Kurikulum Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional

Pondok Pesantren category
1

• •

circle of playgrounds composed • of study • curriculums

Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak sekedar fokus pada kita kitab klasik (baca : ilmu agama) tetapi juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum di Pesantren saat ini dikhotomi ilmu mulai tak populer beberapa pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada dibawah DIKNAS Misal Undar Jombang Pondok pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll. Perkembangan yg begitu pesat dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi menyebabkan pengertian kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu namun demikian satu hal yg permanen disepakati bahwa Istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani semula populer dalam bidang olah raga yaitu Curere yg berarti jarak terjauh yg harus ditempuh dalam olahraga lari mulai start hingga finish. Kemudian dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dalam bahasa Arab Menurut Omar Muhammad (1979 : 478) term kurikulum dikenal dgn term manhaj yakni jalan terang yg dilalui manusia dalam hidupanya. Dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai jalan terang yg dilalui oleh pendidik dan peserta didik utk menggabungkan pengetahuan ketampilan sikap dan seperangkat nilai. Secara etimologi artikulasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua pertama dalam pengertian yg sempit disebut juga (pengertian tradisional) yakni sebagaimana dirumuskan Regan ( 1960 : 57) “ The curriculum has mean the subjects taught in school or the course of study “. Kurikulum adl mata pelajaran yg diajarkan di sekolah atau bidang studi. Kedua dalam pengertian yg luas disebut juga (pengertian modern) yakni seperti dirumuskan Spear ( 1975 : 67) “The curriculum is looked as being composed of all the actual experience pupils have under school direction writing a courrse of study become but small prt of curriculum program”. Kurikulum adl semua pengalaman aktual yg dimiliki siswa di bawah pengaruh sekolah sementara bidang studi adl bagian kecil dari program kurikulum secara keseluruhan. Rumusan ini dijustifikasi oleh sejumlah pakar lain seperti Saylor dan Alexander yg menyebutkan “The curriculum is the sum total of the school’s effort to influence learning whether in the calssroom on the playground or out of shoo” kurikulum adl keseluruhan usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar anak yg berlangsung di dalam kelas di sekolah maupun di luar sekolah. Melampaui pembagian diatas saat ini ada juga beberapa pakar seperti Lee and Lee ( 1940 : 211) yg menyebutkan bahwa “Curricuum is the strategy which we use in adapting this cultural geritage to the purpose of the shoo “ Kurikulum adl strategi yg digunakan utk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.

Berdasarkan literatur yg ada yg dimaksud dgn kurikulum adl salah satu komponen utama yg diguanakan sebagai acuan utk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping fakyor-faktor yg lain. Oleh sebab itu keberadan kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting. Kita selalu sering mendengar sorotan tajam bahwa kurikulum selalu tertinggal dgn perkembangan zaman. Dengan demikian pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan. Dalam konteks pendidikan di pesantren Nurcholis Madjid mengatakan yg dikutip oleh Abdurrahman Mas’ud dkk bahwa istilah kurikulum tak terkenal di dunia pesantren (masa pra kemerdekaan) walaupun sebenar materi pendidikan sudah ada di dalam pesantren terutama pada praktek pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan di pesantren. Secara eksplisit pesantren tak merumuskan dasar dan tujuan pesantren atau mengaplikasikan dalam bentuk kurikulum. (2002:85) Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan termasuk di dalam modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal sistem dan kelembagaan pesantren telah dimodernisasi serta disesuaikan dgn tuntutan pembangunan terutama dalam aspek-aspek kelembagaan sehingga secara otomatis akan mempengaruhi ketetapan kurikulum. Berdasarkan pendapat di atas bahwa kurikulum pada dasar merupakan seperangkat perencanaan dan media utk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan lembaga pendidikan yg diidamkan. Pesantren dalam aspek kelembagaan mulai mengembangkan diri dgn jenis dan corak pendidikan yg bermacam-macam. Seperti Pesantren Tebuireng Jombang yg di dalam telah berkembang madrasah sekolah umum sampai perguruan tinggi yg dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi pesantren yg mengikuti pola salafi (tradisional) mungkin kurikulum belum dimasukkan secara baik. Maka dari pada itu kurikulum pondok pesantren tradisional status cuma sebagai lembaga pendidikan non formal yg hanya mempelajari kitab-kitab klasik. Meliputi : nahwu sorrof belaghoh tauhid tafsir hadist mantik tasawwuf bahasa arab fiqih ushul fiqh dan akhlak. Dengan demikian pelaksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yg dibahas dalam kitab. Jadi ada tingkat awal menengah dan lanjutan. Jenjang pendidikan dalam pesantren tak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yg memakai sistem klasikal. Umum kenaikan tingkat seorang santri didasarkan kepada isi mata pelajaran tertentu yg ditandai dgn tamat dan berganti kitab yg dipelajarinya. Apabila seorang santri telah mengusai satu kitab atau beberpa kitab dan telah lulus ujian yg diuji oleh Kiai maka ia berpindah kepada kitab lain yg lbh tinggi tingkatannya. Jelas penjenjangan pendidikan pesantren tak berdasarkan usia tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yg telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi. Sebagai konsekuensi dari cara penjenjangan di atas pendidikan pesantren biasa menyediakan beberapa cabang ilmu atau bidang-bidang khusus yg merupakan fokus masing-masing pesantren utk dapat menarik minat para santri menuntut ilmu di dalamnya. Biasa keunikan pendidikan sebuah pesantren telah diketahui oleh calon santri yg ingin mondok. (Sulthon dan Ridho 2006: 159-160) Kendati beberapa pakar berbeda dalam merumuskan pengertian kurikulum tetapi mereka tak berbeda mengenai fungsi kurikulum yakni : sebagai sarana atau alat utk mencapai tujuan pendidikan sebagai pelestari nilai nilai budaya dan sebagai pedoman tentang jenis lingkup dan hirarki urutan isi dan proses pendidikan. Kurikulum bagi pendidik berfungsi sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir

pengalaman belajar peserta didik bagi tenaga kependidikan berfungsi sebagai pedoman dalam mengadakan supervisi bagi wali murid berfungsi utk memberikan informasi sekaligus dorongan agar membantu menggiatkan belajar yg relevan di rumah dan bagi perserta didik sendiri berfungsi sebagai informasi tentang jenis pengetahuan nilai nilai dan keterampilan yg telah diperoleh sebagai entri behaviornya. Kurikulum Pendidikan pesantren menurut Hasan (2001 : 6 ) paling tak memiliki beberapa komponen antara lain : tujuan isi pengetahuan dan pengalaman belajar strategi dan evaluasi. Biasa komponen tujuan tersebut terbagi dalam beberapa tingkatan yakni tujuan pendidikan nasional tujuan institusional tujuan kurekuler dan tujuan instruksional. Namun demikian berbagai tingkat tujuan tersebut satu sama lain merupakan suatu kesatuan yg tak terpisahkan. Komponen isi meliputi pencapaian target yg jelas materi standart standart hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. kepribadian. Komponen strategi tergambar daricara yg ditempuh di dalam melaksanakan pengajaran cara di dalam mengadakan penilaian cara dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan. Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup cara yg berlaku dalam menyajikan tiap bidang studi termasuk cara mengajar dan alat pelajaran yg digunakan. Komponen evaluasi berisi penilaian yg dilakukan secara terus menerus dan bersifat menyeluruh terhadap bahan atau program pengajaran yg dimaksudkan sebagai feedback terhadap tujuan materi metode sarana dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lbh lanjut. Menurut Imam Bawani (1987 : 92) adl berbeda antara pendidikan Islam dgn pendidikan agama Islam. Bila disebut pendidikan Islam maka orientasi adl sistem yaitu sistem pendidikan yg Islami yg teori-teori disusun berdasarkan alqur’an hadits. Sedangkan pendidikan agama Islam adl nama kegiatan atau aktivitas dalam mendidikkan agama Islam. Dengan kata lain pendidikan agama Islam adl sejajar dgn mata pelajaran lain di sekolah seperti pendidikan matematika ataupun pendidikan biologi. Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adl upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik utk mengenal memahami menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dgn tuntunan utk menghormati penganut agama lain dalam hubungan dgn kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa. Jadi kurikulum Pendidikan pesasntren adl bahan-bahan pendidikan agama Islam di pesantren berupa kegiatan pengetahuan dan pengalaman yg dgn sengaja dan sisteatis diberikan kepada santri dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan pesasntren merupakan alat utk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Adapun lingkup materi pendidikan pesasntren adl : Al-Qur’an dan Hadits Keimanan akhlak Fiqh/ibadah dan sejarah dgn kata lain cakupan Pendidikan pesasntren ada keserasian keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dgn Allah diri sendiri sesama manusia makhluk lain maupun lingkungannya. Untuk mencapai tujuan Pendidikan pesantren tersebut perlu rekonstruksi kurikulum agar lbh riil. Rumusan tujuan Pendidikan pesasntren yg ada selama ini masih bersifat general dan kurang mach dgn realitas masyarakat yg terus mengalami transformasi. Rekonstruksi disini dimaksudkan utk meningkatkan daya relevansi rumusan tujuan Pendidikan pesasntren dgn persoalan riil yg dihadapi masyarakat dalam hidup kesehariannya. Prinsip pengembangan kurikulum Pendidikan pesasntren secara umum dapat dikelompkkan menjadi dua yakni prinsip umum yg meliputi prinsip relevansi prinsip fleksebelitas prinsip kontinoitas prinsip praktis prinsip efektifitas dan prinsip efisiensi. Sedangkan prinsip khusus mencakup prinsip yg berkenaan dgn tujuan Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn

• • • Pengembangan kurikulum Pendidikan pesantren yg terus menerus menyangkut seluruh komponen merupakan sesuatu yg mutlak utk dilakukan agar ia tak kehilangan relevansi dgn kebutuhan riil yg dihadapi komonitas pendidikan islam yg kecenderungan terus mengalami proses dinamika transformatif. Pembangunan kehidupan duniawiyah bukan menjadi tujuan final tetapi merupakan kewajiban yg diimani dan terkait kuat dgn kehidupan ukhrawiyah tujuan final adl kehidupan ukhrawi dgn ridla Allah SWT. Kurikulum hendak pula disesuaikan dgn kondisi dan lingkungan seperti iklim dan kondisi alam yg memungkinkan ada perbedaan pola kehidupan agraris industri dan komersial. • • • • . Konsep manusia Pendidikan Islam memandang manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan tak seperti pendidikan sekuler yg memandang manusia dgn tabularasanya. Kurikulum yg demikian biasa mengacu pada sembilan prinsip utama sebagai berikut : • • • • Sistem dan pengembangan kurikulum hendak memperhatikan fitrah manusia agar tetap berada dalam kesucia dan tak menyimpang. Kurikulum hendak mengacu kepada pencapain tujuan akhir pendidikan Islam sambil memperhatikan tujuan – tujuan di bawahnya. Arti kurikulum dapat dilaksanakan sesuai dgn berbagai kemudahan yg dimiliki tiap negara yg melaksanakanya. Berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya berorientasi pada Iptek. Kuirikulum hendak terstruktur dan terorganisasi secara integral. Tujuan Pendidikan kerja membangun kehidupan duniawiyah melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi kepada-Nya. Kurikulum hendak memperhatikan kepentingan nyata masyarakat seperti kesehatan keamanan administrasi dan pendidikan. Metode pendidikan yg merupakan salah satu komponen kurikulum ini hendak bersifat fleksibel. Kurikulum perlu disusun secara bertahap mengikuti periodisasi perkembangan peserta didik. Mastuhu secara praktis memberikan konsep tentang model dan paradigma Pendidikan pesantren yg diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga Pendidikan pesasntren yaitu : • Dasar Pendidikan Pendidikan pesasntren harus mendasarkan pada “teosentris’ dengan menjadikan “antroposentris” sebagai bagian esensial dari konsep teosentris. Kurikulum hendak efektif utk mencapai tingkah laku dan emosi yg positif. Nilai Pendidikan pesasntren berorientasi pada Iptek sebagai kebenaran relatif dan Imtaq sebagai kebenaran mutlak.pemilihan isi Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn metode dan strategi proses pembelajaran Pendidikan pesantren prinsip yg berkenaan dgn alat evalusi dan penilaian Pendidikan pesasntren. Kurikulum hendak realistis. Hal ini berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya bersifat antroposentris semata. Pendidikan pesantren yg dibangun atas dasar pemikiran yg Islami bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yg dilandasi kaidah – kaidah Islam.

09 Des 2010 Santri Modern. Untuk bisa membaca dan memahami kitab seseorang harus menguasi ilmu nahwu. ilmu nahwu dipandang sebagai ilmu kunci. Ia adalah model pendidikan yang pertama dan tertua yang ada di Indonesia. Dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan dalam transformasi manhaj pesantren ini. kerangka berpikir. . Namun pada akhir-akhir ini. nahwu-shorof. Referensi utama yang digunakan adalah kutub turats karya salafus sholeh. materi nahwu dan fiqih mendapat porsi perhatian lebih banyak. tauhid dan lain-lain. dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren maupun Universitas Islam yang nota bene dimotori oleh alumnus-alumnus pesantren yang ketika dipesantren tidak didasari dengan dasar ruhani yang kuat. seperti fiqih. tafsir.• Kurikulum hendak memperhatiakan tingkat perkembangan peserta didik baik fisik emosional ataupun intelektualnya. Hal itu karena. dan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip kejujuran dalam kehidupan sehari. Dilema Paradigma Ekstrem Barat Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama dan etika bermasyarakat. kondisi memprihatinkan tengah dihadapi masyarakat pesantren. Di antara kajian yang ada. Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi standard intelektual. bermanfaat untuk masyarakat. Terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan paradigma. antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif. Sebagai sebuah respon atas perkembangan zaman. hadist. materi yang dikaji di pesantren adalah ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin). Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Masyarakat memandang zaman telah berkembang menuju era globalisasi. Bencana Aceh Versi Arab Kamis. Dan selama itu pesantren telah terbukti mencetak manusia-manusia yang berakhlakul karimah. serta berbagai masalah yg dihadapi dalam tiap tingkat perkembangan seperti pertumbuhan bahasa kamatangan sosial dan kesiapan religiusitas. Sebagai sebuah lembaga pendidikan. Pesantren sudah ada sejak ratusan tahun silam. masyarakat modern menginginkan perubahan terjadi dalam diri pesantren. Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan memegang prinsip bahwa tujuan utama sebuah pembelajaran adalah liridhoillah.

Di latarbelakangi hal itu. kekumuhan. Pola pendidikan pesantren dianggap tidak mampu memenuhi pasar kerja. Mereka anggap idiologi salaf seolah hal yang sudah basi. Karena alasan inilah pesantren semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan paradigma. yaitu perpaduan kurikulum antara mata pelajaran berbasis ilmu agama dan mata pelajaran berbasis pengetahuan umum. Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi standard intelektual. Ketiga. Sehingga ketika ia melihat suatu ideologi kebebasan di luar lingkungannya. dunia santri dan pesantren dicitrakan sebagai dunia yang tertutup sehingga dekat dengan keterbelakangan. terjadi euforia yang berdampak pada hijrahnya paradigma. Pandangan ini menjadikan pesantren dipandang tidak efektif sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mampu merespon tuntutan zaman. Pesantren model ini telah mengadaptasi sistem pendidikan modern sebagai bentuk respon atau penyesuaian terhadap tantangan zaman. dengan sangat tergesa-gesa mereka menutup rapat-rapat telinganya seolah mendengar suara yang memanggil ke masa lalu. kadaluarsa dan tidak relevan lagi. Kedua. seolah sebagai sisa- . dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren maupun Universitas Islam yang notabene dimotori oleh alumnus-alumnus pesantren yang ketika dipesantren tidak didasari dengan dasar ruhani yang kuat.Mereka menuntut pesantren sebagai institusi pendidikan untuk melakukan akselerasi dan transformasi ke arah perkembangan tersebut. karena beberapa anggapan: Pertama. Perpaduan semacam itulah yang sekarang diminati oleh sebagian masyarakat. Dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan dalam transformasi manhaj pesantren ini. muncullah pesantrenpesantren baru atau pesantren lama yang berusaha menafsirkan tuntutan masyarakat dalam tindakan aktif. dan kebodohan atas perkembangan dunia modern. Yaitu golongan antikonservatif yang telah muak berada pada kejumudan yang dirasakanya di pondok. dengan menerapkan pola dan sistem pendidikan modern. Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama dan etika bermasyarakat. antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif. figur-figur lokal yang liberal ketimbang mengambil ayat-ayat al-Qur'an Hadist-hadist nabi. Mereka menganggap kaum sarungan (santri) yang setia dengan kajian lughowi dan atau waqi'i serta manhaj kitab-kitab salaf yang ketat. masyarakat santri di pesantren dipahami sebagai kelompok yang semata-mata berlajar agama dan kitab-kitab salaf tanpa peduli pada masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat umum. atau maqolah-maqolah ulama'. Mereka lebih merasa bangga ketika paradigma pemikirannya bermuara dari akar-akar filosof barat. Transformasi ini juga ikut andil dalam membidani lahirnya paradigma liberalis kebarat-baratan di kalangan santri. Parahnya lagi ketika mereka mendengar teriakan-teriakan yang berbau salaf. kerangka berpikir.

hasil interpretasi yang berusaha mereka kontekskan bukan didasari dengan dasar teori yang kuat. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’). Jangankan interpretasi yang maksimal. Tetapi Jangan diartikan bahwa kita sebagai santri tidak tepat mempelajari ilmu-ilmu kekinian. justru sebaliknya kita harus memahami hal-hal tersebut karena agar mampu membawa ajaran salaf as shalih sebagai ajaran pure of life. • Studi Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab • • Author: admin Filed under: Metode Thursday Jun 12. Produk inilah yang berusaha mereka tafsirkan dalam bahasa keilmuan modern.oke. kemampuan membaca (reading . ketika basic Islam sudah tertanam dalam hati yang paling dalam dan mengakar pada pikiran. Jadi. oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda.sisa dari konteks sosial dan politik masa lalu (jahiliyyah). mereka sudah mencoba mengkontekskan hasil interpretasi yang tidak maksimal tadi. Hal yang ironis terjadi. Akan tetapi untuk mencari menu tambahan tersebut ada fase-fase tertentu. suatu hal yang tidak didasari dengan dasar teori yang kuat akhirnya hanya akan menghasilkan produk pemahaman yang tidak bisa dipertanggung jawabkan... untuk membaca teks-teks karya salafus sholeh inipun mereka masih belum fasih. kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum). Muqaddimah Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu. Mereka mencoba mengkontekskan produk-produk salaf dengan teori modern. disatu sisi penguasaan pada manhaj ala pondok pesantren belum mumpuni yang berefek pada tidak maksimalnya pemahaman tentang produk salaf yang menjadi kajian di pesantren. Betapa banyak kalangan santri yang berubah jadi nyeleneh setelah mengenal ideologi-ideologi yang berkembang dari belahan dunia Barat. Siapa yang berpegang pada teori jahiliyah sekarang? Fenomena inilah yang ditakutkan oleh pesantren salaf. materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya.2008 Oleh : Yayat Hidayat A. ketika dia harus berubah mengikuti tuntutan masyarakat. baik menyangkut metode (model pengajaran). hemm.

yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian. motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati secara kolektif.Tujuan Pengajaran Belajar bahasa ibu (bahasa bawaan -edt) merupakan tujuan yang hidup. serta korelasi dan isi. 1. Ada beberapa teknik melatih pendengaran/telinga. pada umunya mempunyai tujuan sebagai alat komunikasi dan ilmu pengetahuan (kebudayaan). ث. baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. karena ia harus menyesuaikan sistem bahasa ibu kedalam sistem bahasa Arab. B. yaitu. baik lisan. mendengarkan. maupun bahasa berpikirnya. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai. kemampuan dasar yang dimiliki. Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa. pertama. Sementara itu belajar bahasa asing. Padahal besar kecilnya motivasi belajar Bahasa Arab mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkahlangkah berikut4. ض‬dan seterusnya. ii. menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.yaitu: i.Guru bahasa asing kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya. ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab tentu lebih sulit dan berat. iii. 2. Ketiga. yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. ه – ح. tulis. Misalnya: ‫ . dan bercakap sebelum menulis.Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Arab (asing) Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing. yaitu sebagai alat komunikasi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dalam hidupnya. ء – ع س– ش. seperti: ‫ خ. prinsip koreksitas dan umpan balik.Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia2. prinsip bertahap. struktur kalimat maupun sistem bahasa berpikirnya1. walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. ز – ذ‬dan seterusnya3.Prinsip prioritas Dalam pembelajaran Bahasa Arab. Sementara ketika mempelajari Bahasa Arab. struktur kata. baik sistem bunyi. 1. Kedua. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina. ذ.Selanjutnya materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa indonesia. mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. -edt) peserta didik. prinsip penghayatan. oleh karena itu ia cenderung dapat berhasil dengan cepat.competence/mahaarah al-qira’ah). .Kemampuan dasar yang dimiliki Ketika anak kecil belajar bahasa ibu. lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis. 1)Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah). ia telah lebih dahulu menguasai bahasa ibunya. otaknya masih bersih dan belum mendapat pengaruh bahasa-bahasa lain. oleh karena itu motivasi belajar Bahasa Arab lebih rendah daripada bahasa ibu. Namun bahasa asing tidak dijadikan sebagai bahasa hidup seharihari. oleh karena itu motivasi untuk belajarnya sangat tinggi. seperti bahasa Arab (bagi non Arab). mengajarkan. kemudian kemampuan menirukan ucapan. ص.

tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja ( ‫ . yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. ii.Korektisitas dalam pengajaran sintaksis Perlu diketahui bahwa struktur kalimat dalam bahasa satu dengan yang lainnya pada umumnya terdapat banyak perbedaan. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu.Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau katakata untuk menirukan intonasi.i.Prinsip Berjenjang ( ‫ )التدرج‬Jika dilihat dari sifatnya. . dalam bahasa Arab. sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu.Korektisitas dalam pengajaran semiotik Dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. baik jumlah jam maupun materinya. pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak.Prinsip korektisitas (‫ )الدقة‬Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi ‫الصوات‬ (fonetik).Jenjang Pengajaran mufrodat Pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik. maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik5. cara berhenti. guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. Tetapi. dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua.. korektisitas dalam pengajaran (fonetik).Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing. yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). Oleh karena itu. 3. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. yaitu: pertama. Misalnya. baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal). ada 3 kategori prinsip berjenjang. tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama. ‫( التراكب‬sintaksis). Misalnya : ‫ بى. sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja. Ketiga. Oleh karena itu. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya. ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya. بو‬dan seterusnya. a. dari yang global ke yang detail. dan ‫( المعانى‬semiotic). korektisitas dalam pengajaran (semiotic). 2.) فعل‬c. hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan karena kejelasan petunjuk. dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek). Korektisitas ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab. kemudian dilatih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang dan kemudian dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik. Kedua. maupun panjang pendeknya. Contoh: ‫اشتريت سيارة صغيرة بيضاء‬ ‫ مستعملة مصنوعة في اليا بان‬Kemudian dipenggal – penggal menjadi : ‫اشتريت سيارة اشتريت سيارة صغيرة‬ ‫ اشتريت سيارة صغيرة بيضاء‬Dan seterusnya. korektisitas dalam pengajaran (sintaksis). b. 2)Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa Dalam mengajarkan struktur kalimat. ب. Ketiga. a. با. Selanjutnya memberikan materi kata sambung.Korektisitas dalam pengajaran fonetik Pengajaran aspek keterampilan ini melalui latihan pendengaran dan ucapan.

Oleh karena itu. Metode pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara . 5. tetapi harus terdiri dari beberapa contoh dengan perbedaan dan persamaan teks untuk dijadikan analisa perbandingan bagi peserta didik.b. fi’il. seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian meraka. Langkah-langkah aplikasi ( ‫ )الصلبة والمتا نة‬Ada delapan langkah yang diperlukan agar teknik diatas berhasil dan dapat terlaksana.Peserta didik diberikan motivasi yang cukup untuk berekspresi melalui tulisan. Misalnya hitam-putih. pelatihan melalui pendengaran sebelum melalui penglihatan. tahapan-tahapannya dapat dibedakan sebagai berikut: pertama.Mulailah contoh-contoh dengan sesuatu yang ada di dalam ruangan kelas/media yang telah ada dan memungkinkan menggunakannya. 3. baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian.Tahapan pengajaran makna ( ‫ )دللة المعانى‬Dalam mengajarkan makna kalimat atau kata-kata. sehingga menjadi cakap dan professional. Secara sederhana. metode modern.Mulailah contoh-contoh tersebut dengan menggunakan kata kerja yang bisa secara langsung dengan menggunakan gerakan anggota tubuh. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya. dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat.Ketika mengajarkan kata sifat hendaknya menyebutkan kata-kata yang paling banyak digunakan dan lengkap dengan pasangannya. keterampilan. bundar-persegi. 4. penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode. Ketiga. karena contoh yang baik akan menjelaskan gramatika secara mendalam daripada gramatika saja.Hendaknya tidak memberikan contoh-contoh yang membuat peserta didik harus meraba-raba karena tidak sesuai dengan kondisi pikiran mereka. Kedua. 2. sebaiknya dipilih huruf jar yang paling banyak digunakan dan dimasukkan langsung ke dalam kalimat yang paling sederhana. penugasan kolektif sebelum individu. 6. agar meraka merasa terlibat langsung dengan proses pengajaran yang berlangsung. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic. namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim. jika tidak tepat aplikasinya. C. dan huruf.Memberikan contoh-contoh sebelum memberikan kaidah gramatika. Contoh Jumlah ismiyyah: ‫ . “Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan.Ketika mengajarkan huruf jar dan maknanya.الكتاب في الصندوق‬Contoh jumlah fi’iliyah : ‫خرج الطاب من الفصل‬ 7. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran. metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam. yaitu: pertama. pelatihan lisan/pelafalan sebelum membaca. metode tradisional/klasikal dan kedua. yaitu: 1. bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan. lisan bahkan mungkin ekspresi wajah.Jangan memberikan contoh hanya satu kalimat saja. 8. Dilihat dari teknik materi pengajaran bahasa Arab.” Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. c. strategi dan ketelatenan.Metode Pengajaran Bahasa Arab Ibnu khaldun berkata.Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid. harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah).

Menitikberatkan perhatian pada kaidah gramatika (Qowa’id Nahwu/Sharaf) untuk menghafal dan memahami isi bacaan.Penghayatan yang mendalam dan rinci terhadap bacaan sehingga peserta didik memiliki perasaan koneksitas terhadap nilai sastra yang terkandung di dalam bacaan. sinonim. b.Peserta tidak diajarkan menulis karangan dengan gaya bahasa yang serupa / mirip. Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. a. . yaitu untuk mengetahui nilai sastra yang tinggi dan untuk memiliki kemampuan kognitif yang terlatih dalam menghafal teks-teks serta memahami apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisan atau buku-buku teks. bidang tersebut merupakan tradisi turun temurun. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad. bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern. (bahasa Arab – bahasa ibu). Ketiga. naskah (prosa). terutama buku Arab klasik11.Memberikan perhatian besar terhadap kata-kata kunci dalam menerjemah. baik aspek gramatika/sintaksis (Qowaid nahwu). khususnya pesantren salafiah masih menerapkan metode tersebut.Guru memberikan kosa kata baru dan menjelaskan maknanya ke dalam bahasa local/bahasa ibu sebagai persiapan materi pengajaran baru. bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia. seperti bentuk kata kiasan. Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al – mubasysyarah). d. terutama nahwu dan ilmu sharaf. Ciri metode ini adalah: a. oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa. Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut adalah Metode qowaid dan tarjamah. Hal ini didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: Pertama. dengan gaya bahasa yang dipakai para pakar seperti pada bacaan yang telah dipelajarinya. terutama mengenai penggunaan model gaya bahasa. b. c.mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab. maupun kiasan-kiasan (amtsal).Metode Qowa’id dan tarjamah (Tariiqatul al Qowaid Wa Tarjamah) Penerapan metode ini lebih cocok jika tujuan pengajaran bahasa Arab adalah sebagai kebudayaan.Guru mulai mendengarkan sederetan kalimat yang panjang yang telah dibebankan kepada peserta didik untuk menghafalkan pada kesempatan sebelumnya dan telah dijelaskan juga tentang makna dari kalimat-kalimat itu.Peserta didik diajarkan membaca secara detail dan mendalam tentang teks-teks atau naskah pemikiran yang ditulis oleh para tokoh dan pakar dalam berbagai bidang ilmu pada masa lalu baik berupa sya’ir. Penjelasan: 1. Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup. sehingga inti belajar bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapan/ungkapan dalam bahasa Arab. Aplikasi Metode Qowa’id dan tarjamah dalam proses pembelajaran. dan tanda baca lainnya. Kedua kemampuan ilmu nahwu dianggap sebagai syarat mutlak sebagai alat untuk memahami teks/kata bahasa Arab klasik yang tidak memakai harakat. Artinya. morfem/morfologi (Qowaid as-sharf) ataupun sastra (adab). sehingga kemampuan di bidang itu memberikan “rasa percaya diri (gengsi) tersendiri di kalangan mereka”. al – itnab at Tasbi’ al Istiarah yang merupakan tren / gaya bahasa masa klasik. kata mutiara (alhikam). dan meminta peserta didik menganalisis dengan kaidah gramatikal yang sudah diajarkannya (mampu menerjemah bahasa ibu ke dalam Bahasa Arab) e. tujuan pengajaran bahasa arab tampaknya pada aspek budaya/ilmu.

Thuruqu Tadris al – Lughah al – ‘Arabiyah Wa al – Tarbiyah al – Diniyah. Kairo 1996 M / 1416 H. al – Mishriyah.Kegiatan membaca teks ini diteruskan hingga sekuruh peserta didik mendapat giliran. 3. Maktabah al – Nahdah. d. kemudian selanjutnya diarahkan pada pemahaman struktur gramatikanya12. Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah. Tarikh al – Tarbiyah al – Islamiyah. dar al – Kitab al – Ubnany. Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah.Materi gramatika diajarkan di sela-sela pengajaran.Materi pengajaran pada tahap awal berupa latihan oral (syafawiyah) b. Kaira .Anis Farihah. Cet. 6.Ahmad Syalaby. semuanya membutuhkan proses. Adapun bagi bagi seorang siswa. 4. 2.namun tidak secara mendetail. bahwasanya belajar bahasa apapun.Metode langsung (al Thariiqatu al Mubaasyarah) Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu. metode ini memerlukan halhal berikut.Materi Qiro’ah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab. baik dalam menjelaskan makna yang terkandung di dalam bahan bacaan ataupun jabatan setiap kata dalam kalimat. f. baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah. Kaira: tnp. Kairo . 1973. bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran dengan menekankan pada aspek penuturan yang benar ( al – Nutqu al – Shahiih). bahwa alur makalah ini lebih menekankan tentang pentingnya: Seorang guru (pendidik) sebaiknya memahami prinsip – prinsip dasar pengajaran bahasa Arab diatas sebagai bahasa asing dengan menggunakan metode yang memudahkan peserta didik dan tidak banyak memaksakan peserta didik ke arah kemandegan berbahasa. 1961. a. 2.Selama proses pengajaran hendaknya dibantu dengan alat peraga/media yang memadai. dar al – Kitab al – Ubnany.. Ta’lim al – Lughah al ‘Arabiyah lighairi al – ‘Arab. Thuruqu Ta’alim al – Lughah al – ‘Arabiyah.Abdurrahman al – Qadir Ahmad.Materi dilanjutkan dengan latihan penuturan kalimat sederhana dengan menggunakan kalimat yang merupakan aktifitas peserta didik sehari-hari.Ibrahim Muhammad ‘Atha.c.Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara Tanya jawab dengan guru/sesamanya.Ahmad al – Sya’alabi.Materi menulis diajarkan dengan latihan menulis kalimat sederhana yang telah dikenal/diajarkan pada peserta didik. (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media). oleh karena itu dalam aplikasinya. Penutup Sebagai penutup. 5. c.Materi dilanjutkan dengan latihan menuturkan kata-kata sederhana. d.Jassem Ali Jassem. 11. Beirut. (Kuala Lumpur : . e. Perlu menjadi bahan revisi disini adalah bahwa dalam metode langsung. Nazhriyaat Hal Lughah. Daftar Pustaka 1. 1979. g. Thuruqu Ta’lim al – Lughah al – ‘arabiyah Li al – Ajanib.Setelah itu siswa yang dianggap paling bisa untuk menterjemahkan. h. baik kata benda ( isim) atau kata kerja ( fi’il) yang sering didengar oleh peserta didik. banyak latihan dan banyak mencoba. 1983. e.Selanjutnya guru meminta salah satu peserta didik untuk membaca buku bacaan dengan suara yang kuat (Qiroah jahriah) terutama menyangkut hal-hal yang biasanya peserta didik mengalami kesalahan dan kesulitan dan tugas guru kemudian adalah membenarkan.

Munir M. Rekonstruksi dan Modernisasi Pendidikan Islam. Peran Manusia hidup di tengah-tengah masyarakat. 9. 1406 H 8. 10. . memperoleh pendidikan dan kesehatan serta memperoleh kesempatan bekerja. yang terkumpul dalam buku yang berjudul Rekonstruksi dan Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam. karena itu ia berhak untuk memperoleh pendidikan. Seseorang yang melaksanakan hak. Terjadinya sistem ini salah satu penyebabnya adalah adanya sesuatu yang lebih dihargai dari yang lain.. Darul Huda. Yogyakarta. Yogyakarta: 2005.Ag. LIPIA.T Tiara Wacana. ia memiliki hak untuk memperoleh kehormatan dan kebebasan dari orang lain. berbicara dan melakukan kegiatan lain sesuai dengan keahlian dan profesinya. 2005 . pekerjaan. tidak bisa lepas dari kedudukannya sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. 11. Nadzkarah Asas al – Ta’lim al – Lughah al – ajnubiyah. maka ia tengah menjalankan suatu peran.S Noorden. Sebagai pribadi.Munir. Jakarta. Definisi Opersasional 1. Yogyakarta: 2002. sehingga memberikan kemungkinan bagi terwujudnya berbagai status sosial dan peran dalam masyarakat tersebut. P. Nizhamu Ta’lim al – Lughah al – ‘Arabiyah fi al – Ma’had al – Islamiyah. Skripsi. selalu dijumpai adanya sistem pelapisan sosial. ia berkewajiban untuk menghormati dan memberikan kebebasan kepada orang lain untuk berkarya dan berprestasi sesuai dengan profesinya.Kamal Ibrahim Badri dan Mahmud Nuruddin. dkk. Global Pustaka Utama.Muhammad Jawwad Ridla. Pengajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing. 1996.Munir. sedangkan peran (role) adalah aspek dinamis dari status tersebut.Ag. kewajiban dan tujuan-tujuannya sesuai dengan status sosialnya. Global Pustaka Utama. 1996). Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (perspektif sosiologifilosofis). M.A. Tetapi sebagai anggota masyarakat. 7. Proses bermasyarakat. Status adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat.. kesehatan. bekarya.

Bahkan David Krech. Pada hakekatnya kedudukan-kedudukan tersebut merupakan suatu komplek dari kewajiban-kewajiban dan hak-hak dari individu-individu yang menempatinya. “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan. masyarakat memanggil seseorang dengan panggilam kiyai adalah karena kedudukannya sebagai pemimpin masyarakat karena sering menjadi imam peribadatan keagamaan di mushalla/masjid atau kegiatan keagamaan di majlis ta’lim atau pondok pesantren. Taufiq Abdullah (1993:43) mengemukakan bahwa padanan kata kiyai dengan keadaan masyarakat Indonesia yang plural ini yaitu kata ‘alim (bahasa Arab) yang berarti orang yang berilmu. Sedangkan Joyce M. 4. 1. Dalam . 3. Hawkins (1996:234) menuliskan. seseorang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan. yang dimaksud perubahan orientasi pendidikan yaitu upaya yang dilakukan kiyai. sebagai pengelola pondok pesantren dalam mengikuti perkembangan dan kemauan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kesediaan sarana fasilitas. “dalam suatu pranata. Kiyai Pada umumnya. Juga karena ia memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan dan mempraktekannya. Aron Quinn (1958:46) mengartikannya sebagai “complex state with in a organisme that direct behaviour toi ward a goal” yakni suatu keadaan yang sifatnya kompleks pada sebuah sistem organisme dalam mencapai tujuan. karena motivasinya berupaya dan bekerja keras sehingga tercapai apa yang diinginkannya. “orientasi adalah penyesuaian diri terhadap obyek”. “the study of the direction and persitence of actrion is the study of motivation” yakni studi tentang dorongan untuk mengarahkan dan mempertahankan perbuatan adalah studi tentang motivasi. pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) diartikan sebagai. Pendidikan dan Pendidikan Islam Di dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (1989:2) dikemukakan bahwa. 2.Astrid S. Berkaitan dengan pengertian kiyai. motivasi adalah goal directed yaitu dorongan yang tumbuh karena ada tujuan yang ingin dicapai pada diri individu maupun kelompok ke arah untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap tinggi. Seseorang. Cs melalui Individual in Society (1962:69) yang mengemukakan. disebut role. individu-individu yang terlibat di dalamnya selalu menempati kedudukan-kedudukan tertentu. Motivasi Motivasi merupakan sesuatu yang dianggap abstrak. bentuk jamaknya yaitu kata ‘ulama yang berarti sekumpulan atau sekelompok orang yang berilmu dari berbagai latar belakang pengetahuan. tetapi hasil dari motivasi dapat dibuktikan melalui manifestasi. Susanto (1977:94) mengutip pendapat Laurance Ross tentang role sebagai dinamisasi dari status atau penggunaan hak dan kewajiban. “peran adalah keseluruhan pola perilaku seseorang yang bertalian dengan status tertentu yang diharapkan oleh masyarakatnya”. dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. otopraksi dan kharismanya. Lebih jauh Koentjoroningrat (1974:121) mengemukakan. dijadikan panutan masyarakat dan dipercaya menjadi pemimpin pada suatu lembaga pendidikan keagamaan karena ‘alim. Kaitan dengan motivasi. Pada tulisan ini. Dengan demikian. yang disebut status”. “upaya mencocokkan keadaan sesuai dengan petunjuk”. adapun segala cara bertingkah laku dari individu-individu untuk memenuhi kewajiban dan mendapatkannya tadi. pengajaran. Harsoyo (1972:124) mengemukakan. Orientasi Orientasi. Dengnan demikian yang dimaksud dengan kiyai pada tulisan ini ialah.

Serta bagaimana peran kiyai dalam membentuk kepribadian santri. dalam bahasa Arab funduq artinya ruang tidur atau “asrama sederhana” karena memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Pernyataan tersebut dikemukakan. Terhadap kedua lembaga pendidikan yang terakhir. Pondok Pesantren Pondok pesantren. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi pembaca. sehingga lembaga pendidikan yang ada tidak hanya lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang lebih mengutamakan pemahaman dan penguasaan al-quran dan KK. Di beberapa pondok pesantren tertentu yang dikelola secara modern melibatkan beberapa tenaga profesional. berilmu dan mengamalkannya. 6. Lembagalembaga pendidikan yang bersifat umum dan kedinasan. Sedangkan pesantren berasal dari kata santri yang memperoleh awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat para santri. sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia yang baik-baik. setelah penulis mempelajari dan mengikuti perkembangan dunia pesantren pada dua dasawarsa terakhir ini yang tidak hanya dikelola secara tradisional. menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan penekanan terhadap pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. kurikulum yang digunakan adalah di samping kurikulum nasional juga diberikan kurikulum lokal yang dirancang dan disesuaikan dengan tujuan pesantren. baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis. penelitian ini mengemukakan bahwa Pondok Pesantren tidak seperti apa yang diduga oleh sebagian masyarakat yaitu scond class dalam pendidikan. . masyarakat dan pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. melainkan ilmu pengetahuan umum atau kejuruan dan keterampilan juga diajarkan. maka usaha yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan adalah membentuk kepribadian muslim (Zakiyah Derajat. Dengan demikian. juga telah ada sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat. Karenanya. Untuk menemukan model pendidikan seperti ini. Ke semua lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan itu dalam dalam upaya untuk merubah perilaku subyektiv menjadi perilaku yang obyektiv sesuai dengan norma dan petunjuk nilai yang berlaku di lingkungan masyarakat. Pendidikan berlangsung di pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan unsich. baik sarananya maupun mutu pendidikannya. E. F. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah. Kata pondok. akan dilihat bagaimana peran kiyai yang dianggap lebih dominan itu dan bagaimana interaksi dengan semua komponen lainnya dalam proses pendidikan. merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yang berbeda yaitu pondok dan pesantren. Manfred Ziemek (1986) menuliskan bahwa pesantren merupakan gabungan antara suku kata sant (bahasa sankrit.pelaksanaannya. manusia baik) dan suku kata tra (bahasa sankrit. mendalami. Secara teoritis. memahami. usaha menyiapkan peserta didik itu dilakukan oleh keluarga. Kaitannya dengan pendidikan Islam. ingin memperoleh gambaran tentang model sistem pendidikan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet yang mungkin dapat diterapkan di beberapa pondok pesantren lain. tenaga pendidikannya juga disesuaikan dengan mata pelajaran yang disampaikan. 1983:27) yaitu manusia yang beriman. suka menolong). yang dimaksud pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional Islam yang di dalamnya sebagai tempat para santri untuk mempelajari.

di pesantren Buntet telah mendirikan tiga bentuk lembaga pendidikan yaitu: pendidikan keagamaan (tarbiyah al-diniyah). Inilah yang dimaksud Mastuhu (1994:21) bahwa.Melalui ketiga bentuk lembaga pendidikan itulah sehingga seorang santri. Dalam bentuk pelayanan pertama. Di samping itu. sedangkan bentuk pelayanan kedua. diharapkan model dan sistem Pendidikan Pesantren Buntet akan dijadikan sebagai panduan bagi masyarakat dalam pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan (kognitiv). kurikulum dan metode pengajaran yang tidak hanya ala tradisional yakni sorogan. pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan lembaga sosial yang selalu adaptif terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di . Setelah memperoleh kedua manfaat tersebut. Kerangka Pemikiran Pesantren. fungsi lembaga ini berubah yaitu mulai menyiapkan diri beberapa perlengkapan sebagaimana perlengkapan yang ada pada lembaga pendidikan sekolah yaitu bentuk kelembagaan yang menerapkan sistem kelas. beberapa pesantren tertentu yang dipimpin kiyai-cendekiawan muslim mulai memperoleh perhatian masyarakat luas sejak awal abad ke-20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Keberadaan pesantren saat itu bersifat tertutup dan peranya pun masih terbatas kepada persoalan keagamaan bagi masyarakat lingkungannya saja. kiyai di Pondok Pesantren Buntet tidak pernah berhenti mengupayakan bentuk dan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sedangkan secara praktis. Di samping itu. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa. pondok pesantren menjadi suatu sistem atau lembaga pendidikan terbuka yang mau menerima input dan menyesuasikan diri dengan perkembangan dan keinginan masyarakat luas. “pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bercirikan grass root people yang telah tumbuh dan berkembang di Nusantara sejak 300-400 tahun yang lalu”. walaupun ia belajar pada lembaga pendidikan umum tapi ia memperoleh pengetahuan keagamaan di samping dari lembaga pendidikan yang dimasukinya juga memperoleh pengetahuan keagamaan dari pondok pesantren melalui pengalaman peribadatan. Sejak itu. usaha dan kegiatan yang dilakukan pondok pesantren secara garis besar dapat dibedakan atas dua fungsi pelayanan yaitu: pelayanan kepada santri dan pelayanan kepada masyarakat Suyata dalam Dawam Rahardjo (1985: 16). pendidikan umum (tarbiyah al-‘ammiyah) dan pendidikan kejuruan (tarbiyah al-khashiyah). perannyapun tidak hanya dalam bentuk keagamaan melainkan juga masalah-masalah sosial lainnya. bandongan dan halaqah. dan hanya dikenal di kalangan atau lingkungan setempat. G. Perkembangan berikutnya. sikap (attitude) dan mental serta keterampilan (skill). Kenyataan ini menggambarkan bahwa. pada awal berdirinya merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional (salafy) yang fungsi dan tujuannya adalah sebagai tempat untuk mengembangkan dan/atau syi’ar islamiyah. sistem tradisional juga tetap dipertahankan yaitu pengajian al-quran dan beberapa KK dan praktekpraktek peribadatan yang diajarkan dan diperintahkan oleh kiyainya yaitu mengamalkan ‘amalan dzikir dari thariqat tijaniyah dan syathariyah sebagaimana yang dilakukan para kiyainya. pesantren menyajikan beberapa sarana bagi perkembangan para santrinya. Implikasi dari perubahan (dari suatu sistem kelembagaan tertutup menjadi lembaga pendidikan terbuka) adalah. Maju atau mundurnya lembaga ini sangat bergantung atau dipengaruhi kiyainya. penelitian ini berusaha mengemukakan tentang model dan sistem pendidikan yang diupayakan oleh para kiyai atau pembina Pondok Pesantren Buntet. minimal pembaca akan mempertimbangkan kembali dugaan yang salah tentang pesantren sebagai lembaga pendidikan scond class. Hingga tahun ajaran 1999/2000 ini. pesantren berusaha mewujudkan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan kemampuan yang ada.

sedangkan pesantren yang tengah berusaha menerapkan kurikulumnya sesuai dengan keinginan masyarakat. memahami betul tentang kurikulum pendidikan sekolah juga diterima oleh masyarakat terutama karena kewibawaan dan kesalehannya. apalagi jika dikaitkan dengan usaha-usaha untuk membuktikan kebaikan dari inovasi itu dalam sistem kehidupan masyarakat lingkungan pondok pesantren khususnya. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini GAMBAR 1 KONSEP PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN BUNTET . antara pondok pesantren dengan masyarakat dalam pemahaman terhadap suatu nilai (ketetapan sikap dan perilaku [Salvanayasan. Kedua ilmu pengetahuan dimaksud adalah ilmu pengetahuan keagamaan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan pondok pesantren dan ilmu pengetahuan umum atau keterampilan yang diperolehnya melalui lembaga pendidikan sekolah yang dimasukinya. cenderung menggunakan pola kedua (pemahaman secara kontekstual). Sifat adaptif itu diwujudkan dalam bentuk penerapan kurikulum yang diperlukan untuk mengantisipasi tuntutan dan perkembangan. perubahan yang terjadi di pondok pesantren sangat penting artinya karena dapat mempengaruhi kurikulumnya. karena terjadinya proses adopsi terhadap suatu inovasi (Cuban. Misi dari penggabungan kedua sistem pendidikan itu. Pola pemahaman pertama (pemahaman terhadap nilai secara tekstual) biasanya dilakukan oleh beberapa pesantren tradisional. Di samping itu. Berpatokan kepada ketiga dasar keyakinan di atas maka dapat diyakini bahwa. Perkembangan dengan pola kedua ini cukup kondusiv untuk menopang proses inovasi.lingkungannya. 1984]) terdapat perbedaan yang mendasar: pondok pesantren dalam pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan. Pemimpin pondok pesantren dimaksud adalah kiyai yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren yang dipimpinnya. akan melahirkan semangat kreativ-inovativ sesuai dengan persoalan yang sedang berkembang. Untuk menerapkan pola kedua. Salah satu visinya yang prospektif dan memenuhi tuntutan masyarakat adalah memadukan dua sistem pendidikan yang berbeda yaitu sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan pondok pesantren. lebih bersifat tekstual sedangkan masyarakat lebih bersifat kontekstual. Ada tiga dasar keyakinan yang kondusif untuk dijadikan sebagai landasan akan pentinnya memperhatikan sifat adaptif kurikulum terhadap perubahan yaitu: 1) perubahan yang terjadi sifatnya positif. Selama ini. 1992:216). sangat ditentukan oleh seorang pemimpin pondok pesantren yang memiliki ilmu pengetahuan keagamaan yang luas. pemahaman secara kontektual juga dapat memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk melakukan interpretasi atau reinterpretasi terhadap suatu nilai yang bersifat tektual untuk mengadaptasi persoalan-persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat. Pemahaman secara kontekstual yang dipilih masyarakat. 2) perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah cenderung sifatnya terus menerus (kontinue) dan 3) perlunya usaha untuk menyempurnakan rencana-rencana yang disusun oleh lembaga atau pendidik. memberikan arah dan tujuan jangka panjang kepada para santrinya agar memperoleh dua ilmu pengetahuan sekaligus dalam satu saat yang bersamaan.

maka persoalan besar yang harus dijawab dalam penelitian ini adalah. apa motivasi kiyai dan bagaimana perannya dalam menentukan orientasi pendidikan Islam yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet dalam upaya memadukan dua sistem pendidikan yaitu pendidikan luar sekolah (sistem pendidikan pesantren) dan pendidikan sekolah melalui beberapa lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang telah ada di lingkungan pondok pesantren Buntet Cirebon. BAB II .Be ntu k da Feed back n Jen is Pe ndi dik an Berdasarkan gambar di atas.

selain para santri muqim (santri yang tinggal di mushalla) juga anak-anak dari masyarakat sekitar pondok pesantren. Seperti halnya santri muqim yang lama. membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan pola kehidupan pondok pesantren. dengan bantuan para santri. Bagi santri yang berasal dari keluarga miskin dan rumahnya cukup jauh. Gambaran di atas menginformasikan bahwa keberadaan pondok pesantren pada awal keadaannya tidak bisa lepas dari dukungan dan perhatian masyarakat desa. Peserta pengajian di mushalla. Peserta pengajian yang disebut terakhir ini adalah santri kalong yang hanya mengikuti pengajian kepada kiyai setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing.KAJIAN PUSTAKA A. murid)nya disediakan “tempat singgah” atau pemondokan. kiyai mengembangkan bangunan sederhananya itu untuk tempat tinggal bagi para santri baru. pondok pesantren tetap memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan pemerintah desa di sekitarnya melalui pendidikan agama. Sistem Pendidikan Pesantren 1. Tapi. pondok pesantren berusaha mandiri dan lepas dari ketergantungannya kepada pemerintah desa. Pemisahan struktural antara pondok pesantren dengan pemerintah desa tidak berarti pisahnya hubungan fungsional di antara keduanya. Karenanya. namun mereka benarbenar mandiri. Keadaan seperti di atas dapat diperhatikan dari perkembangan dan kemajuan pondok pesantren yang tidak bisa dipisahkan dari perubahan dan kemajuan ekonomi masyarakat. sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dalam bentuk klasikal. kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi. Secara historis. tadarrus dan mengaji atau belajar dasar-dasar al-quran. Ketika jumlah santri muqim semakin bertambah. sebagian dari mereka –baik secara perorangan maupun berkelompok. maka di mushalla itu mereka bertempat tinggal. Ketika pondok pesantren masih kecil dan belum terkenal. biasanya berdekatan dengan mushalla atau mungkin mushalla itu miliknya. keberadaan pondok pesantren pada mulanya hanyalah lem-baga keagamaan yang sangat sederhana yaitu salah satu kamar atau rumah kiyai dijadikan pondok bagi santri yang datang untuk belajar ilmu keagamaan dan menauladani sikap dan perkataan kiyai. santri muqim yang baru pun bekerja pada masyarakat sekitar pondok pesantren untuk menghidupi mereka sendiri secara sederhana. setelah menjadi besar dan terkenal.ada yang membangun kamar-kamar pondokan di dalam atau di luar lingkungan pesantren dengan dilengkapi tempat tidur dan bahkan sarana hiburan Radio-Tape-TV. Atau sebaliknya. tidak menetap di dalam mushalla. perkembangan dan kemajuan ekonomi masyarakat. Sejarah Pondok Pesantren Pondok pesantren merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata Pondok dan Pesantren. . Pondok dalam bahasa Arab funduk berarti tempat singgah. mereka datang dengan membawa bekal yang lengkap dan sangat cukup. Rumah kiyai. perkembangan fisik maupun fasilitasnya berada di bawah pengaruh dan/atau tanggung jawab pemerintah desa. doadoa pendek untuk shalat fardlu dan belajar KK pemula (elementary). Jadi. Di dalam mushalla itulah berlangsungnya shalat fardhu berjamaah. dzikir atau wirid (mengucap kalimat-kalimat pujian pada Allah dan Rasul-Nya). Santri yang datang jumlahnya semakin banyak tapi bukan dari kalangan masyarakat miskin. pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam nonklasikal di mana peserta didik (santri.

Keadaan sosial-ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga orang tua santri menuntut pesantren mengikuti perkembangan jaman yaitu tidak hanya mengajarkan materi ilmu-ilmu keagamaan melainkan Iptek dan keterampilan juga saatnya disampaikan. di beberapa pesantren terkenal telah mema-sukkan kurikulum Barat (Belanda khususnya) ke dalam pendidikan agama sebagaimana yang dilakukan Pesantren “Mamba’ul Ulum” di Surakarta. UTS. Untuk memenuhi tuntutan fihak eksternal. Tidak hanya itu perubahan yang terjadi pada pondok pesantren. ekonomi dan politik bahkan tidak sedikit kiyai atau pengasuh pondok pesantren tertentu aktif di organisasi masyarakat Islam ataupun organisasi sosial-politik. maka wajar jika para teknokrat dan birokrat masuk ke dalam “dunia pesantren” sehingga posisi kiyai cukup dijadikan sebagai simbol. Hasil penelitian Karel A. Dalam sistem salafi. selain diberlakukan sistem perjenjangan yang jelas. Perkembangan dan perubahan metode mengajar terjadi dari sistem salafi ke sistem madrasi. Kedua. proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas juga metode yang digunakan ustadz (guru) dalam menyampaikan materi pelajarannya tidak hanya metode ceramah. lebih jauh pondok pesantren terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dalam berbagai kegiatan sosial. Perkembangan dan perubahan itu meliputi tiga hal yaitu: 1) perkembangan kurikulum. pesantren sejak 1960-an terjadi perkembangan baru yaitu melembagakan diri dalam bentuk yayasan. Pertama. 2) perkembangan penggunaan metode pembelajaran. Ketiga. Perkembangan ini tampaknya mengundang minat dan perhatian positif dari berbagai fihak kepada pondok pesantren. perubahan dan perkembangan metode mengajar. . Karena pesantren telah berlindung dan/atau menjadi yayasan. sebagai upaya untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan prestasi siswa. sosiodrama juga digunakan. juga di Madrasah Tawalib di Sumatera Barat. karena masing-masing santri menentukan sendiri kemajuannya dengan menunjukkan penguasaannya beberapa KK kepada kiyai secara perorangan. sekolah dan unit-unit klasikal lain. tidak ada pembagian tingkat kemajuan belajar. Karenanya wajar jika sistem salafi dikategorikan sebagai sistem pendidikan nonformal yakni tidak “beraturan” jika dibandingkan dengan pengajaran yang diselenggarakan melalui sistem madrasai. evaluasi dalam bentuk post tes. bergeser dari sistem tradisional (sistem salafi) menjadi sistem modern (sistem madrasi). Jawa Timur). Pada sistem salafi. aktifitas guru dan peningkatan materi pelajaran berikutnya. kiyai atau qayyim dalam proses pengajaran KK-nya menggunakan metode khas pesantren yaitu metode sorogan (bimbingan individual) dan bandongan atau halaqah (semacam ceramah umum). UAS ataupun catur wulan dilaksanakan secara formal pada sistem madrasi. Pada saat inilah pondok pesantren mulai mendapatkan banyak tekanan yang “memaksakan”. dan 3) perkembangan kelembagaan. diskusi. pre tes. melainkan metode-metode lain seperti metode tanya jawab. Di bawah ini adalah contoh tipe pondok pesantren yang status kelembagaannya berada di bawah naungan Yayasan yaitu 1) Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (Jakarta) dan 2) Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Ibrahimiyah (Situbundo. perubahan dan Perkembangan kurikukum. agar pondok pesantren melakukan serangkaian penyesuaian guna mempertahankan eksistensinya sekaligus menjawab tantangan yang di hadapinya. Pada sistem madrasi. beberapa pondok pesantren tertentu membuka lembaga pendidikan berupa madrasah. Bergesernya sistem tradisi pondok pesantren mulai tampak ketika di beberapa pondok pesantren besar dan terkenal terjadi perkembangan dan perubahan sistem secara besar-besaran. Hadimulyo yang penda-patnya diedit Dawam Rahardjo (1986:104) mengemukakan. Steenbrink (1986:102) mengemukakan. Perubahan dan perkembangan kelembagaan. Kenyataan inilah sehingga membuat kemandirian pondok pesantren dinilai masyarakat kritis semakin memudar.

Pesantren terdiri dari masjid dan rumah kiyai Pesantren ini masih bersifat sangat sederhana. Berdasarkan perubahan dan perkembangan pesantren di atas. Penerbitan. kerajinan rakyat. universitas. Masjid Jami’. Pengajar madrasah biasanya disebut guru agama atau ustadz Pola IV. Di samping itu. pondok. di samping ada madrasah. lima buah SLTP dan tiga buah SMU. toko koperasi. pondok. Pesantren terdiri dari masjid. santri yang mondok mendapat pendidikan di madrasah. pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain Pola III. Sudjoko Prasodjo. Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dengan tiga Fakultas: Dakwah. Terdapat pula sekolah-sekolah umum atau kejuruan seperti SLTP/SLTA. 4. Ruang operation room dan sebagainya. rumah kiyai. Rumah penginapan tamu (orang tua dan tamu umum). Salafiyah Syafi’iyah (Asembagus Situbundo Jawa Timur) menjadi Yayasan pada tahun 1970. Dalam pola ini. MA. MTs. Pesantren yang terdiri dari masjid. ladang dan sebagainya Pola V. pondok dan madrasah Pesantren ini telah memakai sistem klasikal. di samping elemen-elemen pesantren sebagaimana pola III juga terdapat tempattempat untuk latihan keterampilan umpamanya: peternakan. dkk (1982:8384) melaporkan hasil penelitiannya menemukan lima macam pola pesantren dari yang paling sederhana sampai yang paling maju. MA/SMU dan Universitas Ibrahimy dengan dua fakultasnya: Syari’ah dan Tarbiyah. MI.1. Pola II. namun mereka telah mempelajari ilmui agama secara kontinyu dan sistematis. Asy-Syafi’iyyah) Jakarta PP. Perpustakaan. PP Asy-Syafi’iyah memiliki Pemancar Radio. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (PP Salafiyah Syafi’iyyah) PP. toko sebagai salah satu unit Koperasi dan Perpustakaan. . Melalui uraian panjang di atas dapat dikemukakan bahwa. Aula serba guna. kiyai mempergunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk mengajar. rumah kiyai. Adakalanya murid madrasah itu datang dari daerah pesantren itu sendiri. rumah kiyai dan pondok Dalam pola ini. perumahan guru. panti asuhan. 2. Toko. Pesantren ini. rumah kiyai. kependidikan. Ruang makan. STM dan sebagainya. pondok pesantren tidak semata-mata merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang mencetak santri menjadi ‘alim-‘ulama tetapi juga sekaligus sebagai lembaga sosial kemasyarakatan yang berusaha memajukan status sosial keagamaan. Dapur umum. tempat olahraga dan sekolah umum. ada pula pengajaran sistem wetonan yang dilakukan kiyai. Selain itu. balai pengobatan. Pesantren terdiri dari masjid. Pesantren terdiri dari masjid. pesantren merupakan pesantren yang telah berkembang dan bisa disebut pesantren modern. Kelima pola pondok pesantren dimaksud adalah sebagai berikut: Pola I. Kasntor 5. MTs/SLTP. mushalla. tempat keterampilan. kebudayaan. administrasi. MI/SD. 7. Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah (PP. Dalam pola ini. 6. asrama santri. bangunan-bangunan yang disebutkan itu mungkin terdapat pula bangunan-bangunan lain seperti: 1. Tarbiyah dan Ekonomi dan Sekolah Tinggi Wiraswasta. bahkan perekonomian masyarakat. Hingga kini telah memiliki TK. 1. santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri. madrasah. madrasah dan tempat keterampilan. hingga kini telah memiliki TK. 3. Asy-Syafi’iyyah menjadi Yayasan sejak tahun 1963. sawah. gedung pertemuan.

Santri dan Murid Dalam dunia kependidikan Islam. Dalam tulisan ini yang dimaksud kiyai ialah. kiyai sebagai anggota atau tokoh masyarakat tidak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya yakni memiliki sikap dan sifat kepribadian yang berbedabeda. Inilah orientasi dan prestasi kiyai di pondok pesantren yaitu kiyai mengajarkan dasar-dasar al-quran dan KK kepada santri atau masyarakat semata-mata karena lillahi ta’ala tanpa maksud-maksud tertentu. sulit diajak dialog dan mungkin sebagian orang menganggapnya puritan. Yang lebih penting dari itu adalah. Sebutan santri juga dapat diberikan kepada mereka yang rajin dalam menjalankan ajaran Islam secara individual maupun berjamaah atau pengikut kiyai tertentu yang sewaktu-waktu mengikuti pengajian di pondok pesantren.C.2. fanatik. Penilaian seperti ini. meminta fatwa dan pertimbangan. terdapat dua istilah bagi peserta didik yaitu murid dan santri. Masyarakat umum mengenal figur santri adalah anak atau remaja yang sedang mengaji (belajar al-quran atau KK). walaupun mereka telah menjadi alumni. Pernyataan ini. memakai sandal slop. Zaini Muchtarom (1989:16) mengupas kata shastri lebih jauh dengan mengatakan. 1932: 257). pengasuh pondok pesantren. “shastri berasal dari kata shastra yang berarti scripture atau a religious or a scientific treatise yaitu karangan agama atau uraian ilmiah”. pembimbing para santri dan tokoh agama/masyarakat di tengah-tengah masyarakat sekitarnya. Berg. b. bersorban. Sikapnya dipandang kolot. murid yang selama beberapa saat berada dan belajar di madrasah diniyah. kepalanya tertutup peci hitam atau putih (bagi yang telah menunaikan ibadah haji) dan di tangannya selalu tidak lepas seuntai tasbih. Ada sedikit perbedaan di antara kedua istilah itu terutama hubungannya dengan sikap hidup dan penghormatan. dapat diperhatikan dari usaha para alumni pondok pesantren dalam membangun masyarakat secara keseluruhan. Jangkauan pengaruh yang luas dan panjang itu. sedangkan santri lebih menghargai dan tawaddu’ kepada kiyainya yang telah membimbing dan mengajar kitab klasik Islam (baca KK) di pondok pesantren. Kata santri berasal dari bahasa India yaitu shastri yang berarti orang yang ahli tentang kitab suci agama Hindu (C. kerap kali diasosiasikan sebagai figur seseorang yang secara fisik ia selalu mengenakan kain sarung. cenderung bersifat subjektif berkaitan dengan kiyai sebagai pribadi dan bukan kedudukannya sebagai anggota atau tokoh masyarakat (kelompok sosial). atau mereka yang pernah belajar pada kiyai di pondok pesantren. melainkan karena kesabarannya dalam membina santri dan peranannya sebagai pemimpin nonformal bagi masyarakat lingkungannya yaitu sebagai tempat bertanya segala macam masalah. mampu mempengaruhi sikap dan sifat santri tidak hanya pada saat para santri berada di lingkungan pondok pesantren. Pengaruh kiyai masih melekat di hati santri. Penyelenggara dan Pendukung Kegiatan Penyelenggara kegiatan pendidikan dan pengajian di pondok pesantren adalah kiyai. mereka menghormati ustadznya. kiyai dalam melaksanakan peran dan fungsinya penuh keikhlasan. . Kiyai Gambaran tentang kiyai. bukan semata-mata karena kedalaman ilmu keagamaan yang dimilikinya. ada juga yang mengartikannya santri sebagai huruf. a. sebab di pondok pesantren dipelajari huruf dan sastra. qayyim atau asaatidz sedangkan pendukung kegiatanmnya adalah santri atau murid. Peran yang ditampilkan kiyai khususnya kepada santri di pesantrennya. menurut Dawam Rahardjo (1995:15). Pada pesantren modern kedua istilah itu sulit untuk membedakan antara murid dan santri.

sehingga ia rela membantu pekerjaan kiyai sebagai imbalan atas keikut sertaannya belajar di pondok pesantren. Abdurrahman Wahid yang pendapatnya diedit Dawam Rahardjo (1985:39) menuliskan. peserta didik bagi para pelajar atau murid di pondok pesantren. karena ba’da shalat fardhu shubuh mereka melanjutkan pelajarannya pada kiyai tapi esok harinya ia kembali ke rumah orang tuanya masing-masing. 1985: 49). “pesantren sebagai subcultur memberikan kesempatan kepada setiap santri untuk belajar kapan dia mau belajar. Santri senior menolong dan membimbing santri junior dalam usaha memahami pelajaran atau KK pemula apa yang seyogianya dipelajari terlebih dulu. Di antara keduanya terjadi saling menolong dan membantu. Walaupun dalam prakteknya. Karena itu. Ketentuan waktu penerimaan santri baru pun didasarkan atas waktu awal belajar pada lembaga pendidikan sekolah yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut. Tentang kapan santri harus datang atau meninggalkan pondok pesantren. santri yang bertempat tinggal (muqim) di pondok pesantren untuk belajar dan mengikuti pola kehidupan kiyai selama beberapa waktu yang tidak ditentukan. KH. sedangkan santri junior ialah santri baru. karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang lebih banyak memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menentukan sendiri kapan mereka memasukkan anak-anaknya memasuki pesantren atau kapan anak-anaknya meninggalkan pondok pesantren. Santri muqim. Ada juga yang mengkategorikan santri ke dalam dua kelompok yaitu: (1) santri muqim yaitu. “masyarakat Islam yang belajar bersama. sebaliknya santri junior menolong santri seniornya dalam bentuk kegiatan fisik seperti memasak makanan atau mencuci pakaiannya. di beberapa pesantren tertentu ada yang telah metentukan waktu penerimaan santri baru tapi belum ada ketentuan kapan santrinya boleh meninggalkan pesantren. tentang apa dia mau belajar. Karena itu. Santri senior yaitu santri yang telah lama tinggal dan telah banyak memiliki pengetahuan keagamaan. ada dua istilah yang terkenal hanya di lingkungannya yaitu santri senior dan santri junior. Di sebagian besar pondok pesantren. di tempat mana dia mau belajar dan dari sumber mana”. Belum adanya ketentuan kapan datang dan meninggalkan pondok pesantren ini terjadi. pada umumnya mereka bermalam di lingkungan pondok pesantren. antara kiyai dan santri berada di lingkungan tempat tinggal yang sama. Sarana Perangkat Keras (Hard Ware) Perangkat keras (hard ware) yang ada di pondok pesantren. (2) Santri kalong yaitu. santri kalong adalah para remaja yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kiyai atau putra putri masyarakat sekitar lingkungan pondok pesantren. pada umumnya sangat bergantung kepada bentuk pesantren (lihat pembahasan tentang tipologi pondok pesantren) atau kemampuan dan kemauan kiyai dalam mengendalikan pondok pesantren yang didirikannya: esensi dan kegunaan hard ware pada suatu pondok pesantren adalah untuk kelancaran interaksi dan komunikasi atau penyampaian informasi dan penanaman nilai-nilai keagamaan (‘amaliah ‘ulum . corak dan praktek peribadatan keagamaan yang dipahami dan dilaksanakan santri pada umumnya sesuai dengan keadaan lingkungan (pondok pesantren maupun masyarakat) di mana mereka tinggal. Sarana dan Prasarana Perangkat Keras a.Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan santri adalah. 3. Di lingkungan pondok pesantren tradisional. santri yang datang pada sore hari menjelang shalat fardhu maghrib untuk belajar pada kiyai di pondok pesantrennya. tinggal bersama dan menjalani kehidupan secara bersama-sama” (Dawam Rahardjo [ed]. biasanya mereka yang datang dari daerah jauh atau mereka datang dari keluarga kurang mampu tapi memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. di sisi lain kehidupan pondok pesantren selalu berdampingan dengan masyarakat.

Isra Mi’raj ataupun Maulud Nabi. masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan shalat fardlu maupun shalat-shalat sunnah. tempat mencuci pakaian dan WC umum. santri menyimpan harta bendanya berupa beberapa buku tulis dan sejumlah KK. Dalam satu ruangan atau kamar tidur. 2) pondok/asrama santri. Elemen-elemen dimaksud antara lain: gedung madrasah. sehingga suatu pondok pesantren menjadi besar dan terkenal. 3) Fasilitas Lain Selain elemen-elemen fisik di atas juga terdapat elemen-elemen lain yang telah banyak mendapat pengaruh dari luar. berasal dari kata funduq yang berarti ruang tidur sederhana yang sengaja disediakan kiyai pendiri pesantren bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dan berharap ingin menetap karena ingin belajar keagamaan di lingkungan pesantren. Di beberapa pondok pesantren di Indonesia. ruang koperasi. sedangkan pesantren di samping telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum berupa yayasan juga berfungsi ganda yaitu sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga kemasyarakatan. bagi pondok yang telah memiliki struktur kelembagaan dan berbadan hukum. sebaliknya pondok pesantren yang memiliki sedikit kamarnya. perkantoran. ter-masuk kategori “pesantren kecil”. perbekalan sehari-hari (beras dan laukpauk) dan pakaian untuk beberapa lama ia tinggal di pondok pesantren. . Jadi. Di samping itu terdapat sarana penunjang berupa kamar mandi yang bersih. merupakan penentu peringkat atau kategorisasi pesantren. sebelum terbentuknya sistem pendidikan sekolah. sebagai tempat pendidikan dan latihan keterampilan berpidato (biasanya dilaksanakan pada malam jum’at atau malam ahad) dan sebagai sarana komunikasi antar individu anggota masyarakat pesantren. menunjukkan pesantren tersebut memiliki banyak santri karenanya dapat dikategorikan sebagai “pesantren besar”. Di dalam kamar tidur ini juga. Karenanya pondok pesantren yang sangat sederhana. Pondok juga merupakan pembeda dari pesantren: pondok yaitu lembaga pendidikan Islam sejenis majlis ta’lim yang tidak memiliki struktur kelembagaan dan lebih bersifat pendidikan kemasyarakatan. kerajinan dan bentuk keterampilan lain. peternakan. masjid merupakan pusat kegiatan belajar mengajar. 2) Pondokan (asrama santri) Istilah pondok pada awal perkembangannya. biasanya berisi lebih dari dua atau tiga orang santri disesuaikan dengan luas bangunan kamar. Pesantren yang memiliki banyak kamar (pondok).al-dien) yang dilakukan kiyai terhadap para santrinya pada saat-saat tertentu. Di lingkungan pondok pesantren. 1) Masjid/mushalla Dipelajari dari segi fungsi dan tujuan pendirianya. shalat sunnah ‘idain (dua bentuk shalat sunah hari raya) bahkan sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan seperti shalat sunnah Iedain (ied al-fitri dan ied al-qurban). terutama ibadah shalat fardlu dan sarana pendidikan alquran bagi para anak-anak atau remaja. hard ware yang tersedia meliputi 1) masjid/mushalla. wilayah kegunaan masjid memiliki “jangkauan” yang lebih luas yaitu sebagai tempat terselenggaranya shalat jum’at. tapi di daerah-daerah tertentu. baik masjid/mushalla sama-sama digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ibadah. sarana olah raga dan kesenian serta tempat keterampilan sebagai sarana praktek pertanian. maka ia termasuk pesantren yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pendidikan kemasyarakatan. lebih dari itu masjid berfungsi sebagai tempat terselenggaranya pengajian KK. kantin. Keberadaan pondok di lingkungan pesantren. Nuzul al-quran. 3) gedung madrasah diniyah dan 4) rumah kiyai.

b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen.b. Ketiga paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan sufi seperti ajaran thariqah (qadariyah. pengajian yang dilaksanakan kiyai juga meliputi: (1) tujuan. Kedua paham keagamaan dalam bidang kajian dan/atau pengamalan fiqh seperti Hanafi. KK merupakan “ruh” bagi pondok pesantren tradisional. baik di daerah jawa (Jawa Tengah atau Jawa Timur) maupun di daerah sunda (Jawa Barat). 2) sistem pendidikan yang berlangsung di pondok pesantren dan 3) kitab kuning (KK). tafsir-‘ulum al-tafsir. 2) Proses Pendidikan Proses pendidikan yang berlangsung di pesantren adalah. (2) mertode pengajaran. kitab kuning (KK) merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan untuk menilai besar atau kecilnya suatu Pondok Pesantren. 1) Sistem Nilai Sistem nilai dimaksud adalah pola dan corak kehidupan yang berkembang di lingkungan masyarakat pondok pesantren. (3) proses pembelajaran. (7) beberapa konsep tentang kegiatan keterampilan dan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di pondok pesantren. naqsyabandiyah atau sanusiah) dan ilmu hikmah. c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing” . pada umumnya terdiri atas empat hal yaitu: Pertamaajaran ortodoksi Islam yang bersumber langsung dari al-quran dan al-sunnah. bahkan berkualitas atau tidaknya pesantren tradisional ditentukan oleh berkualitas atau tidaknya KK yang disampaikan kiyainya. (4) atau materi yang disampaikan seperti fiqhushul fiqh. Maliki. Masdar F. Khususnya para ajengan yang mengajarkan KK di pondok pesantren yang ada di daerah sunda. termasuk di dalamnya adalah tradisi kejawen (ke-jawa-an yaitu tradisi pemeluk ajaran agama Hindu/Buddha) sebagaimana tercermin dalam penggunaan bahasa pengajian di lingkungan pondok pesantren. keberadaan KK identikan dengan pondok pesantren. Prasarana dan Fasilitas Lunak (Shoft ware) Termasuk ke dalam shoft ware ini adalah semua bentuk peralatan nonfisik. seperti 1) sistem nilai dan norma kehidupan di lingkungan pondok pesantren. 3) Kitab Kuning (KK) Dalam pembicaraan umum. “a) kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama ”asing” tapi secara turun temurun menjadi reference yang dijadikan pedoman oleh para ulama Indonesia. aqidah al-‘awam yang kesemuanya dalam bentuk KK dengan menggunakan bahasa “Arab gundul” (tidak berharkat). Keempat nilai tradisi atau kebudayaan daerah setempat. (6) perpustakaan yang berisi sejumlah besar hand books dan KK lainnya. . (5) peraturan atau tata tertib pondok pesantren. Kitab Kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab. Syafi’i dan Hambali. Mas’udi (1988:1) mengartikan KK adalah. Sebagaimana proses pendidikan pada umumnya. meskipun bahasa sehari-harinya bahasa sunda tetapi loghat pengajian KK yang digunakannya bahasa daerah jawa dalam menerjemahkan KK yang berbahasa Arab. Karena itu. hadits-‘ulum al-hadits. produk pemikiran ulama-ulama masa lampau yang ditulis dengan format khas pramodern sebelum abad 17-an. pengajian al-quran dan KK yang disampaikan kiyai kepada para santrinya dengan mengacu pada jadwal yang waktu dan tempatnya ditentukan kiyai (pernyataan inilah yang dimaksud wetonan).

perkembangan dan kemajuan Ilmu Pendidikan Islam (IPI) di negara-negara yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam (termasuk Indonesia) sangat lamban. Padahal pendidikan Islam sebagai materi. yang lebih dominan menggunakan pendekatan posivistik. Hingga kini. 3. 1992:7). Karena itu wajar. menurut Muhadjir selanjutnya. 1996:189). sejak pondok pesantren mulai banyak diminati masyarakat Indonesia terutama karena semua aspek ajaran Islam yang disampaikan kiyai melalui Majlis Ta’lim. 4. Belum adanya landasan epistemologi yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan penelitian ilmiah bidang IPI. Selama ini IPI. karenanya berkembang bersama budaya manusia seperti demokrasi dan keadilan. cenderung diterima tanpa kritik kemudian dicarikan padanan dalil-dalil dalam al-quran maupun dalam Hadits. sebagai suatu proses pengembangan potensi dan kreatifitas peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan memiliki Iptek sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia.Kitab Kuning (KK) mulai dikenal secara umum. Pendidikan Islam Sebagai Ilmu Pijakan awal pendidikan Islam adalah. obyeknya bersifat normatif dan berorientasi pada nilai. Berikutnya. antara lain: 1. Metode posivistik tidak memberi peluang kepada telaah normatif yang berorientasi nilai. Pendidikan Islam. namun belum mampu mengimbangi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang begitu pesat. sehingga ekspansi ilmu-ilmu dalam Islam hanya berhenti pada kawasan yang bersifat hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal terhadap sesama manusia (habl minan nas). diajarkan ustadz di Madrasah ataupun oleh Guru di lembaga pendidikan sekolah adalah menggunakan KK. Terhentinya proses eksplorasi. 2. seringkali masih dipersoalkan keberadaanya. sedangkan studi Islam klasik lebih mengutamakan wahyu Allah sebagai wujud dari kebenran yang mutlak. merupakan hasil dari beberapa penelitian terhadap pendidikan. Bahkan dasawarsa terakhir. Karenanya. Masih sedikitnya teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan Islam. baik dalam bentuk praktek kelembagaan maupun dalam bentuk materi yang disampaikan. Pendidikan Islam: Kurikulum Pesantren a. bersikap mendua. Pernyataan ini. 2) Sikap yang sangat normatif dalam menghadapi dalil-dalil al-quran . beberapa sarjana muslim tertentu yang merasa terpanggil untuk memasyarakatkan KK. Tuntutan masyarakat begitu besar terhadap pendidikan Islam sebagai ilmu sebagian telah diperoleh. evidensi empirik sebagai pendukung harus ada dalam setiap pengembangan teoritik dan keilmuannya. ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). sebagian berada pada epistemologi telaah klasik dan sebagian berada pada epistemologi telaah positivistik (Noeng Muhadjir. 1) Ketika melihat temuan dan teori pendidikan Barat maupun Timur. Namun jika dilihat dari dimensi ilmu dan filsafat. Bukti lambannya perkembangan IPI. mereka menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan KK dapat dibaca dan difahami oleh masyarakat umum dengan tanpa harus memasuki “dunia pesantren”. faktor yang membedakan ilmu pendidikan Islam dengan ilmu-ilmu lainnya yakni faktor nilai (value) (Achmadi. jika pendidikan Islam yang dipelihara kembangkan pun banyak dipengaruhi oleh telaah epistemologi positivistik (suatu paham yang mengakui kebenaran sesuatu berdasarkan penamatan secara langsung atau tidak langsung melalui indra) dan hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh telaah studi Islam klasik (suatu kebenaran yang berangkat dari eksistensi kebenaran yang bersumber dari wahyu Allah).

Polarisasi pemikiran dan keilmuan antara “yang islami” dengan “yang skuler”. para pengelola dan pendidik di lembaga pendidikan itu adalah para ulama yang saleh dan utuh dalam memahami ajaran Islam. sejalan dengan gerakan-gerakan pembaharuan pendidikan di negara-negara Arab (A. secara ideologis dan politik masyarakat muslim dikendalikan oleh sistem (kekhalifahan) Islam sehingga tatanan pendidikan Islam tidak berorientasi pada tujuan ganda (Muslih Usa [Ed]. Dikotomi Fikir. Di samping itu. Untuk itu. inti ajarannya adalah meng-esa-kan Tuhan. walaupun antusiasme awal pemahaman terhadap teori pendidikan masih diwarnai berkembangnya kesadaran bahwa teoriteori pendidikan tidak begitu saja berkaitan langsung dengan praktek pendidikan. Karena itu tidak mengherankan. Ibnu Rusydi. para praktisi pendidikan muslim diharapkan akan memperoleh suatu alat pengendali melalui penataannya sendiri. terjadi pergeseran yang cukup signifikan. Sistem pendidikan terpadu (integral) yang terjadi pada periode klasik ini. teori pendidikan dipandang sebagai disiplin ilmu praktis otonom. sejak periode klasik (650-1250 M) tidak mengenal adanya polarisasi ilmu: ilmu agama (yang islami) ilmu rasional (yang skuler). teori pendidikan masih bergantung pada disiplin ilmu induk: filsafat. Dengan demikian mereka akan mendapatkan insigh tentang apa yang terbaik dalam pendidikan Islam. pandangan yang mendominasi pemikiran pendidikan saat itu teori pendidikan didefisikan sebagai suatu stock prinsip-prinsip praktis yang sepenuhnya dijustifikasi melalui pengetahuan yang disajikan ketiga disiplin ilmu itu. Dilihat dari kebersamaan waktu munculnya al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islam) dengan ilmu pendidikan skuler. psikologi dan sosiologi dan karenanya ketiga disiplin “luar” pendidikan ini menjadi pondasi (Zubaidi. 1996:242). Pada dekade yang sama. diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki kemampuan mengakomodasi konsep-konsep pendidikan skuler dalam rangka membandingkan dan menjadikannya pintu gerbang untuk memasuki konsep pendidikan Islam yang berdasarkan pada al-quran dan Hadits. baik yang teoritik maupun praktik. al Gazali ataupun Ibn Khaldun. melanda di kalangan pemikir muslim disebabkan adanya keterpengaruhan pemikiran Barat yang skuler. perlu adanya upaya untuk membentuk ulang (reconstruction) dan merumuskan kembali (reformulation) ilmu pendidikan Islam. Hasil dari rekonstruksi dan reformulasi terhadap ilmu pendidikan Islam ini. Melihat potret dan bingkai praktek pendidikan Islam seperti ini. Inti ajaran Islam ini terintegrasi ke dalam bentuk perpaduan antara aspek duniawi ukhrawi dan aspek material-spiritual. Nurhadi Djamal. maka sangat mungkin konsep al-tarbiyah al-Islamiyah masih bercampur dengan teori pendidikan yang didasarkan pada telaah anthroposentris (manusia sebagai pemegang posisi sentral) yang telah mapan dan mengakar.maupun Hadits. 1991: 83). Pada dekade 1970-an. Sejarah Islam juga mencatat. Ini terjadi disebabkan. sehingga memiliki pengaruh besar dalam proses pembangunan ilmu pengetahuan. b. Persoalan yang selalu muncul dan selalu menjadi ganjalan dalam setiap merumuskan al-tarbiyah al-Islamiyah yaitu. 1996:280). regulasi dan tanggung jawab mandiri. tumbuhnya sikap dikotomi pikir. Problem Perumusan Pendidikan Islam 1) Dikotomi Pikir Jika dilihat kilas balik dekade 60-an. muncul terminologi al-tarbiyah (bangunan sistem Pendidikan Islam) sebagai bentuk tawaran baru. kesemuanya terpadu dan diajarkan pada sebuah lembaga pendidikan yang integral. Padahal Islam sebagai agama tawhid. di samping keahliannya dalam bidang . Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi. jika lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan semacam itu adalah para ‘alim-‘ulama yang memiliki dua ilmu (ilmu agama dan ilmu rasional) sekaligus seperti Ibnu Sina. berlangsung hingga periode kejayaan atau kemajuan Islam I (650-1000 M). Tidaklah berlebihan. cenderung tidak melalui tahapan analisis yang cukup mendalam.

ilmu pengatahuan skuler yang dikuasai para ilmuwan. Tapi tampaknya Gereja tidak berharap jika ilmu pengetahuan nonkeagamaan (ilmu yang tidak sesuai dengan dogma Tuhan) lebih berkembang pesat. mereka juga filosuf muslim yang hasil pemikirannya telah banyak mengisi perpustakaan dan/atau dimanfaatkan masyarakat muslim bahkan masyarakat Barat modern yang skuler. bisa jadi merupakan tindak lanjut dari polarisasi pikir yang telah muncul lebih dulu di kalangan para cendekiawan muslim. munculnya para figur ilmuwan muslim terkemuka dan terkenal sepanjang masa itu. Pandangan dikotomis ini. sehingga sarjana atau lulusan yang dihasilkannya pun menjadi dua yaitu sarjana agama dan sarjana skuler. Lembaga dan penyelenggara pendidikan pun terpecah menjadi dua yaitu lembaga pendidikan agama dan lembaga pendidikan umum. Bagi masyarakat muslim yang sejak awal telah apatis terhadap ilmu skuler. Pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim semakin menguat. ketika negara-negara Eropa melakukan penjajahan terhadap negara-negara yang penduduknya mayoritas penganut agama Islam Pada saat itu. penjajah Eropa juga menghadirkan sistem pendidikan modern yang kurikulumnya berbasis pada ilmu-ilmu skuler. Pandangan dikotomis juga terjadi pada lembaga atau penyelenggara pendidikan. Pada saat pemikiran terhadap ilmu-ilmu sacral ditinggalkan para ilmuwan. Dari keadaan inilah sehingga timbul pandangan dikotomis di kalangan masyarakat muslim yaitu pandangan dikotomis terhadap ilmu: ilmu agama yang bersandar kepada wahyu. Dengan demikian. Perkembangan berikutnya. sehingga terjadilah perlawanan sengit antara agamawan dan ilmuwan. sehingga generasi mudanya dilarang belajar dan/atau memasuki lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum modern atau memberikan materi ilmu-ilmu skuler. dan ilmu-ilmu skuler yang tidak bersandar pada wahyu. yang berimplikasi kepada para ilmuwan meninggalkan Gereja dan para agamawan tidak lagi tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan selain dogma Tuhan. Masa atau era seperti ini. berkembang pesat merasuk hingga ke seluruh dunia termasuk ke negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. sistem pendidikan yang integral itu diambil alih masyarakat Eropa yang sebagian besar penganut ajaran Nasrani dan Yahudi pada awal abad ke-13 M (1225 M). Disinyalir.kedokteran. maka terjadilah skularisasi dalam ilmu pengetahuan (scularization of science) sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi bernilai atau bermuatan agama. Akibat dari pandangan dikotomi maupun polarisasi adalah. Atau masyarakat Eropa modern melakukan penekanan terhadap masyarakat muslim agar memanfaatkan ilmu sekulernya. Sehingga terjadilah dualisme pendidikan yaitu sistem pendidikan yang mengembangkan ilmu-ilmu skuler atau modern dan sistem pendidikan tradisional yang mempertahankan . Akibat nyata dari era ini. dan menggunakan teknologi hasil produk perusahaannya. Sistem pendidikan seperti inilah yang mewarnai kehidupan masyarakat muslim sehingga mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran pragmatis yang tetap islami. karena kurikulum atau materi tersebut milik masyarakat kafir. keduanya terlepas satu sama lain. timbul sikap apatis di kalangan masyarakat muslim terhadap ilmu pengetahuan yang berseberangan dengan ajaran Islam. hanya dimungkinkan melalui sebuah sistem pendidikan yang integral. berusaha mendirikan atau tetap melestarikan sistem pendidikan yang telah ada. Harun Nasution (1979:56-75) menyebutnya sebagai masa kejayaan masyarakat Eropa. pemikiran integral tentang filosofis terhadap ilmu-ilmu skuler dan terhadap ilmu-ilmu agama yang terjadi pada masa klasik dan masa kejayaan masyarakat Islam. Mempelajari ilmu-ilmu skuler dianggap haram. dari sinilah permulaan terjadi pemisahan (alienate) antara ilmu-ilmu yang bernilai agama (ilmu-ilmu sacral) dengan ilmu-ilmu skuler atau ilmu rasional (ilmu-ilmu profan). Ironisnya. sebaliknya bagi masyarakat muslim era ini merupakan awal dari kemunduran I (1250-1500 M).

masyarakat tapi berbeda dalam nuansa dan gradualnya. 1. manusia sebagai penentu kebijakan. Beberapa konsep pendidikan skuler. Namun perlu disadari. dkk. bukan menjadi tujuan final melainkan merupakan kewajiban yang diikani terkait kuiat dengan kehoidupan ukhrawi. Dualisme pendidikan. 1996:123). adil. masyarakat Pendidikan Islami: Murid.memelihara hal-hal baik yang telah ada sambil mengembangkan hal-hal baru yang lebih baik. al muhafadzah ‘ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdu bi aljadid al-ashlah …. sebagai berikut: 1. orangtua. jika dalam merumuskan sistem pendidikan Islam seyogianya menggunakan prinsip dasar yang diungkapkan faqh muslim terkenal Imam Syafi’i.kurikulumnya yang sarat dengan ilmu-ilmu keagamaan. Rumusan nilai pendidikan Islam dimaksud adalah sebagai berikut: . Sistem atau tanggung jawab Pendidikan Skuler: Murid. Pembangunan kehidupan duniawi. Tujuan Pendidikan skuler : Kehidupan duniawi: maju. Kiranya sangat tepat. Pendidikan Islami: Theosentris. konsep pendidikan skuler tidak seluruhnya berseberangan dengan aspek-aspek ajaran Islam.. 2) Merumuskan Pendidikan Islam Dalam pandangan Islam. Konsep Manusia Pendidikan Skuler: Tabularasa Pendidikan Islami: Fithrah 1. Sebaliknya. Islam tetap menghormati dan menerima konsep-konsep pendidikan tradisional yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat muslim. Anthroposentris merupakan bagian dari koinsep theosentris. damai dan dinamis sebagai tujuan finalnya Pendidikan Islami: Kerja membangun kehidupan duniawi melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi. Tuhan penentu kebijakan. maka dapat dirumuskan nilai-nilai pendidikan Islam sehingga diharapkan memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan bentuk pendidikan skuler maupun pendidikan modern. terjadi di hampir semua negara dan masyarakat muslim di jaman modern ini (Zuhairini. sejahtera. guru. guru. Mastuhu yang pendapatnya dihimpun Ahmad Tafsir (1995:54) menuliskan perbedaan mendasar antara konsep pendidikan skuler dengan konsep pendidikan Islami. Berdasarkan pijakan dan prinsip di atas. ada hal-hal tertentu yang perlu ditinggalkan karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan jaman. tujuan finalnya adalah kehidupan ukhrawi dengan ridla Allah swt. Nilai Pendidikan Skuler: Iptek dengan kebenaran relatif Pendidikan Islami: Iptek dan Iman: kebenaran relatif dan mutlak 1. 1. orangtua. di antaranya mengandung kebenaran dan dapat diterima sehingga perlu dikembangkan oleh masyarakat muslim terutama konsep-konsep yang berkenaan dengan Iptek. Dasar Pendidikan Skuler :Anthroposentris.

Perumusan tujuan yang benar akan memberikan perdoman bagi siswa dalam menyelesaikan materi dan kegiatan belajarnya (Sardiman. kegiatan belajar mengajar adalah suatu peristiwa yang terikat dan terarah pada tujuan. Jika suatu pekerjaan atau tugas tidak disertai tujuan yang jelas dan benar. Tujuan Pendidikan Islam Pendidikan adalah suatu proses pengajaran yang sadar tujuan. Kaitannya dengan tujuan pendidikan. 3. Winarno Surahmad yang pendapatnya ditulis Sardiman AM (1997:57) menjelaskan. rumusan dan taraf pencapaian tujuan pengajaran merupakan petunjuk praktis sejauh mana interaksi edukatif itu harus dibawa untuk mencapai tujuan akhir. sebagai media untuk merealisasikan fungsi muyslim sebagai ‘abdullah (hamba allah) dan khalifatullah (pemimpinan yang dianugerahi Allah) di bumi. perasaan dan indra. bahasa Inggris atau salah satu modern lainnya. kimia. implementasi dan penilaian suatu program belajar mengajar. Rumusan tujuan yang baik dan terinci akan mempermudah pengawasan dan penilaian hasil belajar sesuai dengan harapan yang dikehendaki dari subjek belajar. Pengertian pendidikan Islam terdiri dari tarbiyah (pemelihara). Generasi muda Islam diarahkan agar memasuki pendidikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat spesialisasi. maka akan sulitlah untuk memilih atau merencanakan bahan dan strategi yang hendak ditempuh atau dicapai. 3. Dengan demikian.1. Materi dasar-dasar agama merupakan dasar penyusunan kurikulum dan disampaikan hingga ke jenjang pendidikan tingkat menengah diharapkan peserta didik akan memahami bahasa Arab. yaitu: 1. tujuan adalah sesuatu yang diharapkan dari subyek belajar sehingga memberi arah ke mana kegiatan belajar mengajar harus dibawa dan dilaksanakan. 2. Ada tiga alasan mengapa tujuan pendidikan perlu dirumuskan. bahasa dasar Iptek seperti matematika. Jadi rumusan tujuan pendidikan merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat dalam perencanaan. dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. 1997:58). tapi mereka lebih dahulu memahami materi dasar-dasar agama sebelum memasuki jenjang pendidikan yang diinginkan. ilmu-ilmu sosial. 4. memahami sejarah nabi-nabi. tujuan pendidikan mutlak dan harus dirumuskan dan deskripsinya harus jelas. ilmu-ilmu budaya dasar dan beberapa ilmu pendukunglainnya. ta’lim (pengajaran) dan ta’dib (pembinaan). Maksudnya. akal. pemerintah telah menerbitkan Undang Undang RI nomor 2 tahun 1989 . Pendidikan Islam (tarbiyah al-Islamiyah). 6. intelektual. dapat membaca al-quran dengan baik. dengan harapan mereka akan mampu menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu sejalan dengan tantangan modern dengan menggunakan bahasa modern yangsesuai dengan perkembangan iptek. Inti pendidikan Islam adalah infus keimana ke dalam perasaan pribadi muslim secara utuh kepada anak didik agar menjadi muslim yang taat. c. Al-quran dan hadits merupakan sumber nilai pendidikan Islam. ditujukan ke arah tercapainya keserasian dan keseimbangan pertumbuhan pribadi yang utuh melalui berbagai latihan yang menyangkut kejiwaan. Oleh karenanya. 2. fisika. dasar-dasar pemikiran dan hukumihukum Islam. 5.

melalui akal. jika daya merasa disebut qalbu atau hati-nurani. Sementara qalbu tugasnya memusatkan perhatian pada Pencipta alam sekitar dan alam immateri. ajaran Islam merupakan sumber moral. keperibaidan yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU RI. bertaqwalah kamu kepada Allah dengnan sebenarbenarnya taqwa. Karena itu. manusia didorong untuk mendekatkan diri kepada Allah. 2) tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan yaitu tujuan kemafaatan atau persiapan untuk hidup. Falsafah atau pemikiran tujuan pendidikan ini berujuk kepada salah satu firman Allah di dalam Q. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. iptek selalu berkembang di segala jaman.s. historis dan deskriptif akan . perspektif Islam tentang pendidikan yang bersifat teks. Ibn Khaldun yang pendapatnya diterjemahkan oleh Ramayulis (1994:25) merumuskan dua tujuan pendidikan Islam yaitu 1) tujuan keagamaan yakni beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya. baik dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Agama datang ke permukaan bumi ini. Ungkapan di atas menggambarkan bahwa. 3/Ali Imran:102. rintangan.s. etik dan nilainilai kehidupan manusia. Ini yang dimaksud sebagai tujuan akhir pendidikan Islam yaitu menjadi insan kamil dengan pola taqwa yaitu manusia utuh rohani dan jasmani. bertujuan membimbing manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan diri dan kebahagiaan. dan janganlah kamu mati kecuali da-lam keadaan muslim (berserah diri).tentang Sistem Pemdidikan Nasional. tujuan pendidikan Islam yaitu mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat. ia ingin menciptakan manusia bertaqwa. kesehatan jasmani dan rohani. dewasa dan mandiri. Demikian juga pendidikan Islam mempunyai tujuan tersendiri yang menyesuaikan diri dengan falsafah dan pandangan hidup sebagaimana digariskan al-quran. para tokoh pendidikan berharap agar pendidikan Islam yang disampaikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi seyogianya sejalan dengan tujuan diturunkannya agama kepada manusia. Karenanya. menurut Harun Nasution (1995:10) mempunyai dua daya yaitu daya rasa dan daya pikir: daya rasa berpusat di dada sedangkan daya pikir berpusat di kepala. sikap dan perilaku yang bertentangan dengan hati nurani. meninggal dunia dalam keadaan sebagai muslim (berserah diri) kepada Allah sebagaimana firman Allah di dalam Q. Unsur rohani. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah swt. Namun. Para pelajar dan generasi muda pada umumnya tidak ada yang memiliki citra tentang jiwa yang sempurna (insan kamil) dan tidak bercita-cita ke arah itu. carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) dunawi. di tengah-tengah budaya relativisme dan pragmatisme ini tidak ada manusia yang ideal apalagi sempurna sebagaimana tujuan akhir pendidikan Islam. Akal bertugas memperhatikan dan meneliti alam sekitar dengan bantuan pancaindra. 28/al-Qashash:77. Manusia dalam ajaran Islam adalah makhluq monodualistik yaitu terdiri dari unsur jasmani dan rohani. bahkan mereka tidak membayangkan tentang keadaan demikian. melalui qalbu.. Di dalam Undang Undang itu tertulis pada pasal 4 tentang tujuan pendidikan yaitu. Begitu juga pendapat Mustafa Amin. manusia yang selalu menjalankan ajaran Islam dengan benar dan jujur akan memiliki kemampuan yang kuat dalam menghadapi godaan. maka daya berpikir disebut akal. 1989:4). Melalui perumusan tujuan tersebut. Tuhan pencipta alam semesta. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Semua sistem pendidikan mempunyai tujuan moral.

pengamatan mendalam terhadap alumni pondok pesantren yang dinilai kritis perlu dilakukan. pesantren di Indonesia telah menghasilkan banyak kiyai dan pemimpin/tokoh agama. hampir di seluruh pondok pesantren di Indonesia kemajuan dan perkembangannya sangat ditentukan oleh sosok atau figur kiyai. Bahkan jika diadakan pemotretan. Dengan kalimat lain. peranan itu justru dimainkan oleh Perguruan Tinggi skuler seperti ITB. ditemukan dua faktor ketidak mampuan pesantren melakukan kerja besar itu. dunia nyata yang dikuasai pola budaya Barat dan diatur mengikuti pola-pola itu. UNPAD ataupun IPB. Orientasi Pondok Pesantren Nurcholis Madjid yang tulisannya diedit Dawam Rahardjo (1984:3) membandingkan. untuk mengetahui latar belakang sebelum dan sesudah ia mendirikan pondok pesantren. untuk memperoleh validitas dugaan atau prapenelitian ini. Dugaan tersebut tidak terlalu salah tapi tidak seluruhnya benar. Kekurangan yang terjadi pada pondok pesantren yang pertama dan utama adalah kurang jelasnya tujuan pendidikan pesantren. di samping keadaan fisik (hard ware) dan non-fisik (shoft ware)nya yang kurang memungkinkan untuk melakukan pekerjaan besar itu. Pertama pondok pesantren yang menolak membuka dan mengikuti perkembangan jaman dan tuntutan pendidikan modern. maka perspektif Islam tidak lebih sebagai nostalgia belaka. pondok pesantren adalah “kepribadian” kiyai pendiri atau pondok pesantren merupakan prototipe kiyai. karena kiyai pendirinya (karena status sosial atau keyakinannya) tidak siap mengikuti perkembangan dan tuntutan jaman. karena latar belakang keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat bukan karena reaksi terhadap persoalan sosial. sementara 2) pondok pesantren tidak memiliki pola budaya (modern). Pengamatan mendalam terhadap kehidupan kiyai mutlak dibutuhkan. sedangkan “pesantren” yang didirikan pendeta Harvard di Oslow (AS) berhasil menjadi sebuah universitas bergengsi di AS yang setiap tahun meluluskan para pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern dan gagasan mutakhir. Pernyataan ini merupakan dukungan kuat atas dugaan bahwa. 1) dunia pesantren dan dunia nyata. dibutuhkan pengamatan mendalam terhadap kedua obyek yaitu: kiyai dan alumni pondok pesantren yang telah menjadi cendekiawan muslim. Mengapa terjadi demikian? Hasil dari beberapa penelitian diperoleh jawaban. karena latar belakang kiyai pendirinya kebetulan tidak cakap baca-tulis huruf latin dan berhitung. Kedua pondok pesantren yang tidak mau atau menolak masuknya kurikulum dan materi ilmu-ilmu dasar skuler. UGM. sehingga tidak memiliki kemampuan menguasai dan mengatur kehidupan nyata. akan tampak gambaran pondok pesantren yang kurang kondusif untuk berperan sebagaimana peran yang dilakukan beberapa Perguruan Tinggi skuler.bernilai jika dapat memberikan garis-garis besar asas. Kenyataan di atas menggambarkan. Universitas Harvard memegang rekor dalam menghasilkan orang-orang besar yang menduduki kekuasaan tertinggi. memberikan respos saja mengalami kesulitan. tuntutan masyarakat apalagi tujuan perubahan sosial sekitarnya. apalagi melakukan peranan besar sebagaimana yang dimainkan “pesantren” Harvard. terjadi kesenjangan (gap). Dugaan atau pra penelitian ini dapat diperhatikan dari dua kasus. ideologi dan falsafahnya tanpa menilai pandangan hidup. Orientasi ‘amaliyah-‘ilmiyah dan pengabdian (lillahi ta’ala) tampaknya lebih dominan. untuk mengetahui faktor . berdirinya pesantren di suatu daerah dilandasi niat ikhlas dan pengabdian kiyai untuk mengamalkan ilmu yang direspons oleh segelintir atau sekelompok penduduk setempat. Demikian juga dalam percaturan politik di AS. Peranan besar sebagaimana dilakukan “pesantren” Harvard tidak dimainkan oleh pondok pesantren besar dan terkenal sekalipun. dan bukan sebagai respon sosial dan usaha transformasi kultural dalam jangka panjang. UI. 5. Terjadi demikian. Sedangkan.

Ketiga bangunan teori ini terintegrasi dalam berbagai sistem filsafat. teori pengetahuan dan teori nilai. Sebaliknya. dan setiap sistem itu memiliki struktur dan tekanan yang berbeda. integrasi tafaqquh fiddin dengan kebutuhan lingkungan tidak saja dapat membentuk integrasi sosial-budaya tetapi lebih dari itu justru akan menjadi alternatif baru sehingga kaum santri tetap berada pada pangkuan Islam di tengah-tengah pergumulannya dengan realitas empirik. lulusan pondok pesantren cukup memiliki kematangan jiwa. tetap konsisten dengan orientasinya menjadikan pesantren sebagai tempat tafaquh fiddin yakni mengaktualisasikan ajaran Islam yang holistik di tengahtengah masyarakat. Sebaliknya para alumni beranggapan. Melalui strategi di atas. jika pondok pesantren yang punya misi suci mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan ijin Tuhan Yang Maha Kuasa (Qs. kualitas dan perubahan. adalah menghadirkan kembali ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan modern. pondok pesantren semata-mata bertugas meng-agamakan santri (selama ada di pondok pesantren). Ironis sekali. Dengan demikian. menimbulkan polemik pemikiran antara kiyai dengan alumni (cendekiawan muslim): kiyai. maju) beranggapan jika pondok pesantren tetap seperti itu. sementara SDM lulusan dari lembaga pendidikan sekolah yang dinilai skuler justru berada pada posisi yang menguntungkan. menurutnya. . Strategi untuk harapan/tujuan ini. karena itu sudah waktunya santri dibentuk menjadi manusia yang siap memasuki pasar kerja. dapat berkembang karena tiga bangunan teori yaitu metafisika. Menurut kiyai. Perspektif pendidikan pesantren dalam mengantisipasi kecenderungan global (globe. ia mengawali tulisannya dengan pembahasan tentang filsafat. Eksistensinya akan selalu ditentukan oleh globalisasi. dan gagal menjadi suatu lembaga pengarah. Terjadinya konflik di atas. Di sinilah agama berfungsi sebagai penyeimbang bahkan ideologi untuk mengembangkan kehidupan santri. karenanya tidak terlalu salah jika pondok pesantren dihimbau seyogianya tidak menutup diri terhadap pendidikan yang ber-orientasi kepada pangsa kerja. disebabkan karena adanya suatu pemikiran tentang masa depan alumni pondok pesantren. maka akan sulit menjadi lembaga pendidikan Islam idaman masyarakat di masa mendatang (Zubaidi. persoalan setelah pulang dari pesantren mau jadi pedagang. juga bukan menolak kehadiran pemikiran ilmiah dalam komunitas santri. Filsafat. Nilai dan Moral Pesantren 1. ataupun pegawai tidak ada ketentuan dari pondok pesantren. dunia). timbulnya filsafat adalah bermula dari rasa keinginan untuk menjawab pertanyan metafisika kaitannya dengan substansi. penentu dan pencetak sejarah dalam memajukan kesejahteraan umat manusia. kuantitas. bukan berarti menafikan realitas empirik.kehidupan dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi jalan pemikirannya dalam mengambil sikap memajukan almamater yang padahal telah ditinggalkannya. alumni pesantren yang berkehidupan modern (modern. Strategi ini. petani. Sebenarnya konsep pendidikan pesantren masa depan bukan masalah sulit. jika paradigma yang digunakan tidak sampai menggeser esensi tujuan utama pesantren yaitu kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. kapasitasnya sebagai pendidik. Nilai Tradisi Pesantren Pada 1966 St. 6. 14/Ibrahim:1) hanya mampu memproduksi sumber daya manusia (SDM) yang menempati posisi marjinal. Takdir Alisjahbana menulis tentang teori nilai (theory of value). sehingga akan didapat sebuah model kehidupan masyarakat yang terlahir dari produk pendidikan pesantren yaitu masyarakat yang berorientasi pada kehidupan nyata sebagai realisasi ajaran Islam. Akan tetapi berusaha mengintrodusir sistem kehidupan Islam ke dalam realitas empirik. 1996:75). jika tidak santri akan kebingungan di tengah-tengah kehidupan manusia global.

kemudian dikritik dan dilakukan berbagai pengkajian dan penelitian oleh para filosuf semisal George Berkeley dan David Human. distingtive of an individual or characteristic of a group. cara-cara dan tujuan-tujuan tindakan (Amri Marzali. jika ia hendak mencoba berteori di luar batas-batas dirinya sendiri. Ergo Sum yang berarti “saya menilai. Khan memberikan kedudukan yang sangat penting pada keduanya (ilmu tentang keterbatasan manusia dan pengalaman) adalah penjelmaan dari kemutlakan yang sama. Teori adalah. pada abad berikutnya. antropolog dan psikolog) Amerika Serikat menjadi konsep pokok dalam konteks theory of action yang dipelopori Talcott Persons. eksplisit atau implisit yang khas milik seorang individu atau sekelompok tentang apa yang seharusnya diinginkan dan yang mempengaruhi pilihan yang tersedia dari bentuk-bentuk. Berkeley mengemukakan bahwa semua yang ada di luar manusia hanyalah persepsi. rumusan pertanyaan para filosuf tersebut masih sangat sederhana dan jelas karena pada saat itu para filosuf masih yakin sepenuhnya tentang kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan melalui indranya dan akalnya. Dari sinilah dapat dikemukakan bahwa. Jadi. Dengan menekankan kepada unsur-unsur a priori dalam pengetahuan yang berdasarkan konsep-konsep. Hubungannya dengan pembahasan nilai. jaman metasifika yang mutlak itu disusul kesangsian terhadap pengetahutan yang diperoleh melalui indra ataupun akalnya. Edward Shils. serta agamawan Immanuel Khan. maka dapat dikemukakan teori nilai sebagai filsafat yang memiliki penerapan praktis secara langsung. Sementara agamawan Khan mengemukakan. 1995:14) . sebenarnya sudah sampai pada pembahasan tentang teori nilai. Ungkapan ini. Sebab teori nilai menyelidiki tentang proses dan isi penilaian yaitu prosesproses yang mendahului. Teori nilai sebagai filsafat praktis. maka dapat dirumuskan lebih luas bahwa cogito ego sum “saya berpikir. Henry Murray dan Clyde Kluckhohn. penjelmaan sangat penting dari kemampuan manusia dalam melakukan penilaian. Melalui pembahasan tentang teori pengetahuan. dkk. mengiringi. explicit or implicit. bahkan menentukan semua kelakukan manusia. Dua puluh tiga abad kemudian. sedangkan metafisika yang semata-mata berusaha mengetahui sifat terakhir dari kenyataan tetap tinggal sebagai teori semata-mata. Takdir. dikembangkan oleh para sarjana ilmu-ilmu sosial (sosiolog. jadi saya ada”. Ketika Descartes mengemukakan Cogito Ergo Sum. Teori pengetahuan mengembalikan pikiran manusia kepada pengalaman.Jika diperhatikan secara seksama. Sikap skeptis ini. pada akhirnya ia menyangsikan bahwa semua pengetahuan manusia didasarkan atas pengalamannya. jadi saya ada”. means and ends of action nilai adalah sebuah konsepsi. of the desirable wich influence the selection from available modes. maka ungkapan ini mengandung maksud bahwa wujud manusia yang khas adalah makhluq berpikir. Justru karena fungsi proses penilaian dalam menentukan perilaku manusia itulah. metafisika tidak mungkin merupakan ilmu tentang hakekat terakhir melainkan hanyalah ilmu tentang keterbatasan pikiran manusia. Melalui Theory Action Kluckhohn. Pada sisi lain. Gordon Allpor. mengemukakan bahwa value adalah. sedangkan Hume setelah mengkritik konsep-konsep dasar yang digunakan para filosuf. kehidupan budi (pikiran yang dalam) yang terjelma dalam proses penilaian merupakan ciri khas manusia yang terpenting dalam kehidupan secara individu maupun dalam bermasyarakat. teori nilai yaitu teori yang membahas tentang manusia sebagai makhluq yang berkelakuan sebagai obyek. ungkapan Protagoras itu dipertegas Rene Descartes yang mengemukakan Cogito Ergo Sum (CES) yang berarti “saya berpikir. berteori. dirumuskan oleh Protagoras melalui ungkapannya yang terkenal yaitu manusialah ukuran dari segala sesuatu. menurut St. A conception. jadi saya ada” menjadi Evaleo.

2) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari menurut hukum agama (Mastuhu. kiyai sebagai figur sentral dan pembina santri secara konsisten menjaga nilai-nilai agama dalam kelompok pertama. Nilai hanya dapat disimpulkan dan ditafsirkan dari ungkapan. etika menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma sehingga etika akhirnya membantu manusia menjadi lebih otonom. Sebaliknya.Kunci definisi value (nilai) di atas menurut Amri. Etika merupakan penyelidikan filsafat tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik atau buruknya perilaku itu. nilai dapat diuraikan dalam bentuk kata-kata orang lain kemudian diajukan kepada pemiliknya: apakah kesimpulan orang lain itu benar atau tidak pemilik nilai dapat memberikan persetujuan atau penolakan. Alat untuk menguji nilai adalah verbalizability (Amri Marzali. Sebagai suatu konsep. seseorang tidak cukup hanya mengamati dan mencatat ungkapan. adalah konsep tentang hal yang seharusnya diinginkan. melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininya sendiri sebagai kewajiban. Moralitas Pesantren Pada umumnya. Robert N. mengapa kiyai mempunyai kekuasaan mutlak di pondok pesantrennya. merupakan cabang dari teori nilai yang tertua dan sering merupakan bagian dari agama yang terintegrasi. lebih implisit daripada eksplisit. lembaga pendidikan. mempersoalkan hak setiap lembaga seperti keluarga. perbuatan dan materi yang dibuat manusia. tidak terletak pada kebebasannya dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan. sedangkan nilai yang tersembunyi di bawah kulit disebut sebagai inti (the kernel). Etik. perbuatan dan materi sebagai kulit luar (the husk) atau sesuatu yang nyata adalah yang terlihat dan yang berada di permukaan. mereka yakin kiyainya selalu mengajarkan hal-hal yang benar. Dalam kaitan ini. diungkapkan dalam bentuk verbal secara komplit dan tepat oleh pemiliknya. yang dalam hal ini bercorak fiqh-sufistik dan berorientasi kepada kehidupan ukhrawi. ketaatan. Ini artinya bahwa. ketundukan dan keyakinan para santri terhadap kiyainya sangat besar. maka untuk menangkap nilai yang hidup pada suatu masyarakat. b. menurut St. Otonomi manusia. Nilai yang dianut seseorang atau sekelompok masyarakat. Namun demikian. Bellah melalui Tokugawa Relegion (1970) mengumpamakan bahwa ungkapan. berbentuk idea atau pemikiran yang abstrak dan sangat umum. Karena itu ungkapan. perbuatan atau materi yang dihasilkan oleh anggota masyarakat. tapi dia harus pandai mengoreksi dan menemukan konsepsi yang tersembunyi di bawah permukaan ungkapan. nilai berarti masih bersifat abstrak atau dibangun di dalam pikiran (budi). biasanya berbentuk samar-samar. teori nilai meliputi dua cabang filsafat yaitu Etika dan Estetika. Etika memiliki sifat yang sangat mendasar yaitu sifat kritis. perbuatan dan materi kehidupan sehari-hari yang dilakukan manusia adalah manifestasi dari nilai. Senada dengan pernyataan ini Juhaya S Praja (1997) menuliskan. 1996:58). Inilah sebabnya. . Nilai yang menjadi dasar keberadaan pondok pesantren dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu: 1) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak. mempersoalkan norma-norma yang berlaku dan menyelidiki dasar norma-norma itu. sebaliknya mereka tidak percaya jika kiyainya berbuat kesalahan atau kekeliruan. negara dan agama untuk memberi perintah atau larangan yang harus ditaati. 1995:16-17). perbuatan atau materi tersebut. sedangkan asaatidz dan santri menjaga nilai-nilai agama kelompok kedua. sehingga belum dapat diraba dan dilihat secara langsung dengan pancaindra. pembicaraan tentang nilai yang dimaksud adalah etik. Berdasarkan uraian di atas. Takdir Alisjahbana (1984).

baik di lingkungan dalam pesantren maupun di luar pesantren. sehingga diperoleh variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan. karena itulah maka pesantren ini memiliki anak/pesantren cabang di daerah. atau ia ingin tetap memiliki ikatan batin dengan kiyai bekas gurunya. Variasi-variasi pesantren itu terjadi karena pesantren tidak memiliki tingkatan atau perjenjangan. sebab pertumbuhan anak atau pondok pesantren cabang ini terjadi. Berdasarkan teori di atas. juga berusaha mengikuti kebiasaan masyarakat pendahulunya. etik dan norma merupakan kesatuan makna. dewan kiyai/guru. etik menjelaskan nilai tertinggi yaitu apa yang disebut kebaikan. Sebaliknya. 7. Jika moral (mores. maka disebut etik autonom yaitu penilaian terhadap baik atau buruknya perkataan dan perbuatan orang adalah berdasarkan penilaian atau pengakuan pribadi/individu. nilai dan moral pesantren adalah segala perbuatan yang berkembang di lingkungan pondok pesantren. biasanya bersifat tidak resmi yaitu dalam bentuk patron: guru-murid dan dengan bentuk hubungan lugas dari .Sebagaimana teori nilai. rencana program pelajaran. Dawam Rahardjo (1995:24) mengemukakan. Melalui istilah itu bukan berarti pondok pesantren memiliki perjenjangan. tampaknya moralitas pondok pesantren termasuk kategori etik heteronon yang menilai perkataan dan perilaku seseorang dianggap baik atau buruk. bahasa Latin) bersumber pada agama. sebagaimana teori nilai. memiliki perbedaan menurut sumber-sumbernya. Hubungan antara pondok pesantren induk dengan anak atau pesantren cabang. Biasanya. jika sumber norma ada di dalam diri sendiri. Hirarki Pesantren Sesuatu yang sangat unik pada dunia Pesantren adalah begitu banyaknya variasi antara pesantren yang satu dengan pesantren lainnya walaupun dalam berbagai aspek dapat pula ditemukan beberapa kesamaan yang bersifat umum. Di dunia pesantren terdapat istilah pesantren induk yang memiliki anak atau pesantren cabang di berbagai tempat. Mereka selalu menjaga perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. Pernyataan ini dapat diperhatikan dari kegiatan yang dilakukan para santri. didasarkan atas pertimbangan etika kolektif masyarakat pesantren. variasivariasi tersebut dapat dijumpai jika kita bisa berpikir secara analitis untuk memperoleh konsep tentang suatu pesantren dan dapat menjabarkan secara detail tentang prospek dan perkem-bangan pesantren. Takdir ini bukan berarti bahwa antara nilai. negara atau adat istiadat maka kita berbicara tentang etik heteronom yakni baik dan buruknya perkataan dan perilaku manusia dinilai berdasarkan perundang-undangan. Teori-teori etik (juga moral atau akhlaq). kelompok-kelompok santri atau bagian-bagian fungsional khusus jika dibandingkan dengan pesantren lainnya akan ditemukan tipologi dan variasi dunia pesantren. Pernyataan St. pada mulanya berasal dari santri yang merasa berhasil menuntut ilmu dari suatu pesantren kemudian terpanggil untuk mendirikan pondok pesantren. selalu berujuk kepada tradisi pesantren baik tradisi dalam arti “tradisi suci” (perilaku yang sesuai dengan al-quran dan sunnah rasul) maupun tradisi dalam arti kebiasaan masyarakat setempat yang telah dijaganya selama bertahun-tahun. Daripadanya dikembangkan norma-norma kelakukan baik dan buruk dalam hubungannya dengan seluruh kehidupan manusia. awalnya ia ingin berlindung pada pondok pesantren dimana ia pernah belajar. organisasi kepengurusan. pranata sosial atau ajaran agama. Dengan kalimat lain. Hirarki dan Karakteristik Pesantren a. pesantren yang besar memiliki santri banyak yang datang dari daerah-daerah yang jauh. Masyarakat Pesantren terdiri dari orangorang yang selalu berkata dan berbuat sesuai dengan dan/atau berujuk kepada ajaran Islam dan mempertimbangkan kebiasaan atau tradisi yang telah berkembang di lingkungannya yang dianggap tidak bertentangan dengan ajaran agama. sebagaimana yang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan sekolah.

dengan harapan mereka kelak akan dapat membaca dan menterjemahkan KK yang ditulis dalam bahasa Arab. sehingga kemudian mereka mempelajari nahwusharaf (di lingkungan pondok pesantren. proses pendidikan dasar-dasar al-quran tersebut merupakan perjenjangan pertama. lembaga-lembaga pengajian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bagi orang tua atau saudarasaudaranya yang tidak bisa mengajarkan al-quran kepada anak-anaknya. Program pengajaran tingkat pemula ini. namun anak/pesantren cabang bisa begitu saja lepas dari induknya atas pertimbangan dan keputusan yang bersumber dari bentuk hubungan seperti ini. kedua ilmu ini dikenal sebagai ilmu-ilmu alat) sebagai alat untuk memperdalam KK antara lain kitab fiqh ushul fiqh. . Lembaga pendidikan dimaksud tidak cukup hanya pondok pesantren. adab. hadits mushthalah hadits. bermula pada waktu anak-anak berumur kira-kira lima tahun menerima pelajaran dari orang tuanya berupa menghafalkan alfabet arab secara bertahap agar mereka kelak dengan mudah membaca al-quran. melainkan juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah keagamaan. tulisan Zamakhsyari Dhofier dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menyebutkan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan. untuk selanjutnya mereka dianjurkan agar melanjutkan pelajarannya ke lembaga pendidikan Islam yang lebih tinggi tingkatnya yakni pondok pesantren. secara alamiah akan berhenti setelah anak-anak mampu membaca al-quran dengan lancar dan benar. ada yang setelah berkenalan dan mampu membaca KK tersebut berambisi menjadi kiyai atau ulama. mulai diajarkan untuk menghafal beberapa surat pendek dari juz terakhir (juz ke-30) dalam al-quran. Tingkat yang paling rendah. juga diperlukan lembaga pendidikan yang lebih sistematis. walaupun perjenjangan ini tidak terjadi pada setiap pesantren. diperlukan guru-guru (asaatidz) atau kiyai yang cukup cerdik dan berbobot. Di antara anak/ pesantren cabang ada yang tetap kecil dan kurang berkembang. Lebih jelasnya tentang hirarki atau jenjang pendidikan di pondok pesantren menurut Zamakhsyari Dzofir ini. bertingkat-tingkat. istilah pesantren induk dan anak/pesantren cabang tidak tepat untuk mengatakan bahwa pondok pesantren memiliki perjenjangan. setelah mereka berumur tujuh atau delapan tahun. Bagi beberapa anak dari keluarga tertentu. Waktu belajarnya. ‘ulum al-hadits. tafsir ‘ulum al-tafsir. Dzofir (1994:20-21) menuliskan. tarikh. Bentuk hubungan seperti ini bisa bersifat amat erat dan kuat karena merupakan suatu hubungan bathin. Di bawah ini. berlangsung setelah shalat maghrib hingga shalat ‘isya tiba. mereka mempercayakan kepada tetang-ganya belajar al-quran di rumah tetangganya atau di mushalla. Dengan demikian. Untuk menguasai dan memahami beberapa macam KK. dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini. tetapi ada juga yang kemudian berkembang menjadi besar dan membangun citra dengan nama sendiri. tasawwuf atau akhlaq. tawhid. Sebagian dari mereka.sistem organisasi yang impersonal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful