P. 1
28485384 Modul Satker Complete

28485384 Modul Satker Complete

|Views: 323|Likes:
Published by Jang Danil

More info:

Published by: Jang Danil on Jan 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2012

pdf

text

original

DRAFT MODUL

      

 

Koneksitas Proses Bisnis Perbendaharaan  pada Bendahara Umum Negara dengan  Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran

       

 

Direktorat Transformasi Perbendaharaan  Direktorat Jenderal Perbendaharaan  Departemen Keuangan Republik Indonesia  2009 
  Gambar animasi diambil dari open sources

Penyusun:

1. Dr. Sudarto, S.E., MBA 2. Adi Setiawan, S.E., SST AK., MPPM 3. Pramudia M. Muslim 4. Windasena Winarno 5. Khalid Haris Fauzi 6. Johan Pandu Asa

Subdit TPBE, DTP   

 ii 

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan draft modul koneksitas proses bisnis ini bisa diselesaikan sebagaimana yang direncanakan. Sesuai dengan judulnya, Draft Modul koneksitas proses bisnis perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran, draft modul ini merupakan kajian atas koneksitas proses bisnis dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara di Satuan Kerja (Satker) dan di Ditjen Perbendaharaan. Penulisan draft modul ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Transformasi Perbendaharaan, khususnya Sub Direktorat Tranformasi Proses Bisnis Eksternal terkait dengan (i) perumusan kebijakan dan strategi penyempurnaan, (ii) pengkajian dan penyempurnaan koneksitas proses bisnis, (iii) penyusunan rekomendasi penetapan landasan hukum, (iii) perumusan kebijakan strategi tahapan penerapan dan (iv) pengkajian kesesuaian koneksitas proses bisnis dengan Satuan Kerja. Di samping itu, penulisan modul ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan dan implementasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Struktur dan metode penulisan modul ini diarahkan untuk secara komprehensif memuat tinjauan atas international best practice, review atas landasan hukum dalam kerangka international best practice, assessment atas praktek pelaksanaan selama ini, rencana pengembangan dan implementasi SPAN dan analisis serta rekomendasi untuk alternatif penyempurnaan. Secara lebih spesifik, struktur penulisan yang digunakan adalah mengikuti alur yang dipakai dalam kerangka ITIL v.3 (Information Technologi Infrastructure Library Version 3) dan lebih difokuskan pada aspek pengeluaran dari perbendaharaan negara. Dalam hal ini, penulisan dimulai dari penetapan visi, misi dan objektif dari masingmasing pihak khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pencapaian outcome masing-masing instansi/satker. Berpijak pada visi, misi dan objektif masing-masing pihak, dilakukan identifikasi permasalahan atas existing koneksitas dan kondisi pengelolaan keuangan negara di Satker saat ini. Hal-hal tersebut akan menjadi landasan penetapan usulan bentuk/model koneksitas dan manajemen keuangan Satker, serta target-target pencapaian yang terukur.

Subdit TPBE, DTP   

 iii 

Selanjutnya, sejalan dengan kerangka ITIL v.3 yang mengedepankan konsep iteratif/pembetulan yang berulang dan partisipatif dari semua stakeholder, langkah selanjutnya setelah penyelesaian draft modul ini adalah akan dilakukan diskusi bersama dengan stakeholder terkait, yang secara paralel dibarengi dengan pembangunan sistem IT dan ujicoba langsung pada beberapa Satker, sehingga penentuan model/bentuk koneksitas dan manajemen keuangan Satker serta tatacara maupun target-target pencapaiannya sudah diketahui, disetujui bersama dan dipraktekkan secara langsung. Harapannya, pada akhirnya draft modul ini dapat menjadi suatu modul yang disetujui dan sudah implementatif pada semua satker yang mempunyai koneksitasnya dengan modul SPAN secara utuh. Sejalan dengan metode iteratif dan partisipatory yang dikedepankan dalam penyusunan draft modul ini, sejak awal sudah dicoba untuk digali pendapat dari seluruh stakeholder, termasuk dari direktorat teknis dan seluruh Kantor Wilayah di lingkungan DJPB. Untuk itu, penyusun mengucapkan terimakasih atas partisipasi dan dukungannya selama ini. Tentunya, ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kami ucapkan kepada Direktur Transformasi Perbendaharaan atas arahan-arahan dan dukungannya selama penulisan draf modul ini. Disadari sepenuhnya bahwa koneksitas proses bisnis perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran adalah suatu cakupan wilayah kajian dan pembangunan sistem yang sangat luas. Untuk itu, disamping akan dilakukan diskusi-diskusi intensif dengan berbagai stakeholder, penyusun sangat membuka diri atas saran, kritik dan rekomendasi yang membangun. Saran, kritik dan rekomendasi dapat disampaikan kepada Direktorat Transformasi Perbendaharaan c.q. Sub Direktorat Transformasi Bisnis Eksternal baik melalui surat, telpon atau berbagai mode penyampaian lainnya. Sekali, penyusun mengucapkan terimakasih atas dukungan dan partisipasinya selama ini. Salam Transformasi. A.n. Penyusun Kasubdit Transformasi Proses Bisnis Eksternal

Dr. Sudarto, SE, MBA
Subdit TPBE, DTP     iv 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Koneksitas Proses Bisnis Satker dalam Siklus APBN C. Metode Penulisan Bab II Visi, Misi dan Objektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan A. Latar Belakang B. Value: Manfaat Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya Dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan C. Operasional Capability: Kemampuan untuk Penerapan Usulan Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan D. Legitimacy: Landasan Hukum Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan E. Penutup Bab III Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN A. Definisi dan Konsepsi B. Existing Proses Bisnis Pengelolaan keuangan Negara di Satker dan Koneksinya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan 1. Penyusunan, Penelaahan , Pengesahan dan Revisi dokumen Pelaksanaan Anggaran 2. Pembuatan Komitmen 3. Pengajuan Pembayaran 4. Pencairan Dana 5. Manajemen Kas 6. Pertanggungjawaban C. Aplikasi-aplikasi yang terdapat di Satuan Kerja dan Keterkaitan Antar Aplikasi

iii v 1 1 4 15 18 18 20

24

30

34

34 35

35

43 45 56 63 69 78

 

Manajemen Pembayaran 1. Aplikasi SPM 5. Aplikasi RKAKL 2. Manajemen Komitmen 1. Tujuan dan Fungsi 2. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Komitmen D. Aplikasi Gaji Pegawai Pusat 4. Penutup Appendix I Financial Management Assesment. International Best Practice terkait Manajemen Komitmen 3. Fitur SPAN terkait Manajemen DIPA 5. Tujuan dan Fungsi 2. Dept. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen DIPA 4. International Best Practice terkait Manajemen DIPA 3. Aplikasi SAKPA 8. Dirjen Bina Marga. PU Appendix II Pengelolaan Keuangan di Satker Badan Layanan Umum Bab IV Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN A. Keterkaitan antar Aplikasi yang terdapat pada Satuan Kerja D. Konsepsi dan Metodologi B. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Pembayaran 78 80 80 83 86 87 89 93 96 98 104 112 112 113 113 114 116 119 121 127 127 128 128 130 137 151 151 155 vi    . Fitur SPAN terkait Manajemen Komitmen 5. Manajemen DIPA 1. Aplikasi SIMAK BMN 7. Aplikasi Persediaan 6. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA C. Aplikasi Peran 3. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Komitmen 4.1. International Best Practice terkait Manajemen Pembayaran 2. Definisi.

Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Kas 4. Kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan F. Tujuan dan Fungsi 2. Manajemen Kas 1. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Kas H. International Best Practice Dalam Organisasi Sistem Akuntansi 3. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara atas Pelaksanaan Tugas Kebendaharaan di Satuan Kerja G. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Accounting dan Reporting F. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Pembayaran E. Penutup Bab V Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas A. Fitur SPAN terkait Accounting dan Reporting 5. Tujuan dan Fungsi 2. Mitigasi terhadap inherent risk berkaitan dengan Business Process Improvement C. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik D. International Best Practice Terkait Manajemen Kas 3. Accounting dan Reporting 1. Koordinasi dan sosialisasi yang tidak terbatas pada lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan 157 163 169 169 170 171 181 185 192 205 205 206 211 215 218 221 223 224 228 229 230 231 232 vii    . Peran Sumber Daya Manusia selaku agent of change E. Current State Assesment dan Problems terkait Accounting dan Reporting 4.3. Fitur SPAN terkait Manajemen Kas 5. Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dalam Kerangka Pengembangan SPAN B. Fitur SPAN terkait Manajemen Pembayaran 4.

Peraturan B. Penutup Bab VI Penutup Daftar Pustaka A. Literatur Dokumentasi Usulan 233 234 235 239 239 240 244 viii    . Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN H.G.

Latar Belakang Momentum reformasi keuangan negara ditandai dengan lahirnya paket Undangundang Keuangan Negara. Hal-hal tersebut dapat menjadi dasar dalam melakukan analisa existing koneksitas proses bisnis dan existing manajemen keuangan Satker (Where are we now). Salah satu yang diatur dalam paket undang-undang ini adalah mengenai pembagian peran yang jelas antara Kementerian/Lembaga sebagai Satuan Kerja (Satker) dan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN). Sebagai COO. yang sekaligus juga melatarbelakangi dan memberikan tujuan penulisan dari modul ini. Secara singkat. DTP 1  . Satker disebut sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang teknis tertentu pemerintahan. A. bab ini menjelaskan bahwa analisa dan usaha-usaha untuk menyempurnakan koneksitas proses bisnis perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satker haruslah bertitik tolak dari visi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara) di Ditjen Perbendaharaan dan visi Satker dalam pengelolaan keuangannya. Satker diberikan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan keuangan negara dibandingkan dengan sebelumnya. khususnya dalam hal kewenangan administratif. TPBE. sehingga objektif dari masing-masing pihak dapat terdefinisikan dengan jelas (Visi & Objectives). kegiatan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada Satker sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut.Bab I Pendahuluan Bab ini menguraikan secara garis besar koneksitas pengelolaan perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satuan Kerja (Satker). serta monitoring dan evaluasinya (Are we there yet). tahapan-tahapan pencapaian. serta pemberian perintah pembayaran atau penagihan penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan Subdit. sedangkan pembahasan secara detail akan dilakukan pada bab-bab berikutnya. yang selanjutnya menjadi dasar untuk menentukan bentuk/model dari proses bisnis dan koneksitas yang diharapkan (Where do we want to be). sementara Menteri Keuangan disebut sebagai Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah RI. Kewenangan administratif tersebut meliputi kegiatan pembuatan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. Bab ini akan menjelaskan hal-hal tersebut di atas secara garis besar. strategi dan taktik untuk mencapai target-target model koneksitas tersebut (How to get there).

maka diperlukan penyempurnaan koneksitas proses bisnis dan IT sejalan baik di Ditjen Perbendaharaan maupun di Satker. Pengelolaan keuangan negara di Satker merupakan salah satu input bagi Ditjen Perbendaharaan dalam fungsinya sebagai Kuasa BUN baik itu dalam hal akuntabilitas maupun dalam hal fund management. customer. TPBE. serta sebagai fund manager pemerintah. owner dan/atau counterpart dari Ditjen Perbendaharaan dalam pengelolaan keuangan negara. Satker seringkali tidak punya pilihan selain adanya dukungan dari Departemen Keuangan. Hal tersebut. user. Dengan demikian. Sejalan dengan pembagian tugas antara CFO dan COO. client. agar pelaksanaan pengelolaan keuangan negara di Satker dan di Ditjen Perbendaharaan dapat berjalan seperti yang diharapkan. Satker dalam pengelolaan keuangannya mempunyai kedudukan yang unik dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pengelolaan perbendaharaan negara di Departemen Keuangan (Ditjen Perbendaharaan). Menteri Keuangan sebagai CFO berfungsi sekaligus sebagai kasir. Hal ini dikarenakan Satker pada umumnya tidak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan proses bisnis. dimana konsep ini memberikan keleluasaan dalam batas-batas peraturan perundangan kepada Satker dalam pengelolaan keuangannya. Oleh karena itu. pengembangan IT maupun peningkatan kemampuan managerial Satker dalam hal pengelolaan keuangan negara. Implikasinya. IT dan SDM serta tidak memiliki kewenangan untuk membuat regulasi di bidang pengelolaan keuangan negara. maka konsep “let the manager manages” diselenggarakan. DTP 2  . Dalam hal ini. memerlukan dukungan dari otoritas Treasury baik dalam hal penyempurnaan proses bisnis dan regulasi. ketergantungan Satker kepada Departemen Keuangan khususnya dalam bidang pengembangan bisnis proses dan IT memberikan kesempatan kepada Ditjen Perbendaharaan untuk dapat berperan lebih aktif dalam mengembangkan proses bisnis dan IT pengelolaan keuangan Subdit. Satker dapat dilihat sekaligus sebagai stakeholder. khususnya Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran.anggaran. pengelolaan keuangan negara di Satker harus berjalan seiring dengan pengelolaan keuangan negara di Ditjen Perbendaharaan. kemampuan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan Satker sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan fungsi treasury di Ditjen Perbendaharaan. pengawas dan regulator pengelolaan keuangan negara. Di lain pihak. Di sisi lain.

 DTP 3  . Ruang lingkup pengelolaan keuangan negara di Satker meliputi tahapan perencanaan hingga pertanggungjawaban anggaran. pembahasan harus dilakukan secara menyeluruh. dari tahap perencanaan hingga pertanggungjawaban anggaran dan melibatkan instansi terkait lainnya termasuk Bappenas dan Ditjen Anggaran. Terkait dengan hal-hal tersebut. Diharapkan penyusunan modul dapat dilakukan dengan melibatkan semua stakeholder terkait yang disertai dengan pilot project pada beberapa Satker. TPBE. Kedepan juga perlu dikaji kemungkinan untuk membangun an integrated IT infrastructure untuk mendukung pengelolaan keuangan negara dengan menempatkan infrastruktur IT Departemen Keuangan sebagai back bone dari pengelolaan keuangan negara secara nasional. maka disusunlah modul ini dengan tujuan untuk menjadi pedoman penyempurnaan proses bisnis pengelolaan dan pertangungjawaban keuangan negara (perbendaharaan) di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. karena hal tersebut akan cenderung kurang efisien dan efektif apabila dilakukan oleh masing-masing Satker.negara. Ketidaksempurnaan pengelolaan keuangan di satu pihak akan mempengaruhi keseluruhan pengelolaan keuangan negara secara nasional. sejalan dengan proses penyusunannya. guna memberikan suatu acuan yang komprehensif terhadap langkah-langkah penyempurnaan koneksitas. Modul ini juga disusun bersamaan. Dengan demikian. konsep-konsep dalam buku ini sudah diketahui. dan sudah mulai diterapkan oleh masing-masing stakeholder. penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker pada prinsipnya diluar ruang lingkup GFMRAP. khususnya di Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. Oleh karena itu. dalam melakukan penilaian dan penyempurnaan terhadap koneksitas proses bisnis Ditjen Perbendaharaan dengan manajemen keuangan Satker. maupun di eksternal dengan melibatkan Bappenas. disetujui. Dalam hal ini. dibahas. sehingga harus segera dimulai. Dari uraian di atas. dan dalam rangka mendukung penyempurnaan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) melalui Government Financial Management and Revenue Administration Project (GFMRAP). dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan negara di Satker berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan negara di Departemen Keuangan. Subdit. Ditjen Anggaran dan tentunya Satker bersangkutan. baik di internal Ditjen Perbendaharaan. dikoreksi.

Sistem akuntansi. yang mencakup pengorganisasian. kegiatan manajemen kas. Desember tahun n) 4. Penyusunan APBN (Januari s. arus pekerjaan/ arus dokumen/ arus data. pelaporan dan pembuatan pertanggungjawaban. DTP 4  . yaitu perencanaan anggaran. pelaporan dan pertanggungjawaban 3. siklus APBN setidaknya terdiri dari beberapa fase.1 menunjukkan hasil identifikasi proses bisnis berupa pengorganisasian dan arus pekerjaan yang melibatkan Satker dan instansi terkait dalam pengelolaan keuangan negara. Koneksitas Proses Bisnis Satker Dalam Siklus APBN Identifikasi atas koneksitas proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan di Ditjen Perbendaharaan dapat dilakukan dengan memperhatikan siklus dari pengelolaan APBN secara utuh. Juli tahun n-1) 2. serta pengelolaan rekening dan transaksi keuangan 2. pembuatan komitmen dan kontrak. Oktober tahun n-1) 3. TPBE. pelaksanaan pencairan dana.B. Hasil identifikasi tersebut dipetakan ke dalam tahapan kegiatan pengelolaan keuangan negara. yang secara garis besar meliputi: 1. Proses bisnis. Subdit.d. Pelaksanaan APBN (Januari s. Perubahan APBN (Nopember tahun n) 5.d. pembuatan DIPA. Pertanggungjawaban APBN (Juli tahun n+1) Ruang lingkup identifikasi atas koneksitas tersebut setidaknya harus meliputi: 1.d. Penetapan APBN (Agustus s. Sebagaimana diketahui. serta pengakuntansian. Teknologi informasi (TI) dan aplikasi Gambar I.

dan penerimaan negara (termasuk Penerimaan Perpajakan. Pembahasan  RKAKL  5. DJBC/KPBC).Pencairan  Dana  e. Pengajuan  Pembayaran  (SPM)  d. Penyusunan  DIPA  10. UU APBN  8. Pelaksanaan  APBN:  a. Pengesahan  DIPA  12. Penerimaan Pembiayaan.Gambar I.  ACCOUNTING        AND REPORTING 12 e 13 12 e 13 12 e 13 13 12 e Keterangan: *) unit lainnya termasuk unit penerimaan (DJP/KPP. Penerimaan Hibah. Penelaahan  DIPA  11. Manajemen  Kas **)  13. pengelolaan utang. Penyusunan    RKP  2.Komitmen    c. Penyusunan  RAPBN  6.1 RELATIONSHIP MATRIX PROSES BISNIS   Pemerintah  (Sidang  Kabinet)  Kementerian/ Lembaga/  Satuan Kerja Departemen keuangan  DJA  DJPBN cq  DJPBN cq  DJPBN cq  Dit PA  Dit PKN  Dit. Pertanggungja waban APBN    DPR  Unit  Lainnya  *)    2 1 2 3                        BUDGET                    PREPARATION  4 4 5 6 7 6 7 8 6 9 10 10 10                              MANAGEMENT          DIPA  11 12 12 a 12 12 a 12 12 11 12                  COMMITMENT             MANAGEMENT 12 b 12 c 12 b 12 b                          PAYMENT              MANAGEMENT  12 d 12 d 12 d 12 d                  RECEIPT AND CASH              MANAGEMENT                  GL. PNBP. TPBE. Pembahasan  RKP  3. Pembahasan  RUU APBN  7. Penerimaan Pihak Ketiga). DTP 5  . dan Perbankan **) Manajemen kas termasuk informasi dari pelaksanaan investasi. Perpres  Rincian APBN  (+SAPSK)  9. Subdit. Penerimaan Pengembalian Belanja. Penyusunan  RKAKL  4. Revisi DIPA    b.APK    KPPN    Deskripsi  1.

baik dari segi proses bisnis maupun TI.2 Siklus Manajemen Keuangan Pemerintah (Treasury Reference Model) Subdit. Gambar I. modul GL.Sebagaimana terlihat pada Gambar I.2). DTP 6  . serta modul referensi sebagai pendukung modul-modul lainnya.1. modul manajemen DIPA. modul komitmen manajemen. modul manajemen kas. tahapan-tahapan tersebut juga sejalan dengan rencana pengembangan SPAN. TPBE. Proses pengelompokkan kegiatan dalam siklus APBN tersebut juga dilakukan dengan merujuk pada best practice dalam siklus manajemen keuangan pemerintah yaitu sebagaimana ditunjukkan dalam Treasury Reference Model (lihat Gambar I. modul manajemen pembayaran. yaitu melalui modul perencanaan anggaran. pelaporan dan akuntansi.

Manajemen Kas (Cash Management): meliputi koneksitas proses bisnis dengan Satker yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan aktivitas penerimaan dan pengeluaran di Satker. 2. KPPN dan unit lainnya (Perbankan). Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan dan KPPN. manajemen pengelolaan utang. Terkait dengan proses bisnis perbendaharaan negara di Ditjen Perbendaharaan. Direktorat Pengelolaan Kas Negara.1. pengelolaan chart of account. koneksitas pengelolaan perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satker termasuk hubungannya dengan instansi utama terkait dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. proses pencatatan. Pelaporan dan Pertanggungjawaban (General Ledger. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Manajemen Pembayaran (Payment Management): meliputi koneksitas proses bisnis sejak pengajuan pembayaran (SPM) sampai dengan pencairan dana (penerbitan SP2D). Accounting and Reporting): meliputi di dalamnya koneksitas sistem akuntansi instansi dan KUN. sebagaimana terlihat dalam Gambar I. sistem akuntansi BUN. yang meliputi Manajemen DIPA hingga Akuntansi. serta aktivitas terkait lainnya yang dilakukan dalam rangka pembuatan laporan dan pertanggujawaban pelaksanaan APBN. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. dengan memperhatikan proses ebelumnya pada manajemen DIPA dan manajemen komitmen. termasuk yang terkait dengan berbagai kegiatan pada manajemen investasi. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. serta meliputi proses-proses manajemen sebelumnya. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker.Secara singkat. DTP . dan KPPN. Akuntansi. KPPN dan unit lainnya (Unit terkait penerimaan negara dan Perbankan). 3. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. pembuatan buku besar. TPBE. pembuatan komitmen untuk pengadaan barang dan jasa atas beban APBN dan menjadikannya sebagai bagian manajemen pembayaran dan manajemen kas. 4. manajemen pengelolaan barang pemerintah dan manajemen penerimaan negara. Manajemen kas ini juga terkait dengan kegiatan fund management di Ditjen Perbendaharaan. Pelaporan dan 7  Subdit.

serta pengelolaan rekening pemerintah dan Teknologi Informasi dengan mengacu pada Gambar I. c) Rincian akun (6 digit) dalam halaman IV DIPA (Catatan). Hal tersebut memang sangat tergantung pada perkembangan penerapan PBB yang saat ini tengah dikembangkan oleh Bappenas dan Ditjen Anggaran. b) mengkaji efektifitas pelaksanaan revisi anggaran. Kantor Pusat/Kanwil Ditjen Perbendaharaan. DTP 8  . sejalan dengan penetapan PMK.Pertanggungjawaban. sehingga terdapat potensi terjadinya pagu minus pada saat dilakukan pelaksanaan anggaran. No. sejalan dengan arah dari penerapan PBB yang dilakukan oleh Bappenas dan Ditjen Anggaran serta penyiapan data awal bagi pelaksanaan anggaran termasuk manajemen kas. b) Potensi keterlambatan penyerapan APBN akibat hal-hal administratif dalam penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran. Koneksitas proses bisnis dalam penyusunan dan pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA Management). Subdit. belum sejalan dengan konsep Performance Based Budgeting (PBB) yang menghendaki peningkatan fleksibilitas anggaran. Beberapa permasalahan dalam proses bisnis ini antara lain: a) Data realisasi anggaran dan sisa pagu yang masih sering berbeda pada unit-unit vertikal Ditjen Perbendaharaan maupun pada Satker. identifikasi awal atas koneksitas proses bisnis perbendaharaan dengan manajemen keuangan Satker menunjukkan hal-hal sebagai berikut: 1. Hal ini dapat terjadi karena seringkali tidak berjalannya/tidak ada sistem informasi yang terintegrasi di tingkat pelaksanaan (Satker dan KPPN) dan perencana (Ditjen Anggaran. TPBE. Dari pembahasan terhadap beberapa permasalahan tersebut di atas.1. beberapa arah perbaikan yang dapat dikaji meliputi: a) mengkaji perubahan proses penyusunan DIPA dan bentuk dari DIPA itu sendiri. 06/PMK.02/2009 dan kemungkinan pelaksanaan PBB. dan Kantor Pusat Kementrian/Lembaga). Satu dari berbagai permasalahan tersebut adalah pemahaman yang belum sama tentang mekanisme penunjukan pejabat perbendaharaan yang dicantumkan dalam konsep DIPA.

besaran dan mekanismenya perlu dikaji kembali pada masa mendatang. Mekanisme UP/TUP adalah pengeluaran transito yang mendahului model pencatatan komitmen yang ideal.c) mengkaji kemampuan IT yang saat ini masih sangat terfragmentasi. Permasalahan disini adalah tidak adanya suatu sistem yang terintegrasi antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan untuk mencatat informasi sehubungan dengan pembuatan komitmen di Satker. proses bisnis dalam pelaksanaan pembuatan perikatan 2. posting rule. ketetapan waktu untuk pencatan dan pelaporan komitmen tersebut serta sanksi apabila terdapat pencatatan dan pelaporan yang tidak akurat dan tidak tepat waktu. b) penentuan sifat pengujian oleh Ditjen Perbendaharaan (KPPN) apabila pencatatan dan persetujuan komitmen menjadi salah satu dasar pencairan dana APBN. antara lain: a) hal-hal yang berkaitan dengan pencatatan komitmen ke dalam buku besar (GL). DTP 9  . Salah satu tujuan utama penerapan manajemen komitmen adalah untuk kepentingan perencanaan kas. di antaranya: a) Perbendaharaan tidak memiliki informasi yang akurat tentang sisa pagu anggaran dan status (stages dalam siklus anggaran) atas dana APBN yang dikelola Satker b) Perbendaharaan belum memiliki sistem yang efektif untuk mendukung pelaksanaan forward planning atas arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitmen Berkaitan dengan pencatatan komitmen untuk pengakuan stages dalam pelaksanaan anggaran dan perencanaan kas. TPBE. c) mekanisme uang persediaan dan tambahan uang persediaan (UP/TUP) terkait dengan rencana penerapan manajemen komitmen. Subdit. sehingga bersamaan dengan perkembangan teknologi sektor finansial. Treasury Single Account (TSA) dan pengelolaan rekening-rekening pemerintah pada perbankan. penentuan akun. Hal tersebut mengakibatkan beberapa kekurangan dalam pengelolaan keuangan negara. Koneksitas (Commitment Management). terdapat beberapa hal yang patut mendapat perhatian di masa yang akan datang. termasuk saat pengakuan.

3. serta keseluruhan work flow dan paper work transaksi keuangan melalui perbankan. Koneksitas proses bisnis dalam pengajuan permintaan pembayaran dan pencairan dana (payment management). hal tersebut masih perlu diikuti dengan pembenahan pada pengelolaan keuangan negara di Satker. Disamping itu. Permasalahannya. Seiring dengan pesatnya kemajuan bisnis proses dan TI sektor keuangan/perbankan tentu kedepan akan timbul pertanyaan yang sangat mendasar mengenai sistem pembayaran (payment system) yang ada saat ini. DTP 10  . Misalnya. baik di Satker. hingga saat ini belum ada standard cycle time untuk penerbitan SPM di Satker serta pengajuannya ke KPPN. 4. TPBE. telah dilakukan untuk mendukung reformasi tersebut.Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas. Koneksitas proses bisnis dalam manajemen dan perencanaan kas (cash manajemen). KPPN maupun perbankan Ini tentunya suatu arahan kedepan yang secara serius harus dikaji yaitu terkait dengan penyempurnaan pengelolaan keuangan negara di Satker dan pemanfaatan TI yang memungkinkan (enabler) berjalannya proses bisnis dan peraturan sebagaimana diharapkan. pengkajian perlu pula dilakukan terhadap batasan kewenangan Ditjen Perbendaharaan dalam aktivitas monitoring (pengawasan) komitmen yang dibuat Satker. Memperhatikan praktek-praktek treasury di banyak negara maju. merupakan fokus reformasi birokrasi selama ini di Ditjen Perbendaharaan. Sebagai contoh. termasuk tatacara penerbitan SPM menjadi SP2D. Beberapa kegiatan secara terintegrasi baik di bidang proses bisnis dan peraturan. Payment management. Hasil yang telah dicapai (quick win) sudah cukup signifikan yaitu berupa berbagai kemajuan dibidang payment management sejalan dengan pembentukan KPPN Percontohan. masih terdapat kemungkinan bahwa dana akan diterima di rekening yang berhak lebih lama dari waktu yang diharapkan. meskipun banyak sekali hands off dan paper work. Subdit. apakah perlu disempurnakan dengan dukungan TI atau dipertahankan. beberapa arah perbaikan dapat dilakukan di masa mendatang khususnya yang berkaitan dengan perbaikan proses bisnis dan TI yang ada untuk keperluan monitoring atas komitmen yang dibuat Satker dan pemanfaatannya bagi pengelolaan perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan. Disamping itu. IT serta pengembangan SDM.

kegiatan kas manajemen adalah merupakan kegiatan utama unit treasury. maupun koneksinya dengan pihak eksternal terutama Satker. Tentunya. receipt management dan debt management. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. untuk mendukung revitalisasi fungsi perencanaan pencairan dana pada Ditjen Perbendaharaan yang berkaitan erat dengan manajemen kas. b) belum adanya suatu sistem yang mengintegrasikan komitmen dan rencana penerimaan. Sistem akuntansi pemerintah sudah berkembang cukup signifikan. pengkajian harus secara lengkap. banyak sekali hal yang harus disempurnakan. Koneksitas proses bisnis dalam sistem akuntansi. Kegiatan manajemen kas relatif baru menjadi fokus reformasi di Ditjen Perbendaharaan. baik pada internal Ditjen Perbendaharaan. yang merupakan muara dari semua kegiatan. Pada umumnya. baik pada Subdit. termasuk comitment management. hingga saat ini sistem akuntansi pemerintah masih berbasis cash. cash forecasting. Akan tetapi. Tentunya ini adalah suatu tantangan yang sangat berat untuk menerapkan accrual based accounting. di mana rencana penarikan dana diusahakan untuk tidak lagi dengan membagi pagu dengan jumlah bulan dalam satu tahun. terutama PNBP. payment management. di Satker dalam mekanisme perencanaan kas di Ditjen Perbendaharaan. sistem IT dan alur data. berikut adalah beberapa permasalahan yang dapat dikemukakan di antaranya: a) belum optimalnya fungsi perencanaan pencairan dana dalam dokumen pelaksanaan angaran (halaman III. model perencanaan pencairan dana pada halaman III DIPA dilakukan dengan membagi jumlah pagu ke dalam rencana penarikan setiap bulan dalam satu tahun. yang tentunya harus terus dikembangkan. Hal-hal tersebut di atas. Dalam hal ini. 5. memberikan arahan untuk perbaikan di masa yang akan datang. saat ini mulai dikembangkan rencana penarikan dana yang lebih realistis khususnya untuk belanja tidak mengikat. TPBE. laporan dan pertanggungjawaban. sebagaimana digariskan dalam perundang-undangan bahwa sistem akuntansi pemerintah harus berbasis accrual. Namun demikian. termasuk meliputi proses bisnis. DTP 11  . DIPA).

TSA pengeluaran diterapkan Subdit. MPN. Dalam hal pengeluaran. DTP 12  . disamping penerapan TSA penerimaan secara universal. Pengelolaan keuangan negara saat ini sangat bergantung pada proses bisnis dan IT sektor perbankan. debit card.05/2007 tentng Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. beragamnya kemampuan Satker untuk menerapkan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) mempengaruhi kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). patut dihargai disini adalah usahausaha Ditjen Perbendaharaan untuk membantu Satker dalam melakukan pencatatan. TPBE. termasuk memasukkan unsur accrual dan stages mengikuti siklus anggaran. Koneksitas proses bisnis dalam pengelolaan rekening bendahara penerimaan dan pengeluaran. Tentunya. 6. baik dalam rangka pengeluaran (TSA Pengeluaran dan rekening bendahara pengeluaran) maupun dalam rangka penerimaan (TSA penerimaan. sejalan dengan pembenahan CoA tersebut. menunjukkan ketergantungan pengelolaan perbendaharaan pada sektor perbankan. koneksitas proses bisnis Ditjen Perbendaharaan dengan pengelolaan keuangan di Satker banyak bergantung pula pada proses bisnis dan IT sektor perbankan. melalui kerja sama dengan institusi keuangan swasta. dalam hal revenue collection. Demikian pula. merchant dan sebagainya. dan rekening bendahara penerima). Di banyak negara maju. hal tersebut perlu dilakukan pula melalui pembenahan chart of account (CoA). pelaporan dan pertanggungjawaban yaitu melalui dukungan aplikasi serta pelatihanpelatihan terutama melalui Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP). Tentunya. Setidaknya. treasury operation sudah menerapkan berbagai metode pengumpulan penerimaan seperti auto debit. Pengaturan berbagai rekening pemerintah. Disamping sistem akuntansi yang masih perlu terus dikembangkan. maka kemungkinan penerapan PBB dan perubahan sistem akuntansi harus pula dipertimbangkan. 171/PMK. credit card. Terkait dengan hal tersebut. variasi dari kemampuan SDM dan dukungan IT yang sangat beragam pada tiap-tiap Satker juga memberikan tantangan tersendiri.pengelolaan keuangan di BUN (SABUN) maupun pada tiap-tiap Satker (SAI) sebagaimana diatur dalam PMK No. treasury operation sudah memasuki praktek-praktek yang tidak berbeda dengan institusi keuangan swasta. cek. Sebagai contoh.

Bilamana masing-masing institusi (treasury dan Satker) membuat kontrak sendiri-sendiri. disamping memang kemampuan SDM masing-masing Satker sangat beragam. peace meal. Gambar I. Untuk itu. Koneksitas teknologi informasi DJPBN dengan Satker. Dari pembahasan singkat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan negara di Satker merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan. di masa yang akan datang perlu dikaji proses bisnis dan IT yang ada. dimana idle fund hampir tidak ada. dimana koneksitas pengelolaan keuangan negara dengan Sektor keuangan harus didasarkan pada kontrak (fee based). maupun yang dikembangkan secara internal oleh masing-masing Satker. Sebagaimana telah dijelaskan diatas. 7. belum mengarah pada sesuatu yang terintegrasi dengan baik. Dari pembahasan tersebut di atas. dependency Satker terhadap aplikasi-aplikasi yang disediakan oleh Departemen Keuangan baik dari Ditjen Perbendaharaan maupun Ditjen Anggaran sangat tinggi. yaitu treasury. dengan arahan kemungkinan pengintegrasian semua sistem IT yang diberikan oleh Kementrian Keuangan kepada Satker. negosiasi penempatan surplus dana pemerintah pada pihak perbankan akan dapat dilaksanakan secara lebih efektif.3 menunjukkan koneksitas teknologi informasi/aplikasi tersebut. koneksitas tersebut dapat dilihat sebagai sesuatu yang wajar. Disamping itu. Hal tersebut diperlukan dalam rangka standardisasi koneksitas. Standarisasi dan konsep satu pintu melalui treasury belum diterapkan secara penuh di Indonesia. TPBE.dengan sangat maju. Yang menjadi permasalahan adalah sistem informasi tersebut masih sangat terfragmentasi. DTP 13  . best practices menunjukkan bahwa koneksitas pengelolaan keuangan negara dengan sektor perbankan juga dilakukan melalui satu pintu. Dengan pengaturan koneksitas melalui satu pintu. penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara di lingkungan Kementrian/Lembaga dan koneksitasnya Subdit. sangat mungkin akan terjadi inefisiensi dan ketidakteraturan. yang pelu dikaji kesesuaiannya untuk dapat diterapkan pada praktek perbendaharaan di Indonesia. Memperhatikan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan di Satker sebagai satu kesatuan dengan pengelolaan keuangan negara di Departemen Keuangan. Hal-hal tersebut tentunya merupakan tantangan dan arahan untuk perbaikan kedepan. yaitu treasury.

Gambar I. dan mengembangkannya sebagai bagian sistem perencanaan pencairan dana dan manajemen komitmen yang handal. penyempurnaan manajemen keuangan Satker memerlukan dukungan sepenuhnya dari DJPBN. DTP 14  . Dalam hal ini sangat penting. Dalam hal ini. Diusulkan agar segera dilakukan pengkajian untuk menggunakan data dalam Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) Satker yang ada di DJA sebagai salah satu sumber data. Subdit. TPBE. harus disusun analisis dan rencana implementasi dengan tepat. Diantaranya adalah melalui penentuan proses bisnis dan TI yang diharapkan dapat menjadi prioritas sebagai quick win. Salah satu alternatif untuk dapat dijadikan quick win adalah melanjutkan penggunaan aplikasi Peran 2008.3 Koneksitas teknologi informasi/ aplikasi komputer perbendaharaan dengan Satker Sehubungan dengan kompleksitas permasalahan.dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan sangat diperlukan. serta mendukung rencana penyempurnaan melalui automasi proses bisnis dan integrasi sistem informasi sejalan dengan pengembangan SPAN. dalam rangka mewujudkan dan melajutkan upaya reformasi keuangan negara yang telah dirintis sebelumnya.

 DTP 15  . C. khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pencapaian outcome masing-masing instansi. Selanjutnya.4. Hal-hal yang berkaitan dngan perencanaan anggaran di DJA dan Bappenas tidak menjadi fokus dari modul ini. Mempertimbangkan luasnya cakupan dari topik pembahasan. misi dan objektif dari masing-masing pihak. Subdit. dilakukan identifikasi permasalahan atas existing koneksitas dan kondisi pengelolaan keuangan negara di Satker saat ini. TPBE. maka penulisan buku ini sangat menghendaki peran serta dan dukungan semua pihak. serta target-target pencapaian yang terukur. Sebagaimana disebutkan dalam Gambar I. sebagaimana telah digariskan dalam peraturan perundang-undangan.untuk diperhatikan pula bahwa agar penyempurnaan koneksitas proses bisnis haruslah disesuaikan dengan kebutuhan Satker dalam pengelolaan keuangan negara. struktur penulisan yang digunakan adalah mengikuti alur yang dipakai dalam kerangka ITIL v. buku ini hanya memfokuskan pada dua area: (i) proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dengan fokus pada aspek pengeluaran (ii) koneksitas proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. hal-hal tersebut akan menjadi landasan penetapan bentuk/model koneksitas dan manajemen keuangan Satker. Mengingat kompleksitas permasalahan. Metode Penulisan Dalam melakukan penulisan/penyusunan modul tentang proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis Ditjen Perbendaharaan. Optimisme harus tetap dipegang mengingat perbaikan tersebut adalah keinginan bersama. Sebagaimana terlihat dalam gambar. penulisan haruslah dimulai dari penetapan visi. penulisan buku ini dilakukan melalui diskusi bersama dengan stakeholder terkait dan ujicoba langsung pada beberapa Satker sehingga penetuan model/bentuk koneksistas dan manajemen keuangan Satker serta tatacara maupun target-target pencapaiannya sudah diketahui dan disetujui bersama.4. serta tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. visi dan misi.. misi dan objektif masing-masing pihak.3 (Information Technologi Infrastructure Library Version 3) sebagaimana terlihat pada Gambar I. Berpijak pada visi.

pelaporan dan pertanggungjawaban. II. Misi dan Obyektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan 1. Bappenas dan Satker? 2. manajemen komitmen. Analisis existing koneksitas. Apa objektif penyempurnaan koneksitas dan manajemen keuangan Satker? 5. Subdit. struktur penulisan dan metode penulisan Vision. (ii) IT. yang masing-masing tahapan meliputi: (i) bisnis proses dan regulasi. DJA. termasuk melalui penelitian langsung pada beberapa Satker terpilih sebagai pilot project. DTP 16  . Analisis proses manajemen keuangan satker terkait tahapantahapan tersebut di atas. Week I. sehingga harus dibenahi secara internal mulai dari sekarang. Apa manfaat penyempurnaan tersebut bagi Satker dalam manajemen keuangannya? 4. majanemen DIPA. III April 2009) Bab III: Analisis Existing Koneksitas dan Manajemen Keuangan SatkerExisting Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN 1. manajemen kas. dari tahapan persiapan anggaran. II & III March 2009) Bab II: Visi.Gambar I. 2. Apa Visi dan Misi DJPB. Mengapa manajemen keuangan Satker harus disempurnakan? 3. dan (iii) SDM dan change management/ manajemen perubahan.4 Struktur Penulisan Background (Februari 2009) Bab I: Pendahuluan (Latar Belakang dan Ringkasan Penulisan) Pendefinisian latar belakang. Where are we now? (Week IV-March. Objectives (Week I. sistem akuntansi. manajemen pembayaran. TPBE. Mission. Satker diluar Proyek SPAN.

Where do we want to be ? (Week IV-April. DTP 17  . (ii) Integrated IT. June. khususnya tahapan-tahapan dalam pencapaian model koneksitas. dan (iii) pengembangan SDM dan change management. karena hal tersebut belum terdefinisikan dengan konkrit hingga saat ini. Subdit. TPBE. maka pengembangan SDM. Penetapan model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan satker. July 2009) Bab IV: Model Koneksitas dan Manajemen Keuangan Satker. 2. How do we get there ? (June. disamping aspek bisnis proses. Penetapan model tersebut dengan mengacu pada satker terpilih sebagai pilot project. dengan mengikuti tahapan-tahapan tersebut di atas. Dalam hal ini. September 2009) Bab VI Penutup Penutup dan ringkasan atas isi buku. serta teknik pengkomunikasian akan memegang faktor yang sangat menentukan. yang secara bersamaan akan dilakukan pula penetapan strategi implementasi dari model yang dipilih. May. smooth. target-target tahunan yang jelas dan terukur pencapaian setiap tahunnya. August 2009) Bab V: Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas Penerapan dari model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan Satker yang dipilih harus dilaksanakan sedemikian rupa secara terencana. change management. Metode penyusunan buku ini dengan melibatkan setiap stakeholder dan dibarengi dengan piloting pada beberapa satker adalah salah satu taktik tersebut. Conclusion (August. regulasi dan IT. baik menyangkut (i) bisnis proses dan regulasi. Terpenting disini adalah pendefinisian dan penetapan model koneksitas dan manajemen keuangan satker. Hal-hal tersebut akan dibahas dalam bab ini. serta meminimalisasi resiko. serta monitoring/evaluasinya. July.Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN 1.

menggunakan model yang diperkenalkan Mark H. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang visi. Satker dan Ditjen Perbendaharaan sebenarnya mempunyai suatu common objectives yang secara bersama-sama akan dicapai. dalam kerangka organisasi Subdit TPBE. Demikian pula. sesuai dengan ketentuan perundangan. operational capability dan legitimacy. Untuk itu. penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan haruslah didasari oleh pemahaman tentang visi. Moore (1995) dalam Creating Public Value: Strategic Management in Government. misi dan objektif dari masing-masing stakeholders. Disamping itu. Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa meskipun peraturan perundangan dengan jelas memisahkan fungsi CFO dan COO. Pertama.Bab II Visi. aktivitas penyempurnaan tersebut harus didasarkan pada kerangka peraturan perundangan yang ada (legitimate). yaitu adanya keterkaitan antara value. baik di Ditjen Pebendaharaan maupun di Satker. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan. aktivitas penyempurnaan tersebut harus bisa diterapkan baik secara operasional maupun administratif (operationally and administratively feasible). A. Misi dan Objektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. DTP  18  . baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. termasuk menciptakan standardisasi proses bisnis perbendaharaan negara. aktivitas penyempurnaan tersebut harus bermanfaat secara signifikan bagi kedua belah pihak (significantly valuable). Terkait dengan hal tersebut di atas. Kedua. maka bab ini juga menggunakan strategic triangle framework. Latar Belakang Pembahasan atas visi dan misi sebuah organisasi senantiasa bersifat strategis karena hal-hal tersebut adalah merupakan ‘pemandu’ organisasi untuk menetapkan objektif serta pengerahan keseluruhan sumber daya dalam rangka untuk mencapainya. guna menjamin value dari aktivitas ini. tetapi terdapat suatu interdependency yang mengharuskan perlunya penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. setidaknya terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi agar aktivitas tersebut juga bernilai strategis. khususnya Satker dan Ditjen Perbendaharaan sendiri. adalah fungsi Ditjen Perbendaharaan untuk mengkoordinasikan aktivitas penyempurnaan tersebut. Ketiga. dalam ruang lingkup perbendaharaan negara. Oleh karena itu.

Sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. misi dan objektif semua stakeholders (value). Operational Capability. Dalam hal ini. dalam literatur manajemen sektor publik (public sector management) penerapan dari ketiga kriteria tersebut populer dengan istilah strategic triangle (Moore. (ii) operational capability dari usulan penyempurnaan proses bisnis tersebut bagi Satker dan Ditjen Perbendaharaan. Terakhir.dan potensi kolaborasi yang memungkinkan pencapaian visi. Pembahasan atas visi. Moore & Khagram. dan (iii) legitimacy dari aktivitas dan hasil penyempurnaan tersebut. secara berturut-turut akan dibahas: (i) strategic value dari aktivitas penyempurnaan tersebut. DTP  19  . 1995. 1994.1. Gambar 2. dan Legitimacy Legitimacy Value Operationallity Sumber: Moore (1995) dan Moore & Khagram (2004) Subdit TPBE. misi dan objektif masing-masing stakeholder akan dimasukkan dalam bagian (ii) tersebut di atas. 2004). bab ini akan ditutup dengan suatu penutup dan sekilas tentang pokok-pokok pembahasan bab berikutnya.1. Pembahasan atas visi. misi dan objektif masing-masing stakeholders sebagai dasar penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan dalam bab ini akan menggunakan framework strategic triangle sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2.1. Moore. Strategic Triangle: Value.

B. Presiden mendelegasikan kepada Menteri Keuangan (sebagai Chief Financial Officer) dalam hal kewenangan kebendaharaan dan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga (sebagai Chief Operational Officer) dalam hal kewenangan administratif. kewajiban dan asset negara secara nasional.2. Sesuai dengan prinsip tersebut. sementara Menteri/Pimpinan Lembaga berwenang dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Value: Manfaat Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan Dalam penjelasan Undang-undang Keuangan Negara disebutkan bahwa pengelola keuangan negara ialah Presiden Republik Indonesia atau yang biasa disebut Chief Executive Officer (CEO). Secara skematis. Dalam mengelola keuangan negara. DTP  20  . Subdit TPBE. Menteri Keuangan berwenang dan bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan. pemisahan kewenangan pengelolaan keuangan negara dapat dilihat dalam Gambar 2.

Gambar 2.2. Pemisahan Wewenang Pengelola Keuangan Negara Keterangan Gambar: Sumber : Pemisahan Wewenang Pengelolaan Keuangan Negara-modified (Presentasi Sesditjen Perbendaharaan) Subdit TPBE. DTP  21  .

allocative efficiency. Sedangkan operational efficiency sangat dipengaruhi oleh proses pelaksanaan anggaran (budget execution) karena implementasi yang sesungguhnya dari program. Kementrian/lembaga (K/L) akan membuat perencanaan strategis (Renstra). proyek ataupun kegiatan pemerintah terjadi pada saat pelaksanaan anggaran (Andrew & Campos. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. Atas dasar dokumen penganggaran. dapat berakibat fatal terutama terhadap tidak tercapainya sasaran alokasi anggaran yang telah dibuat. SP2D oleh Ditjen Perbendaharaan dan pemindahan dana anggaran dari Rekening Kas Negara ke rekening pihak ketiga atau bendahara pengeluaran dalam rangka pembiayaan program pemerintah. Andrew & Campos (2003) menyebutkan bahwa penyusunan dan pelaksanaan anggaran merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas aktivitas penyediaan layanan publik. misi dan objektif yang berbeda sesuai dengan bidang tugasnya.Walaupun secara teknis masing-masing Satker memiliki visi.2. Schick (1998). berpendapat bahwa setidaknya terdapat tiga hal yang harus tercapai dalam praktek penganggaran yang modern (populer dengan sebutan Public Expenditure Management atau PEM) yaitu aggregate fiscal discipline. Pertama adalah perlunya konsolidasi dan kompilasi cepat terhadap data dengan volume besar dari sejumlah unit vertikal di institusi perbendaharaan dan Satker yang tersebar di banyak lokasi. DIPA ini adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang menjadi dasar penerbitan SPM oleh K/L. yang pada akhirnya akan diwujudkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran Kementrian/Lembaga (RKA-K/L) tahunan. termasuk penyediaan layanan publik. Aggregate fiscal disciplin dan allocative efficiency setidaknya diharapkan dapat menjamin sustainability dari anggaran negara serta terciptanya anggaran negara yang efisien dan efektifitas untuk pencapaian target masing-masing program pemerintah. Dalam hal ini. misi dan objektifnya. Hashim & Allan (2001) dalam Treasury Reference Model yang diterbitkan World Bank mengidentifikasikan dua karakteristik utama dalam sistem perbendaharaan. DTP  22  . RKA-K/L ini selanjutnya menjadi landasan penyusunan APBN (appropriation) tiap tahunnya. Lemahnya proses pelaksanaan anggaran. terdapat suatu kriteria yang secara generic berkaitan dengan setiap organisasi pemerintah yaitu bahwa semua aktivitas diarahkan dalam rangka pelaksanaan program pemerintah. 2003). guna mencapai visi. termasuk penyediaan layanan publik. Karakteristik yang kedua adalah bahwa proses bisnis yang terdapat Subdit TPBE. melalui prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan Ditjen Perbendaharaan akan menerbitkan DIPA (allocation). dan operational efficiency.

Dalam prakteknya di beberapa negara. di mana spending agencies tidak hanya melakukan otorisasi pengeluaran tetapi juga fungsi manajemen kas (two tier cash management system (Lienert. Karakteritik besarnya volume data dan proses bisnis yang repetitive membawa konsekuensi bahwa ketidaksempurnaan proses bisnis baik di tingkat Satker. Di satu sisi. 2004). Di sisi lain. Menurut Hashim & Allan (2001). 2008)). Disinilah. menerapkan praktek-praktek yang baik dalam proses bisnis Subdit TPBE. DTP  23  . meningkatkan pemahaman akan pentingnya proses bisnis yang standard di lingkungan pemerintah 2. 1999. menjadi sangat krusial. 2001). kondisi tersebut menjadikan penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan. Di Amerika Serikat. letak strategic value dari pentingnya penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan. institusi perbendaharaan dan audit berperan aktif tidak hanya dalam penyusunan pedoman tetapi juga melakukan standardisasi proses bisnis setiap fungsi-fungsi manajemen keuangan negara (Treasure’s Direction. antara lain : 1. Di Australia. beserta dukungan IT. Auditor General Victoria. karakteristik-karakteristik tersebut memungkinkan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan transaksi melalui penggunaan IT dan sistem aplikasi yang terintegrasi (Hashim & Allan. Dari tinjauan sistem informasi. 2006. koneksinya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan maupun di institusi perbendaharaan sendiri akan berakibat secara berlipat terhadap ketidakkeberhasilan pelaksanaan tugas perbendaharaan negara. penyempurnaan koneksitas proses bisnis biasanya mencakup standardisasi proses bisnis di Satker (Government atau Spending Agencies). koneksitas proses bisnis yang baik dicerminkan adanya tingkat integrasi sistem yang tinggi (close system integration).dalam sistem ini pada dasarnya dilakukan berulang-ulang (repetitive) dan mengikuti serangkaian mekanisme pelaksanaan dan kontrol/pengawasan tertentu. integrasi sistem yang baik tidak hanya dicerminkan oleh adanya penggunaan basis data yang dapat diakses bersama-sama secara aman tetapi juga adanya kemampuan untuk melakukan pertukaran data diantara berbagai modul/fungsifungsi keuangan yang ada. ANAO. mengidentifikasi alternatif penyempurnaan proses bisnis 3. Pemerintah Federal melalui Financial System Integration Office (FSIO) melakukan penyempurnaan proses bisnis untuk government agencies melalui standardisasi dan integrasi dengan tujuan.

Pemisahan kewenangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan akuntabilitas dan menjamin adanya check and balance dalam proses pelaksanaan anggaran (Penjelasan UU No. 1/2004). Reformasi birokrasi dan tuntutan akan pelayanan yang lebih baik memberi pengaruh pada cara pandang dan kebijakan organisasi pemerintah terhadap lingkungan eksternalnya. dapat disimpulkan bahwa penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan memberikan manfaat strategis dalam mendukung pencapaian visi.2). Operational Capability: Kemampuan untuk penerapan usulan penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan Salah satu hallmark yang diusung dalam reformasi di bidang keuangan negara adalah adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab yang jelas (clarity of role) antara pemegang kewenangan administratif dan pemegang kewenangan kebendaharaan (lihat Gambar 2. 2008) 6. koneksitas proses bisnis yang baik membantu tugas pokoknya dalam rangka pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran. Proses bisnis yang terstandardisasi dan koneksitas yang baik dapat membantu pencapaian sasaran atau target program. serta dalam rangka peningkatan pelayanan kepada publik. khususnya berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. Termasuk didalamnya adalah kemudahan dalam integrasi data dan pengumpulan informasi yang berkualitas sehingga dapat lebih bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Pemisahan kewenangan tersebut menciptakan hubungan yang unik dimana secara implisit menunjukkan adanya independency dalam suatu kesejajaran namun saling terkait (tidak sepenuhnya independen). C. Dari uraian di atas dan beberapa contoh penerapan di negara lain. menciptakan kondisi awal yang sama dan terstandardisasi untuk memudahkan pengembangan di masa yang akan datang 5. Bagi Ditjen Perbendaharaan. Berbeda dengan tradisional model dari public administration.4. antara Menteri/Ketua Lembaga sebagai Pengguna Anggaran dengan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN) dalam pelaksanaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). DTP  24  . memfasilitasi pertukaran data keuangan di antara institusi pemerintah (FSIO. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan. institusi pemerintah pada saat ini cenderung memberi perhatian yang lebih dan menyadari Subdit TPBE.

secara keseluruhan baik Ditjen Perbendaharaan maupun Satker adalah bersama-sama sebagai stakeholders dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). Jadi. Satker juga dapat dikategorikan sebagai user atau client dalam penggunaan aplikasi software yang dibuat oleh Ditjen Perbendaharaan dan digunakan untuk berinteraksi dengan sistem informasi yang ada di Ditjen Perbendaharaan. Dalam hal penyusunan dan penerapan peraturan atau kebijakan yang dibuat oleh institusi perbendaharaan. hubungan dengan unit organisasi lain dalam lingkup organisasi pemerintah yang sama (aktivitas koordinasi). 2. merupakan customer dan user dari payment management. 2004). misalnya dalam hal pemilihan cara pencairan dana untuk belanja yang diijinkan (UP atau LS) yang dipilih Satker dan harus diikuti oleh oleh Ditjen Perbendaharaan. user. 2008]. hubungan antara Ditjen Perbendaharaan dengan Satker dapat berupa bahwa Satker dalam posisi sebagai customer. dan counterpart dari Ditjen Perbendaharaan.atau pihak mempunyai kewajiban untuk melakukan sesuatu (Moore. 2001). koordinasi dan interaksi dengan Satker sangat erat. maka hal tersebut harus disikapi dan dikaji dengan hati-hati agar penyempurnaan proses Subdit TPBE. Namun demikian. Dengan pola hubungan yang unik antara institusi perbendaharaan dengan Satker. Satker dapat berperan sebagai obligatee. misalnya. berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi Ditjen Pebendaharaan sebagai institusi perbendaharaan (Hashim & Allan. Moore Khagram. 2003). 1995. hubungan Ditjen Perbendaharaan dengan Satker dapat dikategorikan ke dalam huruf (b) karena Satker adalah organisasi pemerintah yang independent di luar Ditjen Perbendaharaan. Namun demikian. client. Dalam kerangka tersebut. misi dan objektif organisasinya (Hughes. manajemen dengan pihak-pihak eksternal organisasi meliputi: 1. dari sudut pandang ruang lingkup organisasi. misalnya instansi pemerintah lainnya. Satker. hubungan Ditjen Perbendaharaan dengan Satker sebenarnya bersifat unik karena walaupun tidak berada di dalam lingkup organisasi yang sama (kategori huruf a). dan merupakan counterpart dalam perencanaan kas [masukan dari Dit PKN. adakalanya juga Ditjen Perbendaharaan berperan sebagai obligatee. Terkait dengan hal tersebut di atas. hubungan dengan pers. Menurut Allison (1982). 3. yang saling bersimbiosis dan berinteraksi. DTP  25  .perlunya menjalin hubungan strategis dengan pihak-pihak di luar organisasi dalam rangka pencapaian visi. rekanan dan LSM (interest group). hubungan dengan pihak-pihak independent di luar organisasi tersebut.

Gambar 2.1). Dalam hal ini. pembahasan dalam buku ini akan menggunakan framework bussiness process improvement sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.3. misi dan objektif organisasi dengan proses bisnis.bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan institusi perbendaharaan dapat diterapkan (operationally feasible) baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan sehingga value yang diharapkan dapat tercapai (lihat Gambar 2.3. TI dan change management dalam aktivitas penyempurnaan proses bisnis.3 menunjukkan saling keterkaitan antara visi. DTP  26  . Gambar 2. Kerangka Penyempurnaan Proses Bisnis dan Koneksitasnya Subdit TPBE.

diperlukan suatu visi. misi dan objektif baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. Atas dasar kebutuhan untuk mewujudkan visi.3 harus dilaksanakan secara utuh. 1990). fokus hanya dilakukan pada penetapan visi. 1996).3 akan dibahas dalam bab-bab berikutnya.4 Subdit TPBE. berawal dari Satker dan berhenti pada unit di Ditjen Perbendaharaan. Dalam hal ini.Mengikuti Gambar 2. 3. yang tidak berbeda untuk semua Satker bila dilihat dari aspek pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. Terkait dengan pembahasan dalam bab ini. proses bisnis adalah serangkaian aktivitas yang saling berhubungan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi (Davenport & Short. sebagai persyaratan minimal operationalisasi penyempurnaan proses bisnis sehingga hal tersebut mampu menciptakan value (lihat Gambar 2. Dari pengertian proses bisnis ini. Atas dasar pemikiran tersebut. Visi dan misi tersebut akan menjadi pemandu bagi masing-masing institusi untuk menetapkan strategic goals atau dalam hal ini objektif masing-masing. teknologi informasi yang memungkinkan proses bisnis tersebut berjalan maksimal juga harus dibangun (TI enabler). Sedangkan hal-hal lainnya dalam Gambar 2. Adanya serangkaian kegiatan tertentu yang dapat ditentukan awal dan akhir-nya (definable). Gambar 2. 2. Mekanisme yang tertuang dalam Gambar 2. baik itu Satker maupun Ditjen Perbendaharaan. melihat variability dari tugas pokok dan fungsi Satker dalam pelaksanaan program pembangunan dan penyediaan pelayanan publik. hal pertama yang harus dilakukan dalam rangka penyempurnaan proses bisnis adalah pendefinisian kembali atas visi dan misi masingmasing stakeholder. karena pada akhirnya kemampuan dan kemauan sumber daya manusia adalah penentu berjalannya proses bisnis dan teknologi informasi yang telah disempurnakan. misalnya.1). Karakteristik utama dari sebuah proses bisnis adalah : 1. misi dan objektif Satker yang bersifat generic. Sebuah proses tidak terikat oleh struktur formal organisasi karena melibatkan banyak fungsi dan sub-unit dalam organisasi (cross functional boundaries). 1990. maka penerapan change management menjadi sangat krusial dalam proses penyempurnaan proses bisnis (bussiness process improvement). Dalam hal ini. maka dilakukan penyempurnaan proses bisnis beserta pengorganisasiannya. Grover & Malhotra. Adanya stakeholder/beneficiaries yang menggunakan outcomes dari sebuah proses/sub proses (Davenport & Short. misi dan objektif. Selanjutnya. Demikian pula.3. maka penyempurnaan proses bisnis perbendaharaan negara harus lintas institusi. DTP  27  .

dengan memperhatikan Gambar 2. DTP  28  . Kembali pada Gambar 2. misi dan objektif dari Ditjen Anggaran dimasukkan pula dalam Gambar 2. (ii) mewujudkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas.4 tersebut mengikutsertakan Ditjen Anggaran dalam pembahasan. Gambar 2. Subdit TPBE. (iii) mewujudkan pengelolaan kas negara yang optimal.4. serta sumber daya manusia yang kompeten dan berkemauan untuk menyukseskan proses bisnis dan TI yang telah disempurnakan. dan pemikiran atas visi/misi Satker serta common objectives dalam rangka pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. misi Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan. visi. (iv) Mewujudkan ketersediaan informasi keuangan yang akurat. Ditjen Perbendaharaan maupun Satker sebenarnya mempunyai common objectives yang bersifat generic yaitu: (i) mewujudkan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja. maka perlu penyempurnaan proses bisnis dan koneksitasnya diantara para stakeholders.mencoba mendefinisikan visi. transparan dan akuntabel.4. mulai dari perencanaan anggaran sampai dengan pertanggungjawaban anggaran. dan relevan. agar common objectives tersebut menjadi operasional dan dapat dicapai oleh masing-masing stakeholders sehingga menciptakan value.3. handal. Selanjutnya. dukungan IT yang memungkinkan (enabling) proses bisnis tersebut berjalan secara optimal. Hal ini adalah sejalan dengan pembahasan pada bab sebelumnya dimana analisis dalam buku ini diharapkan dilakukan secara menyeluruh. Ditjen Anggaran. Untuk itu.

hati-hati. Mewujudkan perencanaan kebijakan APBN yang sehat. tepat. Mengelola keuangan dan Barang Milik Negara secara optimal. Misi : Mewujudkan Pelaksanaan Anggaran yang Berbasis Kinerja Mewujudkan Pengelolaan Kas Negara yang Transparan dan Akuntabel Mewujudkan Tertib Administrasi Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara Mengoptimalkan Surat Utang Negara sebagai sumber pembiayaan APBN Mengelola Pinjaman dan Hibah Luar Negeri sesuai kebutuhan APBN Menghasilkan Pelayanan di bidang Perbendaharaan dan Informasi Keuangan yang cepat. tepat dan akurat Mewujudkan Pengelolaan Piutang Pemerintah dan Kredit Program yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan Misi : 1. Mewujudkan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja 2. 7. dan akurat. Menyediakan informasi keuangan dan barang milik negara dengan cepat. 4. 4. Mewujudkan pengelolaan kas negara yang optimal. 3. Visi. transparan dan bertanggungjawab. 4. 3. 5. Memberikan pelayanan prima di bidang pengelolaan keuangan dan barang milik Negara. credible. 3. Meningkatkan kualitas unsur pendukung. Common Objective Subdit TPBE. 2. Mewujudkan efektifitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. dan relevan. Transparan dan Akuntabel dalam Proses Mewujudkan Bangsa yang Mandiri dan Sejahtera Misi : 1. 2. Mewujudkan ketersediaan informasi keuangan yang akurat. Mewujudkan efektifitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas 3. dan sustainable. transparan dan akuntabel 4. kredibel. transparan dan akuntabel untuk mendukung pencapaian sasaran program pemerintah dan peningkatan kualitas pelayanan publik yang menjadi bidang tugas Kementerian / Lembaga/Satker. 6. Mewujudkan peningkatan penerimaan negara bukan pajak dengan mempertimbangkan perkembangan dunia usaha dan aspek keadilan masyarakat. DTP  29  . DJPB dan Satker Ditjen Anggaran Ditjen Perbendaharaan K/L/Satker Visi : Mewujudkan tata kelola keuangan yang profesional. Visi : Menjadi unit organisasi yang profesional. 1. handal. 2. transparan dan akuntabel dalam perumusan dan pengelolaan kebijakan di bidang penganggaran Visi : Menjadi Pengelola Perbendaharaan Negara yang Profesional.Gambar 2.4. 1. Menjadikan aparat bidang keuangan yang professional. misi dan Objective DJA.

tetapi tetap terdapat subset atau interdependency antara keduanya yaitu dalam rangka pelaksanaan pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan negara. serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran”. terutama huruf e dan f. melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian negara/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut. Selaku Pengguna Anggaran. dan menyusun dan menyampaikan laporan keuangan (huruf j). Menteri/Ketua Lembaga dalam hal ini berperan sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk bidang tertentu pemerintahan sedangkan Menteri Keuangan merupakan Chief Financial Officer (CFO) selaku Bendahara Umum Negara. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (huruf e). Sebagai konsekuensi dari pemisahan tersebut.D. Sebagaimana telah disebutkan didepan. 1995). Legitimacy: Landasan hukum penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan Keberadaan dan aktivitas suatu organisasi pemerintah harus berlandaskan dan didukung oleh peraturan perundangan yang akan berperan sebagai source of legitimacy dan memberikan authorising environment bagi organisasi dan aktivitasnya (Moore. pelaksanaan kewenangan administratif dan kewenangan perbendaharaan pada dasarnya independent. DTP  30  . Undang-Undang Perbendaharaan Negara menghendaki konsistensi dan ketegasan dalam pemisahan antara pemegang kewenangan administratif (ordonatur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable). menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran (huruf f). di atas sejalan dengan Penjelasan dalam Undang-Undang Perbendaharaan Negara perihal kewenangan administratif yang meliputi “melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. Undang-Undang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Keuangan peraturan lainnya cukup memberi dasar hukum bagi aktivitas Negara beserta penyempurnaan proses bisnis perbendaharaan di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan sebagai Kuasa BUN. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (huruf b). Subdit TPBE. Ketentuan dalam Pasal 4 ayat 2 tersebut. Menteri/Ketua Lembaga berwenang diantaranya untuk menyusun dokumen pelaksanaan anggaran (huruf a).

sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 huruf l Undang-Undang Perbendaharaan. dalam PMK 100/PMK. Dalam hal ini. Subdit TPBE. manajer keuangan dan pengawas keuangan yang berhak menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran negara. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran atas beban rekening kas umum negara (huruf f). menyajikan informasi keuangan negara (huruf p). mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran (huruf b). kebijakan. Selanjutnya. perumusan kebijakan dan strategi penyempurnaan. kewenangan Menteri Keuangan selaku Bendaharawan Umum Negara di antaranya meliputi menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran Negara (huruf a). Selanjutnya.01/2008 Pasal 806 ditetapkan bahwa Ditjen Perbendaharaan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ayat 2. Dalam pasal 4 ayat 2 huruf (a) disebutkan pula bahwa selaku BUN Menteri Keuangan berwenang untuk menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara. PMK 100/PMK.Undang-Undang Perbendaharaan Negara Pasal 7 ayat 1 menyebutkan kedudukan Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Dalam hal ini. fungsi pengawasan keuangan tersebut terbatas pada aspek rechmatigheid dan wetmatigheid yang dilakukan hanya pada saat terjadinya penerimaan dan pengeluaran (Penjelasan Undang-Undang Perbendaharaan Negara). dan menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan Barang Milik Negara (huruf q). termasuk dalam ruang lingkup perbendaharaan adalah perumusan standar. serta menyelaraskan proses bisnis dan/dengan teknologi informasi perbendaharaan (Pasal 992 dan Pasal 993). serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN. sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Selaku BUN. pengkajian dan penyempurnaan. menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan (huruf o). Selanjutnya. DTP  31  . 100/PMK. merancang dan mengembangkan.01/2008 Pasal 999 dan Pasal 1000 juga disebutkan bahwa tugas dan fungsi Subdirektorat Transformasi Proses Bisnis Eksternal diantaranya meliputi: 1.01/2008 juga menetapkan bahwa Direktorat Transformasi Perbendaharaan memiliki tugas dan fungsi untuk merumuskan kebijakan strategi pengembangan. 2. Menteri Keuangan juga merupakan pengelola keuangan dalam arti seutuhnya yang berfungsi sebagai kasir.

penyusunan rekomendasi dan penetapan landasan hukum. UU No. termasuk pengkajian kesesuaian koneksitas-koneksitas proses bisnis dengan aplikasi teknologi informasi. aktivitas penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan adalah sesuai dengan tugas dan fungsi Ditjen Perbendaharaan (legitimate). baik bagi Satker maupun Ditjen Perbendaharaan. aktivitas penyempurnaan dan juga usulan penyempurnaan nantinya haruslah legitimate dan operationally feasible sehingga value dari aktivitas penyempurnaan tersebut dapat maksimal.01/2008 juga telah menjelaskan bahwa adalah fungsi Ditjen Perbendaharaan untuk menyempurnakan dan membuat Subdit TPBE. Disamping itu. Bab II ini juga menjelaskan bahwa aktivitas penyempurnaan tersebut haruslah memberikan value. Sebagaimana framework penulisan yang telah dijelaskan pada Bab I. Demikian juga. perumusan kebijakan strategi tahapan penerapan koneksitas proses bisnis dengan Satuan Kerja (Satker). berikut ini adalah beberapa hal pokok yang dapat disarikan: 1. E. Selanjutnya. 4. Dengan demikian. 5. maka setidaknya aktivitas penyempurnaan tersebut setidaknya harus meliputi tiga aspek yaitu proses bisnis dan pengorganisasiannya. dan secara keseluruhan bagi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). Dengan menggunakan strategic triangle framework. Dari pembahasan. berdasarkan ketentuan perundangan tersebut di atas. Bab II ini difokuskan pada pembahasan visi. DTP  32  . guna menjamin agar usulan penyempurnaan proses bisnis tersebut dapat diterapkan (operationally feasible). Penutup Dari uraian di atas. Dengan demikian. yang secara generik tidak berbeda dan akan dicapai oleh semua stakeholder. 4. 3. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan sebagai landasan untuk penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan.1/2004 dan PMK 100/PMK. 2. semuanya mempunyai suatu common objectives. teknologi informasi dan change management. aktivitas penyempurnaan proses bisnis ini akan memberikan value bagi pencapaian common objectives tersebut.3. bahwa meskipun masing-masing Satker dan Ditjen Perbendaharaan mempunyai visi dan misi yang berbeda dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara.

standarisasi proses bisnis terkait dengan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). misi dan common objectives yang didefinisikan dalam Bab II ini. teknologi informasi yang digunakan. Subdit TPBE. Baseline assesment ini akan memberikan dasar untuk penetapan target yang lebih riil dari aktivitas penyempurnaan ini. maka bab selanjutnya akan difokuskan pada aktivitas baseline assesment. Sebagaimana dijelaskan dalam framework penulisan pada Bab I. dan juga kompetensi dari sumber daya manusia. sehingga aktivitas penyempurnaan tersebut sangat legitimate. Terkait dengan pembahasan-pembahasan dalam Bab II ini. maka baseline assesment ini ditujukan untuk melihat existing proses bisnis dan pengorganisasiannya. sejalan dengan visi. baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. DTP  33  .

penelaahan. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang existing proses bisnis (i) penyusunan. Subdit. Disampaikan bahwa proses bisnis satker BLU belum menjadi fokus dalam draft modul ini dan akan dikerjakan pada awal tahun 2010 bersama dengan aspek penerimaan dari pengelolaan perbendaharaan di satker. DTP  34  . A. (iv) pencairan dana. (v) manajemen kas. dan (vi) akuntansi dan Pertanggungjawaban. Disamping itu. Process mapping akan disusun menurut fase-fase dalam siklus anggaran sebagaimana ditunjukan dalam relationship matrix dalam BabI.BAB III Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. Process mapping merupakan alat dalam bentuk grafis untuk menggambarkan urutan dan flow dari proses bisnis (Paper. Secara lebih spesifik. bab ini dilengkapi dengan dua appendiks yaitu (i) summary atas penelitian World Bank terkait proses bisnis di satker Departemen PU. Selanjutnya. pengesahan dan revisi dokumen Pelaksanaan Anggaran. (ii) pembuatan komitmen. belum dilakukan penelitian dan konfirmasi langsung terhadap satker terpilih. sejalan dengan kerangka ITIL v. Definisi dan Konsepsi Sebagaimana telah disinggung dalam bab sebelumnya. Process mapping berguna sebagai alat analisis dan komunikasi untuk dapat lebih memahami dan menyempurnakan proses dengan kemungkinan menghilangkan atau menyederhanakan bagian dari proses (Hunt. Namun demikian. Penelitian dan konfirmasi langsung tersebut akan dilakukan awal tahun 2010 sejalan dengan berbagai diskusi interaktif yang sudah direncanakan sejalan. TPBE. proses bisnis merupakan serangkaian aktivitas yang saling berhubungan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. dibahas pula aspek dukungan aplikasi-aplikasi yang terdapat di satker serta keterkaitan antar aplikasi baik di dalam satker sendiri maupun dengan aplikasi di DJPB. Hammer and Champy (1995). (iii) pengajuan pembayaran. 1996). salah satunya dilakukan dengan menyusun process mapping. dan (ii) summary atas proses bisnis satker BLU. 2001). Process mapping juga disusun dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik dari sebuah proses. mendefinisikan proses sebagai sekumpulan aktifitas yang mengolah input menjadi output tertentu yang bernilai bagi stakeholder.3 yang digunakan dalam penulisan draft modul ini. Rodger and Pendankar. Dalam bab ini akan dibahas dengan lebih rinci proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker.

a. lebih dari sekedar dokumentasi. diharapkan process mapping dapat memenuhi fungsinya sebagai alat komunikasi dan analisis. Penelaahan Konsep DIPA Penelaahan atas konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. Pengesahan dan Revisi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi Satker dalam melaksanakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan APBN. Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksinya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan 1.sebagaimana disinggung dalam Bab II. definable begining and end point. Dengan cara demikian. (II) Peraturan Presiden (Perpres) tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP) / Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) untuk konsep DIPA yang ditelaah didaerah. Tiga tahap itu yaitu penyusunan konsep DIPA oleh Pengguna Anggaran (PA) / Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Penelaahan konsep DIPA yang dilakukan Direktorat Pelaksanaan Anggaran meliputi DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan. B. penelaahan konsep DIPA di Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan pengesahan DIPA oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.02/2008 dilakukan bersama-sama antara petugas dari kementrian/lembaga yang bersangkutan dengan petugas dari Ditjen Perbendaharaan cq. Sedangkan penelaahan konsep DIPA yang dilakukan di Kanwil Subdit. Secara garis besar ada tiga tahap yang harus dilalui untuk menjadikan suatu DIPA secara hukum sah sebagai dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Penyusunan. DTP  35  . Penelaahan. b. dan identifiable outcomes and beneficiaries. Penyusunan Konsep DIPA  Penyusunan konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. (III) RKA-KL yang telah disetujui DPR dan ditelaah oleh DJA serta (IV) Bagan Akun Standar.02/2008 dilakukan oleh PA/KPA dengan mengacu pada: (I) Undang-undang APBN. yaitu cross functional boundaries. TPBE. Direktorat Pelaksanaan Anggaran /Kanwil Ditjen Perbendaharaan.

Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan). Rincian Pengeluaran) dengan kaidah akuntansi pemerintah. Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan). 4) Penilaian terhadap rencana penarikan dana tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. meliputi pencantuman rencana penarikan dana tiap bulan sesuai pagu per kegiatan dan per jenis belanja. subfungsi. kegiatan. c) Kesesuaian pencantuman sasaran dan indikator keluaran. meliputi : a) Kesesuaian pencantuman kode bayar ( kode KPPN). Umum) dengan rincian pada Perpres mengenai RABPP/SRAA. TPBE. DTP  36  . b) Kesesuaian pencantuman sumber dana. 5) Penilaian terhadap perkiraan penerimaan tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. dan kelompok pengeluaran. program. Umum) dengan prinsip pembayaran dalam mekanisme APBN. meliputi : a) Kesesuaian pencantuman uraian organisasi dan satuan kerja. 2) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman I B. Penelaahan atas konsep DIPA dilakukan dengan aktivitas sebagai berikut : 1) Penilaian kesesuaian pencantuman dan penuangan anggaran (Konsep DIPA halaman I A. b) Kesesuaian pencantuman uraian dan pagu anggaran pada fungsi. 6) Penjelasan tentang rincian belanja kelompok akun yang memerlukan perlakuan khusus dan/atau persyaratan tertentu pada saat proses Subdit. d) Kesesuaian pencantuman tata cara penarikan dana. 3) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman II. c) Kesesuaian pencantuman nomor registrasi pinjaman/hibah luar negeri. meliputi pencantuman perkiraan penerimaan perpajakan dan PNBP tiap bulan. meliputi : a) Kesesuaian penempatan jenis belanja. b) Kesesuaian pencantuman akun pengeluaran.Ditjen Perbendaharaan meliputi DIPA Satker vertikal Kementrian/Lembaga di daerah dan DIPA Dana Dekonsentrasi. sub kegiatan.

Kantor Bayar dan pernyataan dari BUN bahwa perhitungan biaya dalam DIPA merupakan tanggung jawab PA/KPA. pagu anggaran per jenis belanja. unit organisasi dan satuan kerja).pencairan dana (Konsep DIPA halaman IV) meliputi (a) Belanja terikat yang tidak diperkenankan dikurangi dan direlokasi. Dana yang dapat dicairkan dibatasi untuk pembayaran gaji pegawai. (3) hal-hal lain yang perlu dituangkan dalam Catatan DIPA. daya dan jasa. dan lauk pauk/bahan makanan.1 dan 3. (b) kegiatan dan alokasi dana yang diblokir pada saat penelaahan DIPA.2 menggambarkan flowchart proses bisnis penelaahan dan pengesahan DIPA untuk mempermudah pemahaman dari uraian Subdit. TPBE. dan persetujuan penelaahan. rincian sumber dana DIPA. c. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyampaikan konsep DIPA sampai dengan tanggal yang telah ditetapkan. dan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk DIPA Satker vertikal dan DIPA Dana Dekonsentrasi.02/2008 merupakan penetapan oleh Bendahara Umum Negara atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan memuat pernyataan bahwa DIPA berkenaan tersedia dananya dalam APBN dan dapat menjadi dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Pengesahan DIPA Pengesahan DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. DTP  37  . unit organisasi dan satuan kerja). catatan atas penelaahan DIPA. pihak-pihak yang melakukan penelaahan. pengeluaran keperluan sehari-hari perkantoran. Sedangkan dana untuk jenis pengeluaran lainnya harus diblokir. Surat Pengesahan DIPA memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran. pagu anggaran DIPA. maka diterbitkan DIPA sementara oleh Direktorat Pelaksana Anggaran / Kanwil Ditjen Perbendaharaan dengan berdasar kepada Perpres mengenai RABPP / SRAA. Berikut ini gambar 3. Catatan Penelaahan memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran. Atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan telah memenuhi ketentuan dibuatkan Catatan Penelaahan yang berfungsi sebagai surat pengantar untuk menyusun Surat Pengesahan DIPA. Pengesahan DIPA dilakukan dengan menerbitkan Surat Pengesahan DIPA yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan.

 DTP  38  . TPBE. Subdit.diatas yang dipisahkan antara proses di Direktorat Pelaksanaan Anggaran dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan.

 DTP Downstream Satker Dit.Subdit. PA DJPBN Upstream Gambar 3. TPBE.1 39  .

Gambar 3. DTP  40  . TPBE.2 Subdit.

dan (VII) alokasi yang dana pada rincian kelompok dan/atau pengeluaran/subkegiatan/kegiatan telah dikontrakkan direalisasikan dananya sehingga menjadi minus. Sedangkan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta). DIPA Satker vertikal. Berikut ini gambar 3. (VI) alokasi dana kegiatan yang bersifat multi years. (II) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi kegiatan 0002 pada Satker lain untuk akun yang sama. Revisi DIPA adalah perubahan dan/atau pergeseran rincian anggaran dalam DIPA. TPBE. Revisi DIPA dibuat oleh PA/KPA dan diajukan kepada Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapat pengesahan. DTP  41  . Revisi DIPA dilaksanakan berdasarkan perubahan SAPSK atau tanpa perubahan SAPSK. DIPA Dekonsentrasi dan DIPA Tugas Pembantuan baik untuk DIPA yang awalnya disahkan di pusat maupun daerah.02/2009. (III) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker yang bersangkutan. Sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan terhadap (I) alokasi kegiatan 0001 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker lain. Subdit.d. disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. disahkan oleh Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Pengesahan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta.3 menggambarkan flowchart proses bisnis revisi DIPA untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. Revisi DIPA Revisi DIPA diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PMK. (V) rupiah murni pendamping PHLN. (IV) alokasi dana untuk pembayaran berbagai tunggakan.

3 Subdit.Gambar 3. DTP  42  . TPBE.

2007). 2007). Pembayaran untuk gaji. Namun demikian. Definisi Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu (Radev & Khemani. Pembuatan Komitmen Perekaman komitmen (budget commitment recording) ke dalam suatu sistem yang terintegrasi antara institusi treasury dengan Spending Unit (Satker) merupakan ciri utama dari commitment management. manajemen komitmen juga merupakan salah satu alat untuk melakukan cash forecasting dalam rangka mewujudkan cash management yang berorientasi ke depan (forward cash planning) yang berbeda dengan cash forecasting berdasarkan data trend dari periode sebelumnya (historical data trend). b. Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. a. tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment (Radev & Khemani. Secara umum terdapat dua jenis komitmen. Komitmen khusus (specific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu. DTP 43  .  1 Subdit. tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri. Dengan mencatatkan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan. maka institusi perbendaharaan dapat membuat perencanaan kas yang berorientasi ke depan (forward cash plans) berdasarkan aliran kas yang akan menyertai sebuah komitmen. Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan. TPBE.2. manajemen komitmen ditujukan untuk mengelola tindakan-tindakan awal yang menimbulkan kewajiban negara dalam rangka disiplin anggaran (ketaatan terhadap batas pengeluaran) dan menghindari timbulnya arrears 1. Tujuan dan Fungsi Pelaksanaan manajemen atas komitmen memiliki dua tujuan utama yang memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi.  Arrears dapat diartikan sebagai kewajiban pembayaran yang tertunda di mana Negara tidak dapat  memenuhi kewajiban tersebut dalam jangka waktu tertentu (Radev & Khemani. 2007). Pada dasarnya.

Dalam hal manajemen komitmen. Dengan model koneksitas seperti ini. d. Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. DTP 44  . khususnya yang berkaitan dengan manajemen kas di DJPBN. Demikian pula untuk kontrak yang multi years. Di samping itu. di mana informasi yang terkait dengan kontrak pengadaan dan jasa disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005). belum secara otomatis terekam rencana tahapan-tahapan pembayarannya untuk masing masing tahun anggaran. Koneksitas dengan Satker Pada saat ini belum tersedia mekanisme yang dapat mengintegrasikan komitmen yang telah dibuat satker ke dalam sistem perbendaharaan negara. Patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the managers manage dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer. existing koneksitas proses bisnis di Satker dengan proses bisnis perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan justru terjadi pada saat pencairan dana.c. TPBE. Kerangka Peraturan Perundangan Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen dan dapat dijadikan landasan untuk pengembangan manajemen komitmen di masa yang akan datang. Chart of Account yang ada belum dapat mengakomodasi pencatatan untuk commitment stages dalam pelaksanaan anggaran. informasi perihal kontrak yang disampaikan ke Ditjen Subdit. kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementerian negara/lembaga. Kewenangan administratif tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan). Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat dilakukan jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut.

 TPBE. Jenis Pembayaran Sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. 3. Pengajuan Pembayaran a. baik karena kurangnya pemahaman Satker maupun karena sifatnya yang ad-hoc untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tertentu pada akhir tahun anggaran (Peran 2008). jenis pembayaran terdiri dari: 1) Pembayaran Dengan Uang Persediaan. Beberapa inisiatif telah diupayakan menutup kekurangan ini.Perbendaharaan menjadi kurang relevan untuk keperluan forward cash planning karena baru dapat diketahui pada saat pengeluaran dari kas negara dilakukan. Uang persediaan adalah Uang Muka Kerja yang diberikan kepada bendahara pengeluaran. 200 Juta untuk pagu diatas Rp.4 Miliar • 1/24 dari pagu maksimal Rp. Diantaranya melalui penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah (SE-02/PB/2006) serta penyampaian Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008 melalui aplikasi Peran 2008 (SE-38/PB/2008). 900 Juta . Pada saat ini tengah dikembangkan model Peran 2009 yang lebih komprehensif yang memperhatikan data aktual dari kegiatan yang sudah atau belum dikontrakkan dari sisa pagu anggaran yang tersedia. bersifat daur ulang (revolving) untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari perkantoran yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Namun kedua hal tersebut berjalan kurang efektif. 2. DTP 45  Rp.4 Miliar • 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp. 500 Juta Penggantian UP dapat dilakukan setelah UP digunakan sekurang-kurangnya 75% dari UP yang diterima. 50 Juta untuk pagu sampai dengan Rp. Dalam Subdit. Adapun jumlah uang persediaan yang dapat dimintakan adalah sebagai berikut: • 1/12 dari pagu maksimal Rp. Sisa UP pada akhir tahun anggaran harus disetor ke rekening Kas Negara paling lambat tanggal 31 Desember. 100 Juta untuk pagu diatas sampai dengan Rp.900 Juta • 1/18 dari pagu maksimal Rp.06/2005. 2.

Pembayaran tidak boleh melebihi Rp 10 juta kepada satu rekanan. Tetap memperhatikan ketentuan perpajakan. Subdit. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian terhadap kelengkapan dan ketepatan pembebanan dalam SPP. DTP 46  . Petugas penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. Adapun kelengkapan SPP sebagai berikut: 1) Kelengkapan SPP-UP (Uang Persediaan) : Surat Pernyataan dari KPA atau Pejabat yang ditunjuk. Pembayaran dengan uang persediaan memiliki kriteria sebagai berikut: Untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. b. menyatakan tidak untuk membiayai pengeluaran yang harus dengan LS. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan SPP dan membuat/ menandatangani tanda terima SPP berkenaan. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada pejabat penandatangan SPM. Daftar Nominatif pemilik tanah yg ditandatangani KPA untuk Pengadaan tanah yang luas nya kurang dari 1 hektar. Pembayaran langsung merupakan jenis pembayaran yang utama.hal Penggunaan UP belum mencapai 75% sedangkan satker memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia dapat dimintakan Tambahan Uang Persediaan (TUP). 2) Pembayaran Langsung. Daftar Nominatif pemilik tanah dan besaran harga tanah yang ditanda tangani KPA dan diketahui Oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT) untuk Pengadaan Tanah yg luasnya lebih dari 1 hektar dilakukan dengan bantuan PPT setempat.1. Proses bisnis Penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM) Proses penerbitan SPM diawali dari dibuatnya SPP oleh pejabat yg bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan (Pejabat Pembuat KomitmenPPK) selaku pemberi kerja untuk diteruskan ke pejabat penandatangan SPM. b. Dimana pembayaran dilakukan langsung ke rekening yang berhak/rekanan/pihak ketiga atau untuk keperluan tertentu melalui Bendahara Pengeluaran. TPBE.

3) Kelengkapan SPP-GU (Penggantian Uang Persediaan).Pengadaan Tanah yang pembayarannya Melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Kantor Pusat Ditjen PBN / Kanwil Ditjen PBN sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk yang dibiayai dari rupiah murni: SPTB (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja) Kuitansi SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk. UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP Lainnya. 4) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas: Daftar gaji Surat Keputusan (SK) Subdit. Dana akan habis digunakan dalam 1 bulan sejak terbit SP2D Tidak untuk pengeluaran dengan LS Sisa setelah 1 bulan akan disetor ke rekening Kas Negara Rekening Koran yang menunjukan saldo terakhir. bila dipersyaratkan SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau Pejabat yang ditunjuk. bahwa dana untuk kebutuhan yang mendesak. Untuk yang dibiayai dari pinjaman atau hibah Luar Negeri (PHLN): SPTB Rekapitulasi Pengeluaran per kategori NPHLN Approval Program dari ADB. 2) Kelengkapan SPP-TUP (Tambahan Uang Persediaan) : Rincian pengunaan dana dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk. 200 Juta Dari Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk TUP diatas Rp. Surat Dispensasi : Dari Kepala KPPN untuk TUP s/d Rp. DTP 47  . TPBE. 200 Juta Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk.

Subdit. 8) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran Langsung) untuk Pengadaan barang dan jasa: Kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. TPBE. 5) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk lembur: Daftar lembur surat perintah kerja lembur SSP Pph 21 6) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Honor/Vakasi: Daftar honor/vakasi Surat Keputusan (SK) SSP Pph 21 7) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas: Daftar gaji Surat Keputusan (SK) Surat Pernyataan Daftar Keluarga (Kp4) Copy surat nikah Copy akte lahir SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran) Daftar Potongan sewa rumah dinas Keterangan Sekolah/kuliah Surat kematian SSP Pph 21 sesuai peruntukan. DTP 48  .Surat Pernyataan Daftar Keluarga (Kp4) Copy surat nikah Copy akte lahir SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran) Daftar Potongan sewa rumah dinas Keterangan Sekolah/kuliah Surat kematian SSP Pph 21 sesuai peruntukan.

Pelepasan /Penyerahan hak atas tanah/ akta jual beli di hadapan PPAT. Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani Wajib Pajak. DTP 49  . Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan. Foto copy kepemilikan Tanah. dan Pembayaran. Surat Persetujuan Harga. Serah Terima Pekerjaan. Surat Pelepasan Hak adat ( Bila diperlukan). Kuitansi. Berita Acara sekurang-kurangnya dalam rangkap 6 disampaikan kepada : Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM.Surat Pernyataan Kuasa PA mengenai penetapan rekanan. Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/ hibah luar negeri Ringkasan Kontrak yang dibuat sesuai dengan format untuk rupiah murni atau untuk PHLN. Satu tembusan kepada KPPN Pembayar. Jaminan Bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank. BA Penyelesaian Pekerjaan. 10) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk langganan daya dan jasa: Bukti tagihan Subdit. 9) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Pengadaan Tanah: Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari 1 hektar. Kuitansi yang disetujui oleh Kuasa PA atau pejabat yg ditunjuk. TPBE. SSP PPh Final atas Pelepasan Hak. Masingmasing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak. SPPT PBB tahun transaksi.

000. satker pengguna harus melampirkan Daftar Perhitungan Jumlah MP. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. DTP 50  . Telkom. 500. 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut: 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA (PNBP) tahun anggaran sebelumnya. Dalam pengajuan SPM-TUP/ GUP/ LS PNBP ke KPPN. SSBP (Surat Setoran Bukan Pajak).000.(lima ratus juta rupiah).. 6) Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP- TUP/SPPGUP/SPP-LS. PDAM) 11) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Perjalanan dinas: Surat Tugas SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) Kuitansi Daftar nominatif 12) Kelengkapan SPP untuk PNBP UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp. b. Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan maksimum pencairan (MP). Pejabat penandatangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap 3 (tiga) Subdit. TPBE.2.Nomor rekening pihak ke tiga (PLN.

3. Subdit.5.7 dan 3.untuk disampaikan kepada KPPN (lembar pertama dan kedua) dan sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan (lembar ketiga).8. sampai dengan pembayarannya diterima di Satker pada gambar 3. 3. DTP 51  .6. GUP. TPBE. 3.4. LS belanja pegawai dan LS non belanja pegawai. Berikut ini digambarkan proses bisnis penerbitan SPM UP.

 TPBE.Gambar 3. DTP 52  .4 Subdit.

Gambar 3.5 Subdit. DTP 53  . TPBE.

 TPBE.6 Subdit. DTP 54  .Gambar 3.

 DTP 55  . TPBE.7 Subdit.Gambar 3.

 TPBE. DTP 56  .8 Subdit.Gambar 3.

2) Prosedur Penerbitan SP2D Prosedur penerbitan SP2D dilakukan ketika SPM disampaikan kepada KPPN. Pejabat Pembuat Komitmen/Penanggung jawab kegiatan (PPK). Satker menyampaikan Berita Acara serah terima jabatan. Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket Penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos. Jika ada pergantian pejabat perbendaharaan. c. dengan langkah-langkah sebagai berikut (Perdirjen 66 tahun 2005 dan Kep297/PB/2007) : a. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. Pencairan Dana 1) Dokumen sebagai Persyaratan dalam Penerbitan SP2D Prosedur Umum Pembayaran Oleh KPPN berdasarkan Keppres 42 tahun 2002 mewajibkan KPPN hanya dapat melakukan pembayaran setelah menerima dokumen-dokumen sebagai berikut: a. Surat Perintah Membayar (SPM). mengisi check list kelengkapan berkas SPM. DTP 56  . tembusan surat usulan pejabat perbendaharaan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dan surat pemberitahuan dari KPA Satker yang dilampiri spesimen tanda tangan pejabat baru. b. Bendahara Pengeluaran.4. b. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM (front office) memeriksa kelengkapan SPM. yang memuat alokasi dana yang dibebankan pada SPM yang disampaikan. Pejabat Penanda tangan SPM/penguji SPP. TPBE. Tembusan SK Pengangkatan Pengelola Anggaran dari Menteri/Pimpinan Lembaga / Pejabat yang ditunjuk dan spesimen tandatangan yaitu: Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Dokumen Penyediaan Dana (DIPA/Dokumen Lain yang disamakan). kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. meneliti kelengkapan SPM dan lampirannya. Subdit. c. beserta lampirannya sesuai ketentuan dan jenis pembayaran. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM.

Approval program dari ADB. TPBE. Subdit. untuk keperluan pembayaran GUP : Untuk yang dibiayai dari rupiah murni: SPTB. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. Surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk TUP diatas RP 200. Surat-surat Keputusan Kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji. dan tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung.Kelengkapan SPM dimaksud meliputi: Untuk keperluan UP : Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Faktur pajak dan SSP.000 (dua ratus juta rupiah). Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). Untuk yang dibiayai dari PHLN: SPTB. apabila terdapat sisa dana TUP harus disetorkan ke Rekening Kas Negara. Untuk keperluan pembayaran TUP : Rincian rencana penggunaan dana. untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai : Daftar Gaji/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Lembur/Honor dan Vakasi yang ditanda tangani oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran.000. bila dipersyaratkan. Rekapitulasi pengeluaran per kategori NPHLN. Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa dana Tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. DTP 57  . Surat Keputusan Pemberian honor/vakasi dan SPK lembur.

d. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. SPTB. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Pengujian substantif dilakukan untuk: menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. e. menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. TPBE. menguji faktur pajak beserta SSPnya. Pengujian SPM Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersifat substansif dan formal. untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai : Resume Kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Perjalanan Dinas. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: Penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan. Surat Keputusan. DTP 59  . Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. Subdit. Pengujian formal dilakukan untuk: mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan.Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) untuk persyaratan pembayaran uanga makan. Daftar Nominatif Perjalanan Dinas). Surat Setoran Pajak (SSP). memeriksa kebenaran dalam penulisan. Pengembalian SPM kepada penerbit SPM.

 DTP 60  . SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu jam setelah diterima SPM secara lengkap. f. Penerbitan SP2D oleh KPPN dilakukan dengan cara: SP2D diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga). Ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan untuk kemudian disalurkan ke Satker yang bersangkutan SP2D lembar ke-2 dan SPM lembar ke-2. disalurkan ke Seksi Verifikasi dan Akuntansi SP2D lembar ke-3 dan SPM lembar ke-1. SP2D Gaji lainnya paling lambat 5 hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. SP2D lembar-1 ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan dibubuhi stempel timbul yang nantinya disampaikan kepada Bank Operasional. Lembar kesatu dan lembar kedua dilampiri asli SP2D dikirimkan melalui petugas kurir KPPN ke BI/Bank Operasional /Sentral Giro. TPBE. Daftar penguji lembar kedua setelah ditandatangani oleh BI/ Bank Operasional/ Sentral Giro dikembalikan kepada KPPN melalui petugas kurir yang sama. Daftar Penguji dibuat dalam rangkap 3 (tiga) sebagai pengantar SP2D dengan ketentuan: Ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan diketahui oleh Kepala KPPN serta dibubuhi stempel timbul kepala KPPN. Subdit. Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut: SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat tanggal 25 sebelum bulan pembayaran. Sedangkan untuk SP2D lembar-1 disalurkan ke Seksi Bank/Giro Pos. Daftar penguji lembar ketiga sebagai pertinggal di KPPN.Pengesahan Surat Perintah Membayar Penggantian UP (SPM-GUP) Nihil atas TUP dilaksanakan KPPN dengan membubuhkan Cap pada SPM GU Nihil dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan.

 DTP 61  .9.Berikut ini digambarkan proses bisnis penerbitan SP2D UP/TUP/GUP/LS sampai dengan pembayarannya diterima di Satker pada gambar 3. TPBE. Subdit.

 DTP 62  .Gambar 3. TPBE.9 Subdit.

2004). TPBE. yaitu risiko operasional terkait pembayaran tagihan pemerintah dan penerimaan negara secara tepat waktu. pencarian sumber Subdit.5. perencanaan kas yang baik. 2004). terutama. 2) Mengurangi risiko. Tujuan Pelaksanaan manajemen kas secara efektif pada sektor pemerintahan memiliki beberapa tujuan (Williams. Sementara Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 Tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah mendefinisikan perencanaan kas sebagai kegiatan memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas dalam jangka waktu tertentu sehingga negara memiliki saldo kas cukup untuk membiayai kewajiban negara dalam waktu tertentu dalam rangka pelaksanaan APBN. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. c. Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa fungsi perbendaharaan meliputi. Manajemen kas dengan demikian melibatkan baik unit di dalam pemerintah itu sendiri (antara central treasury dengan spending agencies. berikut biaya yang terkait dengan idle cash tersebut. Definisi Manajemen kas di sektor pemerintahan merupakan suatu strategi dan proses yang terkait dengan pengelolaan secara cost-effective saldo dan aliran kas jangka pendek pemerintah (Williams. misalnya) dan antara pemerintah dengan sektor lain (misalnya adalah sektor keuangan). Kerangka Peraturan perundangan Dalam peraturan perundangan terdapat beberapa pasal terkait manajemen kas yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengembangan manajemen kas di sektor pemerintahan. b. Manajemen Kas a. yaitu : 1) Minimalisasi jumlah idle cash balance pemerintah terutama yang terdapat pada perbankan. 3) Melalui berbagai instrumen pemerintah (seperti Treasury Bills dan pinjaman pemerintah jangka pendek) memberikan beberapa opsi kepada Pemerintah terkait pengelolaan kebutuhan pembiayaan pemerintah sehingga dapat menghindari risiko pembiayaan berbiaya tinggi. DTP 63  .

Kementerian Negara/Lembaga dan pihak-pihak lain yang terkait dengan penerimaan dan pengeluaran APBN wajib menyampaikan proyeksi penerimaan dan pengeluaran secara periodik kepada Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara. berdasarkan perencanaan arus kas dan saldo kas minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat menentukan strategi manajemen kas untuk mengatasi kekurangan kas maupun untuk menggunakan kelebihan kas.38/PB/2008 tentang Penyampaian Subdit. Lebih mendalam mengenai proyeksi Penerimaan dan Pengeluaran/Belanja Kementerian Negara/Lembaga di atur melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 Tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah.02/2008 Pasal 6 ayat (2) yang menyebutkan bahwa DIPA memuat uraian fungsi/sub fungsi. d. Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker Mekanisme koneksitas manajemen kas antara Ditjen Perbendaharaan sebagai kuasa BUN dengan Kementerian Negara/Lembaga/Satker yang ada saat ini adalah melalui penyampaian proyeksi penerimaan dan pengeluaran APBN oleh Kementerian Negara/Lembaga (PP No. jenis belanja. kelompok mata anggaran/akun dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan Kementerian Negara/Lembaga. DTP 64  . Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa. TPBE. Pasal 32 ayat (1) menyebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat bertanggung jawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal. Selanjutnya pada ayat (4) disebutkan bahwa dalam rangka penyusunan perencanaan kas.pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan.39 Tahun 2007 Pasal 32 ayat 4). sasaran program. program. Hal ini diimplementasikan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. rincian kegiatan/sub kegiatan.

Proses penyampaian laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah (SE-02/PB/2006) adalah sebagai berikut: 1) Laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah agar disampaikan setiap bulan kepada KPPN. DTP 65  . KPPN menyusun laporan sebagai berikut: a) Realisasi dan Perkiraan Belanja b) Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga 4) Laporan KPPN disampaikan kepada : a) Direktur Jenderal Perbendaharaan u.Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008.p. 2) Laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas merupakan rencana penerimaan dan pengeluaran kas berjangka satu bulan ke depan dengan perincian rencana penerimaan dan pengeluaran perminggu. TPBE.p.38/PB/2008): 1) Satker menyusun laporan sebagai berikut a) Kegiatan yang telah dikontrakkan dan belum lunas dibayar dalam DIPA. b) Kegiatan yang akan dilaksanakan secara kontraktual/non kontraktual. c) Perkiraan Belanja Satuan Kerja. Sementara proses pelaporan realisasi dan perkiraan belanja Kementerian Negara/Lembaga adalah sebagai berikut (SE. 3) KPPN membuat rekapitulasi laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas yang diterima dari instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah dalam wilayah kerjanya. 2) Laporan Satker disampaikan ke KPPN paling lambat 3) Atas dasar laporan yang dikirimkan oleh Satker. Direktorat Pengelolaan Kas Negara selambat-lambatnya minggu ketiga sebelum bulan berkenaan. Direktur Pengelolaan Kas Negara Subdit. 4) KPPN menyampaikan laporan rekapitulasi rencana penerimaan dan pengeluaran kas kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u.

Subdit.b) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. dan proses bisnis penyusunan laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga (gambar 3. untuk selanjutnya menyusun rekapitulasi dan melakukan analisis. DTP 66  . serta melaporkannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan Penyusunan dan penyampaian laporan tersebut di atas dilakukan dengan menggunakan program aplikasi realisasi dan perkiraan belanja tahun anggaran 2008 (Peran 2008). TPBE. Berikut adalah proses bisnis penyusunan laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah (gambar 3.10).11) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas.

10 Subdit.Gambar 3. TPBE. DTP 67  .

Gambar 3. TPBE.11 Subdit. DTP 68  .

Sesuai dengan lampiran I dan III SE tersebut data PNBP merupakan salah satu elemen penting dalam rangka perencanaan Namun demikian dalam pelaksanaannya kurang efektif. Arus kas. Rencana perkiraan PNBP merupakan bagian dari rencana penarikan dana dan perkiraan penerimaan (halaman III DIPA). terutama. DTP 69  . Sebelumnya aktifitas yang berkaitan dengan hal tersebut pernah dilakukan oleh Seksi Pendapatan di KPKN. sangat dimungkinkan untuk merevitalisasi penatausahaan dan pelaporan PNBP oleh Ditjen kas. yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SA-KUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). Dalam sub bagian ini (sebagaimana diusulkan oleh banyak pihak) sekilas akan dibahas keterkaitan pengelolaan PNBP di Satker dan aktifitas perencanaan kas di Ditjen Perbendaharaan. Pertanggungjawaban Dalam rangka penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Hal-hal yang berkaitan dengan penerimaan negara. TPBE. 6. Salah satu sub sistem dari SA-BUN adalah Sistem Akuntansi Pusat (SiAP). Pengelolaan penerimaan negara di Satker setidaknya meliputi penerimaan pajak dan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Laporan Realisasi APBN (LRA) dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Permasalahannya adalah tidak adanya sistem atau mekanisme untuk melakukan updating perkiraan penerimaan PNBP sesuai dengan realisasi selama tahun anggaran berjalan. yang terdiri dari Sistem Akuntansi-Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Sedangkan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah melalui Surat Edaran Nomor SE-02/PB/2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan Dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah. Sistem Informasi Subdit. SAI terdiri dari beberapa subsistem akuntansi yaitu Sistem Akuntansi Keuangan (SAK). Berkaitan dengan kondisi tersebut.e. disusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang terdiri dari Neraca. LKPP tersebut dihasilkan dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). Perbendaharaan (usulan Kanwil DJPBN Jambi).

dan dokumen lain yang dipersamakan. TPBE. Realisasi Pendapatan: Bukti Penerimaan Negara (BPN) disertai dokumen pendukung SSBP. Neraca dan Catatan ata Laporan Keuangan Satuan Kerja. SSPB.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah dokumen sumber dalam pelaksanaan SAI untuk menyusun laporan keuangan di tingkat Satker yang antara lain berupa: a. Dokumen penerimaan yang terdiri dari : Estimasi Pendapatan yang dialokasikan: (Pajak. Proses Bisnis di Satker selaku UAKPA: Setiap UAKPA wajib memroses dokumen sumber unuk menghasilkan laporan berupa LRA. Dalam rangka pelaksanaan selaku Pengguna sistem Anggaran akuntansi (PA) dan tersebut. Realisasi Pengeluaran : SPM beserta SP2D. SKO. SSBC. SSP. Dokumen pengeluaran yang terdiri dari : Alokasi Anggaran DIPA. Sebagaimana diatur dalam Lampiran PMK RI No. PNBP dan Hibah pada DIPA dan dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA). maka pembahasan akan difokuskan pada proses bisnis dan koneksitas yang berkaitan dengan SAK di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) dan SiAP di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Bendahara Umum Negara (UAKBUN) Daerah-KPPN. Prosedur dan tahapan sejak perekaman dokumen sumber sampai dengan pelaporan dalam rangka penyusunan laporan keuangan Kementrian Negara/Lembaga di tingkat UAKPA adalah sebagai berikut: Menerima dan memverifikasi dokumen sumber transaksi keuangan dan barang milik negara.Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN). Ditjen Kementerian/Lembaga Perbendaharaan selaku BUN membentuk unit-unit akuntansi. dan dokumen lain yang dipersamakan. b. Untuk kajian proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis kuasa BUN. Mencetak dan memverifikasi RTH dengan dokumen sumber. dan Sistem Akuntansi-Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (SA-BAPP). 171/PMK. DTP 70  . dan dokumen lain yang dipersamakan. Merekam dokumen sumber. Subdit.

Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPPA-W/UAPPA-E1 setiap semester.12) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. DTP 71  . Melakukan rekonsiliasi data dengan KPPN dan menandatangani Berita Acara Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika terdapat kesalahan pada data UAKPA. dan menyampaikannya UAPPA-W/UAPPA-E1 beserta ADK setiap bulan. Melakukan back up data Berikut ini proses bisnis penyusunan Laporan Keuangan tingkat UAKPA (gambar 3. Laporan Realisasi Anggaran. TPBE.Mencetak dan memverifikasi buku besar. Mencetak dan mengirim laporan keuangan beserta ADK ke KPPN setiap bulan. Mencetak Neraca. Subdit.

 TPBE. DTP 72  .Gambar 3.12 Subdit.

Seksi Verifikasi dan Akuntansi menerima data digital dari Seksi Bank dan Giro berupa file yang kemudian di-up load dengan menggunakan aplikasi SIK-AK. Kemudian Seksi Verifikasi dan Akuntansi melakukan verifikasi transaksi keuangan dan akuntansi. Daftar Penguji dan bukti pendukung lainnya. Seksi Persepsi. SSPB. LRA dan Neraca SAU dan data transaksinya merupakan bahan rekonsiliasi dengan Satker di wilayah kerja KPPN bersangkutan. KU-Masuk dan dokumen pendukung lainnya. DTP 73  . SP3. Melakukan proses perekaman dokumen sumber. Seksi Bank/Giro Pos. Wesel Pemerintah. SPM. adalah sebagai berikut: 1. d. proses perekaman dokumen sumber dilakukan di Seksi Perbendaharaan. maka Seksi Verifikasi dan Akuntansi mengirimkan kembali kepada Seksi Bank dan Giro serta Seksi Subdit. TPBE. DIPA. Laporan Keuangan dimasud terdiri dari: Laporan Arus Kas dan Neraca KUN yang dihasilkan dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Neraca SAU. Prosedur dan tahapan sejak penerimaan dokumen sumber sampai dengan penyampaian LKPP kepada unit akuntansi yang lebih tinggi. Menerima dan menatausahakan dokumen sumber yang berupa: a. Bukti Penerimaan Negara (BPN) antara lain: formulir SSP. yang dihasilkan dari Sistem Akuntansi Umum (SAU). Nota Kredit. b. SSBP. Kiriman Uang (KU)-Keluar. SSBC. Jika dalam proses verifikasi tersebut ditemukan kesalahan. SP2D. ADK SPM yang diterima oleh Sub-bagian Umum dari Satker yang selanjutnya digunakan oleh Seksi Perbendaharaan dalam proses pengujian SPM. dan Seksi Verifikasi dan Akuntansi. 2. Nota Debet. c. dan dokumen lain yang dipersamakan termasuk revisinya.Proses bisnis di KPPN selaku UAKBUN Daerah-KPPN: Selaku UAKBUN-Daerah. Memo Penyesuaian. KPPN memroses data transaksi penerimaan dan pengeluaran yang berasal dari Rekening KUN untuk menghasilkan Laporan Keuangan KPPN. Seksi Verifikasi dan Akuntansi merekam dokumen sumber berupa Estimasi pendapatan yang dialokasikan (DIPA).

Mencetak laporan keuangan SAKUN dan SAU tingkat KPPN Setelah melakukan proses posting.13) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. d. KPPN mengirimkan data SAU dan SAKUN berupa ADK ke Kanwil DJPBN sesuai dengan periode yang ditentukan. 4.Perbendaharaan. Subdit. Seksi Verifikasi dan Akuntansi mencetak Laporan Keuangan Tingkat KPPN yang dihasilkan dari setelah melakukan proses posting data.Apabila dalam aktivitas tersebut di atas tidak ditemukan kesalahan. Melakukan rekonsiliasi laporan keuangan SAU dengan satuan kerja (UAKPA) a. Berikut ini proses bisnis penyusunan Laporan Keuangan pada UAKBUNDaerah (KPPN) (Gambar 3. b. Pengiriman data dan Laporan Keuangan. Melakukan rekonsiliasi data transaksi Sistem Akuntansi Umum (SAU) dengan data transaksi Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Membuat berita acara rekonsiliasi (BAR) yang ditandatangani oleh Kepala KPPN dan Kuasa Pengguna Anggaran. 5. c. 3. maka dilanjutkan dengan proses posting. Melakukan up load ADK ke dalam Aplikasi Seksi Verifikasi dan Akuntansi. Laporan yang dihasilkan SAKUN dan SAU untuk tingkat KPPN. DTP 74  . e. TPBE. Mengirim Salinan BAR yang telah ditanda tangani Kepala KPPN dan KuasaPengguna Anggaran ke Kanwil DJPBN. Menerima ADK dari satuan kerja (UAKPA) setiap bulan.

 TPBE.Gambar 3. DTP 75  .13 Subdit.

Subdit. Setidaknya telah diusulkan agar terhadap LPJ Bendahara dilakukan mengikuti mekanisme rekonsiliasi sebagaimana yang dilakukan oleh unit-unit akuntansi dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).Proses bisnis pertanggungjawaban bendahara instansi di Satker (usulan Direktorat Pengelolaan Kas Negara) Terdapat usulan agar mekanisme pertanggungjawaban bendahara instansi melalui Laporan Pertanggungjawaban Bendahara (LPJ Bendahara) tetap digunakan sebagai salah satu laporan manajerial yang melengkapi laporan akuntabilitas (SAI). Berikut ini adalah usulan bisnis proses LPJ Bendahara instansi (Gambar 3. Perlu adanya kesamaan persepsi apakah peraturan terkait penyusunan LPJ Bendahara masih efektif dan masih diperlukan.14). DTP 76  . TPBE.

14 Subdit.Gambar 3. TPBE. DTP 77  .

4. DJPBN. TPBE. berupa data jumlah rekening Bendahara K/L. Hasil dari verifikasi LPJ tersebut oleh Satker dikirimkan ke Instansi Vertikal di lingkungan Kementrian Lembaga (K/L) tersebut.Keterangan gambar: 1. Cara menggunakan Aplikasi RKAKL ini dengan memasukkan password rkakl. 7. 6. Subdit. Hasil verifikasi tingkat Satker oleh KPPN dikirimkan ke Kanwil DJPBN. Rekapitulasi per KPPN yang dibuat oleh Kanwil DJPBN dikirimkan ke Dit PKN DJPBN sebagai bahan untuk rekonsiliasi tingkat nasional dengan K/L. Instansi Vertikal mengirimkan data hasil dari verifikasi LPJ ke K/L Pusat untuk kemudian dilakukan rekapitulasi dan dijadikan bahan rekonsiliasi tingkat nasional dengan departemen Keuangan selaku BUN. DTP 78  . Hasil dari rekonsiliasi merupakan sumbangan data dalam penyusunan LKPP. Aplikasi-aplikasi yang terdapat di Satuan kerja dan keterkaitan antar aplikasi 1. Kanwil DJPBN membuat rekapitulasi hasil LPJ Bendahara per KPPN yang ada di wilayah kerjanya. 2. Setelah rekonsiliasi selesai. dalam hal ini Direktorat Pengelolaan Kas Negara (Dit PKN). Bendahara Instansi menyampaikan hasil LPJ Bendahara tersebut kepada KPPN (Bendahara Penerimaan di Seksi Bendahara Umum dan Bendahara Pengeluaran di Seksi Perbendaharaan) untuk dilakukan verifikasi. Yang mana Aplikasi RKAKL ini akan digunakan sebagai bahan untuk menerbitkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Bendahara Instansi melakukan rekonsiliasi internal dengan unit SAI/UAKPA pada Satker yang bersangkutan untuk menentukan angka pasti yang akan dicantumkan pada LPJ Bendahara. Rekonsiliasi tingkat nasional antara K/L Pusat dan Dit PKN DJPBN. saldo kas pada Bendahara Penerimaan dan Saldo kas pada Bendahara Pengeluaran. 3. 5. C. Aplikasi RKAKL Aplikasi RKAKL adalah Aplikasi Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga yang dimiliki oleh setiap Satuan Kerja (Satker) yang terdapat pada Kementerian/Lembaga. Aplikasi RKAKL digunakan oleh Satuan Kerja (Satker) untuk membuat Rencana Kerja yang akan dilaksanakan pada tahun yang bersangkutan dan juga Rencana Anggaran yang akan digunakan untuk Tahun Anggaran tersebut.

Jadwal Penarikan/Penerimaan. Laporan mengikat/PNBP. Utility. Penandatangan. Standar Biaya Khusus. Subdit. Ubah KPPN. Restore Data RKAKL. Cetak Ringkasan. • Keluar yang terdiri dari 2 Sub Menu : Keluar. Cetak Uraian. Fungsi/ Kementrian/Lembaga/Unit. Split Data. Laporan per-Prov/Unit. Ubah Lokasi Kegiatan. KPPN. TPBE. Laporan. Laporan yang terdiri dari 10 Sub Menu : POK. Kurs. Keluar. Laporan Sub Kegiatan. Keterangan MAK. Laporan per-program. Kegiatan Prioritas. Laporan per-Prov/Program. Tahun Anggaran. DTP 79  . Kegiatan. Sasaran Program. • • KPJM yang terdiri dari 1 Sub Menu : Laporan KPJM/MTEF. Perbaikan Data. Ubah Program Kepemimpinan. Laporan MAK. Pendapatan/PNBP. Info. KPJM. Cetak Rincian. Kegiatan Fungsi/Sub Prioritas. Program. Sub Kegiatan. Laporan Blokir. Gabung Data. Laporan kegiatan prioritas. Adapun aplikasi RKAKL ini mempunyai 6 Menu yaitu : • • • • • • • RKA-KL. Hapus Data. Backup Data DIPA. Konversi Kode MAK/Akun. Dan dari masing-masing Menu tersebut mempunyai beberapa Sub Menu yaitu : RKA-KL yang terdiri dari 6 Sub Menu : Rincian Belanja. Laporan per-unit. Jenis Belanja s/d MAK-P. • Utility yang terdiri dari 11 Sub Menu : Backup Data RKAKL. • Referensi yang terdiri dari 19 Sub Menu : Standar Biaya Umum. Registrasi. Password. Propinsi/Kab/Kota. Satuan Kerja. Referensi.Setelah password diinput maka user sudah dapat menggunakan Aplikasi RKAKL dengan masuk kedalam Menu-Menu yang tersedia.

Laporan. Data Sisa Kontrak. DTP 80  . Laporan terdiri dari 1 Sub Menu : Cetak Lampiran. Keluar Aplikasi terdiri dari 1 Sub Menu : Keluar. Data Rencana Pencairan. Dan dari masing-masing menu tersebut terdiri dari beberapa Sub Menu yaitu : Input Data terdiri dari 4 Sub Menu : Setting Aplikasi.2. Aplikasi ini juga dipergunakan untuk mempermudah monitoring anggaran yang terdapat pada masing-masing Satuan Kerja (Satker). Aplikasi Peran Aplikasi Peran adalah aplikasi perencanaan anggaran yang digunakan untuk mengetahui perencanaan anggaran pada masing-masing Satuan Kerja (Satker) yang ada pada Kementrian / Lembaga. 3. Subdit. Aplikasi Gaji Pegawai Pusat (GPP) Aplikasi GPP 2008 Satker ini adalah aplikasi yang diberikan ke seluruh Satuan Kerja pengelola dana APBN untuk keperluan pembayaran PNS Pusat. Utility dan Keluar Aplikasi. Referensi Pejabat. Dengan demikian setiap Satuan Kerja yang mengelola pembayaran belanja pegawai PNS Pusat wajib menggunakan aplikasi ini. Gabung. Adapun aplikasi Peran ini mempunyai beberapa Menu yaitu • • • • • • • • Input Data. Transfer Data ke KPPN. Utility terdiri dari 3 Sub Menu : Back-up. TPBE.

SSP. Tambahan. Aplikasi ini didesain sesederhana mungkin (user friendly). SKPP dan Surat Permintaan Uang Duka. dan Gaji ke13. uang lembur . Menciptakan adanya standarisasi sistem. namun demikian tetap menghendaki pengisian selengkap mungkin elemen data masingmasing pegawai serta memperhatikan referensi maupun setting yang ada. Referensi. termasuk kartu pengawasan pembayaran gaji sehingga satuan kerja tidak perlu melakukan pengkartuan. Pegawai. Uang Duka Tewas. Pemanfaatan data untuk keperluan informasi kepegawaian PNS Pusat beserta data gajinya. DTP . Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah untuk memberikan kemudahan dalam mengelola data gaji para pegawai di lingkungan satuan kerja bersangkutan. 81  Subdit. SPT Pajak dll. KP4. Adapun Aplikasi GPP mempunyai beberapa Menu yaitu • • • • • • • • • • Setting.Melalui Aplikasi tersebut Petugas Administrasi Pengelolaan Belanja Pegawai (PAPBP) dapat mencatat. Aplikasi ini juga digunakan untuk mencetak berbagai daftar permintaan pembayaran belanja pegawai. Tujuan umum yang ingin dicapai dengan komputerisasi penggajian adalah meningkatkan kecepatan dan ketepatan dalam penyelesaian pembayaran Belanja Pegawai khususnya gaji PNS Pusat. Gaji. secara manual. Keluar. Utility. Gaji Terusan. Laporan. TPBE. Monitoring. Kekurangan Gaji. Uang Duka Wafat. Kirim. Gaji Susulan. Persekot Gaji. Dan memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan bagi KPPN dalam menguji daftar gaji dan penerbitan SP2D Gaji. uang makan PNS. Dengan demikian output aplikasi ini akan benar-benar valid sesuai dengan yang diharapkan. menghitung berbagai macam belanja pegawai seperti Gaji Induk (Bulanan).

Cetak Gaji Dokter / Bidan PTT. RUH Gaji. Dokter Bidan PTT. Monitoring Anak Dewasa. Kirim terdiri dari 3 Sub Menu: Kirim Gaji ke KPPN. Hapus Data. Setting Penomoran. Kekurangan Gaji Manual. Monitoring Potongan Lain. Tunjangan Wilayah terpencil. Keluar. Proses Gaji Dokter / Bidan PTT. Kirim Data Pegawai Pindah. Setting Anak Satker. Monitoring terdiri dari 6 Sub Menu : Monitoring Gaji Belum Load. Tambahan terdiri dari 4 Sub Menu : Uang Makan. Restore. Setting Password. Data masukan yang diperlukan dalam Aplikasi Gaji PNS Pusat adalah sebagai berikut : Subdit. Satker. Monitoring Pegawai Pensiun. Status Kawin. Surat Permintaan Uang Duka. Setting Referensi Anak Satker. • • • Utility terdiri dari 6 Sub Menu : Load Master. • Pegawai terdiri dari 9 Sub Menu : Data Pegawai. TPBE. Golongan. Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Tentang Aplikasi. Penyamaan Data. Surat Permintaan Persekot Kekurangan Gaji Manual. Monitoring Utang Lebih. Kekurangan Gaji. DTP 82  . Taperum. Daftar Pengawasan Gaji. No Urut Pegawai. Tunjangan Khusus Papua Hakim. R/U/H Gaji. Status Kawin Awal Tahun. Kirim Pegawai Pindah ke KPPN. Daftar Potongan. Monitoring Tunggakan. • Referensi terdiri dari 20 Sub Menu: Tarif. Agama. Uang Lembur. SKPP. Backup. Mengindek. Lokasi. Setting Pejabat. Daftar Pegawai Non Aktif. Terima Data Pegawai Pindahan. Kartu Pegawai. Daftar Gaji Hakim. Terima Data Rekon dari KPPN. Unload Master. Jenis Gaji. R/U/H Kekurangan Gaji. KPPN. • • • Laporan terdiri dari 4 Sub Menu: Cetak Gaji. Tunjangan Umum. Pencarian Pegawai. Departemen. Tunjangan Khusus Papua. Status Keluarga. • Gaji terdiri dari 8 Sub Menu : Proses Perhitungan Gaji. Daftar Gaji.Dan dari masing-masing Menu tersebut terdiri dari beberapa Sub Menu : • Setting terdiri dari 6 Sub Menu: Konfigurasi. Status Pegawai. Tunjangan PNS.

a. Data

Pegawai

Satuan

Kerja

dan

setting

tunjangan-tunjangan

struktural/fungsional yang ada dalam Satuan Kerja. b. Data setting/referensi yang perlu diisi sebelum menjalankan menu yang lain dan akan digunakan sebagai data acuan. Sedangkan hasil keluaran yang utama dari Aplikasi GPP adalah Cetak Daftar Gaji; Cetak Rekapitulasi Gaji; Cetak Surat Setoran Pajak; Kartu Pegawai; Kartu Perubahan Pegawai; KP4 (Surat Keterangan untuk Mendapatkan Tunjangan Keluarga); Rekap SPT Tahunan; Cetak SPT Tahunan; Surat Permintaan Persekot; Cetak Kartu Hutang Pegawai; Uang Makan; Uang Lembur; SKPP; Slip Gaji; Surat Permintaan Persekot Gaji; Laporan-laporan hasil monitoring.

4. Aplikasi SPM Aplikasi SPM adalah sebuah aplikasi yang digunakan oleh Satker-satker untuk membuat Surat Perintah Membayar yang akan dibawa ke KPPN untuk dilakukan proses pencairan dana. Aplikasi SPM ini juga terdapat 2 sifat bentuk Aplikasi yaitu Aplikasi SPM bersifat Stand Alone dan Aplikasi SPM yang bersifat Network. Dimana Aplikasi SPM Stand Alone yang digunakan dengan 1 buah Personal Komputer atau Laptop yang hanya digunakan oleh 1 orang saja tanpa bisa terkoneksi dengan Aplikasi SPM di Personal Komputer lainnya. Sedangkan untuk Aplikasi SPM Network adalah Aplikasi yang diinstall ke dalam sebuah server pada 1 satker yang mana satker tersebut mempunyai beberapa client yang dapat menggunakan Aplikasi SPM tersebut secara bersamaan. Yang mana Aplikasi SPM ini akan berhubungan dengan Aplikasi SP2D pada KPPN. SPM dibuat atas dasar dokumen gaji, pembayaran pekerjaan pada pihak ketiga, uang persediaan atau semua dokumen lain berhubungan dengan pencairan dana pada satker yang terdapat dalam DIPA satker tersebut. Yang mana aplikasi SPM ini akan berhubungan dengan Aplikasi SP2D yang ada pada seluruh KPPN. Dan data dari SPM ini juga akan berhubungan dengan beberapa aplikasi lainnya seperti Aplikasi SAKPA pada Satker. Subdit. TPBE, DTP 83 

Model pengoperasian Aplikasi SPM Network, sebagai berikut : a. Program Startup Sistem multi user ini memungkinkan client untuk mengakses data yang ada pada server secara bersamaan dengan tingkat kewenangan yang diberikan oleh supervisor. Agar Aplikasi SPM Network ini bisa dijalankan oleh client, harus dijalankan terlebih dahulu program startup_spm08.exe. Program startup_spm08.exe hanya bisa dijalankan dengan user ID: startup dan password: startup. Setelah startup ini dijalankan maka Database SPM sudah bisa diakses oleh semua client yang ada. Semua satker yang sedang menggunakan Aplikasi SPM akan tampak pada "Daftar User yang sedang Online." Jika User keluar dari Aplikasi SPM secara normal, maka User yang bersangkutan otomatis akan hilang dari daftar tersebut. Dalam Aplikasi SPM Network, satu User ID hanya dapat dipakai oleh satu komputer client. Oleh karena itu jika terjadi hal-hal yang tidak normal, seperti komputer 'hang', maka Supervisor bisa melakukan 'Disconnect User' agar User ID yang bersangkutan bisa digunakan lagi.Tombol 'Shutdown' digunakan untuk menonaktifkan Database yang berarti Client tidak bisa mengakses Database (lawan dari startup). b. Program Aplikasi SPM Setelah startup Database dijalankan, maka client dapat menjalankan program Aplikasi SPM di komputer masing-masing. Default yang digunakan untuk menjalankan Aplikasi SPM Network pertama kali adalah User ID :super dan Password: super. Jika berhasil maka akan muncul tampilan Menu Utama dan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan setting referensi satker pengguna Aplikasi SPM. Adapun aplikasi SPM ini terdapat 8 Menu yaitu : • Pagu, • SPM, • Monitoring, • Referensi I, • Referensi II, • Utiliti, • Peraturan dan Subdit. TPBE, DTP 84 

• Keluar. Dan masih masing-masing menu tersebut mempunyai beberapa sub Menu yaitu : • Menu Pagu yang terdiri terdiri dari 6 Sub Menu : R/U/H Pagu; Transfer Pagu; R/U/H SKPA; Cetak SKPA; Transfer SKPA; Terima SKPA. • Menu SPM yang terdiri dari 10 Sub Menu : R/U/H SPM; R/U/H SPM Pengembalian Penerimaan; R/U/H SPM Pembagian Hasil Penerimaan; R/U/H SPM Imbalan Bunga; R/U/H SPM REKSUS (KPPN Khusus); R/U/H SPM BLU; Cetak SPM; Cetak SPM KPPN Khusus; Catat Nomor SP2D; Load Master. • Menu Monitoring terdiri dari 3 Sub Menu : Monitoring Penyekesaian SPM; Monitoring Load Master; Monitoring Kontrak. • Menu Referensi I terdiri dari 19 Sub Menu : Satker; KPPN; Nomor SPM; User; Bank/Pos; Bendaharawan; Pejabat; Jenis Dokumen; Jenis SPM; Kewenangan Pelaksanaan; Cara Bayar; Jenis Pembayaran; Sifat Pembayaran; Beban; Jenis Bantuan; Sumber Dana; Cara Penarikan; KPP; Golongan. • Menu Referensi II terdiri dari 13 Sub Menu : Fungsi-Sub FungsiProgram; Kegiatan; Sub Kegiatan; Kementerian; Lokasi / Dati II; Lender; Valuta Asing; Pinjaman; Kategori Pinjaman; Register; Mata Anggaran; Konversi Mata Anggaran; Dokumen Pengesahan. • Menu Utility terdiri dari 12 Sub Menu : Transfer Data SPM; Backup Data Pagu dan Transaksi; Restore Data Pagu dan Transaksi; Hapus Data Transaksi; Bersihkan Data Sampah; Cek Data Ganda; Reindeks Database; Backup Referensi; Restore Referensi; Copy Referensi; Split Tabel Satker; Kalender. • Menu Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Informasi; Keluar Aplikasi.

Subdit. TPBE, DTP

85 

5. Aplikasi Persediaan Aplikasi persediaan adalah aplikasi yang digunakan untuk mendukung aplikasi lainnya yaitu Aplikasi Simak-BMN. Dimana data dari persediaan akan dikirimkan ke Aplikasi Simak-BMN. Dan data persediaan mendapat inputan dari SPM, SP2D, Kuitansi, Faktur, BAST/HIBAH, SPK. Untuk menggunakan Aplikasi Persediaan ini harus memasukkan user name, password dan IP Server yaitu untuk user name nya “umum”, password “umum”, IP Server “localhost”. Kemudian Klik tanda Check List pada Login. Setelah semua dilakukan maka kita sudah dapat menggunakan Aplikasi Persediaan tersebut. Adapun aplikasi Persediaan ini terdiri dari beberapa Menu yaitu : • • • • • Referensi, Transaksi, Laporan, Utility, Keluar.

Menu-menu yang ada pada aplikasi persediaan ini terdiri dari beberapa Sub Menu : • Referensi terdiri dari 9 Sub Menu : Tabel UAPB; Tabel UAPPB-E1; Tabel UAPPB-Wilayah; Tabel UAKPB; Tabel Wilayah; Tabel Kanwil; Tabel Subsub Kelompok Barang; Tabel Barang; Penandatangan. • • • Transaksi terdiri dari 4 Sub Menu : Persediaan Masuk; Persediaan Keluar; Koreksi ; Hasil Opname Fisik. Laporan terdiri dari 4 Sub Menu : Buku Persediaan; Laporan Persediaan; Laporan Rincian Persediaan; Daftar Transaksi. Utility terdiri dari 6 Sub Menu : Pengiriman ke Simak BMN, Penerimaan dari UAPKPB, Backup/Restore Database; Backup/Restore Referensi; Pengosongan Data; pengosongan Referensi. • Keluar.

Subdit. TPBE, DTP

86 

6. Aplikasi SIMAK-BMN Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN) sebagai sub sistem dari Sistem Akuntansi Instansi selain

Sistem Akuntansi Keuangan. Dengan demikian dapat dilakukan check and balance antara arus uang dan arus barang. SIMAK-BMN ditujukan untuk

meningkatkan pemahaman serta kontrol yang sistematis terutama perlengkapan/ rumah tangga atau yang semacamnya sehingga sesuai struktur Unit Akuntansi Barang melekat kewajiban untuk penyusunan laporan barang milik negara dalam rangka penyusunan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. SIMAK-BMN dan SAK sebagai sub sistem harus saling berjalan secara simultan. Selain itu, SIMAK-BMN juga menyatukan konsep manajemen barang dengan pelaporan untuk tujuan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dalam bentuk neraca. Sehingga dengan demikian SIMAK-BMN dapat memenuhi kebutuhan manajerial dan pertanggungjawaban sekaligus. Untuk dapat menggunakan Aplikasi SIMAK-BMN ini kita harus melakukan login terlebih dahulu dengan cara masuk pada menu login. Kemudian input user id ”admin”, password ”admin”, IP Server ”localhost” kemudian input tahun anggaran pada tahun berjalan. Setelah semua proses input pada menu login selesai kemudian klik masuk. Jika tidak ada kesalahan lagi pada proses input menu login maka kita sudah dapat masuk pada semua menu yang ada pada Aplikasi SIMAK-BMN. Adapun aplikasi SIMAK-BMN terdiri dari beberapa menu yaitu • • • • • • Tabel Referensi, Transaksi Buku/Daftar, Laporan, Utility, Keluar.

Menu-menu yang terdapat pada Aplikasi SIMAK-BMN ini terdiri dari beberapa Sub Menu :

Subdit. TPBE, DTP

87 

Daftar Barang Lainnya. Perubahan BMN. Tabel UAKPB. Daftar Barang Persediaan. Saldo Awal BMN. Pengiriman ke UAKPA. Daftar Barang Barang Bersejarah. Tabel Ruangan. • Transaksi terdiri dari 14 Sub Menu : Daftar BMN Tahun Lalu. TPBE. • Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Selesai. Laporan Kondisi Barang. Pembatalan Kiriman.Log off. Barang Pihak Ketiga. • Buku/Daftar terdiri dari 11 Sub Menu : Buku Barang. Restore Database Versi Demo. LKB. Pengiriman ke KPKNL. Tabel Jenis Transaksi. Ekstrakomptabel. Kartu Identitas Barang. Pencetakan Label. Daftar Barang. DTP 88  . BMN Bersejarah. Catatan Ringkas BMN. Laporan Barang Pengguna Tahunan.• Tabel Referensi terdiri dari 10 Sub Menu : Tabel Penandatangan. Subdit. Laporan Barang Pengguna Semesteran. Tabel UAPB. • Utility terdiri dari 10 Sub Menu : Penerimaan dari UAPKPB. Laporan Posisi BMN di Neraca. Tabel Kanwil. Buku Barang Bersejarah. Restore. Tabel UAPPB-E1. Daftar Barang Ruangan. Daftar Barang Lainnya. Back-Up. Catatan Mutasi Perubahan (CMP). Penerimaan dari Persediaan. Kosongkan Transaksi. Daftar Barang Pihak Ketiga. Perubahan dari DBR ke DBL/Sebaliknya. Daftar Barang Belum Terdistribusi. Catatan Ringkas BMN-KPB. Daftar Transaksi BMN UAPKPB. Perolehan BMN. Penghentian BMN dari Penggunaan. Dimana keluaran/laporan yang dihasilkan dari Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi BMN tingkat UAPB sebagai berikut: Daftar Barang Intrakomptabel. Daftar Barang Ruangan. Daftar Transaksi BMN. Konstruksi Dalam Pengerjaan. Penghapusan BMN. Tabel UAPPB-W. Tabel Wilayah. • Laporan terdiri dari 6 Sub Menu : Laporan Barang Kuasa Pengguna. Tabel Barang. Kartu Identitas Barang. Laporan Barang Kuasa Pengguna Persediaan. Pengiriman ke UAPPBW/UAPPB-E1. Perubahan Nilai Koreksi Tim Penerbitan Aset. Laporan Barang Pembantu Kuasa Penguna.

maka dilanjutkan dengan proses pencetakan Register Transaksi Harian untuk dilakukan proses Verifikasi. Setelah Data di Posting agar bisa mencetak Laporan Keuangan. Apabila pada proses rekonsiliasi tidak terjadi perbedaan. Jika tidak ada kesalahan lagi pada proses input menu login maka kita sudah dapat masuk pada semua menu yang ada pada aplikasi SAKPA. Subdit.SSPB : Jurnal Neraca : ADK GL Aset Setelah dokumen sumber diinput atau di proses . POK. Setiap bulan petugas akuntansi mengirim ADK komputer ke KPPN untuk dilakukan Rekonsiliasi dengan Data di KPPN. Laporan Realisasi Anggaran. Setelah semua proses input pada menu login selesai kemudian klik masuk. • • • • Apabila tidak terdapat Kesalahan .7. DTP 89  . Aplikasi SAKPA ini akan menghasilkan beberapa laporan yaitu : LRA Pendapatan & LRA Belanja. Dan ADK dari Aplikasi SAKPA ini akan dikirimkan ke KPPN guna untuk melakukan Rekonsiliasi. Estimasi Pendapatan : SPM/SP2D : SSBP/SSP/SSBC. Aplikasi SAKPA Aplikasi SAKPA ini merupakan sub sistem dari aplikasi SAI. dilanjutkan dengan proses Posting. Untuk dapat menggunakan Aplikasi SAKPA ini kita harus melakukan login terlebih dahulu dengan cara masuk pada menu login. Neraca Percobaan & Neraca. Yang mana Aplikasi SAKPA ini digunakan oleh Satuan Kerja (Satker) untuk memproses data transaksi dalam penyusunan laporan. LRA Pengembalian Pendapatan dan Pengembalian Belanja. Alur Data pada aplikasi Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA): • Satker memproses dokumen sumber berupa : Dokumen Anggaran Dokumen Belanja Dokumen Penerimaan Dokumen Aset Lain Dokumen Aset Tetap. untuk menghasilkan buku besar. password ”admin” kemudian input tahun anggaran pada tahun berjalan. Kemudian input user id ”admin”. TPBE. bentuk file • : DIPA. maka Satker mengirim ADK ke Wilayah / Eselon 1.

Laporan Realisasi Belanja Format 2007. Daftar Departemen Penerima Potongan/Setoran. Transaksi. Jurnal Standar. Penerimaan Aset dari UAKPB. Neraca. KPPN. Pengiriman ke KPPN. Pack Data. DTP 90  . Bagan Akun Standar. Daftar SKPA. Rekap Potongan Pajak. Estimasi Pendapatan. • Utility terdiri dari 12 Sub Menu : Ubah Password. Pengembalian Belanja. Daftar MAPING BAS. Laporan Pengembalian Belanja. Daftar MAKMAP. DIPA Luncuran. Laporan terdiri dari 14 Sub Menu : Buku Besar. Tutup Tahun. • Transaksi terdiri dari 12 Sub Menu : Daftar DIPA. Laporan Pengembalian Pendapatan. KANWIL. Menu-menu yang terdapat pada Aplikasi SAKPA ini terdiri dari beberapa Sub Menu : • Tabel Referensi terdiri dari 12 Sub Menu : BA-Es1. Jurnal Neraca. Reindex Data. Laporan Realisasi Anggaran dari SKPA. Pengiriman Saldo Awal.Adapun aplikasi SAKPA terdiri dari beberapa menu yaitu : • • • • • • Tabel Referensi. Tutup Tahun Dengan Satker Beda. Jurnal Koreksi. Copy File DIPA. Back-Up. Daftar Pengembalian Belanja Dari Potongan SPM. Kegiatan-SubKegiatan. Proses. Daftar Revisi DIPA. Laporan Realisasi Pendapatan Format 2007. Laporan Realisasi Belanja. Pendapatan. • • Proses terdiri dari 4 Sub Menu : Posting. SATKER. Laporan Realisasi Anggaran. Utility. Output yang dihasilkan dari Aplikasi SAKPA adalah bentuk laporan antara lain: Subdit. Restore. Pengiriman ke UAPPA-W/UAPPA-E1. Copy Data SPM. • Selesai. Wilayah. Rekap Potongan PFK. Neraca Percobaan. Laporan Realisasi Anggaran DIPA Luncuran. Laporan. Konversi Satker Berubah Kode. Daftar SPM-BLU. Selesai. Daftar SPM. TPBE. Laporan Realisasi Pendapatan. Pengosongan Transaksi. Fungsi-Subfungsi dan Program.

• Neraca Percobaan Tahunan yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. • Neraca Percobaan Semesteran yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara bulanan per kode perkiraan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara tahunan. kode perkiraan. • Laporan Realisasi Anggaran Tahunan yang berfungsi menampilkan posisi realisasi anggaran sampai dengan periode satu tahun yang telah terealisasi.• Buku Besar yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. Subdit. DTP 91  . baik secara bulanan atau triwulanan. • Laporan Realisasi Belanja yang berfungsi untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. TPBE. Neraca Tahunan yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara tahunan. • • • • Neraca Bulanan yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara bulanan. • Neraca Percobaan Bulanan yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. Laporan Realisasi Anggaran ini mencerminkan pendapatan dan belanja total dari satker setelah dikurangi dengan pengembalian. kode perkiraan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara semesteran. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. kode perkiraan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara bulanan. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. Laporan Realisasi Anggaran Semesteran yang berfungsi menampilkan posisi realisasi anggaran sampai dengan periode satu semester yang telah terealisasi. Laporan Realisasi Anggaran ini mencerminkan pendapatan dan belanja total dari satker setelah dikurangi dengan pengembalian. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. Neraca Semesteran yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara semesteran. kode perkiraan.

• LRA Pengembalian Pendapatan Negara dan Hibah yang berfungsi laporan yang dipergunakan untuk menampilkan pengembalian pendapatan sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. Subdit. • Laporan Realisasi Pengembalian adalah Belanja yang berfungsi LRA untuk Pengembalian Belanja laporan yang dipergunakan menampilkan pengembalian belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. baik secara bulanan atau triwulanan dengan format DIPA. TPBE.• Laporan Realisasi Belanja format DKKA yang berfungsi LRA Belanja format DKKA adalah laporan yang dipergunakan untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. • Laporan Realisasi Belanja format DIPA yang berfungsi LRA Belanja format DIPA adalah laporan yang dipergunakan untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. baik secara bulanan atau triwulanan dengan format DKKA. DTP 92  . • Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah yang berfungsi laporan yang dipergunakan untuk menampilkan realisasi pendapatan sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan.

Keterkaitan antar Aplikasi yang terdapat pada Satuan Kerja (Satker) Hubungan Aplikasi yang terdapat pada Satker Perencanaan/ Monitoring Mulai Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Barang RKAKL Kegiatan/Anggaran DIPA Persediaan Kegiatan/Anggaran Laporan Asset Peran Kegiatan/Anggaran SIMAK-BMN Monitoring/. DTP 93  . TPBE.8.Perencanaan SPM Laporan Pencairan Dana GPP Laporan status pegawai Laporan Keuangan untuk Asset SAKPA Selesai Subdit.

• Aplikasi Peran adalah suatu aplikasi yang digunakan oleh Satuan Kerja untuk membuat sebuah perencanaan dalam penerimaan dan pengeluaran yang akan dilakukan oleh Satuan Kerja tersebut dalam Tahun Anggaran yang berjalan. Dimana aplikasi DIPA akan mengadopsi hasil outputan dari aplikasi RKA-KL yaitu jumlah total anggaran yang dibutuhkan untuk setiap mata anggaran kegiatan. Dimana Aplikasi SPM ini akan menghasilkan sebuah Surat Perintah Membayar yang dikeluarkan oleh Pejabat Penguji SPM yang dalam bentuk Softcopy dan Hardcopy yang nanti nya dari softcopy Aplikasi SPM ini akan dimasukkan dalam Aplikasi SP2D yang terdapat pada KPPN yang bersangkutan. kegiatan/subkegiatan. mata anggaran yangdigunakan. • Aplikasi GPP adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk melakukan monitoring terhadap gaji pegawai pusat yang ada pada Satuan Kerja. Dimana aplikasi SPM nanti dibuat berdasarkan DIPA yang ada pada masing-masing Satuan Kerja. Dimana aplikasi ini dapat mengetahui jumlah pegawai yang ada dengan semua status yang akan digunakan untuk pembayaran pada pegawai tersebut. • Aplikasi Persediaan adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk membuat sebuah laporan persediaan dari Barang Milik Negara yang akan digunakan sebagai inputan Subdit. Yang mana hasil dari aplikasi RKA-KL ini akan menjadi inputan untuk aplikasi DIPA. DTP 94  .Penjelasan hubungan antar Aplikasi yang diatas : • Aplikasi RKA-KL adalah suatu aplikasi yang digunakan oleh Satuan Kerja untuk dapat mengetahui kegiatan apa yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan berjalan. Dan akan menghasilkan SP2D yang akan dipergunakan sebagai bukti pembayaran. Dan juga aplikasi DIPA ini berhubungan dengan Aplikasi SPM. waktu pelaksanaan kegiatan. Dimana aplikasi ini adalah suatu monitoring perencanaan untuk melakukan penarikan dan penerimaan dana melalui Aplikasi SPM. • Aplikasi DIPA adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk dapat mengirimkan jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam setiap mata anggaran keuangan ke KPPN dimana tempat Satuan Kerja tersebut akan melakukan transaksi. biaya yang dibutuhkan untuk masing-masing kegiatan. Dimana dalam aplikasi RKA-KL ini akan menghasilkan detai dari semua kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari fungsi/subfungsi. nama kegiatan. TPBE. Dan hasil dari aplikasi GPP ini akan digunakan sebagai bahan untuk membuat SPM tentang Gaji. • Aplikasi SPM adalah suatu aplikasi yang digunakan Satuan Kerja untuk melakukan pencairan dana di KPPN.

Tetapi diantara aplikasi ini ada yang terhubung secara sistem dan ada yang Subdit. DTP 95  . Fungsi Pengelolaan Keuangan. Fungsi Pengelolaan Barang. Penjelasan dari gambar diatas adalah : Dalam Aplikasi diatas terdapat beberapa fungsi yaitu : • • • Fungsi Monitoring dan Perencanaan. Dimana laporan keuangan aplikasi SAKPA ini adalah inputan dari semua hasil aplikasi yang ada pada Satuan Kerja. • Aplikasi SAKPA adalah suatu aplikasi tentang laporan keuangan dari Satuan Kerja. Dan aplikasi SAKPA ini adalah laporan akhir keuangan yang dikelola oleh Satuan Kerja tersebut. TPBE. Yang mana laporan keuangan aplikasi SAKPA ini akan dilaporkan kepada KPPN untuk dilakukan rekonsiliasi terhadap laporan keuangan Satuan Kerja tersebut.dari Aplikasi lainnya yaitu Aplikasi SIMAK-BMN. Aplikasi ini secara garis besarnya berhubungan antara satu aplikasi dengan aplikasi yang lain. Yang mana hasil dari aplikasi SIMAK-BMN ini akan menjadi inputan bagi aplikasi SAKPA dalam hal data penerimaan asset. Dimana dalam Aplikasi Persediaan ini memproses tentang Aset Lancar pada Satuan Kerja. • Aplikasi SIMAK-BMN adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk membuat laporan keuangan tentang barang milik Negara yang terdapat dalam Satuan Kerja tersebut.

Persediaan dan SAKPA itu dapat berhubungan secara sistem tetapi dalam hal ini aplikasi terhubung secara sistem dan juga dapat terhubung sebagai input.hanya terhubung secara input saja.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. R/U/H Penerimaan SKPA dan R/U/H Daftar / Jurnal Aset. Aplikasi GPP. D. 66/ PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Bebab Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Peraturan Menteri Keuangan No. 3. dan pada Aplikasi SAKPA juga terdapat penginputan R/U/H Pagu DIPA. SIMAK-BMN. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. Dan juga antara aplikasi SPM. dapat disimpulkan bahwa telah terdapat standar proses bisnis untuk tiap-tiap tahapan dalam siklus anggaran. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. Seperti Aplikasi Peran. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. Beberapa ketentuan utama yang diantaranya meliputi Peraturan mengatur standar proses bisnis di Satker Direktur Jenderal Perbendaharaan No. 2. TPBE. dan Aplikasi RKAKL adalah sebuah aplikasi yang hanya sebagai input dalam bentuk tertulis yang digunakan pada aplikasi lainnya. sejak penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) hingga pelaporan dan pertanggungjawaban. Aplikasi SPM ada penginputan data R/U/H Pagu DIPA. Dimana dalam hal ini menjelaskan bahwa walaupun aplikasi sudah terhubung secara sistem tetapi aplikasi juga dapat dilakukan dengan cara penginputan manual sehingga mengakibatkan pengguna akan melakukan 2 penginputan yang sama. 171/PMK. Secara umum. DIPA. Subdit. DTP 96  . SAKPA dan SIMAK-BMN yang juga sudah terhubung secara sistem dan terjadi penginputan manual yaitu R/U/H Data SPM & SP2D. pembahasan pada Bab III difokuskan pada penyusunan process mapping yang bersifat cross functional-boundaries dan deskripsi dari aktivitas selama siklus APBN yang terkait dengan bisnis proses di Satker dan koneksinya dengan Ditjen Perbendaharaan. Mengapa dikatakan seperti itu karena aplikasi-aplikasi ini melakukan penginputan manual juga seperti pada Aplikasi DIPA ada penginputan data R/U/H Data Pagu DIPA. Sedangkan aplikasi SPM.

Namun demikian. ditambahkan Appendix 1dan 2. 7. 6. Sedangkan Appemdix 2 memuat tinjauan atas proses bisnis Satker Badan Layanan Umum. Subdit. misalnya dengan manajemen kas. Tinjauan atas fitur dan integrasi sistem informasi dan aplikasi/ software menunjukkan bahwa sistem informasi di Satker saat ini sangat ter-fragmentasi dengan banyaknya menu untuk melakukan up-date/ mengubah data (multiple entry points). saat ini tidak terdapat sebuah standar proses bisnis yang secara utuh untuk mengelola data komitmen/ kontrak dan mengintegrasikannya dengan bisnis proses lainnya yang terkait. Misalnya. Untuk melengkapi pembahasan dalam bab ini. standard proses bisnis saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pembagian dan model integrasi modular yang dikenal dalam international best practice sejalan dengan pengembangan SPAN.4. Pendekatan adhoc dalam mengikut sertakan Satker untuk keperluan perencanaan kas juga tidak sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan. Appendix 1 merupakan ringkasan dari penelitian World Bank atas pelaksanaan standar proses bisnis di salah satu Satker yang kiranya bermanfaat sebagai bahan kajian dan perbandingan. TPBE. 5. yang untuk sementara belum menjadi fokus pembahasan dalam modul ini. Beberapa fitur baik dalam standar proses bisnis maupun sistem aplikasi saat ini yang diperoleh dari aktivitas process mapping akan sangat bermanfaat sebagai inisiasi untuk assessment yang lebih komprehensif dan penentuan model koneksitas proses bisnis dengan Satker di masa yang akan datang (future) yang akan dibahas pada bab selanjutnya dalam modul ini. DTP 97  .

Pejabat perbendaharaan meliputi Kuasa Pengguna anggaran. tugas dan fungsi serta proses pemilihan pejabat perbendaharaan. Key issues dalam Pelaksanaan Anggaran a. Pemisahan wewenang dan pembagian tugas di antara para pejabat pebendaharaan ditujukan untuk memwujudkan adanya mekanisme saling uji/ check-balance. Dalam rangka penyempurnaan koneksitas proses bisnis di Satker. II. hasil analisis dan rekomendasi adalah sebagai berikut: Pelaksanaan Anggaran (Budget Execution) I. Pembahasan dalam sub bagian ini meliputi sturktur organisasi. DIPA yang ditetapkan pada awal tahun anggaran merupakan dasar bagi Satker untuk melakukan komitmen. Pelaksanaan anggaran dimulai sejak penerbitan surat keputusan menteri perihal kriteria pemilihan untuk pejabat perbendaharaan. Penguji SPP/Penerbit SPM. DIPA yang diterbitkan pada awal tahun anggaran memuat rencana kerja/pengadaan tahunan serta Rencana Penarikan Dana berkaitan dengan rencana kerja tersebut.Appendix I Departemen Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga Financial Management Assessment Draft Report The Worl Bank Group September. Kerangka organisasi dalam pelaksanaan anggaran. dan Bendahara Penerimaan/Pengeluaran. Pelaksanaan anggaran merupakan tanggung jawab utama Satker. kemampuan teknis dan hal-hal administratif lainnya. Pembahasan terkait dengan existing proses bisnis. Cash Planning Kondisi Saat ini: Perencanaan kas tahunan tidak disesuaikan secara periodik dengan komitment yang benar-benar dibuat selama tahun anggaran. resume ini berfokus pada pembahasan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara di Ditjen Bina Marga khususnya yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. 2008 SUMMARY Tujuan dari penelitian adalah untuk memberikan masukan kepada Departemen Pekerjaan Umum dalam rangka mendukung agenda reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. TPBE. Pejabat Pembuat komitmen. DTP 98  . Rencana penarikan dana untuk periode bulanan tidak di-monitor dan direvisi selama berjalannya tahun Subdit.

Rencana Penarikan Dana untuk periode bulanan yang ada dalam DIPA tidak disesuaikan terhadap fakta/kenyataan yang ada selama berjalannya tahun anggaran. penundaan implementasi proyek. Analisis: Tidak adanya rencana penarikan dana yang reliable menyebabkan beberapa efek negatif dalam pelaksanaan anggaran. Analisis: Penerapan konsep TSA secara partial. memungkinkan terjadinya penundaan pembayaran dan terciptanya idle cash. Kondisi tersebut tidak memungkinkan pengelola keuangan/pejabat perbendaharaan untuk mengantisipasi kemungkinan penghematan pada sub-kegiatan tertentu dengan melakukan re-alokasi anggaran ke sub-kegiatan lainnya. Dengan kata lain. Satker masih dapat melakukan replenishment untuk melakukan pengisian kembali Uang Persediaan yang melebihi ketentuan apabila memenuhi kondisi-kondisi tertentu. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan TSA. TPBE.anggaran. b. Hasil perencanaan kas yang dibuat oleh komite ini beserta permasalahan yang dijumpai dalam pelaksanaan anggaran (bottle neck) dilaporkan kepada Ditjen Bina Marga dan Ditjen Perbendaharaan. Treasury Single Account (TSA) Kondisi saat ini: Pada saat ini terdapat dua jenis pembayaran yaitu Pembayaran Langsung dan Pembayaran melalui Uang Persediaan. perubaha kontrak dan faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi harga barang dan jasa. Pengeluaran yang dilaporkan sifatnya ex-post terhadap dana anggaran yang di sediakan di DIPA. misalnya penundaan kontrak. dengan kemungkinan melakukan pengisian kembali (GUP) terkait dengan saldo UP di rekening bendaharawan. DTP 99  . Rekomendasi: Perlunya meningkatkan manajemen proyek dengan membentuk komisi perencanaan kas (“cash planning komite”) di Satker yang diketuai oleh Kepala Satker dan terdiri dari para pejabat perbendaharaan. Sistem ini sulit di administrasi dan kompleksitasnya tidak mendukung akuntabilitas yang memadai. Batas jumlah UP yang dapat disimpan dalam rekening bendahara pengeluaran terikat dengan pagu DIPA untuk tahun yang bersangkutan. Kompleksitas peraturan yang berkaitan penerapan saldo kas di luar TSA Subdit. Adanya rush penarikan dana anggaran di akhir tahun yang berakibat pada kurangnya kualitas pengadaan dan hasil pengeluaran anggaran yang tidak optimal. Uang Persediaan dapat dipandang sebagai pembayaran lumpsump (lumps sump transfer) atas kas dalam jumlah yang terbatas dari TSA ke rekening bank Satker.

setidaknya dapat lebih sejalan dengan cara pembayaran lainnya. Mekanisme saling uji dalam pemeriksaan barang dan jasa hasil pengadaan Kondisi saat ini: Pengujian diimulai saat staf melakukan evaluasi atas SPP. nantinya merupakan dasar bagi bank yang bersangkutan untuk melakukan penarikan dari rekening TSA. dengan kas dapat mengurangi Rekomendasi: Perlunya alternatif pembayaran melalui Uang Persediaan. c.dan pembayaran kepada pihak ke-tiga/rekanan disiplin anggaran. yaitu Pembayaran Langsung. Perlu dicatat bahwa verifikasi yang dilakukan pada SPP dan SPM terbatas pada jumlah yang tercatat dalam dokumen. Salah satunya Subdit. Verifikasi fisik dari output tidak dilakukan pada tahap ini. Cara lainnya adalah dengan membuka rekening yang memberi batas pagu penarikan Uang Persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana dan rekening koran. Pejabat penguji/Penerbit SPM selanjutnya memastikan bahwa (i) tersedia anggaran untuk melakukan pembayaran (ii) SPP sudah sesuai dengan rencana kerja dan output yang dicatat (iii) permintaan pembayaran sudah sesuai dengan spesifikasi kontrak dan jadwal pembayaran. Pejabat pembuat komitmen dari satker pelaksana (implementing satker) melakukan pengawasan atas implementasi fisik dari proyek. Pembayaran melalui rekening ini. dengan kemungkinan replenishment/pengisian kembali sebulan sekali. Sedangkan verifikasi fisik dilakukan oleh kontraktor yang ditunjuk oleh satker yang melakukan perencanaan (planning satker) pada saat pelkerjaan selesai dan ditagihkan (dibuatkan invoice). double charge dan pengadaan barang dan jasa yang kurang berkualitas. Dokumen SPP dan kelengkapannya kemudian diajukan kepada Pejabat penguji/penerbit SPM. melakukan verifikasi atas check list dan kelengkapat dokumen yang diajukan. Misalnya dengan melakukan pembayaran Uang Persediaan melalui rekening bersaldo nihil (zero balanced account) pada rekening yang dikuasai secara bersamasama oleh Bendahara Pengeluaran dan Kanwil/KPPN bersangkutan. Analysis: Terlepas dari adanya mekanisme saling uji yang sudah ada. DTP 100  . TPBE. ternyata hasil audit dari BPK pada tahun 2007 mengindikasikan bahwa kurangnya verifikasi dalam pengadaan barang dan jasa telah menimpulkan kelebihan bayar (overpayments) kepada kontraktor. Verifikasi yang dilakukan oleh konsultan yang ditunjuk oleh “planning satker” ternyata tidak dapat berjalan dengan efektif. membuat catatan atas penerimaan SPP dan menerbitkan dokumen penerimaan SPP.

Oleh karena itu. dan menyampaikan SPP tersebut untuk disetujui oleh Kepala Satker atau pejabat pembuat komitmen (?). Keterlambatan yang berkaitan dengan pengajuan SPM yang tidak lengkap (incomplete) atau salah (error) tidak tercatat baik oleh KPPN maupun oleh Satker. Analysis: Proses pembayaran yang ada saat ini tidak memungkinkan adanya pengawasan yang menyeluruh dalam penyaluran pembayaran kepada kontraktor. Setelah SPP disetujui lalu dibuat SPM oleh bendahara pengeluaran dengan menggunakan aplikasi dari Ditjen Perbendaharaan.karena keterbatasan anggaran untuk melakukan verifikasi fisik sebagaimana mestinya. tidak dilakukan pencatatan oleh KPPN dalam hal SPM tidak memenuhi syarat. Selanjutnya. keterlambatan dalam proses pembayaran di Satker tidak dapat di monitor. Rekomendasi: Ketentuan yang berkaitan dengan jangka waktu penyelesaian pembayaran di Satker (48 jam) harus diterapkan sebagaimana mestinya. dengan periode maksimum 48 jam untuk melakukan proses pembayaran di Satker. Selanjutnya SPM diproses sesuai dengan jenis pembayarannya. KPPN saat ini telah melakukan pengawasan yang ketat terhadap keterlambatan di akhir proses. sehingga dapat mendekatkan dan melakukan pengawasan langsung untuk meningkatkan mekanisme saling uji dan mengurangi sentralisasi d. keterlambatan yang diakibatkan oleh penolakan tersebut tidak dapat diawasi. Pengawasan atas keterlambatan pemrosesan di KPPN dilakukan dengan merujuk pada tanggal agenda penerimaan SPM di front office. Keterlambatan dalam pembayaran langsung Kondisi saat ini: Proses pembayaran dimulai dengan penyiapan SPP oleh satker atas dasar invoice yang diterima dari suplier dan diikuti dengan penilaian barang dan jasa. KPPN dapat menjelaskan alasan penolakan secara tertulis yang tercatat dalam aplikasi/software di Satker. Salah satu alternatif. Subdit. Hal tersebut karena baik tanggal invoice dari kontraktor maupun tanggal penerimaan barang dan jasa tidak dicatat dalam software/aplikasi. Lagipula. Rekomendasi: Perlu melakukan redefinisi dari peran “planning satker” dalam melakukan verifikasi fisik pengadaan barang dan jasa. Namun demikian. diantaranya dengan mengaktifkan peran Balai (di tingkat propinsi). Petugas di Satker melakukan input data SPP dan mencetak menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Ditjen Perbendaharaan. TPBE. Salah satunya dengan mencatat tanggal pengajuan invoice dan tanggal penyelesaian verifikasi barang dan jasa. DTP 101  .

impementasi program dibandingkan dengan rencana kerja. diperlukan rekonsiliasi dan konsolidasi pada beberapa point. DTP 102  . Aktivitas ini dapat dilakukan dalam konteks penerapan Integrated Financial Management System (SPAN) b. Rekomendasi: Hendaknya dilakukan review terhadap aplikasi/software-software yang ada dengan melibatkan kementrian teknis. Manajemen atas software/modul ini tidak diimbangi dengan kurangnya jumlah dan kemampuan SDM di Satker. Satker di tingkat kanwil juga harus melakukan rekonsiliasi dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Laporan Manajemen Kondisi saat ini: Kementrian Pekerjaan Umum telah mengimplementasikan mekanisme pelaporan menggunakan “e-monitoring system” (SIPP). DJA and Ditjen PBN.III. Proses ini berlanjut hingga ke tingkat Kementrian/Lembaga. Lagipula. Oleh karene itu diperlukan mekanisme rekonsiliasi untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan sama dengan informasi yang ditujukan untuk Kementrian Keuangan. pagu anggaran serta realisasinya. karena data entri dilakukan pada beberapa titik/fase. yaitu SAI yang terdiri dari SAK dan SIMAK-BMN. Akuntansi dan Pelaporan a. Beberapa modul ini sifatnya “stand alone” sehingga beberapa jenis data harus di-capture beberapa kali. Terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh Satker dilakukan proses rekonsiliasi terhadap data yang ada di KPPN. Laporan keuangan disusun menggunakan stadar aplikasi yang dibuat oleh Ditjen PBN. TPBE. Laporan keuangan juga direkonsiliasi dengan informasi yang ada dalam SIMAK-BMN. Analysis: Laporan keuangan dan pelaksanaan anggaran dikompilasi menggunakan software/modul yang berbeda-beda. kemajuan kontrak. Subdit. Informasi yang dihasilkan dari sistem ini diantaranya adalah informasi kontrak. Analisis: Kemampuan pelaporan dari SIPP cukup komprehensif dan mencakup aspek-aspek dalam pelaksanaan anggaran dan implementasi program. Pelaporan keuangan dan pelaksanaan anggaran Current situation: Peraturan yang ada mengharuskan Satker untuk menyampaikan laporan keuangan dan kinerja. Namun demikian sistem ini dijalankan secara paralel dengan standard akuntansi dan sistem pelaporan yang ditentukan Ditjen Perbendaharaan. Manajemen “back-up data” juga tidak dilakukan secara rutin utnuk memastikan keandalan data.

Rekomendasi: Perlu dilakukan langkah-langkah untuk menyelaraskan SIPP dnengan sistem akuntansi dan pelaporan pada Ditjen Perbendaharaan sehingga keuanya menggunakan basik data yang sama untuk keperluan analisis dan pelaporan keuangan dan data pelaksanaan anggaran. Subdit. TPBE. DTP 103  . Aktivitas ini juga diharapkan akan menjadi dasar untuk melakukan review dan mengintegrasikan syarat-syarat untuk pelaporan manajemen sesuai dengan konfigurasi dalam SPAN.

Pada DIPA Satker BLU terdapat data mengenai saldo awal kas. Satker BLU berstatus penuh diberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan. target pendapatan PNBP. besaran presentase ambang batas dan jumlah serta kualitas barang dan/atau jasa yang dihasilkan. Berdasarkan pengertian tersebut terlihat adanya perbedaan karakteristik Satker BLU dengan Satker biasa. yaitu berfungsi sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dimana berisi batas pengeluaran tertinggi yang tidak boleh dilampaui dan pelaksanaannya harus dapat dipertanggungjawabkan. Namun demikian. A. Penerimaan pembiayaan BLU terdiri dari divestasi. 2. Sedangkan Satker BLU berstatus bertahap dapat menggunakan PNBP sebesar persentase proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan sepanjang telah diatur berdasarkan ketentuan. Manajemen DIPA Secara umum fungsi DIPA BLU dengan DIPA Satker biasa ialah sama. Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan adanya perbedaan dalam mekanisme pelaksanaan anggaran di Satker BLU dengan Satker biasa. pagu pengeluaran pembiayaan. pinjaman jangka Subdit. terdapat beberapa perbedaan terkait struktur DIPA Satker BLU dengan DIPA Satker biasa. Pada DIPA Satker BLU terdapat halaman II.Appendix II Pengelolaan Keuangan di Satker BLU Badan layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. TPBE. Ada 2 jenis Satker BLU yaitu Satker BLU berstatus penuh dan Satker BLU berstatus bertahap. DTP 104  . sebagaimana ditetapkan dalam RBA definitif.23 tahun 2005). saldo akhir kas. Satker teersebut dapat langsung menggunakan seluruh PNBP tanpa terlebih dahulu disetorkan ke Rekening Kas Negara asalkan masih dalam ambang batas fleksibilitas.B yang memuat rincian penerimaan pembiayaan BLU dan pengeluaran pembiayaan yang akan dilakukan oleh BLU. Berikut ini identifikasi terhadap beberapa perbedaan yang ada. (PP No. Perbedaan tersebut ialah sebagai berikut: 1.

3. C. DTP 105  . Pengeluaran pembiayaan dimungkinkan untuk investasi. Manajemen Pembayaran Satker BLU selaku KPA mengajukan SPM LS kepada KPPN untuk keperluan sebagai berikut: 1. Belanja pegawai (untuk pegawai BLU yang berstatus PNS). Manajemen PNBP Berbeda dengan Satker yang memiliki PNBP dimana PNBP nya harus disetorkan terlebih dahulu sebelum digunakan. hibah tidak terikat Subdit. pembayaran pokok pinjaman. Belanja modal. target PNBP dan nilai PNBP yang di dapatkan. menerima pinjaman jangka pendek dan jangka panjang. 2. Pengeluaran pembiayaan BLU terdiri dari investasi. TPBE. Sebaliknya penerimaan pembiayaan dimungkinkan untuk divestasi. B.pendek dan pinjaman jangka panjang. Belanja barang yang dilaksanakan setiap triwulan sebesar selisih (mismatch) antara jumlah kas yang tersedia ditambah proyeksi arus kas masuk dikurangi proyeksi arus kas keluar. pembayaran pokok pinjaman dan pemberian pinjaman. dan pemberian pinjaman. Besaran persentase ambang batas digunakan sebagai ambang batas yang diperkenankan untuk melakukan belanja melebihi pagu yang telah ditetapkan mendahului revisi DIPA sepanjang PNBP nya melebihi target yang telah ditetapkan dan sepanjang tercantum dalam RBA (Rencana Bisnis dan Anggaran). Pencantuman pagu pembiayaan mengisyaratkan bahwa Satker BLU diperbolehkan untuk melakukan penerimaan dan pengeluaran pembiayaan dalam kegiatan usahanya. Pendapatan Satker BLU dapat dipergunakan langsung dimana besar kecilnya tergantung pada jenis Satker BLU. Pendapatan Satker BLU yang dapat dipergunakan langsung untuk membiayai belanja operasional Satker BLU terdiri dari : 1. jasa layanan yang diberikan kepada masyarakat 2. Selain mengajukan SPM LS untuk kepentingan tersebut diatas Satker BLU juga mengajukan SPM Pengesahan ke KPPN dalam rangka pertanggungjawaban penggunaan dana yang bersumber dari pendapatan (pendapatan dari jasa layanan. hibah tidak terikat dan hasil kerja sama dengan pihak lain).

Ambang batas belanja 10 % .Target PNBP 100 M . TPBE.PNBP yang dapat digunakan secara langsung sebesar 60% . Sedangkan untuk kepentingan konsolidasi dengan Laporan Keuangan Subdit.PNBP yang dapat digunakan langsung maksimal sebesar 110 M (100M + 10%x100M). Satker BLU berstatus bertahap .PNBP yang harus disetor kerekening Kas Negara sebesar 56 M .Satker tersebut dapat menggunakan PNBP sebesar 90% dari target yang ditetapkan . (Revisi DIPA dimaksud dapat dilaksanakan pada akhir tahun) . hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan atau hasil usaha lainnya dapat dikelola langsung untuk membiayai belanja operasional BLU Berikut ini gambar proses bisnis dan ilustrasi untuk penggunaan PNBP untuk Satker BLU berstatus penuh dan Satker BLU berstatus bertahap.Apabila sisa PNBP tersebut akan digunakan pada tahun anggaran berjalan.Pengeluaran belanja tersebut dapat dilaksanakan mendahului revisi DIPA pengesahan.Sisa PNBP yang dapat digunakan dengan mekanisme pencairan PNBP sebesar 36 M (90 M – 54 M) D.Realisasi 110 M Maka: .Realisasi PNBP 115 miliar Maka : . merupakan surplus yang dapat digunakan pada tahun berikutnya. .PNBP yang dapat digunakan secara langsung sebesar 54 M (60%x90%x100M) . maka terlebih dahulu dilakukan revisi. 1. DTP 106  .Target PNBP 100 M . Pelaporan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan BLU diselenggarakan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia.PNBP yang dapat dimanfaatkan adalah 90 M (90% x target PNBP) .Sisa PNBP sebesar 5 M. .3. Satker BLU berstatus penuh . 2.

Kementerian Negara/Lembaga diselenggarakan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Laporan Arus Kas. TPBE. Neraca. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK. DTP 107  . Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Penggunaan PNBP (Satker BLU berstatus bertahap) dan Pelaporan. APK dalam rangka rekonsiliasi dan penyusunan Laporan Keuangan pemerintah pusat setiap semester. Laporan Keuangan BLU yang dihasilkan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan dikonsolidasikan dengan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang terdiri dari LRA. Laporan Keuangan BLU yang dihasilkan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan menjadi lampiran Laporan Keuangan Kementerian Negara Lembaga yang terdiri dari LRA/Operasional. Sedangkan untuk gambar proses bisnis belanja pegawai BLU yang berstatus PNS dan proses bisnis belanja modal tidak dilampirkan karena gambar proses bisnis tersebut sama dengan proses bisnis pada Satker biasa. Satker BLU juga menyampaikan Laporan Keuangan yang terdiri dari laporan Realisasi Anggaran/Laporan Operasional. 4. LAK. BLU menyampaikan ADK. dan Catatan atas Laporan Keuangan. BLU menyampaikan secara triwulanan ke KPPN berupa LRA. Selain menyampaikan Laporan Keuangan untuk kepentingan rekonsiliasi. Catatan: Berikut ini alur proses bisnis untuk DIPA. UAPPA-E1 menyampaikan LRA. UAPA menyampaikan laporan keuangan beserta ADK kepada Ditjen PBN cq. LRA dan neraca kepada UAPPAE1 untuk digabungkan setelah dilakukan rekonsiliasi dengan KPPN setiap triwulan. dan Catatan Atas Laporan Keuangan disertai Laporan Kinerja beserta data transaksi ke UAPPA-E1 setiap bulan. Neraca dan ADK dalam rangka melakukan rekonsiliasi data. Dit. 3. Penggunaan PNBP (Satker BLU berstatus penuh). Untuk Semesteran dan tahunan disertai dengan CALK. Alur proses rekonsiliasi Laporan Keuangan Satker BLU ialah sebagai berikut: 1. Neraca dan ADK termasuk BLU setiap triwulan ke UAPA sebagai bahan penyusunan laporan keuangan tingkat kementerian negara/lembaga. Subdit. 2. Neraca.

Subdit. TPBE. DTP 108  .

 TPBE.2.3) SPM GU Pengesahan SPM LS untuk Penggunaan PNBP (2.1) Subdit. Penggunaan PNBP (Satker BLU bersatus Bertahap) MoSA Setor ke Kas Negara (2. DTP 109  .6) SPM LS PNBP Penggunaan langsung Y SP2D GU Pengesahan (2.1) Penggunaan Langsung PNBP (2.7) (4.5) DIPA N Realisasi Penerimaan PNBP (2.2) Pertanggung jawaban Penggunaan (triwulanan) (2.4) SP2D LS PNBP (2.

Subdit. TPBE. DTP 110  .

 TPBE. DTP 111  .Subdit.

Pembahasan pada bab III secara umum menggambarkan alur proses bisnis secara cross functional boundaries. bab ini difokuskan pada pembahasan usulan future model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan satker yang disesuaikan dengan modul-modul yang ada dalam pengembangan SPAN. dibahas usulan future proses bisnis terkait Manajemen DIPA. Future proses bisnis yang dihasilkan dari methodology tersebut di atas terutama Subdit TPBE. telah dibahas sistem perbendaharaan yang meliputi aktivitas manajemen keuangan negara di Satuan Kerja dan di Ditjen Perbendaharaan. Penjelasan pada Bab III menekankan pada mekanisme kontrol. juga dibahas berbagai usulan tentang struktur pejabat perbendaharaan (PA/KPA. mengkaji internasional best practice dan kesesuaiannya dengan landasan hukum yang ada (UndangUndang). dan Bendahara) di satker beserta proses bisnisnya terkait. mekanisme input-output (transfer) yang digunakan dan dihasilkan sebuah proses bisnis. Konsepsi dan Metodologi Pada bab-bab sebelumnya. Sejalan dengan framework ITIL v. Disamping itu. Dalam hal ini. Dalam bab ini akan dibahas secara lebih rinci future model dari koneksitas dari proses bisnis dan manajemen keuangan di Satker dengan proses bisnis di perbendaharaan. Penentuan model manajemen keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dilakukan dengan memperhatikan permasalahan dari praktek pada saat ini. dan Manajemen Kas. terutama yang dijalankan oleh institusi/unit yang berbeda. yang secara paralel sekaligus menjadi bahan untuk pengembangan IT dan penerapannya pada satker terpilih. Manajemen Pembayaran. verifikasi dan dokumen pendukung dalam proses bisnis. A. hal-hal yang dibahas dalam bab ini akan menjadi fokus diskusi pada awal tahun 2010. 2. Accounting dan Reporting. Definisi. Integrasi yang tinggi ini setidaknya meliputi: 1. DTP                                                                                                                                           112    .3. termasuk di dalamnya bentuk/media dan interface.BAB IV Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. keandalan dan kesesuaian aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian intern (internal control) di masing-masing unit proses bisnis. Manajemen Komitmen. PPSPM. PPK. Koneksitas proses bisnis dicerminkan oleh integrasi diantara elemen-elemen proses bisnis.

a) Apportionment: proses untuk menentukan bagian dari anggaran yang telah disetujui oleh parlemen (appropriation) yang dapat digunakan oleh Line Ministries dan Main Spending Unit (apportioned appropriations). prosesnya secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua hal sebagai berikut. Proses ini dapat berupa keputusan (decree) yang memberikan otorisasi kepada Line Ministries untuk menggunakan seluruh atau sebagian dari jumlah yang telah disetujui parlemen b) Allotment: proses dimana line ministries atau main speding unit mengalokasikan rincian dari jumlah anggaran yang telah disetujui oleh parlemen (apportioned appropriations) kepada Spending Unit di lingkungan masing-masing (subordinate Spending Unit) (OECD. dapat berlaku untuk satu periode tahun anggaran atau untuk periode tertentu yang lebih singkat.diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). World Bank. 2001. 2007) Subdit TPBE. Manajemen DIPA 1. terutama terkait dengan modernisasi sistem informasi dan IT. Otorisasi ini. Tujuan dan fungsi Setelah rancangan anggaran (budget draft) disetujui oleh parlemen. Terdapat mekanisme yang berbeda di masing-masing negara terkait dengan pengalokasian dan pendistribusian jumlah anggaran yang telah disetujui oleh Parlemen kepada Spending Unit. B. rekomendasi untuk penyempurnaan proses bisnis pada saat ini juga memperhatikan blue print rencana pengembangan SPAN. Namun demikian. Oleh karena itu. tergantung dengan sistem yang digunakan di negara tersebut. Fungsi manajemen DIPA terutama berkaitan dengan distribusi dana anggaran yang telah disetujui tersebut kepada Spending Unit sebagai dasar untuk melakukan pengeluaran (otorisasi). DTP                                                                                                                                           113    . Line Ministries dan Spending Unit pada dasarnya telah memiliki otorisasi untuk melakukan pengeluaran atas beban anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

International Best Practice terkait Manajemen DIPA Berkaitan dengan pelaksanaan anggaran (budget execution). Perbedaan mendasar di antara keduanya adalah mekanisme penggunaan appropriasi (anggaran yang disetujui oleh parlemen) sebagai dasar untuk membuat perikatan/komitmen yang akan membebani anggaran. Implementasi atas salah satu dari sistem tersebut. Pembahasan untuk masing-masing sistem adalah sebagai berikut: a) Warrant system Warrant adalah “a release of all. or more commonly a part. Subdit TPBE. Namun demikian. Warrant tersebut akan menjadi batas tertinggi pengeluaran (spending limit) untuk jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. DTP                                                                                                                                           114    . sebagian atau keseluruhan jumlah anggaran tersebut baru dapat efektif sebagai dasar pengeluaran apabila telah diterbitkan dokumen pelaksanaan anggaran (warrant) atas dasar usulan Spending Unit. 2001). of the total annual appropriation on a quarterly or monthly basis that allows a line ministry or spending agency to make commitments” (OECD. yaitu warrant system dan apportionment/allotment system. sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4. Dalam sistem ini. biasanya sejalan dengan sistem manajemen komitmen dan manajemen pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran yang diterapkan di suatu negara.2.1. anggaran/approptiation yang disetujui parlemen lebih merupakan alat perencanaan yang merefleksikan kebijakan dan program pemerintah untuk tahun anggaran yang bersangkutan. Proses bisnis management of Spending Authority adalah sejak Plan Procurement sampai dengan Penerbitan Warrant / Spending Limit. pada dasarnya terdapat dua sistem utama dalam manajemen atas Spending Authority.

Dokument tersebut efektif sebagai dasar untuk melakukan perikatan/komitmen dan/atau pengeluaran atas beban anggaran negara.Gambar 4. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4. prosedur alokasi atas anggaran yang disetujui parlemen ke dalam masing-masing Spending Units akan menghasilkan dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan anggaran yang umumnya berlaku selama periode tahun anggaran. Proses Bisnis Manajemen DIPA (Warrant System) b) Apportionment system Apportionment atau allotment adalah “authorizations or distributions of funds generally made by the ministry of finance to line ministries and other spending units permitting them to either commit or pay out of funds or both. Dalam sistem ini. DTP                                                                                                                                           115    .2 Subdit TPBE.1. within a specified time period and within the amounts appropriated and authorized”. Proses bisnis management of Spending Authority adalah proses penerbitan dan pengesahan dokumen allotment.

Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan (penjelasan pasal 3 ayat 4).Gambar 4. perencanaan. DTP                                                                                                                                           116    . Subdit TPBE. pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden sebagai pedoman bagi kementerian negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran. Di dalam Penjelasan Undang-undang No. distribusi. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara khususnya pasal 3 Ayat (4) yang menyebutkan bahwa APBN/APBD mempunyai fungsi otorisasi. alokasi. dan stabilisasi.02/2008 pasal 6).2 Proses Bisnis Manajemen DIPA (Apportionment System) 3. pengawasan. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen DIPA Pada dasarnya sistem yang dipakai di Indonesia terkait manajemen atas Spending Authority cenderung pada sistem apportionment/allotment. Peraturan Presiden tersebut menjadi dasar penyusunan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) (PMK 105/PMK. PerPres tersebut memuat rincian menurut alokasi anggaran untuk masing-masing Satuan Kerja (SAPSK) dan jenis belanja. Hal ini sesuai dengan amanat UU No.17 tahun 2003 pada point 8 paragraf pertama disebutkan bahwa setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan UndangUndang..

Model koneksitas proses bisnis yang berkaitan dengan manajemen DIPA pada saat ini adalah sebagai berikut (gambar 4.3 Model Koneksitas Proses Bisnis Manajemen DIPA (current) Subdit TPBE. Di dalam DIPA diuraikan anggaran yang disediakan (UU No. DTP                                                                                                                                           117    . 1 tahun 2004 Pasal 17). Pada saat ini DIPA disusun per satker (kecuali beberapa instansi vertikal per kanwil) dan per BKPK (4 digit).02/2008).3): Gambar 4.Konsep DIPA yang disusun oleh Kuasa Pengguna Anggaran Satuan kerja disahkan berdasarkan PerPres tentang RABPP dan atau SRAA (PMK No. Untuk keperluan pelaksanaan anggaran. Realisasi pencairan dana tersebut (SP2D) dibuat per satker dan per akun pengeluaran (6 digit). 1 tahun 2004 Pasal 14 point 3). berdasarkan DIPA Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berwenang mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan (UU No. ADK DIPA yang terdapat dalam sistem di KPPN adalah 6 digit. Dalam rangka pencairan dana Satker mengajukan SPM ke KPPN per akun pengeluaran (6 digit). 105/PMK.

Namun demikian harus diakui bahwa sampai saat ini Treasury / Ditjen Perbendaharaan belum mampu menerapkan proses bisnis dengan dukungan IT yang ideal sebagai mekanisme untuk melakukan update rencana pencairan dana (halaman III DIPA) sesuai dengan realisasi. Permasalahan diatas berkaitan dengan beberapa elemen-elemen dari bisnis proses.Dalam prakteknya manajemen DIPA saat ini identik dengan beberapa permasalahan. d) Jumlah Satker yang sangat banyak dalam rangka pelaksanaan anggaran juga dipengaruhi oleh peraturan yang berkaitan dengan budget preparation yang dihasilkan oleh DJA. Kondisi tersebut mencerminkan kurangnya kemampuan Satker dalam perencanaan. Hal-hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan Satker untuk mengimplementasikan anggaran. Dalam tingkatan tertentu hal tersebut mengurangi fleksibilitas anggaran selama pelaksanaannya. c) Rencana pencairan dana (halaman III DIPA) tidak diikuti dan tidak mengikat Satker sehingga fungsinya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. misalnya rincian Perpres APBN (apportionment) sudah mengalokasikan anggaran menurut Spending Unit (Satker) dalam bentuk SAPSK Subdit TPBE. misalnya sebagai berikut: a) Tingginya frekuensi usulan revisi DIPA mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: 1) Kurangnya perencanaan yang ideal selama proses penyusunan anggaran (budget preparation) 2) Kurangnya kerjasama antara pihak-pihak di Kementrian / Satker yang bertanggung jawab dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan anggaran. diantaranya: • • • • • • Jumlah Satker yang sangat banyak Tingginya frekuensi usulan revisi DIPA Kurangnya fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran Tidak efektifnya Rencana Pencairan Dana (Halaman 3 DIPA) Tidak ada mekanisme update untuk Rencana pencairan Dana (Halaman 3 DIPA) Ketidaksesuaian Data pagu baik di lingkungan unit vertikal DJPBN maupun dengan Satker. b) Ketentuan dalam perundang-undangan menghendaki persetujuan parlemen (DPR) sampai dengan jenis belanja. DTP                                                                                                                                           118    .

Fitur SPAN terkait Manajemen DIPA Sejalan dengan rencana pengembangan SPAN maka diharapkan nantinya proses bisnis terkait manajemen DIPA dapat mengakomodasi hal-hal sebagai berikut: a) DJA dapat menerima data anggaran dari Kementrian / Satker secara online. c) Kantor pusat kementrian teknis dapat mendistribusikan anggaran yang telah disetujui kedalam Satker dilingkungan kerjanya (konsep DIPA) dengan persetujuan Ditjen Perbendaharaan. b) Sistem perencanaan anggaran dapat menerima dan mencatat perubahan usulan anggaran sebagai hasil pembahasan antara Kementrian Keuangan. Kementrian / Satker dan DPR. 4. e) Ditjen Perbendaharaan dapat menginformasikan Satker tentang rincian anggaran yang telah disetujui baik secara paper based maupun elektronik (DIPA). Didalam rencana pengembangan SPAN memungkinkan pengembangan beberapa alternatif untuk sentralisasi database (terutama yang berkaitan dengan DIPA). DTP                                                                                                                                           119    . Sampai saat ini tidak terdapat mekanisme yang dapat menjadi dasar bagi Ditjen Perbendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran untuk memodifikasi jumlah dan struktur Satker dalam Perpres APBN. status komitmen. Bappenas. Permasalahan tersebut diatas harus menjadi perhatian utama dalam penyempurnaan koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait manajemen DIPA. Data anngaran tersebut dapat dikonsolidasikan dan disimpan dalam database. batasan kas dan pengeluaran. e) Ketidaksesuaian data pagu baik antar Satker dengan Ditjen Perbendaharaan maupun diantara unit teknis Perbendaharaan terutama setelah revisi. terutama sebagaimana terdapat dalam Lampiran V.(PMK 105/2008). f) KPPN dapat memeriksa secara online pagu anggaran. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh belum tersentralisasinya data DIPA. Subdit TPBE. d) Ditjen Perbendaharaan dapat melihat dan menyetujui rincian anggaran yang didistribusikan kepada Satker oleh kantor Pusat Kementrian Teknis masingmasing (konsep DIPA).

Model koneksitas antara Satker Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam integrated budget preparation modul ditunjukkan dalam gambar 4.4.5): Gambar 4.5 Model Separated Budget Preparation Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           120    . Gambar 4.4 Model Integrated Budget Preparation Model alternatif lainnya adalah integrasi database (terutama yang berkaitan dengan DIPA) dengan modul budget preparation yang terpisah sebagai berikut (gambar 4.

di mana Konsep DIPA diajukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran dari Satker yang bersangkutan. Pencocokan tersebut dapat secara manual maupun secara otomatis (by sistem) apabila fitur SPAN sebagaimana dalam angka 4 tersebut di atas dilaksanakan. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4.02/2008. Rekomendasi terkait dengan implikasi dari terintegrasinya data Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam satu sistem adalah sebagai berikut: a) Fitur SPAN memungkinkan Ditjen Perbendaharaan mencocokkan rincian APBN (perpres) dengan konsep DIPA yang diajukan Satker. Konsep DIPA yang disusun oleh Satker diregister ke kantor pusat K/L untuk selanjutnya dimintakan persetujuan ke kantor pusat DJPB. Mekanisme ini mengakomodasi ketentuan dalam pasal 7 PMK 105/PMK. sistem tidak akan menolak konsep DIPA dan Kantor pusat DJPB harus memberikan persetujuan atas konsep DIPA tersebut.5.6): Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           121    . Sepanjang konsep DIPA sudah sama dengan Perpres rincian APBN dan indikator kinerja serta target yang akan dicapai sudah sesuai dengan RKA-KL yang disepakati antara DPR dan pemerintah. Rekomendasi dan alternatif Future Vision Model koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA Dari kedua model koneksitas tersebut diatas modul budget preparation yang terintegrasi merupakan yang paling ideal.

Untuk kepentingan pelaporan. Dengan mekanisme ini diharapkan manajemen keuangan negara di Satker dapat lebih fleksibel dan lebih mencerminkan pelaksanaan konsep “let the manager manages” namun tetap sesuai dengan ketentuan perundangan yang ada Subdit TPBE. rincian tetap dibutuhkan per akun (6 digit). Satker tetap mengajukan pencairan dana ke KPPN per akun pengeluaran (6 digit). c) Dalam hal terjadi usulan revisi. sistem harus dapat menerapkan pembatasan pencairan dana secara otomatis pada subkegiatan/kegiatan yang sedang direvisi sehingga menghindari pagu minus akibat revisi.Gambar 4. DTP                                                                                                                                           122    . Konsekuensinya ketersediaan pagu anggaran ditetapkan per jenis belanja (2 digit). Data DIPA yang diterima KPPN adalah per satker dan per jenis belanja saja (2 digit). maka pagu DIPA akan mengikat Satker dalam pelaksanaan anggarannya dan merupakan batas tertinggi pengeluaran bagi Satker.6 Alternatif Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA b) Setelah DIPA disahkan. d) Diusulkan agar DIPA disusun per satker (kecuali beberapa instansi vertikal per kanwil) dan per jenis belanja (2 digit).

kelemahan utama terkait dengan penggunaan rencana penarikan dana sebagai alat untuk manajemen kas pada saat ini adalah sebagai berikut: 1) Tidak efektifnya rencana penarikan dana baik dalam hal keperluan realisasi maupun kepentingan manajemen kas. DTP                                                                                                                                           123    . Seperti telah disinggung sebelumnya. Dengan kata lain. rencana penarikan dana dalam DIPA tidak secara efektif digunakan sebagai acuan untuk Subdit TPBE.7 Rekomendasi Digitasi dari Pelaksanaan Anggaran e) Halaman III DIPA memuat rencana penarikan dana. Berikut ini pada Gambar 4. Mekanisme ini diakomodasi dalam konsep Annual Financial Plan (AFP) sebagai bagian dari modul manajemen DIPA di dalam SPAN bidding document. Gambar 4.pada saat ini.7 adalah ilustrasi dari rekomendasi tersebut di atas. Di dalam Penjelasan PMK 105/PMK.02/2008 disebutkan bahwa pencantuman rencana penarikan dana dalam dokumen DIPA adalah untuk pencapaian optimalisasi fungsi DIPA sebagai manajemen kas pemerintah (optimalisasi pengelolaan rekening kas negara) terkait dengan kebutuhan untuk menjamin ketersediaan uang dan ketepatan waktu penyediaan uang dalam rangka memenuhi tagihan kepada negara.

2) AFP murni sebagai alat perencanaan kas. salah satu Subdit TPBE. Dengan demikian AFP memiliki sifat mengikat dan berlaku sebagai batas pengeluaran / spending limit untuk jangka waktu sebagaimana dalam AFP. DIPA tidak hanya sebagai dokumen alokasi anggaran. Dengan demikian DIPA memiliki dua status. Namun demikian sistem tersebut akan menambah bisnis proses baru bagi Satker. Alternatif pertama (1) lebih realistis sebagai alat perencanaan kas. Beberapa alternatif dalam kerangka pengembangan SPAN untuk merevitalisasi fungsi halaman III DIPA sebagai salah satu alat perencanaan kas sebagai berikut: 1) Pengesahan konsep DIPA oleh Kantor pusat DJPB berati juga persetujuan pencairan dana Satker untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan periode AFP. Satker dapat melakukan pengeluaran melebihi jumlah rencana pengeluaran sebagaimana dalam halaman III DIPA. Satker harus mengajukan usulan perubahan apabila akan melakukan pengeluaran melebihi jumlah yang telah disetujui dalam AFP. DTP                                                                                                                                           124    . sehingga menjadi tidak valid untuk menjadi alat manajemen kas. 2) Tidak ada mekanisme update atas perubahan dan/ atau realisasi dari rencana penarikan dana tersebut. Rencana pengeluaran ini di update diantaranya sesuai dengan informasi perkiraan pengeluaran yang akan jatuh tempo dalam periode AFP. namun juga sebagai surat keputusan otorisasi untuk jangka waktu tertentu (warrant). Alternatif kedua (2) lebih fleksibel dan tidak rigid terhadap pengeluaran dalam jangka waktu tertentu. Kekurangannya adalah untuk dapat dilaksanakan secara ideal sistem ini memerlukan mekanisme updating yang terintegrasi dan lengkap terkait dengan pengeluaran yang akan jatuh tempo. khususnya untuk long term planning. Informasi ini salah satunya diperoleh dari data atas jumlah pagu yang telah dikontrakan dari modul manajemen komitmen. Namun demikian AFP ini tidak berlaku sebagai batas tertinggi pegeluaran spending limit untuk periode tertentu.keperluan pembayaran/ pengeluaran kas. Disamping itu implementasi yang efektif dari sistem ini memerlukan kemampuan manajerial Satker terutama dalam hal perencanaan.

tidak semua rencana pengeluaran dapat diakomodasi di manajemen komitmen. DTP                                                                                                                                           125    . 3) Informasi terkait dengan komitmen/perikatan akan menjadi salah satu input untuk meng-update dan meningkatkan validitas dari rencana penarikan dana selama periode waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. 2) Rencana penarikan dana (halaman 3 DIPA) yang merupakan Annual Financial Plan dan disusun oleh Satker akan berfungsi sebagai periodic spending limit. rencana penarikan dana akan berlaku mengikat sebagai batas pengeluaran selama jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. Rencana penarikan dana dapat direvisi atas usul satker dan disetujui oleh treasury. misalnya pengeluaran untuk wages. Pagu tersebut merupakan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan perikatan (otorisasi). Dengan kata lain.8): Subdit TPBE. Beberapa pengeluaran yang bersifat non kontraktual umumnya dapat dilakukan tanpa manajemen komitmen. Ilustrasi dari mekanisme ini adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. rekomendasi untuk mekanisme penggunaan rencana penarikan dana adalah sebagai berikut: 1) Spending limit untuk jangka waktu satu tahun anggaran adalah total nilai pagu yang ada pada DIPA. tanpa harus disahkan terlebih dahulu sebagai periodic spending limit (batas pengeluaran untuk jangka waktu tertentu di dalam satu tahun anggaran) atas dasar dokumen Request for Commmitment. Dari kedua alternatif tersebut. Akan tetapi.diantaranya melalui manajemen komitmen. utilities dan entitlement. Implementasi alternatif kedua (2) harus didukung sistem lain yang memang ditujukan untuk melakukan updating terhadap Annual Financial Plan yang disusun oleh Satker.

Gambar 4.8 Mekanisme Penggunaan dan Updating Rencana Penarikan Dana Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           126    .

Namun demikian. Tujuan dan Fungsi Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu (Radev & Khemani. Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan purchase order dan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. 2007). manajemen komitmen juga merupakan salah satu alat untuk melakukan cash forecasting.  1 Subdit TPBE. 2007). Pada dasarnya. Secara umum terdapat dua jenis komitmen. Commitment management dapat mendukung terwujudnya cash management yang berorientasi ke depan (forward cash management). tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment (Radev & Khemani. Pembayaran untuk gaji. disebutkan bahwa komitmen anggaran terjadi pada saat kontrak ditandatangani antara Satker dan rekanan untuk pengadaan barang dan jasa di masa yang akan datang atau pada saat rekanan menerima dan menyanggupi purchase order dari satker (p. maka institusi perbendaharaan dapat membuat perencanaan kas yang berorientasi ke depan (forward cash plans) berdasarkan perkiraan aliran kas yang akan menyertai pelunasan sebuah komitmen. DTP                                                                                                                                           127    . Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan. 211). Komitmen khusus (spesific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu. Dengan mencatatkan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan. tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri. Manajemen Komitmen 1.C. Dalam SPAN Bid Document. yang berbeda dengan cash forecasting berdasarkan data trend dari periode sebelumnya (historical data trend). 2007). manajemen komitmen ditujukan untuk mengelola tindakan-tindakan awal yang menimbulkan kewajiban negara dalam rangka disiplin anggaran (ketaatan terhadap batas pengeluaran) dan menghindari timbulnya arrears 1 .                                                               Arrears dapat diartikan sebagai kewajiban pembayaran yang tertunda di mana negara tidak dapat memenuhi  kewajiban tersebut dalam jangka waktu tertentu (Radev & Khemani. Pelaksanaan manajemen komitmen memiliki dua tujuan utama yang masingmasing memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Current State Assessment & Problems Terkait Manajemen Komitmen Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen dan dapat dijadikan landasan untuk pengembangan manajemen komitmen di masa yang akan datang. 3. model manajemen komitmen suatu negara tergantung pada keseluruhan kerangka organisasi dalam proses pelaksanaan anggaran khususnya yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran (payment management) dan sistem akuntansi (accounting system) (Radev & Khemani. Ciri utama dari model ini adalah adanya penunjukan pejabat (Chief Controlling Officer) yang memiliki kewenangan untuk mengesahkan timbulnya sebuah kommitmen dan bertanggung jawab atas aktivitas manajemen komitmen. diperlukan adanya pengesahan dari pejabat yang berwenang sebelum terjadinya sebuah komitmen. Pejabat tersebut harus memastikan ketersediaan dana dan kesesuaian klasifikasi anggaran atas komitmen yang dibuat dalam kerangka internal control dan aktivitas administratif yang membentuk sistem dari mangement commitment. Pada intinya. Secara umum. Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat Subdit TPBE. Request for Commitment yang telah disetujui dan dicatat oleh pihak treasury selanjutnya akan menjadi salah satu dasar pembayaran oleh pihak treasury.2. terdapat banyak variasi dari aplikasi manajemen komitmen di berbagai negara. b) Manajemen komitmen yang didesentralisasikan (Decentralised commitment management) Dalam model ini. DTP                                                                                                                                           128    . International Best Practices terkait Manajemen Komitmen Secara garis besar terdapat dua model ekstrim dari manajemen komitmen. sebagai berikut: a) Manajemen komitmen yang terpusat (Centralised commitment management) Ciri utama dari model ini adalah adanya mekanisme pengajuan Request for Commitment untuk diuji ketersediaan dananya (uncommitted budget allocation balance) oleh pihak treasury sebelum komitmen terjadi. 2007). Pada prakteknya. fungsi manajemen komitmen diserahkan kepada kementrian teknis/satker yang bersangkutan.

Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. Kewenangan administrative tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan). 9) Subdit TPBE. p. Salah satu fitur dari decentralized commitment management adalah adanya pejabat tertentu yang melakukan otorisasi dan bertanggung jawab untuk melakukan perikatan (Chief Commitment Officer). Hal tersebut berlawanan dengan fitur dari centralized commitment management di mana expenditure ceiling yang dihasilkan dari pengajuan Request for Commitment merupakan batasan untuk melakukan komitmen dan melakukan pembayaran sebagai akibat dari timbulnya komitment dalam periode tertentu (see Radev & Khemani. Mekanisme tersebut merupakan salah satu ciri utama dalam decentralized commitment management. DTP                                                                                                                                           129    . Hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: a) kewenangan administrative pada kementian/lembaga untuk membuat perikatan dan melakukan pengujian (ketersediaan anggaran). Dalam konteks UU perbendaharaan. secara implisit ketentuan perundangan yang berkaitan dengan manajemen komitmen lebih cenderung pada model decentralized commitment management. Dari telaah terhadap ketentuan perundangan yang ada.dilakukan jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. b) adanya asas umum yang mengatur secara tegas batasan kewenangan untuk melakukan perikatan dalam bentuk ketersediaan dana/anggaran. peran commitment officer ini dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). Selanjutnya patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the manager manages dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer. kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementrian Negara/lembaga. 2007.

Subdit TPBE. khususnya untuk mendukung pelaksanaan manajemen kas di Ditjen Perbendaharaan. dalam SPAN Bid Document dapat diidentifikasikan bahwa dengan fitur manajemen komitmen (commitment management module) Ditjen Perbendaharaan dapat melakukan perencanaan kas atas dasar perkiraan arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitment (hal. Namun kedua hal tersebut berjalan kurang efektif. Diantaranya melalui penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah (SE-02/PB/2006) serta penyampaian Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008 melalui aplikasi Peran 2008 (SE-38/PB/2008). belum secara otomatis terekam rencana tahapan-tahapan pembayarannya untuk masing masing tahun anggaran. Demikian pula untuk kontrak yang multi years. DTP                                                                                                                                           130    . baik karena kurangnya pemahaman Satker maupun karena sifatnya yang ad-hoc untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tertentu pada akhir tahun anggaran (Peran 2008). Misalnya. informasi perihal kontrak yang disampaikan ke Ditjen Perbendaharaan menjadi kurang relevan untuk pencapaian tujuan manajemen komitment. Dengan model koneksitas seperti ini. tidak ideal untuk keperluan forward cash planning karena baru dapat diketahui pada saat pengeluaran dari kas negara dilakukan. Fitur SPAN terkait Manajemen Komitmen Sesuai dengan rencana pengembangan SPAN. Beberapa inisiatif telah diupayakan untuk mengatasi kekurangan ini. informasi tentang komitmen yang sangat terbatas sifatnya (sesuai dengan appendix V) disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005). Pada saat ini tengah dikembangkan model Peran 2009 yang lebih komprehensif yang memperhatikan data aktual dari kegiatan yang sudah atau belum dikontrakkan dari sisa pagu anggaran yang tersedia. Misalnya. Chart of Account yang ada belum dapat mengakomodasi pencatatan untuk commitment stages dalam pelaksanaan anggaran.Pada saat ini belum tersedia mekanisme yang dapat mengintegrasikan komitmen yang telah dibuat satker ke dalam sistem perbendaharaan negara. Terkait dengan manajemen komitmen. sebagian dari fitur manajemen komitmen pada saat ini dilaksanakan sebagai bagian dari manajemen pembayaran. 4. Di samping itu.211).

Satker harus memastikan bahwa komitmen dibuat atas dasar ketersediaan kredit anggaran. Dengan demikian. Request for Commitment (RFC) yang valid dicatat ke dalam sistem beserta Commitment Application Number (CAN) (technical requirement BC 011. Satker menyusun dan menyampaikan Request for Commitment (RFC) kepada KPPN bersama dengan dokumen pendukungnya (hal. p. 286) yang diberikan untuk keperluan proses pembayaran sebagaimana diatur dalam model payment management (p. Sebagai dasar untuk mencatat komitmen dalam SPAN. DTP                                                                                                                                           131    . 211).Commitment management juga diarahkan untuk bisa melakukan updating atas sisa kredit anggaran (uncommitted balance) dan sisa allotment. Komitmen tersebut selanjutnya harus diregistrasi kepada perbendaharaan (treasury) (p. Alur aktivitas (work flows) selengkapnya sebagaimana tercantum dalam SPAN Bidding Document adalah sebagai berikut (Gambar 4.194). terkait dengan pembuatan dan pelunasan sebuah komitment. 215).9): Subdit TPBE. DJA dan DJPBN dapat memonitor komitmen sampai dengan pelaksanaan pembayaran.

Gambar 4.9 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Komitmen (Bidding Document)

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           132   

4.1.Koneksitas Dan Integrasi Dengan Modul Lainnya Dalam rangka pencapaian tujuan dari manajemen komitmen, keterkaitan manajemen komitmen dengan modul lainnya dalam SPAN, khususnya modul Manajemen DIPA dan Payment Management adalah sebagai berikut (di gambarkan dalam Gambar 4.10): a) Informasi terkait dengan komitmen akan di update atas dasar invoice/tagihan yang valid dari Satker. Pada saat yang sama, akan dilakukan pencatatan atas tagihan yang disetujui untuk dibayar sebagai payables (hutang). b) KPPN melakukan verifikasi apakah SPM yang diajukan merujuk pada commitment tertentu yang telah diregistrasi sebelumnya dan memiliki Commitment Application Number (CAN), untuk jenis-jenis pengeluaran yang memerlukan CAN (umumnya yang bersifat kontraktual). c) Atas dasar permintaan pembayaran (SPM) yang disetujui (SP2D), treasury akan melakukan update atas informasi terkait dengan komitmen yang telah dicatat sebelumnya melalui mekanisme pengajuan Request For Commitment (RFC) dan penerbitan Commitment Application Number (CAN).

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           133   

Gambar 4.10 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Pembayaran (Bidding Document)

Keterkaitan antara komitmen manajemen dengan manajemen DIPA, diantaranya berupa penentuan Spending Limit. Hal tersebut tidak disebutkan secara khusus pada bagian yang menjelaskan tentang Manajemen DIPA. Namun demikian, fitur dari penerapan manajemen komitmen dalam rangka melakukan monitoring atas spending authority dalam bentuk updating atas spending limit cukup jelas digambarkan dalam
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           134   

kerangka manajemen komitmen. Dalam keterangan terkait dengan Manajemen DIPA dalam dokumen SPAN, digunakan istilah spending authority dalam bentuk penyusunan Annual Financial Plan (halaman 3 DIPA) dan opsi penerapan cash limit dalam kondisi tertentu. Kedua hal tersebut, berbeda dengan spending limit. Spending limit dalam pengertian manajemen komitmen adalah sisa dari budget allotment yang belum menjadi objek perikatan (uncommitted budget allotment). Sedangkan, batasan spending authority dalam manajemen DIPA dalam bentuk AFP dan Cash limit lebih terkait dengan aspek perencanaan penarikan dana dan ketersediaan kas. Dari uraian terkait dengan international practice dan workflows diagram untuk manajemen komitmen dalam SPAN Bid Document sebagaimana tersebut, di atas dapat diidentifikasi hal-hal sebagai berikut: a) Dalam SPAN Bid Document diperkenalkan adanya hybrid model dari centralized dan decentralized commitment management model. Dalam model yang ada di SPAN, Satker harus memastikan ketersediaan anggaran sebelum melakukan perikatan. Selanjutnya, model tersebut juga mengakomodasi aktivitas pencatatan komitment atas dasar persetujuan kontrak maupun penerbitan purchase order. Namun demikian, model yang ada dalam SPAN juga mensyaratkan pengajuan Request for Commitment (RFC) untuk disahkan oleh pihak treasury (DJPBN) yang selanjutnya akan menjadi salah satu dasar pembayaran. b) Pencatatan atas komitmen dan dampaknya terhadap ketersediaan anggaran dilakukan baik oleh Satker maupun oleh pihak treasury, dalam hal ini DJPBN. Satker melakukan pencatatan dan monitoring atas komitmen yang dibuat dan sisa kredit anggaran. Namun demikian, perekaman kedalam database (sistem perbendaharaan) hanya dilakukan oleh Treasury atas dasar pengajuan dokumen komitmen (RFC) yang valid. c) Manajemen komitmen ditujukan tidak hanya untuk mendukung aktivitas manajemen kas tetapi juga dimaksudkan untuk mendukung tercapainya disiplin anggaran dengan memastikan adanya pencatatan dan manajemen atas batas pengeluaran (spending limit record). Kerangka manajemen komitmen dan kaitannya dengan modul lainnya dalam dokumen SPAN, dan tujuan dari manajemen komitmen menurut international best practice dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 4.11):

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           135   

Gambar 4.11 Kerangka Manajemen Komitmen Dan Kaitannya Dengan Modul Lainnya Dalam SPAN
Procurement  Commitm ent Record  (RFC+CAN) , Spending  Limit,  Record on  Payables  Acquisition  and Invoice 

Kontrak/ PO 

Verify  Commitment  Record and  Book  payables,  Issue SPP  SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

Creating  RFC 

CAN

RFC 

Verification +  Approvals  (RFC and/or  SPM)

SPM +  CAN 

Retrieve  Cash  Forecasting  Record 

Cash  Forecasti ng Record  Tujuan yang berkaitan dengan monitoring atas uncommitted budget balance [Fitur dari  centralized commitment management]  Tujuan yang berkaitan dengan pencatatan  akuntansi (payables) dan perencanaan  kas  [Fitur dari de‐centralized commitment  management 

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           136   

a) Establishment of Commitment Manajemen komitmen menghendaki adanya pencatatan dan pelaporan berkaitan dengan perikatan (see SPAN Bid Document. apakah komitmen dicatat dan di akui pada saat penandatanganan kontrak/ penerbitan purchase order atau pada saat tagihan (invoice) diterima.Sebagaimana terlihat dalam Gambar 4. Radev & Khemani. terutama untuk jangka pendek. 2007). DTP                                                                                                                                           137    . akan dicapai melalui updating Pagu Pengeluaran (spending limit) atas dasar dokumen RFC yang dibuat berdasarkan perkiatan (kontrak/PO). 5. Pencatatan hutang berguna sebagai salah satu input bagi manajemen kas. Penentuan critical event dalam rangka manajemen komitmen ditentukan pula oleh kategori/jenis pengeluarannya (specific/ continuous commitment). Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Manajemen Komitmen Kompleksitas orientasi dan kerangka manajemen komitmen dalam SPAN serta perlunya dukungan landasan hukum yang memadai untuk penerapan yang efektif memunculkan beberapa isu yang patut menjadi perhatian. penentuan critical event untuk mengakui terjadinya komitmen dan mencatatnya ke dalam sistem informasi perbendaharaan sebagai bagian dari manajemen sistem informasi atas pagu DIPA menjadi sangat penting. • • • • Penentuan critical event untuk pengakuan komitmen. Namun demikian tidak disebutkan secara jelas data apa yang digunakan sebagai dasar cash forecasting dan kapan data tersebut disampaikan ke KPPN. yaitu yang berkaitan monitoring uncommitted budget balance dan cash forecasting. Tujuan yang pertama.  Penentuan saat pengakuan dan pencatatan sebagai payables  Penentuan source document untuk mencatat komitment ke dalam sistem   Apakah  commitment  dicatat  pada  specific  account  (MAK  tertentu)  atau  cukup  dengan  penambahan  kode  yang  mengindikasikan  stages  tertentu  (commitment)  pada struktur Bagan Akun Standar?   Subdit TPBE. terdapat dual purpose yang menjadi visi dari penerapan komitmen manajemen. Termasuk pula penentuan kapan payables (hutang) sebagai akibat dari perikatan harus dicatat dalam sistem akuntansi.11. Misalnya. Oleh karena itu. Oleh karena itu diperlukan inventarisasi dan pemahaman atas jenis pengeluaran (category of expenditure) yang ada dalam APBN.

Dengan kata lain. komitmen akan disertai/menjadi kewajiban (liability) yang sesungguhnya hanya setelah dilakukan serah terima barang dan/jasa yang menjadi objek perikatan (World Bank. Pencatatan yang dilakukan lebih ditujukan untuk menginformasikan bahwa sebagian dari pagu anggaran telah terikat pada kontrak tertentu dan menjadi “committed budget balance”. 2009). OECD. Namun demikian. komitmen diakui pada pada saat kontrak atau perjanjian yang mengikat (a legally binding agreement) dalam rangka pengadaan barang dan/atau jasa dibuat (OECD. dalam bentuk arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitmen. dan berdasarkan penerbitan SPM. Namun demikian dalam pendekatan penganggaran (budgetary sense). 2001). 2001). DTP                                                                                                                                           138    . sifat pencatatan bukanlah pencatatan akuntansi dalam bentuk hutang (liability/ payable). dalam dokumen SPAN tidak dijelaskan kapan data untuk keperluan cash. Definisi menurut pendekatan penganggaran ini cenderung tidak memberikan rekomendasi untuk mengakui komitmen sebagai hutang (liability) hanya atas dasar pembuatan kontrak. Terkait dengan data untuk keperluan cash forecasting. komitmen lebih sebagai “administrative reservation of allotted funds in anticipation of an obligation” (FSIO.Merujuk pada definisi komitmen dalam istilah akuntansi. komitmen diakui pada saat penandatanganan kontrak dan dicatat ke dalam sistem informasi perbendaharaan. Kerangka manajemen komitmen menurut SPAN dapat mengakomodasi baik pendekatan akuntansi maupun pendekatan penganggaran (budgetary sense) sebagaimana tersebut di atas Namun demikian. 2007. Terdapat beberapa alternative untuk pengakuan liabilities yaitu berdasarkan kontrak. Dalam rangka penerapan pendekatan penganggaran. forecasting dihasilkan untuk kemudian diintegrasikan kedalam sistem informasi perbendaharaan. pada prinsipnya dapat didasarkan atas catatan dari komitmen yang telah menjadi hutang (liabilities). Berikut adalah analisis atas penerapan masing-masing opsi penyampaian data untuk keperluan forward cash planning: 1) Berdasarkan kontrak pada penyampaian dokumen RFC: Subdit TPBE. sebagaimana yang digunakan dalam praktek penganggaran dan manajemen di Amerika Serikat. berdasarkan tagihan yang valid /penerbitan SPP.

terutama yang berkaitan dengan kontrak yang bersifat volume based. Unsur kewajiban untuk membayar tagihan dapat gugur apabila prestasi pekerjaan tidak sesuai dengan kontrak (invalid invoice). Waktu yang mencukupi bagi treasury untuk mempersiapkan ketersediaan kas sesuai dengan pelunasan tagihan yang diajukan. Peluang terjadinya kolusi antara PPK dan Penguji SPM terkait dengan waktu penerimaan tagihan dan penerbitan SPM. 3) Berdasarkan Surat Perintah Membayar Kelebihan: Unsur kepastian validitas tagihan lebih tinggi karena sudah melalui proses internal control yang lebih lengkap di Satker Kekurangan: Subdit TPBE. Mekanisme yang ada kurang cukup member insentif bagi Satker untuk menyampaikan data terkait dengan diterimanya tagihan yang lengkap oleh PPK. 2) Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan dan Tagihan Pihak ke-3 yang benar/SPP (semi-valid invoice ) Kelebihan: Unsur kepastian tagihan lebih terjamin karena telah melalui proses verifikasi dalam acquisition (serah terima barang) dan verifikasi awal atas invoice oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam rangka penerbitan SPM. Starting point yang cukup ideal untuk menghitung cycle time (waktu yang diperlukan) atas business process pelaksanaan tugas kebendaharaan di Satker Kekurangan Tagihan dapat saja tidak disetujui oleh Penguji SPM karena unsur verifikasi awal dalam rangka penerbitan SPP bisa saja tidak memadai/ tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. DTP                                                                                                                                           139    .- Kelebihan: tersedianya waktu yang lebih cukup bagi institusi perbendaharaan untuk merencanakan kas sesuai dengan pelunasan komitmen (angsuran). - Kekurangan: Tidak dapat ditentukan kapan tagihan akan diajukan oleh pihak ke-tiga berdasarkan prestasi kerja.

Horison waktu yang sangat pendek dan kurang ideal untuk keperluan perencanaan kas. sampai saat ini belum ada mekanisme pencatatan untuk mengakui perikatan. Namun demikian. DTP                                                                                                                                           140    . Pencapaian fungsi dan tujuan dari manajemen komitmen yang berhubungan dengan disiplin anggaran (monitoring spending limit) dan penyempurnaan manajemen kas harus didukung dengan mekanisme akuntansi dan pelaporan yang ideal. Pencatatan hutang (payables) akan cukup ideal jika dilakukan berdasarkan diterimanya tagihan yang valid (diterbitkannya SPP) sesuai dengan telaah atas kelebihan dan kekurangan untuk masing-masing alternatif sebagaimana diuraikan sebelumnya. Diharapkan unsur kepastian/validitas tagihan akan lebih terjamin. Misalnya. dalam respond atas technical requirement SPAN. hutang (liabilities) akan diakui setelah terjadi pemenuhan komitmen dalam bentuk serah terima barang dan jasa. Pada prinsipnya. Catatan: Pembahasan alternative tersebut di atas juga merujuk pada model/alternatif pencatatan komitmen sebagai payables. Dengan merujuk pada praktek internasional. payables akan dicatat menggunakan Oracle Payables pada saat SPM diterima di KPPN. Kerangka usulan secara lebih detail adalah sebagaimana terlihat baik pada Gambar Alternatif 1 maupun Alternatif 2. Pendekatan yang dianggap paling efektif untuk mencatat pengakuan komitmen ini adalah dengan memberikan kode yang menggambarkan stages (tahapan) tertentu dalam siklus anggaran. dan memberi horizon waktu yang mencukupi bagi treasury untuk menggunakan data terkait payables untuk perencanaan kas. Sistem akuntansi yang ada pada saat ini sudah mengarah pada full accrual accounting. Kerangka pengakuan stages (tahapan) dalam siklus anggaran menurut kerangka Bagan Akun Standar yang sedang dikembangkan saat ini adalah sebagai berikut: Subdit TPBE. pencatatan komitmen yang ideal mengharuskan adanya sistem akuntansi berbasis akrual. Hal tersebut selanjutnya mempersyaratkan adanya suatu chart of account yang merefleksikan stages dalam siklus pengeluaran (expenditure cycle). dan hanya mengakui alokasi anggaran (appropriation dan allotment) dan pembayaran (realisasi).

12 Simulasi Cycle Time Untuk Proses Bisnis Terkait Manajemen Komitmen Serah terima  B/J  3 hari  Invoice  SPP  SPM  Hari H  2 hari  KPPN  3 hari 3 hari Bank  Book  payable  Subdit TPBE.Stages Code APBN --. Komitmen 6 7 8 9 10 Revenue --Expenditure --- Terkait dengan penggunaan data hutang sebagai alat perencanaan kas. Aktivitas --Klasifikasi Stages Account Ekonomi --Code 01 --- Misalnya pada saat ini akun utang yang berkaitan dengan komitmen terkait transfer dan subsidi diberikan kode akun tersendiri (Kode Akun 211221 : Belanja dana perimbangan yang masih harus dibayar. Sakter Fund Fungsi Sub Fungsi ------------Program Aktivitas Sub. Berikut pada Gambar 4. • Harus diberikan Account khusus (tertentu) untuk mengakui hutang (atas pemenuhan komitmen/kriteria tertentu dari sebuah komitmen).12 ditunjukkan simulasi atas contoh cycle time untuk keperluan analisis. masing-masing jenis belanja. agar pelaksanaanya dapat berjalan efektif. Account tersebut dapat diberikan untuk masing-masing akun. DIPA 1 2 3 4 5 Komitmen Rv. kode akun 211611 : utang subsidi). Gambar 4. DTP                                                                                                                                           141    . maupun satu akun tertntu untuk mengakui aggregate liabilities yang berkaitan dengan pengakuan komitmen.DIPA Rv. • Harus mulai dikembangkan cycle time untuk proses bisnis terkait komitmen. terdapat beberapa kondisi yang harus disiapkan.

Hal tersebut diusulkan terutama untuk menjadi insentif dan mengoptimalkan peran Satker dalam pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan. Metode ini dapat berjalan dengan baik apabila pengujian awal yang menjadi dasar penerbitan SPP cenderung valid. Metode penggunaan data payables yang dicatat berdasarkan invoice sebagai salah satu input bagi perencanaan kas dijalankan dengan cukup efektif dalam rangka penyaluran dana Anggaran di Australia. manajemen komitmen yang ideal (yang merupakan fitur utama dari manajemen komitmen) mensyaratkan pencatatan informasi yang berkaitan dengan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan dalam rangka penerapan disiplin anggaran dan perencanaan kas. Data payables juga dapat digunakan untuk keperluan perencanaan kas yang lebih valid. Apabila tidak diterima SPM pada hari tersebut. Misalnya. Harus dilakukan identifikasi dan assessment atas kinerja Satker. payables dapat dihapus (write-off) dan Satker harus melakukan pencatatan ulang payables. tidak jelas disebutkan/digambarkan (i) pihak (Satker atau Perbendaharaan) yang Subdit TPBE. dan data forcasting dapat dilihat baik pada gambar alternatif 1 maupun pada gambar alternatif 2. DTP                                                                                                                                           142    . Satker harus melakukan pencatatan payables segera setelah diketahui kebenaran dan kelengkapan tagihan. apabila ditentukan SPM harus di sampaikan 5 hari sejak penerbitan SPP dan pencatatan payables. valid invoice yang dicatat sebagai payable dan disampaikan ke institusi treasuri dibayarkan pada hari ke-30 sejak diregistrasinya data payables dan tagihan tersebut. KPPN hanya akan melakukan pembayaran/ menerbitkan SP2D apabila terdapat data payables atas pemenuhan dari komitmen yang dimintakan tagihan.Manfaat dari cycle time diantaranya adalah dapat digunakan sebagai alat monitoring atas pelaksanaan tugas kebendaharaan di Satker. KPPN hanya akan menerbitkan SP2D pada hari tersebut (5 hari kerja sejak pencatatan payables). sehingga dapat meningkatkan transparansi dan internal control yang lebih efektif. updating spending limit. Di dalam dokumen SPAN. Di sisi lain. dan peningkatan sosialisasi apabila diperlukan. Visualisasi yang berkaitan dengan pengajuan RFC. pengelolaan keuangan negara akan lebih transparan baik bagi masing-masing pejabat perbendaharaan di Satker maupun bagi Perbendaharaan. Di Australia. b) Registration of Commitment Sebagaimana disebutkan sebelumnya. pencatatan payables.

Institusi treasury. line ministries. Alur dokumen yang berkaitan dengan komitmen. memanfaatkan secara maksimal teknologi informasi yang ada. (iii) informasi yang harus di simpan dalam data base perbendaharaan (iv) pihak-pihak yang dapat mengakses data komitmen yang telah diregistrasi.harus pertama kali mencatat (first/ever single entry point) data terkait komitmen (ii) pihak yang akan meregistrasi informasi terkait dengan komitmen ke dalam data base treasury. Mekanisme penyampaian informasi tersebut harus sederhana. didukung dengan peraturan perundangan. transparan dan akuntabel. manajemen pembayaran. terkait dengan pelaksanaan fungsi-fungsi inti treasuri lainnya (manajemen DIPA. dan sedapat mungkin memiliki insentif yang bermanfaat bagi Satker dalam pengelolaan keuangan negara. DTP                                                                                                                                           143    . manajemen kas adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. • • • • • Apakah Satker dan Line Ministries harus mencatat komitmen dalam database masingmasing (terpisah dengan treasury)? Siapa yang meregistrasi informasi terkait dengan komitmen dalam data base treasury (satker.13). Subdit TPBE. juga idealnya harus menyimpan (store) data terkait dengan komitmen salah satunya karena data tersebut akan digunakan kembali (retrieve) pada saat pembayaran tagihan. dan berikut kewajiban untuk melakukan pembayaran atas dasar pemenuhan kondisi tertentu. KPPN)? Media apa yang digunakan dalam pertukaran informasi terkait dengan komitmen (hardcopy /Softcopy/ On-line)? Informasi apa saja yang harus disimpan (di-maintain) dalam database perbendaharaan? Siapa saja yang dapat mengakses informasi terkait komitmen yang telah diregistrasi (disimpan dalam data base treasury)?  Hal tersebut mensyaratkan adanya mekanisme alur dokumen dan data yang dapat menghubungkan Satker dengan institusi perbendaharaan dalam rangka pertukaran informasi terkait dengan pembuatan komitmen atas pagu anggaran.

Gambar 4.14): Subdit TPBE.13 Alur dokumen dan workflow proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan manajemen komitmen Keterangan Gambar: Alur dokumen terkait manajemen komitmen di Satker Alur Komitmen Alur Pembayaran Alur Manajemen Kas Alur Manajemen DIPA Model koneksitas proses bisnis dengan Satker-. elemen data.yang ditunjukkan oleh keterkaitan aktivitas control. DTP                                                                                                                                           144    .yang berkaitan dengan Manajemen Komitmen adalah sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut (gambar 4. mekanisme input/ output-.

Gambar 4. DTP                                                                                                                                           145    .14 Alur data dan koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen Komitmen Subdit TPBE.

disebutkan bahwa satker mempersiapkan dan mengajukan Request for Commitment beserta dokumen pendukungnya kepada KPPN (p. akan memperoleh Commitment Application Number (CAN) yang selanjutnya akan menjadi salah satu acuan dalam proses pembayaran (p.c) Commitment Verification Dalam dokumen SPAN. DTP                                                                                                                                           146    . 226). setiap commitment (specific commitment) yang disetujui dalam proses commitment registrasion. 192) dan harus memperoleh persetujuan treasury (KPPN) sebelum commitment dicatat kedalam database treasury (p. • • • Bagaimana sifat pengujian RFC dalam rangka penerbitan CAN?  Informasi apa saja yang harus terdapat dalam dokumen Request For  Commitment?   Bagaimana integrasi sifat pengujian RFC terhadap ketentuan dalam  manajemen pembayaran??  Berikut adalah informasi yang berkaitan dengan input data dan verifikasi atas informasi yang berkaitan dengan komitmen dalam versi SPAN Bid Document. Mekanisme tersebut di atas. 287). 215 dan p. secara implisit menghendaki adanya pengujian terhadap perikatan yang dibuat oleh satker sebelum dilakukan pembayaran sebagai akibat dari pemenuhan kondisi tertentu. Subdit TPBE. Selanjutnya.

Subdit TPBE. Perlu dilakukan kajian agar sifat ruang lingkup pengujian/ verifikasi atas dokumen RFC yang diajukan oleh Satker ke KPPN tidak bertentangan dan didukung dengan kerangka landasan hukum yang ada.Sebagai bahan perbandingan. DTP                                                                                                                                           147    . Alternatif ini didasarkan atas penafsiaran secara konservatif atas Penjelasan dalam UU Perbendaharaan Negara sebagaimana tersebut di atas. Verifikasi atas data commitment sebagaimana dalam SPAN (BC-008) lebih bersifat pengujian substantif. 2) Alternatif 2: Alternatif ini didasarkan pada penafsiran bahwa proses yang berkaitan/menyebabkan pengeluaran termasuk dalam kewenangan perbendaharaan untuk melakukan pengujian pada saat terjadinya pengeluaran. proses pengujian validitas komitmen yang akan menimbulkan kewajiban pengeluaran merupakan bagian dari proses pengeluaran uang dari kas negara. Pengujian atas komitmen hanya akan dilakukan pada saat penerbitan SP2D. Artinya. Pada saat ini terdapat dua jenis pengujian yang dilakukan KPPN. (2) aktivitas terkait dengan komitmen manajemen akan cenderung hanya menjadi ekstra work baik bagi Satker maupun bagi KPPN. Alternatif ini juga sangat mirip dengan praktek saat ini dimana verifikasi atas komitmen dilakukan pada saat pembayaran. Kelemahannya adalah (i) resiko dari registrasi data komitmen yang tidak valid. dalam penjelasan UU Perbendaharaan disebutkan bahwa fungsi pengelola keuangan/bendaharawan umum (terkait dengan aspek rechtmatigheid dan wetmaitgheid) “dilakukan pada yang saat dijalankan terjadi oleh Menteri dan Keuangan/Treasury hanya penerimaan pengeluaran”. yaitu pengujian substantif dan formal. Beberapa alternatif adalah sebagai berikut: 1) Alternatif 1: Membatasi pengajuan dokumen RFC ke KPPN hanya sebagai proses registrasi atas data komitmen.

Dalam alternatif 2 diusulkan pemisahan pengujian substantif dan formal dalam proses pengeluaran kas/pembayaran tagihan. Data komitmen yang diajukan satker ke KPPN diverifikasi secara substantif (di antaranya termasuk pengujuan dalam BC008 sebagaimana tersebut di atas). Sedangkan pengujian atas SPM lebih difokuskan pada pengujian yang bersifat formal, termasuk didalamnya pengujian atas ke adaan reference atas data komitmen tertentu (Commitment Application Number). Dengan cara tersebut di atas, diharapkan data komitmen dapat lebih efektif baik bagi monitoring data pagu maupun bagi perencanaan kas, karena melalui pengujian di KPPN validitasnya lebih terjamin. Di samping itu, hal tersebut akan memudahkan pelaksanaan tugas di KPPN pada saat pengajuan pembayaran (pengujian atas SPM). Namun demikian, penerapan hal tersebut harus di dukung kepastian kesesuaian dengan perndangan yang berlaku. Mekanisme tersebut di atas memerlukan ketentuan yang secara eksplisit dan terinci mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam format dokumen RFC beserta dokumen pendukung lainnya jika ada. Di samping itu, harus ada landasan hukum yang secara eksplisit mengatur obyek dan sifat pengujian oleh KPPN dalam rangka pengesahan sebuah komitmen.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           148   

Gambar Alternatif 1 Alternatif (1) Pengembangan Manajemen Komitmen

Procurement 

Commitment Record  (RFC+CAN),   Spending Limit,   Record on Payables,   Cash forecasting/  balance  record based on  payables 

Acquisiton n  Invoice  Document

Kontrak/ PO 

Verification of  Commitment  Record 

Issue SPP,  Book payables   Issuance  of RFC CAN  CAN SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

RFC 

Registra sion of  Commit ment   

Updating  Commit ment   

Commitment  verification on  item as  described in  BC008 

SPM +  CAN

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           149   

Gambar Alternatif 2 Alternatif (2) Pengembangan Manajemen Komitmen

Procurement 

Commitment Record  (RFC+CAN),   Spending Limit,   Record on Payables,  

Acquisiton n  Invoice  Document

Kontrak/ PO 

Cash forecasting/  balance  record based on  payables 

Verification of  Commitment  Record 

Issue SPP,  Book payables   CAN Issuance  of RFC CAN  SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

RFC 

Commit metn  Verifica tion   (RFC/  BC008) 

Registr asi  of  Commi tment  

Updat e  Com mitm en 

Check  CAN  Availa bility 

SPM +  CAN

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           150   

D. Manajemen Pembayaran  1. International Best Practice terkait Manajemen Pembayaran Dalam Treasury Diagnostic Toolkit (Hasim & Moon, 2004), terdapat 2 (dua) model terkait dalam Pencairan Anggaran, yaitu: (1) sentralisasi manajemen pembayaran dan (2) desentralisasi manajemen pembayaran. Sentralisasi pembayaran melalui Treasury memungkinkan dilakukannya pengecekan oleh Treasury untuk memastikan bahwa pembayaran yang dilakukan telah sesuai dengan budget appropriations. Konsolidasi Satker bank accounts ke dalam TSA di bawah kendali treasury, memungkinkan efficient cash management dan menghindarkan suatu situasi dimana di satu sisi terdapat banyak idle cash di Satker bank accounts dan di sisi lain rekening BUN secara agregat mengalami defisit. Struktur organisasi yang diperlukan dalam rangka sentralisasi pelaksanaan pencairan anggaran terdiri dari main treasury office di kantor pusat, second tier treasury offices di tingkat propinsi dan (kemungkinan) third tier offices yang berada di setiap kabupaten/district. K/L memproses transaksi pembayaran mereka di central level treasury office, sedangkan Satker memproses transaksi pembayarannya di kantor treasury propinsi/kabupaten terdekat. Satker mengirimkan transaksi pengeluarannya kepada kantor treasury terdekat untuk pemrosesan pembayarannya. Treasury akan mengirimkan transaksi pengeluaran yang telah disetujui kepada kantor cabang Central Bank terdekat dimana TSA berada, untuk melakukan pembayaran kepada vendor. Berikut ini dalam Gambar 4.15 menunjukkan skema yang menjelaskan sentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           151   

Gambar 4.15 Sentralisasi Proses Pembayaran

Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit Dalam kasus dimana treasury dan kerangka hukum untuk budget execution telah ada dan berfungsi secara efisien, model alternatif pencairan anggaran harus digunakan. Di beberapa negara, K/L dan Satker bertanggung jawab secara langsung untuk melakukan pembayaran melalui TSA. TSA masih berada di Central Bank dan Central Bank akan bertanggung jawab terhadap retail banking operations dalam kaitannya dengan pembayaran dan penerimaan pemerintah. Menteri Keuangan harus memastikan bahwa terdapat mekanisme pengendalian yang memadai sebelum K/L/Satker melakukan pembayaran. Pengendalian tersebut dapat dilakukan oleh central treasury. TSA Bank juga dapat diperintahkan untuk melaksanakan mekanisme pengendalian terhadap batasan pengeluaran secara keseluruhan yang dilakukan oleh K/L/Satker. Dalam model ini, Satker dan K/L di atasnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga rekening mereka dan rekening pemerintah secara umum. Berikut ini dalam Gambar 4.16 menunjukkan skema yang menjelaskan desentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           152   

 DTP                                                                                                                                           153    . Struktur dan kelembagaan Satker dalam penyelenggaraan keuangan negara.16 Desentralisasi Proses Pembayaran Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit a) Review Atas Peraturan Perundangan Undang-Undang Keuangan Negara dan. khususnya. Undang-Undang Perbendaharaan mengatur dengan jelas tugas dan tanggung jawab Satker dan Institusi Perbendaharaan dalam hal pelaksanaan anggaran.Gambar 4. termasuk pula hal-hal prinsip berkaitan dengan pembayaran tagihan atas beban APBN sebagai bentuk penyaluran dana anggaran. khususnya yang terkait dengan manajemen pembayaran adalah sebagai berikut: Kuasa Pengguna  Anggaran (KPA)  Pejabat Pembuat  Komitmen (PPK)  Pejabat Penerbit  SPM (PPSPM)  Bendahara  Pengeluaran  Subdit TPBE.

kewenangan dan koneksitas proses bisnis antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen pembayaran Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           154    . pengujian substatif dan formal tersebut hanya meliputi aspek keberadaan/ketersediaan dasar penagihan dan kebenaran hak tagih (wetmatigheid dan rechmatigheid) (Perdirjen 66/PB1/2005). kewenangan dan koneksitas proses bisnis antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen pembayaran adalah sebagai berikut (Gambar 4. kebenaran hak tagih dan kesesuaian tujuan pengeluaran (wetmatigheid. Ditjen Perbendaharaan melalui Kantor Pelayanan Perbendahraan Negara akan melakukan pengujian substantif dan formal terhadap dokumen perintah membayar (SPM) yang diajukan oleh Satker. rechmatigheid dan doelmatigheid). Selanjutnya. Kerangka organisasi. penguji SPM melakukan pengujian meliputi aspek keberadaan/ketersediaan dasar penagihan.Terkait dengan dokumen permintaan pembayaran yang diajukan (SPP).17): Gambar 4.17 Kerangka organisasi. Dalam Penjelasan Undang-Undang Perbendaharaan dijelaskan bahwa kewenangan Bendahara Umum Negara untuk melakukan pengujian tersebut merupakan fungsi pengawasan keuangan yang dilakukan pada saat terjadi penerimaan dan pengeluaran. Pada dasarnya.

Dalam mekanisme LS. dapat disimpulkan bahwa kerangka peraturan perundangan yang berkaitan dengan manajemen pembayaran mengamanatkan terlaksananya mekanisme pembayaran yang tersentralisasi pada institusi perbendaharaan (gambar 1) namun tetap mengedepankan mekanisme check and balance dengan memberikan kewenangan pengujian yang lebih komprehensif (meliputi kebenaran tujuan pengeluaran) kepada Satker (gambar 2). terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu melalui mekanisme pembayaran langsung (LS) dan mekanisme Uang Persediaan (UP). diantaranya: a) Business Process di Satker 1) Tidak adanya cycle time dalam proses pembayaran menyebabkan ketidakjelasan norma waktu penyelesaian mulai dari tagihan diterima dari Subdit TPBE. Namun demikian. pembayaran kepada yang berhak (beneficiaries) dilakukan oleh bendahara. Current State Assessment & Problems terkait Manajemen Pembayaran Secara konseptual. pada dasarnya KPPN tetap memiliki kewenangan pengujian yang sama baik dalam hal pembayaran melalui mekanisme LS maupun UP. Dalam kerangka international best practice. Namun demikian.Sebagaimana ditunjukan dalam gambar tersebut di atas. 2004). pembayaran kepada yang berhak (beneficiaries) dilakukan oleh KPPN. Mekanisme pembayaran yang tersentralisasi juga memungkinkan pihak treasury untuk mengkonsolidasi rekening Satker (Rekening Bendahara Pengeluaran) ke dalam Treasury Single Account sehingga dapat menghindari terjadinya akumulasi idle kas dalam jumlah yang besar (Treasury Diagnostic Toolkit. 2. dalam praktek saat ini di Indonesia. mekanisme pembayaran yang ada pada saat ini memungkinkan terjadinya check and balance terutama oleh pihak treasury untuk memastikan bahwa pengeluaran yang dilakukan sesuai dengan peraturan dan didukung oleh ketersediaan dana anggaran. DTP                                                                                                                                           155    . terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam rangka pengemangan manajemen pembayaran di masa yang akan datang. Sedangkan dalam mekanisme UP. Pengujian atas pembayaran yang dilakukan melalui mekanisme UP dilakukan pada saat penerbitan SPM-GU (Penggantian Uang Persediaan) yang pada hakekatnya merupakan pertanggungjawaban bendahara atas pembayaran yang telah dilakukan sebelumnya dengan menggunakan uang persediaan.

Misalnya. Adanya intersection aturan. proses penerbitan SPP. Sebagaimana diketahui pada saat ini pembayaran dilakukan melalui transfer dari rekening kas negara di Bank komersial (Bank Operasional) ke rekening pihak ketiga.Supplier. dimana dalam Keppres 80 tahun 2003 pasal 31 disebutkan bahwa untuk pengadaan dengan nilai dibawah Rp. sedangkan untuk pengadaan diatas Rp 5 juta diperlukan kontrak berupa SPK (Surat Perintah Kerja) maupun Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa tidak semua pengeluaran kontraktual dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (untuk pengeluaran Rp 5 juta sd 10 juta). 2) Peraturan terkait besaran pengeluaran yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak cenderung tidak sesuai dengan peraturan terkait mekanisme pembayaran. 3) Tidak berfungsinya rencana penarikan dana pada halaman III DIPA menyebabkan tidak berjalannya cash forecasting secara optimal. 2) Informasi terkait komitmen diajukan pada saat yang bersamaan dengan pengajuan pembayaran menyebabkan manajemen terhadap komitmen hanya sebatas pada pengawasan terhadap nilai kontrak agar tidak dilampaui oleh pengajuan pembayaran yang pada saat itu dilakukan Satker. Sedangkan dalam Perdirjen PBN Nomor 66/PB/2005 pasal 7 pembayaran dengan menggunakan uang persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran kepada satu rekanan tidak boleh melebihi Rp 10 juta. 5 juta cukup dengan bukti pembayaran berupa kuitansi. Aktivitas di Bank Operasional yang terkait dengan transfer ke rekening pihak ke-3 menjadi black box dari business proses pembayaran. meskipun KPPN telah menetapkan jangka waktu penyelesaian SP2D selama 1 Subdit TPBE. 4) Treasury tidak memiliki kontol sepenuhnya atas aktivitas business prosess yang berkaitan dengan pembayaran. proses penerbitan SPM sampai dengan pengajuannya ke KPPN. b) Business Process di KPPN 1) Mekanisme pembayaran melalui pengelolaan Uang Persediaan (UP) yang ada saat ini masih menimbulkan idle cash yang cukup besar pada rekening bendahara pengeluaran. sampai dengan saat ini tidak ada ketentuan atau batas waktu yang jelas untuk proses transfer tersebut. DTP                                                                                                                                           156    .

Berikut adalah framework rencana masing-masing mekanisme pembayaran: pengembangan SPAN terkait dengan Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           157    . 3. Fitur SPAN Terkait Manajemen Pembayaran Sesuai dengan rencana pengembangan SPAN. idealnya scope bisnis proses pembayaran tidak hanya sampai dengan penerbitan SP2D tetapi sampai dengan dana tersebut diterima di rekening pihak ketiga. dan (3) kemudian KPPN menerbitkan Transfer Orders (SP2D) pada designated bank. untuk membayar tagihan kepada suppliers. Sesuai dengan gambar di atas.jam. maka ruang lingkup proses pembayaran idealnya meliputi aktvitas permintaan pembayaran (dari PPK maupun Bendahara Pengeluaran) yang menghasilkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya. (2) SPM direview di KPPN untuk memastikan bahwa SPM tersebut berada dalam available spending authority Satker. dapat diidentifikasikan proses yang terjadi dalam pencairan anggaran sebagai berikut: (1) proses pembayaran dimulai dengan pendaftaran payment orders (SPM) oleh Satker kepada KPPN berdasarkan invoices yang diterima dari suppliers atau internally generated SPM (misal: pembayaran gaji). Terkait dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker. terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu secara langsung (LS) dan dengan mekanisme Uang Persediaan (UP).

(2) input secara batch dari disket.18 Kerangka Mekanisme Pembayaran secara Langsung (versi SPAN bidding document) Uraian dari business prosess dalam gambar di atas adalah sebagai berikut: 1) Pemrosesan SPM yang diterima dari Satker − SPM dapat diterima oleh KPPN melalui: (1) input manual. Subdit TPBE. (3) import data dari text files atau spreadsheets. sistem akan memverifikasi bahwa: (1) vendor codes. (4) upload secara langsung dari database Satker. (3) Komitmen yang telah diregister (CAN) mengcover jumlah dana yang ada di SPM. DTP                                                                                                                                           158    . − Sebelum me-register SPM.a) Kerangka Mekanisme Pembayaran secara Langsung (versi SPAN) (Gambar 4. (2) Jumlah nilai SPM yang dikirim secara batch sesuai dengan jumlah dalam cetakan SPM. budget classification dan account classification valid.18) Gambar 4. organizational codes.

sistem secara otomatis akan meng-generate commitment mengikuti budget commitment procedure. SPM yang telah divalidasi akan diproses pembayarannya setelah proses peng-update-an AFP. − Dalam hal diberlakukannya cash limits. − Apabila payment schedule dalam AFP bersifat mengikat maka sistem memiliki kapasitas untuk melakukan suspend pembayaran apabila pembayaran Subdit TPBE. Data commitment yang telah tercatat (pada commitment management) akan diambil untuk memastikan bahwa pembayaran tersebut telah diotorisasi. − Apabila jumlah dana di SPM melebihi cash limit yang ada/tersisa. − Apabila payment schedule dalam AFP tidak mengikat. − Transaksi yang tidak valid akan ditolak. maka atas pembayaran yang melampaui payment schedules di dalam AFP. transaksi akan antri untuk dilakukan pembayaran. sistem akan menyampaikan informasi tersebut agar Sakter dan Kementrian melakukan koreksi atas AFP dengan merubah rencana pembayaran dari periode selanjutnya. sistem akan mengurangi nilai cash limit sesuai dengan jumlah dana SPM yang telah disetujui. Setelah itu. sistem akan memverifikasi bahwa jumlah dana yang ada di SPM tidak melebihi cash limits bagi Satker tertentu (pada tanggal transaksi). 3) Pengecekan SPM dengan Annual Financial Plans (AFP) − Sistem akan melakukan pengecekan terhadap SPM untuk melihat kesesuaiannya dengan AFP.− Apabila SPM dikecualikan dari commitment registration procedure. sistem akan menolak transaksi tersebut dan membuat exception report kepada Satker dan K/L yang bersangkutan. AFP akan di-update dan transaksi akan antri (queue) untuk dilakukan pembayaran. DTP                                                                                                                                           159    . Sistem akan membuat exception report yang memuat daftar transaksi yang tidak valid untuk dikirimkan kepada Satker dan K/L-nya. − Setelah berhasil diverifikasi. 2) Pengecekan kesesuaian dengan Cash Limits Apabila cash limits tidak diberlakukan.

melalui fasilitas manual override khususnya untuk pengguna tertentu. Hal tersebut mencakup pengiriman text messages bersamaan dengan pengiriman uang ke supplier’s bank agar supplier dapat mencocokan pembayaran dengan invoice asli. Klasifikasi fungsi. sistem menyediakan fasilitas untuk: (1) queue SPM/SP2D lagi sampai tersedianya withdrawal limits untuk membayar SPM/SP2D tersebut (dilakukan oleh authorized user di KPPN). program. Jumlah uang dalam SPM. − Sistem menyediakan fasilitas untuk melakukan interfacing dengan RTGS system atau equivalent-nya yang ada di bank. Nomor dan tanggal SPM. dan men-generate exception report untuk dikomunikasikan kepada Satker. − Sistem akan melakukan pengecekan apakah withdrawal ceiling (cash limit) yang dibuat untuk KPPN sub-account (di Treasury main account) mampu meng-cover pembayaran yang jatuh tempo. sistem akan menyimpan semua data SPM yang telah disetujui dan diproses. (2) menolak pembayaran atas SPM/SP2D tersebut. Data tersebut meliputi: Satker identification code dan ledger account number-nya. Subdit TPBE. dan economic transaksi dalam SPM. − Apabila pembayaran berada di dalam withdrawal ceiling. Selanjutnya sistem akan men-generate SP2D. 4) Pengambilan dana dari TSA untuk pembayaran kepada suppliers − Sistem menyediakan fasilitas untuk meng-queue SPM berdasarkan tanggal jatuh tempo pembayaran dan berdasarkan user defined priorities. − Apabila pembayaran melebihi withdrawal ceiling. Interface tersebut dapat mereformat SPM/SP2D sesuai dengan format yang diperlukan dalam clearing system. − Setelah memberikan unique reference number.tersebut melampaui AFP. selanjutnya staff yang memiliki otorisasi di KPPN dapat melakukan penarikan rekening TSA (interface langsung dengan sub akun KPPN yang ada di Bank Indonesia) dalam rangka pembayaran kepada supplier melalui RTGS. me-reset data commitment dan cash limits. DTP                                                                                                                                           160    .

dll. Satu SPM dapat memuat beberapa jenis pengeluaran yang berbeda kode klasifikasi anggaran dan fund codes-nya. nomor dan tanggal invoice. Kode KPPN. Apabila identitas dan jumlahnya berbeda. − Sistem secara otomatis akan menandingkan payment dengan confirmation of credit. Subdit TPBE. iuran pensiun. tanggal jatuh tempo pembayaran. Kode bank sumber dan nomor rekeningnya. 5) Rekonsiliasi Bank atas transaksi pembayaran − Sistem men-support fasilitas interfacing dengan RTGS clearing system yang ada di bank untuk downloading electronic confirmation of credit kepada rekening bank supplier. data rincian supplier. sewa rumah. meng-extract semua pembayaran yang sesuai dari payment records dan men-generate payment confirmation report untuk dikirimkan ke Satker. − Payment records yang masih belum direkonsiliasi untuk user defined period akan di-extract dan dikirimkan ke RTGS administrator untuk dilakukan review.Kode akun dan jumlah pengurangan seperti pajak. fund code. Data rincian SP2D. sistem akan men-generate exception report untuk dikirimkan ke RTGS administrator untuk dilakukan review. Commitment Approval Number. DTP                                                                                                                                           161    . Nomor SP2D.

yang pelaksanaannya dilakukan oleh bendahara masingmasing Satker.19) Gambar 4.19 Kerangka Mekanisme Pembayaran melalui UP (versi SPAN bidding document) Uraian dari proses bisnis dalam gambar tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1) Untuk pembayaran dengan jumlah/skala kecil. bendahara dapat menarik sejumlah uang. Pembayaran dapat dilakukan melalui penerbitan check oleh bendahara yang membebani rekening bendahara.b) Kerangka Mekanime pembayaran melalui Uang Persediaan (UP) (Gambar 4. 2) Pengeluaran dengan mekanisme UP dilakukan melalui Sub-akun dari rekening KPPN di Bank Operasional mitra kerja KPPN. dari sub-akun tersebut dengan menggunakan debit card/ATM. DTP                                                                                                                                           162    . terdapat mekanisme pembayaran melalui Uang Persediaan. Untuk melakukan pengeluaran melalui sistem petty cash ini. KPPN dan Bank Operasional akan membuat persetujuan terkait dengan batas penarikan yang diperolehkan dalam jangka waktu tertentu untuk Subdit TPBE. atau melalui debit cards yang membebani rekening KPPN. Masing-masing bendahara pengeluaran memiliki sub-akun untuk Satker yang bersangkutan. dengan limit tertentu.

4. dan bukan rekening milik KPPN. Sifat AFP yang tidak mengikat cenderung akan menghasilkan kondisi yang sama dengan saat ini. adalah rekening Bank. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Pada awalnya bank akan melakukan pembayaran dengan dana-nya masing-masing. Bank akan menerbitkan withdrawal record yang selanjutnya menjadi dasar bagi KPPN untuk mengotorisasi penggantian (reimbursement) dari TSA ke rekening tertentu sebagai penerima di Bank Operasional. permasalahan terkait AFP pada saat ini adalah tidak berfungsinya Rencana Penarikan Dana karena ketiadaan sistem untuk melakukan update sesuai dengan realisasi dan tidak dipatuhinya Halman 3 DIPA sebagai alat perencanaan. yang tidak memiliki nilai tambah. Sub-akun tersebut merupakan zero balance account. Subdit TPBE. berupa koreksi atas AFP. Terkait dengan mekanisme pembayaran secara langsung (LS). Implikasi AFP bersifat mengikat adalah tidak disahkannya permintaan pembayaran yang melebihi Rencana Penarikan Dana untuk periode tertentu. diantaranya meliputi: a) Implikasi dari sifat penggunaan Annual Financial Plan (Hal 3 DIPA). Dalam AFP yang bersifat tidak mengikat. Bank dapat mengajukan penggantian (reimbursement) atas sejumlah dana yang ditarik oleh bendahara dari sub-akun tersebut. disertai dengan pemberitahuan ke pada Satker agar menyesuaikan AFP dengan rencana penarikan periode selanjutnya. Pencairan anggaran dapat melebihi Rencana Penarikan Dana. Rekening penerimaan ini. 3) Atas dasar penarikan dana oleh Bendahara. Selanjutnya. di mana Halaman 3 DIPA tidak dapat digunakan secara efektif. DTP                                                                                                                                           163    . AFP yang tidak mengikat juga akan menambah business process baru.masing-masing sub-akun (limit). AFP berfungsi sepenuhnya sebagai alat perencanaan. Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Manajemen Pembayaran Terdapat beberapa hal penting dalam kerangka business process untuk payment sebagaimana diuraikan tersebut di atas. yang bersaldo nihil setiap saat. Kerangka bisnis proses dalam SPAN mengakomodasi kemungkinan penerapan AFP baik yang bersifat mengikat maupun tidak mengikat.

tidak ditentukan dasar penentuan withdrawal ceiling tersebut. Opsi ini secara konseptual juga mendukung pengembangan manajemen komitmen dan penggunaan data rencana penarikan dana sebagai input untuk perencanaan kas (manajemen kas). Sejalan dengan pengembangan Treasury Single Account di Ditjen Perbendaharaan. b) Penerapan withdrawal ceiling atas Rekening Kas Negara Kerangka bisnis process dalam SPAN menghendaki adanya withdrawal ceiling untuk penarikan dana dari Rekening Kas Negara dalam rangka pembayaran. jumlahnya ditentukan sesuai dengan tren atas dana yang dibutuhkan. Secara konseptual terdapat dua model utama dari penerapan withdrawal ceiling.AFP yang berfungsi sebagai Rencana Penarikan Dana yang bersifat mengikat dan diupdate sesuai dengan realisasi pengeluaran lebih berpotensi untuk diimplementasikan secara efektif. Withdrawal ceiling yang bersifat statis akan cenderung tetap untuk periode tertentu yang cukup panjang. Penarikan dana yang melebihi withdrawal ceiling ini bahkan dapat berimpliksai pada ditolaknya perintah transfer (SP2D). Namun dalam prakteknya. memerlukan bisnis proses dan aplikasi yang terpisah yang selama ini dijalakan dengan aplikasi E-kirana. mekanisme penyediaan dana di rekening KPPN di Bank Operasional pada saat ini cenderung pada penentuan withdrawal ceiling yang bersifat dinamis. Hal tersebut kurang ideal karena tanggung jawab penyediaan dana dalam rangka pembayaran ada pada Ditjen Perbendaharaan dan seharusnya tidak berimplikasi pada penundaan pembayaran. Rekening ini juga bernilai nihil (zero balance) di akhir hari. dan cenderung terdapat margin antara jumlah yang dibutuhkan dengan ceiling yang ditentukan. DTP                                                                                                                                           164    . Sebagaimana diketahui. rekening bank operasional di KPPN menerima transfer dari RPK-BUNP sebesar nilai SPD2 yang akan diterbitkan pada hari yang bersangkutan. Subdit TPBE. Di samping itu. Sedangkan withdrawal ceiling yang bersifat dinamis cenderung memiliki periode yang lebih pendek (misalnya harian) dan besarannya ditentukan atas input data terkait pengeluaran yang akan segera terjadi. Mekanisme ini cukup ideal bagi efisiensi kas.

d) Otorisasi transfer dari rekening kas negara ke rekening pihak ke-tiga melalui direct interface dengan RTGS di BI oleh pejabat di KPPN Kerangka business process pembayaran dalam dokumen SPAN menyarankan otorisasi transfer ke rekening pihak ke-3 oleh pejabat di KPPN secara online melalui direct interface dengan sub-akun KPPN di Bank Indonesia. Namun Subdit TPBE. idealnya withdrawal ceiling di Rekening KPPN akan bersifat dinamis. perlu dipertimbangkan implikasinya bagi KPPN yang tidak satu lokasi dengan Kantor Pusat/ Kantor Cabank BI. Data ini diharapkan dapat dihasilkan dari modul manajemen komitmen atas dasar dokumen SPP.Sesuai dengan pengembangan TSA yang tengah dijalankan. Di samping itu. c) Pembayaran kepada Suplier melalui mekanisme Transfer dari Rekening Kas negara di Bank Indonesia Kerangka business process pembayaran dalam dokumen SPAN menghendaki pelaksanaan pembayaran dilakukan melalui transfer dari sub-akun KPPN di Bank Indonesia. Namun demikian. Data ini akan akurat apabila terdapat cycle time yang jelas atas proses bisnis terkait dengan penerbitan SPP dan SPM di Satker. Penggunaan bank komersil sebagai Bank Operasional dalam rangka pembayaran kiranya masih dibutuhkan hingga saat ini. Besaran ceiling. Mekanisme tersebut identik dengan mekanisme pembayaran melalui rekening khusus pada saat ini. Model dari cycle time ini adalah sebagai mana telah dibahas pada bagian manajemen komitmen. DTP                                                                                                                                           165    . Mekanisme ini juga dapat meningkatkan kepastian layanan penyampaian dana anggaran ke pada yang berhak. Besaran ceiling dapat ditetapkan secara sistem dengan mengintegrasikan bisnis proses pembayaran dengan business process terkait manajemen komitmen dan akuntansi. Otorisasi secara online tersebut secara konseptual memperpanjang scope/ ruang lingkup proses bisnis dari sekedar penerbitan perintah transfer (SP2D) menjadi sampai pada eksekusi transfer ke rekening pihak ke-3. Kerangka ini secara ideal akan mampu mengurangi fenomena black box atas aktifitas transfer pada business process pembayaran di perbankan. misalnya dapat ditentukan atas dasar nilai account payable yang jatuh tempo pada hari tertentu untuk KPPN tertentu. mekanisme clearing dikhawatirkan berpengaruh pada jangka waktu yang diperlukan untuk melakukan transfer ke rekening pihak ke-3.

demikian. Gambar berikut mengilustrasikan kerangka pengembangan manajemen pembayaran yang diusulkan dalam rangka SPAN adalah sebagai berikut (Gambar 4. Namun demikian. Subdit TPBE.20): Gambar 4.20 Kerangka Pengembangan Manajemen Pembayaran Langsung yang Diusulkan Dalam Rangka SPAN Terkait dengan rencana pengembangan SPAN. keamanan dan kelancaran mekanisme ini memerlukan dukungan dan pengembangan IT dalam hal software. mekanisme UP memilki dampak negatif terhadap tujuan dari manajemen kas terkait dengan adanya idle cash di rekening bendahara pengeluaran. DTP                                                                                                                                           166    . Penggunaan petty cash dalam bentuk Uang Pertanggungjawaban pada hakekatnya merupakan mekanisme pembayaran/ bentuk dari manajemen pembayaran. penyempurnaan mekanisme pembayaran melalui Uang Pertanggungjawaban idealnya dilaksanakan secara komprehensif. dan khususnya jaringan.

dengan asumsi bahwa pembayaran atas sub-akun KPPN dalam rangka UP dilakukan dengan sumberdaya (kas) milik bank.Kerangka penyempurnaan UP dalam dokumen SPAN telah membahas beberapa hal penting terkait dengan penggunaan debit/credit card sebagai alternatif mekanisme UP. Idealnya. penggunaan credit card relatif memerlukan aspek administrasi (perjanjian dengan pihak bank) dan aspek pelaksanaan (tidak terbiasa dengan penggunaan credit card dan ketiadaan infrastruktur) yang lebih kompleks. penggunaan credit card meniadakan keharusan untuk menyediakan saldo kas dalam jumlah tertentu. di antaranya meliputi: a) Pilihan penggunaan debit card atau credit card. Namun demikian. Beberapa aspek penting yang masih memerlukan penentuan lebih lanjut. Jumlah limit Subdit TPBE. karena pada dasarnya penentuan limit ini tidak identik dengan pengeluaran kas. penggunaan credit card lebih ideal (terkait dengan tujuan minimalisasi idle cash) apabila tingkat bunga kredit (atas penggunaan dana bank) dapat diminimalkan. idealnya terpisah dari mekanisme pertanggungjawaban penggunaan UP. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi resiko tingginya tingkat bunga yang harus dibayar (karena periode penggantian yang lebih lama) apabila penggantian dilakukan atas dasar pertanggungjawaban penggunaan UP (SPM-GU). Sebaliknya. DTP                                                                                                                                           167    . Di samping itu. Penentuan limit pengeluaran tidak harus dilakukan dengan SP2D-UP. mekanisme ini berpotensi pada kewajiban negara untuk membayar bunga atas penggunaan dana milik bank tersebut. Secara konseptual. namun berpotensi menimbulkan idle cash dalam jumlah tertentu. atas jumlah dana yang di-reimburse harus tetap dilakukan rekonsiliasi dengan pertannggungjawaban penggunaan UP pada saat penerbitan SP2D-GU. b) Penggantian dana milik bank (reimbursement) atas penarikan sejumlah dana dari sub-akun rekening KPPN. KPPN dapat melakukan persetujuan dengan pihak bank untuk menentukan limit UP bagi masing-masing Satker atas dasar jumlah pagu belanja yang diijinkan untuk digunakan dengan mekanisme UP. Namun demikian. c) Penentuan limit pada sub-akun rekening KPPN dan pertanggungjawaban penggunaan UP. Mekanisme reimbursement harus dilakukan berasarkan verifikasi atas catatan yang valid dari pihak bank. Penggunaan debit card relatif lebih mudah. Mekanisme penggantian ini. penggunaan sub-akun KPPN yang bersifat zero balance dan penerapan limit atas pengeluaran yang diijinkan untuk dilakukan dari rekening tersebut.

Usalan kerangka pengembangan business proses mekanisme pembayaran melalui UP adalah sebagai berikut (Gambar 4. terutama yang berhubungan dengan penerbitan SPP dan SPM serta penyampaiannya ke KPPN. Pengembalian jumlah limit (ke jumlah semula) baru dapat dilakukan dengan apabila KPPN telah menerbitkan SP2D GU atas pertanggungjawaban bendahara. beberapa hal yang kiranya dapat menjadi arahan penyempurnaan adalah sebagai berikut: Subdit TPBE.21): Gambar 4. tapi juga merupakan alat pemberitahuan dari KPPN ke pada pihak bank untuk mengembalikan limit subakun KPPN untuk bendahara/ satker dimaksud. DTP                                                                                                                                           168    .21 Kerangka Pengembangan Manajemen Pembayaran Langsung yang Diusulkan Dalam Rangka SPAN Terkait dengan proses bisnis pembayaran di Satker.ini harus berkurang seiring dengan ditariknya sejumlah dana oleh bendahara/satker yang bersangkutan. SP2D-GU ini tidak hanya merupakan pengesahan pertanggungjawaban penggunaan UP.

Cycle time nantinya dapat memberikan kejelasan dan kepastian waktu penyelesaian proses pembayaran di Satker. 2001). misalnya. Sejalan dengan rencana penyempurnaan proses bisnis dalam rangka SPAN perlu dilakukan kajian atas koneksitas dengan proses bisnis pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan di Satuan Kerja. dapat dibatasi sesuai dengan nilai pengeluaran yang tidak mempersyaratkan dokumen kontrak. baik itu supplier dalam memperkirakan kapan tagihannya di bayar. DTP                                                                                                                                           169    . E. Salah satu alternatif usulan untuk transparansi terkait dengan jangka waktu peyelesaian proses bisnis di Satker adalah dengan membuat dan menyertakan record entry dalam ADK SPP dan/atau SPM yang disampaikan ke KPPN. Pengeluaran untuk pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan melalui UP. Informasi tersebut dapat digunakan oleh semua pihak.a) Penentuan cycle time terkait proses penerbitan SPM di Satker. verification dan payment). Konsep tersebut identik dengan istilah budgetary accounting (OECD. Tujuan dan Fungsi Laporan keuangan dalam rangka pemenuhan akuntabilitas sangat diperlukan untuk mewujudkan aspek transparansi dalam good governance. semua pengeluaran dalam rangka pengadaan barang dan jasa yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak dibayarkan dengan mekanisme LS. Accounting dan Reporting 1. entitas Subdit TPBE. b) Besaran pengeluaran yang dapat dibayar dengan mekanisme UP diselaraskan dengan ketentuan saat ini terkait kewajiban membuat dokumen kontrak (SPK) dan rencana pengembangan manajemen komitmen. akuntansi dan pelaporan idealnya harus dapat mencatat appropriasi dan penggunaannya pada tiap stages dalam pelaksanaan anggaran (komitmen. dan terutama sekali pada tahap pembuatan komitmen. Kerangka koneksitas tersebut idealnya memperhatikan hal-hal prinsip diantaranya meliputi basis akuntansi. KPPN dapat mengetahui kapan suatu SPM akan diajukan dan BUN dapat menyediakan dana sesuai kebutuhan. Terkait dengan pelaksanaan anggaran di Satker. Kerangka ini diharapkan dapat mengurangi ekses dari penggunaan mekanisme UP dan dapat mendukung pelaksanaan manajemen komitmen yang ideal. Dengan demikian.

organisasi sistem akuntansi dalam rangka penyusunan laporan keuangan. Model ini juga tidak mendorong Satker untuk memelihara catatan yang diperlukan untuk keperluan manajerial. yang pada umumnya sulit diperoleh dalam lingkungan akuntansi yang belum terkomputerisasi. 2. Namun demikian. model ini memiliki beberapa kelemahan terutama karena informasi keuangan (terkait pelaksanaan anggaran) baru disampaikan/diketahui oleh institusi treasury pada saat permintaan pembayaran. DTP                                                                                                                                           170    . Sebagaimana diuraikan dalam Managing Public Expenditure (OECD. Dari literatur yang ada. identik dengan mekanisme rekonsiliasi dan konsolidasi dari catatan atas transaksi di tingkat agency (Satker). Konsolidasi adalah proses untuk menyajikan laporan keuangan dari semua entitas yang termasuk dalam entitas pelaporan sehingga mencerminkan laporan keuangan dari satu kesatuan entitas pelaporan (financial statement of single entity) (IFAC Public Sector Committee. a) Vertical model Laporan keuangan pemerintah disiapkan di tingkat pusat secara tersentral baik oleh institusi treasury maupun badan yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan akuntansi.akuntansi dan terutama organisasi sistem akuntansi. 2001) berikut adalah dua sistem utama terkait dengan organisasi sistem akuntansi. Model ini mampu mendukung kebutuhan internal dalam rangka manajemen program dan Satker. b) Consolidation model Dalam model ini. International Best Practice dalam Organisasi Sistem Akuntansi Secara umum dikenal dua model utama dari organisasi sistem akuntansi. Variasi dari penerapan kedua model tersebut di suatu negara dipengaruhi oleh model penyelenggaraan keuangan negara. model tersebut dapat mengarah pada tidak tercatatnya informasi apabila konsolidasi tidak Subdit TPBE. Manfaat lain adalah adanya penyimpanan informasi keuangan yang tersentralisasi. 2002). laporan keuangan disusun oleh Satker (Spending Units) untuk dikonsolidasikan di tingkat pusat. Model ini memiliki kelebihan dalam hal mendukung mekanisme kontrol terhadap pelaksanaan anggaran. Namun demikian. dan terutama sistem pemerintahan (presidensiil dan parlementer) yang selanjutnya mempengaruhi model akuntabilitas dari pemerintah kepada publik.

organisasi dari sistem akuntansi di Australia. Laporan keuangan sudah diaudit di tingkat kementrian meliputi Neraca. Laporan Realisasi Anggaran. cenderung pada model ini. Penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah merupakan upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Laporan tersebut selanjutnya dikonsolidasi oleh kementrian keuangan (DOFAD) untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah federal. Laporan Keuangan tersebut di atas dihasilkan melalui proses akuntansi. Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan beserta laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya yang telah diaudit oleh BPK selambatlambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Current State Assessment dan Problems terkait Accounting dan Reporting Undang-Undang Keuangan Negara mengamanatkan pengelolaan keuangan negara yang tertib. DTP                                                                                                                                           171    . Laporan Keuangan tersebut meliputi Laporan realisasi APBN. Di dalam lingkungan yang terkomputerisasi monitoring atas transaksi anggaran yang comprehensive dan tepat waktu dapat dilakukan dengan dukungan sistem informasi yang mencatat transaksi di setiap stages dari siklus anggaran dan koneksi elektronik yang memadai antara kementrian keuangan dengan kementrian teknis. presiden berkewajiban menyampaikan laporan keuangan kepada DPR. Sebagai contoh. ekonomis. Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan. payment dan receipt.dilakukan dengan kurun waktu yang tepat. taat pada peraturan perundangan. transparan dan bertanggung jawab. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran masing-masing menyelenggarakan akuntansi. 2009). Perlu ditegaskan bahwa audit hanya dilakukan ditingkat kementrian teknis dan tidak dilakukan terhadap laporan konsolidasi yang dibuat kementrian keuangan (Bahan Presentasi GPF-AIP. yang pemerintahannya bersifat parlementer. 3. efektif. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN tersebut. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) yang diselenggarakan oleh Kementrian Keuangan dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh Kementrian Negara/Lembaga Subdit TPBE. efisien. Laporan keuangan disusun di tingkat kementrian (line ministry) melalui Agency FMIS sistem yang meliputi petty cash. Neraca.

Selaku Pengguna Anggaran. DTP                                                                                                                                           172    . Gambar 4.22 menggambarkan organisasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat. Menteri keuangan bertanggung jawab untuk menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagai pertanggungjawaban presiden atas pelaksanaan APBN. Laporan Keuangan tersebut disampaikan oleh Presiden kepada Badan Pemeriksa Keuangan. dan Catatan Atas Laporan Keuangan beserta Laporan Keuangan Badan Layanan Umum di kementrian masing-masing sebagai lampiran. Selaku Bendahara Umum Negara. Neraca. Selanjutnya selaku pengelola fiskal. Gambar 4. Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun anggaran berakhir.22 Organisasi Sistem Akuntansi pemerintah Pusat Source: Materi Presentasi SAPP (Dit. APK) Terkait dengan penyempurnaan koneksitas proses bisnis manajemen pelaporan.merupakan komponen yang membentuk Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang menghasilkan laporan keuangan pemerintah. perlu ditegaskan bahwa ruang lingkup akuntansi dan pelaporan pemerintah Subdit TPBE. Menteri Keuangan menyusun Laporan Arus Kas pemerintah Pusat.

Satker Vertikal/ Unit Pelaksana Teknis adalah satker di daerah yang mengelola anggaran Kementrian Negara/ Lembaga c. Gubernur. b. Satker Pusat /Kantor Pusat: adalah satker yang mengelola anggaran kantor pusat unit organisasi Kementrian Negara/ Lembaga. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan merupakan bagian dari anggaran kementrian/lembaga yang dialokasikan berdasaran RKA K/L (Pasal 88 dan 95). 105/PMK.02/2008 dijelaskan jenis-jenis Satker terkait dengan pelaksanaan anggaran. Sesuai dengan ketentuan dalam UU No. Satker Pusat dapat berupa Satker yang dibentuk oleh Kementrian/Lembaga yang berfungsi secara fungsional dan bukan merupakan instansi vertikal. Menteri Negara/pimpinan lembaga menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada presiden (Pasal 90 & Pasal 97).pusat meliputi seluruh unit organisasi pada pemerintah pusat dan unit akuntansi pada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan yang dananya bersumber dari APBN serta Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Satuan Kerja Kantor Pusat adalah Satker dalam lingkup Kantor Pusat suatu kementrian negara/ lembaga. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan.23 menunjukan secara garis besar alur pertanggungjawaban Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Subdit TPBE. Satuan kerja merupakan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang yang merupakan bagian dari suatu unit organisasi pada Kementrian Negara/Lembaga (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. DTP                                                                                                                                           173    . Dalam Peraturan Menteri Keuangan No.05/2007). Gambar 4. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satker yang mengelola anggaran Kementrian Negara/ Lembaga dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. termasuk di dalamnya Satker Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT). yang meliputi: a. Bupati/Walikota yang menjalankan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (atas dasar laporan pelaksanaan tugas dari SKPD) menyampaikan pertanggungjawaban kepada menteri negara/pimpinan lembaga.

Dengan mekanisme ini. Sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Menteri Keuangan menjalankan Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara yang di antaranya meliputi Sistem Akuntansi Subdit TPBE. Satker-Satker tersebut merupakan entitas akuntansi yang wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Mekanisme pelaporan SAI dilaksanakan dengan membentuk unit-unit akuntansi secara hierarkikal meliputi UAPPA-W di tingkat Wilayah.23 Alur Pertanggungjawaban Dana Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan d. yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan SiMAK-BMN (Sistem Akuntansi Barang Milik Negara). Akuntansi dan pelaporan di Satker dilaksanakan oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran/ UAKPA yang merupakan unit fungsional (KMK 171).Gambar 4. Selaku Bendahara Umum Negara. Satker Khusus adalah satker yang mengelola dana yang bersumber dari bagian anggaran di luar anggaran kementrian negara/ lembaga atau Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. DTP                                                                                                                                           174    . data akuntansi dan laporan keuangan secara berkala disampaikan kepada unit akuntansi di atasnya. UAPPA-E1 di tingkat Eselon 1 dan UAPA di tingkat kementrian lembaga. Pelaksanaan akuntansi dan pelaporan di Satker (UAKPA) merupakan bagian dari palaksanaan Mekanisme SAI.

LRA dan Neraca SAU tersebut berserta data transaksinya merupakan bahan rekonsiliasi dengan Satker di wilayah kerja KPPN dimaksud. Mekanisme rekonsiliasi menurut hierarki unit akuntansi dan konsolidasi laporan keuangan di tingkat pusat merupakan koneksitas proses bisnis pelaporan antara Kementrian Keuangan cq Ditjen Perbendaharaan selaku Bendahara Umum Negara dan Kementrian/Lembaga selaku Pengguna Angaran.24 menjelaskan mekanisme/ alur penyampaian data dan dan rekonsiliasi. LRA yang dihasilkan oleh Ditjen Perbendaharaan merupakan bahan rekonsiliasi dengan UAPPA-E1 dan UAPA. Neraca KUN. Ditingkat UAPBUN. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           175    . LRA dan Neraca SAU tingkat KPPN. LRA merupakan bahan rekonsiliasi dengan UAPPA-Wilayah. Dit. Di tingkat UAKKBUN-Kanwil.Pusat (SiAP) yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU).24 Source: Modifikasi dari PMK 171 Subdit TPBE. Kanwil Ditjen Perbendaharaan selaku UAKKBUN-Kanwil. APK selaku UAPBUN dan Dit PKN selaku UAKBUN-Pusat. Gambar 4. Proses akuntansi SiAP di KPPN akan menghasilkan Laporan Keuangan tingkat KPPN yang terdiri dari LAK. Pelaksanaan SiAP melibatkan unit pemroses data yang meliputi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebagai UAKBUND.

Mekanisme ini diperlukan untuk menjamin kesesuaian data di antara ke dua entitas akuntansi Subdit TPBE. Oleh karena itu. maka berdasarkan uraian pada sub-bagian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa secara konseptual pengorganisasian sistem akuntansi yang diterapkan pada saat ini lebih cenderung pada model vertikal. audit atas LKPP dilakukan terutama hanya untuk laporan keuangan hasil konsolidasi oleh Menteri Keuangan. antara UAKPA dan UAKBUN-D (KPPN). maka untuk kementrian/lembaga yang tidak memiliki kantor wilayah dapat menunjuk satuan kerja atau menunjuk salah satu satker di lingkup Eselon 1 sebagai koordinator UAPPA-W. Kementrian/lembaga dan treasury masing-masing berkewajiban untuk menghasilkan elemen tertentu dari laporan keuangan dan menjalankan sistem akuntansi yang berbeda. Kementrian negara/ Lembaga yang menggunakan Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. DTP                                                                                                                                           176    . maka sistem tersebut sesuai dengan sistem pemerintahan presidensial di mana presiden yang sepenuhnya bertanggung jawab kepada lembaga perwakilan rakyat. Bagi kementrian negara/ lembaga yang tidak memiliki kantor vertikal di daerah dan bukan pengguna dana Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan tidak perlu membentuk UAPPA-W. proses konsolidasi dalam rangka penyusunan laporan keuangan pemerintah merupakan tanggung jawab Kementrian Keuangan selaku pengelola fiskal. Di samping itu. sampai dengan tingkat kementrian/lembaga yaitu antara UAPA dengan UAKBUN. wajib menyusun Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan secara terpisah. Penggabungan data dan informasi akuntansi terkait dengan dana dekonsentrasi atau tugas pembantuan dilakukan oleh UAPPA-E1 pada kementrian negara/ lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Sesuai dengan perspektif international best practice. Dalam pelaksanaannya. mekanisme rekonsiliasi dilakukan secara berjenjang dari unit yang terendah. terdapat beberapa hal terkait dengan organisasi sistem akuntansi yang patut menjadi perhatian. a) Hierarchical transfer of information dan enormous reconciliation effort Penerapan sistem akuntansi saat ini sangat bergantung pada mekanisme rekonsiliasi antara data transaksi yang dicatat melalui SAI dan SABUN. Sebagaimana diketahui.Terkait dengan alur dan mekanisme dalam gambar tersebut di atas. Namun demikian. Dari tinjauan sistem pemerintahan.

Secara konseptual. misalnya. Pada saat ini. Ditjen Perbendaharaan menetapkan sanksi penundaan pembayaran/pengesahan Uang Persediaan (SP2D UP) apabila Satuan Kerja tidak dapat menunjukkan Berita Acara Rekonsiliasi. mekanisme ini tidak sepenuhnya efektif. Penerapan sanksi ini cukup efektif bagi Satker yang banyak melakukan pengajuan pembayaran melalui mekanisme UP tetapi tidak cukup efektif terkait dengan pengajuan pembayaran melalui mekanisme LS. dapat dipahami bahwa aktivitas rekonsiliasi dibutuhkan tidak hanya karena ketiadaan tempat penyimpanan data yang sama (single data base) untuk kepentingan pelaporan. Aplikasi SAKPA dan Aplikasi Vera.25 menunjukan mekanisme input/output data dan informasi yang berkaitan dengan aplikasi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. b) Sistem akuntansi yang terfragmentasi Sistem akuntansi di tingkat Kuasa Pengguna Anggaran dan KPPN pada saat ini dilaksanakan dengan dukungan tools berupa software aplikasi. Subdit TPBE. Kedua aplikasi tersebut terkait dengan beberapa aplikasi lainnya yang digunakan diantaranya dalam rangka pengajuan dan pengesahan pembayaran. Namun demikian.dan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menghindari loss of information pada unit akuntansi di tingkat yang lebih tinggi. DTP                                                                                                                                           177    . Gambar 4.

Gambar4. DTP                                                                                                                                           178    . DTP Subdit TPBE.25 Mekanisme input/output Data dan Informasi Antara Aplikasi Satker dan KPPN Sources: Presentasi Satker Subdit TSA.

26 Multiple Entry Point pada Aplikasi di Satker Sources: Presentasi Satker Subdit TSA. di integrasikan dengan sistem lainnya dengan menerima input dari Aplikasi SPM dan Aplikasi SIMAK-BMN. pada saat ini sistem dan aplikasi yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan merupakan bagian dari sebuah sistem yang sangat terfragmentasi. mekanisme koreksi data pada saat ini tidak ideal. Koneksitas di antara Aplikasi SAKPA dan Aplikasi Vera terjadi terutama melalui mekanisme input/output pada Aplikasi SP2D dan melalui aktivitas rekonsiliasi. Sebagian besar koreksi data dilakukan dengan mengubah input atas data sumber dan melakukan posting ulang. Gambar 4. sistem aplikasi yang ada memungkinkan terjadinya mulitiple entry point termasuk fasilitas untuk melakukan update elemen data yang sama (misalnya data pagu) pada aplikasi yang berbeda sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.Sebagaimana ditunjukan dalam gambar tersebut di atas. mekanisme perubahan dan perbaikan data pada saat ini tidak memungkinkan tersedianya audit trail. Terlebih lagi. c) Perbedaan data antara SAI dan SABUN terkait dengan realisasi anggaran Subdit TPBE.26. DTP                                                                                                                                           179    . Sebagaimana diketahui. misalnya. Aplikasi SAKPA di satker. Aplikasi Vera menerima input utama dari Aplikasi SP2D. Sistem aplikasi yang terfragmentasi pada saat ini sangat potensial untuk mengakibatkan perbedaan data di antara sistem akuntansi di Satker dan KPPN. DTP Di samping itu.

171/PMK. Praktek tersebut sangat potensial menimbulkan perbedaan data realisasi penyerapan anggaran antara Pengguna Anggaran dan BUN. Sebagai laporan manajerial kepada unit yang lebih tinggi. Satker akan cenderung melaporkan jumlah anggaran yang telah dikontrakkan (committed) dan valid sebagai tagihan (SPP/SPM) meskipun belum Subdit TPBE. aplikasi SAKPA menggunakan database aplikasi SPM untuk mencatat transaksi pengeluaran. Namun demikian. Kuasa Pengguna Anggaran melalui laporan SAI mencatat data transaksi terkait dengan realisasi anggaran yang dikuasainya (budgetary accounting) dengan SPM sebagai dokumen sumber. terkait dengan pencatatan transaksi pengeluaran terdapat dua dokumen sumber yaitu SPM dan SP2D. DTP                                                                                                                                           180    .Sebagaimana diatur dalam PMK.27): Gambar 4.27 Penyusunan Laporan SAI Sesuai gambar di atas. Secara konseptual. Sedangkan KPPN sebagai Kuasa BUN di daerah hanya akan mencatat pengeluaran setelah terjadi pengeluaran dari kas negara (cash accounting) walaupun pada prakteknya pencatatan dilakukan atas dasar perintah transfer sejumlah uang dari rekening kas negara dengan SP2D sebagai dokumen sumber. laporan atas transaksi tersebut baru dapat dihasilkan setelah KPA memperoleh nomor SP2D.05/2007. Secara teknis penggunaan ke-dua dokumen sumber tersebut dalam penyusunan laporan SAI adalah sebagai berikut (Gambar 4. terutama di tingkat unit akuntansi yang lebih tinggi.

 DTP                                                                                                                                           181    . Budget Report a. Expenditure Estimates Summary b. core proses bisnis dari sistem informasi yang terintegrasi setidaknya harus mampu melakukan konsolidasi data keuangan pada institusi perbendaharaan. Selain faktor terkait penundaan penerapan akuntansi berbasis akrual. Model pengembangan yang terintegrasi ini sesuai dengan kebutuhan institusi treasury secara umum yang memerlukan konsolidasi dari data dalam jumlah (magnitude) yang besar.dibayarkan/ disahkan sebagai pengeluaran oleh KPPN. detail dan tersebar di beberapa lokasi dan stakeholders. 4. with all data being entered once only. Monthly Analysis of Expenditure Subdit TPBE. Dalam hal kebutuhan akuntansi dan pelaporan. Revenue Estimates Summary c. Fitur SPAN Terkait Accounting dan Reporting Pengembangan SPAN identik dengan integrasi business process dalam penyelenggaran keuangan negara yang dimungkinkan untuk direalisasi dengan dukungan teknologi informasi. Fitur utama dalam rencana pengembangan SPAN yang berkaitan dengan pelaporan dan akuntansi antara lain meliputi: a) “Capture data at source. Budget Execution a. and online transfer to centralized database” b) “Provide a comprehensive reporting system that enables reliable management reports on government financial operations to be generated in real time ….interrogate online centralized databases to access their information” Tabel berikut mengilustrasikan daftar laporan yang diharapkan dapat dihasilkan dalam rangka SPAN : Scope 1. Ruang lingkup pelaporan dalam rencana pengembangan SPAN meliputi baik eksternal maupun internal reporting. secara tradisional sistem akuntansi yang ada belum mengakomodasi pencatatan komitmen sebagai bagian dari siklus anggaran.and made available to all stakeholders” c) “Provide comprehensive online capabilities to Line Ministries and other agencies to…. Allocation Analysis 2. 2001). kementrian teknis dan Satker untuk menghasilkan laporan akuntansi yang biasa digunakan secara umum (OECD.

Monthly Analysis of Revenue Collections c. Payment Detail h. Monthly Comparison of Expenditure with Cash Flow Forecasts h. Monthly Comparison of Expenditure with Budget Estimates g. Daily Account Posting Summary j. Bank Reconciliation i. Daily Execution of Checks/Payment Orders b. Credit Aging d.b. Pending SPM and Rejected SPM c. Account Payable of Expenditure with i. Monthly Comparison of Revenue Actual with Estimates e. Commitment/Expenditure Summary by Period f. Outstanding Commitment Summary 5. Monthly Allocation of Revenue Shares d. Monthly Receipt and Payment Schedule a. Vendor Name and Adress Listing e. Monthly Comparison of Revenue Collections with Historical Data f. Vendor Payment History f. Forecast of Cash Outflows and Inflows b. Commitment/Expenditure Transaction Details c. Payment Summary g. Outstanding checks/payment orders l. Monthly Expenditure Forecasts d. Monthly Revenue Forecasts c. Daily Payment Reconciliation k. Commitment/Expenditure Summary YTD d. Monthly Comparison Historical Data 3. Cash Management a. Commitment Summary b. Audit Trail 4. Completed SPM. Commitment/Expenditure Details by Period e. Financial Position Statement Subdit TPBE. Commitment a. DTP                                                                                                                                           182    .

Revenue Collection Summary b. Monthly Comparison of Revenue Actuals and Estimates e. misalnya sistem manajemen komitmen.e. Registrasi dan penyampaian appropriasi anggaran tahunan b. Monthly Analysis of Revenue Collections d. Masing-masing KPPN akan mempunyai General Ledger dalam central database dan mempunyai akses elektronik untuk memposting traksaksi dan menghasilkan laporan. Sistem buku besar ini (general ledger system) akan berhubungan dengan modul-modul terkait. Reconciliation of Revenue Collection with Bank Deposits f. Registrasi dan penyampaian allotment anggaran tahunan c. Monitoring Projections of Revenue Collections against g. Registrasi dan penyampaian rencana penarikan dana (annual financial plan) d. Monthly Fund Requirement f. Subdit TPBE. manajemen penerimaan. Revenue Management a. Comparison of Expenditure Estimates and Actuals with Historical Data 6. akuntansi akan meliputi akuntansi anggaran dan komponen cash (cash account) dari akuntansi keuangan. Monthly Debt Collections g. Komitmen. DTP                                                                                                                                           183    . Registrasi dan penyampaian cash limit e. Comparison of Revenue Collections with Historical Trend Data h. manajemen pembayaran. Akuntansi anggaran setidaknya akan meliputi: a. Ruang lingkup sistem akuntansi dalam SPAN akan meliputi akuntansi anggaran (budgetary accounting) dan akuntansi keuangan (financial accounting). Audit Trail Treasury General Ledger (TGL) akan berfungsi sebagai backbone dari sistem akuntansi. Di lingkup treasury. Revenue Collection Details c.

Satker akan menyampaikan laporan meliputi aset dan kewajiban (akun neraca) dan penerimaan dan pengeluaran (laporan kinerja keuangan) kepada Kementrian Keuangan melalui kementrian/lembaga. Kementrian Keuangan akan menerima laporan konsolidasi untuk masing-masing kementrian teknis dan selanjutnya mengkonsolidasikan laporan-laporan tersebut untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah.28 berikut ini (sumber SPAN Request For Proposal). DTP                                                                                                                                           184    . Treasury akan mencatat komitmen pada saat penyampaian Request for Commitment (RFC) dan mencatat pengeluaran pada saat memproses dan mengotorisasi SPM yang diterima dari Satker. penerimaan dan pengeluaran.28 Penyempurnaan Akuntansi dan Pelaporan Dalam Rangka SPAN Subdit TPBE. kewajiban. Satuan Kerja juga diharuskan untuk menyampaikan laporan setiap bulan kepada KPPN untuk selanjutnya di upload ke dalam SPAN. Gambar 4.Akuntansi di Satuan Kerja akan meliputi baik akun-akun anggaran maupun akun-akun financial meliputi aset. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.

Terkait dengan mekanisme penyampaian data dan konsolidasi. rencana pengembangan SPAN diharapkan mampu mewujudkan sistem yang terintegrasi dengan fitur single entry point untuk semua data.5. Kerangka pengembangan yang ada dalam dokumen SPAN dapat mengatasi keterbatasan kerangka organisasi. unit akuntansi wilayah dijalankan oleh salah satu Eselon 1 atau salah satu Satker sebagai koordinator. Di samping itu diharapkan terdapat kemampuan untuk menyimpan dan meng-query audit trail. Untuk menjamin konsistensi data di antara masingmasing sistem akuntansi (SAI dan SiAP) idealnya mekanisme rekonsiliasi di tingkat Satker tetap diperlukan. a) Kerangka pengembangan SPAN dalam bidding document mengedepankan proses verifikasi pada saat konsolidasi laporan keuangan di tingkat kementrian/lembaga. Subdit TPBE. Salah satunya adalah dengan melakukan update data dengan fasilitas reversing jurnal dan menyimpan data perubahan sebagai data baru (bukan sebagai perbaikan). sepanjang terdapat peraturan dan kontrol yang dapat menjamin dilaksanakannya penyampaian data secara tepat waktu. Dalam prakteknya. b) Kerangka pengembangan SPAN dalam bidding document meniadakan proses penyampaian data secara berjenjang dan rekonsiliasi di tingkat kantor wilayah. beberapa hal berikut ini kiranya patut menjadi perhatian untuk penyempurnaan. Fitur tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan terkait dengan fragmentasi sistem pada saat ini. Hal tersebut harus diantisipasi sejak dini untuk mencegah loss of information. Hal tersebut bertentangan dengan praktek saat ini di mana proses rekonsiliasi data dilakukan sejak unit akuntansi terendah di tingkat UAKPA (satker) dan UAKBUN-Daerah (KPPN). Pada saat ini mekanisme tersebut dilaksanakan antara unit akuntansi wilayah kementrian/ lembaga (UAKPA-W) dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan (UAKBUN-W). Salah satu keterbatasan saat ini adalah terkait dengan Satker yang tidak memiliki kantor wilayah dan mengelola dana Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan. DTP                                                                                                                                           185    . Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Accounting dan Reporting Sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya. sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku.

Kerangka ini membutuhkan unit-unit akuntansi terendah atau pihak yang melakukan transaksi keuangan untuk menyimpan data elektronik dari dokumen sumber.29 Organisasi Data Dan Informasi Pelaporan (1) Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. laporan internal di Kementrian/Lembaga lebih terbatas karena hanya memiliki data buku besar. Gambar 4.29 merupakan visualisasi dari organisasi data dan informasi menurut SPAN: Gambar 4. laporan manajerial yang kiranya dibutuhkan harus Subdit TPBE. Kerangka ini identik dengan yang diterapkan pada saat ini. Termasuk di dalamnya adalah bahwa koreksi pembukuan (melalui jurnal entry) hanya dilakukan di Satker. data transaksi di simpan di unit-unit akuntansi terendah sedangkan unit akuntansi di tingkat pusat hanya menerima dan menyimpan data buku besar. DTP                                                                                                                                           186    . termasuk penyampaian laporan ke KPPN untuk di-upload ke dalam database SPAN. Kerangka ini ideal untuk menerapkan single entry point.c) Kerangka pengembangan SPAN mengusulkan penyampaian Laporan Keuangan ke unit akuntansi yang lebih tinggi. Namun demikian. Oleh karena itu.

 DTP                                                                                                                                           187    .diantisipasi sejak awal. Serta memungkinkan dilakukan koreksi pembukuan yang lebih cepat dengan melakukan perbaikan berupa posting ulang di tingkat pusat. Perbaikan laporan atas kesesuaian laporan di tingkat pusat apabila dilakukan secara ideal dengan melakukan koreksi di tingkat Satker akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun demikian. hal ini tidak sejalan dengan konsep single entry point dan memungkinkan adanya discrepansi data di antara unit-unit akuntansi karena perbaikan dapat dilakukan di unit yang lebih tinggi. sehingga struktur data dalam buku besar (GL) bisa mengantisipasi laporan yang nantinya dibutuhkan dalam rangka manajerial. mekanisme pelaporan berjenjang dilakukan dengan melaporkan data transaksi atau dokumen sumber.30. Alternatif lain adalah dengan membuat kerangka pelaporan yang berbeda sehingga unit akuntansi di tingkat pusat dapat memiliki data transaksi sebagai dokumen sumber sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.30 Organisasi Data Dan Informasi Pelaporan (2) Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. Kerangka tersebut memungkinkan laporan manajerial yang lebih fleksibel di unit akuntansi kantor pusat karena memiliki data yang lebih lengkap. Dengan kata Subdit TPBE. mekanisme ini memerlukan proses rekonsiliasi yang handal di unit akuntansi terendah. Di samping itu. Gambar 4.

mekanisme ini akan ideal jika perbaikan data di tingkat pusat didukung dengan mekanisme untuk menginformasikan koreksi data ke unit akuntansi terendah dengan cepat. DTP                                                                                                                                           188    . Atas dasar pembahasan tersebut di atas. Gambar 4. idealnya pengembangan SPAN dapat mengakomodasi beberapa kebutuhan penting. di antaranya: a) Mekanisme rekonsiliasi laporan keuangan pemerintah di tingkat Satker dan KPPN tetap diperlukan untuk menjamin validitas dan kesesuaian data di antara SAI dan SiAP. gambar 4.lain. b) KPPN idealnya dapat memperoleh data dari Satker terkait dengan pengelolaan anggaran di tahap komitmen meskipun KPPN tetap melaporkan pengeluaran Subdit TPBE. Sebaliknya.31 mem-visualisasikan alternatif penyempurnaan kerangka pengembangan akuntansi dan pelaporan dalam rangka SPAN. laporan yang diterima oleh KPPN dari Satker tidak perlu untuk di-upload ke database SPAN.31 Alternatif Penyempurnaan Akuntansi dan Pelaporan dalam rangka SPAN Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas.

32 menunjukkan tahapan yang secara umum terdapat dalam siklus anggaran. d) Satker menyampaikan laporan langsung ke Kementrian/lembaga untuk selanjutnya dikonsolidasikan dengan laporan dari Satker lainnya dalam rangka menyusun laporan keuangan Menteri / Ketua Lembaga selaku PA. hal tersebut bukan semata-mata karena penggunaan dokumen sumber yang berbeda. Gambar 4. c) Data-data transaksi tersebut disimpan dalam SPAN database yang dapat diakses oleh KPPN dan MoF. KPPN akan melakukan rekonsiliasi data transaksi dan laporan dengan Satker. f) Konsolidasi dan penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan perundangan. Terkait dengan perbedaan catatan atas status dana anggaran di Satker dengan di KPPN. diharapkan Kementrian/Lembaga akan memiliki kemampuan untuk menghasilkan laporan internal (manajerial) yang lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Catatan tentang komitmen akan mendukung keakuratan data terkait dengan status anggaran yang dikelola Satker. e) Dalam jangka panjang harus diupayakan agar Kementrian/Lembaga dapat memiliki database untuk menyimpan data transaksi dari Satuan Kerja.berbasis kas. DTP                                                                                                                                           189    . Termasuk didalamnya melakukan jurnal koreksi/ perbaikan laporan yang hanya dapat dilakukan di tingkat Satker dan KPPN. KPPN tetap harus meng-capture data baik yang berkaitan penerbitan perintah transfer (SP2D) atas pengajuan pembayaran oleh Satker. Dipertimbangkan untuk mengeliminasi laporan ke unit akuntansi wilayah disamping untuk menyederhanakan prosedur juga untuk mengatasi kendala organisasi wilayah. terkait dengan Kementrian/ Lembaga yang tidak memiliki kantor Subdit TPBE. Dengan memiliki data transaksi. terutama terkait dengan pengeluaran.

1999)  Sebagaiamana ditunjukkan dalam gambar di atas. terjadi perbedaan terkait penyerapan anggaran menurut Satker dengan BUN. Misalnya. maka dalam perspektif tahapan dalam siklus anggaran dapat dianalogikan bahwa catatan/record atas pengeluaran yang dibuat oleh Satker (SAI) berdasarkan SPM merupakan bagian dari fund control system. terutama melalui pengembangan modul manajemen DIPA dan manajemen komitmen diharapkan dapat mengatasi kesenjangan data terkait dengan status dana anggaran yang dikelola Satker. secara accrual SPM sebagai dokumen sumber pada dasarnya bagi Satker merupakan pengurangan dari dana anggaran yang dialokasikan dan bagi BUN merupakan kewajiban. DTP                                                                                                                                           190    . Praktek pada saat ini di mana satker membukukan perubahan status dana anggaran berdasarkan SPM dan KPPN membukukan pengeluaran berdasarkan SP2D merupakan salah satu alternatif dari pengembangan modul manajemen DIPA dan manajemen komitmen yang telah dibahas pada bagian sebelumnya sebagaimana diindikasikan dalam gambar 4.33 Subdit TPBE. catatan pengeluaran di Satker pada dasarnya merupakan tagihan (invoice) yang menimbulkan kewajiban (obligation) bagi pemerintah (BUN) untuk dilunasi apabila memenuhi kriteria tertentu. Permasalahan akan timbul apabila basis kas (pada saat pembayaran oleh treasury) dijadikan dasar penentuan status dana anggaran tanpa dilengkapi rincian atas tahapan dari siklus anggaran yang telah terjadi di Satker. Dengan kata lain. Kerangka pengembangan SPAN.32 Tahapan dalam Siklus Anggaran Terkait dengan Pengeluaran Source : Modified from tracking expenditure flows ( United Nations. Meskipun pada saat ini belum diaplikasikan akuntansi berbasis akrual.Gambar 4.

33 Kesesuaian Modul dalam SPAN dengan Tahapan dalam Siklus Anggaran Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           191    . Gambar 4.(pembahasan selengkapnya dapat dilihat pada sub bagian manajemen DIPA dan manajemen Komitmen).

UU Perbendaharaan Negara dalam BAB III Pejabat Perbendaharaan Negara. pasal 10 secara implisit mengamanatkan hal tersebut. melalui pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan administratif (ordonateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable) yang telah mengalami deformasi sehingga kurang efektif untuk mencegah dan/atau meminimalkan terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara (Penjelasan UU Perbendaharaan Negara). Hal tersebut diwujudkan. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara Atas pelaksanaan Tugas Kebendaharaan di Satuan Kerja Bendahara Penerimaan/Pengeluaran adalah pejabat perbendaharaan negara. Bagian III. DTP                                                                                                                                           192    .F. terbuka dan bertanggungjawab. salah satunya.34: Gambar 4. governance dalam rangka mewujudkan internal control dan mekanisme saling uji dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara ditunjukkan dalam gambar 4. Secara konseptual.34 Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Subdit TPBE. Salah satu semangat yang terkandung dalam UU Perbendaharaan Negara adalah penyelenggaraan keuangan negara yang mengedepankan profesionalitas.

uang yang berasal dari Kas Negara. Dalam PMK No 73/PMK. Kedudukan Bendahara selaku pejabat fungsional mengindikasikan kemandirian bendahara dalam pelaksanaan tugasnya. Sebagaimana diatur dalam PP 39 tahun 2007. Persyaratan pengangkatan dan pembinaan karier bendahara diatur oleh Bendahara Umum Negara selaku Pembina Nasional Jabatan Fungsional Bendahara. DTP                                                                                                                                           193    . Bendahara adalah Pejabat Fungsional yang diangkat oleh Menteri/ Ketua Lembaga untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan dan/atau anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/ lembaga.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. menyimpan. 05/2008 ditegaskan bahwa: Subdit TPBE. uang yang berasal dari potongan pembayaran yang dilakukan Bendahara selaku wajib pungut 3.1/2005). untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari dapat diberikan uang persediaan sebagai uang muka yang dikelola dan harus dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran pada Satuan Kerja (Pasal 28). Di samping Uang Persediaan (UP) Bendahara Pengeluaran juga mengelola uang lainnya yang meliputi: 1. Dalam ketentuan perundangan cukup jelas disebutkan bahwa bendahara (penerimaan/ pengeluaran) tidak boleh dirangkap oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum Negara (Pasal 10 UU Perbendaharaan Negara) dan juga tidak boleh dirangkap oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Pejabat Penandantangan SPM (implisit dalam Pasal 2 ayat 6 Perdirjen 66/PB. membayar atau menyerahkan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang dan surat berharga yang berada dalam pengelolaannya (Pasal 10 UU Perbendaharaan Negara dan Penjelasannya). Tugas kebendaharaan meliputi kegiatan menerima. Uang bagi keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/ satuan kerja tersebut ditampung pada Rekening Bendahara Pengeluaran yang dikuasai oleh Bendahara Pengeluaran (PMK 61/ PMK. melalui SPM-LS/SP2D yang ditujukan kepadanya 2. 05/2009). uang dari sumber lainnya yang menjadi hak negara Ruang lingkup uang dan/atau surat berharga yang menjadi tanggung jawab bendahara tersebut sejalan dengan definisi Uang Negara sebagaimana diatur dalam pasal 10 PP 39 tahun 2007 yang meliputi uang dalam Kas Negara dan uang pada Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran kementrian negara/ lembaga.

1/2004 pasal 53). Selanjutnya dapat disimpulkan pula bahwa meskipun pengelolaan uang negara yang menjadi tugas bendahara (pengeluaran) identik dengan pengelolaan Uang Persediaan. ruang lingkup tanggung jawab bendahara (pengeluaran) juga meliputi uang lainnya yang ditampung dalam Rekening Bendahara Pengeluaran. Sebagai pertanggungjawaban atas pengelolaan uang tersebut. DTP                                                                                                                                           194    . maka Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya kepada Kuasa Bendahara Umum Negara (UU No. setidaknya meliputi uang yang berasal dari Kas Negara melalui SP2D-LS yang ditampung dalam Rekening Bendahara Pengeluaran yang dikuasainya. Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah pembayaran dari Kuasa Pengguna Anggaran apabila tidak memenuhi syarat: 1. Sejalan dengan kemandirian bendahara selaku pejabat fungsional. Kuasa Pengguna Anggaran Sesuai dengan uraian tersebut di atas. Ketersediaan dana dan kecukupan pagu DIPA yang dimintakan pembayarannya Bendahara hanya dapat melakukan pembayaran setelah meneliti dan menguji pemenuhan persyaratan tersebut di atas (Pasal 9 ayat dan 2). maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan bendahara selaku pejabat fungsional berimplikasi pada kemandirian bendahara (khususnya bendahara pengeluaran) dalam pelaksanaan tugas pengelolaan uang dan surat berharga milik negara. Bendahara pengeluaran bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya (Pasal 9 ayat 4) Terlebih lagi. Bendahara wajib menatausahakan dan menyusun Laporan Pertanggungjawaban Subdit TPBE. tanggung jawab bendahara terbatas atas uang yang dikelolanya dalam rangka pelaksanaan APBN (Pasal 3 ayat 12). 2. meskipun pelaksanaan pembayaran oleh bendahara hanya dapat dilakukan atas perintah Kuasa Pengguna Anggaran (Pasal 9 ayat 1). Kebenaran perhitungan tagihan 3. Secara fungsional bendahara bertanggung jawab secara pribadi atas kelengkapan hak tagih. Uang yang dikelola bendahara. Namun demikian. Bendahara bertugas secara mandiri dalam arti tidak hanya terbatas sebagai kasir yang melaksanakan perintah Pengguna Anggaran. kebenaran perhitungan dan ketersediaan dana dari pengeluaran yang dilakukannya.1. Kelengkapan perintah pembayaran yang menjadi dasar hak tagih (misalnya kuitansi) 2.

Berdasarkan ketentuan sebagaimana dalam uraian tersebut di atas. LPJ tersebut disampaikan kepada Kepala KPPN di wilayah kerja Satker bersangkutan. Berkaitan dengan kedudukan dan ruang lingkup tanggung jawab bendahara (pengeluaran dan/atau penerimaan) serta mekanisme pertanggungjawaban yang berlaku saat ini. Pada saat ini di samping mekanisme pertanggungjawaban bendaharawan. dan diatur lebih lanjut Subdit TPBE. kegiatan pelaporan dan akuntansi di tingkat Satker dilaksanakan oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) yang bersifat fungsional. selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Mekanisme ini sejalan dengan amanat UU Perbendaharaan (pasal 53) bahwa terkait dengan tugas fungsional bendahara (penerimaan/pengeluaran) Kuasa BUN bertanggungjawab kepada Menteri Keuangan dan Menteri Keuangan bertanggung jawab kepada Presiden dari segi “hak dan ketaatan kepada peraturan atas penerimaan dan pengeluaran yang dilakukannya”.05/2007 tentang Pelaporan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. oleh KPPN direkapitulasi dan dilaporkan secara berjenjang kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Perdirjen 47/PB/2009).(LPJ). LPJ-LPJ yang telah diverifikasi. buku-buku pembantu dan Buku Pengawasan Anggaran menurut tata cara dan model sebagaimana diatur dalam Perdirjen 47/PB/2009. DTP                                                                                                                                           195    . Menteri Pimpinan Lembaga masingmasing dan Badan Pemeriksa Keuangan. Laporan keuangan pemerintah tingkat Satker ini berbeda dengan penyampaian laporan pertanggjungjawaban atas pelaksanaan tugas fungsional bendahara sebagaimana diamanatkan dalam pasal 10 dan penjelasannya. Pada prakteknya. berikut adalah beberapa hal yang dapat dijadikan bahan kajian untuk penyempurnaannya di masa yang akan datang: 1. di Satuan Kerja terdapat mekanisme pelaporan dalam rangka akuntanbiltas sebagaimana di atur dalam PMK 171/PMK. Satker merupakan bagian dari unit akuntansi Kementrian/Lembaga yang wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Sebagaimana diatur dalam peraturan tersebut. Laporan Pertanggungjawaban tersebut disusun berdasarkan Buku Kas Umum. maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan tingkat Satuan Kerja yand dihasilkan oleh UAKPA adalah laporan atas pelaksanaan kewenangan Kuasa Pengguna Anggaran.

Belanja Kas di KPPN 60 60 60 60 Uraian Debit Kredit Pengurangan atas nilai akun terkait Uang Persediaan (SAI: Kas di Bendahara Pengeluaran) dan (SAKUN: Pengeluaran Transito) terjadi diantaranya pada saat pengembalian uang persediaan melualui setoran dan pada saat penerbitan SP2D-GU Nihil yang dicatat sebagai berikut: Subdit TPBE. 47/PB/2009. Ruang lingkup tugas bendahara menyangkut pengelolaan uang yang identik namun tidak terbatas pada pengelolaan Uang Persediaan. DTP                                                                                                                                           196    . Rekening bendahara (pengeluaran) menampung pula pembayaran yang ditujukan kepada yang berhak melalui rekening bendahara (pengeluaran). Belanja Piutang dari KUN Jurnal SAKUN 2. 3.05/2008 dan Perdirjen No. Kas di Bendahara Pengeluaran Uang Muka dari KUN Jurnal SAKUN 2.dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Pengeluaran Transito Kas di KPPN 100 100 100 100 Uraian Debit Kredit Realisasi anggaran dengan pembayaran melalui Uang Persediaan dicatat sebagaimana halnya pengeluaran atas beban rekening kas negara yang dibayarkan secara langsung kepada yang berhak (LS) sebagai berikut: No Jurnal SAI 1. 73/PMK. 2. Laporan keuangan pemerintah yang dihasilkan SAI untuk tingkat UAKPA (Satker) dan SAKUN untuk tingkat UAKBUN-D (KPPN) juga mencatat pemberian Uang Persediaan yang dikelola Bendahara (Pengeluaran) melalui penjurnalan sebagai berikut: No Jurnal SAI 1. misalnya SP2D LS untuk pembayaran Gaji Pegawai dan sejenisnya.

Intersection (irisan) di antara tanggung jawab keduanya dalam hal pencatatan adalah terkait dengan pengelolaan Uang Persediaan. Uraian Debit Kredit Uang Muka dari KUN Kas di bendahara Pembayar Jurnal SAKUN 100 100 2. Sebagaimana diilustrasikan pada mekanisme pencatatan sebagaimana pada huruf c.05/2008 dan Pasal 10 ayat 4 Perdirjen No. laporan keuangan UAKPA dan LPJ Bendahara. Praktek saat ini (dua mekanisme pelaporan) tidak efisien karena meskipun bendahara bertugas secara mandiri dan secara fungsional bertanggung jawab kepada Kuasa BUN. 47/PB/2009). Kas di KUN Penerimaan transito 100 100 Sources: Perdirjen No. Dari pembahasan pada item-item tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan masing-masing laporan. 47/PB/2009 Pasal 10 dinyatakan bahwa yang berkewajiban melakukan rekonsiliasi internal antara LPJ dengan Laporan Keuangan UAKPA adalah Kuasa Pengguna Anggaran (ayat 3). DTP                                                                                                                                           197    . maka akan cenderung terdapat selisih di antara catatan SAI untuk akun transito (Kas di Bendahara Pembayar) dengan nominal uang yang menjadi tanggung jawab bendahara pengeluaran (tunai dan di rekening bendahara pengeluaran) apabila terdapat pembayaran SP2D-LS yang ditujukan ke rekening bendahara pengeluaran. 73/PMK. Namun demikian. Di dalam Perdirjen No. Pencatatan Laporan Keuangan dilakukan dengan menggunakan model double entry sedangkan model dan tata cara penyusunan LPJ pada dasarnya bersifat single entry. didasarkan pada kerangka tanggung jawab yang berbeda antara KPA dan Bendahara. 5. PER 01/PB/2005 4.No Jurnal SAI 1. namun karena uang yang dikelola bendahara terkait dengan pelaksanaan anggaran yang menjadi Kuasa PA maka dalam prakteknya Subdit TPBE. Perbedaan pencatatan tersebut dijelaskan melalui mekanisme rekonsiliasi antara mitigasi dengan cara rekonsiliasi antara LPJ dengan UAKPA (Pasal 19 PMK No. detail pencatatan yang dikehendaki dalam LPJ Bendahara melalui pencatatan pada buku pembantu dan buku pengawasan anggaran pada dasarnya sama dengan pencatatan akun belanja pada laporan keuangan UAKPA.

substansi pencatatan terkait dengan penatausahaan Uang Persediaan dalam rangka pencairan anggaran. LPJ Bendahara diusulkan untuk disusun dari sub-ledger kas laporan keuangan UAKPA disertai catatan. dimana bendahara hanya bertanggung jawab atas uang persediaan dan uang yang ada di rekening bendahara pengeluaran 2.Kuasa PA tetap merupakan pihak yang bertanggung jawab secara internal terhadap kebenaran pembukuan bendahara (sebagaimana diindikasikan dalam ayat 3 pasal 10 Perdirjen 47/PB/2009).35 mengilustrasikan kerangka mekanisme sebagaimana dijelaskan dalam alternatif 1. Terdapat dua mekanisme pelaporan ke KPPN. Namun demikian. Perbedaan catatan terjadi karena praktek saat ini memungkinkan pembayaran kepada yang berhak melalui rekening bendahara. 6. 4. baik dalam Laporan Keuangan UAKPA maupun dalam LPJ Bendahara. Subdit TPBE. Salah satu alternatif penyempurnaan adalah dengan mengikuti mekanisme yang telah dipraktekkan pada saat ini. Gambar 4. misalnya selaku wajib pungut. DTP                                                                                                                                           198    . 5. pada dasarnya sama. Beberapa alternatif untuk penyempurnaan adalah sebagai berikut: Alternatif 1 1. yaitu penyampaian laporan UAKPA dalam rangka rekon dan LPJ Bendahara dalam rangka pertanggungjawaban tugas fungsional bendahara. Catatan tersebut dapat berupa perbedaan antara saldo akun “uang muka di bendahara pengeluaran” pada laporan SAI dengan nominal uang yang dikelolanya akibat pelaksanaan tugas kebendaharaan lainnya. 3. Bendahara pengeluaran adalah entitas yang terpisah dan dengan UAKPA. Bendahara (pengeluaran) hanya berwenang mengajukan SPP-UP sedangkan SPP-LS diajukan oleh PPK. Di samping itu.

UU mengamanatkan pemisahan kewenangan pihak-pihak selaku COO dan CFO. Mempertegas tugas fungsional bendahara (terutama bendahara pengeluaran) dalam penyelenggaraan keuangan negara sesuai dengan semangat yang diamanatkan dalam UU Perbendaharaan Negara.Gambar 4. sebagaimana diusulkan dalam uraian berikut: 1. Ruang lingkup tugas bendahara harus dipahami dan dibangun mengikuti kerangka pemisahan kewenangan yang komprehensif dalam penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-Undang. Pembagian tersebut salah satunya ditujukan untuk mewujudkan penegasan pemisahan antara pemegang kewenangan administrative (ordonateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptabel) (Penjelasan UU Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           199    . terutama dalam Pasal 10 dan penjelasannya.35 Alternatif (1) Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara terkait Tanggungjawab Bendahara  Alternatif 2 Penyempurnaan atas fungsi bendahara (pengeluaran) dan bisnis proses yang berkaitan dengan tugas kebendaharaan dapat pula dilakukan secara komprehensif. Sebagaimana diketahui.

05/2008. DTP                                                                                                                                           200    . 2. Terhadap laporan ini. misalnya selaku wajib pungut. tugas kebendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 10 seharusnya tidak terbatas pada Uang Persediaan dan/ atau (dalam prakteknya) uang yang ada dalam rekening bendahara pengeluaran. Oleh karena itu. Terkait dengan pembentukan unit akuntansi. 3. Dalam rangka pemenuhan akuntabilitas. laporan keuangan UAKPA pada dasarnya tetap merupakan pertanggungjawaban KPA dan harus disetujui terlebih dahulu oleh KPA sebelum disampaikan ke unit yang lebih tinggi. maka idealnya bendaharawan berkedudukan selaku pejabat yang mengepalai UAKPA. maka fungsi comptabel bendahara (pengeluaran) atau tugas kebendaharaan terkait dengan uang dan surat berharga dalam pengelolaan bendahara idealnya dipahami secara komprehensif bahwa pengelolaan uang tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pembayaran atas dana anggaran yang dikuasakan kepada KPA. Mekanisme penyampaian laporan ke Kuasa BUN cukup dilakukan satu kali. sebagaimana di atur dalam PMK 171/PMK. Selaku pejabat fungsional bendahara.Perbendaharaan Negara). Dalam ruang lingkup penyelenggaraan keuangan negara di Satker. Gambar 4.36 mengilustrasikan kerangka mekanisme sebagaimana dijelaskan dalam alternatif 2 tersebut di atas. Subdit TPBE. Tugas kebendaharaan bendahara (pengeluaran) idealnya dijalankan secara utuh meliputi seluruh pengeluaran dana anggaran yang dikuasakan kepada KPA. maka bendahara bertanggungjawab secara pribadi dan secara fungsional kepada Kuasa BUN. yaitu dalam rangka rekonsiliasi laporan UAKPA dan sebagai penyampaian laporan LPJ Bendahara. maka bendahara menyusun LPJ melalui subledger kas dari aplikasi UAKPA disertai catatan dan penjelasan apabila terdapat perbedaan nominal kas terkait dengan pelaksanaan tugas kebendaharaan lainnya. 4. 5.

Sedangkan Surat Permintaan Pembayaran melalui mekanisme UP (SPP-UP dan/atau SPP-GUP) diajukan oleh Bendahara Pengeluaran (Pasal 7 Perdirjen 66/PB/2005). Pada saat ini. Uraian sebagaimana tersebut di atas Subdit TPBE. Oleh karena itu dalam konteks PMK No. Namun demikian.Gambar 4.36 Alternatif (2) Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara terkait Tanggungjawab Bendahara Penyempurnaan proses bisnis dalam penerbitan dokumen otorisasi yang berkaitan dengan pembayaran.05/2008.05/2008.05/2008). pengajuan SPP yang berkaitan dengan Uang Persediaan tetap merupakan kewenangan PPK (Pasal 15 (1) dan Pasal 17 (5)) meskipun definisi SPP merujuk pada adanya permintaan/ perintah membayar untuk “beban bagian anggaran” dan pemenuhan persyaratan dalam “dokumen perikatan” (Pasal 1 angka 20). DTP                                                                                                                                           201    . 73/PMK. dalam PMK 73/PMK. SPP (tanpa membatasi mekanisme pembayaran melalui UP dan/atau LS) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). Surat Permintaan Pembayaran secara langsung (SPP-LS) diajukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) (PMK 73/PMK.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) hanya bertanggung jawab atas dibuatnya perikatan/ kontrak/ komitmen dengan pihak yang akan menerima pembayaran. Gambar 4. Hal tersebut di atas sejalan dengan ketentuan yang mengatur tentang pejabat pengguna anggaran dalam Perdirjen No 66/PB/2005.37 mengilustrasikan proses bisnis di Satker sebagaimana dalam Alternatif 2a tersebut di atas. Esensi dari kewenangan PPK sebagaimana dalam dua peraturan tersebut adalah untuk membuat (atau pada saat dibuatnya) perikatan/ komitmen/ kontrak dengan pihak yang akan menerima pembayaran atas beban anggaran negara. Didalam pasal 2 dan pasal-pasal lainnya. Didalam pasal 2 dan pasal-pasal lainnya. Beberapa usulan untuk penyempurnaan proses bisnis dalam kerangka alternatif 2 sebagaimana tersebut di atas adalah sebagai berikut: Alternatif 2a Mempertegas kewenangan bendahara untuk menerbitkan semua Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Ketentuan dalam Pasal 4 (e) UU Perbendaharaan Negara mengatur tentang kewenangan PA untuk melakukan “tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja”. DTP                                                                                                                                           202    . kewenangan pejabat yang ditunjuk untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen” tidak secara tegas disebutkan dan/atau identik dengan kewenangan pejabat tersebut untuk mengajukan Surat Permintaan Pembayaran. Oleh karena itu. kewenangan pejabat yang ditunjuk untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen”.menunjukkan kurangnya konsistensi terkait dengan standard proses bisnis dan kewenangan dari masing-masing pejabat perbendaharaan negara di Satker. maka idealnya semua Surat Permintaan Pembayaran (SPP) diajukan oleh bendahara pengeluaran. Subdit TPBE. Hal tersebut di atas sejalan dengan ketentuan yang mengatur tentang pejabat pengguna anggaran dalam Perdirjen No 66/PB/2005. apabila ruang lingkup tugas kebendaharaan bendahara pengeluaran tidak terbatas pada uang persediaan dan/atau uang yang ada di rekening bendahara pengeluaran.

maka seluruh permintaan pembayaran dari Pejabat Penerbit SPM harus disampaikan untuk diketahui bendahara Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           203    . Alternatif yang sejalan dengan kerangka kewenangan PPK tersebut adalah dengan mempertegas kewenangan PPK untuk menerbitkan SPP baik LS maupun UP.05/2008 menentukan kewenangan PPK secara luas untuk menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik melalui mekanisme LS ataupun UP. untuk tetap dapat menjalankan kewenangan bendahara secara utuh (selaku pemegang fungsi pembayaran dan kewenangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 10 dan Penjelasan UU Perbendaharaan Negara).37 Alternatif (2a) Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait Kewenangan Bendahara Alternatif 2b Mempertegas bahwa kewenangan PPK untuk menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sebagai implementasi kewenangan PA/KPA untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja” Ketentuan dalam PMK 73/PMK.Gambar 4. Namun demikian.

05/2008). maka SPP UP dan/atau GUP berlaku sebagai dokumen resmi dari KPA untuk melakukan pembayaran dengan menggunakan Uang Persediaan (merujuk pada ketentuan dalam Pasal 9 ayat 1 PMK 73/PMK.sebelum disampaikan ke KPPN. bendahara akan menyusun Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan kewenangan fungsi pembayaran atas dana yang dikuasakan kepada Kuasa PA. Gambar 4. SPM-SPM tersebut di atas. baik LS dan/atau UP yang diterima oleh Bendahara dari Pejabat Penerbit SPM merupakan dasar Bendahara untuk melakukan pembukuan pada Laporan Keuangan UAKPA (merujuk ketentuan dalam pasal 15 ayat 4 dan 5 dalam PMK 73/PMK.38 Alternatif (2b) Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait Kewenangan Bendahara Kuasa Pengguna Anggaran Ordonateur Comptabel KPPN SPM Bukti Pembayaran (UP) Bendahara Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) Pihak ke-3 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) SPP UP & GUP SPM SPP-LS SPP-UP & GUP Kontrak & Invoice (LS) Pelaksanaan atas pilihan alternatif-alternatif idealnya memperhatikan pengembangan struktur rekening yang berkaitan dengan rekening bendahara pengeluaran.05/2008). Dari sub ledger cash laporan tersebut. Gambar 4. Subdit TPBE. Untuk pembayaran melalui mekanisme UP. DTP                                                                                                                                           204    .38 mengilustrasikan proses bisnis di Satker sebagaimana dalam Alternatif 2b tersebut di atas.

disebutkan bahwa manajemen kas yang efektif memerlukan perencanaan arus kas jangka pendek yang akurat dan tepat waktu. MANAJEMEN KAS 1. diantaranya meliputi pertukaran informasi antara Kementrian Keuangan dengan kementrian teknis di tingkat operasional. and between government and other sectors”.G.9). pemerintah harus memastikan bahwa tagihan dan penerimaan dapat dibayarkan dan diterima tepat waktu. Peran dan tanggung jawab Satker dalam manajemen kas diantaranya dipengaruhi oleh model sistem perbendaharaan dan mekanisme pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran di suatu negara. Institusi treasury idealnya dapat memperoleh informasi dari agency (Satker) selaku entitas yang melakukan transaksi termasuk di dalamnya perikatan/ komitmen serta proyeksi kas yang dibutuhkan untuk melunasinya (p. Pengertian tersebut menekankan pentingnya proses bisnis yang secara rutin dijalankan dalam manajemen kas di samping hal-hal yang berkaitan dengan alternatif kebijakan. Untuk pelaksanaan anggaran yang efisien. meminimalkan biaya berkaitan dengan pinjaman. Berkaitan dengan penyempurnaan koneksitas proses bisnis manajemen kas di Satker. 2007). 1999). Untuk dapat melaksanakan pembayaran yang tepat waktu. Dalam rangka pelaksanaan anggaran. Williams (2004) mendifinisikan manajemen kas sebagai ”… the strategy and associated process for managing cost-effectively government’s shortterm cash flows and cash balances. tujuan manajemen kas setidaknya meliputi pengendalian atas total pengeluaran (aggregate spending). idealnya terdapat mekanisme untuk mengetahui arus kas yang dibutuhkan pada saat pembayaran jatuh tempo (World Bank. 2009). implementasi anggaran yang efisien. maka peran Satker dalam hal perencanaan kas sangatlah penting. memaksimalkan hasil dari kelebihan kas. DTP                                                                                                                                           205    . Tujuan dan Fungsi Manajemen kas pada dasarnya adalah serangkaian proses yang dijalankan sebuah entitas organisasi untuk memperoleh kemanfaatan yang maksimal dari arus kas (ANAO. both within government. Dalam Modernizing Cash Management (Lienert. Sedangkan mekanisme yang ditempuh institusi perbendaharaan untuk menjamin ketersediaan kas pada saat pembayaran Subdit TPBE. Aktifitas perencanaan dan proyeksi kas ini.

membuat invoices dan claims. di Indonesia Authorising Officer dapat di analogikan sebagai KPA. kewenangan COO dilakukan oleh Satker atau disebut Authorising Officer. Agence France Tresor (AFT). Institusi perbendaharaan. Sistem treasury di Perancis pada dasarnya bersifat ter-sentralisasi sedangkan sistem treasury di Australia lebih ter-desentralisasi. Jika melihat wewenang dari Authorising Officer diatas. Manajemen kas di Satker yang diterapkan di masing-masing negara sangat berlawanan. sedangkan CFO secara penuh dilakukan oleh Departemen Keuangan yang dalam hal ini diwakili oleh Public Accountants yang ditempatkan di masing-masing Satker. Rekening operasional public accountant merupakan sub-akun dari rekening utama AFT di Bank Sentral (la Banque de France) yang melakukan sentralisasi transaksi secara real time. Pemisahan jabatan dilakukan untuk tiap wewenang diatas yang bertujuan sebagai mekanisme check and balance. 2.jatuh tempo dipengaruhi pula oleh struktur rekening pemerintah di mana uang negara ditempatkan. Authorising Officer memiliki wewenang untuk membuat komitmen. berikut adalah tinjauan atas pelaksanaan manajemen kas di Spending Agency (Satker) di Perancis dan Australia. Model yang ada di kedua negara tersebut. Atas dasar informasi tentang pola cash flow dan pemberitahuan atas transaksi. Kas pemerintah Perancis terdiri dari saldo atas transaksi keuangan yang dilakukan oleh public accountants yang masing-masing bertanggung jawab atas satu atau beberapa rekening operasional. AFT melakukan: a) menentukan jumlah penerbitan Treasury Bills b) menentukan proporsi dari kas yang ditempatkan di TSA untuk keperluan manajemen kas pemerintah pusat c) menginvestasikan kelebihan kas (Lienert & Chailloux. 2009) Di Perancis. selain sudah cukup maju juga dapat mewakili dua model utama dalam sistem perbendaharaan. DTP                                                                                                                                           206    . International Best Practice terkait Manajemen Kas Sebagai acuan best practices terkait dengan peran dan tanggung jawab Satker dalam manajemen kas. Subdit TPBE. dan membuat payment order. memverifikasi barang. bertanggung jawab terutama menangani manajemen hutang dan perbendaharaan.

Selain Authorising Officer dan Public Accountant terdapat pula pejabat perbendaharaan yang disebut Official Controller. 2009). (Sigma.Public Accountant merupakan staf Departemen Keuangan yang secara fungsional berada dibawah General Directorate of Public Accounting yang berkedudukan di Satker dan bertugas untuk melakukan kontrol (regulatory control) terhadap payment order yang dibuat oleh Authorising Officer. Kedua pejabat tersebut menyampaikan pertanggungjawaban kepada kementrian Keuangan bukan kepada Authorising Officer di Satker. Subdit TPBE. Lienert & Chailloux. Official Controller merupakan staf Departemen Keuangan yang berada di Satker yang memiliki fungsi untuk melakukan kontrol berupa regulatory control terhadap perikatan/komitmen atau keputusan lain yang akan mengakibatkan pengeluaran yang dibuat oleh Authorising Officer apakah telah sesuai dengan appropriation yang diberikan. Dalam hal ini Authorising Officer tidak memiliki rekening sendiri. Public Accountant juga bertugas untuk membuat Laporan Keuangan Tahunan Satker. Public Accountant bertanggung jawab untuk menyalurkan pembayaran melalui TSA atau melalui rekening Satker di Treasury. Laporan Keuangan tersebut di sahkan oleh Authorising Officer sebelum disampaikan kepada Court of Accounts untuk dilakukan audit. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Public Accountant melakukan fungsi manajemen kas dan accounting di Satker sedangkan Official Controller melakukan fungsi kontrol terhadap anggaran. Public Accountant memiliki kewenangan untuk menolak payment order yang diajukan oleh Authorising Officer. Berikut ini dalam gambar 4.39 ditunjukan struktur dan kelembagaan Satker di Perancis dalam penyelenggaraan keuangan negara. DTP                                                                                                                                           207    . 2001.

39 Struktur kelembagaan dan Pelaksanaan Anggaran di Satker (Perancis) Subdit TPBE.Gambar 4. DTP                                                                                                                                           208    .

c) manajemen atas dana yang diterima sebagai bagian dari anggaran (negara). meliputi: a) menangani. b) memenuhi biaya-biaya yang ditimbulkan dari rekening bank milik Agency. CFO tidak hanya bertanggung untuk terlaksananya kerangka manajemen keuangan yang memadai dan melaksanakan tanggung jawab atas manajemen keuangan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. manajemen kas dan perbankan merupakan salah satu tanggung jawab utama yang dijalankan di tingkat Agency. CFO juga bertanggungjawab atas atas pelaporan terkait dengan penggunaan sumber daya keuangan (Auditor General Victoria. Tugas-tugas terkait dengan penyelenggaraan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan anggaran dijalankan oleh Accountable Officers. kewenangan yang terkait manajemen kas dijalankan oleh Chief Financial Officer (CFO). Kewenangan yang dimiliki oleh CEO tersebut di atas dapat didelegasikan kepada staf di lingkungan Agency yang bersangkutan. Dalam melaksanakan tugasnya. Pada prakteknya.Model manajemen kas di Satuan Kerja di Australia sejalan dengan sistem perbendaharaan Australia yang ter-desentralisasi. Agency diwajibkan dan bertanggungjawab untuk: a) membuka dan mengatur rekening di bank dalam rangka pelaksanaan anggaran. membayar dan mencatat uang negara dalam rangka pelaksanaan anggaran. Chief Executive Officer (CEO) memiliki kewenangan dan tanggung jawab khusus terkait dengan pengelolaan dan pembayaran atas beban anggaran negara. 2005). Subdit TPBE. b) membuat perikatan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran. Dengan demikian. d) menerima dan membayar bunga (bank) berdasarkan saldo kas untuk masingmasing departemen. Chief Financial Officer (CFO) adalah pejabat yang bertanggung jawab atas strategi dan operasional atas perencanaan dan manajemen keuangan Agency. CFO idealnya memiliki akses secara langsung terhadap CEO sehingga dapat menjalankan advisory role bagi CEO. yaitu Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer (CFO). yang ada di masing-masing Agency (Satker). c) membuat kebijakan dan praktek pengelolaan keuangan sesuai dengan kebutuhan Satuan Kerja. Sejak tahun 1999. DTP                                                                                                                                           209    .

treasury diantaranya melakukan: a) perencanaan (forecast) penerimaan dan pengeluaran harian untuk jangka waktu satu tahun guna mengetahui tingkat kebutuhan kas harian. Dalam kerangka tanggungjawab penyelenggaraan keuangan negara yang terdesentralisasi ini. DTP                                                                                                                                           210    . Mekanisme information-sharing dijalankan dengan mewajibkan Agency untuk menyampaikan kepada treasury perkiraan penerimaan dan penarikan dana (drawdown pattern schedule) pada hari Senin untuk jangka waktu sampai dengan hari Rabu pada minggu berikutnya. Mekanisme tersebut ditujukan untuk mendukung Commonwealth Subdit TPBE. termasuk penjelasan atas realisasi yang tidak sesuai rencana. Perkiraan tersebut merupakan salah satu dasar untuk menentukan keputusan perlu atau tidaknya melakukan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan kas. c) memahami pattern dari arus kas untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang mempengaruhinya. b) memperkirakan saldo kas terendah dalam periode satu minggu (ke-depan) untuk mendukung keputusan pembuatan pinjaman jangka pendek apabila diperlukan. termasuk komponen yang bersifat musiman atau periodik. manajemen kas di Agency menjadi bagian integral dari manajemen kas institusi treasury. b) melakukan review dan perbaikan secara rutin terhadap perencanaan arus kas. sehingga dapat dihasilkan perencanaan kas dengan fleksibilitas yang maksimal. Terlebih lagi. belanja modal dan rencana penerimaan dan pengeluaran secara periodik untuk jangka waktu 12 bulan. pemilihan mekanisme pembayaran dan metode penarikan dari dan penyediaan kas melalui rekening ”overdraft” account yand ada di Reserve Bank of Australia (RBA). Institusi treasury di tingkat pusat (Commonwealth treasury) bertanggungjawab akan ketersediaan kas pada saat dibutuhkan melalui aktivitas terkait dengan pengelolaan hutang dan pinjaman.Elemen utama dari manajemen kas yang dilaksanakan di tingkat Agency meliputi: a) menyusun anggaran yang terintegrasi meliputi kegiatan operasional. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya tersebut. kinerja Commonwealth Treasury sangat ditentukan oleh informasi yang diperoleh dari Agency untuk melengkapi perencanaan kas. Termasuk diantaranya adalah penerapan aturan terkait jangka waktu pelunasan invoice.

proyeksi 3. Selaku BUN Menteri Keuangan berwenang menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara untuk melaksanakan tugas kebendaharaan Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           211    . spending agency tidak hanya bertanggung jawab atas otorisasi pengeluaran dan internal control. Biaya pinjaman merupakan selisih antara bunga pinjaman dengan remunerasi dari saldo positif yang ada di rekening treasury di Reserve Bank of Australia (ANAO. Dari pembahasan komparatif atas model manajemen kas di Perancis dan di Australia. 1999). 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara. tetapi juga bertanggung jawab atas manajemen internal kas. Pada sistem tersebut. bertanggung jawab dan berorientasi dalam hasil.Treasury untuk meminimalisasi biaya pinjaman (net cost of borrowing). terdapat dua level manajemen kas. dapat disimpulkan bahwa peran Satker sangatlah krusial untuk manajemen kas yang efektif. yaitu di tingkat Agency dan manajemen kas terkonsolidasi di tingkat pusat (federal). Meskipun transaksi keuangan dilakukan melalui rekening Agency. Merujuk pada istilah yang digunakan Ian Lienert dalam Modernsing Cash Management (Lienert. Beberapa fitur dari kedua model tersebut yang patut mendapat perhatian untuk pengembangan manajemen kas diantaranya meliputi pentingnya pemahaman atas pola arus kas di masing-masing Satker dan mekanisme information sharing antara Kementrian Keuangan dengan Satuan Kerja tentang penerimaan dan pengeluaran untuk jangka waktu tertentu. Salah satu pilar utama dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara yang ideal tersebut adalah pengelolaan kas yang merupakan bagian dari lingkup perbendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 2 UU No. Menteri Keuangan dalam kedudukannya selaku Bendahara Umum Negara (BUN) adalah Chief Financial Officer yang berperan selaku pengelola fiskal dan manajer keuangan dalam arti yang sesungguhnya. Terkait dengan dengan pengelolaan kas tersebut. saldo rekening tersebut pada akhir hari akan dilimpahkan ke rekening TSA di RBA. 2009). model manajemen kas yang ada di Australia merupakan two-tier cash management system. Dengan kata lain. terbuka. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Kas Paket undang-undang keuangan negara merupakan kerangka konseptual yang komprehensif dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara yang ekonomis.

dokumen pelaksanaan anggaran memuat ”rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja. Kewenangan dan tanggung jawab Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa BUN Pusat yang terkait dengan pengelolaan kas setidaknya meliputi: a) menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara. SE-02/PB/2006 tanggal 6 Januari 2006. 218/PMK. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Perbendaharaan Negara. Subdit TPBE. f) menentukan strategi untuk mengatasi kekurangan kas dan memanfaatkan kelebihan kas. serta pendapatan yang diperkirakan” (Pasal 14 ayat 3). 1 th 2004). Untuk mendukung fungsi manajemen kas tersebut. telah di-inisiasi mekanisme penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Satuan Kerja sesuai dengan SE Dirjen Perbendaharaan No. e) menetapkan saldo kas minimal. Direktorat Pengelolaan Kas Negara selaku Kuasa BUN Pusat dan KPPN selaku Kuasa BUN Daerah (Pasal 1). secara khusus telah diinstruksikan pula kepada Satuan Kerja untuk menyampaikan Laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementrian Negara/ Lembaga pada akhir tahun 2008 melalui SE-38/PB/2008 tanggal 9 Oktober 2008. d) membuat perencanaan (arus) kas.05/2007. Tujuan dari pencantuman rencana penarikan dana adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi manajemen kas pemerintah melalui optimalisasi fungsi DIPA (PMK 105/). c) menyimpan uang negara (Pasal 7 UU No.dalam rangka pelaksanaan anggaran dalam wilayah kerja yang ditetapkan (PP 39 tahun 2007). b) mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran negara. Di dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Terkait dengan hal tersebut. upaya untuk membangun manajemen dan perencanaan kas yang baik dilaksanakan tidak hanya menjelang saat pelaksanaan pembayaran. DTP                                                                                                                                           212    . tapi juga telah dimulai sejak prosess allotment anggaran (penerbitan DIPA). g) memastikan ketersediaan kas guna memenuhi kewajiban pembayaran. Dalam hal koneksitas proses bisnis dengan Satker. telah ditentukan kewenangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan c.q.

Di samping itu, sejak bulan Maret 2009, telah diterapkan mekanisme treasury notional pooling pada rekening bendahara pengeluaran secara bertahap. Treasury Notional Pooling merupakan sistem untuk mengetahui saldo rekening bendahara pengeluaran di Kantor Cabang Bank Umum setelah di konsolidasikan tanpa harus melakukan perpindahan dana antar rekening. Dengan penerapan mekanisme ini, Uang Negara yang berada pada rekening bendahara pengeluaran mendapatkan remunerasi. Sebelumnya, uang negara yang ada pada rekening bendahara pengeluaran menerima jasa giro yang harus di setor ke rekening kas negara oleh bendahara pengeluaran. Secara internal, manajemen pengelolaan kas di Ditjen Perbendaharaan khususnya di KPPN juga dijalankan dalam kaitan pelaksanaan Treasury Single Account. Sebagaimana diatur dalam SE-12/PB/2009, dalam rangka menjamin ketersediaan dana dalam Rekening Pengeluaran Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat (RPK-BUN-P) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) diwajibkan mengajukan Permintaan Kebutuhan Dana ke Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Mekanisme penyampaian Permintaan Kebutuhan Dana tersebut pada dasarnya merupakan antisipasi dari jumlah kas yang dibutuhkan untuk membayar tagihan pada tanggal tertentu berdasarkan nilai SP2D yang diterbitkan (pada esok hari dan hari yang bersangkutan). Atas dasar pembahasan international practice dan review perundangan sebagai mana tersebut di atas, praktek manajemen kas di Indonesia menunjukkan adanya sebuah hybrid model. Dalam hal kerangka organisasi dan distribusi kewenangan dalam penyelenggaraan keuangan negara, maka manajemen kas di Indonesia lebih cenderung pada system ter-sentralisasi sebagaimana di terapkan di Perancis. Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa Bendahara Umum negara merupakan satu-satunya institusi yang secara eksplisit bertanggung jawab atas pencapaian tujuantujuan dari manajemen kas yang dilakukan secara tersentralisasi. Penerapan mekanisme TSA dan penyediaan dana di RPK-BUNP (sesuai SE-12/PB/2009) menunjukkan peran sentral Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen kas. Namun demikian, dalam hal yang bersifat operasional terdapat pula beberapa fitur yang identik dengan praktek yang dilaksanakan di Australia. Walaupun Satker tidak memiliki tanggung jawab terkait dengan perencanaan kas, Satker pada saat ini terlibat dalam aktivitas perencanaan kas. Selain penyusunan rencana penarikan dana
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           213   

yang bersifat tahunan (halaman 3 DIPA), mekanisme penyampaian informasi untuk perencanaan kas yang diinstruksikan SE-02/PB/2006 dan SE-38/PB/3008 identik dengan penyampaian draw-down pattern schedule yang diwajibkan kepada seluruh Spending Agency di Australia setiap minggunya. Dalam prakteknya di Indonesia, ketiadaan kerangka konseptual atas tanggung jawab Satker terkait dengan manajemen kas berkontribusi kepada tidak efektifnya mekanisme information sharing antara Satker dengan Ditjen Perbendaharaan untuk keperluan perencanaan kas. Sebagaimana diketahui, peran serta Satker untuk perencanaan kas melalui sebagaimana diinstuksikan dalam kedua Surat Edaran tersebut di atas tidak seperti yang diharapkan. Meskipun format dan jenis informasi yang dibutuhkan dari Satker sangat mungkin mempengaruhi kesiapan dan kemampuan Satker, pada dasarnya tidak terdapat kerangka organisasi dan/atau insentif bagi Satker untuk berkontribusi dalam sebuah sistem perencanaan kas yang efektif. Misalnya, tidak terdapat kejelasan tentang pejabat dalam koordinasi KPA (PPK, PPSPM dan Bendahara) yang harus bertanggung jawab atas penyusunan rencana penerimaan dan pengeluaran dan/atau laporan rencana belanja di Satuan Kerja. Ketiadaan mekanisme rutin dalam periode jangka pendek ini, tidak memungkinkan review dan update atas rencana penarikan dana dalam halaman 3 DIPA sehingga rencana tahunan ini menjadi tidak efektif dalam pelaksanaannya. Patut menjadi catatan bahwa kedudukan bendahara (penerimaan dan/atau pengeluaran) di Indonesia secara organisasional berbeda dengan kedudukan para public accountant di Perancis. Dalam hal manajemen kas, kedudukan public accountant selaku pegawai Kementrian Keuangan Perancis memudahkan koordinasi terkait dengan konfigurasi rekening dan penyampaian informasi yang berkaitan dengan kas manajemen. Sebagai perbandingan, kedudukan public accountant di Prancis memudahkan pengelolaan rekening para public accountants sebagai sub-akun dari rekening utama yang dimiliki AFT. Kondisi ini memudahkan mekanisme pelimpahan saldo di sub-rekening ke rekening utama, (sebagaimana diterapkan di Perancis) untuk melaksanakan model Treasury Single Account. Mekanisme pengelolaan TSA yang ideal tersebut di atas tidak mudah dijalankan di Indonesia, karena rekening bendahara (pengeluaran dan/atau penerimaan) di Satker adalah rekening yang terpisah dari rekening kas negara yang
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           214   

dikelola Ditjen

Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Mekanisme pooling atas

rekening bendahara, sebagaimana dijalankan saat ini, merupakan alternatif yang paling memungkinkan dengan struktur rekening yang ada saat ini. Meskipun tetap memberi peluang bagi Ditjen Perbendaharaan untuk memperoleh kemanfaatan atas saldo kas menganggur di rekening bendahara, Ditjen Perbendaharaan tidak memiliki kontrol atas saldo di rekening-rekening bendahara tersebut. Misalnya, apabila Ditjen Perbendaharaan memerlukan saldo di rekening-rekening bendahara untuk keperluan lain yang mendesak. Ditjen Perbendaharaan juga tidak memiliki alternatif investasi lain atas saldo-saldo di rekening tersebut selain memperoleh remunerasi dengan presentase yang tidak fleksibel.

4. Fitur SPAN terkait Manajemen Kas Sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, rencana pengembangan modul manajemen kas dalam SPAN berkaitan erat dengan pengembangan modul lainnya, terutama modul manajemen DIPA, manajemen komitmen dan General Ledger. Keterkaitan modul SPAN dengan modul lainnya diantaranya meliputi: a) update dan revisi atas Annual Financial Plan, sepanjang tidak melebihi pagu anggaran; b) penerapan cash-limit apabila diperkirakan tidak terdapat cukup kas untuk membayar tagihan atas beban negara. c) penggunaan data komitmen untuk proyeksi arus kas yang dibutuhkan untuk pelunasan sebuah komitmen. Rencana pengembangan SPAN untuk modul manajemen kas juga secara khusus mengantisipasi peran Satker yang krusial terkait dengan penyusunan penyampaian rencana pengeluaran/ belanja sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.40.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           215   

Gambar 4.40 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Kas (Bidding Document)
MANAJEMEN KAS Mnj. Kas (Direktorat PKN)
Kegiatan Penempatan Kas

Mnj. Penerimaan
Data Penerimaan Negara

Mnj. Utang

Mnj. Satker
DIPA Cash Planning Commitment Cash Limit SAI

DMFAS

1. Pagu APBN 2. Rencana Pengeluaran & enerimaan 3. Akuntansi Kas Umum Negara 4. Saldo Kas 5. Profil Utang

Memperkiraan pendapatan

Memperoleh informasi pinjaman

Mnj.
Komitmen Mempersiap kan Cash Planning

Perkiraan Pendapatan

Mempersiapkan perkiraan hutang dan hibah Perkiraan hutang dan hibah
Merencanaka n strategi/ persyaratan

Perbaikan rencana penempatan kas, penerimaan dan pengeluaran Penentuan persyaratan pinjaman
Penentuan batas pengeluaran yang baru dan menyampaikannya ke satker

pinjaman

Cash Planning

Mnj.
Pembayaran

Memperbaharui Cash Limit

Rencana pengembangan modul manajemen kas, dalam kerangka sistem yang terintergrasi dengan modul-modul lainnya dalam SPAN adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar 4.41:

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           216   

Gambar 4.41 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Kas Terkait Dengan Modul-Modul Lainnya

Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas, elemen dari manajemen kas akan memperoleh input dari manajemen DIPA, manajemen komitmen, dan General Ledger untuk penyusunan dan update dari perencanaan kas. Annual Financial Plan dalam halaman 3 DIPA yang merupakan proyeksi kebutuhan kas untuk jangka panjang dan menengah adalah bagian dari modul manajemen DIPA. Mekanisme manajemen komitmen akan menghasilkan data untuk update proyeksi tersebut, terutama melalui jumlah dan saat pelunasan komitmen yang telah diregistrasi ke Ditjen Perbendaharaan (CAN). Bagian dari pelaksanaan mekanisme manajemen komitmen yang dicatat dalam General Ledger sebagai hutang (payables) merupakan input untuk kebutuhan kas dalam jangka pendek. Kedua informasi tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari mekanisme atas pembayaran pada saat penerbitan SP2D atau digunakan murni sebagai informasi dalam rangka pelaksanaan kas.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           217   

Fitur ini apabila diterapkan. dapat menggantikan atau melengkapi mekanisme yang saat ini digunakan Ditjen Perbendaharaan dalam pengisian RPK-BUN-P. Rekomendasi dan alternatif Future Vision Model koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen Kas Rencana pengembangan manajemen kas dalam SPAN telah cukup komprehensif dan mencerminkan penerapan best practice. Di antaranya adalah sebagai berikut: a) Penerapan SPAN dapat mendukung perencanaan kas jangka menengah dan tahunan melalui Annual Financial Plan (DIPA hal.5. rencana pengembangan SPAN yang ada saat ini telah mengindikasikan antisipasi atas peran para stakeholder. tetapi juga sumber data untuk keperluan updating rencana tersebut. Akan tetapi untuk implementasinya. Meskipun ruang lingkup pengembangan SPAN berfokus pada proses bisnis di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. Mekanisme yang saat ini digunakan untuk menentukan jumlah alokasi saldo harian di sub-akun RPK-BUN P milik KPPN tertentu pada umumnya cukup efektif. terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian untuk penyempurnaan dan implementasi SPAN khususnya terkait dengan manajemen kas dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Satker. Mekanisme registrasi data kontrak/ komitmen pada saat pengajuan Request For Commitment (RFC) idealnya dapat digunakan untuk meningkatkan akurasi AFP melalui update rencana pengeluaran atas dasar sejumlah dana anggaran yang telah di kontrakkan. Pengembangan sistem informasi yang terintegrasi memungkinkan tersedianya mekanisme review dan update terhadap rencana tersebut. Proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan manajemen komitmen memiliki sumber data yang potensial untuk keperluan tersebut di atas. mekanisme yang didukung dengan aplikasi software (e-kirana) ini dalam prakteknya masih memerlukan pertukaran informasi Subdit TPBE. termasuk Satker. Catatan atas hutang (liabilities) yang dibuat atas dasar tagihan yang divalidasi (SPP) dapat menjadi dasar untuk memperkirakan kebutuhan kas untuk hari tertentu. Akan tetapi. masih diperlukan kejelasan tidak hanya terkait sifat dari AFP. 3). DTP                                                                                                                                           218    . Namun demikian. b) Proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan pengajuan pembayaran juga idealnya dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan cash forecasting untuk jangka pendek.

terutama yang berkaitan dengan penyediaan dana petty cash/ imprest fund. Meskipun telah terdapat mekanisme yang mewajibkan Satker untuk menyampaikan informasi dalam rangka perencanaan kas. Hal tersebut dapat dimaklumi karena sistem perbendaharaan Indonesia lebih cenderung pada model sentralisasi manajemen kas pada Kementrian Keuangan sebagaimana halnya di Subdit TPBE. terdapat ketentuan yang mengatur tugas dan tanggung pihak-pihak tertentu berkaitan dengan rencana penarikan dana dari Satuan Kerja. mekanisme tersebut merupakan bagian dari sistem yang secara terintegrasi merupakan bagian dari proses pembayaran (penerbitan SP2D). tidak terdapat kejelasan tentang pejabat perbendaharaan yang bertanggungjawab atas rencana penarikan dana tersebut. Sentralisasi rekening bendahara terhadap rekening yang dimiliki Ditjen Perbendaharaan memungkin penerapan alternatif investasi terbaik dari idle cash (jika ada) dan tidak terbatas pada perolehan remunerasi atas saldo total rekening-rekening tersebut sebagaimana dijalankan melalui mekanisme Treasury National Pooling pada saat ini. Idealnya. rekening bendahara pengeluaran idealnya merupakan sub akun dari rekening Kuasa BUN. Struktur rekening yang ada saat ini kurang ideal bagi perencanaan kas karena tidak adanya kontrol penuh Kuasa BUN terhadap saldo di rekening-rekening tersebut di akhir hari. Dalam kerangka dasar penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana di Satker tidak terdapat ketentuan yang mengatur kewajiban pejabat perbendaharaan di Satker berkaitan dengan manajemen kas. Rekening bendahara pengeluaran yang digunakan untuk menempatkan dana petty cash merupakan rekening yang mandiri dan terpisah dari rekening yang dikelola Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Pembahasan selengkapnya atas fitur dalam manajemen komitmen yang berkaitan dengan manajemen kas dapat dilihat pada sub-bagian manajemen komitmen dalam modul ini. Idealnya. d) Kejelasan wewenang dan tanggung jawab atas penyelenggaraan manajemen kas di Satker sangat diperlukan. DTP                                                                                                                                           219    .secara informal melalui telepon dan/atau faximile. c) Manajemen kas idealnya sejalan dengan kerangka dan konfigurasi rekening. Sentralisasi rekening bendahara juga lebih ideal untuk penerapan mekanisme pembayaran petty cash melalui credit card melalui rekening yang memiliki fasilitas overdraft sebagaimana dijalankan di Australia. Merujuk pada model sentralisasi manajemen kas yang ada di Perancis.

maka bendahara pengeluaran merupakan pihak yang bertanggung jawab tidak hanya pada pelaksanaan fungsi pembayaran secara utuh (mengetahui semua permintaan pembayaran baik SPP LS maupun SPP UP).42 Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait dengan Cash Forecasting Kuasa Pengguna Anggaran Ordonateur Rencana Penarikan Dana Comptabel KPPN SPM Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) SPP UP & GUP SPM Bukti Pembayaran (UP) Pihak ke-3 Bendahara Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) SPP-LS SPP UP & GUP Kontrak & Invoice (LS) Sebagaimana ditunjukkan dalam model proses bisnis di Satker sebagaimana diusulkan dalam gambar 4. Subdit TPBE. Hal ini juga sejalan dengan pembahasan terkait dengan manajemen uang persediaan di Satker pada sub bagian sebelumnya.42. Gambar 4. kejelasan akan tugas dan tanggung jawab pihak tertentu terhadap informasi tersebut harus segera ditentukan. apabila Satker pada prakteknya kemudian diharuskan menyampaikan informasi dalam rangka perencanaan kas (sebagaimana dilaksanakan di Australia).Perancis. maka informasi terkait dengan rencana penarikan dana dalam rangka perencanaan kas idealnya menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab bendahara (pengeluaran). Namun demikian. Merujuk pada kerangka tanggung jawab manajemen kas di Satker yang diterapkan di Australia. DTP                                                                                                                                           220    .

rencana pengembangan dan implementasi SPAN dan analisis alternatif dan serta rekomendasi untuk penyempurnaan. assessment atas praktek pelaksanaan selama ini. DTP                                                                                                                                           221    . Pembahasan model koneksitas proses bisnis di Satker untuk masing-masing modul diupayakan untuk mewujudkan integrasi antara suatu modul sebagai sub-sistem dari sebuah sistem modular yang terintegrasi. Dengan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan fungsi bendahara secara utuh dan sesuai kerangka peraturan perundangan sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan. maka bendahara merupakan pihak yang memiliki akses memadai untuk menyusun rencana penarikan dana sebagai input informasi dari Satker untuk perencanaan kas. 3.Bendahara. review atas landasan hukum dalam kerangka international best practice. Misalnya. idealnya terdapat mekanisme di mana bendahara dapat mengetahui pagu anggaran yang telah dikontrakkan dengan menerima tembusan kontrak dari Pejabat Pembuat Komitmen. manajemen kas. manajemen pelaporan dan manajemen Subdit TPBE. merujuk pada international best practice dan rencana pengembangan SPAN. Pembahasan untuk masing-masing tahapan (modul) setidaknya meliputi tinjauan atas international best practice. pembahasan pada BAB IV ini difokuskan pada penentuan model koneksitas proses bisnis di masa yang akan datang (future). Untuk masing-masing proses bisnis di Satker yang terkait dengan pelaksanaan tahapan dalam siklus APBN. H. Susunan substansi materi yang dibahas dalam modul ini mengikuti struktur yang telah dibahas dalam Bab III (current state assessment). Untuk melaksanakan fungsi perencanaan kas tersebut. yang meliputi tahapan-tahapan dalam siklus APBN yang telah dipetakan secara modular sejalan dengan rencana pengembangan SPAN 2. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. sedapat mungkin telah diupayakan agar bab ini memuat pembahasan secara komprehensif. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. terdapat keterkaitan yang erat antara manajemen DIPA. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. idealnya juga memiliki akses terhadap informasi akuntansi dan pembukuan atas transaksi-transaksi pengeluaran tersebut.

Pembahasan dalam bab ini pada dasarnya merupakan blue-print untuk penyempurnaan model koneksitas proses bisnis dengan Satker. 6. Disadari sepenuhnya bahwa paket undang-undang di bidang keuangan negara telah mengamanatkan kerangka pengelolaan keuangan negara yang komprehensif. Blue print tersebut diperlukan sebagai bahan kajian dan acuan untuk penyusunan desain rinci (detaildesign) proses bisnis di Satker dan koneksitasnya.pembayaran. diantaranya melalui pengakuan. Mengingat peran penting dan kedudukan bendahara (di Satker) yang unik dalam struktur dan gorvenance penyelenggaraan keuangan negara. kajian. 4. penentuan alternatif dan rekomendasi dalam rangka penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya senantiasa diupayakan kesesuaiannya dengan kerangka dasar pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah ada.pada saat ini dan alternatif penyempurnaan pelaksanaan tugas kebendaharaan oleh bendahara di masa yang akan datang. Oleh karena itu pembahasan. yang tidak hanya mencerminkan international best practice tetapi juga mempertimbangkan kondisi spesifik di Indonesia. 5. bab ini juga memuat kajian atas peran bendahara di Satker. yang idealnya dilakukan bersamasama dengan unit-unit teknis di lingkungan Ditjen Perbendaharaan.khususnya bendahara pengeluaran. pencatatan dan registrasi terkait komitmen (manajemen komitmen). DTP                                                                                                                                           222    . Subdit TPBE.

Dibahas pula dalam bab ini adalah perlunya kesesuaian time line penyempurnaan proses bisnis dan IT satker dengan time line SPAN Project. Penerapan alternatif pilihan penyempurnaan tersebut memerlukan strategi yang sesuai agar dapat diimplementasikan secara efektif. Penyusunan strategi dalam rangka penyempurnaan proses bisnis penyelenggaraan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan setidaknya harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: a. Subdit. check and balance dan evaluasi atas proses bisnis terkait penyelenggaraan keuangan negara di Satker. DTP    223  . Keterkaitan antara penyempurnaan proses bisnis di Satker dalam kerangka SPAN. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja sebagai client utama dari Ditjen Perbendaharaan. khususnya di lingkungan instansi pemerintah. b. TPBE. Mitigasi terhadap inherent risk dari aktivitas yang berkaitan dengan Business Process Improvement. Kepastian hukum dan kelengkapan peraturan pelaksanaan untuk mendukung governance.BAB V Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. Termasuk dibahas dalam bab ini adalah cakupan implementasi SPAN Project dan kaitannya dengan pengembangan proses bisnis dan IT di satker. permasalahan dan beberapa usulan sebagai alternatif penyempurnaannya. d. Pada bab-bab sebelumnya. mitigasi resiko terkait dengan diversitas kondisi dan jumlah satker. Hal-hal yang dibahas dalam bab ini akan menjadi fokus bahasan diskusi awal tahun 2010. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang strategi dan taktik pencapaian model koneksitas. telah dibahas proses bisnis penyelenggaraan keuangan negara di Satker. c. serta perlunya berbagai perubahan dalam regulasi dan change managament untuk memperlancar penerapan proses binnis dan IT yang baru. e. Peran Sumber Daya Manusia (baik di Ditjen Perbendaharaan maupun para pejabat perbendaharaan di Satker) selaku agent of change untuk terwujudnya penyempurnaan yang berkesinambungan. khususnya terkait dengan pengeluaran anggaran. serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik.

DJA. cukup jelas disebutkan bahwa pada dasarnya ruang lingkup pengembangan SPAN tidak mencakup Satker. maka Kementrian Keuangan bertanggung jawab untuk membangun sistem aplikasi dan interface untuk mentransfer data dari Satker ke Ditjen Perbendaharaan. Penyempurnaan proses bisnis di Satker dalam kerangka pengembangan SPAN Dalam kerangka pengembangan SPAN.1. baik di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan maupun secara lebih luas yang melibatkan Satker. aparat pengawasan dan stakeholders utama lainnya. Gambar 5. proses bisnis Satker tidak termasuk ruang lingkup dari komponen utama SPAN sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5. TPBE. Koordinasi dan sosialisasi.f. Sedangkan interface untuk mentransfer data dari Ditjen Perbendaharaan ke Satker akan menjadi bagian dari SPAN. A. Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN. sejumlah Satker akan diikutkan dalam tahap piloting yang khususnya lebih berkaitan dengan konfigurasi teknologi informasi. DTP    224  .1 Namun demikian. perbankan. Sesuai dengan keterangan dalam SPAN Dokumen (RFP). Atas dasar uraian tersebut maka cukup jelas bahwa COTS nantinya hanya terdapat di Subdit. investasi dan hutang. Bersama dengan proses bisnis yang terkait dengan institusi perbankan dan pengelolaan aset. g.

Notification of SPM which could not be processed from DGT to LM SU.Kementrian Keuangan. TPBE. sedangkan Kementrian/ Lembaga merupakan entitas yang menyediakan data bagi COTS/ modul SPAN yang ada di sistem Kementrian Keuangan. DTP    225  . Kementrian Pendidikan Nasional. 4. Subdit. Electronic transfer of RKA-KL data from LM Head Office to DGB. maka ditetapkan institusi Kantor Pusat Kementrian/ Lembaga yang ideal untuk dilibatkan dalam pilot phase 1 adalah Sekertariat Jenderal.e g dan h) Sekertariat Jenderal berperan murni sebagai Satuan Kerja. Ruang lingkup selama pilot phase yang melibatkan Sekertariat Jenderal kementrian/lembaga adalah sebagai berikut (sesuai dengan SPAN Bid Document/RFP): 1. Confirmation of SP2D from DGT to LM SU. Kementrian Kesehatan. and other financial data from LMHO & SU to DGT). Sedangkan untuk aktivitas yang berkaitan dengan budget preparation (a. Kementrian Pekerjaan Umum dan Kementrian Pertanian. 2. 7. yang terdiri dari Kementrian Keuangan. Electronic transfer accounting data (GL. 8.d. Electronic transfer of commitment data from LM SU to DGT. 6. Selama tahap piloting direncanakan akan terdapat 55 koneksi untuk lima kementrian/lembaga yang ikut serta dalam tahap piloting dengan rincian sebagai berikut: 5 nodes 50 nodes (source: SPAN RFP) Kantor Pusat Kementrian/Lembaga Spending Unit Agar sesuai dengan ruang lingkup dari rencana implementasi selama pilot phase. Tahap pilot phase 1 akan melibatkan 5 Kantor Pusat Kementrian/Lembaga.b. Untuk aktivitas yang berkaitan dengan manajemen komitmen. Electronic transfer of confirmation of DIPA approval from DGT to LMHO & SU. 5. 3. Electronic transfer of draft DIPA data from LM SU to DGT. Electronic transfer of SPM data from LM SU to DGT. manajemen pembayaran dan akuntansi (item c.f) dan penerbitan dokumen pelaksanaan anggaran Sekertariat Jenderal berperan sebagai head offices/kantor pusat dari Satker-satker yang menjadi unit vertikalnya (sub-ordinate budgetary institutions). fixed asset data.

real time.2 DG Treasury      Head Offices  DG Budget     Eselon 1 (Setjen)  Preparation  Remote Access  Server   Kanwil  Central  Database    Lini  Ministry  Head  Offices  as/or  Spending  U i Echelon 1 Bureau 1/  SU 1  Bureau 2/  SU 2  KPPN  Execution  Spending  Unit Bureau 2/  SU 2  Bureau 10/  SU 10  Subdit. Ruang lingkup SPAN adalah koneksi dengan 178 KPPN dengan 5 kementrian/lembaga sebagaimana tersebut di atas. TPBE. DTP    226  . Konfigurasi IT dan sistem informasi yang melibatkan Satker dalam tahap piloting adalah sebagai berikut: Gambar 5. Koneksitas dengan kementrian/lembaga akan dilakukan melalui koneksi dial up dengan Remote Access Server yang ada di Kanwil/KPPN. Pada tahap awal Satker (SU) tidak terkoneksi secara online.Sejumlah 10 nodes untuk masing-masing Kementrian/Lembaga akan disediakan bagi Satuan Kerja Kantor Pusat di lingkungan Kementrian/Lembaga. automatic updating to all information. electronic submission of information. SPAN diharapkan memiliki fitur diantaranya centralized database. single entry point. online access to centralized database.

Line Ministry Head Office dan Spending Unit tidak memiliki koneksi/ akses secara langsung terhadap central data base. yaitu aplikasi SPM. belum terdapat kejelasan bagaimana informasi terkait kontrak/komitmen dalam Request for Commitment (RFC) disampaikan ke KPPN. TPBE. dalam rangka pengembangan SPAN aplikasi kementrian/lembaga dan interface untuk mentransfer data dari kementrian/lembaga kepada Ditjen Perbendaharaan akan menjadi tanggung jawab Departemen Keuangan. Terkait hal tersebut sangat mungkin diperlukan program aplikasi untuk mengkonfersi data dari sistem yang lama (di satker) ke sistem yang baru Subdit. misalnya melalui dial up. dalam pelaksanaanya tidak ada parallel run dari sistem di KPPN. Sebagai catatan. Parallel run hanya mungkin terjadi dalam satu Kantor Wilayah di mana terdapat KPPN yang menggunakan sistem yang baru dan yang lama. di dalam SPAN Bid Document/RFP terdapat beberapa alternatif untuk meregistrasi data komitmen (BC001) yang struktur datanya cukup kompleks (BC) misalnya dengan input secara manual dan atau menggunakan file/ ADK.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. meskipun terdapat beberapa Satker yang bagian dari pilot phase. DTP    227  . Pada saat ini ADK kontrak dihasilkan dari aplikasi yang berkaitan dengan manajemen pembayaran. Saat ini telah terdapat kajian awal terkait dengan inventarisasi aplikasi-aplikasi yang digunakan di Satker pada saat ini dan kemungkinan penyempurnaan/ integrasi aplikasi tersebut di masa yang akan datang. Akses Satker terhadap central database dilakukan melalui KPPN/ Kanwil sebagai Remote Access Centre. terdapat beberapa alternatif dalam rangka implementasi SPAN khususnya pada tahap piloting 1 sebagai berikut: 1. sampai saat ini belum terdapat kejelasan perihal aplikasi-aplikasi apa saja yang diperlukan Satker dalam rangka SPAN. Akses Satker terhadap central data base yang dilakukan melalui KPPN/ Kanwil sebagai Remote Access Server hanya diperuntukkan bagi Satker-Satker tertentu di daerah terpencil yang tidak memungkinkan koneksi/ akses secara langsung terhadap database. Di samping itu. Namun demikian. terkait dengan penerapan manajemen komitmen di masa yang akan datang. Sebagaimana tersebut di atas. 2. Line Ministry Head Office (dan Spending Unit apabila memungkinkan) memiliki akses langsung terhadap central database. Sebagai contoh.

2008). Pada saat ini juga terdapat beberapa tim yang secara khusus bertugas menangani aspek tertentu terkait dengan pengembangan SPAN. Mitigasi terhadap inherent risk berkaitan dengan Business Process Improvement Semenjak diperkenalkan dengan tema reengineering. pengalaman otomasi dan integrasi sistem informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan keuangan negara (Government Financial Management and Information System) juga tidak selalu berhasil baik karena ketiadaan landasan hukum. dan hubungan industrial yang lebih kaku jika terdapat konsekuensi lay-off (see MacIntosh. governance dan koordinasi dalam rangka proyek SPAN melalui Tim Reformasi Perbendaharaan dan Penganggaran Negara (Tim RPPN) dan Tim Koordinasi Teknis telah secara rutin menangangi isu-isu terkait SPAN. Hesson. upaya terkait penyempurnaan proses bisnis juga sering terkendala oleh peraturan sebagai dasar hukum dan keharusan mempertahankan aktivitas yang berkaitan dengan otorisasi dan verifikasi. di Direktorat Transformasi Perbendaharaan yang merupakan counterpart dalam rangka pengembangan SPAN telah terdapat unit struktural yang secara khusus bertanggung jawab atas penyempurnaan proses bisnis di Satker. khususnya bagi Satker yang tidak termasuk ke dalam entitas dalam rangka piloting. 2007).(di KPPN). misalnya terkait kodifikasi akun (USAID. Beberapa aspek Subdit. diharapkan dapat me-mitigasi resikoresiko yang secara identik dengan upaya penyempurnaan proses bisnis. kurangnya proses improvement maupun masalah yang lebih teknis. 1990. Davenport & Short. Tata kelola sebagaimana tersebut di atas. DTP    228  . Pada saat ini. misalnya Tim Penyempurnaan Framework Chart of Account. Grover & Malhotra. Hal tersebut karena secara konseptual. 2003. termasuk keterkaitannya dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker. business process improvement menganjurkan suatu perubahan yang besar (dramatic improvement) dengan dukungan kemajuan teknologi informasi (see Hammer. Khususnya bagi instansi pemerintah. 1990. Idealnya terdapat suatu mekanisme untuk me-mitigasi resiko yang identik dengan penyempurnaan proses bisnis sebagai mana tersebut di atas. TPBE. 1996). pendanaan dan ketiadaan profit untuk menjustifikasi investasi. meskipun ruang lingkup SPAN tidak sepenuhnya mencakup Satker. Di samping itu. upaya penyempurnaan proses bisnis (business process improvement) cenderung identik dengan resiko yang tidak kecil. B. Secara lebih spesifik.

000 Satuan Kerja. Figur selengkapnya adalah sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5. TPBE. sedangkan Satker yang memiliki pagu lebih dari 2 milyar tidak kurang dari 10. sekitar 836 Satker memiliki pagu kurang dari 100 juta.3 Sources: Diolah dari data DIPA 2009 Dit. PA Subdit.lain yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia akan dibahas pada bagian berikutnya.3. Dari jumlah tersebut.514 Satker. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik. DTP    229  . C. Gambar 5. Jumlah Satker yang menjadi mitra kerja Ditjen Perbendaharaan terhitung sangat besar dengan diversitas yang sangat signikan. Pada saat ini (akhir tahun 2009) Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan dan unit vertikal dilingkungannya melayani sekitar 21.

hanya 55. Literatur business process improvement. secara umum mengenalkan paradoks terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia selama menjalani business process improvement. mekanisme piloting yang rencananya akan diterapkan selama tahap implementasi SPAN sudah cukup tepat. Hal tersebut diperlukan karena pada dasarnya penyempurnaan proses bisnis di Satker tidak terbatas pada beberapa Kementrian/ Lembaga yang menjadi bagian tahap piloting. Merujuk pada figur dan sebaran dari Satker sebagai mana tersebut di atas. sedangkan sisanya tidak memiliki belanja modal. Di samping hal-hal terkait dengan perubahan di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan. badan tersebut idealnya dapat berperan penting dalam penentuan stragtegi komunikasi penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara. Pada saat ini terdapat 178 KPPN yang melayani Satker-Satker yang tersebar di 33 propinsi tersebut. Namun demikian. 9% yang memiliki belanja modal. idealnya selama implementasi SPAN dapat dilakukan sosialisasi kepada seluruh Kementrian/ Lembaga terkait dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker terlepas dari rencana implementasi SPAN. termasuk kepada Kementrian/ Lembaga. Demikian pula dengan pemilihan Kementrian/ Lembaga yang menjadi bagian dari tahap piloting sudah mewakili kondisi/ figure dari Satker pada saat ini. Implementasi SPAN. Di satu sisi. TPBE.000 Satker tersebut di atas. dapat dipastikan tantangan penyempurnaan proses bisnis dan pelayanan di masa yang akan datang tidaklah mudah. Di sisi lain. Ditjen Perbendaharaan menyadari sepenuhnya peran sentral SDM dalam merealisasikan perubahan. Peran Sumber Daya Manusia selaku agent of change Penyempurnaan proses bisnis tidak terlepas dari peran sumber daya manusia di suatu organisasi untuk mewujudkan perubahan. nantinya akan didukung oleh badan/ konsultan yang melaksanakan advisory role terkait dengan komunikasi dan manajemen perubahan (communication and change management). DTP    230  . business process improvement mengandalkan konsep empowerment untuk merealisasikan perubahan dalam pengelolaan organisasi yang berbasis proses. Dengan kondisi geografis kepulauan di Indonesia yang unik.Dari sekitar 21. D. secara konseptual business process improvement menganjurkan pengelolaan organisasi yang cost-efisien dan mengantisipasi kemungkinan melakukan stream-lining terhadap organisasi. Subdit.

Misalnya. Pada bab 2 telah disebutkan pentingnya kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan sebagai authorizing environment bagi sebuah institusi pemerintah. berpendapat bahwa reengineering juga membawa peluang untuk berinovasi terhadap aktivitas yang menjadi bagian proses bisnis. misalnya. dari telaah atas beberapa peraturan pelaksanaan terdapat indikasi ketidaksesuaian di antara ketentuan-ketentuan yang mengatur pelaksanaan proses bisnis di Satker. stream-lining terhadap organisasi pada saat ini bukan wacana yang populer. kewenangan BUN atas pelaksanaan standar tersebut terbatas pada saat dikeluarkannya uang dari rekening kas negara (penjelasan UU Perbendaharaan Negara). Ditjen Perbendaharaan tidak memiliki kewenangan untuk menguji dan mengevaluasi ketaatan (compliance) Satker dalam melaksanakan standar tersebut di Satker. Dengan kata lain. Kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan Untuk mendukung governance. Patut disebutkan pula. Campion. Menteri Keuangan selaku BUN memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran (Pasal 7 angka 2 huruf a). TPBE. maka strategi penyempurnaan proses bisnis di Satker harus mengutamakan ketersediaan landasan hukum. dengan memperhatikan Subdit. Paket undang-undang di bidang keuangan negara telah menyediakan landasan hukum sekaligus mandat untuk penyelenggaraan keuangan negara yang lebih baik. Dengan demikian. E. Sedangkan di lingkungan Satker. Namun demikian opsi untuk mengurangi jumlah Satker tersebut. Berdasarkan uraian tersebut di atas.Di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan. et al (2005). setidaknya harus memperhatikan sikap dan kesiapan Satker terhadap opsi tersebut. Namun demikian. check and balance dan evaluasi atas proses bisnis di Satker sangat diperlukan kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan. Sebagai mana diamanatkan Undang-Undang Perbendaharaan Negara. penyempurnaan proses bisnis tidak selalu identik dengan opsi pengurangan jumlah SDM. ketidaksesuaian antara Perdirjen 66/PB/2005 dengan PMK 73/PMK. Kewenangan tersebut pada saat ini ada pada aparat pengawasan fungsional baik internal Kementrian/ Lembaga maupun eksternal. cukup jelas bahwa kewenangan untuk menetapkan proses bisnis terkait dengan penyelenggaraan keuangan negara di Satker merupakan wewenang Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. sangat dimungkinkan untuk melakukan stream-lining terhadap jumlah Satker.05/2008 dengan kewenangan penerbitan Surat Permintaan Pembayaran di Satker. DTP    231  terkait . Di samping itu.

 DTP    232  .4 menunjukkan pola koordinasi dan kerja sama di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dalam rangka penyempurnaan proses bisnis. penyempurnaan landasan hukum dilakukan dengan koordinasi yang baik tidak hanya antar unit-unit di lingkungan Ditjen Perbendaharaan tetapi juga dengan aparat pengawasan fungsional. Gambar 5. peran Direktorat Transformasi Perbendaharaan sangatlah penting. khususnya di Satker. TPBE. IT dan sistem informasi. termasuk yang berkaitan dengan Satker. F. Koordinasi dan sosialisasi yang tidak terbatas pada lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan Dalam rangka pelaksanaan undang-undang. Sebagai direktorat baru yang dibentuk melalui PMK 100/PMK/2008. harus dilaksanakan dalam kerangka koordinasi dengan unit-unit lain dilingkungan Ditjen Perbendaharaan. khususnya melalui integrasi antara proses bisnis. Penyempurnaan proses bisnis.4 Sumber: Bahan Presentasi Sosialisasi DTP Subdit. Idealnya. fungsi dan kewenangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan.konsistensi peraturan dan evaluasi atas praktek pelaksanaan standar selama ini. Direktorat Transformasi Perbendaharaan hadir untuk melengkapi dan mendukung pelaksanaan tugas. Gambar 5.

aktivitas penyempurnaan proses bisnis di satker memperhatikan kesesuaian dengan time line dan road map pengembangan SPAN. DTP    233  . LG Subdit. penyempurnaan proses bisnis di Satker berkaitan erat dengan pengembangan SPAN. MoF bertanggung jawab untuk membangun interface (dan proses bisnis) dengan Satker untuk mendukung pelaksanaan tahap piloting. Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN Meskipun tidak termasuk dalam ruang lingkup core proses bisnis/ modul. G.5 CRP 3: Standar Proses  Bisnis  Satker idealnya  dapat ditetapkan  Akhir fase design:  selambat‐lambatnya  standar Proses Bisnis   Satker sudahditetapkan  Awal Fase piloting: standar  Proses Bisnis  Satker dan  aplikasi pendukung sudah  ditetapkan  Pengembangan dan  finalisasi aplikasi  software pendukung  proses bisnis di  Satker  Source: modified from Project Initiation Report. TPBE. Gambar 5. aktivitas penyempurnaan proses bisnis juga dilaksanakan dengan mempertimbangkan pendapat dan saran dari Satker dan pihak-pihak eksternal lainnya.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. Oleh karena itu. Sebagai mana diketahui.

berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. Untuk itu. fitur Satker. alternatif dan rekomendasi yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Sejak Oktober 2010 sampai dengan awal tahap piloting (April 2011) merupakan periode untuk persiapan dan finalisasi aplikasi/software pendukung di Satker yang diperlukan dalam rangka pengembangan SPAN. 3. 2. standar proses bisnis di Satker yang baru idealnya dapat ditetapkan pada tahap Conference Room Pilot (CRP) yang ketiga pada Juni 2009.5. Mengingat keterkaitan yang erat antara standar proses bisnis dan ketersediaan sistem informasi dan aplikasi/ software pendukung. dan peran penting SDM. kerjas sama dan koordinasi dengan unit-unit teknis lain di lingkungan Ditjen Perbendaharaan merupakan bagian dari strategi dan taktik penentuan model koneksitas yang harus diikuti. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. maka pengembangan aplikasi/ software merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dalam upaya penyempurnaan model koneksitas proses bisnis dengan Satker di masa yang akan datang. methodology pengembangan SPAN diantaranya meliputi fase design. Paralel dengan time-line SPAN. Beberapa acuan dalam penyusunan strategi dan taktik pencapaian model koneksitas diantaranya meliputi kerangka rencana pengembangan SPAN. Fase piloting. Sebagai sebuah standar proses bisnis yang nantinya akn menjadi acuan Satker dalam penyelenggaraan keuangan negara. TPBE. build dan test sebelum fase piloting. sesuai gambar tersebut di atas. H. Subdit. Kementrian Keuangan telah memiliki standar proses bisnis dan aplikasi pendukung di Satker yang sesuai dengan proses bisnis yang baru di Ditjen Perbendaharaan yang baru dalam rangka SPAN. k.Sebagai mana ditunjukkan dalam gambar 5. atau selambat-lambatnya pada akhir fase design pada September 2010. mitigasi resiko. Strategi dan taktik tersebut pada dasarnya merupakan road-map untuk penyusunan dan penetapan desain rinci (detail design) dari kajian. idealnya. maka model koneksitas proses bisnis di Satker nantinya harus merupakan bagian dari dan ditetapkan dengan peraturan perundangan. Pada tahap tersebut. 4. direncanakan untuk dimulai pada April 2011. pembahasan pada Bab V difokuskan pada strategi dan taktik pencapaian model koneksitas. DTP    234  .

kapasitas operasional dan nilai tambah (value added) dari aktivitas penyempurnaan proses bisnis. sistem aplikasi dan manajemen perubahan. Kerangka pembahasan penyempurnaan proses bisnis di Satker. DTP    235  . yang setidaknya memperhatikan strategi organisasi. C. meskipun proses bisnis di Satker tidak tercakup dalam ruang lingkup SPAN. Penyempurnaan proses bisnis di Satker sedapat mungkin dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat inherent dari institusi pemerintah yang dalam beberapa hal penting berbeda dengan organisasi bisnis yang berorientasi pada penciptaan keuntungan. harus dilaksanakan dalam kerangka dasar perundangan yang telah ada. misi dan idealnya tujuan bersama dari para stakeholders dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara. Di samping itu. Paket Undang-undang di bidang keuangan negara telah menyediakan landasan hukum sekaligus mandat untuk terwujudnya penyelenggaraan keuangan negara yang baik. proses bisnis. Penyempurnaan proses bisnis di Satker harus didasarkan pada visi.3 yang dianut dalam penulisan draft modul ini. Sedangkan rencana kedepan. Alternatif dan usulan penyempurnaan proses bisnis di Satker sebagaimana dimuat dalam modul ini juga diharapkan dapat menjadi bahan diskusi dan pembahasan dalam rangka menetapkan standar proses bisnis di Satker untuk mendukung pengembangan SPAN. Penutup merupakan summary terhadap hal-hal yang telah dibahas dalam keseluruhan draft modul ini. Subdit TPBE. idealnya didasarkan pada landasan hukum. teknologi informasi. Ringkasan beberapa pokok pikiran yang kiranya dapat bermanfaat bagi penyempurnaan proses bisnis di Satker adalah sebagai berikut: A. Di samping itu.BAB VI Penutup Bab ini membahas dua hal utama yaitu (i) penutup dan (ii) rencana kedepan. memuat secara ringkas rencana pelaksanaan berbagai kegiatan dalam rangka menyempurnakan draft modul ini sejalan dengan framework ITIL v. penyusunan modul ini sejalan dengan rencana pengembangan SPAN. B. terutama di Satker. Penyempurnaan proses bisnis. Penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan Ditjen Perbendaharaaan merupakan upaya untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-undang. aktivitas penyempurnaan proses bisnis harus di dasarkan pada kerangka kerja (framework) yang comprehensive dan memadai.

terutama melalui pelaksanaan Treasury Single Account. pelaporan. manajemen komitmen. Pengembangan proses bisnis di Satker. idealnya didukung dengan penyempurnaan implementasi dari ketentuan dalam paket undang-undang di bidang keuangan negara. SPAN merupakan integrasi tidak hanya terkait dengan IT dan data base. manajemen kas. I. manajemen pembayaran. dan akuntansi dan pelaporan. Dalam pelaksanaanya. sehingga terdapat mekanisme pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran yang lebih cost-efisien. F. Misalnya dengan mengkaji kemungkinan organisasi dan Subdit TPBE. J. DTP    236  . Misalnya dengan menyempurnakan tugas dan tanggung jawab para pejabat perbendaharaan negara di satker dan menjadikannya sebagai bagian dari proses bisnis yang efektif dan mendukung terciptanya tata kelola yang memadai. E. khususnya perbankan. Misalnya dengan mengupayakan integrasi melalui pencatatan dan penggunaan informasi terkait komitmen/ kontrak sebagai komponen utama dalam pengembangan modul manajemen DIPA. idealnya ditujukan untuk mendukung pelaksanaan tugas kebendaharaan secara utuh sebagai mana diamanatkan dalam peraturan perundangan. Penyempurnaan peran bendahara. Kedudukan bendahara (penerima dan/atau pengeluaran) yang menjalankan tugas secara fungsional patut mendapat perhatian khusus dalam penyempurnaan proses bisnis di Satker. penyempurnaan proses bisnis di Satker ditujukan untuk mendukung integrasi dari modul-modul tersebut pada point (E). manajemen kas. rencana pengembangan SPAN berkaitan erat dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker selaku salah satu stakeholders utama. namun juga mengupayakan integrasi dari tahapan penyelenggaraan keuangan negara. Rencana pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) merupakan upaya nyata untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-undang. Pengelolaan kas di Ditjen Perbendaharaan telah maju pesat dibandingkan dengan sebelum penetapan paket undang-undang di bidang keuangan negara. H. manajemen pembayaran. G. Penyempurnaan proses bisnis harus sejalan dengan upaya yang telah dirintis.D. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi perbankan untuk mendukung pelaksanaan mekanisme Uang Persediaan melalui penggunaan debit/ credit card. Komponen utama SPAN yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran (budget execution) meliputi manajemen DIPA. Penyempurnaan proses bisnis di Satker sedapat mungkin memanfaatkan kemajuan teknologi. Sejalan dengan pengembangan SPAN.

Oleh karena itu. tentative. standar proses bisnis di Satker yang telah disempurnakan idealnya telah ditetapkan sebelum pelaksanaan tahap pilot 1. DTP    237  . idealnya penyempurnaan proses bisnis di Satker dapat berjalan secara paralel dengan pengembangan SPAN di Ditjen Perbendaharaan. Oleh karena itu. K. pelaksanaan akuntansi dan pelaporan merupakan suatu keharusan dalam pengelolaan keuangan negara yang baik. penyempurnaan proses bisnis di Satker: Subdit TPBE. Aktivitas terkait akuntansi dan pelaporan di Satker harus ditujukan untuk menjamin tersedianya laporan yang akurat dan tepat waktu. L. Gambar berikut menunjukkan rencana kerja.strukturisasi yang lebih baik dan cost-efisien terhadap rekening bendahara (pengeluaran dan/ atau penerimaan). Dari literatur yang berkaitan dengan pengembangan SPAN. yang terutama akan menjadi bagian dari proses pengujian dalam rangka penyaluran dana anggaran. Di samping itu. kiranya tidak berlebihan jika aktivitas akuntansi dan pelaporan juga sedapat mungkin dilaksanakan secara efisien dengan memperhatikan kerangka pembagian tugas dan kewenangan para pejabat perbendaharaan di Satker. Dalam rangka akuntabilitas. sesuai dengan bagian yang menjadi tanggung jawab Kementrian Keuangan dalam rangka SPAN. Dalam rangka pelaksanaan SPAN. cukup jelas bahwa implementasi COTS terbatas pada institusi di lingkungan Ditjen Perbendaharaan. kedudukan Satker dalam tahap awal implementasi SPAN adalah sebagai penyedia data. M.

3. format formulir dan element lainnya sebagai bagian dari mekanisme input-output akan diselesaikan selama tahun 2010. Detail desain dari proses bisnis tersebut.CRP 3: Standar Proses  Bisnis  Satker idealnya  dapat ditetapkan  Akhir fase design:  selambat‐lambatnya  standar Proses Bisnis   Satker sudahditetapkan  Awal Fase piloting: standar  Proses Bisnis  Satker dan  aplikasi pendukung sudah  ditetapkan  Pengembangan dan  finalisasi aplikasi  software pendukung  proses bisnis di  Satker  N. misalnya terkait dengan jenis dan struktur data. akan dilakukan piloting pada satker terpilih dan penyusunan IT yang dikoordinir oleh Direktorat TP dan Direktorat SP. Secara paralel. dukungan IT dan SDM dari satker-staker yang ikut dalam pilot project dimaksud. akan dilakukan pembahasan-pembahasan dengan stakeholder terkait untuk perbaikan draft modul ini. Modul ini memuat blue print dalam rangka penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. sudah terdapat integrasi yang memadai terkait proses bisnis. Subdit TPBE. dapat diharapkan bahwa ketika dilaksanakan pilot project Penerapan SPAN pada tahun 2011. DTP    238  . sejalan dengan framework ITIL v. Dengan demikian. Sebagaimana telah disampaikan didepan.

02/2008 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara / Lembaga dan Penyusunan. DTP     239  . Peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Penelaahan.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 91/PMK. KPMK.05/2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 100/PMK.06/2007 tentang bagan Akun Standar Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun Anggaran 2009 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 06/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 105/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 73/PMK.02/2009 tentang Tata Cara Perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dan Perubahan daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2009 Subdit TPBE.Daftar Pustaka A. Departemen Keuangan RI Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara / Lembaga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 134/PMK.

S. March 2004. Literatur BAB II Moore. World Bank Lienert. Good Practice Guide FSIO (2009). PFM Technical Guidance Note No. DTP     240  . Mark H.Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-35/PB/2007 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Rekening Milik Kementrian Negara / Lembaga / Kantor / Satuan Kerja Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER 66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi / Satuan Kerja Pemerintah Pusat / Daerah Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-38/PB/2008 tentang penyampaian Laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementrian Negara/Lembaga tahun Anggaran 2008 Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor KEP-297/PB/2007 tentang Standara Prosedur Operasi / SOP di lingkungan Ditjen Perbendaharaan B. A working paper for the Corporate Social Responsibility Initiative. “Recognizing public value: The challenge of measuring performance in government”. Financial Management System: Standard business process for U. B (2001). “Cash management”. Departemen Keuangan RI Subdit TPBE. Mark. Harvard University Press Moore. J. M & Campos. Governance. (2006). Lecture presented 9 November 2006 Andrew. Sanjeev (2004). Auditor General. “On creating public value: What business might learn from government abaout strategic management” . Working Paper No. H. March 1999 Auditor General Victoria (2004). “Creating public value: Strategic management in government”. (2003). KPMK. Ian (2008). H. (1995). “The management of public expenditure and its implications for service delivery” Schick. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Mark. “Chief Finance Officer: Role and responsibility”. & Khagram. A & Allan. IMF ANAO (1999). E. “Cash management”. Regulation and Finance Division Hassim. 3 Moore. World Bank Institute. “Treasury Reference Model”. 5. Allen (1999). Agencies UU No. “Standard business process”. “A contemporary approach to public expenditure management”.

Mike (2004). “End-to-end business process scenario”. 6.Hughes. G. Harvard Business Review. 7 The budget execution cycle. Newyork. (1996). Chapter 1 & 3. 85-99.. 11. & Pendharkar P. “A BPR case study at Honeywell”.C. “Public Management and administration: An Introduction”. August 2004 BAB IV Manajemen DIPA OECD (2001). (2001). “Commitment control”. Maclmillan Allison. J. 3 Williams. John Wiley & Sons. Sloan Management Review No. J. James E (1990). Varun & Malhotra. in Lane. Frederick S. Dimitar & Khemani. Paper. No. No.. Journal of Operation Management. 2. obliterate”. method. “Business process reengineering: A tutorial on the concept. “Reengineering the corporation: A manifesto for business revolution. Hammer. Vol. Rodger. Technical Requirement” Subdit TPBE. Pokar (2007). 3rd edition. July-August 1990 Grover. DTP     241  . HarperCollins. A reference book for transition countries. T (1986). Richard Allen & Daniel Tommasi World Bank (2007). W & Gulledge. Thomas R (2007). New York Frye. Manoj K (1996). “Process mapping: How to reengineer your business processes”. technology and application”. NY”. Public Sector Governance and Accountability Series. “Public and private management: Are they fundamentally alike in all unimportant respects”. pp. M & Champy. “The new industrial engineering: Information technology and business process redesign”. Ed. Current issues in public administration. 749761 Davenport. “Reengineering work” Don’t automate. Summer 1990 Hammer. Ed. “Government cash management: Good and bad Practice”. St Martin Press. Palgrave. Pp. Ch. Thomas H & Short. evaluation. Business Process Management Journal Vol 7 No. Anwar Shah SPAN “Request for Proposal. Pp 193-213 Bab III Hunt. (1993). 107. “Budgeting and Budgetary Institutions”. 2007. “Managing Public Expenditure”. PFM Technical Guidance Note No. Industrial Management & Data Systems. Government Finance”. V.J. Radev.A. D. 15. Michael (1990).D. Douglas. Owen (2003).

Manajemen Komitmen Radev. Ditjen Perbendaharaan. August 2004 ANAO (1999). Richard Allen & Daniel Tommasi IFAC Public Sector Committee (2002). “Cash management”. A reference book for transition countries. Financial Management System: Standard business process for U. Ed. Ch. Auditor General. Dimitar & Khemani. Allister J (2004). Public Sector Governance and Accountability Series. Anwar Shah Subdit TPBE. Richard Allen & Daniel Tommasi World Bank (2007). “Budgeting and Budgetary Institutions”. Working SPAN “Request For Proposal: Technical Requirement” Pelaporan dan Pertanggungjawaban OECD (2001). “Managing Public Expenditure”. Ed. “Treasury diagnostic toolkit”. “Budgeting and Budgetary Institutions”. “Integrated Financial Management in Least Developed Countries”. Agencies Manajemen Pembayaran Hashim. Ali & Moon. S. Departement of Economic and Social Affair. dipresentasikan pada “Comparative Study of Treasury System”. DTP. Technical Requirement” OECD (2001). 7 The budget execution cycle. Jakarta. 7 The budget execution cycle. PFM Technical Guidance Note No. 3 SPAN “Request For Proposal. Division for Public Economics and Public Administrations Manajemen Kas Williams. “Managing Public Expenditure”. “Standard business process”. “Commitment control”. DTP     242  . Pokar (2007). Ed. International Federations of Accountant. Government Finance”. Ed. Study 14 Bahan Presentasi GPF-AIP (2009). Mike (2004). Public Sector Governance and Accountability Series. “Government cash management: Good and bad Practice”. 2009 SPAN “Request For Proposal” United Nations (1999). “Transitions to accrual basis of accounting: Guidance for government and government entities”. March 1999 World Bank (2007). A reference book for transition countries. Anwar Shah FSIO (2009). World Bank. Government Finance”. Ch.

Sigma Papers No. Vol. Sloan Management Review No. 707-727. No. International Journal of Operation & Production Management. James E (1990). Vol. Fiscal Affairs Departement.html Auditor General Victoria (2004). DTP     243  . (2003). ‘BPR: alive and well in the public sector’. evaluation. A. Good Practice Guide SPAN “Request For Proposal: Technical Requirement” Bab V SPAN “Request for Proposal: Technical Requirement” Davenport. pp. Harvard Business Review. “Modernizing cash management”. pp. M (2007). 367-390 SPAN-“Project Initiation Report”. International Monetary Fund Sigma (2001). USAID Campion. 32. 13. Vil 44 No.imf. “Business process reengineering: A tutorial on the concept. 2007. No. (2005). Journal of Operation Management. method.. Subdit TPBE. Mumford T. No.Lienert. Winter 2005. Pp 193-213 Hesson.P. 4 pp. Nahrgang J. Business Process Management Journal. dapat diakses di http://blogpfm. technology and application”. Morgeson. Available on ProQuest MacIntosh. Technical Notes and Manuals. Human Resource Management. “Chief Finance Officer: Role and responsibility”.V. PFM Blog. 23. 327-344.D. “Integrated Financial Management Information System: A practical guide”. Manoj K (1996). OECD Lienert. “Business process reengineering in UAE public sector: A naturalization and residency case study”. LG Catatan: Untuk tujuan penulisan modul ini. Alexandre (2009). Ian & Chailloux. Michael (1990). “The new industrial engineering: Information technology and business process redesign”. 11. Thomas H & Short. 3. 5. USAID (2008). Varun & Malhotra. obliterate”. M. “Government cash management during financial market turmoil”. 15. “Reengineering work” Don’t automate.org/pfmblog/2009/12/government-cash-management-during-financialmarket-turmoil. Ian (2009). July-August 1990 Grover.. R. F. penyusunan daftar pustaka tidak mengikuti tata cara urutan penyusunan referensi secara konvensional. “Work redesign: Eight obstacles and opportunities”. Summer 1990 Hammer. “Financial management and control of public agencies”.

perlunya informasi tentang perikatan/komitmen yang dibuat satker untuk mendukung perencanaan arus kas yang meyertai pelunasan sebuah komitmen b. yang didukung formula dan pedoman bagi satker untuk melakukan perencanaan penyerapan anggaran yang realistis e. Perlunya mengoptimalkan halaman III DIPA untuk perencanaan penarikan dana. Perihal terjadinya usulan revisi DIPA di awal tahun anggaran. Kanwil Ditjen Perbendaharaan XXVII Manado a. d. 2. perlu mencari alternatif untuk pemberian uang muka kerja melalui UP/TUP untuk mengurangi idle cash c. Menyederhnakan kelengkapan pencairan dana ke KPPN (misalnya cukup melampirkan SPM dan SKTJM). Perlunya mengefektifkan format dan informasi dalam DIPA (hal. 3. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Nusa Tenggara Barat a. Berikut ini dokumentasi atas ringkasan tanggapan dan usulan dari pihakpihak sebagaimana tersebut diatas. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jambi a. c. Kondisi geografis yang berpengaruh pada kemampuan jaringan IT dalam penyebaran/pengumpulan informasi. 1289/PB/2009 tanggal 12 Maret 2009 dan No. untuk mendukung kemampuan analisa dalam penyusunan laporan keuangan f. sehingga perlu beberapa upaya diantaranya penentuan pejabat perbendaharaan dilakukan sebelum tahun anggaran berjalan Subdit TPBE. b. Belum adanya pejabat perbendaharaan untuk DIPA Tugas Perbantuan. DTP    244  . Konfirmasi hasil identifikasi atas permasalahan saat ini dan usulan perbaikan: 1.3) untuk keperluan perencanaan kas. Pemahaman atas proses akuntansi dan tidak mengandalkan aplikasi.Dokumentasi Usulan Dalam rangka penyusunan modul telah dimintakan tanggapan dan usulan dari unit eselon II dilingkungan Ditjen Perbendaharaan (pusat dan daerah) melalui Surat Direktur Jenderal Perbendaharaan No. Kelancaran proses penyusunan dan pengesahan dokumen anggaran berpengaruh pada penyerapan anggaran. A. 2510/PB/2009 tanggal 1 Mei 2009. [sepanjang masih sesuai dengan konsep dasar dan ketentuan perundangan yang berlaku] d. RKA-KL yang diusulkan tidak sesuai dengan SAPSK.

Jangka waktu penyaluran dana dari bank ke rekening yang berhak perlu di atur e. Integrasi antara alikasi RKA/KL. Perlu media elektronik yang handal untuk sarana rujukan terhadap ketentuan terkait pelaksanaan tugas perbendaharaan f. Pengaturan jangka waktu untuk penerbitan SPP menjadi SPM 5. tidak perlu dibedakan antara PNBP dan RM f. Revitalisasi penatausahaan dan pelaporan PNBP oleh Ditjen Perbendaharaan g. yang mengatur cycle time dan clarity of role dari pejabat perbendaharaan Subdit TPBE. SPM dan SAKPA untuk mendukung PBB c. Perlunya data terkait dengan perikatan yang dibuat satker untuk di input sebagai salah satu input untuk manajemen kas c. Standard biaya umum yang ada masih berbasis input dan belum sepenuhnya mendukung rencana penerapan PBB b. Pengintegrasian data dan informasi dalam halaman III DIPA untuk perencanaan kas.b. 4. Bagan Akun Standard agar lebih sederhana d. DTP    245  . c. Jangka waktu penyelesaian SPP menjadi SPM perlu di atur untuk mendukung penyerapan d. Perlu dikaji upaya mengurangi ketergantungan terhadap perbankan dalam hal pencairan dana. Meninjau kembali PMK 73/PMK. Perlunya data/informasi tentang komitmen yang dibuat Satker sebagai salah satu input untuk perencanaan kas b. Penihilan di akhir hari kerja pada rekening bendahara instansi di akhir hari kerja. Perlunya SOP dalam mekanisme pengelolaan APBN di Satker. Direktorat Pengelolaan Kas Negara a. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatra Utara a. Penyempurnaan integrasi aplikasi untuk keperluan rekonsiliasi e. misalnya dengan menerapkan mobile banking di Seksi Bendum di mana Kasi Bendum memiliki otorisasi untuk secara langsung memindahkan dana ke rekening pihak ke-tiga [bagaimana dengan hilangnya mekanisme kontrol di bank? Apakah program IT yang ada cukup bisa diandalkan dan aman? Bagaimana jika terjadi error [as variance to fraud]? Perlu dikaji kembali] d. serta dipertimbangkan agar akun untuk UP cukup satu saja.05/2008 terkait dengan pemberian UP agar lebih selektif. dan diisi kembali sesuai saldo yang ada keesokan harinya.

saling kontrol dan saling melengkapi. 4. Laporan Pertanggungjawaban Bendaharawan agar merupakan bagian dari laporan keuangan pemerintah. Diusulkan agar LPJ ini direkonsiliasi dengan data/informasi akuntansi secara berjenjang hingga ke kantor pusat KL dan Ditjen Perbendaharaan agar dapat dijadikan laporan manajerial (managerial report) yang baik dan mendukung kualitas laporan akuntansi pemerintah (accountability report). Revitalisasi fungsi halaman III DIPA agar dapat menjadi rencana penarikan yang realistis. Pelu dikaji perlunya ketentuan/landasan hukum yang mengatur hubungan dan kaitan proses bisnis antara BUN dengan Kementrian/Lembaga. b.e. misalnya dalam bentuk PMK. Penyempurnaan proses bisnis di Satker agar dilakukan secara hati-hati agar tidak kontra produktif. DTP    246  . 2. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Nusa Tenggara Barat Perlu memasukkan peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan ke dalam identifikasi koneksitas proses bisnis. B. Perlunya penggunaan istilah yang berkaitan dengan perbendaharaan negara secara taat asas. Kanwil Ditjen Perbendaharaan XXVII Manado Teknologi informasi dan aplikasi dalam siklus APBN masih sangat terfragmentasi (tingkat integrasinya rendah) sehingga tidak dapat mendukung mekanisme saling uji (check balance). 3. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jambi a. Perlu dilakukan identifikasi dan kajian atas peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan dalam penyempurnaan proses bisnis di Satker. mengutamakan solusi bukan sanksi 5. f. misalnya dengan menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana sejak penyusunan RKA/KL. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta [Bapak. Perlu dikaji landasan hukum khususnya dalam hal kepentingan perbendaharaan untuk memperoleh informasi tentang sisa dana secara online (dalam hal manajemen komitmen) pada khususnya dan untuk penyempurnaan proses bisnis di Satker pada umumnya. Ringkasan Tanggapan sebagai bahan penyempurnaan/revisi Bab I: 1. Subdit TPBE. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Medan a. Iskandar] a. b.

Mengingat ruang lingkup yang luas dan tingkat pembahasan yang cukup mendalam/rumit. Manajemen Kas yang dijalankan oleh Ditjen PBN mencakup. Direktorat Sistem Perbendaharaan (Bapak Budisan) a. Peran satker sebagai counterpart dalam liquidity management. b. c. b.b. dan asset liability management direncanakan akan disusun dalam modul terpisah. 2.3 d. Direktorat PKN: Modul koneksitas yang disusun kurang lengkap karena belum memasukkan aset dan liability management: Tanggapan: Modul ini hanya berfokus pada koneksitas proses bisnis dengan Satker terutama terkait dengan tahapan dalam siklus APBN yang secara difokuskan lagi pada siklus sejak pelaksanaan anggaran. 7. Revisi judul menjadi “Koneksitas Proses Bisnis Perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran “ 6. Perubahan Judul Bab I menjadi Pendahuluan. Agar dipertegas ruang lingkup dan cakupan koneksitas yang akan dibahas dalam modul Subdit TPBE. Penulisan judul dan sub-judul pada halaman 8 s. Direktorat Pengelolaan Kas Negara a. pembahasan terkait dengan investasi. DTP    247  . relationship matriks atas dasar siklus APBN dan rencana pengembangan SPAN akan digambarkan secara terpisah. Tanggapan atas beberapa masukan/usulan perihal kekurangan dan ketidaklengkapan dalam pembahasan BAB I 1. 13 secara lebih konsisten e. Tanggapan: Untuk lebih memudahkan pemahaman. payment management dan liquidity management. Direktorat Sistem Perbendaharaan (Bapak Budisan) a. Penyusunan relationship matriks tidak konsisten antara siklus APBN.d. Pengggunaan istilah yang lebih hati-hati agar tidak menggunakan istilah yang berbeda untuk hal yang sama. terkait dengan perencanaan kas. C. misalnya dibahas dalam Bab I. Pembahasan untuk IT agar terpisah dari proses bisnis. Peran Satker sebagai Customer dan user dalam payment management dan DJPBN sebagai Regulator. rencana pengembangan SPAN dan Treasury Reference Model.

yang diharapkan akan dibahas lebih jauh secara terpisah. Tanggapan: Isi BAB I adalah ringkasan penulisan yang juga menjelaskan kilasan /overview dari kondisi saat ini yang melatar belakangi penulisan modul ini Subdit TPBE. namun sudah mempertimbangkan kondisi dan praktek yang ada di Indonesia. Saat ini telah dibentuk tim kerja untuk penyempurnaan MPN dan tengah menyiapkan modul serupa dengan modul koneksitas proses bisnis Satker. Koneksitas proses bisnis dalam relationship matriks berbeda dengan best practice dalam Treasury Reference Model. Salah satu referensi yang menurut kami cukup ideal adalah model penyempurnaan proses bisnis yang ada dalam Frye & Gulledge (2007). pelaporan dan pertanggungjawaban idealnya akan termasuk dalam ruang lingkup koneksitas proses bisnis. Tidak ada pembahasan mengenai receipt management. Oleh karena itu. yang gambar/kerangkanya kami gunakan dalam penulisan BAB II. Metode BPI lazimnya membahas proses bisnis dan IT secara bersama-sama. terutama mengingat pentingnya MPN Tanggapan: Mengingat kompleksitasnya dan permasalahan yang cukup rumit. pembahasan terkait MPN dilakukan dalam pembahasan tersendiri. b. Penulisan ringkasan dan latar belakang agar dipisah. d. DTP    248  . c. Ruang lingkup proses bisnis nantinya akan mengikuti hasil identifikasi akhir dalam relationship matrix sebagaimana dapat dilihat di BAB I. unsur IT yang dibahas nantinya hanya secara umum dengan mempelajari key media input/output (input-output utama dari sebuah proses atau sub-proses) yang bermanfaat dalam menentukan tingkat integrasi atau fragmentasi dari sistem informasi yang ada. Dengan demikian sistem akuntansi. Tanggapan: Relationship matrix dibuat dan disusun dengan mengacu pada rencana pengembangan SPAN dan menggunakan istilah yang digunakan dalam modul/fungsi keuangan dalam SPAN (misalnya: management DIPA). Menurut hemat kami. fungsi-fungsi keuangan dalam SPAN tetap merujuk pada model best practice pada TRM.Tanggapan: Ruang lingkup yang dibahas dalam modul ini akan mengikuti metode yang lazim digunakan dalam aktivitas Penyempurnaan Proses Bisnis (Business Process Improvement-BPI). Namun demikian. pembahasan dalam modul ini tidak membahas secara mendalam program aplikasi/software.

Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalimantan Timur: Sependapat dengan inisiatif penyusunan Modul Satker. c. Kanwil Nusa Tenggara Barat: Detail dokumen yang terkait dengan proses bisnis termasuk didalamnya pembahasan terkait akuntansi barang milik negara. Direktorat PK BLU: terdapat keterkaitan antara Ditjen Perbendaharaan. d. e. Ditjen Anggaran dan Satker. Usulan Lainnya Usulan lain terutama berkaitan dengan Surat S-2510/PB/2009 tanggal 1 Mei diantaranya diterima dari (permintaan tanggapan ditujukan untuk Bab II (visi. Direktorat Sistem Perbendaharaan: Koreksi typo dan substansi pengawasan atas keterlambatan pemrosesan SPM di KPPN. Kanwil XXVII Manado: Materi usulan sebagaimana disarikan pada huruf A sampai dengan D tersebut diatas.D. b. f. Subdit TPBE. misi) dan bab III (current state assesment) namun banyak yang memberikan masukan terkait dengan bab I Pendahuluan): a. Kanwil Propinsi Riau: Menekankan pentingnya aspek “mewujudkan pelayanan publik yang profesional” dalam penyelenggaraan keuangan negara. Koneksitas Ditjen Anggaran dan Satker sangat mempengaruhi kinerja Ditjen Perbendaharaan contoh dalam mekanisme revisi DIPA. DTP    249  .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->