FENOMENOLOGI

1.

Pengertian

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon (gejala/fenomena). Adapun studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadaran terdalam para subjek mengenai pengalaman beserta maknanya. Sedangkan pengertian fenomena dalam Studi Fenomenologi sendiri adalah pengalaman/peristiwa yang masuk ke dalam kesadaran subjek. Fenomenologi merupakan ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi mempelajari suatu yang tampak atau apa yang menampakkan diri. “fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri. “Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: “saya melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis. Husserl juga mengungkapkan tentang reduksi transendental. Reduksi ini harus dilakukan menurut Husserl lebih dikarenakan karena Husserl menginginkan fenomenologi menjadi suatu ilmu rigous. Ilmu rigous tidak boleh mengandung keraguan, atau ketidak pastian apapun juga. Ucapan yang dikemukakan pada ilmu rigorous harus bersifat “apodiktis” (tidak mengizinkan keraguan). Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolut. Setiap benda material selalu diberikan dalam bentuk profil-profil. Misalnya dari sebuah lemari yang ada di hadapan saya, saya hanya dapat melihat depannya saja tanpa dapat mengetahui bentuk depannya, dan ketika saya ingin melihat sisi depannya, maka saya harus melihatnya dari sisi yang lainnya, namun setelah itu saya tidak bisa melihat sisi depan dari profil-profil lain. Dengan cara inilah benda-benda material tampak bagi saya. Setiap benda material tidak pernah diberikan kepada saya menurut segala profil-profilnya, secara total dan absolut. Cara realitas material tampak bagi saya bersikap sedemikian rupa, sehingga tidak dapat ditemukan pernyataan-pernyataan apodiktis dan absolut tentangnya. Karena alasan-alasan itulah fenomenologi sebagai ilmu rigorous harus mulai dengan mempraktekkan “reduksi transendental”. Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan penje lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edid etik dalam linguistik, fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberada an, penggambaran gejala (refleksi), transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial. fenomenologi

Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesa daran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting. Bagi

fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran. Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian. Keter libatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari hari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa penger tian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.

1.

Sejarah Fenomenologi

Pada masa sebelum ada cara berpikir fenomenologis, cara berpikir manusia dibagi dua kutup yang berlawanan 180 derajat yaitu: idealisme dan realisme. Kaum penganut idealisme menilai benda-benda maupun peristiwa yang terjadi disekitarnya berdasarkan ide-ide yang dikembangkan dalam pikirannya. Kemudian ide-ide ini membentuk semacam “frame of reference” yang secara subjectif dipahami sebagai kebenaran. Dalam memandang dunia sekitarnya seorang idealist akan memakai acuan “frame of reference” yang merupakan ide-ide dalam pikirannya. Oleh karena itu seorang idealist biasanya juga sangat subjectif dalam menilai dunia sekitarnya. Sumbangan idealisme kedunia adalah adanya penemuan-penemuan baru, ide-ide baru, karya besar di bidang sastra, dll. Sedangkan kebalikannya kaum penganut realisme, melihat benda-benda maupun sesuatu peristiwa yang ada sesuai dengan keadaan nyata benda tersebut yang secara nyata bisa diraba, diukur atau punyai nilai tertentu. Kalau tidak bisa dibuktikan bahwa benda itu nyata dan punya nilai atau ukuran tertentu maka benda itu tidak pernah ada. Oleh karena itu penganut realisme cenderung kepada atheisme yang tidak percaya adanya Tuhan karena Tuhan tidak bisa dilihat secara nyata. Realisme sangat berpengaruh di Eropa pada masa revolusi industri dan sumbangannya kedunia adalah kemajuan “science & technology”. Pada sekitar awal abad ke 20, walaupun revolusi industri terus bergerak, beberapa filsuf di Eropa seperti Edmund Hursell (1859 - 1938) mulai meragukan kehandalan cara berpikir realisme yang seolah-olah tidak ada satupun dialam ini yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. Apapun yang telah ditemukan, persoalan-persoalan dasar manusia tidak pernah bisa diselesaikan. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan alam. Edmund Hursell memperkenalkan fenomenologi yang belakangan dikembangkan menjadi eksistensialisme. Cara berpikir fenomenologi ditekankan dengan pengamatan terhadap gejala-gejala dari suatu benda. Kalau seorang penganut realisme menilai benda dengan cara melihat bentuk, ukuran dan nilai suatu benda, maka seorang penganut fenomenologi melihat benda dengan gejala-gejala yang muncul dari benda tersebut. Benda itu ada berdasarakan gejala-gejala yang timbul dari benda itu sendiri, kita hanya menangkap gejalagejala tersebut. Benda tersebut bercerita tentang dirinya dengan memancarkan gejala-gejala, dengan menangkap gejala tersebut kita bisa menangkap esensi benda tersebut. Semua benda punya pancaran gejala-gejalanya sendiri-sendiri, kita akan bisa lebih memahami benda tersebut apabila kita menganggap benda sebagai subjek yang menceritakan diri sendiri melalui gejala-gejala yang memancar darinya. Contohnya: kalau kita melihat kursi, kursi itu sendiri memancarkan gejala-gejala bahwa dia itu kursi bukan meja. Kita hanya perlu menangkap gejala yang muncul dari kursi tersebut kemudian kita tidak akan salah bahwa dari gejala-gejala yang muncul dari kursi itu bahwa kebenarannya dia itu kursi, bukan benda yang lain. Jelas cara berpikir ini adalah cara berpikir yang radikal berbeda dengan cara berpikir idealisme maupun realisme. Idealisme memahami alam sekitarnya melalui manusia sebagai subject dengan ide-ide pikirannya, benda disimpulkan sepenuhnya tergantung dari ide-ide pikiran. Realisme memahami benda kalau benda itu nyata berdasarkan ukuran atau nilai. Sedangkan fenomenologi menganggap object sebagai subject yang bercerita kepada kita melalui gejala-gejala yang timbul darinya.

1.

Fenomenologi Sebagai Metode Penelitian

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Berikut ini adalah sedikit uraian tentang fenomenologi sebagai metode penelitian; Fokus Penelitian Fenomenologi :

• •

Textural description: apa yang dialami subjek penelitian tentang sebuah fenomena. Structural description: bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya.

Teknik Pengumpulan Data Fenomenologi :

• •

Teknik “utama” pengumpulan data: wawancara mendalam dengan subjek penelitian. Kelengkapan data dapat diperdalam dengan : observasi partisipan, penulusuran dokumen, dan lain-lain.

Tahap-Tahap Penelitian Fenomenologi :

• • •

Pra-penelitian Menetapkan subjek penelitian dan fenomena yang akan diteliti Menyusun pertanyaan penelitian pokok penelitian

Proses Penelitian Fenomenologi :

Melakukan wawancara dengan subjek penelitian dan merekamnya.

Analisis Data Fenomenologi :

• • • • •

Mentranskripsikan rekaman hasil wawancara ke dalam tulisan. Bracketing (epoche): membaca seluruh data (deskripsi) tanpa prakonsepsi. Tahap Horizonalization: menginventarisasi pernyataan-pernyataan penting yang relevan dengan topik. Tahap Cluster of Meaning: rincian pernyataan penting itu diformulasikan ke dalam makna, dan dikelompokkan ke dalam tema-tema tertentu. (Textural description, Structural description) Tahap deskripsi esensi: mengintegrasikan tema-tema ke dalam deskripsi naratif. Kritik Terhadap Fenomenologi

1.

Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif. Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan

Sebuah pengalaman mental atau konsep atau gambaran (image) pada dasarnya kaya akan corak dan warna serta mempunyai nuansa yang beraganeka ragam. fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati. Nuansa-nuansa bahasa bukanlah merupakan hal yang baru. yaitu pendeta bijak dari Delphi yang menerjemahkan keinginan para dewa supaya dapat dipahami para manusia. ataupun ilmu pengetahuan. Bahasa sebagai suatu sarana komunikasi antar individu dapat juga tidak berarti sejauh mana orang yang berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya. mungkin) ke dalam ungkapan yang dipahami oleh manusia. namun untuk pertama kalinya bahasa menjadi pusat pembicaraan filosofis H. baik dari adat. Sebagai akibatnya. agama.pendekatan fenomenologi. Ia “menerjemahkan” keinginan Dewa Zeus (dalam bahasa dewa. kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsifkan. hermeneutika dikaitkan dengan seorang dewa Yunani. Selanjutnya. Ia sendiri adalah pencipta bahasa dan tulisan. Dalam hal-hal seperti ini. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free). sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini. Apakah Hermeneutik itu ? Definisi Secara etimologis. Hermeneutik dan Bahasa Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. 1. orang kemudian biasanya menurunkan arti kata-kata berdasarkan konteks yang ada. Hermeneutik Di dalam tradisinya. sebagaimana juga pada pengalaman-pengalaman imajinasi-imajinasi untuk menggambarkan sesuatu. Kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. 1. Dengan demikian. fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Dengan ungkapan lain. 1. yang sama dengan yang lain. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digenaralisasi. tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Pada hermeneutik terdapat pengalaman-pengalaman mental yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang. merupakan sesuatu yang absurd. Dibalik kelebihan-kelebihannya. dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama. Peralihan dari pengalaman mental dalam kata-kata yang di ucapkan atau ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk mengerut atau menyempit. yang hanya berlaku pada kasus tertentu.G. Di dalam bahasa Inggris kata delphic sendiri berarti tidak jelas atau ambigu. Menurut Aristoteles. Maka adalah tugas sang pendeta untuk memberikan tafsir atas kalimat yang ambigu tersebut. dan kata-kata turunan. tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud. serta dalam waktu tertentu. terutama ilmuwan sosial. baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Gadamer yang . Hermes (dalam mitologi Romawi disebut Merkurius) sebagai dewa yang menyampaikan pesan Dewa Zeus kepada manusia. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai. berpikir itu ialah melalui bahasa dapat menjadikan orang berbicara dan menulis dengan bahasa. Hermeneutik akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Hal ini dipertegas oleh Derrida. sinonim. pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif. sehingga manusia bisa memahami satu sama lain. Hermeneutika juga dikaitkan dengan hermeios. Dalam bentuk tertulis tidak hanya ejaan dan rangkaian huruf-huruf yang berbeda namun kesamaan bunyi juga akan muncul ( ekiuvokal) seperti misalnya kata genting yang berarti “gawat” atau “atap”atau “sempit”. yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. tetapi bermuatan nilai (value-bound). Aristoteles memisahkan antara homonim. tidak ada satupun manusia yang mempunyai. Untuk menanggulangi halhal semacam ini maka hermeneutik kiranya akan berperan penting. situasi dan kondisi tertentu.

Subtilitas Intellegendi (ketepatan pemahaman) dan Subtilitas Explicandi (ketepatan penjabarannya) adalah sangat relevan bagi hukum.menulis sebagai berikut: bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan -akan merangkul seluruh konstitusi tentang status manusia di dunia ini sebagai bagian yang seakan-akan tidak terbedakan dari dunia ini. Arti makna dapat kita peroleh tergantung dari banyak faktor : siapa yang berbicara.. Interpretasi yang benar atas teks sejarah memerlukan hermeneutik. Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. Cara Kerja Hermeneutik Pada dasarnya semua objek itu netral. Penerapan Hermeneutik Disiplin ilmu yang pertama kalinya banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat dan yang tersirat atau bunyi hukum dan semangat hukum. sebab segala sesuatu itu sudah termuat dalam lapangan pemahaman. Gadamer menyatakan bahwa mengerti berarti mengerti melalui bahasa. dapat dipastikan ia tidak akan mungkin benci terhadap Negara itu. Sebab. Menurut Gadamer. orang terlebih dahulu harus mengerti atau memahami. Hermeneutik adalah cara baru untuk “bergaul”dengan bahasa. Heidegger menjelaskan hal . Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. tempat. manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat dimana ia berada. Darisinilah kita lihat keunggulan hermeneutik. Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat triadik’(mempunyai tiga segi yang saling berhubungan ). arti atau makna yang diberikan pada objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Betti mencoba memahami ‘mengerti “juga menurut gayanya sendiri. Aristoteles menyatakan:Amicus Plato sed magis amica veritas ( Plato adalah seorang sahabat tetapi sahabat yang lebih akrab lagi adalah kebenaran. bila kita mampu memahami ssesuatu bahasa. bahasa menjelmahkan kebudayaan manusia. Melalui bahasa kita berkomunikasi. Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi serentak atau bersama-sama. maka kita mampu memahami segala sesuatu. yang membawa segala sesuatu di dalamnya tidak hanya kebudayaan yang telah disampaikan pada kita melalui bahasa melainkan juga sesuatu tanpa ada kecualinya.Yang dimaksudkan Gadamer adalah bahwa kata-kata atau ungkapann secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan. Namun keadaan lebih dahulu mengerti ini bukan di dasarkan pada penetuan waktu. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Quran. ataupun situasi yang mewarnai arti sebuah peristiwa bahasa. Tradisi dan juga kebudayaan baik dari warisan nenek moyang itu sebagai suatu bangsa yang kesemuanya itu diungkap dalam bahasa yang ditulis pada daun lontar. kitab-kitab Veda dan Upanished supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik. sebab objek itu adalah objek. keseluruhan filsafat adalah “interpretasi”. demikian yang di katakanoleh Wilhelm Dilthey. Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu dimana mausia sendiri mengalami atau menghayatinya. tetapi melaui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. 1.. Untuk dapat membuat interpretasi. 1. kitab Taurat. Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Sebab pada kenyataannya. Orang yang mengenal interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks lalu ia harus meresapi isi teks sehingga yang pada mulanya yang lain kini menjadi aku penafsir itu sendiri. keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu. Dengan kata lain setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami dalam situasinya. Sebagai contoh misalnya pemahaman dan penafsiran anak terhadap kata-kata sedikit banyak tergantung dari latar belakang anak itu sendiri. Katakata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud. Dalam bidang filsafat pentingnya hermeneutik tidak dapat ditekankan secara berlebihan. melainkan bersifat alamiah. Henri Bergson menyatakan bahwa bila seseorang memahami bahasa sesuatu Negara. semuanya itu adalah sama saja. bahasa tidak boleh boleh kita pikirkan atau kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. sebab pada mulanya objek itu menurunkan maknanya atas dasar situasi objek. Bahasa adalah medium yang tanpa batas.”pembahasan”seluruh isi alam semesta kedalam bahasa kebijaksanaan manusia. Bahasa adalah perantara berbagai hubungan umat manusia. Ia memandang interpretasi untuk mengerti.

2. Inilah bahaya yang sering kita alami yaitu kita sering membuat kesalahan dalam linguistik. hukum. Bahkan saat kita meletakkan pause diantara katakata dalam kalimat sering kali kita mengalami kesenjanganjalan pikiran. 1974 : 43 ). sementara Ash menganggap ketiga disiplin ilmu tersebut hanya sekedar appendiks (lampiran) saja bagi filolog. Argumentasi Hermeneutik dalam ruang lingkup lebih luas dapat dijabarkan sebagai setiap objek yang tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama atau sebagaimana yang di sebut oleh Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. maka pada saat itulah disebut sebagai ” Transformasi berbicara yang internal dan orisinal dan karenanya interpretasi menjadi penting”.yang sebaliknya. Wolt Schleiermacher dalam uraiannya banyak juga dipengaruhi oleh para penasehatnya. Pengaruh F. Ast dan F. Ash membagi tugas itu kedalam tiga bagian. historis dan retorik. tata bahasa dan aspek kerohaniannya. yaitu : sejarah. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik F. jadi tidak perlu lagi ada hermeneutik. filosofis. seperti Friedrich ash dan Friedrich August Wolf. A. Wolf membahas tata bahasa. agama. maka kemungkinan untuk salah ucap itu besar sekali. Wolf. A. Interpretasi gramatikal berhubungan dengan bahasa. Satu pernyataan tunggal dapat kita mengerti atau kita pahami dengan berbagai macam cara. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. hermeneutik dan kritik studi persiapan untuk filologi ( ilmu bahasa ). mak mungkin ada salah ucap. Inti Uraian tentang Hermeneutik Menurut Schleiermacher. Tetapi karena tidak ada kesan impresi langsung dari pikiran keucapan kita. Bagi Ash sendiri tugas hermeneutik adalah membawa keluar makna internal dari suatu teks beserta situasinya menurut jamannya. Seandainya ada rasio 1-1 antara pikiran dan ucapan kita. maka tidaklah mengherankan kalau mereka beralih ke hermeneutik karena keduanya ingin membahas makna kata. interpretasi historis dengan fakta waktu. Yang dimaksud Schleiermacher adalah bahwa ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual. Hermeneutik adalah proses menelaah isi dan maksud yang mengejawantah teks yang mengandung arti yang kelihatan sudah jelas ( Ricour. sejarah . Palmer. 1977 : 97 ). pemahaman hanya yterdapat didalam kedua momen yang saling berpautan satu sama lain. dan disiplin ilmu yang lainnya berhubungan dengan teks namun akarnya adalah tetap filsafat. Menurut Wolf juga ada tiga taraf atau jenis hermeneutik atau interpretasi. yang mendefinisikan hermeneutik sebagai seni menemukan sebuah teks. Penerapan hermeneutik sangatlah luas yaitu dalam bidang teologis.D. tergantung pada tata bahasa dan keterlibatan pendengarnya. yaitu manusia yang tidak autentik atau das man yang dimanupulasikan oleh lingkungan atau situasinya.E Schleiermacher ditempatkan sebagai tokoh Hermeneutik . ada dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain. Bahasa gramatikal merupakan syarat berfikir setiap orang. yaitu seandainya dimungkinkan pikiran kita dipantulkan secara tidak senada ( tidak ekuivokal ) dengan ucapan kita. dari Ash Schleiermacher mendapat ide untuk mengamati isi sebuah karya dari dua sisi : sisi luar dan sisi dalam. Sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang menangkap ” setitik cahaya ” . Hermeneutik adalah bagian dari seni berfikir itu dan oleh karenanya bersifat filosofis ( Schleiermacher. yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis.tama buah pikiran kita mengerti. Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesusutraan dan lingualistik.kata. maka berbicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir . Aspek luar sebuah karya ( teks ) adalah aspek tata bahasa dan kekhasan linguistik lainnya. 1. Scleiermacher menulis sebagai berikut : Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu sama lain. yaitu interpretasi gramatikal. 3. sebab merupakan ” bagian dari seni berfikir “. Manusia tidak mengontrol melainkan dikontrol oleh situasi. Namun bila saat berfikir kita merasa perlu untuk membuat persiapan dalam mencetuskan buah pikiran kita. baru kemudian kita ucapkan. Inilah alasannya Schleiermacher menyatakan bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita. Aspek dalam adalah jiwanya ( Geist ). Ia membedakan hermeneutik dalam pengertian sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang mendefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri ( Richard E. 1969 : 40 ). Pertama. Seorang filsuf yang mempengaruhi gagasan Schleiermacher adalah F. Menurut Schleiermacher. sedang interpreasi retorik mengontrol kedua jenis interpretasi yang terdahulu.

Semua erlebnis benarnya merupakan pengalaman dalam arti umum (erfahrung) pila.hari. hermeunetik adalah dasar dari Geisteswissenschaften. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya. yaitu rekonyruksi historis. suatu proses memahami dan interpretasi. Menurut Dilthey. Dalam hal ini. Setiap bagian dari suatu peristiwa hanya dapat dipahami dalam konteks keseluruhan bagian. tetapi tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. untuk memahami pernyataan. Kedua kata tersebut adakah erfahrung. demikian juga dengan interpretasi. dalam arti bahwa seseorang tidak dapat meraamalkan waktu dan cara seseorang mengerti. Taraf ketiga ialah taraf seni : disini tidak ada aturan yang mengikat atau membatasi imajinasi. objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan. antara lain dengan: 1. dimana diharapkan adanya taraf pemahaman dan interpretasi yang tinggi. dan erlebnis. sebab menurut dia. Yang ingin dicari oleh Dilthey adalah pemahaman dan interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sendirinya tersituasikan dalam system-sistem eksternal dari organisasi-organisasi social. politik dan ekonomi dengan nilai-nilainya sendiri yang sudah dianggap mapan atau mantap. 1971:130).pribadi penulis. Disinilah Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan dengan kata “pengalaman”. kita harus mampu mengambil inti sari situasi yang mirip dengan yang mirip dengan yang terdapat di dalam kitab suci. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik.kutipan sastra atau dengan dokumen sejarah yang harus kita ” baca ” inti sari maknanya. Pemahaman Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang hidup tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita. ia merasa perlu memiliki tipe memahami yang khusus. kutipan. Taraf kedua ialah taraf ilmiah : dilakukan di Universitas. Dilthey menaruh perhatian pada metode hermeneutic ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah (Kremer-Marietti.bincang tentang topik umum. Pikiran kita adalah sebuah proses yang ” mengalir ” dan bukan sekedar fakta yang serba komplit. Bisa jadi. termasuk dalam Natuwissenschaften. Taraf pertama ialah interpretasi dn pemahaman mekanis : pemahaman dan interpretasi dalam kehidupan kita sehari. yaitu pengalaman yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. dan juga sebaliknya. filsafat. Disinilah penafsir mulai dengan satu teori tentatif atau konsep awal. Ada beberapa taraf memahami. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kea rah factor-faktor psikologisnya. di pasar atau dimana saja orang berkumpul bersama untuk berbincang. Dari kehidupan sehari.jalan. Dilthey menganjurkan kita menggunakan hermeneutic. di jalan. fisika dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk bidang ini serta semua jenis sains yang mempergunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen. Dilthey pertama-tama membuat deskripsi.pernyataan orang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti “menglami”. maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak. Oleh karenanya. Untuk dapat memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya. Bahkan hal ini juga menuntut suatu pemahaman awal atas objek atau peristiwa yang dipertanyakan itu. Oleh karena itu kita memerlukan suatu pandangan kedalam atau intuisi yang tidak membingungkan bila kita ingin memahami sesuatu teks. Walaupun demikian. Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi.bagiannya. Sedang semua ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah. Dilthey membedakan dengan tajam antara Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Metode Pengoperasian Hermeneutik. lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami perilakunya. Semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologi. dan ilmu-ilmu lain yang sejenis masuk dalam Geisteswissenschaften. psikologi. Interpretasi Data . seseorang selama sekian tahun tidak memiliki pengalaman yang hidup selain hanya pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak makna apa-apa (erfahrungen). Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri. yaitu kata yang biasanya diartikan sebagai “pengalaman” pada umumnya. kemudian mengadakan interpretasi.hari. kimia. Pemahaman yang selalu dipasangkan dengan interpretasi tidak lain adalah seni.

Kedua. Bila kehidupan mental ini tidak terjangkau oleh sarana-sarana objektif. ini berarti kita melakukan proses hubungan sebab akibat. Pertama. Tetapi yang diucapkan oleh pengagum lukisan mempunyai nada pujian. ungkapan atau pernyataan interpretation naturae (interpretasi terhadap alam) adalah wujud dari ucapan. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Hans-Georg Gadamer dalam karyanya yang berjudul Wahrheitund Methode (kebenaran dan Metode) menekankan pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism. Hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. Sebagai contoh misalnya. Tetapi melacak akibat yang timbul karena keputusan sepihak yang dikeluarkan oleh seorang penguasa. Pemahaman adalah proses di mana kehidupan mental menjadi diketahui melalui ungkapannya yang ditangkap oleh pancaindra kita. atau “Aduh. Jadi bagi seorang sejarawan. yaitu ungkapan perasaan. Sebagai contoh misalnya kata “aduh” sbb. Metode atau proses semacam inilah yang disebut hermeneutik. pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Oleh karena itu. Kata “Aduh” memiliki arti yang sama. 1. sakitnya!” yang diucapkan oleh seorang pasien yang sedang disuntik. Karena kebenaran . bahkan seakan menyatu walaupun keduanya itu kita mengerti secara terpisah. Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasanyang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Alasannya adalah karena untuk memahami atau mencerna sudut pandang pelaku asli dalam sejarah. kehidupan mental kita tidak mungkin kita ketahui. dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa. bagusnya” yang keluar dari mulut seorang pengagum lukisan. 1.: “Aduh. suatu proses dimana kita mengetahui sesuatu dari aspek kejiwaannya atas dasar tandatanda yang dapat ditangkap pancaindra sehingga termanifestasikan. sedang “memahami” dan “interpretasi” hanya dipergunakan untuk “mengetahui” manusia. Jadi menurutnya.Dalam satu aspek. bukan metodologis. Bahasa kita sendiri tidak bebas dari pasang surutnya sejarah. bagi kita kiranya cukup mudah unyuk menentukan akibat naiknya harga BBM terhadap situasi ekonomi. maka ia melakukan proses hubungan sebab akibat. Riset Sejarah Dilthey mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses: • • • Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Dalam hal ini Dilthey menekankan bahwa terhadap benda-benda kita hanya mampu “mengetahui”. tetapi akan selalu ditulis kembali oleh setiap generasi. Pengalaman yang hidup dan pemahaman saling melengkapi satu sama lain. dimana orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tersebut sehingga ia bias ambil bagian di dalamnya. Contohnya adalah sejarah bangsa Indonesia tidak mungkin hanya akan ditulis satu kali dan berlaku untuk seterusnya. menggabungkan pengalaman yang hidup dengan pemahaman terhadap individu merupakan keharusan. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada ’satu masa’ saja. Proses pemahaman ini terdiri dari dua bagian yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan secara berbeda satu sama lain. bila kita membaca sejarah. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengalaman. Jadi pemahaman dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah merupakan tugas yang mudah untuk dilaksanakan. kita sebut “komprehensi” atau pemahaman. kewajiban kita adalah “menyusun balik” kerangka yang dibuat oleh sejarawan dengan maksud supaya peristiwa-peristiwa dapat dilihat kembali sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Kata-kata atau pernyataan tunggal dapat mempunyai arti yang bermacam-macam tergantung pada konteks sejarah di mana kata atau pernyataan itu diucapkan. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. kiranya cukup sulit. Tanpa ungkapan. Dilthey berkesimpulan bahwa eksegesis atau interpretasi adalah suatu seni memahami manifestasi atau pengejawantahan hal yang bersifat vital dan ditampakkan pada kebiasaan yang tahan lama. Sedangkan yang diucapkan oleh seorang pasien bertujuan untuk menahan rasa sakit. tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. maka besar kemungkinannya subjektivitas masuk dalam pemahaman terhadap kehidupan mental tersebut. Namun proses tiga tahap pemahaman itu sendiri tidak berlaku untuk metode ilmiah. kita harus memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi atau cara mengenal orang atau masyarakat.

sejarah. Sinonim dari kata Bildung dalam bahasa latin adalah formatio. yaitu bentuk atau formasi. 1. Gadamer menolak konsep hermeneutic sebagai metode. Kata Bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar “kultur atau kebuadyaan”. Pertimbangan Konsep yang ketiga ini mirip dengan sensus communis dan selera. tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh melalui penalaran melainkan kebenaran yang menurut faktanya ” menentang semua jenis penalaran”. Kata existenz adalah istilah yang di pergunakan filsuf eksistensiallis Karl Jasper untuk menyebut “manusia autentik”.Gadamer mengutip pendapat Kant bahwa ” seni murni adalah seni para genius” dan kebenarannya tidak dapat di capai denganmetode ilmiah. masyarakat. istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. pengalaman. karya Gadamer yang paling menarik adalah konsepnya tentang “permainan”. Sensus Communis tidak boleh berperanan penting dalam bidang sains seperti dalam ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan. ekspresi atau ungkapan. Menurut Gadamer. Dalam “kebenaran dan metode”. Pada dasarnya Bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinnya sendiri sebagai yang ideal. cinta komunitas. dunia eksternal. Ia sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus communis adalah pandangan tentang kebaikan umum. 1. 1. Jasper menyatakan bahwa existenz mengambil jalur yang berbeda untuk sampai pada kebenaran eksistensial. Existenz seringkali harus membuat loncatan (saltus) iman untuk mencapai Tuhan. Bildung adalah sebauh gagasanhistoris asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. Pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. namun bukan berarti berlaku um um. Pertimbangan sifatnya universal. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni. Paham tentang Seni Gadamer menaruh perhatian pada bidang seni dengan alas an di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran. “permainan”dapat merupakan semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutic. atau kemanusiaan. ketajaman pikiran. Gadamer sepakat dengan Kant tentang pembinaan pertimbangan praktis yang di . 1. 1. Menurut pengertiannya yang mendasar. Sensus Communis Gadamer menggunakan atau mengartikan ungkapan ini bukan sebagai “pendapat umum” atau pendapat kebanyakan orang pada umumny. Empat konsep tersebut adalah: 1. style atau gaya dan symbol. Sebagaimana dinyatakan oleh Vico. Dalam karyanya yang berjudul Philosophical Apprenticeships (Magang Filsafat) ia menulis sebagai berikut: Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin kebenaran? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensimanusia dan penalarannya. bahkan mempunyai arti dalam lonotasi yang lebih tinggi. 1. ayaitu pertimbanagn praktis yang baik. Sensus Communis mempunyai kesetaraan arti dengan ekspresi dalam bahasa Perancis le bon ses. Sensus Communis juga mempunyai aspek moral. sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran.menerangi metode-metode individual. Pernyataan itu juga dapat di artikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti metode yang ketat jika ingin berhubungan dengan existenz atau “manusia autentik”. Weltanschauung ( pandangan dunia). kebatinan. Yang ingin di katakana Gadamer ialah bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana unyuk mencapai kebenaran filosofis. yang kesemuannya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. Bildung Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni.Gadamer membahas secara panjang lebar empat konsep tentang manusia yang memperkaya hermeneutic. memori atau kenangan harus di bentuk.

konsep. hermenutik mempergunakan keempat konsep manusiawi tersebut. Berdasarkan fakta. Inti uaraian tentang hermeneutic Gadamer beropendapat bahwa hermeneutic adal. tetapi kita harus berfifkir dan berbicara dengan bahasa yang sudak kita miliki sendiri. bukan proses mekanis. Hakikat sebenarnya sebuah cakrawala adalah ” selalu meluas” dan sementara itu kebuudayaan pada hakikatnya juga tidak pernah murnidan tidak pernah di palsukan. selera bertentangan dengan yang tidak menimbulkan selera. 1. minimal dalam pandangan moralnya. Kita berfilsafat tidak mulai dari nol. Gadamer menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hermeneut. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan. Fiksafat tidak mulai dari suatu tempat tert6entu. Gadamer menyebut hermeneutic sebagai seni dan hermeneutic semacam ini tidak dapat di persiapkan lebih dahulu sebelum di buat. Gadamer mengatakan bahwa interpretasi adalah penciptaan kembali. Dari realitas hidup ini. Hidup itu tidak statis melainkan berubah antara rangkaian baik dan buruk. hal ini akan menimbulkan suatu pencampuran cakrawala atau fision of horizons atau bahkan akan menimbulkan campur baurnya kebudayaan yang bermacam-macam. Setiap pertimbangan tentang apa yang di inginkan untuk di pahami dalam individualitasnya yang konkret adalah pertimbangan atas sesuatu yang khusus. tidak dari satu titik awal yang sudah bersifat subyektif.ah seni. prinsip dan hukum-hukum yan dapat di olah manusia. Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. 1. Gadamer juga menegaskan . Dan itulah bahasa filsafat. Hermeneutik adalah metode yang di pergunakan oleh ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu tentang manusia. ini berarti mereka sama saja dengan tidak berbicara apa-apa. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal. Meski bukan merupakan perbuatan yang kreatif Hermeneut atau penafsir selalu memahami realitas dan manusia dengan titik tolakk sekarang atau kontemporer. Pemahaman hanya mungkin di mulai bila bermacam-macam pandangan menemukan suatu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap. melainkan yang hanya dapat di pelajari sebagai suatu seni. yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. luhur fdan rendah. Para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorang pun menngerti. personal maupun dengan suatu perspektif tertentu. Sebagaiman di sebutkan bahwa tugas hermeneutic adalah terutama memahami teks. maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa. sehingga para pembicara asli(native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa atau benang merah bahasanya sendiri. Dalam pandangan Kant. maka mudah sekali untuk menghubungkan selera dengan hermeneutic. 1. Taste atau Selera Menurut Gadamer selera sama dengan rasa. Bila hermeneut berinterpretasi mulai dari titik tolak sejarah yang menguntungkan dirinya sendiri. Pemahaman dan hermeneutic hanya dapa di berlakukan sebagai suatu karya seni. yang menjadi bagian bildung adalah menetukan mana yang boleh di kenang dan mana yang yang harus di buang jauh-jauh. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsure-unsur penting dari pemahaman. dan sebagainya. mulia dan nista. Di dalam interpretasi. Yang di butuhkan hermeneut adalah pengetahuan tentang manusia atau masyarakat yang di peroleh bukan atas dasar kerja ilmiah.perhubungkan dengan pengertian estetis. Pertimbangan dan selera membuat diskriminasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan yang indah dan baik. Tanpa selera tidak akan ada seni dan tidak ada satu selera pun yang dapat menilai seni. tetapi kemampuan ini tidak dapat di demonstrasikan. dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan. Kini yangf menjadi persoalan kita adalah: apa hubungan antara selera dengan hermeneutic? Jika selera melibatkan pertimbangan yang pada suatu saat juga melibatkan sensus communis dan bulding. Menurut Kant. tidakdapat di ramalkan atau di katakana sebelumnya. pertimbangan estetis melibatkan kecerdasan maupun selera. sejauh orang mengetahui ” apa yang harus ia lakukan” juga memiliki seni atau pandanganpraktis. Sensus communis yang bersifat peka terhadap hubungan antar manusia memberi corak khusus pada komunitas sebagai kumpulan person. pertimbangan praktis juga bersifat seni atau estetik.

yaitu yang berasal dari pertimbangan sebelumnya atas keseluruhan pemahaman melalui bagia-bagiannya. yaitu: deduksi. namun itu juga mempunyai konsep tentang penjelasan dan pemahaman. dialektik dan bahasa. Latar Belakang Pemikiran Tentang Hermeneutik Meskipun gagasan-gagasan Habermas tidak berpusat pada hermeneutik. penjelasan “menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas dan sistematis” (Habermas. 1. Gadamer menyebut hal itu sebagai makna atau arti yang akan datang (fore-meaning) dan pemahaman yang akan datang (fore umderstanding). Tugas interpretasi sama dengan tugas konkretisasi hokum atau penerapan hokum p. melainkan akan memperteguhnya. Untuk dapat memahami sebuah teks. Gadamer menambahkan istilah subtilitas applicandi. pemahaman selalu dapat di terapkan pada keadaan kita saat ini. Di dalam induksi. Konsepnya tentang penjelasan tersebut mendekati metode ilmiah yang ia nyatakan mengatasi metodemetode yang lainnya. Dalam berbicara. Abduksi adalah proses pembentukan hipotesis yang bersifat eksplanatoris (menerangkan) yang berbunyi: jika kita harus mempelajari sesuatu . Arti “Memahami” Menurut Gadamer. interpretasi adalah bagaikan terjemahan. ‘metode penguasaan bahan’ dan ‘metode pemikiran a priori’. Interpretasi secara eksplisit adalah bentuk dari pemahaman. Peirce.S.ada hal-hal khusus. ‘ Memahami” selalu dapat berarti membuat interpretasi. Gagasan hermeneutiknya dapat kita ketemukan di dalam tulisannya yang diberi judul Knowledge and Human Interests (Pengetahuan dan Minat Manusia). dan sebagainya. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokomen tertulis saja. di mana pesan yang terdapat di dalam teks itu di tujukan. Kita mengantisipasi dan menginterpretasi menturut apa yang kita miliki ( vorhabe). 1. yang menghindarkan gangguan yang berasal dari penggunaan metode. karena ia berkeyakinan bahwa penerapan seperti halnya pemahaman dan interpretasi adalah bagian hermeneutic. Induksi adalah proses yang aktual dalam penelitian. Maksudnya adalah bahwa terjemahan itu akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasayang teratur. penerapan juga merupakan pemahaman yang benar terhadap factor yang universal. Dulu yang di anggap tugas hermeneutic adalah menyadur makna dari sebuah teks ke dalam situasi konkret. yang juga merupakan persyaratan hermeneutic sehingga membuat pemahaman itu menjadi suatu “hubungan yang histories dan efektif”. Habermas mengikuti tiga bentuk penyimpulan yang dikemukakan oleh C. memang di harapkan. Dengan deduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu ’seharusnya’ berperilaku dalam cara tertentu dengan induksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu pada kenyataannya berperilaku dalam suatu cara tertentu. 1972 : 144).bahwa suatu interpretasi akan benar bila interpretasi tersebut mampum menghilang di balik bahasa yang di gunakan. komposisi musik. meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah. Pemahaman dan interpretasi pada dasarnya juga merupakan penerapan. seperti misalnya ‘metode untuk menekuni sesuatu’. Adanya antisipasi makna. induksi dan abduksi atau proses abduktif. yang menandai hermeneutic. apa yang kita lihat (vorscht). namun gagasan-gagasannya itu mendukung pustaka herme neutik. Sedangkan pemahaman adalah “suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu”. kita harus membuang jauh-jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang di katakan oleh sebuah teks. karena konsep tersebut mencagai keyakinan-keyakinan yang vajid dan definiti Habermas mengatakan bahwa semua peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang tidak akan mempersulit keyakinan-keyakinan tersebut. dan dengan abduksi ia ingin membuktikan bahwa sesuatu mungkin akan berperilaku menurut suatu cara tertentu. serta apa yang akan kita peroleh kemudian (vorgriff). Bahkan karya-karyanya pun tidak secara khusus membicarakan hermeneutik sebagai gagasan tunggalnya. Jadi. ada pengujian apakah dan dengan kemungkinan apa prediksi-prediksi dapat diyakinkan kebenarannya. melainkan juga benda yang bukan bahsa seperti patung. Subtilitas adalah suatu kualitas yang mencarikehalusan seperti “lembutnya” roh. Menurut Habermas. Karya-karya Habermas termasuk dalam bidang sains.

language game dari Wittgenstein). Hermeneutik biasanya mencoba menerangkan apa yang individual. Seperti halnya pemikiran ilmiah. Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut. yang tidak dapat dijangkau oleh interpretasi. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu. 1. Bagaimana dapat terjadi suatu metode menerangkan hal yang individual dan tunggal dengan menggunakan cara yang universal? Dalam ilmu pengetahuan empiris-analitis. yaitu : linguistic. Sebagai contoh misalnya: bahasadan tindakan saling menginterpretasi satu sama lain secara timbale balik (bdk. Habermas menyatakan bahwa selalu ada makna yang bersifat lebih. Pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan. Ia juga memperingatkan kita bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta. interpreter memperhitungkan hal-hal itu sebagai salah satu bentuk atau jenis pemahaman. Habermas mengutip ketiga jenis pemahaman tersebut dari pendapat Dilthey. proses kedua hal itu hanya dapat terjadi atas dasar “asimilasi transcendental a priori dari pengalaman yang mungkin dengan ungkapan universal bahasabahasa teoretis” (Habermas. Habermas mengatakan bahwa pemahaman hermeneutik harus mengintegrasikan ketiga kelas ungkapan kehidupan itu. sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. Dengan kata lain. bahkan kita juga tidak dapat membuat interpretasi atas hal-hal tersebut. Habermas mengatakan bahwa sebuah penjelasan menuntut penerapan proposisi-proposisi teoretis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. yaitu yang menggambarkan pemahaman monologis. maka harus melalui proses yang memperjelas sesuatu atau fenomena tersebut. tindakan dan pengalaman. Pada kelas pengalaman. bahkan di luar pikiran kita. Habermas membicarakan tentang “pemahaman monologis atas makna”. sebagaimana terdapat dalam setiap rumusannya. Dalam hal ini expresi linguistik muncul dalam bentuk yang absolut. Tentang linguistik. yaitu yang terdapat di dalam hal-hal yang bersifat ‘tidak teranalisiskan’. yang disebut monologika itu tidak lain adalah jalan pikiran yang terstrukutur. ‘tidak dapat dijabarkan’. Jadi jelaslah bahwa kita tidak dapat menerangkan hal-hal yang tidak mungkin kita pahami. 1972: 162-163). bukan yang universal. Semua hal tersebut mengalir secara terus-menerus di dalam hidup kita. terutama dalam reaksi tubuh manusia. seperti halnya Dilthey. penjelasan diarahkan pada tujuan akhir.atau memahami fenomena secara lugas. seperti misalnya bahasa simbol. Habermas menegaskan bahwa penjelasan haruslah berupa penerapan secara objektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta. Pemahaman hermeneutik sedikit berbeda dari jenis pemahaman yang lainnya sebab pemahaman hermeneutik diarahkan pada konteks tradisional tentang makna. Jenis Jenis Pemahaman Hal-hal yang menonjol dalam kedua metode pemahaman tersebut tampaknya akan dipadukan. Komunikasi dapat dilakukan melalui tindakan atau kegiatan. Sedang pemahaman hermeneutik di sisi lain tidak dapat mempersempit ketergantungannya pada hal-hal lain. maksud dan ruang lingkup tindakan. 1. sebab pemahaman melibatkan juga pengalaman interpreter. . dan pemahaman menjadi bagian subjektifnya. yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketepatan dan keharusannya. Dari pembedaan itu kita mengetahui bahwa monologika adalah pemahaman atas simbol-simbol yang disebut Habermas sebagai ‘bahasa murni’ karena simbol-simbol mempunyai makna yang definitif. yaitu pemahaman yang tidak me libatkan hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa ‘murni’. Metode ‘Memahami’ Dari uraian di atas telah kita lihat bagaimana Habermas membedakan antara penjelasan denganpemahaman. Dalam tingkat pemahaman seperti ini. Sebagaimana halnya dalam pemahaman linguistik. yang berupa kecenderungan yang tidak dicetuskan atau sebagai ungkapan nonverbal. tindakan atau kegiatan perlu dijabarkan.

Dan ilmu-ilmu kemenusiaan. sejarah dan objektivitas.Oleh karenanya. Hibermas mengambil alih tugas Dilthey dengan mengatakanDilthey telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan akan melihat bahwa objektivasi pemahaman hanya mungkin terjadi bila interpreter atau hermeneut menjadi partner dalam dialog komunikatif. Disini disjungsi tidak dapat berlaku.yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna.Kebutuhan laten tersebut adalah kebutuhan akan hermeneutik. apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum. Suatu proses tertentu bukan induksi.maka hal ini tidak perlu dibesar-besarkan. atau antara tetap subjektif dan harus menjadi objetif.Filsafat pada dasarnya adalah hermeneutik. sebab kita tidak dapat melakukan analisis linguistic eksklusif atau analisis empiris murni. Dilema itu merupakan pertanyaan : “eksklusif linguistic atau analisis empiris”. Dalam ilmu-ilmu alamiah. Ini berarti bahwa hermeneut harus mengadakan interaksi. atau sebaliknya.Adanya simbol. Disini hermeneut menghadapi dilemma antara tetap objektif dan bersifat subjektif. Disinilah letak perbedaan antara ilmu .Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan.Setiap kata adalah sebuah simbol. Terdapat kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep melalui kata-kata. Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan katolik.sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi lapisan. Ricoeur mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi. atau sebaliknya. Dilema Pemahaman Habermas mengatakan : “Sebagai suatu seni yang menggambarkan komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami.Dengan mengutip Nietzsche. 1.Simbol-simbol dan interpretasi merupakan konsep-konsep yang mempunyai pluraritas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau kata-kata.Jika simbol-simbol dilibatkan. Hal ini hanya mudah untuk dikatakan. yaitu melalui proses induksi dimana kebenaran umum akan diperoleh setelah ditentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan individual.ilmu kemanusiaan.ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi.pada dasarnya. jarang terjadi dari yang umum ke yang individual.historis.Ricoeur menyatakan bahwa hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut.Herleneutik pada akhirnya semantik. ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah. Pemahaman harus mengkombinasikan keduanya.mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang .maka interpretasi menjadi penting. Penjelasan dan interprestasi berlangsung dari yang individual ke yang indinidual juga. Interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan “keseluruhan yang terdiri dari campuran macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya” dan koreksi terhadap apa saja yang dikemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi. sebagaimana terjadi dalam dialog atau dialektika antara yang umum dan yang individual. hermeneutik berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subyek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan.Dalam karya-karyanya tampaknya ia memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial kemudian ke analisis eidetik(pengamatan yang sedemikian mendetail).ilmu alamiah dan ilmu.fenimenologis. namun sulit untuk dilaksanakan. antara Naturwissenschaften dengan Geistes-wissenschaften. deduksi atau abduksi.” Dilema tersebut semakin menjadi besar terutama dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau Geisteswissenschaften.Kemudian Ricoeur memberiakn kesan bahwa berbicara dengan menggunakan suatu bahasa adalah masalah jaket dan belati yang tersembunyi dibaliknya.1. Apa yang benar di dalam yang universal tidak harus benar pula di dalam yang individual.maka katakata penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi.memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal yang telah diinterprestasikannya.

sedang pemahaman hermeneutik memberi kita kesan subyektif.kita salah paham atau salah mengerti juga melalui bahasa.1967:350) dan bahasa itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.Melalui hermeneutik. Kata-kata dan Makna Sebuah kata adalah juga sebuah simbol.Bahasa dinyatakan dalam bentuk simbol.dan Vorgriff(apa yang akan menjadi konsepnya kemudian).emosi. 1.sebab kita memahami melalui bahasa.segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab.Bahasa adalah tempat bertemunya analisis logika.Setiap kali kita membaca.Ricoeur menegaskan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas (Montefiero.Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan dekontekstualisasi. Ruang Lingkup Hermeneutik Ricoeur kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan perhatian kepada teks.manusia pada dasarnya merupakan bahasa(Riceour.Kita baru bisa mengkritik jika kita membuat jarak dengan objek kritik.Riceour menyebut karakteristik ini dengan istilah polisemi yaitu ciri khas yang menyebabkan kata-kata mempunyai makna lebih dari satu bila digunakan di dalam konteks yang bersangkutan. Menurut Riceour.sebab keduanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. Bahasa adalah bidang di mana semua pengamatan filosofis saling memotong satu sama lain.Sebuah kata bisa memilikki konotasi yang berbeda.Namun bahasa juga mempunyai kelemahan.sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat.Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensional dan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya(kecuali kata-kata onomatopoik).1985:43).fenomenologi.Namun kritik yang kita lakukan itu membawa juga struktur-struktur yang sudah jadi dari gagasan-gagasan kita dan bahasa yang diungkapakan dalam struktur itu juga sudah kita beri warna.Jadi.tradisi ataupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.yaitu untuk memahami sebuah . 1.Kita mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa.(Riceour.di sini kita dapati dikotomi antara objektivitas dan subjektivitas yang menimbulkan problem. Menurut Ricoeur.dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat.tafsir kitab suci dan hermeneutik.petani dll.filsafat semuanya melalui bahasa.Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata yang tertulissebagai ganti kata-kata yang diucapkan.asli.eksistensialisme.serta untuk melakukan rekontekstualisasi secara berbeda di dalam tindakan membaca.baik ari sudut pandang sosiologis maupun psikologis.pematung.tergantung kepada pembicaranya.Ia masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut Vorhabe(apa yang ia miliki).Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain.Dalam hal ini Recoeur mengemukakan tentang hermeneutik yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks.yaitu melalui interpretasi.kesusastraan.Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dan membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral (ucapan) dapat dipersempit.salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam yang hermeneutik adalah perjuangan melawan distansi kultural yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik.bahkan psikoanalisa.Vorsicht(apa yang ia lihat).sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.Istilah-istilah mempunyai makna ganda.Sebagai contoh misalnya pohon kata ini mempunyai banyak makna tergantung pembicaranya:apakah ia seorang tukang kayu.1983:193) Mengenai tugas hermeneutik.Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya.Ricoeur menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik adalah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal” nya teks itu muncul ke permukaan.Dikotomi antara penjelasan dan pemahaman itu tajam.Kita mengungkapkan gagasangagasan. Penjelasan struktural cenderung untuk bersifat objektif.Ini semua menandakan bahwa kita sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka.

melainkan membuka diri terhadapnya.Ricoeur juga mempertanyakan metode yang dipergunakan Dilthey dalam geisteswissenschaften nya yaitu hermeneutik yang dibedakan dengan metode yang terdapat pada naturwissenschaften. Yang dimaksudkan dengan membuka diri adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya.yaitu pada teori tentang pengetahuan atau erkenntnistheorie.Untuk memahami sebuah teks kita tidak memproyeksikan diri ke dalam teks.harus dapat mengatasi situasi dikotomis.kaku.Penafsir selalu dalam keadaan in medias res atau berada di tengah-tengah teks (ing madya) dan tidak pernah hanya di depan atau pada permulaan atau pada akhir teks untuk sekedar tut wuri saja.Ia hanya ingin membuang jauh semua metode yang objektif.ada tiga langkah pemahaman. Otonomi teks ada 3 macam: intensi atau maksid pengarang.percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Tugas Hermeneutik menjadi sangat berat.Riceour mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak di dalam hubungan dengan subjektivitas pembaca ditinggalkan.yaitu yang mendekati tingkat ontologi.Pemahaman hanya dapat terjadi pada tingkat pengetahuan.penjelasan dan interpretasi.dan untuk siapa teks itu dimaksudkan.Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis.Langkah semantik adalah pemahaman pada tingkat ilmu bahasa yang murni.Langkah pertama adalah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Ricoeur hanya ingin menggugah pandangan kita bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang dapat bersaing dalam tingkat yang sejajar dengan metode dalam sains.ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing.sebab jika tidak demikian ia tidak akan mulai melakukan interpretasi.ia harus mulai dengan pengertian yang seakanakan masih mentah.inilah yang dimaksudkan dengan rekontekstualisasi.dan terstruktur yang terdapat dalam ilmu-ilmu alamiah.refleksif serta eksistensial atau ontologis. 1.Riceour sendiri tidak benar-benar memperlakukan hermeneutuk sebagai metode.yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.Riceour menyatakan bahwa pemahaman itu pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi.serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subjektif dan objektif.Riceour menyatakan bahwa hubungan antara hidup dan pengalaman -pengalamannya boleh dikatakan merupakan akar dari hubungan dua arah antara manusia dengan alam dan sejarah. Arti Memahami Setiap hermeneut membuat pembedaan dan penekanan yang tegas atas pemahaman.di mana pembacaanya selalu berbeda-beda.Langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna.sebab tidak ada satupun hermeneut yang pada kenyataanya mau mendekatkan diri pada apa yang dikatakan oleh teks jika ia tidak menghayati sendiri suasana makna yang ia cari.yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang berpikir dari simbol-simbol.Riceour juga menyatakan bahwa lingkaran tersebut hanya semu saja.Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya.situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.bagaimana Riceour bisa mengatakan bahwa pemahaman merupakan cara berada atau cara menjadi.Jika demikian.Riceour mengatakan bahwa “engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami”. Menurut Riceour.Pemahaman refleksi adalah pemahaman pada tingkat yang lebih tinggi. .sebab hermeneut harus membaca dari dalam teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangkan kebudayaan dan sejarahnya sendiri.pemahaman adalah salah satu aspek dari proyeksi Dasein (proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaan terhadap being.dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan.Sebab.sedang langkah pemahaman eksistensial atau ontologis adalah pemahaman pada tingkat being atau keberadaan makana itu sendiri.Dekonyekstualisasi adalah bahwa materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya.Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis.Hermeneut harus menggumuli interpretasinya sendiri.Riceour menyatakan bahwa memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks.Ketiga langkah tersebut berhubungan erat dengan langkah-langkah pemahaman bahasa yaitu:semantik.melainkan membuka diri terhadapnya.Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas.Hermeneut uga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain.

Karena pribadi sedemikian terlibat.maka juga tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita.Ini merupakan tingkat pemahaman yang tertinggi. 1.Hal ini menunjukkan kepada kita tema pertama dari empat tema yang diketengahkan oleh Riceour.tidak ada lagi pemisahan antara pemahaman. satu positif dan satu negatif.Tema kedua ini menunjukkan pandangan ekstrim yang lain sesudah tema yang pertama.sebab pengalaman semacam itu melibatkan keseluruhan keberadaan seorang pribadi. kita perlu juga mengetahui latar belakang dirinya.ia menegaskan bahwa konsep itu harus dipertentangkan dengan konsep atau pengertian tentang distansi sejarah.Mungkin pandangan Riceour ini mirip dengan pandangan Gadamer.Namun dalam uraiannya. 1972:95). Tema ketiga jika tidak ada pandangan yang menyeluruh.Melalui penderitaan kita sering memahami sesuatu. pendiri fenomenologi modern memulai karyanya dengan dua metode.Sepakat dengan pandangan Gadamer.75).Sebab.sebab konsep yang terakhir ini berbau metodologis.Pengalaman eksistensial memang pengalaman yang dimiliki oleh being sendiri.tempat yang layak untuk seorang penafsir adalah di tengah-tengah kedua ekstrem tersebut. Untuk memahami gagasan-gagasannya.Meskipun seseorang menempatkan dirinya pada distansi tertentu.yaitu kita seakan-akan terpelanting untuk memahami pribadi manusia. meskipun ia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf ataupun sastrawan (Derrida.Tidak ada satu peristiwa sejarahpun yang bukan merupakan kelanjutan dari peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Karya-karyanya sulit dimengerti.Jadi. Ia seringkali juga disebut seorang post-strukturalis.penjelasan dan interpretasi. 1.Pemahaman adalah perpaduan antar cakrawala.Maka juga selalu ada goncangan antara peristiwa yang tersituasi dengan cakrawalanya. Metode positif dimaksudkan untuk melepaskan jalan pikiran dari . Gagasan-gagasannya tentang kritik sastra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra.maka pengalaman menjadi traumatik di dalam intensitasnya.Ia harus mampu memisahkan mana yang seharusnya masuk dalam cara pemahamannya dan mana yang seharusnya disingkirkan dari antara konsep-konsepnya yang populer atau yang hanya khayalan saja. Latar Belakang Tokoh Jacques Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik sejauh dia berhubungan dengan bahasa dan makna.namun akibat atau hasil penelusuran sejarah tidak dapat lepas dari pengamatan kesadaran penafsir.yang dikemukakan oleh Karl Jaspers.yaitu bahwa tidak ada titik nol dari mana kritik yang tuntas dapat mulai dilakukan.Ricoeur uga berbicara mengenai wirkungsgeschichtliches bewusstsein atau kesadaran yang diarahkan pada akibat-akibat sejarah.Kita tidak mungkin mengabstraksikan atau memencilkan suatu peristiwa dengan latar belakang atau cakrawalanya dari peristiwa-peristiwa lainnya. Edmund Husserl. Akan tetapi.Segala bukti tidak perlu lagi atau bahkan tidak penting.1980:74). Hermeneutik harus menempatkan peristiwa yang tersituasi beserta cakrawalanya dalam konteks yang semestinya.Riceour mengatakan bahwa tidak satu cakarawalapun yang bersifat tertutup sejauh masih mungkin menempatkan seseorang pada pandangan yang lain dan dalam kebudayaan yang lain pula (Ibid.Interpretasi harus selalu memandang kedua hal itu sebagai hal yang korelatif atau berinteraksi. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik. meskipun ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis. Deriida sangat cerdas.Penafsir harus waspada terhadap berbagai macam prasangka ataupun pendewaan terhadap pikiran.ada rangkaian peristiwa di mana peristiwa yang satu menyebabkan peristiwa-peristiwa lainnya.jika ada situasi maka ada cakrawala yang dapat menyempit atau meluas(Ibid:74).Setiap kejadian atau peristiwa menpunyai latar belakang atau cakrawala karena setiap fakta atau peristiwa selalu tersituasi. Tema yang kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja(Josef Bleicher. Tema keempat adalah perpaduan antar cakrawala. Ada jenis pemahaman lain. Pengaruh Aliran fenomenologi Dua aliran pemikiran kefilsafatan yang banyak mempengaruhi gagasan-gagasan Derrida adalah fenomenologi dan strukturalisme.Dalam filsafat Ricoeur.yaitu tingkat eksistensial atau ontologis.yaitu yang datangnya dari penderitaan.Dalam kondisi seperti ini.

apa saja yang dianggap ideal tetapi tidak mendasarkan diri pada realitas. Dalam metode negatif, Husserl mendekatkan diri pada metode yang dikemukakan oleh Descrates yaitu mulai dengan sikap ragu-ragu, ia menyangkal segala sesuatu dan ingin memulai proses pemikirannya dari titik yang benar-benar nol. Husserl seorang pakar matematika dan sains, menyadari akan adanya ketimpangan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebagao seorang ahli matematika ia mengetahui signifikan obyektivitas, tetapi sebagai filsuf ia juga mengetahui bahwa subyektivitas yang walaupun hanya sedikit masih tetap diinginkan. Melalui dua metode yang diketengahkan di atas, ia memulai karyanya dengan tepat. Ia membicarakan tentang tiga tingkatan kesadaran yang dapat dihubungkan dengan tiga tiga jenis obje, yaitu:

• • •

Tingkatan pertama atau tingkatan yang dangkal adalah kesadaran alamiah. Kesadaran ini berhubungan dengan objek-objek alamiah. Tingkatan kedua adalah tingkat kesadaran refleksi, yaitu kesadaran yang muncul setelah memberi ‘tanda petik’ pada tingkat yang dangkal. Tinkatan ketiga atau tingkat ‘kedalaman ego’: bila perhatian seseorang difokuskan lebih jauh lagi pada objek , ia akan mencapai tingkat kesadaran jauh lebih dalam lagi. Dalam keadaan kesadaran pada tingkat ini, objek yang murni atau yang sejati mengejawantah. Tanggapan atas Fenomenologi Arti “Differance”

1.

Perbedaan dua kata yang kontroversial itu yaitu, difference dan difference. Perbedaan pokok hanya terdapat di dalam kerangka ruang dan waktu. Derrida menghubungkan kerangka waktu ruang dan waktu dengan pengertian ‘tanda dan penulisannya’. ‘Tanda’ adalah ‘wakil’ dari bendanya. Makna, juga seperti tanda, untuk memahaminya kita harus ‘menangguhkan’ atau menunda dulu sampai orang atau benda yang merasa layak atau pantas untuk memilikinya. Proses ini oleh Derrida disebut ‘temporisasi’ atau pemberian waktu (untuk menunda). Tanda tempatnya dalam ruang. Tanda dapat dengan mudah kita mengerti dan kita rasakan, seperti kata-kata ataupun tulisan. Kata-kata adalah tanda, seperti juga bahasa, isyarat, dan sistem yang pada umumnya kita mengerti berdasarkan sejarahnya sebagai jaringan yang merupakan asal mula timbulnya perbedaan. Tanda-tanda membawa makna dan adanya dalam ruang; untuk sementara waktu makna tersebut tertunda. Tulisan, pada umumnya kita berpandangan bahwa sebelum seseorang menuliskannya, ia terlebih dahulu mengucapkannya. Derrida justru berpendapat sebaliknya. Tulisan itu barang mati, hanya merupakan jalan tengah antara maksud dan makna, atau antara ucapan dan pemahaman (Ch. Norris, 1985:28). Sebab ‘tulisan’ dalam pandangan Derrida bukan gambar sebagai hasil tindakan seseorang memindahkan gagasangagasannya.

“Bahasa” sebelum Bahasa

Derrida menyatakan bahwa ‘tulisan’ merussak atau menghancurkan dirinya sendiri. Artinya, ‘tulisan’ adalah impersonal, jauh dari kehidupan, tidak seperti ‘bicara’. Menulis adalah pengelompokkan kata-kata yang sifatnya mekanis menurut tata bahasa dan struktur katanya. Tentang makna menulis, Derrida mengatakan bahwa makna itu seakan-akan keluar atau diturunkan dari tulisan, entah benar atau hanya khayalan saja. Hal itu hanya mungkin dengan syarat bahasa yang asli dan alamiah tidak pernah ada, jadi tidak pernah berkontak atau terjamah oleh tindakan menulis (Derrida, 1967:82). Gagasan ini disebutnya dengan istilah archi-writing. Archi-writing dimaksudkan Derrida untuk membicarakan tentang ‘waktu’ sebelum waktu yang kita alami, atau ‘bahasa’ sebelum bahasa yang kita pakai saat ini. Archi-writing merupakan syarat utama untuk memungkinkan sebuah bahasa dinyatakan sebagai sebuah sistem, dan melalui archi-writing ini kita dapat memahami pernyataan atau artikulasi yang benar dari ucapan dan tulisan. Menurut Derrida, bahasa pada dasarnya sudah merupakan tulisan, oleh karena itu pasangan konsep ucapan-tulisan harus diubah manjadi tulisan-ucapan.

Peranan Sejarah

Untuk memahami konsep Derrida tentang ‘tulisan’, kiranya baik bagi kita untuk mengambil makna sejarah sebagai sarana untuk melacaknya. Sebab Derrida membicarakan sejarah melalui cara yang berbeda, yaitu bukan sebagai deretan makna, melainkan sebagai ‘jejak’ yang bisa dilacak. Tulisan dapat menjadi jejak yang bisu namun juga dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan belum dapat terkatakan. Derrida berkeyakinan bahwa meskipun orang belum mengucapkan kata-kata, namun tulisan sudah siap untuk dicurahkan, tulisan dibatasi oleh bahasa yang diucapkan, karena ucapan, yaitu makna yang tertunda kehadirannya, sudah terdapat di dalam tulisan.

Definisi “Difference”

Terdapat empat macam definisi differance, yaitu: 1. Differance adalah sebuah gerakan (aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan, karena penundaan, perutusan, penundaan hukuman, penyimpangan, penangguhan, penyimpanan. Kehadiran dinyatakan atau diinginkan dalam sifat representatifnya, tandanya atau jejaknya(Ibid, 17) Gerakan differance adalah akar umum dari semua pertentangan konsep-konsep di dalam bahasa misalnya sensibel-inteligibel, intuisi-makna, alam-kebudayaan, dsb. Differance, yang menghasilkan perbedaan, adalah syarat dari semua makna dan struktur. Differance adalah berbeda secara khusus, tetapi perbedaan ini secara ontologis benar-benar ada dan tampak. Disini jelas bahwa deconstruction dan differance seiring sejalan. Deconstruction membatalkan ekspresi ganda seperti dalam ucapan atau penulisan. Pengaruh Strukturalisme

2. 3. 4.

1.

Derrida menyangkal pernyataan bahwa struktur bahasa itu benar-benar ada. Terutama ia akan menolak argumen Noam Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu diprogram ke dalam pikiran manusia dan manusia sebagai pembicara begitu saja mengikuti struktur tersebut. Menurut Derrida, “makna” tidak dapat disusun di manapun juga dalam pikiran manusia, selama makna itu merupakan produk pengalaman. Ia ingin mengupas gagasan entang “struktur”, karena srtuktur menentang kebebasan peran makna di dalam teks apa saja. Ini berarti bahwa orang dapat membaca kata-kata dalam sebuah teks, tetapi ia tidak mungkin membaca makna di dalam teks tersebut. Dengan demikian, makna bukan urusan struktur. Makna tidak dapat dibangun dalam ucapan, dan karenanya Derrida menentang pernyataan para pakar linguistik struktural. Sebab, jika makna sudah terbentuk didalam bahasa, oarng tidak akan membutuhkan hermeunetik atau interpretasi lagi.

1.

Gagasan tentang Hermeneutik

Setelah menimba gagasan-gagasan dari Hegel dan Husserl, Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak lain adalah intensionalitas. Apa maksud seseorang ketika ia menggunakan bahasa? Apakah bahasa identik dengan deretan kata-kata yang sudah jadi, apa kemudian disusul dengan makna-makna yang dipilih secara bebas oleh pembicaranya? Husserl telah menunjukkan perbedaan antara noesis (pikiran) dengan noema (yang dipikirrkan). Seperti misalnya seseorang melihat sebuah pohon,, harus dibedakan antara ’siapa yang melihat’ dengan ‘dari sudut mana’ pohon itu dilihat. Sebab, seorang tukang kayu dengan seorang pematung akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang pohon yang dilihatnya itu. Dari realitas di dalam contoh tersebut di atas, Derrida melihat hubungan yang jelas antara fenomenologi dengan hermeneutik. Jika makna yang muncul pada taraf yang paling dalam, maka bahasa yang dipergunakan untuk berbicara harus diselidiki, apakah bahasa ini hanya keluar dari emanasi taraf pertama atau kedua. Lalu, bagaimana hermeneut mengenakan nilai atau makna pada kata yang diucapkan itu? Hermeneutik adalah pemahaman karya. Tujuannya adalah membongkar rahasia pandangan dunia dari pengarang dan memungkinkan kita untuk menyadur bahwa esensi fenomenologis dari memahamitidak lain

adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan sendiri apa yang sedang ia katakan. Pemberi tanda adalah orang yang dapat merasakan nafas pengarang dan maksud dari isyarat atau makna yang melekat pada pengarang. Hermeneut kemudian berusaha melepaskan makna dari kata-kata yang diucapkan atau yang tertulis epat pada saat kata-kata itu diucapkan . bagaimana dengan teks tertulis? Untuk dapat dikatakan sebagai tulisan dalam arti yang sebenarnya, maka teks tersebut harus berjuang untuk mengatasi ‘kematian’ pembicara yang membawanya di dalam komunikai oral. Apa peranan pengarang dan pembaca di dalam interpretasi sebuah teks? Apa yang menjadi ukurannya jika dikatakan bahwa teori interpretasi menggambarkan pengarang asli atau pembaca asli? Jika kita membicarakan tentang interpretasi, apa batasan proses tersebut? apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan penerapan, kelayakan dan permainan? Menurut Jean Greisch, semua pertanyan tersebut harus dijawab oleh orang yang ingin membuat interpretasi. Hermeneut menghendaki jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi pendahuluan dalam karya interpretasinya. Untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam perspektif yang semestinya, kita harus membedakan antara jenis teks berikut: 1. 2. 3. Sebuah teks tertulis yang merupakan transkripsi teks oral Teks tertulis yang maksudnya hanya untuk dibaca dan bukan untuk didengarkan Teks tertulis yang dimaksudkan untuk dibaca seperti sebuah teks sastra seperti yang banyak kita jumpai sekarang ini (Greisch, 1997:180)

Sebuah teks oral yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks tertulis pada dasarnya tidak memiliki ‘nilai tertulis’ sebagaimana dimaksudnya untuk dibaca, seperti karya sastra. Jika seseorang berbicara, maka ia mengikuti aturan-aturan berbicara yang berbeda dengan aturan-aturan membaca. Jika seseorang menulis,ia sadar akan kesuatuan, koherensi dan hubungans logis dari gagasan-gagasan dan bab-babnya, pengaturan pemakaian kata-kata serta redundansinya. Jika terdapat teks yang dimaksudkan hanya untuk dibaca tetapi ternyata dibacakan untuk didengarkan, maka teks tersebut menghasilkan sesuatu yang sumbang dan seringkali menghasilkan makna yang berbeda bagi pendengarnya. Derrida lebih suka mengoperasikan teks tertulis pada jenis yang ketiga, yaitu teks yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai teks, sebab teks ini mengikuti secara ketat aturan-aturan tentang sintaksis, tata bahasa dan gaya bahasa. Derrida tidak mengutip teori Ricoeur tentang polisemi, yaitu sebuah kata atau ungkapan ada kemungkinan mempunyai lebih dari satu makna. Ia cenderung mengatakan polisemi hanya laten dalam bahasa itu sendiri. Kasusastraan memang penuh dengan makna ganda. Sebagai contoh misalnya salah satu kalimat yang ditulis Shakespeare dalam Hamlet: ‘Orang ini, pembunuh bapaknya’. Walaupun di situ terdapat koma, namun orang tetap sulit memahami siapa pembunuhnya dan siapa yang dibunuh. Martin Heidegger memberikan arah baru dalam perkembangan hermeneutika. Hermeneutika tidak lagi sekedar sebuah prinsip umum untuk melakukan interpretasi teks, melainkan hermeneutika adalah cara berada manusia. Ia mengubah hermeneutika tradisional menjadi sebuah filsafat, sebuah hermeneutika ontologis. Interpretasi bagi Heidegger adalah salah satu dari cara mengada manusia (yang lain adalah mood dan diskursus). Memahami (understanding) umumnya dilihat sebagai mengetahui atau kognisi. Heidegger menolak ini; memahami baginya adalah bagaimana manusia mengalami sebuah situasi dan bagaimana ia siap untuk menghadapi situasi tersebut. Semakin seseorang bisa menghadapi sebuah situasi, semakin ia “memahami” situasi tersebut, semakin ia mampu bertindak, dan ia semakin bereksistensi. Interpretasi adalah salah satu cara untuk mengartikulasikan pemahaman ini. Ia melihat kemungkinankemungkinan dari sebuah situasi. Ia hadir dalam setiap situasi dan mencari jalan untuk menghadapi situasi tersebut. Interpretasi tidak harus dalam bentuk verbal atau linguistik, atau dalam bentuk sebuah proposisi. Ia juga bisa berbentuk sebuah aksi. Heidegger lebih melihat proses pemahaman sebagai sebuah aksi ketimbang proses teoretisasi. Memahami adalah cara praktis manusia bergaul dengan dunianya. Teori hanyalah sebuah bentuk praktis. Interpretasi hanyalah salah satu modus dari pemahaman. Dan pada akhirnya interpretasi dalam bentuk bahasa hanyalah salah satu bentuk dari interpretasi. Bahasa hanyalah sebuah instrumen dari pengertian.

dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk kearah interpretasi. 1. dan sekaligus sebagai penyebab “salah mengerti” ataupun “salah paham”. Ada yang menghubungkan ‘makna’ dengan kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar kita atau di mana kita hidup. Filsafat mempersoalkan apa saja. dan evaluative. filsafat juga bersifat selalu bertanya. pernyataan. yaitu berupa pandangan hidup seseorang. tanpa ada kekecualiannya. Hal ini seperti halnya pada lingkaran hermeneutik tradisional terlihat seperti sebuah paradoks. maupun meyakini bahwa makna muncul pada saat bahasa dipergunakan. maka segala uraiannya tentang hermeneutic sedikit banyak diwarnai pula oleh pandangan hidup para hermeneut itu sendiri serta latar belakang kehidupannya. Bila dalam arti luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan maksud untuk mencapai hasil optimal. hipotesis. analitik. dsb. Filsafat akhirnya juga kita mengerti sebagai sebuah ‘teka teki’ yang sulit untuk dijawab dan dijelaskan. memahami. Yang dibutuhkan adalah dialog antara teks dan sang penafsir sehingga teks semakin membuka dirinya untuk ditafsirkan. Cara pandang filsafat Pandangan kefilsafatan memandang penting bagi kita untuk mengetahui “dimana kita berpijak” atau “dari sudut mana kita meninjau”bila kita berhadapan dengan hal-hal atau pernyatan-pernyataan tertentu. Sehubungan dengan hal ini maka persoalan yang timbul kemudian adalah “problem tentang makna”. kebudayaan. telah banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf analitik. Cara pandang semacam tikini menunjukkan bahwa filsafat adalah kegiatan yang bersifat integrative atau kegiatan yang mengarah pada sintesis berbagai macam unsure kedalam keseluruhan yang bersifat koheren dan terpadu.Heidegger juga memperkenalkan lingkaran hermeneutik yang baru: sebuah pertanyaan selalu dibentuk oleh ekspektasi sebelumnya yang akan menentukan jawaban yang metode yang akan didapatkan. yaitu sebagai alat untuk mengerti dan memahami. teori. Pandangan semacam ini juga mengandaikan keterlibatan pribadi didalam filsafat. 1. Jadi bila kita melihat kembali pandangan-pandangan hermeneut diatas. pengertian tentang makna dibahas berdasarkan motivasi-motivasi tertentu. KESIMPULAN Problem tentang Makna Studi tentang peranan bahasa dalam komunikasi dan proses berpikir. Hermeneutik sebagai metode yang “Open-Minded” Hermeneutik bukanlah merupakan “barang” baru. 1. Cara pendang yang “sintetik”adalah sisitem berpikir yang mengarah pada pandangan dunia yang terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil dan koheren (berkesinambungan). dan dalam arti khusus metode merupakan cara berfikir menurut sistem aturan tertentu. kehidupan. Filsafat menganalisis dan mengevaluasi semua hal tersebut sekritis-kritisnya. Ciri khusus peranan bahsa itu nampak melalui penggunaan bahasa sebagai medium dalam komunikasi gagasan. serta khususnya dalam persoalan yang menyangkut bagaimana mengidentifikasi. yang pada akhirnya membuat kita frustasi sendiri. Bahasa akan menjadi bahasan hermeneutic sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah. Apa yang telah dilakukan oleh para hermeneut tersebut pada dasarnya hanyalah mengundang kita untuk melihat secara lebih dekat bahasa yang kita pergunakan. Bagi para beberapa filsuf. . kritis. Namun Heidegger tidak menutup kemungkinan untuk melakukan interpretasi. maka yang menjadi persoalan adalah: sejauhmanakah metode yang dipergunakan di dalam hermeneutik dapat kita pergunakan untuk ‘ memehami’ pemikiran kefilsafatan? 1. Bagi mereka istilah ‘bermakna’ atau tidak’bermakna’ adalah persyaratan utama untuk mencapai kebenaranKita seringkali terperangkap di dalam penggunaan bahasa dengan rangkaian kata-kata yang muluk-muluk. Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bahwa filsafat berhubungan dengan spekulasi dan analisis. atau tokoh lain yang mempengaruhinya. misalnya keyakinan. Dilthey mengajak kita untuk melakukan kritik sejarah dengan mencoba menelusuri kembali segala peristiwa dalam sejarah.

Dunia mempunyai ciri referensial. di dunia. Sedangkan Heidegger justru melihat media vital historisitas “keber-ada-an” manusia di dunia.SUMBANGAN HEIDEGGER KEPADA HERMENEUTIKA DALAM “BEING AND TIME” Pengantar Filsafat Heidegger beranjak dari persoalan bahwa para filsuf telah banyak mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang dunia tetapi mereka mengabaikan kenyataan yang paling penting. Artinya. berjalan dan sebagainya. Ada lebih utama dari kesadaran. melainkan jika tanpa perlu berpikir lagi ia langsung menggunakan palu itu untuk menancapkan paku pada papan (pemahaman pra konseptual). Ia berusaha melihat fenomen sebagai realitas yang menampakkan diri apa adanya. Fenomenologi telah membuka bidang pemahaman fenomena pra-konseptual. Pendekatan Husserl terarah pada fungsi kesadaran sebagai subyektivitas transendental. Fenomen yang diteliti itu adalah manusia. Salah satu kegiatan itu adalah memahami. Ia menyebut manusia sebagai dasein(eksistensi). fenomenologi Husserl ini berbeda dengan Heidegger. pemahaman yang sesungguhnya itu tidak dilihat dalam suatu “pernyataan” sebagai buah nalar (ratio). Jadi. Namun. paku menunjuk pada papan. Adanya selalu menunjuk pada sesuatu misalnya palu menunjuk pada paku. Heidegger berusaha untuk mencari arti syarat awal eksistensi yang ia sebut sebagai Ada. Husserl dan Heidegger: Dua Tipe Fenomenologi Fenomenologi merupakan pendekatan yang dirumuskan Edmund Husserl pada awal abad ke-20. Ini adalah penemuan baru Husserl. karena kesadaran hanyalah cara Ada menampakkan diri. sementara Heidegger mengatakan bahwa dimensi otentik metode fenomenologi membuat karyanya (Being and Time) bersifat hermeneutis. Menurutnya. Apa maksudnya? Kita tidak sekedar menyadari sesuatu. tetapi juga sadar bahwa dunia ini turut membentuk kita yang ada di dalamnya. Pemahaman lantas menjadi elemen penting hermeneutika. Arah pendekatan Heidegger adalah keberadaan manusia itu sendiri. Kesadaran kita. Heidegger menyebut kegiatan berada Dasein sebagai berada-dalam-dunia. tanpa kita menafsirkan fenomen-fenomen itu. menurut Husserl selalu terarah pada sesuatu di luarnya (sadar akan sesuatu). Bagi Heidegger. Term tersebut . Perbedaan fenomenologi Husserl dengan metode fenomenologis Heidegger dapat diringkas dalam kata “hermeneutik” itu sendiri. melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita. menangis. proyeknya dalam Being and Time adalah “hermeneutik Dasein”. yaitu bahwa dunia ada. seseorang dikatakan memahami palu bukan karena ia bisa menyatakan palu adalah alat untuk menancapkan paku pada papan. Karena Heideggerr berusaha mencari pemahaman melalui fenomen maka ia memakai metode Fenomenologi. Ada tidak dicari pada yang fisik melainkan lewat fenomena misalnya lewat fenomen tertawa. papan menunjuk pada rumah dan seterusnya. Ini berbeda dengan Husserl yang menganggap keberadaan Ada sebagai datum kesadaran. melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Dasein berarti berada-di-sana. Fenomenologinya merupakan hermeneutika terhadap fenomena. Ia membiarkan palu (fenomen pengada) termanifestasikan apa adanya. Heidegger berpandangan bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih mendasar dari pada kesadaran dan pengetahuan manusia. Kita tidak hanya sadar hidup di suatu dunia. Term ini tidak pernah digunakan Husserl untuk merujuk pada karyanya. Melihat begitu pentingnya arti “dunia”. melainkan dalam tingkat fundamental (tidak perlu dipikirkan lagi). kesadaran bukan sekedar kesadaranakan sesuatu.

Tetapi ini tidak berlaku untuk segala zaman. ia juga harus menjadi hermeneutika eksistensi. Di sinilah penekanannya bahwa fenomenologi harus menjadi hermeneutis. Heidegger kembali pada akar kata fenomenologi. Fenomenologi Husserl hanya mengelaborasi “pola yang telah di bentuk oleh Descartes. dalam Being and Time berusaha mendekati Ada sebagai fenomen. Dengan kata lain. juga bukan metode memahami (Geisteswissenschaften) seperti yang diungkapkan Dilthey. suatu ilmu yang kaku. Ada lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. Bukan kita yang menunjuk benda atau realitas. Dengan demikian. Logos berarti sesuatu yang dengan sendirinya membiarkan sesuatu itu muncul.mengasumsikan adanya bias anti sains yang bisa membedakan secara nyata Heidegger dengan Husserl. Di sini historisitas masih asing”. penemuan kreatif masa lalu. tetapi pada realitas yang menampakkan diri apa adanya. Lantas apa hubungannya dengan hermeneutika? Sebagaimana ontologi menjadi fenomenologi tentang Ada. Dalam penggalan tertentu yang kita sebut ‘zaman modern’. sementara bagi Heidegger filsafat menjadi pemikiran historis. Kesadaran yang ditemukan Descartes itu bukanlah segala-galanya sebagaimana dipikirkan oleh Descartes. Metode fenomenologi ini menjadi signifikan bagi teori hermeneutis. Fenomenologi Hermeneutis Dalam bagian buku “Sein und Zeit” yang berjudul “The Phenomenological Method of Investigation”. Jika aku menyadari danau di luar diriku maka danau itu ada. Fenomenologi berasal dari akar kata Yunani yang merupakan kombinasi kata polimorfemikphainomenon atau phainesthai dan logos. melainkan hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. Untuk mengerti hal ini. kenyataan atau ada itu diciptakan oleh kesadaran. Dengan demikian. Ia bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya . ontologi harus menjadi fenomenologi. Pandangan semacam ini yang ditolak Heidegger. Kant. Misalnya dalam Descartes. Hermeneutika ini bukanlah suatu metode filologi. Logos menjadi hermeneutika. Logos membiarkan ssuatu itu tampak sebagai sesuatu. dan Fichte. Filsafat dalam pegertian Husserl secara mendasar masih sains. secara jelas tergambarkan pada persoalan yang lain yaitu “historisitas”. atau tampak apa adanya. Garis pembeda antara dua tipe fenomenologi di atas. Ini berarti berlawanan dengan kebiasaan yang telah ada. Heidegger. Phainomenon/phainesthai berarti yang menampakkan diri. Menurut Heidegger. Heidegger berusaha mengatasi filsafat modern yang berporos pada kesadaran atau subyektivitas. Sedangkan logos adalah sesuatu yang dipahami dalam pembicaraan. melainkan hanyalah salah satu cara Ada menampakkan diri dalam kesejarahan Ada (historisitas Ada). kombinasi phainomenon/phainesthai dan logos berarti membiarkan benda-benda (fenomen) termanifestasikan sebagaimana adanya. sesuatu yang termanifestasikan. Metode ini menunjukkan bahwa interpretasi tidaklah didasarkan pada kesadaran dan kategori yang dibuat manusia. tapi realitas itu sendiri yang menunjukkan dirinya kepada kita. tidak diartikan sebagai ‘nalar’ atau ‘landasan’. tanpa memaksakan kategori-kategori kita sendiri pada benda-benda tersebut. Heidegger menawarkan strategi lain dalam mendekati fenomen kesadaran: membuka diri terhadap Ada dan membiarkan Ada tampak apa adanya (memahami). Karena itu fenomenologi tidak sekedar untuk membuka kesadaran manusia belaka tapi juga sebagai sarana untuk mendekati Ada dalam seluruh faktisitas dan historisitasnya. Apa itu historisitas Ada? Kita harus membayangkan seluruh manusia dan alam semesta ini sebagai suatu cerita tentang penampakan diri Ada dalam berbagai maknanya. Heidegger menyebut metode fenomenologinya sebagai “hermeneutika”.

pemahaman didasarkan pada afirmasi filosofisnya terhadap identitas dalam. Dunia dan Hubungan Kita dengan Obyek di Dunia Yang dimaksud dunia dalam pemikiran Heidegger tidak sama dengan bumi atau alam semesta belaka atau lingkungan kita. melainkan (dari sudut pandang Dasein) suatu tempat untuk dimukimi. Dunia itu suatu keseluruhan dimana ada manusia menemukan dirinya sudah terlempar kedalamnya. Dengan demikian. Selanjutnya. Dunia tidak dapat dipahami dengan menaksir entitas yang ada di dalamnya karena dengan cara ini dunia tidak akan mempunyai arti. pemahaman terhadap Dasein sendiri merupakan bagian yang penting dalam hermeneutika Heidegger. puisi. Hermeneutika Heidegger melangkah lebih jauh dari Dilthey karena Heidegger mengeksplorasi implikasi lingkaran hermeneutis bagi struktur ontologis pemahaman eksistensi manusia dan interpretasinya. Seorang pribadi tanpa dunia tidak . sebagai pengungkapan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Pemahaman merupakan dasar bagi semua interpretasi. psikologi) lebih dari sekedar datum. dengan segala kemanifestasiannya. dan senantiasa hadir dalam setiap kegiatan intepretasi. Hermeneutika menjadi “interpretasi Dasein”. Bagi Heidegger. Maknanya berbeda dengan pemahaman yang dimaksudkan oleh Schleirmacher dan Dilthey. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. Akhirnya dapat dikatakan bahwa pemahaman dalam pemikiran Heidegger telah menjadi ontologis. yang merupakan struktur eksistensial Dasein yang memungkinkan terjadi pengalaman ditingkat empiris serta memungkinkan terjadinya pengetahuan yang lainnya. dalam pemahaman seseorang menyatukan diri dengan pembicara atau penulis sebagai seorang yang dipahami. Dalam pemikiran Dilthey. atau fakta (sosial. Pemahaman adalah cara berada di dunia. ekonomi. Karena itu. Karakteristik penting pemahaman bagi Heidegger adalah bahwa ia selalu berlaku dalam suatu hubungan yang sudah diinterpretasikan. pemahaman mengacu pada level komprehensi lebih dalam yang melibatkan perolehan suatu gambar. Inilah pemahaman yang fundamental. Akhirnya Heidegger sendiri mendefinisikan esensi hermeneutika sebagai kekuatan ontologis ‘pemahaman’ dan ‘interpretasi’ yang memungkinkan keberadaan sesuatu khususnya keberadaan Dasein dapat terungkap. Dengan kata lain.suatu teks) melainkan kegiatan primer interpretasi yang membuka hakekat Ada. Artinya. bukan pada yang dipikirkan. dunia tidak hanya dipahami sebagai tindakan mengetahui suatu entitas. melainkan sebagai suatu ekspresi hidup. Kita merupakan bagian dunia seperti dunia merupakan bagian kita. Pengunaan garis hubung menekankan bahwa tidak ada jarak antara diri kita dengan dunia. Hakekat Pemahaman: Heidegger Melampaui Dilthey Pemahaman (Verstehen) merupakan term khusus yang dipakai Heidegger. Dilthey menegaskan bahwa kebermaknaan selalu merupakan sesuatu yang merujuk ke dalam konteks keberhubungan. melainkan suatu proses ontologis. suatu persoalan prinsip yang sudah umum bahwa pemahaman selalu berlaku dalam sebuah lingkaran hermeneutis. Kemungkinan-keungkinan itu terbuka justru pada prakteknya. Heidegger menekankan pentingnya ‘dunia’ dengan menyebut kegiatan berada Daseinsebagai beradadalam-dunia. Dalam pemikiran Schleirmacher. Heidegger suka mengangkat “lingkaran hermeneutik”: manusia mencari pengetahuan karena belum tahu dan sudah tahu (pra pemahaman). pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakekat eksistensi manusia.

suatu ‘dunia’ bisa dilihat sebagai ini atau sebagai itu. Dunia dan Daseinmerupakan relitas yang tak terpisahkan. Ia adalah lahan di mana resistensi dan posibilitas dalam struktur ada membentuk pemahaman. Kita tidak tergeletak di dalam dunia melainkan terlibat dan kerasan di dunia. Misalnya. Ada menyingkapkan dirinya dalam kebermaknaan. melainkan suatu penyampaian makna yang mendahului artikulasinya dalam bahasa. Apa bedanya? Air. Singkatnya. Dia tidak ‘terletak’ di suatu tempat tetapi memukimi suatu tempat. Di sini temporalitas dan historisitas ada hadir secara tegas. alat tulis dan alat-alat lainnya atau juga benda-benda yang bukan alat atau teman dan dosen kita sendiri. gelas. Pemahaman juga tidak dapat dipisahkan dari interpretasi karena interpretasi merupakan penerjemahan eksplisit dari pemahaman. Seorang memandang dengan benar melalui dunia. Jika kita cermati. dalam kebungkaman. meja. hal ini menunjukkan bahwa mereka saling memahami satu sama lain. tempat kita eksis. benda atau alat-alat tersebut adalah selalu “untuk sesuatu” (intensional). melainkan penyampaian makna tanpa artikulasi apapun. Dunia ini lebih dari sekedar lahan aktivitas prasadar persepsi pikiran. Percakapan di sini bukan dipahamai sebagai komunikasi verbal. papan tulis. Jika ada gangguan. Kita lalu menjadi sadar akan ketergantungan kita pada materi tersebut. maka intensi yang diandaikan begitu saja akan tersingkap dan disadari. Apa yang ditemui Dasein di dunia? Dan bagaimana hubungan ada kita (sebagaiDasein) dengan obyek yang ada di dalamnya? Jika kita berada dalam suatu ruang kuliah. pakaian. Dua teman karib yang lama tidak berjumpa akan terpaku saling memandang tak berkata-kata saat mereka tak berjumpa lagi. Ia mempunyai struktur ‘untuk’ karena itu selalu mengacu pada alat-alat lain. Arti kata depan itu di hadapan Heidegger sangat kompleks. Kebermaknaan Prapredikatif. Kebermaknaan yang dimaksudkan oleh heidegger adalah Rede atau percakapan. Dalam pemahaman. melainkan menunjukkan bahwa ‘percakapan’ itu bukan pengucapan makna secara verbal. lampu. Kita sering mengunakan alat-alat itu nyaris secara spontan.masuk akal. ia merupakan lahan proses hermeneutis di mana ada tertematisasikan sebagai bahasa. Ini bukan paradoks. bahkan ia tidak bisa melihat Dasein atau apapun dalam kemanifestasiannya sendiri tanpa dunia itu. Pemahaman dan Interpretasi Fenomen kerusakan yang menyingkapkan keberadaan sebuah alat sebagai alat mengarah pada ‘dunia’ yang sangat luas. Sedangkan Dasein berada dalam dunia secara khas. manusia juga bisa bertutur. misalnya alat tulis hilang atau kursi rusak atau lampu mati. Kata ‘dalam’ pada ‘berada-dalam-dunia’ juga harus dimengerti dengan tepat. Makna pernyataan: Dasein berada-dalam-dunia tidak dimengerti seperti air ‘dalam’ gelas atau pakaian ‘dalam’ almari. seseorang yang baru di PHK termenung di taman sampai pada pemahaman akan makna hidupnya lalu mengambil keputusan untuk . pemahaman dan interpretasi. Ungkapan kata sebagai ini merupakan suatu terjemahan eksplisit pemahaman atau suatu interpretasi. Pemahaman sangat berkaitan erat dengan kebermaknaan di atas. dan almari dengan cara yang sama berada ‘dalam’ suatu tempat. Dasein tak pernah ada di dalam ruang melainkan menduduki ruang. Pengalaman ini mengasumsikan prinsip hermeneutis bahwa keberadaan sesuatu terungkap tidak dalam tatapan analitis kontemplatif melainkan dalam momen di mana ia muncul secara tiba-tiba dari kesembunyiannya dalam konteks dunia yang sangat fungsional. Karena itu. Inilah momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan namun disampaikan lewat disposisi dasar eksistensial mereka masing-masing. kita akan menjumpai ada kursi.

ia telah melewati interpretasi atas situasi dirinya. Pernyataan itu adalah turunan dari pemahaman primer yang pra sadar (fundamental). Karakter Derivatif Pernyataan Pemahaman yang paling dasar tidak terletak pada suatu pernyataan produk akal budi. dalam hal ini bobot beratnya. Ini merupakan suatu pemahaman yang terbentuk lewat logika (pemikiran). palu diinterpretasikan sebagai sesuatu dengan kekayaan sifatnya. melainkan mencoba keluar dari keterpurukan dengan menafsirkannya. Inilah saat diam yang penuh makna. Lalu pernyataan ini menjadi penyataan logis yang menempatkan palu tidak lagi sebagai sebuah “alat” (sebagaimana adanya) melainkan sebagai sebuah obyek. Tentu yang dikatakannya itu juga tidak terpisah dari momen kebermaknaan prapredikatif yang telah dilaluinya yakni saat dia duduk termenung di taman. Pernyataan seperti ini akan memutuskan ada (palu) dari kebermaknaannya sebagai akar dari keberadaannya. Bagi Heidegger. Dalam pernyataan ini. Heidegger memberikan suatu contoh pernyataan: “Palu itu berat”. melainkan pada pemahaman pra sadar dimana kita sudah tidak perlu memikirkannya lagi. ia bisa mengatakan: “O saya memahami musibah ini sebagai peluang untuk berkembang lebih baik”. sedangkan pemahaman yang diungkapkan melalui kata-kata (pernyataan) merupakan pemahaman sekunder.hidup masa depannya. Interpretasi disini bukan berarti meratapi pemecatannya. atau momen kebermaknaan yang tidak diartikulasikan lewat kata. . Dalam interpretasinya. “pernyataan” (Aussage) bukanlah suatu bentuk dasar interpretasi.

Pengertian dan Sejarah Awal Hermeneutika Hermeneutika adalah sebuah kajian mengenai teori interpretasi atau penafsiran. Mereka semakin menyadari bahwa persoalanpersoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. Akan . Persoalan penafsiran bibel seiring kemunculan protestan ini menggiring kepada kajian kritis terhadap teks bibel itu sendiri. pendekatan kritis kepada teks Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkembang. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika.[1] Kajian kritis ini kemudian berkembang tidak hanya berlaku pada teks-teks bibel tapi termasuk teks-teks lainnya. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis. Bahkan. Hal ini merujuk sekian banyaknya teori tentang hermeneutika itu sendiri dan juga perkembangannya. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa. Studi ini mulai berkembang dalam kritik penafsiran bibel seiring dengan kemunculan protestan. Hermeneutika cukup sulit didefinisikan secara tunggal. Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora.HERMENEUTIKA Pengantar Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. kemudian berkembang lagi meliputi segala hal yang dapat disamakan dengan teks hingga usaha memahami makna kehidupan. Pada abad ke17 dan ke18. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini.

oleh karena itu bilamana prinsip-prinsip . Keenam definisi tersebut adalah. kajian hermeneutika semakin berkembang. dan (6) Hermeneutika sebagai sistem interpretasi[3]. (2) menjelaskan. Palmer (1969) dalam bukunya memberikan 6 definisi modern hermeneutika. (3) menerjemahkan. dan kata benda hermeneia.tetapi. namun masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi. (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic. Pasca Palmer. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggris “to interpret”. “interpretasi”.[2] Richard E. lepas dari itu. (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenchaften. “to say”. Semua teks termanifestasikan melalui bahasa. seperti menjelaskan sebuah situasi. (5) Hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial. Dalam penggunaan aslinya. ia menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi. Hermeneutika dalam Kilasan Tokoh Schleiermacher (1768 –1834) (Hermeneutika teoritis/romantisis) Friedrich Schleiermacher adalah orang yang dianggap mampu mengangkat hermeneutika tidak sekedar dalam konteks kajian Bibel tapi semua bacaan. Secara etimologi. (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologis. misalnya. seperti di dalam penerjemahan bahasa asing. Masing-masing definisi ini sekedar merupakan tahapan-tahapan historis. Keenam definisi ini tentu saja terkait tahapan historis kajian hermeneutika hingga masa Palmer saja. (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel. tentu saja terdapat titik temu dari semuanya terlebih jika dimaklumi bahwa sekian tersebut sama-sama menggunakan istilah hermeneutika yang mana bisa dirunut maknanya secara etimologi. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk verba dari hermeneuein. hermeneutika berasal dari kata kerja Bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. kata ini memiliki tiga bentuk makna dasar. tidak sampai masa sekarang. yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata.

[6] Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik. dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks. Scheleirmacher menawarkan dua pendekatan: pertama. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas. dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. Dengan demikian. oleh karenanya kajian beliau dikenal dengan istilah hermeneutika teoritis. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis. pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung. [5] Dalam rangka merekonstruksi makna. Kajian hemeneutika beliau ini berpusat mengenai bagaimana memperoleh pemahaman yang benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas.pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan. maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”. dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks. hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. Hal ini . yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks. kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri. teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. Sebab. untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya. dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. maka terwujudlah hermeneutika umum[4].

Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. Betti termasuk tokoh hermeneut yang menganut hermeneutika teoritis yang mencoba memadukan antara teori Schleiemacher dan Wilhelm Dilthey.[8] Selanjutnya.[9] Emilio Betti E. sementara ilmu sosial dan humaniora mencoba mencari tahu dan memahami (verstehen) sesuatu yang bersifat psikis. Sehingga. non-fisik. Di sinilah sikap empati pembaca terhadap teks menemukan tempatnya. Ilmu alam menjelaskan (erklären) sesuatu dan bertanya tentang penyebab-penyebab terjadinya sesuatu secara fisik. untuk merekonstruksi makna teks.juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul. bukan ekspresi mental penggagas. Sebagaimana . Dilthey menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah. berbeda dengan Schleiemacher. Sebab pengalaman itu dimediasi oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas pada masanya. Karena itu.[7] Dilthey (Hermeneutika Metodis) Perkembangan berikutnya ditandai oleh pemikiran Wilhelm Dilthey yang membedakan antara ilmu alam / ilmu eksakta (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial dan humaniora / ilmu non-ekaskta (Geisteswissenschaften). yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey. menurut Dilthey tidak harus menyelam ke dalam pengalaman penggagas. Karena itu. dengan mengambil penekanan yang sedikit berbeda dengan hermeneutika teoritis Schleiermacher yang menekankan pada pencarian makna obyektif yang dihendaki penggagas. adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduknya.

bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya suatu teks). Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan. suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi. hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obyektif. sebagai penguakan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia. Das Sein sebagai penyebab munculnya kegiatan berfikir menurut Heidegger adalah merupakan bahasa yang sejati. penafsir harus mengosongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan.[11] Fenomenologi hermeneutika Heidegger adalah suatu fenomena tentang ‘ada’.[10] Heidegger (Fenomenologi Das Sein. Heidegger memandang bahwa bahwa bahasa adalah tempat tinggal ‘sang ada’. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. untuk mencari ungkapan bahasa yang tepat sehingga das sein dapat benar-benar menjadi bahasa. melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai dari ungkapan teks. tiga. Betti menawarkan empat momen gerakan alam menemukan makna obyektif: pertama.[12] Hans Georg Gadamer (Hermeneutika dialogis) Sebagai penerus Heidegger. Pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. Kegiatan berpikirf adalah merupakan suatu jawaban terhadap das sein. Gadamer menolak anggapan hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna obyektif. hermeneutika beliau yang lebih menekankan fenomenologi das sein ini dikenal dengan hemerneutika filosofis. melainkan merupakan proses ontologis. kedua. empat. sehingga selanjutnya dapat dikomunikasikan.pendahulunya. pada hakikatnya hermeneutika adalah merupakan ciri hakiki manusia. Menurut beliau. Oleh karenanya. melainkan kegiatan primal interpretasi yang membuka hakikat ‘ada’ menjadi terbuka. penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kerja imajinasi dan wawasan. Hermeneutika dialektis) Martin Heidegger membawa hermeneutika ke ranahnya yang bersifat ontologis. Gadamer . penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik teks.

Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks. situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. hermeneutika filosofis mengandaikan seorang penafsir atau pembaca didahului oleh horizon pembaca yang kemudian membentuk pra pemahaman. langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks. Namun penting digaris bawahi bahwa Gadamer tidak bermaksud memberikan kebebasan mutlak bagi penafsir. Kedua. menurut Gadamer. kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. Sebagai tawarannya. pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. karena dua alasan: pertama. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. yakni agar penafsir bersikap terbuka pada teks. memahami bukanlah komuni misterius jiwa-jiwa dimana penafsir menggenggam makna teks yang subyektif. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. Keempat. setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon. Kedua. bukan makna obyektif teks. horizon pembaca dan horizon teks. Dalam kegiatan penafsiran. Penafsir sejatinya . Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci hermeneutis[13]: Pertama. maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks.menganggap tidak mungkin diperoleh pemahaman yang obyektif atau definitif sebuah teks sebagaimana digagas para penggagas hermeneutika teoritis. Gadamer tetap memberikan ramburambu. orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya. Sebab. Memahami menurutnya adalah sebuah fusi horizon-horizon: horizon penafsir dan horizon teks. Ketiga. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup.

Selain itu. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain (seolah-olah terlibat dalm suatu perisitiwa). Adapun persyaratan CLM. Tujuan dari pola CLM adalah untuk mencari hubungan sebab dan akibat. Sebab. Dengan prinsip makna tidak ditemukan di dalam teks. dan (2) Ada pola semu yang harus ditolak. yakni mempertemukan pra pemahaman pembaca dengan cakrawala atau horizon teks. keduanya pasti hadir dalam setiap tindakan menafsir. ramalan. Makna itu mempunyai nilai bagi kehidupan pembaca. Yang kedua adalah Hermeneutika. melainkan “makna yang berarti” bagi pembaca. karena suatu penelitian sendiri dibutuhkan direct observation. Penekanan Gadamer pada fusi horizon dalam menemukan makna didasarkan pada argumen bahwa seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tradisi dan prasangkanya dan apalagi memasuki tradisi dan prasangka orang lain.membiarkan teks menghadiri penafsir untuk kemudian diadakan dialog antara keduanya untuk menghilangkan ketegangan. bukan bagi kehidupan penggagas. Padahal masa silam dapat diteliti tanpa melakukan direct observation.Yang pertama adalah CLM (Covering Law Model). langkah selanjutnya adalah menerapkannya ke dalam konteks di mana pembaca berada. Gadamer berpendapat bahwa “memahami” adalah tindakan sirkuler antara teks dengan pembaca yang disebut the fusion of horison. yaitu (1) Pola hukum yag muncul pada premis pertama harus dikonfirmasi oleh sema fakta yang relevan atau tidak berlawanan dengan fakta.Oakeshott menyatakan bahwa penelitian terhadap masa silam itu tidak mungkin dilakukan. Begitu makna produktif ditemukan. sebagaimana pembaca. ada syarat suatu peristiwa yang dapat diterangkan melalui CLM. yaitu mengaitkan hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. melalui fusi horison pembaca dan horizon teks. Teori empirsme ekstrim oleh M. Dalam percakapan atauun . teks juga mempunyai sejarahnya sendiri yang disebut horizon teks. tujuan utama hermeneutika filosofis adalah “memproduksi makna teks”. lantaran keduanya merefleksikan keterkondisian historis umat manusia. yaitu takdir Tuhan. Menurut Gadamer. dan pola hukum yang tidak menjelaskan seperti peristiwa x terjadi karena peristiwa x terjadi. Dalam negosiasi itulah. Peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Berbeda dengan hermeneutika teoritis yang hendak “merekonstruksi makna”. Tentu makna yang diterapkan bukanlah makna obyektif sebagaimana dimaksudkan hermeneutika toritis. Untuk dapat meneliti tentang masa silam terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan. Pola CLM tidak berurusan dengan peristiwa unik atau individual yang dijelaskan pola hukum lainnya. makna yang dicari bersemayam.

Asumsi Dilthey dengan rekonstruksi itu akan menghasilkan efek yang sama seperti halnya dengan pelaku sejarah dahulu. aspek produktif dan reseptif. yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain. sejak kapan mulainya. kebertautan (zusammenhang) antara pengalaman lama dan baru. Ausdruckmenekankan kesejajaran antara penafsiran teks dn struktur erlebnis. Tahap selanjutnya dalam hermeneutika adalah ausdruck atau ungkapan. pengalaman dan proses-proses psikologi dan intelektual yang dahulu dirasakan seorang pelaku sejarah. Konotasi verstehen ”Dalam keadaan itu. (4) Pemahaman hermeneutika masa silam terikat dan bertaut dengan individualitas si peneliti. hermeneutika lebih pentingdari teori argumentasi. Kontribusi Dilthey tampak pada fenomenologi sosiologi. bagian-bagian (teks) ditempatkan dalam keseluruhan teks. Dilthey. Pengalaman baru memberi arti dan penafsiran baru terhadap pengalaman lama. Dalam menjelaskan perbuatan seorang pelaku sejarah. Ausdruck merupakan obyektivasi mengenai kebertautan atau koherensi dalam erlebnis. Pengembang teori hermeneutika di Jerman berikutnya yaitu Gadamer. Dilthey memakai psikologi sebagai ilmu bantu. Pengalaman yang ditentukan proses timbal balik disebut ’erlebnis’. peneliti harus masuk ke dalam kulit lawan bicara atau pengarang sambil menimba dari pengalaman hidup kita sendiri. dan keseluruhan teks hendaknya dimengerti dengan bertitik tolak pada bagianbagian. peneliti harus dapat memberi jawaban mengapa seorang pelaku sejarah berbuat demikian. (2) berusaha mengerti pihak lain berdasakan pengalaman sendiri dan pengalaman mengenai kenyataan dalam keseluruhan. yaitu: (1) Gadamer menolak pemisahan Dilthey tentang kenyataan dan pengalaman mengenai kenyataan. Teori argumentasi modern meneliti percakapan antara dua pihak manusia. Teori . (3) Gadamer menolak adanya metode hermeneutika. Bentuk pengetahuan lewat verstehen lebih lengkap dari erklaren karena ”Dunia alami hanya merupakan bayangan”. Dalam ilmu alam ada erklaren (menerangkan) yang didasarkan pada pola hukum umum. Adapun perbedaan pendapat antara Gadamer dan Dilthey. Adapun proses hermeneutika. aku sendiri juga akan berbuat dan berpikir demikian”. (2) Pengetahuan dan pengalaman dari masa silam merupakan bagian dari eksistensi manusia.penafsiran teks. dan menciptakan berdasarkan kesatuan dan kebertautan. Pengembang teori hermeneutika di Jerman selanjutnya adalah W. Menurut Schleiermacher. Ausdruck melukiskan kenyataan sesuai dengan penghayatan atau persepsi (penyerapan) terhadap kenyataan. berdasarkan landasan yang sama. Erklaren terbatas pada gejala yang secara lahiriah dapat diamati. dan (3) bagi ahli sejarah. Hal ini tidak hanya berguna untuk menafsirkan teks-teks atau maksud lawan bicara. adalah mementaskan kembali di panggung batinnya. Ada pengaruh timbal balik antara pengalaman baru dan lama. Tujuan hermeneutika adalah (1) menjembatani jurang antara dua titik pangkal yang berbeda-beda. Dilthey terkenal dengan gagasannya yaitu geisteswisschenschaften (ilmu pengetahuan budaya). Cara kerja teori ini adalah melacak komunikasi yang terganggu. Hermeneutika ingin mengerti mengapa seseorang berbuat begitu atau begini. ’ausdruck’ dan ’verstehen’. setiap pengalaman baru ditentukan oeh semua pengalaman yang sampai pada saat itu pernah dimiliki. Teori ini mengandaikan bahwa kedua pihak memiliki landasan atau awal yang sama. dengan memasuki alam pikiran para pelaku sejarah. Ide Dilthey berkisar pada konsep ’erlebnis’. Menurut Dilthey. Tahap selanjutnya yaitu verstehen. Verstehen tidak dapat diterapkan pada ilmu eksakta.

masa lalu dapat diulangi dalam batin kita sehingga pengetahuan berdasarkan pengalaman masa silam tidak mustahil.G. Lebih lanjut tentang: Pemikiran Sejarah: Filsafat Sejarah (I) .Hermeneutika di Inggris dan Amerika Serikat ini dikembangkan oleh R. Menurut Collingwood. yaitu mengulangi apa yang hidup dalam benak para tokoh sejarah. Collingwood menggunakan konsep re-enact. Terdapat perbedaan-perbedaan antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta. Perbedaan pokok antara pengkajian sejarah dan ilmu eksakta bahwa peneliti sejarah tidak hanya berurusan dengan kelakuan lahiriah obyek penelitiannya. Collingwood dan H. Re-enactment terjadi dalam batin peneliti sejarah yang imajinatif dalam ekstrapolasi dan intrapolasi menurut pengalamannya sendiri. White. melauinkan juga dengan batin (segi dalam) kelakuan mereka.

Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya. Sementara hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. Teks ini memang dalam . yakni hermeneutika.A Wattimena Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. Pada bab ini saya ingin memperkenalkan sebuah metode yang sangat berkembang pada awal dan pertengahan abad kedua puluh. Di dalam sejarahnya retorika dan hermeneutika memang selalu terkait. dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu sosial yang membuat manusia tidak mampu mengembangkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin. di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya. bahwa rasionalitas universal manusia mampu melakukan kritik atas kapitalisme. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah retorika dan filsafat praktis (etika).Hermeneutika Hans-Georg Gadamer Reza A. Retorika adalah seni untuk memaparkan pengetahuan. terutama hermeneutika yang dirumuskan oleh Hans Georg Gadamer. teori kritis memiliki satu pengandaian dasar.

dan menjadi percakapan rasional untuk memahami suatu persoalan. bahwa hermeneutika dan retorika lebih merupakan seni. bahwa hermeneutika dan retorika saling membutuhkan satu sama lain. Untuk melakukan itu ia kemudian kembali membaca tulisan-tulisan Plato. dan bukan ilmu pengetahuan. terutama pada bagian etika. melainkan juga dapat disampaikan dengan jernih kepada orang lain. Retorika mengandaikan orang memahami teks. Dalam arti ini juga dapat dikatakan. Sementara pemahaman tidak boleh berhenti di dalam diri seseorang saja. . dan sifatnya instrumental. Gadamer sendiri berulang kali menegaskan. saintifik. Akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas. yang merupakan karya terbesarnya. Gadamer mencoba untuk melepaskan hermeneutika dari wilayah ilmu pengetahuan. Gadamer menjadikan etika sebagai dasar bagi hermeneutika. Dalam arti ini dialog kehilangan dimensi rigorus saintifiknya.bentuk tulisan. Tujuan utamanya tetap yakni melepaskan hermeneutika dari ilmu pengetahuan yang cenderung rigorus. termasuk Truth and Method. Di dalam beberapa tulisannya. yakni realitas itu sendiri. Selain itu Gadamer juga membaca tulisan-tulisan Aristoteles. terutama ilmu-ilmu sosial. Menurut Gadamer hubungan antara pembaca dengan teks mirip seperti hubungan dialog antara dua orang yang saling berbicara.

dan lepas dari pikiran manusia. dan universal di dalam bahasa itu sendiri. hermeneutika. Untuk memahami berarti untuk menyentuhnya dengan akal budi. dan tugas hermeneutika adalah memahami pengertian tersebut. Untuk memahami berarti untuk menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang lebih luas. anda akan mendapatkan kesan bahwa ia senang sekali bermain kreatif dengan bahasa untuk menciptakan pemahaman-pemahaman baru. Di dalam bahasa terdapat pengertian. tetap. Beragam makna di dalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang bersifat esensial. Menurutnya bahasa tidak pernah bermakna tunggal. Yang pertama pengertian selalu terkait dengan proses-proses akal budi (cognitive process). Bahasa selalu memiliki beragam makna. . Artinya bahasa itu memiliki sesuatu yang sifatnya khas pada dirinya sendiri. Hermeneutika selalu terkait dengan pengertian tentang realitas. yakni proses untuk memahami teks. Untuk memahami berarti untuk melihatnya secara lebih jelas. memiliki tiga arti. dan itu justru harus diakui dan dirayakan. atau memahami teks. Untuk memahami sesuatu berarti untuk menggenggamnya dengan kekuatan akal budi. Berdasarkan penelitian Jean Grodin.Pengertian Sebagai Kegiatan Pikiran[1] Jika membaca tulisan-tulisan Gadamer langsung. Inilah arti dasar dari hermeneutika sebagai proses untuk memahami sesuatu. dan membuka kemungkinan bagi pemahaman-pemahaman baru.

terutama teks kitab suci. Inilah yang disebut Dilthey sebagai pengalaman hidup (life experience). Maka dari itu menurut saya. Pengalaman hidup tersebut dapat dipahami melalui proses rekonstruksi ulang yang dilakukan peneliti melalui penelitiannya. ilmu-ilmu sosial tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam. seorang filsuf ilmu-ilmu sosial yang hidup pada abad ke-19. Pengertian sebagai Kegiatan Praktis Yang kedua hermeneutika selalu terkait dengan pengertian yang bersifat praktis. Inilah yang kiranya menjadi argumen utama Wilhelm Dilthey. searah dengan penelitian Dilthey. Di dalam proses memahami realitas sosial. Konsep hermeneutika Gadamer juga berakar pada tradisi tafsir teks-teks kitab suci ini. setiap bentuk tindakan dan ekspresi seseorang selalu mencerminkan apa yang dihayatinya di dalam kehidupan. Dalam arti ini orang yang mengerti bukan hanya ia memahami . Konsep pengertian sendiri memang sudah tertanam di dalam tradisi hermeneutika sejak lama. karena tujuan ilmu-ilmu alam bukanlah memami pengalaman hidup. Di dalam tradisinya hermeneutika berfokus pada upaya untuk memahami teks-teks kuno. melainkan mengkalkulasi yang untuk mengeksploitasi dan memprediksi fenomena alamiah.Konsep pengertian atau pemahaman (understanding) juga bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial.

tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sebuah masakan yang enak. orang harus peduli dan mampu memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Seorang koki yang baik tidak hanya memahami konsep teoritis bumbu.pengetahuan tertentu. Untuk memahami sudah selalu mengandaikan mampu menerapkan. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya. yakni proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. Di dalam hidupnya manusia selalu mencari arah baru untuk dituju. tetapi mampu mengajar dengan baik. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger. Misalnya anda adalah seorang guru yang baik. Gadamer sangat terpengaruh pada filsafat Heidegger. Hanya dengan memahami diri secara tepatlah manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. Gadamer memfokuskan hermeneutikanya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. terutama tentang fenomenologi adanya. Untuk memahami manusia menurutnya. Artinya anda tidak hanya memahami pengetahuan teoritis tentang cara mengajar dan arti pengajaran itu sendiri. tetapi juga memiliki ketrampilan praktis untuk menerapkannya. tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu. Di dalam proses merumuskan filsafatnya. . Untuk menemukan arah yang tepat.

Untuk mengerti berarti juga untuk setuju. namun ada hal-hal mendasar yang telah disetujui sebelumnya. Kebijaksanaan praktis juga melibatkan pengertian tertentu. seperti yang dilakukan Plato di dalam filsafatnya. penerapan adalah sesuatu yang amat penting. Penerapan adalah soal tindakan nyata.[2] Pengertian sebagai Kesepakatan Gadamer juga berpendapat bahwa pengertian selalu melibatkan persetujuan. ketika ia mulai secara intensif membaca tulisan-tulisan Aristoteles tentang kebijaksanaan praktis. dan juga bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. jika dibandingkan dengan filsafat Heidegger. ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Grondin. “we understand each other”. Sifat praktis ini diperoleh Gadamer. Bertindak baik tidak sama dengan memahami hakekat dari yang baik. Memang pengertian itu tidak seratus persen berarti persetujuan. Dalam konteks pengertian ini.Dapat juga dikatakan bahwa filsafat Gadamer lebih bersifat terapan. Yang pertama bagi . ketika orang mengerti. kalimat yang familiar dapa dijadikan contoh. Kata understand bisa berarti mengerti atau memahami. Di dalam bahasa Inggris.

atau proses . maksud asli pengarang hanyalah hal sekunder. untuk memahami berarti juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Sache inheren berada di dalam setiap proses pembacaan ataupun proses dialog. Namun di dalam hermeneutika Gadamer. tujuan utamanya adalah membangkitkan maksud asli pengarang. Pemahaman atau pengertian dasar (basic understanding) itu disebutnya sebagai sache. Maksud asli pengarang tetap ada. namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar. Yang penting adalah apa yang menjadi tema utama pembicaraan. bahwa fokus dari hermeneutika. Namun tetaplah harus diingat. pembaca dan penulis teks memiliki kesamaaan pengertian dasar (basic understanding) tentang makna dari teks tersebut. jika kita memiliki beberapa pengertian dasar yang sama dengan pengarang. Dalam arti ini proses sache tidak lagi berfokus untuk membangkitkan maksud asli dari penulis teks. Namun kita hanya dapat mengerti maksud tersebut. Di dalam proses pemahaman itu.Gadamer. Di dalam hermeneutika tradisional. Dan tema utama pembicaraan (subject matter) itu dapat terus berubah. atau subyek yang menjadi tema pembicaraan. melainkan berfokus pada tema yang menjadi perdebatan yang seringkali berbeda dengan maksud asli si penulis teks. Misalnya saya membaca teks tulisan Immanuel Kant. Ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant.

dan tidak semata-mata hanya untuk menjelaskan maksud asli dari penulis teks. Saya . Bahkan ia berpendapat bahwa pengalaman penafsiran (hermeneutic experience) hanya dapat dicapai di dalam bahasa.menafsirkan. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia (linguistic elements of understanding).[3] Yang kedua menurut Gadamer. dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa. Di dalam proses ini. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. tindak memahami selalu melibatkan kemampuan untuk mengartikulasikannya di dalam kata-kata dan menyampaikannya di dalam komunikasi. baik dialog aktual fisik. Misalnya saya mengerti sebuah simbol. Dalam arti ini untuk memahami berarti untuk merumuskan sesuatu dengan kata-kata. menurut Gadamer. Namun begitu bukankah tidak semua hal dapat disampaikan dengan kata-kata? Seringkali kita mengerti sesuatu. Saya juga bisa memahami keindahan dari suatu karya seni. peran bahasa sangatlah penting. Bagi Gadamer elemen bahasa untuk mencapai pengertian ini sangatlah penting. adalah untuk membangkitkan makna tentang tema utama pembicaraan. Maka perlulah ditegaskan bahwa bagi Gadamer. setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog. tetapi tidak bisa mengartikulasikannya secara jernih melalui bahasa. ataupun dialog ketika kita membaca satu teks tulisan tertentu.

dan pemusik. Jika bahasa tidak lagi bermakna. Semua bentuk komunikasi itu bisa membuka ruang untuk penafsiran dari pendengar ataupun penerima pesan. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif. tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. Gadamer berpendapat bahwa para seniman. kita perlu memperhatikan juga apa yang tak terkatakan. termasuk pelukis. pematung. . Maka dari itu di dalam komunikasi. merupakan alat komunikasi yang universal untuk mencapai pemahaman. Dengan demikian walaupun sifatnya terbatas. sehingga tercipta kesalahpahaman. di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. Namun hal itu terjadi. Tidak hanya itu seringkali perasaan dan bahkan kebenaran itu sendiri tidak dapat dikurung di dalam rumusan kata-kata. namun bahasa. Di dalam bukunya yang berjudul The Truth and Method. Tentu saja orang bisa salah tangkap.juga bisa memahami keindahan suatu musik. Dalam beberapa kasus tarian dan bahkan diam juga bisa menjadi sebentuk bahasa yang menyampaikan pesan tertentu. karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. lalu bagaimana proses pengertian atau memahami bisa terjadi? Menurut Gadamer bahasa memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar kata-kata. dalam arti luas. karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis.

Oleh karena itu konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer sangatlah berbau fenomenologi. Pengertian dasar itu disebut Gadamer sebagai antisipasi. hal itu mungkin. Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah sebuah logika klasik. seperti yang dilakukan Heidegger dan Gadamer. menurut Gadamer. setiap bentuk penafsiran untuk memperoleh pemahaman selalu melibatkan pemahaman dasar lainnya. Namun jika dilihat secara fenomenologis.Konsep Lingkaran Hermeneutis[4] Gadamer juga dikenal dengan argumennya soal proses penafsiran. Logika berpikir menolak sebuah penjelasan atas suatu konsep yang terlebih dahulu mengandaikan konsep tersebut. Argumennya begini setiap bentuk penafsiran selalu mengandaikan pengertian dasar tertentu. Tentu saja dari sudut logika. orang perlu memiliki pemahaman. Artinya untuk memahami kita juga memerlukan pemahaman. Maksud utama dari keseluruhan teks dapat dipahami dengan berpusat pada bagian-bagian teks tersebut. Hal yang sama dapat diterapkan untuk memahami suatu teks. hal ini tidak bisa diterima. Konsep lingkaran hermeneutis ini sangatlah dipengaruhi oleh filsafat Heidegger. Seperti sudah sedikit disinggung. seperti untuk menafsirkan guna memahami sesuatu. dan sebaliknya bagian-bagian teks itu dapat dipahami dengan . atau yang disebutnya sebagai lingkaran hermeneutis. bahwa orang bisa memahami keseluruhan dengan terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya.

[5] Pengandaian hermeneutika Gadamer adalah. menurut Gadamer. Jika sudah begitu maka pemahaman yang tepat pun tidak akan pernah terjadi. Tujuan utama Gadamer adalah untuk memahami teks di dalam kerangka berpikir yang lebih menyeluruh.memahami keseluruhan teks. Supaya dapat memperoleh pemahaman yang tepat. dan bukan hanya terjebak pada apa yang tertulis atau terkatakan saja. Dalam arti ini Gadamer memiliki perbedaan . maka proses penafsiran akan menjadi tidak fokus. Setiap bentuk pemahaman juga mengandaikan adanya kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya ingin dipahami. Tidak hanya itu proses untuk memahami keseluruhan melalui bagian. Jika kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya sungguh dipahami ini tidak ada. bahwa keseluruhan (whole) dan bagian (parts) selalu koheren. dan sebaliknya. Pemahaman adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari. si pembaca teks haruslah memahami koherensi antara makna keseluruhan dan makna bagian dari teks tersebut. adalah proses yang berkelanjutan. dan bukan sesuatu yang sudah ditemukan lalu setelah itu proses selesai. maka konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer tetap mengandung unsur logika yang tinggi. Ini adalah salah satu kriteria untuk mendapatkan pemahaman yang tepat. Teks harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yang tentunya melibatkan teks-teks lainnya. Jika dilihat dengan kaca mata ini.

Dan sebaliknya bagianbagian dari teks dapat dipahami dengan terlebih dahulu memahami maksud keseluruhan dari teks tersebut. Sementara bagi Gadamer konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan. Sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literatur. Artinya untuk memahami orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu.mendasar dari Heidegger. Sementara bagi Gadamer fokus dari pengertian adalah upaya untuk memahami masa lalu dari teks. Maksud utuh dari teks dapat dipahami dengan memahami bagianbagian dari teks tersebut. Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan. Juga bagi Heidegger proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta di dalam proses penafsiran tersebut. Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya. serta arti sebenarnya dari teks tersebut. Bagi Heidegger fokus dari pengertian manusia adalah untuk memahami masa depan dari eksistensi manusia. Sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya. Sementara fokus dari hermeneutika . fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. dan sebaliknya. Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme.

maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. Prasangka membuat orang melihat apa yang ingin mereka lihat. yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. Dengan demikian kita bisa memastikan. Namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik. dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal.Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. Walaupun banyak memiliki perbedaan. baik kebenaran di level eksistensi manusia. yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat. yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi .[6] Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik. bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. namun keduanya tidaklah sama. yang biasanya negatif. Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka.

manusia dengan berdasarkan kehidupan itu sendiri. historis. Penjelasan struktural suatu teks cenderung bersifat obyektif. Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore. ia menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi (Ricoeur. setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. 1983:192) Salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah ‘perjuangan melawan distansi kultural’. di sinilah didapati dikotomi antara obyektifitas dan subyektifitas yang menimbulkan . 1974:12) Bilamana ada pluralitas makna. sedangkan penjelasan hermeneutik memberi kita kesan subyektif. Riceour kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan ‘perhatian kepada teks’. dan di lain pihak mencari daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri keluar. Setiap interpreatsi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung. fenomenologis. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalaha interpretasi terhadap interpretasi. Tugas utama hermeneutik di satu pihak adalah mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam suatu teks. Jika pembahasan interpretasi hanya terbatas pada simbol-simbol maka ini menjadi terlalu sempit. memiliki prespektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial ke analisis eidetik (pengamatan yang sedemikian mendetil). Definisi pasti tentang hermeneutik menurut Ricoeur adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur. yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. 1985:43).*** Paul Ricoeur pada historisitas Ricoeur yang berlatar belakang pandangan Katholik. Menurut Riceour. Teks sebagai penghubung bahasa isyarata dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. demikian pula jika simbol-simbol mulai dilibatkan. seperti yang dikutip dari Nietzsche. hermeneutik hingga pada akhirnya semantik. maka dibutuhkan sebuah interpretasi. Baginya manusia pada dasarnya adalah bahasa dan bahas itu sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.

Langkah pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Hermeneutik dan interpretasi tidak pernah lepas dari simbol-simbol. yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. . Kata-kata sebagai sebuah simbol memiliki makna dan intensi tertentu. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ sangat tajam. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. Percikan Gagasan Paul Ricoeur tentang Hermeneutik 1. maka di situ interpretasi dibutuhkan. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya. Ada dugaan bahwa keseluruhan filsafatnya pada akhirnya terarah kepada hermeneutik.problem. terutama pada interpretasi. langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna. Pemahaman yang pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie. Tema kedua adalah tidak ada pandangan umum menyeluruh yang memberi kita kemungkinan untuk memahami totalitas akibat sejarah hanya dalam waktu sekejap saja. Dia juga menegaskan bahwa “filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik. Salah satu simbol adalah bahasa. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol. maka tidak akan ada situasi yang secara mutlak membatasi kita.” Setiap interpretasi merupakan usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol (katakata) dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut. langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. Jadi. Tema keempat adalah perpaduan antarcakrawala. Bagi dia sebenarnya keseluruhan filsafat merupakan interpretasi terhadap interpretasi. tema pertama adalah tidak ada titik nol saat kritik tuntas dapat mulai dilakukan. Latar Belakang Pemikiran Paul Ricoeur tentang Hermeneutik Paul Ricoeur adalah filsuf yang menekankan pandangan Katolik. Adanya simbol. Maka. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. Bilamana terdapat pluralitas makna. Menurut Ricoeur ada tiga langkah pemahaman. Ada empat tema yang diketengahkan oleh Ricoeur. situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks. yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbolsimbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol. mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang asli. Tema ketiga adalah jika tidak ada pandangan ang menyeluruh. Di sini batasan pembahasannya terletak pada usaha menafsirkan bahasa tulisan yang tertuang dalam kata-kata. yaitu untuk memahami sebauh percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya.

Acapkali seorang penafsir membawa juga struktur-struktur yang sudah “jadi” tentang obyek tafsir sehingga sebelum menafsir sudah ada “warna” yang diberikan kepada obyek tersebut. istilahistilah memiliki makna ganda. Kalau sampai pewarnaan itu terjadi maka ada kemungkinan usaha untuk mencapai makna yang sejati akan menemui kendala. Ricoeur memperluas definisi tersebut dengan ajakan memberi “perhatian kepada teks”. kiranya terlalu sempit.kekayaan sebuah simbol justru ditemukan dalam maknanya yang sejati sehingga tidak menimbulkan multi-tafsir. sebuah teks harus kita tafsirkan dalam bahasa yang tidak pernah tanpa pengandaian dan diwarnai dengan situasi kita sendiri dalam kerangka waktu yang khusus. Ruang Lingkup Hermeneutik Bila hermeneutik didefinisikan sebagai interpretasi terhadap simbol-simbol. Sebuah kata mengandung konotasi yang berbeda bergantung pada konteks pemakainya. Kita bisa tersesat dengan memberi makna (bisa lain sama sekali) kepada obyek dan bukannya memetik makna yang sudah ada dalam obyek tersebut. Inilah yang disebut oleh Ricoeur sebagai “perjuangan melawan distansi kultural”. sebab kedua-duanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. Usaha ini tidak mudah. Pola-pola makna ini secara luas memberikan gambaran tentang konteks hidup dan sejarah orang tersebut. yaitu teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks. ekologist. namun konteks pun bermacam-macam menurut zamannya. Menurut Ricoeur. orang yang berbicara membentuk pola-pola makna secara tidak sadar dalam kata-kata yang dikeluarkannya. agar bisa sampai kepada penafsiran yang tepat. petani dan sebagainya. Dasarnya adalah tradisi dan kebudayaan setempat. maka seorang penafsir harus mengambil jarak tertentu dengan obyek tafsiran. Dalam hal ini kita sebaiknya mengikuti definisi yang diajukan oleh Ricoeur tentang hermeneutik. tradisi ataupun aliran yang hidup dari bermacam-macam gagasan. Lebih jauh lagi. penyair. Ia menyatakan bahwa tugas utama hermeneutik ialah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”nya teks itu muncul ke permukaan. Kata dan Makna Telah kita lihat bersama bahwa. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. 2. 3. misalnya kata “pohon” akan mempunyai makna yang bermacam-macam bergantung pada pembicaranya: apakah ia seorang penebang kayu. Walaupun demikian. Setiap kali kita membaca sebuah teks selalu berhubungan dengan masyarakat. sebuah kata adalah juga sebuah simbol. Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu dengan yang lain. Bahkan meskipun benar juga bahwa makna dapat diturunkan dari konteks yang terdapat dalam sebuah kalimat. Karena itu. Bagaimana dilema ini kita . Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensionaldan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi pembaca atau pendengarnya.

ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing. Injil seringkali kita bayangkan sebagai sebuah “kitab yang hidup”. situasi kultural dan kondisi pengadaan teks. Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Ricoeur dengan pernyataannya: “Memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks. Refleksi Berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Ricoeur kami menemukan faedah hermeneutik dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar otonomi ini. Jika kita mendapat titik akhir sebuah interpretasi. harus dapat mengatasi situasi dikotomis. 4. Bahwa “perhatian kepada sebuah teks” tidak semata-mata terletak pada pemahaman hurufiah. khususnya bagi kita yang setiap harinya berhadapan dengan teks-teks kitab suci. Kitab Suci Injil menyajikan contohcontoh teks yang berasal dari zaman yang berbeda dengan zaman kita. Latar belakang Ricoeur sebagai penganut katolik yang setia menjadi cerminan bagi kami dalam mempelajari dan mendalami isi teks kitab suci. yang isinya dapat dinikmati oleh setiap generasi. Tidak.pecahkan? Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi” (= proses ‘pembebasan’ diri dari konteks). ini berarti “pemerkosaan” terhadap interpretasi. Tugas hermeneutik menjadi sangat berat sebab hermeneut harus membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri. Sebagai contoh. Pembaca Injil tidak “membaca ke dalam” teks. namun masih juga kita rasakan relevan atau dapat kita terapkan pada semua hikayat dan persitiwa pada masa mendatang. yaitu untuk memahami sebuah percakapan kita harus kembali pada struktur permulaannya. Otonomi teks ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang. inilah yang dimaksudkan dengan “rekontekstualisasi”. serta untuk melakukan “rekontekstualisasi” (= proses masuk kembali ke dalam konteks) secara berbeda didalam tindakan membaca. maka yang dimaksudkan dengan “dekontekstualisasi” adalah bahwa materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. tetapi mendalami aspek-aspek di balik teks yang kelihatan. melainkan membuka diri terhadapnya”. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Maka. Jika Injil tidak dapat diterapkan pada zaman kita ini. di mana pembacaannya selalu berbeda-beda. Kebenaran dan metode dapat menimbulkan proses dialektis. Interpretasi selalu bersifat terbuka. Pertanyaan kita sekarang adalah adakah interpretasi itu mempunyai titik akhir? Menurut Ricoeur. Dikotomi antara ‘penjelasan’ dan ‘pemahaman’ itu tajam. Teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas. maka tidak mungkin kita sampai saat ini masih mendiskusikannya. serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. Ia membantu dalam menggali makna otentik dari sebuah teks. baik dari sudut sosiologis maupun psikologis. untuk dapat berhasil dalam usahanya. melainkan ia merelakan dirinya “dirasuki” Injil. misalnya tentang pengarang dengan situasi dan konteks kebudayaan dan orang-orang sezamannya beserta tujuan dan kepada .

juga menjadi rujukan para akademisi.Qur’an: God and Man in Communication (Lcidcn. Setiap orang dari generasi ke generasi dengan situasi zamannya. maupun artikel. terutama dalam Mafhum an-Nas Dirasah fii Uluum al-Quran dan Naqdu al-Khitab ad-Dini. itu berarti ia menyangkal hakekatnya sebagai “homo rationes”. Dengan proses penafsiran seperti ini. 3. hingga 27 Desember 2000 dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap di Universitas tersebut. 2. Dia bekerja sebagai dosen di Universitas yang sama sejak 1982. gelar MA pada tahun 1977 dan PhD pada 1981 dengan konsentrasi Islamic Studies di Universitas Kairo. 4. Ada sembilan karyanya yang penting dan sudah dipublikasikan. Menurutnya. yaitu: 1. Tulisan ini akan coba menguraikan biorafi Nasr Hamid Abu Zayd. 6. al-Haqiqah: a/-Fikr al-Diniy bayna lrdaat al Ma’rifah wa lradat alHaymanah (Cairo. Pemikir ini sangat terkenal di dunia dan di Indonesia. al-Sultah. Semenjak peristiwa itu. Tindakan ini menurutnya sebagai upaya melanggengkan hegemoni kaum Quraysh terhadap kaum muslimin. mempersempit bacaan Alquran yang beragam menjadi satu versi. Utsman Ibn ‘Affan. Adalah menarik menyimak bagaimana Nasr Hamid memandang teks al-Quran. Ia menulis lebih dari dua puluh sembilan (29) karya sejak tahun 1964 sampai 1999. “Pemurtadan” Nasr tidak berhenti sampai di situ. Lebih jauh ia mengingatkan kita untuk menangkap pesan atau relevansinya dengan konteks kehidupan kita sendiri. Dan bila orang tidak lagi mau berpikir. Biografi Nasr Hamid Abu Zayd lahir di Tantra. sebagaimana dia paparkan dalam berbagai bukunya.Tafkir fi Zaman al. 1999 ) AI-Nass. Pendahuluan Mengkaji aplikasi hermeneutika dalam tradisi Islam tidak terlepas dari tokoh Nars Hamid Abu Zayd. diantaranya menghujat para sahabat. Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬dan Posisinya dalam Hermeneutika Barat. Dia menyelesaikan gelar BA pada 1972 konsentrasi Arabic Studies. Quraysh. tetapi ditolak karena hasil kerja dan pemikirannya yang kontroversial. Al-Khitab wa al-Ta’wil (Dar el-Beida. 5. The al. akan terus menggali intensi dari teks yang satu dan sama dengan maknanya yang tetap otentik. Berakhirnya sebuah penafsiran justru terjadi jika orang tidak lagi mau berpikir. maka benar bahwa tugas penafsiran itu tidak akan pernah berakhir. Pada tahun 1992. tetapi masih terus berlanjut hingga pengadilan banding Kairo menetapkan Nasr harus menceraikan istrinya. dia dipromosikan sebagai profesor. Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. baik berbentuk buku. 1995) Naqd al-Khitab al-Diniy (Cairo.siapa tulisan itu hendak diberikan. Ricoeur mengajak kita untuk tidak berhenti pada penemuan makna yang otentik dari sebuah teks. Mesir pada 10 Juli 1943. 2000) Dawair al-Kawf Qira’ah fi al-Khitah al-Mar’ah (Dar el-Beidah.[2] Nasr Hamid Abu Zayd merupakan ilmuwan muslim yang sangat produktif. dikenal dengan peristiwa “Qadiyyah Nasr Hamid Abu Zayd”.lahl wa al-Zayf wa al Khurafah (Cairo. Buku-bukunya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.[1] Belakangan ia divonis “murtad”. dia meninggalkan Mesir dan menetap di Netherlands bersama istrinya. Selain itu. 2000). di mana ia mengkritisi metode tafsir Ahlu Sunnah yang menurutnya tidak sesuai dengan konteks kekinian. Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. Awalnya. di Netherland Nasr menjadi profesor tamu studi Islam pada Universitas Leiden sejak 26 Juli 1995. terutama Uthman Ibn ‘Affan.Tafkir: Didda al-. Konsep Nasr Hamid ini membawa dampak pada metode penafsiran teks al-Quran. 1994) . dan Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. 1995) AI.

baik S-2 maupun S-3 mengambil konsentrasi bahasa Arab dan Islamic Studies. banyak difokuskan kepada pembacaan teks-teks tersebut. 1982) Nasr Hamid Abu Zayd hidup dalam hegemoni wacana agama Islam yang ”terisolasi” dari dunia ilmu pengetahuan Barat. Tuduhan-tuduhan tersebut muncul sebagai reaksi terhadap tulisan-tulisan Nasr tentang interpretasi Alquran.7. sedangkan peradaban Arab-Islam dikategorikan sebagai “peradaban teks” ( hadlârah an-nash). Selain itu. Bergabungnya Nasr dalam organisasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap cara pandangnya terhadap Islam. kritisisme. 1994) Fa/safat a/-Ta’wi!: Dirasah fi a/-Ta’wi! al-Qur ‘an ‘ind Muhyi a/-Din Ibn ‘Arabiy(Beirut. ia juga bergabung dengan Ikhwan al-Muslimin. Tradisi Arab-Islam nampak memiliki “tradisi teks” yang cukup kuat ketimbang peradaban yang lain. Sementara itu mengapa Nasr tertarik untuk menafsirkan Alquran dengan menggunakan teori kritik sastra? Hal ini dapat dimengerti karena Nasr mendapat gelar SA di bidang bahasa dan sastra Arab pada fakultas sastra Universitas Kairo. tetapi ia telah hafal Al quran sejak usia 8 tahun. kebudayaan dan peradaban.[4] Peradaban Arab-Islam disebut peradaban teks dalam pengertian sebagai peradaban yang menegakkan asas-asas epistemologi dan tradisinya atas suatu sikap yang tidak mungkin mengabaikan peranan teks di dalamnya. hal ini dilatarbelakangi suatu asumsi bahwa peradaban dunia dapat diandaikan kepada tiga kategori.[3] Pemikiran Nasr yang kontroversial tersebut sebagai produk latar belakang pendidikan dan pemikiran keagamaannya. yaitu peradaban Mesir Kuno yang disebut “peradaban (yang muncul) pasca kematiannya” (hadlârah mâ ba’da al-maut ). Ikhwan al-Muslim adalah organisasi Islam yang beranggotakan Islamis moderat. seperti rasionalisme. 9. 8. Kemudian ia melanjutkan studi di bidang yang sama di Universitas Amerika di Mesir. Barangkali ini yang menjadi penyebab mengapa ia memiliki perhatian yang cukup besar terbadap interpretasi Alquran. bahkan ia pernah bekerja sebagai teknisi elektronik di Organisasi Komunikasi Nasional. Hasil eksplorasinya memunculkan beragam tudingan miring. Kendati demikian. ini tidak berarti bahwa teks itu sendiri yang menumbuh-kembangkan . Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd : Teori Makna dan Signifikansi (‫ )الدللة والمغزى‬Serta Posisinya dalam Hermeneutika Barat Kehadiran teks dalam tradisi keagamaan telah membawa pengaruh dan implikasi yang cukup besar bagi perkembangan intelektual. Mafhum al-Nash: Dirasah fi ‘Ulum Alquran (1994) (Cairo. karena studi pascasarjananya. Perhatian yang diberikan oleh para pengkaji Islam dalam menelaah tradisi Arab-Islam dari dulu sampai dewasa ini. peradaban Yunani disebut “peradaban akal” (hadlârah al-‘aql) . sejak usia 11 tahun. Perhatiannya yang sangat besar di bidang interpretasi (tafsir) Alquran rnendorongnya untuk bereksplorasi dengan filsafat Barat. Fenomenologi dan hermeneutika. Selanjutnya ia juga concern melakukan kajian terhadap wacana keagamaan. Menurut Nasr Hamid Abu Zayd. 1993) AI-lttijah al-’Aqli fi al-Tafsir: Dirasah Qaqiyyat al-Majaz fi al -Qur ‘an (Beirut. Meskipun Nasr sekolah di sekolah Teknik.

Bidang dan tujuan kritik sastra adalah mencari signifikansi teks sastra yang sesuai dengan satu masa tertentu. Teori penafsiran Nasr Hamid Abû Zayd bersifat objektif-historis dari teks. Nasr Hamid Abû Zayd menawarkan hermeneutika modern sebagai respons terhadap tradisi penafsiran teks klasik yang mengabaikan eksistensi penafsir. politik dan budaya pada satu sisi.[9] Menurut Ahmad Hasan Ridwan. tetapi maknanya tetap satu.[10] Makna (dalalah) ada dalam karya itu sendiri. Hubungan ini menghasilkan interpretasi baik pada level pengkajian teks maupun terhadap fenomena. didasarkan pada dialektika (‫)جدلية‬ kreatif antara subjek dan objek. Konsep parole dan langue dalam kategori semiotika diterapkan untuk membahas al-Qur’ân sebagai parole dan teks sebagai langue. tasawuf dan falsafah telah berperan sebagai instrumen yang melengkapi lahirnya kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab-Islam. Sedangkan signifikansi (magzâ) berdasarkan keberagaman jenis relasi yang ada antara teks dengan pembaca.D. bahkan menurut pengarangnya sendiri makna itu akan berbeda dari satu periode ke periode yang lain. و هلذه العلقلة تنتلج التأويلل عللى‬ 6]. Hal ini berarti. sedangkan yang berubah-rubah adalah magzâ (signifikansi). Ketika makna teks dapat berubah sesuai dengan pengarangnya. Hirsch membuat pembedaan atau pemisahan antara apa yang disebut makna (meaning) dan apa yang disebut magzâ (signifikansi). Sementara ideologisasi dihasilkan dari kecenderungan subjektif-oportunistik (an-naz’ah aí-íâtiyah an-naf’iyah) dan telah menggugurkan sudut objektif teks dan historisitas teks.‫]مستوى درس النصوص والظواهرعلى السواء‬ “Hal ini berarti bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya didasarkan pada dialektika yang produktif dan kreatif antara subjek dan objek. ekonomi.)الموضوعية العلمية‬ Hermeneutika objektif-historis Abû Zayd adalah gagasan kritis berdasarkan argumentasi sebagai berikut. Abû Zayd banyak memanfaatkan pendekatan linguistik melalui kritik sastra. hadis. Yang tetap adalah makna. maka sebenarnya yang dimaksud yang berubah adalah magzâ. sedangkan teori penafsiran bertujuan untuk mencari makna teks sastra itu. ‫و هذا معنى ان القرأة الحقة، والنشاط المعرفى الحق عموما، تقوم على الجدليلة خصلبة خلقلة بيلن اللذات والموضلوع. maka data-data teks tidak berposisi sebagai penerima pasif terhadap orientasi-orientasi subjek yang mengetahui. dan proses dialog kreatif manusia yang terjalin dengan teks ( wa hiwâruhu ma’a an-nash) pada sisi yang lain. syarah hadis. fiqih. dari satu masa ke masa yang lain.[8] Hirsch menjelaskan keberadaan pengarang di hadapan berbagai pendapat yang mengabaikannya.[5] Realitas sebagai sebuah “teks” seperti konteks kesejarahan manusia. Apabila horison pembaca membatasi sudut pandangnya. Hermeneutika berhubungan dengan problem penafsiran dan problem ini terfokus pada relasi antara teks dan penafsir. bahwa pembacaan dan aktivitas intelektual yang benar pada umumnya. Dalam hal ini. untuk mengatasai problem yang dilematis ini. dan bentuk kritik terhadap kecenderungan positivistik-formalistik (an-naz’ah al-wad’iyah asy-syakliyah) yang menyembunyikan orientasi-orientasi ideologis di bawah jargon “objektif ilmiah” (‫. Hirsch. yang dapat dicapai melalui analisa teks.peradaban atau meletakkan asas-asas kebudayaan dalam sejarah masyarakat Muslim.[7] Teori interpretasi Abû Zayd dipengaruhi oleh hermeneutika E.” Hermeneutika objektif-historis merupakan bentuk kritik terhadap pembacaan tendensius (talwîn). begitu pula teks-teks liturgis keagamaan yang lain seperti Alquran. Sesungguhnya faktor utama yang melandasi dan menjadi asas epistemologi dari suatu kebudayaan adalah proses dialektika antara manusia dengan realitasnya (jadal al-insân ma’a al-wâqi’i) yang meliputi aspek sosial. karena karakter bahasa kitab suci dan historisitasnya dikaji melalui pendekatan linguistik yang dikonsepsikan oleh Ferdinand de Saussure dan pendekatan makna yang dibahas oleh Hirsch. Hirsch berpendapat bahwa signifikansi sebuah teks sastra terkadang berbeda-beda atau beragam. Hal ini didasarkan pada . dia berpendapat adanya dua tujuan yang terpisah yang masing-masing terkait dengan dua bidang yang berbeda. Hirsch berpendapat bahwa pengabaian terhadap pengarang timbul dari konsep (imagination) yang menyatakan bahwa makna karya sastra akan berbeda dari satu kritikus ke kritikus yang lain. yaitu bahwa proses penafsiran dan kegiatan pengetahuan secara umum selalu ditujukan untuk mengungkapkan berbagai kenyataan yang memiliki keberadaan objektif di luar horison subjek pembacaan. kitab tafsir.

[18] Ia menawarkan dan memperkenalkan pendekatan modern dalam memahami teks. Penafsir tidak memaksakan pendapatnya masuk ke dalam teks. seperti juga yang terjadi dari relasi antara teks dengan kebudayaan sebagai relasi dialektis yang saling menguatkan. Karenanya. atau “memahami teks”.[14] Dengan demikian.[21]untuk menandai proses penemuan “makna”. tugas hermeneutika tidak hanya menentukan prinsip-prinsip penafsiran umum. teks dan pembaca.[20] Ia mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi pembaca tentang apa itu “membaca”. Akan tetapi dalam realitas pragmatisnya hal itu sulit terjadi. Nasr Hamid Abu Zayd dengan meminjam teori hermeneutika Barat E. Hirsch sependapat dengan Betti mengenai pentingnya fokus hermeneutika pada bidang kajiannya tentang makna teks agar sampai kepada tafsir objektif. yakni “pembacaan” (qirâ’at). Salah satu karakteristik tipikal dari pengaruh sosio-kultural terhadap karakteristik Alquran bahwasanya dalam proses pembentukan teks.. akan tetapi melalui proses dialektika antara teks dengan manusia sebagai objek teks. Pembedaan antara makna dan signifikansi terdiri dari dua konsep. ideologi si penerima masuk untuk memberikan penilaian. Sebab proses komunikasi dalam bingkai bahasa adalah menyampaikan pesan dalam bentuk teks. bahwa kelihatannya pemikiran hermeneutika Nasir Hamid Abu Zayd cenderung pada sintesa dari model keterpusatan kepada teks (text centered) dan keterpusatan pada penafsir (reader centered). Hirsch Jr.[11] Makna yang dikehendaki pengarang berbeda dengan makna yang tersimpan dalam teks. Pertama. peran pemaknaan secara mutlak diserahkan pada pembaca teks (reader centered). Tentunya ini dapat juga terjadi ketika melakukan interpretasi terhadap teks Alquran.keyakinan bahwa pengarang mentransformasikan dirinya kepada pembaca sehingga merubah hubungan pengarang dengan teks. Sehingga otoritas itu dapat dikatakan sebagai produk dari proses dialektika. Fenomena ini kemudian melahirkan istilah baru dalam tradisi penafsiran. bukan apa yang dikehendaki pengarang. Karakter dan corak suatu teks akan senantiasa menggambarkan dan merefleksikan struktur budaya ( bunyah as-saqâfah) dan alam pikiran ( state of mind) di mana ruang dan waktu teks tersebut dibentuk. “menafsirkan”. Nasir Hamid Abu Zayd bersifat dekonstruktif dengan menempatkan teks terpisah dari pengarangNya. Sedangkan si penerima memiliki kemungkinan dengan sistem/logika bahasanya untuk membentuk “kerangka interpretatif” ( al-ithâr at-tafsîr î) tersendiri terhadap pesan yang disampaikan si penutur. sedangkan teks itu sendiri tidak berbicara. dan satu sama lain mengkombinasikan dirinya pada saat memunculkan wacana. atau apa yang ingin diekspresikannya. antara penutur dan penerima harus terdapat kerangka yang sama sebagaimana disebut di muka. Ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan antara “sistem/logika bahasa” dengan “sistem/logika teks” yang keduanya itu dibatasi oleh pesan dari ideologi si penutur. dengan pengaruh teks-teks syair bangsa Arab. Alquran tidak bisa keluar dari kerangka kebudayaan bangsa Arab saat itu. sebuah ungkapan tulisan atau teks terdiri atas pengarang. dalam menafsirkan teks. makna memiliki watak historis. Melalui “sistem/logika teks”. bahasa menjadi dasar sebagai sumber peafsiran dan penta`wilan.[12] Menurut Ahmad Hasan Ridwan.[15] atau the death of authoroleh Derrida. Baik Betti maupun Hirsch berpendapat bahwa filologi adalah metode yang paling ideal untuk menafsirkan teks.[17] Ketika proses interaksi kebahasaan berlangsung. yaitu bahwa .[13] Penjelasan di atas menggambarkan. dan dia istilahkan dengan kematian pengarang (maut almuallif).[23] juga memperkenalkan teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) dalam upaya memahami teks. atau apa yang dimaksudkannya.D. sebagaimana Scheleirmacher memfokuskannya pada usaha memahami teks. Lahirnya makna tidaklah berasal dari teks itu semata-mata. baik oleh penutur maupun penerima. dengan segala aspek sosial dan latar belakang historisnya.[22] Selain itu. pemikiran dan ideologi. Akal pikiran manusialah yang melahirkan makna dan berbicara atas nama teks. [19] Dalam pendekatan modern.[16] Berikutnya. misalnya. menurut Nasir Hamid Abu Zayd sebagaimana juga pendapat Hirsch. tetapi juga mengungkapkan cita-cita yang sesuai bagi penafsiran. dalam hal ini. Betti hendak mengembalikan hermeneutika pada keadaan alaminya. Karenanya menurut Nasr Hamid Abu Zayd. yang harus diperhatikan dalam teks adalah makna teks. Pada tataran inilah kemudian terjadinya reduksi atau bahkan kemungkinan distorsi terhadap pesan.

ia tidak mungkin diungkapkan tanpa pemahaman yang memadai terhadap konteks internal linguistik teks dan konteks sosial-budayanya. seperti ayat-ayat kehambaan (‘ibâdiyah) bukan penghambaan (‘ubûdiyah). dan melalui produktivitas makna dari teks-teks tersebut. Signifikansi mencerminkan tujuan dan sasaran dari tindakan pembacaan. sementara signifikansi bersifat dinamis seiring dengan horison pembacaan yang terus berubah. level kedua adalah level makna yang dapat diinterpretasi secara metaforis. hasud. sebagaimana signifikansi mengarah pada dimensi makna. Nilai baru yang dimaksud adalah fusi horison untuk future yang hasilnya digunakan untuk membangun kembali magzâ secara terus menerus. masalah yang berkaitan dengan ayat-ayat perbudakan. antara masa lalu dan masa kini. yaitu bahwa ia merupakan hasil pembacaan yang berbeda dengan masa terbentuknya teks. seperti ayat-ayat kewarisan untuk wanita.[28] Aplikasi Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Jika aplikasi teori hermeneutika Syahrûr dikenal dengan istilah intertekstualitas dengan teknik sintagmatis-paradigmatis untuk menangkap pesan yang terkandung dalam teks al-Qur’ân. sihir. sementara signifikansi memiliki watak kekinian. hubungan muslim dan non muslim (ahl al-kitab). . makna secara relatif memiliki watak yang stabil dan mapan. jin dan setan. maka tujuan tersebut dapat dicapai hanya melalui penyingkapan makna. Hermeneutika Abû Zayd menurut Ahmad Hasan Ridwan. dalâlah yang dapat diperluas dengan pencarian magzâ.‫]الثقافىالجتماعى الذى تتحرك فيه النصوص، ومن حلله تعيد انتاج دللتها‬ “tiga level makna dalam teks-teks agama. dan kembali ke masa kini (present time) untuk mendapatkan makna baru yang hidup (produktif). Pertama. Teks muncul di masa lalu (past time). Kedua. dan level ketiga adalah level makna yang dapat diperluas atas dasar “signifikansi” yang dapat disingkapkan dari konteks kultur-sosial di mana teks-teks tersebut bergerak. dalâlah yang merupakan saksi sejarah yang tak dapat dicarikan ta’wîl dan magzâ-nya. Gerak dialektis ini menghasilkan pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. Kedua. dan antara teks dan pembacanya. dalâlah yang dapat dita’wilkan dengan majâz. teks dapat terus berkembang. suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) dengan cara penelusuran intelektual ke masa lalu (past time) untuk memasuki ruang-ruang historis.” Pembedaan antara makna dan sigifikansi di dalam menginterpretasi teks bagaikan dua sisi mata uang. Dari magzâ ini. sebagai suatu pemahaman yang dimulai dari kenyataan sekarang (dalam rangka mencari magzâ) untuk menemukan arti asal (dalâlah aèliyah) ketika teks itu muncul di masa lalu. Proses ini tidak boleh berhenti pada makna dalam pengertian historis partikularnya.[27] Teori ta’wîl yang ditawarkan Abû Zayd merupakan proses gerak dialektis (gerak bandul) antara makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ).[26] bermula dari proses pemahaman terhadap suatu teks secara bolak-balik antara dalâlah dan magzâ. tetapi proses ini harus menyingkapkan signifikansimagzâ yang memungkinkan untuk membangun pondasi kesadaran ilmiah atas dasar signifikansi tersebut. dan hasil temuan ini digunakan untuk membangun kembali magzâ dan begitu proses selanjutnya. Level pertama adalah level makna yang hanya merupakan buktibukti historis yang tidak dapat diinterpretasi secara metaforis atau lainnya. Hal itu berlangsung karena signifikansi tidak terlepas dari sentuhan makna. sebagaimana Abû Zayd menjelaskan : ‫ثلثة مستويات للدللة فى النصوص الدينية : المستوى الول مستوى الدللت التى ليست ال شواهد تاريخية ل تقبل التأويل لمجلازى أو غيلره، والمسلتوى‬ ‫الثانى مستوى الدللت القابلة للتأويل المجازى، المستوى الثالث مستوى الدللت القابلة للتساع علللى أسللاس “المغللزى” الللذى يمكللن اكتسللافه مللن السللياق‬ 25].[24] Selanjutnya beliau membedakan tiga tingkatan dalâlah. Ketiga.

[31] dan kelihatannya dipengaruhi teori hermeneutika post-strukturalis Michel Foucault. Dalam masalah poligami. Poligami Makna /Dilalah Praktik Islam Sikap poligami pra-membatasi dalam islam :poligami poligami poligami tidakempat istritidak terbatas secara adil mungkin: monogami ditekankan Signifikansi/maghza Yang tak terkatakan adilTujuan akhir legislasiPoligami Islam: monogami dilarang Analisis Kritis Atas Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Pendekatan hermeneutika yang dikembangkan kalangan modernis semisal Nasr Hamid Abu Zayd yang merupakan upaya untuk mengembangkan pendekatan dalam memahami Alquran banyak ditentang di kalangan umat Islam. pembacaan subjektif dan pemahaman yang hanya mendasarkan pada relativitas sejarah. Dengan melakukan ini. Abu Zayd berharap bahwa “yang tak terkatakan” atau yang implisit dapat diungkapkan. di mana pemahamannya haruslah melampaui makna historisnya dengan menguak signifikansi masa kininya dan mampu menguak dimensi yang tak terkatakan dari suatu pesan. sehingga ia menggunakan metode dekonstruksi dan analisa arkeologis. akan . menyebabkan kosa kata dalam teks kitab suci selalu permisif untuk disusupi berbagai dugaan (guess/conjecture). karena memang pada awalnya hermeneutika ditujukan untuk menjembatani kewibawaan dan keaslian teks Bibel yang bermasalah. Perbedaan tersebut terutama dalam sifat alamiahnya. otoritas dan keaslian teks. No.[33] Gambar :[34] 3. Ketidaksesuaian ini dapat dilihat dari beberapa unsur berikut.[35] mengemukakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara hermeneutika di satu sisi. memisahkan makna antara yang “normatif” dan yang “historis” di satu sisi dan menempatkan kebenaran (truth) secara kondisional menurut budaya tertentu dan suasana historis di sisi lain.[29] dan Fazlur Rahman dikenal dengan teori double movement. Kedua. Poligami dibolehkan dalam Alquran pada hakikatnya adalah sebuah pembatasan dari poligami yang tak terbatas yang telah dipraktikan sebelum datangnya Islam. Pertama. Abu Zayd berargumentasi sebagai berikut: 1. penentuan kontekstual terhadap makna dengan mengesampingkan kemapanan bahasa dan susunan makna dalam bahasa (semantic structures). hermeneutika secara jelas menyamarkan kedudukan teks-teks suci agama. serta dari sisi kebakuan bahasa dan makna dalam memaknai kitab suci. Kesadaran akan historisitas teks keagamaan adalah teks linguistik dan bahasa sebagai produk sosial dan kultural. meletakkan teks dalam konteks Alquran secara keseluruhan terhadap konsep adil. Adnin Armas misalnya. dan tafsir – ta’wil di sisi lain sehingga tidak tepat digunakan untuk mengkaji Alquran. Ketiga.[30]Kemudian Hermeneutika Arkoun berusaha untuk memilah dan menunjukkan mana teks pertama atau teks pembentuk dan mana teks hermeneutika. 2.[32] Maka aplikasi teori Nasr Hamid Abu Zayd berangkat dari teori makna (dalâlah) dan signifikansi (magzâ) sebagaimana dikemukakan sebelumnya dan contoh cara kerjanya sebagai berikut. Poligami dalam wacana Alquran mempunyai level makna ketiga.

membatalkan konsep dakwah dalam Islam. Pertama. Paham relativisme akan mengatakan bahwa yang ma’ruf menurut sebagian orang. [36] Penggunaan hermeneutika yang menghasilkan asumsi historisitas Alquran dengan dalih bahwa perbuatan Tuhan bila telah teraktualisasi dalam sejarah. Sebab ayat tersebut akan dipertanyakan lagi. Oleh karena pertimbangan yang diambil pemikiran keagamaan lebih berorientasi pada Pencipta Teks (Allah). membubarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan semua penafsiran dipengaruhi oleh kepentingan penafsir dan situasi psiko-sosialnya. akan membatalkan konsep wahyu yang dikenal dalam Islam. berlawanan dengan konsep ilmu dalam Islam. terjaga dalam mushaf. Sementara relativisme selalu bermuara pada kebingungan. Karenanya menurut Hendri Sholahudin. sebenarnya telah menolak sumber ketuhanan (the divine source) . bisa jadi munkar bagi sebagian lainnya. Sebab definisi ilmu dalam Islam adalah sifat yang dapat menyingkap suatu objek. petunjuk dan ilmu pengetahuan. PERSIS. Islam yang mana? Islam Muhammadiyyah. menolak otoritas keilmuan. jalan Tuhan yang mana? Kalau Islam. NU.cenderung pada paham sekuler. kemudian disampaikan kepada para Sahabat dan diwariskan dari generasi ke generasi secara mutawatir (recurrence) tanpa keraguan sedikitpun. maka harus tunduk pada peraturan sejarah. [37] konsep Alquran yang diuraikan Nasr Hamid Abu Zayd di atas bukan hanya bertentangan dengan pengertian Alquran yang dikenal oleh umat. mengingkari tugas Nabi yang diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu. Padahal Nabi SAW telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi hal-hal yang bersifat syubhat (samar). diaplikasikan dalam kehidupan dan disampaikan kepada umatnya. teks bukan lagi milik pengarangnya. Sehingga saat kebenaran itu sampai pada manusia. Membacanya adalah ibadah. antara Alquran dan tafsirnya. Andaian nisbinya tafsir secara mutlak. Selain itu. Ketujuh. menyeret pada pengertian bahwa seolah-olah semua ayat al-Quran tidak memiliki penafsiran yang tetap dan disepakati. Keempat. Maka akibatnya umat Islam tidak wajib melaksanakan perintah ayat dakwah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu…” (QS. namun telah membubarkan konsep wahyu dalam Islam. sehingga tidak menyisakan ruang keraguan. antara agama dan pemikiran keagamaan. Sedangkan dalam dataran epistemologis (epistemic level). Maka bagi Nasr Hamid Abu Zayd. di dalamnya terkandung berbagai mukjizat. Al-Nahl: 125). Apakah dengan demikian Tuhan tunduk mengikuti kaedah peraturan alam yang diciptakan-Nya sendiri? Apakah kemudian wahyu dapat “diseret” untuk mengikuti kemauan realitas sejarah yang berkembang? Karenanya menurut Adian Husaini. sebab manusia tidak pernah tahu apa maksud Tuhan dalam al-Quran. sejatinya telah menimbulkan konsekwensi yang rumit untuk diterima akal sehat.kebenaran al-Quran hanya dimiliki Tuhan saja. Pemikiran seperti ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah berniat menurunkan alQuran untuk manusia. Semua umat Islam sepakat bahwa pengertian Alquran adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara lafzhan wa ma’nan (lafazh dan maknanya) dengan perantara Jibril AS. hingga akhirnya menjadi kabur dan samar. Ketiga. tapi sudah menjadi pemilik para pembacanya. yang tidak memihak pada supremasi data empiris. Adanya perbedaan dalam penafsiran al-Quran. Sebab paham relativisme akan menisbikan batasan antara yang ma’ruf dan yang munkar. karena semua perintah dan larangan dalam al-Quran bersifat nisbi yang tidak harus dilaksanakan. Kelima. Kedua. maka dengan sendirinya akan ditolak oleh pendekatan kesadaran historis-ilmiah dalam memahami teks-teks keagamaan. Pendekatan kesadaran historis-ilmiah menurut Nasr Abu Zayd cenderung kepada apa yang dihasilkan oleh pembaca teks yang memiliki perangkat ilmiah kekinian untuk menjadi ‘hakim’ dalam mewarnai interpretasi teks keagamaan. baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak. Abu Zayd dan kelompok modernis lainnya yang menerapkan metode historis (historical methodology). Sebab dengan corak pemahaman ala Abu Zayd bahwa kemutlakan Alquran dan sakralitasnya telah sirna dan menjadi teks manusia ketika masuk dalam pemahaman Nabi. PKS atau Islam apa?Keenam. dan berakhir pada keyakinan. klaim adanya dikhotomi antara yang mutlak dan yang nisbi. tentu sulit diterima akal yang jernih. syarat dan kaidah dalam menafsirkan alQuran. sebab setiap orang berhak menafsiri al-Quran dengan kualitas yang sama nisbinya. seperti yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd akan membuka beberapa konsekwensi serius. ia menjadi kabur. bukan berarti penafsiran itu mutlak nisbi.

seperti halnya menolak kemapanan adalah menetapkan ketidakmapanan atau bentuk lain dari sebuah kemapanan. Sebaliknya. justru sangat rancu. bahasa dan budaya yang terbatas adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat yang tidak sejalan dengan Islam. Sebab unsur ideologi dalam suatu penafsiran tidak bisa dinetralisir. mengesampingkan suatu ideologi hanya akan terjebak dalam ideologi lainnya. politik dan budaya yang melatarbelakanginya. dipandangnya sebagai corak pendekatan ideologis. . corak pendekatan ulama klasik dalam pembacaan teks. tentunya harus tetap terus diuji. dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zayd. kemudian menjadikan pembaca teks dengan segala kondisi sosial. Sehingga menurut Hendri Sholahuddin. dimana latar belakang sejarah saat itu mengambil peranan inti dalam mewarnai pemikiran beliau dan bahasa sebagai perangkat ungkapan sejarah (expressional tool of history).[38]tujuan teori tafsir Nasr Hamid Abu Zayd yang ingin menghilangkan ideologi sektarian. Dengan demikian. syari’ah dan akherat) dipandang sebagai bagian dari mitos (usthurah). Atau dengan kata lain. Sebab baginya. Dengan demikian. pembaca teks dapat memahami teks secara ilmiah dan tidak terpasung. sesungguhnya Nasr Hamid Abu Zayd telah melahirkan ijtihad baru dalam metode penafsiran. Pernyataan Abu Zayd bahwa Alquran adalah produk budaya. siksa. pahala. sebenarnya adalah bentuk pengutamaannya terhadap realitas lahiriyah (al-waqi‘ al-madi. segala aktivitas berfikir yang selalu terbayang-bayangi oleh realitas ketuhanan dan metafisika (akidah. terikat dengan pendekatan asbab alnuzul dan naskh wa mansukh adalah terpasung dan tidak ilmiah. memahami agama dengan cara menundukkannya dalam ruang sejarah. Alquran adalah hasil pengalaman individual yang diperoleh Nabi Muhammad dalam waktu dan tempat tertentu (specific time-space context). Sehingga pada akhirnya yang diikuti oleh umat tetunya teori yang telah teruji dan dapat dipertahankan. ekonomi dan sosial. Sebab meskipun kedua pendekatan ini juga memperhatikan data empiris. Sebagai sebuah teori. Akan tetapi. Interaksi dialogis telah melibatkan sebuah proses dialektika yang intensif antara tradisi besar dan tradisi kecil dalam sejarah pemikiran Islam. Dengan cara ini. Dengan kata lain. sampai akhirnya terjadi kesepaduan antara teks dan realitas (zaman dan tuntutannya). Maka setiap perubahan yang terjadi dalam realitas. Terlepas dari itu semua. Nasr Hamid Abu Zayd menganjurkan untuk mengunci firman Tuhan dalam ruang dan waktu. Kemudian membatasi makna Alquran menurut zaman tertentu dalam sejarah. Ibarat dua sisi mata uang. Maka dengan demikian Abu Zayd lebih mengutamakan realitas (al-waqi‘) daripada pikiran. Khatimah Hermeneutika merupakan hasil ektrapolasi otoritas manusia sebagai produk dari proses interaksi pemikran Islam dengan pemikiran Barat. kecenderungan ulama klasik yang lebih memposisikan teks agama sebagai hakim daripada akal. permasalahan ideologis (imankufur). proses kesinambungan (continuity) dengan tradisi lama tetap berjalan meskipun telah muncul tradisi baru. material reality). Sebagai pembaca yang menjadi hakim dalam memaknai teks. sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan karena akan diikuti oleh umat Islam. dan karena itu. Dan baginya. tabu (desakralisasi) maupun khurafat. sebagai hakim yang menentukan arah pemaknaan teks. menolak suatu ideologi adalah ideologi itu sendiri. tentunya harus tetap dikritisi dan diuji. hermeneutika dikukuhkan sebagai metode alternatif ketika sistem penafsiran dalam tradisi Islam tidak memadai untuk memahami teks-teks keagamaan dalam realitas kontemporer.terhadap Alquran yang mereka anggap sebagai realitas holistik (the holistic reality) yang dihasilkan dari metodologi penelitian ilmu-ilmu sains. teks adalah hasil dari sebuah realitas. Perubahan (change) terjadi ketika hermeneutika merupakan tradisi baru memiliki kekuatan dibanding tradisi lama.Kecenderungan Abu Zayd yang lebih mengesampingkan Sang Pembuat Teks. menuntut perubahan dalam pembacaan teks. Dengan demikian. namun pada kenyataannya data empiris yang ditampilkan tersebut masih diwarnai oleh peran Pencipta Teks. baik oleh pandangan dogmatis-sektarian (madzhab minded). metode penafsiran (hermeneutika) Nasr Hamid Abû Zayd merupakan artikulasi dari proses kesinambungan (continuity) dan perubahan (change). Sebagai sebuah teori penafsiran. mistis. fenomena sejarah dan teks linguistik membawa pengertian bahwa Alquran dihasilkan secara kolektif dari serangkaian faktor politik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful