P. 1
PedangTandukNaga Dewi KZ TAMAT

PedangTandukNaga Dewi KZ TAMAT

|Views: 194|Likes:
Published by radiaku

More info:

Published by: radiaku on Jan 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2014

pdf

text

original

Sections

Pedang Tanduk Naga Pedang Tanduk Naga

Karya : Sin Liong Saduran : S.D.LIO NG Ebook pdf oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com

Bab 1 Tetamu maut Hwe-sian-hong atau puncak pertemuan Dewa, merupakan puncak yang tertinggi dari gunung Tiang-peksan. Disebut puncak pertemuan Dewa, karena puncaknya menembus awan sehingga tak tampak, Begitu pula selalu diselimuti oleh salju putih, Empat penjuru dikelilingi jurang yang curam dan tebing yang terjal. Diatas segunduk karang datar seluas beberapa tombak dari puncak Hwe-sian-hong yang dingin itu, sesosok tubuh tengah tegak bagaikan sebuah tonggak. Dia seorang pemuda yang baru berumur sekitar 18 tahun. Bertubuh kekar dan berwajah cakap. Wajahnya putih segar, dimeriahkan oleh sepasang bibir yang merah dan disemarakkan oleh sepasang biji mata yang bersinar terang. Dia mengenakan pakaian ringkas, pakaian yang biasa digunakan oleh kaum persilatan. Memakai kain kepala Buseng kin atau ikat kepala kaum persilatan untuk menahan angin dan hawa dingin, diapun mengenakan sehelai mantel berwarna kuning telur. Bahu, punggungnya menyanggul sebatang pedang pusaka yang aneh bentuknya. Tangkai pedang berikatkan sutera merah yang halus seperti rambut. Pemuda itu memandang cakrawala, wajahnya tampak sarat dan membeku. Dia tak menghiraukan tebaran salju yang berhamburan mendera muka dan tubuhnya.

Sesaat kemudian terdengar mulutnya menghela napas, sarat dan panjang, Seolah sedang merenungkan sesuatu yang penting. Memang aneh sekali, Mengapa seorang diri dia berdiri diatas karang yang sedang dilanda angin prahara dan hujan salju. Tetapi dari kerut wajah dan helaan napasnya itu, jelas dia tentu sedang menghadapi suatu persoalan yang menggelisahkan hatinya. Memandang cakrawala yang tengah menaburkan hujan salju itu, mulut pemuda itu tampak bergerak-gerak, Seperti seorang yang tengah berdoa atau bicara seorang diri. Dan tempat seperti itu, dia tegak seorang diri diatas karang ? Apakah yang sedang diucapkan dalam doanya ? Mengapa ia menghela napas sedemikian sarat ? Sekonyong-konyong matanya memancar sinar berkilat tajam sekali. Tetapi pada lain saat, sinar tajam itupun lenyap. Dan kerut wajahnyapun menampilkan suatu keputusan yang kokoh. Rasanya dia telah menentukan suatu keputusan pada persoalan yang tengah dihadapinya. Dia telah menemukan suatu penyelesaian.... Tiba2 dibawah tebaran salju putih yang lebat, terdengarlah dua buah suara orang berteriak nyaring: "Liong koko.... Liong koko..." Teriakan itu bernada cemas dan gugup, pemuda itu terkejut lalu berputar tubuh dan berseru keras: "Adik Lan, aku disini...!" Sesosok bayangan putih, bagai seekor kupu2, segera beterbangan melintas hujan salju, meluncur kearah tempat pemuda itu.

Pemuda itu terkejut Cepat ia lari menyongsong : "Adik Lan, jangan kemari, disini angin keliwat besar, Berbahaya sekali !" Tetapi bayangan putih itu tak mengurangi laju larinya dan beberapa saat kemudian dia sudah makin dekat Ah, kiranya dia seorang dara cantik yang baru berumur 16-an tahun. sepasang alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, menaungi sepasang gundu mata yang memancarkan sinar bening. Bibirnya yang berbentuk sepasang kelopak bunga mawar, makin menyemarakkan wajahnya yang berbentuk bundar telur, Kulitnya yang putih mulus makin mulus dimahkotai rambut yang hitam legam. Dara itu juga mengenakan pakaian ringkas warna putih dan mantel pendek penolak angin. Melihat dara itu lari sedemikian gopoh dan wajah cemas, sambil pesatkan larinya, pemuda itu berseru: "Adik Lan, apakah terjadi sesuatu dalam kuil?" Seiring dengan kata katanya maka berhadapanlah sepasang muda mudi itu dibawah karang. Wajah dara itu amat pucat dan sikapnya amat gelisah, Dengan napas terengah dan suara gemetar, ia berkata: "Liong koko, katanya banyak sekali kojiu (jago2 sakti) yang akan datang ke kuil sore ini, Mereka hendak memaksa Ban Hong Liong-li Ho-cianpwe yang bertapa selama lima tahun dalam gua Kiu-kiok-tong keluar untuk menerima hukuman mati." Menggigillah pemuda itu demi mendengar keterangan si dara. "Siapa yang bilang ?" serunya bengis.

Dara itu melonjak kaget karena mendengar suara si pemuda yang sekeras orang membentak. "Suhu mengatakan hal itu kepada berdua susiok-cou." Belum dara itu selesai bicara, tiba2 pemuda itu tertawa nyaring, Nadanya penuh getaran dari isi hatinya. Kumandangnya jauh menyusup keatas awan. Setelah puas menumpahkan isi hatinya dalam tertawa yang keras dan panjang itu, tiba2 pemuda itu meraba ke bahu punggungnya dan tring... Sinar merah memancar tajam, menyilaukan mata, Dan tangan pemuda itupun sudah mencekal sebatang pedang berwarna merah, Pedang itu panjangnya hampir satu meter. Kilatan sinar merah dari pedang itu seolah menembus kabut tebaran salju putih, Menimbulkan suatu cahaya bianglala yang menakjubkan pandang mata. Dara baju putih menjerit kaget dan loncat mundur sampai setombak jauhnya. Sambil lintangkan pedang, pemuda itu tertawa nyaring pula serunya: "Selama aku, Siau Gin Liong masih berada disini, tak mungkin kubiarkan orang akan mengacau Tiang-pek-san !" Seiring dengan cahaya wajahnya yang menampilkan hawa pembunuhan maka pedang itupun segera ditabaskan pada segunduk anak bukit salju di sampingnya. "Bum..." Tumpukan salju yang merupakan sebuah gunduk anak bukit itu segera terbang berhamburan ke seluruh penjuru.

Dara baju putih menjerit dan loncat mundur beberapa langkah lagi. Sambil menuding kearah pedang yang dipegang si pemuda, dara itu berseru gemetar: "Liong koko itu . . . itu apakah bukan pedang Tanduk Naga yang tergantung pada tirai besi mulut gua Kiu-kioktong tempat Ban Hong Liong-li lo-cianpwe bertapa ?" "Benar," sahut pemuda yang bernama Siau Gin Liong," memang inilah pedang pusaka Tanduk Naga !" Habis berkata ia terus memasukkan pedang kedalam kerangkanya lagi. Tepat pada saat itu terdengar beberapa suitan nyaring dan panjang menggema di udara, Suitan itu berasal dari puncak disebelah muka. Suitan itu amat kuat dan berasal dari puncak yang jauh. walaupun salju turun lebat dapat mengumandang sedemikian nyaring. Jelas orang itu tentu memiliki tenaga dalam yang sakti "Ho, biarlah aku yang akan menghadapi kawanan pembunuh itu lebih dulu," teriak Gin Liong dengan marah, Laksana segulung asap, dia terus meluncur kearah suara suitan itu. "Liong koko, kembalilah...." belum dara baju putih itu menyelesaikan peringatannya kepada Gin Liong, tiba2 dia tergelincir dan jatuh jungkir balik diatas tanah salju. Gin Liong berpaling, Kejutnya bukan kepalang. Sekali ayunkan tubuh dalam jurus Berputar-tubuh-terbang-balik, ia berputar-putar dan lari menghampiri. Pemuda itu bahwa tahu sumoaynya, Ki Giok Lan itu seorang yang berbudi halus dan berbadan lemah, sering

sakit. Dalam menghadapi peristiwa yang menggoncangkan hati, tentulah Giok Lan tak kuat dan rubuh pingsan. Diangkatnya tubuh Giok Lan diatas pangkuannya. Setelah diurut-urut jalan darahnya, dara itu pelahan-lahan membuka mata, Dua butir air mata menitik turun dari kelopaknya... "Liong koko, jangan pergi," katanya sambil menatap wajah pemuda itu dengan pandang meminta, "kata suhu mereka adalah jago2 yang sakti." Gin liong mendengus geram. "Sekalipun mereka jago2 sakti dari delapan penjuru dunia, aku Siau Gin Liong tetap akan menghadapi mereka." Yok Lan gemetar pula, Dengan mata berlinang-linang, ia memandang wajah Gin liong, serunya dengan gemetar: "Liong koko, jangan pergi, jangan engkau pergi..." Gin liong tahu bahwa sumoaynya itu amat sayang kepadanya dan memikirkan keselamatan dirinya, Apabila dia berkeras tetap pergi, kemungkinan Yok Lan tentu akan pingsan. Terpaksa ia menekan kemarahan dan berulang kali menganggukkan kepala, namun pandang mata tetap berkeliaran memandang ke arah suitan itu. Suitan sudah berhenti tetapi kumandangnya masih bergema, jauh dibawa deru angin dingin ke ujung langit. Setelah sukonya meluluskan tidak pergi, Yok Lan lalu menggeliat bangun dan pelahan-lahan berdiri. Tepat pada saat itu terdengar suara pakaian bertebaran ditampar angin, Datangnya suara itu dari puncak disebelah muka. Gin liong dan Yok Lan setempat berpaling ke arah suara itu.

Dibawah tebaran hujan salju yang lebat tampak tujuh sosok bayangan meluncur bagai anak panah terlepas dari busurnya. Sepasang alis Gin Liong cepat menjungkat dan matanya berkilat-kilat. Melihat kokonya hendak bergerak, cepat2 Yok Lan ulurkan tangan mencekal lengan Gin Liong. Tetapi belum sempat ia membuka mulut tiba2 terdengarlah bunyi genta raksasa yang menggema keras sehingga salju yang hinggap diatas daun pohon2, berhamburan jatuh kebawah. "Hai, genta bahaya..." serempak berserulah Gin Liong dan Yok Lan. Dan sekali ayun tubuh, kedua engkoh dan sumoay seperguruan itu segera lari ke arah hutan pohon siong. Sambil berlari, Gin Liong tak lepaskan perhatiannya kepada tujuh sosok bayangan yang menuju ke kuil di puncak gunung. Setelah melintasi hutan siong, badai salju agak reda, Dan setelah beberapa saat lagi, tembok merah dari kuil Lenghun-si itupun mulai tampak diantara celah2 pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Selekas tiba di kuil itu, kedua anak muda itupun segera menerobos masuk ke pintu samping. Serangkum suara bergelak tawa segera berhamburan menggema dari pintu depan kuil. "Liong koko, mereka sudah tiba," kata Yok Lan agak cemas. Wajah Gin Liong tampak membesi. Alisnya mengerut, dahi menampilkan hawa pembunuhan. Tanpa berkata sepatahpun, dia terus lari ke masuk.

Kawanan paderi jubah kelabu, bergegas-gegas keluar ke ruang muka. Gin Liong dan Yok Lan dengan gerak yang lincah dan tak bersuara telah mencapai ujung pintu ruang besar, Memandang ke muka ternyata di ruang besar telah penuh dengan kawanan paderi dari berbagai tingkatan. Kedua anak muda itu cepat2 menyelinap masuk ke ruang samping. Pada titian tingkat sembilan dalam ruang besar itu, sebuah bejana pedupaan tengah menghamburkan kepulan asap, Asap bergulung2 dihembus angin, bertebaran memenuhi ruangan Suasana dalam ruang besar itu sunyi senyap. Jalan yang membentang di muka kuil telah disapu bersih oleh paderi yang bertugas menjaga kebersihan Tetapi jalan yang terbuat dari batu hijau mengkilap itu, sudah penuh pula dengan salju. Sesaat kemudian seorang paderi pertengahan umur, bergegas melangkah masuk ke-dalam ruang besar. Paderi pertengahan umur itu wajahnya sesuram bulan berkabut awan. Mengenakan jubah merah berjalur kuning emas, Tangannya mencekal sebatang hud-tim yang tangkainya dari batu kumala. Dengan paksakan bersenyum, ia tengah memandang ke arah dua orang paderi yang tengah melangkah masuk dari luar, dua orang imam dan tiga lelaki tua berpakaian ringkas, Bergegas paderi pertengahan umur itu menyongsong mereka. Paderi itu bukan lain adalah Liau Ceng taysu, ketua dari kuil Leng-hun-si digunung Tiang-pek-san. Suhu dari pemuda Siau Gin Liong dan Ki Yok-Lan.

Gin Liong dan Yok Lan yang berada di ruang samping, dapat melihat dengan jelas keadaan suhu mereka, walaupun mengulum senyum tetapi jidat Liau Ceng taysu itu jelas memantulkan keriput kegelisahan. Dua orang paderi jubah kuning, mengikuti dibelakang Liau Ceng taysu. Kedua paderi itu berjenggot putih tetapi wajahnya masih tampak segar dan penuh dengan sinar welas asih. Kedua paderi tua itu yang seorang mencekal tongkat Jiih dan yang seorang memegang kelinting. Pada wajahnya yang serius, tersembul suatu hawa pembunuhan. Kedua paderi tua itu adalah susiok atau paman guru dari Liau Ceng taysu, Mereka berdua merupakan Tiang-lo atau sesepuh dari kuil Leng-hun-si. Kemudian masuk pula tujuh orang lelaki yang membawa sikap dan wajah angkuh, walaupun wajahnya berbeda dan tinggi pendeknya tidak sama tetapi ketujuh orang itu memiliki mata yang bersinar tajam sekali. Mereka memandang dengan pandang penuh dendam kepada Liau Ceng taysu. Ketujuh orang itu berjalan dengan gegas seolah hendak saling berlomba dahulu mendahului Yang dimuka adalah dua orang paderi gemuk dengan jubah yang gombrong, Yang seorang memegang tongkat Ciang-mo-jo atau Alu-penunduk-iblis, Yang seorang menyelip sebatang golok kwat-to pada pinggangnya. Paderi gemuk bersenjata alu Ciang-mo-joh itu memiliki alis yang tebal mulut lebar, hidung besar. Orang menggelarinya dengan sebutan Ik-wi-tho atau paderi jahat, Namanya Go Ceng.

Sedangkan paderi yang membawa golok kawat-to itu, berkepala besar, mulut dan perut besar tetapi alisnya kecil dan mata sipit hidung mekar. Dia bernama Go In, digelari orang sebagai Hiong-bi-lek atau Bi-lek-hud buas. Go Ceng dan Go In itu merupakan paderi jahat dari kuil Tay-ceng-si digunung Ngo-tay-san. Mereka adalah sepasang tokoh aliran hitam yang hebat. Sedang yang bergegas jalan disebelah kiri kedua paderi jahat itu adalah imam Bu Tim cinjin, kepala biara Samceng-kwan dipropinsi Hiaplam, pusat partai perguruan Kiong-lay-pay. Imam itu mengenakan jubah warna merah. Umurnya lebih kurang 50-an tahun. Matanya kecil bundar, alis jarang. Sedang rambut dan jenggotnya sudah bersemu putih. sepintas memberi kesan bahwa dia tentu bukan bangsa imam yang baik. Ma Toa-kong bergelar Kim-piau atau Piau-emas dari partai Tiam-jong-pay mengenakan pakaian ringkas kaum persilatan dari sutera hitam, memelihara jenggot pendek. Daun telinganya yang kiri sudah hilang. Berjalan dibelakang kedua paderi jahat itu, wajah Ma Toa-kong memancar kemarahan. Sebentar memandang ke kanan, sebentar ke kiri seperti orang yang hendak menyelidiki dan kuatir mendapat serangan gelap. Setelah dua paderi, seorang tokoh biasa dan seorang imam maka masih ada pula It Ceng tojin, paderi dari Kongtong-pay, Tali terbang Ui Ke Siang dari Ciong-lam-pay dan Golok-seriti Tio Jin Beng dari perguruan Losan. Liau Ceng taysu yang bergegas menyambut itu, walaupun agak kecewa setelah mengetahui siapa ketujuh

pendatang itu, namun sebagai tuan rumah ia tetap bersikap ramah. "Omitohud," serunya seraya memberi hormat, "maafkan pinceng karena tak cepat menyambut kedatangan toyu sekalian." Bu Tim cinjin ketua dari biara Sam-ceng-kwan tertawa panjang lalu mendahului berkata: "Adalah kami yang seharusnya minta maaf kepada taysu karena telah masuk kedalam kuil ini dengan terburu-buru sekali," serunya. Liau Ceng taysu tertawa lebar. "Sehabis melakukan perjalanan jauh, toyu sekalian tentu lelah, Diluar turun badai salju, silahkan masuk kedalam kuil kami." "Badai salju telah mengacaukan cuaca sehingga tak dapat mengetahui jam" kata Piau-emas Ma Tay Kong, "saat ini kemungkinan sudah lewat tengah hari. Tiga perempat jam lagi, tentulah Ban Hong liong-li, harus melaksanakan perjanjiannya." Ia hentikan kata-katanya untuk menyelidiki wajah Liau Ceng taysu yang mulai berobah pucat. "Sebaiknya Liau Ceng taysu segera mengundang Ban Hong liongli untuk keluar dari gua pertapaannya agar semua urusan yang lalu dapat selesai hari ini juga." kata Ma Toa Kong pula. Liau Ceng taysu segera menyahut: "Maksud pinceng, hendak mohon toyu sekalian duduk didalam ruang dulu untuk merundingkan bagaimana cara memutuskan persoalan Ban Hong liongli...."

Ok-wi-tho Go Ceng yang bermata bundar, alis tebal dan mulut lebar, cepat deliki mata dan mendengus geram: "Kiongcu Hun. mengapa engkau begitu banyak rewel? Suruh wanita hina Ban Hong liongli itu keluar agar dapat kuremukkan kepalanya dengan pentungku ini. Tak perlu banyak membuang waktu !" Bluk.... dia gentakkan alu Hang-mo-ngo yang beratnya seratus kati itu ke lantai. Lantai hancur bertebaran keempat penjuru. Melihat tingkah laku yang liar dari paderi jahat itu, Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi, serentak ia terus hendak menerobos keluar.... Untunglah saat itu Liau Ceng taysu menyebut omitohud dengan pelahan lalu berkata: "Sejak mensucikan diri dibawah telapak sang Buddha, pinceng sudah tak memakai nama pinceng yang dulu. Harap Go Ceng sianyu suka menyebut pinceng dengan nama Liau Ceng saja, peristiwa yang dulu, janganlah dibangkitkan lagi." Hiongbi-lek si paderi Bi-lek yang buas, tertawa mengekeh lalu berseru mengejek: "Siapa yang mengurus soal namamu dahulu ataupun namamu yang sekarang? Rasanya tiada seorangpun yang hendak mengadakan hubungan dengan engkau Kiongcu Hun." Habis berkata dia menengadahkan kepalanya yang besar dan matanya yang kecil seperti mata tikus memandang ke cakrawala lalu mendengus geram. "Kiongcu Hun," serunya, "sudahlah, jangan banyak bicara yang tak berguna. Kami pun tak perlu minum

hidangan tehmu, Lekas engkau bawa keluar Ban Hong liongli dari gua pertapaannya. Habis kubelah tubuh wanita hina itu, kamipun segera hendak pulang." Melihat kata2 dan sikap kedua paderi jahat yang amat sombong itu, Liau Ceng taysu tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, ia menengadahkan kepala menghamburkan kemarahannya. Melalui tertawa yang panjang dan nyaring, lapisan salju yang berkelompok diatas genteng, berhamburan jatuh kebawah akibat getaran tertawa dari Liau Ceng taysu itu. Imam jahat, paderi buas dan Ma Toa Kong bertiga, seketika berobahlah wajahnya. Mereka serempak bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan dari Liau Ceng taysu. Setelah berhenti tertawa, Liau Ceng taysu segera sapukan pandang matanya ke wajah ketujuh tetamunya itu dan berseru lantang: "Toyu sekalian tiba di gunung ini dengan mengeluarkan suitan panjang, sudah termasuk kurang hormat. Dan sebelum pinceng menyambut, sicu sekalian sudah terus masuk kedalam kuil ini. Suatu tindakan yang lebih tidak pantas, Dan masih pula dengan sikap dan kata2 yang congkak, toyu hendak menekan orang. Adakah toyu ini memang sengaja hendak menganggap sepi ratusan paderi dari kuil Leng-hun-si ini?" kata Liau Ceng taysu. Dengan meraung keras. Ok wi-tho Go Ceng melesat maju sambil lintangkan senjatanya alu Penunduk-iblis, serunya: "Apa itu segala macam kata2 kasar dan congkak tak tahu aturan? Huh, aku tak perduli sama sekali..."

Seiring dengan kata2 yang terakhir dari Ok-wi-tho Go Ceng itu, sekonyong-konyong sesosok tubuh dengan jubah kuning, segera melintas keluar dari ruang samping terus menerjang Ok-wi-tho. Ok-wi-tho, Hiong-bi-lek dan Ma Toa Kong bertiga terkejut sekali melihat ilmu meringankan tubuh dari pendatang yang muncul itu. Bahkan Liau Ceng taysu sendiri serta kedua paderi tua yang berkedudukan sebagai tianglo pun terkesiap kaget. Bayangan jubah kuning itu segera berhenti dibelakang Liau Ceng taysu. Ketika Ok-wi tho dan Hiong-bi-lek serta Ma Toa Kong memandang dengan seksama barulah mereka mengetahui bahwa pendatang itu tak lain hanya seorang pemuda berparas cakap dalam pakaian warna putih perak. "Hai, budak kecil siapa engkau ?" tegur Ok-wi-tho sesaat setelah kejutnya reda. Liau Ceng taysu mewakili memberi jawaban: "lnilah muridku yang bernama Siau Gin Liong," ia berpaling ke belakang dan memberi perintah: "Liong-ji, lekas memberi hormat kepada berdua taysu cianpwe." Gin Liong segera melakukan perintah suhunya. Dengan menahan kemarahannya ia segera maju menghampiri ke muka kedua paderi tua Pada saat dia hendak memberi hormat, tiba2 Hiong-bilek Go In deliki mata membentak: "Tunggu dulu..." Ia melangkah maju dan menatap wajah Gin Liong dengan matanya sipit yang berkilat-kilat seraya tertawa mengekeh.

"Memiliki wajahmu begitu membesi, dahimu menampil hawa pembunuhan, heh, heh, apakah engkau merasa penasaran ?" tegurnya. Gin Liong seorang pemuda yang masih berdarah panas, Mendengar kata2 si paderi yang begitu congkak, tak dapat lagi ia menahan kemarahannya, serentak ia tertawa nyaring lalu loncat maju. "Kalau memang sudah tahu, mengapa masih bertanya lagi!" bentaknya dengan keras. Mendengar itu buru2 Liau Ceng taysu membentak Gin Liong: "Liong-ji, jangan kurang aturan ! Lekas engkau mundur." Liau Ceng taysu cemas kalau muridnya sampai celaka maka ia memberi perintah supaya anak itu mundur. Tetapi serempak dengan itu, Ok-wi-tho Go In sudah mendahului membentak: "Bagus, budak hina, aku hendak menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !" Habis berkata paderi jahat itu segera memutar alu Hangmo-goh, Wut, angin menderu keras dan alu besi yang beratnya 100 kati menyapu ke pinggang Gin Liong. Seketika pucatlah wajah gurunya Liau Ceng taysu, ia berseru keras seraya hendak menyerang dengan hudtim. Tetapi sekonyong-konyong Gin Liong sudah menyelinap ke belakang si paderi jahat Go Ceng. Go Ceng menghantam dengan sekuat-kuatnya. Karena hantamannya luput, tubuhnya terhuyung ke muka dan hampir rubuh. setelah dapat memperbaiki diri, ia celingukan kian kemari untuk mencari Gin Liong. Alangkah kejutnya ketika melihat pemuda itu telah berada di belakangnya, ia tertegun heran.

Memang Gin Liong telah menggunakan sebuah ilmu langkah yang disebut Liong-li-biau. Hanya suhunya Liau Ceng taysu yang tahu akan hal itu, ia tahu bahwa ilmu pusaka itu adalah ajaran Banhong liongli. Saat itu ternyata Gin Liong berada di belakang paderi jahat Go Ceng, tapi berada di muka Go In. Pemuda itu tegak membelakanginya. Seketika timbullah suatu pikiran jahat pada Liong-si-kek Go In. Dengan menyeringai iblis dan tak terduga-duga, secepat kilat ia segera menampar batok kepala pemuda itu dari belakang. Semua orang yang melihat itu menjerit kaget. Tetapi Gin Liong sudah siap, Dengan mendengus dingin kembali ia menggunakan gerak Liong-li-biau, sebuah ilmu meringankan tubuh yang hebat. Laksana sesosok hantu, pemuda itu sudah menyelinap pula dibelakang Hong-bi-lek Go In dan secepat kilat ia menampar kepala paderi gundul yang gemuk itu. Setitikpun Hiong-bi-lek tak pernah menduga bahwa Gin Liong memiliki kepandaian ilmu ginkang yang sedemikian luar biasa, Ketika melihat tabah pemuda itu lenyap dan punggungnya disambar deru angin, seketika pucatlah wajah Go In. Namun dia memang lihay, setelah menundukkan kepala untuk menghindari tamparan cepat ia loncat kemuka. Tetapi Gin Liong tak mau memberi kesempatan lagi kepada paderi itu "Plak..." seiring dengan tangan kanannya menghantam kepala, Hong-bi-lek Go In menggeram tertahan dan paderi yang jubahnya gemuk itu, bagai sebuah bola daging yang menggelinding ke muka ruang besar.

Terdengar jeritan kaget dari para paderi yang berada di muka ruang. Buru2 mereka menyingkir asal jangan sampai dilanda oleh tubuh Hiong-bi-lek. Sesosok bayangan kuning melintas, salah seorang tianglo dari kuil leng-hian-si telah ulurkan tangan untuk menahan tubuh Hiongbi-lek yang menggelinding itu. Dengan menggerung keras, Hiong-bi-lek melenting bangun, Ketika berdiri, ia masih rasakan kepalanya pening dan mata berkunang-kunang. Tring . . . . cepat ia mencabut golok kwat-to lalu celingukan memandang kian kemari mencari Gin Liong. Bu Tim cinjin, Piau-emas Ma Toa Kong dan Tali terbang Ui Ke Siang biasanya memang tak begitu memandang mata kepada kedua paderi jahat itu. Melihat Go In mendapat kopi pahit dari seorang anak muda, bukan ikut marah, kebalikannya mereka malah tertawa gelak-gelak. Kuatir akan menimbulkan kemarahan para tetamu dan terjadi hal2 yang tak diingini, Liau Ceng taysu membentak kepada muridnya: "Liong-ji, mengapa engkau cari onar? Hayo, lekas masuk !" Melihat suhunya marah, Gin Liong mengiakan dengan hormat lalu hendak berputar tubuh menurut perintah. Tetapi tiba2 kedua paderi jahat itu menggembor keras, Mereka berhamburan menyerang Gin Liong dengan senjata alu dan golok. Tetapi Gin Liong tak gentar, ia mendengus dingin dan hentikan langkah. Tiba2 sesosok tubuh melesat kemuka dan berseru : "Harap taysu berdua berhenti dulu..."

Ok-wi-tho Go Ceng dan Hiong-bi-lek Go In tertegun. pendatang itu bukan lain adalah imam tua yang punggungnya menyanggul pedang atau It Ceng tojin ketua Kong-tong-pay. "Apa-apaan engkau melarang aku ?" teriak kedua paderi jahat itu dengan deliki mata. "Tidak apa2" sahut It Ceng tojin yang bergelar Bu-songkiam atau Pedang tiada keduanya, "hanya ingin memperingatkan kalian bahwa tiga perempat jam lagi mungkin kalian belum selesai bertempur." Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong terbeliak, Cepat mereka mencurah pandang kearah Liau Ceng taysu seraya berseru: "Kiongcu Hun, apakah engkau berani mengulur waktu lagi ?" Menderita perlakuan kasar beberapa kali dari pendatang2 itu. Liau Ceng taysu marah, ia tertawa nyaring. "Baru beberapa detik toyu sekalian datang ke kuil kami dan baru beberapa patah kata toyu bercakap-cakap, mengapa menuduh pinceng mengulur waktu ?" serunya marah. Kedua paderi jahat Go Ceng dan Go In tak dapat menjawab. Tiba2 Liau Ceng taysu berputar tubuh ke arah ruang besar lalu berseru nyaring: "Cobalah lihat kearah alat pertandaan waktu itu, sekarang jam berapa ?" Seorang paderi jubah kelabu yang berdiri pada titian ruang segera lari masuk ke dalam ruang besar.

Saat itu sekalian orang tegang regang, suasana hening sunyi Hanya deru angin yang meniup tajam diluar kuil. Dalam menunggu laporan tentang jam saat itu, tampak wajah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong bertiga gelisah sekali. Liau Ceng taysu tampak tenang, Sejam yang lalu dia sudah duduk didepan alat waktu itu, Di-pandangnya alat waktu itu dengan cemas. Diam2 ia bersyukur kepada Thian bahwa saat itu turun badai salju yang lebat. Tetapi rasa girang itu segera terhapus lenyap manakala ia melihat sosok2 tubuh yang berlarian mendaki ke puncak, Mereka ialah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong serta beberapa tokoh yang memusuhi Ban Hong liong-li, jelas harapannya bahwa pada salju itu akan menghalangi perjalanan mereka ternyata gagal. Beberapa saat kemudian terdengar derap orang berlari dari dalam ruang besar, paderi yang diperintah untuk melihat waktu telah muncul, seketika suasana berobah tegang. Tiba di mulai titian, paderi itu memberi hormat ke halaman dan berseru nyaring: "Saat ini, menunjukkan waktu tepat tengah hari..." Ok-to Go Ceng, Hiong-ceng Go In dan Ma Toa Kong sekalian serempak menyambut dengan gelak tawa yang gembira sekali. Liau Ceng taysu hanya dingin2 saja memandang kearah ketujuh tetamunya yang jumawa itu. Gin Liong kerutkan dahi, ia mengertek geraham menahan kegeraman Keringat dingin pun segera membasahi tubuhnya.

Tiba2 terdengar bunyi tajam macam naga meringkik. Datangnya dari punggung Gin-Liong. Dan sesaat kemudian cret. . . pedang Tanduk Naga yang berada di punggung anak muda itu mencelat keluar dari kerangkanya. Sinar merah yang memancar dari batang pedang pusaka itu, menyilaukan pandang mata sekalian orang. Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan kawan2, hentikan tertawa dan menggigil melihat keperbawaan pedang anak muda itu. Demikian pula dengan kedua tiang-lo dan paderi2 dari setiap paseban kuil Leng-hun-si. "Omitohud!" seru Lian Ceng taysu, "Pedang pusaka memberi peringatan datangnya bahaya, pembunuhan segera akan terjadi Mayat menganak bukit, darah mengubang sungai . . ." Tepat pada saat Liau Ceng taysu selesai berkata maka cuaca yang gelap tiba2 memancar sinar terang benderang dan menyusul terdengarlah letusan halilintar yang menggelegar dahsyat Setelah halilintar meletus, angin berhenti, saljupun reda, Genta dan gendang raksasa yang berada diruang, Tayhud-tian berguncang-guncang keras sehingga berbunyi sendiri, Dua ratusan paderi yang berada dimuka ruang, terbelalak menengadahkan kepala memandang ke langit, Kedua tianglo dari kuil Leng-hun-si agak pejamkan mata dan mengucap doa dengan bisik2. Liau Ceng taysu pejamkan mata merangkapkan kedua tangan kedada dan bibirnya berkomat-kamit, Rupanya ia

sudah mempunyai firasat bahwa dunia persilatan akan mengalami pembunuhan besar-besaran, Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan lain2 kawannya, tertegun menyaksikan pemandangan aneh itu. Wajah mereka pucat, keringat dingin mengucur. Halilintar dahsyat itu telah menggoncang hati seluruh orang yang berada di muka ruang Tay-hud-tian. Diantara mereka hanya Gin Liong seorang yang mempunyai pemikiran lain, Tiba2 ia seperti disadarkan dan teringat akan suatu hal yang penting, Cepat ia sarungkan pedang kedalam kerangkanya lagi lalu secepat kilat menyelinap diantara barisan paderi, lari keruang samping terus menuju kepuncak di belakang kuil. Diluar hanya badai yang berhenti, sedang salju masih turun lagi. Ternyata Gin Liong bergegas lari menuju ke gua Kiukiok-tong. Tiba di puncak belakang terdengar sebuah suitan nyaring dan tajam. Menyusul terdengar ledakan keras yang berkumandang sampai jauh kesegenap penjuru. "Celaka," teriak Gin Liong, "Liong-li locianpwe hendak pergi . . . ." Ia cepatkan larinya dan selekas tiba di tepi sebuah karang buntung diatas puncak gunung, dia terus hendak enjot tubuh melompat kemuka. Tetapi ketika ia menunduk memandang ke bawah, jurang yang memisahkan karang disitu dengan karang dimuka, tertutup kabut salju yang tebal sehingga tak dapat melihat lebih dari lima tombak ke bawah. Siau Gin Liong diam2 sering datang ke tempat dua buah karang buntung itu. Kedatangannya itu selalu pada malam

hari untuk belajar silat Maka dalam badai dan salju yang hebat, ia masih mencapai tempat itu, sebuah karang nonjol yang ditumbuhi pohon siong yang condong. Sejenak menenangkan pikiran, Gin Liong segera ayunkan tubuh melayang ke bawah dan tepat hinggap diatas celah2 selebar satu meter dari sebuah gunduk karang, Ternyata setelah berada di jurang pemisah antara kedua karang buntung, angin agak berkurang, saljupun tak begitu deras, Kini dia berhadapan jalan yang merupakan celah2 dari gundukan karang, jalan itu sempit dan licin sekali serta berkeluk-keluk, jika tidak memiliki ilmu ginkang yang lihay, jangan harap dapat melintasi jalan itu. Berkat faham tempat itu, dapatlah dalam waktu yang singkat Gin Liong mencapai ujung jalan yang merupakan segunduk karang seluas tiga tombak, Diatas karang itulah biasanya Gin Liong berlatih silat. Di sekeliling karang itu tumbuh beberapa batang pohon Bwe, Dahan dan rantingnya tumbuh meliar, bunganya subur, Warnanya merah dan putih menyedapkan mata. Diatas gunduk karang itu terdapat sebuah gua selebar dua meter, Dalam gua gelap pekat dan sunyi senyap. Secepat melayang keatas karang, dengan wajah tegang Gin Liong terus menerobos masuk. Tiba di muka pintu terali besi, ia tertegun, Terali besi yang besarnya sama dengan lengan bayi telah dihancurkan oleh suatu tenaga sakti, Kutungan terali besi itu bertebaran dimuka gua, Dengan terlongong-longong Gin Liong memandang terali besi, Airmatanya berderai-derai membasahi pipinya.

"Ah, Liong-li locianpwe telah pergi," katanya seorang diri dengan penuh keharuan, "pergi tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, Lima tahun aku menerima budinya mendapat pelajaran silat, akhirnya tak dapat bertemu lagi” Sambil berkata pelahan-lahan ia melangkah maju kedalam gua, Ruang gua gelap dan menyeramkan sekali, Angin dingin berdesis-desis menampar muka. menambah keseraman suasana, Dalam mengayunkan langkah itu masih Gin Liong mengandung harapan semoga Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua,. Maka berserulah dia dengan pelahan: "Lo-cianpwe . .. . locianpwe..." Dari sebelah dalam gua segera memantulkan gema suara Gin Liong yang berkumandang sampai lama, Melangkah maju beberapa tindak lagi, ruang itu membiluk ke kiri, Gelapnya makin pekat sehingga tak dapat melihat jari tangannya sendiri. Gin Liong hentikan langkah dan mengerahkan pandang matanya, Tetapi ia tak dapat menembus kegelapan itu. Paling2 hanya dapat memandang sampai setombak jauhnya, Ketika berjalan lagi, kakinya berbunyi keresekan. Buru2 ia berjongkok dan meraba dengan tangannya. Ah, ternyata setumpuk rumput kering yang halus, Makin meraba kemuka, tumpukan rumput itu makin tebal. "Ah, mungkin disinilah tempat peristirahatan locianpwe, "katanya seorang diri. Sekonyong-konyong tangannya menyentuh benda yang menyerupai rantai besi Cepat ia menariknya, ah, ternyata rantai itu telah dipaku pada dinding gua.

Gin Liong marah. Dilemparkannya rantai itu lalu berseru keras : "Penjahat, mengapa kalian begitu kejam memperlakukan Liong-li lo-cianpwe? Mengapa ? Mengapa " Dia menangis sedih dan meraung-raung marah sekali setelah menyaksikan keadaan Ban Hong Liong-li selama ini. Dia benci kepada musuh2 yang telah menganiaya Ban Hong Liong-li diluar batas kemanusiaan Diikat dengan rantai seperti binatang buas. Raung Gin Liong kembali menerbitkan gema suara yang berkumandang jauh, Suatu pertanda bahwa ruang gua Kiukiok-tong itu masih dalam sekali. Saat itu Gin Liong baru menyadari mengapa selama lima tahun ini, Ban Hong Liong-li tak pernah melangkah mendekati pintu tera1i. Diapun teringat bagaimana dalam memberikan pelajaran silat kepadanya itu. Ban Hong Liong-li hanya menyampaikan secara lisan saja. Selama lima tahun, Gin Liong hanya mendengar suara tetapi tak pernah melihat orangnya, Ah. tak kira kalau Ban Hong Liong-li telah dirantai orang . . . Serentak timbul rasa heran dalam hati Gin Liong, Dengan kesaktiannya Ban Hong Liong-li mampu memutuskan tali rantai tetapi mengapa selama lima tahun ia mandah dirinya diikat dengan rantai, Mengapa dia tak mau lekas2 meloloskan diri ? Siapakah yang mengikat lo-cianpwe itu ? Apakah Liau Ceng taysu, gurunya itu ? Ataukah kawanan Ok-wi-tao Go Ceng, Hiong-li-lek Go In, Piau emas Ma Toa Kong dan kawan-kawannya itu ?

Jika mereka mampu merantai Ban Hong Long-Li mengapa tidak segera saja saat itu dibunuh ? Mengapa harus menunggu sampai lima tahun? Mengapa pula Ban Hong Liong-li harus di penjara di gunung Tiang-pek-san dan tidak di gunung Kiong-lay-san atau di gunung Ngo-tay-san? Tadi Ma Toa Kong mengatakan bahwa setelah tiga perempat jam lewat tengah hari, Ban Hong Liong-li harus melaksanakan janjinya sendiri janji apakah itu ? Dan teringat pula Gin Liong bahwa setiap kali membicarakan tentang diri Ban Hong Liong-li, wajah gurunya (Liau Ceng taysu) tentu berobah gelap, Dan setiap kali ia bertanya, suhunya tentu akan memberi jawaban menghindar. Pernah dan bahkan berulang kali Gin Liong memberanikan diri untuk menanyakan riwayat hidup kepada Ban Hong Liong-li, tetapi wanita sakti itu hanya menjawab dengan helaan napas panjang. Kemarin malam ketika menyerahkan pedang kepadanya, Ban Hong Liong-li dengan samar2 mengatakan bahwa hanya guru Gin Liong atau Liau Ceng taysu yang tahu tentang asal usul dirinya, wajahnya dan semua riwayat hidupnya yang menyedihkan itu. Dengan nada penuh duka, Ban Hong Liong-lipun mengatakan bahwa lewat tengah hari nanti dia akan pergi ke suatu tempat yang jauh, Tiada seorangpun yang akan bertemu lagi dengannya. Adakah tempat jauh itu dimaksudkan sebagai alam baka karena Ban Hong Liong-li akan dihukum mati oleh kawanan pendatang itu ?

Sambil berlutut diatas tumpukan rumput kering, Gin Liong dilanda oleh berbagai pertanyaan Namun soal2 itu makin direnungkan makin sukar dijawab dan bertambah banyak Tiba2 sinar mata Gin liong berkilat, Dilihatnya diatas tumpukan rumput kering itu sesosok bayangan hitam, seketika tergetarlah hatinya dicengkam kejut kegirangan serentak ia berseru: "Lo-cianpwe, engkau.. engkau belum pergi ?" serta merta Gin Liong terus duduk bersila Airmatanya kembali berderai-derai membanjir keluar Airmata keharuan tetapi haru kegirangan Tetapi sosok tubuh itu tak memberi suatu reaksi apa2. Suatu bayang2 yang ngeri, segera melintas dalam pikiran Gin Liong, Dengan beringsut-ingsut ia merangkak maju lalu ulurkan tangannya yang gemetar menjamah benda hitam itu. Ah ... ternyata benda hitam itu tak lain hanya segulung permadani bulu. "Lo-cianpwe . . . . lo-cianpwe . . . . !" serentak Gin Liong melenting bangun dan berteriak keras-keras. Ia duga Ban Hong Liong-li tentu belum berapa lama tinggalkan gua itu. Kemungkinan masih berada diatas puncak gunung, ia segera lari keluar dan ketika tiba di pintu yang berterali besi, tiba2 ia dikejutkan oleh beberapa gelak tawa yang bermacam-macam nadanya, Suara tawa itu terdengar tak jauh di luar gua. Tergetarlah hati Gin Liong. ia tahu bahwa suara tertawa itu tentu berasal dari rombongan Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong yang sedang berlari menuju ke gua Kiu-kioktong.

Gin Liong menyurut mundur Setelah memeriksa ke kanan kiri, ia dapatkan pada kedua samping dinding gua itu terdapat banyak sekali cekungan yang cukup dimasuki tubuh orang. Secepat ia menyusup bersembunyi kedalam sebuah cekung, diluar gua segera terdengar kibaran pakaian yang dihembus angin. Gin liong lekatkan tubuh rapat2 ke dinding gua seraya mengeliarkan pandang mata ke mulut gua. Dari tempat persembunyiannya itu ia melihat suatu pemandangan yang indah, Gunduk karang yang berada diluar gua sedang dihias dengan salju putih dan bunga Bwe yang tengah mekar dalam warna merah dan putih yang indah. Tetapi ia tak sempat menikmati pemandangan itu. Hatinya tegang sekali menantikan kedatangan kawanan pendatang yang hendak menghukum Ban Hong Liong-li. Pada lain saat sesosok tubuh dengan pakaian yang gombrong, meluncur ke udara dan tegak diatas gunduk karang dimuka gua. Gin Liong tergetar hatinya, Cepat ia dapat mengetahui bahwa yang muncul itu adalah Ok-wi-tho atau si Paderi jahat Go Ceng. Menyusul berhamburan melayang ke gunduk karang itu imam tua It Ceng, Bu Tim cinjin, Hiong-bi-lek Go In, Golok-sayap-walet Tio Jim-beng dan Tali terbang Ui Ke Siang, Gin Liong mendengus geram, Darahnya mendidih dan napasnya segera menghamburkan hawa pembunuhan Ketujuh tokoh itu segera tegak dimuka gua, memandang celingukan kedalam dan sibuk berbicara.

Dari pandang mata ketujuh orang itu, jelas mengunjukkan suatu perasaan gelisah, cemas dan gentar. Tiba2 diluar gua terdengar suara pakaian berkibar tertiup angin, Menyusul muncul pula tiga sosok bayangan Ketika Gin Liong mencurahkan pandang mata ke luar, kejutnya bukan kepalang sehingga sampai menggigil. Ketiga pendatang itu bukan lain adalah suhunya sendiri, Liau Ceng taysu dan kedua susiok-cou atau paman - kakek guru. Sudah tentu Gin Liong bingung sekali. Apabila suhunya tahu bahwa dia bersembunyi dalam gua itu, bukankah suhunya akan marah ? Ah, tetapi dia sudah terlanjur bersembunyi disitu, Tak dapat ia meloloskan diri lagi, Terpaksa ia hanya memandang 1ekat ke mulut gua untuk menunggu apa yang akan terjadi, Tampak Liau Ceng taysu berjalan dengan gegas sekali. Langsung ia menuju ke mulut gua, Setelah memeriksa pintu terali besi hancur berantakan ia segera keluar lagi dan berkata dengan wajah sarat: "Pintu terali besi telah hancur, kemungkinan Ban Hong Liong-li sudah tak berada dalam gua lagi." Ketujuh orang itu terbeliak kaget, Ma Toa Kong deliki mata dan berteriak marah: "Saat ini masih pagi dan batas waktu perjanjian masih belum tiba. Wanita hina itu mengapa ingkar akan janjinya lima tahun yang lalu ?" ia menanya It Ceng tojin dan Ui Ke Siang, terus melangkah maju ke mulut gua, Dengan mata berkilat-kilat, ia memandang ke arah dalam. Gin Liong terkejut Cepat2 ia lekatkan tubuh rapat sekali pada dinding gua.

Sesaat kemudian, Ma Toa Kong berputar tubuh dan menggeram kepada Liau Ceng taysu: "Ban Hong Liong-li masih berada dalam guna . . ." Karena disindir oleh Ma Toa Kong, rupanya It Ceng tojin tak puas, Saat itu ia merasa mendapat kesempatan untuk membalas, Dengan tertawa mengekeh, cepat ia menukas kata2 Ma Toa Kong: "Apakah Ma sicu melihat sendiri Ban Hong Liong-li berada dalam gua?" Ma Toa Kong tahu bahwa It Ceng tojin dari Kong-tongpay itu seorang tokoh yang licin dan licik. walaupun dia tahu kalau dirinya akan dicelakai oleh imam itu, tetapi ia tetap harus menjaga gengsi, Sekali sudah mengatakan kalau Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua, ia harus mempertahankan kata-katanya itu. Dengan deliki mata memandang It Ceng, ia mendengus marah: "Benar, memang kulihat wanita busuk itu masih berada dalam guna !" Mendengar itu tokoh2 yang lain tampak tegang dan berobah wajahnya, Mereka berhamburan maju ke mulut gua dan memandang dengan seksama ke arah dalam. Sudah tentu Gin Liong makin gelisah sekali Dia tak menyangka bahwa mata Ma Toa Kong amat tajam sekali. Tentu Ma Toa Kong melihat gulungan permadani bulu yang terletak diatas tumpukan rumput kering dan menyangkanya sebagai tubuh Ban Hong Liong-li. Gin Liong cepat menyusup lebih dalam ke dalam cekung dinding gua, Kini dia hanya menggunakan sebelah mata untuk memandang ke mulut gua.

It Ceng tojin berdiri agak jauh dibelakang beberapa tokoh itu, Mulut tersenyum menyeringai dan sengaja dengan suara keras ia berseru: "Karena Ma sicu sudah melihat Ban-Hong Liong-li masih didalam gua, rasanya tak perlu sicu sekalian memeriksa lagi, Saat ini belum tiba waktunya, Kurasa Ban Hong Liong-li tentu tak mau ingkar janji, Maka sebaiknya kupersilahkan Ma sicu masuk kedalam gua menyeret Ban Hong Liong-li keluar, silahkan Ma sicu memotong daun telinga Ban Hong Liong-li yang kiri, untuk membalas dendam Ma sicu yang kehilangan daun telinga itu." Sudah tentu Ma Toa Kong tahu bahwa dirinya diejek habis-habisan oleh imam dari Kong-tong-pay itu. Dengan mata berapi-api ia deliki mata memandang It Ceng cinjin. Wajah merah padam dan tubuh gemetar keras karena dilanda kemarahan. Bu Tim cinjin ketua biara Sam-Ceng kwan, rupanya juga mengagulkan supaya Ma Toa Kong masuk kedalam gua. Maka iapun segera mendukung pernyataan It Ceng cinjin: "Apa yang dikatakan It Ceng toyu memang benar," katanya. "sekarang saat perjanjian belum tiba, kiranya Ma sicu boleh masuk saja kedalam guna ini." Dada Ma Toa Kong serasa meledak dan memekiklah ia sekeras kerasnya: "Huh, engkau kira aku Ma Toa Kong tak berani masuk ?" Dengan sikap pura2 menghormat, It Ceng cinjin berseru: "Ah, tidak, tidak. Mana aku mempunyai anggapan begitu, Piau-emas dari Ma sicu tiada tandingannya dan Ma sicu seorang jantan yang berani, Masakan tak berani memasuki gua itu."

Ma Toa Kong benar2 tak dapat menahan ledakan kemarahannya lagi, secepat berputar tubuh ia terus melangkah kedalam gua. Jelas dilihat oleh Gin Liong bahwa Ma Toa Kong itu sedang masuk. Diam2 Gin Liongpun merapatkan tubuh ke cekung dinding seraya kerahkan tenaga dalam bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi baru melintasi pintu terali besi, tiba2 Ma Toa Kong berhenti. Saat itu Gin Liong tak dapat melihat jelas lagi bagaimana kerut wajah Ma Toa Kong saat itu. Tetapi dia masih dapat melihat sinar kedua mata Ma Toa Kong yang berapi-api menyeramkan sekali. Tampak pula Ma Toa Kong mengambil sebatang kimpiau dari pinggangnya. Digenggamnya senjata rahasia itu erat2. Kaki dan tangannyapun mulai tampak gemetar. Menyusupkan pandang ke luar gua, Gin Liong melihat kawanan tetamu2 itu tampak tegang sekali, Mata mereka mencurah ruah ke dalam gua dan kearah Ma Toa Kong yang tegak di pintu terali besi. Gin Liongpun sempat pula memperhatikan sikap suhu dan kedua paman kakek gurunya. Dengan wajah sarat, ketiga tokoh itu berdiri ditepi batu karang, Mereka tak mencegah tindakan Ma Toa Kong, Mungkin mereka sudah menduga bahwa Ban Hong Liong-li tentu sudah tak berada dalam gua. Sekonyong-konyong Ma Toa Kong berseru nyaring: "Ban Hong Liong-li, hari ini hukumanmu sudah habis, Lewat tengah hari nanti engkau harus keluar untuk menerima hukuman mati dari sekalian enghiong (ksatrya). Hayo, unjukkan diri-mu, jangan main bersembunyi seperti

tikus, Apakah engkau tak sayang pada kemasyhuran namamu yang pernah menggetarkan dunia persilatan dahulu ?" Dari dalam gua segera menggema kumandang suara Ma Toa Kong itu. Lama dan mengiang2 memekakkan telinga. Sebenarnya Gin Liong sudah tak kuasa menahan kemarahannya lagi, Tetapi karena suhunya berada diluar, dia tak dapat berbuat apa2 dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Selekas kumandang suara Ma Toa Kong itu sirap maka Ma Toa - Kong kembali berseru dengan nyaring lagi: "Wanita hina, apakah engkau hendak main mengulur waktu ? Tempatmu sudah kuketahui, kalau tak percaya, inilah buktinya . .. ." Sring . . . . Sepercik sinar emas yang diiringi oleh deru angin tajam segera melayang kearah tempat Gin Liong bersembunyi. Sudah tentu Gin Liong terkejut sekali, Sebenarnya dia sudah cepat2 menyusupkan kepalanya ke cekung dinding karang tetapi dia tak menyangka bahwa Ma Toa Kong sudah mengetahui dirinya. Tring Senjata rahasia yang bersinar kuning emas itu meluncur dan hinggap pada dinding gua disisi tempat Gin Liong, Piau jatuh ke tanah, mengeluarkan bunyi gemerincing yang berkumandang nyaring. Dinding gua berhamburan menebar tubuh Gin Liong, Pemuda itu marah sekali. ingin rasanya ia loncat keluar untuk membunuh orang jahat itu. Tetapi karena suhunya

berada diluar gua, terpaksa ia tak dapat melaksanakan keinginannya itu. Tiba2 Hiong bi-lek Go In tertawa gelak2. Dan pada lain saat iapun mencabut golok kwat lo dipinggangnya. Sambil tertawa mengejek, ia melangkah masuk kedalam gua. "Wanita hina itu masih berada didalam guha," teriak Ma Toa Kong. Tetapi Go In tak mempedulikan, Dia tetap lari ke dalam. "Kurang ajar," damprat Ma Toa Kong dalam hati, "mungkin karena mendengar gema suara jatuhnya kimpiauku tadi, dia tahu kalau Ban Hong Liong li sudah tak berada dalam gua maka dengan tingkah kegagah-gagahan dia berani menyerbu kedalam." Gin Liong menahan napas kencang2, Suara tertawa berhenti tetapi derap lari Go In masih tetap melaju. Ruang gua makin gelap dan makin gelap karena dipenuhi oleh bayang2 tubuh Go In. suasana di dalam dan diluar gua sunyi senyap. Beberapa saat kemudian, menilik dari bayang2 yang tampak, Gin Liong dapat memperhitungkan bahwa Hiongbi-lek Go In saat itu sudah dekat sekali dengan tempatnya, Paling banyak hanya tinggal satu tombak, Bahkan diapun dapat mendengar suara napas si paderi yang terengahengah, Dan pada lain saat pula, bahkan iapun dapat melihat pancaran sinar golok dari paderi itu. Gin Liong makin tegang, Seluruh tenaga dalam telah dihimpun ke lengan kanannya dan mulai pelahan-lahan diangkat. Rupanya paderi itu dapat menangkap suara gerak tangan Gin Liong. Dia berhenti

"Wanita hina, mengapa tak lekas keluar ? Aku sudah dapat mendengar debur jantungmu !" teriaknya, Tiba2 ia hantamkan goloknya. Segera terdengar gema suara yang dahsyat ketika dinding karang hancur berantakan karena tabasan golok itu. Paderi itu tertawa gelak2 : "Wanita hina, apakah engkau tetap tak mau keluar ? Aku sudah melihat engkau duduk, apakah harus menunggu aku sampai turun tangan ? Ha, ha, bersikaplah sedikit ksatrya dan lekaslah keluar !" Sambil berkata ia ayunkan langkah lagi seraya tertawa keras : "Wanita hina, dengarkanlah Saatnya sudah hampir tiba . . . engkau harus melaksanakan janjimu sebelum itu, engkau tak, boleh membunuh orang . . . ." Demikian sambil berjalan, paderi itu tertawa dan mengoceh dengan suara keras, Gin Liong makin tegang, Saat itu dia sudah melihat golok si paderi dan pada lain saat bahkan tangan paderi itu lalu perut yang buncit, "Wanita hina, ha, ha. tahukah engkau bahwa tengah hari segera tiba, Engkau harus melaksanakan janjimu, Aku sudah melihat engkau duduk . . . .” Walaupun mulut berkata garang tetapi tangan dan tubuh Ma Toa Kong agak menggigit Dan makin lama dia makin mendekati ke tempat Siau Lo Seng. "Ha, ha," Go In tertawa dan berseru keras: "tengah hari segera tiba, Wanita busuk, engkau harus menetapi janji, ha, ha . . . . engkau tak boleh membunuh orang..."

Dalam pada berseru itu, paderi itu lambatkan langkah. sekalian orang tahu bahwa gerak gerik Go In itu menandakan rasa takut dan gelisah. "Wanita hina itu berada disekitar celah2 dinding gua," seru Ma Toa Kong. Hiong-bi-lek Go In mendengus dan hentikan langkah. Gin Liong terkejut sekali, Pada saat mendengar Go In berhenti, secepat kilat ia terus ayun tubuhnya melayang keluar. Wut . . . . karena kaget Go In memekik keras dan kibaskan goloknya. Tetapi Gin Liong sudah bersedia. Secepat ayunkan tubuh ia sudah berada dibelakang paderi itu. secepat itu pula ia segera menghantam belakang tengkuk kepala Go In. Terdengar jeritan yang ngeri dan nyaring memancar dan mulut Go In. Batok kepalanya pecah dan jatuhlah tubuh paderi itu terjungkal ke belakang. Sebuah bentakan keras mengering sesosok bayangan hitam menyerbu Gin Liong, Untung pemuda itu dengan sigap sudah menghindar ke samping. Ketika melihat siapa penyerangnya itu, ternyata Ok-wi-tho Go Ceng yang menyerang dengan Hang-mo-goh, alu yang beratnya seratusan kilo, Marahlah Gin Liong, Sekali lingkarkan kedua lengannya, melangkah setengah tindak kemuka, ia segera mendorong dengan kedua tangannya. Terdengar jeritan ngeri di susul oleh tubuh Ok-wit-ho Go Ceng yang terlempar keluar dari mulut gua. sekalian orang terkejut Tetapi bukan menolong, kebalikannya mereka malah buru2 menghindar ke belakang,

Karena tiada orang yang menolong, tubuh paderi jahat itupun terlempar ke bawah jurang yang dalamnya ratusan meter. Sesungguhnya Liau Ceng taysu sudah berusaha untuk menyambar tubuh paderi jahat itu, Tetapi sayang karena rasa kejut dan tegun atas peristiwa itu, ia agak terlambat bergerak sehingga Ok-wit-ho Go Ceng tetap meluncur kebawah jurang. Gin Liong itu juga kesima melihat hasil pukulannya. setitikpun ia tak menyangka bahwa pukulannya ternyata mengandung suatu tenaga sakti yang begitu dahsyat. Cepat ia berputar memandang ke belakang. Dalam kegelapan gua ia hanya melihat bahwa kecuali si Hiong-bilek Go In yang terkapar menjadi mayat, tiada lain orang lagi. Ketika berpaling memandang ke maka lagi, hampir saja ia menjerit kaget dan tubuhnya pun menggigil Liau Ceng taysu, gurunya, saat itu sedang menjerit dan tubuhnyapun gemetar. Hal itu disebabkan tak lain karena dia melihat suhunya. Liau Ceng taysu, sedang melangkah masuk kedalam gua. Karena tegang dan gugup, Gin Liong cepat2 menyusup lagi kedalam cekung dinding gua. Tenang sekali sikap dan langkah Liau Ceng taysu. Dengan memegang kebut Kim-si-hud-tim dia berjalan dengan santai, Sudah tentu Gin Liong heran. Adakah suhunya tak kuatir kalau Ban Hong Liong-li akan menyerangnya ? Tetapi dia tak sempat berpikir lebih lanjut karena saat itu ketegangan hatinya makin memuncak. Dilihatnya setiap kali melewati cekung dinding gua yang lebar dan

diperkirakan cukup dimasuki tubuh orang, suhunya tentu berhenti dan menghamburkan pandang memeriksa, Keringat dingin mulai mengucur deras pada tubuh Gin Liong, Akhirnya ia memutuskan Daripada dipergoki oleh suhunya, lebih baik ia bertindak lebih dulu, Setelah meregangkan napas, secepat kilat ia terus melesat lari kebagian gua yang lebih dalam Tiba di persimpangan sebelah kiri dari ujung gua, ia berhenti Ketika mencari kesempatan untuk berpaling ke belakang, dilihatnya suhunya sedang menghampiri ke tempat mayat Hiong bi lek Go In, Setelah memindahkan mayat paderi itu ke pinggir Liau Ceng taysu lanjutkan perjalanan kedalam gua lagi, Setiap tiba pada cekung dinding gua, ia tentu berhenti dan mengucapkan beberapa patah kata yang tak jelas. Gin Liong makin heran, Apakah yang diucapkan suhunya itu ? Karena ingin tahu, ia kerahkan alat pendengarannya untuk menangkap suara suhunya. "Wulanasa, Wulanasa . . . ." Mendengar itu, ketegangan hati Gin Liong bertambah dengan suatu rasa keheranan Wulanasa ? Apakah artinya Wulanasa itu ? Sesungguhnya banyak sekali soal yang hendak dipecahkannya, Tetapi saat itu dia tak mempunyai kesempatan lagi. Saat itu Suhunya makin mendekat ke tempat persembunyiannya. Karena bingung, tiba2 Gin Liong loncat ke atas tumpukan rumput kering disebelah kiri, sret . .. . Walaupun hanya pelahan tetapi suara tertimpanya tumpukan rumput kering dengan tubuh Gin Liong telah menimbulkan gema suara yang berkumandang.

Gin Liong makin terkejut jantungnya mendebur keras, ia ingin menyurut mundur tetapi kuatir akan menimbulkan suara. Kalau tidak mundur, ia takut ketangkap basah oleh suhunya. Karena tegang dan gelisah, napasnya terengah2 keras. ia kepalkan kedua telapak tangannya yang basah dengan keringat. Mendengar suara berkeresek tadi, Lian Ceng taysu hentikan langkah dan berseru pelahan: "Wulanasa, mengapa engkau tak pulang ke kampung halamanmu . . . ." Gin Liong tegak berdiri diatas tumpukan rumput kering dan mendengarkan dengan penuh perhatian, Dia tak berani mengisar kepala untuk melihat dimana suhunya berada. Tetapi menilik suaranya, ia duga suhunya tentu berada dekat dari tempatnya, Paling jauh hanya dua tiga tombak. Timbul pertentangan dalam hati Gin Liong, Dia takut tetapipun ingin tahu, Dia ingin lari tetapipun ingin mengetahui hubungan apakah sesungguhnya yang terjalin antara suhunya dengan Ban Hong Liong-li itu, Tiba2 Liau Ceng taysu kembali berkata bisik2: "Wulanasa, kuharap janganlah engkau keras perangai seperti dahulu, jangan membawa kemauan . . ." Dengan mengerahkan seluruh perhatian, Gin Liong berusaha untuk menutup pernapasan dan menyatukan semangat untuk mendengarkan sekonyong-konyong sebuah benda tajam macam ungkit, menusuk tulang punggungnya, seketika tubuhnya menggigil dan pingsanlah ia. Entah berselang berapa lama, Gin Liong tersadar dari suatu penderitaan sakit yang amat nyeri itu, ketika

membuka mata, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah tempat yang gelap gulita dan berangin dingin. Sejenak memperhatikan sekelilingnya ia dapatkan dirinya masih menggeletak di tumpukan rumput. Tempat itu segera mengingatkan ia akan peristiwa yang dialaminya. Ia pusatkan segenap indera pendengarannya Kecuali hanya angin dingin mendesis-desis, tiada lain suara yang dapat didengarnya lagi. Serentak diapun teringat akan suhunya dan kawanan Ma Toa Kong, Dimanakah mereka saat itu ? Dia ingin duduk, Tetapi baru hendak menggerakkan tubuh, sakitnya bukan alang kepalang sehingga ia sampai meringis dan kucurkan keringat dingin. Untunglah kesadaran pikirannya masih terang. Dia masih ingat, pada saat akan pingsan, didengarnya suhunya berseru : "Wulanasa, pergilah, Kiongcu Hun seumur hidup akan . . . . " Kelanjutan dan bagaimana yang terjadi kemudian, ia tak dapat mengetahui karena keburu pingsan. Ia hendak gerakkan kepala berpaling kesamping, ah, kepalanya terasa amat berat sekali, ia ingin menggerakkan tangannya untuk meraba-raba sekelilingnya tenaganya terasa lemah lunglai tak bertenaga sama sekali. Dalam keadaan yang tak dapat berbuat apa2 itu akhirnya iapun jatuh tidur lagi. Pada saat ia bangun untuk yang kedua kalinya, kejutnya bukan kepalang, Tempatnya yang gelap, saat itu terang benderang. Seluruh gua terang seperti pagi hari. Keadaan gua itu dapat dilihatnya dengan jelas bahkan sampai pada bagian2 lekuk dan cekungnya,

Tiba2 timbullah keinginannya untuk bangun. Dan serentak iapun menggeliat, hai . . . . mengapa tubuhnya ringan sekali, Cepat ia kerahkan pernapasan dan dapatkan tenaga murni dalam tubuhnya lancar sekali. Segera ia lontarkan pandang ke arah mulut gua. Suhunya dan mayat Hong-bi-lek Go In sudah tak tampak lagi, Lanjutkan pandang matanya keluar gua, tampak batu karang yang menonjol di muka gua tertutup salju putih, Bunga2 Bwe yang tumbuh ditepi karang tengah mekar dengan indahnya. "Ah, hari sudah terang." serunya gembira Dan secepat kilat ia ayunkan tubuhnya loncat ke mulut gua. Bum . ,. . Tiba2 ia berseru keras dan dorongkan kedua tangannya ke batu karang di muka gua. Dan segera ia terlongonglongong heran. Salju yang menutup permukaan batu karang itu berhamburan bercampur dengan keping2 hancuran karang, Tiga batang pohon bwe yang tumbuh di tepi batu karang berhamburan gugur jatuh kedalam jurang, Gin Liong benar2 tak menyangka bahwa saat itu ia memiliki tenaga yang amat sakti, Dari jarak tujuh delapan tombak jauhnya, ia masih dapat melepaskan hantaman yang sedemikian dahsyatnya, Menengadah ke langit, tampak mentari pagi sudah mulai mengintip di puncak gunung, Diam2 ia heran. sebelum pingsan, udara amat buruk, Salju turun deras, angin menderu-deru keras. setelah sadar dari pingsan, hari sudah cerah. Makin melanjutkan keluar pandang matanya, tampak puncak gunung tertutup salju putih, sepintas pandang menyerupai lautan awan putih,

Gin Liong terkesiap dalam hati, ia merasa matanya jauh lebih terang dan beberapa saat tadi, sebelum pingsan, Bukan saja dapat menghadapi sinar kemilau dari cahaya salju, pun dapat juga menerobos melihat beberapa tombak ke dalam. Diam2 ia girang sekali, Cepat ia melayang keatas jalan kecil lalu apungkan tubuh ke puncak karang, Dari tempat itu ia terus lari menuju ke hutan siong disebelah muka. Saat itu ingin sekali ia berada di kuil Leng hun-si. ia hendak menceritakan perobahan dirinya itu kepada suhu dan sumoaynya, Sesaat tiba di kuil ia terus loncat melampaui pagar tembok dan melayang ke ruang belakang. Tetapi sesaat kakinya menginjak lantai, segera ia merasakan sesuatu yang tak wajar, Biasanya di ruang belakang kuil itu tentu penuh dengan kawanan paderi yang mondar mandir mengurus pekerjaan masing2. Tetapi anehnya, saat itu sama sekali tiada seorang paderi yang kelihatan bayangannya, Setelah mencurahkan pendengaran barulah ia dapat mendengar bahwa di ruang muka kuil itu sayup2 terdengar suara kelinting sembahyangan. Kembali Gin Liong merasa girang. Ia tahu bahwa telinganya makin bertambah tajam. Ia lepaskan perhatian ke ruang belakang dan pusatkan pendengarannya ke arah ruangan muka, Tetapi diapun kurang memperhatikan bahwa saat itu sebenarnya sembahyang pagi para paderi kuil sudah selesai pada dua jam yang lalu. Dengan hati gembira ia segera melangkah ke ruang tengah untuk mendapatkan suhunya, ia terkejut ketika

melihat pintu ruang tempat kediaman suhunya terkancing rapat Menandakan bahwa suhunya tak berada di dalam, Berpaling ke ruang samping tempat tinggal sumpaynya, pintunya tertutup tetapi daun jendela terbuka separoh. Maka Gin Liongpun ayunkan langkah menghampiri Begitu dekat pada ruang itu, kejut Gin Liong tak terkira, ia mendengar suara erang kesakitan dari dalam ruang itu. ia duga sumoaynya tentu sakit. Melangkah ke muka pintu segera ia mendorong lalu menerobos masuk. Ki Yok Lan, sumoaynya yang masih dara itu, rebah diatas tempat tidur, rambutnya terurai kusut dan tubuhnya dibungkus selimut. Gin Liong bergegas menghampiri Ketika memeriksa, menggigillah tubuhnya, Yok Lan tampak pucat sekali wajahnya dan tampaknya seperti orang limbung, Halaman 59-60 Hilang ........... dari guanya." Mendengar itu Yok Lan terkejut girang sekali. Matanyapun berlinang-linang dan dengan suara tergetar ia berseru: "Ah, akhirnya Liong-li lo-cianpwe telah bebas . . " Tiba2 Gin Liong teringat akan peristiwa yang dialaminya ketika berada dalam gua Ban Hong Liong li. Peristiwa yang aneh dimana punggungnya seperti ditusuk oleh benda tajam sehingga ia pingsan. "Lan-moay, kemungkinan Liong-li locianpwe masih berada dalam gua", serunya sesaat kemudian. "Benarkah itu ?" seru Yok Lan girang," Liong koko, aku hendak mendapatkan beliau !"

Habis berkata dara itu terus hendak turun dari tempat tidurnya, Gin Liong terkejut, cepat2 ia memegang bahu sumoaynya: "Lan-moay, penyakitku belum sembuh betul, tak baik mengeluarkan tenaga untuk berjalan. Aku hanya mengatakan bahwa kemungkinan Liong-li lo-cianpwe masih berada dalam gua. Adakah hal itu benar, aku juga tak tahu." Karena ketegangan hati tadi, Yok Lan telah mengurangi tenaga murni yang mulai pulih dalam tubuhnya. ia terengah-engah, keringat dingin bercucuran dan wajahnya pun pucat lagi, Gin liong terkejut, buru-2 ia membantu sumoaynya tidur lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setelah napasnya agak tenang, sambil memandang ke wuwungan rumah, dara itu terkenang akan peristiwa yang lampau. "Tahun yang lalu, diam2 aku telah menuju ke gua Kiukiok-tong, Baru melayang ke atas batu karang, segera terdengar Liong-li locianpwe menegur: "Apakah engkau sumoay dari Gin Liong ?" "Ah," Yok Lan berkata seorang diri, "begitu ramah dan penuh kasih sayang nada suara Liong-li lo-cianpwe, Aku seorang gadis yang sudah sebatang kara, merasa bahwa kata2 beliau itu penuh rasa kesayangan seorang ibu terhadap putri2-nya. Aku tak dapat. menahan derai air mataku yang bercucuran turun . . . ." "Tetapi, sesaat kemudian dia memperingatkan supaya aku jangan melanjutkan langkah menghampiri ke guanya, Dan beliaupun melarang aku tak boleh datang ke tempat itu lagi, Dan lagi melarang aku jangan mengganggu pedang

pusaka beliau yang tergantung pada pintu berterali besi itu . . ,." Berkata sampai disitu tiba2 mata Yok Lan berkilat terang seperti teringat sesuatu ia berpaling memandang Gin Liong. "Liong koko, dimanakah pedang pusakamu dan baju bulu burung itu ?" Gin Liong terbeliak, Dia segera teringat bahwa pedang pusaka dan baju bulu burung itu masih ketinggalan di gua, walaupun ia masih ragu2 tentang tempat kedua benda itu tetapi ia harus mencarinya sampai ketemu. "Karena bergegas hendak menengok engkau dan suhu maka kedua benda itu kutinggal di gua, Harap engkau beristirahat, aku hendak mengambil kedua benda itu dulu, Aku pasti segera kembali kemari lagi," katanya kepada sang sumoay. Selekas keluar dari kamar, ia menuju ke halaman lalu enjot tubuh melayang keatas genteng dan terus lari menuju ke gunung di belakang kuil. Pada saat melintasi hutan pohon siong, ia melihat sesosok bayangan orang melesat di puncak gunung dan pada lain kejap sudah lenyap, Bayangan itu luar biasa cepatnya. Gin Liong terkejut sekali. Puncak gunung di belakang kuil itu, penuh dengan jurang dan tebing karang yang curam sekali, Kecuali harus mengambil jalan dari muka puncak gunung itu, tiada lain jalan lagi yang dapat ditempuh. Siapakah orang itu? Suhunya ataukah kedua paman kakek gurunya?

Tetapi pada lain kilas cepat ia membantah dugaannya sendiri, Karena bukankah mereka masih membaca doa di ruang besar ? Ia segera pesatkan larinya dan terus melayang keatas batu karang di muka gua, Karena melihat sosok bayangan aneh tadi, ia tak berani gegabah terus masuk kedalam gua. Baru setelah menunggu beberapa saat tak tampak sesuatu yang mencurigakan akhirnya ia melayang turun dan melangkah ke dalam gua, Gin Liong teringat akan pengalaman yang diderita Hiong-bi lek Go In. ia tak berani terus langsung masuk melainkan melangkah dengan pelahan dan memperhatikan setiap cekung dinding gua. Makin ke dalam makin gelap. Tiba di ujung tikungan sebelah kiri, ia hampir berteriak girang. pedang pusaka Tanduk Naga dan baju bulu burung masih menggeletak di tumpukan rumput kering, Cepat ia memungut kedua benda itu. Tetapi serentak iapun segera teringat akan Ban Hong Liong-li. Karena pedang pusaka dan baju bulu burung masih tetap berada di dalam gua, jelas sosok bayangan tadi tentu tidak masuk kesitu. Setelah menyelipkan pedang dan mengenakan baju bulu burung, kembali timbul bermacam pikiran dalam benaknya. Pertama, ia mengira Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua. pada saat paderi Go In berteriak masuk kedalam gua, Ban Hong Liong-li mungkin bersembunyi tak jauh dari tempatnya. Gin Liong percaya bahwa dengan kepandaian yang dimilikinya, tanpa dibantu wanita sakti itu, tentu tak

mungkin sekali hantam dapat melemparkan tubuh paderi Go In sampai tujuh delapan tombak keluar dari gua. Dan ketika suhunya masuk kedalam gua, tak hentihentinya berseru memanggil "wulanasa " Mungkin kata2 itu merupakan nama dari Ban Hong Liong-li ketika masih gadis. Gin Liong makin keras menduga bahwa diantara suhunya dengan Ban Hong Liong-li, dahulu tentu mempunyai hubungan yang istimewa. Ban Hong Liong-li tampaknya kuatir orang lain atau para anak muda mengetahui riwayat hidupnya. Pada saat suhunya berbicara dengan Ban Hong Liong-li, Wanita sakti itu tentu segera memeluknya (Gin Liong) sehingga pingsan agar jangan dapat mendengar pembicaraan mereka. Ia duga benda tajam yang menusuk punggungnya itu tentulah ujung jari dari Ban Hong Liong-li. Tetapi ada sebuah hal yang ia tak mengerti. Mengapa suhunya waktu itu tak mau menolong dirinya ?. Adakah saat itu suhunya memang tak mendengar suaranya ataukah Ban Hong Liong-li lo cianpwe memindahkannya ke lain tempat ? Terlintas sesuatu dalam benaknya dan iapun memandang ke muka, Lima tombak disebelah muka, gua itu membiluk ke kanan. Segera ia menuju ke tempat itu. Melongok kebawah, ternyata sebuah jurang yang tak kelihatan dasarnya, Namun Gin Liong sudah terlanjur tertarik hatinya, ia melayang turun, Makin kebawah, hawanya makin dingin sekali, Ketika tiba di dasar lembah, ia berhadapan sebuah gua besar yang kedua dindingnya penuh dengan batu2 runcing. Gin Liong maju menghampiri

Tiba2 ia terkejut karena mendengar suara jeritan seram dari bagian dalam gua itu. ia hentikan langkah, Ketika mendengarkan dengan seksama, kecuali suara benda jatuh, tiada kedengaran apa2 lagi. Teringat sesuatu, Gin Liong segera lari memburu kedalam, Lorong gua berkelak-keluk, naik turun. Setelah melintas enam buah tikungan, tibalah dia disebuah tempat berbentuk empat persegi, panjangnya kira2 sepuluhan tombak, Gin Liong hentikan langkah, Memandang kemuka, kejutnya bukan kepalang. Lima tombak disebelah muka, terkapar sesosok tubuh yang kecil kurus. Cepat ia loncat menghampiri. Ah, ternyata orang itu memang seorang wanita. Rambutnya sudah usai, mengenakan pakaian kembang potongan suku Biau, Kepalanya pecah, wajahnya rusak mengerikan sekali. Gin Liong menduga mayat itu tentulah Ban Hong Liongli. serentak meluapkan kemarahannya, ia menghamburkan tertawa keras sekali sehingga menggetarkan suluruh gua. Puas menumpahkan kemarahannya dalam tawa yang ngeri, serentak ia berlutut disamping mayat itu dan menangis tersedu sedan. "Liong-li locianpwe. murid memang berdosa besar karena tak lekas datang sehingga lo-cianpwe sampai dicelakai orang. Murid bersumpah, dengan pedang Tanduk Naga pemberian lo-cianpwe itu, akan menuntut balas kepada musuh2 lo-cianpwe itu, walaupun harus memburu mereka sampai di ujung langit." Sekonyong-konyong terdengar gemericik suara air mengalir Gin Liong serentak berdiri dan berseru : "Siapa itu !"

Ia menghimpun tenaga dalam, siap untuk menghantam, Tetapi ketika memandang kemuka, menggigillah sekujur tubuhnya, Cepat ia loncat mundur sampai tiga tombak, Pada ujung gua didepan, sayup2 seperti muncul seperti sinar yang menembus ke puncak gua. . Cahaya itu memancarkan sinar tujuh warna. Kilau kemilau menyilaukan mata. Sebuah kepala binatang yang menyerupai ular naga, bergemercikan timbul dari dalam air lalu perlahan-lahan merayap keatas tanah. "Makhluk ajaib..." teriak Gin liong dengan tegang sekali. Ia menyalangkan mata memandang dengan seksama. Kepala binatang aneh itu berwarna hijau, tanduk merah, sepasang matanya menyerupai bola api, hidungnya menghambur buih dan mulutnya mendesis-desis. Dan ketika badannya ikut terangkat tulang punggungnya seruncing mata golok penuh dengan sisik, Mungkin karena mendengar Gin liong tertawa keras, makhluk aneh itu merangkak keluar dari sarangnya. Sekonyong-konyong makhluk aneh itu meraung, mengangkat kepala, membuka mulut lebar2, lalu meluncur kearah mayat Ban Hong hong-li. -ooo0dw0oooBab 2 Katak salju Gin Liong terkejut Tetapi sesaat kemudian iapun marah sekali, Dengan menggembor keras cepat ia mencabut pedang pusaka, seketika berhamburan sinar merah dari pedang Tanduk Naga itu.

Binatang aneh itu panjangnya tiga tombak. keempat kakinya tajam seperti cakar, Melihat sinar merah dari pedang Tanduk Naga, mayat wanita yang sudah digigit itu, segera dilepasnya lagi. sepasang bola matanya yang mencorong seperti lentera, tiba2 pudar dan binatang itupun pelahan-lahan menyurut mundur. Gin Liong pelahan-lahan mendesak maju. Melihat itu binatang anehpun makin mempercepat gerak mundurnya. Tampaknya dia ketakutan sekali. Pada saat melalui mayat, Gin Liong menunduk dan memandangnya. Alangkah kejutnya ketika melihat baju kembang potongan wanita Biau yang dikenakan wanita itu sudah hancur digigit binatang aneh tadi. "Binatang, serahkan jiwamu !" Gin Liong marah dan loncat membabat tanduk merah binatang itu. Binatang itupun meraung keras dan meluncur mundur cepat sekali kedalam air. Gin Liong berhenti dan berdiri di tepi air, Kiranya tempat itu merupakan sebuah rawa seluas lima tombak, dikelilingi empat dinding karang hijau. Ditengahnya terdapat dua buah guha seluas satu tombak. Separoh bagian dari guha itu terendam air. Binatang aneh yang menyerupai naga itu masuk kedalam guha sebelah kiri. Dari permukaan air masih tampak kedua bola matanya yang bersinar tajam. Gin Liong maju menghampiri ke tepi rawa, Binatang itupun pelahan-lahan menyelam kebawah rawa. Tiba ditepi rawa, airpun segera memancar sinar pedang Tanduk Naga berwarna merah.

Rawapun pelahan-lahan tenang lagi. permukaan airpun tidak beralun, Tetapi dari dasar rawa seperti memancar sinar warna pelangi yang menyembul ke permukaan rawa. Tergerak hati Gin Liong, Menunduk kebawah, dilihatnya dari dasar rawa bagian yang paling dalam, tampak melambung sebuah benda putih macam batu pualam bersih. Besarnya sama dengan kepalan tangan, Benda putih itu makin melambung ke permukaan air. sinarnya makin terang. Ketika memandang dengan seksama barulah Gin Liong tahu bahwa benda putih itu seekor katak putih atau katak salju. Sesaat katak salju itu mengapung di permukaan air, maka tubuhnya memancar sinar putih yang gilang gemilang. Ketika beradu dengan sinar merah dari pedang Tanduk Naga, maka timbullah suatu pancaran sinar yang amat serasi dan menyilaukan mata. Seketika Gin Liong menyadari bahwa katak salju itu tentu termasuk sejenis binatang yang ajaib. Cepat ia selipkan pedangnya lalu berjongkok di tepi rawa dan ulurkan tangan hendak menangkap binatang itu. Tiba2 air berombak keras dan muncullah binatang aneh yang menyerupai naga tadi, Gin Liong terkejut, Cepat ia ayunkan tubuh melayang mundur beberapa tombak. Memang mahluk yang menyerupai naga itu merangkak naik ke daratan lagi, sepasang matanya memandang Gin Liong dengan berapi-api. Gin Liong sudah mempunyai pengalaman bahwa binatang aneh itu takut pada sinar atau mungkin pada sinar kemilau dari pedang Tanduk Naga. Maka dia segera

mencabut pedang pusaka itu, sambil menggembor keras. terus menerjangnya . Binatang yang mirip naga itu amat waspada sekali. Pada saat sinar pedang Tanduk Naga memancar tiba, cepat2 binatang itupun segera menyurut mundur masuk kedalam guha. Beberapa saat kemudian permukaan telaga pun tenang lagi airnya, Katak salju itupun kembali mengapung di permukaan air. Gin Liong tancapkan pedangnya ke tepi telaga, lalu berjongkok dan ulurkan kedua tangannya untuk menangkap katak mustika itu, Dalam pada itu perhatiannyapun tak pernah lepas ke arah binatang mirip naga yang mungkin akan meluncur keluar dari sarangnya. Sepasang mata katak salju itu berkilat-kilat terang, memandang dengan sorot marah kepada Gin Liong. Katak yang badannya seputih salju itu, segera bergerakgerak menghampiri ke tempat pedang Tanduk Naga. Begitu mendekati tepi, secepat kilat Gin Liong segera menyambarnya dan berhasillah ia. Tetapi suatu peristiwa yang tak terduga-duga telah terjadi. Ketika menggenggam katak salju itu, seketika kedua tangan Gin Liong membeku dingin, lengannya serasa matirasa dilanda oleh hawa yang luar biasa dinginnya sehingga menyusup masuk ke ulu hati. Gin Liong terkejut sekali, cepat ia letakkan katak salju itu diatas bulu-bulu burung. Ketika memandang kedalam air, dilihatnya binatang yang menyerupai naga itu tengah mementang kedua

matanya lebar2. Dari hidungnya menghembuskan hamburan hawa yang bergulung-gulung dalam air. Gin Liong tahu bahwa mahluk seperti naga itu tentu marah sekali, Tetapi karena takut pada pedang Tanduk Naga maka walaupun katak salju telah dirampas Gin Liong, binatang itu tak berani berbuat apa2. "Ah, lebih aku cepat2 pergi," kata Gin Liong lalu hendak menjemput katak salju lagi, Tetapi ketika memandangnya, kejutnya bukan alang kepalang. Katak salju yang semula sebesar kepalan tangan, saat itu tiba2 berobah menyusut kecil tak lebih dari dua inci besarnya, Dan ketika dipegang, tubuh katak itu putih bening seperti air. "Katak salju, ya, tentu inilah katak salju," tiba2 ia berseru tergetar. Dengan mencekal katak salju ditangan kiri dan pedang Tanduk Naga, di tangan kanan, Gin Liong segera bergegas pergi. Saat itu hati Gin Liong girang bukan kepalang, Sambil berlari pesat, pandang matanya selalu mencurah kearah katak salju itu, Diam2 ia merenungkan tentang khasiat yang luar biasa dari binatang itu. Katak salju merupakan suatu jenis binatang yang jarang terdapat di dunia, Seperti halnya dengan senjata pusaka, kitab pusaka, pun katak salju itu merupakan benda yang menjadi incaran setiap kaum persilatan. Apabila katak salju itu direndam dalam arak dan diminum maka khasiatnya bagi orang yang berlatih silat, seolah tulang-tulangnya berganti baru, tenaga dalamnya bertambah kokoh. Bagi orang biasa, dapat menyembuhkan segala penyakit dan menambah panjang umur.

Kegirangan Gin Liong mendapatkan katak mustika itu bukan karena ia hendak memakannya sendiri melainkan hendak diberikan kepada Ki Yok Lan yang sedang mengidap penyakit itu. Apabila sumoaynya minum katak itu, tentulah penyakitnya akan sembuh dan tubuhnya akan sehat kuat. Tiba di tikung kiri pada mulut guha, tiba2 Gin Liong terkesiap, jenazah Ban Hong Liong-li yang tadi menggeletak di tempat itu, ternyata lenyap ! Ke manakah jenazah itu ? Tak pernah dia menyangka bahwa di guha yang setinggi lima tombak itu, akan muncul seseorang yang membawa pergi mayat wanita itu, Dan dia pun tak pernah membayangkan bahwa orang itu memiliki kepandaian yang hebat sekali. Dia hanya terkejut atas peristiwa aneh itu maka setelah dengan hati2 memasukkan kotak salju kedalam baju, ia segera tingkatkan kewaspadaan siap sedia menghadapi sesuatu yang tak diinginkan. Tiba2 ia mendengar suara tertawa dingin pelahan dan berasal dari belakangnya, Sudah tentu dia terkejut sekali, Secepat kilat ia mencabut pedang Tanduk Naga dan berputar tubuh menabas. Ia percaya bahwa gerakan berputar seraya menabas secepat kilat itu tentu akan mengenai sasarannya, Tetapi ah, hanya angin belaka yang ditabasnya. Ia tersipu-sipu malu sendiri, Mengeliarkan pandang kesekeliling, ternyata guha itu sunyi senyap, kosong me!ompong. Tetapi dia merasa penasaran, jelas tadi ia mendengar suara orang tertawa dingin. Tiba2 terlintas sesuatu dalam

benaknya dan secepat itu ia segera menengadahkan muka memandang keatas, Ah, ternyata dugaannya tepat pada puncak guha setinggi tiga tombak itu, terdapat sebuah guha yang cukup lebar. Karena gelap dan menjulang ke atas maka tak dapat di ketahui berapa tombak tingginya. Kini Gin Liong menyadari bahwa orang yang melepas tertawa dingin tadi tentu sudah meluncur dari puncak guha itu. Mengenangkan akan nasib Ban Hong Liong-li yang begitu mengenaskan dibunuh lalu mayatnya masih dilarikan Gin Liong menumpahkan kemarahannya dengan sebuah tertawa seram Acungkan pedang pusaka Tanduk Naga ke-atas ia segera enjot tubuh melambung kearah guha diatas puncak guha itu. Memang pedang pusaka Tanduk Naga benar2 sebuah pedang pusaka yang hebat. Lorong guha yang gelap itu segera terpancar sinar merah. Dengan setiap kali menginjak dinding guha yang menonjol, dapatlah Gin Liong mencapai ketinggian tujuh tombak dan tibalah dia di puncak paling atas. Ia berhenti seraya lintangkan pedang dan mengeliarkan pandang ke sekeliling. Kiranya guha di puncak itu lorongnya berkeluk-keluk macam ular, Sebuah guha yang menjulang condong ke-atas. Guha itu gelap gulita, anginnya keras, Tak tampak barang seorang manusiapun disitu, Gin Liong masih penasaran. Di amati keadaan guha itu dengan lebih cermat, Tiada tampak barang sebuah cekungan yang dapat dijadikan tempat per sembunyian orang, Maka dengan

siapkan pedang ditangan kanan, ia segera menyusur lorong guha. Hati-2 sekali ia berjalan. Setiap keluk dan cekung, tentu ia berhenti dan mengamati dengan cermat. Makin menuju ke atas, hawa makin dingin dan lorong guhapun makin sempit, Dan tak berapa lama tibalah ia di mulut guha. Disitu keadaannya tidak lagi gelap melainkan terang benderang. Kini dia berhadapan dengan sebuah guha berbentuk bundar, menjulang lurus keatas, Tingginya hampir sepuluhan tombak, pada mulut guha yang bundar seperti mangkuk, tampak langit yang biru. Dan dekat di mulut guha, terdapat lapisan salju. Gin Liong kerutkan dahi. ia sangsi adakah ia mampu loncat melambung ke mulut guha setinggi itu, Dan orang yang tertawa tadi, adakah juga keluar dari guha diatas itu ? Tiba2 muncul suatu pertanyaan dalam hati Gin Liong, Benarkah Ban Hong Liong-li telah dipenjara selama lima tahun dalam guha itu ? Seingatnya, selama lima tahun itu dikala Ban Hong Liong-li memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, ada kalanya suruh dia datang lima hari sekali. Tetapi ada kalanya tiga hari bahkan sebulan dua bulan baru disuruhnya datang. Waktu itu ia tak tahu apa sebabnya, Tetapi kini setelah menemukan jalanan keluar dari puncak guha, dia menduga keras, selama lima tahun itu Ban Hong Liong-li tentu tidak terus menerus berada dalam guha. ia percaya dengan kesaktian yang dimiliknya, Ban Hong Liong-li tentu mudah sekali keluar masuk mulut guha itu.

Ada lagi sesuatu yang mengherankan Gin Liong, jika benar Ban Hong Liong-li dapat bergerak bebas dalam guha itu mengapa selama lima tahun itu tak pernah ia diperbolehkan melihat wajahnya ? Adakah Ban Hong Liong-li berwajah buruk sehingga malu dilihat orang ? Saat itu yang paling menyedihkan hati Gin Liong ialah keadaan jenazah Ban Hong Liong-li, Mukanya hancur lebur sukar dikenali lagi sehingga sukar dinilai adakah dia seorang wanita cantik atau buruk. Dan sesaat teringat akan kematian yang mengenaskan dari Ban Hong Liong-li itu, darah Gin Liong segera meluap, ia memutuskan akan mencapai puncak mulut guha itu dan melihat bagaimana keadaan yang sesungguhnya. Sekali enjot sang kaki, tubuh Gin Liongpun melambung kearah mulut guha yang tingginya beberapa tombak, Dalam dua tiga kali gerakan melambung, akhirnya berhasil juga ia tiba ditepi mulut guha. Ketika memandang ke sekeliling, ia tertegun, Empat penjuru keliling dari guha itu merupakan gerumbul pohon siong yang penuh diselimuti salju. Dan yang mengejutkan Gin Liong, ternyata pada jarak beberapa tombak dari tempat itu sudah merupakan dinding tembok merah dari kuil Leng-hun-si. Dan Gin Liongpun dapat melihat ruang kuil itu, diantaranya ruang tempat kediaman suhunya. "Hah, apakah mulut guha ini bukan yang dikatakan sebagai Sumur mati dibelakang kuil ?" tiba2 ia teringat Segera ia berpaling kebelakang untuk memeriksa mulut guha tadi lagi, Tetapi ketika berputar tubuh, bukan kepalang kejutnya sehingga ia sampai memekik kaget dan loncat mundur dua tombak.

Di depan sumur mati yang berada di belakangnya itu, tegak seorang wanita cantik dalam pakaian yang indah dan mantel bulu burung dari beludru merah. Wanita cantik itu kira2 berusia 26-27 tahun, kulitnya merah segar, sepasang alisnya melengkung panjang sampai ke pelipis rambut. Dan sepasang matanya bersinar bening bagai batu zamrud. Kecantikan wanita itu memiliki pesona yang memikat hati orang. Sayang wajahnya menampil kerut hawa pembunuhan dingin. Gin Liong terkesiap, ia duga wanita muda itu tentu yang menyerang Ban Hong Liong-li. seketika meluaplah kemarahannya. "Wanita jahat, engkau harus mengganti jiwa locianpweku..." secepat kilat ia enjot tubuh melampaui dua batang pohon siong lalu menyerang, menusuk bahu wanita muda itu dengan pedangnya. Tenang2 saja wanita muda itu melihat gerak gerik Gin Liong- Pada saat ujung pedang Gin Liong hampir mengenai, barulah dia menggeliat mundur, bergerak-gerak dan tahu2 lenyap. Gin Liong terkejut. Cepat ia hentikan terjangannya, Dengan jurus Harimau-buas-mengibas-ekor, ia taburkan pedang Tanduk Naga menyapu ke belakang. Krak, bum... sebatang pohon siong segera terbabat rubuh, menimbulkan letupan yang keras ketika menghantam tanah, Salju yang menutupi daun pohon, berhamburan keempat penjuru, Memandang kian kemari, Gin Liong tak melihat wanita muda itu, Cepat ia berputar ke belakang, ah, wanita muda itu ternyata berdiri dibelakangnya.

Gin Liong tergetar hatinya, setitikpun ia tak menyangka bahwa wanita muda itu menguasai juga tata langkah Liongli-biau yang pernah diajarkan Ban Hong Liong-li kepadanya Tenang2 saja wanita muda itu memandang Gin Liong, wajahnya menampilkan kerut keresahan dan putus asa. "Jika dapat menguasai tata gerak Liong-li-biau, wanita ini tentu mempunyai hubungan dengan Liong-Li locianpwe," pikir Gin Liong. Menimang demikian, menurunlah kemarahan Gin Liong. Segera ia menyimpan pedang lalu maju menghampiri dan memberi hormat: "Mohon tanya siapakah nama yang mulia dari cianpwe ini ? Mengapa berada di belakang kuil Leng-hun-si ? Maaf atas tindakanku yang kurang adat karena menyerang cianpwe tadi." Wajah wanita muda itu agak berobah. Sinar matanyapun berobah lembut ia kerutkan alis dan tiba2 menghela napas. Kali ini Gin Liong lebih terkejut lagi. Helaan napas wanita muda itu benar2 mirip sekali dengan helaan napas yang sering dilakukan oleh Ban Hong Liong-li selama berada lima tahun dalam guha. Melihat wajah anak muda itu pucat dan tegang serta memandang dirinya penuh keheranan, wanita muda itu segera berseru: "Liong-ji, engkau benar2 seorang anak yang baik. Benar, aku memang tak menyangka bahwa kecerdasanmu jauh melebihi aku ketika masih muda, Demikian juga hatimu pun lebih keras." Mendengar nada suara yang tak asing lagi itu, tak kuasalah Gin Liong menahan luapan hatinya. Airmatanya

berderai-derai membanjir turun, Selekas membuang pedang, ia bergegas melangkah dan jatuhkan diri berlutut dihadapan wanita itu seraya berkata dengan terisak-isak: "Lima tahun lamanya Gin Liong telah menerima pelajaran. Selama itu siang dan malam Gin Liong ingin sekali melihat wajah cianpwe. Tadi tanpa sengaja, aku telah berlaku kurang hormat, mohon locianpwe sudi memaafkan." Wanita muda itu berlinang-linang dan menghela napas rawan, serunya: "Liong-ji, bangunlah, Aku tak menyalahkan engkau melainkan memang diriku. Wulanasa sendiri yang bernasib malang, dipenjara selama lima tahun dalam guha, Adalah karena beberapa alasan maka selama itu aku tak dapat mengunjukkan diri menemui orang." Habis berkata wanita muda itu segera mengangkat bangun Gin Liong yang masih berlutut di tanah. Waktu berdiri, Gin Liong tundukkan kepala tak berani memandang wanita itu. ia tak mengira bahwa Ban Hong Liong-li yang dipenjara selama lima tahun dalam guha -itu, ternyata seorang wanita cantik yang baru berusia sekitar dua-puluhan tujuh tahun. Dengan berlinang - linang Ban Hong liong-li suruh Gin Liong mengambil pedang pusaka itu, Gin Liongpun segera melakukannya dan menyimpan pedang itu kesarungnya lagi. Ban Hong Liong-li sejenak memandang ke-sekeliling cakrawala, Saat itu matahari sudah mulai condong ke barat, Segera ia berkata dengan rawan: "Liong-ji, saat ini aku harus pergi, tak dapat lebih lama tinggal disini lagi."

Tergetar hati Gin Liong, seketika wajahnya berobah. "Lo . . . locianpwe hendak kemana ?" tanyanya gopoh. Dalam menyebut nama Ban Hong Liong-li itu, memang Gin Liong agak kikuk, Wanita yang semuda itu, apakah harus disebut "locianpwe". Tetapi karena selama lima tahun sudah biasa memanggil begitu, diapun tak dapat berganti dengan lain sebutan lagi. Agaknya Ban Hong Liong-li tak menghiraukan soal sebutan itu, . "Aku harus segera kembali ke kampung halamanku di gunung Supulawa. Dan selanjutnya aku akan tinggal di daerah Biau sampai akhir hayatku, Aku takkan menginjak ke Tionggoan lagi." Gin Liong mengembang air mata, serunya gegas: "Mengapa locianpwe tak mau tinggal beberapa hari lagi disini ?" Ban Hong Liong-li memandang ke langit lagi dan gelengkan kepala pelahan-lahan lalu menghela napas. "Kenangan yang lampau bagaikan asap, Hanya kehampaan yang kutemui dalam mengarungi ke ujung langit. Menyebabkan orang putus asa, walaupun kutunggu sampai sepuluh tahun lagi, apakah gunanya ?" Dalam pada mengucap itu. airmatanya berderai-derai membasahi kedua pipi dan akhirnya kerongkongannyapun terasa tersumbat tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. "Keinginan apakah yang locianpwe belum dapat melaksanakan itu, harap memberitahukan kepadaku...." akhirnya Gin Liong memberanikan diri untuk berkata.

Tetapi cepat Ban Hong Liong-li menukas tertawa rawan: "Ah, hal itu sudah tiada harapan lagi. tiada gunanya kukatakan." Namun Gin Liong tetap mendesak: "Mohon locianpwe suka tinggal disini beberapa hari lagi, Liong-ji tentu akan..." Ban Hong Liong-li gelengkan kepala, menukas: "Tidak. demi menambah tenaga dalammu, aku sudah menunda perjalanan selama tujuh hari, sekarang aku harus menempuh perjalanan itu siang dan malam agar lekas tiba di daerah Biau." Tiba2 Gin Liong teringat akan mayat wanita dalam pakaian suku Biau yang rebah di dalam gua tadi. "locianpwe, siapakah mayat wanita yang berada dalam guha itu ?" tanyanya serentak. Ban Hong Liong-li terkesiap, wajahnya berobah seketika. Sesaat kemudian berkata dengan nada geram: "Kebahagian hidupku, selama ini berada ditangannya, Tak kukira kalau dia akan datang dari Biau-ciang dan hendak membunuh aku secara menggelap." Berhenti sebentar, Ban Hong Liong-li mendengus geram dan melanjutkan pula: "Apabila kali ini kulepaskan dia lagi, mungkin jiwa Cu Hunpun sukar terjamin keselamatannya." Gin Liong terbeliak kaget. "locianpwe, siapakah wanita yang mengenakan pakaian suku Biau itu ? permusuhan apakah yang terjalin antara dia dengan suhuku ?" seru pemuda itu. Agak tersipu merah Ban Hang Liong-li menerima pertanyaan itu. Sesaat kemudian ia menghela napas rawan.

"Liong-ji, tanyakanlah sendiri kepada suhumu, sekarang aku akan pergi !" Habis berkata ia berputar tubuh. "locianpwe, harap tunggu dulu," buru2 Gin Liong berseru, meminta, seraya loncat kehadapan Ban Hong Liong-li. "locianpwe, maukah locianpwe memberitahu tempat kediaman locianpwe kepada Liong-ji ?" Ban Hong Liong-li merenung. "Daerah Biau, gunung Supulawa, puncak Paklu, lembah Naga-beracun," akhirnya meluncurlah beberapa patah kata dari mulut Ban Hong Liong-li, memberitahukan alamatnya. Diam2 Gin Liong mencatat dalam hati. Kemudian ia bertanya pula: "locianpwe, benarkah aku telah tidur selama tujuh hari dalam guha?" Ban Hong Liong-li mengangguk: "Benar, kalau aku tak merawat dan tak mengurut-urut jalan darahmu, paling sedikit engkau harus tidur sepuluh hari lagi." Gin Liong terkejut. "Mengapa aku jadi begitu ?" serunya. "Karena engkau telah makan pil Tok-liong-wan (pil naga beracun) milik ibuku yang diambilnya dari perut ayahku." Menggigillah seluruh tubuh Gin Liong mendengar keterangan itu. "Apa ? Pil itu berasal dari perut ayah locianpwe ?" serunya terkejut.

Ban Hong Liong-li terpaksa tertawa: "Liong-ji. apakah engkau merasa heran?" Gin Liong berulang-ulang mengangguk kepala. Ban Hong liong-li menghela napas pelahan. Katanya pula: "cerita itu panjang sekali kalau diceritakan, Lebih baik setelah aku pergi, engkau tanyakan kepada suhumu !" Gin Liong gelengkan kepala. "Suhu tentu tak mau memberitahu kepada Liong-ji. Mohon locianpwe saja yang memberitahu hal itu." Ban Hong Liong-li kerutkan alis, Ketika hendak membuka mulut tetapi ia berpaling kearah kuil Leng-hun-si dan membentak: "siapakah yang berada dalam tembok itu ?" Gin Liong terkejut dan berpaling, Dilihatnya Ki Yok Lan dengan rambut kacau tengah melompat keatas pagar tembok kuil dan terus hendak melayang turun. Gin Liong terkejut sekali, ia tahu sumoay-nya itu masih sakit maka buru-2 ia berseru: "Lan-moay, jangan...." Tetapi sudah terlambat, Ki Yok Lan sudah terlanjur melayang turun. Gin Liongpun cepat membentak dan loncat menyongsong. Juga Ban Hong Liong-li terkejut, serentak ia ayun tumbuh melesat kearah Yok Lan. Dengan kedua tangan ia menyambut tubuh nona itu, Ketika Gin Liong tiba, ia melihat Sumoay-nya telah pingsan, Anak muda itu bingung dan airmatanya bercucuran.

"Bagaimana, lo cianpwe". "Dia pingsan !" Ban Hong Liong-li kerutkan dahi. Memandang Yok Lan yang berada dalam pelukannya, ternyata wajah dara itu pucat lesi, kedua matanya meram. Bang Hong Liong-li menghela napas: "Ah, tak kira anak ini bertubuh lemah sekali." "Memang sumoay sedang sakit, sudah tujuh hari lamanya..." cepat Gin Liong memberi keterangan. Tiba2 mata Ban Hong Liong-li bersinar dan cepat menukas : "Katak salju itu ? Lekas keluarkan !" Gin Liong terbeliak tetapi cepat ia menyadari bahwa selama ini ternyata Ban Hong Liong-li telah mengikuti gerak geraknya, Segera ia mengeluarkan katak mustika itu. Ban Hong Liong li meletakkan Yok Lan di tanah, kepalanya disandarkan pada dadanya, ia mengambil sebuah mangkok batu kumala hijau lalu suruh Gin Liong masukkan katak salju ke dalam mangkuk dan suruh pula pemuda itu lekas mengambilkan sejemput salju yang bersih. Gin Liong buru2 melakukan perintah, "Masukkan salju kedalam mangkuk, perintah Ban Hong Liong-li pula, Begitu salju dimasukkan, terdengar suara mendesis pelahan ketika salju itu lumer menjadi air. "Liong-ji. tahukah engkau khasiat katak salju ini ?" tanya Ban Hong Liong-.. "Tahu," jawab Gin Liong. "Segala apa memang sudah takdir." kata Ban Hong Liong-li. "tak boleh diminta dengan kekerasan. Liong-ji, engkau mempunyai rejeki besar, kelak engkau harus

menjaga dirimu baik2 agak menjadi seorang pendekar yang berguna." Serta merta Gin Liong menghaturkan terima kasih, Memandang ke langit, kembali alis yang hampir menyusup ke tepi rambut dari Ban Hong Liong-li berkerut pula, Gin Liong segera tahu bahwa wanita itu tentu bergegas hendak segera turun gunung. Dia bingung tetapi tak tahu bagaimana harus mengatakan. Saat itu salju sudah menjadi air. Diatas tubuh katak salju, air itu seperti mendidih, mengeluarkan butir2 gelembung kecil. Begitu pula, tubuh katak itupun memancarkan sinar tujuh warna yang kilau kenalan Ban Hong Liong-li menundukkan kepala untuk meniup mulut Yok Lan. Tubuh nona itu agak menggeliat dan menghembus napas panjang lalu membuka mata. Dengan wajah berhias senyum ramah. berkatalah Ban Hong Liong-li: ”Lan-ji, minumlah air salju ini !" Ia segera menuangkan tepi mangkuk kemulut dara itu. Gin Liongpun cepat2 mendekati sumoay nya dan memberi keterangan "Lan moay, yang memeluk engkau ini adalah Liong-li locianpwe." Wajah Ki Yok Lan pucat lesi seperti mayat Sinar matanyapun redup dan kesadaran pikirannya limbung, Mendengar dirinya di peluk Liong-li locianpwe, seketika wajahnya memancarkan sinar kejut dan girang. "Lan-moay, minumlah air salju yang diberikan Liong-li locianpwe penyakitmu tentu sembuh," kata Gin Liong pula.

Rupanya dara itu tak mendengar jelas apa yang dikatakan suhengnya, Sepasang matanya memandang lekat pada Ban Hong Liong-li. Ban Hong Liong-li hanya tersenyum dan berkata pula: "Lan-ji. lekaslah minum," Yok Lan pelahan-lahan membuka mulutnya tetapi matanya tetap memandang tak berkedip ke wajah Ban Hong Liong-li. Airmatanya berderai-derai mengalir membasahi pipi. Setelah air salju itu habis diminum, maka dari mulut Yok Lan terbaur hawa harum yang sejuk. Ban Hong Liong-li segera menyerahkan mangkuk kumala dengan katak salju kepada Gin Liong, Setelah itu ia menghapus airmata Yok Lan dengan ujung baju dan dengan penuh kasih sayang menghiburnya. "Lan-ji, jangan bersedih. Pulang dan tidur lah lagi, engkau tentu sudah sembuh." Ban Hong Liong-li lalu mengemasi rambut sidara yang kusut. Ki Yok Lan masih terlongong-longong memandang wajah Ban Hong Liong-li. Rupanya ia masih bersangsi adakah wanita cantik dihadapannya itu benar2 Liong-li locianpwe. Tetapi menilik nada suaranya yang tak pernah dilupakan, akhirnya ia mau percaya juga. "locianpwe. apakah engkau belum pergi ?" tanyanya sesaat kemudian. Ban Hong Liong-li tersenyum rawan : "Lan-ji, jika tadi engkau tak muncul, saat ini aku tentu sudah berada di kaki puncak Hwe-siau-hong."

Habis berkata wanita itu memandang ke cakrawala pula, Dengan wajah gelisah ia berkata kepada Gin Liong: "Liong-ji. bawalah sumoaymu beristirahat sekarang aku harus pergi." ini pulang agar

Pelahan-lahan ia mengisar tubuh Yok Lan. Gin Liongpun cepat menyambuti tubuh sumoay-nya. "locianpwe. apakah engkau sungguh2 hendak meninggalkan kami ?" seru Yok Lan dengan wajah sedih. Ban Hong Liong-li menghela napas dan mengangguk: "Nak, sesungguhnya aku tak ingin meninggalkan kalian, Tetapi aku terpaksa harus pergi." Memandang Gin Liong, wanita itu menunjuk pada mangkuk kumala, katanya: "Liong-ji, mangkuk kumala hijau itu, termasuk salah sebuah benda pusaka dari suku Biau. Aku sudah tak memerlukannya dan kuberikan kepadamu. Harap jaga baik2 jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat." "locianpwe sudah menghadiahkan pedang pusaka Tanduk Naga, Bagaimana Liong-ji temaha untuk menerima pemberian locianpwe lagi ?" kata Gin Liong. Sedangkan Yok Lan hanya memandang Ban Hong Liong-li dengan air mata bercucuran. Dengan berlinang-linang, Ban Hong Liong-li berkata: "Nak, pulanglah. Beritahukan suhumu bahwa Liong-li locianpwe sudah pergi, Dia tak akan melihat Wulanasa lagi." Berkata sampai disitu, airmata wanita itupun bercucuran. Tiba2 ia berputar tubuh dan sekali ayun kaki, ia sudah melayang kedalam hutan.

Hampir Gin Liong dan Yok Lan serempak menangis: "locianpwe, harap suka menjaga diri baik2. Kami tak dapat mengantar locianpwe..." Tetapi saat itu Ban Hong Liong-li sudah lenyap diantara gerumbul pohon siong. Sambil masih terisak-isak, berkatalah Yok Lan : "Mengapa Liong-li locianpwe tak mau bertemu muka dengan suhu sendiri..." Setelah menyimpan mangkuk kumala dan katak salju. Gin Liong menghapus airmatanya dan berkata: "Biarpun suhu marah tetapi aku tetap hendak mohon kepada beliau supaya suka menceritakan tentang riwayat Liong-li locianpwe." Yok Lan gelengkan kepala. "Ah, tak mungkin suhu mau memberitahu hal itu," katanya. "Aku tentu akan memintanya mengatakan." kata Gin Liong berkeras, Kemudian ia memandang wajah sumoaynya. "sumoay. bagaimana penyakit-mu sekarang ?" "Seluruh tubuhku seperti dialiri hawa panas. Aku merasa letih sekali," sahut Yok Lan. Gin Liong tahu bahwa khasiat katak salju sudah mulai bekerja dalam tubuh sumoaynya. "Kalau begitu mari kubawamu kembali kedalam kamar tidur, Liong-li locianpwe mengatakan, setelah tidur barang satu jam saja, engkau tentu sudah sembuh." Ia terus memondong tubuh Yok Lan, loncat ke pagar tembok lalu melayang turun, lari menuju keruang kediaman suhunya.

Dalam pelukan sukonya, hati Yok Lan mendebur keras, pipinya bertebar warna merah. walaupun bukan sekali itu ia dipondong, tetapi setiap kali berada dalam pelukan sukonya, hatinya tentu berdebar dan mukanya merah. Saat itu ia rasakan tubuhnya disaluri aliran hawa yang hangat, merasa ngantuk dan pikiran kabur Entah apakah yang diminumkan Liong-li cianpwe kepadanya ? "Liong koko, tadi Liong-li locianpwe memberi aku..." Tiba2 Gin Liong berhenti Saat itu mereka sudah tiba di pintu ruang kuil, Dan pemuda itu mencurah pandang kearah pintu kamar suhunya. "Liong koko, mengapa berhenti ?" bertanya Yok Lan dengan bisik2. Gin Liong terbeliak lalu menjawab : "Ah, tak apa2. Kuantarkan engkau kedalam kamarmu." Dengan bergegas pemuda itu segera menerobos masuk kedalam ruang. Yok Lan makin heran mengapa sukonya begitu tegang tampaknya. Setelah meletakkan Yok Lan ditempat tidur dan menyelimutinya, Gin Liong segera bertanya: "Apakah hari ini suhu datang menjenguk kemari ?" Begitu rebah di tempat tidur, mata Yok Lan sudah kepingin tidur, ia paksakan menyahut sambil gelengkan kepala: "Sudah tujuh hari, suhu tak pernah datang kemari." Habis berkata dara itu terus tertidur. Mendengar keterangan itu seketika berobahlah wajah Gin Liong. ia makin tegang, serunya: "Lan moay, tidurlah aku akan keluar sebentar."

Ia menepuk kedua bahu sumoaynya lalu melesat keluar dan loncat ke pintu kamar suhunya, sekali dorong, terbukalah pintu itu. Permadani tebal yang menjadi alas tempat tidur, entah bagaimana, saat itu ditutup dengan kain warna kuning. Sudah tentu Gin Liong heran, Sejak dahulu tak pernah ia melihat hal semacam itu. Pun pedupaan dari tembaga kuno yang terletak diatas meja, tiada mengepulkan asap lagi. Tetapi ruang itu masih terdapat sisa asap dupa yang tipis. Melihat keadaan itu Gin Liong seperti mendapat firasat yang tak baik. Cepat ia keluar, mengunci pintu lalu lari keluar ke halaman, Tiba di ruang belakang, keadaannyapun sunyi2, tiada dijumpainya barang seorangpun. Lari ke ruang tengah, hanya bertemu dengan dua orang paderi kecil. Dengan wajah cemas, kedua paderi kecil itu tengah menambahi minyak pada lampu. Melihat Gin Liong, kedua paderi bocah itu segera menangis dan berseru: "Liong suko, lekaslah engkau menuju ke lapangan Kilok-jang di muka gunung !" Menggigillah Gin Liong, wajahnyapun membesi Tanpa bertanya lebih lanjut, ia terus lari keluar dan menuju ke ruang besar Tay-hud-tong. Yang disebut lapangan Ki-lok-jang itu, adalah tempat kuburan dari para ketua dan Tianglo kuil Leng-hun-si yang telah meninggal Apabila seluruh paderi Leng-hun-si berkumpul di tanah pekuburan itu, tentu menghadiri pemakaman dari paderi Leng-hun-si yang berkedudukan Tiang-lo ke-atas.

Suatu bayang2 yang menyeramkan segera melintas pada benak Gin Liong, Betapa tidak ! Sudah tujuh hari lamanya Liau Ceng taysu tidak kembali ke kuil Leng-hun si. Adakah suhunya itu telah dicelakai oleh Ma Toa-kong dan kawankawannya ? Teringat akan hal itu, terhuyung-huyunglah tubuh Gin Liong sehingga hampir rubuh. Untung dia cepat2 dapat menenangkan diri lalu menuju ke sudut ruang Toa-hudtong. Didalam ruang Toa-hud -tian tampak asap dupa berkepul-kepul. Seorang paderi tua yang kurus sambil membawa seikat api tengah melangkah pelahan-lahan keluar ruang. Gin Liong makin gelisah sekali. Tanpa berkata apa2, ia terus lari melampaui paderi tua itu, langsung menuju ke pintu kuil. Rupanya paderi tua itu mendengar kesiur angin dari pakaian orang yang menghampirinya, Tetapi ketika memandang orang itu, ternyata Gin Liong sudah melesat keluar pintu kuil. Saat itu, mentari sudah silam dibalik gunung. Cuaca menjelang rembang petang. Puncak gunung-pun sudah mulai bertaburan kabut Cakrawala mulai menebarkan selimut hitam. Gin Liong lari seperti orang kalap. Sinar matanya berapiapi, dahinya bercucuran keringat. Memandang kemuka, lapangan Ki-lok-jang sudah kelihatan. Pagoda2 kecil tempat jenazah yang berjajar-jajar berpuluh-puluh di makam itu, makin jelas diantara gumpalan kabut.

Seluruh paderi Leng-hun-si dengan jubah warna kelabu serempak berkumpul dimuka sebuah makam yang baru. Mereka tegak berdiri menghadap makam baru itu. Nyanyian duka dan mantra2 kematian, sayup2 terdengar dibawa hembusan angin. Melihat itu Gin Liong makin kalap, Diluar kesadarannya, ia segera menumpahkan kegelisahan hatinya dalam sebuah suitan panjang yang bernada sedih. Gema suitan itu menembus awan, menimbulkan kumandang yang bergemuruh di langit dari puncak Hwesian-hong. Doa- kematian di tanah makam Ki-lok-jang berhenti seketika, Seluruh paderi serentak berpaling memandang kedatangan Gin Liong, Seiring dengan berhentinya suitan, Gin Liong pun sudah tiba di tepi hutan, melayang turun terus lari menghampiri. Dalam pada berlari itu mata pemuda itu tetap melekat kearah rombongan paderi. Tiba2 diantara rombongan paderi Leng-hun-si itu tampil seorang paderi berjubah merah. Seketika berobahlah wajah Gin Liong dengan seri kegirangan yang menyala-nyala. "Suhu...." ia berteriak girang dalam hati seraya pesatkan larinya. Tetapi rasa kegirangan itu segera berobah pula rasa kesiap yang besar, Kiranya paderi jubah merah itu bukan suhunya melainkan ji-susiok-cou atau paman kakek guru yang kedua. Menggigillah hati Gin Liong, Diam2 ia bertanya dalam hati, kemanakah suhu dan paman kakek guru yang ketiga ?

Serentak mata Gin Liongpun mencurah kearah makam pagoda yang baru itu... Saat itu seluruh paderi Leng hun-si tahu bahwa yang menghambur suitan nyaring dan yang tengah lari mendatangi itu, adalah Gin Liong yang telah menghilang selama tujuh hari. Kawanan paderi itu terkejut dan berlinang-linang airmata, Merekapun tak pernah menyangka bahwa murid dari kalangan orang biasa dari ketua mereka, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian mengejutkan. Tiang-lo jubah merah yang memegang tongkat Giok-jiih, dengan wajah duka dan kerutkan alis memandang kedatangan Gin Liong Diapun diam2 terkejut melihat kepandaian Gin Liong. Pada saat sekalian paderi masih kesima, Gin Liongpun sudah tiba dan sekonyong-konyong ia lari menghampiri makam pagoda yang baru dibangunkan itu seraya menjerit: "Suhu..." Hanya sepatah kata yang dapat diucapkan karena tubuh anak muda itu terhuyung-huyung lalu rubuh ke tanah yang tertutup salju. Setelah dua kali berguling-guling. iapun pingsan. Gemparlah sekalian paderi Leng-hun-si. Mereka hiruk pikuk berhamburan menghampiri. Tetapi tianglo jubah merah cepat melesat dan mengulurkan tangan mengangkat tubuh Gin Liong supaya duduk, Diurut-urutnya jalan darah anak itu lalu perlahan-lahan menepuk-nepuk punggungnya. Gin Liong membuka mata. Airmatanya segera membanjir turun, Dengan menggembor keras ia melonjak bangun terus hendak menelungkupi makam pagoda yang baru itu.

Tiang-lo jubah merah terkejut Cepat ia menyambar tangan Gin Liong: "Liong-ji..." "Huak...." Gin Liong muntahkan segumpal darah segar. Tanah yang bertutup salju putih segera bertebaran warna merah. Gin Liong berlutut dihadapan makam baru. Sambil memegang meja sembahyang, ia memandang ke arah makam yang berisi jenazah Liau Ceng taysu, suhunya yang dicintai itu. Dengan kalap ia berteriak-teriak memanggil suhunya. Airmatanya bercucuran seperti banjir, Mulutnyapun berlumuran darah, Matanya merah seperti terbakar. Melihat pemandangan itu, tiang-lo jubah merahpun hanya berdiri dibelakang Gin Liong. Dia tak kuasa juga menahan cucuran airmatanya. Juga seluruh paderi Leng-hun-si segera mendekap muka dengan ujung lengan jubah dan menangis tertahan. Cuaca makin gelap, Kabut dingin makin tebal. Dilapangan makam Ki-lok-jang masih berkumandang suara isak tangis. Tiba2 Gin Liong hentikan tangisnya, Dengan heran ia memandang kearah sebatang kimto (golok emas) yang terletak diatas meja sembahyang, Kim-to itu panjangnya tiga-puluhan senti, lebarnya satu setengah inci. Batangnya memancarkan sinar keemasan yang menyilaukan "Liong-ji, suhumu telah binasa oleh golok emas itu...." tiba2 tiang-lo jubah merah berseru. Gin Liong tegak berdiri lalu mengambil kim-to itu dan memeriksanya, Seketika menggigil keraslah tubuhnya. "Wulanasa..." tanpa disadari mulutnya berseru tertahan.

Seluruh paderipun berhenti menangis. Mereka serempak memandang kearah Gin Liong dengan heran. Demikian tiang-lo jubah merah, Bergegas ia maju dua langkah, menunjuk golok emas dan bertanya: "Liong-ji, tahukah engkau arti dari keempat huruf pada batang golok itu ?" Gin liong tak menyahut melainkan memandang ke cakrawala dengan terlongong-longong. Mulutnya mengigau seorang diri: "Wulanasa... apakah yang membunuh suhu itu mungkin Liong-li locianpwe?" Mendengar kata2 "Liong-li", tergetarlah hati tianglo jubah merah. Segera ia berteriak marah: "Liong-ji, apakah golok emas itu milik Ban Hong Liongli ?" Tiba-2 Gin Liong menghambur tawa keras yang sedih. Kumandangnya jauh menebar ke seluruh penjuru hutan. Seketika berobahlah wajah seluruh paderi Leng-hun-si. Mereka merasa darahnya bergolak keras, jantung mendebur. Tiang-lo baju merah terkejut. Tujuh hari menghilang, mengapa mendadak Gin Liong memiliki tenaga dalam yang sehebat itu. Berhenti tertawa, Gin Liong segera berteriak keras2: "Mengejar locianpwe, tentu dapat mengetahui siapakah pembunuh suhu itu !" Kata2 itu ditutup dengan sebuah loncatan ke udara. Sekali loncat, ia sudah melayang turun sampai beberapa tombak jauhnya, ia lari kearah jalan yang ditempuh Hian liong Liong-li.

Segenap paderi Leng-hun-si tercengang menyaksikan tindakan anak muda itu. sekonyong-konyong tiang-lo jubah merah berteriak memanggil : "Liong-ji, kembali !" Tetapi Gin Liong tak menghiraukan lagi, ia terus lari menuju ke hutan pohon siong. Begitu masuk kedalam hutan. keadaannya gelap sekali tetapi serempak dengan itu golok emas yang dicekalnya itu memancarkan sinar gemilang sampai seluas dua tombak. Gin Liong terkejut ia baru menyadari bahwa golok emas itu ternyata sebuah pusaka, ia teruskan larinya. Setelah melintas keluar dari hutan, ia berhadapan dengan sebuah puncak karang, Memandang kebawah, ia terlongonglongong. Dibawah puncak merupakan sebuah jurang yang tak diketahui berapa dalamnya karena permukaannya tertutup oleh kabut tebal, Yang tampak hanya puncak pohon siong dan batu yang menonjol. Gin Liong bingung dan gelisah, ia bernafsu sekali untuk mengejar Ban Hong Liong-li dan menanyakan siapakah yang membunuh suhunya. Keinginan yang meluap-luap itu menyebabkan dia lupa bahaya, serentak ia ayun tubuh melayang turun ke bawah. Karena kabut dan hari sudah gelap, maka ia lambaikan layang tubuhnya. Sekonyong-konyong pada saat kakinya menginjak sebatang pohon siong, ia rasakan dadanya sakit dan hawa murni dalam pusarnya naik sehingga pandang matanyapun berkunang -kunang. Gin Liong terkejut sekali wajahnya berobah pucat dan keringat dingin mengucur deras, Tubuhnyapun makin laju meluncur turun. jaraknya masih kurang beberapa meter dari

pohon siong. Dengan paksakan diri dan tahan kesakitan ia bergeliatan, menghambur teriakan dan cepat tancapkan golok emas ke pohon-pohon. Cret Golok emas itu luar biasa tajamnya. Sekali tabas, seperti menabas tanah liat. Batang pohon sebesar paha orang, segera terbabat hampir putus. Gin Liong terkejut, karenanya tubuhpun meluncur turun lagi, ia menjerit nyaring seraya menyambar sebatang dahan pohon yang menjulai ke bawah. Pohon siong itu berderak-derak jatuh ke bawah. Dan ketika Gin Liong memandang kebawah, ia melihat segunduk karang salju seluas satu tombak. Cepat ia mendapat akal. Selekas lepaskan dahan pohon, ia terus bergeliatan melayang turun ke atas karang salju itu. Tetapi tepat pada saat hampir menginjak karang es itu, pohon siong tadipun meluncur menimpah kearahnya. Cepat ia bergelindingan kedalam karang es itu. Bum, batang pohon siong menghantam permukaan karang es lalu mencelat ke bawah lagi beserta hamburan salju. Tempat Gin Liong menyusup masuk itu, merupakan sebuah cekung karang es yang luasnya hanya satu meter. Hampir saja tempat itu hancur karena tertimpa batang pohon. Setelah menenangkan diri, rasa sakit pada dadanya terasa lagi, ia menyadari bahwa tadi karena dirangsang luapan amarah, hawa dalam tubuh telah menyerang ke ulu hati. Dan karena dipergunakan untuk lari kencang, luka itu makin berat.

Disekelilingnya gelap gelita, Kabut tebal sekali sehingga ia tak tahu masih berapa tombakkan dalam dasar jurang itu. Ia menyadari pula bahwa tiada gunanya untuk terburu nafsu, Lebih dulu ia harus menyembuhkan luka dalamnya. Tiba2 pula ia teringat akan katak salju yang disimpan dalam bahunya. Pada waktu menjamah tubuh katak, air es yang merendam binatang itu hampir tumpah, ia tak berani gegabah memegangnya. "Jika katak salju itu kukulum dalam mulut entah apakah dapat mengobati lukaku ?" pikirnya. Maka dengan hati2 sekali ia segera mengambil katak salju itu lalu pelahan-lahan dimasukkan kedalam mulut. Begitu masuk kedalam mulut, Gin Liong rasakan suatu hawa yang harum menebar dalam mulutnya, ia menelan hamburan air dari tubuh katak salju itu, seketika dadanya terasa hangat dan rasa sakitpun hilang. Gin Liong terkejut. Tak pernah ia menyangka bahwa hawa katak salju itu dapat menebarkan khasiatnya sedemikian cepat sekali, Hawa hangat itu cepat menyalur keseluruh anggauta tubuhnya, Tetapi iapun merasa ingin tidur sedemikian keras rasa kantuk itu sehingga ia pejam mata dan tertidur. Entah selang berapa lama, ketika bangun Gin Liong melihat kabut sudah menipis. Cuaca gelap, dilangit penuh bertaburan bintang kemintang. Tiba2 ia teringat akan katak salju yang dikulum dalam mulut tadi. "Hai. kemanakah katak salju itu ?" serunya terkejut seraya mencabut golok emas dan duduk.

"Bum...." tiba2 salju yang dipijaknya berhamburan hancur sehingga ia terjerumus meluncur ke bawah. Kejut Gin Liong bukan kepalang, Dengan menggembor keras ia gunakan jurus Burung-rajawali-hinggap-didahan. Kepala berjungkir kebawah, kaki diatas. Dia terus meluncur kesamping sebuah sebatang pohon siong, Kurang satu tombak dari pohon siong itu, ia menekuk kedua kaki dan melintang tangan. Dengan gaya itu berhasillah ia menginjak dahan pohon dengan sekali sehingga tak menimbulkan suatu getaran pada dahan pohon. Setelah menghapus keringat dingin dan menenangkan pikiran, ia mulai teringat akan katak salju. Kemanakah gerangan katak itu?. Apakah binatang itu meluncur kedalam perutnya atau ketika ia tertidur, binatang itu meluncur keluar dan mulutnya. Ah, aneh benar. Memandang keatas, karang es tadi sudah tak tampak lagi, Sedang ketika memandang kebawah, ternyata dia masih memegang golok emas tadi. Golok emas itu segera mengingatkan dia akan peristiwa kematian suhunya. Pikiran untuk mencari katak salju segera hapus dan saat itu ia hanya memikirkan bagaimana mengejar jejak Ban Hong Liong-li untuk menanyakan siapa pembunuh suhunya. Cepat disimpannya golok emas itu lalu ia ayunkan tubuh meluncur ke bawah, Dibawah dasar lembah itu terdapat banyak pohon siong dan tumbuh-tumbuhan rotan, Dengan ketangkasan macam seekor kera, ia berpindah dari satu kelain pohon dengan cepat sekali, Akhirnya berhasillah ia tiba di kaki puncak.

Hentikan langkah memandang keempat penjuru, dilihatnya lembah yang penuh salju itu masih berkilaukilauan memancarkan cahaya putih mengkilik. Setelah puas memandang, ia segera menentukan arah menuju ke barat daya, ia memutuskan untuk menempuh perjalanan siang dan malam agar cepat dapat menyusul Ban Hong Liong-li. Entah berapa banyak lembah dan jurang, gunung dan hutan yang telah dilintasinya dengan cepat. Setelah lari beberapa waktu, ketegangan hatinyapun mulai mengendap. Serempak banyak persoalan yang memenuhi benaknya... Bagaimana peristiwa pembunuhan suhunya itu sampai terjadi ? Apakah didalam kuil atau didalam kamarnya atau di guha Kiu-kiok-tong ? Yang mampu membunuh suhunya tentu seorang yang tinggi kepandaiannya dan ilmu ginkangnya tentu amat sempurna. Tetapi siapakah pembunuh itu ? Dan lagi, mengapa sam-susiokcou atau paman kakek guru yang ketiga juga tak tampak pada pemakaman di lapangan Ka-lok-jang ? Ataukah orang tua itu juga dicelakai orang ? Tetapi mengapa di makam Ki-lok-jang hanya didirikan sebuah makam baru untuk suhunya. Mengapa tidak didirikan lagi sebuah makam untuk paman kakek gurunya yang ketiga ? Seketika timbul rasa sesal mengapa ia tak minta keterangan dulu kepada paman kakek guru yang kedua.

Bagaimana keadaan suhunya ketika berada dalam guha tempo hari ? Kawanan Ma Toa-kong itu kemana saja perginya? Dan siapakah wanita Biau yang mati dalam guha itu ? Sesungguhnya ia ingin pulang ke kuil untuk minta keterangan kepada suhunya, Tetapi ternyata suhunya telah dibunuh orang, lalu satunya orang yang dapat memberi keterangan hanialah Ban Hong Liong-li. Dia tak percaya kalau Ban Hong Liong-li yang membunuh suhunya, Tetapi Ban Hong Liong-li tentu tahu tentang golok emas itu dan siapa pemiliknya... Teringat akan kematian suhunya, hati Gin Liong makin tegang dan ingin sekali lekas2 menyusul Ban Hong Liong-li. Dia ingin berteriak sekuat-kuatnya tetapi ia kuatir Ban Hong Liong-li sudah berada seratusan li jauhnya. Setelah melintasi beberapa puncak gunung salju dan beberapa hutan belantara, iapun berpaling kebelakang, puncak Hwe-sian-hong tampak tegak menjulang ke langit dengan megah dan perkasa. Teringat juga ia bahwa pada saat itu tentulah paderi kuil Leng-hun-si sudah tidur. Sedang paman kakek guru yang ke-dua mungkin masih mondar mandir di halaman kuil. Sumoaynya yang bertubuh lemah tentu akan berduka sekali apabila mengetahui suhunya telah terbunuh dan dia (Gin Liong) sedang melakukan pengejaran kepada Ban Hong Liong-li. Ah, apabila teringat akan hal itu, berlinang-linanglah airmata Gin Liong, Dia tak mau mengingat hal itu, tak mau.

Sekonyong-konyong pandang matanya gelap dan angin dingin berhembus. Ketika memandang ke depan ternyata dia harus melintasi sebuah hutan pohon siong lagi. Menghampiri hutan itu tiba2 hatinya tergetar, hentikan langkah dan terlongong. Memperhatikan dengan seksama, tampak dalam hutan pohon siong yang pendek tumbuhnya, terdapat sebuah rumah pondok kecil. Pondok itu memancarkan sinar penerangan yang terang. Kemudian ia melihat pula ditengah hutan pohon siong itu terdapat dinding rumah yang puing runtuhan dinding, Diatas tanah masih bertebaran kutungan ranting pohon. Heran Gin Liong di buatnya. Mengapa ditempat hutan belantara yang jarang dijelajah manusia, terdapat sebuah rumah pondok kecil yang memancarkan sinar penerangan terang sekali. Melongok dari jendela, penerangan api itu mantap sekali, sedikitpun tidak bergoyang-goyang. Rupanya tentu bukan dari lampu atau lilin. Didalam ruang pondok, sunyi senyap tiada kedengaran suara apa2. Timbullah keinginan tahu dalam hati Gin Liong, Setelah melengkapi kedua tangan dengan saluran tenaga dalam, pelahan2 segera ia ayunkan langkah menghampiri. Kerucuk . . . . terdengar suara macam orang meneguk air, Suara itu memancar diri samping Gin Liong. Dengan terkejut Gin Liong berputar tubuh seraya luruskan kedua tangan kemuka dada. Dan serempak pandang matanya mengeliat kearah suara orang minum air tadi, seketika ia hampir memetik kaget. Dibawah sebatang pohon siong yang tak berapa tinggi lebih kurang terpisah beberapa meter dari tempat ia berdiri seorang pengemis tua tampak duduk sembari minum arak.

Dia mengenakan pakaian yang kumal, rambutnya putih, pipi kempot dan tubuh kurus kering seperti tulang terbungkus kulit, sepasang mata yang berbentuk segitiga, memancarkan sinar yang berkilat-kilat tajam, sepasang tangannya yang kotor tengah mencekal sebuah buli2 arak yang besar, selesai minum seteguk, bau arak yang harum segera berhamburan dibawa angin ke empat penjuru. Sudah tentu Gin Liong tak pernah menyangka bahwa ditempat yang sesunyi itu terdapat seorang pengemis tua. seketika teganglah hati pemuda itu. Diam2 diapun bersiapsiap untuk menghadapi setiap gerakan pengemis tua yang akan mencelakai dirinya. Setelah minum seteguk, pengemis yang kakinya telanjang tak bersepatu itu, menyumbat kembali mulut buli2 arak. Sambil setengah pejamkan kedua matanya, tangannya menggosok-gosok kotoran busuk yang melekat pada sela2 jari kakinya, sedikitpun dia tak mengacuhkan Gin Liong yang berada dihadapannya. Melihat pengemis itu bertelanjang kaki mampu menempuh tempat yang penuh bertutup salju dingin, timbullah dugaan Gin Liong bahwa pengemis itu tentu memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi. Tiba2 ia teringat akan urusannya mengejar Ban Hong Liong-li, maka segera Gin Liong hendak berputar tubuh tinggalkan tempat itu. ia tak mau menunda waktu hanya karena ingin mengetahui siapa pengemis tua itu. Tetapi baru ia berputar tubuh, kejutnya makin besar sehingga ia sampai menyurut mundur dua langkah. Pada bayangan gelap dari ujung dari sisa puing2 tembok rumah pondok itu, lebih kurang hanya setombak jauhnya dari tempat ia berdiri, tampak menggunduk sebuah bayangan hitam yang bulat bentuknya.

Setelah tenangkan ketegangan hati dan memandang dengan seksama, barulah Gin Liong mengetahui bahwa gunduk bayangan hitam itu bukan lain adalah seorang paderi bertubuh gemuk, telinga besar, mulut persegi, hidung mekar, mata besar dan kepala bundar seperti kepala harimau. Paderi gemuk itu tengah duduk bersila, Kain jubahnya yang berwarna kelabu telah menutup kedua kakinya, sepasang matanya, berkilat2 memandang Gin Liong dengan sorot yang dingin. Tetapi Gin Liong mempunyai kesan bahwa walaupun tampaknya paderi itu menyeramkan sekali tetapi dari sorot matanya, jelas tak mengandung maksud jahat kepadanya. Sebagai gantinya, kini timbullah rasa heran dalam hati Gin Liong mengapa ia bertemu dengan seorang pengemis dan seorang paderi yang pada waktu tengah malam buta, duduk ditempat hutan belantara yang sedemikian sunyi senyap. "Adakah kedua orang itu tengah mengadu kesaktian ditempat ini ?" diam2 timbul pertanyaan dalam hati Gin Liong, iapun menduga bahwa salah satu dari kedua orang itu mungkin pemilik dari rumah pondok itu. Memikirkan rumah pondok, tanpa terasa matanyapun beralih mencurah ke sebelah muka. Dilihatnya bahwa penerangan benderang yang menembus keluar dari jendela rumah pondok itu, kini berhias dengan warna kabut yang lemah. Makin terperanjatlah hati Gin Liong, "Adakah didalam rumah pondok itu terdapat suatu benda pusaka ?" pikirnya. Teringat akan soal benda pusaka, segera ia menduga bahwa jika benar demikian, tentu disekitar rumah pondok

itu akan terdapat beberapa orang lagi, Bukan hanya paderi gemuk dan pengemis tua itu saja. Untuk membuktikan dugaannya, iapun segera keliarkan pandang matanya kesekeliling sekitar rumah pondok. Dan dugaannya memang benar, Pertama-tama dia segera melihat seorang nenek tua yang buta kedua matanya. Nenek buta itu mengenakan baju dari kain blacu, panjang sampai menutupi kedua lututnya, celananya terlampau besar bagi kedua kakinya yang kecil, Nenek itu memegang sebatang tongkat Thiat-ho-ciang atau tongkat yang tangkai menyerupai bentuk burung bangau, terbuat daripada besi. Warnanya hitam mengkilap. Nenek itu berdiri diam dibawah tembok rumah pondok yang sudah separoh rubuh. Lalu dibawah sebatang pohon siong yang aneh bentuknya dan tumbuh kira2 lima tombak dari rumah pondok itu, tampak pula seorang lelaki berumur sekitar 40an tahun. Dia memakai kopiah kulit warna hitam dan mantel kulit yang masih berbulu. Mukanya penuh dengan brewok, Tubuhnya yang tinggi besar, tengah disandarkan pada pohon siong itu. Diapun setengah memejamkan mata, mulutnya yang agak perot, menimbulkan kesan yang menyeramkan orang, Sinar matanya berkilat-kilat mencurah pada Gin Liong. "Masih ada pula beberapa orang lagi, Tetapi karena bersembunyi dibalik pohon yang gelap, sukarlah untuk mengetahui bagaimana wajah mereka yang jelas. Makin meningkatlah keheranan Gin Liong. Gerangan benda apakah yang berada dalam rumah pondok itu sehingga mengundang kedatangan sekian banyak orang2 persilatan kesitu.

Mau tak mau timbul juga rasa ingin tahu dalam hati Gin Liong. Sejak turun gunung, memang belum pernah Gin Liong berkelana dalam dunia persilatan. Dan sudah tentu pula ia tak bagaimana berbahayanya suasana dunia persilatan itu. Ia menurutkan suara hatinya saja, Apa yang diinginkan terus dikenakannya saja, Maka setelah bersiap-siap mengeluarkan tenaga-dalam ke lengan dan menenangkan semangat, dengan langkah pelahan segera ia menuju ke rumah pondok itu. Tindakan Gin Liong cepat menimbulkan suara berisik di empat penjuru sekelilingnya. Suara berisik yang berhadapan rasa takut. entah berapa puluh pasang mata, pun mencurah ruah kepada dirinya. Bahkan dengan serempak pula, paderi gemuk, pengemis kurus dan lelaki tinggi besar serta nenek buta itu mulai menggerakkan tubuh mereka. Dua kemungkinan menyebabkan mereka mulai bergerak itu. Pertama, mereka gelisah karena tindakan Gin Liong hendak menghampiri rumah pondok itu. Kedua, terkejut karena melihat ilmu kepandaian Gin Liong yang sedemikian hebatnya. Gin Liongpun mendengar "juga" akan suara berisik bernada terkejut itu. Demikian pula iapun dapat memperhatikan betapa dirinya telah dipandang dengan sorot mata heran2 kejut dari orang2 yang bersembunyi ditempat gelap itu. Makin keras dugaan Gin Liong bahwa dalam rumah pondok itu tentu terdapat sesuatu yang berbahaya. Tetapi setitikpun ia tak menyadari bahwa langkah kakinya pada tanah bertutup salju ditempat itu, hanya

meninggalkan bekas2 telapak yang hampir tak kelihatan. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu ginkang tinggi. Namun Gin Liong tak mengacuhkan, sambil siapkan kedua tangan, ia lanjutkan langkahnya menuju ke rumah pondok itu, Langkah kakinya sedikitpun tak menimbulkan suara apa2. Suasana sekeliling tempat itu sunyi senyap, tiada tampak suatu gerak yang mencurigakan yang hendak merintangi langkah Gin Liong. Lelaki muka brewok, tidak lagi sandarkan diri pada batang pohon tetapi sudah berdiri tegak, Nenek buta miringkan kepala hendak mencurahkan pendengarannya. Pengemis kurus dan paderi gemuk sama menyalangkan mata kejut memandang kearah Gin Liong. Keheranan Gin Liong makin besar dan makin keras keinginannya untuk menghampiri rumah pondok dan melihat apakah yang sesungguh berada dalam rumah itu. Setelah melintasi sebuah runtuhan dinding tembok, tiba2 menggigillah hati Gin Liong dan serempak iapun hentikan langkah. Dengan pandang terkejut, perhatiannya mencurah kearah dua sosok benda hitam yang rebah terkapar di muka jendela. Dan ketika memandang dengan seksama, ternyata kedua sosok benda hitam itu adalah dua sosok mayat manusia, Yang sebelah kiri, mayat seorang lelaki tua berambut putih. Tubuhnya miring menghadap ke dalam rumah sehingga wajahnya tak kelihatan jelas. Sedang yang sebelah kanan, seorang imam tua bertubuh kurus kering, Alis mengernyit, mata mendelik dan mulut

menganga, wajahnya pucat kekuning-kuningan. Ujung mulutnya mengumur darah merah warna hitam. Keadaannya mengerikan sekali. Menilik bahwa kedua sosok mayat itu ditimbuni lapisan salju, tentulah mereka sudah mati pada beberapa hari yang lalu. Sekonyong-konyong dari samping kiri yang gelap, menghambur serangkum tawa dingin bernada mengejek. Gin Liong merasa bahwa tertawa mengejek itu ditujukan pada dirinya. seketika meluaplah kemarahannya, Dengan tegakkan kepala dan busungkan dada, ia segera melampaui kedua sosok mayat itu. langsung menuju kemuka jendela rumah pondok. Tempat2 gelap disekeliling penjuru rumah itu, tampak bayang2 hitam bergerak-gerak dan percikan sorot mata menghambur Rupanya mereka terkejut, menyaksikan keberanian anak muda itu sehingga mereka serempak berdiri tegak dari tempat persembunyiannya. Tiba di muka jendela dan melongok ke dalam ruang pondok, kembali hati Gin Liong bergoncang keras. Diatas sebuah ranjang batu yang berada dalam ruang pondok itu, duduk bersila dengan mata menunduk kebawah, seorang tua bertubuh kurus kering, dia mengenakan jubah warna hitam. Rambut orang tua itu kusut masai, kumisnya hanya beberapa lembar. Dibawah hidung yang tegak menjulang keatas bernaung sebuah mulut yang agak perot, pipinya yang kempot mengulum tawa dingin. Wajahnya dingin menakutkan, angkuh dan bengis.

Dimuka ranjang orang tua itu, terdapat sebuah meja kecil yang diberi sebuah cermin bundar sebesar piring nasi, Ternyata penerangan yang memancar ke luar jendela itu, berasal dari kaca cermin tersebut. Gin Liong memperhatikan cermin itu, sinarnya menyilaukan mata, silang gemilang sekali, ia tak tahu apakah cermin itu terbuat daripada tembaga gosok atau perak ataukah air raksa. Meja kecil itu terpisah dua meter dari tempat Gin Liong berdiri, Asal ulurkan tangan, ia tentu dapat meraih cermin aneh itu. Walaupun merasa heran tetapi setitikpun Gin Liong tak mempunyai keinginan untuk mengambil nya. Kemudian memperhatikan orang tua kurus itu, Gin Liong mengerut dahi, orang tua itu seperti sebuah patung yang tak bernyawa, sedikitpun tak bergerak, Bahkan napasnya pun tak terdengar. Melihat itu diam2 Gin Liong menghela napas rawan. "Ah orang tua itu sudah tak bernyawa," katanya dalam hati. Sekonyong-konyong kedua kelopak mata orang tua itu pelahan-lahan terbuka, Gin Liong terkejut sekali sehingga menyurut mundur setengah langkah. Gerakan menyurut mundur dari Gin Liong disambut dengan beberapa pekik kejut tertahan dari tokoh2 yang bersembunyi disekeliling pondok itu. Dengan sorot mata yang lembut, orang tua kurus itu memandang sejenak kepada Gin Liong lalu pejamkan matanya lagi. Tatapan pandang mata orang tua itu, menghilangkan rasa takut Gin Liong. Kecemasannyapun lenyap.

Gin Liongpun sempat pula menyambar kesan bahwa pada wajah orang tua yang sedingin es itu ternyata memancarkan sinar mata yang penuh welas asih. Dan saat itu Gin Liongpun menyimpulkan dugaan bahwa orang2 yang mengepung secara bersembunyi di sekeliling rumah pondok itu tentulah kawanan orang persilatan yang tamak, yang rakus untuk memburu keuntungan jelas mereka tentu mengatur siasat hendak merampas kaca cermin yang terletak diatas meja dihadapan orang tua itu. Menilik kedua mayat yang terkapar di depan jendela itu, Gin Liong menduga bahwa orang tua dalam pondok itu tentu seorang sakti. Hal itu makin diperkuat dengan kenyataan bahwa orang2 persilatan yang mengepung pondok itu tak berani gegabah mendekati rumah pondok tersebut. Siapakah gerangan orang tua itu. Gin Liong menggali ingatannya, tetapi sepanjang yang diketahuinya, diantara sekian banyak orang2 aneh yang sakti dalam dunia persilatan seperti yang dituturkan suhunya, rasanya tiada terdapat orang tua kurus seperti yang berada dalam pondok itu. Walaupun tak tahu apakah khasiat dari kaca didepan orang tua itu, namun Gin Liong berani memastikan tentulah kaca itu sebuah pusaka yang tak ternilai harganya, jika tidak demikian masakan sampai menggerakkan perhatian sekian banyak tokoh2 persilatan ? Serentak timbullah rasa muak terhadap orang2 persilatan yang berada disekeliling rumah pondok itu. Serentak Gin Liong berputar tubuh untuk mengamati dengan seksama orang2 yang mengepung pondok itu.

Diam2 ia darat menghitung bahwa mereka itu tak kurang dari dua puluh orang jumlahnya. Tiba-tiba timbul keputusan dalam hati Gin Liong, Karena dia tak mempunyai selera untuk merampas kaca dan tak perlu membantu orang tua menghadapi kawanan orang persilatan itu maka lebih baik ia cepat2 tinggalkan tempat itu saja. Setelah berpaling memandang sejenak kearah orang tua dalam ruang pondok, iapun segera pesatkan langkah menuju keluar hutan. Tiba2 dari belakang terdengar suara orang membentak : "Kembali !" Gin Liong terkejut. Dia tahu yang dipanggil itu adalah dirinya, Serentak ia berhenti. Dilihatnya wanita tua buta itu tengah menghadap kearahnya. Kedua kelopak matanya membalik sehingga tampak biji matanya yang keputihputihan tengah menengadah memandang ke langit. Rupanya dia tengah mencurahkan pendengaran. Pengemis kurus, paderi gemuk dan lelaki brewok serta beberapa orang yang bersembunyi di kegelapan itu, tampak tertawa menyeringai dan memandang nenek buta itu. Rupanya bukan gerak gerik Gin liong yang hendak didengarkan nenek buta, Tongkat kepala burung hong yang dipegangnya, tiba2 digentakkan ke tanah dan berserulah ia sekeras-kerasnya: "Kusuruh engkau kembali, dengar tidak !" Melihat wajah nenek buta itu tampak membengis dan galak, diam2 Gin Liong tak senang, Tetapi mengingat nenek itu sudah berusia tua dan kedua matanya buta, maka iapun bersikap sabar.

"Nenek, apakah engkau memanggil aku ?" tegurnya. Rupanya nenek buta itu tahu bahwa dari nada suaranya, Gin Liong itu seorang pemuda. Tiba2 wajah nenek yang membengis itu tampak reda, Setelah sejenak tertegun, ia berkata pula: "Ya, memang kusuruh engkau kembali !" "Nenek mempunyai keperluan apa kepadaku?" tanya Gin Liong dengan nada ramah. Mendengar nada perkataan Gin Liong seperti enggan kembali, nenek itu berseru marah lagi: "Kusuruh engkau kembali, engkau harus kembali, perlu apa banyak tanya !" Kata2 yang kasar itu tak dapat diterima lagi oleh Gin Liong. ia tak kuasa menahan kemarahannya. "Kalau mau bilang apa2, bilang saja, Perlu apa harus suruh aku kembali !" Wajah nenek buta itu seketika berobah. Matanya yang buta seperti berkilat-kilat dan tubuhnya gemetar keras karena marah. ia tertawa dingin tak henti-hentinya. Gin Liong menyadari bahwa tiada gunanya untuk cari perkara dengan nenek buta buruk muka itu. Dengan mendengus geram ia terus berputar tubuh hendak pergi. Tetapi baru berputar tubuh, tiba2 nenek buta itu membentaknya: "Budak, berhenti !" Seiring dengan teriakannya itu. tubuh nenek tua yang buta itu sudah melayang kehadapan Gin liong. Gin Liong terkejut sekali. Cepat ia berhenti, ia tak menyangka bahwa nenek buta itu ternyata mahir dalam ilmu Thing-hong-pian-wi atau Mendengar-angin-

menentukan-tempat. Bukan saja menguasainya dengan hebat sekali.

mahir tetapi dapat

Tetapi Gin Liong tetap tak puas atau sikap si nenek yang begitu garang dan tak memandang orang, Maka Gin Liongpun kerutkan alis dan menegur: "Tanpa sebab apa2, mengapa engkau menghadang jalanku ?" Sambil tudingkan ujung tongkat ke rumah pondok, nenek buta itu memberi perintah: "Ambilkan cermin kaca dalam pondok itu !" "Hak apa engkau hendak memerintah aku ?" teriak Gin Liong marah sekali. Nenek buta itu deliki mata dan membentak bengis: "Kalau tidak mengambilkan kaca itu, serahkan jiwamu !" Nenek itu menutup kata-katanya dengan menyabat pinggang Gin Liong. Sabetannya secepat angin menderu, sederas hujan mencurah. Gin liong mendengus geram, Dengan bergeliatan tubuh iapun sudah menyelinap ke belakang nenek buta itu. "Tetapi nenek buta itu seperti mempunyai mata terang. Sebelum kaki Gin liong tegak dibelakangnya, secepat kilat iapun sudah berputar tubuh seraya menghantamkan tongkatnya kepada Gin Liong. Gerakan nenek dan tongkatnya itu benar2 mengejutkan sekali, Cepat, ganas dan dahsyat. Gin Liong benar2 terkejut sekali, Cepat ia gunakan tatalangkah Liong-Li-biau ajaran Ban Hong Liong-li untuk meluncur tiga tombak jauhnya.

Tetapi nenek buta itu memang lihay sekali, secepat menarik pulang tongkatnya ia terus membentak: "Hai, hendak lari kemana engkau budak !" Oh-liong-juttong atau Naga-hitam-ke-luar-sarang, adalah jurus yang digunakan si nenek buta untuk mengiringkan gerakan tubuhnya yang menerjang Gin Liong. "Berhenti !" tiba2 terdengar suara orang membentak nyaring, sesosok tubuh melayang dan lelaki bermuka brewok itupun sudah melayang tiba. Nenek itu bergegas menarik tongkatnya, ia deliki mata kearah pendatang itu: "Brewok, engkau hendak menganggu urusanku lagi ?" Tongkat kepala burung ho diangkat keatas lalu dengan jurus Thay-san-ya-ting atau gunung-Thaysan-menindihpuncak, ia menghantam kepala lelaki brewok itu. Gin Liong yang berada tiga tombak dari tempat kedua orang itu, kerutkan dahi, ia merasa nenek buta itu terlalu buas, tiap orang hendak dihajarnya. Lelaki brewok menyurut mundur dan berseru marah: "Nenek buta, siapa yang sudi mengurusi urusanmu. Aku hendak bertanya kepada budak kecil itu..." Nenek buta hanya mendengus. Tanpa menunggu orang selesai bicara, ia segera putar tongkatnya dan menyerang lelaki brewok itu lagi. "Biarpun engkau hendak berputar lidah memberi seribu alasan tetapi aku tetap tak percaya !" serunya. "Nenek buta, jangan andalkan kepandaianmu untuk menindas orang, Aku si Brewok terbang Li Tek-gui tak takut pada siapapun juga !"

Habis berkata ia gerakkan kedua tangannya menyerang nenek buta itu. Nenek buta itu memperdengarkan tertawa aneh dan tak henti-hentinya menggeram: "Bagus, bagus, hendak kusuruh engkau si Brewokterbang kenal akan kelihayanku." Tiba2 gerakan tongkatnya berobah, Batang tongkat yang berwarna hitam mengkilap malang melintang menyambarnyambar seperti petir memecah angkasa. Brewok-terbang Li Tek-gui tak mau mengalah, ia maju menyerang seraya memekik-mekik. Makin lama makin gencar serangannya. "Hai, budak, apakah engkau hendak ngacir pergi ?" tiba2 dari tempat gelap terdengar seruan orang. Gin Liong tenang2 mengikuti pertempuran itu. Dia tak tahu, kepada siapakah orang itu menegurnya, Segera ia keliarkan pandang mata kian kemari. "Ah... ternyata nenek buta itu dengan melengking keras, menyerangnya. Karena terkejut, Gin Liong menyurut mundur setengah langkah. Telinga nenek buta itu memang luar biasa tajamnya, walaupun sedang bertempur tetapi ia masih dapat menangkap langkah kaki Gin Liong. Tahu bahwa pemuda itu hanya mundur setengah langkah, nenek buta itu menyadari kalau ia telah tertipu oleh si Brewok-terbang. Karena marahnya, tubuh nenek buta itu sampai gemetar keras. Bluk, ia hantamkan tongkat burung hong ke tanah lalu berseru keras:

"Hai, kawanan tikus manakah yang berseru tadi ? engkau berani mengacau ?" Nenek buta itu menengadahkan kepala, memasang telinga, siap untuk menyerbu orang yang berseru tadi. Tetapi sekeliling penjuru sunyi senyap tiada suara sama sekali. Saat itu Gin Liongpun menyadari bahwa seruan itu ternyata ditujukan pada dirinya, Marahlah dia seketika. Segera ia curahkan pandang mata kearah suara tadi. Tampak di tempat itu beberapa sosok bayangan manusia tegak dengan mata berkilat-kilat, Entah siapakah diantara mereka yang berseru tadi. Sekonyong-konyong dari arah tiga tombak jauhnya terdengar suara orang tertawa gelak2. Nadanya amat menghina. Cepat Gin Liong memandangnya, Tampak Li Tek-gui merentang kedua tangan, menengadahkan kepala dan tertawa keras, sehingga janggutnya yang penuh brewok itu ikut berguncang2. Entah mengapa dia begitu gembira sekali. Nenek buta berputar tubuh, deliki mata seraya lintangkan tongkat burung hong ke muka dada, serunya: "Brewok-terbang, jangan gembira dulu. Pada suatu hari aku tentu akan mencabut jiwamu anjing itu !" Nenek itu kerutkan alis dan membalikkan kelopak mata, Gerahamnya menggemerutuk keras tetapi dia tak melakukan gerakan menyerang, Rupanya ia lebih kuatir kalau Gin Liong sampai pergi. Brewok-terbang Li Tek-gui hentikan tawanya lalu berseru dengan nada sarat:

"Nenek buta, aku menertawakan ilmu pendengaranmu yang begitu tinggi tiada tandingnya dalam dunia persilatan Sekali bertempur dengan orang, engkau tentu segera mengerti akan jurus permainan lawanmu. Pada hal gerakan tubuh dari budak kecil yang hendak engkau tahan itu, adalah ajaran dari musuh bebuyutanmu, wanita hina Ban Hong Liong-li. "Tutup mulutmu !" seketika Gin Liong membentak marah dan terus secepat kilat menerjang Brewok terbang Li Tek-gui. Pada saat Gin Liong menyerbu Li Tek-gui, si nenek butapun meraung dan menyapu tubuh pemuda itu dengan tongkatnya. Gin Liong belum sempat berdiri tegak. Terpaksa ia berlincahan menghindar dan berputar tubuh, setelah menghindari tongkat sinenek buta, ia lanjutkan serangannya kepada Li Tek-gui. Tongkatnya menghantam angin, si nenek buta itu tertegun kaget, beberapa sosok bayangan, berhamburan keluar dari tempat persembunyiannya, Mereka berteriak kaget juga. Melihat pemuda itu dapat menghindari tongkat nenek buta dan terus menyerbu kepadanya, Li Tek-gui gugup. Pada saat loncat menerjang itu. Gin Liong segera mengangkat tinjunya, menghantam kearah Li Tek-gui hendak menghindar Tetapi pada saat itu juga, terdengarlah kesiur angin mendesing kearah muka Gin Liong. Gin Liong mendengus geram, Selekas mengisar langkah kesamping ia terus menghantam tangan kanan Li Tek-gui

dan tahu2 jarinyapun bergerak untuk menjepit senjata rahasia yang hendak menabur ke mukanya itu. Ah, ternyata senjata rahasia itu sebatang Liu-yap-hui-to atau golok terbang setipis daun Liu. Dan golok tipis itu dilumuri pula dengan racun. Cepat ia mengangkat muka memandang ke arah tempat gelap yang menjadi tempat bersembunyi orang yang bicara tadi, Tampak sesosok tubuh orang sedang membungkuk ke tanah. Gin Liong kerutkan dahi, ia duga tentu orang itu yang melepas senjata rahasia beracun kepadanya. Ada ubi ada talas. Ada budi harus dibalas. Setelah mengerahkan tenaga-dalam, segera pemuda itu taburkan Liu-yap hui-to kembali kepada pemiliknya. Pada lain saat terdengarlah jeritan ngeri dari tempat persembunyian gelap itu. Nadanya sama dengan suara orang yang bicara tadi, Gin Liong terkesiap. Hampir ia tak percaya bahwa golok Liu-yap-hui-to yang setipis itu, dapat ia lontarkan dengan kekuatan yang sedemikian dahsyatnya. Sosok2 bayangan hitam yang bersembunyi ditempat gelap, hening lelap tiada suaranya, rupanya mereka kesima menyaksikan kepandaian Gin Liong. Tiba2 Li Tek-gui melangkah maju dan dengan menggembor keras ia terus menghantam Gin Liong yang masih termangu-mangu itu. Serangan itu dilakukan tak terduga-duga dan jaraknya amat dekat. Pada saat Gin Liong menyadari bahaya, ternyata pukulan sudah tiba dimuka dadanya.

Dalam gugup, pemuda itu terus buang tubuh melayang mundur sampai tiga tombak dan berada dimuka segunduk runtuhan tembok. Baru kakinya berdiri tegak, dari sudut tembok itu muncul seseorang dan segera menghantam tengkuk anak muda itu. Gin Liong marah sekali, masakan dia selalu diserang secara menggelap, seketika hawa pembunuhan segera tampil pada dahinya. Dengan menggembor keras, ia berputar-putar deras dan ayunkan tangan menghantam. Orang itu menjerit dan muntah darah, pukulan Gin Liong tepat mendarat pada punggung orang itu sehingga dia rubuh dan berguling-guling sampai dua tombak jauhnya. Setelah muntah darah lagi, dia menggelepar-gelepar meregang jiwa. Pada saat orang itu terguling-guling, Brewok-terbang Li Tek-guipun sudah loncat ke muka Gin Liong, Dengan diiringi gemboran keras, ia hantamkan kedua tangannya, Anginnya dahsyat sekali. Karena sudah terlanjur membunuh orang, kesadaran Gin Liongpun sudah hilang, Dengan menggeram marah, diapun songsongkan kedua tangannya yang telah disaluri tenaga penuh. Darrr . . . . Terdengar letupan keras, Puing2 tembok beterbangan keempat penjuru, saljupun berhamburan ke udara. Sekeliling tempat gelap, sosok2 bayangan hitam bergerak-gerak mundur dengan mengeluarkan teriakan kejut.

Bahkan pengemis kurus, paderi gemuk yang selama itu tetap duduk dibawah pohon di sudut tembok juga terkejut dan mundur sampai tiga tombak. Tubuh Li Tek-gui yang tinggi besar, terbang melayang kearah nenek buta yang berada lima tombak jauhnya. Kembali Gin Liong tertegun. Seketika ia teringat akan peristiwa di guha Kiu-kiok-kiong dimana dengan sekali dorongkan kedua tangannya ia berhasil melemparkan Okwi-tho Go Ceng paderi yang jahat itu kedalam jurang. Demikian pula pada saat itu, ia memandang hampir tak percaya kepada tubuh Li Tek-gui yang terlempar karena pukulannya tadi. Adakah sekarang ia memiliki tenaga yang luar biasa saktinya ? Tampak nenek buta deliki mata dan wajahnya berobah membesi. "Kawanan tikus, engkau hendak mencelakai aku lagi !" bentaknya bengis, seraya ayunkan tongkatnya ke tubuh Li Tek-gui. "Bluk..." Seketika menjeritlah Li Tek-gui ngeri sekali, Tubuhnya yang besar itupun terbanting sekeras-kerasnya ke tanah. Mendengar jeritan ngeri dari Li Tek-gui itu, nenek buta segera perdengarkan suara lengking tawa yang aneh. Menusuk telinga dan menyeramkan perasaan. Ketika memandang ke arah pohon, Gin Liong memperhatikan bahwa pengemis kurus, paderi gemuk dan sosok2 bayangan yang bersembunyi ditempat gelap itu menahan napas dan memandang nenek buta.

Mereka terkejut dan ngeri, jelas mereka mendapat kesan bahwa nenek buta itu seorang nenek yang sakti tetapi amat ganas. Berhenti tertawa, nenek buta itu menengadahkan mukanya yang buruk dan balikkan matanya yang putih lalu mengekeh: "Heh, heh, Brewok-terbang, akhirnya dapat juga kucabut jiwamu !" Gin Liong hanya memandang tingkah laku nenek buta itu dengan kerutkan alis, Tiba2 terdengar ayam hutan berkokok sahut menyahut Gin Liong gelagapan. Dia menyadari kalau sudah terlalu lama tertunda ditempat itu. Dia harus lekas2 pergi. Sekali enjot tubuh, Gin Liongpun terus lari sekencang angin menuju keluar hutan, Tetapi nenek buta itu tiba2 melengking geram dan bagaikan segulung asap, iapun segera melayang menghadang jalan Gin Liong. "Siapa engkau !" bentaknya marah. Melihat nenek buta itu berkali-kali menghadang jalan, Gin Liongpun balas membentak keras: "Bukan urusanmu !" Nenek buta itu balikkan matanya yang putih lalu menggembor: "Ho, ternyata engkau tak mau mengambil kaca itu, jangan harap engkau dapat hidup lagi!" Gin Liong kerutkan alis, Hawa pembunuhan meluap dan berhamburan tawa geram: "Jangan lagi hanya seorang nenek buta seperti engkau. sekalipun sampai sepuluh nenek buta lagi, tak mungkin mampu menghalangi aku !"

"Budak kecil bermulut besar Jika tak kuberimu sedikit hajaran engkau tentu belum tahu rasa." seru nenek buta seraya memutar tongkat kepala burung hong bagaikan hujan mencurah ke pinggang Gin Liong. Wut, tiba2 Gin Liong tertawa keras dan melambung beberapa tombak ke udara, Begitu di udara, ia segera mencabut pedang pusaka Tanduk Naga, seketika memancarlah sinar merah yang gilang gemilang menyilaukan mata, Tanah berkabut itu seluas sepuluhan tombak berubah kemerah-merahan warnanya. Tempat2 gelap segera terang sehingga orang2 yang bersembunyi itu memekik kaget. Diantar dengan sebuah gemboran keras, Gin Liong memutar pedangnya dalam jurus Liong li-hui-hoa atau Puteri-naga-menebar-bunga. Begitu percikan sinar merah segera berhamburan menumpah ke kepala nenek buta. Nenek buta itu tak gentar bahkan menghambur suara tawa yang aneh, Rambutnya yang putih mengkilap meregang tegak, matanya yang putihpun membalik. Tongkat kepala burung hong segera pecah berhamburan menjadi beratus percik sinar, menyongsong curahan sinar pedang Gin Liong. Tring, tring, tring . . . . Terdengar dering gemerincing suara keras saling beradu beberapa kali, disusul dengan percik bunga api dan kutungan besi yang bertebaran kemana-mana. Kejut nenek buta itu bukan alang kepalang sehingga wajahnya seperti tak berdarah. Dengan memekik aneh ia menyurut mundur sampai tiga tombak. Gin Liong melayang turun ke tanah dan tegak berdiri lintangkan pedang, Dia tak mau mengejar.

Nenek buta itupun berdiri tegak, sepasang kelopak matanya yang putih membeliak: Tangannya menahan tangkai tongkatnya. Kepala burung-burungan hong sebesar kepalan tangan telah lenyap. Nenek buta itu gemetar marah sekali. "Budak hina. dengan mengandalkan pedang pusaka wanita hina itu engkau berani memapas senjataku." Mendengar Ban Hong Liong marah sekali: "Tutup mulutmu,!" bentaknya, "sekali lagi engkau berani menyebut "wanita hina", aku tak dapat mengampuni jiwamu lagi." Nenek buta itu menyeringai seram lalu melengking geram. "Budak hina yang sombong, aku akan mengadu jiwa dengan engkau !" Kata2 itu ditutup dengan putaran tongkat yang luar biasa cepat dan dahsyatnya menyerang Gin Liong. Gin Liong tak gentar, ia mainkan pedang Tanduk Naga untuk menyongsong. Dan terjadilah pertempuran yang amat seru antara Gin Liong dengan nenek buta itu. Gerakan kedua orang itu bagai sepasang ular yang bergeliatan menyusup kedalam air, senjata mereka menderu-deru bagai petir memecah angkasa. Angin sambaran senjata mereka berhamburan dalam lingkungan seluas sepuluh tombak. Sinar pedang Tanduk Naga memancarkan warna merah yang menyilaukan mata dan hawa dingin yang menusuk tulang. Sedang tongkatpun menderu-deru sedahsyat gunung rubuh.

Walaupun gerak permainan ilmu pedang Gin Liong itu sangat aneh tetapi pemuda itu tak mau dituduh merebut kemenangan karena mengandalkan pedang pusaka, ia hendak mengalahkan lawan dengan ilmu permainan, bukan dengan pedangnya. Tetapi karena itu, gerakannya terpancang dan sering dikuasai lawan. Nenek buta itu ternyata seorang tokoh yang sakti dan banyak pengalaman. Tongkat kepala burung hong, jarang mendapat tanding. Makin lama, malah makin perkasa. Dan karena sudah bertekad hendak mengadu jiwa, maka permainan tongkat nenek buta itu luar biasa dahsyatnya. Saat itu malam makin larut. Angin makin dingin dan kabutpun mulai bertebaran. Sayup2 ayam hutan berkokok sahut menyahut. Gin Liong mulai gelisah, Kalau ia terus menerus dilibat dalam pertempuran oleh nenek buta itu, tentu ia tak dapat cepat2 menyusul jejak Ban Hong Liong-li. Diam2 ia memutuskan untuk menggunakan ilmu pukulan Hoan-hun-ciang (Awan bayangan) Sebuah ilmu pukulan istimewa ajaran suhunya yang dahulu pernah mengangkat nama suhunya menjadi termasyhur. Dengan menggembor keras, mulailah ia menggunakan kedua tangannya, Tangan kanan memainkan pedang pusaka Tanduk Naga, tangan kiri melancarkan ilmu pukulan Hoan-hun-ciang. Telah disebut diatas bahwa nenek buta itu memang kaya akan pengalaman. Telinganya luar biasa tajamnya sehingga melebihi pandang mata. Dia seorang tokoh yang ganas dan tergolong aliran Hitam. Saat itu segera ia merasakan tekanan lawan makin berlipat ganda kerasnya, wajahnya berobah seketika.

Teringat ia akan Giok-bin-su-seng atau Pelajar-berwajahkumala Kiong Cu-hun. Pada saat ia hendak bertanya, tiba2 lawan menggembor keras dan seketika ia rasakan lengan kanannya kesemutan sakit sekali sehingga tongkat-pun tak dapat ia kuasai lagi, Tongkat itu terbang melayang dan tangannya. Sudah tentu nenek buta itu terkejut bukan kepalang, Dengan melengking keras, ia kebutkan kedua lengan bajunya seraya menyurut mundur sampai lima tombak. Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuh. Mengingat bahwa sekalipun buta tetapi nenek itu masih dapat meyakinkan ilmu kepandaian yang begitu sakti, diam2 Gin Liong merasa kagum dan sayang, Maka setelah dapat menghantam lepas tongkat, iapun tak mau menurunkan tangan jahat lagi. Sambil lintangkan pedang ia berseru lantang: "Mengingat usiamu sudah tua dan kedudukanmu sebagai seorang cianpwe persilatan kuharap persoalan kita ini habis sampai disini saja, Carilah tempat yang sunyi untuk melewatkan sisa hidup yang tenang, Sampai jumpa...!" Habis berkata ia terus melambung ke udara. Tetapi pada saat ia bergeliatan hendak meluncur keluar hutan, tiba2 kakinya disambar angin tajam dari senjata rahasia. Gin Liong terkejut cepat ia mementang kedua tangan, menekuk kedua kaki dan dengan gerak Te-hun-tong atau mendaki Tangga-awan, tubuhnya melambung dua tombak lagi ke atas. Begitu menunduk kebawah, ia terkejut lagi. Dari dua ranting pohon yang tumbuh di ujung runtuhan tembok, di lihatnya dua buah gerombolan senjata rahasia yang

mengkilap kebiru-biruan, meluncur ke arah nenek buta yang masih tegak terlongong-longong. Gin Liong seorang pemuda yang berhati perwira dan benci pada kejahatan. Dia marah orang hendak menyerang secara menggelap kepada nenek buta, sekalipun nenek buta itu benci kepadanya. Dengan menggembor keras, ia segera memutar pedang dan meluncur kebawah. Tetapi ternyata terlambat Ketika tiba di tanah, terdengar nenek buta itu menjerit ngeri dan rubuh berguling-guling ketanah. Sesaat kemudian, nenek buta itu tak berkutik lagi. Rupanya dia telah mati. Tepat Gin Liong lari menghampiri ketempat si nenek buta, Begitu memandang keadaan nenek buta itu, seketika menggigillah tubuh pemuda itu. Mayat si nenek buta penuh dengan taburan hui-to, gintan (peluru perak) yang tak terhitung jumlahnya. Hampir mayat nenek itu bersimbah darah semua. Gin Liong kerutkan alis, matanya memancarkan sinar kilat dingin. Mulutnya menyeringai marah. Sambil lintangkan pedang Tanduk Naga ia berseru lantang: "Siapa yang menggunakan kesempatan selagi nenek itu lengah perhatiannya, telah melepaskan senjata gelap ? silahkan keluar ! Aku Siau Gin liong, akan meminta pertanggungan jawab dari saudara2 itu !" Gin Liong memutar tubuh pelahan-lahan seraya sapukan pandang mata ke sekeliling penjuru. Tetapi empat penjuru tempat itu sunyi senyap, tiada penyahutan sama sekali.

Pengemis kurus tenang2 duduk di tanah sambil mencekal buli2 arak dan tangannya yang satu mengutik-utik lumpur dalam cela2 kakinya. sepasang matanya yang berbentuk segitiga, memandang tak berkesiap ke arah Gin Liong. Paderi gemukpun tetap duduk di tempatnya semula. Alisnya yang tebal mengerut, matanya yang bundar menyalang lebar. wajahnya mengerut kemarahan, memandang Gin Liong. Saat itu hari sudah menjelang terang tanah. Kabut malampun mulai menipis. Dari tempat2 yang gelap, memancar berpuluh sorot mata kepada pemuda itu. Kini tiada seorangpun yang menaruh perhatian ke rumah pondok itu. Melihat sikap pengemis dan paderi itu, marahlah Gin Liong. Segera ia maju menghampiri ke tempat mereka. Pengemis kurus itu berobah tegang wajahnya, Sepasang matanya berkilat-kilat tajam. Sedang paderi gemuk, matanya berkeliaran kian kemari. sikapnya amat tegang sekali. Gin Liong makin mencurigai kedua orang itu. Setelah tiba setombak dari tempat mereka, ia segera balikkan genggaman pedangnya, Memandang kepada kedua orang itu, ia sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat. "Taysu tentu mengikuti apa yang terjadi di tengah gelanggang, Kiranya tentu tahu siapakah yang telah membunuh nenek itu secara pengecut tadi !" Dengan wajah membesi, paderi itu gelengkan kepala, menyahut dengan nada sarat: "Pinceng tak memperhatikannya." Gin Liong menahan kemarahannya, ia tertawa dingin lalu berpaling kearah pengemis kurus, memberi hormat dan bertanya:

"Lo tui!"ko, mohon tanya, Karena terus "Lo-tian-be sejak tadi duduk disini. Tentulah tahu siapa penyerang pengecut itu ?" Sepasang mata segitiga dari pengemis kurus memandang lekat2 pada Gin Liong, ia tak menyahut melainkan gelengkan kepala laki pejamkan mata. Sikap pengemis itu benar2 hampir membuat dada Gin Liong meledak karena marah, ia hendak menghardik lagi tetapi sekonyong-konyong ia mendengar sebuah suara orang mendengus geram dari bawah pohon sebelah kiri. Tergerak hati Gin Liong seketika, Dengan gunakan gerak Liong-li-biau, tiba2 ia meluncur kearah tempat itu. Lima tombak jauhnya ditengah gerumbul pohon2 pendek, tampak membujur sesosok bayangan yang panjang. Setelah menghampiri dekat, Gin Liong berhenti dan memandang dengan seksama, Ah, seorang tojin atau imam yang berjubah kelabu, Hidungnya mancung, dahi lebar dan memelihara jenggot yang bagus, Dengan sepasang matanya yang bersinar terang, imam itu memberi kesan yang menyenangkan Mengundang rasa hormat orang. Gin Liong segera menyimpan pedangnya lalu memberi hormat: "Wanpwe Siau Gin Liong, mohon hendak bertanya kepada totiang. Apakah lotiang mengetahui orang yang telah melepaskan senjata gelap kepada nenek itu ?" Habis berkata kembali Gin Liong membungkuk tubuh memberi hormat, Tetapi ketika ia mengangkat muka dan memandang ke depan, kejutnya bukan kepalang. Imam jenggot indah itu sudah lenyap dari pandang mata.

Sebelum tahu apa yang telah terjadi, tiba2 dari arah belakang terdengar dua buah jeritan ngeri. Gin Liong cepat berputar tubuh. Cepat pandang matanya menuju kearah kearah pengemis kurus dan paderi gemuk tadi. ia segera menghampiri ke tempat mereka. Ketika mendekati, kejut Gin Liong seperti disambar petir. Pengemis kurus itu masih tetap duduk diam tetapi batang lehernya telah terbenam kedalam dada. Demikian pula dengan paderi gemuk, seolah-olah kepalanya melekat tanpa leher diatas bahunya. Keduanya masih menggenggam beberapa batang huito dan beberapa butir gin-tan. Gin Liong tegang sekali hatinya, jelas kedua orang itu telah dibunuh dengan tenaga-dalam yang sakti sekali. Cepat ia keliarkan matanya. Ternyata sinar penerangan dalam rumah pondok itu sudah padam. Tergetar hati Gin Liong. Cepat ia loncat ke-muka jendela dan melongok ke dalam, Ah, ternyata ruang pondok itu gelap gulita dan diatas tempat tidurpun tiada orang tua itu lagi. juga diatas meja, kaca cermin itupun sudah lenyap. Serta merta ia berpaling kebelakang, Ternyata sekeliling rumah pondok itu sudah tak tampak barang sesosok bayangan manusiapun jua. Hati Gin Liong setegang orang berpacu, Dia benar2 kesima mengalami peristiwa seaneh ini. Tiba2 terdengar siulan nyaring dan panjang, Kumandangnya bergema sampai ke awan, Makin lama makin dekat

Tetapi begitu menyusup ke telinga Gin Liong, pemuda itu girang sekali. Cepat ia melambung ke udara dan melontarkan pandang mata ke sekeliling penjuru. Pada padang salju yang jauhnya beberapa li, segunduk bayangan merah bergulung-gulung laksana segumpal awan merah, melintasi jalan di puncak gunung dan dengan pesat menuju ke tempat Gin Liong. Menyaksikan benda itu, girang Gin Liong bukan kepalang, ia tak menyangka sama sekali bahwa Ban Hong Liong-li akan kembali. Maka sambil bergeliatan di udara, ia segera berseru sekeras-kerasnya : "Lo - cianpwe, Liong.-ji berada disini . . . ." -ooo0dw0oooBab 3 Sepasang Iblis Mendengar teriakan Gin Liong, suitan nyaring itupun berhenti, Bayangan merah itu memancar sinar mata yang tajam ke arah Gin Liong. Dengan kecepatan laksana anak panah terlepas dari busur, bayangan merah itu terbang meluncur ke arah Gin Liong. Melihat bayangan merah yang disangka Ban Hong Liong-li itu lari menuju ke tempatnya, girang sekali hati Gin Liong. Diapun pesatkan larinya menyongsong. seraya acungkan tangan berseru keras2: "Lo-cianpwe ... lo-cianpwe . .. .!" Saat itu dia sudah masuk ke dalam sebuah lembah yang berkabut salju, Dalam kabut yang memenuhi seluruh

lembah itu, samar2 ia melihat beberapa sosok bayangan imam sedang lari keluar lembah. Menduga bahwa orang2 itu tentu habis dari rumah pondok tadi, Gin Liong tak mengacuhkan mereka dan terus lanjutkan larinya. Setelah melintasi lembah salju, kini ia berhadapan dengan sebuah karang es yang tingginya sampai belasan tombak. Karang es itu merentang panjang entah sampai berapa li. Setiba di muka karang es, Gin Liongpun segera enjot tubuh melambung ke udara, Berhenti sebentar untuk menjejakkan kakinya kebawah dan dengan meminjam tenaga jejakan itu tubuhnya melambung naik lagi. Dengan dua tiga kali gerakan itu, dapatlah ia mencapai puncak karang es. Ternyata permukaan karang es itu merupakan sebuah dataran es yang amat luas sekali. Dalam pada itu bayangan merah tadipun makin dekat kan dengan jelas ia dapat mendengarkan kibaran pakaiannya didebar angin. Tiba2 Gin Liong kendorkan laju larinya, ada sesuatu yang mencurigakan hatinya. Mau lari ke muka, kecurigaan Gin Liong itu berobah menjadi rasa kecewa, Serentak ia hentikan larinya. Jelas sudah baginya bahwa bayangan merah yang lari menghampiri itu, walaupun seorang wanita yang mengenakan pakaian orang persilatan dan menyandang mantel warna merah, tetapi dia bukan Ban Hong Liong-li. Pada punggung wanita baju merah itu menonjol tangkai pedang berpita merah, sepasang sepatunyapun merah darah, Rambutnya yang indah dan panjang diikat dengan

tali merah. Dalam hembusan angin, tampak rambut itu berkibar-kibar memikat mata. Pada saat Gin Liong berhenti dan tegak terlongonglongong, segulung sinar merah diantara deru angin keras, segera menjelang tiba ke hadapannya. Gumpalan sinar merah itu berputar-putar sekali melingkari Gin Liong. Setelah itu baru tegak berdiri hadapan anak muda itu. Melihat pendatang itu, hati Gin Liong mendebur keras, Orang yang berada dihadapannya itu menggunakan pakaian serba merah yang menyilaukan pandang mata, Gin Liong sampai tak berani memandang lekat2. Kiranya dia seorang nona muda, berumur dua puluhan tahun. wajahnya cantik jelita, sepasang alis yang melengkung bagai bulan tanggal muda, menaungi dua buah gundu mata yang bundar dan tajam. Raut wajahnya yang menyerupai buah semangka dibelah dua, dihias sebuah mulut yang kecil mungil, Sambil bercekak pinggang, jelita itu menatap lekat2 pada Gin Liong, Bibirnya yang semerah delima, mengulum senyum yang memikat jiwa. Gin Liong merah wajahnya, Darahnya memandang keras, pendatang yang memiliki ilmu ginkang hebat itu ternyata seorang nona yang cantik jelita. Rupanya karena melihat Gin Liong terlongong kesima, nona cantik itu tertawa mengikik, Sambil goyangkan pinggang, ia berseru: "Adik, apakah tadi engkau yang memanggil aku ?" Mendengar nona itu menegur dengan kata2 yang ramah, merahlah wajah Gin Liong. Segera ia tersipu-sipu memberi hormat:

"Karena menempuh perjalanan siang malam, pandang mataku sudah kabur. Dan karena kabut yang tebal, aku telah keliru memanggil nona, Harap nona suka maafkan kekhilafanku." Kembali nona cantik itu tertawa mengikik, sambil mengambil sikap seperti pohon liu tertiup angin, dengan ramah sekali ia tertawa, serunya: "Ah, tak apa, tak apa. Harap adik jangan pikirkan soal sekecil itu. Tapi tak marah kepadamu." Habis berkata dengan mengulum senyum manis, ia menatap Gin Liong sambil ayunkan langkah maju menghampiri. Wajahnya yang cantik memikat potongan tubuhnya yang langsing ramping, langkahnya yang jinak2 merpati, benar2 mempesonakan setiap pria yang memandangnya. Melihat nona cantik itu sangat genit tingkahnya, Gin Liong merasa muak. Tak seharusnya dia berdekatan dengan nona semacam itu, ia harus lekas2 menyingkir. Dengan wajah gelap, Gin Liong berseru: "Karena masih ada lain urusan yang harus kukerjakan, terpaksa aku tak dapat lama2 disini..." Pada saat Gin Liong bicara, nona genit itupun hentikan langkah dan tertawa: "Apakah adik hendak mengejar seorang locianpwe yang berpakaian merah itu ?" Tergetar hati Gin Liong sehingga wajahnyapun berobah. Buru2 ia bertanya: "Apakah ketika melintasi gunung, nona melihat seorang pendekar wanita berumur lebih kurang dua-puluh tujuh tahun, berpakaian serba merah ?"

Nona cantik itu kenakan alis dan melengking: "Seorang locianpwe yang masih begitu muda belia itu ? Uh, mengelabuhi setan !" Mendengar nada nona itu mengandung hinaan terhadap Ban Hong Liong-li, seketika marahlah Gin Liong. "Kalau nona tak berjumpa, akupun hendak berangkat sekarang." Ia ayunkan langkah melewati samping si nona lalu lari pesat. Tetapi nona cantik itu cepat melesat dan menghadang di muka Gin Liong. "Engkau mau apa?" teriak Gin Liong dengan marah. Nona genit itu melonjak kaget karena suara bentakan Gin Liong yang menggeledek itu sehingga ia menyurut mundur selangkah. "Ih, galak sekali, Benar2 hampir aku mati kaget !" serunya, seraya mengusap-usap buah dadanya seperti orang yang hendak menenangkan dadanya yang berombak keras. Tanpa melihatnya lagi, Gin Liong terus lanjutkan larinya, Tetapi nona genit itu tersenyum, Sekali tubuhnya berayun, tahu2 ia sudah menghadang di depan Gin Liong lagi. Kali ini Gin Liong terkejut sekali. Namun ia lebih dirangsang kemarahan daripada rasa heran atas kepandaian si nona. Setelah berputar melingkar, iapun lanjutkan larinya lagi. Tetapi nona genit itu hanya mendengus ia ayunkan tubuh menghadang di muka Gin Liong lagi seraya berseru angkuh:

"Adik, apabila hari ini kubiarkan engkau lari, Mo lan Hwa selama-lamanya takkan memakai gelar Swat-te-biauhong !" Swat-te-biau-hong artinya Tanah-salju merekah-merah. Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi, Dengan bengis ia membentak lagi: "Menyisihlah, siapa yang engkau panggil sebagai adikmu itu !" ia menutup katanya seraya menampar bahu nona genit itu dan terus menyelinap hendak loncat. Salju-merekah-merah Mo kan Hwa tidak marah malah tertawa mengikik. Tubuhnya berputar-putar menghindari tamparan Gin Liong dan dengan sebuah gerakan yang indah serta cepat, ia sudah merintangi gerak loncatan si anak muda lagi. Gin Liong hentikan gerakannya. wajahnya membesi dan menggeram: "Kalau nona hendak menghambat perjalananku lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak kurang ajar !" Sambil kicup-kicupkan sepasang matanya yang bundar, Mo Lan Hwa berseru: "lh, mengapa engkau begitu tak tahu adat ? Siapa yang memanggil suruh aku datang tadi ?" Merahlah wajah Gin Liong, serentak ia berseru dengan suara bengis: "Telah kukatakan bahwa aku khilaf maka akupun sudah menghaturkan maaf kepada nona..." "Huh," cepat Mo Lan Hwa menukas, "apa guna menghaturkan maaf?"

Gin Liong hendak meledak kemarahannya "Kalau maaf tak berguna, lalu apa kemauanmu ?" serunya dengan geram. Salju-merekah-merah Mo Lan Hwa mendengus marah dan melengking: "Hm, tidak semudah itu membiarkan engkau ngacir pergi !" "Coba saja kalau mampu merintangi aku !" teriak Gin Liong makin marah. Bahkan karena sudah tak kuat menahan kemarahannya, Gin Liong terus menampar muka nona genit itu. "Hm, lihat saja apakah engkau mampu melarikan diri." seru Mo Lan Hwa seraya menangkis dengan jurus Giok-hihui-soh atau Bidadari-melempar-tali. Terdengar sebuah orang pelahan dan tubuh nona genit itu terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah. Gin Liong menggunakan tiga bagian dari tenaganya untuk menampar tetapi hanya dapat membuat Mo Lan Hwa menyurut tiga langkah saja. Segera ia tahu bahwa ilmu tenaga dalam dan ilmu ginkang nona itu memang hebat. Ia kerutkan dahi memandang nona genit itu dengan tajam dan berseru: "Jika engkau masih tetap mengganggu, jangan salahkan aku tak kenal kasihan !" Habis berkata ia terus berputar tubuh dan angkat kaki. "Berhenti !" Mo Lan Hwa melengking gugup, "sebelum kita ada yang mati salah satu, tak seorangpun boleh tinggalkan tempat ini." Ia menutup kata-katanya dengan sebuah terjangan, sepasang tangannya berhamburan menghajar seperti orang kalap.

Gin Liong sudah hilang kesabarannya, serentak ia berputar tubuh dan membentak keras: "Baik, kalau engkau minta mati, akan kuantarkan engkau ke akhirat!" Pemuda itu segera ayunkan tangan kanan menghantam. Seketika menderulah angin pukulan yang dahsyat Salju di tanah berhamburan ke udara sehingga mirip dengan suasana badai dimusim salju. Nona genit itu terkejut. Seketika pucatlah wajahnya, serentak berhenti, dia terus songsongkan kedua tangannya untuk menangkis. Terdengar sebuah lengking jeritan yang ngeri dan nyaring diiring dengan tubuh Mo Lan Hwa yang terlempar sampai tiga tombak ke udara lalu melayang jatuh sampai lima tombak jauhnya. Gin Liong tertegun. Walaupun marah, tetapi ia hanya menggunakan lima bagian dan tenaga dalamnya, Tetapi akibatnya benar2 diluar dugaan. Tetapi ia seorang pemuda yang baik hati, sebenarnya ia tak kenal dan mempunyai dendam permusuhan terhadap nona itu, Mengapa ia harus mencelakainya ? Cepat ia enjot tubuh nona itu. Dilihatnya, sepasang mata Mo Lan Hwa meram, wajahnya merah padam, dada berombak keras dan napasnya terengah-engah. Melihat keadaan nona itu tak sadarkan diri, Gin Liong bingung juga, Tetapi menilik wajahnya yang merah itu, jelas kalau Mo Lan Hwa tak menderita suatu luka dalam yang berbahaya. "Ah, kalau kugunakan tujuh atau delapan bagian tenaga dalam pukulanku tadi, dia tentu akan muntah darah," diam2 Gin Liong merasa bersyukur karena tak melakukan tindakan begitu.

Segera ia meletakkan tubuh nona itu ke tanah lalu mulai menguruti jalan darah ditubuhnya, Tetapi diluar dugaan, makin diurut, napas nona itu makin lemah Sudah tentu Gin Liong terkejut sekali sehingga keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya In hentikan pengurutannya dan mulai merenung ilmu urut yang telah dipelajarinya, ia merasa bahwa cara pengurutan itu memang sudah benar. Lalu ia mulai mengurut lagi dengan hati2 dan pelahanlahan, tak berapa lama, Mo Lan Hwa tampak membuka mata, Gin Liong girang dan hentikan urutannya. Sambil mengulap keringat ia bertanya: "Nona bagaimana keadaanmu ?" Tetapi nona itu pejamkan mata lagi, Gin Liong terkejut, ia merasa terlalu cepat menghentikan pengurutannya maka buru2 ia lekatkan tangan kanannya ke jalan darah Gi-hay diperut si nona, ia menunggu dengan penuh perhatian perobahan air muka nona itu. Tetapi Gin Liong makin gelisah, wajah nona itu makin merah seperti bara dan napasnya makin terengah-engah. Bibirnyapun mulai agak terbuka. Karena gugup, Gin Liong menambahkan tenaga- murninya seraya bertanya: "Nona, bagaimana engkau rasakan ?" Dengan masih pejamkan mata, nona itu menyahut lemah: ”Dingin... mati kedinginn..." Gin Liong keliarkan mata memandang kesekeliling, ia mengharap dapat melihat sebuah guha atau cekung karang es yang dapat dibuat membaringkan nona itu. Karena perhatiannya tertumpah pada empat penjuru, ia tak tahu bahwa saat itu diam2 Mo Lan Hwa sudah

membuka mata dan tersenyum. Ia memandang dagu pemuda cakap yang memikat hatinya itu. Gin Liong yang polos hati, segera melihat bahwa hutan dimana terdapat rumah pondok tadi, berada diatas puncak sebelah muka dari lembah salju, Saat itu matahari sudah terbit dan kabutpun menipis, Rumah pondok di puncak salju itupun segera tampak jelas. "Orang tua kurus itu sudah tak berada dalam pondok, lebih baik kuangkut nona ini ke pondok itu," pikirnya. Kemudian ia mengangkat tubuh Mo Lan Kwa lalu dibawanya lari menuju ke pondok, pikirannya hanya tertuju untuk menolong jiwa si nona yang terkena pukulannya, setitikpun ia tak mengandung pikiran yang tak senonoh. Rupanya Mo Lan Hwa yang sesungguhnya sudah siuman, berseru: "Engkau . . . hendak membawa aku kemana?" Gin Liong tersentak kaget, Saat itu juga baru ia menyadari bahwa nona itu mengelabuhinya, jelas nona itu tak menderita luka apa2 dan tak pingsan. Kesemuanya tadi hanya pura2 saja. Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong. "Pergi !" ia lemparkan tubuh Mo Lan Hwa ke tanah. Tindakan Gin Liong itu diluar dugaan Mo Lan Hwa, ia menjerit kaget ketika tubuhnya terbanting ke tanah. Gin Liong marah sekali, Tanpa melihat keadaan nona itu ia terus berputar tubuh dan lari kearah tenggara. Setelah tenang, Mo Lan Hwa segera melenting bangun, Melihat anak muda itu lari, ia bingung, Cepat iapun gunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar seraya berteriak sekuat-kuatnya:

"Hai, manusia kayu ! Engkau benar2 sebuah patung !" Gin Liong mendongkol sekali, ia tak sudi melihat nona genit itu lagi, Tetapi ternyata Mo Lan Hwa itu memang sakti dalam ilmu ginkang sehingga dia mendapat gelaran sebagai Tanah-salju-merekah-merah, Karena cepatnya ia berlari, tubuhnya berobah seperti segumpal asap merah yang menebar diatas salju. Tampak dua sosok bayangan, yang satu kuning dan yang lain merah, sedang berkejaran diatas puncak gunung yang tertutup salju putih. Gin Liong lari mati-matian, Mo Lan Hwa mengejar sepenuh tenaga. Rupanya nona genit itu tak mau melepaskan anak muda yang cakap itu. Tiba2 dari arah puncak sebelah muka, terdengar dua buah suitan yang nyaring, Menyusul dua buah bayangan hitam, bagaikan bintang jatuh dari udara, dari atas puncak meluncur kebawah. Mo Lan Hwa terkejut dan cepat2 berteriak memanggil Gin Liong : "Manusia kayu, berhentilah ! Manusia kayu berhentilah!" Sambil berteriak, nona genit itu gunakan jurus Jay-honghi-ci atau Cenderawasih-hinggap-dipohon, melayang ke udara. ia berjumpalitan, dengan kaki diatas dan kepala di bawah, menukik menyambar Gin Liong. Rupanya karena sedang berlari cepat, pemuda itu tak memperhatikan kesiur angin dari gerakan Mo Lan Hwa. Dia tetap lari sekencang-kencangnya. Kedua sosok bayangan hitam yang meluncur dari puncak tadi segera tegak di tengah jalan untuk menghadang Gin Liong.

Pada saat itu Mo Lan Hwa sudah berhasil mencapai jarak tiga tombak di belakang Gin Liong, "Manusia kayu, mengapa tak mau berhenti. Yang menghadangmu disebelah muka itu adalah Sepasang iblis dari luar perbatasan !" teriak nona itu dengan nada cemas. Gin Liong mendengus dalam hati, Peduli apa dengan sepasang iblis itu. Bukankah ia tak kenal mereka ? Dalam pada berpikir itu, Gin Liongpun berpaling kebelakang, Astaga . . . . ternyata Mo Lan Hwa sudah ulurkan tangan hendak mencengkeram bahunya. Kejut Gin Liong bukan alang kepalang sehingga ia sampai kucurkan keringat dingin. Dengan gerak Liong-libiau, cepat ia menghindar kesamping sampai tiga tombak jauhnya lalu lanjutkan lari lagi. Mo Lan Hwa terperanjat sekali, Tangannya yang sudah hampir berhasil mencengkeram bahu anak muda itu tiba hanya menemui angin kosong. Cepat ia hentikan gerakan tubuh dan berpaling. Ah, ternyata Gin Liong sudah berbalik lari ke arah barat Serempak pada saat itu. dari sebelah muka terdengar suara orang tertawa gelak2. Nyaring dan menusuk telinga. Mo Lan Hwa berpaling dan terkejut! Ternyata kedua iblis dari luar perbatasan itu pun telah berputar diri dan meluncur untuk menghadang Gin Liong lagi. Cepat Mo Lan Hwa melayang ke udara seraya berseru gopoh: "Manusia kayu, lekas berhenti! Mereka itu sepasang iblis dari luar perbatasan..." Sambil berseru, nona itu tetap mengejar Gin Liong, Gin Liong benar2 mendongkol sekali dan ingin lepaskan diri dari libatan nona genit itu muka ia teruskan larinya dan tak

menghiraukan kedua orang yang di sebut sepasang iblis dari luar perbatasan itu. Tetapi ia ingin juga mengetahui dimana nona genit itu. Begitu berpaling, ia terkejut lagi Ternyata nona itu tengah melayang diudara dan meluncur kearahnya. Diam2 Gin Liong mengeluh, Ternyata nona genit itu memang sakti sekali ilmu ginkang nya, Rasanya tak mudah untuk lepaskan diri dari kejarannya. Sesaat tiba di tanah, Mo Lan Hwa cepat berseru gopoh: "Awas, disebelah muka..." Gin Liong terkejut dan memandang kemuka lagi, "Ah. ternyata kedua orang itu sudah tiba dihadapannya, "Sumoay, biarlah suheng mewakili engkau meremukkan budak ini...." teriak salah seorang dan kedua iblis itu seraya menyerang Gin Liong. Saat itu Gin Liong baru berpaling kemuka, Sebelum tahu bagaimana wajah orang itu, tiba2 dia sudah diserang, Dengan menggeram marah, cepat ia loncat menghindar sampai dua tombak jauhnya. Dalam pada itu, Mo Lan Hwapun berteriak dan menghantam kearah serangan orang itu. "Bum . . ." Gumpalan salju muncrat berhamburan ke empat penjuru, Mo Lan Hwa dan orang yang melepaskan pukulan itu, masing2 terhuyung mundur sampai tiga langkah. Saat itu Gin Liong dapat melihat jelas bahwa kedua sosok bayangan hitam itu adalah dua orang lelaki pertengahan umur yang mengenakan pakaian ringkas orang persilatan warna hitam. Keduanya masing2 menyanggul pedang pada punggungnya.

Lelaki yang berdiri di sebelah kiri berwajah persegi alis lebar mata sipit dan memelihara kumis tipis. Dia memandang dengan mata berkilat-kilat ke wajah Mo Lan Hwa. Dia adalah Say-pak-jin-mo atau Manusia iblis dari Saypak (Perbatasan Utara). Dia pula yang hendak menyerang secara menggelap kepada Gin Liong. Lelaki yang disebelah kanan, berwajah segi-tiga, kumis jarang, mata bundar kecil seperti mata tikus dan alisnya berbentuk menurun, pipinya yang kempot menyungging senyum menyeringai. Dia dikenal oleh kaum wanita sebagai Say-pak-ceng-mo atau iblis Cabul dari Saypak. Kedua iblis itu tertawa mengekeh. "Beberapa tahun tak bertemu, ternyata sumoay sekarang semakin cantik. Terutama dalam ilmu ginkang. sumoay makin mencapai kemajuan yang mengejutkan. Semalam aku bersama lo-toa berpencaran mengejar, tetapi masih tak mampu mengejar sumoay," seru Ceng Mo dengan tertawa sinis. Jin Mo juga tertawa dingin, Sebelum Ceng Mo selesai berkata, ia sudah menggeram: "Tak kira kalau sumoay ke daerah salju untuk mencari budak muka putih itu." Habis berkata kedua iblis itu serempak berpaling memandang Gin Liong, pemuda itu masih tegak berdiri melihat gerak gerik ketiga orang itu. Mo Lan Hwa merah wajahnya. "Tutup mulutmu !" teriaknya geram, "aku melakukan perintah toa-suheng untuk menyelidiki asal usul orang tua

yang membawa kaca cermin itu, jangan kalian bicara tak keruan begitu !" Berhenti sejenak melontarkan pandang kemarahan kepada kedua iblis, Mo Lan Hwa melanjutkan pula: "Sudah lama kalian putus hubungan dengan perguruanku. Kalian melanggar pesan suhu, melakukan perbuatan yang tercela di luaran. Sejak suhu menutup mata, kalian makin menggila. Jika Ji-suheng tak mengingat pernah sama2 menjadi saudara seperguruan, masakah kalian saat ini masih bernyawa ? Berulang kali kalian menghadang aku dan mengucapkan kata2 yang tak senonoh, apakah maksud kalian ? Katakanlah sekarang ini. Kalau tetap bertingkah seperti itu, jangan kalian sesalkan aku tak mau mengingat pernah sama2 dalam satu perguruan." Rupanya Mo Lan Hwa marah sekali kepada kedua iblis yang ternyata pernah menjadi suhengnya. Wajah kedua iblis itu tampak memberingas tak sedap dipandang, tiba2 keduanya tertawa gelak2 untuk menghamburkan kemarahan mereka. Setelah mendengar percakapan itu, barulah Gin Liong tahu akan hubungan Mo Lan Hwa dengan kedua iblis itu, Serentak ia merasa bahwa Mo Lan Hwa itu bukan seorang nona yang cabul melainkan seorang gadis yang lincah dan binal. Seketika berkurang kesan buruknya terhadap nona itu. Semula ia hendak tinggalkan mereka selagi Mo Lan Hwa tengah bertengkar dengan kedua bekas suhengnya, Tetapi setelah tahu persoalannya, dia batalkan rencananya. Dia harus ikut membantu Mo Lan Hwa apabila nona itu mendapat kesulitan dari kedua iblis.

Setelah puas, kedua iblis itu hentikan tawanya. Wajah mereka tampak membesi. Matanya berkilat-kilat buas. Jin Mo deliki mata dan berteriak marah: "Budak perempuan yang tak punya mata ! Besar sekali nyalimu berani memberi nasehat kepada kami berdua saudara, Lebih baik engkau ikut kepada kami, Jangan kuatir kami tentu takkan mengecewakan keinginanmu, Kalau tidak, heh, heh...." Karena marah, tubuh Mo Lan Hwa sampai menggigil keras. Cepat ia menukas: "Kalau tidak, mau apa engkau ?" Ia menutup kata-katanya dengan kebutkan lengan kanan dan tiba2 tangannya sudah bertambah dengan sebatang pedang yang berkilat-kilat memancarkan hawa dingin. Melihat itu Ceng Mo tertawa hina, Matanya yang seperti mata tikus itu, segera memandang ke-arah Gin Liong yang berdiri pada jarak dua tombak jauhnya. "Tidak mudah engkau hendak melarikan diri bersama budak laki itu !" serunya. Gin Liong tertegun. Mengapa dirinya dibawa-bawa dalam persoalan Mo Lan Hwa. Dia tak kenal Mo Lan Hwa, tak tahu kedua iblis itu. Karena marahnya, ia hamburkan tertawa dingin. Mo Lan Hwapun merah mukanya, ia mencuri kesempatan untuk melontar senyum kepada pemuda itu lalu melambainya: "Adik, kemarilah ! Masakan kita berdua tak mampu menghajar kedua manusia jahat ini!" Mendengar itu makin marahlah kedua iblis. Mereka iri dan cemburu kepada Gin Liong karena Mo Lan Hwa yang

cantik itu lebih suka kepada Gin Liong daripada kepada mereka. Mereka tergila-gila dengan kecantikan Mo Lan Hwa. Dan rasa iri itu segera meningkat dan meledakkan kemarahan mereka. "Dadaku mau meletus nih !" seru mereka seraya berhamburan menerjang Mo Lan Hwa. Jin Mo menggunakan jurus Ji-hung-hi-cu atau Sepasangnaga bermain-mustika, menutuk kedua mata si nona. Ceng Mo gunakan jurus Koay bong-bi tong atau Ular nagamencari-sarang. Dia tusukkan jarinya ke bawah buah dada si nona, serangan itu dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa. Ma Lan Hwa tertawa dingin. Setelah menghindar ke samping dari tutukan jari Ceng Mo, segera ia taburkan pedangnya untuk membabat tangan Jin Mo yang hendak menutuk matanya. Menghindar seraya menyerang itu, dilakukan Mo Lan Hwa dalam saat dan gerak yang hampir serempak sehingga kedua iblis itu menjerit kaget dan hentikan serangannya. Bahkan Gin Liong sendiripun terkejut dan kagum melihat gerakan si nona yang sedemikian lihaynya, Tanpa disadari, ia berseru memuji : "Bagus...." Mendengar pujian anak muda itu, girang Mo Lan Hwa bukan kepalang, ia mencuri kesempatan untuk memandang Gin Liong dengan senyum mesra. Kebalikannya kedua iblis itu makin marah, Wajah mereka berobah membesi bengis lalu menghampiri Gin Liong, Dengan mengertek geraham sehingga terdengar suara giginya saling bergosok keras, kedua iblis itu membentak:

"Budak hina. rasanya engkau memang sudah bosan hidup. Maka lebih dulu hendak kucabut nyawamu baru nanti membereskan budak perempuan yang tak tahu malu itu !" Kemudian sambil menyalurkan tenaga-dalam pada lengannya, mereka mulai maju menghampiri Gin Liong. Melihat itu Mo Lan Hwa cepat berseru: "Adik, hatihatilah ! Lekas cabut pedangmu, Mereka sakti sekali, engkau bukan lawannya! Tanpa sebab dirinya telah dipukul oleh Jin Mo tadi, sebenarnya Gin Liong sudah marah. Kini melihat kedua iblis itu hendak menyerangnya lagi, dia segera tertawa menghina. Sengaja ia hamburkan sebuah tertawa yang nyaring dan panjang sehingga kumandangnya bergema jauh sampai ke awan. Mo Lan Hwa terkejut Saat itu ia rasakan darahnya mendebur keras demi tergetar oleh nada tertawa pemuda itu. setitikpun ia tak mengira bahwa pemuda yang berwajah cakap itu ternyata memiliki tenaga dalam yang sedemikian dahsyat Kedua iblis itu adalah tokoh2 yang berpengalaman dalam dunia persilatan Mendengar hamburan tawa Gin Liong, seketika berobahlah wajah mereka mereka. Dengan kerahkan seluruh tenaga mereka serempak menghantam. Angin pukulan mereka menimbulkan desus prahara dan deru yang dahsyat, berhamburan melanda Gin Liong. Melihat serangan kedua bekas suhengnya itu, Mo Lan Hwa terkejut dan tanpa disadari ia menjerit kaget.

Gin Liong memang baru pertama kali itu keluar dari gunung, Walaupun ia sudah mendapat pengalaman dari latihan berkelahi, tetapi ia tak tahu akan keadaan dunia persilatan yang penuh bahaya. Cepat ia hentikan tawanya lalu gerakkan kedua tangannya menyongsong serangan lawan. Tetapi sebelum tenaga pukulannya berkembang, pukulan dahsyat dari kedua iblis itu sudah melandanya. Bum . . . . angin menderu dahsyat, salju bertebaran keempat penjuru. Gin Liong terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke belakang. Tiba2 Ceng Mo loncat menerjang hamburan salju dan dengan menggembor sekuatnya, ia menghantam lagi Gin Liong yang belum berdiri tegak. Bum ., . . Terdengar letupan keras dan kedua orang itupun tercerai, terhuyung-huyung. Melihat itu Jin Mo-pun tak mau memberi kesempatan ia enjot tubuhnya kemuka dan lontarkan sebuah hantaman kepada Gin Liong. Dengan menggeram marah, Gin Liong cepat loncat mundur sampai tiga tombak jauhnya. Mo Lan Hwa melengking kaget. Cepat ia memutar pedang untuk menusuk tengkuk Jin Mo. Pada saat Jin Mo terkejut karena sosok bayangan kuning (Gin Liong) yang berada di hadapannya itu menghilang, tiba2 dari belakang ia merasa disambar oleh setiap angin yang dingin. Cepat ia memekik dan tundukkan kepala lalu berjongkok ke tanah. Sret . . . . mantel hitam dari Jin Mo telah tertusuk robek oleh ujung pedang Mo Lan Hwa.

Jin Mo terkejut. Dengan gunakan jurus Keledai-malasbergelundungan, dia terus berguling-guling ke tanah sampai dua tombak jauhnya. Kemudian cepat ia melenting bangun lagi, wajahnya pucat lesi, keringat dingin bercucuran. Ceng Mo yang beradu pukulan dengan Gin Liong dan terhuyung-huyung pun segera berdiri tegak. Kedua iblis saling bertukar pandang lalu serempak mencabut pedang dan terus menyerang Mo Lan Hwa. "Bunuh dulu budak perempuan ini, baru budak laki itu !" seru mereka. Jin Mo gunakan jurus Pok-hun-kiau-jit atau Menyibakawan-melihat-matahari. pedangnya berhamburan mencurah ke arah leher si nona. Sedang Ceng Mo memainkan jurus Hok ie-jong-liong atau Naga - hitam-mendekam - ditanah, Ujung pedangnya melilit-lilit, menusuk kaki Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa melengking seraya ayunkan pedangnya ke kanan kiri, membentuk sebuah lingkaran sinar untuk menyambut serangan kedua lawan. "Berhenti !" tiba2 dari arah tiga tombak jauhnya terdengar suara bentakan menggeledek. Jin Mo terperanjat dan buru2 hentikan serangannya seraya menyurut mundur beberapa langkah. Kedua iblis itu serempak berputar tubuh ke belakang lalu memandang ke muka. Mereka terkesiap ketika melihat wajah Gin Liong memancar hawa pembunuhan dan tengah melangkah menghampiri. Tangan pemuda itu mencekal sebatang pedang bersinar merah berkilau, Mirip dengan senjata pusaka dari Ban Hong Liong-li dahulu.

Ternyata yang berseru menyuruh kedua iblis itu berhenti, bukan lain adalah Mo Lan Hwa sendiri. Melihat pedang Gin Liong, walaupun tak tahu asal usul pedang itu tetapi ia percaya tentu sebuah pusaka yang hebat. "Kawanan tikus buduk, menyerang secara gelap bukan laku seorang gagah . . . . " sambil melangkah maju, Gin Liong memaki. Kedua iblis itu berobah wajahnya, Tubuh mereka gemetar keras, cepat mereka menukas dengan menghambur tawa kemarahan. Tawa yang disaluri dengan tenaga dalam hebat sehingga Mo Lan Hwa sampai mendekap telinganya. Gin Liong hentikan langkah, membentak: "Dihadapanku engkau berani bertingkah sedemikian congkak ? Hm, lekas siaplah menyambut seranganku." Gin Liong menutup kata-katanya dengan taburkan pedangnya, Seketika pedang Tanduk Naga berkembang menjadi suatu lingkaran sinar merah yang gilang gemilang menyilaukan mata. Sepasang iblis dari luar perbatasan itu segera hentikan tawanya, Mereka deliki mata dan mengertak gigi: "Budak tak tahu malu, kalau tak diberi hajaran, engkau memang belum tahu kelihaian sepasang iblis dari luar perbatasan !" Mereka segera melepaskan pengikat lehernya serta melemparkan mantel hitamnya ke tanah. Melihat itu Mo Lan Hwa tertawa, ia tahu bahwa kedua iblis itu sudah ketakutan. Kalau tidak tentu takkan membuka mantel. Karena bertempur dengan membuka mantel berarti kurang sopan atau mengandung keputusan untuk mengadu jiwa.

"Sudah, jangan banyak tingkah, hayo kalian boleh maju semua !" seru Gin Liong. Kedua iblis itupun segera menjawab dengan memutar pedang, menyerang Gin Liong. Jin Mo di kanan dan Ceng Mo di kiri. Gin Liong hanya mendengus geram. Dengan jurus Jitgwat-kau-hui atau Matahari-rembulan-saling-bertemu, dia langsung membabat pedang kedua lawannya. Sepasang iblis itu melengking aneh, nantikan langkah menarik pedangnya. Jika yang satu maju, yang lain berhenti. Yang satu diam. Mereka menyerang secara bergilir. Mencari-cari lubang kesempatan dan berusaha untuk menghindari benturan dengan pedang anak muda itu. Gin Liong tertawa dingin. Tiba2 ia merobah gaya permainannya dalam jurus Jiu-cui-heng-cou atau Airmusim rontok-menghadang-sampan. Dalam bentuk seperti sebuah busur, sinar pedang Tanduk Naga segera membabat dada orang. Jin Mo tertawa mengekeh. Cepat ia menarik pulang pedang dan loncat mundur sampai dua tombak! Tiba2 Gin Liong menarik pedang lalu tubuhnya berputar-putar menyelinap ke belakang Ceng Mo. Lalu dengan sebuah bentakan menggeledek, ia robah pula pedangnya dalam jurus Heng-soh-cian-kun (membabatribuan-laskar), Sring . . . . pedangpun melayang ke pinggang Ceng Mo. Cepat dan dahsyatnya bukan buatan. Serasa terbanglah semangat Ceng Mo dilanda serangan itu. Karena kejutnya ia sampai memekik lalu berputar tubuh dan tangkiskan pedangnya dalam jurus Hoa-te-kau-ping atau Menggurat-tanah-mengatur-tentara. "Tring..."

Terdengar bunyi menggerincing tajam dan putuslah pedang Ceng Mo menjadi dua. Tiba2 Ceng Mo menjerit keras sekali dan rubuh ke tanah. Gin Liong tertawa dingin lalu maju menghampiri dan mengangkat pedangnya untuk menyelesaikan nyawa iblis itu. Melihat itu, Jin Mo terkejut, cepat ia ayunkan tubuh, menggembor keras dan menusuk dada Gin Liong. Gin Liongpun mengisar langkah ke samping, memutar pedang dalam jurus Gong jiok-gui-peng atau Burung-gerejamembuka-pintu. menyongsong serangan lawan. Rupanya Jin Mo tahu bahwa pedang lawan itu sebuah pusaka yang tiada tara tajam nya. Mengendapkan pedang ke bawah, ia ayunkan tangan kiri menghantam muka Gin Liong. Tetapi terlambat, serempak dengan bunyi menggemerincing keras, pedangnyapun telah terpapas kutung oleh pedang Tanduk Naga. Kali ini Jin Mo yang terbang semangatnya, Dia tak sempat memikir untuk melukai Gin liong lagi, ia segera jatuhkan diri berguling-guling di tanah dalam jurus Kiu-tesip-pat-kun atau Delapan-belas kali-berguling ditanah. "Hai tinggalkan nyawamu !" teriak Gin Liong seraya loncat dan membabat kedua kaki Jin Mo. Pada saat itu tiba2 Mo Lan Hwa menjerit keras sehingga Gin Liong terkejut dan berpaling. Sebuah benda yang berkilat-kilat meluncur deras kearah Gin Liong, Gin Liong menggeram, Berkisar tubuh ke samping, ia menghindari luncuran benda itu. Ketika mengamatinya, ternyata benda itu adalah kutungan pedang

dari Ceng Mo telah menaburkan pedangnya yang hanya tinggal separoh itu kearah Gin Liong, demi menolong Jin Mo. Gin Liong marah, Dengan menggembor keras. ia hendak memburu Ceng Mo tetapi tiba2 belakang tengkuk kepalanya disambar angin tajam. Gin Liong tahu bahwa kali ini tentu Jin Mo yang menyerangnya dari belakang dengan melontarkan kutungan pedangnya, Cepat pemuda itu tundukkan kepala dan melayanglah kutung pedang itu melalui atas kepala pemuda itu. Gin Liong benar2 marah sekali terhadap kedua iblis yang licik itu, Ketika mengangkat kepala, ternyata kedua iblis itu sudah terbirit-birit melarikan diri, jaraknya sudah berada sepuluhan tombak jauhnya. "Adik, lekas kejar ! jangan biarkan mereka lolos, Kalau tidak, jangan harap engkau dapat hidup dengan tenang." Habis berkata nona itupun terus ayunkan langkah mengejar lebih dahulu. Gin Liong memang tak mau memberi ampun kepada kedua iblis itu, sebenarnya ia hendak mengejar mereka tetapi demi mendengar kata2 Mo Lan Hwa, ia malah tak mau ikut mengejar. "Ho, aku memang sengaja hendak melepaskan manusia itu. Akan kulihat, mereka dapat berbuat apa terhadapku," serunya geram. Mendengar itu, Mo Lan Hwa hentikan larinya dan berpaling kearah Gin Liong, ia marah sehingga wajahnya merah, Ketika mulutnya hendak meluncurkan kata2, tiba2 terdengar sebuah suara tawa yang nadanya rawan dan aneh.

Gin Liong terkejut Menurutkan arah suara tawa itu, dilihatnya dari belakang bukit yang jaraknya diantara empat puluhan tombak, muncul sesosok bayangan menghadang kedua iblis tadi. Ketika Gin Liong mencurahkan perhatian memandang ke muka, ternyata yang muncul itu seorang kakek tua renta berumur delapan puluhan tahun, Rambut pendek tetapi jenggotnya dipelihara panjang, putih mengkilap seperti salju. Alisnya tebal mata bundar dan kepala besar. Mengenakan ma-kwa ( pakaian mancam ) yang menutup kaki. Kakek itu mencekal sebatang pipa huncwe yang panjangnya sampai satu setengah meter, Kepala huncwe sebesar kepalan tangan orang. Berhadapan dengan kakek itu, seketika gemetaran kedua iblis tadi. Serempak mereka jatuhkan diri berlutut dihadapannya. Gin Liong kerutkan dahi, Dia merasa pernah kenal dengan kakek itu. Kalau tak salah dahulu suhunya pernah mengatakan bahwa kakek itu bernama Hok To-Beng bergelar Kim-yan-tay atau Tabung-tembakau-emas. Dia salah seorang tokoh dari Swat-Thian Sam-yu atau Tiga Sahabat dari langit salju, Dia lah yang memiliki ilmu ginkang sakti Menginjak-salju-tanpa-meninggalkan-jejak. Baru Gin Liong berpikir sampai disitu, tiba2 Mo Lan Hwa berteriak nyaring: "Toa-suheng, mereka berdua telah menghina aku !" Dan nona itupun terus lari menghampiri Hok To Beng.

Saat itu tergeraklah pikiran Gin Liong. Su-heng dari Mo Lan Hwa atau kakek Hok To Beng itu kemungkinan tahu siapakah kakek kurus dalam pondok itu. Paling tidak, Hok To Beng tentu tahu siapakah orang tua jenggot indah yang berwibawa sebagai seorang dewa itu. Dengan memiliki harapan itu, Gin Liong sarungkan pedangnya lalu bergegas menghampiri ketempat Hok To Beng. Belum tiba ditempat itu, Gin Liong sudah mendengar kedua iblis membela diri: "Sudah banyak tahun siaute berdua tak pernah berkunjung untuk menghaturkan selamat kepada toasuheng. Sungguh hati kami amat menyesal. Tadi siaute berdua bertemu dengan Mo sumoay. Belum sempat siaute menanyakan keadaan toa-suheng, Mo sumoay sudah marah2 dan mendamprat. Mo Lan Hoa deliki mata dan melengking marah: "Tutup mulutmu ! jangan ngaco belo tak keruan jual kebohongan. Apa yang kalian bicarakan ketika semalam berada dalam kota ? Apakah kalian pernah menanyakan kesehatan toa-suheng ? Dan tadipun, apa saja yang kalian ocehkan dihadapanku ?" Kemudian nona itu menunjuk kearah Gin Liong yang sedang mendatangi katanya pula: "Tanyakanlah kepada adikmu itu, apakah kalian tadi pernah bertanya tentang diri toa-suheng ? Hm..." Orang tua rambut pendek kerutkan dahi, ia gerakkan pipa huncwe untuk menyentuh lembut Mo Lan Hwa seraya berkata:

"Sudahlah, sudahlah. Katakan lebih dulu urusanmu baru nanti giliran mereka !" Kemudian Hok To Beng acungkan pipanya kearah Gin Liong yang saat itu sudah tiba dan berada satu tombak jauhnya, bertanya pula kepada Mo Lan Hwa: "Kapan engkau mendapatkan seorang adik laki budak itu ? siapakah she dan namanya ? Dimana tempat tinggalnya dan berapakah umurnya ? Cobalah engkau terangkan lebih dahulu." Habis mencurahkan hujan pertanyaan, orang tua rambut pendek itu menengadah memandang langit dan pasang telinganya untuk mendengarkan keterangan Mo Lan Hwa. Sama sekali tak mengacuhkan kepada kedua iblis yang masih berlutut di tanah itu. Gin Liong mendapat kesan bahwa rambut pendek Hok To Beng itu seorang tua yang tak mempedulikan segala adat peraturan Dengan mempunyai seorang toa-suheng semacam itu, sudah tentu Mo Lan Hwa menjadi seorang nona yang suka membawa kemauan sendiri dan bebas tingkah lakunya ! Tampak Mo Lan Hwa melongo, wajahnya merah jengah. Sepasang biji matanya yang besar, berkeliaran Tiba2 ia tertawa lalu melambai Gin Liong. "Adik, kemarilah," serunya "cobalah engkau tuturkan satu demi satu kepada toa- suheng." Gin Liong terpaksa tertawa walaupun seperti orang meringis, Demi hendak mengetahui asal usul orang tua kurus dan orang tua jenggot indah itu, terpaksa ia tebalkan muka menghampiri.

Melihat perawakan Gin Liong dan sepasang matanya yang bundar bersinar, diam2 orang tua rambut pendek itu terkejut. "Bakat yang luar biasa bagusnya. Kelak anak ini tentu menjadi tokoh persilatan yang cemerlang di angkasa persilatan," diam2 Hok Tek Bong menimbang dalam hati. Tetapi karena melihat wajah toa-suhengnya mendadak berobah, berdebarlah hati Mo Lan Hwa. Tetapi ia bersikap setenang mungkin. Berhenti pada jarak lima langkah dari orang tua rambut pendek, Gin Liongpun memberi hormat. "Siau Gin Liong menghaturkan hormat kepada locianpwe," serunya disertai dengan membungkuk tubuh. Tiba2 Hok Tek Beng tertawa gembira, Nada tawanya amat sedap didengar setelah berhenti tertawa, dia mengeluselus jenggotnya yang putih dan berseru gembira: "Saudara, apakah engkau adik lelaki dari siaumoay ku ? Aku adalah toa-suhengnya Mengapa engkau menyebut lo cianpwe kepadaku ? Yang benar, engkau sebut saja lokoko." Habis berkata ia tertawa gelak2. Sudah tentu Mo Lan Hwa girang sekali, Dia tahu kalau toa- suhengnya suka pada pemuda itu. Muka segera ia berkata kepada Gin Liong: "Adik, lekaslah engkau ceritakan apa yang terjadi tadi..." "Toa-suheng tiba2 kedua iblis yang masih berlutut di tanah mendahului membuka suara," budak itu bukan adik lelaki dari Mo sumoay ..."

"Tutup mulut !" bentak orang tua rambut pendek. Suaranya seperti halilintar menyambar sehingga Gin Liongpun sampai tergetar jantungnya. Seketika kedua iblis itu pucat wajahnya dan keringat dinginpun bercucuran membasahi tubuh mereka, Dengan pandang mata penuh dendam, mereka memandang Mo Lan Hwa dan Gin Liong. orang tua rambut pendek itu melanjutkan kata-katanya: "Segala tingkah lakumu yang tak senonoh di luaran aku tahu semua. Sebelum menutup mata, suhu telah memberi pesan kepadaku supaya mencabut ilmu kepandaian kalian, Tetapi sampai sebegitu jauh, aku masih belum sampai hati." Habis berkata ia kiblatkan pipanya ke muka kedua orang itu sehingga mereka pejamkan mata, gemetar dan kucurkan keringat dingin. Mereka diam mematung tak berani berkutik sama sekali. "Sudah banyak kali aku menerima teguran dari beberapa kawan yang menuduh aku sengaja memelihara murid khianat dan tak mau memikirkan keselamatan dunia persilatan. Hm, hari ini, sekali lagi kuberi kalian ampun..." Mendengar itu menjeritlah Mo Lan Hwa seraya lari ke samping toa-suhengnya. Memegang lengan orang tua itu dan berseru dengan gopoh: "Toa-suheng, kali ini janganlah memberi ampun mereka, Kalau tidak, bagaimana engkau hendak memberi pertanggungan jawab kepada Hong dan Cui berdua lo-koko nanti..." Gin Liong cepat dapat menduga bahwa yang disebut Hong (Gila) dan Cui (pemabuk) lo-koko oleh Mo Lan Hwa itu tentulah kedua tokoh yang lain dari Swat-san Sam-yu,

Lengkapnya mereka bernama Hong-lian-sian dan Cui-sianong. Dan Gin Liongpun cepat dapat menduga bahwa orang tua rambut pendek yang berada dihadapannya itu pasti Kim-yan-tay atau Tabung-tembakau-emas yang paling aneh wataknya diantara Swat-thian Sam-yu. Memang ketiga tokoh dari Swat-thian Sam-yu itu gemar berkelana keseluruh penjuru. Mereka termasyhur dengan ilmu ginkangnya yang sakti. Serentak Gin Liongpun teringat akan nyanyian yang tersebar dalam dunia persilatan. Dalam menjagoi ilmu ginkang. Swat-thian Sam-yu paling

Hong-tian-siu Kakek Gila, terbang diatas rumput. Kim-yan-tay si Tabung-tembakau-mas menginjak salju tanpa bekas. Cui-sian-ong si Dewa Pemabuk, melintas sungai dengan sebatang rumput ilalang... Teringat akan syair itu, tergetarlah hati Gin Liong. Sedang Mo Lan Hwa tetap mencekal lengan toa-suhengnya, menghendaki supaya toa-suhengnya jangan melepaskan kedua iblis. Kim-yan-tay Hok To Beng bungkam. Hanya matanya yang berkilat-kilat memancar sinar. Rupanya dia masih ragu2 untuk mengambil keputusan. Pipa tabung tembakau yang berada ditangannya, pelahan-lahan bergerak di muka kedua iblis, Asal orang tua itu sekali menutuk, kedua iblis itu pasti akan rubuh berlumuran darah.

Kedua iblis itu berlutut tegak. Wajahnya tegang dan cemas. Matanya berkilat-kilat mengikuti pipa tabung tembakau. Keringat dingin bercucuran deras membasahi mukanya. Tiba2 Hok To Beng menggeleng kepala dan menghela napas pelahan. Rupanya ia merasa tak enak untuk menarik kembali ucapannya tadi. "Kalian boleh pergi." katanya dengan nada berat "kalau kelak masih berani melakukan kejahatan lagi, jangan sesalkan aku tak ingat pernah menjadi saudara seperguruan dengan kalian." Kemudian jago tua itu menengadah memandang langit, Tampaknya ia seperti minta maaf kepada arwah suhunya yang berada di alam baka karena tak melakukan perintahnya. Melihat toa- suhengnya benar2 melepaskan kedua iblis itu, karena marah, Mo Lan Hwa sampai menggigil keras. Kedua iblis itupun segera meniarap ketanah dan serempak berseru: "Terima kasih atas kemurahan hati toa-su-heng. Siau-te berdua mohon diri." Setelah bangun, kedua iblis itu masih menyempatkan diri untuk memandang dengan sorot mata penuh dendam kepada Gin Liong, Mo Lan Hwa dan Hok To Beng. Gin Liong terkejut. Menilik muka dan sorot mata kedua iblis itu, rupanya mereka masih penasaran Gin Liongpun tak mau melepaskan pandang matanya kearah langsung kedua iblis itu.

Sekonyong-konyong, baru setombak kedua iblis itu melangkah, mereka berhenti dan secepat kilat berputar tubuh seraya mendorongkan kedua tangan sekuat-kuatnya. Serentak angin pukulan yang dahsyat melanda kearah Gin Liong bertiga, Tetapi karena Gin Liong sudah memperhatikan gerak gerik kedua orang itu, maka cepat iapun segera menggembor keras: "Kawanan tikus, kalian hendak cari mampus..." Kata2 itu diserempaki dengan menyongsongkan kedua tangannya kemuka. Dalam pada itu Hok To Bengpun kebaskan sepasang lengan bajunya, menggembor keras dan melambung ke udara. "Bum . . ." Terdengar letupan dahsyat dan deru angin menghamburkan salju, Disusul dengan derap kaki terhuyung-huyungpun susul menyusul terdengar. Ketika Gin Liong memandang seksama, dilihatnya Menginjak-salju-tanpa-bekas Hok To Beng sudah melayang di udara dan bagaikan burung garuda dia menukik kearah kedua iblis yang terhuyung-huyung kebelakang itu. "Manusia berhati serigala kalian ini..." teriak Hok To Beng. Sinar emas berkelebat dan terdengarlah dua buah jeritan yang menyeramkan. Darah berhamburan ke udara dan rubuhlah kedua iblis itu ke tanah untuk selamalamanya. Ketika Gin Liong berpaling, ia terkejut sekali Ternyata Mo Lan Hwa telah rubuh di tanah salju, Cepat ia loncat menghampiri dan mengangkat tubuh nona itu, Dilihatnya wajah nona itu pucat seperti kertas mata meram napas lemah.

Gin Liong tahu bahwa kali ini, Mo Lan Hwa memang benar2 pingsan sungguh, ia bingung, lalu merogoh kedalam bajunya. Saat itu Hok To Bengpun sudah melayang tiba dan berjongkok memeriksa, Setelah meraba dada sumoaynya, Hok To Beng agak tenang. Mengangkat muka, dilihatnya Gin Liong sedang sibuk merogohi bajunya. "Eh, cari apa engkau ?" tegurnya. "Katak salju," sahut Gin Liong. Hok To Beng terkesiap, serunya gopoh: "Engkau taruh dimana ?" "Entah bagaimana, tahu2 binatang itu jatuh," sahut Gin Liong hambar. "Jatuh dimana ?" Hok To Beng makin tegang. Gin Liong segera menerangkan: "Semalam aku menderita luka, karena tak dapat mengambil air, katak salju itu terpaksa kumasukkan dalam mulut..." "Tolol engkau," Hok To Beng tertawa, "sudah tentu binatang itu meluncur masak kedalam perutmu, Ai, mengapa dicari lagi ?" Gin Liong terbeliak, Saat itu baru ia menyadari apa sebab tenaga dalamnya tiba2 berobah hebat sekali, Sekali dorongkan tangan ia mampu membuat si Jenggot terbang mencelat sampai beberapa tombak. "Sudahlah, siau-hengte," Hok To Beng menghiburnya, "siaumoay-ku hanya pingsan karena menderita rasa kejut yang berasal dari angin pukulan kedua iblis itu. Asal engkau

mau menyalurkan tenaga-dalam dengan telapak tangan pada perutnya, dia tentu akan siuman." Merah wajah Gin Liong tetapi apa boleh buat. Terpaksa ia melakukan hal itu juga. Sesaat tangan Gin Liong melekat pada perut Mo Lan Hwa. nona itu segera terdengar menghela napas panjang dan membuka mata. Melihat dirinya berada dalam pelukan Gin Liong, merahlah wajah nona itu. Jantungnya mendebur keras, sepasang matanya memandang mesra pada wajan pemuda tampan itu. Mulutnyapun merekah senyum manis, rupanya ia mengharap agar pemuda itu jangan melepaskan tangannya. Darah Gin Liong-pun menggelora keras, jantung berdebar-debar, Pada saat ia hendak mendorong tubuh si nona supaya bangun, tiba- nona itu memekik dan terus melenting berdiri. Gin Liong terkesiap, Ah, ternyata Mo Lan Hwa dengan wajah tersipu-sipu malu tengah lari menghampiri Hok To Beng yang berdiri setombak jauhnya dari tempat mereka. Ternyata sejak tadi Hok To Beng mengawasi kedua anak muda itu sambil mengelus-elus jenggot dan tersenyum simpul. Gin Liongpun cepat berbangkit. Sambil menubruk dada Hok To Beng, Mo Lan Hwa menggentak-gentakkan kaki dan memekik-mekik manja: "Toa-suheng tak suka kepadaku..." Sambil memegang bahu nona itu Hok To Beng tertawa gelak2. "Jangan ribut, jangan ribut, Siapa bilang aku tak sayang kepadamu ?"

"Tadi aku pingsan mengapa engkau tak menolong ?" masih nona itu menjerit manja. Hok To Beng tertawa gelak2 pula. "Sudah ada seorang adik yang menolong, mengapa toasuheng harus ikut campur ?" Mendengar itu merahlah selembar wajah Mo Lan Hwa. Cepat ia susupkan kepalanya ke dada Hok To Beng. "Kalau aku mengurus dirimu, kedua manusia berhati serigala itu tentu dapat melarikan diri," kata Hok To Beng menghiburnya. Mendengar itu baru Mo Lan Hwa lepaskan diri dari dada toa-suhengnya dan memandang ke-arah mayat kedua iblis, ia bersyukur karena iblis perusak wanita itu sudah mati. Karena hari sudah petang, Hok To Beng menyerahkan pedang milik Mo Lan Hwa kepada nona supaya disimpannya. Gin Liong menghampiri memberi hormat kepada Hok To Beng, Tetapi pada saat ia hendak membuka mulut, Mo Lan Hwa tertawa geli. Gin Liong terkesiap sehingga kehilangan kata2 yang hendak diucapkan Melihat itu Lan Hwa makin tertawa geli. "Mau apa engkau ini ? Mengapa tampaknya begitu resmi itu ?" seru si nona. Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Rupanya sian-hengte tentu berasal dari perguruan yang termasyhur sehingga dia masih kukuh dengan tata cara, membedakan yang tua dengan muda. Tidak seperti lo-koko yang begini liar. Mau bilang apa terus bilang, mau berbuat apa, pun terus berbuat saja. Asal sesuai dengan garis

kebenaran, aku tak peduli dengan segala macam peraturan raja." Berhenti sejenak tiba2 ia bertanya: "Siau-hengte, maukah engkau memberi tahu nama perguruanmu ?" Walaupun tahu bahwa memang tokoh2 aneh dalam dunia persilatan itu tak menghiraukan soal tata cara adat istiadat tetapi ia belum tahu benar akan peribadi Hok To Beng, Maka ia tak berani sembarangan berkata, Setelah memberi hormat ia berkata: "Wanpwe..." "Ih, apa-apaan itu wanpwe ? Lo-koko tetap lo-koko, harus dipanggil lo-koko. Siau-hengtepun tetap harus disebut siau-hengte, Mengapa engkau masih berkukuh menyebut cianpwe dan wanpwe begitu macam ?" tiba2 Lan Hwa melengking. Mendengar itu merahlah muka Gin Liong, ia hendak balas menyemprot nona itu tetapi tiba2 Hok To Beng menukas dengan tertawa gelak-gelak: "Siau-hengte, bersikaplah wajar saja. Tak perlu terlalu menghormat Lo-koko tak mempersoalkan urusan begitu." Teringat Gin Liong akan pesan suhunya. Bila berhadapan dengan tokoh2 aneh dalam dunia persilatan harus hati2 dan menghormat Paling baik turuti saja mereka. "Baiklah, lo-koko," serunya sesaat kemudian, "siaute akan menurut perintah lo-koko." Hok To Bengpun tertawa gelak2, ia puas melihat sikap Gin Liong yang cepat dapat menyesuaikan keadaan. Bukan kepalang girang Mo Lan Hwa. Karuan bibir merekah tawa maka tampaklah baris giginya yang putih seperti untaian mutiara,

"Adik, beritahukan nama perguruanmu kepada lo-koko," segera ia berseru. Dengan wajah serius, berkatalah Gin Liong. "Aku menerima pelajaran silat dari guruku Liau Ceng taysu, kepala kuil Leng-hun-si di puncak Hwe-sian-hong !" Menginjak-salju-tanpa-bekas Hok To Beng kerutkan alis, merenung, Pipa huncwenya bergetar2. Rupanya jago tua itu sedang menggali ingatan tentang diri Liau Ceng taysu. Melihat wajah toa-suhengnya, tahulah Mo Lan Hwa bahwa suhu dari Gin Liong jitu tentu seorang paderi yang tak terkenal. Apabila memang seorang tokoh terkenal tentu dengan mudah toa-suhengnya dapat mengenali. Karena boleh dikata, hampir semua tokoh2 persilatan yang ternama, Hok To Beng itu mengenalnya, Apalagi hanya didaerah puncak Hwe-sian-hong gunung Tiang-pek-san yang begitu dekat. Kuatir kalau Gin Liong gelisah, cepat2 Mo Lan Hwa berseru: "Toa-suheng, aku sudah teringat." Hok To Beng terkesiap, serunya: "Siapa ?" "Toa-suheng, mengapa makin tua engkau makin linglung," seru Mo Lan Hwa dengan nada sok tahu, "apakah engkau lupa ketika naik ke Hwe sian-hong, bertemu dengan seorang paderi tua yang mengenakan jubah ?" Sesungguhnya Gin Liong tak peduli ketika melihat kedua orang itu tak kenal kepada suhunya. Tetapi demi mendengar ucapan Mo Lan Hwa, hampir ia tak dapat menahan gelinya.

"Ih, ada2 saja nona itu. paderi tentu memakai jubah, masakan pakai pakaian makwa seperti orang biasa," pikirnya. Mo Lan Hwa memang hendak membingungkan pikiran toa-suhengnya agar jangan melanjutkan pemikirannya untuk mengingat-ingat nama Liau Ceng taysu itu. "Ah, aku benar2 tak ingat lagi," seru Hok To seraya gelengkan kepala. Ucapan toa-suhengnya itu benar2 membuat si nona bingung, ia tahu bahwa Gin Liong memandangnya lekat2 sehingga ia tak leluasa memberi isyarat mata kepada toasuhengnya. "Ah, makin tua engkau memang makin limbung," akhirnya sekenanya saja nona itu berkata, "apakah engkau lupa akan lo-siansu yang wajahnya merah segar, alisnya tebal dan mata jernih, memelihara jenggot yang begini panjang ...." Nona itu segera ulurkan tangannya, ditempelkan ke dadanya sendiri seakan menunjukkan ukuran panjang jenggot lo - siansu atau paderi tua itu. Gin Liong terpaksa tertawa, Cepat ia menyeletuk: "Ah, mungkin yang kalian jumpai itu su-siokcou-ku..." Hok To Beng tak marah karena diolok-olok sinona. ia malah tertawa sambil mengurut2 jenggotnya. Kemudian berseru kepada Gin Liong: "Ya, ya, lo-koko memang sudah tua sehingga tak tahu siapakah gurumu itu." Gin Liong hanya tertawa saja. Tiba2 Hok To Beng berpaling dan bertanya kepada Mo Lan Hwa: "Siau-moay, apakah engkau sudah memperoleh kabar?"

"Sebelum tiba di tempatnya, aku sudah dihadang kedua iblis itu." Mo Lan Hwa bersungut-sungut. "Kalau begitu, baiklah kita sama2 pergi kesana," Hok To Beng tersenyum. Lalu berpaling kearah Gin Liong. "Siau-hengte, pernah engkau mendengar bahwa lebih kurang sebulan yang lalu, dirumah pondok dalam tanah lapang disebelah depan itu, muncul seorang tua membawa kaca cermin ? tanyanya. Gin Liong menyahut: "Belum, tetapi..." "Kalau begitu, ayolah kita sama2 melihat ke sana !"ajak Hek To Beng. "Tidak, semalam aku sudah kesana..." Hek To Beng terkesiap. Lalu "Bagaimana caramu pergi ke sana ?" bergegas tanya:

"Sebenarnya aku tak sengaja ke tempat itu. Aku tak tahu bahwa tempat itu merupakan sebuah tanah lapang yang tak terurus. Dan tak tahu bahwa disitu terdapat sebuah rumah pondok berisi seorang tua membawa cermin, Karena kebetulan jalan melalui hutan kecil itu, baru kutahu tentang pondok dan orang tua kurus itu," Gin Liong memberi keterangan. "Ih, ketahuilah." seru Mo Lan Hwa terkejut, "tiga tombak sekeliling pondok itu, sangat berbahaya sekali. orang tua pembawa kaca itu dapat melepaskan pukulan maut." Gin Liong gelengkan kepala. "Terdorong oleh keinginan tahu, aku tetap menghampiri jendela pondok, Tetapi ternyata tak mendapat bahaya apa.2" kata Gin Liong,

Rupanya Hok To Beng kurang percaya, Tetapi ia percaya Gin Liong itu bukan seorang pemuda yang suka bohong, Maka bertanialah ia untuk menyelidik: "Siau-hengte, apa lagi yang engkau lihat dalam pondok itu ?" Tanpa ragu2 Gin Liong menjawab. "Diatas meja yang berada dihadapan orang tua kurus itu, terdapat sebuah cermin yang gilang gemilang menyilaukan mata !" "Adik tolol," tiba2 Mo Lan Hwa menyeletuk," itulah kaca wasiat Te-kia (Kaca Bumi) dari seorang paderi sakti yang hidup tiga ratus tahun yang lalu, Segala benda pusaka yang tertanam di tanah, asal pada malam hari disorot dengan sinar kaca wasiat itu, tentu benda dalam tanah itu akan memancarkan sinarnya keluar, jika engkau sudah menghampiri ke jendela, mengapa engkau tak mengambil kaca wasiat itu ?" Gin Liong tersenyum dan geleng2 kepala. "Siau-hengte," Hok To Bengpun ikut berkata, "kalau saat itu engkau mengambilnya, tentu saat ini engkau, mendapat julukan adik tolol dari tacimu itu." Mo Lan Hwa merah mukanya, ia hanya cibirkan bibirnya dan tak berkata apa2 lagi. "Lo-koko. siapakah orang tua kurus itu ?" tiba2 Gin Liong bertanya. Hok To Beng gelengkan kepala: "Selama belum melihat sendiri orang itu, aku tak berani memastikan dirinya siapa, Nanti apabila sudah melihatnya, baru kita ketahui orang itu, Tetapi kurasa tak mungkin paderi sakti pemilik kaca itu." Gin Liong kecewa.

"Ah, semalam dia sudah pergi." "Benarkah begitu, adik ?" teriak Mo Lan jiwa dengan nada tegang. Gin Liong mengangguk. "Apa yang dikatakan siau-hengte kemungkinan benar," kata Hok To Beng, "ketika aku datang kemari, diatas puncak disebelah muka itu aku bertemu dengan beberapa tokoh persilatan. Tampak mereka lagi bergegas-gegas menuju keluar gunung." "Toa-suheng, kita akan meninjau ke pondok itu atau tidak ?" tanya Mo Lan Hwa. "Sekarang tiada gunanya," Hok To Beng gelengkan kepala, kemudian ia memandang ke langit, katanya pula, "sekarang hampir tengah hari" Dengan ilmu lari cepat yang kita miliki, kiranya kita masih dapat mencapai kota kecil di bawah gunung untuk makan siang." Karena kuatir Gin Liong akan pergi maka cepat2 Mo Lan Hwa berseru: "Ya, baiklah, aku memang hendak berlomba lari dengan adik." Gin Liong tertawa hambar. "Ilmu ginkang taci sudah termasyhur di Say-gwa (luar perbatasan). Sedang, Sedang ilmu ginkang lo-koko tiada tandingnya dalam dunia persilatan. Mana aku mampu menandingi ? Ah, aku menyerah saja." Mendengar dirinya dipanggil taci, hampir Mo Lan Hwa tak percaya pendengarannya. "Adik, engkau menyebut aku taci ?" serunya menegas. Gin Liong terkesiap lalu menyahut: "Engkau memanggil aku adik, apakah tak selayaknya aku menyebutmu taci ?"

Mo Lan Hwa mengangguk gembira, serunya: "Ya, memang selayaknya begitu." Rupanya karena dilanda luap kegembiraan, nona- itu tak tahu harus berkata apa. Tiba2 ia berputar tubuh dan mencekal lengan kanan Hok To Beng dan diguncangguncangnya. "Toa-suheng, layak atau tidak kalau adik itu menyebut aku taci ?" Hok To Beng juga gembira sekali, ia tertawa gelak2: "Ya, ya, memang selayaknya." "Toa-suheng, mari, kita cepat ke kota itu. Nanti engkau boleh minum beberapa cawan lagi, "seru Mo Lan Hwa. "Bagus. hari ini aku boleh mabuk lagi," Hok To Bengpun tertawa girang, Tiba2 ia enjot tubuhnya sampai beberapa tombak di udara, sekali mengebut lengan baju, diapun meluncur pesat sekali. Melihat bagaimana dengan dua kali gerakan saja, Hok To Beng sudah berada dimuka lembah salju, diam2 Gin Liong memuji. "Ah, tak kecewa dia mendapat gelaran nama yang indah "Menginjak - salju - tanpa - jejak, ilmu ginkangnya memang luar biasa hebatnya." "Adik tolol, mengapa diam saja ? Lekaslah kejar, kalau terlambat sedikit saja. engkau pasti takkan melihat bayangan lo-koko lagi," tiba2 Mo Lan Hwa menegur Dan ia sendiripun terus meluncur kemuka, cepatnya seperti anak panah terlepas dari busur. Yang tampak hanya segulung asap merah yang. bertebaran diatas permukaan salju tanah, juga nona itu layak mendapat gelar nama sebagai Swat-tebiau-hong atau Tanah-salju-bertebar-merah.

"Hm, jika saat ini tak kucoba ilmu ginkang Anginmeniup-petir-menyambar ajaran suhu, apabila turun gunung aku tentu tak mempunyai kesempatan untuk mencobanya lagi, diam2 Gin Liong menimang. Setelah mengerahkan seluruh hawa murni, segera ia meluncur kemuka, pikirannya hanya tertumpah pada ilmu lari itu dan sesaat kemudian ia mendengar angin menderuderu disisi telinganya. Karena kuatir Gin Liong akan tertinggal jauh maka Mo Lan Hwa sengaja tak mau pesatkan larinya. Tak hentihentinya ia berpaling. Tetapi setiap kali berpaling ia terkejut karena Gin Liong telah mengejarnya dengan pesat. Melihat itu Mo Lan Hwa segera menambah kecepatannya. Saat itu segera ia melihat dibawah kaki bukit, melingkar-lingkar seperti ular panjang, Orang berjalan hilir mudik. Melihat Mo Lan Hwa menambah kecepatan, Gin Liongpun tersenyum. Tetapi ketika memandang Hok To Beng, ia agak terbeliak, Tubuh Hok To Beng sudah meluncar turun ke kaki bukit. Sebagai seorang pemuda sudah tentu Gin Liong masih berdarah panas, seketika timbul nafsunya untuk memenangkan perlombaan itu. jika tadi ia menggunakan gerak ilmu lari Angin meniup, saat itu segera ia robah menjadi gerak Petir-menyambar Tubuh pemuda itu segera berobah seperti segulung asap yang meluncur seperti terbang. Ada suatu ciri aneh dalam gerak lari Petir-menyambar itu. Bahwa sepasang kaki Gin Liong mengeluarkan suara desis mirip kumandang petir. Mo Lan Hwa yang tengah lari se-kencang2 nya terkejut ketika mendengar dari arah belakang seperti bunyi

mendesis-desis, ia berpaling dan kejutnya makin bertambah ketika melihat segumpal asap warna kuning tengah meluncur terbang. Karena heran ia memandang dengan seksama, Tetapi tiba2 gumpalan asap kuning itupun sudah lenyap dari pandang mata. Mo Lan Hwa memandang kemuka lagi- Ah. hampir ia tak percaya pada matanya ketika dilihatnya gumpal asap kuning itu sudah mengejar di belakang tua suhengnya. Hok To Bengpun mendengar juga suara mendesis itu. Dia terkejut dan cepat berpaling kebelakang. Ah, ternyata Gin Liong sudah berada di belakangnya Diam2 ia meragukan diri tokoh yang menjadi suhu dari Gin Liong. Segera ia pindahkan pipanya ke tangan kiri dan diam2 kerahkan tenaga, siap dihantamkan ke belakang. Saat itu Gin Liong makin mendekati jaraknya dengan Hok To Beng tidak lagi ratusan tombak tetapi hanya puluhan tombak saja, juga dengan jalanan di kaki bukit hanya terpisah tak sampai satu li. Gin Liong tersenyum dan makin mendekati Hok To Beng. Gerakan dari Gin Liong yang menimbulkan suara desis itu makin terdengar jelas oleh Hok To Beng, Sekonyongkonyong setelah memperhitungkan jaraknya, Hok To Beng meggembor keras dan secepat kilat mencengkeram siku lengan kanan Gin Liong, Gin Liong terkejut Segera ia gunakan gerak Liong-libiau, menghindar dan terus melanjut turun kebawah gunung, cengkeramannya luput, Hok To Beng. makin terkejut, serunya: "Siau hengte, engkau memang...."

Dia terus loncat menerkam. Demikian keduanya segera seperti orang terkam menerkam, jaraknya hanya satu meter, Sekilas pandang menyerupai dua ekor burung rajawali yang tengah bertarung hebat, meluncur dari udara. Menilik nada teriakan Hok To Beng itu, tahulah Gin Liong bahwa tokoh itu tidak mengandung perasaan dengki terhadapnya Ketegangan hatinyapun mereda. Mo Lan Hwa yang masih berada pada jarak seratusan tombak tampak pucat wajahnya ketika melihat gerak gerik toa-suhengnya. "Toa-suheng, jangan..." ia tak dapat melanjutkan katakatanya karena tersumbat oleh air-mata yang bercucuran Mendengar teriakan nona itu, Sin Liong terkesiap, ia lambatkan larinya dan membiarkan bahunya dijamah oleh Hok To Beng. Setelah keduanya berdiri tegak, dengan wajah keheranan, Hok To Beng berulang menepuk-nepuk bahu Gin Liong. "Siau hengte, bilanglah sejujurnya..." Tiba2 Hok To Beng tak melanjutkan kata-katanya karena dilihatnya Gin Liong berpaling memandang ke lereng gunung dan seketika wajahnya berobah lalu berteriak: "Taci, pelahan lahan saja..." Gin Liongpun terus menyelinap lari keatas lereng. Hok To Beng terkejut dan ikut berpaling, Kejutnya bukan kepalang Mo Lan Hwa yang lari secepat angin tidak mau mengurangi kecepatannya ketika saat itu tiba di kaki bukit. Gin Liongpun sudah melayang tiba lalu dengan apungkan tubuh melambung dan menyambar pinggang Mo Lan Kwa terus dibawa turun dari lereng.

Hok To Beng maju menyambuti dengan hati2 sekali. Melihat toa-suhengnya, Mo Lan Hwa segera susupkan kepala ke dada Hok To Beng dan menangis manja. Hok To Beng mengelus-elus kepala sumoay-nya dengan perasaan cemas. ia duga tentu terjadi sesuatu dengan Mo Lan Hwa, Tetapi pada lain kilas, ia menyadari apa yang menyebabkan sumoay-nya menangis. Segera ia tertawa gelak2. Gin Liong terbeliak mematung. Dia merasa tadi Mo Lan Hwa amat gembira ketika ia memangginya dengan sebutan taci, Tetapi kini setelah ia memberi pertolongan agar nona itu jangan sampai menderita bahaya, mengapa malah tak senang dan menangis. Tiba2 pula Gin Liong teringat sumoaynya yang ketika ditinggali pergi masih sakit dan tidur di pembaringan. Teringat akan diri Ki Yok Lan mengganggu hatinya, Diam2 ia berjanji kepada dirinya sendiri, tak boleh sekali-kali salah langkah sehingga mencelakai orang, Dan selagi belum berlarut-larut, ia harus segera meninggalkan Hok To Beng dan Mo Lan Hwa. Saat itu Hok To Beng berhenti tertawa lalu pelahanlahan mendorong Mo Lan Hwa kesamping, mengusap airmata gadis itu dan menghiburnya: "Siaumoay, apakah engkau kuatir kalau aku akan mencelakai adikmu itu ? Ha, moay tolol, aku bertiga dengan engkohmu si Gila dan engkohmu si pemabuk itu, tak boleh mengganggu bocah itu!" Mo Lan Hwa girang sekali, Sejenak memandang Gin Liong, ia tertawa gembira.

Gin Liong tersipu-sipu merah dan terpaksa ikut tertawa, Melihat itu Hok To Bengpun tertawa gelak2. Kemudian menatap Gin Liong dan berseru dengan serius: "Siau hengte, bilanglah terus terang, jangan membohongi lo-koko. siapakah sesungguhnya gurumu itu ?" Dengan wajah serius, Gin Liongpun menjawab: "Masakan aku berani membohongi lo-koko. Guruku memang benar2 kepala dari kuil Leng-hun-si..." "Aku maksudkan seseorang, apakah siau hengte tentu tahu !" tukas Hok To Beng. "Jika tahu masakan aku tak mau mengatakan," kata Gin Liong, Sejenak memancarkan sinar kilat pada pandang matanya, Hok To Beng menatap lekat2 pada wajah Gin Liong yang cakap, Rupanya ia hendak menyelidiki apakah Gin Liong itu bohong atau tidak. "Seorang tunas muda yang menggemparkan dunia persilatan dengan nama Pelajar-wajah-kumala Kiong Cu Hun, tahukah siau-hengte ?" Seketika berobahlah wajah Gin Liong. Air-matanya berderai-derai turun. Lalu dengan nada menghormat ia berkata: "Memang dia adalah guruku." Hok To Beng mengelus-elus jenggotnya dan tertawa gelak2. "Seorang jago muda yang cemerlang, karena berkecimpung dalam dunia yang penuh debu2 dosa akhirnya masuk kedalam biara, seharusnya aku si manusia tua yang tak mati2 ini, harus mengikuti jejaknya masuk kedalam biara untuk mensucikan diri."

Kemudian ia berkata pula kepada Gin Liong, "Dengan gurumu sudah hampir sepuluh tahun tak bertemu, Lusa aku tentu akan memerlukan berkunjung..." Tiba2 Hok To Beng tak melanjutkan kata-katanya, karena ia melihat Gin Liong masih berlinang-linang airmata. Cepat ia menghiburnya: "Siau-hengte..." Rupanya Gin Liong tak kuasa menahan luapan kesedihannya, Dengan airmata bercucuran ia berkata: "Beberapa hari yang lalu, guruku telah dibunuh oleh orang jahat, Lo-koko takkan bertemu lagi selama-lamanya." Bukan kepalang kejut Hok To Beng mendengar keterangan itu. Seketika seri wajahnya berobah tegang, serunya: "Siapakah seorang yang memiliki ilmu sedemikian saktinya, sekalipun empat serangkai Bu-lim-su ih yang termasyhur itu, juga sukar untuk mencelakai gurumu." Hok To Beng berhenti sejenak lalu melanjutkan katakatanya pula: "Siau-hengte, kurasa pembunuh itu tentu orang yang dekat dengan suhumu. Entah siapakah yang menyaksikan peristiwa itu dan apakah terdapat bukti2 yang dapat menjadi bahan mencari jejak pembunuh itu, harap siauhengte mengatakan dengan terus terang, Mudah mudahan aku dapat membantu untuk memecahkan jejak rahasia dari pembunuh gelap itu." Tiba2 Mo Lan Hwa mengambil sapu dan mengusap airmata Gin Liong, Pemuda itu merasa sungkan sekali. Tiba2 ia mencabut sebatang badik emas yang terselip dalam pinggangnya, katanya:

"Inilah senjata yang ditinggalkan oleh pembunuh gelap itu." Menyambuti badik emas itu, wajah Hok To Beng agak berobah. "lnilah badik Kim-wan-to yang dapat memotong besi seperti memotong tanah, Rambut yang ditiup kearah mata badik itu tentu putus, Yang menggunakan badik semacam ini kebanyakan orang2 persilatan dari daerah Biau." Gin Liong tergetar hatinya, Dia baru sadar bahwa Hok To Beng, pendekar yang aneh dalam dunia persilatan itu, memang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang amat luas. Mo Lan Hwa yang ikut memeriksa, segera menuding kearah empat buah huruf pada batang badik golok emas itu, serunya: "Toa-suheng, lihatlah, apa artinya keempat huruf itu?" Hok To Beng kerutkan dahi dan berkata: "Mungkin nama dari seorang wanita Biau." Kembali hati Gin Liong tergetar keras, Dia makin kagum atas penilaian yang tajam dari Hok To Beng. Tiba2 Mo Lan Hwa melengking gembira: "Ooo, Wulanasa, sungguh sebuah nama yang indah !" Segera Sin Liong memberi keterangan: "ltulah Ban Hong liong-li lo cianpwe..." Mendengar itu Hok To Beng berobah wajahnya, serunya gopoh: "Ban Hong Liong-li ? Kemarin sebelum mata hari terbenam aku masih berjumpa dengan dia di kota kecil muka itu. Budak itu memang tergila2 dengan Kwan Cu-hun tetapi karena cinta dia menjadi dendam..."

Mendengar itu memancarkan mata Gin Liong, cepat ia menukas: "Lo-koko, apakah saat ini Ban Hong liong-li masih berada dikota kecil itu ?" "Entah apa masih disitu...." Terhadap urusan Gin Liong, Mo Lan Hwa menaruh perhatian istimewa. "Sudahlah, asal kita tiba di kota kecil itu tentu dapat mengetahui," cepat ia menyelutuk, lalu melanjutkan lari. Gin Liong ingin sekali cepat2 tiba di kota kecil itu, Maka iapun segera berputar tubuh dan lari. Sambil menyerahkan badik emas kepada Gin Liong, Hoa To Beng menyusul dan berkata: "Siau-heng-te, Ban Hong liong-li itu tahun ini paling banyak baru berusia 28-29 tahun, Mengapa engkau memanggilnya sebagai locianpwe ?" "Karena sejak pertama aku dan sumoayku Ki Yok Lan selalu menyebut locianpwe kepadanya, sekarang sukar untuk merobah sebutan itu," Gin Liong menjelaskan. Mo Lan Hwa yang berada di muka ketika mendengar Gin Liong mempunyai seorang sumoay, diam2 hatinya mencelos. Sekali menyehatkan tubuh, diapun sudah melayang ke jalan. Gin Liong yang polos, mengira Mo Lan Hwa hendak buru2 mengejar perjalanan, Maka diapun segera berpaling dan berseru kepada Hok To Beng: "Lo-koko, mari kita agak cepat berlari !" sebagai seorang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, tahulah Hok To Beng akan gerak gerik sumoaynya, ia hanya gelengkan kepala dan terus mengikuti Gin Liong lari.

Tepat pada saat itu terdengarlah ringkik suara kuda yang terkejut. Suara itu asalnya dari belakang mereka. Ketika Gin Liong bertiga berpaling, tampak beberapa li jauhnya, dua ekor kuda sedang mencongklang pesat di sepanjang jalan, Mereka lari menghampiri kearah Gin Liong. Kedua ekor kuda itu cepat sekali larinya, sebaiknya kita menyingkir saja," kata Gin Liong. "Ya." kata Hok To Beng, "kuda itu memang luar biasa cepatnya." iapun terus menyingkir ketepi jalan. Tetapi Mo Lan Hwa malah mendengus dan tak ambil peduli, Dengan cibirkan bibir dan santai, ia berjalan seenaknya di tengah jalan. Gin Liong kerutkan dahi dan tak mengerti maksud nona itu. Tiba2 terdengar suara kuda meringkik keras, Ketika Gin Liong berpaling, dilihatnya dua ekor kuda bulu hitam mulus yang bertubuh tinggi besar, tengah meluncur pesat sekali. Saat itu hanya terpisah setengah li. Penunggangnya juga dua lelaki bertubuh tinggi besar, kepala besar dan jidat lebar. Mulutnya penuh ditumbuhi kumis dan jenggot yang lebat, sepasang matanya berkilatkilat amat tajam. Merekapun mengenakan jubah warna hitam terbuat daripada kulit, Sepintas pandang kedua penunggang kuda itu memang amat menyeramkan sekali. "Tar, tar, tar . ..." Kedua penunggang tinggi besar itu menghardik dan mengayunkan cambuknya ke udara. Kuda hitam tegar itupun segera melaju keras, Mereka tak mempedulikan orang yang berada di tengah jalan.

Riuh rendah derap kedua kuda hitam itu menabur jalan, jalan yang dilalui tentu meninggalkan hamburan salju yang lebat dan deru angin yang keras. Mereka melarikan kuda kearah Gin Liong. -ooo0dw0oooBab 4 Empat tokoh aneh Gin Liong terkejut sekali menyaksikan kecepatan kedua kuda hitam itu. Tetapi ia marah karena melihat tingkah kedua penunggang kuda yang tetap melarikan kudanya sekencang-kencangnya walaupun tahu di tengah jalan terdapat seorang nona. "Taci, menyingkirlah ke tepi jalan. kedua kuda itu pesat sekali larinya !" cepat ia berseru memberi peringatan kepada Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu tak mau mengacuhkan. Dengan mendengus ia berseru: "Hm, kecuali engkau loncat sejauh lima tombak, baru engkau terbebas dari hamburan salju di jalan !" Nona itu tetap berjalan santai di tengah jalan. Gin Liong kerutkan dahi. Berpaling ke belakang, dilihatnya kedua ekor kuda hitam itu makin dekat. Bulu surai kuda meregang tegak, mulut meringkikringkik, kakinya seperti terbang, menerjang maju dengan dahsyat sehingga saat itu jaraknya hanya tinggal dua puluhan tombak. Gin Liong marah sekali. Pada saat ia hendak berseru mencegah, sebuah gelombang asap tebal telah melanda

mukanya, sudah tentu pemuda ini menyedot juga dan batuk2. Ketika berpaling ternyata asap itu berasal dari pipa Hok To Beng. Tampaknya orang tua itu tenang2 saja seperti tak terjadi suatu apa. Seperti tak tahu bahwa dia akan diterjang dari belakang oleh dua ekor kuda tegar. Hok To Beng memandang Gin Liong dengan tertawa hambar dan serunya santai: "Kedua orang itu kebanyakan tentu berasal dari padang Taliwang di Mongolia !" Baru Hok To Beng berkata sampai disitu, derap lari kuda makin jelas. Sebelum kuda melanda datang, anginnya sudah menderu. Gin Liong makin terkejut. Berpaling ke belakang, dilihatnya kedua ekor kuda hitam yang tinggi perkasa sudah tiba di belakang Mo Lan Hwa. Nona itu kerutkan alis, Tiba2 dengan diiringi teriakan melengking, ia berputar tubuh seraya dorongkan kedua tangannya, Seketika itu meluncurlah dua gelombang angin dahsyat yang membawa debu dan salju, menerjang kedua ekor kuda tegar itu. Mo Lan Hwa telah menumpahkan kemarahannya dalam pukulannya itu. Seketika terkejutlah kedua penunggang kuda, Mereka menggembor keras dan meloncatkan kudanya diatas kepala Mo Lan Hwa dan meluncur sampai tiga tombak jauhnya. Gin Liong hendak memburu ke tempat Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah melambung ke udara, bergeliatan dan meluncur turun kearah kedua penunggang kuda.

Dan serempak pada saat itu. Hok To Beng pun ayunkan tubuh melayang ke muka kuda. "Kembali !" bentaknya seraya taburkan pipanya ke udara, menyongsong kedua kuda, Taburan pipa itu menghamburkan asap tebal sehingga kuda meringkik kaget dan berontak. Sebelum kedua penunggang tahu apa yang terjadi, tiba2 sesosok bayangan melayang, membentak dan menabur asap. Dan tahu2 kedua kuda itu berdiri tegak di udara. Menjeritlah kedua penunggang kuda karena kaget dan buru2 mereka berusaha untuk menguasai tunggangannya. Tetapi kuda itu sudah kalap. Setelah berputar-putar deras lalu melayang jatuh ke tanah, membanting kedua penunggangnya. "Bum, bum . . . ." Kedua penunggangnya kuda rontok giginya, mulut pecah, kepala pusing tujuh keliling. Saat itu Mo Lan Hwapun meluncur dari udara, maju dua langkah, membentak dan ayunkan tangan kanannya. Melihat itu, salah seorang penunggang kuda cepat meneriaki kawannya: "Ciliwatu, hati - hati, awaslah !" Dia sendiri terus melenting bangun dan menghantam. Orang yang disebut Ciliwatu itu rupanya sudah tahu kalau dirinya diserang si nona. Pada saat kawannya bergerak, dengan jurus Ikan Leihi melenting, diapun melambung ke udara sampai dua tombak, lalu dengan gerak bergeliatan, dia melayang turun. Bum . . . .

Ketika terjadi benturan antara pukulan Mo Lan Hwa dengan penunggang kuda yang seorang, keduanya terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah. Ciliwatu terkejut. Cepat ia bergeliat dan meluncur ke tanah, Hampir tiada suaranya ketika kakinya menginjak tanah. Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa kedua penunggang kuda dari Mongol itu, walaupun bertubuh besar tetapi memiliki gerak yang lincah dan gesit sekali, "Alihapa," cepat Ciliwatu berkata kepada kawannya, "anak perempuan baju merah itu jauh lebih cantik dari anak2 perempuan di sarang kita. Hayo kita bawa pulang untuk kita berdua !" Habis berkata ia terus mengeluarkan sebuah rantai yang ujungnya merupakan semacam gembolan, mirip pukul besi, Besarnya menyamai kepalan tangan, diikat dengan rantai sepanjang hampir satu tombak. Gembolan besi itu dihias dengan duri2 besi mirip gigi serigala, Ditingkah sinar matahari gembolan itu tampak hitam mengkilap. Karena terhuyung mundur tiga langkah, merahlah wajah Alihapa. Alisnya mengernyit, mata mendelik dan mulut menyeringai buas, Tangannya yang penuh bulu segera merogoh kedalam pinggang baju dan mengeluarkan sebatang ruyung sembilan ruas, terbuat dan rantai perak. Segera ia tertawa aneh dan dengan geram berseru: "Anak perempuan tenagamu hebat juga. Awas jangan sampai tanganmu patah !" ia ayunkan langkah menghampiri Mo Lan Hwa.

Wajah Mo Lan Hwa tampak pucat dan tubuhnya menggigil ketika mendengar dirinya disebut "anak perempuan", hampir dadanya meledak. Dengan cepat ia mencabut pedang terus ditusukkan kearah orang Mongol itu. "Sring. . . ." Alihapa kebaskan ruyung-sembilan-ruas. Bagaikan seekor naga bercengkerama di atas laut, ruyung itupun segera bergemerlapan melibat pedang Mo Lan Hwa. Cepat si nona turunkan pedangnya, berputar tubuh dan melancarkan jurus Cay-hong-canki atau Burungcenderawasih-merentang-sayap, pedang berobah menjadi segelombang sinar pelangi dan secepat kilat memapas lengan kanan Alihapa. "Bagus !" seru Alihapa, Ruyung perak segera diganti dalam gerak putaran deras sehingga mengembangkan ratusan sinar ruyung, menyelubungi tubuh Mo Lan Hwa. Segera tampak suatu pemandangan yang menyilaukan mata, sinar perak bergemerlapan, diiringi sambaran ruyung yang menderu-deru. Sinar pedang selebat hujan mencurah, memancarkan sinar gemilang yang amat kemilau. Ciliwato dengan siapkan rantai bandulan ditangan, mengikuti pertempuran itu dengan penuh seksama. Setiap saat, ia siap turun tangan membantu kawannya. Tetapi Gin Liongpun diam2 melewatkan perhatiannya kepada Ciliwato untuk menjaga jangan sampai dia melepaskan senjata gelap kepada Mo Lan Hwa. Pertempuran makin seru dan dahsyat. Mo Lan Hwa memiliki kelincahan tubuh yang tinggi dan ilmu pedang yang aneh, Alihapa memiliki tenaga yang gagah perkasa dan ilmu permainan ruyung yang sempurna.

Cepat sekali tiga puluh jurus telah berlalu. Keduanya masih tetap berimbang, belum tampak siapa yang lebih unggul. Tiba2 Gin Liong teringat Kemanakah Hok To Beng ? Mengapa sejak tadi tak kedengaran suaranya ? Ketika Gin Liong mengeliarkan pandang, dilihatnya Hok To Beng sedang naik keatas punggung salah seekor kuda hitam, tubuh merebah ke muka. Mulutnya tengah menghembuskan asap dari pipa. Sedang tangan kiri menjamah kepala kuda yang lain, memandang acuh tak acuh kearah gelanggang. Rupanya dia tak begitu memikirkan tentang siaumoay nya yang tengah bertempur seru itu. Melihat Gin Liong memandangnya Hok To Bengpun mengangguk tertawa lalu menghembuskan lagi segulung asap tebal. Diam2 Gim Liong mengeluh dalam hati, Pendekar aneh yang sudah tua itu memang aneh tingkah lakunya. Masakan sumoaynya bertempur dia malah enak2 menguasai kedua ekor kuda musuh. Dan memang tak berapa lama kemudian, ia berhasil membuat kedua ekor kuda itu jinak. Tiba2 terdengar lengking teriakan nyaring disusul dengan bentak kemarahan. Gin Liong cepat berpaling. Serentak berkobarlah kemarahannya, Dengan menggembor keras, ia segera lepaskan sebuah hantaman Gelombang angin dahsyat yang menderu-deru segera menghambur kearah Kiliwato yang menyerang gelap pada Mo Lan Hwa dengan rantai gembolannya.

Ciliwato berteriak kaget. Cepat ia menarik pulang rantai gembolannya dan terus menggembor keras seraya loncat menghindar sampai dua tombak. Begitu berdiri tegak, ia segera memutar rantai gembolan, menyerang Gin Liong, Pemuda itu hanya tertawa dingin, Selekas menggeliatkan tangan kanan, ia sudah mencekal pedang Tanduk Naga. Tepat pada saat itu terdengarlah jeritan yang ngeri melengking di udara, Sebuah benda macam ular perak meluncur ke udara, Ternyata ruyung perak dari Alihapa telah dibabat mencelat ke udara oleh pedang Mo Lan Hwa. "Tring” Rantai gembolan yang diluncurkan Ciliwato, pun disabat putus oleh pedang Tanduk Naga, Gembolan melayang ke udara dan meluncur ke-muka Hok Tok Beng. Tetapi Hok To Beng diam saja. Begitu gembolan hampir mengenai mukanya, barulah ia gerakkan pipanya untuk menyongsong. Tring, gembolan besi itupun meluncur ke belakang kuda. Karena kaget, kedua ekor kuda berpencar melonjak ke samping. Tiba2 Hok To Beng menggembor keras lalu melambung ke udara dan meluncur turun ke jalan. Karena tak mengerti apa yang terjadi. Gin Liong berpaling Ah, ternyata kedua orang Mongol tadi telah melarikan diri sekencang kencangnya. Sedang Mo Lan Hwa masih tegak berdiri dengan mengulum tawa, ia memandang kedua orang Mongol itu tetapi tak mau mengejar. "Hai, budak, apa enak2 saja engkau hendak pergi ?" teriak seseorang.

Ternyata yang berteriak itu Hok To Beng, Sambil meluncur dari udara, pipanya yang masih berapi itu dihujamkan kebelakang tengkuk Ciliwato. Karena kesakitan terbakar api, Ciliwato menjerit-jerit dan mempercepat larinya, Demikian Alihapa. Dengan bercucuran keringat dingin ia lari secepat-cepatnya. Begitu berlari di tanah, Hok To Bengpun tertawa gelak2. Mo Lan Hwa segera menghampiri dan melengking marah: "Toa-suheng, mengapa engkau gemar membakar tengkuk kepala orang dengan pipamu ? Kalau sampai membakar tengkuk orang apakah tidak berbahaya ?" Hok To Beng tertawa gelak. "Ilmu Menyorong-api-kepada-tetamu" ini sudah berpuluh-puluh tahun kugunakan dan belum pernah membakar tengkuk orang!" Kemudian ia berganti nada serius: "Terhadap manusia yang kasar dan liar semacam mereka, harus digunakan cara untuk mematahkan kesombongannya. Sedikit menyuruh mereka merasa sakit pada kulit rasanya tidak menjadi soal jangan sampai melukai atau membunuh jiwanya. Kau harus memberi kesempatan agar mereka mau sadar." Sejenak memandang kepada kedua orang Mongol itu, Hok To Beng melanjutkan pula: "Sudah tentu terhadap manusia yang kejam dan jahat, tak boleh diberi ampun." Habis berkata pipanya menjulai ke tanah dan serentak terdengarlah rentetan bunyi mendesis. Salju yang menutup tanah pun telah luluh. Gin Liong dan Mo Lan Hwa tertawa geli, "Setiap kali toa-suheng melancarkan ilmu Menyongsong-api-kepada-

tetamu, orang tentu akan lari tunggang langgang," kata Mo Lan Hwa. Hok To Beng tertawa gelak2. Tiba2 dari jauh terdengar segelombang ringkik kuda yang nyaring dan panjang. Ah, ternyata kedua ekor kuda hitam itu berada pada jarak seratusan tombak. Kedua binatang itu ternyata tak mau menyusul tuannya yang melarikan diri. "Ho, kedua manusia kasar itu tak mau lagi dengan kudanya," Hok To Beng tertawa, Memandang kearah kedua orang Mongol yang sudah beberapa li jauhnya itu, dia berkata pula, ah kita terpaksa harus mengembalikan kepada mereka lagi." Habis berkata dia terus songsongkan pipanya kepada kuda itu seraya bersuit. Entah bagaimana kedua ekor kuda itu meringkik keras dan lari pesat menghampiri. Begitu Hok To Beng mengangkat pipanya keatas, kedua kuda itupun lambatkan larinya, Ketika tiba di tempat Hok To Beng kedua binatang itu berputar dua kali mengitari Hok To Beng lalu berhenti didepannya. Hok To Beng menyarungkan pipa ke belakang tengkuknya lalu pelahan-lahan mengelus-elus leher kuda itu. Kedua itu tampak jinak dan menurut sekali. Gin Liong ingin juga meniru. ia mengajak Mo Lan Hwa untuk mengelus-elus leher kuda yang seekor Tetapi si nona takut. "Siaumoay, jangan takut, masak jangan memegang pantatnya, kuda itu takkan menyepakmu." seru Hok To Beng. Ia memberikan kuda hitam yang keempat kakinya putih kepada Mo Lan Hwa dan kuda yang hitam mulut kepada Gin Liong, serunya:

"Cobalah kalian mengelus-elus, kalau sudah dikembalikan pada yang empunya, kalian tak mempunyai kesempatan lagi." Kedua anak muda itu memberanikan diri untuk mengelus-elus kuda tegar itu. "Lo-koko, mereka sudah tak kelihatan bayangannya lagi, Kita harus lekas mengejar supaya jangan kehilangan jejak mereka. "Jangan kuatir." Hok To Beng tertawa, "tak sampai seperempat jam mereka tentu dapat tersusul." Kemudian ia menerangkan bahwa kuda hitam berkaki putih itu disebut Oh-hun-kay-swat atau Awan hitam menutup salju, Sedang kuda hitam mulus disebut Oh-yanma atau kuda Hangus hitam. Kedua kuda itu merupakan kuda yang jarang terdapat diantara ratusan ribu kuda. "Larinya cepat dan tenang. Duduk dipunggung mereka dengan membawa cawan berisi air, airnya takkan menumpah." kata Hok To Beng. "Ah, sayang sebagus ini jatuh ditangan manusia yang tolol," seru Mo Lan Hwa. "Eh, jangan memandang rendah kepada kedua orang Mongol itu, seru Hok To beng. "menilik mereka tentu tersohor tokoh Lan-cut (kepala penternakan) di daerah padang Taiiwo. Tokoh silat kelas satu dewasa ini, tak mudah untuk mengalahkan mereka berdua." Saat itu Gin Liong tak mempunyai selera lagi untuk mendengarkan ocehan Hok To Beng. Melihat matahari sudah berada di tengah suatu tanda kalau sudah tengah hari, ia gelisah.

"Siau-hengte, apa engkau kuatir tak dapat menyusul kedua orang Mongol itu ?" tegur Hok To Beng. "Bukan," sahut Gin Liong, "yang kucemaskan kalau Liong-li locianpwe sudah pergi dari kota kecil itu." "Baik, mari kita berangkat," kata Hok To Beng "kalian boleh masing2 naik kedua ekor kuda itu dan aku akan mengikuti dari belakang." Gin Liong masih meragu, Tiba2 Mo Lan Hwa sudah loncat ke atas punggung salah seekor kuda dan entah dengan gerak bagaimana, Hok To Beng-pun sudah melambung dan berdiri diatas pantat kuda hitam kaki putih atau kuda Gin-hun-kay-swat. Terpaksa Gin Liongpun terus menceplak kuda yang seekor. Hok To Beng memutar pipa dan berseru pelahan maka kedua ekor kuda itupun terus lari. Diatas kuda, Gin Liong masih gelisah, Apakah ia dapat menyusul kedua orang Mongol dan apakah Liong-li locianpwe apakah masih berada dalam kota. Pikirnya, apabila bertemu dengan Ban Hong Liong-li, tentu ia dapat mengetahui siapakah pembunuh suhunya itu, Begitu pula tentang kawanan paderi jahat dan pertempuran dalam gua itu, tentu akan jelas semua." "A, ti-ti-ti, hu . . ." tiba2 terdengar Hok To Beng berseru keras dan pada lain kejap kuda hitam kaki putih yang dinaiki Mo Lan Hwa secepat angin telah melampau kuda Gin Liong, Pada hal kuda hitam kaki putih itu pantatnya memuat Hok To Beng yang berdiri jejak. Gin Liong terkejut Cepat ia menekan kendali kudanya dan kuda hitam mulus itupun segera meluncur pesat melampaui kuda hitam kaki putih.

Mo Lan Hwa menjerit-jerit memerintahkan kudanya supaya mengejar kuda hitam mulus, Melihat perlombaan itu, Hok To Bengpun tertawa gembira. Saat itu disebelah depan terbentang sebuah hutan lebat, Gin Liong seperti terbang rasanya, Ketika berpaling dilihatnya Mo Lan Hwa tertinggal tiga-puluhan tombak dibelakang walaupun mengerti ilmu naik kuda dan sudah beberapa kali naik kuda tetapi belum pernah ia naik kuda yang sepesat angin itu cepatnya. Setelah melintasi hutan ternyata di jalan sebelah muka, bayangan Alihapa dan Ciliwato tak tampak lagi. Segera ia lambatkan kudanya, tiba2 kuda hitam kaki putih dari Mo Lau Hwa sudah melampauinya. Hok To Beng enjot tubuhnya bergeliatan di udara dan melayang turun diatas pantat kuda Gin liong. "Siau-hengte, kepraklah kudamu !" seru Hok To Beng. "Mengapa kedua orang itu tak tampak ?" tanya Gin Liong. "Nanti kita bicara lagi di kota, Memang gerak-gerik kedua orang itu luar biasa," sahut Hok To Beng. Begitu tiba di pinggir kota, agar jangan mengejutkan orang, Hok To Bengpun loncat turun, Gin Liong dan Mo Lan Hwapun mengikuti kemudian mereka bertiga berjalan kaki menuju ke tengah kota. Kota itu tak berapa besar, jalannya cukup lebar dan penuh dengan rumah2 penduduk. Selain kaum pedagang, juga tak sedikit orang2 persilatan yang berjalan. "Lo-koko, dimanakah engkau melihat Liong-li cianpwe ?" tanya Gin Liong.

"Di hotel itu," kata Hok To Beng seraya menunjuk sebuah rumah penginapan. Rumah penginapan itu satu2 nya hotel di kota itu. Bangunannya terdiri dua tingkat. Dari diloteng atau tingkat kedua dari rumah makan itu tampak suara orang tertawa dan bicara dengan gembira. Macam sedang menghadiri suatu perjamuan makan. "Biasanya yang tiba di kota kecil ini hanya pedagang2. Tetapi sejak munculnya si orang tua membawa kaca wasiat itu, banyaklah kaum peralatan yang datang ke sini," kata Hok To Beng. Pada saat Gin liong keliarkan pandang mata, ia memang memperhatikan bahwa diantara beberapa orang yang tengah memandang kepadanya itu adalah orang2 yang pernah dilihatnya berada di tanah lapang sekeliling rumah pondok di hutan itu. "Toa-suheng, kita cari kamar yang tersendiri sajalah," kata Mo Lan Hwa, "diatas loteng terlalu berisik sekali." Begitu tiba di muka rumah penginapan itu, dua orang pelayan segera menyambut. Yang seorang menuntun kedua ekor kuda hitam mereka terus hendak dibawa ke istal kuda. Dan yang seorang segera memberi hormat kepada Hok To Beng. "Loya, mau minum arak atau ingin bermalam disini?" tanyanya. "Ada kamar besar ?" tanya Hok To Beng. Jongos itu mengatakan ada dan lalu membawa ketiga tetamu menuju kesebuah kamar besar. Hok To Beng setuju. Tak lama kemudian seorang jongos mengantar minuman teh.

"Bung, apakah ada dua orang tinggi besar, mengenakan pakaian kulit warna hitam, berkopiah warna hitam yang menginap disini ?" tanya Hok To Beng. Jongos menyatakan tak ada. Hok To Beng heran dan memandang Gin Liong serta Mo Lan Hwa dengan pandang bertanya, "Tolong tanya," kata Gin Liong kepada jongos itu pula, "apakah ada seorang nona berpakaian warna merah, umur lebih kurang 26-27 tahun yang datang kemari?" "Ya, ada, ada," kata jongos. "Dia tinggal di kamar mana ?" Gin Liong cepat mendesak. "Semalam li-hiap (pendekar wanita) baju merah itu tinggal di kamar sebelah, Setelah makan malam dia terus pergi." Gin Liong kecewa sekali, Hok To Beng segera minta jongos itu membawakan hidangan. Sesaat kemudian jongos itu pergi maka bertanialah Hok Tu Beng kepada Gin Liong. "Siau-hengte. apakah engkau tak menuduh bahwa yang membunuh suhumu itu Ban Hong Liong-li sendiri ?" "Tidak, Ban Hong liong-li locianpwe tentu takkan berbuat begitu." "Tetapi mengapa dia begitu terburu-buru sekali sampai menyewa hotel hanya makan terus pergi ?" Gin Liong menerangkan: "Liong-li cianpwe pernah mengatakan kepadaku bahwa dia harus menempuh perjalanan siang malam..." "Adik engkau pernah melihatnya ?" Mo Lan Hwa terkejut.

"Bukan saja pernah melihat bahwa siau-hengte ini pernah menerima pelajaran silat dari dia." tukas Hok To Beng. "Hai, bagaimana toa-suheng tahu ?" Mo Lan Hwa makin heran. Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Tadi sewaktu turun tangan, apa engkau tak melihat aku telah gagal menyambar tangan siau hengte, karena siau-hengte menggunakan gerak Liong-li -biau ?" Pada saat itu jongospun datang membawa hidangan Mereka bertiga segera menyantapnya. Mo Lan Hwa sibuk melayani, menuangkan arak untuk toa-suheng dan Gin Liong. Dia sendiripun minum juga. Setelah habis dua cawan, tampak pipinya kemerah-merahan seperti bunga mawar, bibir makin segar dan sepasang bola matanya tampak bersinar, Nona itu makin bertambah cantik sekali. Gin Liong terlongong-longong. Melihat dirinya dipandang oleh anak muda itu, Mo Lan Hwa tundukkan kepala. Hatinya amat bersuka cita. Rupanya Gin-Liong menyadari bahwa perbuatannya itu kurang senonoh, Maka diapun segera beralih memandang Hok To Beng. Hok To Beng tengah menggerogoti sebuah paha ayam panggang. Dia tak mengacuhkan apa2 lagi. Tiba2 terdengar derap langkah orang bergegas menuju ke dalam kamar sebelah. Brak, terdengar suara meja ditampar. "Bagaimana, mengapa kalian begitu cepat sudah kembali?" seru seseorang dari kamar sebelah.

Seorang lelaki bernada kasar menyahut marah: "Ketika kami pergi, rumah kecil itu sudah kosong, orangnya sudah pergi." "Huh, kemarin sore masih kudengar orang mengatakan bahwa ditempat itu penuh dikerumuni orang." kata orang yang pertama tadi. Orang yang bernada kasar, menyahut: "Memang benar tetapi mereka tinggal mayat yang berserakan disana sini." "Hai, siapa saja mereka itu ?" Lelaki bernada kasar itu menerangkan: "Pengemis jahat - kaki- telanjang Jenggotterbang, Nenek-buta- tongkat-burung-hong, paderi Hoa, Lima-ular-berbisa, Kuku-garuda, seorang imam tua dan masih terdapat pula seorang kakek tua." Berhenti sebentar, ia berkata pula dengan gopoh: "Mari kita pergi, mereka sudah menunggumu diluar hotel." Terdengar langkah kaki orang bergegas keluar dari kamar dan tidak lama lenyap di halaman. Mendengar nama pengemis kaki telanjang dan paderi gemuk yang ikut terkapar sebagai mayat, serentak teringatlah Gin Liong akan imam jenggot indah yang berwibawa itu. "Lo-koko, apakah kenal dengan seorang to-tiang yang wajahnya mirip seorang dewa?" segera ia bertanya kepada Hok To Beng. "Coba terangkan imam itu." kata Hok To Beng. Setelah mendengar keterangan dari Gin Liong, Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Ho sungguh tak kira kalau imam hidung kerbau itu juga tergerak nafsunya, Dari ribuan li dan melintasi gunung,

menyebrang laut, dia perlu kan juga datang ke Tiang-peksan !" "Lo-koko, siapakah lotiang itu ?" Sambil mengelus-elus jenggot, Hok To Beng menatap Gin Liong, serunya: "Siau-hengte, pernahkah engkau mendengar tentang keempat tokoh Bu-lim Su-ik ?" Gin Liong mengangguk. "Suhu pernah menceritakan kepadaku," katanya, "keempat Bu-lim Su-ik dan lo-koko bertiga Swat-thian Samyu itu merupakan tujuh tokoh dunia persilatan yang disebut Ih Iwe-jit-ki." Hok To Beng terbahak-bahak : "Ah, hal itu sudah usang. sesungguhnya aku tak layak termasuk dalam Jit-ki (tujuh tokoh aneh) itu." "Toa-suheng, imam itu apakah bukan yang toa-suheng katakan sebagai Hun Ho totiang dari pulau Hong-lay-to itu ?" Lan Hwa menukas. "Siapa lagi kalau bukan imam hidung kerbau itu." Hok To Beng mengangguk. "Adakah lo-koko pernah bertemu dengan Thian-lam Ji-gi ?" Hok To Beng tersenyum: "Mungkin tak berjodoh karena sudah dua kali aku ke selatan tetapi tak pernah berjumpa dengan kedua tokoh sakti dari Thian-lam itu." Gin Liong kerutkan dahi: "Lo-koko, apakah engkau tak menganggap bahwa kakek yang membawa kaca wasiat itu bukan salah seorang dari Thian Lam Ji-gi ?"

Hok To Beng merenung sejenak, "Sukar untuk mengatakan secara pasti," katanya sesaat kemudian," tetapi peristiwa itu sudah menggemparkan dunia persilatan. Kurasa peristiwa itu tentu akan segera terungkap !" Kemudian ia menanyakan apakah Gin Liong dan Lan Hwa sudah selesai makan. "Baik, mari kita segera mencari kedua kutu busuk itu," kata Hok To Beng setelah kedua anak-muda itu mengangguk. Segera mereka bertiga keluar dari kamar seorang jongos segera menyambut dan menanyakan apakah ketiga tetamu itu hendak keluar jalan2. "Hari masih sore, kita akan melanjutkan perjalanan lagi," sahut Hok To Beng. Kemudian ia membayar rekening dan ongkos memberi makan kedua kuda. Pada saat mereka bertiga baik kuda, tiba2 jongos bergegas keluar menghampiri Hok To Beng. "Tuan, kedua kawan tuan itu sudah berlalu," kata jongos itu. "Siapa ?" Hok To Beng heran. "Yang tuan tanyakan kedua tetamu tinggi besar, memakai jubah dan kopiah kulit, mata besar dan mulut lebar tadi..." Melihat gerak-gerik si jongos, Hok To Beng tertawa, sehingga jongos itu melongo. "Kemanakah perginya kedua orang itu ?" tegur Lan Hwa. "Ke barat sana !" si jongos menunjukkan jarinya ke barat

"Hayo kita berangkat," seru Hok To Beng setelah menghaturkan terima kasih kepada jongos itu. Banyak sekali orang persilatan yang datang dan pergi dari kota itu. Setiba diluar kota, Hok To Beng berpaling dan hendak bicara tetapi ketika melihat wajah Gin Liong dan Lan Hwa mengerut kegelisahan, ia tahu apa yang dipikirkan kedua anak muda itu. "Siau-hengte." seru Hok To Beng tertawa," jangan kuatir kalau tak dapat mengejar Liong-Ii locianpwe itu, Setiap orang yang hendak menuju ke selatan, tentu harus berhenti di teluk Taylian menunggu perahu, Kalau kita agak cepat berjalan, kemungkinan kita dapat tiba lebih dulu disana." Kemudian Hok To Beng berkata pula kepada Gin Liong: "Kalau Ban Hong Liong-li tak berada di Taylian, akan kuminta tacimu untuk menemani engkau ke Kanglam." Mendengar itu Lan Hwa tertawa gembira, Kebalikannya diam2 Gin Liong kerutkan dahi. "Adik, mari kita melanjutkan perjalanan lagi," kata Lan Hwa seraya loncat kepunggung kudanya. Gin Liongpun juga loncat keatas kudanya, sedangkan Hok To Beng-pun sudah berdiri di pantat kuda. Kedua kuda tegar itu segera mencongklang pesat, Tetapi tiba2 mereka mendengar suara gemuruh dari belakang, Ketika berpaling dilihatnya berpuluh-puluh orang persilatan yang menunggang kuda, menerobos keluar dari kota, Mereka berteriak-teriak hendak menangkap pencuri kuda. Di jalan itu tiada tampak lain orang lagi kecuali Gin Liong bertiga, Sudah tentu dia marah mendengar teriakan kawanan penunggang kuda itu, ia hentikan kudanya, Melihat itu Lan Hwapun hentikan kuda dan berputar ke belakang.

Tiba2 terdengar desing tajam dari sebatang anak panah pertanyaan yang meluncur ke udara. Melihat itu Hok To Beng tertawa, katanya kepada Gin Liong: "Siau-hengte, mereka adalah anak buah dari Macantertawa Oh Thian Pa dari gunung Thian-po-san. Berhatihatilah dengan Kau-kin-tiang-pian (cambuk dari urat naga) mereka." Waktu memandang dengan penuh perhatian, Gin Liong memang melihat berpuluh kawanan penunggang kuda itu masing2 mencekal sebatang cambuk sepanjang satu tombak lebih. Saat itu kawanan penunggang kuda membentuk diri dalam bentuk seperti busur, dan lari kencang menyerbu ke arah Gin Liong bertiga. Sambil berdiri diatas pantat kuda hitam mulus, Hok To Beng melambaikan pipa ke udara dan berseru nyaring: "Saudara dari markas Som-lim-say, dengarkanlah ! Aku Hok To Beng, suruhlah pemimpin barisanmu tampil bicara dengan aku." Saat itu kawanan penunggang kuda hanya terpisah duapuluhan tombak, Tampaknya mereka tak mempunyai pemimpin. Melihat itu Gin Liong dan Lan Hwa segera mencabut pedang. Tetapi saat itu berpuluh-puluh penunggang kuda sudah mengepung, Wajah mereka memberingas dan serempak mengayunkan cambuknya kearah Gin Liong bertiga. "Tring, tring, tring. . . . dengan tangkas Gin Liong dan Lan Hwa segera memutar pedang untuk membabat berpuluh-puluh cambuk itu. Ketika beradu dengan pedang

Tanduk Naga, berpuluh-puluh Kau-kin-tiang-pian atau cambuk-urat-naga berhamburan putus.. Sedang Hok To Beng dengan tertawa gelak2 mengayunkan pipanya untuk menyapu serangan cambuk. Terdengar pekik jeritan kejut. dan kesakitan dari berpuluh-puluh penunggang kuda itu ketika cambuk mereka terlempar jatuh, Dan menyusul terdengar beberapa tubuh mereka terjungkal dari kuda. Kembali dari arah kota kecil itu menggemuruh suara kuda berlari, Hampir seratus penunggang kuda menerobos keluar dan mencongklang pesat. Dua ekor kuda berbulu hijau dan merah, dan berada paling depan dinaiki oleh sepasang lelaki perempuan yang mengenakan pakaian ringkas atau pakaian orang persilatan warna kuning emas. Dibelakang kedua orang itu, empat lelaki berpakaian warna putih perak menunggang empat ekor kuda putih. Rupanya keenam penunggang kuda itulah yang menjadi pemimpin dari barisan kuda yang jumlahnya hampir seratus ekor. Melihat itu Hok To Beng bahkan tertawa gelak2 dan berseru: "Hai, berhentilah kalian, lihatlah pemimpin kalian suami isteri telah datang!" Sambil berkata Hok To Beng ayunkan pipanya dan rubuhlah seorang lawannya lagi, terjungkal jatuh dan kudanya. Berpuluh-puluh penunggang kuda yang menyerang Gin Liong bertiga itu, sesungguhnya sudah kewalahan. Melihat saycu atau pemimpin mereka datang, timbullah semangatnya lagi.

Yang sudah kehilangan cambuk, berteriak-teriak memberi bantuan semangat kepada kawan-kawannya yang masih mencekal cambuk, serangan merekapun makin gencar. "Tring, tring, tring . . . ." Terdengar dering benda keras beradu. Gin-Liong terkejut dan berpaling. Dilihatnya seorang lelaki tua bermata bundar bibir tipis, pakaian compang camping, tengah mengobatabitkan sebatang tongkat bambu wulung, menghantam kawanan penunggang kuda yang tengah menyerang Gin Liong bertiga. Seketika gemparlah kawanan penunggang kuda. Mereka menjerit dan memekik, berhamburan menyingkir pergi. "Hong koko, orang2 itu memang menjengkelkan sekali. Hajarlah mereka !" tiba2 terdengar Lan Hwa berseru., Gin Liong terkejut. Segera ia mengetahui bahwa lelaki tua yang berpakaian seperti pengemis itu adalah Hong-tiansiu atau si Gila yang bergelar Keng-joh-hui-heng atau Terbang-diatas-rumput. Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Gila, jangan keliwat keras yang memukul, tuh Oh Thian-Pa sudah datang !" Tepat pada saat itu terdengarlah suara seseorang berseru gopoh: "Harap lo-cianpwe berdua suka berhenti. Wanpwe Oh Thian Pa akan menghaturkan maaf." Suara itu diserempaki dengan tibanya dua penunggang kuda, Oh Thian Pa yang bergelar Siau-bin-hou atau si Macan-tertawa, bertubuh tinggi besar dan mengenakan pakaian kuning emas. Alisnya tebal, mata besar, wajah empat persegi, kulitnya putih bersih tiada tumbuh kumis. Seorang yang memberi kesan baik.

Isteri dari Oh Thian Pa bernama Toknio-nio atau Wanita-beracun, Mengenakan pakaian kuning emas dan membawa pedang emas. wajahnya cantik. Sedang keempat ekor kuda putih yang mengiring dibelakang, masih berada tiga-puluhan tombak jauhnya, Seratus ekor barisan kuda itu, berhenti dan berjajar-jajar. Begitu tiba dihadapan Hok To Beng dan Hong-tian-soh, suami isteri Oh Thian Pa segera loncat turun dari kudanya. Gin Liong dan Lan Hwapun menyimpan pedang lalu turun dari kuda dan berdiri di belakang kedua jago tua. "Wanpwe suami isteri Oh Thian Pa dan Pik Li-hoa menghaturkan hormat kepada locianpwe berdua, Entah anak buah kami melakukan kesalahan apa terhadap lo cianpwe berdua, wanpwe mohonkan maaf." Mendengar pemimpinnya minta maaf, kawanan penunggang kuda itu serentak berjongkok ditanah dan minta ampun kepada kedua pemimpin mereka, "Ah, Oh saycu terlalu merendah diri." kata Hok To Beng, "peristiwa ini hanya suatu kesalahan faham saja..." "Oh Thian Pa, jangan pura2 tak tahu," cepat Hong-tiansoh menukas, "anak buahmu hendak merebut kedua ekor kuda dari Setan Asap dan adik perempuannya !" Melihat gelagat kurang baik, cepat2 Hok To Beng memukulkan pipanya ke tongkat bambu wulung Hong-tiansoh. "Mengapa ?" si Gila terkejut. "Hong koko, kedua ekor kuda ini kemungkinan memang milik mereka." cepat Lan Hwa mendahului.

"Sekalipun kuda mereka tetapi mengapa mereka begitu ngotot turun gunung mengejar sampai kemari ?" tukas Hong tian-soh. Gin Liong kerutkan dahi, ia merasa Hong- tian-soh itu lebih gila lagi wataknya dari Hok To Beng. Tetapi ternyata bukan saja tak marah, kebalikannya Oh Thian Pa dan Pik Li-hoa tertawa. Kemudian Oh Thian Pa membentak anak buahnya yang masih bersimpuh di tanah itu suruh mereka lekas menggabung dalam barisannya berpuluh-puluh penunggang kuda tadi, pun segera berbangkit dan menuntun kudanya menuju kedalam barisan. "Sungguh berwibawa! Sungguh menyeramkan!" seru Hong-tiah- soh. Macan-tertawa hanya ganda tertawa dan mengucapkan beberapa kata merendah. Kemudian ia memandang kearah kedua kuda dari Gin Liong dan Lan Hwa. Gin Liong tahu bahwa kedua ekor kuda hitam mulus dan hitam berkaki putih itu sebenarnya milik Oh Thian Pa yang dicuri oleh kedua orang Mongol tadi. Maka segera ia mengatakan kepada Hok To Beng supaya kuda itu dikembalikan saja kepada Oh Thian Pa. Hok to Beng setuju tetapi Lan Hwa menentang: "Salah mereka mengapa sampai dicuri orang, Dan kita mengambilnya dari pencuri itu." Tiba2 Hong-tian-soh deliki mata: "Apa? Kalau memang kita merampas dari pencuri itu, kuda itu milik kitalah !"

Tok-mo-cu atau Wanita-berbisa Pik Li-hoa agaknya mempunyai kesan baik terhadap Mo Lan Hwa, Maka berkatalah ia kepada suaminya: "Karena nona itu merebut dari si pencuri kuda, biarlah kuda itu diambinya." Oh Thian Pa setuju dan menyerahkan kuda itu kepada Gin Liong serta Lan Hwa, Lan Hwa memandang Pik Lihoa dengan tertawa. "Dihadiahkan atau diberi sama saja, Kelak siaumoay sudah bosan, akulah yang akan mengembalikan kuda itu kepada pemiliknya," kembali Hong-tian-soh menyeletuk. Pun Hok To Beng juga menambahkan bahwa apabila urusan sudah selesai, kedua kuda itu tentu akan dikembalikan lagi kepada Oh Thian Pa. Setelah peristiwa itu selesai, Oh Thian Pa minta agar Hok To Beng bertempat singgah di markas gunung Thianpo-san. Tetapi Hok To Beng mengatakan lain kali saja. Oh Thian Pa pun membawa anak buahnya pulang ke gunung. Hok To Beng memperkenalkan Gin Liong kepada Hongtian-soh. Gin Liong memberi hormat kepada kakek gila itu. Melihat Gin Liong seorang pemuda cakap dan gagah, kemudian memandang ke arah Lan Hwa, Hong-tiansohpun tertawa gembira. "Aha, siau-hengte ibarat mustika dari dalam telaga dan siaumoay sebagai mutiara dari dalam laut, Sungguh merupakan pasangan yang serasi sekali...." Hong-tian-soh menyeletuk lagi. Melihat si Gila itu hendak mengoceh tak keruan, cepat2 Hok To Beng menukas:

"Gila, tahukah engkau bahwa guru dari siau-hengte ini tokoh angkatan muda yang kepandaiannya lebih tinggi dari kita berdua ?" "Siapa ?" "Pelajar-berwajah-kumala Kiong Cu Hun!" Hong-tian-soh agak terbeliak kaget dan memandang Gin Liong lekat-, Tiba2 ia teringat sesuatu, serunya: "Setan-asap, semalam aku bertemu dengan Ban Hong Liong-li yang tergila-gila pada Kiong Cu Hun itu !" "Dimana?" serentak Gin Liong berseru. Hong-tian-soh kerut dahi, ia heran mengapa Gin Liong begitu tegang, Hok To Beng segera menerangkan: "Siau-hengte hendak mencari Ban Hong Liong-li." "Huh, kalau mau kejar, cepat-cepat sajalah, Budak itu luar biasa ilmu ginkangnya..." "Hong koko, dimanakah engkau berjumpa dengan Liong-li locianpwe itu ?" Gin Liong makin tegang. "Dia tengah berlari sekencang-kencangnya. Heran, mengapa dia menempuh perjalanan pada waktu tengah malam," berhenti sejenak, Hong-tian-soh melanjutkan pula: "Asal sebelum matahari terbenam engkau dapat mencapai Hong-shia, mungkin engkau dapat mengejar Ban Hong Liong-li" Saat itu matahari sudah condong ke barat Gin Liong makin gelisah. "Toa-suheng, mari kita berangkat !" seru Lan Hwa.

"Kalau mau berangkat, silahkan berangkat dulu. Aku dan Setan Arak berjanji pada toa-su-hengmu untuk bertemu disini," sahut Hongtian-soh. Hok To Bengpun mengatakan bahwa setelah urusan selesai, ia bersama Hong-tian-soh tentu segera menyusul. "Disepanjang jalan, tinggalkan tanda rahasia Pipa-emas." "Atau tanda tongkat pemukul anjing itu juga boleh," Hong-tian soh menyelutuk, "bukankah seratus orang yang melihat diriku tentu akan mengatakan kalau aku seorang tukang peminta nasi." Diam2 Mo Lan Hwa girang karena kedua tokoh itu tak ikut pergi, Demikian keduanya segera naik kedua ekor kuda hitam, Dalam waktu yang singkat mereka sudah melintasi sebuah daerah pegunungan salju. Sejam kemudian mereka sudah melalui beberapa desa dan saat itu disebelah depan tampak jalan besar yang menuju ke kota Hong-shia. Penuh orang berjalan di jalan besar itu. Kebanyakan mereka adalah pedagang2. Saat itu matahari sudah condong kearah barisan puncak gunung disebelah barat. "Adik, tahukah engkau gunung apa itu ?" tanya Lan Hwa. Sambil memandang ke gunung yang menjulang tinggi ke angkasa, Gih Liong gelengkan kepala, mengatakan tak tahu. Lan Hwa kerutkan dahi. Dia heran mengapa Gin liong tak tahu apa2 sama sekali. Bagaimana akan mencari orang ke Kanglam yang begitu luas.

"ltulah puncak Mo-thian-ni. Benggolan kaum Hitam diluar perbatasan yakni ketujuh saudara Tio, bersarang di gunung itu," Lan Hwa menerangkan. "Adik, pelahan dulu," sesaat kemudian Lan Hwa berseru ketika melihat pada jarak satu li di sebelah muka tampak mendatangi belasan penunggang kuda yang berpakaian seperti orang persilatan. Karena debu amat tebal maka sukar diketahui wajah mereka. Rupanya kawanan penunggang kuda itu tahu juga akan Gin Liong dan Lan Hwa. Penunggang kuda yang menjadi pemimpin rombongan itu segera hentikan kudanya. Dan saat itu Gin Liongpun sudah tiba didepan mereka. Tanpa berkata apa2, seorang penunggang kuda menerobos dari rombongannya dan terus lepaskan pukulan jarak jauh kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu terkejut dan cepat condongkan kepala kudanya lalu balas menghantam. "Bum . . . ." Terdengar dengus orang tertahan, orang itu dibawa mundur oleh kudanya dan terpelanting jatuh ke tanah, berguling-guling dan menjerit-jerit. . . Rombongan penunggang kuda itupun cepat mencabut senjatanya hendak menyerang. Tetapi kuda hitam kaki putih dari Lan Hwa tiba2 meringkik berloncatan melingkarlingkar dengan garang sekali. Belasan ekor kuda dari rombongan itu terkejut dan meringkik ketakutan lalu lari berserabutan keempat penjuru. Tetapi sebagai gantinya, Gin Liong dan Lan Hwa segera melihat seorang penunggang kuda melintang di tengah jalan. Penunggangnya seorang lelaki berwajah hitam,

mukanya penuh brewok, hidung dan mulut besar, alis tebal menaungi sepasang mata yang bundar besar. Orang itu dingin2 memandang kedua anak. "Adik, dia adalah Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago nomor empat dari ketujuh saudara Tio," bisik Lan Hwa. Tiba2 dari samping kanan dan kiri terdengar teriakan gempar dan menyusul rombongan penunggang kuda tadi segera mengepung Gin Liong, Lan Hwa dan Bong-kimkong. Gin Liong makin gelisah, Dia hendak cepat2 melanjutkan perjalanan. Tak mau dia terlihat dalam pertempuran yang tak berguna itu. "Minggirlah !" serunya seraya mencongklangkan kuda menerjang Bong-kim-kong dan ayunkan tangan kanannya menghantam. Bong-kim kong atau Malaekat-buas Tio Tik Lok tertawa gelak2. ia kepitkan kedua kakinya ke perut kuda dan melambungkan kuda itu loncat sampai satu tombak tingginya lalu ayunkan tongkat Long-ya-pang menghantam pantat kuda Gin Liong. Pukulannya luput, Gin Liong terkejut. Cepat ia memacu kudanya loncat ke muka. Melihat Gin Liong terancam bahaya, Lan Hwapun segera membalutkan pedangnya ke pinggang Malaekatbuas, Tetapi jago keempat dari Tujuh saudara Tio itu tertawa keras, lintangkan kuda seraya balikkan tongkatnya ke pinggang nona itu. "Budak, karena engkau tahu namaku, maka serangan ini takkan mencabut nyawamu !"

Lan Hwapun terkejut karena serangannya gagal. Cepat ia menyadari bahwa ketujuh penjahat dan gunung Mo-thiannia itu memang pandai sekali bertempur dengan menunggang kuda. Kalau mau menundukkan Malaekatbuas, lebih dahulu harus memaksanya turun dari kuda. Begitu tongkat Long - ya - pang tibu, nona itupun loncat turun ke tanah. Segulung sinar merah berkelebat membabat kaki depan dari kuda Bong-kim-kong, Bong kim-kong menjerit kaget, menarik kendali sehingga kuda berdiri tegak menjulangkan kaki depannya ke atas, Lalu dengan jurus Menjolok-bulandidasar-laut, Bong-kim-kong menyodokkan tongkat ke pedang Lan Hwa. Melihat babatannya tak berhasil Lan Hwa marah sekali, ia memutar pedang untuk memapas siku lengan kanan lawan. Bong-kim,-kong terkejut dan tegakkan lagi tubuhnya. Kudanya ikut berputar-putar sehingga menghampiri ke tempat Gin Liong. "Hayo, engkaupun harus turun !" tiba2 Bong-kim-kong membentak dan menyapukan tongkatnya ke tubuh Gin Liong., Wut. pemuda itu ayun tubuhnya melambung ke udara sampai beberapa tombak, Sambil bergeliatan di udara ia berseru: "Taci, menyingkirlah agak jauh !" Serempak dengan teriakan itu. segulung sinar merah yang menyilaukan mata segera berhamburan memancar di udara, Belasan rombongan penunggang kuda begitu melihat sinar itu serentak memekik keras. Bong-kim-kong pucat seketika, ia tak sempat berbuat apa2 lagi kecuali buang tubuh berguling jatuh dari kudanya.

Gin Liong tak mau melukai kuda orang, ia loncat turun dari kudanya, Melihat itu dengan menggerung keras, Bongkim-kong loncat menghantamkan tongkat long-ya-pang kearah kepala Gin Liong. Baru saja kaki Cin Liong menginjak tanah atau tahu2 kepalanya sudah terancam. ia marah sekali, Dengan sebuah gerak berputar, ia sudah menyelinap di samping Bong-kimkong lalu secepat kilat membabatkan pedang Tanduk Naga ke lengan orang. Serasa terbanglah semangat Bong-kim-kong melihat gerak yang luar biasa dari anak muda itu. Cepat ia lepaskan long-ya-pang lalu enjot tubuhnya sampai dua tiga meter ke belakang, Dan karena kuatir pemuda itu akan menyerangnya lagi maka lebih dahulu ia songsongkan kedua tangannya kearah Gin Liong. Gin Liong makin panas, ia balas menghantam dengan tangan kiri, Bum . . . . Debu berhamburan angin menderuderu dan tubuhpun tertatih-tatih, Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago nomor empat dari persaudaraan Tio yang menguasai gunung Mo-thian-nia, saat itu terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan jatuhlah ia terduduk di tanah. ia gagal untuk menguasai keseimbangan tubuhnya, Serentak terdengarlah pekik kejut dari belasan anak buah Bong-kim-kong yang serempak mengangkat senjata masing2. Tetapi tak seorangpun yang berani menolong Bong-kim-kong. karena tempat Bong-kim-kong duduk di tanah itu hanya terpisah dua meter dari Mo Lan Hwa yang tegak berdiri sambil lintangkan pedangnya. Tampak jago keempat dari persaudaraan Tio itu duduk lunglai di tanah dan pejamkan mata menunggu ajal. Melihat sikap berpuluh anak buah Bong-kim-kong yang memberingas itu, marahlah Lan Hwa. ia merasa terhina

karena dipandang oleh belasan anak buah Bong kim-kong. Dia menafsirkan pandang mata anak buah Bong-kim-kong itu menuduh bahwa ia (Lan Hwa) seorang nona yang licik dan curang karena hendak membunuh seorang lawan yang sudah tak berdaya. "Huh," ia mendengus lalu masukkan pedangnya kedalam sarung dan sekali menggeliat ia sudah tiba di samping Gin Liong. Gin Liongpun sarungkan pedang dan mengajak nona itu segera melanjutkan perjalanan lagi. Keduanya segera loncat ke kuda masing2, Tetapi baru hendak melarikan kudanya, tiba2 belasan anak buah Bong-kim-kong itu bersorak sorai dengan gembira. Ketika Gin Liong dan Lan Hwa memandang kedepan, ternyata lebih kurang dua li jauhnya tampak berpuluh puluh penunggang kuda tengah mencongklang cepat sekali, Orang yang sedang berada di jalanan, buru2 lari ketakutan menyingkir ke tepi jalan. Yang didepan tiga ekor kuda bulu hitam putih dan merah. Penunggangnya seorang lelaki dan dua orang perempuan. Ketiga ekor kuda lari secepat angin dan beberapa kejab mereka sudah berada setengah li dari tempat Gin Liong. Penunggang kuda hitam, seorang lelaki mengenakan pakaian dan mantel hitam. Bertubuh perkasa, muka lebar, dada bidang tetapi kulit hitam seperti pantat kuali, pinggangnya menyanding sepasang pukul besi berbentuk segi-delapan. Warnanya kuning emas dan beratnya tak kurang dari berpuluh-puluh kati. Rupanya dia tengah memberingas marah sehingga tampaknya makin menyeramkan.

Penunggang kuda putih seorang nona cantik berumur dua-puluhan tahun. wajahnya bulat telur alis melengkung seperti busur. Bibirnya merah semerah bunga mawar, Rambutnya yang panjang menjulai diatas bahu, Mengenakan baju dari sutera warna biru, demikian juga celana kun, Diatas seekor kuda putih, nona itu tampak makin menonjol kecantikannya. Sedang yang naik kuda bulu merah, seorang dara berumur lima belasan tahun. Mata bundar, wajahnya kemerah-merahan segar Rambutnya dibelah dua kuncir. Mengenakan pakaian warna merah, sikapnya masih kekanak-kanakan dan sepintas pandang memberi kesan bahwa dia seorang bujang. Rombongan anak buah Bong-kim-kong tadi makin menggemuruh soraknya, Melihat itu Lan Hwa segera berkata bisik2 kepada Gin Liong: "Adik, hati-hatilah, penunggang kuda hitam itu adalah jago nomor lima dari persaudaraan Tio. Namanya Tio Tek Piu bergelar Thia-lo-han (Arhat besi). Seorang limbung yang keras kepala sekali." Berhenti sejenak, Lan Hwa melanjutkan: "Dan nona yang naik kuda putih itu adalah saudara ketujuh dari persaudaraan Tio, ilmu pedang dan ilmu ginkangnya, cemerlang sekali, ilmu kepandaiannya lebih unggul dari keenam engkoh2-nya. Orang memberi gelaran kepadanya Mo-thian-giok-li (Bidadari dari gunung Mothian), Namanya Tio Li Kun dan baru berumur duapuluh empat tahun." Sengaja Mo Lan Hwa memberi tekanan dengan nada keras waktu mengucap umur 24 tahun itu.

"Budak diatas kuda merah itu, centil dan ketus sekali, Orang memberinya nama Cabe Rawit Siau Hoan kepadanya." Saat itu ketiga kuda itupun sudah hampir tiba. Bidadarigunung-Mo-thian Tio Li Kun yang naik kuda putih, menatap Gin Liong dengan lekat. Begitu ketiga ekor kuda itu tiba, maka kuda hitam Gin Liong dan kuda hitam kaki putih dari Mo Lan Hwa segera meringkik keras sehingga ketika kuda pendatang itu terkejut berputar-putar. Melihat engkohnya nomor empat Bong-kim-kong duduk di tanah, secepat kilat si cantik Tio Li Kun terus apungkan tubuh melayang kearah Bong-kim-kong. Gin Liong terkejut Gerakan si cantik Li Kun itu menyerupai sekali dengan ilmu lari cepat Angin-meniupkilat-menyambar yang dimilikinya. "Siapa yang memukul jatuh engkohku ini ?" teriak sebuah suara kasar. Ketika berpaling, Gin Liong dapatkan si limbung Thiatlo-han memandangnya dengan mata berapi-api sambil naik seekor kuda hitam dan tak henti-hentinya berputar, Sret, dia terus mencabut sepasang palu besi dan dibolang-balingkan dengan keras. Gin Liong tertawa dingin, Sesaat ia hendak membuka mulut tiba2 si Cabe rawit Siau Hoan menuding kearahnya: "Ngo-ya, itulah orangnya...." "Tutup mulutmu, Siau Hoan," tiba2 terdengar sebuah bentakan halus.

Gin Liong dan Mo Lan Hwa berpaling. Ternyata si nona cantik yang tengah berjongkok menolong Bong-kim-kong, deliki mata dan membentak bujang Siau Hoan. Ketika melihat Gin Liong berpaling memandangnya, muka si cantik Li Kun tersipu-sipu merah dan cepat dan cepat2 tundukkan kepala, mengangkat bangun Bong-kimkong. "Budak, engkaupun harus turun dari kuda !" Gin Liong terkejut Ketika berpaling, dilihatnya Thiat-Lo-han hendak menyerangnya. Kuda hitam meringkik dahsyat Mengangkat kaki depan keatas tegak berdiri sambil berputaran dengan indah terhindarlah binatang itu dari hantaman Thiat-lo han Tio Tik Piu. Jago kelima dari persaudaraan Tio terkejut sekali ketika serangannya luput. Tetapi pada saat ia hendak menyerang lagi, tiba2 Gin Liong sudah melontarkan sebuah hantaman dahsyat sehingga senjata Thiat-lo-han terlempar lepas dari tangannya, melayang sampai tiga tombak jauhnya. Thiat-lo-han memekik-mekik seperti orang kebakaran jenggot Betapa ingin ia dapat meraih senjatanya itu, Sesosok bayangan merah berkelebat dan dengan gerak yang indah sekali, Mo-thian-giok-li Tio Li Kun telah menyambar tangkai pukul besi itu lalu dilemparkan kepada engkohnya: "Terimalah !" Seketika terdengarlah sorak sorai yang menggemuruh dari sekalian anak buah gunung Mo-thian-nia. Menyambuti senjata pukul besinya, Thiat-lo-han tertawa gelak2.

Melihat peristiwa itu marahlah Gin Liong, Segera ia kerahkan seluruh tenaga ke lengan-nya. "Lo ngo, menyingkirlah!" tiba2 terdengar Bong-kim-kong membentak keras. Thiat-lo-han Tio Tek Lok memandang kearah engkohnya nomor empat dan adik perempuannya nomor tujuh lalu kisarkan kudanya ke samping untuk memberi jalan. Keenam penunggang kuda yang menghadang di tengah jalan pun buru2 menyingkir. Demikian pula dengan kelompok anak buah yang datang bersama Thiat-lo-han dan Mo-thian-giok-li tadi, pun menyingkir ke-tepi jalan. "Taci, mari kita berangkat !" Gin Liong berseru kepada Lian Hwa. kedua muda mudi itupun segera mencongklangkan kudanya dengan pesat. Mendengar Gin Liong menyebut Lan Hwa dengan panggilan "taci", seketika merekah setitik harapan dalam hati Mo-thian-giok-li Tio Li Kun. ia tersenyum girang. Saat itu matahari sudah condong ke barat dan tertutup oleh puncak gunung Mo-thian-san yang menjulang tinggi. Sekonyong-konyong hidung Gin Liong terbaur serangkum angin wangi, ia tergetar dan berpaling, Tampak ditepi sebelah kiri jalan, tengah berjajar sekelompok barisan kuda dari gadis cantik. Mereka mengenakan pakaian merah semua dan menyanggul pedang di punggung. Kuda hitam mulus meringkik terus menerjang ke muka, Barisan nona2 cantik itu cepat menyingkir ke samping jalan.

Tak berapa lama disebelah muka tampak tembok dari kota Hong-shia. Seperminum teh lamanya, tibalah Gin Liong berdua di pintu kota itu. Pintu kota yang besar dan tinggi dijaga oleh beberapa prajurit Mereka terkejut melihat kedatangan Gin Liong dan Lan Hwa. Saat itu lampu2 rumah dan jalan mulai dipasang. Sambil menunggang kuda, Gin Liong memandang kian kemari, ia berharap dapat melihat Ban Hong Liong-li berada diantara orang2 yang berada di jalan itu. "Adik, marilah kita cari rumah penginapan dulu, Baru nanti kita menyelidiki jejak Ban Hong Liong-Ii locianpwe," kata Lan Hwa. Gin Liong setuju. Tiba2 dari kerumunan orang terdengar sebuah lengking teriakan: "Liong koko, Liong koko !" Gin Liong terkejut dan berpaling, Beberapa puluh tombak jauhnya, tampak seorang dara baju putih dan punggung menyelip pedang, tengah menerobos dari kerumun orang dan bergegas menghampiri Gin Liong. Melihat dara itu bukan kepalang girang Gin Liong, serentak ia berseru gopoh: "Adik Lan !" menyongsongnya. serunya seraya memutar kuda disebelah belakang

Orang2 yang berada di jalan terkesiap memandang kedua muda mudi itu. Ada yang menduga kalau keduanya engkoh dan adik, ada pula yang menyangka tentu sepasang kekasih. Begitu tiba, Gin Liong terus loncat turun dari kuda dan mencekal tangan sumoaynya, Ki Yok Lan. "Lan-moay, bilakah engkau tiba disini ?" tanyanya.

Melihat Gin Liong, serentak teringatlah Yok Lan akan suhunya yang telah meninggal dicelakai orang itu. Air matanya bercucuran membasahi kedua pipi. Betapa ingin ia rebahkan kepala ke dada sukonya dan menangis sepuaspuasnya. "Siang tadi," sahutnya, seraya mengeluarkan sapu dan menghapus airmatanya. "Pada hari itu setelah siuman aku segera lari ke ruang depan mencarimu. Aku bertemu dengan ji-susiokcou dan seluruh paderi yang sudah pulang dari makam, Saat itu baru kuketahui bahwa suhu telah meninggal dunia dan engkau turun gunung..." Bercerita sampai disitu, airmata Yok Lan membanjir deras. Gin Liongpun berlinang-linang namun ia kuatkan hati untuk mencegah airmatanya. Pada saat ia hendak berkata menghibur su-moaynya, tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga Yok Lan melonjak kaget, Ketika mengangkat muka, baru ia tahu kalau orang2 yang berada disekitar tempat itu tengah memandang dirinya dan Gin Liong, Yok Lan tersipu-sipu merah wajahnya. Memandang ke arah Gin Liong, dilihatnya sukonya itu tengah memandang kian kemari seperti mencari orang. Serentak teringatlah Yok Lan akan nona baju merah yang menunggang kuda hitam berkaki putih tadi. "Liong koko, kemanakah nona yang berjalan bersama engkau tadi ?" serunya bertanya. Merah wajah Gin Liong mendengar pertanyaan itu. segera ia menerangkan bahwa nona itu bernama Mo Lan Hwa yang digelari orang sebagai Salju-merekah- merah.

"Aneh, mengapa tiba2 ia lenyap," kata Gin Liong seraya mengusap airmatanya. "Liong koko, mungkin dia mengambek," kata Yak Lan. Seketika Gin Liongpun tersadar. Tentulah Lan Hwa pergi dengan marah. Seketika ia teringat akan janjinya bertemu dengan Hok To Beng dan Hong-tian-soh di penyeberangan Taylian (Dairen). Bagaimana nanti akan mengatakan kepada kedua orang itu apabila Lan Hwa tak ikut serta. Melihat sukonya gelisah, Yok Lan tak enak hati, serunya: "Liong koko, kutunggu kau di hotel Ko Liong, Susullah nona itu, ia tentu marah kepadamu." Sesungguhnya tak enak perasaan hati Gin Liong terhadap Yok Lan. Tetapi karena saat itu tak sempat memberi keterangan maka ia menyetujui saran sumoaynya, "Baiklah sumoay, kau tunggu saja di hotel itu, aku akan menyusulnya," serunya lalu melarikan kudanya ke utara. Walaupun sangat gopoh tetapi Gin Liong tak berani melarikan kudanya keras2. Setelah keluar dari pintu utara. malampun makin gelap, Rembulan mulai muncul. Beberapa saat kemudian, ia masih belum melihat bayangan Lan Hwa. Yang tampak disebelah muka hanya gunduk2 perumahan dan pedesaan, Diam2 ia meragu apakah keliru arahnya. Tiba2 ia mendengar suara ringkik kuda dari sebelah barat kota Hong-shia. serentak berserulah ia: "Kuda hitam kaki putih...!" Serentak ia larikan kuda hitam mulus kearah tempat itu, Beberapa waktu kemudian, ia tiba dijalan yang merentang kearah barat.

Jalan itu sunyi senyap, Kuda hitam mulus jari secepat angin, Kota Hong-shiapun sudah tertinggal jauh beberapa li dibelakang. Memandang ke muka, tampak gunung Mo-thian-san menjulang tinggi ke langit Diam2 Gin Liong heran mengapa Mo Lan Hwa mendaki ke gunung itu. Setengah jam kemudian, kaki gunung Mo-thian-san sebelah timur hanya sejauh tiga li jauhnya. Dikaki gunung itu terbentang sebuah hutan batu yang berbentuk aneh. Pohon siong yang pendek dan pohon2 lain yang gundul daunnya. Tetapi Lan Hwa tak tampak sama sekali. Menyadari bahwa gunung Mo-thian-san itu menjadi sarang dari ketujuh persaudaraan Tio, diam2 Gin Liong meningkatkan kewaspadaan. Jalanan menyusur sepanjang kaki gunung, melingkar ke selatan. Kuda bulu hitam masih keras larinya dan tak tampak letih. Tiba2 di sebelah muka jalan. muncul beberapa benda hitam. "Apakah kawanan anak buah Mo thian-nia sedang meronda !" pikir Gin Liong. Ketika terpisah setengah li, barulah Gin Liong tahu bahwa benda2 hitam ini ternyata beberapa orang yang tengah bergegas menempuh perjalanan. Mereka orang2 desa yang hendak menuju ke kota. Gin Liong hentikan kuda, bertanya seraya memberi hormat.

"Tolong tanya, apakah paman sekalian berpapasan dengan seorang nona baju merah menunggang seekor kuda bulu hitam ?" Orang2 itu menggelengkan kepala, Salah seorang yang berumur tua, menjawab: "Kami orang desa setiap pagi tentu pergi ke kota. Sejak tadi tak pernah melihat nona itu." "Aneh, kemanakah gerangan perginya ?" gumam Gin Liong seorang diri. Tiba2 angin malam sayup2 seperti mengantar lengking bentakan orang marah, Dan sesaat kemudian terdengar gemerincing suara senjata beradu. Gin Liong cepat berpaling memandang ke-arah suara itu. Tetapi kaki gunung sebelah timur tetap sunyi senyap, Hanya pohon2 siong yang bergoncang tertiup angin. "Apakah karena hendak bersembunyi nona itu telah kesasar masuk kedaerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-nia dan kepergok dengan anak buah mereka lalu bertempur ?" kembali Gin Liong menimang-nimang. Segera ia larikan kudanya menyusur jalan kearah suara itu. Tiba2 ia mendengar ringkik kuda berkumandang makin jelas, Asalnya dari kaki gunung sebelah timur laut. Gin Liong segera memacu kudanya dan larilah kuda hitam mulus itu secepat angin. Dari ujung gunung sejauh beberapa li, seekor kuda hitam mencongklang menuju kearah Gin Liong. Melihat kuda hitam itu, kuda Gin Liong serentak melonjak keatas lalu mencongklang lebih cepat, Gin Liong girang sekali karena tahu bahwa kuda hitam yang mendatangi itu adalah kuda Kay-swat atau kuda hitam kaki putih.

Cepat ia hendak berteriak memanggil Lan Hwa tetapi secepat itu pula ia batalkan maksudnya karena melihat bahwa yang berada diatas kuda hitam kaki putih itu jelas bukan Lan Hwa. Beberapa saat kemudian kedua kuda itu makin mendekati Tahu bahwa Lan Hwa telah tertimpa bencana, Gin Liongpun bersiap-siap, Saat itu Gin Liongpun melihat sebuah jalan kecil yang mencapai dimuka gunung, Segera ia menduga bahwa dari jalan kecil itulah Lan Hwa telah menyelinap dan masuk ke daerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-san. Tiba disebuah hutan, kuda hitam meringkik dan berputar-putar tak mau berlari lagi. Gin Liongpun segera hentikan kudanya, Memandang kemuka, ia melihat di tengah jalan kecil ditengah hutan, melintang beberapa tali kendali kuda. Dan diatas puncak pohon dipasang jaring. Saat itu hutan sunyi senyap, Kuda bulu hitam kaki putih yang tiada penunggangnya itupun meringkik dan berputarputar ketika tiba di muka hutan. Gin Liong menduga, tali kendali dan pelana kuda Lan Hwa tentu telah dirampas orang, Gin Liong marah. Mencabut pedang Tanduk Naga, ia memutarnya seraya menerjangkan kuda kemuka. Begitu menerobos keluar dari hutan, sebatang anak panah mendenging tiba, Gin Liong cepat menabas anak panah itu dengan pedang Tanduk Naga. Kembali anak panah yang kedua meluncur di udara dan tepat tiba dibelakang kedua kuda. Kuda hitam mulus dan kuda hitam berkaki putih lari makin pesat dan tak berapa lama tiba di jalanan batu, Jalan dan batu itu mendaki keatas dan terus masuk kedalam lembah.

Kedua samping jalan batu itu merupakan lereng gunung yang curam. Sedang diatasnya penuh dengan batu2 yang aneh bentuknya, Makin masuk ke dalam makin berbahaya keadaannya. Gin Liong tetap larikan kudanya masuk kedalam lembah sempit itu. Segera terdengar suitan nyaring berkumandang di udara, Dan menyusul turunlah hujan anak panah yang deras kearah Gin Liong dan kudanya. Gin Liong makin marah melihat cara2 yang licik dan keji itu. ia memutar pedang Tanduk Naga sederas hujan, sedang kedua ekor kuda lari seperti terbang. Kira2 berpuluh tombak jauhnya, terdengar pula suitan nyaring dan kembali hujan anak panah gelombang kedua mencurah kearah Gin Liong. Tetapi dengan pedang Tanduk Naga dan kedua kuda sakti itu, dapatlah Gin Liong terhindar dari bahaya dan saat itu telah memasuki lembah. Jalanan makin sempit dan makin berbahaya Kali ini terdengarlah suara tambur dari lamping gunung. Lalu terdengar pula suara menggemuruh. Gin Liong hentikan kudanya dan menengadah memandang keatas, diatas karang tinggi pada lamping gunung, tampak sosok2 bayangan hitam berhamburan kian kemari dan pada lain saat terdengarlah suara yang sangat gemuruh. Beratus-ratus batang pohon besar berhamburan menggelinding dan lamping gunung. Kali ini Gin Liong terkejut Demi menjaga keselamatan jiwanya terpaksa ia larikan kuda kembali keluar dari lembah. Penjaga pos pada kedua lamping gunung ditepi jalan, berteriak gempar ketika melihat Gin Liong muncul keluar,

Ternyata di mulut lembah saat itu tampak berpuluh puluh orang sedang meletakkan beberapa tali kendali kuda. Begitu melihat Gin Liong muncul, mereka serempak menghunus senjata dan menghadang di tengah jalan. Dengan menggembor keras. Gin Liong putar pedang Tanduk Naga, membabat putus tali kendali yang direntang ditengah jalan itu. Ketika para penjaga hendak menyerbu, kuda bulu hitam mulus sudah meluncur berpuluh tombak jauhnya, Kuda hitam kaki putihpun mengikuti jejak kawannya. Melihat kuda kaki putih itu, serentak timbul pula kegelisahan Gin Liong karena mencemaskan nasib Lan Hwa, ia memutuskan untuk menyerbu ke gunung. Diamatinya keadaan lembah gunung itu memang berbahaya sekali, ia memperhitungkan bahwa pada tempat2 yang berbahaya tentu tak begitu dijaga ketat, Maka ia segera larikan kudanya di sepanjang kaki gunung menuju ke barat laut. Tiba disebuah tempat yang berbahaya, ia berhenti dan turun dari kudanya. Saat itu baru ia mengetahui bahwa kedua ekor kuda itu seperti mandi keringat, Gin Liong sayang kepada kuda itu, Dielus-elus kepalanya beberapa kali dan kedua ekor kuda itupun seperti mengerti bahasa manusia, terus lari menuju ke gundukan batu yang tinggi. Saat itu rembulan sudah ditengah Cakrawala terang benderang Mo-thian-hong atau puncak gunung Pencakar Langit, menjulang tinggi menyusup ke dalam awan. Bermandikan cahaya rembulan, gunung itu tampak perkasa. Dengan beberapa loncatan, Gin Liong tiba dimuka sebuah karang yang tegak melandai, sepanjang karang itu

penuh dengan pohon rotan dan batu2 yang menonjol. serentak ia enjot tubuh melambung ke udara. Dengan setiap kali hinggap pada batu karang atau pohon untuk menggunakannya sebagai landasan melambung lagi ke atas, akhirnya berhasillah ia tiba di puncak karang. Tetapi belum lagi ia berdiri tegak, tiba2 terdengar sebuah bentakan keras: "Hai, siapa itu !" Sebatang anak panah segera meluncur. Gin Liong terkejut. Untung ia masih dapat miringkan tubuh menghindari anak panah itu. Lima tombak disebelah muka, muncul seorang lelaki baju biru yang memutar golok dan lari menyerbu Gin Liong, Sedang seorang lelaki mencekal anak panah dan busur tengah tegak berdiri dimuka sebuah genderang tembaga. Gin Liong segera menyongsong penyerbu itu, Setelah menghindari tabasan golok, secepat kilat ia menyelinap kebelakang dan menutuk punggung orang itu, Bluk, golok terlepas dan orangnyapun rubuh. Cepat pula Gin Liong loncat menyerang penyerang bergolok itu, menjerit dan rubuh, Gin Liong tertawa dingin, Secepat kilat ia menyerbu kearah orang yang bersenjata panah. Orang itu terkejut, cepat ia hendak memukulkan busur pada genderang, Gin Liong cepat menerkam lengan orang itu. Tetapi pada saat ia mencengkeram lengan orang busurpun sudah membentur genderang dan menimbulkan bunyi yang berkumandang nyaring.

Gin Liong marah. Sekali ayunkan kaki, tubuh orang itupun terlempar sampai dua tombak jauhnya. Tetapi genderang telah terlanjur berkumandang dan pada lain saat sebatang panah api meluncur ke udara, panah api itu berarti dari sebuah puncak di sebelah muka. Di udara anak panah api itu meletup dan menghamburkan bunga api. Dalam beberapa kejap, terdengarlah suara pekik teriakan yang dahsyat, menyusul tampaklah seratusan buah lentera bergerak-gerak disegenap penjuru gunung. Gin Liong tahu bahwa jejaknya telah diketahui, namun dia tetap tertawa dingin dan lari menuju ke puncak. Pos penjagaan segera mengetahui gerak gerik Gin Liong, sebatang anak panah berapi meluncur ke udara dan muncullah tiga orang menghadang jalan. Gin liong berputar arah menuju ke sebuah puncak lain, Tetapi kembali melayang sebatang panah berapi dan muncul empat orang menghadang jalan. Gin Liong menggeram. Dengan sekuat tenaga ia berlari kearah puncak yang tertinggi. Suara teriakan berhenti, lentera2-pun tak lagi berguncang-guncang. Tujuh orang yang sedianya menghadang Gin Liong, terpaksa hentikan langkah. Rupanya seluruh anak buah gunung Mo-thian-nia tercengang melihat ilmu ginkang Gin Liong yang luar biasa, Tiba2 terdengar suitan orang. Sesosok tubuh berpakaian gerombyong, muncul dari puncak yang pendek tadi dan berlarian menuju ke arah Gin Liong. Gin Liong terkejut ia duga orang itu tentu salah seorang anggauta dari persaudaraan Tio. Ketika Gin Liong tiba di

sebuah jalan melintang, orang itupun sudah tiba di tanah lapang sebelah muka. Dibawah sinar rembulan, dapatlah Gin Liong mengetahui bahwa pendatang itu seorang tua berumur antara tujuh puluhan tahun, Gin Liong duga orang itu tentu lotoa atau saudara yang tertua dari persaudaraan Tio. Saat itu Gin Liong sudah tiba di tanah lapang demikianpun dengan orang tua itu. Berpuluh-puluh orang baju biru bersorak-sorai membawa lentera dan mengepung tanah lapang. "Hai, budak liar dari mana itu berani tengah malam buta masuk ke gunung ini !" seru orang tua itu seraya menghantam," terimalah dulu pukulanku ini!" Begitu tiba, orang tua itu harus gunakan jurus Lat-biat hoa - san atau Menghantam-gunung Hoa-san, menghantam kepala Gin Liong. Gin Liong cepat menghindar dan menyelinap ke belakang orang itu. Tetapi orang tua itupun dengan tangkas berputar tubuh dan menghantam bahu kiri Gin Liong. Gin Liong marah sekali, ia tangkiskan tangan kiri, Bum, orang tua itu terhuyung-huyung sampai tiga langkah kebelakang. Sekalian anak buah gunung Mo-thian-san tercengang menyaksikan peristiwa itu. Bahkan Gin Liong sendiri juga kesima mengapa persaudaraan Tio yang begitu termasyhur, ternyata hanya begitu saja kepandaiannya. "Budak, sambutlah sekali lagi !" seru orang tua itu seraya menghantam lebih dahsyat. Kembali Gin Liong menangkis dengan tangan kiri, Bum, kembali orang tua itu terhuyung.

"Bunuh!" terdengar pekik sorak dari sekeliling lapangan dan serempak para anak buah kawanan baju biru itu serempak mencabut senjata dan siap menyerbu. Bluk, lelaki tua itu jatuh terduduk di tanah, Tiga sosok bayangan menerobos keluar dari barisan baju biru, lari menghampiri si orang tua. Tetapi sejenak menyalurkan napas, orang tua itupun segera melonjak bangun. Lalu tertawa gelak2. Ketiga orang tadi terkejut dan buru2 balik kembali kedalam barisannya. Tiga ratus anak buah gunung Mothian-nia yang saat itu sudah mengepung Gin Liong, bersorak gembira ketika melihat orang tua itu tak kurang suatu apa. Orang tua itu hentikan tertawanya, mencabut tongkat besi yang terselip pada pinggangnya dan berseru nyaring: "Aku situa ini. Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. sudah berpuluh-puluh tahun mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mampu membuat aku jatuh terjungkir balik...." Ia tertawa gelak2 lagi dan berseru kepada Gin Liong: "Budak, engkaulah orang yang pertama..." ia menutup kata dengan sebuah loncatan kemuka seraya memutar tongkatnya menghantam pinggang Gin Liong. Mendengar nama orang tua itu bukan dari persaudaraan Tio, Gin Liong tak mempunyai selera untuk menempurnya lagi. serentak ia loncat menyingkir tiga tombak dan berseru: "Berhenti, lekas panggil saycu keluar !" "Apabila engkau mampu menangkan tongkat-ku ini, saycu pasti akan keluar," sahut orang tua Gu itu, ia terus memutar tongkat dan maju menyerang Gin Liong.

Gin Liong marah. Ia bergeliatan menyusup kedalam gulungan sinar tongkat. Di bawah penerangan seratus buah lentera, tiba2 terdengar Gin Liong berseru: "Lekas panggil saycu-mu !" Bentakan itu disusul dengan melayangnya tongkat kearah kawanan anak buah gunung Mo-thian-nia. Dengan sebuah pukulan, Gin Liong berhasil menghantam tongkat Cu Ceng Hian sehingga terlepas dari tangannya. Ketika kawanan anak buah itu hiruk pikuk menyingkir dari ancaman tongkat, beberapa sosok tubuh lari menghampiri ke gelanggang pertempuran. Kembali terdengar sorak sorai menyambut kedatangan orang itu. Tetapi Cu Ceng Hian sudah tak menghiraukan suatu apa. Seperti orang gila, dia segera menyerang Gin Liong dengan tangan kosong. "Cu Ceng Hian berhenti. Aku hendak menghadapi budak itu lagi!" seru pendatang itu. Gin Liong cepat dapat mengenali orang yang loncat kehadapannya itu sebagai si Thiat-lo han. Saat itu Gin Liong berhasil mencengkeram tangan Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. Tetapi orang tua itu masih penasaran, Tiba2 ia ayunkan kaki menendang bawah perut Gin Liong. Melihat orang tua itu begitu keras kepala, Gin Liong marah lalu mendorongnya ke muka. Cu Ceng Hian terhuyung-huyung seperti layang2 putus tali dan tepat menyongsong kedatangan Thiat-lo-han.

"Celaka...." teriak Thiat-lo-han yang kasar dan berangasan Tetapi benturan tepat tak dapat dihindarkan, Bluk, kembali Cu Ceng Hian harus terbanting ke tanah lagi. "Huh, salahmu, salahmu, bukankah aku sudah suruh engkau menyingkir Nah, akhirnya kita benturan sendiri !" seru Thiat-Io-han bersungut-sungut. Melihat itu Gin Liong hampir tak kuat menahan gelinya. Kali ini Cu Ceng Hian benar2 menderita. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mengucur dan ia terduduk di tanah tak dapat bangun, "Cu tua," seru Thiat-lo-hian simuka hitam sambil menyeringai" jangan engkau penasaran kepadaku tetapi salahkan budak itu karena telah mendorong tubuhmu begitu deras, Lihatlah, akan kupukulnya untuk membalaskan penasaranmu !" Habis berkata si muka hitam Thiat-lo-han terus berputar tubuh dan berseru nyaring: "Budak liar, apa engkau tak mengerti aturan menghormat orang tua ? Mengapa engkau mendorong si tua Cu ?" Tring ia benturkan sepasang senjatanya yaitu pukul besi segi-delapan, lalu melangkah ke tempat Gin Liong. Tiba2 dari luar gelanggang terdengar derap lari empat orang menuju ke tempat pertempuran itu, serentak suasana hening karena berpuluh-puluh anak buah Mo-thian-san itu tak berani buka suara lagi. Si limbung Thiat-lo-han hentikan langkah dan berpaling. Demikianpun Gin Liong, Segera ia melihat empat orang, tiga lelaki dan seorang wanita, tegak berdiri pada jarak lima tombak dari gelanggang.

Lelaki yang berdiri ditengah, berumur sekitar 45-46 tahun, Mengenakan jubah warna emas dan topi dari kulit harimau tutul. Alis melengkung seperti pedang, mata menyala, hidung pesek, bibir tipis dan jenggotnya menjulai sampai ke dada, sepintas pandang menyerupai seorang hartawan, bukan orang persilatan Dia adalah pemimpin dari golongan tokoh2 silat aliran hitam dari Saywa (luar perbatasan), bernama Tio Tok Beng, gelar Siau-yau-ih-su atau pertapa bebas. Berdiri disebelah kirinya, seorang lelaki beralis lebat, mata tajam, hidung panjang dan jenggotnya tebal menjulai ke dada. Umurnya sekitar 41-42 tahun. Berpakaian ringkas warna hijau, kopiah kulit bajing, punggungnya menyanggul sepasang senjata Hou-jiu-kong-kau atau sepasang kait baja. Dia adalah jago nomor tiga dan persaudaraan Tio, bernama Tio Tok Giam gelar Say-ni-tun. Sepasang kaitnya sangat dimalui oleh seluruh kaum Lioklim atau Rimba Hijau, istilah untuk menyebut dunia penyamun. Dibelakang kedua orang itu adalah Mo-thian-giok-li atau Bidadari dari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun. Disampingnya, adalah engkohnya si Bong-kim- kong. Melihat bahwa yang menyelundup keatas gunung itu bukan lain pemuda cakap siang tadi, Tio Li Kun tertegun dan memandang lekat pada Gin Liong. "Toako," seru si limbung Thiat-lo-han demi melihat Tio Tek beng, "yang memukul suko santai jatuh dari kuda adalah budak ini !" Su-ko yang dimaksud ialah engkoh nomor empat atau Bong-kim-kong. Sudah tentu Bong-kim-kong merah mukanya dan cepat berseru marah: "Toako sudah tahu!"

Melihat engkohnya marah, si limbung Thiat-lo-han menyengir dan tak berani buka suara lagi. Gin Liong segera mengetahui bahwa yang disebut toako itu tentulah lelaki yang dandanannya mirip orang hartawan itu. Cepat ia memberi hormat, serunya: "Aku yang rendah ini Siau Gin Liong bersama Hoa cici kebetulan melalui gunung ini. Karena kuda membinal Hoa cici sampai dibawa kedaerah terlarang dan jatuh dalam perangkap anak buah markas Mo-thian-nia. Mengingat kami tak sengaja telah memasuki daerah terlarang dan gunung ini, maka kumohon saycu suka membebaskan taci itu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih." Tampak Tio Tek Beng agak tertegun seperti tak tahu akan peristiwa itu. Kemudian ia berpaling memandang kearah Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah, serunya: "Dimana taci siauhiap telah terjatuh dalam perangkap ?" "Sebelah timur dari mulut lembah ini," sahut Gin Liong. Tio Tek Giam, jago ketiga, segera berseru: "toako, menurut laporan dari pos timur bukit, seorang dengan naik kuda hitam telah masuk kedalam lembah, Karena barisan panah tak mampu merintangi, terpaksa dilakukan hujan balok..." "Yang masuk kedalam lembah itu, adalah aku sendiri !" seru Gin Liong. Tio Tek Giam kerutkan dahi, serunya. "Tanpa menurut peraturan kaum persilatan terus menerobos masuk ke markas. Tidak menghiraukan segala peringatan yang diberikan . . ."

Mendengar itu Tio Li Kun gelisah, Kuatir kalau sampai terbit salah faham, maka cepat2 ia menukas ucapan engkohnya: "Sam-ko, kuda dari Siau sauhiap itu seekor kuda istimewa yang luar biasa pesatnya, Mungkin Siau sauhiap hendak buru2 menghadap toako..." "Kuda memang tak kenal aturan, tetapi masakan demikian juga penunggangnya !" dengus Tio Tek Giam. Tio Li Kun terkejut ia kuatir Gin Liong tentu marah. Dan memang benar, Gin Liong berteriak keras seraya loncat ke muka dan menuding Tio Tek Giam: "Tutup mulutmu ! Siapa yang engkau katakan tak tahu aturan itu ?" Tio Tek Giam jago ketiga dari gunung Mo-thian-san deliki mata dan membentak: "Memukul suteku sampai jatuh dari kuda, tengah malam menyelundup ke gunung, melukai saycu dari puncak timur, jelas bukan hendak mencari orang tetapi hendak mencari onar." Ia berhenti dan tertawa mengekeh: "Kalau saat ini tak mau mengatakan terus terang, jangan harap engkau dapat tinggalkan tempat ini." Mendengar itu Gin Liong menengadahkan kepala dan menghamburkan kemarahannya dalam sebuah tertawa yang nyaring dan panjang. Para anak buah terkesiap bahkan Bong-kim-kong dan Thiat-lo hanpun tergetar hatinya lalu bersiap-siap turun tangan. Diantara kelima persaudaraan Tio yang berada disitu, hanya Tio Li Kun seorang yang berobah cahaya mukanya,

Dia bingung melihat toakonya diam saja. Padahal ia tak tahu bahwa sebenarnya toakonya itu sedang memperhatikan dengan tajam anak muda yang gagah itu. "Jangankan ratusan anak buah kalian, pun semua alat2 perangkap dari gunung Mo-thian-san ini, tak mungkin mampu menahan kepergianku." seru Gin Liong. "Budak bermulut besar...!" teriak Tio Tek Giam seraya dorongkan kedua tangannya yang telah disaluri dengan tenaga penuh, Gin Liong pun menggembor dan ayunkan tangannya menghantam. Terdengar suara benturan keras dan tubuh jago ketiga dari gunung Mo-thian-nia itu terhuyung-huyung beberapa langkah kebelakang. Tio Li Kun melengking dan loncat menyanggupi tubuh engkohnya. Dipandangnya Gin Liong dengan sorot mata tajam. Tio Tek Beng saudara tertua dari ketujuh jago gunung Mo-thian-san terkejut, Dilihatnya Gin Liong masih tegak berdiri dengan wajah tenang. Ia tak mengira sama sekali bahwa hanya dengan pukulan sebelah tangan, pemuda itu dapat melemparkan Tio Tek Giam. Tio Tek Giam sendiri cepat2 menyalurkan napas, Tetapi ia dapatkan dirinya tak terluka sama sekali, Mau tak mau ia memandang jitmoaynya Tio Li Kun dengan terlongong, "seperti hendak mengatakan: "Eh, mengapa aku tak menderita luka apa2 !" "Budak, terimalah palu besiku ini lagi !" tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru seraya loncat dan menghantam dengan kedua palu besinya.

Yang kiri menghantam lambung Gin Liong, palu besi yang kanan menghantam kepala pemuda itu. sekaligus ia lancarkan dua jurus serangan. Gin Liong hanya tertawa dingin, Sekali bergeliat ia sudah menyelinap dibelakang orang limbung itu. Tetapi dia tak mau menyerangnya. Si limbung Thiat-lo-han terlongong-longong karena sasarannya tiba2 hilang. Dia baru terkejut ketika engkohnya nomor empat yakni Bong-kim-kong berteriak: "Lo Ngo, dibelakangmu...!" Thiat-lo-han gelagapan dan cepat memutar sepasang palu besi dihantamkan ke belakang, seraya berseru angkuh: "Aku memang sudah tahu...." Tetapi alangkah kejutnya ketika Gin Liong tak berada dibelakang. "Kurang ajar, engkau sembunyi di belakang lagi...." kali ini dia tak mau berputar tubuh melainkan lontarkan palu besi sebelah ke belakang. Entah bagaimana terhadap orang limbung itu Gin Liong tak sampai untuk turun tangan, Begitu ia loncat ke belakang si limbung dan baru saja berdiri tegak, tiba2 palu besi sudah menyambar ke mukanya. Dalam kejut Gin Liong pijakkan kaki ke tanah dan melambung sampai tiga tombak ke udara. Mo thian-giok-li Tio Li Kun berteriak kaget. Seluruh anak buah gunung Mo-thian sanpun memekik gempar. Masih di tengah udara, Gin Liong sempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi, Ternyata palu besi yang dilontar si limbung Thiat-lo-han tadi karena luput mengenai Gin

Liong, melayang kearah Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah. Tongkat-halilintar mendelik ketika melihat mukanya akan disambar palu besi. Cepat ia gunakan ilmu Kiu-te-sippat-kun atau Delapan belas kali berguling guling di tanah. Dia berhasil bergelundungan sejauh tiga tombak, Lalu hantamkan kedua tangannya ke tanah dengan meminjam tenaga pukulan itu tubuhnya melambung dua tombak ke udara. Berhasillah ia menghindar palu besi dengan indah sekali. Bum . . . . palu besi itu tepat menghantam tempat bekas diduduki Cu Ceng Hian tadi. Tanah muncrat, pasirpun berhamburan ke empat penjuru. Ketika melayang turun ke tanah, Cu Ceng Hian berdiri dengan wajah pucat, keringat mengucur deras. Mendengar teriakan gempar tadi, si limbung Thiat-lo-han mengira kalau timpukan palu besinya mengenai Gin Liong. Cepat ia berpaling dan . . . "Hua, hua, hua . . . ." si limbung memekik-mekik seperti orang kalap ketika melihat apa yang terjadi. "Lo-naynay datang !" tiba2 kelompok anak buah Mothian-san sebelah selatan berseru. serentak merekapun menyingkir kesamping untuk memberi jalan. Siau-yau-ih-su Tio Tek Beng, Say-ni-tun Tio Tek Giam serentak terkesiap, Thiat-Io-hanpun berhenti memekikmekik. Tio Li Kun dan Cong-kim-kong lari menyambut! Gin Liong hanya memandang dengan penuh keheranan, jauh di sebelah selatan, tampak tiga sosok bayangan berlari pesat seperti terbang.

Yang dimuka, seorang wanita tua berumur 80-an tahun, wajahnya ramah, memegang sebatang tongkat perak. Dibelakangnya, seorang pemuda berumur 26-27 tahun, berwajah cakap dan mengenakan pakaian sutera putih. Pemuda itu adalah engkoh keenam dari Tio Li kun. Namanya Tio Tek Cun bergelar Siau-bun-hou. Sedang yang seorang lagi seorang budak perempuan yang lincah dan masih kekanak-kanakan Berpakaian warna merah tua. Begitu wanita tua itu tiba maka ratusan anak buah gunung Mo- thian-san segera bersorak riuh: "Lo-naynay, terimalah hormat kami..." Wanita tua itu tersenyum seraya mengangkat tangannya memandang ratusan anak buah Mo-thian-san, lalu memberi anggukan kepala. Tio Li Kun dan Bong-kim kong serta merta berseru : "Mah . . ." Demikian pula dengan Tio Tek Beng dan Tio Tek Giam. Mereka bergegas menghampiri dan memberi hormat kepada mamahnya dan Cu Ceng Hian demikian juga. Si Limbung Bong-kim kong lalu menghampiri wanita tua itu dan berseru: "Mah mengapa engkau tak membaca kitab saja tetapi datang kemari ?" Wanita tua itu berpaling memandang puteranya yang tolol, tertawa ramah: "Kudengar kalian sedang ribut2 dengan orang, Maka kuajak adikmu Tek Cun dan Siau Hoan menjenguk kemari." Kemudian wanita itu berpaling dan bertanya kepada puteranya yang paling tua:

"Beng-ji, apakah yang terjadi disini?" Tio Tek Beng segera memberi keterangan bahwa malam itu seorang nona telah tersesat masuk ke daerah terlarang gunung Mo-thiansan dan tertangkap, sekarang adiknya datang ke sini. "Mah, itulah Siau sauhiap," cepat Tio Li Kun menukas seraya memeluk tubuh ibunya dan menunjuk Gin Liong. Gin Liong mempunyai kesan baik terhadap wanita tua yang berwajah ramah itu. Waktu dirinya ditunjuk Tio Li Kun, ia terus berjalan menghampiri wanita tua itu. Terkesiap wanita tua itu demi melihat seorang pemuda berwajah cakap dan terang, menghampiri ke tempatnya. ia mempunyai kesan baik lalu memandang Tio Li Kun, puteri tunggalnya, Dilihatnya puterinya tersipu-sipu merah mukanya. Diam2 wanita tua itu girang hatinya, ia tersenyum. "Budak perempuan, bukan saja engkau, tetapi mamah pun ingin lekas2 melaksanakan harapanmu," katanya dalam hati. Rupanya Tio Tek Beng tahu akan gerak-gerik adik perempuannya, segera ia berpaling dan mengisiki Tongkathalilintar Cu Ceng Hian. Orang she Cu itu mengangguk lalu melangkah masuk ke-dalam barisan anakbuahnya. "Boanpwe Siau Gin Liong menghaturkan hormat kehadapan locianpwe," seru anak muda itu manakala sudah tiba dihadapan wanita tua. "Ah, harap Siau sauhiap jangan pakai banyak peradatan," kata wanita tua seraya tertawa gembira. Kemudian mata nyonya Tio tua itu menelusuri tubuh Gin Liong dengan penuh perhatian, seolah-olah seperti seorang mertua yang sedang menaksir-naksir seorang menantu.

Si limbung Thiat lo-han maju selangkah dan berkata: "Mah, yang memukul suko jatuh dari kuda adalah pemuda ini." Melihat dirinya dilaporkan pada mamahnya, sudah tentu Bong-kim-kong marah. ia mendengus geram: "Hai. sute, mana palu besi milikmu!" "Huh, inilah," seru si limbung seraya menunjukkan kedua palu besinya. Tetapi ketika melihat palu besinya itu berlumuran lumpur, baru2 ia membersihkan dengan ujung bajunya seraya menggerutu: "Huh, si Cu tua itu hanya mengambilkan palu besi ini tetapi tak mau membersihkan." Melihat tingkah laku dan ucapan si limbung, Gin Liong tak kuasa menahan gelinya. Tio Li Kun tersipu-sipu malu, ia mengira Gin Liong menertawakan dirinya karena pemuda itu sudah dapat mengetahui isi hatinya. Rupanya nyonya Tio tua amat sayang kepada puteranya yang limbung itu, ia tak mau mendampratnya melainkan berpaling memandang Gin Liong lagi. "Siapakah nama yang mulia dari suhu Siau sauhiap ?" tanyanya, Dengan sikap menghormat Gin Liong memberitahu nama gurunya, Karena nyonya Tio tua itu sudah mengundurkan diri dari keramaian hidup dan tekun membaca kitab suci, ia girang mendengar guru Gin Liong itu juga seorang paderi, Liau Ceng taysu. Tiba2 Gin Liongpun teringat akan kematian yang mengenaskan dari suhunya. Ingin sekali ia cepat2 menuju ke Hong-shi untuk menemui Ban Hong Liong-li.

Serentak ia menyatakan kepada nyonya Tio tua bahwa ia masih mempunyai suatu urusan penting sehingga tak dapat tinggal lebih lama disitu. ia minta agar Mo Lan Hwa dibebaskan. "Setelah urusan selesai, boanpwe tentu akan mengunjungi gunung ini lagi untuk mengaturkan hormat kepada locianpwee dan minta maaf kepada para saycu disini." katanya. Sebagai penutup, ia membungkukkan tubuh memberi hormat. Mendengar sikap Gin Liong begitu berduka atas kematian suhunya tahulah nyonya Tio bahwa pemuda itu seorang yang berbudi luhur. Diam2 wanita tua itu makin puas. Demi mendengar Gin Liong hendak buru2 menyelesaikan urusannya, walaupun tahu Tio Li Kun tentu akan kecewa, tetapi nyonya Tio tak mau mempersulit pemuda itu. "Beng ji, dimanakah taci Siau sauhiap sekarang ?" tanyanya kepada Tio Tek Beng. "Mah, soal itu harus ditanyakan kepada Cu hun-saycu. Toako tak tahu nona Siau berada di mana," tiba2 Tio Li Kun menyeletuk. Mendengar itu Gin Liong tampil ke depan dan menjelaskan: "Taci Hoa itu bukan orang she Siau. Dia she Mo, namanya Lan Hwa." Mendengar itu Tio Tek Cun yang sejak datang tak pernah buka suara, serentak maju ke muka dan berseru: "Siau sauhiap, Mo Lan Hwa itu apakah bukan siau sumoay dari Pipa-emas Hok To Beng?"

"Ya, benar memang nona itu," seru Gin Liong berseri girang. Tetapi ketujuh saudara Tio serentak berobah mukanya, Tio Tek Cun serentak berpaling mencari Cu Ceng Hian, Kebetulan orang she Cu itu tengah bergegas muncul dari barisan anakbuahnya. "Mo Lan Hwa?" seru Tio Tek Cun. Cu Ceng Hian tertegun. "Nona yang keliru memasuki daerah terlarang itu adalah siau-sumoay dan Pipa-emas Hok To Beng ialah nona Mo Lan Hwa..." seru nyonya Tio tua pula. Cu Ceng Hian tenangkan diri dan memberi keterangan: "Tadi ji-saycu Tin Kwun Tong kebetulan datang ke gunung timur, Demi melihat nona itu berada dalam jaring, ia berteriak menyebut "siau-moay" lalu membuka jaring itu sendiri dan mengajak si nona pulang ke markas. "Mah, aku hendak pulang memeriksanya," bergegas Tio Tek Cun berkata lalu lari menuju ke puncak di sebelah muka. Melihat ke tujuh saudara Tio itu agak gugup ketika mengetahui Mo Lan Hwa itu adik seperguruan dari Pipaemas Hok To Beng, Gin Liong segera memberi penjelasan: "Adalah karena kudanya binal maka taci Hwa sampai masuk daerah terlarang dan terjerumus dalam jaring perangkap, Soal itu tak dapat menialahkan siapa2..." "Mungkin Siau sauhiap belum jelas akan keadaan yang sebenarnya. Nona Mo itu sangat disayang sekali oleh ketiga tokoh Swat-thian Sam-yu. Mereka menurut saja apa yang nona itu minta. Apabila peristiwa ini sampai terdengar oleh Swat-thian Sam-yu, wah, runyam juga, Pipa-emas dan

Kakek Pemabuk, masih dapat dilayani, Tetapi si gila Hongtian-soh itu paling sukar dihadapi. Dia paling sayang kepada siau-sumoaynya nona Mo Lan Hwa," Siau-yau ihsu Tio Tek Beng cepat menjelaskan. "Maka setiap orang yang tahu akan hubungan mereka, tak ada yang berani mengganggu nona Mo," ia menambahkan pula. Gin Liong termenung. Tiba2 ia melihat wajah Tio Li Kun tidak senang tadi, Iapun mendapat kesan bahwa nona jelita itu lebih anggun wajahnya dari Ki Yok Lan. Rupanya si limbung Thiat-lo-han tak puas mendengar keterangan toakonya, ia membenturkan sepasang palu besinya dan mendengus marah: "Hm, apa itu Pipa-emas, Pipa-perak dan Swat-thian Samyu. Begitu berjumpa dengan aku si Thiat-lo-han ini tentu akan kuhajar dengan sepasang palu besiku ini !" "Tolol, jangan menggila. Mari kita lekas pulang untuk menjenguk nona Mo itu. Sudahlah, apabila peristiwa ini terdengar Swat-thian San-yu akulah yang akan menghadapinya," kata nyonya Tio tua. Kemudian dengan wajah yang ramah, nyonya tua itu mengajak Gin Liong ke markas karena Mo Lan Hwa sudah berada disana. Gin Liong meragu. ia teringat akan sumoaynya, Ki Yok Lan. yang menunggu di hotel dalam kota Hong-shia. "Apakah Siau sauhiap masih ada urusan lain lagi ?" tanya Tio Tek Beng. Dengan terus terang Gin Liong menerangkan tentang sumoaynya yang menunggu di hotel kota Hong-shia,

Apabila besok pagi2 ia tak datang, sumoaynya tentu gelisah. "Menginap di hotel apakah sumoay Siau sauhiap itu ?" tanya Tio Tek Giam. "Hotel Ko Liong." sahut Gin Liong. Mendengar itu Tio Tek- Giam segera minta kepada toakonya supaya melepas burung dara pembawa surat, memberitahu kepada ketua cabang di kota Hong-shia supaya besok pagi2 mengirim orang menemui nona Ki dan memberitahukan bahwa Siau Gin Liong berada di markas persaudaraan Tio di gunung Mo-thian-san. Tio Tek Beng menyetujui Gin Liong menghaturkan terima kasih kepada persaudaraan Tio atas bantuan mereka. Demikianlah nyonya Tio dengan diiringi oleh putera puterinya dan seluruh anak buah gunung Mo-thian-san segera membawa Gin Liong menuju ke markas besar. Markas itu terletak dalam lembah. Terdiri dari beberapa bangunan gedung yang indah, setelah melalui beberapa bangunan dan lorong akhirnya masuklah mereka kedalam sebuah gedung. Disitu telah menunggu para menantu dari nyonya Tio tua. Ternyata memang Mo Lan Hwa sudah menunggu dalam ruang itu. pertemuan itu amat menggembirakan sekali. Tengah mereka bercakap-cakap, tiba2 masuklah si limbung Thiat-lo-han terus langsung menunjuk kepada Mo Lan Hwa: "Mah, nona ini mengendarai kuda menerobos penjagaan anak buah kita, Kelak dia tentu akan menjadi seorang nyonya gila !"

"Lo Ngo, mengapa engkau begitu kurang adat terhadap nona Mo !" seru nyonya Tio tua seraya gentakkan tongkatnya ke lantai, "hayo, lekas minta maaf kepada nona Mo !" Melihat mamahnya marah, si limbung Thiat-lo-han termangu-mangu. ia segera minta maaf kepada Mo Lan Hwa. Nyonya Tio tuapun segera menyuruh menyediakan hidangan untuk menghormat kedua tetamunya. Gin Liong tahu bahwa nyonya Tio tua itu dahulu adalah pendekar wanita Lok-yang li-hiap yang termasyhur ia makin menaruh hormat kepada nyonya tua itu. Demikian pula dengan nyonya Tio tua. Tahu bahwa Gin Liong itu murid dari Pelajar-muka-tertawa Kiong Cu Hun, ia semakin berkenan dalam hati. Diam2 putera2 juga tahu bahwa mamahnya itu amat setuju dengan Gin Liong. Bahkan si limbung Thiat-lo-han yang suka bicara secara blak-blakan pun tahu kalau mamahnya suka kepada pemuda itu. "Mah, kulihat engkau malam ini sangat gembira sekali, mulut terus terbuka tertawa-tawa saja. Kalau memang suka, mengapa tak memungut budak laki itu sebagai putera angkat ?" Mendengar itu gemparlah suasana perjamuan. Semua mata mencurah kearah si limbung. Si limbung melongo. Sekonyong-konyong dengan muka berseri tawa, Gin Liong berbangkit dan melangkah kehadapan nyonya Tio tua lalu memberi hormat:

"Mah, terimalah hormat dari Liong-ji," katanya seraya terus berlutut dan menghaturkan hormat sampai empat kali. Nyonya Tio tua sangat gembira sekali sehingga ia tertawa mengucurkan airmata. Nyonya itu segera minta Gin Liong bangun dan berdiri disampingnya. Putera2nya gembira sekali dan memberi selamat kepada mamahnya. Demikian upacara pengangkatan putera itu berlangsung dalam suasana yang menggembirakan. Saat itu hari sudah menjelang terang tanah dan Gin Liongpun segera minta diri hendak kembali ke kota Hongshia. "Ah, engkau masih muda belia, belum berpengalaman dalam dunia persilatan. Aku sungguh kuatir engkau seorang diri berkelana dalam dunia persilatan itu." kata nyonya Tio tua. "Mah, sudah lama aku tak keluar dari gunung. Aku ingin menemani Liong-te turun ke dunia persilatan," tiba2 si cantik Tio Li Kun berkata. Tio Tek Beng segera mendukung: "Jika demikian mamah baru legah pikirannya." Mendengar itu nyonya Tio tua mengangguk setuju. "Mah, aku juga kepingin bersama-sama Liong te..." seru si limbung Thiat-Io han. Tetapi nyonya Tio menolak. Mendengar mamahnya setuju, Tio Li Kun girang sekali. Segera ia suruh pelayan menyediakan kuda.

"Adik Liong, turunlah dulu mencari kedua ekor kuda kita, Aku dan taci Li Kun akan menunggumu di mulut lembah," kata Mo Lan Hwa. Tiba2 Tio Tek Cun masuk dengan membawa sehelai kertas, serunya: "Toako, celaka !" "Mengapa, Liok-te?" seru Tio Tek Beng. Tio Tek Cun menyerahkan surat kepada toa-konya lalu berpaling kearah Gin Liong: "Liong-te, sumoaymu itu apa bukan dara yang berumur 17 tahun." "Ya, kenapa?" tanya Gin Liong. Sambil menunjuk kearah surat yang dipegang toakonya, Tio Tek Cun berkata cemas: "Menurut surat dari ketua cabang kita di Hong-shia, semalam seorang dara baju putih yang bermalam di hotel Ko Liong telah berkelahi dengan Hun-tiap Sam-long, salah seorang tokoh dari kedelapan Thiat-san Patkoay, Pagi tadi jongos hotel mengatakan bahwa dara baju putih sudah menghilang." Setelah selesai membaca surat, berkatalah Tio Tek Beng: "Rupanya nona Ki tentu ditawan oleh penjahat cabul itu." Mendengar itu merah padamlah muka Gin Liong, Segera ia menghampiri ke harapan nyonya Tio dan mohon diri. Setelah memberi hormat, ia terus melesat keluar. "Liong-te, tunggu," seru Tio Tek Beng, Gin Liong hentikan langkah, "Harap Liong-te jangan gegabah, Thiatsan itu sangat berbahaya, Kedelapan Thiat-san Pat-koay itupun teramat ganas sekali..."

"Baiklah, harap toako jangan kuatir," kata Gin Liong, "sekalipun Thiat-san itu sebuah neraka, aku tentu dapat mengobrak abriknya." Habis berkata Gin Liong terus melesat pergi "Liong-ji, hati-hatilah," nyonya Tio seraya menyuruh Tio Li Kun segera menyusul pemuda itu, "lekas kalian berdua menemani Liong ji." Tio Li Kun dan siau Hoan girang sekali. Sambil menarik tangan Mo Lan Hwa, Tio Li Kun berseru kepada Tio Tek Cun : "Liok-ko, mah kita segera berangkat." Mereka bertiga segera melesat keluar. Melihat liong-te dan jit-moaynya pergi, si limbung ThiatIo hanpun minta ijin kepada mamahnya. Karena kuatir Gin Liong tak cukup tenaganya. nyonya Tiopun mengijinkan si limbung Thiat-lo-han ikut. Tek Cun naik kuda merah dan sijelita Tio Li Kun naik kuda putih, Sedang Mo Lan Hwa mengikuti dibelakang kuda putih itu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Gin Liong pun tiba dengan naik kuda hitam dan kuda hitam kaki putih. Mereka segera berangkat turun gunung, Rupanya Gin Liong terburu-buru sekali hendak mengetahui berita sumoaynya, ia mencongklangkan kuda hitamnya dan meninggalkan ketiga kawannya di belakang. Tiba di kota Hong-shia. Mo Lan Hwa bertiga tak melihat bayangan Gin Liong lagi, Mereka segera mencari rumah penginapan Ko Liong. Ternyata Gin Liong memang sudah berada disitu, Gin Liong menerangkan bahwa laporan kepala cabang itu memang benar, Ki Yok Lan sudah lenyap.

Mereka berempat segera meninggalkan kota Hong-shia. Tetapi mereka dikejutkan oleh munculnya si limbung Thiat lo-han. Si limbung tertawa-tawa girang sekali karena dapat bertemu dengan keempat anak muda itu. "Hai, siapa yang suruh engkau menyusul ?" tegur Tio Li Kun. "Mamah," sahut si limbung, "bukankah kalian hendak menuju ke gunung Thiat-san ? Hayo, aku yang menjadi penunjuk jalan." Tengah hari mereka tiba di Pak-kwan. Si limbung menggerutu panjang pendek karena perutnya lapar, Akhirnya Gin Liong setuju untuk beristirahat mengisi perut disebuah rumah makan. Si Limbungpun segera pesan beberapa macam hidangan yang lezat. Dalam pada itu Gin Liong memperhatikan bahwa para tetamu rumah makan itu kebanyakan adalah orang2 persilatan dan kaum pedagang. "Orang tua itu memang aneh sekali. Beberapa hari yang lalu katanya berada di sebuah lembah gunung Tiang-peksan, kemarin sudah lari lagi ke Tay-sip-kiau . .. ." kata seorang tetamu. Gin Liong tertarik perhatiannya dan melirik. Disebelah meja di tengah ruangan, penuh diduduki orang2 persilatan. Ada yang tua ada yang muda. Dan yang bicara itu adalah seorang lelaki pertengahan umur, berwajah merah. "Keadaan orang tua itu memang aneh, Asal jangan mengganggu cermin pusakanya, dia pun diam saja. Tetapi kalau cermin itu di ganggu, baru dia akan membunuh." Kemudian orang itu berkata kepada siorang tua: "Tio lopeh, kalau pergi ke sana kita hanya melihat-lihat saja, jangan sekali2 ikut turun tangan."

Yang dipanggil paman Tio itu tertawa : "Peristiwa itu sebenarnya sudah diketahui oleh dunia persilatan. Hanya saja, sampai saat ini belumlah seorangpun yang tahu siapa sesungguhnya orang tua pembawa cermin itu. Yang mati tempo hari ialah si Pengemis-jahat-kaki-telanjang, paderi Hoa dan nenek buta Tongkat-burung-bangau." Ia menghela napas, kemudian melanjutkan "Kabarnya saat ini Kim-piau Ma Toa Kong dari partai Tiam-jong-pay, Bu Tim cinjin dari Kiong-lay-pay dan seorang lotiang dari Kong-tong-pay menuju ke Tay-sip-kiau." Tertarik hati Gin Liong akan percakapan itu. Asal menuju ke Tay-sip-kiau, ia tentu dapat menemukan orang itu, Tetapi saat itu ia harus ke gunung Thiat-san untuk membebaskan sumoay nya. Pembicaraan orang2 yang berada di meja tengah itu, kebanyakan berkisar tentang diri orang tua pembawa cermin Gin Liong dapatkan Mo Lan Hwa dan kawan2, juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Hanya si limbung Thiat-lo-han yang masih enak2 melahap ayam panggang dan arak. Tiba- Gin liong terkejut karena melihat Siau-bun-hou Tio Tek Cun tengah memandang kebelakang tubuhnya dengan mata berapi-api. Ketika Gin Liong berpaling dilihatnya tak jauh dari tempat duduknya, dua orang paderi dan imam sedang duduk menghadapi pinggang dan cawan arak yang sudah kosong, Rupanya mereka sudah kenyang makan minum. Si paderi mengenakan jubah hitam, punggungnya menyanggul sebatang senjata macam sekop yang diikat dengan gelang. Alis tebal mata besar, Matanya berkilat-kilat jahat.

Si imam mengenakan jubah bersulam patkwa, menyanggul pedang pada punggungnya, Sepasang matanya yang jelalatan menandakan dia seorang yang licik dan ganas. Kedua paderi dan imam itu memandang tak berkedip kearah Mo Lan Hwa. Mulutnya berkomat-kamit seperti menelan air liur. Sudah tentu Gin Liong marah tetapi karena ia tak ingin menimbulkan onar, maka memberi isyarat mata kepada Tek Cun supaya bersabar. "Hm..." walaupun menurut tak urung Tek Cun mendengus geram untuk menyalurkan kemarahannya. Mendengar itu Thiat-lo-han berpaling, Tetapi saat itu Gin Liong cepat menuang arak pada keempat kawannya. Melihat arak, Thiat lohan lupa malah. Segera ia menyambar dan terus meneguknya Tio Tek Cun serta mertapun segera menghaturkan arak kepada Mo Lan Hwa. Nona itu diam2 memperhatikan sikap Tek Cun yang begitu hangat dan mesra kepadanya. Diam2 Gin Liongpun memperhatikan bahwa sejak kemarin malam, memang Tek Cun sangat menaruh perhatian istimewa terhadap Lan Hwa, ia membayangkan bahwa kedua muda mudi ini memang merupakan sejoli yang amat cocok sekali. Apabila keduanya dapat terangkap jodoh, wah, iapun ikut gembira. Memikir sampai disitu, diam2 Gin Liong seperti terlepas dari suatu tindihan asmara. Bidadari-Mo thian-san Tio Li Kunpun memperhatikan betapa mesra engkohnya Tek Cun itu bersikap terhadap Lan Hwa. Pun ia memperhatikan bahwa dalam soal itu ternyata Gin liong malah mendukung. Dengan demikian

timbullah harapan makin besar hati bidadari dari gunung Mo-thian-san itu terhadap Gin Liong. Tetapi dikala membayangkan betapa girang Gin Liong memikirkan sumoaynya, diam-diam hati Tio Li Kun agak rawan. Setelah seusai makan dan membayar rekening, mereka dapatkan kedua paderi itu sudah pergi. "Kedua paderi dan imam itu tentu murid2 perguruan agama yang bejat," kata Gin Liong. "Kita masih mempunyai urusan penting yang harus dikerjakan lebih baik, jangan cari perkara lain," "tiba2 si jelita Tio Li Kun menyeletuk. "Hai, urusan apa ?" tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru. "Bukan urusanmu !" tukas Tio Li Kun. Gin Liong segera mengajak kawan-kawannya berangkat. Kelima kuda mereka lari secepat angin. Baru melintasi dua buah puncak gunung, kuda hitam yang dinaiki Gin Liong meringkik keras. Ternyata tak jauh di sebelah muka, tampak dua ekor kuda sedang berjajar menghadang jalan. Siapa lagi kalau bukan kedua paderi dan imam yang makan di rumah makan tadi. "Kedua manusia itu rupanya memang sudah bosan hidup," kata Tek Cun. "Aku saja yang mengantar mereka pulang ke akhirat," tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru, mencabut sepasang palu besi. Paderi dan imam itu tertawa gelak2, serunya: "Aha, ternyata Budha telah memberi kemurahan kepada kami berdua untuk mendapatkan apa yang kita ingini"

Mereka mencabut senjata dan memutar-mutar jual kegarangan. Kuda hitam, kuda hitam kaki putih dan kuda putih tiba2 meringkik keras dan menerjang kemuka dan wut, wut, wut, ketiga ekor kuda itupun loncat ke udara melayang melampaui kepala kedua paderi dan imam, Kedua paderi dan imam itu pucat wajahnya menjerit dan tundukkan kepala, Keringat dingin mengucur deras. "Hai, lihatlah pusakaku !" teriak si limbung Thiat-lo-han seraya melemparkan kedua palu besi kearah kedua orang itu. Paderi dan imam makin menjerit kaget dan loncat dari kuda, berguling-guling ke tepi jalan. Bum, sepasang palu besi itu menghantam tanah, menimbulkan debu dan pasir yang menutupi pemandangan. Tar, tar . . . . kembali terdengar cambuk menggelegar di udara, Kedua paderi dan imam itu terkejut tetapi mereka tak dapat menghindar dari cambuk lagi. Cambuk si limbung Thiat-lo-han dan Tek Cun masing2 telah menghajar kepala kedua paderi dan imam itu sehingga mereka berkunangkunang matanya, menjerit-jerit lari menghampiri kuda, lalu melarikan diri. Tetapi kembali mereka harus berhadapan dengan dua orang penghadang. Hanya saja, kali ini mereka tidak terkejut ketakutan melainkan tertawa gembira sekali. Kedua penghadang itu bukan lain adalah Mo Lan Hwa yang naik kuda hitam kaki putih serta Tio Li Hwa yang naik kuda putih. Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun memainkan pedangnya dengan gencar dan tengah mengancam kedua paderi dan imam itu.

Jika tadi dalam rumah makan mereka begitu bernafsu sekali melihat Mo Lan Hwa yang cantik, Saat itu mereka rontok nyalinya ketika melihat ilmu permainan pedang kedua jelita yang begitu hebat. "Li-posat, ampunilah jiwa kami . . . ." belum selesai mereka berkata, dua sinar pedang melayang dan menjeritlah mereka karena kepala mereka terbang dari tubuhnya. "Ho, mereka sudah pulang ke akhirat, tetapi kita belum tahu namanya. Bagaimana kalau kelak kita akan menyambangi mereka?" sambung Thiat-lo-han menggerutu. "Sudahlah ngo-ko," seru Tek Cun, "lain kali jangan mengeluarkan pusakamu lagi, jangan sekali-kali suka melemparkan senjatamu. Kalau lawan dapat menghindar dan menyerangmu, bukankah engkau akan menghadapi kesulitan ?" Si limbung turun dari kuda, memungut sepasang palu besinya dan tanpa berkata terus lompat keatas punggung kudanya lagi. Dikala baru saja matahari terbenam, mereka tiba di desa Ban hok-cung. Walaupun sebuah desa, tetapi Ban-hok-cung amat ramai. Demikian pula pada waktu malam, ramai sekali. Tek Cun memilih sebuah rumah penginapan besar dan memilih tiga buah ruang, Ruang tengah ditempatinya bersama Gin Liong, Kamar samping kanan oleh Tio Li Kun dan Lan Hwa. Sedang kamar kiri ditempati si limbung Thiat-Io-han sendiri. Malam itu mereka berlima tidur dengan kenangan masing2.

Gin Liong gelisah memikirkan pembunuh suhunya, keselamatan sumoaynya dan tempat beradanya Ban Hong Liong-li. Siau-bun-hou Tio Tek Cun gelisah dirangsang getar2 asmara. Sudah dua tahun ia memendam asmara kepada Mo Lan Hwa. Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun gulak-gulik tak enak tidur karena memikirkan Gin Liong, pemuda yang telah mencuri hatinya, kini pemuda itu berada dekat sekali tetapi bagaimanakah ia dapat mengutarakan perasaan hatinya. Mo Lan Hwapun menyesali nasibnya, Dia marah karena Gin Liong bersikap dingin kepadanya, Karena dendam cemburu, maka ia sampai hati merancang rencana sehingga sidara cantik Ki Yok Lan jatuh ke tangan orang jahat, Kini ia menyesal dan menangis. Keesokan harinya ketika melihat mata Mo Lan Hwa membendul bekas menangis, Gin Liong heran dan tak enak hati. Tek Cun ingin menghibur tetapi tak tahu bagaimana cara memulai kata-katanya. Demikian pula dengan Tio Li Kun. Waktu makan pagi hanya si limbung Thiat-lohan yang kurang tidur nyenyak semangatnya segar, makan paling banyak sendiri. Singkatnya, mereka telah tiba di gunung Thiat-san. Tiga penjuru gunung itu merupakan laut sehingga sukar untuk mendaki keatas. Secara terang-terangan datang berkunjung melalui pintu muka, tentu sukar diterima. Dan hal itu hanya akan mengejutkan lawan saja. Maka diputuskan akan naik pada waktu malam, Setelah menolong Ki Yok Lan, baru nanti membasmi kawanan penjahat gunung itu.

Untuk menghilangkan kecurigaan musuh, mereka mereka mengambil jalan kecil di sebuah desa. Petang hari mereka sudah tak jauh dari kaki gunung. Dan pada waktu malam itu mereka memasuki sebuah desa kecil yang terdiri hanya beberapa buah rumah. Saat itu sepi sekali, penduduk disitu sudah tidur. Mereka berhenti di sebuah rumah batuan dan mengetuk pintu. Seorang kakek tua berumur 70-an tahun membuka pintu. Tok Cun menyatakan bahwa dia bersama beberapa saudaranya hendak minta tolong meniupkan kuda. Melihat kelima tetamunya itu bersikap sopan dan menghormat, orang tua itu mempersilahkan mereka masuk. Lima orang pemuda muncul dengan membawa lentera. "Bawalah kelima ekor kuda tetamu kita ini ke belakang dan beri makan secukupnya," kata orang tua itu. Setelah menghaturkan terima kasih, kelima pemuda itupun segera pergi dalam malam gelap, Setelah berunding sejenak, mereka segera gunakan ilmu lari, dan tak berapa lama tiba di kaki gunung sebelah utara. Gunung Thiat-san mempunyai bentuk seperti seorang raksasa hitam. Sejenak merenung, diam2 Gin Liong teringat akan peringatan Swan yau-ih-sa Tio Tek Beng bahwa gunung Thiat-san itu amat berbahaya sekali. Kemudian mereka mulai mendaki. Gin Liong dan Tek Kun di muka, Lan Hwa dan Li Kun di tengah, sedang si limbung Thiat-Io-han di belakang. Mereka tiba disebelah karang terjal yang menjulang tinggi. Udara berselimut kabut tebal sehingga sukar melihat diatas jarak empat puluh tombak. Untuk menghindari serangan senjata gelap, mereka satu demi satu melambung ke atas puncak. Pertama tama yang

enjot tubuh ke udara adalah Gin Liong. Karena pengalaman di gunung Mo-thian-nia, begitu tiba dipuncak karang itu segera ia bersembunyi dibalik segunduk batu. Baru tiba dibelakang batu, hidungnya sudah terdampar bau yang harum, Ketika berpaling ternyata si jelita Tio Li Kun sudah berada di sampingnya Keduanya saling mengangguk tertawa. Setelah itu baru Mo Lan Hwa. Tek Cun dan terakhir si limbung Thiat-lo-han. Sampai pada jarak dua-puluhan tombak di sebelah muka, hanya gunduk2 batu yang aneh bentuknya, suara ombak mendebur yang terdengar. Mereka segera berjalan ke muka, Li Kun tetap mengikuti di belakang Gin Liong, Tek Cun mengikuti di belakang Mo Lan Hwa dan si limbung yang mengekor di belakang sendiri. Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah puncak kecil. Mendaki puncak itu, suasana amat menyenangkan. Penuh dengan pohon2 hijau, kabut berair yang menyegarkan muka, Makin masuk ke depan, keadaan gunung makin berbahaya dan makin terdengar jelas debur ombak laut. Karena malam gelap, tanpa sengaja mereka telah tiba disebuah lembah. Lembah itu penuh dengan rumput dan bunga2 tintan. Rupanya telah dibangun oleh kawanan gunung Thiat-san menjadi sebuah tempat yang indah. "Liong-te." kata Tek Cun, "kalau tak salah kita sudah berada di tengah2 gunung Thiat-san. Rasanya markas mereka sudah tak berapa jauh."

"Liong-te." tiba2 pula si jelita Li Kun berkata," mungkinkah terjadi suatu perobahan dalam markas mereka ?" Belum Gin Liong menjawab, Tek Cun sudah mendahului: "Kurasa tidak, Selama dalam perjalanan kita tak melihat bekas2 pertempuran." Mo Lan Hwa mendengus tak puas: "Tetapi mengapa selama dalam perjalanan kita tak bertemu barang seorang manusia ?" Karena tubuhnya tinggi besar dan ilmu ginkangnya agak rendah, maka begitu tiba, napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran deras. "Keparat, Thiat-san Pat-koay mungkin sudah mampus !" ia mengomel panjang pendek. Tek Cun berempat terkejut ia hendak memberi peringatan agar engkohnya kelima itu jangan bicara Keras2. Tetapi tiba2 terdengar suara tertawa seram, mengalun di udara. Jika Gin liong terkejut dan marah karena merasa jejaknya telah diketahui musuh, tidaklah begitu dengan si limbung Thiat-lo-han yang malah menantang: "Ngo-ya telah datang, hayo suruh Pat-Koay keluar menerima kematiannya !" Malam sunyi, suara teriakan Thiat-lo-han itu berkumandang jauh, sampai ke langit Tiba2 terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin liong berlima terkejut. Jelas dari nada tertawanya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki ilmu tenaga-dalam yang hebat. Tentu salah seorang anggauta dari kedelapan Pat-koay.

"Budak, kalian datang terlambat ?" Rajawali-gundullengan-besi sudah lama menunggu disini!" seru orang itu pula lalu tertawa. Tring, karena marah, si limbung benturkan sepasang palu besinya dan berteriak: "Kalau sudah lama menunggu, mengapa tak lekas keluar !" "Budak bermulut besar, apa engkau kira kami Pat-koay ini sungguh2 takut kepada kalian bertujuh?" sahut orang itu lalu berseru memberi perintah: "Barisan obor kanan kiri..." Dari samping kanan dan kiri segera terdengar gelombang teriakan yang menggemparkan. Menyusul hampir seratus buah obor segera menyala. Lebih kurang tiga-puluh tombak disebelah kanan dan kiri, tampak beratus-ratus anak buah gunung Thiat-san yang mengenakan pakaian hitam. Yang seratus orang memegang obor dan sisanya mencekal senjata golok. Dan ketika Gin Liong berlima memandang ke muka, ternyata diantara gunung2 batu sejauh tiga-puluh tombak, tegak delapan lelaki berwajah seram. Ada yang berkepala gundul, yang berambut panjang berwajah pucat, bertubuh gemuk, kurus kering dan tinggi pendek serba menyeramkan. Dibelakang berpuluh tombak dan kedelapan manusia aneh atau Pat-koay itu, tampak dinding tembok markas mereka yang tinggi. Dengan mata berapi-api buas, kedelapan orang itu secara pelahan-lahan maju menghampiri ke tempat Gin Liong berlima. "Liong-te, mereka itulah Pat-koay." Li Kun melesat ke samping Gin liong dan membisiki.

Yang didepan dari rombongan Pat-koay itu kepalanya gundul, rambut putih, hidung bengkok, umurnya 70-an tahun, mengenakan jubah yang panjang sampai menyapu tanah. Dia adalah Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se Leng, jago pertama dari Pat-koay. Dibelakang dua orang, yang satu rambut dan jenggotnya kelabu, matanya tinggal satu, alis panjang mengenakan pakaian warna kelabu, namanya Li Ko Ceng bergelar Tokgan-liong atau Naga-mata-satu, Dan yang satunya adalah seorang paderi bermata besar, alis tebal, dada penuh rambut lebat Toa To hwesio atau paderi perut Besar demikian nama gelarannya. Dua orang di belakangnya lagi, yang satu bermuka pucat, mengenakan baju dari kain kasar, Dia adalah jago keempat dari Pat-koay. julukannya Hwat-kiang-si atau Mayat Hidup, Dan yang seorang, beralis naik, mata cekung mengenakan pakaian hitam. Dia adalah Ngokoay atau jago kelima, bergelar Hek-bu-siang atau setan hitam. Disamping kiri dari kelima Pat-koay itu, seorang lelaki yang rambutnya terurai ke belakang, pakaian compang camping, Dia adalah Lak-pian-seng atau Manusia Kotor. Sebelah samping kanan, seorang wanita yang dandanannya menyolok selain Hoa-ciau-hong atau Bunga-mengundangkumbang demikian gelaran wanita cabul itu. Dan paling belakang sendiri seorang lelaki berumur 30tahun lebih, mengerjakan pakaian warna meraih mukanya berbedak, rambut kelimis, tubuhnya kurus. Dia adalah Hun-tiap-sam-long atau pemuda Kupu-berbedak, yang baru dua jam berselang kembali ke gunung. Demi melihat Gin Liong dan Mo Lan Hwa yang pernah dilihatnya didalam kota Hong-shia seketika berobahlah wajah Hun-tiap Sam-long, ia segera tahu maksud

kedatangan kelima pemuda itu. Maka dia tak berani unjuk diri di muka melainkan berada di belakang rombongannya. Saat itu rombongan Pat-koay sudah tiba pada jarak tujuh tombak. Serentak Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun menunjuk ke arah Hun-tiap Sam-long. "Liong-te, yang dibelakang sendiri itu adalah Hun-tiap Sam-long . . ." Gin Liong serentak berteriak gusar: "Penjahat cabul, serahkan jiwamu . . . ." - ia terus meluncur maju untuk menyerang. "Liong-te, jangan . . . ," teriak Tio Li Kun. Tetapi terlambat, Gin Liong sudah menyerbu diantara Hek - bu siang dan wanita cabul Hoa -ciau-hong. Yang dipandang sebagai lawan berat oleh Pat-koay, hanialah Tek Cun dan si jelita Li Kun dari ke tujuh persaudaraan Tio. Gin Liong dan Mo Lan Hwa tak dipandang mata. "Budak, berhenti . . . !" bentak Rajawali-gundul-lenganbesi. Tetapi saat itu Gin Liong sudah berada di depan Hek bu - siang dan Hoa-ciau-hong. Hek-bu-siang cepat tutukkan jarinya yang kurus ke pinggang Gin Liong. Tetapi tanpa menghiraukannya, Gin Liong menyelinap dan meneruskan serbuannya kepada Hun tiap Sam long. Apabila Hek-bu-siang tercengang adalah Hoa-ciau-hong sudah menghantam muka Gin Liong. "Enyah !" bentak Gin Liong segera balas menghantam bahu kiri wanita itu, Dan serempak iapun terus menyelinap ke arah Hun-tiap Sam-long.

Melihat gerakan yang begitu tangkas dari Gin Liong, Hun-tiap Sam-long menjerit dan buru2 loncat ketempat Toa To hweshio, Tetapi Gin Liong lebih cepat Sekali loncat ia ayunkan tangannya ke ubun2 kepala orang. "Liong-te, jangan dibunuh !" teriak Tio Li Kun. Rupanya Gin Liong tahu apa yang dimaksud si jelita itu. Cepat ia turunkan tangan untuk mencengkeram dada Huntiap Sam-long. Paderi Perut Besar mengurung dan cepat menghantam punggung Gin Liong. Tetapi pemuda itu hanya tertawa dingin, mendorong tubuh Hun-tiap Sam-long lalu berputar tubuh dan mendorongkan tangan kanannya. Terdengar letupan keras diiring oleh jeritan aneh ketika tubuh dari paderi itu terlempar berguling sampai tiga tombak jauhnya. Tek Cun berempatpun sudah loncat ke belakang Gin Liong Sedang si Manusia - kotor segera lari menghampiri Toa To hweshio paderi itu duduk sandarkan tubuh pada kaki Manusia-kotor, Pandang matanya berkunang2, mulut menganga terengah-engah keras. Suasana serentak sunyi senyap, Thiat-san Pat-koay terkejut memandang Gin Liong, Mereka tak menyangka kalau pemuda tak terkenal itu memiliki tenaga-dalam yang sedemikian saktinya. Hanya sekali hantam, Toa To hweshio, pemimpin ketiga dari kawanan Pat-koay telah terlempar sampai tiga tombak. "Penjahat cabul yang tak tahu malu. Lekas bilang, dimana sumoayku engkau sembunyikan !" bentak Gin Liong seraya menuding Hun-tiap Sam-long.. Rajawali-gundul bertambah angkuh:

"Budak bermulut tajam, jelas engkau hendak jual jiwa bekerja pada persaudaraan Tio untuk merampok gunung ini, mengapa engkau cari alasan segala macam . . ." "Bangsat tua, tutup mulutmu !" bentak Tek Cun, mencabut trisula pendek terus menyerang. Serangan Tek Cun itu cepat disambut oleh Hua - ciau liong yang sejak tadi marah melihat tingkah laku Gin Liong dan Tek Cun. Tetapi wanita cabul itupun segera disongsong oleh Mo Lan Hwa yang membabat lambungnya Tiba2 Toa To hweshio loncat berdiri terus menggerung dan menyerang Gin Liong. Melihat Tek Cun sudah melayani Hoa-ciauhong, Mo Lan Hwa segera beralih menyerang kepala Toa To hweshio. Tetapi paderi perut Besar itu tak mau menangkis atau menghindar melainkan tetap ulurkan tangannya hendak meraih leher Mo Lan Hwa. "Tring..." Mo Lan Hwa terkesiap, Ternyata gundul Toa To hweshio itu sekeras baja, Dan dalam pada itu tangan si paderipun hampir tiba di leher si nona. -ooo0dw0oooBab 5 Lima nyonya menantu Gin liong terkejut Cepat ia meluncur maju menyambar siku lengan paderi itu: "Bangsat gundul, engkau cari mati . . . "

Tay To hweshio atau paderi perut Besar terkejut juga melihat serangan anak muda itu. Dengan nekad ia tundukkan kepala lalu membentur dada Gin Liong. Dalam kesempatan itu Mo Lan Hwapun segera menggeliat ke tempat Li Kun yang tegak dengan pedang melintang. Tetapi Gin Liong tak mau melayani kenekadan paderi itu, Cepat ia menyelinap kesamping dan menyusup ke belakang si paderi lalu mengirim sebuah tendangan. Karena serudukannya luput, paderi itu meluncur ke muka, Dan kaki Gin Liong mempercepat laju tubuhnya menyusur ke tempat Thiat-lo-han. Si limbung Thiat-lo-han menyengir Cepat ia mengangkat tinjunya yang besar untuk dihantamkan kebatok kepala paderi itu. Hwat-kiang-si dan Hek-bu-siong terkejut sekali, Dengan memekik keras mereka serempak hendak menerjang ThiatIo-han. Prakk . . . . Terlambat Tinju si limbung yang besarnya hampir sama dengan buah kepala, telah terlanjur menimpali kepala Tay To hweshio, Batok kepala paderi Perut Besar yang keras, akhirnya hancur berantakan juga terhunjam tinju si limbung Thiat-lo-han. Rubuhlah paderi itu. sepasang tangannya yang berbulu lebat mencengkeram tanah keras2. Rupanya paderi itu tengah meregang jiwa dengan penasaran. Sudah tentu Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se Leng, kepala dari Pat-koay, marah sekali. Dengan menggerung keras ia segera menerjang Thiat-lo-han.

Tetapi serempak dengan itu, terdengar pula jeritan ngeri. Rajawali-gundul terkejut dan berpaling. Ah . . . Tampak Siu-bun-hou Tek Cun dengan mencabut trisulanya yang pendek dari dada wanita cabul Hoa ciau ling. Bluk, wanita cabul itu lepaskan pedang dan terkulai rubuh, Darah mengalir dari dadanya Melihat itu bukan kepalang marah Hun tiap sam long, dengan meradang dahsyat ia telah menerobos dari sela2 Tok-gan liong serta menerjang Tek Cung. Tetapi cepat2 Gin Liong menyambar lengan Hun tiap sam long sehingga dia menjerit kesakitan. Melihat itu Rajawali gundul Gui Se Liang segera lepaskan pukulan Lat hiat Hoa-san atau menghantam gunung Hoa san kepada Gin Liong, sedang tangan kirinya serempak menyambar siku lengan pemuda itu. Sekaligus ketua dari Pat-koay itu melancarkan serangan yang dahsyat. Bidadari dari gunung Mo-thian, Tio Li Kun terkejut, buru2 ia loncat menusuk Rajawali gundul. Lak pian-seng atau si Manusia kotor kebutkan lengan bajunya dan sebuah kipas besi telah menyembul di tangannya. Secepat ditaburkan, secepat itu pun ia terus lari menerjang Tio Li Kun. Setelah dapat menangkap si penjahat cabul Hun-tiap sam-long, sudah tentu Gin -Liong tak mau melepaskannya. Cepat ia loncat membawa Hun-tiap sam long sampai dua tombak jauhnya. Pada saat Gin liong tegak itulah, sebuah pekikan dahsyat dari sesosok bayangan biru sudah menerjangnya.

Gin Liong terkejut dan berpaling. Tampak Pat-koay nomor dua ialah Naga-mata-satu, rambutnya meregang tegak, biji matanya yang tinggal satu bersinar buas, golok hian-to yang berkilat-kilat tajam mendesing kearahnya. Dalam pada itu pukulan Rajawali-gundul tadipun mengancam kearah kepala Gin Liong. Melihat itu memancarlah hawa pembunuhan pada dahi Gin Liong, Dengan membentak keras ia mendorong tubuh Hun-tiap-sam-long. Kemudian cepat berputar tubuh, membentak keras seraya menangkis pukulan Rajawaligundul yang termasyhur memiliki Thiat pi atau lengan besi. Tiba2 terdengar jeritan melolong yang amat ngeri sekali Ternyata karena tubuh Hun-tiap-sam-long didorong ketempat Naga-mata-satu, si Naga-mata-satu tak sempat lagi untuk menarik atau menghentikan gerakan goloknya yang hendak disabetkan padat Gin Liong. Golok bunto adalah sebuah golok yang amat tipis dan tajam luar biasa. Tak ampun lagi tubuh Hun-tiap-sam-long telah terbelah menjadi dua, darah menyembur dan isi perutnyapun berhamburan keluar. Krak... Saat itu terjadilah benturan antara tangan Gin Liong dan tangan Rajawali-gundul. Sepasang bahu Gin Liong bergetar tetapi Rajawaligundul tergempur kuda2 kakinya sehingga terhuyunghuyung mundur sampai tiga langkah. Terdengar pekik melengking segumpal asap merah meluncur dan Mo Lan Hwa menghadang si Naga-mata satu, Pat-koay nomor dua yang telah salah tangan membunuh Hun-tiap-sam-long.

Gin Liong menyempatkan diri untuk memandang ke sekeliling, Dilihatnya si limbung Thiat-lo-han tengah bertempur melawan Hek-bu-siong. Si jelita Tio Li Kun tengah melayani Lak-pian-seng si Manusia-kotor, Tek Cun bertanding lawan Hi-kiang-si atau si Mayat-hidup. Keenam orang yang bertempur dalam tiga partai itu, tampak sedang bertempur mati-matian. Sedangkan beratus-ratus anak buah Pat-koay tampak berjajar-jajar di sekeliling gelanggang bertempur dengan membawa obor, Mereka terlongong-longong menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Tiba2 dari tengah lereng gunung disebelah muka, terdengar lima buah letusan bunga api. Percikan bunga api itu menimbulkan pemandangan indah di malam yang gelap. Tetapi lokoay Rajawali - gundul serentak berobah seri wajahnya, Beratus - ratus anak buahnyapun segera bersorak nyaring lalu berhamburan lari menuju ke gunung di muka itu. Gin liong segera tahu bahwa tentu ada pula kawanan kojiu (tokoh sakti) yang menyerbu gunung. Tiba2 Rajawali gundul tertawa nyaring dan seram. Selekas berhenti, ia menghardik sekeras-kerasnya : "Berhenti semua !" Serentak pertempuranpun berhenti, Hek-bu siong, Hwatkiang-si, Lak-pian-seng dan Naga-mata-satu segera berhamburan loncat ke belakang Rajawali-gundul. Wajah mereka tampak tegang sekali dan memandang ke arah gunung disebelah muka. Pun Tek Cum, Thiat-lo-han. Tio Li Kun dan Mo lan Hwapun segera meluncur ke muka Gin Liong, Mereka tat tahu apa yang terjadi.

Dengan mata berkilat-kilat, Rajawali-gundul membentak Tek Cun: "Siau bun-hou, kami dari gunung - Thiatsan tak merasa mempunyai dendam permusuhan kepadamu Tetapi mengapa ketujuh saudaramu malam ini menyerang gunung kami? Apa maksudnya, katakanlah !" Tek Cun kerutkan dahi dan menyahut marah sekali: "Kedatangan kami bersaudara bersama Siau sauhiap kemari, tak lain hendak meminta kembali nona Ki yang telah dirampas Hun-tiong-sam-long di rumah penginapan kota Hong-shia ...." "Kalau mau minta orang mengapa tak secara terangterang datang ke gunung ?" tukas si Naga-mata-satu dengan marah. Karena dirinya tak di tanya. Thiat-lohan merasa terhina. ia marah. sebelum Tek Cun menyahut ia sudah mendahului membentak dengan deliki mata: "Ke gunung mau cari siapa ? sepanjang jalan aku tak ketemu dengan seorang manusiapun juga. Kukira sekalian sudah mati semua." . Naga-mata-satu tak dapat menjawab, dari malu ia menjadi marah, bentaknya: "Budak kecil yang bermulut besar..." golok bian-to berhamburan mencurah kearah Thiat-lo-han. Tahu kalau engkohnya yang nomor lima tak dapat menandingi kesaktian Naga-mata-satu. Bidadari-gunungMothian Tio Li Kun segera melengking seraya taburkan pedangnya menyongsong golok bianto. Naga-mata-satu tertawa gelak2 :

"Bagus, bagus ! Dengan membunuh kalian bertujuh Jithiong, tentu bakal menjadi enghiong (jago)!" Tiba2 permainan golok bian-to dirobah, Golok itu bergeliat membolak-balik seperti seekor ular, Naga-matasatu telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Si cantik Tio Li Kun hanya tertawa dingin. ia salurkan hawa murni ke batang pedang dan menggunakan cara kekerasan untuk menangkis dan adu benturan senjata. Dia sengaja tak mau menghindar maupun menarik pedangnya. Dengan kelincahannya yang mengagumkan, si cantik Tio Li Kun dengan pedangnya itu benar2 menyerupai seorang bidadari yang sedang bermain-main dalam taman bunga. Lama kelamaan mata si Naga-mata-satu yang tinggal sebuah itu mulai berkunang-kunang. Makin lama ia makin merasa gentar, Saat itu baru ia membuktikan bahwa si jelita Tio Li Kun yang disohorkan memiliki kepandaian silat dan ilmu pedang sakti itu, ternyata memang benar. Lak-pian-seng atau si Manusia-kotor yang menyaksikan pertempuran itu dari samping, diam2 pun merasa gentar dalam hati. Saat itu baru ia menyadari bahwa tadi ternyata si cantik itu memang sengaja tak mau mendesak kepadanya. "Jite, mundurlah !" melihat Naga-mata-satu tak dapat bertahan, cepat Rajawali-gundul berseru memangginya. "Jit-moay, mundurlah !" Thiat lo-han si limbung pun tak mau kalah suara, ia menyuruh adiknya yang nomor tujuh. Mendengar teriakan itu, kedua pihakpun berhenti bertempur. Sementara di gunung sebelah muka, terdengar letusan2 keras dan pekik jeritan pembunuhan.

"Siau bun-hou, sebenarnya berapa banyak orangmu yang datang kemari ?" teriak Rajawali-gundul Gui Se Ling kepada Tek Cun. Tek Cun mendengus marah. "Sekali lagi kukatakan, bahwa kami hanya datang berlima. Orang2 yang di gunung sebelah muka itu, bukan orang kami." Melihat sikap dan wajah kelima pemuda itu, Rajawaligundul percaya bahwa mereka memang tak bohong, Segera ia berpaling memberi perintah kepada Hwat kiang si dan Hek bu-siong supaya lekas ke gunung disebelah muka. Kedua orang itupun segera lari pesat menuju ke gunung disebelah mula, Mereka bercuit aneh dan nyaring. Segera terdengar teriak sambutan dari gunung di muka, Rupanya mereka girang karena mendapat bala bantuan. Pun lebih dari separoh anak buah gunung Thiat- san yang segera tinggalkan tempat itu menuju ke gunung di muka. Melihat itu Gin Liong makin gelisah, ia mencemaskan Ki Yok Lan Rupanya Mo Lan Hwa tahu apa yang dipikirkan Gin Liong, Segera ia menuding Rajawali-gundul dengan ujung pedang dan berseru: "Lekas bawa kami ketempat nona Ki. Kalau tidak, jangan sesalkan aku bertindak kejam." Rupanya sejak kalah dengan Tio Li Kun tadi, si Nagamata-satu tetap malu dan mendongkol, Melihat Mo Lan Hwa berani menuding dan membentak Rajawali-gundul, ia tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Tutup mulutmu, budak hina . . . "

"Sejak berumur delapan tahun terjun kedunia persilatan, sampai sekarang belum pernah ada orang yang berani memaki aku, Salju-bertebar-merah seorang budak hina !" Ia menutup kata-katanya dengan tebarkan pedang kearah Naga-mata-satu. Mendengar nona itu ternyata Salju-bertebar merah Mo Lan Hwa, seketika Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan Lak-pian-seng berobah wajahnya. "Harap nona suka berhenti," cepat Rajawali gundul berseru. Mo Lan Hwapun hentikan pedangnya, "Jite, mari lekas pergi, yang datang di gunung sebelah muka itu mungkin Swat-thian Sam-yu !" Ketua Pat-koay itu terus melambung ke udara dan melayang sampai beberapa tombak jauhnya, ia hendak menuju ke gunung di muka. Mendengar nama Sam-yu, Naga-mata-satu dan Lakpian-seng tergetar hatinya. Segera keduanya mengikuti jejak Rajawali-gundul, menuju ke gunung di muka. Demikian keadaan dalam lembah pun tampak sibuk sekali. Anak buah gunung Thiatsan berbondong-bondong menyerbu ke gunung di sebelah muka. Keadaan di gunung itu makin kacau, Jerit lolong, pekik teriak, susul menyusul memecah kesunyian malam. Gin Liong sibuk juga. Dia tak menghiraukan apa yang terjadi di gunung sebelah muka. Yang penting ia harus menyelamatkan sumoaynya. "Liongte," tiba2 Tek Gun berkata, "selagi mereka kacau balau, mari kita masuk kemarkas mereka."

Tetapi ketika memandang kearah markas gunung Thiatsan, mereka terkejut. "Markas Thiat-san dibakar orang !" serempak mereka berseru kaget. Markas kawanan Pat-koay telah dimakan api. anak buahnya menjerit dan berteriak-teriak kacau balau. "Celaka, apakah nona Ki masih berada dalam markas mereka," tiba2 Mo Lan Hwa berseru cemas, Gin Liong terkejut, Tetapi karena Hun-tiap-sam-long sudah mati, sukar untuk mencari keterangan. Saat itu letusan2 terdengar makin meluas, Hampir seluruh lembah dan gunung telah dimakan api. Tiba2 dari arah belakang terdengar suitan nyaring yang penuh bernada kemarahan. Cepat Gin Liong berlima berpaling kebelakang. Tampak Rajawali gundul. Nagamata-satu dan Lak pian-seng berlari-lari mendatangi seperti orang gila. Rambut mereka terurai kusut, pakaian lusuh. Mereka lari menuju ke markas yang tengah dibakar api. Seorang lelaki pun tengah berlari mengejarnya. Rupanya dia adalah penyerang dari gunung di sebelah muka. "Adik Liong, mari kita ikuti mereka, Mungkin nona Ki masih berada dalam markas," kata Mo Lan Hwa. Gin Liong mengangguk. mengejar dibelakang mereka. Mereka berlima segera

Markas seperti berobah menjadi lautan api. Keadaan sekitar gunung itu terang benderang seperti siang hari. Dinding tembok markas dibangun setinggi lima tombak, terbuat dari batu yang kokoh, Diatas tembok dipasangi pagar kayu yang ujungnya diberi pisau tajam.

Tetapi kelima pemuda itu tak menjumpai rintangan apa2 ketika mereka loncat keatas pagar tembok itu. Tampak markas itu penuh dengan bangunan2 rumah, Yang paling besar, sebuah bangunan bertingkah Di tengahnya terdapat sebuah ruang besar. Api berasal dari belakang markas dan saat itu tengah meranggas kebagian muka. Setelah melihat keadaan markas itu sunyi senyap, Gin Liong memberi isyarat untuk bergerak, ia mendahului melayang turun, Tetapi baru kakinya tiba di tanah, tiba2 terdengar Mo Lan Hwa menjerit tertahan. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling, Ternyata Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun sudah menyerbu kederetan rumah disebelah kiri. Bekas tempat yang ditempuh kedua nona itu tampak tiga anak buah Pat-koay sedang terkapar tidur nyenyak. Si limbung Thiat-Io han yang sudah loncat turun bersama Tek Cun, terus langsung menghampiri ketiga anak buah itu dan mencongkel tubuh mereka dengan kakinya, Tetapi rupanya ketiga orang itu tidur pulas sekali. "Ah, mungkin mereka telah ditutuk jalan darahnya oleh orang yang melepas api," kata Gin Liong. Tek Cun segera membuka jalan darah mereka. Seketika menjeritlah dan melonjak bangunlah ketiga orang itu. Bahkan terus hendak menabas dengan goloknya, Tetapi ketika melihat sikap kelima pemuda itu tenang2 saja, merekapun tertegun. "Apakah kalian bertemu dengan orang sakti?" tegur Gin Liong.

Melihat Gin Liong seorang yang cukup sopan, ketiga orang itupun segera memberi keterangan: "Entahlah, kami hanya merasa dihembus angin dan tahu2 rubuh tak sadarkan diri lagi." Gin Liong berlima diam2 terkejut, jelas malam itu markas gunung Thiat-san telah kedatangan seorang tokoh yang sakti. "Apakah paman bertiga mengetahui jit-saycu Hun-tip sam-long dikala pulang ke gunung, membawa apa saja ?" tiba2 Mo Lan Hwa bertanya. "Kami tak melihat Jit saycu pulang," kata mereka. Rupanya percuma saja bertanya dengan ketiga orang itu. Gin Liong dan kawan-kawannya segera loncat ke atas rumah dan lari menuju ketempat kebakaran. Saat itu api makin besar, Anak buah Pat-koay berbondong-bondong menuju ke markas belakang. Gin Liong berunding dengan keempat temannya dan memutuskan untuk menangkap beberapa anak buah markas yang tahu tentang keadaan Hun-tiap-sam-long. Mereka segera menuju ke markas belakang. Tampak beratus-ratus anak buah "Thiat-san hanya berteriak-teriak kalap menyaksikan lautan api tanpa dapat berbuat apa2. Demikian pula Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan Lakpian-seng hanya bingung tak keruan menyaksikan markasnya dimakan api. Tiba2 dari jendela tingkat kedua dari sebuah bangunan disebelah kiri, tampak menyala terang. Gin Liong tertarik Cepat ia lari menuju ke rumah tingkat itu. Tek Cun berempat pun segera mengikuti Gin Liong loncat ke atas wuwungan sebuah rumah tetapi masih

kurang tujuh tombak tingginya dari tempat yang menyala itu. Setelah mengempos semangat, Gin Liong segera enjot tubuhnya ke udara. Ditengah udara ia bergeliatan merentang kedua tangan dan langsung melayang ke-arah jendela ruang bertingkat itu. Tiba2 jendela terbuka dan dua kepala wanita muda menyembul keluar, Gin Liong pun menuju ke jendela itu. Dalam pada itu karena takut terjadi apa2 pada Gin Liong, Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun menyusul. Kedua wanita itu terkejut dan melarikan diri karena takut Gin Liong cepat mengejar mereka, Kedua wanita itu segera jatuhkan diri berlutut dan menangis. "Jangan takut, kami hendak bertanya kepada kalian," Mo Lan Hwa berkata dengan ramah, ia tahu kedua wanita itu tak mengerti ilmu silat. Dengan tubuh gemetar mereka mengangguk "Kali ini Hun-tiap-sam-long jit-saycu pulang dengan membawa seorang gadis. Tahukah kalian dimana nona itu?" tanya Mo Lan Hwa. "O, nona Ki tidak berada dalam markas," sahut salah seorang yang lebih tua. "Dimana ?" seru Gin Liong. Wanita itu menghampiri jendela lalu menunjuk sebuah puncak gunung di sebelah tenggara dan memberi keterangan: "Karena takut pada li-saycu Hoa-ciau-hong, maka jitsaycu Hun-tiap-sam-long telah menempatkan nona Ki di puncak itu. Salah seorang kawan kami ditugaskan untuk membujuk agar nona Ki mau meluluskan menikah dengan jit-saycu."

Gin Liong girang, Setelah menghaturkan terima kasih segera ia ajak kedua nona melayang turun lagi ketempat Tek Cun dan Thiat-lo-han menunggu, Mereka berlima segera menuju ke puncak itu. Tetapi tiba2 pada saat itu Rajawali-gundul, Hek-bu-siong dan Lak-Pian-seng berlima menghadang jalan. "Serahkan jiwa kalian berlima !" teriak Rajawali- gundul seraya menyerang dengan kalap. Karena hendak cepat2 menuju ke puncak di sebelah tenggara, Gin Liong tak bernafsu untuk melayani lebih lama. Segera ia songsongkan kedua tangannya, Terdengar letupan keras dan Rajawali-gundulpun terhuyung-huyung mundur. Atap rumah yang dipijaknya berhamburan pecah. Naga mata-satu cepat loncat untuk memapaki tubuh Rajawali-gundul. Beberapa anak buah Thiat-sanpun segera berdatangan ke tempat itu. Tetapi pada lain saat dari pagar tembok markas yang tinggi, meluncur lima sosok tubuh kecil yang terus lari menghampiri ke tempat Gin Liong. Gin Liong terkejut. Kelima sosok tubuh kecil itu tak lain adalah kelima ensoh atau taci ipar dari Tek Cun. Mereka mengenakan pakaian ringkas dan masing2 menyanggul pedang pada belakang bahunya. Toasoh atau taci ipar yang paling besar, mengenakan baju warna kuning muda. Ji - soh atau yang nomor dua mengenakan baju biru, ensoh yang ketiga baju wungu muda, yang ke empat baju hijau. Sedang isteri si limbung Thiat-lo han yang juga ikut datang, memakai baju hijau tua. Jika Gin Liong heran, tidaklah demikian dengan ThiatIo-han yang tertawa karena melihat isterinya datang.

"Ensoh sekalian, mengapa kalian kemari ?" tegur Tio Li Kun. "Mamahlah yang menyuruh kami menyusul karena tak tega dan kuatir kalian akan mendapat kesulitan dari Patkuay," sahut ensoh yang tertua. "Hai, Siau Bun hou, apakah wanita2 busuk itu tak mempunyai hubungan dengan engkau ?" teriak Rajawali gundul marah. Mendengar ensohnya dihina, Tek Cun marah dan terus hendak menyerang tetapi tiba2 ensoh yang nomor tiga sudah mendahului: "Bangsat tua, engkau memang sudah bosan hidup !" Wanita baju wungu muda itu mencabut pedang lalu menusuk dada Rajawali-gundul. "Perempuan busuk, aku akan menerima beberapa jurus seranganmu lagi !" Hek-bu siong cepat loncat menyongsong dengan gunakan senjata Kou-hun-pay atau perisai pemburu-jiwa untuk menangkis. "Ho, engkau berani maju lagi ?" wanita itu menggelincirkan pedang ke samping lalu membabat lutut Hek-bu-siong. Setitikpun Hek-bu-siong tak mengira wanita itu memiliki permainan pedang yang sedemikian cepat dan aneh, Dengan memekik aneh ia segera menyurut mundur sampai setombak. Sam-soh tidak mau mengejar melainkan memandang Hek-bu-siong seraya mendampratnya: "Tadi di gunung sebelah muka sudah kuampuni jiwamu, sekarang engkau masih berani unjuk tingkah lagi."

Kemudian wanita itu beralih memandang pada Rajawaligundul dan berseru: "Ah, tak kira Pat-koay dari gunung Thiat-san yang begitu termasyhur ternyata hanya kawanan manusia yang tak berguna !" Lo-koay Rajawali-gundul pucat wajahnya, Karena menahan kemarahan gerahamnya sampai bergemerutukan. sedangkan ji-koay si Naga-mata-satu menengadahkan muka, tertawa geram: "Perempuan hina yang bermulut lancang, aku hendak menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !" Habis berkata ia terus putar golok bianto dan menyerang maju. "Jite, kembalilah !" cepat Rajawali-gundul mencegah. ia tahu bahwa kekuatan pihak lawan lebih unggul. Naga-mata-satu hentikan langkah, Dengan mendengus geram ia memandang kearah Gin Liong dan kawankawannya. Toa-soh atau taci ipar yang paling besar, tertawa hambar, serunya: "Lo-koay, mengapa engkau begitu marah, Kalau tidak karena beberapa saudaramu bermata keranjang merampas wanita, sekalipun engkau mengirim undangan, belum tentu kami akan datang ke gunung Thiat-san ini, apalagi bermaksud hendak merebut markasmu." Lo-koay atau Pat-koay nomor satu, deliki mata: "Siapa yang kami rampas ? Apa buktinya ? Dimanakah orang itu ?" "Mau bukti? ikutlah aku !" teriak Gin Li-ong yang tak kuasa lagi menahan kemarahannya ia terus mendahului lari kemuka, Tio Li Kun dan kawan segera mengikutinya.

Melihat itu terpaksa Lo-koay dan kawan-kawannyapun segera menyusul. Saat itu api makin besar sehingga langit seolah berobah merah warnanya. Anak buah gunung Thiat-san menjeritjerit hiruk pikuk namun tak berdaya untuk menolong hancurnya lima deret bangunan gedung besar dari bahaya api. Setelah keluar dari markas, Gin Liong lari menuju ke tenggara dan dalam beberapa kejab tiba dibawah puncak gunung, ia segera mendaki ke atas puncak. Lo-koay berlima berusaha untuk mendahului mencapai puncak, Mereka hendak menggerakkan alat2 rahasia untuk mencelakai kawanan anak muda itu, Tetapi ternyata kalah cepat. Gin Liong dan kawan2 sudah tiba lebih dulu di puncak yang merupakan hutan pohon siong dan hutan bambu, Hutan2 itu pun telah dimakan api. Gin Liong, Tio Li Kun dan Mo Lan Hwa menerjang ke hutan itu, Pada sebuah batu besar, mereka menemukan lima orang baju hitam terkapar malang melintang di tanah. Gin Liong terkejut, Diam-2 ia menduga tempat itupun telah didatangi oleh tokoh sakti yang belum diketahui itu. Ketika menghampiri ternyata kelima orang itu bukan mati melainkan tidur mendengkur keras. Memandang ke muka Gin Liong melihat didalam hutan siong seperti memancar sepercik api penerangan ia segera mengajak kedua nona untuk menuju ke tempat itu. Sebuah rumah batu berbentuk persegi panjang lampunya terang benderang, pintu terbuka tetapi dalam rumah itu tampak sunyi. Pada ujung sebelah kiri dari rumah itu, terdapat dua orang baju hitam lagi yang terkapar tidur di tanah.

Gin Liong melangkah masuk. ia terkesiap heran karena dalam rumah itu hanya terdapat sebuah meja dan sebuah tempat tidur, lampu masih menyala terang di atas meja. Sedang tempat tidur tampak acak-acakan. Seorang perempuan muda tampak tidur dilantai muka ranjang itu. Gin Liong makin gelisah karena tak dapat menemukan Ki Yok Lan. Saat itu Tek Cun dan saudara-saudaranya pun tiba, Mereka juga tertegun melihat keadaan rumah itu. Tak lama kemudian Lo-koay berlimapun tiba, Bermula Lo-koay menduga pasti ketujuh saudara Tio atau Jit-hiong yang membakar markas gunung Thiatsan. Tetapi saat itu setelah melihat sikap Gin Liong dan kawan-kawannya serta perempuan muda yang tertidur di lantai, iapun ikut terkesiap. Li Kun membangunkan perempuan muda itu dengan membuka jalan darahnya yang tertutuk. "Mengapa engkau berada disini !" bentak Rajawaligundul kepada perempuan muda itu. Pucatlah wajah perempuan itu melihat Lo-koay marah, Dengan gemetar ia memberi keterangan bahwa Jit-koay Hun-tiap-sam-long yang menyuruhnya jaga disitu. Tiba2 Naga-mata-satu membentak: "Jangan ngaco belo, perempuan hina !" - ia terus loncat ke muka perempuan itu dan hendak menghantamnya. "Bangsat, engkau cari mati !" teriak Gin Liong seraya ayunkan tangannya, Segelombang angin keras segera melanda dada Naga-mata-satu. Naga-mata-satu mendengus geram, Cepat ia balikkan tangan untuk balas menghantam. Terdengar letupan dan

diiring dengan jeritan ngeri tubuh Naga-mata-satupun terlempar keluar pintu. Hwat-kiang-si loncat hendak menolong tetapi tak keburu, Naga-mata-satu terlempar tiga tombak dan jatuh di hutan bambu, Huak, ia muntah darah. sejenak meregang jiwa, akhirnya putuslah napasnya. "Aku hendak mengadu jiwa dengan engkau budak!" Lo koay Rajawali-gundul dengan marah serentak mendorongkan kedua tangannya kearah Gin Liong. Gin Liongpun marah. Dengan menggembor keras ia juga dorongkan kedua tangannya. Angin yang timbul dari kedua gerakan tangan Rajawali-gundul dan Gin Liong menimbulkan getaran yang dahsyat sehingga genteng terasa berguncang keras, semua orang menahan napas. Rajawali-gundul terdampar ke dinding, kepala pecah dan napasnyapun berhenti. Melihat itu, Hek-bu-siong dan Lakpian-seng segera melarikan diri. Demikian pula Hwat-kiangsi. Mereka tahu percuma saja melawan kawanan anak muda itu. Gin Liong terlongong-longong sendiri. ia tak mengira bahwa dua kali pukulannya telah menimbulkan akibat yang sedemikian mengerikan ia heran mengapa sekarang tenaganya begitu dahsyat. Dalam pada itu Mo Lan Hwa memberi pertolongan kepada perempuan tadi, Ternyata perempuan itu menderita luka parah, Setelah diurut jalan darahnya perempuan itupun dapat memberi keterangan walaupun suaranya amat lemah sekali: "Nona Ki telah dibawa oleh seorang imam !" "Imam yang mana"?" teriak Gin Liong, Tetapi bujang perempuan itu makin pucat wajahnya, Melihat itu Gin

Liong cepat bertanya pula: "Apakah seorang imam berjubah kelabu, berjenggot panjang ?" Bujang itu paksakan diri membuka mata dan memandang Gin Liong, Tetapi ia tak dapat berkata lagi karena kepalanya segera melentuk dan putuslah jiwanya. Dari pandang mata bujang perempuan itu Gin Liong mendapat kesan kalau bujang itu mengiakan pertanyaannya. "Rupanya yang kuduga itu memang benar." katanya sesaat kemudian, "Liong-te, kenalkah engkau kepada imam itu ?" tanya Tek Cun. "Ya." sahut Gin Liong, "aku pernah dengannya di sebuah lembah salju di gunung." berjumpa

"Engkau maksudkan Hun Ho siantiang ?" seru Mo Lan Hwa. Kukira dalam dunia persilatan dewasa ini seorang imam berjenggot bagus dan berjubah kelabu, kecuali Hun Ho siantiang rasanya tak ada lain orang lagi," sahut Gin Liong. Tiba2 Tio Li Kun berseru girang: "Jika benar demikian, nona Ki bakal mendapat rejeki besar, ilmu pedang Hun Ho siantiang menjagoi dunia persilatan, apabila nona Ki dapat menerima pelajaran dari Hun Ho sian tiang, tentu kelak dia akan menjadi seorang pendekar pedang wanita yang cemerlang." "Kalau begitu marilah kita lekas tinggalkan tempat ini. Kalau sebelum terang tanah kita dapat mencapai tempat penyeberangan di Dairen, kemungkinan kita akan dapat berjumpa dengan Hun Ho sian-tiang bersama ketika kokoku, "Mo Lan Hwa juga gembira.

Demikian mereka segera beramai-ramai turun gunung, Ternyata kuda dari kelima nyonya menantu keluarga Tio ditambatkan di hutan. Kesepuluh orang itu segera naik kuda menuju ke sebuah desa yang terletak sepuluh li jauhnya. Saat itu hampir menjelang dini hari, Ayam mulai berkokok bersahut-sahutan. Cepat sekali mereka tiba di desa itu. Hanya Tek Cun dan Thiat-Io-han yang masuk ke desa, sedang yang lain menunggu diluar desa. "Jit moay." kata Toa-soh kepada Tio Li Kun. "mamah sudah rindu dengan Ngo-te, setelah urusan disini selesai, suruhlah dia pulang." Tetapi Tio Li Kun mengatakan sebaiknya toa-sohnya itu mengatakan sendiri kepada Ngo-ko atau si Thiat-lo-han. Gin Liong merasa tak enak dalam hati. Adalah karena urusannya sampai merepotkan sekian banyak orang. Andaikata ia tak berjumpa dengan Mo Lan Hwa tentu saat itu ia sudah dapat menyusul Ban liong liong-li. Melihat wajah pemuda itu mengerut, kedua gadis cantik. Mo Lan Hwa dan Tio Li Cun, serempak bertanya: "Adik Liong, apakah ada suatu yang hendak engkau katakan?" Dengan terbata-bata Gin Liong menjawab: "Kurasa urusan ini memang sudah selesai, Karena urusanku.... sesungguhnya tak harus membikin repot saudara2 sekalian...." Mendengar itu kelima ensoh segera menghampiri dan toasohpun serentak berkata:

"Liong-te, engkau adalah adik kami yang paling bungsu. Sudah seharusnya kami membantumu. Apalagi mamah tak tega kalau engkau berkelana seorang diri." Tengah mereka bicara dari arah desa tampak Tek Cun dan Thiat-lo-han mengendarai kuda dengan diikuti oleh ketiga ekor kuda yakni kuda hitam bulu mulus, kuda hitam berkaki putih dan kuda Siau-pik milik Tio Li Kun. "Hayo, kita lekas berangkat !" teriak si limbung Thiat-lohan dengan bersemangat. Toa-soh tertawa, serunya: "Aya, sudahlah, jangan mengurusi mereka, Mari kita pulang..." Thiat-lo-han terbelalak dan menggerung: "Siapa yang suruh ?" "Mamah !" Thiat-lo-han lemas seperti gelembung karet yang habis anginnya, ia memandang Gin Liong, Mo Lan Hwa, Tio Li Kun dan Tek Cun dengan pandang kecewa. Kelima pemuda itu segera naik kuda dan ber seru: "Ngoko dan kelima ensoh, selamat tinggal." Demikian mereka segera mencongklangkan kudanya dan tak sampai sejam kemudian tibalah di kota penyeberangan. Begitu masuk ke kota, Mo Lan Hwapun menjerit kaget seraya menunjuk kesebatang pohon besar : "Ah, lo-koko sudah tiba di sini." Memang pada pohon itu terukir sebuah lukisan pipa emas, Segera mereka menuju ke selatan. Di tempat penyeberangan penuh orang, Barang2 menumpuk di tepi laut, Di tengah laut tampak beberapa kapal dan perahu2.

Pada tumpukan peti setinggi tujuh tombak Gin Liong melihat sebuah lukisan pipa yang menghadap ke arah selatan. "Ah, rupanya lo-koko sekalian sudah datang dan sudah menyeberangi lautan" katanya. Mo Lan Hwa bersungut-sungut: "Mengapa mereka tak mau menunggu kita ?" Tek Cun mengatakan hendak menyewa sebuah perahu besar karena hari itu anginnya besar. Tetapi Gin Liong mencegahnya, ia mengatakan hendak menyelidiki ke dalam kota dulu barangkali ada Ban Hong liongli. Bahkan mungkin ketiga suheng dari Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa juga mempunyai pikiran begitu. ia mengusulkan akan pergi bersama Tio Li Kun kedalam kota sedang Gin Liong yang melakukan penyelidikan disekitar tempat penyeberangan "Dan engkoh Tek Cun yang menyewa perahu" katanya, "dengan begitu kita dapat menghemat waktu." Mendengar si cantik menyebutnya "engkoh Tek Cun" diam2 Tek Cun girang sekali. Demikian mereka segera membagi tugas, Dengan naik kuda bulu hitam, Gin Liong menuju ke tempat penyeberangan. Tiba2 ia mendengar orang ramai membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Pusaka dunia persilatan hanya layak berada di tangan orang yang berbudi luhur. Orang tua yang tangannya berlumuran darah semacam itu, tak seharusnya memiliki cermin pusaka Te-kin . . " Gin Liong terkejut Ketika memandang dengan seksama ia melihat enam orang persilatan dengan pakaian ringkas

dan membekal senjata tengah mengobrol. Yang bicara adalah seorang tua berumur lima puluhan tahun. Kawannya yang beralis tebal berseru dengan suara nyaring: "Belum satu bulan saja sudah berpuluh-puluh jago- silat baik dari aliran Hitam maupun Putih yang mati di tangan orang tua itu. Kabarnya di Tay sik-kiau dia telah membunuh tokoh Bu Tim cinjin dari partai Kiong-lay-pay dan sepasang tokoh Bu-siang-kiam dari partai Kong-tongpay." Gin Liong terkejut entah apakah Ma Toa Kong masih berada di Tay-sik-kiau. Kalau dia juga sudah mati, bagaimana keadaan guha Thian-kiu jiok baru dapat ia ketahui setelah ia pulang ke kuil Leng-hun-si. Lanjutkan perjalanan ke muka, dari kerumunan orang di sebelah kiri, tampak beberapa orang persilatan juga tengah membicarakan tentang orang tua yang membawa cermin pusaka itu. "orang tua itu sering berpindah tempat, entah apakah maksudnya?" kata seorang lelaki pertengahan umur yang menyanggul pedang. "Dua hari dua malam meninggalkan Tay-sik-kiau dia lalu lari ke gunung Hoksan di seberang laut ini." Memang Gin Liong sendiri juga heran. Siapakah sesungguhnya orang tua bertubuh kurus itu ? Apakah dia memang hendak mencuri pusaka ataukah hanya hendak mempermain-mainkan orang persilatan saja ? Seorang tua berambut putih berkata: "Soal ini memang sudah menarik perhatian para ketua partai persilatan. Mereka pun telah mengirim para ko-jiu (jago sakti) untuk mengikuti jejak orang tua itu dan menyelidikinya. Kabarnya

Tujuh-tokoh-aneh-dari-dunia (lh-Iwe-jit-ki) yang sudah lama tak muncul di dunia persilatan, juga diam2 ikut campur dalam peristiwa itu" Makin tergerak hati Gin Liong, Pikirnya, apakah bukan karena orang tua pembawa cermin pusaka itu maka lo-koko Hok To Beng bergegas menyeberangi laut ini ? Tiba2 terdengar suara kuda meringkik. Ternyata Tek Cun dengan mengendarai kuda bulu coklat tengah mendatangi. Karena sampai sekian lama tak memperoleh keterangan tentang Hun Ho sian-tiang dan Ban Hong liong-li. akhirnya Gin Liongpun tinggalkan tempat itu dan larikan kudanya menyongsong Tek Cun. Saat itu kedua gadis Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun juga muncul dan mendatangi. "Memang benar, tua-suheng bersama kedua lo-koko sudah melintasi laut," seru Mo Lan Hwa agak gopoh, "dan menurut keterangan seorang jongos hotel, memang ada seorang wanita muda cantik lewat dimuka hotel terus menuju ke tempat penyeberangan Wanita itu tidak singgah makan Entah apakah dia Ban Hong lo cianpwe atau bukan ?" "Ya, ya, memang Ban Hong lo cianpwe," kata Gin Liong, "ah, tak kira dia begitu cepat sekali Kemungkinan dia menempuh perjalanan siang malam untuk pulang ke daerah Biau." Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun menghibur pemuda itu supaya tak perlu cemas, Tentu mereka akan dapat menyusul Ban Hong liong-li. Ternyata Tek Cun sudah dapat menyewa sebuah perahu besar yang lengkap menyediakan makanan dan minuman.

Anak perahu memandang sepasang muda mudi itu dengan rasa kagum. Tak lama seorang tua berambut putih bergegas keluar dari pintu ruang perahu dan mempersilahkan keempat anak muda itu naik. Keadaan perahu itu amat bersih, Juga makanan yang dihidangkan cukup lezat, Setelah makan mereka mandi lalu masing2 masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Walaupun berbaring ditempat tidur tetapi Gin Liong tak dapat tidur, ia masih memikirkan su-moaynya. walaupun sudah ditolong oleh Hun Ho sian-tiang tetapi untuk mengambil dan mengantarkannya, tentu makan waktu. Hal itu berarti harus menangguhkan perjalanan untuk menyusul Ban Hong liongli. Pada malam hari, angin bertambah kencang sehingga perahu agak bergoncang keras, Gelombang mendampar hampir masuk ke geladak perahu. Gin Liong bangun dan melakukan pernapasan Ternyata ia merasa sehat tak sampai mabuk laut, Tetapi dari kamar sebelah ia mendengar suara orang merintih. Cepat ia keluar dari kamar dan ternyata Tio Li Kun yang mengeluarkan suara rintihan sakit itu. ia hendak masuk tetapi agak ragu, Lebih baik ia meminta Mo Lan Hwa saja yang masuk, tetapi berulang kali dipanggil, Mo Lan Hwa tetap tak menyahut, kamarnya sunyi senyap. Mencari ke kamar lain, ternyata Tek Cun juga tak ada, pada hal Li Kun makin merintih keras, akhirnya terpaksa Gin Liong memberanikan diri masuk. "Cici, engkau kenapa ?" tegurnya. Melihat Gin Liong, diam2 berdeburlah hati si jelita, wajahnya yang pucat bertebar warna merah "Ah, tak apa2...." katanya, lalu berusaha duduk. "Cici tak enak badan, tak perlu duduk," Gin Liong mencegahnya.

Si jelita membuka sepasang matanya yang indah dan menatap Gin Liong dengan gelengkan kepala: "Aku hanya merasa pening dan ingin muntah...." Tiba2 kata2 Li Kun itu terputus oleh setiap gelombang besar yang mendampar perahu. Perahu oleng dan Li Kunpun sampai terperosok jatuh ke lantai. Gin Liong terkejut, Cepat ia memeluk tubuh jelita itu, ia dapatkan tubuh Li Kun lemas sekali seperti tak bertulang. Diluar dugaan, kedua tangannya yang memeluk tubuh Li Kun itu tepat menjamah dibagian dada sijelita. Gin Liong seperti terbang semangatnya. "Cici, engkau bagaimana ?" tegurnya, Tetapi jelita itu diam saja, Ketika memandang kebawah ternyata mata Li Kun mengatup rapat, mulut yang mungil dan sepasang alisnya yang melengkung bagai bulan tanggal satu, makin mempercantik wajahnya yang saat itu seperti orang tidur. Gin Liong makin bingung, ia kira Li Kun tentu pingsan. Terpaksa ia lekatkan telinganya ke hidung si jelita, Ternyata pernapasan Li Kun kedengaran lemah, Bibirnya merekah merah, pipinya yang halus menyiarkan bau harum, menampar hidung Gin Liong. Rambut yang indah, bertebaran hinggap di pipi Gin Liong sehingga membuat pemuda itu benar2 terbang semangatnya, jantungnya mendebur keras, darah tersirap serasa berhenti Kedua tangan yang memeluk tubuh jelita itupun gemetar. Memandang wajah si nona, tampak jelita itu makin cantik, Serentak terbayang, bagaimana mesra sekali Tio Li Kun bersikap kepadanya, betapa cantiklah gadis itu sesungguhnya . . . .

Tiba2 terlintas wajah Ki Yok Lan pada pelupuknya, Gin Liongpun tergetar hatinya, Dan serentak itu iapun segera malu dalam hati, semangatnya tenang kembali. Segera ia meletakkan Tio Li Kun keatas ranjang pula. Tiba2 si jelita mengerang pelahan dan memeluk Gin Liong, susupkan kepalanya kedada pemuda itu dan terisakisak. Sudah tentu Gin Liong makin gugup. ia belas memeluk Li Kun dan duduk disampingnya. "Cici, engkau...?" serunya tetapi ia tak tahu bagaimana harus menghiburnya. "Adik Liong..." hanya sepatah kata yang Li Kun dapat mengatakan karena ia terus memeluk pemuda itu makin erat. Gin Liong makin resah, Bukan ia tak tahu bagaimana perasaan si jelita kepadanya, tetapi bayangan sumoaynya yang halus pendiam bagai seorang dewi, selalu memenuhi kalbunya, Tak pernah sedetikpun ia dapat melupakan. Apalagi suhunya pernah memberi pesan bahwa asal usul Ki Yok Lan itu sangat menyedihkan sekali maka Gin Liong supaya berusaha melindunginya. Begitu pula berulang kali suhunya secara halus memberi petunjuk kepada Ki Yok Lan bahwa hendaknya Ki Yok Lan kelak dapat menganggap sebagai suami isteri dengan Gin-Liong. Teringat akan hal itu, tergetarlah hati Gin Liong, ia menunduk memandang wajah Tio Li Kun Tampak wajah jelita itu berlinang airmata sehingga menimbulkan rasa sayang, Tanpa terasa Gin Liong segera mengusap airmata nona itu, Tetapi airmata sijelita laksana sumber air yang terus menumpah tak henti-hentinya. Saat itu pikiran Gin Liong sudah sadar, ia tak boleh menyiksa perasaan Li Kun lebih lanjut Tetapi ia tak sampai

hati untuk menolaknya secara getas, ia tak ingin menjadi pembunuh hati anak gadis. Akhirnya ia memutuskan hendak memberi penjelasan secara halus, Bahwa ia sangat mengindahkan Tio Li Kun tetapi terpaksa tak dapat menerima cintanya, Pada saat dia hendak mengatakan tiba2 ia kehilangan faham tak tahu bagaimana harus memulai. Tetapi pada saat itu Tio Li Kun sudah tak kuat menahan gejolak hatinya . . Pelahan-lahan ia ajukan kepalanya, menyongsongkan sepasang bibir yang semerah bunga mawar. Gin Liong gugup: "Cici, jangan . . " Tiba2 mulut Gin Liong tak dapat melanjutkan kata2 karena mulutnya tertutup oleh sepasang bibir si jelita, semangat Gin Liong serasa terbang melayang-layang ke suatu alam yang belum pernah ia nikmati sepanjang hidupnya. Demikian sepasang muda mudi yang sedang dimabuk asmara itu telah terbuai dalam lautan sari madu, Keduanya telah tenggelam kedasarnya.... Badai dan gelombang masih mengamuk dilautan. Bahkan makin dahsyat, sedahsyat itu pula badai yang melanda kehangatan cinta- dan kedua muda mudi itu. Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar suara helaan napas, Gin Liong terkejut, Segera ia meletakkan tubuh Li Kun terus loncat keluar ruang. Tetapi keadaan di perahu itu tetap sunyi senyap Kamar Mo Lan Hwa dan Tek Cun tetap kosong tiada orangnya. Gin Liong terus menuju ke geladak, Tiba- ia hentikan langkah dan merapat pada papan.

ia melihat Mo Lan Hwa dan Tek Cun berdiri pada pintu ruang perahu dan tengah memandang ke laut, Tek Cun kerutkan alis dan menengadah memandang kelangit. Tiba2 kedengaran Mo Lan Hwa menghela napas serunya rawan: "Engkoh Tek Cun, harap jangan bersedih Mo Lan Hwa takkan melupakan perasaan hatimu yang tertumpah kepadaku, Sejak saat ini aku pasti akan menganggapmu sebagai engkohku sendiri." Tek Cun juga menghela napas. "Kuharap engkaupun jangan bersedih. Kurasa Liong-te pasti akan mencintaimu dengan segenap hati." Mo Lan Hwa gelengkan kepala. "Ah, tak mungkin, Dalam pandangannya, aku ini seorang gadis yang manja dan liar, Kesan yang kuberikan kepadanya memang kurang baik", katanya. "Sekarang adalah karena aku maka nona Ki sampai menderita kesulitan, Adik Liong tentu akan membenciku. Engkoh Cun, apakah engkau tak memperhatikan betapa dingin sikapnya kepadaku?" Airmata bercucuran membasahi pipi Mo Lan Hwa. "Jangan engkau berbanyak hati". kata Tek Cun, "saat ini dia sedang gelisah memikirkan keselamatan sumoaynya. Apabila nona Ki sudah dapat diketemukan dan sudah memperoleh keterangan dari Ban Hong liong-li cianpwe serta menghimpaskan dendam kematian suhunya, dia pasti akan memperhatikan engkau." "Setelah ia berhasil membalas sakit hati suhunya, aku akan segera meninggalkannya dan mengasingkan diri di

sebuah kuil dipegunungan sunyi. Seumur hidup aku akan mengabdi Buddha sampai pada akhir hayatku.." Mendengar kata2 itu Tek Cun ikut terharu dan tak dapat mengeluarkan kata2 lagi, ia lalu mengajak jelita itu masuk. Gin Liong terkejut. Cepat ia masuk kedalam kamar dan terus rebah di tempat tidur, Benar2 dia seperti orang yang kehilangan diri, Mo Lan Hwa mencintainya dengan segenap jiwa raga,Tio Li Kun telah menyerahkan kehangatan bibirnya dan Ki Yok Lan tetap menunggunya dengan penuh harapan. ia benar2 bingung, Bagaimana nanti kalau ia berjumpa dengan Ki Yok Lan. Entah selang berapa lama, ia mendengar derap langkah orang di geladak, Ah, ternyata hari sudah pagi, Anak buah perahu sibuk melakukan pekerjaannya. Tek Cun sudah berdiri di geladak ketika Gin Liong keluar Tak lama kemudian Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun menyusul keluar.Kedua jelita itu sama mengenakan pakaian baru. Li Kun berbaju biru muda, celana kembang dan mantel biru benang perak, menyanggul sebatang pedang, mengulum senyum berseri. Sedang Mo Lan Hwa mengenakan pakaian serba merah sehingga wajahnya yang cantik makin tampak menonjol. Rambutnya terurai panjang, menyanggul sebatang pedang. Kedua jelita itu berjalan seiring. sekalian anak perahu terbeliak dan terlongong-longong memandangnya. Mereka seperti melihat sepasang bidadari turun dari khayangan, Yang seorang bagai sekuntum mawar yang gemilang. Melihat Li Kun, agak merah wajah Gin Li-ong. Tetapi ketika melihat Lan Hwa, ia tersipu2 rawan.

Sambil menunjuk ke deretan puncak gunung Li Kun bertanya kepada anak perahu: "Gunung apakah itu?" "Gunung Hok-san." Gin Liong terkejut ia meminta keterangan benarkah untuk menuju ke pulau Hong-lay-to harus melalui pegunungan Hok-san itu. "Benar." sahut pemilik perahu, "harus melalui puncak Hok-san yang sebelah utara, walaupun luasnya hanya 30-an li tetapi gunung itu berbahaya sekali keadaannya Tak dapat menggunakan kuda tetapi harus jalan kaki." Karena terlambat selangkah, Mo Lan Hwa tak dapat melihat orang tua pemilik cermin pusaka ketika berada di gunung Tiang-pek-san. Kali ini ia tak mau melewatkan kesempatan lagi. "Karena sudah melewati Hok-san. mengapa kita tak melihat-lihat keadaannya," kata nona itu. Gin Liong diam saja dan Tek Cunpun tak membeli suatu tanggapan sedang Tio Li Kun, asal Gin Liong pergi, sekalipun ke sarang naga, ia tetap akan mengikuti. Tak berapa lama, perahu berlabuh dan ke-empat pemuda itupun turun bersama kudanya, Mereka hanya berhenti makan dikota Mopeng, setelah itu terus melanjutkan perjalanan ke Hoksan, Tengah hari merekapun sudah tiba di puncak Hok-san sebelah utara. "Liok-ko. menilik keadaannya, memang tak mungkin kita mendaki dengan naik kuda," kata Gin Liong setelah memandang kepuncak itu. "Kita mendaki dulu, kalau memang tak dapat dengan naik kuda, kitapun jalan," kata Mo Lan Hwa.

Ternyata keempat ekor kuda mereka itu kuda yang hebat semua. Setelah melalui beberapa tempat yang penuh batu aneh, akhirnya mereka tiba di sebuah lembah yang terletak dibawah kaki gunung. Jalan kearah lembah itu sempit dan lembah penuh dengan gunduk2 batu yang tinggi dan runcing serta rumput yang subur. "Mungkin disebelah muka itu adalah mulut lembah, kita turun saja disini." kata Gin Liong. Setelah turun, kuda mereka dilepaskan di sebuah aliran air kecil Dan keempat pemuda itupun segera menuju ke mulut lembah sempit. Keadaan dalam lembah memang berbahaya dan sulit dilalui penuh dengan batu2 yang aneh dan runcing serta rumput, rotan yang lebat, Gin Liong ragu2 tetapi Tek Cun mengatakan bahwa lembah itu memang yang disebut Hiutkoh atau lembah sempit Mereka lalu gunakan ilmu lari cepat untuk memasuki lembah, Lembah itu tak kurang dari lima enam li panjangnya Kedua samping dinding karangnya setinggi ratusan tombak, Makin kebagian dalam makin berbahaya. Tiba-2 dari balik segunduk batu aneh di tengah gerumbul pohon siong pendek, muncul tiga sosok tubuh, Sekali loncat mereka melayang kearah Gin Liong berempat Dalam sekejab mata mereka sudah tiba hanya terpisah sepuluhan tombak dari tempat Gin Liong. Ketiga orang itu terdiri dari seorang tua berumur lebih kurang tujuh puluh tahun dan dua orang lelaki pertengahan umur yang berpakaian ringkas. Ketiga lelaki itu tampak marah. Tanpa melihat pada Gin Liong berempat, mereka terus lari keluar lembah.

Gin Liong heran melihat gerak-gerik ke tiga orang itu. Tetapi iapun tak mau menghiraukan dan mengajak kawannya melanjutkan masuk kedalam lembah. Pada saat tiba disebuah gerumbul hutan yang penuh dengan batu2 aneh, sekonyong-konyong terdengar suara orang berseru Bu-liung siu-hud. Dan muncullah enam orang imam. Yang tiga berjubah kelabu, yang tiga berjubah hitam. wajahnya angkuh, masing2 menyanggul pedang dibelakang bahunya. Yang dimuka dua orang imam tua, rambutnya putih, umur diantara lima puluh tahun, sebelah kirinya seorang imam tua, bertubuh kurus mengenakan jubah hitam. Sebelah kanan juga seorang imam tua berjubah kelabu, bermuka bopeng, Dibelakang mereka, dua orang imam pertengahan umur yang berwajah seram. Imam tua jubah hitam segera berseru. "Pinto bernama Biau liang, menerima perintah dari kedua tianglo perguruan kami untuk membawa murid perguruan kami Jing Hun dan Jing Gwat, Hian Leng totiang dari partai Kiong-lay-pay beserta Kong Beng dan Ceng Beng berdua toyu..." Sejak ke enam imam itu muncul dengan jual lagak, Mo Lan Hwa sudah mengkal, Mendengar si imam tua Biau Liang jual omongan garang, Lan Hwa segera membentaknya: "Kalau mau mengatakan apa2, lekaslah katakan, jangan jual nama dan gelaran !" Imam tua berwajah bopeng tertawa dingin: "Li-pohsat ini, masih muda usia tetapi keras sekali ucapannya, berani omong sembarangan terhadap Biau Liang lotiang dari partai Kong-tong-pay"

"Siapakah engkau ? Mengapa engkau berani banyak mulut" bentak Tek Cun. Merahlah muka imam tua itu. "Pinto adalah Hian Leng lotiang dari Kiong lay-pay," serunya dengan marah. "Hm, kiranya kawanan manusia yang tak ternama," Mo Lan Hwa mendengus. Karena marahnya, imam tua itu menengadahkan muka dan menghambur tertawa keras. Imam tua Kong Beng yang berada dibelakang Hian Leng totiang, segera memekik keras dan maju menghantam si nona. "Kawanan tikus, engkau cari mampus" teriak Tek Cun seraya maju dan mendahului untuk menyambar tangan imam Kong Beng. Tujuan Gin Liong kelembah itu adalah hendak mencari Ma Toa Kong dan sekalian mencari tahu apakah Swatthian Sam Yu juga datang ke lembah itu. Untuk mengejar waktu, ia tak mau terlibat dalam perkelahian. "Liok-ko, jangan melukainya," cepat ia mencegah Tek Cun. Tetapi Tek Cun sudah terlanjur mencengkeram lengan imam itu. Mendengar permintaan Gin liong ia segera mendorong imam itu: "Enyah !" Imam Kong Beng terhuyung-huyung beberapa langkah dan jatuh terduduk di tanah. Hian Leng dan Biau Liang terkejut Tak kiranya hanya sekali bergerak, pemuda itu telah mampu mendorong rubuh imam Kong Beng, murid pilihan dari partai Kiong-lay-pay.

Kedua imam itu tak berani memandang rendah kepada kawanan pemuda itu lagi. "Sicu sekalian ini dari perguruan mana dan siapakah nama suhu sicu yang mulia ? Harap lekas katakan, siapa tahu kemungkinan antara perguruan kita masih terdapat hubungan," cepat Biau Liang berseru dengan nada sarat. Karena harus mengejar waktu, Gin Liong mengatakan kalau dirinya dan kawan2 itu tidak termasuk murid dari suatu partai persilatan. "Kami mohon tanya, mengapa totiang menghadang perjalanan kami " tanyanya kemudian Imam Biau Liang tertawa dingin, tubuhnya gemetar karena menahan kemarahan. "Perguruan pinto dan partai Kong-tong-pay masing2 telah mengutus dua orang tiang-lo untuk memimpin para murid datang kemari mencari jejak orang tua pemilik cermin pusaka, Untuk menghimpaskan dendam kematian dari Bu Tim sute serta kedua Bu-song-kiam It Jeng toyu dari partai Kong-tong-pay. Pinto bersama Biau Liang toyu telah ditugaskan menjaga tempat ini, siapapun juga, baik dari kalangan Hitam maupun Putih, tak dibenarkan masuk ke dalam lembah Hiap-koh sini. Jika ada yang berkeras masuk, heh, heh..." seru imam Hian Leng dari Kiong-lay-pay. "Kalau berkeras masuk, lalu bagaimana ?" akhirnya Gin Liong geram juga atas sikap kawanan imam yang mengandalkan jumlah banyak itu. "Berarti hendak bermusuhan dengan partai Kong-tongpay dan Kiong-lay-pay" seru Biau Liang seraya deliki mata. Tring, Mo Lan Hwa cepat mencabut pedang dan melengking: "Sebagai alasan hendak membalas dendam tetapi pada hakekatnya kalian hendak mengincar cermin

pusaka itu sendiri dan mencegah lain2 partai persilatan tak dapat masuk dalam lembah ini." Berhenti sebentar untuk tertawa, si cantik berseru pula: "Kalian hanya dapat menggertak orang yang bernyali kecil, Tetapi kalian sial telah bertemu dengan aku. Coba saja hendak kulihat sampai di mana kemampuan kalian hendak merintangi rombonganku !" Imam Ceng Hun yang berada di belakang imam Biau Liang mencabut pedang dan loncat ke muka seraya berseru keras: "Besar sekali mulutmu, budak perempuan ! Akupun ingin menguji sampai di mana tingginya ilmu pedangmu sehingga engkau berani bermulut sebesar itu !" Tek Cun cepat mencabut trisula pendek dan membentak: "Kawanan kunang2, engkau berani menerjang api, huh, sungguh tak tahu diri." Pemuda itu terus gerakkan senjatanya menyongsong pedang imam Ceng Hun. untuk

Imam itu belum pernah mengenal kelihayan senjata trisula, Cepat ia merobah gerak pedangnya dalam jurus Toa-peng-can-ki atau Burung rajawali merentang-sayap, membabat lengan Tek Cun. Pemuda itu tertawa dingin, kebaskan trisula melingkar, ia membentak: "Lepaskan !" Tring, terdengar gemerincing tajam diiringi pancaran sinar kemilau ke udara, Pedang dari imam Ceng Hun telah terlepas dari tangannya. Ceng Hun terkejut semangatnya serasa terbang dan cepat ia membuang tubuh ke belakang, berguling sampai setombak jauhnya.

Kuatir Tek Cun akan menyusuli serangan, imam Ceng Gwatpun membentak dan menyerang anak muda itu. Kini Mo Lan Hwa yang menghadang. Ujung pedang nona itu segera menusuk ke bahu Ceng Gwat, Imam itu marah sekali, Dengan mendengus dingin, ia menghindar lalu balas menusuk dada si nona, Mo Lan Hwa tersipu-sipu merah, Cepat ia membentak dan secepat kilat tubuhnya berputar, pedang menabas, Terdengar jeritan ngeri. Sambil menyurut mundur, imam Ceng Gwat mendekap telinganya yang berdarah, Ternyata sebelah daun telinga kiri imam itu telah hilang. Wajah Biau Liang si imam dari Kong-tong-pay, pucat seperti kertas, Tiba2 ia tertawa keras, mencabut pedang lalu bergegas lari menuju ketempat Mo Lan Hwa. Gin Liong menyadari bahwa tak mungkin lagi ia dapat menghindari pertempuran ia memutuskan untuk mengakhiri pertempuran itu secepat mungkin. "Telah lama kudengar bahwa ilmu pedang dari partai Kong-tong-pay itu tiada tandingannya dalam dunia persilatan. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat berjumpa dengan totiang, Sukalah totiang bermurah hati untuk memberi pelajaran kepadaku," serunya dengan tertawa hambar, serentak ia mencabut pedang. Ditingkah sinar matahari, pedang itu memancarkan sinar warna merah, Pedang Tanduk Naga kembali muncul hendak mengunjuk kesaktian. Seketika pucatlah wajah Biau Liang tojin, ia cepat dapat mengenal pedang itu sebagai pedang Tanduk Naga. pedang pusaka yang termasyhur dari daerah Biau, ia hentikan langkah.

Walaupun tahu bahwa Gin Liong itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, tetapi selama ini belum pernah Tio Li Kun melihat pemuda itu bertempur dengan orang, Maka cepat ia loncat kesisi Gin Liong dan berkata dengan bisik2: "Liong-te, harap menyingkir ke samping, biar aku saja yang menghadapinya." Habis berkata jelita itu terus mencabut pedangnya. Imam Hian Leng dan Biau Liang kembali terkesiap, Mereka tahu bahwa pedang pendek yang berada di tangan nona cantik itu tentu juga sebuah senjata yang hebat. Saat itu Tio Li Kunpun sudah melangkah maju menghampiri imam Biau Liang. Sebagai sute dari Biau It cinjin ketua partai Kong-tongpay, Biau Liang sangat dihormati oleh anak murid Kong tong-pay. Dengan ilmu pedangnya yang sakti. Biau Liang selalu bersikap angkuh tak memandang mata pada orang. Sudah tentu saat itu ia tak mau unjuk kelemahan terhadap seorang nona, Apalagi dilihat oleh imam Hian Leng dari partai Kiong-lay-pay dan dua orang muridnya. "Jika li-sicu berminat hendak adu ilmu pedang dengan pinto, pintopun bersedia melayani" kata imam Biau Liang, "tetapi pedang itu tak bermata, Begitu melancar tentu tak dapat terhindar dari melukai orang, jika terjadi peristiwa semacam ini, harap jangan mengatakan pinto menghina orang yang lebih muda." Tio Li Kun hanya tertawa hambar dan tetap melangkah maju, sedikitpun ia tak mengacuhkan peringatan tokoh Kong-tong-pay itu.

"Huh, batang kepala sendiri belum tentu dapat melindungi masakan masih sibuk mengurus lain orang," dengus Mo Lan Hwa. Mendengar itu serasa meledaklah dada imam Biau Liang, Serentak pedang ditaburkan dalam tebaran sinar yang segera menimpali tubuh Mo Lan Hwa. Melihat ilmu permainan imam dari Kong-tong pay itu, Tek Cun dan Mo Lan Hwa diam-diam terkejut Ternyata imam Kong-tong-pay itu memiliki ilmu pedang yang hebat sekali jauh lebih lihay dari imam Ceng Hun, Ceng Gwat berdua. Tetapi si jelita Li Kun tetap tenang saja. Tubuhnya bergeliatan dengan lemah gemulai dan berlincahan seindah kupu2 terbang diatas kuntum bunga. Tiba2 ia memekik nyaring sehingga kumandangnya sampai menembus jauh kedalam awan. Pandang mata Biau Liang serasa kabur dan serangan pedangnyapun menemui angin kosong, Serentak ia mendengar pekik si jelita yang berada di belakangnya, ia berteriak kaget dan cepat balikkan tangannya menabas kebelakang, sedang tubuhnya meluncur deras ke muka. Ternyata hilangnya Tio Li Kun itu karena ia melambung ke udara. ia memang tak bermaksud hendak melukai orang. Gerakannya itu hanya sekedar untuk menggertak saja. Ketika Biau Liang meluncur ke muka iapun segera bergeliatan di udara dan mengejar di belakang lawan. Setelah mencapai tiga tombak, cepat2 Biau Liang cinjin berputar tubuh ke belakang, Sepasang matanya berkilat-kilat mencari tempat beradanya lawan. Tetapi pada saat ia berputar tubuh tadi Tio Li Kunpun sudah melayang kebelakangnya, Sudah tentu Biau Liang

tak melihat nona itu. Tetapi cepat ia menyadar, apa yang terjadi. Dengan memekik keras ia balikkan pedang menghantam ke belakang. Melihat Biau Liang masih berkeras kepala, marahlah Li Kun. Dengan bersuit nyaring ia gunakan jurus Hay te-juiciam atau didasar laut mencari jarum. Cepat laksana kilat ia membabat pedang siimam. Tring, terdengar dering yang tajam sekali diiringi dengan pekik kejut dari Biau Liang yang terus loncat mundur setombak jauhnya. Ternyata pedangnya telah terbabat kutung oleh pedang si jelita. Sebelum imam itu sempat menenangkan diri, Mo Lan Hwapun sudah melesat dan secepat kilat menutuk tubuh imam itu. Biau Liang masih tercengang karena pedangnya putus, atau sudah diserang lagi oleh Mo Lan Hwa. ia tak keburu menghindar lagi, bluk, jatuhlah ia ke tanah. Melihat itu imam Hian Leng cepat membentak dan maju menerjang, Demikian pula dengan keempat imam yang lain, Mereka menggembor kalap dan terus lari menyerbu. Tetapi Gin Liong, Lan Hwa dan Tek Cun sudah siap menyambut. Tek Cun menghadang imam Ceng Hun dan Ceng Gwat, Mo Lan Hwa mencegat imam Kong Beng dan Ceng Beng. Sedang Gin Liong segera menyerang imam Hian Leng. Tio Li Kun masih berdiri tiga tombak di luar gelanggang, Sambil lintangkan pedang ia memandang langit. Tiba2 ia berseru memberi peringatan kepada kawan-kawannya bahwa hari sudah menjelang petang dan lembah masih belum diketahui berapa dalamnya.

Tio Li Kun cepat bergerak, Tring, terdengar dering senjata yang keras disusul dengan suara erang tertahan imam Hian Leng lepaskan pedang dan terjungkir tujuh langkah ke belakang. Gin Liongpun cepat menutuk jalan darah imam tua itu, Kemudian kedua muda mudi itu menghampiri ke tempat Lan Hwa dan Tek Cun. Melihat Hian Leng dan Biau Liang tojin kena tertutuk, buyarlah semangat keempat imam yang lain, Berputar tubuh mereka terus melarikan diri. Gin Liong berempat tak mau melepaskan Mereka berhamburan melayang ke udara dan terus meluncur menghadang di muka keempat imam itu. Keempat itu makin gugup, Mereka berputar dan lari balik, Tetapi dengan cepat Gin Liong dan kawan2 telah dapat menutuk rubuh mereka. Keenam imam itu dibawa ke belakang sebuah batu besar dan diletakkan disitu, Setelah itu Gin Liong dan kawan2 segera hendak melanjutkan langkah masuk kedalam lembah. Tetapi alangkah kejut mereka ketika melihat di muka sebuah hutan, lebih kurang tiga-puluh tombak dari mulut guha, telah penuh dengan rombongan orang persilatan yang terdiri tak kurang dari empat lima puluh orang. Tua. muda, imam dan paderi, Mereka memandang terkejut kearah Gin Liong. "Tak perlu menghiraukan mereka," kata Tek Cun seraya menyarungkan trisula, Merekapun melanjutkan masuk kedalam lembah, Ketika berpaling kebelakang, Gin Liong melihat rombongan orang persilatan tadipun berhamburan lari masuk kedalam lembah. Setelah melewati dua buah hutan bambu, lembahpun berkelok kesebelah kiri, Dan setelah melalui ujung puncak,

mereka melihat sebuah air terjun raksasa yang mencurah kedasar lembah, membentuk sebuah telaga kedalam 30-an tombak. Ada suatu pemandangan yang cepat menarik perhatian. Bahwa air telaga itu ternyata memantulkan sinar yang gilang gemilang menyilaukan mata. Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa sinar kemilau itu adalah sinar cermin yang ditingkah cahaya matahari. "Hai lihatlah, itulah cermin pusaka dari si orang tua !" teriak Gin Liong seraya menunjuk ke muka, Kemudian ia memandang kesekeliling tetapi tak melihat orang tua itu. Cermin itu diletakkan diujung atas dari batu runcing yang tepat berada di tengah2 curahan air terjun, Entah bagaimana cara orang tua itu meletakkannya. Gin Liong dan kawan2 hentikan langkah dan memandang ke sekeliling. Tiba2 mereka terkejut sekali ketika melihat diantara gerumbul semak dan batu yang berada di sebelah muka, terkapar malang melintang belasan sosok mayat manusia. Keadaan mayat2 itu menyedihkan sekali. Ada yang kakinya hilang, lengan buntung, mulut berlumuran darah, Mereka terdiri dari orang tua, rahib wanita ada pula yang dandanan seperti sasterawan. Diam2 Gin Liong nyeri melihat keganasan orang tua pemilik cermin itu. "Hm, sungguh kejam sekali orang tua itu," Mo Lan Hwa juga penasaran, "huh, kemanakah dia bersembunyi ? Biar dia bagaimana saktinya, tetapi aku ingin menempurnya juga !"

"Cici, jangan marah, "seru Gin Liong," turut yang kulihat ketika didalam rumah gubuk yang lalu, dia hanya memiliki cermin pusaka itu saja dan tak punya senjata lainnya". Berpaling ke belakang, ia melihat rombongan orang persilatan itu pun berhenti padat jarak tiga-puluhan tombak, Dia heran mengapa mereka tak mau melanjutkan maju ke muka lagi. "Liongte, menurut keterangan imam Hian Leng dan Biau Liang tadi, mereka masih ada empat orang tianglo yang berada disini, tetapi mengapa tak kelihatan ?" tiba2 Tio Li Kun berkata. "Hm, mungkin sudah mampus," gumam Mo Lan Hwa. Tetapi serempak dengan ucapan nona itu tiba2 dari balik sebuah batu besar di sebelah kiri terdengar suara orang tertawa mengekeh. "Siapa !" bentak Tek Cun, terus melayang ke tempat itu. "Liok-ko, jangan..." cepat Gin Liong mencegah karena ia tahu akan kesaktian orang tua pemilik cermin pusaka, iapun segera loncat menyusul Tek Cun, Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun juga mengikuti. Baru tiba dimuka batu besar dan belum lagi dapat berdiri tegak, seorang imam tua telah loncat keluar dari balik batu itu dan terus lepaskan hantaman. Walaupun sudah bersiap tetapi jarak begitu dekat dan pukulan dilancarkan secara tiba tiba sekali, Tek Cun terkejut dan cepat cepat dorongkan tangannya kemuka. Gin Liong terkejut ketika melihat kesaktian tenaga pukulan imam tua itu. ia kuatir Tek Cun tak mampu

bertahan. Dengan menghantam.

menggembor keras, iapun

segera

Tetapi tepat pada saat Gin Liong lepaskan pukulan, dari balik batu besar itu muncul pula seorang imam tua lagi yang sambil berteriak keras juga lantas lepaskan hantaman kearah pukulan Gin Lang. Terdengar letupan keras diiring dengan debu dan batu bertebaran dihembus angin, imam tua kurus yang pertama muncul tadi serta Tek Cun sama2 terhuyung-huyung mundur, imam kurus itu termakan pukulan Gin Liong sehingga terhuyung ke belakang, punggungnya membentur batu besar itu. Mo Lan Hwa menjerit kaget seraya loncat menyambar tubuh Tek Cun pemuda itu muntahkan segumpal darah segar. Tio Li Kunpun menghampiri lalu membawa engkohnya duduk ditanah. Gin Liong melihat peristiwa itu. "Hm, terimalah pukulanku sekali lagi..!" serunya seraya maju tiga langkah lalu ayunkan tangannya. Imam tua yang muncul belakang itu mempunyai raut muka seperti kuda, ia tahu pemuda itu memiliki tenaga yang sakti, Cepat ia kerahkan tenaga-dalam dan menyongsong dengan pukulan juga. Terdengar letupan lagi dan langkah kaki si imam bermuka kuda yang terhuyung-huyung kebelakang. Setelah muntah darah, iapun rubuh terkapar. Pada saat itu dua sosok tubuh loncat ke luar lagi dari balik batu besar. Dua orang imam tua berambut putih itu segera menolong imam bermuka kuda.

Yang mengenakan jubah hitam dan berumur enam puluhan tahun, berwajah persegi, alis tebal dan mata tajam segera loncat menghampiri ketempat si imam kurus yang terluka tadi. Gin Liongpun juga memandang kearah Tek Cun. Dilihatnya pemuda itu kerutkan dahi, pejamkan mata. wajahnya pucat lesi, mulut masih membekas noda darah, Mo Lan Hwa memberinya minum sebutir pil warna hijau, Sedang Tio Li Kun duduk di belakang engkohnya, melekatkan telapak tangannya ke punggung Tek Cun hendak memberi saluran tenaga-dalam. Makin meluaplah kemarahan Gin Liong. ia marah kepada kawanan imam tua yang dalam kedudukan sebagai tiang-lo telah menyerang seorang anak muda tanpa bertanya suatu apa lebih dulu, Tiba2 pula Gin Liong teringat mengapa orang tua pemilik cermin pusaka itu tak tampak ? Apakah orang tua itu juga sudah mati dibunuh keempat imam tua yang ganas itu ? Dan jangan2 korban2 yang jatuh berserakan di tanah itu juga keempat imam itu yang membunuhnya. Gin Liong memandang sesosok mayat yang berada di dekatnya, "Hai, Ma Toa Kong !" serentak ia memekik kaget dan terus loncat menghampiri Ternyata perut Ma Toa Kong telah robek sepanjang delapan inci, ususnya berhamburan keluar. Gin Liong cepat beralih memandang ke arah empat imam tua itu dan membentak: "Kim-piau Ma Toa Kong, apakah kalian yang membunuh ?"

Imam tua berjubah kelabu yang berada di samping imam bermuka kuda, pelahan-lahan berbangkit dan deliki mata lalu tertawa dingin: "Ya. memang toya yang menyempurnakan ia engkau mau apa ?" Gin Liong tertawa kemarahannya. keras untuk menghamburkan

"Bagus, akupun akan menyusulkan engkau ke akhirat." serunya seraya mencabut pedang Tanduk Naga. Tiba2 ia mendengar suara erang pelahan. Ah. ternyata suara itu berasal dari mulut Ma Toa Kong. Gin Liong cepat berjongkok dan memegang pergelangan tangan Ma Toa Kong. Ternyata detak jantungnya masih berjalan lemah. Segera ia menutup luka Ma Toa Kong dengan pakaiannya lalu lekatkan telapak tangan ke-perutnya untuk memberi penyaluran tenaga dalam, Walaupun wajahnya pucat seperti kertas tetapi bibir Ma Toa Kong mulai bergerak-gerak. "Ma lo cianpwe, bagaimana engkau rasakan ?" seru Gin Liong. Ma Toa Kong hendak mengucap kata2 tetapi tenaganya lemas sekali, ia pejamkan mata lagi, Tak berapa lama terbuka lagi dan bibirnyapun bergerak-gerik. Beberapa saat kemudian kedengaran ia dapat menghela napas dan memandang Gin Liong: "Ah . . . tak kira . . . bukan di . . . guha Kiu-kiok-tong . . . . tetapi . . . aku mati disini . . ." "Ma lo cianpwe bagaimana meninggalkan guha Kiukiok-tong ?" seru Gin Liong cepat.

Dengan napas terengah-engah Ma Toa Kong paksakan diri berkata: "Pada waktu itu . . . gurumu masuk guha, . . lama tak keluar . . . pertama It Ceng . . . kuatir Ban Hong liong-li keluar . . . . yang pertama-tama lalu . . . kemudian . . . . semua pergi . . . ." Tiba2 dari jauh terdengar suara orang berseru memanggil : "Ma susiok . . . ." Nampak sosok bayangan berlarian mendatangi ketempat Ma Toa Kong. Mereka dua lelaki berpakaian hitam, bertubuh gagah perkasa dan masing2 menyanggul golok besar. Gin Liong duga kedua orang itu tentu orang Tiam-jongpay- Mungkin karena mendengar ia menghardik keempat iman tua tadi, kedua orang itupun segera bergegas mendatangi. "Ma susiok, siapakah yang membunuh engkau ?" kedua orang itu menangis. Dua butir airmata menitik dari pelupuk mata Ma Toa Kong, kemudian berkata : "Hong Tim. .. dan . . . Ceng . . . ." - ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena saat itu lidahnya kaku. Melihat itu Gin Liong cepat salurkan tenaga-dalam lagi ke tubuh Ma Toa Kong, Tetapi percuma, Ma Toa Kong telah putus jiwanya, Gin Liong meluap darahnya. Berpaling ke belakang dilihatnya Mo Lan Mwa berdiri dengan lintangkan pedang menjaga Tio Li Kun dan Tek Cun yang tengah duduk menyalurkan pernapasan. Sedang imam tua bermata tikus, berada dua tombak dari mereka, imam tua berjubah hitam pun tengah berjalan menghampiri.

Gin Liong segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Ketika Tio Li Kun sedang merawat engkohnya yang terluka dan dia sedang menolong Ma Toa Kong, kedua imam itu tentu berusaha hendak turun tangan. Segera ia berseru nyaring : "Hai, siapakah diantara kalian yang bernama Hong Tim lo-to, lekas kemari terima kematian !" Sambil berkata, pemuda itu loncat ke tengah gelanggang, imam yang bermata kecil seperti mata tikus dan bermuka persegi segera berhenti terkejut melihat ilmu meringankan tubuh dari Gin Liong yang begitu hebat. Gin Liong berhenti setombak dihadapan kedua imam itu dan menghardik lagi: "Siapa? Siapa yang bernama Hong Tim ?" Setelah tenangkan semangat kedua imam itu menguarkan pandang kearah jago2 persilatan yang berada dalam lingkungan dua puluh tombak disekelilingnya. Merahlah muka mereka, Kemudian menatap Gin Liong, kedua imam itu tertawa dingin. Tiba2 kedua orang yang menangis disisi mayat Ma Toa Kong tadi, serentak berbangkit mencabut golok dan menggerung: "Keparat Hong Tun, bayarlah jiwa susiokku !" Keduanya melalui Gin Liong dan terus langsung menyerbu siimam mata tikus, Gin Liong terkejut ia tahu kedua orang itu tentu bukan tandingan Hong Tim, Tetapi ia tak leluasa untuk mencegah kedua orang yang hendak membalaskan dendam kematian susioknya. Ternyata imam bermata seperti mata tikus itu memang Hong Tim. Segumpal jenggotnya yang putih tampak berguncang-guncang dibawa tertawanya. Tahu2 dia sudah loncat melayang dua tombak jauhnya.

"Tikus2 kecil, kalian berdua cari kematian sendiri, jangan salahkan aku Hong Tim toya berhati kejam !" habis berkata imam tua itu terus mencabut pedangnya. Melihat sikap siimam yang begitu congkak, marahlah Gin Liong, Segera ia berseru menyuruh kedua orang itu berhenti Tetapi sudah terlambat. Kedua orang itu tak mau menghiraukan lagi dan terus menyerbu laksana harimau melihat darah Tiba2 seorang imam tua berjubah hitam, loncat menyongsong dan lepaskan hantaman kearah kedua orang itu: "Tikus kecil, terimalah pukulanku dulu." Melihat itu Gin Liong marah sekali. Cepat ia ayunkan tangannya kearah imam jubah hitam atau imam tua Ceng Hian. Terdengar jeritan ngeri dan tubuh imam tua Ceng Hian itupun terlempar sampai empat tombak jauhnya, membentur sebuah batu besar. Melihat itu imam kurus yang baru saja selesai menyilangkan tenaga cepat loncat untuk menanggapi tubuh Ceng Hian, Tetapi ketika memeriksanya ternyata imam tua Ceng Hian sudah putus nyawanya. Pada saat itu berpuluh jago2 silat yang berada dua puluh tombak dari tempat Gin Liong berdiri, tiba2 bersorak keras. Gin-Liong berpaling dan tampak wajah jago2 silat itu terkejut memandang kearah belakangnya. Menurut arah pandang mereka, Gin Liong segera mengetahui bahwa lelaki berpakaian ungu tadi sudah dibelah dua oleh pedang

imam tua Hong Tim. Dan saat itu Hong Tim meneruskan pedangnya ke arah lelaki berpakaian hitam. Saat itu Gin Liong menyadari bahwa teriakan jago2 silat tadi adalah sebagai peringatan kepadanya bahwa kedua orang murid keponakan dari Ma Toa Kong terancam bahaya. Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi. Serentak ia mencabut pedang Tanduk Naga dan terus loncat membabat Hong Tim. Melihat kedahsyatan gerak Gin Liong dan pedang Tanduk Naga, imam tua Hong Tim terkejut sekali, Buru2 ia loncat mundur beberapa langkah. Tetapi Gin Liong sudah terlanjur diamuk amarah, Terutama setelah tahu bahwa imam tua Hong Tim itulah pembunuh dari Ma Toa Kong, Dengan mengaum laksana harimau melihat darah, ia menerjang maju dan menusuk perut Hong Tim. imam kurus meletakkan mayat imam Ceng Hian lalu loncat menerjang Gin Liong: "Bangsat, kembalikan jiwa jisuhengku..." Serangan imam kurus itu disertai dengan hud tim atau kebut pertapaan yang berbulu kawat perak, menyabet lambung Gin Liong. Lelaki baju hitam yang hendak diserang Hong Tim tadi karena melihat kawannya, lelaki baju ungu mati begitu mengenaskan, marah dan kalap, ia segera menyerang imam kurus dengan sebuah tabasan golok. Dengan demikian serangan imam kurus kepada Gin Liongpun tertahan, Dan Gin Liong dapat melanjutkan tusukannya keperut Hong Tim.

Hong Tim cepat menangkis dengan pedang tetapi begitu berbentur dengan pedang Tanduk Naga, pedangnyapun putus, Sebelum Hong Tim sempat menghindari ujung pedang Tanduk Naga sudah bersarang di perutnya. Darah mengucur deras, Hong Tim lepaskan pedangnya, mendekap perut dan terhuyung-huyung kebelakang dan rubuh ke tanah. Ususnya berhamburan, kematiannya sengeri kematian Ma Toa Kong. Setelah berhasil membunuh Hong Tim, Gin Liongpun berpaling. Dilihatnya imam kurus sedang bertempur seru dengan lelaki baju hitam, imam kurus dengan permainan kebut hud-timnya yang cepat dan dahsyat dapat mendesak lawan sehingga orang itu mandi keringat, permainan goloknyapun makin kacau, Tetapi rupanya dia sudah kalap dan hendak mengadu jiwa, Dengan nekad ia balas melakukan serangan sehingga mampu juga mendesak imam kurus. Dalam pada itu, imam tua bermuka seperti kuda yang tengah pejamkan mata memulangkan tenaga tadi, membuka mata dan dengan menggerung ia ayunkan kedua tangannya. Benda halus macam sutera perak mendesis-desis kearah Siau-bun-hau Tek Cun yang saat itu masih pejamkan mata memulangkan tenaga. Mo Lan Hwa menjerit kaget dan cepat loncat ke samping Tek Cun seraya memutar pedangnya dalam sebuah lingkaran untuk melindungi anak muda itu. Melihat itu Gin Liong marah sekali, sambil meraung ia loncat ke udara dan bergeliatan untuk meluruskan tubuh. Ketika ia hendak melepaskan hantaman tiba2 Mo Lan Hwa menjerit kaget pedangnya terpental jatuh dan nona itupun jatuh terjungkir balik ke belakang.

Gin Liong terkejut, ia tahu bahwa nona itu tentu terkena senjata rahasia berbentuk seperti sutera perak tadi. Cepat ia ayunkan kaki keatas dan berjumpalitan Dengan kaki di atas dan kepala di bawah ia melayang ke arah tempat Mo Lan Hwa. Pada saat ia hendak menyambar tubuh Mo Lan Hwa tiba2 matanya terpancar oleh cahaya keras yang dipancarkan dari kaca wasiat tadi. Seketika pandang matanya silau, ia tak dapat melihat benda disekelilingnya lagi, Empat penjuru terasa gelap gelita, Untung Gin Liong masih sadar pikirannya. ia bergeliatan dan melayang turun ke tanah, Tetapi ia terkejut sekali ketika matanya tetap gelap tak dapat melihat apa2. Serempak pada saat itu ia mendengar pula suara mendesis-desis halus menuju ketempatnya, ia tahu bahwa musuh telah menyerangnya dengan senjata rahasia, Cepat ia putar pedang Tanduk Naga dan berhasil membuyarkan benang2 perak itu jatuh ke tanah. Tiba2 para jago silat diluar gelanggang kembali berteriak pula, Gemuruh dan gempar. Bahkan mereka bukan melainkan bersorak tetapi pun menyisih ke belakang, membuka sebuah jalan. Gin Liong cepat berpaling untuk melihat. Tetapi ia tetap tak dapat melihat apa2, matanya tetap gelap, ia hanya mendengar di antara suara hiruk pikuk itu samar2 terdengar suara kibaran pakaian beberapa orang yang tengah mendatangi. Imam bermuka kuda, karena melepaskan senjata rahasia sutera perak yang selembut bulu kerbau. telah kehabisan tenaga-dalam, Luka dalamnya kambuh lagi, berulang kali ia muntah darah

Saat itu terdengar si cantik Tio Li Kun melengking kaget, Rupanya setelah selesai menyalurkan tenaga, Tio Li Kun tahu apa yang terjadi pada diri Mo Lan Hwa. Cepat ia loncat memeluk tubuh Mo Lan Hwa, Wajah Mo Lan Hwa pucat lesi, matanya meram dan dahinya mengerut menahan kesakitan. Memandang kesebelah muka, hati Tio Li Kun makin tergetar keras. Dilihatnya Gin Liong terlongong2 memandang kearah jago2 silat yang tengah hiruk dan sibuk menyisih kesebelah samping. Tio Li Kun segera hendak menegur tetapi tiba2 dilihatnya tiga orang tua lari menerobos ke luar dari kerumun jago2 silat itu- Yang paling depan umurnya lebih kurang delapan puluh tahun, berambut pendek berjenggot panjang, putih seperti perak, wajahnya lebar, alis tebal mata bundar. Mengenakan pakaian dari kain kasar, Tangannya mencekal sebatang pipa hun-cwe, gembung pula sebesar kepalan tangan orang, memancarkan sinar keemas2 an. Di sebelah kiri dari orang tua itu, seorang tua yang sikapnya seperti orang sinting, Dia membawa sebatang tongkat bambu wulung dan pakaiannya compang-camping seperti pengemis. Di sebelah kanan orang tua tadi, juga seorang lelaki tua berumur lebih kurang delapan puluh tahun, Rambut dan jenggotnya putih, matanya kuyu seperti seorang pemabok. Mulutnya besar dan lebar sekali, Mengenakan pakaian warna kelabu yang memanjang menutupi kedua kakinya, punggungnya memanggul tiga buah buli2 arak yang berkilat-kilat menyilaukan. Ketiga orang tua itu lari pesat sekali, Tio Li Kunpun cepat mengenali ketiga orang itu sebagai Swat-thian Samyu. Maka ia segera menggolek-golekkan kepala Lan Hwa

dan memberitahu: "Adik Hwa, adik Hwa, lihatlah, ketiga suhengmu datang." Mendengar itu Mo Lan Hwa paksakan diri membuka mata. Setelah melihat memang ketiga suhengnya datang, ia pejamkan mata pula. Saat itu pandang mata Gin Liongpun sudah sembuh. ia dapat melihat kedatangan Swat-thian Sam-yu itu, Cepat2 ia berseru : "Lo-koko berdua, harap segera kemari !" Melihat Gin Liong, Hok To Beng dan Hong-tian-soh (siorang tua sinting) tertawa gelak2. Tetapi wajah mereka cepat mengerut gelap ketika melihat Mo Lan Hwa menggeletak ditanah dipeluk Tio Li Kun. Cepat mereka lari menghampiri. Lebih terkejut pula mereka ketika memeriksa keadaan sumoaynya itu. Hok To Beng sibuk memanggil-manggil sumoaynya tetapi nona itu tetap diam saja. Didapatinya lengan Mo Lan Hwa membengap, jelas nona itu tentu terkena senjata rahasia yang amat beracun. "Siapa yang berani mencelakai sumoay dengan senjata rahasia beracun itu !" Hong-tian-soh berbangkit dan berteriak keras. Sebelum Gin Liong memberi keterangan, Mo Lan Hwapun paksakan diri membuka mata dan menuding kearah siimam potongan muka kuda. Menurutkan arah yang ditunjukkan si nona, Hong-tiansoh segera membentak keras: "Hai, kurcaci tua dari mana berani menggunakan senjata rahasia yang begitu ganas !"

Dengan mengangkat tongkat bambu wulung, Hong-tiansohpun segera lari kearah siimam muka kuda yang masih duduk di tanah. Ketika Cui-sian-ong atau Dewa Pemabuk merentang mata, segera ia berseru: "Hai, sinting, jangan menghajar, dia Ih Tim tianglo dari partai Kiong-lay-pay." Hong-tian-soh sudah terlanjur angot gilanya. Sudah tentu ia tak menghiraukan peringatan Dewa Pemabuk. "Tak peduli dia tianglo dari partai mana, yang penting harus dihajar dulu !" seru orang sinting itu, ia tetap lanjutkan larinya ketempat imam tua itu. Mendengar keterangan Dewa Pemabuk, Hok To Beng terkejut dan berpaling ikut mencegah: "Sinting . ... " Tetapi terlambat Terdengar suara bambu menghantam benda keras disusul dengan jeritan ngeri. Batok kepala dari Ih Tim tianglo partai persilatan Kiong-lay-pay telah hancur lebur, berhamburan keempat penjuru. Baik Hok To Beng maupun Dewa Pemabuk berobah wajahnya seketika. Mereka menganggap peristiwa pembunuhan itu, akan menimbulkan akibat besar, Partai Kiong-lay-pay pasti akan mencari balas kepada Swat-thian Sam-yu. Tidak demikian dengan Gin Liong. pemuda itu tak puas melihat kekuatiran kedua tokoh itu. Sejenak ia keliarkan pandang kearah sosok2 mayat yang menjadi korban keganasan keempat imam tua dari Kiong-lay-pay itu. Baru ia hendak berkata, tiba2 Hong-tian-sohpun sudah berteriak keras lagi: "Hai, masih ada seorang kurcaci tua lagi !"

Habis berkata ia terus mengangkat tongkat bambunya hendak dikemplangkan ke kepala imam kurus yang tengah bertempur dengan orang yang berpakaian hitam tadi. Kali ini Hok To Beng berbangkit dan berteriak marah: "Hai, sinting, itu Ceng Cin tianglo dari Kong-tong-pay !" Mendengar itu imam kurus terkejut Cepat menggembor keras dan menyelinap ke samping. Ketika berpaling kejutnya bukan kepalang, Cepat2 ia ayunkan kebut hudtimnya. "Bagus, ha, ha, ha," teriak Hong-tian-soh yang tanpa merobah gerak jurusnya, tetap ayunkan tongkat bambu mengemplang kepala imam itu. Waktu mengetahui bahwa yang menyerangnya itu si sinting dari Swat-thian Sam-yu, berobahlah wajah Ceng Cin tianglo, ia tahu bahwa jurus Pang-ta-lian-hoa yang dimainkan tokoh sinting itu penuh perobahan yang sukar diduga. Dengan menggembor keras. Ceng Cin segera buang tubuhnya bergelundungan ke tanah dengan ilmu Kiu-te-sippat-kun. Rupanya Hong-tian-soh tak mau mengejar Berpaling memandang kearah lelaki baju hitam yang masih tegak terlongong. ia membentak : "Karena bertempur mati-matian di tempat ini, engkau tentu bukan manusia baik !" Habis berkata orang sinting itu terus ayunkan tongkat bambunya, ke pinggang orang. Karena hendak diserang, lelaki baju hitam itupun menangkis dengan goloknya, Melihat itu Gin Liong cepat berteriak: "Hong koko, dia bukan..."

Tetapi belum selesai Gin Liong berseru, golok lelaki baju hitam itupun sudah mencelat ke udara, Untung karena mendengar peringatan Gin Liong, Hong-tian-soh segera hentikan tongkatnya, Memandang kepada orang itu ia tertawa mengekeh lalu berputar tubuh dan melangkah ke tempat Mo Lan Hwa lagi dan berjongkok. Rupanya sayang sekali dia akan sumoaynya. Saat itu Dewa pemabuk berhasil mendapat sebuah botol kecil dari kumala putih, Setelah menuangkan pil dari botol itu, terus disusupkan ke mulut Mo Lan Hwa. Tek Cunpun sudah kuat berdiri tetapi semangatnya masih lelah, Dalam kesempatan itu Hok To Beng suruh Gin Liong berkenalan dengan Dewa Pemabuk, Demikian pula dengan Tio Li Kun dan Tek Cun. Ternyata Swat-thian Sam-yu juga naik perahu bersamaan waktunya dengan Gin Liong, Tetapi karena penumpangnya banyak, perahu agak pelahan jalannya hingga Gin Liong dan rombongannya tiba lebih dulu setengah jam. Jago2 persilatan dari berbagai aliran makin banyak tiba di tempat itu, Tetapi mereka tak berani mendekat dan hanya berdiri dua-puluh tombak jauhnya, Mereka kasak kusuk dengan kawan2nya. Dengan munculnya Swat-thian Sam-yu di tempat itu, tak seorangpun yang berani melanjutkan perjalanannya ke muka. Sejenak memandang kesekeliling, Hok To Beng kerutkan dahi, lalu bertanya kepada Gin Li-ong: "Orang tua itu mengapa tak tampak ?" Memandang kearah cermin pusaka di tengah telaga, Gin Liong juga menyatakan keheranannya: "Sejak kami datang, orang tua itu tak pernah kelihatan."

"Lalu siapa yang membunuh korban2 itu ?" seru Hongtian-soh seraya memandang sosok2 mayat yang berserakan di tanah, Gin Liong kerutkan alis, Tiba2 ia teringat akan kematian Ma Toa Kong. "Kemungkinan mati di tangan keempat imam tua itu !" akhirnya ia menyahut. Sudah tentu Swat-thian Sam-yu terkejut. Mereka mendesuh dan serempak berpaling ke arah imam tua Ceng Cin. Tampak imam tua Ceng Cin tengah memondong mayat Ceng Hian dibawa lari keluar dari lembah itu. "Hm, hari ini kurcaci tua itu mendapat kemurahan," dengus Hong-tian-soh geram. Mo Lan Hwa sudah dapat bangun. "Bagaimana ? Apakah lenganmu sudah tak sakit ?" seru ketiga Swat-thian Sam-yu. Dengan manja sekali Mo Lan Hwa mengatakan kalau sudah sembuh, ia singsingkan lengan baju dan tampaklah sebatang sutera perak selembut bulu kerbau menyusup kelengan nona itu. Dewa Pemabuk mengambil buli2 araknya meneteskan dua tetes arak ke bulu perak itu lalu mencabutnya. "Untung Ih Tim loto sudah menderita luka-dalam, sehingga tenaganya berkurang, Kalau tidak sutera perak itu tentu akan menyusup lebih dalam lagi ke tulang," kata Tio Li Kun. Dewa Pemabuk merentang mata dan bertanya siapakah yang melukai Ih Tim loto itu.

Gin Liong mengaku bahwa dialah yang melukai imam tua itu karena melihat imam itu mengganas Tek Cun dengan pukulan yang dahsyat ia menunjuk ke arah Tek Cun yang wajahnya masih pucat. Dewa Pemabuk mendesis, Rupanya ia seperti kurang percaya kalau seorang anak semuda Gin Liong mampu melukai Ih Tim yang berkepandaian tinggi. "Lalu siapakah yang membunuh Ceng Hian loto ?" tanyanya pula. "Juga siaute" kata Gin Liong, "karena dia berlaku curang menyerang dari belakang. Sudah tentu Dewa Pemabok makin terkejut Dengan matanya yang redup menatap Gin Liong. "Siau-hengte" serunya dengan sikap serius, "begitu keluar dari perguruan, engkau sudah mengikat permusuhan dengan dua partai persilatan. Kemungkinan engkau akan menghadapi bermacam macam kesulitan nanti." Gin Liong hanya tertawa hambar, "Dalam terjun kedunia persilatan siaute hanya berpijak pada kebenaran dan keadilan Memberantas yang lalim dan jahat, menolong yang lemah dan benar. Apapun bahaya yang akan menimpali pada diri siaute, siaute tak dapat menghindari lagi." Dewa Pemabuk terkesiap, Setelah berbicara beberapa saat lagi, diam2 ia mengagumi pendirian dan sikap Gin Liong yang perwira. "Bagus, bagus, siau-hengte." bahkan Hong-tian-soh si Sinting menepuk-nepuk bahu Gin Liong "tak kecewa engkau menjadi adik dari aku si Sinting ini Hong-tian-soh. Berani dan perwira, Tak gentar menghadapi ancaman, tak menindas yang lemah dan tak melakukan pekerjaan yang

melanggar hukum Allah, Aha, aku si sinting Hong-tian-soh, sekarang sudah mempunyai adik sealiran." Habis berkata tokoh sinting itu tertawa gelak2 dengan gembira sekali. Walaupun menahan sakit karena ditepuk-tepuk bahunya itu, terpaksa Gin Liong harus tersenyum. Tio Li Kun dan Tek Cun tergerak hatinya mendengar pernyataan si sinting yang begitu perwira. Mereka tak mengira kalau tokoh yang tampak seperti orang sinting ternyata mempunyai pendirian seorang pendekar besar. Melihat Gin Liong tertawa meringis, Mo Lan Hwa berseru : "Hong koko, engkau boleh saja bergembira tetapi dengan menepuk-nepuk bahu begitu, orang harus meringis kesaktian untuk memuaskan kegembiraan hatimu." Hong-tiang-soh tangannya. menyadari dan cepat hentikan

Tiba2 terdengar suitan nyaring dari arah puncak gunung yang jauh dari situ, Gin Liong terkejut Demikian pula dengan sekalian tokoh yang berada disitu. Mereka serempak memandang kearah suara suitan itu. Suitan itu seolah menembus udara, memenuhi lembah dan makin lama makin dekat ke lembah. Sekonyong-konyong dari arah dua-puluh tombak jauhnya terdengar suara orang berteriak keras: "Lekas- lari, orang tua pemilik kaca wasiat itu datang !" Mendengar itu para jago silat yang berkumpul diluar lembah segera desak mendesak berebut lari. Mereka seperti akan diserang bencana. Gin Liong kerutkan alis, Dari berbagai tempat yang jauh mereka datang, bukankah karena hendak melihat orang tua

pemilik kaca wasiat itu ? Mengapa sekarang orang tua itu datang, mereka malah melarikan diri ? Pikir Gin Liong penuh keheranan. Suitanpun berhenti dan beberapa jago silat yang sudah membiluk di puncak gunung sebelah muka itupun berhenti Mereka berpaling memandang ke telaga, cemas dan sangsi. Tiba2 sebuah suara suitan yang aneh dan parau, mengiang di telinga Gin Liong. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling. Hong-tian-son meregang rambutnya, muka menengadah dan mulut ternganga, Tengkuk lehernya menjulur ke muka. Ah, dialah yang bersuit aneh itu. Luka Tek Cun baru saja baik, Mendengar suitan aneh itu, wajahnya pucat dan keringat dinginpun mengucur lagi, Melihat itu Gin Liong, Tio Li Kun cepat loncat ke samping Tek Cun dan serempak memegang punggung Tek Cun. Tampak Hok To Beng dan Dewa pemabuk serius sekali wajahnya. Kedua tokoh itu tengadahkan muka untuk menanti jawaban dari suitan aneh yang dipancarkan Hongtian-soh tadi. Memandang ke puncak gunung sebelah muka, Gin Liong tak melihat lagi rombongan jago2 silat yang berdiri disitu, Rupanya karena mendengar suitan Hong-tian-soh, mereka ketakutan melarikan diri. Setelah bersuit, Hong - tian - soh merentang mata dan memandang ke puncak sebelah muka, Tiba2 suitan nyaring tadi terdengar pula, jelas berasal dari balik puncak gunung yang tingginya beratus-ratus tombak, Menyusul muncul dua sosok tubuh warna kelabu dan putih meluncur turun bagai dua buah bintang jatuh dari langit.

Baik Gin Liong maupun Swat-thian Sam-yu terkesiap melihat kesempurnaan ilmu meringankan tubuh dan kedua pendatang itu. Seiring dengan suitan berhenti, kedua sosok tubuh itupun sudah mencapai tengah2 lereng gunung. Tetapi kumandang suitannya masih berkumandang jauh ke angkasa. Saat itu Gin Liong dapat melihat bahwa kedua pendatang itu terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita. "Sepasang lelaki dan wanita," serunya, Swat-thian Samyu terkejut Mereka sendiri belum dapat melihat jelas kedua pendatang itu. Terutama Dewa Pemabuk, Dia sampai mendesuh kejut karena heran atas ketajaman mata anak muda itu. Dalam pada itu kedua pendatang itupun sudah tiba di kaki gunung dan lari menghampiri kearah lembah. Swat-thian Sam-yu memperhatikan bahwa walaupun tampaknya pelahan tetapi sesungguhnya kedua pendatang itu lari cepat sekali Pada lain saat tiba2 Gin Liong berteriak kaget: "Sumoay, sian-suang . .. . !" iapun terus loncat dan lari menyongsong kedatangan bayangan putih itu. Mendengar itu berdebarlah hati si jelita Tio Li Kun. Apabila tokoh yang disebut sian-tiang telah datang, dia tentu dapat membuka rahasia siapa sesungguhnya suhu dari Tio Li Kun itu. Beda dengan engkohnya, Tek Cun, Pemuda itu gembira sekali, ia merasa hari itu benar2 luar biasa sekali karena dapat berjumpa dengan empat tokoh dari Ih-lwe-jit-ki atau Tujuh tokoh aneh dalam dunia.

Sedangkan Mo Lan Hwa merasa cemburu karena mendengar Gin Liong begitu girang sekali menyambut kedatangan sumoaynya. Saat itu Swat-thian Sam-yu dapat mengetahui jelas bahwa salah seorang pendatang itu bukan lain adalah Hun Ho sian-tiang bersama seorang gadis cantik baju putih yang umurnya sekitar 16-17 tahun, Ketiga tokoh itu segera dapat menduga bahwa gadis baju putih itu tentu sumoay dari Gin Liong, Mereka tertawa ikut gembira atas pertemuan itu. Terpisah tujuh tombak jauhnya, Gin Liong berhenti dan memberi hormat kepada Hun Ho sian tiang. "Liong koko . . " teriak gadis baju putih dengan penuh haru. ia berlinang-linang airmata melihat Gin Liong. "Harap siau-sicu tak memakai banyak peradatan," begitu tiba di hadapan Gin Liong, Hun Ho siantiang mencegah anak muda yang hendak membungkuk tubuh menghaturkan hormat ia ulurkan tangan untuk mencekal tangan Gin Liong, Seketika Gin Liong merasa seperti terangkat ke atas dan terus melayang kearah Swat-thian Sam-yu. "Bertahun-tahun tak berjumpa, toheng bertiga masih segar bugar seperti yang lalu" seru Hun Ho sian-tiang yang menyusul tiba di hadapan Swat-thian Sam-yu. Hok To Beng dan Dewa pemabuk tertawa dan serempak menegur: "Imam hidung kerbau, angin apakah yang meniup engkau sampai ke lembah ini ?" "Bukan angin tetapi keinginan nafsu hati yang serakahlah yang membawanya kemari" tiba2 Hong-tiang-soh menyelutuk tertawa. Sambil mengurut-urut jenggotnya, Hun Ho sian-tiang tertawa:

"Ah, Hong toheng masih gemar berolok-olok. Ketika pergi ke gunung Tiang-pek-san mencari tanaman obat, kebetulan kita saling bertemu dan secara kebetulan pula berjumpa dengan orang tua pemilik kaca wasiat tadi bukan sengaja khusus mencarinya . . . " "Dan kali ini ? Apakah kedatanganmu kemari juga hendak mencari daun obat ?" tukas Hong-tian-soh. "Tadi kalau tak mendengar suitan yang memecah angkasa dari mulut Hong to-heng, mungkin saat ini aku sudah tinggalkan gunung Hok-san ini sahut Hun Ho siantiang. Swat-thian Sam-yu dan Gin Liong tertawa, Dalam pada itu si cantik Tio Li Kun, Mo Lan Hwa dan Tek Cunpun menghampiri dan memberi hormat kepada Hun Ho siantiang, Melihat Tio Li Kun, Hun Ho sian-tiang segera tertawa: "Nona Tio, apakah suhumu Ceng Hun suthay baik2 saja ?" tegurnya. Merah wajah Li Kun, Dia gugup mendapat pertanyaan itu tetapi karena tak dapat ditutupi lagi akhirnya ia menyahut juga. "Berkat restu sian-tiang, suhu tak kurang suatu apa." Swat-thian Sam-yu terkesiap, Mereka memang pernah mendengar kabar orang bahwa kepandaian si cantik Li Kun jauh di atas saudara2 nya, Saat itu baru mereka mengetahui bahwa suhu dari si cantik itu ternyata rahib Ceng Hun, murid pewaris dari Bong-.san loni atau rahib tua dari gunung Bong-san salah seorang dari Bu-lim Su-ik atau Empat-luar-biasa dalam dunia persilatan.

Jangankan Swat-thian Sam-yu, bahwa Tek Cun engkoh nomor enam dari si jelita Li Kun sendiri, juga terlongonglongong heran. walaupun sebagai saudara tua, tetapi ia tak tahu bahwa adiknya itu ternyata murid dari rahib tua Bongsan lo ni. Dia kira kalau kepandaian adiknya itu berasal dari mamahnya. Karena lama tak berjumpa maka pertemuan antara Swatthian Sam-yu dengan Hun Ho sian-tiang itu amat menggembirakan sekali Mereka ber cakap2 dengan riang dan asyik. Melihat Ki Yok Lan. Tek Cun benar2 terkesiap, ia tak menyangka bahwa sumoay yang sering diucapkan oleh Gin Liong itu ternyata seorang gadis yang agung dan cantik, wajahnya yang cantik berseri, makin memancarkan kecantikan yang syahdu dalam pakaiannya yang berwarna putih. Sepintas pandang menyerupai seorang bidadari. ia memperhatikan bahwa adiknya, Mo Lan Hwa dan Ki Yok Lan dalam waktu yang singkat tampak akrab sekali, Tetapi diam2 iapun memperhatikan juga bahwa pada wajah adiknya, Tio Li Kun tampak memancarkan sinar cemburu. Sedang wajah Mo Lan Hwa mengunjuk rasa putus asa. Sedang Ki Yok Lan sendiri tampak tenang dan wajar. Secara tak disadari, ia telah membuat perbandingan untuk menilai ketiga gadis cantik itu. Ki Yok Lan, berwajah agung cantik dan alim. Memberi kesan bahwa dia seorang dara yang berhati bersih dan suci. Mo Lan Hwa cantik berseri, meriah dan gagah sehingga orang tak berani main2 kepadanya Seorang dara yang bersemangat

Adiknya, Tio Li Kun, cantik laksana sekuntum bunga mekar di pagi hari, Memiliki sikap yang berwibawa, cerdas tetapi angkuh. Diam2 Tek Cun mencemaskan adik perempuannya itu. jika Tio Li Kun tak mau berlapang dada, menerima dan memberi dalam soal asmara, dikuatirkan dia akan menderita. Tiba2 suara tertawa gelak2, menghentikan pikiran Tek Cun yang tengah melamun itu. Ah, ternyata Hun Ho siantiang bersama Swat-thian Sam yu telah menuju ke tepi telaga. "Liok-ko, mari kita kesana juga," tiba2 Gin Liong mengajak, Tek Cun mengiakan dan segera kedua pemuda itu menuju ke tepi telaga juga, Melihat itu ketiga gadispun mengikuti pula. Rombongan Swat-thian Sam-yu beristirahat di sebuah tempat yang jauh dari hamburan air terjun. "Imam hidung kerbau" tiba2 Hong-tian-soh bertanya, "apakah engkau tak menduga bahwa orang tua pembawa kaca wasiat itu bukan salah seorang dari Thian lam Ji-gi ?" Hun Ho sian-tiang gelengkan kepala pelahan sahutnya: "Kedua tokoh Thian-lam Ji-gi itu sudah lama menutup pintu tak mau bertemu orang. Tahun muka baru mereka menyudahi persemedhiannya" Berhenti sejenak, Hun Ho siantiang melanjutkan pula: "Ketika Siau sicu hendak memberi hormat kepadaku di tanah lapang lembah salju gunung Tiang pek-san, dari rumah pondok itu tiba2 memancar sepercik sinar dan menyusul segulung asap putih melintas di atas kepala si pengemis jahat dan Hoa hweshio, Kedua orang itu menjerit

ngeri. Ketika kuburu keluar hutan. ternyata asap itu sudah lenyap." "Imam hidung kerbau" Dewa Pemabuk tak percaya, "jangan membual, Dengan ilmu meringankan tubuh Kihong-hui-heng-sut yang sakti itu, masakan orang tua pembawa kaca wasiat itu mampu lolos dari pengawasanmu ?" Hun Ho sian-tiang menghela napas panjang, "Ketika aku melambung ke udara, kulihat berpuluh sosok tubuh kaum persilatan yang bersembunyi di sekeliling hutan itu, berhamburan lari ke segenap penjuru, Sukar bagiku untuk mengejar yang mana." Hok To Beng memandang kearah kaca wasiat di telaga dan bertanya: "Menurut pandanganmu apa maksudnya orang tua itu meletakkan kaca wasiat di tempat yang sedemikian berbahaya ?" Hun Ho sian-tiang kerutkan alis. "Rupanya orang tua itu bermaksud hendak membunuh orang yang berhati temaha, Sejak dia muncul, entah sudah berapa banyak jiwa kaum persilatan yang binasa di tangannya." Berhenti sejenak Hun Ho sian-tiang melanjutkan pula: "Menurut dugaanku, dengan menaruh kaca wasiat di tengah telaga, dia bermaksud hendak memancing nafsu keinginan orang agar jago2 silat itu saling bunuh membunuh sendiri dan dunia persilatan berkurang jumlahnya manusia2 yang berhati temaha." "Huh, apakah itu bukan berarti hendak menciptakan suatu pembunuhan besar-besaran ?" teriak Hong-tian-soh

tak puas, "jika tiada kaca wasiat itu orang tentu takkan timbul nafsu temahanya." Kemudian tokoh sinting dari Swat-thian Sam yu itu menggeram: "Lebih baik menghancurkan kaca itu agar jangan menimbulkan peristiwa berdarah !" Habis berkata ia terus menjemput sebuah batu kecil dan hendak dilontarkan. Sudah tentu Hok To Beng, Dewa Pemabuk terkejut, membentak dan mencengkeram tangan si sinting. -ooo0dw0oooBab 6 Tiga durjana Hun Ho sian-tiangpun berkata dengan wajah serius: "janganlah Hong toheng bertindak gegabah. Kaca wasiat itu adalah benda peninggalan seorang paderi suci pada jaman dulu. Benar2 sebuah benda pusaka dalam dunia persilatan, kegunaan kaca itu bukan melainkan hanya mencari benda2 pusaka yang tertanam dalam tanah saja..." "Kemungkinan orang tua itu bersembunyi di sekeliling tempat ini !" tiba2 Hok To Beng menyelutuk. Hong-tian-soh keluarkan biji matanya dan menggentakkan tongkat bambunya ke tanah lalu berseru keras2: "Tindakanku tadi, memancing supaya persembunyiannya ?" bukankah suatu siasat untuk dia keluar dari tempat

Tetapi sekeliling penjuru tenang2 saja, Tiada penyahutan, Keadaan itu memberi kesan kepada sekalian

orang bahwa orang tua pemilik kaca wasiat itu memang tak berada di sekeliling situ. Kalau tidak, dia pasti akan keluar untuk menemui Hong-tian-soh. Akhirnya Hun Ho sian-tiang menghela napas "Karena jelas toheng sekalian tak menginginkan kaca itu, lebih baik kita lekas2 tinggalkan tempat ini agar terhindar dari kekeruhan." Sekalian orang termenung diam, Saat itu matahari sudah condong ke barat. Di telaga itu secara kebetulan, Gin Liong telah menemukan Ma Toa Kong, berjumpa dengan Swatthian Sam-yu dan bertemu pula dengan sumoaynya Ki Yoklan serta Hu Ho sian-tiang. Dia gembira sekali. Kini tinggal satu tujuan lagi ialah mengejar jejak Ban Hong liong-li untuk meminta keterangan siapakah sesungguhnya yang telah membunuh suhunya. Setitikpun Gin Liong tak mengandung hasrat untuk memiliki kaca wasiat itu, ia masih mempunyai lain tugas penting, Ketika ia hendak menghaturkan terima kasih kepada Hun Ho sian-tiang yang telah menolong sumoaynya, tiba2 orang tua itu menengadahkan memandang ke langit. "To-heng" katanya, hari sudah menjelang petang, mari kita pergi" Swat-thian Sam-yu mengangguk dan mengikuti langkah Hun Ho sian-tiang. Gin Liong berlima baru mengetahui bahwa Hun Ho sian-tiang mengundang Swat-thian Sam-yu ke pulau Hong-lay-to. Sambil mengurut jenggotnya yang indah, Hun Ho siantiang berkata kepada Ki Yok Lan:

"Lan-ji, kebetulan sekali ditempat ini engkau dapat menemukan suhengmu, Lebih baik kalian pergi bersamasama." Kemudian dengan wajah serius, tokoh itu memberi pesanan kepada Yok Lan: "Harap engkau ingat baik2 pelajaran itu dan berlatihlah dengan tekun, Kelak tentu berhasil." Dengan berlinang-linang airmata, Ki Yok Lan segera berlutut menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan orang tua sakti itu. "Bangunlah !" seru Hun Ho siantiang seraya kebutkan dengan jubahnya, Tahu2 tubuh Yok Lan terangkat berdiri. Melihat itu diam2 Gin Liong girang sekali, ia tahu bahwa sumoaynya telah diterima sebagai murid tak resmi oleh Hun Ho sian-tiang. Swat-thian Sam-yu juga memberi pesan kepada Gin Liong dan Yok Lan agar berhati-hati dan waspada dalam perjalanan ke selatan itu. Demikian keempat tokoh sakti itu segera berpisah dengan rombongan anak muda dan menuju ke puncak gunung sebelah kiri. Setelah mereka lenyap dari pandang mata, Gin Liong pun bertanya kepada Tek Cun: "Liok-ko, apakah engkau menggunakan ginkang ?" masih kuat untuk

Tek Cun mengatakan hendak mencobanya. Tetapi ketika berjalan, Yok Lan cepat dapat melihat bahwa pemuda itu terlalu maksa diri.

"Liok-ko," seru Yok Lan," biarlah aku bersama Liong koko memapahmu berjalan, Lukamu baru sembuh, tak boleh terlalu banyak menggunakan tenaga." Tetapi Tek Cun menolak: "Lebih baik kucobanya dulu, Apalagi diluar lembah masih ada kuda kita, Asal jangan terlalu cepat, aku masih dapat mengimbangi kalian." Pada saat itu Tek Cun mendapatkan dalam diri Yok Lan sifat2 kehalusan budi, kesungguhan hati, kejujuran dan kepolosan. Suatu sifat yang tak dimiliki adiknya, Tio Li Kun. Waktu berjalan, Gin Liong menyempatkan diri untuk berpaling. Di tengah telaga tampak sinar kaca wasiat itu masih memancar terang. Kemudian waktu tiba ditempat pertempuran antara Hian Leng dan Biau Liang, ternyata ke-enam imam tua yang ditutuk jalan darahnya itu sudah tak kelihatan berada disitu lagi. "Hm, kawanan imam hidung kerbau itu memang tak tahu diri. Kepandaiannya begitu rendah tetapi berani menghadang kita," Mo Lan Hwa mendengus. Gin Liong hanya tertawa ketika mendengar jelita itu juga menggunakan sebutan "imam hidung kerbau" seperti yang dilakukan Swat thian Sam-yu terhadap Hun Ho sian tiang. Huak, tiba2 Tek Cun muntahkan segumpal darah segar dan terhuyung-huyung rubuh ke tanah. Mo Lan Hwa yang berada paling dekat, cepat loncat menyanggupinya. Tek Cun gemetar tubuhnya dan lunglai tak bertenaga. Sudah tentu Gin Liong beramai-ramai sibuk memberi pertolongan Mereka membantu supaya Tek Cun yang saat itu rebah dipangkuan Mo Lan Hwa dapat duduk tegak, kemudian Gin Liong segera menyalurkan tenaga-dalam ke

pinggang Tek Cun, sedang ketiga gadis itu menjaga disamping kanan kirinya. Setelah wajah Tek Cun tampak merah barulah Tio Li Kun menyuruhnya supaya menyalurkan pernapasan untuk menyambut saluran tenaga-dalam dan Gin Liong. Tiba2 terdengar suara langkah orang berlari dari arah lembah. Li Kun, Yok Lan terkejut dan serentak berpaling. Tiga sosok tubuh muncul dari bagian dalam lembah dan dengan gerak yang amat cepat mereka telah melintasi hutan menuju kearah rombongan anak2 muda itu. "Taci Kun, kurasa mereka tentu bermaksud tak baik," kata Lan Hwa. "Bagaimana tandanya ?" tanya Li Kun seraya berbangkit dan memandang kearah ketiga pendatang itu. Lan Hwa sejenak memandang dengan seksama lalu berkata lagi : "Taci Kun, lihatlah sinar mata mereka yang begitu berkilat-kilat seperti mencari sesuatu..." "Ya, lebih baik kita berhati-hati," kata Li Kun, "menilik sinar mata dan ginkang mereka, tentulah bukan jago silat sembarangan Apabila sampai bertempur, supaya hati2." Kemudian ia minta Lan Hwa dan Yok Lan menjaga Tek Cun. Dia sendiri yang akan menghadapi ketiga pendatang itu. Ketiga sosok bayangan itu dengan cepat telah tiba, sebenarnya Li Kun sudah mau duduk kembali dan menghiraukan mereka tetapi tiba2 mereka berseru: "Hai, berhenti !" Karena disekeliling tempat itu tiada lain orang lagi, Li Kun dan Lan Hwa tahu kalau seruan orang itu ditujukan

kepada mereka berdua, Kedua nona itu marah dan cepat berputar tubuh. Ternyata ketiga pendatang yang lari mendatangi itu terdiri dari orang lelaki yang berbeda umurnya satu sama lain. Yang disebelah tengah, seorang tua berambut dan jenggot putih, beralis panjang menjulai ke bawah. Matanya hanya satu dan mulut perot, Mengenakan pakaian warna biru dan memegang sebatang tongkat berkepala naga. Sambil memerotkan mulut, matanya yang tinggal satu itu berkilat2 memandang rombongan anak2 muda. Yang sebelah kanan berumur empat puluh lima - empat puluh enam tahun. rambut dan jenggotnya kelabu, mulutnya lancip, hidung besar dan kedua telinganya hilang, wajahnya hitam, mata bundar mengenakan kain hitam dan memegang sebatang kait baja yang dilumuri racun. Seram dan menakutkan orang. Yang sebelah kiri seorang lelaki berumur tiga-puluhan tahun lebih, Alisnya seperti daun liu, mata seperti bunga tho dan kulitnya putih seperti salju, Rambutnya berminyak, pipi berbedak dan rambut memanjang sampai ke bahu, Mengenakan baju sutera kembang dan menyanggul sebatang pedang pedang bengkok, sepintas menyerupai seorang banci, menimbulkan kesan yang memuakkan. Ketiga pendatang itu dengan wajah gusar memandang kedua nona Lan Hwa dan Li Kun. "Cici, ketiga orang itu mungkin Ce-tang Sam sat" "Bagaimana engkau tahu ?" tanya Li Kun. "Pernah kudengar dari toa-suheng tentang pakaian, wajah dan umur mereka, Apalagi tokoh yang ketiga, laki2 bukan, perempuanpun bukan.

Saat itu Ce-tang Sam-sat sudah tiba tiga tombak di depan mereka, Toa-sat atau tokoh kesatu dari Ce-tang Sam sat yang bergelar Boan-liong-kun atau Tongkat-naga melingkar, tertawa mengekeh, "Heh, heh. menilik pakaianmu, kalian ini tentu datang dari Kwan-gwa..." Mendengar itu Mo Lan Hwa marah dan cepat menukas: "Tutup mulutmu ! Apa pedulimu dengan asal usulku ?" Ji-sat atau tokoh nomor dua yang bergelar Toh-beng-kau atau Kait-pencabut nyawa, menyeringai lalu membentak keras: "Budak hina, jangan banyak omong ! Lekas serahkan kaca wasiat itu agar jangan menimbulkan kemarahanku." Sudah tentu Li Kun dan Mo Lan Hwa marah bukan main, Gin Liong yang tengah duduk bersila pejamkan mata, pun sejenak membuka mata memandang ketiga pendatang itu lalu pejamkan mata lagi. Ki Yok Lan serentak bangun dan terus menyahut: "Kalian salah alamat, Kaca wasiat itu berada di atas batu di tengah telaga" Belum Yok Lan selesai bicara, ketiga durjana itu sudah tertawa gelak2: "Ha, ha, kalau menilik wajahmu, engkau ini seorang budak perempuan yang halus tapi tak kira kalau mulutmu begitu tajam." Merah wajah Yok Lan. Baru pertama kali itu ia mendengar orang memaki dirinya, Mo Lan Hwa tak kuasa menahan kemarahannya lagi, Sambil menuding pada Banliong-kun ia memaki:

"Engkau anjing tua, jelas bermulut tajam. tak tahu malu dan berkulit tebal!" Toa-sat Ban-liong-kun marah dan membentak "Budak hina, engkau berani memaki aku . ." Tetapi sebelum dia bertindak, Sam-sat atau tokoh nomor tiga yang seperti orang banci itu segera melesat maju dan melengking: "Budak hina, kalau tak mau menyerahkan kaca wasiat, kalian tentu akan kucincang." Habis berkata ia terus melepaskan sebuah hantaman kearah Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa membentak dan menangkis. Tetapi seketika itu wajahnya pucat dan menjerit kaget. Pada lain saat ia terhuyung2 ke belakang sambil mendekap dadanya Huak . . ia muntah darah. Peristiwa itu berlangsung cepat sekali sehingga Li Kun tak sempat menolong, Yok Lan cepat loncat untuk menyanggupi tubuh Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah tak kuat berdiri lagi, ia duduk bersila dan dengan paksakan diri menuding kedadanya, Yok Lan dapat menangkap maksudnya. ia segera mengambil pil dari baju Lan Hwa dan dimasukkan ke mulut nona itu. Tiba2 terdengar suara gemuruh disusul batu-batu dan pasir bertebaran, asap dan debu bergulung2. Memandang kemuka, Yok Lan dapatkan Li Kun dan Sam-sat masing2 mundur tiga langkah, Wajah si jelita tampak membeku dingin dan dahinya memancar hawa pembunuhan. Dengan melengking ia segera mencabut pedang dan pelahan2 maju menghampiri kearah ketiga durjana itu. Sam-sat tertawa mengikik.

"Nona kecil, kalau engkau mampu menangkan aku, kepalaku boleh engkau potong, Tetapi kalau engkau kalah, engkau harus menurut kuajak pulang menjadi isteriku" Sam-sat atau tokoh ketiga yang bergelar Go kau-kiam si Pedang-bengkok segera mencabut pedang go-kau-kiam. "Kawanan tikus, engkau cari mati...!" bentak Li Kun seraya loncat menyerang dengan jurus Tiang-ho-hong-ping atau sungai Tiang-ho menutup salju... segulung sinar perak segera membabat ke dada Sam-sat. Sam-sat tahu kalau ilmu pedang nona jelita itu lihay. Dengan tertawa ia mengisar langkah ke samping lalu tusukkan ujung pedang ke pinggang sinona. Pada saat itu dengan tertawa mengekeh, toa-sat Boanliong-kiam dan ji- sat Toh-beng-kau masing2 lari menghampiri Gin Liong dan Tek Cun. Melihat itu berobahlah wajah Yok Lan. Gin Liong dan Tek Cun sedang menyembuhkan lukanya, jangan lagi diserang, cukup di dorong pelahan2 dengan tongkat saja, kedua anak muda itu tentu akan rubuh, mungkin akan terjadi suatu akibat yang berbahaya dalam penyaluran napas mereka. "Berhenti, atau akan kupaksa kalian mundur." bentaknya kepada kedua durjana itu, seraya mencabut pedang Cengkong-kiam. Tetapi Boan-liong- kiam dan Toh-beng-kiam tertawa gelak2. Mereka tak mengacuhkan peringatan Yok Lan lagi dan tetap melangkah maju. Li Kun terkejut mendengar suara tertawa mereka ia menyempatkan diri untuk berpaling. Tetapi walaupun terdesak, sam-sat Go-kau-kiam tak mau melepaskan si jelita. Li Kun marah sekali, Dengan melengking ia

lancarkan tiga buah serangan pedang sehingga sam-sat kelabakan. Tetapi pada saat itu tiba2 toa-sat dan ji-sat hentikan tawanya, Yang satu mengangkat tongkat dan yang satu mengangkat kait untuk mengemplang Gin Liong dan Tek Cun. Melihat itu Yok Lan pun bertindak. Dengan sebuah loncatan ia segera lancarkan jurus Liong-hok-song-hou atau Naga-mendekam-sepasang-harimau. Pedang berhamburan menjadi beratus2 sinar perak bagai seekor naga marah. Keatas menghantam tongkat boan-liong-kiam, kebawah menangkis toh-hun-kau. Ujung pedang menusuk tangan kedua lawan. Toa-sat dan Ji-sat banyak pengalaman dalam menghadapi musuh2 tangguh, Entah sudah berapa banyak jago2 lihay yang jatuh ditangan mereka. Tetapi selama itu belum pernah mereka melihat ilmu pedang seaneh dan sedahsyat yang dimainkan Yok Lan. Mau tak mau kedua durjana itu berteriak keras dan menyurut mundur. Yok Lan sendiripun terkejut dalam hati, ia melancarkan salah sebuah jurus ilmu pedang ajaran Hun Ho siantiang, Hasilnya ternyata sedemikian hebat. Begitu kedua durjana itu mundur, Yok Lan pun tak mau mengejar Tampak kedua durjana itu pucat wajahnya, keringat dingin bercucuran membasahi tubuh mereka, Mereka memandang sinona dengan terkejut heran. Mereka benar2 tak menyangka bahwa seorang nona yang masih begitu muda belia ternyata memiliki ilmu pedang yang sedemikian luar biasa. Kecongkakan dari kedua durjana itu lenyap seperti awan dihembus angin, Tampak wajah mereka seperti kunyuk kepedasan.

"Cici, jangan membunuh." tiba2 Yok Lan berteriak, Tetapi terlambat Terdengar jeritan ngeri disertai dengan hamburan darah dari sam-sat yang lepaskan pedang dan rubuh ketanah. Melihat itu, toa-sat yang nyalinya sudah pecah, timbul pula kemarahannya Dengan menggembor keras ia dan ji-sat terus lari menyerbu Li Kun. Tetapi jelita itu tak gentar Dengan melengking keras, ia segera menyambut kedua durjana itu. "Berhenti" tiba2 terdengar bentakan sedahsyat halilintar. Yok Lan tergetar dan berpaling, Tampak dengan wajah gusar Gin Liong sudah berdiri disamping. Toa-sat, ji-sat dan Li Kunpun terkejut mendengar bentakan keras itu. Mereka serempak berpaling, Melihat Gin Liong sudah selesai menyalurkan tenagadalam, Li Kun serta merta loncat ke hadapannya, katanya: "Mereka bertiga adalah Ce-tang-sam-sat yang bersimaharajalela, mengganas dan melakukan perbuatan2 jahat jangan kita biarkan mereka lolos." Habis berkata ia terus menyimpan pedang dan bersama Yok Lan menghampiri ke tempat Mo Lan Hwa yang masih duduk bersila di tanah. Melihat sam-sat mati kedua durjana itu marah. Lebih-2 ketika mendengar kata2 Li Kun mereka seperti orang kebakaran jenggot Kedua durjana itu tertawa keras. "Tutup mulut kalian!" bentak Gin Liong seraya maju. Toa-sat dan ji-sat tergetar sehingga menyurut mundur, Sambil menuding, Gin Liong berseru : "Apakah maksud kalian menyerang rombonganku? Kalau tak mau bilang

sejujurnya, jangan harap kalian mampu tinggalkan tempat ini !" "Budak sombong !" teriak toa-sat seraya maju menghantam bahu pemuda itu, Gin Liong tertawa dingin, ia gerakkan tangan kiri untuk menangkis. Krak, toa-sat mendengus tertahan dan mundur sampai tiga langkah, Sedang Sin Liong tetap berdiri tegak di tempat Melihat itu ji-sat terlongong-longong, Tetapi rupanya Toa-sat masih belum jera, Begitu berdiri tegak ia terus mencabut tongkat boan liong-kun terus diayunkan kearah kepala Gin Liong. Gin Liong mendengus, Dengan gerak yang luar biasa ia sudah menyelimpat ke belakang lawan. Toa-sat ayunkan tongkatnya menghantam kebelakang, tetapi Gin Liong sudah loncat keudara dan turun dibelakangnya lagi. Melihat itu ji-sat segera memutar kaitnya, menyambar Gin Liong yang baru saja berdiri, Yok lan yang berada di sisi Mo Lan Hwa selalu mengikuti pertempuran itu, ia menjerit kaget ketika melihat Gin Liong terancam bahaya. Mendengar jeritan itu, Gin Liong terkejut, secepat kilat ia mendekam ke tanah dan senjata kait itupun meluncur di atas punggungnya. Gin Liong makin marah. setelah menekuk ke dua lutut ia melambung ke belakang ji-sat, Sekali membentak ia menyerempaki dengan menghantam punggung orang itu, duk . . Seketika ji-sat muntah darah dan terus melesat kemuka toa-sat. Toa-sat buru2 menarik tongkatnya dan melangkah maju. Tetapi ji-sat sudah terhuyung2 dan muntah darah lagi, lepaskan senjata kaitnya dan terus rubuh ke tanah, Kedua kakinya menelikung dan jiwanyapun melayang.

Melihat itu toa-sat menjerit kalap: "Aku akan mengadu jiwa dengan engkau . . " tongkat boan-liong-kun diputar laksana hujan mencurah, maju menyerang Gin Liong, Melihat kekalapan toa-sat, Yok Lan ngeri dan serentak berbangkit. Tetapi Gin Liong tak gentar ia mainkan tatalangkah Liong-li-biau untuk menghindar lalu mencabut pedang pusaka Tanduk Naga. Toa-sat, sudah terlanjur diamuk kekalapan. ia tak peduli lagi bagaimana pedang yang berada di tangan anak muda itu. Dengan menggembor keras ia tetap menyerang. Tring, tring, tring, terdengar beberapa kali dering senjata beradu keras, diiring dengan hamburan bunga api dan kutungan baja berterbangan ke udara. Walaupun tahu kalau tongkatnya telah terpapas kutung namun toa-sat tetap tak hentikan serangannya, ia menyerang dengan jurus Ko jiuboan-kin atau pohon-tua-melingkar- akar, menyerang lutut. Tring, kembali pedang Tanduk Naga berkelebat memapas kutung tongkat itu. Namun toa-sat tetap nekad dan menusuk perut Gin Liong. Tetapi kembali pedang Tanduk Naga membelah tongkat lawan menjadi dua kutung, Keadaan toa-sat saat itu benar2 seperti orang gila, wajahnya makin menyeramkan, matanya yang tinggal satu itupun merah berdarah, rambutnya yang putih meregang tegak dan napasnya terengah-engah keras. Gin Liong tegak ditempatnya sambil lintangkan pedang didada untuk melindungi diri. Rupanya ia tak mau membunuh orang tua mata satu yang sudah tak berdaya itu. Ditangan toa-sat kini hanya tinggal memegang kutungan tongkat sepanjang setengah meter, Dia berdiri dimuka Gin Liong pada jarak tujuh langkah, Dia memandang Gin Liong dengan mata kemerah-merahan.

Beberapa saat kemudian ia mendengus marah dan berseru geram: "Budak, karena engkau mengandalkan pedang pusaka, aku masih penasaran dan tak mau menyerah." Gin Liong kerutkan alis dan menggeram: "Engkau hendak mengajak bertanding dengan cara apa, aku bersedia melayanimu semua !" Toa-sat rentangkan matanya yang tinggal satu lebar2, serunya menggeledek: "Aku hendak mengajakmu bertanding ilmu pukulan." Habis berkata ia terus melontarkan tongkatnya yang tinggal dua jari ke tanah, Setelah mengejang kedua tangannya, iapun pelahan lahan maju menghampiri Gin Liong. Yok Lan pernah merasakan betapa kuat tangan toa-sat tadi. Ketika melihat durjana bermata satu itu hendak mengadu kepalan dengan Gin Liong, iapun gelisah. Tiba2 Li Kun dan Lan Hwa loncat ke sisi Yok Lan. Ternyata Lan Hwa sudah sembuh. Sekarang ketiga nona jelita itu berdiri berjajar Demi melihat keadaan di gelanggang pertempuran, Li Kun merasa heran mengapa Gin Liong tak mau cepat2 menyelesaikan toa-sat. Saat itu toa-sat sudah tiba lima langkah dihadapan Gin Liong, Dia berhenti dan memandang Gin Liong dengan pandang berkilat-kilat Gerahamnya bergemurutukan keras menahan kemarahannya yang meluap-luap. Tetapi Gin Liong tetap tenang2 saja. Tetapi diam2 iapun kerahkan tenaga-dalam ke lengan kirinya.

Melihat sikap si anak muda yang begitu tenang, diam2 toa-sat memaki dalam hati: "Bangsat engkau terlalu memandang rendah diriku !" Tetapi ia masih memegang gengsi, sebelum menyerang ia masih menegur: "Hai, mengapa eng kau tak bersiap ?" "Silahkan engkau turun tangan sajalah !" sahut Gin Liong dengan nada tawar. Toa-sat segera mengiakan Setelah bersiap, lalu dengan menggembor keras ia dorongkan kedua tangannya. Gin Liong tahu akan kelihayan orang. ia tak berani memandang rendah, pada saat toa-sat bergerak iapun agak mengendapkan tubuh kebawah dan tangan kirinya yang sudah disiapkan tadipun segera menyongsong kemuka. Jarak amat dekat maka pukulan kedua orang itupun hampir berbenturan Bum, terdengar bunyi letupan keras diiringi deru angin yang menghamburkan batu, debu dan pasir keempat penjuru, Dalam kepulan debu yang bergulung debu yang tebal terdengar berulang suara mengerang tertahan. Tubuh toa-sat bergelundungan ke tanah sampai tiga tombak jauhnya, sedangkan lengan Gin Liong bergetar keras dan tubuh ikut bergoncang sampai beberapa saat baru ia dapat berdiri tegak lagi. Ketika menggerakkan tangan kirinya, ia rasakan agak sakit. Terkena pukulan sakti dari Gin Liong, toa-sat bergulingguling sampai tiga tombak lebih, baru berhenti, Secepat kilat ia terus melenting bangun dan duduk. Pakaian compang camping, berlumuran tanah, Maya berbinar-binar, kepala pusing, segala benda diempat penjuru dirasakan berputar-putar, Lama sekali baru ia dapat melihat jelas Gin Liong masih tegak berdiri ditempat semula.

Dengan paksakan diri segera ia berseru: "Hai budak kecil, tinggalkan namamu dan perguruanmu. Asal masih belum mati, kelak aku tentu akan mencarimu untuk menghimpas hutang hinaan yang engkau berikan kepadaku hari ini..." Gin Liong tertawa dingin, serunya: "Aku Siau Gin Liong, tak punya perguruan tak punya partai persilatan, Siapa suhuku, engkaupun tak perlu bertanya, Kapan saja engkau hendak mencari balas kepadaku, asal engkau sebarkan berita di dunia persilatan, aku tentu akan menemui mu." Habis berkata ia terus melangkah menghampiri ketempat Li Kun bertiga. Dengan paksakan diri pula, mulut toa-sat mengiakan lalu pejamkan mata untuk menyalurkan napas, Tetapi tiba2 ia terjungkal kebelakang dan tak sadarkan diri. Gin Liong tak menghiraukan. Setelah tiba di tempat Li Kun dan Yok Lan, ia memandang ke arah Tek Cun dan Lan Hwa yang masih duduk pejamkan mata. "Rupanya luka yang diderita liok-ko dan cici Lan tak dapat sembuh dalam waktu singkat. Kita harus membawa mereka ke tempat yang aman. Kalau kita melanjutkan perjalanan, lukanya tentu kambuh dan akibatnya sukar dilukiskan." kata Gin Liong. Memandang ke langit, ternyata matahari sudah berada di belakang puncak barat dan lembahpun sudah meremang gelap. Li Kun mengusulkan untuk mencari sebuah desa. Dan Yok Lanpun serempak mengatakan dia dan Li Kun yang memapah Lan Hwa. Gin Liong yang memapah Tek Cun Demikian ketika tiba di luar lembah, Gin Liong bersuit

keras. Beberapa saat kemudian terdengar suara kuda meringkik. "Bagus, kuda bulu hitam patuh sekali kepadamu" seru Li Kun. "Ah, aku hanya coba2 saja, tak kira kalau kuda itu begitu menurut" kata Gin Liong. Tetapi belum sempat mereka menuju ketempat suara kuda itu tiba2 terdengar suara derap kuda lari yang gemuruh, Empat ekor kuda mencongklang pesat kearah lembah. Gin Liong cepat memeluk tubuh Tek Cun, demikian pula Li Kun dan Yok Lan segera memondong Lan Hwa. Rupanya Tek Cun lebih parah, ia terus menerus pejamkan mata. Ternyata yang berlari mendatangi itu empat ekor kuda milik mereka, Kuda hitam berkaki putih yang dinaiki Lan Hwa, kuda merah milik Tek Cun, kuda hitam mulus milik Gin Liong dan kuda bulu kuning dari Li Kun. Kuda bulu merah terus menghampiri Tek Cun dan menjilat-jilat pakaian tuannya seperti ikut sedih karena tuannya terluka, Melihat itu tergeraklah hati Yok Lan. ia mengelus-elus kepala kuda itu. Sumoay, kuda merah ini memang lebih halus sifatnya, engkau naik dia sajalah," kata Gin Liong yang terus membawa Tek Cun bersama naik kuda bulu hitam. Demikian setelah sama naik kuda, mereka pun segera berangkat Dalam waktu singkat mereka telah melintasi dua buah puncak gunung lalu mulai mendaki sebuah gunung yang membujur luas. Dari atas lereng gunung, Gin Liong dapat melihat di bawah kaki gunung sebelah selatan terdapat sebuah kota.

"Cici, disebelah depan kemungkinan kota Hok san-shia" katanya kepada Li Kun. Tio Li Kun mengiakan dan segera mengajak rombongannya menuruni gunung menuju ke kota itu. Tak berapa lama mereka tiba di jalan besar yang tiba dikota Hok-san-shia. Jalan sepi orang sehingga dengan leluasa mereka dapat mencongklangkan kudanya, Tak berapa lama gedung2 bertingkat dari kota Hok-san-shia mulai tampak, Tiba2 dari arah muka tampak dua penunggang kuda mencongklang pesat, menimbulkan kepul debu yang tebal sehingga sukar diketahui wajah mereka, Gin Liong dan rombongannya dengan cepat dapat mengejar kedua penunggang itu. Rupanya kedua penunggang itu tahu kalau dibelakangnya akan dilanggar oleh rombongan penunggang kuda maka mereka berdua segera menyisih ke tepi jalan. Saat itu Gin Liong sempat memperhatikan wajah mereka, Yang naik kuda bulu kuning, seorang wanita berumur 27 - 28 tahun, Mengenakan pakaian ringkas dari kaum persilatan punggung menyanggul sebatang pedang, sepasang mata yang ditaungi oleh alis yang melengkung indah makin menonjolkan kecantikan wajahnya yang berpotongan bulat telur dan berbedak tipis. Sedang yang naik kuda kembang, seorang yang dandanannya seperti sastrawan, berumur sekitar 35-an tahun, rambut lebat alis tebal dan wajah cakap, Mencekal cemeti kuda yang bertabur mutiara, sikapnya gagah. Sasterawan dan wanita muda itu menarik kendali kuda dan berpaling. Gin Liong menduga keduanya tentu sepasang suami isteri.

Ketika rombongan Gin Liong lewat disisi mereka, tiba2 kedua penunggang kuda itu berteriak kaget : "Nona Kun, Nona Kun !" Tio Li Kun terkejut dan cepat hentikan kudanya, Demikian pula Gin Liong dan Yok Lan. Sasterawan dan wanita muda itu segera menghampiri. Saat itu Li Kun baru mengetahui bahwa ke dua penunggang kuda itu bukan lain adalah Hut-soh-su-Seng atau Sasterawan-tali-terbang Suma Tiong dan isterinya Lok Siu Ing. "Nona Kun, mengapa liok-saycu dan nona itu ?" melihat Tek Cun dan Lan Hwa. Suma Tiong segera menegur cemas. "Terluka . . " sahut Li Kun tersenyum. Lok Siu Ing kerutkan dahi serunya: "Kalian tak boleh melanjutkan perjalanan dan harus lekas2 singgah di desa untuk berobat, Desa kami tak jauh dari sini" ia menunjuk ke sebelah timur. Lebih kurang lima li jauhnya, tampak gerumbul pohon yang menggunduk hitam. "Ah, harap nona jangan berkata begitu. Kalau tempo hari tak mendapat bantuan dan engkoh nona, kami berdua suami-isteri-tentu sudah mati di tangan musuh" kata Suma Tiong, Sejenak memandang ke muka dan belakang, ia segera meminta Li Kun. "Harap nona suka ikut ke desa kami dulu baru nanti bicara lagi" Hutan pohon liu itu merupakan kampung kediaman Suma Tiong, Rumah2 sudah menyalakan lampu. Suma Tiong langsung menuju ke sebuah gedung yang berpintu hitam dan diterangi oleh empat buah lentera besar.

Beberapa orang tampak bermunculan keluar untuk menyambut kedatangan rombongan Gin Liong. Suma Tiong segera mengajak rombongan tetamunya masuk ke ruang besar dan isterinya segera memerintahkan bujang untuk menyiapkan kamar2. Demikian dengan sibuk dan akrab kedua suami isteri itu menyambut rombongan tetamunya dan menempatkan Tek Cun serta Lan Hwa masing di sebuah kamar terpisah, setelah itu mereka sibuk menjamu rombongan tetamu dengan hidangan yang lezat dan arak wangi. Dalam kesempatan itu mereka menjelaskan tentang hal ihwal Tek Cun dan Lan Hwa sampai menderita luka. Pun tentang orang tua aneh pemilik kaca wasiat juga dibicarakan Malamnya diputuskan Yok Lan tidur menjaga Lan Hwa dan Li Kun menjaga engkohnya, Waktu telentang di ranjang, pikiran Gin Liongpun mulai gelisah lagi, ia tak tahu sampai kapan luka Tek Cun dan Lan Hwa akan sembuh. Sejak turun gunung untuk menyusul Ban Hong liong-li dan menanyakan tentang pembunuh dari suhunya ia selalu mendapat rintangan dari peristiwa yang dihadapinya. Bila terus menerus begitu, entah sampai kapan ia dapat menyusul jejak Ban Hong liong-li. Makin merenung makin gelisah dan akhirnya Gin Liong memutuskan, ia tak mau terhambat oleh urusan apa saja dan akan langsung melanjutkan perjalanan untuk menyusul Ban Hong Liongli. Sekonyong-konyong di tengah suasana malam yang sunyi, terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin Liong terkejut dan cepat bangun, Suara tertawa itu makin lama makin dekat, ia duga tentu orang jahat hendak mengganggu desa itu atau dirinya. Cepat ia membuka jendela, loncat

keluar dan terus wuwungan rumah.

ayunkan

tubuh

melayang

keatas

Langit bertabur bintang kemintang, rembulan pudar dan salju tipis mulai berhamburan mencurah dari langit. Angin berhembus membawa hawa dingin, Empat penjuru sunyi senyap. Tiba2 terdengar suara berkumandang di telinganya: orang tua yang parau

"Hai, budak, apakah engkau masih berani datang ke lembah Hok-san lagi ?" Gin Liong tergetar hatinya dan tanpa tersadar menyurut mundur setengah langkah, Mengeliarkan pandang matanya ia segera melihat diujung hutan sebelah luar desa, tegak sesosok bayangan kurus kecil yang tengah melambaikan tangan kepadanya. Gin Liong tercengang, ia tak kenal siapa orang itu dan tak tahu apa maksudnya mengapa orang itu memangginya datang, Menilik potongan tubuhnya, orang itu menyerupai seorang wanita. Tetapi kalau mendengar nada suaranya yang parau seperti seorang yang sudah lanjut usianya. Tiba2 timbul pikiran lain. Di tengah malam sepi orang itu berani masuk ke desa dan memperdengarkan suara tawa yang nyaring, Mengapa ? Apakah bukan karena hendak mencari Suma Tiong suami isteri dan mengira ia itu Suma Tiong ? Ketika mengobarkan pandang Gin Liong terkesiap, Lentera yang menerangi rumah2 di pedesaan itu padam semua, sepintas pandang memberi kesan bahwa penduduk telah mengetahui akan kedatangan musuh dan sedang bersiap2. Tetapi mengapa mereka tak tahu sama sekali akan

masuknya orang itu ke dalam desa ? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa mereka tak bersiap dan berjaga2. Setelah merenung beberapa jenak, baru Gin liong menyadari Teringat ia bahwa panggilan orang tua kepadanya dengan menyebut "budak kecil" dan melambaikan tangan kepadanya jelas bukan ditujukan kepada Suma Tiong suami isteri, melainkan kepada dirinya. Tiba pada pemikiran, itu, seketika marahlah ia. Ketika ia hendak berseru menegur, tiba2 telinganya terbaur pula oleh suara tertawa dingin yang bernada menantang. Dilihatnya bayangan tubuh kecil itu, berloncatan dengan santai antara dahan pohon yang satu kelain dahan pohon. sikapnya jumawa sekali. Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi, Seketika ia lupa pada apa yang diputuskan tadi didalam kamar, Dengan mendengus dingin, dia segera ayun tubuhnya ke tempat orang kecil itu. Melihat Gin Liong lari menghampiri orang bertubuh kecil itu berputar diri terus lari ke arah utara. Mengejar sampai diluar desa, baru Gin Liong tersadar, pikirnya: "Tadi dia tertawa begitu keras dan panjang, Tetapi mengapa Suma Tiong suami isteri, Yok Lan dan Li Kun tak tampak bergerak muncul ?" Menyadari kalau dirinya telah terpancing ia segera berhenti, iapun segera menyadari bahwa kata2 orang tua yang ditujukan kepadanya tadi termasuk ilmu Menyusup suara tingkat tinggi maka timbullah keheranannya Dalam dunia persilatan hanya beberapa saja jumlah tokoh persilatan yang menguasai ilmu itu. Lalu siapakah dia ?

Begitu menampakkan diri, orang bertubuh kecil itu segera mendengus dingin, suaranya penuh bernada mencemoh. Dan langkahnyapun mulai kendor. Gin Liong mulai menyadari bahwa orang itu memang sengaja hendak mempermainkan dirinya, serentak naiklah darah mudanya, serentak ia mempercepat larinya untuk mengejar. Kembali terdengar orang bertubuh kecil itu tertawa gelak2. iapun kencangkan larinya lagi menuju ke arah gunung sebelah utara. Gunung Hok-san makin tampak jelas, Betapa tingginya, betapa jauhnya, Berulang kali orang bertubuh kecil berpaling ke belakang seperti kuatir Gin Liong tak melanjutkan pengejarannya. Karena tak mampu mengejar, Gin Liong makin marah. ia tambahkan tenaganya lagi untuk lari sekencang mungkin, Tetapi beberapa waktu kemudian, tetap orang bertubuh kecil itu masih tetap jauh dimuka sehingga sukar untuk melihat wajahnya. "Hm, sekalipun engkau lari ke neraka, akan tetap kukejarmu juga !" dengus Gin Liong dalam hati, Habis itu ia segera merobah ilmu larinya dengan suatu ilmu lari cepat atau ginkang yang luar biasa ialah ilmu lari Angin-puyuh. Seketika tubuhnya berobah seperti segulung asap yang terbang menderu-deru seperti angin. Kali ini si orang bertubuh kecil agak terkejut Cepat ia kebutkan kedua lengan bajunya, serempak tubuhnya terangkat beberapa jari dari tanah dan sekali berayun kemuka, larinya seperti kilat menyambar. Saat itu orang bertubuh kecil dan Gin Liong sama2 menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang

terdapat di dunia persilatan, Dibawah sinar rembulan remang, yang tampak hanya dua gulung asap berkejaran, bukan lagi sosok2 tubuh manusia. Gin Liong terkejut juga ketika melihat kecepatan lari orang tak dikenal itu jelas orang itupun menggunakan imbangan dari ilmu lari yang digunakannya, Kalau ia menggunakan ilmu lari Angin-puyuh adalah orang itu menggunakan ilmu lari Angin-terbang-diatas-tanah, Jelas bahwa ilmu lari cepat orang tak dikenal itu jauh melebihi dari Hok To Beng, tokoh kesatu dari Swat-thian Sam-yu. Tak berapa lama tibalah mereka di kaki gunung Hok-san sebelah selatan, jarak antara kedua orang itu makin jauh. Gin Liong makin menggeram dan makin tak tahu apa maksud orang itu hendak memancingnya ke gunung Hoksan. ia tak tahu pula siapakah orang itu, kawan atau lawan. Setelah melintasi puncak bukit, orang itu terus lari masuk kedalam hutan di pedalaman, Melihat itu Gin Liong gugup, Kuatir akan kehilangan jejak orang itu. serentak ia bersuit nyaring dan terus kerahkan seluruh tenaga-dalam untuk lari lebih cepat. Suitan itu bergema jauh sampai seperti menyeluruh ke segenap daerah gunung dan hutan. Dan saat itu Gin Liongpun sudah melintasi puncak bukit, terus lari kedalam hutan, Tetapi dilihatnya, saat itu siorang bertubuh kecil sudah tiba dipuncak yang melintang disebelah muka. Gin Liong makin marah, Sejak turun dari gunung Hwe-sianhong, baru pertama kali itu ia mendapat saingan berat dalam ilmu lari cepat. Orang bertubuh kecil itu tiba2 berpaling ke-belakang memandang Gin Liong dengan pandang kata berkilat-kilat tajam sekali.

Gin Liong terkesiap. Kini ia menyadari ilmu tenagadalam orang itu amat tinggi sekali, jauh melebihi kelompok tujuh tokoh jagad atau Ih-lwe-jit-ki yang termasyhur itu. Kini sadarlah Gin Liong bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang sakti, ia tak berani memandang rendah dan harus mempertinggi kewaspadaan. Tak berapa lama merekapun tiba di luar mulut lembah. Orang itu terus saja masuk kedalam lembah, Kemudian tiba2 pula orang itu tertawa gelak2. Nadanya luar biasa keras, mengandung keangkuhan, kegembiraan dan kecongkakan, Dan serentak pada saat berhenti tertawa orang bertubuh kecil itupun menghilang dari pandang mata. Gin Liong terkejut sekali, serentak ia hentikan lari dan memandang kedalam lembah, Dalam kesunyian malam yang ditingkah rembulan suram, tampak lembah itu makin seram, penuh dengan barisan semak belukar, pohon2 dan batu karang yang curam. Angin malam yang berhembus keluar dari lembah, bersuit-suit tajam macam barisan setan meringkik-ringkik. Air-terjun terdengar makin bergemuruh, macam gunung rubuh. Melihat itu timbullah rasa gentar dalam hati Gin Liong, ia memperhatikan dengan jelas bahwa orang bertubuh kecil tadi telah lenyap ke!empat tadi siang ia bertempur melawan Ce-tang Sam-sat, Timbul pertanyaan dalam hatinya, Adakah orang itu seorang gerombolan dari ketiga Samsat itu? Ah, karena sudah terlanjur mengejar sampai disitu, ia harus tetap melanjutkan pengejarannya. Dengan siapkan tinju yang sudah disaluri tenaga-dalam, ia segera melangkah ke dalam lembah Segenap perhatian tertumpah pada

pandang matanya yang dicurahkan kesetiap tempat yang gelap. Asal melihat bayangan siorang bertubuh kecil, segera ia akan menghajarnya, Tetapi sampai sebegitu jauh, belum juga ia melihat sesosok bayanganpun juga. Membiluk ke tikungan puncak, air-terjun di dasar lembah tampak seperti leburan perak yang mencurah ke bawah tanah. Tetapi di permukaan telaga penampung airterjun itu, ia tak melihat lagi sinar kaca yang memancar keudara. Beberapa langkah lagi, butir2 air dari udara makin gencar dan deras, Terpaksa dia hentikan langkah. Saat itu ia baru melihat jelas bahwa kaca wasiat yang terletak di atas batu runcing di tengah telaga sudah tak ada, ia duga siang tadi selekas ia bersama rombongannya tinggalkan tempat itu, orang tua aneh itupun tentu terus mengambil kaca wasiatnya. Buktinya, ketiga durjana Ce-tang Sam-sat menuduh dialah tentu yang mengambil kaca wasiat itu, jika benar demikian, tentulah orang tua aneh itu masih berada di sekitar telaga, Tetapi mengapa ketika si sinting Hong-tiangsoh berteriak keras merintangnya. orang tua itu tak mau menampakkan diri ? Apakah dia takut kepada Hong-tiansoh ? Ah, tetapi peristiwa yang terjadi di tanah lapang dalam hutan tempo hari, dimana tokoh2 seperti Pengemis-kakitelanjang, dan hweshio terbunuh mati, serta Hun Ho siantiang yang didesak untuk segera datang, menandakan bahwa orang itu jauh lebih sakti dari si sinting Hong-tiansoh. Tetapi mengapa ia tak keluar menyambut tantangan Hong-tian-soh ? Oh, mungkinkah dia kenal dengan Hun Ho

siantiang dan bersahabat dengan salah seorang dari Swatthian Sam-yu sehingga dia sungkan untuk unjuk diri ? Kalau begitu apakah dia benar2 tokoh Thian-lam Ji gi atau sepasang pendekar budiman dari Thian-lam ? Tetapi Hun Ho sian-tiang mengatakan bahwa Thian-lam Ji-gi saat ini sedang menutup diri untuk memperdalam ilmunya. Sejenak keliarkan pandang, kejut Gin Liong bukan kepalang, Sosok2 tubuh jago silat yang terkapar di tepi telaga tampak seperti bergerak2 kerut wajahnya. Gih Liong pusatkan perhatian dan mengendapkan pikirannya yang merana, Akhirnya ia menyadari bahwa apa yang dilihatnya itu hanya pantulan sinar rembulan yang mencurah kepermukaan telaga, berbalik menimpah muka mayat2 itu. Bukan karena wajah mereka bergerak-gerak masih sebagai orang hidup, Dalam kesunyian suasana malam yang kelam, samar2 Gin Liong seperti menangkap suara pakaian ditebar hembusan angin. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling. Tampak lembah di sebelah belakang masih diselubungi suasana seram seperti tadi. Keadaannya sunyi senyap tak ada orang yang muncul disitu. Tetapi jelas ia mendengar suara pakaian orang ditebar hembusan angin. siapakah orang itu ? Cepat ia tengadahkan kepala memandang ke atas dan segera ia mendengus dingin. Diatas puncak sebelah kiri, tampak tiga sosok bayangan tubuh orang sedang meluncur turun. Salah satu diantaranya ialah orang bertubuh kecil tadi, Mereka jelas meluncur ke dalam lembah. Gin Liong tekan kemarahannya, Selekas ketika orang itu tiba di tempatnya iapun segera membentak keras:

"Sudah lama aku menunggu disini, Apakah kalian kira aku takut karena harus menghadapi keroyokan kalian ?" Habis berkata ia terus maju menyerbu mereka. Mendengar seruan Gin Liong itu, rupanya ketiga pendatang itu terkejut Mereka serempak berhenti. Dalam lari menghampiri itu, Gin Liong memandang tajam kearah ketiga orang itu. Yang berdiri ditengah, seorang tua berumur lebih dari 70 tahun. Alisnya yang sudah memutih memanjang masuk kedalam rambut samping, Rambutnya pun sudah putih mengkilap seperti perak, mukanya merah segar, sepasang matanya tajam berwibawa. Tulang kedua keningnya menonjol, menandakan betapa tinggi ilmu tenaga-dalam yang dimilikinya. Mengenakan pakaian tiang-shan (panjang) dari kain belacu kasar. Ketiaknya mengempit sebatang tongkat besi yang berkilat-kilat hitam legam. Ternyata kakinya tinggal yang sebelah kanan, Dia berdiri dengan satu kaki itu. Orang tua itu bukan lain adalah tokoh yang paling termasyhur diwilayah Lulam yaitu Ik Bu It bergelar si KakiSatu-bertongkat besi. Disisi kanan kakek berkaki satu itu, ternyata seorang nenek yang hanya berlengan satu dan mencekal sebatang tongkat Peng thiat- ciu thau-ciang (tongkat bertangkai kepala burung alap2). wajahnya dingin dan angkuh. Nenek itu bukan lain adalah Tuk-pi Ban thaypoh atau si Lengan-satu-nenek Ban yang pernah menggegerkan dunia persilatan beberapa puluh tahun yang lalu karena dengan tongkat berkepala burung alap2 itu, ia dapat menyapu rubuh banyak tokoh-2 silat yang sakti.

Nenek Ban itu adalah isteri kakek Kaki-satu bertongkal besi Ik Bu It. Kalau isterinya berlengan satu, suaminya berkaki satu. Keduanya berjalan dengan tongkat. Di belakang kedua suami isteri tua itu baru sosok orang yang bertubuh kecil tadi, ialah yang memancing Gin Liong datang ke lembah itu. Ketika Gin Liong melekatkan pandang mata ia agak terkesiap. Ternyata orang bertubuh kecil yang hebat ilmu larinya itu hanya seorang dara yang berumur enam belas - tujuh belas tahun, wajahnya berpotongan bundar telur, sepasang alisnya melengkung seperti bulan tanggal satu. Mata bundar terang laksana bintang kejora. Hidungnya yang mancung menaungi sepasang bibirnya yang merekah merah delima, Mengenakan baju warna hijau muda dengan celana kun warna putih, Pada kedua bahunya tampak menyanggul dua batang pedang yang bertangkai warna hijau. Walaupun hanya berbedak tipis sekali, tetapi kulitnya tampak memancar warna putih halus, Dari pancaran keningnya menunjukkan bahwa dia masih seorang anak dara yang kekanak2an dan manja, menimbulkan kesan bahwa dia itu seorang anak perempuan yang nakal. Dara baju hijau itu adalah puteri satu-satunya dari kedua suami isteri Ik Bu It. Namanya Ik Siu Ngo. Saat itu kedua orang tua dan anak gadisnya tengah memandang Gin Liong dengan perasaan terkejut juga Gin Liong bersangsi setelah melihat mereka bertiga. Ia segera hentikan terjangannya dan tegak sejauh tiga tombak dari tempat mereka

Melihat Gin Liong seorang pemuda yang cakap dan gagah, makin terkejutlah hati Ik Bu It si kakek berkaki satu, Hampir ia tak percaya bahwa anak yang masih semuda itu ternyata memiliki ilmu tenaga-dalam yang sedemikian hebatnya, juga tak ketinggalan rasa kejut yang menghinggapi nenek Ban, sebaliknya ketika melihat wajah Gin Liong, merahlah selebar muka si dara Siu Ngo. Gin Liong berdiri dengan sikap seperti orang menyesal. ia menyadari kesalahannya, ia mendapat kesimpulan bahwa dara itu memang bukan orang yang memikatnya datang ke lembah itu. Melihat Gin Liong memandang lekat2 pada gadisnya, marahlah si nenek Ban, ia berpaling ke belakang dan membentak puterinya: "Budak perempuan, hayo, kasihlah hajaran pada budak hina itu" Siu Ngo terkesiap dan bersangsi. Sebenarnya Gin Liong mempertimbangkan hendak minta maaf kepada kedua suami isteri tua itu. Tetapi ketika melihat sikap dan tingkah si nenek yang begitu angkuh, diam.2 ia menggeram dalam hati. Rupanya Kakek Kaki-satu-bertongkat-besi Ik Bu It tahu bahwa Gin Liong itu seorang pemuda yang berisi. Maka ia segera mencegah puterinya yang masih ragu2 itu: "Budak perempuan, tunggu..." Belum selesai kakek Ik bicara, nenek Ban menghunjamkan tongkatnya ke tanah dan menggembor keras: "Budak itu menurut perintahmu atau perintahku ?" Ia memandang dengan marah kepada suaminya, Kakek Ik merah mukanya tetapi tak mau menyahut sepatahpun juga.

Mendengar pembicaraan itu, Gin Liong segera tahu bahwa kedua kakek nenek itu adalah sepasang suami isteri serta puterinya. "Lekas, kasih sedikit hajaran pula budak liar itu !" nenek Ban memberi perintah lagi, seraya menudingkan tongkat ke arah Gin Liong. Gin Liong marah karena diperlakukan begitu "Apakah begitu mudah untuk memukul aku?" serunya seraya menatap Ban thaypoh dan si dara cantik Ik Siu Ngo. Ban thay-poh menggeram sedang si dara Siu Ngo sudah terus loncat melengking dan ayunkan tangan kanan dan kirinya, Yang satu menutuk kepala, yang lain menutuk perut. cepatnya bukan kepalang. Gin Liong terkejut melihat gerakan si dara cantik yang begitu tangkas, ia tak berani memandang rendah dan cepat menggerakkan tubuh berputar seperti angin puyuh, Tahu2 ia sudah berada di belakang si dara tetapi tak mau turun tangan. Walaupun sidara Siu Ngo telah mewarisi kepandaian kedua orang tuanya tetapi ia belum sempurna latihannya dan kurang pengalaman. Saat itu ia merasa matanya berkunang dan pemuda yang hendak diserangnya itu tiba2 lenyap dari hadapannya, Karena serbuannya luput iapun terlongong. "Burung cendrawasih berpaling kepala !" tiba2 nenek Ban gentakkan tongkat ke tanah seraya berseru keras. Siau Ngo tersadar. Dengan melengking cepat ia mengeliatkan pinggangnya yang ramping berputar tubuh, Ternyata Gin Liong memang berdiri dibelakangnya. Kembali dara itu terkesiap, Rupanya baru pertama kali itu

ia berhadapan dengan seorang manusia yang memiliki gerak secepat setan. "Budak tolol !" kembali nenek Ban berteriak marah, "pertama kali keluar sudah membikin malu. Setelah Cendrawasih-berputar-kepala, harus dilanjutkan dengan jurus Awan-musim semi muncul, Tangan kanan menyapu bahu orang jari tangan kiri menutuk jalan darah di dadanya !" Dengan deliki mata nenek itu kembali memekik marah: "Mengapa masih berdiri seperti patung, Hayo kembali kemari, lihat mamah menghajarnya!" Sudah tentu Gin Liong makin marah. Masakan dirinya hendak dijadikan bulan2 percobaan latihan. Tetapi ia tak sempat bertindak apa2 karena saat itu si dara sudah loncat menerjang. Gin Liong mendengus, Sekali bergerak ia sudah menyelimpat ke belakang dara itu lagi, Tetapi kali ini tidaklah ia sesantai tadi, Belum kaki berdiri tegak, terdengar dara itu melengking dan menaburkan kedua tangannya. Tangan kanan menutuk kepala, tangan kiri menutuk dada. Gin Liong terkejut juga. ia merasa tindakan Siu Ngo itu ganas tetapi tepat sekali, ia ingin hendak mencekal tangan si dara tetapi entah bagaimana tubuhnya telah mencelat kebelakang sampai beberapa langkah. Melihat itu nenek Ban tertawa gelak2. Karena mendapat hasil, Siu Ngopun menyerang lagi, Tetapi cepat nenek Ban lintangkan tongkat mencegahnya. "Budak, menyingkirlah, Lihat mamah akan memberinya hajaran yang lebih keras !"

Habis berkata ia terus memutar tongkat dalam jurus Heng-soh-cian-kun. Tongkat seketika berhamburan menjadi segulung sinar yang menderu-deru menyambar Gin Liong. Melihat mamahnya turun tangan, Siu Ngo pun loncat mundur dan berdiri mengawasi. sedangkan ayahnya, kakek Kaki-satu-bertongkat-besi pun berdiri dengan penuh perhatian, ia tahu bahwa sekalipun istrinya turun gelanggang, tetap takkan mampu menghajar anak muda itu. Melihat tingkah laku si nenek, timbullah sifat dari kanak2 Gin Liong. ia marah, iapun tahu bahwa jurus Hengsoh-cian-kun atau Membabat-seribu-laskar yang dilancarkan si nenek itu merupakan serangan yang sukar dihadapi jurus itu dapat menjadi serangan yang sungguh tetapipun dapat juga hanya sebagai serangan kosong. Maka dengan menggembor keras, Gin Liong goyangkan tubuh namun masih tetap berdiri ditempatnya. Rupanya si nenek sok tahu. Melihat tubuh Gin Liong bergerak cepat ia menyentaknya: "Bagus budak, lihat bagaimana kupatahkan pahamu !" serunya, Tongkat tiba2 dirobah dalam jurus Liat-biat hoasan atau menghantam-hancur-Hoasan, menghantam ke belakang. Gin Liong tersenyum, Cepat ia loncat kesamping dan bersembunyi dibelakang sebuah batu besar. Siu Ngo tercengang sedang ayahnya hanya berseri tawa. Ketika belakangnya tiada orang, kejut nenek Ban bukan kepalang. Wajahnya serentak berobah, Dengan memekik keras, ia gunakan jurus Heng-soh-ngo gak atau Menyapu lima-gunung, ia hantamkan tongkat ke belakang lagi. Ketika berputar tubuh dan tak melihat Gin Liong, mulailah ia bingung. Keringat dingin bercucuran, serentak

ia menaburkan tongkatnya dilain jurus Su- hay-tehng-hun atau Empat-lautan timbul-awan. Tongkat berkepala ukiran burung alap2 itu segera menyambar2 laksana badai menderu dan mencurah bagaikan hujan deras, Menghantam ke kanan, menyapu ke kiri, ia merasa anak muda itu seolah mengelilinginya. Debu dan pasir bertebaran memenuhi empat penjuru. Melihat lsterinya ngamuk tak keruan itu, kakek Ik Bu It segera berseru kepada puterinya. "Hai, budak perempuan, lekas kasih tahu mamah mu, apakah budak itu masih berada dibelakangnya?" "Mah, dia tak berada dibelakangmu," akhirnya Siu Ngo berseru dengan nada kekanak-kanakan. Mendengar itu si nenek segera hentikan tongkatnya, menuding Siu Ngo dan berseru tegang: "Dimana budak itu?" Nenek ini keliarkan pandang matanya ke empat penjuru, rupanya ia hendak mencari Gin Liong, Demi melihat wajah suaminya tersenyum gembira, ia segera deliki mata dan membentaknya. "Tua bangka, dimana budak itu ?" Dengan berseri tawa, kakek Ik Bu It segera menunjuk ke sebuah batu besar kira-2 setombak jauhnya dan berseru pelahan: "Karena ketakutan budak itu bersembunyi dibalik batu itu !" Tiba2 terdengar suara tertawa gelak2 dan muncullah Gin Liong dari balik batu itu dan melangkah menghampiri. Melihat itu merahlah wajah si nenek, Tetapi pada lain saat iapun ikut tertawa.

"Budak kecil, engkau sungguh nakal, Kali ini kuberimu ampun." serunya sesaat kemudian. Melihat mamahnya sudah tak marah lagi, si dara Siu Ngo gembira sekali, segera ia lari menghampiri. Kakek Ik Bu It tertawa gembira pula, serunya: "Ha, ha, peribahasa mengatakan kalau tidak berkelahi tentu tidak kenal. Rupanya siauhiap ini datang dari daerah Kwan-gwa (luar perbatasan). Maukah engkau memberitahukan namamu dan mengapa datang kemari ?" Jika tadi Gin Liong keras kepala dan liar, saat itu tampak ramah dan menghormat. Segera ia memberi hormat dan memperkenalkan dirinya, ia mengatakan kalau datang dari gunung Tiang-pek-san. Ketika tiba di gunung Hok-san, kebetulan ia berjumpa dengan kedua suami isteri tua itu. "Ah, kiranya kita ini orang sendiri, Siau hiap ini sahabat dari Suma tayhiap." "Mohon tanya nama locianpwe berdua yang mulia dan maafkanlah tingkahku yang liar tadi." Gin Liong meminta maaf. Dengan terus terang kakek itu segera memperkenalkan dirinya, kemudian isteri dan puterinya. Gin Liong serta merta memberi hormat kepada nenek Ban. Nenek itu tertawa gembira. "Siau siacu, jangan enak2 memukul baru minta maaf, ya. Tadi karena tingkahmu, aku sampai ngos-ngosan napasku." Mereka tertawa mendengar ucapan nenek itu. Setelah bercakap-cakap beberapa saat barulah Gin Liong tahu bahwa ketiga ayah beranak itu haru saja tiba di tempat itu, Gin Liong segera menuturkan tentang orang bertubuh kecil yang telah memikatnya datang sampai disitu.

Mendengar penuturan itu, kakek Ik Bu It menyadari bahwa orang tua pemilik kaca wasiat telah berlalu, maka iapun memutuskan untuk kembali pulang saja. "Apabila siau siauhiap pulang, tolong sampaikan hormatku kepada Suma tayhiap suami isteri. Dan harap siauhiap hati2 dalam perjalanan" kata kakek itu. Demikian Gin Liong segera berpisah dengan kedua suami isteri dan puterinya itu, ia lari menuju ke luar lembah. Diam2 ia mengkal karena lelah dipermainkan oleh orang bertubuh kecil itu. Selepas dari tikungan puncak gunung, kembali ia melihat suatu pemandangan yang membelalakkan matanya, Sepuluh tombak di sebelah muka pada gunduk2 batu yang berserakan tampak tegak siorang bertubuh kecil tadi. Tetapi karena sudah mendapat pengalaman dari suami isteri Ik Bu It, kali ini Gin Liong tak berani sembarangan bertindak. Sejenak ia memperhatikan dan memang orang itu ialah siorang bertubuh kecil yang telah memikatnya ke dalam lembah tadi. Seketika meluaplah kemarahannya, dengan memekik keras ia segera lari menghampiri. Tetapi ketika hampir dekat, seketika tergetarlah hatinya dan iapun hentikan langkahnya. Orang bertubuh kecil yang saat itu berdiri pada jarak setombak di sebelah muka, ternyata adalah orang tua kurus yang dilihatnya berada dalam rumah pondok di lembah salju gunung Tiang pek san tempo hari. Saat itu orang tua aneh itu mengenakan jubah hitam, rambutnya kusut masai. Pada wajahnya yang dingin dan angkuh memancar sinar welas asih.

Setelah menenangkan semangat, Gin Liong segera maju tiga langkah mengangkat tangan dan membungkukkan tubuh memberi hormat. "Murid Siau Gin Liong dengan hormat menghadap locianpwe." Habis berkata ia terus hendak berlutut menjalankan penghormatan. Tetapi tiba-2 segulung hawa kuat menguap dari bawah lutut merintangi gerakannya hendak berlutut. Menyusul terdengar suara orang tua itu berseru dengan nada ramah: "Gin Liong tak usah banyak peradatan, Kita bicara sambil berdiri saja." Gin Liong memberi hormat pula lalu bangkit. "Mohon locianpwe memberi petunjuk, mengapa locianpwe memerintahkan aku datang ke lembah ini." Wajah orang tua yang berseri ramah tiba2 mengerut dingin dan angkuh lagi, ujarnya dengan nada serius: "Musibah dalam dunia persilatan segera akan tiba," katanya, "tampaknya tugas untuk mengatasi bencana itu terletak di bahumu. Mulai besok pagi bahkan mungkin nanti, tentu engkau akan di hadang oleh kawanan manusia yang berhati temaha, jika engkau dapat menghadapi dengan selayaknya, bahaya itu tentu akan surut. Tetapi kalau engkau tidak hati2, tentu akan menimbulkan bencana darah yang tak terperikan akibatnya." Habis berkata orang tua itu sejenak memandang ke arah lembah, Mulutnya mengulum senyum. Kemudian ia mengeluarkan kaca wasiat, seketika memancarlah sinar gilang gemilang menerangi seluruh lembah.

Teganglah hati Gin Liong melihat kaca wasiat itu. Dipandangnya orang tua kurus itu dengan penuh keheranan. Sambil memegang kaca, berkatalah orang tua kurus dengan nada bersungguh: "lnilah benda dari paderi sakti yang disebut Goa-po-tekia. Bukan saja dapat digunakan untuk menentukan letak benda berharga dalam tanah, pun kaca wasiat ini mengandung ilmu yang tak ternilai hebatnya." Berhenti sejenak, orang tua kurus itu memandang Gin Liong dan berkata pula: "Sekarang hendak kuberikan kaca ini kepadamu, harap engkau baik2 menjaganya jangan sampai jatuh orang jahat." Habis berkata, sepasang matanya tampak berkilat2 tajam, Melihat wajah Gin Liong mengerut serius, wajah orang tua kurus yang dingin segera merekah seri tertawa. "Adakah engkau dapat menyelami ilmu yang terkandung dalam kaca ini, tergantung sampai dimana jodoh dan rejekimu dengan benda itu." Orang tua kurus itu menyorongkan kedua tangannya ke muka dada dan dengan suara bengis berseru: "Gin Liong, mengapa tak lekas berlutut menerima kaca wasiat dan Seng-ceng !" Tahu bahwa menolakpun percuma saja, Gin Liong terpaksa berlutut memberi hormat. "Murid Siau Gin Liong dengan sungguh hati menerima pemberian kaca dari Seng-ceng (paderi sakti), Sejak saat ini murid akan menjalankan titah Seng-ceng untuk menyebar kebaikan, berkelana dalam dunia persilatan, menjunjung kebenaran membasmi kejahatan melakukan dharma

kebajikan. Kecuali terhadap orang yang keliwat jahat murid takkan membunuh orang..." Tiba2 orang tua kurus itu tertawa menukas: "Soal membunuh orang, terserah pada pertimbanganmu." "Murid akan melakukan dengan sepenuh hati." Orang tua kurus itu menghela napas: "Hati manusia tak pernah layu, nafsu keinginannya tak pernah puas, Sekali tersesat, sampai mati tak mau sadar, Jika engkau menghendaki manusia budak nafsu itu supaya sadar, mungkin akan menghabiskan waktumu saja." Habis berkata ia memandang sejenak kearah deretan pohon siong yang tumbuh lima tombak jauhnya, kemudian menyerahkan kaca wasiat kepada Gin Liong. Dengan kedua tangan Gin Liongpun menyambuti dan menyimpannya dalam baju. Tiba2 terdengar suara orang tertawa seram. Asalnya dari arah deretan pohon siong itu. Gin Liong tergetar, cepat ia berdiri dan berputar tubuh. Dari balik deretan pohon siong sejauh lima tombak, muncul dua orang. Seorang tua dan seorang imam tua, Kedua berumur delapan puluhan tahun. Orang tua itu berwajah persegi, mulut besar alis gompyok, sepasang bola matanya seperti kelinting, jenggot putih menjulai sampai ke perut. Mengenakan jubah panjang yang tepinya disalut sutera kuning emas. Siimam tua bermuka tirus, mulut lancip, mata sipit dan tubuh tinggi, memegang sebatang hud tim jubahnya dari sutera biru, memakai kain pinggiran sutera kuning emas, punggungnya menyanggul sebatang pedang. Siimam tua dan siorang tua mulut lebar melangkah maju sambil tertawa seram, Gin Liong kerutkan alis.

Orang tua kurus yang berada di belakang Gin Liong tertawa gelak2, serunya: "Yang di sebelah kiri itu kepala dari pulau Cui-leng-to. Yang sebelah kanan Long Ya cinjin. Keduanya termasyhur sebagai durjana jahat. Coba saja bagaimana cara engkau hendak menasehati mereka supaya kembali ke jalan yang benar." Suara Orang tua kurus itu makin lama makin jauh. Dan ketika Gin Liong berpaling ternyata orang tua kurus itu sudah berada pada jarak dua puluh tombak jauhnya dan pada lain saat terus menyusup ke dalam hutan bambu. Sudah tentu Gin Liong bingung. "Locianpwe, apakah locianpwe tak mau beritahu nama locianpwe kepada murid ?" Telinga Gin Liong segera terngiang suara orang tua itu: "Tak usah memikirkan hal itu kelak engkau tentu tahu sendiri." Gin Liong terkesiap, Sambil memandang bayang orang tua kurus yang lenyap ke dalam hutan bambu ia mendesah: "Ah, orang tua itu benar2 aneh sekali." Tetapi ia segera dikejutkan oleh suara tertawa mengekeh dan kedua orang yang sudah tiba di belakangnya, segera ia berbalik tubuh pula. Kedua pendatang itu sudah berada setombak di hadapannya. Kepala Cui-leng-to mengekeh: "Heh, heh, budak, setan tua itu takut mati dan melarikan diri, Sampai pecah sekalipun kerongkonganmu, tak mungkin dia akan mendengar teriakanmu." Long Ya cinjinpun ikut tertawa seram.

"Budak, lekas serahkan kaca wasiat itu kepadaku, mungkin aku dapat berbuat kebaikan untuk tak membunuhmu." "Heh, heh, budak" kembali kepala Cui-leng-to mengekeh lagi, "serahkan kepadaku, jangan kepada imam hidung kerbau ini." Ia terus ulurkan tangan kanannya yang kurus kering mirip cakar baja ke muka. "Berikan kepadaku" Long Ya cinjin juga ulurkan tangannya meminta. Melihat tingkah laku kedua orang itu, Gin Liong merasa muak. Dan mendengar kata2 mereka yang begitu temaha, marahlah Gin Liong. "Atas dasar apa ?" bentaknya, Dipandangnya kedua orang itu dengan mata berkilat-kilat. Kepala Cui-leng-to tertawa gelak2. Tetapi Long Ya cinjin marah dan terus menerkam dada Gin Liong, Pemuda itu tertawa dingin, serentak ia hendak menyambar pergelangan tangan cinjin itu tetapi tiba2 kepala Cui-leng-to atau Cuileng-to-cu menyentaknya. "Anak jadah, engkau berani . ." Cepat laksana kilat dia mendorong lengan Long Ya cinjin ke samping. Gin Liong terkejut dan menyurut mundur selangkah, tepat pada saat itu, kedua orang itupun menggembor keras, Long Ya cinjin mengangkat lengannya untuk menghindari tangan Cui-leng-to-cu, tangan kiri maju untuk mencengkeram leher baju Gin Liong. Cui-leng-to-cu juga menurunkan lengan kanan maju setengah langkah dan ulurkan tangan kiri untuk mencengkeram dada Gin Liong,

Kedua orang itu bergerak luar biasa cepatnya dan disertai dengan tenaga penuh. Gin Liong terkejut dan segera gunakan gerak tata langkah Liong-li-biau untuk menghindar dan loncat sampai tiga tombak jauhnya. Cui-leng tocu tertawa seram. Entah dengan gerak bagaimana, ia sudah membayangi Gin Liong, sedangkan tangan kirinya tetap mengancam lambung Gin Liong. Long Ya cinjin lebih lihay lagi. Dengan tertawa seram ia menyerang dari samping, kebut hud tim ditaburkan kedada Gin Liong. Melihat itu Cui leng-to-cu terkejut juga. Kalau Long Ya cinjin berhasil menampar dada Gin Liong, kaca wasiat tentu akan menumpah keluar. Dan apabila disusuli dengan gerakan hudtim sekali lagi, kaca wasiat itu tentu akan jatuh ke tangan cinjin itu, maka dengan menggembor keras, ia segera menghantam bahu kiri Long Ya cinjin. Melihat kaca yang jelas sudah akan jatuh ke tangannya hendak digagalkan kepala pulau Cui-leng to, marahlah Long Ya cinjin. "Anjing tua, engkau cari mampus" bentaknya seraya gerakkan tangan kiri untuk menangkis dan tangan kanan untuk membabat kedua lutut kaki orang. Tetapi Cui-leng-to-cu tertawa gelak2, sekali kebutkan lengan jubah, tubuhnya melambung sampai tiga tombak ke udara. "Tua bangka buduk, engkau hendak merebut kaca wasiat itu ? Hm, mari kita adu jiwa dulu " serunya sambil julurkan tangan kanan untuk mencengkeram belakang kepala Long Ya cinjin. Long Ya cinjin marah, cepat ia balikkan tubuh dan menampar dengan kebut hudtim, Cui-leng to-cu tertawa

gelak2. ia bergeliatan kebutkan kedua lengan baju di udara dan gunakan ujung kaki kanan untuk mendupak kepala orang. Demikian kedua orang itu saling bertempur kematimatian sendiri, Long Ya cinjin menghantam dengan tangan kiri dan memutar kebut hudtimnya gencar sekali, sedangkan kepala dari pulau Cui-leng-to mainkan lengan bajunya yang dikebutkan dan ditamparkan laksana gelombang laut yang dahsyat sekali. Mereka muncul bersama, menghampiri bersama dan meminta kaca wasiat dari Gin Liongpun bersama. Akhirnya mereka bersama pula berbaku hantam, seru dan dahsyat. Sedangkan Gin Liong malah berada tiga tombak dari tempat pertempuran itu, melihat kedua orang itu bertempur mengadu jiwa, ia kesima. Tetapi pada lain saat ketika teringat bahwa kedua orang itu hendak meminta kaca wasiat, marahlah Gin Liong. Tepat pada saat itu, kedua orang itupun tampak berputar-putar dan tiba2 pula menyerbu Gin Liong. Cui-leng-to-cu mendahului untuk mengangkat tangan kanan dan menghantam Gin Liong. Kemudian Long Ya cinjinpun tiba dengan tangan kiri mencengkeram dada anak muda itu. Gin Liong menggembor keras, Dengan jurus Liat-hunsong-hou atau dengan-kekuatan-menyiak-sepasangharimau. "Bum...." sepasang tangan yang menghantam kekanan dan kiri itu tepat mengenai tangan kedua orang itu. Cuileng-to-cu menjerit kaget lalu menyurut kesamping selangkah terus loncat lagi setombak jauhnya, Long Ya cinjin mendesuh pelahan dan terhuyung-huyung sampai

delapan langkah ke belakang. Tetapi Gin Liong sendiri juga bergetar bahunya, kedua lengannya terasa linu kesakitan Cui- leng-to-cu berobah wajahnya dan terlongonglongong, Long Ya cinjingpun tercengang. Keduanya tak pernah menyangka bahwa pemuda itu ternyata memiliki tenaga-sakti yang mengejutkan orang. Tetapi Gin Liong juga kaget dalam hati, ia menyadari bahwa kedua durjana itu memang hebat sekali kepandaiannya, ia tak berani memandang rendah lagi. Serentak ia segera kerahkan tenaga-dalam dan ketika melihat kedua durjana itu masih termangu-mangu, timbullah pikirannya untuk menyadarkan mereka supaya kembali ke jalan yang benar. "Kalian tentulah tokoh2 sakti yang mengasingkan diri tinggal diseberang laut. Bukankah lebih baik menghapus keinginan2 yang jahat dan lanjutkan tindakan kalian untuk mencari ilmu penerangan hatin yang tinggi..." Kedua orang itu cepat tertawa keras menukas ucapan Gin Liong, Sudah tentu Gin Liong marah. "Soal itu mengapa perlu engkau seorang budak kecil yang harus memberi nasehat ? Sudah lima puluh tahun lamanya entah sudah berapa ribu kali kudengar ucapan2 kosong semacam itu," seru kepala pulau Cui-leng-to. Sepasang gundu mata Long Ya cinjin berkeliaran seperti teringat sesuatu lalu tertawa parau. "Budak kecil, ketahuilah, kenal pada gelagat dan dapat mengetahui suasana, barulah dapat menjadi seorang gagah, Engkau budak, jika mau mengangkat aku sebagai guru dan menyerahkan kaca wasiat itu, kita guru dan murid dapat bersama2 mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat itu. Kelak tentu akan menguasai dunia persilatan..."

Belum Long Ya cinjin selesai berkata, Cui-leng-to-cu sudah tertawa gelak2, serunya: "Tua bangka, pikiranmu sungguh murni sekali, ucapanmupun enak didengar. Apakah engkau tak tahu bahwa aku memang bermaksud hendak mengambil budak itu sebagai murid pewarisku !" Mendengar kedua orang itu seenaknya sendiri mengoceh tak keruan hendak mengambil dirinya sebagai murid, marahlah Gin Liong. ia kecewa dan putus asa. Untuk menasehatkan kedua orang itu tak ubah seperti meniup seruling di hadapan seekor kerbau belaka. Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong dan serentak iapun maju menghampiri Tanpa menghiraukan Cui-leng-to-cu lagi, Long Ya cinjin terus berseru lagi kepada Gin Liong: "Berhenti engkau ! Engkau harus tenang dan jangan gugup, Kita berdua tentu dapat membasmi anjing tua dari Cui-leng-to itu" Sudah tentu marah Cui-leng-to-cu bukan kepalang sehingga rambutnya meregang tegak, dengan meraung keras ia segera menampar muka Long Ya cinjin. Rupanya Long Ya cinjin sudah bersiap. sesaat Cui-lengto-cu menggerakkan tangan, iapun cepat mendahului untuk menutuk perutnya. Oleh karena jelas kedua tokoh itu hendak saling membasmi maka setiap gerak yang dilancarkan tentu merupakan jurus maut yang mengerikan. Tiba2 terdengar suara ayam berkokok, Gin Liong menyadari bahwa hari segera akan terang tanah, ia harus lekas2 kembali ketempat Suma Tiong, kalau tidak Yok Lan dan kawannya tentu akan bingung mencari dirinya.

"Hari segera terang tanah, aku masih mempunyai lain urusan tak dapat menemani kalian lagi" serunya kepada kedua tokoh yang sedang bertempur itu, kemudian ia terus berputar tubuh dan lari ke luar lembah. "Hai, budak, jangan lari tinggalkan kaca itu" kedua tokoh itu berhenti bertempur dan berteriak seraya loncat berhamburan mengejar Gin Liong, Begitu tiba di tanah, mereka melambung ke udara lagi dan tiba lima tombak di belakang Gin Liong. Ketika berpaling, terkejutlah Gin Liong. ia segera kerahkan tenaga untuk mempercepat larinya. Tetapi kedua tokoh durjana itu tak mau melepaskan Gin Liong, Merekapun tancap gas untuk mengejar Sesaat Gin Liong berpaling, tampak Long Ya cinjin dengan memegang kabut hudtim dan pedang berputar melayang di udara lalu meluncur kearah Gin Liong. Sambil meluncur, cinjin itu membentak "Hai budak, tinggalkan batok kepalamu !" Gin Liong makin marah, ia hendak mempertunjukan kepada cinjin itu bahwa ia dapat lari lebih cepat, ia kerahkan tenaga-dalam lagi untuk merubah dirinya menjadi segulung asap yang menderu-deru meluncur keluar lembah. Long Ya cinjin terkejut dan meluncur turun, Cui-lengtocupun kesima, laju larinya menurun dan orangnyapun segera berhenti. Hanya segulung asap warna kuning yang meluncur ke mulut lembah dan pada lain saat pemuda itupun sudah lenyap dari pandang mata. Gin Liong menggunakan ilmu lari Angin-puyuh yang hebat, setelah mendaki puncak dan melintasi hutan, beberapa saat kemudian ia tiba disebuah tanah datar. Ketika berpaling, ia tak melihat kedua pengejarnya lagi. Segera ia

percepat larinya menuju ke desa tempat kediaman Suma Tiong, Tak berapa lama tibalah ia dimulut desa, Desa sunyi senyap, setelah masuk ke halaman dengan hati2 iapun menyerupai masuk kedalam kamar, duduk bersila diatas ranjang dan mulai menyalurkan pernapasan. Tak berapa lama ia mendengar derap langkah orang berjalan di halaman, Ternyata hari sudah terang tanah dan para bujang2 sudah mulai bekerja, iapun segera turun dan mandi kemudian menghampiri ke kamar Tio Li Kun. Gin Liong terkejut sekali melihat wajah nona itu makin pucat dan lemah. Melihat si anak muda terkejut, Li Kunpun hampir mengucurkan airmata, ia segera berputar tubuh dan menuju ke kamar Tek Cun. Gin Liong bergegas menyusulnya. "Taci Kun, lekaslah engkau tutuk jalan darah liok-ko," kata Gin Liong demi melihat keadaan Tek Cun makin payah. Tio Li Kun melakukan perintah, Gin Liong-pun memeriksa luka Tek Cun. Ternyata wajahnya sudah tampak segar dan napasnyapun teratur, sudah lebih sehat daripada kemarin. "Taci Kun, apakah semalam engkau tak tidur?" tegur Gin Liong, Li Kun tak menjawab kecuali bercucuran airmata. Gin Liong makin gugup, ia menghampiri dan menghibur nona itu: "Sudahlah taci, jangan sedih. Beberapa hari lagi luka liok-ko tentu sembuh." Tiba-2 Li Kun memeluk tangan Gin Liong dan berkata dengan rawan: "Adik Liong, kurasakan makin lama engkau makin menjauhi aku."

Nona itu mulai terisak, jelas ia amat bersedih hati, sesungguhnya Gin Liong seorang pemuda yang berhati lembut. Tetapi karena dalam hatinya sudah terisi dengan sumoaynya, apalagi suhunya telah meninggalkan pesan, maka terpaksa ia tak dapat menerima persembahan hati Li Kun. Tetapi karena itu ia dipeluk si jelita, hatinyapun tergerak dan tanpa disadari iapun membelai-belai rambut si jelita seraya menghiburnya : "Ah, janganlah berpikir terlalu banyak." "Adik Liong, harapanku janganlah engkau memandang diriku hanya sebagai pohon liu yang tumbuh di tepi jalan..." Rupanya Gin Liong tahu bahwa Li Kun hendak memperingatkannya tentang peristiwa yang terjadi dalam ruang dalam perahu yang lalu. Maka cepat ia menukas: "Kutahu taci seorang gadis yang luhur hati, hanya Thian yang tahu bagaimana perasaan hatiku kepada taci. Sudahlah, jangan memikir yang tidak2 dan hanya mengganggu kesehatan taci saja." Kemudian sambil mengelus-elus bahu si jelita, ia menambahkan pula: "Yok Lan sudah sejak kecil belajar ilmu bersama aku. Hati budinya halus dan lembut, harap taci Li Kun suka melindunginya..." "Jangan kuatir adik Liong" cepat Li Kun menukas, "aku anak yang paling bungsu, tentu akan kuperlakukan adik Lan sebagai adik kandungku sendiri." Tergetar hati Gin Liong dengan rasa bahagia maka iapun segera berbisik mesra: "Jika demikian kelak kita akan bersama-sama menjelang hari bahagia." "Sungguhkah itu, adik Liong ?"

Gin Liong tertawa mengangguk, ia segera mengusap airmata Li Kun yang tak henti-hentinya mengucur itu, Kemudian Gin Liong mengajaknya untuk menjenguk keadaan Mo Lan Hwa. Ketika masuk ke kamar, tampak Yok Lan menyambut dengan wajah berseri, ia duduk di tepi ranjang menunggu Lan Hwa ia hendak bangun untuk menyambut tetapi Li Kun mencegahnya. "Adik Hwa, lukamu masih belum sembuh, jangan paksakan diri bangun" kata Li Kun. Memperhatikan mata Li Kun membenjul bekas menangis, Lan Hwa bertanya: "Taci Kun, engkau habis menangis ?" Li Kun tersipu-sipu merah, sesaat ia tak dapat menjawab. "Apakah luka Tek Cun koko makin parah?" tanya Lan Hwa cemas. "Mungkin liok-ko harus beristirahat beberapa hari lagi baru sembuh" akhirnya Li Kun memberi jawaban sekenanya. Yok Lan mengatakan ia ingin menjenguk Tek Cun, Gin Liong mencegah mengatakan kalau Tek Cun sedang tidur. Saat itu bujang muncul dengan membawa dua mangkuk kuah Jin-som-lian-cu: "Nyonya besar mengutus hamba mengirim kuah ini untuk Liok ya dan nona Mo." "Taci Kun, mari kita antarkan kepada liok ko", kata Yok Lan, Kedua nona itupun segera keluar. Kini tinggal Gin Liong berdua dengan Lan Hwa, Melihat luka nona itu masih payah, Gin Liong segera menghampiri, mengangkat tubuh nona itu dan memberinya bantal yang

tinggi. Kemudian ia mengambil mangkok jin-som dan meminumkan ke mulut Lan Hwa. Gemetar tubuh Lan Hwa, gemetar pula hatinya karena duduk merapat dengan Gin Liong, pemuda yang mencuri hatinya. Tepat pada saat itu muncullah Yok Lan, Lan Hwa dan Gin Liong tertegun. Tetapi Yok Lan seorang dara yang polos, setitikpun ia tak cemburu atau marah bahkan segera menghampiri dan membujuk: "Taci Hwa, kuah jin-som itu harus dihabiskan agar taci lekas sembuh." Terharu hati Lan Hwa mendengar kata2 dara itu, ia segera meneguknya habis. Dalam pada itu diam2 ia bersumpah, rela mengorbankan diri daripada menghancurkan hati seorang dara berhati emas seperti Yok Lan, Lan Hwa menangis dalam hati. Setelah membaringkan Lan Hwa ditempat semula lagi, Yok Lan segera mengikuti Gin Liong keluar untuk makan pagi. Tak lama Li Kunpun pun datang, Tiba2 suami isteri Suma Tiong bergegas masuk, wajahnya mereka tampak tegang. Begitu duduk, Suma Tiong tak menanyakan keadaan Tek Cun maupun Lan Hwa, terus langsung berkata kepada Gin Liong dengan wajah serius: "Dari laporan bujang yang kembali dari kota mengatakan bahwa dalam kota Hok-san-shia telah gempar tersiar berita bahwa Siau siauhiap telah mendapat kaca wasiat dari Bulim Seng-ceng. Benarkah itu ?" Mendengar itu tergetarlah hati Gin Liong, ia menghela napas: "Apakah sungguh tersiar berita begitu ?" Li Kun kerutkan dahi dan ikut bicara: "Tentulah perbuatan Ce-tang Sam-sat yang tertua, lari ke Hok-san-shia

lalu menyiarkan berita bohong itu untuk membalas dendam." "Atau memang kesalahan Liong koko sendiri. Orang meminta kaca wasiat kepadanya, dia mengatakan kaca wasiat itu memang ada padanya." Yok Lan menyeletuk. "Lebih baik peristiwa ini segera diberantas", kata Lok Siu Ing isteri Suma Tiong, "jika tidak tentu akan menimbulkan peristiwa yang lebih berbahaya, Tokoh2 silat yang tamak tentu berbondong-bondong mendesak Siau siauhiap." Suma Tiong setuju pendapat isterinya. "Harap Siau siauhiap jangan meremehkan soal ini, Kemungkinan besar hal itu akan mendatang bahaya pada siauhiap." "Ah, aku tak pernah menduga sampai begitu jauh" kata Gin Liong, Li Kun dan Yok Lan menanyakan pendapat kedua suami isteri itu bagaimana sebaiknya langkah yang harus diambil. "Sebaiknya mengirim orang untuk memberantas desasdesus itu dan membuka kedok muslihat Ce-tang Sam-sat" kata Suma Tiong. Li Kun setuju dan meminta kepada Suma Tiong untuk mengatur orang, Gin Liong gelisah dan hendak mencegah, Rupanya Yok Lan tahu isi hati sukonya maka cepat ia mendahului. "Jika demikian kita harus menunggu sampai beberapa hari lagi, Lalu kapankah kita mulai mengejar jejak Liong-li locianpwe ?" serunya. "Ya, kita hanya membikin repot Suma tayhiap berdua saja." kata Gin Liong.

Tetapi Suma Tiong mengatakan bahwa hal itu memang sudah menjadi kewajiban dalam persahabatan, iapun mengajak isterinya keluar. Setelah kedua suami isteri itu pergi, Li Kun setengah menyesali tindakan Gin Liong yang telah memberi ampun kepada Ce-tang Sam-sat. "Ya, memang Liong suko salah," Yok Lan ikut menyesal. "Sekarang bukan soal desas desus itu yang harus kita layani tetapi bagaimana dan bilakah kita segera melanjutkan perjalanan menyusui Liong-li locianpwe." Mendengar itu Yuk Lan segera mengajak Li Kun untuk menjenguk keadaan Tek Cun. "Liong koko," kata Yok Lan, "menilik luka liok-ko dan taci Hwa, Mungkin dalam empat lima hari kemudian baru sembuh. Aku bersama taci Kun akan menjaga mereka disini dan engkau seorang diri boleh segera berangkat..." "Akau kupertimbangkan," cepat Gin Liong menukas. Setelah kedua gadis itu pergi, Gin Liong merenungkan langkah untuk mengejar jejak Ban-liong Liong li dengan cara bagaimana ia dapat menghindarkan diri dari libatan tokoh-2 silat yang berhati temaha hendak merebut kaca wasiat itu. Tiba2 ia teringat akan orang tua pemilik kaca wasiat dan kaca wasiat itu yang pada permukaannya tertera tulisan tentang ilmu silat yang sakti. Serentak timbullah keinginannya untuk meneliti kaca wasiat itu. Segera ia masuk kedalam kamar dan mengeluarkan kaca itu. seketika terang benderanglah kamar karena cahaya kaca wasiat. Cepat2 Gin Liong menutup

dengan baju luarnya, ia memasang telinga, suasana diluar sunyi senyap. Setelah itu baru ia mulai memeriksa. Didapatinya dibalik kaca itu terdapat beberapa huruf kecil2. Entah diukir dengan alat apa. Setelah diteliti ternyata huruf2 itu merupakan nama pemiliknya. Pada baris kesatu berbunyi: Thian It lo-jin pada waktu malam hari pertengahan musim rontok, menyerahkan kaca wasiat ini kepada Gin-si- khek. Melihat itu, barulah Gin Liong tahu bahwa pemilik kaca wasiat itu bukan Bu-lim Seng-ceng tetapi Thian It lojin. Baris kedua berbunyi: Gin-si-khek pada senja musim semi, menyerahkan kepada Ik-wan-tay-hiap Lu Gik Tiong. Gin Liong terus membaca sampai pada baris kelima. Disitu tertulis: Tio Su Le pada suatu hari dingin, menyerahkan kaca wasiat kepada Langlang-buana Gui Hin Kiong. Kemudian baris keenam berbunyi Gui Hin Kiong pada hari yang cerah, menyerahkan kepada Siau Gin Liong. Seketika itu sadarlah Gin Liong bahwa yang disebut Bu lim Seng - ceng atau Paderi - sakti dalam dunia persilatan itu, bukan lain adalah Thian It lojin. Sedang orang tua kurus yang menyerahkan kaca wasiat kepadanya itu bernama Langlang-buana Gui Hin-Kiong. Gui Hin Kiong merupakan orang keenam yang menerima penyerahan kaca wasiat itu. Tetapi sepanjang ingatannya, dalam dunia persilatan ia tak pernah mendengar tentang nama tokoh Langlang-buana Gui Hin Kiong. ia menarik kesimpulan bahwa Gui Hin Kiong tentu seorang sakti yang tak mau melibatkan diri dalam pergolakan dunia persilatan.

Selanjutnya menurut catatan itu, sudah lima belas tahun lamanya kaca itu berada di tangan orang tua kurus Gui Hin Kiong. Selama itu, mungkin dia sudah mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat itu. Dari Thian It lojin hingga temurun pada Gui Hin Kiong, diantaranya empat orang pewaris tak seorangpun yang mempunyai nama dalam dunia persilatan. Apakah mereka tak berhasil mempelajari ilmu sakti pada kaca wasiat itu ? Atau mungkinkah karena mereka sudah menemukan penerangan hatin, mereka tak mau terjun dalam dunia persilatan ? Akhirnya Gin Liong menarik kesimpulan, ia akan mencontoh jejak keempat cianpwe itu, takkan menonjolkan ilmu kepandaian yang diperoleh dari kaca wasiat itu kepada siapapun juga. Segera ia meneliti lebih cermat dan akhirnya menemukan, diantara sinar pelangi yang terpancar dari kaca itu, samar2 menyembul sebuah huruf berbunyi "Kitab", Tetapi pada lain kilat, huruf itupun tak tampak lagi. Gin Liong mencoba untuk menggoyangkan kaca pelahan-lahan. Dan benar juga, huruf merah Kitab itu timbul lagi. Pelahan-lahan ia mengisar baju luar yang dibuat menutup dan tampaklah tujuan buah huruf yang berbunyi: Liong Hou liong Kau Kun Ciang Bu. Atau, kitab ilmu pukulan Naga, harimau, burung hong, ular. Tergerak hati Gin Liong, Girangnya bukan kepalang sehingga tangannya gemetar, Dibawah huruf Kun-hu atau Kitab ilmu pukulan itu, tampak pula huruf2 Hang liong atau Ilmu-menaklukkan-naga, Hok-hou atau Harimau Mendekam, Lin-hong atau Menangkap-cenderawasih, Pok-

kau atau menjerat ular, empat macam pelajaran ilmu pukulan. Setelah membaca dengan teliti, ternyata dalam tempat macam pelajaran ilmu pukulan itu mengandung ilmu pukulan, ilmu tebasan dan ilmu menangkap atau menyambar Ilmu pukulan, cepat dan dahsyat ilmu tebasan, tangkas dan ganas, ilmu menyambar dan menangkap. luar biasa hebatnya. Apabila digunakan keempat macam ilmu itu merupakan gabungan tipu silat lihai penuh dengan perobahan. Gin Liong memiliki otak yang cerdas dan daya ingat yang kuat. Cepat sekali ia dapat mengingat semua pelajaran2 itu dan setelah merenungkan ia segera tahu dayagunanya. Pada saat ia hendak melanjutkan membaca di halaman terdengar langkah kaki orang. Buru2 ia menyimpan kaca itu ke dalam baju lagi Kemudian ia keluar. Saat itu hampir tengah hari. Suma Tiong dan isterinya berjalan menghampiri, Gin Liong segera menyambut. Demikian pula Yok Lan dan Li Kunpun keluar dari kamar ikut menyongsong. Suma Tiong suami isteri melaporkan bahwa dia sudah mengirim dua puluh orang menuju kekota. Gin Liong menghaturkan terima kasih atas bantuan tuan rumah. Tak lama bujangpun segera menyiapkan hidangan siang. Waktu makan. Li Kun mengatakan kepada tuan rumah bahwa karena mempunyai urusan penting maka Gin Liong akan melanjutkan perjalanan lebih dulu, sebenarnya dalam suasana seperti saat itu, memang tak leluasa kalau Gin Liong menempuh perjalanan seorang diri. Tetapi

dikarenakan harus merawat Tek Cun dan Lan Hwa terpaksa Yok Lan dan Li Kun harus tinggal. Mendengar itu Suma Tiong menyatakan kesediannya untuk merawat kedua orang yang sakit itu dan minta kedua nona itu menemani Gin Liong. Karena Li Kun setuju terpaksa Gin Liong pun menyetujui juga. Waktu Tek Cun dan Lan Hwa diberitahu tentang persetujuan itu, keduanyapun setuju. Demikian setelah berkemas, Gin Liong dan kedua nona segera berangkat siang itu juga, Gin Liong naik kuda hitam kaki putih, Yok Lan naik kuda bulu merah milik Tek Cun dan Li Kun naik kuda putih. Pada saat Suma Tiong dan isteri mengantar ketiga anak muda itu sampai keluar pintu, tiba2 seorang lelaki bergegasgegas masuk ke dalam desa. "Apa yang terjadi di luar desa ?" seru Suma Tiong kepada orang itu. "Toaya, celaka..." seru orang itu, "dari Hok-san-shia telah berbondong-bondong sejumlah besar penunggang kuda menuju ke desa ini." Mendengar itu Gin Liong seperti merasakan suatu ancaman bahaya, serunya : "Mereka tentu akan cari perkara disini." "Sejak diam disini, baru pertama kali ini aku mengalami peraturan desa ini dilanggar orang" kata Suma Tiong. "Tak peduli siapapun yang datang, menyongsongnya," kata Lok Siu Ing. kita harus

Kelima orang itu segera bergegas menuju ke mulut desa, sepuluh penunggang kuda tampak sedang

mencongklangkan kudanya menuju ke desa itu. Orang2 itu mengenakan pakaian ringkas sebagaimana dikenakan oleh kaum persilatan dikala sedang menjalankan tugas, Saat itu mereka sudah berada pada jarak setengah li dari desa. "Menilik sikapnya, mereka memang hendak melakukan sesuatu," kata Suma Tiong. "Jika tanpa alasan, jangan beri ampun kepada mereka," seru Lok Siu Ing. Pada saat rombongan pendatang itu tiba pada jarak tiga puluhan tombak dari tempat Gin Liong, tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga rombongan kuda yang datang itu terkejut dan panik, Ada yang Mengangkat kaki depan, ada pula yang merontak kaget, Penunggangnya berusaha keras untuk mengatasi kudanya dan melanjutkan lari ke muka. Penunggang yang paling depan, seorang tua bertubuh kurus, muka hitam, brewok dan rambut memanjang sampai ke bahu. Mengenakan pakaian warna hitam. Umurnya diantara 60-an tahun. Di belakang punggungnya menyanggul sebatang tongkat berkepala ular, batangnya penuh berhias gelang besar kecil, sepasang matanya yang bundar memancarkan sinar berkilat-kilat dingin. Disebelah kanan dan kirinya, seorang lelaki berpakaian kuning dan yang satu berpakaian kelabu. Keduanya berumur lebih dari 40 tahun. Lelaki yang berpakaian kuning itu, mukanya penuh rambut, alis tebal mata bundar dan perawakan gagah perkasa, punggungnya menyelip Kim-kong senjata gada berbentuk orang-orangan. Gagah menyeramkan sekali.

Sementara lelaki yang berpakaian kelabu, mukanya kuning pucat, jenggot tipis, mata sipit tak berbulu mata. Tubuhnya kurus, menyanggul sebatang sayap. Sedang ketujuh orang yang mengikuti dibelakang, terdiri dari lelaki2 yang bertubuh gagah. Masing2 membekal golok. "Hm. kiranya Tiga-jahat dari Losan." geram Loh Siu Ing. Suma Tiongpun cepat tertawa dan berserunya ringan: "Kukira siapa, ternyata tiga pendekar dari Losan yang berkunjung. Maaf, karena terlambat menyambut." Sejenak berhenti ia melanjutkan pula dengan nada nyaring: "Entah apakah maksud kedatangan saudara bertiga ke desaku ini ?" Rombongan penunggang kuda itu tiba pada jarak lima tombak, Orang tua baju hitam mengangkat tangan keatas dan kesepuluh ekor kuda itupun serentak berhenti. Kemudian orang tua itu tertawa mengekeh. "Kukira siapa yang tinggal didesa ini, kiranya Suma tayhiap, Aku Tongkat - ular - bergelang In Po Tin bersama kedua saudaraku Gada-pencabut nyawa dan Golokpelenyap-jiwa, memberanikan diri datang kemari, mohon saudara suka memaafkan kelancangan kami," Bahkan orang tua yang merupakan tokoh pertama dari tiga Jahat gunung Losan itu segera memberi hormat. Kedua saudaranya hanya terlongong2 memandang Gin Liong. Suma Tiong tertawa nyaring. "Harap saudara suka menjelaskan apa maksud kunjungan saudara bersama rombongan kemari. Apabila dapat kami lakukan tentu dengan senang hati kami akan menghaturkan bantuan."

Tongkat-ular In Po Tin tertawa juga. "Kedatangan kami ini tak lain hanya perlu sekedar hendak minta keterangan kepada Siau siauhiap adakah kaca wasiat itu benar berada padanya ?" kata In Po Tin sambil menunjuk Gin Liong. Melihat sikap ketiga orang yang begitu congkak, si jelita Li Kun sudah muak. Dan sesaat mendengar maksud kedatangan mereka, serentak marahlah ia, serunya: "Sudah makan nasi sampai berpuluh tahun mengapa dalam soal sekecil itu saja kalian tak dapat menilai dengan tepat. Huh..." "Budak hina, siapa suruh engkau campur mulut !" bentak si baju kuning Gada-pelenyap nyawa. Mendengar itu Lok Siu Ing tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dengan melengking ia melompat maju ke muka dan menuding Gada-pelenyap nyawa: "Kalau memang berani, hayo, turunlah engkau. Hendak kuuji sampai dimana kepandaianmu sehingga gegabah berani menghina orang!" Nyonya itu menutup kata2nya dengan mencabut pedang. Dengan tertawa dingin Gada-pelenyap nyawa pun ayunkan tubuh loncat turun dan siapkan senjatanya: "Engkau sendiri yang cari mati, jangan salahkan aku berhati kejam !" Sambil tertawa menghampiri. mengekeh ia pelahan-lahan maju

Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin ia berdiri di samping Suma Tiong dengan tenang, Tak habis herannya mengapa Lo-san Sam-ok atau Tiga jahat dari gunung Losan tahu bahwa ia telah mendapat kaca wasiat itu.

"Berhenti !" cepat ia berteriak ketika Gada-pelenyap nyawa hendak bertempur dengan Lok Siu Ing. Walaupun pelahan teriakan itu dihamburkan tetapi telinga sekalian orang yang berada disitu serasa mengiang-ngiang. Toa-ok atau si jahat Kesatu In Po Tin diam2 terkejut juga. Dan Gada-pelenyap nyawapun hentikan langkah. "Kalian kesepuluh orang ini sudah melanggar peraturan memasuki desa ini. Bukannya kalian bersikap sopan kebalikannya malah mengumbar kecongkakan, jelas dapat diketahui bagaimanapun tingkah laku kalian selama ini. Dan jelas pula bahwa kalian hendak merebut kaca wasiat itu." Gin Liong berhenti sejenak menatap ketiga tokoh jahat dari gunung Losan itu. serunya pula: "Andaikata kaca wasiat itu berada padaku, apa dasarnya kalian hendak merebut benda itu ?" Gada-pelenyap nyawa jago kedua dari Losan deliki mata dan membentak: "Budak yang sombong engkau berani cari perkara dengan kami bertiga?" Pah-ong-kan-san atau raja Pah-ong-mengejar gunung, adalah jurus yang digunakannya untuk menyerang Gin Liong, Tetapi Lok Siu Ing yang sudah sejak tadi siap, segera menangkis dengan jurus Mengepak-rumput-memburu-ular, ia menyabetkan pedang memapas lambung orang. Gada-pelenyap nyawa marah. ia hentikan gerakannya untuk menangkis pedang Lok Siu-ing, tetapi nyonya itupun merobah gerak pedangnya untuk menusuk alis lawan. Gerak perobahan itu dilakukan teramat cepat sekali. Jago kedua dari Losan itu memang hebat juga. Cepat ia songsongkan senjata tegak ke atas untuk menahan pedang lawan. Tetapi di luar dugaan Lok Siu Ing dengan gerak secepat kilat, telah memapaskan pedang ke celana lawan.

Cret, celana jago kedua gunung Losan telah terpapas kutung. Gada-pelenyap nyawa menjerit kaget dan menyurut mundur beberapa langkah. Melihat kebawah mukanya berubah dan keringat dingin mengucur, Kedua kaki celananya telah robek sehingga lututnyapun kelihatan. Lok Siu Ing tertawa dingin. "Hm, begitu tak berguna, masih berani cari perkara, Sungguh tak tahu diri." Toa-ok In Po Tin menggeremutukkan geraham, wajah membesi dan tubuh gemetar. Tokoh ketiga Toat-beng to atau golok Pencabut nyawa loncat dari kuda dan terus memutar golok menyerang Lok Siu Ing. Melihat itu Tio Li Kunpun loncat turun dari kuda, Tring, iapun sudah mencabut pedang yang memancarkan sinar berkilau-kilauan. Dan sekali bergerak, pedang itupun segera meluncur ke muka untuk menusuk gulungan sinar golok lawan. "Lo-sam . . " melihat Pedang-Pencabut nyawa hendak mengadu kekerasan dengan pedang si jelita, buru2 Toa-ok berseru mencegah. Mendengar itu Pedang-Pencabut nyawa terkejut, cepat mengendapkan pedang kebawah cepat pula loncat ke samping. Li Kun mendengus dingin. Sekali ayun tubuh ia loncat memburu dan taburkan pedangnya, Terdengar jeritan kejut dan darah menyembur keluar. Tahu2 daun telinga kiri si Pedang-Pencabut nyawa sudah terpapas hilang. Melihat itu Gada-pelenyap nyawa menggembor keras dan terus menyerbu Li Kun.

"Tadi sudah diberi ampun mengapa sekarang masih cari mati lagi?" bentak Lok Siu Ing seraya tebarkan pedang dan tahu2 ujungnya sudah melekat kedada orang itu. "Ing-moay, jangan membunuhnya!" buru2 Suma Tiong melarang isterinya. Lok Siu Ingpun menurut, Tetapi dikala ia menarik pedangnya, sekonyong konyong Gada-pelenyap nyawa menggembor keras dan dengan jurus Tiang-menyanggahlangit, ia menghantamkan gadanya pada pedang Lok Siu Ing. Nyonya itu menjerit kaget karena tangannya terasa terasa linu lunglai sehingga pedangpun terlempar ke udara. Dan Gada-pelenyap nyawa menyusul pula dengan menghantam ubun2 kepala nyonya itu. Suma Tiong dan Gin Liong serempak loncat menghampiri, Li Kun dan Yuk Lanpun menjerit kaget. "Lo-ji, jangan !" teriak Toa-ok In Po Tih mencegah saudaranya, ia tahu Suma Tiong itu tak boleh dibuat main2. Tetapi sebelum jago kedua melakukan perintah toa-ok, ia menjerit kaget karena siku lengan kanannya dicengkeram Gin Liong dan sekali ayun tangan, Gin Liong menampar muka jago kedua dari Losan itu. Tetapi karena mendengar seruan Toa-ok tadi, Gin Liong cepat merobah arah tamparannya. Tidak pada muka tetapi gada orang. "Bum . . . ." tangan jago kedua dari Losan itu linu kesemutan dan gadanyapun terlempar keudara, "Enyahlah !" seru Gin Liong seraya mendorong. Tubuh jago kedua dari Losan yang tinggi besar seketika terhuyung-huyung beberapa langkah. Melihat kesaktian si

anak muda, Toa-ok Tin Po Tin terlongong pucat sehingga ia lupa untuk menyanggupi tubuh saudaranya yang kedua. Bluk, ji-ok Pedang-Pencabut nyawa terjatuh duduk ditanah. Toa ok terkejut dan gelagapan, Cepat ia loncat menolongnya. Saat itu jago kedua si Gada-pelenyap nyawa masih berputar-putar untuk mencari daun telinganya yang terpotong, Sedang Yok Lan dan Li Kun segera menghampiri Lok Siu Ing yang tengah diperiksa tangannya oleh Suma Tiong. Dibelakang mereka telah dijaga oleh anak buah yang bersenjata golok. Gin Liong sudah loncat kesamping untuk menjemput pedang Lok Siu Ing yang jatuh, Tiba2 kuda bulu hitam meringkik keras lagi. Ketika berpaling, Gin Liong melihat empat penunggang kuda tengah mencongklang pesat datang menghampiri jauh dibelakang keempat penunggang kuda itu diantara kepulan debu yang gelap, samar2 masih tampak lagi beberapa penunggang kuda. "Aneh," gumam Yok Lan, "mengapa mereka tahu Liong koko berada disini ?" Setelah menolong saudaranya yang kedua, Toa-ok segera menyahut: "Kalau tidak anak buahmu yang menyiarkan berita itu di rumah makan, mana mereka tahu tentang soal dirimu berada disini." Seketika Suma Tiong tersadar persoalan telah menjadi salah urus, sehingga malah tak keruan "Hm, mengapa kalian tak mau berpikir, Apakah sedemikian mudah kaca wasiat itu berada di tangan kita ?" Yok Lan melengking. Dalam pada itu keempat penunggang kuda tadipun sudah kira2 setengah li jauhnya, Tiga penunggang kuda yang berjajar di sebelah kiri terdiri dari tiga imam pertengahan umur, mengenakan jubah putih dan masing2 mencekal hudtim besi bertangkai baja.

Yang seorang bermata segitiga, mengenakan ikat pinggang sutera wungu, Yang seorang berhidung bengkok dan yang seorang berwajah persegi, membawa sebuah buli2 kecil. Mereka mengulum senyum sinis, sikapnya congkak sekali. Penunggang kuda sebelah kanan bukan lain adalah jago kesatu dari Lo-san Sam-ok, si Tongkat ular yang telah diberi ampun oleh Gin Liong. Sudah tentu Gin Liong marah sekali. Li Kun tertawa dingin, Pedang yang baru saja hendak disarungkan cepat ditarik keluar lagi. "Kali ini pasti takkan kuampuni jiwanya" seru geram. Keempat penunggang kuda itu tiba dan dengan tertawa gelak2 mereka loncat turun dari kudanya. "Ya, budak itu ! Kaca wasiat berada di tangannya !" seru Toa-sat seraya menunjuk Gin Li-ong. "Anjing yang suka menggonggong kabar palsu, serahkan jiwamu" teriak Li Kun seraya taburkan pedang menusuk dada Toa-sat. Toa-sat tertawa hina terus loncat ke belakang ketiga imam itu. Melihat si jelita Li Kun yang sedemikian cantiknya, ketiga imam itu tertawa mengekeh dan terus merintangi. Li Kun makin marah, Pedang dihamburkan dalam seribu sinar dan berhamburan menusuk ketiga imam itu. Ketiga imam terkejut bukan kepalang, mereka menjerit kaget dan tak berani memandang rendah kepada nona jelita itu. Kebut besi segera ia gerakkan untuk menangkis. Karena serangannya tak berhasil, Li Kun makin meluap kemarahannya. Dengan melengking ia gentakkan pedang,

Seketika tiga kuntum sinar pedang menusuk kearah ketiga imam itu. Melihat ketiga imam itu kewalahan menghadapi seorang nona saja, gemetarlah hati Toa-sat. Ketika memandang ke arah lain, seketika pucatlah wajahnya, Tampak Gin Liong tengah maju menghampirinya dengan sikap yang menyeramkan. "Budak she Siau" serunya untuk menutupi kegelisahan hatinya, "lekas serahkan kaca wasiat kepada ketiga toya itu..." Mendengar kata Toa-sat, seketika bersinarlah mata ketiga imam itu. Mereka serempak melirik kearah Toa sat. Tepat pada saat itu. Gin Liongpun secepat kilat loncat menerkam bahu Toa-sat. Suma Tiong dan isterinya serta Yok Lan, terkejut sekali melihat Gin Liong menggunakan cara bertempur yang paling kasar semacam itu. Tetapi tiba2 pula ketiga imam itupun tinggalkan Li Kun dan terus menyerbu Gin Liong, Anak muda itu membentak keras, kedua tangan yang tengah dijulurkan kemuka untuk mencengkeram Toa-sat sekonyong-konyong dirobah dalam gerakan menampar. Plak, plak, plak . . . terdengar ketiga imam itu mengerang tertahan dan terhuyung-huyung kebelakang. Apa yang terjadi itu benar2 mengejutkan sekalian orang yang berada disitu, Gin Liong telah memainkan salah sebuah jurus dari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat, jurus itu disebut Jip-hay-pok-kau atau Menyelam-lautmenjaring-ular. Cepat sekali tangan Gin Liong mengenai tubuh ketiga imam itu. Menebas, menyikut, menampar dan menutuk.

Habis menyebutkan ketiga macam, secepat kilat Gin Liongpun mencengkeram siku lengan Toa sat dan sebelah tangannya menampar muka Toa-sat. Toa-sat menjerit ngeri. Tergetar hati Gin Liong, ia teringat sesuatu dan hentikan tamparannya. Tiba2 dari belakang Li Kun menusuk, Gin Liong hendak mencegah tetapi tak keburu, Cepat ia membentak dan menyiak sehingga Toa sat terhuyung-huyung ke samping, Dengan begitu ia lolos dari tusukan pedang Li Kun. Tetapi karena menahan kesakitan keringat dingin bercucuran membasahi tubuh. Li Kun tertegun, ia memandang Gin Liong dengan pandang penuh tanya mengapa Gin Liong masih melindungi jiwa Toa-sat. "Taci Kun, berilah dia ampun sekali lagi, agar dia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya." seru Gin Liong. Hampir Li Kun tak percaya apa yang didengarnya, mengapa aneh sekali sikap Gin Liong itu. Bluk, karena tak dapat mempertahankan keseimbangan tubuh, Toa sat jatuh terduduk di tanah. Sambil mendekap siku lengan kirinya, mulutnya menyeringai kesakitan, napas terengah-engah dan wajahnya tak menyeramkan lagi. Empat penjuru sunyi senyap, Tetapi berpuluh penunggang kuda yang sudah mencapai satu li jauhnya dari desa itu masih tetap mencongklang pesat menuju ke desa. Ternyata pendatang itu rombongan wanita yang berpakaian indah dan membekal senjata pedang dan golok. Gin Liong mendengus lalu berpaling kepada Toa-sat, serunya: "Poan liong kun. kali ini kuampuni lagi jiwamu. Kuharap engkau dapat menyadari kesesatanmu, jangan

melakukan kebaikan."

perbuatan2

jahat

dan

berbuatlah

amal

Kemudian ia berpaling kepada ketiga imam, Muka mereka bengap biru dan sikap merekapun tak congkak lagi. "Dan kalian bertiga" serunya, "sebagai seorang agama kalian harus membebaskan diri dari pergolakan urusan dunia dan harus dapat melepaskan nafsu keinginan yang tamak, Lekas kalian kembali ke biara dan jangan turun ke dunia persilatan lagi." Ketiga imam itu tak mau bicara apa2. Rupanya mereka masih penasaran. Hanya dalam semalam mengapa perangai Gin Liong tiba2 berobah begitu sabar, Pikir Li Kun. Juga Yok Lan heran mengapa dalam semalam saja, kepandaian Gin Liong bertambah maju sedemikian hebatnya. Memang kedua suami isteri Suma Tiong tahu bahwa dari sinar matanya yang berkilat-kilat tajam, tentulah Gin Liong itu seorang pemuda yang berilmu tinggi. Tetapi setitikpun mereka tak mengira bahwa Gin Liong akan sedemikian saktinya. -ooo0dw0oooBab 7 Dewi Bayangan Rombongan wanita cantik berkuda itupun sudah tiba. Mereka ternyata dara2 cantik yang muda belia. Ditengah, tampak seorang wanita cantik berumur 25-an tahun, rambut disanggul tinggi, mengenakan perhiasan tusuk konde kinhong atau cendrawasih emas. pakaian dan bulu burung yang indah, dadanya berhias tiga butir kumala dan sabuk

pinggangnya warna pelangi. Tubuhnya makin tampak montok dalam pakaiannya yang amat ketat. Wajahnya putih cemerlang, alisnya merebak hitam dan bibir merah, sepasang biji matanya bening, memancarkan sinar yang mesra sehingga orang yang melihatnya pasti akan terpikat. Begitu tiba nyonya cantik itu mengangkat cambuknya keatas memberi isyarat kepada rombongannya berhenti. Kuda meringkik, debupun mengepul tebal ketika berpuluh nona penunggang kuda itu hentikan kuda masing-2. Sikap dan ulah wanita cantik itu tak beda dengan seorang ratu, Sekalian orang yang berada ditempat itu terpesona melihatnya. Suma Tiong kerutkan dahi, ia tahu bahwa nyonya cantik itu memiliki senjata sapu tangan yang mengandung minyak wangi berbius. Segera ia menyuruh isterinya memberitahu kepada Yok Lan dan Li Kun supaya berhati-hati. Nyonya cantik itu keliarkan matanya yang tajam. Begitu tertumbuk papa wajah Gin Liong yang cakap dan gagah, seketika memancarlah mata wanita itu, pipinya merah. Tiba-2 terdengar bentakan keras: "Perempuan busuk Hi Hoan siancu, apakah engkau masih kenal aku !" sesosok bayangan melesat menerjang wanita cantik itu. Kiranya orang itu adalah si Tongkat-ular In Po Tin, tokoh kesatu dari Lo-san Sam-ok, ia menyerang dengan tongkatnya. Melihat si wanita yang disebut Hi Hoan siancu atau Dewi Bayangan itu tertawa mengikik: "Tua bangka yang mengantar jiwamu." tak berguna, engkau hendak

Seorang dara baju hijau yang berada di belakangnya segera ayun tubuh loncat turun dari kudanya dan menghantam kepala In Po Tin dengan cepat. In Po Tin menggerung marah, Dengan jurus Thiankiong-shia-jit atau Memanah-matahari, ia putar tongkatnya menyerang dara itu. Tring, dengan meminjam tenaga benturan senjata itu, si dara baju hijau melenting ke udara lagi. Gin Liong terkejut, hanya salah seorang bujang dari Dewi Bayangan tetapi sudah sedemikian lihaynya. jika demikian alangkah hebatnya kepandaian Dewi Bayangan itu. Begitu di udara, dara itu berjumpalitan dan melayang turun di belakang In Po Tin, sampai dua tombak jauhnya. In Po Tin menggerung keras dan berputar tubuh lalu loncat menerjang lagi dengan jurus Heng-sau-ngo-gak atau Membabat-lima-gunung di babatnya kaki si dara yang belum berdiri tegak itu. Si dara menjerit kaget, cepat2 ia turunkan golok menangkis, Tring . . dara itu menjerit lagi dan goloknyapun terlepas dari tangan. In Po Tin tak mau memberi ampun lagi, ia segera menutuk dada dara itu dengan jurus Koay-bong-jut-tong atau Ular-naga-keluar-guha. Melihat itu berobahlah wajah Dewi Bayangan. Berpuluh dara pengiringnyapun menjerit kaget, Tetapi mereka tak sempat berbuat apa2. Gin Liong tak senang melihat perbuatan In Po Tin yang main bunuh itu. Dengan menggembor keras ia ayun tubuh ke udara seraya lepaskan sebuah pukulan. Angin pukulan itu melanda lambung In Po Tin. In Po Tin terkejut.

Terpaksa ia tarik tongkatnya dan loncat ke samping, Tetapi pada saat In Po Tin loncat menghindar itu, berpuluh-puluh benda kecil menyerupai bintang emas telah berhamburan mencurah ke arah kepalanya. In Po Tin terkejut Cepat ia putar tongkatnya, Tring, tring, tring . . benda2 berwarna emas itu berhamburan jatuh ke empat penjuru. Ternyata benda2 berwarna emas itu adalah senjata rahasia Uang-emas yang ditaburkan Dewi Bayangan. "Perempuan hina, hari ini kuampuni jiwamu. Tetapi pada suatu hari aku pasti akan mengambil batang kepalamu !" sambil menuding Dewi Bayangan, In Po Tin berteriak marah, Matanya memancarkan sinar dendam kesumat yang bernyala-nyala. Rupanya diantara kedua itu pernah terjadi suatu dendam yang hebat. Dewi Bayangan masih tetap berada di punggung kuda, Dengan matanya yang bersinar cabul, ia tertawa santai: "Tua bangka, engkau sendiri yang tak berguna, mengapa engkau salahkan aku mendepakmu." Merah padam wajah In Po Tin. Cepat ia menukas: "Perempuan busuk yang tak tahu malu" Rupanya tak tahan lagi In Po Tin menahan luapan kemarahannya, Segera ia loncat menerjang Dewi Bayangan. Tetapi dari barisan dara pengiring Dewi Bayangan, segera berhamburan hujan bintang-emas menyongsong In Po Tin. In Po Tin tak berdaya mendekati Dewi Bayangan, ia harus loncat dua tombak ke belakang. "Perempuan busuk, apakah engkau berani bertempur sampai mati dengan aku ?" teriaknya menantang.

Dewi Bayangan kerutkan dahi dan mencemoh "Siapa sudi melayani seorang tua bangka seperti engkau? Hanya mengotorkan tanganku sajalah" Karena selalu dimaki tua bangka, gemetarlah tubuh In Po Tin karena marahnya. Dewi Bayangan tak menghiraukannya ia loncat turun dari kuda dan menghampiri ke tempat Gin Liong, Gin Liong tahu bahwa wanita yang bertingkah genit itu tentu bukan wanita baik, ia mendengus muak melihatnya. Tiba2 Dewi Bayangan membentak ketiga Lo-san Samok: "Enyah !" Entah bagaimana ketiga jago jahat dari Lo-san itu hanya deliki mata kepada Dewi Bayangan tetapi mereka tak berani berbuat apa2 dan terus menghampiri kuda dan mencongklang pergi. Dewi Bayanganpun melanjutkan langkahnya ke tempat Gin Liong. "Siauhiap" serunya dengan nada genit, "usia mu masih begitu muda dan tampan sekali, Kalau tak salah engkau tentu siau Gin Liong yang mendapat kaca wasiat dari Bulim Seng-ceng itu". Melihat wajah Gin Liong mengerut kemarahan wanita itu tertawa mengikik: "Peribahasa mengatakan manusia tentu akan saling berjumpa, Dan kalau berjumpah itu berarti jodoh, Perlu apa engkau memberingaskan wajahmu yang tampan ?" "Sungguh tak tahu malu..." si jelita Li Kun yang sejak tadi muak melihat tingkah ulah Dewi Bayangan, sambil membentak dia terus loncat menyerang.

Dewi Bayangan tertawa. Sekali gerakkan tubuh ia dapat menghindari tusukan Li Kun. Serangannya luput, Li Kun makin marah, Pada saat ia hendak menyerang lagi, tiba2 ia rasakan dadanya terbaur suatu angin lembut. ia terkejut dan cepat loncat mundur sampai setombak. "Siapa yang suruh engkau turut campur urusanku, Siau siauhiap toh bukan suamimu." serunya. Merah wajah Li Kun mendengar kata2 itu, ia melengking dan menerjang lagi, walaupun tahu bahwa pedang si jelita itu sebuah pusaka yang hebat, tetapi karena mengandalkan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Dewi Bayangan tak gentar. "Engkau sendiri yang cari mampus, jangan sesalkan Dewi Bayangan bertindak kejam," serunya seraya berputar tubuh. seperti angin puyuh, tahu2 ia sudah berada di belakang Li Kun. Tetapi Li Kunpun cepat gunakan jurus Jay hong-hwe-lu atau Burung hong-berputar-kepala, membabat ke belakang, Kali ini Dewi Bayangan terkejut, ia tak menyangka nona yang cantik itu memiliki gerak yang sedemikian hebat, Sekali kebutkan lengan baju, tubuhnyapun menyurut mundur. Li Kunpun tak mau unjuk kelemahan sekali kaki berayun, tubuhnya meluncur kemuka dan tahu2 ujung pedangnyapun sudah menuju ke dada Dewi Bayangan. Dewi Bayangan benar2 terkejut sekali, Dengan melengking nyaring. Cepat ia geliatkan tubuh dan kebutkan lengan baju lalu berputar putar cepat sekali.

Saat itu Li Kunpun sudah mendekat. Dengan jurus Giokhong-can-ki atau Burung-hong-merentang-sayap, ia segera memapas bahu kiri Dewi Bayangan. Beberapa kali menerima serangan yang tak terduga-duga, kejut Dewi Bayangan makin menjadi-jadi. Dengan melengking keras ia segera ayun tubuhnya melambung ke udara. Sring, pedang memapas dan menjeritkan berpuluh gadis pengiring Dewi Bayangan, Dewi Bayangan sendiri sudah melayang turun ke tanah. Ketika menunduk, ia melihat ujung pakaiannya telah terpapas kutung oleh pedang Li Kun. Keringat dingin bercucuran membasahi lehernya. Li Kun masih penasaran. Dengan melengking ia memburu lagi. Kali ini setelah menenangkan semangat, Dewi Bayanganpun marah, serentak ia tertawa keras dan berseru: "Budak kini, kalau aku tak mampu membunuh, aku akan bunuh diri !" Ia menutup kata-katanya dengan menggerakkan tubuh, seketika tubuhnya berputar-putar menyerupai segulung asap yang mengelilingi Li Kun. Li Kun tetap memutar pedangnya dengan deras. Tetapi setiap kali ia menusuk atau menabas, tentu hanya angin kosong yang ditemui. Lama kelamaan, ia gugup juga, Pandang matanya mulai berkunang-kunang, Terpaksa ia mainkan pedang untuk melindungi diri. Tak mau ia melancarkan serangan lagi. Melihat itu Suma Tiong terkejut ia tahu bahwa wanita cabul itu sedang menggunakan ilmu Hi hoan-sut atau Bayangan kosong, yang termasyhur. Cepat ia mengeluarkan seutas tali besi yang panjangnya satu meter.

Gin Liongpun melihat juga keadaan Li Kun yang terdesak, Dengan menggembor keras ia terus loncat menyerbu. Tetapi pada saat itu, Dewi Bayangan tertawa genit dan tiba2 berputar-putar tubuh menyongsong Gin Liong. Dan sebelum anak muda itu sempat bertindak Dewi Bayanganpun sudah menamparkan sehelai sapu sutera merah ke muka Gin Liong. Karena tak menduga-duga, Gin Liong tak sempat menghindar Sapu tangan sutera merah itu telah menampar muka Gin Liong. "Perempuan siluman engkau cari mampus...!" Suma Tiong membentak dan terus menaburkan rantai besi. Serempak dengan itu, Li Kunpun menyerang pinggang Dewi Bayangan. Tetapi wanita itu tak gentar ia tertawa genit lalu melambung ke udara dan taburkan sapu ke muka Suma Tiong. Setitikpun Suma Tiong tak menyangka bahwa Dewi Bayangan memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya, serentak ia mencium bau yang luar biasa aneh dan wanginya. "Celaka," ia menjerit, lepaskan rantai besi dan rubuh. Walaupun tak langsung ditampar sapu tetapi tebaran bau harum itu tercium juga oleh Li Kun. ia terkejut dan cepat loncat mundur sampai tiga tombak. Tetapi suatu keanehan telah terjadi dan menyebabkan Dewi Bayangan tercengang heran, Gin Liong yang terdampar sapu itu tampak masih tegak berdiri, seolah tak menderita pengaruh apa2. Bahkan Gin Liongpun heran karena melihat Suma Tiong terjungkal rubuh. Tetapi karena

jelas yang membidikan itu Dewi Bayangan, maka Gin Liongpun marah terus loncat menerjangnya. Pucatlah seketika wajah wanita cabul itu. Senjata dupa wangi Bi hun-soh-jun-hiang yang tak pernah gagal merubuhkan lawan, ternyata tak mempan terhadap anak muda itu. Terpaksa ia gunakan gerak Hi-hoan sut untuk berlincahan menghindari serangan Gin Liong. Gin Liong tertawa dingin, Setelah mengerahkan tenagadalam, ia menekuk kedua lengan dan terus mendorong ke muka. Sebuah gelombang angin tenaga dahsyat serentak melanda Dewi Bayangan yang tengah berlincahan laksana seekor kupu. Dewi Bayangan menjerit kaget Belum pernah ia melihat pukulan yang sedahsyat itu. Cepat ia melambung beberapa tombak ke udara, Karena tak mengenai sasaran, angin pukulan Gin Liong tetap melanda ke muka kearah barisan pengiring Dewi Bayangan, Rombongan gadis2 itu menjerit kaget dan serentak berhamburan menyingkir ke samping. Dalam pada itu Gin Liong loncat untuk mengejar Dewi Bayangan Wanita itu makin terkejut, Cepat ia tamparkan lengan baju untuk bergeliatan dua tombak 1agi. Tetapi Gin Liongpun cepat genjot tubuh melayang ke udara, Dewi Bayangan makin gugup, ia hendak meluncur turun. Gin Liong mencoba menggunakan salah sebuah jurus dari ilmu yang didapatnya dari kaca wasiat yang yang disebut Leng-siau-kim-hong atau Malam-hari-menangkapburung hong, Tubuh bergeliatan dan sepasang tangan mengulur menyambar siku lengan Dewi Bayangan.

Dewi Bayangan menjerit kaget semangatnya serasa terbang, Seperti seorang anak kecil, ia menyerah saja ketika tubuhnya dibawa melayang turun ke tanah oleh Gin Liong. Selekas tiba di tanah, Gin Liong membentak: "Lekas berikan obat penawar agar engkau jangan menderita kesakitan !" Setelah menenangkan menghela napas. semangat Dewi Bayangan

"Ah, Bi-hun soh-jun-hiang itu tak ada penawarnya." "Engkau mau mengeluarkan atau tidak!" bentak Gin Liong seraya memperkeras cengkeramannya. Wajah Dewi Bayangan pucat dan dahinya mengerut kesakitan, Keringat dingin bercucuran, giginya bergemerutukan keras. Gin Liong kerutkan alis lalu membentaknya lagi: "Lekas berikan obat itu !" Tetapi wajah wanita itu makin membiru, napas terengahengah, Mulutnya tak dapat berkata lagi karena menahan kesakitan hebat. Dara baju hijau yang ditolong Gin Liong tadi segera menghampiri dan memberi hormat kepada Gin Liong. "Siauhiap, memang Dewi kami tak mempunyai obat penawar," katanya dengan nada bersungguh. "Lalu bagaimana cara menolong Suma tayhiap?" masih Gin Liong tak percaya. Merah muka dara itu. Bibirnya bergetar-getar tetapi sampai beberapa saat tetap tak dapat mengeluarkan kata2.

"Bagaimana cara menolongnya? Apakah sudah tidak dapat ditolong lagi !" hardik Gin Liong, Karena marah ia telah memperkeras cekalannya. Dewi Bayangan menjerit dan pingsan, Untung dara baju hijau itu cepat dapat menyanggupi tubuh Dewi Bayangan yang rubuh. Gin Liongpun mengendorkan cengkeramannya, Li Kun dan Yok Lan loncat kesamping Gin Liong. "Mengapa nyonyahmu tak mau memberi pertolongan kepada orang yang dicelakainya ?" teriak Yok Lan kepada dara baju hijau itu. Wajah dara itu tampak tegang dan akhirnya dengan suara yang sarat ia berseru : "Nyonya Suma, mempunyai obat penawarnya", "Ngaco !" bentak Gin Liong, Tetapi Yok Lan dan Li Kun sudah terus berputar tubuh dan Rombongan dara pengiringpun segera mengangkut pergi Dewi Bayangan, Gin Liong terlongong heran, Ketika berpaling, dilihatnya dara baju hijau itu tengah berbisik-bisik kepada Lok Siu Ing, Entah bagaimana wajah Lok Siu Ing yang tegang, bertebaran merah. Berpaling ke lain arah. Gin Liong tak melihat lagi ketiga imam jahat dari Losan, Mereka diam2 sudah angkat kaki. "Huh, sudah menang mengapa masih cemas." ketika berjalan lewat disisi Gin Liong, dara baju hijau memandang dan berseru pelahan. Gin Liong termangu, ia tak tahu siapakah dara itu. Tetapi setelah merenungkan beberapa saat, ia menyadari. Dilihatnya Lok Siu Ingpun sudah memerintahkan beberapa orangnya untuk membawa pulang Suma Tiong.

Diam-2 Gin Liong menyesal dalam hati, Hanya semalam tinggal didesa itu tetapi telah membawa banyak kesulitan Segera ia loncat hendak menghaturkan maaf kepada Lok Siu Ing. Tetapi Lok Siu Ing malah berputar tubuh dan terus lari. Dalam pada itu rombongan gadis pengiring Dewi Bayangan membawa wanita itu pergi. "Ah, kitapun harus melanjutkan perjalanan," Kata Li Kun. Saat itu matahari sudah condong ke barat, Gin Liong dan kedua gadis segera mencongklangkan kuda menuju ke selatan Tak berapa lama, matahari sirna dan seluruh penjuru mulai gelap, Samar2 disebelah muka tampak sebuah desa, Beberapa rumah penduduk memancar sinar penerangan. "Malam ini terpaksa kita menginap di desa itu," kata Li Kun. Masuk kedalam desa, mereka disambut dengan kawanan anjing menyalak. Kuda hitam mulus meringkik keras dan kawanan anjing itupun terkejut tetapi pada lain saat mereka malah lebih keras menyalak. Penduduk yang belum tidur berbondong-bondong keluar. Seorang kakek menyambut dan setelah mendengar keterangan Gin Liong, iapun menerima ketiga anak muda itu bermalam didesa itu. Mereka bertiga di bawa kesebuah rumah besar dan dijamu. Masakannya enak dan ketiga anak muda itu minum juga arak yang disuguhkan. Setelah makan, kedua nona itu tampak lebih cantik. jika Li Kun seperti bunga tho, Yok Lan seperti bunga mawar. Melihat kecantikan kedua gadis itu, timbul rangsang dalam hati Gin Liong, Dia memandang kedua gadis itu

dengan tak berkedip, Li Kun berdebar keras hatinya dan darahnyapun meluap sukar ditindas. Baru pertama kali sepanjang hidupnya, Yok Lan minum arak maka cepat sekali ia menjadi mabuk. "Liong koko, mungkin aku mabuk, Taci Kun aku hendak tidur dulu" ia terus terhuyung-huyung masuk ke dalam kamar. Gin Liong dan Li Kun hanya tertawa melihat langkah kaki Yok Lan yang terhuyung itu. Li Kun pun segera berbangkit masuk kedalam kamar, Ketika berpaling, hatinya berguncang keras, Karena saat itu dilihatnya Gin Liong masih memandangnya dengan senyum hangat. Entah bagaimana pemuda itu merasa membutuhkan dekat dengan Li Kun. ia rasakan darahnya makin panas dan merangsang, Teringat pula akan peristiwa bersama Li Kun didalam perahu tempo hari, Dan tanpa disadari mulutnya segera berseru memanggil: "Taci..." Panggilan bagi Li Kun dirasakan suatu daya tarik yang kuat sekali sehingga iapun menghampiri ketempat pemuda itu. ia duduk disisi pemuda itu. Melihat sinar mata Gin Liong yang membara, hati Li Kun makin berdebar keras, ternyata sisa bebauan wangi yang ditaburkan Dewi Bayangan mulai bertebar lagi. Tetapi ia tak ingat lagi hal itu. Setelah minum arak, daya asap wangi itu makin bergolak dan merangsang. Demikian pula Gin Liong Karena minum arak maka khasiat dari katak salju, mulai hilang daya tahannya. Pada lain kejap Gin Liong segera memeluk Li Kun dan Li Kunpun menyerah dengan serta merta. Keduanya makin terangsang dan mulut merekapun segera saling bertaut rapat. Mereka tenggelam dalam kehangatan bibir yang

semanis madu. Tetapi hal itupun masih tak dapat memuaskan rangsangan yang makin meluap-luap dalam hati kedua insan muda itu. Pengaruh dupa wangi yang ditebarkan Dewi Bayangan mulai bekerja. Gin Liong sudah kehilangan kesadarannya lagi, perasaannya telah dikuasai oleh rangsangan nafsu, ia tak puas dengan ciuman itu, Ada sesuatu yang menghendaki kepuasan Gin Liong segera mengangkat tubuh Li Kun terus dibawa masuk ke dalam kamar. Apa yang terjadi adalah di luar kesadarannya, Keduanya telah tenggelam dalam lautan madu . . . Tiba2 Yok Lan terjaga. Rasa pening kepalanya sudah hilang, ia segera bangun, Dilihatnya Li Kun tak berada di ranjang sebelahnya, Samar2 ia mendengar erang pelahan dari rasa kepuasan. Suara semacam itu belum pernah didengarnya dan tak tahulah ia siapa yang mengerang2 penuh kenikmatan itu. Jilid 8 Halaman 63/64 Hilang Yok Lan terkejut dan cepat menyurut mundur lalu diam2 membaca dalam hati ilmu rahasia ajaran dari Hun Ho siantiang yang disebut Mo-kiap-ban-wi-tmg-sim-hian-kang atau ilmu menenangkan pikiran menghadapi ancaman dan bujukan iblis. Seketika hatinyapun jernih kembali Dan saat itu ia segera mencari apa yang terjadi Tentulah karena terkena tamparan sapu merah dari Dewi Bayangan maka Gin Liong sampai lupa daratan dan melakukan perbuatan yang tak senonoh. Saat itu iapun teringat akan dara baju indah yang mengatakan kepada nyonyah Suma Tiong, bahwa obat dari suaminya yang terluka itu hanya terdapat pada diri nyonyah itu sendiri.

Saat itu kamarpun hening sunyi, Didengarnya Gin Liong tidur mendengkur karena lelah dan isak tertahan dari Li Kun, jelaslah apa yang terjadi Gin Liong seperti seekor harimau lapar dan Li Kun terpaksa menyerah seperti seekor kelinci. Diam2 Yok Lanpun menggigil dalam hati, Jika ia tak lebih dulu tidur, kelinci dalam terkaman Gin Liong itu tentulah bukan Li Kun tetapi ia sendiri. Merenungkan hal itu, ia segera kembali ke dalam biliknya, ia takut Gin Liong akan mencarinya. Teringat akan peristiwa tadi, diam2 ia menyadari bahwa Li Kun telah menjadi korban dan mewakili dirinya. Memikir sampai disitu, ia tak marah lagi kepada Gin Liong, bahkan terhadap Li Kun-pun ia merasa kasihan. Beberapa saat kemudian ia mendengar kamar disebelah muka terbuka pintunya dan terdengar derap kaki orang melangkah keluar, Namun ia tak berani keluar. Dari balik selimutnya ia melihat Li Kun masuk, jelita itu mengemasi pakaian dan rambutnya lalu mengusap airmatanya. Yok Lan gelisah sekali, ingin ia bangun dan memeluk Li Kun. ia memutuskan untuk berkorban dan membahagiakan Li Kun. Tetapi pada lain saat ia menimang, tindakan itu mungkin akan mengejutkan dan menyinggung perasaan Li Kun. Ketika Li Kun selesai berdandan dan masuk ke dalam kamar, Yok Lan makin tegang dan buru2 pejamkan mata. Li Kun lebih dulu duduk ditepi ranjang. Terdengar jelita itu menghela napas kemudian baru naik ke ranjang dan tidur disisinya, Tak tahu bagaimana perasaan Li Kun saat itu, Mungkin ia sedih dan marah terhadap tingkah laku yang liar dari Gin

Liong. Mungkin juga ia dapat memaafkannya karena tahu bahwa Gin Liong telah terkena bubuk perangsang dari Dewi Bayangan. Karena tak tahan, Yok Liong membuka mata melirik Li Kun yang tidur disisinya, Dilihatnya Li Kun tidur telentang dengan kedua tangan ditempelkan ke dada. Kedua matanya mengucurkan air mata, Melihat itu ibalah hati Yok Lan. ia dapat memaafkan keadaan nona itu dan bahkan ikut mengalirkan airmata. Tak berapa lama, Li Kun tertidur. Dalam tekanan hatin yang tak keruan rasanya, akhirnya Yok Lanpun tidur juga. Entah selang berapa lama, ayampun terdengar berkokok sahut menyahut, cuaca di luar tampak terang, Yok Lan membuka dan melihat Li Kun masih tidur pulas. Dia segera turun dari ranjang melangkah keluar, Di ruang depan lilin sudah padam dan pintu terbuka. ia terkejut lalu lari ke luar. Ia makin terkejut ketika melihat Gin Liong berdiri dihalaman. memandang ke timur yang mulai merekah mentari pagi, Di jalanpun sudah terdapat orang2 desa yang berjalan menuju ke pasar dan ke sawah. Dengan hati gundah, Yok Lan segera menghampiri Gin Liong terkejut seraya berputar tubuh Tampak wajahnya merah kemalu-maluan ketika melihat Yok Lan, bibirnya gemetar hendak mengucap perkataan tetapi tak keluar. Melihat keadaan Gin Liong yang jauh sekali bedanya dengan kemarin, menangislah hati Yok Lan, Tetapi ia tetap tenang, menghampiri kemuka pemuda itu dan bertanya dengan lembut: "Liong koko, apakah yang tengah engkau pikirkan ?"

Betapa derita hatin yang menyiksa Gin Liong sukar dibayangkan, kalau tak mengingat masih harus melakukan pembalasan dendam atas kematian suhunya, maulah rasanya saat itu ia bunuh diri saja. Apabila teringat akan perbuatannya semalam, ia hampir tak percaya mengapa sampai dapat melakukan perbuatan yang sehina itu. Tetapi saat itu pun ia menyadari bahwa dirinya telah dicelakai oleh Dewi Bayangan sehingga tak kuasa menguasai dirinya lagi, ia benci sekali kepada Dewi Bayangan. "Liong koko, engkau sedang memikirkan apa Mengapa engkau tak mempedulikan aku ?" ulang Yok Lan karena sampai lama Gin Liong diam saja. Airmata dara itupun bercucuran. Dengan suara sarat penuh rasa malu Gin Liong berkata: "Aku tengah berpikir apabila aku telah melakukan suatu hal yang berdosa kepadamu." "Tidak, Liong koko, engkau takkan berbuat salah kepadaku..." cepat Yok Lan menukas. Hati Gin Liong seperti disayat sembilu. "Lan-moay, kalau aku benar2 berbuat salah kepadamu." "Tentulah bukan karena kehendakmu sendiri, tentu karena terpaksa atau terkena suatu pengaruh yang sukar engkau atasi. Dalam keadaan begitu, apapun kesalahan Liong koko, aku takkan menyesalimu" kata Yok Lan dengan tegas. Hampir Gin Liong tak percaya pada pendengarannya, semula ia kira Yok Lan tentu tak mau memaafkannya, sekalipun begitu hatinnya tetap tersiksa.

Melihat Gin Liong mulai tegang, Yok Lan segera mencekal kedua tangan sukonya, Tak tahan lagilah hati Gin Liong, airmatanya bercucuran. Tiba2 pintu terbuka, Gin Liong dan Yok Lan pun cepat loncat masuk kedalam kamar, Yok Lan terus masuk kedalam kamarnya sendiri. Dilihatnya Li Kun masih tidur, Tetapi ketika menghampiri dan melihat keadaannya, menjeritlah dara itu: "Liong koko, kemarilah lekas !" Gin Liong terkejut dan cepat lari menghampiri Dilihatnya mata Li Kun menutup rapat muka merah, bibir seperti darah. Kening dan rambutnya basah kuyup dengan keringat, tubuhnya memancarkan bau harum yang aneh. Cepat Yok Lan membaca ilmu Hian-kang dalam hati dan bau wangi itupun lenyap. Gin Liong juga terkejut sekali, ia tak kira bubuk wangi dari Dewi Bayangan itu mempunyai daya pengaruh yang begitu hebat, Diam2 ia mengambil keputusan untuk membasmi wanita siluman itu Teriakan Yok Lan telah menyadarkan Li Kun Begitu melihat Yok Lan, airmata jelita itu berhamburan keluar dan berkata dengan nada gemetar: "Adik Lan..!" "Taci Kun, engkau sakit !" seru Yok Lan dengan lembut. Li Kun tak dapat berkata apa2 kecuali hanya bercucuran airmata, "Taci Kun, badanmu panas sekali, jangan banyak bicara, tidurlah saja," kata Yok Lan pula. Li Kun menghela napas, Ketika melihat Gin Liong berdiri di muka ranjang, iapun terbeliak. Begitu pula Gin Liong. hatinya makin tersiksa, ia merasa berdosa telah merusak kehormatan seorang gadis yang suci, iapun merasa

tak layak menjadi seorang pendekar karena dirinya sudah melakukan perbuatan yang serendah binatang. Wajah Li Kun makin meraih keringat makin mengucur deras. Tiba- Yok Lan teringat sesuatu. "Liong koko, manakah mangkuk kumala hijau yang tempo hari Liong-li locianpwe memberikan kepadamu itu ?" tanyanya. Walaupun tak tahu apa maksudnya, tetapi Gin Liongpun segera mengambil keluar benda itu dan menyerahkan kepada Yok Lan, Yok Lan memeriksa mangkuk itu. Sebuah mangkuk batu kumala hijau yang memancarkan beribu sinar, jelas mangkuk itu sebuah benda pusaka yang jarang terdapat di dunia. Kemudian dara itu suruh Giu Liong mengambilkan air. Gin Liong menurut, setelah mengambil air lalu dituangkan kedalam mangkuk kumala itu. "Lan-moay, apakah maksudmu ?" tanya Gin Liong. "Bukankah tempo hari Liong-li locianpwe juga memberi minum aku katak-salju direndam air ?" balas Yok Lan. "Ya, karena saat itu masih punya..." belum sempat Gin Liong mengatakan "katak-salju", tiba2 air dalam mangkuk itu mendidih dan mengeluarkan busa kecil2 lalu berobah warnanya seperti susu. Gin Liong terbeliak lalu bergegas menyuruh Yok Lan segera meminumkan air itu kepada Li Kun. Yok Lanpun segera minta Li Kun minum air dalam mangkuk kumala itu, Tanpa ragu2 jelita itupun terus meminumnya. Bermula ia kira air itu hanya dari pil atau obat pemunah racun tetapi demi melihat wajah Yok Lan dan Gin Liong begitu tegang, iapun lantas meminumnya sampai habis.

Serentak ia rasakan badannya makin dingin, Kepalanya yang peningpun makin jernih, kesadaran pikirannya makin terang. Bermula Gin Liong masih cemas dan menanyakan bagaimana perasaan Li Kun saat itu. Si jelita terus duduk dan berseru : "Ah. sungguh obat dewa yang mujarab sekali, Bukan saja hawa panas telah hilang, pun tubuhku serasa segar sekali." Mendengar itu Yok Lan tercengang, serunya: "Aneh, tempo hari sehabis minum, badanku terasa panas sekali, pikiranku kabur dan mataku ngantuk sekali dan terus tidur sampai hampir dua jam, Tetapi mengapa keadaan taci Kun berlawanan dengan aku..." "Karena air itu direndam dengan katak-salju," Gin Liong menjelaskan. "Katak-salju"?" teriak Yok Lan, "mana binatang itu!" "Kumakan !" sahut Gin Liong, "Bagaimana engkau dapat memakannya ?" Gin Liong segera menceritakan tentang peristiwa dilereng gunung Hwe-sian-hong dulu. Mendengar itu, Li Kun berkata: "Oh, itulah sebabnya mengapa engkau mampu memukul mundur sam-ko. Memang toako saat itu sudah menduga kalau engkau tentu mendapat suatu penemuan yang luar biasa. Seorang pemuda seumurmu, tak mungkin dapat memiliki tenaga yang sedemikian saktinya." Demikian ketiganya lalu makan, Setelah itu, pak tuapun menyiapkan kuda mereka. Nenek tua dan gadisnyapun berada di halaman, singkatnya Gin Liong bertiga segera melanjutkan perjalanan lagi.

Menjelang tengah hari mereka tiba disebuah kota sebelah timur dan kecermatan Ki-he-koan. Mereka mencari rumah makan besar yang mempunyai tempat untuk kuda. Setelah jongos menyambut kuda, merekapun lalu masuk. Tak banyak tetamu di rumah makan itu. Kebanyakan mereka hanya pedagang2 biasa, jarang tetamu orang persilatan Gin Liong bertiga duduk di meja yang dekat dengan jendela. Dari situ mereka dapat melihat di jalanan. Ketika Yok Lan memandang keluar, ternyata dimuka rumah makan itu juga sebuah rumah makan. Dan pada meja dekat jendela ia melihat empat orang imam tua berjubah kelabu, Yang ditengah seorang imam berumur 50 an tahun, rambutnya sudah menjunjung uban, alis gundul, muka bopeng, sikapnya gelisah dan matanya memandang kearah tempat Yok Lan bertiga. Sedang ketiga imam yang lain masih sibuk membuat perhitungan rekeningnya. Rupanya mereka bergegas hendak meninggalkan rumah makan itu. Yok Lan curiga lalu membisiki suko dan Li Kun: "Cobalah kalian lihat, imam tua yang duduk di rumah makan sebelah muka itu !" Ketika Gin Liong dan Li Kun memandang keluar jendela ternyata keempat imam itu sudah turun dari loteng. "Lan-moay, apakah engkau mencurigakan ?" tanya Li Kun. anggap mereka

Sambil memandang Gin Liong, Yok Lan bertanya: "Apakah bukan imam tua Hian Leng dari partai Kiong-laypay ?" "Mungkin" kata Gin Liong.

"Taci Kun, mengapa kalian kenal mereka ?" tanya Yok Lan. Li Kun segera menceritakan peristiwa di gunung Hoksan dimana mereka telah berjumpa dengan imam itu. Demikian setelah selesai makan mereka bertigapun segera melanjutkan perjalanan lagi, Dengan adanya imam yang mencurigakan itu, mereka pun berlaku hati2. Dengan ketiga ekor kuda yang pesat larinya, dalam beberapa waktu saja mereka sudah mencapai 10-an li. Disitu terdapat sebuah gunung yang hanya berpuncak satu dan luasnya tak sampai sepuluh li. Mereka berkuda disepanjang kaki gunung itu. Tak berapa lama mereka melihat disebelah muka sebuah bangunan yang merah gentengnya. Gin Liong menghela napas dan berkata seorang diri: "Walaupun tak tinggi tetapi gunung tentu indah pemandangannya. walaupun tak dalam, telaga tentu ada raganya. Membangun biara di gunung ini, setiap hari membaca kitab suci, pikiran akan jernih, hatin pun mendapat penerangan. Tentu tak sukar akan mendapat kesucian dan jalan mencapai kedewaan." Mendengar itu wajah Yok Lan serentak berobah dan berpaling memandang sukonya dengan pandang rawan. Juga Li Kun terkejut, matanya berlinang-linang hendak menitikkan airmata, ia mempunyai perasaan bahwa Gin Liong sudah jemu akan dunia yang penuh lumpur kedosaan ini. Diam2 iapun ber janji dalam hati, Apabila Gin Liong benar hendak masuk menjadi murid biara, iapun akan mencari sebuah biara yang sunyi dan menjadi rahib. Saat itu mereka tiba di muka gunung, Ternyata gunung itu walaupun tak berapa tinggi tetapi puncaknya tak kurang

dari seratusan tombak luasnya. Gunung penuh dengan hutan pohon siong, Biara itupun sudah terlihat pintunya. Memandang kemuka, lebih kurang setengah li jauhnya tampak tiga orang tegak berjajar menghadang jalan. Ketika memandang dengan seksama Gin Liong tertawa dingin. Yok Lanpun tahu bahwa yang di tengah itu adalah imam tua bermuka bopeng yang berada di rumah makan tadi, demikian pula yang dua. Tetapi yang seorang lagi ia belum tahu. Gin Liong bertiga hentikan kudanya pada jarak lima tombak dari rombongan imam itu dan berseru: "Totiang bertiga, mengapa tiada sebab apa2 menghadang jalan kami ?" Imam tua bermuka bopeng itu memang Hian Leng loto, segera ia menyahut: "Pinto Hian Leng telah menerima perintah dari kepala biara Ki-he-kwan, Tiau Ing totiang untuk menunggu tempat ini. Harap siau-sicu bertiga suka singgah minum teh ke dalam biara." Karena ingin cepat2 melanjutkan perjalanan, Gin Liong segera memberi hormat: "Aku masih mempunyai urusan penting, tak berani membuang waktu. Harap lotiang bertiga suku menyampaikan terima kasih kami kepada kepala biara Ki-he-kwan atas kebaikannya". Hian Leng totiang tertawa: "Walaupun bagaimana penting urusan sicu, namun kalau hanya berhenti sebentar untuk minum teh, tentu tak akan menghambat perjalanan sicu. Apalagi sicu bertiga menaiki kuda yang hebat, dalam waktu singkat tentu dapat mencapai kota Ki-he-koan Tua Ing totiang sudah lama mendengar sicu memiliki

kepandaian yang tinggi dan ilmu pedang yang tiada tandingannya." Li Kun tahu bahwa Hian Leng totiang hendak mengulur waktu saja, maka iapun marah dan terus membentak : "Tutup mulutmu" Cepat ia mencabut pedang dan mendamprat pula: "Jelas hendak menuntut balas pada peristiwa di lembah gunung Hok san, mengapa pakai alasan suruh singgah ke dalam biara. Kalau mempunyai kepandaian lekaslah engkau cabut pedangmu, tak usah banyak bicara. Kalau merasa tak punya kepandaian lebih baik kalian menyingkir jika masih ribut, pedang Pek-soang-kiam ditanganku ini akan mengantar jiwa kalian ke akhirat." Mendengar nama pedang Pek-soang-kiam atau pedang Salju-putih, berobahlah wajah Hian Leng seketika, ia tak sangka bahwa nona jelita itu ternyata murid dari rahib tua Liong San loni. Gin Liong dan Yok Lanpun baru tahu kalau Li Kun mempunyai pedang yang disebut Pek-soang kiam. Menilik wajah Hian Leng berubah pucat, jelas pedang itu tentu sebuah pedang pusaka yang hebat. Imam Kong Beng dan Ceng Beng yang berdiri disisi Hian Leng, sudah pucat, Matanya memandang kearah biara Ka-hian-kwan di lereng gunung. Hian Leng tertawa mengekeh. "Heh... heh, kalian budak2 kecil berani membunuh dua orang tianglo kami. Dendam itu tidak mungkin kami maafkan. walaupun kepandaianku rendah, tapi aku tetap hendak mengadu jiwa dengan kalian. Demikian pula kepala dari biara Ki-he-kwan itu adalah sahabatku yang tak akan memberi jalan kepada kalian."

Habis berkata ia terus mencabut pedang, Melihat itu Li Kun makin marah, teriaknya: "Aku tak mempunyai waktu untuk meladeni kalian, Ayoh, majulah saja tiga orang serempak." Mendengar itu Hian Leng tertawa nyaring. Sebaliknya imam Ceng Beng dan Kong Beng makin pucat. Tetapi karena Hian Leng sudah mengeluarkan pedang, terpaksa kedua imam itupun mencabut pedangnya. "Kalau kalian tak lekas menyerang, akulah yang akan menyerang" seru Li Kun, seraya loncat turun dari kuda terus dengan jurus Yan-swat-hui-hwa atau Salju-berlebarbunga-berhamburan, menyerang Hian Leng. Kong Beng dan Ceng Beng membentak dan menyerang dari kanan kiri, Sedang Hian Lengpun segera bergerak maju. Yok Laupun sudah loncat turun dari kuda, ia terkejut karena ketiga imam itu benar2 maju bertiga, Berpaling ke belakang dilihatnya Gin Liong masih tetap duduk diatas kudanya. Li Kun mendengus, ia segera mainkan jurus Ce-gwatkiau hui atau Bulan-bintang-beradu-cahaya, berpencar menyongsong Kong Beng dan Ceng Beng. Karena tahu akan kelihayan pedang si jelita. kedua imam itupun menyurut mundur lima langkah. Saat itu pedang Hian Leng lotopun sudah tiba di muka Li Kun, Ternyata serangan pada kedua imam tadi hanya suatu gerak kosong untuk memikat Hian Leng, Selekas Hian Leng benar2 menyerang, Li Kun berteriak nyaring, menengadahkan tubuh dan secepat kilat pedang segera diganti dengan jurus It-cut-keng-thian atau Sebatang-tiangmenyanggah-langit.

Rupanya Hian Leng memang benar2 hendak mengadu jiwa, Dia tak mau meroboh jurusnya, Tring, pedangnyapun segera terpapas kutung, Tetapi sedikitpun imam tua itu tak terkejut. Bahkan dengan meraung keras, tangannya mengendap kebawah dan tusukkan kutungan pedang ke perut sinona. Dalam pada itu Kong Beng dan Ceng Beng tadipun serempak membacok kedua bahu Li Kun, diserang dari tiga jurusan itu, keadaan Li Kun memang berbahaya. Gin Liong membentak keras terus loncat dari kuda, sedang Yok Lanpun loncat menerjang. Tiba2 Li Kun melengking keras. Tubuh condong ke muka, menahan pedang kutung lawan dengan pedangnya lalu dengan meminjam tenaga benturan itu, ia enjot tubuhnya berjumpalitan kebelakang. Gin Liong terkejut dan hentikan gerakannya Demikian pula Yok Lan. Karena penghindaran yang luar biasa dari Li Kun itu maka bacokan Kong Beng dan Ceng Beng mengenai angin kosong ,Tetapi Hian Leng tetap tak berhenti, dengan kalap ia tetap menusuk kemuka. Sudah tentu kedua kawannya menjerit kaget dan menangkis. "Tring . ." mereka bertiga saling berhantam pedang sendiri, Dan karena sama-2 menggunakan kekuatan, benturan itu menyebabkan mata mereka berkunang-2. Dan karena takut kalau Li Kun menyerang, cepat mereka berputar diri lalu membolang-balingkan pedang kekanan kiri. Tiba2 pada saat itu dari lereng gunung terdengar sebuah suitan nyaring, Mendengar itu semangat ketiga imam itu bangun kembali.

Gin Liongpun memandang kearah gunung, Tampak sesosok bayangan berlari secepat terbang menuruni gunung, Ternyata yang datang itu seorang imam tua yang rambutnya putih mengenakan jubah kelabu, punggungnya menyanggul sebatang pedang. Gin Liong cepat menduga bahwa imam itu tentulah imam Tiau Ing, kepala dari biara Ki-he-kwan. Pada saat imam Tiau Ing tiba di kaki gunung, dari arah biara itupun segera muncul berpuluh imam jubah kelabu. Saat itu Tiau Ing sudah melayang tiba di tengah Hian Leng, Lebih dulu ia memandang muka muka Hian Leng yang bengap karena saling bentur dengan kawannya sendiri tadi. "Kwan-cu", segera imam Hian Leng memberi keterangan, "yang membunuh kedua tianglo dari perguruanku tempo hari, ialah budak itu." ia menuding Gin Liong yang berdiri diapit oleh dua nona. Sejenak memandang Gin Liong bertiga, imam Tiau Ing itu tertawa nyaring lalu berseru lantang: "Kukira seorang manusia yang berkepala tiga berlengan enam kiranya hanya seorang budak yang belum hilang bau pupuknya." Nadanya congkak sekali seolah tak memandang mata kepada Gin Liong yang dapat merubuhkan dua orang tianglo partai Kiong-lay-pay. Dengan sikapnya itu, orang menduga ia tentu memiliki kepandaian yang sakti. Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin: "Sebagai kepala dari biara Ki-he-kwan, lotiang tentulah seorang imam yang berilmu tinggi dan dapat membedakan kejahatan dan kebaikan, salah dan benar. Melanggar

pantangan bagi kaum imam yakni temaha, congkak, bohong." Imam Tiau Ing cepat tertawa menukas. "Budak yang tak kenal tingginya langit dalamnya lautan, berani benar engkau menilai diriku!" Li Kun tak sabar lagi. Tanpa menunggu imam itu menyelesaikan kata2nya, ia terus tampil ke muka dan menggeram, "Karena engkau memang seorang imam yang tak mengerti nalar dan tak kenal sifat manusia, mengapa banyak mulut. Lekas cabut pedangmu agar jangan banyak pejalan yang keburu datang di tempat ini" Imam tua Tiau Ing melihat bahwa di sekeliling tempat itu memang telah banyak pejalan-2. Anak buah biara Ki-hekwanpun juga banyak yang datang, ia tertawa makin angkuh. "Sudah berpuluh tahun aku tak pernah menggunakan pedangku Untuk melayani seorang budak perempuan seperti dirimu, mengapa aku perlu memakai senjata" Li Kun tak mau banyak bicara lagi. ia terus maju menyerang Cepat dan dahsyat, dengan tertawa gelak2. Tiau Ing kebutkan lengan jubah seraya menghindar ke samping. Li Kun tertawa dingin. ia robah jurus ilmu pedangnya dengan jurus Pok-coh-hun-coa atau Memukul-rumputmencari-ular, segulung sinar pedang segera berhamburan menimpah lawan. Baru kaki tegak, pedang sudah memburunya lagi, benar2 membuat imam tua itu terkejut. Dengan membentak keras, ia menyurut mundur tiga langkah, kemudian maju lagi merebut senjata lawan dengan

ilmu Gong jiu-peh-jiu atau dengan tangan kosong merebut senjata. Li Kun mendengus geram. Setelah menyalurkan tenagadalam ke pedang, ia berturut-turut menyerang tiga kali. Selama ini belum pernah kepala biara Ki-he-kwan itu menyaksikan suatu ilmu pedang yang sedemikian hebatnya. Apabila ia tak menguasai ilmu pedang dan pukulan, mungkin saat itu perutnya sudah pecah berhamburan. Tetapi Li Kun sendiri juga terkejut ketika tiga kali serangannya itu musuh dapat menghindarnya, tak berani memandang rendah lagi. Juga Gin Liong yang terus memperhatikan pertempuran itu, diapun juga terkejut melihat kepandaian ketua biara Ki he-kwan itu. hanya dengan tangan kosong ia mampu melayani serangan pedang Li Kun. Sedangkan Yok Lan hanya tegak dengan cemas, ia kuatir kalau imam itu menggunakan pedang, kemungkinan Li Kun tentu kalah. Bertempuran berjalan makin seru, bayangan pukulan sederas hujan mencurah, sinar pedang bagaikan kilat menyambar, walaupun dengan tangan kosong tetapi tamparan lengan jubah Tiau Ing itu seperti gelombang mendampar, secepat angin melanda. Li Kunpun tak kurang gesitnya, ia berencana dengan tangkap selincah burung sikalam Makin lama makin gagah sehingga sukar untuk mengenali kedua orang itu. Diam2 Yok Lan menimang bahwa setelah menghadapi kelima imam, seharusnya beristirahat dulu, Diam2 ia memutuskan untuk menggantikannya.

Setelah mengambil keputusan, diam2 ia segera menghafalkan beberapa jurus ilmu pedang ajaran Hun Hu siantiang. Setelah itu baru berseru: "Taci Kun, harap beristirahat dulu, Biarlah aku yang menggantikan." Sehabis berkata dengan gerak laksana burung hong, ia melayang ke muka. "Lan-moay, kembalilah . . .." Gin Liong berseru kaget. Tetapi serempak dengan itu Hian Leng loto sudah merebut pedang imam Kong Beng dan terus menerjang Yok Lan. Nona itupun hentikan gerakannya, balikkan tangan dan tusukkan ujung pedangnya ke batang pedang Hian Leng. Hian Leng mengerang tertahan karena pedangnya tersiak ke samping. Secepat itu pula Yok Lan meneruskan membacok siku lengan kanan lawan. Hian Leng menjerit kaget, ia lepaskan pedang dan loncat mundur, keringatnya bercucuran deras. Setelah mengundurkan Hian Leng, Yok Lan-pun lanjutkan gerakannya menerjang imam Tiau Ing. Melihat kedatangannya, Tiau Ing tertawa gelak2. "Ha, ha, bagus, aku hendak menguji sampai mana kepandaian ilmu pedangmu !" serunya, ia tinggalkan Li Kun dan lari menyongsong Yok Lan. juga seperti menghadapi Li Kun, imam itu tetap menggunakan kibasan lengan jubahnya. Li Kun marah, dengan memekik nyaring ia hendak menerjang lagi. tetapi saat itu Yok Lan malah menghentikan permainan pedangnya, imam Tiau Ing tertawa dingin, kedua tangannya menampar dengan cepat kearah lengan dan bahu dara itu.

Gin Liong dan Li Kun terkejut. Keduanya serempak menjerit kaget. Melihat si dara tak menangkis pun tak meng hindar, dengan mendegus geram Tiau Ing lanjutkan kedua tangannya menjadi suatu pukulan yang sungguh2. Dalam detik2 yang berbahaya itu, tiba2 Yok Lan gerakkan pedang menusuk tenggorokan si imam. Kecepatannya bagaikan kilat menyambar. Tiau Ing terkejut sekali, Dengan gopoh ia kebutkan lengan jubah seraya menyurut mundur. Tetapi Yok Lan tak mau memberi kelonggaran lagi, ia loncat maju dan menabas, cres . . . . lengan baju kepala biara Ki-he-kwan seketika terpapas kutung. Yok Lan hentikan serangannya dan berdiri tegak. Saat itu baru Gin Liong dan Li Kun mengakui bahwa apa yang diagungkan orang persilatan bahwa ilmu pedang Hun Hu siantiang itu merajai dunia persilatan memang bukan suatu pujian kosong. Dua buah gerakan Yok Lan tadi, menunjukkan suatu jurus ilmu pedang yang luar biasa, penuh perobahan yang tak terduga, tenang laksana air telaga, cepat laksana kilat menyambar, lincah bagai ular terkejut, ringan bagai daun kering gugur di tanah. Sungguh suatu ilmu pedang yang jarang terdapat didunia persilatan. Hian Leng dan berpuluh anak murid biara Ki he-kwan, terlongong-longong heran. Diam-2 mereka menggigil dalam hati. Kepala biara Ki-he-kwan memiliki ilmu permainan pedang dan pukulan yang hebat, jarang orang dapat menandinginya.

Tetapi menghadapi seorang dara baju putih yang tak terkenal, kepala biara itu dipaksa harus mengucurkan keringat dingin. Diantara orang2 yang berkerumun di jalan itu terdapat juga orang2 persilatan. Tanpa disadari mereka berteriak memuji. Ketika imam Tiau Ing berdiri dan melihat jubahnya terbabat rompal, seketika wajahnya membesi, jenggotnya sampai gemetaran. Sepasang matanya memandang Yok Lan dengan pandangan kejut keheranan. Sesaat mendengar sorak sorai orang yang menyaksikan pertempuran itu, Tiau Ing makin merah padam mukanya, serentak ia menengadahkan kepala dan tertawa nyaring lalu berseru dengan congkak. "Selama aku menggunakan pedang, jarang aku bertemu dengan orang yang mampu menandingi. Sejak berpuluh tahun, tiada seorang yang mampu melayani pedangku sampai sepuluh jurus." Habis berkata ia memandang Gin Liong bertiga dan berseru nyaring: "Diantara kalian bertiga barang siapa mampu melayani aku sampai satu setengah jurus, kalian bebas melanjutkan perjalanan..." "Hm apakah engkau yakin dapat menghalangi kami" tukas Li Kun yang marah terhadap kesombongan imam tua itu. Dengan mata memancar dendam, Tiau Ing memandang ketiga anak muda itu lalu tertawa dingin. Kemudian mengangkat tangannya dan tahu2 sudah mencabut pedang dari bahunya.

Wajah Gin Liong berobah seketika, ia tahu bahwa pedang imam itu sebuah pedang pusaka, ia meragu, demikian pula Li Kun. Tetapi Yok Lan yang sudah gemas segera menantang: "Totiang sebagai seorang kepala biara, apa yang lotiang ucapkan tentu dapat kita percaya. Baik, akulah yang akan menerima pelajaran barang beberapa jurus dari lotiang . . ." ia tersenyum-senyum sambil siapkan pedang, menunggu serangan. Kepala biara Ki-he-kwan sudah berpuluh tahun meyakinkan ilmu pedang, Melihat sikap dara itu, seketika berubah wajahnya. Dilihatnya dara itu mencekal pedang lurus kemuka, semangat dan hawa murni telah dipusatkan satu. Kesemuanya itu merupakan sikap dari ilmu pedang tingkat tinggi, Benar2 imam itu tak habis mengerti mengapa dalam dunia persilatan telah muncul seorang dara yang memiliki ilmu pedang sedemikian saktinya. Diam-2 imam Tiau Ing mengeluh dalam hati karena hilang kepercayaan pada dirinya, adakah ia mampu memenangkan dara itu. seketika terlintas suatu pemikiran dalam benaknya, ia tertawa gelak2, serunya: "Jangan kuatir nona, pintu tak nanti menelan kata2 pinto lagi. Asal engkau mampu melayani sampai sepuluh jurus, pintu tentu akan melepaskan kalian bertiga." Diam2 Yok Lan sudah dapat membaca isi hati lawan, jika tadi imam itu mengatakan hanya satu setengah jurus, sekarang dia menghendaki sepuluh jurus, tetapi sebagai seorang dara yang masih berdarah panas, Yok Lan pun tak menyangkal.

"Baiklah, janji telah kita sepakati, silahkan lotiang segera mulai !" Tiau Ing tertawa gelak, serunya: "Pinto sudah berumur 80 tahun. rambut sudah putih semua, sudah tentu tak layak untuk menyerang lebih dulu, Engkaulah yang menyerang lebih dulu !" Walaupun nadanya tenang tapi wajah imam itu memang tegang, kerut kesombongannya sudah tak terlihat lagi. Mendengar Tiau Ing bermula menyebut diri sebagai kwan-cu atau kepala biara kemudian turun dalam sebutan pinto, tahulah Gin Liong dan Li Kun bahwa imam itu sudah terdesak dalam keadaan sulit, ibarat orang naik di punggung harimau. Bahwa dalam sekali gebrak saja, dara baju putih itu sudah dapat mengalahkan Hian Leng, tahulah Gin Liong bahwa imam Tiau Ing itu sudah tak mempunyai harapan untuk menang, ia hanya berharap tidak sampai kalah saja. Yok Lan yang cerdas, cepat dapat mengetahui isi hati kepala biara Ki he-kwan itu. ia tertawa hambar, sebelah mengiakan ia terus taburkan pedangnya dalam jurus burung hong-keluar-sarang. Dua sinar pedang sekali berhambur mengarah kedua bahu Tiau Ing. Kepala biara Ki-he-kwan itu menyadari bahwa hal itu ia berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, ia tak berani memandang rendah lagi, Diam2 ia segera kerahkan tenaga-dalam kelengannya lalu mengalir ke batang pedang. Dengan mengandalkan pedang pusakanya ia hendak coba merebut kemenangan. Selekas Yok Lan menyerang kedua bahunya, Tiau Ing lalu gunakan jurus Hun-hoa-hud-liu untuk membabat pedang dara itu.

Yok Lan menyaksikan selainkan cepat pun gerakan pedang imam itu mengandung tenaga dalam yang kuat sekali, Mau tak mau, iapun harus berhati-hati untuk menghadapinya. Berputar tubuh dan mengisar langkah, ia endapkan pedang dan menabas pinggang lawan. Melihat dua buah jurus yang dimainkan dara itu merupakan jurus biasa, semangat Tiau Ing bangkit kembali, demikian pula dengan kesombongannya-pun timbul. Dengan membentak keras, tiba ia robah gerakan pedangnya, Dengan ilmu pedang yang dipelajari selama berpuluh tahun, ia segera melancarkan serangan yang deras dan dahsyat. Setiap gerakan pedangnya tentu merupakan serangan maut dan mematikan Demikian terjadilah suatu pertempuran pedang yang dahsyat dan mengagumkan Deru angin dan sinar pedang yang menyilaukan mata. segera melihat tubuh Yok Lan dalam lingkaran sinar pedang yang ketat. Dalam kepungan sinar pedang maut itu, tak hentinya mulut Yok Lan melengking dan menjerit mengiring permainan pedangnya untuk menangkis, Beberapa saat kemudian sinar pedang imam Tiau Ing itupun makin menyurut sekalian orang yang menyaksikan pertempuran itu terkejut sekali. Di lain pihak pedang Yok Lan masih tetap melancar bagaikan air bengawan yang mengalir tiada hentinya, Setiap kali tentu terdengar suara mendering ketika ujung pedang dara itu menutuk batang pedang lawannya. Pedang kepala biara Ki-he-kwan itu makin lamban gerakannya, gulungan sinarnyapun makin pudar, sambil berlincahan ke kanan kiri, ia terus menerus terdesak mundur Dari menyerang ia berbalik diserang habis-2 an

oleh sidara, sehingga keadaannya pontang panting tak keruan. Terdengar desuh dan desah disertai seruan tertahan dari orang2 yang menyaksikan di tepi jalan Berpuluh-puluh imam anak buah biara Ki-hian-kwan serempak berobah pucat wajahnya dan berdebar-debar keras. Tak kecewa kepala biara Kai-he-kwan itu sebagai seorang jago pedang yang telah mempelajari ilmu pedang selama berpuluh tahun walaupun terdesak dan berlincahan menghindar mundur tetapi dia tetap dapat menutup diri dengan ketat sedikitpun tak terpengaruh suara hiruk dari penonton. Tujuan Yok Lan hanialah menyelesaikan sepuluh jurus dengan cepat. Tetapi karena lawan telah berganti dengan sikap bertahan, maka iapun memperlambat serangannya. Sebagai seorang jago pedang kawakan, sudah tentu kepala biara Ki-he-kwan itu dapat mengetahui isi hati si dara, Tetapi ia tak berdaya untuk merobah situasi karena pedang si dara itu masih tetap melancar dengan ketat. tanpa memberi kesempatan lawan untuk mengisi lubang kelemahannya." Demikian dalam beberapa kejap saja, pertempuran telah berlangsung sepuluh jurus, Tiba-2 imam Tiau Ing tertawa gelak2 dan terus loncat mundur sampai dua tombak. Yok Lanpun hentikan pedangnya. "Ilmu pedang totiang, benar2 jarang terdapat dalam dunia, Terima kasih atas pelajaran berharga yang totiang berikan." seru dara itu. Puas tertawa, kepala biara Ki-he-kwan itu berseru nyaring: "Selama berpuluh tahun, baru kali ini pinto

bertemu dengan orang yang mampu melayani pedang pinto sampai sepuluh jurus." Yok Lan geli dalam hati. Imam tua itu masih besar mulut, tak menyadari bahwa sesungguhnya ia memang tak mau menyerang lebih dahsyat lagi. Kepala biara Ki-he-kwan berputar tubuh dan berseru kepada anak buahnya: "Beri jalan dan pulang ke biara." Selekas menyimpan pedang tanpa menunggu penyahutan Yok Lan lagi, imam itu terus kebutkan lengan jubah dan terbang lari ke lereng gunung. Karena pemimpinnya sudah pergi, kawanan imam itupun segera berbondong-bondong lari mengikuti. Karena gelagatnya jelek, Hian Leng, Kong Beng dan Ceng Beng ketiga imampun ikut rombongan mereka. Yok Lanpun cepat mengajak Gin Liong dan Li Kun: "Mari kita lekas pergi, orang2 berbondong-bondong kemari." Gin Liong dan Li Kun tertawa. "Mereka sudah bubar, yang dari utara menuju ke selatan, yang dari selatan menuju ke utara, Apabila lewat disini. merekapun hanya ingin memandangmu sejenak." kata Li Kun tertawa. Demikian mereka bertiga segera naik kudanya pula, Saat itu matahari sudah mulai condong ke barat, Diam-2 Gin Liong berkata dalam hati: "Ah, mungkin akan terjadi sesuatu lagi." Berpaling ke belakang dilihat Li Kun berkuda di belakang tetapi ketika memandang ke belakang lagi, ia terkejut.

Di belakang ketiga ekor kuda mereka, tak berapa jauh jaraknya, tampak seorang rahib menunggang seekor kuda putih kembang. Rahib itu masih muda dan berparas cantik, Usianya diantara dua-puluh empat - dua-puluh lima tahun, mukanya berbentuk seperti buah tho kulit putih halus, alis melengkung rebah seperti bulan tanggal satu, mata jeli bersinar bening, bibir merekah merah, hidung mancung, mulut mengulum senyum madu, menimbulkan kesan yang memikat hati. Rambutnya yang dikonde keatas menurut seorang rahib, berhias dengan sebuah tusuk kundai kumala, jubahnya berwarna kuning susu, mengenakan pakaian luar warna jambon. Bahu menyanggul sebatang hud-tim atau kebut pertapaan. Ia memandang Gin Liong lekat2. Tergetar hati Gin Liong ketika beradu pandang dengan rahib muda itu. Wajahnya bertebar merah, Buru2 ia tenangkan hati dan berkata kepada Li Kun. "Taci Kun, hari sudah gelap, mari kita percepat perjalanan." Mereka bertiga segera mencongklangkan kuda lebih pesat. Tetapi rahib itu masih tetap mengikuti Tiba2 Gin Liong membaui tebaran angin yang membawa bau harum yang aneh. Li Kun yang pertama dapat mencium bau aneh itu,ia mendengus dan deliki mata kepada rahib itu. Sejak tadi Yok Lan tak memperhatikan soal rahib itu, Ketika mendengar Li Kun mendengus geram, barulah ia melihat rahib yang terus menerus memandang Gin Liong itu.

Entah bagaimana hati Gin Liong makin berdebar keras, ia tak berani memandang rahib itu lagi. Li Kun heran melihat kegelisahan Gin Liong, Demikian pula Yok Lan. Diam-2 Yok Lan menilai rahib itu. Seorang rahib itu seorang biarawan yang sudah mensucikan diri. Mengenakan pakaian warna yang begitu menyolok sudahlah tidak pantas, Begitu pula naik seekor kuda yang begitu tegar, ia mendapat kesan bahwa rahib itu tentu seorang murid agama yang murtad. "Taci Kun, mari kita cepatkan kuda !" karena muak, Yok Lan segera mengajak Li Kun. Li Kun kembali mendengus geram lalu melarikan kudanya. Rahib itu memandang Li Kun lalu tertawa dingin, walaupun mendengar, tetapi Li Kun dan Yok Lan tak ambil peduli. Demi melanjutkan perjalanan keduanya tak mau cari urusan. Gin Liong tak mau melihat rahib itu, pun tak mau memandang Li Kun, ia segera memacu kudanya. Tiba2 rahib muda itu tertawa, serunya: "Siau-siangkong, setelah mempunyai kawan perjalanan dua nona cantik, lalu tak kenal lagi padaku?" Mendengar itu Gin Liong tertegun. juga Yok Lan terkesiap, Hanya Li Kun yang tak dapat menahan kemarahannya lalu mendampratnya. "Sungguh tak tahu malu, siapa yang kenal padamu ?" Rahib cantik itupun berobah wajahnya dan menjawab dengan nada dingin: "Entah siapa yang tak punya malu, hm, tak tahu diri." Sudah tentu Li Kun merah padam mukanya. Dengan menjerit keras ia segera mencabut pedang Pek song-kiam.

Rupanya rahib cantik itu juga marah, serunya: "Hm, kalau tak diberi sedikit pelajaran, engkau tentu belum kenal kelihayanku " Habis berkata ia terus terjangkan kudanya kemuka. Orang-2 dijalan yang sudah terlanjur bubar memang terus pergi. Tetapi yang belum berapa jauh, kembali lagi untuk melihat ramai-ramai. Melihat rahib itu melarikan kuda kearahnya, Li Kun hentikan kuda, lintangkan pedang untuk menunggu. Selekas tiba, rahib cantik itu segera mencabut hud-tim lalu ditampar kearah dada Li Kun. Li Kun benar2 marah terhadap tingkah rahib itu. Kuda putih dikisarkan menghindar kesamping lalu diputar kebelakang kuda si rahib, dengan diantar teriakan melengking, ia balas menusuk rahib itu. Rahib itu terkejut sehingga ia loncatkan kuda kemuka. Kuda putih yang bernama si Putih milik Li Kun itu memang seekor kuda yang tegar, ditambah pula Li Kun mahir mengendarainya, Cepat ia pun memacu kudanya memburu kemuka. Dengan jurus Pek hun kian jit atau Menyingkap-awan-memandang-matahari, ia membabat pinggang rahib itu. Ketika berpaling terkejutlah rahib itu, Dengan melengking keras ia ayun tubuhnya loncat dari kudanya dan melayang ketempat kerumunan orang2 yang menonton. Karena orang2 itu berjumlah banyak, Li Kun tak leluasa mengejar, ia hentikan kuda dan mendamprat: "Cis, tak tahu malu, tak pegang kesucian . . ." Ternyata rahib cantik itu masih berada ditengah orang banyak, Dengan santai ia menukas kata Li Kun:

"Perempuan hina, pada suatu hari engkau pasti akan kenal keliehayan Biau Biau sian-kho tunggu saja !" Saat itu Yok Lan menghampiri dan meminta Li Kun tak usah meladeni rahib semacam itu, sedangkan Gin Liong menganggap rahib itu tentu kurang waras pikirannya. Kalau tidak masakan memanggil-manggil orang lelaki. Demikian mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan lagi. "Adik Liong, apakah rahib itu benar2 kenal padamu ?" tanya Li Kun. "Eh, jangan omong sembarangan aku tak pernah melihatnya," kata Gin Liong. "Mengapa dia tahu engkau orang she Siau ?" Gin Liong kerutkan dahi : "Ya, aneh, mengapa dia tahu she-ku ?" Melihat sikap Gin Liong yang heran sendiri, Li Kunpun tak mau mendesak lebih lanjut. Dengan cepat mereka melalui tiga buah kota. Walaupun ketiga ekor kuda mereka sudah basah kuyup dengan keringat tetapi kecepatan larinya masih tak berkurang. Saat itu matahari sudah tenggelam di sebelah berat. Kabut malam mulai bertebar, jauh disebelah muka samar2 tampak pintu kota Lay- yang-koan. "Taci Kun, lebih baik. kita ambil jalan besar saja, Kalau mengambil jalan mengitar tentulah akan kehilangan jejak Liong-li locianpwe." Kedua nona itu setuju. Begitu mereka segera menuju ke kota Lay-yang-koan. Empat buah lentera besar tergantung pada pintu kota.

Memang Lay-yang-koan sebuah kota yang besar dan ramai. Tiba dipintu utara, tampak prajurit penjaga pintu siap dengan senjatanya. Gin Liong bertiga turun dari kuda dan masuk kedalam pintu, Melihat ketiga anak muda itu mengenakan pakaian orang persilatan dan menyanggul pedang, segera penjaga itu tahu kalau mereka tentu berasal dari daerah Kwan-gwa atau luar perbatasan. Demikian Gin Liong dan kedua kawannya terus masuk ke dalam kota, Kota itu memang benar2 ramai, penuh dengan toko2 dan orang2 yang berjalan memenuhi sepanjang jalan. Kehidupan malam, tampak meriah. "Siau siauhiap !" tiba2 terdengar seruan seseorang. Li Kun dan Yok Lan terkejut lalu hentikan kuda dan berpaling kearah suara itu. Diantara kerumun orang, tampak seorang nona baju hijau tengah melambaikan tangan ke arah Gin Liong. Usia nona itu baru diantara enam belas-tujuh belas berwajah cantik dan masih bersikap seperti kanak2. Melihat Gin Liong terkejut tetapi tak menyahut, dara itu berseru pula dengan kurang senang: "Siau siauhiap, apakah engkau tak kenal padaku?" Tak pernah Gin Liong menduga bahwa di kota itu ia bakal bertemu dengan dara yang nakal, setelah tenangkan diri ia tertawa: "O, kiranya nona ik, bagaimana dengan kedua orang tua nona ?" Dara itu memang Ik Siu Ngo. Melihat Gin Liong sudah mengenalinya, ia tertawa. "Mereka juga disini, berada dirumah penginapan itu" ia menunjuk sebuah hotel di

belakangnya, Kemudian bertanya: "Siau siauhiap, apakah engkau tak mau ber temu dengan ayah-bundaku? Mamah tetap teringat kepadamu, ia mengatakan kau nakal tetapi menyenangkan" Gin Liongpun teringat akan peristiwa ia bersembunyi dibalik batu untuk mempermainkan nenek Ban atau ibu dari Siu Ngo tempo hari, ia pun tertawa geli. "Nona Ik, sungguh menyesal sekali, karena kami masih mempunyai urusan penting, terpaksa kami akan melanjutkan perjalanan. Lain hari kami tentu akan menemui locianpwe berdua," tiba2 Li Kun menyelutuk. Gin Liong terkesiap, Terpaksa ia minta maaf kepada Siu Ngo agar menyampaikan salam dan hormat kepada kedua orang tuanya." "Eh, mengapa engkau tak memperkenalkan ke dua nona yang naik kuda itu kepadaku ?" Siu Ngo tertawa. Gin Liong tertawa, Menunjuk pada Li Kun dan Yok Lan, ia memperkenalkan : "lnilah nona Tio Li Kun dari gunung Mo-thian-san. Dan ini adalah sumoayku Ki Yok Lan" Kepada kedua nona itu dengan tertawa kekanakan Siau Ngo memberi hormat Li Kun dan Yok Lanpun balas menghormat. "Nona Ik" kata Yok Lan, "kami hendak melanjutkan perjalanan ke selatan Apabila kalian juga ke selatan, kelak kita tentu masih banyak kesempatan untuk berjumpa lagi" Siu Ngo girang: "Baik, kalau begitu kelak kita pasti berjumpa lagi. sekarang silahkan kalau kalian hendak melanjutkan perjalanan."

Setelah minta diri, Gin Liong bertiga menuju kepintu selatan sekeluarnya dari pintu kota itu. mereka tiba disebuah hutan kecil yang gelap. Sekeliling penjuru sunyi senyap, Tetapi pada jarak belasan li disebelah muka tampak cahaya lampu berkelipan. Tentulah sebuah rumah makan. Karena lapar mereka segera menuju ke tempat itu. "Kita berhenti di rumah makan ini." kata Yok Lan setelah tiba di tempat itu. Jongos cepat menyambut kuda mereka. Atas pertanyaan Gin Liong jongos menerangkan bahwa kota ini adalah Lay-yang-koan. Dua belas li disebelah selatannya adalah kota Lay-hok-tin. Bertanya pula Gin Liong, apakah dalam beberapa hari ini pernah kedatangan seorang li-hiap (pendekar wanita) yang mengenakan mantel merah. "Tak pernah terdapat lihiap semacam itu yang lalu disini" menerangkan jongos. Ternyata rumah makan itu juga sebuah rumah penginapan Gin Liong menempati sebuah kamar dan Li Kun berdua dengan Yok Lan sebuah kamar. Selesai makan malam, merekapun masuk kamar masing2. Tengah tidur, tiba2 Gin Liong dikejutkan oleh kesiur angin halus dari kibaran pakaian ia terkejut, cepat turun dari pembaringan terus membuka jendela dan loncat kehalaman belakang lalu melayang keatas atap dan bersembunyi ditempat gelap. Memandang kesekeliling penjuru, ia melihat sesosok bayangan kecil sedang berlompatan ke atap deretan kamar di sebelah muka, Gerak orang itu hampir tak menimbulkan suara apa2. Gin Liong terkejut atas kelihayan ilmu ginkang

orang itu. ia duga, orang itu tentu mempunyai maksud tertentu. Sejenak berhenti tiba2 bayangan itu lari kearah tempat Gin Liong bersembunyi Sudah tentu Gin Liong kaget, Buru2 ia menyurut kebalik talang. Ah, ternyata bayangan itu bukan lain adalah rahib cantik Biau Biau siankho siang tadi, seketika timbullah rasa muak dan geram dalam hati Gin Liong. Sambil berdiri di atas tembok halaman, Matanya memandang lekat2 pada pintu kamar. Ketika melihat pintu belum bertutup, wajahnya berseri girang, Cepat ia melayang turun ke halaman dan sekali loncat ia sudah berada di muka pintu. Rahib itu mengintip kedalam kamar, hendak masuk tapi ragu2. Tetapi akhirnya masuk jugalah ia. Gin Liongpun cepat melayang turun ke halaman Dari celah jendela ia mengintai dan melihat Biau Biau sian-kho menghampiri tempat tidur. Wajahnya penuh memancar hawa kecabulan Seketika Gin Liong tahu apa maksud rahib itu. ia hendak menghajar rahib itu tetapi tiba2 ia teringat akan ikrarnya ketika di lembah gunung Hoksan, seketika hawa pembunuhan, pun mengendap. Tetapi ketika mendapatkan ranjang itu kosong Biau Biau sian-kho kecewa sekali, wajahnya segera menampil kemarahan. Cepat ia keluar dan melayang keatas rumah pada deretan kiri. Gin Liong tetap bersembunyi di balik talang. Saat itu Biau Biau sian-kho menggunakan ilmu bergelantungan kaki dikaitkan pada tiang penglari dan

kepala menjulai kebawah untuk melihat keadaan dalam kamar itu. Ternyata rahib cantik itu hendak mencari Gin Liong tetapi karena tak dapat menemukannya terpaksa mengangkat tubuh keatas atap lagi Ketika berpaling, kejutnya bukan alang kepalang, pemuda yang dicarinya itu ternyata tegak dibelakangnya. Memang tadi setelah melihat gerak gerik rahib itu, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Gin Liong loncat di belakang rahib itu. Karena kejutnya, Piau Biau sian-kho menjerit dan menyurut mundur, Tetapi alangkah kagetnya ketika kakinya menginjak angin, ia tahu kalau akan jatuh maka cepat ia kebutkan lengan baju dan selekas menginjak tanah ia melayang lagi keatas atap rumah sebelah barat lalu lari. Saat itu Li Kun dan Yok Lan berhamburan loncat keatas wuwungan. Melihat Gin Liong memandang kemuka dengan marah, kedua nona itupun memandang ke muka juga. Dilihatnya Biau Biau sian-kho sudah melewati dua deret kamar dan tengah melarikan diri ke arah barat. Li Kun marah. Cepat ia loncat mengejar, Gin Liong dan Yok Lan terpaksa menyusul. Tetapi melihat dirinya dikejar, Biau Biau sian-kho mempercepat larinya, Dalam sekejab mata sudah tiba di luar kota. "Liong koko, mengapa engkau tadi tak menghadang rahib itu ?" seru Yok Lan setengah heran melihat sikap Gin Liong. "Tak leluasa bertempur dalam kota, lebih baik menghajarnya diluar kota." jawab Gin Liong, ia terus pesatkan larinya mengejar rahib itu.

Tiba2 rahib itu berhenti, melengking dan taburkan kebutnya ke arah Li Kun yang datang paling dulu, Li Kun mendengus dingin, ia membabatkan pedangnya kearah kebut rahib itu. Melihat tadi Gin Liong tak turun tangan, Biau Biau Siankho mempunyai tafsiran kalau pemuda im takkan mencelakainya. Maka besarlah nyalinya, Berputar tubuh ia menyelinap ke belakang Li Kun dan mengebut lengan nona itu. Li Kun sudah terlanjur membenci setengah mati kepada rahib cabul itu, Dengan tangkas ia segera gunakan jurus Heng-toan-kiang-ho atau Memotong-sungai-bengawan, menabas pinggang Biau Biau sian-kho. Rahib itu menggeliat mundur, kebutnya ditutukkan ke muka Li Kun, Kembali Li Kun tertawa dingin, Sambil condongkan kepala kesamping lalu menusuk, cret . . pakaian bagian bawah dari Biau Biau sian-kho rompal, Rahib itu menjerit kaget dan menyurut mundur. Li Kun mengejar, pedangnya secepat kilat menabas batang leher Biau Biau sian-khi. "Taci, jangan membunuhnya . . " teriak Gin Liong. Li Kun terkejut, gerakannyapun agak lambat dan rahib itupun tundukkan kepala menyurut mundur, Cret . . sanggul rambut rahib itu terpapas jatuh.

Serasa terbang semangat rahib itu, ia menjerit nyaring dan lari kearah utara, Gin Liong, Yok Lan dan Li Kun tak mau mengejar. "Biau Biau sian-kho, harap engkau dapat merobah kelakuan dan kembali ke jalan yang benar." seru Gin Liong. Dari jauh kedengaran rahib itu berseru menjawab: "Hm, jangan kalian pura2 menjadi orang baik. Pada suatu hari aku tentu akan mencincang tubuh kalian". Li Kun menggeram: "Rahib itu memang sudah gelap pikiran, Lain kali kalau bertemu lagi, aku tak mau mengampuninya." Saat itu sudah lewat tengah malam. Lonceng genta di kota berbunyi tiga kali, Tiba2 dari arah barat laut terdengar derap kuda berlari cepat sekali dan tak berapa lama samar2 tampak empat sosok bayangan hitam lari mendatangi. "Tengah malam berkuda melintasi hutan, tentulah kawanan orang persilatan, Lebih baik kita bersembunyi." kata Li Kun. Ternyata keempat kuda itu memang sangat cepat sekali, Dalam beberapa kejab, mereka sudah tiba pada jarak puluhan tombak. Gin Liong memandang ke sekeliling. Sepuluh tombak disekeliling tempat itu tiada tempat untuk menyembunyikan diri. Selagi ia masih meragu, keempat penunggang kuda itu sudah tampak, Untuk menyembunyikan diri jelas sudah tak keburu lagi. Keempat ekor kuda itu tegar dan perkasa, berbulu hitam dan putih, Keempat penunggangnya mengenakan pakaian ringkas kaum persilatan. Yang dimuka, seorang tua berumur 50 tahun, pendek gemuk, muka brewok, mulut dan hidung besar, tulang keningnya menonjol, pertanda seorang

tokoh yang tinggi ilmu lwekangnya. punggungnya menyanggul sepasang senjata poan-koan-pit, matanya bersinar tajam sikapnya angkuh sekali. Dia tentulah pemimpin dan rombongannya. Sedang yang tiga orang, mengenakan pakaian persilatan warna biru, rata-2 berwajah bengis. Yang disebelah kiri, bertubuh kurus, muka kuning dan menyanggul pedang. Yang di sebelah kanan, bermuka hitam, brewok dan menyelip sepasang kapak pada pinggangnya Sedang orang yang dibelakang, telinga kirinya hilang, pinggang menyelip sebatang golok bian-to. Secepat angin keempat penunggang kuda itu melewati tempat Gin Liong. Mereka dapat pula untuk memandang Gin Liong bertiga. Untuk menyingkir dari taburan debu, Gin Liong bertiga segera menyurut mundur sampai dua tombak. Melihat itu ketiga penunggang kuda yang dibelakang tertawa gelak. Li Kun marah, ia segera hendak mencabut pedang, Tetapi sesaat itu terdengar lelaki bertelinga satu berseru. "Yu thancu, menilik pakaiannya, seperti kawanan budak yang diceritakan orang itu," katanya. Orang tua pendek gemuk yang berada di muka mendengus dan berpaling, hentikan kuda lalu berputar kembali. Gin Liong jengkel, ia tak ingin terlibat urusan tetapi selalu dikejar-kejar urusan saja. Sedang Li Kun diam2 gembira karena ia memang muak dengan keempat penunggang kuda nu. Tring, ia mencabut pedang. Lebih kurang tujuh tombak jauhnya, keempat orang itu loncat turun dari kuda lalu menghampiri ke tempat Gin

Liong. Orang tua itu tak mengacuhkan Li Kun yang sudah menghunus pedang, ia berjalan dengan dada membusung. Yok Lan cepat menduga bahwa keempat orang itu tentu bukan orang baik. Sedang Gin Liong tetap tegak dengan tenang, Hawa pembunuhan meluap, sesaat ia lupa akan ikrarnya. Setelah dekat, orang tua pendek gemuk itu berseru : "Aku adalah thancu ketiga dari perkumpulan Thian-leng kan, namaku Yu Ting Su bergelar Gun-se-poan-koan. Menerima perintah kaucu, aku hendak mencari jejak orang tua pemilik kaca wasiat yang konon berada dilembah gunung Hok-sau. Menurut kabar2 yang tersiar di kota Hoan-san-koan, kaca wasiat itu telah diberikan oleh seorang pemuda baju putih yang membawa pedang, pemuda itu she Siau nama Gin Liong." Sejenak berhenti untuk memandang wajah Gin Liong, orang tua pendek itu bertanya: "Menilik pakaianmu tampaknya engkau mirip dengan pemuda itu, Benar atau tidak, lekas engkau kasih tahu kepadaku Aku hendak lekas2 pulang melapor pada kaucu." Gin Liong tak sabar lagi melihat sikap dan kata2 orang tua yang begitu congkak, cepat ia menyahut : "Benar, memang akulah Siau Gin Liong." Tiba2 lelaki yang bertelinga satu tertawa gelak2, serunya : Yu thancu, bukankah pandanganku tepat ? Mohon thancu memberi ijin kepadaku untuk menangkap budak itu." Tanpa menunggu jawaban, dia terus melangkah maju dan mencabut golok bian-to lalu ditaburkan menjadi segulung sinar perak yang menyilaukan mata.

"Tio Hiangcu, tunggu dulu," seru Yi Ting Su. "biarlah dia menyerahkan sendiri pusaka itu agar kita jangan membuang waktu harus turun tangan." Gin Liong marah sekali, ia tertawa nyaring: "Benar, kaca wasiat itu memang berada padaku, jika kalian mampu, silahkan mengambil." Berobahlah wajah Yu ling Su seketika. "Budak yang tak tahu tingginya gunung Thaysan, Engkau berani bersikap kurang adat dihadapanku !" Habis berkata ia terus memberi perintah kepada lelaki bertelinga satu untuk menangkap Gin Liong. "Budak," seru lelaki bertelinga satu, "jika raja Akhirat memanggilmu tengah malam, siapa yang berani menahan engkau sampai esok hari ? Engkau cari mati sendiri, jangan persalahkan aku Tio toaya seorang ganas, Baiklah engkau serahkan saja kaca wasiat itu agar jangan engkau menderita, heh, heh . . ." "Kalian telah ditipu orang." seru Yok Lan, "cobalah kalian pikir, jika sekian banyak jago2 silat ternama tak mampu memiliki kaca wasiat itu, bagaimana kita dapat memperolehnya ?" Lelaki bertelinga satu itu deliki mata. "Tuanmu tiada waktu untuk adu lidah, lekas engkau menyingkir !" serunya. ia terus membabatkan dengan golok. Li Kun yang sejak tadi muak melihat tingkah laku keempat orang itu, segera loncat menyongsong dan membentak: "Siapa sudi bicara dengan engkau, enyahlah." Li Kun menutup katanya dengan taburkan pedang ke siku lengan lelaki bertelinga satu itu, walaupun tahu permainan pedang nona itu lihay tetapi si lelaki bertelinga

satu tak menghiraukan Dengan tertawa dingin menghindar lalu secepat kilat membacok bahu Li Kun.

ia

Li Kun cepat merapat maju menusuk muka lawan, Lelaki bertelinga satu itu menjerit kaget, ia tak menyangka sinona dapat bergerak begitu cepat serentak ia menyurut mundur. Tetapi Li Kun sudah dirangsang kemarahan. Dengan tertawa geram ia tetap memburu maju dan menabas. "Aduh..." terdengar lelaki itu menjerit kesakitan karena telinganya sebelah kanan terpapas jatuh, Dengan begitu ia tak mempunyai telinga sama sekali, Lelaki itu kucurkan keringat dingin. Setelah memapas daun telinga, Li Kun tak mau menyerang lagi, ia hanya tertawa dingin. "Hm, kantong nasi yang tak berguna, masih berani cari perkara" serunya. Wajah Yu Ting Su berobah seketika, setitik pun ia tak menyangka bahwa hanya satu gebrak saja, Tio hiangcu sudah kehilangan daun telinga lagi. Tiba2 kedua anak buahnya berteriak keras dan hendak maju menyerang. Tetapi cepat Yi Ting Su mencegah: "Kembalilah, kalian" Kedua orang itu terpaksa hentikan langkah dan mundur kembali. "Kita hanya diperintah untuk menyelidiki jejak orang tua itu, bukan untuk berkelahi. Tugas kita hanya melaporkan kepada kaucu, jangan engkau kotorkan tangan berkelahi dengan kawanan budak tak ternama." serunya, ia terus berputar tu huh dan mengajak ketiga kawannya menghampiri kuda.

Li Kun tertawa dingin: "Enak saja kalian ngomong, mengatakan pergi terus mau angkat kaki begitu saja" "Engkau mau apa ?" tiba2 kedua lelaki berputar tubuh dan membentak. "Sudah tentu meminta pertanggungan jawab kalian" seru Li Kun, Yu Ting Su menengadahkan kepala dan tertawa nyaring: "Benar2 seorang budak perempuan yang bermulut besar Aku tak mau cari perkara, kalian malah cari mati. Baik, akan kusuruh engkau tahu kelihayanku." Segera ia menghampiri Li Kun. "Baik, akulah yang akan mencoba sampai dimana kelihayanmu itu" seru Gin Liong. Ilmu pedang Li Kun, Yu Ting Su sudah menyaksikan tapi ia belum tahu sampai dimana kepandaian Gin Liong, Dengan deliki mata ia segera hantamkan kedua tangannya kearah pemuda itu. segulung angin dahsyat yang mampu menghancurkan batu, segera melanda Gin Liong. Pemuda itu tertawa dingin lalu menghindar kesamping, menyelinap ke belakang Yi Ting Su. Tetapi baru ia berdiri tegak, tiba2 lelaki yang bersenjata ruyung segera hantamkan senjatanya ke kepala Gin Liong. Gin Liong marah. Menghindar kesamping, dengan menggembor keras ia gunakan jurus Liong-hok-song-hou atau Naga-mendekam-sepasang-harimau, ia hantamkan kedua tangannya kedua orang yang menyerang itu. Bum . . lelaki bersenjata ruyung, mengerang tertahan, terhuyung2 beberapa langkah lalu rubuh Lelaki bersenjata kapak menjerit kaget karena kapaknya terlempar ke udara. Maju selangkah Gin Liong menyusuli dengan sebuah

tamparan ke muka lelaki itu, Orang itu menjerit terhuyung2 dan muntahkan segumpal darah segar. "Hai, budak, mengapa tak berani menyambut pukulanku ?" teriak Yu Ting Su, ia lontarkan sebuah hantaman dahsyat pula. Gin Liong tertawa nyaring. Setelah menghimpun tenagadalam kearah lengan, ia segera menghantam. Bum terdengar letupan keras disusul dengan hamburan debu dan percikan batu yang bertebaran keempat penjuru. Gin Liong tersurut dua langkah ke belakang, kedua bahunya tergetar, sedang Yu Ting Su bergeliatan meregang2 ketika tubuhnya terlempar ke belakang. Bum, tubuhnya yang kate dan gemuk itu terbanting ke tanah, jatuh terduduk. Ketiga anak buahnya walaupun tahu, tetapi tak berani menolong. Mereka takut kepada pukulan Gin Liong. Wajah Yu Ting Su pucat, keringat dingin bercucuran, pejamkan mata dan berusaha untuk mengambil pernapasan Ketika mendapatkan tubuhnya tak menderita luka, ia tercengang, Memandang ke muka dilihatnya Gin Liong masih tegak berdiri dengan santai. Yu Ting Su penasaran, serentak ia loncat bangun dan lari menghantam Gin Liong : "Aku akan mengadu jiwa dengan engkau" "Hm, kalau sudah bosan hidup, akan kuantarkan ke akhirat ." Gin Liong geram sekali melihat orang tua yang tak tahu diri itu. ia menghindar terus menyelinap ke belakang Yu Ting Su. Tetapi rupanya Yu Ting Su sudah bersiap, cepat ia putar tubuh, menggembor keras dan kakinya segera menyapu.

Gin Liong juga ingin menggunakan kaki, setelah menghindar dari kaki lawan, ia mengirim tendangan yang tepat mengenai pantat orang. Tubuh pendek gemuk dari Yu Ting Su seperti bola yang ditendang melambung ke udara. ia menjerit-jerit dan meluncur ke tempat ketiga kawannya. Ketiga orang itu terkejut lalu beramai-ramai menanggapi tubuh Yu Ting Su. Kemudian diletakkan di tanah. Sambil mendekap pantat, Yu Ting Su meringis, pandang matanya serasa kabur, kepala pening. Melihat tingkah laku si pendek gemuk itu, Yok Lan tertawa geli, Sambil memandang kepada Gin Liong, Yu Ting Su berseru: "Budak, kali ini aku mengaku kalah, Tetapi janganlah kalian bergirang dulu, Pada suatu hari kalian tentu harus merasakan kelihayan dari partai Thian lengkau." Gin Liong tertawa hambar. "Jangankan hanya gerombolan tak ternama seperti Thian-leng-kau. sekalipun partai persilatan besar yang manapun juga kalau tindakannya jahat, aku tentu akan menggempurnya !" Yu Ting Su marah tetapi ia terpaksa menahan diri, serunya: "Apakah kalian berani datang ke gunung Ke-kongsan ?" "Gunung sekecil Ke-kong-san, masakan kami takut. Hanya kalau aku kesana, dikuatirkan kalian tentu tiada mempunyai batang kepala lagi." Berhenti sejenak ia berseru dengan bengis: "Lekas kalian enyah, Paling lama dalam waktu sebulan lagi, aku tentu akan datang ke Ke-kong-san untuk meminta batang kepala yang kutitipkan diatas tubuhmu itu."

Hampir pecah dada Yu Ting Sun mendengar kata2 itu. Tubuhnya menggigil keras. Tetapi ia tak dapat berbuat apa2, kecuali deliki mata lalu ngeluyur menghampiri kuda dan terus kabur. "Mari kita kembali rumah penginapan lagi." kata Yok Lan. "Dimanakah letak gunung Ke kong-san itu?" tanya Gin Liong. Tetapi kedua nona itu mengatakan tak tahu. "Baik, besok kita tanyakan pada jongos rumah penginapan," kata Gin Liong, Merekapun segera pulang. Keesokan harinya, Gin Liong bertanya pada jongos tentang gunung Ke-kong-san. Jongos itu gelagapan, rupanya dia juga tak tahu. "Hai, siapakah yang bertanya tentang gunung Ke-kongsan itu ?" tiba2 terdengar suara orang berseru nyaring dari sebuah kamar. Seorang lelaki berwajah merah, kepala besar dan mengenakan pakaian orang persilatan warna hijau muncul dan tegak dengan sikap congkak diambang pintu sebuah kamar. Tubuhnya kekar, tampaknya gagah perkasa. "O, selamat pagi, toaya," kata jongos, "tuan inilah." ia menunjuk Gin Liong. Setelah memandang Gin Liong beberapa saat, orang itu berkata: "Ke-kong-san terletak di karesidenan Kong-ciukoan propinsi Holam, dengan naik kuda yang tegar, setengah hari dapat mencapai gunung itu." Habis berkata ia terus masuk lagi kedalam kamar.

"Terima kasih, toaya," seru si jongos, Kemudian ia minta Gin Liong kembali kedalam kamar, ia hendak mempersiapkan kuda dan makanan pagi. Sambil makan, Gin Liong menceritakan tentang orang lelaki tegar yang memberitahu tentang letak gunung Kekong-san tadi. Demikian telah selesai membayar rekening, Gin Liong bertiga segera keluar. Ketiga ekor kudapun sudah siap. Ketika hendak pergi, Giu Liong bertanya kepada jongos apakah dalam beberapa hari yang lalu, pernah melihat seorang wanita muda baju merah yang tiba dikota sini. "Ada !" seru jongos," bajunya merah, umurnya diantara 26-27 tahun . . ." "Berapa lama?" cepat Gin Liong menukas, "Pagi tadi, Rupanya semalam dia menginap dalam kota," kata jongos. Mendengar itu girang Gin Liong bukan kepalang. Hampir ia tak percaya apa yang didengarnya, Kalau malam ini tak berhasil, besok pagi tentu dapat juga menyusul Liong-li locianpwe Pikirnya. Ketika melanjutkan perjalanan, hari masih pagi sekali, Beberapa li jauhnya disebuah muka, terdapat sebuah rumah. Samar2 mereka mendengar suara orang membentak. Kemudian disusul dengan gelak tawa yang nyaring. "Liong suko," kata Yok Lan, "rasanya dalam hutan itu terjadi pertempuran dari dua tokoh yang berilmu tinggi, Lebih baik kita berjalan mengitari saja." Gin Liong dan Li Kun setuju tetapi sekeliling tempat itu hanya daerah persawahan. Kasihan kalau sampai merusakkan sawah2 petani.

Memandang ke muka, Gin Liong melihat dua sosok bayangan tengah berhantam dahsyat. Tiba2 terdengar suara teriakan nyaring, Segulung asap tebal berhamburan dari hutan itu dan kedua sosok tubuh itupun tercerai, terhuyunghuyung. Rupanya keduanya habis beradu pukulan. "Anjing, mengapa engkau terus menerus mengikuti perjalananku seperti seekor lalat ? Apa maksudmu ?" seru sebuah suara. Gin Liong terkejut ia serasa kenal dengan nada suara itu. Tetapi ia lupa. Kembali terdengar suara orang itu tertawa keras. "Tua bangka, engkau hendak mencari budak itu ? Terus terang saja. tak semudah itu, Kalau aku tak bisa mendapatkannya, jangan harap engkau-pun memperolehnya !" Orang itu tertawa pula. "Soal ini hanya kita berdua yang tahu. Agar rahasia itu jangan sampai ketahuan lain orang, salah satu dari kita berdua harus mati" "Anjing tua, mengapa engkau tak mau bunuh diri dulu ?" bentak suara yang melengking tajam penuh kemarahan. Tiba-2 suasana dalam hutan itu diam. Mungkin karena mendengar derap lari ketiga ekor kuda Gin Liong dan kedua nona. Saat itu ketiga pemuda itu hanya terpisah setengah li dari hutan. Tiba2 terdengar suara melengking tajam lagi: "Lekas hadang, yang datang tiga ekor kuda bagus !". Dua sosok tubuh meluncur keluar dan hutan dan menghadang di tengah jalan.

"Hai kedua orang itu hendak merampas kuda kita." seru Yok Lan, Li Kunpun cepat mencabut pedangnya. Kembali kedua orang itu saling berebut "Tua bangka, engkau sudah memiliki pedang pusaka Oh-kim-cek-bakkiam. Kali ini akulah yang berhak mendapat pedang mereka." Melihat kedua orang itu, Gin Liong mendengus geram: "Kedua manusia jahat itu memang sukar diperbaiki kali ini tak dapat diberi ampun lagi." Ternyata kedua orang yang menghadang di tengah jalan itu seorang imam tua dan seorang lelaki tua. Si imam berwajah monyet, mulut lancip, mata kecil, mengenakan jubah biru, mencekal sebatang hudtim bahunya menyanggul sebatang pedang. Sedang orang tua itu bermuka persegi, alis gombyok, mata bundar, jenggot bercampur uban, mengenakan pakaian biru langit. Saat itu Li Kun dan Yok Lan sudah tiba pada jarak tujuh tombak dari kedua orang itu, tetapi mereka tetap tak kenal, Tetapi Gin Liong dapat mengenali mereka sebagai kepala dari pulau Cui-leng-to dan pertapa Long Ya cinjin, ia memberi isyarat agar kedua nona berhenti. Melihat Gin Liong, kedua orang itu terkesiap lalu tertawa gembira. "Sungguh besar sekali rejeki kita, Menyusur ujung langit tak ketemu, tanpa banyak membuang tenaga ternyata sudah datang sendiri, Rupanya Kaca wasiat itu memang sudah ditakdirkan menjadi milikku." seru Long Ya cinjin. ia terus maju menghampiri Gin Liong.

Yok Lan heran mengapa begitu melihat Gin Liong mereka terus tahu kalau Gin Liong memiliki kaca wasiat itu. "Tua bangka, berhenti." seru kepala pulau Cui-leng-to, "tahukah engkau betapa hebat ilmu Meringankan-tubuh dari budak itu ? Hati2, jangan sampai dia lolos lagi, Lebih baik engkau terima usulku tadi. Lebih dulu kita berserekat untuk menangkap budak itu lalu kita adu kesaktian lagi siapa yang berhak hidup dan siapa yang pantas mati, untuk menentukan siapa yang harus memiliki benda pusaka itu." Long Ya cinjin keluarkan mata dan hentikan langkah. Rupanya ia terpengaruh juga atas ucapan kepala pulau Cuileng-to. Dengan masih naik kuda, Gin Liong muak terhadap kedua manusia itu, Percuma saja ia hendak menasehati mereka, Lebih baik ditindak dengan kekerasan ia segera ajukan kuda menuju ke tempat Long Ya cinjin. Bukan takut kebalikannya Long Ya malah tertawa gembira karena ia mempunyai kesempatan untuk merampas kaca wasiat dari Gin Liong. Kepala pulau Cuileng-to tahu isi hati Long Ya cinjin, ia segera berdiri dibelakang cinjin itu. Jika dapat biarlah Long Ya bertempur dengan Gin Liong dulu, baru ia nanti turun tangan untuk menyelesaikan mereka. Yok Lan segera mencabut pedang dan berdiri di samping Li Kun, Karena melihat sikap Gin Liong yang begitu hati2, kedua nona itu menduga musuh tentu tokoh yang berat. Kepala pulau Cui-leng-to hanya tahu bahwa Gin Liong hebat dalam ilmu ginkang. Tetapi ia tak tahu sampai dimana kepandaian silat pemuda itu. Maka iapun tak memandang mata terhadap Gin Liong.

Gin Liong tetap ajukan kudanya ke muka. Tiba-2 Long Ya cinjin menggerakkan kedua tangannya mendorong kearah Gin Liong Segulung dingin pukulan yang dahsyat segera melanda dada pemuda itu. Gin Liong mendengus dingin, iapun segera songsongkan kedua tangannya kemuka, sebuah gelombang angin pukulan yang dahsyat segera meluncur. Melihat itu kepala pulau Cui-leng-lo terkejut cepat kebutkan lengan baju dan melayang setombak ke samping. Bum, terdengar letupan dahsyat, disusul dengan debu dan batu yang beterbangan ke segenap penjuru, Long Ya cinjin dan Gin Liong sama2 terhuyung mundur sampai tiga langkah. Secepat kilat kepala pulau Cui-leng-to segera melangkah maju sambil mengendapkan tubuh dan membentak: "Budak, sambutlah sebuah pukulanku lagi . . ." Karena melihat Gin Liong yang baru berdiri tegak sudah dihantam lagi, Yok Lan dan Li Kun melengking kaget. Melihat itu Gin Liong marah sekali, bentaknya: "Apa susahnya menerima sepuluh kali pukulanmu lagi !" Ia gerakkan kedua tangan untuk melepaskan sebuah tamparan yang dahsyat, Kembali terdengar letupan yang disertai dengan debu dan percikan batu yang tebal. Kepala pulau Cui-leng-to terhuyung mundur sampai beberapa langkah, wajahnya merah padam Tetapi Gin Liong juga terhuyung2 ke belakang, ia merasa tenaga pukulan kepala pulau Cui-leng-to itu lebih hebat dari Long Ya cinjin. "Terima sebuah lagi !", Gin Liong berteriak dan melangkah maju, Pada saat ia hendak menghantam tiba2 ia

dikejutkan oleh jerit teriakan keras. Ketika berpaling dilihatnya Long Ya cinjin menerjang Yok Lan. Rupanya hendak menjadikan nona itu sebagai sandera, Cepat Gin Liong tinggalkan kepala pulau Cui-leng-to untuk menyerang Long Ya cinjin. Long Ya cinjin tertawa dingin lalu enjot tubuh melayang beberapa tombak, Rupanya ia bermaksud hendak memikat Gin Liong ke lain tempat. Tepat pada saat itu kepala pulau Cui-leng to menyelinap ke belakang Li Kun, terus menerkam bahu nona itu. Yok Lan terkejut. Dengan melengking keras ia gunakan jurus Pek-coa-tho sin atau Ular-putih menjulur lidah, menusukkan ujung pedangnya ke siku lengan kanan kepala pulau itu. Tetapi kepala pulau Cui-leng-to tertawa dingin, tangan yang sedianya diterkamkan ke bahu Li Kun secepat kilat diputar, dengan tiga buah jari tangan ia menjepit batang pedang Yok Lan. Li Kun melengking seraya melangkah maju dan Yok Lanpun cepat menarik pulang pedangnya, Gin Liong loncat menerjang pertapa itu, Long Ya cinjin tertawa mengekeh dan menghindar. Walaupun Yok Lan cepat menarik pedang tetapi masih kalah cepat dengan kepala pulau Cui-leng-to yang lebih dulu berhasil menjepit pedang nona itu lalu sekali kerahkan tenaga, pedang Yok Lanpun putus jadi dua. Kemudian dengan tertawa keras, ia taburkan ujung kutungan pedang kemuka Gin Liong. Gin Liong mendengus geram, ia condongkan bahu ke samping, lontaran kutungan pedang itu luput dan

menghantam Long Ya cinjin yang berada di belakang Gin Liong. Saat itu Long Ya cinjin memang hendak menerkam bahu Gin Liong dari belakang, Terkaman luput ia tak sempat memperhatikan lontaran pedang kepala pulau Cui-leng-to. Untung ia masih dapat miringkan kepala sehingga hanya jenggotnya yang terpapas habis, Ketika tangan merabah, ternyata dagunya juga berdarah ia marah sekali. Saat itu Gin Liong sudah menyerbu kepala pulau Cuileng-to sehingga orang itu kelabakan dan memekik-mekik. ia menghantam kalang kabut sekuat tenaganya, Gin Liong enjot tubuh melambung ke udara melampau kepala lawan. Pada saat kepala pulau Cui-leng-to menengadah memandang ke atas. dengan suatu gerak yang cepat dan tak terduga-duga. Gin Liong dapat menangkap kedua siku lengan lawan. Kepala pulau Cui-leng to berontak sekuatkuatnya. "Enyah !" dengan meminjam tenaga dari kepala pulau Cui leng-to itu. Gin Liong yang sudah turun ketanah segera mendorong sekuatnya. Tubuh kepala pulau Cui-leng-to itupun seperti layang2 putus tali, terlempar ke tempat Long Ya cinjin. Pertama karena ingin merebut sendiri kaca wasiat yang berada pada Gin Liong, Kedua, karena marah jenggotnya ditabur kutungan pedang tadi, melihat kepala pulau melayang ketempatnya Long Ya cinjin, diam2 mencabut pedang dan selekas kepala pulau Cui leng-to tiba dihadapannya, ia segera menabas pinggangnya. Terdengar jeritan ngeri, diiring dengan hamburan darah dan rubuhlah tubuh kepala pulau Cui leng-to. Karena terpapas kutung menjadi dua . . .

Sehabis menyelesaikan kepala pulau Cui-leng to, Long Ya cinjin tengadahkan kepala tertawa nyaring. Nadanya penuh dengan kebanggaan dan keganasan yang menyeramkan. Kumandangnya sampai jauh menyusup kelangit.... Yok Lan dan Li Kun tercengang. Karena tak menduga dan dilakukan cepat sekali Gin Liongpun tak sempat lagi menolong kepala pulau Cui-leng-to Gin Liong marah melihat sikap dan tindakan Long Ya cinjin yang ganas dan sombong. Cepat ia menggerung dan loncat menerjang. Long Ya cinjin terkejut. Dengan menggembor keras ia membabatkan pedangnya kearah Gin Liong. Anak muda itu terkejut juga, Cepat ia loncat ke samping sampai dua tombak, sekalipun demikian mukanya terasa perih seperti tertusuk jarum karena dilanda angin pedang lawan. Long Ya cinjin tertawa bangga, setelah menyelipkan hudtim ke belakang punggung, ia terus menghampiri Gin Liong. Gin Liong tak mau memberi hati lagi, Serentak iapun mencabut pedang Tanduk Naga, seketika di sekeliling tempat itu terbaur oleh cahaya merah. Tanduk Naga, Oh-bak dan Pek-soang-kiam, tiga buah pedang pusaka serempak muncul di tempat itu. Sesaat pedang Tanduk Naga keluar maka pedang Ohbak-kiam atau pedang Hitam-mulus yang dipegang Long Ya cinjin segera memancarkan dering yang melengkinglengking. seketika berobahlah wajah Long Ya cinjin. ia mengenali pedang Tanduk Naga itu sebagai pedang pusaka

nomor satu dari suku Biau, Langkahnyapun lambat dan matanya memandang lekat2 pada pedang Gin Liong. Kini Gin Liongpun maju menyongsong Long Ya cinjin, ia anggap Long Ya itu seorang manusia ganas yang wajib dilenyapkan. Rupanya Long Ya cinjin hendak mendahului menyerang. Dengan jurus Liong-hi-song-cia-tau Nagabermain-sepasang-mutiara, pedang Oh-bak-kiam segera ditaburkan menusuk kedua bahu Gin Liong. Tetapi pemuda itu secepat kilat melancarkan jurus Hengtoan-kiang-ho atau membabat-sungai-bengawan. Long Ya cinjin terkejut, sambil mengendapkan tangannya yang hendak diserang lawan, ia terus meluncur mundur sampai dua meter. Tetapi Gin Liong tak mau memberi kelonggaran lagi. Sret, sret, sret, ia maju dan menabas tiga arah, alis, lutut kaki dan menusuk perut. Gerakan yang dahsyat dari pedang Tanduk Naga itu diiring dengan deru angin yang keras. Long Ya cinjin menjerit2 seraya berlincahan menghindar kian kemari. Tetapi ia tampak sibuk sekali dan terdesak mundur. Setelah dapat menguasai lawan, Gin Liong memperkembangkan permainan pedangnya makin gencar, Membabat, menusuk dan menabas. Gerak pedangnya tak ubah seperti arus sungai yang mengalir tiada putus2nya. Long Ya cinjin hanya mengandalkan kelincahan untuk bertahan diri, kecongkakannya lenyap, tubuhnya mandi keringat. Saat itu kaki Gin Liong kebetulan akan membentur mayat kepala pulau Cui-leng-to. Dia harus berkisar

kesamping, pada saat ia melakukan gerak mengitar itu, pedangnyapun agak lambat. Kesempatan itu tak disia2kan Long Ya cinjin, cepat ia lancarkan serangan. Sinar pedang hitam bertaburan mengarah dada dan perut Gin Liong. Keduanya sangat hati2 sekali kepada pedang nya, Maka mereka tak mau membenturkan pedang dengan pedang lawan karena kuatir akan merusakkan pedang pusakanya. Oleh karena itu maka Gin Liongpun terpaksa harus mundur. -ooo0dw0oooBab 8 Menaklukkan Ceng Jun sian-ki Walaupun dalam ilmu pedang, Li Kun telah mendapat gemblengan dari Bong-san loni tetapi ia belum pernah menyaksikan pertempuran pedang yang sedemikian dahsyatnya, Diam2 ia mengakui bahwa ia masih kalah dengan Long Ya cinjin. Sementara Yok Lan yang mengikuti jalannya pertempuran itu, hatinya gelisah sekali sehingga tangannya berkeringat. ia sudah dapat mengetahui kelemahan dari ilmu pedang Long Ya cinjin jika di lawan dengan ilmu pedang ajaran Huan Ho sian-tiang, seharusnya tangan kanan Long Ya tadi sudah terpapas kutung, ia gelisah karena saat itu ia tak mempunyai pedang. Tiba2 terdengar Gin Liong memekik keras dan pedang Tanduk Naga menghindar ke samping untuk sengaja membuka sebuah lubang kelemahan.

Sudah tentu Long Ya cinjin tak mau mensia-siakan kesempatan itu, bagaikan kilat menyambar, pedang Oh-bakkiam segera menusuk perut pemuda itu. Gin Liong menggembor keras dan tahu2 pedang Tanduk Naga sudah tiba dileher lawan, Gerak lingkaran pedang itu bukan olah2 cepatnya sehingga Long Ya cinjin menjerit kaget dan meluncur mundur. "Cret . . . ." secarik jubah yang terbuat dari sutera biru terbabat rompal, serentak dengan jurus Sun-cui-hui-coh pula maka Gin Liong pun menusuk dada cinjin itu. Kali ini Long Ya cinjin rasakan semangatnya benar2 seperti terbang. Dengan memekik keras ia tabaskan pedangnya, Dalam keadaan terdesak seperti saat itu, ia nekad hendak mengadu pedang. Gin Liong tahu maksud orang, ia tertawa keras, mengendapkan pedang Tanduk Naga dan sekonyongkonyong terdengarlah jerit Long Ya cinjin yang nyaring dan ngeri. Sinar hitam dari pedang Oh-bak-kiampun lenyap, pedang itu terlempar ke udara karena tangan kanan Long Ya terbabat kutung. Tetapi Gin Liong sudah terlanjur mengumbar kemarahan. Sekali pedang Tandu Naga berputar lagi maka batang kepala Long Ya cinjinpun terlepas dari tubuhnya, dan darah merah yang menyembur keras. Sambil mengawasi tubuh Long Ya cinjin yang masih berkelejotan, teringatlah Gin Liong akan kata2 orang tua kurus di gunung Hoksan tempo hari. "Dalam keadaan terpaksa membunuh orang, mungkin engkau tak dapat menghindari lagi."

"Adik Lan," tiba2 Li Kun berseru gembira, "engkau yang ambil pedang di tegalan dan aku yang akan mengambil kerangkanya di tubuh imam jahat itu" Yok Lan melesat ke tegal untuk menjemput pedang Ohbak-kiam yang sudah menancap hampir masuk semua ke dalam tanah. Kemudian setelah Yok Lan kembali dengan membawa pedang itu, Li Kunpun sudah siap dengan kerangkanya. Ketika dipadu dengan Tanduk Naga, ternyata pedang Ohbak-kiam itu hampir tak ada bedanya. Hanya kalau pedang Oh-bak-kiam itu memancarkan sinar hitam, pedang Tanduk Naga bersinar merah. Ketika memeriksa kerangka, ternyata kerangka pedang itu terdapat ukiran seekor naga terbang yang ditabur dengan batu permata. "Benda pusaka, senjata pusaka harus dimiliki orang yang berbudi jika pedang ini jatuh ke tangan adik Lan, barulah mendapat pemilik yang sesuai" kata Li Kun tertawa. Tetapi Yok Lan menolak, Kemudian sambil memandang ke mayat Long Ya cinjin, ia berkata lebih lanjut: "Walaupun pedang ini hebat sekali tetapi aku tak suka memakainya." Li Kun heran tetapi Gin Liong tertawa, serunya: "Jika adik Lan tak mau, kasih saja padaku". Ia segera mengambil pedang dari Yok Lan dan kerangka dan Li Kun. Tetapi Li Kun tak puas. "Engkau sudah punya pedang Tanduk Naga mengapa masih menginginkan Oh-bak-kiam lagi ?" serunya.

Gin Liong tertawa: "Sudah tentu pedang Tanduk Naga pemberian Liong-li locianpwe itu dapat kuhaturkan kepada Lan-moay." "Tidak, itu pemberian dari kepadamu." Yok Lan menolak. Liong-li locianpwe

"Tetapi engkoh Liong berhak juga memberikan kepadamu," kata Li Kun tertawa, Tanpa berkata apa2 lagi ia terus menyambar pedang Tanduk Naga dari punggung Gin Liong lalu hendak dicabutnya, Tetapi karena dicabut, kain pembalut kerangka pedangpun ikut terbuka, Dan ketiga anak muda itupun terkejut. Sejak menerima pedang Tanduk Naga, Gin Liong tak pernah memeriksa dan disanggulkan dibelakang bahu, Kini baru ia mengetahui bahwa kun pembungkus kerangka pedang itu ternyata bertabur lukisan burung cenderawasih dari batu permata. "Ah. rupanya sudah kehendak Thian bahwa pedang ini harus menjadi milik adik Lan" kata Li Kun gembira. ia mencabut pedang itu dan seketika memancarlah sinar gilang gemilang yang menyilaukan mata, Samar2 pedang itu seperti mengulum dering suara. "Aaah kedua pedang ini memang dicipta berpasangan." akhirnya Li Kun menarik kesimpulan. Merah wajah Yok Lan mendengar keterangan itu. "Mungkin Cici Kun benar," kata Gin Liong, "baiklah kita nanti tanyakan kepada Liong-li locianpwe, tetapi Liong-li locianpwe mengatakan bahwa pedang Tanduk Naga itu merupakan pedang nomor satu dari daerah Biau...." "Sudah tentu yang nomor satu," seru Li Kun, "karena kata2 Ci Hiong (betina-jantan) itu, huruf Ci yang didepan,

baru Hiong, Sejak dulu orang mengatakan Ci hiong-kiam bukan Hiong-ci-kiam." Gin Liong dan Yok Lan tertawa, Tiba2 Gin Liong berseru kaget: "Hujan !" Merekapun cepat naik kuda lagi dan terus mencongklang kedalam hutan, Hutan itu gelap sekali, Tak berapa lama mereka dapat melintas keluar dari hutan itu. Hujanpun mulai berkurang. Mereka girang karena tak berapa jauh di sebelah depan tampak sepercik sinar api. Segera mereka menuju ke tempat itu, Ternyata percik sinar api itu berasal dari lereng sebuah gunung karang, Dan mereka girang sekali setelah tiba ditempat itu, mereka berhadapan dengan halaman sebuah rimba panjang pohon liu, akhirnya mereka tiba di sebuah pintu besar bercat merah. Belum sempat apa-apa, hujan mencurah keras lagi. Terpaksa mereka larikan kuda naik ke titian, menuduh dibawah payon pintu. Ketika sepercik kilat memancar, mereka sempat membaca papan nama yang tergantung diatas pintu, seketika ketiga anak muda itu terkejut sampai menyurut mundur setengah langkah. Empat buah huruf besar warna merah yang tertera pada papan nama itu berbunyi: Sian Ki Lok Wan atau Taman hiburan dari dewa dewi. Ditengah huruf2 itu tertancap empat batang badik yang berkilau- kilauan, Ketiga ekor kuda itu pun terus menerus mendesus tak tenang. Juga ketiga anak muda itu tak tenteram perasaannya. "Liong koko," seru Yok Lan pelahan," lebih baik kita lekas lanjutkan perjalanan lagi. Tempat ini mungkin apa yang disebut dunia persilatan sebagai Liu-to-hun jiu...."

Liu to-hun-jiu artinya meninggalkan golok hendak membalas dendam. Pembunuhan dalam dunia persilatan, kebanyakan dilakukan secara menggelap, Masing2 fihak sering membasmi juga orang yang mengetahui rahasia dirinya. Kita tak boleh berada disini, agar jangan terlibat. Menilik gelagatnya, orang yang mencari permusuhan itu tak sedikit jumlahnya." kata Li Kun. Sambil memandang tulisan di papan itu ia menyatakan pula. "walaupun kita tak takut tetapi tiada gunanya kita harus terlibat urusan mereka, Apalagi kita harus lekas2 mengejar jejak Liong-li locianpwe." "Tetapi hujan lebat sekali, bagaimana melanjutkan perjalanan ?" jawab Gin Liong. kita akan

Kedua gadis itupun terdiam. Memang hujan lebat sekali, sukar untuk melakukan perjalanan. Sambil memandang ke papan nama, berkatalah Gin Liong: "Rupanya orang yang hendak mencari permusuhan itu sudah pergi dan meninggalkan badik pada papan nama." Baru berkata begitu, dari atas loteng pintu besar itu berhamburan angin berbau anyir (amis). Gin Liong terkejut dan menanyakan kedua nona apakah juga mencium bau darah. Kedua itu mengangguk, Ketiganya segera menarik kesimpulan bahwa pemilik bangunan itu tentu bukan. juga mereka melihat sepasang thong-hoan (gelang baja). "Kemungkinan besar orang yang mencari balas itu apakah sudah berhasil." kata Gin Liong. Tetapi kecuali kilat yang menyambar, di sekeliling penjuru itu sunyi senyap, Tiba2 Li Kun berteriak: "Lihatlah !"

Menurutkan arah yang ditunjuk nona itu. Gin Liong dan Yok Lan melihat di ujung pintu terdapat sebuah benda dan ketika mereka menghampiri ternyata benda itu sebuah tangan manusia yang kutung dan masih bercucuran darah. Mereka anggap kesimpulan Gin Liong tadi benar, orang yang menuntut batas itu tentu sudah berhasil dan pergi. Mereka segera memasuki pintu itu. Ternyata merupakan sebuah lorong panjang menuju kelereng gunung, sebelah kiri dari lorong itu merupakan sebuah taman bunga yang merentang sampai ke gunung, Di tengah taman bunga dihias dengan gunung2an, pagoda dan cemara kate. Saat itu- hujan sudah berhenti dan Yok Lan segera mengajak melanjutkan perjalanan lagi, Tetapi saat itu Gin Liong sudah loncat ke sebuah tikungan kiri. Li Kun dan Yok Lan melihat di sebelah muka menggeletak sesosok tubuh manusia tanpa kepala. Keduanya terpaksa menghampiri ketempat Gin Liong, Kepala orang itu terhampar di luar lorong, ditingpah air hujan, Di pagoda kecil di tengah taman itupun seperti terbaring dua sosok mayat, Ke tiga anak muda itu segera menghampiri. Ternyata kedua mayat itu dari dua orang gadis yang dadanya berlubang menganga lebar, mengerikan sekali. "Pembunuhnya benar2 seorang manusia ganas. Bahkan dua orang gadis yang lemah, pun dijagal begitu kejam" kata Gin Liong. "Jika begitu jelas kita takkan menemukan manusia yang hidup ditempat ini" kata Yok Lan. "Begitulah tingkah orang persilatan. Untuk membasmi saksi hidup mereka tentu mencabut sampai ke akarnya." kata Li Kun.

"Kita masuk kedalam bangunan ini, mungkin masih terdapat korban yang dapat kita tolong." kata Gin Liong terus hendak loncat keluar dari pagoda kecil itu, tetapi tiba2 beberapa percik sinar penerangan di lereng gunung itu padam semua sehingga suasana gelap sekali, "Cepat, penjahat itu tentu masih berada digunung" seru Gin Liong terus lari menuju ke lereng, Kedua nona itupun mengikutinya. Dalam beberapa kejap mereka sudah tiba di tengah lereng. Mereka tak berani langsung menyerbu melainkan bersembunyi dimuka sebuah gunungan palsu. Di sebelah muka tampak sebuah ruang besar dimuka ruang terbentang sebuah panggung yang lebar dan berbentuk persegi, di atas panggung dikelilingi oleh pagar batu dan bertingkat sampai belasan titian, Titian panggung itu menuju kesebuah pintu besar mencapai ruang besar. Di muka ruang besar itu penuh di hias dengan lentera model keraton yang bergoncang2 tertiup angin. Ruang gelap gelita, hanya tampak bayang2 lentera itu, Karena letaknya tinggi, Gin Liong bertiga tak dapat melihat keadaan ruang itu. Gin Liong menjemput sekeping batu kecil lalu dilontarkan ke arah ruang besar, Bluk, batu itu jatuh ke tubuh manusia atau mungkin pada lembar kulit tebal. Setelah tak ada reaksi apa2, Gin Liong melesat kemuka panggung, serentak hidungnya terbaur bau anyir dari darah manusia yang berasal dari ruang diatas. Mereka bertiga segera mendaki naik ke arah pintu, Gin Liong siap dengan pedang Oh-bak-kiam, Demikian pula dengan Li Kun dan Yok Lan.

Ketiga pedang pusaka itu memancarkan sinar berkilat yang menerangi sekitar tempat itu. Tetapi serempak itu Li Kun dan Yok Lan menjerit dan mundur dua langkah, Ternyata ruang besar itu penuh dengan tumpukan mayat. Darah mengalir sampai keluar ruang. Gemetar tubuh Gin Liong karena marah menyaksikan pembunuhan terkutuk itu. Ternyata mayat2 itu terdiri dari gadis2 berpakaian indah. Hanya terdapat empat lima orang lelaki yang mengenakan baju bersulam benang emas, Korban2 itu kebanyakan dada dan perutnya berhamburan dan yang lelaki tangan dan kepalanya hilang. "Ah, tak kira didunia terdapat manusia yang begini kejamnya," Gin Liong menggeram, ia terus melangkah masuk kedalam ruang, Yok Lan dan Li Kun melindungi dibelakangnya, Mereka teruskan masuk ke dalam dan mendorong pintu tengah. Tetapi tak melihat barang seorang manusiapun juga. Yok Lan mendapat akal, ia menyulut sebuah lentera ternyata minyaknya habis. Tiba2 mereka mendengar tebaran pakaian didera angin, Setelah diperhatikan, ternyata bunyi itu berasal dari seorang yang memiliki ilmu ginkang hebat tengah lari keatas gunung, Menilik suaranya tentu bukan hanya seorang saja, Entah siapa pendatang itu, lebih baik bersembunyi dulu, Mereka bertiga segera bersembunyi dibalik pintu tengah. Tetapi pada lain saat Gin Liong merasa, pendatang itu tentu akan curiga dan tentu akan mudah mengetahui persembunyiannya. ia hendak mendorong Yok Lan keluar tetapi terlambat, Kawanan pendatang itu benar2 cepat sekali, Mereka sudah memasuki ruang, Terpaksa Gin Liong batalkan maksudnya.

Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar jeritan seorang gadis, Ternyata dalam rombongan pendatang itu terdapat juga seorang anak perempuan yang tentu ngeri melihat pemandangan dalam ruang itu. Yang datang ternyata tiga orang, Terdengar mereka berbisik2 merundingkan rencana, Gin Liong hanya dapat menangkap pembicaraan mereka terputus-2 Seorang bersuara kering kedengaran berbisik: . . jangan kuatir . . kepandaian tinggi , . benda itu . . bukan tandingan . Seorang bernada dingin rupanya penasaran : " . . apabila . . dan tak siap . ." Gadis tadi menangis terisak-isak. Orang bersuara parau seperti menghibur: " , . . . jangan menangis . . . mereka . . . tidak disini. atau . . . kelain tempat. . ." Orang yang bersuara dingin tadi berkata : " . . . . ke lain .. . menyelidiki . . . dapat. . . bertemu mereka." Tetapi gadis itu rupanya bertabiat keras kepala, ia menangis : "Tidak, aku akan .. . . melihat... tadi . . . , ada lentera..." Pembicaraan mereka ruangpun sunyi lagi. terhenti dan suasana diluar

Tuk, tuk, tuk . . . terdengar tongkat besi mendebur lantai disertai derap langkah kaki orang, Mereka memasuki ruang, "Korek !" kata orang yang bersuara dingin, Pada lain saat ruang itupun terang benderang, Terdengar orang bersuara parau menghela napas. "Hm, Golok-terhang Ui It Liong benar2 berhati buas sekali ?" serunya.

Gin Liong terkejut, Rasanya ia pernah kenal dengan nada suara orang itu, ia hendak menyiak tubuh Yok Lan untuk melongok keluar, Tetapi saat itu ruang terdebur tongkat dan langkah kakipun berderap-derap kian kemari. "Budak perempuan, mana budak laki itu ?" seru orang yang bersuara dingin. Kini tak sangsi lagi Gin Liong siapa orang itu, cepat ia berseru: "Apakah diluar itu bukan Ik locianpwe berdua ?" Terdengar suara orang tertawa gelak2. Dia bukan lain adalah Kaki-tunggal-bertongkat-besi Ik Bu It yang menggetarkan wilayah Lulam. "Bagus budak, mengapa engkau tak keluar dari tempat persembunyianmu ? Budak perempuan kami selalu ribut memikirkan dirimu kalau sampai dimakan oleh siluman2 rubah disini !" seru isterinya atau nenek Ban yang berlengan satu. Gin Liong tertawa lalu keluar bersama Yok Lan. Li Kun juga ikut keluar, Melihat Gin Liong bertiga, gadis yang menangis atau Siu Ngo segera tertawa. Ketiga nona itu saling berpelukan girang. Gin Liong perkenalkan Yok Lan dan Li Kun kepada kedua suami isteri Ik Bu It. Setelah kedua nona itu memberi hormat, Ik Bu It mengatakan bahwa mereka segera akan melanjutkan perjalanan lagi. "Diantara tumpukan korban2 ini tak terdapat siluman rase itu, mungkin dia masih dapat lolos atau masih belum pulang dari pengembaraannya," kata nenek Ban, ia terus melangkah keluar Atas pertanyaan Gin Liong, Ik Bu It mengatakan: "Melintasi gunung karang, tujuh delapan li lagi kami akan tiba di tempat itu."

"Ih, apa engkau hendak mengunjungi rumah Li Ka Tun atau Li jenggot itu ?" seru nenek Ban. Ik Bu It mengiakan. Kemudian ia mengajak ketiga anak muda itu, "Siau sauhiap, kalian naik kuda dan tunggu kami di jalan besar, Kuda kami berada di kuil bawah gunung, Kami akan mengambilnya dulu." kata Ik Bu It. la, isteri dan anaknya segera lari menuju ke kaki gunung. Demikian setelah bertemu di jalan besar lagi, mereka segera bersama-sama melanjutkan perjalanan. Kuda Ik Bu It dilarikan sepesat angin Melihat itu nenek Ban berkata kepada Gin Liong : "Budak, aku hendak menguji sampai dimana tenaga kudamu !" Nenek itu dan Siu Ngo segera menconglangkan kudanya, Gin Liong tersenyum lalu jalankan kudanya juga diikuti Yok Lan dan Li Kun. Nenek Ban tertawa gembira, Tetapi alangkah kejutnya ketika berpaling ke belakang ia melihat kuda Gin Liong sudah berada tiga tombaK dibelakangnya. Nenek itu menggeram. ia memacu kudanya makin cepat, Kuda suaminya, dilaluinya juga, Siu Ngo tertinggal di belakang. Yok Lan dan Li Kun tertawa melihat nenek Ban masih beradat seperti orang muda yang ingin menang. Gin Liong saat itupun sudah menyusul Siu Ngo tetapi karena ia sungkan melampaui Ik Bu It, terpaksa ia lambatkan kudanya. Ik Bu It mendongkol karena dilampaui isterinya. "Hai, perempuan tua. engkau gila ? Hati-hati kusambar pinggangmu !" serunya,

Tar, ia terus mencambuk kudanya, Bagai anak panah dilepas dari busur, kuda Ik Bu It segera meluncur kearah kuda nenek Ban. Enam ekor kuda tegar seolah berlomba dan dalam beberapa kejab saja mereka sudah beberapa li jauhnya dari gunung karang itu, Beberapa li disebelah muka samar2 tampak sebuah perkampungan Tetapi kakek ik Bu It masih ngotot melarikan kudanya. Dan belum satu li, ia sudah dapat menyusul kuda isterinya. Ketika berpaling dan melihat Gin Liong masih dibelakang ia tertawa. Mereka segera memasuki perkampungan itu. "Kepala desa disini sahabatku lama, Seorang yang jujur dan suka blak-blakan, Karena memiliki jenggot lebat orang menggelarinya sebagai Li Jenggot terbang . . ." Saat itu mereka tiba di muka pintu, Nenek Ban pesan supaya Gin Liong bertiga menunggu di luar pintu, habis berkata nenek itu terus menghampiri pintu dan mendebur dengan tongkatnya. "Hai, kalau masuk semua saja masuk, jangan engkau seorang diri saja," seru Ik Bu It seraya turun dari kuda. Siu Ngopun mengikuti. Begitu pintu didebur, terdengarlah suara sahutan seorang pemuda. "Lekas keluar menyambut kuda kami !" bentak nenek Ban seraya menyerang dengan tongkatnya. Rupanya pemuda baju hitam sudah tahu siapa yang datang. Sambil menghindar ia berseru girang: "Ah, kiranya Ik toama . . . ." Tetapi nenek Ban sudah menyapukan tongkatnya ke perut sehingga pemuda itu terkejut dan loncat mundur lagi.

"Li Cun koko, lekas turut perintah mamah, bawalah kuda ke samping gedungmu !" teriak Siu Ngo kepada pemuda baju hitam itu, Melihat dara itu, gembira sekali pemuda baju hitam itu, Dari dalam ruang memancar sinar lampu dan serentak terdengar seorang nenek yang kuat nadanya : "Apakah Ban lomoay yang datang ? hayo. lekas keluar !" Pintu terbuka dan seorang lelaki tua berjanggut lebat dan seorang nenek muncul keluar. Kakek itu bermata bundar, wajah hitam dan mengenakan pakaian warna hitam sehingga tampak menyeramkan, sedang si nenek bertubuh kurus rambut agak kusut. Ik Bu It dan nenek Ban serempak tertawa gelak2: "Malam ini akan kuperkenalkan tiga tetamu kepada kalian." Demikian Gin Liong dan kedua nona, diperkenalkan kepada tuan rumah, Tuan rumah mengajak tetamunya masuk kedalam. Setelah duduk, maka si Jenggot-terbang Ki Heng bertanya: "Tok gan lote, mengapa pada saat begini engkau baru datang kemari ? Apakah terjadi sesuatu di tengah jalan ?" Ik Bu It tertawa: "Karena aku hendak memberi tahu tentang suatu peristiwa yang mengejutkan kepadamu." "Istana Sian-ki wan di gunung karang itu telah dibasmi oleh Golok-terbang Ui It Liong, apakah tidak mengejutkan ?" seru nenek Ban. "Benarkah itu ?" suami isteri Li Heng terkejut. Gin Liong segera menuturkan peristiwa yang dilihatnya dalam Sian-ki-wan itu. Li Heng menghela napas: "Ah, Golok-terbang Ui It Liong memang terlalu ganas sekali."

Tiba2 pemuda baju hitam tadi muncul, Nenek Ban segera memperkenalkan pemuda itu kepada Gin Liong bertiga. Sejenak memandang pemuda baju hitam. nenek Li segera berkata dengan hati longgar: "setelah Hian-ki-wan diobrak-abrik, Ah Cunpun tak perlu bersembunyi dalam rumah lagi." Gin Liong heran, ia hendak bertanya tetapi nenek Ban sudah mendahului tertawa, serunya "Jangan bergirang dulu kalian ini."sekalipun sarangnya diobrak-abrik, tetapi siluman rase itu masih hidup." "Siapakah yang Ban locianpwe sebut sebagai siluman rase itu?" Gin Liong bertanya. "Budak, apakah engkau benar2 tak tahu?" nenek Ban balas bertanya. "Siau siauhiap," seru kakek Ik Bu It, "apakah engkau tak tahu bahwa ditiga wilayah Ik, Lu dan Wan (propinsi Holam-Hopak, Shoatang, An-hwe) telah muncul tiga mahluk indah ?" Gin Liong mengatakan bahwa dia baru saja turun gunung tak tahu pedalaman apa2. "Ketiga mahluk cantik itu, yang satu adalah Dewi Bayangan, yang seorang Bian sian-kho dan yang ketiga ialah kepala dari Sian-ki-wan yakni Ceng Jun sian-ki . . .." Melihat wajah Gin Liong agak berkerut, Ik Bu It bertanya: " Eh, apakah Siau siauhiap sudah pernah berjumpa dengan Ceng Jun sianki ?" Merah muka Gin Liong, serunya: "Tidak, tetapi pernah bertemu dengan Dewi Bayangan dan Biau Bian siankho . . ."

"Eh, budak, kalau melihat wajahmu merah, mungkin engkau pernah menderita sesuatu dari siluman-siluman rase itu," seru nenek Ban. Teringat akan peristiwa Dewi Bayangan, seketika meluaplah kemarahan Gin Liong sehingga hawa pembunuhan menampil pada wajahnya. Suami isteri Li Heng terkejut dan diam2 memuji anakmu itu benar2 memiliki ilmu tenaga-dalam yang hebat. Melihat sikap Gin Liong, nenek Banpun terkejut dan tak berani bertanya lebih lanjut. "Siau siauhiap, dimanakah engkau berjumpah dengan Dewi Bayangan dan Biau siankho?" tanya kakek Ik Bu It. Gin Liong menyadari kalau ia terlanjur tak dapat menekan emosi, maka buru2 ia menenangkan perasaannya dan berkata: "Ketika bermalam di rumah Suma Tiong tayhiap, aku pernah bertemu dengan Dewi Bayangan. Karena tak tahu bahwa wanita itu banyak dosanya, maka telah kubiarkan lolos, Dan ketika di biara Ki-he-kwan telah bertemu dengan Biau Biau siankho . . . ." Li Heng menghela napas. "ilmu Bi-jin-sut (make up atau berhias) dari Biau Biau siankho memang lihay sekali. lebih lihay dan ilmu Loan-sin biang (harum pemabuk semangat) dari Ceng Jun sianki dan Bi-lim-poh (sapu tangan pengikat jiwa) dari Dewi Bayangan, Entah berapa banyak jago2 silat yang telan terpikat oleh wanita itu sehingga hancur namanya." "Rasanya mereka tak perlu disayangkan," kata nyonya li Li Heng, "walaupun Biau Biau siankho memang lihay, tetapi asal hatimu lurus dan bersih, ilmu Bi-jin-sutnya tentu tak mempan."

Li Heng dan Ik Bu It mempunyai kelemahan yang sama. Keduanya takut isteri. Nenek Ban juga ikut bicara: "Biau Biau siankho ibarat tukang pancing ikan. Siapa yang mau dipancing, itu salahnya sendiri." "Tetapi sampai dimanakah kelihayan dari bau wangi Loan-sin-hiang itu ?" tanya Gin Liong. Sebelum Ik Bu It menyahut, Li Heng sudah mendahului memberi keterangan: "Jika kelak Siau siauhiap bertempur dengan Ceng Jun sianki, jangan sampai siauhiap kalah angin kalau tidak apa bila terkena racun dari Loan-sin-hiang itu, tentulah . . " "Tentu bagaimana ?" desak Gin Liong. "Kesadaran pikiranmu tentu limbung dan terus mengikuti dia, pasrah diri akan diapakan saja olehnya", kata Ik Bu It tertawa gelak2. Gin Liong teringat akan sapu dari Dewi Bayangan yang membangkitkan rangsang nafsu, iapun segera berkata: "Jika berhadapan dengan Ceng Jun sianki, kita harus menutup pernapasan" Li Heng dan Ik Bu It tertawa gelak2. "Loan-sin-hiang dari Ceng Jun sianki itu tak mengeluarkan suatu bau apa dan tak berwarna, ia melancarkan serangan dikala engkau lengah. Asal dia berada di atas angin atau memikat engkau dengan pembicaraan dan senyuman, tanpa engkau sadari, dia telah melancarkan serangan Loan-sin-hiang" kata Li Heng. "Dengan begitu Loan-sin-hiang dari wanita siluman itu merupakan senjata yang tiada tandingnya di dunia persilatan ?" tanya Li Kun.

"Loan-sin-hiang itu memang aneh, terhadap kaum wanita tidak dapat mengeluarkan khasiat, terhadap orang tua yang sudah berumur tujuh puluhan tahunpun tak mempan. "Jika demikian, mengapa para cianpwe tidak bersatu untuk membasmi kawanan siluman itu ?" tanya Yok Lan. "Ah, nona Yok Lan belum tahu," sahut nenek Ban, "ketiga siluman itu selain memiliki senjata lihay juga berkepandaian tinggi sekali, Jago2 silat biasa tentu sukar mengalahkannya, paling banyak hanya dapat melayani sampai sepuluh jurus saja." Sejenak melirik pada Li Kun, berkata pula nenek itu : "Bukan aku menjunjung junjung siluman itu tetapi apabila nona berdua bertemu mereka, baiklah menghindari supaya jangan sampai bertempur dengan mereka saja." Tahu bahwa nenek itu memang bersungguh hati memberi nasihat, Yok Lanpun menghaturkan terima kasih, Tetapi Li Kun yang berhati tinggi, wajahnya pucat dan tubuh menggigil karena menahan kemarahan. "Lo-moay." seru nenek li dengan cepat, "kalau engkau mengatakan siluman rasa itu lihay sekali, mengapa kalian bersama rombongan, Siau siauhiap berani memasuki serangannya di Siang-ki wan ?" Kemudian menunjuk pada Ik Bu It, ia berseru pula dengan tertawa: "Apakah engkau tak takut milikmu yang tua akan hilang, bukankah Tokgan be belum tujuh puluh tahun umurnya ?" Terdengar orang tertawa gelak2. "Kita hanya menguatirkan Siau sihiap kalau sampai dicelakai siluman rase itu, barulah kami bergegas-gegas menyusulnya."

"O, kalian tidak bersama-sama Siau siauhiap ?" tanya nyonya Li Heng. Gin Liong lalu menuturkan pengalamannya, Tiba2 ia hentikan penuturannya dan memberi isyarat agar sekalian orang diam. Saat itu terdengar sebuah suitan panjang yang berasal dari tempat sejauh tujuh delapan li. Rupanya kumandang suara suitan itu pelahan-lahan menuju ke rumah kediaman Li Heng. Li Heng segera memadamkan lampu, loncat keluar dan terus melambung ke atas rumah. Gin Liong dan sekalian orangpun segera menyusul tindakan tuan rumah. Gin Liong melihat wajah suami isteri Li Heng tegang sekali demikian pula Ik Bu It dan nenek Ban. Dan suitan itu terus menerus berkumandang di angkasa, menghampiri ke tempat kediaman Li Heng. Tiba2 Gin Liong berkata kepada pemuda baju hitam: "Saudara Li, dimanakah kuda kami ? Harap saudara bawa kemari." Sekalian orang terkejut dan memandang Gin Liong, Pemuda itu menjelaskan: "Yang datang itu tentulah orang2 dari Sian-ki-wan yang setelah tahu sarangnya dibasmi habis2an, mereka lalu mengejar kemari, Kita harus menyongsong di luar perkampungan agar jangan melibatkan Li locianpwe." Sekalian orang menyetujui dan nenek Banpun segera memerintahkan pemuda baju hitam untuk lekas2 mengeluarkan kuda mereka, Bahkan Gin Li-ong, Yok Lan dan Li Kun segera mengikuti pemuda baju hitam itu untuk mengambil kuda. Ik Bu It dan Siu Ngo juga menyusul.

Begitu tiba di kandang kuda, nenek Ban sudah mencongklangkan kudanya menerobos dari rumah belakang. Kemudian Ik Bu It dan Siu Ngo. Gin Liong bertiga cepat loncat ke kuda masing2 dan melarikan menyusul kedua suami isteri Ik Bu It. Ketika Gin Liong bertiga tiba di luar desa tampak nenek Ban sudah turun dari kudanya dan tegak berdiri di bawah sebatang pohon, Ik Bu It pun menambatkan kuda berdiri di dekat isterinya, sedang Siu Ngo tegak disamping ayahnya. Saat itu suara suitan sudah berhenti. Pada saat Gin Liong bertigapun sudah loncat dari kudanya dan menghampiri mereka, Kini mereka berdelapan tegak menunggu kedatangan orang yang bersuit itu dengan penuh pertanyaan, lawankah atau kawan. Pada saat itu segera terdengar kibaran pakaian dideru angin, Nenek Ban serentak bersiap dengan tongkat kepala burung hong. Ternyata yang datang itu hanialah Li Heng dan isteri serta puteranya. Mereka segera bertanya apakah musuh sudah datang. "Belum," sahut Ik Bu It, "nanti apabila terjadi pertempuran harap saudara Li berdua dengan putera bersembunyi di tempat gelap" Tetapi sampai beberapa saat suasana masih tetap sunyi, Yang terdengar hanya lolong kawanan anjing di perkampungan. "Oh, mungkin karena takut kepadamu, mereka tak jadi datang kemari, "nyonyah Li Heng berseru dan tertawa kepada nenek Ban. Li Hengpun mengatakan bahwa karena hari sudah hampir terang tanah, lebih baik mereka kembali ke

rumahnya untuk makan pagi. Tetapi Gin Liong dan kedua nona menolak karena hendak melanjutkan perjalanan. Juga Ik Bu It mengatakan memang Gin Liong mempunyai urusan penting yang harus segera diselesaikan "Hendak kemanakah Siau siauhiap ini ?" tanya Li Heng, "Untuk membalas dendam kematian suhuku, aku hendak memburu jejak seseorang, maka sukar untuk menentukan arah yang hendak kutuju." Gin Liong memberi keterangan Dan Li Hengpun dapat mengerti "Nona Yok Lan, kalian hendak menempuh jalan mana saja ?" tanya nenek Ban kepada Yok Lan. "Lebih dulu ke Ciau-koan lalu ke gunung Cin-san, setelah itu baru menentukan arah yang akan kita tempuh," sahut Yok Lan. "Jika begitu kita seperjalanan. Kami juga pulang ke Thay-san" seru Siu Ngo gembira. Yok Lan tak keberatan. Demikian mereka berenam segera berangkat Pada waktu terang tanah, mereka melihat sebuah kota di sebelah depan, kira2 hanya beberapa li jauhnya. Ik Bu It menerangkan bahwa mereka lebih dulu akan melintasi sebuah sungai, Setelah menyeberang sungai, baru kita nanti berhenti makan. Gin Liong walaupun tak lapar tetapi terpaksa menurut, Setelah menyeberang sungai, mereka segera mencari rumah makan. "Nona, nona . . ", tiba2 terdengar suara orang memanggil Li Kun. Li Kun berpaling dan terkejut melihat dua orang berpakaian seperti pedagang, lari dari sebuah rumah penginapan, menghampirinya.

"Ah, engkau Tio hiang . . Mengapa kalian disini?" tegur Li Kun terkejut. Kedua orang itu adalah anak buah dan keluarga Tio di gunung Thiat san. Kedua orang itu mempersilahkan Li Kun dan rombongannya kedalam rumah penginapan mereka. Mereka juga menyewa kamar disitu, Ternyata Siu Ngo sudah menyediakan air hangat dan meminta Gin Liong serta Yok Lan cuci muka, Ketika melalui sebuah kamar di sebelah, keduanya terkejut mendengar Li Kun menangis dalam kamar itu. Buru2 mereka masuk menjenguknya. Setelah didesak dan dihibur, barulah Li Kun mau memberi keterangan bahwa kedua anak buahnya itu memang mencarinya untuk menyampaikan berita penting. "Hwat-kiang-si, Hek Bu Siong dan Lak-ti-seng dari kawanan Thiat-san-pat-koay telah mengundang beberapa tokoh silat sakti, menyiarkan berita bahwa nanti tanggal lima bulan lima akan menghancurkan Mo-thian-nia dan membasmi ketujuh saudara Tio. Gin Liong terkejut. Adalah karena dirinya maka Thiatsan-pat-koay dan ketujuh saudara Tio telah bermusuhan. "Harap taci Kun jangan kuatir, sebelum tanggal itu aku tentu sudah datang ke gunung Thiat-san. Taci Kun dan Lan-moay pulang dulu ke puncak Mo thian-nia, setelah dapat mengejar Liong-li locianpwe, aku segera kembali ke Mo thian-nia." Tetapi Li Kun menolak, ia akan kembali pulang sendiri dan Yok Lan biar ikut pada Gin Liong. Ringkasnya setelah makan, Li Kun segera berangkat pulang dengan kedua anak buah.

Setelah itu Gin Liong meminta keterangan ke pada suami isteri Ik Bu It tentang perkumpulan Thian-leng-kau yang bermarkas digunung Ke-kong-san. "Ya, memang terdapat perkumpulan itu di Ke kong-san. Kabarnya didirikan oleh dua kakak beradik" kata nenek Ban. "Baru setengah tahun ini Thian-leng-kau bergerak di dunia persilatan," kata Ik Bu It, "mereka menerima anggauta dari kalangan hitam. Bahkan ada beberapa tokoh hitam yang telah masuk." "Kabarnya, kedua kakak beradik itu mempunyai kepandaian yang luar biasa," kata nenek Ban pula, " setiap orang yang hendak masuk, lebih dulu tentu diuji ilmu silatnya. Siapa yang mampu mengalahkan keduanya, akan diangkat sebagai ketua" "O, dengan begitu tentu akan menarik perhatian tokoh2 yang temaha kedudukan tinggi" kata Gin Liong. "Eh, apakah engkau juga hendak merebut kedudukan itu ?" seru Ik Bu It tertawa. "Ah, mungkin kursi mereka tak enak," Gin liong tertawa, Nenek Ban memperhatikan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dalam hati Yok Lan, maka iapun bertanya: "Apakah kalian juga hendak adu kepandaian ke sana?" "Tidak," kata Yok Lan, "tetapi karena marah taci Li Kun telah menerima tantangan dari seorang thaucu Thian-leng kau untuk datang ke Ke-kong-san nanti satu setengah bulan lagi, Walaupun taci Li Kun pulang tetapi kita akan mewakilinya datang kesana." Menduga bahwa kepandaian Yok Lan tentu takkan mampu mengalahkan orang Thian-leng-kau, maka nenek

Ban segera berseru: "Ih tidak. jangan terlalu membanggakan kepandaianmu dan gegabah membawa nona Yok Lan kesana. Walaupun bukan sarang naga dan harimau, tetapi markas Thian-leng-kau itu penuh dengan tokoh2 yang sakti...." "Ucapan seorang lelaki harus ditepati." Ik Bu It menyelak. "sekali sudah menerima tantangan, harus dipenuhi, Kalau engkau kuatir, mengapa engkau tidak ikut pergi kesana ?" Sengaja ia hendak membakar hati isterinya lagi: "Huh, engkau sendiri bernyali kecil, pura2 memberi peringatan kepada orang . . ." Sudah tentu nenek Ban marah sekali. Bluk, ia gentakkan tongkat ke lantai dan berseru: "Hmm, sekalipun Thian-leng-kau di Hu kong-san itu tempat Raja Akhirat, akupun tetap akan kesana." "Bagus, bagus !" seru Ik Bu It, "aku ingin melihat engkau menduduki kursi ketua Thian-leng-kau" Nenek Ban deliki mata kepada mendengus: "Huh, aku sih tidak perkumpulan semacam itu." suaminya dan kepingin kursi

Kuatir kalau kedua orang tuanya bertengkar lebih hebat, Siu Ngo segera alihkan pembicaraan kepada Yok Lan: "Berapa lama taci Li Kun tiba di rumah ?" "Kalau menempuh perjalanan siang malam, enam tujuh hari tentu dapat" kala Yok Lan. "Eh, dimanakah rumahnya ?" "Puncak Mo-thian-nia gunung Thiat-san," kata Yok Lan. "O, kiranya nona Li Kun itu salah seorang dari ketujuh saudara Tio, bukan ?" seru Ik Bu It.

Gin Liong mengiakan. "Oh, makanya kuperhatikan wajahnya kurang senang ketika kuceritakan bahwa Ceng Jun sianki itu tinggi kepandaiannya. Memang dalam ketujuh persaudaraan Tio, ialah yang paling menonjol sendiri kepandaiannya." kata Ik Bu It. Demikian setelah beromong-omong beberapa waktu lagi, mereka berlima segera masuk ke dalam kamar masing-2 untuk beristirahat. Menggunakan kesempatan itu Gin Liong mengambil kaca wasiat dan diperiksanya, Dalam pancaran sinarnya yang kemilau, tampak beberapa huruf kecil2 warna merah. Ternyata suatu pelajaran ilmu pernapasan tenaga-dalam, ia mengisar lagi kaca itu dan melihat tulisan berbunyi Kitab pelajaran ilmu pukulan Naga-harimau, cenderawasih-ular. Memutarnya ke bawah ia melihat beberapa telapak kaki warna merah yang malang melintang tak keruan. Ketika memeriksa hurup-2 merah pada sampingnya ia terkejut. Ternyata terdapat tulisan berbunyi Sing-hoan-cek-kiong poh atau gerak langkah bayangan dari Istana-wungu. Tetapi sampai lama sekali belum juga ia mengerti apa yang tertera disitu, Setelah merenungkan dan membayangkan tentang gerak langkah Liong li-biau ajaran Ban Hong Liong-li, serentak ia menyadari, perhatiannya makin terpikat. Setelah menghafalkan beberapa dalam hati, ia akan turun dari tempat tidur, Maksudnya hendak berlatih ilmu yang dipelajarinya itu. Tetapi alangkah kejutnya ketika melihat Yok Lan tahu2 sudah tegak diambang pintu. Buru-2 Gin Liong menyimpan kaca wasiat dan melambai kearah Yok Lan: "Kemarilah, Lan-moay."

Yok Lan heran mengapa saat itu Gin Liong tampak gembira sekali. Iapun melangkah masuk. "Lan-moay lihatlah." seru Gin Liong seraya menyingkap baju luarnya. "Hai kaca wasiat!" seru Yok Lan terkejut. Menyusul ia segera bertanya dari mana Gin Liong mendapatkannya. Gin Liong dengan terus terang menceritakan tentang diri orang tua aneh yang memiliki kaca wasiat itu dan telah menyerahkannya kepadanya. "Apakah Ik locianpwe dan Siu Ngo tahu ?" tanya Yok Lan. "Tidak." sahut Gin Liong, Kemudian ia membuka baju luarnya lagi dan suruh Yok Lan memeriksa dengan teliti. Yok Lan terkejut karena melihat tanda2 telapak kaki yang malang melintang tak keruan. "Liong koko, apakah ini bukan gerak langkah Cek kiongpoh yang termasyhur dalam dunia persilatan itu ?" Gin Liong mengiakan: "Setelah kupadu dengan ilmu gerak langkah ajaran Liong-li locianpwe, ternyata Cekkiong-poh ini lebih hebat." "Coba engkau katakan apa pelajaran dari liong-li locianpwe itu" kata Yok Lan. Gin Liong menurut. Tetapi ketika ia mengucapkannya, Yok Lan menunduk untuk memeriksa kaca wasiat itu, sikapnya seolah meremehkan ilmu gerak langkah Liong-libiau. Ia ulurkan tenaga hendak menyambar tubuh Yok Lan tetapi ternyata nona itu sudah lenyap. Gin Liong terkejut menyaksikan gerakan yang sedemikian cepatnya dari sumoaynya. Setelah direnungkan barulah ia tahu bahwa gerakan Yok Lan itu merupakan

langkah pertama dari ilmu langkah Cek-kiong-poh. Ia menyimpan kaca lalu melesat keluar, Dilihatnya Yok Lan berdiri tegak ditengah halaman, Mata terbeliak, mulut menganga. Rupanya dia juga terkejut membaca ilmu gerak langkah Cek-kiong-poh yang hebat itu. Gin Liong menuding kedalam bajunya dan melambaikan tangan kearah Yok Lan dapat menangkap artinya tetapi ketika ia hendak menghampiri ternyata Siu Ngo muncul. "Taci Lan, apa engkau tak beristirahat?" seru gadis itu, "Sudah," kata Yok Lan. sementara itu Gin Liong sudah menyusup masuk kedalam kamarnya. Ik Bu Itpun keluar dan menanyakan kapan hendak berangkat. "lk locianpwe, kalau sekarang kita menyeberang sungai apakah sebelum petang kita sudah dapat mencapai kota Ciau-koan ?" tanya Yok Lan. "Kota itu seratusan li jauhnya, mungkin tengah malam baru tiba disana." sahut Ik Bu It. Kemudian kakek itu memerintahkan Siu Ngo supaya menyiapkan hidangan. "Kami tahu bahwa nona berdua dengan Siau siauhiap itu saudara seperguruan tetapi kami belum tahu siapakah sesungguhnya suhu nona itu ?" tanya Ik Bu It. Dengan nada sarat, Yok Lan mengatakan bahwa dia tak mempunyai perguruan dan tak tergolong pada suatu aliran persilatan Yang mengasuhnya hanya Liau Ceng taysu, kepala gereja Leng-hun-si di gunung Hwe-siang-hong. Nenek Ban kerutkan dahi dan bertanya kepada suaminya apakah pernah mengenal Liau Ceng taysu.

Rupanya Ik Bu It dapat menangkap arti kata-kata isterinya maka ia berkata kepada Yok Lan: "Mungkin suhu nona itu tentu seorang paderi yang mengasingkan diri. Apalagi kami sering pergi ke luar perbatasan sehingga tak beruntung mengenal suhu nona, Apabila nona dapat menyebutkan namanya sebelum menjadi paderi, kemungkinan kami tentu tahu." Yok Lan mengatakan bahwa sejak belajar silat, ia tahu suhunya itu sudah menjadi paderi dan iapun tak berani menanyakan asal usulnya. Saat itu Gin Liong muncul bersama empat pelayan yang membawa hidangan Mereka segera melahap hidangan Kemudian mereka berangkat lagi, Mereka naik perahu besar menyeberang. Setelah tiba di seberang tepi, mereka lanjutkan perjalanan lagi, Dalam beberapa kejap sudah mencapai belasan Ii. Tiga li lagi mereka melihat orang2 berkerumun melihat dua sosok bayangan bertempur. "Ada orang bertempur, mari kita lihat," seru nenek Ban terus larikan kuda menghampiri. "Hai, tak perlu, jangan sampai menelantarkan urusan Siau siauhiap," Ik Bu It mencegah. Mendengar itu nenek Ban lambatkan kudanya. jaraknya hanya terpisah satu li dari tempat pertempuran itu. Ternyata kedua orang itu bertempur disebuah tanah lapang di tepi jalan besar, Para penonton berkeliling pada jarak beberapa tombak jauhnya, Gin Liong heran mengapa mereka harus menyingkir sedemikian jauhnya dari tempat pertempuran. Ternyata salah seorang yang bertempur itu seorang wanita yang berpakaian merah menyala dan lawannya seorang paderi tua berjubah kelabu.

Gerakan wanita baju merah itu luar biasa anehnya, berlincahan bagai kupu2 hinggap di bunga, Dengan sepasang tangan ia menghadapi serangan tongkat si paderi, Tampaknya wanita itu belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Paderi itu juga bukan tokoh yang lemah, Tongkatnya menyambar-nyambar laksana halilintar, dahsyatnya bukan kepalang, tetapi tetap ia tak dapat merubuhkan wanita yang memiliki gerakan luar biasa itu. Gin Liong mendapat kesimpulan bahwa sesungguhnya wanita itu memang sengaja hendak mempermainkan kawannya. Marahlah Gin Liong, ia hendak bertindak tetapi segera ia teringat akan peringatan Ik Bu It kepada nenek Ban tadi, Terpaksa ia tak menghentikan kudanya, Tetapi ketika makin dekat, makin jelaslah ia siapa paderi itu, serentak berubahlah wajahnya dan segera ia berseru nyaring: "Berhenti!" Kuda terus diarahkan ketempat pertempuran. Bentakan Gin Liong amat kuat sekali sehingga kedua orang yang bertempur itupun berhenti karena terkejut. Yok Lanpun segera dapat mengenali paderi itu, seketika wajahnya berubah dan terus berseru rawan: "Sam-sucou !" iapun larikan kudanya menghampiri. Saat itu Gin Liong sudah tiba dan terus loncat dari kuda lalu lari kearah paderi tua. Melihat Gin Liong, paderi tua itu merah mukanya. ia menuding wanita baju merah dan berseru: "Liong-ji, inilah Ban liong liong-li yang telah membunuh gurumu." Gin Liong hentikan langkah dan tertegun Yok Lanpun tiba lalu lari menghampiri paderi tua itu seraya menangis

dan memangginya sebagai sam-sucou atau kakek guru yang ketiga. "Siau siauhiap, hati-hatilah, Wanita itu adalah Ceng Jun sian - ki !" tiba2 nenek Ban isteri Ik Bu It berseru. Gin Liong terkejut dan menyadari mengapa para penonton tak berani menyaksikan dari dekat. Di lain pihak, sam-sucounya itu belum pernah melihat Ban Hong Liong-li. Dia tentu salah duga. Kiranya pada hari setelah Liau Ceng taysu terbunuh, sam-sucounya menghilang dari gunung karena marah, ia hendak menuju ke daerah Biau untuk membuat perhitungan dengan Ban Hong Liong-li. Sejak kecil Yok Lan memang disayang oleh samsucounya. Maka dara itu menangis ketika ber temu dengan sam-sucounya. Saat itu Ik Bu It, nenek Ban dan Siu Ngo sudah loncat turun dari kuda, Dan nenek Banpun segera membentak: "Siluman rase engkau cari mampus . . !" Ia memutar tongkat kepala burung hong lari menerjang wanita baju merah itu. Gin Liong cepat tersadar untuk menutup pernapasannya, Diam2 ia kerahkan tenaga-dalam apakah telah terkena racun. Dilihatnya pula mulut Ceng lun sian-ki mengulum senyum, sebelah tangannya yang putih mengulap ke janggut, sikapnya seperti hendak melepas racun. Ceng Jun sian-ki atau Dewi Musim Semi itu baru berusia 25-27 tahun. Memiliki kecantikan wajah yang dapat menjatuhkan iman seorang dewa dan potongan tubuh yang menggiurkan. Dia benar2 seorang insan yang diberkahi dengan kecantikan seperti seorang dewi, Diam2 Gin Liong heran mengapa sam sucounya sampai salah menduganya sebagai Bab Hong Liong-li.

Melihat nenek Ban mengamuk, Ceng Jun sianki tenang saja, Bahkan malah tertawa mengikik, "Hai induk kukuk-beluk, mukamu seperti ayam, matamu seperti tikus, Benar2 menakutkan orang !" serunya, sambil berputar-putar seperti angin puyuh. Sudah tentu nenek Ban marah sekali sehingga gerahamnya sampai bercaterukan: "Ketahuilah, waktu muda aku secantik bidadari, tak kalah dengan wajahmu yang seperti siluman rase itu" Dihadapan umum dirinya dimaki sebagai siluman rase marahlah Ceng Jun sian-ki : "Nenek jelek, engkau benar2 sudah bosan hidup !" Habis berkata tangan kiri menampar dalam gerakan kosong tangan kanan meluncurkan semacam rantai putih yang melingkar2 melibat tongkat nenek Ban. Ik Bu It terkejut. Dengan menggerung keras ia segera loncat menerjang, Dengan jurus Thay-san ya-ting atau gunung-Thaysan-menindih-puncak, ia menghantamkan tongkat kearah Ceng Jun sian-ki. Melihat serangan tongkat sedahsyat itu, Ceng Jun sian-ki cepat berputar menarik tangan kanannya yang melibat tongkat nenek Ban dan tahu-tahu sudah berada di belakang Ik Bu It. Sesungguhnya ilmu silat Ik Bu It itu bukan olah2 hebatnya, Pada saat Ceng Jun sian-ki berputar tubuh, tongkatnya segera berganti dengan jurus Heng-soh-ngo-gak atau Membabat-lima-buah-gunung menyapu tubuh Ceng Junsian-ki. Sebelum wanita itu sempat berdiri tegak, tongkat Ik Bu It sudah tiba, Dalam pada itu, tongkat nenek Banpun

menusuk pinggangnya, Ceng Jun sian-ki terkejut, menjerit dan melambung ke udara. Karena tak mengenai sasarannya. kedua tongkat suami isteri tua itu hampir saja saling berbentur sendiri. Sebenarnya Ceng Jun sian-ki tahu siapa ke dua suami isteri tua itu. Tetapi ia tak memandang mata kepada mereka, Setelah serangan itu, baru ia tak berani meremehkan Maka selagi melayang di udara ia kebutkan sepasang lengan bajunya, untuk menampar bahu Ik Bu It dan nenek Ban. Ik Bu It dan isterinya menyadari bahwa lawan itu seorang tokoh yang hebat, Maka mereka pun menyerang dengan jurus yang hebat. Gin Liong, Yok Lan dan sam-sucounya berdiri disamping, mengikuti pertempuran itu dengan penuh perhatian, Tetapi Siu Ngo tampak gelisah, Bahkan dahinya sudah menghamburkan keringat dingin. Gin liong memperhatikan gerakan Ceng Jun sian-ki dan dapatkan bahwa sesungguhnya kepandaian wanita itu tak jauh terpautnya dengan suami isteri Ik Bu It. Tetapi karena ia pernah menderita dari Dewi Bayangan, maka iapun tak berani tak mempercayai keterangan kedua suami isteri tua tentang Loan-sin-hiang yang luar biasa hebatnya dari wanita itu. Maka iapun tak berani gegabah turun tangan. Yok Lan sudah dapat mengetahui isi hati Gin Liong, iapun kuatir dirinya tak mampu menandingi wanita itu, Maka ia juga diam saja. Karena percaya dirinya tak mungkin terkena Loan-sinhiang, begitu pula lk Pu Itpun merasa umurnya sudah cukup tua. dan kuatir kalau kalah, maka kedua suami isteri itupun mendahului menyerang dengan jurus yang dahsyat.

Tetapi ternyata untuk mengalahkan Ceng Jun sian-ki, tak semudah yang diperkirakan mereka. Melihat itu akhirnya Yok Lan tak dapat menahan diri lagi, Segera ia berseru kepada suami isteri Ik Bu It: "Harap lo cianpwe berdua mundur dulu, biarlah wanpwe menghadapi Ceng Jun sian ki yang termasyhur itu" Tring, ia segera mencabut pedang Tanduk Naga dan terus maju ke tengah gelanggang. Tahu kalau sukar merebut kemenangan kedua suami isteri itupun menurut untuk mundur. Dan begitu melihat wajah Gin Liong, seketika timbul keinginannya untuk menggaet pemuda itu. Maka iapun juga berhenti. Ik Bu It dan isterinya terkejut melihat Yok Lan masuk kedalam gelanggang dengan membawa pedang, Tetapi karena Gin Liong tenang2 saja, kedua suami isteri itupun tak mau mencegah. "Nona Lan, harap hati2 !" seru Ik Bu It karena kuatir nona itu memandang rendah kepandaian lawan. Ceng Jun sian-ki luas sekali pengalamannya dalam dunia persilatan. Sudah banyak tokoh2 sakti yang dihadapinya, Melihat Yok Lan begitu tenang, ia duga nona itu tentu memiliki kepandaian yang mengejutkan. Dan ketika melihat pedang yang berada ditangan Yok Lan itu memancarkan sinar merah, dia makin terkejut. Beberapa penonton yang bernyali besar, segera maju mendekat. Mereka saling berbisik-bisik menilai pertandingan itu... Yok Lan berhenti pada jarak setombak dihadapan Ceng Jun sian-ki.

"Lama kudengar Sian-ki memiliki kepandaian yang hebat, Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu, harap Sian-ki suka memberi pelajar an barang beberapa jurus saja . . . ." seru Yok Lan. Ceng Jun sian-ki tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, Tetapi ia tetap tenang bahkan karena percaya akan ilmu kepandaiannya yang tinggi. ia agak memandang rendah lawan. "Budak hina, jangan bermulut tajam," tukasnya, "menilik engkau seorang wajah yang cantik, mungkin dapat kuberimu ampun dan kujadikan engkau sebagai pengawalku, Kalau berani menolak, jangan sesalkan aku akan bertindak kejam terhadapmu menghancurkan wajahmu yang cantik itu." Berhenti sejenak, diam2 ia salurkan tenaga dalam dan tertawa dingin: "Dalam tiga jurus engkau boleh menyerang, aku takkan membalas. Keluarkanlah seluruh kepandaianmu !" Sudah tentu marah juga Yok Lan kesombongan wanita itu, ia tertawa hambar. mendengar

"Sian-ki, apabila sedikit saja engkau dapat menang angin, aku bersedia menjadi bujangmu selama-lamanya !" seru Yok Lan. Sekalian penonton gempar. Mereka anggap dara itu terlalu tekebur juga suami, isteri Ik Bu It terkejut dan saling berpandangan. Ceng Jun sian ki sendiri pucat wajahnya karena menahan kemarahan. Tubuh agak gemetaran alis berkerut, serunya:

"Budak hina, mengapa engkau tak lekas menyerang ? Jika masih banyak mulut, aku tak dapat mengampuni jiwamu lagi ! " Yok Lan mengiakan Dengan jurus Jay-hong-tiau-yang atau Cenderawasih, menghadap - surya, ia membuka serangan pertama. Walaupun congkak tetapi Ceng Jun sian-ki tak berani memandang rendah lawan. Dengan melengking keras ia berputar ke belakang Yok Lan, Yok Lan tertawa dingin. Segera ia mainkan ilmu gerak Sing-hoan-cek-kiong-poh yang istimewa. Tubuhnya berkelebat dan tahu2 ia sudah berada di belakang Ceng Jun. Ik Bu It dan nenek Ban tercengang melihat gerakan yang luar biasa anehnya dari dara itu, juga Ceng Jun sian-ki tak kurang kejut nya, Dan lebih terkejut lagi ketika saat itu kepalanya seperti disambar angin dingin. Cepat ia tundukkan kepala dan tubuh, sembari melengking nyaring pinggangnya bergeliatan dalam jurus Hwe-tiau-ong-gwat atau Berpaling-memandang-rembulan. Tangan kanannya serentak menampar. Tetapi alangkah kejutnya ketika tamparannya itu hanya menemui tempat kosong dan ia tak melihat tubuh lawan dibelakang. Tetapi belakang kepalanya masih tetap didera angin dingin. Dengan menjerit kaget, Ceng Jun Sian ki segera ayun tubuhnya loncat kemuka sampai tiga tombak. Ketika berpaling, semangat pun serasa terbang. Saat itu ujung pedang lawan sudah mengancam mukanya. Karena gugup, ia kebutkan kedua lengan bajunya untuk menghalau. Yok Lan berkisar kesamping, pedang segera melamur menabas sepasang lengan baju lawan.

Ik Bu It tahu bahwa lengan baju wanita itu tak mempan ditabas senjata tajam, maka cepat2 ia berseru memberi peringatan: "Nona Lan, jangan." Rupanya Yok Lan tahu apa yang dikandung dalam peringatan kakek itu, Cepat ia salurkan tenaga-dalam ke batang pedang, kemudian dengan menggunakan jurus Guikim-cui-giok atau membelah-emas-menghancurkan zamrud, ia taburkan pedang Tanduk Naga dalam lingkaran sinar yang deras, membabat sepasang lengan baju Ceng Jun sianki. Ceng Jun sian ki tertawa sinis. Segera ia gentarkan tangan untuk melibatkan lengan baju ke pedang Yok Lan. Cret. . . . sepasang lengan baju Ceng Jun sianki kutung dan berhamburan jatuh ke tanah, Sedang orangnya menjerit kaget terus enjot tubuh melambung ke udara, lalu meluncur ke barat hendak melarikan diri. Yok Lan tahu bahwa dengan menderita kekalahan itu Ceng Jun sian-ki tentu masih penasaran, ia hendak memberi pelajaran, menghancurkan kesombongan wanita itu. Serempak dengan melengking nyaring ia gunakan jurus bianglala-merentang-diudara, secepat kilat tubuhnya loncat mengejar. Yok Lan tak mau membunuhnya melainkan hendak menghancurkan kecongkakannya saja, ia tidak membacok melainkan hanya menyambar diatas kepala saja. Ceng Jun sian-ki menjerit-jerit minta ampun seraya lari menyusup ke dalam hutan, Yok Lanpun hentikan larinya dan berseru : "Ceng Jun sian-ki, harap engkau suka merobah kejahatan dan kembali ke jalan benar, jangan engkau mengecewakan

harapan suhumu yang bersusah payah memberi pelajaran kepadamu !" Tanpa berpaling lagi, Ceng Jun sian-ki terus lari masuk kedalam hutan, sekalian penonton terlongong-longong menyaksikan peristiwa yang tak terduga-duga itu, Ceng Jun sian ki yang termasyhur telah dikalahkan oleh seorang nona yang tak terkenal . Demikian pula Ik Bu It dan isterinya. Keduanya sudah berpuluh tahun terjun dalam dunia persilatan tetapi belum pernah mereka melihat permainan ilmu pedang yang sedemikian luar biasa seperti yang dimainkan Yok Lan. Mereka menyadari bahwa tiada guna mereka menemani kedua anak muda itu ke markas Thian-leng-kau karena ternyata kedua anak muda itu sudah cukup tangguh untuk menghadapi jago2 Thian-leng-kau. Merekapun menyayangkan mengapa Yok Lan memberi ampun kepada wanita yang berlumuran kejahatan itu. Paderi tua atau sam-sucou dari Yok Lan girang bukan kepalang ia tak tahu dari mana Yok Lan dapat mempelajari ilmu pedang yang sedemikian hebatnya itu. Demikian pula dengan Gin Liong, ia memang percaya bahwa Yok Lan tentu dapat menghadapi Ceng Jun sian-ki tetapi ia tak pernah menduga bahwa sumoaynya telah memiliki ilmu pedang yang sedemikian mengejutkan. Yok Lan sendiri ter-sipu2 merah wajahnya karena sekalian orang memandangnya dengan rasa kagum Gin Liongpun lalu memperkenalkan sam-sucounya kepada suami isteri Ik Bu It. Maka bertanyalah Ik Bu It mengapa paderi itu tadi telah salah menduga Ceng Jun sian-ki se bagai Ban Hong Liongli.

Paderi tua itu menerangkan bahwa ketika bertemu dengan Ceng Jun sian-ki, karena wajah dan umurnya masih muda, ia bertanya apakah wanita itu bernama Ban Hong Liong-li. Dan wanita itu pun mengiakan. "Karena marah, aku segera menyerangnya," kata paderi tua, "ternyata dia sangat lihay sekali kalau Ik sicu dan Gin Liong serta Yok Lan tak keburu datang, entah sampai berapa lama pertempuran itu akan berlangsung." "Lo-siansu mengatakan bahwa Ban Hong Li ong-li itu adalah pembunuh dari suhu Siau siauhiap dan nona Lan . . " sebelum nenek Bun melanjutkan kata2nya, paderi tua sudah menukas. "Karena cinta maka Ban Hong Liong-li di rangsang dendam kebencian dan pembunuhan. Walaupun Liau Ceng- sutit sudah masuk menjadi paderi tetapi Ban Hong Liong-li masih tetap tak mau melepaskannya . ." "Jika demikian bukankah sutit dari lo-siansu itu Pelajarberwajah-kumala Kiong Tayhiap yang namanya menggetarkan dunia persilatan dan pernah menundukkan daerah Biau?" seru Ik Bu It seketika. Sambil mengusap-usap jenggot, paderi tua itu mengiakan Ik Bu It dan nenek Ban menghela napas. "Memang Ban Hong Liong-li sangat mencintai Kiong thayhiap, peristiwa itu telah diketahui oleh semua kaum persilatan. Bahwa akhirnya harus terjadi peristiwa yang sedemikian menyedihkan sungguh diluar dugaan orang. Menilik kepandaian Kiong tayhiap yang begitu tinggi, kecuali orang yang paling dekat dan karena dia lengah maka baru dia dapat dibunuh.Dengan demikian, tak salah lagi tentulah Ban Hong Liong-li yang telah melakukan pembunuhan itu"

Ik Bu Itpun meminta paderi tua itu menuturkan peristiwa2 yang terjadi dalam dunia persilatan selama ini. Dalam pada berbicara itu orang2 yang berkerumun menyaksikan pertandingan tadi, pun sudah bubar. Tiba2 nenek Ban memerintahkan Siu Ngo mengambil kutungan lengan baju Ceng Jun sian-ki. Setelah melihat kutungan lengan baju itu, berkatalah Ik Bu It: "Kabarnya lengan baju dari Ceng Jun sian-ki itu terbuat dari ulat sutera yang kebal senjata tajam, Khusus digunakan untuk melibat senjata lawan dan merampasnya." Ternyata lengan baju itu terasa dingin dan lemas sekali. beratnya hanya dua tail, setelah dibuka panjangnya antara setombak lebih, Tipis dan berkilau-kilauan. "Ah, benar2 ulat sutera yang luar biasa," kata Ik Bu It. Gin Liong tak percaya, ia segera menabas dengan pedangnya tetapi tak mempan. "Ah, kini sudah jelas," seru Ik Bu It, "bahwa bukan pedang nona Lan yang tajam tetapi adalah ilmu pedangnya yang luar biasa itulah yang dapat memapas kutung lengan baju Ceng Jun sianki. Ik Bu It suruh Siu Ngo menyerahkan benda itu kepada Yok Lan tetapi Yok Lan menolak dan minta Siu Ngo menggunakannya sebagai pakaian yang kebal senjata. Tetapi Siu Ngo dan nenek Ban tak mau dan tetap menyerahkan kepada Yok Lan. Akhirnya Gin Liong memberi isyarat supaya Yok Lan menerimanya. Kemudian Ik Bu It menyatakan bahwa ia terpaksa tak dapat menemani Gin Liong lebih lanjut karena ia percaya Gin Liong berdua tentu mampu untuk menghadapi orang2 Thian-leng-kau.

Gin Liong menghaturkan terima kasih atas bantuan kedua suami isteri itu, Demikian mereka dengan berat hati segera berpisah, Setelah Ik Bu It dan kedua isteri serta puterinya pergi, paderi tua menanyakan tentang hasil pengejaran Gin Liong terhadap Ban Hong Liong-li. Gin Liong menyatakan belum mendapat hasil apa2. Akhirnya paderi tua itu membagi pekerjaan, ia akan mencari ke Kiangsu dan Anhui, sedang Gin Liong dan Yok Lan menyelidiki di daerah Ho lam dan Hopak. "Soal Thian-leng-kau di gunung Ke-kong-san itu" kata paderi tua itu pula, "jika dapat tak usah pergi kesana, Kalian belum banyak mengetahui tentang tipu muslihat berbahaya dari dunia persilatan. Tak perlu memperluas permusuhan yang kelak hanya akan mendatangkan bahaya saja." Gin Liong mengiakan Kemudian ia menggunakan kesempatan saat itu untuk menanyakan tentang keadaan pada waktu suhunya terbunuh. "Ketika aku sedang berada di guha" kata paderi tua itu, Kudengar suara genta dari biara, aku segera kembali ke biara, Ketika kutinggalkan guha Kiu-kiok-tong, suhumu masih berada dalam guha, Demikian pula Ma Toa Kong, Bu Tim cinjin dan lain2 orang juga masih disitu, menerangkan paderi tua itu. "Saat itu aku pingsan di ruang samping dan tak tahu suatu apa," kata Yok Lan. "Begitu tiba di biara, paderi ti-khek-ceng memberi tahu bahwa sesosok tubuh kecil telah melenyapkan diri diruang belakang, Dia memastikan bayangan itu tentu seorang wanita . . . ." kata paderi tua pula.

"Apakah sam-sucou menyelidiki wanita itu ?" tanya Gin Liong. Paderi tua gelengkan kepala. "Hampir seluruh biara dan puncak kujelajahi semua tetapi tak berhasil menemukan bayangan kecil itu. Petang hari baru aku kembali dan memberitahukan peristiwa itu kepada ji sucou kalian Menurut dugaan ji-sucoumu, wanita itu jika bukan orang yang datang hendak membunuh Ban Hong Liong-Li tempo hari, tentulah Ban Hong Liong-li sendiri." Sejenak berhenti menghela napas, paderi tua itu melanjutkan pula: "Keesokan harinya, seorang murid paderi telah mengumumkan bahwa suhumu tak dapat hadir dalam pelajaran pagi, Saat itu baru ketahuan bahwa suhumu telah meninggal dunia diatas tempat pembaringannya." "Ketika aku dan ji-sucoumu datang ternyata suhumu telah mengalami peristiwa yang menyedihkan. Sebatang golok emas telah menancap pada perutnya, Golok itu adalah khusus buatan suku Biau yang disebut Kim-wan-to. Tentulah sebelum pergi, Ban Hong Liong-li telah masuk kedalam tempat tinggal suhumu, menangis dan meratap supaya suhumu suka kembali menjadi orang biasa lagi, Tetapi karena suhumu tak meluluskan akhirnya baru menggunakan kesempatan suhumu lengah, dia terus turun tangan membunuhnya." "Adakah sam-sucou tidak mempunyai lain dugaan bahwa pembunuh suhu itu bukan Ban Hong Liong-li locianpwe ?" tanya Gin Liong. Paderi tua merenung dan sampai lama baru dapat membuka mulut. "Siapakah kiranya orang itu?"

"Soal itu pada suatu hari aku tentu dapat menyingkap tabir kegelapan," kata Gin Liong. "Jika bukan dia lalu siapakah yang mampu membunuh suhumu ? Siapa yang berlutut memeluk lutut suhumu ?" tanya paderi tua. Melihat sam-sucounya agak tak senang hati, terpaksa Gin Liong hanya mengiakan dan tak berani membantah lagi. "Kemungkinan tentu masih terselip suatu rahasia, Kuharap kalian dapat menyelidiki hal itu hingga dapat diketahui siapakah sebenarnya pembunuh yang kejam itu," kata paderi tua pula. "Gin Liong dan Yok lan," kata paderi tua, "setelah dapat mengejar Ban Hong Liong-li kalian harus dapat mengetahui siapa pembunuhnya, Setelah itu carilah dia sampai ketemu lalu potong kepalanya untuk engkau sembahyangkan dipusara suhumu." Demikian setelah memberi pesan, akhirnya paderi tua itupun segera melanjutkan perjalanan sesuai yang direncanakan. "Liong koko, kemanakah rencana kita sekarang ?" tanya Yok Lan setelah sam-sucounya pergi. "Ke Ciau-koan dulu." kata Gin Liong. Dengan menunggang kuda, tak berapa lama mereka sudah mencapai 30-an li. Tak berapa lama mereka melihat sebuah puncak menara. "Lan-moay, lihatlah, di bawah menara itu tentu sebuah kota" kata Gin Liong, Merekapun segera pesatkan kudanya, Setelah dua-puluh li jauhnya, Gin Liong berkata agak kecewa: "Menilik

keadaannya kita mungkin harus melanjutkan perjalanan lagi." Saat itu udara mendung dan kilatpun berulang kali memancarkan sinar, Menara itu tinggi menjulang ke angkasa, sekitarnya ditumbuhi pohon siong kate. Hujan mulai mencurah, Untung saat itu keduanya sudah tiba pada jarak enam tujuh puluh tombak dari menara itu. Cepat2 mereka larikan kudanya dan meneduh di bawah menara itu. Dari pancaran sinar kilat yang menyambar, seketika Gin Liong dapat mengetahui bahwa pintu pagoda itu tingginya dua tombak, lebar beberapa depa, Bagian bawah luasnya hampir tiga tombak, Keadaan pagoda sudah banyak rusak, pintunya sudah berlubang, ujung dinding penuh bergelantungan kelelawar. "Pagoda itu tak kurang dari seratus tahun umurnya" kata Gin Liong setelah meninjau keadaan pagoda tua itu. "sayang tiada orang yang merawatnya. sehingga rusak dan terlantar." Rupanya Yok Lan ketakutan melihat suasana di sekeliling tempat yang begitu seram ia menanyakan berapa lama hujan akan berhenti. "Rasanya malam ini hujan tentu turun terus" kata Gin Liong, Kemudian ia mengajak Yok Lan naik ketingkat atas untuk melihat sebelah muka. Apabila terlihat suatu desa atau kota, mereka segera akan melanjutkan perjalanan lagi. Keadaan tingkat ketiga masih lumayan Terdapat tangga untuk naik ketingkat keempat, Benar juga perhitungan Gin Liong, Lebih kurang dua-puluh jauh di sebelah muka, tampak berkerlipan cahaya lampu. "Kemungkinan itulah kota Ciau-koan" kata Gin Liong.

Halilintar meletus dahsyat. Ruang pagoda itu berguguran debu dan kotoran, Yok Lan makin ketakutan, ia mengepal tangan Gin Liong erat-2, Gin Liongpun memeluk pinggang Yok Lan dan memandang, Pada saat itu terkenanglah ia pada empat tahun yang lampau. Saat itu ia berada dalam se buah guha bersama sumoaynya. Diluar salju turun lebat, ia masih ingat jelas, kala itu mereka duduk merapat dan ia telah mencium sumoaynya . . . Gin Liong tersentak dari lamunan, ia mengusap kepala Yok Lan dengan lengan bajunya. Adegan tiga belas tahun yang lampau terulang kembali, Keadaan saat itu, benar- tak ubah seperti belasan tahun yang lampau, Bedanya dulu yang turun salju, sekarang hujan. Seperti dahulu, saat itu Yok Lanpun diam saja dan membiarkan sukonya mengusap titik air hujan pada kepalanya, Bahkan ia merasa bahwa hanya apabila dalam pelukan sukunya ia baru merasa bahagia dan aman. Gin Liong tak kuat menahan keinginannya untuk mencium sumoaynya tetapi ia tak melakukan hal itu melainkan berkata: "Lan-moay, malam ini terpaksa kita harus menginap disini." Yok Lan hanya mengangguk Gin Liong mengajaknya turun untuk mengambil selimut dan per bekalan yang ditinggalkan pada pelana kuda, Setelah itu mereka kembali naik ke tangga pagoda, sampai ke tingkat yang keenam. Disini ruang dan lantainya cukup bersih. Yok Lan menyalakan koreknya habis dan Gin Liong usulkan supaya mencabut pedang Tanduk Naga dan Ohbak-kiam, Ternyata kedua pedang pusaka itu dapat memancarkan sinar yang cukup terang. "Liong koko, mari kita pelajari lagi ilmu pusaka yang terdapat pada cermin wasiat itu." seru Yok Lan.

Gin Liong setuju. Demikian keduanya dengan berdampingan segera mempelajari lagi huruf2 pada kaca wasiat yang mengandung ilmu silat yang sakti. Beberapa saat kemudian Yok Lan berseru: "Liong koko, mari kita berlatih gerak langkah Sing-hoan-cek-kiong-poh ?" Ia terus loncat bangun dan segera bergerak2 diatas lantai, Gin Liong terlongong-longong dan tanpa disadari ia telah ulurkan tangannya. Tiba-2 Yok Lan melengking dan loncat ke sudut seraya berseru marah: "Liong koko, makin lama engkau makin tak baik." Gin Liong tertawa lalu loncat menerkamnya. Yok Lan tertawa lalu menghindar. Demikianlah, merekapun berlatih ilmu gerak yang luar biasa seperti yang terdapat pada kaca wasiat Setelah berulang kali tak dapat menangkap akhirnya Gin Liong menyadari sesuatu, ia tertawa, Sebelah kakinya diangkat dan dengan hanya sebuah kaki ia berputar-putar sembari menyambar tubuh Yok Lan. Yok Lan terkejut ketika pinggangnya tertangkap tangan Gin Liong, ia meronta sekuatnya sehingga keduanya jatuh ke lantai, Gin Liong segera memeluk sumoaynya. "Liong koko, lepaskan Mari kita mempelajari ilmu sakti pada kaca itu lagi . . " Tetapi saat itu Gin Liong seperti kena pesona melihat kecantikan wajah sumoaynya, ia mencium bibir Yok Lan, Dara itupun diam saja, ia terkenang dulu ketika masih kecil, memang sering sukonya itu mencium pipinya, Tetapi baru saat itu mencium bibirnya, ia merasa bahagia sekali.

Gin Liong menyelimuti tubuh Yok Lan dan keduanyapun segera tidur, Entah berapa lama ketika membuka mata, hujanpun sudah berhenti Yok Lan juga bangun. Ternyata saat itu hari sudah terang tanah. Mereka lalu berkemas2 melanjutkan perjalanan lagi. Hari masih pagi sekali, jalan masih sepi orang. Setelah matahari terbit, merekapun memasuki kota Ciau-koan. Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan lagi, Menjelang petang mereka tiba dikota Ik-ciu. Ketika hendak mencari rumah makan mereka terkejut karena melihat sesosok bayangan kecil dalam pakaian merah melesat melenyapkan diri ke luar dari sebuah rumah makan. Tetapi kedua anak muda itu tak menaruh perhatian, keduanya segera masuk kerumah penginapan setelah makan mereka keluar untuk mencari berita tentang jejak Ban Hong Liong-li. Tetapi tak berhasil Akhirnya mereka kembali ke rumah penginapan lagi. "Liong koko, lihatlah ini !" tiba2 Yok Lan berseru sembari menunjuk sebuah poci teh di meja nya. Gin Liong terkejut ketika mendapatkan dibawah poci teh itu tertindih secarik kertas, Ketika diambil ternyata kertas itu berisi tulisan. "Liong koko, kenalkan engkau pada Siok Lian suthay ?" tanya Yok Lan seraya serahkan kertas itu kepada Gin Liong. Gin Liong membacanya: "Harap segera datang ke biara Koan Im perlu bicara, Di tepi telaga telah tersedia perahu kecil untuk menyeberang. Siok Lian suthay."

Gin Liong cepat loncat keluar, Saat itu langit cerah, rembulan terang, Sesosok bayangan melesat dari tempat gelap terus lenyap, Gin Liong hendak mengejar tetapi dua jongos, kebetulan muncul, Yok Lan mencegah sukonya mengejar. Gin Liong terpaksa masuk lagi. "Liong koko, kurasa surat itu mempunyai hubungan dengan orang yang menghilang tadi", kata Yok Lan. Gin Liong mengiakan: "Aku tak kenal dengan Siok Lian suthay", "Atau sengaja hendak mempermainkan kita, atau memang Siok Lian suthay itu tokoh dari perkumpulan Thian-leng-kau" kata Yok Lan, Mereka bertanya tentang biara Koan-im-yan kepada seorang jongos, "Ya, memang ada, biara itu sangat terkenal, jika tuan hendak berkunjung ke sana, boleh naik perahu melintasi telaga Tok-san-ou, setengah jam saja tentu sampai," jongos memberi keterangan "Apakah dalam biara itu terdapat seorang rahib yang bernama Siok Lian suthay ?" tanya Gin Liong pula. "Ada", kata si jongos, "Siok Lian suthay adalah kepala dari Lian-hoa-yan". Gin Liong segera mengajak Yok Lan keluar, Mereka menuju ke utara, Ketika tiba di telaga mereka terkejut karena di tepi telaga telah menunggu sebuah perahu, Sesosok tubuh kecil yang berada di haluan perahu tengah membelah kayu bakar. Menilik pakaiannya bercorak jubah paderi, Gin Liong menduganya tentulah Siok Lian suthay. Orang itu mengenakan caping dan kepalanya dibungkus dengan kain

sehingga tak kelihatan bagaimana wajahnya. Hanya yang menonjol sepasang mata orang itu berkilat2 tajam. Dengan memberi hormat Gin Liong menegur tetapi rahib itu menyahut dengan nada dingin: "Si cu berdua sungguh memegang janji", Kemudian ia mempersilahkan Gin Liong dan Yok Lan naik ke atas perahu, Ketika kedua anak muda itu loncat ke geladak perahu, sedikitpun kakinya tak mengeluarkan suara apa2. Tetapi rahib itu tak terkejut ia segera mendayung ke tengah, sikapnya tak mempedulikan kedua anak muda itu. perahu meluncur cepat sekali. Pemandangan telaga di waktu malam memang indah. Tak berapa lama disebelah muka tampak menggunduk hitam, Ketika tiba ternyata merupakan sebuah kelompok bunga teratai yang luasnya beberapa meter, Menilik bentuknya menyerupai sebuah jalan diatas air, jelas bunga teratai itu tentu dipelihara orang. Yok Lan dan Gin Liong tertarik melihat pemandangan itu. Dalam pembicaraan selanjutnya Gin Liong berkata: "Jika pemandangan disini tak indah, tentulah Siok Lian suthay takkan meninggalkan surat rahasia mengundang kami datang ke mari !" Baru Gin Liong berkata begitu, dari arah belakang terdengar orang mendengus geram, dan ketika berpaling, kedua anak muda itu terkejut sekali. Rahib yang mukanya tertutup kain itu tidak lagi melanjutkan mendayung melainkan tengah mengayunkan kayuh menyerang dengan jurus Heng-soh-ngo-gak atau Menyapu-lima-gunung, sebelum kayuh tiba, anginnya sudah menderu-deru menyambar ke arah Gin Liong.

Peristiwa itu tak terduga2 dan jaraknya amat dekat sekali, apalagi berada di tengah telaga. Gin Liong dan Yok Lan berteriak kaget. Ke duanya tak sempat lagi untuk menghindar. Dalam gugup kedua anak muda itu loncat kedalam telaga Rahib itu tertawa gembira sekali. Pada saat rahib yang mukanya berselubung kain cadar itu tertawa gembira, Gin Liong dan Yok Lan segera bersuit nyaring, dengan gunakan ilmu tata-langkah Sing-hoan-poh, kedua muda-mudi itu menginjak daun teratai lalu dengan meminjam tenaga-pijakan itu keduanya melayang keperahu lagi. Rahib berselubung muka itu terkejut bukan kepalang, itulah suatu ilmu meringankan tubuh yang bukan kepalang hebatnya, Cepat ia ayunkan kayuh untuk menyapu kedua pemuda itu. Tetapi Yok Lan lebih gesit, Sebelum kayuh menyapu, ia sudah tiba di haluan perahu lalu enjot tubuhnya loncat menghindar ke sebatang teratai lagi. Saat itu Gin Liongpun sudah tiba di buritan perahu. serentak ia menghantam bahu kiri rahib itu. Rupanya rahib itu juga lihay, Tahu kalau bahunya disambar angin, ia segera memutar kayuh menghantam Gin Liong, Gin Liong terkejut terpaksa ia loncat menghindar ke atas. Yok Lan loncat lagi ke perahu seraya taburkan pedang Tanduk Naga kearah kepala rahib jahat itu, Rahib itu menjerit kaget dan buru2 tundukkan kepala. Cret .... caping dan rambut rahib itu terbabat pedang dan berhamburan jatuh.

Ah... Yok Lan tertegun Rahib itu ternyata memelihara rambut bagus, Dalam pada itu ketika masih berada di udara, Gin Liongpun lepaskan sebuah hantaman. Tetapi rahib itu cepat loncat ke-dalam air. Setelah meluncur didalam perahu, Gin Liong pun berseru : "Lan moay, celaka !" Yok Lan tahu bahwa rahib itu tentu hendak membalikkan perahu, ia tak pandai berenang. cepat ia berteriak dan memegang tangan Gin Liong, Gin Liong menggembor keras lalu menghantam sekuat-kuatnya ke permukaan air, bum .. . . air muncrat, menimbulkan gelombang besar dan perahu Gin Liongpun meluncur mundur. Setelah gelombang reda, tampak di permukaan air dua buah tangan halus yang berenang lalu menyelam lagi. Hantaman Gin Liong tadi telah membawa perahunya menyurut mundur sampai beberapa tombak, masuk kedalam gerumbul rumpun teratai, Yok Lan mendapatkan kayuh perahu, Gin Liong meminta kayu itu, ia yang akan mendayung. "Liong koko, dia datang lagi!" tiba-2 Yok Lan berseru, menunjuk ke permukaan air. Dibawah sinar rembulan, tampak permukaan telah tersiak keras, sesosok tubuh berenang menuju ke perahu Gin Liong, Gin Liong terkejut melihat kepandaian berenang rahib berambut itu yang begitu hebat, ia terus mendayung perahu keluar dari rumpun teratai. Saat itu rahib sudah tiba pada jarak dua tombak dari perahu, Yok Lan berseru suruh Gin Liong cepat mendayung.

Tetapi rahib itu lebih cepat, Saat itu sudah tinggal satu tombak jaraknya, Tetapi Gin Liong dengan tertawa dingin segera mendayung dan perahu itupun mundur lagi sampai dua tombak dari rahib. "Liong koko, dia nanti mati tenggelam," Yok Lan mencemaskan rahib itu. "Jangan menghiraukannya, dia dapat menyelam dalam air selama lima hari," kata Gin Liong. la lanjutkan mendayung perahu menuju ke tepi. "Liong koko," kata Yok Lan, "apakah kita jadi ke kuil Koan-im-yan ?" Gin Liong mengangguk. Dari tepi kuil itu hanya terpisah beberapa li, Gin Liong menerangkan lalu berpaling ke belakang, rahib itu terpisah belasan tombak jauhnya. Tak berapa lama merekapun tiba di tepi telaga, Sebuah hutan bambu yang luasnya berpuluh tombak, kuil Koan-im-yan berada didalam hutan itu. Gin Liong dan Yok Lan terus masuk kedalam hutan itu. Mereka menemukan sebuah jalan yang lebarnya satu tombak dan dialas dengan batu hijau, dari tepi telaga sampai kedalam hutan. Sepanjang menyusuri jalan itu, keadaannya bersih, tiada daun yang berhamburan di jalan. Tentulah para rahib kuil yang rajin membersihkannya. Apa yang diceritakan jongos penginapan itu memang benar Kuil Koan-in-yan memang sebuah tempat yang indah alamnya. Pintu kuil itu dicat hitam dan terkancing rapat2. Grendel pintu amat kokoh dan bersinar remang. Dimuka pintu dihias dengan sepasang singa dari batu.

Tiba diujung penghabisan dari hutan bambu, ternyata masih terpisah beberapa tombak dari kuil. Tiba dimuka pintu, mereka melihat papan nama tergantung diatas pintu dan berbunyi: Koan-im-yan. "Liong koko, apakah kita akan melompati tembok ?" Yok Lan. "Tidak, kita akan masuk lewat pintu," kata Gin Liong lalu menghampiri pintu dan mendebur. Karena tiada penyahutan, Gin Liong hendak mendebur lagi, Tetapi tiba2 ia mendengar derap langkah kaki berlari-lari dari dalam kuil. Begitu pintu terbuka, muncullah seorang rahib sekira berumur 21-22 tahun. Gin Liong dan Yok Lan terkesiap. Ternyata rahib itu berkepala gundul tidak seperti rahib didalam perahu tadi. "Ada keperluan apakah sicu berdua mengetuk pintu kuil kami ? Apakah sicu tersesat jalan. Maaf, peraturan kuil itu tak dapat menerima tetamu pria. Harap sicu cari lain tempat saja," kata rahib itu, terus hendak menutup pintu lagi. "Tunggu," seru Gin Liong, "mohon suhu suka memberitahukan kepada Siok Lian suthay bahwa aku Siau Gin Liong dan Ki Yok Lan datang hendak menghadap." Rahib itu terkesiap: "Bilakah sicu berdua menerima undangan dan suthay kami?" "Sore tadi." kata Gin Liong. Rahib itu makin terkejut, gumamnya: "Apa-kah mungkin mempunyai hubungan dengan sam-suci kami yang baru kembali . . .."

"Ya, benar, memang suhu itu," cepat Gin Liong menukas. Mendengar itu wajah rahib agak berobah, serunya: "Harap sicu tunggu dulu, aku hendak memberi laporan kepada suthay. "Baiklah, harap sicu tunggu," kata rahib itu seraya berputar tubuh dan melangkah masuk. Diam2 Gin Liong memperhatikan bahwa rahib itu memiliki ilmu silat. Tak berapa lama rahib itu bergegas keluar dari ruang besar lagi dan mempersilahkan Gin Liong berdua masuk, menunggu di ruang tamu. Tak berapa lama seorang rahib muda menghidangkan minuman teh. Kemudian muncullah seorang rahib tua berwajah segar dan ramah, mengenakan jubah warna kelabu, tangannya memegang kalung tasbih. Berwibawa dan menimbulkan rasa hormat orang. Begitu masuk rahib tua itu segera meminta maaf karena tak lekas datang menyambut, lalu menanyakan maksud kedatangan Gin Liong berdua. Gin Liong dan Yok Lan segera menduga bahwa rahib tua itu tentulah Soh Lian suthay, Keduanya tersipu-sipu memberi hormat. Demikian setelah dipersilahkan, Gin Liong lalu menyerahkan surat dari Soh Lian suthay yang mengundangnya datang, Tentang rahib yang mencelakainya di perahu, ia masih belum mau mengatakan Melihat surat itu, Soh Lian suthay tertawa lalu berpaling kepada rahib gundul yang berdiri disampingnya. "cobalah tengok sam -sucimu apakah sudah berganti pakaian dan undanglah dia kemari."

Setelah rahib muda itu pergi maka Soh Lian suthay bertanya pula: "Apakah selama dalam perjalanan kemari, sicu berdua tak mengalami sesuatu ?" Terpaksa Gin Liong menceritakan pengalaman yang dideritanya dalam perahu, Saat itu rahib gundul masuk pula bersama seorang rahib berwajah terang, umur sekira 25-26 tahun, "Liau In, ceritakan pengalamanmu malam tadi kepada kedua sicu ini," kata Soh Lian suthay Rahib muda berwajah cerah itu bernama Liau In. Dengan agak merah mukanya, ia memberi hormat kepada Gin Liong dan Yok Lan lalu menutur: "Menjelang sore, pinni ke kota membeli minyak, setengah li dari pintu kota Ik-ciu, tampak seorang rahib berjalan dengan gopoh..." "Berapakah umur rahib itu ?" tukas Yok Lan. Lian In merenung, ujarnya: "Saat itu cuaca sudah petang, aku tak dapat melihat jelas, Tetapi rasanya belum ada tiga-puluh tahun." Berhenti sejenak ia melanjutkan: "Rupanya rahib itu gelisah sekali, Pada saat lewat di sampingku setelah memandangku sejenak, tiba2 ia terus menyerang. Karena tak menduga-duga, aku kena diringkus oleh rahib cantik itu." Bercerita sampai disitu, wajah rahib Liau In perlebar merah lagi, Rupanya Gin Liong dapat menduga, Waktu ia hendak bertanya, Liau In sudah melanjutkan lagi.. "Rahib cantik itu menyeret aku ke tempat sepi lalu menutuk jalan darahku dan melucuti pakaianku, untunglah saat itu muncul seorang tua berilmu yang menolong aku dan mengantarkan sampai ke tepi telaga, Tetapi perahu yang tersedia disitu sudah tak ada."

"Apakah jubahnya berwarna kuning telur dan mengenakan baju lengan pendek warna merah ?" seru Yok Lan. "Benar, dan membawa sebatang kebut Giok-hud-tim," seru Liau In. "Tak salah lagi, dialah Biau Biau sian kho yang gemar mencelakai orang," seru Gin Liong. Mendengar nama Biau Biau sian-kho, wajah Liau In serentak berobah lalu berpaling ke arah Soh Lian suthay. Soh Lian suthay menyebut "omitohud" dan dengan tenang berkata: "Sungguh tak kira kalau binatang itu lagi..." Rahib gundul serentak melangkah maju memberi hormat kepada Soh Lian suthay: "Mohon suthay mengiijinkan murid ke telaga untuk menghukum murid murtad itu." Tetapi Soh Lian suthay dengan wajah bersungguh segera berkata: "Orang jahat tentu dibasmi orang jahat. Kejahatan Biau Biau sian-kho sudah melewati batas, akhirnya dia tentu akan terbasmi hanya saatnya belum tiba. jangan engkau terperangsang sehingga kejernihan hatimu terganggu." Rahib gundul itu mengiakan dan segera mundur. Dalam pada itu setelah tahu duduk perkaranya Gin Liong dan Yok Lanpun segera minta diri. Soh Lian suthay mencegah, mengatakan hari sudah malam dan hendak menjamu mereka tetapi Gin Liong tetap pamit pulang, Akhirnya Soh Lian suthay menitahkan dua orang rahib gundul mengantar. Dengan perahu yang lebih besar, kedua rahib itu segera mengantarkan Gin Liong dan Yok Lan. Cepat sekali perahu itu sudah keluar dari gerumbul taman teratai, Dan setengah

jam kemudian sudah tiba di tepi, Diam2 Gin Liong membatin, anak murid Soh Lian suthay itu berkepandaian tinggi, jika tidak diserang secara tiba2, tak mungkin dapat diringkus Biau Biau sian-kho. Gin Liong dan Yok Lan kembali ke rumah penginapan lagi, Setelah siang, baru tetamu2 meninggalkan rumah penginapan. "Liong koko," kata Yok Lan, "kebanyakan tetamu yang menginap disini, tak terburu-buru menempuh perjalanan, Yang terburu-buru, tentu menginap di rumah penginapan luar kota, Mari kita periksa rumah2 penginapan itu, mungkin Liong Li locianpwe berada disana." Gin Liong setuju. Keduanya segera menuju ke pintu kota selatan. Setelah keluar dari pintu kota, mereka mulai bertanya kepada setiap rumah penginapan Tetapi sampai tiga rumah penginapan mengatakan tak ada. Terakhir pada rumah penginapan yang paling selatan sendiri, Gin Liong mendapat keterangan yang mengejutkan. Jongos menerangkan bahwa memang ada seorang wanita seperti yang dilukiskan Gin Liong itu, menginap di rumah penginapan situ, Wanita memiliki sepasang mata yang terang, berwarna agak kecokelat-cokelatan. Gin Liong dan Yok Lan girang sekali, Menurut keterangan jongos, tetamu wanita itu sudah pergi lima hari yang lalu. Gin Liong memberi persen kepada jongos itu lalu mengajak Yok Lan melanjutkan perjalanan Kini dia sudah memperoleh jejak Ban Hong Liong-li. Tiap tiba di kota, keduanya segera mencari keterangan ke hotel2. Beberapa hari kemudian walaupun belum berhasil menyusul, tetapi mereka sudah memperoleh keterangan yang pasti, Tiap dua hari sekali, Bang Hong Liong-li tentu

bermalam di hotel, kebanyakan hotel2 diluar kota, jarang Ban Hong Liong-li makan di rumah makan besar, kebanyakan hanya di rumah makan kecil. Mungkin untuk menghindari perhatian orang. Gin Liong memperhitungkan bahwa Ban Hong Liong-li tentu berada di muka, sedang rumah penginapan pada perjalanan yang akan tiba adalah rumah penginapan Liulim-tiam. Tetapi dari kota Sin-ca-koan ke Liu-lim-tian itu harus melalui gunung Ke-kong-san, markas besar Thianleng-kau. Diperhitungkan pula, bahwa cara yang terbaik untuk menyusul Ban Hong Liong li ialah mendahului untuk menunggu disuatu tempat yang diperkirakan Ban Hong Liong-li akan berhenti. Jika menuju ke Ke-kong-san untuk memenuhi tantangan Thian-leng-kau, ia harus menggunakan waktu satu hari, itu berarti masih setengah hari dapat lebih dulu datang ke Liulim tiam daripada Ban Hong Liong-li. Setelah dipertimbangkan akhirnya Gin Liong dan Yok Lan memutuskan untuk memenuhi tantangan orang Thianleng-kau kepada Li Kun dulu. Menjelang sore, mereka sudah tiba dikota Tiang-siu, kira2 dua-puluh li dari gunung Ke-kong-san, Keduanya bermalam disebuah hotel. Di kota Tiang-siu, pun terdapat cabang Thian-leng-kau. Kabarnya, yang menjadi kepala cabang adalah seorang wanita muda yang cantik. Setelah mandi dan ganti pakaian, Gin Liong dan Yok Lan duduk di serambi untuk merunding rencana perjalanan. Tiba2 muncul dua orang menghampiri mereka, Yang satu bertubuh gemuk, satu kurus, Keduanya berjalan dengan

sikap congkak, Setelah melihat Gin Liong dan memandang Yok Lan, si kurus memberi hormat. "Saudara berdua hendak ke mana, mengapa bermalam disini, Siapa nama saudara, perguruan dan guru saudara. Harap suka memberi tahu agar aku..." Melihat ulah kedua orang itu, Gin Liong sudah muak, cepat ia menukas: "Aku menuju ke seluruh penjuru, menginap hotel dengan membayar, bukan bangsa penyamun juga bukan pesakitan, Mengapa kalian hendak menanyakan diri kami ?" Si gemuk mengerut dahi lalu membentak keras: "Tutup mulutmu, budak hina. Ketahuilah, tempat ini adalah darah kekuasaan partai kami !" Habis berkata ia terus loncat masuk. "Kawanan tikus, engkau hendak cari mampus ? Hayo, enyahlah!" Gin Liong marah dan menghantam. "Jangan, koko," cegah Yok Lan, ia kuatir tindakan sukonya itu akan mengejutkan orang2 Thian-leng-kau. Tetapi tangan Gin Liong sudah terlanjur berayun, seketika terdengar suara orang mengerang disusul dengan derap gemuruh dari kaki yang terhuyung-huyung. Si gemuk telah terlempar keluar. Wajahnya pucat, kedua tangannya mendekap perut, Rupanya untuk memeriksa pernapasannya apakah terluka, Ternyata ia tak menderita luka. Dia terlongong-longong heran. Yok Lan segera keluar dan berkata kepada kedua orang itu. "Kami hendak memenuhi undangan dari Pit-pengacaudunia Yu Ting-su, pemimpin ketiga dari Thian-leng kau.

Karena sudah malam, kami terpaksa menginap disini, Lalu apa yang kalian kehendaki dari kami." Mendengar itu si kurus segera merobah sikapnya. Dengan hormat ia berkata: "Maaf, kami tak tahu kalau saudara berdua sahabat dari pemimpin kami." Saat itu jongos muncul membawa hidangan, Si kurus meminta Gin Liong berdua supaya mengganti dengan hidangan yang lebih mahal, semua biaya akan ditanggung mereka, Tetapi Gin Liong menolak. Kemudian si kurus menerangkan bahwa kepala cabang dikota itu, Busur-emas-pelor-perak Long Ci Ing karena sudah menuju ke markas maka tak dapat menyambut. Gin Liong mengucapkan beberapa kata terima kasih, Masih si kurus hendak mengunjuk jasa, menawarkan untuk memberitahu lebih dulu ke markas besar agar dapat menyambut kedatangan Gin Liong. Tetapi Gin Liong menolaknya. Masih pula si kurus menawarkan jasa untuk mengantar, Yok Lan terpaksa menerima: "Baiklah, karena saudara bersungguh hati hendak mengantar, baiklah besok pagi harap datang kemari." Keesokan harinya ternyata si kurus sudah siap menunggu. Mereka bertiga segera naik kuda menuju ke gunung Ke-kong-san, Tiba di kaki gunung sebelah utara, si kurus lalu mengeluarkan bendera merah kecil dan diacungkan keatas kepala. Ketika mendaki ke lereng, mereka terkejut mendengar suara gemuruh. Ketika menanyakan, si kurus menerangkan: "Sungguh kebetulan sekali sau dara datang pada saat ini, inilah untuk yang pertama kali Thian-leng-kau mengadakan pertandingan pi-bu. Dan hari ini merupakan hari terakhir,

Besok sudah akan ditetapkan kedudukan dan jabatan masing2. Jika Long thocu kami menang, aku akan ikut pindah ke cabang di Kong-ciu." Rupanya si kurus ingin membanggakan perkumpulannya, ia melanjut lagi, Menerangkan bahwa anggauta2 Thian - leng - kau rata2 memiliki ilmu tinggi sekali. Akan mempersatukan kaum persilatan untuk diajak menjalankan keadilan dan kebenaran, membasmi kejahatan. "Siapakah kiranya nama suhu dari pemimpin partai saudara itu ?" tanya Gin Liong. "Entahlah," si kurus gelengkan kepala, "yang kami ketahui hanialah kaucu kami itu bernama Hong-hu Ing dan adik perempuannya bernama Hong-hu Yan, kedua kakak beradik itu berilmu tinggi sekali. Sampai sekarang belum terdapat orang yang mampu melayani mereka sampai sepuluh jurus..." Saat itu suara sorak sorai makin bergemuruh. Si Kurus menerangkan bahwa tentu ada orang yang menenangkan pertandingannya. Yok Lan kerutkan alis dan bertanya heran: "Diatas kepala cabang hanya kaucu. Lalu siapa sajakah kepala2 cabang itu." "Setiap orang hanya untuk sementara ditetapkan kedudukannya, bahkan termasuk diri kaucu sendiri juga," kata si kurus. ia berhenti, sejenak lalu berkata pula: "Menurut keterangan Long thocu, dibawah kaucu terdapat tiga kepala bagian dalam, dan tiga kepala kepala bagian luar, Setelah itu baru kelima lohu-cu dan kepala cabang."

Baru Yok Lau hendak bertanya, tiba2 si kurus sudah berseru: "Disebelah depan itu adalah markas besar kami!" Memandang ke muka, tampak sebuah pintu gapura yang tinggi besar dan sebuah bangunan luas yang dikelilingi tembok tinggi, Dikedua samping pintu, dijaga oleh berpuluh penjaga bersenjata golok dan mengenakan pakaian seragam yang ringkas. Di sebelah muka agak keluar dari pintu itu terdapat tempat lelaki yang menuntun kuda, Salah seorang diantaranya seorang tua baju panjang dan yang tiga mengenakan pakaian ringkas. Mereka membawa senjata. Thio Su demikian nama si kurus, segera menerangkan bahwa keempat pendatang itu juga hendak ikut dalam pibu. Harap saudara berdua nanti jangan bicara apa2. biarlah aku yang menghubungi para penjaga pintu itu. Benar juga setelah tiba di muka pintu besar, Thio Su segera mengambil sekeping lencana tembaga dan diserahkan kepada penjaga. Tiba2 penjaga yang berdiri di tengah, setelah memeriksa lencana, lalu mengembalikan kepada Thio Su, katanya: "Walaupun kedua tuan ini sahabat dari Yu tancu tetapi Yu thancu belum memberitahu kepada kami. Sekarang silahkan engkau sendiri yang masuk untuk mengundang Yu tancu keluar . . ." Thio Su deliki mata, serunya: "Yu thancu tiap hari sibuk melakukan tugas, kemungkinan tentu lupa memberitahu. Tetapi beberapa hari yang lalu Yu thancu telah memberitahu kepada Long thocu supaya menunggu kedatangan Siau siauhiap dan diajak kemari ikut dalam pertandingan pi-bu. Apabila sampai tertunda sehingga pertandingan sudah bubar, siapakah diantara saudara yang berani bertanggung jawab ?"

Penjaga2 itu saling bertukar pandang tetapi tak ada yang menyatakan apa2. Penjaga yang di tengah tadi juga tampak bimbang. Saat itu dari dalam markas terdengar pula sorak sorai yang gemuruh. Tentu ada yang menang dalam pertandingan "Saudara," seru Thio Su makin gugup, "pertandingan pibu diantara thancu sudah mulai. Kalau saudara tak berani bertanggung jawab, maka aku akan membawa Siau sauhiap masuk, Segala perkara, akulah yang tanggung, takkan melibat saudara2." Setelah berkata si kurus mengajak Gin Liong dan Yok Lan masuk, Penjaga2 itupun memberi jalan. -ooo0dw0oooBab 9 Menghadiri Phibu di Thian-leng-kau Saat itu matahari sudah naik di puncak gunung, Puncak di sebelah kanan kiri penuh tertutup pohon siong dan rotan liar. Ternyata markas itu merupakan sebuah lembah gunung yang luas, penuh dengan bangunan2 dan pohon2. Berpuluh tombak yang disebelah muka, terdapat sebuah hutan lebat, Di tengah hutan itu tampak beberapa buah bangunan gedung yang besar. Sesudah masuk, Yok Lan dapatkan beberapa anak buah Thian-leng kau masih memandang dan kasak kusuk. "Agaknya, tiada yang mengepalai penjagaan di pos pintu markas perkumpulan saudara," kata Yok Lan kepada Thio Su.

Thio Su hanya mengatakan bahwa mungkin mereka ikut dalam pertandingan pi-bu. Akhirnya mereka disebuah gedung bangunan yang mempunyai ruangan besar sekali, Beribu-ribu anak buah Thian-leng-kau berada ruang besar itu dari tengah memandang ke arah halaman, sebuah lapangan luas yang merupakan tempat adu pi-bu saat itu. Terdengar suara gemboran keras dan disambut dengan tampik sorak dan sekalian anak murid Thian-leng-kau. Gin Liong bertiga tiba tak jauh dibelakang mereka, Tampak seorang lelaki berpakaian kelabu dengan muka merah padam sedang masuk kedalam rombongan anak murid Thian-leng-kau. Sedang seorang lelaki lain dengan wajah yang congkak berjalan mendatangi. Thio Su mempersilahkan Gin Liong dan Yok Lan turun dari kuda, kemudian mengajaknya masuk kedalam ruangan. Banyak sekali anak buah Thian-leng-kau yang berpaling dan memandang ketika Gin Liong bertiga tiba. Tetapi dengan sikap yang angkuh, Thio Su berjalan paling depan untuk menunjukkan jalan kepada kedua pemuda itu. Tiba2 diatas titian yang akan menuju ke panggung kehormatan dua orang penjaga dengan senjata golok di pinggang segera tampil menghadang. Thio Su dengan angkuh segera menunjukkan lencana dan kedua anak buah Thian-leng-kau itu pun segera menyisih. Ternyata panggung itu merupakan tempat duduk dari mereka yang akan turun ke gelanggang untuk menunjukkan kepandaiannya, Saat itu panggung penuh dengan jago2 bahkan terdapat pula paderi dan imam. Ketika Gin Liong masuk, sekalian mata hadirin segera mencurah kepadanya, Ada yang terkejut tetapi tak kurang yang tak mengacuhkan. Rupanya tempat duduk diatur menurut tinggi rendahnya kedudukan. Dibagian atas sudah penuh tetapi dibagian

bawah atau yang di muka masih terdapat tempat yang kosong Gin Liong dan Yok Lan dipersilahkan duduk di deretan pertama. Saat itu di gelanggang mulai diadakan pertandingan oleh dua orang jago. Gin Liong dan Yok Lan mendapatkan bahwa semua orang yang duduk di panggung itu sama memperhatikan dirinya. Panggung dan sekeliling arena pertandingan diatur dengan megah dan meriah. Ruang besar itu di hias dengan indah. Dimuka ruang disiapkan dua deret tempat duduk. Yang ditengah-tengah, tiga buah kursi besar bercat kuning emas. Yang tengah, duduk seorang anak muda berumur 28-29 tahun mengenakan pakaian warna biru seperti seorang sasterawan. Sasterawan muda itu berwajah tampan dan gagah, alisnya tebal, mata bercahaya tajam dan mulut menyungging senyum. Segera Gin Liong dan Yok Lan menduga bahwa sasterawan muda itu tentulah Honghu Ing, jago muda yang menggemparkan dunia persilatan dan kini menjadi ketua perkumpulan Thian-leng kau. Disebelah kiri dari Honghu Ing duduk seorang tua berumur 60 an tahun, Sedang disisi kanan Honghu Ing, seorang gadis cantik berpakaian ungu muda. Dibelakang gadis cantik itu duduk dua orang dara, berpakaian ringkas dan menyanggul pedang di punggung, Rupanya kedua dara itu adalah bujang pelayan dari si gadis cantik. Gin Liong dan Yok Dan tahu bahwa gadis cantik itu tentulah Honghu Yan, adik dan Honghu Ing. Tetapi mereka tak tahu siapakah orang tua berjubah kuning itu.

Disebelah kanan dan kiri dari ketiga kursi kehormatan itu, masih terdapat enam orang. Ada yang berumur 40-70 tahun, yang termuda berumur 40-an tahun, Menilik wajah mereka yang merah segar dan tulang pelipisnya yang menonjol keluar, jelas mereka tentu jago2 yang hebat tenaga dalamnya. Kemudian pada deretan kursi yang kedua, tampak diisi oleh delapan orang, Pit-pengacau-dunia Yu Ting Su, duduk disalah satu dari tiga kursi yang paling tengah. Yu Ting Su mengenakan pakaian ringkas, punggungnya menyelip sebatang poan koan-pit dan tengah memandang dengan perhatian ke tengah gelanggang. Dibelakang kedua deret kursi itu, penuh berdiri berpuluhpuluh orang. Diantaranya tampak Tio hiang cu yang telah dipotong daun telinganya oleh Tio Li Kun tempo hari. Tiba2 beberapa jago berpakaian biru, berpaling memandang Thio Su yang saat itu tengah menghampiri ke tempat Yu Ting Su. Yu Ting Su berpaling dan terkesiap, Thio Su membisiki ke dekat telinga Yu Ting Su tetapi orang she Yu itu gelengkan kepala. Ketika memandang ke deretan muka tempat Gin Liong dan Yok Lan duduk, wajah Yu Ting Su serentak berobah, ia mendorong Thio Su lalu berbangkit dan bergegas menghampiri ke kursi ketua. sikapnya tegang sekali. Saat itu terdengar sorak sorai bergemuruh dan kedua orang yang bertanding, pun sudah tinggalkan lapangan. Gin Liong berpaling ke belakang. Tampak Yu Ting Su tengah berdiri dibelakang Honghu Ing dan membisiki beberapa patah kata, Wajah Honghu Ing berobah serius. Rupanya gerak gerik Yu Ting Su itu menimbulkan perhatian segenap orang yang hadir disitu, setelah

mendapat laporan, mata Honghu Ing pun segera mencurah kearah Gin Liong dan Yok Lan. Sekalian orangpun mengikuti memandang kearah yang dipandang ketua mereka, Gin Liong dan Yok Lan menjadi pusat perhatian seluruh anak buah Thian leng-kau. . Tatkala memandang kearah Yok Lan, Honghu Ing terkesiap melihat kecantikan nona itu, Setelah menenangkan hatinya barulah ketua Thian-leng-kau itu beralih memandang Gin Liong. Rupanya Honghu Ing tak mau suasana akan terganggu. Segera ia membeli isyarat tangan kepada seorang lelaki baju putih yang berdiri di ujung deretan depan, Orang itupun mengangguk lalu melantangkan pengumuman. "Pui Kong Cin, sesuai dengan pertandingan yang terdiri dan tiga-puluh jurus, telah dapat mengalahkan Li Tiang Su, maka sekarang diangkat sebagai kepala cabang di Sin-an," serunya. Selesai pengumuman, lelaki baju kelabu yang berdiri di titian bawah panggung, segera memberi hormat kepada Honghu Ing lalu menuju ke panggung sebelah muka. Ia menulis dalam sebuah buku, kemudian berseru melayangkan pengumuman lagi : "Pertandingan selanjutnya antara kepala cabang di kota Tiang-siu, Busur-emas-pelorperak Long thocu, lawan ke tua cabang dari Kong-ciu yang Tongkat-besi-tua Cia thocu." Pada deretan tempat duduk yang tak berapa jauh dari tempat Gin Liong, bangkit seorang lelaki tua berumur 50-an tahun, mengenakan pakaian ringkas warna abu2, memegang sebatang tongkat besi yang berat, lalu berjalan menuju ke lapangan.

Kemudian seorang wanita muda cantik berusia 26-27 tahun dalam pakaian ringkas warna hijau, membawa busur warna kuning emas, segera loncat turun ke gelanggang. Pada saat itu Yu Ting Su-pun menghampiri tempat Gin Liong dan Yok Lan, memberi salam dan berkata dengan tertawa: "Atas titah kaucu, saudara berdua diminta duduk di panggung kehormatan." Ketika Gin Liong berpaling memandang ke atas panggung, ketua Thian-leng kau Honghu Ing dan adik perempuannya Honghu Yan memberi anggukan kepala kepadanya, Gin Liongpun balas mengangguk lalu mengajak Yok Lan naik titian keatas panggung kehormatan. Sambil menyertai, Yu Ting Su berkata: "Saudara berdua benar2 pegang janji. Kaucu tak mengira kalau saudara akan datang begini cepat. Lalu mana nona yang seorang itu ?" "Ah, nona Tio terpaksa pulang dulu karena ada urusan," kata Gin Liong. Selekas masuk ke panggung kehormatan, berpuluh2 jago Thian-leng-kau serentak menyisih memberi jalan, Honghu Ing sendiripun segera berbangkit, diikuti oleh seluruh anak buah Thian-leng-kau. "Aku yang rendah Honghu Ing, tak tahu kalau Siau sauhiap dan nona Ki berkunjung kemari sehingga tak keluar menyambut sendiri, harap suka memaafkan," kata Honghu Ing menyambut kedua tetamunya. Gin Liong balas menghormat seraya mengucapkan beberapa patah merendah. Kemudian Honghu Ingpun memperkenalkan jago2 yang berada disitu kepada Gin Liong, Karena banyaknya, Gin Liong tak dapat mengingat satu per satu, Hanya ia ingat, orang tua baju kuning bernama The Hai Hin itu adalah

ayah-angkat Honghu Ing. Sedang yang lain2 adalah para pimpinan partai Thian-leng-kau. Selesai memperkenalkan Honghu Ing berkata pula: "Sungguh kebetulan sekali kedatangan Siau sauhiap ini, Saat ini merupakan hari terakhir dari pertandingan pi-bu Thian-leng-kau. Menurut keterangan Yu thancu, saudara berdua memiliki kepandaian yang sakti. silahkan saudara duduk dulu, nanti apabila tiba giliran acara pi-bu untuk memilih ketua, kami hendak mohon saudara yang menjadi wasit." Nona baju ungu Honghu Yanpun segera memberikan tempat duduk yang kosong disebelahnya. Gin Liong kerutkan alis dan berkata: "Kepandaian kaucu sudah termasyhur di dunia persilatan. Sudah lama aku sangat mengagumi Hari ini kedatanganku ialah hendak..." Honghu Ing cepat menukas tertawa: "silahkan duduk, pertandingan segera akan dimulai." Di gelanggang tampak Tongkat-besi dan Busur-emas tegak menunggu komando untuk mulai mengadu kepandaian. Melihat itu Gin Liong dan Yok Lan terpaksa duduk dideretan muka. Mata Honghu Yan yang cantik senantiasa mencurah kepada Gin Liong. Gin Liong segan terlalu lama berada di markas Thianleng-kau, Tetapi demi menghindarkan diri bertempur dengan orang, terpaksa untuk sementara ia harus tinggal disitu. Demikian pula karena melihat kedua saudara Honghu itu bersikap sopan dan tergolong kaum ksatrya, Gin Liong memutuskan persoalan Li Kun dengan mereka.

Demikian setelah Honghu Ing dan jago2 lainnya duduk, ketua Thian-leng kau itu segera memberi tanda supaya pertandingan dimulai. "Pertandingan dimulai !" seru orang baju putih yang bertindak sebagai pembawa acara. Kedua jago di gelanggang memberi hormat kearah panggung kehormatan lalu melangkah ke-tengah gelanggang. Jago tua Tongkat-besi dengan rambutnya yang putih dan mata berkilat kilat tajam melangkah dengan mantap, sedangkan wanita muda Busur-emas dengan mengulum senyum, maju sambil membawa busur. Tampaknya ia yakin tentu dapat mengalahkan lawan. Dengan menggembor keras, tiba2 Tongkat-besi memutar tongkatnya dan menyerang Busur-emas Long Ci Ing. Long Ci Ing memekik keras, bergeliatan dan menghindari serangan tongkat lalu balas menghantam dengan busur Serangan pertama luput, Tongkat-besi Cia Ki segera berputar tubuh dan menyerang lagi. Pada saat itu Yok Lan benturkan siku lengannya kearah Gin Liong, Pemuda itu tahu dan mengerlingkan pandang, Dilihatnya Yu Ting Su tengah kasak kusuk dengan beberapa jago Thian-leng-kau. Sedang beberapa jago lainnya juga memperhatikan Gin Liong, Gin Liong hanya tertawa dingin lalu memandang ke arah gelanggang lagi. Pertempuran berjalan seru. Masing2 telah mencurahkan seluruh kepandaiannya. Cia Ki memainkan tongkatnya sederas angin puyuh.

Sekeliling tempat seluas lingkungan dua tombak, debu berhamburan tebal. Tetapi Busur-emas Long Ci Ingpun teramat gesit sekali, Busur diputar menjadi beratus lingkaran sinar kuning, menyambut serangan tongkat dan mencari kesempatan untuk balas menyerang. Sekalian jago2 yang menyaksikan pertempuran itu geleng2 kepala dan tak henti-hentinya memuji. Dalam beberapa kejab saja pertempuran itu sudah berlangsung lebih dari lima puluh jurus Gin Liong kerutkan dahi. Rupanya Honghu Yan tahu apa yang dipikirkan Gin Liong, segera ia tertawa: "pertandingan itu untuk menentukan jabatan, sebenarnya dibatasi sampai tiga-puluh jurus, Tetapi kedua orang itu tergolong ketua cabang, mereka bertempur sampai ada yang kalah." Merah wajah Gin Liong karena merasa bahwa nona itu selalu mengawasi dirinya. ia berpaling dan tertawa, meminta keterangan: "Mohon tanya, bukankah mereka berdua sudah menjabat kedudukan sebagai ketua cabang ?" Dipandang oleh Gin Liong, nona cantik itu berdebar hatinya. wajahnya bertebar merah lalu menyahut: "Walaupun sama2 menjadi ketua cabang tetapi tingkatannya tidak sama, Cia thocu lebih tinggi setingkat dari Long thocu." "Ooh, kalau begitu mereka hanya memperebutkan tingkat saja?" Honghu Yan tersenyum mengiakan "Kalau misalnya Long thocu menang, apakah dia akan dipindah sebagai ketua cabang di Kong-ciu."

"Ya, dan Cia thocu akan turun tingkat, di pindah ke Tiang-siu," kata Honghu Yan. "Apakah Cia thocu akan mandah menerima hinaan itu ? Apakah dia takkan mendendam terhadap Long thocu? Misalnya pula, sampai ada yang mati dalam pertempuran itu, tidakkan sahabat dan anak buahnya akan melakukan pembalasan ?" tanya Gin Liong, Honghu Yan merah mukanya tak dapat menjawab. Rupanya Honghu Ing mendengar percakapan itu, ia segera bertanya: "Kalau menurut pendapat Siau sauhiap, dengan cara bagaimanakah pertandingan yang dimaksudkan untuk mencari kemajuan di kalangan ketua2 cabang itu, akan diatur ?" "Menurut pendapatku," kata Gin Liong, "pertandingan harus diberi batas, Apabila pada batas yang ditentukan, tingkat ketua cabang yang lebih rendah itu tak dapat dikalahkan oleh yang tongkatnya lebih atas, maka pertandingan itu harus dihentikan dan kepada ketua cabang yang tingkat bawah itu supaya dinaikan sama tingkatnya dengan lawannya. Dengan demikian tanpa mengurangi dorongan agar mereka giat berlatih, pun dapat dicegah terjadinya salah seorang akan mati terbunuh dan timbulnya akibat2 dendam permusuhan dikalangan mereka2 yang bertanding. Untuk ketua cabang yang tingkatnya lebih atas itu, boleh diberi kesempatan sekali lagi untuk bertanding dengan lain ketua cabang yang tingkatnya lebih rendah." Orang tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing berseru memuji pendapat Gin Liong. Pun Honghu Ing serentak berseru kepada kedua jago yang sedang bertempur itu: "Harap Cia thocu dan Long thocu hentikan pertempuran !"

Mendengar itu Tongkat-besi Cia Ki dan Busur-emas Long Ci Ing segera loncat ke belakang. Kemudian Honghu Ing bertanya kepada pembawa-acara baju putih: "Sudah berapa banyakkah mereka bertempur ?" "Delapan puluh satu jurus !" Segera Honghu Ing pertandingan sesuai seperti yang diucapkan Gin Liong tadi dan suruh pengacara mencatat dalam buku. Gin Liong terkejut ia hanya mengemukakan pendapat dan mengharap agar ketua Thian-leng-kau mempertimbangkan lagi. Siapa tahu ternyata pendapatnya itu keseluruhannya telah diterima dan dijadikan keputusan. Ia hendak mengucapkan kata2 kepada Honghu Ing tetapi orang yang mencatat dalam buku tadi sudah berbangkit dan melayangkan pengumuman sesuai seperti yang diperintahkan Honghu Ing tadi. Pengumuman itu disambut dengan sorak gegap gempita oleh sekalian anak buah Thian-leng-kun. Bagi jago2 tingkatannya lebih rendah, mereka tidak lagi kuatir akan kehilangan jiwanya apabila bertempur dengan tokoh yang lebih tinggi tingkatannya. Long thancu gembira karena mendapat kenaikan tingkat, ia segera memberi hormat kepada ketua Thian-leng-kau dan kepada lawannya si Tongkat-besi Cia Ki. Melihat masih ada waktu, Honghu Ing memberi isyarat kepada pengacara baju putih bahwa pertandingan pi-bu masih boleh dilanjutkan. "Sekarang dimulai acara pibu antara tingkat pimpinan dari tancu keatas, Jika tak ada yang hendak mengadu pi-bu

maka pembagian jabatan segera akan ditetapkan," seru pengacara baju putih pula. Orang tua yang duduk di dideretan muka dari para jago2 yang duduk dideretan kedua, serempak berbangkit dan membenahi pakaian serta senjata masing2. Suasana seketika berobah tegang lagi. Tiba2 sesosok tubuh melesat dan tegak di muka ruang. Seorang lelaki berwajah kuning, memelihara kumis pendek, mata berkilat-kilat tajam dan pinggang bersabuk rantai besi. Setelah memberi hormat kepada Honghu Ing dia berseru: "menghaturkan laporan kepada kaucu, Hamba Rantai terbang Kwan It Ceng menjabat kepala paseban keempat, ingin mohon pelajaran beberapa jurus dari Yu thancu." Gemuruh sekalian orang mendengar ucapan lelaki muka kuning itu. Mereka tak menyangka dia berani menantang Yu Ting Su yang menjagoi dalam ilmu pukulan. Sejenak memandang si Rantai-terbang, Honghu Ing lalu mencari Yu Ting Su tetapi ternyata jago itu tak berada di ruang situ. Pertandingan itu untuk menetapkan jabatan bukan untuk kenaikan tingkat. Kaucu tak dapat menunjuk orang sebagai wakil, Kepala Paseban ke tiga itu hanya dijabat seorang. Tiba2 Yu Ting Su muncul dari sebelah kanan panggung dan berlari mendatangi. Begitu tiba di muka ruang ia deliki mata kearah Rantai-besi kemudian baru memberi hormat kepada Honghu Ing: "Hamba akan menerima tantangan Kwan thancu." Honghu Ing: "Cukup asal menutuk saja, jangan sampai ada yang terluka."

Seluruh anak buah Thian-leng-kau tegang-tegang, Tiba di gelanggang, kedua jago itu saling berhadapan terpisah satu tombak jauhnya, Sambil melepaskan sabuk rantai, Rantai besi Kwan It Ceng memberi hormat. "Sudah lama kudengar sepasang pit dari Yu thancu teramat sakti. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat mohon pelajaran dari thancu," serunya. Yu Ting Su kerutkan dahi, memicingkan mata dan tertawa dingin: "Budak, ternyata engkau memandang tinggi kepadaku, heh..." pelahan-lahan ia mencabut sepasang pit atau pena yang terselip pada bahunya. "Aku hanya ingin mendapat pelajaran barang beberapa jurus dari thancu, sama sekali tak ingin merebut kedudukan thancu..." "Tutup mulutmu !" bentak Yu Ting Su lalu gerakkan pit di tangan kanan untuk menutuk batok kepala dan pit di tangan kiri menutuk bawah perut orang. Cepat dan ganas sekali kedua serangan itu dilancarkan. Rantai-besi kerutkan alis lalu melesat kebelakang, setelah menghindari kedua pit, ia segera sabetkan rantai besi ke pinggang lawan. Gin liong memperhatikan bahwa Yu Ting Su terlalu ganas sekali, tidak seperti orang yang bertanding pi-bu. ia berpaling memandang Honghu Ing tetapi ternyata Honghu Yan duduk disisi engkohnya tengah memandang dirinya. Tersipu-sipu Gin Liong memandang kearah gelanggang pertempuran lagi. Memang saat itu Yu Ting Su melancarkan serangan ganas dengan bernapsu sekali, Tetapi Rantai - besi Kwan It Cengpun tetap melayaninya dengan tenang. Beribu anak buah Thian-leng-kau dan jago ko-jiu dari dua bangsal,

mengikuti pertempuran itu dengan penuh perhatian suasana sunyi senyap. Hanya deru angin dari sepasang pit dan mulut Yu Ting Su yang menggembor kemarahan yang terdengar memenuhi gelanggang, Rantai-besi Kwan It Ceng tak mengeluarkan suara apa2. Pelahan tetapi tertentu, serangan rantai dari Kwan It Ceng makin keras dan gencar. Teriak kemarahan dari Yu Ting Supun mulai mereda. Gin Liong cepat dapat menilai. Kelemahan dari Rantaiterbang Kwan It Ceng adalah hanya karena kurang pengalaman. Kalau tidak, sejak tadi dia tentu sudah menang. Tiba2 terdengar bentakan keras, Pit ditangan kiri Yu Ting Su menusuk rantai lawan lalu pit di tangan kanan melakukan suatu gerak siasat seolah-olah pertahanannya terbuka. Melihat itu, bersinarlah mata Rantai-terbang Kwan It Ceng, ia tak menyadari kalau lawan memang sedang memasang perangkap, serentak rantai diayunkan untuk menghantam bahu kiri lawan. Melihat itu Gin Liong kerutkan alis, Orang tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing geleng-2 kepala dan banyak jago2 ko-jiu yang menghela napas. Saat itu Yu Ting Su tertawa dingin, Pit ditangan kiri cepat digerakkan melingkar sehingga rantai terkunci. Menyadari masuk dalam perangkap, Rantai-terbang Kwan It Ceng berteriak kaget, lepaskan rantai dan cepat loncat mundur.

Tetapi Yu Ting Su tak memberi ampun. serentak ia loncat memburu, sebelum Rantai-terbang sempat berdiri tegak, pit sudah menyambar dadanya. Rantai-terbang Kwan It Ceng tak keburu menghindar lagi, Dengan sekuat tenaga ia miringkan tubuh, Cret . ... bahunya sebelah kiri termakan tutukan pit, darah menyembur keluar. Wajah Rantai-terbang berobah seketika, ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan hampir saja rubuh. Yu Ting Su hentikan serangan, namun ia masih memandang Rantai-terbang dengan geram. Kemudian dengan pandang mata yang angkuh ia memandang keseluruh hadirin, Tampak beribu anak-buah dan jago2 Thian-leng-kau serempak berdiri dengan wajah marah, Rupanya perbuatan Yu Ting Su telah membangkit kemarahan sekalian orang, Mau tak mau ia gugup juga. Berpaling memandang ke arah Honghu Ing, dilihat ketua Thian-leng-kau yang masih muda itu pucat wajahnya, mata berkilat-kilat, mulut mengulum senyum dingin. Tergetar hati Yu Ting Su. wajahnya seketika berobah, Kakinya tak berani melangkah lebih lanjut. Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras, Dari samping panggung sebelah kiri, melayang turun seorang tua berambut putih, ia terus berlari-lari ke muka ruang. Gin Liong dan Yok Lan segera mengetahui bahwa orang tua itu adalah orang yang menuntun kuda dimuka markas tadi. Seketika suasana hening, Tiba dibawah titian panggung, orang tua itu segera memberi hormat ke pada Honghu Ing.

"Aku siorang tua bernama Ong Gi Tiong, Mendengar hari ini berkumpulan Thian-leng-kau menyelenggarakan pertandingan pi-bu, maka dari Saypak kuperlukan datang kemari, Mohon tanya kepada pangcu, apakah orang tua seperti diriku ini diperbolehkan mohon pelajaran pada thancu yang memenangkan pertandingan tadi ?" Melihat Ong Gi Tiong itu bukan jago dari Thian-leng kau, Honghu Ingpun serentak bangkit membalas hormat. . "Atas perhatian Ong lo-enghiong yang telah sudi memerlukan datang ke markas kami, aku dan seluruh anak murid Thian-leng-kau menghaturkan banyak terima kasih, Walaupun perkumpulan kami terdiri dari orang2 yang kasar, tetapi selama ini kami merasa telah bergerak menurut ketentuan yang tak menyimpang dari kaum hiap-gi (kaum persilatan yang menegakkan kebenaran). persiapan2 dalam Thian-leng-kau belum teratur sempurna oleh karena itu apabila Ong lo-enghiong suka membantu dalam Thian-lengkau, kami segenap anggauta Thian-leng-kau akan menyambut dengan gembira sekali." Kemudian ia beralih memandang kearah Yu Ting Su yang masih berada di gelanggang, lalu melanjutkan pula: "Jika Ong lo-enghiong mempunyai kegembiraan untuk mengadakan pertandingan persahabatan dengan Yu thancu, karena pertandingan resmi sudah selesai, hal itu dapat dilaksanakan tanpa melanggar peraturan perkumpulan kami. Sudah tentu kami meluluskan." "Terima kasih, jika begitu aku siorang tua ini akan mempertunjukkan kepandaian yang jelek dihadapan pangcu," kata Ong Gi Tiong seraya memberi hormat lalu melangkah ke tengah gelanggang. Pada saat itu Gin Liong segera bertanya kepada orang tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing: "The

locianpwe, bolehkan aku mohon keterangan tentang diri Ong lo-enghiong itu ?" Orang tua baju kuning The Tjay Hin, mengelus jenggot dan merenung sejenak lalu gelengkan kepala. "Ong lo-enghiong itu tentu seorang tokoh yang sakti. Tetapi dia tidak mau berterus terang, kemungkinan namanya tentu juga tidak aseli, Oleh karena itu akupun tak tahu tentang dirinya." Gin Liong mengangguk kemudian memandang kearah gelanggang. Saat itu Ong Gi liong sudah berhadapan dengan Yu Ting Su. Sembari memberi hormat, jago tua itu berkata: "Aku yang rendah siorang tua Ong Gi Tiong, sengaja menghadap kemari untuk meminta sedikit pelajaran dan Yu thancu." Dengan pandang mata yang berkilat kilat Yu Ting Su menyahut dingin: "Engkau orang tua, apakah karena melihat aku melukai Kwan It Ceng, lalu merasa penasaran ?" Ong Gi liong tertawa hambar. "Itu salah dia sendiri tak memiliki kepandaian tinggi, kurang pengalaman dan lagi terlalu bernafsu sehingga tak sempat membela diri. Rupanya, engkau Yu thancu, memang tak bermaksud hendak melukainya," sahut Ong Gi Tiong. Yu Ting Su tertawa dingin: "Sudahlah jangan banyak cakap, silahkan engkau mencabut senjatamu !" - ia terus bersiap dengan sepasang pit. Sambil mengurut jenggot, Ong menengadahkan kepala dan tertawa keras. Gi Tiong

"Sejak berkelana puluhan tahun di dunia persilatan tak pernah aku bertempur dengan menggunakan senjata, Maka saat ini, akupun tak mau mengenakan pengecualian dan tetap akan menggunakan sepasang tangan untuk melayani bermain beberapa jurus dari Yu thancu." Ucapan Ong Gi Tiong itu telah menimbulkan kegemparan Para jago2 ko-jiu yang mendengar kata2 itu tergetar hatinya. Wajah Yu Ting Su berobah seketika, Marahnya bukan kepalang, serentak ia taburkan sepasang pit, cret, cret, senjata berbentuk pena itu segera menancap ke tanah, Kemudian ia tertawa nyaring. "Tua bangka yang bermulut besar," serunya, "Aku Pengacau-dunia Yu Ting Su, hari ini akan mencoba sampai dimanakah kehebatan dari sepasang pukulanmu !" Ia menutup kata-katanya dengan menekuk lengan seraya mengendapkan badan, tiba2 tangan kanan didorongkan kemuka- Segulung angin pukulan yang dahsyat segera melanda orang tua itu. Ong Gi Tiong kerutkan alis lalu tertawa gelak2. Tangan kanan dibalikkan untuk melepas sebuah pukulan yang dahsyat juga. "Bum..." Terdengar letupan disusul dengan asap dan debu bertebaran memenuhi sekeliling. Terdengar pula derap langkah kaki terhuyung-huyung. Ternyata Yu Ting Su yang menjagoi dalam ilmu pukulan tangan kosong, saat itu terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke belakang. Sedang Ong Gi Tiong masih tegak di tempat nya, Hanya kedua bahunya yang tampak tergetar dan pakaiannya tertebar-tebar.

Anak buah Thian-leng-kau yang hampir mendekati jumlah ribuan itu serentak tercengang. Setelah tegak, Yu Ting Su merah mukanya, Tentulah ia terkejut dan marah. Dengan merentang matanya yang sipit, ia membentak lagi: "Tua bangka, aku hendak mengadu jiwa dengan engkau !" Ia terus loncat secara kalap dan menyerang Ong Gi Tiong. Ong Gi Tiong mengisar ke samping lalu gerakkan kedua tangannya sehingga serangan Yu Ting Su tertahan, Yu Ting Su terdesak mundur, Mulutnya berulang-ulang menggembor sepasang matanya merah membara. Tiba2 Yu Ting Su berjongkok untuk menjemput sepasang pitnya tadi, Kemudian dengan menggerung ia terus menyerang kalap lagi. Melihat keganasan Yu Ting Su rupanya Ong Gi Tiong marah juga. Cepat ia mengganti gerak pukulan dengan ilmu meringankan tubuh untuk berlincahan menghindar serangan lawan Dan dalam sebuah kesempatan tiba2 ia membentak keras lalu secepat kilat menghantam dada Yu Ting Su. Karena terlalu bernafsu menyerang, Yu Ting Su tak sempat menghindar. Bum .. .. ia mengerang tertahan, tubuh terhuyung lalu jatuh, muntah darah dan tak ingat diri lagi. Ong Gi Tiong menghampiri mengangkat Yu Ting Su duduk lalu menepuk jalan darah di perutnya. Wajah Yu Ting Su pucat pasi, ia membuka mata lalu mengatupkannya lagi, Rupanya ia menderita luka yang cukup parah."

Seketika gemuruhlah seluruh gelanggang, Tetapi bukan suara orang bersorak, melainkan hanya hiruk pikuk, empat orang lelaki berpakaian ringkas berlari-lari menghampiri ke tempat Yu Ting Su dan menggotongnya keluar gelanggang. Setelah itu Ong Gi Tiongpun kembali menghadap ke muka paseban, Ketua Thian-leng-kau, Honghu Ing serentak berbangkit menyambut dengan tersenyum. "Maaf, kaucu, karena kesalahan tangan, aku telah melukai Yu thancu." kata Ong Gi Tiong seraya mengangkat tangan. Honghu Ing tertawa nyaring. "Meminjarn ucapan lo-enghiong tadi. Kupercaya loenghiong tentu tak mempunyai maksud untuk melukai Yu thancu," serunya. Ong Gi Tiongpun ikut tertawa, serunya: "Kaucu memiliki kepandaian yang sakti, sekali lihat tentu tahu keadaannya tak perlu aku siorang tua harus menjelaskan . . ." Honghu Ing cepat tertawa menukas : "Pi-bu telah selesai, harap lo enghiong suka duduk diatas sini." Honghu Ing mempersilahkan dengan menunjuk kearah sebuah tempat duduk yang kosong, Ternyata tempat duduk itu adalah bekas tempat Yu Ting Su. Melihat itu Ong Gi Tiong tertawa: "Sesungguhnya aku tak mempunyai maksud untuk menjabat kedudukan dalam perkumpulan kaucu, Kedatanganku kemari membawa dua tujuan. Pertama, akan menambah pengalaman Dan Kedua, pada waktu yang sesuai hendak menghaturkan beberapa patah kata kepada kaucu . . ."

Gin Liong segera menduga bahwa orang tua itu tentu hendak menantang Honghu Ing bertempur. Tetapi melihat sikap ketua Thian-leng-kau tenang2 saja, Gin Liongpun tak perlu bingung. Honghu Ing mengangkat tangan memberi hormat, serunya: "Kalau begitu, silahkan lo enghiong duduk di atas atas sini dulu, Setelah acara pi-bu selesai, Honghu Ing tentu bersedia menerima petunjuk lo-enghiong ,. . ." "Menurut peraturan perkumpulan kaucu, seharus aku siorang tua ini akan mendapat tantangan dari seorang saudara lain," Ong Gi Tiong cepat menukas. Habis berkata ia alihkan pandang kearah Gin Liong. Gin Liong terkejut. ia duga Ong Gi Tiong tentu salah menduga kalau ia bersahabat dengan Yu Ting Su. Maka ia hanya tertawa hambar dan tak menaruh perhatian. Rupanya Honghu Ing juga tahu isi hati Ong Gi Tiong, serentak ia tertawa, serunya: "Karena lo-enghiong tak berminat untuk menjabat kedudukan dalam perkumpulan ini, maka tak perlulah loenghiong harus menerima tantangan lagi." Kemudian ia menunjuk kearah Gin Liong dan menerangkan: "Siau sauhiap datang kemari, kebetulan saja Thian-leng-kau sedang menyelenggarakan pertandingan pibu. Sama - sekali tak bermaksud ikut dalam pertandingan." Melihat dirinya diperkenalkan, Gin Liongpun segera memberi hormat kepada Ong Gi Tiong, jago tua itu tertawa lalu melangkah masuk dan duduk di paseban, Seorang tua yang duduk disebelah Yok Lan memberikan tempatnya kepada Ong Gi Tiong, sedang ia sendiri lalu mengambil tempat duduk Yu Ting Su.

Honghu Ing ulurkan tangan menggandeng sendiri jago tua itu duduk ditempat yang disediakan, karena jago tua itu berumur delapan puluhan tahun maka anak2 muda seperti Honghu Yan, Yok Lan dan Gin Liong berdiri untuk memberi hormat. Pada saat Ong Gi liong duduk, tiba2 dari belakang terdengar suara orang tertawa dingin yang pelahan sekali. Gin Liong berpaling dan melihat beberapa thancu tengah kasak kusuk, memandang kepadanya dengan tertawa dingin, Terutama Beng thancu yang berkulit hitam dan Ji thancu yang bertubuh kurus, Keduanya memandang dengan wajah marah. Gin Liong kerutkan dahi, ia tahu bahwa mereka marah kepada dirinya karena mengira dia tentu sahabat dari Yu Ting Su, mengapa tak mau menerima tantangan dari Ong Gi Tiong. "Hai, mengapa kalian tertawa begitu ?" tegur Honghu Ing. Beberapa thancu itu serempak berdiri dan si kurus Ji thancu segera menyahut: "Menurut keterangan Yu thancu. Siau sauhiap itu berasal dari perguruan Ceng-pay, memiliki ilmu kepandaian yang sakti dan bersahabat dengan Yu thancu. Kedatangannya kemari tentulah hendak menunjukkan kepandaian bahkan kalau dapat akan merebut kedudukan kaucu, Tetapi mengapa tadi ketika seorang lo-enghiong menantangnya dia tak berani menyambut ? itulah sebabnya kami sekalian tak mengerti dan sampai mengeluarkan tertawa. Begitu mendengar kata2 itu, enam orang pimpinan Thian-leng-kau yang terdiri dari tiga orang penilik dan tiga orang kepala paseban, berpuluh hiangcu yang berpakaian biru, serempak memandang Gin Liong dengan marah.

Melihat suasana berobah tegang, Yok Lan-pun serentak berbangkit. Honghu Ing dan adiknya, Honghu Yanpun memandang Gin Liong dengan pandang bertanya. Tenang2 Gin Liong berbangkit tertawa hambar dan berkata kepada Ji thancu: "Tolong tanya siapakah yang mengatakan hal itu ?" "Yu thancu sendiri." sahut Ji thancu. Kembali Gin Liong tertawa hambar: "Kebetulan tadi Ong lo-enghiong tak menghantam mati Yu thancu, kalau tidak tentu aku tak dapat menyangkal lagi." Kemudian ia mengerling pandang ke segenap hadirin dan berseru pula: "Jika kedatanganku kemari untuk memenuhi janji, itu memang benar, Tetapi sama sekali tak bermaksud hendak merebut kedudukan apa2, lebih2 kedudukan sebagai kaucu, Mengapa Ong lo-enghiong hendak menantang aku adalah karena lo-enghiong itu salah duga kalau aku ini sahabat baik dari Yu thancu, Karena salah duga, akupun tak harus melayani Yu thancu mengatakan bahwa aku memiliki kepandaian sakti, tak lain karena dia bermaksud hendak membangkitkan rasa penasaran saudara2 se kalian kepada diriku . ." "Karena engkau mengakui datang kemari hendak memenuhi tantangan, tentulah engkau memiliki kepandaian sakti sehingga tak memandang mata kepada kaucu," tukas Beng thancu si hitam. Gin Liong kerutkan dahi dan menampilkan kemarahan, Namun ia menekan perasaannya dan menjawab: "Jika aku tak datang, bukankah aku akan ditertawakan sebagai orang yang tak pegang janji ?"

Baru kata2 itu diucapkan dari panggung sebelah kanan terdengar suara orang menantang: "Kalau sudah berani datang tentu sudah membekal kepandaian Jika saudara2 tak puas, lebih baik turun kegelanggang untuk mengukur kepandaian Perlu apa harus bertengkar mulut ?" Mendengar itu marahlah Gin Liong, Memandang orang yang berkata ia melihat lima orang imam tua berjubah kelabu, menyanggul pedang dan duduk di deretan paling muka. Wajah mereka menunjukkan sikap yang licik, hampir serupa bentuknya, Jika tak melihat tangkai pedang mereka yang diikat dengan tali sutera warna hitam, merah, biru, cokelat, hijau, tentu sukar untuk membedakan mereka. Tiba2 terdengar suara bentakan keras diiringi dengan sesosok tubuh yang melesat ke muka ruang memberi hormat kepada Honghu Ing. "Hamba Beng Kong Ih, mohon kepada kau-cu supaya memberi perintah, mengijinkan hamba untuk meminta beberapa jurus pelajaran dari Siau sauhiap," seru orang itu. Dia adalah si hitam Beng thancu. Honghu Ing bersangsi, ia segera berpaling kearah orang tua baju kuning The Tjai Hin. Gin Liong menyadari bahwa ia tak dapat menghindari pertempuran lagi, Diam2 ia mendongkol kepada kelima imam tua tadi. Kemudian berpaling kearah Honghu Ing, serunya. "Mohon tanya kaucu, siapakah kelima lotiang yang duduk di deretan depan itu ? Adakah mereka kojiu dari Thian-leng-kau ?" Honghu Ing gelengkan kepala : "Bukan, mereka adalah Lo-san Ngo-to (lima imam dari gunung Losan), Yu thancu

pernah mengusulkan supaya menerima mereka sebagai kepala cabang gunung Lo san. Tetapi aku masih mempertimbangkannya." "Aku ingin berhadapan dengan mereka lebih dulu," kata Gin Liong. Tetapi Beng thancu mendesak dan minta kepada Honghu Ing agar ia diijinkan yang lebih dulu menghadapi Gin Liong, kemudian baru kelima imam tua itu. Rupanya kelima-imam itu mendengar kata2 si hitam Beng thancu, Mereka tertawa gelak2 lalu melayang turun ke gelanggang. Rupanya Honghu Ing juga ingin mengetahui kepandaian Gin Liong, Maka ia segera berpaling kearah pemuda itu: "Karena mereka memohon dengan sangat, terpaksa harap Siau sauhiap suka melayani mereka untuk beberapa jurus." Gin Liong tertawa hambar: "Baiklah, terpaksa aku harus mengunjukkan kepandaian yang jelek di hadapan kaucu." Si hitam Beng thancupun terus bergegas hendak turun ke gelanggang tetapi Gin Liong berseru memangginya: "Harap Beng thancu suka bersabar. Tunggulah beberapa belas jurus lagi, aku tentu kembali disini." Beng thancu makin marah mendengar kata2 Gin Liong, ia anggap pemuda itu keliwat jumawa sekali. Saat itu suasana hening lelap, Sambil berjalan menuruni titian, diam2 Gin Liong menimang, bagaimana ia harus bertindak untuk menindas nyali orang2 Thian-leng-kau agar dapat meneruskan perjalanan lagi. Rupanya Beng thancu masih hendak menumpahkan kemendongkolannya kepada Gin Liong, ia berseru:

"Tempat di muka ruang ini terlalu sempit, mungkin Siau sauhiap tak leluasa bergerak, dengan begitu kita tak dapat menikmati kepandaian sauhiap yang hebat itu." Gin Liong hanya tertawa dingin. "Jangan kuatir," serunya, "orang yang sudah tinggi kepandaiannya, tentu lekas ketahuan, Begitu turun tangan tentu segera diketahui isi atau kosong. Hanya orang yang belum sudah merencanakan hendak melarikan diri baru meributkan soal tempat pertempuran !" Ucapan itu seperti hendak mengatakan bahwa orang yang semacam Beng thancu sajalah yang menimbulkan soal tempat bertanding karena Beng thancu termasuk orang yang akan melarikan diri. Sudah tentu Beng thancu tak dapat menahan kemarahannya lagi, serentak ia loncat melayang ke muka ruang dan dengan napas ter-engah2. Segera-berteriak: "Mulutmu sungguh lancang, lihat serangan" Ia segera menyerang Gin Liong dengan kalap. Melihat itu tenang2 saja Gin Liong mengangkat tangan dan berseru : "Tunggu dulu!" Jika seorang ahli, tentulah Beng thancu segera akan mundur, Tetapi ternyata ia tak tahu bahwa gerakan tangan Gin Liong itu telah menimbulkan gelombang halus dari tenaga dahsyat yang hampir tak menerbitkan suara apa2. Rupanya Beng thancu memang tak tahu. ia membentak: "Bagaimana ? Masih mau bertingkah apa lagi ?" Dengan berdiri tenang, Gin Liong memberi hormat: "Kedudukanku adalah sebagai tetamu. Naga yang kuat takkan menindas ular kecil. Aku akan mengalah sampai tiga jurus."

Habis berkata tanpa menunggu jawaban Beng thancu ia terus memberi hormat kepada Honghu Ing: "Kaucu, maaf, aku telah bertindak kurang sopan" "Besar sekali mulutmu, engkau juga tak memandang mata kepadaku " seru Beng thancu. Saat itu sekalian anak buah Thian-leng-kau juga kedengaran berisik sekali, Mereka merasa Gin Liong memang terlalu sombong. Tetapi Honghu Ing, Honghu Yan dan ayah-angkatnya siorang tua baju kuning tahu akan keadaan pemuda itu. Mereka memberi anggukan kepala. Honghu Ing berbangkit mengangkat kedua tangan dan berseru lantang kepada sekalian anak buah Thian-leng-kau. "Saudara sekalian ! Saling memuji kepandaian merupakan suatu peristiwa yang lumrah di dunia persilatan Kalian tak boleh membuat gaduh tetapi saksikan saja dengan tenang !" Kemudian iapun berseru juga kepada Beng thancu: "Beng thancu, jangan merusak nama baik perkumpulan kita, agar jangan sampai ditertawakan orang !" Oleh karena Beng thancu itu seorang thancu dari Thianleng-kau maka Honghu Ingpun terpaksa memberi anjuran begitu walaupun dalam hati ia tak senang melihat kekasaran dari Beng thancu. Tetapi Beng thancu telah salah tafsir, ia mengira ketua Thian-leng-kau benar2 menyuruh dia harus berjuang sungguh2, jangan lepaskan Gin Liong begitu saja, Maka besarlah nyalinya. Ia merasa telah mendapat dukungan dari Honghu Ing. "Baiklah, kaucu," serunya.

Habis berkata ia terus pasang kuda2 dan menyerang Gin Liong, walaupun dalam ilmu pukulan Beng thancu belum mencapai tingkat sempurna tetapi dikalangan anak buah Thian leng-kau, dia termasuk tokoh yang menonjol. Dalam serangan itu ia menggunakan delapan bagian tenaga, Sudah tentu hebatnya bukan olah2. Tetapi Gin Liong masih tetap santai dan mengulum senyum. Saat itu serangan Beng thancu tampaknya sudah mendekati selesai dan tiba2 Gin Liongpun berseru: "Jurus kesatu !" Sambil berkata ia terus menyelimpat dengan gerak yang cepat ke belakang Beng thamcu. Beng thancu terkejut ketika tiba2 lawan menghilang dari pandang-mata dan tahu2 sudah berada di belakang nya. Dengan menggembor keras, ia gunakan jurus Koay- bong-hoan-siin atau Ular-anehmembalik-tubuh, diserempaki dengan gerak pukulan dari kedua tangannya dalam jurus Lui-yan-kiau-ka atau Gunturkilat-saling-berhamburan. serangan jurus kedua itu jauh lebih cepat dari yang tadi. "Jurus kedua !" seru Gin Liong seraya bergeliatan dengan indah dan lincah. Dua kali serangannya tak berhasil, membuat Beng thancu marah bukan kepalang, wajahnya yang hitam makin seperti pantat kuali, Dengan menggemeretukkan geraham ia membentak keras: "Orang she Siau, engkau benar2 terlalu sombong !" Setelah memperhatikan posisi Gin Liong, ia loncat seraya menghantam dengan jurus Bong-hou-Jut-ku atau harimau-buas-keluar-sarang. Menampar, mendorong,

menyodok dan menabas. Gerakannya menyerupai jurus2 ilmu silat lagi.

sudah

tak

Melihat itu diam2 Gin Liong kerutkan dahi. Pikirnya, kalau ia mau balas menyerang, sudah tentu batok kepala lawan akan hancur, Cepat ia salurkan tenaga-dalam ke tangan. Tetapi tiba2 ia teringat bahwa jurus ketiga dari serangan lawan belum selesai. Terpaksa ia tarik kembali persiapannya dan tertawa geli sendiri. Bahwa dalam menghadapi serangan kalap dari Beng thancu, Gin Liong masih enak2 saja, sekalian anak buah dan jago2 ko-jiu yang berada di se keliling tempat itu dapat melihat jelas. Hatinya Beng thancu sendiri yang masih tak menyadari dan nekad melancarkan serangan dengan kalap. Tiba2 terjadi suatu peristiwa yang menegangkan Saat itu angin pukulan Beng thancu sudah melebarkan ulung pakaian Gin Liong. Tangannya-pun hanya terpisah tiga inci dari jalan darah anak-muda itu. Ong Gi Tiong saking terkejutnya sampai berbangkit Honghu Ing sendiripun berobah wajahnya, Telapak tangannya sampai mengucurkan keringat dingin, Semua jago2 ko-jiu yang berada di kedua bangsalpun ada yang berteriak tertahan. Hanya Yok Lan seorang yang tetap tersenyum duduk ditempat nya, ia sudah faham akan gerak langkah sukonya. Tiba2 puncak dari ketegangan itu meletus dikala terdengar Beng thancu berteriak: "Maaf, Beng Kong in berlaku kurang adat!" Serempak pada saat itu juga terdengar Gin Liongpun menyahut: "Tak apa, kita anggap saja jurus ini jurus yang ketiga !" "Bum..."

Karena yakin akan dapat mengenai tubuh lawan maka dengan sekuat tenaga Beng thancu terus gunakan kedua tangannya untuk menampar dengan sekuat tenaga, Bum . . . . sederet pot bunga yang menghias samping kiri dari titian paseban hancur berantakan. Beng thancu sendiri terhuyunghuyung jatuh dalam keping2 pot yang hancur itu, Ketika bangun, mukanya berlumuran darah dan tubuhnya menggigil keras. Melihat itu Gin Liong terkejut. Cepat2 ia menghampiri, mengangkatnya seraya meminta maaf, Tetapi sekonyongkonyong Beng thancu membentak keras dan ayunkan kaki kanannya menendang. Jarak keduanya amat dekat sekali sehingga tanpa disadari, Yok Lan serentak menjerit: "Liong koko..." Gin Liong sendiri memang terkejut. Untung ia dapat berkelit ke samping lalu mendorongkan tangannya yang memegang tubuh orang: "Eh, apa-apaan ini?" "Bum..." bagaikan sebuah layang2 putus tali tubuh si hitam Beng thancu terlempar sampai beberapa tombak dan jatuh ke tanah. ia muntah darah beberapa kali, tubuh meregang-regang, jelas dia tentu menderita luka yang tak ringan. Melihat itu Gin Liong cepat loncat menghampiri dan cepat melekatkan telapak tangan keperut orang untuk menyalurkan tenaga-dalamnya. Tetapi rupanya keadaan Beng thancu sudah tak tertolong lagi, wajahnya hitam tampak pucat lesi, mata mendelik dan mulut masih mengumur darah hitam yang sudah mengental. Gin Liong menghela napas, Terpaksa ia berbangkit dan menghadap ke muka ruang meminta maaf kepada Honghu Ing.

Honghu Ing merah mukanya, ia merasa bahwa kesalahan terletak pada Beng thancu sendiri. Cepat ia berdiri dan membalas hormat seraya tertawa: "Ah, Siau siauhiap terlalu merendah diri, Beng thancu tak tahu kekuatan diri sendiri Bagaimana harus mempersalahkan Siau sauhiap . . ." Tiba2 enam sosok tubuh berhamburan menuju ke muka ruang paseban dan serempak berseru: "Hamba sekalian mohon diperkenankan untuk meminta beberapa jurus pelajaran dari Siau sauhiap !" "ilmu kepandaian Siau siauhiap memang hebat sekali, boleh dikata sudah mencapai tataran yang tinggi, jangan kalian cari penyakit sendiri!" seru Honghu Ing. Thancu kelima Lui-tian-pat-ciang, Ji thancu tampil selangkah, serunya : "Hanya dengan demikian barulah kami sekalian mendapat kesempatan untuk menambah pengalaman Mohon kaucu suka memberi ijin !" Keenam thancu itu memandang Gin Liong dengan geram, juga berpuluh-puluh hiangcu kasak kusuk memperbincangkan Gin Liong. "Tenang !" teriak Honghu Ing lalu berbangkit dan menghampiri keenam thancu itu. "Adalah Beng thancu sendiri yang salah, apakah kalian tak melihat ? Apalagi yang dipertunjukkan Siau siauhiap itu masih belum seluruh kepandaiannya !" serunya. Keenam thancu itu tundukkan kepala namun mereka masih membantah, menyatakan bahwa soal mati bagi mereka itu soal kecil Tetapi mereka hendak menjaga keluhuran nama Thian-leng-kau agar jangan sampai diremehkan orang. Apabila peristiwa Beng thancu itu

tersiar keluar, orang tentu akan menertawakan Thian-lengkau." Honghu Ing tertawa nyaring: "Dunia persilatan hanya membicarakan tentang soal kekuatan dan kelemahan tetapi orang persilatan sendiri sesungguhnya harus menjunjung Kebenaran dan Kesalehan, mengapa..." Baru Honghu Ing berkata sampai disini, tiba2 terdengar suara orang tertawa dingin. Ketua Thian-leng-kau itu cepat berseru nyaring: "Hai, sahabat manakah yang tak dapat memahami penjelasanku itu ?" "Kaucu memang berhati lapang tetapi karena orang telah datang hendak menyelesaikan urusan darah, kiranya tentu takkan terhindar dari pertempuran". Ternyata yang bicara itu adalah kelima imam dari Losan. "Totiang, apakah maksud ucapan totiang itu" seru Honghu Ing dengan wajah bersungguh2. Imam tertua dari Losan Ngo to, ialah yang bergelar Pedang-darah, serentak berbangkit dan berseru tajam: "Sambutlah serangan ini !" Ia taburkan pedang ke udara, sehingga menimbulkan desis angin yang tajam, kemudian berseru pula: "Budak, lihat pedangku !" Gerakan imam itu diserempaki pula oleh ke empat kawannya. Mereka maju dan menyerang Gin Liong dari empat penjuru. Gin Liong menengadah, bersuit nyaring lalu bergerak berlincahan dalam tata langkah Sing-hoau cek-kiong yang digabung dengan gerak Liong-li-biau.

Kelima pedang berhamburan laksana hujan mencurah tetapi Gin Liong tetap berlincahan menyusup di tengah2 hujan sinar pedang itu. Yang berada di paseban dan bangsawan, kecuali jago-2 silat golongan ko-jiu juga terdapat para ahli pedang, Mereka heran dan kagum menyaksikan pertandingan itu. Mereka kagum akan ilmu permainan pedang kelima imam tetapi lebih kagum lagi akan gerakan Gin Liong yang luar biasa anehnya. Sepeminum teh lamanya tiba2 gerakan Gin Liong makin pesat dan beberapa saat kemudian terdengar dia membentak: "Lepaskan !" Tring, tring . . terdengar dering melengking dan kelima batang pedang berhamburan melayang ke udara, Empat dari kelima imam itu menjerit ngeri. Tampak Gin Liong mencengkeram pergelangan tangan imam Pedang-darah dan dengan wajah berseri tawa, berseru : "Aku hanya menyangka bahwa kalian berlima imam ini mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Kiranya hanya kawanan kantong nasi belaka !" Sekalian ko-jiu dan anak buah tercengang2 menyaksikan peristiwa itu. Thian-leng-kau

Melihat Pedang-darah dikuasai Gin Liong ke empat kawannya terus hendak menyerang, Tetapi cepat Gin Liong memperkeras cengkeramannya dan membentak: "Siapa yang berani maju cari mati?" Tangan imam Pedang-darah seperti dijepit baja, sakitnya bukan kepalang, ia me-maki2 kalang kabut: "Budak, engkau tak menggunakan ilmu kepandaian sesungguhnya, aku tetap tak menyerah !"

"Apa yang engkau maksudkan dengan ilmu kepandaian yang sesungguhnya itu ?" bentak Gin Liong. "Engkau menggunakan ilmu Mengaburkan mata dan gerakan langkah setan, sungguh bukan kepandaian dari seorang gagah !" seru keempat imam. Marah Gin Liong bukan kepalang, jika tak bertindak keras, ia tentu tak dapat menundukkan kelima imam itu demikian pula tak dapat menundukkan kelima imam itu demikian pula tak dapat pula merontokkan nyali sekalian anak buah Thian-leng-kau. Akhirnya ia memutuskan untuk melaksanakan hal itu kepada kelima imam. "Baik, akan kuberimu kesempatan sekali lagi untuk menyaksikan ilmu kepandaian yang sesungguhnya," seru Gin Liong seraya terus melesat memungut pedang kawanan imam lalu melemparkan kepada pemiliknya, Setelah itu iapun mencabut pedang Oh-hek-kiam. Melihat itu kelima imam mengira Gin Liong tentu akan mengajak bertanding pedang, Maka tanpa memperhatikan pedang apa yang dipegang sianak muda, mereka terus berhamburan mengambil pedang masing2. Gin Liong tertawa dingin. "Sebenarnya aku hendak mengajak kalian bertanding ilmu pedang, tetapi kulihat kalian hanya kawanan kantong nasi dan pedang kalian hanya besi cor saja maka aku hendak merobah acara, lihatlah !" Ia segera gunakan ujung pedang untuk membuat sebuah garis lingkaran di tanah, kemudian loncat kedalam lingkaran itu dan tertawa:

"Hayo, siapa yang mampu masuk ke dalam garis lingkaran ini atau dapat mendesak aku setengah tapak saja keluar dari garis, aku orang she Siau, akan berjalan dengan setiap langkah soja (memberi hormat) ke arah Ke-kong-san. Tetapi kalau kalian tak mampu, hm . . ." Baru Gin Liong mengucap begitu tiba2 dari atas panggung melayang turun empat sosok bayangan. Salah seorang diantaranya, ketika masih melayang di udara, sudah berseru : "Toyu berlima, ijinkan kami Empat-iblis gunung Hong-san mewakili toyu untuk melampiaskan penasaran toyu berlima !" Empat orang lelaki pertengahan umur yang tulang mukanya menonjol dan bengis, tubuh gagah perkasa segera mengepung Gin Liong. Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa ke empat iblis itu ahli dalam tenaga gwa-kang (luar), tetapi mengapa mereka mau membantu kelima imam itu ? Ternyata keempat iblis itu mempunyai perhitungan sendiri, Mereka merasa sanggup untuk mendesak Gin Liong keluar dari garis lingkaran. Dihadapan jago-2 silat dan tiga belas propinsi, nama mereka tentu akan termasyhur Andaikata tak berhasil, merekapun dapat meloloskan sendiri tak sampai kehilangan jiwa. Karena melihat keuntungan itu, keempat iblis terus lancarkan serangan dengan pukulan: "Budak she Siau, terimalah pukulan kami !" "Bagus !" seru Gin Liong geli dan marah, Tanpa bergerak tetapi cukup dengan melingkarkan tangan kirinya dalam gerak yang terdapat pada kaca wasiat ialah tangan kiri

mendorong tangan kanan menggurat, ia menyambut serangan mereka. Terdengar angin menderu keras dan rubuhnya empat sosok tubuh ke tanah. Tidak terluka, juga tidak berdarah tetapi hanya menggeletak kaku di luar garis lingkaran. Seketika gemparlah sekalian anak buah Thian-leng-kau dan para ko-jiu. Saat itu sesosok bayangan putih melesat dan melengking: "Liong koko, jangan . ." Ternyata yang berseru itu Yok Lan, ia hendak mencegah Gin Liong supaya jangan keliwat ganas tetapi terlambat Keempat iblis itu sudah menggeletak. Gin Liong tak kira karena keempat orang itu begitu tak berguna. setelah melepaskan pukulan baru ia menyesal tetapi sudah terlanjur, "Mereka terlalu mendesak aku !" sahutnya, Yok Lan masih menyesalinya, mengatakan bahwa mereka berdua tak mempunyai dendam permusuhan dengan keempat iblis itu. Dalam pada itu tiba2 kawanan imam Losan Ngo lo sambil menghunus pedang berpaling ke arah ruang paseban dan memaki Honghu,Ing: "Katanya Thian-leng-kau hendak mengadakan pi-bu untuk pergantian jabatan tetapi ternyata diam2 telah menyembunyikan jago sakti untuk membasmi jago2 dari ketiga belas propinsi." Ucapan kawanan imam itu telah membangkit jago yang duduk di deretan panggung sudah hendak bergerak. "Totiang salah !" seru Honghu Ing dengan wajah serius. "Kalau tidak begitu mengapa membiarkan saja budak itu melukai orang ditempat ini ?" teriak imam Pedang-darah.

Kali ini anak buah Thian-leng-kau yang terbakar kemarahannya. Melihat Honghu Ing terjepit dalam kesulitan segera Gin Liong loncat kehadapan kelima imam itu dan berseru. "Dalam urusan ini, Thian-leng kau tak ada sangkut pautnya, jangan kalian membuka mulut tak keruan !" Melihat siasatnya untuk membangkitkan kemarahan sekalian jago dan anak buah Thian leng-kau akan berhasil, imam Pedang-darah tak mau melepaskan. Dengan tertawa mengejek, ia berseru : "Peristiwa ini terjadi dalam markas Thian-leng-kau, bagaimana Thian leng kau tak tersangkut ?" Kemudian dengan lagak sombong, ia berkata kepada Honghu Ing, "Honghu kaucu, omongan budak she Siau itu apakah bukan meremehkan Thian-leng-kau ?" Gin Liong benar2 marah sekali, ia bergerak tangan hendak menyambar imam Pedang-darah itu: "Imam keparat, mengapa waktu cari perkara menantang aku, engkau tak tunduk pada perintah Thian-leng-kau ?" Yok Lan cepat mencegah lalu berkata kepada kelima imam itu: "Apakah lotiang berlima masih penasaran dalam adu kepandaian tadi ?" Melihat dara cantik itu juga menyanggul pedang, imam Pedang-darah segera getarkan pedangnya dan tertawa mengejek: "Dengan membawa pedang, nona tentu juga seorang jago pedang yang hebat." Merah muka Yok Lan, ia mengangguk pelahan. "Ah, ilmu pedang itu dalamnya sukar dilukiskan dan sumbernya dari kalangan agama, Aku sih hanya tahu sedikit kulitnya yang tak berharga, sudah tentu tak layak disebut ahli pedang."

Imam Pedang-darah makin besar nyalinya, ia anggap Yok Lan tentu seorang nona yang biasa saja dalam ilmu permainan pedang, ia mengejek. Kalau tak mengerti ilmu pedang, perlu apa membawa pedang dan gegabah berani buka mulut mengganggu pembicaraanku ?" "Bedebah, engkau berani menghina ?" bentak Gin Liong, Tetapi Yok Lan mencegahnya: "Liong koko, kembalilah ke tempat dudukmu dulu !" Dara itu memberi kedipan mata dan Gin Liongpun menurut: "Hati-2" pesannya. Setelah Gin Liong kembali keatas paseban barulah Yok Lan tersenyum mengeliarkan pandang mata kepada kelima imam gunung Losan, serunya: "Apabila totiang berlima berminat, aku bersedia untuk melayani sampai beberapa jurus dari serangan totiang . . " Seketika siraplah suasana saat itu, sekalian orang terkejut mendengar kata2 dara itu. Imam Pedang-darah Say Tun Yang, kepala dari Lo-san Ngo-to atau lima imam gunung Lo-san berseri2 gembira. serentak ia berpaling dan berseru kepada keempat sutenya: "Sute, mundurlah kalian, aku . . " "Totiang, tunggu dulu," cepat Yok Lan berseru. "jika bertempur satu lawan satu, hambar rasanya..." Imam Pedang-darah terbeliak: "Nona maksudkan . ." "Totiang berlima maju serempak, agar lebih meriah." cepat Yok Lan menukas pula. "Kalau kita berlima maju, apakah engkau dapat menelan habis ?" teriak salah seorang imam dalam nada yang cabul.

Yok Lan merah-mukanya, tanpa banyak bicara lagi ia terus mencabut pedang Tanduk-naga seraya berseru: "Jangan menghina, sekalipun aku seorang anak perempuan tetapi pedangku tak pernah mengenal kasihan !" Kelima imam itu serempak terbeliak, Dan seluruh hadirinpun bersorak gempar menyaksikan seorang dara yang cantik tengah mencekal sebatang pedang pusaka bersinar merah, Diam2 timbullah keserakahan imam Pedang-bayangan untuk memiliki pedang Tanduk Naga itu. "Kalau kami berlima maju, apakah engkau mau menyerah ?" serunya. "Jangan banyak bicara, silahkan maju !" bentak Yok Lan. Imam Pedang-darahpun segera memberi isyarat kepada keempat sutenya : "Maju serempak !" Dia sendiripun segera taburkan pedangnya untuk menyerang. Sejak menerima ilmu pelajaran pedang dari Hun Ho sian-tiang, kemudian bersama Gin Liong mempelajari ilmu pedang pada kaca wasiat itu, ilmu pedang Yok Lan telah mencapai tataran yang puncak, Kelima imam dari Lo-san itu tak dianggap berat. Tapi karena kuatir akan menimbulkan rasa tak puas dari kedua saudara pemimpin Thian-leng kau, maka sejak tadi iapun tak mau unjuk diri. Maka ketika kelima imam itu maju menyerang iapun gunakan tata langkah Cek-kiongpoh (langkah istana Ungu), loncat mundur sampai dua tiga meter. Sudah tentu kelima imam itu tak tahu dan mengira nona itu sudah ketakutan maka mereka pun berhamburan loncat menerjang lagi.

"Bagus !" seru Yok Lan seraya memutar pedang, Terdengar dering gemerincing dari senjata beradu, disusul dengan lengking teriak terkejut dan berhamburan sosok2 tubuh loncat mundur, tiba2 tampak Yok Lan sudah berdiri tegak mengulum senyum. Ternyata yang loncat mundur itu adalah kelima imam, pedang mereka terbabat kutung semua hanya tinggal separoh yang masih dicekalnya. Mereka terlongong2 seperti patung. Kembali terdengar sorak gempar dari sekalian hadirin menyaksikan kesudahan pertempuran itu! Yok Lan menundukkan kepala selaku membalas hormat kepada mereka. "Nona Ki, lekas menyingkir !" se-konyong2 Honghu Ing ketua Thian-leng-kau berseru nyaring. "Imam bangsat, kalian berani curang !" Gin Liong pun berteriak marah. Dua sosok tubuh melayang turun seraya kebutkan lengan bajunya. Yok Lanpun cepat gunakan tata langkah ceng-kiong-poh melayang tiga tombak kebelakang. Ternyata kelima imam itu karena marah dan malu, nekad menaburkan kutungan pedang ke arah Yok Lan. Habis menabur, mereka terus menerobos lari keluar dari gunung. Ternyata kedua sosok yang melayang di udara itu, Honghu Ing dan Gin Liong, keduanya menamparkan lengan baju untuk menghantam kutungan pedang.

Kemudian Gin Liong lanjutkan melayang jauh dan turun menghadang jalan kelima imam makin ketakutan. Mereka mati2an lari. Gin Liong paling benci kepada orang yang menggunakan senjata rahasia untuk mencelakai orang, ia enjot tubuhnya lagi melayang melampaui kepala kelima imam itu. "Liong-ko, biar aku yang menghajar kelima imam busuk itu." seru Yok Lan. "Tidak, Lan-moay, aku harus mempontang-pantingkan mereka sampai mati kehabisan tenaga." seru Gin Liong seraya menyerbu kelima imam. Kelima imam itu benar2 tak berdaya, Mereka harus pontang panting menjaga serangan Gin Liong yang bergerak cepat laksana bayangan, Tak berapa lama kelima imam itu ter-engah2 napasnya, basah kuyup mandi keringat. Rambut dan pakaiannya kusut tak keruan. Memang Gin Liong sengaja mempermainkan mereka. Tak mau merubuhkan tapi menyerang gencar dan memaksa orang harus mengikuti berputar2. Melihat itu akhirnya Yok Lan berseru memperingatkan bahwa hari sudah sore, harus lekas kembali kerumah penginapan. Gin Liong terkejut dan membenarkan. Sekali terdengar dering tajam, Gin Liongpun berseru nyaring : "Imam hidung kerbau, terimalah sedikit tanda mata." Sinar pedang memancar, sirap dan tampak Gin Liong berdiri tegak mengulum senyum. Kelima imam itu benar2 seperti copot nyawanya. Rambut mereka yang menggerumbul lebat saat itu hanya tinggal segenggam rambut pendek di tengah2 kepala.

Yok Lan tertawa geli : "Liong-ko, engkau memang . ." Honghu Ing yang masih berdiri tegak dan menyaksikan peristiwa itu, diam2 cemas: "Siau siauhiap itu memang suka berolok2 keliwat batas, kemungkinan kelima imam itu tentu takkan melupakan hinaan semacam itu." "Orang she Siau, bagaimana engkau hendak menghukum aku ?" seru imam Pedang-darah dengan geram. "Cukup sampai disini saja, kalian boleh lari membawa gundul kepala kalian masing2" sahut Gin Liong. Imam Pedang-bayangan menggeram. "Baik, selama gunung masih menghijau, bengawan masih mengair, ingatlah, Lo san Ngo-to pada suatu hari pasti akan mencarimu lagi." Habis berkata imam Pedang-darah itu segera mengajak keempat sutenya pergi. Sekalian tamu2 persilatan, setelah menyaksikan permainan ilmu pedang Yok Lan dan gerakan Gin Liong, merekapun kuncup nyalinya dan diam2 segera tinggalkan gelanggang, Pada saat Gin Liong selesai menghajar kelima imam, tetamu2 itupun sudah bersih semua. "Koko, pertandingan sudah selesai mengapa masih terlongong2 di gelanggang ?" tiba2 Honghu Yan menegur saudaranya. Honghu Ing gelagapan dan segera mempersilahkan Gin Liong dan Yok Lan minum teh dalam ruangan, Tetapi Gin Liong menolak dan menghaturkan terima kasih. "Ah, Siau-heng terlalu sungkan. Sesama kaum persilatan, sudah tentu kita harus bergaul seperti kawan. Aku merasa berterima kasih sekali apabila dapat dapat menyambut Siau-

heng. Nona Lan..." tiba2 ia berhenti, wajahnya merah karena tak tahu harus mengatakan apa-2. Untung saat itu Honghu Yan segera datang dan menarik tangan Yok Lan: "Lan moay-moay tentu sudah lapar, mari kita nikmati hidangan sambil berbincang2" Walaupun berkata kepada Yok Lan tetapi memandang kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu ter-sipu2 menghaturkan terimakasih atas kebaikan Honghu Yan. Tetapi ia terpaksa harus lekas2 menuju ke rumah penginapan karena mempunyai urusan penting. "Ya lain hari kami tentu akan memenuhi undangan, taci." kata Yok Lan. Tetapi rupanya Hongyu Yan tetap memaksa: "Ah, masakan begitu penting. Kalau hanya beberapa jenak saja, tentu takkan menjadi halangan, Masakan nanti di rumah penginapan kalian tak dahar." Honghu Ing juga menambahkan bahwa rumah penginapan Liu-lim-tian itu tak berapa jauh. Dengan ilmu lari cepat, kedua saudara itu tentu dapat mencapainya. Tanpa menunggu jawaban Gin Liong, ketua Thian-lengkau itu terus berpaling dan memberi perintah: "Pertandingan hari ini telah selesai. Para thancu dan semua anak buah Thian-leng-kau harap bersiap untuk mengantar tetamu kita." Sambil memandang Gin Liong, Honghu Yan berbisik: "Engkau dengar itu ? Engkohku telah memerintahkan semua anak buah Thian-leng-kau untuk mengantar keberangkatannya. Kemungkinan tentu upacara itu memakan waktu." "Ah, sungguh . . membuat repot . . " Gin Liong tersenyum datar.

Honghu Yan tersenyum lalu menarik tangan Yok Lan menuju keruang besar. Gin Liong-pun terpaksa mengikuti. Ruang besar itu dihias mewah sekali seperti sebuah gedung kediaman seorang pangeran. Hidangan yang bermacam2 dan lesat, segera dihidangkan Semua orang yang berada dalam ruang serempak berbangkit ketika Honghu Yan,Yok Lan dan Gin Liong masuk. Honghu Ing mengumumkan bahwa sekalian anak buah Thian-leng-kau boleh berpesta se-puasnya demi menyambut kedatangan kedua orang tetamu terhormat dan merayakan selesainya pertandingan adu kepandaian. Pesta berlangsung dengan meriah dan gembira. Untuk menghaturkan terima kasih kepada Thian leng-kau, Gin Liong berjanji apabila mereka memerlukan bantuan tenaganya. dia pasti sanggup datang. Selesai perjamuan Gin Liong dan Yok Lan minta diri, Dengan diantar oleh Honghu Ing dan Honghu Yan. keduanya melangkah keluar dari ruang, sepanjang jalan menuju pintu markas, mereka melalui barisan kehormatan Thian-leng-kau yang tegak berjajar dengan rapih. Honghu Ing dan Honghu Yan sendiri mengantar sampai keluar markas, Honghu Yan tampak berat hati untuk melepaskan kedua tamunya pergi, untunglah ia minta agar Yok Lan setelah selesai dengan urusannya, kembali ke markas Thian-leng-kau lagi. Pun Honghu Ing mendukung permintaan adiknya itu dengan meminta Yok Lan sungguh2 memerlukan datang kembali ke markas Thianleng-kau karena adiknya, Honghu Yan tak mempunyai lain saudara lagi.

Demikian setelah berbasa basi, akhirnya Gin Liong dan Yok Lan tinggalkan markas Thian-leng kau di gunung Kong-kesan itu. "Liong-ko, tampaknya Honghu Yan menaruh hati kepadamu." dalam perjalanan Yok Lan berkata. "Ah, Lan-moay, menyapa engkau berkata begitu ? Apakah engkau masih kurang percaya kepada hatiku ?" tanya Gin Liong, "kalau hatiku bercabang, biarlah aku. ." "Sudahlah..." cepat Yok Lan memutus dari atas kudanya, "sekarang sudah menjelang malam, entah kapan kita baru dapat mengejar Liong-li locianpwe ? Ayo, cepat sedikit." -ooo0dw0oooBab 10 (Tamat) Berjumpa Ban Hong Liong-li Gin Liong segera memacu kudanya, sepanjang jalan mereka tak bicara, seluruh perhatian tercurah untuk mencongklangkan kudanya. "Lan-moay. apakah disana itu ?" tiba2 Gin Liong menuju jauh ke muka. "Ah, mengapa ribut2 saja ?" sahut Yok Lan. "Apa engkau tak melihat apa?" "Tidak" sahut Yok Lan. Tiba2 nona itu meloncatkan kudanya sampai tiga tombak tingginya dan memandang kemuka "hai, apakah bukan seutas aliran panjang warna merah meluncur kemuka"

Gin Liong juga loncat keatas pohon lalu berteriak girang: "Cepat, itu tentulah Liong Li locianpwe yang menempuh perjalanan pada malam hari." Kemudian setelah loncat turun ke atas punggung kuda, ia segera mencongklangkan sekencang angin. Dalam beberapa waktu kemudian kota Liu-lim sudah tampak, Tetapi kuda hitam itu tak menuju ke kota melainkan ke timur laut kota Liu lim melintas hutan. Tetapi ketika Gin Liong memandang kearah hutan itu, girang bukan kepalang. Cepat ia loncat turun dan terus lari menuju kedalam hutan seraya berteriak tegang: "Cianpwe, cianpwe betapa Liong-ji menderita susah payah mencarimu." Gin Liong terus menubruk haribaan Ban Hong Liong-li yang tengah duduk di sebuah persada makam yang menggunduk besar. Ban Hong Liong-li berlinang2 airmata, serunya terharu: "Liong-ji nak . ." "Cianpwe . . " Gin Liong ter-isak2. Saat itu Yok Lanpun datang dan terus memeluk Ban Hong Liong-li. "Ah, kalian tentu menderita . . aku . ." Ban Hong Liong li tak dapat melanjutkan kata2. ia memeluk kedua anak muda itu dan menangis. Beberapa saat ketiga orang ini terbenam dalam keharuan, Setelah masing2 puas menumpahkan perasaan hatinya selama ini, berkatalah Ban Hong Liong-li. "Liong-ji, kaca wasiat yang engkau peroleh itu merupakan suatu pusaka yang tiada duanya dalam dunia persilatan. Sejak kini hidup mati. bangkit runtuhnya dunia persilatan terbeban di bahumu. Engkau harus belajar

dengan tekun dan mengamalkan ilmumu kepentingan dunia persilatan."

itu demi

Diam2 Gin Liong terkejut dalam hati karena ternyata Ban Hong Liong li tahu peristiwa itu. "Murid tentu akan mengindahkan nasehat cianpwe hanya saja . ." sampai disini Gin Liong tak dapat melanjutkan kata2nya. Dalam perasaannya ia tak percaya kalau Ban Hong Liong-li itu yang membunuh gurunya. Tetapi sudah berpuluh ribu li ia menempuh perjalanan, bukankah tujuannya akan mengejar jejak Ban Hong Liongli ? Bukankah ia hendak meminta penjelasan tentang peristiwa pembunuhan suhunya itu ? Rupanya Yok Lan tahu apa yang hendak di katakan Gin Liong, cepat ia berseru: "Liong-ko. lekas engkau tunjukkan bukti supaya cianpwe dapat memeriksa." Gin Liong tersadar, serentak ia berkata. "Cianpwe, adakah cianpwe mengetahui juga tentang peristiwa sedih yang telah menimpa suhu?" Mendapat pertanyaan itu, seketika wajah Bang Hong Liong li berobah pucat, Airmatanya bercucuran deras dan dengan ter-isak2 ia berkata: "Aku . . ta . . hu . ." Gin Liong terkejut. Diam2 ia membatin apakah wanita itu yang membunuh suhunya. Segera ia mengeluarkan badik Kim-wan-jak lalu dipersembahkan kehadapan Ban Hong Liong-li. "Inilah . . senjata . . yang telah . . merenggut . . jiwa suhu . . " kata Gin Liong dengan ter-sendat2. Melihat senjata itu pecahlah tangis Ban Hong Liong-li. Segera ia menyambar badik emas dari suku Biau itu, menengadahkan kepala dan berseru dengan pilu.

"Wulanasa ! Wulanasa ! Apa artinya engkau hidup, engkau . . " Melihat Ban Hong Liong-li menangis seperti anak kecil, Yok Lanpun ikut menangis. sedangkan dengan air mata bercucuran Gin Liong masih dapat mengajukan pertanyaan: "Cianpwe apakah engkau tahu senjata itu ?" Se-konyong2 Ban Hong Liong-li deliki mata dan terlongong sampai lama, Setelah itu ia menunjuk pada empat huruf kecil pada batang badik itu. "Wulanasa adalah nama kecilku." serunya. Gin Liong makin tergetar serunya tak percaya: "Apakah . ." "Dengan membawa bukti badik itu engkau hendak menuduh bahwa aku yang membunuh suhumu?" Ban Hong Liong li menukas tiba2. "Liong-ji . . tidak . . berani . . " sahut Gin Liong terbata2. Wajah Ban Hong Liong-li makin marah, serunya geram: "Tidak berani . . ? Mengapa engkau tidak menyatakan "bukan" ? Begitu berjerih payah engkau mengejar aku, apakah maksudmu bukan karena hendak menunaikan balas untuk si Hati batu Kiong Cu-hun itu ?" Nada dan kata2 Ban Hong Liong-li penuh ketegangan yang memuncak. Gin Liong sampai mundur dua langkah dan berseru: "Walaupun memiliki keberanian sebesar langitpun, aku tentu tak berani menuduh begitu. Aku hanya hendak mohon keterangan kepada cianpwe." Dengan nada masih mendendam kemarahan Ban Hong Liong li berseru : "Baik, akan kuberimu sebuah keterangan !"

Habis berkata ia terus mencabut sebatang badik dari pinggangnya. Sebuah badik emas yang sama bentuknya dengan badik yang dibawa Gin liong tadi, kemudian badik itu dilempar ke muka Gin Liong: "Sambutlah, periksa dulu badik ku ini, baru nanti kita bicara lagi !" Gin Liong tak tahu apa yang harus dilakukan. Terpaksa ia melakukan perintah. Setelah diperiksa dengan teliti jelas badik itu sama benar dengan badik emas yang dibawanya tadi, Lalu ia menghadap pandang kearah Ban Hong Liongli dan berkata dengan bingung : "Cianpwe." "Masih belum jelas, bukan ? Ah . ." Ban Hong Liong-li menghela napas rawan, kemudian berpaling dan berkata kepada dua buah batu besar yang berada di sampingnya: "ceritanya panjang sekali, Duduklah, aku akan membuat kalian mengerti duduk perkaranya" Gin Liong dan Yok Lan lalu duduk dikanan kiri Ban Hong Liong-li. Tampak wanita itu memandang jauh ke cakrawala, baru mulai membuka mulut. "Liong-ji, tahukah engkau apa arti dari huruf "Sian-nokim-te" yang terukir pada batang badik emas itu ?" Sahut Gin Liong. "Jika murid tak salah terka, huruf itu merupakan nama dan seorang gadis Biau." Ban Hong Liongli mengangguk: "Benar, memang nama seorang gadis Biau, Dan gadis itu engkaupun pernah melihatnya" "Aku pernah melihat..." Gin Liong terkejut. "Hm . ." "Cianpwe . ." "Dengarkan aku bicara lebih lanjut !" kata Ban Hong Liongli lalu melanjutkan ceritanya.

"Menurut adat istiadat suku kami Biau, pada waktu melahirkan anak baik perempuan atau lelaki, pada waktu selamatan hari yang ketiga, sanak famili dan handai taulan, tentu datang memberi selamat dan membawa barang bingkisan." "Bingkisan apa ?" seru Yok Lan. "Setiap orang harus membawa logam." "Logam sebagai bingkisan?" Gin Liong terbelalak heran. "Setiap orang Biau tentu memiliki sebatang golok. Golok itu sesungguhnya diperuntukkan barang bingkisan pada setiap hari ketiga bilamana ada yang melahirkan anak. Oleh karena itu yang keluarganya banyak, bingkisan logam yang diterimanyapun makin banyak, Golok yang dibuatnyapun makin lebih tajam. Oleh karena itu golok Biau terkenal tajam sekali." "Kedua batang golok ini apakah dengan cara itu dibuatnya ?" tanya Gin Liong. Ban Hong Liong-li mengangguk, kemudian melanjutkan pula: "Kedua badik Kim-wan-jau ini. adalah dibuat dari beribu kati logam bingkisan untukku dan gadis Biau yang bernama Sanukim. Oleh karena keluarga kami merupakan dua keluarga yang terkemuka dalam suku Biau. Hampir sepuluh tahun lamanya logam itu dibuat, sehingga setelah kami berumur sepuluh tahun barulah dapat menerima golok itu. Dengan begitu, golok itu luar biasa tajamnya, jarang terdapat tandingannya didaerah Biau." Berhenti sejenak menghela napas, Ban Hong Liong-li melanjutkan pula:

"Kebetulan aku dan Sanukim lahir pada tahun, bulan dan hari yang sama. upacara penerimaan golok dilakukan dalam sebuah paseban. Semua hadirin memuji kami berdua seperti sepasang kakak beradik. Dalam upacara itu selain mengangkat saudara pun kami berdua saling bertukar golok sebagai tanda pengukuh !" Serentak Gin Liong sadar, serunya: "Ah, jika demikian, Sanukim itulah yang membunuh suhu." "Tetapi mengapa ia harus membunuh suhu?" Yok Lan memberi tanggapan lain. Ban Hong Liong-li kembali menghela napas panjang. sepasang matanya berlinang2 mengambang airmata, mulutnya berkata pelahan: "Hmmm !" "Cianpwe, Sanukim . " Ban Hong Liong-li cepat mencegahnya bicara lalu melanjutkan penuturannya: "Aku dan Sanukim sama berangkat dewasa dan hubungan kami sudah seperti saudara kandung. karena ia dari keluarga orang persilatan maka diapun mempelajari ilmu silat. Sedang karena aku memiliki bakat dan kecerdasan maka akupun memiliki ilmu silat juga, Entah sudah berapa puluh pemuda Biau yang putus asa dan patah hati terhadap kami berdua tetapi kami berdua memang sudah bertekad takkan menikah dengan pemuda Biau yang biasa." Sejenak berhenti, Ban Hong liong-li melanjutkan lagi: "Daerah Biau yang selama ini aman tenang, pada suatu masa telah dilanda oleh pergolakan. Pada waktu itu muncullah seorang pemuda suku Han, seorang berbakat cemerlang dan memiliki ilmu silat yang sukar diukur

tingginya. Selama beberapa bulan, dia telah menggetarkan daerah Biau dan tak ada seorangpun yang mampu menandinginya." "Cianpwe, apakah engkau dan Sanukim tidak muncul untuk menghadapi pemuda Han itu?" tiba2 Yok Lan menukas. Ban Hong Liong-li berobah cahaya mukanya dengan berkata dengan geram: "Justeru pertempuran itulah yang merusak . ." "Cianpwe, apakah engkau kalah ?" seru Gin Liong. "Tidak." Ban Hong Liong-li gelengkan kepala: "Badik Kim-wan-ja dari Sanukim dapat dipentalkan jatuh olehnya tetapi aku dapat menghadapinya selama tiga hari tiga malam, walaupun sudah melangsungkan seribu jurus namun tetap belum ada yang kalah dan menang !" Yok Lan sangat tertarik sekali sehingga ia mendesak : "Lalu ?" "Kemudian kita damai dan bahkan menjadi sahabat baik, Kita bertiga berkelana menikmati alam pemandangan yang indah di daerah Biau, berenang2 ditelaga, bernyanyi2 di bawah sinar rembulan, berlatih ilmu pedang sehingga tanpa terasa telah berjalan sampai berbulan2." Tiba2 muka Yok Lan tersipu merah, serunya "Pergaulan antara pria dan wanita yang sedemikian akrabnya mungkin akan menimbulkan untaian tali asmara." "Engkau benar, nak." Ban Hong Liong-li berseru rawan, "sang waktu memang dapat menumbuhkan asmara. Tanpa disadari aku dan Sanukim telah sama2 jatuh hati kepada pemuda suku Han itu"

"Ah, itupun mudah," tiba2 Gin Liong menyeletuk, "diakan dapat menentukan pilihannya." Ban Hong Liong-li menghela napas dalam2, ujarnya: "Dia memang memilih. Setelah tahu bahwa kami berdua mencintainya, ia lalu memutuskan memilih yang terbaik daripada tiga-puluh enam cara ialah dengan diam2 ia telah tinggalkan daerah Biau, kembali ketanah Tionggoan lagi." "Mengapa cianpwe tak menyusulnya ke Tionggoan dan menjelaskan kepadanya?" tanya Yok Lan. "Ya," sahut Ban Hong Liong-li dengan tegang "kutinggalkan ibuku dan tanpa memberitahu kepada Sanukim, seorang diri aku menuju ke Tionggoan Aku menjelajah tiga belas propinsi, namun ia tetap menghilang seperti segunduk batu yang silam di tengah laut" "Karena dia seorang persilatan, asal cianpwe menyelidiki pada orang2 persilatan masakan tak dapat bertemu ?" kata Gin Liong. "Hm," dengus Bang Hong Liong-li, "setelah berjerih payah mengembara di empat penjuru, perangaikupun bertambah keras, Aku suka marah2 dan suka pula melukai orang, Terutama jago2 silat yang namanya jahat, entah berapa jumlahnya yang mati di tanganku, Tiga tahun aku berkelana dengan berlumuran darah . ." Yok Lan menghela napas: "Tindakan cianpwe itu tentu didasarkan karena rasa geram dan kedua kali untuk memancing supaya pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya." "Tetapi adakah pemuda Han itu akhirnya mau keluar?" tanya Gin Liong. Ban Hong liong Ii gelengkan kepala.

"Ia tak mau muncul." kata Ban Hong Liong-li, "dalam pada itu Sanukimpun juga tahu tindakanku dan akhirnya ia juga mencari ke Tionggoan Dia melakukan pembunuhan di dunia persilatan dan liciknya, ia tak mau menggunakan namanya sendiri melainkan memakai nama Ban Hong Liong-li. Tak peduli tokoh aliran Hitam atau Putih, dibunuhnya semua. Dengan begitu jadilah Ban Hong Liong li seorang momok wanita yang dibenci dan ditakuti dunia persilatan." "Ia tentu marah karena putus asa, ia melakukan pembunuhan itupun tentu hendak memancing pemuda itu supaya keluar dari tempat persembunyiannya" kata Yok Lan. Tampak wajah Ban Hong Liong-li agak tenang dan berkatalah dia dengan rawan: "Rupanya Allah menaruh kasihan juga atas jerih payahku, Akhirnya aku berhasil menemukan tempat persembunyiannya." "Omitohud " teriak Yok Lan girang, "apakah cianpwe sudah menemukan dia ?" "O, dimanakah ia bersembunyi ?" seru Gin Liong ikut gembira juga. Dengan nada hambar berkatalah Ban Hong Liong-li: "Di kuil Leng-hun-si di puncak Hwe-sian-hong gunung Tiangpek-san." Serentak menggigillah Gin Liong. ia melonjak bangun dan menjerit: "Cianpwe, pemuda Han itu . ." "Giok-bin-su-seng Kiong Cu Hun." tukas Ban Hong Liong-li, Gin Liong dan Yok Lan seperti di sambar petir dan terlongong2. Beberapa saat kemudian baru Ban Hong Liong-li berkata:

"Pemuda Giok-bin-su-seng yang dulu sudah berobah menjadi Liau Ceng taysu, Bukankah nasib memang hendak mempermainkan orang." Airmata Yok Lan bercucuran ia ikut merasakan kesedihan hati Ban Hong Liong-li, tanyanya dengan nada rawan: "Pada waktu itu bagaimana suhu memberi keterangan ?" "Bukan saja dia berkeras tetap hendak menjadi biarawan pun dia menganggap bahwa peristiwa yang lampau itu sebagai suatu impian saja. Diapun menyesalkan perbuatanku main bunuh dalam dunia persilatan." Gin Liong kerutkan alis, berkata : "Seharusnya cianpwe memberi keterangan tentang tindakan Sanukim dan juga menerangkan bahwa yang cianpwe bunuh itu hanialah orang2 jahat saja." "Sudah tentu aku menjelaskan begitu tetapi dia tetap tak percaya." Ban Hong Liong-li gelengkan kepala. "Aneh, mengapa suhu begitu keras kepala ?" gumam Yok Lan. "Ah hal itu tak dapat mempersalahkan dia" kata Ban Hong Liong-li, "karena dia ketahui perangai Sanukim itu lebih tenang dan alim dari aku. Begitu pula dia menduga bahwa aku dan Sanukim tentu sudah bersepakat untuk mengadakan pembunuhan di Tionggoan itu." Tiba2 Gin Liong teringat soal Ban Hong Liong-li telah dikurung dalam guha Kiu-kiok-tong, maka ia bertanya: "Kemudian bukankah suhu telah memenjarakan cianpwe di guha Kiu-kiok-tong selama lima tahun ?" Ban Hong Liong-li gelengkan kepala.

"Tidak, suhumu hanya menasehati aku supaya kembali ke Biau-ciang, mensucikan diri untuk menebus dosa." "Lalu siapakah yang mengurung cianpwe dalam guha Kiu-kiok-tong itu?" tanya Gin Liong pula. Ban Hong Liong-li tertawa hambar. "Aku sendiri." "Cianpwe sendiri ?" Gin Liong terkejut. "Demi untuk menyatakan kesungguhan hatiku di hadapan suhumu dan hud-cou, aku rela mengurung diri selama lima tahun sebagai penebus dosa. Dan aku bersumpah bahwa selama lima tahun itu aku takkan membunuh. Kupilih gua Kiu-kiok-tong agar suhumu datang kesitu untuk mencegah, kedua kalinya . ." berkata sampai disitu Ban Hong Liong-li tersipu2 malu. Tiba2 teringatlah Gin Liong bahwa pada ujung keluar guha itu dapat tembus kekuil Leng-hun si, tepat dibelakang kebun dari tempat tinggal suhu nya. "Agar dapat bertemu dengan suhu, bukan ?" cepat Gin Liong berkata. Ban Hong Liong-li mengangguk : "Benar ! setiap malam aku menuju ke hutan siong memandang kearah tempat tinggal suhumu. Bermula suhumu tak tahu. Tak peduli hujan angin ataupun turun salju, selama dua tahun, tak pernah aku tak datang ke hutan siong itu. Pada suatu malam karena kurang hati2. begitu keluar dari guha, aku telah menginjak salju sampai pecah sehingga menimbulkan suara dan kepergok." "Seharusnya suhu dapat menerima cianpwe." kata Gin Liong dengan hati tergerak.

"Ah. mana begitu sederhana" Ban Hong Liong-li berkata tawar, "suhumu meluluskan aku setiap malam pada hari2 yang bertanggal 3, 6, 9, boleh datang ke kamar tinggalnya satu kali. Setiap kali datang, dia suruh aku berlutut di kakinya untuk mendengarkan ia membaca kitab Kim-kongkeng sampai tujuh kali sebagai doa mohon pengampunan atas dosaku. Setelah itu dia akan memberi pelajaran tentang penerangan batin dan membimbing aku menuju kepintu Buddha." Yok Lan menghela napas "Apakah kesudahannya hanya begitu saja ?" "Begitu saja, pun aku sudah puas" kata Ban Hong Liongli dengan rawan, "dan hal itu berjalan sampai tiga tahun tetapi pada saat itu masa aku mengurung diri dalam guha selama lima tahunpun sudah habis" "Itulah sebabnya mengapa jago2 golongan Hitam berbondong2 datang hendak menuntut balas kepada cianpwe" seru Gin Liong. "Mengapa selama lima tahun itu mereka tak mau mencari cianpwe ?" Yok Lan menyelutuk. Ban Hong Liong-li tertawa hambar: "Selama lima tahun itu entah berapa puluh kali mereka mencari aku tetapi telah dihalau pergi oleh suhumu. Dengan bengis, suhumu menandaskan bahwa selama lima tahun aku mensucikan diri dalam guha itu. tiada seorang persilatanpun yang diperbolehkan datang cari perkara, Mereka gentar akan kesaktian suhumu sehingga tak berani datang." Gin Liong pejamkan mata seperti merenungkan sesuatu. "Liong-ji apa yang engkau pikirkan ?" tiba2 Ban Hong Liong-li menegurnya.

Gin Liong membuka mata dan memandang Ban Hong Liong-li tapi sampai lama tak bicara. "Ai, mengapa engkau tak bicara ?" seru Ban Hong Liongli. Sambil tundukkan kepala, Gin Liong menyahut enggan: "Kesimpulan dari keterangan cianpwe tadi memberi kesan bahwa cianpwelah yang membunuh suhuku." Ban Hong Liong-li tertawa dingin: "Ceritaku belum selesai, bagaimana engkau berani mengatakan begitu ?" "Ya, cianpwe belum selesai bercerita, mengapa engkau terburu nafsu ?" Yok Lan ikut menyesali. Merah wajah Gin Liong. Memandang ke cakrawala ia berkata tersipu2 : "Rembulan sudah condong ke barat kemungkinan malam sudah makin larut" Ban Hong Liong-li tak menghiraukan dan melanjutkan ceritanya. "Dari muka guha muncul Ma Toa Kong dan kawan2, sedang dari belakang datang benggolan yang lebih besar lagi." "Oh, siapa ?" Gin Liong terkejut. Dalam kerut wajah yang sukar diterka sedih atau marah, Ban Hong Liong-li memandang badik Kim-wan-ja yang berada dimukanya dan berkata dengan nada gemetar: "Pemilik badik ini Sanukim." Yok Lan terperanjat. "Ketika mendengar aku masih hidup dan menjalani derita mengurung diri dalam guha selama lima tahun, sikap Kiong Cu Hun yang berkeras tak mau merobah

pendiriannya, maka timbullah kemarahannya. Dia mendesak supaya aku mau diajaknya membunuh suhumu. Cobalah kalian pikir, bagaimana mungkin aku sampai hati untuk membunuh suhumu." Darah Gin Liong bergolak keras sehingga badik yang dipegangnya itu ikut gemetar. "Saat itu engkau, Liong-ji, sedang minum pemberianku pil Tok-liong-tan. Aku tak dapat meninggalkan tempat itu dan harus melindungi engkau, Sanukim menerobos keluar dari guha, Sejam kemudian ia kembali lagi keguha, menangis sampai matanya membenjul. Dia memberitahu kepadaku bahwa dia . . telah membunuh . . . Cu Hun . . " sampai disini Ban Hong Liong-li tak dapat menahan tangisnya. Yok Lanpun ikut menangis. "Apakah suhu membiarkan saja dirinya ditusuk dengan badik itu ?" tiba2 Gin Liong bertanya. Sambil bercucuran airmata, Ban Hong Liong li berkata: "Kebetulan saat itu tanggal sembilan belas hari dimana aku boleh bertemu dengan Kiong Cu Hun. Melihat yang datang Sanukim, suhumu pun menggunakan cara seperti yang dilakukan terhadap diriku. Tetapi Sanukim tak mengacuhkan bahkan menasehatkan supaya suhumu menanggalkan baju pertapaan dan kembali menjadi orang biasa lagi, bersama2 kembali ke Biau-ciang untuk menikmati sisa hari tua. ." "Ah, itu suatu perasaan yang wajar dari setiap wanita." kata Yok Lan. "Suhumu seorang lelaki yang berhati teguh sudah tentu dia tak mau menerima permintaannya ? Karena cinta, Sanukim membenci Karena benci timbullah rasa dendam. Menggunakan kesempatan disaat suhumu sedang pejamkan

mata melantangkan doa mantra, Sanukim mencabut badik Kim wan-ja dan menikamnya . ." Sampai disini Ban Hong Liong-li tak dapat melanjutkan kata2nya karena terbenam dalam tangis tersedu sedan. Yok Lan dan Gin Liong pun ikut menangis. Sesaat kemudian Ban Hong Liong-li melanjutkan pula: "Pada saat kudengar pengakuan Sanukim telah membunuh suhumu, seketika meluaplah kemarahanku. Aku kalap dan tak ingat apalagi, ku-hantam dia dengan pukulan Toa-lat-jiu-hwat sehingga kawan sepermainanku di masa kecil dan Sanukim yang telah kuanggap sebagai adikku sendiri tewas.." Pada saat itu teringatlah Gin Liong akan mayat seorang wanita yang berada dalam guha, Kiranya dia Sanukim. Pada saat itu Ban Hong Liong-li berkata pula dengan nada haru: "Nasibku memang malang. Sejak kecil aku tak mempunyai ayah, Kekasih yang paling kucintai didalam dunia akhirnya binasa dibawah badik Kim-wan ja. Kawan satu2nyapun mati ditanganku. Apakah masih punya gairah untuk hidup dalam masyarakat ramai ? untunglah aku telah mendapat banyak wejangan dan penerangan batin dari Cu Hun, bahwa segala apa itu memang sudah terlingkup dalam hukum Karma. Aku menyadari hal itu, Maka kuharap kalian . ." Tiba2 Ban Hong Liong-li ayunkan badik Kim wan-jak kearah kepalanya sendiri. "Hai..." Gin Liong dan Yok Lan menjerit kaget dan cepat menyambar tangan Ban Hong Liong-li Tring . . badik tertampar jatuh tetapi tangan kiri telah menggenggam sutera

warna hitam, mengusap airmata, wajahnya pucat dan tegang. "Cianpwe ! cianpwe ! Mengapa engkau berbuat begitu !" Yok Lan menjerit dan memeluk tubuh ibu gurunya. Dengan airmata bercucuran, Ban Hong Liong li memandang sutera hitam di tangannya dan berkata dengan tersendat2: "Tali pelenyap kesedihan hati, seumur hidup tiada pernah mengenyam ketenangan, peristiwa di dunia ini laksana air mengalir budi dan cinta bagai bunga gugur . ." Setiap patah kata diucapkan dengan iringan air mata. "Cianpwe, kini segala peristiwa telah terang, mengapa cianpwe masih begitu berduka ?" kata Gin Liong. Ban Hong Liong-li tertawa rawan: "Suku Biau hanya percaya pada dukun. Walaupun aku belum dalam meresapi arti daripada pelajaran yang telah diberikan suhumu selama beberapa tahun itu, tetapi sedikit banyak aku telah mendapat kesadaran. Hidup itu tak lebih hanya impian hampa belaka, Aku sudah memutuskan untuk mencukur rambut masuk menjadi rahib. Aku akan mengabdikan hidupku dalam dunia yang telah dibukakan oleh Budha, Aku hendak melangkah kejalan yang ditempuh suhumu, mungkin kelak aku dapat . . . bertemu dia." Gin Liong dan Yok Lan hanya mendengarkan dengan pilu. Tetapi kedua anak muda itu menyadari dan merasakan betapa penderitaan hati yang di alami Ban Hong Liong-li. Keputusan wanita yang berilmu tinggi itu, memang merupakan jalan yang sudah menjadi arah hidupnya. Sayup2 terdengar ayam berkokok. Hari sudah mulai memancarkan penerangan. Ban Hong Liong-li membungkus benda hitam yang ternyata rambut kepalanya, lalu diberikan kepada Yok Lan dan Gin Liong.

"Liong-ji, Lan-ji ! Suhumu memperlakukan kalian berdua seperti putera puterinya sendiri, walaupun aku tak pernah melepas budi, tetapi perasaan hatiku kepada kalian berdua juga seperti suhu-mu." Gin Liong dan Yok Lan serempak berlutut dihadapan Ban Hong Liong li: "Budi cianpwe kepada murid berdua, laksana samudra dalamnya. Walaupun tubuh hancur, namun murid berdua tetap akan berusaha untuk membalas budi cianpwe". "Sepuluh tahun bersama suhumu, aku tak mempunyai peninggalan apa2, segulung rambutku ini apabila nanti kalian pulang ke Leng-hun-si supaya engkau sembahyangkan di depan jenasah suhumu dan tanamlah disamping Cu Hun. Anggaplah sebagai . . tanda . . perkenalan." Selekas melemparkan gulungan rambut kepada Gin Liong, Ban Hong Liong-li terus loncat ke udara dan berseru terisak2: "Liong-ji Lan-ji ingatlah baik2 pesanku." Gin Liong dan Yok Lan terkejut. Keduanya mengejar seraya memangginya: "Cianpwe . ." Tetapi Ban Hong Liong-li seorang pendekar wanita yang sakti Gerakannya luar biasa cepatnya. Hanya segulung sinar merah tampak melintas dalam keremangan fajar dan tak lama sudah jauh sekali. Betapapun hendak mengejar namun sia2 saja usaha Gin Liong dan Yok Lan. Rupanya Ban Hong Liong-li iba juga melihat kesungguhan hati kedua anak muda itu. Di sebuah tanah datar ia berhenti dan menghela napas. "Di dunia tiada suatu perjamuan yang takkan berakhir. Kalian mempunyai jalan hidup sendiri dan akupun hendak menuju ke tujuanku sendiri. Masing2 sudah mempunyai

garis perjalanan hidup sendiri, Hanya kuharap kalian, dapat selalu mengingat peristiwaku dengan suhumu, agar dapat bertindak hati2, jangan sampai.." Sebenarnya hati Ban Hong Liong-li sedang mengalami ledakan yang dahsyat tetapi dengan sekuat kemampuan ia berusaha menekannya. Kemudian sambil gelengkan kepala, ia dorongkan kedua tangannya. "Aku tak dapat tinggal di dunia persilatan yang penuh derita batin." serunya seraya melayang sampai 7-8 tombak dan pada lain kejap lenyap dalam kabut gelap. Kedua anak muda itu tegak ter-Iongong2 sampai lama sekali, Kuatir sukonya berduka, Yok Lan segera membuka mulut: "Liong koko, locianpwe sudah pergi jauh." Gin Liong seperti terjaga dari mimpi, ia menghela napas. "Ah, tak kira kalau suhu seorang yang berhati keras begitu, Dia memutus asmara hati seperti memutus tali saja. Tetapi dia tentu tak tahu bagaimana penderitaan Ban Hong Liongli lo cianpwe, yang walaupun hidup tetapi lebih sengsara daripada mati." Yok Lan tak mau bicara berkepanjangan, ia segera mengajak sukonya untuk mencari tempat istirahat Mereka menuju ke penginapan Liu-lim tian, Hari masih pagi, jongos rumah penginapan menyambut keluar tetapi demi melihat kedua anak muda itu menyelip pedang, buru2 ia mengatakan kalau tak ada kamar. "Jangan takut, bung, pedang ini hanya untuk pelindung diri dalam perjalanan." kata Gin Liong seraya mengeluarkan sekeping uang perak dan diserahkan kepada jongos itu: "Lekas sediakan dua kamar, teh, hidangan pagi dan makanan untuk kuda kami, Kalau kurang kutambah lagi."

Jongos itu silau melihat uang sekian banyak, Serta merta ia mempersilahkan kedua tetamunya masuk. Begitu masuk kamar, Yok Lan terus tidur. Tak berapa lama hari sudah pagi dan ramailah para tamu bangun, Diantaranya terdengar orang berkata kepada kawannya. Dari nada suara orang itu. Gin Liong seperti sudah pernah kenal. "Saudara2" seru orang itu. "kita harus lekas melanjutkan perjalanan ke Hoksan agar toako-ku jangan kepayahan menunggu." "Sam-tiangke" seru seorang yang nadanya melengking seperti orang banci, jangan kuatir urusan itu kami juga harus ikut campur, Menilik harta karun yang berada dipunggung kuda nya, tentu kami takkan melepaskannya." Dari nada suaranya jelas mereka kawanan jago aliran hitam. Gin Liong tak menghiraukan karena menganggap mereka tentu hanya jago2 silat tak berarti. "Sam tiangke" tiba2 suara orang banci itu melengking pula, "lo toa kalian itu hendak merencanakan secara terang atau secara diam2." "Jika sukar menggunakan cara terang, terpaksa kita menggunakan jalan gelap." sahut orang yang ditanya. Dalam berkata itu, orang tersebut telah berjalan melalui jendela kamar Gin Liong, Gin Liong mengintip dari celah jendela dan dua lelaki tinggi dan seorang pendek, menggendong buntalan warna kuning, rupanya buntelan senjata. Mereka bertubuh kekar, mata berkilat2 tulang pelipisnya menonjol dan berjalan dengan gagah. Gin Liong tak tahu siapa mereka. Kemudian yang paling akhir, tampak seorang lelaki berumur 40-an tahun, muka kurus, menyanggul

sebatang go lok Gan-leng-to, Ciri satu2nya, sebelah kiri daun telinganya hilang. Gin Liong seperti pernah melihat tetapi lupa di mana. "Liong koko" tiba2 ia terkejut dan berpaling, Ternyata Yok Lan sudah berada dibelakangnya. "Apa yang engkau lihat di luar itu sehingga engkau tak mendengar kalau aku masuk ke kamar ini." Agak merah muka Gin Liong. sahutnya: "Sekawanan orang persilatan hendak melanjutkan perjalanan." "Mengapa sampai begitu asyik sekali engkau melihat mereka ?" Yok Lan menggerutu, "Liong koko, sejak bertemu dengan Liong-li locianpwe, tampaknya engkau berduka. Kalau sampai mengganggu kesehatanmu bukankah sayang ?" "Ah, tidak . ." Gin Liong hanya dapat menjawab sekenanya. "Hm, Liong koko, jangan engkau mengelabui aku. Coba lihat, kasur dan selimut tidak kumal, jelas engkau tidak tidur Hm, dalam beberapa bulan ini kulihat engkau tak tenang tidur dan tak enak makan. seharusnya engkau banyak beristirahat." Tahu bahwa semuanya itu memang amat cintainya, Gin Liong hanya menjawab: "Banyak pesanan Ban Hong Liongli yang belum kita laksanakan. Sudah tentu aku gelisah, Apabila segalanya sudah selesai, pada waktu itu kemungkinan aku akan mengikuti jejak suhu. ." "Liong koko, jangan berkata begitu !" Yok Lan menjerit dan tutupkan jarinya ke mulut Gin Liong.

Dalam keadaan begitu, tiba2 diluar kesadarannya Gin Liong terus memeluk tubuh Yok Lan, Yok Lan pun menyerah. Dia menengadahkan muka, menanti. Dalam detik2 seperti saat itu, lupalah sudah Gin Liong akan segala kesadaran, Gin Liong segera mereguk bibir Yok Lan, bagaikan seorang musafir yang kehausan Lama sekali barulah Yok Lan berusaha untuk meronta dan setelah melepaskan diri lalu melengking: "Huh, tak malu, Baru saja mengatakan hendak masuk menjadi paderi, tahu2 sudah menggigit bibirku !" Gin Liong tak meladeni katanya: "Ah, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan." "Tetapi kemanakah kita hendak pergi ?" tanya Yok Lan. "Karena tugas kita untuk mencari jejak pembunuh suhu sudah selesai, lebih baik kita pulang untuk segera mengurus penguburan jenasah suhu dan sekali melaksanakan pesan Liong-li locianpwe." kata Gin Liong. Begitulah mereka pulang ke gunung Tiang-pek-san, Tetapi ditengah jalan tiba Yok Lan mengingatkan Gin Liong akan Tio Li Kun yang tentu mengharap kedatangannya di gunung Mo-thian-san. "Teringat taci Li Kun dipanggil pulang, tentulah gunung Mo-thian-san sedang menghadapi bahaya. Baiklah kita singgah dulu kesana, koko", kata Yok Lan. Gin Liong setuju, Tiba di gunung Mo thian-san, mereka disambut oleh barisan obor. Seekor kuda melesat keluar dari mulut gunung, penunggangnya ternyata Siau-bun-Tio Tek Cun, orang keenam dari ketujuh saudara Tio. Pertemuan itu sangat menggirangkan sekali Gin Liong dan Yok Lan segera diajak masuk ke-dalam markas.

"Ai, Liong-ji, kalian tentu letih, silahkan engkau beristirahat diruang perpustakaan dan nona Ki di kamar tidur," kata nyonyah Tio tua setelah menerima dan menjamu kedatangan kedua anak muda itu. Didalam ruang peristirahatannya, Gin Liong tidak tidur melainkan duduk bersemedhi menyalurkan tenaga murni, ia mendapat keterangan dari ibu angkatnya, nyonyah Tio tua, bahwa Patkoay atau Delapan manusia aneh, akan menyerang gunung Mo thian-san. Tetapi ternyata sampai tengah malam, tiada terdengar suara apa2. Pada saat Gin Liong merasa heran, tiba2 daun pintu bergerak dan tahu2 sesosok tubuh hitam telah menubruknya. Gin Liong terkejut dan cepat hendak tutukkan kedua jarinya ke perut penyerang itu, Tetapi orang itu tak mau menghindar melainkan merentang kedua tangan dan berteriak: "Hm, apakah engkau benar2 hendak membunuh jiwaku !" Gin Liong terkejut: "Ah, taci Kun, engkau mengejutkan aku !" "Huh, masih bisa bilang begitu ?" si jelita Li Kun menggumam, "bukankah aku hampir mati ditanganmu ?" Gin Liong tersipu-sipu: "Tetapi mengapa engkau tak mau bilang sehingga hampir saja aku berdosa ?" "Mati ditanganmu, aku puas," kata Li Kun. Betapapun Gin Liong seorang pemuda yang masih berdarah panas, Sudah tentu ia tergerak mendengar ucapan si jelita. "Liong koko," kata Li Kun, "sejak berpisah dengan engkau, aku selalu terkenang padamu, cobalah pikirkan,

aku sudah . ." ia tak melanjutkan kata2nya melainkan tundukkan kepala kedada Gin Liong, Gin Liong tahu bahwa yang akan dikatakan si jelita itu tentu buah dari hubungan mereka tempo hari. "Taci Kun, apakah . . . . engkau sudah memberitahu hal itu kepada mamah ?" tanya Gin Liong. "Masakan aku berani bilang ? Kalau mau bilang, engkau yang wajib bilang." "Tetapi bagaimana aku dapat membuka mulut ?" Gin Liong tersipu-sipu merah mukanya. "Kalau engkau malu, masakan aku tidak ?" "Tetapi engkau dapat mengatakan kepada ke lima ensoh, karena kalian... Kalian sama2 kaum wanita, apalagi hubungan di antara ipar sendiri..." "Aku tak peduli," kata Li Kun, "pokok aku sudah menjadi orangmu, terserah saja engkau hendak mengapakan diriku, Kalau tak dapat hidup bersama, lebih baik aku mati !" Berkata sampai disitu airmata Li Kun berderai2 membasahi pipinya. Gin Liong tergopoh menghiburnya: "Taci Kun mengapa engkau berkata begitu ? Aku bukan seorang lelaki yang rendah budi, Apalagi kita sudah . . . mempunyai . . hubungan darah, walaupun tak dapat hidup bersama tetapi kita akan mati seliang, inilah janjiku" "Liong . . " cepat Li Kun menukas, "ucapan mu itu akan menjadi pedoman hidupku !" Aku . . " belum selesai berkata tiba2 Gin Li ong terbeliak, mendorong Li Kun, meniup padam lampu dan berseru: "Hai, siapa itu-

Ia terus melesat keluar, loncat keatas genteng, Tetapi empat penjuru, tak tampak suatu apa. "Apa yang engkau lihat?" tegur Li Kun yang menyusul. "Orang" kata Gin Liong, "ilmu meringankan tubuhnya luar biasa hebatnya." "Benar ? Apa tak salah lihat ?" "Tidak" sahut Gin Liong. "kulihat orang itu berkelebat di luar jendela." Tiba2 rombongan anak buah yang dipimpin oleh isteri engkoh Li Kun-yang kelima muncul dan menanyakan Gin Liong, Gin Liong agak sukar menjawab. "Kita seperti melihat bayangan orang lewat di genteng, maka . . ." baru Li Kun menerangkan begitu, isteri bersaudara Tio yang ke tiga sudah menyeletuk tertawa "Ih, kita ini mengganggu kalian yang sedang berdua. Mereka berjumlah lima orang, isteri dari kelima saudara Tio. Yang lalu2 tertawa mendengar olok2 itu. Gin Liong dan Li Kun tersipu-sipu malu. "Ah, mari kita pergi," kata yang seorang. "Kita berlima bersembunyi ditempat gelap, tetapi sejak tadi kita tak melihat apa2," kata isteri persudaraan Tio yang tertua. Akhirnya isteri jago Tio yang keempat tertawa: "Liongte, harap engkau menemani adik Li Kun untuk mencari bayangan itu !" habis berkata kelima nyonya muda itu segera pergi. "Ai, karena engkau, mereka sampai datang mengolokolok kita," Li Kun menggerutu.

"Taci Kun, apakah dalam markas juga diadakan ronda ?" tanya Gin Liong. "Dalam markas hanya tinggal mamah seorang, yang lain2 engkoh dan ensoh semua berada di luar untuk menjaga kemungkinan Pat-koay menyerang." Tiba2 Gin Liong teringat seseorang. "Ki sumoay . . . ." serunya. Li Kun tertawa: "Oh, aku tolol. Kiranya engkau sedang memikirkan adik Lan, Mungkin dia masih tidur nyenyak dikamarnya, cobalah engkau jenguk." "Aku hanya bertanya saja," kata Gin Liong seraya loncat turun, Li Kun tetap mengikuti dibelakangnya, Ketika Gin Liong lewat di jendela dia masih membau hawa yang harum: "Taci Kun bayangan tadi tentu seorang wanita. Cobalah engkau rasakan baunya masih harum." Li Kun juga membau keharuman itu, ia terkejut: "Benar, mungkin bau harum dari adik Lan." Mereka berjalan terus dan tiba2 terdengar bunyi terompet, Li Kun mengatakan kalau terompet itu itu sebagai pertandaan untuk mengumpulkan anak buah yang melakukan penjagaan disekeliling gunung. Saat itu hari memang menjelang terang Li Kun kembali ke tempatnya sendiri sedang Gin Liongpun masuk lagi ke kamarnya, Tak berapa lama fajarpun tiba, Surya pagi mulai memancarkan sinar. Tiba2 terdengar gemuruh derap kaki orang dan sesaat kemudian muncullah Tio Tek Cun dengan wajah tegang : "Liong-te, celaka!" Gin Liong terkejut dan bergegas lari keluar: "Mengapa ?" "Nona Ki telah pergi tanpa pamit!" seru Tek Cun.

"Liok-ko, apa katamu ?" teriak Gin Liong seperti disambar halilintar. "Entah bagaimana nona Ki telah pergi dari gunung ini. Dia meninggalkan surat." "Mana suratnya ?" "Berada di tangan mamah." "Apa bunyi surat itu ?" "Sampulnya ditulis, diberikan kepadamu, maka tak ada yang tahu apa isinya . . ." Gin Liong cepat menyeret tangan Tek Gun. walaupun Tek Cun tergolong jago yang menonjol diantara ketujuh saudara Tio, tetapi ketika tangannya dicekal Gin Liong, ia tak berdaya lagi, Gin Liong mengajaknya menuju ke markas besar menemui nyonyah Tio tua. Tampak nyonya Tio tua marah2: "Tentu kita semua orang2 Mo-thian-san ini tidak melayani dengan baik2 sehingga nona Ki pergi . . ." Begitu melihat Gin Liong, nyonyah tua itu segera berkata dengan nada tenang: "Liong-ji, Ki sumoay entah bagaimana . .." "Mah, manakah surat yang ditinggalkannya ?" cepat Gin Liong menukas. Nyonyah Tio tuapun segera memberi sebuah sampul dan buru2 Gin Liong membacanya: Kepada Siau Gin Liong suko, Mendoakan agar suko dapat hidup bahagia sampai dihari tua dengan taci Li Kun. setelah mempersembahkan hormat kepada suhu, aku akan mengikuti Liong-li locianpwe. Tak usah menguatirkan diriku. Yok Lan.

Gin Liong tampak gugup, Setelah menyimpan surat ia segera berkata kepada nyonyah Tio tua: "Mah, Ki sumoay pulang he Leng-hun-si, dan akupun mohon diri hendak menyusulnya." Habis berkata ia terus melesat keluar. sekalian orang terkejut melihat gerak gerik Gin Liong yang biasanya selalu tenang, Tetapi tak ada orang yang mengetahui kecuali Li Kun. ia mendekati mamahnya dan berbisik: "Mah, engkau harus mengambil keputusan." Tiba2 muncullah Mo Lan Hwa kedalam markas, Sudah tentu sekalian orang menyambutnya dengan gembira, Mo Lan Hwa mengatakan telah berjumpa dengan Gin Liong tetapi ia tak tahu mengapa pemuda itu begitu tegang sekali." "Nona Mo, aku hendak menyusul mereka, maukah engkau menemani aku ?" "Sudah tentu mau," kata Mo Lan Hwa. "Aku juga ikut, mah," seru Li Kun. "Jangan, engkau jangan ikut, dikuatirkan nanti nona Ki . . .." Tek Piu, saudara kelima dari gunung Mo-thian-san. serentak berseru: "Mah, jangan pergi. Aku sanggup mengundang mereka kemari. Kita tak ada yang menialahinya, mengapa dia pergi tanpa pamit" Memang Tek Piu itu kasar dan tolol tetapi jujur. Sekalian orang tertawa mendengar kata2nya. "Tolol, jangan banyak bicara !" bentak nyonyah Tio tua. "Tetapi akukan tak bicara salah ?" bantah Tek Piau. "Semalam Pat-koay tak jadi datang, tentu ada sebabnya, Tetapi penjagaan markas harus tetap diperketat, Nona Mo, mari kita berangkat " kata nyonyah Tio tua pula.

walaupun sudah tua tetapi kepandaiannya jauh lebih hebat dari kelima menantu perempuannya Mo Lan Hwapun mengikuti. Pada hari ketiga mereka sudah tiba digunung Tiang-peksan. Dari jauh sudah tampak puncak Hwe-sian-hong yang menjulang tinggi. Gin Liong lebih dulu sudah tiba di gunung dan terus bergegas mendaki kepuncak, Telinganya yang tajam segera dapat menangkap suara orang menangis, Tetapi ketika ia mendekat gereja Leng-hun-si, suara tangis itu sirap, ia terkejut, Tak mungkin Yok Lan yang belum lama pergi, dapat mencapai gereja dalam waktu yang sedemikian cepatnya, Cepat ia berlari menuju ketempat penyimpan jenasah gurunya. Di depan peti jenasah Lau Ceng taysu, ia melihat sesosok tubuh rebah tak berkutik, Ah, siapa lagi kalau bukan Ki Yok Lan, Kedua mata dara itu memejam, masih terlihat bekas airmatanya yang belum kering. wajahnya pucat, mulut mengancing rapat, kaki tangan dingin seperti es. Dia tentu pingsan, "Sumoay ! Sumoay ! Mengapa engkau senekad itu ?" seru Gin Liong berisak2. Tetapi saat itu Yok Lan tak ingat apa2 1agi. Karena berulang kali meneriaki tetap tak bangun, Gin Liong memegang pergelangan tangan sumoaynya untuk memeriksa denyut nadinya, Lemah sekali, Gin Liong cepat mendudukkan tubuh sumoaynya, ia sendiri duduk dibelakangnya dan melekatkan telapak tangannya ke punggung Yok Lan, lalu mulai menyalurkan hawa murninya.

Tetapi ia tahu bahwa tubuh sumoaynya itu sejak kecil memang lemah maka iapun tak berani terlalu keras menyalurkan hawa-murni. Dengan demikian sampai berselang beberapa saat barulah tampak Yok Lan mulai dapat bernapas, "Lan moay, Lan-moay . . ," Gin Liong berbisik di dekat telinga si dara. Tetapi Yok Lan tetap tak berkutik Setengah jam kemudian barulah tampak dada Yok Lan berombak. Gin Liong gembira karena tahu bahwa detik yang krisis dari keadaan sumoaynya sudah lewat Walaupun tenaga dalam Yok Lan tak sehebat Gin Liong tapi ia juga memiliki dasar tenaga dalam yang cukup baik, Maka setelah sadar, ia tahu kalau ada orang yang menolongnya, "Lan-moay hati2lah, gunakan hawa murni dalam tubuhmu untuk menyambut tenaga dalam dari telapak tanganku!" seru Gin Liong, Airmata Yok Lan membanjir deras serunya tersendat" : "Liong . . suheng . . engkau . . mau apa . . kemari . ." "Sudahlah nanti kita bicara lagi sekarang bersiaplah menyambut saluran tenaga dalamku," Gin Liong cepat menukas, Tetapi Yok Lan gelengkan kepala dan menghela napas lalu pejamkan mata lagi, Tetapi Gin Liong tetap berusaha untuk menyalurkan tenaga-dalamnya, "Ah, Liong suko, engkau ini . . " "Jangan bergerak, lekas gerakkan hawa murni" Yok Lan terkejut jelas Gin Liong nekad hendak menyalurkan tenaga dalamnya. jika ia tetap tak menghiraukan kemungkinan keduanya tentu akan

terjerumus kearah apa yang disebut Co-hwe-jip-mo atau saluran tenaga-dalam yang tersesat sehingga membuat tubuh cacad selamanya, Yok Lan terpaksa melakukan perintah, Tak berapa lama tubuhnya terasa hangat dan segar 1agi. "Liong . . ah, suheng, terima kasih atas pertolonganmu, Kini bukan saja tenagaku sudah pulih tetapi bahkan malah bertambah kuat, pulanglah ke Mo-thian-san agar taci Kun tak bersedih hati " Pucatlah wajah Gin Liong, katanya dengan teriba2 : "Lan-moay, apakah engkau tak tahu isi hatiku. Aku dengan . . taci Kun . . peristiwa itu diluar . . diluar . . " "Tidak, kutahu, malam itu aku memang sudah tahu" Merah wajah Gin Liong "Oh, engkau . ." "Lepas dari benar tidaknya karena pengaruh obat dari Dewi Mega, tapi kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi, Tak usah menyesal" "Lan-moay, dalam peristiwa terkutuk itu. bagaimana aku harus meminta maaf kepadamu dan kepada mendiang suhu ?" "Liong suko, apakah taci Kun tak sembabat dengan engkau ?" "Lan-moay, kalau engkau dapat memaafkan, engkau harus . . " , "Setitikpun aku tak mendendam bahkan aku mendoakan kebahagian kalian berdua" "Lalu mengapa engkau pergi ?"

"Karena kuatir taci Kun tak leluasa bertemu dengan engkau " kata Yok Lan lalu berputar tubuh mengucurkan airmatanya dan berkata : "Liong koko, pernikahanmu dengan taci Li Kun sudah jelas." katanya, "aku tak menyangkal bahwa memang aku pernah mencintaimu tetapi sekarang sudah tak mungkin lagi, Harap engkau jangan memikirkan diriku lagi, Kini aku sudah menyadari sepasang syair yang tergantung dalam ruangan suhu : "Jika hendak meniadakan keresahan hati, haruslah menghilangkan ke-Aku-an masing2 mempunyai garis hidup sendiri jangan iri pada orang, Kedua barisan syair itu tepat sekali, pergilah pergilah !" Habis berkata Yok Lan terus lari masuk ke dalam biara Leng hun-si. "Lan-moay !" Gin Liong menjerit kaget melonjak bangun dan terus mengejar Tiba2 dari arah Leng-hun-si muncul dua sosok hayangan, Salah seorang segera berseru memanggil Gin Liong, "Mah !" Gin Liong segera mengenali suara itu sebagai suara mamah angkatnya, nyonya Tio tua yang datang bersama Mo Lan Hwa. "Mana nona Ki," tanya nyonyah Tio tua. "Dia . . dia lari kedalam biara", habis berkata Gin Liong terus lanjutkan larinya, Terpaksa nyonya Tio tua dan Mo Lan Hwa mengikuti. Tetapi di dalam biara walaupun sudah dicari kemana2 Yok Lan tak tampak. "Heran, kemanakah dia ?" seru Gin Liong,

Nyonyah Tio tua dan Mo Lan Hwa juga terkejut Nyonyah Tio tua bertanya apakah yang telah terjadi pada diri Yok Lan. Tanpa malu2 Gin Liong lalu menuturkan hubungannya dengan Yok Lan dan pesan dari mendiang suhunya agar kelak ia dan sumoaynya itu dapat terangkap sebagai suami isteri, "Lalu mengapa dia tampak putus asa dan marah ?" desak nyonyah Tio tua. Karena didesak pertanyaan itu, apa boleh buat terpaksa Gin Liong membuka rahasia hubungannya dengan Tio Li Kun, Nyonyah Tio tua dan Mo Lan Hwa tertegun. "Mah, dalam melakukan hubungan dengan taci Kun, aku benar2 terpengaruh oleh obat bius dari Dewi Megah, sehingga di luar kesadaran aku telah melakukan perbuatan yang tak senonoh kepada taci Kun, Untuk itu aku sanggup untuk menerima hukuman apa saja yang hendak kalian jatuhkan kepada diriku." kata Gin Liong, Nyonyah Tio tua tampak merenung, Sedang Mo Lan Hwa mengucurkan air mata, ia menangis dalam, hati, Harapannya untuk mendampingi Gin Liong, bagai awan tertiup angin, Tiba2 wajah nyonyah Tio tua tampak cerah katanya : "Liong-ji, janganlah engkau berduka untuk hal itu, Li Kun telah memberitahu hal itu kepadaku juga. Bahwa sekarang di antara kalian sudah menjadi suami istri, itu memang sudah menjadi akibat dari perbuatan kalian, Tidak hanya engkau, tetapi anakku si Li Kun itupun bersalah. Dan yang paling bersalah adalah si Dewi Mega yang telah melebarkan obat perangsang kepada kalian, Ku percaya bahwa apabila dalam keadaan sadar, engkau dan Li Kun tentu takkan bertindak begitu . ."

Gin Liong terdiam. "Setiap kesalahan harus kita perbaiki. Oleh karena hal itu sudah menjadi kenyataan maka kita harus menerimanya. Engkau harus menikah dengan Li Kun demi menyelamatkan kepentingan bibit yang telah terkandung dalam perut Li Kun." "Sudah tentu aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, mah," Gin Liong memberi penegasan, "Tetapi belum cukup begitu, Liong-ji," kata nyonyah Tio Tua pula, "engkaupun harus melaksanakan pesan suhumu. Dalam hal itu aku dan Li Kun telah mengambil keputusan, akan menyambut pernikahanmu dengan Yok Lan secara gembira. Biarlah Li Kun mendapat saudara perempuan yang dapat bersama2 mendampingi engkau . . " "Mah . . " teriak Gin Liong terkejut. "Dan masih ada keputusan lain, Liong-ji," kata nyonyah Tio tua lebih lanjut, "bahwa kulihat hubunganmu dengan nona Mo Lan Hwa sudah meningkat sedemikian rupa sehingga kasihan apabila nona Mo sampai kecewa, Oleh karena itu. biarlah sekalian nona Mo menjadi isterimu agar kalian berempat dapat hidup dengan rukun dan bahagia . . " "Mah !" kembali Gin Liong menjerit kaget, Tak pernah ia menyangka bahwa nyonyah Tio tua dan Tio Li Kun akan mempunyai hati yang selapang itu. "bukankah . . hai !" tiba2 nyonyah Tio tua menjerit kaget, Ternyata Mo Lan Hwa yang sejak tadi berada di belakangnya tahu2 entah kapan sudah lenyap, "mana nona Mo Lan Hwa ?" Gin Liong sejak tadi dicekam oleh perasaan terkejut yang melandanya. Ucapan nyonyah Tio tua memang benar2 tak pernah disangka2nya. Karena perhatiannya tercurah kearah

itu maka iapun tak sempat lagi memperhatikan gerak gerik Mo Lan Hwa yang berada di belakang mereka, "Nona Mo , , !" tak kalah kejutnya ia menjerit kaget, memandang ke segenap penjuru tetapi tak melihat bayangan nona itu, Dia terus lari mengelilingi biara Lenghun-si tetapipun sama saja. Bayangan nona itu hilang seperti di telan bumi, "Bagaimana ?" tegur nyonyah Tio tua seraya menghampiri Gin Liong yang tampak tegak termenung diluar biara, "Dia menghilang seperti bayangan . . " "Aneh." gumam nyonyah Tio tua, "mengapa nona Yok Lan dan nona Lan Hwat dapat melarikan diri sedemikian cepat ?" "Adakah dalam biara ini terdapat suatu jalan rahasia yang menembus keluar?" tiba2 nyonyah Tio bertanya, Gin Liong seperti disadarkan, Memang di belakang taman tempat kediaman mendiang suhunya terdapat sebuah jalan rahasia yang dapat menembus ke tempat guha persembunyian Ban Hong Liong li dulu. Adakah kedua nona itu menggunakan jalan rahasia itu ? "Tetapi Yok Lan memang mungkin karena tahu akan jalan rahasia itu. Lalu bagaimana dengan Mo Lan Hwa, bukankah dia tak tahu jalan itu ? Lalu bagaimana dia dapat menghilang secara tak berbekas itu ?" Gin Liong membantah pikirannya sendiri, Akhirnya ia memutuskan untuk menyusur Yok Lan ke jalan rahasia itu, Tetapi baru ia hendak bergerak tiba2 muncullah Swat-san Sam-yu atau tokoh gunung Es, yakni Kim-yan-tay atau Tabung-pipa mas Hok To Beng, Hongtiau-siu si Kakek Gila dan Cui-sian-ong si Raja Pemabuk,

"Hai engkoh kecil" seru Hok To Beng ketika melihat Gin Liong agak terkejut melihat kemunculan ketiga tokoh itu. "mengapa engkau terkejut ?" "Tak apa2, Hok-heng, hanya . . " agak tersekat Gin Liong hendak berkata "adakah Hok-toako berjumpa dengan taci Lan Hwa ?" "Sudah tentu" sahut Hok To Beng, "kedatanganku kemari memang disuruh dia" "Disuruh taci Lan Hwa ?" Gin Liong menegas kaget, "Ya," sahut Hok To Beng seraya menyerahkan sebuah sampul surat kepada Gin Liong. Gin Liong cepat membuka dan membacanya : Adik Liong, Rupanya adik Yok Lan memang benar, Terus terang aku memang mencintaimu tetapi kini aku sadar bahwa cinta itu tidak boleh bersifat egois, jika engkau dapat melepaskan adik Lan yang telah dipesan mendiang suhumu, mengapa tak dapat melepaskan diriku ? Bunga gugur mempunyai arti tetapi air mengalir tiada tujuan artinya, Akupun harus tahu diri, Kudoakan engkau hidup bahagia dengan nona Li Kun sampai dihari tua. Aku yang pernah singgah dalam kenangan hatimu: Lan Hwa Habis membaca pandang mata Gin Liong terasa berkunang2, kepalanva pening, Bumi yang di pijaknya serasa ambroll. dia terhuyung2 hendak rubuh. untunglah Hok To Beng cepat menyambarnya. "Mengapa engkau, siauheng?" tegar jago tua itu.

Gin Liong ngelumpruk duduk di tanah dan menyerahkan surat kepada Hok To Leng, Setelah membaca tampak Hok To Leng kernyitkan alis. "Mengapa ?" tegur Hong-tiau-soh. "Celaka, sumoay kita terluka " seru Hok To Beng "Siapa yang mencelakai ?" Hong-tiau-soh lalu memandang kearah Gin Liong dan menegur, "he apakah engkau yang telah mencelakai sumaoy-ku? Habis berkata ia terus menghantam. Memang Kakek Gila itu terlalu aneh wataknya dan sayang sekali kepada Mo Lan Hwa. Mendengar sumoaynya terluka ia menduga tentulah Gin liong yang mencelakai. Maka tanpa banyak urus, ia terus menghantam. Hok To Leng terkejut ia hendak mencegah tetapi tak keburu lagi. Bluk, dada Gin Liong termakan pukulan. Rupanya pemuda itu tak mau menangkis atau menghindar dan seolah menyerahkan diri. ia terpental beberapa langkah lalu muntah darah.,, "Gila" bentak Hok To Beng seraya loncat menolong Gin Liong, "engkau memang kakek gila Mengapa engkau memukulnya ?" "Dia melukai sumoay " "Siapa bilang ?" bentak Hok To Beng, "aku hanya mengatakan sumoay kita terluka tapi bukan terluka tubuhnya melainkan terluka hatinya. "Ah . . " seru Hong-tiau-soh seraya bergopoh menghampiri Gin Liong, "maafkan aku, siau-heng." "Hong jiko tak bersalah" kata Gin Liong, "memang aku sudah tak ingin hidup di dunia lagi, Aku banyak berhutang dosa kepada orang sehingga membikin patah hati mereka."

"Liong-ji !" tiba2 nyonyah Tio tua berseru, "jangan engkau berkata begitu, Bagaimana pertanggung jawabmu terhadap Li Kun ?" Tanpa menunggu penyebutan Gin Liong, nyonya Tio Tua membentak kepada Hong-tia-soh: "He kakek gila, kalau Liong-ji sampai kena apa2 jangan engkau tanya dosa, tentu aku akan mengadu jiwa dengan engkau." Nyonyah Tio tua tahu bahwa Swat-san Sam-yu itu termasuk tokoh persilatan yang diagungkan kesaktiannya, Tetapi ia tak gentar. "Aku tak mengerti duduk perkaranya" bantah Hong-tiansoh maka aku telah kesalahan tangan untuk itu aku sudah meminta maaf dan bersedia untuk menolong jiwanya, Tetapi eh. mengapa engkau begitu garang sekali ? Andaikata aku tak merasa bersalah, kata2mu itu cukup menjadi alasan untuk menggerakkan tanganku menghajar mulutmu yang lancang itu." Karena sudah terlanjur berkata keras nyonya Tio tuapun tak mau mundur. Jawabnya: "Hm kudengar Swat-san Samyu diagungkan sebagai dewa persilatan Tetapi aku si nenek tua Tio, takkan mundur menghadapi mereka . ." "Ha, ha, nyonya tua, engkau hendak menantang aku ?" seru Hong-tian-soh. "Aku tak menantang tetapi aku tak gentar apabila harus mempertahankan kehormatanku terhadap orang yang menghina aku." "Hong tiau-soh, maukah engkau menutup mulutmu" tiba2 Hok To Beng menyeletuk, Kemudian ia berkata kepada nyonya Tio tua: "Nyonyah Tio sebenarnya bagaimanakah hubunganmu dengan adik ini sehingga engkau begitu mati2an hendak membela jiwanya ?"

Nyonya Tio tua menganggap kata2 Hok To Beng itu beralasan ia menerangkan bahwa Gin Liong itu anak angkatnya: "Di samping itu diapun calon suami anakku perempuan . ." "Hai..." tiba2 Cui-siang-ong si Dewa Pemabuk menjerit "dia calon menantumu ? Pantas, pantas sumoayku terluka hatinya. Kiranya dia sudah menjadi calon menantumu, hmm . ." "Eh, apa hubungannya dia calon menantuku dengan engkau ?" nyonya Tio tua marah juga. "Sudah tentu mempunyai hubungan," sahut Cui-sian-ong tak kurang getasnya, "adalah karena dia engkau rebut hendak engkau jodohkan pada anak perempuanmu, maka sumoayku sampai terluka hatinya, Jadi jelas engkaulah yang menjadi gara2 dari hancurnya hati sumoayku !" "Apa katamu2 Aku merebut putera angkatku? Andai kata benar, apa pedulimu ?" sebenarnya nyonya Tio tua bermaksud juga hendak menjodohkan Mo Lan Hwa kepada Gin Liong tetapi demi mendengar kata2 yang kasar dari Cui-sian-ong ia marah sekali. "Jika begitu, engkau harus kuhajar !" seru Cui-sian-ong seraya maju menghampiri. Nyonya Tio tuapun bersiap-siap. Tiba2 terdengar derap kuda lari mendatangi dan tak berapa lama, muncullah enam penunggang kuda ke biara Leng-hun-si. Dua orang penunggang kuda yang paling depan, terdiri dari seorang pemuda cakap yang gagah, naik kuda hitam dan seorang pemudi cantik naik kuda putih, sementara empat orang dibelakangnya terdiri dari lelaki setengah tua.

"Itulah Siau siauhiap, koko !" tiba2 gadis berkuda putih itu berseru seraya menunjuk kearah Gin Liong yang masih duduk pejamkan mata, wajahnya pucat. Sepasang muda mudi dan keempat pengiringnya serempak melayang turun dalam gerakan yang gesit dan ringan, kedua muda mudi itu langsung menghampiri ke tempat Gin Liong. Kemunculan rombongan penunggang kuda itu telah menghentikan ketegangan diantara Cui-sian-ong dengan nyonya Tio tua. "Siau sauhiap, kenapa engkau ?" teriak pemuda cakap itu seraya lari menghampiri Gin Liong. "Jangan memegangnya !" bentak Hong-tiau-soh dengan deliki mata, pemuda dan pemudi itu terkejut. Mereka berpaling memandang Hong-tiau soh dan menegurnya "Siapakah lo-tiangke ini ?" "Pantasnya aku yang harus bertanya, mengapa malah ditanya ?" Hong-tiau-soh menyindir. "Apa yang hendak lo-tiangke tanyakan ?" pemuda itu rupanya berperangai sabar. "Siapa engkau dan mengapa engkau hendak mengganggu engkoh kecil itu ?" tanya Hong-tiau-soh. "Dia adalah Siau Gin Liong sauhiap, kenalanku, Dia sudah berjanji hendak singgah digunungku tetapi sampai sekian lama belum muncul kemudian kami mendapat berita bahwa dia sudah kembali ke biara Leng-hun-si disini. Maka kamipun segera menjenguknya." "Dimana gunungmu dan siapakah namamu ?" tanya Hong-tiau-soh.

Si gadis merah mukanya. ia tak puas melihat sikap Hong-tiau-soh yang tak memandang mata kepada si pemuda. Tetapi untunglah pemuda itu mendahului berseru: "Aku tinggal di gunung Ke-kong- san . . .." "Itulah markas Thian-leng-kau," cepat Hong-liau-soh menukas. "apakah engkau orang Thian-leng-kau ? siapakah namamu ?" "Ya." pemuda itu mengiakan, "aku Honghu Ing dan adikku Honghu Yan ini memang anggauta Thian-leng-kau . ." "Honghu Ing ?" tiba2 Hok To Beng yang sejak tadi tak bicara, saat itu membuka mulut. Pemuda itu mengiakan. "Oh, tak kira kalau ketua Thian-Ieng-kau yang bernama Honghu Ing itu ternyata masih begini muda" seru Hok To Beng. "Ah. lo-tiangke terlalu memuji " Honghu Ing merendah. Memang Thian-leng-kau walaupun baru berdiri tetapi namanya sudah cukup dikenal orang, Honghu Ing dan Honghu Yan termasyhur sebagai sepasang kakak beradik yang lihay. Ketiga Swat-san Sam-yu dan nyonyah Tio tua terkejut, Mereka tak menyangka bahwa pimpinan Thian-leng-kau yang begitu termasyhur ternyata masih seorang pemuda dan pemudi yang muda belia dan cakap. Kemudian Honghu Yan balas bertanya, setelah mendengar bahwa ketiga lelaki tua itu ternyata Swat-san Sam Yu, iapun buru2 menghaturkan maaf, demikian juga kepada nyonyah Tio. setelah saling berkenalan, Honghu Ing memberi hormat juga.

"Hok cianpwe" kata Honghu Ing, "apakah yang telah terjadi pada Siau sauhiap ?" Hok To Beng menjelaskan kesemuanya, Mendengar itu kejut Honghu Ing bukan kepalang. "Jika begitu, aku harus berusaha untuk menemukan nona Yok Lan lagi" kata Honghu Ing cemas. "Aku ikut koko" seru Honghu Yan. Berpikir sejenak, Honghu Ing berkata: "Jangan lebih baik engkau disini merawat Siau sauhiap yang terluka itu. Setelah itu ajaklah dia pulang ke Ke-kong-san" Nyonyah Tio tua mendesah : "Soal diri Liong-ji, puteraku angkat itu, akulah yang wajib merawatnya. Akan kubawa dia pulang ke gunung Mo thian-san." Honghu Yan terkesiap dan memandang ke arah kokonya, Honghu Ing berkata: "Jika demikian setelah engkau beri pertolongan seperlunya, engkau boleh mengantarkan Siau sauhiap ke gunung Ke-kong-san" "Ya, jika nona suka, silahkan mengunjungi gunungku, Anak perempuan. Li Kun tentu gembira sekali menerima kedatangan nona," kata nyonyah Tio tua. Karena sikap nyonya Tio yang ramah, Hong hu Yanpun mau menerima undangan itu, Diam2 ia pun hendak melihat bagaimanakah gadis Li Kun itu dan apakah mempunyai hubungan dengan Gin Liong. Setelah memasrahkan adiknya, Honghu Ing segera mengajak ke empat thancu pengiringnya tinggalkan tempat itu. "Jika begitu. hayo kita cari sumoay" seru Hong-tiau-soh seraya melangkah pergi, Terpaksa Hok To Beng dan Cuisian-ong mengikuti jejak mereka.

Setelah orang2 itu pergi. barulah nyonyah Tio tua menghampiri Gin Liong, ujarnya : "Liong-ji, jangan engkau kelewat berduka, Aku akan mengatur urusanmu sehingga beres, Takkan ada pihak yang rugi dan tersiksa hatinya." Honghu Yan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia ingin tahu hubungan Gin Liong dengan Tio Li Kun, Dengan tutur kata yang halus, ia minta keterangan kepada nyonyah Tio tua tentang keadaan Gin Liong. Nyonya Tio tua menuturkan dengan terus terang apa yang telah terjadi pada diri Gin Liong pada akhir penuturannya ia menambahkan bahwa tiada keputusan yang lebih bijaksana daripada menjodohkan ketiga nona itu kepada Gin Liong. Ketiga nona itupun tentu tak keberatan mengingat hubungan mereka sangat akrab seperti saudara sendiri. Diam2 Honghu Yan hancur hatinya, Dengan keadaan itu, jelas ia tiada mempunyai harapan lagi untuk menjadi teman hidup Gin Liong, Namun ia memutuskan bahwa ia harus berani berkorban juga. Ia harus merawat pemuda itu sampai sembuh baru nanti meninggalkannya dengan membawa hati yang hancur. "Liong-ji" kata Nyonyah Tio tua. "mari kita pulang ke Mo-thian-san biar mamah dan saudara2 dapat merawat lukamu." Gin Liong saat itu sudah tampak lebih baik keadaannya, ia menghela napas: "Mah, hatiku masih bingung. Ijinkanlah aku untuk beberapa hari beristirahat disini, Soal lukaku, kiranya tak menjadi soal. Harap mamah bersama nona Honghu pulang dulu dan tolong sampaikan kepada taci Kun supaya baik2 menjaga diri. ." dalam mengucap kata2 terakhir itu, tampak mata Gin Liong berlinang2 dan suaranya tak lampias.

Dalam beberapa saat saja, Gin Liong sudah banyak berobah, jika tadi ia seorang pemuda yang penuh semangat dan gesit, saat itu sudah seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya, "Liong-ji, engkau harus percaya kepadaku" kata nyonya Tio tua pula. "aku tentu akan mengatur semua urusan itu sampai menyenangkan hatimu" "Terima kasih mah" kata Gin Liong dengan nada sukar ditebak. "Baiklah, Liong-ji" akhirnya nyonya Tio tua berkata, "aku akan mengajak nona Honghu pulang dulu. Tiga hari kemudian apabila engkau belum pulang, akan kusuruh engkohmu datang menjemput kemari." Setelah kedua wanita itu pergi, Gin Liong menghela napas panjang, ia merasa telah kehilangan diri, kehilangan pegangan, ia mencintai Yok Lan tapi ia telah mempunyai kewajiban terhadap Li Kun. iapun tahu bahwa Mo Lan Hwa dan Honghu Yan juga menaruh hati kepadanya, Apabila ia menolak mereka tentu akan patah hati dan menderita batin. Namun kalau ia menerima, tak mungkin ia dapat menerima semuanya. Sampai lama ia duduk tepekur menyalurkan pernapasan dan mengheningkan cipta. Entah berselang berapa lama, ketika membuka mata ternyata hari sudah larut malam. Seluruh penjuru gelap dan sunyi senyap. Pelahan2 ia berbangkit menuju ke tempat ruang penyimpan jenasah suhunya. Sebuah peti mati diletakkan di tengah ruangan, hanya dipasangi penerangan sebatang lilin. Pelahan2 ia menghampiri ke muka peti dan berlutut, ia pejamkan mata se-olah2 hendak berbicara dengan arwah suhunya.

"Suhu, murid bingung menghadapi persoalan hidup murid," katanya dalam menyampaikan doa "mohon suhu suka memberi petunjuk kepada murid, agar murid dapat melaksanakan semua pesan dan harapan suhu . ." Namun sampai lama, tak pernah Gin Liong merasa menemukan jawaban, Tiba2 ia teringat akan pesan Ban Hong Liong-li untuk meletakkan gumpal rambutnya yang telah dipotong disisi jenasah suhunya, Maka iapun segera melakukannya. Setelah selesai, pilihannyapun teringat akan Ban Hong Liong li yang bernasib malang itu, ia heran mengapa suhunya begitu getas terhadap wanita. "Ah . ." tiba2 ia tersentak dari lamunan, Ada sesuatu dalam pertanyaan itu yang memancarkan sesuatu. Dan sesuatu itu dirasakan sebagai jawaban dari suhunya terhadap pertanyaan yang di sampaikan dalam doanya tadi. "Ah, tentulah suhu seorang yang berbudi luhur. Dia tahu kedua wanita itu sama2 mencintainya, jika ia menerima yang satu, yang lain tentu akan menderita. Maka lebih baik ke-dua2nya tidak sama sekali maka suhu rela melepaskan keduniawian dan mensucikan diri sebagai seorang paderi. ." berkata Gin Liong seorang diri. "Tetapi ah, mengapa tidak kedua wanita itu diperisteri semua ? Bukankah hal itu akan membahagiakan semua pihak ?" ia membantah pikirannya sendiri. Gin Liong tak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun ia percaya bahwa suhunya itu seorang lelaki jantan yang berbuat luhur, bijaksana dan berhati welas asih. Tentu ada sebabnya mengapa dia tak mau melakukan hal itu, Kemungkinan besar, dia hanya menginginkan satu tetapi tak ingin menyakiti yang lain.

"Ah, keadaan suhu terbalik dengan diriku, jika memang mereka mau menerima, akupun terpaksa harus menerima mereka demi membahagiakan mereka semua. Tetapi ternyata Lan-moay rela berkorban. Dia ingin mengikuti jejak suhu, Juga Mo Lan Hwa mengikuti langkah Lanmoay, Ah, jika gadis2 itu berani berkorban demi kebahagianku, mengapa aku sebagai seorang lelaki tak berani berkorban demi mereka ?" - jawaban itu makin menonjol dan mengendap sebagai suatu keputusan "Baik, aku akan mencari Lan-moay dan memberi penjelasan kepadanya, Tetapi jika dia tetap hendak meninggalkan keduniawian akupun akan masuk menjadi paderi juga . . ." tiba2 ia hentikan pikirannya ketika teringat akan Li Kun yang telah mengandung bibit anaknya. jika ia mengambil keputusan begitu, anak itu kelak akan menderita batin seorang anak tanpa ayah. "Ah . .. ." ia mengeluh "anak itu tak berdosa apa2, mengapa dia harus memikul kesalahanku?" Setelah agak lama merenung, akhirnya ia mengambil keputusan, Pertama, ia akan mencari Yok lan? Kalau bertemu ia akan memberi penjelasan. Apabila Yok Lan menerima, segala apa akan berlangsung seperti yang dikatakan nyonya Tio tua. Tetapi kalau Yok Lan menolak, iapun akan masuk gereja menjadi pendeta. Dan demikian pula apabila ia tak berhasil menemukan sumoaynya itu. Demi menyelamatkan muka Li Kun, demi kepentingan anak itu, ia harus kembali kepada Li Kun. Setelah anak itu lahir, barulah ia akan meninggalkan mereka dan mengasingkan diri jauh dari pergaulan umum. "Ya, demikianlah keputusan yang harus ku ambil," akhirnya ia segera tinggalkan gunung Tiang-pek-san untuk

memulai pencariannya kepada Yok Lan." Tetapi dunia begitu luas, kemanakah ia harus mencarinya ? Yok Lan sejak kecil sudah sebatang kara, tak mungkin dia menuju ke tempat sanak keluarganya, Yok Lanpun tak mempunyai sahabat kenalan diluaran. Satu-satunya tempat yang kemungkinan besar ditujunya ialah ke daerah Biau mencari Ban Hong Liong-li. Ya, ia akan menuju ke daerah Biau. Ternyata dugaannya memang benar. Setelah susah payah tiba didaerah Biau dan menyelidiki akhirnya ia dapat menemukan tempat kediaman Ban Hong Liong-li disebuah puncak bukit yang dikelilingi pemandangan alam yang permai. Disitu terdapat sebuah biara disebut Bang-hong kwan. di ketuai oleh rahib Ban Hong sin-ni. Pertemuan itu memberi kesan yang mengejutkan sekali pada Gin Liong, Tampak wajah Ban Hong Liong-li sayu tapi tenang, Terutama sinar matanya terasa sejuk, Suatu pertanda bahwa wanita itu sudah menemukan ketenangan hatinya dalam melewati sisa hidupnya. "Oh, engkau Liong-ji" seru Ban Hong sin-ni dengan tenang, "bukankah engkau hendak mencari Lan-ji ?" "Benar. cianpwe" kata Gin Liong. "apakah Lan-moay berada disini ?" Ban Hong sin-ni mengangguk. Setelah menghaturkan terima kasih bahwa Yok Lan sudah diterima oleh Ban Hong Liong-li, Gin Liong meminta ijin untuk menemui Yok Lan. Ban Hong sin-ni menghela napas: "Memang hanya yang mempunyai jodoh baru dapat diterima Hud, Lan-ji telah menemukan dunianya, kehidupan dan kebahagiannya disini . ."

"Cianpwe " Gin Liong berteriak kaget "adakah . . adakah Lan-moay sudah . . mengikuti jejak cianpwe ?" "Anak itu memang keras sekali hatinya" kata Ban Hong sin-ni, "pada hari itu entah mengapa aku ingin ke Tiangpek-san. Terus terang aku ingin melihat wajah suhumu yang terakhir kalinya sebelum aku memasuki kehidupan sebagai seorang rahib." Gin Liong menghela napas. Tetapi di tengah jalan aku bertemu dengan gerombolan penyamun yang telah menawan seorang gadis, Aku terkejut karena gadis itu bukan lain adalah Yok Lan. Segera kuhajar kawanan penyamun itu dan kutolong Lan-ji. Lan ji mengatakan bahwa ia hendak ke daerah Biau mencari aku. Sudah tentu aku terkejut dan meminta keterangan apa yang telah terjadi pada dirinya. Dengan terus terang ia menceritakan tentang kisah hidupnya bersama engkau dan memutuskan akan masuk menjadi rahib, Aku terkejut dan berusaha menasehati supaya jangan ia meneruskan keinginannya. Dari halus sampai kasar, tetap anak itu menolak, jika aku tak mau menerimanya, ia akan mencari biara di lain tempat. Akhirnya kululuskan juga permintaannya itu. Kubawanya pulang kemari dan pada hari itu juga ia telah memotong rambutnya resmi menjadi rahib" Kembali Gin Liong terkejut. "Dimanakah Lan-moay saat ini ?" tanya Gin Liong. "Lebih baik engkau jangan menemuinya, Liong-ji. Apa guna engkau bertemu jika pertemuan itu hanya akan membawa kenangan yang pahit? Saat ini dia sedang melakukan semedhi menutup diri di ruang semedhi. Dia baru akan keluar setelah mencapai penerangan batin, ia titip

pesan kepadaku, janganlah engkau menemuinya lagi demi ketenangan hatinya dan kebahagianmu, Liong-ji." Gin Liong tak dapat berkata apa2 kecuali mengucurkan airmata: "Cianpwe, berilah petunjuk ke pada Gin Liong, bagaimana aku harus hidup?" Tenang2 Ban Hong sin-ni menjawab: "Hiduplah menurut kodrat hidupmu. Jangan paksakan dirimu melakukan hal yang bukan menjadi garis hidupmu. Kembali dan menikahlah dengan nona Li Kun, demi kepentingan anakmu." Gin Liong termenung2. Beberapa saat kemudian baru ia berkata: "Baiklah, cianpwe aku hendak melakukan petunjuk itu. Tetapi tolong cianpwe sampaikan pada Lan-moay, bahwa setelah kewajibanku sebagai seorang suami dan ayah selesai aku tentu akan menyusul jejak Lan-moay . ." "Liong-ji" cepat Ban Hong sin-ni berseru, Tetapi Gin Liong setelah memberi hormat terus lari keluar. Ban Hong sin-ni menghela napas: "Dunia memang suatu derita, Aku dan suhunya harus menderita sepanjang hidup, kini mereka berduapun akan menuju kearah itu juga, Entah berapa ratus ribu muda mudi yang akan tergelincir dalam lembah penderitaan itu . ." Kembali ke gunung Mo-thian-san, ternyata Honghu Yan sudah pulang. Gin Liong melaksanakan rencananya juga, ia menikah dengan si jelita Li Kun dan tinggal di gunung Mo Thian san. Pada suatu hari Swat-san Sam-yu berkunjung ke gunung Mo-thian-san. Ketiga tokoh itu menerangkan bahwa sumoay mereka, Mo Lan Hwa, telah mensucikan diri sebagai seorang rahib.

"Apakah toako bertiga akan menuntut balas kepadaku ?" tanya Gin Liong, "Tidak, siau-hengte" kata Hok To Beng, "hal itu memang menjadi kehendak sumoay sendiri, Begitu pula dia minta dengan sangat agar kami bertiga jangan melakukan tindakan apa2 ketiga jangan melakukan tindakan apa2 kepadamu. Semua kesalahan adalah tanggung jawab sumoay sendiri." Gin Liong menghaturkan terima kasih, Setelah beristirahat beberapa waktu, Swat-san Sam Yu pun tinggalkan gunung Mo-thian-san. Beberapa bulan kemudian, Li Kun telah melahirkan seorang bayi laki2 yang diberi nama Hui Seng atau Cahaya Hidup. Setelah anak itu genap berumur satu tahun, tiba2 seluruh penghuni gunung Mo-thian-san gempar dan bingung. Gin Liong telah lenyap dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuk nyonya Tio tua. Isi surat mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan seorang ayah, Sekarang dia hendak menunaikan kewajibannya terhadap diri sendiri. ia akan mencari penerangan batin dan tinggalkan kehidupan ramai. ia minta maaf kepada nyonyah Tio tua, Li Kun dan puteranya. Walaupun nyonyah Tio tua mengerahkan anak buah Mo-thian-san dan beberapa puteranya, untuk mencari jejak Gin Liong namun sia2 saja. Gin Liong seperti hilang lenyap ditelan bumi. Beberapa tahun kemudian, dunia persilatan mulai ramai membicarakan tentang diri seorang paderi muda yang memiliki ilmu silat tinggi.

Paderi muda itu sering muncul dan setiap kemunculannya tentu menimbulkan kegemparan Jago golongan hitam yang jahat, banyak yang cacad kehilangan ilmu kepandaiannya sedemikian besar perbawa dari paderi aneh itu, hingga orang persilatan gentar. Tunas2 muda yang menjadi harapan para cianpwe persilatan, karena soal asmara telah tenggelam dalam laut kesunyian. Namun mereka masih memancarkan pengaruh untuk menjaga kelangsungan dan ketenangan dunia persilatan. ^o^T A M A T^o^

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->