FENOMENOLOGI

1.

Pengertian

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon (gejala/fenomena). Adapun studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadaran terdalam para subjek mengenai pengalaman beserta maknanya. Sedangkan pengertian fenomena dalam Studi Fenomenologi sendiri adalah pengalaman/peristiwa yang masuk ke dalam kesadaran subjek. Fenomenologi merupakan ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi mempelajari suatu yang tampak atau apa yang menampakkan diri. “fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri. “Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: “saya melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis. Husserl juga mengungkapkan tentang reduksi transendental. Reduksi ini harus dilakukan menurut Husserl lebih dikarenakan karena Husserl menginginkan fenomenologi menjadi suatu ilmu rigous. Ilmu rigous tidak boleh mengandung keraguan, atau ketidak pastian apapun juga. Ucapan yang dikemukakan pada ilmu rigorous harus bersifat “apodiktis” (tidak mengizinkan keraguan). Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolut. Setiap benda material selalu diberikan dalam bentuk profil-profil. Misalnya dari sebuah lemari yang ada di hadapan saya, saya hanya dapat melihat depannya saja tanpa dapat mengetahui bentuk depannya, dan ketika saya ingin melihat sisi depannya, maka saya harus melihatnya dari sisi yang lainnya, namun setelah itu saya tidak bisa melihat sisi depan dari profil-profil lain. Dengan cara inilah benda-benda material tampak bagi saya. Setiap benda material tidak pernah diberikan kepada saya menurut segala profil-profilnya, secara total dan absolut. Cara realitas material tampak bagi saya bersikap sedemikian rupa, sehingga tidak dapat ditemukan pernyataan-pernyataan apodiktis dan absolut tentangnya. Karena alasan-alasan itulah fenomenologi sebagai ilmu rigorous harus mulai dengan mempraktekkan “reduksi transendental”. Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan penje lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edid etik dalam linguistik, fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberada an, penggambaran gejala (refleksi), transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial. fenomenologi

Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesa daran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting. Bagi

fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran. Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian. Keter libatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari hari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa penger tian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.

1.

Sejarah Fenomenologi

Pada masa sebelum ada cara berpikir fenomenologis, cara berpikir manusia dibagi dua kutup yang berlawanan 180 derajat yaitu: idealisme dan realisme. Kaum penganut idealisme menilai benda-benda maupun peristiwa yang terjadi disekitarnya berdasarkan ide-ide yang dikembangkan dalam pikirannya. Kemudian ide-ide ini membentuk semacam “frame of reference” yang secara subjectif dipahami sebagai kebenaran. Dalam memandang dunia sekitarnya seorang idealist akan memakai acuan “frame of reference” yang merupakan ide-ide dalam pikirannya. Oleh karena itu seorang idealist biasanya juga sangat subjectif dalam menilai dunia sekitarnya. Sumbangan idealisme kedunia adalah adanya penemuan-penemuan baru, ide-ide baru, karya besar di bidang sastra, dll. Sedangkan kebalikannya kaum penganut realisme, melihat benda-benda maupun sesuatu peristiwa yang ada sesuai dengan keadaan nyata benda tersebut yang secara nyata bisa diraba, diukur atau punyai nilai tertentu. Kalau tidak bisa dibuktikan bahwa benda itu nyata dan punya nilai atau ukuran tertentu maka benda itu tidak pernah ada. Oleh karena itu penganut realisme cenderung kepada atheisme yang tidak percaya adanya Tuhan karena Tuhan tidak bisa dilihat secara nyata. Realisme sangat berpengaruh di Eropa pada masa revolusi industri dan sumbangannya kedunia adalah kemajuan “science & technology”. Pada sekitar awal abad ke 20, walaupun revolusi industri terus bergerak, beberapa filsuf di Eropa seperti Edmund Hursell (1859 - 1938) mulai meragukan kehandalan cara berpikir realisme yang seolah-olah tidak ada satupun dialam ini yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. Apapun yang telah ditemukan, persoalan-persoalan dasar manusia tidak pernah bisa diselesaikan. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan alam. Edmund Hursell memperkenalkan fenomenologi yang belakangan dikembangkan menjadi eksistensialisme. Cara berpikir fenomenologi ditekankan dengan pengamatan terhadap gejala-gejala dari suatu benda. Kalau seorang penganut realisme menilai benda dengan cara melihat bentuk, ukuran dan nilai suatu benda, maka seorang penganut fenomenologi melihat benda dengan gejala-gejala yang muncul dari benda tersebut. Benda itu ada berdasarakan gejala-gejala yang timbul dari benda itu sendiri, kita hanya menangkap gejalagejala tersebut. Benda tersebut bercerita tentang dirinya dengan memancarkan gejala-gejala, dengan menangkap gejala tersebut kita bisa menangkap esensi benda tersebut. Semua benda punya pancaran gejala-gejalanya sendiri-sendiri, kita akan bisa lebih memahami benda tersebut apabila kita menganggap benda sebagai subjek yang menceritakan diri sendiri melalui gejala-gejala yang memancar darinya. Contohnya: kalau kita melihat kursi, kursi itu sendiri memancarkan gejala-gejala bahwa dia itu kursi bukan meja. Kita hanya perlu menangkap gejala yang muncul dari kursi tersebut kemudian kita tidak akan salah bahwa dari gejala-gejala yang muncul dari kursi itu bahwa kebenarannya dia itu kursi, bukan benda yang lain. Jelas cara berpikir ini adalah cara berpikir yang radikal berbeda dengan cara berpikir idealisme maupun realisme. Idealisme memahami alam sekitarnya melalui manusia sebagai subject dengan ide-ide pikirannya, benda disimpulkan sepenuhnya tergantung dari ide-ide pikiran. Realisme memahami benda kalau benda itu nyata berdasarkan ukuran atau nilai. Sedangkan fenomenologi menganggap object sebagai subject yang bercerita kepada kita melalui gejala-gejala yang timbul darinya.

1.

Fenomenologi Sebagai Metode Penelitian

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Berikut ini adalah sedikit uraian tentang fenomenologi sebagai metode penelitian; Fokus Penelitian Fenomenologi :

• •

Textural description: apa yang dialami subjek penelitian tentang sebuah fenomena. Structural description: bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya.

Teknik Pengumpulan Data Fenomenologi :

• •

Teknik “utama” pengumpulan data: wawancara mendalam dengan subjek penelitian. Kelengkapan data dapat diperdalam dengan : observasi partisipan, penulusuran dokumen, dan lain-lain.

Tahap-Tahap Penelitian Fenomenologi :

• • •

Pra-penelitian Menetapkan subjek penelitian dan fenomena yang akan diteliti Menyusun pertanyaan penelitian pokok penelitian

Proses Penelitian Fenomenologi :

Melakukan wawancara dengan subjek penelitian dan merekamnya.

Analisis Data Fenomenologi :

• • • • •

Mentranskripsikan rekaman hasil wawancara ke dalam tulisan. Bracketing (epoche): membaca seluruh data (deskripsi) tanpa prakonsepsi. Tahap Horizonalization: menginventarisasi pernyataan-pernyataan penting yang relevan dengan topik. Tahap Cluster of Meaning: rincian pernyataan penting itu diformulasikan ke dalam makna, dan dikelompokkan ke dalam tema-tema tertentu. (Textural description, Structural description) Tahap deskripsi esensi: mengintegrasikan tema-tema ke dalam deskripsi naratif. Kritik Terhadap Fenomenologi

1.

Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif. Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan

ataupun ilmu pengetahuan. merupakan sesuatu yang absurd. Nuansa-nuansa bahasa bukanlah merupakan hal yang baru. Bahasa sebagai suatu sarana komunikasi antar individu dapat juga tidak berarti sejauh mana orang yang berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Hermeneutik dan Bahasa Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. tetapi bermuatan nilai (value-bound). tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Dibalik kelebihan-kelebihannya. sebagaimana juga pada pengalaman-pengalaman imajinasi-imajinasi untuk menggambarkan sesuatu. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free).G. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut.pendekatan fenomenologi. sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini. fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya. yang hanya berlaku pada kasus tertentu. Aristoteles memisahkan antara homonim. dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama. Dalam hal-hal seperti ini. baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Apakah Hermeneutik itu ? Definisi Secara etimologis. yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. namun untuk pertama kalinya bahasa menjadi pusat pembicaraan filosofis H. mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. Sebuah pengalaman mental atau konsep atau gambaran (image) pada dasarnya kaya akan corak dan warna serta mempunyai nuansa yang beraganeka ragam. orang kemudian biasanya menurunkan arti kata-kata berdasarkan konteks yang ada. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios. terutama ilmuwan sosial. Dalam bentuk tertulis tidak hanya ejaan dan rangkaian huruf-huruf yang berbeda namun kesamaan bunyi juga akan muncul ( ekiuvokal) seperti misalnya kata genting yang berarti “gawat” atau “atap”atau “sempit”. tidak ada satupun manusia yang mempunyai. 1. Menurut Aristoteles. Untuk menanggulangi halhal semacam ini maka hermeneutik kiranya akan berperan penting. fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan. berpikir itu ialah melalui bahasa dapat menjadikan orang berbicara dan menulis dengan bahasa. Pada hermeneutik terdapat pengalaman-pengalaman mental yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang. Dengan demikian. Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Selanjutnya. tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud. dan kata-kata turunan. 1. yang sama dengan yang lain. Gadamer yang . Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Dengan ungkapan lain. Sebagai akibatnya. Hermeneutik akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai. baik dari adat. serta dalam waktu tertentu. Peralihan dari pengalaman mental dalam kata-kata yang di ucapkan atau ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk mengerut atau menyempit. yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsifkan. Hermeneutik Di dalam tradisinya. situasi dan kondisi tertentu. sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. Hal ini dipertegas oleh Derrida. Kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digenaralisasi. sinonim. agama. sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani. 1.

Ia memandang interpretasi untuk mengerti. arti atau makna yang diberikan pada objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Orang yang mengenal interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks lalu ia harus meresapi isi teks sehingga yang pada mulanya yang lain kini menjadi aku penafsir itu sendiri. demikian yang di katakanoleh Wilhelm Dilthey. tempat. keseluruhan filsafat adalah “interpretasi”. Melalui bahasa kita berkomunikasi. melainkan bersifat alamiah.Yang dimaksudkan Gadamer adalah bahwa kata-kata atau ungkapann secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan. Dengan kata lain setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami dalam situasinya. Untuk dapat membuat interpretasi. dapat dipastikan ia tidak akan mungkin benci terhadap Negara itu. Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Namun keadaan lebih dahulu mengerti ini bukan di dasarkan pada penetuan waktu. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Quran. Tradisi dan juga kebudayaan baik dari warisan nenek moyang itu sebagai suatu bangsa yang kesemuanya itu diungkap dalam bahasa yang ditulis pada daun lontar. Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu dimana mausia sendiri mengalami atau menghayatinya. tetapi melaui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. Sebagai contoh misalnya pemahaman dan penafsiran anak terhadap kata-kata sedikit banyak tergantung dari latar belakang anak itu sendiri.. manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat dimana ia berada. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi serentak atau bersama-sama. keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu. Betti mencoba memahami ‘mengerti “juga menurut gayanya sendiri. bahasa tidak boleh boleh kita pikirkan atau kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. Penerapan Hermeneutik Disiplin ilmu yang pertama kalinya banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat triadik’(mempunyai tiga segi yang saling berhubungan ). Subtilitas Intellegendi (ketepatan pemahaman) dan Subtilitas Explicandi (ketepatan penjabarannya) adalah sangat relevan bagi hukum. orang terlebih dahulu harus mengerti atau memahami. Bahasa adalah perantara berbagai hubungan umat manusia. Gadamer menyatakan bahwa mengerti berarti mengerti melalui bahasa. Aristoteles menyatakan:Amicus Plato sed magis amica veritas ( Plato adalah seorang sahabat tetapi sahabat yang lebih akrab lagi adalah kebenaran. Heidegger menjelaskan hal . Sebab pada kenyataannya. 1. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat dan yang tersirat atau bunyi hukum dan semangat hukum. Interpretasi yang benar atas teks sejarah memerlukan hermeneutik.”pembahasan”seluruh isi alam semesta kedalam bahasa kebijaksanaan manusia. sebab segala sesuatu itu sudah termuat dalam lapangan pemahaman. Cara Kerja Hermeneutik Pada dasarnya semua objek itu netral. Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. maka kita mampu memahami segala sesuatu. Dalam bidang filsafat pentingnya hermeneutik tidak dapat ditekankan secara berlebihan. sebab objek itu adalah objek. kitab-kitab Veda dan Upanished supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik. bila kita mampu memahami ssesuatu bahasa. Darisinilah kita lihat keunggulan hermeneutik. Bahasa adalah medium yang tanpa batas. ataupun situasi yang mewarnai arti sebuah peristiwa bahasa. sebab pada mulanya objek itu menurunkan maknanya atas dasar situasi objek. Hermeneutik adalah cara baru untuk “bergaul”dengan bahasa. semuanya itu adalah sama saja. Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. 1.menulis sebagai berikut: bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan -akan merangkul seluruh konstitusi tentang status manusia di dunia ini sebagai bagian yang seakan-akan tidak terbedakan dari dunia ini. yang membawa segala sesuatu di dalamnya tidak hanya kebudayaan yang telah disampaikan pada kita melalui bahasa melainkan juga sesuatu tanpa ada kecualinya. kitab Taurat.. Henri Bergson menyatakan bahwa bila seseorang memahami bahasa sesuatu Negara. Arti makna dapat kita peroleh tergantung dari banyak faktor : siapa yang berbicara. Katakata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud. bahasa menjelmahkan kebudayaan manusia. Sebab. Menurut Gadamer.

yaitu : sejarah. 3. seperti Friedrich ash dan Friedrich August Wolf. Seandainya ada rasio 1-1 antara pikiran dan ucapan kita. historis dan retorik. Inilah alasannya Schleiermacher menyatakan bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita.tama buah pikiran kita mengerti. Argumentasi Hermeneutik dalam ruang lingkup lebih luas dapat dijabarkan sebagai setiap objek yang tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama atau sebagaimana yang di sebut oleh Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. Pengaruh F. maka berbicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir . Sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang menangkap ” setitik cahaya ” . Manusia tidak mengontrol melainkan dikontrol oleh situasi. Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesusutraan dan lingualistik. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. 1974 : 43 ). pemahaman hanya yterdapat didalam kedua momen yang saling berpautan satu sama lain. hermeneutik dan kritik studi persiapan untuk filologi ( ilmu bahasa ). interpretasi historis dengan fakta waktu. Inilah bahaya yang sering kita alami yaitu kita sering membuat kesalahan dalam linguistik. Scleiermacher menulis sebagai berikut : Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu sama lain. yang mendefinisikan hermeneutik sebagai seni menemukan sebuah teks. Ast dan F. Aspek luar sebuah karya ( teks ) adalah aspek tata bahasa dan kekhasan linguistik lainnya. Ash membagi tugas itu kedalam tiga bagian. maka pada saat itulah disebut sebagai ” Transformasi berbicara yang internal dan orisinal dan karenanya interpretasi menjadi penting”. Hermeneutik adalah bagian dari seni berfikir itu dan oleh karenanya bersifat filosofis ( Schleiermacher. dari Ash Schleiermacher mendapat ide untuk mengamati isi sebuah karya dari dua sisi : sisi luar dan sisi dalam. Bahasa gramatikal merupakan syarat berfikir setiap orang.kata.E Schleiermacher ditempatkan sebagai tokoh Hermeneutik . yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis.yang sebaliknya. Aspek dalam adalah jiwanya ( Geist ). tergantung pada tata bahasa dan keterlibatan pendengarnya. Tetapi karena tidak ada kesan impresi langsung dari pikiran keucapan kita. Pertama. Yang dimaksud Schleiermacher adalah bahwa ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual. 1. dan disiplin ilmu yang lainnya berhubungan dengan teks namun akarnya adalah tetap filsafat. Inti Uraian tentang Hermeneutik Menurut Schleiermacher. sementara Ash menganggap ketiga disiplin ilmu tersebut hanya sekedar appendiks (lampiran) saja bagi filolog. maka kemungkinan untuk salah ucap itu besar sekali. Menurut Schleiermacher. yaitu interpretasi gramatikal.D. sejarah . baru kemudian kita ucapkan. yaitu manusia yang tidak autentik atau das man yang dimanupulasikan oleh lingkungan atau situasinya. Seorang filsuf yang mempengaruhi gagasan Schleiermacher adalah F. 1969 : 40 ). Penerapan hermeneutik sangatlah luas yaitu dalam bidang teologis. 1977 : 97 ). Wolt Schleiermacher dalam uraiannya banyak juga dipengaruhi oleh para penasehatnya. Palmer. sebab merupakan ” bagian dari seni berfikir “. Bagi Ash sendiri tugas hermeneutik adalah membawa keluar makna internal dari suatu teks beserta situasinya menurut jamannya. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik F. jadi tidak perlu lagi ada hermeneutik. tata bahasa dan aspek kerohaniannya. Wolf. A. Bahkan saat kita meletakkan pause diantara katakata dalam kalimat sering kali kita mengalami kesenjanganjalan pikiran. mak mungkin ada salah ucap. Hermeneutik adalah proses menelaah isi dan maksud yang mengejawantah teks yang mengandung arti yang kelihatan sudah jelas ( Ricour. 2. sedang interpreasi retorik mengontrol kedua jenis interpretasi yang terdahulu. Wolf membahas tata bahasa. Interpretasi gramatikal berhubungan dengan bahasa. ada dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain. A. Menurut Wolf juga ada tiga taraf atau jenis hermeneutik atau interpretasi. Namun bila saat berfikir kita merasa perlu untuk membuat persiapan dalam mencetuskan buah pikiran kita. agama. Satu pernyataan tunggal dapat kita mengerti atau kita pahami dengan berbagai macam cara. hukum. Ia membedakan hermeneutik dalam pengertian sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang mendefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri ( Richard E. filosofis. yaitu seandainya dimungkinkan pikiran kita dipantulkan secara tidak senada ( tidak ekuivokal ) dengan ucapan kita. maka tidaklah mengherankan kalau mereka beralih ke hermeneutik karena keduanya ingin membahas makna kata.

kimia. kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti “menglami”. dan juga sebaliknya. dalam arti bahwa seseorang tidak dapat meraamalkan waktu dan cara seseorang mengerti. maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak.jalan. Semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologi. Yang ingin dicari oleh Dilthey adalah pemahaman dan interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sendirinya tersituasikan dalam system-sistem eksternal dari organisasi-organisasi social. Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi. Dari kehidupan sehari. Untuk dapat memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya. termasuk dalam Natuwissenschaften. Taraf kedua ialah taraf ilmiah : dilakukan di Universitas. kita harus mampu mengambil inti sari situasi yang mirip dengan yang mirip dengan yang terdapat di dalam kitab suci. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik. Disinilah Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan dengan kata “pengalaman”. Menurut Dilthey. Pikiran kita adalah sebuah proses yang ” mengalir ” dan bukan sekedar fakta yang serba komplit.hari.hari. seseorang selama sekian tahun tidak memiliki pengalaman yang hidup selain hanya pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak makna apa-apa (erfahrungen). dan erlebnis. psikologi. Interpretasi Data . Dilthey pertama-tama membuat deskripsi.pribadi penulis. Dilthey membedakan dengan tajam antara Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Dalam hal ini. 1971:130). Taraf ketiga ialah taraf seni : disini tidak ada aturan yang mengikat atau membatasi imajinasi. dan ilmu-ilmu lain yang sejenis masuk dalam Geisteswissenschaften.bagiannya. di pasar atau dimana saja orang berkumpul bersama untuk berbincang. untuk memahami pernyataan. Dilthey menganjurkan kita menggunakan hermeneutic.kutipan sastra atau dengan dokumen sejarah yang harus kita ” baca ” inti sari maknanya. Oleh karena itu kita memerlukan suatu pandangan kedalam atau intuisi yang tidak membingungkan bila kita ingin memahami sesuatu teks. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri. Bahkan hal ini juga menuntut suatu pemahaman awal atas objek atau peristiwa yang dipertanyakan itu. dimana diharapkan adanya taraf pemahaman dan interpretasi yang tinggi. Metode Pengoperasian Hermeneutik. Disinilah penafsir mulai dengan satu teori tentatif atau konsep awal. Pemahaman yang selalu dipasangkan dengan interpretasi tidak lain adalah seni. Setiap bagian dari suatu peristiwa hanya dapat dipahami dalam konteks keseluruhan bagian. Bisa jadi. Taraf pertama ialah interpretasi dn pemahaman mekanis : pemahaman dan interpretasi dalam kehidupan kita sehari. Walaupun demikian.bincang tentang topik umum. yaitu rekonyruksi historis. Kedua kata tersebut adakah erfahrung. Dilthey menaruh perhatian pada metode hermeneutic ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah (Kremer-Marietti. Semua erlebnis benarnya merupakan pengalaman dalam arti umum (erfahrung) pila. Ada beberapa taraf memahami. hermeunetik adalah dasar dari Geisteswissenschaften. Pemahaman Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang hidup tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita. di jalan.pernyataan orang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. yaitu pengalaman yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. yaitu kata yang biasanya diartikan sebagai “pengalaman” pada umumnya. Oleh karenanya. tetapi tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. sebab menurut dia. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kea rah factor-faktor psikologisnya. Sedang semua ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah. politik dan ekonomi dengan nilai-nilainya sendiri yang sudah dianggap mapan atau mantap. ia merasa perlu memiliki tipe memahami yang khusus. kutipan. kemudian mengadakan interpretasi. objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan. lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami perilakunya. antara lain dengan: 1. demikian juga dengan interpretasi. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya. fisika dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk bidang ini serta semua jenis sains yang mempergunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen. suatu proses memahami dan interpretasi. filsafat.

pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Contohnya adalah sejarah bangsa Indonesia tidak mungkin hanya akan ditulis satu kali dan berlaku untuk seterusnya. Sebagai contoh misalnya kata “aduh” sbb. yaitu ungkapan perasaan. bahkan seakan menyatu walaupun keduanya itu kita mengerti secara terpisah. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Hans-Georg Gadamer dalam karyanya yang berjudul Wahrheitund Methode (kebenaran dan Metode) menekankan pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism. bagi kita kiranya cukup mudah unyuk menentukan akibat naiknya harga BBM terhadap situasi ekonomi. ini berarti kita melakukan proses hubungan sebab akibat. Riset Sejarah Dilthey mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses: • • • Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Bila kehidupan mental ini tidak terjangkau oleh sarana-sarana objektif. Alasannya adalah karena untuk memahami atau mencerna sudut pandang pelaku asli dalam sejarah. bagusnya” yang keluar dari mulut seorang pengagum lukisan. Dalam hal ini Dilthey menekankan bahwa terhadap benda-benda kita hanya mampu “mengetahui”. kewajiban kita adalah “menyusun balik” kerangka yang dibuat oleh sejarawan dengan maksud supaya peristiwa-peristiwa dapat dilihat kembali sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Jadi bagi seorang sejarawan. sedang “memahami” dan “interpretasi” hanya dipergunakan untuk “mengetahui” manusia. Tetapi yang diucapkan oleh pengagum lukisan mempunyai nada pujian. Hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. kiranya cukup sulit. dimana orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tersebut sehingga ia bias ambil bagian di dalamnya. tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. Metode atau proses semacam inilah yang disebut hermeneutik. Proses pemahaman ini terdiri dari dua bagian yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan secara berbeda satu sama lain. Kata-kata atau pernyataan tunggal dapat mempunyai arti yang bermacam-macam tergantung pada konteks sejarah di mana kata atau pernyataan itu diucapkan. Sedangkan yang diucapkan oleh seorang pasien bertujuan untuk menahan rasa sakit. kita harus memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi atau cara mengenal orang atau masyarakat. kehidupan mental kita tidak mungkin kita ketahui. Tetapi melacak akibat yang timbul karena keputusan sepihak yang dikeluarkan oleh seorang penguasa. bila kita membaca sejarah. maka ia melakukan proses hubungan sebab akibat. tetapi akan selalu ditulis kembali oleh setiap generasi. Namun proses tiga tahap pemahaman itu sendiri tidak berlaku untuk metode ilmiah. ungkapan atau pernyataan interpretation naturae (interpretasi terhadap alam) adalah wujud dari ucapan. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengalaman. Jadi menurutnya. atau “Aduh. kita sebut “komprehensi” atau pemahaman. Kedua. Pemahaman adalah proses di mana kehidupan mental menjadi diketahui melalui ungkapannya yang ditangkap oleh pancaindra kita. maka besar kemungkinannya subjektivitas masuk dalam pemahaman terhadap kehidupan mental tersebut. 1. dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa. Bahasa kita sendiri tidak bebas dari pasang surutnya sejarah. Jadi pemahaman dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah merupakan tugas yang mudah untuk dilaksanakan. Karena kebenaran . menggabungkan pengalaman yang hidup dengan pemahaman terhadap individu merupakan keharusan. Sebagai contoh misalnya. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada ’satu masa’ saja. sakitnya!” yang diucapkan oleh seorang pasien yang sedang disuntik.: “Aduh. Tanpa ungkapan. Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasanyang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Kata “Aduh” memiliki arti yang sama. Oleh karena itu. 1.Dalam satu aspek. bukan metodologis. Pengalaman yang hidup dan pemahaman saling melengkapi satu sama lain. Dilthey berkesimpulan bahwa eksegesis atau interpretasi adalah suatu seni memahami manifestasi atau pengejawantahan hal yang bersifat vital dan ditampakkan pada kebiasaan yang tahan lama. suatu proses dimana kita mengetahui sesuatu dari aspek kejiwaannya atas dasar tandatanda yang dapat ditangkap pancaindra sehingga termanifestasikan. Pertama.

Sebagaimana dinyatakan oleh Vico. Yang ingin di katakana Gadamer ialah bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana unyuk mencapai kebenaran filosofis. Dalam “kebenaran dan metode”. 1. Pertimbangan sifatnya universal. istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. Kata Bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar “kultur atau kebuadyaan”. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni. Menurut Gadamer. Gadamer sepakat dengan Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang di . memori atau kenangan harus di bentuk. Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. ekspresi atau ungkapan. Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. cinta komunitas. bahkan mempunyai arti dalam lonotasi yang lebih tinggi. style atau gaya dan symbol. Sinonim dari kata Bildung dalam bahasa latin adalah formatio. Bildung adalah sebauh gagasanhistoris asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. 1. Empat konsep tersebut adalah: 1. ayaitu pertimbanagn praktis yang baik. “permainan”dapat merupakan semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutic.Gadamer mengutip pendapat Kant bahwa ” seni murni adalah seni para genius” dan kebenarannya tidak dapat di capai denganmetode ilmiah. yaitu bentuk atau formasi. Kata existenz adalah istilah yang di pergunakan filsuf eksistensiallis Karl Jasper untuk menyebut “manusia autentik”. Jasper menyatakan bahwa existenz mengambil jalur yang berbeda untuk sampai pada kebenaran eksistensial. sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. ketajaman pikiran. karya Gadamer yang paling menarik adalah konsepnya tentang “permainan”. yang kesemuannya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. Sensus Communis juga mempunyai aspek moral. atau kemanusiaan. 1. masyarakat. Bildung Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni. pengalaman. 1. dunia eksternal. Gadamer menolak konsep hermeneutic sebagai metode. Sensus Communis Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai “pendapat umum” atau pendapat kebanyakan orang pada umumny. Weltanschauung ( pandangan dunia). tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya ” menentang semua jenis penalaran”. Ia sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus communis adalah pandangan tentang kebaikan umum. 1. Sensus Communis mempunyai kesetaraan arti dengan ekspresi dalam bahasa Perancis le bon ses. Pernyataan itu juga dapat di artikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti metode yang ketat jika ingin berhubungan dengan existenz atau “manusia autentik”. Existenz seringkali harus membuat loncatan (saltus) iman untuk mencapai Tuhan. Menurut pengertiannya yang mendasar. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (Magang Filsafat) ia menulis sebagai berikut: Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensimanusia dan penalarannya. sejarah. kebatinan.Gadamer membahas secara panjang lebar empat konsep tentang manusia yang memperkaya hermeneutic. Pada dasarnya Bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinnya sendiri sebagai yang ideal.menerangi metode-metode individual. namun bukan berarti berlaku um um. Pertimbangan Konsep yang ketiga ini mirip dengan sensus communis dan selera. 1. Paham tentang Seni Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alas an di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran.

Kita berfilsafat tidak mulai dari nol.perhubungkan dengan pengertian estetis. maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa. pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik. tetapi kita harus berfifkir dan berbicara dengan bahasa yang sudak kita miliki sendiri. Menurut Kant. prinsip dan hukum-hukum yan dapat di olah manusia. Di dalam interpretasi. Gadamer menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hermeneut. yang menjadi bagian bildung adalah menetukan mana yang boleh di kenang dan mana yang yang harus di buang jauh-jauh. hermenutik mempergunakan keempat konsep manusiawi tersebut. Gadamer juga menegaskan . Hidup itu tidak statis melainkan berubah antara rangkaian baik dan buruk. luhur fdan rendah. mulia dan nista. Yang di butuhkan hermeneut adalah pengetahuan tentang manusia atau masyarakat yang di peroleh bukan atas dasar kerja ilmiah. ini berarti mereka sama saja dengan tidak berbicara apa-apa. Inti uaraian tentang hermeneutic Gadamer beropendapat bahwa hermeneutic adal.ah seni. sejauh orang mengetahui ” apa yang harus ia lakukan” juga memiliki seni atau pandanganpraktis. Berdasarkan fakta. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsure-unsur penting dari pemahaman. Dan itulah bahasa filsafat. tidak dari satu titik awal yang sudah bersifat subyektif. konsep. tidakdapat di ramalkan atau di katakana sebelumnya. 1. Hermeneutik adalah metode yang di pergunakan oleh ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu tentang manusia. hal ini akan menimbulkan suatu pencampuran cakrawala atau fision of horizons atau bahkan akan menimbulkan campur baurnya kebudayaan yang bermacam-macam. maka mudah sekali untuk menghubungkan selera dengan hermeneutic. dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan. Dalam pandangan Kant. Para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorang pun menngerti. bukan proses mekanis. selera bertentangan dengan yang tidak menimbulkan selera. Sensus communis yang bersifat peka terhadap hubungan antar manusia memberi corak khusus pada komunitas sebagai kumpulan person. personal maupun dengan suatu perspektif tertentu. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan. Hakikat sebenarnya sebuah cakrawala adalah ” selalu meluas” dan sementara itu kebuudayaan pada hakikatnya juga tidak pernah murnidan tidak pernah di palsukan. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selera pun yang dapat menilai seni. Dari realitas hidup ini. Gadamer menyebut hermeneutic sebagai seni dan hermeneutic semacam ini tidak dapat di persiapkan lebih dahulu sebelum di buat. melainkan yang hanya dapat di pelajari sebagai suatu seni. 1. minimal dalam pandangan moralnya. pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal. Bila hermeneut berinterpretasi mulai dari titik tolak sejarah yang menguntungkan dirinya sendiri. Taste atau Selera Menurut Gadamer selera sama dengan rasa. Pertimbangan dan selera membuat diskriminasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan yang indah dan baik. yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. sehingga para pembicara asli(native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa atau benang merah bahasanya sendiri. Sebagaiman di sebutkan bahwa tugas hermeneutic adalah terutama memahami teks. dan sebagainya. Setiap pertimbangan tentang apa yang di inginkan untuk di pahami dalam individualitasnya yang konkret adalah pertimbangan atas sesuatu yang khusus. 1. Pemahaman hanya mungkin di mulai bila bermacam-macam pandangan menemukan suatu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap. Fiksafat tidak mulai dari suatu tempat tert6entu. Kini yangf menjadi persoalan kita adalah: apa hubungan antara selera dengan hermeneutic? Jika selera melibatkan pertimbangan yang pada suatu saat juga melibatkan sensus communis dan bulding. Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Pemahaman dan hermeneutic hanya dapa di berlakukan sebagai suatu karya seni. Meski bukan merupakan perbuatan yang kreatif Hermeneut atau penafsir selalu memahami realitas dan manusia dengan titik tolakk sekarang atau kontemporer. tetapi kemampuan ini tidak dapat di demonstrasikan. Gadamer mengatakan bahwa interpretasi adalah penciptaan kembali.

kita harus membuang jauh-jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang di katakan oleh sebuah teks. karena ia berkeyakinan bahwa penerapan seperti halnya pemahaman dan interpretasi adalah bagian hermeneutic. ‘ Memahami” selalu dapat berarti membuat interpretasi. Peirce. Dengan deduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu ’seharusnya’ berperilaku dalam cara tertentu dengan induksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu pada kenyataannya berperilaku dalam suatu cara tertentu. penjelasan “menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas dan sistematis” (Habermas. seperti misalnya ‘metode untuk menekuni sesuatu’. meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah. yang menghindarkan gangguan yang berasal dari penggunaan metode.ada hal-hal khusus. 1972 : 144). karena konsep tersebut mencagai keyakinan-keyakinan yang vajid dan definiti Habermas mengatakan bahwa semua peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang tidak akan mempersulit keyakinan-keyakinan tersebut. Adanya antisipasi makna. Tugas interpretasi sama dengan tugas konkretisasi hokum atau penerapan hokum p. Di dalam induksi. Gadamer menyebut hal itu sebagai makna atau arti yang akan datang (fore-meaning) dan pemahaman yang akan datang (fore umderstanding). yang menandai hermeneutic.bahwa suatu interpretasi akan benar bila interpretasi tersebut mampum menghilang di balik bahasa yang di gunakan. Dulu yang di anggap tugas hermeneutic adalah menyadur makna dari sebuah teks ke dalam situasi konkret. Dalam berbicara. yang juga merupakan persyaratan hermeneutic sehingga membuat pemahaman itu menjadi suatu “hubungan yang histories dan efektif”. 1. Menurut Habermas. Interpretasi secara eksplisit adalah bentuk dari pemahaman. 1. yaitu: deduksi. dan dengan abduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu mungkin akan berperilaku menurut suatu cara tertentu. dialektik dan bahasa. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokomen tertulis saja. apa yang kita lihat (vorscht). Abduksi adalah proses pembentukan hipotesis yang bersifat eksplanatoris (menerangkan) yang berbunyi: jika kita harus mempelajari sesuatu . Pemahaman dan interpretasi pada dasarnya juga merupakan penerapan. melainkan akan memperteguhnya. penerapan juga merupakan pemahaman yang benar terhadap factor yang universal. Jadi. Kita mengantisipasi dan menginterpretasi menturut apa yang kita miliki ( vorhabe). namun itu juga mempunyai konsep tentang penjelasan dan pemahaman. Sedangkan pemahaman adalah “suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu”. induksi dan abduksi atau proses abduktif. Gadamer menambahkan istilah subtilitas applicandi. Arti “Memahami” Menurut Gadamer. Habermas mengikuti tiga bentuk penyimpulan yang dikemukakan oleh C. serta apa yang akan kita peroleh kemudian (vorgriff). Untuk dapat memahami sebuah teks. komposisi musik.S. Subtilitas adalah suatu kualitas yang mencarikehalusan seperti “lembutnya” roh. Induksi adalah proses yang aktual dalam penelitian. di mana pesan yang terdapat di dalam teks itu di tujukan. ada pengujian apakah dan dengan kemungkinan apa prediksi-prediksi dapat diyakinkan kebenarannya. pemahaman selalu dapat di terapkan pada keadaan kita saat ini. Bahkan karya-karyanya pun tidak secara khusus membicarakan hermeneutik sebagai gagasan tunggalnya. interpretasi adalah bagaikan terjemahan. Gagasan hermeneutiknya dapat kita ketemukan di dalam tulisannya yang diberi judul Knowledge and Human Interests (Pengetahuan dan Minat Manusia). Karya-karya Habermas termasuk dalam bidang sains. dan sebagainya. memang di harapkan. melainkan juga benda yang bukan bahsa seperti patung. yaitu yang berasal dari pertimbangan sebelumnya atas keseluruhan pemahaman melalui bagia-bagiannya. namun gagasan-gagasannya itu mendukung pustaka herme neutik. Konsepnya tentang penjelasan tersebut mendekati metode ilmiah yang ia nyatakan mengatasi metodemetode yang lainnya. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik Meskipun gagasan-gagasan Habermas tidak berpusat pada hermeneutik. ‘metode penguasaan bahan’ dan ‘metode pemikiran a priori’. Maksudnya adalah bahwa terjemahan itu akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasayang teratur.

Semua hal tersebut mengalir secara terus-menerus di dalam hidup kita. Ia juga memperingatkan kita bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta. Jadi jelaslah bahwa kita tidak dapat menerangkan hal-hal yang tidak mungkin kita pahami. . Hermeneutik biasanya mencoba menerangkan apa yang individual. sebagaimana terdapat dalam setiap rumusannya. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu. sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. Habermas mengatakan bahwa sebuah penjelasan menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. Bagaimana dapat terjadi suatu metode menerangkan hal yang individual dan tunggal dengan menggunakan cara yang universal? Dalam ilmu pengetahuan empiris-analitis. seperti halnya Dilthey. Pada kelas pengalaman.atau memahami fenomena secara lugas. Sebagaimana halnya dalam pemahaman linguistik. terutama dalam reaksi tubuh manusia. Dari pembedaan itu kita mengetahui bahwa monologika adalah pemahaman atas simbol-simbol yang disebut Habermas sebagai ‘bahasa murni’ karena simbol-simbol mempunyai makna yang definitif. yaitu pemahaman yang tidak me libatkan hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa ‘murni’. Dengan kata lain. Jenis Jenis Pemahaman Hal-hal yang menonjol dalam kedua metode pemahaman tersebut tampaknya akan dipadukan. Pemahaman hermeneutik sedikit berbeda dari jenis pemahaman yang lainnya sebab pemahaman hermeneutik diarahkan pada konteks tradisional tentang makna. Komunikasi dapat dilakukan melalui tindakan atau kegiatan. Metode ‘Memahami’ Dari uraian di atas telah kita lihat bagaimana Habermas membedakan antara penjelasan denganpemahaman. Tentang linguistik. yaitu : linguistic. 1. maksud dan ruang lingkup tindakan. yang berupa kecenderungan yang tidak dicetuskan atau sebagai ungkapan nonverbal. yaitu yang terdapat di dalam hal-hal yang bersifat ‘tidak teranalisiskan’. Habermas menyatakan bahwa selalu ada makna yang bersifat lebih. penjelasan diarahkan pada tujuan akhir. Habermas mengatakan bahwa pemahaman hermeneutik harus mengintegrasikan ketiga kelas ungkapan kehidupan itu. maka harus melalui proses yang memperjelas sesuatu atau fenomena tersebut. dan pemahaman menjadi bagian subjektifnya. yang tidak dapat dijangkau oleh interpretasi. Habermas menegaskan bahwa penjelasan haruslah berupa penerapan secara objektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta. Dalam tingkat pemahaman seperti ini. Dalam hal ini expresi linguistik muncul dalam bentuk yang absolut. bahkan kita juga tidak dapat membuat interpretasi atas hal-hal tersebut. yang disebut monologika itu tidak lain adalah jalan pikiran yang terstrukutur. Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut. language game dari Wittgenstein). tindakan dan pengalaman. proses kedua hal itu hanya dapat terjadi atas dasar “asimilasi transcendental a priori dari pengalaman yang mungkin dengan ungkapan universal bahasabahasa teoretis” (Habermas. 1972: 162-163). Habermas mengutip ketiga jenis pemahaman tersebut dari pendapat Dilthey. Sebagai contoh misalnya: bahasadan tindakan saling menginterpretasi satu sama lain secara timbale balik (bdk. tindakan atau kegiatan perlu dijabarkan. yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketepatan dan keharusannya. yaitu yang menggambarkan pemahaman monologis. Sedang pemahaman hermeneutik di sisi lain tidak dapat mempersempit ketergantungannya pada hal-hal lain. Habermas membicarakan tentang “pemahaman monologis atas makna”. seperti misalnya bahasa simbol. interpreter memperhitungkan hal-hal itu sebagai salah satu bentuk atau jenis pemahaman. ‘tidak dapat dijabarkan’. 1. Pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan. bahkan di luar pikiran kita. sebab pemahaman melibatkan juga pengalaman interpreter. bukan yang universal. Seperti halnya pemikiran ilmiah.

Hibermas mengambil alih tugas Dilthey dengan mengatakanDilthey telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan akan melihat bahwa objektivasi pemahaman hanya mungkin terjadi bila interpreter atau hermeneut menjadi partner dalam dialog komunikatif. Dalam ilmu-ilmu alamiah. sejarah dan objektivitas.maka hal ini tidak perlu dibesar-besarkan.Jika simbol-simbol dilibatkan. ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah.Simbol-simbol dan interpretasi merupakan konsep-konsep yang mempunyai pluraritas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau kata-kata.Ricoeur menyatakan bahwa hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. Dan ilmu-ilmu kemenusiaan. Disini disjungsi tidak dapat berlaku. jarang terjadi dari yang umum ke yang individual.sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi lapisan.Filsafat pada dasarnya adalah hermeneutik. 1. Ricoeur mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi. atau antara tetap subjektif dan harus menjadi objetif. antara Naturwissenschaften dengan Geistes-wissenschaften. atau sebaliknya.pada dasarnya.ilmu alamiah dan ilmu. atau sebaliknya.1.ilmu kemanusiaan.Dalam karya-karyanya tampaknya ia memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial kemudian ke analisis eidetik(pengamatan yang sedemikian mendetail). Disini hermeneut menghadapi dilemma antara tetap objektif dan bersifat subjektif.maka katakata penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi.Setiap kata adalah sebuah simbol. Suatu proses tertentu bukan induksi. Interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan “keseluruhan yang terdiri dari campuran macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya” dan koreksi terhadap apa saja yang dikemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi. Disinilah letak perbedaan antara ilmu . Penjelasan dan interprestasi berlangsung dari yang individual ke yang indinidual juga.memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal yang telah diinterprestasikannya. Dilema itu merupakan pertanyaan : “eksklusif linguistic atau analisis empiris”. apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum.Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan.” Dilema tersebut semakin menjadi besar terutama dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau Geisteswissenschaften. Hal ini hanya mudah untuk dikatakan. yaitu melalui proses induksi dimana kebenaran umum akan diperoleh setelah ditentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan individual.ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi.maka interpretasi menjadi penting.Dengan mengutip Nietzsche.mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang . sebab kita tidak dapat melakukan analisis linguistic eksklusif atau analisis empiris murni. deduksi atau abduksi. hermeneutik berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subyek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan.fenimenologis.Oleh karenanya.Herleneutik pada akhirnya semantik.historis.yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna.Adanya simbol. Apa yang benar di dalam yang universal tidak harus benar pula di dalam yang individual. Ini berarti bahwa hermeneut harus mengadakan interaksi.Kebutuhan laten tersebut adalah kebutuhan akan hermeneutik. Dilema Pemahaman Habermas mengatakan : “Sebagai suatu seni yang menggambarkan komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami. sebagaimana terjadi dalam dialog atau dialektika antara yang umum dan yang individual.Kemudian Ricoeur memberiakn kesan bahwa berbicara dengan menggunakan suatu bahasa adalah masalah jaket dan belati yang tersembunyi dibaliknya. namun sulit untuk dilaksanakan. Pemahaman harus mengkombinasikan keduanya. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan katolik. Terdapat kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep melalui kata-kata.

1.Ini semua menandakan bahwa kita sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka.dan Vorgriff(apa yang akan menjadi konsepnya kemudian). Kata-kata dan Makna Sebuah kata adalah juga sebuah simbol. Menurut Riceour.Ricoeur menegaskan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas (Montefiero.sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat. Penjelasan struktural cenderung untuk bersifat objektif.Melalui hermeneutik.salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam yang hermeneutik adalah perjuangan melawan distansi kultural yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik.di sini kita dapati dikotomi antara objektivitas dan subjektivitas yang menimbulkan problem.sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.pematung.Sebuah kata bisa memilikki konotasi yang berbeda.tergantung kepada pembicaranya.Setiap kali kita membaca.serta untuk melakukan rekontekstualisasi secara berbeda di dalam tindakan membaca.segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab.Sebagai contoh misalnya pohon kata ini mempunyai banyak makna tergantung pembicaranya:apakah ia seorang tukang kayu.bahkan psikoanalisa.sebab keduanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain.Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain.baik ari sudut pandang sosiologis maupun psikologis.kita salah paham atau salah mengerti juga melalui bahasa. Menurut Ricoeur.Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensional dan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya(kecuali kata-kata onomatopoik).Ricoeur menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik adalah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal” nya teks itu muncul ke permukaan.filsafat semuanya melalui bahasa.kesusastraan.Riceour menyebut karakteristik ini dengan istilah polisemi yaitu ciri khas yang menyebabkan kata-kata mempunyai makna lebih dari satu bila digunakan di dalam konteks yang bersangkutan.(Riceour.tafsir kitab suci dan hermeneutik.Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata yang tertulissebagai ganti kata-kata yang diucapkan.1983:193) Mengenai tugas hermeneutik.sedang pemahaman hermeneutik memberi kita kesan subyektif.Bahasa dinyatakan dalam bentuk simbol.Jadi.tradisi ataupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.manusia pada dasarnya merupakan bahasa(Riceour.Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya.emosi. Ruang Lingkup Hermeneutik Ricoeur kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan perhatian kepada teks. 1.1985:43).petani dll.Dalam hal ini Recoeur mengemukakan tentang hermeneutik yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks.Dikotomi antara penjelasan dan pemahaman itu tajam.fenomenologi.Namun bahasa juga mempunyai kelemahan.eksistensialisme.asli.Namun kritik yang kita lakukan itu membawa juga struktur-struktur yang sudah jadi dari gagasan-gagasan kita dan bahasa yang diungkapakan dalam struktur itu juga sudah kita beri warna.Istilah-istilah mempunyai makna ganda.Ia masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut Vorhabe(apa yang ia miliki).yaitu melalui interpretasi.Bahasa adalah tempat bertemunya analisis logika.Kita mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa.sebab kita memahami melalui bahasa.Kita baru bisa mengkritik jika kita membuat jarak dengan objek kritik.Kita mengungkapkan gagasangagasan.Vorsicht(apa yang ia lihat).1967:350) dan bahasa itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat.yaitu untuk memahami sebuah . Bahasa adalah bidang di mana semua pengamatan filosofis saling memotong satu sama lain.Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dan membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral (ucapan) dapat dipersempit.Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan dekontekstualisasi.

Riceour mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak di dalam hubungan dengan subjektivitas pembaca ditinggalkan.yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang berpikir dari simbol-simbol.di mana pembacaanya selalu berbeda-beda. Menurut Riceour.Ricoeur juga mempertanyakan metode yang dipergunakan Dilthey dalam geisteswissenschaften nya yaitu hermeneutik yang dibedakan dengan metode yang terdapat pada naturwissenschaften.situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.penjelasan dan interpretasi. Ricoeur hanya ingin menggugah pandangan kita bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang dapat bersaing dalam tingkat yang sejajar dengan metode dalam sains.inilah yang dimaksudkan dengan rekontekstualisasi.Ia hanya ingin membuang jauh semua metode yang objektif.Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis.dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan.dan untuk siapa teks itu dimaksudkan.bagaimana Riceour bisa mengatakan bahwa pemahaman merupakan cara berada atau cara menjadi.yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.Sebab.Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya.Riceour menyatakan bahwa pemahaman itu pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi.Pemahaman refleksi adalah pemahaman pada tingkat yang lebih tinggi. Yang dimaksudkan dengan membuka diri adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya.sebab tidak ada satupun hermeneut yang pada kenyataanya mau mendekatkan diri pada apa yang dikatakan oleh teks jika ia tidak menghayati sendiri suasana makna yang ia cari.pemahaman adalah salah satu aspek dari proyeksi Dasein (proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaan terhadap being.Jika demikian.sebab jika tidak demikian ia tidak akan mulai melakukan interpretasi.sedang langkah pemahaman eksistensial atau ontologis adalah pemahaman pada tingkat being atau keberadaan makana itu sendiri.Untuk memahami sebuah teks kita tidak memproyeksikan diri ke dalam teks. Arti Memahami Setiap hermeneut membuat pembedaan dan penekanan yang tegas atas pemahaman.Ketiga langkah tersebut berhubungan erat dengan langkah-langkah pemahaman bahasa yaitu:semantik.Penafsir selalu dalam keadaan in medias res atau berada di tengah-tengah teks (ing madya) dan tidak pernah hanya di depan atau pada permulaan atau pada akhir teks untuk sekedar tut wuri saja.Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis.ada tiga langkah pemahaman.Langkah pertama adalah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol.kaku. 1.refleksif serta eksistensial atau ontologis.yaitu yang mendekati tingkat ontologi.melainkan membuka diri terhadapnya.dan terstruktur yang terdapat dalam ilmu-ilmu alamiah.ia harus mulai dengan pengertian yang seakanakan masih mentah. .serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subjektif dan objektif.ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing.Riceour sendiri tidak benar-benar memperlakukan hermeneutuk sebagai metode.Riceour juga menyatakan bahwa lingkaran tersebut hanya semu saja.yaitu pada teori tentang pengetahuan atau erkenntnistheorie.Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas.Dekonyekstualisasi adalah bahwa materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya.Riceour menyatakan bahwa memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks. Otonomi teks ada 3 macam: intensi atau maksid pengarang.Riceour menyatakan bahwa hubungan antara hidup dan pengalaman -pengalamannya boleh dikatakan merupakan akar dari hubungan dua arah antara manusia dengan alam dan sejarah.percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya.Langkah semantik adalah pemahaman pada tingkat ilmu bahasa yang murni.sebab hermeneut harus membaca dari dalam teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangkan kebudayaan dan sejarahnya sendiri.Pemahaman hanya dapat terjadi pada tingkat pengetahuan.Riceour mengatakan bahwa “engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami”.Langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna.Hermeneut harus menggumuli interpretasinya sendiri. Tugas Hermeneutik menjadi sangat berat.Hermeneut uga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain.melainkan membuka diri terhadapnya.harus dapat mengatasi situasi dikotomis.

Karya-karyanya sulit dimengerti.yaitu kita seakan-akan terpelanting untuk memahami pribadi manusia.Namun dalam uraiannya.tidak ada lagi pemisahan antara pemahaman.yaitu yang datangnya dari penderitaan. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik.Pemahaman adalah perpaduan antar cakrawala. Tema keempat adalah perpaduan antar cakrawala.yaitu tingkat eksistensial atau ontologis. Akan tetapi. meskipun ia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf ataupun sastrawan (Derrida.Riceour mengatakan bahwa tidak satu cakarawalapun yang bersifat tertutup sejauh masih mungkin menempatkan seseorang pada pandangan yang lain dan dalam kebudayaan yang lain pula (Ibid.Tema kedua ini menunjukkan pandangan ekstrim yang lain sesudah tema yang pertama.Melalui penderitaan kita sering memahami sesuatu. Hermeneutik harus menempatkan peristiwa yang tersituasi beserta cakrawalanya dalam konteks yang semestinya.Penafsir harus waspada terhadap berbagai macam prasangka ataupun pendewaan terhadap pikiran.Setiap kejadian atau peristiwa menpunyai latar belakang atau cakrawala karena setiap fakta atau peristiwa selalu tersituasi.penjelasan dan interpretasi.maka pengalaman menjadi traumatik di dalam intensitasnya.75).ada rangkaian peristiwa di mana peristiwa yang satu menyebabkan peristiwa-peristiwa lainnya.Ricoeur uga berbicara mengenai wirkungsgeschichtliches bewusstsein atau kesadaran yang diarahkan pada akibat-akibat sejarah. Pengaruh Aliran fenomenologi Dua aliran pemikiran kefilsafatan yang banyak mempengaruhi gagasan-gagasan Derrida adalah fenomenologi dan strukturalisme. Gagasan-gagasannya tentang kritik sastra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra.Kita tidak mungkin mengabstraksikan atau memencilkan suatu peristiwa dengan latar belakang atau cakrawalanya dari peristiwa-peristiwa lainnya.Sepakat dengan pandangan Gadamer.Segala bukti tidak perlu lagi atau bahkan tidak penting.tempat yang layak untuk seorang penafsir adalah di tengah-tengah kedua ekstrem tersebut. kita perlu juga mengetahui latar belakang dirinya. Ada jenis pemahaman lain.sebab pengalaman semacam itu melibatkan keseluruhan keberadaan seorang pribadi. Tema ketiga jika tidak ada pandangan yang menyeluruh.jika ada situasi maka ada cakrawala yang dapat menyempit atau meluas(Ibid:74).1980:74).namun akibat atau hasil penelusuran sejarah tidak dapat lepas dari pengamatan kesadaran penafsir.Tidak ada satu peristiwa sejarahpun yang bukan merupakan kelanjutan dari peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Edmund Husserl. Ia seringkali juga disebut seorang post-strukturalis.Dalam filsafat Ricoeur.yang dikemukakan oleh Karl Jaspers. 1972:95).maka juga tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita.Jadi. meskipun ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis.Meskipun seseorang menempatkan dirinya pada distansi tertentu.sebab konsep yang terakhir ini berbau metodologis.Dalam kondisi seperti ini. Tema yang kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja(Josef Bleicher. Latar Belakang Tokoh Jacques Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik sejauh dia berhubungan dengan bahasa dan makna.Hal ini menunjukkan kepada kita tema pertama dari empat tema yang diketengahkan oleh Riceour.Ia harus mampu memisahkan mana yang seharusnya masuk dalam cara pemahamannya dan mana yang seharusnya disingkirkan dari antara konsep-konsepnya yang populer atau yang hanya khayalan saja. Untuk memahami gagasan-gagasannya. 1.Interpretasi harus selalu memandang kedua hal itu sebagai hal yang korelatif atau berinteraksi. satu positif dan satu negatif. Metode positif dimaksudkan untuk melepaskan jalan pikiran dari .Karena pribadi sedemikian terlibat.Pengalaman eksistensial memang pengalaman yang dimiliki oleh being sendiri.Maka juga selalu ada goncangan antara peristiwa yang tersituasi dengan cakrawalanya.Ini merupakan tingkat pemahaman yang tertinggi.Mungkin pandangan Riceour ini mirip dengan pandangan Gadamer. pendiri fenomenologi modern memulai karyanya dengan dua metode.ia menegaskan bahwa konsep itu harus dipertentangkan dengan konsep atau pengertian tentang distansi sejarah. Deriida sangat cerdas. 1.Sebab.yaitu bahwa tidak ada titik nol dari mana kritik yang tuntas dapat mulai dilakukan.

apa saja yang dianggap ideal tetapi tidak mendasarkan diri pada realitas. Dalam metode negatif, Husserl mendekatkan diri pada metode yang dikemukakan oleh Descrates yaitu mulai dengan sikap ragu-ragu, ia menyangkal segala sesuatu dan ingin memulai proses pemikirannya dari titik yang benar-benar nol. Husserl seorang pakar matematika dan sains, menyadari akan adanya ketimpangan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebagao seorang ahli matematika ia mengetahui signifikan obyektivitas, tetapi sebagai filsuf ia juga mengetahui bahwa subyektivitas yang walaupun hanya sedikit masih tetap diinginkan. Melalui dua metode yang diketengahkan di atas, ia memulai karyanya dengan tepat. Ia membicarakan tentang tiga tingkatan kesadaran yang dapat dihubungkan dengan tiga tiga jenis obje, yaitu:

• • •

Tingkatan pertama atau tingkatan yang dangkal adalah kesadaran alamiah. Kesadaran ini berhubungan dengan objek-objek alamiah. Tingkatan kedua adalah tingkat kesadaran refleksi, yaitu kesadaran yang muncul setelah memberi ‘tanda petik’ pada tingkat yang dangkal. Tinkatan ketiga atau tingkat ‘kedalaman ego’: bila perhatian seseorang difokuskan lebih jauh lagi pada objek , ia akan mencapai tingkat kesadaran jauh lebih dalam lagi. Dalam keadaan kesadaran pada tingkat ini, objek yang murni atau yang sejati mengejawantah. Tanggapan atas Fenomenologi Arti “Differance”

1.

Perbedaan dua kata yang kontroversial itu yaitu, difference dan difference. Perbedaan pokok hanya terdapat di dalam kerangka ruang dan waktu. Derrida menghubungkan kerangka waktu ruang dan waktu dengan pengertian ‘tanda dan penulisannya’. ‘Tanda’ adalah ‘wakil’ dari bendanya. Makna, juga seperti tanda, untuk memahaminya kita harus ‘menangguhkan’ atau menunda dulu sampai orang atau benda yang merasa layak atau pantas untuk memilikinya. Proses ini oleh Derrida disebut ‘temporisasi’ atau pemberian waktu (untuk menunda). Tanda tempatnya dalam ruang. Tanda dapat dengan mudah kita mengerti dan kita rasakan, seperti kata-kata ataupun tulisan. Kata-kata adalah tanda, seperti juga bahasa, isyarat, dan sistem yang pada umumnya kita mengerti berdasarkan sejarahnya sebagai jaringan yang merupakan asal mula timbulnya perbedaan. Tanda-tanda membawa makna dan adanya dalam ruang; untuk sementara waktu makna tersebut tertunda. Tulisan, pada umumnya kita berpandangan bahwa sebelum seseorang menuliskannya, ia terlebih dahulu mengucapkannya. Derrida justru berpendapat sebaliknya. Tulisan itu barang mati, hanya merupakan jalan tengah antara maksud dan makna, atau antara ucapan dan pemahaman (Ch. Norris, 1985:28). Sebab ‘tulisan’ dalam pandangan Derrida bukan gambar sebagai hasil tindakan seseorang memindahkan gagasangagasannya.

“Bahasa” sebelum Bahasa

Derrida menyatakan bahwa ‘tulisan’ merussak atau menghancurkan dirinya sendiri. Artinya, ‘tulisan’ adalah impersonal, jauh dari kehidupan, tidak seperti ‘bicara’. Menulis adalah pengelompokkan kata-kata yang sifatnya mekanis menurut tata bahasa dan struktur katanya. Tentang makna menulis, Derrida mengatakan bahwa makna itu seakan-akan keluar atau diturunkan dari tulisan, entah benar atau hanya khayalan saja. Hal itu hanya mungkin dengan syarat bahasa yang asli dan alamiah tidak pernah ada, jadi tidak pernah berkontak atau terjamah oleh tindakan menulis (Derrida, 1967:82). Gagasan ini disebutnya dengan istilah archi-writing. Archi-writing dimaksudkan Derrida untuk membicarakan tentang ‘waktu’ sebelum waktu yang kita alami, atau ‘bahasa’ sebelum bahasa yang kita pakai saat ini. Archi-writing merupakan syarat utama untuk memungkinkan sebuah bahasa dinyatakan sebagai sebuah sistem, dan melalui archi-writing ini kita dapat memahami pernyataan atau artikulasi yang benar dari ucapan dan tulisan. Menurut Derrida, bahasa pada dasarnya sudah merupakan tulisan, oleh karena itu pasangan konsep ucapan-tulisan harus diubah manjadi tulisan-ucapan.

Peranan Sejarah

Untuk memahami konsep Derrida tentang ‘tulisan’, kiranya baik bagi kita untuk mengambil makna sejarah sebagai sarana untuk melacaknya. Sebab Derrida membicarakan sejarah melalui cara yang berbeda, yaitu bukan sebagai deretan makna, melainkan sebagai ‘jejak’ yang bisa dilacak. Tulisan dapat menjadi jejak yang bisu namun juga dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan belum dapat terkatakan. Derrida berkeyakinan bahwa meskipun orang belum mengucapkan kata-kata, namun tulisan sudah siap untuk dicurahkan, tulisan dibatasi oleh bahasa yang diucapkan, karena ucapan, yaitu makna yang tertunda kehadirannya, sudah terdapat di dalam tulisan.

Definisi “Difference”

Terdapat empat macam definisi differance, yaitu: 1. Differance adalah sebuah gerakan (aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan, karena penundaan, perutusan, penundaan hukuman, penyimpangan, penangguhan, penyimpanan. Kehadiran dinyatakan atau diinginkan dalam sifat representatifnya, tandanya atau jejaknya(Ibid, 17) Gerakan differance adalah akar umum dari semua pertentangan konsep-konsep di dalam bahasa misalnya sensibel-inteligibel, intuisi-makna, alam-kebudayaan, dsb. Differance, yang menghasilkan perbedaan, adalah syarat dari semua makna dan struktur. Differance adalah berbeda secara khusus, tetapi perbedaan ini secara ontologis benar-benar ada dan tampak. Disini jelas bahwa deconstruction dan differance seiring sejalan. Deconstruction membatalkan ekspresi ganda seperti dalam ucapan atau penulisan. Pengaruh Strukturalisme

2. 3. 4.

1.

Derrida menyangkal pernyataan bahwa struktur bahasa itu benar-benar ada. Terutama ia akan menolak argumen Noam Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu diprogram ke dalam pikiran manusia dan manusia sebagai pembicara begitu saja mengikuti struktur tersebut. Menurut Derrida, “makna” tidak dapat disusun di manapun juga dalam pikiran manusia, selama makna itu merupakan produk pengalaman. Ia ingin mengupas gagasan entang “struktur”, karena srtuktur menentang kebebasan peran makna di dalam teks apa saja. Ini berarti bahwa orang dapat membaca kata-kata dalam sebuah teks, tetapi ia tidak mungkin membaca makna di dalam teks tersebut. Dengan demikian, makna bukan urusan struktur. Makna tidak dapat dibangun dalam ucapan, dan karenanya Derrida menentang pernyataan para pakar linguistik struktural. Sebab, jika makna sudah terbentuk didalam bahasa, oarng tidak akan membutuhkan hermeunetik atau interpretasi lagi.

1.

Gagasan tentang Hermeneutik

Setelah menimba gagasan-gagasan dari Hegel dan Husserl, Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak lain adalah intensionalitas. Apa maksud seseorang ketika ia menggunakan bahasa? Apakah bahasa identik dengan deretan kata-kata yang sudah jadi, apa kemudian disusul dengan makna-makna yang dipilih secara bebas oleh pembicaranya? Husserl telah menunjukkan perbedaan antara noesis (pikiran) dengan noema (yang dipikirrkan). Seperti misalnya seseorang melihat sebuah pohon,, harus dibedakan antara ’siapa yang melihat’ dengan ‘dari sudut mana’ pohon itu dilihat. Sebab, seorang tukang kayu dengan seorang pematung akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang pohon yang dilihatnya itu. Dari realitas di dalam contoh tersebut di atas, Derrida melihat hubungan yang jelas antara fenomenologi dengan hermeneutik. Jika makna yang muncul pada taraf yang paling dalam, maka bahasa yang dipergunakan untuk berbicara harus diselidiki, apakah bahasa ini hanya keluar dari emanasi taraf pertama atau kedua. Lalu, bagaimana hermeneut mengenakan nilai atau makna pada kata yang diucapkan itu? Hermeneutik adalah pemahaman karya. Tujuannya adalah membongkar rahasia pandangan dunia dari pengarang dan memungkinkan kita untuk menyadur bahwa esensi fenomenologis dari memahamitidak lain

adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan sendiri apa yang sedang ia katakan. Pemberi tanda adalah orang yang dapat merasakan nafas pengarang dan maksud dari isyarat atau makna yang melekat pada pengarang. Hermeneut kemudian berusaha melepaskan makna dari kata-kata yang diucapkan atau yang tertulis epat pada saat kata-kata itu diucapkan . bagaimana dengan teks tertulis? Untuk dapat dikatakan sebagai tulisan dalam arti yang sebenarnya, maka teks tersebut harus berjuang untuk mengatasi ‘kematian’ pembicara yang membawanya di dalam komunikai oral. Apa peranan pengarang dan pembaca di dalam interpretasi sebuah teks? Apa yang menjadi ukurannya jika dikatakan bahwa teori interpretasi menggambarkan pengarang asli atau pembaca asli? Jika kita membicarakan tentang interpretasi, apa batasan proses tersebut? apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan penerapan, kelayakan dan permainan? Menurut Jean Greisch, semua pertanyan tersebut harus dijawab oleh orang yang ingin membuat interpretasi. Hermeneut menghendaki jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi pendahuluan dalam karya interpretasinya. Untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam perspektif yang semestinya, kita harus membedakan antara jenis teks berikut: 1. 2. 3. Sebuah teks tertulis yang merupakan transkripsi teks oral Teks tertulis yang maksudnya hanya untuk dibaca dan bukan untuk didengarkan Teks tertulis yang dimaksudkan untuk dibaca seperti sebuah teks sastra seperti yang banyak kita jumpai sekarang ini (Greisch, 1997:180)

Sebuah teks oral yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks tertulis pada dasarnya tidak memiliki ‘nilai tertulis’ sebagaimana dimaksudnya untuk dibaca, seperti karya sastra. Jika seseorang berbicara, maka ia mengikuti aturan-aturan berbicara yang berbeda dengan aturan-aturan membaca. Jika seseorang menulis,ia sadar akan kesuatuan, koherensi dan hubungans logis dari gagasan-gagasan dan bab-babnya, pengaturan pemakaian kata-kata serta redundansinya. Jika terdapat teks yang dimaksudkan hanya untuk dibaca tetapi ternyata dibacakan untuk didengarkan, maka teks tersebut menghasilkan sesuatu yang sumbang dan seringkali menghasilkan makna yang berbeda bagi pendengarnya. Derrida lebih suka mengoperasikan teks tertulis pada jenis yang ketiga, yaitu teks yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai teks, sebab teks ini mengikuti secara ketat aturan-aturan tentang sintaksis, tata bahasa dan gaya bahasa. Derrida tidak mengutip teori Ricoeur tentang polisemi, yaitu sebuah kata atau ungkapan ada kemungkinan mempunyai lebih dari satu makna. Ia cenderung mengatakan polisemi hanya laten dalam bahasa itu sendiri. Kasusastraan memang penuh dengan makna ganda. Sebagai contoh misalnya salah satu kalimat yang ditulis Shakespeare dalam Hamlet: ‘Orang ini, pembunuh bapaknya’. Walaupun di situ terdapat koma, namun orang tetap sulit memahami siapa pembunuhnya dan siapa yang dibunuh. Martin Heidegger memberikan arah baru dalam perkembangan hermeneutika. Hermeneutika tidak lagi sekedar sebuah prinsip umum untuk melakukan interpretasi teks, melainkan hermeneutika adalah cara berada manusia. Ia mengubah hermeneutika tradisional menjadi sebuah filsafat, sebuah hermeneutika ontologis. Interpretasi bagi Heidegger adalah salah satu dari cara mengada manusia (yang lain adalah mood dan diskursus). Memahami (understanding) umumnya dilihat sebagai mengetahui atau kognisi. Heidegger menolak ini; memahami baginya adalah bagaimana manusia mengalami sebuah situasi dan bagaimana ia siap untuk menghadapi situasi tersebut. Semakin seseorang bisa menghadapi sebuah situasi, semakin ia “memahami” situasi tersebut, semakin ia mampu bertindak, dan ia semakin bereksistensi. Interpretasi adalah salah satu cara untuk mengartikulasikan pemahaman ini. Ia melihat kemungkinankemungkinan dari sebuah situasi. Ia hadir dalam setiap situasi dan mencari jalan untuk menghadapi situasi tersebut. Interpretasi tidak harus dalam bentuk verbal atau linguistik, atau dalam bentuk sebuah proposisi. Ia juga bisa berbentuk sebuah aksi. Heidegger lebih melihat proses pemahaman sebagai sebuah aksi ketimbang proses teoretisasi. Memahami adalah cara praktis manusia bergaul dengan dunianya. Teori hanyalah sebuah bentuk praktis. Interpretasi hanyalah salah satu modus dari pemahaman. Dan pada akhirnya interpretasi dalam bentuk bahasa hanyalah salah satu bentuk dari interpretasi. Bahasa hanyalah sebuah instrumen dari pengertian.

teori. Hal ini seperti halnya pada lingkaran hermeneutik tradisional terlihat seperti sebuah paradoks. dan sekaligus sebagai penyebab “salah mengerti” ataupun “salah paham”. dan dalam arti khusus metode merupakan cara berfikir menurut sistem aturan tertentu. Cara pandang filsafat Pandangan kefilsafatan memandang penting bagi kita untuk mengetahui “dimana kita berpijak” atau “dari sudut mana kita meninjau”bila kita berhadapan dengan hal-hal atau pernyatan-pernyataan tertentu. misalnya keyakinan. kebudayaan. Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bahwa filsafat berhubungan dengan spekulasi dan analisis. Ada yang menghubungkan ‘makna’ dengan kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar kita atau di mana kita hidup. memahami. hipotesis. tanpa ada kekecualiannya. telah banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf analitik. Cara pendang yang “sintetik”adalah sisitem berpikir yang mengarah pada pandangan dunia yang terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil dan koheren (berkesinambungan). maka segala uraiannya tentang hermeneutic sedikit banyak diwarnai pula oleh pandangan hidup para hermeneut itu sendiri serta latar belakang kehidupannya. atau tokoh lain yang mempengaruhinya. kehidupan. pernyataan. 1. dsb. Apa yang telah dilakukan oleh para hermeneut tersebut pada dasarnya hanyalah mengundang kita untuk melihat secara lebih dekat bahasa yang kita pergunakan. Bila dalam arti luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan maksud untuk mencapai hasil optimal. yaitu sebagai alat untuk mengerti dan memahami. filsafat juga bersifat selalu bertanya. maupun meyakini bahwa makna muncul pada saat bahasa dipergunakan. dan evaluative. kritis. Namun Heidegger tidak menutup kemungkinan untuk melakukan interpretasi. Filsafat menganalisis dan mengevaluasi semua hal tersebut sekritis-kritisnya. KESIMPULAN Problem tentang Makna Studi tentang peranan bahasa dalam komunikasi dan proses berpikir. dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk kearah interpretasi. Bagi mereka istilah ‘bermakna’ atau tidak’bermakna’ adalah persyaratan utama untuk mencapai kebenaranKita seringkali terperangkap di dalam penggunaan bahasa dengan rangkaian kata-kata yang muluk-muluk. Jadi bila kita melihat kembali pandangan-pandangan hermeneut diatas. Filsafat akhirnya juga kita mengerti sebagai sebuah ‘teka teki’ yang sulit untuk dijawab dan dijelaskan. 1. Sehubungan dengan hal ini maka persoalan yang timbul kemudian adalah “problem tentang makna”. . 1. Hermeneutik sebagai metode yang “Open-Minded” Hermeneutik bukanlah merupakan “barang” baru. Dilthey mengajak kita untuk melakukan kritik sejarah dengan mencoba menelusuri kembali segala peristiwa dalam sejarah. yang pada akhirnya membuat kita frustasi sendiri. Cara pandang semacam tikini menunjukkan bahwa filsafat adalah kegiatan yang bersifat integrative atau kegiatan yang mengarah pada sintesis berbagai macam unsure kedalam keseluruhan yang bersifat koheren dan terpadu. Yang dibutuhkan adalah dialog antara teks dan sang penafsir sehingga teks semakin membuka dirinya untuk ditafsirkan. Ciri khusus peranan bahsa itu nampak melalui penggunaan bahasa sebagai medium dalam komunikasi gagasan. Filsafat mempersoalkan apa saja. serta khususnya dalam persoalan yang menyangkut bagaimana mengidentifikasi. maka yang menjadi persoalan adalah: sejauhmanakah metode yang dipergunakan di dalam hermeneutik dapat kita pergunakan untuk ‘ memehami’ pemikiran kefilsafatan? 1. Bahasa akan menjadi bahasan hermeneutic sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah. Bagi para beberapa filsuf. Pandangan semacam ini juga mengandaikan keterlibatan pribadi didalam filsafat.Heidegger juga memperkenalkan lingkaran hermeneutik yang baru: sebuah pertanyaan selalu dibentuk oleh ekspektasi sebelumnya yang akan menentukan jawaban yang metode yang akan didapatkan. pengertian tentang makna dibahas berdasarkan motivasi-motivasi tertentu. analitik. yaitu berupa pandangan hidup seseorang.

kesadaran bukan sekedar kesadaranakan sesuatu. pemahaman yang sesungguhnya itu tidak dilihat dalam suatu “pernyataan” sebagai buah nalar (ratio). menangis. Heidegger berpandangan bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih mendasar dari pada kesadaran dan pengetahuan manusia. melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita. Kesadaran kita. Heidegger menyebut kegiatan berada Dasein sebagai berada-dalam-dunia. Dasein berarti berada-di-sana. seseorang dikatakan memahami palu bukan karena ia bisa menyatakan palu adalah alat untuk menancapkan paku pada papan. fenomenologi Husserl ini berbeda dengan Heidegger. papan menunjuk pada rumah dan seterusnya. Menurutnya. Ada tidak dicari pada yang fisik melainkan lewat fenomena misalnya lewat fenomen tertawa. Ada lebih utama dari kesadaran. Artinya. Arah pendekatan Heidegger adalah keberadaan manusia itu sendiri. tanpa kita menafsirkan fenomen-fenomen itu. melainkan dalam tingkat fundamental (tidak perlu dipikirkan lagi). Husserl dan Heidegger: Dua Tipe Fenomenologi Fenomenologi merupakan pendekatan yang dirumuskan Edmund Husserl pada awal abad ke-20. Pendekatan Husserl terarah pada fungsi kesadaran sebagai subyektivitas transendental. Karena Heideggerr berusaha mencari pemahaman melalui fenomen maka ia memakai metode Fenomenologi.SUMBANGAN HEIDEGGER KEPADA HERMENEUTIKA DALAM “BEING AND TIME” Pengantar Filsafat Heidegger beranjak dari persoalan bahwa para filsuf telah banyak mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang dunia tetapi mereka mengabaikan kenyataan yang paling penting. Ia berusaha melihat fenomen sebagai realitas yang menampakkan diri apa adanya. proyeknya dalam Being and Time adalah “hermeneutik Dasein”. melainkan jika tanpa perlu berpikir lagi ia langsung menggunakan palu itu untuk menancapkan paku pada papan (pemahaman pra konseptual). Melihat begitu pentingnya arti “dunia”. Dunia mempunyai ciri referensial. melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Term ini tidak pernah digunakan Husserl untuk merujuk pada karyanya. Perbedaan fenomenologi Husserl dengan metode fenomenologis Heidegger dapat diringkas dalam kata “hermeneutik” itu sendiri. Jadi. yaitu bahwa dunia ada. Apa maksudnya? Kita tidak sekedar menyadari sesuatu. Fenomenologi telah membuka bidang pemahaman fenomena pra-konseptual. Ia membiarkan palu (fenomen pengada) termanifestasikan apa adanya. Namun. Adanya selalu menunjuk pada sesuatu misalnya palu menunjuk pada paku. Fenomen yang diteliti itu adalah manusia. di dunia. Salah satu kegiatan itu adalah memahami. karena kesadaran hanyalah cara Ada menampakkan diri. tetapi juga sadar bahwa dunia ini turut membentuk kita yang ada di dalamnya. sementara Heidegger mengatakan bahwa dimensi otentik metode fenomenologi membuat karyanya (Being and Time) bersifat hermeneutis. Ia menyebut manusia sebagai dasein(eksistensi). Sedangkan Heidegger justru melihat media vital historisitas “keber-ada-an” manusia di dunia. Bagi Heidegger. Fenomenologinya merupakan hermeneutika terhadap fenomena. Kita tidak hanya sadar hidup di suatu dunia. berjalan dan sebagainya. menurut Husserl selalu terarah pada sesuatu di luarnya (sadar akan sesuatu). Ini adalah penemuan baru Husserl. Ini berbeda dengan Husserl yang menganggap keberadaan Ada sebagai datum kesadaran. Term tersebut . Pemahaman lantas menjadi elemen penting hermeneutika. Heidegger berusaha untuk mencari arti syarat awal eksistensi yang ia sebut sebagai Ada. paku menunjuk pada papan.

Fenomenologi Husserl hanya mengelaborasi “pola yang telah di bentuk oleh Descartes. Misalnya dalam Descartes. melainkan hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. Ada lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas.mengasumsikan adanya bias anti sains yang bisa membedakan secara nyata Heidegger dengan Husserl. Metode ini menunjukkan bahwa interpretasi tidaklah didasarkan pada kesadaran dan kategori yang dibuat manusia. Phainomenon/phainesthai berarti yang menampakkan diri. Heidegger menawarkan strategi lain dalam mendekati fenomen kesadaran: membuka diri terhadap Ada dan membiarkan Ada tampak apa adanya (memahami). tidak diartikan sebagai ‘nalar’ atau ‘landasan’. Jika aku menyadari danau di luar diriku maka danau itu ada. Menurut Heidegger. kenyataan atau ada itu diciptakan oleh kesadaran. Logos berarti sesuatu yang dengan sendirinya membiarkan sesuatu itu muncul. Fenomenologi Hermeneutis Dalam bagian buku “Sein und Zeit” yang berjudul “The Phenomenological Method of Investigation”. Heidegger menyebut metode fenomenologinya sebagai “hermeneutika”. tanpa memaksakan kategori-kategori kita sendiri pada benda-benda tersebut. Logos membiarkan ssuatu itu tampak sebagai sesuatu. Heidegger berusaha mengatasi filsafat modern yang berporos pada kesadaran atau subyektivitas. Ia bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya . Filsafat dalam pegertian Husserl secara mendasar masih sains. Hermeneutika ini bukanlah suatu metode filologi. Apa itu historisitas Ada? Kita harus membayangkan seluruh manusia dan alam semesta ini sebagai suatu cerita tentang penampakan diri Ada dalam berbagai maknanya. Pandangan semacam ini yang ditolak Heidegger. sementara bagi Heidegger filsafat menjadi pemikiran historis. Di sini historisitas masih asing”. suatu ilmu yang kaku. Garis pembeda antara dua tipe fenomenologi di atas. tetapi pada realitas yang menampakkan diri apa adanya. Logos menjadi hermeneutika. juga bukan metode memahami (Geisteswissenschaften) seperti yang diungkapkan Dilthey. Heidegger. Fenomenologi berasal dari akar kata Yunani yang merupakan kombinasi kata polimorfemikphainomenon atau phainesthai dan logos. Dengan kata lain. Kant. ia juga harus menjadi hermeneutika eksistensi. ontologi harus menjadi fenomenologi. atau tampak apa adanya. Lantas apa hubungannya dengan hermeneutika? Sebagaimana ontologi menjadi fenomenologi tentang Ada. Karena itu fenomenologi tidak sekedar untuk membuka kesadaran manusia belaka tapi juga sebagai sarana untuk mendekati Ada dalam seluruh faktisitas dan historisitasnya. Di sinilah penekanannya bahwa fenomenologi harus menjadi hermeneutis. melainkan hanyalah salah satu cara Ada menampakkan diri dalam kesejarahan Ada (historisitas Ada). Bukan kita yang menunjuk benda atau realitas. kombinasi phainomenon/phainesthai dan logos berarti membiarkan benda-benda (fenomen) termanifestasikan sebagaimana adanya. Dalam penggalan tertentu yang kita sebut ‘zaman modern’. Untuk mengerti hal ini. Sedangkan logos adalah sesuatu yang dipahami dalam pembicaraan. penemuan kreatif masa lalu. Tetapi ini tidak berlaku untuk segala zaman. Ini berarti berlawanan dengan kebiasaan yang telah ada. Heidegger kembali pada akar kata fenomenologi. Dengan demikian. Kesadaran yang ditemukan Descartes itu bukanlah segala-galanya sebagaimana dipikirkan oleh Descartes. tapi realitas itu sendiri yang menunjukkan dirinya kepada kita. sesuatu yang termanifestasikan. dan Fichte. dalam Being and Time berusaha mendekati Ada sebagai fenomen. Dengan demikian. secara jelas tergambarkan pada persoalan yang lain yaitu “historisitas”. Metode fenomenologi ini menjadi signifikan bagi teori hermeneutis.

psikologi) lebih dari sekedar datum. Dalam pemikiran Schleirmacher. dalam pemahaman seseorang menyatukan diri dengan pembicara atau penulis sebagai seorang yang dipahami. Hakekat Pemahaman: Heidegger Melampaui Dilthey Pemahaman (Verstehen) merupakan term khusus yang dipakai Heidegger. dengan segala kemanifestasiannya. Heidegger menekankan pentingnya ‘dunia’ dengan menyebut kegiatan berada Daseinsebagai beradadalam-dunia. dunia tidak hanya dipahami sebagai tindakan mengetahui suatu entitas. Bagi Heidegger. ekonomi. Dilthey menegaskan bahwa kebermaknaan selalu merupakan sesuatu yang merujuk ke dalam konteks keberhubungan. Dunia tidak dapat dipahami dengan menaksir entitas yang ada di dalamnya karena dengan cara ini dunia tidak akan mempunyai arti. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. pemahaman terhadap Dasein sendiri merupakan bagian yang penting dalam hermeneutika Heidegger. Heidegger suka mengangkat “lingkaran hermeneutik”: manusia mencari pengetahuan karena belum tahu dan sudah tahu (pra pemahaman). Dalam pemikiran Dilthey. melainkan suatu proses ontologis. Pemahaman adalah cara berada di dunia. puisi. suatu persoalan prinsip yang sudah umum bahwa pemahaman selalu berlaku dalam sebuah lingkaran hermeneutis. pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakekat eksistensi manusia. Karakteristik penting pemahaman bagi Heidegger adalah bahwa ia selalu berlaku dalam suatu hubungan yang sudah diinterpretasikan. Inilah pemahaman yang fundamental. Pemahaman merupakan dasar bagi semua interpretasi. Kita merupakan bagian dunia seperti dunia merupakan bagian kita. Dengan kata lain. Seorang pribadi tanpa dunia tidak . Akhirnya dapat dikatakan bahwa pemahaman dalam pemikiran Heidegger telah menjadi ontologis. Artinya. yang merupakan struktur eksistensial Dasein yang memungkinkan terjadi pengalaman ditingkat empiris serta memungkinkan terjadinya pengetahuan yang lainnya. Dunia itu suatu keseluruhan dimana ada manusia menemukan dirinya sudah terlempar kedalamnya. Hermeneutika Heidegger melangkah lebih jauh dari Dilthey karena Heidegger mengeksplorasi implikasi lingkaran hermeneutis bagi struktur ontologis pemahaman eksistensi manusia dan interpretasinya. Kemungkinan-keungkinan itu terbuka justru pada prakteknya. Maknanya berbeda dengan pemahaman yang dimaksudkan oleh Schleirmacher dan Dilthey. melainkan sebagai suatu ekspresi hidup. Dengan demikian. Hermeneutika menjadi “interpretasi Dasein”. Pengunaan garis hubung menekankan bahwa tidak ada jarak antara diri kita dengan dunia. sebagai pengungkapan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Dunia dan Hubungan Kita dengan Obyek di Dunia Yang dimaksud dunia dalam pemikiran Heidegger tidak sama dengan bumi atau alam semesta belaka atau lingkungan kita. Selanjutnya.suatu teks) melainkan kegiatan primer interpretasi yang membuka hakekat Ada. Akhirnya Heidegger sendiri mendefinisikan esensi hermeneutika sebagai kekuatan ontologis ‘pemahaman’ dan ‘interpretasi’ yang memungkinkan keberadaan sesuatu khususnya keberadaan Dasein dapat terungkap. atau fakta (sosial. bukan pada yang dipikirkan. Karena itu. pemahaman mengacu pada level komprehensi lebih dalam yang melibatkan perolehan suatu gambar. melainkan (dari sudut pandang Dasein) suatu tempat untuk dimukimi. dan senantiasa hadir dalam setiap kegiatan intepretasi. pemahaman didasarkan pada afirmasi filosofisnya terhadap identitas dalam.

dalam kebungkaman. Karena itu. hal ini menunjukkan bahwa mereka saling memahami satu sama lain. Singkatnya. Percakapan di sini bukan dipahamai sebagai komunikasi verbal. Jika kita cermati. Dia tidak ‘terletak’ di suatu tempat tetapi memukimi suatu tempat. Kebermaknaan yang dimaksudkan oleh heidegger adalah Rede atau percakapan. lampu. bahkan ia tidak bisa melihat Dasein atau apapun dalam kemanifestasiannya sendiri tanpa dunia itu. alat tulis dan alat-alat lainnya atau juga benda-benda yang bukan alat atau teman dan dosen kita sendiri. papan tulis. Apa bedanya? Air. seseorang yang baru di PHK termenung di taman sampai pada pemahaman akan makna hidupnya lalu mengambil keputusan untuk . kita akan menjumpai ada kursi. maka intensi yang diandaikan begitu saja akan tersingkap dan disadari. pakaian. Ada menyingkapkan dirinya dalam kebermaknaan. Dunia ini lebih dari sekedar lahan aktivitas prasadar persepsi pikiran. Ia mempunyai struktur ‘untuk’ karena itu selalu mengacu pada alat-alat lain. Jika ada gangguan. Pemahaman juga tidak dapat dipisahkan dari interpretasi karena interpretasi merupakan penerjemahan eksplisit dari pemahaman. Kita tidak tergeletak di dalam dunia melainkan terlibat dan kerasan di dunia. tempat kita eksis. melainkan suatu penyampaian makna yang mendahului artikulasinya dalam bahasa. Ia adalah lahan di mana resistensi dan posibilitas dalam struktur ada membentuk pemahaman. Inilah momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan namun disampaikan lewat disposisi dasar eksistensial mereka masing-masing. pemahaman dan interpretasi. Dalam pemahaman. gelas. Apa yang ditemui Dasein di dunia? Dan bagaimana hubungan ada kita (sebagaiDasein) dengan obyek yang ada di dalamnya? Jika kita berada dalam suatu ruang kuliah. dan almari dengan cara yang sama berada ‘dalam’ suatu tempat. Dasein tak pernah ada di dalam ruang melainkan menduduki ruang. Dunia dan Daseinmerupakan relitas yang tak terpisahkan. Arti kata depan itu di hadapan Heidegger sangat kompleks. melainkan menunjukkan bahwa ‘percakapan’ itu bukan pengucapan makna secara verbal. manusia juga bisa bertutur. meja. Pengalaman ini mengasumsikan prinsip hermeneutis bahwa keberadaan sesuatu terungkap tidak dalam tatapan analitis kontemplatif melainkan dalam momen di mana ia muncul secara tiba-tiba dari kesembunyiannya dalam konteks dunia yang sangat fungsional. Misalnya. Pemahaman dan Interpretasi Fenomen kerusakan yang menyingkapkan keberadaan sebuah alat sebagai alat mengarah pada ‘dunia’ yang sangat luas. Pemahaman sangat berkaitan erat dengan kebermaknaan di atas. Makna pernyataan: Dasein berada-dalam-dunia tidak dimengerti seperti air ‘dalam’ gelas atau pakaian ‘dalam’ almari. Ini bukan paradoks. Kata ‘dalam’ pada ‘berada-dalam-dunia’ juga harus dimengerti dengan tepat. benda atau alat-alat tersebut adalah selalu “untuk sesuatu” (intensional). Seorang memandang dengan benar melalui dunia. Kita lalu menjadi sadar akan ketergantungan kita pada materi tersebut. misalnya alat tulis hilang atau kursi rusak atau lampu mati. Ungkapan kata sebagai ini merupakan suatu terjemahan eksplisit pemahaman atau suatu interpretasi.masuk akal. Kita sering mengunakan alat-alat itu nyaris secara spontan. suatu ‘dunia’ bisa dilihat sebagai ini atau sebagai itu. Dua teman karib yang lama tidak berjumpa akan terpaku saling memandang tak berkata-kata saat mereka tak berjumpa lagi. Sedangkan Dasein berada dalam dunia secara khas. ia merupakan lahan proses hermeneutis di mana ada tertematisasikan sebagai bahasa. Kebermaknaan Prapredikatif. Di sini temporalitas dan historisitas ada hadir secara tegas. melainkan penyampaian makna tanpa artikulasi apapun.

. Dalam interpretasinya. Bagi Heidegger. Pernyataan seperti ini akan memutuskan ada (palu) dari kebermaknaannya sebagai akar dari keberadaannya. palu diinterpretasikan sebagai sesuatu dengan kekayaan sifatnya. Inilah saat diam yang penuh makna. melainkan pada pemahaman pra sadar dimana kita sudah tidak perlu memikirkannya lagi. atau momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan lewat kata. ia telah melewati interpretasi atas situasi dirinya. Ini merupakan suatu pemahaman yang terbentuk lewat logika (pemikiran).hidup masa depannya. Tentu yang dikatakannya itu juga tidak terpisah dari momen kebermaknaan prapredikatif yang telah dilaluinya yakni saat dia duduk termenung di taman. “pernyataan” (Aussage) bukanlah suatu bentuk dasar interpretasi. dalam hal ini bobot beratnya. Lalu pernyataan ini menjadi penyataan logis yang menempatkan palu tidak lagi sebagai sebuah “alat” (sebagaimana adanya) melainkan sebagai sebuah obyek. Pernyataan itu adalah turunan dari pemahaman primer yang pra sadar (fundamental). ia bisa mengatakan: “O saya memahami musibah ini sebagai peluang untuk berkembang lebih baik”. melainkan mencoba keluar dari keterpurukan dengan menafsirkannya. Heidegger memberikan suatu contoh pernyataan: “Palu itu berat”. Interpretasi disini bukan berarti meratapi pemecatannya. Dalam pernyataan ini. sedangkan pemahaman yang diungkapkan melalui kata-kata (pernyataan) merupakan pemahaman sekunder. Karakter Derivatif Pernyataan Pemahaman yang paling dasar tidak terletak pada suatu pernyataan produk akal budi.

Pengertian dan Sejarah Awal Hermeneutika Hermeneutika adalah sebuah kajian mengenai teori interpretasi atau penafsiran. Persoalan penafsiran bibel seiring kemunculan protestan ini menggiring kepada kajian kritis terhadap teks bibel itu sendiri.HERMENEUTIKA Pengantar Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. pendekatan kritis kepada teks Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkembang. Hermeneutika cukup sulit didefinisikan secara tunggal. Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora.[1] Kajian kritis ini kemudian berkembang tidak hanya berlaku pada teks-teks bibel tapi termasuk teks-teks lainnya. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis. Pada abad ke17 dan ke18. Akan . kemudian berkembang lagi meliputi segala hal yang dapat disamakan dengan teks hingga usaha memahami makna kehidupan. Bahkan. Studi ini mulai berkembang dalam kritik penafsiran bibel seiring dengan kemunculan protestan. Hal ini merujuk sekian banyaknya teori tentang hermeneutika itu sendiri dan juga perkembangannya. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa. Mereka semakin menyadari bahwa persoalanpersoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa.

kata ini memiliki tiga bentuk makna dasar. Semua teks termanifestasikan melalui bahasa. “interpretasi”. hermeneutika berasal dari kata kerja Bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggris “to interpret”. Keenam definisi ini tentu saja terkait tahapan historis kajian hermeneutika hingga masa Palmer saja. Secara etimologi.tetapi. oleh karena itu bilamana prinsip-prinsip . dan (6) Hermeneutika sebagai sistem interpretasi[3]. namun masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi. seperti menjelaskan sebuah situasi. ia menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi. seperti di dalam penerjemahan bahasa asing. Masing-masing definisi ini sekedar merupakan tahapan-tahapan historis. kajian hermeneutika semakin berkembang. (2) menjelaskan. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk verba dari hermeneuein.[2] Richard E. tentu saja terdapat titik temu dari semuanya terlebih jika dimaklumi bahwa sekian tersebut sama-sama menggunakan istilah hermeneutika yang mana bisa dirunut maknanya secara etimologi. Pasca Palmer. (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic. dan kata benda hermeneia. (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologis. Keenam definisi tersebut adalah. “to say”. (3) menerjemahkan. tidak sampai masa sekarang. yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata. (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenchaften. lepas dari itu. (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel. Dalam penggunaan aslinya. misalnya. (5) Hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial. Hermeneutika dalam Kilasan Tokoh Schleiermacher (1768 –1834) (Hermeneutika teoritis/romantisis) Friedrich Schleiermacher adalah orang yang dianggap mampu mengangkat hermeneutika tidak sekedar dalam konteks kajian Bibel tapi semua bacaan. Palmer (1969) dalam bukunya memberikan 6 definisi modern hermeneutika.

[5] Dalam rangka merekonstruksi makna. yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks. dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas. maka terwujudlah hermeneutika umum[4]. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”. Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas. Sebab. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis. dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas. hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks.pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan.[6] Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik. teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya. oleh karenanya kajian beliau dikenal dengan istilah hermeneutika teoritis. pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung. kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks. untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya. Dengan demikian. Hal ini . Scheleirmacher menawarkan dua pendekatan: pertama. Kajian hemeneutika beliau ini berpusat mengenai bagaimana memperoleh pemahaman yang benar.

Karena itu.[7] Dilthey (Hermeneutika Metodis) Perkembangan berikutnya ditandai oleh pemikiran Wilhelm Dilthey yang membedakan antara ilmu alam / ilmu eksakta (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial dan humaniora / ilmu non-ekaskta (Geisteswissenschaften). Sebab pengalaman itu dimediasi oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas pada masanya. hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah. Betti termasuk tokoh hermeneut yang menganut hermeneutika teoritis yang mencoba memadukan antara teori Schleiemacher dan Wilhelm Dilthey. Sebagaimana .juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul. Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. bukan ekspresi mental penggagas. untuk merekonstruksi makna teks. non-fisik. yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey. dengan mengambil penekanan yang sedikit berbeda dengan hermeneutika teoritis Schleiermacher yang menekankan pada pencarian makna obyektif yang dihendaki penggagas. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduknya. sementara ilmu sosial dan humaniora mencoba mencari tahu dan memahami (verstehen) sesuatu yang bersifat psikis.[8] Selanjutnya.[9] Emilio Betti E. Dilthey menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga. Karena itu. berbeda dengan Schleiemacher. Di sinilah sikap empati pembaca terhadap teks menemukan tempatnya. adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks. Ilmu alam menjelaskan (erklären) sesuatu dan bertanya tentang penyebab-penyebab terjadinya sesuatu secara fisik. menurut Dilthey tidak harus menyelam ke dalam pengalaman penggagas.

penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kerja imajinasi dan wawasan. bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya suatu teks). untuk mencari ungkapan bahasa yang tepat sehingga das sein dapat benar-benar menjadi bahasa. hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obyektif.[11] Fenomenologi hermeneutika Heidegger adalah suatu fenomena tentang ‘ada’. tiga.pendahulunya. suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. sehingga selanjutnya dapat dikomunikasikan. Menurut beliau.[10] Heidegger (Fenomenologi Das Sein. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. pada hakikatnya hermeneutika adalah merupakan ciri hakiki manusia. hermeneutika beliau yang lebih menekankan fenomenologi das sein ini dikenal dengan hemerneutika filosofis. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. Betti menawarkan empat momen gerakan alam menemukan makna obyektif: pertama. Pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. sebagai penguakan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. penafsir harus mengosongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan. Heidegger memandang bahwa bahwa bahasa adalah tempat tinggal ‘sang ada’. Das Sein sebagai penyebab munculnya kegiatan berfikir menurut Heidegger adalah merupakan bahasa yang sejati. melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai dari ungkapan teks. Gadamer . penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik teks. kedua. Oleh karenanya. melainkan merupakan proses ontologis. melainkan kegiatan primal interpretasi yang membuka hakikat ‘ada’ menjadi terbuka. Kegiatan berpikirf adalah merupakan suatu jawaban terhadap das sein. Gadamer menolak anggapan hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna obyektif. empat.[12] Hans Georg Gadamer (Hermeneutika dialogis) Sebagai penerus Heidegger. Hermeneutika dialektis) Martin Heidegger membawa hermeneutika ke ranahnya yang bersifat ontologis.

Sebagai tawarannya. setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon. Kedua. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. memahami bukanlah komuni misterius jiwa-jiwa dimana penafsir menggenggam makna teks yang subyektif. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks. Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci hermeneutis[13]: Pertama. Ketiga. langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks. karena dua alasan: pertama. bukan makna obyektif teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. menurut Gadamer. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. Keempat. horizon pembaca dan horizon teks. Memahami menurutnya adalah sebuah fusi horizon-horizon: horizon penafsir dan horizon teks. Sebab. situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. hermeneutika filosofis mengandaikan seorang penafsir atau pembaca didahului oleh horizon pembaca yang kemudian membentuk pra pemahaman. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup. pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. Penafsir sejatinya . Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks. Kedua. Namun penting digaris bawahi bahwa Gadamer tidak bermaksud memberikan kebebasan mutlak bagi penafsir. yakni agar penafsir bersikap terbuka pada teks. maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks. Dalam kegiatan penafsiran.menganggap tidak mungkin diperoleh pemahaman yang obyektif atau definitif sebuah teks sebagaimana digagas para penggagas hermeneutika teoritis. orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya. Gadamer tetap memberikan ramburambu.

Begitu makna produktif ditemukan. melainkan “makna yang berarti” bagi pembaca. Tentu makna yang diterapkan bukanlah makna obyektif sebagaimana dimaksudkan hermeneutika toritis. yaitu mengaitkan hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. melalui fusi horison pembaca dan horizon teks. yaitu takdir Tuhan. ada syarat suatu peristiwa yang dapat diterangkan melalui CLM. lantaran keduanya merefleksikan keterkondisian historis umat manusia. Yang kedua adalah Hermeneutika. sebagaimana pembaca. Dengan prinsip makna tidak ditemukan di dalam teks. dan pola hukum yang tidak menjelaskan seperti peristiwa x terjadi karena peristiwa x terjadi. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain (seolah-olah terlibat dalm suatu perisitiwa). yakni mempertemukan pra pemahaman pembaca dengan cakrawala atau horizon teks. Menurut Gadamer. Dalam negosiasi itulah. Sebab. ramalan. Pola CLM tidak berurusan dengan peristiwa unik atau individual yang dijelaskan pola hukum lainnya.Oakeshott menyatakan bahwa penelitian terhadap masa silam itu tidak mungkin dilakukan. Adapun persyaratan CLM. makna yang dicari bersemayam. Makna itu mempunyai nilai bagi kehidupan pembaca. Gadamer berpendapat bahwa “memahami” adalah tindakan sirkuler antara teks dengan pembaca yang disebut the fusion of horison. Tujuan dari pola CLM adalah untuk mencari hubungan sebab dan akibat. keduanya pasti hadir dalam setiap tindakan menafsir. langkah selanjutnya adalah menerapkannya ke dalam konteks di mana pembaca berada.membiarkan teks menghadiri penafsir untuk kemudian diadakan dialog antara keduanya untuk menghilangkan ketegangan. tujuan utama hermeneutika filosofis adalah “memproduksi makna teks”. karena suatu penelitian sendiri dibutuhkan direct observation. Penekanan Gadamer pada fusi horizon dalam menemukan makna didasarkan pada argumen bahwa seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tradisi dan prasangkanya dan apalagi memasuki tradisi dan prasangka orang lain. Padahal masa silam dapat diteliti tanpa melakukan direct observation. Berbeda dengan hermeneutika teoritis yang hendak “merekonstruksi makna”. teks juga mempunyai sejarahnya sendiri yang disebut horizon teks. dan (2) Ada pola semu yang harus ditolak. Teori empirsme ekstrim oleh M. Dalam percakapan atauun .Yang pertama adalah CLM (Covering Law Model). Peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. yaitu (1) Pola hukum yag muncul pada premis pertama harus dikonfirmasi oleh sema fakta yang relevan atau tidak berlawanan dengan fakta. Untuk dapat meneliti tentang masa silam terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan. Selain itu. bukan bagi kehidupan penggagas.

Hermeneutika ingin mengerti mengapa seseorang berbuat begitu atau begini. Teori ini mengandaikan bahwa kedua pihak memiliki landasan atau awal yang sama. Pengembang teori hermeneutika di Jerman berikutnya yaitu Gadamer. Teori . adalah mementaskan kembali di panggung batinnya. Verstehen tidak dapat diterapkan pada ilmu eksakta. Pengembang teori hermeneutika di Jerman selanjutnya adalah W. setiap pengalaman baru ditentukan oeh semua pengalaman yang sampai pada saat itu pernah dimiliki. Adapun proses hermeneutika. dan keseluruhan teks hendaknya dimengerti dengan bertitik tolak pada bagianbagian. ’ausdruck’ dan ’verstehen’. Dilthey. Dilthey memakai psikologi sebagai ilmu bantu. Cara kerja teori ini adalah melacak komunikasi yang terganggu. Ada pengaruh timbal balik antara pengalaman baru dan lama. yaitu: (1) Gadamer menolak pemisahan Dilthey tentang kenyataan dan pengalaman mengenai kenyataan. sejak kapan mulainya. Konotasi verstehen ”Dalam keadaan itu. dengan memasuki alam pikiran para pelaku sejarah. Ausdruck merupakan obyektivasi mengenai kebertautan atau koherensi dalam erlebnis. Pengalaman yang ditentukan proses timbal balik disebut ’erlebnis’. dan (3) bagi ahli sejarah. peneliti harus dapat memberi jawaban mengapa seorang pelaku sejarah berbuat demikian. (2) Pengetahuan dan pengalaman dari masa silam merupakan bagian dari eksistensi manusia. Asumsi Dilthey dengan rekonstruksi itu akan menghasilkan efek yang sama seperti halnya dengan pelaku sejarah dahulu. pengalaman dan proses-proses psikologi dan intelektual yang dahulu dirasakan seorang pelaku sejarah. Ide Dilthey berkisar pada konsep ’erlebnis’. Pengalaman baru memberi arti dan penafsiran baru terhadap pengalaman lama. aspek produktif dan reseptif. Erklaren terbatas pada gejala yang secara lahiriah dapat diamati. Menurut Dilthey. Kontribusi Dilthey tampak pada fenomenologi sosiologi. hermeneutika lebih pentingdari teori argumentasi. Teori argumentasi modern meneliti percakapan antara dua pihak manusia. dan menciptakan berdasarkan kesatuan dan kebertautan.penafsiran teks. berdasarkan landasan yang sama. Hal ini tidak hanya berguna untuk menafsirkan teks-teks atau maksud lawan bicara. aku sendiri juga akan berbuat dan berpikir demikian”. Tujuan hermeneutika adalah (1) menjembatani jurang antara dua titik pangkal yang berbeda-beda. (4) Pemahaman hermeneutika masa silam terikat dan bertaut dengan individualitas si peneliti. Tahap selanjutnya yaitu verstehen. (2) berusaha mengerti pihak lain berdasakan pengalaman sendiri dan pengalaman mengenai kenyataan dalam keseluruhan. Ausdruck melukiskan kenyataan sesuai dengan penghayatan atau persepsi (penyerapan) terhadap kenyataan. Dilthey terkenal dengan gagasannya yaitu geisteswisschenschaften (ilmu pengetahuan budaya). Menurut Schleiermacher. Adapun perbedaan pendapat antara Gadamer dan Dilthey. Tahap selanjutnya dalam hermeneutika adalah ausdruck atau ungkapan. peneliti harus masuk ke dalam kulit lawan bicara atau pengarang sambil menimba dari pengalaman hidup kita sendiri. Ausdruckmenekankan kesejajaran antara penafsiran teks dn struktur erlebnis. Dalam ilmu alam ada erklaren (menerangkan) yang didasarkan pada pola hukum umum. Bentuk pengetahuan lewat verstehen lebih lengkap dari erklaren karena ”Dunia alami hanya merupakan bayangan”. bagian-bagian (teks) ditempatkan dalam keseluruhan teks. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain. kebertautan (zusammenhang) antara pengalaman lama dan baru. (3) Gadamer menolak adanya metode hermeneutika. Dalam menjelaskan perbuatan seorang pelaku sejarah.

Perbedaan pokok antara pengkajian sejarah dan ilmu eksakta bahwa peneliti sejarah tidak hanya berurusan dengan kelakuan lahiriah obyek penelitiannya. Terdapat perbedaan-perbedaan antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta. White. masa lalu dapat diulangi dalam batin kita sehingga pengetahuan berdasarkan pengalaman masa silam tidak mustahil. Re-enactment terjadi dalam batin peneliti sejarah yang imajinatif dalam ekstrapolasi dan intrapolasi menurut pengalamannya sendiri.G. Menurut Collingwood. Collingwood dan H. Lebih lanjut tentang: Pemikiran Sejarah: Filsafat Sejarah (I) . yaitu mengulangi apa yang hidup dalam benak para tokoh sejarah. Collingwood menggunakan konsep re-enact. melauinkan juga dengan batin (segi dalam) kelakuan mereka.Hermeneutika di Inggris dan Amerika Serikat ini dikembangkan oleh R.

A Wattimena Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. Sementara hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. teori kritis memiliki satu pengandaian dasar. Retorika adalah seni untuk memaparkan pengetahuan. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah retorika dan filsafat praktis (etika). Pada bab ini saya ingin memperkenalkan sebuah metode yang sangat berkembang pada awal dan pertengahan abad kedua puluh. di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya. yakni hermeneutika. dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu sosial yang membuat manusia tidak mampu mengembangkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin. bahwa rasionalitas universal manusia mampu melakukan kritik atas kapitalisme. Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya. terutama hermeneutika yang dirumuskan oleh Hans Georg Gadamer. Teks ini memang dalam . Di dalam sejarahnya retorika dan hermeneutika memang selalu terkait.Hermeneutika Hans-Georg Gadamer Reza A.

yakni realitas itu sendiri. termasuk Truth and Method. Untuk melakukan itu ia kemudian kembali membaca tulisan-tulisan Plato. Akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas. Gadamer menjadikan etika sebagai dasar bagi hermeneutika. dan sifatnya instrumental. Di dalam beberapa tulisannya. terutama ilmu-ilmu sosial. . bahwa hermeneutika dan retorika lebih merupakan seni.bentuk tulisan. Gadamer mencoba untuk melepaskan hermeneutika dari wilayah ilmu pengetahuan. dan bukan ilmu pengetahuan. Dalam arti ini dialog kehilangan dimensi rigorus saintifiknya. Gadamer sendiri berulang kali menegaskan. terutama pada bagian etika. saintifik. bahwa hermeneutika dan retorika saling membutuhkan satu sama lain. Retorika mengandaikan orang memahami teks. yang merupakan karya terbesarnya. dan menjadi percakapan rasional untuk memahami suatu persoalan. Selain itu Gadamer juga membaca tulisan-tulisan Aristoteles. Menurut Gadamer hubungan antara pembaca dengan teks mirip seperti hubungan dialog antara dua orang yang saling berbicara. Sementara pemahaman tidak boleh berhenti di dalam diri seseorang saja. melainkan juga dapat disampaikan dengan jernih kepada orang lain. Tujuan utamanya tetap yakni melepaskan hermeneutika dari ilmu pengetahuan yang cenderung rigorus. Dalam arti ini juga dapat dikatakan.

dan universal di dalam bahasa itu sendiri. yakni proses untuk memahami teks. dan tugas hermeneutika adalah memahami pengertian tersebut. Untuk memahami berarti untuk menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya bahasa tidak pernah bermakna tunggal. dan lepas dari pikiran manusia. Untuk memahami berarti untuk menyentuhnya dengan akal budi. Bahasa selalu memiliki beragam makna. Yang pertama pengertian selalu terkait dengan proses-proses akal budi (cognitive process). hermeneutika. dan membuka kemungkinan bagi pemahaman-pemahaman baru. . anda akan mendapatkan kesan bahwa ia senang sekali bermain kreatif dengan bahasa untuk menciptakan pemahaman-pemahaman baru. Untuk memahami berarti untuk melihatnya secara lebih jelas. Beragam makna di dalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang bersifat esensial. memiliki tiga arti. Inilah arti dasar dari hermeneutika sebagai proses untuk memahami sesuatu. Untuk memahami sesuatu berarti untuk menggenggamnya dengan kekuatan akal budi. Berdasarkan penelitian Jean Grodin. Hermeneutika selalu terkait dengan pengertian tentang realitas. Di dalam bahasa terdapat pengertian. dan itu justru harus diakui dan dirayakan. Artinya bahasa itu memiliki sesuatu yang sifatnya khas pada dirinya sendiri.Pengertian Sebagai Kegiatan Pikiran[1] Jika membaca tulisan-tulisan Gadamer langsung. atau memahami teks. tetap.

seorang filsuf ilmu-ilmu sosial yang hidup pada abad ke-19. Dalam arti ini orang yang mengerti bukan hanya ia memahami . Di dalam proses memahami realitas sosial. Pengertian sebagai Kegiatan Praktis Yang kedua hermeneutika selalu terkait dengan pengertian yang bersifat praktis. karena tujuan ilmu-ilmu alam bukanlah memami pengalaman hidup. Konsep hermeneutika Gadamer juga berakar pada tradisi tafsir teks-teks kitab suci ini. setiap bentuk tindakan dan ekspresi seseorang selalu mencerminkan apa yang dihayatinya di dalam kehidupan. ilmu-ilmu sosial tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam. Inilah yang kiranya menjadi argumen utama Wilhelm Dilthey. terutama teks kitab suci. Maka dari itu menurut saya. Inilah yang disebut Dilthey sebagai pengalaman hidup (life experience). searah dengan penelitian Dilthey.Konsep pengertian atau pemahaman (understanding) juga bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial. Konsep pengertian sendiri memang sudah tertanam di dalam tradisi hermeneutika sejak lama. Di dalam tradisinya hermeneutika berfokus pada upaya untuk memahami teks-teks kuno. Pengalaman hidup tersebut dapat dipahami melalui proses rekonstruksi ulang yang dilakukan peneliti melalui penelitiannya. melainkan mengkalkulasi yang untuk mengeksploitasi dan memprediksi fenomena alamiah.

pengetahuan tertentu. terutama tentang fenomenologi adanya. tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sebuah masakan yang enak. Gadamer memfokuskan hermeneutikanya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. orang harus peduli dan mampu memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Seorang koki yang baik tidak hanya memahami konsep teoritis bumbu. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger. manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. yakni proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. tetapi juga memiliki ketrampilan praktis untuk menerapkannya. Gadamer sangat terpengaruh pada filsafat Heidegger. . Untuk menemukan arah yang tepat. Artinya anda tidak hanya memahami pengetahuan teoritis tentang cara mengajar dan arti pengajaran itu sendiri. Di dalam hidupnya manusia selalu mencari arah baru untuk dituju. tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu. Di dalam proses merumuskan filsafatnya. Untuk memahami manusia menurutnya. Hanya dengan memahami diri secara tepatlah manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya. Untuk memahami sudah selalu mengandaikan mampu menerapkan. Misalnya anda adalah seorang guru yang baik. tetapi mampu mengajar dengan baik.

ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan.[2] Pengertian sebagai Kesepakatan Gadamer juga berpendapat bahwa pengertian selalu melibatkan persetujuan. “we understand each other”. dan juga bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. penerapan adalah sesuatu yang amat penting. kalimat yang familiar dapa dijadikan contoh. Yang pertama bagi .Dapat juga dikatakan bahwa filsafat Gadamer lebih bersifat terapan. namun ada hal-hal mendasar yang telah disetujui sebelumnya. jika dibandingkan dengan filsafat Heidegger. ketika ia mulai secara intensif membaca tulisan-tulisan Aristoteles tentang kebijaksanaan praktis. Sifat praktis ini diperoleh Gadamer. Kata understand bisa berarti mengerti atau memahami. Di dalam bahasa Inggris. ketika orang mengerti. Untuk mengerti berarti juga untuk setuju. Penerapan adalah soal tindakan nyata. Kebijaksanaan praktis juga melibatkan pengertian tertentu. Bertindak baik tidak sama dengan memahami hakekat dari yang baik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Grondin. Dalam konteks pengertian ini. Memang pengertian itu tidak seratus persen berarti persetujuan. seperti yang dilakukan Plato di dalam filsafatnya.

maksud asli pengarang hanyalah hal sekunder. Di dalam hermeneutika tradisional. namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. untuk memahami berarti juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Yang penting adalah apa yang menjadi tema utama pembicaraan. atau proses . jika kita memiliki beberapa pengertian dasar yang sama dengan pengarang. Namun kita hanya dapat mengerti maksud tersebut. bahwa fokus dari hermeneutika. Misalnya saya membaca teks tulisan Immanuel Kant. Pemahaman atau pengertian dasar (basic understanding) itu disebutnya sebagai sache. Namun di dalam hermeneutika Gadamer. tujuan utamanya adalah membangkitkan maksud asli pengarang. Di dalam proses pemahaman itu.Gadamer. pembaca dan penulis teks memiliki kesamaaan pengertian dasar (basic understanding) tentang makna dari teks tersebut. Ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant. Sache inheren berada di dalam setiap proses pembacaan ataupun proses dialog. melainkan berfokus pada tema yang menjadi perdebatan yang seringkali berbeda dengan maksud asli si penulis teks. Dalam arti ini proses sache tidak lagi berfokus untuk membangkitkan maksud asli dari penulis teks. Namun tetaplah harus diingat. Maksud asli pengarang tetap ada. atau subyek yang menjadi tema pembicaraan. Dan tema utama pembicaraan (subject matter) itu dapat terus berubah.

menafsirkan.[3] Yang kedua menurut Gadamer. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. baik dialog aktual fisik. peran bahasa sangatlah penting. menurut Gadamer. Maka perlulah ditegaskan bahwa bagi Gadamer. Bahkan ia berpendapat bahwa pengalaman penafsiran (hermeneutic experience) hanya dapat dicapai di dalam bahasa. Saya juga bisa memahami keindahan dari suatu karya seni. adalah untuk membangkitkan makna tentang tema utama pembicaraan. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia (linguistic elements of understanding). dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa. ataupun dialog ketika kita membaca satu teks tulisan tertentu. Di dalam proses ini. dan tidak semata-mata hanya untuk menjelaskan maksud asli dari penulis teks. setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog. tindak memahami selalu melibatkan kemampuan untuk mengartikulasikannya di dalam kata-kata dan menyampaikannya di dalam komunikasi. Saya . Dalam arti ini untuk memahami berarti untuk merumuskan sesuatu dengan kata-kata. Misalnya saya mengerti sebuah simbol. Bagi Gadamer elemen bahasa untuk mencapai pengertian ini sangatlah penting. Namun begitu bukankah tidak semua hal dapat disampaikan dengan kata-kata? Seringkali kita mengerti sesuatu. tetapi tidak bisa mengartikulasikannya secara jernih melalui bahasa.

namun bahasa. Dengan demikian walaupun sifatnya terbatas. Maka dari itu di dalam komunikasi. Tidak hanya itu seringkali perasaan dan bahkan kebenaran itu sendiri tidak dapat dikurung di dalam rumusan kata-kata. Dalam beberapa kasus tarian dan bahkan diam juga bisa menjadi sebentuk bahasa yang menyampaikan pesan tertentu. kita perlu memperhatikan juga apa yang tak terkatakan. Tentu saja orang bisa salah tangkap. di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. Gadamer berpendapat bahwa para seniman. tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. pematung. termasuk pelukis. Namun hal itu terjadi. Jika bahasa tidak lagi bermakna. Semua bentuk komunikasi itu bisa membuka ruang untuk penafsiran dari pendengar ataupun penerima pesan. karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis. merupakan alat komunikasi yang universal untuk mencapai pemahaman. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif. dalam arti luas. .juga bisa memahami keindahan suatu musik. karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. lalu bagaimana proses pengertian atau memahami bisa terjadi? Menurut Gadamer bahasa memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar kata-kata. dan pemusik. sehingga tercipta kesalahpahaman. Di dalam bukunya yang berjudul The Truth and Method.

Konsep lingkaran hermeneutis ini sangatlah dipengaruhi oleh filsafat Heidegger. orang perlu memiliki pemahaman. Argumennya begini setiap bentuk penafsiran selalu mengandaikan pengertian dasar tertentu. Seperti sudah sedikit disinggung. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah sebuah logika klasik. Hal yang sama dapat diterapkan untuk memahami suatu teks. Artinya untuk memahami kita juga memerlukan pemahaman. Tentu saja dari sudut logika.Konsep Lingkaran Hermeneutis[4] Gadamer juga dikenal dengan argumennya soal proses penafsiran. setiap bentuk penafsiran untuk memperoleh pemahaman selalu melibatkan pemahaman dasar lainnya. seperti yang dilakukan Heidegger dan Gadamer. Namun jika dilihat secara fenomenologis. dan sebaliknya bagian-bagian teks itu dapat dipahami dengan . hal itu mungkin. atau yang disebutnya sebagai lingkaran hermeneutis. Pengertian dasar itu disebut Gadamer sebagai antisipasi. hal ini tidak bisa diterima. Maksud utama dari keseluruhan teks dapat dipahami dengan berpusat pada bagian-bagian teks tersebut. menurut Gadamer. Logika berpikir menolak sebuah penjelasan atas suatu konsep yang terlebih dahulu mengandaikan konsep tersebut. seperti untuk menafsirkan guna memahami sesuatu. bahwa orang bisa memahami keseluruhan dengan terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya. Oleh karena itu konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer sangatlah berbau fenomenologi.

Ini adalah salah satu kriteria untuk mendapatkan pemahaman yang tepat. dan bukan sesuatu yang sudah ditemukan lalu setelah itu proses selesai. si pembaca teks haruslah memahami koherensi antara makna keseluruhan dan makna bagian dari teks tersebut. dan sebaliknya.[5] Pengandaian hermeneutika Gadamer adalah.memahami keseluruhan teks. Jika sudah begitu maka pemahaman yang tepat pun tidak akan pernah terjadi. Teks harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yang tentunya melibatkan teks-teks lainnya. Setiap bentuk pemahaman juga mengandaikan adanya kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya ingin dipahami. menurut Gadamer. Pemahaman adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari. dan bukan hanya terjebak pada apa yang tertulis atau terkatakan saja. bahwa keseluruhan (whole) dan bagian (parts) selalu koheren. Tujuan utama Gadamer adalah untuk memahami teks di dalam kerangka berpikir yang lebih menyeluruh. Jika kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya sungguh dipahami ini tidak ada. adalah proses yang berkelanjutan. Tidak hanya itu proses untuk memahami keseluruhan melalui bagian. Jika dilihat dengan kaca mata ini. maka proses penafsiran akan menjadi tidak fokus. Dalam arti ini Gadamer memiliki perbedaan . maka konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer tetap mengandung unsur logika yang tinggi. Supaya dapat memperoleh pemahaman yang tepat.

Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya.mendasar dari Heidegger. Sementara bagi Gadamer konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan. Dan sebaliknya bagianbagian dari teks dapat dipahami dengan terlebih dahulu memahami maksud keseluruhan dari teks tersebut. Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme. Sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya. serta arti sebenarnya dari teks tersebut. Sementara bagi Gadamer fokus dari pengertian adalah upaya untuk memahami masa lalu dari teks. Artinya untuk memahami orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu. Sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literatur. Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan. Sementara fokus dari hermeneutika . dan sebaliknya. fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. Juga bagi Heidegger proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta di dalam proses penafsiran tersebut. Bagi Heidegger fokus dari pengertian manusia adalah untuk memahami masa depan dari eksistensi manusia. Maksud utuh dari teks dapat dipahami dengan memahami bagianbagian dari teks tersebut.

Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya. yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri. yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. Dengan demikian kita bisa memastikan. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi . Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka.[6] Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik. namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal. Walaupun banyak memiliki perbedaan. baik kebenaran di level eksistensi manusia. bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer. yang biasanya negatif. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat. Namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik. maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks. Prasangka membuat orang melihat apa yang ingin mereka lihat. namun keduanya tidaklah sama.

maka dibutuhkan sebuah interpretasi. di sinilah didapati dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas yang menimbulkan . ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi (Ricoeur. sedangkan penjelasan hermeneutik memberi kita kesan subyektif. Setiap interpreatsi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung. memiliki prespektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial ke analisis eidetik (pengamatan yang sedemikian mendetil).*** Paul Ricoeur pada historisitas Ricoeur yang berlatar belakang pandangan Katholik. Jika pembahasan interpretasi hanya terbatas pada simbol-simbol maka ini menjadi terlalu sempit. Teks sebagai penghubung bahasa isyarata dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. Definisi pasti tentang hermeneutik menurut Ricoeur adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur. yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. seperti yang dikutip dari Nietzsche. Penjelasan struktural suatu teks cenderung bersifat obyektif. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalaha interpretasi terhadap interpretasi. dan di lain pihak mencari daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri keluar. Tugas utama hermeneutik di satu pihak adalah mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam suatu teks. Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore.manusia dengan berdasarkan kehidupan itu sendiri. historis. 1974:12) Bilamana ada pluralitas makna. Riceour kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan ‘perhatian kepada teks’. demikian pula jika simbol-simbol mulai dilibatkan. setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. 1983:192) Salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah ‘perjuangan melawan distansi kultural’. Baginya manusia pada dasarnya adalah bahasa dan bahas itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. Menurut Riceour. 1985:43). hermeneutik hingga pada akhirnya semantik. fenomenologis.

tema pertama adalah tidak ada titik nol saat kritik tuntas dapat mulai dilakukan. langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks. Menurut Ricoeur ada tiga langkah pemahaman. Bilamana terdapat pluralitas makna. Latar Belakang Pemikiran Paul Ricoeur tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan Katolik. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya. Tema kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja. Langkah pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol.problem. sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.” Setiap interpretasi merupakan usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Adanya simbol. mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang asli. maka di situ interpretasi dibutuhkan. Ada dugaan bahwa keseluruhan filsafatnya pada akhirnya terarah kepada hermeneutik. Tema ketiga adalah jika tidak ada pandangan ang menyeluruh. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. terutama pada interpretasi. Kata-kata sebagai sebuah simbol memiliki makna dan intensi tertentu. Ada empat tema yang diketengahkan oleh Ricoeur. Bagi dia sebenarnya keseluruhan filsafat merupakan interpretasi terhadap interpretasi. maka tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita. Percikan Gagasan Paul Ricoeur tentang Hermeneutik 1. yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Salah satu simbol adalah bahasa. yaitu untuk memahami sebauh percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Di sini batasan pembahasannya terletak pada usaha menafsirkan bahasa tulisan yang tertuang dalam kata-kata. Maka. Pemahaman yang pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie. langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna. . Tema keempat adalah perpaduan antarcakrawala. tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol (katakata) dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ sangat tajam. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol. Jadi. Dia juga menegaskan bahwa “filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik. Hermeneutik dan interpretasi tidak pernah lepas dari simbol-simbol. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan.

kiranya terlalu sempit. Inilah yang disebut oleh Ricoeur sebagai “perjuangan melawan distansi kultural”. sebuah kata adalah juga sebuah simbol. Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensionaldan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya. penyair. Kalau sampai pewarnaan itu terjadi maka ada kemungkinan usaha untuk mencapai makna yang sejati akan menemui kendala. Sebuah kata mengandung konotasi yang berbeda bergantung pada konteks pemakainya. orang yang berbicara membentuk pola-pola makna secara tidak sadar dalam kata-kata yang dikeluarkannya. istilahistilah memiliki makna ganda. maka seorang penafsir harus mengambil jarak tertentu dengan obyek tafsiran. Ruang Lingkup Hermeneutik Bila hermeneutik didefinisikan sebagai interpretasi terhadap simbol-simbol. Ricoeur memperluas definisi tersebut dengan ajakan memberi “perhatian kepada teks”. Walaupun demikian.kekayaan sebuah simbol justru ditemukan dalam maknanya yang sejati sehingga tidak menimbulkan multi-tafsir. Bagaimana dilema ini kita . misalnya kata “pohon” akan mempunyai makna yang bermacam-macam bergantung pada pembicaranya: apakah ia seorang penebang kayu. Menurut Ricoeur. Bahkan meskipun benar juga bahwa makna dapat diturunkan dari konteks yang terdapat dalam sebuah kalimat. Dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat. Pola-pola makna ini secara luas memberikan gambaran tentang konteks hidup dan sejarah orang tersebut. ekologist. Setiap kali kita membaca sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat. Dalam hal ini kita sebaiknya mengikuti definisi yang diajukan oleh Ricoeur tentang hermeneutik. agar bisa sampai kepada penafsiran yang tepat. Kata dan Makna Telah kita lihat bersama bahwa. Lebih jauh lagi. Karena itu. 3. yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks. Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain. namun konteks pun bermacam-macam menurut zamannya. Kita bisa tersesat dengan memberi makna (bisa lain sama sekali) kepada obyek dan bukannya memetik makna yang sudah ada dalam obyek tersebut. Acapkali seorang penafsir membawa juga struktur-struktur yang sudah “jadi” tentang obyek tafsir sehingga sebelum menafsir sudah ada “warna” yang diberikan kepada obyek tersebut. Usaha ini tidak mudah. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. tradisi ataupun aliran yang hidup dari bermacam-macam gagasan. sebuah teks harus kita tafsirkan dalam bahasa yang tidak pernah tanpa pengandaian dan diwarnai dengan situasi kita sendiri dalam kerangka waktu yang khusus. Ia menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik ialah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”nya teks itu muncul ke permukaan. sebab kedua-duanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. 2. petani dan sebagainya.

yaitu untuk memahami sebuah percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Latar belakang Ricoeur sebagai penganut katolik yang setia menjadi cerminan bagi kami dalam mempelajari dan mendalami isi teks kitab suci. yang isinya dapat dinikmati oleh setiap generasi. harus dapat mengatasi situasi dikotomis. Jika Injil tidak dapat diterapkan pada zaman kita ini. ini berarti “pemerkosaan” terhadap interpretasi. tetapi mendalami aspek-aspek di balik teks yang kelihatan. 4. Tugas hermeneutik menjadi sangat berat sebab hermeneut harus membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri. serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ itu tajam. Interpretasi selalu bersifat terbuka. melainkan membuka diri terhadapnya”. Injil seringkali kita bayangkan sebagai sebuah “kitab yang hidup”. namun masih juga kita rasakan relevan atau dapat kita terapkan pada semua hikayat dan persitiwa pada masa mendatang. Ia membantu dalam menggali makna otentik dari sebuah teks. Pertanyaan kita sekarang adalah adakah interpretasi itu mempunyai titik akhir? Menurut Ricoeur. Atas dasar otonomi ini. Jika kita mendapat titik akhir sebuah interpretasi. di mana pembacaannya selalu berbeda-beda. Kitab Suci Injil menyajikan contohcontoh teks yang berasal dari zaman yang berbeda dengan zaman kita. maka tidak mungkin kita sampai saat ini masih mendiskusikannya.pecahkan? Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi” (= proses ‘pembebasan’ diri dari konteks). Bahwa “perhatian kepada sebuah teks” tidak semata-mata terletak pada pemahaman hurufiah. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. maka yang dimaksudkan dengan “dekontekstualisasi” adalah bahwa materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing. Sebagai contoh. Maka. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Ricoeur dengan pernyataannya: “Memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks. untuk dapat berhasil dalam usahanya. inilah yang dimaksudkan dengan “rekontekstualisasi”. situasi kultural dan kondisi pengadaan teks. khususnya bagi kita yang setiap harinya berhadapan dengan teks-teks kitab suci. melainkan ia merelakan dirinya “dirasuki” Injil. Pembaca Injil tidak “membaca ke dalam” teks. Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas. Tidak. serta untuk melakukan “rekontekstualisasi” (= proses masuk kembali ke dalam konteks) secara berbeda didalam tindakan membaca. Refleksi Berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Ricoeur kami menemukan faedah hermeneutik dalam kehidupan sehari-hari. baik dari sudut sosiologis maupun psikologis. misalnya tentang pengarang dengan situasi dan konteks kebudayaan dan orang-orang sezamannya beserta tujuan dan kepada .

terutama dalam Mafhum an-Nas Dirasah fii Uluum al-Quran dan Naqdu al-Khitab ad-Dini. Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬dan Posisinya dalam Hermeneutika Barat.siapa tulisan itu hendak diberikan. juga menjadi rujukan para akademisi. dia dipromosikan sebagai profesor. Awalnya. dia meninggalkan Mesir dan menetap di Netherlands bersama istrinya. Pada tahun 1992. maupun artikel.lahl wa al-Zayf wa al Khurafah (Cairo. Setiap orang dari generasi ke generasi dengan situasi zamannya. 2000). Ada sembilan karyanya yang penting dan sudah dipublikasikan. Tindakan ini menurutnya sebagai upaya melanggengkan hegemoni kaum Quraysh terhadap kaum muslimin.[1] Belakangan ia divonis “murtad”. hingga 27 Desember 2000 dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap di Universitas tersebut. Konsep Nasr Hamid ini membawa dampak pada metode penafsiran teks al-Quran. maka benar bahwa tugas penafsiran itu tidak akan pernah berakhir. Buku-bukunya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. akan terus menggali intensi dari teks yang satu dan sama dengan maknanya yang tetap otentik. Dan bila orang tidak lagi mau berpikir. 1995) AI. itu berarti ia menyangkal hakekatnya sebagai “homo rationes”. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. Dia bekerja sebagai dosen di Universitas yang sama sejak 1982.Qur’an: God and Man in Communication (Lcidcn. Ia menulis lebih dari dua puluh sembilan (29) karya sejak tahun 1964 sampai 1999. The al. Menurutnya. diantaranya menghujat para sahabat. 2. baik berbentuk buku. Dengan proses penafsiran seperti ini. terutama Uthman Ibn ‘Affan. 5. 1995) Naqd al-Khitab al-Diniy (Cairo. Tulisan ini akan coba menguraikan biorafi Nasr Hamid Abu Zayd. Selain itu.Tafkir fi Zaman al. Berakhirnya sebuah penafsiran justru terjadi jika orang tidak lagi mau berpikir. 1999 ) AI-Nass. tetapi ditolak karena hasil kerja dan pemikirannya yang kontroversial.[2] Nasr Hamid Abu Zayd merupakan ilmuwan muslim yang sangat produktif. di Netherland Nasr menjadi profesor tamu studi Islam pada Universitas Leiden sejak 26 Juli 1995. Adalah menarik menyimak bagaimana Nasr Hamid memandang teks al-Quran. Biografi Nasr Hamid Abu Zayd lahir di Tantra. 4. Utsman Ibn ‘Affan. 2000) Dawair al-Kawf Qira’ah fi al-Khitah al-Mar’ah (Dar el-Beidah. Ricoeur mengajak kita untuk tidak berhenti pada penemuan makna yang otentik dari sebuah teks. Semenjak peristiwa itu. al-Haqiqah: a/-Fikr al-Diniy bayna lrdaat al Ma’rifah wa lradat alHaymanah (Cairo. tetapi masih terus berlanjut hingga pengadilan banding Kairo menetapkan Nasr harus menceraikan istrinya. Dia menyelesaikan gelar BA pada 1972 konsentrasi Arabic Studies. di mana ia mengkritisi metode tafsir Ahlu Sunnah yang menurutnya tidak sesuai dengan konteks kekinian. dikenal dengan peristiwa “Qadiyyah Nasr Hamid Abu Zayd”. Mesir pada 10 Juli 1943. mempersempit bacaan Alquran yang beragam menjadi satu versi. gelar MA pada tahun 1977 dan PhD pada 1981 dengan konsentrasi Islamic Studies di Universitas Kairo. yaitu: 1.Tafkir: Didda al-. sebagaimana dia paparkan dalam berbagai bukunya. Pendahuluan Mengkaji aplikasi hermeneutika dalam tradisi Islam tidak terlepas dari tokoh Nars Hamid Abu Zayd. Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. 6. Quraysh. al-Sultah. “Pemurtadan” Nasr tidak berhenti sampai di situ. Al-Khitab wa al-Ta’wil (Dar el-Beida. 1994) . 3. Pemikir ini sangat terkenal di dunia dan di Indonesia. Lebih jauh ia mengingatkan kita untuk menangkap pesan atau relevansinya dengan konteks kehidupan kita sendiri. dan Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd.

8. banyak difokuskan kepada pembacaan teks-teks tersebut. hal ini dilatarbelakangi suatu asumsi bahwa peradaban dunia dapat diandaikan kepada tiga kategori. 1994) Fa/safat a/-Ta’wi!: Dirasah fi a/-Ta’wi! al-Qur ‘an ‘ind Muhyi a/-Din Ibn ‘Arabiy(Beirut. Barangkali ini yang menjadi penyebab mengapa ia memiliki perhatian yang cukup besar terbadap interpretasi Alquran. seperti rasionalisme. kebudayaan dan peradaban. Hasil eksplorasinya memunculkan beragam tudingan miring.[3] Pemikiran Nasr yang kontroversial tersebut sebagai produk latar belakang pendidikan dan pemikiran keagamaannya. Tradisi Arab-Islam nampak memiliki “tradisi teks” yang cukup kuat ketimbang peradaban yang lain. peradaban Yunani disebut “peradaban akal” (hadlârah al-‘aql) . bahkan ia pernah bekerja sebagai teknisi elektronik di Organisasi Komunikasi Nasional. Kemudian ia melanjutkan studi di bidang yang sama di Universitas Amerika di Mesir. ia juga bergabung dengan Ikhwan al-Muslimin. Ikhwan al-Muslim adalah organisasi Islam yang beranggotakan Islamis moderat. Meskipun Nasr sekolah di sekolah Teknik.[4] Peradaban Arab-Islam disebut peradaban teks dalam pengertian sebagai peradaban yang menegakkan asas-asas epistemologi dan tradisinya atas suatu sikap yang tidak mungkin mengabaikan peranan teks di dalamnya. Fenomenologi dan hermeneutika. Kendati demikian.7. sedangkan peradaban Arab-Islam dikategorikan sebagai “peradaban teks” ( hadlârah an-nash). kritisisme. Mafhum al-Nash: Dirasah fi ‘Ulum Alquran (1994) (Cairo. ini tidak berarti bahwa teks itu sendiri yang menumbuh-kembangkan . tetapi ia telah hafal Al quran sejak usia 8 tahun. Menurut Nasr Hamid Abu Zayd. 1982) Nasr Hamid Abu Zayd hidup dalam hegemoni wacana agama Islam yang ”terisolasi” dari dunia ilmu pengetahuan Barat. Selain itu. 9. Perhatian yang diberikan oleh para pengkaji Islam dalam menelaah tradisi Arab-Islam dari dulu sampai dewasa ini. Sementara itu mengapa Nasr tertarik untuk menafsirkan Alquran dengan menggunakan teori kritik sastra? Hal ini dapat dimengerti karena Nasr mendapat gelar SA di bidang bahasa dan sastra Arab pada fakultas sastra Universitas Kairo. karena studi pascasarjananya. Selanjutnya ia juga concern melakukan kajian terhadap wacana keagamaan. Bergabungnya Nasr dalam organisasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap cara pandangnya terhadap Islam. baik S-2 maupun S-3 mengambil konsentrasi bahasa Arab dan Islamic Studies. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd : Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬Serta Posisinya dalam Hermeneutika Barat Kehadiran teks dalam tradisi keagamaan telah membawa pengaruh dan implikasi yang cukup besar bagi perkembangan intelektual. 1993) AI-lttijah al-’Aqli fi al-Tafsir: Dirasah Qaqiyyat al-Majaz fi al -Qur ‘an (Beirut. Perhatiannya yang sangat besar di bidang interpretasi (tafsir) Alquran rnendorongnya untuk bereksplorasi dengan filsafat Barat. yaitu peradaban Mesir Kuno yang disebut “peradaban (yang muncul) pasca kematiannya” (hadlârah mâ ba’da al-maut ). Tuduhan-tuduhan tersebut muncul sebagai reaksi terhadap tulisan-tulisan Nasr tentang interpretasi Alquran. sejak usia 11 tahun.

Hirsch membuat pembedaan atau pemisahan antara apa yang disebut makna (meaning) dan apa yang disebut magzâ (signifikansi). sedangkan teori penafsiran bertujuan untuk mencari makna teks sastra itu.)الموضوعية العلمية‬ Hermeneutika objektif-historis Abû Zayd adalah gagasan kritis berdasarkan argumentasi sebagai berikut. Konsep parole dan langue dalam kategori semiotika diterapkan untuk membahas al-Qur’ân sebagai parole dan teks sebagai langue. Hal ini berarti. karena karakter bahasa kitab suci dan historisitasnya dikaji melalui pendekatan linguistik yang dikonsepsikan oleh Ferdinand de Saussure dan pendekatan makna yang dibahas oleh Hirsch. bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya. sedangkan yang berubah-rubah adalah magzâ (signifikansi). tasawuf dan falsafah telah berperan sebagai instrumen yang melengkapi lahirnya kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab-Islam. begitu pula teks-teks liturgis keagamaan yang lain seperti Alquran.[7] Teori interpretasi Abû Zayd dipengaruhi oleh hermeneutika E. Sesungguhnya faktor utama yang melandasi dan menjadi asas epistemologi dari suatu kebudayaan adalah proses dialektika antara manusia dengan realitasnya (jadal al-insân ma’a al-wâqi’i) yang meliputi aspek sosial. tetapi maknanya tetap satu. Teori penafsiran Nasr Hamid Abû Zayd bersifat objektif-historis dari teks. ekonomi. dia berpendapat adanya dua tujuan yang terpisah yang masing-masing terkait dengan dua bidang yang berbeda. Hermeneutika berhubungan dengan problem penafsiran dan problem ini terfokus pada relasi antara teks dan penafsir. untuk mengatasai problem yang dilematis ini. Sedangkan signifikansi (magzâ) berdasarkan keberagaman jenis relasi yang ada antara teks dengan pembaca.D. yaitu bahwa proses penafsiran dan kegiatan pengetahuan secara umum selalu ditujukan untuk mengungkapkan berbagai kenyataan yang memiliki keberadaan objektif di luar horison subjek pembacaan. Hubungan ini menghasilkan interpretasi baik pada level pengkajian teks maupun terhadap fenomena. Dalam hal ini. maka data-data teks tidak berposisi sebagai penerima pasif terhadap orientasi-orientasi subjek yang mengetahui. و هلذه العلقلة تنتلج التأويلل عللى‬ 6]. dari satu masa ke masa yang lain. Yang tetap adalah makna. Nasr Hamid Abû Zayd menawarkan hermeneutika modern sebagai respons terhadap tradisi penafsiran teks klasik yang mengabaikan eksistensi penafsir. ‫و هذا معنى ان القرأة الحقة، والنشاط المعرفى الحق عموما، تقوم على الجدليلة خصلبة خلقلة بيلن اللذات والموضلوع. Ketika makna teks dapat berubah sesuai dengan pengarangnya. dan bentuk kritik terhadap kecenderungan positivistik-formalistik (an-naz’ah al-wad’iyah asy-syakliyah) yang menyembunyikan orientasi-orientasi ideologis di bawah jargon “objektif ilmiah” (‫. syarah hadis. Sementara ideologisasi dihasilkan dari kecenderungan subjektif-oportunistik (an-naz’ah aí-íâtiyah an-naf’iyah) dan telah menggugurkan sudut objektif teks dan historisitas teks.[8] Hirsch menjelaskan keberadaan pengarang di hadapan berbagai pendapat yang mengabaikannya. Hal ini didasarkan pada . bahkan menurut pengarangnya sendiri makna itu akan berbeda dari satu periode ke periode yang lain. dan proses dialog kreatif manusia yang terjalin dengan teks ( wa hiwâruhu ma’a an-nash) pada sisi yang lain.[9] Menurut Ahmad Hasan Ridwan.” Hermeneutika objektif-historis merupakan bentuk kritik terhadap pembacaan tendensius (talwîn). hadis. yang dapat dicapai melalui analisa teks.peradaban atau meletakkan asas-asas kebudayaan dalam sejarah masyarakat Muslim. Hirsch berpendapat bahwa signifikansi sebuah teks sastra terkadang berbeda-beda atau beragam. kitab tafsir. maka sebenarnya yang dimaksud yang berubah adalah magzâ. Bidang dan tujuan kritik sastra adalah mencari signifikansi teks sastra yang sesuai dengan satu masa tertentu. Hirsch. didasarkan pada dialektika (‫)جدلية‬ kreatif antara subjek dan objek.‫]مستوى درس النصوص والظواهرعلى السواء‬ “Hal ini berarti bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya didasarkan pada dialektika yang produktif dan kreatif antara subjek dan objek.[5] Realitas sebagai sebuah “teks” seperti konteks kesejarahan manusia. fiqih. politik dan budaya pada satu sisi. Hirsch berpendapat bahwa pengabaian terhadap pengarang timbul dari konsep (imagination) yang menyatakan bahwa makna karya sastra akan berbeda dari satu kritikus ke kritikus yang lain. Apabila horison pembaca membatasi sudut pandangnya.[10] Makna (dalalah) ada dalam karya itu sendiri. Abû Zayd banyak memanfaatkan pendekatan linguistik melalui kritik sastra.

Pertama.[11] Makna yang dikehendaki pengarang berbeda dengan makna yang tersimpan dalam teks. Sehingga otoritas itu dapat dikatakan sebagai produk dari proses dialektika. tugas hermeneutika tidak hanya menentukan prinsip-prinsip penafsiran umum. Fenomena ini kemudian melahirkan istilah baru dalam tradisi penafsiran. dan satu sama lain mengkombinasikan dirinya pada saat memunculkan wacana.D. [19] Dalam pendekatan modern.[22] Selain itu. “menafsirkan”.[13] Penjelasan di atas menggambarkan. dan dia istilahkan dengan kematian pengarang (maut almuallif). Lahirnya makna tidaklah berasal dari teks itu semata-mata. antara penutur dan penerima harus terdapat kerangka yang sama sebagaimana disebut di muka. bahwa kelihatannya pemikiran hermeneutika Nasir Hamid Abu Zayd cenderung pada sintesa dari model keterpusatan kepada teks (text centered) dan keterpusatan pada penafsir (reader centered). dengan pengaruh teks-teks syair bangsa Arab.[15] atau the death of authoroleh Derrida. Salah satu karakteristik tipikal dari pengaruh sosio-kultural terhadap karakteristik Alquran bahwasanya dalam proses pembentukan teks. Ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan antara “sistem/logika bahasa” dengan “sistem/logika teks” yang keduanya itu dibatasi oleh pesan dari ideologi si penutur.[16] Berikutnya. Karakter dan corak suatu teks akan senantiasa menggambarkan dan merefleksikan struktur budaya ( bunyah as-saqâfah) dan alam pikiran ( state of mind) di mana ruang dan waktu teks tersebut dibentuk. Nasr Hamid Abu Zayd dengan meminjam teori hermeneutika Barat E. seperti juga yang terjadi dari relasi antara teks dengan kebudayaan sebagai relasi dialektis yang saling menguatkan.[20] Ia mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi pembaca tentang apa itu “membaca”. bahasa menjadi dasar sebagai sumber peafsiran dan penta`wilan..keyakinan bahwa pengarang mentransformasikan dirinya kepada pembaca sehingga merubah hubungan pengarang dengan teks. Baik Betti maupun Hirsch berpendapat bahwa filologi adalah metode yang paling ideal untuk menafsirkan teks. Sedangkan si penerima memiliki kemungkinan dengan sistem/logika bahasanya untuk membentuk “kerangka interpretatif” ( al-ithâr at-tafsîr î) tersendiri terhadap pesan yang disampaikan si penutur. Pembedaan antara makna dan signifikansi terdiri dari dua konsep. Alquran tidak bisa keluar dari kerangka kebudayaan bangsa Arab saat itu. Nasir Hamid Abu Zayd bersifat dekonstruktif dengan menempatkan teks terpisah dari pengarangNya. sebuah ungkapan tulisan atau teks terdiri atas pengarang. Penafsir tidak memaksakan pendapatnya masuk ke dalam teks. yang harus diperhatikan dalam teks adalah makna teks.[23] juga memperkenalkan teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) dalam upaya memahami teks. tetapi juga mengungkapkan cita-cita yang sesuai bagi penafsiran. akan tetapi melalui proses dialektika antara teks dengan manusia sebagai objek teks. atau apa yang dimaksudkannya. sebagaimana Scheleirmacher memfokuskannya pada usaha memahami teks. Karenanya menurut Nasr Hamid Abu Zayd.[21]untuk menandai proses penemuan “makna”. makna memiliki watak historis.[12] Menurut Ahmad Hasan Ridwan.[17] Ketika proses interaksi kebahasaan berlangsung. dalam menafsirkan teks. yaitu bahwa . pemikiran dan ideologi. bukan apa yang dikehendaki pengarang. yakni “pembacaan” (qirâ’at). misalnya. ideologi si penerima masuk untuk memberikan penilaian. Tentunya ini dapat juga terjadi ketika melakukan interpretasi terhadap teks Alquran. Betti hendak mengembalikan hermeneutika pada keadaan alaminya. atau “memahami teks”. dalam hal ini. Karenanya. Akan tetapi dalam realitas pragmatisnya hal itu sulit terjadi. Akal pikiran manusialah yang melahirkan makna dan berbicara atas nama teks.[18] Ia menawarkan dan memperkenalkan pendekatan modern dalam memahami teks. menurut Nasir Hamid Abu Zayd sebagaimana juga pendapat Hirsch. atau apa yang ingin diekspresikannya. Hirsch sependapat dengan Betti mengenai pentingnya fokus hermeneutika pada bidang kajiannya tentang makna teks agar sampai kepada tafsir objektif. peran pemaknaan secara mutlak diserahkan pada pembaca teks (reader centered). Melalui “sistem/logika teks”. teks dan pembaca. Pada tataran inilah kemudian terjadinya reduksi atau bahkan kemungkinan distorsi terhadap pesan. Sebab proses komunikasi dalam bingkai bahasa adalah menyampaikan pesan dalam bentuk teks. Hirsch Jr. sedangkan teks itu sendiri tidak berbicara.[14] Dengan demikian. baik oleh penutur maupun penerima. dengan segala aspek sosial dan latar belakang historisnya.

hasud. Teks muncul di masa lalu (past time). Level pertama adalah level makna yang hanya merupakan buktibukti historis yang tidak dapat diinterpretasi secara metaforis atau lainnya. tetapi proses ini harus menyingkapkan signifikansimagzâ yang memungkinkan untuk membangun pondasi kesadaran ilmiah atas dasar signifikansi tersebut. sementara signifikansi bersifat dinamis seiring dengan horison pembacaan yang terus berubah. Ketiga. maka tujuan tersebut dapat dicapai hanya melalui penyingkapan makna. dalâlah yang merupakan saksi sejarah yang tak dapat dicarikan ta’wîl dan magzâ-nya. teks dapat terus berkembang.” Pembedaan antara makna dan sigifikansi di dalam menginterpretasi teks bagaikan dua sisi mata uang. Kedua. Signifikansi mencerminkan tujuan dan sasaran dari tindakan pembacaan. sementara signifikansi memiliki watak kekinian. suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) dengan cara penelusuran intelektual ke masa lalu (past time) untuk memasuki ruang-ruang historis. dan hasil temuan ini digunakan untuk membangun kembali magzâ dan begitu proses selanjutnya. Proses ini tidak boleh berhenti pada makna dalam pengertian historis partikularnya. sebagai suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ) untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) ketika teks itu muncul di masa lalu. Nilai baru yang dimaksud adalah fusi horison untuk future yang hasilnya digunakan untuk membangun kembali magzâ secara terus menerus. Hal itu berlangsung karena signifikansi tidak terlepas dari sentuhan makna.‫]الثقافىالجتماعى الذى تتحرك فيه النصوص، ومن حلله تعيد انتاج دللتها‬ “tiga level makna dalam teks-teks agama. jin dan setan. sebagaimana signifikansi mengarah pada dimensi makna. makna secara relatif memiliki watak yang stabil dan mapan. yaitu bahwa ia merupakan hasil pembacaan yang berbeda dengan masa terbentuknya teks. dan kembali ke masa kini (present time) untuk mendapatkan makna baru yang hidup (produktif).[26] bermula dari proses pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. seperti ayat-ayat kewarisan untuk wanita. dalâlah yang dapat diperluas dengan pencarian magzâ. dalâlah yang dapat dita’wilkan dengan majâz. level kedua adalah level makna yang dapat diinterpretasi secara metaforis. seperti ayat-ayat kehambaan (‘ibâdiyah) bukan penghambaan (‘ubûdiyah). Dari magzâ ini. Kedua.[27] Teori ta’wîl yang ditawarkan Abû Zayd merupakan proses gerak dialektis (gerak bandul) antara makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ).[24] Selanjutnya beliau membedakan tiga tingkatan dalâlah. Hermeneutika Abû Zayd menurut Ahmad Hasan Ridwan. sebagaimana Abû Zayd menjelaskan : ‫ثلثة مستويات للدللة فى النصوص الدينية : المستوى الول مستوى الدللت التى ليست ال شواهد تاريخية ل تقبل التأويل لمجلازى أو غيلره، والمسلتوى‬ ‫الثانى مستوى الدللت القابلة للتأويل المجازى، المستوى الثالث مستوى الدللت القابلة للتساع علللى أسللاس “المغللزى” الللذى يمكللن اكتسللافه مللن السللياق‬ 25]. antara masa lalu dan masa kini. masalah yang berkaitan dengan ayat-ayat perbudakan. dan melalui produktivitas makna dari teks-teks tersebut. . Gerak dialektis ini menghasilkan pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. hubungan muslim dan non muslim (ahl al-kitab). sihir.[28] Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Jika aplikasi teori hermeneutika Syahrûr dikenal dengan istilah intertekstualitas dengan teknik sintagmatis-paradigmatis untuk menangkap pesan yang terkandung dalam teks al-Qur’ân.ia tidak mungkin diungkapkan tanpa pemahaman yang memadai terhadap konteks internal linguistik teks dan konteks sosial-budayanya. dan level ketiga adalah level makna yang dapat diperluas atas dasar “signifikansi” yang dapat disingkapkan dari konteks kultur-sosial di mana teks-teks tersebut bergerak. dan antara teks dan pembacanya. Pertama.

[30]Kemudian Hermeneutika Arkoun berusaha untuk memilah dan menunjukkan mana teks pertama atau teks pembentuk dan mana teks hermeneutika. Perbedaan tersebut terutama dalam sifat alamiahnya. akan . Adnin Armas misalnya. menyebabkan kosa kata dalam teks kitab suci selalu permisif untuk disusupi berbagai dugaan (guess/conjecture). memisahkan makna antara yang “normatif” dan yang “historis” di satu sisi dan menempatkan kebenaran (truth) secara kondisional menurut budaya tertentu dan suasana historis di sisi lain. Pertama. dan tafsir – ta’wil di sisi lain sehingga tidak tepat digunakan untuk mengkaji Alquran. Dengan melakukan ini. Abu Zayd berargumentasi sebagai berikut: 1. di mana pemahamannya haruslah melampaui makna historisnya dengan menguak signifikansi masa kininya dan mampu menguak dimensi yang tak terkatakan dari suatu pesan. otoritas dan keaslian teks. serta dari sisi kebakuan bahasa dan makna dalam memaknai kitab suci. 2. pembacaan subjektif dan pemahaman yang hanya mendasarkan pada relativitas sejarah. Dalam masalah poligami. Kesadaran akan historisitas teks keagamaan adalah teks linguistik dan bahasa sebagai produk sosial dan kultural.[29] dan Fazlur Rahman dikenal dengan teori double movement. Kedua.[33] Gambar :[34] 3.[32] Maka aplikasi teori Nasr Hamid Abu Zayd berangkat dari teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) sebagaimana dikemukakan sebelumnya dan contoh cara kerjanya sebagai berikut. Poligami Makna /Dilalah Praktik Islam Sikap poligami pra-membatasi dalam islam :poligami poligami poligami tidakempat istritidak terbatas secara adil mungkin: monogami ditekankan Signifikansi/maghza Yang tak terkatakan adilTujuan akhir legislasiPoligami Islam: monogami dilarang Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Pendekatan hermeneutika yang dikembangkan kalangan modernis semisal Nasr Hamid Abu Zayd yang merupakan upaya untuk mengembangkan pendekatan dalam memahami Alquran banyak ditentang di kalangan umat Islam. sehingga ia menggunakan metode dekonstruksi dan analisa arkeologis.[35] mengemukakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara hermeneutika di satu sisi.[31] dan kelihatannya dipengaruhi teori hermeneutika post-strukturalis Michel Foucault. Ketidaksesuaian ini dapat dilihat dari beberapa unsur berikut. Abu Zayd berharap bahwa “yang tak terkatakan” atau yang implisit dapat diungkapkan. meletakkan teks dalam konteks Alquran secara keseluruhan terhadap konsep adil. penentuan kontekstual terhadap makna dengan mengesampingkan kemapanan bahasa dan susunan makna dalam bahasa (semantic structures). Poligami dibolehkan dalam Alquran pada hakikatnya adalah sebuah pembatasan dari poligami yang tak terbatas yang telah dipraktikan sebelum datangnya Islam. karena memang pada awalnya hermeneutika ditujukan untuk menjembatani kewibawaan dan keaslian teks Bibel yang bermasalah. hermeneutika secara jelas menyamarkan kedudukan teks-teks suci agama. No. Poligami dalam wacana Alquran mempunyai level makna ketiga. Ketiga.

Semua umat Islam sepakat bahwa pengertian Alquran adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara lafzhan wa ma’nan (lafazh dan maknanya) dengan perantara Jibril AS. diaplikasikan dalam kehidupan dan disampaikan kepada umatnya. klaim adanya dikhotomi antara yang mutlak dan yang nisbi. ia menjadi kabur. akan membatalkan konsep wahyu yang dikenal dalam Islam. syarat dan kaidah dalam menafsirkan alQuran. sebab manusia tidak pernah tahu apa maksud Tuhan dalam al-Quran. Membacanya adalah ibadah. Al-Nahl: 125). teks bukan lagi milik pengarangnya. [36] Penggunaan hermeneutika yang menghasilkan asumsi historisitas Alquran dengan dalih bahwa perbuatan Tuhan bila telah teraktualisasi dalam sejarah. terjaga dalam mushaf. Karenanya menurut Hendri Sholahudin. maka harus tunduk pada peraturan sejarah. Sedangkan dalam dataran epistemologis (epistemic level). Kedua. Adanya perbedaan dalam penafsiran al-Quran. PERSIS. Paham relativisme akan mengatakan bahwa yang ma’ruf menurut sebagian orang. petunjuk dan ilmu pengetahuan. PKS atau Islam apa?Keenam. tapi sudah menjadi pemilik para pembacanya. NU. bukan berarti penafsiran itu mutlak nisbi. Pendekatan kesadaran historis-ilmiah menurut Nasr Abu Zayd cenderung kepada apa yang dihasilkan oleh pembaca teks yang memiliki perangkat ilmiah kekinian untuk menjadi ‘hakim’ dalam mewarnai interpretasi teks keagamaan. Oleh karena pertimbangan yang diambil pemikiran keagamaan lebih berorientasi pada Pencipta Teks (Allah). Sebab dengan corak pemahaman ala Abu Zayd bahwa kemutlakan Alquran dan sakralitasnya telah sirna dan menjadi teks manusia ketika masuk dalam pemahaman Nabi. Ketujuh. sebenarnya telah menolak sumber ketuhanan (the divine source) . yang tidak memihak pada supremasi data empiris. bisa jadi munkar bagi sebagian lainnya. Apakah dengan demikian Tuhan tunduk mengikuti kaedah peraturan alam yang diciptakan-Nya sendiri? Apakah kemudian wahyu dapat “diseret” untuk mengikuti kemauan realitas sejarah yang berkembang? Karenanya menurut Adian Husaini. berlawanan dengan konsep ilmu dalam Islam. Islam yang mana? Islam Muhammadiyyah. sebab setiap orang berhak menafsiri al-Quran dengan kualitas yang sama nisbinya. Keempat. namun telah membubarkan konsep wahyu dalam Islam. Andaian nisbinya tafsir secara mutlak. Sebab definisi ilmu dalam Islam adalah sifat yang dapat menyingkap suatu objek. maka dengan sendirinya akan ditolak oleh pendekatan kesadaran historis-ilmiah dalam memahami teks-teks keagamaan. menyeret pada pengertian bahwa seolah-olah semua ayat al-Quran tidak memiliki penafsiran yang tetap dan disepakati. dan berakhir pada keyakinan. sehingga tidak menyisakan ruang keraguan. antara Alquran dan tafsirnya. [37] konsep Alquran yang diuraikan Nasr Hamid Abu Zayd di atas bukan hanya bertentangan dengan pengertian Alquran yang dikenal oleh umat. Selain itu. hingga akhirnya menjadi kabur dan samar. sejatinya telah menimbulkan konsekwensi yang rumit untuk diterima akal sehat. karena semua perintah dan larangan dalam al-Quran bersifat nisbi yang tidak harus dilaksanakan. kemudian disampaikan kepada para Sahabat dan diwariskan dari generasi ke generasi secara mutawatir (recurrence) tanpa keraguan sedikitpun. Maka akibatnya umat Islam tidak wajib melaksanakan perintah ayat dakwah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu…” (QS. membatalkan konsep dakwah dalam Islam. Abu Zayd dan kelompok modernis lainnya yang menerapkan metode historis (historical methodology). Sebab ayat tersebut akan dipertanyakan lagi. Ketiga. tentu sulit diterima akal yang jernih. Sebab paham relativisme akan menisbikan batasan antara yang ma’ruf dan yang munkar. antara agama dan pemikiran keagamaan. Bahkan semua penafsiran dipengaruhi oleh kepentingan penafsir dan situasi psiko-sosialnya.cenderung pada paham sekuler. membubarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Sementara relativisme selalu bermuara pada kebingungan. Kelima. baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak. Padahal Nabi SAW telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi hal-hal yang bersifat syubhat (samar). Pertama. menolak otoritas keilmuan. Sehingga saat kebenaran itu sampai pada manusia. seperti yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd akan membuka beberapa konsekwensi serius. Maka bagi Nasr Hamid Abu Zayd. di dalamnya terkandung berbagai mukjizat. jalan Tuhan yang mana? Kalau Islam. Pemikiran seperti ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah berniat menurunkan alQuran untuk manusia. mengingkari tugas Nabi yang diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu.kebenaran al-Quran hanya dimiliki Tuhan saja.

teks adalah hasil dari sebuah realitas. Akan tetapi. proses kesinambungan (continuity) dengan tradisi lama tetap berjalan meskipun telah muncul tradisi baru. tentunya harus tetap dikritisi dan diuji. permasalahan ideologis (imankufur). tentunya harus tetap terus diuji. baik oleh pandangan dogmatis-sektarian (madzhab minded). sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan karena akan diikuti oleh umat Islam.Kecenderungan Abu Zayd yang lebih mengesampingkan Sang Pembuat Teks. siksa. menuntut perubahan dalam pembacaan teks. Dengan cara ini. Sehingga menurut Hendri Sholahuddin. Alquran adalah hasil pengalaman individual yang diperoleh Nabi Muhammad dalam waktu dan tempat tertentu (specific time-space context). pembaca teks dapat memahami teks secara ilmiah dan tidak terpasung. metode penafsiran (hermeneutika) Nasr Hamid Abû Zayd merupakan artikulasi dari proses kesinambungan (continuity) dan perubahan (change). Dengan demikian. Nasr Hamid Abu Zayd menganjurkan untuk mengunci firman Tuhan dalam ruang dan waktu. kemudian menjadikan pembaca teks dengan segala kondisi sosial. terikat dengan pendekatan asbab alnuzul dan naskh wa mansukh adalah terpasung dan tidak ilmiah. Pernyataan Abu Zayd bahwa Alquran adalah produk budaya. tabu (desakralisasi) maupun khurafat. Kemudian membatasi makna Alquran menurut zaman tertentu dalam sejarah. Dengan demikian. mistis.terhadap Alquran yang mereka anggap sebagai realitas holistik (the holistic reality) yang dihasilkan dari metodologi penelitian ilmu-ilmu sains. memahami agama dengan cara menundukkannya dalam ruang sejarah. mengesampingkan suatu ideologi hanya akan terjebak dalam ideologi lainnya. . dipandangnya sebagai corak pendekatan ideologis. Maka dengan demikian Abu Zayd lebih mengutamakan realitas (al-waqi‘) daripada pikiran. material reality). politik dan budaya yang melatarbelakanginya. corak pendekatan ulama klasik dalam pembacaan teks. hermeneutika dikukuhkan sebagai metode alternatif ketika sistem penafsiran dalam tradisi Islam tidak memadai untuk memahami teks-teks keagamaan dalam realitas kontemporer. Interaksi dialogis telah melibatkan sebuah proses dialektika yang intensif antara tradisi besar dan tradisi kecil dalam sejarah pemikiran Islam.[38]tujuan teori tafsir Nasr Hamid Abu Zayd yang ingin menghilangkan ideologi sektarian. Ibarat dua sisi mata uang. namun pada kenyataannya data empiris yang ditampilkan tersebut masih diwarnai oleh peran Pencipta Teks. Dengan demikian. pahala. seperti halnya menolak kemapanan adalah menetapkan ketidakmapanan atau bentuk lain dari sebuah kemapanan. Sebagai sebuah teori penafsiran. sebagai hakim yang menentukan arah pemaknaan teks. sampai akhirnya terjadi kesepaduan antara teks dan realitas (zaman dan tuntutannya). Sebaliknya. justru sangat rancu. Sehingga pada akhirnya yang diikuti oleh umat tetunya teori yang telah teruji dan dapat dipertahankan. ekonomi dan sosial. fenomena sejarah dan teks linguistik membawa pengertian bahwa Alquran dihasilkan secara kolektif dari serangkaian faktor politik. Dengan kata lain. Sebagai sebuah teori. dimana latar belakang sejarah saat itu mengambil peranan inti dalam mewarnai pemikiran beliau dan bahasa sebagai perangkat ungkapan sejarah (expressional tool of history). Sebab baginya. dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zayd. menolak suatu ideologi adalah ideologi itu sendiri. Sebab unsur ideologi dalam suatu penafsiran tidak bisa dinetralisir. Khatimah Hermeneutika merupakan hasil ektrapolasi otoritas manusia sebagai produk dari proses interaksi pemikran Islam dengan pemikiran Barat. Terlepas dari itu semua. Sebagai pembaca yang menjadi hakim dalam memaknai teks. sesungguhnya Nasr Hamid Abu Zayd telah melahirkan ijtihad baru dalam metode penafsiran. Sebab meskipun kedua pendekatan ini juga memperhatikan data empiris. bahasa dan budaya yang terbatas adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat yang tidak sejalan dengan Islam. sebenarnya adalah bentuk pengutamaannya terhadap realitas lahiriyah (al-waqi‘ al-madi. dan karena itu. Dan baginya. Atau dengan kata lain. Maka setiap perubahan yang terjadi dalam realitas. syari’ah dan akherat) dipandang sebagai bagian dari mitos (usthurah). Perubahan (change) terjadi ketika hermeneutika merupakan tradisi baru memiliki kekuatan dibanding tradisi lama. segala aktivitas berfikir yang selalu terbayang-bayangi oleh realitas ketuhanan dan metafisika (akidah. kecenderungan ulama klasik yang lebih memposisikan teks agama sebagai hakim daripada akal.