P. 1
Kelurahan

Kelurahan

|Views: 431|Likes:
Published by Budisuherman

More info:

Published by: Budisuherman on Jan 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

Kepmendagri 28/2006

Bidang Tata Negara untuk melengkapi pp 72/2005 tentang desa dan pp 73/2005 tentang kelurahan, ditambahkan peraturan baru, yakni kepmendagri 28/2006 keterangan tentang pembentukan, penghapusan, penggabungan desa dan perubahan status desa menjadi kelurahan.
Untuk melengkapi PP 72/2005 tentang Desa dan PP 73/2005 tentang Kelurahan, ditambahkan peraturan baru, yakni Kepmendagri 28/2006 tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan.

=== PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN,PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2006 tanggal 10 Oktober 2006) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang: Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (1)dan Pasal 5 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa,perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan; Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nornor 8 tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Udang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Repubtik Indonesia Nomor 4548); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Pnyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2005 Nornor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503); MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PNGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1.Pemerintah Walikota dan Daerah perangkat Daerah adalah adalah daerah atau Kepala unsure Desa oleh Desa dan dihormati yang Gubernur, sebagai yang Desa penyelenggara hádala Pemerintah dalam masyarakat adat dalam Republik disebut Desa, yang berwenang kepentingan asal-usul diakui dan Negara adalah kabupaten/kota wilayah dalam dan untuk masyarakat adat dihormati Kesatuan kerja lurab wilayah istiadat dalam dengan adalah memiliki mengatur istiadat sistem unsure Bupati,atau penyelenggara dengan Perangkat Pemerintahan penyelenggaraan Desa mengatur dan dan setempat setempat Pemerintah Indonesia. nama lain, kesatuan batas-batas dan setempat setempat sistem Republik sebagai kerja

PemerintahanDaerah. 2.Pemerintah nama Desa Desa. 3. urusan Badan mengurus berdasarkan yang Negara 4. Desa selanjutnya masyarakat witayah mengurus berdasarkan yang Indonesia. 5. Kelurahan perangkat Kecamatan. Pemerintahan yang diakui Pemerintahan pemerintahan Permusyawaratan kepentingan asal-usul dan atau hukum Kesatuan disebut lain sebagai disebut dan

. atau desa luar Desa sebagai Desa atau pemekaran atau desa adalah akibat lebih. disebut Badan BPD Permusyawaratan adalah dan Desa demokrasi sebagal Desa lembaga dalam yang yang unsur selanjutnya merupakan penyelenggaraan penyelenggara perwujudan pemerintahan PemerintahanDesa.Pembentukan beberapa bersandingan. Bagian Kedua Syarat-syarat Pembentukan Pasal 3 Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. yang adalah bagian dan atau telah penggabungan desa satu yang desa ada.6. jumlah penduduk. 9. menjadi desa 8. desa dua di Penghapusan yang ada desa. 7. meniadakan memenuhi pembentukan tindakan tidak lagi persyaratan. atau BAB II PEMBENTUKAN DESA Bagian Pertama Tujuan Pembentukan Pasal 2 Pembentukan desa bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Penggabungan lebih Desa adalah menjadi penyatuan Desa dua Desa baru. harus memenuhi syarat: a.

luas wilayah dapat dijangkau dalam meningkatkan pelayanan dan pembinaan masyarakat. NTB. b. dan g. batas desa yang dinyatakan datam bentuk peta desa yang ditetapkan dengan peraturan daerah. d. wilayah kerja memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi antar dusun. f. NTT. e. potensi desa yang meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Maluku. dan 3) wilayah Kalimantan. Papua paling sedikit 750 jiwa atau 75 KK. sarana dan prasarana yaitu tersedianya potensi infrastruktur pemerintahan desa dan perhubungan. 2) wilayah Sumatera dan Sulawesi paling sedikit 1000 jiwa atau 200 KK. Bagian Ketiga Tatacara Pembentukan Desa Pasal 4 . c. sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dan kehidupan bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat setempat.yaitu: 1) wilayah Jawa dan Bali paling sedikit 1500 jiwa atau 300 KK.

disertai Berita Acara Hasil Rapat BPD dan rencana wilayah administrasi desa yang akan dibentuk. Tim Kecamatan untuk . e. Dengan memperhatikan dokumen usulan Kepala Desa. Kepala Desa mengajukan us pembentukan Desa kepada bupati/Walikota melalui Camat. (2) Pembentukar desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan setelah mencapai usia penyelenggaraan pemerintahan desa paling sedikit 5 (lima) tahun. Pasal 5 Tatacara Pembentukan Desa adalah sebagal berikut: a. Bupati/Walikota menugaskan Tim Kabupaten/Kota bersama. d. dan kesepakatan rapat dituangkan dalam Berita Acara Hasil Rapat BPD tentano Pembentukan Desa. BPD mengadakan rapat bersama Kepala Desa untuk membahas usul masyarakat tentang pembentukan desa. Masyarakat mengajukan usul pembentukan desa kepada BPD dan Kepala Desa. b. Adanya prakarsa dan kesepakatan masyarakat untuk membentuk desa. adat istiadat dan kondisi" socialbudaya" masyarakat setempat.(1) Desa dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal usul desa. c.

BPD. h. Bila rekomendasi Tim Observasi menyatakan layak dibentuk desa baru. BPD. Bupati/Walikota menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa. Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa yang telah disetujui . j. Penyiapan Rancangan Peraturan Daerah tentang pembentukan desa sebagaimana dimaksud pada huruf f. yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Bupati/ Walikota. dan unsur masyarakat desa kepada DPRD dalam forum rapat Paripurna DPRD. Bupati/Walikota mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa hasil pembahasan pemerintah desa. i. g. BPD. dan bila diperlukan dapat mengikutsertakan Pemerintah Desa. dan unsur masyarakat desa. DPRD bersama Bupati/Walikota melakukan pembahasan atas Rancangan Peraturan Daerah tentang pembentukan desa. f.melakukan observasi ke Desa yang akan dibentuk. harus melibatkan pemerintah desa. dan unsur masyarakat desa. agar dapat ditetapkan secara tepat batas-batas wilayah desa yang akan dibentuk.

disampaikan oleh Pimpinan DPRD paling lambat 7 (tujuh) han terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud pada huruf j. Sekretaris Daerah mengundangkan Peraturan Daerah tersebut di dalam Lembaran Daerah. ditetapkan oleh Bupati/VValikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak rancangan tersebut disetujui bersama. Pasal 6 Pembentukan Desa di luar desa yang telah . l. k. Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud pada huruf k. dan m. Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa yang telah ditetapkan oleh Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada huruf i.bersama oleh DPRD dan BupatifWahikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.

terlebih dahulu dimusyawarahkan oleh Pemerintah Desa dan BPD Jenqan masyarakat desa masing-masing. diusulkan oleh Kepala Desa kepada BupatiNValikota melalui Camat. (3) Hasil musyawarah sebagaimana dimaksud pada avat (2). (2) Penggabungan atau penghapusan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan . (4) Kuputusan Bersama Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh salah satu Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui Camat (5) Hasil penggabungan atau penghapusan desa sebagairnana dirnaksud pada ayat (2).ada. dengan tata cara pembentukan sebagaimana diatur dalam Pasal 5. ditetapkan dalam Keputusan Bersama Kepala Desa yang bersangkutan. dapat digabung dengan Desa lain atau di hapus. BAB III PENGGABUNGAN DAN PENGHAPUSAN DESA Pasal 7 (1) Desa yang karena perkembangan tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.

dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. b. pengaturan pemerintahan desa. Penggabungan dan/atau Penghapusan Desa diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. pengaturan kekayaan Desa. d penghapusan nama Desa yang digabung. syarat. pengaturan sarana dan prasarana. pengaturan batas wilayah Desa yang dilengkapi dengan peta Desa. Pasal 8 (1) Ketentuan lebih anjut mengenai Pembentukan. c. f. (2) Poraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada nyat (1) memuat antara lain: a. mekanisme. e. g. narna Desa yang baru dibentuk. h pengaturan lenbaga kemasyarakatan. i. tujuan. . dan j.

jumlah usaha jasa dan produksi serta keanekaragaman mata pencaharian. (2) Perubahan status Desa menjadi Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. kondisi sosial budaya masyarakat berupa . luas wilayah tidak berubah. d. c.BAB IV PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN Pasal 9 (1) Desa dapat diubah atau disesualkan statusnya menjadi Kelurahan berdasarkan prakarsa Pemerintah Desa bersama BPD dengan memperhatikan aspirasi masyarakat setempat. potensi ekonomi berupa jenis. prasarana dan sarana pemerintahan yang memadai bagi terselenggaranya pemerintahan Kelurahan. (2) Asprasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetujul paling sedikit 2/3 (dua per tiga) penduduk Desa yang mempunyai hak pilih. e. b. jumlah penduduk paling sedikit 4500 jiwa atau 900 KK untuk wilayah Jawa dan Bali serta paling sedikit 2000 jiwa atau 400 KK untuk di luar wilayah Jawa dan Bali.

diberhentikan dengan hormat dan jabatannya dan diberikan penghargaan sesuai denqan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat. Pasal 10 (1) Desa yang berubah status menjadi Kelurahan. b. Lurah dan Perangkatnya diisi dari Pegawai Negeri Sipil yang tersedia di Kabupaten/Kota bersangkutan. BPD mengadakan rapat bersama Kepala Desa untuk membahas usul masyarakat tentang . Pasal 11 Tatacara penqajun dan penetapan perubahan status Desa menjadi Kelurahan adalah sebagai berikut: a. c. meningkatkan volume pelayanan. Adanya prakarsa dan kesepakatan masyarakat untuk merubah status Desa menjadi Kelurahan.keanekaragaman status penduduk dan perubahan nilai agraris ke jasa dan industri. (2) Kepala Desa dan Perangkat Desa serta anggota BPD dan Desa yang diubah statusnya menjadi Kelurahan. dan f. Masyarakat mengajukan usul perubahan status Desa menjadi Kelurahan kepada BPD dan Kepala Desa.

Dengan memperhatikan dokumen usulan Kepala Desa. DPRD bersama Bupati/Walikota melakukan pembahasan atas Rancangan . f. d. dan kesepakatan rapat dituangkan dalam Benita Acara Hasil Rapat BPD tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelunahan. g. Bupati/Walikota mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan kepada DPRD dalam forum rapat Paripurna DPRD. Bupati/Walikota menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan. yang hasilnya menjadi bahan rekornendasi kepada Bupati/Walikota. disertai BeritaAcara Hasil Rapat BPD. Kepala Desa mengajukan usul perubahan status Desa menjadi Kelurahan kepada Bupati/Walikota rnelalui Caniat. BLrpati!Walikota menugaskan Tim Kabupaten! Kota bersama tim Kecamatan untuk melakukan observasi ke Desa yang akan diubah statusnya menjadi Kelurahan. Bila rekomendasi Tim Observasi menyertakan layak untuk merubah status Desa menjadi Kelurahan. e. h.perubahan status Desa menjadi Kelurahan.

i. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan sebagaimana dimaksud pada huruf i.Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan. Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan yang telah ditetapkan oleh Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada huruf k. j. dan unsur masyarakat desa. Sekretaris Daerah rnengundangkan . disampaikan oleh Pimpinan DPRD paling lambat 7 (tujuh) han terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. BPD. ditetapkan oleh Bupati/ Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak rancangan tersebut disetujui bersama. dan bilaa diperlukan dapat mengikutsertakan Pemerintah Desa. k. dan l. Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan sebagaimana dirnaksud pada huruf j. Rancanqan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati/Walikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.

syarat.Peraturan Daerah tersebut di dalam Lembaran Daerah. Pasal 12 (1) Berubannya status Desa menjadi Kelurahan. tata cara . tujuan. (2) Kekayaan dan sumber-sumber pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh Kelurahan bersangkutan untuk kepentingan nnsyarakat setempat. Pasal 13 (1) Perubahan status Desa menjadi Kelurahan sehagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat materi (sesuaikan): a. c. b. d. seluruh kekayaan dan sumber-sumber pendapatan Desa menjadi kekayaan Daerah Kabupaten/Kota. mekanisme.

pengaturan prasarana dan sarana. Penggabungan Desa dan Perubahan status Desa menjadi Kelurahan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. e. pembiayaan. BAB VI PEMBINAN DAN PENGAWASAN Pasal 15 (1) Pembinaan dan pengawasan terhadap Pembentukan.pengalihan kekayaan Desa menjadi kekayaan Daerah. dan g. f. tata cara pengalihan administrasi pemerintahan. pelatihan. penggabungan dan penghapusan Desa serta perubahan status Desa menjadi Kelurahan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. arahan dan supervisi. (2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan melalui pemberian pedoman umum. . bimbingan. BAB V PEMBIAYAAN Pasal 14 Pembiayaan pembentukan. Penghapusan.

Penggabungan dan Perubahan status Desa menjadi kelurahan berpedoman pada Peraturan ini. ttd.BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 16 Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang Pembentukan Penghapusan. MOH. H. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 2006 MENTERI DALAM NEGERI. MA’RUF SE .

3. 4. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO. SURAT EDARAN NO. 911/2189/PUMDA TANGGAL 14 DESEMBER TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA RUTIN TAHUN ANGGARAN 2001 BAGI INSTANSI VERTIKAL DEPARTEMEN YANG AKAN DISERAHKAN/DILIMPAHKAN KEPADA PEMERINTAH DAERAH SURAT EDARAN BERSAMA DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN DAN DIREKTUR JENDERAL PEMERINTAHAN UMUM DAERAH NO. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO.2-198 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN TIM KERJA PUSAT PERCEPATAN IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NO. 5. . PENYETORAN DAN PEMBAYARAN IURAN WAJIB DAN TABUNGAN PERUMAHAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH SURAT EDARAN BERSAMA DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN DAN DIREKTUR 2.1/2233/PUMDA TANGGAL 29 DESEMBER TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMOTONGAN. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO.KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH 1. SE-186/A/200 DAN NO. 8. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO.22 TAHUN 1999 DAN UNDANG-UNDANG NO. 800. 7. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO. 63 TAHUN 1999 TENTANG TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN DAN PENYESUAIAN PERISTILAHAN DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA DAN KELURAHAN 3. 903/2735/ SJ TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN APBN TAHUN ANGGARAN 2001 SURAT EDARAN BERSAMA DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN DAN DIREKTUR JENDERAL PEMERINTAHAN DAERAH NO. 22 TAHUN 1999 DAN UNDANGUNDANG NO. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO. 6. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO.05-237 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKKAN SUB TIM /PENGALIHAN PERSONIL/PEGAWAI NEGERI SIPIL SURAT EDARAN 1. 800/2365/SJ TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN REALOKASI DAN PENATAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PUSAT DI DAERAH SURAT EDARAN NO. SE-199/A/200 DAN NO. 118/1500/PUMDA TAHUN 2000 TENTANG PENATAAN DAN KEWENANGAN DAN KELEMBAGAAN SURAT EDARAN NO. 19 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMILIHAN WAKIL-WAKIL DAERAH SEBAGAI ANGGOTA DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH 7. 4 TAHUN 1999 TENTANG TENTANG PENCABUTAN BEBERAPA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI.281 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN SEKRETARIAT DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH 9. 16 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKKAN ASOSIASI PEMERINTAH DAERAH DAN PENETAPAN WAKIL ASOSIASI PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI ANGGOTA DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH 6. 045/ 2364/SJ TAHUN 2000 TENTANG PENATAAN DOKUMEN / ARSIP SURAT EDARAN NO. 25 TAHUN 1999 10. SE845. 118/1379/PUMDA TAHUN 2000 TENTANG RENCANA KERJA PERCEPATAN IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NO. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO.05-336 TAHUN 2000 TENTANG PENAMBAHAN ANGGOTA SEKRETARIAT DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH 8. 25 TAHUN 1999 SURAT EDARAN NO. 65 TAHUN 1999 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGATURAN MENGENAI PEMBENTUKKAN KELURAHAN 5. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI DAN INSTRUKSI MENTERI DALAM NEGERI MENGENAI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1979 TENTANG PEMERINTAHAN DESA 2. 64 TAHUN 1999 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGATURAN MENGENAI DESA 4. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO. 110. 188. 118. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI & OTONOMI DAERAH NO.

5/2001 PENANGGULANGAN PEKERJA ANAK Kepmendagri dan Otda No. 13/2001 Tentang Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri R. SE-17/A/200 DAN NO. 17/2001 PELIMPAHAN PENGAWASAN FUNGSIONAL PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA GUBERNUR Decree of The Minister of Finance No.061/729/TJ tgl. 25/1999 Kepmendagri dan Otda No. 78/MPP/Kep/3/2001 Concering Guidelines of Minimum Standard of Service (PSPM) in the Trading and Industrial Field Surat Perintah Tugas Mendagri dan Otda No. 22 /1999 dan Undang-Undang No. 97/2000. 80/MPP/Kep/3/2001 TENTANG PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DENGAN TINDAK LANJUT DIALIHKAN KEPADA PEMERINTAH DAERAH Kepmendagri dan Otda No. 118/1500/PUMDA Perihal Penataan Kewenangan dan Kelembagaan Surat Edaran No.16/2000 Tentang Pedoman Pembentukan Asosiasi Pemerintah Daerah dan Penetapan Wakil Asosiasi Pemerintah Daerah sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah .JENDERAL PEMERINTAHAN UMUM DAERAH NO. 344/KMK.21 Maret 2001 PERIHAL PENATAAN PERANGKAT DAERAH Kepmenperindag No. 22/2001 TENTANG BENTUK PRODUK-PRODUK HUKUM DAERAH Kepmendagri dan Otda No. tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil Kepmendagri 41/2001 Tentang Pengawasan Represif Kebijakan Daerah Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 911/2189/PUMDA Perihal Pedoman Perancanaan dan Pelaksanaan Anggaran Belanja Rutin TA 2001 bagi Instansi Vertikal Departemen yang akan Disertakan/Dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Surat Edaran No.I No. 43/KEP/2001 Tentang Standar Kompetensi Jabatan Struktural Pegawai Negeri Sipil Kepmendagri dan Otda No.8/2001 Tentang Pedoman Bagi Pegawai Negeri Sipil yang Dipilih Menjadi Kepala Desa atau Dipilih/diangkat Menjadi Perangkat Desa Surat Edaran No. SE902/228/PUMDA TANGGAL 25 JANUARI TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA PERIMBANGAN KEUANGAN • • • • • • • • • • • • • • • • • • Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 23/2001 TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH Kepmendagri dan Otda No. 148/OTDA/2001 Kepmendagri dan Otda No. 118/1379/PUMDA Perihal Rencana Kerja Percepatan Implementasi Undang-Undang No. 9/2001 Tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No.06/2001 [ Indonesian version ] Concerning The Distribution of Funds being Portion of Region from Natural Resources Decree of The Minister of Industry and Trade No.

50/2000 Tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota (Lampiran VII. 63/99 Tentang Petunjuk Pelaksanaan dan Penyesuaian Peristilahan dalam Penyelengaraan Pemerintah Desa dan Kelurahan Permendagri No. Pertanggungjawaban Dan Pelaporan Pelaksanaan Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan Kepmendagri dan Otda No.118 .48/2000 Tentang Pedoman Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kota Kepmendagri dan Otda No. 4/99 Tentang Pencabutan beberapa Peraturan Menteri Dalam Negeri. 65/99 Tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Pembentukan Kelurahan Kepmendagri No.556/KMK. Penyaluran Dana. 64/99 Tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa Kepmendagri No. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Mengenai Pelaksanaan UndangUndang Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa • .03/2000 Tentang Tatacara Pengaggaran.281 /2000 Tentang Pembentukan Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah Kepmenkeu No.4) Kepmendagri dan Otda No. 523/KMK.03/2000 TENTANG TATACARA PENYALURAN DANA ALOKASI UMUM DAN DANA ALOKASI KHUSUS Kepmenkeu No.47/2000 Tentang Pedoman Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Propinsi Kepmendagri No.• • • • • • • • • Kepmendagri dan Otda No.

Kepentingan penguasa cenderung menjadi sentral dari kehidupan dan perilaku birokrasi publik. rumah dinas bupati dan kepala desa. Pendudukan kantor-kantor pemerintah. bahkan hujatan terhadap birokrasi publik.DAMPAK PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN (STUDI KASUS DI KOTA TEGAL) Jun 15th. baik sipil maupun militer. Hal ini juga tercermin dalam proses kebijakan publik yang lebih mementingkan kepentingan penguasa dan seringkali menggusur kepentingan masyarakat banyak manakala keduanya tidak berjalan bersama-sama. Ini menunjukkan betapa besarnya akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap birokrasi publik. Kesempatan dan ruang yang dimiliki oleh masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses kebijakan publik juga amat terbatas. Birokrasi publik. Karenanya. baik di tingkat pusat ataupun daerah. dan perusakan berbagai fasilitas publik menjadi fenomena yang sering ditemui di berbagai daerah. Akibatnya . 1 so far today by admin2 Ditulis dalam kategori Tesis Magister Administrasi Pembangunan | 2 Comments Your webmaster search is: Kepmendagri kelurahan BAB I PENDAHULUAN A. kecaman. 2007 Visited 1016 times. dalam rezim orde baru telah menempatkan dirinya lebih sebagai alat penguasa daripada pelayan masyarakatnya. Gejala ini mulai nampak sejak jatuhnya pemerintahan orde baru. Krisis kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi publik ini ditandai dengan mengalirnya protes dan demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai komponen masyarakat terhadap birokrasi publik. Latar Belakang Masalah Masalah pelayanan publik yang menggejala dan terjadi di Indonesia adalah masalah krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sebagai birokrasi publik. Krisis kepercayaan terhadap birokrasi publik tersebut bisa dipahami mengingat birokrasi publik pada masa itu menjadi instrumen yang efektif bagi penguasa orde baru untuk mempertahankan kekuasaannya. maka mengalirlah semua bentuk keluhan. yang kemudian diikuti dengan semakin rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi publik. ketika pintu protes itu terbuka.

Dinamika ekonomi dan politik yang amat tinggi. bahkan cenderung dibiarkan sehinggga masyarakat menjadi semakin tidak percaya terhadap kemampuan birokrasi dalam menyelesaikan krisis ini. sebagai akibat dari krisis tersebut. Sejalan dengan hal tersebut di atas. konsep transparansi dalam rangka reformasi birokrasi publik sedang digalakkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Inisiatif dan kreativitas birokrasi dalam merespons krisis dan dampaknya sama sekali tidak memadai (Dwiyanto. korupsi. ternyata tidak dapat direspon dengan baik oleh birokrasi publik sehingga membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit dan tidak pasti. pemerintah Kota Tegal sebagai daerah yang ingin terus membangun dan meningkatkan manajemen pemerintahannya . Contohnya adalah masyarakat harus membayar mahal terhadap pelayanan publik. Berbagai persoalan yang terjadi di pusat dan di daerah tidak dapat diselesaikan dengan baik. seperti jalan tol. dan berbagai perijinan. Hal seperti ini sering mengusik rasa keadilan dalam masyarakat yang merasa diperlakukan secara tidak wajar oleh birokrasi publik. Masyarakat yang mengharapkan birokrasi publik dapat memberi respon yang tepat dan cepat terhadap krisis yang terjadi menjadi amat kecewa karena ternyata tindakan birokrasi cenderung reaktif dan tidak efektif. Sejalan dengan maksud di atas. dan komoditas lainnya. Pada masa sekarang ini. Hal ini ditandai dengan keterbukaan dalam proses pemerintahan seluas-luasnya dengan membuka kran informasi kepada masyarakat serta memberikan kemudahan akses masyarakat kepada pemerintah. bahkan kemudian menjadi semakin jauh dari tujuan yang dimiliki ketika membentuk birokrasi itu. Kemampuan dari suatu sistem pelayanan publik dalam merespons dinamika yang terjadi dalam masyarakatnya secara tepat dan efisien akan sangat ditentukan oleh bagaimana misi dari birokrasi dipahami dan dijadikan sebagai basis dan kriteria dalam pengambilan kebijakan oleh birokrasi itu. dan nepotisme) dalam kehidupan birokrasi publik. 2002: 3).banyak kebijakan publik dan program-program pemerintah yang tidak responsif dan mengalami kegagalan karena tidak memperoleh dukungan dari masyarakat. KKN tidak hanya telah membuat pelayanan birokrasi menjadi amat sulit dinikmati secara wajar oleh masyarakatnya. seperti urusan KTP. Selama ini KKN telah mencoreng image masyarakat terhadap birokrasi publik. Menurut Dwiyanto (2002: 4) bahwa birokrasi publik di Indonesia seringkali tidak memiliki misi yang jelas sehingga fungsi-fungsi dan aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi itu cenderung semakin meluas. semen. transportasi. pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka mereformasi birokrasi. Hal senada disampaikan juga oleh Dwiyanto (2002: 2). Masyarakat juga harus membayar mahal ketika masyarakat mengkonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor swasta. sedang berusaha menekan meluasnya praktik-praktik KKN (kolusi. tetapi juga membuat masyarakat harus membayar lebih mahal terhadap pelayanan yang diselenggarakan oleh swasta. paspor. Rendahnya kemampuan birokrasi merespon krisis ekonomi memperparah krisis kepercayaan terhadap birokrasi publik. bahwa KKN diyakini oleh publik menjadi sumber dari bureaucratic costs dan distorsi dalam mekanisme pasar seperti praktik monopoli dan oligopoli yang amat merugikan kepentingan publik. Akan tetapi penyelenggaraan pelayanan publik belum terlalu diperhatikan. misalnya akses terhadap pelayanan dan kualitas pelayanan publik sering berbeda tergantung pada kedekatannya dengan elite birokrasi dan politik. SIM.

Dengan demikian desa-desa yang berada di daerah kota harus diubah statusnya menjadi kelurahan. Dilihat dari latar belakang diubahnya bentuk pemerintahan desa menjadi kelurahan bukan disebabkan karena adanya kebutuhan. UU No. 2004. 1999 jo.terutama yang ditujukan pada birokrasi publik. 65 Tahun 1999 tentang Pedoman Umum mengenai Pembentukan Kelurahan. siap tidak siap. tetapi karena tuntutan perundang-undangan (Conditio Sine Qua Non/syarat mutlak sesuai dengan tuntutan perundang-undangan). 32 Th. 5 Tahun 1979 desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang ada hanya kelurahan. maka mau tidak mau. yaitu: “Mewujudkan kemampuan dan kehandalan manajemen pemerintahan dalam rangka meningkatkan pelayanan masyarakat yang lebih efektif dan efisien”. semua pemerintahan desa yang berada di wilayah kota harus berubah menjadi kelurahan. Pembentukan kelurahan diartikan sebagai pembentukan kelurahan baru sebagai akibat pemecahan. Berdasarkan ketentuan tersebut maka desa-desa yang ada di wilayah kotamadya dan kotamadya administratif berdasarkan UU No. Menurut Pasal 1 huruf a UU No. Perubahan status desa menjadi kelurahan sebagaimana ditegaskan dalam Kepmendagri No. Tentu saja untuk mendukung terciptanya misi dan tujuan tersebut perlu adanya upaya dari pemerintah Kota Tegal terutama ditujukan kepada peningkatan kualitas pelayan publik seluas-luasnya kepada masyarakat. penggabungan dan atau perubahan status desa menjadi kelurahan. adalah merupakan kebijakan atau upaya yang ditempuh pemerintah dalam rangka membentuk kelurahan baru dengan tujuan tercapainya efektivitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat. Sebagaimana dipahami bahwa esensi pemerintahan adalah pelayanan kepada masyarakat oleh karena itu pemerintah tidak diadakan untuk dirinya sendiri tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang . Perubahan ini merupakan bentuk dari peningkatan status yang diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat perkotaan. 5 Th. Kepmendagri tersebut merupakan pedoman bagi daerah kabupaten dan kota serta DPRD dalam menetapkan peraturan daerah kabupaten dan kota mengenai pembentukan kelurahan. telah ditetapkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No.Menindaklanjuti isi dari pasal tersebut. sedangkan menurut Pasal 1 huruf b kelurahan adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat. yang tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri. Dengan ditetapkan status Desa menjadi Kelurahan kewenangan Desa sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang berhak mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat berubah menjadi wilayah kerja Lurah sebagai Perangkat Daerah Kabupaten di bawah Kecamatan. Hal ini berarti bahwa di daerah kota tidak ada lagi desa. 1974 ditetapkan sebagai kelurahan. 65 Tahun 1999. 22 Th. telah merumuskan Misi dan Tujuannya. Peningkatan kualitas pelayanan ini antara lain dilakukan dengan melakukan perubahan status desa menjadi kelurahan sesuai dengan tuntutan Pasal 126 ayat (2) UU No.

1998: 139). Dalam info PAN (1990: 35) dikatakan bahwa: Kualitas pelayanan aparatur pemerintah kepada masyarakat merupakan tingkat efisiensi. 6. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Bersih. moral. yaitu berhubungan dengan kemampuan yang tinggi untuk mengoptimalkan kemanfaatan segala sumber daya dan dana yang tersedia dalam rangka pelaksanaan tugas pelayanan. <!--[if !supportLists]-->Partisipatif. Dalam hal ini aparatur pemerintahan harus bertindak. kelompok atau kesatuan masyarakat di dalam masyarakat keseluruhan telah terlibat. 7. yaitu berkaitan dengan suatu jaminan bahwa terdapat keadilan dan pendistribusian yang cukup atas sumbersumber bagi mereka yang berhak menerimanya. 4. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Efisien dan efektif. baik dilihat dari segi peraturan perundang-undangan. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Transparan (keterbukaan). yaitu jaminan bahwa perorangan. menumbuhkan serta memberikan pengayoman terhadap prakarsa dan pemenuhan kebutuhan pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat. yaitu berkenaan dengan meningkatnya kesadaran tentang keinginan dari aparatur negara untuk memberikan pertanggungjawaban (accountability). J. 2000: 45): 1. Pemerintah sebagai pelayan masyarakat (public service) sudah seharusnya memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. . 3. Pelayanan yang berkualitas selain bermanfaat bagi masyarakat juga bermanfaat terhadap citra aparat pemerintah itu sendiri.memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama (Rasyid. Kristiadi sebagaimana dikutip oleh Sarundajang memberikan tolak ukur penilaiannya dengan cara memberikan ciri-ciri di dalam melakukan tugastugasnya sebagai aparatur pemerintah. 5. yaitu ikut serta menciptakan suatu kondisi masyarakat dimana masyarakat dan aparatur negara yang melaksanakan tugas memberikan dukungan kepada kelembagaan masyarakat tentang hasil-hasil dari tugas sosialnya. baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyatakan keinginan-keinginan dan harapan-harapan mereka terhadap pemerintah. tetapi dalam cara bertindak disebut harus dapat mempertanggungjawabkan kewenangannya. dan kewenangan memegang tanggung gugat. <!--[if !supportLists]-->Keadilan. dalam arti perilaku seluruh aparatur negara dapat dipertanggungjawabkan. kepegawaian dan ketatalaksanaan dalam mendorong. Mengenai kualitas aparatur pemerintahan daerah yang handal dan berbobot. <!--[if !supportLists]-->Pertanggungjawaban. yaitu bertalian dengan keinginan menyelenggarakan administrasi negara yang terbuka dan mudah dijabarkan yang berlandaskan susunan konstitusional dan keabsahannya. efektivitas dan produktivitas dari sistem kemampuan kelembagaan. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Tanggung gugat. serta sikap tindak-tanduknya dalam melaksanakan tugasnya. yaitu (dalam Darumurti dan Rauta. 2.

Adanya perubahan dari desa menjadi kelurahan menuntut adanya penyesuaian perangkat dari perangkat desa menjadi perangkat kelurahan karena dalam kedua sistem pemerintahan itu walaupun setara tetapi komponenkomponen yang ada dalam birokrasinya berbeda. efisien. Pelayanan publik yang profesional artinya pelayanan yang memiliki akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah). . rincian biaya atau tarif pelayanan dan tata cara pembayaran serta jadwal waktu penyelesaian pelayanan. Satu masalah yang dapat muncul dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat adalah kurang mampunya perangkat kelurahan yang baru untuk melayani masyarakat dengan baik. unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan. Menurut Widodo (2001: 75). lebih mengutamakan pada pencapaian tujuan dan sasaran. kebutuhan dan aspirasi yang dilayani. responsif dan adaptif. mengandung arti semua proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami masyarakat baik diminta ataupun tidak. Responsif lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi apa yang menjadi masalah. efektif. Ketepatan waktu mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. terbuka. Keterbukaan. Efisiensi. Adaptif mengandung arti cepat menyesuaikan tuntutan apa yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekitarnya. mencegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan. mengandung arti persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan. tidak berbelit-belit. transparan. Padahal adanya perubahan status dari desa menjadi kelurahan membawa konsekuensi adanya peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. mengandung arti prosedur tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah. persyaratan pelayanan baik teknis maupun administratif. Kejelasan dan Kepastian (Transparan). sederhana. cepat. mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai prosedur tata cara pelayanan. Efektif. Sederhana. mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan. tepat. tepat waktu. pelayanan yang diharapkan dan menjadi tuntutan pelayanan publik oleh organisasi publik yaitu pemerintah lebih mengarah pada pemberian layanan publik yang lebih professional.

pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah.Keputusan Menteri Dalam Negeri NO. PRODUK HUKUM KEPMENDAGRI NO 63 TAHUN 1999 TENTANG Tentang : petunjuk pelaksanaan dan penyesuaian peristilahan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan kelurahan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KEPMENDAGRI NO 65 TAHUN 1999 Tentang : pedoman umum pengaturan mengenai pembentukan kelurahan KEPMENDAGRI DAN OTONOMI DAERAH Tentang : penanggulangan pekerja anak NO 5 TAHUN 2001 KEPMENDAGRI DAN OTONOMI DAERAH Pelimpahan pengawasan fungsional penyelenggaraan pemerintahan NO 17 TAHUN 2001 daerah kepada gubernur KEPMENDAGRI NO 41 TAHUN 2001 Pengawasan represif kebijakan daerah KEPMENDAGRI DAN OTONOMI DAERAH Bentuk produk-produk hukum daerah NO 22 TAHUN 2001 tanggal 18 Juli 2001 KEPMENDAGRI DAN OTONOMI DAERAH Prosedur penyusunan produk hukum daerah NO 23 TAHUN 2001 TANGGAL 18 JULI 2001 KEPMENDAGRI NO 1 TAHUN 2002 KEPMENDAGRI NO 5 TAHUN 2002 KEPMENDAGRI NO 27 TAHUN 2002 Pedoman susunan organisasi dan tata kerja rumah sakit daerah Data wilayah administrasi pemerintahan Pedoman alokasi biaya pemungutan pajak daerah KEPMENDAGRI NO 29 TAHUN 2002 12 13 14 KEPMENDAGRI NO 35 TAHUN 2002 KEPMENDAGRI NO 36 TAHUN 2002 KEPMENDAGRI NO 47 TAHUN 2002 Pedoman pengurusan. pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah Pedoman alokasi biaya pemungutan pajak daerah Alokasi biaya pemungutan pajak daerah bagian tim pembina pusat Pedoman administrasi desa Teknik penyusunan peraturan desa dan keputusan kepala desa 15 KEPMENDAGRI NO 48 TAHUN 2002 .

PAN/4/2003 .05-110 TAHUN 2005 Pelaksanaan program beras untuk keluarga miskin Pembentukan desk pusat pemilihan kepala daerah dan wakil kepala .NOMOR : PKK 12/07/2.NOMOR 17 TAHUN tentang pedoman organisasi perangkat daerah dan peraturan pemerintah 2003 NOMOR 9 tahun 2003 tentang wewenang pengangkatan.16 17 18 19 20 KEPMENDAGRI NOMOR 5 TAHUN 2003 KEPMENDAGRI NO 12 TAHUN 2003 KEPMENDAGRI NO 14 TAHUN 2003 Izin tertulis bagi pegawai negeri sipil di lingkungan departemen dalam negeri yang mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah Pedoman penilaian barang daerah 21 22 22 Penghitungan dasar pengenaan pajak kendaraan di atas air dan bea balik nama kendaraan di atas air tahun 2003 KEPMENDAGRI NO 15 TAHUN 2003 Penghitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor tahun 2003 PAN DAN KEPMENDAGRI NOMOR: Petunjuk pelaksanaan peraturan pemerintah NOMOR 8 tahun 2003 01/SKB/M. dan pemberhentian pegawai negeri sipil KEPMENDAGRI NO 16 TAHUN 2003 Tata cara konsultasi pengangkatan dan pemberhentian sekretaris daerah provinsi.003 KEPMENDAGRI NOMOR 120. sekretaris daerah kabupaten/kota serta pejabat struktural eselon ii di lingkungan pemerintah kabupaten/kota KEPMENDAGRI DAN BULOG NOMOR 25 TAHUN 2003 . pemindahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->