PENYAKIT BATU EMPEDU

BAB I PENDAHULUAN Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di Negara barat sedangkan di Indonesia baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara publikasi penelitian batu empedu masih terbatas. Sebagian besar pasien dengan batu empedu tidak mempunyai keluhan. Risiko penyandang batu empedu untuk mengalami gejala dan komplikasi relative kecil. Walaupun demikian, sekali batu empedu mulai menimbulkan serangan nyeri kolik yang spesifik maka resiko untuk mengalami masalah dan penyulit akan terus meningkat. Batu empedu umumnya ditemukan didalam kandung empedu, tetapi batu tersebut dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran empedu menjadi batu saluran empedu dan disebut batu saluran empedu sekunder. Di Negara barat 10-15% pasien dengan batu kandung empedu juga disertai saluran empedu. Pada beberapa keadaan, batu saluran empedu dapat terbentuk primer didalam saluran empedu intra- atau ekstrahepatik tanpa melibatkan kandung empedu. Batu saluran empedu primer lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah asia dibandingkan dengan pasien di Negara barat. Perjalanan batu saluran empedu sekunder belum jelas benar, tetapi komplikasi akan lebih sering dan berat dibandingkan batu kandung empedu asimptoatik.

2011

1

PENYAKIT BATU EMPEDU
BAB II PEMBAHASAN

2011

A. ANATOMI FISIOLOGIS SEKRESI EMPEDU  ANATOMI Kandung empedu ( Vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak pada permukaan visceral hepar. Vesica fellea dibagi menjadi fundus, corpus dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hepar, dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung rawan costa IX kanan. Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hati dan arahnya keatas, belakang dan kiri. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis membentuk duktus koledokus. Peritoneum mengelilingi fundus vesica fellea dengan sempurna menghubungkan corpus dan collum dengan permukaan visceral hati. Pembuluh arteri kandung empedu adalah a. cystica, cabang a. hepatica kanan. V. cystica mengalirkan darah lengsung kedalam vena porta. Sejumlah arteri yang sangat kecil dan vena ± vena juga berjalan antara hati dan kandung empedu. Pembuluh limfe berjalan menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak dekat collum vesica fellea. Dari sini, pembuluh limfe berjalan melalui nodi lymphatici hepaticum sepanjang perjalanan a. hepatica menuju ke nodi

2

PENYAKIT BATU EMPEDU
lymphatici coeliacus. Saraf yang menuju kekandung empedu berasal dari plexus coeliacus. Vesica fellea berperan sebagai resevoir empedu dengan kapasitas sekitar 50 ml. Vesica fellea mempunya kemampuan memekatkan empedu. Dan untuk membantu proses ini, mukosanya mempunyai lipatan ± lipatan permanen yang satu sama lain saling berhubungan. Sehingga permukaanya tampak seperti sarang tawon. Sel- sel thorak yang membatasinya juga mempunyai banyak mikrovilli. Empedu dibentuk oleh sel-sel hati ditampung di dalam kanalikuli. Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum interlobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum mencapai doudenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum.

2011

3

PENYAKIT BATU EMPEDU
Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum, hormon kemudian masuk kedalam darah, menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama, otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. Garam ± garam empedu dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbsi lemak.5 Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu : - Hormonal : Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu. - Neurogen : - Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu.

2011

4

Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu lumpuh. empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak. empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buangan yang penting dari darah. suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin. Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan neurologis maupun hormonal memegang peran penting dalam perkembangan inti batu. permukaan partikel tersebut dapat diserang oleh enzim lipase yang disekresikan dalam getah pancreas y Asam empedu membantu absorpsi produk akhir lemak yang telah dicerna melalui membran mukosa intestinal 2. Salah satu dari berbagai fungsi hati adalah untuk mengeluarkan empedu. 1 2011  Sekresi Empedu Oleh Hati dan Fungsi Dari Sistem Empedu. cairan empedu akan tetap keluar walaupun sedikit. normalnya antara 600 dan 1000 ml/hari. 5 . tetapi karena asam empedu di dalam empedu melakukan dua hal : y Asam empedu membantu mengemulsikan partikelpartikel lemak yang besar dalam makanan menjadi banyak partikel kecil. Kedua. dan kelebihan kolesterol. Empedu melakukan dua fungsi penting yaitu : 1. Hal ini meliputi bilirubin .Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke duodenum dan mengenai Sphincter Oddi. Pertama. bukan karena enzim dalam empedu yang menyebabkan pencernaan lemak.PENYAKIT BATU EMPEDU .

.Bagian awal disekresikan oleh sel-sel fungsional utama hati.PENYAKIT BATU EMPEDU Empedu disekresikan dalam dua tahap oleh hati : . Sebagai sel eksokrin. hepatosit menyintesis dan membebaskan empedu kedalam sistem duktus ekskretorius.Kemudian. tempat kanalikuli mengeluarkan empedu 2011 kedalam duktus biliaris terminal dan kemudian secara progresif kedalam duktus yang lebih besar. Sekresi kedua ini kadang meningkatkan jumlah empedu total sampai 100 persen . Kemudian empedu disekresikan kedalam kanalikuli biliaris kecil yang terletak diantara sel-sel hati. empedu mengalir di dalam kanalikuli menuju septa interlobularis. bagian kedua dari sekresi hati ditambahkan kedalam sekresi empedu yang pertama. Sekresi awal ini mengandung sejumlah besar asam empedu. Dari sini empedu langsung dikeluarkan kedalam duodenum atau dialihkan dalam hitungan menit sampai beberapa jam melalui duktus sistikus kedalam kandung empedu. sekresi kedua ini dirangsang terutama oleh sekretin. akhirnya mencapai duktus hepatikus dan duktus hepatikus komunis. 6 . kolesterol dan zat-zat organic lainnya. yang melepaskan sejumlah ion bikarbonat tambahan sehingga menambah jumlah ion bikarbonat dalam sekresi pancreas (untuk menetralkan asam yang dikeluarkan dari lambung ke duodenum). yaitu sel hepatosit. Dalam perjalanannya melalui duktus-duktus billiaris. yaitu kanalikuli biliaris. Sekresi tambahan ini berupa larutan ion-ion natrium dan bikarbonat encer yang disekresikan oleh sel-sel epitel sekretoris yang mengelilingi duktus-duktus.

memekatkan sisa zat-zat empedu yang mengandung garam empedu. dan kebanyakan elektrolit lainnya secara terus menerus diabsorbsi melalui mukosa kandung empedu. Empedu disekresikan secara terus-menerus oleh sel-sel hati namun sebagian besar normalnya disimpan di dalam kandung empedu sampai diperlukan di dalam duodenum. 7 . kolesterol.PENYAKIT BATU EMPEDU 2011  Penyimpanan dan Pemekatan Empedu di Dalam Kandung Empedu. lesitin dan bilirubin. Meskipun demikian. Volume maksimal yang dapat ditampung kandung empedu hanya 30 sampai 60 mililiter. sekresi empedu selama 12 jam (biasanya sekitar 450 mililiter) dapat disimpan dalam kandung empedu karena air. klorida. natrium.

Empedu secara normal dipekatkan sebanyak 5 kali lipat dengan cara ini.1 g/dl 0.9 g/dl 0.PENYAKIT BATU EMPEDU Kebanyakan absorpsi kandung empedu ini disebabkan oleh transfor aktif natrium melalui epitel kandung empedu.2 g/dl 0. tetapi dapat dipekatkan sampai maksimal 20 kali lipat. dan keadaan ini diikuti oleh absorpsi sekunder ion klorida.3 g/dl 0.12 g/dl 0.3 sampai 0. air.04 g/dl 0. dan kebanyakan zat-zat terdifusi lainnya.3 sampai 1.04 mEq/L 5 mEq/L 5 mEq/L 100 mEq/L 28 mEq/L 92 g/dl 6 g/dl 0.5 g/dl 1. KOMPOSISI EMPEDU EMPEDU HATI EMPEDU PADA KANDUNG EMPEDU Air Garam empedu Bilirubin Kolesterol Asam lemak Lesitin Na+ K+ Ca++ ClHCO397.3 g/dl 130 mEq/L 12 mEq/L 23 mEq/L 25 mEq/L 10 mEq/L Tabel diatas menunjukkan komposisi empedu pada saat pertama kali disekresikan oleh hati dan kemudian setelah empedu dipekatkan 8 . 2011  Komposisi Empedu.1 g/dl 0.04 g/dl 145.

Bilirubin. terutama garam empedu dan zat-zat lemak kolesterol dan lesitin. table tersebut menunjukkan bahwa zat yang paling banyak disekresikan dalam empedu adalah garam empedu. Hormone ini menyebabkan peningkatan sekresi enzim pencernaan oleh sel-sel asinar pancreas. tidak direabsorbsi dan. Pada dasarnya semua zat lain. lesitin dan elektrolit yang biasa terdapat dalam plasma. yang banyaknya setengah dari total zat-zat yang juga terlarut dalam empedu. Mekanisme pengosongan kandung empedu adalah kontraksi ritmis dinding kandung empedu. terutama sewaktu makanan berlemak mencapai duodenum sekitar 30 menit setelah makan. juga disekresikan atau diekskresikan dalam konsentrasi besar. menjadi sangat pekat dalam empedu di kandung empedu. kolesterol. Dalam proses pemekatan di kandung empedu. kandung empedu mulai dikosongkan. air dan elektrolit dalam jumlah besar (kecuali ion kalsium) direabsorbsi oleh mukosa kandung empedu. ketika makanan mulai dicerna di dalam traktus gastrointestinal di dalam traktus gastrointestinal bagian atas. karena itu. 2011  Pengosongan Kandung Empedu. yang menjaga pintu keluar duktus billiaris komunis kedalam duodenum. Sejauh ini rangsangan yang paling poten menyebabkan kontraksi kandung empedu dalah kolesistokinin. tetapi pengosongan yang efektif juga membutuhkan relaksasi yang bersamaan dari sfingter oddi.PENYAKIT BATU EMPEDU dalam kandung empedu. Rangsangan untuk memasukan kolesistokinin ke dalam darah dari 9 .

tetapi bila terdapat lemak dalam jumlah berarti didalam makanan. Sel hati menyintesis sekitar 6 gram garam empedu setiap harinya. Selain kolesistokinin.PENYAKIT BATU EMPEDU mukosa duodenum terutama adalah kehadiran makanan berlemak dalam duodenum. kandung empedu juga dirangsang secara kurang kuat oleh serabut-serabut saraf yang menyekresi asetilkolin dari sistem saraf vagus dan enteric usus. kandung empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya kedalam duodenum terutama sebagai respon terhadap perangsangan kolesistokinin yang terutama dicetuskan oleh makanan berlemak. Pada saat yang sama. Kolesistokinin dibawa oleh aliran darah kekandung empedu. Keduanya adalah saraf yang sama yang mningkatkan motilitas dan sekresi dalam bagian lain traktus gastrointestinal bagian atas. 2011  Fungsi Garam-Garam Empedu Pada Pencernaan dan Absorpsi Lemak. Precursor dari garam empedu adalah kolesterol. baik yang ada 10 . normalnya kandung empedu kosong waktu sekitar 1 jam. pengosongan kandung empedu berlangsung buruk. Saat lemak tidak terdapat dalam makanan. Kolesistokinin dilepaskan ka dalam aliran darah oleh sel-sel enteroendokrin yang terdapat di mukosa usus. Secara ringkas. menimbulkan kontraksi otot polos pada dindingnya. otot sfingter di sekitar leher kandung empedu melemas (relaksasi). Kombinasi kerja ini memaksa empedu masuk kedalam duodenum melalui duktus koledokus.

kemudian akan disekresi dalam empedu. tempat lemak kemudian diabsorbsi kedalam darah. monogliserida. dan yang jauh lebih penting daripada fungsi emulsifikasi. Garamgaram dari asam ini. Asam-asam ini selanjutnya akan berkombinasi terutama dengan glisin dan. Tanpa adanya garam-garam empedu di dalam traktus 11 . Garam-garam empedu mempunyai dua kerja penting pada traktus intestinal : y Pertama. dan bersifat semi-larut didalam kimus akibat muatan listrik dari garam-garam empedu. Proses ini disebut emulsifikasi atau fungsi deterjen dari garam-garam empedu. dalam jumlah yang lebih sedikit. garam-garam empedu membantu absorbsi dari asam lemak. terutama garam natrium. y Kedua. Lemak usus ³diangkut´ dalam bentuk ini kemukosa usus. kompleks ini disebut dengan micel.PENYAKIT BATU EMPEDU didalam diet atau yang disintesis dalam sel-sel hati selama berlangsungnya metabolisme lemak. Kolesterol pertama diubah menjadi asam kolat atau asam kenodeoksikolat dalam jumlah yang sama. dengan taurin untuk membentuk asam empedu terkojugasi -gliko dan ±tauro. Garam empedu melakukan fungsi ini dengan cara membentuk kompleks-kompleks fisik yang sangat kecil dengan lemak ini. garam-garam ini bekerja sebagai deterjen pada partikel lemak dalam makanan. Hal ini akan menguragi tegangan permukaan partikel dan memungkinkan agitasi dalam traktus intestinl untuk memecahkan tetesan-tetesan lemak 2011 menjadi bentuk yang kecil. kolesterol dan lemak lain dalam traktus intestinal.

2011  Sirkulasi Enterohepatik Garam-Garam Empedu. Pada saat mencapai hati. Dengan cara ini. makin besar kecepatan sekresi empedu. Sekitar`94 % garam empedu direabsorbsi kedalam darah dari usus halus. 40 % lemak yang dicerna akan dikeluarkan bersama tinja.sekitar 94% dari semua garam empedu disirkulasikan kembali kedalam empedu. lalu memasuki darah portal dan diteruskan kembali kehati. Sejumlah kecil garam empedu yang dikeluarkan kadalam tinja akan diganti dengan jumlah garam yang baru yang dibentuk secara terus menerus oleh sel hati.PENYAKIT BATU EMPEDU intestinal. Jumlah empedu yang disekresi oleh hati setiap harinya sangat bergantung pada tersedianya garam-garam empedu. dan pasien seringkali mengalami deficit metabolisme akibat hilangnya nutrient ini.5 gr). Tentu saja. makin banyak jumlah garam empedu pada sirkulasi enterohepatik (biasanya sekitar 2. garamgaram empedu diabsorbsi kembali hampir seluruhnya pada aliran pertama melalui sinusoid vena. sekitar setengahnya dengan cara difusi melalui mukosa pada bagian awal usus halus dan sisanya melalui proses transport aktif melewati mukosa usus pada bagian distal ileum. Garam empedu. Sirkulasi ulang garam empedu ini disebut sirkulasi enterohepatik garam-garam empedu. 12 . Kembali kedalam sel-sel hati kemudian disekresikan kembali kedalam kandung empedu.pada saat pertama lewat melalui sinusoid vena. sehingga rata-rata garam ini akan mengalami sirkulasi sebanyak 17 kali sebelum dikeluarkan bersama tinja.

Jadi. Bila fistula empedu mengosongkan garam-garam empedu kebagian luar selama beberapa hari sampai beberapa minggu sehingga garam empedi tidak dapat direabsorbsi dari ileum.PENYAKIT BATU EMPEDU pencernaan garam empedu tambahan dapat meningkatakan sekresi empedu beberapa ratus milliliter perhari. mekanisme umpan balik sekretin untuk menetralkan asam duodenum bekerja tidak hanya melalui efeknya terhadap sekresi pancreas tetapi juga. kadangkadang lebih dari dua kali lipat selama beberapa jam sesudah makan. Peningkatan sekresi ini hampir semuanya adalah sekresi larutan encer yang kaya akan natrium bikarbonat oleh sel epitel duktulus dan duktus empedu. Keadaan ini juga memperlihatkan bahwa kecepatan sehari-hari sekresi garam empedu hati dikontrol secara aktif oleh tersedianya (atau kurang tersedianya) garam-garam empedu didalam sirkulasi enterohepatik. hormone sekretin yang juga merangsang sekresi pancreas meningkatkan sekresi empedu. dalam jumlah yang lebih sedikit. 13 . melalui efeknya terhadap sekresi oleh duktulus dan duktus hati. yang akan meningkatkan kecepatan sekresi empedu kembali normal. Bikarbonat kemudian akan diteruskan kedalam usus halus dan bergabung dengan bikarbonat dari pancreas untuk enetralkan asam klorida dari lambung. Selain efek perangsangan yang kuat dari asam empedu untuk menyebabkan terjadinya sekresi empedu. dan bukan peningkatan sekresi oleh sel-sel parenkim hati itu sendiri. hati akan meningkatkan produksi garam-garam empedu 6 sampai 10 kali lipat. 2011  Peranan Sekretin Dalam Membantu Pengaturan Sekresi Empedu.

Pada proses sekresi garamgaram empedu sekitar 1 sampai 2 gr kolesterol dipindahkan dari plasma darah dan disekresikan kedalam empedu setiap hari. Kolesterol hampir seluruhnya tidak larut didalam air murni. yang membuat kolesterol tetap dalam bentuk larutan.PENYAKIT BATU EMPEDU 2011  Sekresi Hati Berupa Kolesterol dan Pembentukan Batu Empedu. untuk membentuk micel ultramikroskopik dalam bentuk suatu larutan koloid. yang seringkali berasal dari infeksi kronis derajat rendah. Pada kondisi yang abnormal. Peradangan epitel kandung empedu. Untuk alas an inilah. Jika empedu sudah dipekatkan didalam kandung empedu. tetapi garam empedu dan lesitin dalam empedu dapat berkombinasi secara fisik dengan kolesterol. juga dapat mengubah karakteristik absorpsi mukosa kandung empedu . Garam-garam empedu dibentuk didalam sel-sel hepatic menggunakan kolesterol yang ada didalam plasma darah. karena sel-sel hepatic menyintesis kolesterol sebagai salah satu produk metabolisme lemak dalam tubuh. kadang memungkinkan absorpsi berlebihan dari air dan garam-garam empedu tapi meninggalkan kolesterol didalam kandung empedu didalam konsentrasi yang 14 . orang-orang yang melakukan diet tinggi lemak selama bertahun-tahun akan medah mengalami batu empedu. menyebabkan pembentukan batu empedu kolesterol. Jumlah kolesterol pada dalam empedu sebagian ditentukan oleh jumlah lemak yang dimakan. kolesterol dapat mengendap didalam kandung empedu. garam-garam empedu dan lesitin akan menjadi pekat bersama dengan kolesterol.

pertama akan membentuk banyak Kristal kolesterol kecil pada permukaan mukosa yang mengalami peradangan. 2011 B. Lalu kolesterol akan mulai mengendap. PENYAKIT BATU EMPEDU  DEFINISI Penyakit batu empedu (kolelitiasis) merupakan pembentukan batu empedu akibat pengendapan satu atau lebih komponen empedu (kolesterol. kalsium. asam lemak. bilirubin. protein.bentuk dan komposisi yang bervariasi. dan fosfolipid) pada kandung empedu (kolekistolitiasis) atau dalam saluran empedu (koledokolitiasis).batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) yang memiliki ukuran. garam empedu.  EPIDEMIOLOGI 15 . Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus.PENYAKIT BATU EMPEDU meningkat secara progesif. tetapi berlanjut menjadi batu empedu yang besar.

dan infeksi kandung empedu. Etiologi batu empedu masih belum diketahui sepenuhnya akan tetapi . tetapi sekitar 1000 pasien meninggal setiap tahun akibat penyakit empedu atau penyulit pembedahan. tampaknya factor predisposisi terpenting adalah gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu. 16 . y Angka kematian akibat pembedahan untuk bedah saluran empedu secara keseluruhan sangat rendah. batu empedu mengenai 10% orang dewasa. 2011  ETIOLOGI Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang dibentuk pada bagian saluran empedu lainnya. seperti yang ditunjukkan statistik as ini : y Lebih dari 20 juta pasien diperkirakan mengidap batu empedu.PENYAKIT BATU EMPEDU Di Negara barat. dengan dua pertiganya menjalani pembedahan. Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan factor terpenting dalam pembentukan batu empedu. stasis empedu. yang total beratnya beberapa ton. y Sekitar 1 juta pasien baru terdiagnosis mengidap batu empedu per tahun. Batu empedu menimbulkan masalah kesehatan yang cukup besar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hati penderita batu empedu kolesterol menyekresikan empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol. Angka prevalensi orang dewasa lebih tinggi di Negara amerika latin 20% hingga 40% dan rendah di Negara asia 3% hingga 4%.

dibandingkan sebagai penyebab terbentuknya batu empedu. prevalensi batu empedu meningkat seumur hidup. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam 2011 pembentukan batu. Mucus meningkatkan viskositas empedu. atau spasme sfingter oddi. infeksi mungkin lebih sering timbul akibat dari terbentuknya batu empedu. berbeda dengan 25% hingga 30% pada mereka yang berusia lebih dari 80 tahun. Prevalensi pada perempuan berkulit putih adalah sekitar dua kali dibandingkan dengan laki-laki. y Etnik dan geografik. Akan tetapi. 17 . hopi.  FAKTOR RESIKO y Usia dan jenis kelamin. Gangguan kontraksi kandung empedu. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif. kurang dari 5% hingga 6% populasi yang berusia kurang dari 40 tahun yang mengidap batu. Factor hormonal (terutama selama kehamilan) dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan menyebabkan tingginya insidensi dalam kelompok ini. Di amerika serikat. dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi. perubahan komposisi kimia.PENYAKIT BATU EMPEDU Kolesterol yang berlebihan ini mengendap dalam kandung empedu untuk membentuk kandung empedu. prevalensi batu empedu kolesterol mendekati 75% pada populasi amerika asli suku pima. atau keduanya dapat menyebabkan terjadinya stasis. dan pengendapan komponen tersebut.

seperti kehamilan . Batu kolesterol biasanya berukuran besar. y Penyakit didapat. riwayat keluarga saja sudah menimbulkan risiko. berstruktur 18 . Prevalensi tampaknya berkaitan dengan hipersekresi kolesterol empedu. Namun. pengaruh estrogen. 2011  PATOGENESIS Menurut gambaran makroskopik dan komposisi kimianya batu saluran empedu dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori mayor yaitu : y Batu kolesterol. penurunan berat yang cepat. penurunan berat yang cepat. termasuk kontrasepsi oral dan kehamilan. dimana komposisi kolesterol melebihi 70%. setiap keadaan dengan motilitas kandung empedu yang berkurang mempermudah terbentuknya batu empedu. dan cedera medulla spinalis. dan terapi dengan obat antikolesterolemia juga dilaporkan berkaitan dengan peningkatan sekresi kolesterol empedu. Kegemukan.PENYAKIT BATU EMPEDU dan Navajo sedangkan batu pigmen jarang. y Lingkungan. demikian juga berbagai kelainan herediter metabolisme. selain etnisitas. pada sebagian besar kasus hipomotilitas kandung empedu timbul tanpa sebab yang jelas. y Hereditas. Batu empedu lebih prevalen di masyarakat industry barat dan jarang di masyarakat yang sedang atau belum berkembang. soliter. meningkatkan penyerapan dan sintesis kolesterol sehingga terjadi peningkatan ekskresi kolesterol dalam empedu. misalnya yang berkaitan dengan gangguan sintesis dan sekresi garam empedu.

dikarenakan aposisi satu sama lain. kolesterol tidak lagi mampu berada dalam keadaan terdispersi sehingga 2011 menggumpal menjadi Kristal-kristal kolesterol monohidrat yang padat. abu-abu. Jika konsentrasi kolesterol melebihi kapasitas solubilisasi empedu (supersaturasi). terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi agar terjadi batu empedu kolesterol : .Empedu harus mengalami supersaturasi oleh kolesterol didalam kandung empedu. meskipun hampir 20% batu mengandung kalsium karbonat sehingga terlihat radioopak. . fosfat. . oleh karena itu. Protein didalam empedu juga berperan. yang berfungsi sebagai tempat nukleasi bagi batu kolesterol. Batu mungkin ditemukan hanya satu. tetapi umumnya banyak dan memiliki permukaan yang bersegi-segi. hingga hitam. Sebagian besar batu kolesterol bersifat radiolusen.Pembentukan inti batu empedu (nukleasi) dimungkinkan secara kinetis ( terjadi percepatan kristalisasi kolesterol). Kolesterol bersifat tidak larut air dan dibuat menjadi larut air melalui agregasi melalui garam empedu dan lesitin yang dikeluarkan bersama-sama kedalam empedu. Stasis kandung empedu berperan penting dalam 19 .PENYAKIT BATU EMPEDU bulat atau oval. berwarna kuning pucat dan sering kali mengandung kalsium karbonat . dan bilirubin sehingga dapat menimbulkan warna putih.Kristal kolesterol yang terbentuk harus berada cukup lama di kandung empedu Nukleasi dipercepat oleh mikropresipitasi garam kalsium inorganic dan organic.

Batu pigmen coklat yang mengandung sabun kalsium bersifat radiolusen. serta mudah remuk. Batu ini ditemukan dalam empedu steril dalam kandung empedu. Seiring dengan semakin pekatnya empedu saat disimpan di kandung empedu. dan factor diet. Karena adanya kalsium karbonat dan fosfat. Pathogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran empedu. malnutrisi. glikoprotein dan kolesterol. berjumlah banyak. Batu mengandung garam kalsium dari bilirubin takterkonjugasi dan sedikit garam kalsium lainnya. Kelebihan aktifitas enzim -glucuronidase bakteri dan manusia (endogen) 2011 20 . bilirubinat. 50% hingga 75% batu pigmen hitam bersifat radioopak. y Batu pigmen. Batu ini kaya akan residu hitam yang tak terekstrasi. Batu pigmen coklat biasanya tunggal atau sedikit serta lunak dengan konsistensi berminyak seperti sabun karena adanya garam asam lemak yang dibebaskan oleh kerja fosfolipase bakteri pada lesitin empedu.PENYAKIT BATU EMPEDU pembentukan dan pertumbuhan batu. Batu pigmen hitam biasanya kecil. tingkat kejenuhan kolesterol didalam empedu juga semakin meningkat. karbonat. stasis empedu. Batu coklat ditemukan disaluran intra. Batu pigmen hitam berkaitan dengan hemolisis kronis. fosfat atau asam lemak rantai panjang. terdiri atas garam kalsium dan salah satu dari keempat anion ini.atau ekstra hati yang terinfeksi. musin. Batu pigmen coklat berkaitan dengan infeksi saluran empedu.

Adanya pigmen pada didalam inti batu kolesterol berhubungan dengan lumpur kandung empedu pada stadium awal 2011 pembentukan batu. majemuk dan berwarna coklat tua. ikterus. Sebagian besar (80%) pasien dengan batu empedu tanpa gejala / asimtomatik. . Hidrolisis bilirubin oleh enzim tersebut akan membentuk bilirubin tak terkonjugasi yang akan mengendap sebagai calcium bilirubinate. memiliki gambaran batu pigmen maupun batu kolesterol. y Batu kolesterol campuran. . Enzim tersebut biasanya dihasilkan oleh kuman e. pankreasitis). Enzim ini dapat dihambat oleh glucarolactone yang konsentrasinya meningkat pada pasien dengan diet rendah protein dan rendah lemak. baik waktu diagnosis maupun selama pemantauan. kolangitis.Pasien dengan komplikasi batu empedu (kolesistitis akut. coli dan kuman lainnya di saluran empedu.  GAMBARAN KLINIS Pasien dengan batu empedu dikelompokkan menjadi tiga kelompok : . Studi perjalan penyakit dari 1307 pasien dengan batu empedu selama 20 tahun memperlihatkan 21 .Pasien dengan batu empedu simtomatik.PENYAKIT BATU EMPEDU memegang peranan penting pada pathogenesis batu pigmen.Pasien dengan batu asimtomatik.

Pada pasien dengan menimbulkan komplikasinya. menyebabkan terjadinya dehidrasi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada perut kanan atas dan sering teraba kandung empedu yang membesar dan tanda-tanda peritonitis (penurunan aktivitas peristaltik hingga timbul ileus paralitik .dan demam. gangguan sirkulasi. Keluhan ini didefinisikan sebagai nyeri di perut atas (epigastrium atau abdomen kuadran kanan atas) 2011 berlangsung lebih dari 30 menit dan kurang dari 12 jam. 30% mengalami kolik bilier. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus.  Pada pasien batu empedu dengan komplikasi gejala komplikasi batu empedu akan yang berbeda tergantung kolesistitis akut maka pasien akan mengalami gejala nyeri hebat mendadak pada perut kanan atas dengan kombinasi mual. Sebagian besar gejala timbul bila batu menyumbat aliran empedu (obstruksi) atau seringkali terjadi karena batu yang bergerak kehilir dan tersangkut disaluran empedu. Gejala batu empedu yang dapat dipercaya adalah kolik bilier. muntah. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. dan 20% mengalami komplikasi.PENYAKIT BATU EMPEDU bahwa sebanyak 50% pasien tetap asimtomatik. oliguria dan mungkin syok) 22 .

Nyeri sering menyebar ke punggung. dan penderita mungkin merasa lebih enak bila duduk sambil membungkuk kedepan. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan berbagai derajat syok.  Pada pasien batu empedu dengan komplikasi 2011 kolangitis akut maka pasien akan mengalami gejala berupa trias charcot meliputi nyeri abdomen kuadran kanan atas. dan demam. Nyeri tersebut sering disertai mual. tetapi dapat terpusat dikanan atau dikiri linea mediana. Ikterus ringan dapat timbul bila telah terjadi obstruksi 23 .  Pada pasien batu empedu dengan pankraesitis komplikasi maka pasien akan mengalami gejala yang paling menonjol berupa nyeri perut hebat yang timbul mendadak dan terus menerus. muntah.PENYAKIT BATU EMPEDU Pemeriksaan laboratorium akan menunjukkan selain lekositosis akan terdapat kenaikan jumlah bilirubin dan faal hati kemungkinan akibat kompresi local pada saluran empedu. Nyeri biasanya di epigastrium. takikardia. oligouri dan gangguan kesadaran. Pada kolangitis akut supurativa trias charcot meliputi hipotensi. dan kelemahan. leukositosis. ikterus dan demam. berkeringat. Posisi berbaring atau berjalan akan memperberat nyeri. Nyeri biasanya hebat selama sekitar 24 jam kemudian mereda selama beberapa hari.

Kalau terjadi kolesistitis.PENYAKIT BATU EMPEDU biliaris. disertai mual dan muntah. keluhan utama adalah nyeri di daerah epigastrium . atau prekordium. keluhan 24 . tetapi pada sepertiga kasus timbul tiba tiba. rigiditas. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin memanjang lebih dari 15 menit.lahan. Keluhan yang mungkin berupa dispepsia. skapula. Penyebaran nyeri dapat ke punggung bagian tengah. dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. kuadran atas kanan. dan bukti lain adanya peritonitis yang timbul bila peradangan mengenai menurun. Timbul nyeri tekan dan defans muscular otot abdomen dengan distensi. peritoneum. atau ke puncak bahu. Pada yang simptomatik. Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri menghilang setelah makan antasid. yang kadang disertai intoleransi terhadap makanan berlemak. Timbul awal nyeri kebanyakan perlahan . Dan bising usus dapat 2011  DIAGNOSIS  ANAMNESA Setengah sampai dua pertiga penderita batu empedu adalah asimptomatik.

atau pankreatitis.  PEMERIKSAAN FISIK Kalau ditemukan kelainan. Biasanya terdapat ikterus dan urin berwarna gelap yang hilang timbul. Pada kolangitis dengan sepsis yang berat. Pada batu duktus koledokus. hidrops kandung empedu. biasanya berhubungan dengan komplikasi seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum.  PEMERIKSAAN LABORATORIUM 2011 25 . empiema kandung empedu . Tanda murphy positif. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punctum maksimum di daerah letak anatomik kandung empedu. dapat terjadi keadaan kegawatan disertai syok dan gangguan kesadaran.PENYAKIT BATU EMPEDU nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam dan sewaktu kandung empedu tersentuh ujung jari tangan sehingga pasien berhenti menarik nafas yang merupakan tanda rangsang dari peritonitis setempat ( tanda murphy ). riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut kanan atas akan disertai tanda sepsis seperti demam dan menggigil bila terjadi kolangitis. Pruritis ditemukan pada ikterus obstruktif yang berkepanjangan dan lebih banyak ditemukan di daerah tungkai daripada di daerah badan. apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas.

 PEMERIKSAAN PENCITRAAN 2011 Diagnosis pasti dilakukan dengan pemeriksaan radiologi y Foto Polos Abdomen . sejumlah pasien dengan penyakit batu empedu sering salah diagnosis sebagai gastritis atau hepatitis berulang. Kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan batu di dalam duktus koledokus. Dewasa ini merupakan pencitraan pilihan pertama untuk mendiagnosis batu kandung empedu dengan sensitivitas tinggi melebihi 95% US dapat menunjukkan adanya batu ataupun malfungsi dari kandung empedu sedangkan. dan penjalaran radang ke dinding yang tertekan tersaebut. dinding yang edema di daerah kantong Hartmann. sebelum dikembangkan pencitraan mutakhir seperti US. Apabila ada sindrom Mirizzi akan ditemukan kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledokus oleh batu. untuk deteksi batu saluran empedu sensitivitasnya relative rendah berkisar antara 18-74%.PENYAKIT BATU EMPEDU Batu kandung empedu yang asimptomatik umumnya tidak menunjukkan kelainan laboratorik. 26 . Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amilase serum biasanya meningkat sedang setiap kali ada serangan akut. Kurang lebih 10 % dari batu kandung empedu bersifat radio opak sehingga terlihat pada foto polos abdomen. Apabila terjadi peradangan akut dapat terjadi leukositosis. y Ultasonografi (US).

adalah suatu metode pemeriksaan dengan memakai instrument gatroskop dengan yang dapat terus berputar.PENYAKIT BATU EMPEDU Untuk mengetahui apakah tubuh kita terdapat batu empedu digunakan suatu alat pendeteksi batu empedu yang disebut ultrasound. Dibandingkan dengan ultrasound transabdominal. y Endoscopic ultrasonografi echoprob di ujung skop (EUS). Pada satu studi. EUS akan memberikan gambaran yang lebih jelas sebab echoprobenya ditaruh didekat organ yang diperiksa. yaitu dengan menggunakan gelombang suara yang tidak dapat didengar telinga. dapat digunakan untuk mendeteksi adanya batu di dalam 27 . Gelombang 2011 suara ini diarahkan ke tubuh dan pantulan gelombangnya kemudian diolah komputer yang akan menunjukkan ada atau tidaknya batu empedu. sensitivitas EUS dalam mendeteksi batu saluran empedu adalah sebesar 97% sedangkan dengan ultrasound hanya sebesar 25% y ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography).

merupakan teknik pencitraan dengan gema magnet tanpa menggunakan zat kontras. MRCP mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan ERCP. Pada MRCP saluran empedu akan terlihat sebagai struktur yang terang karena mempunyai intensitas sinyal tinggi sedangkan batu saluran empedu akan terlihat sebagai intensitas rendah yang dikelilingi empedu dengan intensitas sinyal tinggi. instrument. zat kontras. sehingga metode ini cocok untuk mendiagnosis batu saluran empedu. dan radiasi. Salah satu manfaat yang besar adalah pencitraan saluran empedu tanpa resiko yang berhubungan dengan instrumentasi. Nilai diagnostic MRCP yang tinggi membuat teknik ini makin sering dikerjakan untuk diagnosis atau eksklusi batu saluran empedu khususnya pada pasien dengan kemungkinan kecil mengandung batu. studi terkini MRCP menunjukan nilai sensitivitasnya antara 91% sampai dengan 100% nilai spesifitasnya antar 92% hingga 100% dan nilai prediktif positif antara 93% sampai dengan 100% pada keadaan dengan dugaan batu saluran empedu. y Magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP). Batu empedu dapat terlihat pada foto polos bila mengalami kalsifikasi secara bermakna. dan radiasi ion.PENYAKIT BATU EMPEDU duktus. Sebaliknya MRCP juga mempunyai limitasi mayor yaitu bukan merupakan modalitas terapi dan juga aplikasinya bergantung 2011 28 .

2011  PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan batu kandung empedu. Sebagian besar pasien dengan batu asimtomatik tidak akan mengalami keluhan dan jumlah. sedangkan ERCP dapat berfungsi sebagai sarana diagnostic dan terapi pada saat yang sama. dan komposisi batu tidak berhubungan dengan timbulnya keluhan selama pemantauan. Kolesistektomi laparoskopik gagal atau tidak memungkinkan. Kalaupun nanti timbul keluhan umumnya ringan sehingga penanganan dapat efektif. Hanya sebagian kecil yang akan mengalami simtom akut (kolesistitis akut. Sejak pertama kali diperkenalkan. teknik kolesistektomi laparoskopik yang diperkenalkan pada akhir decade 1980 telah menggantikan teknik operasi kolesistektomi terbuka pada sebagian kasus. besar. pancreatitis) Untuk batu kandung empedu simtomatik. sistem endokamera dan instrument khusus melalui layar monitor tanpa melihat dan menyentuh langsung kandung empedunya. teknik bedah laparoskopik ini telah 29 . Kolesistektomi invasive laparoskopik di dalam adalah rongga teknik pembedahan dengan minimal abdomen menggunakan pneumoperitoneum.PENYAKIT BATU EMPEDU pada operator. penanggulangan profilaktik untuk batu empedu asimtomatik tidak dianjurkan. kolangitis.

metode 2011 kolesistektomi laparoskopik telah dimulai tahun 1991 dan kemudian diikuti oleh senter-senter lain. Indikasi kolesistektomi sebagai berikut : .7-6.PENYAKIT BATU EMPEDU memperlihatkan keunggulan yang bermakna dibandingkan dengan teknik bedah konvensional. Rasa nyeri yang minimal. kandung empedu yang tidak tampak pada foto kontras dan sebagainya.2% pasien hal ini disebabkan anatomi. . masa pulih yang cepat. Konversi ke koleksistektomi konvensional dibutuhkan pada 2. 30 .Adanya keluhan bilier apabila mengganggu atau semakin sering atau berat.Adanya komplikasi atau pernah ada komplikasi batu kandung empedu Adanya penyakit lain yang mempermudah timbulnya oleh kesulitan dalam mengenali komplikasi misalnya Diabetes Mellitus. Selama kurun waktu empat tahun (1991-1994) bedah laparoskopik telah dikerjakan pada 2687 pasien di empat senter di Indonesia dan kolesistektomi laparoskopik merupakan indikasi tersering dengan total sebanyak 2201 kasus. Di Indonesia sendiri khususnya di Jakarta. masa rawat yang pendek dan luka parut yang sangat minimal merupakan kelebihan bedah laparoskopik.

 Penatalaksanaaan batu saluran empedu. Selain itu. Komplikasi cedera saluran empedu pada teknik ini yang umumnya terjadi pada tahap belajar dapat diatasi pada sebagian besar kasus dengan peasangan stent atau kateter nasobilier dengan ERCP. Kelbihan yang diperoleh pasien denagn teknik ini meliputi luka operasi yang kecil (210mm) sehingga nyeri pasca bedah minimal. Sejak itu teknik ini telah berkembang pesat dan menjadi standar baku terapi non operatif untuk batu saluran empedu. kolesistektomi laparoskopik telah menjadi prosedur baku untuk pengangkatan batu kandung empedu simtomatik. dari segi kosmetik luka parut yang kecil yang akan tersembunyi didaerah umbilicus telah membuat bedah laparoskopik 2011 dianggap sebagai bedah yang lebih bersahabat kepada pasien.PENYAKIT BATU EMPEDU Dewasa ini dibeberapa rumah sakit. ERCP terapeutik dengan melakukan sfingterotomi endoskopik untuk mengeluarkan batu saluran empedu tanpa operasi pertama kali dilakukan tahun 1974. Pada awalnya sfingterotomi endoskopik hanya diperuntukkan pada pasien lanjut usia yang mempunyai batu saluran empedu residif atau tertinggal pasca kolesistektomi atau mereka yang 31 . selanjutnya batu didalam saluran empedu dikeluarkan dengan basket kawat atau balon ekstraksi melaui muara yang sudah besar tersebut menuju lumen duodenum sehingga batu dapat keluar bersama tinja atau dikeluarkan melalui mulut bersama skopnya.

yang dimaksud dengan batu saluran empedu sulit adalah batu besar. Komplikasi penting dari sfingterotomi dan ekstrasi batu meliputi pankreasitis akut. batu yang terjepit disaluran empedu. Bila usaha pemecahan batu empedu dengan berbagai cara diatas gagal sedangkan pasien mempunyai resiko operasi 32 . Keberhasilan sfingterotomi yang begitu mengesankan ini dan kehendak pasien yang kuat telah mendorong banyak senter untuk memperluas indikasi sfingterotomi endoskopik terhadap orang dewasa muda and bahkan pasien dengan batu kandung empedu utuh dengan masalah klinis batu saluran empedu.PENYAKIT BATU EMPEDU memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami komplikasi operasi saluran empedu. tetapi 2011 perkembangannya belum merata ke semua senter karena ERCP terapeutik ini membutuhkan keterampilan khusus dan jumlah pasien yang adekuat serta alat fluoroskopi yang memadai untuk mendapatkan hasil foto yang baik.  Batu saluran empedu sulit. Untuk mengeluarkan batu tersebut sulit. diperlukan beberapa prosedur endoskopik tambahan sesudah sfingterotomi mekanik. batu dengan litotripsi wave litotripsi electro-hydraulic shock litrotripsi. Pada kebanyakan senter besar ekstraksi batu dapat dicapai pada 80-90% dengan komplikasi dini sebesar 7-10% dan mortalitas 1-2%. seperti pemecahan laser. atau batu yang terlatak diatas saluran empedu yang sempit. perdarahan dan perforasi. Di in donesia sendiri khususnya di Jakarta. sfingterotomi endoskopik telah mulai dikerjakan pada tahun 1983.

PENYAKIT BATU EMPEDU tinggi maka dapat dilakukan pemasangan stent billier perendoskopik di sepanjang batu yang terjepit. Spectrum dari kolangitis akut mulai dari yang ringan. Memperbaiki keadaan umum pasien dengan pemberian cairan dan elektrolit. 2.  Penatalaksanaan kolangitis dan pancreatitis batu. Beberapa studi acak tersamar memperlihatkan keunggulan drainase endoskopik dengan angka kematian yang jauh lebih rendah dan bersihan saluran empedu yang lebih baik dibandingkan operasi terbuka. sampai dengan keadaan yang 2011 membahyakan jiwa dimana dibutuhkan drainase darurat. yang akan membaik sendiri. Drainase empedu yang tersumbat. Pada electrohidraulic atau pulse dye laser litotripsi pemecahan batu dikerjakan melalui koledokoskopi per oral dengan sistem mother-baby scope. Penatalaksanaan kolangitis ditujukan untuk : 1. Terapi antibiotic parenteral 3. Oleh karenanya ERCP 33 . Stent billier dapat dipasang didalam saluran empedu sepanjang batu besar atau terjepit yang sulit dihancurkan dengan tujuan drainase empedu. penyulit batu saluran empedu yang sering ditemukan dklinis adalah kolangitis akut dan pancreatitis bilier akibat batu saluran empedu terjepit dimuara papilla vater. Studi dengan control memperkuat kesimpulan bahwa angka kematian dengan ERCP hanya sepertiga dibandingkan dengan operasi terbuka pada pasien dengan kolangitis yang berat.

Batu empedu yang terjepit dapat menyebabkan pancreatitis. Pankretitis bilier akut atau pancreatitis batu empedu akut baru akan terjadi bila ada obstruksi transien atau persisten di papilla vater oleh sebuah batu. sejumlah studi memperlihatkan pasien dengan pancreatitis billier akut yang ringan menyalurkan batunya secara spontan dari saluran empedu kedalam duodenum pada lebih dari 80% dan sebagian besar pasien akan sembuh hanya dengan terapi suportif kolangiografi. Sebaliknya sejumlah studi menunjukkan bahwa pasien dengan pancreatitis billier akut yang berat akan mempunyai resiko tinggi untuk mempunyai batu saluran empedu yang tertinggal bila kolangiografi dilakukan pada tahap dini sesudah serangan.PENYAKIT BATU EMPEDU merupakan pilihan pertama untuk dekompresi bilier mendesak pada kolangitis akut yang tidak respon terhadap terapi konservatif. Sesudah sembuh pada pasien ini akan didapatkan insidensi yang rendah kejadian batu saluran sepsis billier atau menambah beratnya 2011 empedu sehingga tidak dibenarkan untuk dilakukan ERCP rutin. Beberapa studi terbuka tanpa control memperlihatkan sfingterotomi endoskopik pada keadaan ini tampaknya aman dan disertai penurunan angka kesakitan dan kematian. Data pada suatu studi retrospektif di Jakarta pada 22 pasien dengan pankreastitis bilier akut juga memperlihatkan sebagian 34 .

Amerika Serikat juga dapat berhasil. 1 Pengobatan dengan asam empedu ini dengan sukses melarutkan sempurna batu pada sekitar 60 % penderita yang diobati dengan CDCA oral dalam dosis 10 ± 15 mg/kg berat badan per hari selama 6 sampai 24 bulan.  TINDAKAN NON OPERATIF 1. Penghentian pengobatan CDCA setelah batu larut sering timbul rekurensi kolelitiasis.Wanita hamil .Penyakit hati yang kronis . Terapi Disolusi Penggunaan garam empedu yaitu asam Chenodeodeoxycholat (CDCA) yang mampu melarutkan batu kolesterol invitro.Kolik empedu berat atau berulang-ulang - 2011 Kandung empedu yang tidak berfungsi.PENYAKIT BATU EMPEDU besar respon terhadap terapi konservatif sehingga tindakan dekompresi darurat tidak diperlukan. 35 . secara invivo telah dimulai sejak 1973 di klinik Mayo. Pemberian CDCA dibutuhkan syarat tertentu yaitu : . Sebaliknya tindakan sfingterotomi endoskopik dini pada empet pasien dengan batu terjepit di papilla sangat bermanfaat dan cukup aman. hanya tidak dijelaskan terjadinya kekambuhan.

masing-masing dengan dosis 7. nausea dan diare. 2011 36 . Dianjurkan dosis terbesar pada sore hari karena kejenuhan cairan empedu akan kolesterol mencapai puncaknya pada malam hari. Pada saat ini pemakaiannya adalah kombinasi antara CDCA dan UDCA. Pemecahan batu menjadi partikel kecil bertujuan agar kelarutannya dalam asam empedu menjadi meningkat serta pengeluarannya melalui duktus sistikus dengan kontraksi kandung empedu juga menjadi lebih mudah. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi (ESWL) ESWL merupakan litotripsi untuk batu empedu dimana dasar terapinya adalah disintegrasi batu dengan gelombang kejut sehingga menjadi partikel yang lebih kecil. 2. Kekurangan lain dari terapi disolusi ini selain harganya mahal juga memerlukan waktu yang lama serta tidak selalu berhasil. Mekanisme kerja dari CDCA adalah menghambat kerja dari enzim HMG Ko-a reduktase sehingga mengurangi sintesis dan ekskresi kolesterol ke dalam empedu. Asam Ursodioxycholat (UDCA) merupakan alternatif lain yang dapat diterima dan tidak mengakibatkan diare atau gangguan fungsi hati namun harganya lebih mahal.PENYAKIT BATU EMPEDU Efek samping pengobatan CDCA yang terlalu lama menimbulkan kerusakan jaringan hati.5 mg/kg berat badan/hari. terjadi peningkatan transaminase serum.

Tidak terdapat jaringan paru pada jalur transmisi gelombang kejut ke arah batu.Batu radioopak dengan diameter kurang dari 3 cm untuk batu tunggal atau bila multiple diameter total kurang dari 3 cm dengan jumlah maksimal 3. .Batu radiolusen . .Riwayat keluhan batu empedu . 2. Kriteria Dublin : . Kriteria Munich : .Terdapat riwayat akibat batu tersebut (simptomatik). - Fungsi konsentrasi dan kontraksi kandung empedu baik.PENYAKIT BATU EMPEDU Setelah terapi ESWL kemudian dilanjutkan dengan terapi disolusi untuk membantu melarutkan batu kolesterol. 37 .Batu radiolusen .Tidak ada obstruksi dari saluran empedu . 1. 2011 Kombinasi dari terapi ini agar berhasil baik harus memenuhi beberapa kriteria mengingat faktor efektifitas dan keamanannya.Penderita tidak sedang hamil.

Di samping itu untuk memberi 38 . Di samping itu penderita harus menjalankan diet ketat. pendarahan subkapsuler hati. ikterus. Namun tidak semua penderita dapat dilakukan terapi ini karena hanya dilakukan pada kasus selektif. pankreatitis.PENYAKIT BATU EMPEDU Terapi ESWL sangatlah menguntungkan bila dipandang dari sudut penderita karena dapat dilakukan secara rawat jalan. karena gangguan faal hati akan diperberat dengan pemberian asam empedu dalam jangka panjang. Demikian juga halnya dengan pembiusan dan tindakan pembedahan yang umumnya ditakutkan penderita dapat dihindarkan. waktu pengobatan lama dan 2011 memerlukan biaya yang tidak sedikit. juga untuk memperkecil kemungkinan batu memasuki duktus sistikus. Faal hati yang baik juga merupakan salah satu syarat bentuk terapi gabungan ini . penebalan dinding dan atropi kandung empedu. sehingga tidak mengganggu aktifitas penderita. serta dapat timbul rekurensi setelah pengobatan dihentikan. DIETETIK Prinsip perawatan dietetic pada penderita batu kandung empedu adalah memberi istirahat pada kandung empedu dan mengurangi rasa sakit. ESWL dapat dikatakan sangat aman serta selektif dan tidak infasif namun dalam kenyataannya masih terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi misalnya rasa sakit di hipokondrium kanan. kolik bilier. B.

2011  KOMPLIKASI 39 . 1 Pembatasan kalori juga perlu dilakukan karena pada umumnya batu kandung empedu tergolong juga ke dalam penderita obesitas. protein dan hidrat arang. Syarat-syarat diet pada penyakit kandung empedu yaitu : -Rendah lemak dan lemak diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna. -Tinggi cairan untuk mencegah dehidrasi. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan makanan juga harus dihindarkan. Kadang-kadang penderita batu kandung empedu sering menderita konstipasi. maka diet dengan menggunakan buahbuahan dan sayuran yang tidak mengeluarkan gas akan sangat membantu. Bila terlalu gemuk jumlah kalori dikurangi. -Cukup kalori. -Cukup mineral dan vitamin.PENYAKIT BATU EMPEDU makanan secukupnya untuk memelihara berat badan dan keseimbangan cairan tubuh. terutama vitamin yang larut dalam lemak.

Sebagian besar kasus ini terjadi pada pasien 40 2011 . Kolesistitis kalkulosa akut pada awalnya adalah akibat iritasi kimiawi dan peradangan pada dinding kandung empedu dalam kaitannya dengan hambatan aliran keluar empedu. Prostalglandin yang dibebaskan di dalam kandung empedu yang teregang ikut berperan dalam peradangan mukosa. Kolesistitis akalkulosa akut. Di pihak lain. Peregangan dan peningkatan tekanan intralumen juga dapat menggangu aliran darah ke mukosa. Proses ini terjadi tanpa adanya infeksi bakteri baru setelah proses berlangsung cukup lama terjadi kontaminasi oleh bakteri. Gejala mungkin timbul sangat mendadak dan merupakan suatu kedaruratan bedah akut. Penyakit ini adalah penyulit utama tersering pada batu empedu dan penyebab tersering dilakukannya kolesistektomi darurat. sehingga epitel mukosa terpajan langsung keefek detergen garam empedu. peradangan akut pada kandung empedu yang mengandung batu yang dipicu oleh obstruksi oleh leher kandung empedu atau duktus sistikus. yang bersifat toksik bagi mukosa.PENYAKIT BATU EMPEDU  Kolesistitis kalkulosa akut. Lapisan mukosa glikoprotein yang secara normal bersifat protektif rusak. antara 5% hingga 12% kandung empedu yang diangkat atas indikasi kolesisititis akut tidak berisi batu empedu. Hal ini dapat menyebabkan iskemia dari dinding kandung empedu yang dapat berkembang keproses nekrosis dan perforasi. Fosfolipase yang berasal dari mukosa menghidrolisis lesitin empedu menjadi lisolesitin. gejala mungkin ringan dan mereda tanpa intervensi medis.

clostridium. sepsis. Bakteri tersebut biasanya adalah aerob negativegram usus seperti e. Bakteri kemungkinan besar masuk ke saluran empedu melalaui sfingter oddi.PENYAKIT BATU EMPEDU yang sakit berat : keadaan paska oprasi mayor nonbiliaris. Bentuk terparah kolangitis adalah kolangitis supurativa. menggigil.atau enterobacter.colli.  Pankreatitis akut.  Kolangitis . yang empedu purulennya memenuhi dan meregangkan saluran empedu. kalsium karbonat via ERCP atau dengan 41 . gangguan pembuluh darah dan akhirnya kontaminasi bakteri. termasuk dehidrasi. yang hampir selalu disebabkan oleh infeksi bakteri yang secara normal steril. dan bukan melalaui rute hematogen. kalsium bilirubinat. klebsiella. stasis dan pengendapan dalam kandung empedu. Kelainan ini dapat terjadi akibat setiap lesi yang menghambat aliran empedu terutama koledokolitiasis. batu empedu yang terjepit pada ampulla vaterri/ sfingter oddi atau adanya mikrolitiasis dapat mengakibatkan pancreatitis akaut karena refluk cairan empedu kedalam saluran pancreas. adalah istilah yang digunakan untuk peradangan akut dinding saluran empedu. Adanya mikrolitiasis ini diketahui dengan didapatkannya Kristal-kristal kolesterol monohidrat. disertai resiko terbentuknya abses hati. luka bakar luas. Diperkirakan banyak factor yang berperan dalam kolesistitis akalkulosa. dan ikterus. 2011 bacterioides. nyeri abdomen. kolangitis biasanya menyebabkan demam. trauma berat misalnya kalantas.

Sel asinus yang rusak akan mengeluarkan sitokin poten yang menarik netrofil dan makrofag. Tripsin aktif juga mengubah prakalikrein menjadi bentuk aktifnya sehingga sistem kinin menjadi aktif dan. Dengan cara ini terjadi thrombosis pembuluh halus (yang dapat menyebabkan kongesti dan pecahnya pembuluh yang sudah melemah). merusak serat elastic pembuluh darah sehingga terjadi kebocoran vascular. Tripsin di disintesis didalam asinus sebagai proenzim 2011 tripsinogen.sel radang ini kemudian mengeluarkan lebih banyak sitokin seperti TNF. NO dan PAF kedalam jaringan pancreas dan sirkulasi sehingga terjadi amplifikasi respon peradangan local dan sistemik. Pada pancreatitis akut juga terjadi autoddigesti substansi pancreas oleh enzim pancreas yang aktif dan respon cedera sel yang diperantarai sitokin-sitokin inflamasi. Setelah teraktifasi tripsin akan mengaktifasi proenzim lain seperti profosfolipase dan proelastase. Karena kesalahan lalulintas tripsinogen maka zatini diaktifkan didalam asinus dan bukan didalam duodenum. Akibat lain pengaktifan premature enzim adalah respon cedera sel asinus. memacu sistem pembekuan dan komplemen.PENYAKIT BATU EMPEDU ditemukannya lumpur pada kandung empedu pada pemeriksaan ultrasonografi. Enzim-enzim yang teraktifasi ini menyebabkan disintegrasi sel asinus dan jaringan lemak sekitar pancreas. 42 . IL1. melalui pengaktifan factor Hageman.

Akibatnya. Akibat tidak adanya bilirubin yang mencapai duodenum maka tidak ada bilirubin yng diubah menjadi urobilinogen didalam usus oleh kerja bakteri. disebabkan oleh obstruksi duktus biliaris kecepatan pembentukan bilirubinnya normal tetapi bilirubin yang normal. Oleh karena itu pada ikterus obstruksi sejumlah bilirubin terkonjugasi 2011 bermakna terlihat didalam urin.PENYAKIT BATU EMPEDU  Ikterus obstruktif. Bilirubin bebas masih tetap memasuki hati dan dikonjugasi dengan cara yang biasa. Bilirubin ini kemudian kembali kedalam darah mungkin karena pecahnya kanalikuli biliaris yang terbendung dan pengosongan langsung saluran limfe. tetapi bilirubin yang dibentuk tidak dapat memasuki usus. feses berwarna seperti dempul karena kurangnya sterkobilin dan pigmen empedu lainnya. pada ikterus obstruksi uji untuk urobilinogen dalam urin adalah negative. Perbedaan lain antara bilirubin bebas dan terkonjugasi adalah bahwa ginjal mengeluarkan bilirubin terkonjugasi kelarutan tinggi bukan bilirubin bebas terikat albumin. Oleh karena itu tidak ada urobilinogen yang diserap kedalam darah dan tidak ada yang dikeluarkan ginjal kedalam urin. Selain itu. 43 .

ringan sampai berat karena adanya komplikasi. Penderita batu kandung empedu baru memberi keluhan bila batu tersebut bermigrasi menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus.Batu Campuran (Mixed Stone) - Batu Pigmen. Diagnosis dan pengelolaan yang baik dan tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi yang berat.KESIMPULAN Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus.batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) yang memiliki ukuran. usia lanjut.yaitu : obesitas. 44 . diet tinggi lemak dan genetik.PENYAKIT BATU EMPEDU BAB III PENUTUP 2011 I. sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari yang tanpa gejala (asimptomatik). Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor resiko.Batu Kolesterol . Sebagian ahli membagi batu empedu menjadi : .bentuk dan komposisi yang bervariasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful