. Pengertian Pancasila Kata Pancasila berasal dari kata Sansakerta (Agama Buddha) yaitu untuk mencapai Nirwana diperlukan

5 Dasar/Ajaran, yaitu 1. 2. 3. 4. 5. Jangan mencabut nyawa makhluk hidup/Dilarang membunuh. Jangan mengambil barang orang lain/Dilarang mencuri Jangan berhubungan kelamin/Dilarang berjinah Jangan berkata palsu/Dilarang berbohong/berdusta. Jangan mjnum yang menghilangkan pikiran/Dilarang minuman keras.

Diadaptasi oleh orang jawa menjadi 5 M = Madat/Mabok, Maling/Nyuri, Madon/Awewe, Maen/Judi, Mateni/Bunuh. 3 Pengertian Filsafat Pancasila Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Kenyataannya definisi filsafat dalam filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh beberapa filsuf Indonesia. Pancasila dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat Pancasila senantiasa diperbarui sesuai dengan “permintaan” rezim yang berkuasa, sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu. v Filsafat Pancasila Asli Pancasila merupakan konsep adaptif filsafat Barat. Hal ini merujuk pidato Sukarno di BPUPKI dan banyak pendiri bangsa merupakan alumni Universitas di Eropa, di mana filsafat barat merupakan salah satu materi kuliah mereka. Pancasila terinspirasi konsep humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi, sosialisme Jerman, demokrasi parlementer, dan nasionalisme. v Filsafat Pancasila versi Soekarno Filsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh Sukarno sejak 1955 sampai berakhirnya kekuasaannya (1965). Pada saat itu Sukarno selalu menyatakan bahwa Pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen), dan Arab (Islam). Menurut Sukarno “Ketuhanan” adalah asli berasal dari Indonesia, “Keadilan Soasial” terinspirasi dari konsep Ratu Adil. Sukarno tidak pernah menyinggung atau mempropagandakan “Persatuan”. v Filsafat Pancasila versi Soeharto Oleh Suharto filsafat Pancasila mengalami Indonesiasi. Melalui filsuf-filsuf yang

disponsori Depdikbud.Moh Yamin pada Seminar Pancasila di Yogyakarta tahun 1959 yang berjudul “Tinjauan Pancasila Terhadap Revolusi Fungsional”. Semua sila dalam Pancasila adalah asli Indonesia dan Pancasila dijabarkan menjadi lebih rinci (butir-butir Pancasila). tidak sekedar untukmemenuhi hasrat ingin tahu dari manusia yang tidak habis-habisnya. agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Paulus Wahana. dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan. sebaiknya kita kutip ceramah Mr. maka filsafat Pancasila tergolong filsafat yang religius. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila di dalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya. Bambang Daroeso. 2. tidak hanya bertujuan mencari kebenaran dan kebijaksanaan. Selanjutnya filsafat Pancasila mengukur adanya kebenran yang bermacammacam dan bertingkat-tingkat sebgai berikut: 1. R. semua elemen Barat disingkirkan dan diganti interpretasinya dalam budaya Indonesia. baik di dunia maupun di akhirat. Kebenaran filosofis (filsafat). filsafat hidup. Kebenaran indra (pengetahuan biasa). Dan kalau dibedakan filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis. Kebenaran religius (religi). paling bijaksana. nilai-nilai) yang paling benar. Azhary. paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. filsafast Pancasila digolongkandalam arti praktis. dan Moerdiono. Kaelan. Moertono. Kebenaran ilmiah (ilmu-ilmu pengetahuan). 4. termasuk kemampuan berpikirnya. 3. Burhanuddin Salam. Parmono. Filsuf Indonesia yang bekerja dan mempromosikan bahwa filsafat Pancasila adalah truly Indonesia antara lain Sunoto. yang isinya anatara lain sebagai berikut: . Suhadi. Kalau dibedakan anatara filsafat yang religius dan non religius. way of the life. Berdasarkan penjelasan diatas maka pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap. Weltanschaung dan sebgainya). sehingga menghasilkan “Pancasila truly Indonesia”. Soerjanto Poespowardojo. Bawengan. paling adil. normanorma. tetapi juga dan terutama hasil pemikiran yang berwujud filsafat Pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari (pandangan hidup. Gerson W. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila dalam hal kebijaksanaan dan kebenaran mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (kebenaran religius) dan sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia. Wasito Poespoprodjo. Untuk lebih meyakinkan bahwa Pancasila itu adalah ajaran filsafat.

tidak memiliki akses informasi yang langsung yang lengkap. Dalam mengulas mengenai Ketuhanan. Agama Buddha menekankan Pragmatis. yang menolak untuk mencabutnya sebelum dia tahu siapa yang memanahnya. antara lain : Penyebutan kata “Ketuhanan” tersebut tidak populer dan tidak dipakai sama sekali dalam pembabaran agama Buddha. Belum adanya pemahaman yang memadai dan jarang dibicarakan . Menurut Hegel hakikat filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran. berbelit-belit. Kekacauan konseptual dalam lingkungan multi religius. orang yang tertembak anak panah beracun. yaitu : Apa dalam Agama Buddha mengenal Ketuhanan ?” Pertanyaan tersebut timbul. Saya tidak mau menyulap. Pada saat semua pertanyaannya . Di mana umat non Buddhis dengan mudah menyebut dan memonopoli kata ”Ketuhanan” di segala tempat dan segala waktu tanpa memperdulikan implikasinya dan . Marilah kita peringatkan secara ringkas bahwa ajaran Pancasila itu dapat kita tinjau menurut ahli filsafat ulung. bertele-tele dan kurang penting. leluasa dan otoritatif terhadap ajaran dokrinal agamanya dan secara tergesa-gesa ikut-ikutan meminjam konsep agama lain. Oleh sebab itu penjajahan harus dihapusakan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan ini adalah tepat. seolah-olah tidak memikili ajaran tersebut . Hal ini dapat kita lihat pada kisah. tidaklah mengherankan.Tinjauan Pancasila adalah tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat. Suatu pertanyaan yang sering timbul. Dari pertentangan pikiran lahirlah paduan pendapat yang harmonis. serta juga bersangkut paut dengan filsafat kerohanian seperti diajarkan oleh Immanuel Kant (1724-1804). KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA Dalam memahami mengulas mengenai konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha. yaitu : Mengutamakan tindakan-tindakan cepat dan tepat yang lebih diperlukan di dalam menyelamatkan hidup seseorang yang tengah gawat dan bukan hal-hal lainnya yang kurang praktis. dari mana anak panah itu ditembakkan. Buddha tidak pernah menghabiskan waktu untuk perkara-perkara spekulatif tentang alam semesta karena hal ini kecil nilainya bagi pengembangan spiritual menuju Kebahagiaan Sejati. Begitu pula denga ajaran Pancasila suatu sintese negara yang lahir dari antitese. Ingatlah kalimat pertama dan Mukadimah UUD Republik Indonesia 1945 yang disadurkan tadi dengan bunyi: Bahwa sesungguhanya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. yaitu Friedrich Hegel (1770-1831) bapak dari filsafat Evolusi Kebendaan seperti diajarkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan menurut tinjauan Evolusi Kehewanan menurut Darwin Haeckel. umat Buddha tidak dapat menjauhkan diri dari berinteraksi secara aktif dengan umat agama lain. ada Beberapa kendala dalam pemahaman lebih lanjut tentang Ketuhanan. kenapa panah itu ditembakkan.

3. Tanpa awal . cerdas dan bijaksana dalam kehidupan spiritual umat manusia agar tindakan cepat dan tepat segera diutamakan.Tanpa akhir . Ada Awal . Apabila kita memaksakan diri untuk menemukan jawabannya maka kita akan terjebak dalam spekulasi pandangan. Gagasan bahwa segala sesuatu harus memiliki permulaan benar-benar karena miskinnya pikiran kita. dia sudah akan mati lebih dahulu. 2.terjawab. yaitu : 1. Ada awal . dengan berjalannya proses waktu. kelapukan.Ada akhir Kebenaran ini menjelaskan ada awal dalam proses pembentukan. pembuatan dan kejadian. berati orang tersebut telah mencapai pencerahan sehingga tidak dilahirkan kembali. Sama sekali tidak ada alasan untuk menganggap bahwa segala sesuatu atau dunia ini harus memiliki suatu permulaan. dihubungkan dan difinishing sehingga terbentuk meja kayu dengan empat pondasinya atau bentuk desain lainnya. Majjhima Nikaya 63) Sutra tersebut mengajarkan kita memiliki pemahaman yang rasional. Meskipun dalam agama tertentu. contohnya adalah keberadaan kehidupan manusia. Tanpa awal . Terus kita tarik baik dari sisi ibu maupun dari sisi ayah kita tidak akan menemukan titik yang tepat. Apabila kita telusuri awal keberadaan manusia kita tidak akan menemukan suatu jawaban yang pasti. efektif. seperti Bilangan asli yang selalu diawali dengan angka 1 dan angka selanjutnya tanpa batas. efisien. Cepat atau lambat akan meninggalkan dunia ini. Kita tidak dapat mengakhiri pada angka tertentu. Pengertian ada akhir. (Cula-Malunkyovada Sutta. hancur atau diolah lagi dalam bentuk lainnya. Seperti meja tersebut dimakan rayap. Maka pada saat bentuk berubah kita mengatakan akhir keberadaan dari apa yang kita namakan meja tersebut. Jadi. Ayah dan Ibu pun memiliki ayah dan ibunya lagi. Ada Akhir dalam hal ini ada kehancuran. Jadi. Orang pasti memiliki ayah dan ibu. Pada saat kita menarik kebelakang. Sementara kehidupan kita adalah terbatas. Meskipun penghitungannya angka tersebut sudah sedemikian besar. Seperti Pembuatan meja. tanpa membuang-buang waktu lagi Dalam mengulas konsep tersebut kita tidak dapat melepaskan 4 (empat) rumusan Kebenaran. Ada proses pengerjaan kayu-kayu dibentuk.Ada akhir Kebenaran jenis ini. meja tersebut dapat rusak. Dalam hal ini karena keterbatasan dalam mencari awal permulaan maka dikatakan tanpa awal untuk mempermudah pemahaman lebih lanjut." 4.Tanpa Akhir Kebenaran jenis ini. Hal ini tentu akan banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Ada keberadaan awal manusia. dijadikan kayu bakar atau dijadikan pondasi.

Yang Tidak Tercipta. pemunculan dari sebab yang lalu. . unsur IMANEN dari Ketuhanan YME tidak lenyap sama sekali. pembentukan. penjelmaan. namun ajaran Buddha menekankan unsur TRANSENDEN dari Ketuhanan YME. Yang Tidak Menjelma. Adinatha (Nepal). pembentukan. Yang Tidak Tercipta. Yang Tidak Terjelma. maka manusia yang terkondisi (Samkhata) dapat mencapai kebebasan mutlak dari samsara. pemunculan dari sebab yang lalu. Ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan. Yang Tidak Menjelma.Kebenaran jenis ini dapat kita lihat dalam Udana Nikaya : “Ketahuilah Para Bhikkhu. diperlukanlah: SEBUTAN. Diwarupa. Semua yang transenden adalah TIDAK TERKONSEPKAN. Yang Mutlak (Udana VIII:3). maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran. Yang Tidak Diciptakan. seperti Nibbana yang memungkinkan kita untuk mencapai pembebasan. Tetapi para Bhikkhu. ketika kita bicara tentang konsep Ketuhanan. Yang Mutlak. Yang Tidak Menjelma. Mahavairocana (kitabkitab Buddhis bahasa Kawi). Yang Mutlak. Wahai para Bhikkhu. Yang Mutlak = Asamkhata-Dhamma = Yang Tak Terkondisi. dengan demikian Buddha menghayati dan memahami Ketuhanan dengan sempurna pula. Sebutan lain: Advaya. Kebenaran terakhir ini. maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran. Dengan adanya hukum Dharma. bukan melalui konsep. Yang Tidak Tercipta. Vajradhara (Tibet: Kargyu & Gelug). Dengan adanya Yang Tak Terkondisi (Asamkhata). apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan. karena ada Yang Tidak Dilahirkan. Yang Mutlak. penjelmaan. harus dipahami secara INTUITIF melalui PENCERAHAN. Tak terelakkan. Samantabhadra (Tibet: Nyingma). Salah satu sebutan: Adi-Buddha. Buddha bersabda: “Ada Yang Tidak Terlahir. Daftar ini tidak lengkap dan masih bisa diperpanjang lagi sesuai dengan kebutuhan Ajaran-ajaran mengenai Adi Buddha telah lama dianut oleh leluhur-leluhur kita di tanah Jawa yang menganut aliran Buddha esoterik yang mendirikan candi borobudur serta candi-candi Buddhis lainnya. Buddha telah mencapai Pencerahan Sempurna.