Kurikulum Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional

Pondok Pesantren category
1

• •

circle of playgrounds composed • of study • curriculums

Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak sekedar fokus pada kita kitab klasik (baca : ilmu agama) tetapi juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum di Pesantren saat ini dikhotomi ilmu mulai tak populer beberapa pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada dibawah DIKNAS Misal Undar Jombang Pondok pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll. Perkembangan yg begitu pesat dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi menyebabkan pengertian kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu namun demikian satu hal yg permanen disepakati bahwa Istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani semula populer dalam bidang olah raga yaitu Curere yg berarti jarak terjauh yg harus ditempuh dalam olahraga lari mulai start hingga finish. Kemudian dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dalam bahasa Arab Menurut Omar Muhammad (1979 : 478) term kurikulum dikenal dgn term manhaj yakni jalan terang yg dilalui manusia dalam hidupanya. Dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai jalan terang yg dilalui oleh pendidik dan peserta didik utk menggabungkan pengetahuan ketampilan sikap dan seperangkat nilai. Secara etimologi artikulasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua pertama dalam pengertian yg sempit disebut juga (pengertian tradisional) yakni sebagaimana dirumuskan Regan ( 1960 : 57) “ The curriculum has mean the subjects taught in school or the course of study “. Kurikulum adl mata pelajaran yg diajarkan di sekolah atau bidang studi. Kedua dalam pengertian yg luas disebut juga (pengertian modern) yakni seperti dirumuskan Spear ( 1975 : 67) “The curriculum is looked as being composed of all the actual experience pupils have under school direction writing a courrse of study become but small prt of curriculum program”. Kurikulum adl semua pengalaman aktual yg dimiliki siswa di bawah pengaruh sekolah sementara bidang studi adl bagian kecil dari program kurikulum secara keseluruhan. Rumusan ini dijustifikasi oleh sejumlah pakar lain seperti Saylor dan Alexander yg menyebutkan “The curriculum is the sum total of the school’s effort to influence learning whether in the calssroom on the playground or out of shoo” kurikulum adl keseluruhan usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar anak yg berlangsung di dalam kelas di sekolah maupun di luar sekolah. Melampaui pembagian diatas saat ini ada juga beberapa pakar seperti Lee and Lee ( 1940 : 211) yg menyebutkan bahwa “Curricuum is the strategy which we use in adapting this cultural geritage to the purpose of the shoo “ Kurikulum adl strategi yg digunakan utk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.

Berdasarkan literatur yg ada yg dimaksud dgn kurikulum adl salah satu komponen utama yg diguanakan sebagai acuan utk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping fakyor-faktor yg lain. Oleh sebab itu keberadan kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting. Kita selalu sering mendengar sorotan tajam bahwa kurikulum selalu tertinggal dgn perkembangan zaman. Dengan demikian pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan. Dalam konteks pendidikan di pesantren Nurcholis Madjid mengatakan yg dikutip oleh Abdurrahman Mas’ud dkk bahwa istilah kurikulum tak terkenal di dunia pesantren (masa pra kemerdekaan) walaupun sebenar materi pendidikan sudah ada di dalam pesantren terutama pada praktek pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan di pesantren. Secara eksplisit pesantren tak merumuskan dasar dan tujuan pesantren atau mengaplikasikan dalam bentuk kurikulum. (2002:85) Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan termasuk di dalam modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal sistem dan kelembagaan pesantren telah dimodernisasi serta disesuaikan dgn tuntutan pembangunan terutama dalam aspek-aspek kelembagaan sehingga secara otomatis akan mempengaruhi ketetapan kurikulum. Berdasarkan pendapat di atas bahwa kurikulum pada dasar merupakan seperangkat perencanaan dan media utk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan lembaga pendidikan yg diidamkan. Pesantren dalam aspek kelembagaan mulai mengembangkan diri dgn jenis dan corak pendidikan yg bermacam-macam. Seperti Pesantren Tebuireng Jombang yg di dalam telah berkembang madrasah sekolah umum sampai perguruan tinggi yg dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi pesantren yg mengikuti pola salafi (tradisional) mungkin kurikulum belum dimasukkan secara baik. Maka dari pada itu kurikulum pondok pesantren tradisional status cuma sebagai lembaga pendidikan non formal yg hanya mempelajari kitab-kitab klasik. Meliputi : nahwu sorrof belaghoh tauhid tafsir hadist mantik tasawwuf bahasa arab fiqih ushul fiqh dan akhlak. Dengan demikian pelaksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yg dibahas dalam kitab. Jadi ada tingkat awal menengah dan lanjutan. Jenjang pendidikan dalam pesantren tak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yg memakai sistem klasikal. Umum kenaikan tingkat seorang santri didasarkan kepada isi mata pelajaran tertentu yg ditandai dgn tamat dan berganti kitab yg dipelajarinya. Apabila seorang santri telah mengusai satu kitab atau beberpa kitab dan telah lulus ujian yg diuji oleh Kiai maka ia berpindah kepada kitab lain yg lbh tinggi tingkatannya. Jelas penjenjangan pendidikan pesantren tak berdasarkan usia tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yg telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi. Sebagai konsekuensi dari cara penjenjangan di atas pendidikan pesantren biasa menyediakan beberapa cabang ilmu atau bidang-bidang khusus yg merupakan fokus masing-masing pesantren utk dapat menarik minat para santri menuntut ilmu di dalamnya. Biasa keunikan pendidikan sebuah pesantren telah diketahui oleh calon santri yg ingin mondok. (Sulthon dan Ridho 2006: 159-160) Kendati beberapa pakar berbeda dalam merumuskan pengertian kurikulum tetapi mereka tak berbeda mengenai fungsi kurikulum yakni : sebagai sarana atau alat utk mencapai tujuan pendidikan sebagai pelestari nilai nilai budaya dan sebagai pedoman tentang jenis lingkup dan hirarki urutan isi dan proses pendidikan. Kurikulum bagi pendidik berfungsi sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir

pengalaman belajar peserta didik bagi tenaga kependidikan berfungsi sebagai pedoman dalam mengadakan supervisi bagi wali murid berfungsi utk memberikan informasi sekaligus dorongan agar membantu menggiatkan belajar yg relevan di rumah dan bagi perserta didik sendiri berfungsi sebagai informasi tentang jenis pengetahuan nilai nilai dan keterampilan yg telah diperoleh sebagai entri behaviornya. Kurikulum Pendidikan pesantren menurut Hasan (2001 : 6 ) paling tak memiliki beberapa komponen antara lain : tujuan isi pengetahuan dan pengalaman belajar strategi dan evaluasi. Biasa komponen tujuan tersebut terbagi dalam beberapa tingkatan yakni tujuan pendidikan nasional tujuan institusional tujuan kurekuler dan tujuan instruksional. Namun demikian berbagai tingkat tujuan tersebut satu sama lain merupakan suatu kesatuan yg tak terpisahkan. Komponen isi meliputi pencapaian target yg jelas materi standart standart hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. kepribadian. Komponen strategi tergambar daricara yg ditempuh di dalam melaksanakan pengajaran cara di dalam mengadakan penilaian cara dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan. Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup cara yg berlaku dalam menyajikan tiap bidang studi termasuk cara mengajar dan alat pelajaran yg digunakan. Komponen evaluasi berisi penilaian yg dilakukan secara terus menerus dan bersifat menyeluruh terhadap bahan atau program pengajaran yg dimaksudkan sebagai feedback terhadap tujuan materi metode sarana dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lbh lanjut. Menurut Imam Bawani (1987 : 92) adl berbeda antara pendidikan Islam dgn pendidikan agama Islam. Bila disebut pendidikan Islam maka orientasi adl sistem yaitu sistem pendidikan yg Islami yg teori-teori disusun berdasarkan alqur’an hadits. Sedangkan pendidikan agama Islam adl nama kegiatan atau aktivitas dalam mendidikkan agama Islam. Dengan kata lain pendidikan agama Islam adl sejajar dgn mata pelajaran lain di sekolah seperti pendidikan matematika ataupun pendidikan biologi. Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adl upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik utk mengenal memahami menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dgn tuntunan utk menghormati penganut agama lain dalam hubungan dgn kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa. Jadi kurikulum Pendidikan pesasntren adl bahan-bahan pendidikan agama Islam di pesantren berupa kegiatan pengetahuan dan pengalaman yg dgn sengaja dan sisteatis diberikan kepada santri dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan pesasntren merupakan alat utk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Adapun lingkup materi pendidikan pesasntren adl : Al-Qur’an dan Hadits Keimanan akhlak Fiqh/ibadah dan sejarah dgn kata lain cakupan Pendidikan pesasntren ada keserasian keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dgn Allah diri sendiri sesama manusia makhluk lain maupun lingkungannya. Untuk mencapai tujuan Pendidikan pesantren tersebut perlu rekonstruksi kurikulum agar lbh riil. Rumusan tujuan Pendidikan pesasntren yg ada selama ini masih bersifat general dan kurang mach dgn realitas masyarakat yg terus mengalami transformasi. Rekonstruksi disini dimaksudkan utk meningkatkan daya relevansi rumusan tujuan Pendidikan pesasntren dgn persoalan riil yg dihadapi masyarakat dalam hidup kesehariannya. Prinsip pengembangan kurikulum Pendidikan pesasntren secara umum dapat dikelompkkan menjadi dua yakni prinsip umum yg meliputi prinsip relevansi prinsip fleksebelitas prinsip kontinoitas prinsip praktis prinsip efektifitas dan prinsip efisiensi. Sedangkan prinsip khusus mencakup prinsip yg berkenaan dgn tujuan Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn

Kurikulum hendak mengacu kepada pencapain tujuan akhir pendidikan Islam sambil memperhatikan tujuan – tujuan di bawahnya. Tujuan Pendidikan kerja membangun kehidupan duniawiyah melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi kepada-Nya. Kurikulum perlu disusun secara bertahap mengikuti periodisasi perkembangan peserta didik. Berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya berorientasi pada Iptek. • • • • . Kurikulum hendak memperhatikan kepentingan nyata masyarakat seperti kesehatan keamanan administrasi dan pendidikan. Kurikulum hendak efektif utk mencapai tingkah laku dan emosi yg positif. Metode pendidikan yg merupakan salah satu komponen kurikulum ini hendak bersifat fleksibel. • • • Pengembangan kurikulum Pendidikan pesantren yg terus menerus menyangkut seluruh komponen merupakan sesuatu yg mutlak utk dilakukan agar ia tak kehilangan relevansi dgn kebutuhan riil yg dihadapi komonitas pendidikan islam yg kecenderungan terus mengalami proses dinamika transformatif.pemilihan isi Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn metode dan strategi proses pembelajaran Pendidikan pesantren prinsip yg berkenaan dgn alat evalusi dan penilaian Pendidikan pesasntren. Pembangunan kehidupan duniawiyah bukan menjadi tujuan final tetapi merupakan kewajiban yg diimani dan terkait kuat dgn kehidupan ukhrawiyah tujuan final adl kehidupan ukhrawi dgn ridla Allah SWT. Konsep manusia Pendidikan Islam memandang manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan tak seperti pendidikan sekuler yg memandang manusia dgn tabularasanya. Kurikulum yg demikian biasa mengacu pada sembilan prinsip utama sebagai berikut : • • • • Sistem dan pengembangan kurikulum hendak memperhatikan fitrah manusia agar tetap berada dalam kesucia dan tak menyimpang. Hal ini berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya bersifat antroposentris semata. Mastuhu secara praktis memberikan konsep tentang model dan paradigma Pendidikan pesantren yg diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga Pendidikan pesasntren yaitu : • Dasar Pendidikan Pendidikan pesasntren harus mendasarkan pada “teosentris’ dengan menjadikan “antroposentris” sebagai bagian esensial dari konsep teosentris. Kurikulum hendak pula disesuaikan dgn kondisi dan lingkungan seperti iklim dan kondisi alam yg memungkinkan ada perbedaan pola kehidupan agraris industri dan komersial. Kuirikulum hendak terstruktur dan terorganisasi secara integral. Arti kurikulum dapat dilaksanakan sesuai dgn berbagai kemudahan yg dimiliki tiap negara yg melaksanakanya. Pendidikan pesantren yg dibangun atas dasar pemikiran yg Islami bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yg dilandasi kaidah – kaidah Islam. Nilai Pendidikan pesasntren berorientasi pada Iptek sebagai kebenaran relatif dan Imtaq sebagai kebenaran mutlak. Kurikulum hendak realistis.

dan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip kejujuran dalam kehidupan sehari. . kerangka berpikir. Pesantren sudah ada sejak ratusan tahun silam. Referensi utama yang digunakan adalah kutub turats karya salafus sholeh. Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi standard intelektual. Namun pada akhir-akhir ini. dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren maupun Universitas Islam yang nota bene dimotori oleh alumnus-alumnus pesantren yang ketika dipesantren tidak didasari dengan dasar ruhani yang kuat. Terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan paradigma.• Kurikulum hendak memperhatiakan tingkat perkembangan peserta didik baik fisik emosional ataupun intelektualnya. antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif. materi yang dikaji di pesantren adalah ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin). materi nahwu dan fiqih mendapat porsi perhatian lebih banyak. Sebagai sebuah respon atas perkembangan zaman. Dilema Paradigma Ekstrem Barat Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama dan etika bermasyarakat. kondisi memprihatinkan tengah dihadapi masyarakat pesantren. tafsir. Bencana Aceh Versi Arab Kamis. Masyarakat memandang zaman telah berkembang menuju era globalisasi. tauhid dan lain-lain. Untuk bisa membaca dan memahami kitab seseorang harus menguasi ilmu nahwu. 09 Des 2010 Santri Modern. Di antara kajian yang ada. Dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan dalam transformasi manhaj pesantren ini. masyarakat modern menginginkan perubahan terjadi dalam diri pesantren. ilmu nahwu dipandang sebagai ilmu kunci. Hal itu karena. Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. nahwu-shorof. serta berbagai masalah yg dihadapi dalam tiap tingkat perkembangan seperti pertumbuhan bahasa kamatangan sosial dan kesiapan religiusitas. Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan memegang prinsip bahwa tujuan utama sebuah pembelajaran adalah liridhoillah. Ia adalah model pendidikan yang pertama dan tertua yang ada di Indonesia. seperti fiqih. hadist. Sebagai sebuah lembaga pendidikan. bermanfaat untuk masyarakat. Dan selama itu pesantren telah terbukti mencetak manusia-manusia yang berakhlakul karimah.

Sehingga ketika ia melihat suatu ideologi kebebasan di luar lingkungannya. Yaitu golongan antikonservatif yang telah muak berada pada kejumudan yang dirasakanya di pondok. Pesantren model ini telah mengadaptasi sistem pendidikan modern sebagai bentuk respon atau penyesuaian terhadap tantangan zaman. Pola pendidikan pesantren dianggap tidak mampu memenuhi pasar kerja. kadaluarsa dan tidak relevan lagi. terjadi euforia yang berdampak pada hijrahnya paradigma. karena beberapa anggapan: Pertama. dan kebodohan atas perkembangan dunia modern. seolah sebagai sisa- . Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi standard intelektual. figur-figur lokal yang liberal ketimbang mengambil ayat-ayat al-Qur'an Hadist-hadist nabi. Kedua. dengan sangat tergesa-gesa mereka menutup rapat-rapat telinganya seolah mendengar suara yang memanggil ke masa lalu. dengan menerapkan pola dan sistem pendidikan modern. Parahnya lagi ketika mereka mendengar teriakan-teriakan yang berbau salaf. Perpaduan semacam itulah yang sekarang diminati oleh sebagian masyarakat. Dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan dalam transformasi manhaj pesantren ini. Transformasi ini juga ikut andil dalam membidani lahirnya paradigma liberalis kebarat-baratan di kalangan santri. Ketiga. masyarakat santri di pesantren dipahami sebagai kelompok yang semata-mata berlajar agama dan kitab-kitab salaf tanpa peduli pada masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat umum. Terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan paradigma. antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif. Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama dan etika bermasyarakat. muncullah pesantrenpesantren baru atau pesantren lama yang berusaha menafsirkan tuntutan masyarakat dalam tindakan aktif. Karena alasan inilah pesantren semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Mereka menganggap kaum sarungan (santri) yang setia dengan kajian lughowi dan atau waqi'i serta manhaj kitab-kitab salaf yang ketat. Mereka anggap idiologi salaf seolah hal yang sudah basi. Mereka lebih merasa bangga ketika paradigma pemikirannya bermuara dari akar-akar filosof barat.Mereka menuntut pesantren sebagai institusi pendidikan untuk melakukan akselerasi dan transformasi ke arah perkembangan tersebut. kerangka berpikir. atau maqolah-maqolah ulama'. dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren maupun Universitas Islam yang notabene dimotori oleh alumnus-alumnus pesantren yang ketika dipesantren tidak didasari dengan dasar ruhani yang kuat. Pandangan ini menjadikan pesantren dipandang tidak efektif sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mampu merespon tuntutan zaman. Di latarbelakangi hal itu. dunia santri dan pesantren dicitrakan sebagai dunia yang tertutup sehingga dekat dengan keterbelakangan. yaitu perpaduan kurikulum antara mata pelajaran berbasis ilmu agama dan mata pelajaran berbasis pengetahuan umum. kekumuhan.

materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda.. ketika dia harus berubah mengikuti tuntutan masyarakat. Betapa banyak kalangan santri yang berubah jadi nyeleneh setelah mengenal ideologi-ideologi yang berkembang dari belahan dunia Barat. Siapa yang berpegang pada teori jahiliyah sekarang? Fenomena inilah yang ditakutkan oleh pesantren salaf.sisa dari konteks sosial dan politik masa lalu (jahiliyyah). untuk membaca teks-teks karya salafus sholeh inipun mereka masih belum fasih. Tetapi Jangan diartikan bahwa kita sebagai santri tidak tepat mempelajari ilmu-ilmu kekinian.. baik menyangkut metode (model pengajaran). Muqaddimah Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu. Mereka mencoba mengkontekskan produk-produk salaf dengan teori modern. kemampuan membaca (reading . disatu sisi penguasaan pada manhaj ala pondok pesantren belum mumpuni yang berefek pada tidak maksimalnya pemahaman tentang produk salaf yang menjadi kajian di pesantren. Jangankan interpretasi yang maksimal. suatu hal yang tidak didasari dengan dasar teori yang kuat akhirnya hanya akan menghasilkan produk pemahaman yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.oke. mereka sudah mencoba mengkontekskan hasil interpretasi yang tidak maksimal tadi. Hal yang ironis terjadi. ketika basic Islam sudah tertanam dalam hati yang paling dalam dan mengakar pada pikiran. hasil interpretasi yang berusaha mereka kontekskan bukan didasari dengan dasar teori yang kuat. Jadi.2008 Oleh : Yayat Hidayat A. justru sebaliknya kita harus memahami hal-hal tersebut karena agar mampu membawa ajaran salaf as shalih sebagai ajaran pure of life. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’). kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum). Akan tetapi untuk mencari menu tambahan tersebut ada fase-fase tertentu. • Studi Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab • • Author: admin Filed under: Metode Thursday Jun 12. hemm. Produk inilah yang berusaha mereka tafsirkan dalam bahasa keilmuan modern.

Tujuan Pengajaran Belajar bahasa ibu (bahasa bawaan -edt) merupakan tujuan yang hidup. walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. prinsip koreksitas dan umpan balik. struktur kata. kemudian kemampuan menirukan ucapan. mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian. Ketiga. B.Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam.Kemampuan dasar yang dimiliki Ketika anak kecil belajar bahasa ibu. otaknya masih bersih dan belum mendapat pengaruh bahasa-bahasa lain. 1. -edt) peserta didik. yaitu sebagai alat komunikasi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dalam hidupnya. Misalnya: ‫ . maupun bahasa berpikirnya. Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa. oleh karena itu ia cenderung dapat berhasil dengan cepat. pada umunya mempunyai tujuan sebagai alat komunikasi dan ilmu pengetahuan (kebudayaan). serta korelasi dan isi. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Padahal besar kecilnya motivasi belajar Bahasa Arab mempengaruhi hasil yang akan dicapai. pertama. kemampuan dasar yang dimiliki. ii. iii.Guru bahasa asing kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya. dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah). mengajarkan. baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. baik sistem bunyi. Namun bahasa asing tidak dijadikan sebagai bahasa hidup seharihari. oleh karena itu motivasi untuk belajarnya sangat tinggi. ض‬dan seterusnya. ه – ح. yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. tulis. struktur kalimat maupun sistem bahasa berpikirnya1. menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.Selanjutnya materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa indonesia. 2. prinsip bertahap. seperti bahasa Arab (bagi non Arab). mendengarkan. 1)Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. Sementara itu belajar bahasa asing. ذ. prinsip penghayatan. Sementara ketika mempelajari Bahasa Arab. baik lisan. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati secara kolektif. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia2. ء – ع س– ش. Ada beberapa teknik melatih pendengaran/telinga.yaitu: i.Prinsip prioritas Dalam pembelajaran Bahasa Arab. dan bercakap sebelum menulis. seperti: ‫ خ. motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya. ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran.competence/mahaarah al-qira’ah). oleh karena itu motivasi belajar Bahasa Arab lebih rendah daripada bahasa ibu. Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkahlangkah berikut4. lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis.Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Arab (asing) Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing. yaitu. ز – ذ‬dan seterusnya3. Kedua. ia telah lebih dahulu menguasai bahasa ibunya. ص. 1. . Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab tentu lebih sulit dan berat. ث. karena ia harus menyesuaikan sistem bahasa ibu kedalam sistem bahasa Arab.

bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal).. baik jumlah jam maupun materinya. 2)Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa Dalam mengajarkan struktur kalimat. sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja. dari yang global ke yang detail. dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. بو‬dan seterusnya. korektisitas dalam pengajaran (semiotic). baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya. Oleh karena itu. b. maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik5. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan karena kejelasan petunjuk. maupun panjang pendeknya. cara berhenti. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. a. Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik. dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek). Misalnya : ‫ بى. dalam bahasa Arab.Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing. Contoh: ‫اشتريت سيارة صغيرة بيضاء‬ ‫ مستعملة مصنوعة في اليا بان‬Kemudian dipenggal – penggal menjadi : ‫اشتريت سيارة اشتريت سيارة صغيرة‬ ‫ اشتريت سيارة صغيرة بيضاء‬Dan seterusnya. ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya. . ‫( التراكب‬sintaksis). sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu.Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau katakata untuk menirukan intonasi. Korektisitas ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab.Korektisitas dalam pengajaran semiotik Dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama. pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak.Prinsip korektisitas (‫ )الدقة‬Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi ‫الصوات‬ (fonetik). yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). 3. ii. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu.Korektisitas dalam pengajaran fonetik Pengajaran aspek keterampilan ini melalui latihan pendengaran dan ucapan. yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja ( ‫ . Kedua. Tetapi. 2.Korektisitas dalam pengajaran sintaksis Perlu diketahui bahwa struktur kalimat dalam bahasa satu dengan yang lainnya pada umumnya terdapat banyak perbedaan. korektisitas dalam pengajaran (sintaksis). korektisitas dalam pengajaran (fonetik).Prinsip Berjenjang ( ‫ )التدرج‬Jika dilihat dari sifatnya. a. guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. ب. Oleh karena itu. با. ada 3 kategori prinsip berjenjang.i. Ketiga.Jenjang Pengajaran mufrodat Pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik. yaitu: pertama. Selanjutnya memberikan materi kata sambung. Kedua. hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu. kemudian dilatih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang dan kemudian dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. Misalnya.) فعل‬c. Ketiga. dan ‫( المعانى‬semiotic).

Tahapan pengajaran makna ( ‫ )دللة المعانى‬Dalam mengajarkan makna kalimat atau kata-kata.Metode Pengajaran Bahasa Arab Ibnu khaldun berkata. bundar-persegi. pelatihan melalui pendengaran sebelum melalui penglihatan. Metode pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara . metode modern. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran. 8. sehingga menjadi cakap dan professional. agar meraka merasa terlibat langsung dengan proses pengajaran yang berlangsung.Jangan memberikan contoh hanya satu kalimat saja. dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat. Oleh karena itu. 2. yaitu: pertama. Langkah-langkah aplikasi ( ‫ )الصلبة والمتا نة‬Ada delapan langkah yang diperlukan agar teknik diatas berhasil dan dapat terlaksana. pelatihan lisan/pelafalan sebelum membaca.b. fi’il. yaitu: 1. 4.Ketika mengajarkan huruf jar dan maknanya. seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian meraka.” Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. “Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan. Misalnya hitam-putih. karena contoh yang baik akan menjelaskan gramatika secara mendalam daripada gramatika saja. 3. Kedua. bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan.الكتاب في الصندوق‬Contoh jumlah fi’iliyah : ‫خرج الطاب من الفصل‬ 7. Ketiga. lisan bahkan mungkin ekspresi wajah.Peserta didik diberikan motivasi yang cukup untuk berekspresi melalui tulisan. harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah). tetapi harus terdiri dari beberapa contoh dengan perbedaan dan persamaan teks untuk dijadikan analisa perbandingan bagi peserta didik. dan huruf. Dilihat dari teknik materi pengajaran bahasa Arab. c.Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid. keterampilan. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic.Ketika mengajarkan kata sifat hendaknya menyebutkan kata-kata yang paling banyak digunakan dan lengkap dengan pasangannya.Mulailah contoh-contoh tersebut dengan menggunakan kata kerja yang bisa secara langsung dengan menggunakan gerakan anggota tubuh. tahapan-tahapannya dapat dibedakan sebagai berikut: pertama. C. Contoh Jumlah ismiyyah: ‫ . 5. metode tradisional/klasikal dan kedua.Mulailah contoh-contoh dengan sesuatu yang ada di dalam ruangan kelas/media yang telah ada dan memungkinkan menggunakannya. baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. sebaiknya dipilih huruf jar yang paling banyak digunakan dan dimasukkan langsung ke dalam kalimat yang paling sederhana.Hendaknya tidak memberikan contoh-contoh yang membuat peserta didik harus meraba-raba karena tidak sesuai dengan kondisi pikiran mereka. strategi dan ketelatenan.Memberikan contoh-contoh sebelum memberikan kaidah gramatika. penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode. jika tidak tepat aplikasinya. Secara sederhana. namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim. penugasan kolektif sebelum individu. metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya. 6.

baik aspek gramatika/sintaksis (Qowaid nahwu). Kedua kemampuan ilmu nahwu dianggap sebagai syarat mutlak sebagai alat untuk memahami teks/kata bahasa Arab klasik yang tidak memakai harakat. bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia. al – itnab at Tasbi’ al Istiarah yang merupakan tren / gaya bahasa masa klasik. dan tanda baca lainnya. tujuan pengajaran bahasa arab tampaknya pada aspek budaya/ilmu. morfem/morfologi (Qowaid as-sharf) ataupun sastra (adab). a. terutama mengenai penggunaan model gaya bahasa. b. Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al – mubasysyarah).Penghayatan yang mendalam dan rinci terhadap bacaan sehingga peserta didik memiliki perasaan koneksitas terhadap nilai sastra yang terkandung di dalam bacaan. Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup.Guru memberikan kosa kata baru dan menjelaskan maknanya ke dalam bahasa local/bahasa ibu sebagai persiapan materi pengajaran baru. sehingga kemampuan di bidang itu memberikan “rasa percaya diri (gengsi) tersendiri di kalangan mereka”. Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. seperti bentuk kata kiasan. bidang tersebut merupakan tradisi turun temurun.Metode Qowa’id dan tarjamah (Tariiqatul al Qowaid Wa Tarjamah) Penerapan metode ini lebih cocok jika tujuan pengajaran bahasa Arab adalah sebagai kebudayaan. Ciri metode ini adalah: a. b. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad. maupun kiasan-kiasan (amtsal). naskah (prosa). Penjelasan: 1. dan meminta peserta didik menganalisis dengan kaidah gramatikal yang sudah diajarkannya (mampu menerjemah bahasa ibu ke dalam Bahasa Arab) e. terutama nahwu dan ilmu sharaf.Memberikan perhatian besar terhadap kata-kata kunci dalam menerjemah. c. bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern.Peserta didik diajarkan membaca secara detail dan mendalam tentang teks-teks atau naskah pemikiran yang ditulis oleh para tokoh dan pakar dalam berbagai bidang ilmu pada masa lalu baik berupa sya’ir. (bahasa Arab – bahasa ibu).mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab.Peserta tidak diajarkan menulis karangan dengan gaya bahasa yang serupa / mirip. terutama buku Arab klasik11.Guru mulai mendengarkan sederetan kalimat yang panjang yang telah dibebankan kepada peserta didik untuk menghafalkan pada kesempatan sebelumnya dan telah dijelaskan juga tentang makna dari kalimat-kalimat itu. sinonim. Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut adalah Metode qowaid dan tarjamah. yaitu untuk mengetahui nilai sastra yang tinggi dan untuk memiliki kemampuan kognitif yang terlatih dalam menghafal teks-teks serta memahami apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisan atau buku-buku teks. d. . Ketiga. oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa. dengan gaya bahasa yang dipakai para pakar seperti pada bacaan yang telah dipelajarinya.Menitikberatkan perhatian pada kaidah gramatika (Qowa’id Nahwu/Sharaf) untuk menghafal dan memahami isi bacaan. khususnya pesantren salafiah masih menerapkan metode tersebut. Hal ini didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: Pertama. sehingga inti belajar bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapan/ungkapan dalam bahasa Arab. kata mutiara (alhikam). Aplikasi Metode Qowa’id dan tarjamah dalam proses pembelajaran. Artinya.

al – Mishriyah.Materi menulis diajarkan dengan latihan menulis kalimat sederhana yang telah dikenal/diajarkan pada peserta didik. baik dalam menjelaskan makna yang terkandung di dalam bahan bacaan ataupun jabatan setiap kata dalam kalimat. 1983. Cet. d. Thuruqu Ta’alim al – Lughah al – ‘Arabiyah. metode ini memerlukan halhal berikut.Jassem Ali Jassem. dar al – Kitab al – Ubnany. Kaira: tnp. d. 6.. Perlu menjadi bahan revisi disini adalah bahwa dalam metode langsung. oleh karena itu dalam aplikasinya. Adapun bagi bagi seorang siswa. Nazhriyaat Hal Lughah. e. 1973. (Kuala Lumpur : .namun tidak secara mendetail. 1961. bahwasanya belajar bahasa apapun.Materi Qiro’ah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab.c.Setelah itu siswa yang dianggap paling bisa untuk menterjemahkan.Materi dilanjutkan dengan latihan penuturan kalimat sederhana dengan menggunakan kalimat yang merupakan aktifitas peserta didik sehari-hari.Anis Farihah. kemudian selanjutnya diarahkan pada pemahaman struktur gramatikanya12.Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara Tanya jawab dengan guru/sesamanya. semuanya membutuhkan proses. a. baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah. Kairo . Thuruqu Ta’lim al – Lughah al – ‘arabiyah Li al – Ajanib. Daftar Pustaka 1.Selanjutnya guru meminta salah satu peserta didik untuk membaca buku bacaan dengan suara yang kuat (Qiroah jahriah) terutama menyangkut hal-hal yang biasanya peserta didik mengalami kesalahan dan kesulitan dan tugas guru kemudian adalah membenarkan. Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah. 2. (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media). Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah. Thuruqu Tadris al – Lughah al – ‘Arabiyah Wa al – Tarbiyah al – Diniyah.Ahmad Syalaby. g.Materi dilanjutkan dengan latihan menuturkan kata-kata sederhana. 5. baik kata benda ( isim) atau kata kerja ( fi’il) yang sering didengar oleh peserta didik. bahwa alur makalah ini lebih menekankan tentang pentingnya: Seorang guru (pendidik) sebaiknya memahami prinsip – prinsip dasar pengajaran bahasa Arab diatas sebagai bahasa asing dengan menggunakan metode yang memudahkan peserta didik dan tidak banyak memaksakan peserta didik ke arah kemandegan berbahasa. 2. Tarikh al – Tarbiyah al – Islamiyah. f. e.Ahmad al – Sya’alabi.Metode langsung (al Thariiqatu al Mubaasyarah) Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu. Beirut.Ibrahim Muhammad ‘Atha. 1979.Selama proses pengajaran hendaknya dibantu dengan alat peraga/media yang memadai. Ta’lim al – Lughah al ‘Arabiyah lighairi al – ‘Arab. Penutup Sebagai penutup. Kairo 1996 M / 1416 H. Kaira . bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran dengan menekankan pada aspek penuturan yang benar ( al – Nutqu al – Shahiih). h. 4. 11.Materi gramatika diajarkan di sela-sela pengajaran. Maktabah al – Nahdah. dar al – Kitab al – Ubnany. 3. c.Materi pengajaran pada tahap awal berupa latihan oral (syafawiyah) b.Abdurrahman al – Qadir Ahmad. banyak latihan dan banyak mencoba.Kegiatan membaca teks ini diteruskan hingga sekuruh peserta didik mendapat giliran.

Global Pustaka Utama. memperoleh pendidikan dan kesehatan serta memperoleh kesempatan bekerja.Munir. Pengajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing. Global Pustaka Utama.. Rekonstruksi dan Modernisasi Pendidikan Islam. Nadzkarah Asas al – Ta’lim al – Lughah al – ajnubiyah. karena itu ia berhak untuk memperoleh pendidikan. kesehatan. berbicara dan melakukan kegiatan lain sesuai dengan keahlian dan profesinya. sedangkan peran (role) adalah aspek dinamis dari status tersebut.Ag. Peran Manusia hidup di tengah-tengah masyarakat. maka ia tengah menjalankan suatu peran. yang terkumpul dalam buku yang berjudul Rekonstruksi dan Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam. 9.Muhammad Jawwad Ridla. sehingga memberikan kemungkinan bagi terwujudnya berbagai status sosial dan peran dalam masyarakat tersebut. Darul Huda.T Tiara Wacana. 2005 . LIPIA. Definisi Opersasional 1. P. Sebagai pribadi. Yogyakarta: 2005.A. ia berkewajiban untuk menghormati dan memberikan kebebasan kepada orang lain untuk berkarya dan berprestasi sesuai dengan profesinya. ia memiliki hak untuk memperoleh kehormatan dan kebebasan dari orang lain. Seseorang yang melaksanakan hak. 1996). dkk. Jakarta. . M.Munir M.. tidak bisa lepas dari kedudukannya sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.S Noorden. kewajiban dan tujuan-tujuannya sesuai dengan status sosialnya. Yogyakarta: 2002. Tetapi sebagai anggota masyarakat.Ag. Terjadinya sistem ini salah satu penyebabnya adalah adanya sesuatu yang lebih dihargai dari yang lain. pekerjaan. 1406 H 8. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (perspektif sosiologifilosofis). Yogyakarta. bekarya. selalu dijumpai adanya sistem pelapisan sosial.Kamal Ibrahim Badri dan Mahmud Nuruddin. 1996. Skripsi.Munir. 10. Proses bermasyarakat. Nizhamu Ta’lim al – Lughah al – ‘Arabiyah fi al – Ma’had al – Islamiyah. 11. 7. Status adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat.

Dalam . pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) diartikan sebagai. 4. Taufiq Abdullah (1993:43) mengemukakan bahwa padanan kata kiyai dengan keadaan masyarakat Indonesia yang plural ini yaitu kata ‘alim (bahasa Arab) yang berarti orang yang berilmu. Hawkins (1996:234) menuliskan. “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan. Cs melalui Individual in Society (1962:69) yang mengemukakan. Orientasi Orientasi. “dalam suatu pranata. Pada hakekatnya kedudukan-kedudukan tersebut merupakan suatu komplek dari kewajiban-kewajiban dan hak-hak dari individu-individu yang menempatinya. otopraksi dan kharismanya. Sedangkan Joyce M. seseorang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan. sebagai pengelola pondok pesantren dalam mengikuti perkembangan dan kemauan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kesediaan sarana fasilitas. Susanto (1977:94) mengutip pendapat Laurance Ross tentang role sebagai dinamisasi dari status atau penggunaan hak dan kewajiban. Aron Quinn (1958:46) mengartikannya sebagai “complex state with in a organisme that direct behaviour toi ward a goal” yakni suatu keadaan yang sifatnya kompleks pada sebuah sistem organisme dalam mencapai tujuan. karena motivasinya berupaya dan bekerja keras sehingga tercapai apa yang diinginkannya. Dengnan demikian yang dimaksud dengan kiyai pada tulisan ini ialah. Kiyai Pada umumnya. Juga karena ia memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan dan mempraktekannya. pengajaran. Seseorang. yang dimaksud perubahan orientasi pendidikan yaitu upaya yang dilakukan kiyai. dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. 3. motivasi adalah goal directed yaitu dorongan yang tumbuh karena ada tujuan yang ingin dicapai pada diri individu maupun kelompok ke arah untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap tinggi. masyarakat memanggil seseorang dengan panggilam kiyai adalah karena kedudukannya sebagai pemimpin masyarakat karena sering menjadi imam peribadatan keagamaan di mushalla/masjid atau kegiatan keagamaan di majlis ta’lim atau pondok pesantren. tetapi hasil dari motivasi dapat dibuktikan melalui manifestasi. bentuk jamaknya yaitu kata ‘ulama yang berarti sekumpulan atau sekelompok orang yang berilmu dari berbagai latar belakang pengetahuan. Bahkan David Krech. “orientasi adalah penyesuaian diri terhadap obyek”. “peran adalah keseluruhan pola perilaku seseorang yang bertalian dengan status tertentu yang diharapkan oleh masyarakatnya”. disebut role. Harsoyo (1972:124) mengemukakan. Dengan demikian. Lebih jauh Koentjoroningrat (1974:121) mengemukakan. 1. yang disebut status”. dijadikan panutan masyarakat dan dipercaya menjadi pemimpin pada suatu lembaga pendidikan keagamaan karena ‘alim. Berkaitan dengan pengertian kiyai. “the study of the direction and persitence of actrion is the study of motivation” yakni studi tentang dorongan untuk mengarahkan dan mempertahankan perbuatan adalah studi tentang motivasi. “upaya mencocokkan keadaan sesuai dengan petunjuk”. Motivasi Motivasi merupakan sesuatu yang dianggap abstrak. individu-individu yang terlibat di dalamnya selalu menempati kedudukan-kedudukan tertentu. Pendidikan dan Pendidikan Islam Di dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (1989:2) dikemukakan bahwa. Pada tulisan ini. Kaitan dengan motivasi.Astrid S. adapun segala cara bertingkah laku dari individu-individu untuk memenuhi kewajiban dan mendapatkannya tadi. 2.

mendalami. Kaitannya dengan pendidikan Islam. melainkan ilmu pengetahuan umum atau kejuruan dan keterampilan juga diajarkan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah. Karenanya. setelah penulis mempelajari dan mengikuti perkembangan dunia pesantren pada dua dasawarsa terakhir ini yang tidak hanya dikelola secara tradisional. juga telah ada sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat. Serta bagaimana peran kiyai dalam membentuk kepribadian santri. suka menolong). . menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan penekanan terhadap pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. berilmu dan mengamalkannya. memahami. Pendidikan berlangsung di pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan unsich. baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis. Terhadap kedua lembaga pendidikan yang terakhir. Dengan demikian. maka usaha yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan adalah membentuk kepribadian muslim (Zakiyah Derajat. Secara teoritis. penelitian ini mengemukakan bahwa Pondok Pesantren tidak seperti apa yang diduga oleh sebagian masyarakat yaitu scond class dalam pendidikan. kurikulum yang digunakan adalah di samping kurikulum nasional juga diberikan kurikulum lokal yang dirancang dan disesuaikan dengan tujuan pesantren. E. sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia yang baik-baik. Di beberapa pondok pesantren tertentu yang dikelola secara modern melibatkan beberapa tenaga profesional. Pondok Pesantren Pondok pesantren. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi pembaca. Manfred Ziemek (1986) menuliskan bahwa pesantren merupakan gabungan antara suku kata sant (bahasa sankrit. merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yang berbeda yaitu pondok dan pesantren. 6. Pernyataan tersebut dikemukakan. manusia baik) dan suku kata tra (bahasa sankrit. Ke semua lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan itu dalam dalam upaya untuk merubah perilaku subyektiv menjadi perilaku yang obyektiv sesuai dengan norma dan petunjuk nilai yang berlaku di lingkungan masyarakat. Lembagalembaga pendidikan yang bersifat umum dan kedinasan. yang dimaksud pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional Islam yang di dalamnya sebagai tempat para santri untuk mempelajari. Untuk menemukan model pendidikan seperti ini. sehingga lembaga pendidikan yang ada tidak hanya lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang lebih mengutamakan pemahaman dan penguasaan al-quran dan KK. tenaga pendidikannya juga disesuaikan dengan mata pelajaran yang disampaikan. baik sarananya maupun mutu pendidikannya.pelaksanaannya. Kata pondok. ingin memperoleh gambaran tentang model sistem pendidikan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet yang mungkin dapat diterapkan di beberapa pondok pesantren lain. masyarakat dan pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. dalam bahasa Arab funduq artinya ruang tidur atau “asrama sederhana” karena memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. usaha menyiapkan peserta didik itu dilakukan oleh keluarga. 1983:27) yaitu manusia yang beriman. akan dilihat bagaimana peran kiyai yang dianggap lebih dominan itu dan bagaimana interaksi dengan semua komponen lainnya dalam proses pendidikan. F. Sedangkan pesantren berasal dari kata santri yang memperoleh awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat para santri.

pendidikan umum (tarbiyah al-‘ammiyah) dan pendidikan kejuruan (tarbiyah al-khashiyah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa. G. Implikasi dari perubahan (dari suatu sistem kelembagaan tertutup menjadi lembaga pendidikan terbuka) adalah. Inilah yang dimaksud Mastuhu (1994:21) bahwa.Melalui ketiga bentuk lembaga pendidikan itulah sehingga seorang santri. kiyai di Pondok Pesantren Buntet tidak pernah berhenti mengupayakan bentuk dan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. kurikulum dan metode pengajaran yang tidak hanya ala tradisional yakni sorogan. pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan lembaga sosial yang selalu adaptif terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di . Kenyataan ini menggambarkan bahwa. sistem tradisional juga tetap dipertahankan yaitu pengajian al-quran dan beberapa KK dan praktekpraktek peribadatan yang diajarkan dan diperintahkan oleh kiyainya yaitu mengamalkan ‘amalan dzikir dari thariqat tijaniyah dan syathariyah sebagaimana yang dilakukan para kiyainya. pondok pesantren menjadi suatu sistem atau lembaga pendidikan terbuka yang mau menerima input dan menyesuasikan diri dengan perkembangan dan keinginan masyarakat luas. Setelah memperoleh kedua manfaat tersebut. pesantren berusaha mewujudkan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan kemampuan yang ada. perannyapun tidak hanya dalam bentuk keagamaan melainkan juga masalah-masalah sosial lainnya. Maju atau mundurnya lembaga ini sangat bergantung atau dipengaruhi kiyainya. Sejak itu. minimal pembaca akan mempertimbangkan kembali dugaan yang salah tentang pesantren sebagai lembaga pendidikan scond class. Di samping itu. dan hanya dikenal di kalangan atau lingkungan setempat. fungsi lembaga ini berubah yaitu mulai menyiapkan diri beberapa perlengkapan sebagaimana perlengkapan yang ada pada lembaga pendidikan sekolah yaitu bentuk kelembagaan yang menerapkan sistem kelas. diharapkan model dan sistem Pendidikan Pesantren Buntet akan dijadikan sebagai panduan bagi masyarakat dalam pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan (kognitiv). Sedangkan secara praktis. di pesantren Buntet telah mendirikan tiga bentuk lembaga pendidikan yaitu: pendidikan keagamaan (tarbiyah al-diniyah). walaupun ia belajar pada lembaga pendidikan umum tapi ia memperoleh pengetahuan keagamaan di samping dari lembaga pendidikan yang dimasukinya juga memperoleh pengetahuan keagamaan dari pondok pesantren melalui pengalaman peribadatan. beberapa pesantren tertentu yang dipimpin kiyai-cendekiawan muslim mulai memperoleh perhatian masyarakat luas sejak awal abad ke-20. Keberadaan pesantren saat itu bersifat tertutup dan peranya pun masih terbatas kepada persoalan keagamaan bagi masyarakat lingkungannya saja. Hingga tahun ajaran 1999/2000 ini. “pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bercirikan grass root people yang telah tumbuh dan berkembang di Nusantara sejak 300-400 tahun yang lalu”. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa. Dalam bentuk pelayanan pertama. pada awal berdirinya merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional (salafy) yang fungsi dan tujuannya adalah sebagai tempat untuk mengembangkan dan/atau syi’ar islamiyah. pesantren menyajikan beberapa sarana bagi perkembangan para santrinya. penelitian ini berusaha mengemukakan tentang model dan sistem pendidikan yang diupayakan oleh para kiyai atau pembina Pondok Pesantren Buntet. Di samping itu. usaha dan kegiatan yang dilakukan pondok pesantren secara garis besar dapat dibedakan atas dua fungsi pelayanan yaitu: pelayanan kepada santri dan pelayanan kepada masyarakat Suyata dalam Dawam Rahardjo (1985: 16). sedangkan bentuk pelayanan kedua. sikap (attitude) dan mental serta keterampilan (skill). Perkembangan berikutnya. Kerangka Pemikiran Pesantren. bandongan dan halaqah.

Pemimpin pondok pesantren dimaksud adalah kiyai yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren yang dipimpinnya. Berpatokan kepada ketiga dasar keyakinan di atas maka dapat diyakini bahwa. Kedua ilmu pengetahuan dimaksud adalah ilmu pengetahuan keagamaan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan pondok pesantren dan ilmu pengetahuan umum atau keterampilan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan sekolah yang dimasukinya. Pemahaman secara kontekstual yang dipilih masyarakat. sangat ditentukan oleh seorang pemimpin pondok pesantren yang memiliki ilmu pengetahuan keagamaan yang luas. Selama ini.lingkungannya. akan melahirkan semangat kreativ-inovativ sesuai dengan persoalan yang sedang berkembang. perubahan yang terjadi di pondok pesantren sangat penting artinya karena dapat mempengaruhi kurikulumnya. 1984]) terdapat perbedaan yang mendasar: pondok pesantren dalam pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan. cenderung menggunakan pola kedua (pemahaman secara kontekstual). apalagi jika dikaitkan dengan usaha-usaha untuk membuktikan kebaikan dari inovasi itu dalam sistem kehidupan masyarakat lingkungan pondok pesantren khususnya. Sifat adaptif itu diwujudkan dalam bentuk penerapan kurikulum yang diperlukan untuk mengantisipasi tuntutan dan perkembangan. Ada tiga dasar keyakinan yang kondusif untuk dijadikan sebagai landasan akan pentinnya memperhatikan sifat adaptif kurikulum terhadap perubahan yaitu: 1) perubahan yang terjadi sifatnya positif. Misi dari penggabungan kedua sistem pendidikan itu. sedangkan pesantren yang tengah berusaha menerapkan kurikulumnya sesuai dengan keinginan masyarakat. antara pondok pesantren dengan masyarakat dalam pemahaman terhadap suatu nilai (ketetapan sikap dan perilaku [Salvanayasan. Di samping itu. 1992:216). Pola pemahaman pertama (pemahaman terhadap nilai secara tekstual) biasanya dilakukan oleh beberapa pesantren tradisional. lebih bersifat tekstual sedangkan masyarakat lebih bersifat kontekstual. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini GAMBAR 1 KONSEP PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN BUNTET . 2) perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah cenderung sifatnya terus menerus (kontinue) dan 3) perlunya usaha untuk menyempurnakan rencana-rencana yang disusun oleh lembaga atau pendidik. memahami betul tentang kurikulum pendidikan sekolah juga diterima oleh masyarakat terutama karena kewibawaan dan kesalehannya. karena terjadinya proses adopsi terhadap suatu inovasi (Cuban. Perkembangan dengan pola kedua ini cukup kondusiv untuk menopang proses inovasi. Salah satu visinya yang prospektif dan memenuhi tuntutan masyarakat adalah memadukan dua sistem pendidikan yang berbeda yaitu sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan pondok pesantren. memberikan arah dan tujuan jangka panjang kepada para santrinya agar memperoleh dua ilmu pengetahuan sekaligus dalam satu saat yang bersamaan. Untuk menerapkan pola kedua. pemahaman secara kontektual juga dapat memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk melakukan interpretasi atau reinterpretasi terhadap suatu nilai yang bersifat tektual untuk mengadaptasi persoalan-persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat.

BAB II . apa motivasi kiyai dan bagaimana perannya dalam menentukan orientasi pendidikan Islam yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet dalam upaya memadukan dua sistem pendidikan yaitu pendidikan luar sekolah (sistem pendidikan pesantren) dan pendidikan sekolah melalui beberapa lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang telah ada di lingkungan pondok pesantren Buntet Cirebon.Be ntu k da Feed back n Jen is Pe ndi dik an Berdasarkan gambar di atas. maka persoalan besar yang harus dijawab dalam penelitian ini adalah.

setelah menjadi besar dan terkenal. namun mereka benarbenar mandiri. doadoa pendek untuk shalat fardlu dan belajar KK pemula (elementary). Jadi. pondok pesantren tetap memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan pemerintah desa di sekitarnya melalui pendidikan agama. murid)nya disediakan “tempat singgah” atau pemondokan.ada yang membangun kamar-kamar pondokan di dalam atau di luar lingkungan pesantren dengan dilengkapi tempat tidur dan bahkan sarana hiburan Radio-Tape-TV. sebagian dari mereka –baik secara perorangan maupun berkelompok. Rumah kiyai.KAJIAN PUSTAKA A. Keadaan seperti di atas dapat diperhatikan dari perkembangan dan kemajuan pondok pesantren yang tidak bisa dipisahkan dari perubahan dan kemajuan ekonomi masyarakat. santri muqim yang baru pun bekerja pada masyarakat sekitar pondok pesantren untuk menghidupi mereka sendiri secara sederhana. kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Pemisahan struktural antara pondok pesantren dengan pemerintah desa tidak berarti pisahnya hubungan fungsional di antara keduanya. Atau sebaliknya. Sistem Pendidikan Pesantren 1. dengan bantuan para santri. keberadaan pondok pesantren pada mulanya hanyalah lem-baga keagamaan yang sangat sederhana yaitu salah satu kamar atau rumah kiyai dijadikan pondok bagi santri yang datang untuk belajar ilmu keagamaan dan menauladani sikap dan perkataan kiyai. kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi. Secara historis. perkembangan dan kemajuan ekonomi masyarakat. biasanya berdekatan dengan mushalla atau mungkin mushalla itu miliknya. Seperti halnya santri muqim yang lama. . dzikir atau wirid (mengucap kalimat-kalimat pujian pada Allah dan Rasul-Nya). mereka datang dengan membawa bekal yang lengkap dan sangat cukup. Ketika jumlah santri muqim semakin bertambah. Gambaran di atas menginformasikan bahwa keberadaan pondok pesantren pada awal keadaannya tidak bisa lepas dari dukungan dan perhatian masyarakat desa. kiyai mengembangkan bangunan sederhananya itu untuk tempat tinggal bagi para santri baru. sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dalam bentuk klasikal. pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam nonklasikal di mana peserta didik (santri. Peserta pengajian di mushalla. Karenanya. Ketika pondok pesantren masih kecil dan belum terkenal. perkembangan fisik maupun fasilitasnya berada di bawah pengaruh dan/atau tanggung jawab pemerintah desa. Di dalam mushalla itulah berlangsungnya shalat fardhu berjamaah. tidak menetap di dalam mushalla. membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan pola kehidupan pondok pesantren. Santri yang datang jumlahnya semakin banyak tapi bukan dari kalangan masyarakat miskin. selain para santri muqim (santri yang tinggal di mushalla) juga anak-anak dari masyarakat sekitar pondok pesantren. Bagi santri yang berasal dari keluarga miskin dan rumahnya cukup jauh. Sejarah Pondok Pesantren Pondok pesantren merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata Pondok dan Pesantren. Pondok dalam bahasa Arab funduk berarti tempat singgah. Tapi. pondok pesantren berusaha mandiri dan lepas dari ketergantungannya kepada pemerintah desa. tadarrus dan mengaji atau belajar dasar-dasar al-quran. Peserta pengajian yang disebut terakhir ini adalah santri kalong yang hanya mengikuti pengajian kepada kiyai setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing. maka di mushalla itu mereka bertempat tinggal.

agar pondok pesantren melakukan serangkaian penyesuaian guna mempertahankan eksistensinya sekaligus menjawab tantangan yang di hadapinya. juga di Madrasah Tawalib di Sumatera Barat. Bergesernya sistem tradisi pondok pesantren mulai tampak ketika di beberapa pondok pesantren besar dan terkenal terjadi perkembangan dan perubahan sistem secara besar-besaran. Jawa Timur). perubahan dan perkembangan metode mengajar. UAS ataupun catur wulan dilaksanakan secara formal pada sistem madrasi. ekonomi dan politik bahkan tidak sedikit kiyai atau pengasuh pondok pesantren tertentu aktif di organisasi masyarakat Islam ataupun organisasi sosial-politik. . selain diberlakukan sistem perjenjangan yang jelas. Perkembangan dan perubahan metode mengajar terjadi dari sistem salafi ke sistem madrasi. kiyai atau qayyim dalam proses pengajaran KK-nya menggunakan metode khas pesantren yaitu metode sorogan (bimbingan individual) dan bandongan atau halaqah (semacam ceramah umum). Pada saat inilah pondok pesantren mulai mendapatkan banyak tekanan yang “memaksakan”. karena masing-masing santri menentukan sendiri kemajuannya dengan menunjukkan penguasaannya beberapa KK kepada kiyai secara perorangan. perubahan dan Perkembangan kurikukum. Pada sistem madrasi. evaluasi dalam bentuk post tes. Steenbrink (1986:102) mengemukakan. Kenyataan inilah sehingga membuat kemandirian pondok pesantren dinilai masyarakat kritis semakin memudar. UTS. Hasil penelitian Karel A. Di bawah ini adalah contoh tipe pondok pesantren yang status kelembagaannya berada di bawah naungan Yayasan yaitu 1) Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (Jakarta) dan 2) Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Ibrahimiyah (Situbundo. Kedua. Untuk memenuhi tuntutan fihak eksternal. melainkan metode-metode lain seperti metode tanya jawab. sebagai upaya untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan prestasi siswa. diskusi. Tidak hanya itu perubahan yang terjadi pada pondok pesantren.Keadaan sosial-ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga orang tua santri menuntut pesantren mengikuti perkembangan jaman yaitu tidak hanya mengajarkan materi ilmu-ilmu keagamaan melainkan Iptek dan keterampilan juga saatnya disampaikan. Perkembangan ini tampaknya mengundang minat dan perhatian positif dari berbagai fihak kepada pondok pesantren. proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas juga metode yang digunakan ustadz (guru) dalam menyampaikan materi pelajarannya tidak hanya metode ceramah. Perkembangan dan perubahan itu meliputi tiga hal yaitu: 1) perkembangan kurikulum. Dalam sistem salafi. Perubahan dan perkembangan kelembagaan. Pada sistem salafi. Pertama. Karena pesantren telah berlindung dan/atau menjadi yayasan. di beberapa pesantren terkenal telah mema-sukkan kurikulum Barat (Belanda khususnya) ke dalam pendidikan agama sebagaimana yang dilakukan Pesantren “Mamba’ul Ulum” di Surakarta. maka wajar jika para teknokrat dan birokrat masuk ke dalam “dunia pesantren” sehingga posisi kiyai cukup dijadikan sebagai simbol. pre tes. pesantren sejak 1960-an terjadi perkembangan baru yaitu melembagakan diri dalam bentuk yayasan. Karenanya wajar jika sistem salafi dikategorikan sebagai sistem pendidikan nonformal yakni tidak “beraturan” jika dibandingkan dengan pengajaran yang diselenggarakan melalui sistem madrasai. Ketiga. tidak ada pembagian tingkat kemajuan belajar. bergeser dari sistem tradisional (sistem salafi) menjadi sistem modern (sistem madrasi). Hadimulyo yang penda-patnya diedit Dawam Rahardjo (1986:104) mengemukakan. dan 3) perkembangan kelembagaan. beberapa pondok pesantren tertentu membuka lembaga pendidikan berupa madrasah. aktifitas guru dan peningkatan materi pelajaran berikutnya. 2) perkembangan penggunaan metode pembelajaran. sosiodrama juga digunakan. sekolah dan unit-unit klasikal lain. lebih jauh pondok pesantren terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dalam berbagai kegiatan sosial.

Asy-Syafi’iyyah menjadi Yayasan sejak tahun 1963. Rumah penginapan tamu (orang tua dan tamu umum). pondok pesantren tidak semata-mata merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang mencetak santri menjadi ‘alim-‘ulama tetapi juga sekaligus sebagai lembaga sosial kemasyarakatan yang berusaha memajukan status sosial keagamaan. Pesantren terdiri dari masjid. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (PP Salafiyah Syafi’iyyah) PP. di samping ada madrasah. MTs/SLTP. pondok. pondok. MI. pondok dan madrasah Pesantren ini telah memakai sistem klasikal. Perpustakaan. universitas. kiyai mempergunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk mengajar. kerajinan rakyat. kependidikan. MTs. MI/SD. Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (PP. MA. 6. Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dengan tiga Fakultas: Dakwah. Kasntor 5. Sudjoko Prasodjo. Di samping itu. Pesantren yang terdiri dari masjid. dkk (1982:8384) melaporkan hasil penelitiannya menemukan lima macam pola pesantren dari yang paling sederhana sampai yang paling maju. PP Asy-Syafi’iyah memiliki Pemancar Radio. gedung pertemuan. Dalam pola ini. Berdasarkan perubahan dan perkembangan pesantren di atas. di samping elemen-elemen pesantren sebagaimana pola III juga terdapat tempattempat untuk latihan keterampilan umpamanya: peternakan. lima buah SLTP dan tiga buah SMU. Pesantren terdiri dari masjid. Tarbiyah dan Ekonomi dan Sekolah Tinggi Wiraswasta. Pesantren terdiri dari masjid dan rumah kiyai Pesantren ini masih bersifat sangat sederhana. toko sebagai salah satu unit Koperasi dan Perpustakaan. Dalam pola ini. Pesantren ini. Pesantren terdiri dari masjid. 3. mushalla. santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri. rumah kiyai dan pondok Dalam pola ini. Dapur umum. bangunan-bangunan yang disebutkan itu mungkin terdapat pula bangunan-bangunan lain seperti: 1. Kelima pola pondok pesantren dimaksud adalah sebagai berikut: Pola I.1. Asy-Syafi’iyyah) Jakarta PP. MA/SMU dan Universitas Ibrahimy dengan dua fakultasnya: Syari’ah dan Tarbiyah. Pengajar madrasah biasanya disebut guru agama atau ustadz Pola IV. pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain Pola III. 1. Melalui uraian panjang di atas dapat dikemukakan bahwa. rumah kiyai. madrasah dan tempat keterampilan. Selain itu. ada pula pengajaran sistem wetonan yang dilakukan kiyai. perumahan guru. panti asuhan. 7. rumah kiyai. STM dan sebagainya. Pola II. Salafiyah Syafi’iyah (Asembagus Situbundo Jawa Timur) menjadi Yayasan pada tahun 1970. Ruang makan. rumah kiyai. Penerbitan. madrasah. kebudayaan. ladang dan sebagainya Pola V. tempat olahraga dan sekolah umum. Ruang operation room dan sebagainya. Adakalanya murid madrasah itu datang dari daerah pesantren itu sendiri. . sawah. bahkan perekonomian masyarakat. Aula serba guna. namun mereka telah mempelajari ilmui agama secara kontinyu dan sistematis. 2. balai pengobatan. Toko. tempat keterampilan. Masjid Jami’. pesantren merupakan pesantren yang telah berkembang dan bisa disebut pesantren modern. hingga kini telah memiliki TK. Terdapat pula sekolah-sekolah umum atau kejuruan seperti SLTP/SLTA. asrama santri. toko koperasi. administrasi. 4. santri yang mondok mendapat pendidikan di madrasah. Hingga kini telah memiliki TK.

sedangkan santri lebih menghargai dan tawaddu’ kepada kiyainya yang telah membimbing dan mengajar kitab klasik Islam (baca KK) di pondok pesantren. Sebutan santri juga dapat diberikan kepada mereka yang rajin dalam menjalankan ajaran Islam secara individual maupun berjamaah atau pengikut kiyai tertentu yang sewaktu-waktu mengikuti pengajian di pondok pesantren. memakai sandal slop. Pengaruh kiyai masih melekat di hati santri. menurut Dawam Rahardjo (1995:15). walaupun mereka telah menjadi alumni. kepalanya tertutup peci hitam atau putih (bagi yang telah menunaikan ibadah haji) dan di tangannya selalu tidak lepas seuntai tasbih. Zaini Muchtarom (1989:16) mengupas kata shastri lebih jauh dengan mengatakan. Dalam tulisan ini yang dimaksud kiyai ialah. Yang lebih penting dari itu adalah. pengasuh pondok pesantren. b. Pernyataan ini. sulit diajak dialog dan mungkin sebagian orang menganggapnya puritan. Pada pesantren modern kedua istilah itu sulit untuk membedakan antara murid dan santri. Kata santri berasal dari bahasa India yaitu shastri yang berarti orang yang ahli tentang kitab suci agama Hindu (C. Inilah orientasi dan prestasi kiyai di pondok pesantren yaitu kiyai mengajarkan dasar-dasar al-quran dan KK kepada santri atau masyarakat semata-mata karena lillahi ta’ala tanpa maksud-maksud tertentu. Sikapnya dipandang kolot. atau mereka yang pernah belajar pada kiyai di pondok pesantren. murid yang selama beberapa saat berada dan belajar di madrasah diniyah. kerap kali diasosiasikan sebagai figur seseorang yang secara fisik ia selalu mengenakan kain sarung. Masyarakat umum mengenal figur santri adalah anak atau remaja yang sedang mengaji (belajar al-quran atau KK). mereka menghormati ustadznya. dapat diperhatikan dari usaha para alumni pondok pesantren dalam membangun masyarakat secara keseluruhan. mampu mempengaruhi sikap dan sifat santri tidak hanya pada saat para santri berada di lingkungan pondok pesantren. Berg. Jangkauan pengaruh yang luas dan panjang itu. kiyai sebagai anggota atau tokoh masyarakat tidak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya yakni memiliki sikap dan sifat kepribadian yang berbedabeda. pembimbing para santri dan tokoh agama/masyarakat di tengah-tengah masyarakat sekitarnya.2. bersorban. “shastri berasal dari kata shastra yang berarti scripture atau a religious or a scientific treatise yaitu karangan agama atau uraian ilmiah”. Penilaian seperti ini. 1932: 257). fanatik. meminta fatwa dan pertimbangan. Peran yang ditampilkan kiyai khususnya kepada santri di pesantrennya. melainkan karena kesabarannya dalam membina santri dan peranannya sebagai pemimpin nonformal bagi masyarakat lingkungannya yaitu sebagai tempat bertanya segala macam masalah. Santri dan Murid Dalam dunia kependidikan Islam. Ada sedikit perbedaan di antara kedua istilah itu terutama hubungannya dengan sikap hidup dan penghormatan. cenderung bersifat subjektif berkaitan dengan kiyai sebagai pribadi dan bukan kedudukannya sebagai anggota atau tokoh masyarakat (kelompok sosial). kiyai dalam melaksanakan peran dan fungsinya penuh keikhlasan. sebab di pondok pesantren dipelajari huruf dan sastra.C. ada juga yang mengartikannya santri sebagai huruf. . terdapat dua istilah bagi peserta didik yaitu murid dan santri. qayyim atau asaatidz sedangkan pendukung kegiatanmnya adalah santri atau murid. a. bukan semata-mata karena kedalaman ilmu keagamaan yang dimilikinya. Penyelenggara dan Pendukung Kegiatan Penyelenggara kegiatan pendidikan dan pengajian di pondok pesantren adalah kiyai. Kiyai Gambaran tentang kiyai.

di tempat mana dia mau belajar dan dari sumber mana”. di beberapa pesantren tertentu ada yang telah metentukan waktu penerimaan santri baru tapi belum ada ketentuan kapan santrinya boleh meninggalkan pesantren. “masyarakat Islam yang belajar bersama. Sarana Perangkat Keras (Hard Ware) Perangkat keras (hard ware) yang ada di pondok pesantren. Ketentuan waktu penerimaan santri baru pun didasarkan atas waktu awal belajar pada lembaga pendidikan sekolah yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut. santri yang bertempat tinggal (muqim) di pondok pesantren untuk belajar dan mengikuti pola kehidupan kiyai selama beberapa waktu yang tidak ditentukan. Santri senior menolong dan membimbing santri junior dalam usaha memahami pelajaran atau KK pemula apa yang seyogianya dipelajari terlebih dulu. karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang lebih banyak memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menentukan sendiri kapan mereka memasukkan anak-anaknya memasuki pesantren atau kapan anak-anaknya meninggalkan pondok pesantren. Ada juga yang mengkategorikan santri ke dalam dua kelompok yaitu: (1) santri muqim yaitu. biasanya mereka yang datang dari daerah jauh atau mereka datang dari keluarga kurang mampu tapi memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Di sebagian besar pondok pesantren.Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan santri adalah. 1985: 49). Sarana dan Prasarana Perangkat Keras a. (2) Santri kalong yaitu. tinggal bersama dan menjalani kehidupan secara bersama-sama” (Dawam Rahardjo [ed]. Karena itu. corak dan praktek peribadatan keagamaan yang dipahami dan dilaksanakan santri pada umumnya sesuai dengan keadaan lingkungan (pondok pesantren maupun masyarakat) di mana mereka tinggal. Tentang kapan santri harus datang atau meninggalkan pondok pesantren. pada umumnya sangat bergantung kepada bentuk pesantren (lihat pembahasan tentang tipologi pondok pesantren) atau kemampuan dan kemauan kiyai dalam mengendalikan pondok pesantren yang didirikannya: esensi dan kegunaan hard ware pada suatu pondok pesantren adalah untuk kelancaran interaksi dan komunikasi atau penyampaian informasi dan penanaman nilai-nilai keagamaan (‘amaliah ‘ulum . Karena itu. sebaliknya santri junior menolong santri seniornya dalam bentuk kegiatan fisik seperti memasak makanan atau mencuci pakaiannya. sehingga ia rela membantu pekerjaan kiyai sebagai imbalan atas keikut sertaannya belajar di pondok pesantren. tentang apa dia mau belajar. antara kiyai dan santri berada di lingkungan tempat tinggal yang sama. Di antara keduanya terjadi saling menolong dan membantu. Walaupun dalam prakteknya. sedangkan santri junior ialah santri baru. KH. karena ba’da shalat fardhu shubuh mereka melanjutkan pelajarannya pada kiyai tapi esok harinya ia kembali ke rumah orang tuanya masing-masing. Belum adanya ketentuan kapan datang dan meninggalkan pondok pesantren ini terjadi. di sisi lain kehidupan pondok pesantren selalu berdampingan dengan masyarakat. “pesantren sebagai subcultur memberikan kesempatan kepada setiap santri untuk belajar kapan dia mau belajar. Santri muqim. peserta didik bagi para pelajar atau murid di pondok pesantren. Abdurrahman Wahid yang pendapatnya diedit Dawam Rahardjo (1985:39) menuliskan. ada dua istilah yang terkenal hanya di lingkungannya yaitu santri senior dan santri junior. Santri senior yaitu santri yang telah lama tinggal dan telah banyak memiliki pengetahuan keagamaan. santri kalong adalah para remaja yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kiyai atau putra putri masyarakat sekitar lingkungan pondok pesantren. santri yang datang pada sore hari menjelang shalat fardhu maghrib untuk belajar pada kiyai di pondok pesantrennya. pada umumnya mereka bermalam di lingkungan pondok pesantren. 3. Di lingkungan pondok pesantren tradisional.

Jadi. Di dalam kamar tidur ini juga. sedangkan pesantren di samping telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum berupa yayasan juga berfungsi ganda yaitu sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga kemasyarakatan. 1) Masjid/mushalla Dipelajari dari segi fungsi dan tujuan pendirianya. masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan shalat fardlu maupun shalat-shalat sunnah. Keberadaan pondok di lingkungan pesantren. Di beberapa pondok pesantren di Indonesia. sebelum terbentuknya sistem pendidikan sekolah. kerajinan dan bentuk keterampilan lain. tempat mencuci pakaian dan WC umum.al-dien) yang dilakukan kiyai terhadap para santrinya pada saat-saat tertentu. maka ia termasuk pesantren yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pendidikan kemasyarakatan. Pondok juga merupakan pembeda dari pesantren: pondok yaitu lembaga pendidikan Islam sejenis majlis ta’lim yang tidak memiliki struktur kelembagaan dan lebih bersifat pendidikan kemasyarakatan. sebaliknya pondok pesantren yang memiliki sedikit kamarnya. perkantoran. Di samping itu terdapat sarana penunjang berupa kamar mandi yang bersih. kantin. wilayah kegunaan masjid memiliki “jangkauan” yang lebih luas yaitu sebagai tempat terselenggaranya shalat jum’at. tapi di daerah-daerah tertentu. peternakan. berasal dari kata funduq yang berarti ruang tidur sederhana yang sengaja disediakan kiyai pendiri pesantren bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dan berharap ingin menetap karena ingin belajar keagamaan di lingkungan pesantren. sebagai tempat pendidikan dan latihan keterampilan berpidato (biasanya dilaksanakan pada malam jum’at atau malam ahad) dan sebagai sarana komunikasi antar individu anggota masyarakat pesantren. Karenanya pondok pesantren yang sangat sederhana. sarana olah raga dan kesenian serta tempat keterampilan sebagai sarana praktek pertanian. Elemen-elemen dimaksud antara lain: gedung madrasah. baik masjid/mushalla sama-sama digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ibadah. merupakan penentu peringkat atau kategorisasi pesantren. terutama ibadah shalat fardlu dan sarana pendidikan alquran bagi para anak-anak atau remaja. hard ware yang tersedia meliputi 1) masjid/mushalla. 3) gedung madrasah diniyah dan 4) rumah kiyai. santri menyimpan harta bendanya berupa beberapa buku tulis dan sejumlah KK. . sehingga suatu pondok pesantren menjadi besar dan terkenal. lebih dari itu masjid berfungsi sebagai tempat terselenggaranya pengajian KK. Di lingkungan pondok pesantren. 2) pondok/asrama santri. menunjukkan pesantren tersebut memiliki banyak santri karenanya dapat dikategorikan sebagai “pesantren besar”. Nuzul al-quran. 3) Fasilitas Lain Selain elemen-elemen fisik di atas juga terdapat elemen-elemen lain yang telah banyak mendapat pengaruh dari luar. masjid merupakan pusat kegiatan belajar mengajar. shalat sunnah ‘idain (dua bentuk shalat sunah hari raya) bahkan sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan seperti shalat sunnah Iedain (ied al-fitri dan ied al-qurban). bagi pondok yang telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum. Pesantren yang memiliki banyak kamar (pondok). 2) Pondokan (asrama santri) Istilah pondok pada awal perkembangannya. Dalam satu ruangan atau kamar tidur. biasanya berisi lebih dari dua atau tiga orang santri disesuaikan dengan luas bangunan kamar. ter-masuk kategori “pesantren kecil”. perbekalan sehari-hari (beras dan laukpauk) dan pakaian untuk beberapa lama ia tinggal di pondok pesantren. Isra Mi’raj ataupun Maulud Nabi. ruang koperasi.

aqidah al-‘awam yang kesemuanya dalam bentuk KK dengan menggunakan bahasa “Arab gundul” (tidak berharkat). keberadaan KK identikan dengan pondok pesantren. Sebagaimana proses pendidikan pada umumnya. Karena itu. (6) perpustakaan yang berisi sejumlah besar hand books dan KK lainnya. Keempat nilai tradisi atau kebudayaan daerah setempat. termasuk di dalamnya adalah tradisi kejawen (ke-jawa-an yaitu tradisi pemeluk ajaran agama Hindu/Buddha) sebagaimana tercermin dalam penggunaan bahasa pengajian di lingkungan pondok pesantren. Kedua paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan fiqh seperti Hanafi. hadits-‘ulum al-hadits. 2) Proses Pendidikan Proses pendidikan yang berlangsung di pesantren adalah. (3) proses pembelajaran. Ketiga paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan sufi seperti ajaran thariqah (qadariyah. (4) atau materi yang disampaikan seperti fiqhushul fiqh. Prasarana dan Fasilitas Lunak (Shoft ware) Termasuk ke dalam shoft ware ini adalah semua bentuk peralatan nonfisik. Maliki. 3) Kitab Kuning (KK) Dalam pembicaraan umum. pada umumnya terdiri atas empat hal yaitu: Pertamaajaran ortodoksi Islam yang bersumber langsung dari al-quran dan al-sunnah. pengajian al-quran dan KK yang disampaikan kiyai kepada para santrinya dengan mengacu pada jadwal yang waktu dan tempatnya ditentukan kiyai (pernyataan inilah yang dimaksud wetonan). Syafi’i dan Hambali. 1) Sistem Nilai Sistem nilai dimaksud adalah pola dan corak kehidupan yang berkembang di lingkungan masyarakat pondok pesantren. Mas’udi (1988:1) mengartikan KK adalah. c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing” . . 2) sistem pendidikan yang berlangsung di pondok pesantren dan 3) kitab kuning (KK).b. (2) mertode pengajaran. naqsyabandiyah atau sanusiah) dan ilmu hikmah. bahkan berkualitas atau tidaknya pesantren tradisional ditentukan oleh berkualitas atau tidaknya KK yang disampaikan kiyainya. produk pemikiran ulama-ulama masa lampau yang ditulis dengan format khas pramodern sebelum abad 17-an. Khususnya para ajengan yang mengajarkan KK di pondok pesantren yang ada di daerah sunda. Masdar F. baik di daerah jawa (Jawa Tengah atau Jawa Timur) maupun di daerah sunda (Jawa Barat). kitab kuning (KK) merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan untuk menilai besar atau kecilnya suatu Pondok Pesantren. (7) beberapa konsep tentang kegiatan keterampilan dan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di pondok pesantren. Kitab Kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab. b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. “a) kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama ”asing” tapi secara turun temurun menjadi reference yang dijadikan pedoman oleh para ulama Indonesia. KK merupakan “ruh” bagi pondok pesantren tradisional. seperti 1) sistem nilai dan norma kehidupan di lingkungan pondok pesantren. meskipun bahasa sehari-harinya bahasa sunda tetapi loghat pengajian KK yang digunakannya bahasa daerah jawa dalam menerjemahkan KK yang berbahasa Arab. (5) peraturan atau tata tertib pondok pesantren. tafsir-‘ulum al-tafsir. pengajian yang dilaksanakan kiyai juga meliputi: (1) tujuan.

Terhentinya proses eksplorasi. yang lebih dominan menggunakan pendekatan posivistik. Belum adanya landasan epistemologi yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan penelitian ilmiah bidang IPI. sebagian berada pada epistemologi telaah klasik dan sebagian berada pada epistemologi telaah positivistik (Noeng Muhadjir. evidensi empirik sebagai pendukung harus ada dalam setiap pengembangan teoritik dan keilmuannya. cenderung diterima tanpa kritik kemudian dicarikan padanan dalil-dalil dalam al-quran maupun dalam Hadits. 3. Pernyataan ini. namun belum mampu mengimbangi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang begitu pesat. Masih sedikitnya teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan Islam. merupakan hasil dari beberapa penelitian terhadap pendidikan. Pendidikan Islam. Padahal pendidikan Islam sebagai materi. antara lain: 1. perkembangan dan kemajuan Ilmu Pendidikan Islam (IPI) di negara-negara yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam (termasuk Indonesia) sangat lamban. 2. Bahkan dasawarsa terakhir. 1992:7). beberapa sarjana muslim tertentu yang merasa terpanggil untuk memasyarakatkan KK. sehingga ekspansi ilmu-ilmu dalam Islam hanya berhenti pada kawasan yang bersifat hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal terhadap sesama manusia (habl minan nas). faktor yang membedakan ilmu pendidikan Islam dengan ilmu-ilmu lainnya yakni faktor nilai (value) (Achmadi. Metode posivistik tidak memberi peluang kepada telaah normatif yang berorientasi nilai. mereka menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan KK dapat dibaca dan difahami oleh masyarakat umum dengan tanpa harus memasuki “dunia pesantren”. menurut Muhadjir selanjutnya. Berikutnya. Karena itu wajar. diajarkan ustadz di Madrasah ataupun oleh Guru di lembaga pendidikan sekolah adalah menggunakan KK. baik dalam bentuk praktek kelembagaan maupun dalam bentuk materi yang disampaikan. Pendidikan Islam: Kurikulum Pesantren a. karenanya berkembang bersama budaya manusia seperti demokrasi dan keadilan. 2) Sikap yang sangat normatif dalam menghadapi dalil-dalil al-quran . seringkali masih dipersoalkan keberadaanya. sebagai suatu proses pengembangan potensi dan kreatifitas peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan memiliki Iptek sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia. obyeknya bersifat normatif dan berorientasi pada nilai. sedangkan studi Islam klasik lebih mengutamakan wahyu Allah sebagai wujud dari kebenran yang mutlak. sejak pondok pesantren mulai banyak diminati masyarakat Indonesia terutama karena semua aspek ajaran Islam yang disampaikan kiyai melalui Majlis Ta’lim. 1996:189). Bukti lambannya perkembangan IPI. Hingga kini. jika pendidikan Islam yang dipelihara kembangkan pun banyak dipengaruhi oleh telaah epistemologi positivistik (suatu paham yang mengakui kebenaran sesuatu berdasarkan penamatan secara langsung atau tidak langsung melalui indra) dan hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh telaah studi Islam klasik (suatu kebenaran yang berangkat dari eksistensi kebenaran yang bersumber dari wahyu Allah). Pendidikan Islam Sebagai Ilmu Pijakan awal pendidikan Islam adalah.Kitab Kuning (KK) mulai dikenal secara umum. ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Karenanya. Tuntutan masyarakat begitu besar terhadap pendidikan Islam sebagai ilmu sebagian telah diperoleh. 1) Ketika melihat temuan dan teori pendidikan Barat maupun Timur. Namun jika dilihat dari dimensi ilmu dan filsafat. 4. bersikap mendua. Selama ini IPI.

Ibnu Rusydi. di samping keahliannya dalam bidang . walaupun antusiasme awal pemahaman terhadap teori pendidikan masih diwarnai berkembangnya kesadaran bahwa teoriteori pendidikan tidak begitu saja berkaitan langsung dengan praktek pendidikan. diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki kemampuan mengakomodasi konsep-konsep pendidikan skuler dalam rangka membandingkan dan menjadikannya pintu gerbang untuk memasuki konsep pendidikan Islam yang berdasarkan pada al-quran dan Hadits. baik yang teoritik maupun praktik. jika lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan semacam itu adalah para ‘alim-‘ulama yang memiliki dua ilmu (ilmu agama dan ilmu rasional) sekaligus seperti Ibnu Sina. kesemuanya terpadu dan diajarkan pada sebuah lembaga pendidikan yang integral. secara ideologis dan politik masyarakat muslim dikendalikan oleh sistem (kekhalifahan) Islam sehingga tatanan pendidikan Islam tidak berorientasi pada tujuan ganda (Muslih Usa [Ed]. Karena itu tidak mengherankan. sejalan dengan gerakan-gerakan pembaharuan pendidikan di negara-negara Arab (A. para pengelola dan pendidik di lembaga pendidikan itu adalah para ulama yang saleh dan utuh dalam memahami ajaran Islam. Untuk itu. 1996:242). tumbuhnya sikap dikotomi pikir. 1991: 83). Padahal Islam sebagai agama tawhid. teori pendidikan dipandang sebagai disiplin ilmu praktis otonom. Persoalan yang selalu muncul dan selalu menjadi ganjalan dalam setiap merumuskan al-tarbiyah al-Islamiyah yaitu. inti ajarannya adalah meng-esa-kan Tuhan. psikologi dan sosiologi dan karenanya ketiga disiplin “luar” pendidikan ini menjadi pondasi (Zubaidi. melanda di kalangan pemikir muslim disebabkan adanya keterpengaruhan pemikiran Barat yang skuler. terjadi pergeseran yang cukup signifikan. sejak periode klasik (650-1250 M) tidak mengenal adanya polarisasi ilmu: ilmu agama (yang islami) ilmu rasional (yang skuler). regulasi dan tanggung jawab mandiri. teori pendidikan masih bergantung pada disiplin ilmu induk: filsafat. Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi. Inti ajaran Islam ini terintegrasi ke dalam bentuk perpaduan antara aspek duniawi ukhrawi dan aspek material-spiritual. Melihat potret dan bingkai praktek pendidikan Islam seperti ini. pandangan yang mendominasi pemikiran pendidikan saat itu teori pendidikan didefisikan sebagai suatu stock prinsip-prinsip praktis yang sepenuhnya dijustifikasi melalui pengetahuan yang disajikan ketiga disiplin ilmu itu. Sistem pendidikan terpadu (integral) yang terjadi pada periode klasik ini. para praktisi pendidikan muslim diharapkan akan memperoleh suatu alat pengendali melalui penataannya sendiri. Problem Perumusan Pendidikan Islam 1) Dikotomi Pikir Jika dilihat kilas balik dekade 60-an. Nurhadi Djamal. b. cenderung tidak melalui tahapan analisis yang cukup mendalam. al Gazali ataupun Ibn Khaldun.maupun Hadits. perlu adanya upaya untuk membentuk ulang (reconstruction) dan merumuskan kembali (reformulation) ilmu pendidikan Islam. Dengan demikian mereka akan mendapatkan insigh tentang apa yang terbaik dalam pendidikan Islam. Dilihat dari kebersamaan waktu munculnya al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islam) dengan ilmu pendidikan skuler. muncul terminologi al-tarbiyah (bangunan sistem Pendidikan Islam) sebagai bentuk tawaran baru. Tidaklah berlebihan. Di samping itu. Ini terjadi disebabkan. Hasil dari rekonstruksi dan reformulasi terhadap ilmu pendidikan Islam ini. 1996:280). Dikotomi Fikir. maka sangat mungkin konsep al-tarbiyah al-Islamiyah masih bercampur dengan teori pendidikan yang didasarkan pada telaah anthroposentris (manusia sebagai pemegang posisi sentral) yang telah mapan dan mengakar. Pada dekade yang sama. Sejarah Islam juga mencatat. berlangsung hingga periode kejayaan atau kemajuan Islam I (650-1000 M). sehingga memiliki pengaruh besar dalam proses pembangunan ilmu pengetahuan. Pada dekade 1970-an. Polarisasi pemikiran dan keilmuan antara “yang islami” dengan “yang skuler”.

kedokteran. sebaliknya bagi masyarakat muslim era ini merupakan awal dari kemunduran I (1250-1500 M). munculnya para figur ilmuwan muslim terkemuka dan terkenal sepanjang masa itu. Akibat nyata dari era ini. Akibat dari pandangan dikotomi maupun polarisasi adalah. ilmu pengatahuan skuler yang dikuasai para ilmuwan. sehingga terjadilah perlawanan sengit antara agamawan dan ilmuwan. berkembang pesat merasuk hingga ke seluruh dunia termasuk ke negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Mempelajari ilmu-ilmu skuler dianggap haram. Bagi masyarakat muslim yang sejak awal telah apatis terhadap ilmu skuler. Atau masyarakat Eropa modern melakukan penekanan terhadap masyarakat muslim agar memanfaatkan ilmu sekulernya. dari sinilah permulaan terjadi pemisahan (alienate) antara ilmu-ilmu yang bernilai agama (ilmu-ilmu sacral) dengan ilmu-ilmu skuler atau ilmu rasional (ilmu-ilmu profan). Pandangan dikotomis ini. Sistem pendidikan seperti inilah yang mewarnai kehidupan masyarakat muslim sehingga mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran pragmatis yang tetap islami. sehingga sarjana atau lulusan yang dihasilkannya pun menjadi dua yaitu sarjana agama dan sarjana skuler. Tapi tampaknya Gereja tidak berharap jika ilmu pengetahuan nonkeagamaan (ilmu yang tidak sesuai dengan dogma Tuhan) lebih berkembang pesat. Sehingga terjadilah dualisme pendidikan yaitu sistem pendidikan yang mengembangkan ilmu-ilmu skuler atau modern dan sistem pendidikan tradisional yang mempertahankan . Harun Nasution (1979:56-75) menyebutnya sebagai masa kejayaan masyarakat Eropa. Dengan demikian. Masa atau era seperti ini. dan menggunakan teknologi hasil produk perusahaannya. Pada saat pemikiran terhadap ilmu-ilmu sacral ditinggalkan para ilmuwan. keduanya terlepas satu sama lain. penjajah Eropa juga menghadirkan sistem pendidikan modern yang kurikulumnya berbasis pada ilmu-ilmu skuler. Lembaga dan penyelenggara pendidikan pun terpecah menjadi dua yaitu lembaga pendidikan agama dan lembaga pendidikan umum. dan ilmu-ilmu skuler yang tidak bersandar pada wahyu. Pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim semakin menguat. pemikiran integral tentang filosofis terhadap ilmu-ilmu skuler dan terhadap ilmu-ilmu agama yang terjadi pada masa klasik dan masa kejayaan masyarakat Islam. sehingga generasi mudanya dilarang belajar dan/atau memasuki lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum modern atau memberikan materi ilmu-ilmu skuler. ketika negara-negara Eropa melakukan penjajahan terhadap negara-negara yang penduduknya mayoritas penganut agama Islam Pada saat itu. sistem pendidikan yang integral itu diambil alih masyarakat Eropa yang sebagian besar penganut ajaran Nasrani dan Yahudi pada awal abad ke-13 M (1225 M). Pandangan dikotomis juga terjadi pada lembaga atau penyelenggara pendidikan. bisa jadi merupakan tindak lanjut dari polarisasi pikir yang telah muncul lebih dulu di kalangan para cendekiawan muslim. Disinyalir. yang berimplikasi kepada para ilmuwan meninggalkan Gereja dan para agamawan tidak lagi tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan selain dogma Tuhan. timbul sikap apatis di kalangan masyarakat muslim terhadap ilmu pengetahuan yang berseberangan dengan ajaran Islam. Ironisnya. hanya dimungkinkan melalui sebuah sistem pendidikan yang integral. maka terjadilah skularisasi dalam ilmu pengetahuan (scularization of science) sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi bernilai atau bermuatan agama. Perkembangan berikutnya. Dari keadaan inilah sehingga timbul pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim yaitu pandangan dikotomis terhadap ilmu: ilmu agama yang bersandar kepada wahyu. karena kurikulum atau materi tersebut milik masyarakat kafir. berusaha mendirikan atau tetap melestarikan sistem pendidikan yang telah ada. mereka juga filosuf muslim yang hasil pemikirannya telah banyak mengisi perpustakaan dan/atau dimanfaatkan masyarakat muslim bahkan masyarakat Barat modern yang skuler.

al muhafadzah ‘ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdu bi aljadid al-ashlah …. 1996:123). ada hal-hal tertentu yang perlu ditinggalkan karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan jaman. orangtua.memelihara hal-hal baik yang telah ada sambil mengembangkan hal-hal baru yang lebih baik. manusia sebagai penentu kebijakan. jika dalam merumuskan sistem pendidikan Islam seyogianya menggunakan prinsip dasar yang diungkapkan faqh muslim terkenal Imam Syafi’i. tujuan finalnya adalah kehidupan ukhrawi dengan ridla Allah swt. adil.. 1. Pendidikan Islami: Theosentris. dkk. Anthroposentris merupakan bagian dari koinsep theosentris. terjadi di hampir semua negara dan masyarakat muslim di jaman modern ini (Zuhairini. Tuhan penentu kebijakan. Beberapa konsep pendidikan skuler. guru. 2) Merumuskan Pendidikan Islam Dalam pandangan Islam. Mastuhu yang pendapatnya dihimpun Ahmad Tafsir (1995:54) menuliskan perbedaan mendasar antara konsep pendidikan skuler dengan konsep pendidikan Islami. damai dan dinamis sebagai tujuan finalnya Pendidikan Islami: Kerja membangun kehidupan duniawi melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi.kurikulumnya yang sarat dengan ilmu-ilmu keagamaan. orangtua. Dasar Pendidikan Skuler :Anthroposentris. Namun perlu disadari. Pembangunan kehidupan duniawi. 1. konsep pendidikan skuler tidak seluruhnya berseberangan dengan aspek-aspek ajaran Islam. Konsep Manusia Pendidikan Skuler: Tabularasa Pendidikan Islami: Fithrah 1. Sebaliknya. Rumusan nilai pendidikan Islam dimaksud adalah sebagai berikut: . Dualisme pendidikan. guru. Berdasarkan pijakan dan prinsip di atas. Sistem atau tanggung jawab Pendidikan Skuler: Murid. Kiranya sangat tepat. masyarakat tapi berbeda dalam nuansa dan gradualnya. sebagai berikut: 1. masyarakat Pendidikan Islami: Murid. maka dapat dirumuskan nilai-nilai pendidikan Islam sehingga diharapkan memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan bentuk pendidikan skuler maupun pendidikan modern. bukan menjadi tujuan final melainkan merupakan kewajiban yang diikani terkait kuiat dengan kehoidupan ukhrawi. Nilai Pendidikan Skuler: Iptek dengan kebenaran relatif Pendidikan Islami: Iptek dan Iman: kebenaran relatif dan mutlak 1. sejahtera. Tujuan Pendidikan skuler : Kehidupan duniawi: maju. Islam tetap menghormati dan menerima konsep-konsep pendidikan tradisional yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat muslim. di antaranya mengandung kebenaran dan dapat diterima sehingga perlu dikembangkan oleh masyarakat muslim terutama konsep-konsep yang berkenaan dengan Iptek.

1. Al-quran dan hadits merupakan sumber nilai pendidikan Islam. 2. 1997:58). Tujuan Pendidikan Islam Pendidikan adalah suatu proses pengajaran yang sadar tujuan. Inti pendidikan Islam adalah infus keimana ke dalam perasaan pribadi muslim secara utuh kepada anak didik agar menjadi muslim yang taat. Maksudnya. Oleh karenanya. tapi mereka lebih dahulu memahami materi dasar-dasar agama sebelum memasuki jenjang pendidikan yang diinginkan. Jadi rumusan tujuan pendidikan merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat dalam perencanaan. 3. Dengan demikian. implementasi dan penilaian suatu program belajar mengajar. akal. dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. intelektual. Pengertian pendidikan Islam terdiri dari tarbiyah (pemelihara). Materi dasar-dasar agama merupakan dasar penyusunan kurikulum dan disampaikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat menengah diharapkan peserta didik akan memahami bahasa Arab. Generasi muda Islam diarahkan agar memasuki pendidikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat spesialisasi. rumusan dan taraf pencapaian tujuan pengajaran merupakan petunjuk praktis sejauh mana interaksi edukatif itu harus dibawa untuk mencapai tujuan akhir. perasaan dan indra. fisika. 2. 6. memahami sejarah nabi-nabi. maka akan sulitlah untuk memilih atau merencanakan bahan dan strategi yang hendak ditempuh atau dicapai. ilmu-ilmu budaya dasar dan beberapa ilmu pendukunglainnya. Kaitannya dengan tujuan pendidikan. 5. Rumusan tujuan yang baik dan terinci akan mempermudah pengawasan dan penilaian hasil belajar sesuai dengan harapan yang dikehendaki dari subjek belajar. 4. ditujukan ke arah tercapainya keserasian dan keseimbangan pertumbuhan pribadi yang utuh melalui berbagai latihan yang menyangkut kejiwaan. dapat membaca al-quran dengan baik. ilmu-ilmu sosial. Winarno Surahmad yang pendapatnya ditulis Sardiman AM (1997:57) menjelaskan. kimia. ta’lim (pengajaran) dan ta’dib (pembinaan). tujuan adalah sesuatu yang diharapkan dari subyek belajar sehingga memberi arah ke mana kegiatan belajar mengajar harus dibawa dan dilaksanakan. pemerintah telah menerbitkan Undang Undang RI nomor 2 tahun 1989 . bahasa dasar Iptek seperti matematika. Perumusan tujuan yang benar akan memberikan perdoman bagi siswa dalam menyelesaikan materi dan kegiatan belajarnya (Sardiman. Pendidikan Islam (tarbiyah al-Islamiyah). Jika suatu pekerjaan atau tugas tidak disertai tujuan yang jelas dan benar. yaitu: 1. tujuan pendidikan mutlak dan harus dirumuskan dan deskripsinya harus jelas. sebagai media untuk merealisasikan fungsi muyslim sebagai ‘abdullah (hamba allah) dan khalifatullah (pemimpinan yang dianugerahi Allah) di bumi. c. kegiatan belajar mengajar adalah suatu peristiwa yang terikat dan terarah pada tujuan. 3. dasar-dasar pemikiran dan hukumihukum Islam. bahasa Inggris atau salah satu modern lainnya. dengan harapan mereka akan mampu menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu sejalan dengan tantangan modern dengan menggunakan bahasa modern yangsesuai dengan perkembangan iptek. Ada tiga alasan mengapa tujuan pendidikan perlu dirumuskan.

keperibaidan yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU RI. Karenanya. melalui akal. di tengah-tengah budaya relativisme dan pragmatisme ini tidak ada manusia yang ideal apalagi sempurna sebagaimana tujuan akhir pendidikan Islam. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. 2) tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan yaitu tujuan kemafaatan atau persiapan untuk hidup. Tuhan pencipta alam semesta. melalui qalbu. Unsur rohani. 28/al-Qashash:77. ia ingin menciptakan manusia bertaqwa. Ini yang dimaksud sebagai tujuan akhir pendidikan Islam yaitu menjadi insan kamil dengan pola taqwa yaitu manusia utuh rohani dan jasmani. rintangan. iptek selalu berkembang di segala jaman. historis dan deskriptif akan . Karena itu.s. sikap dan perilaku yang bertentangan dengan hati nurani. Melalui perumusan tujuan tersebut. kesehatan jasmani dan rohani. bahkan mereka tidak membayangkan tentang keadaan demikian.tentang Sistem Pemdidikan Nasional. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Ibn Khaldun yang pendapatnya diterjemahkan oleh Ramayulis (1994:25) merumuskan dua tujuan pendidikan Islam yaitu 1) tujuan keagamaan yakni beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya.s. dewasa dan mandiri. bertaqwalah kamu kepada Allah dengnan sebenarbenarnya taqwa. meninggal dunia dalam keadaan sebagai muslim (berserah diri) kepada Allah sebagaimana firman Allah di dalam Q. Akal bertugas memperhatikan dan meneliti alam sekitar dengan bantuan pancaindra. Para pelajar dan generasi muda pada umumnya tidak ada yang memiliki citra tentang jiwa yang sempurna (insan kamil) dan tidak bercita-cita ke arah itu. tujuan pendidikan Islam yaitu mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat. Demikian juga pendidikan Islam mempunyai tujuan tersendiri yang menyesuaikan diri dengan falsafah dan pandangan hidup sebagaimana digariskan al-quran. bertujuan membimbing manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan diri dan kebahagiaan. 1989:4). manusia didorong untuk mendekatkan diri kepada Allah. Falsafah atau pemikiran tujuan pendidikan ini berujuk kepada salah satu firman Allah di dalam Q. jika daya merasa disebut qalbu atau hati-nurani. menurut Harun Nasution (1995:10) mempunyai dua daya yaitu daya rasa dan daya pikir: daya rasa berpusat di dada sedangkan daya pikir berpusat di kepala. Di dalam Undang Undang itu tertulis pada pasal 4 tentang tujuan pendidikan yaitu. manusia yang selalu menjalankan ajaran Islam dengan benar dan jujur akan memiliki kemampuan yang kuat dalam menghadapi godaan. maka daya berpikir disebut akal. Manusia dalam ajaran Islam adalah makhluq monodualistik yaitu terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Ungkapan di atas menggambarkan bahwa. Semua sistem pendidikan mempunyai tujuan moral. dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah swt. Begitu juga pendapat Mustafa Amin. Namun. 3/Ali Imran:102. Sementara qalbu tugasnya memusatkan perhatian pada Pencipta alam sekitar dan alam immateri. ajaran Islam merupakan sumber moral. carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) dunawi. dan janganlah kamu mati kecuali da-lam keadaan muslim (berserah diri).. baik dunia sekarang maupun di akhirat kelak. perspektif Islam tentang pendidikan yang bersifat teks. Agama datang ke permukaan bumi ini. etik dan nilainilai kehidupan manusia. para tokoh pendidikan berharap agar pendidikan Islam yang disampaikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi seyogianya sejalan dengan tujuan diturunkannya agama kepada manusia. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.

Orientasi ‘amaliyah-‘ilmiyah dan pengabdian (lillahi ta’ala) tampaknya lebih dominan. karena kiyai pendirinya (karena status sosial atau keyakinannya) tidak siap mengikuti perkembangan dan tuntutan jaman. Demikian juga dalam percaturan politik di AS. karena latar belakang kiyai pendirinya kebetulan tidak cakap baca-tulis huruf latin dan berhitung. untuk mengetahui faktor . Terjadi demikian. Sedangkan. Kekurangan yang terjadi pada pondok pesantren yang pertama dan utama adalah kurang jelasnya tujuan pendidikan pesantren. Mengapa terjadi demikian? Hasil dari beberapa penelitian diperoleh jawaban. sehingga tidak memiliki kemampuan menguasai dan mengatur kehidupan nyata. pesantren di Indonesia telah menghasilkan banyak kiyai dan pemimpin/tokoh agama. sedangkan “pesantren” yang didirikan pendeta Harvard di Oslow (AS) berhasil menjadi sebuah universitas bergengsi di AS yang setiap tahun meluluskan para pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern dan gagasan mutakhir. karena latar belakang keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat bukan karena reaksi terhadap persoalan sosial. Pengamatan mendalam terhadap kehidupan kiyai mutlak dibutuhkan. terjadi kesenjangan (gap). Universitas Harvard memegang rekor dalam menghasilkan orang-orang besar yang menduduki kekuasaan tertinggi. Pertama pondok pesantren yang menolak membuka dan mengikuti perkembangan jaman dan tuntutan pendidikan modern. memberikan respos saja mengalami kesulitan. untuk mengetahui latar belakang sebelum dan sesudah ia mendirikan pondok pesantren. Pernyataan ini merupakan dukungan kuat atas dugaan bahwa. dunia nyata yang dikuasai pola budaya Barat dan diatur mengikuti pola-pola itu.bernilai jika dapat memberikan garis-garis besar asas. Orientasi Pondok Pesantren Nurcholis Madjid yang tulisannya diedit Dawam Rahardjo (1984:3) membandingkan. dibutuhkan pengamatan mendalam terhadap kedua obyek yaitu: kiyai dan alumni pondok pesantren yang telah menjadi cendekiawan muslim. Peranan besar sebagaimana dilakukan “pesantren” Harvard tidak dimainkan oleh pondok pesantren besar dan terkenal sekalipun. Dugaan tersebut tidak terlalu salah tapi tidak seluruhnya benar. hampir di seluruh pondok pesantren di Indonesia kemajuan dan perkembangannya sangat ditentukan oleh sosok atau figur kiyai. Dengan kalimat lain. UI. di samping keadaan fisik (hard ware) dan non-fisik (shoft ware)nya yang kurang memungkinkan untuk melakukan pekerjaan besar itu. Kenyataan di atas menggambarkan. UGM. ditemukan dua faktor ketidak mampuan pesantren melakukan kerja besar itu. berdirinya pesantren di suatu daerah dilandasi niat ikhlas dan pengabdian kiyai untuk mengamalkan ilmu yang direspons oleh segelintir atau sekelompok penduduk setempat. apalagi melakukan peranan besar sebagaimana yang dimainkan “pesantren” Harvard. Bahkan jika diadakan pemotretan. sementara 2) pondok pesantren tidak memiliki pola budaya (modern). pengamatan mendalam terhadap alumni pondok pesantren yang dinilai kritis perlu dilakukan. 1) dunia pesantren dan dunia nyata. tuntutan masyarakat apalagi tujuan perubahan sosial sekitarnya. pondok pesantren adalah “kepribadian” kiyai pendiri atau pondok pesantren merupakan prototipe kiyai. UNPAD ataupun IPB. 5. ideologi dan falsafahnya tanpa menilai pandangan hidup. maka perspektif Islam tidak lebih sebagai nostalgia belaka. untuk memperoleh validitas dugaan atau prapenelitian ini. dan bukan sebagai respon sosial dan usaha transformasi kultural dalam jangka panjang. Kedua pondok pesantren yang tidak mau atau menolak masuknya kurikulum dan materi ilmu-ilmu dasar skuler. peranan itu justru dimainkan oleh Perguruan Tinggi skuler seperti ITB. Dugaan atau pra penelitian ini dapat diperhatikan dari dua kasus. akan tampak gambaran pondok pesantren yang kurang kondusif untuk berperan sebagaimana peran yang dilakukan beberapa Perguruan Tinggi skuler.

Terjadinya konflik di atas. 14/Ibrahim:1) hanya mampu memproduksi sumber daya manusia (SDM) yang menempati posisi marjinal. maju) beranggapan jika pondok pesantren tetap seperti itu. Menurut kiyai. kuantitas. menimbulkan polemik pemikiran antara kiyai dengan alumni (cendekiawan muslim): kiyai. maka akan sulit menjadi lembaga pendidikan Islam idaman masyarakat di masa mendatang (Zubaidi. disebabkan karena adanya suatu pemikiran tentang masa depan alumni pondok pesantren. kualitas dan perubahan. Ketiga bangunan teori ini terintegrasi dalam berbagai sistem filsafat. jika pondok pesantren yang punya misi suci mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan ijin Tuhan Yang Maha Kuasa (Qs. 1996:75). Nilai dan Moral Pesantren 1. ataupun pegawai tidak ada ketentuan dari pondok pesantren. Strategi untuk harapan/tujuan ini. dan gagal menjadi suatu lembaga pengarah. karena itu sudah waktunya santri dibentuk menjadi manusia yang siap memasuki pasar kerja. Filsafat.kehidupan dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi jalan pemikirannya dalam mengambil sikap memajukan almamater yang padahal telah ditinggalkannya. jika paradigma yang digunakan tidak sampai menggeser esensi tujuan utama pesantren yaitu kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. penentu dan pencetak sejarah dalam memajukan kesejahteraan umat manusia. tetap konsisten dengan orientasinya menjadikan pesantren sebagai tempat tafaquh fiddin yakni mengaktualisasikan ajaran Islam yang holistik di tengahtengah masyarakat. Nilai Tradisi Pesantren Pada 1966 St. Di sinilah agama berfungsi sebagai penyeimbang bahkan ideologi untuk mengembangkan kehidupan santri. alumni pesantren yang berkehidupan modern (modern. . Perspektif pendidikan pesantren dalam mengantisipasi kecenderungan global (globe. Takdir Alisjahbana menulis tentang teori nilai (theory of value). menurutnya. Melalui strategi di atas. dan setiap sistem itu memiliki struktur dan tekanan yang berbeda. kapasitasnya sebagai pendidik. Ironis sekali. persoalan setelah pulang dari pesantren mau jadi pedagang. Sebenarnya konsep pendidikan pesantren masa depan bukan masalah sulit. petani. 6. adalah menghadirkan kembali ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan modern. pondok pesantren semata-mata bertugas meng-agamakan santri (selama ada di pondok pesantren). dapat berkembang karena tiga bangunan teori yaitu metafisika. Sebaliknya. sehingga akan didapat sebuah model kehidupan masyarakat yang terlahir dari produk pendidikan pesantren yaitu masyarakat yang berorientasi pada kehidupan nyata sebagai realisasi ajaran Islam. dunia). bukan berarti menafikan realitas empirik. integrasi tafaqquh fiddin dengan kebutuhan lingkungan tidak saja dapat membentuk integrasi sosial-budaya tetapi lebih dari itu justru akan menjadi alternatif baru sehingga kaum santri tetap berada pada pangkuan Islam di tengah-tengah pergumulannya dengan realitas empirik. karenanya tidak terlalu salah jika pondok pesantren dihimbau seyogianya tidak menutup diri terhadap pendidikan yang ber-orientasi kepada pangsa kerja. lulusan pondok pesantren cukup memiliki kematangan jiwa. Strategi ini. juga bukan menolak kehadiran pemikiran ilmiah dalam komunitas santri. ia mengawali tulisannya dengan pembahasan tentang filsafat. Sebaliknya para alumni beranggapan. Dengan demikian. sementara SDM lulusan dari lembaga pendidikan sekolah yang dinilai skuler justru berada pada posisi yang menguntungkan. teori pengetahuan dan teori nilai. timbulnya filsafat adalah bermula dari rasa keinginan untuk menjawab pertanyan metafisika kaitannya dengan substansi. Akan tetapi berusaha mengintrodusir sistem kehidupan Islam ke dalam realitas empirik. Eksistensinya akan selalu ditentukan oleh globalisasi. jika tidak santri akan kebingungan di tengah-tengah kehidupan manusia global.

Sementara agamawan Khan mengemukakan. Berkeley mengemukakan bahwa semua yang ada di luar manusia hanyalah persepsi. teori nilai yaitu teori yang membahas tentang manusia sebagai makhluq yang berkelakuan sebagai obyek. Teori adalah. jadi saya ada” menjadi Evaleo. Teori pengetahuan mengembalikan pikiran manusia kepada pengalaman. pada akhirnya ia menyangsikan bahwa semua pengetahuan manusia didasarkan atas pengalamannya.Jika diperhatikan secara seksama. pada abad berikutnya. antropolog dan psikolog) Amerika Serikat menjadi konsep pokok dalam konteks theory of action yang dipelopori Talcott Persons. Gordon Allpor. menurut St. Hubungannya dengan pembahasan nilai. maka dapat dirumuskan lebih luas bahwa cogito ego sum “saya berpikir. eksplisit atau implisit yang khas milik seorang individu atau sekelompok tentang apa yang seharusnya diinginkan dan yang mempengaruhi pilihan yang tersedia dari bentuk-bentuk. ungkapan Protagoras itu dipertegas Rene Descartes yang mengemukakan Cogito Ergo Sum (CES) yang berarti “saya berpikir. sedangkan metafisika yang semata-mata berusaha mengetahui sifat terakhir dari kenyataan tetap tinggal sebagai teori semata-mata. Justru karena fungsi proses penilaian dalam menentukan perilaku manusia itulah. Sikap skeptis ini. 1995:14) . Dari sinilah dapat dikemukakan bahwa. rumusan pertanyaan para filosuf tersebut masih sangat sederhana dan jelas karena pada saat itu para filosuf masih yakin sepenuhnya tentang kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan melalui indranya dan akalnya. penjelmaan sangat penting dari kemampuan manusia dalam melakukan penilaian. distingtive of an individual or characteristic of a group. A conception. Ketika Descartes mengemukakan Cogito Ergo Sum. Khan memberikan kedudukan yang sangat penting pada keduanya (ilmu tentang keterbatasan manusia dan pengalaman) adalah penjelmaan dari kemutlakan yang sama. Pada sisi lain. of the desirable wich influence the selection from available modes. Takdir. kemudian dikritik dan dilakukan berbagai pengkajian dan penelitian oleh para filosuf semisal George Berkeley dan David Human. sebenarnya sudah sampai pada pembahasan tentang teori nilai. mengemukakan bahwa value adalah. maka dapat dikemukakan teori nilai sebagai filsafat yang memiliki penerapan praktis secara langsung. Henry Murray dan Clyde Kluckhohn. dikembangkan oleh para sarjana ilmu-ilmu sosial (sosiolog. explicit or implicit. metafisika tidak mungkin merupakan ilmu tentang hakekat terakhir melainkan hanyalah ilmu tentang keterbatasan pikiran manusia. dkk. jika ia hendak mencoba berteori di luar batas-batas dirinya sendiri. maka ungkapan ini mengandung maksud bahwa wujud manusia yang khas adalah makhluq berpikir. sedangkan Hume setelah mengkritik konsep-konsep dasar yang digunakan para filosuf. Melalui Theory Action Kluckhohn. cara-cara dan tujuan-tujuan tindakan (Amri Marzali. kehidupan budi (pikiran yang dalam) yang terjelma dalam proses penilaian merupakan ciri khas manusia yang terpenting dalam kehidupan secara individu maupun dalam bermasyarakat. Teori nilai sebagai filsafat praktis. jaman metasifika yang mutlak itu disusul kesangsian terhadap pengetahutan yang diperoleh melalui indra ataupun akalnya. Melalui pembahasan tentang teori pengetahuan. jadi saya ada”. jadi saya ada”. Dua puluh tiga abad kemudian. means and ends of action nilai adalah sebuah konsepsi. Ergo Sum yang berarti “saya menilai. berteori. serta agamawan Immanuel Khan. Jadi. Ungkapan ini. dirumuskan oleh Protagoras melalui ungkapannya yang terkenal yaitu manusialah ukuran dari segala sesuatu. Dengan menekankan kepada unsur-unsur a priori dalam pengetahuan yang berdasarkan konsep-konsep. Sebab teori nilai menyelidiki tentang proses dan isi penilaian yaitu prosesproses yang mendahului. mengiringi. bahkan menentukan semua kelakukan manusia. Edward Shils.

lebih implisit daripada eksplisit. Takdir Alisjahbana (1984). Etika merupakan penyelidikan filsafat tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik atau buruknya perilaku itu. . Nilai hanya dapat disimpulkan dan ditafsirkan dari ungkapan. perbuatan dan materi sebagai kulit luar (the husk) atau sesuatu yang nyata adalah yang terlihat dan yang berada di permukaan. melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininya sendiri sebagai kewajiban. Dalam kaitan ini. berbentuk idea atau pemikiran yang abstrak dan sangat umum. sedangkan nilai yang tersembunyi di bawah kulit disebut sebagai inti (the kernel). menurut St. lembaga pendidikan. Berdasarkan uraian di atas. mereka yakin kiyainya selalu mengajarkan hal-hal yang benar. nilai berarti masih bersifat abstrak atau dibangun di dalam pikiran (budi). sebaliknya mereka tidak percaya jika kiyainya berbuat kesalahan atau kekeliruan. Sebagai suatu konsep. Karena itu ungkapan. yang dalam hal ini bercorak fiqh-sufistik dan berorientasi kepada kehidupan ukhrawi. perbuatan atau materi tersebut. mempersoalkan norma-norma yang berlaku dan menyelidiki dasar norma-norma itu. kiyai sebagai figur sentral dan pembina santri secara konsisten menjaga nilai-nilai agama dalam kelompok pertama. 1995:16-17). negara dan agama untuk memberi perintah atau larangan yang harus ditaati. Nilai yang dianut seseorang atau sekelompok masyarakat. sehingga belum dapat diraba dan dilihat secara langsung dengan pancaindra. seseorang tidak cukup hanya mengamati dan mencatat ungkapan.Kunci definisi value (nilai) di atas menurut Amri. Moralitas Pesantren Pada umumnya. tidak terletak pada kebebasannya dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan. tapi dia harus pandai mengoreksi dan menemukan konsepsi yang tersembunyi di bawah permukaan ungkapan. Senada dengan pernyataan ini Juhaya S Praja (1997) menuliskan. diungkapkan dalam bentuk verbal secara komplit dan tepat oleh pemiliknya. perbuatan dan materi yang dibuat manusia. Etik. nilai dapat diuraikan dalam bentuk kata-kata orang lain kemudian diajukan kepada pemiliknya: apakah kesimpulan orang lain itu benar atau tidak pemilik nilai dapat memberikan persetujuan atau penolakan. ketundukan dan keyakinan para santri terhadap kiyainya sangat besar. etika menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma sehingga etika akhirnya membantu manusia menjadi lebih otonom. perbuatan atau materi yang dihasilkan oleh anggota masyarakat. 1996:58). Sebaliknya. sedangkan asaatidz dan santri menjaga nilai-nilai agama kelompok kedua. Bellah melalui Tokugawa Relegion (1970) mengumpamakan bahwa ungkapan. Inilah sebabnya. pembicaraan tentang nilai yang dimaksud adalah etik. mengapa kiyai mempunyai kekuasaan mutlak di pondok pesantrennya. ketaatan. merupakan cabang dari teori nilai yang tertua dan sering merupakan bagian dari agama yang terintegrasi. biasanya berbentuk samar-samar. Alat untuk menguji nilai adalah verbalizability (Amri Marzali. maka untuk menangkap nilai yang hidup pada suatu masyarakat. perbuatan dan materi kehidupan sehari-hari yang dilakukan manusia adalah manifestasi dari nilai. teori nilai meliputi dua cabang filsafat yaitu Etika dan Estetika. Nilai yang menjadi dasar keberadaan pondok pesantren dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu: 1) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak. Robert N. mempersoalkan hak setiap lembaga seperti keluarga. adalah konsep tentang hal yang seharusnya diinginkan. 2) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari menurut hukum agama (Mastuhu. Otonomi manusia. Etika memiliki sifat yang sangat mendasar yaitu sifat kritis. b. Namun demikian. Ini artinya bahwa.

variasivariasi tersebut dapat dijumpai jika kita bisa berpikir secara analitis untuk memperoleh konsep tentang suatu pesantren dan dapat menjabarkan secara detail tentang prospek dan perkem-bangan pesantren. sebagaimana yang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan sekolah. negara atau adat istiadat maka kita berbicara tentang etik heteronom yakni baik dan buruknya perkataan dan perilaku manusia dinilai berdasarkan perundang-undangan. awalnya ia ingin berlindung pada pondok pesantren dimana ia pernah belajar. organisasi kepengurusan. dewan kiyai/guru. baik di lingkungan dalam pesantren maupun di luar pesantren. Sebaliknya. biasanya bersifat tidak resmi yaitu dalam bentuk patron: guru-murid dan dengan bentuk hubungan lugas dari . sehingga diperoleh variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan. jika sumber norma ada di dalam diri sendiri. Mereka selalu menjaga perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. selalu berujuk kepada tradisi pesantren baik tradisi dalam arti “tradisi suci” (perilaku yang sesuai dengan al-quran dan sunnah rasul) maupun tradisi dalam arti kebiasaan masyarakat setempat yang telah dijaganya selama bertahun-tahun. Biasanya. sebagaimana teori nilai. Melalui istilah itu bukan berarti pondok pesantren memiliki perjenjangan. Daripadanya dikembangkan norma-norma kelakukan baik dan buruk dalam hubungannya dengan seluruh kehidupan manusia. Pernyataan ini dapat diperhatikan dari kegiatan yang dilakukan para santri. Hubungan antara pondok pesantren induk dengan anak atau pesantren cabang. didasarkan atas pertimbangan etika kolektif masyarakat pesantren. rencana program pelajaran. etik dan norma merupakan kesatuan makna. Jika moral (mores. Variasi-variasi pesantren itu terjadi karena pesantren tidak memiliki tingkatan atau perjenjangan. Masyarakat Pesantren terdiri dari orangorang yang selalu berkata dan berbuat sesuai dengan dan/atau berujuk kepada ajaran Islam dan mempertimbangkan kebiasaan atau tradisi yang telah berkembang di lingkungannya yang dianggap tidak bertentangan dengan ajaran agama. pesantren yang besar memiliki santri banyak yang datang dari daerah-daerah yang jauh. tampaknya moralitas pondok pesantren termasuk kategori etik heteronon yang menilai perkataan dan perilaku seseorang dianggap baik atau buruk.Sebagaimana teori nilai. Hirarki Pesantren Sesuatu yang sangat unik pada dunia Pesantren adalah begitu banyaknya variasi antara pesantren yang satu dengan pesantren lainnya walaupun dalam berbagai aspek dapat pula ditemukan beberapa kesamaan yang bersifat umum. karena itulah maka pesantren ini memiliki anak/pesantren cabang di daerah. Di dunia pesantren terdapat istilah pesantren induk yang memiliki anak atau pesantren cabang di berbagai tempat. atau ia ingin tetap memiliki ikatan batin dengan kiyai bekas gurunya. Dengan kalimat lain. nilai dan moral pesantren adalah segala perbuatan yang berkembang di lingkungan pondok pesantren. Teori-teori etik (juga moral atau akhlaq). memiliki perbedaan menurut sumber-sumbernya. sebab pertumbuhan anak atau pondok pesantren cabang ini terjadi. bahasa Latin) bersumber pada agama. 7. Takdir ini bukan berarti bahwa antara nilai. maka disebut etik autonom yaitu penilaian terhadap baik atau buruknya perkataan dan perbuatan orang adalah berdasarkan penilaian atau pengakuan pribadi/individu. Dawam Rahardjo (1995:24) mengemukakan. Pernyataan St. pranata sosial atau ajaran agama. kelompok-kelompok santri atau bagian-bagian fungsional khusus jika dibandingkan dengan pesantren lainnya akan ditemukan tipologi dan variasi dunia pesantren. etik menjelaskan nilai tertinggi yaitu apa yang disebut kebaikan. juga berusaha mengikuti kebiasaan masyarakat pendahulunya. Berdasarkan teori di atas. Hirarki dan Karakteristik Pesantren a. pada mulanya berasal dari santri yang merasa berhasil menuntut ilmu dari suatu pesantren kemudian terpanggil untuk mendirikan pondok pesantren.

Waktu belajarnya. Untuk menguasai dan memahami beberapa macam KK. lembaga-lembaga pengajian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. hadits mushthalah hadits. namun anak/pesantren cabang bisa begitu saja lepas dari induknya atas pertimbangan dan keputusan yang bersumber dari bentuk hubungan seperti ini. istilah pesantren induk dan anak/pesantren cabang tidak tepat untuk mengatakan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan. tarikh. Di antara anak/ pesantren cabang ada yang tetap kecil dan kurang berkembang. proses pendidikan dasar-dasar al-quran tersebut merupakan perjenjangan pertama. diperlukan guru-guru (asaatidz) atau kiyai yang cukup cerdik dan berbobot. dengan harapan mereka kelak akan dapat membaca dan menterjemahkan KK yang ditulis dalam bahasa Arab. tawhid. bertingkat-tingkat. walaupun perjenjangan ini tidak terjadi pada setiap pesantren. tulisan Zamakhsyari Dhofier dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menyebutkan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan. Tingkat yang paling rendah. kedua ilmu ini dikenal sebagai ilmu-ilmu alat) sebagai alat untuk memperdalam KK antara lain kitab fiqh ushul fiqh. Di bawah ini. melainkan juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah keagamaan. juga diperlukan lembaga pendidikan yang lebih sistematis. Lembaga pendidikan dimaksud tidak cukup hanya pondok pesantren. setelah mereka berumur tujuh atau delapan tahun. Dengan demikian. mereka mempercayakan kepada tetang-ganya belajar al-quran di rumah tetangganya atau di mushalla. ‘ulum al-hadits. tasawwuf atau akhlaq. sehingga kemudian mereka mempelajari nahwusharaf (di lingkungan pondok pesantren. dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini. secara alamiah akan berhenti setelah anak-anak mampu membaca al-quran dengan lancar dan benar. bermula pada waktu anak-anak berumur kira-kira lima tahun menerima pelajaran dari orang tuanya berupa menghafalkan alfabet arab secara bertahap agar mereka kelak dengan mudah membaca al-quran. tetapi ada juga yang kemudian berkembang menjadi besar dan membangun citra dengan nama sendiri.sistem organisasi yang impersonal. tafsir ‘ulum al-tafsir. adab. Dzofir (1994:20-21) menuliskan. . Bagi orang tua atau saudarasaudaranya yang tidak bisa mengajarkan al-quran kepada anak-anaknya. mulai diajarkan untuk menghafal beberapa surat pendek dari juz terakhir (juz ke-30) dalam al-quran. Program pengajaran tingkat pemula ini. Sebagian dari mereka. Bagi beberapa anak dari keluarga tertentu. berlangsung setelah shalat maghrib hingga shalat ‘isya tiba. Bentuk hubungan seperti ini bisa bersifat amat erat dan kuat karena merupakan suatu hubungan bathin. ada yang setelah berkenalan dan mampu membaca KK tersebut berambisi menjadi kiyai atau ulama. Lebih jelasnya tentang hirarki atau jenjang pendidikan di pondok pesantren menurut Zamakhsyari Dzofir ini. untuk selanjutnya mereka dianjurkan agar melanjutkan pelajarannya ke lembaga pendidikan Islam yang lebih tinggi tingkatnya yakni pondok pesantren.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful