Kurikulum Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional

Pondok Pesantren category
1

• •

circle of playgrounds composed • of study • curriculums

Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak sekedar fokus pada kita kitab klasik (baca : ilmu agama) tetapi juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum di Pesantren saat ini dikhotomi ilmu mulai tak populer beberapa pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada dibawah DIKNAS Misal Undar Jombang Pondok pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll. Perkembangan yg begitu pesat dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi menyebabkan pengertian kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu namun demikian satu hal yg permanen disepakati bahwa Istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani semula populer dalam bidang olah raga yaitu Curere yg berarti jarak terjauh yg harus ditempuh dalam olahraga lari mulai start hingga finish. Kemudian dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dalam bahasa Arab Menurut Omar Muhammad (1979 : 478) term kurikulum dikenal dgn term manhaj yakni jalan terang yg dilalui manusia dalam hidupanya. Dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai jalan terang yg dilalui oleh pendidik dan peserta didik utk menggabungkan pengetahuan ketampilan sikap dan seperangkat nilai. Secara etimologi artikulasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua pertama dalam pengertian yg sempit disebut juga (pengertian tradisional) yakni sebagaimana dirumuskan Regan ( 1960 : 57) “ The curriculum has mean the subjects taught in school or the course of study “. Kurikulum adl mata pelajaran yg diajarkan di sekolah atau bidang studi. Kedua dalam pengertian yg luas disebut juga (pengertian modern) yakni seperti dirumuskan Spear ( 1975 : 67) “The curriculum is looked as being composed of all the actual experience pupils have under school direction writing a courrse of study become but small prt of curriculum program”. Kurikulum adl semua pengalaman aktual yg dimiliki siswa di bawah pengaruh sekolah sementara bidang studi adl bagian kecil dari program kurikulum secara keseluruhan. Rumusan ini dijustifikasi oleh sejumlah pakar lain seperti Saylor dan Alexander yg menyebutkan “The curriculum is the sum total of the school’s effort to influence learning whether in the calssroom on the playground or out of shoo” kurikulum adl keseluruhan usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar anak yg berlangsung di dalam kelas di sekolah maupun di luar sekolah. Melampaui pembagian diatas saat ini ada juga beberapa pakar seperti Lee and Lee ( 1940 : 211) yg menyebutkan bahwa “Curricuum is the strategy which we use in adapting this cultural geritage to the purpose of the shoo “ Kurikulum adl strategi yg digunakan utk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.

Berdasarkan literatur yg ada yg dimaksud dgn kurikulum adl salah satu komponen utama yg diguanakan sebagai acuan utk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping fakyor-faktor yg lain. Oleh sebab itu keberadan kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting. Kita selalu sering mendengar sorotan tajam bahwa kurikulum selalu tertinggal dgn perkembangan zaman. Dengan demikian pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan. Dalam konteks pendidikan di pesantren Nurcholis Madjid mengatakan yg dikutip oleh Abdurrahman Mas’ud dkk bahwa istilah kurikulum tak terkenal di dunia pesantren (masa pra kemerdekaan) walaupun sebenar materi pendidikan sudah ada di dalam pesantren terutama pada praktek pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan di pesantren. Secara eksplisit pesantren tak merumuskan dasar dan tujuan pesantren atau mengaplikasikan dalam bentuk kurikulum. (2002:85) Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan termasuk di dalam modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal sistem dan kelembagaan pesantren telah dimodernisasi serta disesuaikan dgn tuntutan pembangunan terutama dalam aspek-aspek kelembagaan sehingga secara otomatis akan mempengaruhi ketetapan kurikulum. Berdasarkan pendapat di atas bahwa kurikulum pada dasar merupakan seperangkat perencanaan dan media utk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan lembaga pendidikan yg diidamkan. Pesantren dalam aspek kelembagaan mulai mengembangkan diri dgn jenis dan corak pendidikan yg bermacam-macam. Seperti Pesantren Tebuireng Jombang yg di dalam telah berkembang madrasah sekolah umum sampai perguruan tinggi yg dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi pesantren yg mengikuti pola salafi (tradisional) mungkin kurikulum belum dimasukkan secara baik. Maka dari pada itu kurikulum pondok pesantren tradisional status cuma sebagai lembaga pendidikan non formal yg hanya mempelajari kitab-kitab klasik. Meliputi : nahwu sorrof belaghoh tauhid tafsir hadist mantik tasawwuf bahasa arab fiqih ushul fiqh dan akhlak. Dengan demikian pelaksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yg dibahas dalam kitab. Jadi ada tingkat awal menengah dan lanjutan. Jenjang pendidikan dalam pesantren tak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yg memakai sistem klasikal. Umum kenaikan tingkat seorang santri didasarkan kepada isi mata pelajaran tertentu yg ditandai dgn tamat dan berganti kitab yg dipelajarinya. Apabila seorang santri telah mengusai satu kitab atau beberpa kitab dan telah lulus ujian yg diuji oleh Kiai maka ia berpindah kepada kitab lain yg lbh tinggi tingkatannya. Jelas penjenjangan pendidikan pesantren tak berdasarkan usia tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yg telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi. Sebagai konsekuensi dari cara penjenjangan di atas pendidikan pesantren biasa menyediakan beberapa cabang ilmu atau bidang-bidang khusus yg merupakan fokus masing-masing pesantren utk dapat menarik minat para santri menuntut ilmu di dalamnya. Biasa keunikan pendidikan sebuah pesantren telah diketahui oleh calon santri yg ingin mondok. (Sulthon dan Ridho 2006: 159-160) Kendati beberapa pakar berbeda dalam merumuskan pengertian kurikulum tetapi mereka tak berbeda mengenai fungsi kurikulum yakni : sebagai sarana atau alat utk mencapai tujuan pendidikan sebagai pelestari nilai nilai budaya dan sebagai pedoman tentang jenis lingkup dan hirarki urutan isi dan proses pendidikan. Kurikulum bagi pendidik berfungsi sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir

pengalaman belajar peserta didik bagi tenaga kependidikan berfungsi sebagai pedoman dalam mengadakan supervisi bagi wali murid berfungsi utk memberikan informasi sekaligus dorongan agar membantu menggiatkan belajar yg relevan di rumah dan bagi perserta didik sendiri berfungsi sebagai informasi tentang jenis pengetahuan nilai nilai dan keterampilan yg telah diperoleh sebagai entri behaviornya. Kurikulum Pendidikan pesantren menurut Hasan (2001 : 6 ) paling tak memiliki beberapa komponen antara lain : tujuan isi pengetahuan dan pengalaman belajar strategi dan evaluasi. Biasa komponen tujuan tersebut terbagi dalam beberapa tingkatan yakni tujuan pendidikan nasional tujuan institusional tujuan kurekuler dan tujuan instruksional. Namun demikian berbagai tingkat tujuan tersebut satu sama lain merupakan suatu kesatuan yg tak terpisahkan. Komponen isi meliputi pencapaian target yg jelas materi standart standart hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. kepribadian. Komponen strategi tergambar daricara yg ditempuh di dalam melaksanakan pengajaran cara di dalam mengadakan penilaian cara dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan. Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup cara yg berlaku dalam menyajikan tiap bidang studi termasuk cara mengajar dan alat pelajaran yg digunakan. Komponen evaluasi berisi penilaian yg dilakukan secara terus menerus dan bersifat menyeluruh terhadap bahan atau program pengajaran yg dimaksudkan sebagai feedback terhadap tujuan materi metode sarana dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lbh lanjut. Menurut Imam Bawani (1987 : 92) adl berbeda antara pendidikan Islam dgn pendidikan agama Islam. Bila disebut pendidikan Islam maka orientasi adl sistem yaitu sistem pendidikan yg Islami yg teori-teori disusun berdasarkan alqur’an hadits. Sedangkan pendidikan agama Islam adl nama kegiatan atau aktivitas dalam mendidikkan agama Islam. Dengan kata lain pendidikan agama Islam adl sejajar dgn mata pelajaran lain di sekolah seperti pendidikan matematika ataupun pendidikan biologi. Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adl upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik utk mengenal memahami menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dgn tuntunan utk menghormati penganut agama lain dalam hubungan dgn kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa. Jadi kurikulum Pendidikan pesasntren adl bahan-bahan pendidikan agama Islam di pesantren berupa kegiatan pengetahuan dan pengalaman yg dgn sengaja dan sisteatis diberikan kepada santri dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan pesasntren merupakan alat utk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Adapun lingkup materi pendidikan pesasntren adl : Al-Qur’an dan Hadits Keimanan akhlak Fiqh/ibadah dan sejarah dgn kata lain cakupan Pendidikan pesasntren ada keserasian keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dgn Allah diri sendiri sesama manusia makhluk lain maupun lingkungannya. Untuk mencapai tujuan Pendidikan pesantren tersebut perlu rekonstruksi kurikulum agar lbh riil. Rumusan tujuan Pendidikan pesasntren yg ada selama ini masih bersifat general dan kurang mach dgn realitas masyarakat yg terus mengalami transformasi. Rekonstruksi disini dimaksudkan utk meningkatkan daya relevansi rumusan tujuan Pendidikan pesasntren dgn persoalan riil yg dihadapi masyarakat dalam hidup kesehariannya. Prinsip pengembangan kurikulum Pendidikan pesasntren secara umum dapat dikelompkkan menjadi dua yakni prinsip umum yg meliputi prinsip relevansi prinsip fleksebelitas prinsip kontinoitas prinsip praktis prinsip efektifitas dan prinsip efisiensi. Sedangkan prinsip khusus mencakup prinsip yg berkenaan dgn tujuan Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn

• • • • . Kurikulum hendak realistis. Kurikulum perlu disusun secara bertahap mengikuti periodisasi perkembangan peserta didik. Mastuhu secara praktis memberikan konsep tentang model dan paradigma Pendidikan pesantren yg diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga Pendidikan pesasntren yaitu : • Dasar Pendidikan Pendidikan pesasntren harus mendasarkan pada “teosentris’ dengan menjadikan “antroposentris” sebagai bagian esensial dari konsep teosentris. Kurikulum hendak mengacu kepada pencapain tujuan akhir pendidikan Islam sambil memperhatikan tujuan – tujuan di bawahnya. Tujuan Pendidikan kerja membangun kehidupan duniawiyah melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi kepada-Nya. Berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya berorientasi pada Iptek. Konsep manusia Pendidikan Islam memandang manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan tak seperti pendidikan sekuler yg memandang manusia dgn tabularasanya. Metode pendidikan yg merupakan salah satu komponen kurikulum ini hendak bersifat fleksibel. Pembangunan kehidupan duniawiyah bukan menjadi tujuan final tetapi merupakan kewajiban yg diimani dan terkait kuat dgn kehidupan ukhrawiyah tujuan final adl kehidupan ukhrawi dgn ridla Allah SWT. • • • Pengembangan kurikulum Pendidikan pesantren yg terus menerus menyangkut seluruh komponen merupakan sesuatu yg mutlak utk dilakukan agar ia tak kehilangan relevansi dgn kebutuhan riil yg dihadapi komonitas pendidikan islam yg kecenderungan terus mengalami proses dinamika transformatif. Kuirikulum hendak terstruktur dan terorganisasi secara integral. Pendidikan pesantren yg dibangun atas dasar pemikiran yg Islami bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yg dilandasi kaidah – kaidah Islam. Kurikulum hendak pula disesuaikan dgn kondisi dan lingkungan seperti iklim dan kondisi alam yg memungkinkan ada perbedaan pola kehidupan agraris industri dan komersial. Arti kurikulum dapat dilaksanakan sesuai dgn berbagai kemudahan yg dimiliki tiap negara yg melaksanakanya. Kurikulum yg demikian biasa mengacu pada sembilan prinsip utama sebagai berikut : • • • • Sistem dan pengembangan kurikulum hendak memperhatikan fitrah manusia agar tetap berada dalam kesucia dan tak menyimpang. Kurikulum hendak efektif utk mencapai tingkah laku dan emosi yg positif. Nilai Pendidikan pesasntren berorientasi pada Iptek sebagai kebenaran relatif dan Imtaq sebagai kebenaran mutlak.pemilihan isi Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn metode dan strategi proses pembelajaran Pendidikan pesantren prinsip yg berkenaan dgn alat evalusi dan penilaian Pendidikan pesasntren. Hal ini berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya bersifat antroposentris semata. Kurikulum hendak memperhatikan kepentingan nyata masyarakat seperti kesehatan keamanan administrasi dan pendidikan.

Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan memegang prinsip bahwa tujuan utama sebuah pembelajaran adalah liridhoillah. Sebagai sebuah lembaga pendidikan. Terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan paradigma. Masyarakat memandang zaman telah berkembang menuju era globalisasi. Hal itu karena. materi yang dikaji di pesantren adalah ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin). serta berbagai masalah yg dihadapi dalam tiap tingkat perkembangan seperti pertumbuhan bahasa kamatangan sosial dan kesiapan religiusitas. Dan selama itu pesantren telah terbukti mencetak manusia-manusia yang berakhlakul karimah. kerangka berpikir. Dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan dalam transformasi manhaj pesantren ini. kondisi memprihatinkan tengah dihadapi masyarakat pesantren. 09 Des 2010 Santri Modern. . bermanfaat untuk masyarakat. seperti fiqih. nahwu-shorof. tafsir. Dilema Paradigma Ekstrem Barat Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama dan etika bermasyarakat. Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Referensi utama yang digunakan adalah kutub turats karya salafus sholeh. Di antara kajian yang ada. Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi standard intelektual.• Kurikulum hendak memperhatiakan tingkat perkembangan peserta didik baik fisik emosional ataupun intelektualnya. materi nahwu dan fiqih mendapat porsi perhatian lebih banyak. dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren maupun Universitas Islam yang nota bene dimotori oleh alumnus-alumnus pesantren yang ketika dipesantren tidak didasari dengan dasar ruhani yang kuat. ilmu nahwu dipandang sebagai ilmu kunci. Bencana Aceh Versi Arab Kamis. hadist. dan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip kejujuran dalam kehidupan sehari. Pesantren sudah ada sejak ratusan tahun silam. Sebagai sebuah respon atas perkembangan zaman. Untuk bisa membaca dan memahami kitab seseorang harus menguasi ilmu nahwu. tauhid dan lain-lain. masyarakat modern menginginkan perubahan terjadi dalam diri pesantren. antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif. Ia adalah model pendidikan yang pertama dan tertua yang ada di Indonesia. Namun pada akhir-akhir ini.

kadaluarsa dan tidak relevan lagi.Mereka menuntut pesantren sebagai institusi pendidikan untuk melakukan akselerasi dan transformasi ke arah perkembangan tersebut. Mereka anggap idiologi salaf seolah hal yang sudah basi. Transformasi ini juga ikut andil dalam membidani lahirnya paradigma liberalis kebarat-baratan di kalangan santri. Parahnya lagi ketika mereka mendengar teriakan-teriakan yang berbau salaf. dan kebodohan atas perkembangan dunia modern. figur-figur lokal yang liberal ketimbang mengambil ayat-ayat al-Qur'an Hadist-hadist nabi. Pola pendidikan pesantren dianggap tidak mampu memenuhi pasar kerja. kerangka berpikir. Ketiga. muncullah pesantrenpesantren baru atau pesantren lama yang berusaha menafsirkan tuntutan masyarakat dalam tindakan aktif. Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama dan etika bermasyarakat. terjadi euforia yang berdampak pada hijrahnya paradigma. Sehingga ketika ia melihat suatu ideologi kebebasan di luar lingkungannya. masyarakat santri di pesantren dipahami sebagai kelompok yang semata-mata berlajar agama dan kitab-kitab salaf tanpa peduli pada masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat umum. Pesantren model ini telah mengadaptasi sistem pendidikan modern sebagai bentuk respon atau penyesuaian terhadap tantangan zaman. Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi standard intelektual. Mereka lebih merasa bangga ketika paradigma pemikirannya bermuara dari akar-akar filosof barat. dengan menerapkan pola dan sistem pendidikan modern. Perpaduan semacam itulah yang sekarang diminati oleh sebagian masyarakat. Pandangan ini menjadikan pesantren dipandang tidak efektif sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mampu merespon tuntutan zaman. Mereka menganggap kaum sarungan (santri) yang setia dengan kajian lughowi dan atau waqi'i serta manhaj kitab-kitab salaf yang ketat. Karena alasan inilah pesantren semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan dalam transformasi manhaj pesantren ini. dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren maupun Universitas Islam yang notabene dimotori oleh alumnus-alumnus pesantren yang ketika dipesantren tidak didasari dengan dasar ruhani yang kuat. antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif. Yaitu golongan antikonservatif yang telah muak berada pada kejumudan yang dirasakanya di pondok. dengan sangat tergesa-gesa mereka menutup rapat-rapat telinganya seolah mendengar suara yang memanggil ke masa lalu. karena beberapa anggapan: Pertama. Kedua. atau maqolah-maqolah ulama'. kekumuhan. Di latarbelakangi hal itu. dunia santri dan pesantren dicitrakan sebagai dunia yang tertutup sehingga dekat dengan keterbelakangan. yaitu perpaduan kurikulum antara mata pelajaran berbasis ilmu agama dan mata pelajaran berbasis pengetahuan umum. seolah sebagai sisa- . Terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan paradigma.

materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. suatu hal yang tidak didasari dengan dasar teori yang kuat akhirnya hanya akan menghasilkan produk pemahaman yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.sisa dari konteks sosial dan politik masa lalu (jahiliyyah).. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’).. Akan tetapi untuk mencari menu tambahan tersebut ada fase-fase tertentu. ketika dia harus berubah mengikuti tuntutan masyarakat. hasil interpretasi yang berusaha mereka kontekskan bukan didasari dengan dasar teori yang kuat. kemampuan membaca (reading . baik menyangkut metode (model pengajaran). hemm. Siapa yang berpegang pada teori jahiliyah sekarang? Fenomena inilah yang ditakutkan oleh pesantren salaf. • Studi Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab • • Author: admin Filed under: Metode Thursday Jun 12. Jangankan interpretasi yang maksimal. Muqaddimah Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu. Produk inilah yang berusaha mereka tafsirkan dalam bahasa keilmuan modern.oke. Hal yang ironis terjadi. untuk membaca teks-teks karya salafus sholeh inipun mereka masih belum fasih. mereka sudah mencoba mengkontekskan hasil interpretasi yang tidak maksimal tadi. oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda. Betapa banyak kalangan santri yang berubah jadi nyeleneh setelah mengenal ideologi-ideologi yang berkembang dari belahan dunia Barat. ketika basic Islam sudah tertanam dalam hati yang paling dalam dan mengakar pada pikiran. disatu sisi penguasaan pada manhaj ala pondok pesantren belum mumpuni yang berefek pada tidak maksimalnya pemahaman tentang produk salaf yang menjadi kajian di pesantren. Tetapi Jangan diartikan bahwa kita sebagai santri tidak tepat mempelajari ilmu-ilmu kekinian. justru sebaliknya kita harus memahami hal-hal tersebut karena agar mampu membawa ajaran salaf as shalih sebagai ajaran pure of life. kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum). Jadi. Mereka mencoba mengkontekskan produk-produk salaf dengan teori modern.2008 Oleh : Yayat Hidayat A.

pada umunya mempunyai tujuan sebagai alat komunikasi dan ilmu pengetahuan (kebudayaan). oleh karena itu ia cenderung dapat berhasil dengan cepat. yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. B. Misalnya: ‫ . 1. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai. pertama. prinsip penghayatan. struktur kata. ء – ع س– ش. dan bercakap sebelum menulis. serta korelasi dan isi.Prinsip prioritas Dalam pembelajaran Bahasa Arab. Ada beberapa teknik melatih pendengaran/telinga.Tujuan Pengajaran Belajar bahasa ibu (bahasa bawaan -edt) merupakan tujuan yang hidup. Kedua. struktur kalimat maupun sistem bahasa berpikirnya1. ز – ذ‬dan seterusnya3. -edt) peserta didik. ه – ح. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati secara kolektif. 1. mengajarkan. lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis. kemudian kemampuan menirukan ucapan. mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata.yaitu: i. maupun bahasa berpikirnya.Guru bahasa asing kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya.competence/mahaarah al-qira’ah). ذ. tulis. ia telah lebih dahulu menguasai bahasa ibunya. walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. yaitu. Sementara itu belajar bahasa asing. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia2. oleh karena itu motivasi untuk belajarnya sangat tinggi.Kemampuan dasar yang dimiliki Ketika anak kecil belajar bahasa ibu. prinsip bertahap. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab tentu lebih sulit dan berat. otaknya masih bersih dan belum mendapat pengaruh bahasa-bahasa lain. motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya. ii. seperti: ‫ خ. dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah). baik lisan. 1)Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis.Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Arab (asing) Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing.Selanjutnya materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa indonesia. iii. ض‬dan seterusnya. Namun bahasa asing tidak dijadikan sebagai bahasa hidup seharihari. seperti bahasa Arab (bagi non Arab). mendengarkan. ث. Sementara ketika mempelajari Bahasa Arab. kemampuan dasar yang dimiliki. 2. Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa. baik sistem bunyi. menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab. Ketiga. Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkahlangkah berikut4. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina. prinsip koreksitas dan umpan balik. yaitu sebagai alat komunikasi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dalam hidupnya. baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. karena ia harus menyesuaikan sistem bahasa ibu kedalam sistem bahasa Arab. yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian. ص. oleh karena itu motivasi belajar Bahasa Arab lebih rendah daripada bahasa ibu. .Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam. Padahal besar kecilnya motivasi belajar Bahasa Arab mempengaruhi hasil yang akan dicapai. ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran.

Ketiga. Contoh: ‫اشتريت سيارة صغيرة بيضاء‬ ‫ مستعملة مصنوعة في اليا بان‬Kemudian dipenggal – penggal menjadi : ‫اشتريت سيارة اشتريت سيارة صغيرة‬ ‫ اشتريت سيارة صغيرة بيضاء‬Dan seterusnya. tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja ( ‫ . Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik. با. dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek). guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut.. maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik5. korektisitas dalam pengajaran (sintaksis). cara berhenti.Prinsip Berjenjang ( ‫ )التدرج‬Jika dilihat dari sifatnya. bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal). Tetapi. ii.Korektisitas dalam pengajaran sintaksis Perlu diketahui bahwa struktur kalimat dalam bahasa satu dengan yang lainnya pada umumnya terdapat banyak perbedaan. korektisitas dalam pengajaran (fonetik).) فعل‬c. . Korektisitas ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab. ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. dari yang global ke yang detail.Korektisitas dalam pengajaran fonetik Pengajaran aspek keterampilan ini melalui latihan pendengaran dan ucapan. ب. yaitu: pertama. dalam bahasa Arab. 3. dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. korektisitas dalam pengajaran (semiotic). a. kemudian dilatih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang dan kemudian dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). maupun panjang pendeknya. Oleh karena itu. 2)Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa Dalam mengajarkan struktur kalimat. hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu.Prinsip korektisitas (‫ )الدقة‬Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi ‫الصوات‬ (fonetik). ‫( التراكب‬sintaksis).i. Selanjutnya memberikan materi kata sambung.Jenjang Pengajaran mufrodat Pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik. Kedua. baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja. tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama. a. yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. Kedua. b. Misalnya : ‫ بى. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya. Ketiga. sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu.Korektisitas dalam pengajaran semiotik Dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. baik jumlah jam maupun materinya. Misalnya.Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau katakata untuk menirukan intonasi. ada 3 kategori prinsip berjenjang. 2. dan ‫( المعانى‬semiotic). Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu. ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya. بو‬dan seterusnya. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan karena kejelasan petunjuk. Oleh karena itu.Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing.

karena contoh yang baik akan menjelaskan gramatika secara mendalam daripada gramatika saja. sehingga menjadi cakap dan professional. penugasan kolektif sebelum individu. C. 2. c.Jangan memberikan contoh hanya satu kalimat saja.Tahapan pengajaran makna ( ‫ )دللة المعانى‬Dalam mengajarkan makna kalimat atau kata-kata. Ketiga. Misalnya hitam-putih. keterampilan. yaitu: 1. Kedua.Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid. metode modern. namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim. dan huruf. 3. metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam. metode tradisional/klasikal dan kedua. Metode pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara . 6. fi’il. lisan bahkan mungkin ekspresi wajah.Ketika mengajarkan kata sifat hendaknya menyebutkan kata-kata yang paling banyak digunakan dan lengkap dengan pasangannya. harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah). seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian meraka. strategi dan ketelatenan. agar meraka merasa terlibat langsung dengan proses pengajaran yang berlangsung.الكتاب في الصندوق‬Contoh jumlah fi’iliyah : ‫خرج الطاب من الفصل‬ 7. Contoh Jumlah ismiyyah: ‫ . Dilihat dari teknik materi pengajaran bahasa Arab. 4. Langkah-langkah aplikasi ( ‫ )الصلبة والمتا نة‬Ada delapan langkah yang diperlukan agar teknik diatas berhasil dan dapat terlaksana. yaitu: pertama. dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat. bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan. jika tidak tepat aplikasinya. bundar-persegi. pelatihan lisan/pelafalan sebelum membaca.Metode Pengajaran Bahasa Arab Ibnu khaldun berkata. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic. “Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan. 8.” Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. sebaiknya dipilih huruf jar yang paling banyak digunakan dan dimasukkan langsung ke dalam kalimat yang paling sederhana. tahapan-tahapannya dapat dibedakan sebagai berikut: pertama. penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode. tetapi harus terdiri dari beberapa contoh dengan perbedaan dan persamaan teks untuk dijadikan analisa perbandingan bagi peserta didik.Hendaknya tidak memberikan contoh-contoh yang membuat peserta didik harus meraba-raba karena tidak sesuai dengan kondisi pikiran mereka. baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian.Peserta didik diberikan motivasi yang cukup untuk berekspresi melalui tulisan. Secara sederhana. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya.Mulailah contoh-contoh tersebut dengan menggunakan kata kerja yang bisa secara langsung dengan menggunakan gerakan anggota tubuh.Memberikan contoh-contoh sebelum memberikan kaidah gramatika. pelatihan melalui pendengaran sebelum melalui penglihatan.Ketika mengajarkan huruf jar dan maknanya. 5. Oleh karena itu.b.Mulailah contoh-contoh dengan sesuatu yang ada di dalam ruangan kelas/media yang telah ada dan memungkinkan menggunakannya. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran.

Peserta didik diajarkan membaca secara detail dan mendalam tentang teks-teks atau naskah pemikiran yang ditulis oleh para tokoh dan pakar dalam berbagai bidang ilmu pada masa lalu baik berupa sya’ir. Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al – mubasysyarah). dan tanda baca lainnya. d. Kedua kemampuan ilmu nahwu dianggap sebagai syarat mutlak sebagai alat untuk memahami teks/kata bahasa Arab klasik yang tidak memakai harakat.Peserta tidak diajarkan menulis karangan dengan gaya bahasa yang serupa / mirip.Menitikberatkan perhatian pada kaidah gramatika (Qowa’id Nahwu/Sharaf) untuk menghafal dan memahami isi bacaan. tujuan pengajaran bahasa arab tampaknya pada aspek budaya/ilmu. Ketiga.Guru memberikan kosa kata baru dan menjelaskan maknanya ke dalam bahasa local/bahasa ibu sebagai persiapan materi pengajaran baru. sehingga kemampuan di bidang itu memberikan “rasa percaya diri (gengsi) tersendiri di kalangan mereka”. al – itnab at Tasbi’ al Istiarah yang merupakan tren / gaya bahasa masa klasik.Guru mulai mendengarkan sederetan kalimat yang panjang yang telah dibebankan kepada peserta didik untuk menghafalkan pada kesempatan sebelumnya dan telah dijelaskan juga tentang makna dari kalimat-kalimat itu. baik aspek gramatika/sintaksis (Qowaid nahwu). Hal ini didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: Pertama.Penghayatan yang mendalam dan rinci terhadap bacaan sehingga peserta didik memiliki perasaan koneksitas terhadap nilai sastra yang terkandung di dalam bacaan. dengan gaya bahasa yang dipakai para pakar seperti pada bacaan yang telah dipelajarinya. dan meminta peserta didik menganalisis dengan kaidah gramatikal yang sudah diajarkannya (mampu menerjemah bahasa ibu ke dalam Bahasa Arab) e. yaitu untuk mengetahui nilai sastra yang tinggi dan untuk memiliki kemampuan kognitif yang terlatih dalam menghafal teks-teks serta memahami apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisan atau buku-buku teks. b. kata mutiara (alhikam). bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia. bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern. khususnya pesantren salafiah masih menerapkan metode tersebut. terutama nahwu dan ilmu sharaf. Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut adalah Metode qowaid dan tarjamah. Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. sinonim. maupun kiasan-kiasan (amtsal). c. seperti bentuk kata kiasan. terutama mengenai penggunaan model gaya bahasa. Artinya.mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab.Memberikan perhatian besar terhadap kata-kata kunci dalam menerjemah. a. terutama buku Arab klasik11. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad. sehingga inti belajar bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapan/ungkapan dalam bahasa Arab.Metode Qowa’id dan tarjamah (Tariiqatul al Qowaid Wa Tarjamah) Penerapan metode ini lebih cocok jika tujuan pengajaran bahasa Arab adalah sebagai kebudayaan. b. bidang tersebut merupakan tradisi turun temurun. Ciri metode ini adalah: a. . oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa. Aplikasi Metode Qowa’id dan tarjamah dalam proses pembelajaran. morfem/morfologi (Qowaid as-sharf) ataupun sastra (adab). (bahasa Arab – bahasa ibu). naskah (prosa). Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup. Penjelasan: 1.

bahwa alur makalah ini lebih menekankan tentang pentingnya: Seorang guru (pendidik) sebaiknya memahami prinsip – prinsip dasar pengajaran bahasa Arab diatas sebagai bahasa asing dengan menggunakan metode yang memudahkan peserta didik dan tidak banyak memaksakan peserta didik ke arah kemandegan berbahasa.Kegiatan membaca teks ini diteruskan hingga sekuruh peserta didik mendapat giliran. baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah.Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara Tanya jawab dengan guru/sesamanya. dar al – Kitab al – Ubnany. Daftar Pustaka 1.Ahmad Syalaby. Thuruqu Ta’alim al – Lughah al – ‘Arabiyah. h. 2. d. Nazhriyaat Hal Lughah. c. f.Ahmad al – Sya’alabi. Thuruqu Ta’lim al – Lughah al – ‘arabiyah Li al – Ajanib. metode ini memerlukan halhal berikut. 1979.Abdurrahman al – Qadir Ahmad. al – Mishriyah. e. 1973. Kaira: tnp. 2.Materi menulis diajarkan dengan latihan menulis kalimat sederhana yang telah dikenal/diajarkan pada peserta didik.c.Setelah itu siswa yang dianggap paling bisa untuk menterjemahkan. Perlu menjadi bahan revisi disini adalah bahwa dalam metode langsung. 5. 3. a. Kairo 1996 M / 1416 H.Materi pengajaran pada tahap awal berupa latihan oral (syafawiyah) b. Beirut.Selama proses pengajaran hendaknya dibantu dengan alat peraga/media yang memadai. e. Thuruqu Tadris al – Lughah al – ‘Arabiyah Wa al – Tarbiyah al – Diniyah. bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran dengan menekankan pada aspek penuturan yang benar ( al – Nutqu al – Shahiih). baik dalam menjelaskan makna yang terkandung di dalam bahan bacaan ataupun jabatan setiap kata dalam kalimat. oleh karena itu dalam aplikasinya. baik kata benda ( isim) atau kata kerja ( fi’il) yang sering didengar oleh peserta didik. 1983. banyak latihan dan banyak mencoba.Ibrahim Muhammad ‘Atha. Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah.Materi dilanjutkan dengan latihan penuturan kalimat sederhana dengan menggunakan kalimat yang merupakan aktifitas peserta didik sehari-hari..Anis Farihah. Kaira .Materi gramatika diajarkan di sela-sela pengajaran. Cet. 4. (Kuala Lumpur : . kemudian selanjutnya diarahkan pada pemahaman struktur gramatikanya12. dar al – Kitab al – Ubnany.Metode langsung (al Thariiqatu al Mubaasyarah) Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu.Materi Qiro’ah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab.Selanjutnya guru meminta salah satu peserta didik untuk membaca buku bacaan dengan suara yang kuat (Qiroah jahriah) terutama menyangkut hal-hal yang biasanya peserta didik mengalami kesalahan dan kesulitan dan tugas guru kemudian adalah membenarkan. Adapun bagi bagi seorang siswa. 11.Jassem Ali Jassem. Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah. Penutup Sebagai penutup. semuanya membutuhkan proses. Maktabah al – Nahdah. 1961.namun tidak secara mendetail. g. Kairo . bahwasanya belajar bahasa apapun. Ta’lim al – Lughah al ‘Arabiyah lighairi al – ‘Arab. 6. (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media). d. Tarikh al – Tarbiyah al – Islamiyah.Materi dilanjutkan dengan latihan menuturkan kata-kata sederhana.

maka ia tengah menjalankan suatu peran. M.Munir M. Yogyakarta: 2005. Yogyakarta: 2002. .Munir. sedangkan peran (role) adalah aspek dinamis dari status tersebut. Tetapi sebagai anggota masyarakat. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (perspektif sosiologifilosofis).Ag. kewajiban dan tujuan-tujuannya sesuai dengan status sosialnya. 11. Yogyakarta. Definisi Opersasional 1. Rekonstruksi dan Modernisasi Pendidikan Islam. Nizhamu Ta’lim al – Lughah al – ‘Arabiyah fi al – Ma’had al – Islamiyah.Muhammad Jawwad Ridla. Terjadinya sistem ini salah satu penyebabnya adalah adanya sesuatu yang lebih dihargai dari yang lain. dkk. Pengajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing. sehingga memberikan kemungkinan bagi terwujudnya berbagai status sosial dan peran dalam masyarakat tersebut. Proses bermasyarakat. karena itu ia berhak untuk memperoleh pendidikan.A. Sebagai pribadi. yang terkumpul dalam buku yang berjudul Rekonstruksi dan Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam. ia berkewajiban untuk menghormati dan memberikan kebebasan kepada orang lain untuk berkarya dan berprestasi sesuai dengan profesinya. Global Pustaka Utama. kesehatan. 2005 . berbicara dan melakukan kegiatan lain sesuai dengan keahlian dan profesinya..Munir. Nadzkarah Asas al – Ta’lim al – Lughah al – ajnubiyah.Kamal Ibrahim Badri dan Mahmud Nuruddin. Status adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat. 7. Seseorang yang melaksanakan hak. bekarya. 1996. 10. tidak bisa lepas dari kedudukannya sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.T Tiara Wacana. LIPIA. memperoleh pendidikan dan kesehatan serta memperoleh kesempatan bekerja. P. 1406 H 8. 9. Global Pustaka Utama. pekerjaan. Skripsi. Darul Huda. Jakarta. ia memiliki hak untuk memperoleh kehormatan dan kebebasan dari orang lain. 1996).Ag.S Noorden. selalu dijumpai adanya sistem pelapisan sosial. Peran Manusia hidup di tengah-tengah masyarakat..

Susanto (1977:94) mengutip pendapat Laurance Ross tentang role sebagai dinamisasi dari status atau penggunaan hak dan kewajiban. “the study of the direction and persitence of actrion is the study of motivation” yakni studi tentang dorongan untuk mengarahkan dan mempertahankan perbuatan adalah studi tentang motivasi. “peran adalah keseluruhan pola perilaku seseorang yang bertalian dengan status tertentu yang diharapkan oleh masyarakatnya”. seseorang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan. Seseorang. Kaitan dengan motivasi. Dalam . Pada tulisan ini. pengajaran. dijadikan panutan masyarakat dan dipercaya menjadi pemimpin pada suatu lembaga pendidikan keagamaan karena ‘alim. Orientasi Orientasi. Pendidikan dan Pendidikan Islam Di dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (1989:2) dikemukakan bahwa. Cs melalui Individual in Society (1962:69) yang mengemukakan. dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. Dengnan demikian yang dimaksud dengan kiyai pada tulisan ini ialah. adapun segala cara bertingkah laku dari individu-individu untuk memenuhi kewajiban dan mendapatkannya tadi. bentuk jamaknya yaitu kata ‘ulama yang berarti sekumpulan atau sekelompok orang yang berilmu dari berbagai latar belakang pengetahuan. otopraksi dan kharismanya. Lebih jauh Koentjoroningrat (1974:121) mengemukakan. Bahkan David Krech. disebut role. masyarakat memanggil seseorang dengan panggilam kiyai adalah karena kedudukannya sebagai pemimpin masyarakat karena sering menjadi imam peribadatan keagamaan di mushalla/masjid atau kegiatan keagamaan di majlis ta’lim atau pondok pesantren. sebagai pengelola pondok pesantren dalam mengikuti perkembangan dan kemauan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kesediaan sarana fasilitas. 2. Juga karena ia memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan dan mempraktekannya. 3. “upaya mencocokkan keadaan sesuai dengan petunjuk”. individu-individu yang terlibat di dalamnya selalu menempati kedudukan-kedudukan tertentu. yang disebut status”. pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) diartikan sebagai. Taufiq Abdullah (1993:43) mengemukakan bahwa padanan kata kiyai dengan keadaan masyarakat Indonesia yang plural ini yaitu kata ‘alim (bahasa Arab) yang berarti orang yang berilmu. “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan. “orientasi adalah penyesuaian diri terhadap obyek”. Motivasi Motivasi merupakan sesuatu yang dianggap abstrak. Dengan demikian. 4. Pada hakekatnya kedudukan-kedudukan tersebut merupakan suatu komplek dari kewajiban-kewajiban dan hak-hak dari individu-individu yang menempatinya. motivasi adalah goal directed yaitu dorongan yang tumbuh karena ada tujuan yang ingin dicapai pada diri individu maupun kelompok ke arah untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap tinggi. tetapi hasil dari motivasi dapat dibuktikan melalui manifestasi. karena motivasinya berupaya dan bekerja keras sehingga tercapai apa yang diinginkannya. Harsoyo (1972:124) mengemukakan. Aron Quinn (1958:46) mengartikannya sebagai “complex state with in a organisme that direct behaviour toi ward a goal” yakni suatu keadaan yang sifatnya kompleks pada sebuah sistem organisme dalam mencapai tujuan. yang dimaksud perubahan orientasi pendidikan yaitu upaya yang dilakukan kiyai. Hawkins (1996:234) menuliskan. 1. Kiyai Pada umumnya.Astrid S. Berkaitan dengan pengertian kiyai. “dalam suatu pranata. Sedangkan Joyce M.

masyarakat dan pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Pernyataan tersebut dikemukakan. setelah penulis mempelajari dan mengikuti perkembangan dunia pesantren pada dua dasawarsa terakhir ini yang tidak hanya dikelola secara tradisional. Untuk menemukan model pendidikan seperti ini. dalam bahasa Arab funduq artinya ruang tidur atau “asrama sederhana” karena memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Terhadap kedua lembaga pendidikan yang terakhir. baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis. sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia yang baik-baik. memahami. Ke semua lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan itu dalam dalam upaya untuk merubah perilaku subyektiv menjadi perilaku yang obyektiv sesuai dengan norma dan petunjuk nilai yang berlaku di lingkungan masyarakat. E. Kata pondok.pelaksanaannya. akan dilihat bagaimana peran kiyai yang dianggap lebih dominan itu dan bagaimana interaksi dengan semua komponen lainnya dalam proses pendidikan. Pendidikan berlangsung di pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan unsich. Serta bagaimana peran kiyai dalam membentuk kepribadian santri. mendalami. Karenanya. Manfred Ziemek (1986) menuliskan bahwa pesantren merupakan gabungan antara suku kata sant (bahasa sankrit. Di beberapa pondok pesantren tertentu yang dikelola secara modern melibatkan beberapa tenaga profesional. Lembagalembaga pendidikan yang bersifat umum dan kedinasan. Secara teoritis. yang dimaksud pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional Islam yang di dalamnya sebagai tempat para santri untuk mempelajari. suka menolong). merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yang berbeda yaitu pondok dan pesantren. 1983:27) yaitu manusia yang beriman. sehingga lembaga pendidikan yang ada tidak hanya lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang lebih mengutamakan pemahaman dan penguasaan al-quran dan KK. manusia baik) dan suku kata tra (bahasa sankrit. . Kaitannya dengan pendidikan Islam. Pondok Pesantren Pondok pesantren. usaha menyiapkan peserta didik itu dilakukan oleh keluarga. tenaga pendidikannya juga disesuaikan dengan mata pelajaran yang disampaikan. Sedangkan pesantren berasal dari kata santri yang memperoleh awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat para santri. menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan penekanan terhadap pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. kurikulum yang digunakan adalah di samping kurikulum nasional juga diberikan kurikulum lokal yang dirancang dan disesuaikan dengan tujuan pesantren. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah. Dengan demikian. penelitian ini mengemukakan bahwa Pondok Pesantren tidak seperti apa yang diduga oleh sebagian masyarakat yaitu scond class dalam pendidikan. melainkan ilmu pengetahuan umum atau kejuruan dan keterampilan juga diajarkan. 6. ingin memperoleh gambaran tentang model sistem pendidikan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet yang mungkin dapat diterapkan di beberapa pondok pesantren lain. juga telah ada sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi pembaca. baik sarananya maupun mutu pendidikannya. F. berilmu dan mengamalkannya. maka usaha yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan adalah membentuk kepribadian muslim (Zakiyah Derajat.

pondok pesantren menjadi suatu sistem atau lembaga pendidikan terbuka yang mau menerima input dan menyesuasikan diri dengan perkembangan dan keinginan masyarakat luas. sistem tradisional juga tetap dipertahankan yaitu pengajian al-quran dan beberapa KK dan praktekpraktek peribadatan yang diajarkan dan diperintahkan oleh kiyainya yaitu mengamalkan ‘amalan dzikir dari thariqat tijaniyah dan syathariyah sebagaimana yang dilakukan para kiyainya. pendidikan umum (tarbiyah al-‘ammiyah) dan pendidikan kejuruan (tarbiyah al-khashiyah). pesantren berusaha mewujudkan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan kemampuan yang ada. Sejak itu. perannyapun tidak hanya dalam bentuk keagamaan melainkan juga masalah-masalah sosial lainnya. pesantren menyajikan beberapa sarana bagi perkembangan para santrinya. Di samping itu. walaupun ia belajar pada lembaga pendidikan umum tapi ia memperoleh pengetahuan keagamaan di samping dari lembaga pendidikan yang dimasukinya juga memperoleh pengetahuan keagamaan dari pondok pesantren melalui pengalaman peribadatan. kurikulum dan metode pengajaran yang tidak hanya ala tradisional yakni sorogan. dan hanya dikenal di kalangan atau lingkungan setempat. usaha dan kegiatan yang dilakukan pondok pesantren secara garis besar dapat dibedakan atas dua fungsi pelayanan yaitu: pelayanan kepada santri dan pelayanan kepada masyarakat Suyata dalam Dawam Rahardjo (1985: 16). fungsi lembaga ini berubah yaitu mulai menyiapkan diri beberapa perlengkapan sebagaimana perlengkapan yang ada pada lembaga pendidikan sekolah yaitu bentuk kelembagaan yang menerapkan sistem kelas. Perkembangan berikutnya. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa. pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan lembaga sosial yang selalu adaptif terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di . Implikasi dari perubahan (dari suatu sistem kelembagaan tertutup menjadi lembaga pendidikan terbuka) adalah. Setelah memperoleh kedua manfaat tersebut. sikap (attitude) dan mental serta keterampilan (skill). beberapa pesantren tertentu yang dipimpin kiyai-cendekiawan muslim mulai memperoleh perhatian masyarakat luas sejak awal abad ke-20. penelitian ini berusaha mengemukakan tentang model dan sistem pendidikan yang diupayakan oleh para kiyai atau pembina Pondok Pesantren Buntet. Maju atau mundurnya lembaga ini sangat bergantung atau dipengaruhi kiyainya. minimal pembaca akan mempertimbangkan kembali dugaan yang salah tentang pesantren sebagai lembaga pendidikan scond class. di pesantren Buntet telah mendirikan tiga bentuk lembaga pendidikan yaitu: pendidikan keagamaan (tarbiyah al-diniyah). diharapkan model dan sistem Pendidikan Pesantren Buntet akan dijadikan sebagai panduan bagi masyarakat dalam pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan (kognitiv). bandongan dan halaqah. Kerangka Pemikiran Pesantren. G. Kenyataan ini menggambarkan bahwa. Hingga tahun ajaran 1999/2000 ini. pada awal berdirinya merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional (salafy) yang fungsi dan tujuannya adalah sebagai tempat untuk mengembangkan dan/atau syi’ar islamiyah. kiyai di Pondok Pesantren Buntet tidak pernah berhenti mengupayakan bentuk dan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bercirikan grass root people yang telah tumbuh dan berkembang di Nusantara sejak 300-400 tahun yang lalu”. Inilah yang dimaksud Mastuhu (1994:21) bahwa. Di samping itu. Keberadaan pesantren saat itu bersifat tertutup dan peranya pun masih terbatas kepada persoalan keagamaan bagi masyarakat lingkungannya saja. Sedangkan secara praktis.Melalui ketiga bentuk lembaga pendidikan itulah sehingga seorang santri. Dalam bentuk pelayanan pertama. sedangkan bentuk pelayanan kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa.

2) perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah cenderung sifatnya terus menerus (kontinue) dan 3) perlunya usaha untuk menyempurnakan rencana-rencana yang disusun oleh lembaga atau pendidik. perubahan yang terjadi di pondok pesantren sangat penting artinya karena dapat mempengaruhi kurikulumnya.lingkungannya. Pemahaman secara kontekstual yang dipilih masyarakat. Perkembangan dengan pola kedua ini cukup kondusiv untuk menopang proses inovasi. lebih bersifat tekstual sedangkan masyarakat lebih bersifat kontekstual. apalagi jika dikaitkan dengan usaha-usaha untuk membuktikan kebaikan dari inovasi itu dalam sistem kehidupan masyarakat lingkungan pondok pesantren khususnya. antara pondok pesantren dengan masyarakat dalam pemahaman terhadap suatu nilai (ketetapan sikap dan perilaku [Salvanayasan. memahami betul tentang kurikulum pendidikan sekolah juga diterima oleh masyarakat terutama karena kewibawaan dan kesalehannya. Selama ini. Untuk menerapkan pola kedua. Sifat adaptif itu diwujudkan dalam bentuk penerapan kurikulum yang diperlukan untuk mengantisipasi tuntutan dan perkembangan. 1992:216). memberikan arah dan tujuan jangka panjang kepada para santrinya agar memperoleh dua ilmu pengetahuan sekaligus dalam satu saat yang bersamaan. Pola pemahaman pertama (pemahaman terhadap nilai secara tekstual) biasanya dilakukan oleh beberapa pesantren tradisional. Kedua ilmu pengetahuan dimaksud adalah ilmu pengetahuan keagamaan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan pondok pesantren dan ilmu pengetahuan umum atau keterampilan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan sekolah yang dimasukinya. Misi dari penggabungan kedua sistem pendidikan itu. 1984]) terdapat perbedaan yang mendasar: pondok pesantren dalam pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini GAMBAR 1 KONSEP PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN BUNTET . Ada tiga dasar keyakinan yang kondusif untuk dijadikan sebagai landasan akan pentinnya memperhatikan sifat adaptif kurikulum terhadap perubahan yaitu: 1) perubahan yang terjadi sifatnya positif. Pemimpin pondok pesantren dimaksud adalah kiyai yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren yang dipimpinnya. cenderung menggunakan pola kedua (pemahaman secara kontekstual). pemahaman secara kontektual juga dapat memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk melakukan interpretasi atau reinterpretasi terhadap suatu nilai yang bersifat tektual untuk mengadaptasi persoalan-persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat. karena terjadinya proses adopsi terhadap suatu inovasi (Cuban. akan melahirkan semangat kreativ-inovativ sesuai dengan persoalan yang sedang berkembang. Di samping itu. sedangkan pesantren yang tengah berusaha menerapkan kurikulumnya sesuai dengan keinginan masyarakat. sangat ditentukan oleh seorang pemimpin pondok pesantren yang memiliki ilmu pengetahuan keagamaan yang luas. Salah satu visinya yang prospektif dan memenuhi tuntutan masyarakat adalah memadukan dua sistem pendidikan yang berbeda yaitu sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan pondok pesantren. Berpatokan kepada ketiga dasar keyakinan di atas maka dapat diyakini bahwa.

maka persoalan besar yang harus dijawab dalam penelitian ini adalah.Be ntu k da Feed back n Jen is Pe ndi dik an Berdasarkan gambar di atas. apa motivasi kiyai dan bagaimana perannya dalam menentukan orientasi pendidikan Islam yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet dalam upaya memadukan dua sistem pendidikan yaitu pendidikan luar sekolah (sistem pendidikan pesantren) dan pendidikan sekolah melalui beberapa lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang telah ada di lingkungan pondok pesantren Buntet Cirebon. BAB II .

setelah menjadi besar dan terkenal. selain para santri muqim (santri yang tinggal di mushalla) juga anak-anak dari masyarakat sekitar pondok pesantren. Pemisahan struktural antara pondok pesantren dengan pemerintah desa tidak berarti pisahnya hubungan fungsional di antara keduanya. doadoa pendek untuk shalat fardlu dan belajar KK pemula (elementary). Karenanya. pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam nonklasikal di mana peserta didik (santri. keberadaan pondok pesantren pada mulanya hanyalah lem-baga keagamaan yang sangat sederhana yaitu salah satu kamar atau rumah kiyai dijadikan pondok bagi santri yang datang untuk belajar ilmu keagamaan dan menauladani sikap dan perkataan kiyai.KAJIAN PUSTAKA A. Peserta pengajian di mushalla. dzikir atau wirid (mengucap kalimat-kalimat pujian pada Allah dan Rasul-Nya). Jadi. Di dalam mushalla itulah berlangsungnya shalat fardhu berjamaah. Seperti halnya santri muqim yang lama. Pondok dalam bahasa Arab funduk berarti tempat singgah. pondok pesantren berusaha mandiri dan lepas dari ketergantungannya kepada pemerintah desa. sebagian dari mereka –baik secara perorangan maupun berkelompok. tadarrus dan mengaji atau belajar dasar-dasar al-quran. Ketika pondok pesantren masih kecil dan belum terkenal. tidak menetap di dalam mushalla. santri muqim yang baru pun bekerja pada masyarakat sekitar pondok pesantren untuk menghidupi mereka sendiri secara sederhana. maka di mushalla itu mereka bertempat tinggal. kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Peserta pengajian yang disebut terakhir ini adalah santri kalong yang hanya mengikuti pengajian kepada kiyai setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing. namun mereka benarbenar mandiri. perkembangan fisik maupun fasilitasnya berada di bawah pengaruh dan/atau tanggung jawab pemerintah desa. murid)nya disediakan “tempat singgah” atau pemondokan. mereka datang dengan membawa bekal yang lengkap dan sangat cukup. sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dalam bentuk klasikal. Sistem Pendidikan Pesantren 1. kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi. membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan pola kehidupan pondok pesantren. Secara historis. Rumah kiyai. . Tapi. Atau sebaliknya. Sejarah Pondok Pesantren Pondok pesantren merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata Pondok dan Pesantren. Santri yang datang jumlahnya semakin banyak tapi bukan dari kalangan masyarakat miskin. biasanya berdekatan dengan mushalla atau mungkin mushalla itu miliknya. kiyai mengembangkan bangunan sederhananya itu untuk tempat tinggal bagi para santri baru. perkembangan dan kemajuan ekonomi masyarakat.ada yang membangun kamar-kamar pondokan di dalam atau di luar lingkungan pesantren dengan dilengkapi tempat tidur dan bahkan sarana hiburan Radio-Tape-TV. Bagi santri yang berasal dari keluarga miskin dan rumahnya cukup jauh. dengan bantuan para santri. pondok pesantren tetap memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan pemerintah desa di sekitarnya melalui pendidikan agama. Ketika jumlah santri muqim semakin bertambah. Gambaran di atas menginformasikan bahwa keberadaan pondok pesantren pada awal keadaannya tidak bisa lepas dari dukungan dan perhatian masyarakat desa. Keadaan seperti di atas dapat diperhatikan dari perkembangan dan kemajuan pondok pesantren yang tidak bisa dipisahkan dari perubahan dan kemajuan ekonomi masyarakat.

Jawa Timur). . UTS. Ketiga. Pertama. Kedua. selain diberlakukan sistem perjenjangan yang jelas. beberapa pondok pesantren tertentu membuka lembaga pendidikan berupa madrasah. dan 3) perkembangan kelembagaan. di beberapa pesantren terkenal telah mema-sukkan kurikulum Barat (Belanda khususnya) ke dalam pendidikan agama sebagaimana yang dilakukan Pesantren “Mamba’ul Ulum” di Surakarta. UAS ataupun catur wulan dilaksanakan secara formal pada sistem madrasi. Steenbrink (1986:102) mengemukakan. tidak ada pembagian tingkat kemajuan belajar. aktifitas guru dan peningkatan materi pelajaran berikutnya. karena masing-masing santri menentukan sendiri kemajuannya dengan menunjukkan penguasaannya beberapa KK kepada kiyai secara perorangan. pesantren sejak 1960-an terjadi perkembangan baru yaitu melembagakan diri dalam bentuk yayasan.Keadaan sosial-ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga orang tua santri menuntut pesantren mengikuti perkembangan jaman yaitu tidak hanya mengajarkan materi ilmu-ilmu keagamaan melainkan Iptek dan keterampilan juga saatnya disampaikan. Tidak hanya itu perubahan yang terjadi pada pondok pesantren. Untuk memenuhi tuntutan fihak eksternal. Hadimulyo yang penda-patnya diedit Dawam Rahardjo (1986:104) mengemukakan. Hasil penelitian Karel A. juga di Madrasah Tawalib di Sumatera Barat. Dalam sistem salafi. Perkembangan dan perubahan itu meliputi tiga hal yaitu: 1) perkembangan kurikulum. diskusi. sekolah dan unit-unit klasikal lain. kiyai atau qayyim dalam proses pengajaran KK-nya menggunakan metode khas pesantren yaitu metode sorogan (bimbingan individual) dan bandongan atau halaqah (semacam ceramah umum). proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas juga metode yang digunakan ustadz (guru) dalam menyampaikan materi pelajarannya tidak hanya metode ceramah. evaluasi dalam bentuk post tes. Perubahan dan perkembangan kelembagaan. bergeser dari sistem tradisional (sistem salafi) menjadi sistem modern (sistem madrasi). Pada sistem salafi. Karena pesantren telah berlindung dan/atau menjadi yayasan. Bergesernya sistem tradisi pondok pesantren mulai tampak ketika di beberapa pondok pesantren besar dan terkenal terjadi perkembangan dan perubahan sistem secara besar-besaran. sebagai upaya untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan prestasi siswa. maka wajar jika para teknokrat dan birokrat masuk ke dalam “dunia pesantren” sehingga posisi kiyai cukup dijadikan sebagai simbol. Pada saat inilah pondok pesantren mulai mendapatkan banyak tekanan yang “memaksakan”. Perkembangan dan perubahan metode mengajar terjadi dari sistem salafi ke sistem madrasi. agar pondok pesantren melakukan serangkaian penyesuaian guna mempertahankan eksistensinya sekaligus menjawab tantangan yang di hadapinya. Di bawah ini adalah contoh tipe pondok pesantren yang status kelembagaannya berada di bawah naungan Yayasan yaitu 1) Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (Jakarta) dan 2) Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Ibrahimiyah (Situbundo. melainkan metode-metode lain seperti metode tanya jawab. pre tes. perubahan dan perkembangan metode mengajar. perubahan dan Perkembangan kurikukum. Perkembangan ini tampaknya mengundang minat dan perhatian positif dari berbagai fihak kepada pondok pesantren. Karenanya wajar jika sistem salafi dikategorikan sebagai sistem pendidikan nonformal yakni tidak “beraturan” jika dibandingkan dengan pengajaran yang diselenggarakan melalui sistem madrasai. sosiodrama juga digunakan. Kenyataan inilah sehingga membuat kemandirian pondok pesantren dinilai masyarakat kritis semakin memudar. ekonomi dan politik bahkan tidak sedikit kiyai atau pengasuh pondok pesantren tertentu aktif di organisasi masyarakat Islam ataupun organisasi sosial-politik. Pada sistem madrasi. 2) perkembangan penggunaan metode pembelajaran. lebih jauh pondok pesantren terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dalam berbagai kegiatan sosial.

Pola II. Sudjoko Prasodjo. asrama santri. PP Asy-Syafi’iyah memiliki Pemancar Radio. kependidikan. 4. ada pula pengajaran sistem wetonan yang dilakukan kiyai. Penerbitan. pondok dan madrasah Pesantren ini telah memakai sistem klasikal. bangunan-bangunan yang disebutkan itu mungkin terdapat pula bangunan-bangunan lain seperti: 1. Asy-Syafi’iyyah menjadi Yayasan sejak tahun 1963. Melalui uraian panjang di atas dapat dikemukakan bahwa. lima buah SLTP dan tiga buah SMU. Pesantren terdiri dari masjid. Pesantren yang terdiri dari masjid. pondok pesantren tidak semata-mata merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang mencetak santri menjadi ‘alim-‘ulama tetapi juga sekaligus sebagai lembaga sosial kemasyarakatan yang berusaha memajukan status sosial keagamaan. 7. 1. madrasah dan tempat keterampilan. pondok. Salafiyah Syafi’iyah (Asembagus Situbundo Jawa Timur) menjadi Yayasan pada tahun 1970. toko koperasi. Di samping itu. Adakalanya murid madrasah itu datang dari daerah pesantren itu sendiri. pondok. Ruang makan. MI/SD. Terdapat pula sekolah-sekolah umum atau kejuruan seperti SLTP/SLTA. santri yang mondok mendapat pendidikan di madrasah. di samping elemen-elemen pesantren sebagaimana pola III juga terdapat tempattempat untuk latihan keterampilan umpamanya: peternakan. Pesantren terdiri dari masjid dan rumah kiyai Pesantren ini masih bersifat sangat sederhana. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (PP Salafiyah Syafi’iyyah) PP. Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (PP. Asy-Syafi’iyyah) Jakarta PP. Toko. sawah. tempat keterampilan. Pesantren terdiri dari masjid. kebudayaan. madrasah. Kasntor 5.1. rumah kiyai. Masjid Jami’. panti asuhan. Pengajar madrasah biasanya disebut guru agama atau ustadz Pola IV. Pesantren terdiri dari masjid. namun mereka telah mempelajari ilmui agama secara kontinyu dan sistematis. MTs/SLTP. MA/SMU dan Universitas Ibrahimy dengan dua fakultasnya: Syari’ah dan Tarbiyah. Pesantren ini. santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri. kiyai mempergunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk mengajar. Dalam pola ini. pesantren merupakan pesantren yang telah berkembang dan bisa disebut pesantren modern. universitas. Dalam pola ini. Rumah penginapan tamu (orang tua dan tamu umum). Dapur umum. bahkan perekonomian masyarakat. Ruang operation room dan sebagainya. Berdasarkan perubahan dan perkembangan pesantren di atas. 2. Kelima pola pondok pesantren dimaksud adalah sebagai berikut: Pola I. Selain itu. perumahan guru. pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain Pola III. Perpustakaan. 6. toko sebagai salah satu unit Koperasi dan Perpustakaan. tempat olahraga dan sekolah umum. rumah kiyai. Tarbiyah dan Ekonomi dan Sekolah Tinggi Wiraswasta. Hingga kini telah memiliki TK. ladang dan sebagainya Pola V. MTs. Aula serba guna. 3. rumah kiyai dan pondok Dalam pola ini. administrasi. . MI. hingga kini telah memiliki TK. gedung pertemuan. dkk (1982:8384) melaporkan hasil penelitiannya menemukan lima macam pola pesantren dari yang paling sederhana sampai yang paling maju. di samping ada madrasah. STM dan sebagainya. mushalla. balai pengobatan. Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dengan tiga Fakultas: Dakwah. kerajinan rakyat. rumah kiyai. MA.

Santri dan Murid Dalam dunia kependidikan Islam. murid yang selama beberapa saat berada dan belajar di madrasah diniyah. kerap kali diasosiasikan sebagai figur seseorang yang secara fisik ia selalu mengenakan kain sarung. bukan semata-mata karena kedalaman ilmu keagamaan yang dimilikinya. dapat diperhatikan dari usaha para alumni pondok pesantren dalam membangun masyarakat secara keseluruhan. Kiyai Gambaran tentang kiyai. b. atau mereka yang pernah belajar pada kiyai di pondok pesantren. walaupun mereka telah menjadi alumni. kiyai dalam melaksanakan peran dan fungsinya penuh keikhlasan. “shastri berasal dari kata shastra yang berarti scripture atau a religious or a scientific treatise yaitu karangan agama atau uraian ilmiah”. Berg. memakai sandal slop. mampu mempengaruhi sikap dan sifat santri tidak hanya pada saat para santri berada di lingkungan pondok pesantren. Pengaruh kiyai masih melekat di hati santri. Pernyataan ini. sedangkan santri lebih menghargai dan tawaddu’ kepada kiyainya yang telah membimbing dan mengajar kitab klasik Islam (baca KK) di pondok pesantren. terdapat dua istilah bagi peserta didik yaitu murid dan santri. Yang lebih penting dari itu adalah. Sikapnya dipandang kolot. ada juga yang mengartikannya santri sebagai huruf. Sebutan santri juga dapat diberikan kepada mereka yang rajin dalam menjalankan ajaran Islam secara individual maupun berjamaah atau pengikut kiyai tertentu yang sewaktu-waktu mengikuti pengajian di pondok pesantren. Dalam tulisan ini yang dimaksud kiyai ialah. pengasuh pondok pesantren. fanatik. meminta fatwa dan pertimbangan. Inilah orientasi dan prestasi kiyai di pondok pesantren yaitu kiyai mengajarkan dasar-dasar al-quran dan KK kepada santri atau masyarakat semata-mata karena lillahi ta’ala tanpa maksud-maksud tertentu. kiyai sebagai anggota atau tokoh masyarakat tidak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya yakni memiliki sikap dan sifat kepribadian yang berbedabeda. sebab di pondok pesantren dipelajari huruf dan sastra. Masyarakat umum mengenal figur santri adalah anak atau remaja yang sedang mengaji (belajar al-quran atau KK). Pada pesantren modern kedua istilah itu sulit untuk membedakan antara murid dan santri. mereka menghormati ustadznya. Jangkauan pengaruh yang luas dan panjang itu. . Penyelenggara dan Pendukung Kegiatan Penyelenggara kegiatan pendidikan dan pengajian di pondok pesantren adalah kiyai. melainkan karena kesabarannya dalam membina santri dan peranannya sebagai pemimpin nonformal bagi masyarakat lingkungannya yaitu sebagai tempat bertanya segala macam masalah.C. Zaini Muchtarom (1989:16) mengupas kata shastri lebih jauh dengan mengatakan. menurut Dawam Rahardjo (1995:15). sulit diajak dialog dan mungkin sebagian orang menganggapnya puritan.2. qayyim atau asaatidz sedangkan pendukung kegiatanmnya adalah santri atau murid. Kata santri berasal dari bahasa India yaitu shastri yang berarti orang yang ahli tentang kitab suci agama Hindu (C. pembimbing para santri dan tokoh agama/masyarakat di tengah-tengah masyarakat sekitarnya. kepalanya tertutup peci hitam atau putih (bagi yang telah menunaikan ibadah haji) dan di tangannya selalu tidak lepas seuntai tasbih. 1932: 257). Penilaian seperti ini. a. Ada sedikit perbedaan di antara kedua istilah itu terutama hubungannya dengan sikap hidup dan penghormatan. Peran yang ditampilkan kiyai khususnya kepada santri di pesantrennya. bersorban. cenderung bersifat subjektif berkaitan dengan kiyai sebagai pribadi dan bukan kedudukannya sebagai anggota atau tokoh masyarakat (kelompok sosial).

corak dan praktek peribadatan keagamaan yang dipahami dan dilaksanakan santri pada umumnya sesuai dengan keadaan lingkungan (pondok pesantren maupun masyarakat) di mana mereka tinggal. antara kiyai dan santri berada di lingkungan tempat tinggal yang sama. Di lingkungan pondok pesantren tradisional. tentang apa dia mau belajar. santri yang bertempat tinggal (muqim) di pondok pesantren untuk belajar dan mengikuti pola kehidupan kiyai selama beberapa waktu yang tidak ditentukan. (2) Santri kalong yaitu. biasanya mereka yang datang dari daerah jauh atau mereka datang dari keluarga kurang mampu tapi memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. 1985: 49). Di sebagian besar pondok pesantren. Ada juga yang mengkategorikan santri ke dalam dua kelompok yaitu: (1) santri muqim yaitu. tinggal bersama dan menjalani kehidupan secara bersama-sama” (Dawam Rahardjo [ed]. karena ba’da shalat fardhu shubuh mereka melanjutkan pelajarannya pada kiyai tapi esok harinya ia kembali ke rumah orang tuanya masing-masing. Di antara keduanya terjadi saling menolong dan membantu. pada umumnya mereka bermalam di lingkungan pondok pesantren. sehingga ia rela membantu pekerjaan kiyai sebagai imbalan atas keikut sertaannya belajar di pondok pesantren. ada dua istilah yang terkenal hanya di lingkungannya yaitu santri senior dan santri junior. 3. “pesantren sebagai subcultur memberikan kesempatan kepada setiap santri untuk belajar kapan dia mau belajar. peserta didik bagi para pelajar atau murid di pondok pesantren. sebaliknya santri junior menolong santri seniornya dalam bentuk kegiatan fisik seperti memasak makanan atau mencuci pakaiannya. sedangkan santri junior ialah santri baru. Sarana dan Prasarana Perangkat Keras a. di sisi lain kehidupan pondok pesantren selalu berdampingan dengan masyarakat. Karena itu. Ketentuan waktu penerimaan santri baru pun didasarkan atas waktu awal belajar pada lembaga pendidikan sekolah yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut. di beberapa pesantren tertentu ada yang telah metentukan waktu penerimaan santri baru tapi belum ada ketentuan kapan santrinya boleh meninggalkan pesantren. Abdurrahman Wahid yang pendapatnya diedit Dawam Rahardjo (1985:39) menuliskan. KH. Santri senior yaitu santri yang telah lama tinggal dan telah banyak memiliki pengetahuan keagamaan. di tempat mana dia mau belajar dan dari sumber mana”. karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang lebih banyak memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menentukan sendiri kapan mereka memasukkan anak-anaknya memasuki pesantren atau kapan anak-anaknya meninggalkan pondok pesantren. pada umumnya sangat bergantung kepada bentuk pesantren (lihat pembahasan tentang tipologi pondok pesantren) atau kemampuan dan kemauan kiyai dalam mengendalikan pondok pesantren yang didirikannya: esensi dan kegunaan hard ware pada suatu pondok pesantren adalah untuk kelancaran interaksi dan komunikasi atau penyampaian informasi dan penanaman nilai-nilai keagamaan (‘amaliah ‘ulum . Sarana Perangkat Keras (Hard Ware) Perangkat keras (hard ware) yang ada di pondok pesantren. Walaupun dalam prakteknya. Karena itu. santri yang datang pada sore hari menjelang shalat fardhu maghrib untuk belajar pada kiyai di pondok pesantrennya. santri kalong adalah para remaja yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kiyai atau putra putri masyarakat sekitar lingkungan pondok pesantren. Tentang kapan santri harus datang atau meninggalkan pondok pesantren. Santri senior menolong dan membimbing santri junior dalam usaha memahami pelajaran atau KK pemula apa yang seyogianya dipelajari terlebih dulu.Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan santri adalah. Belum adanya ketentuan kapan datang dan meninggalkan pondok pesantren ini terjadi. “masyarakat Islam yang belajar bersama. Santri muqim.

2) pondok/asrama santri. tempat mencuci pakaian dan WC umum. 3) Fasilitas Lain Selain elemen-elemen fisik di atas juga terdapat elemen-elemen lain yang telah banyak mendapat pengaruh dari luar. sedangkan pesantren di samping telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum berupa yayasan juga berfungsi ganda yaitu sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga kemasyarakatan. 1) Masjid/mushalla Dipelajari dari segi fungsi dan tujuan pendirianya. shalat sunnah ‘idain (dua bentuk shalat sunah hari raya) bahkan sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan seperti shalat sunnah Iedain (ied al-fitri dan ied al-qurban). perbekalan sehari-hari (beras dan laukpauk) dan pakaian untuk beberapa lama ia tinggal di pondok pesantren. 2) Pondokan (asrama santri) Istilah pondok pada awal perkembangannya. Pondok juga merupakan pembeda dari pesantren: pondok yaitu lembaga pendidikan Islam sejenis majlis ta’lim yang tidak memiliki struktur kelembagaan dan lebih bersifat pendidikan kemasyarakatan. Nuzul al-quran. berasal dari kata funduq yang berarti ruang tidur sederhana yang sengaja disediakan kiyai pendiri pesantren bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dan berharap ingin menetap karena ingin belajar keagamaan di lingkungan pesantren. Di dalam kamar tidur ini juga. wilayah kegunaan masjid memiliki “jangkauan” yang lebih luas yaitu sebagai tempat terselenggaranya shalat jum’at.al-dien) yang dilakukan kiyai terhadap para santrinya pada saat-saat tertentu. sarana olah raga dan kesenian serta tempat keterampilan sebagai sarana praktek pertanian. sehingga suatu pondok pesantren menjadi besar dan terkenal. kerajinan dan bentuk keterampilan lain. biasanya berisi lebih dari dua atau tiga orang santri disesuaikan dengan luas bangunan kamar. hard ware yang tersedia meliputi 1) masjid/mushalla. terutama ibadah shalat fardlu dan sarana pendidikan alquran bagi para anak-anak atau remaja. masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan shalat fardlu maupun shalat-shalat sunnah. tapi di daerah-daerah tertentu. ruang koperasi. Keberadaan pondok di lingkungan pesantren. Di samping itu terdapat sarana penunjang berupa kamar mandi yang bersih. lebih dari itu masjid berfungsi sebagai tempat terselenggaranya pengajian KK. Jadi. Di beberapa pondok pesantren di Indonesia. sebaliknya pondok pesantren yang memiliki sedikit kamarnya. Di lingkungan pondok pesantren. baik masjid/mushalla sama-sama digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ibadah. 3) gedung madrasah diniyah dan 4) rumah kiyai. Pesantren yang memiliki banyak kamar (pondok). perkantoran. merupakan penentu peringkat atau kategorisasi pesantren. Dalam satu ruangan atau kamar tidur. maka ia termasuk pesantren yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pendidikan kemasyarakatan. menunjukkan pesantren tersebut memiliki banyak santri karenanya dapat dikategorikan sebagai “pesantren besar”. . Elemen-elemen dimaksud antara lain: gedung madrasah. santri menyimpan harta bendanya berupa beberapa buku tulis dan sejumlah KK. kantin. sebagai tempat pendidikan dan latihan keterampilan berpidato (biasanya dilaksanakan pada malam jum’at atau malam ahad) dan sebagai sarana komunikasi antar individu anggota masyarakat pesantren. bagi pondok yang telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum. sebelum terbentuknya sistem pendidikan sekolah. ter-masuk kategori “pesantren kecil”. peternakan. Isra Mi’raj ataupun Maulud Nabi. Karenanya pondok pesantren yang sangat sederhana. masjid merupakan pusat kegiatan belajar mengajar.

(6) perpustakaan yang berisi sejumlah besar hand books dan KK lainnya. Masdar F. Kedua paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan fiqh seperti Hanafi. (2) mertode pengajaran. (5) peraturan atau tata tertib pondok pesantren. meskipun bahasa sehari-harinya bahasa sunda tetapi loghat pengajian KK yang digunakannya bahasa daerah jawa dalam menerjemahkan KK yang berbahasa Arab. Keempat nilai tradisi atau kebudayaan daerah setempat. hadits-‘ulum al-hadits. pengajian yang dilaksanakan kiyai juga meliputi: (1) tujuan. KK merupakan “ruh” bagi pondok pesantren tradisional. termasuk di dalamnya adalah tradisi kejawen (ke-jawa-an yaitu tradisi pemeluk ajaran agama Hindu/Buddha) sebagaimana tercermin dalam penggunaan bahasa pengajian di lingkungan pondok pesantren. Mas’udi (1988:1) mengartikan KK adalah. Karena itu. pada umumnya terdiri atas empat hal yaitu: Pertamaajaran ortodoksi Islam yang bersumber langsung dari al-quran dan al-sunnah. 1) Sistem Nilai Sistem nilai dimaksud adalah pola dan corak kehidupan yang berkembang di lingkungan masyarakat pondok pesantren. (4) atau materi yang disampaikan seperti fiqhushul fiqh. tafsir-‘ulum al-tafsir. baik di daerah jawa (Jawa Tengah atau Jawa Timur) maupun di daerah sunda (Jawa Barat). bahkan berkualitas atau tidaknya pesantren tradisional ditentukan oleh berkualitas atau tidaknya KK yang disampaikan kiyainya. (3) proses pembelajaran. aqidah al-‘awam yang kesemuanya dalam bentuk KK dengan menggunakan bahasa “Arab gundul” (tidak berharkat). 3) Kitab Kuning (KK) Dalam pembicaraan umum. Prasarana dan Fasilitas Lunak (Shoft ware) Termasuk ke dalam shoft ware ini adalah semua bentuk peralatan nonfisik. Syafi’i dan Hambali. . keberadaan KK identikan dengan pondok pesantren. 2) Proses Pendidikan Proses pendidikan yang berlangsung di pesantren adalah. Kitab Kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab. b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. produk pemikiran ulama-ulama masa lampau yang ditulis dengan format khas pramodern sebelum abad 17-an. Khususnya para ajengan yang mengajarkan KK di pondok pesantren yang ada di daerah sunda. Ketiga paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan sufi seperti ajaran thariqah (qadariyah. naqsyabandiyah atau sanusiah) dan ilmu hikmah. 2) sistem pendidikan yang berlangsung di pondok pesantren dan 3) kitab kuning (KK). Sebagaimana proses pendidikan pada umumnya. pengajian al-quran dan KK yang disampaikan kiyai kepada para santrinya dengan mengacu pada jadwal yang waktu dan tempatnya ditentukan kiyai (pernyataan inilah yang dimaksud wetonan). seperti 1) sistem nilai dan norma kehidupan di lingkungan pondok pesantren. (7) beberapa konsep tentang kegiatan keterampilan dan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di pondok pesantren. Maliki.b. c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing” . “a) kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama ”asing” tapi secara turun temurun menjadi reference yang dijadikan pedoman oleh para ulama Indonesia. kitab kuning (KK) merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan untuk menilai besar atau kecilnya suatu Pondok Pesantren.

4. 3. menurut Muhadjir selanjutnya. mereka menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan KK dapat dibaca dan difahami oleh masyarakat umum dengan tanpa harus memasuki “dunia pesantren”. Terhentinya proses eksplorasi. faktor yang membedakan ilmu pendidikan Islam dengan ilmu-ilmu lainnya yakni faktor nilai (value) (Achmadi. baik dalam bentuk praktek kelembagaan maupun dalam bentuk materi yang disampaikan. 2) Sikap yang sangat normatif dalam menghadapi dalil-dalil al-quran . namun belum mampu mengimbangi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang begitu pesat. obyeknya bersifat normatif dan berorientasi pada nilai. Hingga kini. Selama ini IPI. yang lebih dominan menggunakan pendekatan posivistik. cenderung diterima tanpa kritik kemudian dicarikan padanan dalil-dalil dalam al-quran maupun dalam Hadits. evidensi empirik sebagai pendukung harus ada dalam setiap pengembangan teoritik dan keilmuannya. Pernyataan ini. Berikutnya. Pendidikan Islam: Kurikulum Pesantren a. 1992:7). 2. Pendidikan Islam Sebagai Ilmu Pijakan awal pendidikan Islam adalah. Padahal pendidikan Islam sebagai materi. Pendidikan Islam. diajarkan ustadz di Madrasah ataupun oleh Guru di lembaga pendidikan sekolah adalah menggunakan KK. beberapa sarjana muslim tertentu yang merasa terpanggil untuk memasyarakatkan KK. sejak pondok pesantren mulai banyak diminati masyarakat Indonesia terutama karena semua aspek ajaran Islam yang disampaikan kiyai melalui Majlis Ta’lim. merupakan hasil dari beberapa penelitian terhadap pendidikan. Bahkan dasawarsa terakhir. jika pendidikan Islam yang dipelihara kembangkan pun banyak dipengaruhi oleh telaah epistemologi positivistik (suatu paham yang mengakui kebenaran sesuatu berdasarkan penamatan secara langsung atau tidak langsung melalui indra) dan hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh telaah studi Islam klasik (suatu kebenaran yang berangkat dari eksistensi kebenaran yang bersumber dari wahyu Allah). perkembangan dan kemajuan Ilmu Pendidikan Islam (IPI) di negara-negara yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam (termasuk Indonesia) sangat lamban. Tuntutan masyarakat begitu besar terhadap pendidikan Islam sebagai ilmu sebagian telah diperoleh. Karena itu wajar. sebagian berada pada epistemologi telaah klasik dan sebagian berada pada epistemologi telaah positivistik (Noeng Muhadjir. seringkali masih dipersoalkan keberadaanya. Masih sedikitnya teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan Islam. sedangkan studi Islam klasik lebih mengutamakan wahyu Allah sebagai wujud dari kebenran yang mutlak. Bukti lambannya perkembangan IPI. sebagai suatu proses pengembangan potensi dan kreatifitas peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan memiliki Iptek sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia.Kitab Kuning (KK) mulai dikenal secara umum. Metode posivistik tidak memberi peluang kepada telaah normatif yang berorientasi nilai. bersikap mendua. karenanya berkembang bersama budaya manusia seperti demokrasi dan keadilan. Namun jika dilihat dari dimensi ilmu dan filsafat. Belum adanya landasan epistemologi yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan penelitian ilmiah bidang IPI. Karenanya. sehingga ekspansi ilmu-ilmu dalam Islam hanya berhenti pada kawasan yang bersifat hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal terhadap sesama manusia (habl minan nas). 1996:189). 1) Ketika melihat temuan dan teori pendidikan Barat maupun Timur. ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). antara lain: 1.

sejalan dengan gerakan-gerakan pembaharuan pendidikan di negara-negara Arab (A. Persoalan yang selalu muncul dan selalu menjadi ganjalan dalam setiap merumuskan al-tarbiyah al-Islamiyah yaitu. berlangsung hingga periode kejayaan atau kemajuan Islam I (650-1000 M). para pengelola dan pendidik di lembaga pendidikan itu adalah para ulama yang saleh dan utuh dalam memahami ajaran Islam. Tidaklah berlebihan. maka sangat mungkin konsep al-tarbiyah al-Islamiyah masih bercampur dengan teori pendidikan yang didasarkan pada telaah anthroposentris (manusia sebagai pemegang posisi sentral) yang telah mapan dan mengakar. Problem Perumusan Pendidikan Islam 1) Dikotomi Pikir Jika dilihat kilas balik dekade 60-an. al Gazali ataupun Ibn Khaldun. Ini terjadi disebabkan. perlu adanya upaya untuk membentuk ulang (reconstruction) dan merumuskan kembali (reformulation) ilmu pendidikan Islam. tumbuhnya sikap dikotomi pikir.maupun Hadits. Dilihat dari kebersamaan waktu munculnya al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islam) dengan ilmu pendidikan skuler. cenderung tidak melalui tahapan analisis yang cukup mendalam. Karena itu tidak mengherankan. inti ajarannya adalah meng-esa-kan Tuhan. Nurhadi Djamal. Melihat potret dan bingkai praktek pendidikan Islam seperti ini. 1996:242). melanda di kalangan pemikir muslim disebabkan adanya keterpengaruhan pemikiran Barat yang skuler. Sistem pendidikan terpadu (integral) yang terjadi pada periode klasik ini. 1996:280). Ibnu Rusydi. regulasi dan tanggung jawab mandiri. kesemuanya terpadu dan diajarkan pada sebuah lembaga pendidikan yang integral. Hasil dari rekonstruksi dan reformulasi terhadap ilmu pendidikan Islam ini. 1991: 83). Dengan demikian mereka akan mendapatkan insigh tentang apa yang terbaik dalam pendidikan Islam. terjadi pergeseran yang cukup signifikan. baik yang teoritik maupun praktik. Sejarah Islam juga mencatat. teori pendidikan masih bergantung pada disiplin ilmu induk: filsafat. muncul terminologi al-tarbiyah (bangunan sistem Pendidikan Islam) sebagai bentuk tawaran baru. Untuk itu. walaupun antusiasme awal pemahaman terhadap teori pendidikan masih diwarnai berkembangnya kesadaran bahwa teoriteori pendidikan tidak begitu saja berkaitan langsung dengan praktek pendidikan. Inti ajaran Islam ini terintegrasi ke dalam bentuk perpaduan antara aspek duniawi ukhrawi dan aspek material-spiritual. sehingga memiliki pengaruh besar dalam proses pembangunan ilmu pengetahuan. Pada dekade 1970-an. secara ideologis dan politik masyarakat muslim dikendalikan oleh sistem (kekhalifahan) Islam sehingga tatanan pendidikan Islam tidak berorientasi pada tujuan ganda (Muslih Usa [Ed]. b. psikologi dan sosiologi dan karenanya ketiga disiplin “luar” pendidikan ini menjadi pondasi (Zubaidi. Polarisasi pemikiran dan keilmuan antara “yang islami” dengan “yang skuler”. di samping keahliannya dalam bidang . Dikotomi Fikir. Padahal Islam sebagai agama tawhid. Di samping itu. para praktisi pendidikan muslim diharapkan akan memperoleh suatu alat pengendali melalui penataannya sendiri. diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki kemampuan mengakomodasi konsep-konsep pendidikan skuler dalam rangka membandingkan dan menjadikannya pintu gerbang untuk memasuki konsep pendidikan Islam yang berdasarkan pada al-quran dan Hadits. Pada dekade yang sama. jika lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan semacam itu adalah para ‘alim-‘ulama yang memiliki dua ilmu (ilmu agama dan ilmu rasional) sekaligus seperti Ibnu Sina. Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi. teori pendidikan dipandang sebagai disiplin ilmu praktis otonom. sejak periode klasik (650-1250 M) tidak mengenal adanya polarisasi ilmu: ilmu agama (yang islami) ilmu rasional (yang skuler). pandangan yang mendominasi pemikiran pendidikan saat itu teori pendidikan didefisikan sebagai suatu stock prinsip-prinsip praktis yang sepenuhnya dijustifikasi melalui pengetahuan yang disajikan ketiga disiplin ilmu itu.

Perkembangan berikutnya. bisa jadi merupakan tindak lanjut dari polarisasi pikir yang telah muncul lebih dulu di kalangan para cendekiawan muslim. pemikiran integral tentang filosofis terhadap ilmu-ilmu skuler dan terhadap ilmu-ilmu agama yang terjadi pada masa klasik dan masa kejayaan masyarakat Islam. keduanya terlepas satu sama lain. munculnya para figur ilmuwan muslim terkemuka dan terkenal sepanjang masa itu. ketika negara-negara Eropa melakukan penjajahan terhadap negara-negara yang penduduknya mayoritas penganut agama Islam Pada saat itu. Pada saat pemikiran terhadap ilmu-ilmu sacral ditinggalkan para ilmuwan. sistem pendidikan yang integral itu diambil alih masyarakat Eropa yang sebagian besar penganut ajaran Nasrani dan Yahudi pada awal abad ke-13 M (1225 M). Tapi tampaknya Gereja tidak berharap jika ilmu pengetahuan nonkeagamaan (ilmu yang tidak sesuai dengan dogma Tuhan) lebih berkembang pesat. Masa atau era seperti ini. dan menggunakan teknologi hasil produk perusahaannya. ilmu pengatahuan skuler yang dikuasai para ilmuwan. mereka juga filosuf muslim yang hasil pemikirannya telah banyak mengisi perpustakaan dan/atau dimanfaatkan masyarakat muslim bahkan masyarakat Barat modern yang skuler. penjajah Eropa juga menghadirkan sistem pendidikan modern yang kurikulumnya berbasis pada ilmu-ilmu skuler. Pandangan dikotomis ini. Akibat dari pandangan dikotomi maupun polarisasi adalah. Akibat nyata dari era ini. Sistem pendidikan seperti inilah yang mewarnai kehidupan masyarakat muslim sehingga mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran pragmatis yang tetap islami. maka terjadilah skularisasi dalam ilmu pengetahuan (scularization of science) sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi bernilai atau bermuatan agama. berusaha mendirikan atau tetap melestarikan sistem pendidikan yang telah ada. sehingga generasi mudanya dilarang belajar dan/atau memasuki lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum modern atau memberikan materi ilmu-ilmu skuler. Bagi masyarakat muslim yang sejak awal telah apatis terhadap ilmu skuler. dan ilmu-ilmu skuler yang tidak bersandar pada wahyu. Dengan demikian. Mempelajari ilmu-ilmu skuler dianggap haram. dari sinilah permulaan terjadi pemisahan (alienate) antara ilmu-ilmu yang bernilai agama (ilmu-ilmu sacral) dengan ilmu-ilmu skuler atau ilmu rasional (ilmu-ilmu profan). sehingga terjadilah perlawanan sengit antara agamawan dan ilmuwan. yang berimplikasi kepada para ilmuwan meninggalkan Gereja dan para agamawan tidak lagi tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan selain dogma Tuhan. berkembang pesat merasuk hingga ke seluruh dunia termasuk ke negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Ironisnya. Pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim semakin menguat. sebaliknya bagi masyarakat muslim era ini merupakan awal dari kemunduran I (1250-1500 M). Lembaga dan penyelenggara pendidikan pun terpecah menjadi dua yaitu lembaga pendidikan agama dan lembaga pendidikan umum. karena kurikulum atau materi tersebut milik masyarakat kafir. sehingga sarjana atau lulusan yang dihasilkannya pun menjadi dua yaitu sarjana agama dan sarjana skuler. Harun Nasution (1979:56-75) menyebutnya sebagai masa kejayaan masyarakat Eropa.kedokteran. Dari keadaan inilah sehingga timbul pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim yaitu pandangan dikotomis terhadap ilmu: ilmu agama yang bersandar kepada wahyu. hanya dimungkinkan melalui sebuah sistem pendidikan yang integral. Atau masyarakat Eropa modern melakukan penekanan terhadap masyarakat muslim agar memanfaatkan ilmu sekulernya. Disinyalir. timbul sikap apatis di kalangan masyarakat muslim terhadap ilmu pengetahuan yang berseberangan dengan ajaran Islam. Pandangan dikotomis juga terjadi pada lembaga atau penyelenggara pendidikan. Sehingga terjadilah dualisme pendidikan yaitu sistem pendidikan yang mengembangkan ilmu-ilmu skuler atau modern dan sistem pendidikan tradisional yang mempertahankan .

Islam tetap menghormati dan menerima konsep-konsep pendidikan tradisional yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat muslim.kurikulumnya yang sarat dengan ilmu-ilmu keagamaan. bukan menjadi tujuan final melainkan merupakan kewajiban yang diikani terkait kuiat dengan kehoidupan ukhrawi. orangtua. Nilai Pendidikan Skuler: Iptek dengan kebenaran relatif Pendidikan Islami: Iptek dan Iman: kebenaran relatif dan mutlak 1. masyarakat tapi berbeda dalam nuansa dan gradualnya. Tujuan Pendidikan skuler : Kehidupan duniawi: maju.memelihara hal-hal baik yang telah ada sambil mengembangkan hal-hal baru yang lebih baik. sejahtera. Tuhan penentu kebijakan. Rumusan nilai pendidikan Islam dimaksud adalah sebagai berikut: . Beberapa konsep pendidikan skuler. al muhafadzah ‘ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdu bi aljadid al-ashlah …. Dualisme pendidikan. 1. terjadi di hampir semua negara dan masyarakat muslim di jaman modern ini (Zuhairini. di antaranya mengandung kebenaran dan dapat diterima sehingga perlu dikembangkan oleh masyarakat muslim terutama konsep-konsep yang berkenaan dengan Iptek. guru. ada hal-hal tertentu yang perlu ditinggalkan karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Mastuhu yang pendapatnya dihimpun Ahmad Tafsir (1995:54) menuliskan perbedaan mendasar antara konsep pendidikan skuler dengan konsep pendidikan Islami. Konsep Manusia Pendidikan Skuler: Tabularasa Pendidikan Islami: Fithrah 1. orangtua. adil. Sistem atau tanggung jawab Pendidikan Skuler: Murid. jika dalam merumuskan sistem pendidikan Islam seyogianya menggunakan prinsip dasar yang diungkapkan faqh muslim terkenal Imam Syafi’i.. Pembangunan kehidupan duniawi. 2) Merumuskan Pendidikan Islam Dalam pandangan Islam. sebagai berikut: 1. Pendidikan Islami: Theosentris. Berdasarkan pijakan dan prinsip di atas. 1. Kiranya sangat tepat. Sebaliknya. konsep pendidikan skuler tidak seluruhnya berseberangan dengan aspek-aspek ajaran Islam. tujuan finalnya adalah kehidupan ukhrawi dengan ridla Allah swt. manusia sebagai penentu kebijakan. damai dan dinamis sebagai tujuan finalnya Pendidikan Islami: Kerja membangun kehidupan duniawi melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi. masyarakat Pendidikan Islami: Murid. maka dapat dirumuskan nilai-nilai pendidikan Islam sehingga diharapkan memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan bentuk pendidikan skuler maupun pendidikan modern. dkk. Dasar Pendidikan Skuler :Anthroposentris. Namun perlu disadari. Anthroposentris merupakan bagian dari koinsep theosentris. 1996:123). guru.

Generasi muda Islam diarahkan agar memasuki pendidikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat spesialisasi. Oleh karenanya. Materi dasar-dasar agama merupakan dasar penyusunan kurikulum dan disampaikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat menengah diharapkan peserta didik akan memahami bahasa Arab. Rumusan tujuan yang baik dan terinci akan mempermudah pengawasan dan penilaian hasil belajar sesuai dengan harapan yang dikehendaki dari subjek belajar. ditujukan ke arah tercapainya keserasian dan keseimbangan pertumbuhan pribadi yang utuh melalui berbagai latihan yang menyangkut kejiwaan. yaitu: 1. Kaitannya dengan tujuan pendidikan. ilmu-ilmu sosial. ilmu-ilmu budaya dasar dan beberapa ilmu pendukunglainnya. kimia. intelektual. tujuan pendidikan mutlak dan harus dirumuskan dan deskripsinya harus jelas. dapat membaca al-quran dengan baik. Winarno Surahmad yang pendapatnya ditulis Sardiman AM (1997:57) menjelaskan. implementasi dan penilaian suatu program belajar mengajar. memahami sejarah nabi-nabi. pemerintah telah menerbitkan Undang Undang RI nomor 2 tahun 1989 . Inti pendidikan Islam adalah infus keimana ke dalam perasaan pribadi muslim secara utuh kepada anak didik agar menjadi muslim yang taat. Al-quran dan hadits merupakan sumber nilai pendidikan Islam. bahasa Inggris atau salah satu modern lainnya. rumusan dan taraf pencapaian tujuan pengajaran merupakan petunjuk praktis sejauh mana interaksi edukatif itu harus dibawa untuk mencapai tujuan akhir. Pendidikan Islam (tarbiyah al-Islamiyah). 3. bahasa dasar Iptek seperti matematika. dasar-dasar pemikiran dan hukumihukum Islam. 5. dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. maka akan sulitlah untuk memilih atau merencanakan bahan dan strategi yang hendak ditempuh atau dicapai. sebagai media untuk merealisasikan fungsi muyslim sebagai ‘abdullah (hamba allah) dan khalifatullah (pemimpinan yang dianugerahi Allah) di bumi. kegiatan belajar mengajar adalah suatu peristiwa yang terikat dan terarah pada tujuan. perasaan dan indra. Perumusan tujuan yang benar akan memberikan perdoman bagi siswa dalam menyelesaikan materi dan kegiatan belajarnya (Sardiman. c. 6. 4. tujuan adalah sesuatu yang diharapkan dari subyek belajar sehingga memberi arah ke mana kegiatan belajar mengajar harus dibawa dan dilaksanakan. ta’lim (pengajaran) dan ta’dib (pembinaan). 2. dengan harapan mereka akan mampu menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu sejalan dengan tantangan modern dengan menggunakan bahasa modern yangsesuai dengan perkembangan iptek. tapi mereka lebih dahulu memahami materi dasar-dasar agama sebelum memasuki jenjang pendidikan yang diinginkan. Jadi rumusan tujuan pendidikan merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat dalam perencanaan. 2. 3. Tujuan Pendidikan Islam Pendidikan adalah suatu proses pengajaran yang sadar tujuan. akal. Jika suatu pekerjaan atau tugas tidak disertai tujuan yang jelas dan benar.1. Dengan demikian. 1997:58). Ada tiga alasan mengapa tujuan pendidikan perlu dirumuskan. Pengertian pendidikan Islam terdiri dari tarbiyah (pemelihara). Maksudnya. fisika.

historis dan deskriptif akan . meninggal dunia dalam keadaan sebagai muslim (berserah diri) kepada Allah sebagaimana firman Allah di dalam Q. bahkan mereka tidak membayangkan tentang keadaan demikian.. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. melalui qalbu. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Begitu juga pendapat Mustafa Amin. dewasa dan mandiri. ia ingin menciptakan manusia bertaqwa. dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah swt. Unsur rohani. etik dan nilainilai kehidupan manusia. 28/al-Qashash:77. manusia didorong untuk mendekatkan diri kepada Allah. Falsafah atau pemikiran tujuan pendidikan ini berujuk kepada salah satu firman Allah di dalam Q. Ini yang dimaksud sebagai tujuan akhir pendidikan Islam yaitu menjadi insan kamil dengan pola taqwa yaitu manusia utuh rohani dan jasmani. Karenanya. 1989:4). baik dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Sementara qalbu tugasnya memusatkan perhatian pada Pencipta alam sekitar dan alam immateri. kesehatan jasmani dan rohani. di tengah-tengah budaya relativisme dan pragmatisme ini tidak ada manusia yang ideal apalagi sempurna sebagaimana tujuan akhir pendidikan Islam. Tuhan pencipta alam semesta. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. ajaran Islam merupakan sumber moral. Melalui perumusan tujuan tersebut. iptek selalu berkembang di segala jaman. Di dalam Undang Undang itu tertulis pada pasal 4 tentang tujuan pendidikan yaitu. Karena itu.s. maka daya berpikir disebut akal. Ibn Khaldun yang pendapatnya diterjemahkan oleh Ramayulis (1994:25) merumuskan dua tujuan pendidikan Islam yaitu 1) tujuan keagamaan yakni beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya. Semua sistem pendidikan mempunyai tujuan moral. dan janganlah kamu mati kecuali da-lam keadaan muslim (berserah diri). sikap dan perilaku yang bertentangan dengan hati nurani. para tokoh pendidikan berharap agar pendidikan Islam yang disampaikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi seyogianya sejalan dengan tujuan diturunkannya agama kepada manusia. Ungkapan di atas menggambarkan bahwa. menurut Harun Nasution (1995:10) mempunyai dua daya yaitu daya rasa dan daya pikir: daya rasa berpusat di dada sedangkan daya pikir berpusat di kepala. 3/Ali Imran:102. carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) dunawi. tujuan pendidikan Islam yaitu mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat. Akal bertugas memperhatikan dan meneliti alam sekitar dengan bantuan pancaindra. bertaqwalah kamu kepada Allah dengnan sebenarbenarnya taqwa. Demikian juga pendidikan Islam mempunyai tujuan tersendiri yang menyesuaikan diri dengan falsafah dan pandangan hidup sebagaimana digariskan al-quran.s. Para pelajar dan generasi muda pada umumnya tidak ada yang memiliki citra tentang jiwa yang sempurna (insan kamil) dan tidak bercita-cita ke arah itu. jika daya merasa disebut qalbu atau hati-nurani.tentang Sistem Pemdidikan Nasional. rintangan. melalui akal. perspektif Islam tentang pendidikan yang bersifat teks. keperibaidan yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU RI. manusia yang selalu menjalankan ajaran Islam dengan benar dan jujur akan memiliki kemampuan yang kuat dalam menghadapi godaan. Namun. Agama datang ke permukaan bumi ini. Manusia dalam ajaran Islam adalah makhluq monodualistik yaitu terdiri dari unsur jasmani dan rohani. bertujuan membimbing manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan diri dan kebahagiaan. 2) tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan yaitu tujuan kemafaatan atau persiapan untuk hidup.

akan tampak gambaran pondok pesantren yang kurang kondusif untuk berperan sebagaimana peran yang dilakukan beberapa Perguruan Tinggi skuler. pondok pesantren adalah “kepribadian” kiyai pendiri atau pondok pesantren merupakan prototipe kiyai. Terjadi demikian. tuntutan masyarakat apalagi tujuan perubahan sosial sekitarnya. di samping keadaan fisik (hard ware) dan non-fisik (shoft ware)nya yang kurang memungkinkan untuk melakukan pekerjaan besar itu. UNPAD ataupun IPB. untuk memperoleh validitas dugaan atau prapenelitian ini. UI. terjadi kesenjangan (gap). Pengamatan mendalam terhadap kehidupan kiyai mutlak dibutuhkan. karena latar belakang keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat bukan karena reaksi terhadap persoalan sosial. hampir di seluruh pondok pesantren di Indonesia kemajuan dan perkembangannya sangat ditentukan oleh sosok atau figur kiyai. apalagi melakukan peranan besar sebagaimana yang dimainkan “pesantren” Harvard. Orientasi Pondok Pesantren Nurcholis Madjid yang tulisannya diedit Dawam Rahardjo (1984:3) membandingkan. 1) dunia pesantren dan dunia nyata. Sedangkan. Kekurangan yang terjadi pada pondok pesantren yang pertama dan utama adalah kurang jelasnya tujuan pendidikan pesantren. Peranan besar sebagaimana dilakukan “pesantren” Harvard tidak dimainkan oleh pondok pesantren besar dan terkenal sekalipun. memberikan respos saja mengalami kesulitan. ideologi dan falsafahnya tanpa menilai pandangan hidup. Pertama pondok pesantren yang menolak membuka dan mengikuti perkembangan jaman dan tuntutan pendidikan modern. maka perspektif Islam tidak lebih sebagai nostalgia belaka. dunia nyata yang dikuasai pola budaya Barat dan diatur mengikuti pola-pola itu. Universitas Harvard memegang rekor dalam menghasilkan orang-orang besar yang menduduki kekuasaan tertinggi. ditemukan dua faktor ketidak mampuan pesantren melakukan kerja besar itu. pengamatan mendalam terhadap alumni pondok pesantren yang dinilai kritis perlu dilakukan. sementara 2) pondok pesantren tidak memiliki pola budaya (modern). sehingga tidak memiliki kemampuan menguasai dan mengatur kehidupan nyata. UGM. karena kiyai pendirinya (karena status sosial atau keyakinannya) tidak siap mengikuti perkembangan dan tuntutan jaman. Kenyataan di atas menggambarkan. berdirinya pesantren di suatu daerah dilandasi niat ikhlas dan pengabdian kiyai untuk mengamalkan ilmu yang direspons oleh segelintir atau sekelompok penduduk setempat. Dugaan atau pra penelitian ini dapat diperhatikan dari dua kasus. untuk mengetahui latar belakang sebelum dan sesudah ia mendirikan pondok pesantren. Kedua pondok pesantren yang tidak mau atau menolak masuknya kurikulum dan materi ilmu-ilmu dasar skuler. Demikian juga dalam percaturan politik di AS. dan bukan sebagai respon sosial dan usaha transformasi kultural dalam jangka panjang. pesantren di Indonesia telah menghasilkan banyak kiyai dan pemimpin/tokoh agama. Dugaan tersebut tidak terlalu salah tapi tidak seluruhnya benar. peranan itu justru dimainkan oleh Perguruan Tinggi skuler seperti ITB. 5. Orientasi ‘amaliyah-‘ilmiyah dan pengabdian (lillahi ta’ala) tampaknya lebih dominan. dibutuhkan pengamatan mendalam terhadap kedua obyek yaitu: kiyai dan alumni pondok pesantren yang telah menjadi cendekiawan muslim. Pernyataan ini merupakan dukungan kuat atas dugaan bahwa. untuk mengetahui faktor . Mengapa terjadi demikian? Hasil dari beberapa penelitian diperoleh jawaban.bernilai jika dapat memberikan garis-garis besar asas. Bahkan jika diadakan pemotretan. karena latar belakang kiyai pendirinya kebetulan tidak cakap baca-tulis huruf latin dan berhitung. sedangkan “pesantren” yang didirikan pendeta Harvard di Oslow (AS) berhasil menjadi sebuah universitas bergengsi di AS yang setiap tahun meluluskan para pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern dan gagasan mutakhir. Dengan kalimat lain.

. tetap konsisten dengan orientasinya menjadikan pesantren sebagai tempat tafaquh fiddin yakni mengaktualisasikan ajaran Islam yang holistik di tengahtengah masyarakat. alumni pesantren yang berkehidupan modern (modern. lulusan pondok pesantren cukup memiliki kematangan jiwa. timbulnya filsafat adalah bermula dari rasa keinginan untuk menjawab pertanyan metafisika kaitannya dengan substansi. Ironis sekali.kehidupan dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi jalan pemikirannya dalam mengambil sikap memajukan almamater yang padahal telah ditinggalkannya. disebabkan karena adanya suatu pemikiran tentang masa depan alumni pondok pesantren. sementara SDM lulusan dari lembaga pendidikan sekolah yang dinilai skuler justru berada pada posisi yang menguntungkan. Terjadinya konflik di atas. pondok pesantren semata-mata bertugas meng-agamakan santri (selama ada di pondok pesantren). jika pondok pesantren yang punya misi suci mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan ijin Tuhan Yang Maha Kuasa (Qs. 14/Ibrahim:1) hanya mampu memproduksi sumber daya manusia (SDM) yang menempati posisi marjinal. Sebenarnya konsep pendidikan pesantren masa depan bukan masalah sulit. Nilai Tradisi Pesantren Pada 1966 St. Filsafat. Strategi ini. Nilai dan Moral Pesantren 1. Perspektif pendidikan pesantren dalam mengantisipasi kecenderungan global (globe. 1996:75). Melalui strategi di atas. integrasi tafaqquh fiddin dengan kebutuhan lingkungan tidak saja dapat membentuk integrasi sosial-budaya tetapi lebih dari itu justru akan menjadi alternatif baru sehingga kaum santri tetap berada pada pangkuan Islam di tengah-tengah pergumulannya dengan realitas empirik. kuantitas. ia mengawali tulisannya dengan pembahasan tentang filsafat. jika paradigma yang digunakan tidak sampai menggeser esensi tujuan utama pesantren yaitu kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. kualitas dan perubahan. dapat berkembang karena tiga bangunan teori yaitu metafisika. maju) beranggapan jika pondok pesantren tetap seperti itu. Akan tetapi berusaha mengintrodusir sistem kehidupan Islam ke dalam realitas empirik. ataupun pegawai tidak ada ketentuan dari pondok pesantren. 6. Eksistensinya akan selalu ditentukan oleh globalisasi. dan setiap sistem itu memiliki struktur dan tekanan yang berbeda. menimbulkan polemik pemikiran antara kiyai dengan alumni (cendekiawan muslim): kiyai. karenanya tidak terlalu salah jika pondok pesantren dihimbau seyogianya tidak menutup diri terhadap pendidikan yang ber-orientasi kepada pangsa kerja. Di sinilah agama berfungsi sebagai penyeimbang bahkan ideologi untuk mengembangkan kehidupan santri. sehingga akan didapat sebuah model kehidupan masyarakat yang terlahir dari produk pendidikan pesantren yaitu masyarakat yang berorientasi pada kehidupan nyata sebagai realisasi ajaran Islam. Strategi untuk harapan/tujuan ini. penentu dan pencetak sejarah dalam memajukan kesejahteraan umat manusia. petani. jika tidak santri akan kebingungan di tengah-tengah kehidupan manusia global. Dengan demikian. Menurut kiyai. persoalan setelah pulang dari pesantren mau jadi pedagang. karena itu sudah waktunya santri dibentuk menjadi manusia yang siap memasuki pasar kerja. menurutnya. dunia). adalah menghadirkan kembali ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan modern. bukan berarti menafikan realitas empirik. juga bukan menolak kehadiran pemikiran ilmiah dalam komunitas santri. Ketiga bangunan teori ini terintegrasi dalam berbagai sistem filsafat. kapasitasnya sebagai pendidik. Sebaliknya. Takdir Alisjahbana menulis tentang teori nilai (theory of value). teori pengetahuan dan teori nilai. dan gagal menjadi suatu lembaga pengarah. Sebaliknya para alumni beranggapan. maka akan sulit menjadi lembaga pendidikan Islam idaman masyarakat di masa mendatang (Zubaidi.

Sebab teori nilai menyelidiki tentang proses dan isi penilaian yaitu prosesproses yang mendahului. dkk. Ergo Sum yang berarti “saya menilai. of the desirable wich influence the selection from available modes. Teori pengetahuan mengembalikan pikiran manusia kepada pengalaman. Sikap skeptis ini. ungkapan Protagoras itu dipertegas Rene Descartes yang mengemukakan Cogito Ergo Sum (CES) yang berarti “saya berpikir. jadi saya ada”. Teori adalah. jadi saya ada” menjadi Evaleo. Teori nilai sebagai filsafat praktis. dirumuskan oleh Protagoras melalui ungkapannya yang terkenal yaitu manusialah ukuran dari segala sesuatu. penjelmaan sangat penting dari kemampuan manusia dalam melakukan penilaian. eksplisit atau implisit yang khas milik seorang individu atau sekelompok tentang apa yang seharusnya diinginkan dan yang mempengaruhi pilihan yang tersedia dari bentuk-bentuk. jika ia hendak mencoba berteori di luar batas-batas dirinya sendiri. sedangkan metafisika yang semata-mata berusaha mengetahui sifat terakhir dari kenyataan tetap tinggal sebagai teori semata-mata. maka dapat dirumuskan lebih luas bahwa cogito ego sum “saya berpikir. Edward Shils. Dua puluh tiga abad kemudian. teori nilai yaitu teori yang membahas tentang manusia sebagai makhluq yang berkelakuan sebagai obyek. Khan memberikan kedudukan yang sangat penting pada keduanya (ilmu tentang keterbatasan manusia dan pengalaman) adalah penjelmaan dari kemutlakan yang sama. berteori. Justru karena fungsi proses penilaian dalam menentukan perilaku manusia itulah. antropolog dan psikolog) Amerika Serikat menjadi konsep pokok dalam konteks theory of action yang dipelopori Talcott Persons. jadi saya ada”. maka dapat dikemukakan teori nilai sebagai filsafat yang memiliki penerapan praktis secara langsung. A conception. distingtive of an individual or characteristic of a group. menurut St. metafisika tidak mungkin merupakan ilmu tentang hakekat terakhir melainkan hanyalah ilmu tentang keterbatasan pikiran manusia. Jadi. Henry Murray dan Clyde Kluckhohn. Berkeley mengemukakan bahwa semua yang ada di luar manusia hanyalah persepsi. sedangkan Hume setelah mengkritik konsep-konsep dasar yang digunakan para filosuf. Dari sinilah dapat dikemukakan bahwa. Ketika Descartes mengemukakan Cogito Ergo Sum. cara-cara dan tujuan-tujuan tindakan (Amri Marzali. Melalui pembahasan tentang teori pengetahuan. pada abad berikutnya.Jika diperhatikan secara seksama. bahkan menentukan semua kelakukan manusia. pada akhirnya ia menyangsikan bahwa semua pengetahuan manusia didasarkan atas pengalamannya. explicit or implicit. rumusan pertanyaan para filosuf tersebut masih sangat sederhana dan jelas karena pada saat itu para filosuf masih yakin sepenuhnya tentang kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan melalui indranya dan akalnya. maka ungkapan ini mengandung maksud bahwa wujud manusia yang khas adalah makhluq berpikir. Hubungannya dengan pembahasan nilai. mengemukakan bahwa value adalah. sebenarnya sudah sampai pada pembahasan tentang teori nilai. kemudian dikritik dan dilakukan berbagai pengkajian dan penelitian oleh para filosuf semisal George Berkeley dan David Human. jaman metasifika yang mutlak itu disusul kesangsian terhadap pengetahutan yang diperoleh melalui indra ataupun akalnya. Ungkapan ini. Dengan menekankan kepada unsur-unsur a priori dalam pengetahuan yang berdasarkan konsep-konsep. dikembangkan oleh para sarjana ilmu-ilmu sosial (sosiolog. Pada sisi lain. mengiringi. Takdir. Gordon Allpor. serta agamawan Immanuel Khan. Melalui Theory Action Kluckhohn. 1995:14) . kehidupan budi (pikiran yang dalam) yang terjelma dalam proses penilaian merupakan ciri khas manusia yang terpenting dalam kehidupan secara individu maupun dalam bermasyarakat. means and ends of action nilai adalah sebuah konsepsi. Sementara agamawan Khan mengemukakan.

sehingga belum dapat diraba dan dilihat secara langsung dengan pancaindra. Etika merupakan penyelidikan filsafat tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik atau buruknya perilaku itu. negara dan agama untuk memberi perintah atau larangan yang harus ditaati. perbuatan atau materi tersebut. kiyai sebagai figur sentral dan pembina santri secara konsisten menjaga nilai-nilai agama dalam kelompok pertama. mempersoalkan hak setiap lembaga seperti keluarga. maka untuk menangkap nilai yang hidup pada suatu masyarakat. seseorang tidak cukup hanya mengamati dan mencatat ungkapan.Kunci definisi value (nilai) di atas menurut Amri. 2) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari menurut hukum agama (Mastuhu. Ini artinya bahwa. Senada dengan pernyataan ini Juhaya S Praja (1997) menuliskan. Karena itu ungkapan. berbentuk idea atau pemikiran yang abstrak dan sangat umum. lembaga pendidikan. Takdir Alisjahbana (1984). perbuatan dan materi yang dibuat manusia. Moralitas Pesantren Pada umumnya. mereka yakin kiyainya selalu mengajarkan hal-hal yang benar. mengapa kiyai mempunyai kekuasaan mutlak di pondok pesantrennya. perbuatan atau materi yang dihasilkan oleh anggota masyarakat. diungkapkan dalam bentuk verbal secara komplit dan tepat oleh pemiliknya. Otonomi manusia. . perbuatan dan materi sebagai kulit luar (the husk) atau sesuatu yang nyata adalah yang terlihat dan yang berada di permukaan. 1995:16-17). Inilah sebabnya. Sebagai suatu konsep. 1996:58). sedangkan nilai yang tersembunyi di bawah kulit disebut sebagai inti (the kernel). nilai berarti masih bersifat abstrak atau dibangun di dalam pikiran (budi). nilai dapat diuraikan dalam bentuk kata-kata orang lain kemudian diajukan kepada pemiliknya: apakah kesimpulan orang lain itu benar atau tidak pemilik nilai dapat memberikan persetujuan atau penolakan. mempersoalkan norma-norma yang berlaku dan menyelidiki dasar norma-norma itu. etika menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma sehingga etika akhirnya membantu manusia menjadi lebih otonom. Etika memiliki sifat yang sangat mendasar yaitu sifat kritis. sebaliknya mereka tidak percaya jika kiyainya berbuat kesalahan atau kekeliruan. tapi dia harus pandai mengoreksi dan menemukan konsepsi yang tersembunyi di bawah permukaan ungkapan. Nilai hanya dapat disimpulkan dan ditafsirkan dari ungkapan. ketundukan dan keyakinan para santri terhadap kiyainya sangat besar. teori nilai meliputi dua cabang filsafat yaitu Etika dan Estetika. Nilai yang menjadi dasar keberadaan pondok pesantren dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu: 1) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak. tidak terletak pada kebebasannya dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan. ketaatan. Nilai yang dianut seseorang atau sekelompok masyarakat. menurut St. Alat untuk menguji nilai adalah verbalizability (Amri Marzali. Dalam kaitan ini. Sebaliknya. Bellah melalui Tokugawa Relegion (1970) mengumpamakan bahwa ungkapan. melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininya sendiri sebagai kewajiban. biasanya berbentuk samar-samar. sedangkan asaatidz dan santri menjaga nilai-nilai agama kelompok kedua. perbuatan dan materi kehidupan sehari-hari yang dilakukan manusia adalah manifestasi dari nilai. merupakan cabang dari teori nilai yang tertua dan sering merupakan bagian dari agama yang terintegrasi. Berdasarkan uraian di atas. Etik. adalah konsep tentang hal yang seharusnya diinginkan. Namun demikian. lebih implisit daripada eksplisit. Robert N. pembicaraan tentang nilai yang dimaksud adalah etik. yang dalam hal ini bercorak fiqh-sufistik dan berorientasi kepada kehidupan ukhrawi. b.

Hirarki Pesantren Sesuatu yang sangat unik pada dunia Pesantren adalah begitu banyaknya variasi antara pesantren yang satu dengan pesantren lainnya walaupun dalam berbagai aspek dapat pula ditemukan beberapa kesamaan yang bersifat umum. rencana program pelajaran. 7. negara atau adat istiadat maka kita berbicara tentang etik heteronom yakni baik dan buruknya perkataan dan perilaku manusia dinilai berdasarkan perundang-undangan. Mereka selalu menjaga perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. pranata sosial atau ajaran agama. Masyarakat Pesantren terdiri dari orangorang yang selalu berkata dan berbuat sesuai dengan dan/atau berujuk kepada ajaran Islam dan mempertimbangkan kebiasaan atau tradisi yang telah berkembang di lingkungannya yang dianggap tidak bertentangan dengan ajaran agama. Daripadanya dikembangkan norma-norma kelakukan baik dan buruk dalam hubungannya dengan seluruh kehidupan manusia. Sebaliknya. atau ia ingin tetap memiliki ikatan batin dengan kiyai bekas gurunya. kelompok-kelompok santri atau bagian-bagian fungsional khusus jika dibandingkan dengan pesantren lainnya akan ditemukan tipologi dan variasi dunia pesantren. jika sumber norma ada di dalam diri sendiri. nilai dan moral pesantren adalah segala perbuatan yang berkembang di lingkungan pondok pesantren. selalu berujuk kepada tradisi pesantren baik tradisi dalam arti “tradisi suci” (perilaku yang sesuai dengan al-quran dan sunnah rasul) maupun tradisi dalam arti kebiasaan masyarakat setempat yang telah dijaganya selama bertahun-tahun. pada mulanya berasal dari santri yang merasa berhasil menuntut ilmu dari suatu pesantren kemudian terpanggil untuk mendirikan pondok pesantren. karena itulah maka pesantren ini memiliki anak/pesantren cabang di daerah. dewan kiyai/guru. memiliki perbedaan menurut sumber-sumbernya. Melalui istilah itu bukan berarti pondok pesantren memiliki perjenjangan. Biasanya. etik menjelaskan nilai tertinggi yaitu apa yang disebut kebaikan. variasivariasi tersebut dapat dijumpai jika kita bisa berpikir secara analitis untuk memperoleh konsep tentang suatu pesantren dan dapat menjabarkan secara detail tentang prospek dan perkem-bangan pesantren. pesantren yang besar memiliki santri banyak yang datang dari daerah-daerah yang jauh. maka disebut etik autonom yaitu penilaian terhadap baik atau buruknya perkataan dan perbuatan orang adalah berdasarkan penilaian atau pengakuan pribadi/individu. baik di lingkungan dalam pesantren maupun di luar pesantren. Di dunia pesantren terdapat istilah pesantren induk yang memiliki anak atau pesantren cabang di berbagai tempat. Takdir ini bukan berarti bahwa antara nilai. didasarkan atas pertimbangan etika kolektif masyarakat pesantren. Jika moral (mores. bahasa Latin) bersumber pada agama. sebagaimana teori nilai. awalnya ia ingin berlindung pada pondok pesantren dimana ia pernah belajar. tampaknya moralitas pondok pesantren termasuk kategori etik heteronon yang menilai perkataan dan perilaku seseorang dianggap baik atau buruk. etik dan norma merupakan kesatuan makna. sebagaimana yang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan sekolah.Sebagaimana teori nilai. Pernyataan ini dapat diperhatikan dari kegiatan yang dilakukan para santri. Berdasarkan teori di atas. Variasi-variasi pesantren itu terjadi karena pesantren tidak memiliki tingkatan atau perjenjangan. Teori-teori etik (juga moral atau akhlaq). biasanya bersifat tidak resmi yaitu dalam bentuk patron: guru-murid dan dengan bentuk hubungan lugas dari . organisasi kepengurusan. Hirarki dan Karakteristik Pesantren a. Dengan kalimat lain. sebab pertumbuhan anak atau pondok pesantren cabang ini terjadi. Hubungan antara pondok pesantren induk dengan anak atau pesantren cabang. juga berusaha mengikuti kebiasaan masyarakat pendahulunya. Pernyataan St. sehingga diperoleh variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan. Dawam Rahardjo (1995:24) mengemukakan.

Lebih jelasnya tentang hirarki atau jenjang pendidikan di pondok pesantren menurut Zamakhsyari Dzofir ini. tawhid. tetapi ada juga yang kemudian berkembang menjadi besar dan membangun citra dengan nama sendiri. dengan harapan mereka kelak akan dapat membaca dan menterjemahkan KK yang ditulis dalam bahasa Arab. Di bawah ini. Bagi beberapa anak dari keluarga tertentu. proses pendidikan dasar-dasar al-quran tersebut merupakan perjenjangan pertama. Waktu belajarnya. tarikh. bertingkat-tingkat. sehingga kemudian mereka mempelajari nahwusharaf (di lingkungan pondok pesantren. mereka mempercayakan kepada tetang-ganya belajar al-quran di rumah tetangganya atau di mushalla. berlangsung setelah shalat maghrib hingga shalat ‘isya tiba. juga diperlukan lembaga pendidikan yang lebih sistematis. walaupun perjenjangan ini tidak terjadi pada setiap pesantren. . Dzofir (1994:20-21) menuliskan. dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini. Sebagian dari mereka. Bagi orang tua atau saudarasaudaranya yang tidak bisa mengajarkan al-quran kepada anak-anaknya. tafsir ‘ulum al-tafsir. secara alamiah akan berhenti setelah anak-anak mampu membaca al-quran dengan lancar dan benar. untuk selanjutnya mereka dianjurkan agar melanjutkan pelajarannya ke lembaga pendidikan Islam yang lebih tinggi tingkatnya yakni pondok pesantren.sistem organisasi yang impersonal. Untuk menguasai dan memahami beberapa macam KK. ada yang setelah berkenalan dan mampu membaca KK tersebut berambisi menjadi kiyai atau ulama. bermula pada waktu anak-anak berumur kira-kira lima tahun menerima pelajaran dari orang tuanya berupa menghafalkan alfabet arab secara bertahap agar mereka kelak dengan mudah membaca al-quran. Tingkat yang paling rendah. namun anak/pesantren cabang bisa begitu saja lepas dari induknya atas pertimbangan dan keputusan yang bersumber dari bentuk hubungan seperti ini. adab. ‘ulum al-hadits. diperlukan guru-guru (asaatidz) atau kiyai yang cukup cerdik dan berbobot. Dengan demikian. Di antara anak/ pesantren cabang ada yang tetap kecil dan kurang berkembang. Bentuk hubungan seperti ini bisa bersifat amat erat dan kuat karena merupakan suatu hubungan bathin. Program pengajaran tingkat pemula ini. lembaga-lembaga pengajian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. tasawwuf atau akhlaq. tulisan Zamakhsyari Dhofier dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menyebutkan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan. kedua ilmu ini dikenal sebagai ilmu-ilmu alat) sebagai alat untuk memperdalam KK antara lain kitab fiqh ushul fiqh. hadits mushthalah hadits. istilah pesantren induk dan anak/pesantren cabang tidak tepat untuk mengatakan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan. mulai diajarkan untuk menghafal beberapa surat pendek dari juz terakhir (juz ke-30) dalam al-quran. setelah mereka berumur tujuh atau delapan tahun. melainkan juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah keagamaan. Lembaga pendidikan dimaksud tidak cukup hanya pondok pesantren.