FENOMENOLOGI

1.

Pengertian

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon (gejala/fenomena). Adapun studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadaran terdalam para subjek mengenai pengalaman beserta maknanya. Sedangkan pengertian fenomena dalam Studi Fenomenologi sendiri adalah pengalaman/peristiwa yang masuk ke dalam kesadaran subjek. Fenomenologi merupakan ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi mempelajari suatu yang tampak atau apa yang menampakkan diri. “fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri. “Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: “saya melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis. Husserl juga mengungkapkan tentang reduksi transendental. Reduksi ini harus dilakukan menurut Husserl lebih dikarenakan karena Husserl menginginkan fenomenologi menjadi suatu ilmu rigous. Ilmu rigous tidak boleh mengandung keraguan, atau ketidak pastian apapun juga. Ucapan yang dikemukakan pada ilmu rigorous harus bersifat “apodiktis” (tidak mengizinkan keraguan). Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolut. Setiap benda material selalu diberikan dalam bentuk profil-profil. Misalnya dari sebuah lemari yang ada di hadapan saya, saya hanya dapat melihat depannya saja tanpa dapat mengetahui bentuk depannya, dan ketika saya ingin melihat sisi depannya, maka saya harus melihatnya dari sisi yang lainnya, namun setelah itu saya tidak bisa melihat sisi depan dari profil-profil lain. Dengan cara inilah benda-benda material tampak bagi saya. Setiap benda material tidak pernah diberikan kepada saya menurut segala profil-profilnya, secara total dan absolut. Cara realitas material tampak bagi saya bersikap sedemikian rupa, sehingga tidak dapat ditemukan pernyataan-pernyataan apodiktis dan absolut tentangnya. Karena alasan-alasan itulah fenomenologi sebagai ilmu rigorous harus mulai dengan mempraktekkan “reduksi transendental”. Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan penje lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edid etik dalam linguistik, fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberada an, penggambaran gejala (refleksi), transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial. fenomenologi

Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesa daran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting. Bagi

fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran. Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian. Keter libatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari hari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa penger tian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.

1.

Sejarah Fenomenologi

Pada masa sebelum ada cara berpikir fenomenologis, cara berpikir manusia dibagi dua kutup yang berlawanan 180 derajat yaitu: idealisme dan realisme. Kaum penganut idealisme menilai benda-benda maupun peristiwa yang terjadi disekitarnya berdasarkan ide-ide yang dikembangkan dalam pikirannya. Kemudian ide-ide ini membentuk semacam “frame of reference” yang secara subjectif dipahami sebagai kebenaran. Dalam memandang dunia sekitarnya seorang idealist akan memakai acuan “frame of reference” yang merupakan ide-ide dalam pikirannya. Oleh karena itu seorang idealist biasanya juga sangat subjectif dalam menilai dunia sekitarnya. Sumbangan idealisme kedunia adalah adanya penemuan-penemuan baru, ide-ide baru, karya besar di bidang sastra, dll. Sedangkan kebalikannya kaum penganut realisme, melihat benda-benda maupun sesuatu peristiwa yang ada sesuai dengan keadaan nyata benda tersebut yang secara nyata bisa diraba, diukur atau punyai nilai tertentu. Kalau tidak bisa dibuktikan bahwa benda itu nyata dan punya nilai atau ukuran tertentu maka benda itu tidak pernah ada. Oleh karena itu penganut realisme cenderung kepada atheisme yang tidak percaya adanya Tuhan karena Tuhan tidak bisa dilihat secara nyata. Realisme sangat berpengaruh di Eropa pada masa revolusi industri dan sumbangannya kedunia adalah kemajuan “science & technology”. Pada sekitar awal abad ke 20, walaupun revolusi industri terus bergerak, beberapa filsuf di Eropa seperti Edmund Hursell (1859 - 1938) mulai meragukan kehandalan cara berpikir realisme yang seolah-olah tidak ada satupun dialam ini yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. Apapun yang telah ditemukan, persoalan-persoalan dasar manusia tidak pernah bisa diselesaikan. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan alam. Edmund Hursell memperkenalkan fenomenologi yang belakangan dikembangkan menjadi eksistensialisme. Cara berpikir fenomenologi ditekankan dengan pengamatan terhadap gejala-gejala dari suatu benda. Kalau seorang penganut realisme menilai benda dengan cara melihat bentuk, ukuran dan nilai suatu benda, maka seorang penganut fenomenologi melihat benda dengan gejala-gejala yang muncul dari benda tersebut. Benda itu ada berdasarakan gejala-gejala yang timbul dari benda itu sendiri, kita hanya menangkap gejalagejala tersebut. Benda tersebut bercerita tentang dirinya dengan memancarkan gejala-gejala, dengan menangkap gejala tersebut kita bisa menangkap esensi benda tersebut. Semua benda punya pancaran gejala-gejalanya sendiri-sendiri, kita akan bisa lebih memahami benda tersebut apabila kita menganggap benda sebagai subjek yang menceritakan diri sendiri melalui gejala-gejala yang memancar darinya. Contohnya: kalau kita melihat kursi, kursi itu sendiri memancarkan gejala-gejala bahwa dia itu kursi bukan meja. Kita hanya perlu menangkap gejala yang muncul dari kursi tersebut kemudian kita tidak akan salah bahwa dari gejala-gejala yang muncul dari kursi itu bahwa kebenarannya dia itu kursi, bukan benda yang lain. Jelas cara berpikir ini adalah cara berpikir yang radikal berbeda dengan cara berpikir idealisme maupun realisme. Idealisme memahami alam sekitarnya melalui manusia sebagai subject dengan ide-ide pikirannya, benda disimpulkan sepenuhnya tergantung dari ide-ide pikiran. Realisme memahami benda kalau benda itu nyata berdasarkan ukuran atau nilai. Sedangkan fenomenologi menganggap object sebagai subject yang bercerita kepada kita melalui gejala-gejala yang timbul darinya.

1.

Fenomenologi Sebagai Metode Penelitian

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Berikut ini adalah sedikit uraian tentang fenomenologi sebagai metode penelitian; Fokus Penelitian Fenomenologi :

• •

Textural description: apa yang dialami subjek penelitian tentang sebuah fenomena. Structural description: bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya.

Teknik Pengumpulan Data Fenomenologi :

• •

Teknik “utama” pengumpulan data: wawancara mendalam dengan subjek penelitian. Kelengkapan data dapat diperdalam dengan : observasi partisipan, penulusuran dokumen, dan lain-lain.

Tahap-Tahap Penelitian Fenomenologi :

• • •

Pra-penelitian Menetapkan subjek penelitian dan fenomena yang akan diteliti Menyusun pertanyaan penelitian pokok penelitian

Proses Penelitian Fenomenologi :

Melakukan wawancara dengan subjek penelitian dan merekamnya.

Analisis Data Fenomenologi :

• • • • •

Mentranskripsikan rekaman hasil wawancara ke dalam tulisan. Bracketing (epoche): membaca seluruh data (deskripsi) tanpa prakonsepsi. Tahap Horizonalization: menginventarisasi pernyataan-pernyataan penting yang relevan dengan topik. Tahap Cluster of Meaning: rincian pernyataan penting itu diformulasikan ke dalam makna, dan dikelompokkan ke dalam tema-tema tertentu. (Textural description, Structural description) Tahap deskripsi esensi: mengintegrasikan tema-tema ke dalam deskripsi naratif. Kritik Terhadap Fenomenologi

1.

Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif. Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan

Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya. Hermeneutik dan Bahasa Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama. Aristoteles memisahkan antara homonim. fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan.pendekatan fenomenologi. fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati. berpikir itu ialah melalui bahasa dapat menjadikan orang berbicara dan menulis dengan bahasa. namun untuk pertama kalinya bahasa menjadi pusat pembicaraan filosofis H. 1. baik dari adat. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digenaralisasi. Hal ini dipertegas oleh Derrida. orang kemudian biasanya menurunkan arti kata-kata berdasarkan konteks yang ada. Peralihan dari pengalaman mental dalam kata-kata yang di ucapkan atau ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk mengerut atau menyempit. baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Hermeneutik akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai. sinonim. situasi dan kondisi tertentu. yang hanya berlaku pada kasus tertentu. agama. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios. terutama ilmuwan sosial. yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. 1. merupakan sesuatu yang absurd. Dalam hal-hal seperti ini. Hermeneutik Di dalam tradisinya. sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. Nuansa-nuansa bahasa bukanlah merupakan hal yang baru. tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Dalam bentuk tertulis tidak hanya ejaan dan rangkaian huruf-huruf yang berbeda namun kesamaan bunyi juga akan muncul ( ekiuvokal) seperti misalnya kata genting yang berarti “gawat” atau “atap”atau “sempit”. Pada hermeneutik terdapat pengalaman-pengalaman mental yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang. ataupun ilmu pengetahuan. Dengan ungkapan lain. tidak ada satupun manusia yang mempunyai. Bahasa sebagai suatu sarana komunikasi antar individu dapat juga tidak berarti sejauh mana orang yang berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free). kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsifkan.G. Selanjutnya. Apakah Hermeneutik itu ? Definisi Secara etimologis. Sebuah pengalaman mental atau konsep atau gambaran (image) pada dasarnya kaya akan corak dan warna serta mempunyai nuansa yang beraganeka ragam. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif. tetapi bermuatan nilai (value-bound). dan kata-kata turunan. Kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani. sebagaimana juga pada pengalaman-pengalaman imajinasi-imajinasi untuk menggambarkan sesuatu. yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Untuk menanggulangi halhal semacam ini maka hermeneutik kiranya akan berperan penting. Dibalik kelebihan-kelebihannya. Gadamer yang . sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini. serta dalam waktu tertentu. mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut. yang sama dengan yang lain. Menurut Aristoteles. Dengan demikian. tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan. 1. Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Sebagai akibatnya.

Gadamer menyatakan bahwa mengerti berarti mengerti melalui bahasa. Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi serentak atau bersama-sama. Darisinilah kita lihat keunggulan hermeneutik. bahasa tidak boleh boleh kita pikirkan atau kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. arti atau makna yang diberikan pada objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu dimana mausia sendiri mengalami atau menghayatinya. yang membawa segala sesuatu di dalamnya tidak hanya kebudayaan yang telah disampaikan pada kita melalui bahasa melainkan juga sesuatu tanpa ada kecualinya. Betti mencoba memahami ‘mengerti “juga menurut gayanya sendiri.Yang dimaksudkan Gadamer adalah bahwa kata-kata atau ungkapann secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan. Dengan kata lain setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami dalam situasinya. bahasa menjelmahkan kebudayaan manusia. semuanya itu adalah sama saja. ataupun situasi yang mewarnai arti sebuah peristiwa bahasa. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Quran. Dalam bidang filsafat pentingnya hermeneutik tidak dapat ditekankan secara berlebihan. Subtilitas Intellegendi (ketepatan pemahaman) dan Subtilitas Explicandi (ketepatan penjabarannya) adalah sangat relevan bagi hukum. Heidegger menjelaskan hal . Arti makna dapat kita peroleh tergantung dari banyak faktor : siapa yang berbicara. Bahasa adalah perantara berbagai hubungan umat manusia. melainkan bersifat alamiah. sebab objek itu adalah objek. Untuk dapat membuat interpretasi. Henri Bergson menyatakan bahwa bila seseorang memahami bahasa sesuatu Negara. Hermeneutik adalah cara baru untuk “bergaul”dengan bahasa.. Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat triadik’(mempunyai tiga segi yang saling berhubungan ). sebab segala sesuatu itu sudah termuat dalam lapangan pemahaman. Melalui bahasa kita berkomunikasi. Aristoteles menyatakan:Amicus Plato sed magis amica veritas ( Plato adalah seorang sahabat tetapi sahabat yang lebih akrab lagi adalah kebenaran. Sebab pada kenyataannya. Sebagai contoh misalnya pemahaman dan penafsiran anak terhadap kata-kata sedikit banyak tergantung dari latar belakang anak itu sendiri. Menurut Gadamer. keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu. Penerapan Hermeneutik Disiplin ilmu yang pertama kalinya banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci.”pembahasan”seluruh isi alam semesta kedalam bahasa kebijaksanaan manusia. kitab-kitab Veda dan Upanished supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik. maka kita mampu memahami segala sesuatu. bila kita mampu memahami ssesuatu bahasa. Katakata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud. Ia memandang interpretasi untuk mengerti. kitab Taurat. Namun keadaan lebih dahulu mengerti ini bukan di dasarkan pada penetuan waktu. tempat. 1. Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. tetapi melaui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. 1. Bahasa adalah medium yang tanpa batas. orang terlebih dahulu harus mengerti atau memahami.. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat dan yang tersirat atau bunyi hukum dan semangat hukum.menulis sebagai berikut: bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan -akan merangkul seluruh konstitusi tentang status manusia di dunia ini sebagai bagian yang seakan-akan tidak terbedakan dari dunia ini. dapat dipastikan ia tidak akan mungkin benci terhadap Negara itu. Cara Kerja Hermeneutik Pada dasarnya semua objek itu netral. Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. Interpretasi yang benar atas teks sejarah memerlukan hermeneutik. Tradisi dan juga kebudayaan baik dari warisan nenek moyang itu sebagai suatu bangsa yang kesemuanya itu diungkap dalam bahasa yang ditulis pada daun lontar. Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat dimana ia berada. keseluruhan filsafat adalah “interpretasi”. demikian yang di katakanoleh Wilhelm Dilthey. sebab pada mulanya objek itu menurunkan maknanya atas dasar situasi objek. Sebab. Orang yang mengenal interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks lalu ia harus meresapi isi teks sehingga yang pada mulanya yang lain kini menjadi aku penafsir itu sendiri.

Wolf. jadi tidak perlu lagi ada hermeneutik. Bahkan saat kita meletakkan pause diantara katakata dalam kalimat sering kali kita mengalami kesenjanganjalan pikiran. Yang dimaksud Schleiermacher adalah bahwa ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual. Scleiermacher menulis sebagai berikut : Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu sama lain. agama. Namun bila saat berfikir kita merasa perlu untuk membuat persiapan dalam mencetuskan buah pikiran kita. hermeneutik dan kritik studi persiapan untuk filologi ( ilmu bahasa ). Manusia tidak mengontrol melainkan dikontrol oleh situasi. 1969 : 40 ). 3. A.tama buah pikiran kita mengerti. Bagi Ash sendiri tugas hermeneutik adalah membawa keluar makna internal dari suatu teks beserta situasinya menurut jamannya. Pengaruh F. interpretasi historis dengan fakta waktu. Ia membedakan hermeneutik dalam pengertian sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang mendefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri ( Richard E. mak mungkin ada salah ucap. pemahaman hanya yterdapat didalam kedua momen yang saling berpautan satu sama lain. Ash membagi tugas itu kedalam tiga bagian. tata bahasa dan aspek kerohaniannya. Inilah alasannya Schleiermacher menyatakan bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita. sementara Ash menganggap ketiga disiplin ilmu tersebut hanya sekedar appendiks (lampiran) saja bagi filolog. Aspek luar sebuah karya ( teks ) adalah aspek tata bahasa dan kekhasan linguistik lainnya. hukum. sejarah . Interpretasi gramatikal berhubungan dengan bahasa. historis dan retorik. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik F. Pertama. ada dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain. Hermeneutik adalah proses menelaah isi dan maksud yang mengejawantah teks yang mengandung arti yang kelihatan sudah jelas ( Ricour. 1974 : 43 ). Wolt Schleiermacher dalam uraiannya banyak juga dipengaruhi oleh para penasehatnya.E Schleiermacher ditempatkan sebagai tokoh Hermeneutik . sedang interpreasi retorik mengontrol kedua jenis interpretasi yang terdahulu. Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesusutraan dan lingualistik.yang sebaliknya.D. Inilah bahaya yang sering kita alami yaitu kita sering membuat kesalahan dalam linguistik. yaitu interpretasi gramatikal. yaitu : sejarah. Menurut Schleiermacher. maka kemungkinan untuk salah ucap itu besar sekali. 1977 : 97 ). dan disiplin ilmu yang lainnya berhubungan dengan teks namun akarnya adalah tetap filsafat. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang menangkap ” setitik cahaya ” . dari Ash Schleiermacher mendapat ide untuk mengamati isi sebuah karya dari dua sisi : sisi luar dan sisi dalam. Argumentasi Hermeneutik dalam ruang lingkup lebih luas dapat dijabarkan sebagai setiap objek yang tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama atau sebagaimana yang di sebut oleh Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. Bahasa gramatikal merupakan syarat berfikir setiap orang. Tetapi karena tidak ada kesan impresi langsung dari pikiran keucapan kita. A. filosofis. yaitu manusia yang tidak autentik atau das man yang dimanupulasikan oleh lingkungan atau situasinya. yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. maka berbicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir . Inti Uraian tentang Hermeneutik Menurut Schleiermacher. sebab merupakan ” bagian dari seni berfikir “. Penerapan hermeneutik sangatlah luas yaitu dalam bidang teologis. Hermeneutik adalah bagian dari seni berfikir itu dan oleh karenanya bersifat filosofis ( Schleiermacher. 2. Seandainya ada rasio 1-1 antara pikiran dan ucapan kita. Ast dan F. Wolf membahas tata bahasa. tergantung pada tata bahasa dan keterlibatan pendengarnya. Palmer. maka tidaklah mengherankan kalau mereka beralih ke hermeneutik karena keduanya ingin membahas makna kata. Aspek dalam adalah jiwanya ( Geist ). yaitu seandainya dimungkinkan pikiran kita dipantulkan secara tidak senada ( tidak ekuivokal ) dengan ucapan kita. Seorang filsuf yang mempengaruhi gagasan Schleiermacher adalah F.kata. maka pada saat itulah disebut sebagai ” Transformasi berbicara yang internal dan orisinal dan karenanya interpretasi menjadi penting”. Menurut Wolf juga ada tiga taraf atau jenis hermeneutik atau interpretasi. Satu pernyataan tunggal dapat kita mengerti atau kita pahami dengan berbagai macam cara. baru kemudian kita ucapkan. seperti Friedrich ash dan Friedrich August Wolf. yang mendefinisikan hermeneutik sebagai seni menemukan sebuah teks. 1.

di pasar atau dimana saja orang berkumpul bersama untuk berbincang.hari. Setiap bagian dari suatu peristiwa hanya dapat dipahami dalam konteks keseluruhan bagian. Metode Pengoperasian Hermeneutik.bagiannya. di jalan. politik dan ekonomi dengan nilai-nilainya sendiri yang sudah dianggap mapan atau mantap. objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan. Taraf ketiga ialah taraf seni : disini tidak ada aturan yang mengikat atau membatasi imajinasi. Oleh karenanya.pernyataan orang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. kita harus mampu mengambil inti sari situasi yang mirip dengan yang mirip dengan yang terdapat di dalam kitab suci.hari. Dilthey membedakan dengan tajam antara Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Semua erlebnis benarnya merupakan pengalaman dalam arti umum (erfahrung) pila. termasuk dalam Natuwissenschaften.jalan. ia merasa perlu memiliki tipe memahami yang khusus. Untuk dapat memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya. hermeunetik adalah dasar dari Geisteswissenschaften. filsafat. dan ilmu-ilmu lain yang sejenis masuk dalam Geisteswissenschaften. Pikiran kita adalah sebuah proses yang ” mengalir ” dan bukan sekedar fakta yang serba komplit. Oleh karena itu kita memerlukan suatu pandangan kedalam atau intuisi yang tidak membingungkan bila kita ingin memahami sesuatu teks. Menurut Dilthey. Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi. dan erlebnis. Semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologi. Pemahaman yang selalu dipasangkan dengan interpretasi tidak lain adalah seni.bincang tentang topik umum. kutipan. Yang ingin dicari oleh Dilthey adalah pemahaman dan interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sendirinya tersituasikan dalam system-sistem eksternal dari organisasi-organisasi social. Taraf pertama ialah interpretasi dn pemahaman mekanis : pemahaman dan interpretasi dalam kehidupan kita sehari. Kedua kata tersebut adakah erfahrung. suatu proses memahami dan interpretasi. 1971:130). yaitu pengalaman yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. kimia. lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami perilakunya. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya. Dari kehidupan sehari. sebab menurut dia. yaitu rekonyruksi historis. Disinilah Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan dengan kata “pengalaman”. Sedang semua ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah. Interpretasi Data . Disinilah penafsir mulai dengan satu teori tentatif atau konsep awal. dimana diharapkan adanya taraf pemahaman dan interpretasi yang tinggi. kemudian mengadakan interpretasi. Pemahaman Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang hidup tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita. Bisa jadi. seseorang selama sekian tahun tidak memiliki pengalaman yang hidup selain hanya pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak makna apa-apa (erfahrungen). psikologi. Dalam hal ini. maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak.kutipan sastra atau dengan dokumen sejarah yang harus kita ” baca ” inti sari maknanya. yaitu kata yang biasanya diartikan sebagai “pengalaman” pada umumnya. Ada beberapa taraf memahami.pribadi penulis. tetapi tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik. antara lain dengan: 1. Dilthey pertama-tama membuat deskripsi. Dilthey menaruh perhatian pada metode hermeneutic ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah (Kremer-Marietti. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kea rah factor-faktor psikologisnya. untuk memahami pernyataan. Dilthey menganjurkan kita menggunakan hermeneutic. Bahkan hal ini juga menuntut suatu pemahaman awal atas objek atau peristiwa yang dipertanyakan itu. demikian juga dengan interpretasi. fisika dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk bidang ini serta semua jenis sains yang mempergunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen. Walaupun demikian. Taraf kedua ialah taraf ilmiah : dilakukan di Universitas. dalam arti bahwa seseorang tidak dapat meraamalkan waktu dan cara seseorang mengerti. dan juga sebaliknya. kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti “menglami”.

ini berarti kita melakukan proses hubungan sebab akibat. kita harus memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi atau cara mengenal orang atau masyarakat. Tetapi yang diucapkan oleh pengagum lukisan mempunyai nada pujian. Kata-kata atau pernyataan tunggal dapat mempunyai arti yang bermacam-macam tergantung pada konteks sejarah di mana kata atau pernyataan itu diucapkan. Oleh karena itu. Metode atau proses semacam inilah yang disebut hermeneutik. Pemahaman adalah proses di mana kehidupan mental menjadi diketahui melalui ungkapannya yang ditangkap oleh pancaindra kita. Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasanyang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Hans-Georg Gadamer dalam karyanya yang berjudul Wahrheitund Methode (kebenaran dan Metode) menekankan pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism. kiranya cukup sulit. Kedua. menggabungkan pengalaman yang hidup dengan pemahaman terhadap individu merupakan keharusan. ungkapan atau pernyataan interpretation naturae (interpretasi terhadap alam) adalah wujud dari ucapan. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengalaman. maka ia melakukan proses hubungan sebab akibat.Dalam satu aspek. Pengalaman yang hidup dan pemahaman saling melengkapi satu sama lain. Alasannya adalah karena untuk memahami atau mencerna sudut pandang pelaku asli dalam sejarah. Karena kebenaran . Jadi bagi seorang sejarawan. bagusnya” yang keluar dari mulut seorang pengagum lukisan. sedang “memahami” dan “interpretasi” hanya dipergunakan untuk “mengetahui” manusia. Bila kehidupan mental ini tidak terjangkau oleh sarana-sarana objektif. tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Namun proses tiga tahap pemahaman itu sendiri tidak berlaku untuk metode ilmiah.: “Aduh. Dalam hal ini Dilthey menekankan bahwa terhadap benda-benda kita hanya mampu “mengetahui”. kewajiban kita adalah “menyusun balik” kerangka yang dibuat oleh sejarawan dengan maksud supaya peristiwa-peristiwa dapat dilihat kembali sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. 1. bila kita membaca sejarah. suatu proses dimana kita mengetahui sesuatu dari aspek kejiwaannya atas dasar tandatanda yang dapat ditangkap pancaindra sehingga termanifestasikan. Sedangkan yang diucapkan oleh seorang pasien bertujuan untuk menahan rasa sakit. 1. sakitnya!” yang diucapkan oleh seorang pasien yang sedang disuntik. Jadi menurutnya. Kata “Aduh” memiliki arti yang sama. Bahasa kita sendiri tidak bebas dari pasang surutnya sejarah. yaitu ungkapan perasaan. dimana orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tersebut sehingga ia bias ambil bagian di dalamnya. Contohnya adalah sejarah bangsa Indonesia tidak mungkin hanya akan ditulis satu kali dan berlaku untuk seterusnya. Pertama. bagi kita kiranya cukup mudah unyuk menentukan akibat naiknya harga BBM terhadap situasi ekonomi. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada ’satu masa’ saja. Riset Sejarah Dilthey mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses: • • • Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Proses pemahaman ini terdiri dari dua bagian yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan secara berbeda satu sama lain. Tetapi melacak akibat yang timbul karena keputusan sepihak yang dikeluarkan oleh seorang penguasa. Sebagai contoh misalnya kata “aduh” sbb. kita sebut “komprehensi” atau pemahaman. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa. Dilthey berkesimpulan bahwa eksegesis atau interpretasi adalah suatu seni memahami manifestasi atau pengejawantahan hal yang bersifat vital dan ditampakkan pada kebiasaan yang tahan lama. pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. bukan metodologis. bahkan seakan menyatu walaupun keduanya itu kita mengerti secara terpisah. Sebagai contoh misalnya. maka besar kemungkinannya subjektivitas masuk dalam pemahaman terhadap kehidupan mental tersebut. Hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. atau “Aduh. kehidupan mental kita tidak mungkin kita ketahui. tetapi akan selalu ditulis kembali oleh setiap generasi. Tanpa ungkapan. Jadi pemahaman dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah merupakan tugas yang mudah untuk dilaksanakan.

ekspresi atau ungkapan. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni. Kata existenz adalah istilah yang di pergunakan filsuf eksistensiallis Karl Jasper untuk menyebut “manusia autentik”. pengalaman. Pada dasarnya Bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinnya sendiri sebagai yang ideal. 1. Gadamer menolak konsep hermeneutic sebagai metode. Sensus Communis mempunyai kesetaraan arti dengan ekspresi dalam bahasa Perancis le bon ses. “permainan”dapat merupakan semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutic. Weltanschauung ( pandangan dunia).Gadamer membahas secara panjang lebar empat konsep tentang manusia yang memperkaya hermeneutic. Pernyataan itu juga dapat di artikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti metode yang ketat jika ingin berhubungan dengan existenz atau “manusia autentik”. 1. 1. bahkan mempunyai arti dalam lonotasi yang lebih tinggi. Pertimbangan sifatnya universal. Ia sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus communis adalah pandangan tentang kebaikan umum. 1. sejarah. Sebagaimana dinyatakan oleh Vico. yaitu bentuk atau formasi. Bildung adalah sebauh gagasanhistoris asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (Magang Filsafat) ia menulis sebagai berikut: Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensimanusia dan penalarannya. dunia eksternal. Existenz seringkali harus membuat loncatan (saltus) iman untuk mencapai Tuhan. kebatinan. Sinonim dari kata Bildung dalam bahasa latin adalah formatio. Pertimbangan Konsep yang ketiga ini mirip dengan sensus communis dan selera. Yang ingin di katakana Gadamer ialah bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana unyuk mencapai kebenaran filosofis. masyarakat. tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya ” menentang semua jenis penalaran”. style atau gaya dan symbol. sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. namun bukan berarti berlaku um um. istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. 1. Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup.Gadamer mengutip pendapat Kant bahwa ” seni murni adalah seni para genius” dan kebenarannya tidak dapat di capai denganmetode ilmiah. Kata Bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar “kultur atau kebuadyaan”. Sensus Communis juga mempunyai aspek moral. Empat konsep tersebut adalah: 1. Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. Sensus Communis Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai “pendapat umum” atau pendapat kebanyakan orang pada umumny. karya Gadamer yang paling menarik adalah konsepnya tentang “permainan”. Jasper menyatakan bahwa existenz mengambil jalur yang berbeda untuk sampai pada kebenaran eksistensial. 1.menerangi metode-metode individual. Menurut Gadamer. Menurut pengertiannya yang mendasar. Bildung Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni. atau kemanusiaan. ketajaman pikiran. Gadamer sepakat dengan Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang di . Dalam “kebenaran dan metode”. yang kesemuannya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. cinta komunitas. Paham tentang Seni Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alas an di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran. ayaitu pertimbanagn praktis yang baik. memori atau kenangan harus di bentuk.

Pertimbangan dan selera membuat diskriminasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan yang indah dan baik. Gadamer menyebut hermeneutic sebagai seni dan hermeneutic semacam ini tidak dapat di persiapkan lebih dahulu sebelum di buat. sejauh orang mengetahui ” apa yang harus ia lakukan” juga memiliki seni atau pandanganpraktis. Inti uaraian tentang hermeneutic Gadamer beropendapat bahwa hermeneutic adal. bukan proses mekanis. sehingga para pembicara asli(native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa atau benang merah bahasanya sendiri. 1. tidakdapat di ramalkan atau di katakana sebelumnya. pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera. Sensus communis yang bersifat peka terhadap hubungan antar manusia memberi corak khusus pada komunitas sebagai kumpulan person. Dalam pandangan Kant. personal maupun dengan suatu perspektif tertentu. minimal dalam pandangan moralnya. Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Bila hermeneut berinterpretasi mulai dari titik tolak sejarah yang menguntungkan dirinya sendiri. Kini yangf menjadi persoalan kita adalah: apa hubungan antara selera dengan hermeneutic? Jika selera melibatkan pertimbangan yang pada suatu saat juga melibatkan sensus communis dan bulding. Hermeneutik adalah metode yang di pergunakan oleh ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu tentang manusia. hermenutik mempergunakan keempat konsep manusiawi tersebut. ini berarti mereka sama saja dengan tidak berbicara apa-apa. Kita berfilsafat tidak mulai dari nol. Para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorang pun menngerti. tetapi kemampuan ini tidak dapat di demonstrasikan. luhur fdan rendah.ah seni. Yang di butuhkan hermeneut adalah pengetahuan tentang manusia atau masyarakat yang di peroleh bukan atas dasar kerja ilmiah. Hidup itu tidak statis melainkan berubah antara rangkaian baik dan buruk. dan sebagainya.perhubungkan dengan pengertian estetis. 1. yang menjadi bagian bildung adalah menetukan mana yang boleh di kenang dan mana yang yang harus di buang jauh-jauh. Hakikat sebenarnya sebuah cakrawala adalah ” selalu meluas” dan sementara itu kebuudayaan pada hakikatnya juga tidak pernah murnidan tidak pernah di palsukan. Dan itulah bahasa filsafat. pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik. Gadamer mengatakan bahwa interpretasi adalah penciptaan kembali. Berdasarkan fakta. Dari realitas hidup ini. 1. Taste atau Selera Menurut Gadamer selera sama dengan rasa. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsure-unsur penting dari pemahaman. tetapi kita harus berfifkir dan berbicara dengan bahasa yang sudak kita miliki sendiri. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan. maka mudah sekali untuk menghubungkan selera dengan hermeneutic. prinsip dan hukum-hukum yan dapat di olah manusia. Pemahaman hanya mungkin di mulai bila bermacam-macam pandangan menemukan suatu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap. Meski bukan merupakan perbuatan yang kreatif Hermeneut atau penafsir selalu memahami realitas dan manusia dengan titik tolakk sekarang atau kontemporer. hal ini akan menimbulkan suatu pencampuran cakrawala atau fision of horizons atau bahkan akan menimbulkan campur baurnya kebudayaan yang bermacam-macam. konsep. yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. Gadamer juga menegaskan . tidak dari satu titik awal yang sudah bersifat subyektif. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal. Pemahaman dan hermeneutic hanya dapa di berlakukan sebagai suatu karya seni. melainkan yang hanya dapat di pelajari sebagai suatu seni. dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan. mulia dan nista. Fiksafat tidak mulai dari suatu tempat tert6entu. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selera pun yang dapat menilai seni. Setiap pertimbangan tentang apa yang di inginkan untuk di pahami dalam individualitasnya yang konkret adalah pertimbangan atas sesuatu yang khusus. Sebagaiman di sebutkan bahwa tugas hermeneutic adalah terutama memahami teks. selera bertentangan dengan yang tidak menimbulkan selera. Menurut Kant. Gadamer menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hermeneut. Di dalam interpretasi. maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa.

Dengan deduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu ’seharusnya’ berperilaku dalam cara tertentu dengan induksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu pada kenyataannya berperilaku dalam suatu cara tertentu. interpretasi adalah bagaikan terjemahan. meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah.bahwa suatu interpretasi akan benar bila interpretasi tersebut mampum menghilang di balik bahasa yang di gunakan. namun gagasan-gagasannya itu mendukung pustaka herme neutik. Menurut Habermas. yang juga merupakan persyaratan hermeneutic sehingga membuat pemahaman itu menjadi suatu “hubungan yang histories dan efektif”. dan sebagainya. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokomen tertulis saja. dialektik dan bahasa. yang menandai hermeneutic. Gadamer menambahkan istilah subtilitas applicandi. ‘ Memahami” selalu dapat berarti membuat interpretasi. Subtilitas adalah suatu kualitas yang mencarikehalusan seperti “lembutnya” roh. yang menghindarkan gangguan yang berasal dari penggunaan metode. penerapan juga merupakan pemahaman yang benar terhadap factor yang universal. Interpretasi secara eksplisit adalah bentuk dari pemahaman. melainkan akan memperteguhnya. Untuk dapat memahami sebuah teks. Karya-karya Habermas termasuk dalam bidang sains. namun itu juga mempunyai konsep tentang penjelasan dan pemahaman. Pemahaman dan interpretasi pada dasarnya juga merupakan penerapan. Adanya antisipasi makna. Kita mengantisipasi dan menginterpretasi menturut apa yang kita miliki ( vorhabe). Sedangkan pemahaman adalah “suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu”. Bahkan karya-karyanya pun tidak secara khusus membicarakan hermeneutik sebagai gagasan tunggalnya.S. ada pengujian apakah dan dengan kemungkinan apa prediksi-prediksi dapat diyakinkan kebenarannya. Konsepnya tentang penjelasan tersebut mendekati metode ilmiah yang ia nyatakan mengatasi metodemetode yang lainnya. Jadi. Peirce. serta apa yang akan kita peroleh kemudian (vorgriff). 1. kita harus membuang jauh-jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang di katakan oleh sebuah teks. apa yang kita lihat (vorscht). yaitu: deduksi. induksi dan abduksi atau proses abduktif. Di dalam induksi. memang di harapkan. Dulu yang di anggap tugas hermeneutic adalah menyadur makna dari sebuah teks ke dalam situasi konkret. di mana pesan yang terdapat di dalam teks itu di tujukan. Dalam berbicara. ‘metode penguasaan bahan’ dan ‘metode pemikiran a priori’. Induksi adalah proses yang aktual dalam penelitian.ada hal-hal khusus. Tugas interpretasi sama dengan tugas konkretisasi hokum atau penerapan hokum p. pemahaman selalu dapat di terapkan pada keadaan kita saat ini. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik Meskipun gagasan-gagasan Habermas tidak berpusat pada hermeneutik. 1972 : 144). Gadamer menyebut hal itu sebagai makna atau arti yang akan datang (fore-meaning) dan pemahaman yang akan datang (fore umderstanding). karena konsep tersebut mencagai keyakinan-keyakinan yang vajid dan definiti Habermas mengatakan bahwa semua peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang tidak akan mempersulit keyakinan-keyakinan tersebut. 1. seperti misalnya ‘metode untuk menekuni sesuatu’. Maksudnya adalah bahwa terjemahan itu akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasayang teratur. melainkan juga benda yang bukan bahsa seperti patung. Habermas mengikuti tiga bentuk penyimpulan yang dikemukakan oleh C. penjelasan “menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas dan sistematis” (Habermas. komposisi musik. Gagasan hermeneutiknya dapat kita ketemukan di dalam tulisannya yang diberi judul Knowledge and Human Interests (Pengetahuan dan Minat Manusia). yaitu yang berasal dari pertimbangan sebelumnya atas keseluruhan pemahaman melalui bagia-bagiannya. karena ia berkeyakinan bahwa penerapan seperti halnya pemahaman dan interpretasi adalah bagian hermeneutic. dan dengan abduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu mungkin akan berperilaku menurut suatu cara tertentu. Arti “Memahami” Menurut Gadamer. Abduksi adalah proses pembentukan hipotesis yang bersifat eksplanatoris (menerangkan) yang berbunyi: jika kita harus mempelajari sesuatu .

sebab pemahaman melibatkan juga pengalaman interpreter. Habermas menyatakan bahwa selalu ada makna yang bersifat lebih. Dari pembedaan itu kita mengetahui bahwa monologika adalah pemahaman atas simbol-simbol yang disebut Habermas sebagai ‘bahasa murni’ karena simbol-simbol mempunyai makna yang definitif. Komunikasi dapat dilakukan melalui tindakan atau kegiatan. maka harus melalui proses yang memperjelas sesuatu atau fenomena tersebut. Seperti halnya pemikiran ilmiah. Sebagai contoh misalnya: bahasadan tindakan saling menginterpretasi satu sama lain secara timbale balik (bdk. Sebagaimana halnya dalam pemahaman linguistik. sebagaimana terdapat dalam setiap rumusannya. bahkan di luar pikiran kita. Tentang linguistik. Habermas mengatakan bahwa pemahaman hermeneutik harus mengintegrasikan ketiga kelas ungkapan kehidupan itu. 1. Hermeneutik biasanya mencoba menerangkan apa yang individual. yaitu pemahaman yang tidak me libatkan hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa ‘murni’. yang berupa kecenderungan yang tidak dicetuskan atau sebagai ungkapan nonverbal. yaitu yang menggambarkan pemahaman monologis. tindakan atau kegiatan perlu dijabarkan. seperti halnya Dilthey. ‘tidak dapat dijabarkan’. Jadi jelaslah bahwa kita tidak dapat menerangkan hal-hal yang tidak mungkin kita pahami. Jenis Jenis Pemahaman Hal-hal yang menonjol dalam kedua metode pemahaman tersebut tampaknya akan dipadukan. yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketepatan dan keharusannya. Habermas menegaskan bahwa penjelasan haruslah berupa penerapan secara objektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta. Ia juga memperingatkan kita bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta. Dalam hal ini expresi linguistik muncul dalam bentuk yang absolut. Pemahaman hermeneutik sedikit berbeda dari jenis pemahaman yang lainnya sebab pemahaman hermeneutik diarahkan pada konteks tradisional tentang makna. bukan yang universal. yaitu : linguistic. Habermas mengutip ketiga jenis pemahaman tersebut dari pendapat Dilthey. yang disebut monologika itu tidak lain adalah jalan pikiran yang terstrukutur. . Habermas membicarakan tentang “pemahaman monologis atas makna”. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu. Pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan. Dalam tingkat pemahaman seperti ini. yang tidak dapat dijangkau oleh interpretasi. maksud dan ruang lingkup tindakan. sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. bahkan kita juga tidak dapat membuat interpretasi atas hal-hal tersebut. Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut. Semua hal tersebut mengalir secara terus-menerus di dalam hidup kita. Metode ‘Memahami’ Dari uraian di atas telah kita lihat bagaimana Habermas membedakan antara penjelasan denganpemahaman. Pada kelas pengalaman. terutama dalam reaksi tubuh manusia. proses kedua hal itu hanya dapat terjadi atas dasar “asimilasi transcendental a priori dari pengalaman yang mungkin dengan ungkapan universal bahasabahasa teoretis” (Habermas. penjelasan diarahkan pada tujuan akhir. Sedang pemahaman hermeneutik di sisi lain tidak dapat mempersempit ketergantungannya pada hal-hal lain. tindakan dan pengalaman. Bagaimana dapat terjadi suatu metode menerangkan hal yang individual dan tunggal dengan menggunakan cara yang universal? Dalam ilmu pengetahuan empiris-analitis. interpreter memperhitungkan hal-hal itu sebagai salah satu bentuk atau jenis pemahaman. yaitu yang terdapat di dalam hal-hal yang bersifat ‘tidak teranalisiskan’. dan pemahaman menjadi bagian subjektifnya. Dengan kata lain. language game dari Wittgenstein). seperti misalnya bahasa simbol.atau memahami fenomena secara lugas. 1. Habermas mengatakan bahwa sebuah penjelasan menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. 1972: 162-163).

ilmu alamiah dan ilmu. Ini berarti bahwa hermeneut harus mengadakan interaksi.maka katakata penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi.Oleh karenanya. namun sulit untuk dilaksanakan.mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang .Kebutuhan laten tersebut adalah kebutuhan akan hermeneutik.Jika simbol-simbol dilibatkan.fenimenologis. Hal ini hanya mudah untuk dikatakan.pada dasarnya.historis. Hibermas mengambil alih tugas Dilthey dengan mengatakanDilthey telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan akan melihat bahwa objektivasi pemahaman hanya mungkin terjadi bila interpreter atau hermeneut menjadi partner dalam dialog komunikatif. ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah.maka interpretasi menjadi penting. Dilema itu merupakan pertanyaan : “eksklusif linguistic atau analisis empiris”. Penjelasan dan interprestasi berlangsung dari yang individual ke yang indinidual juga. sebagaimana terjadi dalam dialog atau dialektika antara yang umum dan yang individual.Dalam karya-karyanya tampaknya ia memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial kemudian ke analisis eidetik(pengamatan yang sedemikian mendetail).ilmu kemanusiaan. Disinilah letak perbedaan antara ilmu . Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan katolik. 1.1.Filsafat pada dasarnya adalah hermeneutik.Simbol-simbol dan interpretasi merupakan konsep-konsep yang mempunyai pluraritas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau kata-kata. antara Naturwissenschaften dengan Geistes-wissenschaften. sebab kita tidak dapat melakukan analisis linguistic eksklusif atau analisis empiris murni.Adanya simbol.memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal yang telah diinterprestasikannya.maka hal ini tidak perlu dibesar-besarkan.Herleneutik pada akhirnya semantik.Ricoeur menyatakan bahwa hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. Suatu proses tertentu bukan induksi. sejarah dan objektivitas.” Dilema tersebut semakin menjadi besar terutama dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau Geisteswissenschaften. jarang terjadi dari yang umum ke yang individual.Setiap kata adalah sebuah simbol.sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi lapisan.Dengan mengutip Nietzsche.Kemudian Ricoeur memberiakn kesan bahwa berbicara dengan menggunakan suatu bahasa adalah masalah jaket dan belati yang tersembunyi dibaliknya. Ricoeur mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi. Interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan “keseluruhan yang terdiri dari campuran macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya” dan koreksi terhadap apa saja yang dikemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi.ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi. atau sebaliknya. Dalam ilmu-ilmu alamiah. atau sebaliknya. apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum. atau antara tetap subjektif dan harus menjadi objetif.yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Terdapat kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep melalui kata-kata. Disini hermeneut menghadapi dilemma antara tetap objektif dan bersifat subjektif. Disini disjungsi tidak dapat berlaku. Pemahaman harus mengkombinasikan keduanya. hermeneutik berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subyek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan.Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. deduksi atau abduksi. yaitu melalui proses induksi dimana kebenaran umum akan diperoleh setelah ditentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan individual. Apa yang benar di dalam yang universal tidak harus benar pula di dalam yang individual. Dan ilmu-ilmu kemenusiaan. Dilema Pemahaman Habermas mengatakan : “Sebagai suatu seni yang menggambarkan komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami.

Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya.Kita baru bisa mengkritik jika kita membuat jarak dengan objek kritik.salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam yang hermeneutik adalah perjuangan melawan distansi kultural yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik.Ia masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut Vorhabe(apa yang ia miliki).Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata yang tertulissebagai ganti kata-kata yang diucapkan.pematung.emosi.kesusastraan.di sini kita dapati dikotomi antara objektivitas dan subjektivitas yang menimbulkan problem.yaitu melalui interpretasi.Sebuah kata bisa memilikki konotasi yang berbeda.dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat.1983:193) Mengenai tugas hermeneutik. 1.Bahasa dinyatakan dalam bentuk simbol.eksistensialisme.sedang pemahaman hermeneutik memberi kita kesan subyektif.tradisi ataupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain.Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan dekontekstualisasi.Riceour menyebut karakteristik ini dengan istilah polisemi yaitu ciri khas yang menyebabkan kata-kata mempunyai makna lebih dari satu bila digunakan di dalam konteks yang bersangkutan.Jadi.Sebagai contoh misalnya pohon kata ini mempunyai banyak makna tergantung pembicaranya:apakah ia seorang tukang kayu.Istilah-istilah mempunyai makna ganda.Bahasa adalah tempat bertemunya analisis logika.filsafat semuanya melalui bahasa.Setiap kali kita membaca.sebab keduanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. Penjelasan struktural cenderung untuk bersifat objektif.serta untuk melakukan rekontekstualisasi secara berbeda di dalam tindakan membaca.Dikotomi antara penjelasan dan pemahaman itu tajam.bahkan psikoanalisa.kita salah paham atau salah mengerti juga melalui bahasa.Melalui hermeneutik.baik ari sudut pandang sosiologis maupun psikologis.Ini semua menandakan bahwa kita sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka.manusia pada dasarnya merupakan bahasa(Riceour.Dalam hal ini Recoeur mengemukakan tentang hermeneutik yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks. Bahasa adalah bidang di mana semua pengamatan filosofis saling memotong satu sama lain.petani dll.Kita mengungkapkan gagasangagasan.Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dan membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral (ucapan) dapat dipersempit.Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensional dan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya(kecuali kata-kata onomatopoik). Menurut Riceour.sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat.Ricoeur menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik adalah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal” nya teks itu muncul ke permukaan.Kita mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa. Menurut Ricoeur. Kata-kata dan Makna Sebuah kata adalah juga sebuah simbol.dan Vorgriff(apa yang akan menjadi konsepnya kemudian).sebab kita memahami melalui bahasa.1967:350) dan bahasa itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.Namun bahasa juga mempunyai kelemahan.segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab.(Riceour. 1.Ricoeur menegaskan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas (Montefiero.Vorsicht(apa yang ia lihat).1985:43).asli.tergantung kepada pembicaranya. Ruang Lingkup Hermeneutik Ricoeur kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan perhatian kepada teks.Namun kritik yang kita lakukan itu membawa juga struktur-struktur yang sudah jadi dari gagasan-gagasan kita dan bahasa yang diungkapakan dalam struktur itu juga sudah kita beri warna.tafsir kitab suci dan hermeneutik.yaitu untuk memahami sebuah .fenomenologi.sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.

yaitu pada teori tentang pengetahuan atau erkenntnistheorie.Dekonyekstualisasi adalah bahwa materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya.Jika demikian.Riceour juga menyatakan bahwa lingkaran tersebut hanya semu saja.Hermeneut harus menggumuli interpretasinya sendiri. Ricoeur hanya ingin menggugah pandangan kita bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang dapat bersaing dalam tingkat yang sejajar dengan metode dalam sains.di mana pembacaanya selalu berbeda-beda.melainkan membuka diri terhadapnya.Ricoeur juga mempertanyakan metode yang dipergunakan Dilthey dalam geisteswissenschaften nya yaitu hermeneutik yang dibedakan dengan metode yang terdapat pada naturwissenschaften.penjelasan dan interpretasi.yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang berpikir dari simbol-simbol. Tugas Hermeneutik menjadi sangat berat.yaitu yang mendekati tingkat ontologi. 1.dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan.dan terstruktur yang terdapat dalam ilmu-ilmu alamiah.Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas.situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.sebab hermeneut harus membaca dari dalam teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangkan kebudayaan dan sejarahnya sendiri.Langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna.Pemahaman hanya dapat terjadi pada tingkat pengetahuan.Pemahaman refleksi adalah pemahaman pada tingkat yang lebih tinggi.Riceour mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak di dalam hubungan dengan subjektivitas pembaca ditinggalkan.dan untuk siapa teks itu dimaksudkan.Untuk memahami sebuah teks kita tidak memproyeksikan diri ke dalam teks.yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.pemahaman adalah salah satu aspek dari proyeksi Dasein (proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaan terhadap being.Riceour mengatakan bahwa “engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami”.Riceour sendiri tidak benar-benar memperlakukan hermeneutuk sebagai metode.serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subjektif dan objektif.percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. .sedang langkah pemahaman eksistensial atau ontologis adalah pemahaman pada tingkat being atau keberadaan makana itu sendiri.Riceour menyatakan bahwa pemahaman itu pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi.harus dapat mengatasi situasi dikotomis.Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya.Langkah semantik adalah pemahaman pada tingkat ilmu bahasa yang murni.Hermeneut uga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain. Menurut Riceour.kaku.melainkan membuka diri terhadapnya.Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis.sebab tidak ada satupun hermeneut yang pada kenyataanya mau mendekatkan diri pada apa yang dikatakan oleh teks jika ia tidak menghayati sendiri suasana makna yang ia cari. Yang dimaksudkan dengan membuka diri adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya.bagaimana Riceour bisa mengatakan bahwa pemahaman merupakan cara berada atau cara menjadi.Riceour menyatakan bahwa memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks.Ketiga langkah tersebut berhubungan erat dengan langkah-langkah pemahaman bahasa yaitu:semantik.Ia hanya ingin membuang jauh semua metode yang objektif. Otonomi teks ada 3 macam: intensi atau maksid pengarang.ia harus mulai dengan pengertian yang seakanakan masih mentah.refleksif serta eksistensial atau ontologis. Arti Memahami Setiap hermeneut membuat pembedaan dan penekanan yang tegas atas pemahaman.ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing.Riceour menyatakan bahwa hubungan antara hidup dan pengalaman -pengalamannya boleh dikatakan merupakan akar dari hubungan dua arah antara manusia dengan alam dan sejarah.sebab jika tidak demikian ia tidak akan mulai melakukan interpretasi.inilah yang dimaksudkan dengan rekontekstualisasi.Langkah pertama adalah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol.ada tiga langkah pemahaman.Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis.Penafsir selalu dalam keadaan in medias res atau berada di tengah-tengah teks (ing madya) dan tidak pernah hanya di depan atau pada permulaan atau pada akhir teks untuk sekedar tut wuri saja.Sebab.

Dalam filsafat Ricoeur.ada rangkaian peristiwa di mana peristiwa yang satu menyebabkan peristiwa-peristiwa lainnya.Jadi. Pengaruh Aliran fenomenologi Dua aliran pemikiran kefilsafatan yang banyak mempengaruhi gagasan-gagasan Derrida adalah fenomenologi dan strukturalisme.jika ada situasi maka ada cakrawala yang dapat menyempit atau meluas(Ibid:74).Pemahaman adalah perpaduan antar cakrawala. Deriida sangat cerdas.Pengalaman eksistensial memang pengalaman yang dimiliki oleh being sendiri.Setiap kejadian atau peristiwa menpunyai latar belakang atau cakrawala karena setiap fakta atau peristiwa selalu tersituasi.ia menegaskan bahwa konsep itu harus dipertentangkan dengan konsep atau pengertian tentang distansi sejarah.Meskipun seseorang menempatkan dirinya pada distansi tertentu. Karya-karyanya sulit dimengerti.sebab konsep yang terakhir ini berbau metodologis. Ia seringkali juga disebut seorang post-strukturalis. Untuk memahami gagasan-gagasannya.Riceour mengatakan bahwa tidak satu cakarawalapun yang bersifat tertutup sejauh masih mungkin menempatkan seseorang pada pandangan yang lain dan dalam kebudayaan yang lain pula (Ibid.yaitu kita seakan-akan terpelanting untuk memahami pribadi manusia. 1.Ia harus mampu memisahkan mana yang seharusnya masuk dalam cara pemahamannya dan mana yang seharusnya disingkirkan dari antara konsep-konsepnya yang populer atau yang hanya khayalan saja. Tema keempat adalah perpaduan antar cakrawala. Tema ketiga jika tidak ada pandangan yang menyeluruh.tidak ada lagi pemisahan antara pemahaman. Tema yang kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja(Josef Bleicher. kita perlu juga mengetahui latar belakang dirinya.Interpretasi harus selalu memandang kedua hal itu sebagai hal yang korelatif atau berinteraksi.maka juga tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita.Namun dalam uraiannya. Metode positif dimaksudkan untuk melepaskan jalan pikiran dari . beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik. 1. 1972:95).yang dikemukakan oleh Karl Jaspers.Segala bukti tidak perlu lagi atau bahkan tidak penting. meskipun ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis.Ricoeur uga berbicara mengenai wirkungsgeschichtliches bewusstsein atau kesadaran yang diarahkan pada akibat-akibat sejarah.tempat yang layak untuk seorang penafsir adalah di tengah-tengah kedua ekstrem tersebut.Sebab. satu positif dan satu negatif.1980:74). Gagasan-gagasannya tentang kritik sastra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra.Tema kedua ini menunjukkan pandangan ekstrim yang lain sesudah tema yang pertama.Penafsir harus waspada terhadap berbagai macam prasangka ataupun pendewaan terhadap pikiran.namun akibat atau hasil penelusuran sejarah tidak dapat lepas dari pengamatan kesadaran penafsir.Dalam kondisi seperti ini.Mungkin pandangan Riceour ini mirip dengan pandangan Gadamer.Hal ini menunjukkan kepada kita tema pertama dari empat tema yang diketengahkan oleh Riceour.sebab pengalaman semacam itu melibatkan keseluruhan keberadaan seorang pribadi.Tidak ada satu peristiwa sejarahpun yang bukan merupakan kelanjutan dari peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.yaitu yang datangnya dari penderitaan.maka pengalaman menjadi traumatik di dalam intensitasnya. Ada jenis pemahaman lain. Latar Belakang Tokoh Jacques Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik sejauh dia berhubungan dengan bahasa dan makna.Melalui penderitaan kita sering memahami sesuatu.penjelasan dan interpretasi.75). Akan tetapi.Kita tidak mungkin mengabstraksikan atau memencilkan suatu peristiwa dengan latar belakang atau cakrawalanya dari peristiwa-peristiwa lainnya. Edmund Husserl. Hermeneutik harus menempatkan peristiwa yang tersituasi beserta cakrawalanya dalam konteks yang semestinya.yaitu tingkat eksistensial atau ontologis.Ini merupakan tingkat pemahaman yang tertinggi. pendiri fenomenologi modern memulai karyanya dengan dua metode.Sepakat dengan pandangan Gadamer. meskipun ia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf ataupun sastrawan (Derrida.Maka juga selalu ada goncangan antara peristiwa yang tersituasi dengan cakrawalanya.Karena pribadi sedemikian terlibat.yaitu bahwa tidak ada titik nol dari mana kritik yang tuntas dapat mulai dilakukan.

apa saja yang dianggap ideal tetapi tidak mendasarkan diri pada realitas. Dalam metode negatif, Husserl mendekatkan diri pada metode yang dikemukakan oleh Descrates yaitu mulai dengan sikap ragu-ragu, ia menyangkal segala sesuatu dan ingin memulai proses pemikirannya dari titik yang benar-benar nol. Husserl seorang pakar matematika dan sains, menyadari akan adanya ketimpangan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebagao seorang ahli matematika ia mengetahui signifikan obyektivitas, tetapi sebagai filsuf ia juga mengetahui bahwa subyektivitas yang walaupun hanya sedikit masih tetap diinginkan. Melalui dua metode yang diketengahkan di atas, ia memulai karyanya dengan tepat. Ia membicarakan tentang tiga tingkatan kesadaran yang dapat dihubungkan dengan tiga tiga jenis obje, yaitu:

• • •

Tingkatan pertama atau tingkatan yang dangkal adalah kesadaran alamiah. Kesadaran ini berhubungan dengan objek-objek alamiah. Tingkatan kedua adalah tingkat kesadaran refleksi, yaitu kesadaran yang muncul setelah memberi ‘tanda petik’ pada tingkat yang dangkal. Tinkatan ketiga atau tingkat ‘kedalaman ego’: bila perhatian seseorang difokuskan lebih jauh lagi pada objek , ia akan mencapai tingkat kesadaran jauh lebih dalam lagi. Dalam keadaan kesadaran pada tingkat ini, objek yang murni atau yang sejati mengejawantah. Tanggapan atas Fenomenologi Arti “Differance”

1.

Perbedaan dua kata yang kontroversial itu yaitu, difference dan difference. Perbedaan pokok hanya terdapat di dalam kerangka ruang dan waktu. Derrida menghubungkan kerangka waktu ruang dan waktu dengan pengertian ‘tanda dan penulisannya’. ‘Tanda’ adalah ‘wakil’ dari bendanya. Makna, juga seperti tanda, untuk memahaminya kita harus ‘menangguhkan’ atau menunda dulu sampai orang atau benda yang merasa layak atau pantas untuk memilikinya. Proses ini oleh Derrida disebut ‘temporisasi’ atau pemberian waktu (untuk menunda). Tanda tempatnya dalam ruang. Tanda dapat dengan mudah kita mengerti dan kita rasakan, seperti kata-kata ataupun tulisan. Kata-kata adalah tanda, seperti juga bahasa, isyarat, dan sistem yang pada umumnya kita mengerti berdasarkan sejarahnya sebagai jaringan yang merupakan asal mula timbulnya perbedaan. Tanda-tanda membawa makna dan adanya dalam ruang; untuk sementara waktu makna tersebut tertunda. Tulisan, pada umumnya kita berpandangan bahwa sebelum seseorang menuliskannya, ia terlebih dahulu mengucapkannya. Derrida justru berpendapat sebaliknya. Tulisan itu barang mati, hanya merupakan jalan tengah antara maksud dan makna, atau antara ucapan dan pemahaman (Ch. Norris, 1985:28). Sebab ‘tulisan’ dalam pandangan Derrida bukan gambar sebagai hasil tindakan seseorang memindahkan gagasangagasannya.

“Bahasa” sebelum Bahasa

Derrida menyatakan bahwa ‘tulisan’ merussak atau menghancurkan dirinya sendiri. Artinya, ‘tulisan’ adalah impersonal, jauh dari kehidupan, tidak seperti ‘bicara’. Menulis adalah pengelompokkan kata-kata yang sifatnya mekanis menurut tata bahasa dan struktur katanya. Tentang makna menulis, Derrida mengatakan bahwa makna itu seakan-akan keluar atau diturunkan dari tulisan, entah benar atau hanya khayalan saja. Hal itu hanya mungkin dengan syarat bahasa yang asli dan alamiah tidak pernah ada, jadi tidak pernah berkontak atau terjamah oleh tindakan menulis (Derrida, 1967:82). Gagasan ini disebutnya dengan istilah archi-writing. Archi-writing dimaksudkan Derrida untuk membicarakan tentang ‘waktu’ sebelum waktu yang kita alami, atau ‘bahasa’ sebelum bahasa yang kita pakai saat ini. Archi-writing merupakan syarat utama untuk memungkinkan sebuah bahasa dinyatakan sebagai sebuah sistem, dan melalui archi-writing ini kita dapat memahami pernyataan atau artikulasi yang benar dari ucapan dan tulisan. Menurut Derrida, bahasa pada dasarnya sudah merupakan tulisan, oleh karena itu pasangan konsep ucapan-tulisan harus diubah manjadi tulisan-ucapan.

Peranan Sejarah

Untuk memahami konsep Derrida tentang ‘tulisan’, kiranya baik bagi kita untuk mengambil makna sejarah sebagai sarana untuk melacaknya. Sebab Derrida membicarakan sejarah melalui cara yang berbeda, yaitu bukan sebagai deretan makna, melainkan sebagai ‘jejak’ yang bisa dilacak. Tulisan dapat menjadi jejak yang bisu namun juga dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan belum dapat terkatakan. Derrida berkeyakinan bahwa meskipun orang belum mengucapkan kata-kata, namun tulisan sudah siap untuk dicurahkan, tulisan dibatasi oleh bahasa yang diucapkan, karena ucapan, yaitu makna yang tertunda kehadirannya, sudah terdapat di dalam tulisan.

Definisi “Difference”

Terdapat empat macam definisi differance, yaitu: 1. Differance adalah sebuah gerakan (aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan, karena penundaan, perutusan, penundaan hukuman, penyimpangan, penangguhan, penyimpanan. Kehadiran dinyatakan atau diinginkan dalam sifat representatifnya, tandanya atau jejaknya(Ibid, 17) Gerakan differance adalah akar umum dari semua pertentangan konsep-konsep di dalam bahasa misalnya sensibel-inteligibel, intuisi-makna, alam-kebudayaan, dsb. Differance, yang menghasilkan perbedaan, adalah syarat dari semua makna dan struktur. Differance adalah berbeda secara khusus, tetapi perbedaan ini secara ontologis benar-benar ada dan tampak. Disini jelas bahwa deconstruction dan differance seiring sejalan. Deconstruction membatalkan ekspresi ganda seperti dalam ucapan atau penulisan. Pengaruh Strukturalisme

2. 3. 4.

1.

Derrida menyangkal pernyataan bahwa struktur bahasa itu benar-benar ada. Terutama ia akan menolak argumen Noam Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu diprogram ke dalam pikiran manusia dan manusia sebagai pembicara begitu saja mengikuti struktur tersebut. Menurut Derrida, “makna” tidak dapat disusun di manapun juga dalam pikiran manusia, selama makna itu merupakan produk pengalaman. Ia ingin mengupas gagasan entang “struktur”, karena srtuktur menentang kebebasan peran makna di dalam teks apa saja. Ini berarti bahwa orang dapat membaca kata-kata dalam sebuah teks, tetapi ia tidak mungkin membaca makna di dalam teks tersebut. Dengan demikian, makna bukan urusan struktur. Makna tidak dapat dibangun dalam ucapan, dan karenanya Derrida menentang pernyataan para pakar linguistik struktural. Sebab, jika makna sudah terbentuk didalam bahasa, oarng tidak akan membutuhkan hermeunetik atau interpretasi lagi.

1.

Gagasan tentang Hermeneutik

Setelah menimba gagasan-gagasan dari Hegel dan Husserl, Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak lain adalah intensionalitas. Apa maksud seseorang ketika ia menggunakan bahasa? Apakah bahasa identik dengan deretan kata-kata yang sudah jadi, apa kemudian disusul dengan makna-makna yang dipilih secara bebas oleh pembicaranya? Husserl telah menunjukkan perbedaan antara noesis (pikiran) dengan noema (yang dipikirrkan). Seperti misalnya seseorang melihat sebuah pohon,, harus dibedakan antara ’siapa yang melihat’ dengan ‘dari sudut mana’ pohon itu dilihat. Sebab, seorang tukang kayu dengan seorang pematung akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang pohon yang dilihatnya itu. Dari realitas di dalam contoh tersebut di atas, Derrida melihat hubungan yang jelas antara fenomenologi dengan hermeneutik. Jika makna yang muncul pada taraf yang paling dalam, maka bahasa yang dipergunakan untuk berbicara harus diselidiki, apakah bahasa ini hanya keluar dari emanasi taraf pertama atau kedua. Lalu, bagaimana hermeneut mengenakan nilai atau makna pada kata yang diucapkan itu? Hermeneutik adalah pemahaman karya. Tujuannya adalah membongkar rahasia pandangan dunia dari pengarang dan memungkinkan kita untuk menyadur bahwa esensi fenomenologis dari memahamitidak lain

adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan sendiri apa yang sedang ia katakan. Pemberi tanda adalah orang yang dapat merasakan nafas pengarang dan maksud dari isyarat atau makna yang melekat pada pengarang. Hermeneut kemudian berusaha melepaskan makna dari kata-kata yang diucapkan atau yang tertulis epat pada saat kata-kata itu diucapkan . bagaimana dengan teks tertulis? Untuk dapat dikatakan sebagai tulisan dalam arti yang sebenarnya, maka teks tersebut harus berjuang untuk mengatasi ‘kematian’ pembicara yang membawanya di dalam komunikai oral. Apa peranan pengarang dan pembaca di dalam interpretasi sebuah teks? Apa yang menjadi ukurannya jika dikatakan bahwa teori interpretasi menggambarkan pengarang asli atau pembaca asli? Jika kita membicarakan tentang interpretasi, apa batasan proses tersebut? apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan penerapan, kelayakan dan permainan? Menurut Jean Greisch, semua pertanyan tersebut harus dijawab oleh orang yang ingin membuat interpretasi. Hermeneut menghendaki jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi pendahuluan dalam karya interpretasinya. Untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam perspektif yang semestinya, kita harus membedakan antara jenis teks berikut: 1. 2. 3. Sebuah teks tertulis yang merupakan transkripsi teks oral Teks tertulis yang maksudnya hanya untuk dibaca dan bukan untuk didengarkan Teks tertulis yang dimaksudkan untuk dibaca seperti sebuah teks sastra seperti yang banyak kita jumpai sekarang ini (Greisch, 1997:180)

Sebuah teks oral yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks tertulis pada dasarnya tidak memiliki ‘nilai tertulis’ sebagaimana dimaksudnya untuk dibaca, seperti karya sastra. Jika seseorang berbicara, maka ia mengikuti aturan-aturan berbicara yang berbeda dengan aturan-aturan membaca. Jika seseorang menulis,ia sadar akan kesuatuan, koherensi dan hubungans logis dari gagasan-gagasan dan bab-babnya, pengaturan pemakaian kata-kata serta redundansinya. Jika terdapat teks yang dimaksudkan hanya untuk dibaca tetapi ternyata dibacakan untuk didengarkan, maka teks tersebut menghasilkan sesuatu yang sumbang dan seringkali menghasilkan makna yang berbeda bagi pendengarnya. Derrida lebih suka mengoperasikan teks tertulis pada jenis yang ketiga, yaitu teks yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai teks, sebab teks ini mengikuti secara ketat aturan-aturan tentang sintaksis, tata bahasa dan gaya bahasa. Derrida tidak mengutip teori Ricoeur tentang polisemi, yaitu sebuah kata atau ungkapan ada kemungkinan mempunyai lebih dari satu makna. Ia cenderung mengatakan polisemi hanya laten dalam bahasa itu sendiri. Kasusastraan memang penuh dengan makna ganda. Sebagai contoh misalnya salah satu kalimat yang ditulis Shakespeare dalam Hamlet: ‘Orang ini, pembunuh bapaknya’. Walaupun di situ terdapat koma, namun orang tetap sulit memahami siapa pembunuhnya dan siapa yang dibunuh. Martin Heidegger memberikan arah baru dalam perkembangan hermeneutika. Hermeneutika tidak lagi sekedar sebuah prinsip umum untuk melakukan interpretasi teks, melainkan hermeneutika adalah cara berada manusia. Ia mengubah hermeneutika tradisional menjadi sebuah filsafat, sebuah hermeneutika ontologis. Interpretasi bagi Heidegger adalah salah satu dari cara mengada manusia (yang lain adalah mood dan diskursus). Memahami (understanding) umumnya dilihat sebagai mengetahui atau kognisi. Heidegger menolak ini; memahami baginya adalah bagaimana manusia mengalami sebuah situasi dan bagaimana ia siap untuk menghadapi situasi tersebut. Semakin seseorang bisa menghadapi sebuah situasi, semakin ia “memahami” situasi tersebut, semakin ia mampu bertindak, dan ia semakin bereksistensi. Interpretasi adalah salah satu cara untuk mengartikulasikan pemahaman ini. Ia melihat kemungkinankemungkinan dari sebuah situasi. Ia hadir dalam setiap situasi dan mencari jalan untuk menghadapi situasi tersebut. Interpretasi tidak harus dalam bentuk verbal atau linguistik, atau dalam bentuk sebuah proposisi. Ia juga bisa berbentuk sebuah aksi. Heidegger lebih melihat proses pemahaman sebagai sebuah aksi ketimbang proses teoretisasi. Memahami adalah cara praktis manusia bergaul dengan dunianya. Teori hanyalah sebuah bentuk praktis. Interpretasi hanyalah salah satu modus dari pemahaman. Dan pada akhirnya interpretasi dalam bentuk bahasa hanyalah salah satu bentuk dari interpretasi. Bahasa hanyalah sebuah instrumen dari pengertian.

hipotesis. Bahasa akan menjadi bahasan hermeneutic sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah. Yang dibutuhkan adalah dialog antara teks dan sang penafsir sehingga teks semakin membuka dirinya untuk ditafsirkan. filsafat juga bersifat selalu bertanya. dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk kearah interpretasi. telah banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf analitik. Namun Heidegger tidak menutup kemungkinan untuk melakukan interpretasi. kritis. Sehubungan dengan hal ini maka persoalan yang timbul kemudian adalah “problem tentang makna”. 1. tanpa ada kekecualiannya. maka yang menjadi persoalan adalah: sejauhmanakah metode yang dipergunakan di dalam hermeneutik dapat kita pergunakan untuk ‘ memehami’ pemikiran kefilsafatan? 1. kebudayaan. yang pada akhirnya membuat kita frustasi sendiri. teori. Filsafat menganalisis dan mengevaluasi semua hal tersebut sekritis-kritisnya. maupun meyakini bahwa makna muncul pada saat bahasa dipergunakan. Filsafat akhirnya juga kita mengerti sebagai sebuah ‘teka teki’ yang sulit untuk dijawab dan dijelaskan. dan sekaligus sebagai penyebab “salah mengerti” ataupun “salah paham”. dan evaluative. maka segala uraiannya tentang hermeneutic sedikit banyak diwarnai pula oleh pandangan hidup para hermeneut itu sendiri serta latar belakang kehidupannya. Cara pandang semacam tikini menunjukkan bahwa filsafat adalah kegiatan yang bersifat integrative atau kegiatan yang mengarah pada sintesis berbagai macam unsure kedalam keseluruhan yang bersifat koheren dan terpadu. KESIMPULAN Problem tentang Makna Studi tentang peranan bahasa dalam komunikasi dan proses berpikir. pernyataan. Apa yang telah dilakukan oleh para hermeneut tersebut pada dasarnya hanyalah mengundang kita untuk melihat secara lebih dekat bahasa yang kita pergunakan. Bila dalam arti luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan maksud untuk mencapai hasil optimal. 1. pengertian tentang makna dibahas berdasarkan motivasi-motivasi tertentu. yaitu berupa pandangan hidup seseorang. dsb. misalnya keyakinan. Bagi para beberapa filsuf. Ciri khusus peranan bahsa itu nampak melalui penggunaan bahasa sebagai medium dalam komunikasi gagasan. analitik. Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bahwa filsafat berhubungan dengan spekulasi dan analisis. Dilthey mengajak kita untuk melakukan kritik sejarah dengan mencoba menelusuri kembali segala peristiwa dalam sejarah. Jadi bila kita melihat kembali pandangan-pandangan hermeneut diatas. Hermeneutik sebagai metode yang “Open-Minded” Hermeneutik bukanlah merupakan “barang” baru. yaitu sebagai alat untuk mengerti dan memahami. dan dalam arti khusus metode merupakan cara berfikir menurut sistem aturan tertentu. . 1. kehidupan. serta khususnya dalam persoalan yang menyangkut bagaimana mengidentifikasi. atau tokoh lain yang mempengaruhinya. Ada yang menghubungkan ‘makna’ dengan kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar kita atau di mana kita hidup. Filsafat mempersoalkan apa saja.Heidegger juga memperkenalkan lingkaran hermeneutik yang baru: sebuah pertanyaan selalu dibentuk oleh ekspektasi sebelumnya yang akan menentukan jawaban yang metode yang akan didapatkan. Cara pendang yang “sintetik”adalah sisitem berpikir yang mengarah pada pandangan dunia yang terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil dan koheren (berkesinambungan). memahami. Pandangan semacam ini juga mengandaikan keterlibatan pribadi didalam filsafat. Bagi mereka istilah ‘bermakna’ atau tidak’bermakna’ adalah persyaratan utama untuk mencapai kebenaranKita seringkali terperangkap di dalam penggunaan bahasa dengan rangkaian kata-kata yang muluk-muluk. Hal ini seperti halnya pada lingkaran hermeneutik tradisional terlihat seperti sebuah paradoks. Cara pandang filsafat Pandangan kefilsafatan memandang penting bagi kita untuk mengetahui “dimana kita berpijak” atau “dari sudut mana kita meninjau”bila kita berhadapan dengan hal-hal atau pernyatan-pernyataan tertentu.

Kesadaran kita. Apa maksudnya? Kita tidak sekedar menyadari sesuatu. Artinya. proyeknya dalam Being and Time adalah “hermeneutik Dasein”. Fenomenologinya merupakan hermeneutika terhadap fenomena. Heidegger berpandangan bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih mendasar dari pada kesadaran dan pengetahuan manusia. papan menunjuk pada rumah dan seterusnya. Ia berusaha melihat fenomen sebagai realitas yang menampakkan diri apa adanya. yaitu bahwa dunia ada. menurut Husserl selalu terarah pada sesuatu di luarnya (sadar akan sesuatu). melainkan jika tanpa perlu berpikir lagi ia langsung menggunakan palu itu untuk menancapkan paku pada papan (pemahaman pra konseptual). Perbedaan fenomenologi Husserl dengan metode fenomenologis Heidegger dapat diringkas dalam kata “hermeneutik” itu sendiri. Sedangkan Heidegger justru melihat media vital historisitas “keber-ada-an” manusia di dunia. Term tersebut . Ada tidak dicari pada yang fisik melainkan lewat fenomena misalnya lewat fenomen tertawa. melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita. melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. seseorang dikatakan memahami palu bukan karena ia bisa menyatakan palu adalah alat untuk menancapkan paku pada papan. tanpa kita menafsirkan fenomen-fenomen itu. melainkan dalam tingkat fundamental (tidak perlu dipikirkan lagi). kesadaran bukan sekedar kesadaranakan sesuatu. fenomenologi Husserl ini berbeda dengan Heidegger. Salah satu kegiatan itu adalah memahami. Pemahaman lantas menjadi elemen penting hermeneutika. Namun. Ini berbeda dengan Husserl yang menganggap keberadaan Ada sebagai datum kesadaran. paku menunjuk pada papan. Fenomen yang diteliti itu adalah manusia. Jadi.SUMBANGAN HEIDEGGER KEPADA HERMENEUTIKA DALAM “BEING AND TIME” Pengantar Filsafat Heidegger beranjak dari persoalan bahwa para filsuf telah banyak mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang dunia tetapi mereka mengabaikan kenyataan yang paling penting. Fenomenologi telah membuka bidang pemahaman fenomena pra-konseptual. Husserl dan Heidegger: Dua Tipe Fenomenologi Fenomenologi merupakan pendekatan yang dirumuskan Edmund Husserl pada awal abad ke-20. Heidegger menyebut kegiatan berada Dasein sebagai berada-dalam-dunia. tetapi juga sadar bahwa dunia ini turut membentuk kita yang ada di dalamnya. Arah pendekatan Heidegger adalah keberadaan manusia itu sendiri. Dunia mempunyai ciri referensial. Ia menyebut manusia sebagai dasein(eksistensi). Ia membiarkan palu (fenomen pengada) termanifestasikan apa adanya. Adanya selalu menunjuk pada sesuatu misalnya palu menunjuk pada paku. menangis. di dunia. Pendekatan Husserl terarah pada fungsi kesadaran sebagai subyektivitas transendental. karena kesadaran hanyalah cara Ada menampakkan diri. Menurutnya. Karena Heideggerr berusaha mencari pemahaman melalui fenomen maka ia memakai metode Fenomenologi. Term ini tidak pernah digunakan Husserl untuk merujuk pada karyanya. Ada lebih utama dari kesadaran. Ini adalah penemuan baru Husserl. Kita tidak hanya sadar hidup di suatu dunia. Bagi Heidegger. Dasein berarti berada-di-sana. Heidegger berusaha untuk mencari arti syarat awal eksistensi yang ia sebut sebagai Ada. sementara Heidegger mengatakan bahwa dimensi otentik metode fenomenologi membuat karyanya (Being and Time) bersifat hermeneutis. pemahaman yang sesungguhnya itu tidak dilihat dalam suatu “pernyataan” sebagai buah nalar (ratio). Melihat begitu pentingnya arti “dunia”. berjalan dan sebagainya.

Menurut Heidegger. Untuk mengerti hal ini. Ada lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. Di sinilah penekanannya bahwa fenomenologi harus menjadi hermeneutis. tapi realitas itu sendiri yang menunjukkan dirinya kepada kita. Sedangkan logos adalah sesuatu yang dipahami dalam pembicaraan. Garis pembeda antara dua tipe fenomenologi di atas. Heidegger menyebut metode fenomenologinya sebagai “hermeneutika”. Bukan kita yang menunjuk benda atau realitas. tidak diartikan sebagai ‘nalar’ atau ‘landasan’. Fenomenologi berasal dari akar kata Yunani yang merupakan kombinasi kata polimorfemikphainomenon atau phainesthai dan logos. Logos berarti sesuatu yang dengan sendirinya membiarkan sesuatu itu muncul. ontologi harus menjadi fenomenologi. suatu ilmu yang kaku. melainkan hanyalah salah satu cara Ada menampakkan diri dalam kesejarahan Ada (historisitas Ada). Dalam penggalan tertentu yang kita sebut ‘zaman modern’. Phainomenon/phainesthai berarti yang menampakkan diri. Kesadaran yang ditemukan Descartes itu bukanlah segala-galanya sebagaimana dipikirkan oleh Descartes. juga bukan metode memahami (Geisteswissenschaften) seperti yang diungkapkan Dilthey. Lantas apa hubungannya dengan hermeneutika? Sebagaimana ontologi menjadi fenomenologi tentang Ada. kenyataan atau ada itu diciptakan oleh kesadaran. Fenomenologi Hermeneutis Dalam bagian buku “Sein und Zeit” yang berjudul “The Phenomenological Method of Investigation”. Apa itu historisitas Ada? Kita harus membayangkan seluruh manusia dan alam semesta ini sebagai suatu cerita tentang penampakan diri Ada dalam berbagai maknanya. Heidegger. Dengan demikian. Pandangan semacam ini yang ditolak Heidegger. ia juga harus menjadi hermeneutika eksistensi. sementara bagi Heidegger filsafat menjadi pemikiran historis. Logos menjadi hermeneutika. Metode fenomenologi ini menjadi signifikan bagi teori hermeneutis. Ini berarti berlawanan dengan kebiasaan yang telah ada. Heidegger berusaha mengatasi filsafat modern yang berporos pada kesadaran atau subyektivitas. Ia bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya . Misalnya dalam Descartes. Dengan demikian. Tetapi ini tidak berlaku untuk segala zaman. Kant. Logos membiarkan ssuatu itu tampak sebagai sesuatu. Filsafat dalam pegertian Husserl secara mendasar masih sains. sesuatu yang termanifestasikan. Di sini historisitas masih asing”. dan Fichte. atau tampak apa adanya. Heidegger menawarkan strategi lain dalam mendekati fenomen kesadaran: membuka diri terhadap Ada dan membiarkan Ada tampak apa adanya (memahami). tanpa memaksakan kategori-kategori kita sendiri pada benda-benda tersebut. tetapi pada realitas yang menampakkan diri apa adanya. melainkan hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. penemuan kreatif masa lalu. Fenomenologi Husserl hanya mengelaborasi “pola yang telah di bentuk oleh Descartes. secara jelas tergambarkan pada persoalan yang lain yaitu “historisitas”. Jika aku menyadari danau di luar diriku maka danau itu ada. Dengan kata lain. Hermeneutika ini bukanlah suatu metode filologi.mengasumsikan adanya bias anti sains yang bisa membedakan secara nyata Heidegger dengan Husserl. Metode ini menunjukkan bahwa interpretasi tidaklah didasarkan pada kesadaran dan kategori yang dibuat manusia. Karena itu fenomenologi tidak sekedar untuk membuka kesadaran manusia belaka tapi juga sebagai sarana untuk mendekati Ada dalam seluruh faktisitas dan historisitasnya. dalam Being and Time berusaha mendekati Ada sebagai fenomen. kombinasi phainomenon/phainesthai dan logos berarti membiarkan benda-benda (fenomen) termanifestasikan sebagaimana adanya. Heidegger kembali pada akar kata fenomenologi.

yang merupakan struktur eksistensial Dasein yang memungkinkan terjadi pengalaman ditingkat empiris serta memungkinkan terjadinya pengetahuan yang lainnya. Hermeneutika menjadi “interpretasi Dasein”. Seorang pribadi tanpa dunia tidak . Akhirnya Heidegger sendiri mendefinisikan esensi hermeneutika sebagai kekuatan ontologis ‘pemahaman’ dan ‘interpretasi’ yang memungkinkan keberadaan sesuatu khususnya keberadaan Dasein dapat terungkap. Dunia dan Hubungan Kita dengan Obyek di Dunia Yang dimaksud dunia dalam pemikiran Heidegger tidak sama dengan bumi atau alam semesta belaka atau lingkungan kita. Karakteristik penting pemahaman bagi Heidegger adalah bahwa ia selalu berlaku dalam suatu hubungan yang sudah diinterpretasikan. Kemungkinan-keungkinan itu terbuka justru pada prakteknya. dalam pemahaman seseorang menyatukan diri dengan pembicara atau penulis sebagai seorang yang dipahami. Kita merupakan bagian dunia seperti dunia merupakan bagian kita. Bagi Heidegger. Dengan kata lain. melainkan suatu proses ontologis. melainkan (dari sudut pandang Dasein) suatu tempat untuk dimukimi. Akhirnya dapat dikatakan bahwa pemahaman dalam pemikiran Heidegger telah menjadi ontologis. dan senantiasa hadir dalam setiap kegiatan intepretasi. dunia tidak hanya dipahami sebagai tindakan mengetahui suatu entitas. Dunia itu suatu keseluruhan dimana ada manusia menemukan dirinya sudah terlempar kedalamnya. psikologi) lebih dari sekedar datum. sebagai pengungkapan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. ekonomi. Heidegger menekankan pentingnya ‘dunia’ dengan menyebut kegiatan berada Daseinsebagai beradadalam-dunia. Dalam pemikiran Schleirmacher. pemahaman didasarkan pada afirmasi filosofisnya terhadap identitas dalam. Pemahaman adalah cara berada di dunia. pemahaman terhadap Dasein sendiri merupakan bagian yang penting dalam hermeneutika Heidegger. melainkan sebagai suatu ekspresi hidup. Artinya. Heidegger suka mengangkat “lingkaran hermeneutik”: manusia mencari pengetahuan karena belum tahu dan sudah tahu (pra pemahaman). Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. Dunia tidak dapat dipahami dengan menaksir entitas yang ada di dalamnya karena dengan cara ini dunia tidak akan mempunyai arti. Inilah pemahaman yang fundamental. Dalam pemikiran Dilthey. pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakekat eksistensi manusia. Maknanya berbeda dengan pemahaman yang dimaksudkan oleh Schleirmacher dan Dilthey. pemahaman mengacu pada level komprehensi lebih dalam yang melibatkan perolehan suatu gambar. Karena itu. Dilthey menegaskan bahwa kebermaknaan selalu merupakan sesuatu yang merujuk ke dalam konteks keberhubungan. Selanjutnya.suatu teks) melainkan kegiatan primer interpretasi yang membuka hakekat Ada. Dengan demikian. Hermeneutika Heidegger melangkah lebih jauh dari Dilthey karena Heidegger mengeksplorasi implikasi lingkaran hermeneutis bagi struktur ontologis pemahaman eksistensi manusia dan interpretasinya. Pengunaan garis hubung menekankan bahwa tidak ada jarak antara diri kita dengan dunia. atau fakta (sosial. puisi. Pemahaman merupakan dasar bagi semua interpretasi. suatu persoalan prinsip yang sudah umum bahwa pemahaman selalu berlaku dalam sebuah lingkaran hermeneutis. Hakekat Pemahaman: Heidegger Melampaui Dilthey Pemahaman (Verstehen) merupakan term khusus yang dipakai Heidegger. bukan pada yang dipikirkan. dengan segala kemanifestasiannya.

masuk akal. Dasein tak pernah ada di dalam ruang melainkan menduduki ruang. Makna pernyataan: Dasein berada-dalam-dunia tidak dimengerti seperti air ‘dalam’ gelas atau pakaian ‘dalam’ almari. Ia mempunyai struktur ‘untuk’ karena itu selalu mengacu pada alat-alat lain. Misalnya. Apa yang ditemui Dasein di dunia? Dan bagaimana hubungan ada kita (sebagaiDasein) dengan obyek yang ada di dalamnya? Jika kita berada dalam suatu ruang kuliah. Percakapan di sini bukan dipahamai sebagai komunikasi verbal. Dunia ini lebih dari sekedar lahan aktivitas prasadar persepsi pikiran. ia merupakan lahan proses hermeneutis di mana ada tertematisasikan sebagai bahasa. Pemahaman juga tidak dapat dipisahkan dari interpretasi karena interpretasi merupakan penerjemahan eksplisit dari pemahaman. melainkan penyampaian makna tanpa artikulasi apapun. seseorang yang baru di PHK termenung di taman sampai pada pemahaman akan makna hidupnya lalu mengambil keputusan untuk . manusia juga bisa bertutur. benda atau alat-alat tersebut adalah selalu “untuk sesuatu” (intensional). dalam kebungkaman. gelas. Seorang memandang dengan benar melalui dunia. Pemahaman dan Interpretasi Fenomen kerusakan yang menyingkapkan keberadaan sebuah alat sebagai alat mengarah pada ‘dunia’ yang sangat luas. alat tulis dan alat-alat lainnya atau juga benda-benda yang bukan alat atau teman dan dosen kita sendiri. meja. Jika kita cermati. Pengalaman ini mengasumsikan prinsip hermeneutis bahwa keberadaan sesuatu terungkap tidak dalam tatapan analitis kontemplatif melainkan dalam momen di mana ia muncul secara tiba-tiba dari kesembunyiannya dalam konteks dunia yang sangat fungsional. Kita lalu menjadi sadar akan ketergantungan kita pada materi tersebut. Ada menyingkapkan dirinya dalam kebermaknaan. Kebermaknaan Prapredikatif. bahkan ia tidak bisa melihat Dasein atau apapun dalam kemanifestasiannya sendiri tanpa dunia itu. Dalam pemahaman. Pemahaman sangat berkaitan erat dengan kebermaknaan di atas. Kita sering mengunakan alat-alat itu nyaris secara spontan. kita akan menjumpai ada kursi. misalnya alat tulis hilang atau kursi rusak atau lampu mati. Kata ‘dalam’ pada ‘berada-dalam-dunia’ juga harus dimengerti dengan tepat. suatu ‘dunia’ bisa dilihat sebagai ini atau sebagai itu. dan almari dengan cara yang sama berada ‘dalam’ suatu tempat. Dia tidak ‘terletak’ di suatu tempat tetapi memukimi suatu tempat. Inilah momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan namun disampaikan lewat disposisi dasar eksistensial mereka masing-masing. Ungkapan kata sebagai ini merupakan suatu terjemahan eksplisit pemahaman atau suatu interpretasi. Jika ada gangguan. pakaian. Ia adalah lahan di mana resistensi dan posibilitas dalam struktur ada membentuk pemahaman. papan tulis. maka intensi yang diandaikan begitu saja akan tersingkap dan disadari. Ini bukan paradoks. Sedangkan Dasein berada dalam dunia secara khas. lampu. tempat kita eksis. Kebermaknaan yang dimaksudkan oleh heidegger adalah Rede atau percakapan. melainkan suatu penyampaian makna yang mendahului artikulasinya dalam bahasa. pemahaman dan interpretasi. Karena itu. Apa bedanya? Air. melainkan menunjukkan bahwa ‘percakapan’ itu bukan pengucapan makna secara verbal. Kita tidak tergeletak di dalam dunia melainkan terlibat dan kerasan di dunia. Singkatnya. Dua teman karib yang lama tidak berjumpa akan terpaku saling memandang tak berkata-kata saat mereka tak berjumpa lagi. hal ini menunjukkan bahwa mereka saling memahami satu sama lain. Di sini temporalitas dan historisitas ada hadir secara tegas. Arti kata depan itu di hadapan Heidegger sangat kompleks. Dunia dan Daseinmerupakan relitas yang tak terpisahkan.

melainkan pada pemahaman pra sadar dimana kita sudah tidak perlu memikirkannya lagi. Pernyataan itu adalah turunan dari pemahaman primer yang pra sadar (fundamental). atau momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan lewat kata. dalam hal ini bobot beratnya. Karakter Derivatif Pernyataan Pemahaman yang paling dasar tidak terletak pada suatu pernyataan produk akal budi. ia bisa mengatakan: “O saya memahami musibah ini sebagai peluang untuk berkembang lebih baik”. Pernyataan seperti ini akan memutuskan ada (palu) dari kebermaknaannya sebagai akar dari keberadaannya. . Interpretasi disini bukan berarti meratapi pemecatannya.hidup masa depannya. Heidegger memberikan suatu contoh pernyataan: “Palu itu berat”. Dalam pernyataan ini. palu diinterpretasikan sebagai sesuatu dengan kekayaan sifatnya. Lalu pernyataan ini menjadi penyataan logis yang menempatkan palu tidak lagi sebagai sebuah “alat” (sebagaimana adanya) melainkan sebagai sebuah obyek. Ini merupakan suatu pemahaman yang terbentuk lewat logika (pemikiran). ia telah melewati interpretasi atas situasi dirinya. Inilah saat diam yang penuh makna. sedangkan pemahaman yang diungkapkan melalui kata-kata (pernyataan) merupakan pemahaman sekunder. Bagi Heidegger. “pernyataan” (Aussage) bukanlah suatu bentuk dasar interpretasi. melainkan mencoba keluar dari keterpurukan dengan menafsirkannya. Dalam interpretasinya. Tentu yang dikatakannya itu juga tidak terpisah dari momen kebermaknaan prapredikatif yang telah dilaluinya yakni saat dia duduk termenung di taman.

Studi ini mulai berkembang dalam kritik penafsiran bibel seiring dengan kemunculan protestan. pendekatan kritis kepada teks Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkembang. kemudian berkembang lagi meliputi segala hal yang dapat disamakan dengan teks hingga usaha memahami makna kehidupan. Mereka semakin menyadari bahwa persoalanpersoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. Pengertian dan Sejarah Awal Hermeneutika Hermeneutika adalah sebuah kajian mengenai teori interpretasi atau penafsiran. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis.[1] Kajian kritis ini kemudian berkembang tidak hanya berlaku pada teks-teks bibel tapi termasuk teks-teks lainnya. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika. Bahkan. Akan . Persoalan penafsiran bibel seiring kemunculan protestan ini menggiring kepada kajian kritis terhadap teks bibel itu sendiri. Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini. Hermeneutika cukup sulit didefinisikan secara tunggal. Hal ini merujuk sekian banyaknya teori tentang hermeneutika itu sendiri dan juga perkembangannya. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa. Pada abad ke17 dan ke18.HERMENEUTIKA Pengantar Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka.

[2] Richard E. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk verba dari hermeneuein. Semua teks termanifestasikan melalui bahasa. (3) menerjemahkan. hermeneutika berasal dari kata kerja Bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. seperti menjelaskan sebuah situasi. (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologis. (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel. namun masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi. “interpretasi”. ia menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi. (5) Hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggris “to interpret”. kajian hermeneutika semakin berkembang. Keenam definisi tersebut adalah.tetapi. oleh karena itu bilamana prinsip-prinsip . Palmer (1969) dalam bukunya memberikan 6 definisi modern hermeneutika. Dalam penggunaan aslinya. Hermeneutika dalam Kilasan Tokoh Schleiermacher (1768 –1834) (Hermeneutika teoritis/romantisis) Friedrich Schleiermacher adalah orang yang dianggap mampu mengangkat hermeneutika tidak sekedar dalam konteks kajian Bibel tapi semua bacaan. (2) menjelaskan. dan (6) Hermeneutika sebagai sistem interpretasi[3]. (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic. tentu saja terdapat titik temu dari semuanya terlebih jika dimaklumi bahwa sekian tersebut sama-sama menggunakan istilah hermeneutika yang mana bisa dirunut maknanya secara etimologi. Keenam definisi ini tentu saja terkait tahapan historis kajian hermeneutika hingga masa Palmer saja. kata ini memiliki tiga bentuk makna dasar. Pasca Palmer. seperti di dalam penerjemahan bahasa asing. tidak sampai masa sekarang. yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata. Masing-masing definisi ini sekedar merupakan tahapan-tahapan historis. misalnya. dan kata benda hermeneia. (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenchaften. Secara etimologi. lepas dari itu. “to say”.

Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas. hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks. teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. Sebab. Hal ini . Kajian hemeneutika beliau ini berpusat mengenai bagaimana memperoleh pemahaman yang benar. termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Dengan demikian.[6] Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik. pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung.pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. maka terwujudlah hermeneutika umum[4]. Scheleirmacher menawarkan dua pendekatan: pertama. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks. [5] Dalam rangka merekonstruksi makna. maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”. untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas. oleh karenanya kajian beliau dikenal dengan istilah hermeneutika teoritis. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas. dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya. dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri.

berbeda dengan Schleiemacher.[7] Dilthey (Hermeneutika Metodis) Perkembangan berikutnya ditandai oleh pemikiran Wilhelm Dilthey yang membedakan antara ilmu alam / ilmu eksakta (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial dan humaniora / ilmu non-ekaskta (Geisteswissenschaften). Sehingga. menurut Dilthey tidak harus menyelam ke dalam pengalaman penggagas. adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks. Ilmu alam menjelaskan (erklären) sesuatu dan bertanya tentang penyebab-penyebab terjadinya sesuatu secara fisik. hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah. Karena itu. Betti termasuk tokoh hermeneut yang menganut hermeneutika teoritis yang mencoba memadukan antara teori Schleiemacher dan Wilhelm Dilthey. Sebab pengalaman itu dimediasi oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas pada masanya. bukan ekspresi mental penggagas.[9] Emilio Betti E. Dilthey menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu.[8] Selanjutnya. Di sinilah sikap empati pembaca terhadap teks menemukan tempatnya. yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey.juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul. untuk merekonstruksi makna teks. Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduknya. sementara ilmu sosial dan humaniora mencoba mencari tahu dan memahami (verstehen) sesuatu yang bersifat psikis. Sebagaimana . non-fisik. dengan mengambil penekanan yang sedikit berbeda dengan hermeneutika teoritis Schleiermacher yang menekankan pada pencarian makna obyektif yang dihendaki penggagas.

melainkan merupakan proses ontologis.[10] Heidegger (Fenomenologi Das Sein. penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kerja imajinasi dan wawasan.[12] Hans Georg Gadamer (Hermeneutika dialogis) Sebagai penerus Heidegger. sehingga selanjutnya dapat dikomunikasikan. bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya suatu teks). melainkan kegiatan primal interpretasi yang membuka hakikat ‘ada’ menjadi terbuka.[11] Fenomenologi hermeneutika Heidegger adalah suatu fenomena tentang ‘ada’. pada hakikatnya hermeneutika adalah merupakan ciri hakiki manusia. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. Gadamer menolak anggapan hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna obyektif. Hermeneutika dialektis) Martin Heidegger membawa hermeneutika ke ranahnya yang bersifat ontologis. suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. Kegiatan berpikirf adalah merupakan suatu jawaban terhadap das sein. penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik teks. hermeneutika beliau yang lebih menekankan fenomenologi das sein ini dikenal dengan hemerneutika filosofis. tiga.pendahulunya. penafsir harus mengosongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan. Pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. sebagai penguakan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Das Sein sebagai penyebab munculnya kegiatan berfikir menurut Heidegger adalah merupakan bahasa yang sejati. Heidegger memandang bahwa bahwa bahasa adalah tempat tinggal ‘sang ada’. Betti menawarkan empat momen gerakan alam menemukan makna obyektif: pertama. Menurut beliau. empat. Gadamer . melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai dari ungkapan teks. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. untuk mencari ungkapan bahasa yang tepat sehingga das sein dapat benar-benar menjadi bahasa. kedua. hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obyektif. Oleh karenanya.

bukan makna obyektif teks. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks. pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. Sebagai tawarannya. Namun penting digaris bawahi bahwa Gadamer tidak bermaksud memberikan kebebasan mutlak bagi penafsir. hermeneutika filosofis mengandaikan seorang penafsir atau pembaca didahului oleh horizon pembaca yang kemudian membentuk pra pemahaman. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup. Memahami menurutnya adalah sebuah fusi horizon-horizon: horizon penafsir dan horizon teks.menganggap tidak mungkin diperoleh pemahaman yang obyektif atau definitif sebuah teks sebagaimana digagas para penggagas hermeneutika teoritis. yakni agar penafsir bersikap terbuka pada teks. Ketiga. Sebab. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. Penafsir sejatinya . Dalam kegiatan penafsiran. Kedua. Keempat. kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks. Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci hermeneutis[13]: Pertama. teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. Kedua. horizon pembaca dan horizon teks. karena dua alasan: pertama. menurut Gadamer. situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon. Gadamer tetap memberikan ramburambu. orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya. memahami bukanlah komuni misterius jiwa-jiwa dimana penafsir menggenggam makna teks yang subyektif. langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks.

Oakeshott menyatakan bahwa penelitian terhadap masa silam itu tidak mungkin dilakukan. Adapun persyaratan CLM. Penekanan Gadamer pada fusi horizon dalam menemukan makna didasarkan pada argumen bahwa seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tradisi dan prasangkanya dan apalagi memasuki tradisi dan prasangka orang lain. melalui fusi horison pembaca dan horizon teks.Yang pertama adalah CLM (Covering Law Model). yaitu mengaitkan hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. bukan bagi kehidupan penggagas. Gadamer berpendapat bahwa “memahami” adalah tindakan sirkuler antara teks dengan pembaca yang disebut the fusion of horison. yakni mempertemukan pra pemahaman pembaca dengan cakrawala atau horizon teks. tujuan utama hermeneutika filosofis adalah “memproduksi makna teks”. teks juga mempunyai sejarahnya sendiri yang disebut horizon teks.membiarkan teks menghadiri penafsir untuk kemudian diadakan dialog antara keduanya untuk menghilangkan ketegangan. lantaran keduanya merefleksikan keterkondisian historis umat manusia. ada syarat suatu peristiwa yang dapat diterangkan melalui CLM. melainkan “makna yang berarti” bagi pembaca. dan pola hukum yang tidak menjelaskan seperti peristiwa x terjadi karena peristiwa x terjadi. Menurut Gadamer. makna yang dicari bersemayam. Makna itu mempunyai nilai bagi kehidupan pembaca. ramalan. Yang kedua adalah Hermeneutika. keduanya pasti hadir dalam setiap tindakan menafsir. Selain itu. sebagaimana pembaca. yaitu takdir Tuhan. Dalam percakapan atauun . Dalam negosiasi itulah. Tujuan dari pola CLM adalah untuk mencari hubungan sebab dan akibat. Padahal masa silam dapat diteliti tanpa melakukan direct observation. karena suatu penelitian sendiri dibutuhkan direct observation. dan (2) Ada pola semu yang harus ditolak. Peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Begitu makna produktif ditemukan. Berbeda dengan hermeneutika teoritis yang hendak “merekonstruksi makna”. yaitu (1) Pola hukum yag muncul pada premis pertama harus dikonfirmasi oleh sema fakta yang relevan atau tidak berlawanan dengan fakta. Sebab. Dengan prinsip makna tidak ditemukan di dalam teks. langkah selanjutnya adalah menerapkannya ke dalam konteks di mana pembaca berada. Teori empirsme ekstrim oleh M. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain (seolah-olah terlibat dalm suatu perisitiwa). Pola CLM tidak berurusan dengan peristiwa unik atau individual yang dijelaskan pola hukum lainnya. Tentu makna yang diterapkan bukanlah makna obyektif sebagaimana dimaksudkan hermeneutika toritis. Untuk dapat meneliti tentang masa silam terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan.

Hal ini tidak hanya berguna untuk menafsirkan teks-teks atau maksud lawan bicara. Asumsi Dilthey dengan rekonstruksi itu akan menghasilkan efek yang sama seperti halnya dengan pelaku sejarah dahulu. dan menciptakan berdasarkan kesatuan dan kebertautan. Tahap selanjutnya dalam hermeneutika adalah ausdruck atau ungkapan. peneliti harus dapat memberi jawaban mengapa seorang pelaku sejarah berbuat demikian. Pengembang teori hermeneutika di Jerman selanjutnya adalah W. Teori ini mengandaikan bahwa kedua pihak memiliki landasan atau awal yang sama. Verstehen tidak dapat diterapkan pada ilmu eksakta. Ada pengaruh timbal balik antara pengalaman baru dan lama. Erklaren terbatas pada gejala yang secara lahiriah dapat diamati. Pengalaman yang ditentukan proses timbal balik disebut ’erlebnis’. aku sendiri juga akan berbuat dan berpikir demikian”. dan (3) bagi ahli sejarah. setiap pengalaman baru ditentukan oeh semua pengalaman yang sampai pada saat itu pernah dimiliki. Ausdruck melukiskan kenyataan sesuai dengan penghayatan atau persepsi (penyerapan) terhadap kenyataan. Tahap selanjutnya yaitu verstehen. kebertautan (zusammenhang) antara pengalaman lama dan baru. Menurut Schleiermacher. (2) berusaha mengerti pihak lain berdasakan pengalaman sendiri dan pengalaman mengenai kenyataan dalam keseluruhan. (2) Pengetahuan dan pengalaman dari masa silam merupakan bagian dari eksistensi manusia. berdasarkan landasan yang sama.penafsiran teks. bagian-bagian (teks) ditempatkan dalam keseluruhan teks. Dalam menjelaskan perbuatan seorang pelaku sejarah. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain. Ausdruckmenekankan kesejajaran antara penafsiran teks dn struktur erlebnis. Ide Dilthey berkisar pada konsep ’erlebnis’. Dilthey memakai psikologi sebagai ilmu bantu. Dalam ilmu alam ada erklaren (menerangkan) yang didasarkan pada pola hukum umum. Menurut Dilthey. (4) Pemahaman hermeneutika masa silam terikat dan bertaut dengan individualitas si peneliti. dengan memasuki alam pikiran para pelaku sejarah. aspek produktif dan reseptif. Dilthey terkenal dengan gagasannya yaitu geisteswisschenschaften (ilmu pengetahuan budaya). yaitu: (1) Gadamer menolak pemisahan Dilthey tentang kenyataan dan pengalaman mengenai kenyataan. dan keseluruhan teks hendaknya dimengerti dengan bertitik tolak pada bagianbagian. Pengalaman baru memberi arti dan penafsiran baru terhadap pengalaman lama. Cara kerja teori ini adalah melacak komunikasi yang terganggu. pengalaman dan proses-proses psikologi dan intelektual yang dahulu dirasakan seorang pelaku sejarah. peneliti harus masuk ke dalam kulit lawan bicara atau pengarang sambil menimba dari pengalaman hidup kita sendiri. ’ausdruck’ dan ’verstehen’. Teori . Bentuk pengetahuan lewat verstehen lebih lengkap dari erklaren karena ”Dunia alami hanya merupakan bayangan”. Adapun perbedaan pendapat antara Gadamer dan Dilthey. Tujuan hermeneutika adalah (1) menjembatani jurang antara dua titik pangkal yang berbeda-beda. Konotasi verstehen ”Dalam keadaan itu. Kontribusi Dilthey tampak pada fenomenologi sosiologi. (3) Gadamer menolak adanya metode hermeneutika. Pengembang teori hermeneutika di Jerman berikutnya yaitu Gadamer. Adapun proses hermeneutika. Dilthey. adalah mementaskan kembali di panggung batinnya. Teori argumentasi modern meneliti percakapan antara dua pihak manusia. Ausdruck merupakan obyektivasi mengenai kebertautan atau koherensi dalam erlebnis. sejak kapan mulainya. Hermeneutika ingin mengerti mengapa seseorang berbuat begitu atau begini. hermeneutika lebih pentingdari teori argumentasi.

Lebih lanjut tentang: Pemikiran Sejarah: Filsafat Sejarah (I) . Collingwood dan H. melauinkan juga dengan batin (segi dalam) kelakuan mereka. Menurut Collingwood. White. yaitu mengulangi apa yang hidup dalam benak para tokoh sejarah. Perbedaan pokok antara pengkajian sejarah dan ilmu eksakta bahwa peneliti sejarah tidak hanya berurusan dengan kelakuan lahiriah obyek penelitiannya. masa lalu dapat diulangi dalam batin kita sehingga pengetahuan berdasarkan pengalaman masa silam tidak mustahil. Collingwood menggunakan konsep re-enact.G.Hermeneutika di Inggris dan Amerika Serikat ini dikembangkan oleh R. Terdapat perbedaan-perbedaan antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta. Re-enactment terjadi dalam batin peneliti sejarah yang imajinatif dalam ekstrapolasi dan intrapolasi menurut pengalamannya sendiri.

Teks ini memang dalam . bahwa rasionalitas universal manusia mampu melakukan kritik atas kapitalisme. Retorika adalah seni untuk memaparkan pengetahuan. teori kritis memiliki satu pengandaian dasar.Hermeneutika Hans-Georg Gadamer Reza A. Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah retorika dan filsafat praktis (etika). yakni hermeneutika. Sementara hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya.A Wattimena Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. Pada bab ini saya ingin memperkenalkan sebuah metode yang sangat berkembang pada awal dan pertengahan abad kedua puluh. dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu sosial yang membuat manusia tidak mampu mengembangkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin. Di dalam sejarahnya retorika dan hermeneutika memang selalu terkait. terutama hermeneutika yang dirumuskan oleh Hans Georg Gadamer.

dan menjadi percakapan rasional untuk memahami suatu persoalan. Akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas. termasuk Truth and Method. yang merupakan karya terbesarnya. Menurut Gadamer hubungan antara pembaca dengan teks mirip seperti hubungan dialog antara dua orang yang saling berbicara. Selain itu Gadamer juga membaca tulisan-tulisan Aristoteles. Di dalam beberapa tulisannya. Retorika mengandaikan orang memahami teks. Gadamer mencoba untuk melepaskan hermeneutika dari wilayah ilmu pengetahuan. Gadamer sendiri berulang kali menegaskan. Dalam arti ini juga dapat dikatakan. yakni realitas itu sendiri. Sementara pemahaman tidak boleh berhenti di dalam diri seseorang saja. Gadamer menjadikan etika sebagai dasar bagi hermeneutika. bahwa hermeneutika dan retorika saling membutuhkan satu sama lain. . saintifik. Tujuan utamanya tetap yakni melepaskan hermeneutika dari ilmu pengetahuan yang cenderung rigorus. Untuk melakukan itu ia kemudian kembali membaca tulisan-tulisan Plato. Dalam arti ini dialog kehilangan dimensi rigorus saintifiknya. dan sifatnya instrumental. melainkan juga dapat disampaikan dengan jernih kepada orang lain. terutama ilmu-ilmu sosial.bentuk tulisan. dan bukan ilmu pengetahuan. bahwa hermeneutika dan retorika lebih merupakan seni. terutama pada bagian etika.

dan tugas hermeneutika adalah memahami pengertian tersebut. dan lepas dari pikiran manusia. Berdasarkan penelitian Jean Grodin. tetap. Beragam makna di dalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang bersifat esensial. Bahasa selalu memiliki beragam makna. dan universal di dalam bahasa itu sendiri. Di dalam bahasa terdapat pengertian. Yang pertama pengertian selalu terkait dengan proses-proses akal budi (cognitive process). Untuk memahami berarti untuk melihatnya secara lebih jelas. atau memahami teks. Artinya bahasa itu memiliki sesuatu yang sifatnya khas pada dirinya sendiri. . anda akan mendapatkan kesan bahwa ia senang sekali bermain kreatif dengan bahasa untuk menciptakan pemahaman-pemahaman baru. dan itu justru harus diakui dan dirayakan. Untuk memahami sesuatu berarti untuk menggenggamnya dengan kekuatan akal budi. Hermeneutika selalu terkait dengan pengertian tentang realitas. Inilah arti dasar dari hermeneutika sebagai proses untuk memahami sesuatu. hermeneutika. dan membuka kemungkinan bagi pemahaman-pemahaman baru. Menurutnya bahasa tidak pernah bermakna tunggal.Pengertian Sebagai Kegiatan Pikiran[1] Jika membaca tulisan-tulisan Gadamer langsung. Untuk memahami berarti untuk menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang lebih luas. memiliki tiga arti. Untuk memahami berarti untuk menyentuhnya dengan akal budi. yakni proses untuk memahami teks.

Di dalam tradisinya hermeneutika berfokus pada upaya untuk memahami teks-teks kuno.Konsep pengertian atau pemahaman (understanding) juga bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial. Dalam arti ini orang yang mengerti bukan hanya ia memahami . Konsep hermeneutika Gadamer juga berakar pada tradisi tafsir teks-teks kitab suci ini. ilmu-ilmu sosial tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam. Pengertian sebagai Kegiatan Praktis Yang kedua hermeneutika selalu terkait dengan pengertian yang bersifat praktis. Konsep pengertian sendiri memang sudah tertanam di dalam tradisi hermeneutika sejak lama. Maka dari itu menurut saya. terutama teks kitab suci. Di dalam proses memahami realitas sosial. melainkan mengkalkulasi yang untuk mengeksploitasi dan memprediksi fenomena alamiah. Inilah yang kiranya menjadi argumen utama Wilhelm Dilthey. Pengalaman hidup tersebut dapat dipahami melalui proses rekonstruksi ulang yang dilakukan peneliti melalui penelitiannya. setiap bentuk tindakan dan ekspresi seseorang selalu mencerminkan apa yang dihayatinya di dalam kehidupan. seorang filsuf ilmu-ilmu sosial yang hidup pada abad ke-19. Inilah yang disebut Dilthey sebagai pengalaman hidup (life experience). searah dengan penelitian Dilthey. karena tujuan ilmu-ilmu alam bukanlah memami pengalaman hidup.

yakni proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. Untuk memahami manusia menurutnya. . Di dalam hidupnya manusia selalu mencari arah baru untuk dituju. manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. Di dalam proses merumuskan filsafatnya. tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sebuah masakan yang enak. Gadamer sangat terpengaruh pada filsafat Heidegger. Untuk menemukan arah yang tepat. Untuk memahami sudah selalu mengandaikan mampu menerapkan. Seorang koki yang baik tidak hanya memahami konsep teoritis bumbu. Artinya anda tidak hanya memahami pengetahuan teoritis tentang cara mengajar dan arti pengajaran itu sendiri. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger. terutama tentang fenomenologi adanya. tetapi juga memiliki ketrampilan praktis untuk menerapkannya. tetapi mampu mengajar dengan baik.pengetahuan tertentu. orang harus peduli dan mampu memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Hanya dengan memahami diri secara tepatlah manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu. Gadamer memfokuskan hermeneutikanya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. Misalnya anda adalah seorang guru yang baik.

Bertindak baik tidak sama dengan memahami hakekat dari yang baik. Yang pertama bagi . namun ada hal-hal mendasar yang telah disetujui sebelumnya. Untuk mengerti berarti juga untuk setuju. penerapan adalah sesuatu yang amat penting. ketika orang mengerti. Kata understand bisa berarti mengerti atau memahami. Di dalam bahasa Inggris. Kebijaksanaan praktis juga melibatkan pengertian tertentu. dan juga bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. kalimat yang familiar dapa dijadikan contoh. Sifat praktis ini diperoleh Gadamer. “we understand each other”. ketika ia mulai secara intensif membaca tulisan-tulisan Aristoteles tentang kebijaksanaan praktis. Memang pengertian itu tidak seratus persen berarti persetujuan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Grondin. Penerapan adalah soal tindakan nyata.Dapat juga dikatakan bahwa filsafat Gadamer lebih bersifat terapan. Dalam konteks pengertian ini. seperti yang dilakukan Plato di dalam filsafatnya.[2] Pengertian sebagai Kesepakatan Gadamer juga berpendapat bahwa pengertian selalu melibatkan persetujuan. ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. jika dibandingkan dengan filsafat Heidegger.

Dan tema utama pembicaraan (subject matter) itu dapat terus berubah. maksud asli pengarang hanyalah hal sekunder. pembaca dan penulis teks memiliki kesamaaan pengertian dasar (basic understanding) tentang makna dari teks tersebut. Dalam arti ini proses sache tidak lagi berfokus untuk membangkitkan maksud asli dari penulis teks. Di dalam proses pemahaman itu. Namun di dalam hermeneutika Gadamer. Namun tetaplah harus diingat. Maksud asli pengarang tetap ada. namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. melainkan berfokus pada tema yang menjadi perdebatan yang seringkali berbeda dengan maksud asli si penulis teks. bahwa fokus dari hermeneutika. atau subyek yang menjadi tema pembicaraan.Gadamer. Di dalam hermeneutika tradisional. Ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant. atau proses . jika kita memiliki beberapa pengertian dasar yang sama dengan pengarang. Misalnya saya membaca teks tulisan Immanuel Kant. Sache inheren berada di dalam setiap proses pembacaan ataupun proses dialog. untuk memahami berarti juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Namun kita hanya dapat mengerti maksud tersebut. tujuan utamanya adalah membangkitkan maksud asli pengarang. Pemahaman atau pengertian dasar (basic understanding) itu disebutnya sebagai sache. Yang penting adalah apa yang menjadi tema utama pembicaraan.

peran bahasa sangatlah penting. Dalam arti ini untuk memahami berarti untuk merumuskan sesuatu dengan kata-kata. menurut Gadamer. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia (linguistic elements of understanding). Maka perlulah ditegaskan bahwa bagi Gadamer. Bahkan ia berpendapat bahwa pengalaman penafsiran (hermeneutic experience) hanya dapat dicapai di dalam bahasa. Di dalam proses ini. baik dialog aktual fisik. ataupun dialog ketika kita membaca satu teks tulisan tertentu. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. Bagi Gadamer elemen bahasa untuk mencapai pengertian ini sangatlah penting. Namun begitu bukankah tidak semua hal dapat disampaikan dengan kata-kata? Seringkali kita mengerti sesuatu. adalah untuk membangkitkan makna tentang tema utama pembicaraan. setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog.menafsirkan. dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa. Saya .[3] Yang kedua menurut Gadamer. tindak memahami selalu melibatkan kemampuan untuk mengartikulasikannya di dalam kata-kata dan menyampaikannya di dalam komunikasi. tetapi tidak bisa mengartikulasikannya secara jernih melalui bahasa. Saya juga bisa memahami keindahan dari suatu karya seni. Misalnya saya mengerti sebuah simbol. dan tidak semata-mata hanya untuk menjelaskan maksud asli dari penulis teks.

Maka dari itu di dalam komunikasi. Tentu saja orang bisa salah tangkap. pematung. Dengan demikian walaupun sifatnya terbatas. merupakan alat komunikasi yang universal untuk mencapai pemahaman. . karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif. kita perlu memperhatikan juga apa yang tak terkatakan.juga bisa memahami keindahan suatu musik. Semua bentuk komunikasi itu bisa membuka ruang untuk penafsiran dari pendengar ataupun penerima pesan. dalam arti luas. termasuk pelukis. Tidak hanya itu seringkali perasaan dan bahkan kebenaran itu sendiri tidak dapat dikurung di dalam rumusan kata-kata. karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis. tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. Jika bahasa tidak lagi bermakna. Gadamer berpendapat bahwa para seniman. Dalam beberapa kasus tarian dan bahkan diam juga bisa menjadi sebentuk bahasa yang menyampaikan pesan tertentu. Di dalam bukunya yang berjudul The Truth and Method. dan pemusik. sehingga tercipta kesalahpahaman. Namun hal itu terjadi. di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. lalu bagaimana proses pengertian atau memahami bisa terjadi? Menurut Gadamer bahasa memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar kata-kata. namun bahasa.

Hal yang sama dapat diterapkan untuk memahami suatu teks. Logika berpikir menolak sebuah penjelasan atas suatu konsep yang terlebih dahulu mengandaikan konsep tersebut. Seperti sudah sedikit disinggung. seperti yang dilakukan Heidegger dan Gadamer.Konsep Lingkaran Hermeneutis[4] Gadamer juga dikenal dengan argumennya soal proses penafsiran. Namun jika dilihat secara fenomenologis. Konsep lingkaran hermeneutis ini sangatlah dipengaruhi oleh filsafat Heidegger. dan sebaliknya bagian-bagian teks itu dapat dipahami dengan . Pengertian dasar itu disebut Gadamer sebagai antisipasi. bahwa orang bisa memahami keseluruhan dengan terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya. menurut Gadamer. setiap bentuk penafsiran untuk memperoleh pemahaman selalu melibatkan pemahaman dasar lainnya. Argumennya begini setiap bentuk penafsiran selalu mengandaikan pengertian dasar tertentu. Tentu saja dari sudut logika. hal itu mungkin. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah sebuah logika klasik. Oleh karena itu konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer sangatlah berbau fenomenologi. hal ini tidak bisa diterima. orang perlu memiliki pemahaman. seperti untuk menafsirkan guna memahami sesuatu. atau yang disebutnya sebagai lingkaran hermeneutis. Artinya untuk memahami kita juga memerlukan pemahaman. Maksud utama dari keseluruhan teks dapat dipahami dengan berpusat pada bagian-bagian teks tersebut.

Ini adalah salah satu kriteria untuk mendapatkan pemahaman yang tepat. dan bukan hanya terjebak pada apa yang tertulis atau terkatakan saja. maka proses penafsiran akan menjadi tidak fokus. dan sebaliknya. Pemahaman adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari.memahami keseluruhan teks. Teks harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yang tentunya melibatkan teks-teks lainnya. Supaya dapat memperoleh pemahaman yang tepat. Tujuan utama Gadamer adalah untuk memahami teks di dalam kerangka berpikir yang lebih menyeluruh. adalah proses yang berkelanjutan. Jika sudah begitu maka pemahaman yang tepat pun tidak akan pernah terjadi. si pembaca teks haruslah memahami koherensi antara makna keseluruhan dan makna bagian dari teks tersebut. bahwa keseluruhan (whole) dan bagian (parts) selalu koheren. menurut Gadamer. Jika dilihat dengan kaca mata ini. Tidak hanya itu proses untuk memahami keseluruhan melalui bagian. Setiap bentuk pemahaman juga mengandaikan adanya kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya ingin dipahami. Dalam arti ini Gadamer memiliki perbedaan . Jika kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya sungguh dipahami ini tidak ada. dan bukan sesuatu yang sudah ditemukan lalu setelah itu proses selesai.[5] Pengandaian hermeneutika Gadamer adalah. maka konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer tetap mengandung unsur logika yang tinggi.

Sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literatur. Sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya. Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme. Bagi Heidegger fokus dari pengertian manusia adalah untuk memahami masa depan dari eksistensi manusia. Sementara fokus dari hermeneutika . dan sebaliknya. Sementara bagi Gadamer konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan. Maksud utuh dari teks dapat dipahami dengan memahami bagianbagian dari teks tersebut. Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan. Sementara bagi Gadamer fokus dari pengertian adalah upaya untuk memahami masa lalu dari teks. Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya. Artinya untuk memahami orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu. Juga bagi Heidegger proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta di dalam proses penafsiran tersebut. Dan sebaliknya bagianbagian dari teks dapat dipahami dengan terlebih dahulu memahami maksud keseluruhan dari teks tersebut. fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. serta arti sebenarnya dari teks tersebut.mendasar dari Heidegger.

yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks. Walaupun banyak memiliki perbedaan. dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri. bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer. yang biasanya negatif. Namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik.Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya. namun keduanya tidaklah sama. Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia.[6] Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik. namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal. Dengan demikian kita bisa memastikan. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. baik kebenaran di level eksistensi manusia. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi . Prasangka membuat orang melihat apa yang ingin mereka lihat. yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat.

seperti yang dikutip dari Nietzsche. Setiap interpreatsi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung. 1974:12) Bilamana ada pluralitas makna. di sinilah didapati dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas yang menimbulkan . 1983:192) Salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah ‘perjuangan melawan distansi kultural’.manusia dengan berdasarkan kehidupan itu sendiri. Baginya manusia pada dasarnya adalah bahasa dan bahas itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi (Ricoeur. 1985:43).*** Paul Ricoeur pada historisitas Ricoeur yang berlatar belakang pandangan Katholik. dan di lain pihak mencari daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri keluar. Jika pembahasan interpretasi hanya terbatas pada simbol-simbol maka ini menjadi terlalu sempit. setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. Definisi pasti tentang hermeneutik menurut Ricoeur adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur. Teks sebagai penghubung bahasa isyarata dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. Penjelasan struktural suatu teks cenderung bersifat obyektif. Menurut Riceour. demikian pula jika simbol-simbol mulai dilibatkan. maka dibutuhkan sebuah interpretasi. Riceour kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan ‘perhatian kepada teks’. Tugas utama hermeneutik di satu pihak adalah mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam suatu teks. fenomenologis. historis. memiliki prespektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial ke analisis eidetik (pengamatan yang sedemikian mendetil). Ia mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalaha interpretasi terhadap interpretasi. Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore. sedangkan penjelasan hermeneutik memberi kita kesan subyektif. hermeneutik hingga pada akhirnya semantik.

maka tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita. terutama pada interpretasi. Adanya simbol. Hermeneutik dan interpretasi tidak pernah lepas dari simbol-simbol. yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Jadi. Ada empat tema yang diketengahkan oleh Ricoeur. Percikan Gagasan Paul Ricoeur tentang Hermeneutik 1. Pemahaman yang pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie. Langkah pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Tema kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja. Ada dugaan bahwa keseluruhan filsafatnya pada akhirnya terarah kepada hermeneutik. Dia juga menegaskan bahwa “filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik. tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol (katakata) dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. Latar Belakang Pemikiran Paul Ricoeur tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan Katolik. sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol. Maka. yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ sangat tajam. mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang asli. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Kata-kata sebagai sebuah simbol memiliki makna dan intensi tertentu. Tema keempat adalah perpaduan antarcakrawala.” Setiap interpretasi merupakan usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Bagi dia sebenarnya keseluruhan filsafat merupakan interpretasi terhadap interpretasi. langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. maka di situ interpretasi dibutuhkan. tema pertama adalah tidak ada titik nol saat kritik tuntas dapat mulai dilakukan. situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.problem. Tema ketiga adalah jika tidak ada pandangan ang menyeluruh. Salah satu simbol adalah bahasa. Di sini batasan pembahasannya terletak pada usaha menafsirkan bahasa tulisan yang tertuang dalam kata-kata. langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya. . Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. Menurut Ricoeur ada tiga langkah pemahaman. Bilamana terdapat pluralitas makna. yaitu untuk memahami sebauh percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya.

Sebuah kata mengandung konotasi yang berbeda bergantung pada konteks pemakainya. penyair. Pola-pola makna ini secara luas memberikan gambaran tentang konteks hidup dan sejarah orang tersebut. Dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat. Karena itu. Ricoeur memperluas definisi tersebut dengan ajakan memberi “perhatian kepada teks”. Inilah yang disebut oleh Ricoeur sebagai “perjuangan melawan distansi kultural”. sebuah kata adalah juga sebuah simbol. sebab kedua-duanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. Walaupun demikian. maka seorang penafsir harus mengambil jarak tertentu dengan obyek tafsiran. agar bisa sampai kepada penafsiran yang tepat. petani dan sebagainya. yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks. Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensionaldan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya. sebuah teks harus kita tafsirkan dalam bahasa yang tidak pernah tanpa pengandaian dan diwarnai dengan situasi kita sendiri dalam kerangka waktu yang khusus. Menurut Ricoeur. tradisi ataupun aliran yang hidup dari bermacam-macam gagasan. kiranya terlalu sempit. namun konteks pun bermacam-macam menurut zamannya. Kita bisa tersesat dengan memberi makna (bisa lain sama sekali) kepada obyek dan bukannya memetik makna yang sudah ada dalam obyek tersebut. Usaha ini tidak mudah. Acapkali seorang penafsir membawa juga struktur-struktur yang sudah “jadi” tentang obyek tafsir sehingga sebelum menafsir sudah ada “warna” yang diberikan kepada obyek tersebut. Ia menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik ialah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”nya teks itu muncul ke permukaan. orang yang berbicara membentuk pola-pola makna secara tidak sadar dalam kata-kata yang dikeluarkannya. misalnya kata “pohon” akan mempunyai makna yang bermacam-macam bergantung pada pembicaranya: apakah ia seorang penebang kayu.kekayaan sebuah simbol justru ditemukan dalam maknanya yang sejati sehingga tidak menimbulkan multi-tafsir. 2. Setiap kali kita membaca sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat. ekologist. Bagaimana dilema ini kita . Kata dan Makna Telah kita lihat bersama bahwa. Bahkan meskipun benar juga bahwa makna dapat diturunkan dari konteks yang terdapat dalam sebuah kalimat. Lebih jauh lagi. Ruang Lingkup Hermeneutik Bila hermeneutik didefinisikan sebagai interpretasi terhadap simbol-simbol. Dalam hal ini kita sebaiknya mengikuti definisi yang diajukan oleh Ricoeur tentang hermeneutik. Kalau sampai pewarnaan itu terjadi maka ada kemungkinan usaha untuk mencapai makna yang sejati akan menemui kendala. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. istilahistilah memiliki makna ganda. Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain. 3.

Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. di mana pembacaannya selalu berbeda-beda. inilah yang dimaksudkan dengan “rekontekstualisasi”. ini berarti “pemerkosaan” terhadap interpretasi. maka yang dimaksudkan dengan “dekontekstualisasi” adalah bahwa materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya.pecahkan? Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi” (= proses ‘pembebasan’ diri dari konteks). Ia membantu dalam menggali makna otentik dari sebuah teks. Maka. misalnya tentang pengarang dengan situasi dan konteks kebudayaan dan orang-orang sezamannya beserta tujuan dan kepada . yang isinya dapat dinikmati oleh setiap generasi. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. 4. Latar belakang Ricoeur sebagai penganut katolik yang setia menjadi cerminan bagi kami dalam mempelajari dan mendalami isi teks kitab suci. Refleksi Berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Ricoeur kami menemukan faedah hermeneutik dalam kehidupan sehari-hari. melainkan membuka diri terhadapnya”. Injil seringkali kita bayangkan sebagai sebuah “kitab yang hidup”. serta untuk melakukan “rekontekstualisasi” (= proses masuk kembali ke dalam konteks) secara berbeda didalam tindakan membaca. harus dapat mengatasi situasi dikotomis. ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing. khususnya bagi kita yang setiap harinya berhadapan dengan teks-teks kitab suci. baik dari sudut sosiologis maupun psikologis. Pembaca Injil tidak “membaca ke dalam” teks. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ itu tajam. situasi kultural dan kondisi pengadaan teks. tetapi mendalami aspek-aspek di balik teks yang kelihatan. Atas dasar otonomi ini. Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas. Jika Injil tidak dapat diterapkan pada zaman kita ini. Pertanyaan kita sekarang adalah adakah interpretasi itu mempunyai titik akhir? Menurut Ricoeur. melainkan ia merelakan dirinya “dirasuki” Injil. Jika kita mendapat titik akhir sebuah interpretasi. untuk dapat berhasil dalam usahanya. Tidak. Tugas hermeneutik menjadi sangat berat sebab hermeneut harus membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Interpretasi selalu bersifat terbuka. namun masih juga kita rasakan relevan atau dapat kita terapkan pada semua hikayat dan persitiwa pada masa mendatang. Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Ricoeur dengan pernyataannya: “Memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks. Sebagai contoh. yaitu untuk memahami sebuah percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Kitab Suci Injil menyajikan contohcontoh teks yang berasal dari zaman yang berbeda dengan zaman kita. Bahwa “perhatian kepada sebuah teks” tidak semata-mata terletak pada pemahaman hurufiah. maka tidak mungkin kita sampai saat ini masih mendiskusikannya.

terutama Uthman Ibn ‘Affan. Semenjak peristiwa itu. Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬dan Posisinya dalam Hermeneutika Barat. akan terus menggali intensi dari teks yang satu dan sama dengan maknanya yang tetap otentik. mempersempit bacaan Alquran yang beragam menjadi satu versi. Ada sembilan karyanya yang penting dan sudah dipublikasikan. Tindakan ini menurutnya sebagai upaya melanggengkan hegemoni kaum Quraysh terhadap kaum muslimin. 4. Pada tahun 1992.Tafkir: Didda al-. Konsep Nasr Hamid ini membawa dampak pada metode penafsiran teks al-Quran.lahl wa al-Zayf wa al Khurafah (Cairo. Adalah menarik menyimak bagaimana Nasr Hamid memandang teks al-Quran. Quraysh. Pendahuluan Mengkaji aplikasi hermeneutika dalam tradisi Islam tidak terlepas dari tokoh Nars Hamid Abu Zayd. di Netherland Nasr menjadi profesor tamu studi Islam pada Universitas Leiden sejak 26 Juli 1995. maka benar bahwa tugas penafsiran itu tidak akan pernah berakhir. Utsman Ibn ‘Affan. Mesir pada 10 Juli 1943. Ricoeur mengajak kita untuk tidak berhenti pada penemuan makna yang otentik dari sebuah teks. 3. Dia bekerja sebagai dosen di Universitas yang sama sejak 1982. sebagaimana dia paparkan dalam berbagai bukunya. “Pemurtadan” Nasr tidak berhenti sampai di situ. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. 1995) AI. yaitu: 1. Selain itu. Setiap orang dari generasi ke generasi dengan situasi zamannya. al-Haqiqah: a/-Fikr al-Diniy bayna lrdaat al Ma’rifah wa lradat alHaymanah (Cairo. Biografi Nasr Hamid Abu Zayd lahir di Tantra. itu berarti ia menyangkal hakekatnya sebagai “homo rationes”. Pemikir ini sangat terkenal di dunia dan di Indonesia. 1999 ) AI-Nass.[1] Belakangan ia divonis “murtad”. tetapi ditolak karena hasil kerja dan pemikirannya yang kontroversial. Buku-bukunya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. Lebih jauh ia mengingatkan kita untuk menangkap pesan atau relevansinya dengan konteks kehidupan kita sendiri. diantaranya menghujat para sahabat. Dia menyelesaikan gelar BA pada 1972 konsentrasi Arabic Studies. The al. maupun artikel. Awalnya. juga menjadi rujukan para akademisi. Berakhirnya sebuah penafsiran justru terjadi jika orang tidak lagi mau berpikir. Al-Khitab wa al-Ta’wil (Dar el-Beida. Dengan proses penafsiran seperti ini.siapa tulisan itu hendak diberikan. 5. 1995) Naqd al-Khitab al-Diniy (Cairo. Ia menulis lebih dari dua puluh sembilan (29) karya sejak tahun 1964 sampai 1999. tetapi masih terus berlanjut hingga pengadilan banding Kairo menetapkan Nasr harus menceraikan istrinya. Tulisan ini akan coba menguraikan biorafi Nasr Hamid Abu Zayd. baik berbentuk buku. 2. terutama dalam Mafhum an-Nas Dirasah fii Uluum al-Quran dan Naqdu al-Khitab ad-Dini. dan Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. Dan bila orang tidak lagi mau berpikir. Menurutnya.Tafkir fi Zaman al. al-Sultah. hingga 27 Desember 2000 dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap di Universitas tersebut. dia dipromosikan sebagai profesor.[2] Nasr Hamid Abu Zayd merupakan ilmuwan muslim yang sangat produktif. 2000) Dawair al-Kawf Qira’ah fi al-Khitah al-Mar’ah (Dar el-Beidah. 2000). dia meninggalkan Mesir dan menetap di Netherlands bersama istrinya.Qur’an: God and Man in Communication (Lcidcn. 1994) . di mana ia mengkritisi metode tafsir Ahlu Sunnah yang menurutnya tidak sesuai dengan konteks kekinian. gelar MA pada tahun 1977 dan PhD pada 1981 dengan konsentrasi Islamic Studies di Universitas Kairo. 6. dikenal dengan peristiwa “Qadiyyah Nasr Hamid Abu Zayd”.

Kemudian ia melanjutkan studi di bidang yang sama di Universitas Amerika di Mesir. Perhatian yang diberikan oleh para pengkaji Islam dalam menelaah tradisi Arab-Islam dari dulu sampai dewasa ini. Barangkali ini yang menjadi penyebab mengapa ia memiliki perhatian yang cukup besar terbadap interpretasi Alquran. Selain itu. Tuduhan-tuduhan tersebut muncul sebagai reaksi terhadap tulisan-tulisan Nasr tentang interpretasi Alquran. baik S-2 maupun S-3 mengambil konsentrasi bahasa Arab dan Islamic Studies. 1993) AI-lttijah al-’Aqli fi al-Tafsir: Dirasah Qaqiyyat al-Majaz fi al -Qur ‘an (Beirut. Selanjutnya ia juga concern melakukan kajian terhadap wacana keagamaan. ia juga bergabung dengan Ikhwan al-Muslimin. Meskipun Nasr sekolah di sekolah Teknik. hal ini dilatarbelakangi suatu asumsi bahwa peradaban dunia dapat diandaikan kepada tiga kategori. banyak difokuskan kepada pembacaan teks-teks tersebut. Sementara itu mengapa Nasr tertarik untuk menafsirkan Alquran dengan menggunakan teori kritik sastra? Hal ini dapat dimengerti karena Nasr mendapat gelar SA di bidang bahasa dan sastra Arab pada fakultas sastra Universitas Kairo. Menurut Nasr Hamid Abu Zayd. bahkan ia pernah bekerja sebagai teknisi elektronik di Organisasi Komunikasi Nasional. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd : Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬Serta Posisinya dalam Hermeneutika Barat Kehadiran teks dalam tradisi keagamaan telah membawa pengaruh dan implikasi yang cukup besar bagi perkembangan intelektual.[4] Peradaban Arab-Islam disebut peradaban teks dalam pengertian sebagai peradaban yang menegakkan asas-asas epistemologi dan tradisinya atas suatu sikap yang tidak mungkin mengabaikan peranan teks di dalamnya. seperti rasionalisme. Bergabungnya Nasr dalam organisasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap cara pandangnya terhadap Islam. ini tidak berarti bahwa teks itu sendiri yang menumbuh-kembangkan . peradaban Yunani disebut “peradaban akal” (hadlârah al-‘aql) . Ikhwan al-Muslim adalah organisasi Islam yang beranggotakan Islamis moderat. yaitu peradaban Mesir Kuno yang disebut “peradaban (yang muncul) pasca kematiannya” (hadlârah mâ ba’da al-maut ). kritisisme.[3] Pemikiran Nasr yang kontroversial tersebut sebagai produk latar belakang pendidikan dan pemikiran keagamaannya. 1982) Nasr Hamid Abu Zayd hidup dalam hegemoni wacana agama Islam yang ”terisolasi” dari dunia ilmu pengetahuan Barat. Hasil eksplorasinya memunculkan beragam tudingan miring.7. 9. Fenomenologi dan hermeneutika. 8. Mafhum al-Nash: Dirasah fi ‘Ulum Alquran (1994) (Cairo. karena studi pascasarjananya. Kendati demikian. sedangkan peradaban Arab-Islam dikategorikan sebagai “peradaban teks” ( hadlârah an-nash). sejak usia 11 tahun. Perhatiannya yang sangat besar di bidang interpretasi (tafsir) Alquran rnendorongnya untuk bereksplorasi dengan filsafat Barat. kebudayaan dan peradaban. 1994) Fa/safat a/-Ta’wi!: Dirasah fi a/-Ta’wi! al-Qur ‘an ‘ind Muhyi a/-Din Ibn ‘Arabiy(Beirut. tetapi ia telah hafal Al quran sejak usia 8 tahun. Tradisi Arab-Islam nampak memiliki “tradisi teks” yang cukup kuat ketimbang peradaban yang lain.

bahkan menurut pengarangnya sendiri makna itu akan berbeda dari satu periode ke periode yang lain. sedangkan yang berubah-rubah adalah magzâ (signifikansi). Ketika makna teks dapat berubah sesuai dengan pengarangnya. Hubungan ini menghasilkan interpretasi baik pada level pengkajian teks maupun terhadap fenomena. kitab tafsir.peradaban atau meletakkan asas-asas kebudayaan dalam sejarah masyarakat Muslim. Hirsch membuat pembedaan atau pemisahan antara apa yang disebut makna (meaning) dan apa yang disebut magzâ (signifikansi). tasawuf dan falsafah telah berperan sebagai instrumen yang melengkapi lahirnya kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab-Islam. bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya. maka sebenarnya yang dimaksud yang berubah adalah magzâ. didasarkan pada dialektika (‫)جدلية‬ kreatif antara subjek dan objek. Hirsch. Sesungguhnya faktor utama yang melandasi dan menjadi asas epistemologi dari suatu kebudayaan adalah proses dialektika antara manusia dengan realitasnya (jadal al-insân ma’a al-wâqi’i) yang meliputi aspek sosial. Hermeneutika berhubungan dengan problem penafsiran dan problem ini terfokus pada relasi antara teks dan penafsir. dia berpendapat adanya dua tujuan yang terpisah yang masing-masing terkait dengan dua bidang yang berbeda.[9] Menurut Ahmad Hasan Ridwan. begitu pula teks-teks liturgis keagamaan yang lain seperti Alquran. karena karakter bahasa kitab suci dan historisitasnya dikaji melalui pendekatan linguistik yang dikonsepsikan oleh Ferdinand de Saussure dan pendekatan makna yang dibahas oleh Hirsch.” Hermeneutika objektif-historis merupakan bentuk kritik terhadap pembacaan tendensius (talwîn).)الموضوعية العلمية‬ Hermeneutika objektif-historis Abû Zayd adalah gagasan kritis berdasarkan argumentasi sebagai berikut. Sementara ideologisasi dihasilkan dari kecenderungan subjektif-oportunistik (an-naz’ah aí-íâtiyah an-naf’iyah) dan telah menggugurkan sudut objektif teks dan historisitas teks. dari satu masa ke masa yang lain. Dalam hal ini.D. fiqih.‫]مستوى درس النصوص والظواهرعلى السواء‬ “Hal ini berarti bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya didasarkan pada dialektika yang produktif dan kreatif antara subjek dan objek. Konsep parole dan langue dalam kategori semiotika diterapkan untuk membahas al-Qur’ân sebagai parole dan teks sebagai langue. Nasr Hamid Abû Zayd menawarkan hermeneutika modern sebagai respons terhadap tradisi penafsiran teks klasik yang mengabaikan eksistensi penafsir. Sedangkan signifikansi (magzâ) berdasarkan keberagaman jenis relasi yang ada antara teks dengan pembaca. Hirsch berpendapat bahwa pengabaian terhadap pengarang timbul dari konsep (imagination) yang menyatakan bahwa makna karya sastra akan berbeda dari satu kritikus ke kritikus yang lain. sedangkan teori penafsiran bertujuan untuk mencari makna teks sastra itu. untuk mengatasai problem yang dilematis ini. maka data-data teks tidak berposisi sebagai penerima pasif terhadap orientasi-orientasi subjek yang mengetahui. Teori penafsiran Nasr Hamid Abû Zayd bersifat objektif-historis dari teks. yaitu bahwa proses penafsiran dan kegiatan pengetahuan secara umum selalu ditujukan untuk mengungkapkan berbagai kenyataan yang memiliki keberadaan objektif di luar horison subjek pembacaan.[7] Teori interpretasi Abû Zayd dipengaruhi oleh hermeneutika E. ‫و هذا معنى ان القرأة الحقة، والنشاط المعرفى الحق عموما، تقوم على الجدليلة خصلبة خلقلة بيلن اللذات والموضلوع. syarah hadis. dan proses dialog kreatif manusia yang terjalin dengan teks ( wa hiwâruhu ma’a an-nash) pada sisi yang lain. Yang tetap adalah makna. Abû Zayd banyak memanfaatkan pendekatan linguistik melalui kritik sastra. Hal ini berarti. و هلذه العلقلة تنتلج التأويلل عللى‬ 6].[10] Makna (dalalah) ada dalam karya itu sendiri. yang dapat dicapai melalui analisa teks. Apabila horison pembaca membatasi sudut pandangnya. dan bentuk kritik terhadap kecenderungan positivistik-formalistik (an-naz’ah al-wad’iyah asy-syakliyah) yang menyembunyikan orientasi-orientasi ideologis di bawah jargon “objektif ilmiah” (‫.[8] Hirsch menjelaskan keberadaan pengarang di hadapan berbagai pendapat yang mengabaikannya. Bidang dan tujuan kritik sastra adalah mencari signifikansi teks sastra yang sesuai dengan satu masa tertentu.[5] Realitas sebagai sebuah “teks” seperti konteks kesejarahan manusia. tetapi maknanya tetap satu. Hal ini didasarkan pada . Hirsch berpendapat bahwa signifikansi sebuah teks sastra terkadang berbeda-beda atau beragam. politik dan budaya pada satu sisi. ekonomi. hadis.

dan satu sama lain mengkombinasikan dirinya pada saat memunculkan wacana. Karenanya menurut Nasr Hamid Abu Zayd. Ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan antara “sistem/logika bahasa” dengan “sistem/logika teks” yang keduanya itu dibatasi oleh pesan dari ideologi si penutur. tetapi juga mengungkapkan cita-cita yang sesuai bagi penafsiran. teks dan pembaca. Sehingga otoritas itu dapat dikatakan sebagai produk dari proses dialektika.[11] Makna yang dikehendaki pengarang berbeda dengan makna yang tersimpan dalam teks. “menafsirkan”. Pembedaan antara makna dan signifikansi terdiri dari dua konsep.[12] Menurut Ahmad Hasan Ridwan.[18] Ia menawarkan dan memperkenalkan pendekatan modern dalam memahami teks. Penafsir tidak memaksakan pendapatnya masuk ke dalam teks. dengan segala aspek sosial dan latar belakang historisnya. bahasa menjadi dasar sebagai sumber peafsiran dan penta`wilan. seperti juga yang terjadi dari relasi antara teks dengan kebudayaan sebagai relasi dialektis yang saling menguatkan. antara penutur dan penerima harus terdapat kerangka yang sama sebagaimana disebut di muka. baik oleh penutur maupun penerima. dan dia istilahkan dengan kematian pengarang (maut almuallif). Akan tetapi dalam realitas pragmatisnya hal itu sulit terjadi. pemikiran dan ideologi. atau “memahami teks”.[16] Berikutnya. Alquran tidak bisa keluar dari kerangka kebudayaan bangsa Arab saat itu. yang harus diperhatikan dalam teks adalah makna teks. Sebab proses komunikasi dalam bingkai bahasa adalah menyampaikan pesan dalam bentuk teks. bahwa kelihatannya pemikiran hermeneutika Nasir Hamid Abu Zayd cenderung pada sintesa dari model keterpusatan kepada teks (text centered) dan keterpusatan pada penafsir (reader centered). Pada tataran inilah kemudian terjadinya reduksi atau bahkan kemungkinan distorsi terhadap pesan.keyakinan bahwa pengarang mentransformasikan dirinya kepada pembaca sehingga merubah hubungan pengarang dengan teks. yakni “pembacaan” (qirâ’at). Sedangkan si penerima memiliki kemungkinan dengan sistem/logika bahasanya untuk membentuk “kerangka interpretatif” ( al-ithâr at-tafsîr î) tersendiri terhadap pesan yang disampaikan si penutur.[15] atau the death of authoroleh Derrida. Karakter dan corak suatu teks akan senantiasa menggambarkan dan merefleksikan struktur budaya ( bunyah as-saqâfah) dan alam pikiran ( state of mind) di mana ruang dan waktu teks tersebut dibentuk.[14] Dengan demikian. sebagaimana Scheleirmacher memfokuskannya pada usaha memahami teks. atau apa yang dimaksudkannya. tugas hermeneutika tidak hanya menentukan prinsip-prinsip penafsiran umum. peran pemaknaan secara mutlak diserahkan pada pembaca teks (reader centered). misalnya.[23] juga memperkenalkan teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) dalam upaya memahami teks.[21]untuk menandai proses penemuan “makna”. Pertama. bukan apa yang dikehendaki pengarang. dalam hal ini. Hirsch Jr. Nasr Hamid Abu Zayd dengan meminjam teori hermeneutika Barat E. Nasir Hamid Abu Zayd bersifat dekonstruktif dengan menempatkan teks terpisah dari pengarangNya.[17] Ketika proses interaksi kebahasaan berlangsung. Melalui “sistem/logika teks”. dengan pengaruh teks-teks syair bangsa Arab. Baik Betti maupun Hirsch berpendapat bahwa filologi adalah metode yang paling ideal untuk menafsirkan teks. menurut Nasir Hamid Abu Zayd sebagaimana juga pendapat Hirsch. Akal pikiran manusialah yang melahirkan makna dan berbicara atas nama teks.[22] Selain itu. sedangkan teks itu sendiri tidak berbicara. Salah satu karakteristik tipikal dari pengaruh sosio-kultural terhadap karakteristik Alquran bahwasanya dalam proses pembentukan teks. Tentunya ini dapat juga terjadi ketika melakukan interpretasi terhadap teks Alquran. dalam menafsirkan teks. makna memiliki watak historis. Hirsch sependapat dengan Betti mengenai pentingnya fokus hermeneutika pada bidang kajiannya tentang makna teks agar sampai kepada tafsir objektif. [19] Dalam pendekatan modern.. Karenanya. Betti hendak mengembalikan hermeneutika pada keadaan alaminya. sebuah ungkapan tulisan atau teks terdiri atas pengarang.[13] Penjelasan di atas menggambarkan. yaitu bahwa . akan tetapi melalui proses dialektika antara teks dengan manusia sebagai objek teks. atau apa yang ingin diekspresikannya. Lahirnya makna tidaklah berasal dari teks itu semata-mata.[20] Ia mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi pembaca tentang apa itu “membaca”. ideologi si penerima masuk untuk memberikan penilaian.D. Fenomena ini kemudian melahirkan istilah baru dalam tradisi penafsiran.

Kedua. Proses ini tidak boleh berhenti pada makna dalam pengertian historis partikularnya. masalah yang berkaitan dengan ayat-ayat perbudakan. jin dan setan. sementara signifikansi bersifat dinamis seiring dengan horison pembacaan yang terus berubah.” Pembedaan antara makna dan sigifikansi di dalam menginterpretasi teks bagaikan dua sisi mata uang. Hal itu berlangsung karena signifikansi tidak terlepas dari sentuhan makna. antara masa lalu dan masa kini. level kedua adalah level makna yang dapat diinterpretasi secara metaforis.[27] Teori ta’wîl yang ditawarkan Abû Zayd merupakan proses gerak dialektis (gerak bandul) antara makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ).[26] bermula dari proses pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. dan antara teks dan pembacanya.[24] Selanjutnya beliau membedakan tiga tingkatan dalâlah. sementara signifikansi memiliki watak kekinian. suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) dengan cara penelusuran intelektual ke masa lalu (past time) untuk memasuki ruang-ruang historis. dalâlah yang dapat diperluas dengan pencarian magzâ. Dari magzâ ini. Signifikansi mencerminkan tujuan dan sasaran dari tindakan pembacaan. tetapi proses ini harus menyingkapkan signifikansimagzâ yang memungkinkan untuk membangun pondasi kesadaran ilmiah atas dasar signifikansi tersebut. seperti ayat-ayat kewarisan untuk wanita. maka tujuan tersebut dapat dicapai hanya melalui penyingkapan makna. dalâlah yang merupakan saksi sejarah yang tak dapat dicarikan ta’wîl dan magzâ-nya. seperti ayat-ayat kehambaan (‘ibâdiyah) bukan penghambaan (‘ubûdiyah). hubungan muslim dan non muslim (ahl al-kitab). dan kembali ke masa kini (present time) untuk mendapatkan makna baru yang hidup (produktif). Teks muncul di masa lalu (past time). sebagaimana signifikansi mengarah pada dimensi makna. makna secara relatif memiliki watak yang stabil dan mapan.‫]الثقافىالجتماعى الذى تتحرك فيه النصوص، ومن حلله تعيد انتاج دللتها‬ “tiga level makna dalam teks-teks agama. Gerak dialektis ini menghasilkan pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. sebagai suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ) untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) ketika teks itu muncul di masa lalu. Level pertama adalah level makna yang hanya merupakan buktibukti historis yang tidak dapat diinterpretasi secara metaforis atau lainnya. hasud. dan melalui produktivitas makna dari teks-teks tersebut. Pertama. dan hasil temuan ini digunakan untuk membangun kembali magzâ dan begitu proses selanjutnya. sihir. . Ketiga. Nilai baru yang dimaksud adalah fusi horison untuk future yang hasilnya digunakan untuk membangun kembali magzâ secara terus menerus.[28] Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Jika aplikasi teori hermeneutika Syahrûr dikenal dengan istilah intertekstualitas dengan teknik sintagmatis-paradigmatis untuk menangkap pesan yang terkandung dalam teks al-Qur’ân. Hermeneutika Abû Zayd menurut Ahmad Hasan Ridwan. dan level ketiga adalah level makna yang dapat diperluas atas dasar “signifikansi” yang dapat disingkapkan dari konteks kultur-sosial di mana teks-teks tersebut bergerak. yaitu bahwa ia merupakan hasil pembacaan yang berbeda dengan masa terbentuknya teks. Kedua. sebagaimana Abû Zayd menjelaskan : ‫ثلثة مستويات للدللة فى النصوص الدينية : المستوى الول مستوى الدللت التى ليست ال شواهد تاريخية ل تقبل التأويل لمجلازى أو غيلره، والمسلتوى‬ ‫الثانى مستوى الدللت القابلة للتأويل المجازى، المستوى الثالث مستوى الدللت القابلة للتساع علللى أسللاس “المغللزى” الللذى يمكللن اكتسللافه مللن السللياق‬ 25].ia tidak mungkin diungkapkan tanpa pemahaman yang memadai terhadap konteks internal linguistik teks dan konteks sosial-budayanya. teks dapat terus berkembang. dalâlah yang dapat dita’wilkan dengan majâz.

Dalam masalah poligami. sehingga ia menggunakan metode dekonstruksi dan analisa arkeologis. memisahkan makna antara yang “normatif” dan yang “historis” di satu sisi dan menempatkan kebenaran (truth) secara kondisional menurut budaya tertentu dan suasana historis di sisi lain. Ketidaksesuaian ini dapat dilihat dari beberapa unsur berikut. Kedua. meletakkan teks dalam konteks Alquran secara keseluruhan terhadap konsep adil.[31] dan kelihatannya dipengaruhi teori hermeneutika post-strukturalis Michel Foucault. dan tafsir – ta’wil di sisi lain sehingga tidak tepat digunakan untuk mengkaji Alquran. No. 2. pembacaan subjektif dan pemahaman yang hanya mendasarkan pada relativitas sejarah. Perbedaan tersebut terutama dalam sifat alamiahnya.[29] dan Fazlur Rahman dikenal dengan teori double movement.[30]Kemudian Hermeneutika Arkoun berusaha untuk memilah dan menunjukkan mana teks pertama atau teks pembentuk dan mana teks hermeneutika. Dengan melakukan ini. Poligami Makna /Dilalah Praktik Islam Sikap poligami pra-membatasi dalam islam :poligami poligami poligami tidakempat istritidak terbatas secara adil mungkin: monogami ditekankan Signifikansi/maghza Yang tak terkatakan adilTujuan akhir legislasiPoligami Islam: monogami dilarang Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Pendekatan hermeneutika yang dikembangkan kalangan modernis semisal Nasr Hamid Abu Zayd yang merupakan upaya untuk mengembangkan pendekatan dalam memahami Alquran banyak ditentang di kalangan umat Islam. Pertama. Poligami dalam wacana Alquran mempunyai level makna ketiga. Abu Zayd berharap bahwa “yang tak terkatakan” atau yang implisit dapat diungkapkan.[32] Maka aplikasi teori Nasr Hamid Abu Zayd berangkat dari teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) sebagaimana dikemukakan sebelumnya dan contoh cara kerjanya sebagai berikut. akan . hermeneutika secara jelas menyamarkan kedudukan teks-teks suci agama. karena memang pada awalnya hermeneutika ditujukan untuk menjembatani kewibawaan dan keaslian teks Bibel yang bermasalah.[35] mengemukakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara hermeneutika di satu sisi. Adnin Armas misalnya. Kesadaran akan historisitas teks keagamaan adalah teks linguistik dan bahasa sebagai produk sosial dan kultural. Abu Zayd berargumentasi sebagai berikut: 1. penentuan kontekstual terhadap makna dengan mengesampingkan kemapanan bahasa dan susunan makna dalam bahasa (semantic structures). di mana pemahamannya haruslah melampaui makna historisnya dengan menguak signifikansi masa kininya dan mampu menguak dimensi yang tak terkatakan dari suatu pesan. menyebabkan kosa kata dalam teks kitab suci selalu permisif untuk disusupi berbagai dugaan (guess/conjecture). otoritas dan keaslian teks. serta dari sisi kebakuan bahasa dan makna dalam memaknai kitab suci.[33] Gambar :[34] 3. Poligami dibolehkan dalam Alquran pada hakikatnya adalah sebuah pembatasan dari poligami yang tak terbatas yang telah dipraktikan sebelum datangnya Islam. Ketiga.

akan membatalkan konsep wahyu yang dikenal dalam Islam. sebenarnya telah menolak sumber ketuhanan (the divine source) . tentu sulit diterima akal yang jernih. yang tidak memihak pada supremasi data empiris. PERSIS. diaplikasikan dalam kehidupan dan disampaikan kepada umatnya. Kedua. NU. Padahal Nabi SAW telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi hal-hal yang bersifat syubhat (samar). membatalkan konsep dakwah dalam Islam.cenderung pada paham sekuler. Sebab ayat tersebut akan dipertanyakan lagi. tapi sudah menjadi pemilik para pembacanya. hingga akhirnya menjadi kabur dan samar. PKS atau Islam apa?Keenam. Maka akibatnya umat Islam tidak wajib melaksanakan perintah ayat dakwah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu…” (QS. petunjuk dan ilmu pengetahuan.kebenaran al-Quran hanya dimiliki Tuhan saja. antara agama dan pemikiran keagamaan. Pemikiran seperti ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah berniat menurunkan alQuran untuk manusia. namun telah membubarkan konsep wahyu dalam Islam. [36] Penggunaan hermeneutika yang menghasilkan asumsi historisitas Alquran dengan dalih bahwa perbuatan Tuhan bila telah teraktualisasi dalam sejarah. Ketiga. Pendekatan kesadaran historis-ilmiah menurut Nasr Abu Zayd cenderung kepada apa yang dihasilkan oleh pembaca teks yang memiliki perangkat ilmiah kekinian untuk menjadi ‘hakim’ dalam mewarnai interpretasi teks keagamaan. Kelima. Al-Nahl: 125). Membacanya adalah ibadah. teks bukan lagi milik pengarangnya. Sebab paham relativisme akan menisbikan batasan antara yang ma’ruf dan yang munkar. Ketujuh. jalan Tuhan yang mana? Kalau Islam. ia menjadi kabur. Pertama. menyeret pada pengertian bahwa seolah-olah semua ayat al-Quran tidak memiliki penafsiran yang tetap dan disepakati. Adanya perbedaan dalam penafsiran al-Quran. terjaga dalam mushaf. maka dengan sendirinya akan ditolak oleh pendekatan kesadaran historis-ilmiah dalam memahami teks-teks keagamaan. Maka bagi Nasr Hamid Abu Zayd. Sebab definisi ilmu dalam Islam adalah sifat yang dapat menyingkap suatu objek. Sebab dengan corak pemahaman ala Abu Zayd bahwa kemutlakan Alquran dan sakralitasnya telah sirna dan menjadi teks manusia ketika masuk dalam pemahaman Nabi. baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak. berlawanan dengan konsep ilmu dalam Islam. Keempat. seperti yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd akan membuka beberapa konsekwensi serius. syarat dan kaidah dalam menafsirkan alQuran. sehingga tidak menyisakan ruang keraguan. Semua umat Islam sepakat bahwa pengertian Alquran adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara lafzhan wa ma’nan (lafazh dan maknanya) dengan perantara Jibril AS. di dalamnya terkandung berbagai mukjizat. kemudian disampaikan kepada para Sahabat dan diwariskan dari generasi ke generasi secara mutawatir (recurrence) tanpa keraguan sedikitpun. dan berakhir pada keyakinan. bukan berarti penafsiran itu mutlak nisbi. Apakah dengan demikian Tuhan tunduk mengikuti kaedah peraturan alam yang diciptakan-Nya sendiri? Apakah kemudian wahyu dapat “diseret” untuk mengikuti kemauan realitas sejarah yang berkembang? Karenanya menurut Adian Husaini. Andaian nisbinya tafsir secara mutlak. [37] konsep Alquran yang diuraikan Nasr Hamid Abu Zayd di atas bukan hanya bertentangan dengan pengertian Alquran yang dikenal oleh umat. sejatinya telah menimbulkan konsekwensi yang rumit untuk diterima akal sehat. Paham relativisme akan mengatakan bahwa yang ma’ruf menurut sebagian orang. Bahkan semua penafsiran dipengaruhi oleh kepentingan penafsir dan situasi psiko-sosialnya. mengingkari tugas Nabi yang diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu. Sedangkan dalam dataran epistemologis (epistemic level). Abu Zayd dan kelompok modernis lainnya yang menerapkan metode historis (historical methodology). karena semua perintah dan larangan dalam al-Quran bersifat nisbi yang tidak harus dilaksanakan. Sementara relativisme selalu bermuara pada kebingungan. klaim adanya dikhotomi antara yang mutlak dan yang nisbi. Karenanya menurut Hendri Sholahudin. membubarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Selain itu. bisa jadi munkar bagi sebagian lainnya. Islam yang mana? Islam Muhammadiyyah. menolak otoritas keilmuan. Oleh karena pertimbangan yang diambil pemikiran keagamaan lebih berorientasi pada Pencipta Teks (Allah). Sehingga saat kebenaran itu sampai pada manusia. maka harus tunduk pada peraturan sejarah. sebab manusia tidak pernah tahu apa maksud Tuhan dalam al-Quran. antara Alquran dan tafsirnya. sebab setiap orang berhak menafsiri al-Quran dengan kualitas yang sama nisbinya.

sebenarnya adalah bentuk pengutamaannya terhadap realitas lahiriyah (al-waqi‘ al-madi. ekonomi dan sosial. tentunya harus tetap dikritisi dan diuji. pembaca teks dapat memahami teks secara ilmiah dan tidak terpasung. kecenderungan ulama klasik yang lebih memposisikan teks agama sebagai hakim daripada akal. justru sangat rancu. teks adalah hasil dari sebuah realitas. segala aktivitas berfikir yang selalu terbayang-bayangi oleh realitas ketuhanan dan metafisika (akidah. memahami agama dengan cara menundukkannya dalam ruang sejarah. Dengan demikian. proses kesinambungan (continuity) dengan tradisi lama tetap berjalan meskipun telah muncul tradisi baru. tabu (desakralisasi) maupun khurafat. Sebagai sebuah teori. Maka dengan demikian Abu Zayd lebih mengutamakan realitas (al-waqi‘) daripada pikiran. namun pada kenyataannya data empiris yang ditampilkan tersebut masih diwarnai oleh peran Pencipta Teks. Sehingga menurut Hendri Sholahuddin. Sebab meskipun kedua pendekatan ini juga memperhatikan data empiris. pahala. dan karena itu. corak pendekatan ulama klasik dalam pembacaan teks. Dengan cara ini. politik dan budaya yang melatarbelakanginya. Nasr Hamid Abu Zayd menganjurkan untuk mengunci firman Tuhan dalam ruang dan waktu. sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan karena akan diikuti oleh umat Islam. menuntut perubahan dalam pembacaan teks.terhadap Alquran yang mereka anggap sebagai realitas holistik (the holistic reality) yang dihasilkan dari metodologi penelitian ilmu-ilmu sains. Kemudian membatasi makna Alquran menurut zaman tertentu dalam sejarah. Maka setiap perubahan yang terjadi dalam realitas. Khatimah Hermeneutika merupakan hasil ektrapolasi otoritas manusia sebagai produk dari proses interaksi pemikran Islam dengan pemikiran Barat. sebagai hakim yang menentukan arah pemaknaan teks. hermeneutika dikukuhkan sebagai metode alternatif ketika sistem penafsiran dalam tradisi Islam tidak memadai untuk memahami teks-teks keagamaan dalam realitas kontemporer. Sebab unsur ideologi dalam suatu penafsiran tidak bisa dinetralisir. baik oleh pandangan dogmatis-sektarian (madzhab minded). Terlepas dari itu semua. Sebagai sebuah teori penafsiran. dimana latar belakang sejarah saat itu mengambil peranan inti dalam mewarnai pemikiran beliau dan bahasa sebagai perangkat ungkapan sejarah (expressional tool of history). material reality). Atau dengan kata lain. bahasa dan budaya yang terbatas adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat yang tidak sejalan dengan Islam. . Sebab baginya. Dan baginya. sesungguhnya Nasr Hamid Abu Zayd telah melahirkan ijtihad baru dalam metode penafsiran. Alquran adalah hasil pengalaman individual yang diperoleh Nabi Muhammad dalam waktu dan tempat tertentu (specific time-space context). siksa. menolak suatu ideologi adalah ideologi itu sendiri. kemudian menjadikan pembaca teks dengan segala kondisi sosial. sampai akhirnya terjadi kesepaduan antara teks dan realitas (zaman dan tuntutannya). Dengan demikian. Dengan kata lain. fenomena sejarah dan teks linguistik membawa pengertian bahwa Alquran dihasilkan secara kolektif dari serangkaian faktor politik. permasalahan ideologis (imankufur). metode penafsiran (hermeneutika) Nasr Hamid Abû Zayd merupakan artikulasi dari proses kesinambungan (continuity) dan perubahan (change). dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zayd. Sebaliknya. seperti halnya menolak kemapanan adalah menetapkan ketidakmapanan atau bentuk lain dari sebuah kemapanan. mistis. Sebagai pembaca yang menjadi hakim dalam memaknai teks. Ibarat dua sisi mata uang.[38]tujuan teori tafsir Nasr Hamid Abu Zayd yang ingin menghilangkan ideologi sektarian.Kecenderungan Abu Zayd yang lebih mengesampingkan Sang Pembuat Teks. Dengan demikian. dipandangnya sebagai corak pendekatan ideologis. Perubahan (change) terjadi ketika hermeneutika merupakan tradisi baru memiliki kekuatan dibanding tradisi lama. syari’ah dan akherat) dipandang sebagai bagian dari mitos (usthurah). Akan tetapi. terikat dengan pendekatan asbab alnuzul dan naskh wa mansukh adalah terpasung dan tidak ilmiah. mengesampingkan suatu ideologi hanya akan terjebak dalam ideologi lainnya. Interaksi dialogis telah melibatkan sebuah proses dialektika yang intensif antara tradisi besar dan tradisi kecil dalam sejarah pemikiran Islam. Pernyataan Abu Zayd bahwa Alquran adalah produk budaya. Sehingga pada akhirnya yang diikuti oleh umat tetunya teori yang telah teruji dan dapat dipertahankan. tentunya harus tetap terus diuji.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful