P. 1
kebijakan_perikanan

kebijakan_perikanan

|Views: 99|Likes:
Published by sandysatrio

More info:

Published by: sandysatrio on Jan 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2012

pdf

text

original

1

“MASALAH DAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUK PERIKANAN UNTUK PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT”
Disampaikan pada Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia, Kamis, 21 November 2007 Oleh Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan

Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah, menyusul dua per tiga wilayah Indonesia terdiri dari laut, potensi perikanan sebesar 6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan namun belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2005, total produksi perikanan 4,71 juta ton, dimana tangkapan laut. ikan-ikan non 75 % (3,5 juta ton) berasal dari

Apabila dilihat dari tingkat pemanfaatan, terutama untuk ekonomis belum optimal. Hal ini disebabkan

pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan konsumsi segar. Akibatnya ikan-ikan tidak ditangani dengan baik dikapal, sehingga ikan yang didaratkan bermutu rendah (20–30%), sehingga berdampak pada tingginya tingkat kehilangan (losses) sekitar 30-40%. Lebih jauh lagi, ekspor hasil perikanan Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan belum diolah.

Sebagai konsekuensinya, usaha pengolahan produk hasil perikanan di Indonesia belum bergairah. Dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan dalam bentuk basah, sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan

sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan olahan lainnya 1,86%. Sedangkan dari ekspor tahun 2005 sebesar 857.782 ton, 80% diantaranya didominasi produk olahan modern sedangkan produk olahan tradisional hanya sekitar 6% saja. Disisi lain ikan hasil tangkapan samping (HTS/by catch) pukat udang dan tuna serta sisa olahan (by product) industri perikanan belum pula dimanfaatkan secara optimal sehingga ikan tangkapan samping khususnya ikan-ikan non ekonomis/sisa hasil industri yang tidak Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP

baik olahan tradisional maupun modern. Dirjen P2HP-DKP . Isu Strategis Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Yang menjadi isu strategis dalam pengembangan usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sebagai berikut : a. cemaran logam berat dan histamin pada tuna dan certificate eco labelling selain health certificate. sumber pendapatan bagi nelayan. sumber protein hewani dan sumber devisa bagi negara. Tingginya tingkat kehilangan (losses) mencapai sekitar 27. b. Sedangkan apabila ingin merubah nilai jual ikan non ekonomis maka salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui teknologi produk perikanan (pengembangan produk hasil perikanan) agar lebih bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun produk bernilai tambah yang diproduksi di Indonesia masih dari ikan ekonomis seperti tuna/udang kaleng. sanitasi kekerangan.8% Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. Lemahnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety) Pihak pembeli dari negara lain menuntut kepada Indonesia (para eksportir) agar produk yang dihasilkan memenuhi ketentuan- ketentuan sbb : penerapan HACCP. tuna steak. aman. Salah satu usaha untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan pemanfaatan produksi hasil tangkapan laut adalah dengan pengembangan produk bernilai tambah. Hal ini disebabkan oleh lemahnya jaminan dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety) di Indonesia. sehat melalui asupan gizi/vitamin/protein dari produk hasil perikanan dan ketahanan pangan.2 termanfaatkan dibuang ke laut atau ditimbun dengan tanah. loin dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual meski tanpa dilakukan proses lanjutan. Sektor perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja (padat karya). Bioterrorism Act. dengan demikian terjadi kehilangan nilai jual ikan.

maka yang terjadi adalah banyaknya banyaknya terjadi tingkat kehilangan (losses). hal ini disebabkan oleh masih kurangnya intensitas promosi serta rendahnya partisipasi stakeholders (khususnya produsen produk perikanan) dalam mengembangkan program promosi. Bahan baku belum standar Sebanyak 85% produksi perikanan tangkap didominasi/dihasilkan oleh nelayan skala kecil dan pada umumnya kurang memenuhi standar bahan baku industri pengolahan. Kurangnya bahan baku industri Kurangnya bahan baku industri pengolahan ini disebabkan oleh belum adanya kerjasama antara industri penangkapan dan pengolahan sehingga perusahaan penangkapan cenderung mengekspor ikan dalam bentuk ikan utuh (gelondongan). Penyebab lain adalah rendahnya pengetahuan nelayan. pengolah. CO. Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya Maraknya bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan ikan. zat pewarna. distribusi dan UPI SKM. c. misalnya formalin. d. antibiotik (chloramphenol. g. Hal ini menjadi tuntutan dan syarat mutlak bagi konsumen. Nitro Furans. Hal ini disebabkan oleh substitusi bahan pengganti tersebut kurang Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. e. borax. Kurangnya intensitas promosi dan rendahnya partisipasi stakeholders Produk perikanan yang bernilai tambah (value added products) di masyarakat belum populer. petugas TPI/PPI mengenai cara penanganan dan pengolahan yang baik (Good Manufacturing Practice/GMP). Apabila hal ini tidak dipenuhi. maka sangat diperlukan bahan baku yang bermutu baik pula.3 Untuk mendapatkan hasil/produk yang bermutu baik. TPI/PPI. Terbatasnya sarana penanganan ikan Terbatasnya sarana penangan ikan di atas kapal. antiseptik. f. Dirjen P2HP-DKP . pestisida. terbatasnya sarana pabrik es dan air bersih di TPI/PPI. OTC).

Jenis ragam produk dan pengembangan produk bernilai tambah belum berkembang populer Meskipun kajian dan hasil penelitian pemanfaatannya sudah banyak tersedia. h. Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. j. masih adanya budaya dan kondisi sosial masyarakat yang kurang kondusif terhadap peningkatan konsumsi ikan serta belum meratanya program GEMARIKAN di seluruh daerah. untuk meningkatkan pengetahuan/ketrampilan masih Meningkatkan Konsumsi Ikan Yang Sehat dan Aman Salah satu tujuan membangun sektor Perikanan untuk terciptanya ketahanan pangan di Indonesia adalah meningkatkan ketersediaan ikan yang sehat dan aman. mahalnya peralatan. b.4 tersedia dan peredaran bahan kimia berbahaya bebas. i. kurangnya pengetahuan masyarakat akan manfaat makan ikan. maka langkah relevan yang telah dan akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan adalah sebagai berikut : a. suplai tidak kontinyu. Rendahnya konsumsi ikan per kapita Rendahnya konsumsi ikan per kapita disebabkan oleh belum meratanya distribusi. Meningkatkan produktivitas pengolahan hasil perikanan yang ramah lingkungan. salah satu diantaranya adalah ketersediaan sarana prasarana . Dirjen P2HP-DKP . murah dan sangat mudah diperoleh. masih banyak produk yang berkualitas kurang prima di pasaran. (value added products) optimal dan belum kurangnya teknologi serta masalah kontinuitas suplai bahan baku. Meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan. Informasi teknologi terbatas Terbatasnya informasi dan teknologi penanganan dan motivasi serta keinginan rendah. Untuk mencapai hal tersebut. Banyak kendala yang menyebabkannya. namun produksi secara masal belum dapat direalisasi.

f. namun juga Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. Dirjen P2HP-DKP . Meningkatnya konsumsi ikan 2. sehat dan kontinyu tersedianya. Meningkatkan standar bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang sesuai dengan ketentuan Internasional. Memperkuat dan mengembangkan basisi pasar produk perikanan Indonesia dan di luar negeri. Pentingnya Dukungan Teknologi Produk Perikanan Memberi jaminan kepada konsumen terhadap produk yang aman dan sehat merupakan hal utama yang menjadi perhatian sektor perikanan dalam rangka menyiasati maraknya peredaran produk perikanan yang kurang berkualitas dan mengandung bahan kimia berbahaya. e. melalui teknologi yang murah dan aplikatif (mudah untuk diterapkan). Dukungan teknologi produk perikanan menjadi sangat penting tidak hanya untuk memenuhi tuntutan pembeli/konsumen. Meningkatkan kualitas kompetensi lembaga sertifikasi produk perikanan. Mendorong peningkatan konsumsi ikan dalam negeri. Tersedianya produk yang aman. melalui cara-cara pengolahan yang higienis sesuai GMP (Good Manufacturing Practices). Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.5 c. h. g. SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) serta menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) . d. Teknologi yang dibutuhkan dan perlu untuk dikembangkan adalah yang mampu mengatasi banyaknya permasalahan yang dihadapi sehingga tujuan ketersediaan pangan produk perikanan dapat terpenuhi. Tidak saja untuk konsumen luar negeri. tetapi konsumen dalam negeri pun sudah mulai kritis dan menuntut penyediaan makanan yang aman dan sehat. Memperkuat jaringan dan kelembagaan pemasaran dalam negeri. Apapun cara yang di tempuh dalam penyediaan produk perikanan. yang menjadi tujuan ketahanan pangan produk perikanan adalah : 1.

pengemasannya. Kedua. Protein hewani yang berasal dari ikan (ikan dan berbagai jenisnya) menjadi jawabannya. Kerangka Pendekatan A. proses pembuatannya. Karena prinsip utama dalam penerapan sistem rantai Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. Peran Strategis Teknologi Pengembangan Produk Perikanan Pertama. Hal ini terutama untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis. sehingga memiliki daya saing dengan produk olahan lainnya. Karena dalam pengembangan produk terkait erat dengan rekayasa rekayasa peralatan dan sentuhan produksi sehingga diperlukan teknologi modern. apabila diolah maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis.6 diperlukan dalam rangka menangkap perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan yang lebih cenderung kepada makanan olahan yang instan. Menumbuhkan inovasi teknologi modern. pemeliharaan kesehatan serta aman untuk dikonsumsi. Nilainya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara lain kebersihannya/higienisnya. Ketiga. Dirjen P2HP-DKP . Meningkatkan apresiasi terhadap produk tradisional. cepat dan praktis. karena dalam menciptakan pengembangan produk diperlukan kreativitas seseorang dalam menciptakan produk-produk yang diminati konsumen. selama ditangani dengan cara yang benar dan sesuai standar. Membentuk SDM berkualitas dan kompeten. Cold Chain Sistem Sistem Rantai Dingin atau Cold Chain System (CCS) merupakan salah satu program yang dapat mendorong akselerasi tercapainya produk perikanan prima. dan sebagainya. Karena dalam pengembangan produk. tetap mengutamakan kandungan gizi. Keempat. produk tradiosionalpun perlu memperoleh apresiasi. tidak hanya produk yang melalui proses teknologi modern saja yang menjadi fokus perhatian. Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan. sehingga secara tidak langsung dapat menciptakan SDM berkualitas dan kompeten.

Pengembangan Sentra Sentra merupakan kumpulan dari beberapa produsen produk sejenis yang berada pada posisi yang sama dalam mata rantai nilai. Pada awalnya pengembangan sistem rantai dingin dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian pada tahun 1990-an dengan kegiatan pemberian bantuan cool box kepada nelayan kecil dan bimbingan teknis tentang penanganan hasil perikanan dengan menggunakan sarana cool box tersebut.7 dingin adalah penanganan ikan dengan suhu dingin sekitar 00 C dilakukan secara terus menerus tidak terputus sejak ikan ditangkap atau dipanen. Sedangkan pengembangan sentra dilakukan karena beberapa alasan antara lain : • Adanya efisiensi kolektif (bahan baku. Dirjen P2HP-DKP . Apabila penerapan sistem rantai dingin secara benar diterapkan dengan baik serta memperhatikan sanitasi dan hygiene maka ikan hasil tangkapan atau ikan hasil panen dapat dipastikan memiliki mutu tinggi. didaratkan dan didistribusikan serta dipasarkan hingga ke tangan konsumen. Sistem rantai dingin sudah dikembangkan sejak dulu walaupun sifatnya masih parsial dan belum dilakukan secara sistematis dari hulu sampai hilir. aman dikonsumsi serta memenuhi kriteria produk perikanan prima. Mengingat dari sisi pendanaan yang relative kecil sehingga tingkat keberhasilan dari kegiatan tersebut belum dapat dirasakan manfaatnya oleh para nelayan secara nasional. Sentra merupakan pusat kegiatan UKM di kawasan/lokasi tertentu yang menggunakan bahan baku/sarana yang sama. proses produksi dan pemasaran hasil) • • • • Mencapai Skala Ekonomis Penanganan limbah lebih terkendali Mudah melakukan pembinaan dan monev (standar yang homogen) Adanya akses terhadap inovasi Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. B. menghasilkan produk yang sejenis serta memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi klaster.

Dirjen P2HP-DKP . November 2007 DIREKTUR JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN Martani Huseini Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007. Jakarta. mengembangkan jaringan usaha mikro. ketersediaan produk menjadi kontinyu sehingga tingkat konsumsi meningkat.8 • • Adanya akses terhadap pengetahuan dan teknologi Mempermudah internalisasi pengembangan UKM Pengolaha Dengan menumbuhkembangkan sentra-sentra pengolahan ikan di daerah. serta selalu menerapkan sistem rantai dingin maka diharapkan mampu mendorong terciptanya produk yang aman dan sehat. kecil dan menengah dalam suatu kawasan kemudian disinergikan dengan usaha pengembangan produk. menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis usaha pengolahan ikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->