Ringkasan Desertasi PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEWUJUDKAN BUDAYA RELIGIUS SEKOLAH (Studi Multi Kasus: di SMAN

1, SMAN 3 dan SMA Salahuddin Malang)

Oleh: H. ASMAUN SAHLAN NIM. FO. 1.5.03.05

PROGRAM PASCASARJANA IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA 2009

1

Ringkasan Desertasi PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEWUJUDKAN BUDAYA RELIGIUS SEKOLAH (Studi Multi Kasus: di SMAN 1, SMAN 3 dan SMA Salahuddin Malang)

Oleh: H. ASMAUN SAHLAN NIM. FO. 1.5.03.05

DISERTASI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Doktor Dalam Program Studi Ilmu Ke-Islaman Pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel

SURABAYA

2

2009

3

Promotor : 1. Muhaimin. MA. MA. Imam Bawani. H. Prof. 4 . H. 2. Dr. Prof. Dr.

(Penguji Utama) Prof. Dr. Dr. Dr. Ahmad Zahro. Ridlwan Nasir. (Penguji Utama) 5 . MA. MA. Dr. MA. MA. M. H. Muhaimin. (Penguji Utama) Prof. (Ketua) Prof. Imam Bawani. H. H. (Promotor) Prof. MA. H. (Promotor) Prof. Dr. H. Abd A’la. Kamrani. Nur Syam. H. M. Dr. Dr.Telah diuji Pada Tahap I Tanggal 8 April 2009 TIM PENGUJI DISERTASI TAHAP I Prof. (Sekretaris) Prof.Si. MA.

. Dr. dan cerdas yang istiqomah.. selaku promoter yang di tengahtengah kesibukan beliau berdua berkenan meluangkan waktu untuk mengoreksi dan membimbing penulisan naskah disertasi ini dengan penuh kesabaran. kerja yang keras.UCAPAN TERIMA KASIH Segala puji dan sanjung hanya untuk Allah SWT. H. keuletan. Prof. kesabaran. MA. MA. Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa menyelesaikan tulisan disertasi ini sungguh merupakan pekerjaan yang berat karena diperlukan ketekunan. Oleh sebab itu penulis harus menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa hormat kepada mereka. Imam Bawani. ketelitian. H. Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna yang telah mengutus rasul-rasulNya untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dr. Penulis sangat merasakan bahwa beliau 6 . dan Prof. S}alawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad saw sebagai rasul yang membawa petunjuk dan risalahnya. ketabahan. dan kecermatan serta menyerahkan karya ilmiah ini sesuai dengan prinsip akademik. yang tentunya tidak terlepas dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Muhaimin. Penulis merasa sangat beruntung dan bahagia dapat mengatasi hambatan dan tantangan dalam proses penulisan disertasi ini sehingga akhirnya dapat penulis selesaikan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Pembantu Rektor Bidang Akademik. Farid Hasyim. Djunaidi Ghony. dan Pembantu Dekan II. serta dorongannya untuk segera menyelesaikan studi di Program Pascasarjana S-3 IAIN Sunan Ampel Surabaya. para Asisten Direktur. MA. M.berdua seringkali memberikan dorongan dan semangat agar karya tulis ini cepat diselesaikan dengan tanpa mengorbankan bobot ilmiah sebagaimana layaknya sebuah disertasi seraya mengingatkan usia penulis yang sudah 57 tahun. M.. M. M. Prof.. Imam Suprayogo atas kesempatan dan bantuan yang diberikan kepada penulis. Dr.Ag. MA. H. MA. H. Nur Syam.. Oleh sebab itu. Direktur Program Pascasarjana. Ahmad Zahro. Ridwan Nasir. H. Prof. yang setiap bertemu dengan penulis selalu menanyakan perkembangan penulisan disertasi ini. Zainuddin. dan penerusnya Prof. M. Dr... H. H. Dr. Prof. M. H. H. Dr. 7 . Prof. Dr. penulis sampaikan terima kasih.Si. yang telah memberikan motivasi dalam menyelesaikan disertasi ini.. Penulis juga harus menyampaikan terima kasih kepada Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya. Prof. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dr. Drs. Pembantu Dekan I.Si. para staff administrasi yang telah memberikan pelayanan yang sangat baik kepada penulis sewaktu studi di S-3. Demikian pula ucapan terima kasih kepada Dekan Fakultas Tarbiyah. Dr. Mudjia Raharjo.

Ucapan terima kasih juga perlu penulis sampaikan kepada Kepala SMAN 1 Malang.. Prof. M. W. MPA. Amin Abdullah. Kepala SMA Sholahuddin Malang.. Drs. Kemudian. teman dosen di Fakultas Tarbiyah Universitas Islam (UIN) Malang yang telah memberikan berbagai bantuan dalam kesempurnaan disertasi ini. Kepada beliau semua penulis ucapkan terima kasih. Soetandyo.. Dr. Ph. yang telah membesarkan. Drs. M.Pd. M. Dr.. beserta dewan guru. Sulthon.Ph. Kepala SMAN 3 Malang. Beliau antara lain adalah Prof. rasa terima kasih harus penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta. H. MA. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh teman sejawat yang telah membantu dan ikut mendorong penyelesaian disertasi ini dan teman-teman seangkatan di Pascasarjana.. H..Pd. Tri Suharno.D. M. 8 . Dr. beserta dewan guru yang telah banyak membantu pelaksanaan penelitian disertasi ini dengan memberikan informasi dan data yang penulis inginkan.Pd. Mughni. Widodo P. Syafiq A. H. Prof. Sahlan dan ibunda (almarhumah) Siti Asiyah. Dr. di Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel yang telah memberikan pengalaman dan ilmu kepada penulis. beserta dewan guru. H. Moh. Prof. Drs. Kunto Wibisono.Tidak kalah pentingnya kepada para dosen. ayahanda (almarhum) Bapak M. Sapilin. MA. MA.. H. Ahmad Jainuri. Prof. H. Drs. DR..

Shofiya Q.membimbing. Faiz Ibnu A.. Binta Husna B. dan memperoleh kebahagiaan di sisi-Nya. Semoga amal ibadah beliau berdua diterima di sisi Allah SWT. penulis memohon rahmat dan hidayah-Nya. Malang.. Akhirnya. hanya kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. dan mendidik penulis selama ini.. F. A. Mereka adalah harapan dan semangat hidup penulis. Secara khusus penulis juga menyampaikan terima kasih kepada istri tercinta Siti Nurzaidah dan Ananda tersayang: Maulida N. 19 Safar 1430 H 15 Pebruari 2009 M Asmaun Sahlan 9 .

Pewujudan budaya religius sebagai bentuk pengembangan PAI di sekolah dapat meningkatkan spiritualitas siswa. yaitu: (a) instructive sequential strategy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pengembangan PAI tidak cukup hanya dengan mengembangkan pembelajaran di kelas dalam bentuk peningkatan kualitas dan penambahan jam pembelajaran. upaya pewujudan budaya religius menekankan pada aspek stuktural yang 10 . Proses pewujudan budaya religius dilakukan dengan dua strategi. tahun 2009 Penelitian ini menfokuskan pada pengembangan pembelajaran PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. SMAN 3 dan SMA Salahudin. Pengembangan Pendidikan Agama Islam dalam Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah (Studi Multi Kasus di SMAN 1. Program Studi Islam Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Kota Malang). Hal ini merupakan langkah strategis yang dapat dilakukan sekolah dengan jalan meningkatkan peran-peran kepemimpinan sekolah dan kesaradan warga dan komunitas sekolah untuk pewujudan budaya Religius di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Pada strategi pertama. meningkatkan kedisiplinan dan kesungguhan dalam belajar dan beraktifitas. Disertasi.ABSTRAK Asmaun Sahlan. meningkatkan rasa persaudaraan dan toleransi. dan (b) constructive sequential strategy. tetapi bagaimana mengembangkan PAI melalui budaya sekolah.

Komitmen dan kerjasama secara sinergis diantara warga sekolah dan dukungan orang tua menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan budaya religious Temuan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Muhaimin dkk tentang penciptaan suasana religius di sekolah umum. sementara strategi kedua. 11 . komitmen orangtua. komitmen siswa. Dukungan warga sekolah terhadap upaya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius berupa: komitmen pimpinan dan guru agama. perilaku dan kebiasaan religius yang pada akhirnya akan membentuk budaya religius sekolah. upaya pewujudan budaya religius sekolah lebih menekankan pada pentingnya membangun kesadaran diri (self awareness). sehingga diharapkan akan tercipta sikap. Penelitian ini mempertegas dua strategi yang dikemukakan oleh Ndraha tentang pola pelakonan dan peragaan.bersifat instruktif. Artinya semakin dewasa objek penanaman nilai penggunaan pola pelakonan harus semakin dikurangi dan diteruskan dengan aktualisasi melalui pola peragaan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih diperlukan adanya komitmen dan dukungan dari warga sekolah agar strategi tersebut dapat berjalan secara efektif. Menurut Ndraha penggunaan dua pola itu merupakan hubungan continual (yang berkesinambungan). dan komitmen guru lain.

The process to shape religious culture through 12 .e. discipline and motivation in learning activities. throughout the development of educational leadership.the State institute of Islamic studies Sunan Ampel. tolerant. The result of the research shows the development of Islamic religious subject is not sufficient only with the development of Islamic religious teaching in the class-room i. Malang). the awareness both from society and school community to shape religious culture at the school. in the form of giving extra time for teaching. In this sense.Surabaya. the researcher employed the qualitative method using multi case approach. In this research. the development strategy should occupy the cultural approach by applying PAI as schools’ culture. Research dissertation. SMAN 3 and SMA Salahudin. The actualization of religious culture is the manifestation of the development of Islamic religious subject. brotherhood. The research focused on the development models of Islamic religious studies at senior high schools. this is particularly.ABSTRACT Asmaun Sahlan. 2009. school of Islamic studies for post-graduate studies. the development of Islamic religious subject in order to shape the religious culture at senior high school (multi case studies at SMAN 1. This strategy effects on the students’ attitude in terms of their spirituality.

the commitment and support of the school community is needed. instructive sequential strategy) is the efforts to put the structural instructions aspect into practice. students’ parent and other teachers.e. the result of the research shows in order to implement the strategy effectively. 13 . The result of this research is the enlargement of previous research which is conducted by Muhaimin et al. It means the more mature of the object of putting cultural values. Finally. the second strategy (i. According to Ndraha using two patterns (i. performing and modeling) is the continual relationship.e. the more modeling pattern will be used into practice. while using the performing pattern will be decreased.e. This research also supports Ndrahas’ research about pattern of performing (pelakonan) and modeling (peragaan). as the result the religious culture found at the school. Meanwhile. constructive sequential strategy) is the efforts to build the schools’ religious culture. The commitment and cooperation among of them is the key of successfulness to shape religious culture at the school. students. religion teacher. This strategy is focused on the self awareness.two main strategies namely: (a) instructive sequential strategy and (b) constructive sequential strategy. The support of the schools’ community to shape schools’ religious culture needs the commitment of the school community such as: the head of school. The first strategy (i.

أ ُط ْروحة ل ِن َي ْكل الكد ّك ْتوراة فكي الجامعَكة‬ ‫ك‬ ‫ُ َ ٌ‬ ‫ِ ِ‬ ‫ُ‬ ‫َ ِ َ‬ ‫ّ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ْ‬ ‫السلمية الحكومية "سونان أمبيل" سكورابايا.د.د. ال ِشكراف: )1(‬ ‫ك‬ ‫َ‬ ‫أ.الماجستير‬ ‫يرتكز هذا الب َحث في ت َن ْمي َةِ الت َرب ِي َكةِ الدِي ْن ِي ّكةِ السكلمي ّةِ ل ِت َك ْكوين‬ ‫ْ ُ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ُ‬ ‫ْ‬ ‫ِ ِ‬ ‫َ‬ ‫ّ‬ ‫الثقافَةِ الديني ّةِ في ب ِي ْئات المدارِس. التعاوُني كة ان ْس كجاما ً بي كن مجتم كع الم كدارس وأولي كاء الطلب‬ ‫ك ِ‬ ‫ك‬ ‫ِك‬ ‫ِ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ ِ َ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ّ َ‬ ‫.)‪strategy‬‬ ‫َ ِ‬ ‫ك‬ ‫َ‬ ‫ِ ّ‬ ‫َ ُ‬ ‫الت َن ْظيم ِ وب ِوَصفه المرِ أو الرشادِ من العلى إلى الد ْنى.الدينية التي يمك ِن بها تكوين الثقافة الدينية في المدارس‬ ‫ِ ّ‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫وت َشكجيعات مجتمكع المكدارس فكي السكعْي فكي ت َن ْميكةِ ت َربيكة‬ ‫ْ ِ ِ‬ ‫ِ َ‬ ‫َ‬ ‫ْ ِ ْ ُ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ّ َ‬ ‫الدينية السلمية ل َجل تكوين الثقافة الدينية، مايلي: مككؤْت َمن رئيككس‬ ‫ْ ِ َ‬ ‫ِ ّ‬ ‫ُ‬ ‫َ ُ‬ ‫ِ‬ ‫المدرس كةِ وأس كاتيذِ العل كوم الديني كة، والطلب، وأولي كاءهم.‫الخلصة‬ ‫أسماعون سهلن، الحاج، 9002، التربية السلمي ّة وت َن ْمي َته كا لت َك ْكوين‬ ‫ِ ُك‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫ِ ِ‬ ‫ّ‬ ‫الثفافَةِ الدين ِي ّةِ في ب ِي ْئ َةِ المد ْرسةِ )دراسة مت َعَد ّد َةُ القضايا فككي‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫َ ُ‬ ‫َ َ‬ ‫المدرسةِ العال ِي َةِ العمومي ّةِ الحكومية واح كد، المدرس كةِ العالي كة‬ ‫ك‬ ‫َ ِك‬ ‫ِ‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫العمومية الحكومية ثلث كة، المدرس كة العالي كة العمومي كة ص كلح‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫َ ك‬ ‫َك ُ‬ ‫الدين، بمدينة مالنج(.الجوْدِي ّة مع طرازِ دراسةِ أنواع القضايا‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫وت َد ُل نتيجة البحكث علكى أنكه ل ت َك ْفكي ل ِت َنميكة التربيكة الدينيكة‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ْ ك‬ ‫ِك‬ ‫ُ‬ ‫ّ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫السككلمية ت َن ْميككة الت ّعليككم والتعلككم فككي الفصككول وزيككاد َةِ سككاعات‬ ‫ُ‬ ‫ِ َ ُ‬ ‫ْ‬ ‫ِ ِ‬ ‫المحاضككرات، ولكككن كيككف أن ينميهككا ويجعلهككا المسككؤُل ِيون ثقافككة‬ ‫َ َ ً‬ ‫ّ‬ ‫َ‬ ‫َ ْ‬ ‫ْ ُ ّ‬ ‫ُ‬ ‫ِ ْ‬ ‫للمدرس كة. وهَ كذا كاس كتراتيجي الخط كوات له كم م كع ت َرقي كةِ الس كعي‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ُ ك‬ ‫ك‬ ‫ْ ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ ْ‬ ‫ِ َ ْ‬ ‫ْ ِ ِ ِ ّ‬ ‫والد َوْرِ في الرياسة، وجانب ذالك وجود ُ الوَعي من مجتككع المككدارس‬ ‫ْ‬ ‫ُ ْ َ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ َ‬ ‫ِ ِ ّ‬ ‫. والثاني هو‬ ‫ْ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ْ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ْ‬ ‫‪ (self‬السعْي فكي تكوينهكا المرت َك ِكز علكى أ َهَمي ّكةِ الكوَعي الشخصكي‬ ‫ُ ك‬ ‫ك‬ ‫َ ُ ك‬ ‫ْ‬ ‫ّ‬ ‫َ ْ ِ ّ‬ ‫ُ ْ‬ ‫حتى يرام منهما وجود ُ المواقِف والفعال والت ّمرنات )‪awareness‬‬ ‫َ ّ ِ‬ ‫ّ ُ ُ ِ ْ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ْ ِ‬ ‫ُ‬ ‫ُ ّ َ‬ ‫. وي َسكت َخدِم هكذا الب َحكث الن ّظ َرِي ّكة‬ ‫ْ ْ ُ ك‬ ‫َ‬ ‫ْ ُ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫.كمفتاح النجاح في تكوين الثقافة الدينية‬ ‫ِ ْ ِ ّ‬ ‫ِ ّ‬ ‫ِ‬ ‫41‬ . وأس كاتيذ َ‬ ‫ك‬ ‫ك ِ‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ِ‬ ‫آخري كن.والبتكار‬ ‫ُ‬ ‫ّ َ‬ ‫وأجريَ لتكوين الثقافة الدينيكّكة فيهكا اسكتراتيجيان: اسكتراتيجيا‬ ‫ك‬ ‫ِ‬ ‫ْ ِ ِ ِ ّ‬ ‫ْ ِ ِ ِ ّ‬ ‫)‪ (instructive sequential strategy‬التصكككميم الرشكككادي‬ ‫ْ ِ‬ ‫‪ (constructive sequential‬واسكككتراتيجيا التصكككميم البنكككائي‬ ‫ْ ِ‬ ‫ْ ِ ِ ِ ّ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ّ َ‬ ‫الول هو السعْي في تكوين الثقافة الدينية علكى ضكوْء . الحاج إمكام بكَكاواني، الماجسكتير، )2( أ. الحكاج مهَي ْمكن،‬ ‫ُ ِك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ِ ْ ِ‬ ‫َ ِ‬ ‫.في ت َك ْوين الثقافَةِ الديني ّةِ في ب ِي ْئات المدارِس‬ ‫َ ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ّ َ‬ ‫الثقافة الدينية في المدارِس تعطكي أثكرا ً فكي ترقِيكة روحيكة‬ ‫ِ‬ ‫ِ ّ‬ ‫َ‬ ‫َ َ ُ‬ ‫ِ‬ ‫ُ‬ ‫الطالب، صلةِ الخوة، والتسامح، والطاعة، والجكد ّ فكي طلكب العلكم‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ُ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫.

وت َد ُل نتيجة هكذا البحكث علكى أن‬ ‫ِ ك‬ ‫ُ‬ ‫ْ ِ‬ ‫ّ‬ ‫َ ْ ِ‬ ‫الستراتجية هذه يرام أن ت َجرِيَ فعالة ظهرت م كن م كؤت َمن الرياس كة‬ ‫َ ْ ك‬ ‫ّ ً‬ ‫َ‬ ‫ِ َ ِ‬ ‫ُ ُ ْ ْ‬ ‫ُك َ ِ‬ ‫. بمعنى أنه ك ُلما ازداد َ عُمر الطلب فككان الط ِكراز‬ ‫ك‬ ‫ّ‬ ‫ِ‬ ‫ك ُ‬ ‫ْ‬ ‫ْ ُ‬ ‫ُ‬ ‫ُ َ ّ‬ ‫المخطط، أو بعبارةٍ أخرى دور الرئيس في الكوقت، ينقكص وي ُسكت َمر‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ْ َ ّ‬ ‫ُ‬ ‫ّّ‬ ‫بفعاليةِ الشخص على نحوِ ال ُسوَة.‫َ ُ‬ ‫وما ي ُد ْرك في هذالبحث مكن النتكائ ِج، ت ُعكد ّ مكن الت َنميكةِ ل ِن َت ِي ْجكة‬ ‫َ ِ‬ ‫ْ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ِ َ َ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫فكي )‪ (Muhaimin.وت َشجيع مجتمع المدارِس‬ ‫ْ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫51‬ . dkk‬الب َحث الساب ِق اجراءهُ لمهَي ْمن وأعضكائه‬ ‫ك‬ ‫ِ ْ ُ‬ ‫ك‬ ‫ُ ِ‬ ‫ْ ِ‬ ‫عنوان تكوين الب ِي ْئ َةِ الدينية في المدرسة العامة. وهذا البحث ي ُعطككي‬ ‫ُ‬ ‫ّ ِ‬ ‫ْ ُ ْ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫فكي الط ِكراز )‪ (Ndraha‬أيضا ن َب ْرةً إيجابية للستراتيجيين لـ: نكدراها‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ْ ِ ً‬ ‫ْ ِ ِ ِ ّ‬ ‫َ‬ ‫ك ِ‬ ‫ُ َ ّ‬ ‫المخطط والعَرض. ورأى ندراها استخدام هذين الطرازي ْن من أنكْكواع‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ِ َ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫الصل َةِ المستمرة.

.............. xiv BAB I : PENDAHULUAN................ Pembudayaan nilai-nilai religius di sekolah.... 6 BAB II : KAJIAN PUSTAKA ......... v ABSTRAK . Budaya Religius sekolah..................................... 7 B.. 34 16 .......................................... Urgensi Pengembangan PAI di sekolah umum........ Fokus dan tujuan penelitian.DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.... 7 A............ 1 A.............................. Manfaat Penelitian............... Latar Belakang Masalah....................................................................... 20 A...... ii UCAPAN TERIMA KASIH.. viii DAFTAR ISI .......................................................... Strategi Pengembangan Pembelajaran PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah 23 C.................. 30 D.... 1 B..... 11 BAB III METODE PENELITIAN ................... 8 C........... 20 B........ 17 BAB IV TEMUAN PENELITIAN................................................ Dukungan warga sekolah terhadap pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya relihius sekolah......................................................... 5 C.... Strategi dalam mewujudkan budaya religius ...... Proses pewujudan budaya religius......

............................................................................ DAFTAR RIWAYAT HIDUP........ B.... DAFTAR PUSTAKA... Implikasi Teoritis........ Kesimpulan..................................BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI TEORITIK................ A................. 38 38 40 41 43 17 ..............................

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian ini berangkat dari sebuah keprihatinan dan sekaligus harapan. Mengapa berbagai persoalan seputar pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah masih belum terselesaikan dengan baik, dan hanya sebagian kecil sekolah yang mampu melakukan pengembangan dengan melakukan berbagai inovasi. Salah satu bentuk pengembangannya adalah dengan mewujudkan budaya religius di sekolah. Pewujudan budaya religius dipahami sebagai langkah strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan Agama Islam di sekolah. Sebagaimana yang dinyatakan Watik,1 bahwa sumber daya manusia yang berkualitas menyangkut tiga dimensi, yaitu: (1) dimensi ekonomi, (2) dimensi budaya, dan (3) dimensi spiritual (iman dan taqwa). Upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan juga perlu mengacu pada pengembangan nilai tambah pada ketiga dimensi tersebut. Bentuk pengembangannya dapat dilakukan melalui proses-proses sebagai (1) pembudayaan, (2) pembinaan iman dan taqwa, dan (3) pembinaan ilmu
1 Ahmad Watik Pratiknya, Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum dalam Fuaduddin & Cik Hasan Bisri (Eds), Dinamika Pengembangan Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 87.
18

pengetahuan dan teknologi. Proses pembudayaan ialah proses transformasi nilai-nilai budaya yang menyangkut nilai-nilai etis, estetis, dan nilai budaya, serta wawasan kebangsaan dalam rangka terbinanya manusia berbudaya. Namun demikian, urgensi nilai yang cukup mendapat posisi strategis dalam konsep pendidikan nasional pada kenyataannya tidak berperan secara riil dalam kepribadian peserta didik di Indonesia. Kesenjangan ini diduga akibat dari beberapa faktor seperti: (1) buku teks atau buku pelajaran (bahan ajar) yang digunakan kurang mengarah pada integrasi keilmuan antara sains dan agama, (2) penerapan strategi belajar-mengajar yang belum maksimal dan belum relevan dengan tuntutan kurikulum karena keterbatasan kemampuan pendidik, dan (3) lingkungan belajar (hidden curricullum) belum kondusif bagi berlangsungnya suatu proses pembelajaran.2 Konsekuensi dari ketiga faktor tersebut adalah internalisasi nilai (domain afektif) belum mampu menghujam ke dalam diri (kepribadian) peserta didik secara utuh. Selama ini proses pembelajaran di sekolah pada umumnya belum mampu mengintegrasikan antara berbagai konsep atau teori keilmuan sains dan dimensi nilai agama, dan begitu sebaliknya. Kenyataan di lapangan pendidikan, aspek ideal itu (integrasi keilmuan) belum dominan terlihat,
2 Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan, (Bandung: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 195.
19

sehingga sistem pendidikan nasional terkesan menganut sistem bebas nilai. Pendidikan nasional cenderung berwajah sekularistik, seolah-olah tidak ada kaitan antara konsep keilmuan tertentu dengan nilai-nilai religius yang sejatinya dimunculkan dalam setiap disiplin ilmu.3 Kekurangkeberhasilan pendidikan agama di sekolah secara khusus dan di masyarakat secara umum adalah masih lebarnya jurang pemisah antara pemahaman agama masyarakat dengan perilaku religius yang diharapkan. Indikator yang sangat nyata adalah semakin meningkatnya para pelajar yang terlibat dalam tindakan pidana, seperti tawuran, penggunaan narkoba, pencurian, pemerkosaan, pergaulan bebas dan sebagainya. Bahkan Humas Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa tahun 2003-2004 terjadi tawuran antar pelajar sebanyak 19 orang pelajar SLTP dan 100 orang pelajar SLTA dengan korban luka ringan sebanyak 38 orang, luka berat 3 orang dan tewas 2 orang4. Jika realitas ini dibiarkan seperti apa adanya, maka bukan mustahil jika frekuensi tawuran dan tindakan pidana yang dilakukan para pelajar terus meningkat dalam setiap tahunnya.5 Kenyataan ini sudah cukup untuk mendorong pakar dan praktisi pendidikan melakukan kajian
3 Muhibuddin Hanafiah, Arah Baru Pendidikan Islam, Republika, (15 Juni 2007), 4 4 Ibid. 5 Endin Mujahidin, Pesantren Kilat Alternatif Pendidikan Agama di Luar Sekolah, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2005), 7.
20

(2) saling memberi salam. & Woods. terdapat sejumlah sekolah di kota Malang yang telah mengembangkan Pendidikan Agama Islam dalam mewujudkan budaya religius sekolah. baik kurikuler. J.sistematik untuk membenahi atau memperbaiki sistem pendidikan nasional yang saat ini sedang terpuruk6. (4) lingkungan yang 6 Brighthouse. (3) maraknya kegiatan keagamaan. How to Improve Your School. terutama kepala sekolah bagaimana dapat membangun kultur sekolah yang kondusif melalui penciptaan budaya religius di sekolah. D. di antaranya. Upaya tersebut dalam kontek lembaga pendidikan tidak sematamata menjadi tugas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) atau guru PPKn saja tetapi menjadi tugas dan tanggung jawab bersama. Adapun budaya religius itu tercermin antara lain : (1) toleransi beragama. SMAN 4. SMAN 1. Berdasarkan pengamatan atau observasi peneliti. SMA Shalahuddin dan SMA Muhammadiyah 1 Malang. SMAN 3. (New York: Routledge. ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler yang satu sama lain saling terintegrasi sehingga mendorong terwujudnya budaya religius sekolah. Upaya internalisasi dan perwujudan nilainilai keagamaan dalam diri peserta didik perlu dilakukan secara serius dan terus-menerus melalui suatu program yang terencana. 1999) 21 . Salah satu upaya yang dapat dijadikan alternatif pendukung akan keberhasilan pendidikan agama khususnya di sekolah adalah pengembangan Pendidikan Agama Islam dalam berbagai bentuk kegiatan.

SMAN 3 dan SMA Shalahuddin. antara lain: dengan acara keagamaan yang terprogram. (6) sopan santun. hal ini dapat dilihat melalui (1) banyaknya peraturan yang diterapkan di sekolah. Hal ini sebagaimana diungkap dalam penelitian 7 Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam. (5) disiplin. Sedangkan di SMAN 3 kesadaran gurunya lebih menonjol dari kebijakan pimpinan. Hal ini tampak dari beberapa kegiatan yang penulis temukan di lapangan.bersih dan tertib. 1999). karena keduanya merupakan SMA Negeri yang tempatnya sangat strategis dan berdekatan dengan balai kota Malang. Dalam penelitian ini. termasuk sekolah swasta yang favorit sejak tahun 1985-an. Sedangkan SMA Shalahuddin Malang. akan tetapi mereka memiliki bentuk pengembangan PAI yang berbeda. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pada ketiga lembaga tersebut. bahwa beberapa SMA di Malang telah menciptakan suasana religius dengan berbagai macam cara. kebijakan pimpinan terhadap penciptaan budaya religius dan pemondokan santri kilat. 22 . Berdasarkan hasil pengamatan peneliti SMAN 1 dan 3 memiliki karakteristik yang hampir sama. yaitu: SMAN 1. (2) kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan oleh guru. misalnya di SMAN 1 pengembangan PAI lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan pimpinannya. dipilih tiga sekolah sebagai lokasi penelitian.74. jauh sebelum munculnya sekolah-sekolah favorit 7 Muhamin.(Bandung: Rosda Karya.

strategi pengembangan pembelajaran PAI dalam mewujudkan budaya religius dan dukungan warga sekolah terhadap pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. meliputi. misalnya istighasah. maka fokus penelitian ini adalah:(1) Bagaimana pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah di SMAN 1. serta (2) alasan-alasan yang mendasari pengembangan PAI dalam mewujudkan 23 . B. Pengembangan PAI di SMAN 1. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti sekolah ini juga melakukan pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius. wujud budaya religius. SMAN 3 dan SMA Salahuddin Kota Malang?. seperti tampak dalam berbagai kegiatan keagamaannya. Upaya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah tentu tidak mudah. khususnya pimpinan sekolah. shalat berjamaan dan lain-lain.bermunculan pada 15 tahun terakhir. dan diharapkan dapat dihasilkan strategi pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. Fokus dan Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah di atas. pengembangan PAI yang dilakukan di tiga lembaga tersebut. karena perlu usaha yang sungguh-sungguh dan dukungan semua pihak. SMAN 3 dan SMA Salahuddin Kota Malang dalam mewujudkan budaya religius sekolah menarik untuk dikaji lebih mendalam.

maka tujuan penelitian ini adalah Pertama.budaya religius di tida lembaga tersebut. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis. penelitian ini diharapkan dapat membangun teori budaya. terutama strategi mewujudkan budaya religius di sekolah sebagai wujud pengembangan PAI di sekolah. karena implikasinya sangat besar terutama dalam proses pembentukan pribadi agar memiliki integritas moral yang baik. wujud budaya religius. bentuk pengembangan. Kedua. menghasilkan pemahaman tentang pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius. D. Adapun secara teoritis. 24 . strategi pengembangan pembelajaran PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. Disamping memberikan informasi ilmiah. meliputi. Kajian ini. dan dukungan warga sekolah. juga bermanfaat bagi praktisi pendidikan. menghasilkan pemahaman alasan pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius. Berdasarkan fokus masalah di atas. juga dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya kesadaran dan komitmen setiap warga sekolah dalam mewujudkan budaya religius di sekolah.

195. 2005). ditemukan salah satu faktornya adalah karena pelaksanaan pendidikan agama cenderung lebih banyak digarap dari sisi-sisi pengajaran atau didaktik-metodiknya. Holistika Pemikiran Pendidikan.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Grafindo Persada. fungsi utama pendidikan agama di sekolah adalah memberikan landasan yang mampu menggugah kesadaran dan mendorong peserta didik melakukan perbuatan yang mendukung pembentukan pribadi beragama yang kuat. kurang banyak disentuh. Padahal. Berbagai kebijakan yang ada tidak 8 Malik Fadjar. Sementara itu persoalan yang lebih mendasar yaitu yang berhubungan dengan aspek pedagogisnya. Guru-guru PAI sering kali hanya diajak membicarakan persoalan proses belajar mengajar. baik yang berupa kebijakan ekternal yang berasal dari pemerintah maupun kebijakan internal (institusional) sebagai bentuk operasionalisasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum. Berbagai hasil penelitian tentang problematika PAI di sekolah selama ini. 25 (Bandung: Raja .8 Berbagai problem tersebut muncul tentunya tidak terlepas dari kebijakan yang berkaitan pelaksanaan Pendidikan Agama (baca: Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum). sehingga tenggelam dalam persoalan teknis-mekanis semata. Urgensi Pengembangan PAI di Sekolah Umum.

porsi untuk Mata Pelajaran PAI bisa lebih memadai dengan kebijakan tersebut. tetapi lebih dari itu keberadaanya terkait dengan mata pelajaran lainnya. (2). menurut Malik Fajar. untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan sebagaimana digambarkan di atas. Microcosmis (tinjauan mikro). Keberadaan PAI tidak hanya dipandang sebagai salah satu Mata Pelajaran yang berdiri sendiri. Tugas ini harus diemban oleh seluruh lapisan masyarakat terutama para pelaksana pendidikan yang bersentuhan langsung dengan sistem pendidikan. Dengan demikian. Keterbatasan alokasi waktu untuk Mata Pelajaran PAI harus diperkaya dengan berbagai strategi baik dalam kebijakan maupun dalam proses pembelajarannya.9 9 Malik Fadjar. Sementara itu. 26 . Macrocosmis (tinjauan makro) yakni pendidikan dianalisis dalam hubungannya dengan kerangka sosial yang lebih luas.akan terlaksana dengan baik bila tidak dikemas dalam sistem pembelajaran yang efektif dan efisien. maka perlu digunakan dua konsep pendekatan. yaitu: (1). Visi Pendidikan Islam. yakni pendidikan yang dianalisis sebagai satu kesatuan unit yang hidup dimana terdapat interaksi di dalam dirinya sendiri. Fenomena di atas nampaknya sudah mulai disadari oleh para pelaksana pendidikan di Sekolah Umum. (Jakarta Pusat: Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penyusunan Naskah Indonesia (LP3NI). 1998). 31.

prinsip dan tujuan tunduk pada esensi Islam yaitu Tauhid. (Washington DC. Budaya Religius Sekolah. Modern Philoshophy of Education (Tata Mc. metode. Religius menurut Islam adalah menjalankan ajaran agama secara menyeluruh.10 Dengan demikian. International institute of Islamic Thoungt. Nilai tersebut memberikan arah dan tujuan dalam proses pendidikan dan memberikan motivasi dalam aktivitas pendidikan. bertindak dan pandangan hidup dalam sistem dan aktivitas pendidikan. Publishing. 1982) 34-36 11 J. nilai yang fundamental adalah nilai tauhid.S.B. menformulasikan bahwa kerangka Islam berarti memuat teori-teori. budaya religius sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan). Berkaitan dengan hal tersebut. yakni tujuan yang bersifat ketuhanan yang seharunya menjadi dasar dalam kerangka berfikir.. Ltd. Dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam sumber ajaran Islam.. New Delhi. Allah berfiman dalam al-Qur’a>n surat al Baqarah ayat 208: $yg••r'¯»t• •úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷•$# •Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$•2 •wur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø•¤±9$# 10 Ismail Raji al-Faruqi. Islamization of knowledge: General Principles and Workplan. Brubacher. Pendidikan Agama Islam dalam penyelenggarannya harus mengacu pada nilai fundamental tersebut. Co. Graw Hill. 11 konsepsi tujuan pendidikan yang mendasarkan pada nilai Tauhid menurut an-Nahlawi disebut ”ahdaf al-rabbani”. Edisi ke-4) : 96 27 . Ismail Raji al-Faruqi.

dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arߕtã ×ûüÎ7•B ÇËÉÑÈ Artinya: Hai orang-orang yang beriman. 13 Muhaimin. ada lima macam dimensi keberagamaan. (d) Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan. 2 (al-Baqarah): 208. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan. Paradigma Pendidikan Islam. (e) Dimensi pengamalan atau konsekuensi. yaitu: (a) Dimensi keyakinan yang berisi pengharapanpengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui keberadaan doktrin tersebut. 1999. 294. praktik. ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. (c) Dimensi pengalaman. kitab suci dan tradisi. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.12 Menurut Glock & Stark (1966) dalam Muhaimin.13 Tradisi dan perwujudan ajaran agama memiliki keterkaitan yang erat. karena itu tradisi tidak dapat dipisahkan begitu saja dari masyarakat/lembaga di 12 al-Qur’a>n. masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan. dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu. pengalaman. 28 . ritusritus. (b) Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan.

Dalam kaitan ini. budaya religius berupa: berupa tradisi sholat berjamaah. Sudjatmoko juga menyatakan bahwa keberagamaan manusia. gemar bersodaqoh. Sedangkan dalam tataran perilaku. rajin belajar dan perilaku yang mulia lainnya. sedangkan masyarakat juga mempunyai hubungan timbak balik. Oleh karena itu. bahkan saling mempengaruhi dengan agama. semangat saling menolong dan tradisi mulia lainnya. budaya religius berupa: semangat berkorban. untuk membudayakan nilai-nilai keberagamaan (religius) dapat dilakukan dengan beberapa cara. Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.14 Dalam tataran nilai. semangat persaudaraan. agama mempengaruhi jalannya masyarakat dan pertumbuhan masyarakat mempengaruhi pemikiran terhadap agama.mana ia dipertahankan. budaya religius sekolah pada hakikatnya adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan demikian. Untuk itu. 29 . antara lain melalui: kebijakan 14 Ibid. pada saat yang bersamaan selalu disertai dengan identitas budayanya masingmasing yang berbeda-beda. menurut Mukti Ali.

setiap siswa memiliki latar belakang kehidupan yang berbedabeda. (b) Membangun Saling Percaya (Mutual Trust). Secara internal. (a) Belajar Hidup dalam Perbedaan. Resolusi Konflik. 1. sehingga tercipta religious culture tersebut dalam lingkungan sekolah. Terbentuknya Budaya Religius di Sekolah. pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Apresiasi dan Interdepedensi. kegiatan ektrakurikuler di luar kelas serta tradisi dan perilaku warga sekolah secara kontinyu dan konsisten. C. (e) Terbuka dalam Berfikir. pembelajaran agama diharapkan menerapkan prinsip-prinsip keberagaman sebagai berikut. Oleh karena itu. (c) Memelihara Saling Pengertian (Mutual Understanding). pendidikan dihadapkan pada keberagaman siswa. (f) f. baik dari sisi keyakinan beragama maupun keyakinan dalam satu agama. Secara umum budaya dapat terbentuk secara prescriptive dan dapat juga secara terprogram sebagai learning process atau solusi terhadap suatu 30 . (d) Menjunjung Sikap Saling Menghargai (Mutual Respect).pimpinan sekolah. Saat ini. Strategi dalam Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah. usaha penanaman nilai-nilai religius dalam rangka mewujudkan budaya religius sekolah dihadapkan pada berbagai tantangan baik secara internal maupun eksternal. Lebih dari itu. (g) g.

2005.(Jakarta: Rineke Cipta) 24.masalah. Teori Budaya Organisa . perintah) dari atas atau dari luar pelaku budaya yang bersangkutan. Kebenaran itu diperoleh melalui pengalaman atau pengkajian trial and error dan pembuktiannya adalah peragaan pendiriannya tersebut. penganutan dan penataan suatu skenario (tradisi. Berikut ini modelnya:15 15 Talizuhu Ndara. Pola ini bermula dari dalam diri pelaku budaya. Yang pertama adalah pembentukan atau terbentuknya budaya religius sekolah melalui penurutan. modelnya sebagai berikut: Gambar: 1 Pola pelakonan Yang kedua adalah pembentukan budaya secara terprogram melalui learning process. Pola ini disebut pola pelakonan. dan suara kebenaran. itulah sebabnya pola aktualisasinya ini disebut pola peragaan. keyakinan. dan diaktualisasikan menjadi kenyataan melalui sikap dan perilaku. anggapan dasar atau kepercayaan dasar yang dipegang teguh sebagai pendirian. peniruan. 31 .

strategi yang dapat dilakukan oleh para praktisi pendidikan untuk membentuk budaya religius sekolah. (7) penciptaan 32 . diantaranya melalui: (1) memberikan contoh (teladan). (4) memberikan motivasi dan dorongan. Strategi Pengembangan PAI dalam Mewujudkan Budaya Religius Sekolah.Gambar: 2 Pola Peragaan Budaya religius yang telah terbentuk di sekolah. 2. Yang kedua adalah aktualisasi budaya yang tidak menunjukkan perbedaan antara aktualisasi ke dalam dengan aktualisasi ke luar. lain di mulut lain dihati. (3) menegakkan disiplin. ini disebut dengan overt. Aktualisasi budaya ada yang berlangsung secara covert (samar/tersembunyi) dan ada yang overt (jelas/terang). Yang pertama adalah aktualisasi budaya yang berbeda antara aktualisasi ke dalam dengan ke luar. Menurut Tasfir. (2) membiasakan halhal yang baik. ini disebut covert yaitu seseorang yang tidak berterus terang. Pelaku overt ini selalu berterus terang dan langsung pada pokok pembicaraan. (5) memberikan hadiah terutama psikologis. penuh kiasan dalam bahasa lambing. ia diselimuti rahasia. (6) menghukum (mungkin dalam rangka kedisiplinan). beraktualisasi ke dalam dan ke luar pelaku budaya menurut dua cara. berpura-pura.

33 . Metodologi Pengajaran Agama Islam. untuk selanjutnya membangun komitmen dan loyalitas bersama di antara semua warga sekoloh terhadap nilai yang telah disekapakati. 17 Koentjaranindrat. 16 Dengan demikian secara umum ada empat komponen yang sangat mendukung terhadap keberhasilan strategi pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. 2004). (Jakarta: Raja Grafindo Persada. meniscayakan upaya pengembangan dalam tiga tataran. Rosda Karya. 2006). kedua. keberhasilan kegiatan belajar mengajar PAI di kelas yang dilakukan oleh guru agama. 157. yaitu: pertama. 112. ketiga. kebijakan pimpinan sekolah yang mendorong terhadap pengembangan PAI. dan tataran simbol-simbol budaya. dukungan warga sekolah terhadap keberhasilan pengembangan PAI. tataran praktik keseharian. perlu dirumuskan secara bersama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan di sekolah. Mentalitas dan Pembangunan” dalam Muhaimin. dan keempat. ”Kebudayaan. Sebagaimana yang 16 Ahmad Tafsir. Sedangkan strategi dalam mewujudkan budaya religius di sekolah. yaitu tataran nilai yang dianut.suasana religius yang berpengaruh bagi pertumbuhan anak. meminjam teori Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan. ( Bandung: Remaja. semakin semaraknya kegiatan ekstrakurikuler bidang agama yang dilakukan oleh pengurus OSIS khususnya Seksi Agama. Nuansa Baru Pendidikan Islam. 17 Pada tataran nilai yang dianut.

34 Budaya Perusahaan. pemberian penghargaan terhadap prestasi warga sekolah. penetapan action plan mingguan atau bulanan sebagai tahapan dan langkah sistematis yang akan dilakukan oleh semua pihak di sekolah dalam mewujudkan nilai-nilai agama yang telah disepakati tersebut. sosialisasi nilai-nilai agama yang disepakati sebagai sikap dan perilaku ideal yang ingin dicapai pada masa mendatang di sekolah. yaitu: pertama. Proses pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui tiga tahap. nilai-nilai keagamaan yang telah disepakati tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku keseharian oleh semua warga sekolah. Kedua. . (Yogyakarta Pustaka Pelajar: 1984). Sedangkan nilai-nilai yang disepakati tersebut bersifat vertikal dan horizontal. seperti guru. Yang vertikal berwujud hubungan manusia atau warga sekolah dengan Allah dan yang horizontal berwujud hubungan manusia dengan warga sekolah dengan sesamanya dan hubungan mereka dengan alam sekitar. 67. competence dan consistency. Ketiga.dikemukakan oleh Hicman dan Silva18 bahwa terdapat tiga langkah untuk mewujudkan budaya. tenaga kependidikan dan/atau peserta didik sebagai usaha pembiasaan (habit formation) yang menjunjung sikap dan perilaku yang komitmen dan loyal terhadap ajaran dan nilai-nilai agama yang disepakati. Dalam tataran praktik keseharian. Penghargaan tidak selalu berarti materi 18 Hickman dan Silva () (dalam Purwanto. yaitu: commitment.

Norma termasyarakatkan lewat education (pendidikan). foto-foto dan motto yang mengandung pesan-pesan dan nilai–nilai keagamaan dan lainnya. Dalam tataran simbol-simbol budaya. Perubahan simbol dapat dilakukan dengan mengubah berpakaian dengan prinsip menutup aurat. (2) persuasive strategy. melainkan juga dalam arti sosial. psikologik ataupun lainnya. yang dijalankan lewat pembentukan opini dan pandangan masyarakat atau warga sekolah. Pada strategi pertama tersebut dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau 35 . dan (3) normative re-educative. pemasangan hasil karya peserta didik. kultural.(ekonomik). pengembangan yang perlu dilakukan adalah mengganti simbol-simbol budaya yang kurang sejalan dengan ajaran dan nilai-nilai agama dengan simbol-simbol budaya yang agamis. yakni strategi pembudayaan agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaan atau melalui people’s power. Normative digandengkan dengan reeducative (pendidikan ulang) untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir warga sekolah yang lama dengan yang baru. Norma adalah aturan yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini peran kepala sekolah dengan segala kekuasaannya sangat dominan dalam melakukan perubahan. Adapun strategi untuk membudayakan nilai-nilai agama di sekolah dapat dilakukan melalui: (1) power strategi.

Bisa pula berupa proaksi. hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. 160-167. keteladanan dan pendekatan persuasif atau mengajak kepada warganya dengan cara yang halus dengan memberikan alasan dan prospek baik yang bisa meyakinkan mereka. 36 . Sifat kegiatannya bisa berupa aksi positif dan reaksi positif.20 19 HR. no. tetapi membaca munculnya aksi-aksi agar dapat ikut memberi warna dan arah perkembangan. yakni membuat aksi atas inisiatif sendiri.reward dan punishment. dan pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka” Sedangkan pada strategi kedua dan ketiga tersebut dikembangkan melalui pembiasaan. Hadith 6689 20 Muhaimin. Ahmad. ٍ ْ َ ُ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ ََ ْ ُ ْ ُ ِ ْ َ َ ْ ِ ِ ِ ْ َ ُ َ ْ َ ْ ُ َ ِ َ ّ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ُ ُ ‫مروا اولدكم بالصلة وهم ابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم ابناء عشششر‬ ‫91 )وفرقوبينهما في المضاجع )رواه احمد‬ ِ ِ َ َ ْ ِ َ ُ َْ َْ ُ ّ َ َ ”Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk salat ketika umur mereka tujuh tahun. maka diperlukan hukuman yang sifatnya mendidik. Allah swt memberikan contoh dalam hal Shalat agar manusia melaksanakan setiap waktu dan setiap hari. jenis dan arah ditentukan sendiri. dan pukullah mereka karenanya (tidak mau salat) ketika umur mereka sepuluh tahun.

maka penggunaan paradigma naturalistik dimaksudkan agar dapat menjelaskan dan menerangkan apa sifat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran mendalam tentang pengembangan pembelajaran PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan rancangan studi multi kasus. Sesuai dengan fungsi ilmu pengetahuan pada umumnya. kearifan tradisional. SMAN 1 dan SMAN 3. people knowledge (pengetahuan orang) dan teotiteori dari subyek yang diteliti.BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan paradigma naturalistik atau biasa disebut juga dengan paradigma interpretif atau non positivistik. karakteristrik dan kaitan sebab akibat atau pengaruh mempengaruhi tentang peristiwa dan fenomena budaya organisasi pada sekolah yang diteliti. Paradigma ini biasa digunakan dalam penelitian kualitatif. keduanya adalah sekolah Negeri di bawah naungan Departemen 37 . Kasus yang diteliti adalah pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah yang memiliki latar berbeda. Di samping itu paradigma naturalistik digunakan karena memungkinkan peneliti menemukan pemaknaan (meaning) dan pemahaman (understanding) dari setiap fenomena sehingga diharapkan dapat menemukan kearifan lokal.

Dari sisi kepemimpinan SMAN I dipimpin oleh kepala sekolah yang memiliki latar belakang pendidikan agama Islam dan memiliki councern terhadap pengembangan budaya agama di sekolah sementara SMAN 3 memiliki latar belakang pendidikan umum. SMAN 3 Malang memiliki sarana berupa mushalla sementara SMAN 1 Malang tidak memiliki fasilitas tersebut. Karena rancangan penelitian ini adalah studi multi kasus. kemudian dilanjut pada kasus kedua dan ketiga. maka penelitian ini cocok untuk menggunakan rancangan studi multi kasus (multi case study). maka langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai 38 . tetapi suasana religius juga muncul di sekolah ini. Adapun yang membedakan antara SMAN 1 dan SMAN 3 adalah dari sisi kepemimpinan dan sarana peribadatan di sekolah. Adapun dari aspek sarana peribadatan. Memperhatikan keberadaan masing-masing sekolah tersebut di atas. sementara SMA Salahuddin adalah sekolah swasta yang berbasis agama yang berhaluan ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang berada di bawah naungan Yayasan Ma’arif NU. Penerapan rancangan studi multi kasus dimulai dari kasus tunggal (sebagai kasus pertama) terlebih dahulu.Pendidikan Nasional. kasus dan karakteristik ketiganya berbeda-beda. hanya menggunakan ruang-ruang seperti aula untuk kegiatan peribadatan. baik dari segi nilai-nilai budaya yang dianut maupun penyelenggaranya.

Dalam hal ini peneliti memanfaatkan kejadian tersebut untuk menggali data. Untuk dapat memahami makna peristiwa dan interaksi orang. dan peristiwa tertentu yang membutuhkan waktu khusus.berikut: (1) melakukan pengumpulan data pada kasus pertama yaitu di SMAN 1 Malang. (2) melakukan pengamatan pada kasus kedua. kegiatan-kegiatan insidental. SMAN 3 Malang. selanjutnya dilakukan analisis komparasi dan pengembangan konseptual. digunakan orientasi teoritik atau perspektif teoritik dengan pendekatan fenomenologis (phenomenological approach) seperti yang telah 21 Ibid. Sebagai contoh adalah pada saat pendaftaran siswa baru.21 Sejalan dengan rancangan penelitian studi multi kasus. penelitian ini berusaha memahami makna peristiwa serta interaksi orang dalam situasi tertentu. 65 39 . Dalam hal ini dilakukan analisis termodifikasi sebagai suatu cara mengembangkan teori dan mengujinya. Berdasarkan temuan koseptual dari ketiga sekolah tersebut. tes akhir semester. (3) penelitian dilanjutkan pada kasus ketiga yaitu SMA Salahuddin Kota Malang. namun dalam peristiwa-peristiwa khusus (event) pengamatan dilakukan secara simultan. untuk mendapat abstraksi tentang pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah dari ketiga sekolah tersebut. yaitu. Meskipun rancangan penelitian ini akan dilakukan secara bertahap. perpisahan siswa kelas XII.

dijelaskan di atas. 40 .

Pendidikan agama Islam sarat dengan nilai-nilai. persuasive 41 . menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah. Pembudayaan Nilai-nilai Religius di Sekolah. Nilai-nilai sebagaimana yang terdapat di tujuan tersebut harus diinternasisasikan serta dikembangkan dalam budaya komunitas sekolah. dalam hal ini peran kepala sekolah dengan segala kekuasaannya sangat dominan dalam melakukan pembudayaan yang dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau reward and punishment yang tertuang dalam Tata Tertib Sekolah. bertoleransi (tasamuh). pertama. kedua. etis. Dalam melakukan proses pembudayaan nilai-nilai agama tersebut dituntut komitmen bersama diantara warga sekolah terutama kepemimpinan kepala sekolah. Sebagaimana rumusan tujuan PAI di sekolah yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan.BAB V TEMUAN PENELITIAN A. produktif. cerdas. power strategy. adil. Strategi pembudayaan nilai-nilai agama di sekolah dapat dilakukan melalui tiga cara. jujur. yakni strategi pembudayaan agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaan atau melalui people’s power. berdisiplin. rajin beribadah. baik nilai ilahi maupun insani.

Pada strategi kedua dan ketiga tersebut dikembangkan melalui pembiasaan.strategy. keteladanan. Normative digandengkan dengan re-educative (pendidikan ulang) untuk menanamkan dan mengganti paradigma berfikir masyarakat sekolah yang lama dengan yang baru. Pembudayaan nilai-nilai agama dalam komunitas sekolah seharusnya menjadi “core” atau inti dari kebijakan sekolah. dengan memberikan alasan dan prospek baik yang bisa meyakinkan mereka. Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana telah diungkap di awal bahwa lembaga pendidikan yang dapat menawarkan prestasi akademik dan suasana religius akan memiliki daya tarik bagi masyarakat. Di samping sebagai wujud pengembangan PAI juga dalam rangka meningkatkan animo masyarakat terhadap sekolah. dan pendekatan persuasif atau mengajak kepada warganya dengan cara yang halus. Berdasarkan hasil penelitian di tiga latar penelitian. Norma adalah aturan yang berlaku di masyarakat. Norma termasyarakatkan lewat pendidikan. Berdasarkan data-data tentang pembudayaan nilai- 42 . normative re-educative. Sebab itu kebijakan penciptaan budaya religius seharunya menjadi kebijakan strategis dalam meningkatkan kualitas dan daya tarik masyarakat. yang dijalankan lewat pembentukan opini dan pandangan masyarakat atau warga sekolah. nuansa penciptaan suasana religius dan upaya pembudayaan nilai-nilai tersebut terasa sekali. dan ketiga.

guru. Berdasarkan temuan penelitian di tiga latar penelitian. budaya istighasah dan do’a bersama. karena itu bentuk pengembangan PAI di sekolah melalui pembudayaan nilai-nilai sangat penting. Perwujudan budaya juga tidak hanya muncul begitu saja. budaya puasa senin dan kamis. Budaya religius adalah sekumpulan nilai-nilai agama yang melandasi perilaku. budaya tadarrus al-Qur’a>n. Bentukbentuk budaya religius berupa aktivitas ritual dan hubungan sosial serta simbol-simbol sebagai manifestasi nilai-nilai religius.( Jakarta: Gramedia. kebiasaan keseharian. dan masyarakat sekolah. Sebab itu budaya tidak hanya berbentuk simbolik semata sebagaimana yang tercermin di atas.nilai religius di atas dapat dikemukakan hasil penelitian bahwa pembudayaan nilai agama pada komunitas sekolah merupakan wujud pengembangan PAI yang cukup efektif. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. salam dan menyapa. petugas administrasi. 32 43 . peserta didik. Kebudayaan. Bahwa agama itu penuh dengan nilai-nilai luhur dan harus diamalkan. Mentalitet dan Pembangunan. tetapi di dalamnya penuh dengan niali-nilai. wujud budaya meliputi. harus dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. budaya s}alat D}uha Duhur Berjama>ah . budaya senyum. tetapi melalui proses pembudayaan. budaya saling hormat dan toleran. Koentjoroningrat22 menyatakan proses pembudayaan dilakukan melalui 22 Koentjoroningrat. 1974). tradisi.

(2) penetapan action plan mingguan atau bulanan sebagai tahapan dan langkah sistematis yang akan dilakukan oleh semua pihak di sekolah dalam mewujudkan nilai-nilai agama yang telah disepakati tersebut. Strategi Pengembangan Pembelajaran PAI dalam Mewujudkan Budaya Religius sekolah Berdasarkan hasil penelitian ini. yakni merumuskan secara bersama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan di sekolah. Kedua. sosialisasi nilai-nilai agama yang disepakati sebagai sikap dan perilaku ideal yang ingin dicapai pada masa mendatang di sekolah.tiga tataran yaitu. Tataran simbol-simbol budaya. melalui komitmen 44 . (3) pemberian penghargaan terhadap yang berprestasi. nilai-nilai keagamaan yang telah disepakati tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku keseharian oleh semua warga sekolah. Tataran nilai yang dianut. Tataran praktik keseharian. yaitu mengganti simbol-simbol budaya yang kurang sejalan dengan ajaran dan nilai-nilai agama dengan simbol budaya yang agamis. B. Pertama. yaitu: (1). Proses pengembangannya dilakukan melalui tiga tahap. untuk selanjutnya dibangun komitmen dan loyalitas bersama di antara semua warga sekolah terhadap nilai-nilai yang disepakati. pengembangan pembelajaran PAI dalam mewujudkan budaya religius dilakukan melalui dua jalan. melalui kebijakan sekolah dan kedua. Ketiga. Pertama.

yaitu strategi 23 Muhaimin. 1999) hlm. dan (d) komitmen guru. (c) komitmen orangtua. berbagai kebijakan dapat diarahkan untuk mengembangkan PAI dalam mewujudkan budaya religius di sekolah. 294 24 Muhaimin. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhaimin23. pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Kuatnya komitmen yang ditemukan di SMAN 1 Malang. (Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Akan tetapi karena masing-masing sekolah memiliki karakteristik unik tersendiri maka hal itu berimplikasi terhadap bentuk pengembangan PAI di sekolah.Pimpinan dan Warga Sekolah. bahwasannya dalam upaya mengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius dapat dilakukan dengan beberapa cara. Strategi Belajar45 . antara lain melalui: kebijakan pimpinan sekolah. Muhaimin. (b) komitmen siswa. Abdul Ghofir. Baik kebijakan yang berupa program pengembangan jam pelajaran maupun melalui penciptaan suasana religius dan peningkatan keefektivan serta pengefisienan pembelajaran Agama Islam baik di kelas maupun di luar kelas. secara sekuensial (berurutan) sebagai berikut: (a) komitmen pimpinan. Berdasarkan hasil penelitian ini. Kuatnya komitmen pimpinan di SMAN 1 Malang dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan struktural24. kegiatan ektrakurikuler di luar kelas serta tradisi dan perilaku warga sekolah secara kontinyu dan konsisten. Nur Ali. Paradigma Pendidikan Islam. 1996. sehingga tercipta religius culture tersebut di lingkungan sekolah.

Oleh karena itu. berdasarkan beberapa alasan di atas.pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah sudah menjadi komitmen dan kebijakan pimpinan sekolah. Dengan demikian pendekatan yang digunakan Mengajar Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama. (Surabaya: Citra Media. 1996). 305 46 . sehingga lahirnya berbagai peraturan atau kebijakan yang mendukung terhadap lahirnya berbagai kegiatan keagamaan di sekolah beserta berbagai sarana dan prasarana pendukungnya termasuk dari sisi pembiayaan. karena beliau merupakan lulusan dari IAIN Malang yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang berbasis Islam di Malang. Dengan demikian pendekatan ini lebih bersifat “top down” yakni kegiatan keagamaan yang dibuat atas prakarsa atau instruksi dari pejabat atau pimpinan sekolah. kepala SMAN 1 Malang memiliki Latar belakang Pendidikan Agama Islam. maka kepala sekolah SMAN 1 Malang lebih memiliki komitmen yang kuat di bandingkan dengan kepala sekolah di SMAN 3 dan SMA Shalahuddin Malang untuk mengembangkan Pendidikan Agama Islam dalam mewujudkan budaya religius sekolah. adanya komitmen yang besar dalam mewujudkan budaya religius sekolah. ketiga. Hal ini karena beberapa alasan. pertama. kedua. secara organisatoris kepala SMAN 1 Malang merupakan salah satu pengurus organisasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus merupakan seorang juru dakwah di kota Malang.

dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan. Masing-masing gerak bagaikan sebuah mesin yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen–elemen. yang masingmasing menjalankan fungsinya sendiri-sendiri. guru agama memiliki komitmen yang besar untuk mengembangkan Pendidikan Agama Islam dalam mewujudkan budaya religius di sekolah dapat mengacu pada ”Pendekatan Mekanik” sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhaimin25. dan antara satu dengan lainnya bisa saling berkonsultasi atau tidak dapat berkonsultasi. (d) komitmen orangtua.adalah pendekatan struktural. Sementara Komitmen yang ditemukan di SMAN 3 Malang. Artinya dengan 25 Ibid. dapat ditunjukkan sebagai berikut: (a) komitmen guru Agama. yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya. Pendekatan mekanik ini di sekolah dapat diwujudkan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan ekstrakurikuler bidang agama. yaitu upaya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius lebih merupakan inisiatif dari pimpinan sekolah. (c) komitmen siswa. yaitu strategi pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah didasari oleh pemahaman bahwa kehidupan terdiri atas berbagai aspek. 47 . Di SMAN 3 Malang. (b) komitmen pimpinan. secara sekuensial (berurutan). 306.

secara sekuensial (berurutan). yaitu: pertama. Dengan demikian pendekatan ini lebih bersifat “buttom-up” yakni kegiatan keagamaan ini muncul dari inisiasi para guru dan para siswa. dapat ditunjukkan 48 . ketiga. kedua. namun juga diwujudkan dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang saling terintegrasi dengan kegiatan sekolah lainnya. pengurus OSIS khususnya bidang agama memiliki peran penting dalam pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. peran guru umum dalam upaya mendukung kegiatan keagamaan di sekolah.semakin menyemarakkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler bidang agama di sekolah. maka SMAN 3 Malang cenderung menggunakan “pendekatan formal-mekanik”. peran OSIS dan keterlibatan orangtua siswa dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di sekolah. peran guru Agama yang dalam melakukan berbagai upaya pengembangan PAI melalui berbagai kegiatan keagamaan di sekolah. warga sekolah khususnya para siswa tidak hanya memahami PAI secara kurikuler di kelas saja. Dalam pendekatan mekanik ini. yaitu semua elemen sekolah berjalan sesuai dengan fungsinya dan tujuannya masing-masing. Mengacu kepada pendapat Muhaimin. Komitmen yang ditemukan di SMAN 3 Malang. Di SMAN 3 Malang tampak bahwa berjalannya pengembangan PAI didasarkan pada kesungguhan pemegang fungsi pembelajaran.

Di SMA Shalahuddin Malang strategi pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya 26 Koentjoro Ningrat (dalam Muhamin. Nuansa Baru Pendidikan: Raja Grafindo Persada. competence dan consistency. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hicman dan Silva27 bahwa terdapat tiga langkah untuk mewujudkan budaya. 2001) 67 49 . sehingga program-program yang dikembangkan yang mengacu kepada visi tersebut sangat didukung oleh para pimpinan dan semua guru. hal ini tidak lain disebabkan peran Yayasan Pendidikan Shalahuddin (YAPISH) yang menginginkan sekolah tersebut memiliki ciri khas keIslaman. Budaya Perusahaan. yaitu: commitment. komitmen pimpinan dan guru sangat kuat sekali.sebagai berikut: (a) komitmen pimpinan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Di SMA Shalahuddin Malang. karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah umum yang berbasis Islam ke-NU-an yang memiliki visi KeIslaman berhaluan Ahl al-Sunnah wa al. untuk selanjutnya membangun komitmen dan loyalitas bersama di antara semua warga sekolah terhadap nilai yang telah disepakati.jama>’ah. 2006) 157 27 Hickman dan Silva (dalam Purwanto. (b) komitmen guru. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat26 tentang perlunya perumusan secara bersama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan di sekolah. (c) komitmen orangtua. (d) komitmen siswa.

sehingga lahirnya berbagai peraturan atau kebijakan yang mendukung terhadap lahirnya berbagai kegiatan keagamaan di sekolah beserta berbagai sarana dan prasarana pendukungnya termasuk dari sisi pembiayaan. Kemungkinan kepatuhan akan sangat besar saat ancaman itu dianggap memenuhi syarat dan target mempunyai keinginan kuat untuk menghindari ancaman hukuman. Kepemimpinan dalam Organisasi. hal ini dibuktikan dengan banyaknya jenis dan bentuk hukuman yang diberikan pimpinan kepada siswa yang melanggar. Bentuk kebijakan itu bisa ekplisit. Melalui pendekatan paksaan. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Yulk28 bahwa kekuasaan memaksa diterapkan dengan mengancam atau memberi peringatan kepada seorang target bahwa ia akan mendapatkan konsekuensi yang tidak menyenangkan jika tidak memenuhi permintaan. dimana aturan. atau hanya samar-samar dimana target akan merasa menyesal bila gagal memenuhi apa yang diinginkan agen. 28 Gary Yukl. aturan atau kebijakan. karena di SMA Shalahuddin pendekatan force (paksaan) lebih menonjol dibandingkan dengan SMAN 1 Malang. 180 50 .religius sekolah sudah menjadi komitmen dan kebijakan pimpinan sekolah. (Jakarta: Gramedia. Namun berbeda dengan SMAN 1 Malang. Dengan demikian pendekatan ini lebih bersifat “top down” yakni kegiatan keagamaan yang dibuat atas prakarsa atau instruksi dari pejabat atau pimpinan sekolah. 2005). ancaman dan peringatan seringkali dilakukan.

Pemimpin yang mempunyai kekuasaan jenis ini mempunyai kemampuan untuk mengenakan hukuman.29 Dengan demikian sumber kekuasaan diperoleh dari rasa takut. Banyak sekali sanksi-sanksi yang diberlakukan di sekolah. 57 51 . dapat dijelaskan bahwa di SMAN Shalahuddin cenderung menggunakan pendekatan coercive power (kekuasaan paksaan) yang didasarkan atas rasa takut. seperti membayar uang denda jika tidak bisa melaksanakan salah satu kegiatan keagamaan di sekolah (membeli karpet atau al-Qur’a>n atau halhal yang perlukan di sekolah). dampratan. Dari uraian di atas. hanya saja kekuasaan yang suka menyakiti atau menghukum orang lain seringkali dipergunakan dan sulit dikendalikan. Dahl. semua kekuasaan pada dasarnya ada pada orang. Dalam kehidupan manusia pada umumnya. Secara skematik strategi pewujudan budaya religius sekolah dapat dilihat pada gambar berikut ini: 29 R.Di samping itu.A. kepala sekolah memiliki peran utama dan besar untuk menentukan baik dan buruknya kegiatan keagamaman di sekolah. Newyork. orang mempunyai kekuasaan ini selalu dihubungkan dengan penggunaan kekerasan fisik atau bahkan diwujudkan dalam benturan senjata seperti misalnya perang. (1989) The Concept of Power" Behavior Science\. Hlm. Menurut David Kipnis. atau pemecatan.

untuk melakukan berbagai upaya sistematis. menujukkan bahwa upaya penciptaan suasana religius tetap diupayakan dalam 52 . mengandalkan komitmen pimpinan melalui kebijakan yang ditetapkan oleh pimpian sekolah. dapat penulis jelaskan bahwa terbentuknya budaya religius.Gambar: 3 Instructive Sequential Strategy Dari gambar di atas. melalui proses penciptaan suasana religius. Gambar: 4 Constructive Sequential Strategy Gambar di atas. keteladanan. pembiasaan dan pada akhirnya akan tercipta budaya religius. yang lebih dominan aspek struktural nya. Strategi ini disebut dengan instructive squential strategy (strategi instruktif bertahap). internalisasi nilai. Akan tetapi cara ini memiliki kelemahan apabila komitmen pimpinan dan pengawasan tidak lagi kuat dan konsisten dijalankan oleh sekolah.

Oleh karena itu cara kedua ini memerlukan internalisasi yang kontinyu dan konsisten. meliputi: (a) penciptaan suasana religius. akan tetapi lebih mementingkan pada aspek pemahaman dan kesadaran yang bermula pada diri pelaku. yang meliputi: pemberian pemahaman dan nasehat.mewujudkan budaya religius sekolah. Kelemahan dari cara kedua ini adalah apabila internalisasi dan proses pemahaman tidak diupayakan secara baik. dan (e) pembudayaan. kegiatan ini dilakukan setiap awal dan akhir pembelajaran. sebab para siswa akan belajar dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi secara acak. 1. (c) keteladanan. sehingga proses kesadaran diri menjadi sulit tercipta. maka akan membawa kesan yang tidak baik. Nilai-nilai dan kebenaran akan berjalan sesuai dengan waktu dan peristiwa yang terjadi. Proses Pewujudan Budaya Religius Strategi pewujudan budaya religius yang ditemukan di tiga lokasi penelitian. Dengan doa bersama tersebut diharapkan para siswa senantiasa ingat kepada Allah dan dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat serta ketenangan 53 . (d) Pembiasaan. Penciptaan Suasana Religius Temuan tentang penciptaan suasana religius itu mencakup beberapa hal seperti di bawah ini: (a) Berdoa Bersama Sebelum Pembelajaran. C. (b) internalisasi nilai.

tetapi juga bergantung pada kesucian hati. Internalisasi Nilai. Menurut Muhaimin30 doa dipakai untuk menciptakan suasana religius. Hal ini menunjukkan bahwa pimpinan sekolah memiliki pemahaman bahwa untuk menjadi orang yang pandai. metodologi pembelajaran dan kesungguhan hati. Hal itu dapat dilakukan dengan: (i) kepemimpinan. dilakukan bergilir setiap kelas. (e) Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). (b) Khatm al-Qur’a>n. 303. Paradigma Pendidikan Islam. nusa dan bangsa tidak hanya semata-mata dikarenakan ketajaman akal ketepatan. (iii) wahana peribadatan atau tempat ibadah. 30 Muhaimin. kegiatan ini diadakan setiap bulan sekali agar siswa lancar dalam membaca al-Qur’a>n. mengutip pendapat Muhaimin merupakan bagian dari kehidupan religius yang tampak dan untuk mendekati pemahaman kita tentang hal tersebut. (f) Kegiatan Pondok Ramadhan. 54 . (c) s}alat Jum’at. (iv) dukungan warga masyarakat. dan upaya ritual lainnya. 2. (ii) skenario penciptaan suasana religius. berguna bagi agama. Penciptaan suasana religius merupakan upaya untuk menkondisikan suasana sekolah dengan nilainilai dan perilaku religius (keagamaan). merupakan kegiatan doa bersama dengan membaca kalimahkalimah t}ayyibah dan memohon petunjuk serta pertolongan dari Allah. (d) Istighasah. Doa restu para orangtua-guru. Berbicara tentang penciptaan suasana religius.hati dan jiwa. pintar.

baik matematika. kimia dan lain sebagainya. karena mereka senantiasa diingatkan dengan nilai-nilai agama.Internalisasi dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang agama kepada para siswa. melainkan juga semua guru. terutama tentang tanggung jawab manusia sebagai pemimpin yang harus arif dan bijaksana. Selanjutnya senantiasa diberikan nasehat kepada para siswa tentang adab bertutur kata yang sopan dan bertata krama baik terhadap orangtua. guru maupun sesama orang lain. maka harus ada proses internalisasi budaya. dimana mereka mengintenaliasikan ajaran agama dengan keilmuwan yang mereka miliki seperti guru biologi yang mengkaitkan materi tersebut dengan al-Qur’a>n dan nilai-nilai Agama Islam lainnya. selain itu juga mereka diharapkan memiliki pemahaman Islam yang inklusif tidak ekstrim yang menyebabkan Islam menjadi agama yang ekslusif. biologi. Dalam bahasa Inggris. Pesan-pesan moral yang disampaikan oleh guru umum kadangkala lebih mengena kepada hati siswa. internalized berarti to incorporate in 55 . sehingga proses internalisasi akan dapat masuk ke dalam fikiran dan tindakan para siswa. Talidzhuhu Ndara menyatakan bahwa agar budaya tersebut menjadi nilai-nilai yang tahan lama. Hal tersebut dapat dilakukan oleh semua guru. Selain itu proses internalisasi tidak hanya dilakukan oleh guru Agama saja. Proses internalisasi yang demikian akan lebih menyentuh ke dalam diri siswa. fisika.

Sebagian besar para guru di tiga lembaga tersebut memakai busana muslimah. pengarahan. bukan pendidikann Islam. yaitu: (a) berakhlaq yang baik.31 3. dengan cara dan sikap mereka yang menjunjung tinggi toleransi kepada sesama. para guru dan karyawan memberikan akhlaq yang baik. walaupun masih terdapat beberapa guru yang belum memakai baju muslimah. 82 56 . (d) memakai busana muslimah. walaupun posisi mereka sebagai tukang kebun atau karyawan. internalisasi berarti proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan. Budaya Organisasi. indoktrinasi. Seperti pendidikan. Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran. (c) mengucapkan katakata yang baik. (b) menghormati yang lebih tua. Keteladanan merupakan perilaku yang memberikan contoh kepada orang lain dalam hal kebaikan. 1997). hal ini disebabkan latar belakang pendidikan mereka dan status lembaga pendidikan umum. dengan memberikan contoh pribadi beliau sendiri. brain washing dan lain sebagainya. 31 Talizhidu Dhara.oneself. Temuan penelitian mengenai keteladanan di tiga lembaga. Keteladanan. (Jakarta: Rinika Cipta. Rasulullah saw sendiri di utus ke dunia tidak lain adalah untuk menyempurnakan Akhak. Jadi. (e) menyapa dan mengucapkan salam.

(h) puasa senin kamis. jenis dan arah ditentukan sendiri. Pembiasaan.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ”sesungguhnya aku (Muhammad) di utus. (c) s}alat berjama>’ah. (i) s}alat D}uha. (e) istighasah. yakni membuat aksi atas inisiatif sendiri. Sikap kegiatannya berupa proaksi. 8938. Temuan penelitian mengenai pembiasaan di tiga lembaga tersebut. (g) doa bersama. Bisa pula berupa antisipasi. 33 dapat dilakukan melalui pendekatan keteladanan dan pendekatan persuasif atau mengajak kepada warga sekolah dengan cara yang halus. Pendekatan pembiasaan. Dalam mewujudkan budaya religius sekolah menurut Muhaimin. untuk menyempurnakan akhlak”32. (b) mengucapkan salam dan senyum. Ahmad. CD Hadith Kutub al Tis’ah. tetapi membaca munculnya aksi-aksi agar dapat ikut memberi warna dan arah pada perkembangan nilai-nilai religiusitas di sekolah. yaitu: (a) menyapa. 4. (d) memakai busana muslim. yakni tindakan aktif menciptakan situasi dan kondisi ideal agar tercapai tujuan idealnya. dengan memberikan alasan dan prospek baik yang bisa meyakinkan mereka. (f) khatmu al-Qur’a>n. 33 Talidzuhu Ndara. 63-64 57 ‫)إ ِن ّما ب ُعِث ْت ل ُت َمم مكارِم ال َخل َق )رواه احمد‬ َ ِ ْ ْ َ َ َ َ ّ ِ ُ . keteladanan dan 32 HR.

Pembudayaan. Dukungan Warga Sekolah terhadap Pengembangan PAI dalam Mewujudkan Budaya Religius Sekolah. (e) s}alat D}uha. (d) istighasah. (b) berjabat tangan. (a) memakai busana muslim. (c) tawadlu. 34 Ibid. tetapi membaca munculnya aksi-aksi agar dapat ikut memberi warna dan arah pada perkembangan nilai-nilai religiusitas di sekolah. seperti salat berjama’ah. karena masih dilakukan oleh beberapa orang saja. D. Berdasarkan data sebelumnya. Sikap kegiatannya berupa proaksi. 63-64 58 . Sementara itu ada beberapa aspek-aspek yang masih menjadi kebiasaan pada sekolah ini. dalam penelitian ini ditemukan aspek-aspek yang telah menjadi budaya religius di tiga lembaga ini: (a) mengucapkan salam. jenis dan arah ditentukan sendiri. yakni membuat aksi atas inisiatif sendiri. dan (b) doa bersama.pendekatan persuasif atau mengajak kepada warga sekolah dengan cara yang halus. dan (f) tadarrus al-Qur’a>n. Bisa pula berupa antisipasi. yakni tindakan aktif menciptakan situasi dan kondisi ideal agar tercapai tujuan idealnya. dengan memberikan alasan dan prospek baik yang bisa meyakinkan mereka.34 5.

1993). baik komponen internal maupun eksternal.Upaya mewujudkan budaya religius sekolah tidak akan tercapai secara optimal bila tidak didukung oleh semua komponen sekolah seperti guru. 6 59 . maka diperlukan pelibatan secara optimal semua komponen tersebut. pelibatan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas keagamaan warga sekolah yaitu terwujudnya budaya religius sekolah. maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut: a. 35 Semua jenis pelanggan ini adalah hal penting yang harus dikenali oleh lembaga pendidikan atau kepala sekolah untuk kerjasama antara supervisor (penyelia) dan pelanggan pendidikan agar menghasilkan lulusan yang dapat memuaskan para pelanggan pendidikan. siswa bahkan para orangtua siswa. Tujuannya tidak lain agar mutu atau kualitas sekolah tersebut dapat ditingkatkan secara terus menerus. Dalam hal ini. karyawan. Total Quality Management at the School. Pelibatan secara total total involvement yaitu melibatkan secara total semua komponen sekolah. Secara sekuensial (berurutan) tentang dukungan warga sekolah 35 Stephen Murgatroyd dan Colin Morgan. Agar kualitas pendidikan dapat ditingkatkan. Berdasarkan analisis data terkait dengan dukungan warga sekolah terhadap upaya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah. Mereka dalam bahasa manajemen disebut sebagai pelanggan internal pendidikan. (USA: Open University Press.

komitmen orangtua. komitmen siswa. Untuk mewujudkan dukungan yang kuat. Di SMA Shalahuddin: komitmen pimpinan. komitmen siswa. komitmen orangtua. dilakukan sosialisasi secara maksimal. Pada tataran praktik keseharian. komitmen orangtua. dukungan (supporting) pengakuan (recognizing) dan pemberian imbalan (rewarding). Di SMAN 3 Malang: komitmen guru Agama. komitmen siswa. komitmen pimpinan dan guru lain. Motivasi dan dukungan diberikan khususnya kepada warga sekolah yang masih lemah tingkat 60 . b. komitmen guru. Selain itu juga dilakukan pemberian motivasi (motivating). dan komitmen guru lain.terhadap upaya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sebagai berikut: Di SMAN 1 Malang: komitmen pimpinan dan guru agama. penetapan action plan mingguan atau bulanan. pada tataran perumusan nilai harus melibatkan semua unsur sekolah.

sedangkan pengakuan dan imbalan diberikan khususnya pada warga sekolah yang memiliki komitmen yang kuat dan prestasi yang baik.dukungannya. 61 .

62 .

salam dan menyapa. dan pendekatan persuasif atau mengajak dengan cara yang halus. budaya senyum.BAB VI Kesimpulan dan Implikasi Teoritik A. dengan memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan. dapat meningkatkan sikap tawad}u’ siswa 63 . Perwujudan budaya religius sebagai bentuk pengembangan PAI di sekolah meliputi. budaya saling hormat dan toleran. 2. budaya istighasah dan doa bersama. tetapi bagaimana menjadikan PAI sebagai budaya sekolah merupakan bentuk pengembangan PAI yang strategis dengan jalan meningkatkan peranperan kepemimpinan sekolah dengan segala kekuasaannya melakukan pembudayaan melalui pembiasaan. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah: 1. Pengembangan PAI tidak cukup hanya dengan mengembangkan pembelajaran di kelas dalam bentuk peningkatan kualitas dan penambahan jam pembelajaran. keteladanan. meningkatkan kedisiplinan dan kesungguhan dalam belajar dan beraktifitas. meningkatkan rasa persaudaraan dan toleransi. budaya puasa senin dan kamis. budaya tadarrus al-Qur’a>n. Budaya tersebut terbukti dapat meningkatkan spiritualitas siswa. budaya s}olat d}uha.

Pada strategi kedua. (2) internalisasi nilai. dan (b) constructive sequential strategy. perilaku dan kebiasaan religius yang pada akhirnya akan membentuk budaya religius sekolah. sehingga diharapkan akan tercipta sikap. (4) pembiasaan. (2) 64 . yaitu: (a) instructive sequential strategy. Proses pewujudan budaya religius dilakukan dengan dua strategi. Adapun prosesnya sebagai berikut: (1) penciptaan suasana religius. 3. Adapun proses pewujudannya sebagai berikut: (1) penciptaan suasana religius. upaya pewujudan budaya religius sekolah lebih menekankan pada pentingnya membangun kesadaran diri (self awareness). (3) keteladanan. serta dapat menjadikan mentalitas siswa lebih stabil sehingga berpengaruh pada kelulusan dan nilai yang membanggakan.pada guru sebagai bentuk penghormatan dan keyakinan akan mendapatkan berkah dari gurunya berupa manfaat ilmu pengetahuan yang di dapat dari guru. Pada strategi pertama. dan (5) pembudayaan. upaya pewujudan budaya religius menekankan pada aspek stuktural yang bersifat instruktif. yang mengandalkan komitmen pemimpin untuk melakukan upaya sistematis melalui force untuk mewujudkan budaya religius. sehingga punishment dijadikan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan budaya religius sekolah.

di samping itu. perlu adanya upaya pengawasan dan pengendalian terhadap proses pembudayaan di sekolah dengan cara membuat buku kendali untuk para siswa. antara lain: Terbatasnya alokasi waktu. Tidak adanya proses internalisasi nilai sehingga proses pembelajaran cenderung hanya bersifat transfer of knowledge. dan komitmen guru lain. Metode pembelajaran yang cenderung kognitif oriented. Komitmen dan kerjasama secara sinergis diantara warga sekolah dan dukungan orang tua dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan budaya religious 5. Agar budaya religius di sekolah dapat terwujud. maka diperlukan komitmen dan dukungan dari warga sekolah. (3) perilaku. 4. dan adanya pengaruh negatif dari dunia luar sekolah dan pesatnya perkembangan tekhnologi. Dukungan warga sekolah terhadap upaya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius berupa: komitmen pimpinan dan guru agama. 65 . komitmen orangtua. (4) kebiasaan. dan (5) pembudayaan. komitmen siswa.sikap. Pentingnya pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah adalah didasari adanya kekurangberhasilan Pengembangan Pendidikan Agama Islam di sekolah yang disebabkan oleh banyak hal.

Artinya semakin dewasa objek penanaman nilai penggunaan pola pelakonan harus semakin dikurangi dan diteruskan dengan aktualisasi melalui pola peragaan.B. 66 . Menurut Ndraha penggunaan dua pola itu merupakan hubungan continual (yang berkesinambungan). pada bagian tujuan PAI. Implikasi Teoritis 1. Temuan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Muhaimin dkk tentang penciptaan suasana religius di sekolah umum. Pewujudan budaya religius merupakan langkah strategis dalam pengembangan PAI di sekolah umum. Penelitian ini mempertegas dua strategi yang dikemukakan oleh Ndraha tentang pola pelakonan dan peragaan. Temuan ini menguatkan kebijakan pemerintah melalui Permendiknas No. 2. menegaskan bahwa sekolah perlu mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah. 23 tahun 2006 tentang SKL (Standar Kompetensi Lulusan). mengingat adanya berbagai macam kelemahan dan persoalan pembelajaran PAI. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih diperlukan adanya komitmen dan dukungan dari warga sekolah agar strategi tersebut dapat berjalan secara efektif.

67 .

RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun Jenjang Tempat Pendidikan Lulus 1965 MI MI Al Islamiyah Bojonegoro 1971 PGAN 6 Th PGAN 6 tahun Bojonegoro 1979 S1 IAIN Malang 1999 S2 Universitas Muhammadiyah Malang III. Agama Studi Islam Penyelenggara Universitas Kebangsaan Malaysia Lemlit UIN Malang Lemlit UIN Malang UIN Malang Thun.Ag : 150215372 : Laki-laki : Bojonegoro.com Jurusan/ Bidang Studi Fak. DATA PRIBADI : Drs.DAFTAR RIWAYAT HIDUP I. 1980 .) : Siti Aisyah (almh. Maulida NF 2. PENDIDIKAN / PELATIHAN TAMBAHAN Tahun Pelatihan 2004 Program Latihan Pengurusan Akademik 2004 2005 2008 IV. Faiz Ibnu A 4. Binta Husna B 3. PENGALAMAN JABATAN 68 . Sulteng Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN IAIN Sunan Ampel Surabaya Sunan Ampel Dosen Fakultas Tarbiyah UIN UIN Malang Malang V. Sahlan (alm.) : Islam : Jl. Pelatihan Metodologi Penelitian Pelatihan Penyusunan Proposal Penelitian Pelatihan Pembelajaran Berbasis ICT PENGALAMAN KERJA Jenis Pekerjaan Institusi Dosen Agama Islam Universitas Tadolako Palu. Shofiya QA : : M. 10 November 1952 : Pembina Utama Muda (IV/c) : Lektor Kepala : UIN Malang : Kawin : Siti Nurzaidah : 1. s.d .tarbiyah@yahoo. M. Pertamanan 1-A Kepuharjo Karangploso Malang : asmaun.Tarbiyah/Pend.1982 1983 – 1997 1997 – Sekarang Nama NIP Jenis Kelamin Tempat dan Tanggal Lahir Golongan / Pangkat Jabatan Fungsional Akademik Perguruan Tinggi Status Perkawinan Nama Istri Nama Anak Nama Orang Tua Ayah Ibu Agama Alamat Rumah E-mail II. Asmaun Sahlan.

Tarbiyah VI. Tarbiyah UIN Malang) Pengembangan Pembelajaran PAI Melalui Social Reconstruction untuk Pendidikan Anti Korupsi di Madrasah Aliyah KARYA TULIS ILMIAH Judul Strategi Pengembangan Fak...d . s. Tarbiyah UIN Malang Mapenda DEPAG Kab.. 1997 – 1999 1999 – 2004 2004 – 2006 2006 .sekarang KEGIATAN PENELITIAN Judul Penelitian Pengembangan system pendidikan Madrasah Aliyah menjadi Madrasah Model (Studi Kasus MAN III Malang) Restrukturisasi Kurikulum Pendidikan Ekonomi Program Studi Pendidikan IPS Fakultas Tarbiyah Pemetaan Madrasah di Kota Malang Peningkatan Profesionalitas Guru di MI (Studi Kasus di MIN Malang 1) Pengembangan Sistem Pendidikan Pesantren (Studi Kasus Pesantren al-Hikam Malang) Pengembangan Profesionalitas Dosen (Studi Kasus Fak. Tarbiyah dalam Melahirkan Pendidik Ulul Albab Pendidikan dan Kualitas Sumber Daya Manusia Kehadiran Kiai Independen dalam Dinamika Sosial Politik Pengembangan Profesionalitas Dosen Humanisasi dalam Perspektif Pendidikan Islam Pendidikan Sebagai Proses Sosialisasi Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam...Jabatan Sekretaris PKPBA Ketua Jurusan Tarbiyah Ketua Lemlit Pembantu Dekan 3 Fak. Pacitan Jabatan Mandiri Mandiri Mandiri Mandiri Mandiri Mandiri Ketua Sumber Dana Pribadi Pribadi Pribadi Pribadi DIPA Lemlit UIN Malang DIPA Lemlit UIN Malang Litbang DEPAG RI VII. Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 69 . Tarbiyah UIN Malang BEM F. Sebuah Tinjauan Historis Sosiologis Pergeseran Paradigma dan Pemberdayaan Kerja Kebudayaan Pendidikan Peningkatan Profesionalitas Guru Madrasah Pengembangan Profesionalitas Guru PAI di Sekolah Penerbit/Jurnal Shifa Jurnal El-Hikmah Tarbiyah UIN Malang Jurnal El-Hikmah Tarbiyah UIN Malang Jurnal El-Hikmah Tarbiyah UIN Malang Jurnal El-Hikmah Tarbiyah UIN Malang HMJ PAI Tarbiyah UIN Malang Fak.. Ponorogo Mapenda DEPAG Kab. Tahun 1998 2003 2004 2004 2005 2006 2007 Institusi STAIN Malang STAIN Malang UIN Malang UIN Malang Tahun.

VIII. Tarbiyah UIN Malang VIX. Interdiciplinary Perspective” Workshop Pengembangan Jaringan Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Workshop Pengembangan Pusat Penelitian Dosen Workshop Penguatan Penelitian Bagi Calon Penerima Bantuan Dana Penelitian DIREKTORAT DIKTIS 2006 Workshop Evaluasi Tengah Tahunan Pemberdayaan Madrasah / Pesantren / Masjid / Masyarakat Dampingan PTAI Seminar Orientasi PAI di Perguruan Tinggi Umum Seminar Nasional Formulasi Pendidikan Islam Menyongsong Era Globalisasi Penyelenggara UIN Malang Puslitbang DEPAG RI Lemlit UIN Malang DIRJEN Pendidikan Islam DIRJEN Pendidikan Islam Universitas Brawijaya Malang Fak.2001 2005 – sekarang 2006 – sekarang 2006 2007 2007 2008 2008 Kegiatan Ketua Ta’mir Masjid Baiturrahman Tunggul wulung Kota Malang Ketua Ta’mir Masjid Baitussalam Desa Kepuharjo Karangploso Malang Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pemberdayaan Madrasah Binaan UIN Malang Sosialisasi KTSP Bagi Guru Swasta di Kota Batu Diklat Profesi Guru Diklat Pembelajaran Guru Peer Teaching Diklat Profesi Guru 70 . KEGIATAN SOSIAL Tahun 1990 . Tahun 2005 2005 2006 2006 2007 2008 2008 KEGIATAN SEMINAR DAN FORUM ILMIAH Judul Kegiatan International Workshop on “Issues on Raising Child.