P. 1
FENOMENOLOGI

FENOMENOLOGI

5.0

|Views: 8,356|Likes:

More info:

Published by: Frans Mahzuz Yulianto on Jan 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2013

pdf

text

original

FENOMENOLOGI

1.

Pengertian

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon (gejala/fenomena). Adapun studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadaran terdalam para subjek mengenai pengalaman beserta maknanya. Sedangkan pengertian fenomena dalam Studi Fenomenologi sendiri adalah pengalaman/peristiwa yang masuk ke dalam kesadaran subjek. Fenomenologi merupakan ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi mempelajari suatu yang tampak atau apa yang menampakkan diri. “fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri. “Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: “saya melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis. Husserl juga mengungkapkan tentang reduksi transendental. Reduksi ini harus dilakukan menurut Husserl lebih dikarenakan karena Husserl menginginkan fenomenologi menjadi suatu ilmu rigous. Ilmu rigous tidak boleh mengandung keraguan, atau ketidak pastian apapun juga. Ucapan yang dikemukakan pada ilmu rigorous harus bersifat “apodiktis” (tidak mengizinkan keraguan). Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolut. Setiap benda material selalu diberikan dalam bentuk profil-profil. Misalnya dari sebuah lemari yang ada di hadapan saya, saya hanya dapat melihat depannya saja tanpa dapat mengetahui bentuk depannya, dan ketika saya ingin melihat sisi depannya, maka saya harus melihatnya dari sisi yang lainnya, namun setelah itu saya tidak bisa melihat sisi depan dari profil-profil lain. Dengan cara inilah benda-benda material tampak bagi saya. Setiap benda material tidak pernah diberikan kepada saya menurut segala profil-profilnya, secara total dan absolut. Cara realitas material tampak bagi saya bersikap sedemikian rupa, sehingga tidak dapat ditemukan pernyataan-pernyataan apodiktis dan absolut tentangnya. Karena alasan-alasan itulah fenomenologi sebagai ilmu rigorous harus mulai dengan mempraktekkan “reduksi transendental”. Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan penje lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edid etik dalam linguistik, fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberada an, penggambaran gejala (refleksi), transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial. fenomenologi

Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesa daran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting. Bagi

fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran. Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian. Keter libatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari hari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa penger tian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.

1.

Sejarah Fenomenologi

Pada masa sebelum ada cara berpikir fenomenologis, cara berpikir manusia dibagi dua kutup yang berlawanan 180 derajat yaitu: idealisme dan realisme. Kaum penganut idealisme menilai benda-benda maupun peristiwa yang terjadi disekitarnya berdasarkan ide-ide yang dikembangkan dalam pikirannya. Kemudian ide-ide ini membentuk semacam “frame of reference” yang secara subjectif dipahami sebagai kebenaran. Dalam memandang dunia sekitarnya seorang idealist akan memakai acuan “frame of reference” yang merupakan ide-ide dalam pikirannya. Oleh karena itu seorang idealist biasanya juga sangat subjectif dalam menilai dunia sekitarnya. Sumbangan idealisme kedunia adalah adanya penemuan-penemuan baru, ide-ide baru, karya besar di bidang sastra, dll. Sedangkan kebalikannya kaum penganut realisme, melihat benda-benda maupun sesuatu peristiwa yang ada sesuai dengan keadaan nyata benda tersebut yang secara nyata bisa diraba, diukur atau punyai nilai tertentu. Kalau tidak bisa dibuktikan bahwa benda itu nyata dan punya nilai atau ukuran tertentu maka benda itu tidak pernah ada. Oleh karena itu penganut realisme cenderung kepada atheisme yang tidak percaya adanya Tuhan karena Tuhan tidak bisa dilihat secara nyata. Realisme sangat berpengaruh di Eropa pada masa revolusi industri dan sumbangannya kedunia adalah kemajuan “science & technology”. Pada sekitar awal abad ke 20, walaupun revolusi industri terus bergerak, beberapa filsuf di Eropa seperti Edmund Hursell (1859 - 1938) mulai meragukan kehandalan cara berpikir realisme yang seolah-olah tidak ada satupun dialam ini yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. Apapun yang telah ditemukan, persoalan-persoalan dasar manusia tidak pernah bisa diselesaikan. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan alam. Edmund Hursell memperkenalkan fenomenologi yang belakangan dikembangkan menjadi eksistensialisme. Cara berpikir fenomenologi ditekankan dengan pengamatan terhadap gejala-gejala dari suatu benda. Kalau seorang penganut realisme menilai benda dengan cara melihat bentuk, ukuran dan nilai suatu benda, maka seorang penganut fenomenologi melihat benda dengan gejala-gejala yang muncul dari benda tersebut. Benda itu ada berdasarakan gejala-gejala yang timbul dari benda itu sendiri, kita hanya menangkap gejalagejala tersebut. Benda tersebut bercerita tentang dirinya dengan memancarkan gejala-gejala, dengan menangkap gejala tersebut kita bisa menangkap esensi benda tersebut. Semua benda punya pancaran gejala-gejalanya sendiri-sendiri, kita akan bisa lebih memahami benda tersebut apabila kita menganggap benda sebagai subjek yang menceritakan diri sendiri melalui gejala-gejala yang memancar darinya. Contohnya: kalau kita melihat kursi, kursi itu sendiri memancarkan gejala-gejala bahwa dia itu kursi bukan meja. Kita hanya perlu menangkap gejala yang muncul dari kursi tersebut kemudian kita tidak akan salah bahwa dari gejala-gejala yang muncul dari kursi itu bahwa kebenarannya dia itu kursi, bukan benda yang lain. Jelas cara berpikir ini adalah cara berpikir yang radikal berbeda dengan cara berpikir idealisme maupun realisme. Idealisme memahami alam sekitarnya melalui manusia sebagai subject dengan ide-ide pikirannya, benda disimpulkan sepenuhnya tergantung dari ide-ide pikiran. Realisme memahami benda kalau benda itu nyata berdasarkan ukuran atau nilai. Sedangkan fenomenologi menganggap object sebagai subject yang bercerita kepada kita melalui gejala-gejala yang timbul darinya.

1.

Fenomenologi Sebagai Metode Penelitian

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Berikut ini adalah sedikit uraian tentang fenomenologi sebagai metode penelitian; Fokus Penelitian Fenomenologi :

• •

Textural description: apa yang dialami subjek penelitian tentang sebuah fenomena. Structural description: bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya.

Teknik Pengumpulan Data Fenomenologi :

• •

Teknik “utama” pengumpulan data: wawancara mendalam dengan subjek penelitian. Kelengkapan data dapat diperdalam dengan : observasi partisipan, penulusuran dokumen, dan lain-lain.

Tahap-Tahap Penelitian Fenomenologi :

• • •

Pra-penelitian Menetapkan subjek penelitian dan fenomena yang akan diteliti Menyusun pertanyaan penelitian pokok penelitian

Proses Penelitian Fenomenologi :

Melakukan wawancara dengan subjek penelitian dan merekamnya.

Analisis Data Fenomenologi :

• • • • •

Mentranskripsikan rekaman hasil wawancara ke dalam tulisan. Bracketing (epoche): membaca seluruh data (deskripsi) tanpa prakonsepsi. Tahap Horizonalization: menginventarisasi pernyataan-pernyataan penting yang relevan dengan topik. Tahap Cluster of Meaning: rincian pernyataan penting itu diformulasikan ke dalam makna, dan dikelompokkan ke dalam tema-tema tertentu. (Textural description, Structural description) Tahap deskripsi esensi: mengintegrasikan tema-tema ke dalam deskripsi naratif. Kritik Terhadap Fenomenologi

1.

Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif. Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan

Bahasa sebagai suatu sarana komunikasi antar individu dapat juga tidak berarti sejauh mana orang yang berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Nuansa-nuansa bahasa bukanlah merupakan hal yang baru. sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. yang sama dengan yang lain. sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini. namun untuk pertama kalinya bahasa menjadi pusat pembicaraan filosofis H. agama. Menurut Aristoteles. dan kata-kata turunan. ataupun ilmu pengetahuan. Dengan ungkapan lain. baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa. tetapi bermuatan nilai (value-bound). Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Dalam bentuk tertulis tidak hanya ejaan dan rangkaian huruf-huruf yang berbeda namun kesamaan bunyi juga akan muncul ( ekiuvokal) seperti misalnya kata genting yang berarti “gawat” atau “atap”atau “sempit”.G. fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios. kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsifkan. serta dalam waktu tertentu. Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif. Dalam hal-hal seperti ini. Sebagai akibatnya. 1. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digenaralisasi. yang hanya berlaku pada kasus tertentu. situasi dan kondisi tertentu. Hermeneutik akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Aristoteles memisahkan antara homonim. 1. orang kemudian biasanya menurunkan arti kata-kata berdasarkan konteks yang ada. Hal ini dipertegas oleh Derrida. Apakah Hermeneutik itu ? Definisi Secara etimologis. merupakan sesuatu yang absurd. Peralihan dari pengalaman mental dalam kata-kata yang di ucapkan atau ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk mengerut atau menyempit. sinonim. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut. Pada hermeneutik terdapat pengalaman-pengalaman mental yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang. terutama ilmuwan sosial.pendekatan fenomenologi. Sebuah pengalaman mental atau konsep atau gambaran (image) pada dasarnya kaya akan corak dan warna serta mempunyai nuansa yang beraganeka ragam. Gadamer yang . mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. sebagaimana juga pada pengalaman-pengalaman imajinasi-imajinasi untuk menggambarkan sesuatu. dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama. Hermeneutik dan Bahasa Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai. yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free). fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati. tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. 1. baik dari adat. Selanjutnya. tidak ada satupun manusia yang mempunyai. Hermeneutik Di dalam tradisinya. Dibalik kelebihan-kelebihannya. tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud. sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya. Dengan demikian. Untuk menanggulangi halhal semacam ini maka hermeneutik kiranya akan berperan penting. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan. berpikir itu ialah melalui bahasa dapat menjadikan orang berbicara dan menulis dengan bahasa.

keseluruhan filsafat adalah “interpretasi”. 1. Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. ataupun situasi yang mewarnai arti sebuah peristiwa bahasa. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat dan yang tersirat atau bunyi hukum dan semangat hukum. kitab Taurat. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Quran. Interpretasi yang benar atas teks sejarah memerlukan hermeneutik. Menurut Gadamer. Katakata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud. Penerapan Hermeneutik Disiplin ilmu yang pertama kalinya banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab. Dalam bidang filsafat pentingnya hermeneutik tidak dapat ditekankan secara berlebihan. Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Cara Kerja Hermeneutik Pada dasarnya semua objek itu netral. Heidegger menjelaskan hal . Dengan kata lain setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami dalam situasinya. Arti makna dapat kita peroleh tergantung dari banyak faktor : siapa yang berbicara. bahasa menjelmahkan kebudayaan manusia. Tradisi dan juga kebudayaan baik dari warisan nenek moyang itu sebagai suatu bangsa yang kesemuanya itu diungkap dalam bahasa yang ditulis pada daun lontar. maka kita mampu memahami segala sesuatu. Bahasa adalah medium yang tanpa batas. orang terlebih dahulu harus mengerti atau memahami.. keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu. Orang yang mengenal interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks lalu ia harus meresapi isi teks sehingga yang pada mulanya yang lain kini menjadi aku penafsir itu sendiri. Darisinilah kita lihat keunggulan hermeneutik.Yang dimaksudkan Gadamer adalah bahwa kata-kata atau ungkapann secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan. arti atau makna yang diberikan pada objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Ia memandang interpretasi untuk mengerti. semuanya itu adalah sama saja. Henri Bergson menyatakan bahwa bila seseorang memahami bahasa sesuatu Negara.”pembahasan”seluruh isi alam semesta kedalam bahasa kebijaksanaan manusia. Gadamer menyatakan bahwa mengerti berarti mengerti melalui bahasa. Hermeneutik adalah cara baru untuk “bergaul”dengan bahasa. Bahasa adalah perantara berbagai hubungan umat manusia. Aristoteles menyatakan:Amicus Plato sed magis amica veritas ( Plato adalah seorang sahabat tetapi sahabat yang lebih akrab lagi adalah kebenaran. Betti mencoba memahami ‘mengerti “juga menurut gayanya sendiri. melainkan bersifat alamiah. kitab-kitab Veda dan Upanished supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik.. demikian yang di katakanoleh Wilhelm Dilthey. Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu dimana mausia sendiri mengalami atau menghayatinya. sebab segala sesuatu itu sudah termuat dalam lapangan pemahaman. Sebagai contoh misalnya pemahaman dan penafsiran anak terhadap kata-kata sedikit banyak tergantung dari latar belakang anak itu sendiri. Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat triadik’(mempunyai tiga segi yang saling berhubungan ). manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat dimana ia berada. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi serentak atau bersama-sama. sebab objek itu adalah objek.menulis sebagai berikut: bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan -akan merangkul seluruh konstitusi tentang status manusia di dunia ini sebagai bagian yang seakan-akan tidak terbedakan dari dunia ini. Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. dapat dipastikan ia tidak akan mungkin benci terhadap Negara itu. sebab pada mulanya objek itu menurunkan maknanya atas dasar situasi objek. Namun keadaan lebih dahulu mengerti ini bukan di dasarkan pada penetuan waktu. bahasa tidak boleh boleh kita pikirkan atau kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. Sebab pada kenyataannya. Subtilitas Intellegendi (ketepatan pemahaman) dan Subtilitas Explicandi (ketepatan penjabarannya) adalah sangat relevan bagi hukum. tempat. 1. bila kita mampu memahami ssesuatu bahasa. tetapi melaui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. Untuk dapat membuat interpretasi. yang membawa segala sesuatu di dalamnya tidak hanya kebudayaan yang telah disampaikan pada kita melalui bahasa melainkan juga sesuatu tanpa ada kecualinya. Melalui bahasa kita berkomunikasi.

Manusia tidak mengontrol melainkan dikontrol oleh situasi.tama buah pikiran kita mengerti. Pengaruh F. Inilah bahaya yang sering kita alami yaitu kita sering membuat kesalahan dalam linguistik. yaitu manusia yang tidak autentik atau das man yang dimanupulasikan oleh lingkungan atau situasinya. baru kemudian kita ucapkan. Bagi Ash sendiri tugas hermeneutik adalah membawa keluar makna internal dari suatu teks beserta situasinya menurut jamannya. Inti Uraian tentang Hermeneutik Menurut Schleiermacher.E Schleiermacher ditempatkan sebagai tokoh Hermeneutik . Ia membedakan hermeneutik dalam pengertian sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang mendefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri ( Richard E. tata bahasa dan aspek kerohaniannya. Namun bila saat berfikir kita merasa perlu untuk membuat persiapan dalam mencetuskan buah pikiran kita. Bahasa gramatikal merupakan syarat berfikir setiap orang. Seandainya ada rasio 1-1 antara pikiran dan ucapan kita. A. sementara Ash menganggap ketiga disiplin ilmu tersebut hanya sekedar appendiks (lampiran) saja bagi filolog. maka berbicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir . sebab merupakan ” bagian dari seni berfikir “. Argumentasi Hermeneutik dalam ruang lingkup lebih luas dapat dijabarkan sebagai setiap objek yang tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama atau sebagaimana yang di sebut oleh Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. jadi tidak perlu lagi ada hermeneutik. hermeneutik dan kritik studi persiapan untuk filologi ( ilmu bahasa ). Menurut Wolf juga ada tiga taraf atau jenis hermeneutik atau interpretasi. Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesusutraan dan lingualistik.kata. yaitu : sejarah. historis dan retorik. dari Ash Schleiermacher mendapat ide untuk mengamati isi sebuah karya dari dua sisi : sisi luar dan sisi dalam. dan disiplin ilmu yang lainnya berhubungan dengan teks namun akarnya adalah tetap filsafat. 1974 : 43 ). Inilah alasannya Schleiermacher menyatakan bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita. Wolf. filosofis. interpretasi historis dengan fakta waktu.D. Penerapan hermeneutik sangatlah luas yaitu dalam bidang teologis. tergantung pada tata bahasa dan keterlibatan pendengarnya. maka tidaklah mengherankan kalau mereka beralih ke hermeneutik karena keduanya ingin membahas makna kata. Menurut Schleiermacher. sedang interpreasi retorik mengontrol kedua jenis interpretasi yang terdahulu. maka kemungkinan untuk salah ucap itu besar sekali. maka pada saat itulah disebut sebagai ” Transformasi berbicara yang internal dan orisinal dan karenanya interpretasi menjadi penting”. 1. Wolt Schleiermacher dalam uraiannya banyak juga dipengaruhi oleh para penasehatnya. Seorang filsuf yang mempengaruhi gagasan Schleiermacher adalah F. A. Sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang menangkap ” setitik cahaya ” . Wolf membahas tata bahasa. Satu pernyataan tunggal dapat kita mengerti atau kita pahami dengan berbagai macam cara. Bahkan saat kita meletakkan pause diantara katakata dalam kalimat sering kali kita mengalami kesenjanganjalan pikiran. Interpretasi gramatikal berhubungan dengan bahasa. pemahaman hanya yterdapat didalam kedua momen yang saling berpautan satu sama lain. Palmer. Yang dimaksud Schleiermacher adalah bahwa ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual.yang sebaliknya. Ash membagi tugas itu kedalam tiga bagian. 2. Aspek dalam adalah jiwanya ( Geist ). seperti Friedrich ash dan Friedrich August Wolf. Scleiermacher menulis sebagai berikut : Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu sama lain. Tetapi karena tidak ada kesan impresi langsung dari pikiran keucapan kita. yaitu seandainya dimungkinkan pikiran kita dipantulkan secara tidak senada ( tidak ekuivokal ) dengan ucapan kita. mak mungkin ada salah ucap. agama. 1969 : 40 ). yang mendefinisikan hermeneutik sebagai seni menemukan sebuah teks. Aspek luar sebuah karya ( teks ) adalah aspek tata bahasa dan kekhasan linguistik lainnya. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Ast dan F. sejarah . Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik F. 3. ada dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain. yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Hermeneutik adalah proses menelaah isi dan maksud yang mengejawantah teks yang mengandung arti yang kelihatan sudah jelas ( Ricour. 1977 : 97 ). Pertama. yaitu interpretasi gramatikal. hukum. Hermeneutik adalah bagian dari seni berfikir itu dan oleh karenanya bersifat filosofis ( Schleiermacher.

di jalan. yaitu pengalaman yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. kutipan. Sedang semua ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah. Dilthey pertama-tama membuat deskripsi. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kea rah factor-faktor psikologisnya. untuk memahami pernyataan. dan juga sebaliknya. politik dan ekonomi dengan nilai-nilainya sendiri yang sudah dianggap mapan atau mantap.bincang tentang topik umum. Pemahaman yang selalu dipasangkan dengan interpretasi tidak lain adalah seni.kutipan sastra atau dengan dokumen sejarah yang harus kita ” baca ” inti sari maknanya. tetapi tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. Taraf pertama ialah interpretasi dn pemahaman mekanis : pemahaman dan interpretasi dalam kehidupan kita sehari. Untuk dapat memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya. yaitu kata yang biasanya diartikan sebagai “pengalaman” pada umumnya. Pikiran kita adalah sebuah proses yang ” mengalir ” dan bukan sekedar fakta yang serba komplit. lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami perilakunya. dan erlebnis. dalam arti bahwa seseorang tidak dapat meraamalkan waktu dan cara seseorang mengerti. di pasar atau dimana saja orang berkumpul bersama untuk berbincang. kemudian mengadakan interpretasi. Oleh karenanya. Setiap bagian dari suatu peristiwa hanya dapat dipahami dalam konteks keseluruhan bagian. yaitu rekonyruksi historis. hermeunetik adalah dasar dari Geisteswissenschaften. antara lain dengan: 1. Kedua kata tersebut adakah erfahrung. Disinilah Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan dengan kata “pengalaman”. Disinilah penafsir mulai dengan satu teori tentatif atau konsep awal. Metode Pengoperasian Hermeneutik. Dilthey membedakan dengan tajam antara Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Pemahaman Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang hidup tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita. psikologi. Dilthey menganjurkan kita menggunakan hermeneutic. dimana diharapkan adanya taraf pemahaman dan interpretasi yang tinggi.pernyataan orang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya.hari. suatu proses memahami dan interpretasi. Oleh karena itu kita memerlukan suatu pandangan kedalam atau intuisi yang tidak membingungkan bila kita ingin memahami sesuatu teks. ia merasa perlu memiliki tipe memahami yang khusus. Taraf ketiga ialah taraf seni : disini tidak ada aturan yang mengikat atau membatasi imajinasi. Dalam hal ini. Walaupun demikian.bagiannya. sebab menurut dia. Yang ingin dicari oleh Dilthey adalah pemahaman dan interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sendirinya tersituasikan dalam system-sistem eksternal dari organisasi-organisasi social. 1971:130). Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi. demikian juga dengan interpretasi. termasuk dalam Natuwissenschaften. Bisa jadi. kimia. Semua erlebnis benarnya merupakan pengalaman dalam arti umum (erfahrung) pila. kita harus mampu mengambil inti sari situasi yang mirip dengan yang mirip dengan yang terdapat di dalam kitab suci. fisika dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk bidang ini serta semua jenis sains yang mempergunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik. Semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologi. Dari kehidupan sehari. kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti “menglami”. objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan. maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak. Bahkan hal ini juga menuntut suatu pemahaman awal atas objek atau peristiwa yang dipertanyakan itu. seseorang selama sekian tahun tidak memiliki pengalaman yang hidup selain hanya pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak makna apa-apa (erfahrungen). Taraf kedua ialah taraf ilmiah : dilakukan di Universitas. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri.hari. Ada beberapa taraf memahami. filsafat. Menurut Dilthey. Interpretasi Data .pribadi penulis. dan ilmu-ilmu lain yang sejenis masuk dalam Geisteswissenschaften. Dilthey menaruh perhatian pada metode hermeneutic ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah (Kremer-Marietti.jalan. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya.

tetapi akan selalu ditulis kembali oleh setiap generasi. Metode atau proses semacam inilah yang disebut hermeneutik. Dalam hal ini Dilthey menekankan bahwa terhadap benda-benda kita hanya mampu “mengetahui”. Sedangkan yang diucapkan oleh seorang pasien bertujuan untuk menahan rasa sakit. Jadi pemahaman dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah merupakan tugas yang mudah untuk dilaksanakan. kewajiban kita adalah “menyusun balik” kerangka yang dibuat oleh sejarawan dengan maksud supaya peristiwa-peristiwa dapat dilihat kembali sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. ungkapan atau pernyataan interpretation naturae (interpretasi terhadap alam) adalah wujud dari ucapan. Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasanyang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Namun proses tiga tahap pemahaman itu sendiri tidak berlaku untuk metode ilmiah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada ’satu masa’ saja. 1. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengalaman. ini berarti kita melakukan proses hubungan sebab akibat. kita harus memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi atau cara mengenal orang atau masyarakat. yaitu ungkapan perasaan. Proses pemahaman ini terdiri dari dua bagian yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan secara berbeda satu sama lain. bukan metodologis. Kedua. sedang “memahami” dan “interpretasi” hanya dipergunakan untuk “mengetahui” manusia. Pengalaman yang hidup dan pemahaman saling melengkapi satu sama lain. bila kita membaca sejarah. Alasannya adalah karena untuk memahami atau mencerna sudut pandang pelaku asli dalam sejarah. Jadi bagi seorang sejarawan. maka besar kemungkinannya subjektivitas masuk dalam pemahaman terhadap kehidupan mental tersebut. Bahasa kita sendiri tidak bebas dari pasang surutnya sejarah. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Hans-Georg Gadamer dalam karyanya yang berjudul Wahrheitund Methode (kebenaran dan Metode) menekankan pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism. atau “Aduh. Sebagai contoh misalnya.: “Aduh. suatu proses dimana kita mengetahui sesuatu dari aspek kejiwaannya atas dasar tandatanda yang dapat ditangkap pancaindra sehingga termanifestasikan. tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Contohnya adalah sejarah bangsa Indonesia tidak mungkin hanya akan ditulis satu kali dan berlaku untuk seterusnya. sakitnya!” yang diucapkan oleh seorang pasien yang sedang disuntik. Tanpa ungkapan. dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa. Pemahaman adalah proses di mana kehidupan mental menjadi diketahui melalui ungkapannya yang ditangkap oleh pancaindra kita. Tetapi melacak akibat yang timbul karena keputusan sepihak yang dikeluarkan oleh seorang penguasa. Tetapi yang diucapkan oleh pengagum lukisan mempunyai nada pujian. 1. Pertama. Oleh karena itu. Dilthey berkesimpulan bahwa eksegesis atau interpretasi adalah suatu seni memahami manifestasi atau pengejawantahan hal yang bersifat vital dan ditampakkan pada kebiasaan yang tahan lama. bagi kita kiranya cukup mudah unyuk menentukan akibat naiknya harga BBM terhadap situasi ekonomi. kiranya cukup sulit. bahkan seakan menyatu walaupun keduanya itu kita mengerti secara terpisah. kita sebut “komprehensi” atau pemahaman.Dalam satu aspek. menggabungkan pengalaman yang hidup dengan pemahaman terhadap individu merupakan keharusan. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. Jadi menurutnya. maka ia melakukan proses hubungan sebab akibat. Bila kehidupan mental ini tidak terjangkau oleh sarana-sarana objektif. dimana orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tersebut sehingga ia bias ambil bagian di dalamnya. Kata-kata atau pernyataan tunggal dapat mempunyai arti yang bermacam-macam tergantung pada konteks sejarah di mana kata atau pernyataan itu diucapkan. bagusnya” yang keluar dari mulut seorang pengagum lukisan. Sebagai contoh misalnya kata “aduh” sbb. Riset Sejarah Dilthey mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses: • • • Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Kata “Aduh” memiliki arti yang sama. pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. Karena kebenaran . kehidupan mental kita tidak mungkin kita ketahui.

ayaitu pertimbanagn praktis yang baik. sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. Dalam “kebenaran dan metode”. 1. yaitu bentuk atau formasi. Sensus Communis mempunyai kesetaraan arti dengan ekspresi dalam bahasa Perancis le bon ses. Sebagaimana dinyatakan oleh Vico. ekspresi atau ungkapan. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (Magang Filsafat) ia menulis sebagai berikut: Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensimanusia dan penalarannya. Ia sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus communis adalah pandangan tentang kebaikan umum. Empat konsep tersebut adalah: 1.Gadamer mengutip pendapat Kant bahwa ” seni murni adalah seni para genius” dan kebenarannya tidak dapat di capai denganmetode ilmiah. atau kemanusiaan. sejarah. Gadamer sepakat dengan Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang di . dunia eksternal. bahkan mempunyai arti dalam lonotasi yang lebih tinggi. style atau gaya dan symbol. masyarakat. Gadamer menolak konsep hermeneutic sebagai metode.Gadamer membahas secara panjang lebar empat konsep tentang manusia yang memperkaya hermeneutic. Pertimbangan sifatnya universal. Paham tentang Seni Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alas an di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran. Pertimbangan Konsep yang ketiga ini mirip dengan sensus communis dan selera. Kata existenz adalah istilah yang di pergunakan filsuf eksistensiallis Karl Jasper untuk menyebut “manusia autentik”. tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya ” menentang semua jenis penalaran”. Weltanschauung ( pandangan dunia). Pernyataan itu juga dapat di artikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti metode yang ketat jika ingin berhubungan dengan existenz atau “manusia autentik”. Sensus Communis juga mempunyai aspek moral. namun bukan berarti berlaku um um. Bildung Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni. Yang ingin di katakana Gadamer ialah bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana unyuk mencapai kebenaran filosofis. Pada dasarnya Bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinnya sendiri sebagai yang ideal. yang kesemuannya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. pengalaman. Jasper menyatakan bahwa existenz mengambil jalur yang berbeda untuk sampai pada kebenaran eksistensial. Sensus Communis Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai “pendapat umum” atau pendapat kebanyakan orang pada umumny. Sinonim dari kata Bildung dalam bahasa latin adalah formatio. 1. Bildung adalah sebauh gagasanhistoris asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. Kata Bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar “kultur atau kebuadyaan”. Menurut pengertiannya yang mendasar.menerangi metode-metode individual. “permainan”dapat merupakan semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutic. cinta komunitas. karya Gadamer yang paling menarik adalah konsepnya tentang “permainan”. memori atau kenangan harus di bentuk. 1. Menurut Gadamer. Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. 1. istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. kebatinan. 1. ketajaman pikiran. 1. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni. Existenz seringkali harus membuat loncatan (saltus) iman untuk mencapai Tuhan.

Berdasarkan fakta. yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. Bila hermeneut berinterpretasi mulai dari titik tolak sejarah yang menguntungkan dirinya sendiri. luhur fdan rendah. Hermeneutik adalah metode yang di pergunakan oleh ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu tentang manusia. melainkan yang hanya dapat di pelajari sebagai suatu seni. prinsip dan hukum-hukum yan dapat di olah manusia. maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa. Taste atau Selera Menurut Gadamer selera sama dengan rasa. Pemahaman dan hermeneutic hanya dapa di berlakukan sebagai suatu karya seni. hal ini akan menimbulkan suatu pencampuran cakrawala atau fision of horizons atau bahkan akan menimbulkan campur baurnya kebudayaan yang bermacam-macam. ini berarti mereka sama saja dengan tidak berbicara apa-apa.ah seni. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsure-unsur penting dari pemahaman. Kita berfilsafat tidak mulai dari nol. Dan itulah bahasa filsafat. Sensus communis yang bersifat peka terhadap hubungan antar manusia memberi corak khusus pada komunitas sebagai kumpulan person. Dalam pandangan Kant. personal maupun dengan suatu perspektif tertentu. Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. bukan proses mekanis. Gadamer juga menegaskan . 1. tidakdapat di ramalkan atau di katakana sebelumnya. sejauh orang mengetahui ” apa yang harus ia lakukan” juga memiliki seni atau pandanganpraktis. mulia dan nista. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal. Meski bukan merupakan perbuatan yang kreatif Hermeneut atau penafsir selalu memahami realitas dan manusia dengan titik tolakk sekarang atau kontemporer. Fiksafat tidak mulai dari suatu tempat tert6entu. Pertimbangan dan selera membuat diskriminasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan yang indah dan baik. Gadamer menyebut hermeneutic sebagai seni dan hermeneutic semacam ini tidak dapat di persiapkan lebih dahulu sebelum di buat. Dari realitas hidup ini. minimal dalam pandangan moralnya. tetapi kemampuan ini tidak dapat di demonstrasikan. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selera pun yang dapat menilai seni. tetapi kita harus berfifkir dan berbicara dengan bahasa yang sudak kita miliki sendiri. Menurut Kant. Hidup itu tidak statis melainkan berubah antara rangkaian baik dan buruk. yang menjadi bagian bildung adalah menetukan mana yang boleh di kenang dan mana yang yang harus di buang jauh-jauh. 1. konsep. Inti uaraian tentang hermeneutic Gadamer beropendapat bahwa hermeneutic adal. Pemahaman hanya mungkin di mulai bila bermacam-macam pandangan menemukan suatu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap. pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera. Para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorang pun menngerti. sehingga para pembicara asli(native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa atau benang merah bahasanya sendiri. dan sebagainya. tidak dari satu titik awal yang sudah bersifat subyektif. Hakikat sebenarnya sebuah cakrawala adalah ” selalu meluas” dan sementara itu kebuudayaan pada hakikatnya juga tidak pernah murnidan tidak pernah di palsukan. Gadamer mengatakan bahwa interpretasi adalah penciptaan kembali. Setiap pertimbangan tentang apa yang di inginkan untuk di pahami dalam individualitasnya yang konkret adalah pertimbangan atas sesuatu yang khusus. selera bertentangan dengan yang tidak menimbulkan selera. Yang di butuhkan hermeneut adalah pengetahuan tentang manusia atau masyarakat yang di peroleh bukan atas dasar kerja ilmiah. hermenutik mempergunakan keempat konsep manusiawi tersebut. 1. dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan. Kini yangf menjadi persoalan kita adalah: apa hubungan antara selera dengan hermeneutic? Jika selera melibatkan pertimbangan yang pada suatu saat juga melibatkan sensus communis dan bulding. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan. maka mudah sekali untuk menghubungkan selera dengan hermeneutic. Gadamer menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hermeneut. Di dalam interpretasi. pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik.perhubungkan dengan pengertian estetis. Sebagaiman di sebutkan bahwa tugas hermeneutic adalah terutama memahami teks.

Dulu yang di anggap tugas hermeneutic adalah menyadur makna dari sebuah teks ke dalam situasi konkret. 1972 : 144). dan sebagainya. melainkan juga benda yang bukan bahsa seperti patung. namun itu juga mempunyai konsep tentang penjelasan dan pemahaman. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik Meskipun gagasan-gagasan Habermas tidak berpusat pada hermeneutik. yang juga merupakan persyaratan hermeneutic sehingga membuat pemahaman itu menjadi suatu “hubungan yang histories dan efektif”. karena konsep tersebut mencagai keyakinan-keyakinan yang vajid dan definiti Habermas mengatakan bahwa semua peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang tidak akan mempersulit keyakinan-keyakinan tersebut. di mana pesan yang terdapat di dalam teks itu di tujukan. Gadamer menyebut hal itu sebagai makna atau arti yang akan datang (fore-meaning) dan pemahaman yang akan datang (fore umderstanding). pemahaman selalu dapat di terapkan pada keadaan kita saat ini. yang menandai hermeneutic. Karya-karya Habermas termasuk dalam bidang sains. Abduksi adalah proses pembentukan hipotesis yang bersifat eksplanatoris (menerangkan) yang berbunyi: jika kita harus mempelajari sesuatu . dialektik dan bahasa. apa yang kita lihat (vorscht). yang menghindarkan gangguan yang berasal dari penggunaan metode. seperti misalnya ‘metode untuk menekuni sesuatu’. yaitu yang berasal dari pertimbangan sebelumnya atas keseluruhan pemahaman melalui bagia-bagiannya. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokomen tertulis saja. Dengan deduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu ’seharusnya’ berperilaku dalam cara tertentu dengan induksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu pada kenyataannya berperilaku dalam suatu cara tertentu. ‘ Memahami” selalu dapat berarti membuat interpretasi. komposisi musik. Peirce. interpretasi adalah bagaikan terjemahan. Pemahaman dan interpretasi pada dasarnya juga merupakan penerapan. Menurut Habermas. memang di harapkan.S. serta apa yang akan kita peroleh kemudian (vorgriff). ‘metode penguasaan bahan’ dan ‘metode pemikiran a priori’. meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah. karena ia berkeyakinan bahwa penerapan seperti halnya pemahaman dan interpretasi adalah bagian hermeneutic. melainkan akan memperteguhnya. 1. Interpretasi secara eksplisit adalah bentuk dari pemahaman.ada hal-hal khusus. Maksudnya adalah bahwa terjemahan itu akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasayang teratur. yaitu: deduksi. Tugas interpretasi sama dengan tugas konkretisasi hokum atau penerapan hokum p. 1. Arti “Memahami” Menurut Gadamer. Dalam berbicara.bahwa suatu interpretasi akan benar bila interpretasi tersebut mampum menghilang di balik bahasa yang di gunakan. induksi dan abduksi atau proses abduktif. Habermas mengikuti tiga bentuk penyimpulan yang dikemukakan oleh C. dan dengan abduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu mungkin akan berperilaku menurut suatu cara tertentu. Gadamer menambahkan istilah subtilitas applicandi. ada pengujian apakah dan dengan kemungkinan apa prediksi-prediksi dapat diyakinkan kebenarannya. Untuk dapat memahami sebuah teks. Subtilitas adalah suatu kualitas yang mencarikehalusan seperti “lembutnya” roh. Di dalam induksi. Induksi adalah proses yang aktual dalam penelitian. namun gagasan-gagasannya itu mendukung pustaka herme neutik. Kita mengantisipasi dan menginterpretasi menturut apa yang kita miliki ( vorhabe). Sedangkan pemahaman adalah “suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu”. Bahkan karya-karyanya pun tidak secara khusus membicarakan hermeneutik sebagai gagasan tunggalnya. penerapan juga merupakan pemahaman yang benar terhadap factor yang universal. Gagasan hermeneutiknya dapat kita ketemukan di dalam tulisannya yang diberi judul Knowledge and Human Interests (Pengetahuan dan Minat Manusia). Adanya antisipasi makna. kita harus membuang jauh-jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang di katakan oleh sebuah teks. Konsepnya tentang penjelasan tersebut mendekati metode ilmiah yang ia nyatakan mengatasi metodemetode yang lainnya. Jadi. penjelasan “menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas dan sistematis” (Habermas.

yaitu : linguistic. sebagaimana terdapat dalam setiap rumusannya. tindakan atau kegiatan perlu dijabarkan. Sebagai contoh misalnya: bahasadan tindakan saling menginterpretasi satu sama lain secara timbale balik (bdk. 1972: 162-163). Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut. Habermas mengatakan bahwa pemahaman hermeneutik harus mengintegrasikan ketiga kelas ungkapan kehidupan itu. yaitu yang menggambarkan pemahaman monologis. Seperti halnya pemikiran ilmiah. Tentang linguistik. Habermas membicarakan tentang “pemahaman monologis atas makna”. sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. . interpreter memperhitungkan hal-hal itu sebagai salah satu bentuk atau jenis pemahaman. language game dari Wittgenstein). bahkan kita juga tidak dapat membuat interpretasi atas hal-hal tersebut. Dalam tingkat pemahaman seperti ini. Habermas mengutip ketiga jenis pemahaman tersebut dari pendapat Dilthey. yang berupa kecenderungan yang tidak dicetuskan atau sebagai ungkapan nonverbal. sebab pemahaman melibatkan juga pengalaman interpreter. maka harus melalui proses yang memperjelas sesuatu atau fenomena tersebut. proses kedua hal itu hanya dapat terjadi atas dasar “asimilasi transcendental a priori dari pengalaman yang mungkin dengan ungkapan universal bahasabahasa teoretis” (Habermas. terutama dalam reaksi tubuh manusia. Ia juga memperingatkan kita bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta. Pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan. 1. bahkan di luar pikiran kita. Sedang pemahaman hermeneutik di sisi lain tidak dapat mempersempit ketergantungannya pada hal-hal lain. Jadi jelaslah bahwa kita tidak dapat menerangkan hal-hal yang tidak mungkin kita pahami. Dengan kata lain. Sebagaimana halnya dalam pemahaman linguistik. Bagaimana dapat terjadi suatu metode menerangkan hal yang individual dan tunggal dengan menggunakan cara yang universal? Dalam ilmu pengetahuan empiris-analitis. Habermas menegaskan bahwa penjelasan haruslah berupa penerapan secara objektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta. Metode ‘Memahami’ Dari uraian di atas telah kita lihat bagaimana Habermas membedakan antara penjelasan denganpemahaman. Habermas mengatakan bahwa sebuah penjelasan menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketepatan dan keharusannya. Pemahaman hermeneutik sedikit berbeda dari jenis pemahaman yang lainnya sebab pemahaman hermeneutik diarahkan pada konteks tradisional tentang makna. Jenis Jenis Pemahaman Hal-hal yang menonjol dalam kedua metode pemahaman tersebut tampaknya akan dipadukan. Dalam hal ini expresi linguistik muncul dalam bentuk yang absolut. Pada kelas pengalaman. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu. Semua hal tersebut mengalir secara terus-menerus di dalam hidup kita. penjelasan diarahkan pada tujuan akhir.atau memahami fenomena secara lugas. ‘tidak dapat dijabarkan’. maksud dan ruang lingkup tindakan. yang tidak dapat dijangkau oleh interpretasi. tindakan dan pengalaman. yaitu pemahaman yang tidak me libatkan hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa ‘murni’. Habermas menyatakan bahwa selalu ada makna yang bersifat lebih. yaitu yang terdapat di dalam hal-hal yang bersifat ‘tidak teranalisiskan’. Komunikasi dapat dilakukan melalui tindakan atau kegiatan. bukan yang universal. 1. seperti halnya Dilthey. seperti misalnya bahasa simbol. yang disebut monologika itu tidak lain adalah jalan pikiran yang terstrukutur. Dari pembedaan itu kita mengetahui bahwa monologika adalah pemahaman atas simbol-simbol yang disebut Habermas sebagai ‘bahasa murni’ karena simbol-simbol mempunyai makna yang definitif. dan pemahaman menjadi bagian subjektifnya. Hermeneutik biasanya mencoba menerangkan apa yang individual.

Dilema Pemahaman Habermas mengatakan : “Sebagai suatu seni yang menggambarkan komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami. Suatu proses tertentu bukan induksi.memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal yang telah diinterprestasikannya. ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah. Disini disjungsi tidak dapat berlaku.Kebutuhan laten tersebut adalah kebutuhan akan hermeneutik. hermeneutik berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subyek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan.Dalam karya-karyanya tampaknya ia memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial kemudian ke analisis eidetik(pengamatan yang sedemikian mendetail). apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum.pada dasarnya.Filsafat pada dasarnya adalah hermeneutik. 1.Herleneutik pada akhirnya semantik.Setiap kata adalah sebuah simbol.maka katakata penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. Apa yang benar di dalam yang universal tidak harus benar pula di dalam yang individual. Dalam ilmu-ilmu alamiah. sebab kita tidak dapat melakukan analisis linguistic eksklusif atau analisis empiris murni. Ricoeur mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi.Dengan mengutip Nietzsche. atau antara tetap subjektif dan harus menjadi objetif.ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi. Hal ini hanya mudah untuk dikatakan. Pemahaman harus mengkombinasikan keduanya.ilmu alamiah dan ilmu.fenimenologis. sebagaimana terjadi dalam dialog atau dialektika antara yang umum dan yang individual. Dan ilmu-ilmu kemenusiaan. atau sebaliknya. namun sulit untuk dilaksanakan.Jika simbol-simbol dilibatkan.Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan “keseluruhan yang terdiri dari campuran macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya” dan koreksi terhadap apa saja yang dikemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi. yaitu melalui proses induksi dimana kebenaran umum akan diperoleh setelah ditentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan individual. atau sebaliknya. Hibermas mengambil alih tugas Dilthey dengan mengatakanDilthey telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan akan melihat bahwa objektivasi pemahaman hanya mungkin terjadi bila interpreter atau hermeneut menjadi partner dalam dialog komunikatif. Ini berarti bahwa hermeneut harus mengadakan interaksi.Kemudian Ricoeur memberiakn kesan bahwa berbicara dengan menggunakan suatu bahasa adalah masalah jaket dan belati yang tersembunyi dibaliknya. sejarah dan objektivitas. Dilema itu merupakan pertanyaan : “eksklusif linguistic atau analisis empiris”.Oleh karenanya. Disini hermeneut menghadapi dilemma antara tetap objektif dan bersifat subjektif.ilmu kemanusiaan. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan katolik.mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang .Simbol-simbol dan interpretasi merupakan konsep-konsep yang mempunyai pluraritas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau kata-kata.Ricoeur menyatakan bahwa hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut.historis. Penjelasan dan interprestasi berlangsung dari yang individual ke yang indinidual juga.yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna.1. Disinilah letak perbedaan antara ilmu .Adanya simbol. Terdapat kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep melalui kata-kata.” Dilema tersebut semakin menjadi besar terutama dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau Geisteswissenschaften. antara Naturwissenschaften dengan Geistes-wissenschaften. jarang terjadi dari yang umum ke yang individual.sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi lapisan.maka hal ini tidak perlu dibesar-besarkan.maka interpretasi menjadi penting. deduksi atau abduksi.

Menurut Ricoeur. Kata-kata dan Makna Sebuah kata adalah juga sebuah simbol.Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya.Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan dekontekstualisasi.Namun bahasa juga mempunyai kelemahan.dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat.dan Vorgriff(apa yang akan menjadi konsepnya kemudian).bahkan psikoanalisa.tafsir kitab suci dan hermeneutik.tergantung kepada pembicaranya.sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat.Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensional dan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya(kecuali kata-kata onomatopoik).baik ari sudut pandang sosiologis maupun psikologis.Riceour menyebut karakteristik ini dengan istilah polisemi yaitu ciri khas yang menyebabkan kata-kata mempunyai makna lebih dari satu bila digunakan di dalam konteks yang bersangkutan.Istilah-istilah mempunyai makna ganda.sedang pemahaman hermeneutik memberi kita kesan subyektif. Bahasa adalah bidang di mana semua pengamatan filosofis saling memotong satu sama lain.eksistensialisme.Sebuah kata bisa memilikki konotasi yang berbeda.(Riceour.sebab keduanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain.Bahasa adalah tempat bertemunya analisis logika.fenomenologi.salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam yang hermeneutik adalah perjuangan melawan distansi kultural yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik.sebab kita memahami melalui bahasa.pematung.Melalui hermeneutik. Penjelasan struktural cenderung untuk bersifat objektif.Dalam hal ini Recoeur mengemukakan tentang hermeneutik yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks.petani dll.segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab.manusia pada dasarnya merupakan bahasa(Riceour.tradisi ataupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.Kita baru bisa mengkritik jika kita membuat jarak dengan objek kritik.Ini semua menandakan bahwa kita sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka.Jadi.Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain.1967:350) dan bahasa itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.emosi.Ricoeur menegaskan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas (Montefiero.Kita mengungkapkan gagasangagasan.yaitu melalui interpretasi.Bahasa dinyatakan dalam bentuk simbol.Kita mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa. 1.1985:43). 1.sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.yaitu untuk memahami sebuah .asli. Ruang Lingkup Hermeneutik Ricoeur kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan perhatian kepada teks.Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dan membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral (ucapan) dapat dipersempit.Sebagai contoh misalnya pohon kata ini mempunyai banyak makna tergantung pembicaranya:apakah ia seorang tukang kayu.Namun kritik yang kita lakukan itu membawa juga struktur-struktur yang sudah jadi dari gagasan-gagasan kita dan bahasa yang diungkapakan dalam struktur itu juga sudah kita beri warna.filsafat semuanya melalui bahasa.kesusastraan.1983:193) Mengenai tugas hermeneutik.Ia masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut Vorhabe(apa yang ia miliki).Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata yang tertulissebagai ganti kata-kata yang diucapkan.kita salah paham atau salah mengerti juga melalui bahasa.di sini kita dapati dikotomi antara objektivitas dan subjektivitas yang menimbulkan problem.Setiap kali kita membaca.Ricoeur menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik adalah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal” nya teks itu muncul ke permukaan.Dikotomi antara penjelasan dan pemahaman itu tajam. Menurut Riceour.Vorsicht(apa yang ia lihat).serta untuk melakukan rekontekstualisasi secara berbeda di dalam tindakan membaca.

Riceour juga menyatakan bahwa lingkaran tersebut hanya semu saja.Ia hanya ingin membuang jauh semua metode yang objektif. Ricoeur hanya ingin menggugah pandangan kita bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang dapat bersaing dalam tingkat yang sejajar dengan metode dalam sains.pemahaman adalah salah satu aspek dari proyeksi Dasein (proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaan terhadap being.Untuk memahami sebuah teks kita tidak memproyeksikan diri ke dalam teks.percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya.di mana pembacaanya selalu berbeda-beda.Hermeneut harus menggumuli interpretasinya sendiri.inilah yang dimaksudkan dengan rekontekstualisasi.bagaimana Riceour bisa mengatakan bahwa pemahaman merupakan cara berada atau cara menjadi.serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subjektif dan objektif. .Langkah pertama adalah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol.penjelasan dan interpretasi. Otonomi teks ada 3 macam: intensi atau maksid pengarang.ia harus mulai dengan pengertian yang seakanakan masih mentah.Ketiga langkah tersebut berhubungan erat dengan langkah-langkah pemahaman bahasa yaitu:semantik.sedang langkah pemahaman eksistensial atau ontologis adalah pemahaman pada tingkat being atau keberadaan makana itu sendiri.yaitu pada teori tentang pengetahuan atau erkenntnistheorie.melainkan membuka diri terhadapnya.Riceour mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak di dalam hubungan dengan subjektivitas pembaca ditinggalkan.Riceour menyatakan bahwa pemahaman itu pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi. Yang dimaksudkan dengan membuka diri adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya.sebab hermeneut harus membaca dari dalam teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangkan kebudayaan dan sejarahnya sendiri. Menurut Riceour.harus dapat mengatasi situasi dikotomis.Dekonyekstualisasi adalah bahwa materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. Tugas Hermeneutik menjadi sangat berat.ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing.Jika demikian.Sebab. Arti Memahami Setiap hermeneut membuat pembedaan dan penekanan yang tegas atas pemahaman.Riceour mengatakan bahwa “engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami”.Riceour menyatakan bahwa memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks.sebab tidak ada satupun hermeneut yang pada kenyataanya mau mendekatkan diri pada apa yang dikatakan oleh teks jika ia tidak menghayati sendiri suasana makna yang ia cari.dan untuk siapa teks itu dimaksudkan.Hermeneut uga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain.Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya.sebab jika tidak demikian ia tidak akan mulai melakukan interpretasi.yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.kaku.Langkah semantik adalah pemahaman pada tingkat ilmu bahasa yang murni.Langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna.Pemahaman refleksi adalah pemahaman pada tingkat yang lebih tinggi.melainkan membuka diri terhadapnya.Penafsir selalu dalam keadaan in medias res atau berada di tengah-tengah teks (ing madya) dan tidak pernah hanya di depan atau pada permulaan atau pada akhir teks untuk sekedar tut wuri saja.situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.Pemahaman hanya dapat terjadi pada tingkat pengetahuan.Ricoeur juga mempertanyakan metode yang dipergunakan Dilthey dalam geisteswissenschaften nya yaitu hermeneutik yang dibedakan dengan metode yang terdapat pada naturwissenschaften.Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas. 1.ada tiga langkah pemahaman.dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan.Riceour menyatakan bahwa hubungan antara hidup dan pengalaman -pengalamannya boleh dikatakan merupakan akar dari hubungan dua arah antara manusia dengan alam dan sejarah.Riceour sendiri tidak benar-benar memperlakukan hermeneutuk sebagai metode.yaitu yang mendekati tingkat ontologi.Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis.Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis.refleksif serta eksistensial atau ontologis.dan terstruktur yang terdapat dalam ilmu-ilmu alamiah.yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang berpikir dari simbol-simbol.

ada rangkaian peristiwa di mana peristiwa yang satu menyebabkan peristiwa-peristiwa lainnya.sebab konsep yang terakhir ini berbau metodologis.Segala bukti tidak perlu lagi atau bahkan tidak penting.75).Karena pribadi sedemikian terlibat. 1.Ricoeur uga berbicara mengenai wirkungsgeschichtliches bewusstsein atau kesadaran yang diarahkan pada akibat-akibat sejarah.Pengalaman eksistensial memang pengalaman yang dimiliki oleh being sendiri.Hal ini menunjukkan kepada kita tema pertama dari empat tema yang diketengahkan oleh Riceour.maka pengalaman menjadi traumatik di dalam intensitasnya.Meskipun seseorang menempatkan dirinya pada distansi tertentu.namun akibat atau hasil penelusuran sejarah tidak dapat lepas dari pengamatan kesadaran penafsir. Edmund Husserl.Riceour mengatakan bahwa tidak satu cakarawalapun yang bersifat tertutup sejauh masih mungkin menempatkan seseorang pada pandangan yang lain dan dalam kebudayaan yang lain pula (Ibid.yang dikemukakan oleh Karl Jaspers.Ia harus mampu memisahkan mana yang seharusnya masuk dalam cara pemahamannya dan mana yang seharusnya disingkirkan dari antara konsep-konsepnya yang populer atau yang hanya khayalan saja.Mungkin pandangan Riceour ini mirip dengan pandangan Gadamer. Metode positif dimaksudkan untuk melepaskan jalan pikiran dari . Tema yang kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja(Josef Bleicher.yaitu bahwa tidak ada titik nol dari mana kritik yang tuntas dapat mulai dilakukan.Melalui penderitaan kita sering memahami sesuatu. 1972:95). satu positif dan satu negatif. Pengaruh Aliran fenomenologi Dua aliran pemikiran kefilsafatan yang banyak mempengaruhi gagasan-gagasan Derrida adalah fenomenologi dan strukturalisme. Tema keempat adalah perpaduan antar cakrawala. Gagasan-gagasannya tentang kritik sastra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra.Tidak ada satu peristiwa sejarahpun yang bukan merupakan kelanjutan dari peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik.Sebab. Deriida sangat cerdas.jika ada situasi maka ada cakrawala yang dapat menyempit atau meluas(Ibid:74).maka juga tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita. Tema ketiga jika tidak ada pandangan yang menyeluruh.penjelasan dan interpretasi.yaitu tingkat eksistensial atau ontologis. Karya-karyanya sulit dimengerti. Ia seringkali juga disebut seorang post-strukturalis.Penafsir harus waspada terhadap berbagai macam prasangka ataupun pendewaan terhadap pikiran. pendiri fenomenologi modern memulai karyanya dengan dua metode.tempat yang layak untuk seorang penafsir adalah di tengah-tengah kedua ekstrem tersebut.Jadi. Untuk memahami gagasan-gagasannya.Dalam filsafat Ricoeur.Interpretasi harus selalu memandang kedua hal itu sebagai hal yang korelatif atau berinteraksi. Akan tetapi.Tema kedua ini menunjukkan pandangan ekstrim yang lain sesudah tema yang pertama.Ini merupakan tingkat pemahaman yang tertinggi. meskipun ia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf ataupun sastrawan (Derrida. meskipun ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis.tidak ada lagi pemisahan antara pemahaman.ia menegaskan bahwa konsep itu harus dipertentangkan dengan konsep atau pengertian tentang distansi sejarah. kita perlu juga mengetahui latar belakang dirinya.Kita tidak mungkin mengabstraksikan atau memencilkan suatu peristiwa dengan latar belakang atau cakrawalanya dari peristiwa-peristiwa lainnya. 1.Namun dalam uraiannya. Latar Belakang Tokoh Jacques Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik sejauh dia berhubungan dengan bahasa dan makna.Pemahaman adalah perpaduan antar cakrawala.Maka juga selalu ada goncangan antara peristiwa yang tersituasi dengan cakrawalanya.Sepakat dengan pandangan Gadamer. Ada jenis pemahaman lain.Dalam kondisi seperti ini.Setiap kejadian atau peristiwa menpunyai latar belakang atau cakrawala karena setiap fakta atau peristiwa selalu tersituasi.sebab pengalaman semacam itu melibatkan keseluruhan keberadaan seorang pribadi.yaitu yang datangnya dari penderitaan.1980:74).yaitu kita seakan-akan terpelanting untuk memahami pribadi manusia. Hermeneutik harus menempatkan peristiwa yang tersituasi beserta cakrawalanya dalam konteks yang semestinya.

apa saja yang dianggap ideal tetapi tidak mendasarkan diri pada realitas. Dalam metode negatif, Husserl mendekatkan diri pada metode yang dikemukakan oleh Descrates yaitu mulai dengan sikap ragu-ragu, ia menyangkal segala sesuatu dan ingin memulai proses pemikirannya dari titik yang benar-benar nol. Husserl seorang pakar matematika dan sains, menyadari akan adanya ketimpangan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebagao seorang ahli matematika ia mengetahui signifikan obyektivitas, tetapi sebagai filsuf ia juga mengetahui bahwa subyektivitas yang walaupun hanya sedikit masih tetap diinginkan. Melalui dua metode yang diketengahkan di atas, ia memulai karyanya dengan tepat. Ia membicarakan tentang tiga tingkatan kesadaran yang dapat dihubungkan dengan tiga tiga jenis obje, yaitu:

• • •

Tingkatan pertama atau tingkatan yang dangkal adalah kesadaran alamiah. Kesadaran ini berhubungan dengan objek-objek alamiah. Tingkatan kedua adalah tingkat kesadaran refleksi, yaitu kesadaran yang muncul setelah memberi ‘tanda petik’ pada tingkat yang dangkal. Tinkatan ketiga atau tingkat ‘kedalaman ego’: bila perhatian seseorang difokuskan lebih jauh lagi pada objek , ia akan mencapai tingkat kesadaran jauh lebih dalam lagi. Dalam keadaan kesadaran pada tingkat ini, objek yang murni atau yang sejati mengejawantah. Tanggapan atas Fenomenologi Arti “Differance”

1.

Perbedaan dua kata yang kontroversial itu yaitu, difference dan difference. Perbedaan pokok hanya terdapat di dalam kerangka ruang dan waktu. Derrida menghubungkan kerangka waktu ruang dan waktu dengan pengertian ‘tanda dan penulisannya’. ‘Tanda’ adalah ‘wakil’ dari bendanya. Makna, juga seperti tanda, untuk memahaminya kita harus ‘menangguhkan’ atau menunda dulu sampai orang atau benda yang merasa layak atau pantas untuk memilikinya. Proses ini oleh Derrida disebut ‘temporisasi’ atau pemberian waktu (untuk menunda). Tanda tempatnya dalam ruang. Tanda dapat dengan mudah kita mengerti dan kita rasakan, seperti kata-kata ataupun tulisan. Kata-kata adalah tanda, seperti juga bahasa, isyarat, dan sistem yang pada umumnya kita mengerti berdasarkan sejarahnya sebagai jaringan yang merupakan asal mula timbulnya perbedaan. Tanda-tanda membawa makna dan adanya dalam ruang; untuk sementara waktu makna tersebut tertunda. Tulisan, pada umumnya kita berpandangan bahwa sebelum seseorang menuliskannya, ia terlebih dahulu mengucapkannya. Derrida justru berpendapat sebaliknya. Tulisan itu barang mati, hanya merupakan jalan tengah antara maksud dan makna, atau antara ucapan dan pemahaman (Ch. Norris, 1985:28). Sebab ‘tulisan’ dalam pandangan Derrida bukan gambar sebagai hasil tindakan seseorang memindahkan gagasangagasannya.

“Bahasa” sebelum Bahasa

Derrida menyatakan bahwa ‘tulisan’ merussak atau menghancurkan dirinya sendiri. Artinya, ‘tulisan’ adalah impersonal, jauh dari kehidupan, tidak seperti ‘bicara’. Menulis adalah pengelompokkan kata-kata yang sifatnya mekanis menurut tata bahasa dan struktur katanya. Tentang makna menulis, Derrida mengatakan bahwa makna itu seakan-akan keluar atau diturunkan dari tulisan, entah benar atau hanya khayalan saja. Hal itu hanya mungkin dengan syarat bahasa yang asli dan alamiah tidak pernah ada, jadi tidak pernah berkontak atau terjamah oleh tindakan menulis (Derrida, 1967:82). Gagasan ini disebutnya dengan istilah archi-writing. Archi-writing dimaksudkan Derrida untuk membicarakan tentang ‘waktu’ sebelum waktu yang kita alami, atau ‘bahasa’ sebelum bahasa yang kita pakai saat ini. Archi-writing merupakan syarat utama untuk memungkinkan sebuah bahasa dinyatakan sebagai sebuah sistem, dan melalui archi-writing ini kita dapat memahami pernyataan atau artikulasi yang benar dari ucapan dan tulisan. Menurut Derrida, bahasa pada dasarnya sudah merupakan tulisan, oleh karena itu pasangan konsep ucapan-tulisan harus diubah manjadi tulisan-ucapan.

Peranan Sejarah

Untuk memahami konsep Derrida tentang ‘tulisan’, kiranya baik bagi kita untuk mengambil makna sejarah sebagai sarana untuk melacaknya. Sebab Derrida membicarakan sejarah melalui cara yang berbeda, yaitu bukan sebagai deretan makna, melainkan sebagai ‘jejak’ yang bisa dilacak. Tulisan dapat menjadi jejak yang bisu namun juga dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan belum dapat terkatakan. Derrida berkeyakinan bahwa meskipun orang belum mengucapkan kata-kata, namun tulisan sudah siap untuk dicurahkan, tulisan dibatasi oleh bahasa yang diucapkan, karena ucapan, yaitu makna yang tertunda kehadirannya, sudah terdapat di dalam tulisan.

Definisi “Difference”

Terdapat empat macam definisi differance, yaitu: 1. Differance adalah sebuah gerakan (aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan, karena penundaan, perutusan, penundaan hukuman, penyimpangan, penangguhan, penyimpanan. Kehadiran dinyatakan atau diinginkan dalam sifat representatifnya, tandanya atau jejaknya(Ibid, 17) Gerakan differance adalah akar umum dari semua pertentangan konsep-konsep di dalam bahasa misalnya sensibel-inteligibel, intuisi-makna, alam-kebudayaan, dsb. Differance, yang menghasilkan perbedaan, adalah syarat dari semua makna dan struktur. Differance adalah berbeda secara khusus, tetapi perbedaan ini secara ontologis benar-benar ada dan tampak. Disini jelas bahwa deconstruction dan differance seiring sejalan. Deconstruction membatalkan ekspresi ganda seperti dalam ucapan atau penulisan. Pengaruh Strukturalisme

2. 3. 4.

1.

Derrida menyangkal pernyataan bahwa struktur bahasa itu benar-benar ada. Terutama ia akan menolak argumen Noam Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu diprogram ke dalam pikiran manusia dan manusia sebagai pembicara begitu saja mengikuti struktur tersebut. Menurut Derrida, “makna” tidak dapat disusun di manapun juga dalam pikiran manusia, selama makna itu merupakan produk pengalaman. Ia ingin mengupas gagasan entang “struktur”, karena srtuktur menentang kebebasan peran makna di dalam teks apa saja. Ini berarti bahwa orang dapat membaca kata-kata dalam sebuah teks, tetapi ia tidak mungkin membaca makna di dalam teks tersebut. Dengan demikian, makna bukan urusan struktur. Makna tidak dapat dibangun dalam ucapan, dan karenanya Derrida menentang pernyataan para pakar linguistik struktural. Sebab, jika makna sudah terbentuk didalam bahasa, oarng tidak akan membutuhkan hermeunetik atau interpretasi lagi.

1.

Gagasan tentang Hermeneutik

Setelah menimba gagasan-gagasan dari Hegel dan Husserl, Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak lain adalah intensionalitas. Apa maksud seseorang ketika ia menggunakan bahasa? Apakah bahasa identik dengan deretan kata-kata yang sudah jadi, apa kemudian disusul dengan makna-makna yang dipilih secara bebas oleh pembicaranya? Husserl telah menunjukkan perbedaan antara noesis (pikiran) dengan noema (yang dipikirrkan). Seperti misalnya seseorang melihat sebuah pohon,, harus dibedakan antara ’siapa yang melihat’ dengan ‘dari sudut mana’ pohon itu dilihat. Sebab, seorang tukang kayu dengan seorang pematung akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang pohon yang dilihatnya itu. Dari realitas di dalam contoh tersebut di atas, Derrida melihat hubungan yang jelas antara fenomenologi dengan hermeneutik. Jika makna yang muncul pada taraf yang paling dalam, maka bahasa yang dipergunakan untuk berbicara harus diselidiki, apakah bahasa ini hanya keluar dari emanasi taraf pertama atau kedua. Lalu, bagaimana hermeneut mengenakan nilai atau makna pada kata yang diucapkan itu? Hermeneutik adalah pemahaman karya. Tujuannya adalah membongkar rahasia pandangan dunia dari pengarang dan memungkinkan kita untuk menyadur bahwa esensi fenomenologis dari memahamitidak lain

adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan sendiri apa yang sedang ia katakan. Pemberi tanda adalah orang yang dapat merasakan nafas pengarang dan maksud dari isyarat atau makna yang melekat pada pengarang. Hermeneut kemudian berusaha melepaskan makna dari kata-kata yang diucapkan atau yang tertulis epat pada saat kata-kata itu diucapkan . bagaimana dengan teks tertulis? Untuk dapat dikatakan sebagai tulisan dalam arti yang sebenarnya, maka teks tersebut harus berjuang untuk mengatasi ‘kematian’ pembicara yang membawanya di dalam komunikai oral. Apa peranan pengarang dan pembaca di dalam interpretasi sebuah teks? Apa yang menjadi ukurannya jika dikatakan bahwa teori interpretasi menggambarkan pengarang asli atau pembaca asli? Jika kita membicarakan tentang interpretasi, apa batasan proses tersebut? apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan penerapan, kelayakan dan permainan? Menurut Jean Greisch, semua pertanyan tersebut harus dijawab oleh orang yang ingin membuat interpretasi. Hermeneut menghendaki jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi pendahuluan dalam karya interpretasinya. Untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam perspektif yang semestinya, kita harus membedakan antara jenis teks berikut: 1. 2. 3. Sebuah teks tertulis yang merupakan transkripsi teks oral Teks tertulis yang maksudnya hanya untuk dibaca dan bukan untuk didengarkan Teks tertulis yang dimaksudkan untuk dibaca seperti sebuah teks sastra seperti yang banyak kita jumpai sekarang ini (Greisch, 1997:180)

Sebuah teks oral yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks tertulis pada dasarnya tidak memiliki ‘nilai tertulis’ sebagaimana dimaksudnya untuk dibaca, seperti karya sastra. Jika seseorang berbicara, maka ia mengikuti aturan-aturan berbicara yang berbeda dengan aturan-aturan membaca. Jika seseorang menulis,ia sadar akan kesuatuan, koherensi dan hubungans logis dari gagasan-gagasan dan bab-babnya, pengaturan pemakaian kata-kata serta redundansinya. Jika terdapat teks yang dimaksudkan hanya untuk dibaca tetapi ternyata dibacakan untuk didengarkan, maka teks tersebut menghasilkan sesuatu yang sumbang dan seringkali menghasilkan makna yang berbeda bagi pendengarnya. Derrida lebih suka mengoperasikan teks tertulis pada jenis yang ketiga, yaitu teks yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai teks, sebab teks ini mengikuti secara ketat aturan-aturan tentang sintaksis, tata bahasa dan gaya bahasa. Derrida tidak mengutip teori Ricoeur tentang polisemi, yaitu sebuah kata atau ungkapan ada kemungkinan mempunyai lebih dari satu makna. Ia cenderung mengatakan polisemi hanya laten dalam bahasa itu sendiri. Kasusastraan memang penuh dengan makna ganda. Sebagai contoh misalnya salah satu kalimat yang ditulis Shakespeare dalam Hamlet: ‘Orang ini, pembunuh bapaknya’. Walaupun di situ terdapat koma, namun orang tetap sulit memahami siapa pembunuhnya dan siapa yang dibunuh. Martin Heidegger memberikan arah baru dalam perkembangan hermeneutika. Hermeneutika tidak lagi sekedar sebuah prinsip umum untuk melakukan interpretasi teks, melainkan hermeneutika adalah cara berada manusia. Ia mengubah hermeneutika tradisional menjadi sebuah filsafat, sebuah hermeneutika ontologis. Interpretasi bagi Heidegger adalah salah satu dari cara mengada manusia (yang lain adalah mood dan diskursus). Memahami (understanding) umumnya dilihat sebagai mengetahui atau kognisi. Heidegger menolak ini; memahami baginya adalah bagaimana manusia mengalami sebuah situasi dan bagaimana ia siap untuk menghadapi situasi tersebut. Semakin seseorang bisa menghadapi sebuah situasi, semakin ia “memahami” situasi tersebut, semakin ia mampu bertindak, dan ia semakin bereksistensi. Interpretasi adalah salah satu cara untuk mengartikulasikan pemahaman ini. Ia melihat kemungkinankemungkinan dari sebuah situasi. Ia hadir dalam setiap situasi dan mencari jalan untuk menghadapi situasi tersebut. Interpretasi tidak harus dalam bentuk verbal atau linguistik, atau dalam bentuk sebuah proposisi. Ia juga bisa berbentuk sebuah aksi. Heidegger lebih melihat proses pemahaman sebagai sebuah aksi ketimbang proses teoretisasi. Memahami adalah cara praktis manusia bergaul dengan dunianya. Teori hanyalah sebuah bentuk praktis. Interpretasi hanyalah salah satu modus dari pemahaman. Dan pada akhirnya interpretasi dalam bentuk bahasa hanyalah salah satu bentuk dari interpretasi. Bahasa hanyalah sebuah instrumen dari pengertian.

kritis. telah banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf analitik. Filsafat akhirnya juga kita mengerti sebagai sebuah ‘teka teki’ yang sulit untuk dijawab dan dijelaskan. Bila dalam arti luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan maksud untuk mencapai hasil optimal. teori. hipotesis. kehidupan. maka segala uraiannya tentang hermeneutic sedikit banyak diwarnai pula oleh pandangan hidup para hermeneut itu sendiri serta latar belakang kehidupannya. Cara pandang filsafat Pandangan kefilsafatan memandang penting bagi kita untuk mengetahui “dimana kita berpijak” atau “dari sudut mana kita meninjau”bila kita berhadapan dengan hal-hal atau pernyatan-pernyataan tertentu. dan dalam arti khusus metode merupakan cara berfikir menurut sistem aturan tertentu. memahami. tanpa ada kekecualiannya. 1. misalnya keyakinan. pernyataan. Hal ini seperti halnya pada lingkaran hermeneutik tradisional terlihat seperti sebuah paradoks. maka yang menjadi persoalan adalah: sejauhmanakah metode yang dipergunakan di dalam hermeneutik dapat kita pergunakan untuk ‘ memehami’ pemikiran kefilsafatan? 1. Apa yang telah dilakukan oleh para hermeneut tersebut pada dasarnya hanyalah mengundang kita untuk melihat secara lebih dekat bahasa yang kita pergunakan. . dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk kearah interpretasi. Bagi para beberapa filsuf. Hermeneutik sebagai metode yang “Open-Minded” Hermeneutik bukanlah merupakan “barang” baru. Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bahwa filsafat berhubungan dengan spekulasi dan analisis. Pandangan semacam ini juga mengandaikan keterlibatan pribadi didalam filsafat. Cara pendang yang “sintetik”adalah sisitem berpikir yang mengarah pada pandangan dunia yang terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil dan koheren (berkesinambungan).Heidegger juga memperkenalkan lingkaran hermeneutik yang baru: sebuah pertanyaan selalu dibentuk oleh ekspektasi sebelumnya yang akan menentukan jawaban yang metode yang akan didapatkan. Sehubungan dengan hal ini maka persoalan yang timbul kemudian adalah “problem tentang makna”. dsb. Filsafat menganalisis dan mengevaluasi semua hal tersebut sekritis-kritisnya. Bagi mereka istilah ‘bermakna’ atau tidak’bermakna’ adalah persyaratan utama untuk mencapai kebenaranKita seringkali terperangkap di dalam penggunaan bahasa dengan rangkaian kata-kata yang muluk-muluk. Cara pandang semacam tikini menunjukkan bahwa filsafat adalah kegiatan yang bersifat integrative atau kegiatan yang mengarah pada sintesis berbagai macam unsure kedalam keseluruhan yang bersifat koheren dan terpadu. Dilthey mengajak kita untuk melakukan kritik sejarah dengan mencoba menelusuri kembali segala peristiwa dalam sejarah. kebudayaan. Bahasa akan menjadi bahasan hermeneutic sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah. KESIMPULAN Problem tentang Makna Studi tentang peranan bahasa dalam komunikasi dan proses berpikir. Yang dibutuhkan adalah dialog antara teks dan sang penafsir sehingga teks semakin membuka dirinya untuk ditafsirkan. yang pada akhirnya membuat kita frustasi sendiri. pengertian tentang makna dibahas berdasarkan motivasi-motivasi tertentu. maupun meyakini bahwa makna muncul pada saat bahasa dipergunakan. serta khususnya dalam persoalan yang menyangkut bagaimana mengidentifikasi. filsafat juga bersifat selalu bertanya. analitik. dan sekaligus sebagai penyebab “salah mengerti” ataupun “salah paham”. Namun Heidegger tidak menutup kemungkinan untuk melakukan interpretasi. Ada yang menghubungkan ‘makna’ dengan kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar kita atau di mana kita hidup. Ciri khusus peranan bahsa itu nampak melalui penggunaan bahasa sebagai medium dalam komunikasi gagasan. yaitu berupa pandangan hidup seseorang. atau tokoh lain yang mempengaruhinya. 1. Filsafat mempersoalkan apa saja. Jadi bila kita melihat kembali pandangan-pandangan hermeneut diatas. yaitu sebagai alat untuk mengerti dan memahami. dan evaluative. 1.

Ia berusaha melihat fenomen sebagai realitas yang menampakkan diri apa adanya. Husserl dan Heidegger: Dua Tipe Fenomenologi Fenomenologi merupakan pendekatan yang dirumuskan Edmund Husserl pada awal abad ke-20. Pendekatan Husserl terarah pada fungsi kesadaran sebagai subyektivitas transendental.SUMBANGAN HEIDEGGER KEPADA HERMENEUTIKA DALAM “BEING AND TIME” Pengantar Filsafat Heidegger beranjak dari persoalan bahwa para filsuf telah banyak mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang dunia tetapi mereka mengabaikan kenyataan yang paling penting. Dunia mempunyai ciri referensial. Artinya. Bagi Heidegger. Arah pendekatan Heidegger adalah keberadaan manusia itu sendiri. melainkan jika tanpa perlu berpikir lagi ia langsung menggunakan palu itu untuk menancapkan paku pada papan (pemahaman pra konseptual). kesadaran bukan sekedar kesadaranakan sesuatu. Ia menyebut manusia sebagai dasein(eksistensi). pemahaman yang sesungguhnya itu tidak dilihat dalam suatu “pernyataan” sebagai buah nalar (ratio). menangis. Adanya selalu menunjuk pada sesuatu misalnya palu menunjuk pada paku. Karena Heideggerr berusaha mencari pemahaman melalui fenomen maka ia memakai metode Fenomenologi. Kesadaran kita. berjalan dan sebagainya. Heidegger berpandangan bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih mendasar dari pada kesadaran dan pengetahuan manusia. Ini adalah penemuan baru Husserl. di dunia. karena kesadaran hanyalah cara Ada menampakkan diri. Ini berbeda dengan Husserl yang menganggap keberadaan Ada sebagai datum kesadaran. melainkan dalam tingkat fundamental (tidak perlu dipikirkan lagi). tanpa kita menafsirkan fenomen-fenomen itu. Ada lebih utama dari kesadaran. Namun. Perbedaan fenomenologi Husserl dengan metode fenomenologis Heidegger dapat diringkas dalam kata “hermeneutik” itu sendiri. Heidegger berusaha untuk mencari arti syarat awal eksistensi yang ia sebut sebagai Ada. melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita. Jadi. proyeknya dalam Being and Time adalah “hermeneutik Dasein”. Apa maksudnya? Kita tidak sekedar menyadari sesuatu. Ada tidak dicari pada yang fisik melainkan lewat fenomena misalnya lewat fenomen tertawa. Salah satu kegiatan itu adalah memahami. tetapi juga sadar bahwa dunia ini turut membentuk kita yang ada di dalamnya. Menurutnya. Pemahaman lantas menjadi elemen penting hermeneutika. paku menunjuk pada papan. sementara Heidegger mengatakan bahwa dimensi otentik metode fenomenologi membuat karyanya (Being and Time) bersifat hermeneutis. melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Kita tidak hanya sadar hidup di suatu dunia. Sedangkan Heidegger justru melihat media vital historisitas “keber-ada-an” manusia di dunia. Fenomen yang diteliti itu adalah manusia. menurut Husserl selalu terarah pada sesuatu di luarnya (sadar akan sesuatu). fenomenologi Husserl ini berbeda dengan Heidegger. Dasein berarti berada-di-sana. Term tersebut . Ia membiarkan palu (fenomen pengada) termanifestasikan apa adanya. Fenomenologinya merupakan hermeneutika terhadap fenomena. Term ini tidak pernah digunakan Husserl untuk merujuk pada karyanya. Melihat begitu pentingnya arti “dunia”. papan menunjuk pada rumah dan seterusnya. Fenomenologi telah membuka bidang pemahaman fenomena pra-konseptual. yaitu bahwa dunia ada. seseorang dikatakan memahami palu bukan karena ia bisa menyatakan palu adalah alat untuk menancapkan paku pada papan. Heidegger menyebut kegiatan berada Dasein sebagai berada-dalam-dunia.

Ada lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. suatu ilmu yang kaku. melainkan hanyalah salah satu cara Ada menampakkan diri dalam kesejarahan Ada (historisitas Ada). Metode ini menunjukkan bahwa interpretasi tidaklah didasarkan pada kesadaran dan kategori yang dibuat manusia. Metode fenomenologi ini menjadi signifikan bagi teori hermeneutis. Phainomenon/phainesthai berarti yang menampakkan diri. Fenomenologi berasal dari akar kata Yunani yang merupakan kombinasi kata polimorfemikphainomenon atau phainesthai dan logos. Kant. Sedangkan logos adalah sesuatu yang dipahami dalam pembicaraan. Dalam penggalan tertentu yang kita sebut ‘zaman modern’. atau tampak apa adanya.mengasumsikan adanya bias anti sains yang bisa membedakan secara nyata Heidegger dengan Husserl. ia juga harus menjadi hermeneutika eksistensi. Jika aku menyadari danau di luar diriku maka danau itu ada. Logos menjadi hermeneutika. Untuk mengerti hal ini. kombinasi phainomenon/phainesthai dan logos berarti membiarkan benda-benda (fenomen) termanifestasikan sebagaimana adanya. dan Fichte. Lantas apa hubungannya dengan hermeneutika? Sebagaimana ontologi menjadi fenomenologi tentang Ada. secara jelas tergambarkan pada persoalan yang lain yaitu “historisitas”. Filsafat dalam pegertian Husserl secara mendasar masih sains. Hermeneutika ini bukanlah suatu metode filologi. Fenomenologi Husserl hanya mengelaborasi “pola yang telah di bentuk oleh Descartes. Ini berarti berlawanan dengan kebiasaan yang telah ada. tidak diartikan sebagai ‘nalar’ atau ‘landasan’. Heidegger menyebut metode fenomenologinya sebagai “hermeneutika”. Kesadaran yang ditemukan Descartes itu bukanlah segala-galanya sebagaimana dipikirkan oleh Descartes. Dengan demikian. sesuatu yang termanifestasikan. kenyataan atau ada itu diciptakan oleh kesadaran. Heidegger. Heidegger berusaha mengatasi filsafat modern yang berporos pada kesadaran atau subyektivitas. Tetapi ini tidak berlaku untuk segala zaman. Fenomenologi Hermeneutis Dalam bagian buku “Sein und Zeit” yang berjudul “The Phenomenological Method of Investigation”. ontologi harus menjadi fenomenologi. Heidegger kembali pada akar kata fenomenologi. tapi realitas itu sendiri yang menunjukkan dirinya kepada kita. tetapi pada realitas yang menampakkan diri apa adanya. sementara bagi Heidegger filsafat menjadi pemikiran historis. Di sini historisitas masih asing”. Misalnya dalam Descartes. Bukan kita yang menunjuk benda atau realitas. Menurut Heidegger. Dengan kata lain. melainkan hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. Apa itu historisitas Ada? Kita harus membayangkan seluruh manusia dan alam semesta ini sebagai suatu cerita tentang penampakan diri Ada dalam berbagai maknanya. Ia bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya . tanpa memaksakan kategori-kategori kita sendiri pada benda-benda tersebut. Logos membiarkan ssuatu itu tampak sebagai sesuatu. juga bukan metode memahami (Geisteswissenschaften) seperti yang diungkapkan Dilthey. Pandangan semacam ini yang ditolak Heidegger. penemuan kreatif masa lalu. Di sinilah penekanannya bahwa fenomenologi harus menjadi hermeneutis. Dengan demikian. dalam Being and Time berusaha mendekati Ada sebagai fenomen. Garis pembeda antara dua tipe fenomenologi di atas. Logos berarti sesuatu yang dengan sendirinya membiarkan sesuatu itu muncul. Heidegger menawarkan strategi lain dalam mendekati fenomen kesadaran: membuka diri terhadap Ada dan membiarkan Ada tampak apa adanya (memahami). Karena itu fenomenologi tidak sekedar untuk membuka kesadaran manusia belaka tapi juga sebagai sarana untuk mendekati Ada dalam seluruh faktisitas dan historisitasnya.

pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakekat eksistensi manusia. dalam pemahaman seseorang menyatukan diri dengan pembicara atau penulis sebagai seorang yang dipahami. yang merupakan struktur eksistensial Dasein yang memungkinkan terjadi pengalaman ditingkat empiris serta memungkinkan terjadinya pengetahuan yang lainnya. melainkan sebagai suatu ekspresi hidup. Akhirnya dapat dikatakan bahwa pemahaman dalam pemikiran Heidegger telah menjadi ontologis. Dalam pemikiran Schleirmacher. Heidegger menekankan pentingnya ‘dunia’ dengan menyebut kegiatan berada Daseinsebagai beradadalam-dunia. Selanjutnya. puisi. sebagai pengungkapan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Inilah pemahaman yang fundamental. Maknanya berbeda dengan pemahaman yang dimaksudkan oleh Schleirmacher dan Dilthey. Dunia dan Hubungan Kita dengan Obyek di Dunia Yang dimaksud dunia dalam pemikiran Heidegger tidak sama dengan bumi atau alam semesta belaka atau lingkungan kita. Dunia tidak dapat dipahami dengan menaksir entitas yang ada di dalamnya karena dengan cara ini dunia tidak akan mempunyai arti. melainkan suatu proses ontologis. Artinya. Kemungkinan-keungkinan itu terbuka justru pada prakteknya. dengan segala kemanifestasiannya. dan senantiasa hadir dalam setiap kegiatan intepretasi. atau fakta (sosial. Hakekat Pemahaman: Heidegger Melampaui Dilthey Pemahaman (Verstehen) merupakan term khusus yang dipakai Heidegger. Dengan demikian. melainkan (dari sudut pandang Dasein) suatu tempat untuk dimukimi. Karena itu. Hermeneutika Heidegger melangkah lebih jauh dari Dilthey karena Heidegger mengeksplorasi implikasi lingkaran hermeneutis bagi struktur ontologis pemahaman eksistensi manusia dan interpretasinya. Seorang pribadi tanpa dunia tidak . dunia tidak hanya dipahami sebagai tindakan mengetahui suatu entitas. Bagi Heidegger. ekonomi. suatu persoalan prinsip yang sudah umum bahwa pemahaman selalu berlaku dalam sebuah lingkaran hermeneutis. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. Pengunaan garis hubung menekankan bahwa tidak ada jarak antara diri kita dengan dunia. Heidegger suka mengangkat “lingkaran hermeneutik”: manusia mencari pengetahuan karena belum tahu dan sudah tahu (pra pemahaman). psikologi) lebih dari sekedar datum. Akhirnya Heidegger sendiri mendefinisikan esensi hermeneutika sebagai kekuatan ontologis ‘pemahaman’ dan ‘interpretasi’ yang memungkinkan keberadaan sesuatu khususnya keberadaan Dasein dapat terungkap. Hermeneutika menjadi “interpretasi Dasein”. Dengan kata lain. Dilthey menegaskan bahwa kebermaknaan selalu merupakan sesuatu yang merujuk ke dalam konteks keberhubungan. Dalam pemikiran Dilthey. Karakteristik penting pemahaman bagi Heidegger adalah bahwa ia selalu berlaku dalam suatu hubungan yang sudah diinterpretasikan. Pemahaman adalah cara berada di dunia. bukan pada yang dipikirkan. pemahaman mengacu pada level komprehensi lebih dalam yang melibatkan perolehan suatu gambar.suatu teks) melainkan kegiatan primer interpretasi yang membuka hakekat Ada. Dunia itu suatu keseluruhan dimana ada manusia menemukan dirinya sudah terlempar kedalamnya. pemahaman didasarkan pada afirmasi filosofisnya terhadap identitas dalam. pemahaman terhadap Dasein sendiri merupakan bagian yang penting dalam hermeneutika Heidegger. Kita merupakan bagian dunia seperti dunia merupakan bagian kita. Pemahaman merupakan dasar bagi semua interpretasi.

Dia tidak ‘terletak’ di suatu tempat tetapi memukimi suatu tempat. Dunia ini lebih dari sekedar lahan aktivitas prasadar persepsi pikiran. Dalam pemahaman. Apa bedanya? Air. pakaian. Di sini temporalitas dan historisitas ada hadir secara tegas. Ia adalah lahan di mana resistensi dan posibilitas dalam struktur ada membentuk pemahaman. Kita tidak tergeletak di dalam dunia melainkan terlibat dan kerasan di dunia. Percakapan di sini bukan dipahamai sebagai komunikasi verbal. Sedangkan Dasein berada dalam dunia secara khas. Dunia dan Daseinmerupakan relitas yang tak terpisahkan. Seorang memandang dengan benar melalui dunia. Kita lalu menjadi sadar akan ketergantungan kita pada materi tersebut. Jika ada gangguan. Makna pernyataan: Dasein berada-dalam-dunia tidak dimengerti seperti air ‘dalam’ gelas atau pakaian ‘dalam’ almari. misalnya alat tulis hilang atau kursi rusak atau lampu mati. Kita sering mengunakan alat-alat itu nyaris secara spontan. Arti kata depan itu di hadapan Heidegger sangat kompleks. kita akan menjumpai ada kursi. Pemahaman sangat berkaitan erat dengan kebermaknaan di atas. Kebermaknaan Prapredikatif. alat tulis dan alat-alat lainnya atau juga benda-benda yang bukan alat atau teman dan dosen kita sendiri. lampu. papan tulis. Ungkapan kata sebagai ini merupakan suatu terjemahan eksplisit pemahaman atau suatu interpretasi. Dasein tak pernah ada di dalam ruang melainkan menduduki ruang. gelas. suatu ‘dunia’ bisa dilihat sebagai ini atau sebagai itu.masuk akal. Karena itu. bahkan ia tidak bisa melihat Dasein atau apapun dalam kemanifestasiannya sendiri tanpa dunia itu. melainkan suatu penyampaian makna yang mendahului artikulasinya dalam bahasa. Ada menyingkapkan dirinya dalam kebermaknaan. Inilah momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan namun disampaikan lewat disposisi dasar eksistensial mereka masing-masing. Ia mempunyai struktur ‘untuk’ karena itu selalu mengacu pada alat-alat lain. Pemahaman juga tidak dapat dipisahkan dari interpretasi karena interpretasi merupakan penerjemahan eksplisit dari pemahaman. Misalnya. meja. dan almari dengan cara yang sama berada ‘dalam’ suatu tempat. Apa yang ditemui Dasein di dunia? Dan bagaimana hubungan ada kita (sebagaiDasein) dengan obyek yang ada di dalamnya? Jika kita berada dalam suatu ruang kuliah. Ini bukan paradoks. Pemahaman dan Interpretasi Fenomen kerusakan yang menyingkapkan keberadaan sebuah alat sebagai alat mengarah pada ‘dunia’ yang sangat luas. Kebermaknaan yang dimaksudkan oleh heidegger adalah Rede atau percakapan. maka intensi yang diandaikan begitu saja akan tersingkap dan disadari. Kata ‘dalam’ pada ‘berada-dalam-dunia’ juga harus dimengerti dengan tepat. Jika kita cermati. melainkan penyampaian makna tanpa artikulasi apapun. ia merupakan lahan proses hermeneutis di mana ada tertematisasikan sebagai bahasa. manusia juga bisa bertutur. pemahaman dan interpretasi. benda atau alat-alat tersebut adalah selalu “untuk sesuatu” (intensional). Pengalaman ini mengasumsikan prinsip hermeneutis bahwa keberadaan sesuatu terungkap tidak dalam tatapan analitis kontemplatif melainkan dalam momen di mana ia muncul secara tiba-tiba dari kesembunyiannya dalam konteks dunia yang sangat fungsional. seseorang yang baru di PHK termenung di taman sampai pada pemahaman akan makna hidupnya lalu mengambil keputusan untuk . hal ini menunjukkan bahwa mereka saling memahami satu sama lain. Singkatnya. dalam kebungkaman. melainkan menunjukkan bahwa ‘percakapan’ itu bukan pengucapan makna secara verbal. tempat kita eksis. Dua teman karib yang lama tidak berjumpa akan terpaku saling memandang tak berkata-kata saat mereka tak berjumpa lagi.

melainkan pada pemahaman pra sadar dimana kita sudah tidak perlu memikirkannya lagi. dalam hal ini bobot beratnya. Dalam pernyataan ini. Tentu yang dikatakannya itu juga tidak terpisah dari momen kebermaknaan prapredikatif yang telah dilaluinya yakni saat dia duduk termenung di taman. Heidegger memberikan suatu contoh pernyataan: “Palu itu berat”. Dalam interpretasinya.hidup masa depannya. Lalu pernyataan ini menjadi penyataan logis yang menempatkan palu tidak lagi sebagai sebuah “alat” (sebagaimana adanya) melainkan sebagai sebuah obyek. . Pernyataan seperti ini akan memutuskan ada (palu) dari kebermaknaannya sebagai akar dari keberadaannya. ia telah melewati interpretasi atas situasi dirinya. Karakter Derivatif Pernyataan Pemahaman yang paling dasar tidak terletak pada suatu pernyataan produk akal budi. Ini merupakan suatu pemahaman yang terbentuk lewat logika (pemikiran). atau momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan lewat kata. sedangkan pemahaman yang diungkapkan melalui kata-kata (pernyataan) merupakan pemahaman sekunder. Inilah saat diam yang penuh makna. palu diinterpretasikan sebagai sesuatu dengan kekayaan sifatnya. “pernyataan” (Aussage) bukanlah suatu bentuk dasar interpretasi. Bagi Heidegger. ia bisa mengatakan: “O saya memahami musibah ini sebagai peluang untuk berkembang lebih baik”. Pernyataan itu adalah turunan dari pemahaman primer yang pra sadar (fundamental). Interpretasi disini bukan berarti meratapi pemecatannya. melainkan mencoba keluar dari keterpurukan dengan menafsirkannya.

Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora. Studi ini mulai berkembang dalam kritik penafsiran bibel seiring dengan kemunculan protestan. Hermeneutika cukup sulit didefinisikan secara tunggal. Mereka semakin menyadari bahwa persoalanpersoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa.[1] Kajian kritis ini kemudian berkembang tidak hanya berlaku pada teks-teks bibel tapi termasuk teks-teks lainnya. Hal ini merujuk sekian banyaknya teori tentang hermeneutika itu sendiri dan juga perkembangannya. Pada abad ke17 dan ke18. Bahkan. Pengertian dan Sejarah Awal Hermeneutika Hermeneutika adalah sebuah kajian mengenai teori interpretasi atau penafsiran. Persoalan penafsiran bibel seiring kemunculan protestan ini menggiring kepada kajian kritis terhadap teks bibel itu sendiri. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika.HERMENEUTIKA Pengantar Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini. Akan . pendekatan kritis kepada teks Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkembang. kemudian berkembang lagi meliputi segala hal yang dapat disamakan dengan teks hingga usaha memahami makna kehidupan.

dan kata benda hermeneia. Keenam definisi ini tentu saja terkait tahapan historis kajian hermeneutika hingga masa Palmer saja. seperti di dalam penerjemahan bahasa asing. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk verba dari hermeneuein. tentu saja terdapat titik temu dari semuanya terlebih jika dimaklumi bahwa sekian tersebut sama-sama menggunakan istilah hermeneutika yang mana bisa dirunut maknanya secara etimologi. (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic. namun masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi. kata ini memiliki tiga bentuk makna dasar. (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel. Masing-masing definisi ini sekedar merupakan tahapan-tahapan historis. dan (6) Hermeneutika sebagai sistem interpretasi[3]. (3) menerjemahkan. (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenchaften. Palmer (1969) dalam bukunya memberikan 6 definisi modern hermeneutika. Pasca Palmer. (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologis.[2] Richard E. misalnya. ia menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi. oleh karena itu bilamana prinsip-prinsip . lepas dari itu. Semua teks termanifestasikan melalui bahasa. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggris “to interpret”. Dalam penggunaan aslinya. tidak sampai masa sekarang. Hermeneutika dalam Kilasan Tokoh Schleiermacher (1768 –1834) (Hermeneutika teoritis/romantisis) Friedrich Schleiermacher adalah orang yang dianggap mampu mengangkat hermeneutika tidak sekedar dalam konteks kajian Bibel tapi semua bacaan. seperti menjelaskan sebuah situasi.tetapi. Keenam definisi tersebut adalah. (5) Hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial. Secara etimologi. hermeneutika berasal dari kata kerja Bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. (2) menjelaskan. kajian hermeneutika semakin berkembang. yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata. “to say”. “interpretasi”.

maka terwujudlah hermeneutika umum[4]. pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. oleh karenanya kajian beliau dikenal dengan istilah hermeneutika teoritis. Sebab. Dengan demikian. [5] Dalam rangka merekonstruksi makna. Scheleirmacher menawarkan dua pendekatan: pertama. yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks.[6] Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik. dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas. maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”.pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks. dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya. Hal ini . untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis. Kajian hemeneutika beliau ini berpusat mengenai bagaimana memperoleh pemahaman yang benar. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks. teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas. kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri. termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut.

juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul. adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks. sementara ilmu sosial dan humaniora mencoba mencari tahu dan memahami (verstehen) sesuatu yang bersifat psikis.[7] Dilthey (Hermeneutika Metodis) Perkembangan berikutnya ditandai oleh pemikiran Wilhelm Dilthey yang membedakan antara ilmu alam / ilmu eksakta (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial dan humaniora / ilmu non-ekaskta (Geisteswissenschaften). menurut Dilthey tidak harus menyelam ke dalam pengalaman penggagas. non-fisik. Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduknya. Sebagaimana . Ilmu alam menjelaskan (erklären) sesuatu dan bertanya tentang penyebab-penyebab terjadinya sesuatu secara fisik.[9] Emilio Betti E. Sebab pengalaman itu dimediasi oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas pada masanya. Dilthey menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. bukan ekspresi mental penggagas. Di sinilah sikap empati pembaca terhadap teks menemukan tempatnya. dengan mengambil penekanan yang sedikit berbeda dengan hermeneutika teoritis Schleiermacher yang menekankan pada pencarian makna obyektif yang dihendaki penggagas. berbeda dengan Schleiemacher. Betti termasuk tokoh hermeneut yang menganut hermeneutika teoritis yang mencoba memadukan antara teori Schleiemacher dan Wilhelm Dilthey. Karena itu. Sehingga. Karena itu. untuk merekonstruksi makna teks. yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey. hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah.[8] Selanjutnya.

suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. melainkan merupakan proses ontologis. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obyektif. tiga. sebagai penguakan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kerja imajinasi dan wawasan. Pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. sehingga selanjutnya dapat dikomunikasikan.[11] Fenomenologi hermeneutika Heidegger adalah suatu fenomena tentang ‘ada’. hermeneutika beliau yang lebih menekankan fenomenologi das sein ini dikenal dengan hemerneutika filosofis. Gadamer . Gadamer menolak anggapan hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna obyektif. pada hakikatnya hermeneutika adalah merupakan ciri hakiki manusia. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. Betti menawarkan empat momen gerakan alam menemukan makna obyektif: pertama. Das Sein sebagai penyebab munculnya kegiatan berfikir menurut Heidegger adalah merupakan bahasa yang sejati.pendahulunya. Hermeneutika dialektis) Martin Heidegger membawa hermeneutika ke ranahnya yang bersifat ontologis. melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai dari ungkapan teks. melainkan kegiatan primal interpretasi yang membuka hakikat ‘ada’ menjadi terbuka. bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya suatu teks).[12] Hans Georg Gadamer (Hermeneutika dialogis) Sebagai penerus Heidegger. Kegiatan berpikirf adalah merupakan suatu jawaban terhadap das sein. penafsir harus mengosongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan. empat. untuk mencari ungkapan bahasa yang tepat sehingga das sein dapat benar-benar menjadi bahasa. penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik teks. Menurut beliau. Heidegger memandang bahwa bahwa bahasa adalah tempat tinggal ‘sang ada’. Oleh karenanya.[10] Heidegger (Fenomenologi Das Sein. kedua.

Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks. karena dua alasan: pertama. Namun penting digaris bawahi bahwa Gadamer tidak bermaksud memberikan kebebasan mutlak bagi penafsir. maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks. Gadamer tetap memberikan ramburambu. Sebab. Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci hermeneutis[13]: Pertama. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup. yakni agar penafsir bersikap terbuka pada teks. Memahami menurutnya adalah sebuah fusi horizon-horizon: horizon penafsir dan horizon teks. Kedua. orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. Dalam kegiatan penafsiran. situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. Penafsir sejatinya . teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. Keempat. menurut Gadamer. Kedua. Sebagai tawarannya. bukan makna obyektif teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon. Ketiga. horizon pembaca dan horizon teks. hermeneutika filosofis mengandaikan seorang penafsir atau pembaca didahului oleh horizon pembaca yang kemudian membentuk pra pemahaman. memahami bukanlah komuni misterius jiwa-jiwa dimana penafsir menggenggam makna teks yang subyektif.menganggap tidak mungkin diperoleh pemahaman yang obyektif atau definitif sebuah teks sebagaimana digagas para penggagas hermeneutika teoritis. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks.

Menurut Gadamer. yaitu takdir Tuhan. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain (seolah-olah terlibat dalm suatu perisitiwa). sebagaimana pembaca. ada syarat suatu peristiwa yang dapat diterangkan melalui CLM. keduanya pasti hadir dalam setiap tindakan menafsir. melalui fusi horison pembaca dan horizon teks. karena suatu penelitian sendiri dibutuhkan direct observation. Dengan prinsip makna tidak ditemukan di dalam teks. Pola CLM tidak berurusan dengan peristiwa unik atau individual yang dijelaskan pola hukum lainnya. bukan bagi kehidupan penggagas. tujuan utama hermeneutika filosofis adalah “memproduksi makna teks”. Gadamer berpendapat bahwa “memahami” adalah tindakan sirkuler antara teks dengan pembaca yang disebut the fusion of horison. yaitu (1) Pola hukum yag muncul pada premis pertama harus dikonfirmasi oleh sema fakta yang relevan atau tidak berlawanan dengan fakta. makna yang dicari bersemayam. ramalan.membiarkan teks menghadiri penafsir untuk kemudian diadakan dialog antara keduanya untuk menghilangkan ketegangan. Begitu makna produktif ditemukan. yakni mempertemukan pra pemahaman pembaca dengan cakrawala atau horizon teks. Selain itu.Yang pertama adalah CLM (Covering Law Model). melainkan “makna yang berarti” bagi pembaca. Tentu makna yang diterapkan bukanlah makna obyektif sebagaimana dimaksudkan hermeneutika toritis. Teori empirsme ekstrim oleh M. Untuk dapat meneliti tentang masa silam terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan.Oakeshott menyatakan bahwa penelitian terhadap masa silam itu tidak mungkin dilakukan. Padahal masa silam dapat diteliti tanpa melakukan direct observation. Peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. dan (2) Ada pola semu yang harus ditolak. Berbeda dengan hermeneutika teoritis yang hendak “merekonstruksi makna”. teks juga mempunyai sejarahnya sendiri yang disebut horizon teks. Tujuan dari pola CLM adalah untuk mencari hubungan sebab dan akibat. Makna itu mempunyai nilai bagi kehidupan pembaca. Penekanan Gadamer pada fusi horizon dalam menemukan makna didasarkan pada argumen bahwa seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tradisi dan prasangkanya dan apalagi memasuki tradisi dan prasangka orang lain. dan pola hukum yang tidak menjelaskan seperti peristiwa x terjadi karena peristiwa x terjadi. Dalam percakapan atauun . Yang kedua adalah Hermeneutika. langkah selanjutnya adalah menerapkannya ke dalam konteks di mana pembaca berada. lantaran keduanya merefleksikan keterkondisian historis umat manusia. Sebab. yaitu mengaitkan hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. Dalam negosiasi itulah. Adapun persyaratan CLM.

Pengembang teori hermeneutika di Jerman selanjutnya adalah W. dan menciptakan berdasarkan kesatuan dan kebertautan. (2) berusaha mengerti pihak lain berdasakan pengalaman sendiri dan pengalaman mengenai kenyataan dalam keseluruhan. Dalam ilmu alam ada erklaren (menerangkan) yang didasarkan pada pola hukum umum. Pengalaman yang ditentukan proses timbal balik disebut ’erlebnis’. Pengalaman baru memberi arti dan penafsiran baru terhadap pengalaman lama. Hermeneutika ingin mengerti mengapa seseorang berbuat begitu atau begini. Adapun perbedaan pendapat antara Gadamer dan Dilthey. yaitu: (1) Gadamer menolak pemisahan Dilthey tentang kenyataan dan pengalaman mengenai kenyataan. Hal ini tidak hanya berguna untuk menafsirkan teks-teks atau maksud lawan bicara. Cara kerja teori ini adalah melacak komunikasi yang terganggu. (3) Gadamer menolak adanya metode hermeneutika. Dilthey memakai psikologi sebagai ilmu bantu. Menurut Schleiermacher. Dilthey terkenal dengan gagasannya yaitu geisteswisschenschaften (ilmu pengetahuan budaya). (2) Pengetahuan dan pengalaman dari masa silam merupakan bagian dari eksistensi manusia. sejak kapan mulainya. Dalam menjelaskan perbuatan seorang pelaku sejarah. Ausdruck merupakan obyektivasi mengenai kebertautan atau koherensi dalam erlebnis. Dilthey. Teori argumentasi modern meneliti percakapan antara dua pihak manusia. Asumsi Dilthey dengan rekonstruksi itu akan menghasilkan efek yang sama seperti halnya dengan pelaku sejarah dahulu. aspek produktif dan reseptif. Menurut Dilthey. Pengembang teori hermeneutika di Jerman berikutnya yaitu Gadamer. dan (3) bagi ahli sejarah. Teori ini mengandaikan bahwa kedua pihak memiliki landasan atau awal yang sama. peneliti harus dapat memberi jawaban mengapa seorang pelaku sejarah berbuat demikian. (4) Pemahaman hermeneutika masa silam terikat dan bertaut dengan individualitas si peneliti. Tahap selanjutnya dalam hermeneutika adalah ausdruck atau ungkapan. aku sendiri juga akan berbuat dan berpikir demikian”. dengan memasuki alam pikiran para pelaku sejarah. Erklaren terbatas pada gejala yang secara lahiriah dapat diamati. adalah mementaskan kembali di panggung batinnya. Ausdruckmenekankan kesejajaran antara penafsiran teks dn struktur erlebnis. pengalaman dan proses-proses psikologi dan intelektual yang dahulu dirasakan seorang pelaku sejarah. Tujuan hermeneutika adalah (1) menjembatani jurang antara dua titik pangkal yang berbeda-beda. Tahap selanjutnya yaitu verstehen. dan keseluruhan teks hendaknya dimengerti dengan bertitik tolak pada bagianbagian. ’ausdruck’ dan ’verstehen’. berdasarkan landasan yang sama. Kontribusi Dilthey tampak pada fenomenologi sosiologi. hermeneutika lebih pentingdari teori argumentasi. Ide Dilthey berkisar pada konsep ’erlebnis’. Ausdruck melukiskan kenyataan sesuai dengan penghayatan atau persepsi (penyerapan) terhadap kenyataan. peneliti harus masuk ke dalam kulit lawan bicara atau pengarang sambil menimba dari pengalaman hidup kita sendiri. Bentuk pengetahuan lewat verstehen lebih lengkap dari erklaren karena ”Dunia alami hanya merupakan bayangan”. setiap pengalaman baru ditentukan oeh semua pengalaman yang sampai pada saat itu pernah dimiliki. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain. Teori . Verstehen tidak dapat diterapkan pada ilmu eksakta. Adapun proses hermeneutika. Konotasi verstehen ”Dalam keadaan itu. Ada pengaruh timbal balik antara pengalaman baru dan lama. kebertautan (zusammenhang) antara pengalaman lama dan baru.penafsiran teks. bagian-bagian (teks) ditempatkan dalam keseluruhan teks.

Perbedaan pokok antara pengkajian sejarah dan ilmu eksakta bahwa peneliti sejarah tidak hanya berurusan dengan kelakuan lahiriah obyek penelitiannya. masa lalu dapat diulangi dalam batin kita sehingga pengetahuan berdasarkan pengalaman masa silam tidak mustahil. White. Menurut Collingwood.G. Lebih lanjut tentang: Pemikiran Sejarah: Filsafat Sejarah (I) . Re-enactment terjadi dalam batin peneliti sejarah yang imajinatif dalam ekstrapolasi dan intrapolasi menurut pengalamannya sendiri. yaitu mengulangi apa yang hidup dalam benak para tokoh sejarah. Terdapat perbedaan-perbedaan antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta. Collingwood menggunakan konsep re-enact. melauinkan juga dengan batin (segi dalam) kelakuan mereka. Collingwood dan H.Hermeneutika di Inggris dan Amerika Serikat ini dikembangkan oleh R.

Sementara hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya. Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya.A Wattimena Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. bahwa rasionalitas universal manusia mampu melakukan kritik atas kapitalisme. Pada bab ini saya ingin memperkenalkan sebuah metode yang sangat berkembang pada awal dan pertengahan abad kedua puluh. Di dalam sejarahnya retorika dan hermeneutika memang selalu terkait. yakni hermeneutika. teori kritis memiliki satu pengandaian dasar. Teks ini memang dalam .Hermeneutika Hans-Georg Gadamer Reza A. dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu sosial yang membuat manusia tidak mampu mengembangkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah retorika dan filsafat praktis (etika). terutama hermeneutika yang dirumuskan oleh Hans Georg Gadamer. Retorika adalah seni untuk memaparkan pengetahuan.

dan bukan ilmu pengetahuan. Sementara pemahaman tidak boleh berhenti di dalam diri seseorang saja. Gadamer mencoba untuk melepaskan hermeneutika dari wilayah ilmu pengetahuan. melainkan juga dapat disampaikan dengan jernih kepada orang lain. Untuk melakukan itu ia kemudian kembali membaca tulisan-tulisan Plato. terutama ilmu-ilmu sosial. yang merupakan karya terbesarnya. dan sifatnya instrumental. saintifik. Akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas. bahwa hermeneutika dan retorika saling membutuhkan satu sama lain. terutama pada bagian etika. Tujuan utamanya tetap yakni melepaskan hermeneutika dari ilmu pengetahuan yang cenderung rigorus. Dalam arti ini juga dapat dikatakan. Di dalam beberapa tulisannya. . yakni realitas itu sendiri. Gadamer sendiri berulang kali menegaskan. Dalam arti ini dialog kehilangan dimensi rigorus saintifiknya. Retorika mengandaikan orang memahami teks. Menurut Gadamer hubungan antara pembaca dengan teks mirip seperti hubungan dialog antara dua orang yang saling berbicara. Selain itu Gadamer juga membaca tulisan-tulisan Aristoteles.bentuk tulisan. bahwa hermeneutika dan retorika lebih merupakan seni. termasuk Truth and Method. Gadamer menjadikan etika sebagai dasar bagi hermeneutika. dan menjadi percakapan rasional untuk memahami suatu persoalan.

tetap. Bahasa selalu memiliki beragam makna. memiliki tiga arti. Artinya bahasa itu memiliki sesuatu yang sifatnya khas pada dirinya sendiri. Untuk memahami sesuatu berarti untuk menggenggamnya dengan kekuatan akal budi. yakni proses untuk memahami teks. Yang pertama pengertian selalu terkait dengan proses-proses akal budi (cognitive process). Di dalam bahasa terdapat pengertian. dan membuka kemungkinan bagi pemahaman-pemahaman baru. anda akan mendapatkan kesan bahwa ia senang sekali bermain kreatif dengan bahasa untuk menciptakan pemahaman-pemahaman baru. Hermeneutika selalu terkait dengan pengertian tentang realitas. Beragam makna di dalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang bersifat esensial. hermeneutika.Pengertian Sebagai Kegiatan Pikiran[1] Jika membaca tulisan-tulisan Gadamer langsung. dan tugas hermeneutika adalah memahami pengertian tersebut. Menurutnya bahasa tidak pernah bermakna tunggal. Untuk memahami berarti untuk menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang lebih luas. dan itu justru harus diakui dan dirayakan. Untuk memahami berarti untuk menyentuhnya dengan akal budi. Untuk memahami berarti untuk melihatnya secara lebih jelas. dan universal di dalam bahasa itu sendiri. atau memahami teks. Inilah arti dasar dari hermeneutika sebagai proses untuk memahami sesuatu. dan lepas dari pikiran manusia. . Berdasarkan penelitian Jean Grodin.

Pengalaman hidup tersebut dapat dipahami melalui proses rekonstruksi ulang yang dilakukan peneliti melalui penelitiannya. Inilah yang kiranya menjadi argumen utama Wilhelm Dilthey. Pengertian sebagai Kegiatan Praktis Yang kedua hermeneutika selalu terkait dengan pengertian yang bersifat praktis. ilmu-ilmu sosial tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam.Konsep pengertian atau pemahaman (understanding) juga bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial. Maka dari itu menurut saya. terutama teks kitab suci. Di dalam tradisinya hermeneutika berfokus pada upaya untuk memahami teks-teks kuno. melainkan mengkalkulasi yang untuk mengeksploitasi dan memprediksi fenomena alamiah. Di dalam proses memahami realitas sosial. Konsep hermeneutika Gadamer juga berakar pada tradisi tafsir teks-teks kitab suci ini. seorang filsuf ilmu-ilmu sosial yang hidup pada abad ke-19. Inilah yang disebut Dilthey sebagai pengalaman hidup (life experience). karena tujuan ilmu-ilmu alam bukanlah memami pengalaman hidup. searah dengan penelitian Dilthey. setiap bentuk tindakan dan ekspresi seseorang selalu mencerminkan apa yang dihayatinya di dalam kehidupan. Dalam arti ini orang yang mengerti bukan hanya ia memahami . Konsep pengertian sendiri memang sudah tertanam di dalam tradisi hermeneutika sejak lama.

terutama tentang fenomenologi adanya. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya. tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sebuah masakan yang enak. Gadamer memfokuskan hermeneutikanya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. Di dalam hidupnya manusia selalu mencari arah baru untuk dituju. tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu. tetapi mampu mengajar dengan baik. Artinya anda tidak hanya memahami pengetahuan teoritis tentang cara mengajar dan arti pengajaran itu sendiri. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger. yakni proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. Di dalam proses merumuskan filsafatnya. orang harus peduli dan mampu memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Untuk memahami sudah selalu mengandaikan mampu menerapkan. Untuk menemukan arah yang tepat. . manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. Untuk memahami manusia menurutnya. tetapi juga memiliki ketrampilan praktis untuk menerapkannya. Gadamer sangat terpengaruh pada filsafat Heidegger.pengetahuan tertentu. Hanya dengan memahami diri secara tepatlah manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. Misalnya anda adalah seorang guru yang baik. Seorang koki yang baik tidak hanya memahami konsep teoritis bumbu.

Kebijaksanaan praktis juga melibatkan pengertian tertentu. Bertindak baik tidak sama dengan memahami hakekat dari yang baik. Di dalam bahasa Inggris.[2] Pengertian sebagai Kesepakatan Gadamer juga berpendapat bahwa pengertian selalu melibatkan persetujuan. Dalam konteks pengertian ini. seperti yang dilakukan Plato di dalam filsafatnya. dan juga bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. Memang pengertian itu tidak seratus persen berarti persetujuan. ketika orang mengerti. “we understand each other”. jika dibandingkan dengan filsafat Heidegger. Penerapan adalah soal tindakan nyata. ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. Untuk mengerti berarti juga untuk setuju. Kata understand bisa berarti mengerti atau memahami. Sifat praktis ini diperoleh Gadamer. ketika ia mulai secara intensif membaca tulisan-tulisan Aristoteles tentang kebijaksanaan praktis. namun ada hal-hal mendasar yang telah disetujui sebelumnya. Yang pertama bagi .Dapat juga dikatakan bahwa filsafat Gadamer lebih bersifat terapan. penerapan adalah sesuatu yang amat penting. kalimat yang familiar dapa dijadikan contoh. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Grondin.

pembaca dan penulis teks memiliki kesamaaan pengertian dasar (basic understanding) tentang makna dari teks tersebut. tujuan utamanya adalah membangkitkan maksud asli pengarang. Namun tetaplah harus diingat. untuk memahami berarti juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Di dalam proses pemahaman itu.Gadamer. Dalam arti ini proses sache tidak lagi berfokus untuk membangkitkan maksud asli dari penulis teks. maksud asli pengarang hanyalah hal sekunder. Sache inheren berada di dalam setiap proses pembacaan ataupun proses dialog. bahwa fokus dari hermeneutika. Maksud asli pengarang tetap ada. Di dalam hermeneutika tradisional. Namun kita hanya dapat mengerti maksud tersebut. jika kita memiliki beberapa pengertian dasar yang sama dengan pengarang. Namun di dalam hermeneutika Gadamer. atau subyek yang menjadi tema pembicaraan. Dan tema utama pembicaraan (subject matter) itu dapat terus berubah. namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. Pemahaman atau pengertian dasar (basic understanding) itu disebutnya sebagai sache. Misalnya saya membaca teks tulisan Immanuel Kant. Ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant. atau proses . Yang penting adalah apa yang menjadi tema utama pembicaraan. melainkan berfokus pada tema yang menjadi perdebatan yang seringkali berbeda dengan maksud asli si penulis teks.

Bagi Gadamer elemen bahasa untuk mencapai pengertian ini sangatlah penting. Dalam arti ini untuk memahami berarti untuk merumuskan sesuatu dengan kata-kata. dan tidak semata-mata hanya untuk menjelaskan maksud asli dari penulis teks. Misalnya saya mengerti sebuah simbol. Maka perlulah ditegaskan bahwa bagi Gadamer.[3] Yang kedua menurut Gadamer. Bahkan ia berpendapat bahwa pengalaman penafsiran (hermeneutic experience) hanya dapat dicapai di dalam bahasa. Di dalam proses ini. ataupun dialog ketika kita membaca satu teks tulisan tertentu. setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog. Saya . tindak memahami selalu melibatkan kemampuan untuk mengartikulasikannya di dalam kata-kata dan menyampaikannya di dalam komunikasi. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. Namun begitu bukankah tidak semua hal dapat disampaikan dengan kata-kata? Seringkali kita mengerti sesuatu. menurut Gadamer. peran bahasa sangatlah penting. tetapi tidak bisa mengartikulasikannya secara jernih melalui bahasa.menafsirkan. Saya juga bisa memahami keindahan dari suatu karya seni. adalah untuk membangkitkan makna tentang tema utama pembicaraan. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia (linguistic elements of understanding). dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa. baik dialog aktual fisik.

kita perlu memperhatikan juga apa yang tak terkatakan. dan pemusik.juga bisa memahami keindahan suatu musik. merupakan alat komunikasi yang universal untuk mencapai pemahaman. Namun hal itu terjadi. Di dalam bukunya yang berjudul The Truth and Method. lalu bagaimana proses pengertian atau memahami bisa terjadi? Menurut Gadamer bahasa memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar kata-kata. karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis. karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Semua bentuk komunikasi itu bisa membuka ruang untuk penafsiran dari pendengar ataupun penerima pesan. pematung. namun bahasa. di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. Maka dari itu di dalam komunikasi. Dalam beberapa kasus tarian dan bahkan diam juga bisa menjadi sebentuk bahasa yang menyampaikan pesan tertentu. sehingga tercipta kesalahpahaman. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif. Tentu saja orang bisa salah tangkap. tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. Dengan demikian walaupun sifatnya terbatas. termasuk pelukis. Jika bahasa tidak lagi bermakna. Tidak hanya itu seringkali perasaan dan bahkan kebenaran itu sendiri tidak dapat dikurung di dalam rumusan kata-kata. dalam arti luas. Gadamer berpendapat bahwa para seniman. .

Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah sebuah logika klasik. setiap bentuk penafsiran untuk memperoleh pemahaman selalu melibatkan pemahaman dasar lainnya. Namun jika dilihat secara fenomenologis. Logika berpikir menolak sebuah penjelasan atas suatu konsep yang terlebih dahulu mengandaikan konsep tersebut. Argumennya begini setiap bentuk penafsiran selalu mengandaikan pengertian dasar tertentu. hal ini tidak bisa diterima. Oleh karena itu konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer sangatlah berbau fenomenologi. Tentu saja dari sudut logika.Konsep Lingkaran Hermeneutis[4] Gadamer juga dikenal dengan argumennya soal proses penafsiran. Konsep lingkaran hermeneutis ini sangatlah dipengaruhi oleh filsafat Heidegger. Hal yang sama dapat diterapkan untuk memahami suatu teks. menurut Gadamer. atau yang disebutnya sebagai lingkaran hermeneutis. bahwa orang bisa memahami keseluruhan dengan terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya. Seperti sudah sedikit disinggung. Artinya untuk memahami kita juga memerlukan pemahaman. dan sebaliknya bagian-bagian teks itu dapat dipahami dengan . hal itu mungkin. Pengertian dasar itu disebut Gadamer sebagai antisipasi. orang perlu memiliki pemahaman. seperti untuk menafsirkan guna memahami sesuatu. seperti yang dilakukan Heidegger dan Gadamer. Maksud utama dari keseluruhan teks dapat dipahami dengan berpusat pada bagian-bagian teks tersebut.

Jika kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya sungguh dipahami ini tidak ada.[5] Pengandaian hermeneutika Gadamer adalah. Supaya dapat memperoleh pemahaman yang tepat. dan bukan hanya terjebak pada apa yang tertulis atau terkatakan saja. dan sebaliknya. Tujuan utama Gadamer adalah untuk memahami teks di dalam kerangka berpikir yang lebih menyeluruh. Jika sudah begitu maka pemahaman yang tepat pun tidak akan pernah terjadi. Dalam arti ini Gadamer memiliki perbedaan . dan bukan sesuatu yang sudah ditemukan lalu setelah itu proses selesai. maka proses penafsiran akan menjadi tidak fokus. Jika dilihat dengan kaca mata ini. Ini adalah salah satu kriteria untuk mendapatkan pemahaman yang tepat. Pemahaman adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari. menurut Gadamer. bahwa keseluruhan (whole) dan bagian (parts) selalu koheren.memahami keseluruhan teks. si pembaca teks haruslah memahami koherensi antara makna keseluruhan dan makna bagian dari teks tersebut. adalah proses yang berkelanjutan. Teks harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yang tentunya melibatkan teks-teks lainnya. Tidak hanya itu proses untuk memahami keseluruhan melalui bagian. maka konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer tetap mengandung unsur logika yang tinggi. Setiap bentuk pemahaman juga mengandaikan adanya kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya ingin dipahami.

Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya. serta arti sebenarnya dari teks tersebut. dan sebaliknya. Juga bagi Heidegger proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta di dalam proses penafsiran tersebut. Sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya. Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme. Sementara bagi Gadamer fokus dari pengertian adalah upaya untuk memahami masa lalu dari teks. Sementara fokus dari hermeneutika . Artinya untuk memahami orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu. Sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literatur. Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan.mendasar dari Heidegger. fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. Bagi Heidegger fokus dari pengertian manusia adalah untuk memahami masa depan dari eksistensi manusia. Sementara bagi Gadamer konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan. Dan sebaliknya bagianbagian dari teks dapat dipahami dengan terlebih dahulu memahami maksud keseluruhan dari teks tersebut. Maksud utuh dari teks dapat dipahami dengan memahami bagianbagian dari teks tersebut.

[6] Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik. namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. Walaupun banyak memiliki perbedaan. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi . Dengan demikian kita bisa memastikan. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. baik kebenaran di level eksistensi manusia. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. Prasangka membuat orang melihat apa yang ingin mereka lihat. Namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik. yang biasanya negatif. maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks. bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer.Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya. dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri. namun keduanya tidaklah sama. yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat.

Tugas utama hermeneutik di satu pihak adalah mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam suatu teks.manusia dengan berdasarkan kehidupan itu sendiri.*** Paul Ricoeur pada historisitas Ricoeur yang berlatar belakang pandangan Katholik. seperti yang dikutip dari Nietzsche. Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore. demikian pula jika simbol-simbol mulai dilibatkan. Baginya manusia pada dasarnya adalah bahasa dan bahas itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. Jika pembahasan interpretasi hanya terbatas pada simbol-simbol maka ini menjadi terlalu sempit. historis. memiliki prespektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial ke analisis eidetik (pengamatan yang sedemikian mendetil). fenomenologis. yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. Riceour kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan ‘perhatian kepada teks’. 1983:192) Salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah ‘perjuangan melawan distansi kultural’. sedangkan penjelasan hermeneutik memberi kita kesan subyektif. setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalaha interpretasi terhadap interpretasi. 1985:43). Penjelasan struktural suatu teks cenderung bersifat obyektif. hermeneutik hingga pada akhirnya semantik. Definisi pasti tentang hermeneutik menurut Ricoeur adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur. Setiap interpreatsi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung. ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi (Ricoeur. Menurut Riceour. Teks sebagai penghubung bahasa isyarata dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. di sinilah didapati dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas yang menimbulkan . 1974:12) Bilamana ada pluralitas makna. maka dibutuhkan sebuah interpretasi. dan di lain pihak mencari daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri keluar.

Jadi. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ sangat tajam. Maka. situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.” Setiap interpretasi merupakan usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Menurut Ricoeur ada tiga langkah pemahaman. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Kata-kata sebagai sebuah simbol memiliki makna dan intensi tertentu.problem. . yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Tema kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja. Dia juga menegaskan bahwa “filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya. Bagi dia sebenarnya keseluruhan filsafat merupakan interpretasi terhadap interpretasi. sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang asli. Adanya simbol. Tema keempat adalah perpaduan antarcakrawala. langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna. terutama pada interpretasi. tema pertama adalah tidak ada titik nol saat kritik tuntas dapat mulai dilakukan. tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol (katakata) dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. maka tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita. Latar Belakang Pemikiran Paul Ricoeur tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan Katolik. Salah satu simbol adalah bahasa. Pemahaman yang pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie. yaitu untuk memahami sebauh percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Ada empat tema yang diketengahkan oleh Ricoeur. Bilamana terdapat pluralitas makna. langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. maka di situ interpretasi dibutuhkan. Percikan Gagasan Paul Ricoeur tentang Hermeneutik 1. Ada dugaan bahwa keseluruhan filsafatnya pada akhirnya terarah kepada hermeneutik. Tema ketiga adalah jika tidak ada pandangan ang menyeluruh. Langkah pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Di sini batasan pembahasannya terletak pada usaha menafsirkan bahasa tulisan yang tertuang dalam kata-kata. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Hermeneutik dan interpretasi tidak pernah lepas dari simbol-simbol. yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol.

Setiap kali kita membaca sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat. sebuah kata adalah juga sebuah simbol. kiranya terlalu sempit. Walaupun demikian. Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain. Kalau sampai pewarnaan itu terjadi maka ada kemungkinan usaha untuk mencapai makna yang sejati akan menemui kendala. Dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat. istilahistilah memiliki makna ganda. yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks.kekayaan sebuah simbol justru ditemukan dalam maknanya yang sejati sehingga tidak menimbulkan multi-tafsir. Ricoeur memperluas definisi tersebut dengan ajakan memberi “perhatian kepada teks”. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. agar bisa sampai kepada penafsiran yang tepat. sebab kedua-duanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. Menurut Ricoeur. Usaha ini tidak mudah. Acapkali seorang penafsir membawa juga struktur-struktur yang sudah “jadi” tentang obyek tafsir sehingga sebelum menafsir sudah ada “warna” yang diberikan kepada obyek tersebut. namun konteks pun bermacam-macam menurut zamannya. petani dan sebagainya. Lebih jauh lagi. maka seorang penafsir harus mengambil jarak tertentu dengan obyek tafsiran. Inilah yang disebut oleh Ricoeur sebagai “perjuangan melawan distansi kultural”. Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensionaldan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya. Ia menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik ialah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”nya teks itu muncul ke permukaan. Ruang Lingkup Hermeneutik Bila hermeneutik didefinisikan sebagai interpretasi terhadap simbol-simbol. 2. Kita bisa tersesat dengan memberi makna (bisa lain sama sekali) kepada obyek dan bukannya memetik makna yang sudah ada dalam obyek tersebut. Dalam hal ini kita sebaiknya mengikuti definisi yang diajukan oleh Ricoeur tentang hermeneutik. 3. Kata dan Makna Telah kita lihat bersama bahwa. misalnya kata “pohon” akan mempunyai makna yang bermacam-macam bergantung pada pembicaranya: apakah ia seorang penebang kayu. sebuah teks harus kita tafsirkan dalam bahasa yang tidak pernah tanpa pengandaian dan diwarnai dengan situasi kita sendiri dalam kerangka waktu yang khusus. Pola-pola makna ini secara luas memberikan gambaran tentang konteks hidup dan sejarah orang tersebut. Sebuah kata mengandung konotasi yang berbeda bergantung pada konteks pemakainya. Bagaimana dilema ini kita . penyair. orang yang berbicara membentuk pola-pola makna secara tidak sadar dalam kata-kata yang dikeluarkannya. Bahkan meskipun benar juga bahwa makna dapat diturunkan dari konteks yang terdapat dalam sebuah kalimat. tradisi ataupun aliran yang hidup dari bermacam-macam gagasan. Karena itu. ekologist.

yang isinya dapat dinikmati oleh setiap generasi. Ia membantu dalam menggali makna otentik dari sebuah teks. 4. Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Ricoeur dengan pernyataannya: “Memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks. untuk dapat berhasil dalam usahanya. Tidak. Jika Injil tidak dapat diterapkan pada zaman kita ini. Refleksi Berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Ricoeur kami menemukan faedah hermeneutik dalam kehidupan sehari-hari. namun masih juga kita rasakan relevan atau dapat kita terapkan pada semua hikayat dan persitiwa pada masa mendatang. Atas dasar otonomi ini. melainkan membuka diri terhadapnya”.pecahkan? Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi” (= proses ‘pembebasan’ diri dari konteks). Injil seringkali kita bayangkan sebagai sebuah “kitab yang hidup”. Pembaca Injil tidak “membaca ke dalam” teks. tetapi mendalami aspek-aspek di balik teks yang kelihatan. melainkan ia merelakan dirinya “dirasuki” Injil. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Sebagai contoh. Maka. maka yang dimaksudkan dengan “dekontekstualisasi” adalah bahwa materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. di mana pembacaannya selalu berbeda-beda. maka tidak mungkin kita sampai saat ini masih mendiskusikannya. Jika kita mendapat titik akhir sebuah interpretasi. Kitab Suci Injil menyajikan contohcontoh teks yang berasal dari zaman yang berbeda dengan zaman kita. khususnya bagi kita yang setiap harinya berhadapan dengan teks-teks kitab suci. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ itu tajam. Tugas hermeneutik menjadi sangat berat sebab hermeneut harus membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri. Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas. yaitu untuk memahami sebuah percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. misalnya tentang pengarang dengan situasi dan konteks kebudayaan dan orang-orang sezamannya beserta tujuan dan kepada . Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Interpretasi selalu bersifat terbuka. Bahwa “perhatian kepada sebuah teks” tidak semata-mata terletak pada pemahaman hurufiah. inilah yang dimaksudkan dengan “rekontekstualisasi”. harus dapat mengatasi situasi dikotomis. Latar belakang Ricoeur sebagai penganut katolik yang setia menjadi cerminan bagi kami dalam mempelajari dan mendalami isi teks kitab suci. serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. ini berarti “pemerkosaan” terhadap interpretasi. serta untuk melakukan “rekontekstualisasi” (= proses masuk kembali ke dalam konteks) secara berbeda didalam tindakan membaca. Pertanyaan kita sekarang adalah adakah interpretasi itu mempunyai titik akhir? Menurut Ricoeur. baik dari sudut sosiologis maupun psikologis. situasi kultural dan kondisi pengadaan teks.

Biografi Nasr Hamid Abu Zayd lahir di Tantra. 2000) Dawair al-Kawf Qira’ah fi al-Khitah al-Mar’ah (Dar el-Beidah. diantaranya menghujat para sahabat. 1995) AI. Ia menulis lebih dari dua puluh sembilan (29) karya sejak tahun 1964 sampai 1999.[1] Belakangan ia divonis “murtad”. Mesir pada 10 Juli 1943. Dia bekerja sebagai dosen di Universitas yang sama sejak 1982. Tindakan ini menurutnya sebagai upaya melanggengkan hegemoni kaum Quraysh terhadap kaum muslimin. Dengan proses penafsiran seperti ini. Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. hingga 27 Desember 2000 dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap di Universitas tersebut. dan Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. di Netherland Nasr menjadi profesor tamu studi Islam pada Universitas Leiden sejak 26 Juli 1995. Pada tahun 1992.Qur’an: God and Man in Communication (Lcidcn. 4. Pendahuluan Mengkaji aplikasi hermeneutika dalam tradisi Islam tidak terlepas dari tokoh Nars Hamid Abu Zayd. baik berbentuk buku. Pemikir ini sangat terkenal di dunia dan di Indonesia. 1999 ) AI-Nass. tetapi ditolak karena hasil kerja dan pemikirannya yang kontroversial. Lebih jauh ia mengingatkan kita untuk menangkap pesan atau relevansinya dengan konteks kehidupan kita sendiri. maupun artikel. juga menjadi rujukan para akademisi. 3. Ricoeur mengajak kita untuk tidak berhenti pada penemuan makna yang otentik dari sebuah teks. Buku-bukunya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬dan Posisinya dalam Hermeneutika Barat. Selain itu. 6. Utsman Ibn ‘Affan. akan terus menggali intensi dari teks yang satu dan sama dengan maknanya yang tetap otentik.Tafkir: Didda al-. di mana ia mengkritisi metode tafsir Ahlu Sunnah yang menurutnya tidak sesuai dengan konteks kekinian. dia dipromosikan sebagai profesor. terutama Uthman Ibn ‘Affan. Semenjak peristiwa itu. 1994) . 2. Ada sembilan karyanya yang penting dan sudah dipublikasikan. The al. maka benar bahwa tugas penafsiran itu tidak akan pernah berakhir. Berakhirnya sebuah penafsiran justru terjadi jika orang tidak lagi mau berpikir. Awalnya. Tulisan ini akan coba menguraikan biorafi Nasr Hamid Abu Zayd. dia meninggalkan Mesir dan menetap di Netherlands bersama istrinya.lahl wa al-Zayf wa al Khurafah (Cairo. al-Sultah. itu berarti ia menyangkal hakekatnya sebagai “homo rationes”. al-Haqiqah: a/-Fikr al-Diniy bayna lrdaat al Ma’rifah wa lradat alHaymanah (Cairo. “Pemurtadan” Nasr tidak berhenti sampai di situ. Setiap orang dari generasi ke generasi dengan situasi zamannya. terutama dalam Mafhum an-Nas Dirasah fii Uluum al-Quran dan Naqdu al-Khitab ad-Dini. gelar MA pada tahun 1977 dan PhD pada 1981 dengan konsentrasi Islamic Studies di Universitas Kairo. sebagaimana dia paparkan dalam berbagai bukunya. yaitu: 1. Konsep Nasr Hamid ini membawa dampak pada metode penafsiran teks al-Quran.Tafkir fi Zaman al. dikenal dengan peristiwa “Qadiyyah Nasr Hamid Abu Zayd”. Dan bila orang tidak lagi mau berpikir. mempersempit bacaan Alquran yang beragam menjadi satu versi. 1995) Naqd al-Khitab al-Diniy (Cairo. Quraysh. tetapi masih terus berlanjut hingga pengadilan banding Kairo menetapkan Nasr harus menceraikan istrinya.siapa tulisan itu hendak diberikan. Menurutnya. 2000). Al-Khitab wa al-Ta’wil (Dar el-Beida.[2] Nasr Hamid Abu Zayd merupakan ilmuwan muslim yang sangat produktif. 5. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. Dia menyelesaikan gelar BA pada 1972 konsentrasi Arabic Studies. Adalah menarik menyimak bagaimana Nasr Hamid memandang teks al-Quran.

Tuduhan-tuduhan tersebut muncul sebagai reaksi terhadap tulisan-tulisan Nasr tentang interpretasi Alquran. 1982) Nasr Hamid Abu Zayd hidup dalam hegemoni wacana agama Islam yang ”terisolasi” dari dunia ilmu pengetahuan Barat. 9. kebudayaan dan peradaban. Perhatian yang diberikan oleh para pengkaji Islam dalam menelaah tradisi Arab-Islam dari dulu sampai dewasa ini.7. kritisisme. Fenomenologi dan hermeneutika. Perhatiannya yang sangat besar di bidang interpretasi (tafsir) Alquran rnendorongnya untuk bereksplorasi dengan filsafat Barat. hal ini dilatarbelakangi suatu asumsi bahwa peradaban dunia dapat diandaikan kepada tiga kategori. banyak difokuskan kepada pembacaan teks-teks tersebut.[3] Pemikiran Nasr yang kontroversial tersebut sebagai produk latar belakang pendidikan dan pemikiran keagamaannya. peradaban Yunani disebut “peradaban akal” (hadlârah al-‘aql) . Selanjutnya ia juga concern melakukan kajian terhadap wacana keagamaan. Kendati demikian. 8. Meskipun Nasr sekolah di sekolah Teknik. karena studi pascasarjananya. Kemudian ia melanjutkan studi di bidang yang sama di Universitas Amerika di Mesir. 1993) AI-lttijah al-’Aqli fi al-Tafsir: Dirasah Qaqiyyat al-Majaz fi al -Qur ‘an (Beirut. Menurut Nasr Hamid Abu Zayd. Mafhum al-Nash: Dirasah fi ‘Ulum Alquran (1994) (Cairo. Hasil eksplorasinya memunculkan beragam tudingan miring. Ikhwan al-Muslim adalah organisasi Islam yang beranggotakan Islamis moderat. Barangkali ini yang menjadi penyebab mengapa ia memiliki perhatian yang cukup besar terbadap interpretasi Alquran. Tradisi Arab-Islam nampak memiliki “tradisi teks” yang cukup kuat ketimbang peradaban yang lain. 1994) Fa/safat a/-Ta’wi!: Dirasah fi a/-Ta’wi! al-Qur ‘an ‘ind Muhyi a/-Din Ibn ‘Arabiy(Beirut. seperti rasionalisme. ia juga bergabung dengan Ikhwan al-Muslimin. ini tidak berarti bahwa teks itu sendiri yang menumbuh-kembangkan . baik S-2 maupun S-3 mengambil konsentrasi bahasa Arab dan Islamic Studies. Bergabungnya Nasr dalam organisasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap cara pandangnya terhadap Islam. bahkan ia pernah bekerja sebagai teknisi elektronik di Organisasi Komunikasi Nasional.[4] Peradaban Arab-Islam disebut peradaban teks dalam pengertian sebagai peradaban yang menegakkan asas-asas epistemologi dan tradisinya atas suatu sikap yang tidak mungkin mengabaikan peranan teks di dalamnya. tetapi ia telah hafal Al quran sejak usia 8 tahun. Sementara itu mengapa Nasr tertarik untuk menafsirkan Alquran dengan menggunakan teori kritik sastra? Hal ini dapat dimengerti karena Nasr mendapat gelar SA di bidang bahasa dan sastra Arab pada fakultas sastra Universitas Kairo. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd : Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬Serta Posisinya dalam Hermeneutika Barat Kehadiran teks dalam tradisi keagamaan telah membawa pengaruh dan implikasi yang cukup besar bagi perkembangan intelektual. sejak usia 11 tahun. sedangkan peradaban Arab-Islam dikategorikan sebagai “peradaban teks” ( hadlârah an-nash). yaitu peradaban Mesir Kuno yang disebut “peradaban (yang muncul) pasca kematiannya” (hadlârah mâ ba’da al-maut ). Selain itu.

bahkan menurut pengarangnya sendiri makna itu akan berbeda dari satu periode ke periode yang lain. dari satu masa ke masa yang lain. untuk mengatasai problem yang dilematis ini. ekonomi. Sementara ideologisasi dihasilkan dari kecenderungan subjektif-oportunistik (an-naz’ah aí-íâtiyah an-naf’iyah) dan telah menggugurkan sudut objektif teks dan historisitas teks. yaitu bahwa proses penafsiran dan kegiatan pengetahuan secara umum selalu ditujukan untuk mengungkapkan berbagai kenyataan yang memiliki keberadaan objektif di luar horison subjek pembacaan. و هلذه العلقلة تنتلج التأويلل عللى‬ 6]. Nasr Hamid Abû Zayd menawarkan hermeneutika modern sebagai respons terhadap tradisi penafsiran teks klasik yang mengabaikan eksistensi penafsir. Teori penafsiran Nasr Hamid Abû Zayd bersifat objektif-historis dari teks. bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya. syarah hadis.peradaban atau meletakkan asas-asas kebudayaan dalam sejarah masyarakat Muslim. tasawuf dan falsafah telah berperan sebagai instrumen yang melengkapi lahirnya kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab-Islam.‫]مستوى درس النصوص والظواهرعلى السواء‬ “Hal ini berarti bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya didasarkan pada dialektika yang produktif dan kreatif antara subjek dan objek.[5] Realitas sebagai sebuah “teks” seperti konteks kesejarahan manusia. Yang tetap adalah makna. politik dan budaya pada satu sisi. Apabila horison pembaca membatasi sudut pandangnya. Sesungguhnya faktor utama yang melandasi dan menjadi asas epistemologi dari suatu kebudayaan adalah proses dialektika antara manusia dengan realitasnya (jadal al-insân ma’a al-wâqi’i) yang meliputi aspek sosial. dia berpendapat adanya dua tujuan yang terpisah yang masing-masing terkait dengan dua bidang yang berbeda. Bidang dan tujuan kritik sastra adalah mencari signifikansi teks sastra yang sesuai dengan satu masa tertentu. hadis. maka data-data teks tidak berposisi sebagai penerima pasif terhadap orientasi-orientasi subjek yang mengetahui.[9] Menurut Ahmad Hasan Ridwan.[8] Hirsch menjelaskan keberadaan pengarang di hadapan berbagai pendapat yang mengabaikannya. Ketika makna teks dapat berubah sesuai dengan pengarangnya. Hirsch membuat pembedaan atau pemisahan antara apa yang disebut makna (meaning) dan apa yang disebut magzâ (signifikansi).[10] Makna (dalalah) ada dalam karya itu sendiri. dan bentuk kritik terhadap kecenderungan positivistik-formalistik (an-naz’ah al-wad’iyah asy-syakliyah) yang menyembunyikan orientasi-orientasi ideologis di bawah jargon “objektif ilmiah” (‫. Dalam hal ini. Abû Zayd banyak memanfaatkan pendekatan linguistik melalui kritik sastra. begitu pula teks-teks liturgis keagamaan yang lain seperti Alquran. Sedangkan signifikansi (magzâ) berdasarkan keberagaman jenis relasi yang ada antara teks dengan pembaca. maka sebenarnya yang dimaksud yang berubah adalah magzâ.” Hermeneutika objektif-historis merupakan bentuk kritik terhadap pembacaan tendensius (talwîn). kitab tafsir. karena karakter bahasa kitab suci dan historisitasnya dikaji melalui pendekatan linguistik yang dikonsepsikan oleh Ferdinand de Saussure dan pendekatan makna yang dibahas oleh Hirsch. yang dapat dicapai melalui analisa teks. Hal ini didasarkan pada . Hal ini berarti.[7] Teori interpretasi Abû Zayd dipengaruhi oleh hermeneutika E. dan proses dialog kreatif manusia yang terjalin dengan teks ( wa hiwâruhu ma’a an-nash) pada sisi yang lain. sedangkan teori penafsiran bertujuan untuk mencari makna teks sastra itu. sedangkan yang berubah-rubah adalah magzâ (signifikansi). tetapi maknanya tetap satu.)الموضوعية العلمية‬ Hermeneutika objektif-historis Abû Zayd adalah gagasan kritis berdasarkan argumentasi sebagai berikut.D. Hirsch. fiqih. Hirsch berpendapat bahwa pengabaian terhadap pengarang timbul dari konsep (imagination) yang menyatakan bahwa makna karya sastra akan berbeda dari satu kritikus ke kritikus yang lain. Konsep parole dan langue dalam kategori semiotika diterapkan untuk membahas al-Qur’ân sebagai parole dan teks sebagai langue. ‫و هذا معنى ان القرأة الحقة، والنشاط المعرفى الحق عموما، تقوم على الجدليلة خصلبة خلقلة بيلن اللذات والموضلوع. Hubungan ini menghasilkan interpretasi baik pada level pengkajian teks maupun terhadap fenomena. Hirsch berpendapat bahwa signifikansi sebuah teks sastra terkadang berbeda-beda atau beragam. didasarkan pada dialektika (‫)جدلية‬ kreatif antara subjek dan objek. Hermeneutika berhubungan dengan problem penafsiran dan problem ini terfokus pada relasi antara teks dan penafsir.

Akan tetapi dalam realitas pragmatisnya hal itu sulit terjadi. Ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan antara “sistem/logika bahasa” dengan “sistem/logika teks” yang keduanya itu dibatasi oleh pesan dari ideologi si penutur.[16] Berikutnya. atau apa yang dimaksudkannya.keyakinan bahwa pengarang mentransformasikan dirinya kepada pembaca sehingga merubah hubungan pengarang dengan teks. “menafsirkan”. dalam menafsirkan teks. teks dan pembaca. yang harus diperhatikan dalam teks adalah makna teks. sebuah ungkapan tulisan atau teks terdiri atas pengarang. tetapi juga mengungkapkan cita-cita yang sesuai bagi penafsiran. sebagaimana Scheleirmacher memfokuskannya pada usaha memahami teks. menurut Nasir Hamid Abu Zayd sebagaimana juga pendapat Hirsch. Alquran tidak bisa keluar dari kerangka kebudayaan bangsa Arab saat itu. Melalui “sistem/logika teks”. Karakter dan corak suatu teks akan senantiasa menggambarkan dan merefleksikan struktur budaya ( bunyah as-saqâfah) dan alam pikiran ( state of mind) di mana ruang dan waktu teks tersebut dibentuk. Pertama. Salah satu karakteristik tipikal dari pengaruh sosio-kultural terhadap karakteristik Alquran bahwasanya dalam proses pembentukan teks. atau “memahami teks”. Sedangkan si penerima memiliki kemungkinan dengan sistem/logika bahasanya untuk membentuk “kerangka interpretatif” ( al-ithâr at-tafsîr î) tersendiri terhadap pesan yang disampaikan si penutur. peran pemaknaan secara mutlak diserahkan pada pembaca teks (reader centered).[15] atau the death of authoroleh Derrida. ideologi si penerima masuk untuk memberikan penilaian. Pembedaan antara makna dan signifikansi terdiri dari dua konsep.[20] Ia mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi pembaca tentang apa itu “membaca”. bukan apa yang dikehendaki pengarang.[23] juga memperkenalkan teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) dalam upaya memahami teks.[13] Penjelasan di atas menggambarkan. Akal pikiran manusialah yang melahirkan makna dan berbicara atas nama teks. sedangkan teks itu sendiri tidak berbicara. yaitu bahwa .[12] Menurut Ahmad Hasan Ridwan. makna memiliki watak historis. akan tetapi melalui proses dialektika antara teks dengan manusia sebagai objek teks. bahwa kelihatannya pemikiran hermeneutika Nasir Hamid Abu Zayd cenderung pada sintesa dari model keterpusatan kepada teks (text centered) dan keterpusatan pada penafsir (reader centered). Lahirnya makna tidaklah berasal dari teks itu semata-mata. Sehingga otoritas itu dapat dikatakan sebagai produk dari proses dialektika.[17] Ketika proses interaksi kebahasaan berlangsung. misalnya. yakni “pembacaan” (qirâ’at). Fenomena ini kemudian melahirkan istilah baru dalam tradisi penafsiran. Nasr Hamid Abu Zayd dengan meminjam teori hermeneutika Barat E. baik oleh penutur maupun penerima.[21]untuk menandai proses penemuan “makna”. Hirsch Jr.[11] Makna yang dikehendaki pengarang berbeda dengan makna yang tersimpan dalam teks.[14] Dengan demikian. Penafsir tidak memaksakan pendapatnya masuk ke dalam teks. atau apa yang ingin diekspresikannya. seperti juga yang terjadi dari relasi antara teks dengan kebudayaan sebagai relasi dialektis yang saling menguatkan. Betti hendak mengembalikan hermeneutika pada keadaan alaminya. [19] Dalam pendekatan modern. dengan pengaruh teks-teks syair bangsa Arab. Hirsch sependapat dengan Betti mengenai pentingnya fokus hermeneutika pada bidang kajiannya tentang makna teks agar sampai kepada tafsir objektif. Pada tataran inilah kemudian terjadinya reduksi atau bahkan kemungkinan distorsi terhadap pesan. pemikiran dan ideologi.[18] Ia menawarkan dan memperkenalkan pendekatan modern dalam memahami teks. Sebab proses komunikasi dalam bingkai bahasa adalah menyampaikan pesan dalam bentuk teks.D. Nasir Hamid Abu Zayd bersifat dekonstruktif dengan menempatkan teks terpisah dari pengarangNya. Karenanya. dengan segala aspek sosial dan latar belakang historisnya. dalam hal ini.. Karenanya menurut Nasr Hamid Abu Zayd. dan dia istilahkan dengan kematian pengarang (maut almuallif).[22] Selain itu. bahasa menjadi dasar sebagai sumber peafsiran dan penta`wilan. antara penutur dan penerima harus terdapat kerangka yang sama sebagaimana disebut di muka. dan satu sama lain mengkombinasikan dirinya pada saat memunculkan wacana. Baik Betti maupun Hirsch berpendapat bahwa filologi adalah metode yang paling ideal untuk menafsirkan teks. Tentunya ini dapat juga terjadi ketika melakukan interpretasi terhadap teks Alquran. tugas hermeneutika tidak hanya menentukan prinsip-prinsip penafsiran umum.

Hermeneutika Abû Zayd menurut Ahmad Hasan Ridwan. Dari magzâ ini. dalâlah yang merupakan saksi sejarah yang tak dapat dicarikan ta’wîl dan magzâ-nya. masalah yang berkaitan dengan ayat-ayat perbudakan. Signifikansi mencerminkan tujuan dan sasaran dari tindakan pembacaan. dalâlah yang dapat dita’wilkan dengan majâz. antara masa lalu dan masa kini. yaitu bahwa ia merupakan hasil pembacaan yang berbeda dengan masa terbentuknya teks. Hal itu berlangsung karena signifikansi tidak terlepas dari sentuhan makna. teks dapat terus berkembang.ia tidak mungkin diungkapkan tanpa pemahaman yang memadai terhadap konteks internal linguistik teks dan konteks sosial-budayanya. sihir. sebagai suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ) untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) ketika teks itu muncul di masa lalu. hubungan muslim dan non muslim (ahl al-kitab). dan antara teks dan pembacanya. suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) dengan cara penelusuran intelektual ke masa lalu (past time) untuk memasuki ruang-ruang historis.[24] Selanjutnya beliau membedakan tiga tingkatan dalâlah. seperti ayat-ayat kewarisan untuk wanita.[27] Teori ta’wîl yang ditawarkan Abû Zayd merupakan proses gerak dialektis (gerak bandul) antara makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ). Teks muncul di masa lalu (past time). tetapi proses ini harus menyingkapkan signifikansimagzâ yang memungkinkan untuk membangun pondasi kesadaran ilmiah atas dasar signifikansi tersebut. Pertama.[26] bermula dari proses pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. Nilai baru yang dimaksud adalah fusi horison untuk future yang hasilnya digunakan untuk membangun kembali magzâ secara terus menerus. sebagaimana signifikansi mengarah pada dimensi makna.[28] Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Jika aplikasi teori hermeneutika Syahrûr dikenal dengan istilah intertekstualitas dengan teknik sintagmatis-paradigmatis untuk menangkap pesan yang terkandung dalam teks al-Qur’ân. Kedua. . hasud. Ketiga. Kedua. Proses ini tidak boleh berhenti pada makna dalam pengertian historis partikularnya. level kedua adalah level makna yang dapat diinterpretasi secara metaforis. jin dan setan. Gerak dialektis ini menghasilkan pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. dan melalui produktivitas makna dari teks-teks tersebut. dan kembali ke masa kini (present time) untuk mendapatkan makna baru yang hidup (produktif). dalâlah yang dapat diperluas dengan pencarian magzâ. dan level ketiga adalah level makna yang dapat diperluas atas dasar “signifikansi” yang dapat disingkapkan dari konteks kultur-sosial di mana teks-teks tersebut bergerak. sebagaimana Abû Zayd menjelaskan : ‫ثلثة مستويات للدللة فى النصوص الدينية : المستوى الول مستوى الدللت التى ليست ال شواهد تاريخية ل تقبل التأويل لمجلازى أو غيلره، والمسلتوى‬ ‫الثانى مستوى الدللت القابلة للتأويل المجازى، المستوى الثالث مستوى الدللت القابلة للتساع علللى أسللاس “المغللزى” الللذى يمكللن اكتسللافه مللن السللياق‬ 25]. seperti ayat-ayat kehambaan (‘ibâdiyah) bukan penghambaan (‘ubûdiyah). Level pertama adalah level makna yang hanya merupakan buktibukti historis yang tidak dapat diinterpretasi secara metaforis atau lainnya. maka tujuan tersebut dapat dicapai hanya melalui penyingkapan makna.‫]الثقافىالجتماعى الذى تتحرك فيه النصوص، ومن حلله تعيد انتاج دللتها‬ “tiga level makna dalam teks-teks agama. makna secara relatif memiliki watak yang stabil dan mapan.” Pembedaan antara makna dan sigifikansi di dalam menginterpretasi teks bagaikan dua sisi mata uang. sementara signifikansi memiliki watak kekinian. dan hasil temuan ini digunakan untuk membangun kembali magzâ dan begitu proses selanjutnya. sementara signifikansi bersifat dinamis seiring dengan horison pembacaan yang terus berubah.

otoritas dan keaslian teks. Kedua. dan tafsir – ta’wil di sisi lain sehingga tidak tepat digunakan untuk mengkaji Alquran. menyebabkan kosa kata dalam teks kitab suci selalu permisif untuk disusupi berbagai dugaan (guess/conjecture). Adnin Armas misalnya.[32] Maka aplikasi teori Nasr Hamid Abu Zayd berangkat dari teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) sebagaimana dikemukakan sebelumnya dan contoh cara kerjanya sebagai berikut.[33] Gambar :[34] 3. Kesadaran akan historisitas teks keagamaan adalah teks linguistik dan bahasa sebagai produk sosial dan kultural. Dalam masalah poligami. serta dari sisi kebakuan bahasa dan makna dalam memaknai kitab suci. Ketiga.[31] dan kelihatannya dipengaruhi teori hermeneutika post-strukturalis Michel Foucault.[35] mengemukakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara hermeneutika di satu sisi. Poligami dalam wacana Alquran mempunyai level makna ketiga. pembacaan subjektif dan pemahaman yang hanya mendasarkan pada relativitas sejarah.[30]Kemudian Hermeneutika Arkoun berusaha untuk memilah dan menunjukkan mana teks pertama atau teks pembentuk dan mana teks hermeneutika. Abu Zayd berharap bahwa “yang tak terkatakan” atau yang implisit dapat diungkapkan. akan . Poligami Makna /Dilalah Praktik Islam Sikap poligami pra-membatasi dalam islam :poligami poligami poligami tidakempat istritidak terbatas secara adil mungkin: monogami ditekankan Signifikansi/maghza Yang tak terkatakan adilTujuan akhir legislasiPoligami Islam: monogami dilarang Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Pendekatan hermeneutika yang dikembangkan kalangan modernis semisal Nasr Hamid Abu Zayd yang merupakan upaya untuk mengembangkan pendekatan dalam memahami Alquran banyak ditentang di kalangan umat Islam. Poligami dibolehkan dalam Alquran pada hakikatnya adalah sebuah pembatasan dari poligami yang tak terbatas yang telah dipraktikan sebelum datangnya Islam. Abu Zayd berargumentasi sebagai berikut: 1. penentuan kontekstual terhadap makna dengan mengesampingkan kemapanan bahasa dan susunan makna dalam bahasa (semantic structures). Ketidaksesuaian ini dapat dilihat dari beberapa unsur berikut. No. Dengan melakukan ini. Pertama. meletakkan teks dalam konteks Alquran secara keseluruhan terhadap konsep adil. memisahkan makna antara yang “normatif” dan yang “historis” di satu sisi dan menempatkan kebenaran (truth) secara kondisional menurut budaya tertentu dan suasana historis di sisi lain. 2. hermeneutika secara jelas menyamarkan kedudukan teks-teks suci agama.[29] dan Fazlur Rahman dikenal dengan teori double movement. Perbedaan tersebut terutama dalam sifat alamiahnya. di mana pemahamannya haruslah melampaui makna historisnya dengan menguak signifikansi masa kininya dan mampu menguak dimensi yang tak terkatakan dari suatu pesan. sehingga ia menggunakan metode dekonstruksi dan analisa arkeologis. karena memang pada awalnya hermeneutika ditujukan untuk menjembatani kewibawaan dan keaslian teks Bibel yang bermasalah.

karena semua perintah dan larangan dalam al-Quran bersifat nisbi yang tidak harus dilaksanakan. syarat dan kaidah dalam menafsirkan alQuran. ia menjadi kabur. Adanya perbedaan dalam penafsiran al-Quran. bukan berarti penafsiran itu mutlak nisbi. terjaga dalam mushaf. baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak. Ketujuh. Kedua.cenderung pada paham sekuler. Bahkan semua penafsiran dipengaruhi oleh kepentingan penafsir dan situasi psiko-sosialnya. klaim adanya dikhotomi antara yang mutlak dan yang nisbi. maka harus tunduk pada peraturan sejarah. Ketiga. Sedangkan dalam dataran epistemologis (epistemic level). menyeret pada pengertian bahwa seolah-olah semua ayat al-Quran tidak memiliki penafsiran yang tetap dan disepakati. di dalamnya terkandung berbagai mukjizat. menolak otoritas keilmuan. Paham relativisme akan mengatakan bahwa yang ma’ruf menurut sebagian orang. Sementara relativisme selalu bermuara pada kebingungan. sebab setiap orang berhak menafsiri al-Quran dengan kualitas yang sama nisbinya. Al-Nahl: 125). Oleh karena pertimbangan yang diambil pemikiran keagamaan lebih berorientasi pada Pencipta Teks (Allah). teks bukan lagi milik pengarangnya. Maka akibatnya umat Islam tidak wajib melaksanakan perintah ayat dakwah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu…” (QS. diaplikasikan dalam kehidupan dan disampaikan kepada umatnya. sehingga tidak menyisakan ruang keraguan. sejatinya telah menimbulkan konsekwensi yang rumit untuk diterima akal sehat. NU. bisa jadi munkar bagi sebagian lainnya. hingga akhirnya menjadi kabur dan samar. antara Alquran dan tafsirnya. sebenarnya telah menolak sumber ketuhanan (the divine source) . Keempat. Membacanya adalah ibadah. [37] konsep Alquran yang diuraikan Nasr Hamid Abu Zayd di atas bukan hanya bertentangan dengan pengertian Alquran yang dikenal oleh umat. dan berakhir pada keyakinan.kebenaran al-Quran hanya dimiliki Tuhan saja. Sebab paham relativisme akan menisbikan batasan antara yang ma’ruf dan yang munkar. Sehingga saat kebenaran itu sampai pada manusia. berlawanan dengan konsep ilmu dalam Islam. Andaian nisbinya tafsir secara mutlak. Abu Zayd dan kelompok modernis lainnya yang menerapkan metode historis (historical methodology). Islam yang mana? Islam Muhammadiyyah. maka dengan sendirinya akan ditolak oleh pendekatan kesadaran historis-ilmiah dalam memahami teks-teks keagamaan. Pemikiran seperti ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah berniat menurunkan alQuran untuk manusia. Selain itu. Sebab dengan corak pemahaman ala Abu Zayd bahwa kemutlakan Alquran dan sakralitasnya telah sirna dan menjadi teks manusia ketika masuk dalam pemahaman Nabi. membatalkan konsep dakwah dalam Islam. petunjuk dan ilmu pengetahuan. antara agama dan pemikiran keagamaan. PERSIS. [36] Penggunaan hermeneutika yang menghasilkan asumsi historisitas Alquran dengan dalih bahwa perbuatan Tuhan bila telah teraktualisasi dalam sejarah. Sebab ayat tersebut akan dipertanyakan lagi. PKS atau Islam apa?Keenam. Apakah dengan demikian Tuhan tunduk mengikuti kaedah peraturan alam yang diciptakan-Nya sendiri? Apakah kemudian wahyu dapat “diseret” untuk mengikuti kemauan realitas sejarah yang berkembang? Karenanya menurut Adian Husaini. Maka bagi Nasr Hamid Abu Zayd. Padahal Nabi SAW telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi hal-hal yang bersifat syubhat (samar). tapi sudah menjadi pemilik para pembacanya. membubarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. yang tidak memihak pada supremasi data empiris. kemudian disampaikan kepada para Sahabat dan diwariskan dari generasi ke generasi secara mutawatir (recurrence) tanpa keraguan sedikitpun. Semua umat Islam sepakat bahwa pengertian Alquran adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara lafzhan wa ma’nan (lafazh dan maknanya) dengan perantara Jibril AS. Kelima. Sebab definisi ilmu dalam Islam adalah sifat yang dapat menyingkap suatu objek. tentu sulit diterima akal yang jernih. Pertama. mengingkari tugas Nabi yang diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu. Pendekatan kesadaran historis-ilmiah menurut Nasr Abu Zayd cenderung kepada apa yang dihasilkan oleh pembaca teks yang memiliki perangkat ilmiah kekinian untuk menjadi ‘hakim’ dalam mewarnai interpretasi teks keagamaan. seperti yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd akan membuka beberapa konsekwensi serius. Karenanya menurut Hendri Sholahudin. jalan Tuhan yang mana? Kalau Islam. sebab manusia tidak pernah tahu apa maksud Tuhan dalam al-Quran. namun telah membubarkan konsep wahyu dalam Islam. akan membatalkan konsep wahyu yang dikenal dalam Islam.

ekonomi dan sosial. Dengan cara ini. Sebab meskipun kedua pendekatan ini juga memperhatikan data empiris. Khatimah Hermeneutika merupakan hasil ektrapolasi otoritas manusia sebagai produk dari proses interaksi pemikran Islam dengan pemikiran Barat. dimana latar belakang sejarah saat itu mengambil peranan inti dalam mewarnai pemikiran beliau dan bahasa sebagai perangkat ungkapan sejarah (expressional tool of history). namun pada kenyataannya data empiris yang ditampilkan tersebut masih diwarnai oleh peran Pencipta Teks. proses kesinambungan (continuity) dengan tradisi lama tetap berjalan meskipun telah muncul tradisi baru. Akan tetapi. Dengan demikian. sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan karena akan diikuti oleh umat Islam. dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zayd. sebagai hakim yang menentukan arah pemaknaan teks. Perubahan (change) terjadi ketika hermeneutika merupakan tradisi baru memiliki kekuatan dibanding tradisi lama. siksa. tabu (desakralisasi) maupun khurafat. hermeneutika dikukuhkan sebagai metode alternatif ketika sistem penafsiran dalam tradisi Islam tidak memadai untuk memahami teks-teks keagamaan dalam realitas kontemporer.terhadap Alquran yang mereka anggap sebagai realitas holistik (the holistic reality) yang dihasilkan dari metodologi penelitian ilmu-ilmu sains. justru sangat rancu. . mistis. sampai akhirnya terjadi kesepaduan antara teks dan realitas (zaman dan tuntutannya). Sehingga menurut Hendri Sholahuddin. mengesampingkan suatu ideologi hanya akan terjebak dalam ideologi lainnya. Sebagai sebuah teori penafsiran. Maka dengan demikian Abu Zayd lebih mengutamakan realitas (al-waqi‘) daripada pikiran. Nasr Hamid Abu Zayd menganjurkan untuk mengunci firman Tuhan dalam ruang dan waktu. Pernyataan Abu Zayd bahwa Alquran adalah produk budaya. syari’ah dan akherat) dipandang sebagai bagian dari mitos (usthurah).[38]tujuan teori tafsir Nasr Hamid Abu Zayd yang ingin menghilangkan ideologi sektarian. memahami agama dengan cara menundukkannya dalam ruang sejarah. Sebagai sebuah teori. Dengan demikian. Interaksi dialogis telah melibatkan sebuah proses dialektika yang intensif antara tradisi besar dan tradisi kecil dalam sejarah pemikiran Islam. teks adalah hasil dari sebuah realitas. Dengan demikian. terikat dengan pendekatan asbab alnuzul dan naskh wa mansukh adalah terpasung dan tidak ilmiah. tentunya harus tetap terus diuji. Maka setiap perubahan yang terjadi dalam realitas.Kecenderungan Abu Zayd yang lebih mengesampingkan Sang Pembuat Teks. menuntut perubahan dalam pembacaan teks. fenomena sejarah dan teks linguistik membawa pengertian bahwa Alquran dihasilkan secara kolektif dari serangkaian faktor politik. tentunya harus tetap dikritisi dan diuji. Sebaliknya. kemudian menjadikan pembaca teks dengan segala kondisi sosial. sebenarnya adalah bentuk pengutamaannya terhadap realitas lahiriyah (al-waqi‘ al-madi. Sebab unsur ideologi dalam suatu penafsiran tidak bisa dinetralisir. pahala. Ibarat dua sisi mata uang. seperti halnya menolak kemapanan adalah menetapkan ketidakmapanan atau bentuk lain dari sebuah kemapanan. pembaca teks dapat memahami teks secara ilmiah dan tidak terpasung. bahasa dan budaya yang terbatas adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat yang tidak sejalan dengan Islam. Alquran adalah hasil pengalaman individual yang diperoleh Nabi Muhammad dalam waktu dan tempat tertentu (specific time-space context). Dengan kata lain. Sebab baginya. material reality). menolak suatu ideologi adalah ideologi itu sendiri. Dan baginya. permasalahan ideologis (imankufur). Sebagai pembaca yang menjadi hakim dalam memaknai teks. metode penafsiran (hermeneutika) Nasr Hamid Abû Zayd merupakan artikulasi dari proses kesinambungan (continuity) dan perubahan (change). politik dan budaya yang melatarbelakanginya. segala aktivitas berfikir yang selalu terbayang-bayangi oleh realitas ketuhanan dan metafisika (akidah. Sehingga pada akhirnya yang diikuti oleh umat tetunya teori yang telah teruji dan dapat dipertahankan. baik oleh pandangan dogmatis-sektarian (madzhab minded). dipandangnya sebagai corak pendekatan ideologis. Kemudian membatasi makna Alquran menurut zaman tertentu dalam sejarah. Terlepas dari itu semua. corak pendekatan ulama klasik dalam pembacaan teks. dan karena itu. Atau dengan kata lain. sesungguhnya Nasr Hamid Abu Zayd telah melahirkan ijtihad baru dalam metode penafsiran. kecenderungan ulama klasik yang lebih memposisikan teks agama sebagai hakim daripada akal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->