu adalah UUNo. dapat ditemukan beberapa prinsipdasar yang dapat dijadikan paradigma pemikiran dalam menelaah mengenai berbagaikemungkinan yang akan terjadi di daerah.77 dan TLN Tahun 1956 No. UU No.25 Tahun 1999 tentangPerimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. terutama dalam hubungannya dengankegiatan investasi dan upaya mendorong tumbuhnya roda kegiatan ekonomi dalammasyarakat di daerah-daerah. Bahkan.dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2000 telah pula ditetapkanKetetapan MPR No. Otonomi daerah yang berasas system desentralisasi ini telah menjadikan bahwa kekuasaan daerah Kebijakan nasional mengenai otonomi daerah danpemerintahan daerah ini. telah dituangkan dalam bentuk UU No. maka UU yang mengatur materi yang sama yang ada sebelumknya dandianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan.IV/MPR/2000 tentang Kebijakan dalam Penyelenggaran OtonomiDaerah yang antara lain merekomendasikan bahwa prinsip otonomi daerah itu harusdilaksanakan dengan menekankan pentingnya kemandirian dan keprakarsaan daridaerah-daerah-daerah otonom untuk menyelenggarakan otonomi daerah tanpa harusterlebih dulu menunggu petunjuk dan pengaturan dari pemerintahan pusat. Untuk memperkuat kebijakan otonomi daerah itu. .ii Penulis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otonomi Daerah adalah suatu bentuk sistem pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.5Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (LN Tahun 1979 No.1442). dan UU No. Dengan ditetapkannyakedua UU ini. 5 Tahun 1974 tentang PokokPokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran NegaraTahun 1974 No. 38 dan Tambahan Lembaran Negara Tahun 1974 No.

Sehubungan dengan masalah tersebut dalam penyusunan makalah ini. Menambah pengetahuan dan pemahaman tentang otonomi daerah. E. 5. 2. Mengembangkan pola pikir dalam memahami otonomi daerah sehingga dapat berparitsipasi dalam upaya-upaya untuk membangun masyarakat madani. Upaya pejabat daerah untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi. Memahami pengertian otonomi daerah 2. Tujuan Penulisan 1. . D. Mengetahui prinsip . 5. Kendala atau ketimpangan-ketimpangan yang sering terjadi dalam penerapan kebijakan otonomi daerah. Mengetahui upaya pejabat daerah untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi. 4. Rumusan Masalah 1. Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam pemberian otonomi daerah. 3. Analisis langkah-langkah yang harus diambil pemerintah dalam mengontrol otonomi daerah. Memgetahu kendala dan ketimpangan yang sering terjadi dalam kebijakan otonomi daerah 4. perlu sekali pengumpulan data serta sejumlah informasi aktual yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas. C. yang pertama browsing di Internet dan dengan pengetahuan yang penulis miliki. Arti otonomi daerah. penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data. Mengetahui analisis langkah-langkah yang harus diambil pemerintah dalam mengontrol otonomi daerah. 2.1 B. Manfaat Penulisan 1. Metode Pengumpulan Data Dalam penyusunan makalah ini.prinsip yang harus dipegang dalam otonimi daerah 3.

Prinsip – prinsip Dasar Dalam Penyelenggaraan Otonomi daerah 1. B.kecuali untuk persoalan-persoalan yang memang tidak mungkin diselesaikan oleh daerah itu sendiri dalam perspektif keutuhan negarabangsa. Namun. arus dinamika kekuasaanakan bergerak sebaliknya. merumuskan. Dalam proses desentralisasi itu. 2. . esensi kebijakan otonomi daerah itu sebenarnyaberkaitan pula dengan gelombang demokratisasi yang berkembang luas dalamkehidupan nasional bangsa kita dewasa ini. berlaku proposisi bahwa pada dasarnya segala persoalan sepatutnya diserahkan kepada daerah untuk mengidentifikasikan. kebijakan otonomi daerahdilakukan dengan mendesentralisasikan kewenangan-kewenangan yang selama initersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Otonomi. Desentralisasi Kewenangan dan IntegrasiNasional Pada prinsipnya. maka diidealkanbahwa sejak diterapkannya kebijakan otonomi daerah itu. yangmenjadi perhatian hanyalah soal pengalihan kewenangan pemerintahan dari tingkatpusat ke tingkat daerah. yaitu dari pusat ke daerah. Oleh karena itu.kekuasaan pemerintah pusat dialihkan dari tingkat pusat ke pemerintahan daerahsebagaimana mestinya. Otonomi. sehingga terwujud pergeseran kekuasaan dari pusat kedaerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Dekonsentrasi Kekuasaan dan Demokratisasi Otonomi daerah kadang-kadang hanya dipahamisebagai kebijakan yang bersifat institutional belaka yang hanya dikaitkan dengan fungsi-fungsi kekuasaan organ pemerintahan.2 BAB II PEMBAHASAN A. dan memecahkannya. Pengertian Otonomi Daerah Otonomi daerah adalah suatu keadaan yang memungkinkan daerah dapat mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang dimilikinya secara optimal. Jika dalam kondisi semula aruskekuasaan pemerintahan bergerak dari daerah ke tingkat pusat.Dimana untuk mewujudkan keadaan tersebut.

Secaraakademis. Pemda bisa menjadi “drakula” bagi anak-anak mereka sendiri yaitu BUMD-5. 7. bukan pendapatan 4. 5. terkandung semangat perubahan yang sangat mendasar berkenaan dengankonsep pemerintahan Republik Indonesia yangbersifat federalistis.Dalam UU No. peradilan. Karena terfokus pada penerimaan dana Pemda bisa melupakan kriteria pembuktian berkelanjutan. . danurusan agama. Orientasi Pemda pada Cash Inflow.Otonomi daerah dapat berubah sifat menjadi “Anarkisme Financial” 2. Meskipun ditegaskan bahwa organisasi pemerintahanRepublik Indonesia berbentuk Negara Kesatuan(unitary). Dalam ketentuan Pasal 7UU tersebut. yang dapat dianggap sebagai wilayah dayajangkau kekuasaan negara (state) hanya sampai di tingkat kecamatan. C.3. padapokoknya. 4. 8. 6. organ yang berada di bawah struktur organisasi kecamatan dapatdianggap sebagai organ masyarakat. sedangkan dalam sistem negara kesatuan (unitary). konsep kekuasaan asli atau kekuasaan sisa (residual power)berada di daerah atau bagian. Oleh karena itu.22 Tahun 1999 tersebut. High Cost Economic dalam bentuk KKN 3. Munculnya hambatan bagi mobilitas sumber daya. Bangkitnya egosentrisme 10 . BUMD yang berada dibawah naungannya. tetapi konsep dasar sistem pembagian kekuasaan antara pusat dan daerahdiatur menurut prinsip3 prinsip federalisme. Pada umumnya dipahami bahwa dalamsistem federal. moneter dan fiskal. 22 Tahun 1999 tentang PemerintahanDaerah. melainkan melalui kebijakan penguasa daerah yang sulit ditolak oleh jajaran pimpinan BUMD. Otonomi dan Daya Jangkau Kekuasaan Dalam kebijakan otonomi daerah itu tercakuppula konsepsi pembatasan terhadap pengertian kita tentang ‘negara’ yang secaratradisional dianggap berwenang untuk mengatur kepentingan-kepentingan umum. Otonomi dan ‘Federal Arrangement’ Dalam UU No. High Cost Economic dalam bentuk pungutan-pungutan yang membabi buta. susunan organisasi desa dapat diatur sendiri berdasarkan norma-normahukum adat yang hidup dan berkembang dalam kesadaran hukum dan kesadaranpolitik masyarakat desa itu sendiri.Karena derajat keberhasilan otonomi lebih dilandaskan pada aspek-aspek finansial pemerintah daerah bisa melupakan misi dan visi otonomi sebenarnya. Modusnya bisa jadi bukan melalui penjualan aset. Kendala atau ketimpangan-ketimpangan yang sering terjadi dalam penerapan kebijakan otonomi daerah 1. sedangkan kewenangan berkenaan dengan urusan sisanya (lainnya)justru ditentukan berada di kabupaten/kota. Potensi konflik antar daerah menyangkut pembagian hasil pungutan 9. dan masyarakat desa dapat disebut sebagai‘self governing communities’ yang otonom sifatnya.kekuasaan asli atau kekuasaan sisa itu berada di pusat. Munculnya bentuk hubungan kolutif antara eksekutif dan legislatif di daerah. pertahanan keamanan. 11. yang ditentukan hanyalah kewenangan pusat yang mencakup urusanhubungan luar negeri.

25 . Merumuskan kerangka hukum yang memenuhi aspirasi untuk otonomi di tingkat propinsi dan sejalan dengan strategi desentralisasi secara bertahap.pemerintah pusat perlu menjalankan segera langkah desentralisasi. 3. 2. Pejabat daerah harus bisa bertanggung jawab dan jujur 4. Upaya pejabat daerah untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi.Untuk itu perlu dipersiapkan revisi UU No. Proses otonomi tidak dapat dilihat sebagai semata-mata tugas dan tanggung jawab dari menteri negara otonomi atau menteri dalam negeri. media massa dan lainnya.Kesra & Taskin. Mengetahui analisis langkah-langkah yang harus diambil pemerintah dalam mengontrol otonomi daerah. Pejabat harus melakukan pemberdayaan politik warga masyarakat dilakukan melalui pendidikan politik dan keberadaan organisasi swadaya masyarakat. Menyusun sebuah rencana implementasi desentralisasi dengan memperhatikan faktor-faktor yang menyangkut penjaminan kesinambungan pelayanan pada masyarakat. Dan yang menjadi prioritas adalah pejabat daerah harus bisa memahami prinsipprinsip otonomi daerah. Adanya kerjasama antara pejabat dan masyarakat 5. 1. 4 1. E.22 dan No.dan menjamin kebijakan fiskal yang berkelanjutan. .akan tetapi menuntut koordinasi dan kerjasama dari seluruh bidang dalam kabinet (Ekuin. dan Polkam). 3.perlakuan perimbangan antara daerah-daerah.D.akan tetapi terbatas pada sektorsektor yang jelas merupakan kewenangan Kabupaten dan Kota dan dapat segera diserahkan. Pejabat harus dapat melakukan kebijakan tertentu sehingga SDM yang berada di pusat dapat terdistribusi ke daerah 2. Untuk mempertahankan momentum desentralisasi. 4.termasuk usaha sosialisasi besar-besaran pada masyarakat dan parlemen di tingkat pusat maupun daerah.

.kebijakan nasional otonomi daerah ini telah dikukuhkan pula dalam materiperubahan Pasal 18 UUD 1945.dan memecahkannya.5 BAB III PENUTUP A. merumuskan. kecuali untuk persoalan-persoalan yang memang tidak mungkin diselesaikan oleh daerah itu sendiri dalam perspektif keutuhan negarabangsa.Dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2000 telah pula ditetapkanKetetapan MPR No.IV/MPR/2000 tentang Kebijakan dalam Penyelenggaran OtonomiDaerah yang antara lain merekomendasikan bahwa prinsip otonomi daerah itu harusdilaksanakan dengan menekankan pentingnya kemandirian dan keprakarsaan daridaerah-daerahdaerah otonom untuk menyelenggarakan otonomi daerah tanpa harusterlebih dulu menunggu petunjuk dan pengaturan dari pemerintahan pusat.Dimana untuk mewujudkan keadaan tersebut. Bahkan. Kesimpulan Otonomi daerah adalah suatu keadaan yang memungkinkan daerah dapat mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang dimilikinya secara optimal.berlaku proposisi bahwa pada dasarnya segala persoalan sepatutnya diserahkan kepada daerah untuk mengidentifikasikan.

legalitas.com 7 . http://www.org/incl-php/buka.google.6 DAFTAR PUSTAKA http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful