FENOMENOLOGI

1.

Pengertian

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon (gejala/fenomena). Adapun studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadaran terdalam para subjek mengenai pengalaman beserta maknanya. Sedangkan pengertian fenomena dalam Studi Fenomenologi sendiri adalah pengalaman/peristiwa yang masuk ke dalam kesadaran subjek. Fenomenologi merupakan ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi mempelajari suatu yang tampak atau apa yang menampakkan diri. “fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri. “Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: “saya melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis. Husserl juga mengungkapkan tentang reduksi transendental. Reduksi ini harus dilakukan menurut Husserl lebih dikarenakan karena Husserl menginginkan fenomenologi menjadi suatu ilmu rigous. Ilmu rigous tidak boleh mengandung keraguan, atau ketidak pastian apapun juga. Ucapan yang dikemukakan pada ilmu rigorous harus bersifat “apodiktis” (tidak mengizinkan keraguan). Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolut. Setiap benda material selalu diberikan dalam bentuk profil-profil. Misalnya dari sebuah lemari yang ada di hadapan saya, saya hanya dapat melihat depannya saja tanpa dapat mengetahui bentuk depannya, dan ketika saya ingin melihat sisi depannya, maka saya harus melihatnya dari sisi yang lainnya, namun setelah itu saya tidak bisa melihat sisi depan dari profil-profil lain. Dengan cara inilah benda-benda material tampak bagi saya. Setiap benda material tidak pernah diberikan kepada saya menurut segala profil-profilnya, secara total dan absolut. Cara realitas material tampak bagi saya bersikap sedemikian rupa, sehingga tidak dapat ditemukan pernyataan-pernyataan apodiktis dan absolut tentangnya. Karena alasan-alasan itulah fenomenologi sebagai ilmu rigorous harus mulai dengan mempraktekkan “reduksi transendental”. Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan penje lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edid etik dalam linguistik, fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberada an, penggambaran gejala (refleksi), transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial. fenomenologi

Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesa daran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting. Bagi

fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran. Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian. Keter libatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari hari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa penger tian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.

1.

Sejarah Fenomenologi

Pada masa sebelum ada cara berpikir fenomenologis, cara berpikir manusia dibagi dua kutup yang berlawanan 180 derajat yaitu: idealisme dan realisme. Kaum penganut idealisme menilai benda-benda maupun peristiwa yang terjadi disekitarnya berdasarkan ide-ide yang dikembangkan dalam pikirannya. Kemudian ide-ide ini membentuk semacam “frame of reference” yang secara subjectif dipahami sebagai kebenaran. Dalam memandang dunia sekitarnya seorang idealist akan memakai acuan “frame of reference” yang merupakan ide-ide dalam pikirannya. Oleh karena itu seorang idealist biasanya juga sangat subjectif dalam menilai dunia sekitarnya. Sumbangan idealisme kedunia adalah adanya penemuan-penemuan baru, ide-ide baru, karya besar di bidang sastra, dll. Sedangkan kebalikannya kaum penganut realisme, melihat benda-benda maupun sesuatu peristiwa yang ada sesuai dengan keadaan nyata benda tersebut yang secara nyata bisa diraba, diukur atau punyai nilai tertentu. Kalau tidak bisa dibuktikan bahwa benda itu nyata dan punya nilai atau ukuran tertentu maka benda itu tidak pernah ada. Oleh karena itu penganut realisme cenderung kepada atheisme yang tidak percaya adanya Tuhan karena Tuhan tidak bisa dilihat secara nyata. Realisme sangat berpengaruh di Eropa pada masa revolusi industri dan sumbangannya kedunia adalah kemajuan “science & technology”. Pada sekitar awal abad ke 20, walaupun revolusi industri terus bergerak, beberapa filsuf di Eropa seperti Edmund Hursell (1859 - 1938) mulai meragukan kehandalan cara berpikir realisme yang seolah-olah tidak ada satupun dialam ini yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. Apapun yang telah ditemukan, persoalan-persoalan dasar manusia tidak pernah bisa diselesaikan. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan alam. Edmund Hursell memperkenalkan fenomenologi yang belakangan dikembangkan menjadi eksistensialisme. Cara berpikir fenomenologi ditekankan dengan pengamatan terhadap gejala-gejala dari suatu benda. Kalau seorang penganut realisme menilai benda dengan cara melihat bentuk, ukuran dan nilai suatu benda, maka seorang penganut fenomenologi melihat benda dengan gejala-gejala yang muncul dari benda tersebut. Benda itu ada berdasarakan gejala-gejala yang timbul dari benda itu sendiri, kita hanya menangkap gejalagejala tersebut. Benda tersebut bercerita tentang dirinya dengan memancarkan gejala-gejala, dengan menangkap gejala tersebut kita bisa menangkap esensi benda tersebut. Semua benda punya pancaran gejala-gejalanya sendiri-sendiri, kita akan bisa lebih memahami benda tersebut apabila kita menganggap benda sebagai subjek yang menceritakan diri sendiri melalui gejala-gejala yang memancar darinya. Contohnya: kalau kita melihat kursi, kursi itu sendiri memancarkan gejala-gejala bahwa dia itu kursi bukan meja. Kita hanya perlu menangkap gejala yang muncul dari kursi tersebut kemudian kita tidak akan salah bahwa dari gejala-gejala yang muncul dari kursi itu bahwa kebenarannya dia itu kursi, bukan benda yang lain. Jelas cara berpikir ini adalah cara berpikir yang radikal berbeda dengan cara berpikir idealisme maupun realisme. Idealisme memahami alam sekitarnya melalui manusia sebagai subject dengan ide-ide pikirannya, benda disimpulkan sepenuhnya tergantung dari ide-ide pikiran. Realisme memahami benda kalau benda itu nyata berdasarkan ukuran atau nilai. Sedangkan fenomenologi menganggap object sebagai subject yang bercerita kepada kita melalui gejala-gejala yang timbul darinya.

1.

Fenomenologi Sebagai Metode Penelitian

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Berikut ini adalah sedikit uraian tentang fenomenologi sebagai metode penelitian; Fokus Penelitian Fenomenologi :

• •

Textural description: apa yang dialami subjek penelitian tentang sebuah fenomena. Structural description: bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya.

Teknik Pengumpulan Data Fenomenologi :

• •

Teknik “utama” pengumpulan data: wawancara mendalam dengan subjek penelitian. Kelengkapan data dapat diperdalam dengan : observasi partisipan, penulusuran dokumen, dan lain-lain.

Tahap-Tahap Penelitian Fenomenologi :

• • •

Pra-penelitian Menetapkan subjek penelitian dan fenomena yang akan diteliti Menyusun pertanyaan penelitian pokok penelitian

Proses Penelitian Fenomenologi :

Melakukan wawancara dengan subjek penelitian dan merekamnya.

Analisis Data Fenomenologi :

• • • • •

Mentranskripsikan rekaman hasil wawancara ke dalam tulisan. Bracketing (epoche): membaca seluruh data (deskripsi) tanpa prakonsepsi. Tahap Horizonalization: menginventarisasi pernyataan-pernyataan penting yang relevan dengan topik. Tahap Cluster of Meaning: rincian pernyataan penting itu diformulasikan ke dalam makna, dan dikelompokkan ke dalam tema-tema tertentu. (Textural description, Structural description) Tahap deskripsi esensi: mengintegrasikan tema-tema ke dalam deskripsi naratif. Kritik Terhadap Fenomenologi

1.

Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif. Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan

pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digenaralisasi. tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Dalam hal-hal seperti ini. sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. merupakan sesuatu yang absurd. Bahasa sebagai suatu sarana komunikasi antar individu dapat juga tidak berarti sejauh mana orang yang berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Sebuah pengalaman mental atau konsep atau gambaran (image) pada dasarnya kaya akan corak dan warna serta mempunyai nuansa yang beraganeka ragam. Hermeneutik Di dalam tradisinya. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai. 1. Sebagai akibatnya. situasi dan kondisi tertentu. sinonim. fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati. tidak ada satupun manusia yang mempunyai. terutama ilmuwan sosial. tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud. sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan. mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. agama. Peralihan dari pengalaman mental dalam kata-kata yang di ucapkan atau ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk mengerut atau menyempit. Pada hermeneutik terdapat pengalaman-pengalaman mental yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang. yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Aristoteles memisahkan antara homonim. Nuansa-nuansa bahasa bukanlah merupakan hal yang baru. kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsifkan.pendekatan fenomenologi. yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani. Selanjutnya. Menurut Aristoteles. Gadamer yang . 1. ataupun ilmu pengetahuan. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa. berpikir itu ialah melalui bahasa dapat menjadikan orang berbicara dan menulis dengan bahasa. Untuk menanggulangi halhal semacam ini maka hermeneutik kiranya akan berperan penting. sebagaimana juga pada pengalaman-pengalaman imajinasi-imajinasi untuk menggambarkan sesuatu. Hermeneutik akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif. orang kemudian biasanya menurunkan arti kata-kata berdasarkan konteks yang ada. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya. Dengan ungkapan lain. tetapi bermuatan nilai (value-bound). dan kata-kata turunan. Apakah Hermeneutik itu ? Definisi Secara etimologis. Dengan demikian. yang sama dengan yang lain. Kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. baik dari adat. Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Hermeneutik dan Bahasa Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free). serta dalam waktu tertentu. Dalam bentuk tertulis tidak hanya ejaan dan rangkaian huruf-huruf yang berbeda namun kesamaan bunyi juga akan muncul ( ekiuvokal) seperti misalnya kata genting yang berarti “gawat” atau “atap”atau “sempit”. sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini. dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama. Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu.G. baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan. 1. fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. namun untuk pertama kalinya bahasa menjadi pusat pembicaraan filosofis H. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut. yang hanya berlaku pada kasus tertentu. Hal ini dipertegas oleh Derrida. Dibalik kelebihan-kelebihannya.

kitab Taurat. Subtilitas Intellegendi (ketepatan pemahaman) dan Subtilitas Explicandi (ketepatan penjabarannya) adalah sangat relevan bagi hukum.”pembahasan”seluruh isi alam semesta kedalam bahasa kebijaksanaan manusia.. kitab-kitab Veda dan Upanished supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik. bahasa tidak boleh boleh kita pikirkan atau kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. 1. Dengan kata lain setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami dalam situasinya.. Arti makna dapat kita peroleh tergantung dari banyak faktor : siapa yang berbicara. Sebagai contoh misalnya pemahaman dan penafsiran anak terhadap kata-kata sedikit banyak tergantung dari latar belakang anak itu sendiri. arti atau makna yang diberikan pada objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. 1. orang terlebih dahulu harus mengerti atau memahami. maka kita mampu memahami segala sesuatu. Orang yang mengenal interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks lalu ia harus meresapi isi teks sehingga yang pada mulanya yang lain kini menjadi aku penafsir itu sendiri.menulis sebagai berikut: bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan -akan merangkul seluruh konstitusi tentang status manusia di dunia ini sebagai bagian yang seakan-akan tidak terbedakan dari dunia ini. Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. melainkan bersifat alamiah. Ia memandang interpretasi untuk mengerti.Yang dimaksudkan Gadamer adalah bahwa kata-kata atau ungkapann secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Quran. Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Aristoteles menyatakan:Amicus Plato sed magis amica veritas ( Plato adalah seorang sahabat tetapi sahabat yang lebih akrab lagi adalah kebenaran. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat dan yang tersirat atau bunyi hukum dan semangat hukum. Melalui bahasa kita berkomunikasi. Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu dimana mausia sendiri mengalami atau menghayatinya. Bahasa adalah perantara berbagai hubungan umat manusia. Dalam bidang filsafat pentingnya hermeneutik tidak dapat ditekankan secara berlebihan. ataupun situasi yang mewarnai arti sebuah peristiwa bahasa. sebab objek itu adalah objek. Betti mencoba memahami ‘mengerti “juga menurut gayanya sendiri. Heidegger menjelaskan hal . bila kita mampu memahami ssesuatu bahasa. semuanya itu adalah sama saja. Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat triadik’(mempunyai tiga segi yang saling berhubungan ). Namun keadaan lebih dahulu mengerti ini bukan di dasarkan pada penetuan waktu. Gadamer menyatakan bahwa mengerti berarti mengerti melalui bahasa. Katakata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud. Darisinilah kita lihat keunggulan hermeneutik. keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu. Hermeneutik adalah cara baru untuk “bergaul”dengan bahasa. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi serentak atau bersama-sama. Untuk dapat membuat interpretasi. sebab segala sesuatu itu sudah termuat dalam lapangan pemahaman. Bahasa adalah medium yang tanpa batas. dapat dipastikan ia tidak akan mungkin benci terhadap Negara itu. Menurut Gadamer. Interpretasi yang benar atas teks sejarah memerlukan hermeneutik. keseluruhan filsafat adalah “interpretasi”. tetapi melaui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. Cara Kerja Hermeneutik Pada dasarnya semua objek itu netral. manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat dimana ia berada. Penerapan Hermeneutik Disiplin ilmu yang pertama kalinya banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab pada kenyataannya. bahasa menjelmahkan kebudayaan manusia. Henri Bergson menyatakan bahwa bila seseorang memahami bahasa sesuatu Negara. Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. demikian yang di katakanoleh Wilhelm Dilthey. sebab pada mulanya objek itu menurunkan maknanya atas dasar situasi objek. yang membawa segala sesuatu di dalamnya tidak hanya kebudayaan yang telah disampaikan pada kita melalui bahasa melainkan juga sesuatu tanpa ada kecualinya. Tradisi dan juga kebudayaan baik dari warisan nenek moyang itu sebagai suatu bangsa yang kesemuanya itu diungkap dalam bahasa yang ditulis pada daun lontar. Sebab. tempat.

maka kemungkinan untuk salah ucap itu besar sekali. sementara Ash menganggap ketiga disiplin ilmu tersebut hanya sekedar appendiks (lampiran) saja bagi filolog. Scleiermacher menulis sebagai berikut : Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu sama lain. Wolt Schleiermacher dalam uraiannya banyak juga dipengaruhi oleh para penasehatnya. filosofis. yaitu seandainya dimungkinkan pikiran kita dipantulkan secara tidak senada ( tidak ekuivokal ) dengan ucapan kita. 1969 : 40 ). Ia membedakan hermeneutik dalam pengertian sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang mendefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri ( Richard E. Bahkan saat kita meletakkan pause diantara katakata dalam kalimat sering kali kita mengalami kesenjanganjalan pikiran. Palmer. Penerapan hermeneutik sangatlah luas yaitu dalam bidang teologis. Pertama. sedang interpreasi retorik mengontrol kedua jenis interpretasi yang terdahulu. Wolf membahas tata bahasa. jadi tidak perlu lagi ada hermeneutik. sejarah . Menurut Schleiermacher. interpretasi historis dengan fakta waktu. Bahasa gramatikal merupakan syarat berfikir setiap orang. mak mungkin ada salah ucap. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik F. Sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang menangkap ” setitik cahaya ” . baru kemudian kita ucapkan. Ash membagi tugas itu kedalam tiga bagian. Inti Uraian tentang Hermeneutik Menurut Schleiermacher. yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. dari Ash Schleiermacher mendapat ide untuk mengamati isi sebuah karya dari dua sisi : sisi luar dan sisi dalam. Seorang filsuf yang mempengaruhi gagasan Schleiermacher adalah F. maka pada saat itulah disebut sebagai ” Transformasi berbicara yang internal dan orisinal dan karenanya interpretasi menjadi penting”. 1. Bagi Ash sendiri tugas hermeneutik adalah membawa keluar makna internal dari suatu teks beserta situasinya menurut jamannya. agama. maka tidaklah mengherankan kalau mereka beralih ke hermeneutik karena keduanya ingin membahas makna kata. Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesusutraan dan lingualistik. sebab merupakan ” bagian dari seni berfikir “.D. Menurut Wolf juga ada tiga taraf atau jenis hermeneutik atau interpretasi. Interpretasi gramatikal berhubungan dengan bahasa. Tetapi karena tidak ada kesan impresi langsung dari pikiran keucapan kita. hukum. yaitu : sejarah. 1974 : 43 ). dan disiplin ilmu yang lainnya berhubungan dengan teks namun akarnya adalah tetap filsafat. Namun bila saat berfikir kita merasa perlu untuk membuat persiapan dalam mencetuskan buah pikiran kita. Inilah bahaya yang sering kita alami yaitu kita sering membuat kesalahan dalam linguistik. ada dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain. Ast dan F. 3.kata. seperti Friedrich ash dan Friedrich August Wolf. Aspek dalam adalah jiwanya ( Geist ). A. hermeneutik dan kritik studi persiapan untuk filologi ( ilmu bahasa ). tata bahasa dan aspek kerohaniannya. Argumentasi Hermeneutik dalam ruang lingkup lebih luas dapat dijabarkan sebagai setiap objek yang tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama atau sebagaimana yang di sebut oleh Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. Hermeneutik adalah bagian dari seni berfikir itu dan oleh karenanya bersifat filosofis ( Schleiermacher. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Hermeneutik adalah proses menelaah isi dan maksud yang mengejawantah teks yang mengandung arti yang kelihatan sudah jelas ( Ricour. 2. Inilah alasannya Schleiermacher menyatakan bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita. 1977 : 97 ).E Schleiermacher ditempatkan sebagai tokoh Hermeneutik . yang mendefinisikan hermeneutik sebagai seni menemukan sebuah teks. yaitu interpretasi gramatikal.yang sebaliknya. tergantung pada tata bahasa dan keterlibatan pendengarnya.tama buah pikiran kita mengerti. Pengaruh F. maka berbicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir . Aspek luar sebuah karya ( teks ) adalah aspek tata bahasa dan kekhasan linguistik lainnya. Satu pernyataan tunggal dapat kita mengerti atau kita pahami dengan berbagai macam cara. historis dan retorik. yaitu manusia yang tidak autentik atau das man yang dimanupulasikan oleh lingkungan atau situasinya. Seandainya ada rasio 1-1 antara pikiran dan ucapan kita. Manusia tidak mengontrol melainkan dikontrol oleh situasi. Wolf. pemahaman hanya yterdapat didalam kedua momen yang saling berpautan satu sama lain. Yang dimaksud Schleiermacher adalah bahwa ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual. A.

yaitu kata yang biasanya diartikan sebagai “pengalaman” pada umumnya. Dilthey membedakan dengan tajam antara Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia.jalan. dan erlebnis. Pikiran kita adalah sebuah proses yang ” mengalir ” dan bukan sekedar fakta yang serba komplit. Walaupun demikian. kimia. Pemahaman yang selalu dipasangkan dengan interpretasi tidak lain adalah seni. kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti “menglami”. psikologi. antara lain dengan: 1. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri. filsafat. di jalan. demikian juga dengan interpretasi.hari. dalam arti bahwa seseorang tidak dapat meraamalkan waktu dan cara seseorang mengerti. di pasar atau dimana saja orang berkumpul bersama untuk berbincang. Oleh karena itu kita memerlukan suatu pandangan kedalam atau intuisi yang tidak membingungkan bila kita ingin memahami sesuatu teks. Semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologi. hermeunetik adalah dasar dari Geisteswissenschaften. untuk memahami pernyataan. dimana diharapkan adanya taraf pemahaman dan interpretasi yang tinggi. Dalam hal ini. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kea rah factor-faktor psikologisnya. Bahkan hal ini juga menuntut suatu pemahaman awal atas objek atau peristiwa yang dipertanyakan itu. Interpretasi Data . Yang ingin dicari oleh Dilthey adalah pemahaman dan interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sendirinya tersituasikan dalam system-sistem eksternal dari organisasi-organisasi social. Disinilah penafsir mulai dengan satu teori tentatif atau konsep awal. kita harus mampu mengambil inti sari situasi yang mirip dengan yang mirip dengan yang terdapat di dalam kitab suci. Untuk dapat memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya. Disinilah Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan dengan kata “pengalaman”. politik dan ekonomi dengan nilai-nilainya sendiri yang sudah dianggap mapan atau mantap. dan ilmu-ilmu lain yang sejenis masuk dalam Geisteswissenschaften. Dilthey pertama-tama membuat deskripsi. lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami perilakunya. kutipan. Setiap bagian dari suatu peristiwa hanya dapat dipahami dalam konteks keseluruhan bagian.pernyataan orang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. Dilthey menganjurkan kita menggunakan hermeneutic. objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan.kutipan sastra atau dengan dokumen sejarah yang harus kita ” baca ” inti sari maknanya. kemudian mengadakan interpretasi.bagiannya. Kedua kata tersebut adakah erfahrung. Dilthey menaruh perhatian pada metode hermeneutic ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah (Kremer-Marietti. fisika dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk bidang ini serta semua jenis sains yang mempergunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen. Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi. maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak. Ada beberapa taraf memahami. Semua erlebnis benarnya merupakan pengalaman dalam arti umum (erfahrung) pila.hari. Taraf pertama ialah interpretasi dn pemahaman mekanis : pemahaman dan interpretasi dalam kehidupan kita sehari.pribadi penulis. yaitu rekonyruksi historis. ia merasa perlu memiliki tipe memahami yang khusus. dan juga sebaliknya. Taraf kedua ialah taraf ilmiah : dilakukan di Universitas. seseorang selama sekian tahun tidak memiliki pengalaman yang hidup selain hanya pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak makna apa-apa (erfahrungen). tetapi tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. Pemahaman Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang hidup tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita. Oleh karenanya. Metode Pengoperasian Hermeneutik. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik. Bisa jadi.bincang tentang topik umum. sebab menurut dia. 1971:130). termasuk dalam Natuwissenschaften. yaitu pengalaman yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. Dari kehidupan sehari. Taraf ketiga ialah taraf seni : disini tidak ada aturan yang mengikat atau membatasi imajinasi. suatu proses memahami dan interpretasi. Menurut Dilthey. Sedang semua ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah.

sedang “memahami” dan “interpretasi” hanya dipergunakan untuk “mengetahui” manusia. ungkapan atau pernyataan interpretation naturae (interpretasi terhadap alam) adalah wujud dari ucapan. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Hans-Georg Gadamer dalam karyanya yang berjudul Wahrheitund Methode (kebenaran dan Metode) menekankan pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism. Kedua. Tanpa ungkapan. tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Sedangkan yang diucapkan oleh seorang pasien bertujuan untuk menahan rasa sakit. Pemahaman adalah proses di mana kehidupan mental menjadi diketahui melalui ungkapannya yang ditangkap oleh pancaindra kita. kiranya cukup sulit. tetapi akan selalu ditulis kembali oleh setiap generasi. Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasanyang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Alasannya adalah karena untuk memahami atau mencerna sudut pandang pelaku asli dalam sejarah.Dalam satu aspek. Kata “Aduh” memiliki arti yang sama. Tetapi melacak akibat yang timbul karena keputusan sepihak yang dikeluarkan oleh seorang penguasa. Bahasa kita sendiri tidak bebas dari pasang surutnya sejarah. Jadi menurutnya. bagusnya” yang keluar dari mulut seorang pengagum lukisan. bukan metodologis. Contohnya adalah sejarah bangsa Indonesia tidak mungkin hanya akan ditulis satu kali dan berlaku untuk seterusnya. Jadi pemahaman dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah merupakan tugas yang mudah untuk dilaksanakan. bahkan seakan menyatu walaupun keduanya itu kita mengerti secara terpisah. Jadi bagi seorang sejarawan. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. bila kita membaca sejarah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada ’satu masa’ saja. Hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. yaitu ungkapan perasaan. suatu proses dimana kita mengetahui sesuatu dari aspek kejiwaannya atas dasar tandatanda yang dapat ditangkap pancaindra sehingga termanifestasikan. kehidupan mental kita tidak mungkin kita ketahui.: “Aduh. Tetapi yang diucapkan oleh pengagum lukisan mempunyai nada pujian. 1. sakitnya!” yang diucapkan oleh seorang pasien yang sedang disuntik. Namun proses tiga tahap pemahaman itu sendiri tidak berlaku untuk metode ilmiah. menggabungkan pengalaman yang hidup dengan pemahaman terhadap individu merupakan keharusan. maka besar kemungkinannya subjektivitas masuk dalam pemahaman terhadap kehidupan mental tersebut. dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa. maka ia melakukan proses hubungan sebab akibat. dimana orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tersebut sehingga ia bias ambil bagian di dalamnya. Pengalaman yang hidup dan pemahaman saling melengkapi satu sama lain. Proses pemahaman ini terdiri dari dua bagian yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan secara berbeda satu sama lain. Pertama. kita harus memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi atau cara mengenal orang atau masyarakat. Sebagai contoh misalnya. bagi kita kiranya cukup mudah unyuk menentukan akibat naiknya harga BBM terhadap situasi ekonomi. ini berarti kita melakukan proses hubungan sebab akibat. kita sebut “komprehensi” atau pemahaman. atau “Aduh. Kata-kata atau pernyataan tunggal dapat mempunyai arti yang bermacam-macam tergantung pada konteks sejarah di mana kata atau pernyataan itu diucapkan. Riset Sejarah Dilthey mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses: • • • Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Dalam hal ini Dilthey menekankan bahwa terhadap benda-benda kita hanya mampu “mengetahui”. Karena kebenaran . 1. Sebagai contoh misalnya kata “aduh” sbb. Oleh karena itu. Metode atau proses semacam inilah yang disebut hermeneutik. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengalaman. kewajiban kita adalah “menyusun balik” kerangka yang dibuat oleh sejarawan dengan maksud supaya peristiwa-peristiwa dapat dilihat kembali sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Bila kehidupan mental ini tidak terjangkau oleh sarana-sarana objektif. Dilthey berkesimpulan bahwa eksegesis atau interpretasi adalah suatu seni memahami manifestasi atau pengejawantahan hal yang bersifat vital dan ditampakkan pada kebiasaan yang tahan lama.

Kata existenz adalah istilah yang di pergunakan filsuf eksistensiallis Karl Jasper untuk menyebut “manusia autentik”. karya Gadamer yang paling menarik adalah konsepnya tentang “permainan”. sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. atau kemanusiaan. yaitu bentuk atau formasi. ketajaman pikiran. Weltanschauung ( pandangan dunia). Sebagaimana dinyatakan oleh Vico. Menurut pengertiannya yang mendasar. memori atau kenangan harus di bentuk. Pertimbangan Konsep yang ketiga ini mirip dengan sensus communis dan selera. Paham tentang Seni Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alas an di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (Magang Filsafat) ia menulis sebagai berikut: Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensimanusia dan penalarannya. 1. Pertimbangan sifatnya universal. Pada dasarnya Bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinnya sendiri sebagai yang ideal. 1. Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. 1. Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. namun bukan berarti berlaku um um. ekspresi atau ungkapan. 1. bahkan mempunyai arti dalam lonotasi yang lebih tinggi. Dalam “kebenaran dan metode”. cinta komunitas. Yang ingin di katakana Gadamer ialah bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana unyuk mencapai kebenaran filosofis. ayaitu pertimbanagn praktis yang baik.Gadamer mengutip pendapat Kant bahwa ” seni murni adalah seni para genius” dan kebenarannya tidak dapat di capai denganmetode ilmiah. sejarah. dunia eksternal. Ia sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus communis adalah pandangan tentang kebaikan umum. Sensus Communis mempunyai kesetaraan arti dengan ekspresi dalam bahasa Perancis le bon ses. masyarakat. 1. Sensus Communis juga mempunyai aspek moral. yang kesemuannya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. Pernyataan itu juga dapat di artikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti metode yang ketat jika ingin berhubungan dengan existenz atau “manusia autentik”. istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. “permainan”dapat merupakan semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutic. Gadamer menolak konsep hermeneutic sebagai metode. Menurut Gadamer.Gadamer membahas secara panjang lebar empat konsep tentang manusia yang memperkaya hermeneutic. Kata Bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar “kultur atau kebuadyaan”. Existenz seringkali harus membuat loncatan (saltus) iman untuk mencapai Tuhan. Empat konsep tersebut adalah: 1. kebatinan. Sinonim dari kata Bildung dalam bahasa latin adalah formatio. Sensus Communis Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai “pendapat umum” atau pendapat kebanyakan orang pada umumny.menerangi metode-metode individual. style atau gaya dan symbol. Gadamer sepakat dengan Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang di . Bildung adalah sebauh gagasanhistoris asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya ” menentang semua jenis penalaran”. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni. pengalaman. Jasper menyatakan bahwa existenz mengambil jalur yang berbeda untuk sampai pada kebenaran eksistensial. 1. Bildung Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni.

luhur fdan rendah. Meski bukan merupakan perbuatan yang kreatif Hermeneut atau penafsir selalu memahami realitas dan manusia dengan titik tolakk sekarang atau kontemporer.perhubungkan dengan pengertian estetis. tetapi kita harus berfifkir dan berbicara dengan bahasa yang sudak kita miliki sendiri. sehingga para pembicara asli(native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa atau benang merah bahasanya sendiri. Hakikat sebenarnya sebuah cakrawala adalah ” selalu meluas” dan sementara itu kebuudayaan pada hakikatnya juga tidak pernah murnidan tidak pernah di palsukan. maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selera pun yang dapat menilai seni. yang menjadi bagian bildung adalah menetukan mana yang boleh di kenang dan mana yang yang harus di buang jauh-jauh.ah seni. Pemahaman hanya mungkin di mulai bila bermacam-macam pandangan menemukan suatu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap. hermenutik mempergunakan keempat konsep manusiawi tersebut. minimal dalam pandangan moralnya. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsure-unsur penting dari pemahaman. hal ini akan menimbulkan suatu pencampuran cakrawala atau fision of horizons atau bahkan akan menimbulkan campur baurnya kebudayaan yang bermacam-macam. konsep. 1. prinsip dan hukum-hukum yan dapat di olah manusia. Hidup itu tidak statis melainkan berubah antara rangkaian baik dan buruk. Taste atau Selera Menurut Gadamer selera sama dengan rasa. dan sebagainya. Dan itulah bahasa filsafat. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan. Sensus communis yang bersifat peka terhadap hubungan antar manusia memberi corak khusus pada komunitas sebagai kumpulan person. Inti uaraian tentang hermeneutic Gadamer beropendapat bahwa hermeneutic adal. Gadamer mengatakan bahwa interpretasi adalah penciptaan kembali. Dari realitas hidup ini. Pemahaman dan hermeneutic hanya dapa di berlakukan sebagai suatu karya seni. maka mudah sekali untuk menghubungkan selera dengan hermeneutic. mulia dan nista. dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan. 1. melainkan yang hanya dapat di pelajari sebagai suatu seni. Fiksafat tidak mulai dari suatu tempat tert6entu. Sebagaiman di sebutkan bahwa tugas hermeneutic adalah terutama memahami teks. pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik. tidak dari satu titik awal yang sudah bersifat subyektif. Pertimbangan dan selera membuat diskriminasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan yang indah dan baik. yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. Gadamer menyebut hermeneutic sebagai seni dan hermeneutic semacam ini tidak dapat di persiapkan lebih dahulu sebelum di buat. Gadamer juga menegaskan . sejauh orang mengetahui ” apa yang harus ia lakukan” juga memiliki seni atau pandanganpraktis. Setiap pertimbangan tentang apa yang di inginkan untuk di pahami dalam individualitasnya yang konkret adalah pertimbangan atas sesuatu yang khusus. Para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorang pun menngerti. Dalam pandangan Kant. Kita berfilsafat tidak mulai dari nol. tetapi kemampuan ini tidak dapat di demonstrasikan. selera bertentangan dengan yang tidak menimbulkan selera. ini berarti mereka sama saja dengan tidak berbicara apa-apa. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal. Di dalam interpretasi. tidakdapat di ramalkan atau di katakana sebelumnya. Gadamer menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hermeneut. Bila hermeneut berinterpretasi mulai dari titik tolak sejarah yang menguntungkan dirinya sendiri. Kini yangf menjadi persoalan kita adalah: apa hubungan antara selera dengan hermeneutic? Jika selera melibatkan pertimbangan yang pada suatu saat juga melibatkan sensus communis dan bulding. bukan proses mekanis. 1. pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera. Menurut Kant. Hermeneutik adalah metode yang di pergunakan oleh ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu tentang manusia. Yang di butuhkan hermeneut adalah pengetahuan tentang manusia atau masyarakat yang di peroleh bukan atas dasar kerja ilmiah. personal maupun dengan suatu perspektif tertentu. Berdasarkan fakta. Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera.

Abduksi adalah proses pembentukan hipotesis yang bersifat eksplanatoris (menerangkan) yang berbunyi: jika kita harus mempelajari sesuatu . 1. Di dalam induksi. Interpretasi secara eksplisit adalah bentuk dari pemahaman. dan sebagainya.S. Peirce. Maksudnya adalah bahwa terjemahan itu akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasayang teratur. namun gagasan-gagasannya itu mendukung pustaka herme neutik.bahwa suatu interpretasi akan benar bila interpretasi tersebut mampum menghilang di balik bahasa yang di gunakan. melainkan juga benda yang bukan bahsa seperti patung. serta apa yang akan kita peroleh kemudian (vorgriff). Dalam berbicara. Dulu yang di anggap tugas hermeneutic adalah menyadur makna dari sebuah teks ke dalam situasi konkret. Gagasan hermeneutiknya dapat kita ketemukan di dalam tulisannya yang diberi judul Knowledge and Human Interests (Pengetahuan dan Minat Manusia). di mana pesan yang terdapat di dalam teks itu di tujukan. karena ia berkeyakinan bahwa penerapan seperti halnya pemahaman dan interpretasi adalah bagian hermeneutic. Menurut Habermas. interpretasi adalah bagaikan terjemahan. dialektik dan bahasa. kita harus membuang jauh-jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang di katakan oleh sebuah teks. Bahkan karya-karyanya pun tidak secara khusus membicarakan hermeneutik sebagai gagasan tunggalnya. 1972 : 144). melainkan akan memperteguhnya. Konsepnya tentang penjelasan tersebut mendekati metode ilmiah yang ia nyatakan mengatasi metodemetode yang lainnya. 1. yaitu yang berasal dari pertimbangan sebelumnya atas keseluruhan pemahaman melalui bagia-bagiannya. Subtilitas adalah suatu kualitas yang mencarikehalusan seperti “lembutnya” roh. namun itu juga mempunyai konsep tentang penjelasan dan pemahaman. dan dengan abduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu mungkin akan berperilaku menurut suatu cara tertentu. meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah. Adanya antisipasi makna. induksi dan abduksi atau proses abduktif. yaitu: deduksi. karena konsep tersebut mencagai keyakinan-keyakinan yang vajid dan definiti Habermas mengatakan bahwa semua peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang tidak akan mempersulit keyakinan-keyakinan tersebut. Jadi. Dengan deduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu ’seharusnya’ berperilaku dalam cara tertentu dengan induksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu pada kenyataannya berperilaku dalam suatu cara tertentu. yang menandai hermeneutic. ‘ Memahami” selalu dapat berarti membuat interpretasi. Karya-karya Habermas termasuk dalam bidang sains. Arti “Memahami” Menurut Gadamer. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik Meskipun gagasan-gagasan Habermas tidak berpusat pada hermeneutik. Kita mengantisipasi dan menginterpretasi menturut apa yang kita miliki ( vorhabe). Induksi adalah proses yang aktual dalam penelitian. Gadamer menyebut hal itu sebagai makna atau arti yang akan datang (fore-meaning) dan pemahaman yang akan datang (fore umderstanding). Tugas interpretasi sama dengan tugas konkretisasi hokum atau penerapan hokum p. seperti misalnya ‘metode untuk menekuni sesuatu’. apa yang kita lihat (vorscht). penerapan juga merupakan pemahaman yang benar terhadap factor yang universal. Gadamer menambahkan istilah subtilitas applicandi. ada pengujian apakah dan dengan kemungkinan apa prediksi-prediksi dapat diyakinkan kebenarannya. ‘metode penguasaan bahan’ dan ‘metode pemikiran a priori’. yang menghindarkan gangguan yang berasal dari penggunaan metode. yang juga merupakan persyaratan hermeneutic sehingga membuat pemahaman itu menjadi suatu “hubungan yang histories dan efektif”. penjelasan “menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas dan sistematis” (Habermas. Pemahaman dan interpretasi pada dasarnya juga merupakan penerapan. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokomen tertulis saja. komposisi musik. memang di harapkan. Untuk dapat memahami sebuah teks. Habermas mengikuti tiga bentuk penyimpulan yang dikemukakan oleh C. Sedangkan pemahaman adalah “suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu”. pemahaman selalu dapat di terapkan pada keadaan kita saat ini.ada hal-hal khusus.

Dengan kata lain. Dalam tingkat pemahaman seperti ini. ‘tidak dapat dijabarkan’. sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. bahkan di luar pikiran kita. yaitu pemahaman yang tidak me libatkan hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa ‘murni’. 1972: 162-163). Komunikasi dapat dilakukan melalui tindakan atau kegiatan. Bagaimana dapat terjadi suatu metode menerangkan hal yang individual dan tunggal dengan menggunakan cara yang universal? Dalam ilmu pengetahuan empiris-analitis. Pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan. Habermas mengatakan bahwa sebuah penjelasan menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. Seperti halnya pemikiran ilmiah. maksud dan ruang lingkup tindakan. Pada kelas pengalaman. penjelasan diarahkan pada tujuan akhir. proses kedua hal itu hanya dapat terjadi atas dasar “asimilasi transcendental a priori dari pengalaman yang mungkin dengan ungkapan universal bahasabahasa teoretis” (Habermas. yang disebut monologika itu tidak lain adalah jalan pikiran yang terstrukutur. Dalam hal ini expresi linguistik muncul dalam bentuk yang absolut. Dari pembedaan itu kita mengetahui bahwa monologika adalah pemahaman atas simbol-simbol yang disebut Habermas sebagai ‘bahasa murni’ karena simbol-simbol mempunyai makna yang definitif. language game dari Wittgenstein). yaitu : linguistic. . dan pemahaman menjadi bagian subjektifnya. Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut. Sebagai contoh misalnya: bahasadan tindakan saling menginterpretasi satu sama lain secara timbale balik (bdk. bahkan kita juga tidak dapat membuat interpretasi atas hal-hal tersebut.atau memahami fenomena secara lugas. yang berupa kecenderungan yang tidak dicetuskan atau sebagai ungkapan nonverbal. bukan yang universal. Habermas mengatakan bahwa pemahaman hermeneutik harus mengintegrasikan ketiga kelas ungkapan kehidupan itu. Habermas mengutip ketiga jenis pemahaman tersebut dari pendapat Dilthey. Jenis Jenis Pemahaman Hal-hal yang menonjol dalam kedua metode pemahaman tersebut tampaknya akan dipadukan. Ia juga memperingatkan kita bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta. tindakan dan pengalaman. 1. Habermas menyatakan bahwa selalu ada makna yang bersifat lebih. yang tidak dapat dijangkau oleh interpretasi. Hermeneutik biasanya mencoba menerangkan apa yang individual. sebab pemahaman melibatkan juga pengalaman interpreter. maka harus melalui proses yang memperjelas sesuatu atau fenomena tersebut. seperti misalnya bahasa simbol. yaitu yang menggambarkan pemahaman monologis. yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketepatan dan keharusannya. Jadi jelaslah bahwa kita tidak dapat menerangkan hal-hal yang tidak mungkin kita pahami. Tentang linguistik. Sebagaimana halnya dalam pemahaman linguistik. Pemahaman hermeneutik sedikit berbeda dari jenis pemahaman yang lainnya sebab pemahaman hermeneutik diarahkan pada konteks tradisional tentang makna. sebagaimana terdapat dalam setiap rumusannya. Habermas menegaskan bahwa penjelasan haruslah berupa penerapan secara objektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta. terutama dalam reaksi tubuh manusia. Metode ‘Memahami’ Dari uraian di atas telah kita lihat bagaimana Habermas membedakan antara penjelasan denganpemahaman. yaitu yang terdapat di dalam hal-hal yang bersifat ‘tidak teranalisiskan’. seperti halnya Dilthey. interpreter memperhitungkan hal-hal itu sebagai salah satu bentuk atau jenis pemahaman. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu. Semua hal tersebut mengalir secara terus-menerus di dalam hidup kita. Sedang pemahaman hermeneutik di sisi lain tidak dapat mempersempit ketergantungannya pada hal-hal lain. tindakan atau kegiatan perlu dijabarkan. Habermas membicarakan tentang “pemahaman monologis atas makna”. 1.

mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang . apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum.Filsafat pada dasarnya adalah hermeneutik. atau antara tetap subjektif dan harus menjadi objetif.fenimenologis. namun sulit untuk dilaksanakan.maka interpretasi menjadi penting. Disini disjungsi tidak dapat berlaku. Terdapat kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep melalui kata-kata.Kebutuhan laten tersebut adalah kebutuhan akan hermeneutik.1. sejarah dan objektivitas.” Dilema tersebut semakin menjadi besar terutama dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau Geisteswissenschaften. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan katolik.Dengan mengutip Nietzsche. Ini berarti bahwa hermeneut harus mengadakan interaksi. Ricoeur mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi.yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna.memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal yang telah diinterprestasikannya. 1. atau sebaliknya. Suatu proses tertentu bukan induksi.Setiap kata adalah sebuah simbol.Herleneutik pada akhirnya semantik. Dalam ilmu-ilmu alamiah.ilmu kemanusiaan.maka hal ini tidak perlu dibesar-besarkan.ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi. ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah. Hal ini hanya mudah untuk dikatakan. Pemahaman harus mengkombinasikan keduanya.Adanya simbol. Dilema Pemahaman Habermas mengatakan : “Sebagai suatu seni yang menggambarkan komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami. Dan ilmu-ilmu kemenusiaan.ilmu alamiah dan ilmu. atau sebaliknya. Disinilah letak perbedaan antara ilmu .Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan.maka katakata penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi.Dalam karya-karyanya tampaknya ia memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial kemudian ke analisis eidetik(pengamatan yang sedemikian mendetail). antara Naturwissenschaften dengan Geistes-wissenschaften.Jika simbol-simbol dilibatkan. Interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan “keseluruhan yang terdiri dari campuran macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya” dan koreksi terhadap apa saja yang dikemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi. Apa yang benar di dalam yang universal tidak harus benar pula di dalam yang individual. jarang terjadi dari yang umum ke yang individual. Disini hermeneut menghadapi dilemma antara tetap objektif dan bersifat subjektif.Kemudian Ricoeur memberiakn kesan bahwa berbicara dengan menggunakan suatu bahasa adalah masalah jaket dan belati yang tersembunyi dibaliknya.Oleh karenanya.historis. Dilema itu merupakan pertanyaan : “eksklusif linguistic atau analisis empiris”. Penjelasan dan interprestasi berlangsung dari yang individual ke yang indinidual juga. hermeneutik berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subyek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan. sebab kita tidak dapat melakukan analisis linguistic eksklusif atau analisis empiris murni. sebagaimana terjadi dalam dialog atau dialektika antara yang umum dan yang individual. Hibermas mengambil alih tugas Dilthey dengan mengatakanDilthey telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan akan melihat bahwa objektivasi pemahaman hanya mungkin terjadi bila interpreter atau hermeneut menjadi partner dalam dialog komunikatif.pada dasarnya.sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi lapisan.Ricoeur menyatakan bahwa hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut.Simbol-simbol dan interpretasi merupakan konsep-konsep yang mempunyai pluraritas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau kata-kata. yaitu melalui proses induksi dimana kebenaran umum akan diperoleh setelah ditentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan individual. deduksi atau abduksi.

Setiap kali kita membaca.Sebagai contoh misalnya pohon kata ini mempunyai banyak makna tergantung pembicaranya:apakah ia seorang tukang kayu.sebab keduanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain.asli. Ruang Lingkup Hermeneutik Ricoeur kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan perhatian kepada teks.baik ari sudut pandang sosiologis maupun psikologis.Dikotomi antara penjelasan dan pemahaman itu tajam. Kata-kata dan Makna Sebuah kata adalah juga sebuah simbol.serta untuk melakukan rekontekstualisasi secara berbeda di dalam tindakan membaca.bahkan psikoanalisa.Ini semua menandakan bahwa kita sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka.sebab kita memahami melalui bahasa.Ia masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut Vorhabe(apa yang ia miliki).Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dan membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral (ucapan) dapat dipersempit.1983:193) Mengenai tugas hermeneutik.filsafat semuanya melalui bahasa.yaitu melalui interpretasi.tradisi ataupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.Vorsicht(apa yang ia lihat).Bahasa adalah tempat bertemunya analisis logika.Istilah-istilah mempunyai makna ganda.Bahasa dinyatakan dalam bentuk simbol.Dalam hal ini Recoeur mengemukakan tentang hermeneutik yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks.dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat.segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab.Namun kritik yang kita lakukan itu membawa juga struktur-struktur yang sudah jadi dari gagasan-gagasan kita dan bahasa yang diungkapakan dalam struktur itu juga sudah kita beri warna.manusia pada dasarnya merupakan bahasa(Riceour.(Riceour. 1.Melalui hermeneutik.tafsir kitab suci dan hermeneutik.Kita mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa.Kita mengungkapkan gagasangagasan. Menurut Ricoeur.Ricoeur menegaskan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas (Montefiero.1985:43). Penjelasan struktural cenderung untuk bersifat objektif. Bahasa adalah bidang di mana semua pengamatan filosofis saling memotong satu sama lain.salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam yang hermeneutik adalah perjuangan melawan distansi kultural yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik.Riceour menyebut karakteristik ini dengan istilah polisemi yaitu ciri khas yang menyebabkan kata-kata mempunyai makna lebih dari satu bila digunakan di dalam konteks yang bersangkutan.yaitu untuk memahami sebuah .Namun bahasa juga mempunyai kelemahan.kesusastraan.tergantung kepada pembicaranya.emosi.Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensional dan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya(kecuali kata-kata onomatopoik).1967:350) dan bahasa itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata yang tertulissebagai ganti kata-kata yang diucapkan.Ricoeur menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik adalah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal” nya teks itu muncul ke permukaan.petani dll.Jadi. 1.Kita baru bisa mengkritik jika kita membuat jarak dengan objek kritik.pematung.sedang pemahaman hermeneutik memberi kita kesan subyektif.Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain.Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan dekontekstualisasi.sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.di sini kita dapati dikotomi antara objektivitas dan subjektivitas yang menimbulkan problem.Sebuah kata bisa memilikki konotasi yang berbeda.eksistensialisme.Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya.kita salah paham atau salah mengerti juga melalui bahasa.dan Vorgriff(apa yang akan menjadi konsepnya kemudian). Menurut Riceour.sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat.fenomenologi.

Ketiga langkah tersebut berhubungan erat dengan langkah-langkah pemahaman bahasa yaitu:semantik.Riceour sendiri tidak benar-benar memperlakukan hermeneutuk sebagai metode. Otonomi teks ada 3 macam: intensi atau maksid pengarang.situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.dan untuk siapa teks itu dimaksudkan.Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya.Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. Menurut Riceour.sebab jika tidak demikian ia tidak akan mulai melakukan interpretasi. .Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas.percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Arti Memahami Setiap hermeneut membuat pembedaan dan penekanan yang tegas atas pemahaman.inilah yang dimaksudkan dengan rekontekstualisasi. Tugas Hermeneutik menjadi sangat berat.Langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna.Langkah semantik adalah pemahaman pada tingkat ilmu bahasa yang murni.sebab tidak ada satupun hermeneut yang pada kenyataanya mau mendekatkan diri pada apa yang dikatakan oleh teks jika ia tidak menghayati sendiri suasana makna yang ia cari.ada tiga langkah pemahaman. 1.Penafsir selalu dalam keadaan in medias res atau berada di tengah-tengah teks (ing madya) dan tidak pernah hanya di depan atau pada permulaan atau pada akhir teks untuk sekedar tut wuri saja.Riceour mengatakan bahwa “engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami”.melainkan membuka diri terhadapnya.sebab hermeneut harus membaca dari dalam teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangkan kebudayaan dan sejarahnya sendiri.dan terstruktur yang terdapat dalam ilmu-ilmu alamiah.Riceour mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak di dalam hubungan dengan subjektivitas pembaca ditinggalkan.yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang berpikir dari simbol-simbol.Riceour menyatakan bahwa pemahaman itu pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi.penjelasan dan interpretasi.Hermeneut uga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain. Ricoeur hanya ingin menggugah pandangan kita bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang dapat bersaing dalam tingkat yang sejajar dengan metode dalam sains. Yang dimaksudkan dengan membuka diri adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya.yaitu pada teori tentang pengetahuan atau erkenntnistheorie.Jika demikian.kaku.Ricoeur juga mempertanyakan metode yang dipergunakan Dilthey dalam geisteswissenschaften nya yaitu hermeneutik yang dibedakan dengan metode yang terdapat pada naturwissenschaften.Langkah pertama adalah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol.Sebab.Hermeneut harus menggumuli interpretasinya sendiri.yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.harus dapat mengatasi situasi dikotomis.Ia hanya ingin membuang jauh semua metode yang objektif.ia harus mulai dengan pengertian yang seakanakan masih mentah.Riceour menyatakan bahwa memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks.bagaimana Riceour bisa mengatakan bahwa pemahaman merupakan cara berada atau cara menjadi.Pemahaman hanya dapat terjadi pada tingkat pengetahuan.serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subjektif dan objektif.Riceour menyatakan bahwa hubungan antara hidup dan pengalaman -pengalamannya boleh dikatakan merupakan akar dari hubungan dua arah antara manusia dengan alam dan sejarah.Dekonyekstualisasi adalah bahwa materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya.pemahaman adalah salah satu aspek dari proyeksi Dasein (proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaan terhadap being.Untuk memahami sebuah teks kita tidak memproyeksikan diri ke dalam teks.di mana pembacaanya selalu berbeda-beda.yaitu yang mendekati tingkat ontologi.ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing.melainkan membuka diri terhadapnya.Pemahaman refleksi adalah pemahaman pada tingkat yang lebih tinggi.Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis.dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan.sedang langkah pemahaman eksistensial atau ontologis adalah pemahaman pada tingkat being atau keberadaan makana itu sendiri.Riceour juga menyatakan bahwa lingkaran tersebut hanya semu saja.refleksif serta eksistensial atau ontologis.

yaitu bahwa tidak ada titik nol dari mana kritik yang tuntas dapat mulai dilakukan.Maka juga selalu ada goncangan antara peristiwa yang tersituasi dengan cakrawalanya.penjelasan dan interpretasi.Tidak ada satu peristiwa sejarahpun yang bukan merupakan kelanjutan dari peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.Dalam filsafat Ricoeur.Karena pribadi sedemikian terlibat.ia menegaskan bahwa konsep itu harus dipertentangkan dengan konsep atau pengertian tentang distansi sejarah. Tema ketiga jika tidak ada pandangan yang menyeluruh.Tema kedua ini menunjukkan pandangan ekstrim yang lain sesudah tema yang pertama.sebab konsep yang terakhir ini berbau metodologis.tidak ada lagi pemisahan antara pemahaman. Akan tetapi.Riceour mengatakan bahwa tidak satu cakarawalapun yang bersifat tertutup sejauh masih mungkin menempatkan seseorang pada pandangan yang lain dan dalam kebudayaan yang lain pula (Ibid.yaitu tingkat eksistensial atau ontologis.Jadi.yaitu kita seakan-akan terpelanting untuk memahami pribadi manusia. Edmund Husserl.Sepakat dengan pandangan Gadamer.75). Metode positif dimaksudkan untuk melepaskan jalan pikiran dari .Setiap kejadian atau peristiwa menpunyai latar belakang atau cakrawala karena setiap fakta atau peristiwa selalu tersituasi.Hal ini menunjukkan kepada kita tema pertama dari empat tema yang diketengahkan oleh Riceour. Pengaruh Aliran fenomenologi Dua aliran pemikiran kefilsafatan yang banyak mempengaruhi gagasan-gagasan Derrida adalah fenomenologi dan strukturalisme.Penafsir harus waspada terhadap berbagai macam prasangka ataupun pendewaan terhadap pikiran. Ada jenis pemahaman lain.tempat yang layak untuk seorang penafsir adalah di tengah-tengah kedua ekstrem tersebut.sebab pengalaman semacam itu melibatkan keseluruhan keberadaan seorang pribadi. Karya-karyanya sulit dimengerti. Gagasan-gagasannya tentang kritik sastra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra. 1.Melalui penderitaan kita sering memahami sesuatu. meskipun ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis.maka juga tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita. Deriida sangat cerdas.1980:74).jika ada situasi maka ada cakrawala yang dapat menyempit atau meluas(Ibid:74). Latar Belakang Tokoh Jacques Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik sejauh dia berhubungan dengan bahasa dan makna. 1972:95).Segala bukti tidak perlu lagi atau bahkan tidak penting. Ia seringkali juga disebut seorang post-strukturalis. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik.Ia harus mampu memisahkan mana yang seharusnya masuk dalam cara pemahamannya dan mana yang seharusnya disingkirkan dari antara konsep-konsepnya yang populer atau yang hanya khayalan saja.Mungkin pandangan Riceour ini mirip dengan pandangan Gadamer.Pengalaman eksistensial memang pengalaman yang dimiliki oleh being sendiri. Tema yang kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja(Josef Bleicher. Untuk memahami gagasan-gagasannya. meskipun ia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf ataupun sastrawan (Derrida. pendiri fenomenologi modern memulai karyanya dengan dua metode.Namun dalam uraiannya.Pemahaman adalah perpaduan antar cakrawala.ada rangkaian peristiwa di mana peristiwa yang satu menyebabkan peristiwa-peristiwa lainnya.Sebab. satu positif dan satu negatif.Dalam kondisi seperti ini.Ini merupakan tingkat pemahaman yang tertinggi.maka pengalaman menjadi traumatik di dalam intensitasnya.Ricoeur uga berbicara mengenai wirkungsgeschichtliches bewusstsein atau kesadaran yang diarahkan pada akibat-akibat sejarah. Hermeneutik harus menempatkan peristiwa yang tersituasi beserta cakrawalanya dalam konteks yang semestinya.Meskipun seseorang menempatkan dirinya pada distansi tertentu.yang dikemukakan oleh Karl Jaspers. Tema keempat adalah perpaduan antar cakrawala.Kita tidak mungkin mengabstraksikan atau memencilkan suatu peristiwa dengan latar belakang atau cakrawalanya dari peristiwa-peristiwa lainnya.namun akibat atau hasil penelusuran sejarah tidak dapat lepas dari pengamatan kesadaran penafsir.Interpretasi harus selalu memandang kedua hal itu sebagai hal yang korelatif atau berinteraksi.yaitu yang datangnya dari penderitaan. 1. kita perlu juga mengetahui latar belakang dirinya.

apa saja yang dianggap ideal tetapi tidak mendasarkan diri pada realitas. Dalam metode negatif, Husserl mendekatkan diri pada metode yang dikemukakan oleh Descrates yaitu mulai dengan sikap ragu-ragu, ia menyangkal segala sesuatu dan ingin memulai proses pemikirannya dari titik yang benar-benar nol. Husserl seorang pakar matematika dan sains, menyadari akan adanya ketimpangan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebagao seorang ahli matematika ia mengetahui signifikan obyektivitas, tetapi sebagai filsuf ia juga mengetahui bahwa subyektivitas yang walaupun hanya sedikit masih tetap diinginkan. Melalui dua metode yang diketengahkan di atas, ia memulai karyanya dengan tepat. Ia membicarakan tentang tiga tingkatan kesadaran yang dapat dihubungkan dengan tiga tiga jenis obje, yaitu:

• • •

Tingkatan pertama atau tingkatan yang dangkal adalah kesadaran alamiah. Kesadaran ini berhubungan dengan objek-objek alamiah. Tingkatan kedua adalah tingkat kesadaran refleksi, yaitu kesadaran yang muncul setelah memberi ‘tanda petik’ pada tingkat yang dangkal. Tinkatan ketiga atau tingkat ‘kedalaman ego’: bila perhatian seseorang difokuskan lebih jauh lagi pada objek , ia akan mencapai tingkat kesadaran jauh lebih dalam lagi. Dalam keadaan kesadaran pada tingkat ini, objek yang murni atau yang sejati mengejawantah. Tanggapan atas Fenomenologi Arti “Differance”

1.

Perbedaan dua kata yang kontroversial itu yaitu, difference dan difference. Perbedaan pokok hanya terdapat di dalam kerangka ruang dan waktu. Derrida menghubungkan kerangka waktu ruang dan waktu dengan pengertian ‘tanda dan penulisannya’. ‘Tanda’ adalah ‘wakil’ dari bendanya. Makna, juga seperti tanda, untuk memahaminya kita harus ‘menangguhkan’ atau menunda dulu sampai orang atau benda yang merasa layak atau pantas untuk memilikinya. Proses ini oleh Derrida disebut ‘temporisasi’ atau pemberian waktu (untuk menunda). Tanda tempatnya dalam ruang. Tanda dapat dengan mudah kita mengerti dan kita rasakan, seperti kata-kata ataupun tulisan. Kata-kata adalah tanda, seperti juga bahasa, isyarat, dan sistem yang pada umumnya kita mengerti berdasarkan sejarahnya sebagai jaringan yang merupakan asal mula timbulnya perbedaan. Tanda-tanda membawa makna dan adanya dalam ruang; untuk sementara waktu makna tersebut tertunda. Tulisan, pada umumnya kita berpandangan bahwa sebelum seseorang menuliskannya, ia terlebih dahulu mengucapkannya. Derrida justru berpendapat sebaliknya. Tulisan itu barang mati, hanya merupakan jalan tengah antara maksud dan makna, atau antara ucapan dan pemahaman (Ch. Norris, 1985:28). Sebab ‘tulisan’ dalam pandangan Derrida bukan gambar sebagai hasil tindakan seseorang memindahkan gagasangagasannya.

“Bahasa” sebelum Bahasa

Derrida menyatakan bahwa ‘tulisan’ merussak atau menghancurkan dirinya sendiri. Artinya, ‘tulisan’ adalah impersonal, jauh dari kehidupan, tidak seperti ‘bicara’. Menulis adalah pengelompokkan kata-kata yang sifatnya mekanis menurut tata bahasa dan struktur katanya. Tentang makna menulis, Derrida mengatakan bahwa makna itu seakan-akan keluar atau diturunkan dari tulisan, entah benar atau hanya khayalan saja. Hal itu hanya mungkin dengan syarat bahasa yang asli dan alamiah tidak pernah ada, jadi tidak pernah berkontak atau terjamah oleh tindakan menulis (Derrida, 1967:82). Gagasan ini disebutnya dengan istilah archi-writing. Archi-writing dimaksudkan Derrida untuk membicarakan tentang ‘waktu’ sebelum waktu yang kita alami, atau ‘bahasa’ sebelum bahasa yang kita pakai saat ini. Archi-writing merupakan syarat utama untuk memungkinkan sebuah bahasa dinyatakan sebagai sebuah sistem, dan melalui archi-writing ini kita dapat memahami pernyataan atau artikulasi yang benar dari ucapan dan tulisan. Menurut Derrida, bahasa pada dasarnya sudah merupakan tulisan, oleh karena itu pasangan konsep ucapan-tulisan harus diubah manjadi tulisan-ucapan.

Peranan Sejarah

Untuk memahami konsep Derrida tentang ‘tulisan’, kiranya baik bagi kita untuk mengambil makna sejarah sebagai sarana untuk melacaknya. Sebab Derrida membicarakan sejarah melalui cara yang berbeda, yaitu bukan sebagai deretan makna, melainkan sebagai ‘jejak’ yang bisa dilacak. Tulisan dapat menjadi jejak yang bisu namun juga dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan belum dapat terkatakan. Derrida berkeyakinan bahwa meskipun orang belum mengucapkan kata-kata, namun tulisan sudah siap untuk dicurahkan, tulisan dibatasi oleh bahasa yang diucapkan, karena ucapan, yaitu makna yang tertunda kehadirannya, sudah terdapat di dalam tulisan.

Definisi “Difference”

Terdapat empat macam definisi differance, yaitu: 1. Differance adalah sebuah gerakan (aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan, karena penundaan, perutusan, penundaan hukuman, penyimpangan, penangguhan, penyimpanan. Kehadiran dinyatakan atau diinginkan dalam sifat representatifnya, tandanya atau jejaknya(Ibid, 17) Gerakan differance adalah akar umum dari semua pertentangan konsep-konsep di dalam bahasa misalnya sensibel-inteligibel, intuisi-makna, alam-kebudayaan, dsb. Differance, yang menghasilkan perbedaan, adalah syarat dari semua makna dan struktur. Differance adalah berbeda secara khusus, tetapi perbedaan ini secara ontologis benar-benar ada dan tampak. Disini jelas bahwa deconstruction dan differance seiring sejalan. Deconstruction membatalkan ekspresi ganda seperti dalam ucapan atau penulisan. Pengaruh Strukturalisme

2. 3. 4.

1.

Derrida menyangkal pernyataan bahwa struktur bahasa itu benar-benar ada. Terutama ia akan menolak argumen Noam Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu diprogram ke dalam pikiran manusia dan manusia sebagai pembicara begitu saja mengikuti struktur tersebut. Menurut Derrida, “makna” tidak dapat disusun di manapun juga dalam pikiran manusia, selama makna itu merupakan produk pengalaman. Ia ingin mengupas gagasan entang “struktur”, karena srtuktur menentang kebebasan peran makna di dalam teks apa saja. Ini berarti bahwa orang dapat membaca kata-kata dalam sebuah teks, tetapi ia tidak mungkin membaca makna di dalam teks tersebut. Dengan demikian, makna bukan urusan struktur. Makna tidak dapat dibangun dalam ucapan, dan karenanya Derrida menentang pernyataan para pakar linguistik struktural. Sebab, jika makna sudah terbentuk didalam bahasa, oarng tidak akan membutuhkan hermeunetik atau interpretasi lagi.

1.

Gagasan tentang Hermeneutik

Setelah menimba gagasan-gagasan dari Hegel dan Husserl, Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak lain adalah intensionalitas. Apa maksud seseorang ketika ia menggunakan bahasa? Apakah bahasa identik dengan deretan kata-kata yang sudah jadi, apa kemudian disusul dengan makna-makna yang dipilih secara bebas oleh pembicaranya? Husserl telah menunjukkan perbedaan antara noesis (pikiran) dengan noema (yang dipikirrkan). Seperti misalnya seseorang melihat sebuah pohon,, harus dibedakan antara ’siapa yang melihat’ dengan ‘dari sudut mana’ pohon itu dilihat. Sebab, seorang tukang kayu dengan seorang pematung akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang pohon yang dilihatnya itu. Dari realitas di dalam contoh tersebut di atas, Derrida melihat hubungan yang jelas antara fenomenologi dengan hermeneutik. Jika makna yang muncul pada taraf yang paling dalam, maka bahasa yang dipergunakan untuk berbicara harus diselidiki, apakah bahasa ini hanya keluar dari emanasi taraf pertama atau kedua. Lalu, bagaimana hermeneut mengenakan nilai atau makna pada kata yang diucapkan itu? Hermeneutik adalah pemahaman karya. Tujuannya adalah membongkar rahasia pandangan dunia dari pengarang dan memungkinkan kita untuk menyadur bahwa esensi fenomenologis dari memahamitidak lain

adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan sendiri apa yang sedang ia katakan. Pemberi tanda adalah orang yang dapat merasakan nafas pengarang dan maksud dari isyarat atau makna yang melekat pada pengarang. Hermeneut kemudian berusaha melepaskan makna dari kata-kata yang diucapkan atau yang tertulis epat pada saat kata-kata itu diucapkan . bagaimana dengan teks tertulis? Untuk dapat dikatakan sebagai tulisan dalam arti yang sebenarnya, maka teks tersebut harus berjuang untuk mengatasi ‘kematian’ pembicara yang membawanya di dalam komunikai oral. Apa peranan pengarang dan pembaca di dalam interpretasi sebuah teks? Apa yang menjadi ukurannya jika dikatakan bahwa teori interpretasi menggambarkan pengarang asli atau pembaca asli? Jika kita membicarakan tentang interpretasi, apa batasan proses tersebut? apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan penerapan, kelayakan dan permainan? Menurut Jean Greisch, semua pertanyan tersebut harus dijawab oleh orang yang ingin membuat interpretasi. Hermeneut menghendaki jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi pendahuluan dalam karya interpretasinya. Untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam perspektif yang semestinya, kita harus membedakan antara jenis teks berikut: 1. 2. 3. Sebuah teks tertulis yang merupakan transkripsi teks oral Teks tertulis yang maksudnya hanya untuk dibaca dan bukan untuk didengarkan Teks tertulis yang dimaksudkan untuk dibaca seperti sebuah teks sastra seperti yang banyak kita jumpai sekarang ini (Greisch, 1997:180)

Sebuah teks oral yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks tertulis pada dasarnya tidak memiliki ‘nilai tertulis’ sebagaimana dimaksudnya untuk dibaca, seperti karya sastra. Jika seseorang berbicara, maka ia mengikuti aturan-aturan berbicara yang berbeda dengan aturan-aturan membaca. Jika seseorang menulis,ia sadar akan kesuatuan, koherensi dan hubungans logis dari gagasan-gagasan dan bab-babnya, pengaturan pemakaian kata-kata serta redundansinya. Jika terdapat teks yang dimaksudkan hanya untuk dibaca tetapi ternyata dibacakan untuk didengarkan, maka teks tersebut menghasilkan sesuatu yang sumbang dan seringkali menghasilkan makna yang berbeda bagi pendengarnya. Derrida lebih suka mengoperasikan teks tertulis pada jenis yang ketiga, yaitu teks yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai teks, sebab teks ini mengikuti secara ketat aturan-aturan tentang sintaksis, tata bahasa dan gaya bahasa. Derrida tidak mengutip teori Ricoeur tentang polisemi, yaitu sebuah kata atau ungkapan ada kemungkinan mempunyai lebih dari satu makna. Ia cenderung mengatakan polisemi hanya laten dalam bahasa itu sendiri. Kasusastraan memang penuh dengan makna ganda. Sebagai contoh misalnya salah satu kalimat yang ditulis Shakespeare dalam Hamlet: ‘Orang ini, pembunuh bapaknya’. Walaupun di situ terdapat koma, namun orang tetap sulit memahami siapa pembunuhnya dan siapa yang dibunuh. Martin Heidegger memberikan arah baru dalam perkembangan hermeneutika. Hermeneutika tidak lagi sekedar sebuah prinsip umum untuk melakukan interpretasi teks, melainkan hermeneutika adalah cara berada manusia. Ia mengubah hermeneutika tradisional menjadi sebuah filsafat, sebuah hermeneutika ontologis. Interpretasi bagi Heidegger adalah salah satu dari cara mengada manusia (yang lain adalah mood dan diskursus). Memahami (understanding) umumnya dilihat sebagai mengetahui atau kognisi. Heidegger menolak ini; memahami baginya adalah bagaimana manusia mengalami sebuah situasi dan bagaimana ia siap untuk menghadapi situasi tersebut. Semakin seseorang bisa menghadapi sebuah situasi, semakin ia “memahami” situasi tersebut, semakin ia mampu bertindak, dan ia semakin bereksistensi. Interpretasi adalah salah satu cara untuk mengartikulasikan pemahaman ini. Ia melihat kemungkinankemungkinan dari sebuah situasi. Ia hadir dalam setiap situasi dan mencari jalan untuk menghadapi situasi tersebut. Interpretasi tidak harus dalam bentuk verbal atau linguistik, atau dalam bentuk sebuah proposisi. Ia juga bisa berbentuk sebuah aksi. Heidegger lebih melihat proses pemahaman sebagai sebuah aksi ketimbang proses teoretisasi. Memahami adalah cara praktis manusia bergaul dengan dunianya. Teori hanyalah sebuah bentuk praktis. Interpretasi hanyalah salah satu modus dari pemahaman. Dan pada akhirnya interpretasi dalam bentuk bahasa hanyalah salah satu bentuk dari interpretasi. Bahasa hanyalah sebuah instrumen dari pengertian.

pernyataan. . Namun Heidegger tidak menutup kemungkinan untuk melakukan interpretasi. Hal ini seperti halnya pada lingkaran hermeneutik tradisional terlihat seperti sebuah paradoks. atau tokoh lain yang mempengaruhinya. Bagi para beberapa filsuf.Heidegger juga memperkenalkan lingkaran hermeneutik yang baru: sebuah pertanyaan selalu dibentuk oleh ekspektasi sebelumnya yang akan menentukan jawaban yang metode yang akan didapatkan. yang pada akhirnya membuat kita frustasi sendiri. misalnya keyakinan. 1. tanpa ada kekecualiannya. teori. Hermeneutik sebagai metode yang “Open-Minded” Hermeneutik bukanlah merupakan “barang” baru. Ciri khusus peranan bahsa itu nampak melalui penggunaan bahasa sebagai medium dalam komunikasi gagasan. 1. Bila dalam arti luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan maksud untuk mencapai hasil optimal. maka yang menjadi persoalan adalah: sejauhmanakah metode yang dipergunakan di dalam hermeneutik dapat kita pergunakan untuk ‘ memehami’ pemikiran kefilsafatan? 1. Pandangan semacam ini juga mengandaikan keterlibatan pribadi didalam filsafat. Filsafat akhirnya juga kita mengerti sebagai sebuah ‘teka teki’ yang sulit untuk dijawab dan dijelaskan. Jadi bila kita melihat kembali pandangan-pandangan hermeneut diatas. pengertian tentang makna dibahas berdasarkan motivasi-motivasi tertentu. Cara pandang filsafat Pandangan kefilsafatan memandang penting bagi kita untuk mengetahui “dimana kita berpijak” atau “dari sudut mana kita meninjau”bila kita berhadapan dengan hal-hal atau pernyatan-pernyataan tertentu. yaitu berupa pandangan hidup seseorang. Filsafat menganalisis dan mengevaluasi semua hal tersebut sekritis-kritisnya. Apa yang telah dilakukan oleh para hermeneut tersebut pada dasarnya hanyalah mengundang kita untuk melihat secara lebih dekat bahasa yang kita pergunakan. Filsafat mempersoalkan apa saja. serta khususnya dalam persoalan yang menyangkut bagaimana mengidentifikasi. maka segala uraiannya tentang hermeneutic sedikit banyak diwarnai pula oleh pandangan hidup para hermeneut itu sendiri serta latar belakang kehidupannya. Ada yang menghubungkan ‘makna’ dengan kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar kita atau di mana kita hidup. kebudayaan. Bagi mereka istilah ‘bermakna’ atau tidak’bermakna’ adalah persyaratan utama untuk mencapai kebenaranKita seringkali terperangkap di dalam penggunaan bahasa dengan rangkaian kata-kata yang muluk-muluk. analitik. Bahasa akan menjadi bahasan hermeneutic sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah. Sehubungan dengan hal ini maka persoalan yang timbul kemudian adalah “problem tentang makna”. Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bahwa filsafat berhubungan dengan spekulasi dan analisis. dsb. memahami. kritis. yaitu sebagai alat untuk mengerti dan memahami. 1. dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk kearah interpretasi. Cara pandang semacam tikini menunjukkan bahwa filsafat adalah kegiatan yang bersifat integrative atau kegiatan yang mengarah pada sintesis berbagai macam unsure kedalam keseluruhan yang bersifat koheren dan terpadu. dan dalam arti khusus metode merupakan cara berfikir menurut sistem aturan tertentu. dan sekaligus sebagai penyebab “salah mengerti” ataupun “salah paham”. Dilthey mengajak kita untuk melakukan kritik sejarah dengan mencoba menelusuri kembali segala peristiwa dalam sejarah. dan evaluative. maupun meyakini bahwa makna muncul pada saat bahasa dipergunakan. Cara pendang yang “sintetik”adalah sisitem berpikir yang mengarah pada pandangan dunia yang terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil dan koheren (berkesinambungan). hipotesis. KESIMPULAN Problem tentang Makna Studi tentang peranan bahasa dalam komunikasi dan proses berpikir. filsafat juga bersifat selalu bertanya. telah banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf analitik. kehidupan. Yang dibutuhkan adalah dialog antara teks dan sang penafsir sehingga teks semakin membuka dirinya untuk ditafsirkan.

Namun. Heidegger berusaha untuk mencari arti syarat awal eksistensi yang ia sebut sebagai Ada. Karena Heideggerr berusaha mencari pemahaman melalui fenomen maka ia memakai metode Fenomenologi. melainkan jika tanpa perlu berpikir lagi ia langsung menggunakan palu itu untuk menancapkan paku pada papan (pemahaman pra konseptual).SUMBANGAN HEIDEGGER KEPADA HERMENEUTIKA DALAM “BEING AND TIME” Pengantar Filsafat Heidegger beranjak dari persoalan bahwa para filsuf telah banyak mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang dunia tetapi mereka mengabaikan kenyataan yang paling penting. Pendekatan Husserl terarah pada fungsi kesadaran sebagai subyektivitas transendental. melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Ia membiarkan palu (fenomen pengada) termanifestasikan apa adanya. proyeknya dalam Being and Time adalah “hermeneutik Dasein”. Apa maksudnya? Kita tidak sekedar menyadari sesuatu. Ia menyebut manusia sebagai dasein(eksistensi). Perbedaan fenomenologi Husserl dengan metode fenomenologis Heidegger dapat diringkas dalam kata “hermeneutik” itu sendiri. seseorang dikatakan memahami palu bukan karena ia bisa menyatakan palu adalah alat untuk menancapkan paku pada papan. Menurutnya. Fenomen yang diteliti itu adalah manusia. Term tersebut . berjalan dan sebagainya. Adanya selalu menunjuk pada sesuatu misalnya palu menunjuk pada paku. Ini adalah penemuan baru Husserl. di dunia. melainkan dalam tingkat fundamental (tidak perlu dipikirkan lagi). tanpa kita menafsirkan fenomen-fenomen itu. Ada lebih utama dari kesadaran. tetapi juga sadar bahwa dunia ini turut membentuk kita yang ada di dalamnya. Ia berusaha melihat fenomen sebagai realitas yang menampakkan diri apa adanya. Salah satu kegiatan itu adalah memahami. Fenomenologi telah membuka bidang pemahaman fenomena pra-konseptual. melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita. menurut Husserl selalu terarah pada sesuatu di luarnya (sadar akan sesuatu). Ini berbeda dengan Husserl yang menganggap keberadaan Ada sebagai datum kesadaran. Artinya. Fenomenologinya merupakan hermeneutika terhadap fenomena. Term ini tidak pernah digunakan Husserl untuk merujuk pada karyanya. karena kesadaran hanyalah cara Ada menampakkan diri. paku menunjuk pada papan. papan menunjuk pada rumah dan seterusnya. Kesadaran kita. sementara Heidegger mengatakan bahwa dimensi otentik metode fenomenologi membuat karyanya (Being and Time) bersifat hermeneutis. Bagi Heidegger. Dasein berarti berada-di-sana. Ada tidak dicari pada yang fisik melainkan lewat fenomena misalnya lewat fenomen tertawa. fenomenologi Husserl ini berbeda dengan Heidegger. Kita tidak hanya sadar hidup di suatu dunia. Sedangkan Heidegger justru melihat media vital historisitas “keber-ada-an” manusia di dunia. Melihat begitu pentingnya arti “dunia”. Dunia mempunyai ciri referensial. Husserl dan Heidegger: Dua Tipe Fenomenologi Fenomenologi merupakan pendekatan yang dirumuskan Edmund Husserl pada awal abad ke-20. Heidegger menyebut kegiatan berada Dasein sebagai berada-dalam-dunia. menangis. yaitu bahwa dunia ada. Pemahaman lantas menjadi elemen penting hermeneutika. Heidegger berpandangan bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih mendasar dari pada kesadaran dan pengetahuan manusia. kesadaran bukan sekedar kesadaranakan sesuatu. Jadi. pemahaman yang sesungguhnya itu tidak dilihat dalam suatu “pernyataan” sebagai buah nalar (ratio). Arah pendekatan Heidegger adalah keberadaan manusia itu sendiri.

Phainomenon/phainesthai berarti yang menampakkan diri. Dengan demikian. Heidegger kembali pada akar kata fenomenologi. Bukan kita yang menunjuk benda atau realitas. Garis pembeda antara dua tipe fenomenologi di atas. Logos berarti sesuatu yang dengan sendirinya membiarkan sesuatu itu muncul. Karena itu fenomenologi tidak sekedar untuk membuka kesadaran manusia belaka tapi juga sebagai sarana untuk mendekati Ada dalam seluruh faktisitas dan historisitasnya. sesuatu yang termanifestasikan. Ia bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya . Heidegger berusaha mengatasi filsafat modern yang berporos pada kesadaran atau subyektivitas. juga bukan metode memahami (Geisteswissenschaften) seperti yang diungkapkan Dilthey. ia juga harus menjadi hermeneutika eksistensi. Dengan kata lain. Apa itu historisitas Ada? Kita harus membayangkan seluruh manusia dan alam semesta ini sebagai suatu cerita tentang penampakan diri Ada dalam berbagai maknanya. Filsafat dalam pegertian Husserl secara mendasar masih sains. sementara bagi Heidegger filsafat menjadi pemikiran historis. tidak diartikan sebagai ‘nalar’ atau ‘landasan’. Heidegger menawarkan strategi lain dalam mendekati fenomen kesadaran: membuka diri terhadap Ada dan membiarkan Ada tampak apa adanya (memahami). secara jelas tergambarkan pada persoalan yang lain yaitu “historisitas”. Fenomenologi Husserl hanya mengelaborasi “pola yang telah di bentuk oleh Descartes. Ini berarti berlawanan dengan kebiasaan yang telah ada. Ada lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. ontologi harus menjadi fenomenologi. Kant. Metode fenomenologi ini menjadi signifikan bagi teori hermeneutis. Lantas apa hubungannya dengan hermeneutika? Sebagaimana ontologi menjadi fenomenologi tentang Ada. Fenomenologi berasal dari akar kata Yunani yang merupakan kombinasi kata polimorfemikphainomenon atau phainesthai dan logos. dalam Being and Time berusaha mendekati Ada sebagai fenomen. Heidegger. Di sini historisitas masih asing”. tanpa memaksakan kategori-kategori kita sendiri pada benda-benda tersebut. Sedangkan logos adalah sesuatu yang dipahami dalam pembicaraan. tapi realitas itu sendiri yang menunjukkan dirinya kepada kita. Hermeneutika ini bukanlah suatu metode filologi. Logos membiarkan ssuatu itu tampak sebagai sesuatu. Logos menjadi hermeneutika. Jika aku menyadari danau di luar diriku maka danau itu ada. kombinasi phainomenon/phainesthai dan logos berarti membiarkan benda-benda (fenomen) termanifestasikan sebagaimana adanya. Dengan demikian. dan Fichte. Di sinilah penekanannya bahwa fenomenologi harus menjadi hermeneutis. Tetapi ini tidak berlaku untuk segala zaman. Fenomenologi Hermeneutis Dalam bagian buku “Sein und Zeit” yang berjudul “The Phenomenological Method of Investigation”. Pandangan semacam ini yang ditolak Heidegger. suatu ilmu yang kaku. tetapi pada realitas yang menampakkan diri apa adanya. penemuan kreatif masa lalu.mengasumsikan adanya bias anti sains yang bisa membedakan secara nyata Heidegger dengan Husserl. Metode ini menunjukkan bahwa interpretasi tidaklah didasarkan pada kesadaran dan kategori yang dibuat manusia. Misalnya dalam Descartes. Kesadaran yang ditemukan Descartes itu bukanlah segala-galanya sebagaimana dipikirkan oleh Descartes. Dalam penggalan tertentu yang kita sebut ‘zaman modern’. Menurut Heidegger. kenyataan atau ada itu diciptakan oleh kesadaran. Heidegger menyebut metode fenomenologinya sebagai “hermeneutika”. melainkan hanyalah salah satu cara Ada menampakkan diri dalam kesejarahan Ada (historisitas Ada). atau tampak apa adanya. melainkan hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. Untuk mengerti hal ini.

Inilah pemahaman yang fundamental. Kita merupakan bagian dunia seperti dunia merupakan bagian kita. ekonomi. suatu persoalan prinsip yang sudah umum bahwa pemahaman selalu berlaku dalam sebuah lingkaran hermeneutis. puisi. Kemungkinan-keungkinan itu terbuka justru pada prakteknya. melainkan (dari sudut pandang Dasein) suatu tempat untuk dimukimi. atau fakta (sosial. Dunia itu suatu keseluruhan dimana ada manusia menemukan dirinya sudah terlempar kedalamnya. Heidegger suka mengangkat “lingkaran hermeneutik”: manusia mencari pengetahuan karena belum tahu dan sudah tahu (pra pemahaman). Selanjutnya. Akhirnya Heidegger sendiri mendefinisikan esensi hermeneutika sebagai kekuatan ontologis ‘pemahaman’ dan ‘interpretasi’ yang memungkinkan keberadaan sesuatu khususnya keberadaan Dasein dapat terungkap. Artinya. pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakekat eksistensi manusia. Heidegger menekankan pentingnya ‘dunia’ dengan menyebut kegiatan berada Daseinsebagai beradadalam-dunia. pemahaman didasarkan pada afirmasi filosofisnya terhadap identitas dalam. Maknanya berbeda dengan pemahaman yang dimaksudkan oleh Schleirmacher dan Dilthey. sebagai pengungkapan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Dalam pemikiran Dilthey. Hermeneutika menjadi “interpretasi Dasein”.suatu teks) melainkan kegiatan primer interpretasi yang membuka hakekat Ada. Karena itu. melainkan suatu proses ontologis. dunia tidak hanya dipahami sebagai tindakan mengetahui suatu entitas. melainkan sebagai suatu ekspresi hidup. psikologi) lebih dari sekedar datum. Pemahaman adalah cara berada di dunia. Dunia tidak dapat dipahami dengan menaksir entitas yang ada di dalamnya karena dengan cara ini dunia tidak akan mempunyai arti. Pengunaan garis hubung menekankan bahwa tidak ada jarak antara diri kita dengan dunia. Hakekat Pemahaman: Heidegger Melampaui Dilthey Pemahaman (Verstehen) merupakan term khusus yang dipakai Heidegger. dalam pemahaman seseorang menyatukan diri dengan pembicara atau penulis sebagai seorang yang dipahami. Dilthey menegaskan bahwa kebermaknaan selalu merupakan sesuatu yang merujuk ke dalam konteks keberhubungan. Dengan demikian. yang merupakan struktur eksistensial Dasein yang memungkinkan terjadi pengalaman ditingkat empiris serta memungkinkan terjadinya pengetahuan yang lainnya. Dalam pemikiran Schleirmacher. Seorang pribadi tanpa dunia tidak . Akhirnya dapat dikatakan bahwa pemahaman dalam pemikiran Heidegger telah menjadi ontologis. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. bukan pada yang dipikirkan. Dunia dan Hubungan Kita dengan Obyek di Dunia Yang dimaksud dunia dalam pemikiran Heidegger tidak sama dengan bumi atau alam semesta belaka atau lingkungan kita. Hermeneutika Heidegger melangkah lebih jauh dari Dilthey karena Heidegger mengeksplorasi implikasi lingkaran hermeneutis bagi struktur ontologis pemahaman eksistensi manusia dan interpretasinya. pemahaman terhadap Dasein sendiri merupakan bagian yang penting dalam hermeneutika Heidegger. Bagi Heidegger. dan senantiasa hadir dalam setiap kegiatan intepretasi. pemahaman mengacu pada level komprehensi lebih dalam yang melibatkan perolehan suatu gambar. Karakteristik penting pemahaman bagi Heidegger adalah bahwa ia selalu berlaku dalam suatu hubungan yang sudah diinterpretasikan. Pemahaman merupakan dasar bagi semua interpretasi. dengan segala kemanifestasiannya. Dengan kata lain.

Dunia ini lebih dari sekedar lahan aktivitas prasadar persepsi pikiran. Kita lalu menjadi sadar akan ketergantungan kita pada materi tersebut. pakaian. bahkan ia tidak bisa melihat Dasein atau apapun dalam kemanifestasiannya sendiri tanpa dunia itu. Dalam pemahaman. Makna pernyataan: Dasein berada-dalam-dunia tidak dimengerti seperti air ‘dalam’ gelas atau pakaian ‘dalam’ almari. Ia adalah lahan di mana resistensi dan posibilitas dalam struktur ada membentuk pemahaman. Singkatnya. Arti kata depan itu di hadapan Heidegger sangat kompleks. Dia tidak ‘terletak’ di suatu tempat tetapi memukimi suatu tempat. Kebermaknaan Prapredikatif. Inilah momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan namun disampaikan lewat disposisi dasar eksistensial mereka masing-masing. Apa yang ditemui Dasein di dunia? Dan bagaimana hubungan ada kita (sebagaiDasein) dengan obyek yang ada di dalamnya? Jika kita berada dalam suatu ruang kuliah. Jika kita cermati. alat tulis dan alat-alat lainnya atau juga benda-benda yang bukan alat atau teman dan dosen kita sendiri. Pemahaman dan Interpretasi Fenomen kerusakan yang menyingkapkan keberadaan sebuah alat sebagai alat mengarah pada ‘dunia’ yang sangat luas. dan almari dengan cara yang sama berada ‘dalam’ suatu tempat. kita akan menjumpai ada kursi. Pemahaman juga tidak dapat dipisahkan dari interpretasi karena interpretasi merupakan penerjemahan eksplisit dari pemahaman. Di sini temporalitas dan historisitas ada hadir secara tegas. lampu. Kita sering mengunakan alat-alat itu nyaris secara spontan. Sedangkan Dasein berada dalam dunia secara khas. Jika ada gangguan. Ini bukan paradoks. melainkan menunjukkan bahwa ‘percakapan’ itu bukan pengucapan makna secara verbal. melainkan penyampaian makna tanpa artikulasi apapun. Percakapan di sini bukan dipahamai sebagai komunikasi verbal. Kita tidak tergeletak di dalam dunia melainkan terlibat dan kerasan di dunia. seseorang yang baru di PHK termenung di taman sampai pada pemahaman akan makna hidupnya lalu mengambil keputusan untuk . Pengalaman ini mengasumsikan prinsip hermeneutis bahwa keberadaan sesuatu terungkap tidak dalam tatapan analitis kontemplatif melainkan dalam momen di mana ia muncul secara tiba-tiba dari kesembunyiannya dalam konteks dunia yang sangat fungsional. Kata ‘dalam’ pada ‘berada-dalam-dunia’ juga harus dimengerti dengan tepat. tempat kita eksis. suatu ‘dunia’ bisa dilihat sebagai ini atau sebagai itu. Karena itu. Kebermaknaan yang dimaksudkan oleh heidegger adalah Rede atau percakapan. Pemahaman sangat berkaitan erat dengan kebermaknaan di atas. maka intensi yang diandaikan begitu saja akan tersingkap dan disadari. dalam kebungkaman. ia merupakan lahan proses hermeneutis di mana ada tertematisasikan sebagai bahasa. Misalnya. misalnya alat tulis hilang atau kursi rusak atau lampu mati. gelas. Dua teman karib yang lama tidak berjumpa akan terpaku saling memandang tak berkata-kata saat mereka tak berjumpa lagi. Dunia dan Daseinmerupakan relitas yang tak terpisahkan. Dasein tak pernah ada di dalam ruang melainkan menduduki ruang. benda atau alat-alat tersebut adalah selalu “untuk sesuatu” (intensional). Seorang memandang dengan benar melalui dunia. Ada menyingkapkan dirinya dalam kebermaknaan. Ungkapan kata sebagai ini merupakan suatu terjemahan eksplisit pemahaman atau suatu interpretasi.masuk akal. Apa bedanya? Air. hal ini menunjukkan bahwa mereka saling memahami satu sama lain. pemahaman dan interpretasi. manusia juga bisa bertutur. papan tulis. melainkan suatu penyampaian makna yang mendahului artikulasinya dalam bahasa. Ia mempunyai struktur ‘untuk’ karena itu selalu mengacu pada alat-alat lain. meja.

Inilah saat diam yang penuh makna. melainkan mencoba keluar dari keterpurukan dengan menafsirkannya. dalam hal ini bobot beratnya. palu diinterpretasikan sebagai sesuatu dengan kekayaan sifatnya. Dalam interpretasinya. “pernyataan” (Aussage) bukanlah suatu bentuk dasar interpretasi. Karakter Derivatif Pernyataan Pemahaman yang paling dasar tidak terletak pada suatu pernyataan produk akal budi. Pernyataan seperti ini akan memutuskan ada (palu) dari kebermaknaannya sebagai akar dari keberadaannya. Bagi Heidegger. . Heidegger memberikan suatu contoh pernyataan: “Palu itu berat”. atau momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan lewat kata. Interpretasi disini bukan berarti meratapi pemecatannya. Tentu yang dikatakannya itu juga tidak terpisah dari momen kebermaknaan prapredikatif yang telah dilaluinya yakni saat dia duduk termenung di taman. ia bisa mengatakan: “O saya memahami musibah ini sebagai peluang untuk berkembang lebih baik”.hidup masa depannya. Dalam pernyataan ini. Pernyataan itu adalah turunan dari pemahaman primer yang pra sadar (fundamental). melainkan pada pemahaman pra sadar dimana kita sudah tidak perlu memikirkannya lagi. ia telah melewati interpretasi atas situasi dirinya. Lalu pernyataan ini menjadi penyataan logis yang menempatkan palu tidak lagi sebagai sebuah “alat” (sebagaimana adanya) melainkan sebagai sebuah obyek. sedangkan pemahaman yang diungkapkan melalui kata-kata (pernyataan) merupakan pemahaman sekunder. Ini merupakan suatu pemahaman yang terbentuk lewat logika (pemikiran).

Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Bahkan. Pengertian dan Sejarah Awal Hermeneutika Hermeneutika adalah sebuah kajian mengenai teori interpretasi atau penafsiran. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis. Hermeneutika cukup sulit didefinisikan secara tunggal. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini. Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora. Studi ini mulai berkembang dalam kritik penafsiran bibel seiring dengan kemunculan protestan. pendekatan kritis kepada teks Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkembang. Mereka semakin menyadari bahwa persoalanpersoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. kemudian berkembang lagi meliputi segala hal yang dapat disamakan dengan teks hingga usaha memahami makna kehidupan. Hal ini merujuk sekian banyaknya teori tentang hermeneutika itu sendiri dan juga perkembangannya.[1] Kajian kritis ini kemudian berkembang tidak hanya berlaku pada teks-teks bibel tapi termasuk teks-teks lainnya. Persoalan penafsiran bibel seiring kemunculan protestan ini menggiring kepada kajian kritis terhadap teks bibel itu sendiri. Pada abad ke17 dan ke18.HERMENEUTIKA Pengantar Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. Akan .

Masing-masing definisi ini sekedar merupakan tahapan-tahapan historis. dan (6) Hermeneutika sebagai sistem interpretasi[3]. Semua teks termanifestasikan melalui bahasa. ia menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi. dan kata benda hermeneia. (5) Hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial. (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel.[2] Richard E. Dalam penggunaan aslinya. yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata.tetapi. Keenam definisi tersebut adalah. (3) menerjemahkan. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggris “to interpret”. (2) menjelaskan. misalnya. “interpretasi”. (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologis. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk verba dari hermeneuein. kajian hermeneutika semakin berkembang. lepas dari itu. “to say”. (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenchaften. (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic. namun masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi. tentu saja terdapat titik temu dari semuanya terlebih jika dimaklumi bahwa sekian tersebut sama-sama menggunakan istilah hermeneutika yang mana bisa dirunut maknanya secara etimologi. Secara etimologi. Pasca Palmer. Palmer (1969) dalam bukunya memberikan 6 definisi modern hermeneutika. Keenam definisi ini tentu saja terkait tahapan historis kajian hermeneutika hingga masa Palmer saja. kata ini memiliki tiga bentuk makna dasar. hermeneutika berasal dari kata kerja Bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. seperti di dalam penerjemahan bahasa asing. seperti menjelaskan sebuah situasi. oleh karena itu bilamana prinsip-prinsip . Hermeneutika dalam Kilasan Tokoh Schleiermacher (1768 –1834) (Hermeneutika teoritis/romantisis) Friedrich Schleiermacher adalah orang yang dianggap mampu mengangkat hermeneutika tidak sekedar dalam konteks kajian Bibel tapi semua bacaan. tidak sampai masa sekarang.

Dengan demikian. dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya. Scheleirmacher menawarkan dua pendekatan: pertama. hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. Sebab. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks.pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan. pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung. maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. [5] Dalam rangka merekonstruksi makna. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas. Hal ini . kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri. maka terwujudlah hermeneutika umum[4].[6] Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik. oleh karenanya kajian beliau dikenal dengan istilah hermeneutika teoritis. termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis. teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya. dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. Kajian hemeneutika beliau ini berpusat mengenai bagaimana memperoleh pemahaman yang benar. dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas. dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas. yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks.

non-fisik. bukan ekspresi mental penggagas. yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey.[9] Emilio Betti E. Betti termasuk tokoh hermeneut yang menganut hermeneutika teoritis yang mencoba memadukan antara teori Schleiemacher dan Wilhelm Dilthey. Di sinilah sikap empati pembaca terhadap teks menemukan tempatnya. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduknya. Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. dengan mengambil penekanan yang sedikit berbeda dengan hermeneutika teoritis Schleiermacher yang menekankan pada pencarian makna obyektif yang dihendaki penggagas. Dilthey menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul. Karena itu. Sebab pengalaman itu dimediasi oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas pada masanya. Sehingga. Ilmu alam menjelaskan (erklären) sesuatu dan bertanya tentang penyebab-penyebab terjadinya sesuatu secara fisik.[7] Dilthey (Hermeneutika Metodis) Perkembangan berikutnya ditandai oleh pemikiran Wilhelm Dilthey yang membedakan antara ilmu alam / ilmu eksakta (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial dan humaniora / ilmu non-ekaskta (Geisteswissenschaften). adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks.[8] Selanjutnya. sementara ilmu sosial dan humaniora mencoba mencari tahu dan memahami (verstehen) sesuatu yang bersifat psikis. Sebagaimana . berbeda dengan Schleiemacher. untuk merekonstruksi makna teks. Karena itu. menurut Dilthey tidak harus menyelam ke dalam pengalaman penggagas. hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah.

sehingga selanjutnya dapat dikomunikasikan.[12] Hans Georg Gadamer (Hermeneutika dialogis) Sebagai penerus Heidegger. untuk mencari ungkapan bahasa yang tepat sehingga das sein dapat benar-benar menjadi bahasa. Gadamer menolak anggapan hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna obyektif.pendahulunya. pada hakikatnya hermeneutika adalah merupakan ciri hakiki manusia. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna.[10] Heidegger (Fenomenologi Das Sein. empat. hermeneutika beliau yang lebih menekankan fenomenologi das sein ini dikenal dengan hemerneutika filosofis. Heidegger memandang bahwa bahwa bahasa adalah tempat tinggal ‘sang ada’. penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik teks. suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. Gadamer . melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai dari ungkapan teks. penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kerja imajinasi dan wawasan. Kegiatan berpikirf adalah merupakan suatu jawaban terhadap das sein. Betti menawarkan empat momen gerakan alam menemukan makna obyektif: pertama. Hermeneutika dialektis) Martin Heidegger membawa hermeneutika ke ranahnya yang bersifat ontologis. Pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. melainkan merupakan proses ontologis. Das Sein sebagai penyebab munculnya kegiatan berfikir menurut Heidegger adalah merupakan bahasa yang sejati. melainkan kegiatan primal interpretasi yang membuka hakikat ‘ada’ menjadi terbuka. sebagai penguakan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya suatu teks). hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obyektif. penafsir harus mengosongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan. tiga. Menurut beliau. Oleh karenanya. kedua. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan.[11] Fenomenologi hermeneutika Heidegger adalah suatu fenomena tentang ‘ada’.

bukan makna obyektif teks. Sebab. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. menurut Gadamer. orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya. situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. Namun penting digaris bawahi bahwa Gadamer tidak bermaksud memberikan kebebasan mutlak bagi penafsir. hermeneutika filosofis mengandaikan seorang penafsir atau pembaca didahului oleh horizon pembaca yang kemudian membentuk pra pemahaman. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup. Keempat. Penafsir sejatinya . yakni agar penafsir bersikap terbuka pada teks. langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca.menganggap tidak mungkin diperoleh pemahaman yang obyektif atau definitif sebuah teks sebagaimana digagas para penggagas hermeneutika teoritis. Dalam kegiatan penafsiran. Gadamer tetap memberikan ramburambu. pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon. Memahami menurutnya adalah sebuah fusi horizon-horizon: horizon penafsir dan horizon teks. Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci hermeneutis[13]: Pertama. memahami bukanlah komuni misterius jiwa-jiwa dimana penafsir menggenggam makna teks yang subyektif. Ketiga. karena dua alasan: pertama. Sebagai tawarannya. Kedua. kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks. Kedua. horizon pembaca dan horizon teks. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks. teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca.

Yang kedua adalah Hermeneutika. ada syarat suatu peristiwa yang dapat diterangkan melalui CLM. Pola CLM tidak berurusan dengan peristiwa unik atau individual yang dijelaskan pola hukum lainnya. keduanya pasti hadir dalam setiap tindakan menafsir. Tujuan dari pola CLM adalah untuk mencari hubungan sebab dan akibat. Dalam percakapan atauun . Penekanan Gadamer pada fusi horizon dalam menemukan makna didasarkan pada argumen bahwa seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tradisi dan prasangkanya dan apalagi memasuki tradisi dan prasangka orang lain. sebagaimana pembaca. Gadamer berpendapat bahwa “memahami” adalah tindakan sirkuler antara teks dengan pembaca yang disebut the fusion of horison. yakni mempertemukan pra pemahaman pembaca dengan cakrawala atau horizon teks. langkah selanjutnya adalah menerapkannya ke dalam konteks di mana pembaca berada. yaitu mengaitkan hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. Berbeda dengan hermeneutika teoritis yang hendak “merekonstruksi makna”. ramalan. Teori empirsme ekstrim oleh M. Tentu makna yang diterapkan bukanlah makna obyektif sebagaimana dimaksudkan hermeneutika toritis. Dengan prinsip makna tidak ditemukan di dalam teks.membiarkan teks menghadiri penafsir untuk kemudian diadakan dialog antara keduanya untuk menghilangkan ketegangan. Dalam negosiasi itulah. tujuan utama hermeneutika filosofis adalah “memproduksi makna teks”. dan pola hukum yang tidak menjelaskan seperti peristiwa x terjadi karena peristiwa x terjadi. Menurut Gadamer. melainkan “makna yang berarti” bagi pembaca. makna yang dicari bersemayam. melalui fusi horison pembaca dan horizon teks. Selain itu. Makna itu mempunyai nilai bagi kehidupan pembaca.Oakeshott menyatakan bahwa penelitian terhadap masa silam itu tidak mungkin dilakukan. bukan bagi kehidupan penggagas. Padahal masa silam dapat diteliti tanpa melakukan direct observation. Sebab. Adapun persyaratan CLM. Begitu makna produktif ditemukan. dan (2) Ada pola semu yang harus ditolak. lantaran keduanya merefleksikan keterkondisian historis umat manusia. Untuk dapat meneliti tentang masa silam terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan. yaitu takdir Tuhan. yaitu (1) Pola hukum yag muncul pada premis pertama harus dikonfirmasi oleh sema fakta yang relevan atau tidak berlawanan dengan fakta. teks juga mempunyai sejarahnya sendiri yang disebut horizon teks. karena suatu penelitian sendiri dibutuhkan direct observation. Peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain (seolah-olah terlibat dalm suatu perisitiwa).Yang pertama adalah CLM (Covering Law Model).

Erklaren terbatas pada gejala yang secara lahiriah dapat diamati. Menurut Dilthey. Dalam menjelaskan perbuatan seorang pelaku sejarah. peneliti harus masuk ke dalam kulit lawan bicara atau pengarang sambil menimba dari pengalaman hidup kita sendiri. ’ausdruck’ dan ’verstehen’. Ada pengaruh timbal balik antara pengalaman baru dan lama. dan keseluruhan teks hendaknya dimengerti dengan bertitik tolak pada bagianbagian.penafsiran teks. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain. Pengalaman baru memberi arti dan penafsiran baru terhadap pengalaman lama. Menurut Schleiermacher. Pengembang teori hermeneutika di Jerman berikutnya yaitu Gadamer. Dalam ilmu alam ada erklaren (menerangkan) yang didasarkan pada pola hukum umum. Ausdruckmenekankan kesejajaran antara penafsiran teks dn struktur erlebnis. Pengembang teori hermeneutika di Jerman selanjutnya adalah W. Bentuk pengetahuan lewat verstehen lebih lengkap dari erklaren karena ”Dunia alami hanya merupakan bayangan”. sejak kapan mulainya. peneliti harus dapat memberi jawaban mengapa seorang pelaku sejarah berbuat demikian. Hermeneutika ingin mengerti mengapa seseorang berbuat begitu atau begini. Ausdruck melukiskan kenyataan sesuai dengan penghayatan atau persepsi (penyerapan) terhadap kenyataan. Dilthey. dan (3) bagi ahli sejarah. Konotasi verstehen ”Dalam keadaan itu. (3) Gadamer menolak adanya metode hermeneutika. Ausdruck merupakan obyektivasi mengenai kebertautan atau koherensi dalam erlebnis. (2) berusaha mengerti pihak lain berdasakan pengalaman sendiri dan pengalaman mengenai kenyataan dalam keseluruhan. Dilthey memakai psikologi sebagai ilmu bantu. berdasarkan landasan yang sama. hermeneutika lebih pentingdari teori argumentasi. dengan memasuki alam pikiran para pelaku sejarah. Teori ini mengandaikan bahwa kedua pihak memiliki landasan atau awal yang sama. Tahap selanjutnya yaitu verstehen. Teori argumentasi modern meneliti percakapan antara dua pihak manusia. aku sendiri juga akan berbuat dan berpikir demikian”. setiap pengalaman baru ditentukan oeh semua pengalaman yang sampai pada saat itu pernah dimiliki. Dilthey terkenal dengan gagasannya yaitu geisteswisschenschaften (ilmu pengetahuan budaya). kebertautan (zusammenhang) antara pengalaman lama dan baru. Verstehen tidak dapat diterapkan pada ilmu eksakta. adalah mementaskan kembali di panggung batinnya. bagian-bagian (teks) ditempatkan dalam keseluruhan teks. Adapun perbedaan pendapat antara Gadamer dan Dilthey. dan menciptakan berdasarkan kesatuan dan kebertautan. pengalaman dan proses-proses psikologi dan intelektual yang dahulu dirasakan seorang pelaku sejarah. yaitu: (1) Gadamer menolak pemisahan Dilthey tentang kenyataan dan pengalaman mengenai kenyataan. Cara kerja teori ini adalah melacak komunikasi yang terganggu. (4) Pemahaman hermeneutika masa silam terikat dan bertaut dengan individualitas si peneliti. (2) Pengetahuan dan pengalaman dari masa silam merupakan bagian dari eksistensi manusia. Adapun proses hermeneutika. Hal ini tidak hanya berguna untuk menafsirkan teks-teks atau maksud lawan bicara. Tujuan hermeneutika adalah (1) menjembatani jurang antara dua titik pangkal yang berbeda-beda. Kontribusi Dilthey tampak pada fenomenologi sosiologi. Teori . Ide Dilthey berkisar pada konsep ’erlebnis’. aspek produktif dan reseptif. Asumsi Dilthey dengan rekonstruksi itu akan menghasilkan efek yang sama seperti halnya dengan pelaku sejarah dahulu. Tahap selanjutnya dalam hermeneutika adalah ausdruck atau ungkapan. Pengalaman yang ditentukan proses timbal balik disebut ’erlebnis’.

Hermeneutika di Inggris dan Amerika Serikat ini dikembangkan oleh R. Re-enactment terjadi dalam batin peneliti sejarah yang imajinatif dalam ekstrapolasi dan intrapolasi menurut pengalamannya sendiri. Lebih lanjut tentang: Pemikiran Sejarah: Filsafat Sejarah (I) . Collingwood dan H. Menurut Collingwood. Terdapat perbedaan-perbedaan antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta. yaitu mengulangi apa yang hidup dalam benak para tokoh sejarah. masa lalu dapat diulangi dalam batin kita sehingga pengetahuan berdasarkan pengalaman masa silam tidak mustahil. White. melauinkan juga dengan batin (segi dalam) kelakuan mereka.G. Collingwood menggunakan konsep re-enact. Perbedaan pokok antara pengkajian sejarah dan ilmu eksakta bahwa peneliti sejarah tidak hanya berurusan dengan kelakuan lahiriah obyek penelitiannya.

Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya. Di dalam sejarahnya retorika dan hermeneutika memang selalu terkait. bahwa rasionalitas universal manusia mampu melakukan kritik atas kapitalisme. teori kritis memiliki satu pengandaian dasar. di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya. terutama hermeneutika yang dirumuskan oleh Hans Georg Gadamer.A Wattimena Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah retorika dan filsafat praktis (etika). Retorika adalah seni untuk memaparkan pengetahuan. Sementara hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. Teks ini memang dalam . dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu sosial yang membuat manusia tidak mampu mengembangkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin. Pada bab ini saya ingin memperkenalkan sebuah metode yang sangat berkembang pada awal dan pertengahan abad kedua puluh. yakni hermeneutika.Hermeneutika Hans-Georg Gadamer Reza A.

Di dalam beberapa tulisannya. dan menjadi percakapan rasional untuk memahami suatu persoalan. Retorika mengandaikan orang memahami teks. terutama ilmu-ilmu sosial. melainkan juga dapat disampaikan dengan jernih kepada orang lain. Untuk melakukan itu ia kemudian kembali membaca tulisan-tulisan Plato. dan bukan ilmu pengetahuan.bentuk tulisan. Selain itu Gadamer juga membaca tulisan-tulisan Aristoteles. terutama pada bagian etika. Akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas. Dalam arti ini juga dapat dikatakan. dan sifatnya instrumental. Gadamer menjadikan etika sebagai dasar bagi hermeneutika. . Menurut Gadamer hubungan antara pembaca dengan teks mirip seperti hubungan dialog antara dua orang yang saling berbicara. Dalam arti ini dialog kehilangan dimensi rigorus saintifiknya. termasuk Truth and Method. bahwa hermeneutika dan retorika lebih merupakan seni. Gadamer sendiri berulang kali menegaskan. bahwa hermeneutika dan retorika saling membutuhkan satu sama lain. Tujuan utamanya tetap yakni melepaskan hermeneutika dari ilmu pengetahuan yang cenderung rigorus. yakni realitas itu sendiri. Sementara pemahaman tidak boleh berhenti di dalam diri seseorang saja. Gadamer mencoba untuk melepaskan hermeneutika dari wilayah ilmu pengetahuan. yang merupakan karya terbesarnya. saintifik.

dan lepas dari pikiran manusia. Di dalam bahasa terdapat pengertian. Untuk memahami berarti untuk menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang lebih luas. Artinya bahasa itu memiliki sesuatu yang sifatnya khas pada dirinya sendiri. Inilah arti dasar dari hermeneutika sebagai proses untuk memahami sesuatu. Untuk memahami sesuatu berarti untuk menggenggamnya dengan kekuatan akal budi. memiliki tiga arti. Yang pertama pengertian selalu terkait dengan proses-proses akal budi (cognitive process). dan tugas hermeneutika adalah memahami pengertian tersebut. dan itu justru harus diakui dan dirayakan. atau memahami teks. Menurutnya bahasa tidak pernah bermakna tunggal. Untuk memahami berarti untuk menyentuhnya dengan akal budi. yakni proses untuk memahami teks. . Berdasarkan penelitian Jean Grodin. anda akan mendapatkan kesan bahwa ia senang sekali bermain kreatif dengan bahasa untuk menciptakan pemahaman-pemahaman baru. Hermeneutika selalu terkait dengan pengertian tentang realitas. Beragam makna di dalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang bersifat esensial. dan membuka kemungkinan bagi pemahaman-pemahaman baru. tetap. hermeneutika. Untuk memahami berarti untuk melihatnya secara lebih jelas. Bahasa selalu memiliki beragam makna. dan universal di dalam bahasa itu sendiri.Pengertian Sebagai Kegiatan Pikiran[1] Jika membaca tulisan-tulisan Gadamer langsung.

Maka dari itu menurut saya. searah dengan penelitian Dilthey. Inilah yang disebut Dilthey sebagai pengalaman hidup (life experience). Pengertian sebagai Kegiatan Praktis Yang kedua hermeneutika selalu terkait dengan pengertian yang bersifat praktis. Konsep hermeneutika Gadamer juga berakar pada tradisi tafsir teks-teks kitab suci ini. terutama teks kitab suci. ilmu-ilmu sosial tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam.Konsep pengertian atau pemahaman (understanding) juga bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial. seorang filsuf ilmu-ilmu sosial yang hidup pada abad ke-19. Konsep pengertian sendiri memang sudah tertanam di dalam tradisi hermeneutika sejak lama. melainkan mengkalkulasi yang untuk mengeksploitasi dan memprediksi fenomena alamiah. Inilah yang kiranya menjadi argumen utama Wilhelm Dilthey. Di dalam proses memahami realitas sosial. Pengalaman hidup tersebut dapat dipahami melalui proses rekonstruksi ulang yang dilakukan peneliti melalui penelitiannya. setiap bentuk tindakan dan ekspresi seseorang selalu mencerminkan apa yang dihayatinya di dalam kehidupan. Di dalam tradisinya hermeneutika berfokus pada upaya untuk memahami teks-teks kuno. karena tujuan ilmu-ilmu alam bukanlah memami pengalaman hidup. Dalam arti ini orang yang mengerti bukan hanya ia memahami .

Seorang koki yang baik tidak hanya memahami konsep teoritis bumbu. orang harus peduli dan mampu memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu. Gadamer sangat terpengaruh pada filsafat Heidegger. terutama tentang fenomenologi adanya. Gadamer memfokuskan hermeneutikanya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. Artinya anda tidak hanya memahami pengetahuan teoritis tentang cara mengajar dan arti pengajaran itu sendiri. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya. tetapi juga memiliki ketrampilan praktis untuk menerapkannya. Hanya dengan memahami diri secara tepatlah manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. yakni proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. . Untuk menemukan arah yang tepat. tetapi mampu mengajar dengan baik.pengetahuan tertentu. Untuk memahami manusia menurutnya. tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sebuah masakan yang enak. Di dalam hidupnya manusia selalu mencari arah baru untuk dituju. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger. Untuk memahami sudah selalu mengandaikan mampu menerapkan. Misalnya anda adalah seorang guru yang baik. Di dalam proses merumuskan filsafatnya.

Untuk mengerti berarti juga untuk setuju. seperti yang dilakukan Plato di dalam filsafatnya. ketika orang mengerti. Memang pengertian itu tidak seratus persen berarti persetujuan. kalimat yang familiar dapa dijadikan contoh. “we understand each other”. Penerapan adalah soal tindakan nyata. Yang pertama bagi . Di dalam bahasa Inggris. namun ada hal-hal mendasar yang telah disetujui sebelumnya. ketika ia mulai secara intensif membaca tulisan-tulisan Aristoteles tentang kebijaksanaan praktis.Dapat juga dikatakan bahwa filsafat Gadamer lebih bersifat terapan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Grondin. ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. jika dibandingkan dengan filsafat Heidegger. Bertindak baik tidak sama dengan memahami hakekat dari yang baik.[2] Pengertian sebagai Kesepakatan Gadamer juga berpendapat bahwa pengertian selalu melibatkan persetujuan. Dalam konteks pengertian ini. dan juga bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. penerapan adalah sesuatu yang amat penting. Sifat praktis ini diperoleh Gadamer. Kata understand bisa berarti mengerti atau memahami. Kebijaksanaan praktis juga melibatkan pengertian tertentu.

Namun tetaplah harus diingat. Sache inheren berada di dalam setiap proses pembacaan ataupun proses dialog. Namun di dalam hermeneutika Gadamer. Pemahaman atau pengertian dasar (basic understanding) itu disebutnya sebagai sache. maksud asli pengarang hanyalah hal sekunder. untuk memahami berarti juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. tujuan utamanya adalah membangkitkan maksud asli pengarang. atau proses . Dalam arti ini proses sache tidak lagi berfokus untuk membangkitkan maksud asli dari penulis teks. Maksud asli pengarang tetap ada. Yang penting adalah apa yang menjadi tema utama pembicaraan. Ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant. Dan tema utama pembicaraan (subject matter) itu dapat terus berubah. pembaca dan penulis teks memiliki kesamaaan pengertian dasar (basic understanding) tentang makna dari teks tersebut.Gadamer. Di dalam hermeneutika tradisional. Misalnya saya membaca teks tulisan Immanuel Kant. atau subyek yang menjadi tema pembicaraan. bahwa fokus dari hermeneutika. melainkan berfokus pada tema yang menjadi perdebatan yang seringkali berbeda dengan maksud asli si penulis teks. Namun kita hanya dapat mengerti maksud tersebut. Di dalam proses pemahaman itu. jika kita memiliki beberapa pengertian dasar yang sama dengan pengarang.

Dalam arti ini untuk memahami berarti untuk merumuskan sesuatu dengan kata-kata. tetapi tidak bisa mengartikulasikannya secara jernih melalui bahasa.[3] Yang kedua menurut Gadamer. Maka perlulah ditegaskan bahwa bagi Gadamer. peran bahasa sangatlah penting. Di dalam proses ini. tindak memahami selalu melibatkan kemampuan untuk mengartikulasikannya di dalam kata-kata dan menyampaikannya di dalam komunikasi. setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog. Namun begitu bukankah tidak semua hal dapat disampaikan dengan kata-kata? Seringkali kita mengerti sesuatu. Saya . Bagi Gadamer elemen bahasa untuk mencapai pengertian ini sangatlah penting.menafsirkan. dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa. Bahkan ia berpendapat bahwa pengalaman penafsiran (hermeneutic experience) hanya dapat dicapai di dalam bahasa. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia (linguistic elements of understanding). adalah untuk membangkitkan makna tentang tema utama pembicaraan. ataupun dialog ketika kita membaca satu teks tulisan tertentu. menurut Gadamer. Saya juga bisa memahami keindahan dari suatu karya seni. dan tidak semata-mata hanya untuk menjelaskan maksud asli dari penulis teks. Misalnya saya mengerti sebuah simbol. baik dialog aktual fisik. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan.

Namun hal itu terjadi. Semua bentuk komunikasi itu bisa membuka ruang untuk penafsiran dari pendengar ataupun penerima pesan. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif. merupakan alat komunikasi yang universal untuk mencapai pemahaman. lalu bagaimana proses pengertian atau memahami bisa terjadi? Menurut Gadamer bahasa memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar kata-kata.juga bisa memahami keindahan suatu musik. Jika bahasa tidak lagi bermakna. dan pemusik. . Dalam beberapa kasus tarian dan bahkan diam juga bisa menjadi sebentuk bahasa yang menyampaikan pesan tertentu. Maka dari itu di dalam komunikasi. karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. sehingga tercipta kesalahpahaman. di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. namun bahasa. pematung. termasuk pelukis. Di dalam bukunya yang berjudul The Truth and Method. dalam arti luas. Tentu saja orang bisa salah tangkap. kita perlu memperhatikan juga apa yang tak terkatakan. karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis. tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. Gadamer berpendapat bahwa para seniman. Dengan demikian walaupun sifatnya terbatas. Tidak hanya itu seringkali perasaan dan bahkan kebenaran itu sendiri tidak dapat dikurung di dalam rumusan kata-kata.

hal itu mungkin. Oleh karena itu konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer sangatlah berbau fenomenologi. menurut Gadamer. Tentu saja dari sudut logika. hal ini tidak bisa diterima. seperti yang dilakukan Heidegger dan Gadamer. Maksud utama dari keseluruhan teks dapat dipahami dengan berpusat pada bagian-bagian teks tersebut. Namun jika dilihat secara fenomenologis.Konsep Lingkaran Hermeneutis[4] Gadamer juga dikenal dengan argumennya soal proses penafsiran. Seperti sudah sedikit disinggung. Pengertian dasar itu disebut Gadamer sebagai antisipasi. Hal yang sama dapat diterapkan untuk memahami suatu teks. Argumennya begini setiap bentuk penafsiran selalu mengandaikan pengertian dasar tertentu. orang perlu memiliki pemahaman. atau yang disebutnya sebagai lingkaran hermeneutis. setiap bentuk penafsiran untuk memperoleh pemahaman selalu melibatkan pemahaman dasar lainnya. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah sebuah logika klasik. bahwa orang bisa memahami keseluruhan dengan terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya. Artinya untuk memahami kita juga memerlukan pemahaman. Logika berpikir menolak sebuah penjelasan atas suatu konsep yang terlebih dahulu mengandaikan konsep tersebut. dan sebaliknya bagian-bagian teks itu dapat dipahami dengan . seperti untuk menafsirkan guna memahami sesuatu. Konsep lingkaran hermeneutis ini sangatlah dipengaruhi oleh filsafat Heidegger.

Tidak hanya itu proses untuk memahami keseluruhan melalui bagian. Dalam arti ini Gadamer memiliki perbedaan . Teks harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yang tentunya melibatkan teks-teks lainnya. Ini adalah salah satu kriteria untuk mendapatkan pemahaman yang tepat. Pemahaman adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari.memahami keseluruhan teks. Setiap bentuk pemahaman juga mengandaikan adanya kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya ingin dipahami. dan bukan sesuatu yang sudah ditemukan lalu setelah itu proses selesai.[5] Pengandaian hermeneutika Gadamer adalah. maka konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer tetap mengandung unsur logika yang tinggi. Tujuan utama Gadamer adalah untuk memahami teks di dalam kerangka berpikir yang lebih menyeluruh. bahwa keseluruhan (whole) dan bagian (parts) selalu koheren. Jika sudah begitu maka pemahaman yang tepat pun tidak akan pernah terjadi. si pembaca teks haruslah memahami koherensi antara makna keseluruhan dan makna bagian dari teks tersebut. menurut Gadamer. dan sebaliknya. maka proses penafsiran akan menjadi tidak fokus. Jika dilihat dengan kaca mata ini. Supaya dapat memperoleh pemahaman yang tepat. adalah proses yang berkelanjutan. dan bukan hanya terjebak pada apa yang tertulis atau terkatakan saja. Jika kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya sungguh dipahami ini tidak ada.

serta arti sebenarnya dari teks tersebut. Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme. fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. Sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literatur. Sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya. Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya. Juga bagi Heidegger proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta di dalam proses penafsiran tersebut. dan sebaliknya. Maksud utuh dari teks dapat dipahami dengan memahami bagianbagian dari teks tersebut. Artinya untuk memahami orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu. Sementara fokus dari hermeneutika . Bagi Heidegger fokus dari pengertian manusia adalah untuk memahami masa depan dari eksistensi manusia. Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan. Dan sebaliknya bagianbagian dari teks dapat dipahami dengan terlebih dahulu memahami maksud keseluruhan dari teks tersebut.mendasar dari Heidegger. Sementara bagi Gadamer konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan. Sementara bagi Gadamer fokus dari pengertian adalah upaya untuk memahami masa lalu dari teks.

baik kebenaran di level eksistensi manusia. yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal. Walaupun banyak memiliki perbedaan. maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks. Prasangka membuat orang melihat apa yang ingin mereka lihat. Namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik.Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya.[6] Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri. yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer. yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. namun keduanya tidaklah sama. yang biasanya negatif. Dengan demikian kita bisa memastikan. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi .

setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore. yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik.manusia dengan berdasarkan kehidupan itu sendiri. di sinilah didapati dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas yang menimbulkan . hermeneutik hingga pada akhirnya semantik. 1974:12) Bilamana ada pluralitas makna. Penjelasan struktural suatu teks cenderung bersifat obyektif. ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi (Ricoeur. memiliki prespektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial ke analisis eidetik (pengamatan yang sedemikian mendetil). Setiap interpreatsi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung. sedangkan penjelasan hermeneutik memberi kita kesan subyektif. Menurut Riceour. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalaha interpretasi terhadap interpretasi. 1983:192) Salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah ‘perjuangan melawan distansi kultural’. Riceour kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan ‘perhatian kepada teks’. 1985:43). Jika pembahasan interpretasi hanya terbatas pada simbol-simbol maka ini menjadi terlalu sempit. historis. Baginya manusia pada dasarnya adalah bahasa dan bahas itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. maka dibutuhkan sebuah interpretasi. demikian pula jika simbol-simbol mulai dilibatkan.*** Paul Ricoeur pada historisitas Ricoeur yang berlatar belakang pandangan Katholik. seperti yang dikutip dari Nietzsche. Tugas utama hermeneutik di satu pihak adalah mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam suatu teks. Definisi pasti tentang hermeneutik menurut Ricoeur adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur. fenomenologis. Teks sebagai penghubung bahasa isyarata dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. dan di lain pihak mencari daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri keluar.

tema pertama adalah tidak ada titik nol saat kritik tuntas dapat mulai dilakukan. . Menurut Ricoeur ada tiga langkah pemahaman.” Setiap interpretasi merupakan usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Kata-kata sebagai sebuah simbol memiliki makna dan intensi tertentu. yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Adanya simbol. mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang asli. maka di situ interpretasi dibutuhkan. Ada empat tema yang diketengahkan oleh Ricoeur. Maka. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya. Jadi. yaitu untuk memahami sebauh percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Percikan Gagasan Paul Ricoeur tentang Hermeneutik 1. Tema keempat adalah perpaduan antarcakrawala. maka tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita. terutama pada interpretasi. sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol. tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol (katakata) dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. Salah satu simbol adalah bahasa. Latar Belakang Pemikiran Paul Ricoeur tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan Katolik. Tema kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja. langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna. situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks. Ada dugaan bahwa keseluruhan filsafatnya pada akhirnya terarah kepada hermeneutik. Di sini batasan pembahasannya terletak pada usaha menafsirkan bahasa tulisan yang tertuang dalam kata-kata. Dia juga menegaskan bahwa “filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Pemahaman yang pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie. Tema ketiga adalah jika tidak ada pandangan ang menyeluruh. langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Bagi dia sebenarnya keseluruhan filsafat merupakan interpretasi terhadap interpretasi.problem. yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ sangat tajam. Hermeneutik dan interpretasi tidak pernah lepas dari simbol-simbol. Langkah pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Bilamana terdapat pluralitas makna. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis.

sebab kedua-duanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. penyair. Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain. agar bisa sampai kepada penafsiran yang tepat. namun konteks pun bermacam-macam menurut zamannya. sebuah teks harus kita tafsirkan dalam bahasa yang tidak pernah tanpa pengandaian dan diwarnai dengan situasi kita sendiri dalam kerangka waktu yang khusus. ekologist. Lebih jauh lagi. Kita bisa tersesat dengan memberi makna (bisa lain sama sekali) kepada obyek dan bukannya memetik makna yang sudah ada dalam obyek tersebut. kiranya terlalu sempit. sebuah kata adalah juga sebuah simbol. Kata dan Makna Telah kita lihat bersama bahwa. Bahkan meskipun benar juga bahwa makna dapat diturunkan dari konteks yang terdapat dalam sebuah kalimat. Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensionaldan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya. yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks. Ricoeur memperluas definisi tersebut dengan ajakan memberi “perhatian kepada teks”. Kalau sampai pewarnaan itu terjadi maka ada kemungkinan usaha untuk mencapai makna yang sejati akan menemui kendala. istilahistilah memiliki makna ganda. orang yang berbicara membentuk pola-pola makna secara tidak sadar dalam kata-kata yang dikeluarkannya. tradisi ataupun aliran yang hidup dari bermacam-macam gagasan. Ia menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik ialah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”nya teks itu muncul ke permukaan. Pola-pola makna ini secara luas memberikan gambaran tentang konteks hidup dan sejarah orang tersebut. Dalam hal ini kita sebaiknya mengikuti definisi yang diajukan oleh Ricoeur tentang hermeneutik. Inilah yang disebut oleh Ricoeur sebagai “perjuangan melawan distansi kultural”. Ruang Lingkup Hermeneutik Bila hermeneutik didefinisikan sebagai interpretasi terhadap simbol-simbol. Sebuah kata mengandung konotasi yang berbeda bergantung pada konteks pemakainya. Bagaimana dilema ini kita . Dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat. Walaupun demikian. Karena itu. maka seorang penafsir harus mengambil jarak tertentu dengan obyek tafsiran. Acapkali seorang penafsir membawa juga struktur-struktur yang sudah “jadi” tentang obyek tafsir sehingga sebelum menafsir sudah ada “warna” yang diberikan kepada obyek tersebut. Usaha ini tidak mudah. Setiap kali kita membaca sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat. Menurut Ricoeur. 3.kekayaan sebuah simbol justru ditemukan dalam maknanya yang sejati sehingga tidak menimbulkan multi-tafsir. petani dan sebagainya. misalnya kata “pohon” akan mempunyai makna yang bermacam-macam bergantung pada pembicaranya: apakah ia seorang penebang kayu. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. 2.

Maka.pecahkan? Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi” (= proses ‘pembebasan’ diri dari konteks). Tugas hermeneutik menjadi sangat berat sebab hermeneut harus membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri. Pertanyaan kita sekarang adalah adakah interpretasi itu mempunyai titik akhir? Menurut Ricoeur. di mana pembacaannya selalu berbeda-beda. Latar belakang Ricoeur sebagai penganut katolik yang setia menjadi cerminan bagi kami dalam mempelajari dan mendalami isi teks kitab suci. maka yang dimaksudkan dengan “dekontekstualisasi” adalah bahwa materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. Jika kita mendapat titik akhir sebuah interpretasi. misalnya tentang pengarang dengan situasi dan konteks kebudayaan dan orang-orang sezamannya beserta tujuan dan kepada . untuk dapat berhasil dalam usahanya. ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing. tetapi mendalami aspek-aspek di balik teks yang kelihatan. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ itu tajam. harus dapat mengatasi situasi dikotomis. Atas dasar otonomi ini. baik dari sudut sosiologis maupun psikologis. yang isinya dapat dinikmati oleh setiap generasi. yaitu untuk memahami sebuah percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Jika Injil tidak dapat diterapkan pada zaman kita ini. Refleksi Berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Ricoeur kami menemukan faedah hermeneutik dalam kehidupan sehari-hari. Interpretasi selalu bersifat terbuka. Kitab Suci Injil menyajikan contohcontoh teks yang berasal dari zaman yang berbeda dengan zaman kita. melainkan ia merelakan dirinya “dirasuki” Injil. Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas. serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. ini berarti “pemerkosaan” terhadap interpretasi. Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Ricoeur dengan pernyataannya: “Memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks. melainkan membuka diri terhadapnya”. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. namun masih juga kita rasakan relevan atau dapat kita terapkan pada semua hikayat dan persitiwa pada masa mendatang. Bahwa “perhatian kepada sebuah teks” tidak semata-mata terletak pada pemahaman hurufiah. Ia membantu dalam menggali makna otentik dari sebuah teks. maka tidak mungkin kita sampai saat ini masih mendiskusikannya. 4. situasi kultural dan kondisi pengadaan teks. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. Injil seringkali kita bayangkan sebagai sebuah “kitab yang hidup”. Sebagai contoh. Pembaca Injil tidak “membaca ke dalam” teks. inilah yang dimaksudkan dengan “rekontekstualisasi”. khususnya bagi kita yang setiap harinya berhadapan dengan teks-teks kitab suci. Tidak. serta untuk melakukan “rekontekstualisasi” (= proses masuk kembali ke dalam konteks) secara berbeda didalam tindakan membaca.

Adalah menarik menyimak bagaimana Nasr Hamid memandang teks al-Quran. tetapi masih terus berlanjut hingga pengadilan banding Kairo menetapkan Nasr harus menceraikan istrinya. di Netherland Nasr menjadi profesor tamu studi Islam pada Universitas Leiden sejak 26 Juli 1995. al-Haqiqah: a/-Fikr al-Diniy bayna lrdaat al Ma’rifah wa lradat alHaymanah (Cairo. Pemikir ini sangat terkenal di dunia dan di Indonesia.Tafkir: Didda al-. sebagaimana dia paparkan dalam berbagai bukunya. 1995) AI. Pendahuluan Mengkaji aplikasi hermeneutika dalam tradisi Islam tidak terlepas dari tokoh Nars Hamid Abu Zayd. dikenal dengan peristiwa “Qadiyyah Nasr Hamid Abu Zayd”. Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬dan Posisinya dalam Hermeneutika Barat. yaitu: 1. 3.siapa tulisan itu hendak diberikan. Mesir pada 10 Juli 1943. Semenjak peristiwa itu. 1995) Naqd al-Khitab al-Diniy (Cairo. Menurutnya. dia meninggalkan Mesir dan menetap di Netherlands bersama istrinya. 1999 ) AI-Nass. maka benar bahwa tugas penafsiran itu tidak akan pernah berakhir. baik berbentuk buku. Ia menulis lebih dari dua puluh sembilan (29) karya sejak tahun 1964 sampai 1999. hingga 27 Desember 2000 dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap di Universitas tersebut. Setiap orang dari generasi ke generasi dengan situasi zamannya. 2000) Dawair al-Kawf Qira’ah fi al-Khitah al-Mar’ah (Dar el-Beidah. Pada tahun 1992. mempersempit bacaan Alquran yang beragam menjadi satu versi. Dia bekerja sebagai dosen di Universitas yang sama sejak 1982. The al.Tafkir fi Zaman al. dia dipromosikan sebagai profesor. 2. Awalnya. Al-Khitab wa al-Ta’wil (Dar el-Beida. akan terus menggali intensi dari teks yang satu dan sama dengan maknanya yang tetap otentik. 4. Ada sembilan karyanya yang penting dan sudah dipublikasikan.lahl wa al-Zayf wa al Khurafah (Cairo. Utsman Ibn ‘Affan. Berakhirnya sebuah penafsiran justru terjadi jika orang tidak lagi mau berpikir. di mana ia mengkritisi metode tafsir Ahlu Sunnah yang menurutnya tidak sesuai dengan konteks kekinian. terutama Uthman Ibn ‘Affan. itu berarti ia menyangkal hakekatnya sebagai “homo rationes”. 6. gelar MA pada tahun 1977 dan PhD pada 1981 dengan konsentrasi Islamic Studies di Universitas Kairo. Tindakan ini menurutnya sebagai upaya melanggengkan hegemoni kaum Quraysh terhadap kaum muslimin. Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. 5. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. 1994) . Dia menyelesaikan gelar BA pada 1972 konsentrasi Arabic Studies. diantaranya menghujat para sahabat. Buku-bukunya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Biografi Nasr Hamid Abu Zayd lahir di Tantra. 2000). Dan bila orang tidak lagi mau berpikir. Lebih jauh ia mengingatkan kita untuk menangkap pesan atau relevansinya dengan konteks kehidupan kita sendiri. terutama dalam Mafhum an-Nas Dirasah fii Uluum al-Quran dan Naqdu al-Khitab ad-Dini. Tulisan ini akan coba menguraikan biorafi Nasr Hamid Abu Zayd.Qur’an: God and Man in Communication (Lcidcn. al-Sultah. dan Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd.[2] Nasr Hamid Abu Zayd merupakan ilmuwan muslim yang sangat produktif. Konsep Nasr Hamid ini membawa dampak pada metode penafsiran teks al-Quran. Ricoeur mengajak kita untuk tidak berhenti pada penemuan makna yang otentik dari sebuah teks. tetapi ditolak karena hasil kerja dan pemikirannya yang kontroversial.[1] Belakangan ia divonis “murtad”. maupun artikel. Selain itu. Quraysh. “Pemurtadan” Nasr tidak berhenti sampai di situ. juga menjadi rujukan para akademisi. Dengan proses penafsiran seperti ini.

[3] Pemikiran Nasr yang kontroversial tersebut sebagai produk latar belakang pendidikan dan pemikiran keagamaannya. Tradisi Arab-Islam nampak memiliki “tradisi teks” yang cukup kuat ketimbang peradaban yang lain. Kendati demikian. bahkan ia pernah bekerja sebagai teknisi elektronik di Organisasi Komunikasi Nasional. yaitu peradaban Mesir Kuno yang disebut “peradaban (yang muncul) pasca kematiannya” (hadlârah mâ ba’da al-maut ). tetapi ia telah hafal Al quran sejak usia 8 tahun.7. 1982) Nasr Hamid Abu Zayd hidup dalam hegemoni wacana agama Islam yang ”terisolasi” dari dunia ilmu pengetahuan Barat. kritisisme. Tuduhan-tuduhan tersebut muncul sebagai reaksi terhadap tulisan-tulisan Nasr tentang interpretasi Alquran. Selain itu. baik S-2 maupun S-3 mengambil konsentrasi bahasa Arab dan Islamic Studies. karena studi pascasarjananya. 8. Meskipun Nasr sekolah di sekolah Teknik. sedangkan peradaban Arab-Islam dikategorikan sebagai “peradaban teks” ( hadlârah an-nash). Menurut Nasr Hamid Abu Zayd. 1994) Fa/safat a/-Ta’wi!: Dirasah fi a/-Ta’wi! al-Qur ‘an ‘ind Muhyi a/-Din Ibn ‘Arabiy(Beirut. ini tidak berarti bahwa teks itu sendiri yang menumbuh-kembangkan . sejak usia 11 tahun. banyak difokuskan kepada pembacaan teks-teks tersebut. 9. hal ini dilatarbelakangi suatu asumsi bahwa peradaban dunia dapat diandaikan kepada tiga kategori. Kemudian ia melanjutkan studi di bidang yang sama di Universitas Amerika di Mesir. Ikhwan al-Muslim adalah organisasi Islam yang beranggotakan Islamis moderat. Perhatiannya yang sangat besar di bidang interpretasi (tafsir) Alquran rnendorongnya untuk bereksplorasi dengan filsafat Barat. Mafhum al-Nash: Dirasah fi ‘Ulum Alquran (1994) (Cairo. kebudayaan dan peradaban. Sementara itu mengapa Nasr tertarik untuk menafsirkan Alquran dengan menggunakan teori kritik sastra? Hal ini dapat dimengerti karena Nasr mendapat gelar SA di bidang bahasa dan sastra Arab pada fakultas sastra Universitas Kairo. Bergabungnya Nasr dalam organisasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap cara pandangnya terhadap Islam. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd : Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬Serta Posisinya dalam Hermeneutika Barat Kehadiran teks dalam tradisi keagamaan telah membawa pengaruh dan implikasi yang cukup besar bagi perkembangan intelektual. Fenomenologi dan hermeneutika. peradaban Yunani disebut “peradaban akal” (hadlârah al-‘aql) . Hasil eksplorasinya memunculkan beragam tudingan miring. seperti rasionalisme. 1993) AI-lttijah al-’Aqli fi al-Tafsir: Dirasah Qaqiyyat al-Majaz fi al -Qur ‘an (Beirut. ia juga bergabung dengan Ikhwan al-Muslimin.[4] Peradaban Arab-Islam disebut peradaban teks dalam pengertian sebagai peradaban yang menegakkan asas-asas epistemologi dan tradisinya atas suatu sikap yang tidak mungkin mengabaikan peranan teks di dalamnya. Selanjutnya ia juga concern melakukan kajian terhadap wacana keagamaan. Barangkali ini yang menjadi penyebab mengapa ia memiliki perhatian yang cukup besar terbadap interpretasi Alquran. Perhatian yang diberikan oleh para pengkaji Islam dalam menelaah tradisi Arab-Islam dari dulu sampai dewasa ini.

Hal ini didasarkan pada . Abû Zayd banyak memanfaatkan pendekatan linguistik melalui kritik sastra. Sementara ideologisasi dihasilkan dari kecenderungan subjektif-oportunistik (an-naz’ah aí-íâtiyah an-naf’iyah) dan telah menggugurkan sudut objektif teks dan historisitas teks. politik dan budaya pada satu sisi.[10] Makna (dalalah) ada dalam karya itu sendiri. sedangkan teori penafsiran bertujuan untuk mencari makna teks sastra itu. fiqih. Hirsch berpendapat bahwa signifikansi sebuah teks sastra terkadang berbeda-beda atau beragam. ‫و هذا معنى ان القرأة الحقة، والنشاط المعرفى الحق عموما، تقوم على الجدليلة خصلبة خلقلة بيلن اللذات والموضلوع. و هلذه العلقلة تنتلج التأويلل عللى‬ 6]. ekonomi.peradaban atau meletakkan asas-asas kebudayaan dalam sejarah masyarakat Muslim. begitu pula teks-teks liturgis keagamaan yang lain seperti Alquran. tasawuf dan falsafah telah berperan sebagai instrumen yang melengkapi lahirnya kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab-Islam. Hubungan ini menghasilkan interpretasi baik pada level pengkajian teks maupun terhadap fenomena. Hirsch.[9] Menurut Ahmad Hasan Ridwan. Yang tetap adalah makna. dia berpendapat adanya dua tujuan yang terpisah yang masing-masing terkait dengan dua bidang yang berbeda. dan bentuk kritik terhadap kecenderungan positivistik-formalistik (an-naz’ah al-wad’iyah asy-syakliyah) yang menyembunyikan orientasi-orientasi ideologis di bawah jargon “objektif ilmiah” (‫. Hirsch berpendapat bahwa pengabaian terhadap pengarang timbul dari konsep (imagination) yang menyatakan bahwa makna karya sastra akan berbeda dari satu kritikus ke kritikus yang lain. Nasr Hamid Abû Zayd menawarkan hermeneutika modern sebagai respons terhadap tradisi penafsiran teks klasik yang mengabaikan eksistensi penafsir. bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya. syarah hadis. Konsep parole dan langue dalam kategori semiotika diterapkan untuk membahas al-Qur’ân sebagai parole dan teks sebagai langue. kitab tafsir. maka sebenarnya yang dimaksud yang berubah adalah magzâ. untuk mengatasai problem yang dilematis ini. dan proses dialog kreatif manusia yang terjalin dengan teks ( wa hiwâruhu ma’a an-nash) pada sisi yang lain. tetapi maknanya tetap satu. karena karakter bahasa kitab suci dan historisitasnya dikaji melalui pendekatan linguistik yang dikonsepsikan oleh Ferdinand de Saussure dan pendekatan makna yang dibahas oleh Hirsch. sedangkan yang berubah-rubah adalah magzâ (signifikansi). Sedangkan signifikansi (magzâ) berdasarkan keberagaman jenis relasi yang ada antara teks dengan pembaca. Hirsch membuat pembedaan atau pemisahan antara apa yang disebut makna (meaning) dan apa yang disebut magzâ (signifikansi). maka data-data teks tidak berposisi sebagai penerima pasif terhadap orientasi-orientasi subjek yang mengetahui. bahkan menurut pengarangnya sendiri makna itu akan berbeda dari satu periode ke periode yang lain. Ketika makna teks dapat berubah sesuai dengan pengarangnya. hadis. Bidang dan tujuan kritik sastra adalah mencari signifikansi teks sastra yang sesuai dengan satu masa tertentu. Dalam hal ini.D.[8] Hirsch menjelaskan keberadaan pengarang di hadapan berbagai pendapat yang mengabaikannya. didasarkan pada dialektika (‫)جدلية‬ kreatif antara subjek dan objek. dari satu masa ke masa yang lain.” Hermeneutika objektif-historis merupakan bentuk kritik terhadap pembacaan tendensius (talwîn).)الموضوعية العلمية‬ Hermeneutika objektif-historis Abû Zayd adalah gagasan kritis berdasarkan argumentasi sebagai berikut. Apabila horison pembaca membatasi sudut pandangnya.[7] Teori interpretasi Abû Zayd dipengaruhi oleh hermeneutika E. Sesungguhnya faktor utama yang melandasi dan menjadi asas epistemologi dari suatu kebudayaan adalah proses dialektika antara manusia dengan realitasnya (jadal al-insân ma’a al-wâqi’i) yang meliputi aspek sosial. Teori penafsiran Nasr Hamid Abû Zayd bersifat objektif-historis dari teks.‫]مستوى درس النصوص والظواهرعلى السواء‬ “Hal ini berarti bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya didasarkan pada dialektika yang produktif dan kreatif antara subjek dan objek. yaitu bahwa proses penafsiran dan kegiatan pengetahuan secara umum selalu ditujukan untuk mengungkapkan berbagai kenyataan yang memiliki keberadaan objektif di luar horison subjek pembacaan. Hermeneutika berhubungan dengan problem penafsiran dan problem ini terfokus pada relasi antara teks dan penafsir. yang dapat dicapai melalui analisa teks. Hal ini berarti.[5] Realitas sebagai sebuah “teks” seperti konteks kesejarahan manusia.

bahwa kelihatannya pemikiran hermeneutika Nasir Hamid Abu Zayd cenderung pada sintesa dari model keterpusatan kepada teks (text centered) dan keterpusatan pada penafsir (reader centered). Karakter dan corak suatu teks akan senantiasa menggambarkan dan merefleksikan struktur budaya ( bunyah as-saqâfah) dan alam pikiran ( state of mind) di mana ruang dan waktu teks tersebut dibentuk. sedangkan teks itu sendiri tidak berbicara.[17] Ketika proses interaksi kebahasaan berlangsung. yakni “pembacaan” (qirâ’at). Sehingga otoritas itu dapat dikatakan sebagai produk dari proses dialektika. Pembedaan antara makna dan signifikansi terdiri dari dua konsep. dengan pengaruh teks-teks syair bangsa Arab. dan dia istilahkan dengan kematian pengarang (maut almuallif). dengan segala aspek sosial dan latar belakang historisnya. sebuah ungkapan tulisan atau teks terdiri atas pengarang. Akal pikiran manusialah yang melahirkan makna dan berbicara atas nama teks. Salah satu karakteristik tipikal dari pengaruh sosio-kultural terhadap karakteristik Alquran bahwasanya dalam proses pembentukan teks. atau apa yang ingin diekspresikannya. Karenanya. yang harus diperhatikan dalam teks adalah makna teks. Lahirnya makna tidaklah berasal dari teks itu semata-mata. Sedangkan si penerima memiliki kemungkinan dengan sistem/logika bahasanya untuk membentuk “kerangka interpretatif” ( al-ithâr at-tafsîr î) tersendiri terhadap pesan yang disampaikan si penutur. Baik Betti maupun Hirsch berpendapat bahwa filologi adalah metode yang paling ideal untuk menafsirkan teks. sebagaimana Scheleirmacher memfokuskannya pada usaha memahami teks.keyakinan bahwa pengarang mentransformasikan dirinya kepada pembaca sehingga merubah hubungan pengarang dengan teks. makna memiliki watak historis.[14] Dengan demikian. Tentunya ini dapat juga terjadi ketika melakukan interpretasi terhadap teks Alquran. pemikiran dan ideologi. dalam menafsirkan teks. atau apa yang dimaksudkannya. Pertama. bukan apa yang dikehendaki pengarang.[13] Penjelasan di atas menggambarkan. Ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan antara “sistem/logika bahasa” dengan “sistem/logika teks” yang keduanya itu dibatasi oleh pesan dari ideologi si penutur. antara penutur dan penerima harus terdapat kerangka yang sama sebagaimana disebut di muka. menurut Nasir Hamid Abu Zayd sebagaimana juga pendapat Hirsch. yaitu bahwa . ideologi si penerima masuk untuk memberikan penilaian. “menafsirkan”.[16] Berikutnya.[12] Menurut Ahmad Hasan Ridwan. tugas hermeneutika tidak hanya menentukan prinsip-prinsip penafsiran umum. Hirsch sependapat dengan Betti mengenai pentingnya fokus hermeneutika pada bidang kajiannya tentang makna teks agar sampai kepada tafsir objektif. Fenomena ini kemudian melahirkan istilah baru dalam tradisi penafsiran. Nasir Hamid Abu Zayd bersifat dekonstruktif dengan menempatkan teks terpisah dari pengarangNya. misalnya. peran pemaknaan secara mutlak diserahkan pada pembaca teks (reader centered). Sebab proses komunikasi dalam bingkai bahasa adalah menyampaikan pesan dalam bentuk teks. Pada tataran inilah kemudian terjadinya reduksi atau bahkan kemungkinan distorsi terhadap pesan. [19] Dalam pendekatan modern. akan tetapi melalui proses dialektika antara teks dengan manusia sebagai objek teks. Alquran tidak bisa keluar dari kerangka kebudayaan bangsa Arab saat itu. baik oleh penutur maupun penerima.[20] Ia mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi pembaca tentang apa itu “membaca”. Betti hendak mengembalikan hermeneutika pada keadaan alaminya. Penafsir tidak memaksakan pendapatnya masuk ke dalam teks.[11] Makna yang dikehendaki pengarang berbeda dengan makna yang tersimpan dalam teks. dalam hal ini. seperti juga yang terjadi dari relasi antara teks dengan kebudayaan sebagai relasi dialektis yang saling menguatkan. Karenanya menurut Nasr Hamid Abu Zayd.[15] atau the death of authoroleh Derrida. Melalui “sistem/logika teks”. tetapi juga mengungkapkan cita-cita yang sesuai bagi penafsiran.[22] Selain itu. Nasr Hamid Abu Zayd dengan meminjam teori hermeneutika Barat E.[23] juga memperkenalkan teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) dalam upaya memahami teks.D.[18] Ia menawarkan dan memperkenalkan pendekatan modern dalam memahami teks. atau “memahami teks”. teks dan pembaca.. Hirsch Jr.[21]untuk menandai proses penemuan “makna”. Akan tetapi dalam realitas pragmatisnya hal itu sulit terjadi. bahasa menjadi dasar sebagai sumber peafsiran dan penta`wilan. dan satu sama lain mengkombinasikan dirinya pada saat memunculkan wacana.

Pertama. Teks muncul di masa lalu (past time). . sebagai suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ) untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) ketika teks itu muncul di masa lalu. dalâlah yang merupakan saksi sejarah yang tak dapat dicarikan ta’wîl dan magzâ-nya. Hermeneutika Abû Zayd menurut Ahmad Hasan Ridwan. antara masa lalu dan masa kini. seperti ayat-ayat kewarisan untuk wanita. Proses ini tidak boleh berhenti pada makna dalam pengertian historis partikularnya. Kedua. Signifikansi mencerminkan tujuan dan sasaran dari tindakan pembacaan. suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) dengan cara penelusuran intelektual ke masa lalu (past time) untuk memasuki ruang-ruang historis. Level pertama adalah level makna yang hanya merupakan buktibukti historis yang tidak dapat diinterpretasi secara metaforis atau lainnya. dalâlah yang dapat dita’wilkan dengan majâz. teks dapat terus berkembang. hasud. Ketiga. maka tujuan tersebut dapat dicapai hanya melalui penyingkapan makna.” Pembedaan antara makna dan sigifikansi di dalam menginterpretasi teks bagaikan dua sisi mata uang. Gerak dialektis ini menghasilkan pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. jin dan setan.[24] Selanjutnya beliau membedakan tiga tingkatan dalâlah. dalâlah yang dapat diperluas dengan pencarian magzâ. sementara signifikansi bersifat dinamis seiring dengan horison pembacaan yang terus berubah. Nilai baru yang dimaksud adalah fusi horison untuk future yang hasilnya digunakan untuk membangun kembali magzâ secara terus menerus. masalah yang berkaitan dengan ayat-ayat perbudakan. sementara signifikansi memiliki watak kekinian. sebagaimana Abû Zayd menjelaskan : ‫ثلثة مستويات للدللة فى النصوص الدينية : المستوى الول مستوى الدللت التى ليست ال شواهد تاريخية ل تقبل التأويل لمجلازى أو غيلره، والمسلتوى‬ ‫الثانى مستوى الدللت القابلة للتأويل المجازى، المستوى الثالث مستوى الدللت القابلة للتساع علللى أسللاس “المغللزى” الللذى يمكللن اكتسللافه مللن السللياق‬ 25]. sebagaimana signifikansi mengarah pada dimensi makna. tetapi proses ini harus menyingkapkan signifikansimagzâ yang memungkinkan untuk membangun pondasi kesadaran ilmiah atas dasar signifikansi tersebut. yaitu bahwa ia merupakan hasil pembacaan yang berbeda dengan masa terbentuknya teks.[26] bermula dari proses pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. hubungan muslim dan non muslim (ahl al-kitab). dan antara teks dan pembacanya. dan hasil temuan ini digunakan untuk membangun kembali magzâ dan begitu proses selanjutnya. dan kembali ke masa kini (present time) untuk mendapatkan makna baru yang hidup (produktif). Dari magzâ ini. level kedua adalah level makna yang dapat diinterpretasi secara metaforis. makna secara relatif memiliki watak yang stabil dan mapan. seperti ayat-ayat kehambaan (‘ibâdiyah) bukan penghambaan (‘ubûdiyah). sihir. Hal itu berlangsung karena signifikansi tidak terlepas dari sentuhan makna. Kedua. dan level ketiga adalah level makna yang dapat diperluas atas dasar “signifikansi” yang dapat disingkapkan dari konteks kultur-sosial di mana teks-teks tersebut bergerak. dan melalui produktivitas makna dari teks-teks tersebut.‫]الثقافىالجتماعى الذى تتحرك فيه النصوص، ومن حلله تعيد انتاج دللتها‬ “tiga level makna dalam teks-teks agama.[27] Teori ta’wîl yang ditawarkan Abû Zayd merupakan proses gerak dialektis (gerak bandul) antara makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ).[28] Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Jika aplikasi teori hermeneutika Syahrûr dikenal dengan istilah intertekstualitas dengan teknik sintagmatis-paradigmatis untuk menangkap pesan yang terkandung dalam teks al-Qur’ân.ia tidak mungkin diungkapkan tanpa pemahaman yang memadai terhadap konteks internal linguistik teks dan konteks sosial-budayanya.

dan tafsir – ta’wil di sisi lain sehingga tidak tepat digunakan untuk mengkaji Alquran. Poligami dalam wacana Alquran mempunyai level makna ketiga. Ketidaksesuaian ini dapat dilihat dari beberapa unsur berikut. Pertama. pembacaan subjektif dan pemahaman yang hanya mendasarkan pada relativitas sejarah. otoritas dan keaslian teks. serta dari sisi kebakuan bahasa dan makna dalam memaknai kitab suci. No.[35] mengemukakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara hermeneutika di satu sisi. Abu Zayd berargumentasi sebagai berikut: 1. Dalam masalah poligami. memisahkan makna antara yang “normatif” dan yang “historis” di satu sisi dan menempatkan kebenaran (truth) secara kondisional menurut budaya tertentu dan suasana historis di sisi lain. karena memang pada awalnya hermeneutika ditujukan untuk menjembatani kewibawaan dan keaslian teks Bibel yang bermasalah. hermeneutika secara jelas menyamarkan kedudukan teks-teks suci agama. sehingga ia menggunakan metode dekonstruksi dan analisa arkeologis.[30]Kemudian Hermeneutika Arkoun berusaha untuk memilah dan menunjukkan mana teks pertama atau teks pembentuk dan mana teks hermeneutika. menyebabkan kosa kata dalam teks kitab suci selalu permisif untuk disusupi berbagai dugaan (guess/conjecture).[29] dan Fazlur Rahman dikenal dengan teori double movement. akan . Perbedaan tersebut terutama dalam sifat alamiahnya.[32] Maka aplikasi teori Nasr Hamid Abu Zayd berangkat dari teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) sebagaimana dikemukakan sebelumnya dan contoh cara kerjanya sebagai berikut. di mana pemahamannya haruslah melampaui makna historisnya dengan menguak signifikansi masa kininya dan mampu menguak dimensi yang tak terkatakan dari suatu pesan. Kesadaran akan historisitas teks keagamaan adalah teks linguistik dan bahasa sebagai produk sosial dan kultural. Dengan melakukan ini. Abu Zayd berharap bahwa “yang tak terkatakan” atau yang implisit dapat diungkapkan.[31] dan kelihatannya dipengaruhi teori hermeneutika post-strukturalis Michel Foucault. penentuan kontekstual terhadap makna dengan mengesampingkan kemapanan bahasa dan susunan makna dalam bahasa (semantic structures). Ketiga. Poligami dibolehkan dalam Alquran pada hakikatnya adalah sebuah pembatasan dari poligami yang tak terbatas yang telah dipraktikan sebelum datangnya Islam. meletakkan teks dalam konteks Alquran secara keseluruhan terhadap konsep adil. Adnin Armas misalnya. Kedua. Poligami Makna /Dilalah Praktik Islam Sikap poligami pra-membatasi dalam islam :poligami poligami poligami tidakempat istritidak terbatas secara adil mungkin: monogami ditekankan Signifikansi/maghza Yang tak terkatakan adilTujuan akhir legislasiPoligami Islam: monogami dilarang Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Pendekatan hermeneutika yang dikembangkan kalangan modernis semisal Nasr Hamid Abu Zayd yang merupakan upaya untuk mengembangkan pendekatan dalam memahami Alquran banyak ditentang di kalangan umat Islam. 2.[33] Gambar :[34] 3.

membubarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Pertama. diaplikasikan dalam kehidupan dan disampaikan kepada umatnya. Paham relativisme akan mengatakan bahwa yang ma’ruf menurut sebagian orang. [37] konsep Alquran yang diuraikan Nasr Hamid Abu Zayd di atas bukan hanya bertentangan dengan pengertian Alquran yang dikenal oleh umat. Kelima. Pendekatan kesadaran historis-ilmiah menurut Nasr Abu Zayd cenderung kepada apa yang dihasilkan oleh pembaca teks yang memiliki perangkat ilmiah kekinian untuk menjadi ‘hakim’ dalam mewarnai interpretasi teks keagamaan. maka dengan sendirinya akan ditolak oleh pendekatan kesadaran historis-ilmiah dalam memahami teks-teks keagamaan. sehingga tidak menyisakan ruang keraguan. bisa jadi munkar bagi sebagian lainnya. Sebab dengan corak pemahaman ala Abu Zayd bahwa kemutlakan Alquran dan sakralitasnya telah sirna dan menjadi teks manusia ketika masuk dalam pemahaman Nabi. Keempat. Sehingga saat kebenaran itu sampai pada manusia. membatalkan konsep dakwah dalam Islam. tapi sudah menjadi pemilik para pembacanya. terjaga dalam mushaf. hingga akhirnya menjadi kabur dan samar. teks bukan lagi milik pengarangnya. menolak otoritas keilmuan. baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak. syarat dan kaidah dalam menafsirkan alQuran. sebab manusia tidak pernah tahu apa maksud Tuhan dalam al-Quran. Sebab definisi ilmu dalam Islam adalah sifat yang dapat menyingkap suatu objek. Pemikiran seperti ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah berniat menurunkan alQuran untuk manusia. Sementara relativisme selalu bermuara pada kebingungan. Andaian nisbinya tafsir secara mutlak. Sebab ayat tersebut akan dipertanyakan lagi. Oleh karena pertimbangan yang diambil pemikiran keagamaan lebih berorientasi pada Pencipta Teks (Allah). tentu sulit diterima akal yang jernih. Maka akibatnya umat Islam tidak wajib melaksanakan perintah ayat dakwah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu…” (QS.kebenaran al-Quran hanya dimiliki Tuhan saja. Al-Nahl: 125). Sebab paham relativisme akan menisbikan batasan antara yang ma’ruf dan yang munkar. jalan Tuhan yang mana? Kalau Islam. klaim adanya dikhotomi antara yang mutlak dan yang nisbi. sebab setiap orang berhak menafsiri al-Quran dengan kualitas yang sama nisbinya. Selain itu. Padahal Nabi SAW telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi hal-hal yang bersifat syubhat (samar). Islam yang mana? Islam Muhammadiyyah. Membacanya adalah ibadah. sebenarnya telah menolak sumber ketuhanan (the divine source) . ia menjadi kabur. Maka bagi Nasr Hamid Abu Zayd. kemudian disampaikan kepada para Sahabat dan diwariskan dari generasi ke generasi secara mutawatir (recurrence) tanpa keraguan sedikitpun. maka harus tunduk pada peraturan sejarah. sejatinya telah menimbulkan konsekwensi yang rumit untuk diterima akal sehat. karena semua perintah dan larangan dalam al-Quran bersifat nisbi yang tidak harus dilaksanakan. Karenanya menurut Hendri Sholahudin. Adanya perbedaan dalam penafsiran al-Quran. namun telah membubarkan konsep wahyu dalam Islam. [36] Penggunaan hermeneutika yang menghasilkan asumsi historisitas Alquran dengan dalih bahwa perbuatan Tuhan bila telah teraktualisasi dalam sejarah. Bahkan semua penafsiran dipengaruhi oleh kepentingan penafsir dan situasi psiko-sosialnya. Ketujuh. yang tidak memihak pada supremasi data empiris. Sedangkan dalam dataran epistemologis (epistemic level). di dalamnya terkandung berbagai mukjizat. Apakah dengan demikian Tuhan tunduk mengikuti kaedah peraturan alam yang diciptakan-Nya sendiri? Apakah kemudian wahyu dapat “diseret” untuk mengikuti kemauan realitas sejarah yang berkembang? Karenanya menurut Adian Husaini. Semua umat Islam sepakat bahwa pengertian Alquran adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara lafzhan wa ma’nan (lafazh dan maknanya) dengan perantara Jibril AS. antara Alquran dan tafsirnya. Kedua. dan berakhir pada keyakinan. mengingkari tugas Nabi yang diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu. menyeret pada pengertian bahwa seolah-olah semua ayat al-Quran tidak memiliki penafsiran yang tetap dan disepakati. berlawanan dengan konsep ilmu dalam Islam. Ketiga. NU.cenderung pada paham sekuler. bukan berarti penafsiran itu mutlak nisbi. PKS atau Islam apa?Keenam. PERSIS. Abu Zayd dan kelompok modernis lainnya yang menerapkan metode historis (historical methodology). petunjuk dan ilmu pengetahuan. antara agama dan pemikiran keagamaan. seperti yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd akan membuka beberapa konsekwensi serius. akan membatalkan konsep wahyu yang dikenal dalam Islam.

tabu (desakralisasi) maupun khurafat. Maka setiap perubahan yang terjadi dalam realitas. Pernyataan Abu Zayd bahwa Alquran adalah produk budaya. dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zayd. Dengan kata lain. Sehingga pada akhirnya yang diikuti oleh umat tetunya teori yang telah teruji dan dapat dipertahankan. Alquran adalah hasil pengalaman individual yang diperoleh Nabi Muhammad dalam waktu dan tempat tertentu (specific time-space context).terhadap Alquran yang mereka anggap sebagai realitas holistik (the holistic reality) yang dihasilkan dari metodologi penelitian ilmu-ilmu sains. sebenarnya adalah bentuk pengutamaannya terhadap realitas lahiriyah (al-waqi‘ al-madi. menolak suatu ideologi adalah ideologi itu sendiri. Dengan cara ini. segala aktivitas berfikir yang selalu terbayang-bayangi oleh realitas ketuhanan dan metafisika (akidah. Perubahan (change) terjadi ketika hermeneutika merupakan tradisi baru memiliki kekuatan dibanding tradisi lama. proses kesinambungan (continuity) dengan tradisi lama tetap berjalan meskipun telah muncul tradisi baru. permasalahan ideologis (imankufur). dan karena itu. Sebab baginya. tentunya harus tetap terus diuji. ekonomi dan sosial. . menuntut perubahan dalam pembacaan teks. kecenderungan ulama klasik yang lebih memposisikan teks agama sebagai hakim daripada akal. Interaksi dialogis telah melibatkan sebuah proses dialektika yang intensif antara tradisi besar dan tradisi kecil dalam sejarah pemikiran Islam. Kemudian membatasi makna Alquran menurut zaman tertentu dalam sejarah. Sebagai sebuah teori. memahami agama dengan cara menundukkannya dalam ruang sejarah. Dengan demikian. sesungguhnya Nasr Hamid Abu Zayd telah melahirkan ijtihad baru dalam metode penafsiran. corak pendekatan ulama klasik dalam pembacaan teks. Atau dengan kata lain. kemudian menjadikan pembaca teks dengan segala kondisi sosial. mengesampingkan suatu ideologi hanya akan terjebak dalam ideologi lainnya. Sebab meskipun kedua pendekatan ini juga memperhatikan data empiris. Sebaliknya. pembaca teks dapat memahami teks secara ilmiah dan tidak terpasung. Nasr Hamid Abu Zayd menganjurkan untuk mengunci firman Tuhan dalam ruang dan waktu.Kecenderungan Abu Zayd yang lebih mengesampingkan Sang Pembuat Teks. seperti halnya menolak kemapanan adalah menetapkan ketidakmapanan atau bentuk lain dari sebuah kemapanan. material reality).[38]tujuan teori tafsir Nasr Hamid Abu Zayd yang ingin menghilangkan ideologi sektarian. siksa. Sebagai pembaca yang menjadi hakim dalam memaknai teks. justru sangat rancu. teks adalah hasil dari sebuah realitas. Dan baginya. Maka dengan demikian Abu Zayd lebih mengutamakan realitas (al-waqi‘) daripada pikiran. Terlepas dari itu semua. Akan tetapi. politik dan budaya yang melatarbelakanginya. Sebagai sebuah teori penafsiran. Ibarat dua sisi mata uang. mistis. dimana latar belakang sejarah saat itu mengambil peranan inti dalam mewarnai pemikiran beliau dan bahasa sebagai perangkat ungkapan sejarah (expressional tool of history). Khatimah Hermeneutika merupakan hasil ektrapolasi otoritas manusia sebagai produk dari proses interaksi pemikran Islam dengan pemikiran Barat. sebagai hakim yang menentukan arah pemaknaan teks. hermeneutika dikukuhkan sebagai metode alternatif ketika sistem penafsiran dalam tradisi Islam tidak memadai untuk memahami teks-teks keagamaan dalam realitas kontemporer. fenomena sejarah dan teks linguistik membawa pengertian bahwa Alquran dihasilkan secara kolektif dari serangkaian faktor politik. bahasa dan budaya yang terbatas adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat yang tidak sejalan dengan Islam. Sebab unsur ideologi dalam suatu penafsiran tidak bisa dinetralisir. sampai akhirnya terjadi kesepaduan antara teks dan realitas (zaman dan tuntutannya). terikat dengan pendekatan asbab alnuzul dan naskh wa mansukh adalah terpasung dan tidak ilmiah. Sehingga menurut Hendri Sholahuddin. Dengan demikian. pahala. baik oleh pandangan dogmatis-sektarian (madzhab minded). metode penafsiran (hermeneutika) Nasr Hamid Abû Zayd merupakan artikulasi dari proses kesinambungan (continuity) dan perubahan (change). namun pada kenyataannya data empiris yang ditampilkan tersebut masih diwarnai oleh peran Pencipta Teks. dipandangnya sebagai corak pendekatan ideologis. syari’ah dan akherat) dipandang sebagai bagian dari mitos (usthurah). Dengan demikian. sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan karena akan diikuti oleh umat Islam. tentunya harus tetap dikritisi dan diuji.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful