DRAFT MODUL

      

 

Koneksitas Proses Bisnis Perbendaharaan  pada Bendahara Umum Negara dengan  Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran

       

 

Direktorat Transformasi Perbendaharaan  Direktorat Jenderal Perbendaharaan  Departemen Keuangan Republik Indonesia  2009 
  Gambar animasi diambil dari open sources

Penyusun:

1. Dr. Sudarto, S.E., MBA 2. Adi Setiawan, S.E., SST AK., MPPM 3. Pramudia M. Muslim 4. Windasena Winarno 5. Khalid Haris Fauzi 6. Johan Pandu Asa

Subdit TPBE, DTP   

 ii 

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan draft modul koneksitas proses bisnis ini bisa diselesaikan sebagaimana yang direncanakan. Sesuai dengan judulnya, Draft Modul koneksitas proses bisnis perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran, draft modul ini merupakan kajian atas koneksitas proses bisnis dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara di Satuan Kerja (Satker) dan di Ditjen Perbendaharaan. Penulisan draft modul ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Transformasi Perbendaharaan, khususnya Sub Direktorat Tranformasi Proses Bisnis Eksternal terkait dengan (i) perumusan kebijakan dan strategi penyempurnaan, (ii) pengkajian dan penyempurnaan koneksitas proses bisnis, (iii) penyusunan rekomendasi penetapan landasan hukum, (iii) perumusan kebijakan strategi tahapan penerapan dan (iv) pengkajian kesesuaian koneksitas proses bisnis dengan Satuan Kerja. Di samping itu, penulisan modul ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan dan implementasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Struktur dan metode penulisan modul ini diarahkan untuk secara komprehensif memuat tinjauan atas international best practice, review atas landasan hukum dalam kerangka international best practice, assessment atas praktek pelaksanaan selama ini, rencana pengembangan dan implementasi SPAN dan analisis serta rekomendasi untuk alternatif penyempurnaan. Secara lebih spesifik, struktur penulisan yang digunakan adalah mengikuti alur yang dipakai dalam kerangka ITIL v.3 (Information Technologi Infrastructure Library Version 3) dan lebih difokuskan pada aspek pengeluaran dari perbendaharaan negara. Dalam hal ini, penulisan dimulai dari penetapan visi, misi dan objektif dari masingmasing pihak khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pencapaian outcome masing-masing instansi/satker. Berpijak pada visi, misi dan objektif masing-masing pihak, dilakukan identifikasi permasalahan atas existing koneksitas dan kondisi pengelolaan keuangan negara di Satker saat ini. Hal-hal tersebut akan menjadi landasan penetapan usulan bentuk/model koneksitas dan manajemen keuangan Satker, serta target-target pencapaian yang terukur.

Subdit TPBE, DTP   

 iii 

Selanjutnya, sejalan dengan kerangka ITIL v.3 yang mengedepankan konsep iteratif/pembetulan yang berulang dan partisipatif dari semua stakeholder, langkah selanjutnya setelah penyelesaian draft modul ini adalah akan dilakukan diskusi bersama dengan stakeholder terkait, yang secara paralel dibarengi dengan pembangunan sistem IT dan ujicoba langsung pada beberapa Satker, sehingga penentuan model/bentuk koneksitas dan manajemen keuangan Satker serta tatacara maupun target-target pencapaiannya sudah diketahui, disetujui bersama dan dipraktekkan secara langsung. Harapannya, pada akhirnya draft modul ini dapat menjadi suatu modul yang disetujui dan sudah implementatif pada semua satker yang mempunyai koneksitasnya dengan modul SPAN secara utuh. Sejalan dengan metode iteratif dan partisipatory yang dikedepankan dalam penyusunan draft modul ini, sejak awal sudah dicoba untuk digali pendapat dari seluruh stakeholder, termasuk dari direktorat teknis dan seluruh Kantor Wilayah di lingkungan DJPB. Untuk itu, penyusun mengucapkan terimakasih atas partisipasi dan dukungannya selama ini. Tentunya, ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kami ucapkan kepada Direktur Transformasi Perbendaharaan atas arahan-arahan dan dukungannya selama penulisan draf modul ini. Disadari sepenuhnya bahwa koneksitas proses bisnis perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran adalah suatu cakupan wilayah kajian dan pembangunan sistem yang sangat luas. Untuk itu, disamping akan dilakukan diskusi-diskusi intensif dengan berbagai stakeholder, penyusun sangat membuka diri atas saran, kritik dan rekomendasi yang membangun. Saran, kritik dan rekomendasi dapat disampaikan kepada Direktorat Transformasi Perbendaharaan c.q. Sub Direktorat Transformasi Bisnis Eksternal baik melalui surat, telpon atau berbagai mode penyampaian lainnya. Sekali, penyusun mengucapkan terimakasih atas dukungan dan partisipasinya selama ini. Salam Transformasi. A.n. Penyusun Kasubdit Transformasi Proses Bisnis Eksternal

Dr. Sudarto, SE, MBA
Subdit TPBE, DTP     iv 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Koneksitas Proses Bisnis Satker dalam Siklus APBN C. Metode Penulisan Bab II Visi, Misi dan Objektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan A. Latar Belakang B. Value: Manfaat Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya Dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan C. Operasional Capability: Kemampuan untuk Penerapan Usulan Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan D. Legitimacy: Landasan Hukum Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan E. Penutup Bab III Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN A. Definisi dan Konsepsi B. Existing Proses Bisnis Pengelolaan keuangan Negara di Satker dan Koneksinya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan 1. Penyusunan, Penelaahan , Pengesahan dan Revisi dokumen Pelaksanaan Anggaran 2. Pembuatan Komitmen 3. Pengajuan Pembayaran 4. Pencairan Dana 5. Manajemen Kas 6. Pertanggungjawaban C. Aplikasi-aplikasi yang terdapat di Satuan Kerja dan Keterkaitan Antar Aplikasi

iii v 1 1 4 15 18 18 20

24

30

34

34 35

35

43 45 56 63 69 78

 

Aplikasi SIMAK BMN 7. Dept. Aplikasi SAKPA 8. International Best Practice terkait Manajemen Komitmen 3. Fitur SPAN terkait Manajemen Komitmen 5. Konsepsi dan Metodologi B.1. Tujuan dan Fungsi 2. Dirjen Bina Marga. Keterkaitan antar Aplikasi yang terdapat pada Satuan Kerja D. Manajemen Komitmen 1. Fitur SPAN terkait Manajemen DIPA 5. Aplikasi RKAKL 2. International Best Practice terkait Manajemen Pembayaran 2. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA C. Aplikasi Persediaan 6. Definisi. Penutup Appendix I Financial Management Assesment. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Pembayaran 78 80 80 83 86 87 89 93 96 98 104 112 112 113 113 114 116 119 121 127 127 128 128 130 137 151 151 155 vi    . Tujuan dan Fungsi 2. PU Appendix II Pengelolaan Keuangan di Satker Badan Layanan Umum Bab IV Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN A. Aplikasi SPM 5. Manajemen DIPA 1. Manajemen Pembayaran 1. Aplikasi Peran 3. International Best Practice terkait Manajemen DIPA 3. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Komitmen D. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen DIPA 4. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Komitmen 4. Aplikasi Gaji Pegawai Pusat 4.

Fitur SPAN terkait Accounting dan Reporting 5. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Accounting dan Reporting F. Manajemen Kas 1. Peran Sumber Daya Manusia selaku agent of change E. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara atas Pelaksanaan Tugas Kebendaharaan di Satuan Kerja G.3. Fitur SPAN terkait Manajemen Pembayaran 4. International Best Practice Terkait Manajemen Kas 3. Kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan F. Penutup Bab V Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas A. Mitigasi terhadap inherent risk berkaitan dengan Business Process Improvement C. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Kas 4. Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dalam Kerangka Pengembangan SPAN B. Fitur SPAN terkait Manajemen Kas 5. Accounting dan Reporting 1. Current State Assesment dan Problems terkait Accounting dan Reporting 4. Tujuan dan Fungsi 2. International Best Practice Dalam Organisasi Sistem Akuntansi 3. Tujuan dan Fungsi 2. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Pembayaran E. Koordinasi dan sosialisasi yang tidak terbatas pada lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan 157 163 169 169 170 171 181 185 192 205 205 206 211 215 218 221 223 224 228 229 230 231 232 vii    . Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik D. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Kas H.

Penutup Bab VI Penutup Daftar Pustaka A. Peraturan B. Literatur Dokumentasi Usulan 233 234 235 239 239 240 244 viii    . Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN H.G.

Secara singkat. Satker disebut sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang teknis tertentu pemerintahan. serta pemberian perintah pembayaran atau penagihan penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan Subdit. kegiatan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada Satker sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut.Bab I Pendahuluan Bab ini menguraikan secara garis besar koneksitas pengelolaan perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satuan Kerja (Satker). Bab ini akan menjelaskan hal-hal tersebut di atas secara garis besar. serta monitoring dan evaluasinya (Are we there yet). bab ini menjelaskan bahwa analisa dan usaha-usaha untuk menyempurnakan koneksitas proses bisnis perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satker haruslah bertitik tolak dari visi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara) di Ditjen Perbendaharaan dan visi Satker dalam pengelolaan keuangannya. sedangkan pembahasan secara detail akan dilakukan pada bab-bab berikutnya. sementara Menteri Keuangan disebut sebagai Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah RI. TPBE. Satker diberikan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan keuangan negara dibandingkan dengan sebelumnya. yang selanjutnya menjadi dasar untuk menentukan bentuk/model dari proses bisnis dan koneksitas yang diharapkan (Where do we want to be). DTP 1  . Hal-hal tersebut dapat menjadi dasar dalam melakukan analisa existing koneksitas proses bisnis dan existing manajemen keuangan Satker (Where are we now). Salah satu yang diatur dalam paket undang-undang ini adalah mengenai pembagian peran yang jelas antara Kementerian/Lembaga sebagai Satuan Kerja (Satker) dan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN). Kewenangan administratif tersebut meliputi kegiatan pembuatan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. yang sekaligus juga melatarbelakangi dan memberikan tujuan penulisan dari modul ini. Sebagai COO. khususnya dalam hal kewenangan administratif. tahapan-tahapan pencapaian. Latar Belakang Momentum reformasi keuangan negara ditandai dengan lahirnya paket Undangundang Keuangan Negara. A. sehingga objektif dari masing-masing pihak dapat terdefinisikan dengan jelas (Visi & Objectives). strategi dan taktik untuk mencapai target-target model koneksitas tersebut (How to get there).

Menteri Keuangan sebagai CFO berfungsi sekaligus sebagai kasir. dimana konsep ini memberikan keleluasaan dalam batas-batas peraturan perundangan kepada Satker dalam pengelolaan keuangannya. owner dan/atau counterpart dari Ditjen Perbendaharaan dalam pengelolaan keuangan negara. pengawas dan regulator pengelolaan keuangan negara. Satker dapat dilihat sekaligus sebagai stakeholder. user. Di lain pihak. serta sebagai fund manager pemerintah. Oleh karena itu. pengembangan IT maupun peningkatan kemampuan managerial Satker dalam hal pengelolaan keuangan negara. pengelolaan keuangan negara di Satker harus berjalan seiring dengan pengelolaan keuangan negara di Ditjen Perbendaharaan. Hal ini dikarenakan Satker pada umumnya tidak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan proses bisnis.anggaran. Dalam hal ini. TPBE. Di sisi lain. DTP 2  . IT dan SDM serta tidak memiliki kewenangan untuk membuat regulasi di bidang pengelolaan keuangan negara. agar pelaksanaan pengelolaan keuangan negara di Satker dan di Ditjen Perbendaharaan dapat berjalan seperti yang diharapkan. Pengelolaan keuangan negara di Satker merupakan salah satu input bagi Ditjen Perbendaharaan dalam fungsinya sebagai Kuasa BUN baik itu dalam hal akuntabilitas maupun dalam hal fund management. Satker seringkali tidak punya pilihan selain adanya dukungan dari Departemen Keuangan. client. Sejalan dengan pembagian tugas antara CFO dan COO. Implikasinya. kemampuan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan Satker sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan fungsi treasury di Ditjen Perbendaharaan. Hal tersebut. memerlukan dukungan dari otoritas Treasury baik dalam hal penyempurnaan proses bisnis dan regulasi. maka konsep “let the manager manages” diselenggarakan. Satker dalam pengelolaan keuangannya mempunyai kedudukan yang unik dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pengelolaan perbendaharaan negara di Departemen Keuangan (Ditjen Perbendaharaan). khususnya Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. ketergantungan Satker kepada Departemen Keuangan khususnya dalam bidang pengembangan bisnis proses dan IT memberikan kesempatan kepada Ditjen Perbendaharaan untuk dapat berperan lebih aktif dalam mengembangkan proses bisnis dan IT pengelolaan keuangan Subdit. Dengan demikian. maka diperlukan penyempurnaan koneksitas proses bisnis dan IT sejalan baik di Ditjen Perbendaharaan maupun di Satker. customer.

maka disusunlah modul ini dengan tujuan untuk menjadi pedoman penyempurnaan proses bisnis pengelolaan dan pertangungjawaban keuangan negara (perbendaharaan) di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. Modul ini juga disusun bersamaan. maupun di eksternal dengan melibatkan Bappenas. dikoreksi. disetujui. Oleh karena itu. Ruang lingkup pengelolaan keuangan negara di Satker meliputi tahapan perencanaan hingga pertanggungjawaban anggaran. karena hal tersebut akan cenderung kurang efisien dan efektif apabila dilakukan oleh masing-masing Satker. pembahasan harus dilakukan secara menyeluruh. sehingga harus segera dimulai. baik di internal Ditjen Perbendaharaan. konsep-konsep dalam buku ini sudah diketahui. DTP 3  . Subdit. Kedepan juga perlu dikaji kemungkinan untuk membangun an integrated IT infrastructure untuk mendukung pengelolaan keuangan negara dengan menempatkan infrastruktur IT Departemen Keuangan sebagai back bone dari pengelolaan keuangan negara secara nasional. Ditjen Anggaran dan tentunya Satker bersangkutan. Dengan demikian.negara. Diharapkan penyusunan modul dapat dilakukan dengan melibatkan semua stakeholder terkait yang disertai dengan pilot project pada beberapa Satker. dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan negara di Satker berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan negara di Departemen Keuangan. Terkait dengan hal-hal tersebut. TPBE. dalam melakukan penilaian dan penyempurnaan terhadap koneksitas proses bisnis Ditjen Perbendaharaan dengan manajemen keuangan Satker. dan sudah mulai diterapkan oleh masing-masing stakeholder. Dari uraian di atas. sejalan dengan proses penyusunannya. guna memberikan suatu acuan yang komprehensif terhadap langkah-langkah penyempurnaan koneksitas. Dalam hal ini. Ketidaksempurnaan pengelolaan keuangan di satu pihak akan mempengaruhi keseluruhan pengelolaan keuangan negara secara nasional. khususnya di Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. dan dalam rangka mendukung penyempurnaan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) melalui Government Financial Management and Revenue Administration Project (GFMRAP). dibahas. dari tahap perencanaan hingga pertanggungjawaban anggaran dan melibatkan instansi terkait lainnya termasuk Bappenas dan Ditjen Anggaran. penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker pada prinsipnya diluar ruang lingkup GFMRAP.

Penyusunan APBN (Januari s. pelaporan dan pembuatan pertanggungjawaban. serta pengelolaan rekening dan transaksi keuangan 2. kegiatan manajemen kas. pembuatan DIPA. Penetapan APBN (Agustus s.B. Koneksitas Proses Bisnis Satker Dalam Siklus APBN Identifikasi atas koneksitas proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan di Ditjen Perbendaharaan dapat dilakukan dengan memperhatikan siklus dari pengelolaan APBN secara utuh. Proses bisnis. Subdit. pelaksanaan pencairan dana. Pertanggungjawaban APBN (Juli tahun n+1) Ruang lingkup identifikasi atas koneksitas tersebut setidaknya harus meliputi: 1. siklus APBN setidaknya terdiri dari beberapa fase. pembuatan komitmen dan kontrak. Desember tahun n) 4. pelaporan dan pertanggungjawaban 3.1 menunjukkan hasil identifikasi proses bisnis berupa pengorganisasian dan arus pekerjaan yang melibatkan Satker dan instansi terkait dalam pengelolaan keuangan negara. yaitu perencanaan anggaran. Oktober tahun n-1) 3. Teknologi informasi (TI) dan aplikasi Gambar I. DTP 4  . yang mencakup pengorganisasian. TPBE. yang secara garis besar meliputi: 1. Perubahan APBN (Nopember tahun n) 5. Sebagaimana diketahui.d. Pelaksanaan APBN (Januari s. Juli tahun n-1) 2. serta pengakuntansian.d. Sistem akuntansi.d. arus pekerjaan/ arus dokumen/ arus data. Hasil identifikasi tersebut dipetakan ke dalam tahapan kegiatan pengelolaan keuangan negara.

Pencairan  Dana  e. Penerimaan Pengembalian Belanja. Pembahasan  RKP  3. Revisi DIPA    b. Penerimaan Hibah.Komitmen    c. Pertanggungja waban APBN    DPR  Unit  Lainnya  *)    2 1 2 3                        BUDGET                    PREPARATION  4 4 5 6 7 6 7 8 6 9 10 10 10                              MANAGEMENT          DIPA  11 12 12 a 12 12 a 12 12 11 12                  COMMITMENT             MANAGEMENT 12 b 12 c 12 b 12 b                          PAYMENT              MANAGEMENT  12 d 12 d 12 d 12 d                  RECEIPT AND CASH              MANAGEMENT                  GL.APK    KPPN    Deskripsi  1. UU APBN  8. Penyusunan  RKAKL  4. Penyusunan  DIPA  10. Pengajuan  Pembayaran  (SPM)  d. Penerimaan Pembiayaan.  ACCOUNTING        AND REPORTING 12 e 13 12 e 13 12 e 13 13 12 e Keterangan: *) unit lainnya termasuk unit penerimaan (DJP/KPP. Subdit. DJBC/KPBC). PNBP. pengelolaan utang.1 RELATIONSHIP MATRIX PROSES BISNIS   Pemerintah  (Sidang  Kabinet)  Kementerian/ Lembaga/  Satuan Kerja Departemen keuangan  DJA  DJPBN cq  DJPBN cq  DJPBN cq  Dit PA  Dit PKN  Dit. Manajemen  Kas **)  13. Penyusunan    RKP  2. dan Perbankan **) Manajemen kas termasuk informasi dari pelaksanaan investasi. Penyusunan  RAPBN  6. Penerimaan Pihak Ketiga). Pembahasan  RKAKL  5. Penelaahan  DIPA  11. DTP 5  . Pembahasan  RUU APBN  7. Perpres  Rincian APBN  (+SAPSK)  9. dan penerimaan negara (termasuk Penerimaan Perpajakan. Pengesahan  DIPA  12. TPBE.Gambar I. Pelaksanaan  APBN:  a.

modul GL. modul manajemen DIPA.2).2 Siklus Manajemen Keuangan Pemerintah (Treasury Reference Model) Subdit. baik dari segi proses bisnis maupun TI. modul komitmen manajemen. modul manajemen kas. Proses pengelompokkan kegiatan dalam siklus APBN tersebut juga dilakukan dengan merujuk pada best practice dalam siklus manajemen keuangan pemerintah yaitu sebagaimana ditunjukkan dalam Treasury Reference Model (lihat Gambar I. Gambar I.1. pelaporan dan akuntansi. serta modul referensi sebagai pendukung modul-modul lainnya. tahapan-tahapan tersebut juga sejalan dengan rencana pengembangan SPAN. TPBE. yaitu melalui modul perencanaan anggaran. modul manajemen pembayaran.Sebagaimana terlihat pada Gambar I. DTP 6  .

Terkait dengan proses bisnis perbendaharaan negara di Ditjen Perbendaharaan. serta meliputi proses-proses manajemen sebelumnya. serta aktivitas terkait lainnya yang dilakukan dalam rangka pembuatan laporan dan pertanggujawaban pelaksanaan APBN. pembuatan komitmen untuk pengadaan barang dan jasa atas beban APBN dan menjadikannya sebagai bagian manajemen pembayaran dan manajemen kas. dengan memperhatikan proses ebelumnya pada manajemen DIPA dan manajemen komitmen. DTP . Manajemen Kas (Cash Management): meliputi koneksitas proses bisnis dengan Satker yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan aktivitas penerimaan dan pengeluaran di Satker. 4. sistem akuntansi BUN.1. manajemen pengelolaan utang. manajemen pengelolaan barang pemerintah dan manajemen penerimaan negara. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Pelaporan dan Pertanggungjawaban (General Ledger. Accounting and Reporting): meliputi di dalamnya koneksitas sistem akuntansi instansi dan KUN. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Pelaporan dan 7  Subdit. pengelolaan chart of account. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. Manajemen Pembayaran (Payment Management): meliputi koneksitas proses bisnis sejak pengajuan pembayaran (SPM) sampai dengan pencairan dana (penerbitan SP2D). Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker.Secara singkat. 3. proses pencatatan. Akuntansi. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. KPPN dan unit lainnya (Perbankan). TPBE. pembuatan buku besar. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan dan KPPN. sebagaimana terlihat dalam Gambar I. yang meliputi Manajemen DIPA hingga Akuntansi. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. Manajemen kas ini juga terkait dengan kegiatan fund management di Ditjen Perbendaharaan. 2. KPPN dan unit lainnya (Unit terkait penerimaan negara dan Perbankan). dan KPPN. koneksitas pengelolaan perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satker termasuk hubungannya dengan instansi utama terkait dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. termasuk yang terkait dengan berbagai kegiatan pada manajemen investasi.

Hal tersebut memang sangat tergantung pada perkembangan penerapan PBB yang saat ini tengah dikembangkan oleh Bappenas dan Ditjen Anggaran. No. Koneksitas proses bisnis dalam penyusunan dan pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA Management).1.02/2009 dan kemungkinan pelaksanaan PBB. beberapa arah perbaikan yang dapat dikaji meliputi: a) mengkaji perubahan proses penyusunan DIPA dan bentuk dari DIPA itu sendiri. Hal ini dapat terjadi karena seringkali tidak berjalannya/tidak ada sistem informasi yang terintegrasi di tingkat pelaksanaan (Satker dan KPPN) dan perencana (Ditjen Anggaran. sejalan dengan arah dari penerapan PBB yang dilakukan oleh Bappenas dan Ditjen Anggaran serta penyiapan data awal bagi pelaksanaan anggaran termasuk manajemen kas. Subdit. sejalan dengan penetapan PMK. c) Rincian akun (6 digit) dalam halaman IV DIPA (Catatan). sehingga terdapat potensi terjadinya pagu minus pada saat dilakukan pelaksanaan anggaran. Beberapa permasalahan dalam proses bisnis ini antara lain: a) Data realisasi anggaran dan sisa pagu yang masih sering berbeda pada unit-unit vertikal Ditjen Perbendaharaan maupun pada Satker.Pertanggungjawaban. serta pengelolaan rekening pemerintah dan Teknologi Informasi dengan mengacu pada Gambar I. DTP 8  . Dari pembahasan terhadap beberapa permasalahan tersebut di atas. Satu dari berbagai permasalahan tersebut adalah pemahaman yang belum sama tentang mekanisme penunjukan pejabat perbendaharaan yang dicantumkan dalam konsep DIPA. b) mengkaji efektifitas pelaksanaan revisi anggaran. 06/PMK. Kantor Pusat/Kanwil Ditjen Perbendaharaan. belum sejalan dengan konsep Performance Based Budgeting (PBB) yang menghendaki peningkatan fleksibilitas anggaran. TPBE. dan Kantor Pusat Kementrian/Lembaga). b) Potensi keterlambatan penyerapan APBN akibat hal-hal administratif dalam penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran. identifikasi awal atas koneksitas proses bisnis perbendaharaan dengan manajemen keuangan Satker menunjukkan hal-hal sebagai berikut: 1.

Subdit. DTP 9  . sehingga bersamaan dengan perkembangan teknologi sektor finansial. Treasury Single Account (TSA) dan pengelolaan rekening-rekening pemerintah pada perbankan. di antaranya: a) Perbendaharaan tidak memiliki informasi yang akurat tentang sisa pagu anggaran dan status (stages dalam siklus anggaran) atas dana APBN yang dikelola Satker b) Perbendaharaan belum memiliki sistem yang efektif untuk mendukung pelaksanaan forward planning atas arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitmen Berkaitan dengan pencatatan komitmen untuk pengakuan stages dalam pelaksanaan anggaran dan perencanaan kas. proses bisnis dalam pelaksanaan pembuatan perikatan 2. antara lain: a) hal-hal yang berkaitan dengan pencatatan komitmen ke dalam buku besar (GL). besaran dan mekanismenya perlu dikaji kembali pada masa mendatang. Permasalahan disini adalah tidak adanya suatu sistem yang terintegrasi antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan untuk mencatat informasi sehubungan dengan pembuatan komitmen di Satker. posting rule. penentuan akun. Mekanisme UP/TUP adalah pengeluaran transito yang mendahului model pencatatan komitmen yang ideal. Salah satu tujuan utama penerapan manajemen komitmen adalah untuk kepentingan perencanaan kas. ketetapan waktu untuk pencatan dan pelaporan komitmen tersebut serta sanksi apabila terdapat pencatatan dan pelaporan yang tidak akurat dan tidak tepat waktu. termasuk saat pengakuan. terdapat beberapa hal yang patut mendapat perhatian di masa yang akan datang. Hal tersebut mengakibatkan beberapa kekurangan dalam pengelolaan keuangan negara.c) mengkaji kemampuan IT yang saat ini masih sangat terfragmentasi. TPBE. Koneksitas (Commitment Management). c) mekanisme uang persediaan dan tambahan uang persediaan (UP/TUP) terkait dengan rencana penerapan manajemen komitmen. b) penentuan sifat pengujian oleh Ditjen Perbendaharaan (KPPN) apabila pencatatan dan persetujuan komitmen menjadi salah satu dasar pencairan dana APBN.

apakah perlu disempurnakan dengan dukungan TI atau dipertahankan. 4. Seiring dengan pesatnya kemajuan bisnis proses dan TI sektor keuangan/perbankan tentu kedepan akan timbul pertanyaan yang sangat mendasar mengenai sistem pembayaran (payment system) yang ada saat ini. Disamping itu. meskipun banyak sekali hands off dan paper work. hingga saat ini belum ada standard cycle time untuk penerbitan SPM di Satker serta pengajuannya ke KPPN. TPBE. Disamping itu. beberapa arah perbaikan dapat dilakukan di masa mendatang khususnya yang berkaitan dengan perbaikan proses bisnis dan TI yang ada untuk keperluan monitoring atas komitmen yang dibuat Satker dan pemanfaatannya bagi pengelolaan perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan. Koneksitas proses bisnis dalam pengajuan permintaan pembayaran dan pencairan dana (payment management). KPPN maupun perbankan Ini tentunya suatu arahan kedepan yang secara serius harus dikaji yaitu terkait dengan penyempurnaan pengelolaan keuangan negara di Satker dan pemanfaatan TI yang memungkinkan (enabler) berjalannya proses bisnis dan peraturan sebagaimana diharapkan. serta keseluruhan work flow dan paper work transaksi keuangan melalui perbankan. pengkajian perlu pula dilakukan terhadap batasan kewenangan Ditjen Perbendaharaan dalam aktivitas monitoring (pengawasan) komitmen yang dibuat Satker. baik di Satker. IT serta pengembangan SDM. Permasalahannya. 3. hal tersebut masih perlu diikuti dengan pembenahan pada pengelolaan keuangan negara di Satker. Koneksitas proses bisnis dalam manajemen dan perencanaan kas (cash manajemen). masih terdapat kemungkinan bahwa dana akan diterima di rekening yang berhak lebih lama dari waktu yang diharapkan. Subdit. DTP 10  . Beberapa kegiatan secara terintegrasi baik di bidang proses bisnis dan peraturan. Misalnya. Sebagai contoh. Hasil yang telah dicapai (quick win) sudah cukup signifikan yaitu berupa berbagai kemajuan dibidang payment management sejalan dengan pembentukan KPPN Percontohan.Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas. termasuk tatacara penerbitan SPM menjadi SP2D. Memperhatikan praktek-praktek treasury di banyak negara maju. telah dilakukan untuk mendukung reformasi tersebut. Payment management. merupakan fokus reformasi birokrasi selama ini di Ditjen Perbendaharaan.

receipt management dan debt management. payment management. memberikan arahan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Sistem akuntansi pemerintah sudah berkembang cukup signifikan. TPBE.kegiatan kas manajemen adalah merupakan kegiatan utama unit treasury. model perencanaan pencairan dana pada halaman III DIPA dilakukan dengan membagi jumlah pagu ke dalam rencana penarikan setiap bulan dalam satu tahun. yang merupakan muara dari semua kegiatan. di mana rencana penarikan dana diusahakan untuk tidak lagi dengan membagi pagu dengan jumlah bulan dalam satu tahun. cash forecasting. termasuk meliputi proses bisnis. DIPA). laporan dan pertanggungjawaban. Pada umumnya. Tentunya. terutama PNBP. hingga saat ini sistem akuntansi pemerintah masih berbasis cash. Koneksitas proses bisnis dalam sistem akuntansi. b) belum adanya suatu sistem yang mengintegrasikan komitmen dan rencana penerimaan. untuk mendukung revitalisasi fungsi perencanaan pencairan dana pada Ditjen Perbendaharaan yang berkaitan erat dengan manajemen kas. saat ini mulai dikembangkan rencana penarikan dana yang lebih realistis khususnya untuk belanja tidak mengikat. di Satker dalam mekanisme perencanaan kas di Ditjen Perbendaharaan. Namun demikian. DTP 11  . Akan tetapi. sebagaimana digariskan dalam perundang-undangan bahwa sistem akuntansi pemerintah harus berbasis accrual. Dalam hal ini. baik pada internal Ditjen Perbendaharaan. Hal-hal tersebut di atas. termasuk comitment management. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. baik pada Subdit. berikut adalah beberapa permasalahan yang dapat dikemukakan di antaranya: a) belum optimalnya fungsi perencanaan pencairan dana dalam dokumen pelaksanaan angaran (halaman III. maupun koneksinya dengan pihak eksternal terutama Satker. Tentunya ini adalah suatu tantangan yang sangat berat untuk menerapkan accrual based accounting. yang tentunya harus terus dikembangkan. sistem IT dan alur data. pengkajian harus secara lengkap. Kegiatan manajemen kas relatif baru menjadi fokus reformasi di Ditjen Perbendaharaan. 5. banyak sekali hal yang harus disempurnakan.

debit card. treasury operation sudah memasuki praktek-praktek yang tidak berbeda dengan institusi keuangan swasta. treasury operation sudah menerapkan berbagai metode pengumpulan penerimaan seperti auto debit. 171/PMK. MPN. baik dalam rangka pengeluaran (TSA Pengeluaran dan rekening bendahara pengeluaran) maupun dalam rangka penerimaan (TSA penerimaan.05/2007 tentng Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. dalam hal revenue collection. Pengelolaan keuangan negara saat ini sangat bergantung pada proses bisnis dan IT sektor perbankan.pengelolaan keuangan di BUN (SABUN) maupun pada tiap-tiap Satker (SAI) sebagaimana diatur dalam PMK No. sejalan dengan pembenahan CoA tersebut. variasi dari kemampuan SDM dan dukungan IT yang sangat beragam pada tiap-tiap Satker juga memberikan tantangan tersendiri. merchant dan sebagainya. Koneksitas proses bisnis dalam pengelolaan rekening bendahara penerimaan dan pengeluaran. Disamping sistem akuntansi yang masih perlu terus dikembangkan. cek. TPBE. hal tersebut perlu dilakukan pula melalui pembenahan chart of account (CoA). TSA pengeluaran diterapkan Subdit. dan rekening bendahara penerima). disamping penerapan TSA penerimaan secara universal. Di banyak negara maju. patut dihargai disini adalah usahausaha Ditjen Perbendaharaan untuk membantu Satker dalam melakukan pencatatan. Terkait dengan hal tersebut. beragamnya kemampuan Satker untuk menerapkan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) mempengaruhi kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). DTP 12  . maka kemungkinan penerapan PBB dan perubahan sistem akuntansi harus pula dipertimbangkan. Setidaknya. Pengaturan berbagai rekening pemerintah. termasuk memasukkan unsur accrual dan stages mengikuti siklus anggaran. Sebagai contoh. Tentunya. koneksitas proses bisnis Ditjen Perbendaharaan dengan pengelolaan keuangan di Satker banyak bergantung pula pada proses bisnis dan IT sektor perbankan. menunjukkan ketergantungan pengelolaan perbendaharaan pada sektor perbankan. melalui kerja sama dengan institusi keuangan swasta. Dalam hal pengeluaran. 6. credit card. Tentunya. Demikian pula. pelaporan dan pertanggungjawaban yaitu melalui dukungan aplikasi serta pelatihanpelatihan terutama melalui Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP).

3 menunjukkan koneksitas teknologi informasi/aplikasi tersebut. koneksitas tersebut dapat dilihat sebagai sesuatu yang wajar.dengan sangat maju. dependency Satker terhadap aplikasi-aplikasi yang disediakan oleh Departemen Keuangan baik dari Ditjen Perbendaharaan maupun Ditjen Anggaran sangat tinggi. dimana koneksitas pengelolaan keuangan negara dengan Sektor keuangan harus didasarkan pada kontrak (fee based). 7. Standarisasi dan konsep satu pintu melalui treasury belum diterapkan secara penuh di Indonesia. belum mengarah pada sesuatu yang terintegrasi dengan baik. best practices menunjukkan bahwa koneksitas pengelolaan keuangan negara dengan sektor perbankan juga dilakukan melalui satu pintu. Sebagaimana telah dijelaskan diatas. di masa yang akan datang perlu dikaji proses bisnis dan IT yang ada. Bilamana masing-masing institusi (treasury dan Satker) membuat kontrak sendiri-sendiri. dengan arahan kemungkinan pengintegrasian semua sistem IT yang diberikan oleh Kementrian Keuangan kepada Satker. dimana idle fund hampir tidak ada. disamping memang kemampuan SDM masing-masing Satker sangat beragam. yaitu treasury. DTP 13  . penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara di lingkungan Kementrian/Lembaga dan koneksitasnya Subdit. Yang menjadi permasalahan adalah sistem informasi tersebut masih sangat terfragmentasi. maupun yang dikembangkan secara internal oleh masing-masing Satker. TPBE. Hal tersebut diperlukan dalam rangka standardisasi koneksitas. Dengan pengaturan koneksitas melalui satu pintu. yaitu treasury. Dari pembahasan singkat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan negara di Satker merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan. Koneksitas teknologi informasi DJPBN dengan Satker. Memperhatikan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan di Satker sebagai satu kesatuan dengan pengelolaan keuangan negara di Departemen Keuangan. yang pelu dikaji kesesuaiannya untuk dapat diterapkan pada praktek perbendaharaan di Indonesia. negosiasi penempatan surplus dana pemerintah pada pihak perbankan akan dapat dilaksanakan secara lebih efektif. Untuk itu. peace meal. sangat mungkin akan terjadi inefisiensi dan ketidakteraturan. Hal-hal tersebut tentunya merupakan tantangan dan arahan untuk perbaikan kedepan. Gambar I. Dari pembahasan tersebut di atas. Disamping itu.

Diantaranya adalah melalui penentuan proses bisnis dan TI yang diharapkan dapat menjadi prioritas sebagai quick win.3 Koneksitas teknologi informasi/ aplikasi komputer perbendaharaan dengan Satker Sehubungan dengan kompleksitas permasalahan. dalam rangka mewujudkan dan melajutkan upaya reformasi keuangan negara yang telah dirintis sebelumnya. serta mendukung rencana penyempurnaan melalui automasi proses bisnis dan integrasi sistem informasi sejalan dengan pengembangan SPAN. Diusulkan agar segera dilakukan pengkajian untuk menggunakan data dalam Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) Satker yang ada di DJA sebagai salah satu sumber data. TPBE.dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan sangat diperlukan. Dalam hal ini. Salah satu alternatif untuk dapat dijadikan quick win adalah melanjutkan penggunaan aplikasi Peran 2008. Dalam hal ini sangat penting. dan mengembangkannya sebagai bagian sistem perencanaan pencairan dana dan manajemen komitmen yang handal. DTP 14  . penyempurnaan manajemen keuangan Satker memerlukan dukungan sepenuhnya dari DJPBN. Gambar I. harus disusun analisis dan rencana implementasi dengan tepat. Subdit.

4. Sebagaimana disebutkan dalam Gambar I. penulisan buku ini dilakukan melalui diskusi bersama dengan stakeholder terkait dan ujicoba langsung pada beberapa Satker sehingga penetuan model/bentuk koneksistas dan manajemen keuangan Satker serta tatacara maupun target-target pencapaiannya sudah diketahui dan disetujui bersama. buku ini hanya memfokuskan pada dua area: (i) proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dengan fokus pada aspek pengeluaran (ii) koneksitas proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. Hal-hal yang berkaitan dngan perencanaan anggaran di DJA dan Bappenas tidak menjadi fokus dari modul ini. misi dan objektif masing-masing pihak. hal-hal tersebut akan menjadi landasan penetapan bentuk/model koneksitas dan manajemen keuangan Satker. penulisan haruslah dimulai dari penetapan visi. khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pencapaian outcome masing-masing instansi. serta target-target pencapaian yang terukur. Optimisme harus tetap dipegang mengingat perbaikan tersebut adalah keinginan bersama. C. Subdit.untuk diperhatikan pula bahwa agar penyempurnaan koneksitas proses bisnis haruslah disesuaikan dengan kebutuhan Satker dalam pengelolaan keuangan negara. Selanjutnya. maka penulisan buku ini sangat menghendaki peran serta dan dukungan semua pihak.. serta tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan.4. Sebagaimana terlihat dalam gambar. TPBE. struktur penulisan yang digunakan adalah mengikuti alur yang dipakai dalam kerangka ITIL v. dilakukan identifikasi permasalahan atas existing koneksitas dan kondisi pengelolaan keuangan negara di Satker saat ini. Mempertimbangkan luasnya cakupan dari topik pembahasan. visi dan misi. Metode Penulisan Dalam melakukan penulisan/penyusunan modul tentang proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis Ditjen Perbendaharaan. sebagaimana telah digariskan dalam peraturan perundang-undangan. misi dan objektif dari masing-masing pihak. DTP 15  . Berpijak pada visi. Mengingat kompleksitas permasalahan.3 (Information Technologi Infrastructure Library Version 3) sebagaimana terlihat pada Gambar I.

 TPBE. Mengapa manajemen keuangan Satker harus disempurnakan? 3. II & III March 2009) Bab II: Visi. struktur penulisan dan metode penulisan Vision. pelaporan dan pertanggungjawaban. Where are we now? (Week IV-March. Analisis proses manajemen keuangan satker terkait tahapantahapan tersebut di atas. III April 2009) Bab III: Analisis Existing Koneksitas dan Manajemen Keuangan SatkerExisting Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN 1. Satker diluar Proyek SPAN. Misi dan Obyektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan 1. Week I. Apa Visi dan Misi DJPB.4 Struktur Penulisan Background (Februari 2009) Bab I: Pendahuluan (Latar Belakang dan Ringkasan Penulisan) Pendefinisian latar belakang. sehingga harus dibenahi secara internal mulai dari sekarang. manajemen komitmen. Mission. majanemen DIPA. dan (iii) SDM dan change management/ manajemen perubahan. manajemen kas. sistem akuntansi. dari tahapan persiapan anggaran. DTP 16  . 2. II. termasuk melalui penelitian langsung pada beberapa Satker terpilih sebagai pilot project.Gambar I. (ii) IT. Analisis existing koneksitas. yang masing-masing tahapan meliputi: (i) bisnis proses dan regulasi. manajemen pembayaran. Bappenas dan Satker? 2. DJA. Objectives (Week I. Subdit. Apa manfaat penyempurnaan tersebut bagi Satker dalam manajemen keuangannya? 4. Apa objektif penyempurnaan koneksitas dan manajemen keuangan Satker? 5.

Terpenting disini adalah pendefinisian dan penetapan model koneksitas dan manajemen keuangan satker. disamping aspek bisnis proses. September 2009) Bab VI Penutup Penutup dan ringkasan atas isi buku. May. regulasi dan IT.Where do we want to be ? (Week IV-April. change management. Conclusion (August. karena hal tersebut belum terdefinisikan dengan konkrit hingga saat ini. August 2009) Bab V: Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas Penerapan dari model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan Satker yang dipilih harus dilaksanakan sedemikian rupa secara terencana. dengan mengikuti tahapan-tahapan tersebut di atas.Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN 1. Penetapan model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan satker. serta teknik pengkomunikasian akan memegang faktor yang sangat menentukan. serta monitoring/evaluasinya. June. khususnya tahapan-tahapan dalam pencapaian model koneksitas. Metode penyusunan buku ini dengan melibatkan setiap stakeholder dan dibarengi dengan piloting pada beberapa satker adalah salah satu taktik tersebut. Hal-hal tersebut akan dibahas dalam bab ini. 2. yang secara bersamaan akan dilakukan pula penetapan strategi implementasi dari model yang dipilih. Dalam hal ini. Penetapan model tersebut dengan mengacu pada satker terpilih sebagai pilot project. DTP 17  . maka pengembangan SDM. serta meminimalisasi resiko. July 2009) Bab IV: Model Koneksitas dan Manajemen Keuangan Satker. target-target tahunan yang jelas dan terukur pencapaian setiap tahunnya. dan (iii) pengembangan SDM dan change management. smooth. baik menyangkut (i) bisnis proses dan regulasi. (ii) Integrated IT. Subdit. TPBE. How do we get there ? (June. July.

Bab II Visi. aktivitas penyempurnaan tersebut harus didasarkan pada kerangka peraturan perundangan yang ada (legitimate). Moore (1995) dalam Creating Public Value: Strategic Management in Government. sesuai dengan ketentuan perundangan. Oleh karena itu. khususnya Satker dan Ditjen Perbendaharaan sendiri. dalam ruang lingkup perbendaharaan negara. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan. tetapi terdapat suatu interdependency yang mengharuskan perlunya penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. termasuk menciptakan standardisasi proses bisnis perbendaharaan negara. penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan haruslah didasari oleh pemahaman tentang visi. DTP  18  . Satker dan Ditjen Perbendaharaan sebenarnya mempunyai suatu common objectives yang secara bersama-sama akan dicapai. Untuk itu. menggunakan model yang diperkenalkan Mark H. Terkait dengan hal tersebut di atas. operational capability dan legitimacy. Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa meskipun peraturan perundangan dengan jelas memisahkan fungsi CFO dan COO. aktivitas penyempurnaan tersebut harus bermanfaat secara signifikan bagi kedua belah pihak (significantly valuable). adalah fungsi Ditjen Perbendaharaan untuk mengkoordinasikan aktivitas penyempurnaan tersebut. Pertama. maka bab ini juga menggunakan strategic triangle framework. guna menjamin value dari aktivitas ini. Demikian pula. A. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang visi. Ketiga. baik di Ditjen Pebendaharaan maupun di Satker. Disamping itu. Kedua. setidaknya terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi agar aktivitas tersebut juga bernilai strategis. aktivitas penyempurnaan tersebut harus bisa diterapkan baik secara operasional maupun administratif (operationally and administratively feasible). Latar Belakang Pembahasan atas visi dan misi sebuah organisasi senantiasa bersifat strategis karena hal-hal tersebut adalah merupakan ‘pemandu’ organisasi untuk menetapkan objektif serta pengerahan keseluruhan sumber daya dalam rangka untuk mencapainya. baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. Misi dan Objektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. misi dan objektif dari masing-masing stakeholders. yaitu adanya keterkaitan antara value. dalam kerangka organisasi Subdit TPBE.

1995. (ii) operational capability dari usulan penyempurnaan proses bisnis tersebut bagi Satker dan Ditjen Perbendaharaan.1. 2004). Strategic Triangle: Value. secara berturut-turut akan dibahas: (i) strategic value dari aktivitas penyempurnaan tersebut. misi dan objektif semua stakeholders (value). Moore. misi dan objektif masing-masing stakeholders sebagai dasar penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan dalam bab ini akan menggunakan framework strategic triangle sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2. dalam literatur manajemen sektor publik (public sector management) penerapan dari ketiga kriteria tersebut populer dengan istilah strategic triangle (Moore.1. Moore & Khagram. dan (iii) legitimacy dari aktivitas dan hasil penyempurnaan tersebut. Terakhir. Gambar 2. Dalam hal ini. Pembahasan atas visi.1. misi dan objektif masing-masing stakeholder akan dimasukkan dalam bagian (ii) tersebut di atas. Pembahasan atas visi. bab ini akan ditutup dengan suatu penutup dan sekilas tentang pokok-pokok pembahasan bab berikutnya.dan potensi kolaborasi yang memungkinkan pencapaian visi. 1994. Operational Capability. DTP  19  . dan Legitimacy Legitimacy Value Operationallity Sumber: Moore (1995) dan Moore & Khagram (2004) Subdit TPBE. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.

kewajiban dan asset negara secara nasional. Sesuai dengan prinsip tersebut. Presiden mendelegasikan kepada Menteri Keuangan (sebagai Chief Financial Officer) dalam hal kewenangan kebendaharaan dan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga (sebagai Chief Operational Officer) dalam hal kewenangan administratif. pemisahan kewenangan pengelolaan keuangan negara dapat dilihat dalam Gambar 2. Menteri Keuangan berwenang dan bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan. sementara Menteri/Pimpinan Lembaga berwenang dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Value: Manfaat Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan Dalam penjelasan Undang-undang Keuangan Negara disebutkan bahwa pengelola keuangan negara ialah Presiden Republik Indonesia atau yang biasa disebut Chief Executive Officer (CEO).2. Subdit TPBE. DTP  20  . Secara skematis.B. Dalam mengelola keuangan negara.

Gambar 2.2. Pemisahan Wewenang Pengelola Keuangan Negara Keterangan Gambar: Sumber : Pemisahan Wewenang Pengelolaan Keuangan Negara-modified (Presentasi Sesditjen Perbendaharaan) Subdit TPBE. DTP  21  .

yang pada akhirnya akan diwujudkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran Kementrian/Lembaga (RKA-K/L) tahunan. proyek ataupun kegiatan pemerintah terjadi pada saat pelaksanaan anggaran (Andrew & Campos. Karakteristik yang kedua adalah bahwa proses bisnis yang terdapat Subdit TPBE. Aggregate fiscal disciplin dan allocative efficiency setidaknya diharapkan dapat menjamin sustainability dari anggaran negara serta terciptanya anggaran negara yang efisien dan efektifitas untuk pencapaian target masing-masing program pemerintah. Lemahnya proses pelaksanaan anggaran.Walaupun secara teknis masing-masing Satker memiliki visi.2. DTP  22  . Dalam hal ini. melalui prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan Ditjen Perbendaharaan akan menerbitkan DIPA (allocation). Atas dasar dokumen penganggaran. Schick (1998). misi dan objektifnya. termasuk penyediaan layanan publik. DIPA ini adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang menjadi dasar penerbitan SPM oleh K/L. misi dan objektif yang berbeda sesuai dengan bidang tugasnya. termasuk penyediaan layanan publik. Hashim & Allan (2001) dalam Treasury Reference Model yang diterbitkan World Bank mengidentifikasikan dua karakteristik utama dalam sistem perbendaharaan. 2003). dan operational efficiency. Andrew & Campos (2003) menyebutkan bahwa penyusunan dan pelaksanaan anggaran merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas aktivitas penyediaan layanan publik. dapat berakibat fatal terutama terhadap tidak tercapainya sasaran alokasi anggaran yang telah dibuat. guna mencapai visi. Sedangkan operational efficiency sangat dipengaruhi oleh proses pelaksanaan anggaran (budget execution) karena implementasi yang sesungguhnya dari program. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. berpendapat bahwa setidaknya terdapat tiga hal yang harus tercapai dalam praktek penganggaran yang modern (populer dengan sebutan Public Expenditure Management atau PEM) yaitu aggregate fiscal discipline. terdapat suatu kriteria yang secara generic berkaitan dengan setiap organisasi pemerintah yaitu bahwa semua aktivitas diarahkan dalam rangka pelaksanaan program pemerintah. Kementrian/lembaga (K/L) akan membuat perencanaan strategis (Renstra). SP2D oleh Ditjen Perbendaharaan dan pemindahan dana anggaran dari Rekening Kas Negara ke rekening pihak ketiga atau bendahara pengeluaran dalam rangka pembiayaan program pemerintah. RKA-K/L ini selanjutnya menjadi landasan penyusunan APBN (appropriation) tiap tahunnya. Pertama adalah perlunya konsolidasi dan kompilasi cepat terhadap data dengan volume besar dari sejumlah unit vertikal di institusi perbendaharaan dan Satker yang tersebar di banyak lokasi. allocative efficiency.

Dalam prakteknya di beberapa negara. koneksinya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan maupun di institusi perbendaharaan sendiri akan berakibat secara berlipat terhadap ketidakkeberhasilan pelaksanaan tugas perbendaharaan negara. 1999. penyempurnaan koneksitas proses bisnis biasanya mencakup standardisasi proses bisnis di Satker (Government atau Spending Agencies). ANAO. 2004). DTP  23  . Di Amerika Serikat. integrasi sistem yang baik tidak hanya dicerminkan oleh adanya penggunaan basis data yang dapat diakses bersama-sama secara aman tetapi juga adanya kemampuan untuk melakukan pertukaran data diantara berbagai modul/fungsifungsi keuangan yang ada. mengidentifikasi alternatif penyempurnaan proses bisnis 3. beserta dukungan IT. antara lain : 1. 2006. institusi perbendaharaan dan audit berperan aktif tidak hanya dalam penyusunan pedoman tetapi juga melakukan standardisasi proses bisnis setiap fungsi-fungsi manajemen keuangan negara (Treasure’s Direction.dalam sistem ini pada dasarnya dilakukan berulang-ulang (repetitive) dan mengikuti serangkaian mekanisme pelaksanaan dan kontrol/pengawasan tertentu. kondisi tersebut menjadikan penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan. letak strategic value dari pentingnya penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan. di mana spending agencies tidak hanya melakukan otorisasi pengeluaran tetapi juga fungsi manajemen kas (two tier cash management system (Lienert. Pemerintah Federal melalui Financial System Integration Office (FSIO) melakukan penyempurnaan proses bisnis untuk government agencies melalui standardisasi dan integrasi dengan tujuan. menjadi sangat krusial. Karakteritik besarnya volume data dan proses bisnis yang repetitive membawa konsekuensi bahwa ketidaksempurnaan proses bisnis baik di tingkat Satker. Di Australia. menerapkan praktek-praktek yang baik dalam proses bisnis Subdit TPBE. 2001). meningkatkan pemahaman akan pentingnya proses bisnis yang standard di lingkungan pemerintah 2. koneksitas proses bisnis yang baik dicerminkan adanya tingkat integrasi sistem yang tinggi (close system integration). Auditor General Victoria. Menurut Hashim & Allan (2001). Dari tinjauan sistem informasi. Di sisi lain. Di satu sisi. karakteristik-karakteristik tersebut memungkinkan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan transaksi melalui penggunaan IT dan sistem aplikasi yang terintegrasi (Hashim & Allan. 2008)). Disinilah.

Dari uraian di atas dan beberapa contoh penerapan di negara lain. C. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan. 2008) 6. Operational Capability: Kemampuan untuk penerapan usulan penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan Salah satu hallmark yang diusung dalam reformasi di bidang keuangan negara adalah adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab yang jelas (clarity of role) antara pemegang kewenangan administratif dan pemegang kewenangan kebendaharaan (lihat Gambar 2. koneksitas proses bisnis yang baik membantu tugas pokoknya dalam rangka pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran. memfasilitasi pertukaran data keuangan di antara institusi pemerintah (FSIO. 1/2004). dapat disimpulkan bahwa penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan memberikan manfaat strategis dalam mendukung pencapaian visi. Proses bisnis yang terstandardisasi dan koneksitas yang baik dapat membantu pencapaian sasaran atau target program.2). khususnya berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. Reformasi birokrasi dan tuntutan akan pelayanan yang lebih baik memberi pengaruh pada cara pandang dan kebijakan organisasi pemerintah terhadap lingkungan eksternalnya.4. serta dalam rangka peningkatan pelayanan kepada publik. menciptakan kondisi awal yang sama dan terstandardisasi untuk memudahkan pengembangan di masa yang akan datang 5. Pemisahan kewenangan tersebut menciptakan hubungan yang unik dimana secara implisit menunjukkan adanya independency dalam suatu kesejajaran namun saling terkait (tidak sepenuhnya independen). institusi pemerintah pada saat ini cenderung memberi perhatian yang lebih dan menyadari Subdit TPBE. Pemisahan kewenangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan akuntabilitas dan menjamin adanya check and balance dalam proses pelaksanaan anggaran (Penjelasan UU No. antara Menteri/Ketua Lembaga sebagai Pengguna Anggaran dengan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN) dalam pelaksanaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). Berbeda dengan tradisional model dari public administration. Termasuk didalamnya adalah kemudahan dalam integrasi data dan pengumpulan informasi yang berkualitas sehingga dapat lebih bermanfaat bagi pengambilan keputusan. DTP  24  . Bagi Ditjen Perbendaharaan.

atau pihak mempunyai kewajiban untuk melakukan sesuatu (Moore. Dalam hal penyusunan dan penerapan peraturan atau kebijakan yang dibuat oleh institusi perbendaharaan. hubungan Ditjen Perbendaharaan dengan Satker sebenarnya bersifat unik karena walaupun tidak berada di dalam lingkup organisasi yang sama (kategori huruf a). misi dan objektif organisasinya (Hughes. hubungan antara Ditjen Perbendaharaan dengan Satker dapat berupa bahwa Satker dalam posisi sebagai customer. Moore Khagram. hubungan dengan unit organisasi lain dalam lingkup organisasi pemerintah yang sama (aktivitas koordinasi). dan merupakan counterpart dalam perencanaan kas [masukan dari Dit PKN. DTP  25  . 2008]. Satker dapat berperan sebagai obligatee. manajemen dengan pihak-pihak eksternal organisasi meliputi: 1. Dengan pola hubungan yang unik antara institusi perbendaharaan dengan Satker. Terkait dengan hal tersebut di atas. adakalanya juga Ditjen Perbendaharaan berperan sebagai obligatee. 2. Satker juga dapat dikategorikan sebagai user atau client dalam penggunaan aplikasi software yang dibuat oleh Ditjen Perbendaharaan dan digunakan untuk berinteraksi dengan sistem informasi yang ada di Ditjen Perbendaharaan. yang saling bersimbiosis dan berinteraksi. 2003). secara keseluruhan baik Ditjen Perbendaharaan maupun Satker adalah bersama-sama sebagai stakeholders dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). client. user. merupakan customer dan user dari payment management. 2004). hubungan dengan pers. Dalam kerangka tersebut. misalnya dalam hal pemilihan cara pencairan dana untuk belanja yang diijinkan (UP atau LS) yang dipilih Satker dan harus diikuti oleh oleh Ditjen Perbendaharaan. 3. dari sudut pandang ruang lingkup organisasi. dan counterpart dari Ditjen Perbendaharaan. Namun demikian. hubungan dengan pihak-pihak independent di luar organisasi tersebut. Namun demikian. Satker. misalnya instansi pemerintah lainnya. berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi Ditjen Pebendaharaan sebagai institusi perbendaharaan (Hashim & Allan. Menurut Allison (1982). 2001). Jadi. maka hal tersebut harus disikapi dan dikaji dengan hati-hati agar penyempurnaan proses Subdit TPBE. misalnya. koordinasi dan interaksi dengan Satker sangat erat.perlunya menjalin hubungan strategis dengan pihak-pihak di luar organisasi dalam rangka pencapaian visi. 1995. hubungan Ditjen Perbendaharaan dengan Satker dapat dikategorikan ke dalam huruf (b) karena Satker adalah organisasi pemerintah yang independent di luar Ditjen Perbendaharaan. rekanan dan LSM (interest group).

 DTP  26  .bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan institusi perbendaharaan dapat diterapkan (operationally feasible) baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan sehingga value yang diharapkan dapat tercapai (lihat Gambar 2.3. misi dan objektif organisasi dengan proses bisnis. Gambar 2. Gambar 2.3.1). Kerangka Penyempurnaan Proses Bisnis dan Koneksitasnya Subdit TPBE. Dalam hal ini. pembahasan dalam buku ini akan menggunakan framework bussiness process improvement sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. TI dan change management dalam aktivitas penyempurnaan proses bisnis.3 menunjukkan saling keterkaitan antara visi.

maka penyempurnaan proses bisnis perbendaharaan negara harus lintas institusi. 1996). maka penerapan change management menjadi sangat krusial dalam proses penyempurnaan proses bisnis (bussiness process improvement). Visi dan misi tersebut akan menjadi pemandu bagi masing-masing institusi untuk menetapkan strategic goals atau dalam hal ini objektif masing-masing. Selanjutnya. Gambar 2.3 akan dibahas dalam bab-bab berikutnya. Atas dasar pemikiran tersebut. karena pada akhirnya kemampuan dan kemauan sumber daya manusia adalah penentu berjalannya proses bisnis dan teknologi informasi yang telah disempurnakan. Dalam hal ini. Grover & Malhotra. misi dan objektif Satker yang bersifat generic. Dalam hal ini. berawal dari Satker dan berhenti pada unit di Ditjen Perbendaharaan. Demikian pula. Mekanisme yang tertuang dalam Gambar 2. maka dilakukan penyempurnaan proses bisnis beserta pengorganisasiannya. 1990. 2.3. Sedangkan hal-hal lainnya dalam Gambar 2. Dari pengertian proses bisnis ini. Adanya stakeholder/beneficiaries yang menggunakan outcomes dari sebuah proses/sub proses (Davenport & Short. fokus hanya dilakukan pada penetapan visi. diperlukan suatu visi. misi dan objektif baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. Atas dasar kebutuhan untuk mewujudkan visi. misi dan objektif. Adanya serangkaian kegiatan tertentu yang dapat ditentukan awal dan akhir-nya (definable). melihat variability dari tugas pokok dan fungsi Satker dalam pelaksanaan program pembangunan dan penyediaan pelayanan publik. misalnya.1). 1990). proses bisnis adalah serangkaian aktivitas yang saling berhubungan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi (Davenport & Short. Sebuah proses tidak terikat oleh struktur formal organisasi karena melibatkan banyak fungsi dan sub-unit dalam organisasi (cross functional boundaries). 3.4 Subdit TPBE. Terkait dengan pembahasan dalam bab ini. DTP  27  . Karakteristik utama dari sebuah proses bisnis adalah : 1. yang tidak berbeda untuk semua Satker bila dilihat dari aspek pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. sebagai persyaratan minimal operationalisasi penyempurnaan proses bisnis sehingga hal tersebut mampu menciptakan value (lihat Gambar 2. teknologi informasi yang memungkinkan proses bisnis tersebut berjalan maksimal juga harus dibangun (TI enabler). baik itu Satker maupun Ditjen Perbendaharaan.Mengikuti Gambar 2.3 harus dilaksanakan secara utuh. hal pertama yang harus dilakukan dalam rangka penyempurnaan proses bisnis adalah pendefinisian kembali atas visi dan misi masingmasing stakeholder.

4. maka perlu penyempurnaan proses bisnis dan koneksitasnya diantara para stakeholders. dan pemikiran atas visi/misi Satker serta common objectives dalam rangka pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. Ditjen Perbendaharaan maupun Satker sebenarnya mempunyai common objectives yang bersifat generic yaitu: (i) mewujudkan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja. Hal ini adalah sejalan dengan pembahasan pada bab sebelumnya dimana analisis dalam buku ini diharapkan dilakukan secara menyeluruh.mencoba mendefinisikan visi. mulai dari perencanaan anggaran sampai dengan pertanggungjawaban anggaran. transparan dan akuntabel. dan relevan. visi.4 tersebut mengikutsertakan Ditjen Anggaran dalam pembahasan. (iii) mewujudkan pengelolaan kas negara yang optimal. (ii) mewujudkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Untuk itu. Subdit TPBE. handal. misi dan objektif dari Ditjen Anggaran dimasukkan pula dalam Gambar 2. serta sumber daya manusia yang kompeten dan berkemauan untuk menyukseskan proses bisnis dan TI yang telah disempurnakan. Selanjutnya.3. Kembali pada Gambar 2.4. Gambar 2. dengan memperhatikan Gambar 2. Ditjen Anggaran. DTP  28  . (iv) Mewujudkan ketersediaan informasi keuangan yang akurat. dukungan IT yang memungkinkan (enabling) proses bisnis tersebut berjalan secara optimal. agar common objectives tersebut menjadi operasional dan dapat dicapai oleh masing-masing stakeholders sehingga menciptakan value. misi Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan.

2. Common Objective Subdit TPBE. 3. Mewujudkan ketersediaan informasi keuangan yang akurat. 7. misi dan Objective DJA. Transparan dan Akuntabel dalam Proses Mewujudkan Bangsa yang Mandiri dan Sejahtera Misi : 1. transparan dan akuntabel dalam perumusan dan pengelolaan kebijakan di bidang penganggaran Visi : Menjadi Pengelola Perbendaharaan Negara yang Profesional. Mewujudkan efektifitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas 3. Visi. handal. 3. hati-hati.Gambar 2. Menjadikan aparat bidang keuangan yang professional. Menyediakan informasi keuangan dan barang milik negara dengan cepat. transparan dan bertanggungjawab. Misi : Mewujudkan Pelaksanaan Anggaran yang Berbasis Kinerja Mewujudkan Pengelolaan Kas Negara yang Transparan dan Akuntabel Mewujudkan Tertib Administrasi Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara Mengoptimalkan Surat Utang Negara sebagai sumber pembiayaan APBN Mengelola Pinjaman dan Hibah Luar Negeri sesuai kebutuhan APBN Menghasilkan Pelayanan di bidang Perbendaharaan dan Informasi Keuangan yang cepat. 3. dan akurat. tepat dan akurat Mewujudkan Pengelolaan Piutang Pemerintah dan Kredit Program yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan Misi : 1. Mewujudkan perencanaan kebijakan APBN yang sehat. Memberikan pelayanan prima di bidang pengelolaan keuangan dan barang milik Negara. kredibel. credible. Mewujudkan pengelolaan kas negara yang optimal. Mewujudkan peningkatan penerimaan negara bukan pajak dengan mempertimbangkan perkembangan dunia usaha dan aspek keadilan masyarakat. tepat. 4. Visi : Menjadi unit organisasi yang profesional. 4. DJPB dan Satker Ditjen Anggaran Ditjen Perbendaharaan K/L/Satker Visi : Mewujudkan tata kelola keuangan yang profesional. 1. 4. dan sustainable. Mengelola keuangan dan Barang Milik Negara secara optimal. Mewujudkan efektifitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas.4. 5. 2. transparan dan akuntabel untuk mendukung pencapaian sasaran program pemerintah dan peningkatan kualitas pelayanan publik yang menjadi bidang tugas Kementerian / Lembaga/Satker. transparan dan akuntabel 4. 1. Mewujudkan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja 2. 6. Meningkatkan kualitas unsur pendukung. dan relevan. DTP  29  . 2.

Subdit TPBE. dan menyusun dan menyampaikan laporan keuangan (huruf j). Sebagaimana telah disebutkan didepan. melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian negara/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut. Undang-Undang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Keuangan peraturan lainnya cukup memberi dasar hukum bagi aktivitas Negara beserta penyempurnaan proses bisnis perbendaharaan di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan sebagai Kuasa BUN. Sebagai konsekuensi dari pemisahan tersebut. 1995). melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (huruf e). menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran (huruf f). Selaku Pengguna Anggaran. Ketentuan dalam Pasal 4 ayat 2 tersebut. pelaksanaan kewenangan administratif dan kewenangan perbendaharaan pada dasarnya independent. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (huruf b). terutama huruf e dan f. di atas sejalan dengan Penjelasan dalam Undang-Undang Perbendaharaan Negara perihal kewenangan administratif yang meliputi “melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. DTP  30  . Menteri/Ketua Lembaga berwenang diantaranya untuk menyusun dokumen pelaksanaan anggaran (huruf a). Legitimacy: Landasan hukum penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan Keberadaan dan aktivitas suatu organisasi pemerintah harus berlandaskan dan didukung oleh peraturan perundangan yang akan berperan sebagai source of legitimacy dan memberikan authorising environment bagi organisasi dan aktivitasnya (Moore. Menteri/Ketua Lembaga dalam hal ini berperan sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk bidang tertentu pemerintahan sedangkan Menteri Keuangan merupakan Chief Financial Officer (CFO) selaku Bendahara Umum Negara. serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran”.D. tetapi tetap terdapat subset atau interdependency antara keduanya yaitu dalam rangka pelaksanaan pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan negara. Undang-Undang Perbendaharaan Negara menghendaki konsistensi dan ketegasan dalam pemisahan antara pemegang kewenangan administratif (ordonatur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable).

serta menyelaraskan proses bisnis dan/dengan teknologi informasi perbendaharaan (Pasal 992 dan Pasal 993). 2. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran (huruf b).01/2008 juga menetapkan bahwa Direktorat Transformasi Perbendaharaan memiliki tugas dan fungsi untuk merumuskan kebijakan strategi pengembangan. perumusan kebijakan dan strategi penyempurnaan. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran atas beban rekening kas umum negara (huruf f). serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN. menyajikan informasi keuangan negara (huruf p).Undang-Undang Perbendaharaan Negara Pasal 7 ayat 1 menyebutkan kedudukan Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. pengkajian dan penyempurnaan. PMK 100/PMK. Selaku BUN. Selanjutnya. sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. kebijakan. Selanjutnya. menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan (huruf o). dan menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan Barang Milik Negara (huruf q). Dalam hal ini. termasuk dalam ruang lingkup perbendaharaan adalah perumusan standar. Subdit TPBE. sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 huruf l Undang-Undang Perbendaharaan. Selanjutnya. kewenangan Menteri Keuangan selaku Bendaharawan Umum Negara di antaranya meliputi menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran Negara (huruf a).01/2008 Pasal 806 ditetapkan bahwa Ditjen Perbendaharaan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Dalam hal ini. Dalam pasal 4 ayat 2 huruf (a) disebutkan pula bahwa selaku BUN Menteri Keuangan berwenang untuk menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara. fungsi pengawasan keuangan tersebut terbatas pada aspek rechmatigheid dan wetmatigheid yang dilakukan hanya pada saat terjadinya penerimaan dan pengeluaran (Penjelasan Undang-Undang Perbendaharaan Negara). dalam PMK 100/PMK. merancang dan mengembangkan. 100/PMK. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ayat 2. Menteri Keuangan juga merupakan pengelola keuangan dalam arti seutuhnya yang berfungsi sebagai kasir. manajer keuangan dan pengawas keuangan yang berhak menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran negara. DTP  31  .01/2008 Pasal 999 dan Pasal 1000 juga disebutkan bahwa tugas dan fungsi Subdirektorat Transformasi Proses Bisnis Eksternal diantaranya meliputi: 1.

5. DTP  32  . aktivitas penyempurnaan proses bisnis ini akan memberikan value bagi pencapaian common objectives tersebut. 4.3. berdasarkan ketentuan perundangan tersebut di atas. Bab II ini difokuskan pada pembahasan visi. berikut ini adalah beberapa hal pokok yang dapat disarikan: 1. 3.01/2008 juga telah menjelaskan bahwa adalah fungsi Ditjen Perbendaharaan untuk menyempurnakan dan membuat Subdit TPBE. semuanya mempunyai suatu common objectives. Dari pembahasan. maka setidaknya aktivitas penyempurnaan tersebut setidaknya harus meliputi tiga aspek yaitu proses bisnis dan pengorganisasiannya. E. Dengan demikian. baik bagi Satker maupun Ditjen Perbendaharaan. aktivitas penyempurnaan dan juga usulan penyempurnaan nantinya haruslah legitimate dan operationally feasible sehingga value dari aktivitas penyempurnaan tersebut dapat maksimal. guna menjamin agar usulan penyempurnaan proses bisnis tersebut dapat diterapkan (operationally feasible). UU No. Selanjutnya. Dengan menggunakan strategic triangle framework. penyusunan rekomendasi dan penetapan landasan hukum. 2. Bab II ini juga menjelaskan bahwa aktivitas penyempurnaan tersebut haruslah memberikan value. Disamping itu. termasuk pengkajian kesesuaian koneksitas-koneksitas proses bisnis dengan aplikasi teknologi informasi. 4.1/2004 dan PMK 100/PMK. perumusan kebijakan strategi tahapan penerapan koneksitas proses bisnis dengan Satuan Kerja (Satker). misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan sebagai landasan untuk penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. aktivitas penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan adalah sesuai dengan tugas dan fungsi Ditjen Perbendaharaan (legitimate). Penutup Dari uraian di atas. bahwa meskipun masing-masing Satker dan Ditjen Perbendaharaan mempunyai visi dan misi yang berbeda dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. teknologi informasi dan change management. Sebagaimana framework penulisan yang telah dijelaskan pada Bab I. dan secara keseluruhan bagi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). Demikian juga. Dengan demikian. yang secara generik tidak berbeda dan akan dicapai oleh semua stakeholder.

teknologi informasi yang digunakan. maka bab selanjutnya akan difokuskan pada aktivitas baseline assesment. sehingga aktivitas penyempurnaan tersebut sangat legitimate. baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. dan juga kompetensi dari sumber daya manusia. Baseline assesment ini akan memberikan dasar untuk penetapan target yang lebih riil dari aktivitas penyempurnaan ini. sejalan dengan visi. misi dan common objectives yang didefinisikan dalam Bab II ini. Terkait dengan pembahasan-pembahasan dalam Bab II ini. DTP  33  . Sebagaimana dijelaskan dalam framework penulisan pada Bab I.standarisasi proses bisnis terkait dengan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). maka baseline assesment ini ditujukan untuk melihat existing proses bisnis dan pengorganisasiannya. Subdit TPBE.

3 yang digunakan dalam penulisan draft modul ini. Process mapping merupakan alat dalam bentuk grafis untuk menggambarkan urutan dan flow dari proses bisnis (Paper. proses bisnis merupakan serangkaian aktivitas yang saling berhubungan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. penelaahan. bab ini dilengkapi dengan dua appendiks yaitu (i) summary atas penelitian World Bank terkait proses bisnis di satker Departemen PU. (ii) pembuatan komitmen. Hammer and Champy (1995). pengesahan dan revisi dokumen Pelaksanaan Anggaran. belum dilakukan penelitian dan konfirmasi langsung terhadap satker terpilih. Process mapping juga disusun dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik dari sebuah proses. Secara lebih spesifik. Selanjutnya. salah satunya dilakukan dengan menyusun process mapping. 1996).BAB III Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. (v) manajemen kas. Process mapping akan disusun menurut fase-fase dalam siklus anggaran sebagaimana ditunjukan dalam relationship matrix dalam BabI. (iii) pengajuan pembayaran. Definisi dan Konsepsi Sebagaimana telah disinggung dalam bab sebelumnya. mendefinisikan proses sebagai sekumpulan aktifitas yang mengolah input menjadi output tertentu yang bernilai bagi stakeholder. Disamping itu. Penelitian dan konfirmasi langsung tersebut akan dilakukan awal tahun 2010 sejalan dengan berbagai diskusi interaktif yang sudah direncanakan sejalan. A. DTP  34  . Disampaikan bahwa proses bisnis satker BLU belum menjadi fokus dalam draft modul ini dan akan dikerjakan pada awal tahun 2010 bersama dengan aspek penerimaan dari pengelolaan perbendaharaan di satker. dibahas pula aspek dukungan aplikasi-aplikasi yang terdapat di satker serta keterkaitan antar aplikasi baik di dalam satker sendiri maupun dengan aplikasi di DJPB. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang existing proses bisnis (i) penyusunan. Process mapping berguna sebagai alat analisis dan komunikasi untuk dapat lebih memahami dan menyempurnakan proses dengan kemungkinan menghilangkan atau menyederhanakan bagian dari proses (Hunt. sejalan dengan kerangka ITIL v. Subdit. dan (vi) akuntansi dan Pertanggungjawaban. (iv) pencairan dana. TPBE. Rodger and Pendankar. dan (ii) summary atas proses bisnis satker BLU. Namun demikian. 2001). Dalam bab ini akan dibahas dengan lebih rinci proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker.

Secara garis besar ada tiga tahap yang harus dilalui untuk menjadikan suatu DIPA secara hukum sah sebagai dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Tiga tahap itu yaitu penyusunan konsep DIPA oleh Pengguna Anggaran (PA) / Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Penyusunan Konsep DIPA  Penyusunan konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. dan identifiable outcomes and beneficiaries. Penyusunan. Penelaahan Konsep DIPA Penelaahan atas konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. Penelaahan. Penelaahan konsep DIPA yang dilakukan Direktorat Pelaksanaan Anggaran meliputi DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan. penelaahan konsep DIPA di Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan pengesahan DIPA oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Pengesahan dan Revisi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi Satker dalam melaksanakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan APBN. definable begining and end point.02/2008 dilakukan oleh PA/KPA dengan mengacu pada: (I) Undang-undang APBN. Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksinya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan 1. Direktorat Pelaksanaan Anggaran /Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Sedangkan penelaahan konsep DIPA yang dilakukan di Kanwil Subdit. TPBE. (III) RKA-KL yang telah disetujui DPR dan ditelaah oleh DJA serta (IV) Bagan Akun Standar. a. b. (II) Peraturan Presiden (Perpres) tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP) / Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) untuk konsep DIPA yang ditelaah didaerah. lebih dari sekedar dokumentasi.sebagaimana disinggung dalam Bab II. B. yaitu cross functional boundaries. diharapkan process mapping dapat memenuhi fungsinya sebagai alat komunikasi dan analisis. Dengan cara demikian.02/2008 dilakukan bersama-sama antara petugas dari kementrian/lembaga yang bersangkutan dengan petugas dari Ditjen Perbendaharaan cq. DTP  35  .

 DTP  36  . meliputi : a) Kesesuaian penempatan jenis belanja.Ditjen Perbendaharaan meliputi DIPA Satker vertikal Kementrian/Lembaga di daerah dan DIPA Dana Dekonsentrasi. program. Rincian Pengeluaran) dengan kaidah akuntansi pemerintah. dan kelompok pengeluaran. Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan). meliputi pencantuman perkiraan penerimaan perpajakan dan PNBP tiap bulan. 2) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman I B. 5) Penilaian terhadap perkiraan penerimaan tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. 6) Penjelasan tentang rincian belanja kelompok akun yang memerlukan perlakuan khusus dan/atau persyaratan tertentu pada saat proses Subdit. Umum) dengan prinsip pembayaran dalam mekanisme APBN. c) Kesesuaian pencantuman sasaran dan indikator keluaran. 3) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman II. sub kegiatan. TPBE. b) Kesesuaian pencantuman sumber dana. Penelaahan atas konsep DIPA dilakukan dengan aktivitas sebagai berikut : 1) Penilaian kesesuaian pencantuman dan penuangan anggaran (Konsep DIPA halaman I A. meliputi pencantuman rencana penarikan dana tiap bulan sesuai pagu per kegiatan dan per jenis belanja. 4) Penilaian terhadap rencana penarikan dana tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. kegiatan. subfungsi. b) Kesesuaian pencantuman akun pengeluaran. meliputi : a) Kesesuaian pencantuman uraian organisasi dan satuan kerja. meliputi : a) Kesesuaian pencantuman kode bayar ( kode KPPN). Umum) dengan rincian pada Perpres mengenai RABPP/SRAA. b) Kesesuaian pencantuman uraian dan pagu anggaran pada fungsi. Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan). c) Kesesuaian pencantuman nomor registrasi pinjaman/hibah luar negeri. d) Kesesuaian pencantuman tata cara penarikan dana.

 DTP  37  . pengeluaran keperluan sehari-hari perkantoran. rincian sumber dana DIPA. dan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk DIPA Satker vertikal dan DIPA Dana Dekonsentrasi. unit organisasi dan satuan kerja). Catatan Penelaahan memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran. Pengesahan DIPA Pengesahan DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. Berikut ini gambar 3. daya dan jasa. Dana yang dapat dicairkan dibatasi untuk pembayaran gaji pegawai.pencairan dana (Konsep DIPA halaman IV) meliputi (a) Belanja terikat yang tidak diperkenankan dikurangi dan direlokasi. dan persetujuan penelaahan.2 menggambarkan flowchart proses bisnis penelaahan dan pengesahan DIPA untuk mempermudah pemahaman dari uraian Subdit. pihak-pihak yang melakukan penelaahan. Sedangkan dana untuk jenis pengeluaran lainnya harus diblokir. Kantor Bayar dan pernyataan dari BUN bahwa perhitungan biaya dalam DIPA merupakan tanggung jawab PA/KPA. unit organisasi dan satuan kerja). maka diterbitkan DIPA sementara oleh Direktorat Pelaksana Anggaran / Kanwil Ditjen Perbendaharaan dengan berdasar kepada Perpres mengenai RABPP / SRAA. (b) kegiatan dan alokasi dana yang diblokir pada saat penelaahan DIPA. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyampaikan konsep DIPA sampai dengan tanggal yang telah ditetapkan. c. Atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan telah memenuhi ketentuan dibuatkan Catatan Penelaahan yang berfungsi sebagai surat pengantar untuk menyusun Surat Pengesahan DIPA. Surat Pengesahan DIPA memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran. (3) hal-hal lain yang perlu dituangkan dalam Catatan DIPA. TPBE. catatan atas penelaahan DIPA. Pengesahan DIPA dilakukan dengan menerbitkan Surat Pengesahan DIPA yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan.02/2008 merupakan penetapan oleh Bendahara Umum Negara atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan memuat pernyataan bahwa DIPA berkenaan tersedia dananya dalam APBN dan dapat menjadi dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. dan lauk pauk/bahan makanan. pagu anggaran per jenis belanja.1 dan 3. pagu anggaran DIPA.

 TPBE. DTP  38  .diatas yang dipisahkan antara proses di Direktorat Pelaksanaan Anggaran dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Subdit.

1 39  . PA DJPBN Upstream Gambar 3. DTP Downstream Satker Dit.Subdit. TPBE.

 DTP  40  .2 Subdit. TPBE.Gambar 3.

 TPBE. Revisi DIPA Revisi DIPA diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PMK. (III) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker yang bersangkutan. (V) rupiah murni pendamping PHLN. Subdit. Berikut ini gambar 3. Revisi DIPA dibuat oleh PA/KPA dan diajukan kepada Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapat pengesahan. DIPA Satker vertikal.3 menggambarkan flowchart proses bisnis revisi DIPA untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. disahkan oleh Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. DTP  41  . (II) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi kegiatan 0002 pada Satker lain untuk akun yang sama. (VI) alokasi dana kegiatan yang bersifat multi years. Sedangkan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta).02/2009. (IV) alokasi dana untuk pembayaran berbagai tunggakan. disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. DIPA Dekonsentrasi dan DIPA Tugas Pembantuan baik untuk DIPA yang awalnya disahkan di pusat maupun daerah. Revisi DIPA adalah perubahan dan/atau pergeseran rincian anggaran dalam DIPA.d. Revisi DIPA dilaksanakan berdasarkan perubahan SAPSK atau tanpa perubahan SAPSK. Sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan terhadap (I) alokasi kegiatan 0001 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker lain. dan (VII) alokasi yang dana pada rincian kelompok dan/atau pengeluaran/subkegiatan/kegiatan telah dikontrakkan direalisasikan dananya sehingga menjadi minus. Pengesahan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta.

3 Subdit. DTP  42  .Gambar 3. TPBE.

manajemen komitmen ditujukan untuk mengelola tindakan-tindakan awal yang menimbulkan kewajiban negara dalam rangka disiplin anggaran (ketaatan terhadap batas pengeluaran) dan menghindari timbulnya arrears 1. 2007). manajemen komitmen juga merupakan salah satu alat untuk melakukan cash forecasting dalam rangka mewujudkan cash management yang berorientasi ke depan (forward cash planning) yang berbeda dengan cash forecasting berdasarkan data trend dari periode sebelumnya (historical data trend). Namun demikian. DTP 43  .  1 Subdit. TPBE. Pembayaran untuk gaji. Dengan mencatatkan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan. maka institusi perbendaharaan dapat membuat perencanaan kas yang berorientasi ke depan (forward cash plans) berdasarkan aliran kas yang akan menyertai sebuah komitmen. 2007). Komitmen khusus (specific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu. Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment (Radev & Khemani.  Arrears dapat diartikan sebagai kewajiban pembayaran yang tertunda di mana Negara tidak dapat  memenuhi kewajiban tersebut dalam jangka waktu tertentu (Radev & Khemani. Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan. Pada dasarnya. tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri. 2007). Definisi Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu (Radev & Khemani. Pembuatan Komitmen Perekaman komitmen (budget commitment recording) ke dalam suatu sistem yang terintegrasi antara institusi treasury dengan Spending Unit (Satker) merupakan ciri utama dari commitment management. Tujuan dan Fungsi Pelaksanaan manajemen atas komitmen memiliki dua tujuan utama yang memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi. b. a.2. Secara umum terdapat dua jenis komitmen.

d. Chart of Account yang ada belum dapat mengakomodasi pencatatan untuk commitment stages dalam pelaksanaan anggaran. Koneksitas dengan Satker Pada saat ini belum tersedia mekanisme yang dapat mengintegrasikan komitmen yang telah dibuat satker ke dalam sistem perbendaharaan negara. Patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the managers manage dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer. Di samping itu. Dalam hal manajemen komitmen. Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. TPBE. belum secara otomatis terekam rencana tahapan-tahapan pembayarannya untuk masing masing tahun anggaran. DTP 44  . Dengan model koneksitas seperti ini. Demikian pula untuk kontrak yang multi years. khususnya yang berkaitan dengan manajemen kas di DJPBN.c. existing koneksitas proses bisnis di Satker dengan proses bisnis perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan justru terjadi pada saat pencairan dana. kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementerian negara/lembaga. informasi perihal kontrak yang disampaikan ke Ditjen Subdit. Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat dilakukan jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. di mana informasi yang terkait dengan kontrak pengadaan dan jasa disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005). Kewenangan administratif tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan). Kerangka Peraturan Perundangan Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen dan dapat dijadikan landasan untuk pengembangan manajemen komitmen di masa yang akan datang.

2. Jenis Pembayaran Sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. 900 Juta . Adapun jumlah uang persediaan yang dapat dimintakan adalah sebagai berikut: • 1/12 dari pagu maksimal Rp. Diantaranya melalui penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah (SE-02/PB/2006) serta penyampaian Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008 melalui aplikasi Peran 2008 (SE-38/PB/2008). Namun kedua hal tersebut berjalan kurang efektif. TPBE. Sisa UP pada akhir tahun anggaran harus disetor ke rekening Kas Negara paling lambat tanggal 31 Desember. 50 Juta untuk pagu sampai dengan Rp. DTP 45  Rp. Pengajuan Pembayaran a.4 Miliar • 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp. bersifat daur ulang (revolving) untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari perkantoran yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Pada saat ini tengah dikembangkan model Peran 2009 yang lebih komprehensif yang memperhatikan data aktual dari kegiatan yang sudah atau belum dikontrakkan dari sisa pagu anggaran yang tersedia. 100 Juta untuk pagu diatas sampai dengan Rp. 200 Juta untuk pagu diatas Rp.900 Juta • 1/18 dari pagu maksimal Rp. Beberapa inisiatif telah diupayakan menutup kekurangan ini. 500 Juta Penggantian UP dapat dilakukan setelah UP digunakan sekurang-kurangnya 75% dari UP yang diterima.4 Miliar • 1/24 dari pagu maksimal Rp. 3. 2. Dalam Subdit.06/2005. Uang persediaan adalah Uang Muka Kerja yang diberikan kepada bendahara pengeluaran.Perbendaharaan menjadi kurang relevan untuk keperluan forward cash planning karena baru dapat diketahui pada saat pengeluaran dari kas negara dilakukan. baik karena kurangnya pemahaman Satker maupun karena sifatnya yang ad-hoc untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tertentu pada akhir tahun anggaran (Peran 2008). jenis pembayaran terdiri dari: 1) Pembayaran Dengan Uang Persediaan.

Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian terhadap kelengkapan dan ketepatan pembebanan dalam SPP. Adapun kelengkapan SPP sebagai berikut: 1) Kelengkapan SPP-UP (Uang Persediaan) : Surat Pernyataan dari KPA atau Pejabat yang ditunjuk. Pembayaran tidak boleh melebihi Rp 10 juta kepada satu rekanan. b. Subdit. Proses bisnis Penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM) Proses penerbitan SPM diawali dari dibuatnya SPP oleh pejabat yg bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan (Pejabat Pembuat KomitmenPPK) selaku pemberi kerja untuk diteruskan ke pejabat penandatangan SPM. Pembayaran langsung merupakan jenis pembayaran yang utama. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. TPBE. DTP 46  . Daftar Nominatif pemilik tanah yg ditandatangani KPA untuk Pengadaan tanah yang luas nya kurang dari 1 hektar. Daftar Nominatif pemilik tanah dan besaran harga tanah yang ditanda tangani KPA dan diketahui Oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT) untuk Pengadaan Tanah yg luasnya lebih dari 1 hektar dilakukan dengan bantuan PPT setempat. Tetap memperhatikan ketentuan perpajakan. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada pejabat penandatangan SPM. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan SPP dan membuat/ menandatangani tanda terima SPP berkenaan. Pembayaran dengan uang persediaan memiliki kriteria sebagai berikut: Untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. 2) Pembayaran Langsung. Dimana pembayaran dilakukan langsung ke rekening yang berhak/rekanan/pihak ketiga atau untuk keperluan tertentu melalui Bendahara Pengeluaran.hal Penggunaan UP belum mencapai 75% sedangkan satker memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia dapat dimintakan Tambahan Uang Persediaan (TUP). Petugas penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. menyatakan tidak untuk membiayai pengeluaran yang harus dengan LS. b.1.

 TPBE. bahwa dana untuk kebutuhan yang mendesak. bila dipersyaratkan SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau Pejabat yang ditunjuk. 200 Juta Dari Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk TUP diatas Rp. Surat Dispensasi : Dari Kepala KPPN untuk TUP s/d Rp. DTP 47  . 3) Kelengkapan SPP-GU (Penggantian Uang Persediaan).Pengadaan Tanah yang pembayarannya Melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Kantor Pusat Ditjen PBN / Kanwil Ditjen PBN sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku. 4) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas: Daftar gaji Surat Keputusan (SK) Subdit. Dana akan habis digunakan dalam 1 bulan sejak terbit SP2D Tidak untuk pengeluaran dengan LS Sisa setelah 1 bulan akan disetor ke rekening Kas Negara Rekening Koran yang menunjukan saldo terakhir. 200 Juta Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk. 2) Kelengkapan SPP-TUP (Tambahan Uang Persediaan) : Rincian pengunaan dana dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk. UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP Lainnya. Untuk yang dibiayai dari rupiah murni: SPTB (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja) Kuitansi SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk. Untuk yang dibiayai dari pinjaman atau hibah Luar Negeri (PHLN): SPTB Rekapitulasi Pengeluaran per kategori NPHLN Approval Program dari ADB.

 TPBE. DTP 48  . 8) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran Langsung) untuk Pengadaan barang dan jasa: Kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan.Surat Pernyataan Daftar Keluarga (Kp4) Copy surat nikah Copy akte lahir SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran) Daftar Potongan sewa rumah dinas Keterangan Sekolah/kuliah Surat kematian SSP Pph 21 sesuai peruntukan. Subdit. 5) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk lembur: Daftar lembur surat perintah kerja lembur SSP Pph 21 6) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Honor/Vakasi: Daftar honor/vakasi Surat Keputusan (SK) SSP Pph 21 7) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas: Daftar gaji Surat Keputusan (SK) Surat Pernyataan Daftar Keluarga (Kp4) Copy surat nikah Copy akte lahir SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran) Daftar Potongan sewa rumah dinas Keterangan Sekolah/kuliah Surat kematian SSP Pph 21 sesuai peruntukan.

dan Pembayaran. Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani Wajib Pajak. Berita Acara sekurang-kurangnya dalam rangkap 6 disampaikan kepada : Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM. Surat Pelepasan Hak adat ( Bila diperlukan). SPPT PBB tahun transaksi. Satu tembusan kepada KPPN Pembayar. SSP PPh Final atas Pelepasan Hak. Foto copy kepemilikan Tanah. Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. Pelepasan /Penyerahan hak atas tanah/ akta jual beli di hadapan PPAT. Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/ hibah luar negeri Ringkasan Kontrak yang dibuat sesuai dengan format untuk rupiah murni atau untuk PHLN. 10) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk langganan daya dan jasa: Bukti tagihan Subdit. Kuitansi. Surat Persetujuan Harga. 9) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Pengadaan Tanah: Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari 1 hektar. Kuitansi yang disetujui oleh Kuasa PA atau pejabat yg ditunjuk. TPBE. Jaminan Bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank. BA Penyelesaian Pekerjaan. DTP 49  . Serah Terima Pekerjaan. Masingmasing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak.Surat Pernyataan Kuasa PA mengenai penetapan rekanan. Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan.

Telkom. SSBP (Surat Setoran Bukan Pajak). TPBE.000. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut: 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.2. Dalam pengajuan SPM-TUP/ GUP/ LS PNBP ke KPPN. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran..Nomor rekening pihak ke tiga (PLN. 6) Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP- TUP/SPPGUP/SPP-LS. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran.(lima ratus juta rupiah). DTP 50  . PDAM) 11) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Perjalanan dinas: Surat Tugas SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) Kuitansi Daftar nominatif 12) Kelengkapan SPP untuk PNBP UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp. Pejabat penandatangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap 3 (tiga) Subdit. 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak.000. 500. b. satker pengguna harus melampirkan Daftar Perhitungan Jumlah MP. dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA (PNBP) tahun anggaran sebelumnya. Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan maksimum pencairan (MP).

8. LS belanja pegawai dan LS non belanja pegawai. 3. 3. TPBE.4.untuk disampaikan kepada KPPN (lembar pertama dan kedua) dan sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan (lembar ketiga). Berikut ini digambarkan proses bisnis penerbitan SPM UP. DTP 51  . GUP. 3. Subdit. sampai dengan pembayarannya diterima di Satker pada gambar 3.7 dan 3.5.6.

Gambar 3. DTP 52  . TPBE.4 Subdit.

 DTP 53  .5 Subdit.Gambar 3. TPBE.

Gambar 3.6 Subdit. DTP 54  . TPBE.

Gambar 3.7 Subdit. TPBE. DTP 55  .

8 Subdit.Gambar 3. DTP 56  . TPBE.

Pejabat Pembuat Komitmen/Penanggung jawab kegiatan (PPK). Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket Penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM (front office) memeriksa kelengkapan SPM. TPBE. tembusan surat usulan pejabat perbendaharaan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dan surat pemberitahuan dari KPA Satker yang dilampiri spesimen tanda tangan pejabat baru. DTP 56  .4. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. Pencairan Dana 1) Dokumen sebagai Persyaratan dalam Penerbitan SP2D Prosedur Umum Pembayaran Oleh KPPN berdasarkan Keppres 42 tahun 2002 mewajibkan KPPN hanya dapat melakukan pembayaran setelah menerima dokumen-dokumen sebagai berikut: a. Tembusan SK Pengangkatan Pengelola Anggaran dari Menteri/Pimpinan Lembaga / Pejabat yang ditunjuk dan spesimen tandatangan yaitu: Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Satker menyampaikan Berita Acara serah terima jabatan. mengisi check list kelengkapan berkas SPM. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. yang memuat alokasi dana yang dibebankan pada SPM yang disampaikan. Dokumen Penyediaan Dana (DIPA/Dokumen Lain yang disamakan). Jika ada pergantian pejabat perbendaharaan. Bendahara Pengeluaran. 2) Prosedur Penerbitan SP2D Prosedur penerbitan SP2D dilakukan ketika SPM disampaikan kepada KPPN. c. beserta lampirannya sesuai ketentuan dan jenis pembayaran. Pejabat Penanda tangan SPM/penguji SPP. b. b. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM. Surat Perintah Membayar (SPM). c. Subdit. dengan langkah-langkah sebagai berikut (Perdirjen 66 tahun 2005 dan Kep297/PB/2007) : a. meneliti kelengkapan SPM dan lampirannya.

Untuk keperluan pembayaran TUP : Rincian rencana penggunaan dana. untuk keperluan pembayaran GUP : Untuk yang dibiayai dari rupiah murni: SPTB. Surat-surat Keputusan Kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji. Subdit.000. Rekapitulasi pengeluaran per kategori NPHLN. Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa dana Tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. Untuk yang dibiayai dari PHLN: SPTB. dan tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung.Kelengkapan SPM dimaksud meliputi: Untuk keperluan UP : Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Faktur pajak dan SSP. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai : Daftar Gaji/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Lembur/Honor dan Vakasi yang ditanda tangani oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran. Surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk TUP diatas RP 200. bila dipersyaratkan. DTP 57  . TPBE. Surat Keputusan Pemberian honor/vakasi dan SPK lembur.000 (dua ratus juta rupiah). apabila terdapat sisa dana TUP harus disetorkan ke Rekening Kas Negara. Approval program dari ADB. Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak).

Pengujian SPM Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersifat substansif dan formal. memeriksa kebenaran dalam penulisan. memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. Daftar Nominatif Perjalanan Dinas). e. DTP 59  . Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: Penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan. menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Surat Keputusan. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. d. Pengembalian SPM kepada penerbit SPM. Pengujian formal dilakukan untuk: mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan. menguji faktur pajak beserta SSPnya. Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. Surat Setoran Pajak (SSP). untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai : Resume Kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Perjalanan Dinas. Subdit. Pengujian substantif dilakukan untuk: menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. SPTB. TPBE.Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) untuk persyaratan pembayaran uanga makan.

SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. Daftar Penguji dibuat dalam rangkap 3 (tiga) sebagai pengantar SP2D dengan ketentuan: Ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan diketahui oleh Kepala KPPN serta dibubuhi stempel timbul kepala KPPN. Sedangkan untuk SP2D lembar-1 disalurkan ke Seksi Bank/Giro Pos. SP2D Gaji lainnya paling lambat 5 hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut: SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat tanggal 25 sebelum bulan pembayaran. DTP 60  . Lembar kesatu dan lembar kedua dilampiri asli SP2D dikirimkan melalui petugas kurir KPPN ke BI/Bank Operasional /Sentral Giro. SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu jam setelah diterima SPM secara lengkap. Daftar penguji lembar kedua setelah ditandatangani oleh BI/ Bank Operasional/ Sentral Giro dikembalikan kepada KPPN melalui petugas kurir yang sama. f. Daftar penguji lembar ketiga sebagai pertinggal di KPPN. disalurkan ke Seksi Verifikasi dan Akuntansi SP2D lembar ke-3 dan SPM lembar ke-1. Subdit. SP2D lembar-1 ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan dibubuhi stempel timbul yang nantinya disampaikan kepada Bank Operasional. Ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan untuk kemudian disalurkan ke Satker yang bersangkutan SP2D lembar ke-2 dan SPM lembar ke-2. Penerbitan SP2D oleh KPPN dilakukan dengan cara: SP2D diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga).Pengesahan Surat Perintah Membayar Penggantian UP (SPM-GUP) Nihil atas TUP dilaksanakan KPPN dengan membubuhkan Cap pada SPM GU Nihil dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan. TPBE.

 TPBE.9. DTP 61  . Subdit.Berikut ini digambarkan proses bisnis penerbitan SP2D UP/TUP/GUP/LS sampai dengan pembayarannya diterima di Satker pada gambar 3.

9 Subdit.Gambar 3. TPBE. DTP 62  .

Manajemen Kas a. perencanaan kas yang baik. berikut biaya yang terkait dengan idle cash tersebut. TPBE. yaitu risiko operasional terkait pembayaran tagihan pemerintah dan penerimaan negara secara tepat waktu. 2004). pencarian sumber Subdit. terutama. Definisi Manajemen kas di sektor pemerintahan merupakan suatu strategi dan proses yang terkait dengan pengelolaan secara cost-effective saldo dan aliran kas jangka pendek pemerintah (Williams. 2) Mengurangi risiko. Tujuan Pelaksanaan manajemen kas secara efektif pada sektor pemerintahan memiliki beberapa tujuan (Williams. misalnya) dan antara pemerintah dengan sektor lain (misalnya adalah sektor keuangan). 2004).5. yaitu : 1) Minimalisasi jumlah idle cash balance pemerintah terutama yang terdapat pada perbankan. 3) Melalui berbagai instrumen pemerintah (seperti Treasury Bills dan pinjaman pemerintah jangka pendek) memberikan beberapa opsi kepada Pemerintah terkait pengelolaan kebutuhan pembiayaan pemerintah sehingga dapat menghindari risiko pembiayaan berbiaya tinggi. Manajemen kas dengan demikian melibatkan baik unit di dalam pemerintah itu sendiri (antara central treasury dengan spending agencies. Sementara Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 Tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah mendefinisikan perencanaan kas sebagai kegiatan memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas dalam jangka waktu tertentu sehingga negara memiliki saldo kas cukup untuk membiayai kewajiban negara dalam waktu tertentu dalam rangka pelaksanaan APBN. Kerangka Peraturan perundangan Dalam peraturan perundangan terdapat beberapa pasal terkait manajemen kas yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengembangan manajemen kas di sektor pemerintahan. Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa fungsi perbendaharaan meliputi. b. DTP 63  . c. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan.

program. Hal ini diimplementasikan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan.02/2008 Pasal 6 ayat (2) yang menyebutkan bahwa DIPA memuat uraian fungsi/sub fungsi. Selanjutnya pada ayat (4) disebutkan bahwa dalam rangka penyusunan perencanaan kas. DTP 64  .38/PB/2008 tentang Penyampaian Subdit. d.39 Tahun 2007 Pasal 32 ayat 4). Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker Mekanisme koneksitas manajemen kas antara Ditjen Perbendaharaan sebagai kuasa BUN dengan Kementerian Negara/Lembaga/Satker yang ada saat ini adalah melalui penyampaian proyeksi penerimaan dan pengeluaran APBN oleh Kementerian Negara/Lembaga (PP No. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah. TPBE. jenis belanja. Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat menentukan strategi manajemen kas untuk mengatasi kekurangan kas maupun untuk menggunakan kelebihan kas. berdasarkan perencanaan arus kas dan saldo kas minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rincian kegiatan/sub kegiatan. Kementerian Negara/Lembaga dan pihak-pihak lain yang terkait dengan penerimaan dan pengeluaran APBN wajib menyampaikan proyeksi penerimaan dan pengeluaran secara periodik kepada Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara. Lebih mendalam mengenai proyeksi Penerimaan dan Pengeluaran/Belanja Kementerian Negara/Lembaga di atur melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 Tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE. Pasal 32 ayat (1) menyebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat bertanggung jawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal. kelompok mata anggaran/akun dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan Kementerian Negara/Lembaga. sasaran program. Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa.

 TPBE.p. DTP 65  . 2) Laporan Satker disampaikan ke KPPN paling lambat 3) Atas dasar laporan yang dikirimkan oleh Satker. KPPN menyusun laporan sebagai berikut: a) Realisasi dan Perkiraan Belanja b) Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga 4) Laporan KPPN disampaikan kepada : a) Direktur Jenderal Perbendaharaan u.p.38/PB/2008): 1) Satker menyusun laporan sebagai berikut a) Kegiatan yang telah dikontrakkan dan belum lunas dibayar dalam DIPA.Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008. c) Perkiraan Belanja Satuan Kerja. Direktur Pengelolaan Kas Negara Subdit. 4) KPPN menyampaikan laporan rekapitulasi rencana penerimaan dan pengeluaran kas kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. Sementara proses pelaporan realisasi dan perkiraan belanja Kementerian Negara/Lembaga adalah sebagai berikut (SE. 3) KPPN membuat rekapitulasi laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas yang diterima dari instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah dalam wilayah kerjanya. b) Kegiatan yang akan dilaksanakan secara kontraktual/non kontraktual. Proses penyampaian laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah (SE-02/PB/2006) adalah sebagai berikut: 1) Laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah agar disampaikan setiap bulan kepada KPPN. 2) Laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas merupakan rencana penerimaan dan pengeluaran kas berjangka satu bulan ke depan dengan perincian rencana penerimaan dan pengeluaran perminggu. Direktorat Pengelolaan Kas Negara selambat-lambatnya minggu ketiga sebelum bulan berkenaan.

10). untuk selanjutnya menyusun rekapitulasi dan melakukan analisis. Subdit. TPBE. serta melaporkannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan Penyusunan dan penyampaian laporan tersebut di atas dilakukan dengan menggunakan program aplikasi realisasi dan perkiraan belanja tahun anggaran 2008 (Peran 2008).b) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.11) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. dan proses bisnis penyusunan laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga (gambar 3. DTP 66  . Berikut adalah proses bisnis penyusunan laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah (gambar 3.

Gambar 3. DTP 67  . TPBE.10 Subdit.

11 Subdit. TPBE.Gambar 3. DTP 68  .

Sesuai dengan lampiran I dan III SE tersebut data PNBP merupakan salah satu elemen penting dalam rangka perencanaan Namun demikian dalam pelaksanaannya kurang efektif. Sistem Informasi Subdit. yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SA-KUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). Hal-hal yang berkaitan dengan penerimaan negara. Salah satu sub sistem dari SA-BUN adalah Sistem Akuntansi Pusat (SiAP). Rencana perkiraan PNBP merupakan bagian dari rencana penarikan dana dan perkiraan penerimaan (halaman III DIPA). LKPP tersebut dihasilkan dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). Laporan Realisasi APBN (LRA) dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah melalui Surat Edaran Nomor SE-02/PB/2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan Dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah. DTP 69  . Arus kas. Perbendaharaan (usulan Kanwil DJPBN Jambi). Dalam sub bagian ini (sebagaimana diusulkan oleh banyak pihak) sekilas akan dibahas keterkaitan pengelolaan PNBP di Satker dan aktifitas perencanaan kas di Ditjen Perbendaharaan. Pertanggungjawaban Dalam rangka penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Sebelumnya aktifitas yang berkaitan dengan hal tersebut pernah dilakukan oleh Seksi Pendapatan di KPKN. terutama. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 6. yang terdiri dari Sistem Akuntansi-Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). sangat dimungkinkan untuk merevitalisasi penatausahaan dan pelaporan PNBP oleh Ditjen kas.e. Sedangkan. SAI terdiri dari beberapa subsistem akuntansi yaitu Sistem Akuntansi Keuangan (SAK). TPBE. Permasalahannya adalah tidak adanya sistem atau mekanisme untuk melakukan updating perkiraan penerimaan PNBP sesuai dengan realisasi selama tahun anggaran berjalan. disusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang terdiri dari Neraca. Pengelolaan penerimaan negara di Satker setidaknya meliputi penerimaan pajak dan. Berkaitan dengan kondisi tersebut.

dan dokumen lain yang dipersamakan. TPBE. Subdit. SSP. Realisasi Pendapatan: Bukti Penerimaan Negara (BPN) disertai dokumen pendukung SSBP. 171/PMK. SSBC.Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN). Realisasi Pengeluaran : SPM beserta SP2D. Dalam rangka pelaksanaan selaku Pengguna sistem Anggaran akuntansi (PA) dan tersebut. dan Sistem Akuntansi-Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (SA-BAPP). SSPB. Mencetak dan memverifikasi RTH dengan dokumen sumber. Ditjen Kementerian/Lembaga Perbendaharaan selaku BUN membentuk unit-unit akuntansi. maka pembahasan akan difokuskan pada proses bisnis dan koneksitas yang berkaitan dengan SAK di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) dan SiAP di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Bendahara Umum Negara (UAKBUN) Daerah-KPPN. Prosedur dan tahapan sejak perekaman dokumen sumber sampai dengan pelaporan dalam rangka penyusunan laporan keuangan Kementrian Negara/Lembaga di tingkat UAKPA adalah sebagai berikut: Menerima dan memverifikasi dokumen sumber transaksi keuangan dan barang milik negara. Neraca dan Catatan ata Laporan Keuangan Satuan Kerja. Dokumen penerimaan yang terdiri dari : Estimasi Pendapatan yang dialokasikan: (Pajak. Sebagaimana diatur dalam Lampiran PMK RI No. dan dokumen lain yang dipersamakan.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah dokumen sumber dalam pelaksanaan SAI untuk menyusun laporan keuangan di tingkat Satker yang antara lain berupa: a. Proses Bisnis di Satker selaku UAKPA: Setiap UAKPA wajib memroses dokumen sumber unuk menghasilkan laporan berupa LRA. SKO. Dokumen pengeluaran yang terdiri dari : Alokasi Anggaran DIPA. dan dokumen lain yang dipersamakan. DTP 70  . Untuk kajian proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis kuasa BUN. b. Merekam dokumen sumber. PNBP dan Hibah pada DIPA dan dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA).

Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPPA-W/UAPPA-E1 setiap semester. dan menyampaikannya UAPPA-W/UAPPA-E1 beserta ADK setiap bulan. Mencetak Neraca. Laporan Realisasi Anggaran. Mencetak dan mengirim laporan keuangan beserta ADK ke KPPN setiap bulan.Mencetak dan memverifikasi buku besar.12) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. Subdit. TPBE. DTP 71  . Melakukan back up data Berikut ini proses bisnis penyusunan Laporan Keuangan tingkat UAKPA (gambar 3. Melakukan rekonsiliasi data dengan KPPN dan menandatangani Berita Acara Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika terdapat kesalahan pada data UAKPA.

12 Subdit. DTP 72  . TPBE.Gambar 3.

DIPA. dan dokumen lain yang dipersamakan termasuk revisinya. Kiriman Uang (KU)-Keluar. d. 2. dan Seksi Verifikasi dan Akuntansi. SSPB. TPBE. Menerima dan menatausahakan dokumen sumber yang berupa: a. proses perekaman dokumen sumber dilakukan di Seksi Perbendaharaan. Seksi Verifikasi dan Akuntansi menerima data digital dari Seksi Bank dan Giro berupa file yang kemudian di-up load dengan menggunakan aplikasi SIK-AK. Nota Debet. Seksi Verifikasi dan Akuntansi merekam dokumen sumber berupa Estimasi pendapatan yang dialokasikan (DIPA). Nota Kredit. c. Prosedur dan tahapan sejak penerimaan dokumen sumber sampai dengan penyampaian LKPP kepada unit akuntansi yang lebih tinggi. Daftar Penguji dan bukti pendukung lainnya. Kemudian Seksi Verifikasi dan Akuntansi melakukan verifikasi transaksi keuangan dan akuntansi. ADK SPM yang diterima oleh Sub-bagian Umum dari Satker yang selanjutnya digunakan oleh Seksi Perbendaharaan dalam proses pengujian SPM. SP2D. LRA dan Neraca SAU dan data transaksinya merupakan bahan rekonsiliasi dengan Satker di wilayah kerja KPPN bersangkutan. SSBP. Seksi Bank/Giro Pos. b. maka Seksi Verifikasi dan Akuntansi mengirimkan kembali kepada Seksi Bank dan Giro serta Seksi Subdit. adalah sebagai berikut: 1. Jika dalam proses verifikasi tersebut ditemukan kesalahan. yang dihasilkan dari Sistem Akuntansi Umum (SAU). Melakukan proses perekaman dokumen sumber. Wesel Pemerintah. KPPN memroses data transaksi penerimaan dan pengeluaran yang berasal dari Rekening KUN untuk menghasilkan Laporan Keuangan KPPN. SP3. SPM. KU-Masuk dan dokumen pendukung lainnya. Bukti Penerimaan Negara (BPN) antara lain: formulir SSP. DTP 73  . Seksi Persepsi. SSBC. Memo Penyesuaian.Proses bisnis di KPPN selaku UAKBUN Daerah-KPPN: Selaku UAKBUN-Daerah. Laporan Keuangan dimasud terdiri dari: Laporan Arus Kas dan Neraca KUN yang dihasilkan dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Neraca SAU.

Menerima ADK dari satuan kerja (UAKPA) setiap bulan. DTP 74  . c. b. d. 4. Laporan yang dihasilkan SAKUN dan SAU untuk tingkat KPPN. Melakukan rekonsiliasi data transaksi Sistem Akuntansi Umum (SAU) dengan data transaksi Sistem Akuntansi Instansi (SAI).Apabila dalam aktivitas tersebut di atas tidak ditemukan kesalahan. maka dilanjutkan dengan proses posting. e. KPPN mengirimkan data SAU dan SAKUN berupa ADK ke Kanwil DJPBN sesuai dengan periode yang ditentukan. Melakukan rekonsiliasi laporan keuangan SAU dengan satuan kerja (UAKPA) a.13) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. 5. Mencetak laporan keuangan SAKUN dan SAU tingkat KPPN Setelah melakukan proses posting.Perbendaharaan. Pengiriman data dan Laporan Keuangan. Mengirim Salinan BAR yang telah ditanda tangani Kepala KPPN dan KuasaPengguna Anggaran ke Kanwil DJPBN. 3. Membuat berita acara rekonsiliasi (BAR) yang ditandatangani oleh Kepala KPPN dan Kuasa Pengguna Anggaran. Berikut ini proses bisnis penyusunan Laporan Keuangan pada UAKBUNDaerah (KPPN) (Gambar 3. TPBE. Seksi Verifikasi dan Akuntansi mencetak Laporan Keuangan Tingkat KPPN yang dihasilkan dari setelah melakukan proses posting data. Subdit. Melakukan up load ADK ke dalam Aplikasi Seksi Verifikasi dan Akuntansi.

13 Subdit. TPBE.Gambar 3. DTP 75  .

Berikut ini adalah usulan bisnis proses LPJ Bendahara instansi (Gambar 3. Perlu adanya kesamaan persepsi apakah peraturan terkait penyusunan LPJ Bendahara masih efektif dan masih diperlukan.Proses bisnis pertanggungjawaban bendahara instansi di Satker (usulan Direktorat Pengelolaan Kas Negara) Terdapat usulan agar mekanisme pertanggungjawaban bendahara instansi melalui Laporan Pertanggungjawaban Bendahara (LPJ Bendahara) tetap digunakan sebagai salah satu laporan manajerial yang melengkapi laporan akuntabilitas (SAI). DTP 76  . Subdit.14). Setidaknya telah diusulkan agar terhadap LPJ Bendahara dilakukan mengikuti mekanisme rekonsiliasi sebagaimana yang dilakukan oleh unit-unit akuntansi dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). TPBE.

Gambar 3.14 Subdit. DTP 77  . TPBE.

Hasil verifikasi tingkat Satker oleh KPPN dikirimkan ke Kanwil DJPBN. Aplikasi RKAKL digunakan oleh Satuan Kerja (Satker) untuk membuat Rencana Kerja yang akan dilaksanakan pada tahun yang bersangkutan dan juga Rencana Anggaran yang akan digunakan untuk Tahun Anggaran tersebut. Bendahara Instansi menyampaikan hasil LPJ Bendahara tersebut kepada KPPN (Bendahara Penerimaan di Seksi Bendahara Umum dan Bendahara Pengeluaran di Seksi Perbendaharaan) untuk dilakukan verifikasi. Subdit. 7. Rekonsiliasi tingkat nasional antara K/L Pusat dan Dit PKN DJPBN. DTP 78  . Yang mana Aplikasi RKAKL ini akan digunakan sebagai bahan untuk menerbitkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Aplikasi RKAKL Aplikasi RKAKL adalah Aplikasi Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga yang dimiliki oleh setiap Satuan Kerja (Satker) yang terdapat pada Kementerian/Lembaga. TPBE. Instansi Vertikal mengirimkan data hasil dari verifikasi LPJ ke K/L Pusat untuk kemudian dilakukan rekapitulasi dan dijadikan bahan rekonsiliasi tingkat nasional dengan departemen Keuangan selaku BUN. saldo kas pada Bendahara Penerimaan dan Saldo kas pada Bendahara Pengeluaran. Aplikasi-aplikasi yang terdapat di Satuan kerja dan keterkaitan antar aplikasi 1. 6. Cara menggunakan Aplikasi RKAKL ini dengan memasukkan password rkakl. dalam hal ini Direktorat Pengelolaan Kas Negara (Dit PKN). Rekapitulasi per KPPN yang dibuat oleh Kanwil DJPBN dikirimkan ke Dit PKN DJPBN sebagai bahan untuk rekonsiliasi tingkat nasional dengan K/L. berupa data jumlah rekening Bendahara K/L. C. 4. Hasil dari verifikasi LPJ tersebut oleh Satker dikirimkan ke Instansi Vertikal di lingkungan Kementrian Lembaga (K/L) tersebut. 3. Kanwil DJPBN membuat rekapitulasi hasil LPJ Bendahara per KPPN yang ada di wilayah kerjanya. Bendahara Instansi melakukan rekonsiliasi internal dengan unit SAI/UAKPA pada Satker yang bersangkutan untuk menentukan angka pasti yang akan dicantumkan pada LPJ Bendahara. 5. Setelah rekonsiliasi selesai. 2.Keterangan gambar: 1. DJPBN. Hasil dari rekonsiliasi merupakan sumbangan data dalam penyusunan LKPP.

Cetak Rincian. Ubah Lokasi Kegiatan. • Referensi yang terdiri dari 19 Sub Menu : Standar Biaya Umum. Sasaran Program. Kegiatan. Restore Data RKAKL. Tahun Anggaran. Subdit. Cetak Uraian. KPJM. Laporan per-unit. Registrasi. Laporan mengikat/PNBP. Fungsi/ Kementrian/Lembaga/Unit. Program. • Keluar yang terdiri dari 2 Sub Menu : Keluar. Referensi. Jenis Belanja s/d MAK-P. Laporan. Satuan Kerja. TPBE.Setelah password diinput maka user sudah dapat menggunakan Aplikasi RKAKL dengan masuk kedalam Menu-Menu yang tersedia. Info. Password. • • KPJM yang terdiri dari 1 Sub Menu : Laporan KPJM/MTEF. • Utility yang terdiri dari 11 Sub Menu : Backup Data RKAKL. Jadwal Penarikan/Penerimaan. Laporan MAK. KPPN. Kegiatan Fungsi/Sub Prioritas. Perbaikan Data. Laporan Sub Kegiatan. Gabung Data. Kurs. Laporan kegiatan prioritas. Hapus Data. Laporan Blokir. DTP 79  . Standar Biaya Khusus. Konversi Kode MAK/Akun. Adapun aplikasi RKAKL ini mempunyai 6 Menu yaitu : • • • • • • • RKA-KL. Keterangan MAK. Ubah KPPN. Backup Data DIPA. Kegiatan Prioritas. Propinsi/Kab/Kota. Cetak Ringkasan. Penandatangan. Laporan per-program. Keluar. Laporan yang terdiri dari 10 Sub Menu : POK. Dan dari masing-masing Menu tersebut mempunyai beberapa Sub Menu yaitu : RKA-KL yang terdiri dari 6 Sub Menu : Rincian Belanja. Ubah Program Kepemimpinan. Split Data. Sub Kegiatan. Pendapatan/PNBP. Laporan per-Prov/Unit. Utility. Laporan per-Prov/Program.

Aplikasi Gaji Pegawai Pusat (GPP) Aplikasi GPP 2008 Satker ini adalah aplikasi yang diberikan ke seluruh Satuan Kerja pengelola dana APBN untuk keperluan pembayaran PNS Pusat. Referensi Pejabat. Subdit. Adapun aplikasi Peran ini mempunyai beberapa Menu yaitu • • • • • • • • Input Data. Aplikasi Peran Aplikasi Peran adalah aplikasi perencanaan anggaran yang digunakan untuk mengetahui perencanaan anggaran pada masing-masing Satuan Kerja (Satker) yang ada pada Kementrian / Lembaga. Aplikasi ini juga dipergunakan untuk mempermudah monitoring anggaran yang terdapat pada masing-masing Satuan Kerja (Satker). Data Rencana Pencairan. 3. Gabung. DTP 80  . Data Sisa Kontrak. Utility dan Keluar Aplikasi. Dan dari masing-masing menu tersebut terdiri dari beberapa Sub Menu yaitu : Input Data terdiri dari 4 Sub Menu : Setting Aplikasi. Transfer Data ke KPPN. TPBE. Utility terdiri dari 3 Sub Menu : Back-up. Dengan demikian setiap Satuan Kerja yang mengelola pembayaran belanja pegawai PNS Pusat wajib menggunakan aplikasi ini.2. Keluar Aplikasi terdiri dari 1 Sub Menu : Keluar. Laporan. Laporan terdiri dari 1 Sub Menu : Cetak Lampiran.

SPT Pajak dll. uang makan PNS. secara manual. Utility. SSP. Aplikasi ini juga digunakan untuk mencetak berbagai daftar permintaan pembayaran belanja pegawai. Kirim. KP4. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah untuk memberikan kemudahan dalam mengelola data gaji para pegawai di lingkungan satuan kerja bersangkutan. Uang Duka Wafat. Gaji Terusan. Laporan. dan Gaji ke13. Tujuan umum yang ingin dicapai dengan komputerisasi penggajian adalah meningkatkan kecepatan dan ketepatan dalam penyelesaian pembayaran Belanja Pegawai khususnya gaji PNS Pusat. termasuk kartu pengawasan pembayaran gaji sehingga satuan kerja tidak perlu melakukan pengkartuan.Melalui Aplikasi tersebut Petugas Administrasi Pengelolaan Belanja Pegawai (PAPBP) dapat mencatat. Kekurangan Gaji. Pemanfaatan data untuk keperluan informasi kepegawaian PNS Pusat beserta data gajinya. Menciptakan adanya standarisasi sistem. Adapun Aplikasi GPP mempunyai beberapa Menu yaitu • • • • • • • • • • Setting. menghitung berbagai macam belanja pegawai seperti Gaji Induk (Bulanan). Tambahan. Keluar. Aplikasi ini didesain sesederhana mungkin (user friendly). Uang Duka Tewas. Gaji Susulan. Pegawai. Gaji. SKPP dan Surat Permintaan Uang Duka. Referensi. Persekot Gaji. TPBE. DTP . namun demikian tetap menghendaki pengisian selengkap mungkin elemen data masingmasing pegawai serta memperhatikan referensi maupun setting yang ada. Monitoring. uang lembur . 81  Subdit. Dengan demikian output aplikasi ini akan benar-benar valid sesuai dengan yang diharapkan. Dan memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan bagi KPPN dalam menguji daftar gaji dan penerbitan SP2D Gaji.

Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Tentang Aplikasi. • Gaji terdiri dari 8 Sub Menu : Proses Perhitungan Gaji. • Pegawai terdiri dari 9 Sub Menu : Data Pegawai. Tunjangan Umum.Dan dari masing-masing Menu tersebut terdiri dari beberapa Sub Menu : • Setting terdiri dari 6 Sub Menu: Konfigurasi. Jenis Gaji. Kekurangan Gaji Manual. TPBE. Setting Anak Satker. Surat Permintaan Uang Duka. Lokasi. Backup. Dokter Bidan PTT. Unload Master. Kartu Pegawai. Kirim Pegawai Pindah ke KPPN. Monitoring Anak Dewasa. Monitoring Potongan Lain. Terima Data Pegawai Pindahan. Monitoring Pegawai Pensiun. Daftar Potongan. • • • Utility terdiri dari 6 Sub Menu : Load Master. • • • Laporan terdiri dari 4 Sub Menu: Cetak Gaji. Tunjangan Wilayah terpencil. Daftar Pengawasan Gaji. Keluar. Tunjangan PNS. Setting Referensi Anak Satker. Daftar Pegawai Non Aktif. R/U/H Gaji. No Urut Pegawai. Status Kawin. Taperum. Terima Data Rekon dari KPPN. Monitoring Utang Lebih. Setting Password. Golongan. R/U/H Kekurangan Gaji. Monitoring Tunggakan. Mengindek. Monitoring terdiri dari 6 Sub Menu : Monitoring Gaji Belum Load. Daftar Gaji. Cetak Gaji Dokter / Bidan PTT. DTP 82  . Uang Lembur. Tunjangan Khusus Papua. Tunjangan Khusus Papua Hakim. Kekurangan Gaji. Status Pegawai. Setting Pejabat. Kirim terdiri dari 3 Sub Menu: Kirim Gaji ke KPPN. Departemen. Data masukan yang diperlukan dalam Aplikasi Gaji PNS Pusat adalah sebagai berikut : Subdit. Status Keluarga. RUH Gaji. Agama. • Referensi terdiri dari 20 Sub Menu: Tarif. Satker. Hapus Data. Daftar Gaji Hakim. Surat Permintaan Persekot Kekurangan Gaji Manual. Status Kawin Awal Tahun. KPPN. Setting Penomoran. Restore. Tambahan terdiri dari 4 Sub Menu : Uang Makan. Proses Gaji Dokter / Bidan PTT. Penyamaan Data. Kirim Data Pegawai Pindah. Pencarian Pegawai. SKPP.

a. Data

Pegawai

Satuan

Kerja

dan

setting

tunjangan-tunjangan

struktural/fungsional yang ada dalam Satuan Kerja. b. Data setting/referensi yang perlu diisi sebelum menjalankan menu yang lain dan akan digunakan sebagai data acuan. Sedangkan hasil keluaran yang utama dari Aplikasi GPP adalah Cetak Daftar Gaji; Cetak Rekapitulasi Gaji; Cetak Surat Setoran Pajak; Kartu Pegawai; Kartu Perubahan Pegawai; KP4 (Surat Keterangan untuk Mendapatkan Tunjangan Keluarga); Rekap SPT Tahunan; Cetak SPT Tahunan; Surat Permintaan Persekot; Cetak Kartu Hutang Pegawai; Uang Makan; Uang Lembur; SKPP; Slip Gaji; Surat Permintaan Persekot Gaji; Laporan-laporan hasil monitoring.

4. Aplikasi SPM Aplikasi SPM adalah sebuah aplikasi yang digunakan oleh Satker-satker untuk membuat Surat Perintah Membayar yang akan dibawa ke KPPN untuk dilakukan proses pencairan dana. Aplikasi SPM ini juga terdapat 2 sifat bentuk Aplikasi yaitu Aplikasi SPM bersifat Stand Alone dan Aplikasi SPM yang bersifat Network. Dimana Aplikasi SPM Stand Alone yang digunakan dengan 1 buah Personal Komputer atau Laptop yang hanya digunakan oleh 1 orang saja tanpa bisa terkoneksi dengan Aplikasi SPM di Personal Komputer lainnya. Sedangkan untuk Aplikasi SPM Network adalah Aplikasi yang diinstall ke dalam sebuah server pada 1 satker yang mana satker tersebut mempunyai beberapa client yang dapat menggunakan Aplikasi SPM tersebut secara bersamaan. Yang mana Aplikasi SPM ini akan berhubungan dengan Aplikasi SP2D pada KPPN. SPM dibuat atas dasar dokumen gaji, pembayaran pekerjaan pada pihak ketiga, uang persediaan atau semua dokumen lain berhubungan dengan pencairan dana pada satker yang terdapat dalam DIPA satker tersebut. Yang mana aplikasi SPM ini akan berhubungan dengan Aplikasi SP2D yang ada pada seluruh KPPN. Dan data dari SPM ini juga akan berhubungan dengan beberapa aplikasi lainnya seperti Aplikasi SAKPA pada Satker. Subdit. TPBE, DTP 83 

Model pengoperasian Aplikasi SPM Network, sebagai berikut : a. Program Startup Sistem multi user ini memungkinkan client untuk mengakses data yang ada pada server secara bersamaan dengan tingkat kewenangan yang diberikan oleh supervisor. Agar Aplikasi SPM Network ini bisa dijalankan oleh client, harus dijalankan terlebih dahulu program startup_spm08.exe. Program startup_spm08.exe hanya bisa dijalankan dengan user ID: startup dan password: startup. Setelah startup ini dijalankan maka Database SPM sudah bisa diakses oleh semua client yang ada. Semua satker yang sedang menggunakan Aplikasi SPM akan tampak pada "Daftar User yang sedang Online." Jika User keluar dari Aplikasi SPM secara normal, maka User yang bersangkutan otomatis akan hilang dari daftar tersebut. Dalam Aplikasi SPM Network, satu User ID hanya dapat dipakai oleh satu komputer client. Oleh karena itu jika terjadi hal-hal yang tidak normal, seperti komputer 'hang', maka Supervisor bisa melakukan 'Disconnect User' agar User ID yang bersangkutan bisa digunakan lagi.Tombol 'Shutdown' digunakan untuk menonaktifkan Database yang berarti Client tidak bisa mengakses Database (lawan dari startup). b. Program Aplikasi SPM Setelah startup Database dijalankan, maka client dapat menjalankan program Aplikasi SPM di komputer masing-masing. Default yang digunakan untuk menjalankan Aplikasi SPM Network pertama kali adalah User ID :super dan Password: super. Jika berhasil maka akan muncul tampilan Menu Utama dan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan setting referensi satker pengguna Aplikasi SPM. Adapun aplikasi SPM ini terdapat 8 Menu yaitu : • Pagu, • SPM, • Monitoring, • Referensi I, • Referensi II, • Utiliti, • Peraturan dan Subdit. TPBE, DTP 84 

• Keluar. Dan masih masing-masing menu tersebut mempunyai beberapa sub Menu yaitu : • Menu Pagu yang terdiri terdiri dari 6 Sub Menu : R/U/H Pagu; Transfer Pagu; R/U/H SKPA; Cetak SKPA; Transfer SKPA; Terima SKPA. • Menu SPM yang terdiri dari 10 Sub Menu : R/U/H SPM; R/U/H SPM Pengembalian Penerimaan; R/U/H SPM Pembagian Hasil Penerimaan; R/U/H SPM Imbalan Bunga; R/U/H SPM REKSUS (KPPN Khusus); R/U/H SPM BLU; Cetak SPM; Cetak SPM KPPN Khusus; Catat Nomor SP2D; Load Master. • Menu Monitoring terdiri dari 3 Sub Menu : Monitoring Penyekesaian SPM; Monitoring Load Master; Monitoring Kontrak. • Menu Referensi I terdiri dari 19 Sub Menu : Satker; KPPN; Nomor SPM; User; Bank/Pos; Bendaharawan; Pejabat; Jenis Dokumen; Jenis SPM; Kewenangan Pelaksanaan; Cara Bayar; Jenis Pembayaran; Sifat Pembayaran; Beban; Jenis Bantuan; Sumber Dana; Cara Penarikan; KPP; Golongan. • Menu Referensi II terdiri dari 13 Sub Menu : Fungsi-Sub FungsiProgram; Kegiatan; Sub Kegiatan; Kementerian; Lokasi / Dati II; Lender; Valuta Asing; Pinjaman; Kategori Pinjaman; Register; Mata Anggaran; Konversi Mata Anggaran; Dokumen Pengesahan. • Menu Utility terdiri dari 12 Sub Menu : Transfer Data SPM; Backup Data Pagu dan Transaksi; Restore Data Pagu dan Transaksi; Hapus Data Transaksi; Bersihkan Data Sampah; Cek Data Ganda; Reindeks Database; Backup Referensi; Restore Referensi; Copy Referensi; Split Tabel Satker; Kalender. • Menu Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Informasi; Keluar Aplikasi.

Subdit. TPBE, DTP

85 

5. Aplikasi Persediaan Aplikasi persediaan adalah aplikasi yang digunakan untuk mendukung aplikasi lainnya yaitu Aplikasi Simak-BMN. Dimana data dari persediaan akan dikirimkan ke Aplikasi Simak-BMN. Dan data persediaan mendapat inputan dari SPM, SP2D, Kuitansi, Faktur, BAST/HIBAH, SPK. Untuk menggunakan Aplikasi Persediaan ini harus memasukkan user name, password dan IP Server yaitu untuk user name nya “umum”, password “umum”, IP Server “localhost”. Kemudian Klik tanda Check List pada Login. Setelah semua dilakukan maka kita sudah dapat menggunakan Aplikasi Persediaan tersebut. Adapun aplikasi Persediaan ini terdiri dari beberapa Menu yaitu : • • • • • Referensi, Transaksi, Laporan, Utility, Keluar.

Menu-menu yang ada pada aplikasi persediaan ini terdiri dari beberapa Sub Menu : • Referensi terdiri dari 9 Sub Menu : Tabel UAPB; Tabel UAPPB-E1; Tabel UAPPB-Wilayah; Tabel UAKPB; Tabel Wilayah; Tabel Kanwil; Tabel Subsub Kelompok Barang; Tabel Barang; Penandatangan. • • • Transaksi terdiri dari 4 Sub Menu : Persediaan Masuk; Persediaan Keluar; Koreksi ; Hasil Opname Fisik. Laporan terdiri dari 4 Sub Menu : Buku Persediaan; Laporan Persediaan; Laporan Rincian Persediaan; Daftar Transaksi. Utility terdiri dari 6 Sub Menu : Pengiriman ke Simak BMN, Penerimaan dari UAPKPB, Backup/Restore Database; Backup/Restore Referensi; Pengosongan Data; pengosongan Referensi. • Keluar.

Subdit. TPBE, DTP

86 

6. Aplikasi SIMAK-BMN Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN) sebagai sub sistem dari Sistem Akuntansi Instansi selain

Sistem Akuntansi Keuangan. Dengan demikian dapat dilakukan check and balance antara arus uang dan arus barang. SIMAK-BMN ditujukan untuk

meningkatkan pemahaman serta kontrol yang sistematis terutama perlengkapan/ rumah tangga atau yang semacamnya sehingga sesuai struktur Unit Akuntansi Barang melekat kewajiban untuk penyusunan laporan barang milik negara dalam rangka penyusunan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. SIMAK-BMN dan SAK sebagai sub sistem harus saling berjalan secara simultan. Selain itu, SIMAK-BMN juga menyatukan konsep manajemen barang dengan pelaporan untuk tujuan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dalam bentuk neraca. Sehingga dengan demikian SIMAK-BMN dapat memenuhi kebutuhan manajerial dan pertanggungjawaban sekaligus. Untuk dapat menggunakan Aplikasi SIMAK-BMN ini kita harus melakukan login terlebih dahulu dengan cara masuk pada menu login. Kemudian input user id ”admin”, password ”admin”, IP Server ”localhost” kemudian input tahun anggaran pada tahun berjalan. Setelah semua proses input pada menu login selesai kemudian klik masuk. Jika tidak ada kesalahan lagi pada proses input menu login maka kita sudah dapat masuk pada semua menu yang ada pada Aplikasi SIMAK-BMN. Adapun aplikasi SIMAK-BMN terdiri dari beberapa menu yaitu • • • • • • Tabel Referensi, Transaksi Buku/Daftar, Laporan, Utility, Keluar.

Menu-menu yang terdapat pada Aplikasi SIMAK-BMN ini terdiri dari beberapa Sub Menu :

Subdit. TPBE, DTP

87 

Ekstrakomptabel. BMN Bersejarah. Pengiriman ke UAPPBW/UAPPB-E1. Pengiriman ke UAKPA. Saldo Awal BMN. Daftar Barang Barang Bersejarah. Dimana keluaran/laporan yang dihasilkan dari Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi BMN tingkat UAPB sebagai berikut: Daftar Barang Intrakomptabel. • Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Selesai. Penghentian BMN dari Penggunaan. Tabel UAPPB-W. Back-Up. TPBE. • Utility terdiri dari 10 Sub Menu : Penerimaan dari UAPKPB. Perubahan Nilai Koreksi Tim Penerbitan Aset. DTP 88  . Penerimaan dari Persediaan. Pembatalan Kiriman. Tabel Barang. Perolehan BMN. Barang Pihak Ketiga. Daftar Barang Lainnya. Tabel UAPPB-E1. Daftar Barang Ruangan. Tabel UAPB. Kartu Identitas Barang. Catatan Mutasi Perubahan (CMP). Tabel Wilayah. • Laporan terdiri dari 6 Sub Menu : Laporan Barang Kuasa Pengguna. Laporan Posisi BMN di Neraca. Kosongkan Transaksi. Tabel Jenis Transaksi. Tabel Ruangan. Daftar Transaksi BMN. Kartu Identitas Barang. Subdit. Daftar Barang Persediaan. • Buku/Daftar terdiri dari 11 Sub Menu : Buku Barang. Laporan Barang Pengguna Tahunan. Tabel UAKPB.Log off. Catatan Ringkas BMN-KPB. Daftar Barang Pihak Ketiga.• Tabel Referensi terdiri dari 10 Sub Menu : Tabel Penandatangan. LKB. Tabel Kanwil. Daftar Transaksi BMN UAPKPB. Laporan Barang Kuasa Pengguna Persediaan. Daftar Barang Ruangan. Restore Database Versi Demo. Daftar Barang Belum Terdistribusi. Perubahan BMN. Restore. Laporan Barang Pembantu Kuasa Penguna. Pencetakan Label. Daftar Barang. Buku Barang Bersejarah. Penghapusan BMN. Perubahan dari DBR ke DBL/Sebaliknya. Laporan Barang Pengguna Semesteran. Daftar Barang Lainnya. Laporan Kondisi Barang. Catatan Ringkas BMN. Konstruksi Dalam Pengerjaan. Pengiriman ke KPKNL. • Transaksi terdiri dari 14 Sub Menu : Daftar BMN Tahun Lalu.

SSPB : Jurnal Neraca : ADK GL Aset Setelah dokumen sumber diinput atau di proses . TPBE. Aplikasi SAKPA ini akan menghasilkan beberapa laporan yaitu : LRA Pendapatan & LRA Belanja. Yang mana Aplikasi SAKPA ini digunakan oleh Satuan Kerja (Satker) untuk memproses data transaksi dalam penyusunan laporan. Setiap bulan petugas akuntansi mengirim ADK komputer ke KPPN untuk dilakukan Rekonsiliasi dengan Data di KPPN. Untuk dapat menggunakan Aplikasi SAKPA ini kita harus melakukan login terlebih dahulu dengan cara masuk pada menu login. Laporan Realisasi Anggaran. password ”admin” kemudian input tahun anggaran pada tahun berjalan. POK. Alur Data pada aplikasi Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA): • Satker memproses dokumen sumber berupa : Dokumen Anggaran Dokumen Belanja Dokumen Penerimaan Dokumen Aset Lain Dokumen Aset Tetap. maka dilanjutkan dengan proses pencetakan Register Transaksi Harian untuk dilakukan proses Verifikasi. Apabila pada proses rekonsiliasi tidak terjadi perbedaan. bentuk file • : DIPA. Estimasi Pendapatan : SPM/SP2D : SSBP/SSP/SSBC. Aplikasi SAKPA Aplikasi SAKPA ini merupakan sub sistem dari aplikasi SAI. untuk menghasilkan buku besar. Neraca Percobaan & Neraca. Subdit.7. maka Satker mengirim ADK ke Wilayah / Eselon 1. dilanjutkan dengan proses Posting. Kemudian input user id ”admin”. LRA Pengembalian Pendapatan dan Pengembalian Belanja. Dan ADK dari Aplikasi SAKPA ini akan dikirimkan ke KPPN guna untuk melakukan Rekonsiliasi. DTP 89  . Jika tidak ada kesalahan lagi pada proses input menu login maka kita sudah dapat masuk pada semua menu yang ada pada aplikasi SAKPA. Setelah Data di Posting agar bisa mencetak Laporan Keuangan. Setelah semua proses input pada menu login selesai kemudian klik masuk. • • • • Apabila tidak terdapat Kesalahan .

• Utility terdiri dari 12 Sub Menu : Ubah Password. Pengosongan Transaksi. Laporan Pengembalian Belanja. DTP 90  . Jurnal Standar. Transaksi. Utility. Laporan Realisasi Pendapatan. SATKER. Bagan Akun Standar. Daftar MAPING BAS. Pengembalian Belanja. Copy File DIPA. Konversi Satker Berubah Kode. Pendapatan. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Realisasi Pendapatan Format 2007. Daftar MAKMAP. Pengiriman ke KPPN. Daftar SPM-BLU. Neraca. Jurnal Koreksi. Reindex Data. Rekap Potongan Pajak. Laporan Realisasi Belanja. Laporan Realisasi Anggaran DIPA Luncuran. • • Proses terdiri dari 4 Sub Menu : Posting. Jurnal Neraca. Kegiatan-SubKegiatan. Output yang dihasilkan dari Aplikasi SAKPA adalah bentuk laporan antara lain: Subdit. Fungsi-Subfungsi dan Program. Proses. Menu-menu yang terdapat pada Aplikasi SAKPA ini terdiri dari beberapa Sub Menu : • Tabel Referensi terdiri dari 12 Sub Menu : BA-Es1. Wilayah. Laporan Realisasi Anggaran dari SKPA. Tutup Tahun Dengan Satker Beda. Tutup Tahun. Selesai. Rekap Potongan PFK. Laporan Pengembalian Pendapatan. Neraca Percobaan. Daftar Departemen Penerima Potongan/Setoran. KANWIL. Daftar SKPA. • Selesai. Pack Data. Estimasi Pendapatan. Laporan.Adapun aplikasi SAKPA terdiri dari beberapa menu yaitu : • • • • • • Tabel Referensi. Restore. • Transaksi terdiri dari 12 Sub Menu : Daftar DIPA. Laporan Realisasi Belanja Format 2007. DIPA Luncuran. Daftar Revisi DIPA. Back-Up. Pengiriman Saldo Awal. Laporan terdiri dari 14 Sub Menu : Buku Besar. Copy Data SPM. Daftar SPM. TPBE. KPPN. Pengiriman ke UAPPA-W/UAPPA-E1. Penerimaan Aset dari UAKPB. Daftar Pengembalian Belanja Dari Potongan SPM.

• Laporan Realisasi Belanja yang berfungsi untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. TPBE. kode perkiraan. • Neraca Percobaan Bulanan yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi.• Buku Besar yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. Laporan Realisasi Anggaran Semesteran yang berfungsi menampilkan posisi realisasi anggaran sampai dengan periode satu semester yang telah terealisasi. • Neraca Percobaan Tahunan yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. Laporan Realisasi Anggaran ini mencerminkan pendapatan dan belanja total dari satker setelah dikurangi dengan pengembalian. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. • Neraca Percobaan Semesteran yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. baik secara bulanan atau triwulanan. Laporan Realisasi Anggaran ini mencerminkan pendapatan dan belanja total dari satker setelah dikurangi dengan pengembalian. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara bulanan. Neraca Semesteran yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara semesteran. kode perkiraan. DTP 91  . kode perkiraan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara bulanan per kode perkiraan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara tahunan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara semesteran. • Laporan Realisasi Anggaran Tahunan yang berfungsi menampilkan posisi realisasi anggaran sampai dengan periode satu tahun yang telah terealisasi. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. • • • • Neraca Bulanan yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara bulanan. Subdit. Neraca Tahunan yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara tahunan. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. kode perkiraan.

 TPBE. Subdit. DTP 92  .• Laporan Realisasi Belanja format DKKA yang berfungsi LRA Belanja format DKKA adalah laporan yang dipergunakan untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. • Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah yang berfungsi laporan yang dipergunakan untuk menampilkan realisasi pendapatan sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. • Laporan Realisasi Belanja format DIPA yang berfungsi LRA Belanja format DIPA adalah laporan yang dipergunakan untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. • LRA Pengembalian Pendapatan Negara dan Hibah yang berfungsi laporan yang dipergunakan untuk menampilkan pengembalian pendapatan sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. baik secara bulanan atau triwulanan dengan format DIPA. baik secara bulanan atau triwulanan dengan format DKKA. • Laporan Realisasi Pengembalian adalah Belanja yang berfungsi LRA untuk Pengembalian Belanja laporan yang dipergunakan menampilkan pengembalian belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan.

8. Keterkaitan antar Aplikasi yang terdapat pada Satuan Kerja (Satker) Hubungan Aplikasi yang terdapat pada Satker Perencanaan/ Monitoring Mulai Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Barang RKAKL Kegiatan/Anggaran DIPA Persediaan Kegiatan/Anggaran Laporan Asset Peran Kegiatan/Anggaran SIMAK-BMN Monitoring/.Perencanaan SPM Laporan Pencairan Dana GPP Laporan status pegawai Laporan Keuangan untuk Asset SAKPA Selesai Subdit. DTP 93  . TPBE.

• Aplikasi Persediaan adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk membuat sebuah laporan persediaan dari Barang Milik Negara yang akan digunakan sebagai inputan Subdit. nama kegiatan. waktu pelaksanaan kegiatan. biaya yang dibutuhkan untuk masing-masing kegiatan. Yang mana hasil dari aplikasi RKA-KL ini akan menjadi inputan untuk aplikasi DIPA. Dimana aplikasi ini dapat mengetahui jumlah pegawai yang ada dengan semua status yang akan digunakan untuk pembayaran pada pegawai tersebut. DTP 94  . • Aplikasi DIPA adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk dapat mengirimkan jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam setiap mata anggaran keuangan ke KPPN dimana tempat Satuan Kerja tersebut akan melakukan transaksi. • Aplikasi Peran adalah suatu aplikasi yang digunakan oleh Satuan Kerja untuk membuat sebuah perencanaan dalam penerimaan dan pengeluaran yang akan dilakukan oleh Satuan Kerja tersebut dalam Tahun Anggaran yang berjalan. Dan juga aplikasi DIPA ini berhubungan dengan Aplikasi SPM.Penjelasan hubungan antar Aplikasi yang diatas : • Aplikasi RKA-KL adalah suatu aplikasi yang digunakan oleh Satuan Kerja untuk dapat mengetahui kegiatan apa yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan berjalan. TPBE. • Aplikasi GPP adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk melakukan monitoring terhadap gaji pegawai pusat yang ada pada Satuan Kerja. Dimana aplikasi SPM nanti dibuat berdasarkan DIPA yang ada pada masing-masing Satuan Kerja. Dan akan menghasilkan SP2D yang akan dipergunakan sebagai bukti pembayaran. Dan hasil dari aplikasi GPP ini akan digunakan sebagai bahan untuk membuat SPM tentang Gaji. Dimana aplikasi ini adalah suatu monitoring perencanaan untuk melakukan penarikan dan penerimaan dana melalui Aplikasi SPM. Dimana Aplikasi SPM ini akan menghasilkan sebuah Surat Perintah Membayar yang dikeluarkan oleh Pejabat Penguji SPM yang dalam bentuk Softcopy dan Hardcopy yang nanti nya dari softcopy Aplikasi SPM ini akan dimasukkan dalam Aplikasi SP2D yang terdapat pada KPPN yang bersangkutan. Dimana aplikasi DIPA akan mengadopsi hasil outputan dari aplikasi RKA-KL yaitu jumlah total anggaran yang dibutuhkan untuk setiap mata anggaran kegiatan. mata anggaran yangdigunakan. kegiatan/subkegiatan. Dimana dalam aplikasi RKA-KL ini akan menghasilkan detai dari semua kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari fungsi/subfungsi. • Aplikasi SPM adalah suatu aplikasi yang digunakan Satuan Kerja untuk melakukan pencairan dana di KPPN.

• Aplikasi SIMAK-BMN adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk membuat laporan keuangan tentang barang milik Negara yang terdapat dalam Satuan Kerja tersebut. Penjelasan dari gambar diatas adalah : Dalam Aplikasi diatas terdapat beberapa fungsi yaitu : • • • Fungsi Monitoring dan Perencanaan. DTP 95  . Aplikasi ini secara garis besarnya berhubungan antara satu aplikasi dengan aplikasi yang lain. Yang mana hasil dari aplikasi SIMAK-BMN ini akan menjadi inputan bagi aplikasi SAKPA dalam hal data penerimaan asset. • Aplikasi SAKPA adalah suatu aplikasi tentang laporan keuangan dari Satuan Kerja. TPBE. Fungsi Pengelolaan Keuangan. Dimana dalam Aplikasi Persediaan ini memproses tentang Aset Lancar pada Satuan Kerja. Tetapi diantara aplikasi ini ada yang terhubung secara sistem dan ada yang Subdit. Fungsi Pengelolaan Barang. Dan aplikasi SAKPA ini adalah laporan akhir keuangan yang dikelola oleh Satuan Kerja tersebut.dari Aplikasi lainnya yaitu Aplikasi SIMAK-BMN. Dimana laporan keuangan aplikasi SAKPA ini adalah inputan dari semua hasil aplikasi yang ada pada Satuan Kerja. Yang mana laporan keuangan aplikasi SAKPA ini akan dilaporkan kepada KPPN untuk dilakukan rekonsiliasi terhadap laporan keuangan Satuan Kerja tersebut.

05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. SIMAK-BMN. 171/PMK. Secara umum. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. Aplikasi GPP. R/U/H Penerimaan SKPA dan R/U/H Daftar / Jurnal Aset. dan Aplikasi RKAKL adalah sebuah aplikasi yang hanya sebagai input dalam bentuk tertulis yang digunakan pada aplikasi lainnya. sejak penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) hingga pelaporan dan pertanggungjawaban. dapat disimpulkan bahwa telah terdapat standar proses bisnis untuk tiap-tiap tahapan dalam siklus anggaran. Beberapa ketentuan utama yang diantaranya meliputi Peraturan mengatur standar proses bisnis di Satker Direktur Jenderal Perbendaharaan No. Dimana dalam hal ini menjelaskan bahwa walaupun aplikasi sudah terhubung secara sistem tetapi aplikasi juga dapat dilakukan dengan cara penginputan manual sehingga mengakibatkan pengguna akan melakukan 2 penginputan yang sama. Sedangkan aplikasi SPM. DTP 96  . 2. Mengapa dikatakan seperti itu karena aplikasi-aplikasi ini melakukan penginputan manual juga seperti pada Aplikasi DIPA ada penginputan data R/U/H Data Pagu DIPA. 66/ PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Bebab Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Peraturan Menteri Keuangan No. Subdit. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. Seperti Aplikasi Peran. dan pada Aplikasi SAKPA juga terdapat penginputan R/U/H Pagu DIPA. TPBE. SAKPA dan SIMAK-BMN yang juga sudah terhubung secara sistem dan terjadi penginputan manual yaitu R/U/H Data SPM & SP2D. pembahasan pada Bab III difokuskan pada penyusunan process mapping yang bersifat cross functional-boundaries dan deskripsi dari aktivitas selama siklus APBN yang terkait dengan bisnis proses di Satker dan koneksinya dengan Ditjen Perbendaharaan. 3. DIPA. D. Dan juga antara aplikasi SPM. Persediaan dan SAKPA itu dapat berhubungan secara sistem tetapi dalam hal ini aplikasi terhubung secara sistem dan juga dapat terhubung sebagai input. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas.hanya terhubung secara input saja. Aplikasi SPM ada penginputan data R/U/H Pagu DIPA.

Misalnya. yang untuk sementara belum menjadi fokus pembahasan dalam modul ini. TPBE.4. misalnya dengan manajemen kas. Appendix 1 merupakan ringkasan dari penelitian World Bank atas pelaksanaan standar proses bisnis di salah satu Satker yang kiranya bermanfaat sebagai bahan kajian dan perbandingan. Untuk melengkapi pembahasan dalam bab ini. 5. 7. Namun demikian. Sedangkan Appemdix 2 memuat tinjauan atas proses bisnis Satker Badan Layanan Umum. ditambahkan Appendix 1dan 2. Subdit. standard proses bisnis saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pembagian dan model integrasi modular yang dikenal dalam international best practice sejalan dengan pengembangan SPAN. Beberapa fitur baik dalam standar proses bisnis maupun sistem aplikasi saat ini yang diperoleh dari aktivitas process mapping akan sangat bermanfaat sebagai inisiasi untuk assessment yang lebih komprehensif dan penentuan model koneksitas proses bisnis dengan Satker di masa yang akan datang (future) yang akan dibahas pada bab selanjutnya dalam modul ini. DTP 97  . Tinjauan atas fitur dan integrasi sistem informasi dan aplikasi/ software menunjukkan bahwa sistem informasi di Satker saat ini sangat ter-fragmentasi dengan banyaknya menu untuk melakukan up-date/ mengubah data (multiple entry points). 6. Pendekatan adhoc dalam mengikut sertakan Satker untuk keperluan perencanaan kas juga tidak sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan. saat ini tidak terdapat sebuah standar proses bisnis yang secara utuh untuk mengelola data komitmen/ kontrak dan mengintegrasikannya dengan bisnis proses lainnya yang terkait.

 DTP 98  . Key issues dalam Pelaksanaan Anggaran a. resume ini berfokus pada pembahasan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara di Ditjen Bina Marga khususnya yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. Pembahasan terkait dengan existing proses bisnis. dan Bendahara Penerimaan/Pengeluaran. kemampuan teknis dan hal-hal administratif lainnya. Penguji SPP/Penerbit SPM. Pejabat perbendaharaan meliputi Kuasa Pengguna anggaran. DIPA yang diterbitkan pada awal tahun anggaran memuat rencana kerja/pengadaan tahunan serta Rencana Penarikan Dana berkaitan dengan rencana kerja tersebut. Pelaksanaan anggaran dimulai sejak penerbitan surat keputusan menteri perihal kriteria pemilihan untuk pejabat perbendaharaan. tugas dan fungsi serta proses pemilihan pejabat perbendaharaan. Cash Planning Kondisi Saat ini: Perencanaan kas tahunan tidak disesuaikan secara periodik dengan komitment yang benar-benar dibuat selama tahun anggaran. Kerangka organisasi dalam pelaksanaan anggaran.Appendix I Departemen Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga Financial Management Assessment Draft Report The Worl Bank Group September. Pemisahan wewenang dan pembagian tugas di antara para pejabat pebendaharaan ditujukan untuk memwujudkan adanya mekanisme saling uji/ check-balance. Pembahasan dalam sub bagian ini meliputi sturktur organisasi. Dalam rangka penyempurnaan koneksitas proses bisnis di Satker. DIPA yang ditetapkan pada awal tahun anggaran merupakan dasar bagi Satker untuk melakukan komitmen. Pelaksanaan anggaran merupakan tanggung jawab utama Satker. II. hasil analisis dan rekomendasi adalah sebagai berikut: Pelaksanaan Anggaran (Budget Execution) I. Pejabat Pembuat komitmen. Rencana penarikan dana untuk periode bulanan tidak di-monitor dan direvisi selama berjalannya tahun Subdit. TPBE. 2008 SUMMARY Tujuan dari penelitian adalah untuk memberikan masukan kepada Departemen Pekerjaan Umum dalam rangka mendukung agenda reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara.

Sistem ini sulit di administrasi dan kompleksitasnya tidak mendukung akuntabilitas yang memadai. penundaan implementasi proyek. Uang Persediaan dapat dipandang sebagai pembayaran lumpsump (lumps sump transfer) atas kas dalam jumlah yang terbatas dari TSA ke rekening bank Satker. Rencana Penarikan Dana untuk periode bulanan yang ada dalam DIPA tidak disesuaikan terhadap fakta/kenyataan yang ada selama berjalannya tahun anggaran. Kondisi tersebut tidak memungkinkan pengelola keuangan/pejabat perbendaharaan untuk mengantisipasi kemungkinan penghematan pada sub-kegiatan tertentu dengan melakukan re-alokasi anggaran ke sub-kegiatan lainnya. Rekomendasi: Perlunya meningkatkan manajemen proyek dengan membentuk komisi perencanaan kas (“cash planning komite”) di Satker yang diketuai oleh Kepala Satker dan terdiri dari para pejabat perbendaharaan. perubaha kontrak dan faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi harga barang dan jasa. Adanya rush penarikan dana anggaran di akhir tahun yang berakibat pada kurangnya kualitas pengadaan dan hasil pengeluaran anggaran yang tidak optimal. misalnya penundaan kontrak. Hasil perencanaan kas yang dibuat oleh komite ini beserta permasalahan yang dijumpai dalam pelaksanaan anggaran (bottle neck) dilaporkan kepada Ditjen Bina Marga dan Ditjen Perbendaharaan.anggaran. DTP 99  . Pengeluaran yang dilaporkan sifatnya ex-post terhadap dana anggaran yang di sediakan di DIPA. Analisis: Penerapan konsep TSA secara partial. memungkinkan terjadinya penundaan pembayaran dan terciptanya idle cash. Kompleksitas peraturan yang berkaitan penerapan saldo kas di luar TSA Subdit. Batas jumlah UP yang dapat disimpan dalam rekening bendahara pengeluaran terikat dengan pagu DIPA untuk tahun yang bersangkutan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan TSA. b. Treasury Single Account (TSA) Kondisi saat ini: Pada saat ini terdapat dua jenis pembayaran yaitu Pembayaran Langsung dan Pembayaran melalui Uang Persediaan. dengan kemungkinan melakukan pengisian kembali (GUP) terkait dengan saldo UP di rekening bendaharawan. Satker masih dapat melakukan replenishment untuk melakukan pengisian kembali Uang Persediaan yang melebihi ketentuan apabila memenuhi kondisi-kondisi tertentu. Analisis: Tidak adanya rencana penarikan dana yang reliable menyebabkan beberapa efek negatif dalam pelaksanaan anggaran. TPBE. Dengan kata lain.

 DTP 100  . Verifikasi fisik dari output tidak dilakukan pada tahap ini. TPBE. nantinya merupakan dasar bagi bank yang bersangkutan untuk melakukan penarikan dari rekening TSA. Dokumen SPP dan kelengkapannya kemudian diajukan kepada Pejabat penguji/penerbit SPM. double charge dan pengadaan barang dan jasa yang kurang berkualitas. setidaknya dapat lebih sejalan dengan cara pembayaran lainnya. dengan kas dapat mengurangi Rekomendasi: Perlunya alternatif pembayaran melalui Uang Persediaan. Pejabat penguji/Penerbit SPM selanjutnya memastikan bahwa (i) tersedia anggaran untuk melakukan pembayaran (ii) SPP sudah sesuai dengan rencana kerja dan output yang dicatat (iii) permintaan pembayaran sudah sesuai dengan spesifikasi kontrak dan jadwal pembayaran. Salah satunya Subdit. Cara lainnya adalah dengan membuka rekening yang memberi batas pagu penarikan Uang Persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana dan rekening koran. ternyata hasil audit dari BPK pada tahun 2007 mengindikasikan bahwa kurangnya verifikasi dalam pengadaan barang dan jasa telah menimpulkan kelebihan bayar (overpayments) kepada kontraktor. Perlu dicatat bahwa verifikasi yang dilakukan pada SPP dan SPM terbatas pada jumlah yang tercatat dalam dokumen. Verifikasi yang dilakukan oleh konsultan yang ditunjuk oleh “planning satker” ternyata tidak dapat berjalan dengan efektif. Analysis: Terlepas dari adanya mekanisme saling uji yang sudah ada. c. yaitu Pembayaran Langsung. Pembayaran melalui rekening ini. Pejabat pembuat komitmen dari satker pelaksana (implementing satker) melakukan pengawasan atas implementasi fisik dari proyek.dan pembayaran kepada pihak ke-tiga/rekanan disiplin anggaran. Mekanisme saling uji dalam pemeriksaan barang dan jasa hasil pengadaan Kondisi saat ini: Pengujian diimulai saat staf melakukan evaluasi atas SPP. melakukan verifikasi atas check list dan kelengkapat dokumen yang diajukan. membuat catatan atas penerimaan SPP dan menerbitkan dokumen penerimaan SPP. dengan kemungkinan replenishment/pengisian kembali sebulan sekali. Sedangkan verifikasi fisik dilakukan oleh kontraktor yang ditunjuk oleh satker yang melakukan perencanaan (planning satker) pada saat pelkerjaan selesai dan ditagihkan (dibuatkan invoice). Misalnya dengan melakukan pembayaran Uang Persediaan melalui rekening bersaldo nihil (zero balanced account) pada rekening yang dikuasai secara bersamasama oleh Bendahara Pengeluaran dan Kanwil/KPPN bersangkutan.

 DTP 101  . Rekomendasi: Ketentuan yang berkaitan dengan jangka waktu penyelesaian pembayaran di Satker (48 jam) harus diterapkan sebagaimana mestinya. Namun demikian. KPPN dapat menjelaskan alasan penolakan secara tertulis yang tercatat dalam aplikasi/software di Satker. Selanjutnya. keterlambatan dalam proses pembayaran di Satker tidak dapat di monitor. dan menyampaikan SPP tersebut untuk disetujui oleh Kepala Satker atau pejabat pembuat komitmen (?). dengan periode maksimum 48 jam untuk melakukan proses pembayaran di Satker. TPBE. Hal tersebut karena baik tanggal invoice dari kontraktor maupun tanggal penerimaan barang dan jasa tidak dicatat dalam software/aplikasi. Keterlambatan yang berkaitan dengan pengajuan SPM yang tidak lengkap (incomplete) atau salah (error) tidak tercatat baik oleh KPPN maupun oleh Satker. Analysis: Proses pembayaran yang ada saat ini tidak memungkinkan adanya pengawasan yang menyeluruh dalam penyaluran pembayaran kepada kontraktor. Petugas di Satker melakukan input data SPP dan mencetak menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Ditjen Perbendaharaan. Salah satu alternatif. Lagipula. Subdit. diantaranya dengan mengaktifkan peran Balai (di tingkat propinsi). KPPN saat ini telah melakukan pengawasan yang ketat terhadap keterlambatan di akhir proses. Pengawasan atas keterlambatan pemrosesan di KPPN dilakukan dengan merujuk pada tanggal agenda penerimaan SPM di front office.karena keterbatasan anggaran untuk melakukan verifikasi fisik sebagaimana mestinya. Oleh karena itu. Selanjutnya SPM diproses sesuai dengan jenis pembayarannya. Salah satunya dengan mencatat tanggal pengajuan invoice dan tanggal penyelesaian verifikasi barang dan jasa. tidak dilakukan pencatatan oleh KPPN dalam hal SPM tidak memenuhi syarat. Setelah SPP disetujui lalu dibuat SPM oleh bendahara pengeluaran dengan menggunakan aplikasi dari Ditjen Perbendaharaan. Keterlambatan dalam pembayaran langsung Kondisi saat ini: Proses pembayaran dimulai dengan penyiapan SPP oleh satker atas dasar invoice yang diterima dari suplier dan diikuti dengan penilaian barang dan jasa. Rekomendasi: Perlu melakukan redefinisi dari peran “planning satker” dalam melakukan verifikasi fisik pengadaan barang dan jasa. keterlambatan yang diakibatkan oleh penolakan tersebut tidak dapat diawasi. sehingga dapat mendekatkan dan melakukan pengawasan langsung untuk meningkatkan mekanisme saling uji dan mengurangi sentralisasi d.

Analysis: Laporan keuangan dan pelaksanaan anggaran dikompilasi menggunakan software/modul yang berbeda-beda. Laporan keuangan disusun menggunakan stadar aplikasi yang dibuat oleh Ditjen PBN. yaitu SAI yang terdiri dari SAK dan SIMAK-BMN. Manajemen “back-up data” juga tidak dilakukan secara rutin utnuk memastikan keandalan data. Informasi yang dihasilkan dari sistem ini diantaranya adalah informasi kontrak. Pelaporan keuangan dan pelaksanaan anggaran Current situation: Peraturan yang ada mengharuskan Satker untuk menyampaikan laporan keuangan dan kinerja. Rekomendasi: Hendaknya dilakukan review terhadap aplikasi/software-software yang ada dengan melibatkan kementrian teknis. pagu anggaran serta realisasinya. kemajuan kontrak. Analisis: Kemampuan pelaporan dari SIPP cukup komprehensif dan mencakup aspek-aspek dalam pelaksanaan anggaran dan implementasi program. TPBE. Subdit. Manajemen atas software/modul ini tidak diimbangi dengan kurangnya jumlah dan kemampuan SDM di Satker. impementasi program dibandingkan dengan rencana kerja. Oleh karene itu diperlukan mekanisme rekonsiliasi untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan sama dengan informasi yang ditujukan untuk Kementrian Keuangan. Terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh Satker dilakukan proses rekonsiliasi terhadap data yang ada di KPPN.III. DTP 102  . Satker di tingkat kanwil juga harus melakukan rekonsiliasi dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan. diperlukan rekonsiliasi dan konsolidasi pada beberapa point. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam konteks penerapan Integrated Financial Management System (SPAN) b. Laporan keuangan juga direkonsiliasi dengan informasi yang ada dalam SIMAK-BMN. DJA and Ditjen PBN. Beberapa modul ini sifatnya “stand alone” sehingga beberapa jenis data harus di-capture beberapa kali. Namun demikian sistem ini dijalankan secara paralel dengan standard akuntansi dan sistem pelaporan yang ditentukan Ditjen Perbendaharaan. Lagipula. Akuntansi dan Pelaporan a. karena data entri dilakukan pada beberapa titik/fase. Proses ini berlanjut hingga ke tingkat Kementrian/Lembaga. Laporan Manajemen Kondisi saat ini: Kementrian Pekerjaan Umum telah mengimplementasikan mekanisme pelaporan menggunakan “e-monitoring system” (SIPP).

Subdit. TPBE. DTP 103  . Aktivitas ini juga diharapkan akan menjadi dasar untuk melakukan review dan mengintegrasikan syarat-syarat untuk pelaporan manajemen sesuai dengan konfigurasi dalam SPAN.Rekomendasi: Perlu dilakukan langkah-langkah untuk menyelaraskan SIPP dnengan sistem akuntansi dan pelaporan pada Ditjen Perbendaharaan sehingga keuanya menggunakan basik data yang sama untuk keperluan analisis dan pelaporan keuangan dan data pelaksanaan anggaran.

Satker teersebut dapat langsung menggunakan seluruh PNBP tanpa terlebih dahulu disetorkan ke Rekening Kas Negara asalkan masih dalam ambang batas fleksibilitas. Pada DIPA Satker BLU terdapat data mengenai saldo awal kas. Penerimaan pembiayaan BLU terdiri dari divestasi. saldo akhir kas. Satker BLU berstatus penuh diberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan.Appendix II Pengelolaan Keuangan di Satker BLU Badan layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Perbedaan tersebut ialah sebagai berikut: 1. Berikut ini identifikasi terhadap beberapa perbedaan yang ada. besaran presentase ambang batas dan jumlah serta kualitas barang dan/atau jasa yang dihasilkan. sebagaimana ditetapkan dalam RBA definitif. Ada 2 jenis Satker BLU yaitu Satker BLU berstatus penuh dan Satker BLU berstatus bertahap. DTP 104  . Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan adanya perbedaan dalam mekanisme pelaksanaan anggaran di Satker BLU dengan Satker biasa. Namun demikian. Berdasarkan pengertian tersebut terlihat adanya perbedaan karakteristik Satker BLU dengan Satker biasa. Pada DIPA Satker BLU terdapat halaman II. pagu pengeluaran pembiayaan.23 tahun 2005). 2. (PP No. A. Manajemen DIPA Secara umum fungsi DIPA BLU dengan DIPA Satker biasa ialah sama.B yang memuat rincian penerimaan pembiayaan BLU dan pengeluaran pembiayaan yang akan dilakukan oleh BLU. yaitu berfungsi sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dimana berisi batas pengeluaran tertinggi yang tidak boleh dilampaui dan pelaksanaannya harus dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan Satker BLU berstatus bertahap dapat menggunakan PNBP sebesar persentase proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan sepanjang telah diatur berdasarkan ketentuan. terdapat beberapa perbedaan terkait struktur DIPA Satker BLU dengan DIPA Satker biasa. pinjaman jangka Subdit. target pendapatan PNBP. TPBE.

pembayaran pokok pinjaman dan pemberian pinjaman. Besaran persentase ambang batas digunakan sebagai ambang batas yang diperkenankan untuk melakukan belanja melebihi pagu yang telah ditetapkan mendahului revisi DIPA sepanjang PNBP nya melebihi target yang telah ditetapkan dan sepanjang tercantum dalam RBA (Rencana Bisnis dan Anggaran). 3. Pengeluaran pembiayaan dimungkinkan untuk investasi. dan pemberian pinjaman. TPBE. menerima pinjaman jangka pendek dan jangka panjang.pendek dan pinjaman jangka panjang. Belanja barang yang dilaksanakan setiap triwulan sebesar selisih (mismatch) antara jumlah kas yang tersedia ditambah proyeksi arus kas masuk dikurangi proyeksi arus kas keluar. hibah tidak terikat dan hasil kerja sama dengan pihak lain). Manajemen PNBP Berbeda dengan Satker yang memiliki PNBP dimana PNBP nya harus disetorkan terlebih dahulu sebelum digunakan. hibah tidak terikat Subdit. Pengeluaran pembiayaan BLU terdiri dari investasi. Pendapatan Satker BLU yang dapat dipergunakan langsung untuk membiayai belanja operasional Satker BLU terdiri dari : 1. B. Sebaliknya penerimaan pembiayaan dimungkinkan untuk divestasi. C. DTP 105  . pembayaran pokok pinjaman. Pendapatan Satker BLU dapat dipergunakan langsung dimana besar kecilnya tergantung pada jenis Satker BLU. Belanja modal. Pencantuman pagu pembiayaan mengisyaratkan bahwa Satker BLU diperbolehkan untuk melakukan penerimaan dan pengeluaran pembiayaan dalam kegiatan usahanya. Manajemen Pembayaran Satker BLU selaku KPA mengajukan SPM LS kepada KPPN untuk keperluan sebagai berikut: 1. target PNBP dan nilai PNBP yang di dapatkan. 2. Belanja pegawai (untuk pegawai BLU yang berstatus PNS). jasa layanan yang diberikan kepada masyarakat 2. Selain mengajukan SPM LS untuk kepentingan tersebut diatas Satker BLU juga mengajukan SPM Pengesahan ke KPPN dalam rangka pertanggungjawaban penggunaan dana yang bersumber dari pendapatan (pendapatan dari jasa layanan.

 DTP 106  .Apabila sisa PNBP tersebut akan digunakan pada tahun anggaran berjalan.Target PNBP 100 M .Realisasi PNBP 115 miliar Maka : .Ambang batas belanja 10 % .PNBP yang harus disetor kerekening Kas Negara sebesar 56 M .3.PNBP yang dapat digunakan secara langsung sebesar 54 M (60%x90%x100M) . . TPBE.Target PNBP 100 M . Satker BLU berstatus bertahap .Sisa PNBP sebesar 5 M. maka terlebih dahulu dilakukan revisi. Pelaporan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan BLU diselenggarakan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia. merupakan surplus yang dapat digunakan pada tahun berikutnya.PNBP yang dapat digunakan secara langsung sebesar 60% . 1.Sisa PNBP yang dapat digunakan dengan mekanisme pencairan PNBP sebesar 36 M (90 M – 54 M) D.PNBP yang dapat digunakan langsung maksimal sebesar 110 M (100M + 10%x100M).PNBP yang dapat dimanfaatkan adalah 90 M (90% x target PNBP) . .Satker tersebut dapat menggunakan PNBP sebesar 90% dari target yang ditetapkan . Sedangkan untuk kepentingan konsolidasi dengan Laporan Keuangan Subdit. hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan atau hasil usaha lainnya dapat dikelola langsung untuk membiayai belanja operasional BLU Berikut ini gambar proses bisnis dan ilustrasi untuk penggunaan PNBP untuk Satker BLU berstatus penuh dan Satker BLU berstatus bertahap. Satker BLU berstatus penuh .Pengeluaran belanja tersebut dapat dilaksanakan mendahului revisi DIPA pengesahan. 2. (Revisi DIPA dimaksud dapat dilaksanakan pada akhir tahun) .Realisasi 110 M Maka: .

LAK. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK. Alur proses rekonsiliasi Laporan Keuangan Satker BLU ialah sebagai berikut: 1.Kementerian Negara/Lembaga diselenggarakan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Laporan Keuangan BLU yang dihasilkan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan dikonsolidasikan dengan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang terdiri dari LRA. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Subdit. 4. Neraca. DTP 107  . BLU menyampaikan secara triwulanan ke KPPN berupa LRA. LRA dan neraca kepada UAPPAE1 untuk digabungkan setelah dilakukan rekonsiliasi dengan KPPN setiap triwulan. Sedangkan untuk gambar proses bisnis belanja pegawai BLU yang berstatus PNS dan proses bisnis belanja modal tidak dilampirkan karena gambar proses bisnis tersebut sama dengan proses bisnis pada Satker biasa. Dit. 2. TPBE. Penggunaan PNBP (Satker BLU berstatus penuh). 3. Laporan Keuangan BLU yang dihasilkan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan menjadi lampiran Laporan Keuangan Kementerian Negara Lembaga yang terdiri dari LRA/Operasional. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK. APK dalam rangka rekonsiliasi dan penyusunan Laporan Keuangan pemerintah pusat setiap semester. Neraca dan ADK dalam rangka melakukan rekonsiliasi data. UAPA menyampaikan laporan keuangan beserta ADK kepada Ditjen PBN cq. Penggunaan PNBP (Satker BLU berstatus bertahap) dan Pelaporan. dan Catatan atas Laporan Keuangan. dan Catatan Atas Laporan Keuangan disertai Laporan Kinerja beserta data transaksi ke UAPPA-E1 setiap bulan. UAPPA-E1 menyampaikan LRA. BLU menyampaikan ADK. Neraca dan ADK termasuk BLU setiap triwulan ke UAPA sebagai bahan penyusunan laporan keuangan tingkat kementerian negara/lembaga. Neraca. Selain menyampaikan Laporan Keuangan untuk kepentingan rekonsiliasi. Untuk Semesteran dan tahunan disertai dengan CALK. Satker BLU juga menyampaikan Laporan Keuangan yang terdiri dari laporan Realisasi Anggaran/Laporan Operasional. Catatan: Berikut ini alur proses bisnis untuk DIPA. Laporan Arus Kas.

 TPBE.Subdit. DTP 108  .

3) SPM GU Pengesahan SPM LS untuk Penggunaan PNBP (2.2) Pertanggung jawaban Penggunaan (triwulanan) (2.4) SP2D LS PNBP (2.7) (4. DTP 109  .6) SPM LS PNBP Penggunaan langsung Y SP2D GU Pengesahan (2.5) DIPA N Realisasi Penerimaan PNBP (2.1) Subdit.2. Penggunaan PNBP (Satker BLU bersatus Bertahap) MoSA Setor ke Kas Negara (2. TPBE.1) Penggunaan Langsung PNBP (2.

 DTP 110  .Subdit. TPBE.

Subdit. TPBE. DTP 111  .

Manajemen Pembayaran. DTP                                                                                                                                           112    . PPK. Dalam hal ini. Koneksitas proses bisnis dicerminkan oleh integrasi diantara elemen-elemen proses bisnis.BAB IV Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. 2. Manajemen Komitmen. Disamping itu. Konsepsi dan Metodologi Pada bab-bab sebelumnya. PPSPM. hal-hal yang dibahas dalam bab ini akan menjadi fokus diskusi pada awal tahun 2010. A. mekanisme input-output (transfer) yang digunakan dan dihasilkan sebuah proses bisnis. verifikasi dan dokumen pendukung dalam proses bisnis. dan Manajemen Kas. juga dibahas berbagai usulan tentang struktur pejabat perbendaharaan (PA/KPA. Penentuan model manajemen keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dilakukan dengan memperhatikan permasalahan dari praktek pada saat ini. Future proses bisnis yang dihasilkan dari methodology tersebut di atas terutama Subdit TPBE. Penjelasan pada Bab III menekankan pada mekanisme kontrol. yang secara paralel sekaligus menjadi bahan untuk pengembangan IT dan penerapannya pada satker terpilih. terutama yang dijalankan oleh institusi/unit yang berbeda. dibahas usulan future proses bisnis terkait Manajemen DIPA. Pembahasan pada bab III secara umum menggambarkan alur proses bisnis secara cross functional boundaries. bab ini difokuskan pada pembahasan usulan future model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan satker yang disesuaikan dengan modul-modul yang ada dalam pengembangan SPAN. keandalan dan kesesuaian aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian intern (internal control) di masing-masing unit proses bisnis.3. Sejalan dengan framework ITIL v. dan Bendahara) di satker beserta proses bisnisnya terkait. termasuk di dalamnya bentuk/media dan interface. telah dibahas sistem perbendaharaan yang meliputi aktivitas manajemen keuangan negara di Satuan Kerja dan di Ditjen Perbendaharaan. Integrasi yang tinggi ini setidaknya meliputi: 1. Accounting dan Reporting. Dalam bab ini akan dibahas secara lebih rinci future model dari koneksitas dari proses bisnis dan manajemen keuangan di Satker dengan proses bisnis di perbendaharaan. mengkaji internasional best practice dan kesesuaiannya dengan landasan hukum yang ada (UndangUndang). Definisi.

Fungsi manajemen DIPA terutama berkaitan dengan distribusi dana anggaran yang telah disetujui tersebut kepada Spending Unit sebagai dasar untuk melakukan pengeluaran (otorisasi). B. Manajemen DIPA 1. Tujuan dan fungsi Setelah rancangan anggaran (budget draft) disetujui oleh parlemen. rekomendasi untuk penyempurnaan proses bisnis pada saat ini juga memperhatikan blue print rencana pengembangan SPAN. Oleh karena itu. dapat berlaku untuk satu periode tahun anggaran atau untuk periode tertentu yang lebih singkat. World Bank.diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). terutama terkait dengan modernisasi sistem informasi dan IT. 2007) Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           113    . tergantung dengan sistem yang digunakan di negara tersebut. a) Apportionment: proses untuk menentukan bagian dari anggaran yang telah disetujui oleh parlemen (appropriation) yang dapat digunakan oleh Line Ministries dan Main Spending Unit (apportioned appropriations). Line Ministries dan Spending Unit pada dasarnya telah memiliki otorisasi untuk melakukan pengeluaran atas beban anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Terdapat mekanisme yang berbeda di masing-masing negara terkait dengan pengalokasian dan pendistribusian jumlah anggaran yang telah disetujui oleh Parlemen kepada Spending Unit. prosesnya secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua hal sebagai berikut. Namun demikian. Otorisasi ini. Proses ini dapat berupa keputusan (decree) yang memberikan otorisasi kepada Line Ministries untuk menggunakan seluruh atau sebagian dari jumlah yang telah disetujui parlemen b) Allotment: proses dimana line ministries atau main speding unit mengalokasikan rincian dari jumlah anggaran yang telah disetujui oleh parlemen (apportioned appropriations) kepada Spending Unit di lingkungan masing-masing (subordinate Spending Unit) (OECD. 2001.

Namun demikian. of the total annual appropriation on a quarterly or monthly basis that allows a line ministry or spending agency to make commitments” (OECD. Subdit TPBE.2. Dalam sistem ini. DTP                                                                                                                                           114    . International Best Practice terkait Manajemen DIPA Berkaitan dengan pelaksanaan anggaran (budget execution). yaitu warrant system dan apportionment/allotment system. 2001). Warrant tersebut akan menjadi batas tertinggi pengeluaran (spending limit) untuk jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. Pembahasan untuk masing-masing sistem adalah sebagai berikut: a) Warrant system Warrant adalah “a release of all.1. pada dasarnya terdapat dua sistem utama dalam manajemen atas Spending Authority. sebagian atau keseluruhan jumlah anggaran tersebut baru dapat efektif sebagai dasar pengeluaran apabila telah diterbitkan dokumen pelaksanaan anggaran (warrant) atas dasar usulan Spending Unit. Proses bisnis management of Spending Authority adalah sejak Plan Procurement sampai dengan Penerbitan Warrant / Spending Limit. Perbedaan mendasar di antara keduanya adalah mekanisme penggunaan appropriasi (anggaran yang disetujui oleh parlemen) sebagai dasar untuk membuat perikatan/komitmen yang akan membebani anggaran. anggaran/approptiation yang disetujui parlemen lebih merupakan alat perencanaan yang merefleksikan kebijakan dan program pemerintah untuk tahun anggaran yang bersangkutan. Implementasi atas salah satu dari sistem tersebut. or more commonly a part. sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4. biasanya sejalan dengan sistem manajemen komitmen dan manajemen pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran yang diterapkan di suatu negara.

1. Dalam sistem ini.Gambar 4.2 Subdit TPBE. prosedur alokasi atas anggaran yang disetujui parlemen ke dalam masing-masing Spending Units akan menghasilkan dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan anggaran yang umumnya berlaku selama periode tahun anggaran. Proses bisnis management of Spending Authority adalah proses penerbitan dan pengesahan dokumen allotment. Proses Bisnis Manajemen DIPA (Warrant System) b) Apportionment system Apportionment atau allotment adalah “authorizations or distributions of funds generally made by the ministry of finance to line ministries and other spending units permitting them to either commit or pay out of funds or both. DTP                                                                                                                                           115    . Dokument tersebut efektif sebagai dasar untuk melakukan perikatan/komitmen dan/atau pengeluaran atas beban anggaran negara. within a specified time period and within the amounts appropriated and authorized”. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.

alokasi. pengawasan.17 tahun 2003 pada point 8 paragraf pertama disebutkan bahwa setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan UndangUndang. pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden sebagai pedoman bagi kementerian negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran.. DTP                                                                                                                                           116    . 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara khususnya pasal 3 Ayat (4) yang menyebutkan bahwa APBN/APBD mempunyai fungsi otorisasi.Gambar 4. Subdit TPBE. PerPres tersebut memuat rincian menurut alokasi anggaran untuk masing-masing Satuan Kerja (SAPSK) dan jenis belanja.2 Proses Bisnis Manajemen DIPA (Apportionment System) 3. Di dalam Penjelasan Undang-undang No. Peraturan Presiden tersebut menjadi dasar penyusunan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) (PMK 105/PMK. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen DIPA Pada dasarnya sistem yang dipakai di Indonesia terkait manajemen atas Spending Authority cenderung pada sistem apportionment/allotment. Hal ini sesuai dengan amanat UU No.02/2008 pasal 6). Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan (penjelasan pasal 3 ayat 4). dan stabilisasi. distribusi. perencanaan.

Pada saat ini DIPA disusun per satker (kecuali beberapa instansi vertikal per kanwil) dan per BKPK (4 digit). Dalam rangka pencairan dana Satker mengajukan SPM ke KPPN per akun pengeluaran (6 digit). 1 tahun 2004 Pasal 17). Model koneksitas proses bisnis yang berkaitan dengan manajemen DIPA pada saat ini adalah sebagai berikut (gambar 4. Realisasi pencairan dana tersebut (SP2D) dibuat per satker dan per akun pengeluaran (6 digit). Untuk keperluan pelaksanaan anggaran. berdasarkan DIPA Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berwenang mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan (UU No. 1 tahun 2004 Pasal 14 point 3).3): Gambar 4. Di dalam DIPA diuraikan anggaran yang disediakan (UU No. DTP                                                                                                                                           117    . 105/PMK. ADK DIPA yang terdapat dalam sistem di KPPN adalah 6 digit.3 Model Koneksitas Proses Bisnis Manajemen DIPA (current) Subdit TPBE.Konsep DIPA yang disusun oleh Kuasa Pengguna Anggaran Satuan kerja disahkan berdasarkan PerPres tentang RABPP dan atau SRAA (PMK No.02/2008).

Namun demikian harus diakui bahwa sampai saat ini Treasury / Ditjen Perbendaharaan belum mampu menerapkan proses bisnis dengan dukungan IT yang ideal sebagai mekanisme untuk melakukan update rencana pencairan dana (halaman III DIPA) sesuai dengan realisasi. Dalam tingkatan tertentu hal tersebut mengurangi fleksibilitas anggaran selama pelaksanaannya. b) Ketentuan dalam perundang-undangan menghendaki persetujuan parlemen (DPR) sampai dengan jenis belanja. Permasalahan diatas berkaitan dengan beberapa elemen-elemen dari bisnis proses. diantaranya: • • • • • • Jumlah Satker yang sangat banyak Tingginya frekuensi usulan revisi DIPA Kurangnya fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran Tidak efektifnya Rencana Pencairan Dana (Halaman 3 DIPA) Tidak ada mekanisme update untuk Rencana pencairan Dana (Halaman 3 DIPA) Ketidaksesuaian Data pagu baik di lingkungan unit vertikal DJPBN maupun dengan Satker. Hal-hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan Satker untuk mengimplementasikan anggaran. DTP                                                                                                                                           118    . misalnya rincian Perpres APBN (apportionment) sudah mengalokasikan anggaran menurut Spending Unit (Satker) dalam bentuk SAPSK Subdit TPBE.Dalam prakteknya manajemen DIPA saat ini identik dengan beberapa permasalahan. d) Jumlah Satker yang sangat banyak dalam rangka pelaksanaan anggaran juga dipengaruhi oleh peraturan yang berkaitan dengan budget preparation yang dihasilkan oleh DJA. c) Rencana pencairan dana (halaman III DIPA) tidak diikuti dan tidak mengikat Satker sehingga fungsinya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. misalnya sebagai berikut: a) Tingginya frekuensi usulan revisi DIPA mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: 1) Kurangnya perencanaan yang ideal selama proses penyusunan anggaran (budget preparation) 2) Kurangnya kerjasama antara pihak-pihak di Kementrian / Satker yang bertanggung jawab dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Kondisi tersebut mencerminkan kurangnya kemampuan Satker dalam perencanaan.

(PMK 105/2008). d) Ditjen Perbendaharaan dapat melihat dan menyetujui rincian anggaran yang didistribusikan kepada Satker oleh kantor Pusat Kementrian Teknis masingmasing (konsep DIPA). batasan kas dan pengeluaran. 4. status komitmen. Sampai saat ini tidak terdapat mekanisme yang dapat menjadi dasar bagi Ditjen Perbendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran untuk memodifikasi jumlah dan struktur Satker dalam Perpres APBN. e) Ketidaksesuaian data pagu baik antar Satker dengan Ditjen Perbendaharaan maupun diantara unit teknis Perbendaharaan terutama setelah revisi. Kementrian / Satker dan DPR. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh belum tersentralisasinya data DIPA. Data anngaran tersebut dapat dikonsolidasikan dan disimpan dalam database. DTP                                                                                                                                           119    . b) Sistem perencanaan anggaran dapat menerima dan mencatat perubahan usulan anggaran sebagai hasil pembahasan antara Kementrian Keuangan. Subdit TPBE. Fitur SPAN terkait Manajemen DIPA Sejalan dengan rencana pengembangan SPAN maka diharapkan nantinya proses bisnis terkait manajemen DIPA dapat mengakomodasi hal-hal sebagai berikut: a) DJA dapat menerima data anggaran dari Kementrian / Satker secara online. Bappenas. f) KPPN dapat memeriksa secara online pagu anggaran. Permasalahan tersebut diatas harus menjadi perhatian utama dalam penyempurnaan koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait manajemen DIPA. c) Kantor pusat kementrian teknis dapat mendistribusikan anggaran yang telah disetujui kedalam Satker dilingkungan kerjanya (konsep DIPA) dengan persetujuan Ditjen Perbendaharaan. terutama sebagaimana terdapat dalam Lampiran V. Didalam rencana pengembangan SPAN memungkinkan pengembangan beberapa alternatif untuk sentralisasi database (terutama yang berkaitan dengan DIPA). e) Ditjen Perbendaharaan dapat menginformasikan Satker tentang rincian anggaran yang telah disetujui baik secara paper based maupun elektronik (DIPA).

5 Model Separated Budget Preparation Subdit TPBE.4 Model Integrated Budget Preparation Model alternatif lainnya adalah integrasi database (terutama yang berkaitan dengan DIPA) dengan modul budget preparation yang terpisah sebagai berikut (gambar 4.4. DTP                                                                                                                                           120    . Gambar 4.5): Gambar 4.Model koneksitas antara Satker Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam integrated budget preparation modul ditunjukkan dalam gambar 4.

Rekomendasi dan alternatif Future Vision Model koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA Dari kedua model koneksitas tersebut diatas modul budget preparation yang terintegrasi merupakan yang paling ideal. Rekomendasi terkait dengan implikasi dari terintegrasinya data Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam satu sistem adalah sebagai berikut: a) Fitur SPAN memungkinkan Ditjen Perbendaharaan mencocokkan rincian APBN (perpres) dengan konsep DIPA yang diajukan Satker. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. Sepanjang konsep DIPA sudah sama dengan Perpres rincian APBN dan indikator kinerja serta target yang akan dicapai sudah sesuai dengan RKA-KL yang disepakati antara DPR dan pemerintah. Pencocokan tersebut dapat secara manual maupun secara otomatis (by sistem) apabila fitur SPAN sebagaimana dalam angka 4 tersebut di atas dilaksanakan. di mana Konsep DIPA diajukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran dari Satker yang bersangkutan. DTP                                                                                                                                           121    .5.6): Subdit TPBE. sistem tidak akan menolak konsep DIPA dan Kantor pusat DJPB harus memberikan persetujuan atas konsep DIPA tersebut. Konsep DIPA yang disusun oleh Satker diregister ke kantor pusat K/L untuk selanjutnya dimintakan persetujuan ke kantor pusat DJPB. Mekanisme ini mengakomodasi ketentuan dalam pasal 7 PMK 105/PMK.02/2008.

6 Alternatif Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA b) Setelah DIPA disahkan.Gambar 4. maka pagu DIPA akan mengikat Satker dalam pelaksanaan anggarannya dan merupakan batas tertinggi pengeluaran bagi Satker. Dengan mekanisme ini diharapkan manajemen keuangan negara di Satker dapat lebih fleksibel dan lebih mencerminkan pelaksanaan konsep “let the manager manages” namun tetap sesuai dengan ketentuan perundangan yang ada Subdit TPBE. c) Dalam hal terjadi usulan revisi. sistem harus dapat menerapkan pembatasan pencairan dana secara otomatis pada subkegiatan/kegiatan yang sedang direvisi sehingga menghindari pagu minus akibat revisi. d) Diusulkan agar DIPA disusun per satker (kecuali beberapa instansi vertikal per kanwil) dan per jenis belanja (2 digit). Konsekuensinya ketersediaan pagu anggaran ditetapkan per jenis belanja (2 digit). Satker tetap mengajukan pencairan dana ke KPPN per akun pengeluaran (6 digit). rincian tetap dibutuhkan per akun (6 digit). DTP                                                                                                                                           122    . Untuk kepentingan pelaporan. Data DIPA yang diterima KPPN adalah per satker dan per jenis belanja saja (2 digit).

kelemahan utama terkait dengan penggunaan rencana penarikan dana sebagai alat untuk manajemen kas pada saat ini adalah sebagai berikut: 1) Tidak efektifnya rencana penarikan dana baik dalam hal keperluan realisasi maupun kepentingan manajemen kas.7 Rekomendasi Digitasi dari Pelaksanaan Anggaran e) Halaman III DIPA memuat rencana penarikan dana.7 adalah ilustrasi dari rekomendasi tersebut di atas. Seperti telah disinggung sebelumnya.pada saat ini. Di dalam Penjelasan PMK 105/PMK. Berikut ini pada Gambar 4.02/2008 disebutkan bahwa pencantuman rencana penarikan dana dalam dokumen DIPA adalah untuk pencapaian optimalisasi fungsi DIPA sebagai manajemen kas pemerintah (optimalisasi pengelolaan rekening kas negara) terkait dengan kebutuhan untuk menjamin ketersediaan uang dan ketepatan waktu penyediaan uang dalam rangka memenuhi tagihan kepada negara. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           123    . rencana penarikan dana dalam DIPA tidak secara efektif digunakan sebagai acuan untuk Subdit TPBE. Mekanisme ini diakomodasi dalam konsep Annual Financial Plan (AFP) sebagai bagian dari modul manajemen DIPA di dalam SPAN bidding document. Dengan kata lain.

2) AFP murni sebagai alat perencanaan kas. Alternatif pertama (1) lebih realistis sebagai alat perencanaan kas. Beberapa alternatif dalam kerangka pengembangan SPAN untuk merevitalisasi fungsi halaman III DIPA sebagai salah satu alat perencanaan kas sebagai berikut: 1) Pengesahan konsep DIPA oleh Kantor pusat DJPB berati juga persetujuan pencairan dana Satker untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan periode AFP. Dengan demikian AFP memiliki sifat mengikat dan berlaku sebagai batas pengeluaran / spending limit untuk jangka waktu sebagaimana dalam AFP. Namun demikian sistem tersebut akan menambah bisnis proses baru bagi Satker. DIPA tidak hanya sebagai dokumen alokasi anggaran. salah satu Subdit TPBE.keperluan pembayaran/ pengeluaran kas. Alternatif kedua (2) lebih fleksibel dan tidak rigid terhadap pengeluaran dalam jangka waktu tertentu. Satker harus mengajukan usulan perubahan apabila akan melakukan pengeluaran melebihi jumlah yang telah disetujui dalam AFP. DTP                                                                                                                                           124    . 2) Tidak ada mekanisme update atas perubahan dan/ atau realisasi dari rencana penarikan dana tersebut. Rencana pengeluaran ini di update diantaranya sesuai dengan informasi perkiraan pengeluaran yang akan jatuh tempo dalam periode AFP. sehingga menjadi tidak valid untuk menjadi alat manajemen kas. Satker dapat melakukan pengeluaran melebihi jumlah rencana pengeluaran sebagaimana dalam halaman III DIPA. Namun demikian AFP ini tidak berlaku sebagai batas tertinggi pegeluaran spending limit untuk periode tertentu. khususnya untuk long term planning. Kekurangannya adalah untuk dapat dilaksanakan secara ideal sistem ini memerlukan mekanisme updating yang terintegrasi dan lengkap terkait dengan pengeluaran yang akan jatuh tempo. Dengan demikian DIPA memiliki dua status. Informasi ini salah satunya diperoleh dari data atas jumlah pagu yang telah dikontrakan dari modul manajemen komitmen. Disamping itu implementasi yang efektif dari sistem ini memerlukan kemampuan manajerial Satker terutama dalam hal perencanaan. namun juga sebagai surat keputusan otorisasi untuk jangka waktu tertentu (warrant).

Dari kedua alternatif tersebut. 3) Informasi terkait dengan komitmen/perikatan akan menjadi salah satu input untuk meng-update dan meningkatkan validitas dari rencana penarikan dana selama periode waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. Rencana penarikan dana dapat direvisi atas usul satker dan disetujui oleh treasury. DTP                                                                                                                                           125    .diantaranya melalui manajemen komitmen. rekomendasi untuk mekanisme penggunaan rencana penarikan dana adalah sebagai berikut: 1) Spending limit untuk jangka waktu satu tahun anggaran adalah total nilai pagu yang ada pada DIPA. misalnya pengeluaran untuk wages. rencana penarikan dana akan berlaku mengikat sebagai batas pengeluaran selama jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran.8): Subdit TPBE. Dengan kata lain. tidak semua rencana pengeluaran dapat diakomodasi di manajemen komitmen. tanpa harus disahkan terlebih dahulu sebagai periodic spending limit (batas pengeluaran untuk jangka waktu tertentu di dalam satu tahun anggaran) atas dasar dokumen Request for Commmitment. Beberapa pengeluaran yang bersifat non kontraktual umumnya dapat dilakukan tanpa manajemen komitmen. Pagu tersebut merupakan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan perikatan (otorisasi). 2) Rencana penarikan dana (halaman 3 DIPA) yang merupakan Annual Financial Plan dan disusun oleh Satker akan berfungsi sebagai periodic spending limit. utilities dan entitlement. Akan tetapi. Ilustrasi dari mekanisme ini adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. Implementasi alternatif kedua (2) harus didukung sistem lain yang memang ditujukan untuk melakukan updating terhadap Annual Financial Plan yang disusun oleh Satker.

Gambar 4.8 Mekanisme Penggunaan dan Updating Rencana Penarikan Dana Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           126    .

yang berbeda dengan cash forecasting berdasarkan data trend dari periode sebelumnya (historical data trend). Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan purchase order dan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. Pembayaran untuk gaji. Pada dasarnya. Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan.C. tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment (Radev & Khemani. tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri.  1 Subdit TPBE. 2007). Tujuan dan Fungsi Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu (Radev & Khemani. 211). Dalam SPAN Bid Document. Secara umum terdapat dua jenis komitmen. Komitmen khusus (spesific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu. manajemen komitmen ditujukan untuk mengelola tindakan-tindakan awal yang menimbulkan kewajiban negara dalam rangka disiplin anggaran (ketaatan terhadap batas pengeluaran) dan menghindari timbulnya arrears 1 . disebutkan bahwa komitmen anggaran terjadi pada saat kontrak ditandatangani antara Satker dan rekanan untuk pengadaan barang dan jasa di masa yang akan datang atau pada saat rekanan menerima dan menyanggupi purchase order dari satker (p. Dengan mencatatkan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan. manajemen komitmen juga merupakan salah satu alat untuk melakukan cash forecasting. 2007). DTP                                                                                                                                           127    . Pelaksanaan manajemen komitmen memiliki dua tujuan utama yang masingmasing memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Manajemen Komitmen 1. Namun demikian. maka institusi perbendaharaan dapat membuat perencanaan kas yang berorientasi ke depan (forward cash plans) berdasarkan perkiraan aliran kas yang akan menyertai pelunasan sebuah komitmen. Commitment management dapat mendukung terwujudnya cash management yang berorientasi ke depan (forward cash management).                                                               Arrears dapat diartikan sebagai kewajiban pembayaran yang tertunda di mana negara tidak dapat memenuhi  kewajiban tersebut dalam jangka waktu tertentu (Radev & Khemani. 2007).

terdapat banyak variasi dari aplikasi manajemen komitmen di berbagai negara. Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat Subdit TPBE. 3. b) Manajemen komitmen yang didesentralisasikan (Decentralised commitment management) Dalam model ini. International Best Practices terkait Manajemen Komitmen Secara garis besar terdapat dua model ekstrim dari manajemen komitmen. Ciri utama dari model ini adalah adanya penunjukan pejabat (Chief Controlling Officer) yang memiliki kewenangan untuk mengesahkan timbulnya sebuah kommitmen dan bertanggung jawab atas aktivitas manajemen komitmen. sebagai berikut: a) Manajemen komitmen yang terpusat (Centralised commitment management) Ciri utama dari model ini adalah adanya mekanisme pengajuan Request for Commitment untuk diuji ketersediaan dananya (uncommitted budget allocation balance) oleh pihak treasury sebelum komitmen terjadi. Pejabat tersebut harus memastikan ketersediaan dana dan kesesuaian klasifikasi anggaran atas komitmen yang dibuat dalam kerangka internal control dan aktivitas administratif yang membentuk sistem dari mangement commitment. Current State Assessment & Problems Terkait Manajemen Komitmen Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen dan dapat dijadikan landasan untuk pengembangan manajemen komitmen di masa yang akan datang. Pada prakteknya. DTP                                                                                                                                           128    .2. Secara umum. diperlukan adanya pengesahan dari pejabat yang berwenang sebelum terjadinya sebuah komitmen. model manajemen komitmen suatu negara tergantung pada keseluruhan kerangka organisasi dalam proses pelaksanaan anggaran khususnya yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran (payment management) dan sistem akuntansi (accounting system) (Radev & Khemani. Pada intinya. fungsi manajemen komitmen diserahkan kepada kementrian teknis/satker yang bersangkutan. Request for Commitment yang telah disetujui dan dicatat oleh pihak treasury selanjutnya akan menjadi salah satu dasar pembayaran oleh pihak treasury. 2007).

Selanjutnya patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the manager manages dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer. Mekanisme tersebut merupakan salah satu ciri utama dalam decentralized commitment management. b) adanya asas umum yang mengatur secara tegas batasan kewenangan untuk melakukan perikatan dalam bentuk ketersediaan dana/anggaran. p. Hal tersebut berlawanan dengan fitur dari centralized commitment management di mana expenditure ceiling yang dihasilkan dari pengajuan Request for Commitment merupakan batasan untuk melakukan komitmen dan melakukan pembayaran sebagai akibat dari timbulnya komitment dalam periode tertentu (see Radev & Khemani. 2007. Hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: a) kewenangan administrative pada kementian/lembaga untuk membuat perikatan dan melakukan pengujian (ketersediaan anggaran).dilakukan jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. Dalam konteks UU perbendaharaan. Kewenangan administrative tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan). 9) Subdit TPBE. secara implisit ketentuan perundangan yang berkaitan dengan manajemen komitmen lebih cenderung pada model decentralized commitment management. Salah satu fitur dari decentralized commitment management adalah adanya pejabat tertentu yang melakukan otorisasi dan bertanggung jawab untuk melakukan perikatan (Chief Commitment Officer). peran commitment officer ini dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). DTP                                                                                                                                           129    . kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementrian Negara/lembaga. Dari telaah terhadap ketentuan perundangan yang ada.

Di samping itu. tidak ideal untuk keperluan forward cash planning karena baru dapat diketahui pada saat pengeluaran dari kas negara dilakukan. belum secara otomatis terekam rencana tahapan-tahapan pembayarannya untuk masing masing tahun anggaran. Chart of Account yang ada belum dapat mengakomodasi pencatatan untuk commitment stages dalam pelaksanaan anggaran. Beberapa inisiatif telah diupayakan untuk mengatasi kekurangan ini. 4. Dengan model koneksitas seperti ini. informasi perihal kontrak yang disampaikan ke Ditjen Perbendaharaan menjadi kurang relevan untuk pencapaian tujuan manajemen komitment.211). Diantaranya melalui penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah (SE-02/PB/2006) serta penyampaian Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008 melalui aplikasi Peran 2008 (SE-38/PB/2008). informasi tentang komitmen yang sangat terbatas sifatnya (sesuai dengan appendix V) disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005). Fitur SPAN terkait Manajemen Komitmen Sesuai dengan rencana pengembangan SPAN. sebagian dari fitur manajemen komitmen pada saat ini dilaksanakan sebagai bagian dari manajemen pembayaran. khususnya untuk mendukung pelaksanaan manajemen kas di Ditjen Perbendaharaan. dalam SPAN Bid Document dapat diidentifikasikan bahwa dengan fitur manajemen komitmen (commitment management module) Ditjen Perbendaharaan dapat melakukan perencanaan kas atas dasar perkiraan arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitment (hal. Subdit TPBE. Misalnya. Namun kedua hal tersebut berjalan kurang efektif. Misalnya. baik karena kurangnya pemahaman Satker maupun karena sifatnya yang ad-hoc untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tertentu pada akhir tahun anggaran (Peran 2008). Pada saat ini tengah dikembangkan model Peran 2009 yang lebih komprehensif yang memperhatikan data aktual dari kegiatan yang sudah atau belum dikontrakkan dari sisa pagu anggaran yang tersedia. DTP                                                                                                                                           130    .Pada saat ini belum tersedia mekanisme yang dapat mengintegrasikan komitmen yang telah dibuat satker ke dalam sistem perbendaharaan negara. Demikian pula untuk kontrak yang multi years. Terkait dengan manajemen komitmen.

211). terkait dengan pembuatan dan pelunasan sebuah komitment.Commitment management juga diarahkan untuk bisa melakukan updating atas sisa kredit anggaran (uncommitted balance) dan sisa allotment. DJA dan DJPBN dapat memonitor komitmen sampai dengan pelaksanaan pembayaran. 215). 286) yang diberikan untuk keperluan proses pembayaran sebagaimana diatur dalam model payment management (p. Satker harus memastikan bahwa komitmen dibuat atas dasar ketersediaan kredit anggaran. DTP                                                                                                                                           131    . Request for Commitment (RFC) yang valid dicatat ke dalam sistem beserta Commitment Application Number (CAN) (technical requirement BC 011. Sebagai dasar untuk mencatat komitmen dalam SPAN. p.194). Satker menyusun dan menyampaikan Request for Commitment (RFC) kepada KPPN bersama dengan dokumen pendukungnya (hal. Dengan demikian.9): Subdit TPBE. Alur aktivitas (work flows) selengkapnya sebagaimana tercantum dalam SPAN Bidding Document adalah sebagai berikut (Gambar 4. Komitmen tersebut selanjutnya harus diregistrasi kepada perbendaharaan (treasury) (p.

Gambar 4.9 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Komitmen (Bidding Document)

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           132   

4.1.Koneksitas Dan Integrasi Dengan Modul Lainnya Dalam rangka pencapaian tujuan dari manajemen komitmen, keterkaitan manajemen komitmen dengan modul lainnya dalam SPAN, khususnya modul Manajemen DIPA dan Payment Management adalah sebagai berikut (di gambarkan dalam Gambar 4.10): a) Informasi terkait dengan komitmen akan di update atas dasar invoice/tagihan yang valid dari Satker. Pada saat yang sama, akan dilakukan pencatatan atas tagihan yang disetujui untuk dibayar sebagai payables (hutang). b) KPPN melakukan verifikasi apakah SPM yang diajukan merujuk pada commitment tertentu yang telah diregistrasi sebelumnya dan memiliki Commitment Application Number (CAN), untuk jenis-jenis pengeluaran yang memerlukan CAN (umumnya yang bersifat kontraktual). c) Atas dasar permintaan pembayaran (SPM) yang disetujui (SP2D), treasury akan melakukan update atas informasi terkait dengan komitmen yang telah dicatat sebelumnya melalui mekanisme pengajuan Request For Commitment (RFC) dan penerbitan Commitment Application Number (CAN).

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           133   

Gambar 4.10 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Pembayaran (Bidding Document)

Keterkaitan antara komitmen manajemen dengan manajemen DIPA, diantaranya berupa penentuan Spending Limit. Hal tersebut tidak disebutkan secara khusus pada bagian yang menjelaskan tentang Manajemen DIPA. Namun demikian, fitur dari penerapan manajemen komitmen dalam rangka melakukan monitoring atas spending authority dalam bentuk updating atas spending limit cukup jelas digambarkan dalam
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           134   

kerangka manajemen komitmen. Dalam keterangan terkait dengan Manajemen DIPA dalam dokumen SPAN, digunakan istilah spending authority dalam bentuk penyusunan Annual Financial Plan (halaman 3 DIPA) dan opsi penerapan cash limit dalam kondisi tertentu. Kedua hal tersebut, berbeda dengan spending limit. Spending limit dalam pengertian manajemen komitmen adalah sisa dari budget allotment yang belum menjadi objek perikatan (uncommitted budget allotment). Sedangkan, batasan spending authority dalam manajemen DIPA dalam bentuk AFP dan Cash limit lebih terkait dengan aspek perencanaan penarikan dana dan ketersediaan kas. Dari uraian terkait dengan international practice dan workflows diagram untuk manajemen komitmen dalam SPAN Bid Document sebagaimana tersebut, di atas dapat diidentifikasi hal-hal sebagai berikut: a) Dalam SPAN Bid Document diperkenalkan adanya hybrid model dari centralized dan decentralized commitment management model. Dalam model yang ada di SPAN, Satker harus memastikan ketersediaan anggaran sebelum melakukan perikatan. Selanjutnya, model tersebut juga mengakomodasi aktivitas pencatatan komitment atas dasar persetujuan kontrak maupun penerbitan purchase order. Namun demikian, model yang ada dalam SPAN juga mensyaratkan pengajuan Request for Commitment (RFC) untuk disahkan oleh pihak treasury (DJPBN) yang selanjutnya akan menjadi salah satu dasar pembayaran. b) Pencatatan atas komitmen dan dampaknya terhadap ketersediaan anggaran dilakukan baik oleh Satker maupun oleh pihak treasury, dalam hal ini DJPBN. Satker melakukan pencatatan dan monitoring atas komitmen yang dibuat dan sisa kredit anggaran. Namun demikian, perekaman kedalam database (sistem perbendaharaan) hanya dilakukan oleh Treasury atas dasar pengajuan dokumen komitmen (RFC) yang valid. c) Manajemen komitmen ditujukan tidak hanya untuk mendukung aktivitas manajemen kas tetapi juga dimaksudkan untuk mendukung tercapainya disiplin anggaran dengan memastikan adanya pencatatan dan manajemen atas batas pengeluaran (spending limit record). Kerangka manajemen komitmen dan kaitannya dengan modul lainnya dalam dokumen SPAN, dan tujuan dari manajemen komitmen menurut international best practice dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 4.11):

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           135   

Gambar 4.11 Kerangka Manajemen Komitmen Dan Kaitannya Dengan Modul Lainnya Dalam SPAN
Procurement  Commitm ent Record  (RFC+CAN) , Spending  Limit,  Record on  Payables  Acquisition  and Invoice 

Kontrak/ PO 

Verify  Commitment  Record and  Book  payables,  Issue SPP  SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

Creating  RFC 

CAN

RFC 

Verification +  Approvals  (RFC and/or  SPM)

SPM +  CAN 

Retrieve  Cash  Forecasting  Record 

Cash  Forecasti ng Record  Tujuan yang berkaitan dengan monitoring atas uncommitted budget balance [Fitur dari  centralized commitment management]  Tujuan yang berkaitan dengan pencatatan  akuntansi (payables) dan perencanaan  kas  [Fitur dari de‐centralized commitment  management 

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           136   

11. penentuan critical event untuk mengakui terjadinya komitmen dan mencatatnya ke dalam sistem informasi perbendaharaan sebagai bagian dari manajemen sistem informasi atas pagu DIPA menjadi sangat penting. Tujuan yang pertama. Radev & Khemani. apakah komitmen dicatat dan di akui pada saat penandatanganan kontrak/ penerbitan purchase order atau pada saat tagihan (invoice) diterima. akan dicapai melalui updating Pagu Pengeluaran (spending limit) atas dasar dokumen RFC yang dibuat berdasarkan perkiatan (kontrak/PO). DTP                                                                                                                                           137    . Oleh karena itu. a) Establishment of Commitment Manajemen komitmen menghendaki adanya pencatatan dan pelaporan berkaitan dengan perikatan (see SPAN Bid Document.  Penentuan saat pengakuan dan pencatatan sebagai payables  Penentuan source document untuk mencatat komitment ke dalam sistem   Apakah  commitment  dicatat  pada  specific  account  (MAK  tertentu)  atau  cukup  dengan  penambahan  kode  yang  mengindikasikan  stages  tertentu  (commitment)  pada struktur Bagan Akun Standar?   Subdit TPBE. Misalnya. 5. Pencatatan hutang berguna sebagai salah satu input bagi manajemen kas. yaitu yang berkaitan monitoring uncommitted budget balance dan cash forecasting. Penentuan critical event dalam rangka manajemen komitmen ditentukan pula oleh kategori/jenis pengeluarannya (specific/ continuous commitment).Sebagaimana terlihat dalam Gambar 4. Termasuk pula penentuan kapan payables (hutang) sebagai akibat dari perikatan harus dicatat dalam sistem akuntansi. • • • • Penentuan critical event untuk pengakuan komitmen. Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Manajemen Komitmen Kompleksitas orientasi dan kerangka manajemen komitmen dalam SPAN serta perlunya dukungan landasan hukum yang memadai untuk penerapan yang efektif memunculkan beberapa isu yang patut menjadi perhatian. Namun demikian tidak disebutkan secara jelas data apa yang digunakan sebagai dasar cash forecasting dan kapan data tersebut disampaikan ke KPPN. 2007). terutama untuk jangka pendek. Oleh karena itu diperlukan inventarisasi dan pemahaman atas jenis pengeluaran (category of expenditure) yang ada dalam APBN. terdapat dual purpose yang menjadi visi dari penerapan komitmen manajemen.

OECD. Berikut adalah analisis atas penerapan masing-masing opsi penyampaian data untuk keperluan forward cash planning: 1) Berdasarkan kontrak pada penyampaian dokumen RFC: Subdit TPBE. 2001). sebagaimana yang digunakan dalam praktek penganggaran dan manajemen di Amerika Serikat. Definisi menurut pendekatan penganggaran ini cenderung tidak memberikan rekomendasi untuk mengakui komitmen sebagai hutang (liability) hanya atas dasar pembuatan kontrak. komitmen lebih sebagai “administrative reservation of allotted funds in anticipation of an obligation” (FSIO. Terdapat beberapa alternative untuk pengakuan liabilities yaitu berdasarkan kontrak. komitmen diakui pada pada saat kontrak atau perjanjian yang mengikat (a legally binding agreement) dalam rangka pengadaan barang dan/atau jasa dibuat (OECD. 2007. Kerangka manajemen komitmen menurut SPAN dapat mengakomodasi baik pendekatan akuntansi maupun pendekatan penganggaran (budgetary sense) sebagaimana tersebut di atas Namun demikian. DTP                                                                                                                                           138    . dalam dokumen SPAN tidak dijelaskan kapan data untuk keperluan cash. komitmen akan disertai/menjadi kewajiban (liability) yang sesungguhnya hanya setelah dilakukan serah terima barang dan/jasa yang menjadi objek perikatan (World Bank. Pencatatan yang dilakukan lebih ditujukan untuk menginformasikan bahwa sebagian dari pagu anggaran telah terikat pada kontrak tertentu dan menjadi “committed budget balance”. dalam bentuk arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitmen. dan berdasarkan penerbitan SPM. sifat pencatatan bukanlah pencatatan akuntansi dalam bentuk hutang (liability/ payable). Dalam rangka penerapan pendekatan penganggaran. Namun demikian. pada prinsipnya dapat didasarkan atas catatan dari komitmen yang telah menjadi hutang (liabilities).Merujuk pada definisi komitmen dalam istilah akuntansi. komitmen diakui pada saat penandatanganan kontrak dan dicatat ke dalam sistem informasi perbendaharaan. forecasting dihasilkan untuk kemudian diintegrasikan kedalam sistem informasi perbendaharaan. 2001). berdasarkan tagihan yang valid /penerbitan SPP. Terkait dengan data untuk keperluan cash forecasting. 2009). Namun demikian dalam pendekatan penganggaran (budgetary sense). Dengan kata lain.

Mekanisme yang ada kurang cukup member insentif bagi Satker untuk menyampaikan data terkait dengan diterimanya tagihan yang lengkap oleh PPK.- Kelebihan: tersedianya waktu yang lebih cukup bagi institusi perbendaharaan untuk merencanakan kas sesuai dengan pelunasan komitmen (angsuran). DTP                                                                                                                                           139    . terutama yang berkaitan dengan kontrak yang bersifat volume based. Peluang terjadinya kolusi antara PPK dan Penguji SPM terkait dengan waktu penerimaan tagihan dan penerbitan SPM. 3) Berdasarkan Surat Perintah Membayar Kelebihan: Unsur kepastian validitas tagihan lebih tinggi karena sudah melalui proses internal control yang lebih lengkap di Satker Kekurangan: Subdit TPBE. 2) Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan dan Tagihan Pihak ke-3 yang benar/SPP (semi-valid invoice ) Kelebihan: Unsur kepastian tagihan lebih terjamin karena telah melalui proses verifikasi dalam acquisition (serah terima barang) dan verifikasi awal atas invoice oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam rangka penerbitan SPM. - Kekurangan: Tidak dapat ditentukan kapan tagihan akan diajukan oleh pihak ke-tiga berdasarkan prestasi kerja. Unsur kewajiban untuk membayar tagihan dapat gugur apabila prestasi pekerjaan tidak sesuai dengan kontrak (invalid invoice). Starting point yang cukup ideal untuk menghitung cycle time (waktu yang diperlukan) atas business process pelaksanaan tugas kebendaharaan di Satker Kekurangan Tagihan dapat saja tidak disetujui oleh Penguji SPM karena unsur verifikasi awal dalam rangka penerbitan SPP bisa saja tidak memadai/ tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Waktu yang mencukupi bagi treasury untuk mempersiapkan ketersediaan kas sesuai dengan pelunasan tagihan yang diajukan.

Namun demikian. DTP                                                                                                                                           140    . dan hanya mengakui alokasi anggaran (appropriation dan allotment) dan pembayaran (realisasi). sampai saat ini belum ada mekanisme pencatatan untuk mengakui perikatan. Misalnya. pencatatan komitmen yang ideal mengharuskan adanya sistem akuntansi berbasis akrual. dalam respond atas technical requirement SPAN. Pencapaian fungsi dan tujuan dari manajemen komitmen yang berhubungan dengan disiplin anggaran (monitoring spending limit) dan penyempurnaan manajemen kas harus didukung dengan mekanisme akuntansi dan pelaporan yang ideal. Kerangka pengakuan stages (tahapan) dalam siklus anggaran menurut kerangka Bagan Akun Standar yang sedang dikembangkan saat ini adalah sebagai berikut: Subdit TPBE. Diharapkan unsur kepastian/validitas tagihan akan lebih terjamin. Dengan merujuk pada praktek internasional. Pencatatan hutang (payables) akan cukup ideal jika dilakukan berdasarkan diterimanya tagihan yang valid (diterbitkannya SPP) sesuai dengan telaah atas kelebihan dan kekurangan untuk masing-masing alternatif sebagaimana diuraikan sebelumnya. Sistem akuntansi yang ada pada saat ini sudah mengarah pada full accrual accounting. dan memberi horizon waktu yang mencukupi bagi treasury untuk menggunakan data terkait payables untuk perencanaan kas. Hal tersebut selanjutnya mempersyaratkan adanya suatu chart of account yang merefleksikan stages dalam siklus pengeluaran (expenditure cycle). Pendekatan yang dianggap paling efektif untuk mencatat pengakuan komitmen ini adalah dengan memberikan kode yang menggambarkan stages (tahapan) tertentu dalam siklus anggaran. Catatan: Pembahasan alternative tersebut di atas juga merujuk pada model/alternatif pencatatan komitmen sebagai payables. Kerangka usulan secara lebih detail adalah sebagaimana terlihat baik pada Gambar Alternatif 1 maupun Alternatif 2. payables akan dicatat menggunakan Oracle Payables pada saat SPM diterima di KPPN. Pada prinsipnya. hutang (liabilities) akan diakui setelah terjadi pemenuhan komitmen dalam bentuk serah terima barang dan jasa.Horison waktu yang sangat pendek dan kurang ideal untuk keperluan perencanaan kas.

Sakter Fund Fungsi Sub Fungsi ------------Program Aktivitas Sub. Gambar 4. masing-masing jenis belanja. Aktivitas --Klasifikasi Stages Account Ekonomi --Code 01 --- Misalnya pada saat ini akun utang yang berkaitan dengan komitmen terkait transfer dan subsidi diberikan kode akun tersendiri (Kode Akun 211221 : Belanja dana perimbangan yang masih harus dibayar.Stages Code APBN --. • Harus mulai dikembangkan cycle time untuk proses bisnis terkait komitmen. DTP                                                                                                                                           141    . DIPA 1 2 3 4 5 Komitmen Rv. agar pelaksanaanya dapat berjalan efektif. • Harus diberikan Account khusus (tertentu) untuk mengakui hutang (atas pemenuhan komitmen/kriteria tertentu dari sebuah komitmen).DIPA Rv. Account tersebut dapat diberikan untuk masing-masing akun.12 ditunjukkan simulasi atas contoh cycle time untuk keperluan analisis. maupun satu akun tertntu untuk mengakui aggregate liabilities yang berkaitan dengan pengakuan komitmen. kode akun 211611 : utang subsidi). Berikut pada Gambar 4.12 Simulasi Cycle Time Untuk Proses Bisnis Terkait Manajemen Komitmen Serah terima  B/J  3 hari  Invoice  SPP  SPM  Hari H  2 hari  KPPN  3 hari 3 hari Bank  Book  payable  Subdit TPBE. Komitmen 6 7 8 9 10 Revenue --Expenditure --- Terkait dengan penggunaan data hutang sebagai alat perencanaan kas. terdapat beberapa kondisi yang harus disiapkan.

Di Australia. KPPN hanya akan melakukan pembayaran/ menerbitkan SP2D apabila terdapat data payables atas pemenuhan dari komitmen yang dimintakan tagihan. payables dapat dihapus (write-off) dan Satker harus melakukan pencatatan ulang payables. Misalnya. Satker harus melakukan pencatatan payables segera setelah diketahui kebenaran dan kelengkapan tagihan. manajemen komitmen yang ideal (yang merupakan fitur utama dari manajemen komitmen) mensyaratkan pencatatan informasi yang berkaitan dengan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan dalam rangka penerapan disiplin anggaran dan perencanaan kas. pencatatan payables. dan peningkatan sosialisasi apabila diperlukan. Di sisi lain. sehingga dapat meningkatkan transparansi dan internal control yang lebih efektif. dan data forcasting dapat dilihat baik pada gambar alternatif 1 maupun pada gambar alternatif 2.Manfaat dari cycle time diantaranya adalah dapat digunakan sebagai alat monitoring atas pelaksanaan tugas kebendaharaan di Satker. b) Registration of Commitment Sebagaimana disebutkan sebelumnya. Metode penggunaan data payables yang dicatat berdasarkan invoice sebagai salah satu input bagi perencanaan kas dijalankan dengan cukup efektif dalam rangka penyaluran dana Anggaran di Australia. apabila ditentukan SPM harus di sampaikan 5 hari sejak penerbitan SPP dan pencatatan payables. Metode ini dapat berjalan dengan baik apabila pengujian awal yang menjadi dasar penerbitan SPP cenderung valid. Harus dilakukan identifikasi dan assessment atas kinerja Satker. updating spending limit. KPPN hanya akan menerbitkan SP2D pada hari tersebut (5 hari kerja sejak pencatatan payables). Visualisasi yang berkaitan dengan pengajuan RFC. DTP                                                                                                                                           142    . Hal tersebut diusulkan terutama untuk menjadi insentif dan mengoptimalkan peran Satker dalam pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan. Apabila tidak diterima SPM pada hari tersebut. valid invoice yang dicatat sebagai payable dan disampaikan ke institusi treasuri dibayarkan pada hari ke-30 sejak diregistrasinya data payables dan tagihan tersebut. pengelolaan keuangan negara akan lebih transparan baik bagi masing-masing pejabat perbendaharaan di Satker maupun bagi Perbendaharaan. Di dalam dokumen SPAN. Data payables juga dapat digunakan untuk keperluan perencanaan kas yang lebih valid. tidak jelas disebutkan/digambarkan (i) pihak (Satker atau Perbendaharaan) yang Subdit TPBE.

terkait dengan pelaksanaan fungsi-fungsi inti treasuri lainnya (manajemen DIPA. Mekanisme penyampaian informasi tersebut harus sederhana. line ministries.13). manajemen kas adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. transparan dan akuntabel. DTP                                                                                                                                           143    . memanfaatkan secara maksimal teknologi informasi yang ada. juga idealnya harus menyimpan (store) data terkait dengan komitmen salah satunya karena data tersebut akan digunakan kembali (retrieve) pada saat pembayaran tagihan. didukung dengan peraturan perundangan. KPPN)? Media apa yang digunakan dalam pertukaran informasi terkait dengan komitmen (hardcopy /Softcopy/ On-line)? Informasi apa saja yang harus disimpan (di-maintain) dalam database perbendaharaan? Siapa saja yang dapat mengakses informasi terkait komitmen yang telah diregistrasi (disimpan dalam data base treasury)?  Hal tersebut mensyaratkan adanya mekanisme alur dokumen dan data yang dapat menghubungkan Satker dengan institusi perbendaharaan dalam rangka pertukaran informasi terkait dengan pembuatan komitmen atas pagu anggaran. Subdit TPBE. (iii) informasi yang harus di simpan dalam data base perbendaharaan (iv) pihak-pihak yang dapat mengakses data komitmen yang telah diregistrasi.harus pertama kali mencatat (first/ever single entry point) data terkait komitmen (ii) pihak yang akan meregistrasi informasi terkait dengan komitmen ke dalam data base treasury. manajemen pembayaran. • • • • • Apakah Satker dan Line Ministries harus mencatat komitmen dalam database masingmasing (terpisah dengan treasury)? Siapa yang meregistrasi informasi terkait dengan komitmen dalam data base treasury (satker. dan sedapat mungkin memiliki insentif yang bermanfaat bagi Satker dalam pengelolaan keuangan negara. dan berikut kewajiban untuk melakukan pembayaran atas dasar pemenuhan kondisi tertentu. Institusi treasury. Alur dokumen yang berkaitan dengan komitmen.

yang ditunjukkan oleh keterkaitan aktivitas control.yang berkaitan dengan Manajemen Komitmen adalah sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut (gambar 4.13 Alur dokumen dan workflow proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan manajemen komitmen Keterangan Gambar: Alur dokumen terkait manajemen komitmen di Satker Alur Komitmen Alur Pembayaran Alur Manajemen Kas Alur Manajemen DIPA Model koneksitas proses bisnis dengan Satker-. DTP                                                                                                                                           144    .14): Subdit TPBE. elemen data.Gambar 4. mekanisme input/ output-.

14 Alur data dan koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen Komitmen Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           145    .Gambar 4.

 DTP                                                                                                                                           146    . setiap commitment (specific commitment) yang disetujui dalam proses commitment registrasion. 287). 192) dan harus memperoleh persetujuan treasury (KPPN) sebelum commitment dicatat kedalam database treasury (p. secara implisit menghendaki adanya pengujian terhadap perikatan yang dibuat oleh satker sebelum dilakukan pembayaran sebagai akibat dari pemenuhan kondisi tertentu. • • • Bagaimana sifat pengujian RFC dalam rangka penerbitan CAN?  Informasi apa saja yang harus terdapat dalam dokumen Request For  Commitment?   Bagaimana integrasi sifat pengujian RFC terhadap ketentuan dalam  manajemen pembayaran??  Berikut adalah informasi yang berkaitan dengan input data dan verifikasi atas informasi yang berkaitan dengan komitmen dalam versi SPAN Bid Document. disebutkan bahwa satker mempersiapkan dan mengajukan Request for Commitment beserta dokumen pendukungnya kepada KPPN (p. Mekanisme tersebut di atas. Subdit TPBE. akan memperoleh Commitment Application Number (CAN) yang selanjutnya akan menjadi salah satu acuan dalam proses pembayaran (p. Selanjutnya.c) Commitment Verification Dalam dokumen SPAN. 215 dan p. 226).

Subdit TPBE. Artinya. Pengujian atas komitmen hanya akan dilakukan pada saat penerbitan SP2D. dalam penjelasan UU Perbendaharaan disebutkan bahwa fungsi pengelola keuangan/bendaharawan umum (terkait dengan aspek rechtmatigheid dan wetmaitgheid) “dilakukan pada yang saat dijalankan terjadi oleh Menteri dan Keuangan/Treasury hanya penerimaan pengeluaran”. Perlu dilakukan kajian agar sifat ruang lingkup pengujian/ verifikasi atas dokumen RFC yang diajukan oleh Satker ke KPPN tidak bertentangan dan didukung dengan kerangka landasan hukum yang ada. DTP                                                                                                                                           147    . Alternatif ini juga sangat mirip dengan praktek saat ini dimana verifikasi atas komitmen dilakukan pada saat pembayaran. 2) Alternatif 2: Alternatif ini didasarkan pada penafsiran bahwa proses yang berkaitan/menyebabkan pengeluaran termasuk dalam kewenangan perbendaharaan untuk melakukan pengujian pada saat terjadinya pengeluaran. Pada saat ini terdapat dua jenis pengujian yang dilakukan KPPN. Verifikasi atas data commitment sebagaimana dalam SPAN (BC-008) lebih bersifat pengujian substantif. (2) aktivitas terkait dengan komitmen manajemen akan cenderung hanya menjadi ekstra work baik bagi Satker maupun bagi KPPN. Beberapa alternatif adalah sebagai berikut: 1) Alternatif 1: Membatasi pengajuan dokumen RFC ke KPPN hanya sebagai proses registrasi atas data komitmen. proses pengujian validitas komitmen yang akan menimbulkan kewajiban pengeluaran merupakan bagian dari proses pengeluaran uang dari kas negara.Sebagai bahan perbandingan. yaitu pengujian substantif dan formal. Alternatif ini didasarkan atas penafsiaran secara konservatif atas Penjelasan dalam UU Perbendaharaan Negara sebagaimana tersebut di atas. Kelemahannya adalah (i) resiko dari registrasi data komitmen yang tidak valid.

Dalam alternatif 2 diusulkan pemisahan pengujian substantif dan formal dalam proses pengeluaran kas/pembayaran tagihan. Data komitmen yang diajukan satker ke KPPN diverifikasi secara substantif (di antaranya termasuk pengujuan dalam BC008 sebagaimana tersebut di atas). Sedangkan pengujian atas SPM lebih difokuskan pada pengujian yang bersifat formal, termasuk didalamnya pengujian atas ke adaan reference atas data komitmen tertentu (Commitment Application Number). Dengan cara tersebut di atas, diharapkan data komitmen dapat lebih efektif baik bagi monitoring data pagu maupun bagi perencanaan kas, karena melalui pengujian di KPPN validitasnya lebih terjamin. Di samping itu, hal tersebut akan memudahkan pelaksanaan tugas di KPPN pada saat pengajuan pembayaran (pengujian atas SPM). Namun demikian, penerapan hal tersebut harus di dukung kepastian kesesuaian dengan perndangan yang berlaku. Mekanisme tersebut di atas memerlukan ketentuan yang secara eksplisit dan terinci mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam format dokumen RFC beserta dokumen pendukung lainnya jika ada. Di samping itu, harus ada landasan hukum yang secara eksplisit mengatur obyek dan sifat pengujian oleh KPPN dalam rangka pengesahan sebuah komitmen.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           148   

Gambar Alternatif 1 Alternatif (1) Pengembangan Manajemen Komitmen

Procurement 

Commitment Record  (RFC+CAN),   Spending Limit,   Record on Payables,   Cash forecasting/  balance  record based on  payables 

Acquisiton n  Invoice  Document

Kontrak/ PO 

Verification of  Commitment  Record 

Issue SPP,  Book payables   Issuance  of RFC CAN  CAN SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

RFC 

Registra sion of  Commit ment   

Updating  Commit ment   

Commitment  verification on  item as  described in  BC008 

SPM +  CAN

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           149   

Gambar Alternatif 2 Alternatif (2) Pengembangan Manajemen Komitmen

Procurement 

Commitment Record  (RFC+CAN),   Spending Limit,   Record on Payables,  

Acquisiton n  Invoice  Document

Kontrak/ PO 

Cash forecasting/  balance  record based on  payables 

Verification of  Commitment  Record 

Issue SPP,  Book payables   CAN Issuance  of RFC CAN  SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

RFC 

Commit metn  Verifica tion   (RFC/  BC008) 

Registr asi  of  Commi tment  

Updat e  Com mitm en 

Check  CAN  Availa bility 

SPM +  CAN

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           150   

D. Manajemen Pembayaran  1. International Best Practice terkait Manajemen Pembayaran Dalam Treasury Diagnostic Toolkit (Hasim & Moon, 2004), terdapat 2 (dua) model terkait dalam Pencairan Anggaran, yaitu: (1) sentralisasi manajemen pembayaran dan (2) desentralisasi manajemen pembayaran. Sentralisasi pembayaran melalui Treasury memungkinkan dilakukannya pengecekan oleh Treasury untuk memastikan bahwa pembayaran yang dilakukan telah sesuai dengan budget appropriations. Konsolidasi Satker bank accounts ke dalam TSA di bawah kendali treasury, memungkinkan efficient cash management dan menghindarkan suatu situasi dimana di satu sisi terdapat banyak idle cash di Satker bank accounts dan di sisi lain rekening BUN secara agregat mengalami defisit. Struktur organisasi yang diperlukan dalam rangka sentralisasi pelaksanaan pencairan anggaran terdiri dari main treasury office di kantor pusat, second tier treasury offices di tingkat propinsi dan (kemungkinan) third tier offices yang berada di setiap kabupaten/district. K/L memproses transaksi pembayaran mereka di central level treasury office, sedangkan Satker memproses transaksi pembayarannya di kantor treasury propinsi/kabupaten terdekat. Satker mengirimkan transaksi pengeluarannya kepada kantor treasury terdekat untuk pemrosesan pembayarannya. Treasury akan mengirimkan transaksi pengeluaran yang telah disetujui kepada kantor cabang Central Bank terdekat dimana TSA berada, untuk melakukan pembayaran kepada vendor. Berikut ini dalam Gambar 4.15 menunjukkan skema yang menjelaskan sentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           151   

Gambar 4.15 Sentralisasi Proses Pembayaran

Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit Dalam kasus dimana treasury dan kerangka hukum untuk budget execution telah ada dan berfungsi secara efisien, model alternatif pencairan anggaran harus digunakan. Di beberapa negara, K/L dan Satker bertanggung jawab secara langsung untuk melakukan pembayaran melalui TSA. TSA masih berada di Central Bank dan Central Bank akan bertanggung jawab terhadap retail banking operations dalam kaitannya dengan pembayaran dan penerimaan pemerintah. Menteri Keuangan harus memastikan bahwa terdapat mekanisme pengendalian yang memadai sebelum K/L/Satker melakukan pembayaran. Pengendalian tersebut dapat dilakukan oleh central treasury. TSA Bank juga dapat diperintahkan untuk melaksanakan mekanisme pengendalian terhadap batasan pengeluaran secara keseluruhan yang dilakukan oleh K/L/Satker. Dalam model ini, Satker dan K/L di atasnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga rekening mereka dan rekening pemerintah secara umum. Berikut ini dalam Gambar 4.16 menunjukkan skema yang menjelaskan desentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           152   

Struktur dan kelembagaan Satker dalam penyelenggaraan keuangan negara. khususnya. Undang-Undang Perbendaharaan mengatur dengan jelas tugas dan tanggung jawab Satker dan Institusi Perbendaharaan dalam hal pelaksanaan anggaran.16 Desentralisasi Proses Pembayaran Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit a) Review Atas Peraturan Perundangan Undang-Undang Keuangan Negara dan. khususnya yang terkait dengan manajemen pembayaran adalah sebagai berikut: Kuasa Pengguna  Anggaran (KPA)  Pejabat Pembuat  Komitmen (PPK)  Pejabat Penerbit  SPM (PPSPM)  Bendahara  Pengeluaran  Subdit TPBE. termasuk pula hal-hal prinsip berkaitan dengan pembayaran tagihan atas beban APBN sebagai bentuk penyaluran dana anggaran. DTP                                                                                                                                           153    .Gambar 4.

penguji SPM melakukan pengujian meliputi aspek keberadaan/ketersediaan dasar penagihan. kewenangan dan koneksitas proses bisnis antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen pembayaran Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           154    . kebenaran hak tagih dan kesesuaian tujuan pengeluaran (wetmatigheid. kewenangan dan koneksitas proses bisnis antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen pembayaran adalah sebagai berikut (Gambar 4. Selanjutnya. Dalam Penjelasan Undang-Undang Perbendaharaan dijelaskan bahwa kewenangan Bendahara Umum Negara untuk melakukan pengujian tersebut merupakan fungsi pengawasan keuangan yang dilakukan pada saat terjadi penerimaan dan pengeluaran.Terkait dengan dokumen permintaan pembayaran yang diajukan (SPP).17 Kerangka organisasi.17): Gambar 4. Pada dasarnya. pengujian substatif dan formal tersebut hanya meliputi aspek keberadaan/ketersediaan dasar penagihan dan kebenaran hak tagih (wetmatigheid dan rechmatigheid) (Perdirjen 66/PB1/2005). rechmatigheid dan doelmatigheid). Ditjen Perbendaharaan melalui Kantor Pelayanan Perbendahraan Negara akan melakukan pengujian substantif dan formal terhadap dokumen perintah membayar (SPM) yang diajukan oleh Satker. Kerangka organisasi.

2004). Current State Assessment & Problems terkait Manajemen Pembayaran Secara konseptual. terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam rangka pengemangan manajemen pembayaran di masa yang akan datang. pada dasarnya KPPN tetap memiliki kewenangan pengujian yang sama baik dalam hal pembayaran melalui mekanisme LS maupun UP. diantaranya: a) Business Process di Satker 1) Tidak adanya cycle time dalam proses pembayaran menyebabkan ketidakjelasan norma waktu penyelesaian mulai dari tagihan diterima dari Subdit TPBE. Dalam mekanisme LS. dalam praktek saat ini di Indonesia. DTP                                                                                                                                           155    .Sebagaimana ditunjukan dalam gambar tersebut di atas. pembayaran kepada yang berhak (beneficiaries) dilakukan oleh bendahara. terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu melalui mekanisme pembayaran langsung (LS) dan mekanisme Uang Persediaan (UP). 2. Namun demikian. pembayaran kepada yang berhak (beneficiaries) dilakukan oleh KPPN. Mekanisme pembayaran yang tersentralisasi juga memungkinkan pihak treasury untuk mengkonsolidasi rekening Satker (Rekening Bendahara Pengeluaran) ke dalam Treasury Single Account sehingga dapat menghindari terjadinya akumulasi idle kas dalam jumlah yang besar (Treasury Diagnostic Toolkit. Namun demikian. Dalam kerangka international best practice. mekanisme pembayaran yang ada pada saat ini memungkinkan terjadinya check and balance terutama oleh pihak treasury untuk memastikan bahwa pengeluaran yang dilakukan sesuai dengan peraturan dan didukung oleh ketersediaan dana anggaran. dapat disimpulkan bahwa kerangka peraturan perundangan yang berkaitan dengan manajemen pembayaran mengamanatkan terlaksananya mekanisme pembayaran yang tersentralisasi pada institusi perbendaharaan (gambar 1) namun tetap mengedepankan mekanisme check and balance dengan memberikan kewenangan pengujian yang lebih komprehensif (meliputi kebenaran tujuan pengeluaran) kepada Satker (gambar 2). Sedangkan dalam mekanisme UP. Pengujian atas pembayaran yang dilakukan melalui mekanisme UP dilakukan pada saat penerbitan SPM-GU (Penggantian Uang Persediaan) yang pada hakekatnya merupakan pertanggungjawaban bendahara atas pembayaran yang telah dilakukan sebelumnya dengan menggunakan uang persediaan.

proses penerbitan SPP. Adanya intersection aturan. dimana dalam Keppres 80 tahun 2003 pasal 31 disebutkan bahwa untuk pengadaan dengan nilai dibawah Rp. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa tidak semua pengeluaran kontraktual dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (untuk pengeluaran Rp 5 juta sd 10 juta). sampai dengan saat ini tidak ada ketentuan atau batas waktu yang jelas untuk proses transfer tersebut. 2) Informasi terkait komitmen diajukan pada saat yang bersamaan dengan pengajuan pembayaran menyebabkan manajemen terhadap komitmen hanya sebatas pada pengawasan terhadap nilai kontrak agar tidak dilampaui oleh pengajuan pembayaran yang pada saat itu dilakukan Satker. 2) Peraturan terkait besaran pengeluaran yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak cenderung tidak sesuai dengan peraturan terkait mekanisme pembayaran. sedangkan untuk pengadaan diatas Rp 5 juta diperlukan kontrak berupa SPK (Surat Perintah Kerja) maupun Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa. proses penerbitan SPM sampai dengan pengajuannya ke KPPN. 4) Treasury tidak memiliki kontol sepenuhnya atas aktivitas business prosess yang berkaitan dengan pembayaran. Misalnya. Sedangkan dalam Perdirjen PBN Nomor 66/PB/2005 pasal 7 pembayaran dengan menggunakan uang persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran kepada satu rekanan tidak boleh melebihi Rp 10 juta. meskipun KPPN telah menetapkan jangka waktu penyelesaian SP2D selama 1 Subdit TPBE. Aktivitas di Bank Operasional yang terkait dengan transfer ke rekening pihak ke-3 menjadi black box dari business proses pembayaran. Sebagaimana diketahui pada saat ini pembayaran dilakukan melalui transfer dari rekening kas negara di Bank komersial (Bank Operasional) ke rekening pihak ketiga. 5 juta cukup dengan bukti pembayaran berupa kuitansi. b) Business Process di KPPN 1) Mekanisme pembayaran melalui pengelolaan Uang Persediaan (UP) yang ada saat ini masih menimbulkan idle cash yang cukup besar pada rekening bendahara pengeluaran. DTP                                                                                                                                           156    . 3) Tidak berfungsinya rencana penarikan dana pada halaman III DIPA menyebabkan tidak berjalannya cash forecasting secara optimal.Supplier.

Terkait dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker. dapat diidentifikasikan proses yang terjadi dalam pencairan anggaran sebagai berikut: (1) proses pembayaran dimulai dengan pendaftaran payment orders (SPM) oleh Satker kepada KPPN berdasarkan invoices yang diterima dari suppliers atau internally generated SPM (misal: pembayaran gaji). untuk membayar tagihan kepada suppliers. Berikut adalah framework rencana masing-masing mekanisme pembayaran: pengembangan SPAN terkait dengan Subdit TPBE. terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu secara langsung (LS) dan dengan mekanisme Uang Persediaan (UP). Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya. Sesuai dengan gambar di atas. idealnya scope bisnis proses pembayaran tidak hanya sampai dengan penerbitan SP2D tetapi sampai dengan dana tersebut diterima di rekening pihak ketiga. Fitur SPAN Terkait Manajemen Pembayaran Sesuai dengan rencana pengembangan SPAN. maka ruang lingkup proses pembayaran idealnya meliputi aktvitas permintaan pembayaran (dari PPK maupun Bendahara Pengeluaran) yang menghasilkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP).jam. 3. DTP                                                                                                                                           157    . dan (3) kemudian KPPN menerbitkan Transfer Orders (SP2D) pada designated bank. (2) SPM direview di KPPN untuk memastikan bahwa SPM tersebut berada dalam available spending authority Satker.

Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           158    . − Sebelum me-register SPM. (2) Jumlah nilai SPM yang dikirim secara batch sesuai dengan jumlah dalam cetakan SPM.18 Kerangka Mekanisme Pembayaran secara Langsung (versi SPAN bidding document) Uraian dari business prosess dalam gambar di atas adalah sebagai berikut: 1) Pemrosesan SPM yang diterima dari Satker − SPM dapat diterima oleh KPPN melalui: (1) input manual. (3) import data dari text files atau spreadsheets. organizational codes.18) Gambar 4. (2) input secara batch dari disket. sistem akan memverifikasi bahwa: (1) vendor codes. (4) upload secara langsung dari database Satker. (3) Komitmen yang telah diregister (CAN) mengcover jumlah dana yang ada di SPM.a) Kerangka Mekanisme Pembayaran secara Langsung (versi SPAN) (Gambar 4. budget classification dan account classification valid.

− Dalam hal diberlakukannya cash limits. DTP                                                                                                                                           159    . 2) Pengecekan kesesuaian dengan Cash Limits Apabila cash limits tidak diberlakukan. − Apabila jumlah dana di SPM melebihi cash limit yang ada/tersisa. sistem akan menolak transaksi tersebut dan membuat exception report kepada Satker dan K/L yang bersangkutan. Setelah itu. SPM yang telah divalidasi akan diproses pembayarannya setelah proses peng-update-an AFP. Data commitment yang telah tercatat (pada commitment management) akan diambil untuk memastikan bahwa pembayaran tersebut telah diotorisasi. Sistem akan membuat exception report yang memuat daftar transaksi yang tidak valid untuk dikirimkan kepada Satker dan K/L-nya. sistem akan menyampaikan informasi tersebut agar Sakter dan Kementrian melakukan koreksi atas AFP dengan merubah rencana pembayaran dari periode selanjutnya. sistem akan mengurangi nilai cash limit sesuai dengan jumlah dana SPM yang telah disetujui. sistem secara otomatis akan meng-generate commitment mengikuti budget commitment procedure. − Apabila payment schedule dalam AFP tidak mengikat. sistem akan memverifikasi bahwa jumlah dana yang ada di SPM tidak melebihi cash limits bagi Satker tertentu (pada tanggal transaksi).− Apabila SPM dikecualikan dari commitment registration procedure. transaksi akan antri untuk dilakukan pembayaran. − Setelah berhasil diverifikasi. − Transaksi yang tidak valid akan ditolak. − Apabila payment schedule dalam AFP bersifat mengikat maka sistem memiliki kapasitas untuk melakukan suspend pembayaran apabila pembayaran Subdit TPBE. AFP akan di-update dan transaksi akan antri (queue) untuk dilakukan pembayaran. 3) Pengecekan SPM dengan Annual Financial Plans (AFP) − Sistem akan melakukan pengecekan terhadap SPM untuk melihat kesesuaiannya dengan AFP. maka atas pembayaran yang melampaui payment schedules di dalam AFP.

Hal tersebut mencakup pengiriman text messages bersamaan dengan pengiriman uang ke supplier’s bank agar supplier dapat mencocokan pembayaran dengan invoice asli. Interface tersebut dapat mereformat SPM/SP2D sesuai dengan format yang diperlukan dalam clearing system. − Sistem akan melakukan pengecekan apakah withdrawal ceiling (cash limit) yang dibuat untuk KPPN sub-account (di Treasury main account) mampu meng-cover pembayaran yang jatuh tempo. − Setelah memberikan unique reference number. Jumlah uang dalam SPM.tersebut melampaui AFP. program. − Sistem menyediakan fasilitas untuk melakukan interfacing dengan RTGS system atau equivalent-nya yang ada di bank. dan economic transaksi dalam SPM. melalui fasilitas manual override khususnya untuk pengguna tertentu. DTP                                                                                                                                           160    . − Apabila pembayaran berada di dalam withdrawal ceiling. Klasifikasi fungsi. selanjutnya staff yang memiliki otorisasi di KPPN dapat melakukan penarikan rekening TSA (interface langsung dengan sub akun KPPN yang ada di Bank Indonesia) dalam rangka pembayaran kepada supplier melalui RTGS. me-reset data commitment dan cash limits. Subdit TPBE. dan men-generate exception report untuk dikomunikasikan kepada Satker. Data tersebut meliputi: Satker identification code dan ledger account number-nya. − Apabila pembayaran melebihi withdrawal ceiling. (2) menolak pembayaran atas SPM/SP2D tersebut. sistem akan menyimpan semua data SPM yang telah disetujui dan diproses. 4) Pengambilan dana dari TSA untuk pembayaran kepada suppliers − Sistem menyediakan fasilitas untuk meng-queue SPM berdasarkan tanggal jatuh tempo pembayaran dan berdasarkan user defined priorities. sistem menyediakan fasilitas untuk: (1) queue SPM/SP2D lagi sampai tersedianya withdrawal limits untuk membayar SPM/SP2D tersebut (dilakukan oleh authorized user di KPPN). Nomor dan tanggal SPM. Selanjutnya sistem akan men-generate SP2D.

Kode KPPN. 5) Rekonsiliasi Bank atas transaksi pembayaran − Sistem men-support fasilitas interfacing dengan RTGS clearing system yang ada di bank untuk downloading electronic confirmation of credit kepada rekening bank supplier. dll. Satu SPM dapat memuat beberapa jenis pengeluaran yang berbeda kode klasifikasi anggaran dan fund codes-nya. Subdit TPBE. Commitment Approval Number. sistem akan men-generate exception report untuk dikirimkan ke RTGS administrator untuk dilakukan review. DTP                                                                                                                                           161    . Kode bank sumber dan nomor rekeningnya. − Sistem secara otomatis akan menandingkan payment dengan confirmation of credit.Kode akun dan jumlah pengurangan seperti pajak. Nomor SP2D. iuran pensiun. tanggal jatuh tempo pembayaran. meng-extract semua pembayaran yang sesuai dari payment records dan men-generate payment confirmation report untuk dikirimkan ke Satker. sewa rumah. data rincian supplier. Data rincian SP2D. Apabila identitas dan jumlahnya berbeda. − Payment records yang masih belum direkonsiliasi untuk user defined period akan di-extract dan dikirimkan ke RTGS administrator untuk dilakukan review. nomor dan tanggal invoice. fund code.

atau melalui debit cards yang membebani rekening KPPN. Masing-masing bendahara pengeluaran memiliki sub-akun untuk Satker yang bersangkutan. Untuk melakukan pengeluaran melalui sistem petty cash ini.b) Kerangka Mekanime pembayaran melalui Uang Persediaan (UP) (Gambar 4. dengan limit tertentu. DTP                                                                                                                                           162    . 2) Pengeluaran dengan mekanisme UP dilakukan melalui Sub-akun dari rekening KPPN di Bank Operasional mitra kerja KPPN. KPPN dan Bank Operasional akan membuat persetujuan terkait dengan batas penarikan yang diperolehkan dalam jangka waktu tertentu untuk Subdit TPBE. bendahara dapat menarik sejumlah uang. dari sub-akun tersebut dengan menggunakan debit card/ATM. yang pelaksanaannya dilakukan oleh bendahara masingmasing Satker.19 Kerangka Mekanisme Pembayaran melalui UP (versi SPAN bidding document) Uraian dari proses bisnis dalam gambar tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1) Untuk pembayaran dengan jumlah/skala kecil. Pembayaran dapat dilakukan melalui penerbitan check oleh bendahara yang membebani rekening bendahara.19) Gambar 4. terdapat mekanisme pembayaran melalui Uang Persediaan.

AFP berfungsi sepenuhnya sebagai alat perencanaan. Kerangka bisnis proses dalam SPAN mengakomodasi kemungkinan penerapan AFP baik yang bersifat mengikat maupun tidak mengikat. Bank akan menerbitkan withdrawal record yang selanjutnya menjadi dasar bagi KPPN untuk mengotorisasi penggantian (reimbursement) dari TSA ke rekening tertentu sebagai penerima di Bank Operasional. Rekening penerimaan ini. yang bersaldo nihil setiap saat. Bank dapat mengajukan penggantian (reimbursement) atas sejumlah dana yang ditarik oleh bendahara dari sub-akun tersebut. Pada awalnya bank akan melakukan pembayaran dengan dana-nya masing-masing. dan bukan rekening milik KPPN. Terkait dengan mekanisme pembayaran secara langsung (LS). 4. Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Manajemen Pembayaran Terdapat beberapa hal penting dalam kerangka business process untuk payment sebagaimana diuraikan tersebut di atas. Subdit TPBE. Implikasi AFP bersifat mengikat adalah tidak disahkannya permintaan pembayaran yang melebihi Rencana Penarikan Dana untuk periode tertentu. Pencairan anggaran dapat melebihi Rencana Penarikan Dana. adalah rekening Bank. yang tidak memiliki nilai tambah. Sub-akun tersebut merupakan zero balance account. permasalahan terkait AFP pada saat ini adalah tidak berfungsinya Rencana Penarikan Dana karena ketiadaan sistem untuk melakukan update sesuai dengan realisasi dan tidak dipatuhinya Halman 3 DIPA sebagai alat perencanaan. AFP yang tidak mengikat juga akan menambah business process baru. di mana Halaman 3 DIPA tidak dapat digunakan secara efektif. Sifat AFP yang tidak mengikat cenderung akan menghasilkan kondisi yang sama dengan saat ini. diantaranya meliputi: a) Implikasi dari sifat penggunaan Annual Financial Plan (Hal 3 DIPA). DTP                                                                                                                                           163    . Dalam AFP yang bersifat tidak mengikat.masing-masing sub-akun (limit). disertai dengan pemberitahuan ke pada Satker agar menyesuaikan AFP dengan rencana penarikan periode selanjutnya. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Selanjutnya. berupa koreksi atas AFP. 3) Atas dasar penarikan dana oleh Bendahara.

Namun dalam prakteknya. Opsi ini secara konseptual juga mendukung pengembangan manajemen komitmen dan penggunaan data rencana penarikan dana sebagai input untuk perencanaan kas (manajemen kas). Di samping itu. Penarikan dana yang melebihi withdrawal ceiling ini bahkan dapat berimpliksai pada ditolaknya perintah transfer (SP2D). Mekanisme ini cukup ideal bagi efisiensi kas. Secara konseptual terdapat dua model utama dari penerapan withdrawal ceiling. Hal tersebut kurang ideal karena tanggung jawab penyediaan dana dalam rangka pembayaran ada pada Ditjen Perbendaharaan dan seharusnya tidak berimplikasi pada penundaan pembayaran. rekening bank operasional di KPPN menerima transfer dari RPK-BUNP sebesar nilai SPD2 yang akan diterbitkan pada hari yang bersangkutan. Rekening ini juga bernilai nihil (zero balance) di akhir hari. Sebagaimana diketahui.AFP yang berfungsi sebagai Rencana Penarikan Dana yang bersifat mengikat dan diupdate sesuai dengan realisasi pengeluaran lebih berpotensi untuk diimplementasikan secara efektif. tidak ditentukan dasar penentuan withdrawal ceiling tersebut. b) Penerapan withdrawal ceiling atas Rekening Kas Negara Kerangka bisnis process dalam SPAN menghendaki adanya withdrawal ceiling untuk penarikan dana dari Rekening Kas Negara dalam rangka pembayaran. Sedangkan withdrawal ceiling yang bersifat dinamis cenderung memiliki periode yang lebih pendek (misalnya harian) dan besarannya ditentukan atas input data terkait pengeluaran yang akan segera terjadi. jumlahnya ditentukan sesuai dengan tren atas dana yang dibutuhkan. DTP                                                                                                                                           164    . Sejalan dengan pengembangan Treasury Single Account di Ditjen Perbendaharaan. Withdrawal ceiling yang bersifat statis akan cenderung tetap untuk periode tertentu yang cukup panjang. mekanisme penyediaan dana di rekening KPPN di Bank Operasional pada saat ini cenderung pada penentuan withdrawal ceiling yang bersifat dinamis. Subdit TPBE. dan cenderung terdapat margin antara jumlah yang dibutuhkan dengan ceiling yang ditentukan. memerlukan bisnis proses dan aplikasi yang terpisah yang selama ini dijalakan dengan aplikasi E-kirana.

Sesuai dengan pengembangan TSA yang tengah dijalankan. c) Pembayaran kepada Suplier melalui mekanisme Transfer dari Rekening Kas negara di Bank Indonesia Kerangka business process pembayaran dalam dokumen SPAN menghendaki pelaksanaan pembayaran dilakukan melalui transfer dari sub-akun KPPN di Bank Indonesia. perlu dipertimbangkan implikasinya bagi KPPN yang tidak satu lokasi dengan Kantor Pusat/ Kantor Cabank BI. Model dari cycle time ini adalah sebagai mana telah dibahas pada bagian manajemen komitmen. Namun Subdit TPBE. Data ini diharapkan dapat dihasilkan dari modul manajemen komitmen atas dasar dokumen SPP. Kerangka ini secara ideal akan mampu mengurangi fenomena black box atas aktifitas transfer pada business process pembayaran di perbankan. Data ini akan akurat apabila terdapat cycle time yang jelas atas proses bisnis terkait dengan penerbitan SPP dan SPM di Satker. Penggunaan bank komersil sebagai Bank Operasional dalam rangka pembayaran kiranya masih dibutuhkan hingga saat ini. misalnya dapat ditentukan atas dasar nilai account payable yang jatuh tempo pada hari tertentu untuk KPPN tertentu. idealnya withdrawal ceiling di Rekening KPPN akan bersifat dinamis. Mekanisme ini juga dapat meningkatkan kepastian layanan penyampaian dana anggaran ke pada yang berhak. Besaran ceiling dapat ditetapkan secara sistem dengan mengintegrasikan bisnis proses pembayaran dengan business process terkait manajemen komitmen dan akuntansi. Di samping itu. d) Otorisasi transfer dari rekening kas negara ke rekening pihak ke-tiga melalui direct interface dengan RTGS di BI oleh pejabat di KPPN Kerangka business process pembayaran dalam dokumen SPAN menyarankan otorisasi transfer ke rekening pihak ke-3 oleh pejabat di KPPN secara online melalui direct interface dengan sub-akun KPPN di Bank Indonesia. Otorisasi secara online tersebut secara konseptual memperpanjang scope/ ruang lingkup proses bisnis dari sekedar penerbitan perintah transfer (SP2D) menjadi sampai pada eksekusi transfer ke rekening pihak ke-3. mekanisme clearing dikhawatirkan berpengaruh pada jangka waktu yang diperlukan untuk melakukan transfer ke rekening pihak ke-3. DTP                                                                                                                                           165    . Namun demikian. Mekanisme tersebut identik dengan mekanisme pembayaran melalui rekening khusus pada saat ini. Besaran ceiling.

Penggunaan petty cash dalam bentuk Uang Pertanggungjawaban pada hakekatnya merupakan mekanisme pembayaran/ bentuk dari manajemen pembayaran. penyempurnaan mekanisme pembayaran melalui Uang Pertanggungjawaban idealnya dilaksanakan secara komprehensif.20): Gambar 4. mekanisme UP memilki dampak negatif terhadap tujuan dari manajemen kas terkait dengan adanya idle cash di rekening bendahara pengeluaran.20 Kerangka Pengembangan Manajemen Pembayaran Langsung yang Diusulkan Dalam Rangka SPAN Terkait dengan rencana pengembangan SPAN. Gambar berikut mengilustrasikan kerangka pengembangan manajemen pembayaran yang diusulkan dalam rangka SPAN adalah sebagai berikut (Gambar 4.demikian. Namun demikian. Subdit TPBE. keamanan dan kelancaran mekanisme ini memerlukan dukungan dan pengembangan IT dalam hal software. DTP                                                                                                                                           166    . dan khususnya jaringan.

Penentuan limit pengeluaran tidak harus dilakukan dengan SP2D-UP. penggunaan credit card lebih ideal (terkait dengan tujuan minimalisasi idle cash) apabila tingkat bunga kredit (atas penggunaan dana bank) dapat diminimalkan. Beberapa aspek penting yang masih memerlukan penentuan lebih lanjut. penggunaan credit card meniadakan keharusan untuk menyediakan saldo kas dalam jumlah tertentu. mekanisme ini berpotensi pada kewajiban negara untuk membayar bunga atas penggunaan dana milik bank tersebut. Namun demikian. DTP                                                                                                                                           167    . Idealnya. Penggunaan debit card relatif lebih mudah. namun berpotensi menimbulkan idle cash dalam jumlah tertentu.Kerangka penyempurnaan UP dalam dokumen SPAN telah membahas beberapa hal penting terkait dengan penggunaan debit/credit card sebagai alternatif mekanisme UP. KPPN dapat melakukan persetujuan dengan pihak bank untuk menentukan limit UP bagi masing-masing Satker atas dasar jumlah pagu belanja yang diijinkan untuk digunakan dengan mekanisme UP. atas jumlah dana yang di-reimburse harus tetap dilakukan rekonsiliasi dengan pertannggungjawaban penggunaan UP pada saat penerbitan SP2D-GU. karena pada dasarnya penentuan limit ini tidak identik dengan pengeluaran kas. di antaranya meliputi: a) Pilihan penggunaan debit card atau credit card. Mekanisme reimbursement harus dilakukan berasarkan verifikasi atas catatan yang valid dari pihak bank. Namun demikian. Mekanisme penggantian ini. b) Penggantian dana milik bank (reimbursement) atas penarikan sejumlah dana dari sub-akun rekening KPPN. penggunaan credit card relatif memerlukan aspek administrasi (perjanjian dengan pihak bank) dan aspek pelaksanaan (tidak terbiasa dengan penggunaan credit card dan ketiadaan infrastruktur) yang lebih kompleks. dengan asumsi bahwa pembayaran atas sub-akun KPPN dalam rangka UP dilakukan dengan sumberdaya (kas) milik bank. Sebaliknya. c) Penentuan limit pada sub-akun rekening KPPN dan pertanggungjawaban penggunaan UP. penggunaan sub-akun KPPN yang bersifat zero balance dan penerapan limit atas pengeluaran yang diijinkan untuk dilakukan dari rekening tersebut. Di samping itu. idealnya terpisah dari mekanisme pertanggungjawaban penggunaan UP. Secara konseptual. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi resiko tingginya tingkat bunga yang harus dibayar (karena periode penggantian yang lebih lama) apabila penggantian dilakukan atas dasar pertanggungjawaban penggunaan UP (SPM-GU). Jumlah limit Subdit TPBE.

Usalan kerangka pengembangan business proses mekanisme pembayaran melalui UP adalah sebagai berikut (Gambar 4.21): Gambar 4. tapi juga merupakan alat pemberitahuan dari KPPN ke pada pihak bank untuk mengembalikan limit subakun KPPN untuk bendahara/ satker dimaksud.21 Kerangka Pengembangan Manajemen Pembayaran Langsung yang Diusulkan Dalam Rangka SPAN Terkait dengan proses bisnis pembayaran di Satker. terutama yang berhubungan dengan penerbitan SPP dan SPM serta penyampaiannya ke KPPN. beberapa hal yang kiranya dapat menjadi arahan penyempurnaan adalah sebagai berikut: Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           168    . Pengembalian jumlah limit (ke jumlah semula) baru dapat dilakukan dengan apabila KPPN telah menerbitkan SP2D GU atas pertanggungjawaban bendahara.ini harus berkurang seiring dengan ditariknya sejumlah dana oleh bendahara/satker yang bersangkutan. SP2D-GU ini tidak hanya merupakan pengesahan pertanggungjawaban penggunaan UP.

dapat dibatasi sesuai dengan nilai pengeluaran yang tidak mempersyaratkan dokumen kontrak. Kerangka ini diharapkan dapat mengurangi ekses dari penggunaan mekanisme UP dan dapat mendukung pelaksanaan manajemen komitmen yang ideal. Cycle time nantinya dapat memberikan kejelasan dan kepastian waktu penyelesaian proses pembayaran di Satker. Salah satu alternatif usulan untuk transparansi terkait dengan jangka waktu peyelesaian proses bisnis di Satker adalah dengan membuat dan menyertakan record entry dalam ADK SPP dan/atau SPM yang disampaikan ke KPPN. semua pengeluaran dalam rangka pengadaan barang dan jasa yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak dibayarkan dengan mekanisme LS. DTP                                                                                                                                           169    . Konsep tersebut identik dengan istilah budgetary accounting (OECD.a) Penentuan cycle time terkait proses penerbitan SPM di Satker. entitas Subdit TPBE. b) Besaran pengeluaran yang dapat dibayar dengan mekanisme UP diselaraskan dengan ketentuan saat ini terkait kewajiban membuat dokumen kontrak (SPK) dan rencana pengembangan manajemen komitmen. Terkait dengan pelaksanaan anggaran di Satker. E. misalnya. baik itu supplier dalam memperkirakan kapan tagihannya di bayar. dan terutama sekali pada tahap pembuatan komitmen. Pengeluaran untuk pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan melalui UP. akuntansi dan pelaporan idealnya harus dapat mencatat appropriasi dan penggunaannya pada tiap stages dalam pelaksanaan anggaran (komitmen. KPPN dapat mengetahui kapan suatu SPM akan diajukan dan BUN dapat menyediakan dana sesuai kebutuhan. Kerangka koneksitas tersebut idealnya memperhatikan hal-hal prinsip diantaranya meliputi basis akuntansi. Informasi tersebut dapat digunakan oleh semua pihak. Accounting dan Reporting 1. Dengan demikian. verification dan payment). 2001). Tujuan dan Fungsi Laporan keuangan dalam rangka pemenuhan akuntabilitas sangat diperlukan untuk mewujudkan aspek transparansi dalam good governance. Sejalan dengan rencana penyempurnaan proses bisnis dalam rangka SPAN perlu dilakukan kajian atas koneksitas dengan proses bisnis pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan di Satuan Kerja.

identik dengan mekanisme rekonsiliasi dan konsolidasi dari catatan atas transaksi di tingkat agency (Satker). organisasi sistem akuntansi dalam rangka penyusunan laporan keuangan. Sebagaimana diuraikan dalam Managing Public Expenditure (OECD. 2. Namun demikian. 2001) berikut adalah dua sistem utama terkait dengan organisasi sistem akuntansi. International Best Practice dalam Organisasi Sistem Akuntansi Secara umum dikenal dua model utama dari organisasi sistem akuntansi. Konsolidasi adalah proses untuk menyajikan laporan keuangan dari semua entitas yang termasuk dalam entitas pelaporan sehingga mencerminkan laporan keuangan dari satu kesatuan entitas pelaporan (financial statement of single entity) (IFAC Public Sector Committee. Model ini memiliki kelebihan dalam hal mendukung mekanisme kontrol terhadap pelaksanaan anggaran. DTP                                                                                                                                           170    . model tersebut dapat mengarah pada tidak tercatatnya informasi apabila konsolidasi tidak Subdit TPBE. yang pada umumnya sulit diperoleh dalam lingkungan akuntansi yang belum terkomputerisasi. 2002). Dari literatur yang ada. Model ini juga tidak mendorong Satker untuk memelihara catatan yang diperlukan untuk keperluan manajerial. model ini memiliki beberapa kelemahan terutama karena informasi keuangan (terkait pelaksanaan anggaran) baru disampaikan/diketahui oleh institusi treasury pada saat permintaan pembayaran. b) Consolidation model Dalam model ini. a) Vertical model Laporan keuangan pemerintah disiapkan di tingkat pusat secara tersentral baik oleh institusi treasury maupun badan yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan akuntansi. Manfaat lain adalah adanya penyimpanan informasi keuangan yang tersentralisasi. Namun demikian.akuntansi dan terutama organisasi sistem akuntansi. Model ini mampu mendukung kebutuhan internal dalam rangka manajemen program dan Satker. laporan keuangan disusun oleh Satker (Spending Units) untuk dikonsolidasikan di tingkat pusat. Variasi dari penerapan kedua model tersebut di suatu negara dipengaruhi oleh model penyelenggaraan keuangan negara. dan terutama sistem pemerintahan (presidensiil dan parlementer) yang selanjutnya mempengaruhi model akuntabilitas dari pemerintah kepada publik.

ekonomis. payment dan receipt. DTP                                                                                                                                           171    . Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) yang diselenggarakan oleh Kementrian Keuangan dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh Kementrian Negara/Lembaga Subdit TPBE. organisasi dari sistem akuntansi di Australia.dilakukan dengan kurun waktu yang tepat. yang pemerintahannya bersifat parlementer. efisien. Neraca. Sebagai contoh. Current State Assessment dan Problems terkait Accounting dan Reporting Undang-Undang Keuangan Negara mengamanatkan pengelolaan keuangan negara yang tertib. transparan dan bertanggung jawab. efektif. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Keuangan tersebut meliputi Laporan realisasi APBN. 3. Penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah merupakan upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Perlu ditegaskan bahwa audit hanya dilakukan ditingkat kementrian teknis dan tidak dilakukan terhadap laporan konsolidasi yang dibuat kementrian keuangan (Bahan Presentasi GPF-AIP. Laporan keuangan sudah diaudit di tingkat kementrian meliputi Neraca. Laporan tersebut selanjutnya dikonsolidasi oleh kementrian keuangan (DOFAD) untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah federal. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN tersebut. Laporan Keuangan tersebut di atas dihasilkan melalui proses akuntansi. 2009). Laporan keuangan disusun di tingkat kementrian (line ministry) melalui Agency FMIS sistem yang meliputi petty cash. cenderung pada model ini. Di dalam lingkungan yang terkomputerisasi monitoring atas transaksi anggaran yang comprehensive dan tepat waktu dapat dilakukan dengan dukungan sistem informasi yang mencatat transaksi di setiap stages dari siklus anggaran dan koneksi elektronik yang memadai antara kementrian keuangan dengan kementrian teknis. presiden berkewajiban menyampaikan laporan keuangan kepada DPR. Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan beserta laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya yang telah diaudit oleh BPK selambatlambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. taat pada peraturan perundangan. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran masing-masing menyelenggarakan akuntansi.

Selanjutnya selaku pengelola fiskal. Menteri keuangan bertanggung jawab untuk menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagai pertanggungjawaban presiden atas pelaksanaan APBN. perlu ditegaskan bahwa ruang lingkup akuntansi dan pelaporan pemerintah Subdit TPBE. Neraca.merupakan komponen yang membentuk Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang menghasilkan laporan keuangan pemerintah. Menteri Keuangan menyusun Laporan Arus Kas pemerintah Pusat. Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran.22 Organisasi Sistem Akuntansi pemerintah Pusat Source: Materi Presentasi SAPP (Dit. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun anggaran berakhir. APK) Terkait dengan penyempurnaan koneksitas proses bisnis manajemen pelaporan. DTP                                                                                                                                           172    . Selaku Pengguna Anggaran.22 menggambarkan organisasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat. Gambar 4. Laporan Keuangan tersebut disampaikan oleh Presiden kepada Badan Pemeriksa Keuangan. dan Catatan Atas Laporan Keuangan beserta Laporan Keuangan Badan Layanan Umum di kementrian masing-masing sebagai lampiran. Gambar 4. Selaku Bendahara Umum Negara.

Satuan kerja merupakan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang yang merupakan bagian dari suatu unit organisasi pada Kementrian Negara/Lembaga (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. Satker Pusat dapat berupa Satker yang dibentuk oleh Kementrian/Lembaga yang berfungsi secara fungsional dan bukan merupakan instansi vertikal. Subdit TPBE. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satker yang mengelola anggaran Kementrian Negara/ Lembaga dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Menteri Negara/pimpinan lembaga menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada presiden (Pasal 90 & Pasal 97). Gambar 4. Satker Pusat /Kantor Pusat: adalah satker yang mengelola anggaran kantor pusat unit organisasi Kementrian Negara/ Lembaga. b. Dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Satuan Kerja Kantor Pusat adalah Satker dalam lingkup Kantor Pusat suatu kementrian negara/ lembaga.05/2007).02/2008 dijelaskan jenis-jenis Satker terkait dengan pelaksanaan anggaran. Bupati/Walikota yang menjalankan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (atas dasar laporan pelaksanaan tugas dari SKPD) menyampaikan pertanggungjawaban kepada menteri negara/pimpinan lembaga. DTP                                                                                                                                           173    . Sesuai dengan ketentuan dalam UU No. termasuk di dalamnya Satker Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT).pusat meliputi seluruh unit organisasi pada pemerintah pusat dan unit akuntansi pada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan yang dananya bersumber dari APBN serta Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Gubernur. Satker Vertikal/ Unit Pelaksana Teknis adalah satker di daerah yang mengelola anggaran Kementrian Negara/ Lembaga c.23 menunjukan secara garis besar alur pertanggungjawaban Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan merupakan bagian dari anggaran kementrian/lembaga yang dialokasikan berdasaran RKA K/L (Pasal 88 dan 95). 105/PMK. yang meliputi: a.

 DTP                                                                                                                                           174    . Sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Menteri Keuangan menjalankan Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara yang di antaranya meliputi Sistem Akuntansi Subdit TPBE. Pelaksanaan akuntansi dan pelaporan di Satker (UAKPA) merupakan bagian dari palaksanaan Mekanisme SAI. Dengan mekanisme ini. Mekanisme pelaporan SAI dilaksanakan dengan membentuk unit-unit akuntansi secara hierarkikal meliputi UAPPA-W di tingkat Wilayah. Satker Khusus adalah satker yang mengelola dana yang bersumber dari bagian anggaran di luar anggaran kementrian negara/ lembaga atau Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Akuntansi dan pelaporan di Satker dilaksanakan oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran/ UAKPA yang merupakan unit fungsional (KMK 171). data akuntansi dan laporan keuangan secara berkala disampaikan kepada unit akuntansi di atasnya.23 Alur Pertanggungjawaban Dana Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan d. Satker-Satker tersebut merupakan entitas akuntansi yang wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan SiMAK-BMN (Sistem Akuntansi Barang Milik Negara). Selaku Bendahara Umum Negara.Gambar 4. UAPPA-E1 di tingkat Eselon 1 dan UAPA di tingkat kementrian lembaga.

LRA merupakan bahan rekonsiliasi dengan UAPPA-Wilayah.24 menjelaskan mekanisme/ alur penyampaian data dan dan rekonsiliasi. Kanwil Ditjen Perbendaharaan selaku UAKKBUN-Kanwil. Dit. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           175    . Mekanisme rekonsiliasi menurut hierarki unit akuntansi dan konsolidasi laporan keuangan di tingkat pusat merupakan koneksitas proses bisnis pelaporan antara Kementrian Keuangan cq Ditjen Perbendaharaan selaku Bendahara Umum Negara dan Kementrian/Lembaga selaku Pengguna Angaran.Pusat (SiAP) yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). Ditingkat UAPBUN. Proses akuntansi SiAP di KPPN akan menghasilkan Laporan Keuangan tingkat KPPN yang terdiri dari LAK. Gambar 4. LRA dan Neraca SAU tersebut berserta data transaksinya merupakan bahan rekonsiliasi dengan Satker di wilayah kerja KPPN dimaksud.24 Source: Modifikasi dari PMK 171 Subdit TPBE. LRA yang dihasilkan oleh Ditjen Perbendaharaan merupakan bahan rekonsiliasi dengan UAPPA-E1 dan UAPA. Pelaksanaan SiAP melibatkan unit pemroses data yang meliputi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebagai UAKBUND. APK selaku UAPBUN dan Dit PKN selaku UAKBUN-Pusat. Neraca KUN. Di tingkat UAKKBUN-Kanwil. LRA dan Neraca SAU tingkat KPPN.

sampai dengan tingkat kementrian/lembaga yaitu antara UAPA dengan UAKBUN. terdapat beberapa hal terkait dengan organisasi sistem akuntansi yang patut menjadi perhatian. Bagi kementrian negara/ lembaga yang tidak memiliki kantor vertikal di daerah dan bukan pengguna dana Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan tidak perlu membentuk UAPPA-W. a) Hierarchical transfer of information dan enormous reconciliation effort Penerapan sistem akuntansi saat ini sangat bergantung pada mekanisme rekonsiliasi antara data transaksi yang dicatat melalui SAI dan SABUN. proses konsolidasi dalam rangka penyusunan laporan keuangan pemerintah merupakan tanggung jawab Kementrian Keuangan selaku pengelola fiskal. Penggabungan data dan informasi akuntansi terkait dengan dana dekonsentrasi atau tugas pembantuan dilakukan oleh UAPPA-E1 pada kementrian negara/ lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. maka untuk kementrian/lembaga yang tidak memiliki kantor wilayah dapat menunjuk satuan kerja atau menunjuk salah satu satker di lingkup Eselon 1 sebagai koordinator UAPPA-W. Kementrian/lembaga dan treasury masing-masing berkewajiban untuk menghasilkan elemen tertentu dari laporan keuangan dan menjalankan sistem akuntansi yang berbeda. maka berdasarkan uraian pada sub-bagian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa secara konseptual pengorganisasian sistem akuntansi yang diterapkan pada saat ini lebih cenderung pada model vertikal. Sebagaimana diketahui.Terkait dengan alur dan mekanisme dalam gambar tersebut di atas. Di samping itu. mekanisme rekonsiliasi dilakukan secara berjenjang dari unit yang terendah. wajib menyusun Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan secara terpisah. Dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan perspektif international best practice. Oleh karena itu. DTP                                                                                                                                           176    . audit atas LKPP dilakukan terutama hanya untuk laporan keuangan hasil konsolidasi oleh Menteri Keuangan. Namun demikian. Mekanisme ini diperlukan untuk menjamin kesesuaian data di antara ke dua entitas akuntansi Subdit TPBE. antara UAKPA dan UAKBUN-D (KPPN). maka sistem tersebut sesuai dengan sistem pemerintahan presidensial di mana presiden yang sepenuhnya bertanggung jawab kepada lembaga perwakilan rakyat. Kementrian negara/ Lembaga yang menggunakan Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Dari tinjauan sistem pemerintahan.

misalnya.dan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menghindari loss of information pada unit akuntansi di tingkat yang lebih tinggi. Namun demikian. mekanisme ini tidak sepenuhnya efektif. Aplikasi SAKPA dan Aplikasi Vera. dapat dipahami bahwa aktivitas rekonsiliasi dibutuhkan tidak hanya karena ketiadaan tempat penyimpanan data yang sama (single data base) untuk kepentingan pelaporan. Subdit TPBE. Gambar 4. b) Sistem akuntansi yang terfragmentasi Sistem akuntansi di tingkat Kuasa Pengguna Anggaran dan KPPN pada saat ini dilaksanakan dengan dukungan tools berupa software aplikasi. Ditjen Perbendaharaan menetapkan sanksi penundaan pembayaran/pengesahan Uang Persediaan (SP2D UP) apabila Satuan Kerja tidak dapat menunjukkan Berita Acara Rekonsiliasi. Pada saat ini. DTP                                                                                                                                           177    . Secara konseptual. Kedua aplikasi tersebut terkait dengan beberapa aplikasi lainnya yang digunakan diantaranya dalam rangka pengajuan dan pengesahan pembayaran. Penerapan sanksi ini cukup efektif bagi Satker yang banyak melakukan pengajuan pembayaran melalui mekanisme UP tetapi tidak cukup efektif terkait dengan pengajuan pembayaran melalui mekanisme LS.25 menunjukan mekanisme input/output data dan informasi yang berkaitan dengan aplikasi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

 DTP                                                                                                                                           178    .Gambar4. DTP Subdit TPBE.25 Mekanisme input/output Data dan Informasi Antara Aplikasi Satker dan KPPN Sources: Presentasi Satker Subdit TSA.

c) Perbedaan data antara SAI dan SABUN terkait dengan realisasi anggaran Subdit TPBE. Sebagaimana diketahui. Sistem aplikasi yang terfragmentasi pada saat ini sangat potensial untuk mengakibatkan perbedaan data di antara sistem akuntansi di Satker dan KPPN. mekanisme perubahan dan perbaikan data pada saat ini tidak memungkinkan tersedianya audit trail. DTP Di samping itu. Sebagian besar koreksi data dilakukan dengan mengubah input atas data sumber dan melakukan posting ulang. Gambar 4. pada saat ini sistem dan aplikasi yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan merupakan bagian dari sebuah sistem yang sangat terfragmentasi. DTP                                                                                                                                           179    . mekanisme koreksi data pada saat ini tidak ideal. Koneksitas di antara Aplikasi SAKPA dan Aplikasi Vera terjadi terutama melalui mekanisme input/output pada Aplikasi SP2D dan melalui aktivitas rekonsiliasi. Terlebih lagi.26. di integrasikan dengan sistem lainnya dengan menerima input dari Aplikasi SPM dan Aplikasi SIMAK-BMN. misalnya.26 Multiple Entry Point pada Aplikasi di Satker Sources: Presentasi Satker Subdit TSA.Sebagaimana ditunjukan dalam gambar tersebut di atas. Aplikasi Vera menerima input utama dari Aplikasi SP2D. Aplikasi SAKPA di satker. sistem aplikasi yang ada memungkinkan terjadinya mulitiple entry point termasuk fasilitas untuk melakukan update elemen data yang sama (misalnya data pagu) pada aplikasi yang berbeda sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.

 DTP                                                                                                                                           180    . Namun demikian.Sebagaimana diatur dalam PMK. Praktek tersebut sangat potensial menimbulkan perbedaan data realisasi penyerapan anggaran antara Pengguna Anggaran dan BUN. Sebagai laporan manajerial kepada unit yang lebih tinggi. Sedangkan KPPN sebagai Kuasa BUN di daerah hanya akan mencatat pengeluaran setelah terjadi pengeluaran dari kas negara (cash accounting) walaupun pada prakteknya pencatatan dilakukan atas dasar perintah transfer sejumlah uang dari rekening kas negara dengan SP2D sebagai dokumen sumber. 171/PMK.27 Penyusunan Laporan SAI Sesuai gambar di atas. laporan atas transaksi tersebut baru dapat dihasilkan setelah KPA memperoleh nomor SP2D. Secara teknis penggunaan ke-dua dokumen sumber tersebut dalam penyusunan laporan SAI adalah sebagai berikut (Gambar 4. terkait dengan pencatatan transaksi pengeluaran terdapat dua dokumen sumber yaitu SPM dan SP2D. Satker akan cenderung melaporkan jumlah anggaran yang telah dikontrakkan (committed) dan valid sebagai tagihan (SPP/SPM) meskipun belum Subdit TPBE.27): Gambar 4. aplikasi SAKPA menggunakan database aplikasi SPM untuk mencatat transaksi pengeluaran.05/2007. Secara konseptual. Kuasa Pengguna Anggaran melalui laporan SAI mencatat data transaksi terkait dengan realisasi anggaran yang dikuasainya (budgetary accounting) dengan SPM sebagai dokumen sumber. terutama di tingkat unit akuntansi yang lebih tinggi.

Selain faktor terkait penundaan penerapan akuntansi berbasis akrual. Budget Execution a. Expenditure Estimates Summary b. DTP                                                                                                                                           181    .dibayarkan/ disahkan sebagai pengeluaran oleh KPPN. and online transfer to centralized database” b) “Provide a comprehensive reporting system that enables reliable management reports on government financial operations to be generated in real time …. Ruang lingkup pelaporan dalam rencana pengembangan SPAN meliputi baik eksternal maupun internal reporting. Budget Report a. secara tradisional sistem akuntansi yang ada belum mengakomodasi pencatatan komitmen sebagai bagian dari siklus anggaran. core proses bisnis dari sistem informasi yang terintegrasi setidaknya harus mampu melakukan konsolidasi data keuangan pada institusi perbendaharaan. detail dan tersebar di beberapa lokasi dan stakeholders. 2001). Model pengembangan yang terintegrasi ini sesuai dengan kebutuhan institusi treasury secara umum yang memerlukan konsolidasi dari data dalam jumlah (magnitude) yang besar. with all data being entered once only. Revenue Estimates Summary c. 4. Fitur utama dalam rencana pengembangan SPAN yang berkaitan dengan pelaporan dan akuntansi antara lain meliputi: a) “Capture data at source. Allocation Analysis 2.interrogate online centralized databases to access their information” Tabel berikut mengilustrasikan daftar laporan yang diharapkan dapat dihasilkan dalam rangka SPAN : Scope 1. kementrian teknis dan Satker untuk menghasilkan laporan akuntansi yang biasa digunakan secara umum (OECD. Monthly Analysis of Expenditure Subdit TPBE. Fitur SPAN Terkait Accounting dan Reporting Pengembangan SPAN identik dengan integrasi business process dalam penyelenggaran keuangan negara yang dimungkinkan untuk direalisasi dengan dukungan teknologi informasi.and made available to all stakeholders” c) “Provide comprehensive online capabilities to Line Ministries and other agencies to…. Dalam hal kebutuhan akuntansi dan pelaporan.

Commitment/Expenditure Summary YTD d. Pending SPM and Rejected SPM c. Commitment/Expenditure Details by Period e. Monthly Revenue Forecasts c. Monthly Analysis of Revenue Collections c. Daily Payment Reconciliation k. Commitment a. Commitment/Expenditure Summary by Period f. Daily Execution of Checks/Payment Orders b. DTP                                                                                                                                           182    . Cash Management a. Vendor Name and Adress Listing e. Monthly Comparison of Revenue Actual with Estimates e. Account Payable of Expenditure with i. Commitment Summary b. Payment Summary g. Commitment/Expenditure Transaction Details c. Credit Aging d. Bank Reconciliation i. Monthly Expenditure Forecasts d. Vendor Payment History f.b. Financial Position Statement Subdit TPBE. Monthly Comparison of Expenditure with Cash Flow Forecasts h. Outstanding Commitment Summary 5. Audit Trail 4. Monthly Comparison Historical Data 3. Payment Detail h. Monthly Comparison of Expenditure with Budget Estimates g. Forecast of Cash Outflows and Inflows b. Outstanding checks/payment orders l. Daily Account Posting Summary j. Monthly Allocation of Revenue Shares d. Completed SPM. Monthly Receipt and Payment Schedule a. Monthly Comparison of Revenue Collections with Historical Data f.

manajemen penerimaan. Monthly Fund Requirement f. Registrasi dan penyampaian rencana penarikan dana (annual financial plan) d. Revenue Collection Summary b. Komitmen. Akuntansi anggaran setidaknya akan meliputi: a. akuntansi akan meliputi akuntansi anggaran dan komponen cash (cash account) dari akuntansi keuangan. Revenue Management a. Comparison of Revenue Collections with Historical Trend Data h. Monthly Comparison of Revenue Actuals and Estimates e. DTP                                                                                                                                           183    . Ruang lingkup sistem akuntansi dalam SPAN akan meliputi akuntansi anggaran (budgetary accounting) dan akuntansi keuangan (financial accounting). Monthly Analysis of Revenue Collections d. Revenue Collection Details c. Masing-masing KPPN akan mempunyai General Ledger dalam central database dan mempunyai akses elektronik untuk memposting traksaksi dan menghasilkan laporan. Sistem buku besar ini (general ledger system) akan berhubungan dengan modul-modul terkait. Audit Trail Treasury General Ledger (TGL) akan berfungsi sebagai backbone dari sistem akuntansi. Registrasi dan penyampaian cash limit e. Registrasi dan penyampaian allotment anggaran tahunan c. Monthly Debt Collections g. misalnya sistem manajemen komitmen.e. Di lingkup treasury. Comparison of Expenditure Estimates and Actuals with Historical Data 6. Subdit TPBE. Monitoring Projections of Revenue Collections against g. Registrasi dan penyampaian appropriasi anggaran tahunan b. Reconciliation of Revenue Collection with Bank Deposits f. manajemen pembayaran.

penerimaan dan pengeluaran. kewajiban. Treasury akan mencatat komitmen pada saat penyampaian Request for Commitment (RFC) dan mencatat pengeluaran pada saat memproses dan mengotorisasi SPM yang diterima dari Satker. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4. Satuan Kerja juga diharuskan untuk menyampaikan laporan setiap bulan kepada KPPN untuk selanjutnya di upload ke dalam SPAN.28 berikut ini (sumber SPAN Request For Proposal).Akuntansi di Satuan Kerja akan meliputi baik akun-akun anggaran maupun akun-akun financial meliputi aset.28 Penyempurnaan Akuntansi dan Pelaporan Dalam Rangka SPAN Subdit TPBE. Kementrian Keuangan akan menerima laporan konsolidasi untuk masing-masing kementrian teknis dan selanjutnya mengkonsolidasikan laporan-laporan tersebut untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah. Satker akan menyampaikan laporan meliputi aset dan kewajiban (akun neraca) dan penerimaan dan pengeluaran (laporan kinerja keuangan) kepada Kementrian Keuangan melalui kementrian/lembaga. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           184    .

Hal tersebut bertentangan dengan praktek saat ini di mana proses rekonsiliasi data dilakukan sejak unit akuntansi terendah di tingkat UAKPA (satker) dan UAKBUN-Daerah (KPPN). sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku. Pada saat ini mekanisme tersebut dilaksanakan antara unit akuntansi wilayah kementrian/ lembaga (UAKPA-W) dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan (UAKBUN-W). Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Accounting dan Reporting Sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya. unit akuntansi wilayah dijalankan oleh salah satu Eselon 1 atau salah satu Satker sebagai koordinator. DTP                                                                                                                                           185    .5. Kerangka pengembangan yang ada dalam dokumen SPAN dapat mengatasi keterbatasan kerangka organisasi. sepanjang terdapat peraturan dan kontrol yang dapat menjamin dilaksanakannya penyampaian data secara tepat waktu. b) Kerangka pengembangan SPAN dalam bidding document meniadakan proses penyampaian data secara berjenjang dan rekonsiliasi di tingkat kantor wilayah. Di samping itu diharapkan terdapat kemampuan untuk menyimpan dan meng-query audit trail. a) Kerangka pengembangan SPAN dalam bidding document mengedepankan proses verifikasi pada saat konsolidasi laporan keuangan di tingkat kementrian/lembaga. Salah satu keterbatasan saat ini adalah terkait dengan Satker yang tidak memiliki kantor wilayah dan mengelola dana Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan. Salah satunya adalah dengan melakukan update data dengan fasilitas reversing jurnal dan menyimpan data perubahan sebagai data baru (bukan sebagai perbaikan). Untuk menjamin konsistensi data di antara masingmasing sistem akuntansi (SAI dan SiAP) idealnya mekanisme rekonsiliasi di tingkat Satker tetap diperlukan. rencana pengembangan SPAN diharapkan mampu mewujudkan sistem yang terintegrasi dengan fitur single entry point untuk semua data. beberapa hal berikut ini kiranya patut menjadi perhatian untuk penyempurnaan. Subdit TPBE. Fitur tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan terkait dengan fragmentasi sistem pada saat ini. Dalam prakteknya. Terkait dengan mekanisme penyampaian data dan konsolidasi. Hal tersebut harus diantisipasi sejak dini untuk mencegah loss of information.

Kerangka ini ideal untuk menerapkan single entry point. Oleh karena itu. Gambar 4. Kerangka ini identik dengan yang diterapkan pada saat ini. data transaksi di simpan di unit-unit akuntansi terendah sedangkan unit akuntansi di tingkat pusat hanya menerima dan menyimpan data buku besar. DTP                                                                                                                                           186    .29 Organisasi Data Dan Informasi Pelaporan (1) Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas.c) Kerangka pengembangan SPAN mengusulkan penyampaian Laporan Keuangan ke unit akuntansi yang lebih tinggi. termasuk penyampaian laporan ke KPPN untuk di-upload ke dalam database SPAN. Kerangka ini membutuhkan unit-unit akuntansi terendah atau pihak yang melakukan transaksi keuangan untuk menyimpan data elektronik dari dokumen sumber. laporan manajerial yang kiranya dibutuhkan harus Subdit TPBE.29 merupakan visualisasi dari organisasi data dan informasi menurut SPAN: Gambar 4. laporan internal di Kementrian/Lembaga lebih terbatas karena hanya memiliki data buku besar. Namun demikian. Termasuk di dalamnya adalah bahwa koreksi pembukuan (melalui jurnal entry) hanya dilakukan di Satker.

Gambar 4. Serta memungkinkan dilakukan koreksi pembukuan yang lebih cepat dengan melakukan perbaikan berupa posting ulang di tingkat pusat. mekanisme ini memerlukan proses rekonsiliasi yang handal di unit akuntansi terendah.30 Organisasi Data Dan Informasi Pelaporan (2) Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. DTP                                                                                                                                           187    . sehingga struktur data dalam buku besar (GL) bisa mengantisipasi laporan yang nantinya dibutuhkan dalam rangka manajerial.diantisipasi sejak awal. Dengan kata Subdit TPBE. Alternatif lain adalah dengan membuat kerangka pelaporan yang berbeda sehingga unit akuntansi di tingkat pusat dapat memiliki data transaksi sebagai dokumen sumber sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4. mekanisme pelaporan berjenjang dilakukan dengan melaporkan data transaksi atau dokumen sumber. Di samping itu.30. Kerangka tersebut memungkinkan laporan manajerial yang lebih fleksibel di unit akuntansi kantor pusat karena memiliki data yang lebih lengkap. Perbaikan laporan atas kesesuaian laporan di tingkat pusat apabila dilakukan secara ideal dengan melakukan koreksi di tingkat Satker akan membutuhkan waktu yang lebih lama. hal ini tidak sejalan dengan konsep single entry point dan memungkinkan adanya discrepansi data di antara unit-unit akuntansi karena perbaikan dapat dilakukan di unit yang lebih tinggi. Namun demikian.

gambar 4. mekanisme ini akan ideal jika perbaikan data di tingkat pusat didukung dengan mekanisme untuk menginformasikan koreksi data ke unit akuntansi terendah dengan cepat. Sebaliknya. di antaranya: a) Mekanisme rekonsiliasi laporan keuangan pemerintah di tingkat Satker dan KPPN tetap diperlukan untuk menjamin validitas dan kesesuaian data di antara SAI dan SiAP. Gambar 4. idealnya pengembangan SPAN dapat mengakomodasi beberapa kebutuhan penting. DTP                                                                                                                                           188    .lain. b) KPPN idealnya dapat memperoleh data dari Satker terkait dengan pengelolaan anggaran di tahap komitmen meskipun KPPN tetap melaporkan pengeluaran Subdit TPBE.31 Alternatif Penyempurnaan Akuntansi dan Pelaporan dalam rangka SPAN Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. Atas dasar pembahasan tersebut di atas. laporan yang diterima oleh KPPN dari Satker tidak perlu untuk di-upload ke database SPAN.31 mem-visualisasikan alternatif penyempurnaan kerangka pengembangan akuntansi dan pelaporan dalam rangka SPAN.

Gambar 4. f) Konsolidasi dan penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan perundangan. terkait dengan Kementrian/ Lembaga yang tidak memiliki kantor Subdit TPBE. Dengan memiliki data transaksi. Terkait dengan perbedaan catatan atas status dana anggaran di Satker dengan di KPPN. diharapkan Kementrian/Lembaga akan memiliki kemampuan untuk menghasilkan laporan internal (manajerial) yang lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan. terutama terkait dengan pengeluaran. hal tersebut bukan semata-mata karena penggunaan dokumen sumber yang berbeda. c) Data-data transaksi tersebut disimpan dalam SPAN database yang dapat diakses oleh KPPN dan MoF.berbasis kas. DTP                                                                                                                                           189    . Dipertimbangkan untuk mengeliminasi laporan ke unit akuntansi wilayah disamping untuk menyederhanakan prosedur juga untuk mengatasi kendala organisasi wilayah. KPPN tetap harus meng-capture data baik yang berkaitan penerbitan perintah transfer (SP2D) atas pengajuan pembayaran oleh Satker. KPPN akan melakukan rekonsiliasi data transaksi dan laporan dengan Satker. Termasuk didalamnya melakukan jurnal koreksi/ perbaikan laporan yang hanya dapat dilakukan di tingkat Satker dan KPPN. Catatan tentang komitmen akan mendukung keakuratan data terkait dengan status anggaran yang dikelola Satker. d) Satker menyampaikan laporan langsung ke Kementrian/lembaga untuk selanjutnya dikonsolidasikan dengan laporan dari Satker lainnya dalam rangka menyusun laporan keuangan Menteri / Ketua Lembaga selaku PA. e) Dalam jangka panjang harus diupayakan agar Kementrian/Lembaga dapat memiliki database untuk menyimpan data transaksi dari Satuan Kerja.32 menunjukkan tahapan yang secara umum terdapat dalam siklus anggaran.

Dengan kata lain. Kerangka pengembangan SPAN. catatan pengeluaran di Satker pada dasarnya merupakan tagihan (invoice) yang menimbulkan kewajiban (obligation) bagi pemerintah (BUN) untuk dilunasi apabila memenuhi kriteria tertentu. Praktek pada saat ini di mana satker membukukan perubahan status dana anggaran berdasarkan SPM dan KPPN membukukan pengeluaran berdasarkan SP2D merupakan salah satu alternatif dari pengembangan modul manajemen DIPA dan manajemen komitmen yang telah dibahas pada bagian sebelumnya sebagaimana diindikasikan dalam gambar 4. Misalnya.32 Tahapan dalam Siklus Anggaran Terkait dengan Pengeluaran Source : Modified from tracking expenditure flows ( United Nations. Permasalahan akan timbul apabila basis kas (pada saat pembayaran oleh treasury) dijadikan dasar penentuan status dana anggaran tanpa dilengkapi rincian atas tahapan dari siklus anggaran yang telah terjadi di Satker.33 Subdit TPBE. terutama melalui pengembangan modul manajemen DIPA dan manajemen komitmen diharapkan dapat mengatasi kesenjangan data terkait dengan status dana anggaran yang dikelola Satker. maka dalam perspektif tahapan dalam siklus anggaran dapat dianalogikan bahwa catatan/record atas pengeluaran yang dibuat oleh Satker (SAI) berdasarkan SPM merupakan bagian dari fund control system. secara accrual SPM sebagai dokumen sumber pada dasarnya bagi Satker merupakan pengurangan dari dana anggaran yang dialokasikan dan bagi BUN merupakan kewajiban. Meskipun pada saat ini belum diaplikasikan akuntansi berbasis akrual. terjadi perbedaan terkait penyerapan anggaran menurut Satker dengan BUN.Gambar 4. DTP                                                                                                                                           190    . 1999)  Sebagaiamana ditunjukkan dalam gambar di atas.

33 Kesesuaian Modul dalam SPAN dengan Tahapan dalam Siklus Anggaran Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           191    .(pembahasan selengkapnya dapat dilihat pada sub bagian manajemen DIPA dan manajemen Komitmen). Gambar 4.

Bagian III.34: Gambar 4. Secara konseptual. pasal 10 secara implisit mengamanatkan hal tersebut.34 Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Subdit TPBE.F. Hal tersebut diwujudkan. salah satunya. terbuka dan bertanggungjawab. governance dalam rangka mewujudkan internal control dan mekanisme saling uji dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara ditunjukkan dalam gambar 4. melalui pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan administratif (ordonateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable) yang telah mengalami deformasi sehingga kurang efektif untuk mencegah dan/atau meminimalkan terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara (Penjelasan UU Perbendaharaan Negara). Salah satu semangat yang terkandung dalam UU Perbendaharaan Negara adalah penyelenggaraan keuangan negara yang mengedepankan profesionalitas. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara Atas pelaksanaan Tugas Kebendaharaan di Satuan Kerja Bendahara Penerimaan/Pengeluaran adalah pejabat perbendaharaan negara. UU Perbendaharaan Negara dalam BAB III Pejabat Perbendaharaan Negara. DTP                                                                                                                                           192    .

uang yang berasal dari potongan pembayaran yang dilakukan Bendahara selaku wajib pungut 3. menyimpan.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. 05/2009). Kedudukan Bendahara selaku pejabat fungsional mengindikasikan kemandirian bendahara dalam pelaksanaan tugasnya. Sebagaimana diatur dalam PP 39 tahun 2007. Uang bagi keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/ satuan kerja tersebut ditampung pada Rekening Bendahara Pengeluaran yang dikuasai oleh Bendahara Pengeluaran (PMK 61/ PMK. uang yang berasal dari Kas Negara.1/2005). Persyaratan pengangkatan dan pembinaan karier bendahara diatur oleh Bendahara Umum Negara selaku Pembina Nasional Jabatan Fungsional Bendahara. 05/2008 ditegaskan bahwa: Subdit TPBE. untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari dapat diberikan uang persediaan sebagai uang muka yang dikelola dan harus dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran pada Satuan Kerja (Pasal 28). uang dari sumber lainnya yang menjadi hak negara Ruang lingkup uang dan/atau surat berharga yang menjadi tanggung jawab bendahara tersebut sejalan dengan definisi Uang Negara sebagaimana diatur dalam pasal 10 PP 39 tahun 2007 yang meliputi uang dalam Kas Negara dan uang pada Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran kementrian negara/ lembaga. membayar atau menyerahkan. Dalam PMK No 73/PMK. Dalam ketentuan perundangan cukup jelas disebutkan bahwa bendahara (penerimaan/ pengeluaran) tidak boleh dirangkap oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum Negara (Pasal 10 UU Perbendaharaan Negara) dan juga tidak boleh dirangkap oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Pejabat Penandantangan SPM (implisit dalam Pasal 2 ayat 6 Perdirjen 66/PB. Di samping Uang Persediaan (UP) Bendahara Pengeluaran juga mengelola uang lainnya yang meliputi: 1. Bendahara adalah Pejabat Fungsional yang diangkat oleh Menteri/ Ketua Lembaga untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan dan/atau anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/ lembaga. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang dan surat berharga yang berada dalam pengelolaannya (Pasal 10 UU Perbendaharaan Negara dan Penjelasannya). melalui SPM-LS/SP2D yang ditujukan kepadanya 2. Tugas kebendaharaan meliputi kegiatan menerima. DTP                                                                                                                                           193    .

Secara fungsional bendahara bertanggung jawab secara pribadi atas kelengkapan hak tagih. Namun demikian. kebenaran perhitungan dan ketersediaan dana dari pengeluaran yang dilakukannya. Uang yang dikelola bendahara. Bendahara wajib menatausahakan dan menyusun Laporan Pertanggungjawaban Subdit TPBE.1/2004 pasal 53). meskipun pelaksanaan pembayaran oleh bendahara hanya dapat dilakukan atas perintah Kuasa Pengguna Anggaran (Pasal 9 ayat 1). Sebagai pertanggungjawaban atas pengelolaan uang tersebut. Bendahara bertugas secara mandiri dalam arti tidak hanya terbatas sebagai kasir yang melaksanakan perintah Pengguna Anggaran. Selanjutnya dapat disimpulkan pula bahwa meskipun pengelolaan uang negara yang menjadi tugas bendahara (pengeluaran) identik dengan pengelolaan Uang Persediaan. tanggung jawab bendahara terbatas atas uang yang dikelolanya dalam rangka pelaksanaan APBN (Pasal 3 ayat 12). Bendahara pengeluaran bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya (Pasal 9 ayat 4) Terlebih lagi. Kebenaran perhitungan tagihan 3. 2. DTP                                                                                                                                           194    . ruang lingkup tanggung jawab bendahara (pengeluaran) juga meliputi uang lainnya yang ditampung dalam Rekening Bendahara Pengeluaran.1. maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan bendahara selaku pejabat fungsional berimplikasi pada kemandirian bendahara (khususnya bendahara pengeluaran) dalam pelaksanaan tugas pengelolaan uang dan surat berharga milik negara. setidaknya meliputi uang yang berasal dari Kas Negara melalui SP2D-LS yang ditampung dalam Rekening Bendahara Pengeluaran yang dikuasainya. Sejalan dengan kemandirian bendahara selaku pejabat fungsional. Kelengkapan perintah pembayaran yang menjadi dasar hak tagih (misalnya kuitansi) 2. Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah pembayaran dari Kuasa Pengguna Anggaran apabila tidak memenuhi syarat: 1. Ketersediaan dana dan kecukupan pagu DIPA yang dimintakan pembayarannya Bendahara hanya dapat melakukan pembayaran setelah meneliti dan menguji pemenuhan persyaratan tersebut di atas (Pasal 9 ayat dan 2). maka Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya kepada Kuasa Bendahara Umum Negara (UU No. Kuasa Pengguna Anggaran Sesuai dengan uraian tersebut di atas.

Mekanisme ini sejalan dengan amanat UU Perbendaharaan (pasal 53) bahwa terkait dengan tugas fungsional bendahara (penerimaan/pengeluaran) Kuasa BUN bertanggungjawab kepada Menteri Keuangan dan Menteri Keuangan bertanggung jawab kepada Presiden dari segi “hak dan ketaatan kepada peraturan atas penerimaan dan pengeluaran yang dilakukannya”. Pada saat ini di samping mekanisme pertanggungjawaban bendaharawan. kegiatan pelaporan dan akuntansi di tingkat Satker dilaksanakan oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) yang bersifat fungsional. Berkaitan dengan kedudukan dan ruang lingkup tanggung jawab bendahara (pengeluaran dan/atau penerimaan) serta mekanisme pertanggungjawaban yang berlaku saat ini. maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan tingkat Satuan Kerja yand dihasilkan oleh UAKPA adalah laporan atas pelaksanaan kewenangan Kuasa Pengguna Anggaran. oleh KPPN direkapitulasi dan dilaporkan secara berjenjang kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Perdirjen 47/PB/2009). LPJ-LPJ yang telah diverifikasi. di Satuan Kerja terdapat mekanisme pelaporan dalam rangka akuntanbiltas sebagaimana di atur dalam PMK 171/PMK. Laporan Pertanggungjawaban tersebut disusun berdasarkan Buku Kas Umum. Laporan keuangan pemerintah tingkat Satker ini berbeda dengan penyampaian laporan pertanggjungjawaban atas pelaksanaan tugas fungsional bendahara sebagaimana diamanatkan dalam pasal 10 dan penjelasannya. buku-buku pembantu dan Buku Pengawasan Anggaran menurut tata cara dan model sebagaimana diatur dalam Perdirjen 47/PB/2009. DTP                                                                                                                                           195    .(LPJ). LPJ tersebut disampaikan kepada Kepala KPPN di wilayah kerja Satker bersangkutan. Pada prakteknya.05/2007 tentang Pelaporan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. dan diatur lebih lanjut Subdit TPBE. berikut adalah beberapa hal yang dapat dijadikan bahan kajian untuk penyempurnaannya di masa yang akan datang: 1. Berdasarkan ketentuan sebagaimana dalam uraian tersebut di atas. Satker merupakan bagian dari unit akuntansi Kementrian/Lembaga yang wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Menteri Pimpinan Lembaga masingmasing dan Badan Pemeriksa Keuangan. Sebagaimana diatur dalam peraturan tersebut.

Belanja Piutang dari KUN Jurnal SAKUN 2. 73/PMK. Belanja Kas di KPPN 60 60 60 60 Uraian Debit Kredit Pengurangan atas nilai akun terkait Uang Persediaan (SAI: Kas di Bendahara Pengeluaran) dan (SAKUN: Pengeluaran Transito) terjadi diantaranya pada saat pengembalian uang persediaan melualui setoran dan pada saat penerbitan SP2D-GU Nihil yang dicatat sebagai berikut: Subdit TPBE. 47/PB/2009. DTP                                                                                                                                           196    .dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 2. 3. Ruang lingkup tugas bendahara menyangkut pengelolaan uang yang identik namun tidak terbatas pada pengelolaan Uang Persediaan.05/2008 dan Perdirjen No. Kas di Bendahara Pengeluaran Uang Muka dari KUN Jurnal SAKUN 2. Pengeluaran Transito Kas di KPPN 100 100 100 100 Uraian Debit Kredit Realisasi anggaran dengan pembayaran melalui Uang Persediaan dicatat sebagaimana halnya pengeluaran atas beban rekening kas negara yang dibayarkan secara langsung kepada yang berhak (LS) sebagai berikut: No Jurnal SAI 1. misalnya SP2D LS untuk pembayaran Gaji Pegawai dan sejenisnya. Rekening bendahara (pengeluaran) menampung pula pembayaran yang ditujukan kepada yang berhak melalui rekening bendahara (pengeluaran). Laporan keuangan pemerintah yang dihasilkan SAI untuk tingkat UAKPA (Satker) dan SAKUN untuk tingkat UAKBUN-D (KPPN) juga mencatat pemberian Uang Persediaan yang dikelola Bendahara (Pengeluaran) melalui penjurnalan sebagai berikut: No Jurnal SAI 1.

Namun demikian. namun karena uang yang dikelola bendahara terkait dengan pelaksanaan anggaran yang menjadi Kuasa PA maka dalam prakteknya Subdit TPBE.05/2008 dan Pasal 10 ayat 4 Perdirjen No. Perbedaan pencatatan tersebut dijelaskan melalui mekanisme rekonsiliasi antara mitigasi dengan cara rekonsiliasi antara LPJ dengan UAKPA (Pasal 19 PMK No. Intersection (irisan) di antara tanggung jawab keduanya dalam hal pencatatan adalah terkait dengan pengelolaan Uang Persediaan. laporan keuangan UAKPA dan LPJ Bendahara. Dari pembahasan pada item-item tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan masing-masing laporan. 47/PB/2009). Sebagaimana diilustrasikan pada mekanisme pencatatan sebagaimana pada huruf c. 47/PB/2009 Pasal 10 dinyatakan bahwa yang berkewajiban melakukan rekonsiliasi internal antara LPJ dengan Laporan Keuangan UAKPA adalah Kuasa Pengguna Anggaran (ayat 3). Di dalam Perdirjen No. Pencatatan Laporan Keuangan dilakukan dengan menggunakan model double entry sedangkan model dan tata cara penyusunan LPJ pada dasarnya bersifat single entry. didasarkan pada kerangka tanggung jawab yang berbeda antara KPA dan Bendahara. 73/PMK. PER 01/PB/2005 4. Kas di KUN Penerimaan transito 100 100 Sources: Perdirjen No. maka akan cenderung terdapat selisih di antara catatan SAI untuk akun transito (Kas di Bendahara Pembayar) dengan nominal uang yang menjadi tanggung jawab bendahara pengeluaran (tunai dan di rekening bendahara pengeluaran) apabila terdapat pembayaran SP2D-LS yang ditujukan ke rekening bendahara pengeluaran.No Jurnal SAI 1. detail pencatatan yang dikehendaki dalam LPJ Bendahara melalui pencatatan pada buku pembantu dan buku pengawasan anggaran pada dasarnya sama dengan pencatatan akun belanja pada laporan keuangan UAKPA. DTP                                                                                                                                           197    . Uraian Debit Kredit Uang Muka dari KUN Kas di bendahara Pembayar Jurnal SAKUN 100 100 2. 5. Praktek saat ini (dua mekanisme pelaporan) tidak efisien karena meskipun bendahara bertugas secara mandiri dan secara fungsional bertanggung jawab kepada Kuasa BUN.

Beberapa alternatif untuk penyempurnaan adalah sebagai berikut: Alternatif 1 1. Namun demikian.Kuasa PA tetap merupakan pihak yang bertanggung jawab secara internal terhadap kebenaran pembukuan bendahara (sebagaimana diindikasikan dalam ayat 3 pasal 10 Perdirjen 47/PB/2009). Bendahara pengeluaran adalah entitas yang terpisah dan dengan UAKPA. Gambar 4. Salah satu alternatif penyempurnaan adalah dengan mengikuti mekanisme yang telah dipraktekkan pada saat ini. 4. 6. 5. Perbedaan catatan terjadi karena praktek saat ini memungkinkan pembayaran kepada yang berhak melalui rekening bendahara. misalnya selaku wajib pungut. Subdit TPBE. dimana bendahara hanya bertanggung jawab atas uang persediaan dan uang yang ada di rekening bendahara pengeluaran 2. Di samping itu. pada dasarnya sama. DTP                                                                                                                                           198    . baik dalam Laporan Keuangan UAKPA maupun dalam LPJ Bendahara. 3. Bendahara (pengeluaran) hanya berwenang mengajukan SPP-UP sedangkan SPP-LS diajukan oleh PPK. substansi pencatatan terkait dengan penatausahaan Uang Persediaan dalam rangka pencairan anggaran.35 mengilustrasikan kerangka mekanisme sebagaimana dijelaskan dalam alternatif 1. yaitu penyampaian laporan UAKPA dalam rangka rekon dan LPJ Bendahara dalam rangka pertanggungjawaban tugas fungsional bendahara. LPJ Bendahara diusulkan untuk disusun dari sub-ledger kas laporan keuangan UAKPA disertai catatan. Catatan tersebut dapat berupa perbedaan antara saldo akun “uang muka di bendahara pengeluaran” pada laporan SAI dengan nominal uang yang dikelolanya akibat pelaksanaan tugas kebendaharaan lainnya. Terdapat dua mekanisme pelaporan ke KPPN.

Ruang lingkup tugas bendahara harus dipahami dan dibangun mengikuti kerangka pemisahan kewenangan yang komprehensif dalam penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-Undang.35 Alternatif (1) Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara terkait Tanggungjawab Bendahara  Alternatif 2 Penyempurnaan atas fungsi bendahara (pengeluaran) dan bisnis proses yang berkaitan dengan tugas kebendaharaan dapat pula dilakukan secara komprehensif.Gambar 4. UU mengamanatkan pemisahan kewenangan pihak-pihak selaku COO dan CFO. terutama dalam Pasal 10 dan penjelasannya. Pembagian tersebut salah satunya ditujukan untuk mewujudkan penegasan pemisahan antara pemegang kewenangan administrative (ordonateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptabel) (Penjelasan UU Subdit TPBE. sebagaimana diusulkan dalam uraian berikut: 1. Mempertegas tugas fungsional bendahara (terutama bendahara pengeluaran) dalam penyelenggaraan keuangan negara sesuai dengan semangat yang diamanatkan dalam UU Perbendaharaan Negara. DTP                                                                                                                                           199    . Sebagaimana diketahui.

Gambar 4. Terkait dengan pembentukan unit akuntansi. tugas kebendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 10 seharusnya tidak terbatas pada Uang Persediaan dan/ atau (dalam prakteknya) uang yang ada dalam rekening bendahara pengeluaran. 3. 2. Subdit TPBE. sebagaimana di atur dalam PMK 171/PMK. 4. Terhadap laporan ini. yaitu dalam rangka rekonsiliasi laporan UAKPA dan sebagai penyampaian laporan LPJ Bendahara. Dalam rangka pemenuhan akuntabilitas. maka idealnya bendaharawan berkedudukan selaku pejabat yang mengepalai UAKPA. Dalam ruang lingkup penyelenggaraan keuangan negara di Satker. Oleh karena itu. 5.36 mengilustrasikan kerangka mekanisme sebagaimana dijelaskan dalam alternatif 2 tersebut di atas.Perbendaharaan Negara).05/2008. Mekanisme penyampaian laporan ke Kuasa BUN cukup dilakukan satu kali. DTP                                                                                                                                           200    . maka bendahara bertanggungjawab secara pribadi dan secara fungsional kepada Kuasa BUN. maka fungsi comptabel bendahara (pengeluaran) atau tugas kebendaharaan terkait dengan uang dan surat berharga dalam pengelolaan bendahara idealnya dipahami secara komprehensif bahwa pengelolaan uang tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pembayaran atas dana anggaran yang dikuasakan kepada KPA. Selaku pejabat fungsional bendahara. laporan keuangan UAKPA pada dasarnya tetap merupakan pertanggungjawaban KPA dan harus disetujui terlebih dahulu oleh KPA sebelum disampaikan ke unit yang lebih tinggi. maka bendahara menyusun LPJ melalui subledger kas dari aplikasi UAKPA disertai catatan dan penjelasan apabila terdapat perbedaan nominal kas terkait dengan pelaksanaan tugas kebendaharaan lainnya. misalnya selaku wajib pungut. Tugas kebendaharaan bendahara (pengeluaran) idealnya dijalankan secara utuh meliputi seluruh pengeluaran dana anggaran yang dikuasakan kepada KPA.

73/PMK. Sedangkan Surat Permintaan Pembayaran melalui mekanisme UP (SPP-UP dan/atau SPP-GUP) diajukan oleh Bendahara Pengeluaran (Pasal 7 Perdirjen 66/PB/2005). dalam PMK 73/PMK. SPP (tanpa membatasi mekanisme pembayaran melalui UP dan/atau LS) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). Namun demikian. Uraian sebagaimana tersebut di atas Subdit TPBE.36 Alternatif (2) Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara terkait Tanggungjawab Bendahara Penyempurnaan proses bisnis dalam penerbitan dokumen otorisasi yang berkaitan dengan pembayaran. pengajuan SPP yang berkaitan dengan Uang Persediaan tetap merupakan kewenangan PPK (Pasal 15 (1) dan Pasal 17 (5)) meskipun definisi SPP merujuk pada adanya permintaan/ perintah membayar untuk “beban bagian anggaran” dan pemenuhan persyaratan dalam “dokumen perikatan” (Pasal 1 angka 20).05/2008.05/2008).Gambar 4. DTP                                                                                                                                           201    . Pada saat ini.05/2008. Oleh karena itu dalam konteks PMK No. Surat Permintaan Pembayaran secara langsung (SPP-LS) diajukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) (PMK 73/PMK.

apabila ruang lingkup tugas kebendaharaan bendahara pengeluaran tidak terbatas pada uang persediaan dan/atau uang yang ada di rekening bendahara pengeluaran. Oleh karena itu. Esensi dari kewenangan PPK sebagaimana dalam dua peraturan tersebut adalah untuk membuat (atau pada saat dibuatnya) perikatan/ komitmen/ kontrak dengan pihak yang akan menerima pembayaran atas beban anggaran negara. maka idealnya semua Surat Permintaan Pembayaran (SPP) diajukan oleh bendahara pengeluaran. Didalam pasal 2 dan pasal-pasal lainnya. kewenangan pejabat yang ditunjuk untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen” tidak secara tegas disebutkan dan/atau identik dengan kewenangan pejabat tersebut untuk mengajukan Surat Permintaan Pembayaran. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) hanya bertanggung jawab atas dibuatnya perikatan/ kontrak/ komitmen dengan pihak yang akan menerima pembayaran. kewenangan pejabat yang ditunjuk untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen”. Hal tersebut di atas sejalan dengan ketentuan yang mengatur tentang pejabat pengguna anggaran dalam Perdirjen No 66/PB/2005. Didalam pasal 2 dan pasal-pasal lainnya. DTP                                                                                                                                           202    . Beberapa usulan untuk penyempurnaan proses bisnis dalam kerangka alternatif 2 sebagaimana tersebut di atas adalah sebagai berikut: Alternatif 2a Mempertegas kewenangan bendahara untuk menerbitkan semua Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Ketentuan dalam Pasal 4 (e) UU Perbendaharaan Negara mengatur tentang kewenangan PA untuk melakukan “tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja”. Subdit TPBE. Gambar 4.37 mengilustrasikan proses bisnis di Satker sebagaimana dalam Alternatif 2a tersebut di atas. Hal tersebut di atas sejalan dengan ketentuan yang mengatur tentang pejabat pengguna anggaran dalam Perdirjen No 66/PB/2005.menunjukkan kurangnya konsistensi terkait dengan standard proses bisnis dan kewenangan dari masing-masing pejabat perbendaharaan negara di Satker.

 DTP                                                                                                                                           203    .37 Alternatif (2a) Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait Kewenangan Bendahara Alternatif 2b Mempertegas bahwa kewenangan PPK untuk menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sebagai implementasi kewenangan PA/KPA untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja” Ketentuan dalam PMK 73/PMK. maka seluruh permintaan pembayaran dari Pejabat Penerbit SPM harus disampaikan untuk diketahui bendahara Subdit TPBE. Namun demikian. Alternatif yang sejalan dengan kerangka kewenangan PPK tersebut adalah dengan mempertegas kewenangan PPK untuk menerbitkan SPP baik LS maupun UP.Gambar 4.05/2008 menentukan kewenangan PPK secara luas untuk menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik melalui mekanisme LS ataupun UP. untuk tetap dapat menjalankan kewenangan bendahara secara utuh (selaku pemegang fungsi pembayaran dan kewenangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 10 dan Penjelasan UU Perbendaharaan Negara).

 DTP                                                                                                                                           204    . SPM-SPM tersebut di atas.38 mengilustrasikan proses bisnis di Satker sebagaimana dalam Alternatif 2b tersebut di atas. maka SPP UP dan/atau GUP berlaku sebagai dokumen resmi dari KPA untuk melakukan pembayaran dengan menggunakan Uang Persediaan (merujuk pada ketentuan dalam Pasal 9 ayat 1 PMK 73/PMK. Gambar 4.05/2008). Subdit TPBE.05/2008). Dari sub ledger cash laporan tersebut.sebelum disampaikan ke KPPN. bendahara akan menyusun Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan kewenangan fungsi pembayaran atas dana yang dikuasakan kepada Kuasa PA. Untuk pembayaran melalui mekanisme UP. baik LS dan/atau UP yang diterima oleh Bendahara dari Pejabat Penerbit SPM merupakan dasar Bendahara untuk melakukan pembukuan pada Laporan Keuangan UAKPA (merujuk ketentuan dalam pasal 15 ayat 4 dan 5 dalam PMK 73/PMK. Gambar 4.38 Alternatif (2b) Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait Kewenangan Bendahara Kuasa Pengguna Anggaran Ordonateur Comptabel KPPN SPM Bukti Pembayaran (UP) Bendahara Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) Pihak ke-3 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) SPP UP & GUP SPM SPP-LS SPP-UP & GUP Kontrak & Invoice (LS) Pelaksanaan atas pilihan alternatif-alternatif idealnya memperhatikan pengembangan struktur rekening yang berkaitan dengan rekening bendahara pengeluaran.

Pengertian tersebut menekankan pentingnya proses bisnis yang secara rutin dijalankan dalam manajemen kas di samping hal-hal yang berkaitan dengan alternatif kebijakan. idealnya terdapat mekanisme untuk mengetahui arus kas yang dibutuhkan pada saat pembayaran jatuh tempo (World Bank. Aktifitas perencanaan dan proyeksi kas ini. and between government and other sectors”. tujuan manajemen kas setidaknya meliputi pengendalian atas total pengeluaran (aggregate spending). disebutkan bahwa manajemen kas yang efektif memerlukan perencanaan arus kas jangka pendek yang akurat dan tepat waktu.9). meminimalkan biaya berkaitan dengan pinjaman.G. diantaranya meliputi pertukaran informasi antara Kementrian Keuangan dengan kementrian teknis di tingkat operasional. Untuk pelaksanaan anggaran yang efisien. Sedangkan mekanisme yang ditempuh institusi perbendaharaan untuk menjamin ketersediaan kas pada saat pembayaran Subdit TPBE. 2009). DTP                                                                                                                                           205    . both within government. maka peran Satker dalam hal perencanaan kas sangatlah penting. Dalam Modernizing Cash Management (Lienert. implementasi anggaran yang efisien. Peran dan tanggung jawab Satker dalam manajemen kas diantaranya dipengaruhi oleh model sistem perbendaharaan dan mekanisme pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran di suatu negara. Williams (2004) mendifinisikan manajemen kas sebagai ”… the strategy and associated process for managing cost-effectively government’s shortterm cash flows and cash balances. Berkaitan dengan penyempurnaan koneksitas proses bisnis manajemen kas di Satker. Untuk dapat melaksanakan pembayaran yang tepat waktu. pemerintah harus memastikan bahwa tagihan dan penerimaan dapat dibayarkan dan diterima tepat waktu. 1999). Tujuan dan Fungsi Manajemen kas pada dasarnya adalah serangkaian proses yang dijalankan sebuah entitas organisasi untuk memperoleh kemanfaatan yang maksimal dari arus kas (ANAO. 2007). memaksimalkan hasil dari kelebihan kas. MANAJEMEN KAS 1. Institusi treasury idealnya dapat memperoleh informasi dari agency (Satker) selaku entitas yang melakukan transaksi termasuk di dalamnya perikatan/ komitmen serta proyeksi kas yang dibutuhkan untuk melunasinya (p. Dalam rangka pelaksanaan anggaran.

di Indonesia Authorising Officer dapat di analogikan sebagai KPA. AFT melakukan: a) menentukan jumlah penerbitan Treasury Bills b) menentukan proporsi dari kas yang ditempatkan di TSA untuk keperluan manajemen kas pemerintah pusat c) menginvestasikan kelebihan kas (Lienert & Chailloux. selain sudah cukup maju juga dapat mewakili dua model utama dalam sistem perbendaharaan. membuat invoices dan claims. Atas dasar informasi tentang pola cash flow dan pemberitahuan atas transaksi. DTP                                                                                                                                           206    . sedangkan CFO secara penuh dilakukan oleh Departemen Keuangan yang dalam hal ini diwakili oleh Public Accountants yang ditempatkan di masing-masing Satker. berikut adalah tinjauan atas pelaksanaan manajemen kas di Spending Agency (Satker) di Perancis dan Australia. Institusi perbendaharaan. 2. 2009) Di Perancis. memverifikasi barang. Model yang ada di kedua negara tersebut. Jika melihat wewenang dari Authorising Officer diatas. Pemisahan jabatan dilakukan untuk tiap wewenang diatas yang bertujuan sebagai mekanisme check and balance. International Best Practice terkait Manajemen Kas Sebagai acuan best practices terkait dengan peran dan tanggung jawab Satker dalam manajemen kas. Agence France Tresor (AFT). Sistem treasury di Perancis pada dasarnya bersifat ter-sentralisasi sedangkan sistem treasury di Australia lebih ter-desentralisasi. Manajemen kas di Satker yang diterapkan di masing-masing negara sangat berlawanan. bertanggung jawab terutama menangani manajemen hutang dan perbendaharaan. dan membuat payment order. Kas pemerintah Perancis terdiri dari saldo atas transaksi keuangan yang dilakukan oleh public accountants yang masing-masing bertanggung jawab atas satu atau beberapa rekening operasional. Rekening operasional public accountant merupakan sub-akun dari rekening utama AFT di Bank Sentral (la Banque de France) yang melakukan sentralisasi transaksi secara real time. Subdit TPBE.jatuh tempo dipengaruhi pula oleh struktur rekening pemerintah di mana uang negara ditempatkan. Authorising Officer memiliki wewenang untuk membuat komitmen. kewenangan COO dilakukan oleh Satker atau disebut Authorising Officer.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Public Accountant melakukan fungsi manajemen kas dan accounting di Satker sedangkan Official Controller melakukan fungsi kontrol terhadap anggaran. Dalam hal ini Authorising Officer tidak memiliki rekening sendiri. Selain Authorising Officer dan Public Accountant terdapat pula pejabat perbendaharaan yang disebut Official Controller. Official Controller merupakan staf Departemen Keuangan yang berada di Satker yang memiliki fungsi untuk melakukan kontrol berupa regulatory control terhadap perikatan/komitmen atau keputusan lain yang akan mengakibatkan pengeluaran yang dibuat oleh Authorising Officer apakah telah sesuai dengan appropriation yang diberikan.39 ditunjukan struktur dan kelembagaan Satker di Perancis dalam penyelenggaraan keuangan negara. 2009). Public Accountant bertanggung jawab untuk menyalurkan pembayaran melalui TSA atau melalui rekening Satker di Treasury. Kedua pejabat tersebut menyampaikan pertanggungjawaban kepada kementrian Keuangan bukan kepada Authorising Officer di Satker. Laporan Keuangan tersebut di sahkan oleh Authorising Officer sebelum disampaikan kepada Court of Accounts untuk dilakukan audit. (Sigma. 2001. DTP                                                                                                                                           207    .Public Accountant merupakan staf Departemen Keuangan yang secara fungsional berada dibawah General Directorate of Public Accounting yang berkedudukan di Satker dan bertugas untuk melakukan kontrol (regulatory control) terhadap payment order yang dibuat oleh Authorising Officer. Subdit TPBE. Public Accountant memiliki kewenangan untuk menolak payment order yang diajukan oleh Authorising Officer. Public Accountant juga bertugas untuk membuat Laporan Keuangan Tahunan Satker. Berikut ini dalam gambar 4. Lienert & Chailloux.

Gambar 4. DTP                                                                                                                                           208    .39 Struktur kelembagaan dan Pelaksanaan Anggaran di Satker (Perancis) Subdit TPBE.

yaitu Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer (CFO). b) membuat perikatan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran. Dalam melaksanakan tugasnya. kewenangan yang terkait manajemen kas dijalankan oleh Chief Financial Officer (CFO). CFO tidak hanya bertanggung untuk terlaksananya kerangka manajemen keuangan yang memadai dan melaksanakan tanggung jawab atas manajemen keuangan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. CFO idealnya memiliki akses secara langsung terhadap CEO sehingga dapat menjalankan advisory role bagi CEO. c) manajemen atas dana yang diterima sebagai bagian dari anggaran (negara). d) menerima dan membayar bunga (bank) berdasarkan saldo kas untuk masingmasing departemen. membayar dan mencatat uang negara dalam rangka pelaksanaan anggaran. Pada prakteknya. Chief Financial Officer (CFO) adalah pejabat yang bertanggung jawab atas strategi dan operasional atas perencanaan dan manajemen keuangan Agency. Agency diwajibkan dan bertanggungjawab untuk: a) membuka dan mengatur rekening di bank dalam rangka pelaksanaan anggaran. Subdit TPBE. meliputi: a) menangani.Model manajemen kas di Satuan Kerja di Australia sejalan dengan sistem perbendaharaan Australia yang ter-desentralisasi. 2005). DTP                                                                                                                                           209    . Chief Executive Officer (CEO) memiliki kewenangan dan tanggung jawab khusus terkait dengan pengelolaan dan pembayaran atas beban anggaran negara. Sejak tahun 1999. b) memenuhi biaya-biaya yang ditimbulkan dari rekening bank milik Agency. Kewenangan yang dimiliki oleh CEO tersebut di atas dapat didelegasikan kepada staf di lingkungan Agency yang bersangkutan. manajemen kas dan perbankan merupakan salah satu tanggung jawab utama yang dijalankan di tingkat Agency. CFO juga bertanggungjawab atas atas pelaporan terkait dengan penggunaan sumber daya keuangan (Auditor General Victoria. Tugas-tugas terkait dengan penyelenggaraan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan anggaran dijalankan oleh Accountable Officers. yang ada di masing-masing Agency (Satker). Dengan demikian. c) membuat kebijakan dan praktek pengelolaan keuangan sesuai dengan kebutuhan Satuan Kerja.

Mekanisme tersebut ditujukan untuk mendukung Commonwealth Subdit TPBE. termasuk komponen yang bersifat musiman atau periodik.Elemen utama dari manajemen kas yang dilaksanakan di tingkat Agency meliputi: a) menyusun anggaran yang terintegrasi meliputi kegiatan operasional. pemilihan mekanisme pembayaran dan metode penarikan dari dan penyediaan kas melalui rekening ”overdraft” account yand ada di Reserve Bank of Australia (RBA). Institusi treasury di tingkat pusat (Commonwealth treasury) bertanggungjawab akan ketersediaan kas pada saat dibutuhkan melalui aktivitas terkait dengan pengelolaan hutang dan pinjaman. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya tersebut. Dalam kerangka tanggungjawab penyelenggaraan keuangan negara yang terdesentralisasi ini. b) melakukan review dan perbaikan secara rutin terhadap perencanaan arus kas. treasury diantaranya melakukan: a) perencanaan (forecast) penerimaan dan pengeluaran harian untuk jangka waktu satu tahun guna mengetahui tingkat kebutuhan kas harian. Termasuk diantaranya adalah penerapan aturan terkait jangka waktu pelunasan invoice. termasuk penjelasan atas realisasi yang tidak sesuai rencana. Terlebih lagi. b) memperkirakan saldo kas terendah dalam periode satu minggu (ke-depan) untuk mendukung keputusan pembuatan pinjaman jangka pendek apabila diperlukan. DTP                                                                                                                                           210    . c) memahami pattern dari arus kas untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang mempengaruhinya. kinerja Commonwealth Treasury sangat ditentukan oleh informasi yang diperoleh dari Agency untuk melengkapi perencanaan kas. Mekanisme information-sharing dijalankan dengan mewajibkan Agency untuk menyampaikan kepada treasury perkiraan penerimaan dan penarikan dana (drawdown pattern schedule) pada hari Senin untuk jangka waktu sampai dengan hari Rabu pada minggu berikutnya. sehingga dapat dihasilkan perencanaan kas dengan fleksibilitas yang maksimal. belanja modal dan rencana penerimaan dan pengeluaran secara periodik untuk jangka waktu 12 bulan. Perkiraan tersebut merupakan salah satu dasar untuk menentukan keputusan perlu atau tidaknya melakukan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan kas. manajemen kas di Agency menjadi bagian integral dari manajemen kas institusi treasury.

dapat disimpulkan bahwa peran Satker sangatlah krusial untuk manajemen kas yang efektif.Treasury untuk meminimalisasi biaya pinjaman (net cost of borrowing). yaitu di tingkat Agency dan manajemen kas terkonsolidasi di tingkat pusat (federal). 2009). tetapi juga bertanggung jawab atas manajemen internal kas. spending agency tidak hanya bertanggung jawab atas otorisasi pengeluaran dan internal control. DTP                                                                                                                                           211    . Selaku BUN Menteri Keuangan berwenang menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara untuk melaksanakan tugas kebendaharaan Subdit TPBE. 1999). terdapat dua level manajemen kas. terbuka. bertanggung jawab dan berorientasi dalam hasil. proyeksi 3. Salah satu pilar utama dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara yang ideal tersebut adalah pengelolaan kas yang merupakan bagian dari lingkup perbendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 2 UU No. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara. saldo rekening tersebut pada akhir hari akan dilimpahkan ke rekening TSA di RBA. Terkait dengan dengan pengelolaan kas tersebut. model manajemen kas yang ada di Australia merupakan two-tier cash management system. Beberapa fitur dari kedua model tersebut yang patut mendapat perhatian untuk pengembangan manajemen kas diantaranya meliputi pentingnya pemahaman atas pola arus kas di masing-masing Satker dan mekanisme information sharing antara Kementrian Keuangan dengan Satuan Kerja tentang penerimaan dan pengeluaran untuk jangka waktu tertentu. Pada sistem tersebut. Menteri Keuangan dalam kedudukannya selaku Bendahara Umum Negara (BUN) adalah Chief Financial Officer yang berperan selaku pengelola fiskal dan manajer keuangan dalam arti yang sesungguhnya. Dengan kata lain. Meskipun transaksi keuangan dilakukan melalui rekening Agency. Dari pembahasan komparatif atas model manajemen kas di Perancis dan di Australia. Merujuk pada istilah yang digunakan Ian Lienert dalam Modernsing Cash Management (Lienert. Biaya pinjaman merupakan selisih antara bunga pinjaman dengan remunerasi dari saldo positif yang ada di rekening treasury di Reserve Bank of Australia (ANAO. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Kas Paket undang-undang keuangan negara merupakan kerangka konseptual yang komprehensif dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara yang ekonomis.

secara khusus telah diinstruksikan pula kepada Satuan Kerja untuk menyampaikan Laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementrian Negara/ Lembaga pada akhir tahun 2008 melalui SE-38/PB/2008 tanggal 9 Oktober 2008. Direktorat Pengelolaan Kas Negara selaku Kuasa BUN Pusat dan KPPN selaku Kuasa BUN Daerah (Pasal 1). tapi juga telah dimulai sejak prosess allotment anggaran (penerbitan DIPA). Di dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Tujuan dari pencantuman rencana penarikan dana adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi manajemen kas pemerintah melalui optimalisasi fungsi DIPA (PMK 105/).q. dokumen pelaksanaan anggaran memuat ”rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja.05/2007. f) menentukan strategi untuk mengatasi kekurangan kas dan memanfaatkan kelebihan kas. Untuk mendukung fungsi manajemen kas tersebut. telah di-inisiasi mekanisme penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Satuan Kerja sesuai dengan SE Dirjen Perbendaharaan No. DTP                                                                                                                                           212    . c) menyimpan uang negara (Pasal 7 UU No. e) menetapkan saldo kas minimal. Kewenangan dan tanggung jawab Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa BUN Pusat yang terkait dengan pengelolaan kas setidaknya meliputi: a) menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara. Subdit TPBE. 218/PMK. d) membuat perencanaan (arus) kas. Terkait dengan hal tersebut. Dalam hal koneksitas proses bisnis dengan Satker. 1 th 2004). b) mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran negara. upaya untuk membangun manajemen dan perencanaan kas yang baik dilaksanakan tidak hanya menjelang saat pelaksanaan pembayaran. serta pendapatan yang diperkirakan” (Pasal 14 ayat 3). g) memastikan ketersediaan kas guna memenuhi kewajiban pembayaran.dalam rangka pelaksanaan anggaran dalam wilayah kerja yang ditetapkan (PP 39 tahun 2007). Sebagaimana diamanatkan dalam UU Perbendaharaan Negara. telah ditentukan kewenangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan c. SE-02/PB/2006 tanggal 6 Januari 2006.

Di samping itu, sejak bulan Maret 2009, telah diterapkan mekanisme treasury notional pooling pada rekening bendahara pengeluaran secara bertahap. Treasury Notional Pooling merupakan sistem untuk mengetahui saldo rekening bendahara pengeluaran di Kantor Cabang Bank Umum setelah di konsolidasikan tanpa harus melakukan perpindahan dana antar rekening. Dengan penerapan mekanisme ini, Uang Negara yang berada pada rekening bendahara pengeluaran mendapatkan remunerasi. Sebelumnya, uang negara yang ada pada rekening bendahara pengeluaran menerima jasa giro yang harus di setor ke rekening kas negara oleh bendahara pengeluaran. Secara internal, manajemen pengelolaan kas di Ditjen Perbendaharaan khususnya di KPPN juga dijalankan dalam kaitan pelaksanaan Treasury Single Account. Sebagaimana diatur dalam SE-12/PB/2009, dalam rangka menjamin ketersediaan dana dalam Rekening Pengeluaran Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat (RPK-BUN-P) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) diwajibkan mengajukan Permintaan Kebutuhan Dana ke Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Mekanisme penyampaian Permintaan Kebutuhan Dana tersebut pada dasarnya merupakan antisipasi dari jumlah kas yang dibutuhkan untuk membayar tagihan pada tanggal tertentu berdasarkan nilai SP2D yang diterbitkan (pada esok hari dan hari yang bersangkutan). Atas dasar pembahasan international practice dan review perundangan sebagai mana tersebut di atas, praktek manajemen kas di Indonesia menunjukkan adanya sebuah hybrid model. Dalam hal kerangka organisasi dan distribusi kewenangan dalam penyelenggaraan keuangan negara, maka manajemen kas di Indonesia lebih cenderung pada system ter-sentralisasi sebagaimana di terapkan di Perancis. Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa Bendahara Umum negara merupakan satu-satunya institusi yang secara eksplisit bertanggung jawab atas pencapaian tujuantujuan dari manajemen kas yang dilakukan secara tersentralisasi. Penerapan mekanisme TSA dan penyediaan dana di RPK-BUNP (sesuai SE-12/PB/2009) menunjukkan peran sentral Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen kas. Namun demikian, dalam hal yang bersifat operasional terdapat pula beberapa fitur yang identik dengan praktek yang dilaksanakan di Australia. Walaupun Satker tidak memiliki tanggung jawab terkait dengan perencanaan kas, Satker pada saat ini terlibat dalam aktivitas perencanaan kas. Selain penyusunan rencana penarikan dana
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           213   

yang bersifat tahunan (halaman 3 DIPA), mekanisme penyampaian informasi untuk perencanaan kas yang diinstruksikan SE-02/PB/2006 dan SE-38/PB/3008 identik dengan penyampaian draw-down pattern schedule yang diwajibkan kepada seluruh Spending Agency di Australia setiap minggunya. Dalam prakteknya di Indonesia, ketiadaan kerangka konseptual atas tanggung jawab Satker terkait dengan manajemen kas berkontribusi kepada tidak efektifnya mekanisme information sharing antara Satker dengan Ditjen Perbendaharaan untuk keperluan perencanaan kas. Sebagaimana diketahui, peran serta Satker untuk perencanaan kas melalui sebagaimana diinstuksikan dalam kedua Surat Edaran tersebut di atas tidak seperti yang diharapkan. Meskipun format dan jenis informasi yang dibutuhkan dari Satker sangat mungkin mempengaruhi kesiapan dan kemampuan Satker, pada dasarnya tidak terdapat kerangka organisasi dan/atau insentif bagi Satker untuk berkontribusi dalam sebuah sistem perencanaan kas yang efektif. Misalnya, tidak terdapat kejelasan tentang pejabat dalam koordinasi KPA (PPK, PPSPM dan Bendahara) yang harus bertanggung jawab atas penyusunan rencana penerimaan dan pengeluaran dan/atau laporan rencana belanja di Satuan Kerja. Ketiadaan mekanisme rutin dalam periode jangka pendek ini, tidak memungkinkan review dan update atas rencana penarikan dana dalam halaman 3 DIPA sehingga rencana tahunan ini menjadi tidak efektif dalam pelaksanaannya. Patut menjadi catatan bahwa kedudukan bendahara (penerimaan dan/atau pengeluaran) di Indonesia secara organisasional berbeda dengan kedudukan para public accountant di Perancis. Dalam hal manajemen kas, kedudukan public accountant selaku pegawai Kementrian Keuangan Perancis memudahkan koordinasi terkait dengan konfigurasi rekening dan penyampaian informasi yang berkaitan dengan kas manajemen. Sebagai perbandingan, kedudukan public accountant di Prancis memudahkan pengelolaan rekening para public accountants sebagai sub-akun dari rekening utama yang dimiliki AFT. Kondisi ini memudahkan mekanisme pelimpahan saldo di sub-rekening ke rekening utama, (sebagaimana diterapkan di Perancis) untuk melaksanakan model Treasury Single Account. Mekanisme pengelolaan TSA yang ideal tersebut di atas tidak mudah dijalankan di Indonesia, karena rekening bendahara (pengeluaran dan/atau penerimaan) di Satker adalah rekening yang terpisah dari rekening kas negara yang
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           214   

dikelola Ditjen

Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Mekanisme pooling atas

rekening bendahara, sebagaimana dijalankan saat ini, merupakan alternatif yang paling memungkinkan dengan struktur rekening yang ada saat ini. Meskipun tetap memberi peluang bagi Ditjen Perbendaharaan untuk memperoleh kemanfaatan atas saldo kas menganggur di rekening bendahara, Ditjen Perbendaharaan tidak memiliki kontrol atas saldo di rekening-rekening bendahara tersebut. Misalnya, apabila Ditjen Perbendaharaan memerlukan saldo di rekening-rekening bendahara untuk keperluan lain yang mendesak. Ditjen Perbendaharaan juga tidak memiliki alternatif investasi lain atas saldo-saldo di rekening tersebut selain memperoleh remunerasi dengan presentase yang tidak fleksibel.

4. Fitur SPAN terkait Manajemen Kas Sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, rencana pengembangan modul manajemen kas dalam SPAN berkaitan erat dengan pengembangan modul lainnya, terutama modul manajemen DIPA, manajemen komitmen dan General Ledger. Keterkaitan modul SPAN dengan modul lainnya diantaranya meliputi: a) update dan revisi atas Annual Financial Plan, sepanjang tidak melebihi pagu anggaran; b) penerapan cash-limit apabila diperkirakan tidak terdapat cukup kas untuk membayar tagihan atas beban negara. c) penggunaan data komitmen untuk proyeksi arus kas yang dibutuhkan untuk pelunasan sebuah komitmen. Rencana pengembangan SPAN untuk modul manajemen kas juga secara khusus mengantisipasi peran Satker yang krusial terkait dengan penyusunan penyampaian rencana pengeluaran/ belanja sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.40.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           215   

Gambar 4.40 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Kas (Bidding Document)
MANAJEMEN KAS Mnj. Kas (Direktorat PKN)
Kegiatan Penempatan Kas

Mnj. Penerimaan
Data Penerimaan Negara

Mnj. Utang

Mnj. Satker
DIPA Cash Planning Commitment Cash Limit SAI

DMFAS

1. Pagu APBN 2. Rencana Pengeluaran & enerimaan 3. Akuntansi Kas Umum Negara 4. Saldo Kas 5. Profil Utang

Memperkiraan pendapatan

Memperoleh informasi pinjaman

Mnj.
Komitmen Mempersiap kan Cash Planning

Perkiraan Pendapatan

Mempersiapkan perkiraan hutang dan hibah Perkiraan hutang dan hibah
Merencanaka n strategi/ persyaratan

Perbaikan rencana penempatan kas, penerimaan dan pengeluaran Penentuan persyaratan pinjaman
Penentuan batas pengeluaran yang baru dan menyampaikannya ke satker

pinjaman

Cash Planning

Mnj.
Pembayaran

Memperbaharui Cash Limit

Rencana pengembangan modul manajemen kas, dalam kerangka sistem yang terintergrasi dengan modul-modul lainnya dalam SPAN adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar 4.41:

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           216   

Gambar 4.41 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Kas Terkait Dengan Modul-Modul Lainnya

Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas, elemen dari manajemen kas akan memperoleh input dari manajemen DIPA, manajemen komitmen, dan General Ledger untuk penyusunan dan update dari perencanaan kas. Annual Financial Plan dalam halaman 3 DIPA yang merupakan proyeksi kebutuhan kas untuk jangka panjang dan menengah adalah bagian dari modul manajemen DIPA. Mekanisme manajemen komitmen akan menghasilkan data untuk update proyeksi tersebut, terutama melalui jumlah dan saat pelunasan komitmen yang telah diregistrasi ke Ditjen Perbendaharaan (CAN). Bagian dari pelaksanaan mekanisme manajemen komitmen yang dicatat dalam General Ledger sebagai hutang (payables) merupakan input untuk kebutuhan kas dalam jangka pendek. Kedua informasi tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari mekanisme atas pembayaran pada saat penerbitan SP2D atau digunakan murni sebagai informasi dalam rangka pelaksanaan kas.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           217   

Akan tetapi untuk implementasinya. Fitur ini apabila diterapkan. mekanisme yang didukung dengan aplikasi software (e-kirana) ini dalam prakteknya masih memerlukan pertukaran informasi Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           218    . Pengembangan sistem informasi yang terintegrasi memungkinkan tersedianya mekanisme review dan update terhadap rencana tersebut. tetapi juga sumber data untuk keperluan updating rencana tersebut. b) Proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan pengajuan pembayaran juga idealnya dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan cash forecasting untuk jangka pendek. Mekanisme yang saat ini digunakan untuk menentukan jumlah alokasi saldo harian di sub-akun RPK-BUN P milik KPPN tertentu pada umumnya cukup efektif. termasuk Satker. terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian untuk penyempurnaan dan implementasi SPAN khususnya terkait dengan manajemen kas dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Satker. 3). dapat menggantikan atau melengkapi mekanisme yang saat ini digunakan Ditjen Perbendaharaan dalam pengisian RPK-BUN-P. masih diperlukan kejelasan tidak hanya terkait sifat dari AFP. Akan tetapi. Di antaranya adalah sebagai berikut: a) Penerapan SPAN dapat mendukung perencanaan kas jangka menengah dan tahunan melalui Annual Financial Plan (DIPA hal. Rekomendasi dan alternatif Future Vision Model koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen Kas Rencana pengembangan manajemen kas dalam SPAN telah cukup komprehensif dan mencerminkan penerapan best practice. Mekanisme registrasi data kontrak/ komitmen pada saat pengajuan Request For Commitment (RFC) idealnya dapat digunakan untuk meningkatkan akurasi AFP melalui update rencana pengeluaran atas dasar sejumlah dana anggaran yang telah di kontrakkan. Proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan manajemen komitmen memiliki sumber data yang potensial untuk keperluan tersebut di atas.5. Namun demikian. rencana pengembangan SPAN yang ada saat ini telah mengindikasikan antisipasi atas peran para stakeholder. Catatan atas hutang (liabilities) yang dibuat atas dasar tagihan yang divalidasi (SPP) dapat menjadi dasar untuk memperkirakan kebutuhan kas untuk hari tertentu. Meskipun ruang lingkup pengembangan SPAN berfokus pada proses bisnis di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran.

 DTP                                                                                                                                           219    . Dalam kerangka dasar penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana di Satker tidak terdapat ketentuan yang mengatur kewajiban pejabat perbendaharaan di Satker berkaitan dengan manajemen kas. terutama yang berkaitan dengan penyediaan dana petty cash/ imprest fund. d) Kejelasan wewenang dan tanggung jawab atas penyelenggaraan manajemen kas di Satker sangat diperlukan.secara informal melalui telepon dan/atau faximile. terdapat ketentuan yang mengatur tugas dan tanggung pihak-pihak tertentu berkaitan dengan rencana penarikan dana dari Satuan Kerja. Struktur rekening yang ada saat ini kurang ideal bagi perencanaan kas karena tidak adanya kontrol penuh Kuasa BUN terhadap saldo di rekening-rekening tersebut di akhir hari. mekanisme tersebut merupakan bagian dari sistem yang secara terintegrasi merupakan bagian dari proses pembayaran (penerbitan SP2D). rekening bendahara pengeluaran idealnya merupakan sub akun dari rekening Kuasa BUN. Rekening bendahara pengeluaran yang digunakan untuk menempatkan dana petty cash merupakan rekening yang mandiri dan terpisah dari rekening yang dikelola Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Hal tersebut dapat dimaklumi karena sistem perbendaharaan Indonesia lebih cenderung pada model sentralisasi manajemen kas pada Kementrian Keuangan sebagaimana halnya di Subdit TPBE. Idealnya. Sentralisasi rekening bendahara terhadap rekening yang dimiliki Ditjen Perbendaharaan memungkin penerapan alternatif investasi terbaik dari idle cash (jika ada) dan tidak terbatas pada perolehan remunerasi atas saldo total rekening-rekening tersebut sebagaimana dijalankan melalui mekanisme Treasury National Pooling pada saat ini. tidak terdapat kejelasan tentang pejabat perbendaharaan yang bertanggungjawab atas rencana penarikan dana tersebut. Merujuk pada model sentralisasi manajemen kas yang ada di Perancis. c) Manajemen kas idealnya sejalan dengan kerangka dan konfigurasi rekening. Idealnya. Meskipun telah terdapat mekanisme yang mewajibkan Satker untuk menyampaikan informasi dalam rangka perencanaan kas. Pembahasan selengkapnya atas fitur dalam manajemen komitmen yang berkaitan dengan manajemen kas dapat dilihat pada sub-bagian manajemen komitmen dalam modul ini. Sentralisasi rekening bendahara juga lebih ideal untuk penerapan mekanisme pembayaran petty cash melalui credit card melalui rekening yang memiliki fasilitas overdraft sebagaimana dijalankan di Australia.

Perancis.42. Namun demikian. DTP                                                                                                                                           220    . Subdit TPBE. kejelasan akan tugas dan tanggung jawab pihak tertentu terhadap informasi tersebut harus segera ditentukan. Hal ini juga sejalan dengan pembahasan terkait dengan manajemen uang persediaan di Satker pada sub bagian sebelumnya. maka informasi terkait dengan rencana penarikan dana dalam rangka perencanaan kas idealnya menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab bendahara (pengeluaran).42 Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait dengan Cash Forecasting Kuasa Pengguna Anggaran Ordonateur Rencana Penarikan Dana Comptabel KPPN SPM Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) SPP UP & GUP SPM Bukti Pembayaran (UP) Pihak ke-3 Bendahara Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) SPP-LS SPP UP & GUP Kontrak & Invoice (LS) Sebagaimana ditunjukkan dalam model proses bisnis di Satker sebagaimana diusulkan dalam gambar 4. Gambar 4. maka bendahara pengeluaran merupakan pihak yang bertanggung jawab tidak hanya pada pelaksanaan fungsi pembayaran secara utuh (mengetahui semua permintaan pembayaran baik SPP LS maupun SPP UP). apabila Satker pada prakteknya kemudian diharuskan menyampaikan informasi dalam rangka perencanaan kas (sebagaimana dilaksanakan di Australia). Merujuk pada kerangka tanggung jawab manajemen kas di Satker yang diterapkan di Australia.

Susunan substansi materi yang dibahas dalam modul ini mengikuti struktur yang telah dibahas dalam Bab III (current state assessment). Pembahasan model koneksitas proses bisnis di Satker untuk masing-masing modul diupayakan untuk mewujudkan integrasi antara suatu modul sebagai sub-sistem dari sebuah sistem modular yang terintegrasi. Pembahasan untuk masing-masing tahapan (modul) setidaknya meliputi tinjauan atas international best practice. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. terdapat keterkaitan yang erat antara manajemen DIPA. rencana pengembangan dan implementasi SPAN dan analisis alternatif dan serta rekomendasi untuk penyempurnaan. Misalnya. sedapat mungkin telah diupayakan agar bab ini memuat pembahasan secara komprehensif. manajemen kas. yang meliputi tahapan-tahapan dalam siklus APBN yang telah dipetakan secara modular sejalan dengan rencana pengembangan SPAN 2. review atas landasan hukum dalam kerangka international best practice. merujuk pada international best practice dan rencana pengembangan SPAN. Pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan fungsi bendahara secara utuh dan sesuai kerangka peraturan perundangan sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan. idealnya terdapat mekanisme di mana bendahara dapat mengetahui pagu anggaran yang telah dikontrakkan dengan menerima tembusan kontrak dari Pejabat Pembuat Komitmen. Dengan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. H. 3. idealnya juga memiliki akses terhadap informasi akuntansi dan pembukuan atas transaksi-transaksi pengeluaran tersebut. Untuk masing-masing proses bisnis di Satker yang terkait dengan pelaksanaan tahapan dalam siklus APBN. Untuk melaksanakan fungsi perencanaan kas tersebut. assessment atas praktek pelaksanaan selama ini. manajemen pelaporan dan manajemen Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           221    . Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. maka bendahara merupakan pihak yang memiliki akses memadai untuk menyusun rencana penarikan dana sebagai input informasi dari Satker untuk perencanaan kas.Bendahara. pembahasan pada BAB IV ini difokuskan pada penentuan model koneksitas proses bisnis di masa yang akan datang (future).

Oleh karena itu pembahasan. Subdit TPBE. yang tidak hanya mencerminkan international best practice tetapi juga mempertimbangkan kondisi spesifik di Indonesia. Blue print tersebut diperlukan sebagai bahan kajian dan acuan untuk penyusunan desain rinci (detaildesign) proses bisnis di Satker dan koneksitasnya.khususnya bendahara pengeluaran.pembayaran. pencatatan dan registrasi terkait komitmen (manajemen komitmen). penentuan alternatif dan rekomendasi dalam rangka penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya senantiasa diupayakan kesesuaiannya dengan kerangka dasar pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah ada. Pembahasan dalam bab ini pada dasarnya merupakan blue-print untuk penyempurnaan model koneksitas proses bisnis dengan Satker. DTP                                                                                                                                           222    .pada saat ini dan alternatif penyempurnaan pelaksanaan tugas kebendaharaan oleh bendahara di masa yang akan datang. yang idealnya dilakukan bersamasama dengan unit-unit teknis di lingkungan Ditjen Perbendaharaan. kajian. 5. 6. diantaranya melalui pengakuan. 4. Mengingat peran penting dan kedudukan bendahara (di Satker) yang unik dalam struktur dan gorvenance penyelenggaraan keuangan negara. bab ini juga memuat kajian atas peran bendahara di Satker. Disadari sepenuhnya bahwa paket undang-undang di bidang keuangan negara telah mengamanatkan kerangka pengelolaan keuangan negara yang komprehensif.

bab ini difokuskan pada pembahasan tentang strategi dan taktik pencapaian model koneksitas. serta perlunya berbagai perubahan dalam regulasi dan change managament untuk memperlancar penerapan proses binnis dan IT yang baru. Hal-hal yang dibahas dalam bab ini akan menjadi fokus bahasan diskusi awal tahun 2010. TPBE.BAB V Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. Peran Sumber Daya Manusia (baik di Ditjen Perbendaharaan maupun para pejabat perbendaharaan di Satker) selaku agent of change untuk terwujudnya penyempurnaan yang berkesinambungan. e. DTP    223  . Subdit. Penyusunan strategi dalam rangka penyempurnaan proses bisnis penyelenggaraan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan setidaknya harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: a. Dibahas pula dalam bab ini adalah perlunya kesesuaian time line penyempurnaan proses bisnis dan IT satker dengan time line SPAN Project. Kepastian hukum dan kelengkapan peraturan pelaksanaan untuk mendukung governance. khususnya terkait dengan pengeluaran anggaran. telah dibahas proses bisnis penyelenggaraan keuangan negara di Satker. mitigasi resiko terkait dengan diversitas kondisi dan jumlah satker. b. Penerapan alternatif pilihan penyempurnaan tersebut memerlukan strategi yang sesuai agar dapat diimplementasikan secara efektif. permasalahan dan beberapa usulan sebagai alternatif penyempurnaannya. serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik. check and balance dan evaluasi atas proses bisnis terkait penyelenggaraan keuangan negara di Satker. khususnya di lingkungan instansi pemerintah. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja sebagai client utama dari Ditjen Perbendaharaan. c. Termasuk dibahas dalam bab ini adalah cakupan implementasi SPAN Project dan kaitannya dengan pengembangan proses bisnis dan IT di satker. Pada bab-bab sebelumnya. Keterkaitan antara penyempurnaan proses bisnis di Satker dalam kerangka SPAN. Mitigasi terhadap inherent risk dari aktivitas yang berkaitan dengan Business Process Improvement. d.

1. aparat pengawasan dan stakeholders utama lainnya. Sesuai dengan keterangan dalam SPAN Dokumen (RFP). Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN. investasi dan hutang. Bersama dengan proses bisnis yang terkait dengan institusi perbankan dan pengelolaan aset. perbankan.f. DJA.1 Namun demikian. Atas dasar uraian tersebut maka cukup jelas bahwa COTS nantinya hanya terdapat di Subdit. Gambar 5. DTP    224  . g. Sedangkan interface untuk mentransfer data dari Ditjen Perbendaharaan ke Satker akan menjadi bagian dari SPAN. cukup jelas disebutkan bahwa pada dasarnya ruang lingkup pengembangan SPAN tidak mencakup Satker. baik di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan maupun secara lebih luas yang melibatkan Satker. TPBE. maka Kementrian Keuangan bertanggung jawab untuk membangun sistem aplikasi dan interface untuk mentransfer data dari Satker ke Ditjen Perbendaharaan. Penyempurnaan proses bisnis di Satker dalam kerangka pengembangan SPAN Dalam kerangka pengembangan SPAN. sejumlah Satker akan diikutkan dalam tahap piloting yang khususnya lebih berkaitan dengan konfigurasi teknologi informasi. A. Koordinasi dan sosialisasi. proses bisnis Satker tidak termasuk ruang lingkup dari komponen utama SPAN sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5.

2. TPBE. Selama tahap piloting direncanakan akan terdapat 55 koneksi untuk lima kementrian/lembaga yang ikut serta dalam tahap piloting dengan rincian sebagai berikut: 5 nodes 50 nodes (source: SPAN RFP) Kantor Pusat Kementrian/Lembaga Spending Unit Agar sesuai dengan ruang lingkup dari rencana implementasi selama pilot phase.e g dan h) Sekertariat Jenderal berperan murni sebagai Satuan Kerja. maka ditetapkan institusi Kantor Pusat Kementrian/ Lembaga yang ideal untuk dilibatkan dalam pilot phase 1 adalah Sekertariat Jenderal.d. 8. Electronic transfer of draft DIPA data from LM SU to DGT.Kementrian Keuangan. Electronic transfer of SPM data from LM SU to DGT. Electronic transfer of commitment data from LM SU to DGT. 6. Electronic transfer accounting data (GL. DTP    225  . Electronic transfer of confirmation of DIPA approval from DGT to LMHO & SU. Untuk aktivitas yang berkaitan dengan manajemen komitmen. 4. Notification of SPM which could not be processed from DGT to LM SU. manajemen pembayaran dan akuntansi (item c.b. Tahap pilot phase 1 akan melibatkan 5 Kantor Pusat Kementrian/Lembaga. Subdit.f) dan penerbitan dokumen pelaksanaan anggaran Sekertariat Jenderal berperan sebagai head offices/kantor pusat dari Satker-satker yang menjadi unit vertikalnya (sub-ordinate budgetary institutions). 7. sedangkan Kementrian/ Lembaga merupakan entitas yang menyediakan data bagi COTS/ modul SPAN yang ada di sistem Kementrian Keuangan. and other financial data from LMHO & SU to DGT). Confirmation of SP2D from DGT to LM SU. 5. Electronic transfer of RKA-KL data from LM Head Office to DGB. Ruang lingkup selama pilot phase yang melibatkan Sekertariat Jenderal kementrian/lembaga adalah sebagai berikut (sesuai dengan SPAN Bid Document/RFP): 1. yang terdiri dari Kementrian Keuangan. Kementrian Pendidikan Nasional. Kementrian Kesehatan. fixed asset data. 3. Sedangkan untuk aktivitas yang berkaitan dengan budget preparation (a. Kementrian Pekerjaan Umum dan Kementrian Pertanian.

Sejumlah 10 nodes untuk masing-masing Kementrian/Lembaga akan disediakan bagi Satuan Kerja Kantor Pusat di lingkungan Kementrian/Lembaga. TPBE. DTP    226  . single entry point. online access to centralized database. SPAN diharapkan memiliki fitur diantaranya centralized database. real time. Pada tahap awal Satker (SU) tidak terkoneksi secara online. automatic updating to all information. electronic submission of information. Ruang lingkup SPAN adalah koneksi dengan 178 KPPN dengan 5 kementrian/lembaga sebagaimana tersebut di atas.2 DG Treasury      Head Offices  DG Budget     Eselon 1 (Setjen)  Preparation  Remote Access  Server   Kanwil  Central  Database    Lini  Ministry  Head  Offices  as/or  Spending  U i Echelon 1 Bureau 1/  SU 1  Bureau 2/  SU 2  KPPN  Execution  Spending  Unit Bureau 2/  SU 2  Bureau 10/  SU 10  Subdit. Konfigurasi IT dan sistem informasi yang melibatkan Satker dalam tahap piloting adalah sebagai berikut: Gambar 5. Koneksitas dengan kementrian/lembaga akan dilakukan melalui koneksi dial up dengan Remote Access Server yang ada di Kanwil/KPPN.

Parallel run hanya mungkin terjadi dalam satu Kantor Wilayah di mana terdapat KPPN yang menggunakan sistem yang baru dan yang lama. Akses Satker terhadap central data base yang dilakukan melalui KPPN/ Kanwil sebagai Remote Access Server hanya diperuntukkan bagi Satker-Satker tertentu di daerah terpencil yang tidak memungkinkan koneksi/ akses secara langsung terhadap database. Di samping itu. misalnya melalui dial up. TPBE. dalam rangka pengembangan SPAN aplikasi kementrian/lembaga dan interface untuk mentransfer data dari kementrian/lembaga kepada Ditjen Perbendaharaan akan menjadi tanggung jawab Departemen Keuangan. Sebagaimana tersebut di atas. meskipun terdapat beberapa Satker yang bagian dari pilot phase. dalam pelaksanaanya tidak ada parallel run dari sistem di KPPN. Sebagai contoh. Namun demikian. terkait dengan penerapan manajemen komitmen di masa yang akan datang.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. yaitu aplikasi SPM. Line Ministry Head Office (dan Spending Unit apabila memungkinkan) memiliki akses langsung terhadap central database. Sebagai catatan. belum terdapat kejelasan bagaimana informasi terkait kontrak/komitmen dalam Request for Commitment (RFC) disampaikan ke KPPN. terdapat beberapa alternatif dalam rangka implementasi SPAN khususnya pada tahap piloting 1 sebagai berikut: 1. Terkait hal tersebut sangat mungkin diperlukan program aplikasi untuk mengkonfersi data dari sistem yang lama (di satker) ke sistem yang baru Subdit. sampai saat ini belum terdapat kejelasan perihal aplikasi-aplikasi apa saja yang diperlukan Satker dalam rangka SPAN. Saat ini telah terdapat kajian awal terkait dengan inventarisasi aplikasi-aplikasi yang digunakan di Satker pada saat ini dan kemungkinan penyempurnaan/ integrasi aplikasi tersebut di masa yang akan datang. DTP    227  . Pada saat ini ADK kontrak dihasilkan dari aplikasi yang berkaitan dengan manajemen pembayaran. di dalam SPAN Bid Document/RFP terdapat beberapa alternatif untuk meregistrasi data komitmen (BC001) yang struktur datanya cukup kompleks (BC) misalnya dengan input secara manual dan atau menggunakan file/ ADK. Akses Satker terhadap central database dilakukan melalui KPPN/ Kanwil sebagai Remote Access Centre. Line Ministry Head Office dan Spending Unit tidak memiliki koneksi/ akses secara langsung terhadap central data base. 2.

business process improvement menganjurkan suatu perubahan yang besar (dramatic improvement) dengan dukungan kemajuan teknologi informasi (see Hammer. diharapkan dapat me-mitigasi resikoresiko yang secara identik dengan upaya penyempurnaan proses bisnis. pengalaman otomasi dan integrasi sistem informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan keuangan negara (Government Financial Management and Information System) juga tidak selalu berhasil baik karena ketiadaan landasan hukum. 2008). Beberapa aspek Subdit. di Direktorat Transformasi Perbendaharaan yang merupakan counterpart dalam rangka pengembangan SPAN telah terdapat unit struktural yang secara khusus bertanggung jawab atas penyempurnaan proses bisnis di Satker. 1996). kurangnya proses improvement maupun masalah yang lebih teknis. Di samping itu. Davenport & Short. governance dan koordinasi dalam rangka proyek SPAN melalui Tim Reformasi Perbendaharaan dan Penganggaran Negara (Tim RPPN) dan Tim Koordinasi Teknis telah secara rutin menangangi isu-isu terkait SPAN. upaya terkait penyempurnaan proses bisnis juga sering terkendala oleh peraturan sebagai dasar hukum dan keharusan mempertahankan aktivitas yang berkaitan dengan otorisasi dan verifikasi. misalnya terkait kodifikasi akun (USAID.(di KPPN). TPBE. 2007). Mitigasi terhadap inherent risk berkaitan dengan Business Process Improvement Semenjak diperkenalkan dengan tema reengineering. khususnya bagi Satker yang tidak termasuk ke dalam entitas dalam rangka piloting. Pada saat ini juga terdapat beberapa tim yang secara khusus bertugas menangani aspek tertentu terkait dengan pengembangan SPAN. termasuk keterkaitannya dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker. Secara lebih spesifik. 2003. Tata kelola sebagaimana tersebut di atas. Idealnya terdapat suatu mekanisme untuk me-mitigasi resiko yang identik dengan penyempurnaan proses bisnis sebagai mana tersebut di atas. dan hubungan industrial yang lebih kaku jika terdapat konsekuensi lay-off (see MacIntosh. upaya penyempurnaan proses bisnis (business process improvement) cenderung identik dengan resiko yang tidak kecil. meskipun ruang lingkup SPAN tidak sepenuhnya mencakup Satker. Hal tersebut karena secara konseptual. pendanaan dan ketiadaan profit untuk menjustifikasi investasi. Pada saat ini. DTP    228  . misalnya Tim Penyempurnaan Framework Chart of Account. Hesson. B. Grover & Malhotra. 1990. Khususnya bagi instansi pemerintah. 1990.

000 Satuan Kerja.514 Satker. PA Subdit. Figur selengkapnya adalah sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5. Gambar 5. sedangkan Satker yang memiliki pagu lebih dari 2 milyar tidak kurang dari 10. Jumlah Satker yang menjadi mitra kerja Ditjen Perbendaharaan terhitung sangat besar dengan diversitas yang sangat signikan. sekitar 836 Satker memiliki pagu kurang dari 100 juta. Dari jumlah tersebut. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik. Pada saat ini (akhir tahun 2009) Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan dan unit vertikal dilingkungannya melayani sekitar 21. TPBE. C.lain yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia akan dibahas pada bagian berikutnya.3. DTP    229  .3 Sources: Diolah dari data DIPA 2009 Dit.

Implementasi SPAN. Pada saat ini terdapat 178 KPPN yang melayani Satker-Satker yang tersebar di 33 propinsi tersebut. nantinya akan didukung oleh badan/ konsultan yang melaksanakan advisory role terkait dengan komunikasi dan manajemen perubahan (communication and change management). Hal tersebut diperlukan karena pada dasarnya penyempurnaan proses bisnis di Satker tidak terbatas pada beberapa Kementrian/ Lembaga yang menjadi bagian tahap piloting. hanya 55. idealnya selama implementasi SPAN dapat dilakukan sosialisasi kepada seluruh Kementrian/ Lembaga terkait dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker terlepas dari rencana implementasi SPAN. Demikian pula dengan pemilihan Kementrian/ Lembaga yang menjadi bagian dari tahap piloting sudah mewakili kondisi/ figure dari Satker pada saat ini.000 Satker tersebut di atas. sedangkan sisanya tidak memiliki belanja modal. Di samping hal-hal terkait dengan perubahan di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan. Merujuk pada figur dan sebaran dari Satker sebagai mana tersebut di atas. secara umum mengenalkan paradoks terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia selama menjalani business process improvement. Literatur business process improvement. D. 9% yang memiliki belanja modal. DTP    230  . secara konseptual business process improvement menganjurkan pengelolaan organisasi yang cost-efisien dan mengantisipasi kemungkinan melakukan stream-lining terhadap organisasi. Di satu sisi. dapat dipastikan tantangan penyempurnaan proses bisnis dan pelayanan di masa yang akan datang tidaklah mudah. Namun demikian.Dari sekitar 21. mekanisme piloting yang rencananya akan diterapkan selama tahap implementasi SPAN sudah cukup tepat. Peran Sumber Daya Manusia selaku agent of change Penyempurnaan proses bisnis tidak terlepas dari peran sumber daya manusia di suatu organisasi untuk mewujudkan perubahan. TPBE. termasuk kepada Kementrian/ Lembaga. business process improvement mengandalkan konsep empowerment untuk merealisasikan perubahan dalam pengelolaan organisasi yang berbasis proses. Dengan kondisi geografis kepulauan di Indonesia yang unik. Ditjen Perbendaharaan menyadari sepenuhnya peran sentral SDM dalam merealisasikan perubahan. Subdit. badan tersebut idealnya dapat berperan penting dalam penentuan stragtegi komunikasi penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara. Di sisi lain.

penyempurnaan proses bisnis tidak selalu identik dengan opsi pengurangan jumlah SDM. E. Di samping itu. Ditjen Perbendaharaan tidak memiliki kewenangan untuk menguji dan mengevaluasi ketaatan (compliance) Satker dalam melaksanakan standar tersebut di Satker. Berdasarkan uraian tersebut di atas. Misalnya. Dengan demikian. ketidaksesuaian antara Perdirjen 66/PB/2005 dengan PMK 73/PMK. berpendapat bahwa reengineering juga membawa peluang untuk berinovasi terhadap aktivitas yang menjadi bagian proses bisnis. Sedangkan di lingkungan Satker. Sebagai mana diamanatkan Undang-Undang Perbendaharaan Negara. cukup jelas bahwa kewenangan untuk menetapkan proses bisnis terkait dengan penyelenggaraan keuangan negara di Satker merupakan wewenang Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Paket undang-undang di bidang keuangan negara telah menyediakan landasan hukum sekaligus mandat untuk penyelenggaraan keuangan negara yang lebih baik.05/2008 dengan kewenangan penerbitan Surat Permintaan Pembayaran di Satker. DTP    231  terkait . Campion. dengan memperhatikan Subdit. check and balance dan evaluasi atas proses bisnis di Satker sangat diperlukan kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan.Di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan. Namun demikian opsi untuk mengurangi jumlah Satker tersebut. Pada bab 2 telah disebutkan pentingnya kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan sebagai authorizing environment bagi sebuah institusi pemerintah. Patut disebutkan pula. Dengan kata lain. stream-lining terhadap organisasi pada saat ini bukan wacana yang populer. dari telaah atas beberapa peraturan pelaksanaan terdapat indikasi ketidaksesuaian di antara ketentuan-ketentuan yang mengatur pelaksanaan proses bisnis di Satker. et al (2005). TPBE. setidaknya harus memperhatikan sikap dan kesiapan Satker terhadap opsi tersebut. sangat dimungkinkan untuk melakukan stream-lining terhadap jumlah Satker. maka strategi penyempurnaan proses bisnis di Satker harus mengutamakan ketersediaan landasan hukum. Menteri Keuangan selaku BUN memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran (Pasal 7 angka 2 huruf a). misalnya. Kewenangan tersebut pada saat ini ada pada aparat pengawasan fungsional baik internal Kementrian/ Lembaga maupun eksternal. Kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan Untuk mendukung governance. Namun demikian. kewenangan BUN atas pelaksanaan standar tersebut terbatas pada saat dikeluarkannya uang dari rekening kas negara (penjelasan UU Perbendaharaan Negara).

Direktorat Transformasi Perbendaharaan hadir untuk melengkapi dan mendukung pelaksanaan tugas. fungsi dan kewenangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Koordinasi dan sosialisasi yang tidak terbatas pada lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan Dalam rangka pelaksanaan undang-undang. penyempurnaan landasan hukum dilakukan dengan koordinasi yang baik tidak hanya antar unit-unit di lingkungan Ditjen Perbendaharaan tetapi juga dengan aparat pengawasan fungsional. harus dilaksanakan dalam kerangka koordinasi dengan unit-unit lain dilingkungan Ditjen Perbendaharaan. Gambar 5. khususnya di Satker.konsistensi peraturan dan evaluasi atas praktek pelaksanaan standar selama ini. termasuk yang berkaitan dengan Satker. TPBE. Gambar 5. DTP    232  . Sebagai direktorat baru yang dibentuk melalui PMK 100/PMK/2008.4 Sumber: Bahan Presentasi Sosialisasi DTP Subdit. Idealnya. Penyempurnaan proses bisnis. IT dan sistem informasi. F. peran Direktorat Transformasi Perbendaharaan sangatlah penting.4 menunjukkan pola koordinasi dan kerja sama di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dalam rangka penyempurnaan proses bisnis. khususnya melalui integrasi antara proses bisnis.

Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN Meskipun tidak termasuk dalam ruang lingkup core proses bisnis/ modul.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. Sebagai mana diketahui. DTP    233  . Oleh karena itu. Gambar 5. aktivitas penyempurnaan proses bisnis juga dilaksanakan dengan mempertimbangkan pendapat dan saran dari Satker dan pihak-pihak eksternal lainnya. G. penyempurnaan proses bisnis di Satker berkaitan erat dengan pengembangan SPAN. TPBE. MoF bertanggung jawab untuk membangun interface (dan proses bisnis) dengan Satker untuk mendukung pelaksanaan tahap piloting.5 CRP 3: Standar Proses  Bisnis  Satker idealnya  dapat ditetapkan  Akhir fase design:  selambat‐lambatnya  standar Proses Bisnis   Satker sudahditetapkan  Awal Fase piloting: standar  Proses Bisnis  Satker dan  aplikasi pendukung sudah  ditetapkan  Pengembangan dan  finalisasi aplikasi  software pendukung  proses bisnis di  Satker  Source: modified from Project Initiation Report. aktivitas penyempurnaan proses bisnis di satker memperhatikan kesesuaian dengan time line dan road map pengembangan SPAN. LG Subdit.

3. TPBE. Sejak Oktober 2010 sampai dengan awal tahap piloting (April 2011) merupakan periode untuk persiapan dan finalisasi aplikasi/software pendukung di Satker yang diperlukan dalam rangka pengembangan SPAN. Subdit. dan peran penting SDM. kerjas sama dan koordinasi dengan unit-unit teknis lain di lingkungan Ditjen Perbendaharaan merupakan bagian dari strategi dan taktik penentuan model koneksitas yang harus diikuti.5. Paralel dengan time-line SPAN. Sebagai sebuah standar proses bisnis yang nantinya akn menjadi acuan Satker dalam penyelenggaraan keuangan negara. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. pembahasan pada Bab V difokuskan pada strategi dan taktik pencapaian model koneksitas. maka pengembangan aplikasi/ software merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dalam upaya penyempurnaan model koneksitas proses bisnis dengan Satker di masa yang akan datang. fitur Satker. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. maka model koneksitas proses bisnis di Satker nantinya harus merupakan bagian dari dan ditetapkan dengan peraturan perundangan. methodology pengembangan SPAN diantaranya meliputi fase design. Strategi dan taktik tersebut pada dasarnya merupakan road-map untuk penyusunan dan penetapan desain rinci (detail design) dari kajian. Untuk itu. Kementrian Keuangan telah memiliki standar proses bisnis dan aplikasi pendukung di Satker yang sesuai dengan proses bisnis yang baru di Ditjen Perbendaharaan yang baru dalam rangka SPAN.Sebagai mana ditunjukkan dalam gambar 5. sesuai gambar tersebut di atas. alternatif dan rekomendasi yang telah dibahas pada bab sebelumnya. k. Pada tahap tersebut. idealnya. mitigasi resiko. Mengingat keterkaitan yang erat antara standar proses bisnis dan ketersediaan sistem informasi dan aplikasi/ software pendukung. Beberapa acuan dalam penyusunan strategi dan taktik pencapaian model koneksitas diantaranya meliputi kerangka rencana pengembangan SPAN. atau selambat-lambatnya pada akhir fase design pada September 2010. Fase piloting. 2. build dan test sebelum fase piloting. standar proses bisnis di Satker yang baru idealnya dapat ditetapkan pada tahap Conference Room Pilot (CRP) yang ketiga pada Juni 2009. H. 4. direncanakan untuk dimulai pada April 2011. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. DTP    234  .

yang setidaknya memperhatikan strategi organisasi. Di samping itu. Sedangkan rencana kedepan. harus dilaksanakan dalam kerangka dasar perundangan yang telah ada. terutama di Satker. Penyempurnaan proses bisnis di Satker harus didasarkan pada visi. C. DTP    235  . penyusunan modul ini sejalan dengan rencana pengembangan SPAN.3 yang dianut dalam penulisan draft modul ini. Alternatif dan usulan penyempurnaan proses bisnis di Satker sebagaimana dimuat dalam modul ini juga diharapkan dapat menjadi bahan diskusi dan pembahasan dalam rangka menetapkan standar proses bisnis di Satker untuk mendukung pengembangan SPAN.BAB VI Penutup Bab ini membahas dua hal utama yaitu (i) penutup dan (ii) rencana kedepan. sistem aplikasi dan manajemen perubahan. misi dan idealnya tujuan bersama dari para stakeholders dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara. idealnya didasarkan pada landasan hukum. aktivitas penyempurnaan proses bisnis harus di dasarkan pada kerangka kerja (framework) yang comprehensive dan memadai. memuat secara ringkas rencana pelaksanaan berbagai kegiatan dalam rangka menyempurnakan draft modul ini sejalan dengan framework ITIL v. teknologi informasi. Penutup merupakan summary terhadap hal-hal yang telah dibahas dalam keseluruhan draft modul ini. meskipun proses bisnis di Satker tidak tercakup dalam ruang lingkup SPAN. B. Di samping itu. Paket Undang-undang di bidang keuangan negara telah menyediakan landasan hukum sekaligus mandat untuk terwujudnya penyelenggaraan keuangan negara yang baik. Penyempurnaan proses bisnis. Penyempurnaan proses bisnis di Satker sedapat mungkin dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat inherent dari institusi pemerintah yang dalam beberapa hal penting berbeda dengan organisasi bisnis yang berorientasi pada penciptaan keuntungan. kapasitas operasional dan nilai tambah (value added) dari aktivitas penyempurnaan proses bisnis. Subdit TPBE. Penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan Ditjen Perbendaharaaan merupakan upaya untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-undang. Ringkasan beberapa pokok pikiran yang kiranya dapat bermanfaat bagi penyempurnaan proses bisnis di Satker adalah sebagai berikut: A. Kerangka pembahasan penyempurnaan proses bisnis di Satker. proses bisnis.

Penyempurnaan proses bisnis di Satker sedapat mungkin memanfaatkan kemajuan teknologi. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi perbankan untuk mendukung pelaksanaan mekanisme Uang Persediaan melalui penggunaan debit/ credit card. Misalnya dengan mengupayakan integrasi melalui pencatatan dan penggunaan informasi terkait komitmen/ kontrak sebagai komponen utama dalam pengembangan modul manajemen DIPA. DTP    236  . manajemen komitmen. manajemen pembayaran. H. Kedudukan bendahara (penerima dan/atau pengeluaran) yang menjalankan tugas secara fungsional patut mendapat perhatian khusus dalam penyempurnaan proses bisnis di Satker. idealnya didukung dengan penyempurnaan implementasi dari ketentuan dalam paket undang-undang di bidang keuangan negara. Komponen utama SPAN yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran (budget execution) meliputi manajemen DIPA. Misalnya dengan menyempurnakan tugas dan tanggung jawab para pejabat perbendaharaan negara di satker dan menjadikannya sebagai bagian dari proses bisnis yang efektif dan mendukung terciptanya tata kelola yang memadai. Sejalan dengan pengembangan SPAN. Misalnya dengan mengkaji kemungkinan organisasi dan Subdit TPBE. E. sehingga terdapat mekanisme pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran yang lebih cost-efisien. F. SPAN merupakan integrasi tidak hanya terkait dengan IT dan data base. J. idealnya ditujukan untuk mendukung pelaksanaan tugas kebendaharaan secara utuh sebagai mana diamanatkan dalam peraturan perundangan. manajemen pembayaran. Penyempurnaan peran bendahara. pelaporan. terutama melalui pelaksanaan Treasury Single Account. Dalam pelaksanaanya. Penyempurnaan proses bisnis harus sejalan dengan upaya yang telah dirintis. namun juga mengupayakan integrasi dari tahapan penyelenggaraan keuangan negara.D. khususnya perbankan. I. Rencana pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) merupakan upaya nyata untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-undang. manajemen kas. dan akuntansi dan pelaporan. Pengembangan proses bisnis di Satker. manajemen kas. rencana pengembangan SPAN berkaitan erat dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker selaku salah satu stakeholders utama. G. penyempurnaan proses bisnis di Satker ditujukan untuk mendukung integrasi dari modul-modul tersebut pada point (E). Pengelolaan kas di Ditjen Perbendaharaan telah maju pesat dibandingkan dengan sebelum penetapan paket undang-undang di bidang keuangan negara.

yang terutama akan menjadi bagian dari proses pengujian dalam rangka penyaluran dana anggaran. Oleh karena itu. cukup jelas bahwa implementasi COTS terbatas pada institusi di lingkungan Ditjen Perbendaharaan.strukturisasi yang lebih baik dan cost-efisien terhadap rekening bendahara (pengeluaran dan/ atau penerimaan). kedudukan Satker dalam tahap awal implementasi SPAN adalah sebagai penyedia data. L. Dari literatur yang berkaitan dengan pengembangan SPAN. pelaksanaan akuntansi dan pelaporan merupakan suatu keharusan dalam pengelolaan keuangan negara yang baik. tentative. Dalam rangka pelaksanaan SPAN. penyempurnaan proses bisnis di Satker: Subdit TPBE. K. Dalam rangka akuntabilitas. kiranya tidak berlebihan jika aktivitas akuntansi dan pelaporan juga sedapat mungkin dilaksanakan secara efisien dengan memperhatikan kerangka pembagian tugas dan kewenangan para pejabat perbendaharaan di Satker. Gambar berikut menunjukkan rencana kerja. Di samping itu. Oleh karena itu. DTP    237  . idealnya penyempurnaan proses bisnis di Satker dapat berjalan secara paralel dengan pengembangan SPAN di Ditjen Perbendaharaan. sesuai dengan bagian yang menjadi tanggung jawab Kementrian Keuangan dalam rangka SPAN. Aktivitas terkait akuntansi dan pelaporan di Satker harus ditujukan untuk menjamin tersedianya laporan yang akurat dan tepat waktu. M. standar proses bisnis di Satker yang telah disempurnakan idealnya telah ditetapkan sebelum pelaksanaan tahap pilot 1.

Dengan demikian.CRP 3: Standar Proses  Bisnis  Satker idealnya  dapat ditetapkan  Akhir fase design:  selambat‐lambatnya  standar Proses Bisnis   Satker sudahditetapkan  Awal Fase piloting: standar  Proses Bisnis  Satker dan  aplikasi pendukung sudah  ditetapkan  Pengembangan dan  finalisasi aplikasi  software pendukung  proses bisnis di  Satker  N. dapat diharapkan bahwa ketika dilaksanakan pilot project Penerapan SPAN pada tahun 2011. sudah terdapat integrasi yang memadai terkait proses bisnis.3. DTP    238  . Detail desain dari proses bisnis tersebut. dukungan IT dan SDM dari satker-staker yang ikut dalam pilot project dimaksud. akan dilakukan piloting pada satker terpilih dan penyusunan IT yang dikoordinir oleh Direktorat TP dan Direktorat SP. misalnya terkait dengan jenis dan struktur data. Sebagaimana telah disampaikan didepan. sejalan dengan framework ITIL v. Secara paralel. Subdit TPBE. akan dilakukan pembahasan-pembahasan dengan stakeholder terkait untuk perbaikan draft modul ini. format formulir dan element lainnya sebagai bagian dari mekanisme input-output akan diselesaikan selama tahun 2010. Modul ini memuat blue print dalam rangka penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan.

01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 105/PMK.06/2007 tentang bagan Akun Standar Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun Anggaran 2009 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 06/PMK. Peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.Daftar Pustaka A.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 91/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 100/PMK. Penelaahan. Departemen Keuangan RI Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara / Lembaga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 134/PMK.02/2009 tentang Tata Cara Perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dan Perubahan daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2009 Subdit TPBE.02/2008 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara / Lembaga dan Penyusunan. KPMK. DTP     239  .05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 73/PMK.

“The management of public expenditure and its implications for service delivery” Schick. S. “Recognizing public value: The challenge of measuring performance in government”. (2006). “Cash management”. & Khagram. March 1999 Auditor General Victoria (2004). B (2001). PFM Technical Guidance Note No. Departemen Keuangan RI Subdit TPBE. Financial Management System: Standard business process for U. (1995). “Standard business process”. A working paper for the Corporate Social Responsibility Initiative. Mark. Harvard University Press Moore. “On creating public value: What business might learn from government abaout strategic management” . Mark. “Creating public value: Strategic management in government”. “Chief Finance Officer: Role and responsibility”. World Bank Institute. Governance. “A contemporary approach to public expenditure management”. Lecture presented 9 November 2006 Andrew. J. “Treasury Reference Model”. Regulation and Finance Division Hassim. Literatur BAB II Moore. Good Practice Guide FSIO (2009). Agencies UU No. Ian (2008). Allen (1999). Working Paper No. IMF ANAO (1999).Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-35/PB/2007 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Rekening Milik Kementrian Negara / Lembaga / Kantor / Satuan Kerja Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER 66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi / Satuan Kerja Pemerintah Pusat / Daerah Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-38/PB/2008 tentang penyampaian Laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementrian Negara/Lembaga tahun Anggaran 2008 Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor KEP-297/PB/2007 tentang Standara Prosedur Operasi / SOP di lingkungan Ditjen Perbendaharaan B. (2003). 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Auditor General. 5. 3 Moore. KPMK. Sanjeev (2004). Mark H. E. “Cash management”. H. World Bank Lienert. M & Campos. DTP     240  . A & Allan. H. March 2004.

3rd edition.. J. Hammer. evaluation. Palgrave. V. Thomas R (2007). Journal of Operation Management. Mike (2004). Frederick S. “Government cash management: Good and bad Practice”. “The new industrial engineering: Information technology and business process redesign”.A.J. 15. Chapter 1 & 3. No. method. DTP     241  . No. 85-99. Manoj K (1996). 2007. St Martin Press. 3 Williams. Maclmillan Allison. W & Gulledge. 2.D. (1996). Paper. Dimitar & Khemani. Rodger. Harvard Business Review. Pp. Pp 193-213 Bab III Hunt. “Reengineering work” Don’t automate. (2001). Vol. HarperCollins. A reference book for transition countries. PFM Technical Guidance Note No. 7 The budget execution cycle. (1993). Ed. Pokar (2007). “Managing Public Expenditure”. technology and application”. “Public and private management: Are they fundamentally alike in all unimportant respects”. Business Process Management Journal Vol 7 No. “Process mapping: How to reengineer your business processes”. Owen (2003).C. T (1986). July-August 1990 Grover. Industrial Management & Data Systems. New York Frye. Newyork. “Commitment control”. Varun & Malhotra. Anwar Shah SPAN “Request for Proposal. M & Champy. Douglas. 11. J. pp. NY”. Thomas H & Short. Public Sector Governance and Accountability Series. “A BPR case study at Honeywell”. Sloan Management Review No. 107. “End-to-end business process scenario”. “Business process reengineering: A tutorial on the concept. “Reengineering the corporation: A manifesto for business revolution.. Ch. Government Finance”. obliterate”. in Lane. D. August 2004 BAB IV Manajemen DIPA OECD (2001). John Wiley & Sons. G. Current issues in public administration. “Budgeting and Budgetary Institutions”. Technical Requirement” Subdit TPBE. Radev. Richard Allen & Daniel Tommasi World Bank (2007). Summer 1990 Hammer. 749761 Davenport. James E (1990). “Public Management and administration: An Introduction”. Michael (1990). & Pendharkar P.Hughes. 6. Ed.

August 2004 ANAO (1999). Agencies Manajemen Pembayaran Hashim. “Transitions to accrual basis of accounting: Guidance for government and government entities”. Ali & Moon. Richard Allen & Daniel Tommasi IFAC Public Sector Committee (2002). Allister J (2004). dipresentasikan pada “Comparative Study of Treasury System”. A reference book for transition countries. PFM Technical Guidance Note No. Ch. Working SPAN “Request For Proposal: Technical Requirement” Pelaporan dan Pertanggungjawaban OECD (2001). Departement of Economic and Social Affair. “Budgeting and Budgetary Institutions”. “Managing Public Expenditure”. Government Finance”. Richard Allen & Daniel Tommasi World Bank (2007). A reference book for transition countries. 2009 SPAN “Request For Proposal” United Nations (1999). Auditor General. Anwar Shah Subdit TPBE. World Bank. DTP     242  . Ditjen Perbendaharaan. “Budgeting and Budgetary Institutions”. Public Sector Governance and Accountability Series. Division for Public Economics and Public Administrations Manajemen Kas Williams. 7 The budget execution cycle. “Commitment control”. “Treasury diagnostic toolkit”. Pokar (2007). “Integrated Financial Management in Least Developed Countries”. 3 SPAN “Request For Proposal. Mike (2004). “Cash management”. Public Sector Governance and Accountability Series. March 1999 World Bank (2007). Financial Management System: Standard business process for U. Study 14 Bahan Presentasi GPF-AIP (2009). Ch. Anwar Shah FSIO (2009). “Government cash management: Good and bad Practice”. International Federations of Accountant. S. 7 The budget execution cycle. Ed. Technical Requirement” OECD (2001). DTP. “Managing Public Expenditure”. “Standard business process”.Manajemen Komitmen Radev. Ed. Jakarta. Ed. Dimitar & Khemani. Ed. Government Finance”.

23. Vil 44 No. Summer 1990 Hammer. Business Process Management Journal. USAID Campion. Human Resource Management. method. Harvard Business Review. Technical Notes and Manuals. 327-344. “Integrated Financial Management Information System: A practical guide”. technology and application”. Manoj K (1996). Sigma Papers No. Alexandre (2009). Pp 193-213 Hesson. pp. No. OECD Lienert. M (2007). July-August 1990 Grover. Subdit TPBE. DTP     243  . obliterate”. USAID (2008). 707-727. No. 32. International Journal of Operation & Production Management. 2007. Vol.D. 11.P. (2003). 3. evaluation. Sloan Management Review No. “Business process reengineering: A tutorial on the concept. Nahrgang J. dapat diakses di http://blogpfm. penyusunan daftar pustaka tidak mengikuti tata cara urutan penyusunan referensi secara konvensional. 367-390 SPAN-“Project Initiation Report”. “Business process reengineering in UAE public sector: A naturalization and residency case study”.. Thomas H & Short.imf. No. “Reengineering work” Don’t automate. 5.V.org/pfmblog/2009/12/government-cash-management-during-financialmarket-turmoil. 13.. “The new industrial engineering: Information technology and business process redesign”. Vol. Available on ProQuest MacIntosh. (2005). PFM Blog. Varun & Malhotra. Ian & Chailloux. Winter 2005. “Government cash management during financial market turmoil”. R. 4 pp. Ian (2009). “Work redesign: Eight obstacles and opportunities”.Lienert. Good Practice Guide SPAN “Request For Proposal: Technical Requirement” Bab V SPAN “Request for Proposal: Technical Requirement” Davenport. “Modernizing cash management”. Michael (1990). “Financial management and control of public agencies”. Journal of Operation Management.html Auditor General Victoria (2004). pp. A. “Chief Finance Officer: Role and responsibility”. James E (1990). F. Morgeson. International Monetary Fund Sigma (2001). 15. ‘BPR: alive and well in the public sector’. Fiscal Affairs Departement. LG Catatan: Untuk tujuan penulisan modul ini. M. Mumford T.

c. untuk mendukung kemampuan analisa dalam penyusunan laporan keuangan f. d. RKA-KL yang diusulkan tidak sesuai dengan SAPSK.3) untuk keperluan perencanaan kas. 1289/PB/2009 tanggal 12 Maret 2009 dan No. 3. Perlunya mengoptimalkan halaman III DIPA untuk perencanaan penarikan dana. Menyederhnakan kelengkapan pencairan dana ke KPPN (misalnya cukup melampirkan SPM dan SKTJM). Kanwil Ditjen Perbendaharaan XXVII Manado a. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Nusa Tenggara Barat a. Berikut ini dokumentasi atas ringkasan tanggapan dan usulan dari pihakpihak sebagaimana tersebut diatas. Pemahaman atas proses akuntansi dan tidak mengandalkan aplikasi. Kelancaran proses penyusunan dan pengesahan dokumen anggaran berpengaruh pada penyerapan anggaran. Belum adanya pejabat perbendaharaan untuk DIPA Tugas Perbantuan. Perlunya mengefektifkan format dan informasi dalam DIPA (hal. yang didukung formula dan pedoman bagi satker untuk melakukan perencanaan penyerapan anggaran yang realistis e. DTP    244  . Kondisi geografis yang berpengaruh pada kemampuan jaringan IT dalam penyebaran/pengumpulan informasi. [sepanjang masih sesuai dengan konsep dasar dan ketentuan perundangan yang berlaku] d.Dokumentasi Usulan Dalam rangka penyusunan modul telah dimintakan tanggapan dan usulan dari unit eselon II dilingkungan Ditjen Perbendaharaan (pusat dan daerah) melalui Surat Direktur Jenderal Perbendaharaan No. Konfirmasi hasil identifikasi atas permasalahan saat ini dan usulan perbaikan: 1. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jambi a. 2510/PB/2009 tanggal 1 Mei 2009. A. 2. b. perlunya informasi tentang perikatan/komitmen yang dibuat satker untuk mendukung perencanaan arus kas yang meyertai pelunasan sebuah komitmen b. Perihal terjadinya usulan revisi DIPA di awal tahun anggaran. perlu mencari alternatif untuk pemberian uang muka kerja melalui UP/TUP untuk mengurangi idle cash c. sehingga perlu beberapa upaya diantaranya penentuan pejabat perbendaharaan dilakukan sebelum tahun anggaran berjalan Subdit TPBE.

Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatra Utara a. DTP    245  . Perlu media elektronik yang handal untuk sarana rujukan terhadap ketentuan terkait pelaksanaan tugas perbendaharaan f. Penihilan di akhir hari kerja pada rekening bendahara instansi di akhir hari kerja. c. Integrasi antara alikasi RKA/KL.b. serta dipertimbangkan agar akun untuk UP cukup satu saja. SPM dan SAKPA untuk mendukung PBB c. Standard biaya umum yang ada masih berbasis input dan belum sepenuhnya mendukung rencana penerapan PBB b. Pengaturan jangka waktu untuk penerbitan SPP menjadi SPM 5. 4. Meninjau kembali PMK 73/PMK. dan diisi kembali sesuai saldo yang ada keesokan harinya. Direktorat Pengelolaan Kas Negara a. Pengintegrasian data dan informasi dalam halaman III DIPA untuk perencanaan kas. Bagan Akun Standard agar lebih sederhana d. misalnya dengan menerapkan mobile banking di Seksi Bendum di mana Kasi Bendum memiliki otorisasi untuk secara langsung memindahkan dana ke rekening pihak ke-tiga [bagaimana dengan hilangnya mekanisme kontrol di bank? Apakah program IT yang ada cukup bisa diandalkan dan aman? Bagaimana jika terjadi error [as variance to fraud]? Perlu dikaji kembali] d. Perlunya SOP dalam mekanisme pengelolaan APBN di Satker. Perlunya data terkait dengan perikatan yang dibuat satker untuk di input sebagai salah satu input untuk manajemen kas c. Perlu dikaji upaya mengurangi ketergantungan terhadap perbankan dalam hal pencairan dana. tidak perlu dibedakan antara PNBP dan RM f. Revitalisasi penatausahaan dan pelaporan PNBP oleh Ditjen Perbendaharaan g.05/2008 terkait dengan pemberian UP agar lebih selektif. Penyempurnaan integrasi aplikasi untuk keperluan rekonsiliasi e. Jangka waktu penyaluran dana dari bank ke rekening yang berhak perlu di atur e. Jangka waktu penyelesaian SPP menjadi SPM perlu di atur untuk mendukung penyerapan d. Perlunya data/informasi tentang komitmen yang dibuat Satker sebagai salah satu input untuk perencanaan kas b. yang mengatur cycle time dan clarity of role dari pejabat perbendaharaan Subdit TPBE.

b. Revitalisasi fungsi halaman III DIPA agar dapat menjadi rencana penarikan yang realistis. DTP    246  . Kanwil Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta [Bapak. saling kontrol dan saling melengkapi. misalnya dalam bentuk PMK. mengutamakan solusi bukan sanksi 5. Ringkasan Tanggapan sebagai bahan penyempurnaan/revisi Bab I: 1. Pelu dikaji perlunya ketentuan/landasan hukum yang mengatur hubungan dan kaitan proses bisnis antara BUN dengan Kementrian/Lembaga. Subdit TPBE. 3. Diusulkan agar LPJ ini direkonsiliasi dengan data/informasi akuntansi secara berjenjang hingga ke kantor pusat KL dan Ditjen Perbendaharaan agar dapat dijadikan laporan manajerial (managerial report) yang baik dan mendukung kualitas laporan akuntansi pemerintah (accountability report). Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Nusa Tenggara Barat Perlu memasukkan peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan ke dalam identifikasi koneksitas proses bisnis.e. Laporan Pertanggungjawaban Bendaharawan agar merupakan bagian dari laporan keuangan pemerintah. 4. 2. B. f. Perlu dilakukan identifikasi dan kajian atas peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan dalam penyempurnaan proses bisnis di Satker. b. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Medan a. Penyempurnaan proses bisnis di Satker agar dilakukan secara hati-hati agar tidak kontra produktif. Kanwil Ditjen Perbendaharaan XXVII Manado Teknologi informasi dan aplikasi dalam siklus APBN masih sangat terfragmentasi (tingkat integrasinya rendah) sehingga tidak dapat mendukung mekanisme saling uji (check balance). Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jambi a. Iskandar] a. Perlunya penggunaan istilah yang berkaitan dengan perbendaharaan negara secara taat asas. Perlu dikaji landasan hukum khususnya dalam hal kepentingan perbendaharaan untuk memperoleh informasi tentang sisa dana secara online (dalam hal manajemen komitmen) pada khususnya dan untuk penyempurnaan proses bisnis di Satker pada umumnya. misalnya dengan menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana sejak penyusunan RKA/KL.

2. Penyusunan relationship matriks tidak konsisten antara siklus APBN. rencana pengembangan SPAN dan Treasury Reference Model.d. Perubahan Judul Bab I menjadi Pendahuluan. 7. C. Direktorat Sistem Perbendaharaan (Bapak Budisan) a. Revisi judul menjadi “Koneksitas Proses Bisnis Perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran “ 6. DTP    247  . Direktorat PKN: Modul koneksitas yang disusun kurang lengkap karena belum memasukkan aset dan liability management: Tanggapan: Modul ini hanya berfokus pada koneksitas proses bisnis dengan Satker terutama terkait dengan tahapan dalam siklus APBN yang secara difokuskan lagi pada siklus sejak pelaksanaan anggaran. Pembahasan untuk IT agar terpisah dari proses bisnis. Penulisan judul dan sub-judul pada halaman 8 s. Pengggunaan istilah yang lebih hati-hati agar tidak menggunakan istilah yang berbeda untuk hal yang sama. terkait dengan perencanaan kas. 13 secara lebih konsisten e. Direktorat Pengelolaan Kas Negara a. relationship matriks atas dasar siklus APBN dan rencana pengembangan SPAN akan digambarkan secara terpisah. Direktorat Sistem Perbendaharaan (Bapak Budisan) a. b.b.3 d. Peran satker sebagai counterpart dalam liquidity management. c. misalnya dibahas dalam Bab I. dan asset liability management direncanakan akan disusun dalam modul terpisah. Agar dipertegas ruang lingkup dan cakupan koneksitas yang akan dibahas dalam modul Subdit TPBE. payment management dan liquidity management. b. Manajemen Kas yang dijalankan oleh Ditjen PBN mencakup. Peran Satker sebagai Customer dan user dalam payment management dan DJPBN sebagai Regulator. pembahasan terkait dengan investasi. Tanggapan: Untuk lebih memudahkan pemahaman. Mengingat ruang lingkup yang luas dan tingkat pembahasan yang cukup mendalam/rumit. Tanggapan atas beberapa masukan/usulan perihal kekurangan dan ketidaklengkapan dalam pembahasan BAB I 1.

Oleh karena itu. pelaporan dan pertanggungjawaban idealnya akan termasuk dalam ruang lingkup koneksitas proses bisnis.Tanggapan: Ruang lingkup yang dibahas dalam modul ini akan mengikuti metode yang lazim digunakan dalam aktivitas Penyempurnaan Proses Bisnis (Business Process Improvement-BPI). Dengan demikian sistem akuntansi. yang gambar/kerangkanya kami gunakan dalam penulisan BAB II. Menurut hemat kami. b. Koneksitas proses bisnis dalam relationship matriks berbeda dengan best practice dalam Treasury Reference Model. yang diharapkan akan dibahas lebih jauh secara terpisah. Metode BPI lazimnya membahas proses bisnis dan IT secara bersama-sama. fungsi-fungsi keuangan dalam SPAN tetap merujuk pada model best practice pada TRM. Saat ini telah dibentuk tim kerja untuk penyempurnaan MPN dan tengah menyiapkan modul serupa dengan modul koneksitas proses bisnis Satker. Tidak ada pembahasan mengenai receipt management. Penulisan ringkasan dan latar belakang agar dipisah. d. Ruang lingkup proses bisnis nantinya akan mengikuti hasil identifikasi akhir dalam relationship matrix sebagaimana dapat dilihat di BAB I. Tanggapan: Relationship matrix dibuat dan disusun dengan mengacu pada rencana pengembangan SPAN dan menggunakan istilah yang digunakan dalam modul/fungsi keuangan dalam SPAN (misalnya: management DIPA). c. pembahasan terkait MPN dilakukan dalam pembahasan tersendiri. Tanggapan: Isi BAB I adalah ringkasan penulisan yang juga menjelaskan kilasan /overview dari kondisi saat ini yang melatar belakangi penulisan modul ini Subdit TPBE. Namun demikian. terutama mengingat pentingnya MPN Tanggapan: Mengingat kompleksitasnya dan permasalahan yang cukup rumit. pembahasan dalam modul ini tidak membahas secara mendalam program aplikasi/software. Salah satu referensi yang menurut kami cukup ideal adalah model penyempurnaan proses bisnis yang ada dalam Frye & Gulledge (2007). namun sudah mempertimbangkan kondisi dan praktek yang ada di Indonesia. unsur IT yang dibahas nantinya hanya secara umum dengan mempelajari key media input/output (input-output utama dari sebuah proses atau sub-proses) yang bermanfaat dalam menentukan tingkat integrasi atau fragmentasi dari sistem informasi yang ada. DTP    248  .

misi) dan bab III (current state assesment) namun banyak yang memberikan masukan terkait dengan bab I Pendahuluan): a. e. f. Kanwil Propinsi Riau: Menekankan pentingnya aspek “mewujudkan pelayanan publik yang profesional” dalam penyelenggaraan keuangan negara. Direktorat Sistem Perbendaharaan: Koreksi typo dan substansi pengawasan atas keterlambatan pemrosesan SPM di KPPN. Direktorat PK BLU: terdapat keterkaitan antara Ditjen Perbendaharaan. Koneksitas Ditjen Anggaran dan Satker sangat mempengaruhi kinerja Ditjen Perbendaharaan contoh dalam mekanisme revisi DIPA. Subdit TPBE. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalimantan Timur: Sependapat dengan inisiatif penyusunan Modul Satker. Ditjen Anggaran dan Satker. Kanwil Nusa Tenggara Barat: Detail dokumen yang terkait dengan proses bisnis termasuk didalamnya pembahasan terkait akuntansi barang milik negara. c. Kanwil XXVII Manado: Materi usulan sebagaimana disarikan pada huruf A sampai dengan D tersebut diatas. DTP    249  . d. Usulan Lainnya Usulan lain terutama berkaitan dengan Surat S-2510/PB/2009 tanggal 1 Mei diantaranya diterima dari (permintaan tanggapan ditujukan untuk Bab II (visi.D. b.