P. 1
PERKEMBANGAN AFEKTIF REMAJA

PERKEMBANGAN AFEKTIF REMAJA

|Views: 3,192|Likes:
Published by AsSatrah

More info:

Published by: AsSatrah on Jan 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2013

pdf

text

original

Perkembangan Peserta Didik GROUP TASK

³Perkembangan Afektif Remaja´

Dosen Mata Kuliah: Dra. Kustiah Sunarti, M.Pd

PERKEMBANGAN AFEKTIF REMAJA

CREATED BY: ICP OF PHYSICS¶09

MURNIATI AHMAD MASKUR KHAIRAT NURUL AMALIAH IRMA PUTRIA HIKMAH UMMI QALSUM

MATHEMATIC AND SCIENCE FACULTY MAKASSAR STATE UNIVERSITY 2010

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

0

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

KATA PENGANTAR

Assalamu¶alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillahi rabbil µalamin, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata¶ala karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyusun sebuah makalah hasil kerja kelompok kami yang membahas tentang ³Perkembangan Afektif Remaja´. Salam dan Taslim kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu µalaihi Wasallam, keluarganya, Para Shahabat, Tabi¶in dan Para Tabiut Tab¶in serta orang-orang yang senantiasa istiqamah di jalan-Nya hingga yaumul qiyamah, Amiin. Makalah yang kami buat ini merupakan kelengkapan dari materi Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik yang harus kami selesaikan guna melengkapi proses perkuliahan di Universitas Negeri Makassar. Pada kesempatan ini kami

mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ibu Dra. Kustiah Sunarti,M.Pd selaku dosen yang membimbing kami dalam proses perkuliahan dan telah meluangkan waktunya untuk memberikan petunjuk kepada kami. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya, insyaaAllah. Akhirnya, kami atas nama penyusun makalah ini mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu kami, Semoga bermanfaat. Fastabiqul Khaerat Wassalamu¶alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. Makassar, 24 Februari 2010

TIM PENYUSUN KELOMPOK IV

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

1

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Benjamin S. Bloom pada tahun 1956, menyimpulkan tentang tujuan pendidikan yang dibagi dalam tiga domain, yakni: 1.) Cognitive Domain (Ranah Kognitif) Berkaitan dengan perilaku-perilaku yang menekankan intelektual seperti pengetahuan, pengertian dan keterampilan berfikir. 2.) Affective Domain (Ranah Efektif) Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi seperti minat, sikap, apresiasi dan cara penyesuaian diri. Kelakuan seseorang yang baik atau buruk. 3.) Physichomotor Domain (Ranah Psikomotor) Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik, seperti tulisan tangan, mengetik, berenang dan mengoperasikan mesin. Sedangkan, menurut Tokoh Pendidikan yang sangat bersejarah di Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan Beliau sebut dengan Cipta, Rasa, dan Karsa atau biasa juga disebut penalaran, penghayatan, dan pengamatan. Jenis-jenis perubahan ada 4 yakni perubahan dalam ukuran, dalam perbandingan, dalam bentuk hilang dan perubahan dalam hal yang baru. Perubahan dalam hal yang baru mencakup bagaimana seorang manusia dalam pencarian jati diri. Dalam perubahan ini terjadi pada masa remaja seseorang. Dan tiga ranah atau domain dari tujuan pendidikan diatas jika dihubungkan dalam perkembangan seorang manusia apalagi pada masa remaja dalam mencari jati diri sangatlah penting untuk diketahui. Maka, dalam makalah ini insyaaAllah akan dibahas tentang perkembangan emosi dan perkembangan nilai, moral, dan sikap seorang remaja yang dirangkum dengan judul ³Perkembangan Afektif Remaja´

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

2

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERKEMBANGAN AFEKTIF REMAJA

A. Perkembangan Emosi Seberapa banyak dorongan-dorongan dan minat-minat terpenuhi merupakan dasar dari pengalaman emosional seseorang. Seseorang yang pola kehidupannya berlangsung mulus, dimana dorongan-dorongan dan keinginan-keinginannya terpenuhi dan yang minat-minatnya tercapai dengan berhasil cenderung emosinya stabil dan menikmati hidup. Tetapi jika dorongan dan keinginannya tidak terpenuhi baik karena kurangnya kemampuan untuk memenuhinya atau karena kondisi lingkungan yang kurang menunjang, pengalaman-pengalaman

emosionalnya kemungkinan mengalami gangguan. Banyak respon individu diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan objektif, namun ada saat di dalam kehidupan dorongan-dorongan emosional hampir sepenuhnya mempengaruhi pikiran dan tingkah laku. Karena itu untuk memahami remaja, bukan hanya perlu mengetahui apa yang ia kerjakan dan pikirkan, tetapi hal yang lebih penting adalah mengetahui apa yang mereka rasakan. Makin banyak usaha untuk memahami ddunia remaja seperti apa yang mereka alami, makin perlu dilihat ke dalam kehidupan emosionalnya dan memahami perasaanperasaan dirinya dan orang lain, kemarahan-kemarahan dan ketakutan-ketakutan mereka, kebanggaan dan rasa malu, kecintaan dan kebencian, harapan-harapan dan keputusasaan. Secara rinci, berbagai hal yang terkait dengan emosi diuraikan berikut ini: 1. Pengertian Emosi Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaanperasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang dominan menyertai perbuatan-perbuatan sehari-hari

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

3

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam hal warrna afektif yang kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah. Perasaan-perasaan seperti ini disebut emosi (Sarwono, 1982). Beberapa macam emosi antara lain: gembira, cinta, marah, takut, cemas dan benci. Perbedaan abtara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu suatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi sukar sekali mendefinisikan emosi. Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi itu dikatakan sebagai berikut. An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental and physiological stirred-up states in the individual, and that shows itself in his overt behavior. Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dalam diri tentang keadaan mental dan fisik individu yang diwujudkan dalam tingkah laku yang tampak. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan tubuh. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain: a. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona b. Peredaran darah: bertambah cepat bila marah c. Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut d. Pernapasan: bernapas panjang bila kecewa e. Pupil mata membesar bila marah f. Liur: mengering kalau takut atau tegang g. Buluroma: berdiri kalau takut h. Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

4

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

i. Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor) j. Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah dalam emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif. 2. Karakteristik Perkembangan Emosi Secara tradisional perkembangan remaja dianggap sebagai periode ³badai dan teanan´, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola prilaku baru dan harapan sosial baru. Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanakkanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah: cinta/kasih sayang, gembira, kemarahan, permusuhan, ketakutan dan kecemasan. a. Cinta/Kasih Sayang Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya dan mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta dari orang lain. Kemampuan untuk mmenerima cinta sama pentingnya dengann kemampuan untuk memberinya. Walaupun remaja bergerak ke dunia yang lebih luas, dalam dirinya masih ada sifat kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah, sama banyaknya dengan apa yang mereka alamipada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah maka sikap menentanh mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

5

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

waktu pertama kali ia mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Nampaknya tidak ada manusia, juga remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal dan mempunyai sikap permusuhan mungkin pada dasrnya dilandasi oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. b. Gembira Kebanyakan individu dapat mengingat kembali pengalaman-

pengalaman yang menyenangkan yang mereka alami selama remaja, dan jika kita menghitung kesenangan-kesenangan ini kita agaknya

mempunyai cerita yang panjang dan lengkap tentang apa yang terjadi dalam perkembangan remaja. Perasaan gembira dari remaja tidak banyak diteliti. Perasaan gembiira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti daripada perasaan marah dan takut serta tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. Bila segala sesuatunya berlangsung dengan baik para remaja akan mengalami kegembiraan, demikian juga bila diterima sebagai seorang sahabat, bila ia jatuh cinta, dan cintanya diterima. c. Kemaran dan Permusuhan Sejak kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasannya sebagai seorang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan perasaan yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam

perkembangan kepribadian. Pertama diantara emosi-emosi adalah cinta, dimana kita ketahui bahwa dicintai dan mencintai adalah emosi bagi perkembangan pribadi yang sehat. Rasa marah demikian juga penting

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

6

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

dalam kehidupan, karena melalui rasa marahnya sesorang mempertajam terhadap tuntutannya dan memiliki minat-minatnya senndiri. Mendekati saat mencapai remaja, dia telah melalui banyak fase dalam perkembangan antara lain kaitnnya dengan hal yang membuat dia marah dan cara menyatakan rasa marah itu. Kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa perubahan seehubungan dengan umurnya dalam kondisikondisi tertentu yang menimbulkan rasa marah. Banyaknya hambatan yang menyebabkan anak kehilangan kendali terhadap rasa marahnya, mempunyai sedikit pengarh pada remaja, tetapi rasa marahnya terus berlanjut pemunculannya apabila minat-minatnya, rencana-rencananya, tindakan-tindakannya dirintangi. Dalam upaya memahami remaja, ada empat faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah: 1.) Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk berusaha memiliki dirinya dan menjadi dirinya sendiri. Meskipun marah seringkali tampak tolol dan tidak terkendali, namun rasa marah akan terus berlanjut sepanjang ada kehidupan, dan sangat berfungsi sebagai usaha individu untuk menjadi seorang pribadi sesuai dengan haknya. Selama masa remaja fungsi marah terutama untuk melindungi haknya untuk menjadi bebas/independen, dan menjamin hubungan antara dirinya dan mereka yang berkuasa. 2.) Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mencapai rasa remaja dia tidak hanya merupakan subyek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga mempunyai sikap-sikap diman ada sisa kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarahan masa lalu. Sikap-sikap permusuhan mungkin berrbentuk dendam, kesedihan, prasangka, atau

kecenderungan untuk merasa tersiksa. Sikap-sikap permusuhan dapat

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

7

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

juga tampak dalam suatu kecenderungan untuk menjadi curiga dan defence/keengganan atau menanggap bahwa orang lain tidak bersahabat dan mempunyai motif yang jelek. Sikap-sikap permusuhan mungkin tampak dalam cara-cara yang bersifat pura-pura; remaja bukannya menampakkan kemarahan yang sangat besar. Misalnya dalam kampanye politik, seorang remaja mungkin menyanyikan kebanggaan dari seorang calon, padahal sebenarnya ia bersifat bermusuhan terhadap calon tersebut yang ditekan. 3.) Seringkali perasaan marah begitu disembunyikan dan seringkali tampak dalm bentuk yang tersamar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat dari kemarahan. Contohnya: Jika seorang anak laki-laki yang mempunyai latar belakang kecemburuan dan sikapsikap permusuhan yang tidak terselesaikan terhadap saudara perempuannya dan terhadap gadis-gadis pada umumnya, cenderung mempunyai kebiasaann untuk ³menakuikkan´ gadis-gadis agar jatuh hati padanya lalu mencampakkannya. 4.) Kemarahan mungkin berbalik kepada dirinya senndiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami. d. Ketakutan dan Kecemasan Menjelang anak mencapai masa remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan yang panjang yang mempengaruhi pasang surut dari rasa ketakutan. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masi tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri. Semua remaja sedikit banyak takut terhadap waktu. Beberapa diantara mereka merasa takut hanya pada kejadian-kejadian bila mereka

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

8

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

dalam bahaya. Beberapa orang mengalami rasa takut secara berulangulang dengan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, atau karena mimpimimpi, atau karena pikiran-pikiran mereka sendiri. Beberapa mengalami rasa takut sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Remaja seperti halnya kanak-kanak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang timbul dari persoalan-persoalan kehidupan. Tidak seorangpun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seseorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu. Usia remaja secara garis besar dapat dipilah menjadi dua tahap yang ditandai dengan ciri-ciri emosional masing-masing, yaitu: Usia 12-15 tahun 1.) Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka, sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan juga karena kebingungannya sendiri tentang apakah ia masih kanak-kanakatau seorang dewasa. 2.) Siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri. 3.) Ledakan-ledakan kemarahan mungkin biasa terjadi. Hal ini seringkali terjadi sebagai akibat dari kombinasi ketegangan psikologi, ketidakseimbangan biologis, kelelahan dan hal yang terakhir terjadi karena bekerja terlalu keras, pola makan yang tidak tepat dan/atau tidur yang tidak cukup. 4.) Seorang remaja cenderung tidak toleran dan membenarkan pendapatnya sendiri, mungkin karena kurangnya rasa percaya diri.

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

9

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

Mereka mempunyai pendapat bahwa ada jawaban-jawaban absolut dan bahw amereka mengetahuinya. 5.) Siswa SMP mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara lebih objektif dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu (mahatahu). Usia 15-18 tahun 1.) ³Pemberontakan´ remaja menupakan ekspresi dari perubahan universal dari masa kanak-kanak ke dewasa. 2.) Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja ada dalam keadaan konflik dengan orang tua mereka. Mereka mungkin mengharapkan simpati dan nasehat kita. 3.) Siswa pada usia ini seringkali melamun, terutama tentang masa depan mereka. Banyak diantara mereka terlalu tinggi menafsir kemampuan mereka dan kesempatan mereka untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu. 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan adanya kematangan dan sistem indokrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk

memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan suatu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan menimbulkan emosi pada satu objek. Demikian pula kemampuan mengingat mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian anak-anak menjadi reaktif terhadap

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

10

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan prilaku yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak usia lima tahun, pembesarannya melambat pada usia lima sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak usia 16 tahun, dan pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti anak saat lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan samapi saat kelenjar itu membesar. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi adalah: 1.) Belajar dengan coba-coba (learning by trial and error). Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk prilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak prilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pad masa kanakkanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali. 2.) Belajar dengan cara meniru (learning by imitation). Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap teguran guru. Jika ia seorang anak yang populer di kalangan teman sebayanya mereka juga akan ikut marah kepada guru tersebut. 3.) Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification). Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah memngkitkan

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

11

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

emosi orang yang ditiru. Disini anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. 4.) Belajar melalui pengkondisian. Dengan merode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing rekasi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman dalam menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal ketidakrasionalan reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka. 5.) Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara beeaksi yang dapat siterima jikasesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi tidak menyenangkan. Anak memperluas ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika beranjak dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Peralihan pernyataan emosi yang bersifat umum ke emosinya sendiri yang bersifat individual ini dan memperhalus perasaan merupakan bukti/petunjuk adanya pengaruh yang bertahap dan latihan dan kontrol terhadap prilaku emosional. Mendekati berakhirnya usia remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya ia juga telah belajar dalam menyembunyikan perasaan-perasaannya. Hal ini berarti jika ingin memahami remaja, kita tidak hanya mengamati emosi-emosi yang secara terbuka ia tampakkan tetapi berusaha mengerti emosi yang disembunyikan.

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

12

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

Jadi emosi yang ditunjukkan mungkin merupakan selubung/tutup bagi yang disembunyikan, seperti contohnya seorang yang merasa ketakutan, tetapi menunjukkankeemarahan dan seorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa sepertinya ia merasa senang. Remaja diberitahu secara berulang-ulang sejak kanak-kanak untuk tidak menunjukkan perasaan-perasaannya. Sebagai seorang anaka ia tidak boleh menangis, sehingga waktu ia remaja, terutama remaja laki-laki, jarang menangs walaupun kondisinya sedemikian rupa yang sebenarnya ia ingin menangis andaikata ada keberanian untuk menunjukkan perasaanperasaannya. Sejak ia masih kanak-kanak para remaja sudah mengetahui apa yang ditakutkan tetapi mereka juga diberitahu/diajar untuk tidak penakut, untuk tidak menunjukkan ketakutan-ketakutan mereka sehingga seringkali mereka takut tetapi tidak berani menunjukkan perasaan tersebut secara terangterangan. Adalah merupakan hal yang bertentangan bahwa dalam masa remaja, seperti halnya dalam kehidupan orang dewasa, seringkali membutuhkan dorongan yang kuat untuk menunjukkan rasa takut daripada menyembunyikannya. Sejak masa kanak-kanak semua remaja telah mengetahui rasa marah, karena tidak ada seorangpun yang hidup tanpa pernah marah. Tetapi mereka juga tahu bahwa adalah berbahasa untuk menunjukkan kemarahan secara terbuka, dan banyak remaja diajarkan sebagai anak tidak hanya sekedar menyembunyikan kemarahan mereka tetapi takut terhadap rasa marah dan merasa bersalah apabila marah. Demikian juga, kebanyakan remaja telah mengalami bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, tetapi banyak diantara mereka telah mengetahui bagaimana menyembunyikan perasaan-perasaan ini. Kondisikondisi kehidupanlah (atau kultur) yang menyebabkan ia merasa perlu menyembunyikan perasan-perasaannya sedemikian rupa sehingga ia tidak

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

13

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

hanya menyembunyikan perasaan-perasaannya terhadap orang lain, tetapi pada derajat tertentu bahkan ia kehilangan/tidak merasakannya lagi. Hal ini terjadi misalnya, bila ia meragukan apakah ia benar-benar merasa marah atau cinta atu takut. Kenyataan bahwa para remaja kadang-kadang tidak mengetahui perasaan mereka atau tidak mampu menghayati perasaan mereka, misalnya tampak dalam ucapan sambil menunjukkan

kebingungannya: ³Saya tidak tahu apa yang sebenarnyasaya rasakan´, ³Saya tidak tahu apakah saya mencintai dia´, ³Saya seharusnya marah, tetapi saya tidak tahu bagaimana perasaan saya sebenarnya tentang hal itu´. Banyak kondisi-kondisi sehubungan dengan pertumbuhan anak sendiri dan hubungannya dengan orang lain yang membawa perubahanperubahan dalam menyatakn emosi-emosi ketika ia remaja. Orang tua dan guru-guru hendaknya menyadari bahwa perubahan dalam ekspresi yang tampak ini tidak berarti bahwa emosi tampak lagi berperan dalam kehidupan anak muda. Ia tetap membutuhkan

perangsangperangsang yang memadai untuk pengalaman-pengalaman emosional. Karena anak bertumbuh dalam keadaan fisik dan pemahaman, responnya berbeda terhadap apa yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman atau merintangi cita-citanya. Ia pada akhirnya hendaknya mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkah lakunya dengan apa yang sedang terjadi padanya. Dengan bertambahnya umur, menyebabkan adanya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dan pengguanaan media massa atau keseluruhan latar belakang pengalaman berpengaruh terhadap perubahan-perubahan ini. 4. Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku Pengaruh emosi atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah/tekanan darah, sistem pencernakan/getah lambung dipengaruhi

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

14

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

oleh gangguan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak enak atau tertekan menghambat/mengganggu pencernaan. Di antara perangsang yang meningkatkan kegiatan kelenjar sekresi dari getah lambung adalah ketakutan-ketakutan yang kronis, kegembiraan yang berlebihan, kecemasan-kecemasan dan kekuatiran-kekuatiran. Semua ini menyebabkan menurunnya kegiatan sistem pencernaan dan kadang-kadang menyebabkan sembelit. Satu-satunya penyembuhan yang efektif adalah menghilangkan penyebab dari ketegangan emosi. Peradangan di dalam perut/lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan yang terkenal yang berhubungan dengan gangguan emosi. Radang tidak dapat disembuhkan demikian juga diare atau sembelit apabila factor-faktor yang menyebabkan munculnya emosi tidak dihilangkan. Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan, oleh karena itu kegembiraan yang berlebihan, ketakutan atau kecemasan hendaknya dihindari. Seseorang yang tidak mudah terganggu cenderung mempunyai pencernaan yang baik. Gangguan emosi juga dapat sebagai penyebab dari kesulitan berbicara. Hambatan-hambatan dalam berbicara tertentu telah dikemukakan bahwa tidak disebabkan oleh kelainan dalam organ bicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Seorang gagap seringkali relative normal dalam berbicara, apabila mereka dalam keadaan relaks atau senang. Bila dia dihadapkan kepada situasi-situasi yang menyebabkan kebingungan, ia akan menunjukkan ketidaknormalan dalam bicaranya. Banyak situasi-situasi yang timbul di sekolah atau dalam situasi kelompok lain yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak tenang. Kesulitan berbicara dapat tampak sebagai akibat dari tingkah laku emosional. Sikap-sikap takut, malu-malu atau agresif dapat merupakan akibat dari ketegangan emosi atau frustasi dan dapat muncul dengan hadirnya individu tertentu atau situasi-situasi tertentu. Justru karena reaksi kita berbeda-

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

15

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

berbeda terhadap setiap orang yang kita jumpai, maka jika kita merespon dengan cara yang sangat khusus terhadap hadirnya individu-individu tertentu akan terangsang timbulnya emosi tertentu. Seorang siswa tidak menyenangi gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa disebabkan karena sesuatu yang terjadi pada anak dalam situasi kelas. Jika ia merasa malu karena gagal dalam menghafal bahan pelajaran di muka kelas, pada kesempatan lain ia mungkin takut untuk berpartisipasi dalam kegiatan menghafal. Sebagai akibatnya ia mungkin memutuskan untuk membolos, atau ia mungkin melakukan kegiatan yang lebih jelek lagi yaitu melarikan diri dari semuanya itu, dari orang tuanya, dari guru-gurunya, atau dari otoritas-otoritas lain. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar. Faktor-faktor afektif dalam pengalaman individu mempengaruhi jumlah dan luasnya apa yang dipelajari. Seorang anak di sekolah akan belajar lebih efektif bila ia termotivasi, karena ia perlu mengembangkan untuk belajar. Sekali hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan menambah usahanya untuk menguasai yang dipelajari. Apabila ada kesenangan karena keberhasilan dalam mencapai prestasi, hal ini mengurangi pengaruh kelelahan. Motivasi untuk belajar membantu individu untuk memusatkan pada apa yang ia sedang kerjakan dan dengan cara itu ia akan memperoleh kepuasan. Karena semua pelajar reaksinya tidak sama, rangsangan untuk belajar harus berbeda-beda bagi anak-anak. Dengan demikian rangsangan-rangsangan yang menghasilkan perasaan yang tidak menyenangkan, emosi yang kuat, atau kejutan tertentu akan sangat mempengaruhi hasil belajar. Dengan demikian rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan

mempermudah siswa belajar. 5. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Emosi Meskipun pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat perbedaan dalam segi frekuensi, intensitas serta jangka waktu dari berbagai

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

16

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

macam emosi, dan juga usia pemunculannya. Perbedaan ini sudah mulai terlihat sebelum masa bayi berakhir dan semakin sering terjadi dan lebih mencolok dengan meningkatnya usia anak-anak. Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Selain itu karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi cenderung bertahan lebih lama dari pada jika emosi itu diekspresikan secara lebih kuat. Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan. Anak dibandingkan dengan anak yang sehat yang cenderung kurang emosional sehat. Sedangkan ditinjau

kurang

kedudukannya sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak-anak kurang pandai. Mereka juga cenderung lebih mampu mengendalikan ekspresi emosi. Ditinjau kedudukannya sebagai anggota kelompok keluarga, anak lakilaki sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka, misalnya marah, dibandingkan dengan emosi yang dianggap lebih sesuai bagi perempuan, misalnya takut cemas dan kasih saying. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat dikalangan keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat dikalangan keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan marah juga lebih umum dan lebih kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama. Cara mendidik yang otoriter mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut sedangkan cara mendidik yang permissive atau demokratis mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih saying. Anak-

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

17

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

anak dari keluarga yang berstatus social ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas dibandingkan dengan mereka yang berasal dari keluarga berstatus social ekonomi tinggi. 6. Upaya Pengembangan Emosi Remaja dan Implikasinya dalam

Penyelenggaraan Pendidikan Dalam kaitannya dengan emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh tanggung jawab. Guru-guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam tugas-tugas sekolah sehingga mereka menjadi anak yang lebih tenang dan lebih mudah ditangani. Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri. Apabila ada ledakan-ledakan kemarahan sebaiknya kita memperkecil ledakan emosi tersebut sekecil-kecilnya, misalnya dengan jalan

kebijaksanaan/kelembutan, mengubah pikok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Jika kemarahan siswa juga tidak reda, guru dapat minta bantuan kepada petugas bimbingan penyuluhan. Dalam diskusi kelas, tekankan pentingnya memperhatikan pandangan orang lain dalam mengembangkan pandangan sendiri. Kita hendaknya waspada terhadap siswa yang sangat ambisius, berpendirian keras yang mengintimidasi kelasnya sehingga tidak ada seseorang yang berani tidak sependapat dengannya. Reaksi yang sering kli terjadi pada diri remaja terhadap temuan-temuan mereka bahwa kesalahan orang dewasa merupakan tantangan terhadap otoritas orang dewasa. Guru-guru di SMA terperangkap oleh kemampuan siswa yang baru dalam menentukan dan mengangkat kepermukaan tentang kelemahankelemahan orang dewasa. Bertambahnya kebebasan dari remaja seperti menambah ³bahan bakar terhadap api´, bila banyak dari keinginan-

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

18

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

keinginannya langsung dihambat oleh guru-guru dan oran tua. Satu cara untuk mengatasinya adalah meminta siswa mendiskusikan atau menulis tentang perasaan-perasaan mereka yang negative. Meskipun penting bagi guru untuk memahami alasan-alasan pemberontakannya, adalah sama pentingnya bagi remaja untuk belajar mengontrol dirinya, karena hidup di masyarakat adalah juga menghargai keterbatasan-keterbatasan, kebebasan individual. Untuk menunjukkan kematangan mereka, para remaja pertama laki-laki seringkali merasa terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Sebagai seorang guru di SMA, seseorang ada dalam posisi otoritas, dank arena itu mungkin gurulah yang merupakan target dari pemberontakan dan rasa permusuhan mereka. Tampaknya cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah pertama, mencoba untuk mengerti mereka dan kedua, melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu siswa berhasil/mempunyai prestasi dalam bidang yang diajarkan. Satu cara untuk membuktikan kedewasaan seseorang ialah terampil dalam melakukan sesuatu. Jika guru menyadari sebagai seorang yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan dalam kelas dapat agak dikurangi. Remaja ada dalam keadaan yang membingungkan dan serba sulit. Dalam banyak hal ia tergantung pada orang tua dalam keperluankeperluan fisik dan merasa mempunyai kewajiban kepada pengasuhan yang mereka berikan dari saat dia tidak mampu memelihara dirinya sendiri. Namun ia harus lepas dari orang tuanya agar ia menjadi orang dewasa yang mandiri, sehingga adanya konflik dengan orang tua tidak dapat dihindari. Apabila terjadi friksi semacam ini, para remaja mungkin merasa bersalah, yang selanjutnya memperluas/memperbesar jurang antara dia dengan orang tuanya. Seorang siswa yang merasa bingung terhadap rantai peristiwa tersebut mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk mungkin

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

19

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

rahasia-rahasia pribadinya, kepada orang lain. Karena itu seorang guru diminta untuk bersikap seperti pendengar yang simpatik. Siswa sekolah menengah atas banyak memikirkan hal-hal yang lain dari pada tugas-tugas sekolah. Misalnya seks, konflik dengan orang tua dan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya setelah ia tamat sekolah, semua ini mengisi pikiran-pikirannya. Salah satu persoalan yang paling membingungkan yang dihadapi oleh guru ialah bagaimana menghadapi siswa yang hanya mempunyai kecakapan terbatas tetapi yang selalu ³memimpikan kejayaan´. Seorang guru tidak ingin membuat mereka putus asa, tetapi jika ia mendorong siswa tersebut untuk berusaha apa yang tidak mungkin dilakukan, walaupun mungkin pernah mencoba namun gagal, dapat terjadi kegagalan ini malah menambah kesengsaraan dalam hidupnya. Barangkali penyelesaian yang paling baik adalah mendorong anak itu untuk berusaha namun tetap mengingatkan dia untuk menghadapi kenyataan-kenyataan. Menyarankan tujuan-tujuan pengganti mungkin merupakan cara untuk membuat ambisiambisinya lebih realistic dan mudah mengatasinya apabila ada kegagalan. Kebanyakan para siswa di sekolah menengah atas menginginkan menjadi pegawai negeri/pegawai kantor meskipun kenyataannya hanya sebagian kecil saja yang mencapai tujuan tersebut. Apabila ia menganggap remeh pekerjaan sebagai buruh, ini berarti bahwa anak-anak muda yang memasuki dunia kerja tersebut mungkin tidak mempunyai kebanggaan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita para guru hendaknya dapat memberikan keyakinan kepada sisiwa bahwa semua pekerjaan adalah bermanfaat apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, hati-hati serta terampil. Jadi terdapat berbagai cara untuk mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan pola emosi yang diinginkan, dan menghilangkan reaksireaksi emosional yang tidak diinginkan sebelum berkembang menjadi

kebiasaan yang tertanam kuat.

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

20

Perkembangan Peserta Didik B. Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap

³Perkembangan Afektif Remaja´

Dapatkah nilai-nilai hidup dipelajari? Kalau dapat dipelajari sebagai satu ilmu sebagai pengetahuan, apakah pengetahuan tentang nilai-nilai hidup itu dapat seketika membuat orang mau dan mampu bertingkah laku sesuai dengan apa yang diketahuinya? Antara pengetahuan dan tindakan ternyata tidak selalu terjadi korelasi positif yang tinggi (Surakhmad, 1980). Proses pertumbuhan dan kelanjutan pengetahuan menuju bentuk sikap dan tingkah laku aalah proses kejiwaan yang musykil. Seorang individu yang pada waktu tertentu melakukan perbuatan tercela ternyata melakukannya tidak selalu karena ia tidak mengetahui bahwa perbuatan itu tercela, atau tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat. Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang tampak saja. Didalamnya tercakup juga sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi, kecuali secara tidak langsung, misalnya melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat menggambarkan sikap mental tersebut; bahkan secara tidak langsung pun ada kalanya cukup sulit untuk menari kesimpulan yang teliti. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan pengertian dan saling keterkaitan antara nilai, moral dan sikap serta pengaruhnya terhadap tingkah laku. 1. Pengertian dan Keterkaitan antara Nilai, Moral, dan Sikap serta Pengaruhnya terhadap Tingkah Laku Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun (Sutikna, 1988). Sopan santun, adat dan kebiasaan serta nilai-nilai kehidupan yang lain, lahir tumbuh dan berkembang dalam hubungan antar manusia. Nilai-nilai lain misalnya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila adalah nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam kedudukannya sebagai warga Negara Indonesia dalam hubungan hidupnya dengan negara serta dengan sesama warga negara. Apakah ia seorang petani atau ahli ruang angkasa,

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

21

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

apakah ia pria atau wanita, apakah ia pemimpin dalam pemerintahan ataukah ia warga negara biasa, apakah ia beragama Islam atau beragama lainnya; sebagai warga Negara Indonesia ia harus berpedoman pada nilai-nilai tersebut, demikian halnya para remaja. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang termasuk dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab, antara lain: a. Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan persamaan kewajiban antar sesame manusia, b. Mengembangkan sikap tenggang rasa, c. Tidak semena-mena terhadap orang lain, berani membela kebenaran dan keadilan, dan sebagainya. Bagaimana kaitannya antara nilai-nilai dan moral? Moral adalah ajaran tenggang baik buruk, perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya (Purwadarminto, 1957). Dalam moral di atur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Dalam kaitannya dengan pengalaman nilai-nilai hidup, maka moral merupakan control dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilainilai hidup yang dimaksud. Misalnya dalam pengalaman nilai hidup: tenggang rasa, dalam perilakunya seseorang akan selalu memperhatikan perasaan orang lain, tidak ³semau gue´. Dia dapat membedakan tindakan yang benar dan yang salah. Nilai-nilai kehidupan sebagai norma dalam masyarakat senantiasa menyangkut persoalan antara baik dan buruk, jadi berkaitan dengan moral. Dalam hal ini aliran Psikoanalisa tidak membeda-bedakan antara moral, norma, dan nilai (Sarwono, 1991). Semua konsep itu menurut Freud menyatu dalam konsepnya tentang super ego sendiri dalam teori Freud merupakan

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

22

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

bagian dari jiwa yang berfungsi untuk mengendalikan tingkah laku ego sehingga tidak bertentangan dengan masyarakat. Sedangkan menurut Gerungan (Mappiare, 1982) sikap secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap hal. Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seorang. Dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi dan akan diperbuat jika telah diketahui sikapnya. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi berupa kecenderungan (predisposisi) tingkah laku. Jadi sikap merupakan kesiapan untuk beraksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut. Dengan demikian keterkaitan antara nilai, moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengalaman nilai-nilai. Dengan kata lain nilai-nilai perlu dikenal terlebih dulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud. 2. Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Remaja Nilai-nilai kehidupan yang perlu diinformasikan dan selanjutnya dihayati oleh para remaja tidak terbatas pada adat kebiasaan dan sopan santun saja, namun juga seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila; misalnya nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan, nilai-nilai estetik, nilai-nilai etik, dan nilai-nilai intelektual, dalam bentuk-bentuk sesuai dengan perkembangan remaja. Sejauh mana remaja mengamalkan nilai-nilai yang telah

menginformasikan atau dicontohkan kepada mereka? Untuk keperluan ini perlu ditinjau perkembangan moral remaja. Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian bersedia membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan

social/masyarakat tanpa terus sibimbing, diawasi, didorong dan diancam

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

23

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Michel meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja (Hurlock, 1980) sebagai berikut: a. Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak. b. Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan. c. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong remaja lebih berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya. d. Penilaian moral menjadi kurang egosentris. e. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi. Menurut Furter (Monks, 1984), kehidupan moral merupakan problematic yang pokok dalam masa remaja. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan, untuk dapat memahami mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki tempat yang sangat penting. Kohlberg dalam penyelidikannya mengemukakan enam tahap (stadium) perkembangan moral yang berlaku secara universal dan dalam urutan tertentu. Ada tiga tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu tingkat pertama, prakonvensional; tingkat kedua, konvensional; dan tingkat ketiga, poscakonvensional. Masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga keseluruhan ada enam tahapan (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan urutan yang tetap. Tidak setiap orang mencapai tahap terakhir perkembangan moral.

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

24

Perkembangan Peserta Didik Tingkat I: Prakonvensional

³Perkembangan Afektif Remaja´

Pada stadium pertama, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman. Anak menganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Ia harus menurut atau kalau tidak, akan memperoleh hukuman. Pada stadium kedua, berlaku prinsip relatisvik-hedonism. Pada tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi. Jadi ada kesanggupan seseorang (hedonistik). Misalnya mencuri ayam karena kelaparan. Karena perbuatan ³mencuri´ untuk memenuhi kebutuhannya (lapar), maka mencuri dianggap sebagai perbuatan mencuri itu sendiri diketahui sebagai perbuatan yang salah karena ada akibatnya, yaitu hukuman. Tingkat II: Konvensional Stadium tiga, menyangkut orientasi mengenai anak yang baik. Pada stadium ini, anak mulai memasuki umur belasan tahun, di mana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau buruk oleh orang lain. Masyarakat adalah sumber yang menentukan, apakah perbuatan seseorang baik atau tidak. Menjadi ³anak yang manis´ masih sangat penting dalam stadium ini. Stadium empat, yaitu tahap menpertahankan norma-norma social dan otoritas. Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma social. Jadi perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan. Tingkat III: Pascakonvensial Stadium lima, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada stadium ini ada hubungan timbale balik antara dirinya dengan lingkungan social, dengan masyarakat. Seseorang harus

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

25

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

memperlihatkan kewajibannya, harus sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial karena sebaliknya lingkungan sosial atau masyarakat akan memberikan

perlindungan kepadanya. Stadium enam, disebut prinsip universal. Pada tahap ini ada norma etik disamping norma pribadi dan subjektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsure ± unssur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tiddak baik.Subjektivisme ini berarti ada perbedaan penilaian antara seseorang denngan orang lain.Dalam hal ini unsure etik akan menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya .Remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah

sendiri.Tingkat perkembangan moral pasca konvensional harus dicapai selama masa remaja. Menurut Furter ( Monk¶s 1984 ), menjadi remaaja berarti mengerti nilai ± nilai .Mengerti nilai ± nilai ini tidak berarti hanya memperoleh pengertian melainkan juga dapat menjalankannyaaa / mengamalkannka. Hal ini sselanjutnya berarti bahwa remaja sudah dapat menginttenalisasikan penilaian ± penilaian moral,

emnjadikannya sebagai nilai ± nilai pribadi .Untuk selanjutnya penginternalisasikan nilai ± nilai ini akan tercermin dalam sikap dam tingkah lakunya . 3. Faktor±Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai , Moral dan Sikap Sama seperti perkembangan lainnya , maka perkembangan nilai, moral dan sikap dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai ±nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg

menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisai atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal ± hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan . Tahap ± tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitaas spontan pada anak ± anak ( Gunarsa , 1990).

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

26

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

Moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg, perkembangannya dipengaruhi oleh peerkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaraan sesseorang menurut tahap-tahap perkembangan piaget makin tinggi pula tingkat moral seseorang . 4. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap Pengertian moral dan nilai pada anak-anak umur sepuluh tahun atau sebelas tahun berbeda dengan anak-anak yang lebih tua. Pada anak-anak terdapat anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak oleh karena itu diberikan oleh orang dewasa atau Tuhan yang tidak bisa diubah lagi ( Kohlberg .1963.) Menurut Kohlberg faktor kebudayaan mempengaruhi perkembangan moral, Terdapat berbagai rangsangan yang diterima oleh anak ± anak dan ini mempengaruhi tempo perkembangan moral. Bukan mengenai cepat atau lambatnya tahap-tahap perkembangan dicapai, melainkan juga mengenai batas tahap-tahap yang dapat dilihat pada latar belakang kebudayaan tertentu . 5. Upaya Mengembangkan Nilai, Moral, dan Sikap Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraseseoran Pendidikan Perwujudan nilai moral dan sikap tidak terjadi dengen sendirinya , Proses yang dilalui seseorang dalam pengembangan nili±nilai hidup tertentu adalah sebuah proses yang belum seluruhnya difahami oleh para ahli ( Surakhmad, 1980) Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan , maka kita didhapkan dengan masalah pembinaan , Adapun upaya± upaya yang dapat dilakukan dalam pengembangan nilai , moral dan sikap remaja adalah : a. Menciptakan komunikasi b. Menciptakan iklim lingkungan yang serasi

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

27

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Afektif adalah Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi seperti minat, sikap, apresiasi dan cara penyesuaian diri. Kelakuan seseorang yang baik atau buruk. 2. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahanperubahan tubuh. Jenis emosi yang secara normal dialami antara laliln: cinta, gembira, marah, takut, cemas dan sedih. 3. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi emosi antara lain kematangan dan kondisi-kondisi kehidupan atau kultur. 4. Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat atau prinsip-prinsip hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam hidupnya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara. Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik buruk suatu perbuatan dan kelakuan. Sikap adalah kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal. 5. Tingkat perkembangan pasca-konvensional harus dicapai oleh remaja. Menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai, yang tidak hanya memperoleh pengertian saja namun juga dapat menjalankannya. 6. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan nilai, moral dan sikap remaja adalah menciptakan komunikasi disamping member informasi dan remaja diberi kesempatan untuk berpartisipasi untuk aspek moral, serta menciptakan system lingkungan yang serasi/kondusif. B. Saran Menjadi seorang remaja dalam masa pencarian jati diri tetap harus memahami konsep ranah afektif yang akan mempengaruhi kehidupannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Sehingga harapannya akan kehidupan yang lebih baik dan menjadi seorang yang peka terhadap sosial dapat terwujud.

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

28

Perkembangan Peserta Didik

³Perkembangan Afektif Remaja´

DAFTAR PUSTAKA

Daruma, A.Rasak dkk. 2009. Perkembangan Peserta Didik. Makassar : FIP UNM http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom. diakses tanggal 10 Mei 2010 www.scribd.com. Diakses tanggal 10 Mei 2010

ICP Of Physics¶09, Kelompok IV, Murni, Maskur, Amaliah, Irma, Ummi

29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->