BIMBINGAN PRAKTIS PERJALANAN HAJI

Arafah
Bimbingan dan Perjalanan Haji dan Umroh

1
MUQADDIMAH

Allah Subhanahu wa Ta´ala berfirman :

#òèÏ#••#åˆÓ#®ÔÛ#æãí#üô’³#êô߇#ɎĘ³•#æã#–ô’ß•#ž£#±Žèß•#ðàË#•í
æôäߎÌß•#æË#
“...Mengerjakan haji merupakan kewajiban manusia
kepada Allah, yakni (bagi) orang yang mampu
melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa
mengingkari (kewajiban haji) maka sesunguhnya Allah
Maha Kaya (tiada memerlukan sesuatu) dari alam
semesta.” (QS Ali Imran : 97)

#òÓ#å«ƒí žÓ#ÞÛ#æã#æô—„ó#®ãŽ¿#ÞÛ#ðàËí#ûŽŸ-#Ùî—„ó#ž¤ßŽ‘#±Žèß•
ÖôäË#
“Dan panggillah manusia untuk melaksanakan haji
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan
berjalan kaki dan mengendarai onta yang kurus yang
datang dari segenap penjuru.” (QS Al-Hajj : 27)

% •í¬§ âÜܳ#Žèã#ðèË % #
“Ambillah contoh dariku pelaksanaan ibadah haji
kamu sekalian.” (HR. Muslim)

Allah SWT telah mewajibkan ibdah haji ke Baitullah
bagi orang yang mampu melaksanakannya, yakni
mampu biayanya, waktu dan kesehatannya. Ibadah haji
merupakan kesatupaduan dari Arkan Al-Islam, sebagai
2
tindak lanjut dan tahapan dari rukun lainya,
syahadatain, shalat, shiyam dan zakat.

Bahwasanya ibadah haji memerlukan prasyarat mental
dan kondisional yang teguh dan utuh. Ia wajib
diniatkan secara ikhlas, dilaksanakan secara benar
(shahih) sesuai tuntunan qudwah Rasulullah SAW.
Penyimpangan niat dan tercampurnya bid´ah hanya
akan merusak nilai suci dari ibadah itu sendiri.

Dambaan setiap hujjaj adalah haji yang mabrur dan
dosa-dosa yang diampuni. Itulah sebabnya haji menjadi
pengayaan latihan ruhani (Tarbiyah al-Nafs) dengan
disiplin yang ketat, ketinggian akhlak dalam jalinan
hubungan kemanusiaan kepada khaliqnya, antar
sesamanya dan alam lingkungan.

Ibadah haji sebagai bukti ketinggian Din Al-Islam
dalam wujud mu´tamar ummat Islam sedunia tanpa
membedakan suku bangsa, warna kulit dan bahasa,
tanpa hambatan psikologis antara pemimpin negara dan
rakyat jelata. Semua tunduk patuh beribadah kepada
Allah semata-mata mendamba ridha-Nya guna
mencapai derajat Muttaqin.

Namun sangat disayangkan, masih terjadi pengamalan
haji yang keluar dari prinsip (mabda), manasik dan
tujuan (ghayah) yang hakiki, seperti: niat yang salah,
3
tidak melaksanakan dan memahami esensi ibadah haji,
apalagi ternoda bid´ah, khurafat dan tahayul.

Itulah sebabnya dibentuk Bimbingan perjalanan haji
´Arafah untuk menyiapkan calon hujjaj memiliki
keteguhan niat yang ikhlas, pelaksanaan ibadah haji
sesuai sunnah Rasulullah SAW. dan kembali dari
menunaikan ibadah haji senantiasa istiqomah dalam
melaksanakan syariat Islam. Dengan demikian makna
Haji Mabrur akan benar-benar terwujud dan dirasakan
secara pribadi, keluarga dan masyarakat.

Insya Allah, Bimbingan Ibadah Haji Arafah dapat
berpartisipasi dalam meningkatkan syi´ar da´wah
Islamiyah melalui Bimbingan kepada calon hujjaj.

4
I. URUTAN PELAKSANAAN IBADAH HAJI
(UMUM)
Karena kita bukan penduduk Mekkah dan kita tidak
mung-kin membawa hewan qurban dari tempat tinggal
kita, maka kita (rombongan haji Arafah) melaksanakan
haji Tamattu’.

Tanggal Tamattu’ Hukum
Sebelum
masa haji:
Syawwal
s/d fajar 8
Dzul
Hijjah
1.Ihrom dari miqot
2.Niat ‘Umroh
3.Talbiyah
4.Thowaf
5.Sa’i
6.Tahallul
1.Wajib
2.Rukun
3.Sunnah
4.Rukun
5.Rukun
6.Rukun
8 Dzul
Hijjah Hari
Tarwiyah
7.Ihrom dari tempat tinggal
dan niat Hajji. Mabit dan
sholat lima waktu di Mina.
7.Mabit di
Mina hari
ini Sunnah
9 Dzul
Hijjah Hari
Arofah
8.Wukuf di ‘Arofah dari
tergelin-cir s/d terbenam
matahari .
9.Setelah terbenam matahari
pergi menuju Muzdalifah
8.Rukun,
s/d teng-
gelam
matahari
wajib.


10 Dzul
Hijjah
Hari Nahar
10.Mabit di Muzdalifah.
11.Menuju Mina dan
langsung melontar Jumroh
12.Memotong/mencukur
rambut (tahllul pertama)
13.Menyembelih hewan
qurban (Dam Tamattu’)
110. Wajib
111. Wajib
112. Rukun


5
14.Thowaf ifadhoh dan sa’i
(tahallul kedua)
14.Rukun,
boleh
di ak-
hirkan
11 Dzul
Hijjah
Hari
Tasyriq
pertama
15. Mabit di Mina
16. Setelah tergelincir
matahari melontar jumroh:
Ula, Wustho dan Aqobah
(masing-masing 7 lontaran)
15. Wajib
16. Wajib


12 Dzul
Hijjah
Hari
Tasyriq
kedua
17. Mabit di Mina
18. Seperti no. 16
19. Meninggalkan Mina
sebelum terbenam matahari
bagi yang melakukan Nafar
Awwal
20. Bisa langsung thowaf
Wada’ bagi yang akan
meninggalkan Mekkah
21. Ibadah Haji selesai
17. Wajib
18. Wajib
19. Wajib



20. Wajib
13. Dzul
Hijjah
Hari
Tasyriq
ketiga
Bagi yang Nafar Tsani
22. Mabit di Mina
23. Seperti no. 16
24. Ibadah Haji selesai
25. Thowaf wada’

22. Wajib
23. Wajib

25. Wajib

Catatan:
Rukun: apabila ditinggalkan, haji tidak sah.
Wajib: apabila ditinggalkan, haji sah tapi harus bayar
dam/ fidyah/kaffarah.
6
Dari amalan-amalan Haji diatas para Ulama
menyimpulkan:
A. Rukun Haji terdiri atas:
1. Ihrom
2. Thowaf
3. Sa’i

1. Wuquf di ‘Arofah
2. Menggunting/mencukur
rambut
3. Tertib rukun diatas
B. Wajib Haji terdiri atas:
1. Ihrom di Miqot
2. Wuquf di Arofah
3. Mabit di
Muzdalifah
1. Mabit di Mina pd malam
Tasyriq (hingga terbenam
matahari)
2. Melontar Jumroh
3. Thowaf wada’

II. URUTAN PELAKSANAAN HAJI (AROFAH)
A. PERSIAPAN SEBELUM KEBERANGKATAN
1.Mandi untuk ihrom seperti mandi janabah.
2.Memotong kuku tangan dan kaki, memendekkan
kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut
didaerah kemaluan.
3.Pakaian Ihrom harap dibawa kedalam pesawat.
4.Bacalah do’a naik kendaraan dan do’a bepergian
(safar).

B. IHRAM DI PESAWAT
1.Mandi jika memungkinkan (mandi sebelum
berangkat).
2.Memakai minyak wangi ditubuh (bukan dipakaian
ihrom) untuk laki-laki (wanita tidak boleh).
7
3.Pakai kain Ihrom.
4.Setelah sampai di Miqot (Rabigh/kira-kira satu jam
sebelum mendarat), Amirul Haj akan mengumum-kan
agar semua jama´ah mengucapkan niat yaitu :

ñ“ô®øäõË#IâõìIàßô•#ôÚøôI’ôß
Artinya : “Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu untuk
melaksanakan Umroh.”
5.Sholat dua raka’at ditempat duduk. Diroka’at pertama
membaca surat Al-Kafirun setelah membaca al-
Fatihah dan diroka’at kedua surat Al-Ikhlas (Boleh
pula surat-surat yang lain).
6.Setelah itu dilanjutkan dengan talbiyah diucapkan
berulang-ulang dengan suara keras bagi laki-laki
sedangkan wanita cukup dengan suara pelan. Adapun
bacaannya :

#ôÚøôI’ôß#IâõìIàßô•#ôÚøôI’ôß 1 ôÚøôI’ôß#ôÚôß#ôÚøóö®ô·#ôû#ôÚøôI’ôß 1 ôÚøàõäøß•ôí#ôÚôß#ô”ôäøÌKèß•ôí#ôªøäô¤øß•#Iåö‡ 1
#ôÚôß#ôÚøóö®ô·ôû 1 #
Artinya : “Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu, aku
penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu,
aku penuhi panggilan-Mu, sesungguhnya
segala puji dan segala ni´mat adalh
kepunyaan-Mu demikian pula segala kerajaan,
tiada sekutu bagi-Mu.” (Al-Bukhori)
7.Perbanyaklah talbiyah/berdzikir/baca qur’an atau
membaca bacaan Islami dan hindari
pertengkaran/perselisihan, mencela/menghina orang
lain dan obrolan yang tidak bermanfa’at.
8
C. DIBANDARA JEDDAH (MADINATUL
HUJJAJ)
1.Turun dari pesawat dengan tenang dan tertib.
2.Berkumpul ditempat istirahat yang telah disediakan
menunggu urusan imigrasi dan pemeriksaan barang.
3.Setelah pemeriksaan kumpulkan pasport dan chek
haji kepada ketua rombongan.
4.Istirahat, makan (dibelikan oleh panitia), buang air
dan sholat. Tetap bersama rombongan sampai urusan
administrasi selesai.
5.Berangkat menuju Mekkah dengan bis yang telah
disediakan (insya Allah AC). Diharapkan tertib dan
tenang dalam menaiki bis itu.
6.Sabar dan tetap bertalbiyah/berdzikir.

D. DI MEKKAH
1.Membaca do’a masuk kota, yakni

ñûôüô£#Žñ×ø¯ö-#ŽôìøôöÓ#ðöèø×õ¯ø-ôí#•ñ-•ô®ô×#Žôìö‘#ðöß#øÞôÌøŸ•#IâõìIàßô•#
Artinya: “Ya Allah jadikanlah bagiku (kota ini) tempat
yang nyaman dan berilah aku rizki didalamnya
rizki yang halal.
2.Bis akan mengantar kita sampai ke Maktab/Majmu’ah
kemudian akan menuju pemondokkan.
3.Di pemondokkan akan ada pembagian kamar.
Kemudian istirahat dan makan.
4.Briefing pelaksanaan ‘umroh dan pengenalan kondisi
kota Mekkah.
9
5.Bersama rombongan masing-masing menuju Masjidil
Haram.

E. ‘UMROH
1. THOWAF
Ketika masuk Masjidil Haram kita harus dalam keadaan
berwudhu. Kita disunnahkan masuk melalui Babus
Salam dimulai dengan kaki kanan, ketika melihat
Ka´bah kita membaca :

öáôüI´ßŽö‘#ŽôèI‘ô-#ŽôèKôô¤ôÓ#õáôüI´ß•#ôÚøèöãôí#õáôüI´ß•#ô–øçôƒ#IâõìIàßô•#
Artinya : “Ya Allah Engkaulah sumber segala
kesejahteraan dan dari Engkaulah datangnya
segala kesejahteraan, maka hidupkanlah kami ya
Allah dengan keselamatan.” (al-Umm 2 : 144,
al-Baihaqi 5 : 73, al-Fathu-r Robbani 12 : 8,
Hadits Shohih, Nailul Author 5 : 109)

#õêôÓI®ô·#øæôã#ø©ö¯ôí#ñ”ô‘Žôìôãôí#Žñäøóö®øÜô—ôí#ŽñäøôöÈøÌô—ôí#ŽñÔøóö®ø¸ô—#ô–øôô’øß•#•ô¬ôë#ø©ö¯#IâõìIàßô•
ô—ôí#ŽñÔøóö®ø¸ô—#õéô®ôäô˜øË•ôí#õêIô£#øæIäöã#õêôãI®ôÛôí •2®ö‘ôí#Žñäøóö®øÜô—ôí#ŽñäøôöÈøÌ #
Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah ini
(Ka’bah) kehormatan, kemuliaan dan
kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada siapa
yang menghormatinya dan memuliakannya, yaitu
orang yang mendatanginya untuk haji dan ‘umroh
kehormatan, keagungan, kemuliaan dan
kebajikan.”

10
Setelah itu kita menuju garis coklat yang sejajar dengan
Hajar Aswad dan mulailah Thowaf dari sini dengan
diawali mencium Hajar Aswad bila memungkinkan.
Bila tidak cukup mengusapnya lalu mencium tangan
atau isyarat dengan tangan tanpa mencium tangan
sambil mengucapkan :

õ®ô’øÛôƒ#õ••ôí#ö••#öâø´ö‘#
Artinya : “Dengan nama Allah, Allah Maha Agung”

Kemudian mengelilingi Ka´bah tujuh putaran, tiga
putaran pertama bagi laki-laki berlari-lari kecil kalau
memungkinkan (putaran selanjutnya cukup dengan
berjalan biasa), sedangkan wanita cukup berjalan biasa
untuk semua putaran.

Selama thowaf bacalah do´a dan dzikir yang jama´ah
kehendaki atau sukai. Ketika melewati Rukun Yamani
usaplah dengan tangan (kalau tidak mungkin cukup
dengan melambaikan tangan) sambil mengucapkan
“BismiLLahi waLLahu akbar” . Dan jama´ah akhiri
setiap putaran, yaitu diantara rukun yamani dan Hajar
Aswad dengan bacaan :

ö-ŽIèß•#ô••ô¬ôË#Žôèö×#ôí#ñ”ôèô´ô£#ö“ô®ö§ô÷ø•#òöÓ#ôí#ñ”ôèô´ô£#Žôôøç#Jªß•#òöÓ#Žôèö—ôƒ#ŽôèI‘ô-#
Artinya : “Wahai Rabb kami, Brilah kami kebaikan di
dunia ini, dan berikanlah kami kebaikan di
akhirat dan lindungilah kami dari siksa api
neraka.” (Ahmad dan Abu Dawud)
11
Sesampainya di Hajar Aswad lakukanlah seperti
permulaan thowaf sampai selesai tujuh putaran.
Kemudian menuju Maqom Ibrohim sambil membaca:

ðIàô¼õã#ôâøôöë•ô®ø‘ö‡#öáŽôØôã#øæöã#•íõ¬ö¨I—•#ôí#
Artinya: “Dan jadikanlah sebagian dari maqom
Ibrohim sebagai tempat sholat.”

Lakukanlah shalat dua rakaat di belakang Maqom
Ibrohim bila memungkinkan. Bila tidak, lakukanlah di
tempat lain di dalam Masjid dengan membaca surat Al-
Kafirun di rakaat pertama dan dirakaat kedua surat Al-
Ikhlash.

Setelah itu minumlah air Zamzam dan bacalah:

óï•ô©#KÞõÛ#øæöã#ñïŽôÔö·ôí#ŽñÌö³•ôí#Žñ×ø¯ö-ôí#ŽñÌöÓŽôç#ŽñäøàöË#öÚõßô„ø³ôƒ#ðKçö‡#IâõìIàßô•#
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-
Mu ilmu yang bermanfa’at dan rizki yang lapang
serta obat dari segala penyakit”.

2. SA´I
Kemudian menuju Shofa, lalu membaca :

ö••#ö-öïŽôÌô·#øæöã#ô“ôíø®ôäøß•ôí#ŽôÔI¼ß•#Iåö‡#
Artinya : “Sesungguhnya Shofa dan Marwa itu adalah
syi´ar-syi´ar Allah.” (HR. Muslim, an-Nasa-i,
Ahmad)
12
Setelah tiba di Shofa, mengangkat kedua belah tangan
sambil menghadap Ka´bah lalu membaca :

#õêôß#ôÚøóö®ô·ôû#õéôªø£ôí#õ••#Iûö‡#ôêôßö‡#ôû#ì®ô’øÛôƒ#õ•ô•#ì®ô’øÛôƒ#õ•ô•#ì®ô’øÛôƒ#õ•ô• 1 õêôßôí#õÚøàõäøß•#õêôß
#ô®ô¼ôçôí#õéôªøËôí#ô°ôøçôƒ#õéôªø£ôí#õ••#Iûö‡#ôêôßö‡#ôû#ì#ò®øóöªô×#óïø òô·#KÞõÛ#ðôàôË#ôîõëôí#õªøäô¤øß•#
ôáô°ôëôí#õéôªø’ôË õéôªø£ôí#ô•ô°ø£ô÷ø•# 1 #
Artinya : “Allah Maha Agung, Allah Maha Agung,
Allah Maha Agung, tiada illah melainkan Allah
yang Tunggal tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya
seluruh kerajaan, dan bagi-Nya seluruh puji, dan
Ia kuasa atas segala sesuatu. Tiada illah
melainkan Allah yang tunggal yang memenuhi
janji-Nya dan yang menolong hamban-Nya dan
menghancurkan musuh sendirian”. (HR. Muslim,
Nasa-i dan Ahmad)

Bacaan tersebut diulang sampai tiga kali setiap ulangan
disambung do´a sesuai kebutuhan kita dengan bahasa
apa saja.

Kemudian turun dari Shofa dan berjalan menuju
Marwah, hingga sampai pada tanda hijau, laki-laki
berlari-lari kecil sampai tanda hijau berikutnya sedang
wanita jalan biasa, lalu jalan biasa sampai ke Marwa.
Di situ kita melakukan dan mengucapkan sebagaimana
yang kita lakukan dan ucapkan di Shofa.

13
Lakukanlah yang demikian itu tujuh kali, dari Shofa ke
Marwa dihitung satu kali, demikian sebaliknya. Jadi
mulai dari Shofa berakhir di Marwa.

3. TAHALLUL
Kemudian mencukur rambut atau memendekkan.
Sedangkan bagi wanita cukup menggunting ujung
rambutnya kira-kira seujung jari.

Sampai disini selesailah kita melaksanakan Umroh, kita
boleh melakukan apa-apa yang tadinya menjadi
larangan ihrom.

F. HAJJI
1. IHROM
Pada tanggal 8 Dzulhijah yang disebut hari tarwiyah
kita melakukan ihrom untuk haji, persiapannya :
1.Mandi
2.Pakai wangi-wangian (ditubuh bukan dipakaian
ihrom), kecuali wanita tidak boleh memakainya
3.Memakai kain ihrom
Hal ini dilakukan di tempat masing-masing setelah siap
memakai pakaian ihrom lalu kita mengucapkan :

Ž2ô£#IâõìIàßô•#ôÚøôI’ôß#
Artinya : “Ya Allah kami datang memenuhi panggilan-
Mu.“ (Muslim 1 : 522, an-Nasai 3 : 150, Ibnu 2
: 227)

14
Dilanjutkan dengan talbiyah seperti ketika berihrom
hendak melakukan umroh.

2. MABIT di Mina
Kemudian keluarlah menuju Mina dan lakukanlah
disana shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh
dengan cara menqoshor pada waktunya masing-masing.

3. WUQUF
Tanggal 9 Dzulhijah, setelah matahari terbit kita
berangkat menuju ´Arafah. Sesampainya disana
lakukanlah shalat zhuhur dan Ashar dengan Jama´
Taqdim dan Qoshor, dengan satu kali Adzan dan dua
kali Qomat, dan perbanyaklah dzikir dan do´a sambil
menghadap kiblat dengan mengangkat kedua tangan
sesuai contoh Rasulullah. Hendaknya jama´ah tetap
berada disana sampai terbenam matahari.

4. MABIT di Mudzdalifah
Begitu matahari terbenam kita menuju Mudzdalifah
sambil membaca talbiyah, sesampainya disana
lakukanlah shalat Maghrib dan ‘Isya dengan Jama´ dan
qoshor dengan satu Adzan dan dua Qomat, lalu tidurlah
hingga melakukan shalat Shubuh kecuali yang
mempunyai udzur syar´i boleh berangkat menuju Mina
setelah lewat tengah malam. Setelah shalat Shubuh
perbanyaklah do´a dan dzikir dengan menghadap kiblat
sambil mengangkat tangan.
15
Sebelum kita meninggalkan Mudzdalifah ambillah
tujuh butir kerikil untuk melempar Jumroh Aqobah.

5. JUMROH AQOBAH
Setelah mengambil tujuh buah kerikil kita berangkat
menuju Mina sambil membaca talbiyah. Sesampainya
di Mina lakukanlah :
1.Melempar jumroh aqobah dengan kerikil tujuh kali
secara berturut-turut setiap lemparan diiringi dengan
takbir:
õ®ô’øÛôƒ#õ•ô•#
Dan setelah selesai bacalah do´a :

•ñ-øîõÔøÐôã#Žñ’øçô«ôí#•ñ-íõ®ø’ôã#Žñô£#õêøàôÌøŸ•#IâõìIàßô•#
Artinya : “Ya Allah jadikanlah haji yang mabrur dan
dosa yang diampuni.”
2.Menyembelih qurban (disembelihkan orang)
3.Bercukur sampai bersih atau pendekkan saja bagi
laki-laki, sedangkan bagi wanita cukup menggunting
ujung rambutnya kira-kira seujung jari.

6. TAHALUL AWWAL

Apabila kita telah selesai melakukan melempar jumroh
Aqobah, menyembelih dan mencukur, maka kita boleh
melakukan hal yang tadinya jadi larangan ihrom,
kecuali berhubungan badan dengan istri.

16
7. THAWAF IFADHOH
Kemudian kita berangkat menuju Mekkah dan
lakukanlah thowaf ifadhoh (atau boleh diakhirkan,
kalau kita ingin istirahat terlebih dahulu), seperti yang
kita lakukan waktu thowaf qudum (tanpa lari-lari kecil
di tiga putaran pertama) kemudian lakukanlah sa´i
dengan demikian selesailah thowaf ifadhoh, maka
diperbolehkan semua yang tadinya menjadi larangan
dalam ihrom.

8. MABIT dan JUMROH di MINA

Setelah thowaf ifadhoh pada hari nahar kita kembali ke
Mina dan bermalam disana pada hari-hari tasyriq yaitu
tanggal 11, 12, 13 atau dua malam saja tanggal 11 dan
12.

Pada hari-hari di Mina lemparlah ketiga jumroh dimulai
dari ´Ula, Wustho´ dan Aqobah setelah tergelincir
matahari (Zhuhur) masing-masing dengan tujuh
lemparan dan setiap melempar diiringi dengan takbir..

a. Nafar Awwal (dua malam di Mina)
Bagi yang memilih nafar awwal hendaklah jama´ah
meninggalkan Mina di hari kedua (tanggal 12) sebelum
matahari terbenam.

17
b. Nafar Tsani
Bagi yang memilih nafar tsani maka diwajibkan mabit
pada malam ke tiga (tanggal 13). Lalu melempar ketiga
jumroh kemudian kembali ke Mekkah.

9. THAWAF WADA’
Sebelum meninggalkan Mekkah kita melakukan
pekerjaan haji yang terakhir yaitu thowaf wada´ tanpa
lari-lari kecil di tiga putaran pertama dan tanpa sa´i.
Bagi wanita yang haid diberi rukhsoh tidak melakukan
thowaf wada´ dan haji sah bila sudah melaksanakan
thowaf ifadhoh.

Dengan demikian selesailah ibadah haji kita, mudah-
mudahan menjadi haji yang mabrur. Amiin.

18
III. YANG TERLARANG BAGI MUHRIM
(orang dalam ihrom)
Bagi yang dalam ihrom sebelum tahallul dilarang :
1.Pria memakai pakaian yang mengurung, baju, celana,
menutup kepala, bersepatu yang menutup mata kaki,
pakaian. Sabda Rasulullah:
“Laki-laki yang sedang ihrom dilarang memakai
baju, sorban, topi, celana, pakaian yang dicelup
dengan waras dan ja´faran, sarung kaki (sepatu),
kecuali dipotong sehingga ujungnya di bawah mata
kaki”. (Bukhori, Muslim)
2.Memakai wangi-wangian, kecuali yang dipakai
sebelum ihrom.
3.Berkata ´Aisyah: “Saya memakaikan wangi-wangian
keppada Rasulullah SAW. untuk ihromnya dikala
beliau mau ihrom, dan pada tahallulnya setelah
beliau melempar jumroh aqobah sebelum thowwaf
ifadhoh di Baitullah”. (Bukhari, Nasa-i)
4.Memotong rambut, sebab hal itu adalah pekerjaan
tahallul yang membatalkan ihrom.
5.Berburu (membunuh binatang buruan). Firman Allah
SWT :
ᮣ#â˜çƒí#ªô¼ß•#•îà˜Ø—#û#•îèã•#æó¬ß•#Žìóƒ#Žó#
Artinya: “Wahai orang yang beriman jangan kalian
membunuh binatang buruan sedangkan kalian
dalam ihrom”. (Al-Maidah : 95)
6.Meminang, kawin dan mengawinkan. Sabda
Rasulullah SAW.:
19
Artinya: “Yang sedang ihrom janganlah menikah,
menikahkan dan meminang”. (Muslim)
7.Berbicara kotor, bertengkar, berkelahi, firman Allah
SWT.:
#šÓ-#üÓ#ž¤ß•#æìôÓ#½®Ó#æäÓ òÓ#Ý•ªŸ#ûí#Õî´Ó#ûí
ž¤ß•#
Artinya: “Barangsiapa yang telah memfardhukan
dirinya ibadah haji, ia dilarang berbicara yang
mengarah kesana, dan melakukan ma´siat dan jangan
bertengkar (berkelahi) dalam ibadah haji”. (Al-
Baqarah : 197)
8.Mengganggu pohon-pohon di Mekkah dan Madinah,
kulitnya, durinya apalagi mematahkan batangnya.
Sabda Rasulullah SAW.:
“Sesungguhnya negeri ini adalah terlarang, tidak
boleh diambil durinya, dicabut tanamannya, diburu
binatangnya dan barang yang tercecer (jatuh) jangan
diambil kembali kecuali oleh petugas tukang
memberitakan kecuali idkhir”. (Bukhori)
9.Wanita menutup muka dan memakai sarung tangan.
Sabda Rasulullah SAW.:
“Wanita yang berihrom jangan menutup mukanya,
bercadar dan tidak boleh memakai sarung tangan”.
(Bukhori, Ahmad)

20
IV. PELAKSANAAN HAJI BAGI WANITA

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam kitab
shahihnya, bahwa Sayyidah ‘Aisyah Ra. bertanya
kepada Rasululllah Saw.: “Ya Rasululllah! Tidak
wajibkah bagi wanita turut berjihad (berperang)?”
Jawab Rasululllah SAW.: “Jihad yang diwajibkan bagi
mereka tidak berperang, tetapi haji dan ‘umrah.”


A. IZIN SUAMI
Setiap#istri#waiib#minta#izin#suami#untuk#pergi#haii#atau#
kemanapun/# dalam# rangka# taat# kepada# suami 1 Berkata#
pengikut#HanaIi#dan#Ahmad/#dan#perkataan#mereka#ini#
shahih menurut# SyaIi ñ / “Suami tidak boleh melarang
istrinya pergi haji jika haji yang akan dikerjakan itu
haji wajib yang pertama”. Jika suami tidak
mengizinkan istri boleh pergi tanpa izin suaminya.
Karena haji adalah wajib sedangkan meninggalkan
yang wajib adalah ma´siat.

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma´siat
kepada Allah SWT” (Al-Hadits)

Dengan syarat istri mendapatkan mahram yang dapat
menemaninya, aman selama perjalanannya, biaya
selama perjalanan dari hartanya sendiri, dan suami tidak
memerlukannya selama ia pergi (suami sakit misalnya).
Bila haji yang akan dikerjakan itu haji tathawwu´
21
(sunat) maka para ulama sependapat suami berhak
melarang istrinya pergi.

B. BERSAMA MUHRIM
Kebanyakan Fuqaha menetapkan syarat bagi wanita
yang hendak menunaikan haji, harus bersama suami
atau mahramnya. Juga untuk perjalanan lainnya yang
menempuh jarak dan waktu tertentu.

Dari Ibnu ´Umar RA., katanya Rasulullah SAW.
bersabda: “Seorang wanita tidak boleh bepergian tiga
hari melainkan harus bersama mahramnya.” (Hadits
Muttafaqun ‘Alaihi)

Disamping hadits-hadits yang jelas-jelas melarang
kaum wanita melakukan perjalanan tanpa mahram,
maka pandangan para fuqaha berbeda-beda sesuai
perbedaan mereka memahamkan hadits tersebut.

Hanafi: memberi syarat perjalanan itu tidak boleh lebih
dari 3 hari, jika lebih maka harus bersama mahram,
tidak boleh dengan sesama perempuan saja atau
rombongan.
Hanbali: Tidak wajib haji bagi wanita yang tidak
mempunyai mahram, dan tidak diperbolehkan pergi
bersama perempuan lainnya atau rombongan yang
dipercaya.
22
Imam Ahmad: Bersama suami atau muhrim tidak
menjadi syarat untuk melakukan perjalanan
menunaikan ibadah “haji-wajib”.
An-Nakh´i, Hasan Bishri, Ats-Tsawri, Ishaq dan para
sahabat Abu Hanifah menetapkan: Syarat pergi
bersama mahram termasuk kategori syarat kemampuan.
Dan tidak boleh digantikan oleh sekelompok wanita
atau rombongan yang dipercaya.
Syafi´i: “Wanita boleh pergi haji bersama-sama dengan
wanita muslimah kepercayaan.” Yang demikian hanya
boleh pada haji wajib, yaitu haji untuk memenuhi rukun
Islam, tidak boleh pada haji tathawwu´. Imam Nawawi
berkata dalam Syarah Shahih Muslim, “´Atha´, Sa´id
bin Jabir, Ibnu Sirin, Malik, Awza´i dan Syafi´i, mereka
mengatakan: “Pergi bersama muhrim tidak menjadi
syarat. Yang menjadi syarat ialah terjaminnya
keamanan wanita yang bersangkutan”.

Dalil-dalil yang membolehkan wanita pergi tanpa
mahram
1.Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari ´Adi bin
Hatim ra., bahwasanya ´Adi berkata: “Pada suatu
hari ketika saya berada di sisi Rasulullah SAW., tiba-
tiba datang seorang miskin mengadukan nasibnya.
Kemudian datang pula yang lain, mengadukan
dirampok orang di jalan. Maka bersabda beliau :
“Hai ´Adi! Tahukah kamu negeri Hirah?” Jawab
saya: “Tidak, ya Rasulullah! Saya tidak tahu!” Sabda
Rasulullah SAW.: Seandainya umurmu panjang, kelak
23
kamu bakal menyaksikan seorang wanita di dalam
haudaj (sekedup) berjalan seorang diri dari Hirah,
hendak Thawaf ke Ka´bah tanpa merasa takut
melainkan hanya kepada Allah.”
2.“...mengerjakan haji adalah kewajiban manusia (an-
Naas) terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu
pergi ke Baitullah...” (Ali ´Imran : 197)
3.Ada dua pendapat mengenai ayat ini, yang pertama
tidak mengharuskan bersama muhrim asalkan aman.
Yang lain mengatakan adanya muhrim merupakan
syarat mampu bagi wanita.
4.Pada masa ´Umar bin Khattab ra. para istri Rasulullah
saw. pergi mengerjakan haji dengan diantar oleh
´Usman bin ´Affan dan ´Abdurrahman bin ´Auf ra.
Kesemuanya berada di dalam sekedup masing-masing
mengerjakan haji tathawwu´.
5.Imam Syafi´i di dalam kitab Al-Umm mengatakan
makna As-Sabil di dalam hadits Rasullah saw. adalah
perbekalan dan kendaran, jika perjalanan aman wanita
boleh pergi dengan rombongan wanita atau
rombongan pria yang ada wanita di dalamnya.

Yang termasuk mahram adalah :
1.Orang yang haram menikahinya selama-lamanya,
karena seketurunan, sesusuan, ipar-besan.
2.Karena haram, perempuan yang dili´an (dikutuk
dengan sumpah) haram dinikahi untuk selama-
lamanya.

24
Syarat Mahram: baligh, berakal, berperilaku dan
bersikap baik dalam tindak tanduknya.

Nafkah muhrim selama perjalanan haji ditanggung oleh
wanita yang ditemaninya.

C. WANITA BERIDDAH
Apabila seorang wanita ditalak suaminya pada bulan
haji atau suaminya meninggal dunia, tidak sepantasnya
dia tahun itu pergi haji. Karena Allah swt. telah
mewajibkannya untuk tinggal di rumah sampai
iddahnya habis. Dia tidak boleh keluar rumah kecuali
untuk keperluan darurat, tidak boleh lama-lama, tetapi
hanya sebentar.
Dalil : Surat At-Thalaq (65) : 1 dan Al-Baqarah (2) :
234.

D. PERSIAPAN SEBELUM IHRAM
Disunatkan bagi wanita memotong kuku, mencukur
bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, menyisir rambut,
sebagai persiapan untuk ihram.

1. Mandi
Diantara perbuatan yang disunahkan juga bagi orang
yang hendak ihram ialah mandi. Diriwayatkan oleh
Tirmidzi dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari
bapaknya :
“Bahwasanya dia melihat Nabi saw. berganti pakaian
untuk ihram dan beliau mandi.”
25
Bagi orang haid dan nifas disunahkan pula mereka
mandi sebelum haji dan ´umrah.
Dari Ummul Mu´minin ´Aisyah ra., dia mengatakan:
“Asma’ binti ´Umais nifas karena melahirkan
Muhammmad bin Abu Bakar dibawah sebatang pohon
(syajarah). Rasulullah memerintahkan Abu Bakar
supaya menyuruh Asma´ mandi, lalu ihram.” (HR.
Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Baihaqi dan
Darimi)

Imam Nawawi mengatakan: “Hadits tersebut
menunjukkan sahnya ihram wanita haid dan nifas, dan
keduanya disunahkan untuk mandi lebih dahulu
sebelum ihram”. Begitu juga pendapat mazhab Syafi´i,
Maliki, Abu Hanifah dan jumhur ulama.

Dari ibnu ´Abbas ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda:
“Wanita nifas dan wanita haid boleh mandi, sesudah
mandi ihram dan mengerjakan segala manasik haji,
kecuali yang tidak boleh ialah thawaf di Baitullah,
sehingga dia suci lebih dahulu.” (HR: Ahmad, Abu
Dawud, dan Tirmidzi)

2. Memakai minyak harum
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud,
bahwasanya ´Aisyah ra. berkata: “Kami pergi haji
bersama Nabi saw. ke Mekkah. Ketika hendak ihram
kami mengolesi kening kami dengan semacam minyak
harum yang terbaik. Ketika salah seorang diantara
26
kami sudah mulai berkeringat, minyak harum itu
mengalir ke mukanya. Nabi saw. melihat hal itu, tetapi
beliau tidak menegur kami.”

Hadits diatas menunjukkan bahwa memakai minyak
harum ketika hendak ihram hukumnya sunnat dan tidak
ada larangan sekalipun harum-haruman itu masih
tercium sampai selesai ihram. sesudah ihram tidak
boleh lagi dia memakai harum-haruman sampai ia
selesai mengerjakan manasik haji dengan mencukur
atau menggunting rambut.

Pria dan wanita sama kedudukannya di dalam hukum
ini, itulah pendapat jumhur. Sebaiknya orang yang
ihram tidak mengoleskan minyak wangi pada
pakaiannya karena dikhawatirkan terlupa sehingga
menanggalkan pakaian yang wangi tersebut dan
memakainya kembali, sedangkan dia sudah melakukan
ihram. Bagi yang melanggarnya diwajibkan membayar
fidyah.

3. MENCELUP
Imam Nawawi di dalam “Al-Minhaj” mengatakan:
“Sunnat bagi wanita yang hendak ihram mencelup
kedua tangannya.” Artinya mencelup kedua tangan
hingga pergelangan, dan menyapu muka dengan
memberi sedikit warna inai, karena tangan dan muka
diperintahkan harus terbuka. Sebab itu hendaklah
ditutup warna kulit dengan warna inai. Tetapi makruh
27
mencelupnya setelah ihram. Menurut Syafi´i, mencelup
termasuk perbuatan yang dibolehkan (jawaaz), tidak
wajib. Ummahatul Mu´minin (para istri Rasulullah)
tidak mencelup diri mereka, karena Rasulullah saw.
tidak menyukai baunya.

Bagi wanita yang sedang beriddah diharamkan
mencelup seperti haramnya memakai perhiasan lainnya.

Mencelup dengan bahan-bahan kosmetik modern yang
sifatnya kimiawi mutlak tidak boleh, baik sebelum
maupun sesudah ihram karena sifatnya yang
menghalangi air menyentuh kulit atau kuku ketika
berwudhu atau mandi. Disamping itu kosmetik
termasuk barang yang wajib dijauhi selama
mengerjakan haji.

E. IHRAM
Ihram artinya menurut syara´ ialah niat mengerjakan
ibadah haji atau ´umrah, atau keduanya sekaligus.
Ihram termasuk rukun ibadah haji. Syarat niat ialah
meyakinkan dalam hati, bahwa dia akan menunaikan
ibadah haji secara nyata. Dan niat tempatnya ialah
dalam hati, karena itu melafazkan niat tidak menjadi
syarat dan tidak wajib.

1. Ihram wanita haid dan nifas
Wanita haid dan nifas boleh melakukan ihram. Karena
itu hendaklah dia memasang niat dari miqat. Segala
28
manasik haji sah dikerjakan oleh wanita haid dan nifas.
Kecuali thawaf dan shalat dua rakaat setelah thawwaf.
Dua rakaat shalat ihram hanya sunnat, tidak menjadi
syarat sah haji.

2. Pakaian ihram wanita
Wanita boleh memakai pakaian apa saja asal menutup
aurat. Pakaian yang biasa dipakai pun boleh untuk
ihram, begitu juga dengan sepatu. Yang tidak
diperbolehkan adalah sarung tangan dan menutup
muka.

Dari ibnu ´Umar ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda
: “Wanita yang ihram (muhrimah) tidak boleh
memakai selubung muka (al-intiqaab) dan sarung
tangan (qaffaazaan)”. (HR Ahmad, Bukhari, Nasaa-i
dan Tirmidzi yang mengatakan shahih)

Tetapi pakaian yang lebih utama ialah pakaian putih-
putih. Karena hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani
dan Ibnu Majah, dari Nabi saw. sabdanya:
“Sebaik-baiknya pakaian kamu ialah pakaian putih.
Pakailah pakaian putih itu pada orang yang masih
hidup, dan kafanilah dengannya orang yang sudah
mati.”

29
3. Talbiyah wanita
Diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Ibnu ´Umar berkata:
“Kaum wanita tidak perlu naik ke puncak Shafa dan
Marwa, dan jangan meninggikan suara ketika
membaca talbiyah.”

Kata Imam Malik: “Cukup terdengar oleh dirinya
sendiri dan oleh orang yang disampingnya. Makruh
bagi wanita meninggikan suara lebih dari itu.”

Wanita haid dan nifas boleh membaca talbiyah, karena
talbiyah bukan ayat-ayat Qur´an.

4. Larangan bagi wanita ihram
Larangan selama ihram dapat kita lihat dalam nash Al-
Qur´an Al-Baqarah : 197, Al-Maidah : 95, Al-Maidah
96.
Larangan atas orang ihram ada dua macam :
1.Yang dilakukan muhrim (orang yang berihram) pada
dirinya sendiri, seperti jima´ dan pendahuluannya,
memakai pakaian berjahit (bagi laki-laki), memotong
kuku, memakai harum-haruman, menutup kepala bagi
laki-laki, menutup muka bagi perempuan, dan
melakukan akad nikah.
2.Yang dilakukan diluar dirinya, seperti mencabut
rambut orang lain, menangkap binatang buruan darat,
sekalipun ketika tahalul. Juga menikahkan dan
melamar.

30
Larangan yang haram dikerjakan orang yang ihram ada
19 macam :
1.Melakukan jima´ dan pendahuluannya.
2.Mendurhakai perintah dan larangan Allah Ta´ala.
3.Bermusuhan dan berbantahan.
4.Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki dan memakai
sarung tangan bagi wanita.
5.Memakai pakaian yang bercelup harum-haruman.
6.Memakai minyak harum.
7.Meminyaki badan.
8.Berinai.
9.Mencium bunga.
10.Mencabut rambut.
11.Memotong kuku.
12.Menutup muka.
13.Menutup kepala bagi laki-laki.
14.´Aqad nikah.
15.Menangkap hewan buruan.
16.Membantu membunuh buruan darat
17.Memburu buruan, melenyapkannya, menjual dan
membelinya.
18.Memakan daging buruan.
19.Memecahkan telor buruan, memerah susunya, dan
memperjual-belikannya.

5. Rambut tontok dan menyisir
“...Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum
qurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada
diantara kamu yang sakit, atau ada gangguan di
31
kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajib atasnya
membayar fidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau
berqurban.” (Al-Baqarah: 196)

Di dalam riwayat dikatakan bahwa sesungguhnya Nabi
saw. bertanya kepada seseorang : “Apakah kamu
mendapat gangguan/penyakit di kepalamu?” Jawab
orang itu: “Betul, ya Rasulullah!” Maka bersabda
Rasulullah: “Cukur kepalamu. Sesudah itu puasa 3
hari, atau memberi makan 6 orang miskin, atau
berkurban seekor kambing.” (HR. Muttaffaq ´alaihi)

Berdasarkan ayat-ayat atau hadits tersebut diatas, ahli-
ahli ilmu sepakat mengatakan bahwa orang yang ihram
terlarang menghilangkan rambut walaupun sehelai,
kecuali karena uzur. Larangan itu meliputi segala
macam rambut yang tumbuh di tubuhnya, seperti
rambut kepala, kumis, bulu ketiak, bulu kemaluan, bulu
hidung dan bulu telinga. Yang melanggar larangan
tersebut wajib membayar fidyah, sekalipun rambut yang
dicabut itu rambut orang lain, atau karena tidak tahu
(jahil), atau karena sebab berbekam, atau karena
digaruk dengan kuku, atau karena menyisir.

Menyisir rambut biasanya menyebabkan rambut rontok
dibawa sisir. Maka sebagian ulama fiqih berpendapat,
terlarang menyisir rambut bagi orang ihram. Apabila
rambut tercabut karena sisir wajib membayar fidyah.

32
Syafi´i: Siapa yang mencabut sehelai rambut dia wajib
membayar fidyah satu mud (gantang kecil). Dua helai
rambut fidyahnya dua mud. Tiga helai rambut ke atas
fidyahnya boleh menyembelih seekor kambing atau
memberi makan 6 orang miskin atau boleh pula puasa 3
hari. Mengenai fidyah mencabut rambut ini Syafi´i
tidak mensyaratkan harus karena sadar dan sengaja.
Bahkan menurut Syafi´i wajib fidyah, sekalipun karena
bodoh dan lupa.

6. Celak
Nafi´i mengatakan: “Ketika Ibnu ´Umar sakit mata
waktu dia sedang ihram, diteteskannya ke matanya
beberapa tetes remasan daun sabir. Dia mengatakan,
orang berihram boleh bercelak dengan celak apa saja
apabila dia sakit mata, selama celak itu tidak
mengandung haruman.” (HR. Baihaqi)

Bercelak untuk orang yang ihram hukumnya boleh
(jawaaz). Untuk selain pengobatan hukumnya tidak
boleh, yaitu makruh. Jika memakai celak yang
mengandung harum-haruman, wajib membayar fidyah,
baik untuk maksud pengobatan atau tidak.

F.THAWAF (keliling Ka´bah)
1. Thawaf Qudum
2. Thawaf Ifadah
3. Thawaf Wada´
4. Thawah nafilah atau tathawwu´
33
Pertama, Suci
Diriwayatkan dari Ibnu ´Abbas ra. bahwa Nabi saw.
bersabda : “Thawaf itu ialah shalat. Kecuali didalam
thawaf Allah Ta´ala menghalalkan bertutur kata. Maka
siapa yang bertutur kata, janganlah bertutur kecuali
yang baik-baik.” (HR. Tirmidzi, Daruquthni, dan
disahkan oleh al-Hakim, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Sukn)

Dari ´Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. masuk ke
kamar ´Aisyah dan didapati beliau, ´Aisyah sedang
menangis. Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah
engkau haid?” Jawab ´Aisyah : “Betul, ya Rasulullah.”
Sabda Rasulullah saw.: “Haid itu suatu peristiwa yang
telah ditetapkan Allah harus terjadi atas setiap putri-
putri Adam. Karena itu tunaikanlah segala kewajiban
haji, kecuali engkau belum boleh thawaf di Ka´bah,
sebelum engkau mandi suci lebih dahulu.” (HR.
Muslim)

Dari kedua hadits diatas jelas, thaharah (suci) dari
hadats dan kotoran adalah syarat bagi sah thawaf. Maka
tidak sah thawaf orang yang berhadats, baik hadats
kecil yang hanya mewajibkan wudhu maupun hadats
besar yang mewajibkan mandi, seperti janabah, haid
dan nifas. Begitu pula orang yang bernajis badan atau
pakaiannya, harus bersih dari najis tersebut.
Demikianlah pendapat Malik, Syafi´i, serta pendapat
yang mashur dari Ahmad dan jumhur Fuqaha.
34
1. Wanita Istihadhah
Diriwayatkan oleh Malik bahwa ´Abdullah bin ´Umar
ra. didatangi seorang perempuan yang meminta fatwa
kepadanya. Kata perempuan tersebut: “Saya datang
sengaja hendak thawaf di Bait (Ka´bah). Tetapi
sesampainya saya di pintu masjid tiba-tiba saya
mengeluarkan darah. Karena itu saya pulang kembali,
sehingga darah berhenti keluar. Sesudah itu saya
datang pula kembali ke masjid. Tetapi setibanya saya
di pintu masjid darah tercurah kembali. ” Maka
berkata ´Abdullah bin ´Umar: “Sesungguhnya yang
demikian itu adalah goncangan dari syeitan. Karena
itu hendaklah kamu mandi, kemudian ikatkan kain
pembalut di tempat keluar darah, dan sesudah itu kamu
boleh thawaf.”
Kasus yang diceritakan wanita ini bukanlah kasus darah
haid atau nifas, tetapi berupa darah penyakit (istihadah).

Kedua, menutup aurat
Diantara syarat sah thawaf ialah menutup aurat.
Begitulah pendapat Malik, Syafi´i dan jumhur. Dalilnya
ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.
katanya :
“Abu Bakar menugaskanku dalam rombongan haji
yang dipimpin Rasulullah saw. sebelum haji
wada´untuk mengumumkan kepada orang banyak pada
hari nahar (hari berqurban) bahwa: “Tahun yang akan
datang orang musyrik tidak boleh lagi pergi haji, dan
tidak boleh thawaf di Baitullah (Ka´bah) tanpa
35
busana.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasaa-i dan
Baihaqi. Lafazh (teks) hadits tersebut diatas dari
Muslim)

Aurat wanita ketika shalat ialah seluruh tubuh kecuali
muka dan telapak tangan, begitu juga aurat ketika
thawaf.

Ketiga, kaum wanita tidak perlu berlari
“Kaum wanita tidak perlu berlari-lari di Ka´bah dan
tidak pula antara Shafa dan Marwa.” (HR. Baihaqi)

Keempat, jauh dari laki-laki
“Atha´mengabarkan kepadaku, ketika Ibnu Hisyam
melarang kaum wanita thawaf bersama-sama kaum
lelaki. ´Atha´bertanya: “Mengapa engkau larang
mereka, bukankah para istri Nabi saw. melakukan
thawaf bersama-sama dengan kaum laki-laki?”
Tanyaku: “Apakah kejadian itu sesudah turun ayat
hijab atau sebelumnya?” Jawab ´Atha´: “Setahuku
sesudah turun ayat hijab.” Tanya “Bagaimana
mungkin mereka bercampur-baur dengan kaum laki-
laki?” Jawab: “Sesungguhnya mereka tidak bercampur
baur”. ‘Aisyah thawaf dipinggir-pinggir, terpencil dari
kaumlaki-laki banyak, tidak bercampur baur dengan
mereka.” Berkata seorang wanita: “Mari kita sentuh
hajar aswad ya Ummul Mu´min!”. “Tidak perlu!” kata
´Aisyah menyatakan enggan. Padahal mereka keluar
untuk thawaf dengan pakaian tertutup di tengah
36
malam. Mereka thawaf bersama-sama dengan kaum
laki-laki.” (HR. Bukhari dan Baihaqi)

Hadits ini menunjukkan kaum wanita sebaiknya thawaf
terjauh dari kaum laki-laki, dan disunatkan pada malam
hari yaitu ketika tempat thawaf sepi dari laki-laki.

2. THAWAF QUDUM DAN ´UMRAH
Thawaf qudum dinamakan juga thawaf tahiyyah atau
thawaf alliqaa. Thawaf Qudum hukumnya sunnat disisi
mazhab Hanbali, Hanafi dan Syafi´i. Shalat tahiyatul
masjid bagi Masjidil Haram adalah thawaf. Tidak wajib
thawaf qudum atas orang haid dan nifas.

Adapun orang yang ihram untuk ´umrah, dia wajib
melakukan thawaf ´umrah. Karena thawaf ´umrah
adalah salah satu rukun ´umrah. Para ulama sepakat
(ijma´) atas yang demikian.
Ibnu Rusyd mengatakan di dalam Bidaayatul Mujtahid:
“Mereka sepakat (ijma´) bahwa orang yang haji
tamattu´dia wajib dua kali thawaf. Pertama thawaf
´umrah untuk tahallul dari ´umrah, dan kedua thawaf
ifadhah ketika tahallul dari haji pada hari nahar.”
Wanita yang haid
Al-Kharqy mengatakan: “Seorang wanita yang
melakukan ihram untuk umrah tamattu´, tiba-tiba dia
haid sebelum thawaf di untuk ´umrah, dia tidak perlu
lagi thawaf di Baitullah, karena thawaf di Baitullah itu
sama dengan shalat, harus dalam keadaan suci. Dia
37
terlarang masuk ke Masjid, dan tidak mungkin tahallul
dari ´umrahnya, karena belumthawaf di Bait. Jika dia
kuatir akan luput waktu haji, dia boleh ihram untuk
haji sekaligus dengan ´umrah. Makajadilah dia haji
qiran. Begitulah pendapat Malik, Awza´i, Syafi´i dan
kebanyakan para ulama.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir mengatakan:
´Aisyah datang untuk umrah. Sesampainya di Sarif, dia
haid. Rasulullah masuk ke kamar ´Aisyah didapati
beliau ´Aisyah sedang menangis. Rasulullah bertanya :
“Bagaimana enkau?” Jawab ´Aisyah: “Aku haid.
Sedangkan orang banyak sudah tahallul. Aku tidak
dapat tahallul, karena belum thawaf di Baitullah.
Padahal orang banyak telah pergi haji sekarang.”
Maka bersabda Rasulullah saw.: “Haid itu suatu
keharusan yang sudah ditetapkan Allah atas putri-putri
Adam. Karena itu mandilah engkau, kemudian
ihramlah untuk haji.” Maka Aku lakukanlah segala
ibadah untuk haji. Setelah aku suci, aku thawaf di
Ka´bah dan sa´i di Shafa dan Marwa. Kemudian
Rasulullah bersabda: “Engkau sudah boleh tahallul
dari haji dan ´umrahmu.” Kata ´Aisyah : “Ya
Rasulullah! Aku ingat bahwa aku belum thawaf di
Baitullah sebelum melakukan haji.” Sabda Rasulullah
saw.: “Hai Abdur Rahman! Pergilah kamu dengan
´Aisyah ´umrahkan dia dari Tan´im!”
Thawaf Ifadhoh dan Thawaf Wada’ akan dibahas
diakhir.
38
G. SA´I ANTARA SHAFA DAN MARWA

Sa’i wanita haid dan nifas
Menurut jumhur fuqaha sa´i antara shafa dan marwa
termasuk salah satu rukun haji. Ibnu Qaddamah
mengatakan: “Kebanyakan Ahli Ilmu tidak
mensyaratkan suci untuk sa´i antara shafa dan
marwa.” # Yang# berkata# demikian# antara# lain# = • A tha • /
Malik/#SyaIi • i/#Abu#Tswar/#dan#beberapa#ahli#Ra?i# , ahli#
pikir + lainnya 1 #

Diriwayatkan dari ´Aisyah dan Ummu Salamah ra.
bahwa keduanya berkata: “Apabila seorang wanita
thawaf di Bait, lalu shalat dua rakaat, kemudian dia
haid, maka dia boleh meneruskan sa´i antara Shafa
dan Marwa.” (HR. al-Atsram)

Bagi orang yang mampu bersuci sunnat melalukan sa´i
dalam keadaan suci.

Perlukah wanita naik ke puncak Shafa dan Marwa?
Ibnu Qadamah: “Wanita tidak disunatkan naik, supaya
tidak berdesak-desakan dengan kaum laki-laki dan
mencegah supaya auratnya tidak terbuka.”
Disunahkan juga wanita sa´i pada malam hari ketika
tempat sa´i sudah sepi. Dan tidak disunahkan berlari
kecil diantara dua tiang ketika sa´i.

39
H. WUQUF DI ´ARAFAH
Wuquf di ´Arafah termasuk salah satu rukun haji.
´Abdur Rahman bin Ya´mar mengatakan: “Saya
menyaksikan Rasulullah saw. ketika wukuf di ´Arafah.
Orang banyak penduduk Nejed mengerumuni beliau
lalu mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimanakah
haji itu?” Jawab Rasulullah : “Haji ialah ´Arafah.
Siapa-siapa tiba (di ´Arafah) sebelum shalat fajar dan
malam juma´ (muzdalifah) maka sesungguhnya telah
sempurna hajinya.” (HR. Ahmad, al-Arba´ah,
Baihaqi, al-Hakim, dan disahkan oleh Tirmidzi)

Waktu wukuf di ´Arafah terhitung sejak tergelincir
matahari pada hari ´Arafah (tgl. 9 Zulhijah) hingga
terbit fajar pada hari Nahar (tgl 10 Zulhijah), minimal
sampai terbenam matahari. Wuquf di ´Arafah dianggap
sah apabila telah berada di salah satu bagian lembah
´Arafah dalam keadaan ihram, baik dengan cara berdiri
berkendaraan, atau dalam keadaan berbaring.

Tidak disyaratkan thaharah ketika wuquf di ´Arafah
sehingga wanita haid dan nifas dapat melakukannya.
Di hari ´Arafah sunnat memperbanyak takbir, tahlil dan
do´a. Orang yang haid dan nifaspun boleh takbir dan
tahlil serta mendo’a dengan do’a apa saja yang
dikehendakinya., terutama do´a-do´a yang ma´tsur dari
Nabi saw. Namun harus diingat, menurut jumhur ulama
orang yang haid dan nifas tidak boleh beribadat dengan
tilawatil Qur´an.
40
I. BERMALAM DI MUZDALIFAH
“...Maka apabila kamu telah bertolak dari ´Arafah,
berdzikirlah kepada Allah di Masy´aril haram. Dan
berdzikirlah dengan menyebut nama Allahsebagaimana
diajarkan-Nya kepadamu, sekalipun sebelumitu kamu
termasuk orang yang sesat. Kemudian bertolaklahkamu
dari tempat bertolaknya orang banyak (´Arafah) dan
mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-
Baqarah : 198-199)

Masya´aril haram ialah Muzdalifah. Muzdalifah itu
mempunyai tiga nama : Muzdalifah, Juma´, dan
Masy´aril haram.

J. MELEMPAR JUMRAH
Menurut ijma´ ulama melempar jumrah termasuk salah
satu wajib haji. Siapa yang tidak melakukannya wajib
membayar fidyah dengan urutan sebagai berikut:
menyembelih seekor kambing, jika tidak mampu
berpuasa sepuluh hari, tiga hari di tempat haji sepuluh
hari di tanah air, jika tidak sanggup boleh memberi
makan 6 orang miskin.

Kesulitan dalam melempar jumrah adalah tempat yang
sempit,sedangkan jemaa´ah haji jutaan. Maka bagi
orang-orang yang lemah, wanita, orang tua dan anak-
anak perlu mencari waktu yang tepat sehingga tidak
menimbulkan celaka.
41
Waktu untuk melempar ada 4 macam :
1.Waktu Aadaa-an (waktu membayar), yaitu sejak
seperdua malam dari malam nahar, sampai fajar hari
ke dua.
2.Waktu ´azimah (waktu mantap), yaitu sejak terbit
matahari pada hari nahar hingga tergelincir.
3.Waktu ibaahah (waktu yang dibolehkan), yaitu sejak
tergelincir matahari sampai terbenam.
4.Waktu rukhshah (waktu keringanan), yaitu seperdua
malam di malam nahar dan sesudah ghurub di hari
nahar hingga terbit fajar di hari ke dua.

“Bahwasanya Nabi saw. pernah mengirim Ummu
Salamah pada malam Nahar, lalu dia melempar
sebelum fajar, kemudian dia terus berangkat” (HR.
Abu Dawud dan Baihaqi. Katanya sanadnya shahih
tiada bercacat)

Waktu untuk melempar pada hari tasyriq ada 3 macam :
1.Waktu Aadaa-an (waktu membayarkan), yaitu sejak
tergelincir matahari hingga terbit pula besok.
2.Waktu ´azimah: yaitu sejak tergelincir matahari
sampai terbenam.
3.Waktu rukhshah: yaitu sejak terbenam matahari
sampai terbit pula besok.

Hari-hari tasyriq ialah hari ke 11, 12, 13 Zulhijah.
Waktu yang baik bagi wanita untuk melempar ketiga
jumrah itu ialah pada waktu yang tidak berdesak-
42
desakan. Yaitu antara Maghrib dan terbit matahari pada
hari berikutnya. Yang demikian itupun karena darurat
dan untuk menghindari berdesak-desakan. Dan pada
hari nafar ialah sesudah tergelincir.

Para Fuqaha membolehkan melempar digantikan orang
lain, karena sakit, karena berhalangan, atau karena
lemah tidak sanggup melempar. Dalilnya hadits yang
diriwayatkan Ibnu Majah dari Zubair, dari Jabir,
katanya :
“Kami naik haji bersama-sama dengan Rasulullah
saw. dan beserta kami ada wanita-wanita dan anak-
anak. Kami membaca talbiyah untuk wanita dan anak-
anak dan juga melempar untuk mereka.”

K. BERMALAM DI MINA
Hukumnya wajib, boleh dilakukan dua (nafar awwal)
berangkat ke Mekkah sebelum terbenam matahari atau
tiga (nafar tsani) malam

L. MENGGUNTING RAMBUT
Kebanyakan Fuqaha mengatakan menggunting rambut
hukumnya wajib, apabila ditinggalkan harus diimbangi
dengan dam. Bahkan ulama-ulama Syafi´iyah
mengatakan termasuk salah satu rukun haji, yang kalau
ditinggalkan hajinya tidak sah. Waktunya di dalam
´umrah sesudah selesai sa´i. Di dalam haji sesudah
selesai melempar jumrah ´aqabah pada hari nahar. Jika
43
orang yang haji itu membawa hewan qurban (hadya),
dia bercukur sesudah menyembelih hewan qurbannya.

Wanita sunnat menggunting rambut, karena hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu ´Abbas ra. bahwa Rasulullah
saw bersabda :
“Wanita tidak perlu bercukur. Mereka hanya wajib
menggunting”.

Para ulama berbeda pendapat tentang kadar
menggunting rambut:
Maliki: Mengambil jalinan rambut semuanya, tidak
memadai dengan mengambil sebagian jalinan sedang
jalinan lainnya tidak.
Ulama-ulama Syafi´iyah: Sekurang-kurangnya 3 helai
rambut.
Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu ´Umar mengatakan
seluruh ujung-ujung rambut digunting seruas anak jari.
´Atha´: kira-kira tiga anak jari yang dirapatkan.

M. AL-HADYA (HEWAN QURBAN)
Orang yang berqurban boleh digantikan orang lain
menyembelih qurbannya, membagi-bagikan daging dan
kulitnya.

Berkata ´Ali ra.: “Rasulullah menyuruhku mengurus
hewan qurbannya, membagi-bagikan kulit dan
dagingnya. Beliau memerintahkan pula kepadaku untik
tidak memberikan sesuatu daripadanya sebagai upah
44
tukang potong, tetapi kami mengupahnya dari harta
kami sendiri.” (HR. As-Sab´ah, kecuali Tirmidzi)

N. THAWAF IFADHAH
Thawaf ifadhah termasuk salah satu rukun haji.
Menurut Syafi´i dan Ahmad waktu mengerjakannya
mulai dari seperdua malam di malam nahar dan tidak
ada batas waktu penghabisan selama masih dalam bulan
Dzulhijah. Tidak wajib menta´khirkannya hingga hari-
hari tasyriq. Bagi wanita melakukan thawaf ifadhah
pada hari nahar itulah yang lebih afdhol, karena
dikhawatirkan masa haidnya tiba.

Datang haid sebelum thawaf ifadhah
Terkadang terjadi seorang wanita datang haid sebelum
melakukan thawaf ifadhah. Jika wanita tersebut dapat
tinggal di Mekkah sampai suci maka tidak ada
persoalan. Tapi jika jadual mengharuskan berangkat
maka para fuqaha berbeda-beda pendapat :
1.Ibnu ´Umar: Karena thawaf ifadhah merupakan
rukun dan tanpa melakukannya haji menjadi batal,
maka tidak menjadi halangan bila wanita yang
bersangkutan menggunakan obat untuk menahan agar
haid tidak segara datang. Bahkan dia menunjukkan
obatnya yaitu air remasan daun arak.
2.Ulama-ulama Syafi´iyah, Malik dan Ahmad:
Wanita dapat menahan darah haidnya satu atau dua
hari, kesucian dengan cara seperti itu dapat diakui.
45
Jadi wanita dapat mengatur menstruasinya sehingga
tetap suci dan dapat melakukan thawaf.
3.Ulama-ulama Hanafiyah dan satu riwayat dari
Ahmad: Siapa yang tidak berhenti haidnya, dia boleh
thawaf dan thawafnya sah. Tetapi dia wajib
membayar dam yaitu menyembelih seekor unta atau
sapi yang gemuk usia lima tahun, karena masuk
masjid dalam keadaan haid.
4.Maliki: Sekelompok pengikut Malik berpendapat,
sesungguhnya thawaf qudum sudah memadai untuk
menggantikan thawaf ifadhah. Pendapat ini
bertentangan dengan jumhur ulama. Semua pendapat
itu dasarnya adalah ijtihad.
5.Ibnu Taimiyah: Dalam kasus seperti ini wanita yang
haid adalah orang yang uzur. Uzur tidak dapat
menggugurkan kewajiban melakukan thawaf ifadhah.
Karena itu dia boleh thawaf dalam keadaan haid. Dan
tidak perlu membayar dam. Karena sesuatu yang
ditinggal bukan karena lalai tidak perlu membayar
dam. Lain halnya karena lupa atau karena jahil
(bodoh).

O. THAWAF WADA´
Diterima riwayat dari Ibnu ´Abbas ra., katanya
Rasulullah saw bersabda :
“Seseorang (yang menunaikan) haji belum boleh
berangkat sebelum mengakhiri masa hajinya di
Baitullah (Ka´bah).” (HR. Muslim)

46
Hadits ini menjadi dalil bahwa thawaf wada´ itu wajib.
Inilah pendapat yang shahih di dalam mazhab Syafi´i
dan jumhur ulama. Begitu juga pendapat Abu Hanifah,
Ahmad, Hasan Bashri, Hakam Hammad, Tsawri, Ishaq
dan Abu Tsawr.

Wanita haid dan thwaf wada´
Diterima riwayat dari Ibnu ´Abbas yang mengatakan:
“Orang banyak diperintahkan Nabi saw. supaya
mengakhiri masa hajinya (dengan melakukan thawaf)
di Baitullah, tetapi perintah itu dikecualikan terhadap
wanita haid.” (HR. Muttafaqun ´alaihi)

Kata Imam Nawawi : “Hadits tersebut menjadi dalil
bahwa thawaf wada´ hukumnya wajib bagi orang yang
tidak haid dan kewajiban itu gugur bagi orang yang
haid tanpa harus membayar dam. Begitulah mazhab
Syafi´i, Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan lain-lain.

P. ZIARAH
Rasulullah saw. bersabda :
Diterima berita dari Ibnu ´Umar ra., dia mengatakan
bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang
melakukan haji hendaklah dia menziarahi kuburku
sesudah wafatku, sebagaimana dia mengunjungiku di
waktu hidupku.” (HR. Daruquthni)

Al-Qadhi ´Iyadh di dalam Asy-Syifaa´mengatakan:
“Ziarah ke kuburan Nabi saw. hukumnya sunnat.
47
Hukum tersebut disepakati oleh kaum muslimin, dan
merupakan suatu keutamaan yang diidam-idamkan.”

Bolehkah wanita haid dan nifas masuk ke Masjid
Nabawi dan Ziarah ke kuburan Nabi saw.?
Hukum Masjid Nabawi sama hukumnya dengan
masjid-masjid pada umumnya. Ulama-ulama fiqih
berbeda pendapat tentang kebolehan orang junub, orang
haid dan nifas masuk ke masjid.

Hanbali, sebagian Zhahiriyah, Muzani, Ibnul Mundzir,
dan al-Qadhi Abi Thayyib berpendapat orang haid,
nifas dan junub boleh masuk masjid apabila yakin tidak
mengotori masjid.
Malik, Hanafi dan Syafi´i, mereka tidak membolehkan
kecuali karena darurat.

Masing-masing mereka mempunyai dalil sendiri-
sendiri.
Hendaknya wanita haid dan nifas mengambil yang
lebih cermat (ihtiyath), yaitu jangan masuk ke masjid
Nabi untuk menziarahi kuburan beliau. Cukup kiranya
berdiri saja di pinggir pintu jibril untuk mengucapkan
shalawat dan salam kepada beliau, sesudah itu pergilah.
Itulah yang lebih cermat dan hati-hati dalam menjaga
kesucian dan kemuliaan masjid.

48
V. SUNNAH-SUNNAH DAN AFDHALIYAH
1. Thowaf
Diluar manasik haji, kita sunnah melakukan thowaf
di sembarang waktu. Sabda Rasulullah SAW.:
“Wahai Bani Manaf tidak dilarang seseorang
thowaf dan shalat di Baitullah ini kapan saja,
siang maupun malam”. (Ashabus Sunan)
2. Sholat sunnah dalam safar hanya witir dan
qolbiyah subuh Dalam safar shahabat Ibnu ´Umar
shalat (wajib) tidak lebih dari dua rakaat, tidak
sholat apa-apa sebelum dan sesudahnya. Lalu
ditanyakan kepadanya : “Apa ini?” Ia menjawab :
“Aku lihat Rasulullah SAW. berbuat demikian.”
(Nasa-i)
Dan tidak tercatat keterangan daripadanya
bahwasanya Rasulullah SAW. melakukan shalat
sunnah (rowatib) qobliyah maupun ba´diyah,
kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah
Shubuh, beliau tidak pernah meninggalkan dua
shalat sunnah itu tatkala ada di rumah maupun
dalam safar. (Nailulauthor 3 : 187)
3. Sholat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Sabda Rasulullah SAW.:
“Satu shalat di masjidku ini (Nabawi) lebih
afddhol daripada 1000 kali shalat di masjid
lainnya, kecuali Masjidil Haram; dan satu kali
shalat di Masjidil Haram itu lebih afdhol daripada
100 kali shalat di masjidku ini”. (Ahmad, Ibnu
Hibban)
49

VI. FIDYAH, KAFFARAH, DAM (denda)
1. Dalam ihrom memotong rambut sebelum waktu
tahallul, sebab kena penyakit atau gangguan kutu,
maka ia wajib membayar denda, bisa pilih diantara
tiga ini :
a. Menyembelih seekor kambing (dam)
b. Memberi makan kepada enam orang miskin
(fidyah)
c. Puasa tiga hari (kaffarah)

Firman Allah :

äÓ áŽô»#æã#”óªÔÓ#곃-#æã#遲#ê‘#íƒ#ŽÀó®ã#âÜèã#åŽÛ#æ
Ú´ç#íƒ#”ת»#íƒ#
Artinya: “Dan barangsiapa diantara kalian sakit
atau di kepalanya ada sesuatu yang
mengganggu (lalu ia mencukur rambut), maka
hendaklah ia membayar fidyah, puasa atau
sedekah atau qurban”. (Al-Baqarah : 197)
Dikala shahabat Ka´ab bin Uirah berpenyakit penuh
kutu di kepalanya, Rasulullah bersabda :
“Apakah engaku bisa mendapatkan seekor domba?”
Saya (Ka´ab) menjawab : “Tidak” Lalu beliau
bersabda: “Kalau begitu, puasalah tiga hari atau
memberi makan kepada enam orang miskin, buat
seorang miskin setengah sha´”. (Bukhari)
50

2.Yang sedang ihram membunuh binatang buruan,
maka dendanya salah satu diantara tiga :
a. Menyembelih binatang ternak yang sebanding
dengan binatang buruan yang dibunuhnya (dam).
b. Memberi makan kepada beberapa orang miskin
(fidyah).
c. Puasa yang sebanding dengan itu. Yang
menentukan bandingannya ialah dua orang
hakim yang adil (kaffarah).

Firman Allah :

#•ªä̘ã#âÜèã#êà˜×#æãí#ᮣ#â˜çƒí#ªô¼ß•#•îà˜Ø—#û#•îèã•#æó¬ß•#Žìóƒ#Žó
˜×#Žã#Þœã#ï•°Ó íƒ#”’ÌÜß•#Îߎ‘#Žóªë#âÜèã#ݪË#•í«#ê‘#âܤó#âÌèß•#æã#Þ
#ŽäË#••#ŽÔË#é®ãƒ#ÝŽ‘í#Õí¬ôß#ŽãŽô»#Úß«#ݪË#íƒ#æôÛŽ´ã#áŽÌÃ#“-ŽÔÛ
áŽØ˜ç•#í«#°ó°Ë#••í#êèã#••#âؘèôÓ#©ŽË#æãí#Òà³#
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu
sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu
membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya
ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang
dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan
dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-
ya yang dibawa sampai ke Ka'bah, atau
(dendanya) membayar kaffarat dengan memberi
makan orang-orang miskin, atau berpuasa
seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu,
supaya dia merasakan akibat yang buruk dari
51
perbuatannya. Allah telah mema'afkan apa yang
telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali
mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.
Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan
untuk) menyiksa.”. (Al-Maidah : 95)
3.Yang melakukan haji tamattu´ pilih salah satu
diantara dua :
a. Menyembelih seekor kambing (dam).
b. Puasa tiga hari di dalam masa haji dan tujuh hari di
kala pulang ke negaranya, jumlahnya sepuluh hari
(kafarah).
Firman Allah :

#áŽô¼Ó#ªó#âß#æäÓ#ñªìß•#æã#®´ô˜³•#ŽäÓ#ž¤ß•#ð߇#“®äÌߎ‘#ʘä—#æäÓ
”àãŽÛ#“®¸Ë#Úà—#â˜ÌŸ-#•«‡#”Ì’³í#ž¤ß•#òÓ#áŽóƒ#”›ü›#
Artinya: “Barangsiapa yang bertamattu´dengan
umroh kepada haji maka hendaklah ia bayar
fidyah dengan qurban sedapatnya, tapi kalau
tidak dapat, hendaknya ia berpuasa tiga hari di
waktu haji dan tujuh hari kalau ia sudah pulang.
Itu berjumlah sepuluh hari sempurna”.
(Al-Baqarah : 196)

52
VII. TUNTUNAN SHALAT JANAZAH
1.Berdiri di belakang janazah yang akan dishalatkan.
2.Niat shalat janazah, yaitu niat shalat untuk
mendo´akan dan memberi syafa´at kepada mayit,
ikhlas karena Allah.
3.Takbir empat kali.
1. Setelah takbir pertama membaca surat Al-Fatihah
dengan suara lirih.
2. Setelah takbir kedua membaca shalawat kepada
Nabi SAW.

#ôâøôöë•ô®ø‘ö‡#ðôàôË#ô–øôIàô»#ŽôäôÛ#óªIäô¤õã#öÝôƒ#ðôàôË#ôí#óªIäô¤õã#ðôàôË#KÞô»#IâõìI àßôƒ
#ôâøôöë•ô®ø‘ö‡#ðôàôË#ô–øÛô-Žô‘#ŽôäôÛ#óªIäô¤õã#öÝôƒ#ðôàôËôí#óªIäô¤õã#ðôàôË#øÙö-Žô‘ôí
#ªøôöôã#òªøôöäô£#ôÚIçö‡#ôæøôöäôߎôÌøߎôöÓ#
ò
3. Setelah takbir ketiga membaca do´a memohon
ampunan dan rahmat untuk mayit.

#õêôàô§øªôã#øÊö³ôíôí#õêôßõ°õç#øáö®øÛôƒôí#öêöÓ#ŽôËôí#õêøèôË#õÒøË•ôí#õêøäô£ø-•ôí#õêôßø®öÔøÏ•#IâõìIàßô•
#õ¾ôôø‘ô÷ø•#õ•øîIœß•#ðôÔôèõó#ŽôäôÛ#Žôó#ŽôÄô¨øß•#ôæöã#öêKØôçôí#ó©ô®ö‘ôí#óžøàô›ôí#óïŽôäö‘#õêøàö´øÏ•ôí
•#ôæöã ŽñŸøíô¯ôí#öêöàøëôƒ#øæöã#•ñ®øôô§#ñüøëôƒôí#öéö-•ô©#øæöã#•ñ®øôô§#•ñ-•ô©#õêøß#öªø‘ôƒôí#ö²øç#Iªß
ö-ŽIèß•#ô••ô¬ôËôí#ö®ø’ôØøß•#ô”ôèø˜öÓ#öêö×ôí#öêöŸøíô¯#øæöã#•ñ®øôô§#
Artinya. “Ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia,
hapuskanlah dosa-dosanya dan selamatkan-
lah dia. Muliakanlah persinggahannya dan
luaskanlah tempat masuknya. Cucilah dia
dengan air, salju dan es. Bersihkanlah dia dari
kesalahan-kesalahan sebagaimana kain putih
dibersihkan dari kotoran. Berikanlah dia ganti
53
rumah yang lebih baik dari rumahnya,
keluarga yang lebih baik dari keluarganya dan
pasangan yang lebih baik dari pasangannya,
dan selamatkan dia dari cobaan kubur dan
siksa neraka”.

4. Setelah takbir keempat membaca salam.

õêõ—ŽôÛô®ô‘ôí#ö••#õ”ôäø£ô-ôí#øâõÜøôôàôË#õáôüI´ßô•#




--- WALLAHU A’LAM BISH-SHAWWAB ---

54
Daftar Pustaka:
1.KITAB HAJI, K.H. Nadjih Ahjad, CV. Tri Bakti,
Surabaya 1993.
2.Petunjuk untuk Jama’ah Haji dan ‘Umrah serta
Penziarah Masjid Rasul saw., Direktorat Jenderal
Urusan Riset, Fatwa, Da’wah dan Bimbingan Islam,
Riyadh 1987.
3.Fiqih Wanita Tentang Haji, Muhammad Athiyah
Khumais, Media Da´wah, Jakarta 1988.
4.Fiqih Wanita, Ibrahim Muhammad Al-Jammal, CV.
Asy-Syifa, Semarang 1986.
5.Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid I, DR. Yusuf Al-
Qardhawi, Gema Insani Press, Jakarta 1995.

MUQADDIMAH Allah Subhanahu wa Ta´ala berfirman : #òèÏ#••#åˆÓ#®ÔÛ#æãí#üô’³#êô߇#ɎĘ³•#æã#–ô’ß•#ž£#±Žèß•#ðàË#•í æôäߎÌß•#æË# “...Mengerjakan haji merupakan kewajiban manusia kepada Allah, yakni (bagi) orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesunguhnya Allah Maha Kaya (tiada memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” (QS Ali Imran : 97) #žÓ#ÞÛ#æã#æô—„ó#®ãŽ¿#ÞÛ#ðàËí#ûŽŸ-#Ùî—„ó#ž¤ßŽ‘#±Žèß•#òÓ#嫃í ÖôäË# “Dan panggillah manusia untuk melaksanakan haji niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru.” (QS Al-Hajj : 27)

%âÜܳ#Žèã#ðèË#•í¬§%#
“Ambillah contoh dariku pelaksanaan ibadah haji kamu sekalian.” (HR. Muslim) Allah SWT telah mewajibkan ibdah haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melaksanakannya, yakni mampu biayanya, waktu dan kesehatannya. Ibadah haji merupakan kesatupaduan dari Arkan Al-Islam, sebagai

1

tindak lanjut dan tahapan dari syahadatain, shalat, shiyam dan zakat.

rukun

lainya,

Bahwasanya ibadah haji memerlukan prasyarat mental dan kondisional yang teguh dan utuh. Ia wajib diniatkan secara ikhlas, dilaksanakan secara benar (shahih) sesuai tuntunan qudwah Rasulullah SAW. Penyimpangan niat dan tercampurnya bid´ah hanya akan merusak nilai suci dari ibadah itu sendiri. Dambaan setiap hujjaj adalah haji yang mabrur dan dosa-dosa yang diampuni. Itulah sebabnya haji menjadi pengayaan latihan ruhani (Tarbiyah al-Nafs) dengan disiplin yang ketat, ketinggian akhlak dalam jalinan hubungan kemanusiaan kepada khaliqnya, antar sesamanya dan alam lingkungan. Ibadah haji sebagai bukti ketinggian Din Al-Islam dalam wujud mu´tamar ummat Islam sedunia tanpa membedakan suku bangsa, warna kulit dan bahasa, tanpa hambatan psikologis antara pemimpin negara dan rakyat jelata. Semua tunduk patuh beribadah kepada Allah semata-mata mendamba ridha-Nya guna mencapai derajat Muttaqin. Namun sangat disayangkan, masih terjadi pengamalan haji yang keluar dari prinsip (mabda), manasik dan tujuan (ghayah) yang hakiki, seperti: niat yang salah,

2

tidak melaksanakan dan memahami esensi ibadah haji, apalagi ternoda bid´ah, khurafat dan tahayul. Itulah sebabnya dibentuk Bimbingan perjalanan haji ´Arafah untuk menyiapkan calon hujjaj memiliki keteguhan niat yang ikhlas, pelaksanaan ibadah haji sesuai sunnah Rasulullah SAW. dan kembali dari menunaikan ibadah haji senantiasa istiqomah dalam melaksanakan syariat Islam. Dengan demikian makna Haji Mabrur akan benar-benar terwujud dan dirasakan secara pribadi, keluarga dan masyarakat. Insya Allah, Bimbingan Ibadah Haji Arafah dapat berpartisipasi dalam meningkatkan syi´ar da´wah Islamiyah melalui Bimbingan kepada calon hujjaj.

3

I. URUTAN PELAKSANAAN IBADAH HAJI (UMUM) Karena kita bukan penduduk Mekkah dan kita tidak mung-kin membawa hewan qurban dari tempat tinggal kita, maka kita (rombongan haji Arafah) melaksanakan haji Tamattu’. Tanggal Sebelum masa haji: Syawwal s/d fajar 8 Dzul Hijjah 8 Dzul Hijjah Hari Tarwiyah 9 Dzul Hijjah Hari Arofah Tamattu’ 1.Ihrom dari miqot 2.Niat ‘Umroh 3.Talbiyah 4.Thowaf 5.Sa’i 6.Tahallul 7.Ihrom dari tempat tinggal dan niat Hajji. Mabit dan sholat lima waktu di Mina. 8.Wukuf di ‘Arofah dari tergelin-cir s/d terbenam matahari . 9.Setelah terbenam matahari pergi menuju Muzdalifah 10.Mabit di Muzdalifah. 11.Menuju Mina dan 10 Dzul langsung melontar Jumroh Hijjah 12.Memotong/mencukur Hari Nahar rambut (tahllul pertama) 13.Menyembelih hewan qurban (Dam Tamattu’) Hukum 1.Wajib 2.Rukun 3.Sunnah 4.Rukun 5.Rukun 6.Rukun 7.Mabit di Mina hari ini Sunnah 8.Rukun, s/d tenggelam matahari wajib. 110. Wajib 111. Wajib 112. Rukun

4

16 24.14. Wajib Catatan: Rukun: apabila ditinggalkan. 5 . Thowaf wada’ 14. Mabit di Mina 18. Wajib 17. Wajib 19. Seperti no.Thowaf ifadhoh dan sa’i (tahallul kedua) 11 Dzul Hijjah Hari Tasyriq pertama 12 Dzul Hijjah Hari Tasyriq kedua 13. Wajib 22. Meninggalkan Mina sebelum terbenam matahari bagi yang melakukan Nafar Awwal 20. Wajib 18. Setelah tergelincir matahari melontar jumroh: Ula.Rukun. Wajib 23. Bisa langsung thowaf Wada’ bagi yang akan meninggalkan Mekkah 21. Ibadah Haji selesai 25. Seperti no. Wajib 20. Ibadah Haji selesai Bagi yang Nafar Tsani 22. haji sah tapi harus bayar dam/ fidyah/kaffarah. Wajib 16. 16 19. Dzul Hijjah Hari Tasyriq ketiga 15. Wajib: apabila ditinggalkan. Mabit di Mina 23. Wajib 25. boleh di akhirkan 15. haji tidak sah. Mabit di Mina 16. Wustho dan Aqobah (masing-masing 7 lontaran) 17.

Dari amalan-amalan Haji diatas para Ulama menyimpulkan: A. URUTAN PELAKSANAAN HAJI (AROFAH) A. Thowaf 2. B. mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut didaerah kemaluan. 2.Mandi untuk ihrom seperti mandi janabah. Sa’i rambut 3. Menggunting/mencukur 3. memendekkan kumis.Memakai minyak wangi ditubuh (bukan dipakaian ihrom) untuk laki-laki (wanita tidak boleh). Wuquf di ‘Arofah 2. PERSIAPAN SEBELUM KEBERANGKATAN 1. Mabit di Mina pd malam 2.Bacalah do’a naik kendaraan dan do’a bepergian (safar). 3. IHRAM DI PESAWAT 1. Mabit di matahari) Muzdalifah 2.Mandi jika memungkinkan (mandi sebelum berangkat). Tertib rukun diatas B. Ihrom di Miqot 1. Wajib Haji terdiri atas: 1. 4. Wuquf di Arofah Tasyriq (hingga terbenam 3. 6 .Memotong kuku tangan dan kaki. Ihrom 1. 2. Melontar Jumroh 3. Thowaf wada’ II. Rukun Haji terdiri atas: 1.Pakaian Ihrom harap dibawa kedalam pesawat.

Adapun bacaannya : #1#ô øàõ øß•ô #ô ô#ô ô øÌK ß•ô #ô øäô øß•#I ö#1#ô øôI ß#ô ô#ô øóö ô #ô #ô øôI ô#1#ô øôI ô#I õ Ißô#ô øôI ô Ú ä í Úß ”ä è í ª ¤ å‡ Ú ’ô Úß Ú ®· û Ú ’ß Ú ’ß âìà • Ú ’ß 1#ô ô#ô øóö ·ô # Úß Ú ®ô û Artinya : “Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Amirul Haj akan mengumum-kan agar semua jama´ah mengucapkan niat yaitu : “® Ë âìà • Ú ’ß ñ ô øäõ #I õ Ißô#ô øôI ô Artinya : “Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan Umroh. Diroka’at pertama membaca surat Al-Kafirun setelah membaca alFatihah dan diroka’at kedua surat Al-Ikhlas (Boleh pula surat-surat yang lain). mencela/menghina orang lain dan obrolan yang tidak bermanfa’at. aku penuhi panggilan-Mu. 6.” (Al-Bukhori) 7. 7 .Pakai kain Ihrom. Tiada sekutu bagi-Mu.3.Setelah itu dilanjutkan dengan talbiyah diucapkan berulang-ulang dengan suara keras bagi laki-laki sedangkan wanita cukup dengan suara pelan. 4. sesungguhnya segala puji dan segala ni´mat adalh kepunyaan-Mu demikian pula segala kerajaan.Setelah sampai di Miqot (Rabigh/kira-kira satu jam sebelum mendarat).Sholat dua raka’at ditempat duduk.Perbanyaklah talbiyah/berdzikir/baca qur’an atau membaca bacaan Islami dan hindari pertengkaran/perselisihan.” 5. aku penuhi panggilan-Mu. tiada sekutu bagi-Mu.

buang air dan sholat.Istirahat. DI MEKKAH 1.Berkumpul ditempat istirahat yang telah disediakan menunggu urusan imigrasi dan pemeriksaan barang.Setelah pemeriksaan kumpulkan pasport dan chek haji kepada ketua rombongan. 2.Sabar dan tetap bertalbiyah/berdzikir.Membaca do’a masuk kota. 3. 2. 3. makan (dibelikan oleh panitia).Berangkat menuju Mekkah dengan bis yang telah disediakan (insya Allah AC).®× ì‘ ß Ì âìà • ñ ô ô #Žñ ø¯ö #Žô øôö #ðö ø×õ ø-ô #•ñ •ô ô #Žô ö #ðö#øÞô øŸ•#I õ Ißô# Artinya: “Ya Allah jadikanlah bagiku (kota ini) tempat yang nyaman dan berilah aku rizki didalamnya rizki yang halal. Tetap bersama rombongan sampai urusan administrasi selesai. 8 . 5. 4. DIBANDARA JEDDAH (MADINATUL HUJJAJ) 1.ì Ó è ¯ í . 4.Di pemondokkan akan ada pembagian kamar. Diharapkan tertib dan tenang dalam menaiki bis itu. 6. Kemudian istirahat dan makan.Bis akan mengantar kita sampai ke Maktab/Majmu’ah kemudian akan menuju pemondokkan. yakni ûü£ × .C.Turun dari pesawat dengan tenang dan tertib.Briefing pelaksanaan ‘umroh dan pengenalan kondisi kota Mekkah. D.

THOWAF Ketika masuk Masjidil Haram kita harus dalam keadaan berwudhu.” (al-Umm 2 : 144.èô¤Ó áü´ Ú ö í áü´ – ƒ âìà • ö ô I ߎö #Žô I ô #Žô K ô ô #õ ô I ß•#ô øèãô #õ ô I ß•#ô øçô#I õ Ißô# Artinya : “Ya Allah Engkaulah sumber segala kesejahteraan dan dari Engkaulah datangnya segala kesejahteraan. kemuliaan dan kebajikan.Bersama rombongan masing-masing menuju Masjidil Haram. Kita disunnahkan masuk melalui Babus Salam dimulai dengan kaki kanan. Hadits Shohih. ‘UMROH 1. ketika melihat Ka´bah kita membaca : áü´ ‘ è‘. tambahkanlah kepada rumah ini (Ka’bah) kehormatan. Nailul Author 5 : 109) #õ ô I ô #øæô #ø©ö ô #ñ ô Žô ô ô #Žñ øóö øÜô ô #Žñ øôö øÌô ô #Žñ øóö ø¸ô #ô øôô øß•#•ô ô #ø©ö #I õ àßô êÓ®· ã ¯í ”‘ ìãí ä ® —í ä È —í Ô ® — – ’ ¬ë ¯ âìI • •2 ö ô #Žñ øóö Üô ô #Žñ øôö øÌô ô #Žñ øóö ø¸ô #õ ô ô ô øË•ô #õ I ô #øæI ö #õ ãI Ûô # ®‘í ä ®ø —í ä È —í Ô ® — é®ä˜ í ê £ äã êô ®ô í Artinya: “Ya Allah.5. keagungan. yaitu orang yang mendatanginya untuk haji dan ‘umroh kehormatan. al-Fathu-r Robbani 12 : 8. kemuliaan dan kewibawaan. maka hidupkanlah kami ya Allah dengan keselamatan. Dan tambahkanlah kepada siapa yang menghormatinya dan memuliakannya. al-Baihaqi 5 : 73.” 9 . E.

dan berikanlah kami kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa api neraka. Brilah kami kebaikan di dunia ini.” (Ahmad dan Abu Dawud) 10 . sedangkan wanita cukup berjalan biasa untuk semua putaran. yaitu diantara rukun yamani dan Hajar Aswad dengan bacaan : . Dan jama´ah akhiri setiap putaran. tiga putaran pertama bagi laki-laki berlari-lari kecil kalau memungkinkan (putaran selanjutnya cukup dengan berjalan biasa).è • ¬Ë è× í ”è´£ “®§÷ Ó í ”ô ô £ ô ª Ó è—ƒ è‘ö ŽI ß•#ô •ô ô #Žô ö #ô #ñ ô ô ô #ö ô ö ô ø•#òö #ô #ñ è´ô #Žô øç#J ß•#òö #Žô ö ô#Žô I ô # Artinya : “Wahai Rabb kami. Bila tidak cukup mengusapnya lalu mencium tangan atau isyarat dengan tangan tanpa mencium tangan sambil mengucapkan : ®’ ƒ • í • â ‘ õ ô øÛô#õ •ô #ö •#ö ø´ö # Artinya : “Dengan nama Allah. Selama thowaf bacalah do´a dan dzikir yang jama´ah kehendaki atau sukai.Setelah itu kita menuju garis coklat yang sejajar dengan Hajar Aswad dan mulailah Thowaf dari sini dengan diawali mencium Hajar Aswad bila memungkinkan. Ketika melewati Rukun Yamani usaplah dengan tangan (kalau tidak mungkin cukup dengan melambaikan tangan) sambil mengucapkan “BismiLLahi waLLahu akbar” . Allah Maha Agung” Kemudian mengelilingi Ka´bah tujuh putaran.

Bila tidak. Setelah itu minumlah air Zamzam dan bacalah: ï © Þõ ã ï Ô·í ̳ í × -í ÌÓ ç äø Ë Úß„ ƒ ç‡ âìà • ó •ô #K Û#øæö #ñ Žô ö ô #Žñ ö •ô #Žñ ø¯ö ô #Žñ ö Žô #Žñ àö #ö õôø³ô#ðK ö#I õ Ißô# Artinya: “Ya Allah.” Lakukanlah shalat dua rakaat di belakang Maqom Ibrohim bila memungkinkan. lakukanlah di tempat lain di dalam Masjid dengan membaca surat AlKafirun di rakaat pertama dan dirakaat kedua surat AlIkhlash. Ahmad) 11 . Kemudian menuju Maqom Ibrohim sambil membaca: ðIô õ #ô øôö •ô ø‘ö#ö Žô ô #øæö #•íõ ö I •#ô # à¼ã â ë ® ‡ á Øã ã ¬¨— í Artinya: “Dan jadikanlah sebagian dari maqom Ibrohim sebagai tempat sholat.” (HR. SA´I Kemudian menuju Shofa. an-Nasa-i. lalu membaca : • -ï Ì· ã “í ä í Ô¼ å‡ ö •#ö ö Žô ô #øæö #ô ô ø®ô øß•ô #Žô I ß•#I ö# Artinya : “Sesungguhnya Shofa dan Marwa itu adalah syi´ar-syi´ar Allah. sesungguhnya aku memohon padaMu ilmu yang bermanfa’at dan rizki yang lapang serta obat dari segala penyakit”. 2. Muslim.Sesampainya di Hajar Aswad lakukanlah seperti permulaan thowaf sampai selesai tujuh putaran.

hingga sampai pada tanda hijau. laki-laki berlari-lari kecil sampai tanda hijau berikutnya sedang wanita jalan biasa. lalu jalan biasa sampai ke Marwa. tiada illah melainkan Allah yang Tunggal tiada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Agung. bagi-Nya seluruh kerajaan. mengangkat kedua belah tangan sambil menghadap Ka´bah lalu membaca : #õ ôô #õ øàõ øß•#õ ô#1#õ ô#ô øó®ô ô #õ ªø£í#õ •#I ö#ô ôö#ô #ì®ô øÛô#õ •#ì®ô øÛƒ#õ ô#ì®ô øÛƒ#õ ô êßí Ú ä êß êß Ú ö ·û éô ô • û‡ ê߇ û ’ ƒ •ô ’ ô •• ’ ô •• #ô ô ô ô #õ ô øËô #ô ô øçô#õ ªø£ô #õ •#I ö#ô ôö#ô #ì#ò øóö ô #ó òô #K õ #ðôô #ô õ ô #õ øäô øß•# ®¼çí éª í ° ƒ éô í • û‡ ê߇ û ® ª× ïø · ÞÛ àË îëí ª ¤ 1#õ ô ø£ô #ô ô ø£ô ø•#ô ô ô ô #õ ô ø’ô # éª í •° ÷ á°ëí éª Ë Artinya : “Allah Maha Agung. (HR. Kemudian turun dari Shofa dan berjalan menuju Marwah. dan bagi-Nya seluruh puji. Tiada illah melainkan Allah yang tunggal yang memenuhi janji-Nya dan yang menolong hamban-Nya dan menghancurkan musuh sendirian”. Muslim. dan Ia kuasa atas segala sesuatu.Setelah tiba di Shofa. 12 . Di situ kita melakukan dan mengucapkan sebagaimana yang kita lakukan dan ucapkan di Shofa. Allah Maha Agung. Nasa-i dan Ahmad) Bacaan tersebut diulang sampai tiga kali setiap ulangan disambung do´a sesuai kebutuhan kita dengan bahasa apa saja.

Jadi mulai dari Shofa berakhir di Marwa. dari Shofa ke Marwa dihitung satu kali. IHROM Pada tanggal 8 Dzulhijah yang disebut hari tarwiyah kita melakukan ihrom untuk haji. Sedangkan bagi wanita cukup menggunting ujung rambutnya kira-kira seujung jari. an-Nasai 3 : 150. 3. kita boleh melakukan apa-apa yang tadinya menjadi larangan ihrom. Sampai disini selesailah kita melaksanakan Umroh.“ (Muslim 1 : 522. persiapannya : 1. TAHALLUL Kemudian mencukur rambut atau memendekkan.Mandi 2.Memakai kain ihrom Hal ini dilakukan di tempat masing-masing setelah siap memakai pakaian ihrom lalu kita mengucapkan : Ž2 ô #I õ Ißô#ô øôI ô# £ âìà • Ú ’ß Artinya : “Ya Allah kami datang memenuhi panggilanMu. HAJJI 1.Lakukanlah yang demikian itu tujuh kali. F. kecuali wanita tidak boleh memakainya 3.Pakai wangi-wangian (ditubuh bukan dipakaian ihrom). Ibnu 2 : 227) 13 . demikian sebaliknya.

Setelah shalat Shubuh perbanyaklah do´a dan dzikir dengan menghadap kiblat sambil mengangkat tangan. setelah matahari terbit kita berangkat menuju ´Arafah. 4. 14 . lalu tidurlah hingga melakukan shalat Shubuh kecuali yang mempunyai udzur syar´i boleh berangkat menuju Mina setelah lewat tengah malam. 2. WUQUF Tanggal 9 Dzulhijah. MABIT di Mudzdalifah Begitu matahari terbenam kita menuju Mudzdalifah sambil membaca talbiyah. sesampainya disana lakukanlah shalat Maghrib dan ‘Isya dengan Jama´ dan qoshor dengan satu Adzan dan dua Qomat. Isya dan Subuh dengan cara menqoshor pada waktunya masing-masing. Maghrib. dan perbanyaklah dzikir dan do´a sambil menghadap kiblat dengan mengangkat kedua tangan sesuai contoh Rasulullah. 3. dengan satu kali Adzan dan dua kali Qomat. Sesampainya disana lakukanlah shalat zhuhur dan Ashar dengan Jama´ Taqdim dan Qoshor.Dilanjutkan dengan talbiyah seperti ketika berihrom hendak melakukan umroh. MABIT di Mina Kemudian keluarlah menuju Mina dan lakukanlah disana shalat Zhuhur. Ashar. Hendaknya jama´ah tetap berada disana sampai terbenam matahari.

Menyembelih qurban (disembelihkan orang) 3. sedangkan bagi wanita cukup menggunting ujung rambutnya kira-kira seujung jari. TAHALUL AWWAL Apabila kita telah selesai melakukan melempar jumroh Aqobah. 5. 6. kecuali berhubungan badan dengan istri.” 2. JUMROH AQOBAH Setelah mengambil tujuh buah kerikil kita berangkat menuju Mina sambil membaca talbiyah. Sesampainya di Mina lakukanlah : 1.Ô ã ’ «í . 15 .Bercukur sampai bersih atau pendekkan saja bagi laki-laki. maka kita boleh melakukan hal yang tadinya jadi larangan ihrom.Melempar jumroh aqobah dengan kerikil tujuh kali secara berturut-turut setiap lemparan diiringi dengan takbir: ®’ ƒ •• õ ô øÛô#õ ô# Dan setelah selesai bacalah do´a : •ñ øîõ øÐô #Žñ øçô ô #•ñ íõ ø’ô #Žñ ô #õ øàô øŸ•#I ìIßô# . menyembelih dan mencukur.® ã £ ê Ì âõ à • Artinya : “Ya Allah jadikanlah haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.Sebelum kita meninggalkan Mudzdalifah ambillah tujuh butir kerikil untuk melempar Jumroh Aqobah.

7. 13 atau dua malam saja tanggal 11 dan 12. 16 . 12. kalau kita ingin istirahat terlebih dahulu). a.. 8. THAWAF IFADHOH Kemudian kita berangkat menuju Mekkah dan lakukanlah thowaf ifadhoh (atau boleh diakhirkan. Pada hari-hari di Mina lemparlah ketiga jumroh dimulai dari ´Ula. Wustho´ dan Aqobah setelah tergelincir matahari (Zhuhur) masing-masing dengan tujuh lemparan dan setiap melempar diiringi dengan takbir. Nafar Awwal (dua malam di Mina) Bagi yang memilih nafar awwal hendaklah jama´ah meninggalkan Mina di hari kedua (tanggal 12) sebelum matahari terbenam. maka diperbolehkan semua yang tadinya menjadi larangan dalam ihrom. seperti yang kita lakukan waktu thowaf qudum (tanpa lari-lari kecil di tiga putaran pertama) kemudian lakukanlah sa´i dengan demikian selesailah thowaf ifadhoh. MABIT dan JUMROH di MINA Setelah thowaf ifadhoh pada hari nahar kita kembali ke Mina dan bermalam disana pada hari-hari tasyriq yaitu tanggal 11.

Bagi wanita yang haid diberi rukhsoh tidak melakukan thowaf wada´ dan haji sah bila sudah melaksanakan thowaf ifadhoh. 9. 17 . Lalu melempar ketiga jumroh kemudian kembali ke Mekkah.b. THAWAF WADA’ Sebelum meninggalkan Mekkah kita melakukan pekerjaan haji yang terakhir yaitu thowaf wada´ tanpa lari-lari kecil di tiga putaran pertama dan tanpa sa´i. mudahmudahan menjadi haji yang mabrur. Dengan demikian selesailah ibadah haji kita. Nafar Tsani Bagi yang memilih nafar tsani maka diwajibkan mabit pada malam ke tiga (tanggal 13). Amiin.

celana. Sabda Rasulullah: “Laki-laki yang sedang ihrom dilarang memakai baju. dan pada tahallulnya setelah beliau melempar jumroh aqobah sebelum thowwaf ifadhoh di Baitullah”. (Al-Maidah : 95) 6. Sabda Rasulullah SAW. (Bukhari. sebab hal itu adalah pekerjaan tahallul yang membatalkan ihrom. kecuali dipotong sehingga ujungnya di bawah mata kaki”.Berkata ´Aisyah: “Saya memakaikan wangi-wangian keppada Rasulullah SAW.Memakai wangi-wangian. untuk ihromnya dikala beliau mau ihrom.III. sarung kaki (sepatu). pakaian yang dicelup dengan waras dan ja´faran. Nasa-i) 4. celana. sorban.Pria memakai pakaian yang mengurung.: 18 . topi.Berburu (membunuh binatang buruan). Firman Allah SWT : ᮣ#â˜çƒí#ªô¼ß•#•îà˜Ø—#û#•îèã•#æó¬ß•#Žìóƒ#Žó# Artinya: “Wahai orang yang beriman jangan kalian membunuh binatang buruan sedangkan kalian dalam ihrom”. (Bukhori. baju. menutup kepala. bersepatu yang menutup mata kaki. kecuali yang dipakai sebelum ihrom. 5.Memotong rambut. pakaian. 3. Muslim) 2. kawin dan mengawinkan. YANG TERLARANG BAGI MUHRIM (orang dalam ihrom) Bagi yang dalam ihrom sebelum tahallul dilarang : 1.Meminang.

Ahmad) 19 .Berbicara kotor. (AlBaqarah : 197) 8. menikahkan dan meminang”. (Bukhori) 9. dan melakukan ma´siat dan jangan bertengkar (berkelahi) dalam ibadah haji”.: “Sesungguhnya negeri ini adalah terlarang. (Muslim) 7. dicabut tanamannya. Sabda Rasulullah SAW. diburu binatangnya dan barang yang tercecer (jatuh) jangan diambil kembali kecuali oleh petugas tukang memberitakan kecuali idkhir”. bertengkar. firman Allah SWT. tidak boleh diambil durinya. berkelahi. Sabda Rasulullah SAW. durinya apalagi mematahkan batangnya. bercadar dan tidak boleh memakai sarung tangan”. kulitnya.: #òÓ#Ý•ªŸ#ûí#Õî´Ó#ûí#šÓ-#üÓ#ž¤ß•#æìôÓ#½®Ó#æäÓ ž¤ß•# Artinya: “Barangsiapa yang telah memfardhukan dirinya ibadah haji. (Bukhori. ia dilarang berbicara yang mengarah kesana.Artinya: “Yang sedang ihrom janganlah menikah.Wanita menutup muka dan memakai sarung tangan.: “Wanita yang berihrom jangan menutup mukanya.Mengganggu pohon-pohon di Mekkah dan Madinah.

IV. Karena haji adalah wajib sedangkan meninggalkan yang wajib adalah ma´siat. PELAKSANAAN HAJI BAGI WANITA Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam kitab shahihnya. dan suami tidak memerlukannya selama ia pergi (suami sakit misalnya). Jika suami tidak mengizinkan istri boleh pergi tanpa izin suaminya. IZIN SUAMI 6HWLDS#LVWUL#ZDMLE#PLQWD#L]LQ#VXDPL#XQWXN#SHUJL#KDML#DWDX# %HUNDWD# # 1NHPDQDSXQ/# GDODP# UDQJND# WDDW# NHSDGD# VXDPL SHQJLNXW#+DQDIL#GDQ#$KPDG/#GDQ#SHUNDWDDQ#PHUHND#LQL# # /ñPHQXUXW# 6\DIL# VKDKLK“Suami tidak boleh melarang istrinya pergi haji jika haji yang akan dikerjakan itu haji wajib yang pertama”. Bila haji yang akan dikerjakan itu haji tathawwu´ 20 . aman selama perjalanannya. bahwa Sayyidah ‘Aisyah Ra.” A. bertanya kepada Rasululllah Saw.: “Ya Rasululllah! Tidak wajibkah bagi wanita turut berjihad (berperang)?” Jawab Rasululllah SAW.: “Jihad yang diwajibkan bagi mereka tidak berperang. tetapi haji dan ‘umrah. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma´siat kepada Allah SWT” (Al-Hadits) Dengan syarat istri mendapatkan mahram yang dapat menemaninya. biaya selama perjalanan dari hartanya sendiri.

(sunat) maka para ulama sependapat suami berhak melarang istrinya pergi. B. tidak boleh dengan sesama perempuan saja atau rombongan. bersabda: “Seorang wanita tidak boleh bepergian tiga hari melainkan harus bersama mahramnya. Hanbali: Tidak wajib haji bagi wanita yang tidak mempunyai mahram. katanya Rasulullah SAW. Juga untuk perjalanan lainnya yang menempuh jarak dan waktu tertentu. dan tidak diperbolehkan pergi bersama perempuan lainnya atau rombongan yang dipercaya.. Dari Ibnu ´Umar RA. harus bersama suami atau mahramnya. Hanafi: memberi syarat perjalanan itu tidak boleh lebih dari 3 hari. maka pandangan para fuqaha berbeda-beda sesuai perbedaan mereka memahamkan hadits tersebut. jika lebih maka harus bersama mahram.” (Hadits Muttafaqun ‘Alaihi) Disamping hadits-hadits yang jelas-jelas melarang kaum wanita melakukan perjalanan tanpa mahram. BERSAMA MUHRIM Kebanyakan Fuqaha menetapkan syarat bagi wanita yang hendak menunaikan haji. 21 .

Maka bersabda beliau : “Hai ´Adi! Tahukah kamu negeri Hirah?” Jawab saya: “Tidak.Imam Ahmad: Bersama suami atau muhrim tidak menjadi syarat untuk melakukan perjalanan menunaikan ibadah “haji-wajib”. Ats-Tsawri. Syafi´i: “Wanita boleh pergi haji bersama-sama dengan wanita muslimah kepercayaan. Ishaq dan para sahabat Abu Hanifah menetapkan: Syarat pergi bersama mahram termasuk kategori syarat kemampuan. yaitu haji untuk memenuhi rukun Islam. Malik. Sa´id bin Jabir. tidak boleh pada haji tathawwu´. Awza´i dan Syafi´i. bahwasanya ´Adi berkata: “Pada suatu hari ketika saya berada di sisi Rasulullah SAW. Ibnu Sirin..” Yang demikian hanya boleh pada haji wajib. Dalil-dalil yang membolehkan wanita pergi tanpa mahram 1. Dan tidak boleh digantikan oleh sekelompok wanita atau rombongan yang dipercaya. “´Atha´.. Hasan Bishri. tibatiba datang seorang miskin mengadukan nasibnya. Yang menjadi syarat ialah terjaminnya keamanan wanita yang bersangkutan”. Imam Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim. An-Nakh´i.Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari ´Adi bin Hatim ra. mengadukan dirampok orang di jalan.: Seandainya umurmu panjang. mereka mengatakan: “Pergi bersama muhrim tidak menjadi syarat. ya Rasulullah! Saya tidak tahu!” Sabda Rasulullah SAW. kelak 22 . Kemudian datang pula yang lain.

4. perempuan yang dili´an (dikutuk dengan sumpah) haram dinikahi untuk selamalamanya.“. ipar-besan.Imam Syafi´i di dalam kitab Al-Umm mengatakan makna As-Sabil di dalam hadits Rasullah saw.mengerjakan haji adalah kewajiban manusia (anNaas) terhadap Allah..Karena haram. yang pertama tidak mengharuskan bersama muhrim asalkan aman. Yang termasuk mahram adalah : 1. pergi mengerjakan haji dengan diantar oleh ´Usman bin ´Affan dan ´Abdurrahman bin ´Auf ra. Kesemuanya berada di dalam sekedup masing-masing mengerjakan haji tathawwu´.kamu bakal menyaksikan seorang wanita di dalam haudaj (sekedup) berjalan seorang diri dari Hirah. Yang lain mengatakan adanya muhrim merupakan syarat mampu bagi wanita. yaitu bagi orang yang mampu pergi ke Baitullah.” (Ali ´Imran : 197) 3.. karena seketurunan. jika perjalanan aman wanita boleh pergi dengan rombongan wanita atau rombongan pria yang ada wanita di dalamnya. hendak Thawaf ke Ka´bah tanpa merasa takut melainkan hanya kepada Allah.” 2.Pada masa ´Umar bin Khattab ra. 5. sesusuan. 23 .. adalah perbekalan dan kendaran.Orang yang haram menikahinya selama-lamanya.Ada dua pendapat mengenai ayat ini. para istri Rasulullah saw. 2..

berganti pakaian untuk ihram dan beliau mandi. menyisir rambut. 1. dari bapaknya : “Bahwasanya dia melihat Nabi saw. Karena Allah swt. sebagai persiapan untuk ihram. C. mencukur bulu kemaluan. berperilaku dan bersikap baik dalam tindak tanduknya. Dalil : Surat At-Thalaq (65) : 1 dan Al-Baqarah (2) : 234. WANITA BERIDDAH Apabila seorang wanita ditalak suaminya pada bulan haji atau suaminya meninggal dunia.Syarat Mahram: baligh. mencabut bulu ketiak. tidak sepantasnya dia tahun itu pergi haji. tidak boleh lama-lama. Mandi Diantara perbuatan yang disunahkan juga bagi orang yang hendak ihram ialah mandi. PERSIAPAN SEBELUM IHRAM Disunatkan bagi wanita memotong kuku. berakal. Dia tidak boleh keluar rumah kecuali untuk keperluan darurat. tetapi hanya sebentar. Nafkah muhrim selama perjalanan haji ditanggung oleh wanita yang ditemaninya.” 24 . telah mewajibkannya untuk tinggal di rumah sampai iddahnya habis. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit. D.

Baihaqi dan Darimi) Imam Nawawi mengatakan: “Hadits tersebut menunjukkan sahnya ihram wanita haid dan nifas. Muslim. Memakai minyak harum Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. lalu ihram. dan keduanya disunahkan untuk mandi lebih dahulu sebelum ihram”.Bagi orang haid dan nifas disunahkan pula mereka mandi sebelum haji dan ´umrah. berkata: “Kami pergi haji bersama Nabi saw. bersabda: “Wanita nifas dan wanita haid boleh mandi. sehingga dia suci lebih dahulu.. Begitu juga pendapat mazhab Syafi´i. Ketika salah seorang diantara 25 . bahwasanya Nabi saw. Ibnu Majah. Maliki.” (HR: Ahmad. Abu Dawud.” (HR. ke Mekkah. kecuali yang tidak boleh ialah thawaf di Baitullah. sesudah mandi ihram dan mengerjakan segala manasik haji. dan Tirmidzi) 2. Ketika hendak ihram kami mengolesi kening kami dengan semacam minyak harum yang terbaik. bahwasanya ´Aisyah ra. Abu Dawud. dia mengatakan: “Asma’ binti ´Umais nifas karena melahirkan Muhammmad bin Abu Bakar dibawah sebatang pohon (syajarah). Abu Hanifah dan jumhur ulama. Dari Ummul Mu´minin ´Aisyah ra.. Rasulullah memerintahkan Abu Bakar supaya menyuruh Asma´ mandi. Dari ibnu ´Abbas ra.

sedangkan dia sudah melakukan ihram.kami sudah mulai berkeringat. Nabi saw.” Hadits diatas menunjukkan bahwa memakai minyak harum ketika hendak ihram hukumnya sunnat dan tidak ada larangan sekalipun harum-haruman itu masih tercium sampai selesai ihram. Sebaiknya orang yang ihram tidak mengoleskan minyak wangi pada pakaiannya karena dikhawatirkan terlupa sehingga menanggalkan pakaian yang wangi tersebut dan memakainya kembali. dan menyapu muka dengan memberi sedikit warna inai. itulah pendapat jumhur. Tetapi makruh 26 . MENCELUP Imam Nawawi di dalam “Al-Minhaj” mengatakan: “Sunnat bagi wanita yang hendak ihram mencelup kedua tangannya. 3. minyak harum itu mengalir ke mukanya. Bagi yang melanggarnya diwajibkan membayar fidyah. Sebab itu hendaklah ditutup warna kulit dengan warna inai. melihat hal itu. karena tangan dan muka diperintahkan harus terbuka. Pria dan wanita sama kedudukannya di dalam hukum ini. tetapi beliau tidak menegur kami. sesudah ihram tidak boleh lagi dia memakai harum-haruman sampai ia selesai mengerjakan manasik haji dengan mencukur atau menggunting rambut.” Artinya mencelup kedua tangan hingga pergelangan.

mencelup termasuk perbuatan yang dibolehkan (jawaaz). E.mencelupnya setelah ihram. tidak menyukai baunya. Menurut Syafi´i. IHRAM Ihram artinya menurut syara´ ialah niat mengerjakan ibadah haji atau ´umrah. karena Rasulullah saw. Karena itu hendaklah dia memasang niat dari miqat. karena itu melafazkan niat tidak menjadi syarat dan tidak wajib. Segala 27 . Bagi wanita yang sedang beriddah diharamkan mencelup seperti haramnya memakai perhiasan lainnya. Syarat niat ialah meyakinkan dalam hati. Ummahatul Mu´minin (para istri Rasulullah) tidak mencelup diri mereka. bahwa dia akan menunaikan ibadah haji secara nyata. Dan niat tempatnya ialah dalam hati. Disamping itu kosmetik termasuk barang yang wajib dijauhi selama mengerjakan haji. 1. Ihram termasuk rukun ibadah haji. Ihram wanita haid dan nifas Wanita haid dan nifas boleh melakukan ihram. baik sebelum maupun sesudah ihram karena sifatnya yang menghalangi air menyentuh kulit atau kuku ketika berwudhu atau mandi. Mencelup dengan bahan-bahan kosmetik modern yang sifatnya kimiawi mutlak tidak boleh. tidak wajib. atau keduanya sekaligus.

” 28 . Bukhari. sabdanya: “Sebaik-baiknya pakaian kamu ialah pakaian putih. 2. dan kafanilah dengannya orang yang sudah mati.manasik haji sah dikerjakan oleh wanita haid dan nifas. tidak menjadi syarat sah haji. Kecuali thawaf dan shalat dua rakaat setelah thawwaf. Pakaian yang biasa dipakai pun boleh untuk ihram. (HR Ahmad.. Pakailah pakaian putih itu pada orang yang masih hidup. bersabda : “Wanita yang ihram (muhrimah) tidak boleh memakai selubung muka (al-intiqaab) dan sarung tangan (qaffaazaan)”. Pakaian ihram wanita Wanita boleh memakai pakaian apa saja asal menutup aurat. Dua rakaat shalat ihram hanya sunnat. Nasaa-i dan Tirmidzi yang mengatakan shahih) Tetapi pakaian yang lebih utama ialah pakaian putihputih. Karena hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Majah. dari Nabi saw. begitu juga dengan sepatu. Yang tidak diperbolehkan adalah sarung tangan dan menutup muka. Dari ibnu ´Umar ra. bahwasanya Nabi saw.

4. Larangan bagi wanita ihram Larangan selama ihram dapat kita lihat dalam nash AlQur´an Al-Baqarah : 197. Juga menikahkan dan melamar.3. memakai pakaian berjahit (bagi laki-laki).” Wanita haid dan nifas boleh membaca talbiyah.” Kata Imam Malik: “Cukup terdengar oleh dirinya sendiri dan oleh orang yang disampingnya. menutup kepala bagi laki-laki. dan jangan meninggikan suara ketika membaca talbiyah. Al-Maidah 96. menangkap binatang buruan darat. karena talbiyah bukan ayat-ayat Qur´an. sekalipun ketika tahalul.Yang dilakukan diluar dirinya. Al-Maidah : 95. dan melakukan akad nikah. Larangan atas orang ihram ada dua macam : 1. 2. Makruh bagi wanita meninggikan suara lebih dari itu. seperti mencabut rambut orang lain. seperti jima´ dan pendahuluannya.Yang dilakukan muhrim (orang yang berihram) pada dirinya sendiri. memotong kuku. 29 . Talbiyah wanita Diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Ibnu ´Umar berkata: “Kaum wanita tidak perlu naik ke puncak Shafa dan Marwa. memakai harum-haruman. menutup muka bagi perempuan.

7. 19.Meminyaki badan. 11. melenyapkannya.Larangan yang haram dikerjakan orang yang ihram ada 19 macam : 1. Rambut tontok dan menyisir “.. 13.Memotong kuku. 8.Melakukan jima´ dan pendahuluannya.Berinai.Memakan daging buruan. 10. 2.Memecahkan telor buruan. 5.Dan jangan kamu mencukur kepalamu. 9.Memakai pakaian yang bercelup harum-haruman. 12. atau ada gangguan di 30 . 18. 3. 6.Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki dan memakai sarung tangan bagi wanita. dan memperjual-belikannya. sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya.Menangkap hewan buruan. 16. memerah susunya.´Aqad nikah.Mencabut rambut.Menutup muka..Memburu buruan. 4. 15.Memakai minyak harum.Membantu membunuh buruan darat 17. Jika ada diantara kamu yang sakit. menjual dan membelinya. 14. 5.Menutup kepala bagi laki-laki.Mendurhakai perintah dan larangan Allah Ta´ala.Mencium bunga.Bermusuhan dan berbantahan.

atau karena sebab berbekam. Sesudah itu puasa 3 hari. Menyisir rambut biasanya menyebabkan rambut rontok dibawa sisir.” (Al-Baqarah: 196) Di dalam riwayat dikatakan bahwa sesungguhnya Nabi saw. ahliahli ilmu sepakat mengatakan bahwa orang yang ihram terlarang menghilangkan rambut walaupun sehelai. atau berkurban seekor kambing.” (HR. Yang melanggar larangan tersebut wajib membayar fidyah. atau karena digaruk dengan kuku. bulu ketiak. kumis. yaitu berpuasa atau bersedekah atau berqurban. atau karena tidak tahu (jahil).kepalanya (lalu ia bercukur). seperti rambut kepala. bulu hidung dan bulu telinga. Maka sebagian ulama fiqih berpendapat. kecuali karena uzur. ya Rasulullah!” Maka bersabda Rasulullah: “Cukur kepalamu. atau karena menyisir. atau memberi makan 6 orang miskin. bertanya kepada seseorang : “Apakah kamu mendapat gangguan/penyakit di kepalamu?” Jawab orang itu: “Betul. terlarang menyisir rambut bagi orang ihram. maka wajib atasnya membayar fidyah. sekalipun rambut yang dicabut itu rambut orang lain. Larangan itu meliputi segala macam rambut yang tumbuh di tubuhnya. 31 . Apabila rambut tercabut karena sisir wajib membayar fidyah. bulu kemaluan. Muttaffaq ´alaihi) Berdasarkan ayat-ayat atau hadits tersebut diatas.

diteteskannya ke matanya beberapa tetes remasan daun sabir. Thawaf Wada´ 4. Untuk selain pengobatan hukumnya tidak boleh. 6. Thawah nafilah atau tathawwu´ 32 . Dua helai rambut fidyahnya dua mud. Celak Nafi´i mengatakan: “Ketika Ibnu ´Umar sakit mata waktu dia sedang ihram. orang berihram boleh bercelak dengan celak apa saja apabila dia sakit mata.Syafi´i: Siapa yang mencabut sehelai rambut dia wajib membayar fidyah satu mud (gantang kecil). yaitu makruh. F. Thawaf Qudum 2.” (HR. wajib membayar fidyah. Baihaqi) Bercelak untuk orang yang ihram hukumnya boleh (jawaaz). selama celak itu tidak mengandung haruman. Jika memakai celak yang mengandung harum-haruman.THAWAF (keliling Ka´bah) 1. Tiga helai rambut ke atas fidyahnya boleh menyembelih seekor kambing atau memberi makan 6 orang miskin atau boleh pula puasa 3 hari. Dia mengatakan. baik untuk maksud pengobatan atau tidak. Thawaf Ifadah 3. sekalipun karena bodoh dan lupa. Bahkan menurut Syafi´i wajib fidyah. Mengenai fidyah mencabut rambut ini Syafi´i tidak mensyaratkan harus karena sadar dan sengaja.

thaharah (suci) dari hadats dan kotoran adalah syarat bagi sah thawaf. dan disahkan oleh al-Hakim. Maka tidak sah thawaf orang yang berhadats. 33 . harus bersih dari najis tersebut. serta pendapat yang mashur dari Ahmad dan jumhur Fuqaha. baik hadats kecil yang hanya mewajibkan wudhu maupun hadats besar yang mewajibkan mandi. Kecuali didalam thawaf Allah Ta´ala menghalalkan bertutur kata. seperti janabah. Daruquthni. ya Rasulullah. masuk ke kamar ´Aisyah dan didapati beliau. Demikianlah pendapat Malik. bahwa Rasulullah saw. janganlah bertutur kecuali yang baik-baik. haid dan nifas. Begitu pula orang yang bernajis badan atau pakaiannya. bersabda : “Thawaf itu ialah shalat.” (HR.” (HR. Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah engkau haid?” Jawab ´Aisyah : “Betul.: “Haid itu suatu peristiwa yang telah ditetapkan Allah harus terjadi atas setiap putriputri Adam. bahwa Nabi saw. kecuali engkau belum boleh thawaf di Ka´bah. ´Aisyah sedang menangis.Pertama. Syafi´i.” Sabda Rasulullah saw. Muslim) Dari kedua hadits diatas jelas. Maka siapa yang bertutur kata. Suci Diriwayatkan dari Ibnu ´Abbas ra. sebelum engkau mandi suci lebih dahulu. Karena itu tunaikanlah segala kewajiban haji. Tirmidzi. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Sukn) Dari ´Aisyah ra.

menutup aurat Diantara syarat sah thawaf ialah menutup aurat. Syafi´i dan jumhur. ” Maka berkata ´Abdullah bin ´Umar: “Sesungguhnya yang demikian itu adalah goncangan dari syeitan. Karena itu hendaklah kamu mandi. Tetapi setibanya saya di pintu masjid darah tercurah kembali. dan tidak boleh thawaf di Baitullah (Ka´bah) tanpa 34 .” Kasus yang diceritakan wanita ini bukanlah kasus darah haid atau nifas. Dalilnya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Tetapi sesampainya saya di pintu masjid tiba-tiba saya mengeluarkan darah. Kedua. Begitulah pendapat Malik. kemudian ikatkan kain pembalut di tempat keluar darah. didatangi seorang perempuan yang meminta fatwa kepadanya. Karena itu saya pulang kembali. sebelum haji wada´untuk mengumumkan kepada orang banyak pada hari nahar (hari berqurban) bahwa: “Tahun yang akan datang orang musyrik tidak boleh lagi pergi haji.1. Sesudah itu saya datang pula kembali ke masjid. Kata perempuan tersebut: “Saya datang sengaja hendak thawaf di Bait (Ka´bah). Wanita Istihadhah Diriwayatkan oleh Malik bahwa ´Abdullah bin ´Umar ra. sehingga darah berhenti keluar. katanya : “Abu Bakar menugaskanku dalam rombongan haji yang dipimpin Rasulullah saw. dan sesudah itu kamu boleh thawaf. tetapi berupa darah penyakit (istihadah).

´Atha´bertanya: “Mengapa engkau larang mereka. Bukhari. jauh dari laki-laki “Atha´mengabarkan kepadaku.” (HR. begitu juga aurat ketika thawaf. Muslim. tidak bercampur baur dengan mereka. Baihaqi) Keempat.busana. Nasaa-i dan Baihaqi. ketika Ibnu Hisyam melarang kaum wanita thawaf bersama-sama kaum lelaki.” (HR. “Tidak perlu!” kata ´Aisyah menyatakan enggan. Ketiga.” Berkata seorang wanita: “Mari kita sentuh hajar aswad ya Ummul Mu´min!”. melakukan thawaf bersama-sama dengan kaum laki-laki?” Tanyaku: “Apakah kejadian itu sesudah turun ayat hijab atau sebelumnya?” Jawab ´Atha´: “Setahuku sesudah turun ayat hijab. kaum wanita tidak perlu berlari “Kaum wanita tidak perlu berlari-lari di Ka´bah dan tidak pula antara Shafa dan Marwa. bukankah para istri Nabi saw.” Tanya “Bagaimana mungkin mereka bercampur-baur dengan kaum lakilaki?” Jawab: “Sesungguhnya mereka tidak bercampur baur”. Padahal mereka keluar untuk thawaf dengan pakaian tertutup di tengah 35 . terpencil dari kaumlaki-laki banyak. ‘Aisyah thawaf dipinggir-pinggir. Lafazh (teks) hadits tersebut diatas dari Muslim) Aurat wanita ketika shalat ialah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

dia tidak perlu lagi thawaf di Baitullah. Adapun orang yang ihram untuk ´umrah. dan disunatkan pada malam hari yaitu ketika tempat thawaf sepi dari laki-laki. 2. THAWAF QUDUM DAN ´UMRAH Thawaf qudum dinamakan juga thawaf tahiyyah atau thawaf alliqaa. Ibnu Rusyd mengatakan di dalam Bidaayatul Mujtahid: “Mereka sepakat (ijma´) bahwa orang yang haji tamattu´dia wajib dua kali thawaf. Thawaf Qudum hukumnya sunnat disisi mazhab Hanbali. harus dalam keadaan suci. Dia 36 . Karena thawaf ´umrah adalah salah satu rukun ´umrah. Pertama thawaf ´umrah untuk tahallul dari ´umrah. Para ulama sepakat (ijma´) atas yang demikian. dan kedua thawaf ifadhah ketika tahallul dari haji pada hari nahar. karena thawaf di Baitullah itu sama dengan shalat. Hanafi dan Syafi´i.” Wanita yang haid Al-Kharqy mengatakan: “Seorang wanita yang melakukan ihram untuk umrah tamattu´. Mereka thawaf bersama-sama dengan kaum laki-laki. Bukhari dan Baihaqi) Hadits ini menunjukkan kaum wanita sebaiknya thawaf terjauh dari kaum laki-laki.malam. Tidak wajib thawaf qudum atas orang haid dan nifas. tiba-tiba dia haid sebelum thawaf di untuk ´umrah. dia wajib melakukan thawaf ´umrah. Shalat tahiyatul masjid bagi Masjidil Haram adalah thawaf.” (HR.

dia haid. Syafi´i dan kebanyakan para ulama. Sesampainya di Sarif. Jika dia kuatir akan luput waktu haji. karena belumthawaf di Bait. dan tidak mungkin tahallul dari ´umrahnya. Sedangkan orang banyak sudah tahallul. Aku tidak dapat tahallul. Kemudian Rasulullah bersabda: “Engkau sudah boleh tahallul dari haji dan ´umrahmu. Rasulullah bertanya : “Bagaimana enkau?” Jawab ´Aisyah: “Aku haid.” Maka Aku lakukanlah segala ibadah untuk haji. Padahal orang banyak telah pergi haji sekarang. Setelah aku suci.: “Haid itu suatu keharusan yang sudah ditetapkan Allah atas putri-putri Adam.: “Hai Abdur Rahman! Pergilah kamu dengan ´Aisyah ´umrahkan dia dari Tan´im!” Thawaf Ifadhoh dan Thawaf Wada’ akan dibahas diakhir. 37 . karena belum thawaf di Baitullah.” Maka bersabda Rasulullah saw. Awza´i. kemudian ihramlah untuk haji. aku thawaf di Ka´bah dan sa´i di Shafa dan Marwa.” Kata ´Aisyah : “Ya Rasulullah! Aku ingat bahwa aku belum thawaf di Baitullah sebelum melakukan haji. Rasulullah masuk ke kamar ´Aisyah didapati beliau ´Aisyah sedang menangis. Begitulah pendapat Malik. Karena itu mandilah engkau.” Sabda Rasulullah saw.” Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir mengatakan: ´Aisyah datang untuk umrah. dia boleh ihram untuk haji sekaligus dengan ´umrah. Makajadilah dia haji qiran.terlarang masuk ke Masjid.

”# /•WKD$•# =<DQJ# EHUNDWD# GHPLNLDQ# DQWDUD# ODLQ# # DKOL#. Perlukah wanita naik ke puncak Shafa dan Marwa? Ibnu Qadamah: “Wanita tidak disunatkan naik. supaya tidak berdesak-desakan dengan kaum laki-laki dan mencegah supaya auratnya tidak terbuka. bahwa keduanya berkata: “Apabila seorang wanita thawaf di Bait. al-Atsram) Bagi orang yang mampu bersuci sunnat melalukan sa´i dalam keadaan suci. SA´I ANTARA SHAFA DAN MARWA Sa’i wanita haid dan nifas Menurut jumhur fuqaha sa´i antara shafa dan marwa termasuk salah satu rukun haji.L/#$EX#7VZDU/#GDQ#EHEHUDSD#DKOL#5D"L#•0DOLN/#6\DIL 1ODLQQ\D#+SLNLU# Diriwayatkan dari ´Aisyah dan Ummu Salamah ra. Ibnu Qaddamah mengatakan: “Kebanyakan Ahli Ilmu tidak mensyaratkan suci untuk sa´i antara shafa dan marwa.G.” Disunahkan juga wanita sa´i pada malam hari ketika tempat sa´i sudah sepi. kemudian dia haid. maka dia boleh meneruskan sa´i antara Shafa dan Marwa. 38 .” (HR. lalu shalat dua rakaat. Dan tidak disunahkan berlari kecil diantara dua tiang ketika sa´i.

baik dengan cara berdiri berkendaraan. dan disahkan oleh Tirmidzi) Waktu wukuf di ´Arafah terhitung sejak tergelincir matahari pada hari ´Arafah (tgl. Namun harus diingat. ketika wukuf di ´Arafah. terutama do´a-do´a yang ma´tsur dari Nabi saw.” (HR.. ´Abdur Rahman bin Ya´mar mengatakan: “Saya menyaksikan Rasulullah saw. minimal sampai terbenam matahari. Siapa-siapa tiba (di ´Arafah) sebelum shalat fajar dan malam juma´ (muzdalifah) maka sesungguhnya telah sempurna hajinya. Ahmad. Tidak disyaratkan thaharah ketika wuquf di ´Arafah sehingga wanita haid dan nifas dapat melakukannya.H. Orang yang haid dan nifaspun boleh takbir dan tahlil serta mendo’a dengan do’a apa saja yang dikehendakinya. atau dalam keadaan berbaring. al-Arba´ah. Wuquf di ´Arafah dianggap sah apabila telah berada di salah satu bagian lembah ´Arafah dalam keadaan ihram. tahlil dan do´a. menurut jumhur ulama orang yang haid dan nifas tidak boleh beribadat dengan tilawatil Qur´an. 9 Zulhijah) hingga terbit fajar pada hari Nahar (tgl 10 Zulhijah). Di hari ´Arafah sunnat memperbanyak takbir. al-Hakim. WUQUF DI ´ARAFAH Wuquf di ´Arafah termasuk salah satu rukun haji. Orang banyak penduduk Nejed mengerumuni beliau lalu mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimanakah haji itu?” Jawab Rasulullah : “Haji ialah ´Arafah. 39 . Baihaqi.

J. Kesulitan dalam melempar jumrah adalah tempat yang sempit.” (AlBaqarah : 198-199) Masya´aril haram ialah Muzdalifah. berdzikirlah kepada Allah di Masy´aril haram. wanita. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. MELEMPAR JUMRAH Menurut ijma´ ulama melempar jumrah termasuk salah satu wajib haji.Maka apabila kamu telah bertolak dari ´Arafah. 40 . Muzdalifah itu mempunyai tiga nama : Muzdalifah. sekalipun sebelumitu kamu termasuk orang yang sesat. Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allahsebagaimana diajarkan-Nya kepadamu. orang tua dan anakanak perlu mencari waktu yang tepat sehingga tidak menimbulkan celaka.sedangkan jemaa´ah haji jutaan... dan Masy´aril haram.I. Kemudian bertolaklahkamu dari tempat bertolaknya orang banyak (´Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Maka bagi orang-orang yang lemah. Juma´. jika tidak sanggup boleh memberi makan 6 orang miskin. BERMALAM DI MUZDALIFAH “. Siapa yang tidak melakukannya wajib membayar fidyah dengan urutan sebagai berikut: menyembelih seekor kambing. jika tidak mampu berpuasa sepuluh hari. tiga hari di tempat haji sepuluh hari di tanah air.

“Bahwasanya Nabi saw. Waktu yang baik bagi wanita untuk melempar ketiga jumrah itu ialah pada waktu yang tidak berdesak- 41 .Waktu rukhshah: yaitu sejak terbenam matahari sampai terbit pula besok.Waktu ´azimah (waktu mantap). yaitu sejak tergelincir matahari hingga terbit pula besok.Waktu Aadaa-an (waktu membayarkan).Waktu rukhshah (waktu keringanan). sampai fajar hari ke dua. yaitu sejak terbit matahari pada hari nahar hingga tergelincir. yaitu sejak seperdua malam dari malam nahar.Waktu ibaahah (waktu yang dibolehkan). 12. 3. 4. yaitu seperdua malam di malam nahar dan sesudah ghurub di hari nahar hingga terbit fajar di hari ke dua. yaitu sejak tergelincir matahari sampai terbenam.Waktu untuk melempar ada 4 macam : 1. 13 Zulhijah. 2.Waktu ´azimah: yaitu sejak tergelincir matahari sampai terbenam. pernah mengirim Ummu Salamah pada malam Nahar.Waktu Aadaa-an (waktu membayar). Katanya sanadnya shahih tiada bercacat) Waktu untuk melempar pada hari tasyriq ada 3 macam : 1. 3. kemudian dia terus berangkat” (HR. 2. lalu dia melempar sebelum fajar. Hari-hari tasyriq ialah hari ke 11. Abu Dawud dan Baihaqi.

Yaitu antara Maghrib dan terbit matahari pada hari berikutnya. yang kalau ditinggalkan hajinya tidak sah. dari Jabir. Waktunya di dalam ´umrah sesudah selesai sa´i. atau karena lemah tidak sanggup melempar. boleh dilakukan dua (nafar awwal) berangkat ke Mekkah sebelum terbenam matahari atau tiga (nafar tsani) malam L. Jika 42 . Dalilnya hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Zubair. karena sakit. katanya : “Kami naik haji bersama-sama dengan Rasulullah saw. Dan pada hari nafar ialah sesudah tergelincir. dan beserta kami ada wanita-wanita dan anakanak.desakan. Kami membaca talbiyah untuk wanita dan anakanak dan juga melempar untuk mereka. Para Fuqaha membolehkan melempar digantikan orang lain. apabila ditinggalkan harus diimbangi dengan dam.” K. BERMALAM DI MINA Hukumnya wajib. MENGGUNTING RAMBUT Kebanyakan Fuqaha mengatakan menggunting rambut hukumnya wajib. karena berhalangan. Di dalam haji sesudah selesai melempar jumrah ´aqabah pada hari nahar. Bahkan ulama-ulama Syafi´iyah mengatakan termasuk salah satu rukun haji. Yang demikian itupun karena darurat dan untuk menghindari berdesak-desakan.

M. Berkata ´Ali ra. AL-HADYA (HEWAN QURBAN) Orang yang berqurban boleh digantikan orang lain menyembelih qurbannya. ´Atha´: kira-kira tiga anak jari yang dirapatkan. Beliau memerintahkan pula kepadaku untik tidak memberikan sesuatu daripadanya sebagai upah 43 . Ahmad. dia bercukur sesudah menyembelih hewan qurbannya. membagi-bagikan daging dan kulitnya. membagi-bagikan kulit dan dagingnya. Ulama-ulama Syafi´iyah: Sekurang-kurangnya 3 helai rambut. tidak memadai dengan mengambil sebagian jalinan sedang jalinan lainnya tidak.: “Rasulullah menyuruhku mengurus hewan qurbannya. Para ulama berbeda pendapat tentang kadar menggunting rambut: Maliki: Mengambil jalinan rambut semuanya. Mereka hanya wajib menggunting”. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Wanita tidak perlu bercukur. Wanita sunnat menggunting rambut. karena hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ´Abbas ra.orang yang haji itu membawa hewan qurban (hadya). Abu Dawud dan Ibnu ´Umar mengatakan seluruh ujung-ujung rambut digunting seruas anak jari.

kecuali Tirmidzi) N. Datang haid sebelum thawaf ifadhah Terkadang terjadi seorang wanita datang haid sebelum melakukan thawaf ifadhah. maka tidak menjadi halangan bila wanita yang bersangkutan menggunakan obat untuk menahan agar haid tidak segara datang.Ulama-ulama Syafi´iyah. As-Sab´ah. tetapi kami mengupahnya dari harta kami sendiri. 2.” (HR. Jika wanita tersebut dapat tinggal di Mekkah sampai suci maka tidak ada persoalan. THAWAF IFADHAH Thawaf ifadhah termasuk salah satu rukun haji. karena dikhawatirkan masa haidnya tiba. kesucian dengan cara seperti itu dapat diakui. Bagi wanita melakukan thawaf ifadhah pada hari nahar itulah yang lebih afdhol.Ibnu ´Umar: Karena thawaf ifadhah merupakan rukun dan tanpa melakukannya haji menjadi batal. Menurut Syafi´i dan Ahmad waktu mengerjakannya mulai dari seperdua malam di malam nahar dan tidak ada batas waktu penghabisan selama masih dalam bulan Dzulhijah. 44 . Malik dan Ahmad: Wanita dapat menahan darah haidnya satu atau dua hari.tukang potong. Tapi jika jadual mengharuskan berangkat maka para fuqaha berbeda-beda pendapat : 1. Tidak wajib menta´khirkannya hingga harihari tasyriq. Bahkan dia menunjukkan obatnya yaitu air remasan daun arak.

5. dia boleh thawaf dan thawafnya sah. Pendapat ini bertentangan dengan jumhur ulama.Jadi wanita dapat mengatur menstruasinya sehingga tetap suci dan dapat melakukan thawaf. karena masuk masjid dalam keadaan haid. Semua pendapat itu dasarnya adalah ijtihad. 3.Maliki: Sekelompok pengikut Malik berpendapat. katanya Rasulullah saw bersabda : “Seseorang (yang menunaikan) haji belum boleh berangkat sebelum mengakhiri masa hajinya di Baitullah (Ka´bah).Ibnu Taimiyah: Dalam kasus seperti ini wanita yang haid adalah orang yang uzur. Tetapi dia wajib membayar dam yaitu menyembelih seekor unta atau sapi yang gemuk usia lima tahun. Uzur tidak dapat menggugurkan kewajiban melakukan thawaf ifadhah. Dan tidak perlu membayar dam. 4. THAWAF WADA´ Diterima riwayat dari Ibnu ´Abbas ra. Lain halnya karena lupa atau karena jahil (bodoh). Karena sesuatu yang ditinggal bukan karena lalai tidak perlu membayar dam.Ulama-ulama Hanafiyah dan satu riwayat dari Ahmad: Siapa yang tidak berhenti haidnya.” (HR.. O. Muslim) 45 . sesungguhnya thawaf qudum sudah memadai untuk menggantikan thawaf ifadhah. Karena itu dia boleh thawaf dalam keadaan haid.

Daruquthni) Al-Qadhi ´Iyadh di dalam Asy-Syifaa´mengatakan: “Ziarah ke kuburan Nabi saw. sebagaimana dia mengunjungiku di waktu hidupku. hukumnya sunnat. P. Abu Hanifah.Hadits ini menjadi dalil bahwa thawaf wada´ itu wajib.” (HR. Ahmad dan lain-lain. ZIARAH Rasulullah saw.” (HR. supaya mengakhiri masa hajinya (dengan melakukan thawaf) di Baitullah. dia mengatakan bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang melakukan haji hendaklah dia menziarahi kuburku sesudah wafatku. Ishaq dan Abu Tsawr. Begitu juga pendapat Abu Hanifah. Wanita haid dan thwaf wada´ Diterima riwayat dari Ibnu ´Abbas yang mengatakan: “Orang banyak diperintahkan Nabi saw. Hakam Hammad. Ahmad. Tsawri. 46 . Muttafaqun ´alaihi) Kata Imam Nawawi : “Hadits tersebut menjadi dalil bahwa thawaf wada´ hukumnya wajib bagi orang yang tidak haid dan kewajiban itu gugur bagi orang yang haid tanpa harus membayar dam. Begitulah mazhab Syafi´i. Hasan Bashri. Inilah pendapat yang shahih di dalam mazhab Syafi´i dan jumhur ulama. tetapi perintah itu dikecualikan terhadap wanita haid. Malik.. bersabda : Diterima berita dari Ibnu ´Umar ra.

dan al-Qadhi Abi Thayyib berpendapat orang haid. Hanafi dan Syafi´i. Cukup kiranya berdiri saja di pinggir pintu jibril untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau.Hukum tersebut disepakati oleh kaum muslimin. Masing-masing mereka mempunyai dalil sendirisendiri. Itulah yang lebih cermat dan hati-hati dalam menjaga kesucian dan kemuliaan masjid.? Hukum Masjid Nabawi sama hukumnya dengan masjid-masjid pada umumnya. sesudah itu pergilah. 47 . yaitu jangan masuk ke masjid Nabi untuk menziarahi kuburan beliau.” Bolehkah wanita haid dan nifas masuk ke Masjid Nabawi dan Ziarah ke kuburan Nabi saw. dan merupakan suatu keutamaan yang diidam-idamkan. mereka tidak membolehkan kecuali karena darurat. sebagian Zhahiriyah. Malik. Ibnul Mundzir. orang haid dan nifas masuk ke masjid. Muzani. nifas dan junub boleh masuk masjid apabila yakin tidak mengotori masjid. Hendaknya wanita haid dan nifas mengambil yang lebih cermat (ihtiyath). Ulama-ulama fiqih berbeda pendapat tentang kebolehan orang junub. Hanbali.

tidak sholat apa-apa sebelum dan sesudahnya. kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah Shubuh. Ibnu Hibban) 48 . (Ahmad. Sabda Rasulullah SAW. kita sunnah melakukan thowaf di sembarang waktu.: “Satu shalat di masjidku ini (Nabawi) lebih afddhol daripada 1000 kali shalat di masjid lainnya. SUNNAH-SUNNAH DAN AFDHALIYAH 1. dan satu kali shalat di Masjidil Haram itu lebih afdhol daripada 100 kali shalat di masjidku ini”. berbuat demikian. beliau tidak pernah meninggalkan dua shalat sunnah itu tatkala ada di rumah maupun dalam safar. Thowaf Diluar manasik haji.” (Nasa-i) Dan tidak tercatat keterangan daripadanya bahwasanya Rasulullah SAW.V.: “Wahai Bani Manaf tidak dilarang seseorang thowaf dan shalat di Baitullah ini kapan saja. (Nailulauthor 3 : 187) 3. Sholat sunnah dalam safar hanya witir dan qolbiyah subuh Dalam safar shahabat Ibnu ´Umar shalat (wajib) tidak lebih dari dua rakaat. siang maupun malam”. kecuali Masjidil Haram. melakukan shalat sunnah (rowatib) qobliyah maupun ba´diyah. (Ashabus Sunan) 2. Lalu ditanyakan kepadanya : “Apa ini?” Ia menjawab : “Aku lihat Rasulullah SAW. Sholat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sabda Rasulullah SAW.

VI. maka ia wajib membayar denda. buat seorang miskin setengah sha´”. KAFFARAH. DAM (denda) 1. sebab kena penyakit atau gangguan kutu. Puasa tiga hari (kaffarah) Firman Allah : #áŽô»#æã#”óªÔÓ#곃-#æã#遲#ê‘#íƒ#ŽÀó®ã#âÜèã#åŽÛ#æäÓ Ú´ç#íƒ#”ת»#íƒ# Artinya: “Dan barangsiapa diantara kalian sakit atau di kepalanya ada sesuatu yang mengganggu (lalu ia mencukur rambut). Menyembelih seekor kambing (dam) b. Rasulullah bersabda : “Apakah engaku bisa mendapatkan seekor domba?” Saya (Ka´ab) menjawab : “Tidak” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu. bisa pilih diantara tiga ini : a. Memberi makan kepada enam orang miskin (fidyah) c. (Al-Baqarah : 197) Dikala shahabat Ka´ab bin Uirah berpenyakit penuh kutu di kepalanya. maka hendaklah ia membayar fidyah. puasa atau sedekah atau qurban”. Dalam ihrom memotong rambut sebelum waktu tahallul. puasalah tiga hari atau memberi makan kepada enam orang miskin. (Bukhari) 49 . FIDYAH.

Firman Allah : #•ªä̘ã#âÜèã#êà˜×#æãí#ᮣ#â˜çƒí#ªô¼ß•#•îà˜Ø—#û#•îèã•#æó¬ß•#Žìóƒ#Žó #íƒ#”’ÌÜß•#Îߎ‘#Žóªë#âÜèã#ݪË#•í«#ê‘#âܤó#âÌèß•#æã#Þ˜×#Žã#Þœã#ï•° Ó #ŽäË#••#ŽÔË#é®ãƒ#ÝŽ‘í#Õí¬ôß#ŽãŽô»#Úß«#ݪË#íƒ#æôÛŽ´ã#áŽÌÃ#“-ŽÔÛ áŽØ˜ç•#í«#°ó°Ë#••í#êèã#••#âؘèôÓ#©ŽË#æãí#Òà³# Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman. Puasa yang sebanding dengan itu. maka dendanya salah satu diantara tiga : a. b. Yang menentukan bandingannya ialah dua orang hakim yang adil (kaffarah). supaya dia merasakan akibat yang buruk dari 50 . ketika kamu sedang ihram. maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya. menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka'bah. c. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja. Menyembelih binatang ternak yang sebanding dengan binatang buruan yang dibunuhnya (dam). atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin.2.Yang sedang ihram membunuh binatang buruan. atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu. Memberi makan kepada beberapa orang miskin (fidyah). janganlah kamu membunuh binatang buruan.

Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. b. Itu berjumlah sepuluh hari sempurna”. Firman Allah : #áŽô¼Ó#ª ó#âß#æäÓ#ñªìß•#æã#®´ô˜³•#ŽäÓ#ž¤ß•#ð߇#“®äÌߎ‘#ʘä—#æäÓ ”àãŽÛ#“®¸Ë#Úà—#â˜ÌŸ-#•«‡#”Ì’³í#ž¤ß•#òÓ#áŽóƒ#”›ü›# Artinya: “Barangsiapa yang bertamattu´dengan umroh kepada haji maka hendaklah ia bayar fidyah dengan qurban sedapatnya. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya. niscaya Allah akan menyiksanya.perbuatannya. Menyembelih seekor kambing (dam). hendaknya ia berpuasa tiga hari di waktu haji dan tujuh hari kalau ia sudah pulang. (Al-Maidah : 95) 3. Allah telah mema'afkan apa yang telah lalu.Yang melakukan haji tamattu´ pilih salah satu diantara dua : a. tapi kalau tidak dapat. (Al-Baqarah : 196) 51 . jumlahnya sepuluh hari (kafarah). Puasa tiga hari di dalam masa haji dan tujuh hari di kala pulang ke negaranya.”.

#ô øôö •ô ‘ö#ðôô #ô øôIô #Žô ô #ó I ¤õ #ö ô#ðôô #ô #ó I ô õ #ðôô #K ô #I õ àßô â ë ®ø ‡ àË – à» äÛ ªäô ã ݃ àË í ªä¤ã àË Þ» âìI ƒ #ô øôö •ô ø‘ö#ðôô #ô øÛô Žô #Žô ô #ó I ô õ #ö ô#ðôô ô #ó I ô õ #ðôô #øÙö Žô ô â ë ® ‡ àË – . #õ ôô øªô #øʳô ô #õ ôõ ç#øáö øÛôô #ö ö #Žô ô #õ øèô #õ øË•ô #õ äô ø-•ô #õ ßø®ö øÏ•#I õ Ißô êৠã ö íí êß°õ ® ƒí êÓ Ëí ê Ë Ò í êø £ í êô Ô âìà • #õ ô ø‘ô ø•#õ øîI ß•#ðô èõ #Žô ô #Žô #Žô ô øß•#ô ã#ö K ô ô #ó ô ö ô #ó øà›ô #ó Žô ‘#õ àö øÏ•ô ¾ ÷ • œ Ôô ó äÛ ó Ĩ æö êØçí ©®‘í ž ô í ï äö êø ´ í #Žñ øíô ô #ö öøëô#øæö #•ñ øô§#ñ øëôô #ö ö •ô #øæö #•ñ øôô #•ñ •ô #õ øß#ö ø‘ôô #ö øç#I ß•#ô ö Ÿ ¯í êà ƒ ã ® ô ü ƒí é.Berdiri di belakang janazah yang akan dishalatkan.è • ¬Ëí ® Ø ”è Ó ê×í êö ¯ ã ®ø § ö ŽI ß•#ô •ô ô ô #ö ø’ô øß•#ô ô ø˜ö #ö ö ô #ö Ÿøíô #øæö #•ñ ôô # Artinya. 2. Setelah takbir ketiga membaca do´a memohon ampunan dan rahmat untuk mayit. “Ya Allah ampunilah dia. 2.Niat shalat janazah.© ê ª ƒí ² ª æã . salju dan es. yaitu niat shalat untuk mendo´akan dan memberi syafa´at kepada mayit. ikhlas karena Allah. 3.© ã ® § . rahmatilah dia.Takbir empat kali.VII. Muliakanlah persinggahannya dan luaskanlah tempat masuknya. Berikanlah dia ganti 52 . Bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Setelah takbir kedua membaca shalawat kepada Nabi SAW. 1.‘ äÛ ªä¤ã ݃ àËí ªä¤ã àË . Cucilah dia dengan air. TUNTUNAN SHALAT JANAZAH 1.‘í #ªøôö ô #ò øôö ô #ô I ö#ô øôö ôŽô ߎôö # ã ª ä£ Úç‡ æ äß Ìø Ó # ò 3. Setelah takbir pertama membaca surat Al-Fatihah dengan suara lirih. hapuskanlah dosa-dosanya dan selamatkanlah dia.

rumah yang lebih baik dari rumahnya. dan selamatkan dia dari cobaan kubur dan siksa neraka”. Setelah takbir keempat membaca salam. keluarga yang lebih baik dari keluarganya dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. 4.WALLAHU A’LAM BISH-SHAWWAB --- 53 . ê— Û®‘í • ”ä -í Ü àË áü´ • õ õ Žô ô ô ô #ö •#õ ô ø£ô ô #øâõ øôôô #õ ô I ßô# --.

4. Jakarta 1995.Fiqih Wanita. Ibrahim Muhammad Al-Jammal.KITAB HAJI. Media Da´wah. Gema Insani Press. DR.Fiqih Wanita Tentang Haji. Muhammad Athiyah Khumais.H. 2. K. Surabaya 1993. Asy-Syifa. Jakarta 1988. Tri Bakti.Petunjuk untuk Jama’ah Haji dan ‘Umrah serta Penziarah Masjid Rasul saw.. 5. Da’wah dan Bimbingan Islam. CV. Riyadh 1987. 54 . Yusuf AlQardhawi. Nadjih Ahjad. Fatwa. 3.Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid I. CV. Semarang 1986.Daftar Pustaka: 1. Direktorat Jenderal Urusan Riset.