P. 1
visum gnnnn

visum gnnnn

|Views: 839|Likes:

More info:

Published by: Agus Supriadi Simbolon on Jan 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

Welywahyura

Visum et Repertum
VISUM ET REPERTUM Pendahuluan VISUM et Repertum atau VER adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan pemeriksaan terhadap orang atau yang diduga orang, berdasarkan permintaan tertulis dari pihak yang berwenang, dan dibuat dengan mengingat sumpah jabatan dan KUHP (Kitab UndangUndang Hukum Pidana). Esensinya adalah laporan tertulis mengenai apa yang dilihat dan ditemukan pada orang yang sudah meninggal atau orang hidup (untuk mengetahui sebab kematian dan/atau sebab luka) yang dilakukan atas permintaan polisi demi kepentingan peradilan dan membuat pendapat dari sudut pandang kedokteran forensik. Surat permintaan VER ditujukan kepada Kepala Bagian Kedokteran Forensik. Dokter yang sedang mendapat giliran melakukan pemeriksaan jenazah pada hari itu adalah yang melakukan pemeriksaan jenazah tersebut. Jenazah yang bersangkutan disita sementara waktu untuk pemeriksaan. Selesai pemeriksaan, jenazah dikembalikan dan sepenuhnya menjadi milik keluarga kembali. Surat permintaan pemeriksaan jenazah ditandatangani oleh polisi berpangkat serendahrendahnya Inspektur Dua. Namun, bila polisi berpangkat sedemikian tidak ada di tempat, maka surat permintaan itu ditandatangani oleh polisi berpangkat lebih rendah namun dengan catatan “atas nama”. Polisi tidak mempunyai wewenang menunjuk dokter tertentu untuk memeriksa jenazah tertentu. Dan untuk pemeriksaan jenazah tersebut, dokter yang memeriksa tidak boleh menerima balas jasa dalam bentuk materi atau dalam bentuk apa pun (uang dan lain sebagainya). Dokter forensik menyerahkan VER kepada polisi yang meminta. Yang berwenang mengemukakan isi VER itu adalah polisi yang bersangkutan dan bukan dokter yang melakukan pemeriksaan. Adalah hak polisi untuk memberikan keterangan atau menolak memberikan keterangan yang diminta kepada khalayak ramai/wartawan, sedangkan dokter forensik tidak berwenang sehingga tidak diperkenankan untuk mengungkapkan isi VER kepada siapa pun juga (misalnya pers)- apalagi sampai pada detail-detailnya-yang dapat menyinggung pihak-pihak tertentu (misalnya pihak keluarga korban yang diotopsi). Dokter forensik hanya diperkenankan untuk mengemukakan isi VER kepada majelis hakim dalam sidang pengadilan apabila ia dipanggil oleh pengadilan sebagai saksi ahli (kedokteran forensik). Hal ini sedikit banyak berkaitan juga dengan sumpah dokter yang diucapkannya sewaktu dilantik sebagai dokter untuk menjaga kerahasiaan dalam profesinya maupun korban yang sudah meninggal sebagai benda bukti seperti yang akan diuraikan di bawah.

Dokter forensik tidak pernah berkewajiban ataupun perlu merasa berkewajiban membuka rahasia mengenai suatu kasus, tetapi ia berkewajiban melaporkan dengan sejujur-jujurnya atas sumpah jabatan bahwa ia akan melaporkan dalam VER semua hal yang dilihat dan ditemukan pada jenazah yang diperiksanya. Seorang dokter ahli forensik pada dasarnya adalah seorang dokter. Ia telah diangkat dan telah diambil sumpahnya sebagai dokter, sedangkan sebagai ahli Ilmu Kedokteran Forensik ia tidak mengucapkan sumpah lain. Pendapat yang menyatakan bahwa dasar Ilmu Kedokteran Forensik ialah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah sangat keliru. KUHAP adalah peraturan hukum, bukan sumpah. Dokter forensik tidak diperkenankan memberikan informasi apa pun kepada pihak lain (misalnya media massa kecuali dalam sidang pengadilan) karena tetap saja dokter forensik adalah seorang dokter yang pernah mengucapkan sumpah dokter dan sesuai sumpah dokter, ia harus menyimpan rahasia kedokteran (dalam hal ini termasuk apa yang dilihat dan ditemukannya dalam pemeriksaan forensik). Yang berwenang adalah polisi yang meminta VER. Dan tidak jelas pula pendapat ahli kedokteran forensik yang menyatakan bahwa demi kepentingan umum, dokter forensik diperkenankan memberikan keterangan apabila diperlukan kepada media massa (kepentingan pribadi demi popularitas atau sensasi?). Jenazah tidak dapat disamakan dengan benda bukti lainnya, misalnya sepotong kayu yang telah dipakai untuk membunuh, karena sebelumnya ia adalah seorang manusia hidup yang bernyawa, yang mempunyai riwayat kehidupan tertentu, dan dengan demikian juga terdapat ikatan-ikatan tertentu, seperti hubungan dengan anggota keluarganya yang masih hidup maupun dengan kaum kerabat lainnya. Oleh karena itu, hal-hal tertentu yang ditemukan dalam pemeriksaan yang dapat mencemarkan nama baik orang yang sudah meninggal-juga keluarga serta kawan-kawannya yang masih hidup-itu tidak dapat dibeberkan kepada pihak lain, apalagi untuk dikemukakan kepada publik. Sesuatu yang memburukkan nama baik orang yang sudah meninggal (jenazah) itu pasti akan berakibat aib bagi pihak keluarga yang ditinggalkan.

Definisi Dalam undang-undang ada satu ketentuan hukum yang menuliskan langsung tentang visum et repertum, yaitu pada staatsblad (lembaga Negara) Tahun 1937 No. 350. Ketentuan dalam Staatsblad ini sebetulnya merupakan terobosan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dokter dalam membuat visum, yaitu mereka tidak perlu disumpah tiap kali sebelum membuat visum. Seperti diketahui setiap keterangan yang akan disampaikan untuk pengadilan haruslah keterangan dibawah sumpah. Dengan adanya ketentuan ini, maka sumpah yang telah diikrarkan dokter waktu menamatkan pendidikannya, dianggap sebagai sumpah yang syah untuk kepentingan membuat VeR, biarpun lafal dan maksudnya berbeda. Visum et repertum (VeR) adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup ataupun mati, ataupun

bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Peranan dan Fungsi Visum et repertum berperan sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam proses pembuktian perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Dalam VeR terdapat uraian hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. VeR juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian kesimpulan. Bila VeR belum dapat menjernihkan persoalan di sidang pengadilan, hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Perbedaan VeR dengan Catatan Medis dan Surat Keterangan Medis Lain Catatan medis adalah catatan tentang seluruh hasil pemeriksaan medis beserta tindakan pengobatan/perawatannya yang merupakan milik pasien, meskipun dipegang oleh dokter/institusi kesehatan. Catatan medis ini terikat pada rahasia pekerjaan dokter yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1966 tentang rahasia kedokteran dengan sanksi hukum seperti pasal 322 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dokter boleh membuka isi catatan medis kepada pihak ketiga, misalnya dalam bentuk keterangan medik, hanya setelah memperoleh izin dari pasien, baik langsung maupun berupa perjanjuan yang dibuat sebelumnya antara pasien dengan pihak ketiga tertentu, misalnya pada klaim asuransi. Karena Visum et repertum dibuat berdasarkan undang-undang yaitu pasal 120, 179, dan 133 ayat 1 KUHAP, maka dokter tidak dapat dituntut karena membuka rahasia pekerjaan sebagaimana diatur dalam pasal 322 KUHP, meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien. Pasal 50 KUHP mengatakan bahwa barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana, sepanjang visum et repertum tersebut hanya diberikan kepada instansi penyidik yang memintnya, untuk selanjutnya dipergunakan dalam proses pengadilan. Jenis dan Bentuk Visum et Repertum Ada beberapa jenis visum et repertum, yaitu visum et repertum perlukaan (termasuk keracunan), visum et repertum kejahatan susila, visum et repertum jenazah, dan visum et repertum psikiatrik. Tiga jenis visum yang pertama adalah visum et repertum mengenai tubuh/raga manusia yang dalam hal ini berstatus sebagai korban tindak pidana, sedangkan jenis terakhir adalah mengenai jiwa/mental tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak pidana.

sehingga surat permintaan datang terlambat. riwayat perjalanan penyakit selama perawatan. serta perbuatan cabul). serta usia korban. dalam bahasa Indonesia. dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan atau perbuatan cabul. Bila ditemukan adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tanda-tanda perlawanan berupa darah pada kuku korban. dokter harus membuat catatan medis atas semua hasil pemeriksaan medisnya secara lengkap dan jelas sehingga dapat digunakan untuk pembuatan visum et repertum. korban dengan luka ringan datang ke dokter setelah melapor ke penyidik. persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya. karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan. perkosaan. Visum et Repertum pada Kasus Perlukaan. sedangkan yang subyektif dan tidak dapat dibuktikan tidak dimasukkan ke dalam visum et repertum. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan. bila terpaksa digunakan agar diberi penjelasan bahasa Indonesia. menyebutkan kapan perkiraan terjadinya. Gejala yang dapat dibuktikan secara obyektif dapat dimasukkan. lukaluka atau cedera atau penyakit yang diketemukan pada pemeriksaan fisik berikut uraian tentang letak. Di dalam bagian pemberitaa biasanya disebutkan keadaan umum korban sewaktu datang. 3.Visum et repertum dibuat secara tertulis. 1. di atas sebuah kertas putih dengan kepala surat institusi kesehatan yang melakukan pemeriksaan. Visum et Repertum Jenazah . Dalam kesimpulan diharapkan tercantum perkiraan tentang usia korban. jenis dan sifat luka serta ukurannya. dan ada atau tidaknya tanda kekerasan. 2. tindakan medis yang dilakukan. Selain itu juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual. Terhadap setiap pasien yang diduga korban tindak pidana meskipun belum ada surat permintaan visum et repertum dari polisi. persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur. ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin. tanpa memuat singkatan dan sedapat mungkin tanpa istilah asing. sehingga membawa surat permintaan visum et repertum. dan keadaan akhir saat perawatan selesai. adanya kekerasan (termasuk keracunan). Visum et Repertum Korban Kejahatan Susila Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan. sebaiknya dengan mesin ketik. kehamilan. dan kelainan psikiatrik sebagai akibat dari tindakan pidana tersebut. Umumnya. pemeriksaan khusus/penunjang. Sedangkan korban dengan luka sedang/berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke penyidik. Keterlambatan dapat diperkecil dengan komunikasi dan kerjasama antara institusi kesehatan dengan penyidik. Untuk kepentingan peradilan. dokter berkewajiban mencari identitas tersangka melalui pemeriksaan golongan darah serta DNA dari benda-benda bukti tersebut.

pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka rongga tengkorak. bukan segi fisik atau raga manusia. leher. Aspek Pengadaan Visum Et Repertum Pejabat yang dapat meminta visum et repertum atas seseorang korban tindak pidana kejahatan terhadap kesehatan dan nyawa manusia adalah penyidik dan penyidik pembantu polisi. maka adalah lebih baik bila pembuat visum ini hanya dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum.Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat identitas mayat. Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab. Jadi selain orang yang menderita penyakit jiwa. Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta. Hakim juga dapat meminta visum et repertum (psikiatrik) sesuai dengan pasal 180 jo pasal 187 KUHAP. serologi. orang yang retardasi mental juga terkena pasal ini. apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan dalam/autopsi (pemeriksaan bedah jenazah). 2. Dalam Keadaan tertentu di mana kesaksian seseorang amat diperlukan sedangkan ia diragukan kondisi kejiwaannya jika ia bersaksi di depan pengadilan maka kadangkala hakim juga meminta evaluasi kejiwaan saksi tersebut dalam bentuk visum et repertum psikiatrik. Pemeriksaan bedah jenazah. tidak dipidana”. sesuai dengan jurisdiksinya masing-masing. jenis kekerasan penyebabnya. dan panggul. baik POLRI maupun Polisi Militer. Kadangkala dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi. dilak dengan diberi cap jabatan. jenis luka atau kelainan. perut. diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. biasanya melalui jaksa penuntut umum. sebab dan mekanisme kematian. Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi : 1. Selain itu visum ini juga menguraikan tentang segi kejiwaan manusia. Visum et Repertum Psikiatrik Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44 (1) KUHP yang berbunyi ”Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit. Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan jenazah secara teliti dan sistematik. toksikologi. serta saat kematian seperti tersebut di atas. dan sebagainya. . bukan bagi korban sebagaimana yang lainnya. Karena menyangkut masalah dapat dipidana atau tidaknya seseorang atas tindak pidana yang dilakukannya. Selain itu jaksa penyidik berwenang pula meminta visum et repertum pada perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia. 4. dada. Visum ini diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana.

dan berkaitan dengan hak pasien atas informasi medis dirinya. keracunan dan kejahatan seksual / abortus) tidak diatur secara rinci di dalam KUHAP. Dalam praktek sehari-hari. dimana dokter turut bertanggung-jawab atas pemastian kesesuaian antara identitas yang tertera di dalam surat permintaan visum et repertum dengan identitas korban yang diperiksa. Syarat pembuatan visum et repertum sebagai alat bukti surat sebagaimana tercantum dalam pasal 187 butir c sudah terpenuhi dengan adanya surat permintaan resmi dari penyidik. KUHAP juga tidak memuat ketentuan tentang bagaimana menjamin keabsahan seseorang korban sebagai “barang bukti”. Hal ini . Perlu diingat bahwa selain sebagai korban (pidana). Hanya korban dengan luka ringan atau tampak ringan saja yang akan lebih dahulu melapor ke penyidik sebelum pergi ke dokter. Akan tetapi mereka berhak memperoleh informasi tentang korban pada saat yang tepat dari penyidik. maka keterlambatan ini tidak boleh dianggap sebagai hambatan pembuatan visum et repertum. Sikap ini masih dapat dibenarkan dari segi etika kedokteran. ia juga berperan sebagai pasien. yaitu seorang manusia yang merupakan subyek hukum. apalagi disita oleh negara. Korban atau keluarga korban juga tidak memiliki kewenangan untuk meminta visum et repertum langsung dari dokter. Hal ini berarti bahwa pemilihan jenis pemeriksaan yang dilakukan diserahkan sepenuhnya kepada dokter dengan mengandalkan tanggung-jawab profesi kedokteran. Penasehat hukum tersangka dapat meminta salinan visum et repertum dari penyidik atau dari pengadilan pada masa menjelang persidangan. kesulitan komunikasi dan sarana perhubungan. Sebagai contoh keterlambatan seperti ini adalah keterlambatan pelaporan kepada penyidik seperti yang dimaksud di atas. baru kemudian dilaporkan ke penyidik. Situasi tersebut membawa kita kepada keadaan. ia tidak diberi label dan tidak disegel. Dalam hal visum et repertum tersebut merupakan hasil pemeriksaan atas seseorang korban hidup. prosedur permintaan visum et repertum korban hidup (luka. Ketentuan tentang perlakuan terhadap korban hidup tidak menunjukkan bahwa ia adalah barang bukti.Penasehat hukum tersangka tidak diberi kewenangan untuk meminta visum et repertum kepada dokter. Sepanjang keterlambatan ini masih cukup beralasan dan dapat diterima. orang dengan luka-luka akan dibawa langsung ke dokter. Berbeda dengan prosedur pemeriksaan korban mati yang telah mempunyai ketentuan yang mengaturnya dan bahkan mempunyai ancaman hukuman bagi pelanggarnya. dengan segala hak dan kewajibannya. demikian pula tidak boleh meminta salinan visum et repertum langsung dari dokter. dan mereka juga dapat memperoleh salinan visum et repertum dari penyidik atau dari pengadilan pada masa menjelang persidangan. maka dokter pemeriksa berhak untuk memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada korban. overmacht (berat lawan) dan noodtoestand (keadaan darurat). Hal ini membawa kemungkinan bahwa surat permintaan visum et repertum korban luka akan datang “terlambat” dibandingkan dengan pemeriksaan korbannya. Tidak ada alasan bagi dokter untuk menolak permintaan resmi tersebut. Tidak ada ketentuan yang mengatur tentang pemeriksaan apa saja yang harus dan boleh dilakukan oleh dokter (dalam pasal 133 hanya tertulis pemeriksaan luka).

Sedangkan orangnya sebagai manusia tetap diakui sebagai subyek hukum dengan segala hak dan kewajibannya. baik oleh korban maupun oleh orangtuanya. maka disarankan agar persetujuan tersebut ditandatangani oleh bersama. Yang dapat dilakukan adalah “menyalin” barang bukti tersebut ke dalam bentuk visum et repertum. Namun apabila diingat bahwa korban kejahatan seksual pada dasarnya adalah korban “perlukaan”. Apabila korban belum cukup umur. maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis singkat penolakan tersebut dari pasien disertai alasannya atau bila hal itu tidak mungkin dilakukan. agar mencatatnya di dalam catatan medis. Hal ini juga didukung oleh segi keilmuan yang digunakan dalam memeriksa korban kejahatan seksual. Korban hidup adalah juga pasien sehingga mempunyai hak untuk memperoleh informasi medik tentang dirinya. hak menentukan nasibnya sendiri (rights to self determination). dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara pidananya. Ketentuan hukum mengenai siapa yang paling berwenang dalam pembuatan visum et repertum korban kejahatan seksual tidaklah jelas. Apabila suatu pemeriksaan dianggap perlu oleh dokter pemeriksa tetapi pasien menolaknya. Hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa pemeriksa adalah dokter yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Keadaan ini berbeda dengan korban mati yang tidak merangkap perannya sebagai pasien dengan segala haknya. dalam hal ini sebagai pasien. baik di bidang ginekologi maupun di bidang kedokteran forensik.berarti bahwa seseorang korban hidup tidak secara “en block” (seutuhnya) merupakan barang bukti. dianggap paling berwenang dalam pembuatan visum et repertum korban kejahatan seksual. Umumnya korban tidak akan menolak pemeriksaan dokter bila telah dijelaskan manfaatnya bagi korban sendiri sehubungan dengan perkara pidananya. oleh karena barang bukti tersebut tidak dapat dipisahkan dari orangnya. maka tidak dapat disegel maupun disita. hak untuk menerima atau menolak suatu pemeriksaan dan hak memperoleh pendapat kedua (second opinion). serta tentu saja hak untuk dirahasiakan ihwalnya. untuk tidak dapat menolak sesuatu pemeriksaan. yaitu ilmu-ilmu forensik dan bukan ilmu obstetri maupun ginekologi. dan bahwa pemeriksaan yang harus dilakukan bukan hanya sekedar pemeriksaan fisik dan tujuannya adalah untuk pembuktian. Terlebih bila diingat bahwa biasanya pemeriksaan tersebut dikaitkan dengan upaya pengobatan dirinya. Selama ini para dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. pemeriksaan harus disaksikan oleh chaperone (saksi yang berjenis kelamin sama dengan korban) guna menghindari keadaan yang tidak diinginkan. Tindakan yang akan dilakukan harus didahului dengan penjelasan dan permintaan persetujuan korban. maka dokter spesialis forensik tampaknya akan mempunyai peranan yang lebih besar.(2) Struktur Dan Isi Visum Et Repertum . Dengan demikian. Adanya keharusan membuat visum et repertum atas seseorang korban tidak berarti bahwa korban tersebut. yang memang terbiasa memeriksa pasien wanita. atau bila korban tidak cakap memberi persetujuan dimintakan dari orang tuanya atau keluarga terdekatnya. Yang merupakan “barang bukti” pada tubuh korban hidup tersebut adalah perlukaannya beserta akibatnya. Selain adanya surat permintaan visum et repertum dan persetujuan korban.

Untuk pemakai visum. 4. maka sebaiknya penjelasan ini disertai dengan lampiran foto atau sketsa. 3. Penulisan kata Pro Yustitia pada bagian atas dari visum lebih diartikan agar pembuat maupun pemakai visum dari semula menyadari bahwa laporan itu adalah demi keadilan (Pro Yustitia). Pro Yustitia. Mas Sutejo Mertodidjojo dan Prof. Prof. saat pemeriksa (tanggal. lebar luka 2 cm dan dalam luka 4 cm. Bila dokter sejak semula memahami bahwa laporan yang dibuatnya tersebut adalah sebagai partisipasinya secara tidak langsung dalam menegakkan hukum dan keadilan. pinggir luka rata. maka bila dokter menulis Pro Yustitia di bagian atas visum maka ini sudah dianggap sama dengan kertas materai. hari dan jam). Bagian terpenting dari visum sebetulnya terletak pada bagian ini. Muller. karena diharapkan dokter dapat menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban menurut keahliannya. maka saat mulai memeriksa korban ia telah menyadari bantuan yang diberikan akan dipakai sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam menegakkan hukum dan keadilan. Konsep visum ini disusun dalam kerangka dasar yang terdiri dari : 1. Kesimpulan. bila dokter mendapatkan kelainan yang banyak atau luas dan akan sulit menjelaskannya dengan katakata. cedera dan kelainan pada tubuh korban seperti apa adanya. Sebagai tambahan pada bagian pemeriksaan ini. Hal ini sering terabaikan oleh pembuat maupun pemakan tentang arti sebenarnya kata Pro yustitia ini. Biasanya pada bagian ini dokter menuliskan luka. jaringan dalam luka terputus tanpa menyebutkan jenis luka. Pada bagian ini dokter melaporkan hasil pemeriksaannya secara objektif. Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi tentang siapa yang memeriksa. karena apa yang dilihat dan ditemukan dokter sebagai terjemahan dari visum et repertum itu terdapat pada bagian ini. Pemeriksaan. Oleh karena biarpun Pro Yustitia hanya kata-kata biasa. mengapa diperiksa dan atas permintaan siapa visum itu dibuat. Pada korban luka perlu . Sutomo Tjokronegoro sejak puluhan tahun yang lalu (Nyowito Hamdani. tetapi kalau dokter menyadari arti dan makna yang terkandung di dalamnya maka kata-kata atau tulisan ini menjadi sangat penting artinya. dokter menuliskan pada visum suatu luka berbentuk panjang. dengan panjang 10 cm. 2. ini adalah bagian yang penting.Konsep visum yang digunakan selama ini merupakan karya pakar bidang kedokteran kehakiman yaitu Prof. Menyadari bahwa semua surat baru sah di pengadilan bila dibuat di atas kertas materai dan hal ini akan menyulitkan bagi dokter bila setiap visum yang dibuat harus memakai kertas materai. 1992). Ilmu Kedokteran kehakiman. Berpedoman kepada Peraturan Pos. siapa yang diperiksa. misalnya didapati suatu luka. Data diri korban diisi sesuai dengan yang tercantum dalam permintaan visum. edisi kedua. di mana diperiksa.

. keracunan ataupun mati. bagian kesimpulan ini perlu mendapat perhatian agar visum lebih berdaya guna dan lebih informatif. kesadaran korban serta bila perlu umur korban (terutama pada anak belum cukup umur atau belum mampu untuk dikawini). maka Kapolsek yang berpangkat Serda tersebut karena Jabatannya adalah Penyidik c. 2. tanda-tanda kekerasan.penjelasan tentang jenis kekerasan. berapa lama korban dirawat dan bagaimana harapan kesembuhan. yang diduga karena peristiwa tindak pidana. sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No 27 tahun 1983 Pasal 2 ayat (2). Kapolsek yang berpangkat Bintara dibawah Pelda Polisi karena 3. Untuk menguatkan pernyataan itu dokter mencantumkan Staatsblad 1937 No. Dokter ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya. Pada kebanyakan visum yang dibuat dokter. Penutup.350 atau dalam konsep visum yang baru ditulis sesuai KUHP. Bagian ini mengingatkan pembuat dan pemakai visum bahwa laporan tersebut dibuat sejujurjujurnya dan mengingat sumpah. Jabatannya adalah Penyidik Catatan : Kapolsek yang dijabat oleh Bintara berpangkat Serda Polisi. tentang pelaksanaan KUHAP pasal 2 yang berbunyi : Penyidik adalah Pejabat Polri yang sekurang-kurang berpangkat Pelda Polisi 1. Syarat kepangkatan Penyidik seperti ditentukan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1983. harus diajukan secara tertulis dengan menggunakan formulir sesuai dengan kasusnya dan ditanda tangani oleh penyidik yang berwenang. Barang bukti yang dimintakan Visum et Repertum dapat merupakan : 1) Korban Mati. Pada korban perkosaan atau pelanggaran kesusilaan perlu penjelasan tentang tanda-tanda persetubuhan. Surat permintaan Visum et Repertum kepada Dokter. ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya.(IJO) Tatacara permintaan Visum Et Repertum Seperti tercantum dalam KUHAP pasal 133 ayat 1. dimana dalam hal penyidik atau kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. tentang derajat kualifikasi luka. 5. b. hubungan sebab akibat dari kelainan. adapun tata cara permintaannya sabagai berikut : a. Penyidik Pembantu adalah Pejabat Polri yang sekurang-kurangnya berpangkat Serda Polisi.

kelangkapan data-data jalannya peristiwa dan data lain yang tercantum dalam formulir. senjata tajam. keracunan. sebutkan keterangan tentang jenis senjata yang diduga dipergunakan pelaku. Kemungkinan yang lain adalah korban meninggal dunia. Dalam hal korban luka. Petugas penyidik selanjutnya memberi informasi yang diperlukan Dokter dan mengikuti pemeriksaan badan mayat untuk memperoleh barang-barang bukti lain yang ada pada korban serta keterangan segera tentang sebab dan cara kematiannya. Penilaian keadaan korban ini dapat digunakan untuk mempertimbangkan perlu atau tidaknya tersangka ditahan. karena data-data itu dapat membantu Dokter mengarahkan pemeriksaan mayat yang sedang diperiksa. penyidik perlu memintakan Visum et Repertum sementara tentang keadaan korban. untuk itu permintaan Visum et Repertum Jenazah diperlukan guna mengetahui secara pasti apakah luka paksa yang terjadi pada korban merupakan penyebab kematian langsung atau adakah penyebab kematian lainnya. .Dalam hal korban mati jenis Visum et Repertum yang diminta merupakan Visum et Repertum Jenazah. Dalam perawatan ini dapat terjadi dua kemungkinan. luka akibat kejahatan kesusilaan menjadi sakit. 2) Dalam kasus pembunuhan jangan hanya diisi. senjata api. Contoh : 1) Pada kecelakaan lalu lintas perlu dicantumkan apakah korban pejalan kaki/pengemudi/penumpang dan jenis kendaraan yang menabrak. Khusus bagi korban kecelakaan lalu lintas. Untuk keperluan ini penyidik harus memperlakukan mayat dengan penuh penghormatan. Bila korban memerlukan / meminta pindah perawatan ke Rumah Sakit lain. Dalam surat permintaan Visum et Repertum. menaruh label yang memuat identitas mayat. diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat. racun. memerlukan perawatan/berobat jalan. Gambaran luka-luka dan tempat luka pada tubuh dapat menggambarkan bagaimana posisi korban pada waktu terjadi kecelakaan. korban menjadi sembuh atau meninggal dunia. Mayat selanjutnya dikirim ke Rumah Sakit (Kamar Jenazah) bersama surat permintaan Visum et Repertum yang dibawa oleh petugas Penyidik yang melakukan pemeriksaan TKP. d. permintaan Visum et Repertum lanjutan perlu dimintakan lagi. di lak dengan diberi cap jabatan . korban diduga meninggal karena pembunuhan atau penganiayaan saja. 2) Korban Hidup. Bila korban sembuh Visum et Repertum definitif perlu diminta lagi karena Visum et Repertum ini akan memberikan kesimpulan tentang hasil akhir keadaan korban. Visum et Repertum ini akan berguna bagi santunan kecelakaan. agar diisi selengkapnya.

sertakan salinan rekaman medis pada waktu perawatan e. permintaan ditujukan kepada Dokter pemerintah di Puskesmas atau Dokter ABRI/ khususnya Dokter Polri.Sebaiknya jenis senjata yang diduga dipergunakan pelaku diikut sertakan sebagai barang bukti. baru dimintakan ke Dokter swasta . ditempat dinasnya (bukan tempat praktek partikelir) 2) Ditempat yang ada fasilitas rumah sakit umum / Fakultas Kedokteran. Permintaan Visum et Repertum ini diajukan kepada Dokter ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau ahli lainnya. Bila hal ini tidak memungkinkan. disertai surat permintaannya 4) Ditempat yang tidak memiliki fasilitas tersebut. Dalam pelaksanaannya maka sebaiknya : 1) Prioritas Dokter Pemerintah.) Bersama dengan korban perlu dikirim sisa-sisa makanan/racun yang dicurigai sebagai penyebab 4) Pada kasus diduga bunuh diri data-data tentang alat ataupun racun yang dipergunakan korban agar diisi slengkapnya. Catatan : Dokter ahli Kedokteran Kehakiman biasanya hanya ada di Ibu Kota Propinsi yang terdapat Fakultas Kedokteran nya Ditempat-tempat dimana tidak ada Dokter ahli Kedokteran Kehakiman maka biasanya surat permintaan Visum et Repertum ini ditujukan kepada Dokter. baik hidup ataupun mati harus diantar sendiri oleh petugas Polri. permintaan ditujukan kepada bagian yang sesuai yaitu : Untuk korban hidup : a) Terluka dan kecelakaan lalu lintas : kebagian bedah b) Kejahatan susila / perkosaan : ke bagian kebidanan Untuk korban mati : bagian Kedokteran Kehakiman 3) Korban. cantumkan keterangan tentang tanda-tanda atau gejala-gejala keracunan (dari saksi serta perkiraan racun yang dipergunakan. Apabila korban dirawat. 3) Pada kasus keracunan atau yang diduga mati karena keracunan. sehingga dapat diperiksa apakah senjata / alat yang ditemukan sesuai dengan luka-luka yang terdapat pada tubuh korban.

adat dan lain-lain. namun kadang kala dijumpai hambatan dari keluarga korban yang keberatan untuk dilaksanakan bedah mayat dengan alasan larangan Agama. 2) Sejauh mana korban masih dapat berlari / jalan. 2) Bila keluarga tetap menghalangi bedah mayat penyidik dapat memberi penjelasan tentang ketentuan KUHP Pasal 2 yang tertulis : Barang siapa dengan sengaja mencegah menghalangi . Pencabutan permintaan Visum et Repertum pada prinsipnya tidak dibenarkan.f. Bila timbul keberatan dari pihak keluarga. agar memudahkan Dokter mencari sebab dan cara kematian korban. Sebaiknya petugas penyidik dapat segera memperoleh informasi yang perlu tentang korban seperti : 1) Berapa lama korban hidup setelah terjadi serangan yang fatal. g. Disamping itu perlu pula dijelaskan bahwa bedah mayat Forensik : 1) Menurut Agama Islam hukumnya Mubah Fatwa Majelis Kesehatan dan Syurat Nomor 4 / 1955. barang-barang bukti relevan yang ditemukan. 3)Apakah korban dipindah 4) Senjata/alat jenis apa yang melukai korban 5) Apakah jenis alat/ senjata yang ditemukan di TKP sesuai dengan bentuk luka yang ada pada tubuh korban 6) Bagaimana caranya alat /senjata tersebut mengenai tubuh korban 7) Apakah ada tanda-tanda perlawanan Apakah luka-luka yang ada pada tubuh korban terjadi sebelum atau sesudah kematian 9) Kapan kira-kira korban meninggal 10) Apakah korban minum obat-obatan atau minuman keras sebelum meninggal(3) Tata Cara Pencabutan Visum Et Repertum a. b. maka penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan bedah jenazah tersebut. sesuai dengan ketentuan KUHAP Pasal 134 ayat 2. keadaan korban di TKP hal-hal lain yang diperlukan. Sebaiknya petugas yang meminta Visum / petugas penyidik hadir ditempat otopsi dilakukan untuk dapat memberikan informasi kepada Dokter yang membedah mayat tentang situasi TKP.

7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. atau yang menimbulkan bahaya mati. Pasal 351 KUHP (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. maka pelaksanaan pencabutan harus diajukan tertulis secara resmi dengan menggunakan formulir pencabutan dan ditanda tangani oleh Pejabat. (3) Jika mengakibatkan mati. (4) Dengan penganiayaan dimaksud sengaja merusak kesehatan. 2) Tidak mampu untuk terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian. petugas yang berwenang dimana pangkatnya satu tingkat diatas peminta. 3) Kehilangan salah satu panca indera. serta terlebih dahulu membahasnya secara mendalam. 5) Menderita sakit lumpuh. . 4) Mendapat cacat berat. Pasal KUHP Yang Berkaitan Dengan Visum Et Repertum Pasal 90 KUHP Luka berat berarti : 1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. 6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih. 4) Dengan pencabutan permintaan Visum et Repertum maka penyidik harus menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada sesuatu yang jelas dapat diharapkan lagi sebagai keterangan dari barang bukti berupa manusia sebagai corpus delicti yang berkaian erat dengan masalah penyidikan yang sedang ditangani.atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. 3) Bilamana permintaan Visum et Repertum terpaksa harus dibatalkan.

diancam. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian. Pasal 352 KUHP Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356. (3) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian. Pasal 353 KUHP (1) Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat. diancam karena akan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. diancam karena membunuh anak sendiri. Pasal 342 KUHP Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak. dengan sengaja mematikan anaknya.(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. atau menjadi bawahannya. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. Pasal 89 KUHP . pada anak yang dilahirkan atau tidak lama kemudian. yang berarti dekenakan pidana penjara pailing lama tujuh tahun. sebagai penganiayaan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pasal 354 KUHP (1) Barang siapa melakukan penganiayaan kepada orang dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan atau terhadap orang yang bekerja padanya. Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya.

Pasal 289 KUHP Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Pasal 288 KUHP (1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin. tidak dipidana.Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. atau kalau umurnya tidak jelas. (3) Jika mengakibatkan mati. dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan. Pasal 44 KUHP (1) Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit. diancam karena memperkosa. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. dijatuhkan penjara paling lama delapan tahun. Pasal 286 KUHP Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan hal itu diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. kecuali jika wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. Pasal 287 KUHP (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa belum lima belas tahun. (2) Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit. maka hakim dapat memerintahkan . dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas ahun. karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 285 KUHP Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa bersetubuh dengan dia di luar perkawinan. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. bahwa belum waktunya untuk dikawin.

Hakim perdata Dasar hukumnya:HIR pasal 154 Karena di sidang pengadilan perdata tidak ada jaksa. (3) Ketentuan dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung pengadilan Tinggi. Hakim pidana Hakim pidana biasanya tidak langsung minta visum et repertum pada dokter. Hakim Agama Dasar hukumnya:Undang-undang No. paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan. dan Pengadilan Negeri. Yang berhak meminta visum et repertum Yang berhak meminta visum et repertum adalah penyidik.maka hakim perdata minta langsung visum et repertum kepada dokter. Penyidik Penyidik adalah pejabat polisi negara tertentu dengan pangkat serendah-rendahnya pelda.sehingga permintaan visum et repertum hanya berkenaan dengan hal syarat untuk berpoligami.hakim perdata dan hakim agama.syarat untuk melakukan perceraian dan syarat waktu tunggu (idah) seorang janda.tahun 1970 tentang ketentuan pokok kekuasaan kehakiman pasal 10. menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik.Kemudian jaksa melimpahkan permintaan hakim kepada penyidik.14.hakim pidana. Pasal 222 KHUP Barang siapa dengan sengaja mencegah. Hakim agama mengadili perkara yang bersangkutan dengan agama islam.sedangkan pangkat terendah untuk penyidik pembantu adalah serda. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.Di daerah terpencil mungkin saja seorang dengan pangkat serda diberi wewenang sebagai penyidik karena ia komandan.(2) .supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.Sebagai contoh adalah sidang pengadilan mengenai penggantian kelamin Iwan robyanto iskandar menjadi Vivian rubiyanti iskandar.tetapi memerintahkan kepada jaksa untuk melengkapi berita acara pemeriksaan dengan visum et repertum.

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 ii PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY Disusun Oleh: SUSI HADIDJAH. MH. Prof. Semarang. NYOMAN SERIKAT PUTRA JAYA. SH. MH. SH. SH.Dr.. B002. Paulus Hadisuprapto. 130 531 702 iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH Dengan ini saya. telah diberikan penghargaan dengan mengutip nama sumber penulis secara benar dan semua isi dari Karya Ilmiah/Tesis ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis. Susi Hadidjah. SH. NIP.039 Dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Pada Tanggal : 24 Desember 2008 Tesis ini telah diterima sebagai persyaratan untuk memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum Mengetahui.93. SH NIM. Nyoman Serikat Putra Jaya.PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY TESIS Disusun Dalam Rangka Memenuhi Persyaratan Program Magister Ilmu Hukum Oleh: SUSI HADIDJAH. 130 529 438 NIP. menyatakan bahwa Karya Ilmiah/Tesis ini adalah asli hasil karya saya sendiri dan Karya Ilmiah ini belum pernah diajukan sebagai pemenuhan persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan Strata Satu (S1) maupun Magister (S2) dari Universitas Diponegoro maupun Perguruan Tinggi lain. DR. Semua informasi yang dimuat dalam Karya Ilmiah ini yang berasal dari penulis lain baik yang dipublikasikan atau tidak.MH.Dr. SH Pembimbing: PROF. Pembimbing. Ketua Program Magister Ilmu Hukum Prof. 24 Desember 2008 Penulis .

? Metode Penelitian. criminal’s act. Penelitian ini digunakan pendekatan yang berorientasi pada pendekatan hukum yang ditempuh lewat pendekatan yuridis empiris. Keywords: criminal’s law. Child is lovely one who preciousless for every family. Jadi dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia juga mempunyai perhatian yang besar terhadap hak asasi manusia yang pada prinsipnya untuk melindungi hak-hak individu. concept of KUHP Paragraf 526 and Paragraf 527 in 2008. rules about abandon and dump the child but not specifically rules for infanticide. Nowdays. Praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY dalam penyelesaiannya sama dengan penyelesaian kasus pidana. news that neonatal founded in death condition which got into the plastic bag or in garbage issue at mass media frequenly. Penegakan Hukum Pidana secara umum dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini yaitu Pasal 341 dan Pasal 342 KUHP. sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. So. Conclusions: Generally law enforcement of infanticed management in legislation recently enforcement at DIY area solved as same as criminal. v ABSTRAK Latar Belakang. the rule of criminalsm law enforcement inthe future legislation. infanticide. yang sebaiknya dirumuskan dalam perundang-undangan di masa yang akan datang.Undang Dasar Tahun 1945. Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga.iv ABSTRACT Background: Indonesian people has been longly human right that origin from Pancasila and Undang-undang Dasar 1945. Methods: This reasearch uses approach which oriented in legislation approach by empiric yuridical approach. Objectives: Generally to know and analized law enforcement rights to do infanticide as legislation now a days. it can be said that Inndnesia people also has great attention of human right principally for protecting individual’s right. However. as heir and someone that continuos both of his parents. Permasalahan. Bagaimana penegakan hukum pidana secara umumdalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini? Bagaimana praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY. Sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi baru lahir dalam keadaan meninggal yang dimasukan dalam tas plastik atau di bak sampah sering dimuat di media masa.s case. To know and analized law enforcement which in abbreviation in to the legislation in the future. Masyarakat Indonesia telah lama mengenal hak asasi yang bersumber pada Pancasila dan Undang. Bagaimana penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi. tetapi tidak khusus mengatur tentang pembunuhan bayi.Sedangkan pengaturan penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan yang akan datang yaitu Pasal 526 dan Pasal 527 KONSEP KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA Tahun 2008 mengatur mengenai meninggalkan anak dan membuang anak. Hasil pembahasan. To know and analized law enforcement rights at infanticide in DIY area. .

. selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan tesis ini. Bapak Prof.. 8. Daerah Istimewa Yogyakarta. 6.MH.Juga memberikan ijin untuk penelitian.. DR.. Para Guru Besar.Yang telah memberikan ijin untuk menyelesaikan studi Pasca Sarjana Ilmu Hukum di Semarang. Kepala Kepolisian Yogyakarta. Sleman.. selaku Tim Review Proposal. ibu dan saudara sekalian mendapatkan pahala dari ALLAH SWT. H. vi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT.. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Yth.MH.dan Bagian Pendidikan Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang yang telah memberikan bimbingan dalam memperdalam keilmuan sebagai akademisi selama perkuliahan. SH. SH.. PAULUS HADISUPRAPTO. SH. semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Daerah Istimewa Yogyakarta. doa dan bantuan selama proses studi dan penyelesaian tesis ini. 3.. namun penulis tetap berharap. Bapak Hartono Brojokusumo (suami).MH. 12. SH... Bantul..SH.. Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 10... 4.. SH.. dan tesis ini bermanfaat bagi para pembaca.Kata kunci..Bantul. DR. dan anak-anak Harumurti Kusumawardhana.. Yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.. Ibu Kepala Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.. Perbuatan Pidana. NYOMAN SERIKAT PUTRA JAYA. Bapak Kepala Kejaksaan Negeri Yogyakarta.. yang selalu memberi dorongan semangat. selaku Tim Review Proposal 5. . vii 7. DR. BARDA NAWAWI ARIEF. Pembunuhan bayi... Bapak Prof. 2. Bapak Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta... Semoga amal kebaikan bapak. Bapak Prof.Sleman. Semarang. Sleman... karena atas perkenannya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Pembunuhan Bayi Di Wilayah DIY.. . Yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian. 9.2008 Penulis SUSI HADIDJAH. Daerah Istimewa Yogyakarta.MH... Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan baik dalam doa maupun perbuatan selama penulis mengikuti pendidikan Program Magister Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro Semarang. Staf Pengajar... Bapak EKO SOPONYONO. selaku Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum dan selaku Tim Review Proposal.. Yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Bantul. 1. sebagai syarat akhir studi Pasca Sarjana Bidang Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro Semarang. 11. Penulis menyadari tesis ini masih kurang ada kekurangannya atau masih jauh dari sempurna. Hukum Pidana.. ST dan Whisnu Agus Suryanto..

........................... iv KATA PENGANTAR .......................................................................................................... 78 DAFTAR PUSTAKA .............. ............................. viii BAB I PENDAHULUAN A...... KERANGKA TEORI .... 69 BAB IV PENUTUP A................................................ SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI KEPOLISIAN KOTA BESAR DIY................ TUJUAN PENELITIAN ................................................................................................................................ PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI MASA YANG AKAN DATANG ........................ KESIMPULAN............................................................ 1 B.. 16 G............................. 9 D................................................. POLRES SLEMAN........... vi DAFTAR ISI ............................................... METODE PENELITIAN .......... PRAKTEK PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY............. 19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.................................. PENEGAKAN HUKUM PIDANA SECARA UMUM DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DEWASA INI ...... 31 C......... PERUMUSAN MASALAH ......................... 40 2..............................viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................. 54 C................... PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DAN PEMIDANAAN................ PERAN BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK PADA PEMBUNUHAN KASUS BAYI .................... 9 F........................................................................................................................................................................................ PROSES PENYIDIKAN PEMBUNUHAN BAYI .......... 66 1........................................................ PENGERTIAN PEMBUNUHAN BAYI (INFANTICIDE) DALAM PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ................. KEGUNAAN PENELITIAN .................................................................... LATAR BELAKANG ........................... 38 1.............................................. 77 B.................................... 20 B. POLRES BANTUL.................................................... KONSEP PEMBERIAN PIDANA DAN SISTEM PERADILAN PIDANA DALAM KASUS PEMBUNUHAN BAYI ..... PERBUATAN PIDANA........... 79 LAMPIRAN: 1........ 34 BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISA A.................................. SARAN ........................ ii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ............................................... 8 C........... iii ABSTRAK . SISTEMATIKA PENULISAN ................................................................................ i LEMBAR PENGESAHAN ................................... PRINSIP YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN OLEH HAKIM DALAM MEMERIKSA KASUS PEMBUNUHAN BAYI ................ 9 E..................... 44 ix B..........................................

Pustaka Magister. yang menjamin hak-hak dan kewajiban asasi warga negara/manusia. Dalam sejarah kemanusiaan. Hal ini terbukti dengan lahirnya naskah-naskah keuniversalan dan keasasian beberapa hak yang mengandung inti yang sama yaitu manusia tidak ingin dirampas hak asasinya. 3. xi Indonesia telah lama mengenal hak asasi yang bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. BANTUL. Dalam Negara hukum Republik Indonesia penghayatan. Seorang gadis berparas cantik X ( 17 tahun ) Warga Purwobinangun. Namun. seorang pelajar SMA Swasta. Selain. Apabila hak asasi seseorang dilanggar oleh orang lain. Kumpulan Hasil Seminar Nasional ke-1 s/d ke-. Semarang. Di Sumber Agung. LATAR BELAKANG Negara Hukum menurut Undang-undang Dasar 1945 adalah negara hukum dalam arti yang luas. Jadi. BANTUL. DAN SLEMAN. tak sedikit yang mencatat kejadian dimana seseorang atau segolongan manusia memperjuangkan apa yang dianggap haknya. Pakem Sleman. Hal ini dikarenakan hak-hak asasi manusia merupakan hak dasar manusia yang dimiliki sejak bayi dalam kandungan lahir dan hidup di dalam kehidupan masyarakat. T (17 tahun) membunuh bayinya yang baru dilahirkan karena hubungan gelap dengan pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab3. Sebenarnya masyarakat 1 Barda Nawawi Arief. Kenekatan X di duga karena merasa malu mengingat bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu merupakan hasil hubungan gelap dengan F yang tak lain kakak iparnya sendiri2 . dan Konvensi Hukum Nasional 2008. Kecamatan Jetis. hak asasi bangsa Indonesia yang dikenal dalam kehidupan masyarakat tidak hanya menonjolkan hak-haknya saja sebagai hak individu yang dituntutnya melainkan harus dipenuhi pula kewajiban-kewajibannya. Bantul. Sedangkan seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang. memajukan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial berdasarkan Pancasila1.Daerah Istimewa Yogyakarta nekat membunuh bayi yang baru di lahirkannya. maka orang tersebut akan selalu menuntut dan memperjuangkan terlaksananya hak asasi ini dengan segala cara. Hal ini berarti bahwa Negara Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia. 2008. Daerah Istimewa Yogyakarta. SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI KEJAKSAAN NEGERI YOGYAKARTA. pengamalan dan pelaksanaan hak asasi manusia maupun hak serta kewajiban warga negara untuk menegakkan keadilan tidak boleh ditinggalkan oleh setiap warga negara. DAN SLEMAN x BAB I PENDAHULUAN A. sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga. SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI PENGADILAN NEGERI YOGYAKARTA. apapun dikorbankan demi anak buah hati. . Tetapi sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi baru lahir dalam keadaan meninggal yang dimasukan dalam tas platik sering dimuat di media masa.2. dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia juga mempunyai perhatian yang besar terhadap hak asasi manusia yang pada prinsipnya untuk melindungi hak-hak individu.

P. Kabupaten Bantul.5 Masalah pembunuhan bayi merupakan sebutan yang bersifat umum bagi setiap perbuatan merampas nyawa bayi di luar kandungan. Badan Penerbit UNDIP. sadar serta perhitungan yang matang.141 5 Barda xiii tanda perawatan. Sanden. Selain alasan itu adalah saat dilakukan tindakan menghilangkan nyawa si anak.dua kasus di atas. diharapkan mampu mengantisipasi segala tantangan kebutuhan. Yogyakarta: Maret 2008. menurut Barda Nawawi Arif. IW (40 tahun). Hukum harus dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. bisa juga dilihat kasus yang diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi/anak lebih ringan dibandingkan dengan kasus-kasus pembunuhan lainnya. Semarang. Dalam Pembukaan UUD 1945 telah dirumuskan.30 2 Surat 3 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. sedangkan infanticide (yang dikenal di negara-negara Common Law) merupakan sebutan yang bersifat khusus bagi tindakan merampas nyawa bayi yang belum berumur satu tahun oleh ibu kandungnya sendiri. kendala-kendala yang menyangkut sarana dan prasarana serta peluang yang terjadi sebagai akibat dari hasil pembangunan yang telah dicapai. pada hari minggu 23 Maret 2008. Hukum pidana yang paling dekat dan paling syarat dengan nilai-nilai kejiwaan atau moralitas. sekitar pukul 06. karena masalah moralitas agama melekat pada seorang manusia juga tidak kalah memegang peranan penting dalam terjadinya tindak pidana pembunuhan bayi. Kabar Kedaulatan Rakyat. Saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu dimana selain rasa malu. 2000. Hukum sebagai salah satu tiang utama dalam menjamin ketertiban masyarakat. yaitu pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian yang dalam hal ini patokannya adalah sudah ada atau belum ada tanda4 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. Pengkhususan infanticide sebagai tindak pidana yang hukumannya lebih ringan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa kondisi mental pada saat hamil. takut. Yogyakarta: 12 Oktober 2007. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Inilah yang menjadi . mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan Pancasila. tetapi telah merendahkan derajat manusia. seorang ibu. dibersihkan. hal. Yogyakarta: 11 September 2008. Oleh sebab itu. desa Murtigading. benci. melahirkan dan menyusui sangat labil dan mudah terguncang akibat gangguan keseimbangan hormon. bingung serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu sehingga perbuatan itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang. xii WIB. Nawawi Arif. tujuan negara ialah. oleh karena anak tersebut adalah anak sebagai hasil hubungan gelap atau anak yang tidak diinginkan.4 Kejahatan pembunuhan bayi bukan hanya merusak nilai-nilai asas manusia. membunuh bayi yang baru dilahirkannya dengan memasukkan bayi ke dalam lubang kloset.T Citra Aditya Bakti. atau diberi pakaian. dipotong tali pusatnya. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. Bandung 2001 6 Dahlan Sofwan. Ny.6 Disamping alasan tersebut ada motivasi untuk melakukan kejahatan adalah karena si ibu takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak. Sardjito Yogyakarta. ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Di dusun Bongoskenthi.

b. dan berakhlak mulia. 8 Dalam menggunakan dasar penal.4 Tahun 1979 yang antara lain menyebutkan bahwa anak berhak atas 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.9 Lebih jauh Peter Hoefnagels sebagaimana dikutip oleh Barda Nawawi Arief mengemukakan. Pencegahan tanpa Pidana (Prevention Without Punishment). . Tahap kebijakan Yudikafif atau Aplikatif. Pemerintah Indonesia mengakui Deklarasi Hak-Hak Anak (Universal) dalam Undang-Undang No.7 Dalam Deklarasi hak-hak anak yang ditetapkan oleh PBB pada 20 November 1959 dalam Resolusi Sidang Majelis Umum PBB. Tahap kebijakan Eksekusi atau Administratif. baik fisik. tetapi tidak menyurutkan seorang remaja atau ibu melakukan pembunuhan bayi Hal semacam ini dapat dipahami karena proses penegakan hukum dalam upaya penanggulangan pembunuhan bayi. 2. a. Penerapan Hukum Pidana ( Criminal Law Aplication). Upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan:10 a. Tahap kebijakan Formulasi atau legislatif. 1. dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. yaitu. c. perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Oleh karena itu apabila tujuan dan dasar pemikiran kepada upaya xiv pencegahan dan penanggulangan pembunuhan bayi sebagaimana dirumuskan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002: bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. Dengan adanya reformasi maka semangat untuk menanggulangi pembunuhan bayi yang sudah sejak lama ada lebih digiatkan dan sangsinya berat. memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan Negara pada masa depan.landasan dan tujuan politik hukum di Indonesia dan usaha pembaharuan hukum termasuk pembaharuan di bidang hukum pidana. Penerbit Citra Umbawa. potensi. mental maupun sosial. bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut. serta kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pembunuhan bayi di Indonesia. bahwa anak adalah tunas.praktek penegakan hukum khususnya dalam proses penanggulangan pembunuhan bayi bersumber pada 3 hal. maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Bandung: 2003 xv pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. dan 3. dalam mukadimahnya bahwa seorang anak dalam keadaan masih belum matang jasmani dan rokhani membutuhkan upaya pembinaan dan perlindungan khusus (termasuk perlindungan hukum) baik sebelum maupun sesudah lahir. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. bahwa kebijakan penanggulangan kejahatan atau yang biasanya dikenal dengan istilah’’Politik Kriminal’’dapat meliputi ruang lingkup yang lebih luas. b. masih menunjukkan permasalahan dan kendala.

1. dan juga korbannya. Mempengaruhi pandangan masyarakat dan pemidanaan lewat media massa (Influencing Views of Society on Crime andPunishment Mass Media).Aplikasi . Bunga Rampai Kebijakan Kriminal. Bandung.Formulasi . pengendalian) sebelum kejahatan terjadi. Social Policy Social-DefencePolicy Criminal Policy Goal SW/SD Penal: . Citra Aditya Bakri. sekiranya dalam kebijakan penanggulangan kejahatan atau politik kriminal digunakan upaya/sarana hukum pidana (penal). Citra Aditya Bakri. hal 75. 10 Barda Nawawi Arief. 2001. dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari upaya perlindungan terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan bayi. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulisan ini didasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut. penangkalan.c. Dengan demikian. Perbedaannya adalah: 8 Anonim. 2. yaitu. upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi dua. Citra Anak Indonesia. Upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat represif (penindasan. lewat jalur non penal (di luar hukum pidana) Upaya yang disebut dalam butir (b) dan (c) dapat dimasukkan dalam kelompok upaya non penal. . Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Law Enforcement Policy secara umum sebagai kebijakan hukum. tahap aplikasi (kebijakan yudikatif/yudicial) dan tahap eksekusi (kebijakan eksekutif/administratif). 9 Barda Nawawi Arief. Citra Aditya Bakri. maka kebijakan hukum pidana harus diarahkan pada tujuan dari kebijakan sosial (social policy) yang terdiri dari kebijakan/upaya-upaya untuk kesejahteraan sosial (social welfare policy) dan kebijakan/upaya-upaya untuk perlindungan masyarakat (social defence policy). Menurut Barda Nawawi Arief. Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. 2002. 1.Bandung. hal 73-74. Upaya-upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur non penal (pencegahan. penumpasan). sesudah kejahatan terjadi. Hal ini dapat dilihat dari skema berikut:11 Gambar 1. Kerja sama Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI dengan Departemen Sosial Jakarta. Bandung. Penal policy menurut Barda Nawawi Arif 11 Barda Nawawi Arief. b. 2001. lewat jalur penal (hukum pidana). pemberantasan. xvi Social-Welfare Policy a.Eksekusi Non Penal xvii Kebijakan hukum pidana (penal policy) atau penal law enforcement policy operasionalisasinya melalui beberapa tahap yaitu tahap formulasi (kebijakan legislatif). 1988.

D. Untuk mengetahui dan menganalisis penegakan hukum pidana secara umum dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini. yang dirumuskan dalam perundang-undangan di masa yang akan datang? C. Penegakan hukum pidana terhadap pelaku pembunuhan bayi para pelaksana hukum dari mulai penangkapan. Untuk mengetahui dan menganalisis penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi. Untuk mengetahui dan menganalisis praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY. seringkali dijumpai di media massa. Secara Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan penelitian dalam rangka meningkatkan kualitas penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan latar belakang seperti yang diuraikan di atas.Tetapi sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi yang baru lahir dalam keadaan meninggal karena dibunuh oleh ibunya. 3. maka permasalahan yang akan dibahas adalah: 1.2. yang sebaiknya dirumuskan dalam perundang-undangan di masa yang akan datang. apapun dikorbankan demi anak buah hatinya. sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini bertolak dari perumusan tersebut di atas adalah: 1. Bagaimana praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY? 3. ada tidak pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karena itu seorang anak harus mendapatkan perlindungan baik masih dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. Secara Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi terhadap penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi serta sumbangan penelitian pada bidang ilmu hukum pidana. Sedangkan seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang. 3. . penulis mengambil judul: “PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY” . Jaksa. 2. dan sampai pemeriksaan. KERANGKA TEORI Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga. Bagaimana sebaiknya pengaturan penanggulangan pembunuhan bayi. dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini? xviii 2. B. Polisi. xix 2. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut di atas. E. Hakim dalam melaksanakan tugas sudah sesuai belum dengan peraturan/undang-undang yanng berlaku. Bagaimana pengaturan penegakan hukum pidana secara umum. maka dalam penulisan ini. penahanan. KEGUNAAN PENELITIAN 1.

PT.Bandung Alumni 1985. perdamaian dan persaudaraan yang bersifat universal. Berkaitan dengan kebijakan hukum pidana dalam kepustakaan asing. toleransi persahabatan antar bangsa.sungguh terjadi (onrecht in actu) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin akan terjadi (onrecht in potenti)12 Sedangkan menurut Satjipto Rahardjo. hal 24.14 Sebagai generasi penerus bangsa. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. Kapita Selekta Hukum Pidana.peraturan hukum itu. tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang timbul dan berkembang dalam masyarakat hukum yang hidup dalam masyarakat. karena 13 Satjipta Rahardjo. tentang Hak-hak anak.Penegakan Hukum sebagai suatu proses yang pada hakekatnya merupakan diskresi menyangkut pembuatan keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum. Hukum dan Hukum Pidana.13 Sedangkan menurut Soerjono Soekanto: Secara konsepsional. Perumusan pikiran pembuat undang-undang (hukum) yang dituangkan dalam peraturan hukum akan turut menentukan bagaimana penegakan hukum itu dijalankan. diantaranya adalah penal policy. Oleh sebab itu. akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi dan pada hakekatnya diskresi berada diantara hukum dan moral. menurut Barda Nawawi Arief. criminal law policy. juga dikenal dengan berbagai istilah lain. atau stafrecht politeik. Jakarta. bahwa anak-anak haruslah dibesarkan dalam semangat jiwa yang penuh pengertian. maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang dijabarkan di dalam kaidahkaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkuman penjabaran nilai tahap akhir.15 . tanggal 25 November 1959. xxi masyarakat memegang teguh nilai-nilai kemasyarakatan sebagai pedoman untuk berbuat dan tidak berbuat. RajaGrafindo Persada. karena masalah moralitas agama melekat pada seorang manusia juga tidak kalah memegang peranan penting dalam terjadinya tindak pidana pembunuhan bayi.Soedarto memberi arti pada penegakan hukum adalah perhatian dan penggarapan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang sungguh. Kejahatan pembunuhan bayi bukan hanya merusak nilai-nilai asas manusia . 1983. untuk menciptakan. 14 Soerjono Soekanto. Bandung Alumni 1988. Yang disebut sebagai keinginan hukum disini tidak lain adalah pikiranpikiran pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan. Masalah Penegakan Hukum. Faktor-faktor yang MempengaruhiPenegakan Hukum. hal 5. Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman. Jakarta. Pembicaraan mengenai proses penegakan hukum ini menjangkau pula sampai 12 Sudarto. Suatu Tinjauan Sosiologis. 1983. penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep menjadi kenyataan. seorang bayi harus ditempatkan pada posisi yang aman sebagai mana yang ditegaskan pada akhir Deklarasi PBB. tetapi telah merendahkan derajat manusia. xx kepada pembuatan hukum. dan dalam rangka pembaharuan hukum pidana yang dimaksud menciptakan hukum positif secara nasional.

TujuanTujuan . hal 16-17 21 Ibid. Oleh karena itu.20 Perwujudan hukum sebagai ide-ide membutuhkan suatu organisasi yang cukup kompleks. kepolisian. Oleh karena itu. tidaklah mengherankan apabila orang mengatakan bahwa hukum tidak bisa lagi disebut sebagai hukum 15 Barda Nawawi Arief .16 22 Ibid.17 Hukum dibuat untuk dilaksanakan. hal16 20 Satjipto Rahardjo. di dalam pengertian social policy tercakup pengertian social welfare policy dan social defence policy. xxii manakala ia tidak pernah dilaksanakan (lagi). maka sebetulnya kita sudah memasuki bidang manajemen.19 Untuk mewujudkan hukum sebagai ide-ide menjadi kenyataan. hal 16. Kebijakan sosial dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. dan usaha mencapai kesejahteraan masyarakat atau social welfare. dan dijalankan dalam kerangka suatu strukur organisasi. Negara yang harus campur tangan dalam mewujudkan hukum yang21.2002 17 Sudarto. Cetakan Kedua Edisi Revisi. Masalah Penegakan Hukum (Suatu Tinjauan Sosiologis). seperti pengadilan. pemasyarakatan. Hukum dan Hukum Pidana. teknik-teknik dan informasi. hal 5 23 Satjipto Rahardjo. Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia). Bandung.18 Dan diketahui pula. manajemen adalah seperangkat kegiatan atau suatu proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan penggunaan sumber-sumber daya dengan tujuan untuk mencapai tujuan organisasi melalui orang-orang.16 Penggunaan hukum pidana sebagai suatu upaya untuk mengatasi masalah sosial atau kejahatan termasuk dalam bidang penegakan hukum. Jadi.Cit. 1983. wajar apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dan kebijakan politik atau social policy. Loc. Loc. Sinar Baru. pada hakekatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat atau social defence. Alumni Bandung.22 Hal ini dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:23 18 Satjipto Rahardjo. Cit.Usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-undang atau hukum pidana. dan juga badan perundang-undangan. Dan. Citra Aditya Bakri. menurut Shrode dan Voich. Di dalam kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan hukum itulah terkandung tindakantindakan yang harus dilaksanakan. yang tidak lain berupa penegakan hukum itu. bahwa hukum dapat dilihat bentuknya melalui kaidah-kaidah yang dirumuskan secara eksplisit. PT. kejaksaan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum UNDIP( Semarang 1984) hal 28. Cit. khususnya hukum pidana sehingga sering dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari penegakan hukum (law enforcement policy). Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. 16 Barda Nawawi Arief. Bandung Tanpa Tahun 19 Satjipto Rahardjo. abstrak ternyata harus mengadakan berbagai macam badan untuk keperluan tersebut. sebagaimana telah dikutip oleh Satjipto Rahardjo. Loc. hal .

seperti hakim. Faktor masyarakat. xxiii Gambar 2. kendaraan. . yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. bahwa masalah pokok dari penegak hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Sumber daya keuangan. Seidman.Dan sebagainya. Hak. PT. Loc. Sumber daya selebihnya yang dibutuhkan untuk menggerakkan organisasi dalam usahanya mencapai tujuan. 3. 4.Perumusan UU. Faktor Penegak Hukum. perlengkapan.5 25 Soerjono xxiv 5. keamanan . 3. Bandung: 1980. Jakarta. 24 Satjipto Rahardjo. Sumber daya fisik. Hukum dan Masyarakat. Kewajiban. Menurut Soerjono Soekanto. Faktor kebudayaan. Cit. 2. hal. belanja negara dan sumber-sumber lain. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Sumber-sumber daya ini menurut Satjipto Rahardjo adalah:24 1. panitera.Hukum Organisasi Organisasi Organisasi Organisasi . Robert B. Hal.Kondisi Ketertiban. Mengenai penegakan hukum atau bekerjanya hukum di dalam masyarakat. Otonomi mencapai tujuan organisasi. RajaGrafindo Persada. secara teoritis memberikan penjelasan sebagaimana dikutip oleh Satjipto Rahardjo yang dapat digambarkan dalam sebuah bagan sebagai berikut:26 26 Satjipto Rahardjo. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. hal 18 Soekanto. Hubungan Hukum dan sebagainya. polisi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. jaksa. yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. seperti gedung. 4. yakni sebagai hasil karya. organisasi yang dituntut untuk mewujudkan tujuan-tujuan hukum itu perlu mempunyai suatu tingkat otonomi tertentu. Sumber daya manusia.27 Lembaga Pembuat Peraturan Lembaga Penerap Peraturan Lembaga Penerap .Keputusan-keputusan Pengadilan . Perwujudan Tujuan Hukum Melalui Organisasi Untuk dapat menjalankan tugasnya. Alumni. yaitu:25 1. 1983. 2. Faktor hukum (Undang-Undang).

politik. sebagaimana dikutip Satjipto Rahardjo. Diagram Chambliss dan Seidman mengenai Proses Penegakan Hukum. 2) Lembaga Penerap Peraturan.Cit. Metode Pendekatan . serta umpan-umpan balik yang datang dari para pemegang peran. sebagai berikut:27 Setiap peraturan hukum memberitahukan tentang bagaimana seorang pemegang peran itu diharapkan bertindak. sistematika dan pemikiran tertentu. METODE PENELITIAN Pendapat Soerjono Soekanto . dan lain-lain mengenai dirinya. 1. ideologis. Bagaimana para pembuat undang-undang itu akan bertindak merupakan fungsi peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku mereka. serta umpan-umpan balik yang datang dari para pemegang peran serta birokrasi. Sedangkan Sudarto memberi arti pada penegakan hukum adalah perhatian dan penggarapan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang sungguh-sungguh terjadi (onrecht in actu) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin akan terjadi (onrecht in potentie)28 F. Bagaimana seorang pemegang peran itu akan bertindak sebagai suatu respon terhadap peraturan-peraturan yang ditujukan kepadanya. Hal.29 1. 3) Pemegang Peran. serta keseluruhan kompleks kekuatan sosial. Op. aktivitas dari lembaga-lembaga pelaksana. politik. yang bertujuan untuk mempelajari satu atau lebih gejala-gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya kecuali itu maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap faktafakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul dalam segala hal yang bersangkutan. 2.tentang penelitian dengan mengatakan: Penelitian hukum dimaksudkan sebagai kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode.28 xxvi dan lain-lain yang mengenai diri mereka. Bagaimana lembaga-lembaga pelaksana itu akan bertindak sebagai respon terhadap peraturan hukum yang ditujukan kepada mereka. Ketiga komponen tersebut meliputi: 1) Lembaga Pembuat Peraturan. Dalam teori tersebut. sanksisanksinya keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial.Peraturan Aktivitas Penerapan Faktor-faktor sosial dan personal lainnya Faktor-faktor sosial dan personal lainnya Umpan Balik Umpan Balik xxv Gambar 3. sanksi-sanksinya keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial. politik. 27 Satjipto Rahardjo. Dan dari ketiga komponen dasar tersebut. dan lain-lain yang mengenai diri mereka. Sanksi-sanksi. 3. Seidman mengajukan beberapa dalil. Robert B. terdapat tiga komponen utama pendukung bekerjanya hukum dalam masyarakat.

Wawancara/interview 1) Wawancara secara langsung kepada pihak-pihak yang bersangkutan sebagai responden. karena penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan secara . ahli medis serta hasil penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya yang menyangkut pembunuhan bayi. Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Deskriptif. sepanjang masih ada hubungannya dengan permasalahan. disajikan secara sistematis. xxvii Sumber data yang digunakan dari sumber primer dan sumber sekunder. makalah dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan penelitian ini. Jakarta. Normatif. Penerbit Alumni. jaksa. Sedangkan. Jenis Data 28 Soedarto. Metode Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data untuk penyusunan dan pembahasan penulisan hukum ini. Kepustakaan (Library Research) Yaitu dengan mempelajari buku-buku jurnal.26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter. xxviii 2) Wawancara dengan daftar pertanyaan yang bersifat terbuka. Soekanto. pendapat para ahli hukum. Pengadilan Negeri Bantul. Undang-Undang No. Sumber sekunder yang digunakan berupa dokumen atau Konsep KUHP 2008. Di samping itu. dalam arti pertanyaan tersebut hanya memuat garis besar saja. 2. pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang berorientasi pada pendekatan hukum yang ditempuh lewat pendekatan yuridis normatif . Oleh karena itu. hakim. b.UI Press. digunakan pula data sekunder yang berupa putusan perkara pembunuhan bayi di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta dan Pengadilan Negeri Sleman. karena berkas yang berkaitan dengan pembunuhan bayi. 1981. dengan menggunakan pedoman yang berupa penanggulangan pembunuhan bayi. 29 Soerjono Kapita Selekta Hukum Pidana. 5. Metode Analisis Data Setelah data berhasil dikumpulkan. Teknik Dokumentasi Yaitu mengumpulkan data dengan cara mempelajari. 1986. Data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Pengantar Penelitian Hukum. 4. c. selanjutnya akan dianalisa secara kualitatif dengan penguraian secara deskriptif. Peraturan Pemerintah No.Permasalahan pokok dalam penelitian ini merupakan bagian pokok dari penegakan hukum. dan ahli kedokteran forensik Yogyakarta. sumber primer yang digunakan berpusat pada perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang mengatur tentang pembunuhan bayi.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. meneliti dokumendokumen atau berkas. Untuk data sekunder. data primer lebih bersifat sebagai penunjang. 3. Bandung. yaitu: KUHP. data empiris digunakan data primer dari hasil wawancara dengan polisi. karena penelitian ini bertolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai norma hukum positif. penulis memakai metode-metode: a. sehingga tidak menutup kemungkinan diajukannya pertanyaan-pertanyaan baru.

Dan Pemidanaan. xxix Sesuai dengan uraian dalam Bab I dan Bab II. khususnya apabila dikaitkan pengertian pembunuhan bayi oleh ibu kandung sendiri (infanticide) baik disengaja maupun direncanakan akibat perzinahan dan perkosaan. Konsep Pemberian Pidana dalam kasus pembunuhan Bayi Di Wilayah DIY. maka Bab III berisi tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan. Moeljatno. B. (2) praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY. yang dirumuskan dalam perundang-undangan dimasa datang. akan dibahas tentang: A. yang lazim disebut dengan actu reus. G. sedangkan unsur pertanggung jawaban pidana adalah bentuk-bentuk kesalahan yang terdiri dari kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa) serta tidak adanya alasan pemaaf. serta penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di DIY. Perbuatan Pidana. Oleh karena itu pengertian perbuatan pidana tidak meliputi pertanggung jawaban pidana. Alasan pemaaf yaitu alasan-alasan yang menghapuskan kesalahan dari terdakwa. Ini berarti. Roeslan Saleh juga mengatakan bahwa perbuatan pidana itu dapat disamakan dengan criminal act. dari penelitian berikut akhirnya. xxx BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Unsur perbuatan pidana adalah sifat melawan hukumnya perbuatan. 1983 xxxi (criminal responsibility). Yogyakarta. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DAN PEMIDANAAN Dalam penulisan tesis ini diketengahkan 3 (tiga) masalah :(1) penegakan hukum pidana dalam menanggulangi pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini.keseluruhan dan sistematis mengenai kebijakan legislatif dalam merumuskan peraturan perundangan yang berlaku sekarang dan yang akan datang. Perbuatan pidana (criminal act) harus dibedakan dengan pertanggung jawaban pidana 30 Moeljatno. Pengertian Pembunuh Bayi Menurut Perundang-undangan Di Indonesia. bahwa kalau ada alasan pemaaf. Beliau menolak dengan tegas untuk menggunakan istilah tindak pidana sebagai pengganti istilah Strafbaar feit atau delict. jadi berbeda dengan istilah Strafbaar feit yang meliputi pertanggung jawaban pidana. Criminal act menurutnya berarti kelakuan dan akibat. C. Adapun asas dari pertanggung jawaban pidana adalah’’ tidak dipidana apabila tidak ada kesalahan’’. untuk Bab I: Pendahuluan dilanjutkan Bab II: Tinjauan Pustaka. PERBUATAN PIDANA. merupakan masalah penting. merupakan Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran. (3) penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi. Pengantar Ilmu Hukum Pidana.30 Senada dengan pendapat Moeljatno. Pertanggung jawaban Pidanna. dalam berbagai tulisannya pernah mengatakan bahwa perbuatan pidana dapat disamakan dengan Criminal act. . terdakwa harus dilepas dari tuntutan hukum (ontslag van rechtsvervolging). SISTEMATIKA PENULISAN Penulisan. tesis ini diakhiri dengan Bab IV.

Aksara Baru. demikian pendapat dari Roeslan Saleh. ini berarti bebas tidak murni (ontslag van rehctsvervolging) sesuai dengan Pasal 191 ayat (2) KUHAP.Jakarta.Alasan pembenar inilah yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. Sifat Melawan Hukum dari Perbuatan Pidana. kedudukan dan harkat serta martabatnya”. Beliau menambahkan bahwa32. sehingga dapat mereaksi perbuatan pidana yang dilakukan oleh individu maupun oleh Badan hukum. yang dimuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.sesuai dengan pasal 191 ayat (1) KUHAP. maka dalam amar putusan Pengadilan harus memuat rehabilitasi yang berbunyi: “Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan. Sifat melawan hukum dari pada perbuatan pidana’’adalah bagian dari Ilmu Hukum Pidana. oleh karena itu dalam pembahasan kali ini. sehingga pidana dapat diartikan sebagai susunan dan pemidanaan diartikan sebagai cara. Sifat-sifatnya ini dilihat pada saat dia melakukan perbuatan pidana’’ 31. Jakarta. ‘’Bersifat melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum. Strafaatmaat. kiranya tidak perlu lagi diuraikan mengenai pengertian pidana dan pemidanaan itu secara harfiah/ maknawiah. hal 150. Seperti telah dikemukakan dimuka. dan upaya hukumnya adalah kasasi ke Mahkamah Agung RI. Namun secara singkat dapat diartikan dalam konsep sistem. Memulai pembicaraan ini. Apabila ada alasan pemaaf. maka yang ditinjau adalah sifat-sifat dari orang yang melakukan perbuatan tersebut. 32 Roeslan Saleh.. Dalam hal putusan Pengadilan bebas dari segala dakwaan atau lepas dari tuntutan hukuman.Roeslan Saleh mengikuti pendapat Moeljatno. Adapun asas daripada perbuatan pidana adalah asas legalitas. penulis akan membatasi pembicaraan dalam konteks. berarti tidak ada alasan pembenar. hukum pidana dapat dilihat dalam sudut pandang sebagai berikut: a. . xxxii melawan hukumnya perbuatan. yaitu lebih luas dari pada bertentangan dengan undang-undang. Selain dari pada peraturan undang-undang disini haruslah diperhatikan aturan-aturan yang tidak tertulis. formulasi pidana dan pedoman pemidanaan nya sehingga dengan demikian dapat terarah dengan jelas. Cetakan ketiga. Perbuatan pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana. sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) BABV tentang Rehabilitasi dalam PP tentang pelaksanaan KUHAP. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum pidana merupakan hasil konsruksi lembaga yang berwenang. bahwa sifat 31 Roeslan Saleh. ‘’Untuk menentukan ada tidaknya kesalahan. terdakwa harus dilepas dari tuntutan hukum. Dalam praktek Pengadilan. Aksara Baru. yaitu dalam aspek lamanya pidana. Berbicara tentang pidana dan pemidanaan sangat luas sekali lingkupnya.1981. Dalam memformulasikan pidana (susunan). 1981. apabila ada alasan pembenar. Cetakan kedua. dalam hal memformulasikan pidana tersebut xxxiii dalam batasan-batasan yang sejelas mungkin dengan sanksi yang tegas. dengan menamakan kesengajaan dan kealpaan itu sebagai bentuk-bentuk kesalahan. maka terdakwa haruslah dibebaskan dari segala dakwaan (Vrijspraak) yang lazim disebut bebas murni.

Adanya aturan dalam Pasal 341 dan Pasal 342 sebagai akibat Pasal 284 KUHP tentang delik perzinahan. dan 3. Perumusan delik perzinahan dalam Pasal 284 KUHP (yang didalam Konsep disebut dengan istilah permukahan) mengalami perubahan redaksional. baik yang dilakukan oleh orang dewasa maupun remaja. dirubah kembali menjadi delik aduan. Depkumdang. Strafsoort yaitu dalam aspek jenis pidana. 1. tetapi dalam perkembangan terakhir Maret 1993.33 Berbicara tentang pembunuhan bayi oleh ibu kandungnya setelah melahirkan yang diatur Pasal 341 dan Pasal 342 KUHP juga terdapat dalam Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak. xxxv 2.34 Dilihat sebagai salah satu delik masalah kebijakan (policy).Hal semacam ini seharusnya dilihat dari pendekatan kebijakan (policy-oriented approach) B. Strafaatmodus. Konsep nilai dan kepentingan yang melatar belakangi sifat dan hakikat delik perzinahan.b. Pidana penjara saja tidaklah cukup.Aksara Baru. Jakarta. Barda Nawawi Arief memaparkan sebagai berikut: 33 Roeslan Saleh. Aspek tujuan dari kebijakan / politik kriminal 3.1981). Sifat Melawan Hukum Perbuatan Pidana (Jakarta. Tujuan pemidanaan. Pedoman pemidanaan. dimana remaja sebagai korbannya. Di Pusdiklat Cinere. Selain itu masih ada lagi pasal 287 dan pasal 289 KUHP. faktor kriminogen dan dampak negatif . 2. Cetakan Ketiga xxxiv A. walaupun inti deliknya sama. yaitu dalam aspek pelaksanaan pidana. Pengadilan tidak berwenang untuk memerintahkan upaya-upaya adat tersebut diatas. Sedangkan pemidanaan(cara) dipandang dalam konteks. C. • Sejak Konsep pertama Buku II tahun 1977 (disebut KonsepBAS) s/d Konsep 1991/1992 edisi revisi bulan Desember 1992. diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. masyarakat belum bersih dari kotoran batin. delik permukahan ini oleh Konsep tidak lagi dijadikan delik aduan (berarti menjadi delik biasa). yaitu: • Pria/Wanita telah kawin. kecuali sebagai syarat istimewa pada pidana bersyarat. Pola pemidanaan . 1. dan • Seorang yang melakukan persetubuhan dengan orang lain yang sudah kawin.antara lain. banyak faktor dan alternatif yang perlu dipertimbangkan. maupun remaja sebagai pelakunya. 34 Bahan Ceramah. melakukan persetubuhan dengan orang lain yang bukan istri/suaminya. Perumusan delik perkosaan yang diatur dalam pasal 285 KUHP. Aspek nilai kesusilaan nasional. dan c.Barang siapa dengan kekerasan dan ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dia diluar perkawinan. Kejahatan dalam arti kriminologi menurut Roeslan Saleh masih dibutuhkan upaya-upaya adat untuk memulihkan kembali keseimbangan masyarakat yang terganggu (misalnya terhadap delik perkosaan). Diklat Aparatur Penegak Hukum. 28 Januari 2000.

2007 Ed I. liberalism dan individual rights. 1984. apakah perzinahan itu delik aduan atau bukan. tidak hanya masalah privat dan kebebasan individual. apabila delik perzinahan dijadikan delik aduan absolute (menjadi hak absolut istri/suami untuk mengadu/menuntut). Jadi masalah sentralnya bukan berkisar masalah. Aspek kepentingan individu dan alternatif teknik perumusan delik aduan. (1) Setiap orang yang meninggalkan anak yang belum berumur 7 (tujuh) tahun .. Menurut pandangan ‘’Barat’’yang individualistik-liberalistik. sehingga kelahiran nya tidak dikehendaki maka seorang ibu nekat membunuh bayinya. Baru yang akan datang bermaksud merumuskan kedua bentuk kesalahan itu. atau kepentingan pihak lain di luar istri/suami yang bersangkutan. konsekuensinya perzinahan dipandang delik aduan.Yogyakarta. Sepanjang hubungan seksual/moral itu bersifat individual. Soegandhi. Dengan demikian dilihat dari sudut kebijakan.35 Masalah perzinahan dan lembaga perkawinan dalam pandangan dan struktur sosial budaya masyarakat yang lebih bersifat kekeluargaan. xxxvii Sedangkan Konsep Tahun 2008 KUHP yang baru tidak memformulasikan pembunuhan bayi dalam Pasal 526. Jakarta. Buku Pedoman Pengadaan Visum Et Repertum. bebas tanpa paksaan dianggap wajar dan tidak tercela.kaum dan kepentingan lingkungan. Yang melatar belakangi konsep delik aduan menurut WvS (KUHP) yang termasuk keluarga civil law system atau The Romano xxxvi Gormanic Family.4. ini ada hubungannya dengan pembunuhan bayi yang kelahirannya tidak dikehendaki. kolektivistik dan monodualistik. Delik perzinahan pada hakekatnya termasuk salah satu delik kesusilaan yang erat hubungannya dengan nilai-nilai kesucian dari lembaga perkawinan. 35 Barda Nawawi Arief. Sementara di lain pihak ada juga kepentingan umum. Oleh karena itu wajar perzinahan dalam lembaga perkawinan bersifat sangat pribadi (privat). Bagian Ilmu Kedokteran Forensik. Dalam pasal 287 s/d pasal 289 KUHP yang mengatur mengenai delik perkosaan dan percabulan dalam konsep KUHP yang akan datang lebih diperluas. Terlebih apabila sudah ada korban di pihak wanita (misal terjadi kehamilan). Menurut Rene David. keluarga hukum ini dipengaruhi oleh ajaran yang menonjolkan paham individualism. sedangkan Pasal 284 s/d 289 KUHP sebagai akibat terjadinya pembunuhan bayi baik yang dilakukan oleh remaja maupun ibu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan terjadinya kehamilan diluar nikah. Fakultas Kedokteran UGM. Pengertian Kesengajaan dan Kealpaan Pengertian atau definisi mengenai kesengajaan dan kealpaan tidak kita jumpai dalam KUHP kita saat ini . Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. tetapi masalah sentralnya harus melihat pada masalah pandangan dan konsep nilai masyarakat mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan kesucian dari lembaga perkawinan itu sendiri. Sedangkan pihak istri dari pria yang menghamili tidak melakukan pengaduan atas dasar perzinahan. Kencana. Cet I 32. Konsep Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. apakah cukup bijaksana. 1. tetapi terkait pula nilai-nilai dan kepentingan masyarakat luar. minimal kepentingan keluarga. hak-hak dan kebebasan individu (termasuk dibidang hubungan seksual/moral) sangat menonjol dan dijunjung tinggi.

.39 Dalam konsepsi tujuan demikian. hal ini bisa dilihat dari tanda-tanda bayi yang telah dilahirkan apakah bayi lahir hidup atau lahir mati. politik hukum adalah: Usaha untuk mengajukan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat. dengan maksud agar anak tersebut ditemukan orang lain atau dengan maksud melepas tanggung jawabnya atas anak yang dilahirkan. secara konsepsional maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dalam sikap tindak sebagai rangkuman penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan. pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun. jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya anak yang ditinggalkan. maksimum pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 dikurangi 1/2 (satu per dua). Seorang ibu yang membuang atau meninggalkan anaknya tidak lama setelah dilahirkan karena takut kelahiran anak tersebut diketahui oleh orang lain. sehingga dapat melepaskan tanggung jawab atas anak tersebut. Buku Pedoman Pengadaan Visum et Repertum.dengan maksud supaya ditemukan orang lain. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Ini berarti bahwa dalam konsepsi tujuan untuk melindungi dan mensejahterakan masyarakat untuk pandangan hidup bangsa Indonesia. Pasal 527. Sedangkan dalam pembunuhan bayi ada yang disengaja dan direncanakan. Penegakan Hukum sebagai suatu proses yang pada hakekatnya merupakan diskresi menyangkut pembuatan keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum. (2) Pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan: a. pengertian politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun politik kriminal. masalah seperti ini akan xxxviii membantu dalam proses peyidikan oleh polisi dan dapat untuk alat bukti di Pengadilan akan mempengaruhi sanksi pidananya. pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun. Bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman. akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi dan pada hakekatnya diskresi berada diantara hukum dan moral.36 Menurut Soerjono Soekanto mengartikan penegakan hukum sebagai berikut. Ancaman pidana yang didasarkan pada pertimbangan bahwa rasa takut seorang ibu yang melahirkan diketahui orang lain sudah dianggap suatu penderitaan. sekaligus 36 Soegandhi. jika perbuatan tersebut mengakibatkan luka berat pada anak yang ditinggalkan. Dalam ilmu kedokteran hal seperti ini bisa ditentukan sebab-sebab kematiannya contoh apakah dicekik atau dibekap dan akan dituangkan/ditulis dalam Visum et Repertum. atau b. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.37 Menurut Soedarto. dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.38 Kebijakan dari Negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki dan diperkirakan bisa digunakan untuk diekspresikan apa yang dicita-citakan. merupakan keajiban Negara untuk satu pihak melindungi mensejahterakan masyarakat pada umumnya dari gangguangangguan perbuatan jahat dan dilain pihak juga berarti melindungi dan mensejahterakan si pelaku kejahatan. 1984.

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup. Pasal 80 ayat (1). Pasal 80 ayat (2).diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.000. PT.000. Pasal 297 KUHP. RajaGrafindo Persada. secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Setiap orang yang melakukan kekejaman. Pasal 1 ayat (1).37Soerjono Soekanto. Hukum dan Hukum Pidana . Pasal 80 ayat (3). dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.00(dua ratus juta rupiah). Bahwa tujuan Hukum Acara Pidana adalah memberi perlindungan kepada Hak-hak Asasi Manusia dalam keseimbangannya dengan kepentingan umum. Al Gumni 1981). mendidik dan mensejahterakan si pelaku kejahatan itu sendiri. ayat (2).(Bandung. maka dalam KUHAP yang diutamakan mengenai perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia. atau penganiayaan terhadap anak. maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200. dan berpartisipasi. kekerasan atau ancaman kekerasan. diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun. Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan. dituntut dan atau .1981). 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok-Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi. Undang-undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pada Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (1) dan ayat (2).00 (seratus juta rupiah).000. mengatur tentang definisi anak dan perlindungan anak. Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum cukup umur. Jakarta. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. padahal diketahui.40 Dalam KUHP Pasal 286. termasuk anak yang masih dalam kandungan. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (! ) luka berat. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati. pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).000.Alumni. 38 Sudarto. ditangkap.00 (tujuh puluh dua juta rupiah).000. bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. xl Pasal 80 ayat (4). berkembang.hal 159 39 Sudarto Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat. dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya. hal 20 xxxix juga mengandung tujuan untuk melindungi. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72. memperbaiki. ditahan. Pasal 1 ayat (2). Setiap orang yang disangka. Salah satu asas terpenting dalam pasal 8 Undang-undang No.000. tumbuh. Pasal 289 KUHP Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. 1983. (Bandung.

.. article I yang disepakati di London. Infanticide adalah: Where a women by any wiilful act or omission causes the death of her child. Pada ensiklopedi yang diterbitkan oleh Columbia University Press.14 Tahun 1970. that but for this act the offence would have amounted to murder.41 40 UU 41 UU No. Namun pada saat tindakan ataupun kelalaiannya tersebut terjadi.of infanticide. Pada umumnya dilakukan oleh ibunya. keamanan dan ketentraman dalam masyarakat baik itu merupakan usaha pencegahan maupun merupakan pemberantasan atau penindakan setelah terjadi pelanggaran hukum.dihadapkan di depan pengadilan. Sebagaimana diketahui penegakan hukum merupakan salah satu usaha untuk menciptakan tata tertib. yaitu dengan usia di bawah 12 bulan. pada tahun 2007. Kesan yang didapat dari beberapa definisi tentang infanticide adalah merujuk kepada pelaku adalah ibu dari korban. dengan korban adalah anak-anak yang dititikberatkan pada bayi. xli Bersumberkan pada asas tersebut maka wajar apabila tersangka /terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapat hak-haknya sebagai seorang yang belum dinyatakan bersalah maka ia mendapat hak-haknya seperti hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapat putusan seadil-adilnya. then not withstanding.. xlii didapatkan gangguan mental dikarenakan oleh alasan belum pulihnya efek dari kelahiran anaknya. PENGERTIAN PEMBUNUHAN BAYI (INFANTICIDE) DALAM PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA B. keluarga.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. namun ilmu kriminologi menyatakan bahwa berbagai macam bentuk pembunuhan anak yang bisa juga dilakukan selain ibu dari bayi. Secara . dan dinyatakan bersalah sebagai infanticide.1 Pengertian Umum Pembunuhan Bayi (Infanticide) Pembunuhan bayi atau secara umum disebut dengan infanticide adalah sebuah istilah hukum yang menggambarkan tentang pembunuhan anak dengan usia di bawah 1 tahun oleh ibu sang anak. Infanticide adalah di mana seorang wanita dengan sengaja atau karena kelalaiannya mengakibatkan kematian atas anaknya yang berumur di bawah 12 bulan. yang menyebabkan kematian terhadap bayi yang baru lahir dengan persetujuan atau diketahui oleh orang tua. but at the time of the act or omission the balance of her mind was disturbed by reason of her not having fully recovered from the effect for lactation concequent upon the birth of the child. she shall be guilty.. ataupun komunitas korban. Hal tersebut dapat dinyatakan sebagai pembunuhan. tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. atau efek dari menyusui sebagai konsekuensi melahirkan bayi tanpa perkecualian. menyatakan bahwa infanticide (bahasa Latin) untuk menggambarkan adanya pembunuhan terhadap anak (child). Being a child under the age of 12 months. wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap.42 Infanticide juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang secara sengaja. yang menyebabkan kematian infant atau bayi. B. No. Sedangkan menurut Infanticide Act 1938.

yang intinya tiada seorang pun dapat .14 Tahun 1970 (Undang-undang ini sudah dicabut). infanticide juga bisa dilakukan oleh orang tua secara umum. diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya.2004. d engan kejahatan pembunuhan biasa. Demikian juga yang tertuang pada pasal 342 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai berikut: Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak.page 16 43 Cyle. dengan sengaja merampas nyawa anaknya. kurang dari pada itu disebut sebagai neonaticide. C. Margaret. Dalam Tata Peradilan di Indonesia. Prevention and The Promised of Saved Lives America Journal. Sementara remaja dan ibupun dianggap sebagai individu yang dapat sepenuhnya mempertanggung jawabkan perbuatannya. yang di dunia barat dikenal sebagai filicide. dan segala bentuk pidana tersebut diberikan oleh Negara dengan xliv asumsi bahwa warga negaranya adalah mahluk yang bertanggung jawab dan dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dalam praktek pelaksanaannya pedoman pemidanaan yang digunakan oleh hakim adalah Pasal 7 UU Pokok Kekuasaan Kehakiman NO. 2004. KONSEP PEMBERIAN PIDANA DAN SISTEM PERADILAN PIDANA DALAM KASUS PEMBUNUHAN BAYI Telah disebutkan sebelumnya bahwa pemberian pidana dan penjatuhan pidana dalam praktek peradilan selama ini dengan mempertimbangkan kualifikasi kejahatannya.. dinyatakan sebagai berikut: Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. pada pasal 341. Dengan demikian akan muncul semacam kontradiksi ketika pemberian pidana dan penjatuhan pidana terjadi pada pelaku ibu dan remaja yang melakukan pembunuhan bayi. xliii B. diancam karena membunuh anak sendiri.Villanola University Journal. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.umum. KUHAP serta peraturan-peraturan pelaksananya dan Undang-Undang Perlindungan Anak.2 Pengertian Pembunuhan Bayi (Infanticide) Menurut Perundang-undangan di Indonesia Dalam wilayah tutorial hukum Indonesia yang tertuang pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Filicide adalah pembunuhan terhadap seorang anak oleh orang tuanya sendiri. Linda. penyelenggaraan Peradilan bagi ibu dan remaja yang melakukan pembunuhan bayi dalam Sistem Peradilan Pidana. telah ada dalam KUHP. Hal ini dapat dicermati adanya unsur-unsur sengaja ataupun terkaitnya unsur tanpa kesengajaan yang dilakukan oleh ibu dari anak yang kemudian melakukan pembunuhan setelah bayi itu lahir ataupun saat bayi itu lahir menjadi batasan terhadap infanticide di Negara Republik Indonesia. pada saat 24 jam setelah kelahiran. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Classification and Description of Parents who Commit Filicide. Filicide sendiri lebih spesifik menggambarkan adanya pembunuhan bayi di bawah 12 bulan. Maternal Infanticide Associated With Mental Illness.43 42 Spinelli.

hal 45-46 (Periksa pula dalam Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana). ditahan. Hukum-Hukum Pidana (Bandung Alumni. Tiada suatu perbuatan dapat dipidana. 1986 ). Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara.cit .itu sebagai satu kesatuan sistem pemidanaan. Pasal 6 ayat (2). Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Bandung Citra Aditya Bakti. Bila dihubungkan dengan Pasal 66 KUHAP tentang Asas Praduga Tidak Bersalah Pasal 1 KUHP: Nulum delictum nula poena sine previa lege punali.op. diperlukan perumusan tujuan dan pedoman pemidanaan”. Pasal 6 ayat (1).14 Tahun 1970. penahanan. Tidak seorang juapun dapat dijatuhi pidana kecuali bila Pengadilan karena alat bukti yang sah dan orang yang dianggap bertanggung jawab dinyatakan bersalah. 44 UU No.46 Pedoman Pemidanaan merupakan pedoman bagi hakim untuk menjatuhkan atau menerapkan pemidanaan atau merupakan pedoman’’yudicial/yudikatif’’bagi hakim. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa sebelum seorang hakim .Semarang 2000 hal144 ) xlvi Dilihat dari fungsional dan operasional. Tidak adanya pedoman penjatuhan pidana ini pernah diakui Sudarto. pemidanaan merupakan satu rangkaian proses dan kebijakan yang konkretisasinya sengaja direncanakan melalui tahap ‘dan’formulasi’’ oleh pembuat UU. selain atas perintah tertulis oleh kekuasaan yang sah. sebelum perbuatan dilakukan. kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada.BP UNDIP. Sehubungan dengan hal tersebut diatas.47 45 Sudarto. Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang . BPUNDIP. tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.dan penyitaan. 1. dituntut dan atau dihadapkan ke Pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya keputusan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. tahap ‘’aplikasi’’ oleh badan/aparat yang berwenang tahap’’ eksekusi’’ oleh aparat/instansi pelaksana pidana.44 Pasal 5 ayat (1). penggeledahan. Semarang 2002 hal 108. Tidak seorang juapun dapat dihadapkan ke Pengadilan selain dari pada yang ditentukan oleh undang-undang. KUHP kita tidak memuat pedoman pemberian pidana (straftoemettingsliddraad) yang umum. Barda Nawawi Arief pernah pula mengemukakan bahwa.yang ada hanya aturan pemberian pidana (straftoemettinggregels)’’. 46 Barda Nawawi Arief. xlv Pasal 8. yang mengatakan45. Setiap orang yang disangka.dikenakan penangkapan.hal 107 dan 153-154. ditangkap. Jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan dalam perundang-undangan. Pedoman Pemidanaan merupakan pedoman bagi hakim untuk menjatuhkan atau menerapkan pemidanan atau merupakan pedoman’’yudicial/yudikatif’’ bagi hakim. ialah yang dibuat oleh pembuat UU yang memuat asas-asasyang perlu diperhatikan oleh hakim dalam menjatuhkan pidana. agar ada keterjalinan dan keterpaduan antara ketiga tahap. (lihat pula dalam 47Barda Nawawi Arief.. 2. dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa.

Sikap batin pembuat. xlviii BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PENEGAKAN HUKUM PIDANA SECARA UMUM DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANGUNDANGAN DEWASA INI Penegakan hukum dengan penerapan hukum pidana sebagaimana sebelumnya telah dikatakan bahwa menjadi sebuah senjata terakhir apabila upaya lain telah dilakukan. dan 10. Jakarta. Delik yang mengandung unsur yang menentukan sifatnya perbuatan yaitu Pasal 341 KUHP. Suatu delik dapat terjadi karena adanya kelakuan dan akibat. 7. 5. 8. 3. Sinar Grafika. seperti melalui pendidikan baik . 49 RM Suharto. 4. sehingga pidana bersifat proporsional dan dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat ataupun oleh terpidana itu sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan atau dipertimbangkan adalah sebagai berikut48: 1. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. Tindak pidana dilakukan dengan berencana. Cara melakukan tindak pidana.menjatuhkan pidana. sampai di mana pengaruhnya terhadap perbuatan yang dilakukan itu.opcit. adalah sama bentuk sengaja merampas nyawa orang lain seperti yang diatur dalam Pasal 338 KUHP. Kebijakan Legislatif . Kesalahan pembuat 2. akan membantu hakim dalam menjatuhkan pidana. khususnya melalui sarana non penal. menunjukkan bahwa perbuatan itu dilakukan karena ada rasa takut akan diketahui orang lain yang merupakan alasan yang meringankan pidana apabila dibanding dengan ancaman pidana terhadap tindak pidana pembunuhan pada umumnya.hal 147-148 xlvii harus diuraikan secara jelas.. 2004. Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat. Dalam membuat surat dakwaan unsur ini 48 Barda Nawawi Arief. 6. Sikap dan tindakan pembuat pidana sesudah melakukan tindak pidana. Hal ikhwal yang mempengaruhi dan menentukan sifat perbuatan dari orang yang melakukan tindak pidana itu merupakan unsur inti dari delik. 9. Cetakan Kedua. Motif dan tujuan dilakukan tindak pidana. Unsur yang menentukan sifatnya perbuatan (voorwaardendie de straf baarheid bepalen). tetapi sifat dan tindak pidana ini masih ada yang mempengaruhi terhadap diri pelaku antara lain berupa hal ikhwal yang menyertai kelakuan dan akibat itu. Pandangan masyarakat terhadap tindak Pidana yang dilakukan. Dalam kasus ini terdakwa telah melakukan perbuatan telah merampas nyawa orang lain itu segera setelah anak dilahirkan.49 Bentuk pidana pokok seperti yang diatur dalam Pasal 341 KUHP ini. Hal-hal seperti terurai diatas. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat. Keadaan yang sifatnya mempengaruhi perbuatan tersebut diuraikan dalam surat dakwaan sebagai tambahan unsur yang dapat meringankan ancaman pidana. Penuntutan dalam Praktek Peradilan. Pasal 342 KUHP dan Pasal 281 KUHP.

Secara internasional hal inipun bisa terlihat dalam laporan Kongres PBB ke 5/1975 (mengenai The Prevention of Crime and Treatment of Offenders. (3) Dalam hal tertangkap tangan tanpa menunggu perintah penyidik. penahanan. Dengan berlandaskan beberapa pendapat ahli hukum atau pakar Hukum Pidana. Jakarta. Kejaksaan. Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang. tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan penyelidikan yang diperlukan. a. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka.50 Adapun dasar hukum Penyelidik adalah Pasal 1 KUHAP berbunyi. It was recognized that the police were component of the large system of criminal justice which operated against criminality. Penyidik pejabat polisi negara Republik Indonesia b. Pasal 6 (1) Penyidik adalah : a. penyelidik wajib segera melakukan tindakan yang diperlukan dalam rangka penyelidikan sebagaimana tersebut pada Pasal 5 ayat(1) huruf b. yaitu sebagai bagian integral dari SPP. menerima laporan. maka yang dimaksudkan sebagai penegak hukum dalam Sistem Peradilan Pidana pada rumusan masalah yang pertama dalam penulisan tesis ini adalah mereka yang bertugas dibidang Kepolisian. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana b. khususnya dalam membicarakan masalah the emerging roles of the police and other lawenforcement agencies) yang menegaskan . d. atau pengaduan. . Kehakiman dan Lembaga Pemasyarakatan serta Pengacara yang menangani pembunuhan bayi. xlix Status POLRI sebagai komponen /unsur/subsistem dari SPP sudah jelas terlihat dalam Perundang-undangan yang berlaku saat ini (baik dalam KUHAP maupun dalam UU Kepolisian No. Cetakan Ketiga. 2002 l Pasal 7 (1) Penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang. Sinar Grafika. yaitu sebagai ‘’penyelidik dan penyidik’’. penggeledahan. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) akan diatur lebih lanjut dalam PP 27/1983 50 KUHAP dan KUHP. (2) Penyelidik yang mengetahui.2/2002). melakukan tindakan pertama pada saat ditempat kejadian c. melakukan penangkapan .formal maupun non formal dan lain. Pejabat Pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. dan penyitaan. Status atau eksistensi kepolisian dalam Sistem Peradilan Pidana sudah jelas. Oleh undang-undang ini untuk melakukan penyidikan. Pasal 102 KUHAP berbunyi. Persoalan perlindungan terhadap korban maupun pelaku tidak hanya menjadi perhatian negara saja akan tetapi telah menjadi perhatian dunia.28/1997 yang sudah diganti dengan UU No.

serta dalam melayani justiciable yang berupaya mencari hukum dan keadilan. to safeguard lives and property. j. Soal-soal Pokok Filsafat Hukum. (2) Keadilan adalah kehendak yang ajeg dan kekal untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang menjadi haknya. Kode Etik Profesi ini jangan hanya dijadikan pajangan yang menghiasi dinding. Jaksa (Penuntut). BPK Gunung Muria. ada empat norma yang harus ditaati oleh para penegak hukum atau para pemelihara hukum yaitu. h. (3) Kepatutan atau equity adalah yang wajib dipelihara dalam pemberlakuan undang-undang dengan maksud untuk menghilangkan ketajamannya. Noto Hamidjojo. pemelihara hukum atau penegak hukum harus bersikap jujur dalam Mengurus atau menangani hukum.e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. and to respect the constituonal rights of all man liberty. dan Pengadilan/Hakim (pemutus perkara). Atau dalam kata lain . and the peaceful against violence or disorder. 1970. the weak against oppression or intimidation. Kepatutan perlu diperhatikan terutama dalam pergaulan hidup manusia dalam masyarakat. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab 1. setiap yurist diharapkan sedapat mungkin memelihara kejujuran dalam dirinya dan 51 O. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara. li Di dalam melakukan proses penyidikan maka Polri mendasari undang – undang dan ketentuan – ketentuan yang berlaku dengan tetap menjunjung tinggi kode etik profesi dan hak azasi manusia. sebab ia mempunyai keluhuran budi. Etika profesi hukum itu harus dijadikan pedoman para penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya menciptakan ketertiban didalam masyarakat. norma kemanusiaan menuntut supaya dalam penegakan hukum Manusia senantiasa diperlakukan sebagai manusia. my fundamental duty is to serve mankind. (4) Kejujuran. equality and justice. memanggil orang untuk diperiksa dan didengar esbagai tersangka atau saksi. mengadakan penghentian penyidikan. antara lain ditentukan As a law Enforcement officer. i. mengambil sidik jari dan memotret seseorang g. Proses Penyidikan Pembunuhan Bayi Bahwa proses penyidikan tindak pidana pembunuhan bayi dilakukan oleh Polri merupakan subsistem dari pada Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) yang terdiri dari Polri (Penyidik). Di dalam International Association of Chiefs of Police. protect the innocent againts deception.52 Yang terpenting dalam penegakan hukum haruslah didasarkan pada hati nurani dengan hati nurani kita bisa menilai apakah tindakan kita sudah . f.51 (1) Kemanusiaan. yang memuat Law Enforcement Code of Ethics. Menurut O.1975 lii menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang curang dalam mengurus perkara.Notohamidjojo.

Peran ScientificInvestigation dalam Pengungkapan Kecelakaan/Kejahatan terhadap Manusia. adil.dan Pasal 342 KUHP yang kedua-duanya harus terpenuhi. maka peran forensik dalam rangka penyidikan sangat diperlukan dan harus dilakukan karena kapasitasnya sesuai Pasal 184 KUHAP adalah sebagai Keterangan Ahli dan Surat sebagaimana diatur pada Pasal 187 huruf c KUHAP yaitu Surat keterangan dari . liii 3.dengan alasan seorang perempuan lebih halus dan sabar didalam melakukan pemeriksaan. Penyusunan berkas perkara c. Tersangka 4. maka penyidik sekurang-kurangnya harus dapat membuktikan dua alat bukti yang sah untuk dapat diajukan ke sidang pengadilan. Penyidik 2. Pembuatan Resume b. Ahli c. liv 2. Penangkapan c. Pemanggilan b. Penindak a. Criminology Analysis and Critique of crime in America.dan persyaratan materiil yaitu yang menyangkut substansi Hukum( unsur-unsur pasal yang dipersangkakan) Pasal 341 KUHP. Penyelesaian dan Penyerahan berkas perkara a.manusiawi. sehingga keterangan saksi dan tersangka yang biasa selama ini dikerjakan oleh penyidik. Little Brown and Company Boston /Toronto 1975 53 Nyoman Serikat Putera Jaya.54 54 Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemeriksaan a. Saksi b. Penyitaan 52 Richard Quinney. dan jujur. Penahanan d. patut. Peran Bagian Ilmu Kedokteran Forensik pada Pembunuhan Kasus Bayi Bahwa kembali mengacu pada Pasal 183 dan Pasal 184 KUHAP. Di samping dalam rangka mendukung pembuktian seperti yang diuraikan . Penggeledahan e. maka penyidik harus dibantu oleh dukungan Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dalam rangka mencapai hasil penyidikan yang lebih profesional dan ilmiah serta juga dalam rangka menciptakan budaya criminalistic mindedness.53 Adapun kegiatan pokok dalam rangka proses penyidikan tindak pidana meliputi : 1.Makalah yang disampaiakan pada Simposium Penyelidikan Ilmiah Medis dalam Penegakan Hukum dalam rangka HUT Fakultas Kedokteran UGM ke-58 dan RS Dr Sardjito ke-22. Penegakan Hukum Dalam Era Reformasi Disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Universitas Pekalongan dalam rangka Dies Natalis XVI dan Wisuda Sarjana XII 5 September 1998 Pengajar pada Fakultas Hukum UNDIP. Penyerahan berkas perkara Dari keempat kegiatan pokok proses penyidikan pembunuhan bayi maka hasilnya harus memenuhi persyaratan formil yaitu menyangkut format administrasi penyidikan biasanya penyidiknya perempuan dalam kasus ini.

55 Adapun mengenai kemampuan Forensik Polri dalam rangka mendukung proses penyidikan adalah:56 (1) Personal Identification Forensic. seperti oleh benda tumpul. atau arus listrik Luka akibat kekerasan kimiawi. yang meliputi pemeriksaan tentang.HUT Fakultas Kedokteran UGM Ke 58 dan RS. a. yaitu RPK (Ruang Pelayanan Khusus) di rumah sakit Polri maupun Pemerintah yang telah ditunjuk. Jakarta. DR Sardjito Ke 22. tugas ini diemban oleh fungsi laboratorium Forensic Polri.dan sudah dilakukan perawatan /belum. b. tugas ini diemban oleh fungsi Identifikasi. umur bayi. 6 Maret 2004 lv (2) Physical Identification Forensic. 1981 56 Kepolisian Negara RI DIY. a. seperti akibat oleh asam kuat( contoh air aki) atau basa kuat serta gas beracun Pembongkaran kuburan dan pemakaman kembali. Kristal-Kristal Kedokteran Forensik. Penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Herkutanto. . Identifikasi raut wajah b. produk industri dan bahan kimia tertentu narkoba keracunan pencemaran dan kerusakan lingkungan material biologis (darah. e.seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. Cara kematian Sebab kematian Tanda-tanda kematian c.Budisampurno. Fotography kepolisian. yang meliputi. Pemeriksaan dan penanganan korban mati. yang dalam hal ini korban dikirim kepada Pusat Pelayanan Terpadu (PPT). yang melakukan tugas antara lain. Identifikasi melalui daktiloscopy c. air ludah). tajam atau senjata api Luka akibat kekerasan fisik. Dalam pembunuhan bayi peran penyidik minta bantuan kepada Ahli Kedokteran Forensik untuk menentukan apakah bayi yang ditemukan lahir hidup atau lahir mati . sperma. Luka akibat kekerasan mekanis. Odontologi Forensik. yang melakukan tugas antara lain. Kimia biologi forensik. Pemeriksaan pada luka-luka yaitu. Simposium Penyelidikan Ilmiah Medis Dalam Penegakan Hukum . d. Bagian IKF. Yogyakarta. seperti akibat panas. penting untuk identifikasi Jenazah yang tidak dikenal/ rusak atau korban pada korban massal. melakukan pemeriksaan terhadap. Pemeriksaan bekas gigitan (bite mark) lvi Pemeriksaan odontogram (rumus gigi). khusus untuk menangani korban kejahatan ini. 55 Agus Purwodianto.

juga mempertimbangkan faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya suatu tindak pidana. 2008. Kemampuan penyidik yang masih terbatas baik terhadap perundangundangan maupun pemahaman terhadap peran forensik. Sebagai Mandatory Prosecutoral System (MPS). 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia57 1. Peranan Penuntut Umum dalam upaya pembuktian pembunuhan bayi Dasar hukum UU No. Tingkat penyesalan terdakwa 57 Arief 58 Kejaksaan . Jaksa dalam menangani perkara hanya berdasarkan alat-alat bukti yang sudah ditentukan dan tidak terhadap hal-hal yang berada diluar yang sudah ditentukan. kecuali dalam keadaan tertentu. Akademi Pressindo. Pertimbangan-pertimbanganan kebijakan publik. 2. Sebagai Discetionary Prosecutorial System (DPS).Gossita Masalah Korban Kejahatan.(3) Pembutan VER (Visum et Repertum) sebagai Keterangan Ahli dokter Polri maupan dokter Pemerintah. lviii 4. Masih banyak dijumpai keengganan masyarakat untuk bersedia menjadi saksi dalam kepentingan penyidikan. Keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan .Kumpulan Karangan. 2.hal ini sangat menyulitkan penyidik di dalam melakukan pengolahan TKP. dan putusan lepas bersyarat. 1. b. a. Bantul.Jaksa bisa melakukan berbagai kebijakan tertentu dan bisa mengambil keputusan selain mempertimbangkan alat-alat bukti yang sudah ditemukan. a. Tingkat pemaafan korban atau keluarga korban 5. c. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam mengajukan Tuntutan Pidana:58 1. Secara Eksternal. Atribut-atribut pribadi dari terdakwa maupun korban 3. .Jakarta 1983. Di bidang Hukum Pidana: 1 Melakukan penuntutan 2 Melaksanakan Penetapan Hakim dan Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. lvii b. yang meliputi: Visum luar Visum dalam Dalam proses penyidikan pembunuhan bayi masih terdapat hambatanhambatan baik secara internal maupun eksternal antara lain. Sleman. Negeri Yogyakarta. Dukungan peralatan penyidikan dilapangan dan biaya operasional yang masih terbatas. 3 Melakukan pengawasan. 2. Di tempat kejadian perkara sering kali dijumpai situasi dan kondisi TKP yang sudah rusak akibat banyak masyarakat yang ingin melihat dan bahkan masuk ke TKP . Kesadaran dan pemahaman masyarakat secara umum terhadap hukum masih belum memberikan kontribusi yang positif. Secara Internal.

bagi prilaku atau sikap pelaku pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. misalnya. tidak lix berperikemanusiaan dan perbuatan yang benar-benar tidak dikehendaki. lx Harus disadari. Maka harus diprediksi bagaimana kondisi personil aparat penegak hukum baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh sebab itu perhatian dan perlindungan terhadap seorang anak (bayi) serta kualitas kehidupan adalah sangat penting demi kemajuan bangsa dan negara. Karena masalah pembunuhan bayi (manusia) ini sudah berskala kejahatan transnasional bahkan internasional. tingkat profesionalisme. 2) Berkaitan dengan butir (1). 5) Akhirnya perlu pula dikaji akibat sosial dari pengkriminalisasian atau pendekriminalisasian dari kejahatan pembunuhan manusia (bayi). upaya penghapusan pembunuhan bayi tidak hanya berdasar pada instrumen legal tetapi juga harus mampu merubah budaya masyarakat yang permisif terhadap praktek pembunuhan bayi. Selain harus pula ditinjau bagaimana kondisi-kondisi yang menyangkut pelaksanaan tugasnya atau cara kerjanya.4 Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasar undangundang. Tetapi dalam hal tindak pidana pembunuhan manusia (bayi) menurut penulis pertimbangan tentang biaya (cost) bukan merupakan pertimbangan yang penting hal ini disebabkan karena menyangkut harta dan martabat manusia yang seharusnya dijunjung tinggi. . 4) Selanjutnya perlu juga dipertimbangkan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan-badan penegak hukum di Indonesia dalam menegakkan ketentuan-ketentuan yang mengatur delik pembunuhan anak (bayi) . perbuatan membunuh bayi yang baru dilahirkan harus ditempatkan pada keadaan yang sangat membahayakan. Penegakan hukum pidana dalam pembunuhan bayi di Indonesia saat ini menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. sangat dibenci dan merugikan. 5 Melengkapi berkas perkara dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke Pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan Penyidik. misalnya menyangkut tngkat pendidikan. Selain itu harus pula dipertimbangkan sejauh mana perbuatan membunuh bayi itu telah bertentangan bahkan merusak nilainilai fundamental kemanusiaan dalam masyarakat. kebijakan kriminal. pengalamannya serta bagaimana penyebarannya di Indonesia. menyangkut sistem hukum negara lain. 1) Seorang anak (bayi) merupakan aset pembangunan nasional yang sangat besar artinya Masa depan bangsa terletak ditangan generasi-generasi penerus yang bermula dari bayi. Bertolak dari pendekatan kebijakan (mencakup kebijakan sosial. 3) Perlu diperhitungkan apakah biaya yang harus dikeluarkan (cost) dalam pembuatan suatu undang-undang. prosedurnya maupun birokrasinya. dan kebijakan penegakan hukum yang berkaitan secara integral). maka faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan perbuatan pembunuhan bayi sebagai tindak pidana adalah .

Pasal 308 KUHP Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya. sadar serta dengan perhitungan yang matang Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi lebih ringan bila dibandingkan dengan kasus-kasus pembunuhan lainnya. diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. dengan pidana paling lama tujuh tahun. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-komnetarnya Lengkap Pasal demi Pasal. dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. dengan maksud untuk melepaskan diri dari lxi padanya. maka penyidik bisa minta bantuan /dokter ahli forensik untuk melakukan pemeriksaan . Jika mengakibatkan mati. Bogor 1983. dikenakan pidana penjara paling lama sembilan tahun. yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak. Pasal 306 KUHP (1) Jika salah satu perbuatan tersebut dalam Pasal 304 dan 305 mengakibatkan luka-luka berat. atau meninggalkan anak itu. 59 Soesilo R. Pasal 307 KUHP Jika yang melakukan kejahatan kejahatan tersebut Pasal 305 bapak atau ibu dari anak itu. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 342 KUHP Seorang ibu. Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. tetapi mengatur mengenai menempatkan anak dan meninggalkan anak.takut. menempatkan anaknya untuk ditemu atau meninggalkannya.Sedangkan pasal-pasal yang ada hubungannya dengan pembunuhan bayi juga diterapkan ialah Pasal 305 KUHP Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemu. benci. Untuk mengungkap tindak pidana yang mengakibatkan korban jiwa. bingung serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu sehingga perbuatannya itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. Dengan sengaja merampas nyawa anaknya. Seorang ibu yang takut ketahuan melahirkan seorang anak b. yang bersalah dikenakan pidana penjara tujuh tahun enam bulan (2). maka maksimum pidana tersebut dalam Pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. tetapi harus memenuhi unsur-unsur : a. diancam karena membunuh anaknya sendiri. dengan sengaja merampas nyawa anakanya. maka pidana yang ditentukan dalam Pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan sepertiga. Dalam pasal 308 ancaman dikurangi separo dengan alasan saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu dimana selain rasa malu .59 Kalau dicermati rumusan pasal 305 sampai dengan pasal 308 sudah jelas bukan mengenai pembunuhan bayi. lxii Kedua pasal ini dalam rumusan sudah jelas dan bisa untuk menghukum/menjerat pelaku tindak pidana pembunuhan bayi. tidak lama setelah melahirkan. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya.

000. pidana pokok: 1.00(seratus juta rupiah).terhadap korban sehingga ditemukan sebab-sebab kematian korban. Yogyakarta 1994.000. perampasan hak-hak tertentu dan 3. lxiii (4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1). (3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat(2) mati.ancaman hukuman ditambah sepertiganya. Penegakan hukum melalui sistem peradilan pidana harus sesuai dengan cita-cita penegakan hukum pada umumnya yang tercermin pada kebersamaan antara Kepolisian. pengumuman putusan hakim 62 Romli Atmasasmita. 61 Pasal 10 menyebutkan tentang jenis-jenis pidana yaitu. kekerasan atau ancaman kekerasan.(Bandung. 60 Susi Hadidjah. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10(sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp200. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6(enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72. Lembaga Pemasyarakatan. pidana kurungan 4. dan ayat(3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.. Romli Atmasasmita mengatakan bahwa:62 ‘’Dalam konteks sistem peradilan pidana justru seharusnya lebih diutamakan pandangan yang mengangkat kebersamaan yang tulus dan ikhlas serta positif diantara aparatur penegak hukum untuk mengemban tugas penegakan keadilan hukum (legal justice)’’. pidana tutupan b. pidana mati 2. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp100. pidana denda. Kejaksaan.00 (tujuh puluh juta rupiah) (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat (1)luka berat. ayat(2).000. pencabutan hak-hak tertentu. 2.. Fakultas Kedokteran UGM.00 (duaratus juta rupiah).000. Sistem Peradilan Pidana. Eresco. Bunyi pasal 80 dalam Undang-Undang No. 1. pidana penjara 3.60 Pasal 80 Undang-undang No 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman.000. dan 5. pidana tambahan. atau penganiayaan terhadap anak. Visum et Repertum Kaitannya Dengan Penyelesaian Perkara Pidana Di Pengadilan.000. 1996). Sedangkan jenis-jenis pidana diatur dalam pasal 10 KUHP:61 Pasal 80 ayat (4) ini bisa untuk menjerat pelaku tindak pidana pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Pengadilan . a. lxiv Sistem peradilan pidana mempunyai perangkat struktur atau sub sistem yang seharusnya bekerja secara koordinatif agar dapat tercapai efisiensi dan . 23 Tahun 2002 pidananya lebih berat dan dendanya cukup besar dibandingkan dengan ancaman pidana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. hal 26.Hasil pemeriksaan ini dituangkan dalam bentuk Visum et Repertum.

termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. sengaja melakukan aborsi atau membunuh bayi yang baru dilahirkan. sehingga berbuat nekat untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Senada dengan Romli Atmasasmita. perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Pengertian Undang-Undang yang umum adalah peraturan tertulis yang dibuat oleh penguasa pusat maupun daerah yang sah. PRAKTEK PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY Daerah Istimewa Yogyakarta terkenal sebagai kota wisata. maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. dilain pihak sistem peradilan pidana juga berfungsi untuk mencegah sekunder (Secondary Prevention) yakni untuk mencoba mengurangi kriminalitas diantara yang pernah melakukan melalui proses deteksi. mahasiswa dan masyarakat semakin berat. Dalam memberlakukan Undang-Undang tersebut dalam pelaksanaannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan pembentuk undang-undang tersebut.hal 21 lxv mengakibatkan pelajar/mahasiswa melakukan hubungan layaknya suami-isteri di luar nikah. mental. Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.efektifitas yang maksimum. Kemajuan tehnologi membawa dampak positif dan negatif . Agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut.1995). Muladi berpendapat63 Sistem Peradilan Pidana disatu pihak berfungsi sebagai sarana untuk menahan dan mengendalikan kejahatan pada tingkat tertentu (Crime Containment System). Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. Kombinasi antara efisiensi dan efektifitas sangat penting guna mencapai fungsi sistem Peradilan pidana yang diharapkan.Untuk mencegah terjadinya korban kejahatan maupun mencegah telah selesai menjalani pidana. termasuk anak yang masih dalam kandungan Penulis mengemukakan hasil penelitian bahwa kasus pembunuhan bayi yang dilakukan seorang pelajar bernama T kelas I SMA Swasta hamil oleh pacarnya yang . Dengan menyandang predikat seperti itu . memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. dan berakhlak mulia. sehingga tanggung jawab sebagai pelajar. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. sering terjadi pergaulan bebas yang sampai 63 Muladi. norma agama dan etika. Akhirnya pelajar/mahasiswa sampai hamil dan tidak ada yang mau bertanggung jawab. Perbuatan seperti ini melanggar hak asasi manusia.dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. B. maupun sosial. Juga ibu kost yang kurang perhatian pada anak kostnya . tidak mengulangi perbuatan mereka yang melanggar hukum itu. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. potensi.64 Anak adalah tunas. budaya dan juga kota pelajar. (Semarang tanpa nama penerbit . pemidanaan dan pelaksanaan pidana. yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. baik fisik.para pelajar dan mahasiswa yang jauh dari orang tua sering kurang pengawasan dan iman yang kurang kuat.

2003.namun saat akan dibawa naik tersebut T terjatuh dan ari-arinya putus sedangkan bayinya hanyut disungai dan ia cari tidak ada. serta mengakui segala perbuatannya . untuk mengetahui sebab-sebab kematian. Pada kasus dengan tersangka T dalam pemeriksaan berjalan lancar dan semua pertanyaan yang diajukan penyidik dijawab dengan tenang dan lancar. Penerbit Umbara.terdadap seorang ibu atau remaja sebagai tersangka. dengan alasan seorang wanita lebih halus dan sabar didalam melakukan pemeriksaan. atau menghilangkan mayat. Keterangan Ahli merupakan alat bukti yang sangat penting artinya di dalam mengajukan tersangka/terdakwa ke pengadilan untuk meyakinkan hakim terhadap kebenaran tindak pidana yang didakwakan kepada tersangka/terdakwa. T terasa mau buang air besar selanjutnya ia berjalan menuju ke Sungai (Kali) Derman dan ditempat tersebut T langsung mengambil posisi jongkok (ndodok) hanya dengan celana diturunkan dan tidak lama kemudian ia merasakan ada sesuatu yang keluar dan ternyata yang keluar tersebut bukan kotoran dan ternyata adalah bayi dari kandungan T. dengan maksud hendak menyembunyikannya kematian dan kelahiran orang itu. bantuan dokter sangat penting artinya terutama untuk pemeriksaan korban. kemudian T menengok ternyata bayi selanjutnya ia pegang pada bagian leher belakang ternyata bayi tersebut sudah tidak bergerak dan tidak menangis selanjutnya dibawa keatas.tidak mau bertanggung jawab di Kabupaten Bantul. tidak melapor kepada orang tua ataupun pengurus kampung lainnya. namun tidak ketemu T langsung pulang. Pol. menyembunyikan. Praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi Di Wilayah DIY sama saja seperti menangani kasus-kasus tindak pidana umumnya. Dalam kasus pembunuhan bayi. Umur T 18 (delapan belas) tahun sedangkan yang menghamili laki-laki bernama S umur 23 (dua puluh tiga) tahun. Dalam hal ini pemeriksaan mengenai apakah korban pada waktu dilahirkan hidup atau tidak.LP/92/K/X/2007/Sek. maka Penyidik membawa bayi (anak kandung T) yang baru dilahirkan ke Instalasi Kedokteran Forensik RS . Daerah Istimewa Yogyakarta. 64 Undang-Undang No 23 /2002 Tentang Perlindungan Anak. mengangkut. Semula T tidak tahu kalau yang keluar tersebut adalah bayi.Dr Sardjito. Dalam hal penanganan kasus yang pembuktiannnya perlu mendapatkan keterangan ahli atau Visum et Repertum. Jaksa Penuntut Umum seorang wanita berpendapat . Ia diperiksa dan didengar keterangannya selaku tersangka dalam perkara pidana. saat kematian. dan atau barang siapa mengubur.merasa menyesal. sebagaimana dimaksud dalam pasal 342 jo 341jo 305 jo 306 jo 307 jo 306 jo 181 KUHP sesuai dengan Laporan Polisi No.65 Pada hari Jumat tanggal 12 Oktober 2007 sekitar pukul 24. Jts tanggal 13 Oktober 2007 lxvii perempuan. Setelah bayi tersebut hanyut T tidak langsung pulang tetapi tetap mencari selama kurang lebih 30 menit. lxvi Berita Acara Pemeriksaan oleh penyidik. untuk dilakukan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam atau otopsi. dan cara kematian.00 wib. Kalau Berita Acara Pemeriksaan sudah lengkap selanjutnya akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Bantul dan sidang perkara pidana di Pengadilan Negeri Bantul.Bandung.Pada kasus ini sebagai penyidik dan penuntut umum adalah seorang 65 wawancara dengan Penyidik Polres Bantul: Dengan sengaja seorang ibu menghilangkan jiwa anaknya ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan. namun T merasa tidak enak.

. SpF dengan hasil kesimpulan: 1. Jenasah orok. Dakwaan terhadap terdakwa tersebut disusun secara dakwaan alternative. Selama dalam pemeriksaan persidangan terdakwa mampu dan bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatan dan tidak pula ditemukan alasan-alasan pembenar maupun alasan pemaaf yang dapat menghapus . Terdapat memar pada seluruh atap kepala.21 Oktober 2007 yang di tanda tangani oleh Dr IBG. terdapat jendolan darah pada otak bagian belakang akibat kekerasan tumpul.Menyatakan barang bukti berupa . 2. Terdapat memar pada otot leher kanan kiri akibat kekerasan tumpu pada kepala sehingga mengakibatkan pendarahan pada otak.Menetapkan supaya terdakwa di bebani membayar biaya perkara sebesar Rp 1000.Satu potong kaos lengan panjang warna biru. tidak ada tanda-tanda perawatan.Menjatuhkan Pidana terhadap terdakwa T dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dikurangi selama terdakwa dalam tahanan. Dalam sidang pengadilan Negeri Bantul Majelis Hakim setelah memperhatikan keterangan saksi-saksi dan keterangan Terdakwa. Surya Putra P. lxviii . Perbuatan terdakwa melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 341 KUHP . . sehingga oleh karenanya Majelis hakim harus mempertimbangkan terlebih dahulu dakwaan alternatif kesatu yang tercantum dalam pasal 80 ayat (4) Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah sebagai berikut.Satu potong rok panjang berbahan jean warna biru dikembalikan pada terdakwa . Membunuh Anaknya sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 341 KUHP oleh karenanya Jaksa Penuntut Umum menuntut: . Setiap orang dalam UU no 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 1 huruf a adalah orang perseorangan yang merupakan subyek hukum yang sehat dan mampu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.bahwa terdakwa T telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. cukup bulan. .2 (dua) ampul PP tes kehamilan yang dinyatakan positif . Di persidangan telah di hadapkan T sebagai terdakwa yang telah membenarkan semua identitasnya sebagaimana termuat dalam surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Hasil Visum et Repertum dari RS Dr Sasdjito No 149/2007 tanggal. barang bukti dan Visum et Repertum ternyata antara satu dan lainnya terdapat persesuaian sehingga diperoleh fakta-fakta yang mana dari fakta-fakta tersebut selanjutnya akan Majelis lxix Hakim pertimbangkan apakah perbuatan yang dilakukan terdakwa tersebut memenuhi kesemua unsure dari pasal yang di dakwakan oleh Jaksa Penuntut umum kepada Terdakwa. tidak ada tanda-tanda cacat bawaan. 3..Satu potong celana dalam warna putih . 1. jenis kelamin perempuan.(seribu rupiah).

pertanggung jawaban Terdakwa. atau ancaman kekerasan atau penganiayaan. Melakukan kekejaman. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. yang akhir-akhir ini dimuat di media massa. Terdakwa telah melahirkan anak yang telah di kandungnya hasil hubungan gelap dengan pacar terdakwa. lxx Undang-Undang No 4 Tahun 2004 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi: Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas.dengan kualitas kinerja dan mental yang lebih baik. . Pengadilan mengadili menurut hukum. . Berdasarkan itu semua bagi hakim tetap berlaku adagium atau pemeo. sehingga dengan demikian unsur setiap orang telah terpenuhi dan terbukti terhadap diri terdakwa. Ius Curia Novit.4 Tahun 2004. Pergaulan bebas sehingga melakukan perbuatan yang melanggar hukum seperti hamil di luar nikah. Dengan adanya teknologi yang canggih seperti internet. sehingga remaja bisa mengakses film-film yang melanggar kesusilaan. 3. Pasal 27 Undang-undang No. 2. lxxi Berdasarkan fakta-fakta di persidangan maka benar pada hari kamis tanggal 12 Oktober 2007. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi-generasi terdahulu. Oleh karena semua unsur yang didakwakan dalam dakwaan alternatif ke satu telah terpenuhi dan terbukti. kekerasan. maka terhadap terdakwa haruslah di nyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘’Melakukan kekejaman terhadap anak yang dilahirkan’’. Terdakwa melahirkan seorang bayi perempuan namun karena panik bayi tersebut telah diperlakukan dengan kejam oleh terdakwa sehingga jatuh ke sungai dan hanyut sampai ke dusun Balakan Sumberagung Jetis Bantul yang akhirnya di temukan sudah tidak bernyawa oleh saksi Budi Marsono dan Doyo Utomo. mengharuskan hakim menggali. mengikuti dan memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.Hal-hal yang memberatkan . Unsur ini adalah bersifat alternatif yang artinya dengan dipenuhinya salah satu unsur maka keseluruhan unsur tersebut telah terpenuhi.Terdakwa telah menyembunyikan kehamilan dan kelahirannya. baik bagi orang dewasa maupun ibu-ibu. Oleh karena itu pengadilan merupakan tempat pelarian terakhir bagi para pencari keadilan (Lastste-toevlucht). Terhadap anak kandung. masuknya kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Sebelum menjatuhkan pidana terhadap terdakwa haruslah di pertimbangkan hal-hal yang menyangkut diri terdakwa. Pasal 5 Undang-undang No 4 Tahun 2004.aborsi dan pembunuhan bayi.

Mengadili: 1. .30 WIB telah melahirkan bayi laki-laki dalam keadaan hidup karena sempat menangis. UU No 3 Tahun 1997. 2. 4.1000. Membebankan pula pada terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. Nama terdakwa Ny I W. Memerintahkan terdakwa tetap ditahan.ayat (4) UU No 23 Tahun 2002. Menetapkan lamanya masa tahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan... lxxiii 3. Melakukan kekejaman terhadap anak yang dilahirkannya. Berdasarkan keseluruhan pertimbangan di atas maka Majelis Hakim berpendapat bahwa putusan yang dijatuhkan terhadap diri terdakwa dalam amar putusan di bawah ini sudah patut. Menyatakan terdakwa T terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2008 sekira pukul 06. Mengingat dan memperhatikan Pasal 80.Terdakwa menyesali perbuatannya . 5. Sebelum melahirkan terdakwa juga merasakan mulas dan sakit pada perut tetapi tidak minta tolong karena orang tua sedang pergi ke pengajian. .2 (dua) ampul PP tes kehamilan yang positif .(seribu rupiah). Atas kesalahan terdakwa akan tetapi lebih bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki tingkah laku terdakwa serta untuk mencegah orang lain berbuat hal yang sama tanpa mengurangi keseimbangan antara keadilan terdakwa dan keadilan masyarakat. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan.1 (satu) potong rok panjang jeans warna biru Dikembalikan kepada terdakwa 6. . adil dan setimpal dengan kesalahan terdakwa.Terdakwa masih ingin melanjutkan sekolahnya.1 (satu) potong celana dalam warna putih . UU No 8 Tahun 1981 maupun pasal-pasal dari UU lainnya yang berkaitan dengan perkara ini. Pendapat Penasehat Hukum Terdakwa yang menyatakan bahwa terdakwa adalah sekaligus korban dari perbuatannya bersama dengan pacar terdakwa serta atas pula kesimpulan dan saran dari hasil Litmas yang dilakukan Bapas terhadap diri terdakwa dan keluarga terdakwa maka Majelis Hakim dapat menerima dan lxxii mempertimbangkan namun terhadap saran agar di kembalikan kepada orang tua terdakwa tentulah tidak relevansi karena dari fakta dipersidangan di mana orang tua terdakwa tidak mengetahui atas kehamilan puterinya sehingga sampai melahirkan bayi yang artinya orang tua terdakwa ternyata tidak mampu menguasai perkembangan dan pergaulan terdakwa. Memerintahkan agar barang bukti berupa. Tujuan pemidanaan bukanlah semata-mata sebagai sarana balas dendam.1 (satu) potong kaos lengan panjang warna biru .Hal-hal yang meringankan .

kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak yang mengakibatkan mati. 1 (satu) buah cangkul dengan gagang kayu warna kuning gading. diduga/disimpulkan korban benar dalam kondisi nifas (setelah melahirkan) dan diperkirakan melahirkan dalam waktu lebih dari sepuluh hari sejak tanggal pemeriksaan dikarenakan rahim sudah tidak teraba. Visum et Repertum Nomor. 350/51/Sdn/IV/08 tanggal 9 April 2008 yang ditandatangani oleh dr. serta barang bukti yang ada dimana satu dengan lainnya terdapat persesuaian maka didapat petunjuk yang bahwa benar terdakwa IW melakukan tindak pidana kekejaman. terdakwa menceritakan kepada suaminya bahwa ia telah melahirkan anak dan meninggal kemudian dikubur di samping rumah kemudian suaminya menyarankan agar kuburan tersebut dipindahkan saja. setelah yakin meninggal lalu lxxiv bayi dibungkus kaos dan dimasukkan ke dalam ember kemudian disembunyikan di dalam kamar kemudian dikubur di samping rumah dekat pohon pisang dan terlebih dahulu terdakwa meminjam cangkul dari saksi Suratijo. Kecamatan Sanden. Sewaktu kepala bayi kemudian disusul seluruh tubuh masuk ke dalam kloset terdakwa tidak segera menolong tetapi membiarkannya beberapa saat sampai ari-ari keluar dan bayi sudah tidak menangis lagi. Barang bukti yang diajukan di muka persidangan yaitu: 1. payudara. surat. Murtigading. Rahim. Vagina/Jalan lahir. Berdasarkan ketentuan Pasal 188 KUHAP dari keterangan para saksi dihubungkan dengan keterangan terdakwa di persidangan. . 02. Bantul yang telah memeriksa I. Bantul. Bahwa alasan terdakwa melakukan perbuatannya karena tidak mampu membiayai dan suami yang pekerjaannya sebagai sopir jarang pulang serta mempunyai istri lagi. Perkataan suami tersebut dan takut pada Polisi maka pada hari Minggu 30 Maret 2008 selepas Isyak terdakwa kemudian membongkar kuburan bayi dengan menggunakan golok /bendo. Ds Murtigading.W. Kabupaten Bantul dengan cara jongkok di atas kloset yang ada airnya sehingga bayi masuk ke dalam lubang kloset. Bahwa terdakwa telah memikirkan perbuatan tersebut salama 1 bulan sebelum melahirkan. dokter pada Puskesmas Kecamatan Sanden Kab. Dada. sudah tidak teraba lxxv 3. masih didapatkan darah seperti menstruasi/nifas. Sewaktu diangkat sudah dalam keadaan biru dan diam untuk memastikan bayinya meninggal terdakwa memegang leher bayi. Bongoskenthi. 2. warna merah. dengan kesimpulan: 1.Puji Astuti.Terdakwa melahirkan di WC di rumah terdakwa di Dusun Bongoskenthi RT. Sanden. umur 40 tahun. alamat Dsn. mengambil mayatnya lalu menghanyutkannya ke sungai di dekat rumah yng arusnya deras sehingga bayi sampai sekarang tidak diketemukan. Melihat dampak/akibat yang diderita korban/pasien dan pemeriksaan secara medis. Pada hari Kamis sore sewaktu suami terdakwa pulang. mengeluarkan air susu.

Bahwa bayi terdakwa tidak ditemukan namun disamping rumah terdakwa ada tanah bekas digali(galian baru) yang diatasnya ditaruh batu. terhadapnya yang bersangkutan membenarkan sehingga dapat dipergunakan untuk memperkuat dalam pembuktian. Bahwa pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2008 sekira pukul 06. karena suaminya kawin lagi. 2. 1 (satu) bilah bendo (golok). Kabupaten Bantul terdakwa telah melahirkan bayi laki-laki dalam keadaan hidup(sempat menangis). 8. Bahwa terdakwa sengaja melahirkan di atas closet yang ada airnya. 4. 5. 2. 6. 1 (satu) potong kaos warna biru lengan pendek bergaris putih. Kecamatan Sanden. Barang bukti tersebut telah disita secara sah menurut hukum dan telah diperlihatkan kepada para saksi dan terdakwa. Bahwa yang melatar belakangi perbuatan tersebut adalah ketidakharmonisan hubungan antara terdakwa dengan suaminya. maka dapat diketemukan fakta-fakta hukum sebagai berikut: 1. lxxvii 7. Bahwa saksi Ny Surabinah menemukan tanda-tanda terdakwa telah melahirkan antara lain menemukan darah seperti benang (kiler-kiler) selain itu saksi juga menemukan celana gojak-gajek milik terdakwa yang sedang direndam di ember berbau amis karena terdapat darah yang telah menyatu dengan air serta tingkah laku terdakwa yang aneh dan tidak menyangkal ketika dikatakan telah melahirkan. surat serta barang bukti yang terungkap di persidangan. 3. 4. Bahwa untuk menggali tanah untuk menguburkan bayinya terdakwa menggunakan cangkul yang dipinjamnya dari saksi Suratijo. 3.02. lxxvi Fakta-fakta hukum: Berdasarkan keterangan para saksi dan keterangan terdakwa. sehingga kepala bayi masuk ke lubang closet yang ada airnya. Bahwa ketika dilakukan penggalian kuburan bayi tersebut ternyata mayatnya tidak diketemukan dan terdakwa mengakui bahwa terdakwa telah menggali kembali kubur bayi tersebut dan mengambil mayatnya kemudian membuangnya ke sungai di dekat rumah yang arusnya deras sehingga sampai sekarang tidak diketemukan.30 WIB di rumahnya Dusun Bongoskenthi RT.panjang kurang lebih 1 meter. Bahwa tangisan bayi tersebut sempat didengar oleh saksi Anton Huda Wibowo yang rumahnya bersebelahan dengan rumah terdakwa. dan masalah kesulitan ekonomi Analisa Yuridis: Bahwa tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa berbentuk alternatif yaitu Pertama Pasal 80 ayat (3) UU No23 Tahun 2002 tentang . 1 (satu) buah ember plastic warna merah. Bahwa terdakwa sengaja tidak segera memberikan pertolongan/mengangkat bayinya tersebut malah menunggu hingga ari-arinya/plasentanya keluar. 9. disekitar tanah tersebut didatangi lalat dan tercium bau busuk/bangkai dan terdakwa mengakui bayinya yang sudah meninggal dikuburkan di samping rumah. Ds Murtigading.

1 (satu) buah cangkul dengan gagang kayu warna kuning gading. 1 (satu) potong kaos warna biru lengan pendek bergaris putih. kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak.(dua puluh juta rupiah) subsidair 4(empat) bulan kurungan. Hal-hal yang meringankan. Pasal 341 KUHP. Menyatakan barang bukti berupa. sehingga sudah sepantasnya apabila terdakwa dijatuhi pidana yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan. 3. 3. lxxix Menjatuhkan pidana kepada terdakwa IW dengan pidana penjara 5 (lima) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan dan denda sebesar Rp 20. Barang siapa. jumlah kasus selama Tahun 2007 ada 6 kasus yang diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik. Melakukan kekejaman. 1) Perbuatan terdakwa sangat kejam karena dilakukan terhadap anak kandungnya yang baru saja lahir yang seharusnya dijaga dan dilindunginya 2) Perbuatan terdakwa telah mengakibatkan korban meninggal dunia. dengan mengingat fakta-fakta yang terungkap di persidangan dan alat-alat bukti yang ada serta dakwaan yang berbentuk alternatif maka akan membuktikan salah satu dari dakwaan Pertama. terdakwa terlihat normal dan sehat serta tidak diketemukan adanya alasan pemaaf atau pembenar yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana yang dilakukan. c. 1.000. Bahwa dari pengamatan selama pemeriksaan di persidangan. Yang mengakibatkan mati. panjang kurang lebih 1 meter.000. 1. 1 (satu) buah ember plastik warna merah.. lxxviii Kesimpulan. 2.Perlindungan Anak atau Kedua Primair melanggar Pasal 342 KUHP Subsidair. 1) Bahwa terdakwa menyesali perbuatannya 2) Bahwa terdakwa masih mempunyai anak balita 3) Bahwa terdakwa belum pernah dihukum. 3) Perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. tetapi yang sampai ke Pengadilan 3( tiga) kasus disebabkan karena sebagian besar. kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak yang mengakibatkan mati. Di DIY. 2. Berdasarkan analisa yuridis sebagaimana tersebut di atas. a. merupakan kasus pembuangan bayi atau . Pasal 80 ayat (3) UU No. dengan unsur-unsur sebagai berikut. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan bahwa terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekejaman. b. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. maka kesimpulannya bahwa tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa dalam dakwaan pertama melanggar Pasal 80 ayat(3) UU No. Hal-hal yang memberatkan . d.

Dengan adanya situasi dalam keluarga harmonis dan tenang. Polri untuk pemeriksaan kedokteran forensik (otopsi). Yogyakarta. Tidak ada biaya dari Negara cq. Dari point 1dan 2 menyebabkan kesulitan mengindentifikasikan pelaku. sejak dini orang tua harus mengajarkan kepada anak gadisnya. orangtua dapat langsung mengingatkan. Hal yang menjadi kendala adalah . sehingga tidak mengundang orang-orang yang memiliki niat jahat untuk melakukan hal yang tidak senonoh kepada dirinya. Kesadaran kurang. 1. Informasi minim.66 Hasil wawancara penulis dengan Polisi. lxxx 4. Disamping itu masyarakat jarang mau menjadi saksi . dalam hal ini termasuk hubungan seksual di luar pernikahan yang dapat berujung kepada terjadinya infanticide. Sebagai keluarga. Dengan ketaatan terhadap ajaran agama maka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. . Jadi menutup-nutupi keadaan tersangka. lxxxi terhadap anak. tidak akan sering timbul konflik sehingga anak terutama yang sedang beranjak remaja dapat hidup dengan nyaman dan meminimalisir untuk dapat terjerumus dalam kenakalan-kenakalan remaja. 1996. sehingga hal ini secara terselubung atau tidak terangterangan digunakan sebagai pendorong untuk tidak mengirimkan korban/jenasah di Kedokteran Forensik. dan mau untuk mendengarkan keluh kesah mereka. rasa kasih sayang antar anggota keluarga harus terus dibina dengan baik. tidak ada koordinasi informasi antara masyarakat dengan aparat penegak hukum. Jaksa dan Hakim di DIY bahwa Upaya Menanggulangi Pembunuhan Bayi/Infanticide dapat dimulai dari kita sendiri. Mengajarkan kepada anak gadisnya untuk selalu tampil sopan dan santun dalam berpakaian dan bertingkah laku. Pertemuan Ilmiah Koordinasi Pelayanan Kedoteran Forensik. dan orang tua dapat memantau dengan baik perkembangan putera-puterinya. keluarga dan lingkungan. untuk “menjaga dirinya”. kadang-kadang tersangka pihak keluarga. Peranan Kepolisian Dalam Penanganan Kasus Kedokteran Forensik. Sedangkan untuk menghindari terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan akibat pemerkosaan. sehingga yang menjadi saksi biasanya perangkat desa. sejak masih muda sebaiknya orang tua mulai memberikan edukasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual. Misalnya untuk tidak bepergian pada suatu tempat tak dikenal seorang diri hingga larut malam. namun hal ini harus disampaikan secara tepat dan bijaksana sehingga anak akan memahami dengan baik dan benar. Hal ini dapat mendekatkan anak dengan orang tua. bukan malah memiliki pandangan yang salah mengenai seksualisme. 3. Orang tua juga harus bersikap terbuka 66 Sumartono. Selain itu. berpegang teguh terhadap ajaran agama merupakan hal mutlak yang harus diajarkan kepada anak bahkan semenjak mereka masih di usia yang sangat muda. sehingga bila terdapat hal-hal yang menyimpang. dan penanganan awalnya dilakukan oleh perangkat desa dengan tujuan supaya melaporkan ke polisi.Hal semacam ini biasanya terjadi pada masyarakat pelosok. 2.penelantaran yang tidak ada tersangkanya.

maka satu hal yang harus kita tekankan pada diri kita dan orang lain adalah bahwa anak merupakan rezeki yang sudah diberikan kepada Allah SWT kepada kita. sudah ada yang mengatur. 3. yaitu:68 . maka manusia tidak berhak untuk melakukan tindakan-tindakan seperti infanticide. Kejujuran. Soal-soal Pokok Filsafat Hukum. Penerbit BPK Gunung Mulia. Masalah rezeki. norma kemanusiaan menuntut supaya dalam penegakan hukum manusia senantiasa diperlakukan sebagai manusia. 1975 lxxxiii Kepatutan ini perlu diperhatikan terutama dalam pergaulan hidup manusia dalam masyarakat. Hal-hal yang diuraikan di atas hanya merupakan sedikit dari sekian banyak tindakan untuk menanggulangi terjadinya infanticide. pemelihara hukum atau penegak hukum harus bersikap jujur dalam mengurus atau menangani hukum serta dalam melayani justiciable yang berupaya untuk mencari hukum dan keadilan. sebab ia memiliki keluhuran budi.. adalah kehendak yang ajeg dan kekal untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang menjadi haknya. Penuntut Umum pun dalam melakukan penuntutan kasus tindak pidana pembunuhan bayi juga mempunyai faktor-faktor pertimbangan yang melatar belakangi terjadinya suatu tindak pidana pembunuhan bayi. maka harus kita jaga sebaik-baiknya dan bukan dengan menolak rezeki tersebut. Kemanusiaan.Sedangkan untuk infanticide yang dilakukan sebagai alat pengontrol populasi keluarga karena memikirkan masalah beban ekonomi. 2. Kepatutan. setiap yurist diharapkan sedapat mungkin memelihara kejujuran dalam dirinya dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang curang dalam mengurus perkara. yang tidak hanya dapat kita lakukan kepada diri kita dan keluarga kita sendiri. Keadilan. Penyidik dalam melakukan penyidikan kasus tindak pidana pembunuhan bayi mendasari dengan Undang-Undang dan ketentuan yang berlaku dengan tetap menjunjung tinggi kode etik profesi dan hak-hak asasi manusia. yaitu:67 1. PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI MASA YANG AKAN DATANG Sampai saat ini. 4. Hal ini memang disebabkan karena adanya pedoman dan peraturan yang berlaku untuk para Penegak Hukum. Atau dalam kata lain. Notohamidjojo. misalnya dengan mengingatkan atau memberi nasihat. atau equity adalah hal yang wajib dipelihara dalam pemberlakuan undang-undang dengan maksud untuk menghilangkan ketajamannya. lxxxii C. Empat norma yang harus ditaati oleh para penegak hukum atau pemelihara hukum. namun sebagai warga masyarakat yang baik hendaknya kita juga melakukan tindakan-tindakan tersebut kepada orang lain. masih ditemukan fakta para pelaku tindak pidana pembunuhan bayi ternyata dijatuhkan pidana tidak setimpal dengan jenis dan akibat dari kejahatan tersebut. Di dalam penegakan hukum khususnya dalam penanggulangan pembunuhan bayi. 67 O. para penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat.

dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.00 (tujuh puluh dua juta rupiah) (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat. pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun. jika perbuatan tersebut mengakibatkan luka berat pada anak yang ditinggalkan. terdapat juga dalam Undang.000. (2) Pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan: c. jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya anak yang ditinggalkan. kekerasan atau ancaman kekerasan. dipidana dengan pidana paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200. Seorang ibu yang membuang atau meninggalkan anaknya tidak lama setelah dilahirkan karena takut kelahiran anak tersebut diketahui oleh orang lain.Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1). maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.00 (dua ratus juta rupiah). b.000. Selain Pasal–pasal dalam KONSEP KUHP 2008. Atribut-atribut pribadi dari terdakwa maupun korban 3. Kalau diperhatikan ancaman pidana untuk tindak pidana pembunuhan bayi lebih berat yang terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dari pada .16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. ayat (2). lxxxv (3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati. Pasal 527. Pertimbangan-pertimbangan kebijakan publik Majelis Hakim di dalam memutus perkara atau menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa juga mempunyai pertimbangan-pertimbangan di samping harus memenuhi rumusan pasal-pasal yang dituduhkan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV. Pasal 80: (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman.000. maksimum pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 dikurangi 1/2 (satu per dua). Pasal 526.1.000. Pasal-pasal yang diatur dalam KONSEP KUHP 2008 menurut pendapat para penegak hukum yaitu Penyidik. atau d.000. yaitu: a. pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.00 (seratus juta rupiah). (1) Setiap orang yang meninggalkan anak yang belum berumur 7 (tujuh) tahun 68 UU No. Penuntut Umum dan Hakim. Tingkat pemaafan korban atau keluarga korban 5.000. dengan maksud agar anak tersebut ditemukan orang lain atau dengan maksud melepas tanggung jawabnya atas anak yang dilahirkan. Keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan 2. Tingkat penyesalan terdakwa 4. atau penganiayaan terhadap anak. sehingga dapat melepaskan tanggung jawab atas anak tersebut. lxxxiv dengan maksud supaya ditemukan orang lain. sebagai berikut: a.

4.Rajawali. di samping mampu membawakan atau menjalankan peranan yang dapat diterima oleh mereka. maupun Hakim untuk pertimbangan dalam memutuskan/menjatuhkan pidana. Tingkat aspirasi yang belum tinggi. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan 5) Faktor kebudayaan. yakni sebagai hasil karya cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia. faktorfaktor tersebut mempunyai arti yang netral sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. 3.1983). Keterbatasan kemampuan untuk mendapatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa mereka berinteraksi. Belum adanya kemampuan untuk menunda pengawasan suatu kebutuhan tertentu. sesuai dengan aspirasi masyarakat.hlm 4-5 lxxxvi 4) Faktor masyarakat. sehingga dapat menggerakan partisipasi dari golongan sasaran atau masyarakat luas. 5. 3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum 69 Soerjono Soekanto. Prinsip yang harus Dipertimbangkan oleh Hakim dalam Memeriksa Kasus Pembunuhan Bayi Menurut Soerjono Soekanto. 70 Ibid. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. terutama kebutuhan materiil. sehingga sulit sekali untuk membuat proyeksi. Kecuali itu maka golongan panutan harus dapat memanfaatkan semua unsur-unsur tradisional tertentu.(Jakarta. Masyarakat harus dapat berkomunikasi dan mendapatkan pengertian dari golongan dan sasaran. yang hendaknya mempunyai kemampuan tertentu. Hal ini sudah diterapkan oleh para Penegak Hukum di dalam penyidikan. mungkin berasal dan dirinya sendiri atau dari lingkungan. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan koservatif . masalah pokok dan pada penegak hukum (law enforcement) sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. di dalam pergaulan hidup Kelima faktor tersebut diatas menurut Soerjono Soekanto saling berkaitan eratnya. antara lain adalah69 : 1) Faktor hukumnya sendiri 2) Faktor penegak hukum. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan. penuntutan. Golongan panutan juga harus dapat memilih waktu dan lingkungan yang tepat di dalam memperkenalkan normanorma atau kaidah-kaidah hukum yang baru. oleh karenanya merupakan esensi dari penegakan hukum serta merupakan tolok ukur (parameter) dari efektifitas penegakan hukum (law enforcement) Penegakan hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat. Lebih jauh beliau berpendapat bahwa halangan-halangan yang memerlukan penanggulangan tersebut antara lain dapat berupa:70 1. serta memberikan keteladanan yang baik. faktor yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. Halangan-halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golongan panutan atau penegak hukum.KONSEP KUHP 2008.hal 6 lxxxvii 2.

2) Pengadilan harus menjamin bahwa proses peradilan dilaksanakan secara jujur . 7) Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib (yang buruk). 8) Percaya kepada kemampuan ilmu pengetahuan dan tehnologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia. bahwa persoalan-persoalan tersebut berkaitan dengan dirinya. 71 Ibid hal 6-7 lxxxviii 6) Menyadari potensi-potensi yang ada di dalam dirinya dan percaya bahwa potensi-potensi tersebut akan dikembangkan. 2004). Secara spesifik. Untuk dapat mewujudkan sistem penegakan hukum yang berorientasi pada perempuan dan remaja. 2) Senantiasa siap untuk menerima perubahan-perubahan setelah menilai kekurangan-kekurangan yang ada pada saat ini. maka perlu dilakukan pembaharuan baik pada tingkat PPU maupun terhadap aparatur pelaksanaannya. hlm 8 lxxxix 1) Peradilan memiliki yurisdiksi yang tidak terbatas terhadap seluruh isu-isu yang menyangkut peradilan dan harus memiliki wewenang untuk menetapkan apakah isu-isu yang dihadapkan adalah dalam lingkup sebagaimana diperintahkan dalam Undang-undang. Seri Hukum Peradilan Kekuasaan Kehakiman Yang Merdeka dan Kebijakan Asasi. Independence Judiciary dalam arti luas meliputi hal-hal sebagai berikut:72 72 M. 9) Menyadari dan menghormati hak. Muchsin.Halangan-halangan tersebut selanjutnya oleh Soejorno Soekanto disebutkan dapat diatasi dengan cara mendidik. Kontrol ini memang harus diakui sangat membatasi kebebasan peradilan.(Jakarta STIH IBLAM. Persoalan lain yang ada erat kaitannya dengan masalah kebebasan peradilan dalam usaha pencapaian penegakan hukum di Indonesia untuk mengembangkan sarana kontrol terhadap lembaga peradilan baik yang berupa kontrol dari pada lembaga ilmiah (Scientific Control) maupun kontrol dari masyarakat (Sosial Control). 4) Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya 5) Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan. kewajiban maupun kehormatan diri sendiri maupun pihak-pihak lain. 10) Perpegang teguh pada keputusan-keputusan yang diambil atas dasar penalaran dan perhitungan yang mantap. artinya sebanyak mungkin menghilangkan prasangka terhadap hal-hal yang baru atau yang berasal dari luar seebelum dicoba manfaatnya. melatih dan membiasakan diri untuk mempunyai sikap-sikap sebagai berikut:71 1) Sikap yang terbuka terhadap pengalaman-pengalaman maupun penemuanpenemuan baru. 3) Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi disekitarnya dengan dilandasi suatu kesadaran. namun untuk menegakan obyektifitas maka kontrol yang demikian mutlak diperlukan untuk mencegah kemungkinan disalah gunakan kebebasan yang diberikan kepada lembaga peradilan.

Dengan adanya situasi dalam keluarga yang harmonis dan hangat. hal utama sehubungan masalah kesadaran hukum ini adalah:73 Bagaimanakah memberikan kesadaran hukum dalam diri para penegak hukum ini sendiri agar supaya para penegak hukum itu tidak hanya memaksakan pelaksanaan hukum kepada orang lain saja sedangkan ia sendiri. munculnya kemaksiatan dan penyakit masyarakat yang lain tanpa adanya pengawasan terpadu xci . apabila dilakukan pelanggaran sehingga merusak kesadaran hukum yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Hal yang demikian sangat erat kaitannya dengan apa yang menjadi fungsi dari pada hukum di dalam masyarakat terutama sekali dalam masyarakat yang sedang membangun yaitu sebagai suatu sarana pembaharuan masyarakat. Dengan adanya ketaatan terhadap ajaran agama maka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. untuk itu kesadaran hukum bagi para penegak hukum harus benar-benar ditingkatkan. Pendapat Abdurrahman di atas dapat disimpulkan bahwa para penegak hukum seharusnya menjadi contoh atau panutan bagi masyarakat dalam hal mentaati 73 Abdurrahman. tidak atau kurang mentaati ketentuan hukum yang sebenarnya berlaku bagi dirinya sendiri.1980) xc hukum yang berlaku. mutasi pelatihan dan promosi hakim . seleksi. 4) Persoalan rekruitment. dan mau mendengarkan keluh kesah mereka. Orang tua harus bersikap terbuka kepada anak. Sebagai keluarga rasa kasih sayang antar anggota keluarga harus terus dipelihara dengan baik.(Bandung Alumni. 5) Penegakan disiplin para hakim dan penggajiannya. pencegahan dapat berawal dari apa yang ada di sekitar kita. dan orangtua dapat memantau dengan baik perkembangan putra-putrinya. orangtua dapat langsung mengingatkan. tidak akan sering timbul konflik sehingga anak terutama yang sedang beranjak remaja dapat hidup dengan nyaman dan meminimalisir untuk dapat terjerumus dalam kenakalan-kenakalan remaja. dalam hal ini termasuk hubungan seksual di luar pernikahan yang dapat berujung kepada terjadinya infantiside. Menurut Abdurrahman. pelanggaran-pelanggaran hukum oleh para penegak hukum sangatlah merusak kepercayaan masyarakat hukum yang berarti pula akan merusak kesadaran hukum masyarakat. Sebagai warga negara sekaligus masyarakat dalam lingkup sosial. sehingga bila terdapat hal-hal yang menyimpang. Aneka Masalah Dalam Praktek Hukum Di Indonesia. Sebaliknya kepatuhan seseorang penegak hukum dalam melaksanakan suatu ketentuan hukum dapat dipandang sebagai langkah pertama kearah pembinaan kesadaran hukum masyarakat.Rumah pondokan ataupun kost bebas menjadi sebuah tempat dengan berjuta karakternya. agar pembinaan kesadaran hukum pada masyarakat dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan sehingga peraturan hukum dapat diperlakukan secara efektif. Hal ini dapat mendekatkan anak dengan orangtua. 3) Perlindungan dan hak-hak asasi manusia para hakim dalam melaksanakan tugasnya terutama dalam menghadapi setiap tuduhan-tuduhan dalam rangka melaksanakan tugasnya.dan hak-hak para pihak (yang berperkara) dihormati dan dilindungi. Sedangkan upaya penanggulangan pembunuhan bayi dengan memberikan ajaran agama merupakan hal mutlak yang harus diajarkan kepada anak bahkan semenjak mereka masih di usia muda.

langsung dengan kasus tersebut juga perlu diperhatikan agar ruang gerak ataupun ruang lingkup kebebasan yang tak bertanggung jawab tersebut menjadi lebih terbatas. ataupun pergaulan bebas yang lebih tajam dalam artian lebih tegas. Kebudayaan luar yang tak terfiltrasi menjadi masalah yang sangat pelik dihadapi. Law Enforcement penting untuk lebih bersifat aktif dalam menangani infanticide. Kemudian informasi didapat. represif. dan komisi khusus dalam menghadapi salah satu tindakan pemusnahan manusia dalam bentuk infanticide atau bahkan aborsi merupakan langkah yang dapat diwujudkan pada awalnya di kemudian hari. norma . maka dapat penulis simpulkan dalam uraian yang singkat dalam bab ini sebagai berikut: 1. pelaku. perkosaan. Penegak hukum. Moral dapat dipertebal dengan pendidikan dan religi. kos. sehingga diharapkan edukasi xcii religi menjadi lebih intens dalam membentuk pribadi-pribadi baru yang bertanggung jawab. dan kontrakan seyogyanya mendapatkan perhatian lebih lanjut. Akan tetapi para penegak hukum atau pelaksana hukum mengenai isi Pasal 526 dan Pasal 527 KONSEP KUHP 2008 belum begitu paham. negara. mengingat kewenangan yang luas sekalipun mengambil hak-hak asasi manusia (menunda hak untuk merdeka atau bebas dengan penjara). Hukum pidana mempunyai fungsi menjadi dasar orang melindungi dan sekaligus mempertahankan keseimbangan hak dan kewajiban masyarakat. moral penyiaran. dan punitif tidak menjadi faktor viktimogen.menjadi sebuah keleluasaan tindakan yang mengarah kepada kebebasan tak bertanggung jawab. Penegakan Hukum Pidana dalam Penaggulangan Pembunuhan Bayi Pada Masa Yang Akan Datang sudah diatur dalam KONSEP KUHP 2008 yaitu dalam Pasal 526 dan Pasal 527. sehingga sebuah langkah awal yang diharapkan. dan juga kemudahan teknologi global menjadi hal tersendiri yang selanjutnya membutuhkan penanganan multidimensional. KESIMPULAN Dari uraian yang telah penulis sampaikan dalam penulisan tesis ini.bermasyarakat dan juga pengaturan kebijakan. karena memang belum disahkan dan diundangkan. dan menjadikan phobia ataupun ketakutan bagi pelaku ataupun masyarakat agar tidak terjadi hal-hal tersebut di kemudian hari. Dalam pembaharuan ini harus diusahakan agar sistem peradilan pembunuhan bayi yang bersifat preventif. Disamping itu masih tetap untuk pedoman para penegak hukum adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Tata tertib ataupun Peraturan Daerah yang melibatkan para pengusaha rumah pondokan. sehingga belum bisa disosialisasikan xciii BAB IV PENUTUP A. dan korban tindak pidana. Hukum menyumbangkan peraturan bagi tata kehidupan masyarakat untuk dapat menjaga nilai. Hukum perlu menegakan peraturan baru khusus menangani masalah infanticide. Penegakan Hukum Pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi yang dirumuskan dalam perundang-undangan dewasa ini adalah: Kitab UndangUndang Hukum Pidana sudah mengatur mengenai penanggulangan pembunuhan .

tingkat penyesalan terdakwa. Aneka Masalah Dalam Praktek Hukum Di Indonesia. 2001 __________________. Disamping itu masih tetap untuk pedoman para penegak hukum adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Bandung Alumni. SARAN Dalam penulisan tesis ini penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Penuntut Umum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. xcv DAFTAR PUSTAKA A.bayi yaitu Pasal 341 dan Pasal 342. sabar dan hati-hati serta menghormati hak-hak asasi manusia. hal 15 Arief. sudah mengetrapkan peraturan dan Undang-Undang yang berlaku serta Pasal-Pasal yang bisa untuk menjerat pelaku pembunuhan bayi dan pelaksanaannya sama dengan penyelesaian kasus-kasus tindak pidana pada umumnya. Selain itu masih ada Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Anak yang ancaman hukumannya lebih berat dibandingkan dengan KUHP. Buku-buku Abdurahman. Penegakan Hukum Pidana dalam praktek Penanggulangan Pembunuhan Bayi di Wilayah DIY. namun secara garis besar belum mengatur tentang pembunuhan bayi. tingkat pemaafan korban atau keluarga korban. hanya mengatur tentang penelantaran anak. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Barda Nawawi. 2. Penelitian mengenai penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi bisa di lakukan lagi pada Daerah yang lebih luas. maupun Hakim. BAndung. Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. Citra Aditya Bhakti. BAndung. Semarang. atribut-atribut pribadi dari terdakwa maupun korban. pertimbangan-pertimbangan publik. 3. 1980. sedangkan pasal yang berkaitan dengan penelantaran anak diatur dalam Pasal 306 s/d 308 dan Pasal 338. Peraturan-Peraturan/Undang-Undang ini sudah diterapkan oleh para Penegak Hukum/Pelaksana Hukum baik Penyidik. 2. Citra Aditya Bhakti. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. xciv Jaksa melakukan penuntutan berdasar Pasal 341 KUHP dan Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang No 23 Tahun 2002. 2000 . B. yaitu dalam Pasal 526 dan Pasal 527. Penegak hukum dan Pelaksana hukum seharusnya juga membaca mengenai KONSEP KUHP 2008 agar bisa memberi masukan atau perbaikan . 2001 __________________. 3. Selain itu juga mempunyai faktor-faktor pertimbangan yang melatar belakangi terjadinya suatu tindak pidana pembunuhan bayi. Penyidik dalam melakukan pemeriksaan terhadap tersangka pembunuhan bayi biasanya penyidiknya perempuan karena lebih teliti . KONSEP KUHP 2008 lebih cepat disahkan akan lebih baik untuk pedoman bagi para penegak hukum dan pelaksana hukum. keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan. Penegakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Pembunuhan Bayi Pada Masa Yang Akan Datang terdapat dalam KONSEP KUHP 2008.

PT RajaGrafindo Persada. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta 1983. Putra Jaya. Muladi dan Barda Nawawi Arief. Suharto. Kristal-kristal Ilmu Kedokteran Forensik. Semarang 2001. Boston/Toronto. Herkutanto. Jakarta. 2001. Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang. 2004. Hukum dan Masyarakat. Little Brownond Company. Fakultas Kedokteran UGM. Teori Kapita Selekta Kriminologi.. Penelitian Hukum Normatif. BP. Agus. Bandung. Soegandhi. 1981 ______. Bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman. Semarang. Soal-soal Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. Jakarta. xcvi Purwadianto. Penuntutan Dalam Praktek Peradilan. ____________. Jakarta: Sinar Grafika. Buku Pedoman Pengadaan Visum et Repertum. 1984 Sofwan Dahlan. Soerjono Soekanto. Pustaka Magister. Penerbit PT. Fakultas Hukum. Eresco. 2002. 1978. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Analysis and Critique of Crime in America. 2008 Atmasasmita. Richard Quinney. Teori-teori Kebijakan Pidana. Nyoman Serikat Putera Jaya. Jakarta. Jakarta.__________________. dan Konvensi Hukum Nasional 2008. CV. Universitas Diponegoro. Bandung 1982. Kapita Selekta Hukum Pidana. Notohamidjojo. . Pidato Pengukuhan Guru Besar. 1986. Bunga Rampai Kebijakan Kriminal. ________________. ________________. 1975 RM. Cet 21. Masalah Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis. Romli. Kapita Selekta Hukum Pidana. Semarang 2001 O. Linda. Cyle. PT. Jakarta 2002. Rajawali.Villanola University Journal Moelyatno. Cetakan Kedua. Aumni Bandung. Suatu Reorientasi Dalam Hukum Pidana. __________________. Satjipto Rahardjo. ________________. Bagian IKF FK UI/Lembaga Kriminologi UI Jakarta 1981. Penerbit BPK Gunung Mulia. Cetakan 21. Sistem Peradilan Pidana Bandung Eresco 1996 hal 26. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Bogor 1983. Sinar Grafika. Kumpulan Hasil Seminar Nasional ke-1 s/d ke-. Sari Kuliah Perbandingan Hukum Pidana. Nyoman Sarikat. 2002 __________________. Jakarta. Criminology. Classification and Description of Parents who Commit Filicide. Roeslan Saleh. 1975.Budi Sampurna. Bandung 1983. 1983 Soesilo R. Kapita Selekta Hukum Pidana. 2000. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana. 2004. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentarkomnetarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Aksara Baru. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. ________________. Universitas Indonesia.2001. Citra Aditya Bhakti. Rajagrafindo Persada. Sinar Grafika. Aksara Baru. Yogyakarta. Badan Pembinaan Hukum Nasional-Departemen Kehakiman.

2/Februari 2006. Makalah disampaikan pada Simposium Penyelidikan Ilmiah Medis dalam Penegakan Hukum dalam Rangka HUT Fakultas Kedokteran UGM ke-58 dan RS Dr Sardjito ke-22. 1996. Visum et Repertum KaitannyaDengan Penyelesaian Perkara Pidana Di Pengadilan.page 16. B. Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UNDIP Semarang. Jurnal.16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia Undang-Undang RI No. America Journal. Prevention and The Promised of Saved Lives. Pertemuan Ilmiah Koordinasi Pelayanan Kedokteran Forensik. Hukum dan Hukum Pidana.23 Tahun 2002: Tentang Perlindungan Anak Undang-undang RI No.Spinelli. 1994. Sudarto. Kepolisian Negara RI Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UNDIP Semarang. 2004. Jurnal Pembaharuan Hukum Volume 3/No 2/Oktober 2007. Margaret. Yogyakarta.8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Maternal Infanticide Associated With Mental Illness. 6 Maret 2004. Masalah-Masalah Hukum Edisi II/Juli-September 1998 Majalah Ilmiah Fakultas Hukum UNDIP Semarang Surat kabar Kedaulatan Rakyat 12 Oktober 2007 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat 24 Maret 2008 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat 11 September 2008 Xcviii Bunuh Bayi Posted by admin in Health 0 Comments 25Apr . Fakultas Kedokteran UGM. Undang-undang. Peran Scientific Investigtion dalam Pengungkapan Kecelakaan/Kejahatan terhadap Manusia.14 Tahun 1970 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman.39 tahun 1999: Tentang Hak Asasi Manusia Undang-undang RI No. Susi Hadidjah. dan Makalah Undang-undang RI No. Undang-Undang RI No. Peranan Kepolisian Dalam Penanganan Kasus Kedokteran Forensik. Jurnal Pembaharuan Hukum Volume 1/No. 1981 xcvii Sumartono.

tetapi pada saat itu kegiatan melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan tersebut keadaan pikirannya terganggu dengan alasan belum pulih dari pengaruh melahirkan dan pengaruh menyusui setelah melahirkan. menghilangkan nyawa bayi yang baru lahir (dalam segala keadaan) adalah pembunuhan. bersalah namun gila atau menyembunyikan kelahiran tergantung keputusan juri. seperti stillbirth dan sudden infant death syndrome. Mereka juga sangat tergantung dari orang lain dan mempunyai kecenderungan untuk mengalami kekerasan. Undang-undang Infantisida tahun 1922. jika dia didakwa melakukan pembunuhan. (2) Undang-undang Infantisida tahun 1938 bagian 1 menyebutkan “Ketika wanita melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kematian anak kandungnya yang berusia di bawah 12 bulan. dimana mempunyai aspek medikolegal yang penting. namun tidak mendefinisikan keadaan “baru lahir” dan apakah benar adanya kemungkinan lanjut bahwa menyusui juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan mental secara sementara. (3) Neonaticide adalah tindakan pembunuhan terhadap anak berumur 24 jam setelah kelahirannya. Pelakunya biasanya adalah sang ibu. tetapi ada gambaran yang spesial untuk cedera pada bayi dan anak-anak yang perlu diperhatikan. Keadaan ini tidak mengijinkan fakta bahwa melahirkan dapat berefek yang secara sementara mengganggu keadaan jiwa ibu sehingga dia harus bertanggung jawab atas tindakan membunuh anaknya. yang mengatur tentang kejahatan infantisida membatasi kemungkinan terjadinya hal ini. (4) Pembunuhan bayi menurut hukum pidana Indonesia ialah pembunuhan terhadap bayi yang . (2) DEFINISI Infantisida adalah tindakan pembunuhan terhadap bayi baru lahir atau bayi yang berusia dibawah 12 bulan (1 tahun). (1) Sampai tahun 1922. Pencegahan juga dibuat pada keadaan.Hasil dan akibat dari penyakit dan trauma pada umumnya sama untuk semua korban atau pasien. baik fisik maupun seksual. bahwa bayi dan anak-anak bukan hanya orang dewasa kecil dan mereka mempunyai problem yang unik masing-masing. walaupun demikian keadaan demikian tetap berlaku sebagai pembunuhan…” dia dinyatakan bersalah telah melakukan infantisida secara kejam dan kemungkinan dapat diancam atau dihukum seperti dia telah membantai manusia. sebagai tuduhan alternatif dari pembantaian. Sangat penting diingat.

tetapi ada beberapa orang dekat yang mengetahuinya. dipotong tali pusatnya. keunikan lainnya adalah saat dilakukannya tindakan untuk menghilangkan nyawa si anak. yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan. Pada waktu ini belum . Pembunuhan segera dilakukan pada saat anak dilahirkan atau tidak berapa lama kemudian. pengertian pembunuhan bayi dapat diartikan membunuh feotus yang hidup dalam kandungan dan membunuh bayi yang hidup pada saat dilahirkan. 2. Embrio lanjutan adalah peralihan embrio menjadi foetus yang berusia 9-16 minggu yang bentuknya telah menyerupai manusia tapi belum sempurna. harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1. Feotus murni adalah janin yang berusia 16-40 minggu yang bentuknya telah menyerupai manusia secara sempurna. Dalam hal ini. belum dapat bergerak dan peredaran darahnya belum berjalan sebagaimana mestinya. fase embrio lanjutan. (6) Pada kasus bunuh bayi. (5) Berdasarkan penjelasan diatas. dibersihkan. bila kontraksi rahim atau his sudah mulai teratur. Anak mulai dilahirkan. takut. Selain kedua hal tadi. yaitu pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. selain rasa malu. Pada waktu melahirkan anak. Sedangkan tidak lama setelah dilahirkan berarti sejak selesainya proses kelahiran sampai dengan selesainya perawatan post partus. (5) Perkembangan janin di dalam kandungan dibagi menjadi 3 fase. Pembunuhan dilakukan pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. atau diberi pakaian. supaya tidak ada orang yang menyaksikan ia telah melahirkan anak. Pada saat dilahirkan diartikan sejak mulai terjadinya kelahiran bayi sampai dengan keluarnya plasenta secara tuntas. sehingga perbuatannya itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang. Meskipun ia dapat menyembunyikan kandungannya. Adanya rasa takut akan ketahuan melahirkan anak. sadar.dilahirkan hidup yang dilakukan oleh wanita yang melahirkannya pada saat bayi tersebut dilahirkan atau tidak lama setelah dilahirkan. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri. si calon ibu jauh sebelumnya berusaha menyembunyikan kehamilannya. Saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu. oleh karena anak tersebut adalah anak sebagai hasil hubungan gelap. Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi lebih ringan bila dibandingkan dengan kasus pembunuhan lainnya. (5) Bunuh bayi adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa yang unik sifatnya. (6) Pada kasus pembunuhan bayi terdapat 3 unsur yang penting. benci. organ-organ vital telah ada dan peredaran darah sudah berfungsi sebagaimana mestinya. yaitu : 1. jaksa harus membuktikan bahwa bayi dilahirkan dalam keadaan hidup dan kematian bayi itu adalah akibat tindakan criminal berupa kekerasan terhadap bayi tersebut. yakni fase embrio murni. dan alasan atau motifasi untuk melakukannya kejahatan tersebut adalah karena si ibu takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak. Si pelaku haruslah ibu kandung korban 2. ia berusaha bersembunyi. serta dengan perhitungan matang. Embrio murni adalah janin yang berusia 2-8 minggu post konsepsi yang bentuknya segumpal darah dan belum dapat disamakan dengan manusia walaupun telah hidup. bahwa seorang bayi yang bayi lahir mudah sekali menjadi korban tindakan criminal . yang dalam hal ini patokannya adalah sudah ada atau belum ada tanda-tanda perawatan. (3) Untuk dapat dituntut sebagai pembunuhan bayi. serta nyeri bercampur aduk menjadi satu. Karena adanya rasa takut akan ketahuan melahirkan anak. Alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan akan melahirkan anak 3. dan fase foetus murni. Telah lama sekali diketahui. maka dokter harus memeriksa mayat bayi dan ibu (tersangka) untuk mencari bukti berupa tanda-tanda baru melahirkan.

Senjata atau kekerasan lainnya adalah pencekikan dan asfiksia sebanyak 29 kasus. Perhatian saat ini adalah untuk mempertimbangkan cara yang mungkin untuk infantisida atau membunuh dan untuk menunjukkan diperlukannya perhatian sebelum menyatakan temuan-temuan yang ada sebagai bukti tindak kriminal. Langkah pertama adalah menentukan apakah kematian terjadi akibat kekerasan. Data tahun 1999. ataukah akibat tindak kriminal. (4) CARA INFANTISIDA(2) Ketika ada kemungkinan bahwa bayi tersebut lahir hidup. yang dapat tergantung dari perubahan struktural yang kecil. akan tetapi bila tenaga yang diberikan terlalu besar (dimana hal tersebut sering terjadi) maka akan meninggalkan bekas kekerasan. meskipun tanpa bukti. Pemeriksaan tali pusat dapat menunjukkan bahwa tali pusat telah dipegang secara kasar yaitu hilangnya jelly Wharton. dimana dilaporkan seribu anak dibunuh setiap tahunnya. menutup lubang pernapasan dengan kain basah. yaitu sebagai berikut : 205 pembunuhan untuk infant (dibawah 1 tahun). 95 pembunuhan untuk anak umur 5-8 tahun. Pada kejadian tersebut juga dapat ditemukan tanda kekerasan pada leher bayi. (4) Tahun 1999. Tindakan tersebut menghasilkan bekas jeratan. Penjelasan lain yang mungkin adalah bahwa bayi terjerat secara tidak sengaja oleh tali pusat. dan yang lainnya sebanyak 51 kasus. dan 79 pembunuhan untuk anak umur 9-12 tahun. a) Penjeratan Penjeratan adalah cara yang umum. hanya memiliki kepentingan kecil. menunjukkan angka pembunuhan anak berdasarkan umur. untuk memastikan sebab kematiannya. bahwa jeratan dapat dilakukan oleh ibu untuk membantu persalinan sendiri. luka bakar 4 kasus. Senjata yang paling sering digunakan adalah senjata personal seperti tangan dan kaki sebanyak 105 kasus. Dapat dinyatakan. b) Pembekapan Pembekapan adalah cara yang mudah dan nyaman dan dapat tanpa meninggalkan bekas. 280 pembunuhan untuk anak umur 1-4 tahun. kemudian baru dibedakan apakah cedera terjadi karena pers alinan.nampak bagian anak. adalah penting ketika dapat dilakukan. Untuk tujuan saat ini perbedaan kecil dalam diagnosis. Hal tersebut . menusuk ubun-ubun. yang dapat terlihat di leher. Fakta ini sudah dipublikasikan oleh media. (7) EPIDEMIOLOGI Angka pembunuhan anak di Amerika Serikat setiap tahun relatif kecil bila dihubungkan dengan angka total kematian. ia dapat melakukan beberapa tindakan : mencekik. objek tumpul 10 kasus. pisau dan alat potong lainnya 6 kasus. atau terjadi saat kehamilan. kurang lebih 205 anak berumur kurang dari 1 tahun dilaporkan dibunuh. yang harus dibuktikan apakah hal tersebut dilakukan sebelum kematian. Bila kepala sudah keluar dan dapat dijangkau si ibu. yang dapat menyingkirkan kemungkinan jeratan tak sengaja dan menunjukkan penggunaan tali pusat oleh ibunya (atau orang lain) sebagai alat jerat. di Amerika Serikat. c) Kekerasan tumpul pada kepala Infantisida dengan menghantam kepala bayi ke dinding atau lantai jarang terjadi.

meskipun mungkin. Fraktur tengkorak yang terjadi saat atau akibat persalinan memiliki karakteristik tertentu. seperti penenggelaman. e) Pembakaran Infantisida dengan membakar jarang terjadi meskipun. e) Menggorok leher Infantisida dengan melukai seperti menggorok leher jarang ditemukan. Bentuknya daalah fraktur garis. Sisa-sisa kalsifikasi dapat ditemukan di tempat pembakaran tapi hal tersebut jelas tidak mungkin membuktikan infantisida. Dapat pula dipikirkan bahwa fraktur terjadi sebagai akibat persalinan cepat saat ibu dalam keadaan berdiri. persalinan tidak terjadi dengan cepat dan hal ini dapat menimbulkan keraguan terhadap cerita si ibu. Cara ini menunjukkan niat untuk membunuh. Fraktur tersebut tidak menimbulkan laserasi pada kulit kepala. fraktur dapat terjadi dari ubunubun depan ke eminensia frontalis. Sebuah luka iris yang luas di leher hampir pasti menyingkirkan kecelakaan. Bila ditemukan caput succedaneum dan molase yang jelas. tuduhan penyembunyian kelahiran mungkin dapat diberikan. fraktur terjadi pada titik yang secara normal dipegang oleh forceps dan biasanya berupa fraktur beralur. . Ibu dapat menaruh bayi di kloset dan menyatakan ia melahirkan saat menggunakannya atau bila ia memakai ember. Jenis alat yang digunakan sangat penting karena . d) Penenggelaman Penenggelaman dapat juga menjadi cara untuk membuang bayi lahir mati. Pada kejadian manapun sangatlah penting untuk menentukan apakah cedera yang ditemukan mungkin akibat kecelakaan. ia mengaku bayi lahir ke dalam ember. sesuatu yang lebih dari partikel karbon. Akan tetapi persalinan tidak dapat menghasilkan ekspulsi yang kuat dan cepat dan panjang tali pusat normal yaitu sekitar 20 inci sangat mungkin akan mencegah bayi jatuh dengan keras. panjang tali pusat tentu saja berariasi yaitu di bawah 5-6 ini. Orang yang memasang forceps juga harus ada untuk memberi keterangan menganai cedera yang terjadi. Fraktur akibat forceps dapat disertai laserasi kulit kepala. di paru-paru bayi yang terbakar. Pada kejadian lebih jarang. Kemungkinan pelaku panik saat kejadian dapat membuat seorang wanita melakukan tindakan dimana ia tidak dapat bertangung jawab. tenaga yang diterima tidak akan cukup untuk menimbulkan fraktur. Bahkan bila bayi jatuh ke tanah. hal yang mungkin bila alatnya adalah gunting. Fraktur biasanya terjadi pada tulang parietal dan berjalan ke bawah pada sudut tertentu ke arah sutura sagital sepanjang sekitar satu inci. Radtke (1933) menemukan bahwa bahwa tes yang biasa pada kematian akibat pembakaran tidak dapat diterapkan seluruhnya. tapi ia menekankan pentingnya ditemukan benda asing. kemungkinannya sangat kecil bahwa cedera akibat pisau cukur atau pisau lipat merupakan kecelakaan. pembakaran sering merupakan cara untuk membuang korban infantisida atau bayi lahir mati.dapat menimbulkan fraktur kominutif dengan laserasi kulit kepala dan mungkin dapat ditemukan bekas yang menunjukkan bahwa bayi dipegangi saat kejadian. akan tetapi tindakan tersebut tetap menunjukkan serangan yang diniatkan. Mungkin demonstrasi saturasi karbonmonoksida yang tinggi adalah bukti kematian karena pembakaran pada kasus ini.

f) Penelantaran bayi Infantisida dengan tidak memberi makan atau dengan penelantaran jarang terjadi. Anak masih berhubunggan dengan uri. Umur bayi dalam kandungan. terlebih dahulu direndam dalam air supaya tali pusat mengembang lagi dan diperiksa dibawah mikroskop. dan tali pusat yang belum diikat merupakan petunjuk terpenting dari keadaan belum dirawat. Bila tali pusat sudah kering. Viability ini adalah sebagai berikut : • 28 minggu atau lebih dalam kandungan • Berat badan 1500 gram atau lebih • panjang badan kepala-tumit 35 cm atau lebih • lingkaran kepala oksipitofrontal 32 cm atau lebih . atau postmatur? 4. Sudah bernapas (lahir hidup) atau belum (lahir mati)? 5. (7) Bayi yang dapat hidup diluar kandungan ibu (viable) Dapat hidup di luar kandungan berarti dapat hidup tanpa pertolongan inkubator. couveuse. matur. Dalam hal bayi tercemplung atau dicemplungkan dalam air maka darah dan sebagian dari verniks kaseosa dapat tersingkirkan dari tubuhnya. Pengalaman yang sering terjadi adalah ibu yang mengabaikan anaknya meninggalkan si anak terbungkus rapi dan meletakkannya di tempat dimana bayi tersebut dapat segera ditemukan dan dirawat oleh orang lain. Apakah bayi baru dilahirkan sudah dirawat atau belum dirawat? 2. (7) Bayi baru lahir dan belum dirawat Keadaan baru lahir dan belum dirawat sebagai petunjuk dari tidak lama setelah dilahirkan. Apakah bayi sudah mampu hidup terus di luar kandungan ibu (viable) atau belum (nonviable)? 3. Menurut ponsold. dan selangkangan. tetapi belum diikat (belum dirawat). bayi baru lahir adalah bayi yang baru dilahirkan dan belum dirawat.7) Bayi baru lahir dan sudah dirawat Anak yang baru dilahirkan tubuhnya diliputi suatu bahan seperti salep. HAL-HAL YANG PERLU DITENTUKAN PADA AUTOPSI Terdapat beberapa hal yang perlu ditentukan pada autopsi mayat bayi yang baru lahir seperti : 1. berarti tubuh bayi masih berlumuran darah dan verniks kaseosa serta tali pusat mungkin masih berhubungan dengan uri atau sudah terpisah. verniks kaseosa. Dapat pula terjadi bahwa si ibu menunggu di sekitar tempat si bayi ditinggalkan sampai ia tahu bahwa bayinya ada di tempat yang aman. berapa jam/hari umur bayi tersebut (umur setelah dilahirkan)? 6. Bila terbukti lahir hidup. tempat untuk memelihara bayi prematur dalam suatu lingkungan dengan suhu dan kelembapan yang stabil. apakah sebab matinya? (3.ketiak. Bila tali pusat sudah terputus. namun masih bisa ditemukan pada lipat-lipat kulit dileher. lipat lutut. premature. Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat. Adakah tanda-tanda kekerasan? 7. ujungnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah tali pusat dipotong dengan benda tajam atau robek. belakang daun telinga. lipat siku.

labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor. yakni sampai pada dasar skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. dari depan hingga tumit. .7) Umur bayi cukup bulan (aterm/matur) Pada bayi yang lahir genap bulan setelah dikandung selama 37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh didapatkan (259 sampai 293 hari). • Rambut kepala relative kasar.• tidak mengadung cacat bawaan yang tidak memungkinkannya untuk hidup terus (incompatible with life). Ukuran Antopometrik: • Berat badan ± 3000 gram (2500-4000). batas rambut pada dahi jelas. • Kuku jari tangan sudah panjang. • Terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki. testis sudah turun dengan sempurna. sedangkan bayi premature membengkok keventral atau satu bidang dengan korpus manubrium sterni. • Alis mata sudah lengkap. • Processus xyphoideus membengkok kedorsal. • Puting susu pada bayi yang matur. Dan pada bayi perempuan yang matur. yakni bagian lateralnya sudah ada. menunjukkan pembentukan tulang rawan yang sudah sempurna. melampaui ujung jari. sudah berbatas tegas. pada helix teraba tulang rawan yang keras pada bagian dorsokrnialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula. masing-masing helai terpisah satu sama laindan tampak mengkilat. akan tetapi bayi tersebut mengalami kelainan pertumbuhan yang menyebabkan anak tidak dapat hidup di luar kandungan : a) anak lahir tanpa dinding dada sampai terlihat◊Ectopia kordis jantungnya anak dilahirkan dengan tulang punggung◊b) Rakiskisis terbuka tanpa ditutupi kulit saluran kero◊c) Atresia Esofagus ngkongan tidak terbentuk batang◊d) Fistula Tracheo oesophagus tengkorok dan kerongkongan berubah menjadi satu anak◊e) Anensefalus dilahirkan tanpa otak besar (5. • Pada bayi laki-laki matur. • Skin opacity cukup tebal sehingga pembuluh darah yang agak besar pada dinding perut tidak tampak atau tampak samara-samar. ujung distalnya tegas dan relative keras sehingga tersa bila digarukkan pada telapak tangan. areola menonjol diatas permukaan kulit dan diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih. (7) Bayi yang tidak dapat hidup diluar kandungan ibu (non-viable) Dalam kasus-kasus tertentu meskipun bayi yang dilahirkan itu telah cukup usia kandunganya. Yang dinilai garis yang relative lebar dan dalam. • Panjang badan kepala-tumit 46-50 cm • Panjang kepala tungging 30 cm atau lebih • Lingkar kepala oksipito-frontal 33-34 cm • Lingkar dada 30-33 cm • Lingkar perut 28-30 cm Ciri-Ciri Eksternal : • Daun telinga pada bayi lahir cukup bulan.

• Pada bayi cukup bulan terdapat pusat penulangan epifisial diujung distal femur dengan diameter 4-5 mm.dan adanya pusat penulangan pada tallus dan calcaneus. (3,7) Umur bayi tidak cukup bulan (prematur) Untuk menentukan umur anak dalam kandungan selain mengukur panjang badan menrut rumus Haase, perlu diperiksa initi penulangan, sentrum osifikasi. • Calcaneus (24 minggu) • Talus (28 minggu) • Distal Femur (38 minggu) • Proximal tibia (genap bulan) Kesimpulan bila tidak ditemukan inti penulangan adalah anak belum sampai unur tersebut di atas atau mungkin pembentukan inti penulangan terlambat. (7) Bayi dilahirkan dalam keadaan hidup dan bernapas Untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan benar-benar hidup, hal ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap tiga fungsi utama organ tubuh manusia yaitu respirasi, sirkulasi dan aktivitas otak.Terdapat beberapa pemeriksaan yang harus dilakaukan bagi menentukan bayi sudah bernapas atau tidak • Rongga dada yang telah mengembang, pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya rendah, setinggi iga ke-5 atau ke-6. • Pada bayi yang telah bernapas, paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian besar rongga dada. • Tertelannya udara (yang menyertai pernapasan) mangakibatkan telinga tengah dan saluran pencernaan mengandung udara. • Gambaran makroskopis paru Paru-paru bayi yang sudah bernapas (sudah teraerasikan) berwarna merah muda tidak homogen tetapi berupa bercak-bercak (mottled) dan menunjukkan gambaran mozaik berupa daerah-daerah poligonal yang berwarna lebih muda dan menimbul di atas permukaan berselang-seling dengan yang berwarna lebih tua dan kurang menimbul. Gambaran tersebut tampak jelas pada tepi lobus paru. Tepi-tepi paru tumpul. Paru-paru bayi yang belum bernapas (belum teraerasikan) berwarna merah hitam seperti warna hati bayi, homogen, tidak menunjukkan gambaran mozaik dan tepi-tepinya tajam. Kadangkadang tampak guratan-guratan yang membentuk pola daerah-daerah poligonal pada permukaan paru. Warna daerah-daerah yang poligonal itu tidak berbeda satu sama lain dan juga tidak berbeda dengan warna paru di bagian lainnya. • Uji apung paru positif yang membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru. Dengan cara mengeluarkan seluruh alat rongga dada kemudian dimasukkan dalam air, dan memperhatikan apakah kedua paru terapung. Kemudian dilanjutkan dengn mengapungkan paru kanan dan kiri secara tersendiri. Dan lobus paru dipisah dan diapungkan diair. Selanjutnya membuat 5 potongan kecil (± 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masing-masing lobus dan diapungkan kembali. Pada paru yang telah mengalami pembusukan, potongan kecil dari paru dapat mengapung sekalipun paru belum pernah bernapas. Hal ini disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan pada jaringan interstisial paru, yang dengan menekan potongan paru yang bersangkutan antara 2 karton, gas pembusukan dapat didesak keluar. Uji apung paru dinyatakan positif bila potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian besar masih tetap mengapung.

Penekanan tersebut bertujuan untuk menyingkirkan gas pembusukan dan tidal air, yang terdapat dalam jaringan intertisial paru-paru yang membusuk. Namun, bila paru tersebut sudah mebusuk sekali, alveoli sudah pecah atau menjadi pecah pada penekanan, maka residual air tersingkirkan sehingga jaringan paru akan tenggelam. Dengan demikian bayi yang telah bernapas dapat dinilai sebagai belum bernapas setelah dilahirkan. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa pada hasil uji apung paru yang negatif tidak dapat dibuat kesimpulan bahwa bayi pasti belum bernapas. Bila uji apung paru negatif, hanya dapat dibuat kesimpulan bayi mungkin belum bernapas. Kepastian bahwa bayi belum bernapas baru diperoleh setelah dipadu dengan tidak ditemukannya gambaran mozaik pada permukaan paru dan tidak ditemukannya gambaran histologik yang khas untuk paru-paru yang belum mengalami aerasi, yakni crumpled sac alveoli atau karusselalveolen. • Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah terbuka dengan dinding alveoli yang tipis. Cara pengambilan jaringan untuk pemeriksaan mikrosopis, yaitu dengan memasukkan seluruh paru kanan ke dalam formalin netral 10%. Setelah kira-kira 12 jam dibuat beberapa irisan melintang pada paru untuk memungkinkan fiksatif meresap dengan baik ke dalamnya. Setelah difiksasi selama 48 jam diambil potongan-potongan melintang dari ketiga lobus dengan menggunakan scalpel yang tajam atau pisau silet. juga dari sisa paru kiri diambil beberapa potongan jaringan. Biasanya digunakan pewarnaan hematoksilin eosin, namun untuk paru yang sudah membusuk , Reh (34) menganjurkan pewarnaan cara Gomori, tatapi dapat pula dilakukan dengan pewarnaan cara Ladewig yang lebih murah. Dengan pewarnaan cara Gomori, ruang kosong akibat gas pembusukan atau akibat aerasi dapat dibedakan, karena serabut-serabut retikulin yang terdapt pada septa alveoli relatif resisten terhadap pembusukan. Pada pembusukan, ruang kosong menunjukkan batas yang tidak rata karena tidak dibatasi oleh serabut retikulin yang tegang, sebaliknya pada ruang kosong akibat aerasi, menunujukkan batas yang rata dimanan tampak serabut yang tegang. Di sini sukar untuk menentukan, apakah anak bernapas pada waktu sebelum atau sesudah dilahirkan. Ada kalanya anak masih dalam kandungan sudah bernapas dan menangis, vagitus uterinus/vaginalis. Dimana apabila selaput ketuban pecah dan air ketuban keluar, sehingga terjadi hubungan antara dunia luar dengan anak dalam kandungan. Pada saat yang singkat ini, udara terisap oleh anak, anak benapas kemudian menangis. Bila rahim berkontraksi kembali, vagitus uterinus tidak terjadi lagi. (3,5,7) Bayi dilahirkan dalam keadaan still born atau dead born Still born adalah jika bayi dilahirkan setelah melewati usia kehamilan 28 minggu dan setelah dilahirkan tidak pernah menunjukkan adanya tanda kehidupan. Karena bayi berada dalam lingkungan steril maka proses pembusukan dimulai dari permukaan kulit menuju ke jaringan yang lebih dalam. Dead born adalah bayi yang meninggal dalam uterus dan setelah dilahirkan menunjukkan : • tanda-tanda rigor mortis saat dilahirkan • tanda-tanda maserasi yaitu proses otolisis yang aseptic dimana bayi berada dalam uterus 3-4 hari setelah meninggal. Mayat menjadi lunak, kempis dan mengeluarkan bau busuk. Pada kulit terdapat lepuhan yang berisi cairan serosa dan kulit bewarna merah. Jaringan tubuh membengkak dan sutura pada tulang tengkorak terpisah. Tali pusat bewarna merah, lunak dan tebal. • Mumifikasi akibat berkurangnya aliran darah ke jaringan terutama jika cairan amnion sudah

sangat berkurang dan tidak ada udara yang masuk ke dalam uterus. Janin menjadi kering dan menyusut. (3) Bayi yang dilahirkan hidup dan penentuan berapa lama bayi itu hidup Terdapat beberapa pemeriksaan medis yang harus dilakukan melalui autopsi untuk menentukan berapa lama bayi tersebut telah hidup sebelum dibunuh seperti : 1. Perubahan pada kulit ( Kulit bayi baru lahir bewarna merah terang disertai lapisan verniks kaseosa yang terdapat pada lipat paha, ketiak, dan leher. Verniks kaseosa ini baru bisa hilang jika dibersihkan dalam waktu 2 hari. Warna kulit menjadi lebih gelap pada hari ke-2 dan ke-3 akhirnya berubah menjadi bewarna merah bata san sedikit kuning. Warna kulit normal akan tampak dalam waktu 1 minggu. 2. Perubahan pada kaput suksedaneum dimana pada proses persalinan jaringan kulit kepala bayi mengalami pembengkakan yang berisi cairan darah atau lebih sering berisi serum. Pembengkakan ini akan hilang setelah 1 hingga 3 hari. 3. Perubahan pada usus besar dan lambung dimana jika terdapat udara di dalam usus besar, berarti bayi telah hidup beberapa jam. Jika lambung berisi udara, berarti bayi telah hidup selama satu hari. 4. Perubaan pada mekonium, jika meckonium telah hilang sama sekali, berarti bayi sudah hidup selama 4 hari. 5. Perubahan pada cephal hematom yaitu bila menghilang, berarti bayi tersebut telah hidup selama 8-14 hari 6. Perubahan pada tali pusat a. Bekuan darah pada bekas potongan : setelah 2 jam b. Tali pusat mulai kering masih menempel pada bayi : 12-14 jam c. Peradangan sekitar tali pusat bayi : 36-48 jam d. Tali pusat terlepas dari bayi : 5-8 hari e. Luka menyembuh atau pembentukan jaringan parut : 8-12 hari (3,5) Bayi yang lahir hidup dan penyebab yang meyebabkan kematian i. Prematuritas yang disertai penyakit kongenital, malformasi, kelemahan bayi sendiri, perdarahan, penyakit plasenta dan eritroblastosis fetalis ii. Akibat kecelakaan seperti persalinan yang lama, prolaps tali pusat, terbelit tali pusat, cedera pada bagian abdomen ibu, kematian ibu, sufokasi, proses persalinan terlalu cepat. iii. Tindakan kriminal aktif atau pasif (3) ASPEK MEDIKO-LEGAL Dokter yang memeriksa sering mendapatkan pertanyaan berikut ini pada sidang pengadilan sehubungan dengan kasus pembunuhan bayi. i. Apakah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup atau mati ? ii. Jika bayi lahir hidup, berapa lama bayi tersebut bertahan ? iii. Apa penyebab kematian bayi ? PASAL-PASAL YANG BERKAITAN DENGAN PEMBUNUHAN BAYI PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI Pasal 341 Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau

Seorang ayah yang membunuh anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Dalam hal ibu kandung membunuh anaknya setelah batas waktu tidak lama kemudian. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (7) Pasal 342 Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. diancam karena membunuh anak sendiri. Namun. Tubuh yang masih . terdapat tiga unsur yang khas. Hendaknya “tidak lama kemudian” diartikan sebagai selama bayi baru lahir itu belum dirawat. jam. ukuran ini tidaklah mutlak.Undang-undang menetapkan tenggang waktu pada saat dilahirkan hingga tidak lama kemudian. dan apakah anak itu didapat didalam perkawinan atau diluar perkawinan. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.tidak lama kemudian. Tidak dipermasalahkan. atau hari setelah kelahiran. (7) Pasal 343 Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan. dengan sengaja merampas nyawa anaknya. dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. (7) Pada tindak pidana Pembunuhan Anak Sendiri. akan dipidana karena melakukan pembunuhan (KUHP pasal 338) atau pembunuhan dengan rencana (KUHP pasal 340). dapatlah disimpulkan bahwa pengertian pada saat bayi dilahirkan sebagaimana tercantum dalam KUHP adalah saat keluarnya bayi dari kandungan sampai dengan saat keluarnya placenta yang mana pada kelahiran normal proses ini berlangsung dalam waktu kurang lebih 15-20 menit. diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun (7) Pasal 340 Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain. Dengan perkataan lain selama bayi tersebut masih dalam keadaan seperti pada saat ia meninggalkan jalan lahir. maka ia dapat dipidana karena melakukan pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. Tenggang waktu Apa yang dimaksud dengan perkataan pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan. paling lama dua puluh tahun. diancam karena pembunuhan dengan rencana. apakah wanita terdakwa tersebut mempunyai suami atau tidak. pembunuhan dilakukan dalam tenggang waktu tertentu dan si ibu dalam keadaan kejiwaan takut akan ketahuan bahwa ia melahirkan anak. (5) Undang-undang tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tidak lama kemudian. sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana (7) Pasal 338 Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain. undangundang tidak memberikan tafsiran otentik. Dari uraian tersebut d atas. Ibu kandung Hanya seorang ibu kandung yang dapat dipidana karena melakukan pembunuhan anak sendiri (kinderdoodslag) ataupun pembunuhan anak sendiri yang direncanakan (kindermoord). tidak ditentukan berapa menit. yaitu pelaku adalah ibu kandung dari bayi yang bersangkutan. karena takut akan ketahuan bahwa karenanya telah lahir anak itu. diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana.

(7) Pasal 306 (1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 mengakibatkan luka-luka berat. (2) Jika mengakibatkan kematian pidana penjara paling lama sembilan tahun. pembunuhan anak itu tetap dianggap sebagai pembunuhan anak sendiri dengan rencana. menyembunyikan. Terdorong oleh rasa takut akan ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak. Sekalipun jangka waktu tersebut sangat pendek. Bila keputusan untuk membunuh anak telah diambil sebelum anak dilahirkan. maka ia diancam . apakah karena melahirkan anak haram atau karena hal lain. (7)  Pasal 305 Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya. tidak lama sesudah melahirkan. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. mendorong si ibu untuk melakukan pembunuhan terhadap anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Tidak dipersoalkan hal apa yang menyebabkan rasa takut ketahuan melahirkan anak itu. Syarat takut ketahuan sudah terpenuhi bila si ibu mempunyai alasan untuk merahasiakan kelahiran anak tersebut. tetapi tidak lama kemudian meninggal karena sebab yang wajar serta tidak terbukti bahwa si ibu dengan sengaja meninggalkan anaknya itu. maka pidana penjara atau denda karena menyembunyikan kelahiran dan kematian anaknya dapat dijatuhkan kepada yang bersangkutan. atau terbukti bayi lahir hidup. tetapi menempatkannya di suatu tempat untuk ditemukan oleh seseorang atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya. maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. Dalam hal terbukti bayi lahir mati atau tidak dapat dibuktikan (karena mayat sudah sangat busuk atau tida k terdapatnya alat bukti lain). maka si ibu diancam dengan pidana telah melakukan Pembunuhan Anak Sendiri dengan rencana (pasal 342 KUHP). (7) TINDAK PIDANA LAIN YANG MENYANGKUT ANAK YANG BARU DILAHIRKAN Pasal 308 Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya. membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya. Tidak dipermasalahkan jangka waktu antar saat pengambilan keputusan dengan saat pelaksanaan PAS itu. MENYEMBUNYIKAN KELAHIRAN DAN KEMATIAN ANAK Pasal 181 Barang siapa mengubur. menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya.berlumuran darah serta tali pusat yang belum diikat dan dipisahkan dari uri menunjukkan bayi tersebut belum dirawat. Bila perbuatan si ibu tidak menimbulkan luka berat pada bayinya. yang bersalah diancamdengan pidana penjara paling lama tujuh tahun enam bulan. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lirna ratus rupiah. Unsur kejiwaan inilah yang merupakan alasan yang mendasari ditentukannya hukuman yang lebih ringan (dibandingkan dengan pidana pembunuan biasa) pada tindak pidana Pembunuhan Anka Sendiri.(3) Keadaan kejiwaan si ibu Keadaan kejiwaan takut akan ketahuan ia melahirkan anak. seorang ibu mungkin tidak membunuh anaknya yang baru dilahirkannya.

(7) DAFTAR PUSTAKA 1.dengan pidana maksimal 2 tahun 9 bulan (separuh dari 5 tahun 6 bulan). Perdanakusuma M. 2. [Online]. infanticide. Pembunuhan anak. Dalam : Pedoman ilmu kedokteran forensik. Hamdani N. 6.com/pas_pengguguran_kandungan_by_summervernith/carainfantisida. 1995. Dalam : Bab-bab tentang kedokteran forensik. Twelfth Edition. 2006. Neonaticide. Idries AM. Dimaio D. Available from : URL : http://www.htm 3. In : Simpson . Jakarta : Widya Medika. ancaman pidana menjadi maksimal 3 tahun 9 bulan (separuh dari 9 tahun). 2003.freewebs. 4. Dalam : Catatan kuliah ilmu forensik dan toksikologi. Pembunuhan anak. Beberapa permasalahan mengenai kasus pembunuhan. [cited 2008 September]. Deaths and injury in infancy. 1992. Chadha PV. PAS dan pengguguran kandungan stop infanticide. Bila si bayi mengalami luka berat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. London : Arnold A Member Of The Hodder Headline Group. Shepherd R. Edisi I. Dalam : Ilmu kedokteran kehakiman. Anonim. Jakarta : Binarupa Aksara. 1984. Infantisida. and child homicide. s forensic medicine. . 1997. Edisi V. 7. In : Forensic pathology. 5. Second Edition. Dimaio VJ. Jakarta : Ghalia Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->