DRAFT MODUL

      

 

Koneksitas Proses Bisnis Perbendaharaan  pada Bendahara Umum Negara dengan  Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran

       

 

Direktorat Transformasi Perbendaharaan  Direktorat Jenderal Perbendaharaan  Departemen Keuangan Republik Indonesia  2009 
  Gambar animasi diambil dari open sources

Penyusun:

1. Dr. Sudarto, S.E., MBA 2. Adi Setiawan, S.E., SST AK., MPPM 3. Pramudia M. Muslim 4. Windasena Winarno 5. Khalid Haris Fauzi 6. Johan Pandu Asa

Subdit TPBE, DTP   

 ii 

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan draft modul koneksitas proses bisnis ini bisa diselesaikan sebagaimana yang direncanakan. Sesuai dengan judulnya, Draft Modul koneksitas proses bisnis perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran, draft modul ini merupakan kajian atas koneksitas proses bisnis dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara di Satuan Kerja (Satker) dan di Ditjen Perbendaharaan. Penulisan draft modul ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Transformasi Perbendaharaan, khususnya Sub Direktorat Tranformasi Proses Bisnis Eksternal terkait dengan (i) perumusan kebijakan dan strategi penyempurnaan, (ii) pengkajian dan penyempurnaan koneksitas proses bisnis, (iii) penyusunan rekomendasi penetapan landasan hukum, (iii) perumusan kebijakan strategi tahapan penerapan dan (iv) pengkajian kesesuaian koneksitas proses bisnis dengan Satuan Kerja. Di samping itu, penulisan modul ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan dan implementasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Struktur dan metode penulisan modul ini diarahkan untuk secara komprehensif memuat tinjauan atas international best practice, review atas landasan hukum dalam kerangka international best practice, assessment atas praktek pelaksanaan selama ini, rencana pengembangan dan implementasi SPAN dan analisis serta rekomendasi untuk alternatif penyempurnaan. Secara lebih spesifik, struktur penulisan yang digunakan adalah mengikuti alur yang dipakai dalam kerangka ITIL v.3 (Information Technologi Infrastructure Library Version 3) dan lebih difokuskan pada aspek pengeluaran dari perbendaharaan negara. Dalam hal ini, penulisan dimulai dari penetapan visi, misi dan objektif dari masingmasing pihak khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pencapaian outcome masing-masing instansi/satker. Berpijak pada visi, misi dan objektif masing-masing pihak, dilakukan identifikasi permasalahan atas existing koneksitas dan kondisi pengelolaan keuangan negara di Satker saat ini. Hal-hal tersebut akan menjadi landasan penetapan usulan bentuk/model koneksitas dan manajemen keuangan Satker, serta target-target pencapaian yang terukur.

Subdit TPBE, DTP   

 iii 

Selanjutnya, sejalan dengan kerangka ITIL v.3 yang mengedepankan konsep iteratif/pembetulan yang berulang dan partisipatif dari semua stakeholder, langkah selanjutnya setelah penyelesaian draft modul ini adalah akan dilakukan diskusi bersama dengan stakeholder terkait, yang secara paralel dibarengi dengan pembangunan sistem IT dan ujicoba langsung pada beberapa Satker, sehingga penentuan model/bentuk koneksitas dan manajemen keuangan Satker serta tatacara maupun target-target pencapaiannya sudah diketahui, disetujui bersama dan dipraktekkan secara langsung. Harapannya, pada akhirnya draft modul ini dapat menjadi suatu modul yang disetujui dan sudah implementatif pada semua satker yang mempunyai koneksitasnya dengan modul SPAN secara utuh. Sejalan dengan metode iteratif dan partisipatory yang dikedepankan dalam penyusunan draft modul ini, sejak awal sudah dicoba untuk digali pendapat dari seluruh stakeholder, termasuk dari direktorat teknis dan seluruh Kantor Wilayah di lingkungan DJPB. Untuk itu, penyusun mengucapkan terimakasih atas partisipasi dan dukungannya selama ini. Tentunya, ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kami ucapkan kepada Direktur Transformasi Perbendaharaan atas arahan-arahan dan dukungannya selama penulisan draf modul ini. Disadari sepenuhnya bahwa koneksitas proses bisnis perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran adalah suatu cakupan wilayah kajian dan pembangunan sistem yang sangat luas. Untuk itu, disamping akan dilakukan diskusi-diskusi intensif dengan berbagai stakeholder, penyusun sangat membuka diri atas saran, kritik dan rekomendasi yang membangun. Saran, kritik dan rekomendasi dapat disampaikan kepada Direktorat Transformasi Perbendaharaan c.q. Sub Direktorat Transformasi Bisnis Eksternal baik melalui surat, telpon atau berbagai mode penyampaian lainnya. Sekali, penyusun mengucapkan terimakasih atas dukungan dan partisipasinya selama ini. Salam Transformasi. A.n. Penyusun Kasubdit Transformasi Proses Bisnis Eksternal

Dr. Sudarto, SE, MBA
Subdit TPBE, DTP     iv 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Koneksitas Proses Bisnis Satker dalam Siklus APBN C. Metode Penulisan Bab II Visi, Misi dan Objektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan A. Latar Belakang B. Value: Manfaat Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya Dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan C. Operasional Capability: Kemampuan untuk Penerapan Usulan Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan D. Legitimacy: Landasan Hukum Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan E. Penutup Bab III Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN A. Definisi dan Konsepsi B. Existing Proses Bisnis Pengelolaan keuangan Negara di Satker dan Koneksinya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan 1. Penyusunan, Penelaahan , Pengesahan dan Revisi dokumen Pelaksanaan Anggaran 2. Pembuatan Komitmen 3. Pengajuan Pembayaran 4. Pencairan Dana 5. Manajemen Kas 6. Pertanggungjawaban C. Aplikasi-aplikasi yang terdapat di Satuan Kerja dan Keterkaitan Antar Aplikasi

iii v 1 1 4 15 18 18 20

24

30

34

34 35

35

43 45 56 63 69 78

 

Aplikasi SAKPA 8. Aplikasi RKAKL 2. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Komitmen 4. International Best Practice terkait Manajemen Pembayaran 2. Aplikasi Persediaan 6. Manajemen Pembayaran 1. Aplikasi Peran 3. Manajemen DIPA 1. Dept. Konsepsi dan Metodologi B. Dirjen Bina Marga. PU Appendix II Pengelolaan Keuangan di Satker Badan Layanan Umum Bab IV Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN A. Tujuan dan Fungsi 2. Tujuan dan Fungsi 2. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen DIPA 4. Manajemen Komitmen 1. Definisi.1. Aplikasi SPM 5. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA C. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Pembayaran 78 80 80 83 86 87 89 93 96 98 104 112 112 113 113 114 116 119 121 127 127 128 128 130 137 151 151 155 vi    . Fitur SPAN terkait Manajemen Komitmen 5. Keterkaitan antar Aplikasi yang terdapat pada Satuan Kerja D. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Komitmen D. Aplikasi Gaji Pegawai Pusat 4. Fitur SPAN terkait Manajemen DIPA 5. Penutup Appendix I Financial Management Assesment. International Best Practice terkait Manajemen Komitmen 3. Aplikasi SIMAK BMN 7. International Best Practice terkait Manajemen DIPA 3.

Tujuan dan Fungsi 2. Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dalam Kerangka Pengembangan SPAN B. Fitur SPAN terkait Manajemen Pembayaran 4. Peran Sumber Daya Manusia selaku agent of change E. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Pembayaran E. Tujuan dan Fungsi 2. Current State Assesment dan Problems terkait Accounting dan Reporting 4. Accounting dan Reporting 1. Manajemen Kas 1. Penutup Bab V Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas A. International Best Practice Dalam Organisasi Sistem Akuntansi 3. Mitigasi terhadap inherent risk berkaitan dengan Business Process Improvement C. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Kas 4.3. Koordinasi dan sosialisasi yang tidak terbatas pada lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan 157 163 169 169 170 171 181 185 192 205 205 206 211 215 218 221 223 224 228 229 230 231 232 vii    . Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen Kas H. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara atas Pelaksanaan Tugas Kebendaharaan di Satuan Kerja G. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik D. Rekomendasi dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Accounting dan Reporting F. Fitur SPAN terkait Manajemen Kas 5. Fitur SPAN terkait Accounting dan Reporting 5. International Best Practice Terkait Manajemen Kas 3. Kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan F.

Penutup Bab VI Penutup Daftar Pustaka A.G. Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN H. Peraturan B. Literatur Dokumentasi Usulan 233 234 235 239 239 240 244 viii    .

Bab ini akan menjelaskan hal-hal tersebut di atas secara garis besar. Secara singkat. sedangkan pembahasan secara detail akan dilakukan pada bab-bab berikutnya. sehingga objektif dari masing-masing pihak dapat terdefinisikan dengan jelas (Visi & Objectives). sementara Menteri Keuangan disebut sebagai Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah RI. yang selanjutnya menjadi dasar untuk menentukan bentuk/model dari proses bisnis dan koneksitas yang diharapkan (Where do we want to be). DTP 1  . kegiatan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada Satker sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut. bab ini menjelaskan bahwa analisa dan usaha-usaha untuk menyempurnakan koneksitas proses bisnis perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satker haruslah bertitik tolak dari visi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara) di Ditjen Perbendaharaan dan visi Satker dalam pengelolaan keuangannya. Satker disebut sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang teknis tertentu pemerintahan. strategi dan taktik untuk mencapai target-target model koneksitas tersebut (How to get there).Bab I Pendahuluan Bab ini menguraikan secara garis besar koneksitas pengelolaan perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satuan Kerja (Satker). tahapan-tahapan pencapaian. Latar Belakang Momentum reformasi keuangan negara ditandai dengan lahirnya paket Undangundang Keuangan Negara. A. Kewenangan administratif tersebut meliputi kegiatan pembuatan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. TPBE. Hal-hal tersebut dapat menjadi dasar dalam melakukan analisa existing koneksitas proses bisnis dan existing manajemen keuangan Satker (Where are we now). khususnya dalam hal kewenangan administratif. serta monitoring dan evaluasinya (Are we there yet). Salah satu yang diatur dalam paket undang-undang ini adalah mengenai pembagian peran yang jelas antara Kementerian/Lembaga sebagai Satuan Kerja (Satker) dan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN). Satker diberikan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan keuangan negara dibandingkan dengan sebelumnya. serta pemberian perintah pembayaran atau penagihan penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan Subdit. yang sekaligus juga melatarbelakangi dan memberikan tujuan penulisan dari modul ini. Sebagai COO.

khususnya Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. Satker dapat dilihat sekaligus sebagai stakeholder. TPBE. Implikasinya. kemampuan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan Satker sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan fungsi treasury di Ditjen Perbendaharaan. dimana konsep ini memberikan keleluasaan dalam batas-batas peraturan perundangan kepada Satker dalam pengelolaan keuangannya. client. Sejalan dengan pembagian tugas antara CFO dan COO. Oleh karena itu. maka diperlukan penyempurnaan koneksitas proses bisnis dan IT sejalan baik di Ditjen Perbendaharaan maupun di Satker. customer. DTP 2  . Menteri Keuangan sebagai CFO berfungsi sekaligus sebagai kasir. memerlukan dukungan dari otoritas Treasury baik dalam hal penyempurnaan proses bisnis dan regulasi. IT dan SDM serta tidak memiliki kewenangan untuk membuat regulasi di bidang pengelolaan keuangan negara. Di sisi lain. pengembangan IT maupun peningkatan kemampuan managerial Satker dalam hal pengelolaan keuangan negara. pengelolaan keuangan negara di Satker harus berjalan seiring dengan pengelolaan keuangan negara di Ditjen Perbendaharaan. Hal tersebut. Dalam hal ini. maka konsep “let the manager manages” diselenggarakan. pengawas dan regulator pengelolaan keuangan negara. Pengelolaan keuangan negara di Satker merupakan salah satu input bagi Ditjen Perbendaharaan dalam fungsinya sebagai Kuasa BUN baik itu dalam hal akuntabilitas maupun dalam hal fund management. owner dan/atau counterpart dari Ditjen Perbendaharaan dalam pengelolaan keuangan negara.anggaran. user. Hal ini dikarenakan Satker pada umumnya tidak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan proses bisnis. agar pelaksanaan pengelolaan keuangan negara di Satker dan di Ditjen Perbendaharaan dapat berjalan seperti yang diharapkan. serta sebagai fund manager pemerintah. Di lain pihak. Dengan demikian. Satker seringkali tidak punya pilihan selain adanya dukungan dari Departemen Keuangan. ketergantungan Satker kepada Departemen Keuangan khususnya dalam bidang pengembangan bisnis proses dan IT memberikan kesempatan kepada Ditjen Perbendaharaan untuk dapat berperan lebih aktif dalam mengembangkan proses bisnis dan IT pengelolaan keuangan Subdit. Satker dalam pengelolaan keuangannya mempunyai kedudukan yang unik dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pengelolaan perbendaharaan negara di Departemen Keuangan (Ditjen Perbendaharaan).

Terkait dengan hal-hal tersebut. dan sudah mulai diterapkan oleh masing-masing stakeholder. Dari uraian di atas. baik di internal Ditjen Perbendaharaan. dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan negara di Satker berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan negara di Departemen Keuangan. sehingga harus segera dimulai.negara. Ruang lingkup pengelolaan keuangan negara di Satker meliputi tahapan perencanaan hingga pertanggungjawaban anggaran. karena hal tersebut akan cenderung kurang efisien dan efektif apabila dilakukan oleh masing-masing Satker. penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker pada prinsipnya diluar ruang lingkup GFMRAP. dari tahap perencanaan hingga pertanggungjawaban anggaran dan melibatkan instansi terkait lainnya termasuk Bappenas dan Ditjen Anggaran. Dalam hal ini. maupun di eksternal dengan melibatkan Bappenas. Subdit. guna memberikan suatu acuan yang komprehensif terhadap langkah-langkah penyempurnaan koneksitas. TPBE. dikoreksi. dalam melakukan penilaian dan penyempurnaan terhadap koneksitas proses bisnis Ditjen Perbendaharaan dengan manajemen keuangan Satker. DTP 3  . Ketidaksempurnaan pengelolaan keuangan di satu pihak akan mempengaruhi keseluruhan pengelolaan keuangan negara secara nasional. pembahasan harus dilakukan secara menyeluruh. Kedepan juga perlu dikaji kemungkinan untuk membangun an integrated IT infrastructure untuk mendukung pengelolaan keuangan negara dengan menempatkan infrastruktur IT Departemen Keuangan sebagai back bone dari pengelolaan keuangan negara secara nasional. Oleh karena itu. dan dalam rangka mendukung penyempurnaan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) melalui Government Financial Management and Revenue Administration Project (GFMRAP). Dengan demikian. Diharapkan penyusunan modul dapat dilakukan dengan melibatkan semua stakeholder terkait yang disertai dengan pilot project pada beberapa Satker. disetujui. maka disusunlah modul ini dengan tujuan untuk menjadi pedoman penyempurnaan proses bisnis pengelolaan dan pertangungjawaban keuangan negara (perbendaharaan) di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. Modul ini juga disusun bersamaan. konsep-konsep dalam buku ini sudah diketahui. khususnya di Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. dibahas. Ditjen Anggaran dan tentunya Satker bersangkutan. sejalan dengan proses penyusunannya.

Hasil identifikasi tersebut dipetakan ke dalam tahapan kegiatan pengelolaan keuangan negara. pelaksanaan pencairan dana. Oktober tahun n-1) 3. arus pekerjaan/ arus dokumen/ arus data. pelaporan dan pertanggungjawaban 3. serta pengakuntansian. Pertanggungjawaban APBN (Juli tahun n+1) Ruang lingkup identifikasi atas koneksitas tersebut setidaknya harus meliputi: 1. Teknologi informasi (TI) dan aplikasi Gambar I. Perubahan APBN (Nopember tahun n) 5.d. Sebagaimana diketahui. Juli tahun n-1) 2. Sistem akuntansi. pelaporan dan pembuatan pertanggungjawaban. kegiatan manajemen kas. TPBE. Penyusunan APBN (Januari s.d. yang secara garis besar meliputi: 1. yaitu perencanaan anggaran. Desember tahun n) 4. yang mencakup pengorganisasian. DTP 4  . Pelaksanaan APBN (Januari s. Koneksitas Proses Bisnis Satker Dalam Siklus APBN Identifikasi atas koneksitas proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan di Ditjen Perbendaharaan dapat dilakukan dengan memperhatikan siklus dari pengelolaan APBN secara utuh. Subdit. siklus APBN setidaknya terdiri dari beberapa fase. Proses bisnis.1 menunjukkan hasil identifikasi proses bisnis berupa pengorganisasian dan arus pekerjaan yang melibatkan Satker dan instansi terkait dalam pengelolaan keuangan negara.B.d. pembuatan DIPA. serta pengelolaan rekening dan transaksi keuangan 2. pembuatan komitmen dan kontrak. Penetapan APBN (Agustus s.

UU APBN  8. Penerimaan Pengembalian Belanja. Penyusunan  RAPBN  6. Penerimaan Pembiayaan. dan Perbankan **) Manajemen kas termasuk informasi dari pelaksanaan investasi. Pembahasan  RKP  3. pengelolaan utang. Pengesahan  DIPA  12. Penerimaan Hibah. Manajemen  Kas **)  13.APK    KPPN    Deskripsi  1.1 RELATIONSHIP MATRIX PROSES BISNIS   Pemerintah  (Sidang  Kabinet)  Kementerian/ Lembaga/  Satuan Kerja Departemen keuangan  DJA  DJPBN cq  DJPBN cq  DJPBN cq  Dit PA  Dit PKN  Dit. TPBE. Revisi DIPA    b.Komitmen    c. Penelaahan  DIPA  11. Penyusunan  RKAKL  4. Penerimaan Pihak Ketiga). Pembahasan  RKAKL  5. Pembahasan  RUU APBN  7.Gambar I. DJBC/KPBC). dan penerimaan negara (termasuk Penerimaan Perpajakan.  ACCOUNTING        AND REPORTING 12 e 13 12 e 13 12 e 13 13 12 e Keterangan: *) unit lainnya termasuk unit penerimaan (DJP/KPP. PNBP. Subdit. Penyusunan    RKP  2. Penyusunan  DIPA  10.Pencairan  Dana  e. Pelaksanaan  APBN:  a. Pengajuan  Pembayaran  (SPM)  d. DTP 5  . Pertanggungja waban APBN    DPR  Unit  Lainnya  *)    2 1 2 3                        BUDGET                    PREPARATION  4 4 5 6 7 6 7 8 6 9 10 10 10                              MANAGEMENT          DIPA  11 12 12 a 12 12 a 12 12 11 12                  COMMITMENT             MANAGEMENT 12 b 12 c 12 b 12 b                          PAYMENT              MANAGEMENT  12 d 12 d 12 d 12 d                  RECEIPT AND CASH              MANAGEMENT                  GL. Perpres  Rincian APBN  (+SAPSK)  9.

Sebagaimana terlihat pada Gambar I. modul manajemen DIPA.2). Proses pengelompokkan kegiatan dalam siklus APBN tersebut juga dilakukan dengan merujuk pada best practice dalam siklus manajemen keuangan pemerintah yaitu sebagaimana ditunjukkan dalam Treasury Reference Model (lihat Gambar I. pelaporan dan akuntansi. modul manajemen pembayaran. serta modul referensi sebagai pendukung modul-modul lainnya. Gambar I. DTP 6  .1.2 Siklus Manajemen Keuangan Pemerintah (Treasury Reference Model) Subdit. tahapan-tahapan tersebut juga sejalan dengan rencana pengembangan SPAN. modul GL. TPBE. baik dari segi proses bisnis maupun TI. modul komitmen manajemen. yaitu melalui modul perencanaan anggaran. modul manajemen kas.

serta aktivitas terkait lainnya yang dilakukan dalam rangka pembuatan laporan dan pertanggujawaban pelaksanaan APBN. serta meliputi proses-proses manajemen sebelumnya. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan dan KPPN. Akuntansi. pembuatan buku besar. 3. KPPN dan unit lainnya (Perbankan). Manajemen Kas (Cash Management): meliputi koneksitas proses bisnis dengan Satker yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan aktivitas penerimaan dan pengeluaran di Satker. koneksitas pengelolaan perbendaharaan negara dengan manajemen keuangan Satker termasuk hubungannya dengan instansi utama terkait dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. termasuk yang terkait dengan berbagai kegiatan pada manajemen investasi. pengelolaan chart of account. Manajemen Pembayaran (Payment Management): meliputi koneksitas proses bisnis sejak pengajuan pembayaran (SPM) sampai dengan pencairan dana (penerbitan SP2D). manajemen pengelolaan utang. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Manajemen kas ini juga terkait dengan kegiatan fund management di Ditjen Perbendaharaan. proses pencatatan. manajemen pengelolaan barang pemerintah dan manajemen penerimaan negara. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. pembuatan komitmen untuk pengadaan barang dan jasa atas beban APBN dan menjadikannya sebagai bagian manajemen pembayaran dan manajemen kas. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. Terkait dengan proses bisnis perbendaharaan negara di Ditjen Perbendaharaan. Pelaporan dan 7  Subdit. yang meliputi Manajemen DIPA hingga Akuntansi. 4.1. Pelaporan dan Pertanggungjawaban (General Ledger. sistem akuntansi BUN. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. KPPN dan unit lainnya (Unit terkait penerimaan negara dan Perbankan).Secara singkat. dan KPPN. sebagaimana terlihat dalam Gambar I. Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Accounting and Reporting): meliputi di dalamnya koneksitas sistem akuntansi instansi dan KUN. 2. Unit yang terkait adalah Kementerian/Lembaga/Satker. DTP . TPBE. dengan memperhatikan proses ebelumnya pada manajemen DIPA dan manajemen komitmen.

c) Rincian akun (6 digit) dalam halaman IV DIPA (Catatan). b) Potensi keterlambatan penyerapan APBN akibat hal-hal administratif dalam penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran.Pertanggungjawaban. Beberapa permasalahan dalam proses bisnis ini antara lain: a) Data realisasi anggaran dan sisa pagu yang masih sering berbeda pada unit-unit vertikal Ditjen Perbendaharaan maupun pada Satker. Dari pembahasan terhadap beberapa permasalahan tersebut di atas. beberapa arah perbaikan yang dapat dikaji meliputi: a) mengkaji perubahan proses penyusunan DIPA dan bentuk dari DIPA itu sendiri. TPBE. 06/PMK. sejalan dengan penetapan PMK. Koneksitas proses bisnis dalam penyusunan dan pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA Management). belum sejalan dengan konsep Performance Based Budgeting (PBB) yang menghendaki peningkatan fleksibilitas anggaran.02/2009 dan kemungkinan pelaksanaan PBB. b) mengkaji efektifitas pelaksanaan revisi anggaran. No. serta pengelolaan rekening pemerintah dan Teknologi Informasi dengan mengacu pada Gambar I. Satu dari berbagai permasalahan tersebut adalah pemahaman yang belum sama tentang mekanisme penunjukan pejabat perbendaharaan yang dicantumkan dalam konsep DIPA.1. identifikasi awal atas koneksitas proses bisnis perbendaharaan dengan manajemen keuangan Satker menunjukkan hal-hal sebagai berikut: 1. Kantor Pusat/Kanwil Ditjen Perbendaharaan. sehingga terdapat potensi terjadinya pagu minus pada saat dilakukan pelaksanaan anggaran. sejalan dengan arah dari penerapan PBB yang dilakukan oleh Bappenas dan Ditjen Anggaran serta penyiapan data awal bagi pelaksanaan anggaran termasuk manajemen kas. Hal ini dapat terjadi karena seringkali tidak berjalannya/tidak ada sistem informasi yang terintegrasi di tingkat pelaksanaan (Satker dan KPPN) dan perencana (Ditjen Anggaran. dan Kantor Pusat Kementrian/Lembaga). DTP 8  . Hal tersebut memang sangat tergantung pada perkembangan penerapan PBB yang saat ini tengah dikembangkan oleh Bappenas dan Ditjen Anggaran. Subdit.

penentuan akun. ketetapan waktu untuk pencatan dan pelaporan komitmen tersebut serta sanksi apabila terdapat pencatatan dan pelaporan yang tidak akurat dan tidak tepat waktu. proses bisnis dalam pelaksanaan pembuatan perikatan 2. Hal tersebut mengakibatkan beberapa kekurangan dalam pengelolaan keuangan negara. besaran dan mekanismenya perlu dikaji kembali pada masa mendatang. sehingga bersamaan dengan perkembangan teknologi sektor finansial.c) mengkaji kemampuan IT yang saat ini masih sangat terfragmentasi. Salah satu tujuan utama penerapan manajemen komitmen adalah untuk kepentingan perencanaan kas. Mekanisme UP/TUP adalah pengeluaran transito yang mendahului model pencatatan komitmen yang ideal. Permasalahan disini adalah tidak adanya suatu sistem yang terintegrasi antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan untuk mencatat informasi sehubungan dengan pembuatan komitmen di Satker. b) penentuan sifat pengujian oleh Ditjen Perbendaharaan (KPPN) apabila pencatatan dan persetujuan komitmen menjadi salah satu dasar pencairan dana APBN. di antaranya: a) Perbendaharaan tidak memiliki informasi yang akurat tentang sisa pagu anggaran dan status (stages dalam siklus anggaran) atas dana APBN yang dikelola Satker b) Perbendaharaan belum memiliki sistem yang efektif untuk mendukung pelaksanaan forward planning atas arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitmen Berkaitan dengan pencatatan komitmen untuk pengakuan stages dalam pelaksanaan anggaran dan perencanaan kas. terdapat beberapa hal yang patut mendapat perhatian di masa yang akan datang. DTP 9  . posting rule. Treasury Single Account (TSA) dan pengelolaan rekening-rekening pemerintah pada perbankan. c) mekanisme uang persediaan dan tambahan uang persediaan (UP/TUP) terkait dengan rencana penerapan manajemen komitmen. Koneksitas (Commitment Management). Subdit. TPBE. antara lain: a) hal-hal yang berkaitan dengan pencatatan komitmen ke dalam buku besar (GL). termasuk saat pengakuan.

Koneksitas proses bisnis dalam manajemen dan perencanaan kas (cash manajemen). telah dilakukan untuk mendukung reformasi tersebut. Permasalahannya. Disamping itu. pengkajian perlu pula dilakukan terhadap batasan kewenangan Ditjen Perbendaharaan dalam aktivitas monitoring (pengawasan) komitmen yang dibuat Satker. beberapa arah perbaikan dapat dilakukan di masa mendatang khususnya yang berkaitan dengan perbaikan proses bisnis dan TI yang ada untuk keperluan monitoring atas komitmen yang dibuat Satker dan pemanfaatannya bagi pengelolaan perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan. Payment management. hingga saat ini belum ada standard cycle time untuk penerbitan SPM di Satker serta pengajuannya ke KPPN. serta keseluruhan work flow dan paper work transaksi keuangan melalui perbankan. Hasil yang telah dicapai (quick win) sudah cukup signifikan yaitu berupa berbagai kemajuan dibidang payment management sejalan dengan pembentukan KPPN Percontohan. apakah perlu disempurnakan dengan dukungan TI atau dipertahankan. meskipun banyak sekali hands off dan paper work. Sebagai contoh. IT serta pengembangan SDM. Disamping itu. termasuk tatacara penerbitan SPM menjadi SP2D. baik di Satker.Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas. Seiring dengan pesatnya kemajuan bisnis proses dan TI sektor keuangan/perbankan tentu kedepan akan timbul pertanyaan yang sangat mendasar mengenai sistem pembayaran (payment system) yang ada saat ini. hal tersebut masih perlu diikuti dengan pembenahan pada pengelolaan keuangan negara di Satker. 3. DTP 10  . Beberapa kegiatan secara terintegrasi baik di bidang proses bisnis dan peraturan. Memperhatikan praktek-praktek treasury di banyak negara maju. Subdit. merupakan fokus reformasi birokrasi selama ini di Ditjen Perbendaharaan. KPPN maupun perbankan Ini tentunya suatu arahan kedepan yang secara serius harus dikaji yaitu terkait dengan penyempurnaan pengelolaan keuangan negara di Satker dan pemanfaatan TI yang memungkinkan (enabler) berjalannya proses bisnis dan peraturan sebagaimana diharapkan. Misalnya. 4. TPBE. masih terdapat kemungkinan bahwa dana akan diterima di rekening yang berhak lebih lama dari waktu yang diharapkan. Koneksitas proses bisnis dalam pengajuan permintaan pembayaran dan pencairan dana (payment management).

Hal-hal tersebut di atas. laporan dan pertanggungjawaban. Sistem akuntansi pemerintah sudah berkembang cukup signifikan. termasuk meliputi proses bisnis. Dalam hal ini. berikut adalah beberapa permasalahan yang dapat dikemukakan di antaranya: a) belum optimalnya fungsi perencanaan pencairan dana dalam dokumen pelaksanaan angaran (halaman III. baik pada internal Ditjen Perbendaharaan. termasuk comitment management. hingga saat ini sistem akuntansi pemerintah masih berbasis cash. di Satker dalam mekanisme perencanaan kas di Ditjen Perbendaharaan. receipt management dan debt management. saat ini mulai dikembangkan rencana penarikan dana yang lebih realistis khususnya untuk belanja tidak mengikat. DIPA). Sehubungan dengan hal tersebut di atas. di mana rencana penarikan dana diusahakan untuk tidak lagi dengan membagi pagu dengan jumlah bulan dalam satu tahun. yang merupakan muara dari semua kegiatan. sistem IT dan alur data. Namun demikian. TPBE. memberikan arahan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Akan tetapi. baik pada Subdit. payment management. pengkajian harus secara lengkap. Koneksitas proses bisnis dalam sistem akuntansi. DTP 11  . yang tentunya harus terus dikembangkan. Tentunya ini adalah suatu tantangan yang sangat berat untuk menerapkan accrual based accounting. banyak sekali hal yang harus disempurnakan. model perencanaan pencairan dana pada halaman III DIPA dilakukan dengan membagi jumlah pagu ke dalam rencana penarikan setiap bulan dalam satu tahun. Pada umumnya. maupun koneksinya dengan pihak eksternal terutama Satker. terutama PNBP. b) belum adanya suatu sistem yang mengintegrasikan komitmen dan rencana penerimaan. Kegiatan manajemen kas relatif baru menjadi fokus reformasi di Ditjen Perbendaharaan. 5.kegiatan kas manajemen adalah merupakan kegiatan utama unit treasury. untuk mendukung revitalisasi fungsi perencanaan pencairan dana pada Ditjen Perbendaharaan yang berkaitan erat dengan manajemen kas. sebagaimana digariskan dalam perundang-undangan bahwa sistem akuntansi pemerintah harus berbasis accrual. Tentunya. cash forecasting.

Terkait dengan hal tersebut. merchant dan sebagainya. Sebagai contoh.05/2007 tentng Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. DTP 12  . treasury operation sudah menerapkan berbagai metode pengumpulan penerimaan seperti auto debit. dalam hal revenue collection. hal tersebut perlu dilakukan pula melalui pembenahan chart of account (CoA). Tentunya. Pengelolaan keuangan negara saat ini sangat bergantung pada proses bisnis dan IT sektor perbankan. Di banyak negara maju. sejalan dengan pembenahan CoA tersebut. 171/PMK. melalui kerja sama dengan institusi keuangan swasta. Setidaknya. patut dihargai disini adalah usahausaha Ditjen Perbendaharaan untuk membantu Satker dalam melakukan pencatatan. Pengaturan berbagai rekening pemerintah. cek.pengelolaan keuangan di BUN (SABUN) maupun pada tiap-tiap Satker (SAI) sebagaimana diatur dalam PMK No. 6. credit card. pelaporan dan pertanggungjawaban yaitu melalui dukungan aplikasi serta pelatihanpelatihan terutama melalui Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP). beragamnya kemampuan Satker untuk menerapkan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) mempengaruhi kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Demikian pula. treasury operation sudah memasuki praktek-praktek yang tidak berbeda dengan institusi keuangan swasta. Koneksitas proses bisnis dalam pengelolaan rekening bendahara penerimaan dan pengeluaran. koneksitas proses bisnis Ditjen Perbendaharaan dengan pengelolaan keuangan di Satker banyak bergantung pula pada proses bisnis dan IT sektor perbankan. baik dalam rangka pengeluaran (TSA Pengeluaran dan rekening bendahara pengeluaran) maupun dalam rangka penerimaan (TSA penerimaan. dan rekening bendahara penerima). debit card. menunjukkan ketergantungan pengelolaan perbendaharaan pada sektor perbankan. TPBE. maka kemungkinan penerapan PBB dan perubahan sistem akuntansi harus pula dipertimbangkan. termasuk memasukkan unsur accrual dan stages mengikuti siklus anggaran. MPN. TSA pengeluaran diterapkan Subdit. Dalam hal pengeluaran. disamping penerapan TSA penerimaan secara universal. Tentunya. Disamping sistem akuntansi yang masih perlu terus dikembangkan. variasi dari kemampuan SDM dan dukungan IT yang sangat beragam pada tiap-tiap Satker juga memberikan tantangan tersendiri.

Disamping itu. Dari pembahasan tersebut di atas. Yang menjadi permasalahan adalah sistem informasi tersebut masih sangat terfragmentasi. Gambar I. Standarisasi dan konsep satu pintu melalui treasury belum diterapkan secara penuh di Indonesia. penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara di lingkungan Kementrian/Lembaga dan koneksitasnya Subdit.3 menunjukkan koneksitas teknologi informasi/aplikasi tersebut. negosiasi penempatan surplus dana pemerintah pada pihak perbankan akan dapat dilaksanakan secara lebih efektif. DTP 13  . Memperhatikan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan di Satker sebagai satu kesatuan dengan pengelolaan keuangan negara di Departemen Keuangan. Koneksitas teknologi informasi DJPBN dengan Satker. dengan arahan kemungkinan pengintegrasian semua sistem IT yang diberikan oleh Kementrian Keuangan kepada Satker. Hal-hal tersebut tentunya merupakan tantangan dan arahan untuk perbaikan kedepan. Dengan pengaturan koneksitas melalui satu pintu. belum mengarah pada sesuatu yang terintegrasi dengan baik. yaitu treasury. Dari pembahasan singkat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan negara di Satker merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan. best practices menunjukkan bahwa koneksitas pengelolaan keuangan negara dengan sektor perbankan juga dilakukan melalui satu pintu. disamping memang kemampuan SDM masing-masing Satker sangat beragam. di masa yang akan datang perlu dikaji proses bisnis dan IT yang ada. Hal tersebut diperlukan dalam rangka standardisasi koneksitas. yaitu treasury. dimana idle fund hampir tidak ada. sangat mungkin akan terjadi inefisiensi dan ketidakteraturan. TPBE. 7. koneksitas tersebut dapat dilihat sebagai sesuatu yang wajar. dimana koneksitas pengelolaan keuangan negara dengan Sektor keuangan harus didasarkan pada kontrak (fee based). Bilamana masing-masing institusi (treasury dan Satker) membuat kontrak sendiri-sendiri. Sebagaimana telah dijelaskan diatas. Untuk itu. maupun yang dikembangkan secara internal oleh masing-masing Satker. peace meal.dengan sangat maju. dependency Satker terhadap aplikasi-aplikasi yang disediakan oleh Departemen Keuangan baik dari Ditjen Perbendaharaan maupun Ditjen Anggaran sangat tinggi. yang pelu dikaji kesesuaiannya untuk dapat diterapkan pada praktek perbendaharaan di Indonesia.

Dalam hal ini sangat penting. Salah satu alternatif untuk dapat dijadikan quick win adalah melanjutkan penggunaan aplikasi Peran 2008.3 Koneksitas teknologi informasi/ aplikasi komputer perbendaharaan dengan Satker Sehubungan dengan kompleksitas permasalahan. Gambar I.dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan sangat diperlukan. TPBE. penyempurnaan manajemen keuangan Satker memerlukan dukungan sepenuhnya dari DJPBN. serta mendukung rencana penyempurnaan melalui automasi proses bisnis dan integrasi sistem informasi sejalan dengan pengembangan SPAN. Dalam hal ini. Diantaranya adalah melalui penentuan proses bisnis dan TI yang diharapkan dapat menjadi prioritas sebagai quick win. dalam rangka mewujudkan dan melajutkan upaya reformasi keuangan negara yang telah dirintis sebelumnya. harus disusun analisis dan rencana implementasi dengan tepat. dan mengembangkannya sebagai bagian sistem perencanaan pencairan dana dan manajemen komitmen yang handal. DTP 14  . Diusulkan agar segera dilakukan pengkajian untuk menggunakan data dalam Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) Satker yang ada di DJA sebagai salah satu sumber data. Subdit.

misi dan objektif dari masing-masing pihak. Sebagaimana terlihat dalam gambar. Hal-hal yang berkaitan dngan perencanaan anggaran di DJA dan Bappenas tidak menjadi fokus dari modul ini. khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pencapaian outcome masing-masing instansi. Subdit. penulisan buku ini dilakukan melalui diskusi bersama dengan stakeholder terkait dan ujicoba langsung pada beberapa Satker sehingga penetuan model/bentuk koneksistas dan manajemen keuangan Satker serta tatacara maupun target-target pencapaiannya sudah diketahui dan disetujui bersama. misi dan objektif masing-masing pihak. visi dan misi. Berpijak pada visi. hal-hal tersebut akan menjadi landasan penetapan bentuk/model koneksitas dan manajemen keuangan Satker. Optimisme harus tetap dipegang mengingat perbaikan tersebut adalah keinginan bersama.. struktur penulisan yang digunakan adalah mengikuti alur yang dipakai dalam kerangka ITIL v. penulisan haruslah dimulai dari penetapan visi. maka penulisan buku ini sangat menghendaki peran serta dan dukungan semua pihak. Sebagaimana disebutkan dalam Gambar I. sebagaimana telah digariskan dalam peraturan perundang-undangan. Metode Penulisan Dalam melakukan penulisan/penyusunan modul tentang proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis Ditjen Perbendaharaan. Mengingat kompleksitas permasalahan. Selanjutnya. serta tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. dilakukan identifikasi permasalahan atas existing koneksitas dan kondisi pengelolaan keuangan negara di Satker saat ini. C. TPBE. buku ini hanya memfokuskan pada dua area: (i) proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dengan fokus pada aspek pengeluaran (ii) koneksitas proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. serta target-target pencapaian yang terukur.untuk diperhatikan pula bahwa agar penyempurnaan koneksitas proses bisnis haruslah disesuaikan dengan kebutuhan Satker dalam pengelolaan keuangan negara.3 (Information Technologi Infrastructure Library Version 3) sebagaimana terlihat pada Gambar I.4. DTP 15  .4. Mempertimbangkan luasnya cakupan dari topik pembahasan.

Week I. Analisis proses manajemen keuangan satker terkait tahapantahapan tersebut di atas. sistem akuntansi. (ii) IT. Where are we now? (Week IV-March. Subdit. Analisis existing koneksitas. manajemen komitmen. Mengapa manajemen keuangan Satker harus disempurnakan? 3. pelaporan dan pertanggungjawaban. III April 2009) Bab III: Analisis Existing Koneksitas dan Manajemen Keuangan SatkerExisting Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN 1. majanemen DIPA. Satker diluar Proyek SPAN. yang masing-masing tahapan meliputi: (i) bisnis proses dan regulasi. 2. Apa manfaat penyempurnaan tersebut bagi Satker dalam manajemen keuangannya? 4. II & III March 2009) Bab II: Visi. Apa objektif penyempurnaan koneksitas dan manajemen keuangan Satker? 5. TPBE. manajemen kas. sehingga harus dibenahi secara internal mulai dari sekarang. Objectives (Week I. dan (iii) SDM dan change management/ manajemen perubahan. Misi dan Obyektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan 1. termasuk melalui penelitian langsung pada beberapa Satker terpilih sebagai pilot project. Bappenas dan Satker? 2. II. dari tahapan persiapan anggaran. Mission. DTP 16  . Apa Visi dan Misi DJPB. struktur penulisan dan metode penulisan Vision. DJA.4 Struktur Penulisan Background (Februari 2009) Bab I: Pendahuluan (Latar Belakang dan Ringkasan Penulisan) Pendefinisian latar belakang. manajemen pembayaran.Gambar I.

Penetapan model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan satker. serta monitoring/evaluasinya. baik menyangkut (i) bisnis proses dan regulasi. Terpenting disini adalah pendefinisian dan penetapan model koneksitas dan manajemen keuangan satker. Conclusion (August. July. dengan mengikuti tahapan-tahapan tersebut di atas. dan (iii) pengembangan SDM dan change management. smooth. TPBE. 2. Metode penyusunan buku ini dengan melibatkan setiap stakeholder dan dibarengi dengan piloting pada beberapa satker adalah salah satu taktik tersebut. maka pengembangan SDM. serta meminimalisasi resiko. September 2009) Bab VI Penutup Penutup dan ringkasan atas isi buku.Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN 1. How do we get there ? (June. (ii) Integrated IT. August 2009) Bab V: Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas Penerapan dari model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan Satker yang dipilih harus dilaksanakan sedemikian rupa secara terencana. June. regulasi dan IT. May. Subdit. yang secara bersamaan akan dilakukan pula penetapan strategi implementasi dari model yang dipilih. target-target tahunan yang jelas dan terukur pencapaian setiap tahunnya. khususnya tahapan-tahapan dalam pencapaian model koneksitas. karena hal tersebut belum terdefinisikan dengan konkrit hingga saat ini.Where do we want to be ? (Week IV-April. disamping aspek bisnis proses. Hal-hal tersebut akan dibahas dalam bab ini. DTP 17  . change management. July 2009) Bab IV: Model Koneksitas dan Manajemen Keuangan Satker. Penetapan model tersebut dengan mengacu pada satker terpilih sebagai pilot project. serta teknik pengkomunikasian akan memegang faktor yang sangat menentukan. Dalam hal ini.

Kedua. misi dan objektif dari masing-masing stakeholders. Latar Belakang Pembahasan atas visi dan misi sebuah organisasi senantiasa bersifat strategis karena hal-hal tersebut adalah merupakan ‘pemandu’ organisasi untuk menetapkan objektif serta pengerahan keseluruhan sumber daya dalam rangka untuk mencapainya. Untuk itu. operational capability dan legitimacy. Moore (1995) dalam Creating Public Value: Strategic Management in Government.Bab II Visi. aktivitas penyempurnaan tersebut harus bisa diterapkan baik secara operasional maupun administratif (operationally and administratively feasible). DTP  18  . misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan. setidaknya terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi agar aktivitas tersebut juga bernilai strategis. baik di Ditjen Pebendaharaan maupun di Satker. guna menjamin value dari aktivitas ini. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang visi. dalam kerangka organisasi Subdit TPBE. Misi dan Objektif Satker dan Ditjen Perbendaharaan Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. aktivitas penyempurnaan tersebut harus bermanfaat secara signifikan bagi kedua belah pihak (significantly valuable). termasuk menciptakan standardisasi proses bisnis perbendaharaan negara. adalah fungsi Ditjen Perbendaharaan untuk mengkoordinasikan aktivitas penyempurnaan tersebut. dalam ruang lingkup perbendaharaan negara. khususnya Satker dan Ditjen Perbendaharaan sendiri. menggunakan model yang diperkenalkan Mark H. A. maka bab ini juga menggunakan strategic triangle framework. Disamping itu. baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan haruslah didasari oleh pemahaman tentang visi. Oleh karena itu. aktivitas penyempurnaan tersebut harus didasarkan pada kerangka peraturan perundangan yang ada (legitimate). Terkait dengan hal tersebut di atas. yaitu adanya keterkaitan antara value. Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa meskipun peraturan perundangan dengan jelas memisahkan fungsi CFO dan COO. Pertama. Ketiga. tetapi terdapat suatu interdependency yang mengharuskan perlunya penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. Satker dan Ditjen Perbendaharaan sebenarnya mempunyai suatu common objectives yang secara bersama-sama akan dicapai. Demikian pula. sesuai dengan ketentuan perundangan.

misi dan objektif masing-masing stakeholders sebagai dasar penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan dalam bab ini akan menggunakan framework strategic triangle sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2. dalam literatur manajemen sektor publik (public sector management) penerapan dari ketiga kriteria tersebut populer dengan istilah strategic triangle (Moore.1. misi dan objektif semua stakeholders (value). Moore. 1995.1. Dalam hal ini. DTP  19  . (ii) operational capability dari usulan penyempurnaan proses bisnis tersebut bagi Satker dan Ditjen Perbendaharaan. Pembahasan atas visi. Moore & Khagram. 1994. dan (iii) legitimacy dari aktivitas dan hasil penyempurnaan tersebut. Operational Capability. Strategic Triangle: Value. dan Legitimacy Legitimacy Value Operationallity Sumber: Moore (1995) dan Moore & Khagram (2004) Subdit TPBE. bab ini akan ditutup dengan suatu penutup dan sekilas tentang pokok-pokok pembahasan bab berikutnya. Terakhir.dan potensi kolaborasi yang memungkinkan pencapaian visi. misi dan objektif masing-masing stakeholder akan dimasukkan dalam bagian (ii) tersebut di atas. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.1. Pembahasan atas visi. 2004). Gambar 2. secara berturut-turut akan dibahas: (i) strategic value dari aktivitas penyempurnaan tersebut.

2. Sesuai dengan prinsip tersebut. Secara skematis. Menteri Keuangan berwenang dan bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan. DTP  20  . kewajiban dan asset negara secara nasional. Value: Manfaat Penyempurnaan Proses Bisnis di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan Dalam penjelasan Undang-undang Keuangan Negara disebutkan bahwa pengelola keuangan negara ialah Presiden Republik Indonesia atau yang biasa disebut Chief Executive Officer (CEO). Presiden mendelegasikan kepada Menteri Keuangan (sebagai Chief Financial Officer) dalam hal kewenangan kebendaharaan dan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga (sebagai Chief Operational Officer) dalam hal kewenangan administratif. Dalam mengelola keuangan negara. pemisahan kewenangan pengelolaan keuangan negara dapat dilihat dalam Gambar 2.B. sementara Menteri/Pimpinan Lembaga berwenang dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Subdit TPBE.

 DTP  21  . Pemisahan Wewenang Pengelola Keuangan Negara Keterangan Gambar: Sumber : Pemisahan Wewenang Pengelolaan Keuangan Negara-modified (Presentasi Sesditjen Perbendaharaan) Subdit TPBE.2.Gambar 2.

dan operational efficiency. Schick (1998). 2003). termasuk penyediaan layanan publik. terdapat suatu kriteria yang secara generic berkaitan dengan setiap organisasi pemerintah yaitu bahwa semua aktivitas diarahkan dalam rangka pelaksanaan program pemerintah. dapat berakibat fatal terutama terhadap tidak tercapainya sasaran alokasi anggaran yang telah dibuat. berpendapat bahwa setidaknya terdapat tiga hal yang harus tercapai dalam praktek penganggaran yang modern (populer dengan sebutan Public Expenditure Management atau PEM) yaitu aggregate fiscal discipline. misi dan objektifnya. Sedangkan operational efficiency sangat dipengaruhi oleh proses pelaksanaan anggaran (budget execution) karena implementasi yang sesungguhnya dari program. DTP  22  . Hashim & Allan (2001) dalam Treasury Reference Model yang diterbitkan World Bank mengidentifikasikan dua karakteristik utama dalam sistem perbendaharaan. guna mencapai visi. allocative efficiency. Kementrian/lembaga (K/L) akan membuat perencanaan strategis (Renstra). Karakteristik yang kedua adalah bahwa proses bisnis yang terdapat Subdit TPBE. misi dan objektif yang berbeda sesuai dengan bidang tugasnya. SP2D oleh Ditjen Perbendaharaan dan pemindahan dana anggaran dari Rekening Kas Negara ke rekening pihak ketiga atau bendahara pengeluaran dalam rangka pembiayaan program pemerintah. proyek ataupun kegiatan pemerintah terjadi pada saat pelaksanaan anggaran (Andrew & Campos. Dalam hal ini. Lemahnya proses pelaksanaan anggaran. DIPA ini adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang menjadi dasar penerbitan SPM oleh K/L. termasuk penyediaan layanan publik. Andrew & Campos (2003) menyebutkan bahwa penyusunan dan pelaksanaan anggaran merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas aktivitas penyediaan layanan publik. Atas dasar dokumen penganggaran.2. Aggregate fiscal disciplin dan allocative efficiency setidaknya diharapkan dapat menjamin sustainability dari anggaran negara serta terciptanya anggaran negara yang efisien dan efektifitas untuk pencapaian target masing-masing program pemerintah. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. Pertama adalah perlunya konsolidasi dan kompilasi cepat terhadap data dengan volume besar dari sejumlah unit vertikal di institusi perbendaharaan dan Satker yang tersebar di banyak lokasi. RKA-K/L ini selanjutnya menjadi landasan penyusunan APBN (appropriation) tiap tahunnya. yang pada akhirnya akan diwujudkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran Kementrian/Lembaga (RKA-K/L) tahunan. melalui prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan Ditjen Perbendaharaan akan menerbitkan DIPA (allocation).Walaupun secara teknis masing-masing Satker memiliki visi.

2008)). DTP  23  . Auditor General Victoria. integrasi sistem yang baik tidak hanya dicerminkan oleh adanya penggunaan basis data yang dapat diakses bersama-sama secara aman tetapi juga adanya kemampuan untuk melakukan pertukaran data diantara berbagai modul/fungsifungsi keuangan yang ada. kondisi tersebut menjadikan penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan. 2004). 2001). karakteristik-karakteristik tersebut memungkinkan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan transaksi melalui penggunaan IT dan sistem aplikasi yang terintegrasi (Hashim & Allan. penyempurnaan koneksitas proses bisnis biasanya mencakup standardisasi proses bisnis di Satker (Government atau Spending Agencies). Dari tinjauan sistem informasi. Pemerintah Federal melalui Financial System Integration Office (FSIO) melakukan penyempurnaan proses bisnis untuk government agencies melalui standardisasi dan integrasi dengan tujuan. Karakteritik besarnya volume data dan proses bisnis yang repetitive membawa konsekuensi bahwa ketidaksempurnaan proses bisnis baik di tingkat Satker. ANAO. Di satu sisi. institusi perbendaharaan dan audit berperan aktif tidak hanya dalam penyusunan pedoman tetapi juga melakukan standardisasi proses bisnis setiap fungsi-fungsi manajemen keuangan negara (Treasure’s Direction. Disinilah. mengidentifikasi alternatif penyempurnaan proses bisnis 3. meningkatkan pemahaman akan pentingnya proses bisnis yang standard di lingkungan pemerintah 2. antara lain : 1. Di Amerika Serikat. menerapkan praktek-praktek yang baik dalam proses bisnis Subdit TPBE. letak strategic value dari pentingnya penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan. di mana spending agencies tidak hanya melakukan otorisasi pengeluaran tetapi juga fungsi manajemen kas (two tier cash management system (Lienert. Dalam prakteknya di beberapa negara. koneksinya dengan proses bisnis di institusi perbendaharaan maupun di institusi perbendaharaan sendiri akan berakibat secara berlipat terhadap ketidakkeberhasilan pelaksanaan tugas perbendaharaan negara. 1999. menjadi sangat krusial. beserta dukungan IT. Di sisi lain. Di Australia.dalam sistem ini pada dasarnya dilakukan berulang-ulang (repetitive) dan mengikuti serangkaian mekanisme pelaksanaan dan kontrol/pengawasan tertentu. Menurut Hashim & Allan (2001). koneksitas proses bisnis yang baik dicerminkan adanya tingkat integrasi sistem yang tinggi (close system integration). 2006.

1/2004). Reformasi birokrasi dan tuntutan akan pelayanan yang lebih baik memberi pengaruh pada cara pandang dan kebijakan organisasi pemerintah terhadap lingkungan eksternalnya. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan.2). 2008) 6. serta dalam rangka peningkatan pelayanan kepada publik.4. C. Bagi Ditjen Perbendaharaan. Dari uraian di atas dan beberapa contoh penerapan di negara lain. antara Menteri/Ketua Lembaga sebagai Pengguna Anggaran dengan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN) dalam pelaksanaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). menciptakan kondisi awal yang sama dan terstandardisasi untuk memudahkan pengembangan di masa yang akan datang 5. Berbeda dengan tradisional model dari public administration. koneksitas proses bisnis yang baik membantu tugas pokoknya dalam rangka pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran. Pemisahan kewenangan tersebut menciptakan hubungan yang unik dimana secara implisit menunjukkan adanya independency dalam suatu kesejajaran namun saling terkait (tidak sepenuhnya independen). Operational Capability: Kemampuan untuk penerapan usulan penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan Salah satu hallmark yang diusung dalam reformasi di bidang keuangan negara adalah adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab yang jelas (clarity of role) antara pemegang kewenangan administratif dan pemegang kewenangan kebendaharaan (lihat Gambar 2. DTP  24  . dapat disimpulkan bahwa penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan memberikan manfaat strategis dalam mendukung pencapaian visi. Pemisahan kewenangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan akuntabilitas dan menjamin adanya check and balance dalam proses pelaksanaan anggaran (Penjelasan UU No. Proses bisnis yang terstandardisasi dan koneksitas yang baik dapat membantu pencapaian sasaran atau target program. Termasuk didalamnya adalah kemudahan dalam integrasi data dan pengumpulan informasi yang berkualitas sehingga dapat lebih bermanfaat bagi pengambilan keputusan. memfasilitasi pertukaran data keuangan di antara institusi pemerintah (FSIO. institusi pemerintah pada saat ini cenderung memberi perhatian yang lebih dan menyadari Subdit TPBE. khususnya berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan.

hubungan Ditjen Perbendaharaan dengan Satker dapat dikategorikan ke dalam huruf (b) karena Satker adalah organisasi pemerintah yang independent di luar Ditjen Perbendaharaan.perlunya menjalin hubungan strategis dengan pihak-pihak di luar organisasi dalam rangka pencapaian visi. 2008]. Dalam hal penyusunan dan penerapan peraturan atau kebijakan yang dibuat oleh institusi perbendaharaan. hubungan Ditjen Perbendaharaan dengan Satker sebenarnya bersifat unik karena walaupun tidak berada di dalam lingkup organisasi yang sama (kategori huruf a). 2. misalnya dalam hal pemilihan cara pencairan dana untuk belanja yang diijinkan (UP atau LS) yang dipilih Satker dan harus diikuti oleh oleh Ditjen Perbendaharaan. 2004). koordinasi dan interaksi dengan Satker sangat erat. manajemen dengan pihak-pihak eksternal organisasi meliputi: 1. Menurut Allison (1982). merupakan customer dan user dari payment management. misi dan objektif organisasinya (Hughes. Dengan pola hubungan yang unik antara institusi perbendaharaan dengan Satker. Jadi. Satker. Satker dapat berperan sebagai obligatee. secara keseluruhan baik Ditjen Perbendaharaan maupun Satker adalah bersama-sama sebagai stakeholders dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). misalnya. dan counterpart dari Ditjen Perbendaharaan.atau pihak mempunyai kewajiban untuk melakukan sesuatu (Moore. Namun demikian. Terkait dengan hal tersebut di atas. 1995. DTP  25  . user. Moore Khagram. misalnya instansi pemerintah lainnya. dan merupakan counterpart dalam perencanaan kas [masukan dari Dit PKN. adakalanya juga Ditjen Perbendaharaan berperan sebagai obligatee. 2003). 3. Dalam kerangka tersebut. yang saling bersimbiosis dan berinteraksi. hubungan dengan pers. 2001). berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi Ditjen Pebendaharaan sebagai institusi perbendaharaan (Hashim & Allan. Satker juga dapat dikategorikan sebagai user atau client dalam penggunaan aplikasi software yang dibuat oleh Ditjen Perbendaharaan dan digunakan untuk berinteraksi dengan sistem informasi yang ada di Ditjen Perbendaharaan. rekanan dan LSM (interest group). Namun demikian. maka hal tersebut harus disikapi dan dikaji dengan hati-hati agar penyempurnaan proses Subdit TPBE. hubungan antara Ditjen Perbendaharaan dengan Satker dapat berupa bahwa Satker dalam posisi sebagai customer. hubungan dengan unit organisasi lain dalam lingkup organisasi pemerintah yang sama (aktivitas koordinasi). dari sudut pandang ruang lingkup organisasi. hubungan dengan pihak-pihak independent di luar organisasi tersebut. client.

pembahasan dalam buku ini akan menggunakan framework bussiness process improvement sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. Gambar 2. misi dan objektif organisasi dengan proses bisnis.3. Dalam hal ini.3 menunjukkan saling keterkaitan antara visi.bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan institusi perbendaharaan dapat diterapkan (operationally feasible) baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan sehingga value yang diharapkan dapat tercapai (lihat Gambar 2. Gambar 2.1). Kerangka Penyempurnaan Proses Bisnis dan Koneksitasnya Subdit TPBE. TI dan change management dalam aktivitas penyempurnaan proses bisnis.3. DTP  26  .

baik itu Satker maupun Ditjen Perbendaharaan. Adanya serangkaian kegiatan tertentu yang dapat ditentukan awal dan akhir-nya (definable). Gambar 2. misi dan objektif. Dari pengertian proses bisnis ini. Dalam hal ini. Grover & Malhotra. 3. 1996). 2. DTP  27  . Karakteristik utama dari sebuah proses bisnis adalah : 1.Mengikuti Gambar 2. yang tidak berbeda untuk semua Satker bila dilihat dari aspek pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara.3. Sedangkan hal-hal lainnya dalam Gambar 2. teknologi informasi yang memungkinkan proses bisnis tersebut berjalan maksimal juga harus dibangun (TI enabler). sebagai persyaratan minimal operationalisasi penyempurnaan proses bisnis sehingga hal tersebut mampu menciptakan value (lihat Gambar 2. misi dan objektif baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. proses bisnis adalah serangkaian aktivitas yang saling berhubungan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi (Davenport & Short. Demikian pula. karena pada akhirnya kemampuan dan kemauan sumber daya manusia adalah penentu berjalannya proses bisnis dan teknologi informasi yang telah disempurnakan. misi dan objektif Satker yang bersifat generic.3 harus dilaksanakan secara utuh. Sebuah proses tidak terikat oleh struktur formal organisasi karena melibatkan banyak fungsi dan sub-unit dalam organisasi (cross functional boundaries). berawal dari Satker dan berhenti pada unit di Ditjen Perbendaharaan.3 akan dibahas dalam bab-bab berikutnya. Terkait dengan pembahasan dalam bab ini. Selanjutnya. 1990.4 Subdit TPBE. misalnya. fokus hanya dilakukan pada penetapan visi. Atas dasar kebutuhan untuk mewujudkan visi. maka penerapan change management menjadi sangat krusial dalam proses penyempurnaan proses bisnis (bussiness process improvement). Adanya stakeholder/beneficiaries yang menggunakan outcomes dari sebuah proses/sub proses (Davenport & Short. Mekanisme yang tertuang dalam Gambar 2. hal pertama yang harus dilakukan dalam rangka penyempurnaan proses bisnis adalah pendefinisian kembali atas visi dan misi masingmasing stakeholder. 1990). melihat variability dari tugas pokok dan fungsi Satker dalam pelaksanaan program pembangunan dan penyediaan pelayanan publik.1). Visi dan misi tersebut akan menjadi pemandu bagi masing-masing institusi untuk menetapkan strategic goals atau dalam hal ini objektif masing-masing. diperlukan suatu visi. Dalam hal ini. maka dilakukan penyempurnaan proses bisnis beserta pengorganisasiannya. Atas dasar pemikiran tersebut. maka penyempurnaan proses bisnis perbendaharaan negara harus lintas institusi.

Gambar 2. misi Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan. (iv) Mewujudkan ketersediaan informasi keuangan yang akurat. transparan dan akuntabel. Selanjutnya. dengan memperhatikan Gambar 2. dan pemikiran atas visi/misi Satker serta common objectives dalam rangka pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. maka perlu penyempurnaan proses bisnis dan koneksitasnya diantara para stakeholders. Ditjen Perbendaharaan maupun Satker sebenarnya mempunyai common objectives yang bersifat generic yaitu: (i) mewujudkan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja. mulai dari perencanaan anggaran sampai dengan pertanggungjawaban anggaran. (iii) mewujudkan pengelolaan kas negara yang optimal.4. agar common objectives tersebut menjadi operasional dan dapat dicapai oleh masing-masing stakeholders sehingga menciptakan value.4. Kembali pada Gambar 2.4 tersebut mengikutsertakan Ditjen Anggaran dalam pembahasan.mencoba mendefinisikan visi. Hal ini adalah sejalan dengan pembahasan pada bab sebelumnya dimana analisis dalam buku ini diharapkan dilakukan secara menyeluruh. dan relevan. Subdit TPBE. visi. handal. serta sumber daya manusia yang kompeten dan berkemauan untuk menyukseskan proses bisnis dan TI yang telah disempurnakan. Untuk itu. (ii) mewujudkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. misi dan objektif dari Ditjen Anggaran dimasukkan pula dalam Gambar 2. DTP  28  . Ditjen Anggaran.3. dukungan IT yang memungkinkan (enabling) proses bisnis tersebut berjalan secara optimal.

2. DTP  29  .4. Mengelola keuangan dan Barang Milik Negara secara optimal. tepat dan akurat Mewujudkan Pengelolaan Piutang Pemerintah dan Kredit Program yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan Misi : 1. Mewujudkan perencanaan kebijakan APBN yang sehat. Mewujudkan pengelolaan kas negara yang optimal. tepat. Mewujudkan peningkatan penerimaan negara bukan pajak dengan mempertimbangkan perkembangan dunia usaha dan aspek keadilan masyarakat. 1. dan relevan. transparan dan akuntabel 4. dan sustainable. transparan dan bertanggungjawab. Visi. dan akurat. credible. 7. Transparan dan Akuntabel dalam Proses Mewujudkan Bangsa yang Mandiri dan Sejahtera Misi : 1. kredibel. Menjadikan aparat bidang keuangan yang professional. DJPB dan Satker Ditjen Anggaran Ditjen Perbendaharaan K/L/Satker Visi : Mewujudkan tata kelola keuangan yang profesional. Memberikan pelayanan prima di bidang pengelolaan keuangan dan barang milik Negara. 4. hati-hati. Menyediakan informasi keuangan dan barang milik negara dengan cepat. 2. 4. Meningkatkan kualitas unsur pendukung. misi dan Objective DJA. Common Objective Subdit TPBE. transparan dan akuntabel untuk mendukung pencapaian sasaran program pemerintah dan peningkatan kualitas pelayanan publik yang menjadi bidang tugas Kementerian / Lembaga/Satker. 3. 2. Mewujudkan efektifitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas 3. Mewujudkan efektifitas dan efisiensi pengeluaran negara serta pengamanan keuangan negara untuk menjaga kesinambungan fiskal berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Mewujudkan ketersediaan informasi keuangan yang akurat. 3. 1. Misi : Mewujudkan Pelaksanaan Anggaran yang Berbasis Kinerja Mewujudkan Pengelolaan Kas Negara yang Transparan dan Akuntabel Mewujudkan Tertib Administrasi Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara Mengoptimalkan Surat Utang Negara sebagai sumber pembiayaan APBN Mengelola Pinjaman dan Hibah Luar Negeri sesuai kebutuhan APBN Menghasilkan Pelayanan di bidang Perbendaharaan dan Informasi Keuangan yang cepat.Gambar 2. 4. 6. Visi : Menjadi unit organisasi yang profesional. transparan dan akuntabel dalam perumusan dan pengelolaan kebijakan di bidang penganggaran Visi : Menjadi Pengelola Perbendaharaan Negara yang Profesional. Mewujudkan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja 2. 5. handal. 3.

Legitimacy: Landasan hukum penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan Keberadaan dan aktivitas suatu organisasi pemerintah harus berlandaskan dan didukung oleh peraturan perundangan yang akan berperan sebagai source of legitimacy dan memberikan authorising environment bagi organisasi dan aktivitasnya (Moore. 1995). melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (huruf e). DTP  30  . pelaksanaan kewenangan administratif dan kewenangan perbendaharaan pada dasarnya independent. melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian negara/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut. tetapi tetap terdapat subset atau interdependency antara keduanya yaitu dalam rangka pelaksanaan pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan negara. Selaku Pengguna Anggaran. di atas sejalan dengan Penjelasan dalam Undang-Undang Perbendaharaan Negara perihal kewenangan administratif yang meliputi “melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran”. terutama huruf e dan f. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (huruf b). Undang-Undang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Keuangan peraturan lainnya cukup memberi dasar hukum bagi aktivitas Negara beserta penyempurnaan proses bisnis perbendaharaan di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan sebagai Kuasa BUN. Subdit TPBE.D. Menteri/Ketua Lembaga dalam hal ini berperan sebagai Chief Operational Officer (COO) untuk bidang tertentu pemerintahan sedangkan Menteri Keuangan merupakan Chief Financial Officer (CFO) selaku Bendahara Umum Negara. Sebagaimana telah disebutkan didepan. dan menyusun dan menyampaikan laporan keuangan (huruf j). Sebagai konsekuensi dari pemisahan tersebut. Menteri/Ketua Lembaga berwenang diantaranya untuk menyusun dokumen pelaksanaan anggaran (huruf a). menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran (huruf f). Ketentuan dalam Pasal 4 ayat 2 tersebut. Undang-Undang Perbendaharaan Negara menghendaki konsistensi dan ketegasan dalam pemisahan antara pemegang kewenangan administratif (ordonatur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable).

melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran atas beban rekening kas umum negara (huruf f). fungsi pengawasan keuangan tersebut terbatas pada aspek rechmatigheid dan wetmatigheid yang dilakukan hanya pada saat terjadinya penerimaan dan pengeluaran (Penjelasan Undang-Undang Perbendaharaan Negara). Selaku BUN. sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Selanjutnya. manajer keuangan dan pengawas keuangan yang berhak menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran negara.01/2008 Pasal 999 dan Pasal 1000 juga disebutkan bahwa tugas dan fungsi Subdirektorat Transformasi Proses Bisnis Eksternal diantaranya meliputi: 1.01/2008 Pasal 806 ditetapkan bahwa Ditjen Perbendaharaan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Selanjutnya. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran (huruf b). Dalam hal ini. PMK 100/PMK. serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN. 100/PMK. perumusan kebijakan dan strategi penyempurnaan. menyajikan informasi keuangan negara (huruf p). 2. sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 huruf l Undang-Undang Perbendaharaan. kewenangan Menteri Keuangan selaku Bendaharawan Umum Negara di antaranya meliputi menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran Negara (huruf a). Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ayat 2. pengkajian dan penyempurnaan. serta menyelaraskan proses bisnis dan/dengan teknologi informasi perbendaharaan (Pasal 992 dan Pasal 993). Selanjutnya. Dalam pasal 4 ayat 2 huruf (a) disebutkan pula bahwa selaku BUN Menteri Keuangan berwenang untuk menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara. kebijakan. merancang dan mengembangkan. Subdit TPBE. Menteri Keuangan juga merupakan pengelola keuangan dalam arti seutuhnya yang berfungsi sebagai kasir.Undang-Undang Perbendaharaan Negara Pasal 7 ayat 1 menyebutkan kedudukan Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan (huruf o). dan menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan Barang Milik Negara (huruf q). Dalam hal ini. termasuk dalam ruang lingkup perbendaharaan adalah perumusan standar. DTP  31  . dalam PMK 100/PMK.01/2008 juga menetapkan bahwa Direktorat Transformasi Perbendaharaan memiliki tugas dan fungsi untuk merumuskan kebijakan strategi pengembangan.

termasuk pengkajian kesesuaian koneksitas-koneksitas proses bisnis dengan aplikasi teknologi informasi.1/2004 dan PMK 100/PMK. berikut ini adalah beberapa hal pokok yang dapat disarikan: 1. Disamping itu. Dari pembahasan. DTP  32  . 3. yang secara generik tidak berbeda dan akan dicapai oleh semua stakeholder. Penutup Dari uraian di atas. maka setidaknya aktivitas penyempurnaan tersebut setidaknya harus meliputi tiga aspek yaitu proses bisnis dan pengorganisasiannya. perumusan kebijakan strategi tahapan penerapan koneksitas proses bisnis dengan Satuan Kerja (Satker). E. Sebagaimana framework penulisan yang telah dijelaskan pada Bab I. Dengan menggunakan strategic triangle framework. 4. aktivitas penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan adalah sesuai dengan tugas dan fungsi Ditjen Perbendaharaan (legitimate). aktivitas penyempurnaan dan juga usulan penyempurnaan nantinya haruslah legitimate dan operationally feasible sehingga value dari aktivitas penyempurnaan tersebut dapat maksimal. dan secara keseluruhan bagi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara). bahwa meskipun masing-masing Satker dan Ditjen Perbendaharaan mempunyai visi dan misi yang berbeda dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. penyusunan rekomendasi dan penetapan landasan hukum. 5. misi dan objektif dari Satker dan Ditjen Perbendaharaan sebagai landasan untuk penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. Bab II ini difokuskan pada pembahasan visi. UU No. semuanya mempunyai suatu common objectives. teknologi informasi dan change management. baik bagi Satker maupun Ditjen Perbendaharaan. Dengan demikian. guna menjamin agar usulan penyempurnaan proses bisnis tersebut dapat diterapkan (operationally feasible). Selanjutnya.01/2008 juga telah menjelaskan bahwa adalah fungsi Ditjen Perbendaharaan untuk menyempurnakan dan membuat Subdit TPBE. Dengan demikian. Demikian juga. 4. Bab II ini juga menjelaskan bahwa aktivitas penyempurnaan tersebut haruslah memberikan value. 2.3. aktivitas penyempurnaan proses bisnis ini akan memberikan value bagi pencapaian common objectives tersebut. berdasarkan ketentuan perundangan tersebut di atas.

Terkait dengan pembahasan-pembahasan dalam Bab II ini. maka bab selanjutnya akan difokuskan pada aktivitas baseline assesment. baik di Satker maupun di Ditjen Perbendaharaan. dan juga kompetensi dari sumber daya manusia. sehingga aktivitas penyempurnaan tersebut sangat legitimate. Subdit TPBE. Baseline assesment ini akan memberikan dasar untuk penetapan target yang lebih riil dari aktivitas penyempurnaan ini. maka baseline assesment ini ditujukan untuk melihat existing proses bisnis dan pengorganisasiannya. misi dan common objectives yang didefinisikan dalam Bab II ini. teknologi informasi yang digunakan. sejalan dengan visi. DTP  33  . Sebagaimana dijelaskan dalam framework penulisan pada Bab I.standarisasi proses bisnis terkait dengan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara (perbendaharaan negara).

 TPBE. Dalam bab ini akan dibahas dengan lebih rinci proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker. (ii) pembuatan komitmen. pengesahan dan revisi dokumen Pelaksanaan Anggaran. sejalan dengan kerangka ITIL v. (v) manajemen kas.3 yang digunakan dalam penulisan draft modul ini. dan (ii) summary atas proses bisnis satker BLU. proses bisnis merupakan serangkaian aktivitas yang saling berhubungan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. (iv) pencairan dana. (iii) pengajuan pembayaran. Hammer and Champy (1995). bab ini difokuskan pada pembahasan tentang existing proses bisnis (i) penyusunan. Selanjutnya. A. Rodger and Pendankar. Process mapping merupakan alat dalam bentuk grafis untuk menggambarkan urutan dan flow dari proses bisnis (Paper.BAB III Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. Disampaikan bahwa proses bisnis satker BLU belum menjadi fokus dalam draft modul ini dan akan dikerjakan pada awal tahun 2010 bersama dengan aspek penerimaan dari pengelolaan perbendaharaan di satker. Process mapping juga disusun dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik dari sebuah proses. bab ini dilengkapi dengan dua appendiks yaitu (i) summary atas penelitian World Bank terkait proses bisnis di satker Departemen PU. Disamping itu. 2001). DTP  34  . penelaahan. dibahas pula aspek dukungan aplikasi-aplikasi yang terdapat di satker serta keterkaitan antar aplikasi baik di dalam satker sendiri maupun dengan aplikasi di DJPB. Secara lebih spesifik. salah satunya dilakukan dengan menyusun process mapping. belum dilakukan penelitian dan konfirmasi langsung terhadap satker terpilih. dan (vi) akuntansi dan Pertanggungjawaban. Process mapping akan disusun menurut fase-fase dalam siklus anggaran sebagaimana ditunjukan dalam relationship matrix dalam BabI. Penelitian dan konfirmasi langsung tersebut akan dilakukan awal tahun 2010 sejalan dengan berbagai diskusi interaktif yang sudah direncanakan sejalan. 1996). mendefinisikan proses sebagai sekumpulan aktifitas yang mengolah input menjadi output tertentu yang bernilai bagi stakeholder. Definisi dan Konsepsi Sebagaimana telah disinggung dalam bab sebelumnya. Namun demikian. Process mapping berguna sebagai alat analisis dan komunikasi untuk dapat lebih memahami dan menyempurnakan proses dengan kemungkinan menghilangkan atau menyederhanakan bagian dari proses (Hunt. Subdit.

Tiga tahap itu yaitu penyusunan konsep DIPA oleh Pengguna Anggaran (PA) / Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). diharapkan process mapping dapat memenuhi fungsinya sebagai alat komunikasi dan analisis. yaitu cross functional boundaries. Pengesahan dan Revisi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi Satker dalam melaksanakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan APBN. DTP  35  . TPBE. Existing Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksinya dengan Proses Bisnis di Ditjen Perbendaharaan 1. lebih dari sekedar dokumentasi. (II) Peraturan Presiden (Perpres) tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP) / Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) untuk konsep DIPA yang ditelaah didaerah.sebagaimana disinggung dalam Bab II. Penelaahan konsep DIPA yang dilakukan Direktorat Pelaksanaan Anggaran meliputi DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan. Penyusunan. Dengan cara demikian.02/2008 dilakukan bersama-sama antara petugas dari kementrian/lembaga yang bersangkutan dengan petugas dari Ditjen Perbendaharaan cq. penelaahan konsep DIPA di Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan pengesahan DIPA oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Direktorat Pelaksanaan Anggaran /Kanwil Ditjen Perbendaharaan. B. Sedangkan penelaahan konsep DIPA yang dilakukan di Kanwil Subdit. Penyusunan Konsep DIPA  Penyusunan konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. dan identifiable outcomes and beneficiaries. a. definable begining and end point. (III) RKA-KL yang telah disetujui DPR dan ditelaah oleh DJA serta (IV) Bagan Akun Standar.02/2008 dilakukan oleh PA/KPA dengan mengacu pada: (I) Undang-undang APBN. Secara garis besar ada tiga tahap yang harus dilalui untuk menjadikan suatu DIPA secara hukum sah sebagai dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Penelaahan Konsep DIPA Penelaahan atas konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. Penelaahan. b.

Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan). meliputi : a) Kesesuaian penempatan jenis belanja. Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan). DTP  36  . Penelaahan atas konsep DIPA dilakukan dengan aktivitas sebagai berikut : 1) Penilaian kesesuaian pencantuman dan penuangan anggaran (Konsep DIPA halaman I A. 3) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman II. 2) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman I B. d) Kesesuaian pencantuman tata cara penarikan dana. dan kelompok pengeluaran. b) Kesesuaian pencantuman uraian dan pagu anggaran pada fungsi. meliputi : a) Kesesuaian pencantuman uraian organisasi dan satuan kerja. meliputi pencantuman perkiraan penerimaan perpajakan dan PNBP tiap bulan.Ditjen Perbendaharaan meliputi DIPA Satker vertikal Kementrian/Lembaga di daerah dan DIPA Dana Dekonsentrasi. b) Kesesuaian pencantuman sumber dana. b) Kesesuaian pencantuman akun pengeluaran. 6) Penjelasan tentang rincian belanja kelompok akun yang memerlukan perlakuan khusus dan/atau persyaratan tertentu pada saat proses Subdit. kegiatan. Rincian Pengeluaran) dengan kaidah akuntansi pemerintah. Umum) dengan prinsip pembayaran dalam mekanisme APBN. program. c) Kesesuaian pencantuman sasaran dan indikator keluaran. TPBE. meliputi pencantuman rencana penarikan dana tiap bulan sesuai pagu per kegiatan dan per jenis belanja. 4) Penilaian terhadap rencana penarikan dana tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. c) Kesesuaian pencantuman nomor registrasi pinjaman/hibah luar negeri. Umum) dengan rincian pada Perpres mengenai RABPP/SRAA. 5) Penilaian terhadap perkiraan penerimaan tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. sub kegiatan. meliputi : a) Kesesuaian pencantuman kode bayar ( kode KPPN). subfungsi.

2 menggambarkan flowchart proses bisnis penelaahan dan pengesahan DIPA untuk mempermudah pemahaman dari uraian Subdit. c. Berikut ini gambar 3. dan lauk pauk/bahan makanan. daya dan jasa. Atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan telah memenuhi ketentuan dibuatkan Catatan Penelaahan yang berfungsi sebagai surat pengantar untuk menyusun Surat Pengesahan DIPA. catatan atas penelaahan DIPA.pencairan dana (Konsep DIPA halaman IV) meliputi (a) Belanja terikat yang tidak diperkenankan dikurangi dan direlokasi. rincian sumber dana DIPA. Surat Pengesahan DIPA memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran. Dana yang dapat dicairkan dibatasi untuk pembayaran gaji pegawai. dan persetujuan penelaahan. TPBE. (3) hal-hal lain yang perlu dituangkan dalam Catatan DIPA. pengeluaran keperluan sehari-hari perkantoran.1 dan 3. Pengesahan DIPA Pengesahan DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. Pengesahan DIPA dilakukan dengan menerbitkan Surat Pengesahan DIPA yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan. (b) kegiatan dan alokasi dana yang diblokir pada saat penelaahan DIPA. Kantor Bayar dan pernyataan dari BUN bahwa perhitungan biaya dalam DIPA merupakan tanggung jawab PA/KPA. unit organisasi dan satuan kerja). dan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk DIPA Satker vertikal dan DIPA Dana Dekonsentrasi. pagu anggaran per jenis belanja.02/2008 merupakan penetapan oleh Bendahara Umum Negara atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan memuat pernyataan bahwa DIPA berkenaan tersedia dananya dalam APBN dan dapat menjadi dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Catatan Penelaahan memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyampaikan konsep DIPA sampai dengan tanggal yang telah ditetapkan. DTP  37  . unit organisasi dan satuan kerja). Sedangkan dana untuk jenis pengeluaran lainnya harus diblokir. pihak-pihak yang melakukan penelaahan. maka diterbitkan DIPA sementara oleh Direktorat Pelaksana Anggaran / Kanwil Ditjen Perbendaharaan dengan berdasar kepada Perpres mengenai RABPP / SRAA. pagu anggaran DIPA.

Subdit.diatas yang dipisahkan antara proses di Direktorat Pelaksanaan Anggaran dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan. DTP  38  . TPBE.

1 39  .Subdit. PA DJPBN Upstream Gambar 3. DTP Downstream Satker Dit. TPBE.

 TPBE.Gambar 3.2 Subdit. DTP  40  .

Berikut ini gambar 3. (V) rupiah murni pendamping PHLN. DIPA Dekonsentrasi dan DIPA Tugas Pembantuan baik untuk DIPA yang awalnya disahkan di pusat maupun daerah. dan (VII) alokasi yang dana pada rincian kelompok dan/atau pengeluaran/subkegiatan/kegiatan telah dikontrakkan direalisasikan dananya sehingga menjadi minus. DIPA Satker vertikal. (III) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker yang bersangkutan. Sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan terhadap (I) alokasi kegiatan 0001 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker lain.d. Sedangkan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta). (IV) alokasi dana untuk pembayaran berbagai tunggakan. Revisi DIPA dibuat oleh PA/KPA dan diajukan kepada Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapat pengesahan.3 menggambarkan flowchart proses bisnis revisi DIPA untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. Revisi DIPA Revisi DIPA diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PMK. DTP  41  . Pengesahan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta. Revisi DIPA dilaksanakan berdasarkan perubahan SAPSK atau tanpa perubahan SAPSK. disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. disahkan oleh Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Subdit. (II) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi kegiatan 0002 pada Satker lain untuk akun yang sama. Revisi DIPA adalah perubahan dan/atau pergeseran rincian anggaran dalam DIPA.02/2009. (VI) alokasi dana kegiatan yang bersifat multi years. TPBE.

 DTP  42  . TPBE.Gambar 3.3 Subdit.

Pada dasarnya. manajemen komitmen juga merupakan salah satu alat untuk melakukan cash forecasting dalam rangka mewujudkan cash management yang berorientasi ke depan (forward cash planning) yang berbeda dengan cash forecasting berdasarkan data trend dari periode sebelumnya (historical data trend). b.  1 Subdit. Pembayaran untuk gaji.  Arrears dapat diartikan sebagai kewajiban pembayaran yang tertunda di mana Negara tidak dapat  memenuhi kewajiban tersebut dalam jangka waktu tertentu (Radev & Khemani. Pembuatan Komitmen Perekaman komitmen (budget commitment recording) ke dalam suatu sistem yang terintegrasi antara institusi treasury dengan Spending Unit (Satker) merupakan ciri utama dari commitment management. Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan. Secara umum terdapat dua jenis komitmen. a. tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri. 2007). DTP 43  . manajemen komitmen ditujukan untuk mengelola tindakan-tindakan awal yang menimbulkan kewajiban negara dalam rangka disiplin anggaran (ketaatan terhadap batas pengeluaran) dan menghindari timbulnya arrears 1. 2007). TPBE.2. tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment (Radev & Khemani. Komitmen khusus (specific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu. Tujuan dan Fungsi Pelaksanaan manajemen atas komitmen memiliki dua tujuan utama yang memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi. maka institusi perbendaharaan dapat membuat perencanaan kas yang berorientasi ke depan (forward cash plans) berdasarkan aliran kas yang akan menyertai sebuah komitmen. Namun demikian. 2007). Dengan mencatatkan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan. Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. Definisi Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu (Radev & Khemani.

c. Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. informasi perihal kontrak yang disampaikan ke Ditjen Subdit. belum secara otomatis terekam rencana tahapan-tahapan pembayarannya untuk masing masing tahun anggaran. Di samping itu. Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat dilakukan jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. di mana informasi yang terkait dengan kontrak pengadaan dan jasa disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005). existing koneksitas proses bisnis di Satker dengan proses bisnis perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan justru terjadi pada saat pencairan dana. DTP 44  . khususnya yang berkaitan dengan manajemen kas di DJPBN. Patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the managers manage dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer. kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementerian negara/lembaga. Kerangka Peraturan Perundangan Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen dan dapat dijadikan landasan untuk pengembangan manajemen komitmen di masa yang akan datang. TPBE. Kewenangan administratif tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan). Demikian pula untuk kontrak yang multi years. Dalam hal manajemen komitmen. Dengan model koneksitas seperti ini. Chart of Account yang ada belum dapat mengakomodasi pencatatan untuk commitment stages dalam pelaksanaan anggaran. d. Koneksitas dengan Satker Pada saat ini belum tersedia mekanisme yang dapat mengintegrasikan komitmen yang telah dibuat satker ke dalam sistem perbendaharaan negara.

Sisa UP pada akhir tahun anggaran harus disetor ke rekening Kas Negara paling lambat tanggal 31 Desember. Pengajuan Pembayaran a. Jenis Pembayaran Sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. Beberapa inisiatif telah diupayakan menutup kekurangan ini.Perbendaharaan menjadi kurang relevan untuk keperluan forward cash planning karena baru dapat diketahui pada saat pengeluaran dari kas negara dilakukan. 100 Juta untuk pagu diatas sampai dengan Rp. 500 Juta Penggantian UP dapat dilakukan setelah UP digunakan sekurang-kurangnya 75% dari UP yang diterima. Diantaranya melalui penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah (SE-02/PB/2006) serta penyampaian Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008 melalui aplikasi Peran 2008 (SE-38/PB/2008). jenis pembayaran terdiri dari: 1) Pembayaran Dengan Uang Persediaan.06/2005. Dalam Subdit.900 Juta • 1/18 dari pagu maksimal Rp. Adapun jumlah uang persediaan yang dapat dimintakan adalah sebagai berikut: • 1/12 dari pagu maksimal Rp. 50 Juta untuk pagu sampai dengan Rp. bersifat daur ulang (revolving) untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari perkantoran yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. TPBE. baik karena kurangnya pemahaman Satker maupun karena sifatnya yang ad-hoc untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tertentu pada akhir tahun anggaran (Peran 2008). 200 Juta untuk pagu diatas Rp. 2. DTP 45  Rp. 2. Pada saat ini tengah dikembangkan model Peran 2009 yang lebih komprehensif yang memperhatikan data aktual dari kegiatan yang sudah atau belum dikontrakkan dari sisa pagu anggaran yang tersedia.4 Miliar • 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp.4 Miliar • 1/24 dari pagu maksimal Rp. 900 Juta . Namun kedua hal tersebut berjalan kurang efektif. Uang persediaan adalah Uang Muka Kerja yang diberikan kepada bendahara pengeluaran. 3.

b. Petugas penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. b. Pembayaran tidak boleh melebihi Rp 10 juta kepada satu rekanan.hal Penggunaan UP belum mencapai 75% sedangkan satker memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia dapat dimintakan Tambahan Uang Persediaan (TUP).1. Dimana pembayaran dilakukan langsung ke rekening yang berhak/rekanan/pihak ketiga atau untuk keperluan tertentu melalui Bendahara Pengeluaran. Daftar Nominatif pemilik tanah yg ditandatangani KPA untuk Pengadaan tanah yang luas nya kurang dari 1 hektar. Pembayaran dengan uang persediaan memiliki kriteria sebagai berikut: Untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. Tetap memperhatikan ketentuan perpajakan. TPBE. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan SPP dan membuat/ menandatangani tanda terima SPP berkenaan. Proses bisnis Penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM) Proses penerbitan SPM diawali dari dibuatnya SPP oleh pejabat yg bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan (Pejabat Pembuat KomitmenPPK) selaku pemberi kerja untuk diteruskan ke pejabat penandatangan SPM. Daftar Nominatif pemilik tanah dan besaran harga tanah yang ditanda tangani KPA dan diketahui Oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT) untuk Pengadaan Tanah yg luasnya lebih dari 1 hektar dilakukan dengan bantuan PPT setempat. 2) Pembayaran Langsung. Subdit. DTP 46  . Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada pejabat penandatangan SPM. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian terhadap kelengkapan dan ketepatan pembebanan dalam SPP. Adapun kelengkapan SPP sebagai berikut: 1) Kelengkapan SPP-UP (Uang Persediaan) : Surat Pernyataan dari KPA atau Pejabat yang ditunjuk. Pembayaran langsung merupakan jenis pembayaran yang utama. menyatakan tidak untuk membiayai pengeluaran yang harus dengan LS.

Untuk yang dibiayai dari rupiah murni: SPTB (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja) Kuitansi SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk. bila dipersyaratkan SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau Pejabat yang ditunjuk.Pengadaan Tanah yang pembayarannya Melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Kantor Pusat Ditjen PBN / Kanwil Ditjen PBN sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku. Surat Dispensasi : Dari Kepala KPPN untuk TUP s/d Rp. bahwa dana untuk kebutuhan yang mendesak. 2) Kelengkapan SPP-TUP (Tambahan Uang Persediaan) : Rincian pengunaan dana dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk. Dana akan habis digunakan dalam 1 bulan sejak terbit SP2D Tidak untuk pengeluaran dengan LS Sisa setelah 1 bulan akan disetor ke rekening Kas Negara Rekening Koran yang menunjukan saldo terakhir. DTP 47  . 200 Juta Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk. 4) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas: Daftar gaji Surat Keputusan (SK) Subdit. TPBE. UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP Lainnya. Untuk yang dibiayai dari pinjaman atau hibah Luar Negeri (PHLN): SPTB Rekapitulasi Pengeluaran per kategori NPHLN Approval Program dari ADB. 3) Kelengkapan SPP-GU (Penggantian Uang Persediaan). 200 Juta Dari Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk TUP diatas Rp.

 TPBE. 8) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran Langsung) untuk Pengadaan barang dan jasa: Kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. Subdit. 5) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk lembur: Daftar lembur surat perintah kerja lembur SSP Pph 21 6) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Honor/Vakasi: Daftar honor/vakasi Surat Keputusan (SK) SSP Pph 21 7) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas: Daftar gaji Surat Keputusan (SK) Surat Pernyataan Daftar Keluarga (Kp4) Copy surat nikah Copy akte lahir SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran) Daftar Potongan sewa rumah dinas Keterangan Sekolah/kuliah Surat kematian SSP Pph 21 sesuai peruntukan. DTP 48  .Surat Pernyataan Daftar Keluarga (Kp4) Copy surat nikah Copy akte lahir SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran) Daftar Potongan sewa rumah dinas Keterangan Sekolah/kuliah Surat kematian SSP Pph 21 sesuai peruntukan.

Surat Persetujuan Harga. Berita Acara sekurang-kurangnya dalam rangkap 6 disampaikan kepada : Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM. Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan. Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani Wajib Pajak. Foto copy kepemilikan Tanah. Satu tembusan kepada KPPN Pembayar. TPBE. 9) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Pengadaan Tanah: Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari 1 hektar. Kuitansi yang disetujui oleh Kuasa PA atau pejabat yg ditunjuk. Jaminan Bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank. Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/ hibah luar negeri Ringkasan Kontrak yang dibuat sesuai dengan format untuk rupiah murni atau untuk PHLN. SSP PPh Final atas Pelepasan Hak. Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. 10) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk langganan daya dan jasa: Bukti tagihan Subdit. DTP 49  . SPPT PBB tahun transaksi. Surat Pelepasan Hak adat ( Bila diperlukan). Masingmasing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak. Pelepasan /Penyerahan hak atas tanah/ akta jual beli di hadapan PPAT. dan Pembayaran. BA Penyelesaian Pekerjaan.Surat Pernyataan Kuasa PA mengenai penetapan rekanan. Serah Terima Pekerjaan. Kuitansi.

500. dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA (PNBP) tahun anggaran sebelumnya. TPBE. satker pengguna harus melampirkan Daftar Perhitungan Jumlah MP. Pejabat penandatangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap 3 (tiga) Subdit.000. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut: 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. Dalam pengajuan SPM-TUP/ GUP/ LS PNBP ke KPPN.Nomor rekening pihak ke tiga (PLN. PDAM) 11) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Perjalanan dinas: Surat Tugas SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) Kuitansi Daftar nominatif 12) Kelengkapan SPP untuk PNBP UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp.(lima ratus juta rupiah). Telkom. DTP 50  . Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan maksimum pencairan (MP). b. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran.000. 6) Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP- TUP/SPPGUP/SPP-LS. SSBP (Surat Setoran Bukan Pajak).2.. 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak.

LS belanja pegawai dan LS non belanja pegawai. 3. Berikut ini digambarkan proses bisnis penerbitan SPM UP. GUP.6. Subdit. DTP 51  . sampai dengan pembayarannya diterima di Satker pada gambar 3.5.4. 3. 3.untuk disampaikan kepada KPPN (lembar pertama dan kedua) dan sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan (lembar ketiga).7 dan 3.8. TPBE.

Gambar 3. TPBE.4 Subdit. DTP 52  .

5 Subdit. DTP 53  .Gambar 3. TPBE.

Gambar 3. DTP 54  . TPBE.6 Subdit.

7 Subdit. TPBE.Gambar 3. DTP 55  .

Gambar 3. DTP 56  .8 Subdit. TPBE.

beserta lampirannya sesuai ketentuan dan jenis pembayaran. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. Pejabat Penanda tangan SPM/penguji SPP. Subdit. Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket Penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM. b. c. Pencairan Dana 1) Dokumen sebagai Persyaratan dalam Penerbitan SP2D Prosedur Umum Pembayaran Oleh KPPN berdasarkan Keppres 42 tahun 2002 mewajibkan KPPN hanya dapat melakukan pembayaran setelah menerima dokumen-dokumen sebagai berikut: a. Tembusan SK Pengangkatan Pengelola Anggaran dari Menteri/Pimpinan Lembaga / Pejabat yang ditunjuk dan spesimen tandatangan yaitu: Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). tembusan surat usulan pejabat perbendaharaan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dan surat pemberitahuan dari KPA Satker yang dilampiri spesimen tanda tangan pejabat baru.4. Dokumen Penyediaan Dana (DIPA/Dokumen Lain yang disamakan). TPBE. DTP 56  . mengisi check list kelengkapan berkas SPM. Surat Perintah Membayar (SPM). 2) Prosedur Penerbitan SP2D Prosedur penerbitan SP2D dilakukan ketika SPM disampaikan kepada KPPN. Satker menyampaikan Berita Acara serah terima jabatan. Bendahara Pengeluaran. dengan langkah-langkah sebagai berikut (Perdirjen 66 tahun 2005 dan Kep297/PB/2007) : a. c. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. Pejabat Pembuat Komitmen/Penanggung jawab kegiatan (PPK). Jika ada pergantian pejabat perbendaharaan. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM (front office) memeriksa kelengkapan SPM. meneliti kelengkapan SPM dan lampirannya. yang memuat alokasi dana yang dibebankan pada SPM yang disampaikan. b.

Untuk keperluan pembayaran TUP : Rincian rencana penggunaan dana. Surat Keputusan Pemberian honor/vakasi dan SPK lembur. Approval program dari ADB. untuk keperluan pembayaran GUP : Untuk yang dibiayai dari rupiah murni: SPTB. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa dana Tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). Surat-surat Keputusan Kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji. bila dipersyaratkan. DTP 57  . Subdit.Kelengkapan SPM dimaksud meliputi: Untuk keperluan UP : Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. apabila terdapat sisa dana TUP harus disetorkan ke Rekening Kas Negara. dan tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung.000. TPBE. Faktur pajak dan SSP.000 (dua ratus juta rupiah). Rekapitulasi pengeluaran per kategori NPHLN. Surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk TUP diatas RP 200. Untuk yang dibiayai dari PHLN: SPTB. untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai : Daftar Gaji/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Lembur/Honor dan Vakasi yang ditanda tangani oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran.

Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) untuk persyaratan pembayaran uanga makan. Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. DTP 59  . menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai : Resume Kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Perjalanan Dinas. e. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: Penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan. Pengujian substantif dilakukan untuk: menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK. menguji faktur pajak beserta SSPnya. Surat Keputusan. TPBE. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). Surat Setoran Pajak (SSP). memeriksa kebenaran dalam penulisan. memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. Pengujian SPM Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersifat substansif dan formal. Subdit. d. Daftar Nominatif Perjalanan Dinas). SPTB. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. Pengujian formal dilakukan untuk: mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. Pengembalian SPM kepada penerbit SPM.

Daftar penguji lembar ketiga sebagai pertinggal di KPPN. Penerbitan SP2D oleh KPPN dilakukan dengan cara: SP2D diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga). Subdit. Ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan untuk kemudian disalurkan ke Satker yang bersangkutan SP2D lembar ke-2 dan SPM lembar ke-2. Daftar Penguji dibuat dalam rangkap 3 (tiga) sebagai pengantar SP2D dengan ketentuan: Ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan diketahui oleh Kepala KPPN serta dibubuhi stempel timbul kepala KPPN. Sedangkan untuk SP2D lembar-1 disalurkan ke Seksi Bank/Giro Pos. SP2D lembar-1 ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan dibubuhi stempel timbul yang nantinya disampaikan kepada Bank Operasional. Lembar kesatu dan lembar kedua dilampiri asli SP2D dikirimkan melalui petugas kurir KPPN ke BI/Bank Operasional /Sentral Giro. Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut: SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat tanggal 25 sebelum bulan pembayaran. Daftar penguji lembar kedua setelah ditandatangani oleh BI/ Bank Operasional/ Sentral Giro dikembalikan kepada KPPN melalui petugas kurir yang sama. SP2D Gaji lainnya paling lambat 5 hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.Pengesahan Surat Perintah Membayar Penggantian UP (SPM-GUP) Nihil atas TUP dilaksanakan KPPN dengan membubuhkan Cap pada SPM GU Nihil dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan. TPBE. f. disalurkan ke Seksi Verifikasi dan Akuntansi SP2D lembar ke-3 dan SPM lembar ke-1. SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu jam setelah diterima SPM secara lengkap. DTP 60  .

 DTP 61  . TPBE.Berikut ini digambarkan proses bisnis penerbitan SP2D UP/TUP/GUP/LS sampai dengan pembayarannya diterima di Satker pada gambar 3. Subdit.9.

 DTP 62  .Gambar 3.9 Subdit. TPBE.

perencanaan kas yang baik.5. Kerangka Peraturan perundangan Dalam peraturan perundangan terdapat beberapa pasal terkait manajemen kas yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengembangan manajemen kas di sektor pemerintahan. c. 2004). 2) Mengurangi risiko. Manajemen kas dengan demikian melibatkan baik unit di dalam pemerintah itu sendiri (antara central treasury dengan spending agencies. b. pencarian sumber Subdit. berikut biaya yang terkait dengan idle cash tersebut. Tujuan Pelaksanaan manajemen kas secara efektif pada sektor pemerintahan memiliki beberapa tujuan (Williams. 2004). yaitu risiko operasional terkait pembayaran tagihan pemerintah dan penerimaan negara secara tepat waktu. misalnya) dan antara pemerintah dengan sektor lain (misalnya adalah sektor keuangan). yaitu : 1) Minimalisasi jumlah idle cash balance pemerintah terutama yang terdapat pada perbankan. terutama. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa fungsi perbendaharaan meliputi. Sementara Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 Tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah mendefinisikan perencanaan kas sebagai kegiatan memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas dalam jangka waktu tertentu sehingga negara memiliki saldo kas cukup untuk membiayai kewajiban negara dalam waktu tertentu dalam rangka pelaksanaan APBN. DTP 63  . Definisi Manajemen kas di sektor pemerintahan merupakan suatu strategi dan proses yang terkait dengan pengelolaan secara cost-effective saldo dan aliran kas jangka pendek pemerintah (Williams. 3) Melalui berbagai instrumen pemerintah (seperti Treasury Bills dan pinjaman pemerintah jangka pendek) memberikan beberapa opsi kepada Pemerintah terkait pengelolaan kebutuhan pembiayaan pemerintah sehingga dapat menghindari risiko pembiayaan berbiaya tinggi. TPBE. Manajemen Kas a.

pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Kementerian Negara/Lembaga dan pihak-pihak lain yang terkait dengan penerimaan dan pengeluaran APBN wajib menyampaikan proyeksi penerimaan dan pengeluaran secara periodik kepada Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara. Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat menentukan strategi manajemen kas untuk mengatasi kekurangan kas maupun untuk menggunakan kelebihan kas. jenis belanja. sasaran program. DTP 64  .38/PB/2008 tentang Penyampaian Subdit. Hal ini diimplementasikan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK. Selanjutnya pada ayat (4) disebutkan bahwa dalam rangka penyusunan perencanaan kas.39 Tahun 2007 Pasal 32 ayat 4). Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah.02/2008 Pasal 6 ayat (2) yang menyebutkan bahwa DIPA memuat uraian fungsi/sub fungsi. rincian kegiatan/sub kegiatan. Pasal 32 ayat (1) menyebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat bertanggung jawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal. program. berdasarkan perencanaan arus kas dan saldo kas minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. TPBE. kelompok mata anggaran/akun dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan Kementerian Negara/Lembaga. Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker Mekanisme koneksitas manajemen kas antara Ditjen Perbendaharaan sebagai kuasa BUN dengan Kementerian Negara/Lembaga/Satker yang ada saat ini adalah melalui penyampaian proyeksi penerimaan dan pengeluaran APBN oleh Kementerian Negara/Lembaga (PP No. Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa. Lebih mendalam mengenai proyeksi Penerimaan dan Pengeluaran/Belanja Kementerian Negara/Lembaga di atur melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 Tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE.

Direktorat Pengelolaan Kas Negara selambat-lambatnya minggu ketiga sebelum bulan berkenaan. 3) KPPN membuat rekapitulasi laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas yang diterima dari instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah dalam wilayah kerjanya.p. KPPN menyusun laporan sebagai berikut: a) Realisasi dan Perkiraan Belanja b) Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga 4) Laporan KPPN disampaikan kepada : a) Direktur Jenderal Perbendaharaan u.p. 4) KPPN menyampaikan laporan rekapitulasi rencana penerimaan dan pengeluaran kas kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. 2) Laporan Satker disampaikan ke KPPN paling lambat 3) Atas dasar laporan yang dikirimkan oleh Satker. c) Perkiraan Belanja Satuan Kerja. Proses penyampaian laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah (SE-02/PB/2006) adalah sebagai berikut: 1) Laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah agar disampaikan setiap bulan kepada KPPN.Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008. Direktur Pengelolaan Kas Negara Subdit. DTP 65  . 2) Laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas merupakan rencana penerimaan dan pengeluaran kas berjangka satu bulan ke depan dengan perincian rencana penerimaan dan pengeluaran perminggu. Sementara proses pelaporan realisasi dan perkiraan belanja Kementerian Negara/Lembaga adalah sebagai berikut (SE. TPBE. b) Kegiatan yang akan dilaksanakan secara kontraktual/non kontraktual.38/PB/2008): 1) Satker menyusun laporan sebagai berikut a) Kegiatan yang telah dikontrakkan dan belum lunas dibayar dalam DIPA.

serta melaporkannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan Penyusunan dan penyampaian laporan tersebut di atas dilakukan dengan menggunakan program aplikasi realisasi dan perkiraan belanja tahun anggaran 2008 (Peran 2008).11) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas.b) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. TPBE. dan proses bisnis penyusunan laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga (gambar 3. untuk selanjutnya menyusun rekapitulasi dan melakukan analisis. DTP 66  . Berikut adalah proses bisnis penyusunan laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kas instansi/satuan kerja pemerintah pusat/daerah (gambar 3.10). Subdit.

Gambar 3.10 Subdit. DTP 67  . TPBE.

 DTP 68  .11 Subdit.Gambar 3. TPBE.

disusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang terdiri dari Neraca. Sebelumnya aktifitas yang berkaitan dengan hal tersebut pernah dilakukan oleh Seksi Pendapatan di KPKN. 6. Arus kas. yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SA-KUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). Sedangkan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah melalui Surat Edaran Nomor SE-02/PB/2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan Dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah.e. Dalam sub bagian ini (sebagaimana diusulkan oleh banyak pihak) sekilas akan dibahas keterkaitan pengelolaan PNBP di Satker dan aktifitas perencanaan kas di Ditjen Perbendaharaan. Permasalahannya adalah tidak adanya sistem atau mekanisme untuk melakukan updating perkiraan penerimaan PNBP sesuai dengan realisasi selama tahun anggaran berjalan. Hal-hal yang berkaitan dengan penerimaan negara. Berkaitan dengan kondisi tersebut. Pertanggungjawaban Dalam rangka penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Salah satu sub sistem dari SA-BUN adalah Sistem Akuntansi Pusat (SiAP). Laporan Realisasi APBN (LRA) dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Rencana perkiraan PNBP merupakan bagian dari rencana penarikan dana dan perkiraan penerimaan (halaman III DIPA). yang terdiri dari Sistem Akuntansi-Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). SAI terdiri dari beberapa subsistem akuntansi yaitu Sistem Akuntansi Keuangan (SAK). Sistem Informasi Subdit. LKPP tersebut dihasilkan dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). Perbendaharaan (usulan Kanwil DJPBN Jambi). TPBE. DTP 69  . Sesuai dengan lampiran I dan III SE tersebut data PNBP merupakan salah satu elemen penting dalam rangka perencanaan Namun demikian dalam pelaksanaannya kurang efektif. terutama. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). sangat dimungkinkan untuk merevitalisasi penatausahaan dan pelaporan PNBP oleh Ditjen kas. Pengelolaan penerimaan negara di Satker setidaknya meliputi penerimaan pajak dan.

b. SSBC. SSP. Proses Bisnis di Satker selaku UAKPA: Setiap UAKPA wajib memroses dokumen sumber unuk menghasilkan laporan berupa LRA. DTP 70  . Dokumen penerimaan yang terdiri dari : Estimasi Pendapatan yang dialokasikan: (Pajak. Mencetak dan memverifikasi RTH dengan dokumen sumber. SSPB. Realisasi Pengeluaran : SPM beserta SP2D. 171/PMK. Prosedur dan tahapan sejak perekaman dokumen sumber sampai dengan pelaporan dalam rangka penyusunan laporan keuangan Kementrian Negara/Lembaga di tingkat UAKPA adalah sebagai berikut: Menerima dan memverifikasi dokumen sumber transaksi keuangan dan barang milik negara. Untuk kajian proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis kuasa BUN. Dalam rangka pelaksanaan selaku Pengguna sistem Anggaran akuntansi (PA) dan tersebut. maka pembahasan akan difokuskan pada proses bisnis dan koneksitas yang berkaitan dengan SAK di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) dan SiAP di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Bendahara Umum Negara (UAKBUN) Daerah-KPPN. TPBE.Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN).05/2007 tentang Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah dokumen sumber dalam pelaksanaan SAI untuk menyusun laporan keuangan di tingkat Satker yang antara lain berupa: a. PNBP dan Hibah pada DIPA dan dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA). Realisasi Pendapatan: Bukti Penerimaan Negara (BPN) disertai dokumen pendukung SSBP. dan dokumen lain yang dipersamakan. Sebagaimana diatur dalam Lampiran PMK RI No. SKO. Merekam dokumen sumber. Subdit. dan dokumen lain yang dipersamakan. Dokumen pengeluaran yang terdiri dari : Alokasi Anggaran DIPA. Ditjen Kementerian/Lembaga Perbendaharaan selaku BUN membentuk unit-unit akuntansi. dan Sistem Akuntansi-Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (SA-BAPP). dan dokumen lain yang dipersamakan. Neraca dan Catatan ata Laporan Keuangan Satuan Kerja.

Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPPA-W/UAPPA-E1 setiap semester. Mencetak Neraca. Subdit. TPBE. Mencetak dan mengirim laporan keuangan beserta ADK ke KPPN setiap bulan.12) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. DTP 71  . Melakukan rekonsiliasi data dengan KPPN dan menandatangani Berita Acara Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika terdapat kesalahan pada data UAKPA. dan menyampaikannya UAPPA-W/UAPPA-E1 beserta ADK setiap bulan.Mencetak dan memverifikasi buku besar. Melakukan back up data Berikut ini proses bisnis penyusunan Laporan Keuangan tingkat UAKPA (gambar 3. Laporan Realisasi Anggaran.

12 Subdit. DTP 72  .Gambar 3. TPBE.

Melakukan proses perekaman dokumen sumber. Kiriman Uang (KU)-Keluar. DTP 73  . yang dihasilkan dari Sistem Akuntansi Umum (SAU). SSBP.Proses bisnis di KPPN selaku UAKBUN Daerah-KPPN: Selaku UAKBUN-Daerah. Nota Kredit. SPM. Seksi Persepsi. Memo Penyesuaian. Jika dalam proses verifikasi tersebut ditemukan kesalahan. dan Seksi Verifikasi dan Akuntansi. SP2D. SSBC. TPBE. Seksi Verifikasi dan Akuntansi menerima data digital dari Seksi Bank dan Giro berupa file yang kemudian di-up load dengan menggunakan aplikasi SIK-AK. LRA dan Neraca SAU dan data transaksinya merupakan bahan rekonsiliasi dengan Satker di wilayah kerja KPPN bersangkutan. Laporan Keuangan dimasud terdiri dari: Laporan Arus Kas dan Neraca KUN yang dihasilkan dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Neraca SAU. 2. Daftar Penguji dan bukti pendukung lainnya. Nota Debet. c. d. Menerima dan menatausahakan dokumen sumber yang berupa: a. Seksi Verifikasi dan Akuntansi merekam dokumen sumber berupa Estimasi pendapatan yang dialokasikan (DIPA). KU-Masuk dan dokumen pendukung lainnya. DIPA. maka Seksi Verifikasi dan Akuntansi mengirimkan kembali kepada Seksi Bank dan Giro serta Seksi Subdit. b. Seksi Bank/Giro Pos. Prosedur dan tahapan sejak penerimaan dokumen sumber sampai dengan penyampaian LKPP kepada unit akuntansi yang lebih tinggi. proses perekaman dokumen sumber dilakukan di Seksi Perbendaharaan. adalah sebagai berikut: 1. SP3. SSPB. ADK SPM yang diterima oleh Sub-bagian Umum dari Satker yang selanjutnya digunakan oleh Seksi Perbendaharaan dalam proses pengujian SPM. Wesel Pemerintah. Bukti Penerimaan Negara (BPN) antara lain: formulir SSP. KPPN memroses data transaksi penerimaan dan pengeluaran yang berasal dari Rekening KUN untuk menghasilkan Laporan Keuangan KPPN. Kemudian Seksi Verifikasi dan Akuntansi melakukan verifikasi transaksi keuangan dan akuntansi. dan dokumen lain yang dipersamakan termasuk revisinya.

Membuat berita acara rekonsiliasi (BAR) yang ditandatangani oleh Kepala KPPN dan Kuasa Pengguna Anggaran.13) untuk mempermudah pemahaman dari uraian diatas. b. TPBE. Melakukan rekonsiliasi data transaksi Sistem Akuntansi Umum (SAU) dengan data transaksi Sistem Akuntansi Instansi (SAI). d. DTP 74  . Mencetak laporan keuangan SAKUN dan SAU tingkat KPPN Setelah melakukan proses posting. Berikut ini proses bisnis penyusunan Laporan Keuangan pada UAKBUNDaerah (KPPN) (Gambar 3. Subdit. Seksi Verifikasi dan Akuntansi mencetak Laporan Keuangan Tingkat KPPN yang dihasilkan dari setelah melakukan proses posting data. maka dilanjutkan dengan proses posting. 5. Menerima ADK dari satuan kerja (UAKPA) setiap bulan. Mengirim Salinan BAR yang telah ditanda tangani Kepala KPPN dan KuasaPengguna Anggaran ke Kanwil DJPBN. Pengiriman data dan Laporan Keuangan.Apabila dalam aktivitas tersebut di atas tidak ditemukan kesalahan. KPPN mengirimkan data SAU dan SAKUN berupa ADK ke Kanwil DJPBN sesuai dengan periode yang ditentukan. 4.Perbendaharaan. e. Melakukan up load ADK ke dalam Aplikasi Seksi Verifikasi dan Akuntansi. Melakukan rekonsiliasi laporan keuangan SAU dengan satuan kerja (UAKPA) a. c. 3. Laporan yang dihasilkan SAKUN dan SAU untuk tingkat KPPN.

Gambar 3. DTP 75  . TPBE.13 Subdit.

14). TPBE. Subdit. Berikut ini adalah usulan bisnis proses LPJ Bendahara instansi (Gambar 3. Perlu adanya kesamaan persepsi apakah peraturan terkait penyusunan LPJ Bendahara masih efektif dan masih diperlukan. DTP 76  .Proses bisnis pertanggungjawaban bendahara instansi di Satker (usulan Direktorat Pengelolaan Kas Negara) Terdapat usulan agar mekanisme pertanggungjawaban bendahara instansi melalui Laporan Pertanggungjawaban Bendahara (LPJ Bendahara) tetap digunakan sebagai salah satu laporan manajerial yang melengkapi laporan akuntabilitas (SAI). Setidaknya telah diusulkan agar terhadap LPJ Bendahara dilakukan mengikuti mekanisme rekonsiliasi sebagaimana yang dilakukan oleh unit-unit akuntansi dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).

14 Subdit. DTP 77  .Gambar 3. TPBE.

7. Rekonsiliasi tingkat nasional antara K/L Pusat dan Dit PKN DJPBN. Cara menggunakan Aplikasi RKAKL ini dengan memasukkan password rkakl. 5. Kanwil DJPBN membuat rekapitulasi hasil LPJ Bendahara per KPPN yang ada di wilayah kerjanya. dalam hal ini Direktorat Pengelolaan Kas Negara (Dit PKN). Instansi Vertikal mengirimkan data hasil dari verifikasi LPJ ke K/L Pusat untuk kemudian dilakukan rekapitulasi dan dijadikan bahan rekonsiliasi tingkat nasional dengan departemen Keuangan selaku BUN. Hasil dari rekonsiliasi merupakan sumbangan data dalam penyusunan LKPP. 6. DTP 78  . 2. Rekapitulasi per KPPN yang dibuat oleh Kanwil DJPBN dikirimkan ke Dit PKN DJPBN sebagai bahan untuk rekonsiliasi tingkat nasional dengan K/L. Setelah rekonsiliasi selesai. saldo kas pada Bendahara Penerimaan dan Saldo kas pada Bendahara Pengeluaran. DJPBN.Keterangan gambar: 1. TPBE. Aplikasi RKAKL digunakan oleh Satuan Kerja (Satker) untuk membuat Rencana Kerja yang akan dilaksanakan pada tahun yang bersangkutan dan juga Rencana Anggaran yang akan digunakan untuk Tahun Anggaran tersebut. Bendahara Instansi melakukan rekonsiliasi internal dengan unit SAI/UAKPA pada Satker yang bersangkutan untuk menentukan angka pasti yang akan dicantumkan pada LPJ Bendahara. C. Aplikasi RKAKL Aplikasi RKAKL adalah Aplikasi Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga yang dimiliki oleh setiap Satuan Kerja (Satker) yang terdapat pada Kementerian/Lembaga. 3. Yang mana Aplikasi RKAKL ini akan digunakan sebagai bahan untuk menerbitkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). berupa data jumlah rekening Bendahara K/L. Subdit. Bendahara Instansi menyampaikan hasil LPJ Bendahara tersebut kepada KPPN (Bendahara Penerimaan di Seksi Bendahara Umum dan Bendahara Pengeluaran di Seksi Perbendaharaan) untuk dilakukan verifikasi. 4. Hasil dari verifikasi LPJ tersebut oleh Satker dikirimkan ke Instansi Vertikal di lingkungan Kementrian Lembaga (K/L) tersebut. Hasil verifikasi tingkat Satker oleh KPPN dikirimkan ke Kanwil DJPBN. Aplikasi-aplikasi yang terdapat di Satuan kerja dan keterkaitan antar aplikasi 1.

Laporan Blokir. Ubah Program Kepemimpinan. Cetak Uraian. Subdit. Laporan MAK.Setelah password diinput maka user sudah dapat menggunakan Aplikasi RKAKL dengan masuk kedalam Menu-Menu yang tersedia. Sasaran Program. Fungsi/ Kementrian/Lembaga/Unit. Propinsi/Kab/Kota. Registrasi. Info. Dan dari masing-masing Menu tersebut mempunyai beberapa Sub Menu yaitu : RKA-KL yang terdiri dari 6 Sub Menu : Rincian Belanja. Laporan per-unit. • Referensi yang terdiri dari 19 Sub Menu : Standar Biaya Umum. Ubah KPPN. Program. Laporan per-program. Laporan per-Prov/Unit. Perbaikan Data. • Keluar yang terdiri dari 2 Sub Menu : Keluar. Laporan. DTP 79  . Utility. Kegiatan Fungsi/Sub Prioritas. Ubah Lokasi Kegiatan. Jenis Belanja s/d MAK-P. • • KPJM yang terdiri dari 1 Sub Menu : Laporan KPJM/MTEF. Penandatangan. Gabung Data. KPPN. KPJM. Laporan per-Prov/Program. Sub Kegiatan. Laporan kegiatan prioritas. Adapun aplikasi RKAKL ini mempunyai 6 Menu yaitu : • • • • • • • RKA-KL. Konversi Kode MAK/Akun. Restore Data RKAKL. • Utility yang terdiri dari 11 Sub Menu : Backup Data RKAKL. Backup Data DIPA. Kegiatan Prioritas. Kurs. Laporan mengikat/PNBP. Laporan Sub Kegiatan. Pendapatan/PNBP. Kegiatan. Keluar. Jadwal Penarikan/Penerimaan. Satuan Kerja. Tahun Anggaran. Split Data. TPBE. Cetak Rincian. Referensi. Standar Biaya Khusus. Cetak Ringkasan. Keterangan MAK. Password. Hapus Data. Laporan yang terdiri dari 10 Sub Menu : POK.

Data Sisa Kontrak.2. Utility terdiri dari 3 Sub Menu : Back-up. Dengan demikian setiap Satuan Kerja yang mengelola pembayaran belanja pegawai PNS Pusat wajib menggunakan aplikasi ini. 3. Laporan. DTP 80  . Adapun aplikasi Peran ini mempunyai beberapa Menu yaitu • • • • • • • • Input Data. Transfer Data ke KPPN. TPBE. Gabung. Referensi Pejabat. Utility dan Keluar Aplikasi. Keluar Aplikasi terdiri dari 1 Sub Menu : Keluar. Data Rencana Pencairan. Laporan terdiri dari 1 Sub Menu : Cetak Lampiran. Aplikasi Peran Aplikasi Peran adalah aplikasi perencanaan anggaran yang digunakan untuk mengetahui perencanaan anggaran pada masing-masing Satuan Kerja (Satker) yang ada pada Kementrian / Lembaga. Aplikasi Gaji Pegawai Pusat (GPP) Aplikasi GPP 2008 Satker ini adalah aplikasi yang diberikan ke seluruh Satuan Kerja pengelola dana APBN untuk keperluan pembayaran PNS Pusat. Aplikasi ini juga dipergunakan untuk mempermudah monitoring anggaran yang terdapat pada masing-masing Satuan Kerja (Satker). Dan dari masing-masing menu tersebut terdiri dari beberapa Sub Menu yaitu : Input Data terdiri dari 4 Sub Menu : Setting Aplikasi. Subdit.

Melalui Aplikasi tersebut Petugas Administrasi Pengelolaan Belanja Pegawai (PAPBP) dapat mencatat. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah untuk memberikan kemudahan dalam mengelola data gaji para pegawai di lingkungan satuan kerja bersangkutan. menghitung berbagai macam belanja pegawai seperti Gaji Induk (Bulanan). Uang Duka Wafat. Referensi. KP4. 81  Subdit. Pegawai. SSP. Laporan. Pemanfaatan data untuk keperluan informasi kepegawaian PNS Pusat beserta data gajinya. Aplikasi ini didesain sesederhana mungkin (user friendly). dan Gaji ke13. uang lembur . namun demikian tetap menghendaki pengisian selengkap mungkin elemen data masingmasing pegawai serta memperhatikan referensi maupun setting yang ada. Gaji Susulan. Menciptakan adanya standarisasi sistem. Utility. SKPP dan Surat Permintaan Uang Duka. TPBE. Adapun Aplikasi GPP mempunyai beberapa Menu yaitu • • • • • • • • • • Setting. Monitoring. Gaji. Dan memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan bagi KPPN dalam menguji daftar gaji dan penerbitan SP2D Gaji. SPT Pajak dll. Kirim. secara manual. Uang Duka Tewas. Tambahan. Keluar. Tujuan umum yang ingin dicapai dengan komputerisasi penggajian adalah meningkatkan kecepatan dan ketepatan dalam penyelesaian pembayaran Belanja Pegawai khususnya gaji PNS Pusat. uang makan PNS. DTP . Aplikasi ini juga digunakan untuk mencetak berbagai daftar permintaan pembayaran belanja pegawai. Gaji Terusan. Kekurangan Gaji. Persekot Gaji. termasuk kartu pengawasan pembayaran gaji sehingga satuan kerja tidak perlu melakukan pengkartuan. Dengan demikian output aplikasi ini akan benar-benar valid sesuai dengan yang diharapkan.

Dan dari masing-masing Menu tersebut terdiri dari beberapa Sub Menu : • Setting terdiri dari 6 Sub Menu: Konfigurasi. Backup. Status Kawin Awal Tahun. Tunjangan PNS. Daftar Potongan. RUH Gaji. Pencarian Pegawai. SKPP. Departemen. Surat Permintaan Uang Duka. Uang Lembur. Kirim Pegawai Pindah ke KPPN. Proses Gaji Dokter / Bidan PTT. TPBE. Satker. R/U/H Kekurangan Gaji. DTP 82  . Status Keluarga. • Referensi terdiri dari 20 Sub Menu: Tarif. Daftar Gaji Hakim. Monitoring Tunggakan. • Gaji terdiri dari 8 Sub Menu : Proses Perhitungan Gaji. Setting Penomoran. Golongan. Kekurangan Gaji. Setting Pejabat. Data masukan yang diperlukan dalam Aplikasi Gaji PNS Pusat adalah sebagai berikut : Subdit. KPPN. Daftar Pegawai Non Aktif. Tunjangan Umum. Status Pegawai. • • • Utility terdiri dari 6 Sub Menu : Load Master. • Pegawai terdiri dari 9 Sub Menu : Data Pegawai. Kekurangan Gaji Manual. Restore. Hapus Data. Setting Referensi Anak Satker. Taperum. Jenis Gaji. Dokter Bidan PTT. Mengindek. Lokasi. Monitoring terdiri dari 6 Sub Menu : Monitoring Gaji Belum Load. Tambahan terdiri dari 4 Sub Menu : Uang Makan. Daftar Pengawasan Gaji. Status Kawin. Kirim terdiri dari 3 Sub Menu: Kirim Gaji ke KPPN. Unload Master. Kartu Pegawai. Daftar Gaji. Agama. Monitoring Pegawai Pensiun. Kirim Data Pegawai Pindah. Tunjangan Wilayah terpencil. Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Tentang Aplikasi. Monitoring Potongan Lain. Keluar. Monitoring Utang Lebih. Setting Anak Satker. Penyamaan Data. Tunjangan Khusus Papua Hakim. • • • Laporan terdiri dari 4 Sub Menu: Cetak Gaji. Terima Data Rekon dari KPPN. Monitoring Anak Dewasa. Cetak Gaji Dokter / Bidan PTT. Terima Data Pegawai Pindahan. Surat Permintaan Persekot Kekurangan Gaji Manual. No Urut Pegawai. Tunjangan Khusus Papua. Setting Password. R/U/H Gaji.

a. Data

Pegawai

Satuan

Kerja

dan

setting

tunjangan-tunjangan

struktural/fungsional yang ada dalam Satuan Kerja. b. Data setting/referensi yang perlu diisi sebelum menjalankan menu yang lain dan akan digunakan sebagai data acuan. Sedangkan hasil keluaran yang utama dari Aplikasi GPP adalah Cetak Daftar Gaji; Cetak Rekapitulasi Gaji; Cetak Surat Setoran Pajak; Kartu Pegawai; Kartu Perubahan Pegawai; KP4 (Surat Keterangan untuk Mendapatkan Tunjangan Keluarga); Rekap SPT Tahunan; Cetak SPT Tahunan; Surat Permintaan Persekot; Cetak Kartu Hutang Pegawai; Uang Makan; Uang Lembur; SKPP; Slip Gaji; Surat Permintaan Persekot Gaji; Laporan-laporan hasil monitoring.

4. Aplikasi SPM Aplikasi SPM adalah sebuah aplikasi yang digunakan oleh Satker-satker untuk membuat Surat Perintah Membayar yang akan dibawa ke KPPN untuk dilakukan proses pencairan dana. Aplikasi SPM ini juga terdapat 2 sifat bentuk Aplikasi yaitu Aplikasi SPM bersifat Stand Alone dan Aplikasi SPM yang bersifat Network. Dimana Aplikasi SPM Stand Alone yang digunakan dengan 1 buah Personal Komputer atau Laptop yang hanya digunakan oleh 1 orang saja tanpa bisa terkoneksi dengan Aplikasi SPM di Personal Komputer lainnya. Sedangkan untuk Aplikasi SPM Network adalah Aplikasi yang diinstall ke dalam sebuah server pada 1 satker yang mana satker tersebut mempunyai beberapa client yang dapat menggunakan Aplikasi SPM tersebut secara bersamaan. Yang mana Aplikasi SPM ini akan berhubungan dengan Aplikasi SP2D pada KPPN. SPM dibuat atas dasar dokumen gaji, pembayaran pekerjaan pada pihak ketiga, uang persediaan atau semua dokumen lain berhubungan dengan pencairan dana pada satker yang terdapat dalam DIPA satker tersebut. Yang mana aplikasi SPM ini akan berhubungan dengan Aplikasi SP2D yang ada pada seluruh KPPN. Dan data dari SPM ini juga akan berhubungan dengan beberapa aplikasi lainnya seperti Aplikasi SAKPA pada Satker. Subdit. TPBE, DTP 83 

Model pengoperasian Aplikasi SPM Network, sebagai berikut : a. Program Startup Sistem multi user ini memungkinkan client untuk mengakses data yang ada pada server secara bersamaan dengan tingkat kewenangan yang diberikan oleh supervisor. Agar Aplikasi SPM Network ini bisa dijalankan oleh client, harus dijalankan terlebih dahulu program startup_spm08.exe. Program startup_spm08.exe hanya bisa dijalankan dengan user ID: startup dan password: startup. Setelah startup ini dijalankan maka Database SPM sudah bisa diakses oleh semua client yang ada. Semua satker yang sedang menggunakan Aplikasi SPM akan tampak pada "Daftar User yang sedang Online." Jika User keluar dari Aplikasi SPM secara normal, maka User yang bersangkutan otomatis akan hilang dari daftar tersebut. Dalam Aplikasi SPM Network, satu User ID hanya dapat dipakai oleh satu komputer client. Oleh karena itu jika terjadi hal-hal yang tidak normal, seperti komputer 'hang', maka Supervisor bisa melakukan 'Disconnect User' agar User ID yang bersangkutan bisa digunakan lagi.Tombol 'Shutdown' digunakan untuk menonaktifkan Database yang berarti Client tidak bisa mengakses Database (lawan dari startup). b. Program Aplikasi SPM Setelah startup Database dijalankan, maka client dapat menjalankan program Aplikasi SPM di komputer masing-masing. Default yang digunakan untuk menjalankan Aplikasi SPM Network pertama kali adalah User ID :super dan Password: super. Jika berhasil maka akan muncul tampilan Menu Utama dan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan setting referensi satker pengguna Aplikasi SPM. Adapun aplikasi SPM ini terdapat 8 Menu yaitu : • Pagu, • SPM, • Monitoring, • Referensi I, • Referensi II, • Utiliti, • Peraturan dan Subdit. TPBE, DTP 84 

• Keluar. Dan masih masing-masing menu tersebut mempunyai beberapa sub Menu yaitu : • Menu Pagu yang terdiri terdiri dari 6 Sub Menu : R/U/H Pagu; Transfer Pagu; R/U/H SKPA; Cetak SKPA; Transfer SKPA; Terima SKPA. • Menu SPM yang terdiri dari 10 Sub Menu : R/U/H SPM; R/U/H SPM Pengembalian Penerimaan; R/U/H SPM Pembagian Hasil Penerimaan; R/U/H SPM Imbalan Bunga; R/U/H SPM REKSUS (KPPN Khusus); R/U/H SPM BLU; Cetak SPM; Cetak SPM KPPN Khusus; Catat Nomor SP2D; Load Master. • Menu Monitoring terdiri dari 3 Sub Menu : Monitoring Penyekesaian SPM; Monitoring Load Master; Monitoring Kontrak. • Menu Referensi I terdiri dari 19 Sub Menu : Satker; KPPN; Nomor SPM; User; Bank/Pos; Bendaharawan; Pejabat; Jenis Dokumen; Jenis SPM; Kewenangan Pelaksanaan; Cara Bayar; Jenis Pembayaran; Sifat Pembayaran; Beban; Jenis Bantuan; Sumber Dana; Cara Penarikan; KPP; Golongan. • Menu Referensi II terdiri dari 13 Sub Menu : Fungsi-Sub FungsiProgram; Kegiatan; Sub Kegiatan; Kementerian; Lokasi / Dati II; Lender; Valuta Asing; Pinjaman; Kategori Pinjaman; Register; Mata Anggaran; Konversi Mata Anggaran; Dokumen Pengesahan. • Menu Utility terdiri dari 12 Sub Menu : Transfer Data SPM; Backup Data Pagu dan Transaksi; Restore Data Pagu dan Transaksi; Hapus Data Transaksi; Bersihkan Data Sampah; Cek Data Ganda; Reindeks Database; Backup Referensi; Restore Referensi; Copy Referensi; Split Tabel Satker; Kalender. • Menu Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Informasi; Keluar Aplikasi.

Subdit. TPBE, DTP

85 

5. Aplikasi Persediaan Aplikasi persediaan adalah aplikasi yang digunakan untuk mendukung aplikasi lainnya yaitu Aplikasi Simak-BMN. Dimana data dari persediaan akan dikirimkan ke Aplikasi Simak-BMN. Dan data persediaan mendapat inputan dari SPM, SP2D, Kuitansi, Faktur, BAST/HIBAH, SPK. Untuk menggunakan Aplikasi Persediaan ini harus memasukkan user name, password dan IP Server yaitu untuk user name nya “umum”, password “umum”, IP Server “localhost”. Kemudian Klik tanda Check List pada Login. Setelah semua dilakukan maka kita sudah dapat menggunakan Aplikasi Persediaan tersebut. Adapun aplikasi Persediaan ini terdiri dari beberapa Menu yaitu : • • • • • Referensi, Transaksi, Laporan, Utility, Keluar.

Menu-menu yang ada pada aplikasi persediaan ini terdiri dari beberapa Sub Menu : • Referensi terdiri dari 9 Sub Menu : Tabel UAPB; Tabel UAPPB-E1; Tabel UAPPB-Wilayah; Tabel UAKPB; Tabel Wilayah; Tabel Kanwil; Tabel Subsub Kelompok Barang; Tabel Barang; Penandatangan. • • • Transaksi terdiri dari 4 Sub Menu : Persediaan Masuk; Persediaan Keluar; Koreksi ; Hasil Opname Fisik. Laporan terdiri dari 4 Sub Menu : Buku Persediaan; Laporan Persediaan; Laporan Rincian Persediaan; Daftar Transaksi. Utility terdiri dari 6 Sub Menu : Pengiriman ke Simak BMN, Penerimaan dari UAPKPB, Backup/Restore Database; Backup/Restore Referensi; Pengosongan Data; pengosongan Referensi. • Keluar.

Subdit. TPBE, DTP

86 

6. Aplikasi SIMAK-BMN Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN) sebagai sub sistem dari Sistem Akuntansi Instansi selain

Sistem Akuntansi Keuangan. Dengan demikian dapat dilakukan check and balance antara arus uang dan arus barang. SIMAK-BMN ditujukan untuk

meningkatkan pemahaman serta kontrol yang sistematis terutama perlengkapan/ rumah tangga atau yang semacamnya sehingga sesuai struktur Unit Akuntansi Barang melekat kewajiban untuk penyusunan laporan barang milik negara dalam rangka penyusunan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. SIMAK-BMN dan SAK sebagai sub sistem harus saling berjalan secara simultan. Selain itu, SIMAK-BMN juga menyatukan konsep manajemen barang dengan pelaporan untuk tujuan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dalam bentuk neraca. Sehingga dengan demikian SIMAK-BMN dapat memenuhi kebutuhan manajerial dan pertanggungjawaban sekaligus. Untuk dapat menggunakan Aplikasi SIMAK-BMN ini kita harus melakukan login terlebih dahulu dengan cara masuk pada menu login. Kemudian input user id ”admin”, password ”admin”, IP Server ”localhost” kemudian input tahun anggaran pada tahun berjalan. Setelah semua proses input pada menu login selesai kemudian klik masuk. Jika tidak ada kesalahan lagi pada proses input menu login maka kita sudah dapat masuk pada semua menu yang ada pada Aplikasi SIMAK-BMN. Adapun aplikasi SIMAK-BMN terdiri dari beberapa menu yaitu • • • • • • Tabel Referensi, Transaksi Buku/Daftar, Laporan, Utility, Keluar.

Menu-menu yang terdapat pada Aplikasi SIMAK-BMN ini terdiri dari beberapa Sub Menu :

Subdit. TPBE, DTP

87 

Penerimaan dari Persediaan. • Laporan terdiri dari 6 Sub Menu : Laporan Barang Kuasa Pengguna. Daftar Barang Lainnya. Tabel UAKPB. Tabel Ruangan. • Transaksi terdiri dari 14 Sub Menu : Daftar BMN Tahun Lalu. Saldo Awal BMN. Tabel UAPPB-E1. Tabel UAPB. Back-Up. Tabel Barang. Perubahan dari DBR ke DBL/Sebaliknya. Laporan Barang Kuasa Pengguna Persediaan. Buku Barang Bersejarah. Kartu Identitas Barang. LKB.Log off. Pengiriman ke UAPPBW/UAPPB-E1. Barang Pihak Ketiga. Kartu Identitas Barang. Tabel Kanwil. Daftar Barang Ruangan. • Keluar terdiri dari 2 Sub Menu : Selesai. Kosongkan Transaksi. TPBE. Laporan Kondisi Barang. Laporan Posisi BMN di Neraca.• Tabel Referensi terdiri dari 10 Sub Menu : Tabel Penandatangan. Daftar Barang Barang Bersejarah. Catatan Ringkas BMN-KPB. Catatan Mutasi Perubahan (CMP). Perubahan Nilai Koreksi Tim Penerbitan Aset. Penghentian BMN dari Penggunaan. Penghapusan BMN. Subdit. Pengiriman ke UAKPA. Restore. BMN Bersejarah. Pengiriman ke KPKNL. • Utility terdiri dari 10 Sub Menu : Penerimaan dari UAPKPB. Ekstrakomptabel. Tabel UAPPB-W. Laporan Barang Pengguna Semesteran. Daftar Barang Persediaan. Daftar Barang Lainnya. Laporan Barang Pengguna Tahunan. Daftar Transaksi BMN. Dimana keluaran/laporan yang dihasilkan dari Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi BMN tingkat UAPB sebagai berikut: Daftar Barang Intrakomptabel. Catatan Ringkas BMN. Konstruksi Dalam Pengerjaan. Pembatalan Kiriman. Daftar Transaksi BMN UAPKPB. Perubahan BMN. Daftar Barang Belum Terdistribusi. Pencetakan Label. DTP 88  . Daftar Barang Pihak Ketiga. Tabel Jenis Transaksi. Tabel Wilayah. Perolehan BMN. Daftar Barang. • Buku/Daftar terdiri dari 11 Sub Menu : Buku Barang. Restore Database Versi Demo. Laporan Barang Pembantu Kuasa Penguna. Daftar Barang Ruangan.

Jika tidak ada kesalahan lagi pada proses input menu login maka kita sudah dapat masuk pada semua menu yang ada pada aplikasi SAKPA. Yang mana Aplikasi SAKPA ini digunakan oleh Satuan Kerja (Satker) untuk memproses data transaksi dalam penyusunan laporan. POK. TPBE. Setelah Data di Posting agar bisa mencetak Laporan Keuangan. Kemudian input user id ”admin”. untuk menghasilkan buku besar. Dan ADK dari Aplikasi SAKPA ini akan dikirimkan ke KPPN guna untuk melakukan Rekonsiliasi. dilanjutkan dengan proses Posting. Laporan Realisasi Anggaran. Setelah semua proses input pada menu login selesai kemudian klik masuk. Alur Data pada aplikasi Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA): • Satker memproses dokumen sumber berupa : Dokumen Anggaran Dokumen Belanja Dokumen Penerimaan Dokumen Aset Lain Dokumen Aset Tetap. bentuk file • : DIPA. Neraca Percobaan & Neraca. maka dilanjutkan dengan proses pencetakan Register Transaksi Harian untuk dilakukan proses Verifikasi. Aplikasi SAKPA ini akan menghasilkan beberapa laporan yaitu : LRA Pendapatan & LRA Belanja. maka Satker mengirim ADK ke Wilayah / Eselon 1.SSPB : Jurnal Neraca : ADK GL Aset Setelah dokumen sumber diinput atau di proses . DTP 89  . Estimasi Pendapatan : SPM/SP2D : SSBP/SSP/SSBC. Apabila pada proses rekonsiliasi tidak terjadi perbedaan.7. LRA Pengembalian Pendapatan dan Pengembalian Belanja. Subdit. Untuk dapat menggunakan Aplikasi SAKPA ini kita harus melakukan login terlebih dahulu dengan cara masuk pada menu login. • • • • Apabila tidak terdapat Kesalahan . password ”admin” kemudian input tahun anggaran pada tahun berjalan. Aplikasi SAKPA Aplikasi SAKPA ini merupakan sub sistem dari aplikasi SAI. Setiap bulan petugas akuntansi mengirim ADK komputer ke KPPN untuk dilakukan Rekonsiliasi dengan Data di KPPN.

• Selesai.Adapun aplikasi SAKPA terdiri dari beberapa menu yaitu : • • • • • • Tabel Referensi. Copy Data SPM. Utility. Wilayah. Rekap Potongan Pajak. Daftar Departemen Penerima Potongan/Setoran. Laporan Realisasi Pendapatan. Restore. Neraca. Laporan Realisasi Anggaran dari SKPA. Daftar Revisi DIPA. Pengiriman ke KPPN. Proses. Pengosongan Transaksi. Laporan terdiri dari 14 Sub Menu : Buku Besar. KPPN. Jurnal Standar. Neraca Percobaan. Laporan Realisasi Pendapatan Format 2007. Daftar SPM. Laporan Pengembalian Pendapatan. Laporan Pengembalian Belanja. Transaksi. DIPA Luncuran. Pengiriman Saldo Awal. Konversi Satker Berubah Kode. Selesai. Daftar Pengembalian Belanja Dari Potongan SPM. Bagan Akun Standar. TPBE. Laporan Realisasi Anggaran. • Utility terdiri dari 12 Sub Menu : Ubah Password. Penerimaan Aset dari UAKPB. Back-Up. Reindex Data. Daftar MAPING BAS. Output yang dihasilkan dari Aplikasi SAKPA adalah bentuk laporan antara lain: Subdit. Rekap Potongan PFK. Pengembalian Belanja. KANWIL. Laporan Realisasi Belanja. Copy File DIPA. Jurnal Neraca. Daftar SKPA. • Transaksi terdiri dari 12 Sub Menu : Daftar DIPA. Pengiriman ke UAPPA-W/UAPPA-E1. SATKER. Laporan Realisasi Anggaran DIPA Luncuran. Laporan Realisasi Belanja Format 2007. Daftar SPM-BLU. Pack Data. Pendapatan. Daftar MAKMAP. Estimasi Pendapatan. Tutup Tahun Dengan Satker Beda. Jurnal Koreksi. Menu-menu yang terdapat pada Aplikasi SAKPA ini terdiri dari beberapa Sub Menu : • Tabel Referensi terdiri dari 12 Sub Menu : BA-Es1. Tutup Tahun. • • Proses terdiri dari 4 Sub Menu : Posting. DTP 90  . Laporan. Fungsi-Subfungsi dan Program. Kegiatan-SubKegiatan.

• Buku Besar yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. DTP 91  . Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. TPBE. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara tahunan. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara bulanan. Laporan Realisasi Anggaran ini mencerminkan pendapatan dan belanja total dari satker setelah dikurangi dengan pengembalian. • Laporan Realisasi Anggaran Tahunan yang berfungsi menampilkan posisi realisasi anggaran sampai dengan periode satu tahun yang telah terealisasi. baik secara bulanan atau triwulanan. • Laporan Realisasi Belanja yang berfungsi untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. kode perkiraan. • Neraca Percobaan Semesteran yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. Subdit. • • • • Neraca Bulanan yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara bulanan. kode perkiraan. Neraca Tahunan yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara tahunan. • Neraca Percobaan Bulanan yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara semesteran. nama perkiraan dan posisi debet kreditnya secara bulanan per kode perkiraan. Laporan Realisasi Anggaran ini mencerminkan pendapatan dan belanja total dari satker setelah dikurangi dengan pengembalian. kode perkiraan. kode perkiraan. Neraca Semesteran yang berfungsi menampilkan aktiva dan kewajiban serta modal pada suatu periode tertentu secara semesteran. Digunakan untuk mengetahui saldo-saldo perkiraan buku besar pada tanggal tertentu untuk tahun anggaran berjalan. Laporan Realisasi Anggaran Semesteran yang berfungsi menampilkan posisi realisasi anggaran sampai dengan periode satu semester yang telah terealisasi. • Neraca Percobaan Tahunan yang berfungsi menampilkan semua kode transaksi.

• Laporan Realisasi Pengembalian adalah Belanja yang berfungsi LRA untuk Pengembalian Belanja laporan yang dipergunakan menampilkan pengembalian belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. • LRA Pengembalian Pendapatan Negara dan Hibah yang berfungsi laporan yang dipergunakan untuk menampilkan pengembalian pendapatan sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. baik secara bulanan atau triwulanan dengan format DIPA. Subdit.• Laporan Realisasi Belanja format DKKA yang berfungsi LRA Belanja format DKKA adalah laporan yang dipergunakan untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. TPBE. • Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah yang berfungsi laporan yang dipergunakan untuk menampilkan realisasi pendapatan sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi baik secara bulanan atau triwulanan. • Laporan Realisasi Belanja format DIPA yang berfungsi LRA Belanja format DIPA adalah laporan yang dipergunakan untuk menampilkan posisi realisasi anggaran belanja sampai dengan periode tertentu yang telah terealisasi. baik secara bulanan atau triwulanan dengan format DKKA. DTP 92  .

 DTP 93  . Keterkaitan antar Aplikasi yang terdapat pada Satuan Kerja (Satker) Hubungan Aplikasi yang terdapat pada Satker Perencanaan/ Monitoring Mulai Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Barang RKAKL Kegiatan/Anggaran DIPA Persediaan Kegiatan/Anggaran Laporan Asset Peran Kegiatan/Anggaran SIMAK-BMN Monitoring/.8.Perencanaan SPM Laporan Pencairan Dana GPP Laporan status pegawai Laporan Keuangan untuk Asset SAKPA Selesai Subdit. TPBE.

Dimana aplikasi ini dapat mengetahui jumlah pegawai yang ada dengan semua status yang akan digunakan untuk pembayaran pada pegawai tersebut. Dan akan menghasilkan SP2D yang akan dipergunakan sebagai bukti pembayaran. nama kegiatan.Penjelasan hubungan antar Aplikasi yang diatas : • Aplikasi RKA-KL adalah suatu aplikasi yang digunakan oleh Satuan Kerja untuk dapat mengetahui kegiatan apa yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan berjalan. waktu pelaksanaan kegiatan. mata anggaran yangdigunakan. Dimana dalam aplikasi RKA-KL ini akan menghasilkan detai dari semua kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari fungsi/subfungsi. Yang mana hasil dari aplikasi RKA-KL ini akan menjadi inputan untuk aplikasi DIPA. TPBE. • Aplikasi SPM adalah suatu aplikasi yang digunakan Satuan Kerja untuk melakukan pencairan dana di KPPN. biaya yang dibutuhkan untuk masing-masing kegiatan. Dimana Aplikasi SPM ini akan menghasilkan sebuah Surat Perintah Membayar yang dikeluarkan oleh Pejabat Penguji SPM yang dalam bentuk Softcopy dan Hardcopy yang nanti nya dari softcopy Aplikasi SPM ini akan dimasukkan dalam Aplikasi SP2D yang terdapat pada KPPN yang bersangkutan. Dimana aplikasi ini adalah suatu monitoring perencanaan untuk melakukan penarikan dan penerimaan dana melalui Aplikasi SPM. kegiatan/subkegiatan. • Aplikasi DIPA adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk dapat mengirimkan jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam setiap mata anggaran keuangan ke KPPN dimana tempat Satuan Kerja tersebut akan melakukan transaksi. DTP 94  . Dan hasil dari aplikasi GPP ini akan digunakan sebagai bahan untuk membuat SPM tentang Gaji. • Aplikasi Peran adalah suatu aplikasi yang digunakan oleh Satuan Kerja untuk membuat sebuah perencanaan dalam penerimaan dan pengeluaran yang akan dilakukan oleh Satuan Kerja tersebut dalam Tahun Anggaran yang berjalan. • Aplikasi Persediaan adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk membuat sebuah laporan persediaan dari Barang Milik Negara yang akan digunakan sebagai inputan Subdit. Dimana aplikasi SPM nanti dibuat berdasarkan DIPA yang ada pada masing-masing Satuan Kerja. • Aplikasi GPP adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk melakukan monitoring terhadap gaji pegawai pusat yang ada pada Satuan Kerja. Dan juga aplikasi DIPA ini berhubungan dengan Aplikasi SPM. Dimana aplikasi DIPA akan mengadopsi hasil outputan dari aplikasi RKA-KL yaitu jumlah total anggaran yang dibutuhkan untuk setiap mata anggaran kegiatan.

Fungsi Pengelolaan Keuangan. Dimana laporan keuangan aplikasi SAKPA ini adalah inputan dari semua hasil aplikasi yang ada pada Satuan Kerja. Dimana dalam Aplikasi Persediaan ini memproses tentang Aset Lancar pada Satuan Kerja. TPBE. Aplikasi ini secara garis besarnya berhubungan antara satu aplikasi dengan aplikasi yang lain. Yang mana laporan keuangan aplikasi SAKPA ini akan dilaporkan kepada KPPN untuk dilakukan rekonsiliasi terhadap laporan keuangan Satuan Kerja tersebut. Fungsi Pengelolaan Barang. • Aplikasi SIMAK-BMN adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk membuat laporan keuangan tentang barang milik Negara yang terdapat dalam Satuan Kerja tersebut. Tetapi diantara aplikasi ini ada yang terhubung secara sistem dan ada yang Subdit. Yang mana hasil dari aplikasi SIMAK-BMN ini akan menjadi inputan bagi aplikasi SAKPA dalam hal data penerimaan asset. Dan aplikasi SAKPA ini adalah laporan akhir keuangan yang dikelola oleh Satuan Kerja tersebut. • Aplikasi SAKPA adalah suatu aplikasi tentang laporan keuangan dari Satuan Kerja. Penjelasan dari gambar diatas adalah : Dalam Aplikasi diatas terdapat beberapa fungsi yaitu : • • • Fungsi Monitoring dan Perencanaan.dari Aplikasi lainnya yaitu Aplikasi SIMAK-BMN. DTP 95  .

sejak penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) hingga pelaporan dan pertanggungjawaban. SAKPA dan SIMAK-BMN yang juga sudah terhubung secara sistem dan terjadi penginputan manual yaitu R/U/H Data SPM & SP2D. SIMAK-BMN. R/U/H Penerimaan SKPA dan R/U/H Daftar / Jurnal Aset. 3. DIPA. Aplikasi SPM ada penginputan data R/U/H Pagu DIPA. dapat disimpulkan bahwa telah terdapat standar proses bisnis untuk tiap-tiap tahapan dalam siklus anggaran. dan pada Aplikasi SAKPA juga terdapat penginputan R/U/H Pagu DIPA. dan Aplikasi RKAKL adalah sebuah aplikasi yang hanya sebagai input dalam bentuk tertulis yang digunakan pada aplikasi lainnya. Sedangkan aplikasi SPM. Secara umum.hanya terhubung secara input saja. DTP 96  . 171/PMK. TPBE. 2. Aplikasi GPP. Persediaan dan SAKPA itu dapat berhubungan secara sistem tetapi dalam hal ini aplikasi terhubung secara sistem dan juga dapat terhubung sebagai input.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. Dimana dalam hal ini menjelaskan bahwa walaupun aplikasi sudah terhubung secara sistem tetapi aplikasi juga dapat dilakukan dengan cara penginputan manual sehingga mengakibatkan pengguna akan melakukan 2 penginputan yang sama. Beberapa ketentuan utama yang diantaranya meliputi Peraturan mengatur standar proses bisnis di Satker Direktur Jenderal Perbendaharaan No. D. Mengapa dikatakan seperti itu karena aplikasi-aplikasi ini melakukan penginputan manual juga seperti pada Aplikasi DIPA ada penginputan data R/U/H Data Pagu DIPA. Subdit. Dan juga antara aplikasi SPM. pembahasan pada Bab III difokuskan pada penyusunan process mapping yang bersifat cross functional-boundaries dan deskripsi dari aktivitas selama siklus APBN yang terkait dengan bisnis proses di Satker dan koneksinya dengan Ditjen Perbendaharaan. 66/ PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Bebab Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Peraturan Menteri Keuangan No. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. Seperti Aplikasi Peran.

Sedangkan Appemdix 2 memuat tinjauan atas proses bisnis Satker Badan Layanan Umum. saat ini tidak terdapat sebuah standar proses bisnis yang secara utuh untuk mengelola data komitmen/ kontrak dan mengintegrasikannya dengan bisnis proses lainnya yang terkait. 6. Namun demikian. standard proses bisnis saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pembagian dan model integrasi modular yang dikenal dalam international best practice sejalan dengan pengembangan SPAN. TPBE. Appendix 1 merupakan ringkasan dari penelitian World Bank atas pelaksanaan standar proses bisnis di salah satu Satker yang kiranya bermanfaat sebagai bahan kajian dan perbandingan.4. Misalnya. 5. yang untuk sementara belum menjadi fokus pembahasan dalam modul ini. Beberapa fitur baik dalam standar proses bisnis maupun sistem aplikasi saat ini yang diperoleh dari aktivitas process mapping akan sangat bermanfaat sebagai inisiasi untuk assessment yang lebih komprehensif dan penentuan model koneksitas proses bisnis dengan Satker di masa yang akan datang (future) yang akan dibahas pada bab selanjutnya dalam modul ini. 7. Subdit. ditambahkan Appendix 1dan 2. Pendekatan adhoc dalam mengikut sertakan Satker untuk keperluan perencanaan kas juga tidak sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan. Untuk melengkapi pembahasan dalam bab ini. DTP 97  . misalnya dengan manajemen kas. Tinjauan atas fitur dan integrasi sistem informasi dan aplikasi/ software menunjukkan bahwa sistem informasi di Satker saat ini sangat ter-fragmentasi dengan banyaknya menu untuk melakukan up-date/ mengubah data (multiple entry points).

Cash Planning Kondisi Saat ini: Perencanaan kas tahunan tidak disesuaikan secara periodik dengan komitment yang benar-benar dibuat selama tahun anggaran. kemampuan teknis dan hal-hal administratif lainnya. hasil analisis dan rekomendasi adalah sebagai berikut: Pelaksanaan Anggaran (Budget Execution) I. Pembahasan terkait dengan existing proses bisnis. Pelaksanaan anggaran merupakan tanggung jawab utama Satker. DIPA yang diterbitkan pada awal tahun anggaran memuat rencana kerja/pengadaan tahunan serta Rencana Penarikan Dana berkaitan dengan rencana kerja tersebut. DIPA yang ditetapkan pada awal tahun anggaran merupakan dasar bagi Satker untuk melakukan komitmen. Pembahasan dalam sub bagian ini meliputi sturktur organisasi. Pemisahan wewenang dan pembagian tugas di antara para pejabat pebendaharaan ditujukan untuk memwujudkan adanya mekanisme saling uji/ check-balance. 2008 SUMMARY Tujuan dari penelitian adalah untuk memberikan masukan kepada Departemen Pekerjaan Umum dalam rangka mendukung agenda reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. TPBE.Appendix I Departemen Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga Financial Management Assessment Draft Report The Worl Bank Group September. Pejabat perbendaharaan meliputi Kuasa Pengguna anggaran. tugas dan fungsi serta proses pemilihan pejabat perbendaharaan. resume ini berfokus pada pembahasan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara di Ditjen Bina Marga khususnya yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Ditjen Perbendaharaan. Rencana penarikan dana untuk periode bulanan tidak di-monitor dan direvisi selama berjalannya tahun Subdit. Penguji SPP/Penerbit SPM. DTP 98  . Pejabat Pembuat komitmen. II. Dalam rangka penyempurnaan koneksitas proses bisnis di Satker. Kerangka organisasi dalam pelaksanaan anggaran. Key issues dalam Pelaksanaan Anggaran a. dan Bendahara Penerimaan/Pengeluaran. Pelaksanaan anggaran dimulai sejak penerbitan surat keputusan menteri perihal kriteria pemilihan untuk pejabat perbendaharaan.

Pengeluaran yang dilaporkan sifatnya ex-post terhadap dana anggaran yang di sediakan di DIPA. Rekomendasi: Perlunya meningkatkan manajemen proyek dengan membentuk komisi perencanaan kas (“cash planning komite”) di Satker yang diketuai oleh Kepala Satker dan terdiri dari para pejabat perbendaharaan. Rencana Penarikan Dana untuk periode bulanan yang ada dalam DIPA tidak disesuaikan terhadap fakta/kenyataan yang ada selama berjalannya tahun anggaran. Kompleksitas peraturan yang berkaitan penerapan saldo kas di luar TSA Subdit. TPBE. penundaan implementasi proyek. Adanya rush penarikan dana anggaran di akhir tahun yang berakibat pada kurangnya kualitas pengadaan dan hasil pengeluaran anggaran yang tidak optimal. perubaha kontrak dan faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi harga barang dan jasa. Hasil perencanaan kas yang dibuat oleh komite ini beserta permasalahan yang dijumpai dalam pelaksanaan anggaran (bottle neck) dilaporkan kepada Ditjen Bina Marga dan Ditjen Perbendaharaan.anggaran. Analisis: Penerapan konsep TSA secara partial. b. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan TSA. Dengan kata lain. Batas jumlah UP yang dapat disimpan dalam rekening bendahara pengeluaran terikat dengan pagu DIPA untuk tahun yang bersangkutan. memungkinkan terjadinya penundaan pembayaran dan terciptanya idle cash. Satker masih dapat melakukan replenishment untuk melakukan pengisian kembali Uang Persediaan yang melebihi ketentuan apabila memenuhi kondisi-kondisi tertentu. misalnya penundaan kontrak. DTP 99  . Analisis: Tidak adanya rencana penarikan dana yang reliable menyebabkan beberapa efek negatif dalam pelaksanaan anggaran. Sistem ini sulit di administrasi dan kompleksitasnya tidak mendukung akuntabilitas yang memadai. dengan kemungkinan melakukan pengisian kembali (GUP) terkait dengan saldo UP di rekening bendaharawan. Kondisi tersebut tidak memungkinkan pengelola keuangan/pejabat perbendaharaan untuk mengantisipasi kemungkinan penghematan pada sub-kegiatan tertentu dengan melakukan re-alokasi anggaran ke sub-kegiatan lainnya. Treasury Single Account (TSA) Kondisi saat ini: Pada saat ini terdapat dua jenis pembayaran yaitu Pembayaran Langsung dan Pembayaran melalui Uang Persediaan. Uang Persediaan dapat dipandang sebagai pembayaran lumpsump (lumps sump transfer) atas kas dalam jumlah yang terbatas dari TSA ke rekening bank Satker.

c. Verifikasi yang dilakukan oleh konsultan yang ditunjuk oleh “planning satker” ternyata tidak dapat berjalan dengan efektif. Cara lainnya adalah dengan membuka rekening yang memberi batas pagu penarikan Uang Persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana dan rekening koran. yaitu Pembayaran Langsung. nantinya merupakan dasar bagi bank yang bersangkutan untuk melakukan penarikan dari rekening TSA. Pejabat pembuat komitmen dari satker pelaksana (implementing satker) melakukan pengawasan atas implementasi fisik dari proyek. Analysis: Terlepas dari adanya mekanisme saling uji yang sudah ada. membuat catatan atas penerimaan SPP dan menerbitkan dokumen penerimaan SPP. TPBE. Dokumen SPP dan kelengkapannya kemudian diajukan kepada Pejabat penguji/penerbit SPM. Pembayaran melalui rekening ini. Perlu dicatat bahwa verifikasi yang dilakukan pada SPP dan SPM terbatas pada jumlah yang tercatat dalam dokumen. dengan kas dapat mengurangi Rekomendasi: Perlunya alternatif pembayaran melalui Uang Persediaan. Sedangkan verifikasi fisik dilakukan oleh kontraktor yang ditunjuk oleh satker yang melakukan perencanaan (planning satker) pada saat pelkerjaan selesai dan ditagihkan (dibuatkan invoice). Pejabat penguji/Penerbit SPM selanjutnya memastikan bahwa (i) tersedia anggaran untuk melakukan pembayaran (ii) SPP sudah sesuai dengan rencana kerja dan output yang dicatat (iii) permintaan pembayaran sudah sesuai dengan spesifikasi kontrak dan jadwal pembayaran. melakukan verifikasi atas check list dan kelengkapat dokumen yang diajukan. DTP 100  . double charge dan pengadaan barang dan jasa yang kurang berkualitas. Misalnya dengan melakukan pembayaran Uang Persediaan melalui rekening bersaldo nihil (zero balanced account) pada rekening yang dikuasai secara bersamasama oleh Bendahara Pengeluaran dan Kanwil/KPPN bersangkutan. setidaknya dapat lebih sejalan dengan cara pembayaran lainnya. Salah satunya Subdit. ternyata hasil audit dari BPK pada tahun 2007 mengindikasikan bahwa kurangnya verifikasi dalam pengadaan barang dan jasa telah menimpulkan kelebihan bayar (overpayments) kepada kontraktor. Mekanisme saling uji dalam pemeriksaan barang dan jasa hasil pengadaan Kondisi saat ini: Pengujian diimulai saat staf melakukan evaluasi atas SPP.dan pembayaran kepada pihak ke-tiga/rekanan disiplin anggaran. Verifikasi fisik dari output tidak dilakukan pada tahap ini. dengan kemungkinan replenishment/pengisian kembali sebulan sekali.

Selanjutnya SPM diproses sesuai dengan jenis pembayarannya. Selanjutnya. TPBE. Rekomendasi: Perlu melakukan redefinisi dari peran “planning satker” dalam melakukan verifikasi fisik pengadaan barang dan jasa. KPPN dapat menjelaskan alasan penolakan secara tertulis yang tercatat dalam aplikasi/software di Satker. Hal tersebut karena baik tanggal invoice dari kontraktor maupun tanggal penerimaan barang dan jasa tidak dicatat dalam software/aplikasi. Salah satu alternatif. Subdit. Keterlambatan dalam pembayaran langsung Kondisi saat ini: Proses pembayaran dimulai dengan penyiapan SPP oleh satker atas dasar invoice yang diterima dari suplier dan diikuti dengan penilaian barang dan jasa. Lagipula. DTP 101  . Oleh karena itu. Setelah SPP disetujui lalu dibuat SPM oleh bendahara pengeluaran dengan menggunakan aplikasi dari Ditjen Perbendaharaan. Salah satunya dengan mencatat tanggal pengajuan invoice dan tanggal penyelesaian verifikasi barang dan jasa. tidak dilakukan pencatatan oleh KPPN dalam hal SPM tidak memenuhi syarat. dan menyampaikan SPP tersebut untuk disetujui oleh Kepala Satker atau pejabat pembuat komitmen (?). Rekomendasi: Ketentuan yang berkaitan dengan jangka waktu penyelesaian pembayaran di Satker (48 jam) harus diterapkan sebagaimana mestinya. diantaranya dengan mengaktifkan peran Balai (di tingkat propinsi). Namun demikian. Keterlambatan yang berkaitan dengan pengajuan SPM yang tidak lengkap (incomplete) atau salah (error) tidak tercatat baik oleh KPPN maupun oleh Satker. Pengawasan atas keterlambatan pemrosesan di KPPN dilakukan dengan merujuk pada tanggal agenda penerimaan SPM di front office. Petugas di Satker melakukan input data SPP dan mencetak menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Ditjen Perbendaharaan. Analysis: Proses pembayaran yang ada saat ini tidak memungkinkan adanya pengawasan yang menyeluruh dalam penyaluran pembayaran kepada kontraktor. dengan periode maksimum 48 jam untuk melakukan proses pembayaran di Satker. KPPN saat ini telah melakukan pengawasan yang ketat terhadap keterlambatan di akhir proses. sehingga dapat mendekatkan dan melakukan pengawasan langsung untuk meningkatkan mekanisme saling uji dan mengurangi sentralisasi d.karena keterbatasan anggaran untuk melakukan verifikasi fisik sebagaimana mestinya. keterlambatan yang diakibatkan oleh penolakan tersebut tidak dapat diawasi. keterlambatan dalam proses pembayaran di Satker tidak dapat di monitor.

Analisis: Kemampuan pelaporan dari SIPP cukup komprehensif dan mencakup aspek-aspek dalam pelaksanaan anggaran dan implementasi program. Oleh karene itu diperlukan mekanisme rekonsiliasi untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan sama dengan informasi yang ditujukan untuk Kementrian Keuangan. kemajuan kontrak.III. TPBE. karena data entri dilakukan pada beberapa titik/fase. Manajemen atas software/modul ini tidak diimbangi dengan kurangnya jumlah dan kemampuan SDM di Satker. Akuntansi dan Pelaporan a. Lagipula. Rekomendasi: Hendaknya dilakukan review terhadap aplikasi/software-software yang ada dengan melibatkan kementrian teknis. Satker di tingkat kanwil juga harus melakukan rekonsiliasi dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Laporan Manajemen Kondisi saat ini: Kementrian Pekerjaan Umum telah mengimplementasikan mekanisme pelaporan menggunakan “e-monitoring system” (SIPP). DJA and Ditjen PBN. DTP 102  . Laporan keuangan juga direkonsiliasi dengan informasi yang ada dalam SIMAK-BMN. Informasi yang dihasilkan dari sistem ini diantaranya adalah informasi kontrak. Pelaporan keuangan dan pelaksanaan anggaran Current situation: Peraturan yang ada mengharuskan Satker untuk menyampaikan laporan keuangan dan kinerja. Subdit. Analysis: Laporan keuangan dan pelaksanaan anggaran dikompilasi menggunakan software/modul yang berbeda-beda. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam konteks penerapan Integrated Financial Management System (SPAN) b. Manajemen “back-up data” juga tidak dilakukan secara rutin utnuk memastikan keandalan data. Terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh Satker dilakukan proses rekonsiliasi terhadap data yang ada di KPPN. impementasi program dibandingkan dengan rencana kerja. yaitu SAI yang terdiri dari SAK dan SIMAK-BMN. Beberapa modul ini sifatnya “stand alone” sehingga beberapa jenis data harus di-capture beberapa kali. Namun demikian sistem ini dijalankan secara paralel dengan standard akuntansi dan sistem pelaporan yang ditentukan Ditjen Perbendaharaan. Proses ini berlanjut hingga ke tingkat Kementrian/Lembaga. pagu anggaran serta realisasinya. Laporan keuangan disusun menggunakan stadar aplikasi yang dibuat oleh Ditjen PBN. diperlukan rekonsiliasi dan konsolidasi pada beberapa point.

Aktivitas ini juga diharapkan akan menjadi dasar untuk melakukan review dan mengintegrasikan syarat-syarat untuk pelaporan manajemen sesuai dengan konfigurasi dalam SPAN. DTP 103  . TPBE.Rekomendasi: Perlu dilakukan langkah-langkah untuk menyelaraskan SIPP dnengan sistem akuntansi dan pelaporan pada Ditjen Perbendaharaan sehingga keuanya menggunakan basik data yang sama untuk keperluan analisis dan pelaporan keuangan dan data pelaksanaan anggaran. Subdit.

(PP No. Satker BLU berstatus penuh diberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan. Manajemen DIPA Secara umum fungsi DIPA BLU dengan DIPA Satker biasa ialah sama. TPBE. Berikut ini identifikasi terhadap beberapa perbedaan yang ada.23 tahun 2005). pinjaman jangka Subdit. Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan adanya perbedaan dalam mekanisme pelaksanaan anggaran di Satker BLU dengan Satker biasa. Satker teersebut dapat langsung menggunakan seluruh PNBP tanpa terlebih dahulu disetorkan ke Rekening Kas Negara asalkan masih dalam ambang batas fleksibilitas. target pendapatan PNBP. sebagaimana ditetapkan dalam RBA definitif. Penerimaan pembiayaan BLU terdiri dari divestasi. terdapat beberapa perbedaan terkait struktur DIPA Satker BLU dengan DIPA Satker biasa. yaitu berfungsi sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dimana berisi batas pengeluaran tertinggi yang tidak boleh dilampaui dan pelaksanaannya harus dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan Satker BLU berstatus bertahap dapat menggunakan PNBP sebesar persentase proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan sepanjang telah diatur berdasarkan ketentuan. Pada DIPA Satker BLU terdapat halaman II. Namun demikian. 2. Pada DIPA Satker BLU terdapat data mengenai saldo awal kas.Appendix II Pengelolaan Keuangan di Satker BLU Badan layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. besaran presentase ambang batas dan jumlah serta kualitas barang dan/atau jasa yang dihasilkan. DTP 104  . Ada 2 jenis Satker BLU yaitu Satker BLU berstatus penuh dan Satker BLU berstatus bertahap. pagu pengeluaran pembiayaan. Perbedaan tersebut ialah sebagai berikut: 1. Berdasarkan pengertian tersebut terlihat adanya perbedaan karakteristik Satker BLU dengan Satker biasa. A.B yang memuat rincian penerimaan pembiayaan BLU dan pengeluaran pembiayaan yang akan dilakukan oleh BLU. saldo akhir kas.

Pengeluaran pembiayaan BLU terdiri dari investasi. Manajemen PNBP Berbeda dengan Satker yang memiliki PNBP dimana PNBP nya harus disetorkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pendapatan Satker BLU dapat dipergunakan langsung dimana besar kecilnya tergantung pada jenis Satker BLU. Pengeluaran pembiayaan dimungkinkan untuk investasi. Pencantuman pagu pembiayaan mengisyaratkan bahwa Satker BLU diperbolehkan untuk melakukan penerimaan dan pengeluaran pembiayaan dalam kegiatan usahanya. Belanja barang yang dilaksanakan setiap triwulan sebesar selisih (mismatch) antara jumlah kas yang tersedia ditambah proyeksi arus kas masuk dikurangi proyeksi arus kas keluar. 3. Selain mengajukan SPM LS untuk kepentingan tersebut diatas Satker BLU juga mengajukan SPM Pengesahan ke KPPN dalam rangka pertanggungjawaban penggunaan dana yang bersumber dari pendapatan (pendapatan dari jasa layanan. Pendapatan Satker BLU yang dapat dipergunakan langsung untuk membiayai belanja operasional Satker BLU terdiri dari : 1. Belanja pegawai (untuk pegawai BLU yang berstatus PNS). jasa layanan yang diberikan kepada masyarakat 2.pendek dan pinjaman jangka panjang. pembayaran pokok pinjaman. hibah tidak terikat Subdit. Besaran persentase ambang batas digunakan sebagai ambang batas yang diperkenankan untuk melakukan belanja melebihi pagu yang telah ditetapkan mendahului revisi DIPA sepanjang PNBP nya melebihi target yang telah ditetapkan dan sepanjang tercantum dalam RBA (Rencana Bisnis dan Anggaran). Sebaliknya penerimaan pembiayaan dimungkinkan untuk divestasi. dan pemberian pinjaman. 2. menerima pinjaman jangka pendek dan jangka panjang. DTP 105  . B. target PNBP dan nilai PNBP yang di dapatkan. Belanja modal. TPBE. pembayaran pokok pinjaman dan pemberian pinjaman. hibah tidak terikat dan hasil kerja sama dengan pihak lain). Manajemen Pembayaran Satker BLU selaku KPA mengajukan SPM LS kepada KPPN untuk keperluan sebagai berikut: 1. C.

PNBP yang dapat digunakan langsung maksimal sebesar 110 M (100M + 10%x100M).Satker tersebut dapat menggunakan PNBP sebesar 90% dari target yang ditetapkan . Satker BLU berstatus penuh .Apabila sisa PNBP tersebut akan digunakan pada tahun anggaran berjalan. .PNBP yang dapat digunakan secara langsung sebesar 54 M (60%x90%x100M) .Target PNBP 100 M . hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan atau hasil usaha lainnya dapat dikelola langsung untuk membiayai belanja operasional BLU Berikut ini gambar proses bisnis dan ilustrasi untuk penggunaan PNBP untuk Satker BLU berstatus penuh dan Satker BLU berstatus bertahap.Sisa PNBP yang dapat digunakan dengan mekanisme pencairan PNBP sebesar 36 M (90 M – 54 M) D.PNBP yang harus disetor kerekening Kas Negara sebesar 56 M .Sisa PNBP sebesar 5 M. Pelaporan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan BLU diselenggarakan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia.Realisasi 110 M Maka: . DTP 106  .Ambang batas belanja 10 % . merupakan surplus yang dapat digunakan pada tahun berikutnya.PNBP yang dapat dimanfaatkan adalah 90 M (90% x target PNBP) . TPBE.Pengeluaran belanja tersebut dapat dilaksanakan mendahului revisi DIPA pengesahan. (Revisi DIPA dimaksud dapat dilaksanakan pada akhir tahun) . Satker BLU berstatus bertahap . .Target PNBP 100 M . Sedangkan untuk kepentingan konsolidasi dengan Laporan Keuangan Subdit.Realisasi PNBP 115 miliar Maka : .PNBP yang dapat digunakan secara langsung sebesar 60% . 1.3. 2. maka terlebih dahulu dilakukan revisi.

3. dan Catatan Atas Laporan Keuangan disertai Laporan Kinerja beserta data transaksi ke UAPPA-E1 setiap bulan. LAK. Subdit. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Neraca. UAPPA-E1 menyampaikan LRA. APK dalam rangka rekonsiliasi dan penyusunan Laporan Keuangan pemerintah pusat setiap semester. UAPA menyampaikan laporan keuangan beserta ADK kepada Ditjen PBN cq. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Arus Kas.Kementerian Negara/Lembaga diselenggarakan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Neraca dan ADK dalam rangka melakukan rekonsiliasi data. Selain menyampaikan Laporan Keuangan untuk kepentingan rekonsiliasi. LRA dan neraca kepada UAPPAE1 untuk digabungkan setelah dilakukan rekonsiliasi dengan KPPN setiap triwulan. Laporan Keuangan BLU yang dihasilkan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan dikonsolidasikan dengan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang terdiri dari LRA. BLU menyampaikan secara triwulanan ke KPPN berupa LRA. Neraca dan ADK termasuk BLU setiap triwulan ke UAPA sebagai bahan penyusunan laporan keuangan tingkat kementerian negara/lembaga. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK. Catatan: Berikut ini alur proses bisnis untuk DIPA. Dit. Neraca. TPBE. BLU menyampaikan ADK. Untuk laporan semesteran dilengkapi dengan CALK. Alur proses rekonsiliasi Laporan Keuangan Satker BLU ialah sebagai berikut: 1. Satker BLU juga menyampaikan Laporan Keuangan yang terdiri dari laporan Realisasi Anggaran/Laporan Operasional. 2. Untuk Semesteran dan tahunan disertai dengan CALK. DTP 107  . 4. Laporan Keuangan BLU yang dihasilkan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan menjadi lampiran Laporan Keuangan Kementerian Negara Lembaga yang terdiri dari LRA/Operasional. Sedangkan untuk gambar proses bisnis belanja pegawai BLU yang berstatus PNS dan proses bisnis belanja modal tidak dilampirkan karena gambar proses bisnis tersebut sama dengan proses bisnis pada Satker biasa. Penggunaan PNBP (Satker BLU berstatus bertahap) dan Pelaporan. Penggunaan PNBP (Satker BLU berstatus penuh).

 DTP 108  . TPBE.Subdit.

 TPBE.4) SP2D LS PNBP (2.2. Penggunaan PNBP (Satker BLU bersatus Bertahap) MoSA Setor ke Kas Negara (2. DTP 109  .3) SPM GU Pengesahan SPM LS untuk Penggunaan PNBP (2.5) DIPA N Realisasi Penerimaan PNBP (2.2) Pertanggung jawaban Penggunaan (triwulanan) (2.7) (4.6) SPM LS PNBP Penggunaan langsung Y SP2D GU Pengesahan (2.1) Subdit.1) Penggunaan Langsung PNBP (2.

Subdit. TPBE. DTP 110  .

 TPBE. DTP 111  .Subdit.

Future proses bisnis yang dihasilkan dari methodology tersebut di atas terutama Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           112    . Pembahasan pada bab III secara umum menggambarkan alur proses bisnis secara cross functional boundaries. bab ini difokuskan pada pembahasan usulan future model koneksitas dan bentuk manajemen keuangan satker yang disesuaikan dengan modul-modul yang ada dalam pengembangan SPAN. Manajemen Pembayaran. Disamping itu. Definisi. Dalam bab ini akan dibahas secara lebih rinci future model dari koneksitas dari proses bisnis dan manajemen keuangan di Satker dengan proses bisnis di perbendaharaan. telah dibahas sistem perbendaharaan yang meliputi aktivitas manajemen keuangan negara di Satuan Kerja dan di Ditjen Perbendaharaan.BAB IV Future Proses Bisnis Pengelolaan Keuangan Negara di Satker dan Koneksitasnya dengan Proses Bisnis Kuasa BUN Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I.3. juga dibahas berbagai usulan tentang struktur pejabat perbendaharaan (PA/KPA. Accounting dan Reporting. Penentuan model manajemen keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dilakukan dengan memperhatikan permasalahan dari praktek pada saat ini. mengkaji internasional best practice dan kesesuaiannya dengan landasan hukum yang ada (UndangUndang). Koneksitas proses bisnis dicerminkan oleh integrasi diantara elemen-elemen proses bisnis. mekanisme input-output (transfer) yang digunakan dan dihasilkan sebuah proses bisnis. terutama yang dijalankan oleh institusi/unit yang berbeda. PPK. Integrasi yang tinggi ini setidaknya meliputi: 1. Penjelasan pada Bab III menekankan pada mekanisme kontrol. Dalam hal ini. PPSPM. yang secara paralel sekaligus menjadi bahan untuk pengembangan IT dan penerapannya pada satker terpilih. termasuk di dalamnya bentuk/media dan interface. Manajemen Komitmen. 2. dan Bendahara) di satker beserta proses bisnisnya terkait. Konsepsi dan Metodologi Pada bab-bab sebelumnya. hal-hal yang dibahas dalam bab ini akan menjadi fokus diskusi pada awal tahun 2010. keandalan dan kesesuaian aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian intern (internal control) di masing-masing unit proses bisnis. verifikasi dan dokumen pendukung dalam proses bisnis. dibahas usulan future proses bisnis terkait Manajemen DIPA. A. dan Manajemen Kas. Sejalan dengan framework ITIL v.

Oleh karena itu. Tujuan dan fungsi Setelah rancangan anggaran (budget draft) disetujui oleh parlemen. terutama terkait dengan modernisasi sistem informasi dan IT. World Bank. DTP                                                                                                                                           113    . Namun demikian. 2007) Subdit TPBE. Line Ministries dan Spending Unit pada dasarnya telah memiliki otorisasi untuk melakukan pengeluaran atas beban anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proses ini dapat berupa keputusan (decree) yang memberikan otorisasi kepada Line Ministries untuk menggunakan seluruh atau sebagian dari jumlah yang telah disetujui parlemen b) Allotment: proses dimana line ministries atau main speding unit mengalokasikan rincian dari jumlah anggaran yang telah disetujui oleh parlemen (apportioned appropriations) kepada Spending Unit di lingkungan masing-masing (subordinate Spending Unit) (OECD. prosesnya secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua hal sebagai berikut. Terdapat mekanisme yang berbeda di masing-masing negara terkait dengan pengalokasian dan pendistribusian jumlah anggaran yang telah disetujui oleh Parlemen kepada Spending Unit. B. Manajemen DIPA 1.diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Otorisasi ini. dapat berlaku untuk satu periode tahun anggaran atau untuk periode tertentu yang lebih singkat. tergantung dengan sistem yang digunakan di negara tersebut. a) Apportionment: proses untuk menentukan bagian dari anggaran yang telah disetujui oleh parlemen (appropriation) yang dapat digunakan oleh Line Ministries dan Main Spending Unit (apportioned appropriations). 2001. Fungsi manajemen DIPA terutama berkaitan dengan distribusi dana anggaran yang telah disetujui tersebut kepada Spending Unit sebagai dasar untuk melakukan pengeluaran (otorisasi). rekomendasi untuk penyempurnaan proses bisnis pada saat ini juga memperhatikan blue print rencana pengembangan SPAN.

Proses bisnis management of Spending Authority adalah sejak Plan Procurement sampai dengan Penerbitan Warrant / Spending Limit.1. Namun demikian. anggaran/approptiation yang disetujui parlemen lebih merupakan alat perencanaan yang merefleksikan kebijakan dan program pemerintah untuk tahun anggaran yang bersangkutan.2. or more commonly a part. International Best Practice terkait Manajemen DIPA Berkaitan dengan pelaksanaan anggaran (budget execution). sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4. Perbedaan mendasar di antara keduanya adalah mekanisme penggunaan appropriasi (anggaran yang disetujui oleh parlemen) sebagai dasar untuk membuat perikatan/komitmen yang akan membebani anggaran. Implementasi atas salah satu dari sistem tersebut. DTP                                                                                                                                           114    . Pembahasan untuk masing-masing sistem adalah sebagai berikut: a) Warrant system Warrant adalah “a release of all. Subdit TPBE. biasanya sejalan dengan sistem manajemen komitmen dan manajemen pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran yang diterapkan di suatu negara. pada dasarnya terdapat dua sistem utama dalam manajemen atas Spending Authority. 2001). sebagian atau keseluruhan jumlah anggaran tersebut baru dapat efektif sebagai dasar pengeluaran apabila telah diterbitkan dokumen pelaksanaan anggaran (warrant) atas dasar usulan Spending Unit. Warrant tersebut akan menjadi batas tertinggi pengeluaran (spending limit) untuk jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. of the total annual appropriation on a quarterly or monthly basis that allows a line ministry or spending agency to make commitments” (OECD. Dalam sistem ini. yaitu warrant system dan apportionment/allotment system.

Gambar 4. DTP                                                                                                                                           115    . Proses Bisnis Manajemen DIPA (Warrant System) b) Apportionment system Apportionment atau allotment adalah “authorizations or distributions of funds generally made by the ministry of finance to line ministries and other spending units permitting them to either commit or pay out of funds or both.2 Subdit TPBE. prosedur alokasi atas anggaran yang disetujui parlemen ke dalam masing-masing Spending Units akan menghasilkan dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan anggaran yang umumnya berlaku selama periode tahun anggaran. Proses bisnis management of Spending Authority adalah proses penerbitan dan pengesahan dokumen allotment. Dalam sistem ini. Dokument tersebut efektif sebagai dasar untuk melakukan perikatan/komitmen dan/atau pengeluaran atas beban anggaran negara.1. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4. within a specified time period and within the amounts appropriated and authorized”.

Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen DIPA Pada dasarnya sistem yang dipakai di Indonesia terkait manajemen atas Spending Authority cenderung pada sistem apportionment/allotment. perencanaan. pengawasan. PerPres tersebut memuat rincian menurut alokasi anggaran untuk masing-masing Satuan Kerja (SAPSK) dan jenis belanja.. pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden sebagai pedoman bagi kementerian negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran. alokasi. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara khususnya pasal 3 Ayat (4) yang menyebutkan bahwa APBN/APBD mempunyai fungsi otorisasi. Peraturan Presiden tersebut menjadi dasar penyusunan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) (PMK 105/PMK. DTP                                                                                                                                           116    . Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan (penjelasan pasal 3 ayat 4).17 tahun 2003 pada point 8 paragraf pertama disebutkan bahwa setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan UndangUndang. Di dalam Penjelasan Undang-undang No.02/2008 pasal 6).Gambar 4. dan stabilisasi. Hal ini sesuai dengan amanat UU No.2 Proses Bisnis Manajemen DIPA (Apportionment System) 3. Subdit TPBE. distribusi.

3 Model Koneksitas Proses Bisnis Manajemen DIPA (current) Subdit TPBE. Realisasi pencairan dana tersebut (SP2D) dibuat per satker dan per akun pengeluaran (6 digit).Konsep DIPA yang disusun oleh Kuasa Pengguna Anggaran Satuan kerja disahkan berdasarkan PerPres tentang RABPP dan atau SRAA (PMK No.3): Gambar 4. Untuk keperluan pelaksanaan anggaran. Model koneksitas proses bisnis yang berkaitan dengan manajemen DIPA pada saat ini adalah sebagai berikut (gambar 4. berdasarkan DIPA Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berwenang mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan (UU No. DTP                                                                                                                                           117    . 1 tahun 2004 Pasal 14 point 3). Pada saat ini DIPA disusun per satker (kecuali beberapa instansi vertikal per kanwil) dan per BKPK (4 digit). 1 tahun 2004 Pasal 17). ADK DIPA yang terdapat dalam sistem di KPPN adalah 6 digit. Dalam rangka pencairan dana Satker mengajukan SPM ke KPPN per akun pengeluaran (6 digit). 105/PMK.02/2008). Di dalam DIPA diuraikan anggaran yang disediakan (UU No.

c) Rencana pencairan dana (halaman III DIPA) tidak diikuti dan tidak mengikat Satker sehingga fungsinya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Permasalahan diatas berkaitan dengan beberapa elemen-elemen dari bisnis proses. d) Jumlah Satker yang sangat banyak dalam rangka pelaksanaan anggaran juga dipengaruhi oleh peraturan yang berkaitan dengan budget preparation yang dihasilkan oleh DJA. diantaranya: • • • • • • Jumlah Satker yang sangat banyak Tingginya frekuensi usulan revisi DIPA Kurangnya fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran Tidak efektifnya Rencana Pencairan Dana (Halaman 3 DIPA) Tidak ada mekanisme update untuk Rencana pencairan Dana (Halaman 3 DIPA) Ketidaksesuaian Data pagu baik di lingkungan unit vertikal DJPBN maupun dengan Satker. Kondisi tersebut mencerminkan kurangnya kemampuan Satker dalam perencanaan. DTP                                                                                                                                           118    . Hal-hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan Satker untuk mengimplementasikan anggaran.Dalam prakteknya manajemen DIPA saat ini identik dengan beberapa permasalahan. misalnya sebagai berikut: a) Tingginya frekuensi usulan revisi DIPA mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: 1) Kurangnya perencanaan yang ideal selama proses penyusunan anggaran (budget preparation) 2) Kurangnya kerjasama antara pihak-pihak di Kementrian / Satker yang bertanggung jawab dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Namun demikian harus diakui bahwa sampai saat ini Treasury / Ditjen Perbendaharaan belum mampu menerapkan proses bisnis dengan dukungan IT yang ideal sebagai mekanisme untuk melakukan update rencana pencairan dana (halaman III DIPA) sesuai dengan realisasi. Dalam tingkatan tertentu hal tersebut mengurangi fleksibilitas anggaran selama pelaksanaannya. misalnya rincian Perpres APBN (apportionment) sudah mengalokasikan anggaran menurut Spending Unit (Satker) dalam bentuk SAPSK Subdit TPBE. b) Ketentuan dalam perundang-undangan menghendaki persetujuan parlemen (DPR) sampai dengan jenis belanja.

Kementrian / Satker dan DPR. DTP                                                                                                                                           119    . Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh belum tersentralisasinya data DIPA. d) Ditjen Perbendaharaan dapat melihat dan menyetujui rincian anggaran yang didistribusikan kepada Satker oleh kantor Pusat Kementrian Teknis masingmasing (konsep DIPA). e) Ketidaksesuaian data pagu baik antar Satker dengan Ditjen Perbendaharaan maupun diantara unit teknis Perbendaharaan terutama setelah revisi. 4. b) Sistem perencanaan anggaran dapat menerima dan mencatat perubahan usulan anggaran sebagai hasil pembahasan antara Kementrian Keuangan. Sampai saat ini tidak terdapat mekanisme yang dapat menjadi dasar bagi Ditjen Perbendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran untuk memodifikasi jumlah dan struktur Satker dalam Perpres APBN. Subdit TPBE. c) Kantor pusat kementrian teknis dapat mendistribusikan anggaran yang telah disetujui kedalam Satker dilingkungan kerjanya (konsep DIPA) dengan persetujuan Ditjen Perbendaharaan. e) Ditjen Perbendaharaan dapat menginformasikan Satker tentang rincian anggaran yang telah disetujui baik secara paper based maupun elektronik (DIPA). Fitur SPAN terkait Manajemen DIPA Sejalan dengan rencana pengembangan SPAN maka diharapkan nantinya proses bisnis terkait manajemen DIPA dapat mengakomodasi hal-hal sebagai berikut: a) DJA dapat menerima data anggaran dari Kementrian / Satker secara online. Bappenas. f) KPPN dapat memeriksa secara online pagu anggaran. Data anngaran tersebut dapat dikonsolidasikan dan disimpan dalam database. Didalam rencana pengembangan SPAN memungkinkan pengembangan beberapa alternatif untuk sentralisasi database (terutama yang berkaitan dengan DIPA). batasan kas dan pengeluaran.(PMK 105/2008). status komitmen. terutama sebagaimana terdapat dalam Lampiran V. Permasalahan tersebut diatas harus menjadi perhatian utama dalam penyempurnaan koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait manajemen DIPA.

Model koneksitas antara Satker Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam integrated budget preparation modul ditunjukkan dalam gambar 4. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           120    .5 Model Separated Budget Preparation Subdit TPBE.5): Gambar 4.4 Model Integrated Budget Preparation Model alternatif lainnya adalah integrasi database (terutama yang berkaitan dengan DIPA) dengan modul budget preparation yang terpisah sebagai berikut (gambar 4.4.

02/2008. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. Sepanjang konsep DIPA sudah sama dengan Perpres rincian APBN dan indikator kinerja serta target yang akan dicapai sudah sesuai dengan RKA-KL yang disepakati antara DPR dan pemerintah. Rekomendasi dan alternatif Future Vision Model koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA Dari kedua model koneksitas tersebut diatas modul budget preparation yang terintegrasi merupakan yang paling ideal. Pencocokan tersebut dapat secara manual maupun secara otomatis (by sistem) apabila fitur SPAN sebagaimana dalam angka 4 tersebut di atas dilaksanakan. Mekanisme ini mengakomodasi ketentuan dalam pasal 7 PMK 105/PMK. sistem tidak akan menolak konsep DIPA dan Kantor pusat DJPB harus memberikan persetujuan atas konsep DIPA tersebut.6): Subdit TPBE. di mana Konsep DIPA diajukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran dari Satker yang bersangkutan. DTP                                                                                                                                           121    .5. Rekomendasi terkait dengan implikasi dari terintegrasinya data Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam satu sistem adalah sebagai berikut: a) Fitur SPAN memungkinkan Ditjen Perbendaharaan mencocokkan rincian APBN (perpres) dengan konsep DIPA yang diajukan Satker. Konsep DIPA yang disusun oleh Satker diregister ke kantor pusat K/L untuk selanjutnya dimintakan persetujuan ke kantor pusat DJPB.

 DTP                                                                                                                                           122    . maka pagu DIPA akan mengikat Satker dalam pelaksanaan anggarannya dan merupakan batas tertinggi pengeluaran bagi Satker. sistem harus dapat menerapkan pembatasan pencairan dana secara otomatis pada subkegiatan/kegiatan yang sedang direvisi sehingga menghindari pagu minus akibat revisi. Dengan mekanisme ini diharapkan manajemen keuangan negara di Satker dapat lebih fleksibel dan lebih mencerminkan pelaksanaan konsep “let the manager manages” namun tetap sesuai dengan ketentuan perundangan yang ada Subdit TPBE. Data DIPA yang diterima KPPN adalah per satker dan per jenis belanja saja (2 digit). Konsekuensinya ketersediaan pagu anggaran ditetapkan per jenis belanja (2 digit). rincian tetap dibutuhkan per akun (6 digit).6 Alternatif Model Koneksitas Proses Bisnis dengan Satker terkait Manajemen DIPA b) Setelah DIPA disahkan. c) Dalam hal terjadi usulan revisi. Untuk kepentingan pelaporan. Satker tetap mengajukan pencairan dana ke KPPN per akun pengeluaran (6 digit).Gambar 4. d) Diusulkan agar DIPA disusun per satker (kecuali beberapa instansi vertikal per kanwil) dan per jenis belanja (2 digit).

Berikut ini pada Gambar 4.7 Rekomendasi Digitasi dari Pelaksanaan Anggaran e) Halaman III DIPA memuat rencana penarikan dana. Dengan kata lain.7 adalah ilustrasi dari rekomendasi tersebut di atas. Seperti telah disinggung sebelumnya. DTP                                                                                                                                           123    .02/2008 disebutkan bahwa pencantuman rencana penarikan dana dalam dokumen DIPA adalah untuk pencapaian optimalisasi fungsi DIPA sebagai manajemen kas pemerintah (optimalisasi pengelolaan rekening kas negara) terkait dengan kebutuhan untuk menjamin ketersediaan uang dan ketepatan waktu penyediaan uang dalam rangka memenuhi tagihan kepada negara. kelemahan utama terkait dengan penggunaan rencana penarikan dana sebagai alat untuk manajemen kas pada saat ini adalah sebagai berikut: 1) Tidak efektifnya rencana penarikan dana baik dalam hal keperluan realisasi maupun kepentingan manajemen kas. Di dalam Penjelasan PMK 105/PMK. rencana penarikan dana dalam DIPA tidak secara efektif digunakan sebagai acuan untuk Subdit TPBE. Mekanisme ini diakomodasi dalam konsep Annual Financial Plan (AFP) sebagai bagian dari modul manajemen DIPA di dalam SPAN bidding document. Gambar 4.pada saat ini.

2) Tidak ada mekanisme update atas perubahan dan/ atau realisasi dari rencana penarikan dana tersebut. 2) AFP murni sebagai alat perencanaan kas. Namun demikian sistem tersebut akan menambah bisnis proses baru bagi Satker. DIPA tidak hanya sebagai dokumen alokasi anggaran. DTP                                                                                                                                           124    . khususnya untuk long term planning. namun juga sebagai surat keputusan otorisasi untuk jangka waktu tertentu (warrant). Rencana pengeluaran ini di update diantaranya sesuai dengan informasi perkiraan pengeluaran yang akan jatuh tempo dalam periode AFP. Alternatif pertama (1) lebih realistis sebagai alat perencanaan kas. salah satu Subdit TPBE. sehingga menjadi tidak valid untuk menjadi alat manajemen kas. Disamping itu implementasi yang efektif dari sistem ini memerlukan kemampuan manajerial Satker terutama dalam hal perencanaan. Dengan demikian DIPA memiliki dua status. Alternatif kedua (2) lebih fleksibel dan tidak rigid terhadap pengeluaran dalam jangka waktu tertentu. Satker dapat melakukan pengeluaran melebihi jumlah rencana pengeluaran sebagaimana dalam halaman III DIPA. Informasi ini salah satunya diperoleh dari data atas jumlah pagu yang telah dikontrakan dari modul manajemen komitmen.keperluan pembayaran/ pengeluaran kas. Namun demikian AFP ini tidak berlaku sebagai batas tertinggi pegeluaran spending limit untuk periode tertentu. Beberapa alternatif dalam kerangka pengembangan SPAN untuk merevitalisasi fungsi halaman III DIPA sebagai salah satu alat perencanaan kas sebagai berikut: 1) Pengesahan konsep DIPA oleh Kantor pusat DJPB berati juga persetujuan pencairan dana Satker untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan periode AFP. Kekurangannya adalah untuk dapat dilaksanakan secara ideal sistem ini memerlukan mekanisme updating yang terintegrasi dan lengkap terkait dengan pengeluaran yang akan jatuh tempo. Satker harus mengajukan usulan perubahan apabila akan melakukan pengeluaran melebihi jumlah yang telah disetujui dalam AFP. Dengan demikian AFP memiliki sifat mengikat dan berlaku sebagai batas pengeluaran / spending limit untuk jangka waktu sebagaimana dalam AFP.

Dari kedua alternatif tersebut. 2) Rencana penarikan dana (halaman 3 DIPA) yang merupakan Annual Financial Plan dan disusun oleh Satker akan berfungsi sebagai periodic spending limit.diantaranya melalui manajemen komitmen. misalnya pengeluaran untuk wages.8): Subdit TPBE. utilities dan entitlement. Rencana penarikan dana dapat direvisi atas usul satker dan disetujui oleh treasury. Pagu tersebut merupakan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan perikatan (otorisasi). rencana penarikan dana akan berlaku mengikat sebagai batas pengeluaran selama jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. DTP                                                                                                                                           125    . tanpa harus disahkan terlebih dahulu sebagai periodic spending limit (batas pengeluaran untuk jangka waktu tertentu di dalam satu tahun anggaran) atas dasar dokumen Request for Commmitment. Akan tetapi. 3) Informasi terkait dengan komitmen/perikatan akan menjadi salah satu input untuk meng-update dan meningkatkan validitas dari rencana penarikan dana selama periode waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. Beberapa pengeluaran yang bersifat non kontraktual umumnya dapat dilakukan tanpa manajemen komitmen. Ilustrasi dari mekanisme ini adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. tidak semua rencana pengeluaran dapat diakomodasi di manajemen komitmen. Dengan kata lain. rekomendasi untuk mekanisme penggunaan rencana penarikan dana adalah sebagai berikut: 1) Spending limit untuk jangka waktu satu tahun anggaran adalah total nilai pagu yang ada pada DIPA. Implementasi alternatif kedua (2) harus didukung sistem lain yang memang ditujukan untuk melakukan updating terhadap Annual Financial Plan yang disusun oleh Satker.

Gambar 4.8 Mekanisme Penggunaan dan Updating Rencana Penarikan Dana Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           126    .

manajemen komitmen juga merupakan salah satu alat untuk melakukan cash forecasting. Manajemen Komitmen 1. tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri. tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment (Radev & Khemani. Dengan mencatatkan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan. Dalam SPAN Bid Document. 211). Pembayaran untuk gaji.                                                               Arrears dapat diartikan sebagai kewajiban pembayaran yang tertunda di mana negara tidak dapat memenuhi  kewajiban tersebut dalam jangka waktu tertentu (Radev & Khemani.C. 2007). DTP                                                                                                                                           127    . Namun demikian. 2007). Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan. 2007). Pada dasarnya.  1 Subdit TPBE. Tujuan dan Fungsi Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu (Radev & Khemani. disebutkan bahwa komitmen anggaran terjadi pada saat kontrak ditandatangani antara Satker dan rekanan untuk pengadaan barang dan jasa di masa yang akan datang atau pada saat rekanan menerima dan menyanggupi purchase order dari satker (p. Commitment management dapat mendukung terwujudnya cash management yang berorientasi ke depan (forward cash management). manajemen komitmen ditujukan untuk mengelola tindakan-tindakan awal yang menimbulkan kewajiban negara dalam rangka disiplin anggaran (ketaatan terhadap batas pengeluaran) dan menghindari timbulnya arrears 1 . Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan purchase order dan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. maka institusi perbendaharaan dapat membuat perencanaan kas yang berorientasi ke depan (forward cash plans) berdasarkan perkiraan aliran kas yang akan menyertai pelunasan sebuah komitmen. yang berbeda dengan cash forecasting berdasarkan data trend dari periode sebelumnya (historical data trend). Pelaksanaan manajemen komitmen memiliki dua tujuan utama yang masingmasing memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Secara umum terdapat dua jenis komitmen. Komitmen khusus (spesific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu.

 DTP                                                                                                                                           128    . fungsi manajemen komitmen diserahkan kepada kementrian teknis/satker yang bersangkutan. Pada intinya. International Best Practices terkait Manajemen Komitmen Secara garis besar terdapat dua model ekstrim dari manajemen komitmen. Pada prakteknya. Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat Subdit TPBE. b) Manajemen komitmen yang didesentralisasikan (Decentralised commitment management) Dalam model ini. sebagai berikut: a) Manajemen komitmen yang terpusat (Centralised commitment management) Ciri utama dari model ini adalah adanya mekanisme pengajuan Request for Commitment untuk diuji ketersediaan dananya (uncommitted budget allocation balance) oleh pihak treasury sebelum komitmen terjadi. diperlukan adanya pengesahan dari pejabat yang berwenang sebelum terjadinya sebuah komitmen. 3. 2007).2. Ciri utama dari model ini adalah adanya penunjukan pejabat (Chief Controlling Officer) yang memiliki kewenangan untuk mengesahkan timbulnya sebuah kommitmen dan bertanggung jawab atas aktivitas manajemen komitmen. Secara umum. model manajemen komitmen suatu negara tergantung pada keseluruhan kerangka organisasi dalam proses pelaksanaan anggaran khususnya yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran (payment management) dan sistem akuntansi (accounting system) (Radev & Khemani. Request for Commitment yang telah disetujui dan dicatat oleh pihak treasury selanjutnya akan menjadi salah satu dasar pembayaran oleh pihak treasury. terdapat banyak variasi dari aplikasi manajemen komitmen di berbagai negara. Pejabat tersebut harus memastikan ketersediaan dana dan kesesuaian klasifikasi anggaran atas komitmen yang dibuat dalam kerangka internal control dan aktivitas administratif yang membentuk sistem dari mangement commitment. Current State Assessment & Problems Terkait Manajemen Komitmen Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen dan dapat dijadikan landasan untuk pengembangan manajemen komitmen di masa yang akan datang.

peran commitment officer ini dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementrian Negara/lembaga.dilakukan jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. Dari telaah terhadap ketentuan perundangan yang ada. Hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: a) kewenangan administrative pada kementian/lembaga untuk membuat perikatan dan melakukan pengujian (ketersediaan anggaran). DTP                                                                                                                                           129    . secara implisit ketentuan perundangan yang berkaitan dengan manajemen komitmen lebih cenderung pada model decentralized commitment management. p. b) adanya asas umum yang mengatur secara tegas batasan kewenangan untuk melakukan perikatan dalam bentuk ketersediaan dana/anggaran. Dalam konteks UU perbendaharaan. Salah satu fitur dari decentralized commitment management adalah adanya pejabat tertentu yang melakukan otorisasi dan bertanggung jawab untuk melakukan perikatan (Chief Commitment Officer). Kewenangan administrative tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan). 2007. Mekanisme tersebut merupakan salah satu ciri utama dalam decentralized commitment management. Selanjutnya patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the manager manages dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer. Hal tersebut berlawanan dengan fitur dari centralized commitment management di mana expenditure ceiling yang dihasilkan dari pengajuan Request for Commitment merupakan batasan untuk melakukan komitmen dan melakukan pembayaran sebagai akibat dari timbulnya komitment dalam periode tertentu (see Radev & Khemani. 9) Subdit TPBE.

Di samping itu. Beberapa inisiatif telah diupayakan untuk mengatasi kekurangan ini. Chart of Account yang ada belum dapat mengakomodasi pencatatan untuk commitment stages dalam pelaksanaan anggaran. khususnya untuk mendukung pelaksanaan manajemen kas di Ditjen Perbendaharaan. Misalnya. sebagian dari fitur manajemen komitmen pada saat ini dilaksanakan sebagai bagian dari manajemen pembayaran. Subdit TPBE. informasi perihal kontrak yang disampaikan ke Ditjen Perbendaharaan menjadi kurang relevan untuk pencapaian tujuan manajemen komitment. Demikian pula untuk kontrak yang multi years. Terkait dengan manajemen komitmen. baik karena kurangnya pemahaman Satker maupun karena sifatnya yang ad-hoc untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tertentu pada akhir tahun anggaran (Peran 2008). Pada saat ini tengah dikembangkan model Peran 2009 yang lebih komprehensif yang memperhatikan data aktual dari kegiatan yang sudah atau belum dikontrakkan dari sisa pagu anggaran yang tersedia. Misalnya. Diantaranya melalui penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah (SE-02/PB/2006) serta penyampaian Laporan Realisasi Dan Perkiraan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2008 melalui aplikasi Peran 2008 (SE-38/PB/2008). Fitur SPAN terkait Manajemen Komitmen Sesuai dengan rencana pengembangan SPAN. dalam SPAN Bid Document dapat diidentifikasikan bahwa dengan fitur manajemen komitmen (commitment management module) Ditjen Perbendaharaan dapat melakukan perencanaan kas atas dasar perkiraan arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitment (hal. Dengan model koneksitas seperti ini. belum secara otomatis terekam rencana tahapan-tahapan pembayarannya untuk masing masing tahun anggaran. informasi tentang komitmen yang sangat terbatas sifatnya (sesuai dengan appendix V) disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005).211). DTP                                                                                                                                           130    .Pada saat ini belum tersedia mekanisme yang dapat mengintegrasikan komitmen yang telah dibuat satker ke dalam sistem perbendaharaan negara. Namun kedua hal tersebut berjalan kurang efektif. tidak ideal untuk keperluan forward cash planning karena baru dapat diketahui pada saat pengeluaran dari kas negara dilakukan. 4.

211). DTP                                                                                                                                           131    . Alur aktivitas (work flows) selengkapnya sebagaimana tercantum dalam SPAN Bidding Document adalah sebagai berikut (Gambar 4. 286) yang diberikan untuk keperluan proses pembayaran sebagaimana diatur dalam model payment management (p. 215).Commitment management juga diarahkan untuk bisa melakukan updating atas sisa kredit anggaran (uncommitted balance) dan sisa allotment. terkait dengan pembuatan dan pelunasan sebuah komitment. Dengan demikian. DJA dan DJPBN dapat memonitor komitmen sampai dengan pelaksanaan pembayaran. Sebagai dasar untuk mencatat komitmen dalam SPAN. p. Request for Commitment (RFC) yang valid dicatat ke dalam sistem beserta Commitment Application Number (CAN) (technical requirement BC 011. Satker harus memastikan bahwa komitmen dibuat atas dasar ketersediaan kredit anggaran. Komitmen tersebut selanjutnya harus diregistrasi kepada perbendaharaan (treasury) (p.194).9): Subdit TPBE. Satker menyusun dan menyampaikan Request for Commitment (RFC) kepada KPPN bersama dengan dokumen pendukungnya (hal.

Gambar 4.9 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Komitmen (Bidding Document)

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           132   

4.1.Koneksitas Dan Integrasi Dengan Modul Lainnya Dalam rangka pencapaian tujuan dari manajemen komitmen, keterkaitan manajemen komitmen dengan modul lainnya dalam SPAN, khususnya modul Manajemen DIPA dan Payment Management adalah sebagai berikut (di gambarkan dalam Gambar 4.10): a) Informasi terkait dengan komitmen akan di update atas dasar invoice/tagihan yang valid dari Satker. Pada saat yang sama, akan dilakukan pencatatan atas tagihan yang disetujui untuk dibayar sebagai payables (hutang). b) KPPN melakukan verifikasi apakah SPM yang diajukan merujuk pada commitment tertentu yang telah diregistrasi sebelumnya dan memiliki Commitment Application Number (CAN), untuk jenis-jenis pengeluaran yang memerlukan CAN (umumnya yang bersifat kontraktual). c) Atas dasar permintaan pembayaran (SPM) yang disetujui (SP2D), treasury akan melakukan update atas informasi terkait dengan komitmen yang telah dicatat sebelumnya melalui mekanisme pengajuan Request For Commitment (RFC) dan penerbitan Commitment Application Number (CAN).

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           133   

Gambar 4.10 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Pembayaran (Bidding Document)

Keterkaitan antara komitmen manajemen dengan manajemen DIPA, diantaranya berupa penentuan Spending Limit. Hal tersebut tidak disebutkan secara khusus pada bagian yang menjelaskan tentang Manajemen DIPA. Namun demikian, fitur dari penerapan manajemen komitmen dalam rangka melakukan monitoring atas spending authority dalam bentuk updating atas spending limit cukup jelas digambarkan dalam
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           134   

kerangka manajemen komitmen. Dalam keterangan terkait dengan Manajemen DIPA dalam dokumen SPAN, digunakan istilah spending authority dalam bentuk penyusunan Annual Financial Plan (halaman 3 DIPA) dan opsi penerapan cash limit dalam kondisi tertentu. Kedua hal tersebut, berbeda dengan spending limit. Spending limit dalam pengertian manajemen komitmen adalah sisa dari budget allotment yang belum menjadi objek perikatan (uncommitted budget allotment). Sedangkan, batasan spending authority dalam manajemen DIPA dalam bentuk AFP dan Cash limit lebih terkait dengan aspek perencanaan penarikan dana dan ketersediaan kas. Dari uraian terkait dengan international practice dan workflows diagram untuk manajemen komitmen dalam SPAN Bid Document sebagaimana tersebut, di atas dapat diidentifikasi hal-hal sebagai berikut: a) Dalam SPAN Bid Document diperkenalkan adanya hybrid model dari centralized dan decentralized commitment management model. Dalam model yang ada di SPAN, Satker harus memastikan ketersediaan anggaran sebelum melakukan perikatan. Selanjutnya, model tersebut juga mengakomodasi aktivitas pencatatan komitment atas dasar persetujuan kontrak maupun penerbitan purchase order. Namun demikian, model yang ada dalam SPAN juga mensyaratkan pengajuan Request for Commitment (RFC) untuk disahkan oleh pihak treasury (DJPBN) yang selanjutnya akan menjadi salah satu dasar pembayaran. b) Pencatatan atas komitmen dan dampaknya terhadap ketersediaan anggaran dilakukan baik oleh Satker maupun oleh pihak treasury, dalam hal ini DJPBN. Satker melakukan pencatatan dan monitoring atas komitmen yang dibuat dan sisa kredit anggaran. Namun demikian, perekaman kedalam database (sistem perbendaharaan) hanya dilakukan oleh Treasury atas dasar pengajuan dokumen komitmen (RFC) yang valid. c) Manajemen komitmen ditujukan tidak hanya untuk mendukung aktivitas manajemen kas tetapi juga dimaksudkan untuk mendukung tercapainya disiplin anggaran dengan memastikan adanya pencatatan dan manajemen atas batas pengeluaran (spending limit record). Kerangka manajemen komitmen dan kaitannya dengan modul lainnya dalam dokumen SPAN, dan tujuan dari manajemen komitmen menurut international best practice dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 4.11):

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           135   

Gambar 4.11 Kerangka Manajemen Komitmen Dan Kaitannya Dengan Modul Lainnya Dalam SPAN
Procurement  Commitm ent Record  (RFC+CAN) , Spending  Limit,  Record on  Payables  Acquisition  and Invoice 

Kontrak/ PO 

Verify  Commitment  Record and  Book  payables,  Issue SPP  SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

Creating  RFC 

CAN

RFC 

Verification +  Approvals  (RFC and/or  SPM)

SPM +  CAN 

Retrieve  Cash  Forecasting  Record 

Cash  Forecasti ng Record  Tujuan yang berkaitan dengan monitoring atas uncommitted budget balance [Fitur dari  centralized commitment management]  Tujuan yang berkaitan dengan pencatatan  akuntansi (payables) dan perencanaan  kas  [Fitur dari de‐centralized commitment  management 

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           136   

akan dicapai melalui updating Pagu Pengeluaran (spending limit) atas dasar dokumen RFC yang dibuat berdasarkan perkiatan (kontrak/PO). Termasuk pula penentuan kapan payables (hutang) sebagai akibat dari perikatan harus dicatat dalam sistem akuntansi. penentuan critical event untuk mengakui terjadinya komitmen dan mencatatnya ke dalam sistem informasi perbendaharaan sebagai bagian dari manajemen sistem informasi atas pagu DIPA menjadi sangat penting. Namun demikian tidak disebutkan secara jelas data apa yang digunakan sebagai dasar cash forecasting dan kapan data tersebut disampaikan ke KPPN.11. a) Establishment of Commitment Manajemen komitmen menghendaki adanya pencatatan dan pelaporan berkaitan dengan perikatan (see SPAN Bid Document.Sebagaimana terlihat dalam Gambar 4. 5.  Penentuan saat pengakuan dan pencatatan sebagai payables  Penentuan source document untuk mencatat komitment ke dalam sistem   Apakah  commitment  dicatat  pada  specific  account  (MAK  tertentu)  atau  cukup  dengan  penambahan  kode  yang  mengindikasikan  stages  tertentu  (commitment)  pada struktur Bagan Akun Standar?   Subdit TPBE. apakah komitmen dicatat dan di akui pada saat penandatanganan kontrak/ penerbitan purchase order atau pada saat tagihan (invoice) diterima. Penentuan critical event dalam rangka manajemen komitmen ditentukan pula oleh kategori/jenis pengeluarannya (specific/ continuous commitment). Misalnya. yaitu yang berkaitan monitoring uncommitted budget balance dan cash forecasting. Radev & Khemani. Oleh karena itu. DTP                                                                                                                                           137    . 2007). Tujuan yang pertama. • • • • Penentuan critical event untuk pengakuan komitmen. terutama untuk jangka pendek. terdapat dual purpose yang menjadi visi dari penerapan komitmen manajemen. Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Manajemen Komitmen Kompleksitas orientasi dan kerangka manajemen komitmen dalam SPAN serta perlunya dukungan landasan hukum yang memadai untuk penerapan yang efektif memunculkan beberapa isu yang patut menjadi perhatian. Oleh karena itu diperlukan inventarisasi dan pemahaman atas jenis pengeluaran (category of expenditure) yang ada dalam APBN. Pencatatan hutang berguna sebagai salah satu input bagi manajemen kas.

Namun demikian. Dalam rangka penerapan pendekatan penganggaran. dalam bentuk arus kas yang menyertai pelunasan sebuah komitmen. dalam dokumen SPAN tidak dijelaskan kapan data untuk keperluan cash. Terkait dengan data untuk keperluan cash forecasting. dan berdasarkan penerbitan SPM. sebagaimana yang digunakan dalam praktek penganggaran dan manajemen di Amerika Serikat. Definisi menurut pendekatan penganggaran ini cenderung tidak memberikan rekomendasi untuk mengakui komitmen sebagai hutang (liability) hanya atas dasar pembuatan kontrak. 2009). berdasarkan tagihan yang valid /penerbitan SPP. sifat pencatatan bukanlah pencatatan akuntansi dalam bentuk hutang (liability/ payable). 2001). 2001). Berikut adalah analisis atas penerapan masing-masing opsi penyampaian data untuk keperluan forward cash planning: 1) Berdasarkan kontrak pada penyampaian dokumen RFC: Subdit TPBE.Merujuk pada definisi komitmen dalam istilah akuntansi. forecasting dihasilkan untuk kemudian diintegrasikan kedalam sistem informasi perbendaharaan. OECD. Namun demikian dalam pendekatan penganggaran (budgetary sense). DTP                                                                                                                                           138    . komitmen diakui pada saat penandatanganan kontrak dan dicatat ke dalam sistem informasi perbendaharaan. komitmen akan disertai/menjadi kewajiban (liability) yang sesungguhnya hanya setelah dilakukan serah terima barang dan/jasa yang menjadi objek perikatan (World Bank. pada prinsipnya dapat didasarkan atas catatan dari komitmen yang telah menjadi hutang (liabilities). Dengan kata lain. komitmen diakui pada pada saat kontrak atau perjanjian yang mengikat (a legally binding agreement) dalam rangka pengadaan barang dan/atau jasa dibuat (OECD. Terdapat beberapa alternative untuk pengakuan liabilities yaitu berdasarkan kontrak. komitmen lebih sebagai “administrative reservation of allotted funds in anticipation of an obligation” (FSIO. Kerangka manajemen komitmen menurut SPAN dapat mengakomodasi baik pendekatan akuntansi maupun pendekatan penganggaran (budgetary sense) sebagaimana tersebut di atas Namun demikian. Pencatatan yang dilakukan lebih ditujukan untuk menginformasikan bahwa sebagian dari pagu anggaran telah terikat pada kontrak tertentu dan menjadi “committed budget balance”. 2007.

3) Berdasarkan Surat Perintah Membayar Kelebihan: Unsur kepastian validitas tagihan lebih tinggi karena sudah melalui proses internal control yang lebih lengkap di Satker Kekurangan: Subdit TPBE. Unsur kewajiban untuk membayar tagihan dapat gugur apabila prestasi pekerjaan tidak sesuai dengan kontrak (invalid invoice). Peluang terjadinya kolusi antara PPK dan Penguji SPM terkait dengan waktu penerimaan tagihan dan penerbitan SPM. - Kekurangan: Tidak dapat ditentukan kapan tagihan akan diajukan oleh pihak ke-tiga berdasarkan prestasi kerja. Waktu yang mencukupi bagi treasury untuk mempersiapkan ketersediaan kas sesuai dengan pelunasan tagihan yang diajukan. Mekanisme yang ada kurang cukup member insentif bagi Satker untuk menyampaikan data terkait dengan diterimanya tagihan yang lengkap oleh PPK.- Kelebihan: tersedianya waktu yang lebih cukup bagi institusi perbendaharaan untuk merencanakan kas sesuai dengan pelunasan komitmen (angsuran). terutama yang berkaitan dengan kontrak yang bersifat volume based. 2) Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan dan Tagihan Pihak ke-3 yang benar/SPP (semi-valid invoice ) Kelebihan: Unsur kepastian tagihan lebih terjamin karena telah melalui proses verifikasi dalam acquisition (serah terima barang) dan verifikasi awal atas invoice oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam rangka penerbitan SPM. DTP                                                                                                                                           139    . Starting point yang cukup ideal untuk menghitung cycle time (waktu yang diperlukan) atas business process pelaksanaan tugas kebendaharaan di Satker Kekurangan Tagihan dapat saja tidak disetujui oleh Penguji SPM karena unsur verifikasi awal dalam rangka penerbitan SPP bisa saja tidak memadai/ tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Horison waktu yang sangat pendek dan kurang ideal untuk keperluan perencanaan kas. Hal tersebut selanjutnya mempersyaratkan adanya suatu chart of account yang merefleksikan stages dalam siklus pengeluaran (expenditure cycle). Misalnya. Catatan: Pembahasan alternative tersebut di atas juga merujuk pada model/alternatif pencatatan komitmen sebagai payables. Pendekatan yang dianggap paling efektif untuk mencatat pengakuan komitmen ini adalah dengan memberikan kode yang menggambarkan stages (tahapan) tertentu dalam siklus anggaran. dan hanya mengakui alokasi anggaran (appropriation dan allotment) dan pembayaran (realisasi). Diharapkan unsur kepastian/validitas tagihan akan lebih terjamin. Pada prinsipnya. Pencapaian fungsi dan tujuan dari manajemen komitmen yang berhubungan dengan disiplin anggaran (monitoring spending limit) dan penyempurnaan manajemen kas harus didukung dengan mekanisme akuntansi dan pelaporan yang ideal. Sistem akuntansi yang ada pada saat ini sudah mengarah pada full accrual accounting. Dengan merujuk pada praktek internasional. Kerangka usulan secara lebih detail adalah sebagaimana terlihat baik pada Gambar Alternatif 1 maupun Alternatif 2. sampai saat ini belum ada mekanisme pencatatan untuk mengakui perikatan. dalam respond atas technical requirement SPAN. pencatatan komitmen yang ideal mengharuskan adanya sistem akuntansi berbasis akrual. DTP                                                                                                                                           140    . Kerangka pengakuan stages (tahapan) dalam siklus anggaran menurut kerangka Bagan Akun Standar yang sedang dikembangkan saat ini adalah sebagai berikut: Subdit TPBE. hutang (liabilities) akan diakui setelah terjadi pemenuhan komitmen dalam bentuk serah terima barang dan jasa. dan memberi horizon waktu yang mencukupi bagi treasury untuk menggunakan data terkait payables untuk perencanaan kas. payables akan dicatat menggunakan Oracle Payables pada saat SPM diterima di KPPN. Namun demikian. Pencatatan hutang (payables) akan cukup ideal jika dilakukan berdasarkan diterimanya tagihan yang valid (diterbitkannya SPP) sesuai dengan telaah atas kelebihan dan kekurangan untuk masing-masing alternatif sebagaimana diuraikan sebelumnya.

• Harus diberikan Account khusus (tertentu) untuk mengakui hutang (atas pemenuhan komitmen/kriteria tertentu dari sebuah komitmen). • Harus mulai dikembangkan cycle time untuk proses bisnis terkait komitmen. terdapat beberapa kondisi yang harus disiapkan. Aktivitas --Klasifikasi Stages Account Ekonomi --Code 01 --- Misalnya pada saat ini akun utang yang berkaitan dengan komitmen terkait transfer dan subsidi diberikan kode akun tersendiri (Kode Akun 211221 : Belanja dana perimbangan yang masih harus dibayar. kode akun 211611 : utang subsidi). agar pelaksanaanya dapat berjalan efektif. Komitmen 6 7 8 9 10 Revenue --Expenditure --- Terkait dengan penggunaan data hutang sebagai alat perencanaan kas. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           141    . masing-masing jenis belanja. DIPA 1 2 3 4 5 Komitmen Rv. Berikut pada Gambar 4.12 ditunjukkan simulasi atas contoh cycle time untuk keperluan analisis.DIPA Rv.Stages Code APBN --.12 Simulasi Cycle Time Untuk Proses Bisnis Terkait Manajemen Komitmen Serah terima  B/J  3 hari  Invoice  SPP  SPM  Hari H  2 hari  KPPN  3 hari 3 hari Bank  Book  payable  Subdit TPBE. maupun satu akun tertntu untuk mengakui aggregate liabilities yang berkaitan dengan pengakuan komitmen. Account tersebut dapat diberikan untuk masing-masing akun. Sakter Fund Fungsi Sub Fungsi ------------Program Aktivitas Sub.

manajemen komitmen yang ideal (yang merupakan fitur utama dari manajemen komitmen) mensyaratkan pencatatan informasi yang berkaitan dengan komitmen ke dalam sistem perbendaharaan dalam rangka penerapan disiplin anggaran dan perencanaan kas. payables dapat dihapus (write-off) dan Satker harus melakukan pencatatan ulang payables. Visualisasi yang berkaitan dengan pengajuan RFC. KPPN hanya akan menerbitkan SP2D pada hari tersebut (5 hari kerja sejak pencatatan payables). Data payables juga dapat digunakan untuk keperluan perencanaan kas yang lebih valid. Hal tersebut diusulkan terutama untuk menjadi insentif dan mengoptimalkan peran Satker dalam pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan. dan peningkatan sosialisasi apabila diperlukan. pencatatan payables. Harus dilakukan identifikasi dan assessment atas kinerja Satker. Metode penggunaan data payables yang dicatat berdasarkan invoice sebagai salah satu input bagi perencanaan kas dijalankan dengan cukup efektif dalam rangka penyaluran dana Anggaran di Australia. DTP                                                                                                                                           142    . Di dalam dokumen SPAN. b) Registration of Commitment Sebagaimana disebutkan sebelumnya. Satker harus melakukan pencatatan payables segera setelah diketahui kebenaran dan kelengkapan tagihan. Di Australia.Manfaat dari cycle time diantaranya adalah dapat digunakan sebagai alat monitoring atas pelaksanaan tugas kebendaharaan di Satker. pengelolaan keuangan negara akan lebih transparan baik bagi masing-masing pejabat perbendaharaan di Satker maupun bagi Perbendaharaan. Misalnya. Apabila tidak diterima SPM pada hari tersebut. tidak jelas disebutkan/digambarkan (i) pihak (Satker atau Perbendaharaan) yang Subdit TPBE. updating spending limit. Di sisi lain. Metode ini dapat berjalan dengan baik apabila pengujian awal yang menjadi dasar penerbitan SPP cenderung valid. sehingga dapat meningkatkan transparansi dan internal control yang lebih efektif. KPPN hanya akan melakukan pembayaran/ menerbitkan SP2D apabila terdapat data payables atas pemenuhan dari komitmen yang dimintakan tagihan. valid invoice yang dicatat sebagai payable dan disampaikan ke institusi treasuri dibayarkan pada hari ke-30 sejak diregistrasinya data payables dan tagihan tersebut. apabila ditentukan SPM harus di sampaikan 5 hari sejak penerbitan SPP dan pencatatan payables. dan data forcasting dapat dilihat baik pada gambar alternatif 1 maupun pada gambar alternatif 2.

terkait dengan pelaksanaan fungsi-fungsi inti treasuri lainnya (manajemen DIPA. transparan dan akuntabel. DTP                                                                                                                                           143    . Mekanisme penyampaian informasi tersebut harus sederhana. line ministries. didukung dengan peraturan perundangan. • • • • • Apakah Satker dan Line Ministries harus mencatat komitmen dalam database masingmasing (terpisah dengan treasury)? Siapa yang meregistrasi informasi terkait dengan komitmen dalam data base treasury (satker. Subdit TPBE. Institusi treasury. dan sedapat mungkin memiliki insentif yang bermanfaat bagi Satker dalam pengelolaan keuangan negara. KPPN)? Media apa yang digunakan dalam pertukaran informasi terkait dengan komitmen (hardcopy /Softcopy/ On-line)? Informasi apa saja yang harus disimpan (di-maintain) dalam database perbendaharaan? Siapa saja yang dapat mengakses informasi terkait komitmen yang telah diregistrasi (disimpan dalam data base treasury)?  Hal tersebut mensyaratkan adanya mekanisme alur dokumen dan data yang dapat menghubungkan Satker dengan institusi perbendaharaan dalam rangka pertukaran informasi terkait dengan pembuatan komitmen atas pagu anggaran. dan berikut kewajiban untuk melakukan pembayaran atas dasar pemenuhan kondisi tertentu. manajemen pembayaran. manajemen kas adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar berikut (Gambar 4. Alur dokumen yang berkaitan dengan komitmen.13). juga idealnya harus menyimpan (store) data terkait dengan komitmen salah satunya karena data tersebut akan digunakan kembali (retrieve) pada saat pembayaran tagihan. (iii) informasi yang harus di simpan dalam data base perbendaharaan (iv) pihak-pihak yang dapat mengakses data komitmen yang telah diregistrasi.harus pertama kali mencatat (first/ever single entry point) data terkait komitmen (ii) pihak yang akan meregistrasi informasi terkait dengan komitmen ke dalam data base treasury. memanfaatkan secara maksimal teknologi informasi yang ada.

Gambar 4.yang ditunjukkan oleh keterkaitan aktivitas control. DTP                                                                                                                                           144    . elemen data.13 Alur dokumen dan workflow proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan manajemen komitmen Keterangan Gambar: Alur dokumen terkait manajemen komitmen di Satker Alur Komitmen Alur Pembayaran Alur Manajemen Kas Alur Manajemen DIPA Model koneksitas proses bisnis dengan Satker-. mekanisme input/ output-.14): Subdit TPBE.yang berkaitan dengan Manajemen Komitmen adalah sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut (gambar 4.

Gambar 4. DTP                                                                                                                                           145    .14 Alur data dan koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen Komitmen Subdit TPBE.

secara implisit menghendaki adanya pengujian terhadap perikatan yang dibuat oleh satker sebelum dilakukan pembayaran sebagai akibat dari pemenuhan kondisi tertentu.c) Commitment Verification Dalam dokumen SPAN. Subdit TPBE. disebutkan bahwa satker mempersiapkan dan mengajukan Request for Commitment beserta dokumen pendukungnya kepada KPPN (p. 287). • • • Bagaimana sifat pengujian RFC dalam rangka penerbitan CAN?  Informasi apa saja yang harus terdapat dalam dokumen Request For  Commitment?   Bagaimana integrasi sifat pengujian RFC terhadap ketentuan dalam  manajemen pembayaran??  Berikut adalah informasi yang berkaitan dengan input data dan verifikasi atas informasi yang berkaitan dengan komitmen dalam versi SPAN Bid Document. akan memperoleh Commitment Application Number (CAN) yang selanjutnya akan menjadi salah satu acuan dalam proses pembayaran (p. 215 dan p. Mekanisme tersebut di atas. 192) dan harus memperoleh persetujuan treasury (KPPN) sebelum commitment dicatat kedalam database treasury (p. setiap commitment (specific commitment) yang disetujui dalam proses commitment registrasion. 226). DTP                                                                                                                                           146    . Selanjutnya.

Pada saat ini terdapat dua jenis pengujian yang dilakukan KPPN. yaitu pengujian substantif dan formal. Pengujian atas komitmen hanya akan dilakukan pada saat penerbitan SP2D. dalam penjelasan UU Perbendaharaan disebutkan bahwa fungsi pengelola keuangan/bendaharawan umum (terkait dengan aspek rechtmatigheid dan wetmaitgheid) “dilakukan pada yang saat dijalankan terjadi oleh Menteri dan Keuangan/Treasury hanya penerimaan pengeluaran”. Perlu dilakukan kajian agar sifat ruang lingkup pengujian/ verifikasi atas dokumen RFC yang diajukan oleh Satker ke KPPN tidak bertentangan dan didukung dengan kerangka landasan hukum yang ada.Sebagai bahan perbandingan. Beberapa alternatif adalah sebagai berikut: 1) Alternatif 1: Membatasi pengajuan dokumen RFC ke KPPN hanya sebagai proses registrasi atas data komitmen. Subdit TPBE. (2) aktivitas terkait dengan komitmen manajemen akan cenderung hanya menjadi ekstra work baik bagi Satker maupun bagi KPPN. Alternatif ini didasarkan atas penafsiaran secara konservatif atas Penjelasan dalam UU Perbendaharaan Negara sebagaimana tersebut di atas. Kelemahannya adalah (i) resiko dari registrasi data komitmen yang tidak valid. proses pengujian validitas komitmen yang akan menimbulkan kewajiban pengeluaran merupakan bagian dari proses pengeluaran uang dari kas negara. DTP                                                                                                                                           147    . Alternatif ini juga sangat mirip dengan praktek saat ini dimana verifikasi atas komitmen dilakukan pada saat pembayaran. 2) Alternatif 2: Alternatif ini didasarkan pada penafsiran bahwa proses yang berkaitan/menyebabkan pengeluaran termasuk dalam kewenangan perbendaharaan untuk melakukan pengujian pada saat terjadinya pengeluaran. Artinya. Verifikasi atas data commitment sebagaimana dalam SPAN (BC-008) lebih bersifat pengujian substantif.

Dalam alternatif 2 diusulkan pemisahan pengujian substantif dan formal dalam proses pengeluaran kas/pembayaran tagihan. Data komitmen yang diajukan satker ke KPPN diverifikasi secara substantif (di antaranya termasuk pengujuan dalam BC008 sebagaimana tersebut di atas). Sedangkan pengujian atas SPM lebih difokuskan pada pengujian yang bersifat formal, termasuk didalamnya pengujian atas ke adaan reference atas data komitmen tertentu (Commitment Application Number). Dengan cara tersebut di atas, diharapkan data komitmen dapat lebih efektif baik bagi monitoring data pagu maupun bagi perencanaan kas, karena melalui pengujian di KPPN validitasnya lebih terjamin. Di samping itu, hal tersebut akan memudahkan pelaksanaan tugas di KPPN pada saat pengajuan pembayaran (pengujian atas SPM). Namun demikian, penerapan hal tersebut harus di dukung kepastian kesesuaian dengan perndangan yang berlaku. Mekanisme tersebut di atas memerlukan ketentuan yang secara eksplisit dan terinci mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam format dokumen RFC beserta dokumen pendukung lainnya jika ada. Di samping itu, harus ada landasan hukum yang secara eksplisit mengatur obyek dan sifat pengujian oleh KPPN dalam rangka pengesahan sebuah komitmen.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           148   

Gambar Alternatif 1 Alternatif (1) Pengembangan Manajemen Komitmen

Procurement 

Commitment Record  (RFC+CAN),   Spending Limit,   Record on Payables,   Cash forecasting/  balance  record based on  payables 

Acquisiton n  Invoice  Document

Kontrak/ PO 

Verification of  Commitment  Record 

Issue SPP,  Book payables   Issuance  of RFC CAN  CAN SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

RFC 

Registra sion of  Commit ment   

Updating  Commit ment   

Commitment  verification on  item as  described in  BC008 

SPM +  CAN

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           149   

Gambar Alternatif 2 Alternatif (2) Pengembangan Manajemen Komitmen

Procurement 

Commitment Record  (RFC+CAN),   Spending Limit,   Record on Payables,  

Acquisiton n  Invoice  Document

Kontrak/ PO 

Cash forecasting/  balance  record based on  payables 

Verification of  Commitment  Record 

Issue SPP,  Book payables   CAN Issuance  of RFC CAN  SP2D  Prepare  Payment  Document  (SPM) 

RFC 

Commit metn  Verifica tion   (RFC/  BC008) 

Registr asi  of  Commi tment  

Updat e  Com mitm en 

Check  CAN  Availa bility 

SPM +  CAN

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           150   

D. Manajemen Pembayaran  1. International Best Practice terkait Manajemen Pembayaran Dalam Treasury Diagnostic Toolkit (Hasim & Moon, 2004), terdapat 2 (dua) model terkait dalam Pencairan Anggaran, yaitu: (1) sentralisasi manajemen pembayaran dan (2) desentralisasi manajemen pembayaran. Sentralisasi pembayaran melalui Treasury memungkinkan dilakukannya pengecekan oleh Treasury untuk memastikan bahwa pembayaran yang dilakukan telah sesuai dengan budget appropriations. Konsolidasi Satker bank accounts ke dalam TSA di bawah kendali treasury, memungkinkan efficient cash management dan menghindarkan suatu situasi dimana di satu sisi terdapat banyak idle cash di Satker bank accounts dan di sisi lain rekening BUN secara agregat mengalami defisit. Struktur organisasi yang diperlukan dalam rangka sentralisasi pelaksanaan pencairan anggaran terdiri dari main treasury office di kantor pusat, second tier treasury offices di tingkat propinsi dan (kemungkinan) third tier offices yang berada di setiap kabupaten/district. K/L memproses transaksi pembayaran mereka di central level treasury office, sedangkan Satker memproses transaksi pembayarannya di kantor treasury propinsi/kabupaten terdekat. Satker mengirimkan transaksi pengeluarannya kepada kantor treasury terdekat untuk pemrosesan pembayarannya. Treasury akan mengirimkan transaksi pengeluaran yang telah disetujui kepada kantor cabang Central Bank terdekat dimana TSA berada, untuk melakukan pembayaran kepada vendor. Berikut ini dalam Gambar 4.15 menunjukkan skema yang menjelaskan sentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           151   

Gambar 4.15 Sentralisasi Proses Pembayaran

Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit Dalam kasus dimana treasury dan kerangka hukum untuk budget execution telah ada dan berfungsi secara efisien, model alternatif pencairan anggaran harus digunakan. Di beberapa negara, K/L dan Satker bertanggung jawab secara langsung untuk melakukan pembayaran melalui TSA. TSA masih berada di Central Bank dan Central Bank akan bertanggung jawab terhadap retail banking operations dalam kaitannya dengan pembayaran dan penerimaan pemerintah. Menteri Keuangan harus memastikan bahwa terdapat mekanisme pengendalian yang memadai sebelum K/L/Satker melakukan pembayaran. Pengendalian tersebut dapat dilakukan oleh central treasury. TSA Bank juga dapat diperintahkan untuk melaksanakan mekanisme pengendalian terhadap batasan pengeluaran secara keseluruhan yang dilakukan oleh K/L/Satker. Dalam model ini, Satker dan K/L di atasnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga rekening mereka dan rekening pemerintah secara umum. Berikut ini dalam Gambar 4.16 menunjukkan skema yang menjelaskan desentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           152   

termasuk pula hal-hal prinsip berkaitan dengan pembayaran tagihan atas beban APBN sebagai bentuk penyaluran dana anggaran. Struktur dan kelembagaan Satker dalam penyelenggaraan keuangan negara. khususnya yang terkait dengan manajemen pembayaran adalah sebagai berikut: Kuasa Pengguna  Anggaran (KPA)  Pejabat Pembuat  Komitmen (PPK)  Pejabat Penerbit  SPM (PPSPM)  Bendahara  Pengeluaran  Subdit TPBE. Undang-Undang Perbendaharaan mengatur dengan jelas tugas dan tanggung jawab Satker dan Institusi Perbendaharaan dalam hal pelaksanaan anggaran.Gambar 4. DTP                                                                                                                                           153    . khususnya.16 Desentralisasi Proses Pembayaran Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit a) Review Atas Peraturan Perundangan Undang-Undang Keuangan Negara dan.

kewenangan dan koneksitas proses bisnis antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen pembayaran adalah sebagai berikut (Gambar 4. Pada dasarnya. penguji SPM melakukan pengujian meliputi aspek keberadaan/ketersediaan dasar penagihan.Terkait dengan dokumen permintaan pembayaran yang diajukan (SPP). Ditjen Perbendaharaan melalui Kantor Pelayanan Perbendahraan Negara akan melakukan pengujian substantif dan formal terhadap dokumen perintah membayar (SPM) yang diajukan oleh Satker.17 Kerangka organisasi. rechmatigheid dan doelmatigheid). Dalam Penjelasan Undang-Undang Perbendaharaan dijelaskan bahwa kewenangan Bendahara Umum Negara untuk melakukan pengujian tersebut merupakan fungsi pengawasan keuangan yang dilakukan pada saat terjadi penerimaan dan pengeluaran. Kerangka organisasi. Selanjutnya. kebenaran hak tagih dan kesesuaian tujuan pengeluaran (wetmatigheid. pengujian substatif dan formal tersebut hanya meliputi aspek keberadaan/ketersediaan dasar penagihan dan kebenaran hak tagih (wetmatigheid dan rechmatigheid) (Perdirjen 66/PB1/2005). DTP                                                                                                                                           154    . kewenangan dan koneksitas proses bisnis antara Satker dan Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen pembayaran Subdit TPBE.17): Gambar 4.

Sebagaimana ditunjukan dalam gambar tersebut di atas. Dalam kerangka international best practice. Namun demikian. pembayaran kepada yang berhak (beneficiaries) dilakukan oleh KPPN. Dalam mekanisme LS. 2. Namun demikian. dapat disimpulkan bahwa kerangka peraturan perundangan yang berkaitan dengan manajemen pembayaran mengamanatkan terlaksananya mekanisme pembayaran yang tersentralisasi pada institusi perbendaharaan (gambar 1) namun tetap mengedepankan mekanisme check and balance dengan memberikan kewenangan pengujian yang lebih komprehensif (meliputi kebenaran tujuan pengeluaran) kepada Satker (gambar 2). dalam praktek saat ini di Indonesia. Pengujian atas pembayaran yang dilakukan melalui mekanisme UP dilakukan pada saat penerbitan SPM-GU (Penggantian Uang Persediaan) yang pada hakekatnya merupakan pertanggungjawaban bendahara atas pembayaran yang telah dilakukan sebelumnya dengan menggunakan uang persediaan. pada dasarnya KPPN tetap memiliki kewenangan pengujian yang sama baik dalam hal pembayaran melalui mekanisme LS maupun UP. DTP                                                                                                                                           155    . diantaranya: a) Business Process di Satker 1) Tidak adanya cycle time dalam proses pembayaran menyebabkan ketidakjelasan norma waktu penyelesaian mulai dari tagihan diterima dari Subdit TPBE. pembayaran kepada yang berhak (beneficiaries) dilakukan oleh bendahara. Sedangkan dalam mekanisme UP. Current State Assessment & Problems terkait Manajemen Pembayaran Secara konseptual. Mekanisme pembayaran yang tersentralisasi juga memungkinkan pihak treasury untuk mengkonsolidasi rekening Satker (Rekening Bendahara Pengeluaran) ke dalam Treasury Single Account sehingga dapat menghindari terjadinya akumulasi idle kas dalam jumlah yang besar (Treasury Diagnostic Toolkit. terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam rangka pengemangan manajemen pembayaran di masa yang akan datang. 2004). terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu melalui mekanisme pembayaran langsung (LS) dan mekanisme Uang Persediaan (UP). mekanisme pembayaran yang ada pada saat ini memungkinkan terjadinya check and balance terutama oleh pihak treasury untuk memastikan bahwa pengeluaran yang dilakukan sesuai dengan peraturan dan didukung oleh ketersediaan dana anggaran.

5 juta cukup dengan bukti pembayaran berupa kuitansi. DTP                                                                                                                                           156    . 4) Treasury tidak memiliki kontol sepenuhnya atas aktivitas business prosess yang berkaitan dengan pembayaran. proses penerbitan SPP.Supplier. sedangkan untuk pengadaan diatas Rp 5 juta diperlukan kontrak berupa SPK (Surat Perintah Kerja) maupun Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa. Adanya intersection aturan. meskipun KPPN telah menetapkan jangka waktu penyelesaian SP2D selama 1 Subdit TPBE. b) Business Process di KPPN 1) Mekanisme pembayaran melalui pengelolaan Uang Persediaan (UP) yang ada saat ini masih menimbulkan idle cash yang cukup besar pada rekening bendahara pengeluaran. Sebagaimana diketahui pada saat ini pembayaran dilakukan melalui transfer dari rekening kas negara di Bank komersial (Bank Operasional) ke rekening pihak ketiga. Sedangkan dalam Perdirjen PBN Nomor 66/PB/2005 pasal 7 pembayaran dengan menggunakan uang persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran kepada satu rekanan tidak boleh melebihi Rp 10 juta. sampai dengan saat ini tidak ada ketentuan atau batas waktu yang jelas untuk proses transfer tersebut. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa tidak semua pengeluaran kontraktual dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (untuk pengeluaran Rp 5 juta sd 10 juta). 2) Informasi terkait komitmen diajukan pada saat yang bersamaan dengan pengajuan pembayaran menyebabkan manajemen terhadap komitmen hanya sebatas pada pengawasan terhadap nilai kontrak agar tidak dilampaui oleh pengajuan pembayaran yang pada saat itu dilakukan Satker. 2) Peraturan terkait besaran pengeluaran yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak cenderung tidak sesuai dengan peraturan terkait mekanisme pembayaran. dimana dalam Keppres 80 tahun 2003 pasal 31 disebutkan bahwa untuk pengadaan dengan nilai dibawah Rp. proses penerbitan SPM sampai dengan pengajuannya ke KPPN. Misalnya. 3) Tidak berfungsinya rencana penarikan dana pada halaman III DIPA menyebabkan tidak berjalannya cash forecasting secara optimal. Aktivitas di Bank Operasional yang terkait dengan transfer ke rekening pihak ke-3 menjadi black box dari business proses pembayaran.

dapat diidentifikasikan proses yang terjadi dalam pencairan anggaran sebagai berikut: (1) proses pembayaran dimulai dengan pendaftaran payment orders (SPM) oleh Satker kepada KPPN berdasarkan invoices yang diterima dari suppliers atau internally generated SPM (misal: pembayaran gaji). Berikut adalah framework rencana masing-masing mekanisme pembayaran: pengembangan SPAN terkait dengan Subdit TPBE. idealnya scope bisnis proses pembayaran tidak hanya sampai dengan penerbitan SP2D tetapi sampai dengan dana tersebut diterima di rekening pihak ketiga. Fitur SPAN Terkait Manajemen Pembayaran Sesuai dengan rencana pengembangan SPAN. untuk membayar tagihan kepada suppliers. (2) SPM direview di KPPN untuk memastikan bahwa SPM tersebut berada dalam available spending authority Satker. Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya. 3. Terkait dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker. terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu secara langsung (LS) dan dengan mekanisme Uang Persediaan (UP). DTP                                                                                                                                           157    . Sesuai dengan gambar di atas.jam. maka ruang lingkup proses pembayaran idealnya meliputi aktvitas permintaan pembayaran (dari PPK maupun Bendahara Pengeluaran) yang menghasilkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). dan (3) kemudian KPPN menerbitkan Transfer Orders (SP2D) pada designated bank.

18 Kerangka Mekanisme Pembayaran secara Langsung (versi SPAN bidding document) Uraian dari business prosess dalam gambar di atas adalah sebagai berikut: 1) Pemrosesan SPM yang diterima dari Satker − SPM dapat diterima oleh KPPN melalui: (1) input manual. (3) import data dari text files atau spreadsheets. DTP                                                                                                                                           158    . sistem akan memverifikasi bahwa: (1) vendor codes. (4) upload secara langsung dari database Satker. (2) input secara batch dari disket. budget classification dan account classification valid. organizational codes. (3) Komitmen yang telah diregister (CAN) mengcover jumlah dana yang ada di SPM.18) Gambar 4.a) Kerangka Mekanisme Pembayaran secara Langsung (versi SPAN) (Gambar 4. (2) Jumlah nilai SPM yang dikirim secara batch sesuai dengan jumlah dalam cetakan SPM. Subdit TPBE. − Sebelum me-register SPM.

− Setelah berhasil diverifikasi. DTP                                                                                                                                           159    . maka atas pembayaran yang melampaui payment schedules di dalam AFP. AFP akan di-update dan transaksi akan antri (queue) untuk dilakukan pembayaran. − Transaksi yang tidak valid akan ditolak. − Apabila jumlah dana di SPM melebihi cash limit yang ada/tersisa. 2) Pengecekan kesesuaian dengan Cash Limits Apabila cash limits tidak diberlakukan. sistem secara otomatis akan meng-generate commitment mengikuti budget commitment procedure. sistem akan mengurangi nilai cash limit sesuai dengan jumlah dana SPM yang telah disetujui. transaksi akan antri untuk dilakukan pembayaran. 3) Pengecekan SPM dengan Annual Financial Plans (AFP) − Sistem akan melakukan pengecekan terhadap SPM untuk melihat kesesuaiannya dengan AFP. SPM yang telah divalidasi akan diproses pembayarannya setelah proses peng-update-an AFP. Data commitment yang telah tercatat (pada commitment management) akan diambil untuk memastikan bahwa pembayaran tersebut telah diotorisasi. − Apabila payment schedule dalam AFP tidak mengikat. sistem akan menolak transaksi tersebut dan membuat exception report kepada Satker dan K/L yang bersangkutan. Sistem akan membuat exception report yang memuat daftar transaksi yang tidak valid untuk dikirimkan kepada Satker dan K/L-nya. Setelah itu. − Apabila payment schedule dalam AFP bersifat mengikat maka sistem memiliki kapasitas untuk melakukan suspend pembayaran apabila pembayaran Subdit TPBE. sistem akan memverifikasi bahwa jumlah dana yang ada di SPM tidak melebihi cash limits bagi Satker tertentu (pada tanggal transaksi). − Dalam hal diberlakukannya cash limits. sistem akan menyampaikan informasi tersebut agar Sakter dan Kementrian melakukan koreksi atas AFP dengan merubah rencana pembayaran dari periode selanjutnya.− Apabila SPM dikecualikan dari commitment registration procedure.

(2) menolak pembayaran atas SPM/SP2D tersebut. − Apabila pembayaran berada di dalam withdrawal ceiling. selanjutnya staff yang memiliki otorisasi di KPPN dapat melakukan penarikan rekening TSA (interface langsung dengan sub akun KPPN yang ada di Bank Indonesia) dalam rangka pembayaran kepada supplier melalui RTGS. sistem menyediakan fasilitas untuk: (1) queue SPM/SP2D lagi sampai tersedianya withdrawal limits untuk membayar SPM/SP2D tersebut (dilakukan oleh authorized user di KPPN).tersebut melampaui AFP. Selanjutnya sistem akan men-generate SP2D. − Sistem menyediakan fasilitas untuk melakukan interfacing dengan RTGS system atau equivalent-nya yang ada di bank. Nomor dan tanggal SPM. DTP                                                                                                                                           160    . Jumlah uang dalam SPM. Data tersebut meliputi: Satker identification code dan ledger account number-nya. Subdit TPBE. me-reset data commitment dan cash limits. Klasifikasi fungsi. 4) Pengambilan dana dari TSA untuk pembayaran kepada suppliers − Sistem menyediakan fasilitas untuk meng-queue SPM berdasarkan tanggal jatuh tempo pembayaran dan berdasarkan user defined priorities. dan economic transaksi dalam SPM. Interface tersebut dapat mereformat SPM/SP2D sesuai dengan format yang diperlukan dalam clearing system. melalui fasilitas manual override khususnya untuk pengguna tertentu. sistem akan menyimpan semua data SPM yang telah disetujui dan diproses. − Apabila pembayaran melebihi withdrawal ceiling. − Sistem akan melakukan pengecekan apakah withdrawal ceiling (cash limit) yang dibuat untuk KPPN sub-account (di Treasury main account) mampu meng-cover pembayaran yang jatuh tempo. Hal tersebut mencakup pengiriman text messages bersamaan dengan pengiriman uang ke supplier’s bank agar supplier dapat mencocokan pembayaran dengan invoice asli. − Setelah memberikan unique reference number. program. dan men-generate exception report untuk dikomunikasikan kepada Satker.

dll. Data rincian SP2D. iuran pensiun. sewa rumah. 5) Rekonsiliasi Bank atas transaksi pembayaran − Sistem men-support fasilitas interfacing dengan RTGS clearing system yang ada di bank untuk downloading electronic confirmation of credit kepada rekening bank supplier. Kode KPPN. Nomor SP2D. − Sistem secara otomatis akan menandingkan payment dengan confirmation of credit. Commitment Approval Number. Satu SPM dapat memuat beberapa jenis pengeluaran yang berbeda kode klasifikasi anggaran dan fund codes-nya. − Payment records yang masih belum direkonsiliasi untuk user defined period akan di-extract dan dikirimkan ke RTGS administrator untuk dilakukan review. meng-extract semua pembayaran yang sesuai dari payment records dan men-generate payment confirmation report untuk dikirimkan ke Satker. data rincian supplier. fund code. Kode bank sumber dan nomor rekeningnya. nomor dan tanggal invoice. Subdit TPBE.Kode akun dan jumlah pengurangan seperti pajak. sistem akan men-generate exception report untuk dikirimkan ke RTGS administrator untuk dilakukan review. DTP                                                                                                                                           161    . Apabila identitas dan jumlahnya berbeda. tanggal jatuh tempo pembayaran.

atau melalui debit cards yang membebani rekening KPPN. Pembayaran dapat dilakukan melalui penerbitan check oleh bendahara yang membebani rekening bendahara. KPPN dan Bank Operasional akan membuat persetujuan terkait dengan batas penarikan yang diperolehkan dalam jangka waktu tertentu untuk Subdit TPBE. terdapat mekanisme pembayaran melalui Uang Persediaan. 2) Pengeluaran dengan mekanisme UP dilakukan melalui Sub-akun dari rekening KPPN di Bank Operasional mitra kerja KPPN.19) Gambar 4. Masing-masing bendahara pengeluaran memiliki sub-akun untuk Satker yang bersangkutan. dengan limit tertentu.b) Kerangka Mekanime pembayaran melalui Uang Persediaan (UP) (Gambar 4. Untuk melakukan pengeluaran melalui sistem petty cash ini. bendahara dapat menarik sejumlah uang. yang pelaksanaannya dilakukan oleh bendahara masingmasing Satker. dari sub-akun tersebut dengan menggunakan debit card/ATM. DTP                                                                                                                                           162    .19 Kerangka Mekanisme Pembayaran melalui UP (versi SPAN bidding document) Uraian dari proses bisnis dalam gambar tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1) Untuk pembayaran dengan jumlah/skala kecil.

diantaranya meliputi: a) Implikasi dari sifat penggunaan Annual Financial Plan (Hal 3 DIPA). Subdit TPBE. 3) Atas dasar penarikan dana oleh Bendahara. Terkait dengan mekanisme pembayaran secara langsung (LS). Sifat AFP yang tidak mengikat cenderung akan menghasilkan kondisi yang sama dengan saat ini. Dalam AFP yang bersifat tidak mengikat. permasalahan terkait AFP pada saat ini adalah tidak berfungsinya Rencana Penarikan Dana karena ketiadaan sistem untuk melakukan update sesuai dengan realisasi dan tidak dipatuhinya Halman 3 DIPA sebagai alat perencanaan. Bank dapat mengajukan penggantian (reimbursement) atas sejumlah dana yang ditarik oleh bendahara dari sub-akun tersebut. di mana Halaman 3 DIPA tidak dapat digunakan secara efektif.masing-masing sub-akun (limit). disertai dengan pemberitahuan ke pada Satker agar menyesuaikan AFP dengan rencana penarikan periode selanjutnya. Selanjutnya. 4. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya. AFP yang tidak mengikat juga akan menambah business process baru. Kerangka bisnis proses dalam SPAN mengakomodasi kemungkinan penerapan AFP baik yang bersifat mengikat maupun tidak mengikat. DTP                                                                                                                                           163    . Sub-akun tersebut merupakan zero balance account. Bank akan menerbitkan withdrawal record yang selanjutnya menjadi dasar bagi KPPN untuk mengotorisasi penggantian (reimbursement) dari TSA ke rekening tertentu sebagai penerima di Bank Operasional. dan bukan rekening milik KPPN. Pada awalnya bank akan melakukan pembayaran dengan dana-nya masing-masing. berupa koreksi atas AFP. Implikasi AFP bersifat mengikat adalah tidak disahkannya permintaan pembayaran yang melebihi Rencana Penarikan Dana untuk periode tertentu. Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Manajemen Pembayaran Terdapat beberapa hal penting dalam kerangka business process untuk payment sebagaimana diuraikan tersebut di atas. Pencairan anggaran dapat melebihi Rencana Penarikan Dana. Rekening penerimaan ini. adalah rekening Bank. AFP berfungsi sepenuhnya sebagai alat perencanaan. yang bersaldo nihil setiap saat. yang tidak memiliki nilai tambah.

rekening bank operasional di KPPN menerima transfer dari RPK-BUNP sebesar nilai SPD2 yang akan diterbitkan pada hari yang bersangkutan. DTP                                                                                                                                           164    . memerlukan bisnis proses dan aplikasi yang terpisah yang selama ini dijalakan dengan aplikasi E-kirana. b) Penerapan withdrawal ceiling atas Rekening Kas Negara Kerangka bisnis process dalam SPAN menghendaki adanya withdrawal ceiling untuk penarikan dana dari Rekening Kas Negara dalam rangka pembayaran. Withdrawal ceiling yang bersifat statis akan cenderung tetap untuk periode tertentu yang cukup panjang. Namun dalam prakteknya. Opsi ini secara konseptual juga mendukung pengembangan manajemen komitmen dan penggunaan data rencana penarikan dana sebagai input untuk perencanaan kas (manajemen kas). tidak ditentukan dasar penentuan withdrawal ceiling tersebut. Sebagaimana diketahui. mekanisme penyediaan dana di rekening KPPN di Bank Operasional pada saat ini cenderung pada penentuan withdrawal ceiling yang bersifat dinamis.AFP yang berfungsi sebagai Rencana Penarikan Dana yang bersifat mengikat dan diupdate sesuai dengan realisasi pengeluaran lebih berpotensi untuk diimplementasikan secara efektif. Rekening ini juga bernilai nihil (zero balance) di akhir hari. jumlahnya ditentukan sesuai dengan tren atas dana yang dibutuhkan. Subdit TPBE. Sedangkan withdrawal ceiling yang bersifat dinamis cenderung memiliki periode yang lebih pendek (misalnya harian) dan besarannya ditentukan atas input data terkait pengeluaran yang akan segera terjadi. Di samping itu. Penarikan dana yang melebihi withdrawal ceiling ini bahkan dapat berimpliksai pada ditolaknya perintah transfer (SP2D). dan cenderung terdapat margin antara jumlah yang dibutuhkan dengan ceiling yang ditentukan. Hal tersebut kurang ideal karena tanggung jawab penyediaan dana dalam rangka pembayaran ada pada Ditjen Perbendaharaan dan seharusnya tidak berimplikasi pada penundaan pembayaran. Secara konseptual terdapat dua model utama dari penerapan withdrawal ceiling. Sejalan dengan pengembangan Treasury Single Account di Ditjen Perbendaharaan. Mekanisme ini cukup ideal bagi efisiensi kas.

Model dari cycle time ini adalah sebagai mana telah dibahas pada bagian manajemen komitmen. Data ini akan akurat apabila terdapat cycle time yang jelas atas proses bisnis terkait dengan penerbitan SPP dan SPM di Satker. misalnya dapat ditentukan atas dasar nilai account payable yang jatuh tempo pada hari tertentu untuk KPPN tertentu. Namun demikian. Otorisasi secara online tersebut secara konseptual memperpanjang scope/ ruang lingkup proses bisnis dari sekedar penerbitan perintah transfer (SP2D) menjadi sampai pada eksekusi transfer ke rekening pihak ke-3. mekanisme clearing dikhawatirkan berpengaruh pada jangka waktu yang diperlukan untuk melakukan transfer ke rekening pihak ke-3. d) Otorisasi transfer dari rekening kas negara ke rekening pihak ke-tiga melalui direct interface dengan RTGS di BI oleh pejabat di KPPN Kerangka business process pembayaran dalam dokumen SPAN menyarankan otorisasi transfer ke rekening pihak ke-3 oleh pejabat di KPPN secara online melalui direct interface dengan sub-akun KPPN di Bank Indonesia. Data ini diharapkan dapat dihasilkan dari modul manajemen komitmen atas dasar dokumen SPP. Mekanisme tersebut identik dengan mekanisme pembayaran melalui rekening khusus pada saat ini.Sesuai dengan pengembangan TSA yang tengah dijalankan. Besaran ceiling dapat ditetapkan secara sistem dengan mengintegrasikan bisnis proses pembayaran dengan business process terkait manajemen komitmen dan akuntansi. perlu dipertimbangkan implikasinya bagi KPPN yang tidak satu lokasi dengan Kantor Pusat/ Kantor Cabank BI. idealnya withdrawal ceiling di Rekening KPPN akan bersifat dinamis. DTP                                                                                                                                           165    . Penggunaan bank komersil sebagai Bank Operasional dalam rangka pembayaran kiranya masih dibutuhkan hingga saat ini. Kerangka ini secara ideal akan mampu mengurangi fenomena black box atas aktifitas transfer pada business process pembayaran di perbankan. Mekanisme ini juga dapat meningkatkan kepastian layanan penyampaian dana anggaran ke pada yang berhak. c) Pembayaran kepada Suplier melalui mekanisme Transfer dari Rekening Kas negara di Bank Indonesia Kerangka business process pembayaran dalam dokumen SPAN menghendaki pelaksanaan pembayaran dilakukan melalui transfer dari sub-akun KPPN di Bank Indonesia. Besaran ceiling. Di samping itu. Namun Subdit TPBE.

Subdit TPBE. mekanisme UP memilki dampak negatif terhadap tujuan dari manajemen kas terkait dengan adanya idle cash di rekening bendahara pengeluaran. Namun demikian. keamanan dan kelancaran mekanisme ini memerlukan dukungan dan pengembangan IT dalam hal software.demikian. Gambar berikut mengilustrasikan kerangka pengembangan manajemen pembayaran yang diusulkan dalam rangka SPAN adalah sebagai berikut (Gambar 4. Penggunaan petty cash dalam bentuk Uang Pertanggungjawaban pada hakekatnya merupakan mekanisme pembayaran/ bentuk dari manajemen pembayaran. dan khususnya jaringan.20): Gambar 4. DTP                                                                                                                                           166    .20 Kerangka Pengembangan Manajemen Pembayaran Langsung yang Diusulkan Dalam Rangka SPAN Terkait dengan rencana pengembangan SPAN. penyempurnaan mekanisme pembayaran melalui Uang Pertanggungjawaban idealnya dilaksanakan secara komprehensif.

atas jumlah dana yang di-reimburse harus tetap dilakukan rekonsiliasi dengan pertannggungjawaban penggunaan UP pada saat penerbitan SP2D-GU. penggunaan credit card relatif memerlukan aspek administrasi (perjanjian dengan pihak bank) dan aspek pelaksanaan (tidak terbiasa dengan penggunaan credit card dan ketiadaan infrastruktur) yang lebih kompleks. b) Penggantian dana milik bank (reimbursement) atas penarikan sejumlah dana dari sub-akun rekening KPPN. Namun demikian. Di samping itu. penggunaan credit card meniadakan keharusan untuk menyediakan saldo kas dalam jumlah tertentu. Mekanisme penggantian ini. Penentuan limit pengeluaran tidak harus dilakukan dengan SP2D-UP. DTP                                                                                                                                           167    . karena pada dasarnya penentuan limit ini tidak identik dengan pengeluaran kas. Idealnya. idealnya terpisah dari mekanisme pertanggungjawaban penggunaan UP. penggunaan sub-akun KPPN yang bersifat zero balance dan penerapan limit atas pengeluaran yang diijinkan untuk dilakukan dari rekening tersebut. Mekanisme reimbursement harus dilakukan berasarkan verifikasi atas catatan yang valid dari pihak bank. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi resiko tingginya tingkat bunga yang harus dibayar (karena periode penggantian yang lebih lama) apabila penggantian dilakukan atas dasar pertanggungjawaban penggunaan UP (SPM-GU). penggunaan credit card lebih ideal (terkait dengan tujuan minimalisasi idle cash) apabila tingkat bunga kredit (atas penggunaan dana bank) dapat diminimalkan. Secara konseptual.Kerangka penyempurnaan UP dalam dokumen SPAN telah membahas beberapa hal penting terkait dengan penggunaan debit/credit card sebagai alternatif mekanisme UP. Jumlah limit Subdit TPBE. Namun demikian. Beberapa aspek penting yang masih memerlukan penentuan lebih lanjut. mekanisme ini berpotensi pada kewajiban negara untuk membayar bunga atas penggunaan dana milik bank tersebut. Sebaliknya. dengan asumsi bahwa pembayaran atas sub-akun KPPN dalam rangka UP dilakukan dengan sumberdaya (kas) milik bank. Penggunaan debit card relatif lebih mudah. di antaranya meliputi: a) Pilihan penggunaan debit card atau credit card. c) Penentuan limit pada sub-akun rekening KPPN dan pertanggungjawaban penggunaan UP. namun berpotensi menimbulkan idle cash dalam jumlah tertentu. KPPN dapat melakukan persetujuan dengan pihak bank untuk menentukan limit UP bagi masing-masing Satker atas dasar jumlah pagu belanja yang diijinkan untuk digunakan dengan mekanisme UP.

Usalan kerangka pengembangan business proses mekanisme pembayaran melalui UP adalah sebagai berikut (Gambar 4. tapi juga merupakan alat pemberitahuan dari KPPN ke pada pihak bank untuk mengembalikan limit subakun KPPN untuk bendahara/ satker dimaksud.21 Kerangka Pengembangan Manajemen Pembayaran Langsung yang Diusulkan Dalam Rangka SPAN Terkait dengan proses bisnis pembayaran di Satker. DTP                                                                                                                                           168    . Pengembalian jumlah limit (ke jumlah semula) baru dapat dilakukan dengan apabila KPPN telah menerbitkan SP2D GU atas pertanggungjawaban bendahara. terutama yang berhubungan dengan penerbitan SPP dan SPM serta penyampaiannya ke KPPN. SP2D-GU ini tidak hanya merupakan pengesahan pertanggungjawaban penggunaan UP.21): Gambar 4. beberapa hal yang kiranya dapat menjadi arahan penyempurnaan adalah sebagai berikut: Subdit TPBE.ini harus berkurang seiring dengan ditariknya sejumlah dana oleh bendahara/satker yang bersangkutan.

b) Besaran pengeluaran yang dapat dibayar dengan mekanisme UP diselaraskan dengan ketentuan saat ini terkait kewajiban membuat dokumen kontrak (SPK) dan rencana pengembangan manajemen komitmen. Sejalan dengan rencana penyempurnaan proses bisnis dalam rangka SPAN perlu dilakukan kajian atas koneksitas dengan proses bisnis pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan di Satuan Kerja. 2001). akuntansi dan pelaporan idealnya harus dapat mencatat appropriasi dan penggunaannya pada tiap stages dalam pelaksanaan anggaran (komitmen. Kerangka ini diharapkan dapat mengurangi ekses dari penggunaan mekanisme UP dan dapat mendukung pelaksanaan manajemen komitmen yang ideal. E. semua pengeluaran dalam rangka pengadaan barang dan jasa yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak dibayarkan dengan mekanisme LS. entitas Subdit TPBE. Konsep tersebut identik dengan istilah budgetary accounting (OECD. Tujuan dan Fungsi Laporan keuangan dalam rangka pemenuhan akuntabilitas sangat diperlukan untuk mewujudkan aspek transparansi dalam good governance. Terkait dengan pelaksanaan anggaran di Satker. dapat dibatasi sesuai dengan nilai pengeluaran yang tidak mempersyaratkan dokumen kontrak. verification dan payment). DTP                                                                                                                                           169    . Informasi tersebut dapat digunakan oleh semua pihak. Pengeluaran untuk pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan melalui UP. Salah satu alternatif usulan untuk transparansi terkait dengan jangka waktu peyelesaian proses bisnis di Satker adalah dengan membuat dan menyertakan record entry dalam ADK SPP dan/atau SPM yang disampaikan ke KPPN. dan terutama sekali pada tahap pembuatan komitmen. Cycle time nantinya dapat memberikan kejelasan dan kepastian waktu penyelesaian proses pembayaran di Satker. Accounting dan Reporting 1. KPPN dapat mengetahui kapan suatu SPM akan diajukan dan BUN dapat menyediakan dana sesuai kebutuhan. Kerangka koneksitas tersebut idealnya memperhatikan hal-hal prinsip diantaranya meliputi basis akuntansi. Dengan demikian.a) Penentuan cycle time terkait proses penerbitan SPM di Satker. baik itu supplier dalam memperkirakan kapan tagihannya di bayar. misalnya.

Model ini mampu mendukung kebutuhan internal dalam rangka manajemen program dan Satker. organisasi sistem akuntansi dalam rangka penyusunan laporan keuangan. 2002). 2001) berikut adalah dua sistem utama terkait dengan organisasi sistem akuntansi. Dari literatur yang ada. identik dengan mekanisme rekonsiliasi dan konsolidasi dari catatan atas transaksi di tingkat agency (Satker). Model ini memiliki kelebihan dalam hal mendukung mekanisme kontrol terhadap pelaksanaan anggaran. Namun demikian. Sebagaimana diuraikan dalam Managing Public Expenditure (OECD. laporan keuangan disusun oleh Satker (Spending Units) untuk dikonsolidasikan di tingkat pusat. Namun demikian.akuntansi dan terutama organisasi sistem akuntansi. Variasi dari penerapan kedua model tersebut di suatu negara dipengaruhi oleh model penyelenggaraan keuangan negara. dan terutama sistem pemerintahan (presidensiil dan parlementer) yang selanjutnya mempengaruhi model akuntabilitas dari pemerintah kepada publik. Manfaat lain adalah adanya penyimpanan informasi keuangan yang tersentralisasi. b) Consolidation model Dalam model ini. model ini memiliki beberapa kelemahan terutama karena informasi keuangan (terkait pelaksanaan anggaran) baru disampaikan/diketahui oleh institusi treasury pada saat permintaan pembayaran. model tersebut dapat mengarah pada tidak tercatatnya informasi apabila konsolidasi tidak Subdit TPBE. 2. Model ini juga tidak mendorong Satker untuk memelihara catatan yang diperlukan untuk keperluan manajerial. DTP                                                                                                                                           170    . a) Vertical model Laporan keuangan pemerintah disiapkan di tingkat pusat secara tersentral baik oleh institusi treasury maupun badan yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan akuntansi. yang pada umumnya sulit diperoleh dalam lingkungan akuntansi yang belum terkomputerisasi. International Best Practice dalam Organisasi Sistem Akuntansi Secara umum dikenal dua model utama dari organisasi sistem akuntansi. Konsolidasi adalah proses untuk menyajikan laporan keuangan dari semua entitas yang termasuk dalam entitas pelaporan sehingga mencerminkan laporan keuangan dari satu kesatuan entitas pelaporan (financial statement of single entity) (IFAC Public Sector Committee.

cenderung pada model ini. yang pemerintahannya bersifat parlementer. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) yang diselenggarakan oleh Kementrian Keuangan dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh Kementrian Negara/Lembaga Subdit TPBE. Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan beserta laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya yang telah diaudit oleh BPK selambatlambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. ekonomis. 2009). Laporan Realisasi Anggaran. Current State Assessment dan Problems terkait Accounting dan Reporting Undang-Undang Keuangan Negara mengamanatkan pengelolaan keuangan negara yang tertib. Laporan Keuangan tersebut di atas dihasilkan melalui proses akuntansi. transparan dan bertanggung jawab. Laporan keuangan sudah diaudit di tingkat kementrian meliputi Neraca. Penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah merupakan upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Laporan keuangan disusun di tingkat kementrian (line ministry) melalui Agency FMIS sistem yang meliputi petty cash. payment dan receipt. Laporan tersebut selanjutnya dikonsolidasi oleh kementrian keuangan (DOFAD) untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah federal. DTP                                                                                                                                           171    . efisien. 3. Laporan Keuangan tersebut meliputi Laporan realisasi APBN. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran masing-masing menyelenggarakan akuntansi. Perlu ditegaskan bahwa audit hanya dilakukan ditingkat kementrian teknis dan tidak dilakukan terhadap laporan konsolidasi yang dibuat kementrian keuangan (Bahan Presentasi GPF-AIP. taat pada peraturan perundangan. Neraca.dilakukan dengan kurun waktu yang tepat. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN tersebut. organisasi dari sistem akuntansi di Australia. Di dalam lingkungan yang terkomputerisasi monitoring atas transaksi anggaran yang comprehensive dan tepat waktu dapat dilakukan dengan dukungan sistem informasi yang mencatat transaksi di setiap stages dari siklus anggaran dan koneksi elektronik yang memadai antara kementrian keuangan dengan kementrian teknis. Sebagai contoh. efektif. presiden berkewajiban menyampaikan laporan keuangan kepada DPR.

Menteri keuangan bertanggung jawab untuk menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagai pertanggungjawaban presiden atas pelaksanaan APBN. Selaku Pengguna Anggaran. Selaku Bendahara Umum Negara. dan Catatan Atas Laporan Keuangan beserta Laporan Keuangan Badan Layanan Umum di kementrian masing-masing sebagai lampiran. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun anggaran berakhir. Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran. Neraca. perlu ditegaskan bahwa ruang lingkup akuntansi dan pelaporan pemerintah Subdit TPBE. Menteri Keuangan menyusun Laporan Arus Kas pemerintah Pusat. Laporan Keuangan tersebut disampaikan oleh Presiden kepada Badan Pemeriksa Keuangan.22 Organisasi Sistem Akuntansi pemerintah Pusat Source: Materi Presentasi SAPP (Dit. APK) Terkait dengan penyempurnaan koneksitas proses bisnis manajemen pelaporan. Selanjutnya selaku pengelola fiskal.merupakan komponen yang membentuk Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang menghasilkan laporan keuangan pemerintah. Gambar 4.22 menggambarkan organisasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat. Gambar 4. DTP                                                                                                                                           172    .

Satker Pusat dapat berupa Satker yang dibentuk oleh Kementrian/Lembaga yang berfungsi secara fungsional dan bukan merupakan instansi vertikal. Satker Pusat /Kantor Pusat: adalah satker yang mengelola anggaran kantor pusat unit organisasi Kementrian Negara/ Lembaga. Satker Vertikal/ Unit Pelaksana Teknis adalah satker di daerah yang mengelola anggaran Kementrian Negara/ Lembaga c. Satuan kerja merupakan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang yang merupakan bagian dari suatu unit organisasi pada Kementrian Negara/Lembaga (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan. Sesuai dengan ketentuan dalam UU No.pusat meliputi seluruh unit organisasi pada pemerintah pusat dan unit akuntansi pada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan yang dananya bersumber dari APBN serta Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Satuan Kerja Kantor Pusat adalah Satker dalam lingkup Kantor Pusat suatu kementrian negara/ lembaga.05/2007). Bupati/Walikota yang menjalankan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (atas dasar laporan pelaksanaan tugas dari SKPD) menyampaikan pertanggungjawaban kepada menteri negara/pimpinan lembaga. b. DTP                                                                                                                                           173    . termasuk di dalamnya Satker Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT). yang meliputi: a. Gambar 4. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan merupakan bagian dari anggaran kementrian/lembaga yang dialokasikan berdasaran RKA K/L (Pasal 88 dan 95). Subdit TPBE. Dalam Peraturan Menteri Keuangan No.02/2008 dijelaskan jenis-jenis Satker terkait dengan pelaksanaan anggaran. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satker yang mengelola anggaran Kementrian Negara/ Lembaga dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.23 menunjukan secara garis besar alur pertanggungjawaban Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. 105/PMK. Gubernur. Menteri Negara/pimpinan lembaga menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada presiden (Pasal 90 & Pasal 97).

23 Alur Pertanggungjawaban Dana Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan d. UAPPA-E1 di tingkat Eselon 1 dan UAPA di tingkat kementrian lembaga. DTP                                                                                                                                           174    . Mekanisme pelaporan SAI dilaksanakan dengan membentuk unit-unit akuntansi secara hierarkikal meliputi UAPPA-W di tingkat Wilayah. Dengan mekanisme ini. Sebagai Kuasa Pengguna Anggaran.Gambar 4. Satker Khusus adalah satker yang mengelola dana yang bersumber dari bagian anggaran di luar anggaran kementrian negara/ lembaga atau Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Selaku Bendahara Umum Negara. yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan SiMAK-BMN (Sistem Akuntansi Barang Milik Negara). Pelaksanaan akuntansi dan pelaporan di Satker (UAKPA) merupakan bagian dari palaksanaan Mekanisme SAI. data akuntansi dan laporan keuangan secara berkala disampaikan kepada unit akuntansi di atasnya. Satker-Satker tersebut merupakan entitas akuntansi yang wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Akuntansi dan pelaporan di Satker dilaksanakan oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran/ UAKPA yang merupakan unit fungsional (KMK 171). Menteri Keuangan menjalankan Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara yang di antaranya meliputi Sistem Akuntansi Subdit TPBE.

24 menjelaskan mekanisme/ alur penyampaian data dan dan rekonsiliasi. Gambar 4. Ditingkat UAPBUN.Pusat (SiAP) yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). LRA yang dihasilkan oleh Ditjen Perbendaharaan merupakan bahan rekonsiliasi dengan UAPPA-E1 dan UAPA. Gambar 4. Di tingkat UAKKBUN-Kanwil. Pelaksanaan SiAP melibatkan unit pemroses data yang meliputi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebagai UAKBUND. Dit. Mekanisme rekonsiliasi menurut hierarki unit akuntansi dan konsolidasi laporan keuangan di tingkat pusat merupakan koneksitas proses bisnis pelaporan antara Kementrian Keuangan cq Ditjen Perbendaharaan selaku Bendahara Umum Negara dan Kementrian/Lembaga selaku Pengguna Angaran. LRA merupakan bahan rekonsiliasi dengan UAPPA-Wilayah.24 Source: Modifikasi dari PMK 171 Subdit TPBE. Proses akuntansi SiAP di KPPN akan menghasilkan Laporan Keuangan tingkat KPPN yang terdiri dari LAK. Neraca KUN. DTP                                                                                                                                           175    . APK selaku UAPBUN dan Dit PKN selaku UAKBUN-Pusat. Kanwil Ditjen Perbendaharaan selaku UAKKBUN-Kanwil. LRA dan Neraca SAU tingkat KPPN. LRA dan Neraca SAU tersebut berserta data transaksinya merupakan bahan rekonsiliasi dengan Satker di wilayah kerja KPPN dimaksud.

 DTP                                                                                                                                           176    . Oleh karena itu. Sesuai dengan perspektif international best practice.Terkait dengan alur dan mekanisme dalam gambar tersebut di atas. mekanisme rekonsiliasi dilakukan secara berjenjang dari unit yang terendah. Sebagaimana diketahui. audit atas LKPP dilakukan terutama hanya untuk laporan keuangan hasil konsolidasi oleh Menteri Keuangan. terdapat beberapa hal terkait dengan organisasi sistem akuntansi yang patut menjadi perhatian. Dari tinjauan sistem pemerintahan. Bagi kementrian negara/ lembaga yang tidak memiliki kantor vertikal di daerah dan bukan pengguna dana Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan tidak perlu membentuk UAPPA-W. maka sistem tersebut sesuai dengan sistem pemerintahan presidensial di mana presiden yang sepenuhnya bertanggung jawab kepada lembaga perwakilan rakyat. a) Hierarchical transfer of information dan enormous reconciliation effort Penerapan sistem akuntansi saat ini sangat bergantung pada mekanisme rekonsiliasi antara data transaksi yang dicatat melalui SAI dan SABUN. Penggabungan data dan informasi akuntansi terkait dengan dana dekonsentrasi atau tugas pembantuan dilakukan oleh UAPPA-E1 pada kementrian negara/ lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. antara UAKPA dan UAKBUN-D (KPPN). Dalam pelaksanaannya. Mekanisme ini diperlukan untuk menjamin kesesuaian data di antara ke dua entitas akuntansi Subdit TPBE. Namun demikian. maka berdasarkan uraian pada sub-bagian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa secara konseptual pengorganisasian sistem akuntansi yang diterapkan pada saat ini lebih cenderung pada model vertikal. sampai dengan tingkat kementrian/lembaga yaitu antara UAPA dengan UAKBUN. proses konsolidasi dalam rangka penyusunan laporan keuangan pemerintah merupakan tanggung jawab Kementrian Keuangan selaku pengelola fiskal. Kementrian negara/ Lembaga yang menggunakan Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Di samping itu. Kementrian/lembaga dan treasury masing-masing berkewajiban untuk menghasilkan elemen tertentu dari laporan keuangan dan menjalankan sistem akuntansi yang berbeda. wajib menyusun Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan secara terpisah. maka untuk kementrian/lembaga yang tidak memiliki kantor wilayah dapat menunjuk satuan kerja atau menunjuk salah satu satker di lingkup Eselon 1 sebagai koordinator UAPPA-W.

dan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menghindari loss of information pada unit akuntansi di tingkat yang lebih tinggi. misalnya. Penerapan sanksi ini cukup efektif bagi Satker yang banyak melakukan pengajuan pembayaran melalui mekanisme UP tetapi tidak cukup efektif terkait dengan pengajuan pembayaran melalui mekanisme LS. Pada saat ini. dapat dipahami bahwa aktivitas rekonsiliasi dibutuhkan tidak hanya karena ketiadaan tempat penyimpanan data yang sama (single data base) untuk kepentingan pelaporan. Ditjen Perbendaharaan menetapkan sanksi penundaan pembayaran/pengesahan Uang Persediaan (SP2D UP) apabila Satuan Kerja tidak dapat menunjukkan Berita Acara Rekonsiliasi. DTP                                                                                                                                           177    . Kedua aplikasi tersebut terkait dengan beberapa aplikasi lainnya yang digunakan diantaranya dalam rangka pengajuan dan pengesahan pembayaran. Subdit TPBE. Gambar 4. Aplikasi SAKPA dan Aplikasi Vera. b) Sistem akuntansi yang terfragmentasi Sistem akuntansi di tingkat Kuasa Pengguna Anggaran dan KPPN pada saat ini dilaksanakan dengan dukungan tools berupa software aplikasi.25 menunjukan mekanisme input/output data dan informasi yang berkaitan dengan aplikasi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. Secara konseptual. mekanisme ini tidak sepenuhnya efektif. Namun demikian.

 DTP                                                                                                                                           178    . DTP Subdit TPBE.Gambar4.25 Mekanisme input/output Data dan Informasi Antara Aplikasi Satker dan KPPN Sources: Presentasi Satker Subdit TSA.

Sistem aplikasi yang terfragmentasi pada saat ini sangat potensial untuk mengakibatkan perbedaan data di antara sistem akuntansi di Satker dan KPPN. c) Perbedaan data antara SAI dan SABUN terkait dengan realisasi anggaran Subdit TPBE. pada saat ini sistem dan aplikasi yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan merupakan bagian dari sebuah sistem yang sangat terfragmentasi. mekanisme koreksi data pada saat ini tidak ideal.26 Multiple Entry Point pada Aplikasi di Satker Sources: Presentasi Satker Subdit TSA. Gambar 4. Sebagaimana diketahui. Terlebih lagi. di integrasikan dengan sistem lainnya dengan menerima input dari Aplikasi SPM dan Aplikasi SIMAK-BMN. misalnya.26. DTP Di samping itu. Aplikasi Vera menerima input utama dari Aplikasi SP2D. sistem aplikasi yang ada memungkinkan terjadinya mulitiple entry point termasuk fasilitas untuk melakukan update elemen data yang sama (misalnya data pagu) pada aplikasi yang berbeda sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4. Koneksitas di antara Aplikasi SAKPA dan Aplikasi Vera terjadi terutama melalui mekanisme input/output pada Aplikasi SP2D dan melalui aktivitas rekonsiliasi.Sebagaimana ditunjukan dalam gambar tersebut di atas. mekanisme perubahan dan perbaikan data pada saat ini tidak memungkinkan tersedianya audit trail. Sebagian besar koreksi data dilakukan dengan mengubah input atas data sumber dan melakukan posting ulang. DTP                                                                                                                                           179    . Aplikasi SAKPA di satker.

terutama di tingkat unit akuntansi yang lebih tinggi. DTP                                                                                                                                           180    . Secara konseptual. Namun demikian. Kuasa Pengguna Anggaran melalui laporan SAI mencatat data transaksi terkait dengan realisasi anggaran yang dikuasainya (budgetary accounting) dengan SPM sebagai dokumen sumber. Sedangkan KPPN sebagai Kuasa BUN di daerah hanya akan mencatat pengeluaran setelah terjadi pengeluaran dari kas negara (cash accounting) walaupun pada prakteknya pencatatan dilakukan atas dasar perintah transfer sejumlah uang dari rekening kas negara dengan SP2D sebagai dokumen sumber.27 Penyusunan Laporan SAI Sesuai gambar di atas. aplikasi SAKPA menggunakan database aplikasi SPM untuk mencatat transaksi pengeluaran. 171/PMK. terkait dengan pencatatan transaksi pengeluaran terdapat dua dokumen sumber yaitu SPM dan SP2D. Praktek tersebut sangat potensial menimbulkan perbedaan data realisasi penyerapan anggaran antara Pengguna Anggaran dan BUN. Satker akan cenderung melaporkan jumlah anggaran yang telah dikontrakkan (committed) dan valid sebagai tagihan (SPP/SPM) meskipun belum Subdit TPBE. Sebagai laporan manajerial kepada unit yang lebih tinggi.05/2007.27): Gambar 4. laporan atas transaksi tersebut baru dapat dihasilkan setelah KPA memperoleh nomor SP2D. Secara teknis penggunaan ke-dua dokumen sumber tersebut dalam penyusunan laporan SAI adalah sebagai berikut (Gambar 4.Sebagaimana diatur dalam PMK.

Fitur utama dalam rencana pengembangan SPAN yang berkaitan dengan pelaporan dan akuntansi antara lain meliputi: a) “Capture data at source. Selain faktor terkait penundaan penerapan akuntansi berbasis akrual.and made available to all stakeholders” c) “Provide comprehensive online capabilities to Line Ministries and other agencies to….interrogate online centralized databases to access their information” Tabel berikut mengilustrasikan daftar laporan yang diharapkan dapat dihasilkan dalam rangka SPAN : Scope 1. DTP                                                                                                                                           181    . Fitur SPAN Terkait Accounting dan Reporting Pengembangan SPAN identik dengan integrasi business process dalam penyelenggaran keuangan negara yang dimungkinkan untuk direalisasi dengan dukungan teknologi informasi. 2001). 4. Budget Execution a. with all data being entered once only. Allocation Analysis 2. Budget Report a. core proses bisnis dari sistem informasi yang terintegrasi setidaknya harus mampu melakukan konsolidasi data keuangan pada institusi perbendaharaan. secara tradisional sistem akuntansi yang ada belum mengakomodasi pencatatan komitmen sebagai bagian dari siklus anggaran. Monthly Analysis of Expenditure Subdit TPBE. Ruang lingkup pelaporan dalam rencana pengembangan SPAN meliputi baik eksternal maupun internal reporting. detail dan tersebar di beberapa lokasi dan stakeholders. Model pengembangan yang terintegrasi ini sesuai dengan kebutuhan institusi treasury secara umum yang memerlukan konsolidasi dari data dalam jumlah (magnitude) yang besar. and online transfer to centralized database” b) “Provide a comprehensive reporting system that enables reliable management reports on government financial operations to be generated in real time …. Revenue Estimates Summary c. kementrian teknis dan Satker untuk menghasilkan laporan akuntansi yang biasa digunakan secara umum (OECD.dibayarkan/ disahkan sebagai pengeluaran oleh KPPN. Dalam hal kebutuhan akuntansi dan pelaporan. Expenditure Estimates Summary b.

Monthly Comparison of Expenditure with Cash Flow Forecasts h. Monthly Comparison of Revenue Collections with Historical Data f. DTP                                                                                                                                           182    . Daily Execution of Checks/Payment Orders b. Monthly Comparison Historical Data 3. Payment Detail h. Monthly Receipt and Payment Schedule a. Commitment/Expenditure Transaction Details c. Payment Summary g. Monthly Comparison of Expenditure with Budget Estimates g. Bank Reconciliation i. Financial Position Statement Subdit TPBE. Outstanding checks/payment orders l. Forecast of Cash Outflows and Inflows b. Cash Management a. Commitment/Expenditure Summary by Period f. Outstanding Commitment Summary 5. Daily Payment Reconciliation k. Pending SPM and Rejected SPM c. Completed SPM. Monthly Allocation of Revenue Shares d. Monthly Expenditure Forecasts d. Commitment/Expenditure Summary YTD d.b. Commitment Summary b. Vendor Name and Adress Listing e. Credit Aging d. Vendor Payment History f. Audit Trail 4. Commitment/Expenditure Details by Period e. Daily Account Posting Summary j. Monthly Revenue Forecasts c. Monthly Analysis of Revenue Collections c. Monthly Comparison of Revenue Actual with Estimates e. Account Payable of Expenditure with i. Commitment a.

manajemen pembayaran. Revenue Collection Summary b. Revenue Collection Details c. Ruang lingkup sistem akuntansi dalam SPAN akan meliputi akuntansi anggaran (budgetary accounting) dan akuntansi keuangan (financial accounting). Registrasi dan penyampaian appropriasi anggaran tahunan b. Audit Trail Treasury General Ledger (TGL) akan berfungsi sebagai backbone dari sistem akuntansi. Registrasi dan penyampaian allotment anggaran tahunan c. Subdit TPBE. Registrasi dan penyampaian cash limit e. Monitoring Projections of Revenue Collections against g. akuntansi akan meliputi akuntansi anggaran dan komponen cash (cash account) dari akuntansi keuangan. Reconciliation of Revenue Collection with Bank Deposits f. Monthly Comparison of Revenue Actuals and Estimates e. Registrasi dan penyampaian rencana penarikan dana (annual financial plan) d. Komitmen. Monthly Analysis of Revenue Collections d. Comparison of Expenditure Estimates and Actuals with Historical Data 6. Monthly Fund Requirement f. DTP                                                                                                                                           183    . misalnya sistem manajemen komitmen.e. Comparison of Revenue Collections with Historical Trend Data h. Masing-masing KPPN akan mempunyai General Ledger dalam central database dan mempunyai akses elektronik untuk memposting traksaksi dan menghasilkan laporan. Sistem buku besar ini (general ledger system) akan berhubungan dengan modul-modul terkait. manajemen penerimaan. Monthly Debt Collections g. Akuntansi anggaran setidaknya akan meliputi: a. Di lingkup treasury. Revenue Management a.

Treasury akan mencatat komitmen pada saat penyampaian Request for Commitment (RFC) dan mencatat pengeluaran pada saat memproses dan mengotorisasi SPM yang diterima dari Satker.Akuntansi di Satuan Kerja akan meliputi baik akun-akun anggaran maupun akun-akun financial meliputi aset. penerimaan dan pengeluaran.28 berikut ini (sumber SPAN Request For Proposal). kewajiban.28 Penyempurnaan Akuntansi dan Pelaporan Dalam Rangka SPAN Subdit TPBE. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4. Satuan Kerja juga diharuskan untuk menyampaikan laporan setiap bulan kepada KPPN untuk selanjutnya di upload ke dalam SPAN. Kementrian Keuangan akan menerima laporan konsolidasi untuk masing-masing kementrian teknis dan selanjutnya mengkonsolidasikan laporan-laporan tersebut untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah. Satker akan menyampaikan laporan meliputi aset dan kewajiban (akun neraca) dan penerimaan dan pengeluaran (laporan kinerja keuangan) kepada Kementrian Keuangan melalui kementrian/lembaga. DTP                                                                                                                                           184    . Gambar 4.

Fitur tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan terkait dengan fragmentasi sistem pada saat ini. beberapa hal berikut ini kiranya patut menjadi perhatian untuk penyempurnaan. Di samping itu diharapkan terdapat kemampuan untuk menyimpan dan meng-query audit trail. Terkait dengan mekanisme penyampaian data dan konsolidasi. Hal tersebut bertentangan dengan praktek saat ini di mana proses rekonsiliasi data dilakukan sejak unit akuntansi terendah di tingkat UAKPA (satker) dan UAKBUN-Daerah (KPPN). Pada saat ini mekanisme tersebut dilaksanakan antara unit akuntansi wilayah kementrian/ lembaga (UAKPA-W) dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan (UAKBUN-W). Hal tersebut harus diantisipasi sejak dini untuk mencegah loss of information. Untuk menjamin konsistensi data di antara masingmasing sistem akuntansi (SAI dan SiAP) idealnya mekanisme rekonsiliasi di tingkat Satker tetap diperlukan. Kerangka pengembangan yang ada dalam dokumen SPAN dapat mengatasi keterbatasan kerangka organisasi. b) Kerangka pengembangan SPAN dalam bidding document meniadakan proses penyampaian data secara berjenjang dan rekonsiliasi di tingkat kantor wilayah. DTP                                                                                                                                           185    . sepanjang terdapat peraturan dan kontrol yang dapat menjamin dilaksanakannya penyampaian data secara tepat waktu. Salah satunya adalah dengan melakukan update data dengan fasilitas reversing jurnal dan menyimpan data perubahan sebagai data baru (bukan sebagai perbaikan). Rekomendasi Dan Alternatif Future Vision Model Koneksitas Proses Bisnis Dengan Satker Terkait Accounting dan Reporting Sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya.5. rencana pengembangan SPAN diharapkan mampu mewujudkan sistem yang terintegrasi dengan fitur single entry point untuk semua data. unit akuntansi wilayah dijalankan oleh salah satu Eselon 1 atau salah satu Satker sebagai koordinator. Subdit TPBE. Dalam prakteknya. a) Kerangka pengembangan SPAN dalam bidding document mengedepankan proses verifikasi pada saat konsolidasi laporan keuangan di tingkat kementrian/lembaga. sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku. Salah satu keterbatasan saat ini adalah terkait dengan Satker yang tidak memiliki kantor wilayah dan mengelola dana Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan.

laporan manajerial yang kiranya dibutuhkan harus Subdit TPBE. Kerangka ini membutuhkan unit-unit akuntansi terendah atau pihak yang melakukan transaksi keuangan untuk menyimpan data elektronik dari dokumen sumber.29 Organisasi Data Dan Informasi Pelaporan (1) Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. laporan internal di Kementrian/Lembaga lebih terbatas karena hanya memiliki data buku besar.c) Kerangka pengembangan SPAN mengusulkan penyampaian Laporan Keuangan ke unit akuntansi yang lebih tinggi. Kerangka ini identik dengan yang diterapkan pada saat ini.29 merupakan visualisasi dari organisasi data dan informasi menurut SPAN: Gambar 4. Kerangka ini ideal untuk menerapkan single entry point. Termasuk di dalamnya adalah bahwa koreksi pembukuan (melalui jurnal entry) hanya dilakukan di Satker. Namun demikian. Oleh karena itu. data transaksi di simpan di unit-unit akuntansi terendah sedangkan unit akuntansi di tingkat pusat hanya menerima dan menyimpan data buku besar. termasuk penyampaian laporan ke KPPN untuk di-upload ke dalam database SPAN. DTP                                                                                                                                           186    . Gambar 4.

Namun demikian. Dengan kata Subdit TPBE. Kerangka tersebut memungkinkan laporan manajerial yang lebih fleksibel di unit akuntansi kantor pusat karena memiliki data yang lebih lengkap. DTP                                                                                                                                           187    . Alternatif lain adalah dengan membuat kerangka pelaporan yang berbeda sehingga unit akuntansi di tingkat pusat dapat memiliki data transaksi sebagai dokumen sumber sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.diantisipasi sejak awal. Serta memungkinkan dilakukan koreksi pembukuan yang lebih cepat dengan melakukan perbaikan berupa posting ulang di tingkat pusat.30 Organisasi Data Dan Informasi Pelaporan (2) Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. sehingga struktur data dalam buku besar (GL) bisa mengantisipasi laporan yang nantinya dibutuhkan dalam rangka manajerial.30. mekanisme pelaporan berjenjang dilakukan dengan melaporkan data transaksi atau dokumen sumber. Perbaikan laporan atas kesesuaian laporan di tingkat pusat apabila dilakukan secara ideal dengan melakukan koreksi di tingkat Satker akan membutuhkan waktu yang lebih lama. mekanisme ini memerlukan proses rekonsiliasi yang handal di unit akuntansi terendah. hal ini tidak sejalan dengan konsep single entry point dan memungkinkan adanya discrepansi data di antara unit-unit akuntansi karena perbaikan dapat dilakukan di unit yang lebih tinggi. Gambar 4. Di samping itu.

b) KPPN idealnya dapat memperoleh data dari Satker terkait dengan pengelolaan anggaran di tahap komitmen meskipun KPPN tetap melaporkan pengeluaran Subdit TPBE. DTP                                                                                                                                           188    . di antaranya: a) Mekanisme rekonsiliasi laporan keuangan pemerintah di tingkat Satker dan KPPN tetap diperlukan untuk menjamin validitas dan kesesuaian data di antara SAI dan SiAP. Gambar 4. laporan yang diterima oleh KPPN dari Satker tidak perlu untuk di-upload ke database SPAN.lain. mekanisme ini akan ideal jika perbaikan data di tingkat pusat didukung dengan mekanisme untuk menginformasikan koreksi data ke unit akuntansi terendah dengan cepat. idealnya pengembangan SPAN dapat mengakomodasi beberapa kebutuhan penting.31 Alternatif Penyempurnaan Akuntansi dan Pelaporan dalam rangka SPAN Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. gambar 4.31 mem-visualisasikan alternatif penyempurnaan kerangka pengembangan akuntansi dan pelaporan dalam rangka SPAN. Sebaliknya. Atas dasar pembahasan tersebut di atas.

f) Konsolidasi dan penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan perundangan. Dipertimbangkan untuk mengeliminasi laporan ke unit akuntansi wilayah disamping untuk menyederhanakan prosedur juga untuk mengatasi kendala organisasi wilayah. diharapkan Kementrian/Lembaga akan memiliki kemampuan untuk menghasilkan laporan internal (manajerial) yang lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Catatan tentang komitmen akan mendukung keakuratan data terkait dengan status anggaran yang dikelola Satker. e) Dalam jangka panjang harus diupayakan agar Kementrian/Lembaga dapat memiliki database untuk menyimpan data transaksi dari Satuan Kerja. terkait dengan Kementrian/ Lembaga yang tidak memiliki kantor Subdit TPBE. Gambar 4. Termasuk didalamnya melakukan jurnal koreksi/ perbaikan laporan yang hanya dapat dilakukan di tingkat Satker dan KPPN. Dengan memiliki data transaksi. Terkait dengan perbedaan catatan atas status dana anggaran di Satker dengan di KPPN. terutama terkait dengan pengeluaran. KPPN akan melakukan rekonsiliasi data transaksi dan laporan dengan Satker.32 menunjukkan tahapan yang secara umum terdapat dalam siklus anggaran. hal tersebut bukan semata-mata karena penggunaan dokumen sumber yang berbeda.berbasis kas. c) Data-data transaksi tersebut disimpan dalam SPAN database yang dapat diakses oleh KPPN dan MoF. d) Satker menyampaikan laporan langsung ke Kementrian/lembaga untuk selanjutnya dikonsolidasikan dengan laporan dari Satker lainnya dalam rangka menyusun laporan keuangan Menteri / Ketua Lembaga selaku PA. DTP                                                                                                                                           189    . KPPN tetap harus meng-capture data baik yang berkaitan penerbitan perintah transfer (SP2D) atas pengajuan pembayaran oleh Satker.

Meskipun pada saat ini belum diaplikasikan akuntansi berbasis akrual. terutama melalui pengembangan modul manajemen DIPA dan manajemen komitmen diharapkan dapat mengatasi kesenjangan data terkait dengan status dana anggaran yang dikelola Satker.Gambar 4. Misalnya. 1999)  Sebagaiamana ditunjukkan dalam gambar di atas.32 Tahapan dalam Siklus Anggaran Terkait dengan Pengeluaran Source : Modified from tracking expenditure flows ( United Nations. DTP                                                                                                                                           190    . maka dalam perspektif tahapan dalam siklus anggaran dapat dianalogikan bahwa catatan/record atas pengeluaran yang dibuat oleh Satker (SAI) berdasarkan SPM merupakan bagian dari fund control system. Kerangka pengembangan SPAN. catatan pengeluaran di Satker pada dasarnya merupakan tagihan (invoice) yang menimbulkan kewajiban (obligation) bagi pemerintah (BUN) untuk dilunasi apabila memenuhi kriteria tertentu. Praktek pada saat ini di mana satker membukukan perubahan status dana anggaran berdasarkan SPM dan KPPN membukukan pengeluaran berdasarkan SP2D merupakan salah satu alternatif dari pengembangan modul manajemen DIPA dan manajemen komitmen yang telah dibahas pada bagian sebelumnya sebagaimana diindikasikan dalam gambar 4. Dengan kata lain. secara accrual SPM sebagai dokumen sumber pada dasarnya bagi Satker merupakan pengurangan dari dana anggaran yang dialokasikan dan bagi BUN merupakan kewajiban. terjadi perbedaan terkait penyerapan anggaran menurut Satker dengan BUN. Permasalahan akan timbul apabila basis kas (pada saat pembayaran oleh treasury) dijadikan dasar penentuan status dana anggaran tanpa dilengkapi rincian atas tahapan dari siklus anggaran yang telah terjadi di Satker.33 Subdit TPBE.

(pembahasan selengkapnya dapat dilihat pada sub bagian manajemen DIPA dan manajemen Komitmen). Gambar 4. DTP                                                                                                                                           191    .33 Kesesuaian Modul dalam SPAN dengan Tahapan dalam Siklus Anggaran Subdit TPBE.

34 Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Subdit TPBE. governance dalam rangka mewujudkan internal control dan mekanisme saling uji dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara ditunjukkan dalam gambar 4.F. pasal 10 secara implisit mengamanatkan hal tersebut. Secara konseptual. terbuka dan bertanggungjawab. Salah satu semangat yang terkandung dalam UU Perbendaharaan Negara adalah penyelenggaraan keuangan negara yang mengedepankan profesionalitas. melalui pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan administratif (ordonateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable) yang telah mengalami deformasi sehingga kurang efektif untuk mencegah dan/atau meminimalkan terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara (Penjelasan UU Perbendaharaan Negara).34: Gambar 4. salah satunya. Hal tersebut diwujudkan. DTP                                                                                                                                           192    . Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara Atas pelaksanaan Tugas Kebendaharaan di Satuan Kerja Bendahara Penerimaan/Pengeluaran adalah pejabat perbendaharaan negara. UU Perbendaharaan Negara dalam BAB III Pejabat Perbendaharaan Negara. Bagian III.

Di samping Uang Persediaan (UP) Bendahara Pengeluaran juga mengelola uang lainnya yang meliputi: 1. membayar atau menyerahkan. 05/2008 ditegaskan bahwa: Subdit TPBE. 05/2009). uang yang berasal dari Kas Negara. Persyaratan pengangkatan dan pembinaan karier bendahara diatur oleh Bendahara Umum Negara selaku Pembina Nasional Jabatan Fungsional Bendahara. untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari dapat diberikan uang persediaan sebagai uang muka yang dikelola dan harus dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran pada Satuan Kerja (Pasal 28). uang dari sumber lainnya yang menjadi hak negara Ruang lingkup uang dan/atau surat berharga yang menjadi tanggung jawab bendahara tersebut sejalan dengan definisi Uang Negara sebagaimana diatur dalam pasal 10 PP 39 tahun 2007 yang meliputi uang dalam Kas Negara dan uang pada Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran kementrian negara/ lembaga. DTP                                                                                                                                           193    . melalui SPM-LS/SP2D yang ditujukan kepadanya 2.1/2005). uang yang berasal dari potongan pembayaran yang dilakukan Bendahara selaku wajib pungut 3. Uang bagi keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/ satuan kerja tersebut ditampung pada Rekening Bendahara Pengeluaran yang dikuasai oleh Bendahara Pengeluaran (PMK 61/ PMK. Sebagaimana diatur dalam PP 39 tahun 2007. Tugas kebendaharaan meliputi kegiatan menerima. Kedudukan Bendahara selaku pejabat fungsional mengindikasikan kemandirian bendahara dalam pelaksanaan tugasnya. menyimpan. Bendahara adalah Pejabat Fungsional yang diangkat oleh Menteri/ Ketua Lembaga untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan dan/atau anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/ lembaga.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang dan surat berharga yang berada dalam pengelolaannya (Pasal 10 UU Perbendaharaan Negara dan Penjelasannya). Dalam ketentuan perundangan cukup jelas disebutkan bahwa bendahara (penerimaan/ pengeluaran) tidak boleh dirangkap oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum Negara (Pasal 10 UU Perbendaharaan Negara) dan juga tidak boleh dirangkap oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Pejabat Penandantangan SPM (implisit dalam Pasal 2 ayat 6 Perdirjen 66/PB. Dalam PMK No 73/PMK.

Secara fungsional bendahara bertanggung jawab secara pribadi atas kelengkapan hak tagih. Kuasa Pengguna Anggaran Sesuai dengan uraian tersebut di atas. Bendahara wajib menatausahakan dan menyusun Laporan Pertanggungjawaban Subdit TPBE. Ketersediaan dana dan kecukupan pagu DIPA yang dimintakan pembayarannya Bendahara hanya dapat melakukan pembayaran setelah meneliti dan menguji pemenuhan persyaratan tersebut di atas (Pasal 9 ayat dan 2). Sejalan dengan kemandirian bendahara selaku pejabat fungsional.1. Bendahara pengeluaran bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya (Pasal 9 ayat 4) Terlebih lagi. Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah pembayaran dari Kuasa Pengguna Anggaran apabila tidak memenuhi syarat: 1. 2. DTP                                                                                                                                           194    . maka Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya kepada Kuasa Bendahara Umum Negara (UU No. Sebagai pertanggungjawaban atas pengelolaan uang tersebut. setidaknya meliputi uang yang berasal dari Kas Negara melalui SP2D-LS yang ditampung dalam Rekening Bendahara Pengeluaran yang dikuasainya. Kelengkapan perintah pembayaran yang menjadi dasar hak tagih (misalnya kuitansi) 2. ruang lingkup tanggung jawab bendahara (pengeluaran) juga meliputi uang lainnya yang ditampung dalam Rekening Bendahara Pengeluaran. maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan bendahara selaku pejabat fungsional berimplikasi pada kemandirian bendahara (khususnya bendahara pengeluaran) dalam pelaksanaan tugas pengelolaan uang dan surat berharga milik negara. Bendahara bertugas secara mandiri dalam arti tidak hanya terbatas sebagai kasir yang melaksanakan perintah Pengguna Anggaran. Uang yang dikelola bendahara. meskipun pelaksanaan pembayaran oleh bendahara hanya dapat dilakukan atas perintah Kuasa Pengguna Anggaran (Pasal 9 ayat 1). Namun demikian. tanggung jawab bendahara terbatas atas uang yang dikelolanya dalam rangka pelaksanaan APBN (Pasal 3 ayat 12). Kebenaran perhitungan tagihan 3. kebenaran perhitungan dan ketersediaan dana dari pengeluaran yang dilakukannya. Selanjutnya dapat disimpulkan pula bahwa meskipun pengelolaan uang negara yang menjadi tugas bendahara (pengeluaran) identik dengan pengelolaan Uang Persediaan.1/2004 pasal 53).

(LPJ). Mekanisme ini sejalan dengan amanat UU Perbendaharaan (pasal 53) bahwa terkait dengan tugas fungsional bendahara (penerimaan/pengeluaran) Kuasa BUN bertanggungjawab kepada Menteri Keuangan dan Menteri Keuangan bertanggung jawab kepada Presiden dari segi “hak dan ketaatan kepada peraturan atas penerimaan dan pengeluaran yang dilakukannya”. berikut adalah beberapa hal yang dapat dijadikan bahan kajian untuk penyempurnaannya di masa yang akan datang: 1. oleh KPPN direkapitulasi dan dilaporkan secara berjenjang kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Perdirjen 47/PB/2009). Satker merupakan bagian dari unit akuntansi Kementrian/Lembaga yang wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan.05/2007 tentang Pelaporan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Berdasarkan ketentuan sebagaimana dalam uraian tersebut di atas. Laporan Pertanggungjawaban tersebut disusun berdasarkan Buku Kas Umum. dan diatur lebih lanjut Subdit TPBE. Sebagaimana diatur dalam peraturan tersebut. selaku Kuasa Pengguna Anggaran. di Satuan Kerja terdapat mekanisme pelaporan dalam rangka akuntanbiltas sebagaimana di atur dalam PMK 171/PMK. Menteri Pimpinan Lembaga masingmasing dan Badan Pemeriksa Keuangan. buku-buku pembantu dan Buku Pengawasan Anggaran menurut tata cara dan model sebagaimana diatur dalam Perdirjen 47/PB/2009. kegiatan pelaporan dan akuntansi di tingkat Satker dilaksanakan oleh Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) yang bersifat fungsional. Pada prakteknya. Berkaitan dengan kedudukan dan ruang lingkup tanggung jawab bendahara (pengeluaran dan/atau penerimaan) serta mekanisme pertanggungjawaban yang berlaku saat ini. DTP                                                                                                                                           195    . maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan tingkat Satuan Kerja yand dihasilkan oleh UAKPA adalah laporan atas pelaksanaan kewenangan Kuasa Pengguna Anggaran. Laporan keuangan pemerintah tingkat Satker ini berbeda dengan penyampaian laporan pertanggjungjawaban atas pelaksanaan tugas fungsional bendahara sebagaimana diamanatkan dalam pasal 10 dan penjelasannya. LPJ tersebut disampaikan kepada Kepala KPPN di wilayah kerja Satker bersangkutan. Pada saat ini di samping mekanisme pertanggungjawaban bendaharawan. LPJ-LPJ yang telah diverifikasi.

Belanja Kas di KPPN 60 60 60 60 Uraian Debit Kredit Pengurangan atas nilai akun terkait Uang Persediaan (SAI: Kas di Bendahara Pengeluaran) dan (SAKUN: Pengeluaran Transito) terjadi diantaranya pada saat pengembalian uang persediaan melualui setoran dan pada saat penerbitan SP2D-GU Nihil yang dicatat sebagai berikut: Subdit TPBE. 2. misalnya SP2D LS untuk pembayaran Gaji Pegawai dan sejenisnya. Rekening bendahara (pengeluaran) menampung pula pembayaran yang ditujukan kepada yang berhak melalui rekening bendahara (pengeluaran). 3.05/2008 dan Perdirjen No. Ruang lingkup tugas bendahara menyangkut pengelolaan uang yang identik namun tidak terbatas pada pengelolaan Uang Persediaan. Laporan keuangan pemerintah yang dihasilkan SAI untuk tingkat UAKPA (Satker) dan SAKUN untuk tingkat UAKBUN-D (KPPN) juga mencatat pemberian Uang Persediaan yang dikelola Bendahara (Pengeluaran) melalui penjurnalan sebagai berikut: No Jurnal SAI 1. Belanja Piutang dari KUN Jurnal SAKUN 2. 47/PB/2009. Pengeluaran Transito Kas di KPPN 100 100 100 100 Uraian Debit Kredit Realisasi anggaran dengan pembayaran melalui Uang Persediaan dicatat sebagaimana halnya pengeluaran atas beban rekening kas negara yang dibayarkan secara langsung kepada yang berhak (LS) sebagai berikut: No Jurnal SAI 1. Kas di Bendahara Pengeluaran Uang Muka dari KUN Jurnal SAKUN 2. DTP                                                                                                                                           196    . 73/PMK.dalam Peraturan Menteri Keuangan No.

5.No Jurnal SAI 1. 47/PB/2009). maka akan cenderung terdapat selisih di antara catatan SAI untuk akun transito (Kas di Bendahara Pembayar) dengan nominal uang yang menjadi tanggung jawab bendahara pengeluaran (tunai dan di rekening bendahara pengeluaran) apabila terdapat pembayaran SP2D-LS yang ditujukan ke rekening bendahara pengeluaran. Perbedaan pencatatan tersebut dijelaskan melalui mekanisme rekonsiliasi antara mitigasi dengan cara rekonsiliasi antara LPJ dengan UAKPA (Pasal 19 PMK No. laporan keuangan UAKPA dan LPJ Bendahara. detail pencatatan yang dikehendaki dalam LPJ Bendahara melalui pencatatan pada buku pembantu dan buku pengawasan anggaran pada dasarnya sama dengan pencatatan akun belanja pada laporan keuangan UAKPA. Intersection (irisan) di antara tanggung jawab keduanya dalam hal pencatatan adalah terkait dengan pengelolaan Uang Persediaan.05/2008 dan Pasal 10 ayat 4 Perdirjen No. PER 01/PB/2005 4. 47/PB/2009 Pasal 10 dinyatakan bahwa yang berkewajiban melakukan rekonsiliasi internal antara LPJ dengan Laporan Keuangan UAKPA adalah Kuasa Pengguna Anggaran (ayat 3). didasarkan pada kerangka tanggung jawab yang berbeda antara KPA dan Bendahara. namun karena uang yang dikelola bendahara terkait dengan pelaksanaan anggaran yang menjadi Kuasa PA maka dalam prakteknya Subdit TPBE. Uraian Debit Kredit Uang Muka dari KUN Kas di bendahara Pembayar Jurnal SAKUN 100 100 2. Praktek saat ini (dua mekanisme pelaporan) tidak efisien karena meskipun bendahara bertugas secara mandiri dan secara fungsional bertanggung jawab kepada Kuasa BUN. Dari pembahasan pada item-item tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan masing-masing laporan. Pencatatan Laporan Keuangan dilakukan dengan menggunakan model double entry sedangkan model dan tata cara penyusunan LPJ pada dasarnya bersifat single entry. Di dalam Perdirjen No. Kas di KUN Penerimaan transito 100 100 Sources: Perdirjen No. DTP                                                                                                                                           197    . Namun demikian. Sebagaimana diilustrasikan pada mekanisme pencatatan sebagaimana pada huruf c. 73/PMK.

Subdit TPBE. Salah satu alternatif penyempurnaan adalah dengan mengikuti mekanisme yang telah dipraktekkan pada saat ini. Bendahara pengeluaran adalah entitas yang terpisah dan dengan UAKPA. Bendahara (pengeluaran) hanya berwenang mengajukan SPP-UP sedangkan SPP-LS diajukan oleh PPK.35 mengilustrasikan kerangka mekanisme sebagaimana dijelaskan dalam alternatif 1.Kuasa PA tetap merupakan pihak yang bertanggung jawab secara internal terhadap kebenaran pembukuan bendahara (sebagaimana diindikasikan dalam ayat 3 pasal 10 Perdirjen 47/PB/2009). Di samping itu. substansi pencatatan terkait dengan penatausahaan Uang Persediaan dalam rangka pencairan anggaran. 4. DTP                                                                                                                                           198    . Namun demikian. 3. dimana bendahara hanya bertanggung jawab atas uang persediaan dan uang yang ada di rekening bendahara pengeluaran 2. Beberapa alternatif untuk penyempurnaan adalah sebagai berikut: Alternatif 1 1. misalnya selaku wajib pungut. 6. LPJ Bendahara diusulkan untuk disusun dari sub-ledger kas laporan keuangan UAKPA disertai catatan. 5. Terdapat dua mekanisme pelaporan ke KPPN. Perbedaan catatan terjadi karena praktek saat ini memungkinkan pembayaran kepada yang berhak melalui rekening bendahara. pada dasarnya sama. baik dalam Laporan Keuangan UAKPA maupun dalam LPJ Bendahara. Gambar 4. yaitu penyampaian laporan UAKPA dalam rangka rekon dan LPJ Bendahara dalam rangka pertanggungjawaban tugas fungsional bendahara. Catatan tersebut dapat berupa perbedaan antara saldo akun “uang muka di bendahara pengeluaran” pada laporan SAI dengan nominal uang yang dikelolanya akibat pelaksanaan tugas kebendaharaan lainnya.

UU mengamanatkan pemisahan kewenangan pihak-pihak selaku COO dan CFO. DTP                                                                                                                                           199    . Pembagian tersebut salah satunya ditujukan untuk mewujudkan penegasan pemisahan antara pemegang kewenangan administrative (ordonateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptabel) (Penjelasan UU Subdit TPBE. terutama dalam Pasal 10 dan penjelasannya. Ruang lingkup tugas bendahara harus dipahami dan dibangun mengikuti kerangka pemisahan kewenangan yang komprehensif dalam penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-Undang. sebagaimana diusulkan dalam uraian berikut: 1. Mempertegas tugas fungsional bendahara (terutama bendahara pengeluaran) dalam penyelenggaraan keuangan negara sesuai dengan semangat yang diamanatkan dalam UU Perbendaharaan Negara.35 Alternatif (1) Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara terkait Tanggungjawab Bendahara  Alternatif 2 Penyempurnaan atas fungsi bendahara (pengeluaran) dan bisnis proses yang berkaitan dengan tugas kebendaharaan dapat pula dilakukan secara komprehensif. Sebagaimana diketahui.Gambar 4.

Selaku pejabat fungsional bendahara. DTP                                                                                                                                           200    . Dalam ruang lingkup penyelenggaraan keuangan negara di Satker.05/2008. maka idealnya bendaharawan berkedudukan selaku pejabat yang mengepalai UAKPA.Perbendaharaan Negara). maka fungsi comptabel bendahara (pengeluaran) atau tugas kebendaharaan terkait dengan uang dan surat berharga dalam pengelolaan bendahara idealnya dipahami secara komprehensif bahwa pengelolaan uang tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pembayaran atas dana anggaran yang dikuasakan kepada KPA. 4. yaitu dalam rangka rekonsiliasi laporan UAKPA dan sebagai penyampaian laporan LPJ Bendahara. Gambar 4. Terkait dengan pembentukan unit akuntansi. maka bendahara menyusun LPJ melalui subledger kas dari aplikasi UAKPA disertai catatan dan penjelasan apabila terdapat perbedaan nominal kas terkait dengan pelaksanaan tugas kebendaharaan lainnya. Tugas kebendaharaan bendahara (pengeluaran) idealnya dijalankan secara utuh meliputi seluruh pengeluaran dana anggaran yang dikuasakan kepada KPA. maka bendahara bertanggungjawab secara pribadi dan secara fungsional kepada Kuasa BUN. 3. 2. sebagaimana di atur dalam PMK 171/PMK. misalnya selaku wajib pungut. laporan keuangan UAKPA pada dasarnya tetap merupakan pertanggungjawaban KPA dan harus disetujui terlebih dahulu oleh KPA sebelum disampaikan ke unit yang lebih tinggi. 5. Subdit TPBE. Dalam rangka pemenuhan akuntabilitas. Oleh karena itu. Terhadap laporan ini. tugas kebendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 10 seharusnya tidak terbatas pada Uang Persediaan dan/ atau (dalam prakteknya) uang yang ada dalam rekening bendahara pengeluaran. Mekanisme penyampaian laporan ke Kuasa BUN cukup dilakukan satu kali.36 mengilustrasikan kerangka mekanisme sebagaimana dijelaskan dalam alternatif 2 tersebut di atas.

05/2008). SPP (tanpa membatasi mekanisme pembayaran melalui UP dan/atau LS) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). Pada saat ini. Uraian sebagaimana tersebut di atas Subdit TPBE.36 Alternatif (2) Governance dalam Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara terkait Tanggungjawab Bendahara Penyempurnaan proses bisnis dalam penerbitan dokumen otorisasi yang berkaitan dengan pembayaran. 73/PMK. Surat Permintaan Pembayaran secara langsung (SPP-LS) diajukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) (PMK 73/PMK. dalam PMK 73/PMK.05/2008.Gambar 4. Namun demikian. pengajuan SPP yang berkaitan dengan Uang Persediaan tetap merupakan kewenangan PPK (Pasal 15 (1) dan Pasal 17 (5)) meskipun definisi SPP merujuk pada adanya permintaan/ perintah membayar untuk “beban bagian anggaran” dan pemenuhan persyaratan dalam “dokumen perikatan” (Pasal 1 angka 20). Sedangkan Surat Permintaan Pembayaran melalui mekanisme UP (SPP-UP dan/atau SPP-GUP) diajukan oleh Bendahara Pengeluaran (Pasal 7 Perdirjen 66/PB/2005). DTP                                                                                                                                           201    . Oleh karena itu dalam konteks PMK No.05/2008.

Beberapa usulan untuk penyempurnaan proses bisnis dalam kerangka alternatif 2 sebagaimana tersebut di atas adalah sebagai berikut: Alternatif 2a Mempertegas kewenangan bendahara untuk menerbitkan semua Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Ketentuan dalam Pasal 4 (e) UU Perbendaharaan Negara mengatur tentang kewenangan PA untuk melakukan “tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja”. DTP                                                                                                                                           202    . Didalam pasal 2 dan pasal-pasal lainnya.37 mengilustrasikan proses bisnis di Satker sebagaimana dalam Alternatif 2a tersebut di atas. Esensi dari kewenangan PPK sebagaimana dalam dua peraturan tersebut adalah untuk membuat (atau pada saat dibuatnya) perikatan/ komitmen/ kontrak dengan pihak yang akan menerima pembayaran atas beban anggaran negara. Hal tersebut di atas sejalan dengan ketentuan yang mengatur tentang pejabat pengguna anggaran dalam Perdirjen No 66/PB/2005. Oleh karena itu.menunjukkan kurangnya konsistensi terkait dengan standard proses bisnis dan kewenangan dari masing-masing pejabat perbendaharaan negara di Satker. Subdit TPBE. kewenangan pejabat yang ditunjuk untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen” tidak secara tegas disebutkan dan/atau identik dengan kewenangan pejabat tersebut untuk mengajukan Surat Permintaan Pembayaran. Hal tersebut di atas sejalan dengan ketentuan yang mengatur tentang pejabat pengguna anggaran dalam Perdirjen No 66/PB/2005. apabila ruang lingkup tugas kebendaharaan bendahara pengeluaran tidak terbatas pada uang persediaan dan/atau uang yang ada di rekening bendahara pengeluaran. kewenangan pejabat yang ditunjuk untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen”. maka idealnya semua Surat Permintaan Pembayaran (SPP) diajukan oleh bendahara pengeluaran. Didalam pasal 2 dan pasal-pasal lainnya. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) hanya bertanggung jawab atas dibuatnya perikatan/ kontrak/ komitmen dengan pihak yang akan menerima pembayaran. Gambar 4.

37 Alternatif (2a) Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait Kewenangan Bendahara Alternatif 2b Mempertegas bahwa kewenangan PPK untuk menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sebagai implementasi kewenangan PA/KPA untuk “melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja” Ketentuan dalam PMK 73/PMK.05/2008 menentukan kewenangan PPK secara luas untuk menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik melalui mekanisme LS ataupun UP. maka seluruh permintaan pembayaran dari Pejabat Penerbit SPM harus disampaikan untuk diketahui bendahara Subdit TPBE.Gambar 4. Namun demikian. Alternatif yang sejalan dengan kerangka kewenangan PPK tersebut adalah dengan mempertegas kewenangan PPK untuk menerbitkan SPP baik LS maupun UP. untuk tetap dapat menjalankan kewenangan bendahara secara utuh (selaku pemegang fungsi pembayaran dan kewenangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 10 dan Penjelasan UU Perbendaharaan Negara). DTP                                                                                                                                           203    .

Gambar 4.05/2008). baik LS dan/atau UP yang diterima oleh Bendahara dari Pejabat Penerbit SPM merupakan dasar Bendahara untuk melakukan pembukuan pada Laporan Keuangan UAKPA (merujuk ketentuan dalam pasal 15 ayat 4 dan 5 dalam PMK 73/PMK. Subdit TPBE. Dari sub ledger cash laporan tersebut.38 Alternatif (2b) Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait Kewenangan Bendahara Kuasa Pengguna Anggaran Ordonateur Comptabel KPPN SPM Bukti Pembayaran (UP) Bendahara Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) Pihak ke-3 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) SPP UP & GUP SPM SPP-LS SPP-UP & GUP Kontrak & Invoice (LS) Pelaksanaan atas pilihan alternatif-alternatif idealnya memperhatikan pengembangan struktur rekening yang berkaitan dengan rekening bendahara pengeluaran.sebelum disampaikan ke KPPN. maka SPP UP dan/atau GUP berlaku sebagai dokumen resmi dari KPA untuk melakukan pembayaran dengan menggunakan Uang Persediaan (merujuk pada ketentuan dalam Pasal 9 ayat 1 PMK 73/PMK. DTP                                                                                                                                           204    . Gambar 4. Untuk pembayaran melalui mekanisme UP.05/2008). bendahara akan menyusun Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan kewenangan fungsi pembayaran atas dana yang dikuasakan kepada Kuasa PA. SPM-SPM tersebut di atas.38 mengilustrasikan proses bisnis di Satker sebagaimana dalam Alternatif 2b tersebut di atas.

memaksimalkan hasil dari kelebihan kas. Untuk pelaksanaan anggaran yang efisien. meminimalkan biaya berkaitan dengan pinjaman. 1999). disebutkan bahwa manajemen kas yang efektif memerlukan perencanaan arus kas jangka pendek yang akurat dan tepat waktu. Berkaitan dengan penyempurnaan koneksitas proses bisnis manajemen kas di Satker.9). and between government and other sectors”. implementasi anggaran yang efisien. Aktifitas perencanaan dan proyeksi kas ini. 2007). Dalam rangka pelaksanaan anggaran. DTP                                                                                                                                           205    . Peran dan tanggung jawab Satker dalam manajemen kas diantaranya dipengaruhi oleh model sistem perbendaharaan dan mekanisme pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran di suatu negara. Tujuan dan Fungsi Manajemen kas pada dasarnya adalah serangkaian proses yang dijalankan sebuah entitas organisasi untuk memperoleh kemanfaatan yang maksimal dari arus kas (ANAO. Pengertian tersebut menekankan pentingnya proses bisnis yang secara rutin dijalankan dalam manajemen kas di samping hal-hal yang berkaitan dengan alternatif kebijakan. Williams (2004) mendifinisikan manajemen kas sebagai ”… the strategy and associated process for managing cost-effectively government’s shortterm cash flows and cash balances. pemerintah harus memastikan bahwa tagihan dan penerimaan dapat dibayarkan dan diterima tepat waktu. 2009). Untuk dapat melaksanakan pembayaran yang tepat waktu. diantaranya meliputi pertukaran informasi antara Kementrian Keuangan dengan kementrian teknis di tingkat operasional. idealnya terdapat mekanisme untuk mengetahui arus kas yang dibutuhkan pada saat pembayaran jatuh tempo (World Bank. Dalam Modernizing Cash Management (Lienert. Sedangkan mekanisme yang ditempuh institusi perbendaharaan untuk menjamin ketersediaan kas pada saat pembayaran Subdit TPBE. Institusi treasury idealnya dapat memperoleh informasi dari agency (Satker) selaku entitas yang melakukan transaksi termasuk di dalamnya perikatan/ komitmen serta proyeksi kas yang dibutuhkan untuk melunasinya (p. both within government. MANAJEMEN KAS 1.G. maka peran Satker dalam hal perencanaan kas sangatlah penting. tujuan manajemen kas setidaknya meliputi pengendalian atas total pengeluaran (aggregate spending).

membuat invoices dan claims. Atas dasar informasi tentang pola cash flow dan pemberitahuan atas transaksi. Sistem treasury di Perancis pada dasarnya bersifat ter-sentralisasi sedangkan sistem treasury di Australia lebih ter-desentralisasi. International Best Practice terkait Manajemen Kas Sebagai acuan best practices terkait dengan peran dan tanggung jawab Satker dalam manajemen kas.jatuh tempo dipengaruhi pula oleh struktur rekening pemerintah di mana uang negara ditempatkan. Manajemen kas di Satker yang diterapkan di masing-masing negara sangat berlawanan. Institusi perbendaharaan. Authorising Officer memiliki wewenang untuk membuat komitmen. Jika melihat wewenang dari Authorising Officer diatas. kewenangan COO dilakukan oleh Satker atau disebut Authorising Officer. Subdit TPBE. memverifikasi barang. 2009) Di Perancis. 2. selain sudah cukup maju juga dapat mewakili dua model utama dalam sistem perbendaharaan. Agence France Tresor (AFT). bertanggung jawab terutama menangani manajemen hutang dan perbendaharaan. berikut adalah tinjauan atas pelaksanaan manajemen kas di Spending Agency (Satker) di Perancis dan Australia. sedangkan CFO secara penuh dilakukan oleh Departemen Keuangan yang dalam hal ini diwakili oleh Public Accountants yang ditempatkan di masing-masing Satker. Kas pemerintah Perancis terdiri dari saldo atas transaksi keuangan yang dilakukan oleh public accountants yang masing-masing bertanggung jawab atas satu atau beberapa rekening operasional. AFT melakukan: a) menentukan jumlah penerbitan Treasury Bills b) menentukan proporsi dari kas yang ditempatkan di TSA untuk keperluan manajemen kas pemerintah pusat c) menginvestasikan kelebihan kas (Lienert & Chailloux. dan membuat payment order. DTP                                                                                                                                           206    . Rekening operasional public accountant merupakan sub-akun dari rekening utama AFT di Bank Sentral (la Banque de France) yang melakukan sentralisasi transaksi secara real time. di Indonesia Authorising Officer dapat di analogikan sebagai KPA. Model yang ada di kedua negara tersebut. Pemisahan jabatan dilakukan untuk tiap wewenang diatas yang bertujuan sebagai mekanisme check and balance.

Public Accountant bertanggung jawab untuk menyalurkan pembayaran melalui TSA atau melalui rekening Satker di Treasury. Dalam hal ini Authorising Officer tidak memiliki rekening sendiri. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Public Accountant melakukan fungsi manajemen kas dan accounting di Satker sedangkan Official Controller melakukan fungsi kontrol terhadap anggaran. Kedua pejabat tersebut menyampaikan pertanggungjawaban kepada kementrian Keuangan bukan kepada Authorising Officer di Satker.39 ditunjukan struktur dan kelembagaan Satker di Perancis dalam penyelenggaraan keuangan negara. DTP                                                                                                                                           207    . (Sigma. 2001. Lienert & Chailloux. Selain Authorising Officer dan Public Accountant terdapat pula pejabat perbendaharaan yang disebut Official Controller. Public Accountant juga bertugas untuk membuat Laporan Keuangan Tahunan Satker. Laporan Keuangan tersebut di sahkan oleh Authorising Officer sebelum disampaikan kepada Court of Accounts untuk dilakukan audit. 2009). Subdit TPBE.Public Accountant merupakan staf Departemen Keuangan yang secara fungsional berada dibawah General Directorate of Public Accounting yang berkedudukan di Satker dan bertugas untuk melakukan kontrol (regulatory control) terhadap payment order yang dibuat oleh Authorising Officer. Official Controller merupakan staf Departemen Keuangan yang berada di Satker yang memiliki fungsi untuk melakukan kontrol berupa regulatory control terhadap perikatan/komitmen atau keputusan lain yang akan mengakibatkan pengeluaran yang dibuat oleh Authorising Officer apakah telah sesuai dengan appropriation yang diberikan. Berikut ini dalam gambar 4. Public Accountant memiliki kewenangan untuk menolak payment order yang diajukan oleh Authorising Officer.

Gambar 4. DTP                                                                                                                                           208    .39 Struktur kelembagaan dan Pelaksanaan Anggaran di Satker (Perancis) Subdit TPBE.

Chief Executive Officer (CEO) memiliki kewenangan dan tanggung jawab khusus terkait dengan pengelolaan dan pembayaran atas beban anggaran negara. Kewenangan yang dimiliki oleh CEO tersebut di atas dapat didelegasikan kepada staf di lingkungan Agency yang bersangkutan. b) memenuhi biaya-biaya yang ditimbulkan dari rekening bank milik Agency. Chief Financial Officer (CFO) adalah pejabat yang bertanggung jawab atas strategi dan operasional atas perencanaan dan manajemen keuangan Agency. yaitu Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer (CFO). Tugas-tugas terkait dengan penyelenggaraan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan anggaran dijalankan oleh Accountable Officers. CFO idealnya memiliki akses secara langsung terhadap CEO sehingga dapat menjalankan advisory role bagi CEO. meliputi: a) menangani. membayar dan mencatat uang negara dalam rangka pelaksanaan anggaran. CFO tidak hanya bertanggung untuk terlaksananya kerangka manajemen keuangan yang memadai dan melaksanakan tanggung jawab atas manajemen keuangan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan demikian. d) menerima dan membayar bunga (bank) berdasarkan saldo kas untuk masingmasing departemen. c) membuat kebijakan dan praktek pengelolaan keuangan sesuai dengan kebutuhan Satuan Kerja.Model manajemen kas di Satuan Kerja di Australia sejalan dengan sistem perbendaharaan Australia yang ter-desentralisasi. Subdit TPBE. CFO juga bertanggungjawab atas atas pelaporan terkait dengan penggunaan sumber daya keuangan (Auditor General Victoria. Sejak tahun 1999. Dalam melaksanakan tugasnya. b) membuat perikatan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran. DTP                                                                                                                                           209    . Pada prakteknya. yang ada di masing-masing Agency (Satker). Agency diwajibkan dan bertanggungjawab untuk: a) membuka dan mengatur rekening di bank dalam rangka pelaksanaan anggaran. manajemen kas dan perbankan merupakan salah satu tanggung jawab utama yang dijalankan di tingkat Agency. c) manajemen atas dana yang diterima sebagai bagian dari anggaran (negara). 2005). kewenangan yang terkait manajemen kas dijalankan oleh Chief Financial Officer (CFO).

Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya tersebut. belanja modal dan rencana penerimaan dan pengeluaran secara periodik untuk jangka waktu 12 bulan. Termasuk diantaranya adalah penerapan aturan terkait jangka waktu pelunasan invoice. kinerja Commonwealth Treasury sangat ditentukan oleh informasi yang diperoleh dari Agency untuk melengkapi perencanaan kas. DTP                                                                                                                                           210    . b) memperkirakan saldo kas terendah dalam periode satu minggu (ke-depan) untuk mendukung keputusan pembuatan pinjaman jangka pendek apabila diperlukan. b) melakukan review dan perbaikan secara rutin terhadap perencanaan arus kas. Mekanisme information-sharing dijalankan dengan mewajibkan Agency untuk menyampaikan kepada treasury perkiraan penerimaan dan penarikan dana (drawdown pattern schedule) pada hari Senin untuk jangka waktu sampai dengan hari Rabu pada minggu berikutnya. Mekanisme tersebut ditujukan untuk mendukung Commonwealth Subdit TPBE. termasuk penjelasan atas realisasi yang tidak sesuai rencana. Institusi treasury di tingkat pusat (Commonwealth treasury) bertanggungjawab akan ketersediaan kas pada saat dibutuhkan melalui aktivitas terkait dengan pengelolaan hutang dan pinjaman. c) memahami pattern dari arus kas untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang mempengaruhinya. manajemen kas di Agency menjadi bagian integral dari manajemen kas institusi treasury. termasuk komponen yang bersifat musiman atau periodik. Terlebih lagi. treasury diantaranya melakukan: a) perencanaan (forecast) penerimaan dan pengeluaran harian untuk jangka waktu satu tahun guna mengetahui tingkat kebutuhan kas harian. pemilihan mekanisme pembayaran dan metode penarikan dari dan penyediaan kas melalui rekening ”overdraft” account yand ada di Reserve Bank of Australia (RBA). Perkiraan tersebut merupakan salah satu dasar untuk menentukan keputusan perlu atau tidaknya melakukan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan kas.Elemen utama dari manajemen kas yang dilaksanakan di tingkat Agency meliputi: a) menyusun anggaran yang terintegrasi meliputi kegiatan operasional. sehingga dapat dihasilkan perencanaan kas dengan fleksibilitas yang maksimal. Dalam kerangka tanggungjawab penyelenggaraan keuangan negara yang terdesentralisasi ini.

Beberapa fitur dari kedua model tersebut yang patut mendapat perhatian untuk pengembangan manajemen kas diantaranya meliputi pentingnya pemahaman atas pola arus kas di masing-masing Satker dan mekanisme information sharing antara Kementrian Keuangan dengan Satuan Kerja tentang penerimaan dan pengeluaran untuk jangka waktu tertentu. dapat disimpulkan bahwa peran Satker sangatlah krusial untuk manajemen kas yang efektif. Current State Assesment dan Problems terkait Manajemen Kas Paket undang-undang keuangan negara merupakan kerangka konseptual yang komprehensif dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara yang ekonomis. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara. Menteri Keuangan dalam kedudukannya selaku Bendahara Umum Negara (BUN) adalah Chief Financial Officer yang berperan selaku pengelola fiskal dan manajer keuangan dalam arti yang sesungguhnya. Dengan kata lain. terdapat dua level manajemen kas. yaitu di tingkat Agency dan manajemen kas terkonsolidasi di tingkat pusat (federal). Salah satu pilar utama dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara yang ideal tersebut adalah pengelolaan kas yang merupakan bagian dari lingkup perbendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 2 UU No. Dari pembahasan komparatif atas model manajemen kas di Perancis dan di Australia. bertanggung jawab dan berorientasi dalam hasil.Treasury untuk meminimalisasi biaya pinjaman (net cost of borrowing). spending agency tidak hanya bertanggung jawab atas otorisasi pengeluaran dan internal control. saldo rekening tersebut pada akhir hari akan dilimpahkan ke rekening TSA di RBA. 2009). Selaku BUN Menteri Keuangan berwenang menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara untuk melaksanakan tugas kebendaharaan Subdit TPBE. Biaya pinjaman merupakan selisih antara bunga pinjaman dengan remunerasi dari saldo positif yang ada di rekening treasury di Reserve Bank of Australia (ANAO. 1999). model manajemen kas yang ada di Australia merupakan two-tier cash management system. proyeksi 3. tetapi juga bertanggung jawab atas manajemen internal kas. Terkait dengan dengan pengelolaan kas tersebut. DTP                                                                                                                                           211    . Pada sistem tersebut. Merujuk pada istilah yang digunakan Ian Lienert dalam Modernsing Cash Management (Lienert. terbuka. Meskipun transaksi keuangan dilakukan melalui rekening Agency.

q. DTP                                                                                                                                           212    . serta pendapatan yang diperkirakan” (Pasal 14 ayat 3). 218/PMK.05/2007. SE-02/PB/2006 tanggal 6 Januari 2006. secara khusus telah diinstruksikan pula kepada Satuan Kerja untuk menyampaikan Laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementrian Negara/ Lembaga pada akhir tahun 2008 melalui SE-38/PB/2008 tanggal 9 Oktober 2008. d) membuat perencanaan (arus) kas. Di dalam Peraturan Menteri Keuangan No. Kewenangan dan tanggung jawab Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa BUN Pusat yang terkait dengan pengelolaan kas setidaknya meliputi: a) menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Perbendaharaan Negara. b) mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran negara. Tujuan dari pencantuman rencana penarikan dana adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi manajemen kas pemerintah melalui optimalisasi fungsi DIPA (PMK 105/).dalam rangka pelaksanaan anggaran dalam wilayah kerja yang ditetapkan (PP 39 tahun 2007). 1 th 2004). c) menyimpan uang negara (Pasal 7 UU No. upaya untuk membangun manajemen dan perencanaan kas yang baik dilaksanakan tidak hanya menjelang saat pelaksanaan pembayaran. Dalam hal koneksitas proses bisnis dengan Satker. e) menetapkan saldo kas minimal. dokumen pelaksanaan anggaran memuat ”rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja. g) memastikan ketersediaan kas guna memenuhi kewajiban pembayaran. Subdit TPBE. tapi juga telah dimulai sejak prosess allotment anggaran (penerbitan DIPA). f) menentukan strategi untuk mengatasi kekurangan kas dan memanfaatkan kelebihan kas. telah di-inisiasi mekanisme penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Satuan Kerja sesuai dengan SE Dirjen Perbendaharaan No. Terkait dengan hal tersebut. telah ditentukan kewenangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan c. Direktorat Pengelolaan Kas Negara selaku Kuasa BUN Pusat dan KPPN selaku Kuasa BUN Daerah (Pasal 1). Untuk mendukung fungsi manajemen kas tersebut.

Di samping itu, sejak bulan Maret 2009, telah diterapkan mekanisme treasury notional pooling pada rekening bendahara pengeluaran secara bertahap. Treasury Notional Pooling merupakan sistem untuk mengetahui saldo rekening bendahara pengeluaran di Kantor Cabang Bank Umum setelah di konsolidasikan tanpa harus melakukan perpindahan dana antar rekening. Dengan penerapan mekanisme ini, Uang Negara yang berada pada rekening bendahara pengeluaran mendapatkan remunerasi. Sebelumnya, uang negara yang ada pada rekening bendahara pengeluaran menerima jasa giro yang harus di setor ke rekening kas negara oleh bendahara pengeluaran. Secara internal, manajemen pengelolaan kas di Ditjen Perbendaharaan khususnya di KPPN juga dijalankan dalam kaitan pelaksanaan Treasury Single Account. Sebagaimana diatur dalam SE-12/PB/2009, dalam rangka menjamin ketersediaan dana dalam Rekening Pengeluaran Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat (RPK-BUN-P) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) diwajibkan mengajukan Permintaan Kebutuhan Dana ke Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Mekanisme penyampaian Permintaan Kebutuhan Dana tersebut pada dasarnya merupakan antisipasi dari jumlah kas yang dibutuhkan untuk membayar tagihan pada tanggal tertentu berdasarkan nilai SP2D yang diterbitkan (pada esok hari dan hari yang bersangkutan). Atas dasar pembahasan international practice dan review perundangan sebagai mana tersebut di atas, praktek manajemen kas di Indonesia menunjukkan adanya sebuah hybrid model. Dalam hal kerangka organisasi dan distribusi kewenangan dalam penyelenggaraan keuangan negara, maka manajemen kas di Indonesia lebih cenderung pada system ter-sentralisasi sebagaimana di terapkan di Perancis. Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa Bendahara Umum negara merupakan satu-satunya institusi yang secara eksplisit bertanggung jawab atas pencapaian tujuantujuan dari manajemen kas yang dilakukan secara tersentralisasi. Penerapan mekanisme TSA dan penyediaan dana di RPK-BUNP (sesuai SE-12/PB/2009) menunjukkan peran sentral Ditjen Perbendaharaan dalam manajemen kas. Namun demikian, dalam hal yang bersifat operasional terdapat pula beberapa fitur yang identik dengan praktek yang dilaksanakan di Australia. Walaupun Satker tidak memiliki tanggung jawab terkait dengan perencanaan kas, Satker pada saat ini terlibat dalam aktivitas perencanaan kas. Selain penyusunan rencana penarikan dana
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           213   

yang bersifat tahunan (halaman 3 DIPA), mekanisme penyampaian informasi untuk perencanaan kas yang diinstruksikan SE-02/PB/2006 dan SE-38/PB/3008 identik dengan penyampaian draw-down pattern schedule yang diwajibkan kepada seluruh Spending Agency di Australia setiap minggunya. Dalam prakteknya di Indonesia, ketiadaan kerangka konseptual atas tanggung jawab Satker terkait dengan manajemen kas berkontribusi kepada tidak efektifnya mekanisme information sharing antara Satker dengan Ditjen Perbendaharaan untuk keperluan perencanaan kas. Sebagaimana diketahui, peran serta Satker untuk perencanaan kas melalui sebagaimana diinstuksikan dalam kedua Surat Edaran tersebut di atas tidak seperti yang diharapkan. Meskipun format dan jenis informasi yang dibutuhkan dari Satker sangat mungkin mempengaruhi kesiapan dan kemampuan Satker, pada dasarnya tidak terdapat kerangka organisasi dan/atau insentif bagi Satker untuk berkontribusi dalam sebuah sistem perencanaan kas yang efektif. Misalnya, tidak terdapat kejelasan tentang pejabat dalam koordinasi KPA (PPK, PPSPM dan Bendahara) yang harus bertanggung jawab atas penyusunan rencana penerimaan dan pengeluaran dan/atau laporan rencana belanja di Satuan Kerja. Ketiadaan mekanisme rutin dalam periode jangka pendek ini, tidak memungkinkan review dan update atas rencana penarikan dana dalam halaman 3 DIPA sehingga rencana tahunan ini menjadi tidak efektif dalam pelaksanaannya. Patut menjadi catatan bahwa kedudukan bendahara (penerimaan dan/atau pengeluaran) di Indonesia secara organisasional berbeda dengan kedudukan para public accountant di Perancis. Dalam hal manajemen kas, kedudukan public accountant selaku pegawai Kementrian Keuangan Perancis memudahkan koordinasi terkait dengan konfigurasi rekening dan penyampaian informasi yang berkaitan dengan kas manajemen. Sebagai perbandingan, kedudukan public accountant di Prancis memudahkan pengelolaan rekening para public accountants sebagai sub-akun dari rekening utama yang dimiliki AFT. Kondisi ini memudahkan mekanisme pelimpahan saldo di sub-rekening ke rekening utama, (sebagaimana diterapkan di Perancis) untuk melaksanakan model Treasury Single Account. Mekanisme pengelolaan TSA yang ideal tersebut di atas tidak mudah dijalankan di Indonesia, karena rekening bendahara (pengeluaran dan/atau penerimaan) di Satker adalah rekening yang terpisah dari rekening kas negara yang
Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           214   

dikelola Ditjen

Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Mekanisme pooling atas

rekening bendahara, sebagaimana dijalankan saat ini, merupakan alternatif yang paling memungkinkan dengan struktur rekening yang ada saat ini. Meskipun tetap memberi peluang bagi Ditjen Perbendaharaan untuk memperoleh kemanfaatan atas saldo kas menganggur di rekening bendahara, Ditjen Perbendaharaan tidak memiliki kontrol atas saldo di rekening-rekening bendahara tersebut. Misalnya, apabila Ditjen Perbendaharaan memerlukan saldo di rekening-rekening bendahara untuk keperluan lain yang mendesak. Ditjen Perbendaharaan juga tidak memiliki alternatif investasi lain atas saldo-saldo di rekening tersebut selain memperoleh remunerasi dengan presentase yang tidak fleksibel.

4. Fitur SPAN terkait Manajemen Kas Sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, rencana pengembangan modul manajemen kas dalam SPAN berkaitan erat dengan pengembangan modul lainnya, terutama modul manajemen DIPA, manajemen komitmen dan General Ledger. Keterkaitan modul SPAN dengan modul lainnya diantaranya meliputi: a) update dan revisi atas Annual Financial Plan, sepanjang tidak melebihi pagu anggaran; b) penerapan cash-limit apabila diperkirakan tidak terdapat cukup kas untuk membayar tagihan atas beban negara. c) penggunaan data komitmen untuk proyeksi arus kas yang dibutuhkan untuk pelunasan sebuah komitmen. Rencana pengembangan SPAN untuk modul manajemen kas juga secara khusus mengantisipasi peran Satker yang krusial terkait dengan penyusunan penyampaian rencana pengeluaran/ belanja sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 4.40.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           215   

Gambar 4.40 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Kas (Bidding Document)
MANAJEMEN KAS Mnj. Kas (Direktorat PKN)
Kegiatan Penempatan Kas

Mnj. Penerimaan
Data Penerimaan Negara

Mnj. Utang

Mnj. Satker
DIPA Cash Planning Commitment Cash Limit SAI

DMFAS

1. Pagu APBN 2. Rencana Pengeluaran & enerimaan 3. Akuntansi Kas Umum Negara 4. Saldo Kas 5. Profil Utang

Memperkiraan pendapatan

Memperoleh informasi pinjaman

Mnj.
Komitmen Mempersiap kan Cash Planning

Perkiraan Pendapatan

Mempersiapkan perkiraan hutang dan hibah Perkiraan hutang dan hibah
Merencanaka n strategi/ persyaratan

Perbaikan rencana penempatan kas, penerimaan dan pengeluaran Penentuan persyaratan pinjaman
Penentuan batas pengeluaran yang baru dan menyampaikannya ke satker

pinjaman

Cash Planning

Mnj.
Pembayaran

Memperbaharui Cash Limit

Rencana pengembangan modul manajemen kas, dalam kerangka sistem yang terintergrasi dengan modul-modul lainnya dalam SPAN adalah sebagai mana ditunjukkan dalam gambar 4.41:

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           216   

Gambar 4.41 Rencana Pengembangan SPAN untuk Modul Manajemen Kas Terkait Dengan Modul-Modul Lainnya

Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas, elemen dari manajemen kas akan memperoleh input dari manajemen DIPA, manajemen komitmen, dan General Ledger untuk penyusunan dan update dari perencanaan kas. Annual Financial Plan dalam halaman 3 DIPA yang merupakan proyeksi kebutuhan kas untuk jangka panjang dan menengah adalah bagian dari modul manajemen DIPA. Mekanisme manajemen komitmen akan menghasilkan data untuk update proyeksi tersebut, terutama melalui jumlah dan saat pelunasan komitmen yang telah diregistrasi ke Ditjen Perbendaharaan (CAN). Bagian dari pelaksanaan mekanisme manajemen komitmen yang dicatat dalam General Ledger sebagai hutang (payables) merupakan input untuk kebutuhan kas dalam jangka pendek. Kedua informasi tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari mekanisme atas pembayaran pada saat penerbitan SP2D atau digunakan murni sebagai informasi dalam rangka pelaksanaan kas.

Subdit TPBE, DTP                                                                                                                                           217   

Mekanisme yang saat ini digunakan untuk menentukan jumlah alokasi saldo harian di sub-akun RPK-BUN P milik KPPN tertentu pada umumnya cukup efektif. termasuk Satker.5. Di antaranya adalah sebagai berikut: a) Penerapan SPAN dapat mendukung perencanaan kas jangka menengah dan tahunan melalui Annual Financial Plan (DIPA hal. Mekanisme registrasi data kontrak/ komitmen pada saat pengajuan Request For Commitment (RFC) idealnya dapat digunakan untuk meningkatkan akurasi AFP melalui update rencana pengeluaran atas dasar sejumlah dana anggaran yang telah di kontrakkan. rencana pengembangan SPAN yang ada saat ini telah mengindikasikan antisipasi atas peran para stakeholder. b) Proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan pengajuan pembayaran juga idealnya dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan cash forecasting untuk jangka pendek. mekanisme yang didukung dengan aplikasi software (e-kirana) ini dalam prakteknya masih memerlukan pertukaran informasi Subdit TPBE. Catatan atas hutang (liabilities) yang dibuat atas dasar tagihan yang divalidasi (SPP) dapat menjadi dasar untuk memperkirakan kebutuhan kas untuk hari tertentu. masih diperlukan kejelasan tidak hanya terkait sifat dari AFP. Namun demikian. Pengembangan sistem informasi yang terintegrasi memungkinkan tersedianya mekanisme review dan update terhadap rencana tersebut. DTP                                                                                                                                           218    . terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian untuk penyempurnaan dan implementasi SPAN khususnya terkait dengan manajemen kas dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Satker. 3). Rekomendasi dan alternatif Future Vision Model koneksitas proses bisnis dengan Satker terkait Manajemen Kas Rencana pengembangan manajemen kas dalam SPAN telah cukup komprehensif dan mencerminkan penerapan best practice. Meskipun ruang lingkup pengembangan SPAN berfokus pada proses bisnis di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran. Proses bisnis di Satker yang berkaitan dengan manajemen komitmen memiliki sumber data yang potensial untuk keperluan tersebut di atas. tetapi juga sumber data untuk keperluan updating rencana tersebut. Akan tetapi. dapat menggantikan atau melengkapi mekanisme yang saat ini digunakan Ditjen Perbendaharaan dalam pengisian RPK-BUN-P. Fitur ini apabila diterapkan. Akan tetapi untuk implementasinya.

 DTP                                                                                                                                           219    . d) Kejelasan wewenang dan tanggung jawab atas penyelenggaraan manajemen kas di Satker sangat diperlukan. Merujuk pada model sentralisasi manajemen kas yang ada di Perancis. Sentralisasi rekening bendahara juga lebih ideal untuk penerapan mekanisme pembayaran petty cash melalui credit card melalui rekening yang memiliki fasilitas overdraft sebagaimana dijalankan di Australia. Idealnya. Dalam kerangka dasar penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana di Satker tidak terdapat ketentuan yang mengatur kewajiban pejabat perbendaharaan di Satker berkaitan dengan manajemen kas. Pembahasan selengkapnya atas fitur dalam manajemen komitmen yang berkaitan dengan manajemen kas dapat dilihat pada sub-bagian manajemen komitmen dalam modul ini.secara informal melalui telepon dan/atau faximile. c) Manajemen kas idealnya sejalan dengan kerangka dan konfigurasi rekening. Struktur rekening yang ada saat ini kurang ideal bagi perencanaan kas karena tidak adanya kontrol penuh Kuasa BUN terhadap saldo di rekening-rekening tersebut di akhir hari. rekening bendahara pengeluaran idealnya merupakan sub akun dari rekening Kuasa BUN. terdapat ketentuan yang mengatur tugas dan tanggung pihak-pihak tertentu berkaitan dengan rencana penarikan dana dari Satuan Kerja. Rekening bendahara pengeluaran yang digunakan untuk menempatkan dana petty cash merupakan rekening yang mandiri dan terpisah dari rekening yang dikelola Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Meskipun telah terdapat mekanisme yang mewajibkan Satker untuk menyampaikan informasi dalam rangka perencanaan kas. Sentralisasi rekening bendahara terhadap rekening yang dimiliki Ditjen Perbendaharaan memungkin penerapan alternatif investasi terbaik dari idle cash (jika ada) dan tidak terbatas pada perolehan remunerasi atas saldo total rekening-rekening tersebut sebagaimana dijalankan melalui mekanisme Treasury National Pooling pada saat ini. tidak terdapat kejelasan tentang pejabat perbendaharaan yang bertanggungjawab atas rencana penarikan dana tersebut. Idealnya. mekanisme tersebut merupakan bagian dari sistem yang secara terintegrasi merupakan bagian dari proses pembayaran (penerbitan SP2D). terutama yang berkaitan dengan penyediaan dana petty cash/ imprest fund. Hal tersebut dapat dimaklumi karena sistem perbendaharaan Indonesia lebih cenderung pada model sentralisasi manajemen kas pada Kementrian Keuangan sebagaimana halnya di Subdit TPBE.

Gambar 4.42. apabila Satker pada prakteknya kemudian diharuskan menyampaikan informasi dalam rangka perencanaan kas (sebagaimana dilaksanakan di Australia).42 Proses Bisnis Pembayaran di Satker terkait dengan Cash Forecasting Kuasa Pengguna Anggaran Ordonateur Rencana Penarikan Dana Comptabel KPPN SPM Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) SPP UP & GUP SPM Bukti Pembayaran (UP) Pihak ke-3 Bendahara Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) SPP-LS SPP UP & GUP Kontrak & Invoice (LS) Sebagaimana ditunjukkan dalam model proses bisnis di Satker sebagaimana diusulkan dalam gambar 4. kejelasan akan tugas dan tanggung jawab pihak tertentu terhadap informasi tersebut harus segera ditentukan. maka informasi terkait dengan rencana penarikan dana dalam rangka perencanaan kas idealnya menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab bendahara (pengeluaran). Subdit TPBE. Hal ini juga sejalan dengan pembahasan terkait dengan manajemen uang persediaan di Satker pada sub bagian sebelumnya. Namun demikian. Merujuk pada kerangka tanggung jawab manajemen kas di Satker yang diterapkan di Australia. maka bendahara pengeluaran merupakan pihak yang bertanggung jawab tidak hanya pada pelaksanaan fungsi pembayaran secara utuh (mengetahui semua permintaan pembayaran baik SPP LS maupun SPP UP).Perancis. DTP                                                                                                                                           220    .

maka bendahara merupakan pihak yang memiliki akses memadai untuk menyusun rencana penarikan dana sebagai input informasi dari Satker untuk perencanaan kas. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. assessment atas praktek pelaksanaan selama ini. idealnya juga memiliki akses terhadap informasi akuntansi dan pembukuan atas transaksi-transaksi pengeluaran tersebut. review atas landasan hukum dalam kerangka international best practice. H. pembahasan pada BAB IV ini difokuskan pada penentuan model koneksitas proses bisnis di masa yang akan datang (future). Untuk melaksanakan fungsi perencanaan kas tersebut. 3. manajemen pelaporan dan manajemen Subdit TPBE. Misalnya. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. yang meliputi tahapan-tahapan dalam siklus APBN yang telah dipetakan secara modular sejalan dengan rencana pengembangan SPAN 2. DTP                                                                                                                                           221    . Pembahasan untuk masing-masing tahapan (modul) setidaknya meliputi tinjauan atas international best practice. sedapat mungkin telah diupayakan agar bab ini memuat pembahasan secara komprehensif. Susunan substansi materi yang dibahas dalam modul ini mengikuti struktur yang telah dibahas dalam Bab III (current state assessment). Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. rencana pengembangan dan implementasi SPAN dan analisis alternatif dan serta rekomendasi untuk penyempurnaan. Pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan fungsi bendahara secara utuh dan sesuai kerangka peraturan perundangan sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan.Bendahara. terdapat keterkaitan yang erat antara manajemen DIPA. idealnya terdapat mekanisme di mana bendahara dapat mengetahui pagu anggaran yang telah dikontrakkan dengan menerima tembusan kontrak dari Pejabat Pembuat Komitmen. manajemen kas. Dengan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Pembahasan model koneksitas proses bisnis di Satker untuk masing-masing modul diupayakan untuk mewujudkan integrasi antara suatu modul sebagai sub-sistem dari sebuah sistem modular yang terintegrasi. Untuk masing-masing proses bisnis di Satker yang terkait dengan pelaksanaan tahapan dalam siklus APBN. merujuk pada international best practice dan rencana pengembangan SPAN.

pembayaran. penentuan alternatif dan rekomendasi dalam rangka penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya senantiasa diupayakan kesesuaiannya dengan kerangka dasar pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah ada. Oleh karena itu pembahasan. diantaranya melalui pengakuan. 6. yang tidak hanya mencerminkan international best practice tetapi juga mempertimbangkan kondisi spesifik di Indonesia.pada saat ini dan alternatif penyempurnaan pelaksanaan tugas kebendaharaan oleh bendahara di masa yang akan datang. Blue print tersebut diperlukan sebagai bahan kajian dan acuan untuk penyusunan desain rinci (detaildesign) proses bisnis di Satker dan koneksitasnya. 4. Disadari sepenuhnya bahwa paket undang-undang di bidang keuangan negara telah mengamanatkan kerangka pengelolaan keuangan negara yang komprehensif. pencatatan dan registrasi terkait komitmen (manajemen komitmen). yang idealnya dilakukan bersamasama dengan unit-unit teknis di lingkungan Ditjen Perbendaharaan. 5. Subdit TPBE. bab ini juga memuat kajian atas peran bendahara di Satker. Pembahasan dalam bab ini pada dasarnya merupakan blue-print untuk penyempurnaan model koneksitas proses bisnis dengan Satker. DTP                                                                                                                                           222    .khususnya bendahara pengeluaran. Mengingat peran penting dan kedudukan bendahara (di Satker) yang unik dalam struktur dan gorvenance penyelenggaraan keuangan negara. kajian.

Hal-hal yang dibahas dalam bab ini akan menjadi fokus bahasan diskusi awal tahun 2010. e. serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik. TPBE.BAB V Strategi dan Taktik Pencapaian Model Koneksitas Mengikuti kerangka penulisan sebagaimana dijelaskan dalam Bab I. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja sebagai client utama dari Ditjen Perbendaharaan. telah dibahas proses bisnis penyelenggaraan keuangan negara di Satker. Kepastian hukum dan kelengkapan peraturan pelaksanaan untuk mendukung governance. serta perlunya berbagai perubahan dalam regulasi dan change managament untuk memperlancar penerapan proses binnis dan IT yang baru. khususnya terkait dengan pengeluaran anggaran. Peran Sumber Daya Manusia (baik di Ditjen Perbendaharaan maupun para pejabat perbendaharaan di Satker) selaku agent of change untuk terwujudnya penyempurnaan yang berkesinambungan. Mitigasi terhadap inherent risk dari aktivitas yang berkaitan dengan Business Process Improvement. d. c. Termasuk dibahas dalam bab ini adalah cakupan implementasi SPAN Project dan kaitannya dengan pengembangan proses bisnis dan IT di satker. Pada bab-bab sebelumnya. Subdit. mitigasi resiko terkait dengan diversitas kondisi dan jumlah satker. b. bab ini difokuskan pada pembahasan tentang strategi dan taktik pencapaian model koneksitas. Penyusunan strategi dalam rangka penyempurnaan proses bisnis penyelenggaraan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan setidaknya harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: a. Penerapan alternatif pilihan penyempurnaan tersebut memerlukan strategi yang sesuai agar dapat diimplementasikan secara efektif. DTP    223  . permasalahan dan beberapa usulan sebagai alternatif penyempurnaannya. Keterkaitan antara penyempurnaan proses bisnis di Satker dalam kerangka SPAN. Dibahas pula dalam bab ini adalah perlunya kesesuaian time line penyempurnaan proses bisnis dan IT satker dengan time line SPAN Project. khususnya di lingkungan instansi pemerintah. check and balance dan evaluasi atas proses bisnis terkait penyelenggaraan keuangan negara di Satker.

Sesuai dengan keterangan dalam SPAN Dokumen (RFP). TPBE. Koordinasi dan sosialisasi. sejumlah Satker akan diikutkan dalam tahap piloting yang khususnya lebih berkaitan dengan konfigurasi teknologi informasi. baik di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan maupun secara lebih luas yang melibatkan Satker. Sedangkan interface untuk mentransfer data dari Ditjen Perbendaharaan ke Satker akan menjadi bagian dari SPAN.1. perbankan.1 Namun demikian. aparat pengawasan dan stakeholders utama lainnya. investasi dan hutang. A. cukup jelas disebutkan bahwa pada dasarnya ruang lingkup pengembangan SPAN tidak mencakup Satker.f. Penyempurnaan proses bisnis di Satker dalam kerangka pengembangan SPAN Dalam kerangka pengembangan SPAN. DJA. Gambar 5. Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN. g. Atas dasar uraian tersebut maka cukup jelas bahwa COTS nantinya hanya terdapat di Subdit. Bersama dengan proses bisnis yang terkait dengan institusi perbankan dan pengelolaan aset. DTP    224  . maka Kementrian Keuangan bertanggung jawab untuk membangun sistem aplikasi dan interface untuk mentransfer data dari Satker ke Ditjen Perbendaharaan. proses bisnis Satker tidak termasuk ruang lingkup dari komponen utama SPAN sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5.

 DTP    225  . Kementrian Kesehatan. Selama tahap piloting direncanakan akan terdapat 55 koneksi untuk lima kementrian/lembaga yang ikut serta dalam tahap piloting dengan rincian sebagai berikut: 5 nodes 50 nodes (source: SPAN RFP) Kantor Pusat Kementrian/Lembaga Spending Unit Agar sesuai dengan ruang lingkup dari rencana implementasi selama pilot phase. Sedangkan untuk aktivitas yang berkaitan dengan budget preparation (a. Notification of SPM which could not be processed from DGT to LM SU. Electronic transfer of draft DIPA data from LM SU to DGT. Electronic transfer of SPM data from LM SU to DGT. Kementrian Pendidikan Nasional. 3. manajemen pembayaran dan akuntansi (item c. fixed asset data. Ruang lingkup selama pilot phase yang melibatkan Sekertariat Jenderal kementrian/lembaga adalah sebagai berikut (sesuai dengan SPAN Bid Document/RFP): 1. maka ditetapkan institusi Kantor Pusat Kementrian/ Lembaga yang ideal untuk dilibatkan dalam pilot phase 1 adalah Sekertariat Jenderal. and other financial data from LMHO & SU to DGT). Electronic transfer of confirmation of DIPA approval from DGT to LMHO & SU. 5. TPBE. Confirmation of SP2D from DGT to LM SU. Untuk aktivitas yang berkaitan dengan manajemen komitmen. 6. 7.d. sedangkan Kementrian/ Lembaga merupakan entitas yang menyediakan data bagi COTS/ modul SPAN yang ada di sistem Kementrian Keuangan.e g dan h) Sekertariat Jenderal berperan murni sebagai Satuan Kerja. yang terdiri dari Kementrian Keuangan. Tahap pilot phase 1 akan melibatkan 5 Kantor Pusat Kementrian/Lembaga. 8.Kementrian Keuangan. Electronic transfer of commitment data from LM SU to DGT. Subdit.b. Electronic transfer of RKA-KL data from LM Head Office to DGB. 4. Electronic transfer accounting data (GL. 2.f) dan penerbitan dokumen pelaksanaan anggaran Sekertariat Jenderal berperan sebagai head offices/kantor pusat dari Satker-satker yang menjadi unit vertikalnya (sub-ordinate budgetary institutions). Kementrian Pekerjaan Umum dan Kementrian Pertanian.

online access to centralized database. DTP    226  . automatic updating to all information. Konfigurasi IT dan sistem informasi yang melibatkan Satker dalam tahap piloting adalah sebagai berikut: Gambar 5. TPBE. electronic submission of information. SPAN diharapkan memiliki fitur diantaranya centralized database.2 DG Treasury      Head Offices  DG Budget     Eselon 1 (Setjen)  Preparation  Remote Access  Server   Kanwil  Central  Database    Lini  Ministry  Head  Offices  as/or  Spending  U i Echelon 1 Bureau 1/  SU 1  Bureau 2/  SU 2  KPPN  Execution  Spending  Unit Bureau 2/  SU 2  Bureau 10/  SU 10  Subdit. single entry point.Sejumlah 10 nodes untuk masing-masing Kementrian/Lembaga akan disediakan bagi Satuan Kerja Kantor Pusat di lingkungan Kementrian/Lembaga. Ruang lingkup SPAN adalah koneksi dengan 178 KPPN dengan 5 kementrian/lembaga sebagaimana tersebut di atas. Pada tahap awal Satker (SU) tidak terkoneksi secara online. Koneksitas dengan kementrian/lembaga akan dilakukan melalui koneksi dial up dengan Remote Access Server yang ada di Kanwil/KPPN. real time.

Sebagai contoh. Line Ministry Head Office dan Spending Unit tidak memiliki koneksi/ akses secara langsung terhadap central data base. Sebagai catatan. terkait dengan penerapan manajemen komitmen di masa yang akan datang. 2. dalam pelaksanaanya tidak ada parallel run dari sistem di KPPN. Line Ministry Head Office (dan Spending Unit apabila memungkinkan) memiliki akses langsung terhadap central database. Namun demikian. Akses Satker terhadap central data base yang dilakukan melalui KPPN/ Kanwil sebagai Remote Access Server hanya diperuntukkan bagi Satker-Satker tertentu di daerah terpencil yang tidak memungkinkan koneksi/ akses secara langsung terhadap database. Saat ini telah terdapat kajian awal terkait dengan inventarisasi aplikasi-aplikasi yang digunakan di Satker pada saat ini dan kemungkinan penyempurnaan/ integrasi aplikasi tersebut di masa yang akan datang. Sebagaimana tersebut di atas. yaitu aplikasi SPM. misalnya melalui dial up. sampai saat ini belum terdapat kejelasan perihal aplikasi-aplikasi apa saja yang diperlukan Satker dalam rangka SPAN. belum terdapat kejelasan bagaimana informasi terkait kontrak/komitmen dalam Request for Commitment (RFC) disampaikan ke KPPN.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. di dalam SPAN Bid Document/RFP terdapat beberapa alternatif untuk meregistrasi data komitmen (BC001) yang struktur datanya cukup kompleks (BC) misalnya dengan input secara manual dan atau menggunakan file/ ADK. terdapat beberapa alternatif dalam rangka implementasi SPAN khususnya pada tahap piloting 1 sebagai berikut: 1. Terkait hal tersebut sangat mungkin diperlukan program aplikasi untuk mengkonfersi data dari sistem yang lama (di satker) ke sistem yang baru Subdit. Akses Satker terhadap central database dilakukan melalui KPPN/ Kanwil sebagai Remote Access Centre. TPBE. Di samping itu. Pada saat ini ADK kontrak dihasilkan dari aplikasi yang berkaitan dengan manajemen pembayaran. dalam rangka pengembangan SPAN aplikasi kementrian/lembaga dan interface untuk mentransfer data dari kementrian/lembaga kepada Ditjen Perbendaharaan akan menjadi tanggung jawab Departemen Keuangan. DTP    227  . Parallel run hanya mungkin terjadi dalam satu Kantor Wilayah di mana terdapat KPPN yang menggunakan sistem yang baru dan yang lama. meskipun terdapat beberapa Satker yang bagian dari pilot phase.

2003. governance dan koordinasi dalam rangka proyek SPAN melalui Tim Reformasi Perbendaharaan dan Penganggaran Negara (Tim RPPN) dan Tim Koordinasi Teknis telah secara rutin menangangi isu-isu terkait SPAN. pendanaan dan ketiadaan profit untuk menjustifikasi investasi. business process improvement menganjurkan suatu perubahan yang besar (dramatic improvement) dengan dukungan kemajuan teknologi informasi (see Hammer. B. meskipun ruang lingkup SPAN tidak sepenuhnya mencakup Satker. khususnya bagi Satker yang tidak termasuk ke dalam entitas dalam rangka piloting. upaya penyempurnaan proses bisnis (business process improvement) cenderung identik dengan resiko yang tidak kecil. Hal tersebut karena secara konseptual. Khususnya bagi instansi pemerintah. termasuk keterkaitannya dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker. misalnya Tim Penyempurnaan Framework Chart of Account. Idealnya terdapat suatu mekanisme untuk me-mitigasi resiko yang identik dengan penyempurnaan proses bisnis sebagai mana tersebut di atas. pengalaman otomasi dan integrasi sistem informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan keuangan negara (Government Financial Management and Information System) juga tidak selalu berhasil baik karena ketiadaan landasan hukum. Beberapa aspek Subdit. kurangnya proses improvement maupun masalah yang lebih teknis. TPBE. 2007). dan hubungan industrial yang lebih kaku jika terdapat konsekuensi lay-off (see MacIntosh. DTP    228  .(di KPPN). Davenport & Short. 1996). di Direktorat Transformasi Perbendaharaan yang merupakan counterpart dalam rangka pengembangan SPAN telah terdapat unit struktural yang secara khusus bertanggung jawab atas penyempurnaan proses bisnis di Satker. Hesson. Pada saat ini. Di samping itu. Mitigasi terhadap inherent risk berkaitan dengan Business Process Improvement Semenjak diperkenalkan dengan tema reengineering. misalnya terkait kodifikasi akun (USAID. upaya terkait penyempurnaan proses bisnis juga sering terkendala oleh peraturan sebagai dasar hukum dan keharusan mempertahankan aktivitas yang berkaitan dengan otorisasi dan verifikasi. Secara lebih spesifik. 1990. Tata kelola sebagaimana tersebut di atas. diharapkan dapat me-mitigasi resikoresiko yang secara identik dengan upaya penyempurnaan proses bisnis. 2008). Pada saat ini juga terdapat beberapa tim yang secara khusus bertugas menangani aspek tertentu terkait dengan pengembangan SPAN. Grover & Malhotra. 1990.

Pada saat ini (akhir tahun 2009) Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan dan unit vertikal dilingkungannya melayani sekitar 21. PA Subdit.3. Magnitude dan diversitas dari Satuan Kerja serta permasalahan terkait kondisi geografis Indonesia yang unik.000 Satuan Kerja.3 Sources: Diolah dari data DIPA 2009 Dit. Dari jumlah tersebut.lain yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia akan dibahas pada bagian berikutnya.514 Satker. Figur selengkapnya adalah sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5. DTP    229  . Gambar 5. Jumlah Satker yang menjadi mitra kerja Ditjen Perbendaharaan terhitung sangat besar dengan diversitas yang sangat signikan. sekitar 836 Satker memiliki pagu kurang dari 100 juta. sedangkan Satker yang memiliki pagu lebih dari 2 milyar tidak kurang dari 10. C. TPBE.

secara umum mengenalkan paradoks terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia selama menjalani business process improvement. TPBE. secara konseptual business process improvement menganjurkan pengelolaan organisasi yang cost-efisien dan mengantisipasi kemungkinan melakukan stream-lining terhadap organisasi. Subdit. Di samping hal-hal terkait dengan perubahan di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan. business process improvement mengandalkan konsep empowerment untuk merealisasikan perubahan dalam pengelolaan organisasi yang berbasis proses. Dengan kondisi geografis kepulauan di Indonesia yang unik. D. nantinya akan didukung oleh badan/ konsultan yang melaksanakan advisory role terkait dengan komunikasi dan manajemen perubahan (communication and change management). Di sisi lain. Hal tersebut diperlukan karena pada dasarnya penyempurnaan proses bisnis di Satker tidak terbatas pada beberapa Kementrian/ Lembaga yang menjadi bagian tahap piloting. Di satu sisi. Ditjen Perbendaharaan menyadari sepenuhnya peran sentral SDM dalam merealisasikan perubahan. DTP    230  . Pada saat ini terdapat 178 KPPN yang melayani Satker-Satker yang tersebar di 33 propinsi tersebut. 9% yang memiliki belanja modal. Literatur business process improvement. Merujuk pada figur dan sebaran dari Satker sebagai mana tersebut di atas. Peran Sumber Daya Manusia selaku agent of change Penyempurnaan proses bisnis tidak terlepas dari peran sumber daya manusia di suatu organisasi untuk mewujudkan perubahan. Demikian pula dengan pemilihan Kementrian/ Lembaga yang menjadi bagian dari tahap piloting sudah mewakili kondisi/ figure dari Satker pada saat ini. termasuk kepada Kementrian/ Lembaga.000 Satker tersebut di atas. Implementasi SPAN. mekanisme piloting yang rencananya akan diterapkan selama tahap implementasi SPAN sudah cukup tepat. badan tersebut idealnya dapat berperan penting dalam penentuan stragtegi komunikasi penyempurnaan proses bisnis pengelolaan keuangan negara. Namun demikian. sedangkan sisanya tidak memiliki belanja modal.Dari sekitar 21. dapat dipastikan tantangan penyempurnaan proses bisnis dan pelayanan di masa yang akan datang tidaklah mudah. hanya 55. idealnya selama implementasi SPAN dapat dilakukan sosialisasi kepada seluruh Kementrian/ Lembaga terkait dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker terlepas dari rencana implementasi SPAN.

E. Berdasarkan uraian tersebut di atas. stream-lining terhadap organisasi pada saat ini bukan wacana yang populer. DTP    231  terkait . kewenangan BUN atas pelaksanaan standar tersebut terbatas pada saat dikeluarkannya uang dari rekening kas negara (penjelasan UU Perbendaharaan Negara). Ditjen Perbendaharaan tidak memiliki kewenangan untuk menguji dan mengevaluasi ketaatan (compliance) Satker dalam melaksanakan standar tersebut di Satker. Kewenangan tersebut pada saat ini ada pada aparat pengawasan fungsional baik internal Kementrian/ Lembaga maupun eksternal. ketidaksesuaian antara Perdirjen 66/PB/2005 dengan PMK 73/PMK. dengan memperhatikan Subdit. cukup jelas bahwa kewenangan untuk menetapkan proses bisnis terkait dengan penyelenggaraan keuangan negara di Satker merupakan wewenang Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Dengan demikian. Menteri Keuangan selaku BUN memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran (Pasal 7 angka 2 huruf a). Pada bab 2 telah disebutkan pentingnya kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan sebagai authorizing environment bagi sebuah institusi pemerintah. berpendapat bahwa reengineering juga membawa peluang untuk berinovasi terhadap aktivitas yang menjadi bagian proses bisnis. misalnya. TPBE. Misalnya. setidaknya harus memperhatikan sikap dan kesiapan Satker terhadap opsi tersebut. Sedangkan di lingkungan Satker. Kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan Untuk mendukung governance. Sebagai mana diamanatkan Undang-Undang Perbendaharaan Negara. dari telaah atas beberapa peraturan pelaksanaan terdapat indikasi ketidaksesuaian di antara ketentuan-ketentuan yang mengatur pelaksanaan proses bisnis di Satker.05/2008 dengan kewenangan penerbitan Surat Permintaan Pembayaran di Satker. Di samping itu. Dengan kata lain. check and balance dan evaluasi atas proses bisnis di Satker sangat diperlukan kelengkapan landasan hukum dan peraturan pelaksanaan. Namun demikian opsi untuk mengurangi jumlah Satker tersebut. maka strategi penyempurnaan proses bisnis di Satker harus mengutamakan ketersediaan landasan hukum.Di lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan. Namun demikian. Paket undang-undang di bidang keuangan negara telah menyediakan landasan hukum sekaligus mandat untuk penyelenggaraan keuangan negara yang lebih baik. Patut disebutkan pula. Campion. sangat dimungkinkan untuk melakukan stream-lining terhadap jumlah Satker. penyempurnaan proses bisnis tidak selalu identik dengan opsi pengurangan jumlah SDM. et al (2005).

IT dan sistem informasi. penyempurnaan landasan hukum dilakukan dengan koordinasi yang baik tidak hanya antar unit-unit di lingkungan Ditjen Perbendaharaan tetapi juga dengan aparat pengawasan fungsional. Gambar 5. peran Direktorat Transformasi Perbendaharaan sangatlah penting.konsistensi peraturan dan evaluasi atas praktek pelaksanaan standar selama ini. TPBE. Direktorat Transformasi Perbendaharaan hadir untuk melengkapi dan mendukung pelaksanaan tugas. Penyempurnaan proses bisnis. Idealnya. termasuk yang berkaitan dengan Satker. fungsi dan kewenangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan.4 Sumber: Bahan Presentasi Sosialisasi DTP Subdit. khususnya di Satker. Koordinasi dan sosialisasi yang tidak terbatas pada lingkungan internal Ditjen Perbendaharaan Dalam rangka pelaksanaan undang-undang.4 menunjukkan pola koordinasi dan kerja sama di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dalam rangka penyempurnaan proses bisnis. khususnya melalui integrasi antara proses bisnis. F. Sebagai direktorat baru yang dibentuk melalui PMK 100/PMK/2008. harus dilaksanakan dalam kerangka koordinasi dengan unit-unit lain dilingkungan Ditjen Perbendaharaan. Gambar 5. DTP    232  .

5 CRP 3: Standar Proses  Bisnis  Satker idealnya  dapat ditetapkan  Akhir fase design:  selambat‐lambatnya  standar Proses Bisnis   Satker sudahditetapkan  Awal Fase piloting: standar  Proses Bisnis  Satker dan  aplikasi pendukung sudah  ditetapkan  Pengembangan dan  finalisasi aplikasi  software pendukung  proses bisnis di  Satker  Source: modified from Project Initiation Report.Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut di atas. LG Subdit. Sebagai mana diketahui. DTP    233  . aktivitas penyempurnaan proses bisnis di satker memperhatikan kesesuaian dengan time line dan road map pengembangan SPAN. Kesesuaian dengan time-line dan road map pengembangan proses bisnis dalam rangka SPAN Meskipun tidak termasuk dalam ruang lingkup core proses bisnis/ modul. G. Gambar 5. aktivitas penyempurnaan proses bisnis juga dilaksanakan dengan mempertimbangkan pendapat dan saran dari Satker dan pihak-pihak eksternal lainnya. penyempurnaan proses bisnis di Satker berkaitan erat dengan pengembangan SPAN. Oleh karena itu. TPBE. MoF bertanggung jawab untuk membangun interface (dan proses bisnis) dengan Satker untuk mendukung pelaksanaan tahap piloting.

5. maka pengembangan aplikasi/ software merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dalam upaya penyempurnaan model koneksitas proses bisnis dengan Satker di masa yang akan datang. Untuk itu.Sebagai mana ditunjukkan dalam gambar 5. Kementrian Keuangan telah memiliki standar proses bisnis dan aplikasi pendukung di Satker yang sesuai dengan proses bisnis yang baru di Ditjen Perbendaharaan yang baru dalam rangka SPAN. Pada tahap tersebut. build dan test sebelum fase piloting. k. atau selambat-lambatnya pada akhir fase design pada September 2010. Subdit. alternatif dan rekomendasi yang telah dibahas pada bab sebelumnya. DTP    234  . direncanakan untuk dimulai pada April 2011. H. 2. fitur Satker. kerjas sama dan koordinasi dengan unit-unit teknis lain di lingkungan Ditjen Perbendaharaan merupakan bagian dari strategi dan taktik penentuan model koneksitas yang harus diikuti. mitigasi resiko. methodology pengembangan SPAN diantaranya meliputi fase design. maka model koneksitas proses bisnis di Satker nantinya harus merupakan bagian dari dan ditetapkan dengan peraturan perundangan. Penutup Dari uraian pada beberapa sub-bab tersebut di atas. idealnya. Strategi dan taktik tersebut pada dasarnya merupakan road-map untuk penyusunan dan penetapan desain rinci (detail design) dari kajian. pembahasan pada Bab V difokuskan pada strategi dan taktik pencapaian model koneksitas. 4. dan peran penting SDM. standar proses bisnis di Satker yang baru idealnya dapat ditetapkan pada tahap Conference Room Pilot (CRP) yang ketiga pada Juni 2009. Paralel dengan time-line SPAN. Sebagai sebuah standar proses bisnis yang nantinya akn menjadi acuan Satker dalam penyelenggaraan keuangan negara. berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang dapat disarikan: 1. Fase piloting. Beberapa acuan dalam penyusunan strategi dan taktik pencapaian model koneksitas diantaranya meliputi kerangka rencana pengembangan SPAN. sesuai gambar tersebut di atas. 3. TPBE. Mengingat keterkaitan yang erat antara standar proses bisnis dan ketersediaan sistem informasi dan aplikasi/ software pendukung. Sebagaimana framework penulisan modul yang telah dijelaskan pada Bab I. Sejak Oktober 2010 sampai dengan awal tahap piloting (April 2011) merupakan periode untuk persiapan dan finalisasi aplikasi/software pendukung di Satker yang diperlukan dalam rangka pengembangan SPAN.

Penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksitasnya dengan Ditjen Perbendaharaaan merupakan upaya untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-undang. Penyempurnaan proses bisnis di Satker sedapat mungkin dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat inherent dari institusi pemerintah yang dalam beberapa hal penting berbeda dengan organisasi bisnis yang berorientasi pada penciptaan keuntungan.3 yang dianut dalam penulisan draft modul ini. proses bisnis. Kerangka pembahasan penyempurnaan proses bisnis di Satker. Alternatif dan usulan penyempurnaan proses bisnis di Satker sebagaimana dimuat dalam modul ini juga diharapkan dapat menjadi bahan diskusi dan pembahasan dalam rangka menetapkan standar proses bisnis di Satker untuk mendukung pengembangan SPAN. aktivitas penyempurnaan proses bisnis harus di dasarkan pada kerangka kerja (framework) yang comprehensive dan memadai. meskipun proses bisnis di Satker tidak tercakup dalam ruang lingkup SPAN. kapasitas operasional dan nilai tambah (value added) dari aktivitas penyempurnaan proses bisnis. Ringkasan beberapa pokok pikiran yang kiranya dapat bermanfaat bagi penyempurnaan proses bisnis di Satker adalah sebagai berikut: A. harus dilaksanakan dalam kerangka dasar perundangan yang telah ada. DTP    235  . misi dan idealnya tujuan bersama dari para stakeholders dalam rangka penyelenggaraan keuangan negara. Di samping itu. terutama di Satker. Penyempurnaan proses bisnis. Penyempurnaan proses bisnis di Satker harus didasarkan pada visi. memuat secara ringkas rencana pelaksanaan berbagai kegiatan dalam rangka menyempurnakan draft modul ini sejalan dengan framework ITIL v. idealnya didasarkan pada landasan hukum. sistem aplikasi dan manajemen perubahan.BAB VI Penutup Bab ini membahas dua hal utama yaitu (i) penutup dan (ii) rencana kedepan. Sedangkan rencana kedepan. Paket Undang-undang di bidang keuangan negara telah menyediakan landasan hukum sekaligus mandat untuk terwujudnya penyelenggaraan keuangan negara yang baik. Penutup merupakan summary terhadap hal-hal yang telah dibahas dalam keseluruhan draft modul ini. yang setidaknya memperhatikan strategi organisasi. penyusunan modul ini sejalan dengan rencana pengembangan SPAN. B. Di samping itu. teknologi informasi. Subdit TPBE. C.

SPAN merupakan integrasi tidak hanya terkait dengan IT dan data base. J. manajemen komitmen. Sejalan dengan pengembangan SPAN. sehingga terdapat mekanisme pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran yang lebih cost-efisien. F. Rencana pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) merupakan upaya nyata untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan negara sebagaimana diamanatkan Undang-undang. DTP    236  . Kedudukan bendahara (penerima dan/atau pengeluaran) yang menjalankan tugas secara fungsional patut mendapat perhatian khusus dalam penyempurnaan proses bisnis di Satker. namun juga mengupayakan integrasi dari tahapan penyelenggaraan keuangan negara. manajemen pembayaran. I. Misalnya dengan mengkaji kemungkinan organisasi dan Subdit TPBE. Misalnya dengan menyempurnakan tugas dan tanggung jawab para pejabat perbendaharaan negara di satker dan menjadikannya sebagai bagian dari proses bisnis yang efektif dan mendukung terciptanya tata kelola yang memadai. rencana pengembangan SPAN berkaitan erat dengan penyempurnaan proses bisnis di Satker selaku salah satu stakeholders utama. terutama melalui pelaksanaan Treasury Single Account. khususnya perbankan. Penyempurnaan proses bisnis di Satker sedapat mungkin memanfaatkan kemajuan teknologi. Pengembangan proses bisnis di Satker. Dalam pelaksanaanya. Pengelolaan kas di Ditjen Perbendaharaan telah maju pesat dibandingkan dengan sebelum penetapan paket undang-undang di bidang keuangan negara. manajemen kas. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi perbankan untuk mendukung pelaksanaan mekanisme Uang Persediaan melalui penggunaan debit/ credit card. G. penyempurnaan proses bisnis di Satker ditujukan untuk mendukung integrasi dari modul-modul tersebut pada point (E).D. Misalnya dengan mengupayakan integrasi melalui pencatatan dan penggunaan informasi terkait komitmen/ kontrak sebagai komponen utama dalam pengembangan modul manajemen DIPA. Penyempurnaan peran bendahara. Penyempurnaan proses bisnis harus sejalan dengan upaya yang telah dirintis. Komponen utama SPAN yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran (budget execution) meliputi manajemen DIPA. idealnya ditujukan untuk mendukung pelaksanaan tugas kebendaharaan secara utuh sebagai mana diamanatkan dalam peraturan perundangan. E. H. pelaporan. manajemen pembayaran. dan akuntansi dan pelaporan. idealnya didukung dengan penyempurnaan implementasi dari ketentuan dalam paket undang-undang di bidang keuangan negara. manajemen kas.

Dalam rangka pelaksanaan SPAN. yang terutama akan menjadi bagian dari proses pengujian dalam rangka penyaluran dana anggaran. cukup jelas bahwa implementasi COTS terbatas pada institusi di lingkungan Ditjen Perbendaharaan. M. sesuai dengan bagian yang menjadi tanggung jawab Kementrian Keuangan dalam rangka SPAN. idealnya penyempurnaan proses bisnis di Satker dapat berjalan secara paralel dengan pengembangan SPAN di Ditjen Perbendaharaan. Oleh karena itu. Di samping itu. kedudukan Satker dalam tahap awal implementasi SPAN adalah sebagai penyedia data. standar proses bisnis di Satker yang telah disempurnakan idealnya telah ditetapkan sebelum pelaksanaan tahap pilot 1. kiranya tidak berlebihan jika aktivitas akuntansi dan pelaporan juga sedapat mungkin dilaksanakan secara efisien dengan memperhatikan kerangka pembagian tugas dan kewenangan para pejabat perbendaharaan di Satker. K. pelaksanaan akuntansi dan pelaporan merupakan suatu keharusan dalam pengelolaan keuangan negara yang baik. DTP    237  . penyempurnaan proses bisnis di Satker: Subdit TPBE. L. tentative. Oleh karena itu.strukturisasi yang lebih baik dan cost-efisien terhadap rekening bendahara (pengeluaran dan/ atau penerimaan). Gambar berikut menunjukkan rencana kerja. Dari literatur yang berkaitan dengan pengembangan SPAN. Dalam rangka akuntabilitas. Aktivitas terkait akuntansi dan pelaporan di Satker harus ditujukan untuk menjamin tersedianya laporan yang akurat dan tepat waktu.

Modul ini memuat blue print dalam rangka penyempurnaan proses bisnis di Satker dan koneksinya dengan proses bisnis di Ditjen Perbendaharaan. dukungan IT dan SDM dari satker-staker yang ikut dalam pilot project dimaksud. Sebagaimana telah disampaikan didepan. akan dilakukan piloting pada satker terpilih dan penyusunan IT yang dikoordinir oleh Direktorat TP dan Direktorat SP. misalnya terkait dengan jenis dan struktur data. sejalan dengan framework ITIL v. Secara paralel. sudah terdapat integrasi yang memadai terkait proses bisnis. Dengan demikian. dapat diharapkan bahwa ketika dilaksanakan pilot project Penerapan SPAN pada tahun 2011.CRP 3: Standar Proses  Bisnis  Satker idealnya  dapat ditetapkan  Akhir fase design:  selambat‐lambatnya  standar Proses Bisnis   Satker sudahditetapkan  Awal Fase piloting: standar  Proses Bisnis  Satker dan  aplikasi pendukung sudah  ditetapkan  Pengembangan dan  finalisasi aplikasi  software pendukung  proses bisnis di  Satker  N. DTP    238  . format formulir dan element lainnya sebagai bagian dari mekanisme input-output akan diselesaikan selama tahun 2010. Detail desain dari proses bisnis tersebut. akan dilakukan pembahasan-pembahasan dengan stakeholder terkait untuk perbaikan draft modul ini.3. Subdit TPBE.

02/2009 tentang Tata Cara Perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dan Perubahan daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2009 Subdit TPBE. Penelaahan.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 73/PMK. KPMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 91/PMK.Daftar Pustaka A. Peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.05/2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 100/PMK. Departemen Keuangan RI Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara / Lembaga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 134/PMK.02/2008 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara / Lembaga dan Penyusunan. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun Anggaran 2009 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 06/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 105/PMK.06/2007 tentang bagan Akun Standar Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK. DTP     239  .

“On creating public value: What business might learn from government abaout strategic management” . Mark H. Governance. Regulation and Finance Division Hassim. H. “Treasury Reference Model”.Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-35/PB/2007 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Rekening Milik Kementrian Negara / Lembaga / Kantor / Satuan Kerja Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER 66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-02/PB/2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Forecasting) Instansi / Satuan Kerja Pemerintah Pusat / Daerah Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-38/PB/2008 tentang penyampaian Laporan Realisasi dan Perkiraan Belanja Kementrian Negara/Lembaga tahun Anggaran 2008 Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor KEP-297/PB/2007 tentang Standara Prosedur Operasi / SOP di lingkungan Ditjen Perbendaharaan B. Sanjeev (2004). S. Agencies UU No. Good Practice Guide FSIO (2009). “Chief Finance Officer: Role and responsibility”. Literatur BAB II Moore. “Standard business process”. Mark. Lecture presented 9 November 2006 Andrew. World Bank Lienert. World Bank Institute. (1995). “Cash management”. (2003). PFM Technical Guidance Note No. Allen (1999). 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. (2006). KPMK. 3 Moore. Departemen Keuangan RI Subdit TPBE. “Creating public value: Strategic management in government”. 5. M & Campos. IMF ANAO (1999). “The management of public expenditure and its implications for service delivery” Schick. & Khagram. E. “Recognizing public value: The challenge of measuring performance in government”. Mark. “A contemporary approach to public expenditure management”. A working paper for the Corporate Social Responsibility Initiative. “Cash management”. A & Allan. March 2004. DTP     240  . Financial Management System: Standard business process for U. J. March 1999 Auditor General Victoria (2004). Auditor General. Ian (2008). B (2001). H. Harvard University Press Moore. Working Paper No.

Ed. pp. “Budgeting and Budgetary Institutions”. Hammer. NY”. J. Thomas R (2007). Anwar Shah SPAN “Request for Proposal. evaluation. St Martin Press. New York Frye. Frederick S.Hughes. Paper. Government Finance”. Richard Allen & Daniel Tommasi World Bank (2007). Summer 1990 Hammer. Maclmillan Allison. DTP     241  . Ed. M & Champy. Radev. “Reengineering work” Don’t automate. in Lane. (1996). 3rd edition. (2001). “Business process reengineering: A tutorial on the concept. Palgrave. “Government cash management: Good and bad Practice”. 3 Williams. No. Dimitar & Khemani. 7 The budget execution cycle. No. James E (1990). Industrial Management & Data Systems. Ch. Business Process Management Journal Vol 7 No. “Public Management and administration: An Introduction”. 6. Manoj K (1996). Pp 193-213 Bab III Hunt.C. A reference book for transition countries. 749761 Davenport. V. 85-99.A. “Reengineering the corporation: A manifesto for business revolution. T (1986). W & Gulledge. 15. 107. Sloan Management Review No. 2007. “The new industrial engineering: Information technology and business process redesign”. Pokar (2007). Chapter 1 & 3. Varun & Malhotra.. July-August 1990 Grover.D. Newyork. 11. & Pendharkar P. Michael (1990). “A BPR case study at Honeywell”. G. Journal of Operation Management. Owen (2003). “Process mapping: How to reengineer your business processes”. Vol. August 2004 BAB IV Manajemen DIPA OECD (2001). “Commitment control”.. Douglas. Rodger.J. Public Sector Governance and Accountability Series. (1993). John Wiley & Sons. Thomas H & Short. Current issues in public administration. J. PFM Technical Guidance Note No. HarperCollins. “Managing Public Expenditure”. technology and application”. D. Pp. Mike (2004). 2. “Public and private management: Are they fundamentally alike in all unimportant respects”. “End-to-end business process scenario”. Harvard Business Review. method. obliterate”. Technical Requirement” Subdit TPBE.

Jakarta. Pokar (2007). Ali & Moon. Financial Management System: Standard business process for U. “Integrated Financial Management in Least Developed Countries”. Allister J (2004). Ed. “Managing Public Expenditure”. Anwar Shah FSIO (2009). 7 The budget execution cycle. Agencies Manajemen Pembayaran Hashim. Public Sector Governance and Accountability Series. Government Finance”. Ch. International Federations of Accountant. S. “Cash management”. 3 SPAN “Request For Proposal. “Commitment control”. World Bank. Richard Allen & Daniel Tommasi IFAC Public Sector Committee (2002). Anwar Shah Subdit TPBE. A reference book for transition countries. “Budgeting and Budgetary Institutions”. Ed. PFM Technical Guidance Note No. 7 The budget execution cycle. Ditjen Perbendaharaan. 2009 SPAN “Request For Proposal” United Nations (1999). Government Finance”. Study 14 Bahan Presentasi GPF-AIP (2009). March 1999 World Bank (2007). Ed. DTP. August 2004 ANAO (1999). dipresentasikan pada “Comparative Study of Treasury System”. Auditor General. A reference book for transition countries. “Standard business process”. “Government cash management: Good and bad Practice”. Departement of Economic and Social Affair.Manajemen Komitmen Radev. Working SPAN “Request For Proposal: Technical Requirement” Pelaporan dan Pertanggungjawaban OECD (2001). Mike (2004). Division for Public Economics and Public Administrations Manajemen Kas Williams. Public Sector Governance and Accountability Series. “Transitions to accrual basis of accounting: Guidance for government and government entities”. Ed. “Managing Public Expenditure”. Ch. DTP     242  . “Budgeting and Budgetary Institutions”. Dimitar & Khemani. Technical Requirement” OECD (2001). Richard Allen & Daniel Tommasi World Bank (2007). “Treasury diagnostic toolkit”.

‘BPR: alive and well in the public sector’. dapat diakses di http://blogpfm. 13. Harvard Business Review. 5. “Government cash management during financial market turmoil”. R. Summer 1990 Hammer.org/pfmblog/2009/12/government-cash-management-during-financialmarket-turmoil. Vol. “Modernizing cash management”. July-August 1990 Grover. Vol. “The new industrial engineering: Information technology and business process redesign”. “Business process reengineering: A tutorial on the concept. Michael (1990).Lienert. Ian & Chailloux. pp. Good Practice Guide SPAN “Request For Proposal: Technical Requirement” Bab V SPAN “Request for Proposal: Technical Requirement” Davenport. obliterate”. evaluation.. Winter 2005. Morgeson. PFM Blog. method. Varun & Malhotra.imf. technology and application”. International Journal of Operation & Production Management. A. Vil 44 No. 4 pp. (2003). pp. Alexandre (2009). No. (2005). James E (1990). Fiscal Affairs Departement. “Integrated Financial Management Information System: A practical guide”. Available on ProQuest MacIntosh. “Chief Finance Officer: Role and responsibility”. 23. M. Journal of Operation Management.D. Sigma Papers No. M (2007). No.html Auditor General Victoria (2004). 15. 2007. Nahrgang J. penyusunan daftar pustaka tidak mengikuti tata cara urutan penyusunan referensi secara konvensional.V. USAID (2008). 327-344. OECD Lienert. Thomas H & Short. F. Business Process Management Journal. 3. LG Catatan: Untuk tujuan penulisan modul ini. USAID Campion. DTP     243  . Pp 193-213 Hesson. Human Resource Management. Manoj K (1996). “Financial management and control of public agencies”. No.P. “Reengineering work” Don’t automate. 707-727. 11. Subdit TPBE. “Work redesign: Eight obstacles and opportunities”. “Business process reengineering in UAE public sector: A naturalization and residency case study”. Ian (2009).. 32. Mumford T. Technical Notes and Manuals. International Monetary Fund Sigma (2001). Sloan Management Review No. 367-390 SPAN-“Project Initiation Report”.

Dokumentasi Usulan Dalam rangka penyusunan modul telah dimintakan tanggapan dan usulan dari unit eselon II dilingkungan Ditjen Perbendaharaan (pusat dan daerah) melalui Surat Direktur Jenderal Perbendaharaan No. sehingga perlu beberapa upaya diantaranya penentuan pejabat perbendaharaan dilakukan sebelum tahun anggaran berjalan Subdit TPBE. d. yang didukung formula dan pedoman bagi satker untuk melakukan perencanaan penyerapan anggaran yang realistis e. b. Berikut ini dokumentasi atas ringkasan tanggapan dan usulan dari pihakpihak sebagaimana tersebut diatas. Konfirmasi hasil identifikasi atas permasalahan saat ini dan usulan perbaikan: 1. perlu mencari alternatif untuk pemberian uang muka kerja melalui UP/TUP untuk mengurangi idle cash c. Kelancaran proses penyusunan dan pengesahan dokumen anggaran berpengaruh pada penyerapan anggaran. 1289/PB/2009 tanggal 12 Maret 2009 dan No. Perlunya mengefektifkan format dan informasi dalam DIPA (hal.3) untuk keperluan perencanaan kas. DTP    244  . 2. Menyederhnakan kelengkapan pencairan dana ke KPPN (misalnya cukup melampirkan SPM dan SKTJM). perlunya informasi tentang perikatan/komitmen yang dibuat satker untuk mendukung perencanaan arus kas yang meyertai pelunasan sebuah komitmen b. 2510/PB/2009 tanggal 1 Mei 2009. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Nusa Tenggara Barat a. Belum adanya pejabat perbendaharaan untuk DIPA Tugas Perbantuan. RKA-KL yang diusulkan tidak sesuai dengan SAPSK. 3. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jambi a. c. Perihal terjadinya usulan revisi DIPA di awal tahun anggaran. Kanwil Ditjen Perbendaharaan XXVII Manado a. Pemahaman atas proses akuntansi dan tidak mengandalkan aplikasi. A. Kondisi geografis yang berpengaruh pada kemampuan jaringan IT dalam penyebaran/pengumpulan informasi. Perlunya mengoptimalkan halaman III DIPA untuk perencanaan penarikan dana. [sepanjang masih sesuai dengan konsep dasar dan ketentuan perundangan yang berlaku] d. untuk mendukung kemampuan analisa dalam penyusunan laporan keuangan f.

Pengaturan jangka waktu untuk penerbitan SPP menjadi SPM 5. c. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatra Utara a. Direktorat Pengelolaan Kas Negara a. DTP    245  . yang mengatur cycle time dan clarity of role dari pejabat perbendaharaan Subdit TPBE. Integrasi antara alikasi RKA/KL. Perlunya data terkait dengan perikatan yang dibuat satker untuk di input sebagai salah satu input untuk manajemen kas c. misalnya dengan menerapkan mobile banking di Seksi Bendum di mana Kasi Bendum memiliki otorisasi untuk secara langsung memindahkan dana ke rekening pihak ke-tiga [bagaimana dengan hilangnya mekanisme kontrol di bank? Apakah program IT yang ada cukup bisa diandalkan dan aman? Bagaimana jika terjadi error [as variance to fraud]? Perlu dikaji kembali] d. tidak perlu dibedakan antara PNBP dan RM f. Revitalisasi penatausahaan dan pelaporan PNBP oleh Ditjen Perbendaharaan g. Jangka waktu penyaluran dana dari bank ke rekening yang berhak perlu di atur e. Perlu dikaji upaya mengurangi ketergantungan terhadap perbankan dalam hal pencairan dana.b. Perlu media elektronik yang handal untuk sarana rujukan terhadap ketentuan terkait pelaksanaan tugas perbendaharaan f. Jangka waktu penyelesaian SPP menjadi SPM perlu di atur untuk mendukung penyerapan d.05/2008 terkait dengan pemberian UP agar lebih selektif. 4. serta dipertimbangkan agar akun untuk UP cukup satu saja. Penihilan di akhir hari kerja pada rekening bendahara instansi di akhir hari kerja. dan diisi kembali sesuai saldo yang ada keesokan harinya. Penyempurnaan integrasi aplikasi untuk keperluan rekonsiliasi e. Meninjau kembali PMK 73/PMK. Perlunya SOP dalam mekanisme pengelolaan APBN di Satker. Perlunya data/informasi tentang komitmen yang dibuat Satker sebagai salah satu input untuk perencanaan kas b. Bagan Akun Standard agar lebih sederhana d. Pengintegrasian data dan informasi dalam halaman III DIPA untuk perencanaan kas. Standard biaya umum yang ada masih berbasis input dan belum sepenuhnya mendukung rencana penerapan PBB b. SPM dan SAKPA untuk mendukung PBB c.

Perlu dilakukan identifikasi dan kajian atas peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan dalam penyempurnaan proses bisnis di Satker. Diusulkan agar LPJ ini direkonsiliasi dengan data/informasi akuntansi secara berjenjang hingga ke kantor pusat KL dan Ditjen Perbendaharaan agar dapat dijadikan laporan manajerial (managerial report) yang baik dan mendukung kualitas laporan akuntansi pemerintah (accountability report). Laporan Pertanggungjawaban Bendaharawan agar merupakan bagian dari laporan keuangan pemerintah. 3. mengutamakan solusi bukan sanksi 5. 4. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta [Bapak. Pelu dikaji perlunya ketentuan/landasan hukum yang mengatur hubungan dan kaitan proses bisnis antara BUN dengan Kementrian/Lembaga. Subdit TPBE. b. Revitalisasi fungsi halaman III DIPA agar dapat menjadi rencana penarikan yang realistis. f. Kanwil Ditjen Perbendaharaan XXVII Manado Teknologi informasi dan aplikasi dalam siklus APBN masih sangat terfragmentasi (tingkat integrasinya rendah) sehingga tidak dapat mendukung mekanisme saling uji (check balance). Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jambi a. DTP    246  .e. Penyempurnaan proses bisnis di Satker agar dilakukan secara hati-hati agar tidak kontra produktif. Perlunya penggunaan istilah yang berkaitan dengan perbendaharaan negara secara taat asas. b. B. misalnya dalam bentuk PMK. Ringkasan Tanggapan sebagai bahan penyempurnaan/revisi Bab I: 1. saling kontrol dan saling melengkapi. 2. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Medan a. Iskandar] a. misalnya dengan menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana sejak penyusunan RKA/KL. Perlu dikaji landasan hukum khususnya dalam hal kepentingan perbendaharaan untuk memperoleh informasi tentang sisa dana secara online (dalam hal manajemen komitmen) pada khususnya dan untuk penyempurnaan proses bisnis di Satker pada umumnya. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Nusa Tenggara Barat Perlu memasukkan peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan ke dalam identifikasi koneksitas proses bisnis.

c. 7. pembahasan terkait dengan investasi. Mengingat ruang lingkup yang luas dan tingkat pembahasan yang cukup mendalam/rumit. terkait dengan perencanaan kas. Agar dipertegas ruang lingkup dan cakupan koneksitas yang akan dibahas dalam modul Subdit TPBE. Direktorat PKN: Modul koneksitas yang disusun kurang lengkap karena belum memasukkan aset dan liability management: Tanggapan: Modul ini hanya berfokus pada koneksitas proses bisnis dengan Satker terutama terkait dengan tahapan dalam siklus APBN yang secara difokuskan lagi pada siklus sejak pelaksanaan anggaran. Manajemen Kas yang dijalankan oleh Ditjen PBN mencakup. C. Penulisan judul dan sub-judul pada halaman 8 s. Peran Satker sebagai Customer dan user dalam payment management dan DJPBN sebagai Regulator. Peran satker sebagai counterpart dalam liquidity management. Pengggunaan istilah yang lebih hati-hati agar tidak menggunakan istilah yang berbeda untuk hal yang sama. 2. b.3 d. Tanggapan atas beberapa masukan/usulan perihal kekurangan dan ketidaklengkapan dalam pembahasan BAB I 1. dan asset liability management direncanakan akan disusun dalam modul terpisah. Revisi judul menjadi “Koneksitas Proses Bisnis Perbendaharaan pada Bendahara Umum Negara dengan Satker selaku Pelaksana Pengguna Anggaran “ 6. Direktorat Sistem Perbendaharaan (Bapak Budisan) a. b. payment management dan liquidity management. 13 secara lebih konsisten e.b. rencana pengembangan SPAN dan Treasury Reference Model. Direktorat Sistem Perbendaharaan (Bapak Budisan) a. Pembahasan untuk IT agar terpisah dari proses bisnis. Penyusunan relationship matriks tidak konsisten antara siklus APBN. misalnya dibahas dalam Bab I. Perubahan Judul Bab I menjadi Pendahuluan. DTP    247  .d. Direktorat Pengelolaan Kas Negara a. Tanggapan: Untuk lebih memudahkan pemahaman. relationship matriks atas dasar siklus APBN dan rencana pengembangan SPAN akan digambarkan secara terpisah.

c. pembahasan dalam modul ini tidak membahas secara mendalam program aplikasi/software. Salah satu referensi yang menurut kami cukup ideal adalah model penyempurnaan proses bisnis yang ada dalam Frye & Gulledge (2007). Tanggapan: Isi BAB I adalah ringkasan penulisan yang juga menjelaskan kilasan /overview dari kondisi saat ini yang melatar belakangi penulisan modul ini Subdit TPBE.Tanggapan: Ruang lingkup yang dibahas dalam modul ini akan mengikuti metode yang lazim digunakan dalam aktivitas Penyempurnaan Proses Bisnis (Business Process Improvement-BPI). Dengan demikian sistem akuntansi. d. b. Koneksitas proses bisnis dalam relationship matriks berbeda dengan best practice dalam Treasury Reference Model. fungsi-fungsi keuangan dalam SPAN tetap merujuk pada model best practice pada TRM. namun sudah mempertimbangkan kondisi dan praktek yang ada di Indonesia. Metode BPI lazimnya membahas proses bisnis dan IT secara bersama-sama. unsur IT yang dibahas nantinya hanya secara umum dengan mempelajari key media input/output (input-output utama dari sebuah proses atau sub-proses) yang bermanfaat dalam menentukan tingkat integrasi atau fragmentasi dari sistem informasi yang ada. pembahasan terkait MPN dilakukan dalam pembahasan tersendiri. Oleh karena itu. Tanggapan: Relationship matrix dibuat dan disusun dengan mengacu pada rencana pengembangan SPAN dan menggunakan istilah yang digunakan dalam modul/fungsi keuangan dalam SPAN (misalnya: management DIPA). pelaporan dan pertanggungjawaban idealnya akan termasuk dalam ruang lingkup koneksitas proses bisnis. terutama mengingat pentingnya MPN Tanggapan: Mengingat kompleksitasnya dan permasalahan yang cukup rumit. DTP    248  . Saat ini telah dibentuk tim kerja untuk penyempurnaan MPN dan tengah menyiapkan modul serupa dengan modul koneksitas proses bisnis Satker. Menurut hemat kami. yang diharapkan akan dibahas lebih jauh secara terpisah. Namun demikian. Penulisan ringkasan dan latar belakang agar dipisah. Tidak ada pembahasan mengenai receipt management. Ruang lingkup proses bisnis nantinya akan mengikuti hasil identifikasi akhir dalam relationship matrix sebagaimana dapat dilihat di BAB I. yang gambar/kerangkanya kami gunakan dalam penulisan BAB II.

e. Kanwil XXVII Manado: Materi usulan sebagaimana disarikan pada huruf A sampai dengan D tersebut diatas. Koneksitas Ditjen Anggaran dan Satker sangat mempengaruhi kinerja Ditjen Perbendaharaan contoh dalam mekanisme revisi DIPA. f. misi) dan bab III (current state assesment) namun banyak yang memberikan masukan terkait dengan bab I Pendahuluan): a. Direktorat Sistem Perbendaharaan: Koreksi typo dan substansi pengawasan atas keterlambatan pemrosesan SPM di KPPN. Ditjen Anggaran dan Satker. Kanwil Propinsi Riau: Menekankan pentingnya aspek “mewujudkan pelayanan publik yang profesional” dalam penyelenggaraan keuangan negara. Kanwil Nusa Tenggara Barat: Detail dokumen yang terkait dengan proses bisnis termasuk didalamnya pembahasan terkait akuntansi barang milik negara. Usulan Lainnya Usulan lain terutama berkaitan dengan Surat S-2510/PB/2009 tanggal 1 Mei diantaranya diterima dari (permintaan tanggapan ditujukan untuk Bab II (visi. c. DTP    249  . Subdit TPBE.D. Direktorat PK BLU: terdapat keterkaitan antara Ditjen Perbendaharaan. d. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalimantan Timur: Sependapat dengan inisiatif penyusunan Modul Satker. b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful