P. 1
Latar Belakang Esensi Magna Charta

Latar Belakang Esensi Magna Charta

|Views: 523|Likes:
Published by vinvidvic

More info:

Published by: vinvidvic on Jan 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

Sections

KETENTUAN INTERNASIONAL TENTANG
HAK ASASI MANUSIA

Lembar Fakta No. 2

Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia

1

LATAR BELAKANG

Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia terdiri dari DUHAM, Kovenan Internasional tentang Hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan dua Protokol Opsional-nya.
Hak asasi manusia telah disebut-sebut dalam Kovenan Liga Bangsa-Bangsa, yang diantaranya, menuju pada
pembentukan Organisasi Buruh Internasional (ILO). Pada Konperensi San Francisco 1945, yang diselenggarakan untuk
merancang Piagam PBB, sebuah usulan tentang "Deklarasi tentang Hak Esensial Manusia" telah diajukan, namun tidak dibahas
karena memerlukan pertimbangan yang lebih matang dari yang mungkin dilakukan pada saat itu. Piagam tersebut secara jelas
menyebutkan "memajukan dan mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar bagi semua orang
tanpa membedakan ras, jenis kelamin, bahasa atau agama" (Pasal 1 ayat 3). Ide untuk membuat "Ketentuan Internasional
tentang Hak Asasi Manusia" juga dianggap oleh banyak pihak telah tersirat dalam Piagam tersebut.
Komisi Persiapan PBB, yang segera mengadakan pertemuan setelah penutupan sidang Konperensi San Francisco,
merekomendasikan agar Dewan Ekonomi dan Sosial dalam sidang pertamanya membentuk sebuah komisi untuk memajukan
hak-hak asasi manusia, sebagaimana telah digambarkan dalam Pasal 68 Piagam PBB. Berdasarkan hal ini Dewan membentuk
Komisi Hak Asasi Manusia di awal 1946.

Pada sidang pertama di 1946, Majelis Umum membahas sebuah rancangan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan
Kebebasan dasar dan menyampaikannya ke Dewan Ekonomi dan Sosial "sebagai rujukan Komisi Hak Asasi Manusia agar
dipertimbangkan … dalam persiapannya membuat Ketentuan Internasional tentang hak asasi manusia" (resolusi 43 (I)). Pada
sidang pertamanya di awal 1947, Komisi meminta pejabat-pejabatnya untuk merumuskan apa yang dinamakannya sebagai
"rancangan awal Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia." Kemudian, buruhan tersebut diambil alih oleh suatu
komite perancang formal yang terdiri dari anggota Komisi dari delapan Negara yang dipilih dengan memperhatikan letak
geografis.

Menuju Deklarasi Universal

Pada mulanya, muncul perbedaan pendapat tentang bentuk ketentuan tentang hak asasi manusia. Komite Perancang
memutuskan untuk menyiapkan dua dokumen: yang pertama dibuat dalam bentuk deklarasi yang akan memuat prinsip-
prinsip atau standar-standar umum hak-hak asasi manusia; yang lainnya dalam bentuk konvensi yang akan merumuskan secara
khusus hak-hak dan batasan-batasannya. Sehubungan dengan itu, Komisi menyampaikan rancangan pasal-pasal deklarasi
internasional dan konvensi internasional tentang hak asasi manusia kepada Komisi Hak Asasi Manusia. Pada sidangnya yang
kedua pada Desember 1947, Komisi memutuskan untuk menggunakan istilah "Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi
Manusia" untuk rangkaian dokumen yang sedang dipersiapkan, dan membentuk tiga kelompok kerja: satu untuk deklarasi,
satu untuk konvensi (yang kemudian diganti menjadi "kovenan") dan satu lagi untuk penerapan. Komisi merevisi rancangan
deklarasi pada sidangnya yang ketiga pada Mei/Juni 1948, dengan memperhatikan komentar-komentar yang diterima dari
berbagai Pemerintah. Akan tetapi Komisi tidak memiliki waktu untuk membahas kovenan atau masalah penerapannya. Oleh
karenanya Deklarasi disampaikan melalui Dewan Ekonomi dan Sosial kepada Majelis Umum dalam pertemuannya di Paris.
Dengan resolusi 217 A (III) tertanggal 10 Desember 1948, Majelis Umum menetapkan Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia (DUHAM) sebagai instrumen pertama dari sekian yang telah direncanakan.

Menuju Kovenan Internasional

Pada hari yang sama dengan ditetapkannya DUHAM, Majelis Umum meminta kepada Komisi Hak Asasi Manusia
untuk menyiapkan sebagai prioritas, sebuah rancangan kovenan hak asasi manusia dan rancangan upaya-upaya penerapan.

2

Komisi memeriksa teks rancangan kovenan pada 1949, dan pada tahun berikutnya Komisi merevisi 18 pasal pertama,
berdasarkan komentar-komentar yang diterima dari berbagai Pemerintah. Pada tahun 1950, Majelis Umum menyatakan
bahwa "penikmatan kebebasan sipil dan politik, serta hak ekonomi, sosial dan budaya adalah saling berhubungan dan saling
tergantung" (resolusi 421 (V), ayat E). Oleh karenanya Majelis memutuskan untuk memasukkan: hak ekonomi, sosial dan
budaya dan pengakuan yang tegas atas persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak-hak yang berkaitan, sebagaimana
tercantum dalam Piagam, kedalam kovenan hak asasi manusia. Pada 1951, Komisi merancang 14 pasal tentang hak ekonomi,
sosial dan budaya, berdasarkan usulan yang dibuat oleh berbagai Pemerintah dan saran yang diberikan oleh badan khusus.
Komisi juga merumuskan 10 pasal tentang langkah-langkah penerapan hak-hak tersebut, yang menjadi dasar Negara Pihak
untuk menyampaikan laporan berkalanya. Setelah debat yang panjang dalam sidangnya yang keenam, pada 1951/1952,
Majelis Umum meminta pada Komisi "untuk merancang dua Kovenan tentang Hak Asasi Manusia, … satu yang memuat hak
sipil dan politik dan yang lain memuat hak ekonomi, sosial dan budaya" (resolusi 543 (VI), paragraf 1). Majelis menghendaki
agar kedua kovenan tersebut sebanyak mungkin memuat ketentuan yang serupa. Majelis juga memutuskan untuk memasukan
sebuah pasal yang menyatakan bahwa "semua bangsa harus memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri" (resolusi 545
(VI)).

Komisi menyelesaikan persiapan kedua rancangan pada sidangnya yang kesembilan dan kesepuluh pada 1953 dan
1954. Majelis Umum menelaah kedua teks tersebut pada sidangnya yang kesembilan pada 1954, dan memutuskan agar
rancangan tersebut disebarluaskan, sehingga Pemerintah-pemerintah dapat mempelajarinya secara seksama, dan masyarakat
umum dapat menyatakan pendapatnya dengan bebas. Majelis merekomendasikan agar Komite Ketiga mulai mendiskusikan
teks tersebut pasal per-pasal dalam sidangnya yang kesepuluh pada 1955. Walaupun diskusi setiap pasal dimulai sesuai jadwal,
baru pada 1966 persiapan kedua kovenan itu dapat diselesaikan.
Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan
Politik ditetapkan oleh Majelis Umum melalui resolusi 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966. Protokol Opsional yang
pertama dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang ditetapkan berdasarkan resolusi yang sama, memuat
tentang perangkat internasional untuk menangani komunikasi dari individu yang menyatakan dirinya sebagai korban
pelanggaran hak-hak yang diatur dalam Kovenan.

DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA

DUHAM ditetapkan dan dicanangkan oleh Majelis Umum

sebagai standar umum keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara, dengan tujuan agar setiap individu dan organ masyarakat,
dengan selalu mengingat Deklarasi ini, harus mengupayakan melalui pengajaran dan pendidikan untuk memajukan penghormatan
terhadap hak dan kebebasan ini; dan melalui upaya-upaya yang progresif, baik di lingkup nasional maupun internasional, untuk
menjamin pengakuan dan pematuhannya secara universal dan efektif, baik di antara rakyat Negara Anggota sendiri, maupun diantara
rakyat yang berada di wilayah yang berada dalam wilayah hukumnya.

Empat puluh delapan Negara mendukung Deklarasi, tidak ada yang menentang dan delapan Negara tidak
memberikan suara. Dalam pernyataan setelah pemungutan suara, Presiden Majelis Umum mengemukakan bahwa penetapan
Deklarasi ini merupakan "suatu pencapaian yang luar biasa, sebuah langkah maju dalam proses evolusi yang besar”. Peristiwa
ini merupakan kesempatan pertama di mana komunitas bangsa-bangsa yang terorganisir telah membuat Deklarasi hak asasi
manusia dan kebebasan dasar. Instrumen tersebut didukung oleh otoritas pendapat PBB secara menyeluruh, dan jutaan
manusia – laki-laki, perempuan dan anak-anak di seluruh dunia – akan merujuk padanya untuk bantuan, pedoman dan
inspirasi.

3

Deklarasi ini terdiri dari Mukadimah dan 30 pasal yang mengatur hak asasi manusia dan kebebasan dasar, di mana
semua laki-laki dan perempuan di mana saja di dunia mempunyai hak-hak atasnya tanpa diskriminasi.
Pasal 1 yang meletakkan dasar filosofisDeklarasi ini menyebutkan:

Semua umat manusia dilahirkan bebas dan sama dalam hak dan martabat. Mereka dikaruniai akal budi dan hati nurani, dan harus
bersikap terhadap satu sama lain dalam semangat persaudaraan.

Dengan demikian Pasal tersebut telah mendefinisikan asumsi dasar Deklarasi: bahwa hak untuk kebebasan dan
persamaan merupakan hak yang diperoleh manusia sejak lahir dan tidak dapat dicabut darinya; dan karena manusia
merupakan makhluk rasional dan bermoral, ia berbeda dengan makhluk lainnya di bumi, dan karenanya berhak untuk
mendapatkan hak dan kebebasan tertentu yang tidak dinikmati makhluk lain.
Pasal 2 yang mengatur prinsip dasar dari persamaan dan non-diskriminasi sehubungan dengan pemenuhan hak asasi
manusia dan kebebasan dasar, melarang adanya "pembedaan dalam bentuk apapun, seperti ras, warna, jenis kelamin, bahasa,
agama, politik atau pendapat yang berbeda, asal-usul bangsa atau sosial, harta, kelahiran atau status lainnya".
Pasal 3 yang merupakan tonggak pertama Deklarasi ini, menyatakan hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan
seseorang – suatu hak yang esensial untuk pemenuhan hak-hak lainnya. Pasal ini memperkenalkan pasal 4 sampai 21, di mana
hak sipil dan politik lainnya diatur, termasuk: kebebasan dari perbudakan dan perhambaan; kebebasan dari penyiksaan dan
perlakuan atau hukuman yang keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat; hak untuk diakui sebagai pribadi di depan
hukum di manapun; hak untuk mendapatkan upaya pemulihan yang efektif melalui peradilan; kebebasan dari penangkapan,
penahanan atau pengasingan sewenang-wenang; hak untuk mendapatkan pemeriksaan yang adil dan peradilan yang terbuka
oleh pengadilan yang independen dan tidak berpihak; hak untuk dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya;
kebebasan dari intervensi yang sewenang-wenang atas kebebasan pribadi, keluarga, rumah atau surat menyurat; kebebasan
untuk bergerak dan bertempat tinggal; hak atas suaka; hak atas kewarganegaraan; hak untuk menikah dan mendirikan
keluarga; hak untuk memiliki harta benda; kebebasan untuk berpikir, berkeyakinan dan beragama; kebebasan berpendapat
dan menyatakan pendapat; hak untuk berkumpul dan berserikat secara damai; dan hak untuk ikut serta dalam pemerintahan
negaranya dan mendapatkan akses yang sama ke pelayanan publik di negaranya.
Pasal 22 sebagai tonggak kedua Deklarasi ini memperkenalkan Pasal 23 hingga 27. Dalam pasal-pasal ini
dikemukakan hak ekonomi, sosial dan budaya, yakni hak yang harus diperoleh setiap orang "sebagai anggota masyarakat".
Pasal ini menandai hak-hak tersebut sebagai hak-hak yang tidak dapat dikesampingkan bagi martabat manusia dan kebebasan
untuk mengembangkan kepribadian, dan menunjukkan bahwa hak-hak tersebut harus diwujudkan "melalui upaya-upaya
nasional dan kerja sama internasional". Pada saat yang sama pasal ini juga mengungkapkan keterbatasan dalam perwujudannya
yang tergantung pada sumber-sumber yang dimiliki oleh masing-masing Negara.
Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang diakui dalam Pasal 22 hingga 27, mencakup hak atas jaminan sosial; hak
untuk bekerja; hak untuk mendapatkan pendapatan yang sama untuk buruhan yang sama; hak untuk beristirahat dan
bertamasya; hak atas standar kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kehidupan; hak atas pendidikan; hak untuk
berpartisipasi dalam kehidupan budaya suatu masyarakat.
Pasal-pasal penutup yaitu Pasal 28 hingga 30, mengakui bahwa setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan
internasional dimana hak asasi manusia dan kebebasan dasar yang dinyatakan dalam Deklarasi dapat diwujudkan sepenuhnya,
dan menekankan kewajiban dan tanggung jawab setiap individu terhadap masyarakatnya. Pasal 29 menyatakan bahwa "dalam
melaksanakan hak dan kebebasannya, setiap manusia hanya tunduk pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh hukum
yang semata-mata bertujuan menjamin pengakuan serta penghormatan yang layak bagi hak dan kebebasan orang lain, dan
untuk memenuhi persyaratan moralitas, ketertiban umum dan kesejahteraan umum yang adil dalam masyarakat yang

4

demokratis. Pasal tersebut menambahkan bahwa hak asasi manusia dan kebebasan dasar tidak dapat dilaksanakan apabila
bertentangan dengan tujuan dan prinsip dari PBB. Pasal 30 menekankan bahwa tidak ada satu Negara, kelompok atau orang
mana pun yang dapat menggunakan hak apapun dalam Deklarasi, "untuk melakukan kegiatan atau melaksanakan tindakan
yang bertujuan untuk menghancurkan hak dan kebebasan” yang dikemukakan dalam Deklarasi.

Arti Penting dan Pengaruh Deklarasi

Dilahirkan sebagai "standar umum keberhasilan semua orang dan semua bangsa," DUHAM memang telah menjadi
demikian: suatu tongkat pengukur derajat penghormatan dan ketaatan terhadap standar hak asasi manusia internasional.
Sejak 1948 Deklarasi ini telah dan terus menjadi deklarasi yang paling penting dan paling jauh jangkauannya dari
semua deklarasi yang pernah dikeluarkan oleh PBB, dan merupakan sumber inspirasi mendasar bagi upaya-upaya nasional dan
internasional untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia dan kebebasan dasar. Deklarasi ini telah menentukan arah
seluruh pekerjaan selanjutnya dalam bidang hak asasi manusia, dan meletakkan dasar filosofis bagi banyak instrumen
internasional yang mengikat secara hukum, yang dibuat untuk melindungi hak dan kebebasan yang diproklamirkan.
Dalam Proklamasi Teheran yang ditetapkan Konperensi Internasional Hak Asasi Manusia yang diadakan di Iran pada
1968, Konperensi menyetujui bahwa "DUHAM menyatakan pemahaman yang sama umat manusia di seluruh dunia,
mengenai hak semua manusia yang tidak dapat dicabut dan dilanggar, dan merupakan kewajiban anggota masyarakat
internasional". Konperensi tersebut menegaskan keyakinannya terhadap prinsip-prinsip yang termuat dalam Deklarasi ini,
dan mendorong seluruh bangsa dan Pemerintah "untuk mengabdikan diri mereka pada prinsip-prinsip tersebut … dan untuk
melipatgandakan usaha mereka memberikan pada seluruh umat manusia suatu kehidupan yang sejalan dengan kebebasan dan
martabat, dan keadaan yang kondusif bagi kesejahteraan fisik, mental, sosial dan spiritual".
Beberapa tahun terakhir ini, ketika menyiapkan instrumen internasional di bidang hak asasi manusia, dalam badan-
badan PBB telah tumbuh kecenderungan untuk merujuk tidak saja kepada DUHAM, tetapi juga kepada bagian lain Ketentuan
Internasional tentang Hak Asasi Manusia.

KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK ASASI MANUSIA

Mukadimah dan Pasal 1, 3 dan 5 dari kedua Kovenan Internasional hampir sama isinya. Mukadimah mengingatkan
akan kewajiban Negara berdasarkan Piagam PBB untuk memajukan hak asasi manusia; mengingatkan individu akan tanggung
jawabnya untuk berjuang bagi kemajuan dan ketaatan terhadap hak tersebut; dan mengakui cita-cita setiap manusia yang
bebas sesuai dengan DUHAM, untuk menikmati kebebasan sipil dan politik, dan kebebasan dari rasa takut dan kekurangan,
yang hanya dapat dicapai apabila diciptakan kondisi dimana setiap orang dapat menikmati hak sipil dan politiknya, termasuk
hak ekonomi, sosial dan budayanya.

Pasal 1 tiap-tiap Kovenan menyatakan bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri merupakan hal yang universal
dan meminta Negara-negara untuk mengupayakan perwujudan hak tersebut dan menghormatinya.
Pasal tersebut menyebutkan bahwa "semua bangsa mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri" dan
menambahkan bahwa " Berdasarkan hak tersebut, mereka dengan bebas menentukan status politiknya dan mengejar
perkembangan ekonomi, sosial dan budaya". Berkenaan dengan kedua hal di atas, Pasal 3 menegaskan kembali hak yang sama
antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak asasi manusia, dan mengajak Negara-negara di dunia mewujudkan
prinsip tersebut. Demikian pula Pasal 5 yang memberikan perlindungan dari penghancuran atau pembatasan yang tak
semestinya terhadap hak asasi manusia atau kebebasan dasar, dan terhadap misinterpretasi terhadap ketentuan apapun dalam
Kovenan yang digunakan sebagai alat melegitimasi pelanggaran hak atau kebebasan atau pembatasan terhadap kedua hal ini

5

yang lebih besar daripada yang diperkenankan Kovenan. Pasal tersebut juga mencegah Negara membatasi hak-hak yang telah
dinikmati di wilayahnya atas dasar hak-hak tersebut tidak diakui dalam Kovenan, atau diakui dalam arti yang lebih sempit.
Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak untuk
bekerja (Pasal 6); hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan baik (Pasal 7); hak untuk membentuk dan ikut dalam
organisasi perburuhan (Pasal 8); hak atas jaminan sosial, termasuk asuransi sosial khususnya para ibu, anak dan orang muda
(Pasal 10); hak untuk mendapat kehidupan yang layak (Pasal 11); hak untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental
yang tinggi (Pasal 12); hak atas pendidikan (Pasal 13 dan 14); dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal
15).

Dalam Pasal 6 hingga 27, Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik melindungi hak untuk hidup (Pasal 6)
dan mengatur bahwa tidak seorang pun dapat dijadikan obyek penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang keji, tidak
manusiawi atau yang merendahkan martabat (Pasal 7); bahwa tidak seorangpun dapat diperlakukan sebagai budak; bahwa
perbudakan dan perdagangan budak dilarang; dan tidak seorangpun dapat diperhambakan atau diminta untuk melakukan kerja
paksa (Pasal 8); bahwa tidak seorangpun dapat ditangkap atau ditahan sewenang-wenang (Pasal 9); bahwa semua orang yang
dirampas kebebasannya harus diperlakukan secara manusiawi (Pasal 10); dan bahwa tidak seorangpun dapat dipenjarakan
semata-mata atas dasar ketidakmampuan memenuhi kewajiban suatu kontrak (Pasal 11).
Kovenan ini mengatur tentang kebebasan bergerak dan memilih tempat tinggal (Pasal 12) dan batasan-batasan yang
diperbolehkan ketika mendeportasi warga negara asing yang secara sah berada dalam wilayah Negara Pihak (Pasal 13).
Kovenan mengatur tentang kesetaraan setiap orang di depan pengadilan dan lembaga peradilan dan jaminan dalam proses
pengaduan pidana dan perdata (Pasal 14). Kovenan melarang pemberlakuan hukum pidana yang berlaku surut (Pasal 15);
menegaskan hak setiap orang untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum (Pasal 16); dan menghimbau larangan terhadap
pelanggaran tidak sah dan sewenang-wenang atas kehidupan pribadi, keluarga, rumah atau korespondensi, dan serangan tidak
sah atas kehormatan dan reputasinya (Pasal 17).
Kovenan ini memberikan perlindungan terhadap hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama (Pasal
18), dan kebebasan berpendapat dan mengeluarkan pikiran (Pasal 19). Kovenan juga menyerukan perlunya hukum yang
melarang propaganda perang dan upaya-upaya menimbulkan kebencian berdasarkan kebangsaan, ras atau agama, yang
merupakan hasutan untuk melakukan diskriminasi, permusuhan atau kekerasan (Pasal 20). Kovenan ini mengakui hak
berkumpul secara damai (Pasal 22). Kovenan juga mengakui hak bagi laki-laki dan perempuan pada usia kawin untuk menikah
dan membentuk keluarga, dan prinsip persamaan hak dan kewajiban pasangan yang terikat dalam perkawinan, selama
perkawinan maupun setelah pembubaran perkawinan (Pasal 23). Kovenan mengatur upaya-upaya melindungi hak anak (Pasal
24), dan mengakui hak setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam melakukan kegiatan publik, untuk memilih dan dipilih,
dan untuk memiliki akses yang sama ke pelayanan publik di negaranya (Pasal 25). Kovenan menentukan bahwa setiap orang
adalah sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum (Pasal 26). Kovenan juga mengatur
perlindungan terhadap hak suku bangsa, etnis, agama dan bahasa minoritas yang berdiam di wilayah Negara Pihak (Pasal 27).
Akhirnya, Pasal 28 mengatur tentang pembentukan Komite Hak Asasi Manusia yang bertanggung jawab untuk
mengawasi penerapan hak-hak yang diatur dalam Kovenan.

PERSYARATAN

DUHAM menegaskan bahwa pelaksanaan hak dan kebebasan seseorang dapat tunduk pada pembatasan-pembatasan
tertentu yang harus ditentukan berdasarkan hukum, semata-mata untuk menjamin pengakuan yang layak atas hak dan
kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi persyaratan moralitas, ketertiban umum dan kesejahteraan umum yang adil

6

dalam masyarakat yang demokratis. Hak-hak tersebut tidak dapat dilaksanakan bertentangan dengan tujuan dan prinsip-
prinsip PBB, atau juga jika ditujukan untuk menghancurkan hak-hak apapun yang diatur dalam Deklarasi (Pasal 29 dan 30).
Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya menyatakan bahwa hak-hak yang diatur di
dalamnya dapat dibatasi oleh hukum, sepanjang batasan itu sesuai dengan sifat hak tersebut, dan semata-mata untuk
memajukan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis (Pasal 4).
Berbeda dengan DUHAM dan Kovenan tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Kovenan Internasional tentang
Hak Sipil dan Politik tidak memuat ketentuan umum yang berlaku untuk semua hak yang diatur dalam Kovenan, yang
mensahkan pembatasan terhadap pelaksanaannya. Namun demikian, beberapa pasal Kovenan menyebutkan bahwa hak-hak
yang dinyatakan tidak boleh dibatasi, kecuali apabila diatur oleh hukum dan dibutuhkan untuk melindungi keamanan nasional,
ketertiban umum, atau hak dan kebebasan orang lain.
Oleh karenanya, hak-hak tertentu tidak dapat ditangguhkan atau dibatasi, sekalipun dalam situasi darurat. Hak-hak
tersebut adalah hak untuk hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan, hak untuk bebas dari perbudakan dan perhambaan, hak
untuk dilindungi dari pemenjaraan karena hutang, hak untuk bebas dari penerapan hukum pidana yang berlaku surut, diakui
sebagai pribadi di depan hukum, dan kebebasan untuk bepikir, berkeyakinan dan beragama.
Kovenan tentang Hak Sipil dan Politik memperkenankan Negara untuk membatasi atau menangguhkan pemenuhan
hak-hak tertentu, dalam keadaan yang secara resmi dinyatakan sebagai situasi darurat umum yang mengancam kehidupan
negara. Batasan-batasan terhadap atau penangguhan hak-hak tersebut hanya diperbolehkan "sepanjang ada situasi mendesak
yang tegas-tegas menunjukkan kebutuhan ini," dan tidak boleh didasarkan pada diskriminasi terhadap ras, warna kulit, jenis
kelamin, bahasa, agama atau asal-usul sosial (Pasal 4). Pembatasan atau penangguhan tersebut wajib dilaporkan kepada PBB.

PROTOKOL OPSIONAL PERTAMA

Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, memungkinkan Komite Hak Asasi
Manusia, yang didirikan berdasarkan Kovenan tersebut, menerima dan membahas komunikasi dari para individu yang
menyatakan dirinya korban pelanggaran hak apapun yang ada dalam Kovenan.
Berdasarkan Pasal 1 Protokol Opsional, Negara Pihak Kovenan yang juga menjadi Negara Pihak Protokol,
mengakui kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk menerima dan membahas komunikasi dari individu yang berada di
bawah wilayah hukumnya, yang menyatakan dirinya korban pelanggaran hak oleh Negara yang diatur dalam Kovenan. Para
individu yang membuat pernyataan tersebut, dan telah mengupayakan segala bentuk penyelesaian secara domestik, berhak
menyampaikan komunikasi tertulis kepada Komite (Pasal 2).
Komunikasi yang telah diputuskan dapat diterima Komite (di samping Pasal 2, Pasal 3 and 5 (2) mengatur syarat-
syarat penerimaan komunikasi) untuk diperhatikan oleh Negara Pihak yang diduga telah melanggar ketentuan dalam
Kovenan. Dalam jangka waktu enam bulan, Negara tersebut harus memberikan penjelasan atau pernyataan tertulis kepada
Komite yang menjelaskan tentang masalah tersebut dan menunjukkan upaya penyelesain apapun yang telah dilakukannya,
apabila ada.

Komite Hak Asasi Manusia akan membahas komunikasi yang diterima dalam sebuah rapat tertutup, dengan
memperhatikan informasi tertulis yang diberikan padanya oleh individu dan Negara Pihak yang bersangkutan. Komite
kemudian menyampaikan pandangannya kepada Negara Pihak dan individu (Pasal 5). Ringkasan kegiatan Komite berdasarkan
Protokol Opsional akan dimasukan dalam laporan yang diserahkan oleh Komite setiap tahunnya kepada Majelis Umum
melalui Dewan Ekonomi dan Sosial (Pasal 6).

7

PROTOKOL OPSIONAL KEDUA

Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik yang bertujuan menghapuskan hukuman
mati, ditetapkan oleh Majelis Umum dalam resolusi 44/128 tertanggal 15 Desember 1989. Berdasarkan Pasal 1, tidak
seorangpun dalam wilayah hukum suatu Negara Pihak Protokol ini dapat dihukum mati.
Berdasarkan Pasal 3 Protokol, Negara-negara Pihak harus mencantumkan informasi tentang upaya-upaya yang
diambil untuk mewujudkan Protokol, dalam laporan yang diserahkan kepada Komite Hak Asasi Manusia.
Pasal 5 Protokol Opsional Kedua menyebutkan bahwa sehubungan dengan suatu Negara yang menjadi Pihak
Protokol Opsional pertama, kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk menerima dan membahas komunikasi dari
individu yang berada di bawah wilayah hukum Negara tersebut mencakup pula ketentuan yang ada dalam Protokol Opsional
Kedua, kecuali jika Negara Pihak yang bersangkutan telah membuat pernyataan yang sebaliknya pada saat ratifikasi atau
aksesi.

Berdasarkan Pasal 6, ketentuan dalam Protokol Opsional Kedua berlaku sebagai ketentuan tambahan bagi Kovenan.

PEMBERLAKUAN KOVENAN DAN PROTOKOL-PROTOKOL OPSIONAL

Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mulai berlaku pada 3 Januari 1976, tiga bulan
setelah tanggal diserahkannya instrumen ratifikasi atau aksesi yang ketiga puluh lima sebagaimana diatur dalam Pasal 27,
untuk disimpan Sekretaris Jenderal. Hingga 30 September 1995, Kovenan telah diratifikasi atau diaksesi oleh 132 Negara,
yakni:

Afghanistan, Albania, Aljazair, Angola, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Barbados, Belarus,
Belgia, Benin, Bolivia, Bosnia dan Herzegovina, Brasil, Bulgaria, Burundi, Kamboja, Kamerun, Kanada, Cape
Verde, Republik Afrika Tengah, Chad, Cili, Kolombia, Kongo, Kosta Rika, Pantai Gading, Kroasia, Siprus,
Republik Czech, Republik Rakyat Demokratik Korea, Denmark, Dominika, Republik Dominika, Ekuador, Mesir,
El Salvador, Guinea Ekuatorial, Estonia, Etiopia, Finlandia, Perancis, Gabon, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani,
Grenada, Guatemala, Guinea, Guinea Bissau, Guyana, Haiti, Hungaria, Islandia, India, Iran, Irak, Irlandia, Israel,
Italia, Jamaika, Jepang, Jordania, Kenya, Kyrgyztan, Latvia, Lebanon, Lesotho, Libya Arab Jamahiriya, Lituania,
Luxemburg, Madagaskar, Malawi, Mali, Malta, Mauritius, Meksiko, Mongolia, Maroko, Mozambik, Namibia,
Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nikaragua, Niger, Nigeria, Norwegia, Panama, Paraguai, Peru, Filipina, Polandia,
Portugal, Republik Korea, Republik Moldova, Romania, Federasi Rusia, Rwanda, Saint Vincent dan Grenadines,
San Marino, Senegal, Seychelles, Slovakia, Slovenia, Somalia, Spanyol, Sri Lanka, Sudan, Suriah, Suriname,
Swedia, Swiss, Mantan Republik Yugoslavia Masedonia, Togo, Trinidad dan Tobago, Tunisia, Ukrania, Inggirs
Raya, Tanzania, Amerika Serikat, Uruguai, Venezuela, Vietnam, Yemen, Yugoslavia, Zaire, Zambia dan
Zimbabwe.

Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik mulai berlaku pada 23 Maret 1976, tiga bulan setelah tanggal
diserahkannya instrumen ratifikasi atau turut serta yang ketiga puluh lima sebagaimana diatur dalam pasal 49, untuk disimpan
Sekretaris Jenderal. Hingga 30 September 1995, Kovenan telah diratifikasi atau diikuti oleh 132 Negara, yakni:
Afghanistan, Albania, Aljazair, Angola, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Barbados, Belarus,
Belgia, Benin, Bolivia, Bosnia dan Herzegovina, Brasil, Bulgaria, Burundi, Kamboja, Kamerun, Kanada, Cape
Verde, Republik Afrika Tengah, Chad, Cili, Kolombia, Kongo, Kosta Rika, Pantai Gading, Kroasia, Siprus,
Republik Czech, Republik Rakyat Demokratik Korea, Denmark, Dominika, Republik Dominika, Ekuador, Mesir,

8

El Salvador, Guinea Ekuatorial, Estonia, Etiopia, Finlandia, Perancis, Gabon, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani,
Grenada, Guatemala, Guinea, Guinea Bissau, Guyana, Haiti, Hungaria, Islandia, India, Iran, Irak, Irlandia, Israel,
Italia, Jamaika, Jepang, Jordania, Kenya, Kyrgyztan, Latvia, Lebanon, Lesotho, Libya Arab Jamahiriya, Lituania,
Luxemburg, Madagaskar, Malawi, Mali, Malta, Mauritius, Meksiko, Mongolia, Maroko, Mozambik, Namibia,
Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nikaragua, Niger, Nigeria, Norwegia, Panama, Paraguai, Peru, Filipina, Polandia,
Portugal, Republik Korea, Republik Moldova, Romania, Federasi Rusia, Rwanda, Saint Vincent dan Grenadines,
San Marino, Senegal, Seychelles, Slovakia, Slovenia, Somalia, Spanyol, Sri Lanka, Sudan, Suriah, Suriname,
Swedia, Swiss, Mantan Republik Yugoslavia Masedonia, Togo, Trinidad dan Tobago, Tunisia, Ukrania, Inggirs
Raya, Republik Persatuan Tanzania, Amerika Serikat, Uruguai, Venezuela, Vietnam, Yemen, Yugoslavia, Zaire,
Zambia dan Zimbabwe.

Pada tanggal yang sama, 44 Negara Pihak Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik telah membuat
pernyataan (berdasarkan Pasal 41) yang mengakui kompetensi Komite Hak Asasi Manusia "untuk menerima dan membahas
komunikasi sehubungan dengan pernyataan suatu Negara Pihak bahwa Negara Pihak lainnya tidak memenuhi kewajibannya"
berdasarkan Kovenan. Ketentuan Pasal 41 mulai berlaku pada 28 Maret 1979 sesuai dengan ayat 2 pasal tersebut.
Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik mulai berlaku secara bersamaan
dengan Kovenan, setelah menerima sedikitnya 10 dokumen ratifikasi atau aksesi sebagaimana dipersyaratkan. Hingga 30
September 1995, 85 Negara Pihak Kovenan juga telah menjadi Pihak Protokol Opsional pertama, yakni:
Aljazair, Angola, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Barbados, Belarus, Belgia, Benin, Bolivia, Bosnia dan
Herzegovina, Bulgaria, Kamerun, Kanada, Republik Afrika Tengah, Chad, Cili, Kolombia, Kongo, Kosta Rika,
Siprus, Republik Czech, Denmark, Republik Dominika, Ekuador, Mesir, El Salvador, Guinea Ekuatorial, Estonia,
Finlandia, Perancis, Gambia, Georgia, Jerman, Guinea, Guyana, Haiti, Hungaria, Islandia, Irlandia, Italia, Jamaika,
Kyrgyztan, Latvia, Libya Arab Jamahiriya, Lituania, Luxemburg, Madagaskar, Malta, Mauritius, Mongolia,
Namibia, Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nikaragua, Niger, Norwegia, Panama, Paraguai, Peru, Filipina, Polandia,
Portugal, Republik Korea, Romania, Federasi Rusia, Rwanda, Saint Vincent dan Grenadines, San Marino, Senegal,
Seychelles, Slovakia, Slovenia, Somalia, Spanyol, Suriname, Swedia, Mantan Republik Yugoslavia Masedonia,
Togo, Trinidad dan Tobago, Ukrania, Uruguai, Uzbekistan, Venezuela, Zaire, dan Zambia.

Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang bertujuan untuk menghapuskan
hukuman mati mulai berlaku pada 11 Juli 1991, setelah menerima sedikitnya 10 dokumen ratifikasi atau aksesi sebagaimana
dipersyaratkan. Hingga 30 September Protokol telah diratifikasi atau diikuti oleh 28 Negara, yakni:
Australia, Austria, Denmark, Ekuador, Finlandia, Jerman, Hungaria, Islandia, Irlandia, Italia, Luxemburg, Malta,
Mozambik, Namibia, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Panama, Portugal, Rumania, Seychelles, Slovenia,
Spanyol, Swedia, Swiss, Mantan Republik Yugoslavia Macedonia, Uruguai dan Venezuela.

PENGARUH MENDUNIA KETENTUAN DASAR INTERNASIONAL TENTANG HAK ASASI MANUSIA

Sejak 1948, saat DUHAM ditetapkan dan diproklamasikan, sampai 1976, ketika Kovenan-Kovenan Internasional
tentang Hak-Hak Asasi Manusia mulai berlaku, DUHAM merupakan satu-satunya bagian terlengkap dari Ketentuan Dasar
Internasional tentang Hak Asasi Manusia. DUHAM, dan kemudian Kovenan-Kovenan tersebut, memberi pengaruh yang
mendalam pada pemikiran dan tindakan setiap individu dan Pemerintahan mereka di segala penjuru dunia.

9

Konperensi Internasional tentang Hak Asasi Manusia yang diadakan di Teheran dari 22 April hingga 13 Mei 1968
untuk menelaah kemajuan yang dibuat selama 20 tahun sejak ditetapkannya DUHAM, dan untuk merumuskan program-
program di masa depan, dalam Proklamasi Teheran menyatakan sebagai berikut:
1.

Adalah suatu keharusan bagi anggota masyarakat internasional untuk memenuhi kewajiban mereka dalam
memajukan dan mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar untuk semua orang
tanpa pembedaan dalam bentuk apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau
pendapat lainnya;

2.

DUHAM menyatakan pemahaman bersama bangsa-bangsa di dunia sehubungan dengan hak-hak yang tidak dapat
dicabut dari dan dilanggar bagi semua anggota masyarakat internasional, dan merupakan kewajiban bagi anggota
masyarakat internasional;

3.

Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya, Deklarasi Pemberian Kemerdekaan bagi Negara dan Rakyat Jajahan, Konvensi Internasional tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan juga konvensi-konvensi lainnya dan deklarasi di bidang hak asasi
manusia yang ditetapkan dibawah naungan PBB, badan khusus dan organisasi antar-pemerintah, telah menciptakan
suatu standar dan kewajiban baru yang harus disesuaikan oleh Negara-Negara;

Dengan demikian, selama lebih dari 25 tahun DUHAM berdiri sendiri sebagai sebuah "standar keberhasilan
internasional bagi semua manusia dan semua bangsa". Deklarasi dikenal dan diterima keabsahannya, baik di Negara Pihak
salah satu atau kedua Kovenan, dan di Negara yang tidak meratifikasi atau melakukan aksesi atas kedua Kovenan tersebut.
Ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam Deklarasi ini banyak dijadikan dasar dan pembenaran sejumlah besar keputusan
yang diambil oleh badan-badan PBB; Deklarasi ini menjadi inspirasi untuk mempersiapkan sejumlah instrumen internasional
tentang hak asasi manusia, baik di dalam maupun di luar sistem PBB; dokumen ini berpengaruh terhadap sejumlah perjanjian
multilateral dan bilateral; dan juga mempunyai pengaruh yang kuat sebagai dasar untuk mempersiapkan konstitusi dan
undang-undang nasional yang baru.

DUHAM diakui sebagai dokumen bersejarah yang mengartikulasikan definisi umum mengenai martabat dan nilai-
nilai manusia. Deklarasi ini merupakan tonggak yang menjadi ukuran tingkat penghormatan dan ketaatan terhadap standar
hak asasi manusia internasional di mana saja di muka bumi ini.
Mulai berlakunya Kovenan-Kovenan, yang diterima oleh Negara-negara Pihak baik sebagai kewajiban hukum
maupun moral untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia dan kebebasan dasar, sama sekali tidak mengurangi
luasnya pengaruh DUHAM. Sebaliknya, keberadaan Kovenan-Kovenan ini sendiri dan kenyataan bahwa Kovenan-Kovenan
ini berisi upaya-upaya penerapan yang disyaratkan untuk memastikan perwujudan hak-hak dan kebebasan yang diatur dalam
DUHAM, telah memberi kekuatan yang lebih besar bagi DUHAM.
Lebih jauh lagi, DUHAM sungguh-sungguh berlingkup universal, karena ia menjaga kesahihannya bagi setiap
anggota keluarga manusia di mana saja, tanpa memandang apakah Pemerintah telah secara resmi menerima prinsip-prinsip
yang ada dalam DUHAM atau meratifikasi Kovenan-Kovenan. Di lain pihak, Kovenan-Kovenan sebagai konvensi
internasional, bersifat mengikat secara hukum Negara-negara yang telah menerimanya dengan cara meratifikasi atau
melakukan aksesi.

Dalam berbagai resolusi dan keputusan penting yang ditetapkan oleh badan-badan PBB, termasuk Majelis Umum
dan Dewan Keamanan, DUHAM dan salah satu atau kedua Kovenan tersebut telah dijadikan rujukan sebagai dasar suatu
tindakan.

10

Hampir semua instrumen internasional hak-hak asasi manusia yang ditetapkan oleh badan-badan PBB sejak 1948
telah menguraikan prinsip-prinsip yang diatur dalam DUHAM. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya menyatakan dalam mukadimahnya bahwa Kovenan itu berkembang dari pengakuan bahwa:

Sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, kebebasan manusia yang ideal dalam menikmati kebebasan dari rasa takut dan
kebebasan dari kekurangan hanya dapat dicapai apabila diciptakan kondisi di mana setiap orang dapat menikmati hak ekonomi, sosial dan
budaya-nya, dan juga hak sipil dan politiknya.

Pernyataan yang sama juga dimuat dalam mukadimah Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik.
Deklarasi tentang Perlindungan Bagi Semua Orang dari Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Keji,
Tidak Manusiawi atau Menurunkan martabat yang ditetapkan oleh Majelis umum pada 1975 (resolusi 3452 (XXX)),
menguraikan pengertian Pasal 5 DUHAM dan Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, di mana keduanya
mengatur bahwa tidak seorang pun boleh disiksa dan diperlakukan atau dihukum secara keji, tidak manusiawi atau
merendahkan martabat. Larangan ini ditegaskan lebih lanjut dengan ditetapkannya Kovensi Menentang Penyiksaan dan
Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Keji, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat (resolusi Majelis Umum 39/46)
pada 1984. Serupa dengan itu, Deklarasi tentang Penghapusan Segala Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi Berdasarkan
Agama atau Kepercayaan, yang diproklamasikan Majelis Umum pada 1981 (resolusi 36/55), secara tegas merumuskan sifat
dan ruang lingkup prinsip non-diskriminasi dan perlakuan yang sama di depan hukum, dan hak atas kebebasan berpikir,
berkeyakinan, beragama dan berkepercayaan, yang terdapat dalam DUHAM dan Kovenan-Kovenan Internasional.
Situasi yang serupa muncul dalam instrumen internasional hak asasi manusia yang ditetapkan di luar sistem PBB.
Sebagai contoh, mukadimah dari Konvensi Bagi Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar yang ditetapkan oleh
Dewan Eropa di Roma pada 1950, ditutup dengan kata-kata sebagai berikut:

Memutuskan bahwa Pemerintah-Pemerintah Negara-Negara Eropa yang mempunyai pemikiran yang sama dan warisan tradisi politik, ide,
kebebasan dan negara hukum yang sama, untuk mengambil langkah-langkah pertama secara kolektif menegakkan hak-hak tertentu yang
dinyatakan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Pasal II Piagam Organisasi Persatuan Afrika yang ditetapkan di Addis Ababa pada 1963, menyatakan bahwa salah
satu tujuan Organisasi ini adalah "memajukan kerjasama internasional dengan memperhatikan Piagam PBB dan DUHAM".
Konvensi Amerika tentang Hak Asasi Manusia yang ditandatangani di San Jose, Kosta Rika pada 1969, menyatakan dalam
mukadimahnya bahwa prinsip-prinsip yang hendak dijalankan adalah prinsip-prinsip yang terdapat dalam Piagam Organisasi
Negara-Negara Amerika, Deklarasi Amerika tentang Hak dan Kewajiban dari Manusia dan DUHAM.
Para hakim Mahkamah internasional sering menggunakan prinsip-prinsip yang termuat dalam Ketentuan
Internasional Hak Asasi Manusia sebagai dasar untuk keputusan mereka.
Pengadilan Nasional dan lokal sering merujuk pada prinsip-prinsip yang terdapat dalam Ketentuan Internasional
Hak Asasi Manusia dalam keputusan mereka. Lebih jauh lagi dalam tahun-tahun terakhir ini teks konstitusi dan undang-
undang nasional telah lebih banyak memuat upaya-upaya perlindungan hukum bagi prinsip-prinsip tersebut; bahkan banyak
hukum nasional dan lokal yang mutakhir dengan jelas mengambil contoh ketentuan-ketentuan yang diatur dalam DUHAM
dan Kovenan-Kovenan Internasional, yang tetap menjadi pedoman utama bagi upaya-upaya masa kini maupun masa
mendatang di bidang hak asasi manusia, baik dalam lingkup nasional maupun internasional.
Terakhir, Konperensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia yang diadakan di Wina pada Juni 1993 menetapkan secara
bulat Deklarasi Wina dan Program Aksi, di mana Konperensi menyambut baik kemajuan dalam mengkodifikasi instrumen
hak asasi manusia, dan mendorong ratifikasi secara universal perjanjian hak asasi manusia. Di samping itu semua Negara

11

didorong untuk sedapat mungkin menghindari pengajuan keberatan (bagian I paragraf 26).
Dengan demikian, Ketentuan Internasional Hak Asasi Manusia mewakili sebuah tonggak penting dalam sejarah hak
asasi manusia, sebuah Magna Charta yang menandai pencapaian umat manusia pada tahap yang sangat penting: perolehan
kesadaran akan penghormatan terhadap martabat dan harga diri manusia.

12

LAMPIRAN

KETENTUAN INTERNASIONAL HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA1

MUKADIMAH

Bahwa pengakuan atas martabat yang melekat pada dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua
anggota keluarga manusia adalah landasan bagi kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia,
Bahwa pengabaian dan penghinaan terhadap hak asasi manusia telah mengakibatkan tindakan-tindakan keji yang
membuat berang nurani manusia, dan terbentuknya suatu dunia dimana manusia akan menikmati kebebasan berbicara dan
berkeyakinan, serta kebebasan dari ketakutan dan kekurangan telah dinyatakan sebagai aspirasi tertinggi manusia pada
umumnya,

Bahwa sangat penting untuk melindungi hak-hak asasi manusia dengan peraturan hukum supaya orang tidak akan
terpaksa memilih jalan pemberontakan sebagai usaha terakhir menentang tirani dan penindasan,
Bahwa sangat penting untuk memajukan hubungan persahabatan antar bangsa-bangsa,
Bahwa bangsa-bangsa dari Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalam Piagam PBB telah menegaskan kembali kepercayaan
mereka terhadap hak asasi manusia yang mendasar, terhadap martabat dan nilai setiap manusia, dan terhadap persamaan hak
laki-laki dan perempuan, dan telah mendorong kemajuan sosial dan standar kehidupan yang lebih baik dalam kebebasan yang
lebih luas,

Bahwa bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Negara Pihak telah berjanji mencapai kemajuan universal
dalam penghormatan dan ketaatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar,
Bahwa pemahaman yang sama tentang hak-hak dan kebebasan ini sangat penting dalam untuk mewujudkan janji

tersebut sepenuhnya,

Oleh karena itu, dengan ini
Majelis Umum,

Memproklamirkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sebagai standar umum keberhasilan semua manusia dan
semua bangsa dengan tujuan bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan senantiasa mengingat Deklarasi ini,
akan berusaha melalui cara pengajaran dan pendidikan untuk memajukan penghormatan terhadap hak dan kebebasan ini, dan
melalui upaya-upaya yang progresif baik secara nasional dan internasional, menjamin pengakuan dan ketaatan yang universal
dan efektif, baik oleh rakyat Negara Pihak maupun rakyat yang berada di dalam wilayah yang masuk dalam wilayah
hukumnya.

Pasal 1
Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama. Mereka dikaruniai akal budi dan
hati nurani dan hendaknya bergaul satu dengan yang lain dalam semangat persaudaraan.

1 Ditetapkan oleh Majelis Umum dalam resolusi 217 A (III) tertanggal 10 Desember 1948.

13

Pasal 2
Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan yang tercantum dalam Deklarasi ini tanpa pembedaan dalam
bentuk apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, keyakinan politik atau keyakinan lainnya, asal usul
kebangsaan dan sosial, hak milik, kelahiran atau status lainnya.
Selanjutnya, pembedaan tidak dapat dilakukan atas dasar status politik, hukum atau status internasional negara atau
wilayah dari mana seseorang berasal, baik dari negara merdeka, wilayah perwalian, wilayah tanpa pemerintahan sendiri, atau
wilayah yang berada di bawah batas kedaulatan lainnya.

Pasal 3
Setiap orang berhak atas kehidupan, kemerdekaan dan keamanan pribadi.

Pasal 4
Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhambakan; perbudakan dan perdagangan budak dalam bentuk

apapun wajib dilarang.

Pasal 5
Tidak seorangpun boleh disiksa atau diperlakukan atau dihukum secara keji, tidak manusiawi atau merendahkan

martabat.

Pasal 6
Setiap orang berhak atas pengakuan sebagai pribadi di depan hukum di mana saja ia berada.

Pasal 7
Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi apapun.
Semua orang berhak untuk mendapatkan perlindungan yang sama terhadap diskriminasi apapun yang melanggar Deklarasi ini
dan terhadap segala hasutan untuk melakukan diskriminasi tersebut.

Pasal 8
Setiap orang berhak atas penyelesaian yang efektif oleh peradilan nasional yang kompeten, terhadap tindakan-
tindakan yang melanggar hak-hak mendasar yang diberikan padanya oleh konstitusi atau oleh hukum.

Pasal 9
Tidak seorangpun yang dapat ditangkap, ditahan atau diasingkan secara sewenang-wenang.

Pasal 10
Setiap orang berhak, dalam persamaan yang penuh, atas pemeriksaan yang adil dan terbuka oleh peradilan yang
bebas dan tidak memihak, dalam penentuan atas hak dan kewajibannya serta dalam setiap tuduhan pidana terhadapnya.

Pasal 11

1.

Setiap orang yang dituduh melakukan tindak pidana berhak untuk dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan

14

kesalahannya sesuai dengan hukum, dalam pengadilan yang terbuka, di mana ia memperoleh semua jaminan yang
dibutuhkan untuk pembelaannya.

2.

Tidak seorangpun dapat dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana karena perbuatan atau kelalaian, yang bukan
merupakan pelanggaran pidana berdasarkan hukum nasional atau internasional ketika perbuatan tersebut dilakukan.
Juga tidak boleh dijatuhkan hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang berlaku pada saat pelanggaran
dilakukan.

Pasal 12
Tidak seorangpun boleh diganggu secara sewenang-wenang dalam urusan pribadi, keluarga, rumah tangga atau
hubungan surat-menyuratnya, juga tidak boleh dilakukan serangan terhadap kehormatan dan reputasinya. Setiap orang
berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan atau penyerangan seperti itu.

1.

Setiap orang berhak untuk bebas bergerak dan bertempat tinggal dalam batas-batas setiap Negara.

2.

Setiap orang berhak untuk meninggalkan negaranya termasuk negaranya sendiri, dan kembali ke negaranya.

Pasal 14

1.

Setiap orang berhak untuk mencari dan menikmati suaka di negara lain untuk menghindari penuntutan atau
tindakan pengejaran sewenang-wenang (persecution).

2.

Hak ini tidak berlaku dalam kasus-kasus penuntutan yang benar-benar timbul karena kejahatan non-politik atau
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 15

1.

Setiap orang berhak atas kewarganegaraan.

2.

Tidak seorang pun dapat dicabut kewarganegaraannya secara sewenang-wenang atau ditolak haknya untuk
mengubah kewarganegaraannya.

Pasal 16

1.

Laki-laki dan perempuan dewasa, tanpa ada pembatasan apapun berdasarkan ras, kewarganegaraan atau agama,
berhak untuk menikah dan membentuk keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dalam hal perkawinan, dalam
masa perkawinan dan pada saat berakhirnya perkawinan.

2.

Perkawinan hanya dapat dilakukan atas dasar kebebasan dan persetujuan penuh dari pihak yang hendak
melangsungkan perkawinan.

3.

Keluarga merupakan satuan kelompok masyarakat yang alamiah dan mendasar dan berhak atas perlindungan dari
masyarakat dan Negara.

Pasal 17

1.

Setiap orang berhak untuk memiliki harta benda baik secara pribadi maupun bersama-sama dengan orang lain.

2.

Tidak seorangpun dapat dirampas harta bendanya secara sewenang-wenang.

Pasal 18

15

Setiap orang berhak atas kemerdekaan berpikir, berkeyakinan dan beragama; hak ini mencakup kebebasan untuk
berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan pengajaran,
peribadatan, pemujaan dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun secara
pribadi.

Pasal 19
Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan menyatakan pendapat; hak ini mencakup kebebasan untuk berpegang
teguh pada suatu pendapat tanpa ada intervensi, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah
pikiran melalui media apa saja dan tanpa memandang batas-batas wilayah.

Pasal 20

1.

Setiap orang berhak atas kebebasan berkumpul secara damai dan berserikat.

2.

Tidak seorangpun dapat dipaksa untuk menjadi anggota suatu perkumpulan.

Pasal 21

1.

Setiap orang berhak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan negaranya, baik secara langsung atau melalui wakil-
wakil yang dipilihnya secara bebas.

2.

Setiap orang berhak atas akses yang sama untuk memperoleh pelayanan umum di negaranya.

3.

Keinginan rakyat harus dijadikan dasar kewenangan pemerintah; keinginan tersebut harus dinyatakan dalam
pemilihan umum yang dilakukan secara berkala dan sungguh-sungguh, dengan hak pilih yang bersifat universal dan
sederajat, serta dilakukan melalui pemungutan suara yang rahasia ataupun melalui prosedur pemungutan suara
secara bebas yang setara.

Pasal 22
Setiap orang sebagai anggota masyarakat berhak atas jaminan sosial dan terwujudnya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang
sangat diperlukan untuk martabat dan perkembangan kepribadiannya dengan bebas, melalui usaha-usaha nasional maupun
kerjasama internasional, dan sesuai dengan pengaturan dan sumber daya yang ada pada setiap negara .

Pasal 23

1.

Setiap orang berhak atas buruhan, untuk memilih buruhan dengan bebas, atas kondisi buruhan yang adil dan
menyenangkan, dan atas perlindungan terhadap pengangguran.

2.

Setiap orang berhak atas upah yang sama untuk buruhan yang sama, tanpa diskriminasi.

3.

Setiap orang yang bekerja berhak atas pengupahan yang adil dan memadai, yang bisa menjamin penghidupan yang
layak bagi dirinya maupun keluarganya sesuai dengan martabat manusia, dan apabila perlu ditambah dengan
perlindungan sosial lainnya.

4.

Setiap orang berhak mendirikan dan bergabung dengan serikat buruh untuk melindungi kepentingannya.

Pasal 24
Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk pembatasan jam kerja yang layak dan liburan berkala dengan
menerima upah.

16

Pasal 25

1.

Setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan
keluarganya, termasuk hak atas pangan, sandang, papan, dan pelayanan kesehatan, pelayanan sosial yang
diperlukan, serta hak atas keamanan pada saat menganggur, sakit, cacat, ditinggalkan oleh pasangannya, usia lanjut,
atau keadaan-keadaan lain yang mengakibatkan merosotnya taraf kehidupan yang terjadi diluar kekuasaannya.

2.

Ibu dan anak-anak berhak mendapatkan perhatian dan bantuan khusus. Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam
maupun di luar perkawinan, harus menikmati perlindungan sosial yang sama.

Pasal 26

1.

Setiap orang berhak atas pendidikan. Pendidikan harus cuma-cuma, paling tidak pada tahap-tahap awal dan dasar.
Pendidikan dasar harus diwajibkan. Pendidikan teknis dan profesional harus terbuka bagi semua orang, dan begitu
juga pendidikan tinggi harus terbuka untuk semua orang berdasarkan kemampuan.

2.

Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan sepenuhnya kepribadian manusia, dan untuk memperkuat
penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar. Pendidikan harus meningkatkan pengertian,
toleransi dan persaudaraan di antara semua bangsa, kelompok rasial dan agama, dan wajib untuk mengembangkan
kegiatan-kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam memelihara perdamaian.

3.

Orang tua mempunyai hak pertama untuk memilih jenis pendidikan yang akan diberikan pada anaknya.

Pasal 27

1.

Setiap orang berhak untuk secara bebas berpartisipasi dalam kehidupan budaya masyarakat, menikmati seni, dan
turut mengecap kemajuan ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya.

2.

Setiap orang berhak atas perlindungan terhadap keuntungan moral dan materil yang diperoleh dari karya ilimiah,
sastra atau seni apapun yang diciptakannya.

Pasal 28
Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional, di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat
diwujudkan sepenuhnya.

Pasal 29

1.

Setiap orang mempunyai kewajiban kepada masyarakat tempat satu-satunya di mana ia dimungkinkan untuk
mengembangkan pribadinya secara bebas dan penuh.

2.

Dalam pelaksanaan hak dan kebebasannya, setiap orang hanya tunduk pada batasan-batasan yang ditentukan oleh
hukum, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak dan kebebasan orang lain, dan
memenuhi persyaratan-persyaratan moral, ketertiban umum dan kesejahteraan umum yang adil dalam masyarakat
yang demokratis.

3.

Hak dan kebebasan ini dengan jalan apapun tidak dapat dilaksanakan apabila bertentangan dengan tujuan dan prinsip
Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 30

17

Tidak ada satu ketentuan pun dalam Deklarasi ini yang dapat ditafsirkan sebagai memberikan hak pada suatu Negara,
kelompok atau orang, untuk terlibat dalam aktivitas atau melakukan suatu tindakan yang bertujuan untuk menghancurkan hak
dan kebebasan apapun yang diatur di dalam Deklarasi ini.

18

KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG
HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA2

MUKADIMAH

Negara-Negara Pihak pada Kovenan ini,
Menimbang
bahwa, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diproklamasikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,
pengakuan terhadap martabat yang melekat pada dan hak-hak yang sama bagi dan tidak dapat dipisahkan dari semua umat
manusia merupakan landasan dari kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia,
Mengakui bahwa hak-hak ini berasal dari martabat yang melekat pada manusia,
Mengakui bahwa, sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, cita-cita umat manusia yang bebas untuk
menikmati kebebasan dari rasa takut dan kekurangan hanya dapat dicapai apabila diciptakan kondisi dimana setiap orang dapat
menikmati baik hak hak ekonomi, sosial dan budayanya, maupun hak sipil dan politiknya.
Menimbang kewajiban Negara-negara sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memajukan
penghormatan dan pentaatan hak asasi dan kebebasan manusia secara universal,
Menyadari bahwa individu, yang mempunyai kewajiban terhadap individu lainnya dan terhadap komunitas yang di
dalamnya ia termasuk, bertanggung jawab untuk berusaha keras bagi pemajuan dan pentaatan hak yang diakui dalam Kovenan
ini,

Menyetujui pasal-pasal berikut:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->