P. 1
laporan pemupukan

laporan pemupukan

|Views: 2,274|Likes:
Published by Andre Prabowo

More info:

Published by: Andre Prabowo on Jan 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2014

pdf

text

original

BAB I PEMBUATAN KOMPOS

A. TUJUAN 1. 2. Mengetahui cara pembuatan kompos Mengetahui tahapan pengomposan dengan mengetahui perubahan

yang terjadi. B. LATAR BELAKANG Kompos, sebenarnya sudah kita kenal sejak dahulu kala. Leluhur kita telah lama mempelajari nilai penggunaan kompos itu. Mereka menerima panen yang melimpah setelah hutan primer terbuka. Tempat yang dibuka itu bagian atasnya mengandung tanah yang sangat subur, yang terjadi dari daundaun, rumput-rumput hancur yang tercampur kotoran burung dan binatangbinatang sehingga terkumpul berabad-abad. Namun ketika mereka berdiam di tempat tersebut dan mengolahnya dari tahun ke tahun, mereka lihat kesuburan tanah itu semakin berkurang. Maka mereka mulai meniru hutan alam, memulihkan tanah tersebut dengan daun-daun, rumput, semak-semak dan kotoran yang dapat dikumpulkan. Dengan demikian tanah dijaga agar tetap subur. C. TINJAUAN PUSTAKA Bahan kompos biasanya diperoleh dari alam, misalnya dari tumbuhtumbuhan dan bahan organik lainnya. Pembuatan kompos adalah menumpukkan bahan-bahan dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah sebelum digunakan sebagai pupuk. Bahan organik tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman secara langsung karena unsur hara yang terkandung di dalamnya tidak dapat diserap oleh tanaman, jadi diperlukan proses pengomposan (Sutedjo, 1995).

1

Kompos biasanya dibuat secara berselang-seling yaitu bahan dasar, pupuk kandang, pupuk buatan, bahan dasar lagi, dan seterusnya. Pemberian pupuk kandang dimaksudkan untuk menambahkan unsur hara, sedang pemberian kapur maksudnya untuk menetralkan pH pupuk (Anonim, 2004). Beberapa faktor yang mempengaruhi agar pengomposan berhasil : a. Ukuran Bahan Semakin kecil ukuran bahan mentah, maka semakin cepat pula proses pembusukannya. Dan ukuran bahan yang terlalu besar akan menyebabkan lamanya proses pengomposan. b. Suhu Suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalau rendah akan menghambat pertumbuhan mikrobia perombak. Suhu optimum mikrobia perombak dapat hidup adalah pada suhu 35-40oC. c. C/N Ratio Timbunan yang mempunyai C/N ratio tinggi akan menghasilkan panas untuk pembusukan bahan dengan cepat. Kalau timbunan mempunyai C/N ratio yang yang rendah, maka timbunan akan ditumbuhi jamur. Bahan dasar yang mempunyai C/N ratio yang tinggi harus dicampur dengan bahan yang mengandung sumber nitrogen agar proses pembusukan dapat berlangung cepat. Unsur N merupakan sumber energi bagi mikrobia di dalam melakukan perombakan kompos dalam bentuk urea dan SP-36. kadar C apabila C/N ratio semakin tinggi lebih dari 30% dari proses pengomposan, maka akan terjadi proses immobilisasi. d. Kelembaban Pada saat pembuatan kompos harus dijaga kelembabannya agar nitrogen dan amoniak tidak banyak hilang dan agar dapat meningkatkan aktifitas mikrobia perombak. Apabila timbunan menjadi terlampau basah dan aerob, maka pengadukan dapat dilakukan untuk mengembalikan pada keadaan yang normal.

2

e. pH pH sangat berpengaruh pada kegiatan enzim. Enzim yang dikelurkan oleh mikrobia menentukan besar kecilnya enzim yang dihasilkan. Untuk mengatasi pH yang terlalu rendah dapat ditambahkan bahan kapur. pH yang optimum untuk proses pengomposan adalah 6-7. f. Oksigen ( O2) Degradasi mikrobia akan menurun dengan menurunnya oksigen. Karena fungsi oksigen dalam metabolisme mikrobia dalam keadaan aerob, yaitu bahan organik akan diurai menjadi CO2 dan H2 sedang pada keadaan anaerob, bahan organik akan menghasilkan CO2 dan asam-aam organik. Golongan besar organisme mendekomposisi adalah bakteri, fungi dan actionmycetes. Mikroorganisme ini dapat segera aktif dan baik untuk didekomposisi dan sintesa secara bersamaan. Ciri-ciri kompos yang baik : 1) Warna coklat sampai hitam. 2) Kadar seratnya sedikit. 3) Strukturnya remah. 4) Konsistensi gembur. 5) Berbau daun yang lapuk. D. HASIL PENGAMATAN Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Kompos No 1 2 3 Perlakuan Jerami Glyrecideae Jati Warna Coklat Hijau kehitaman Coklat tua Sifat fisik Macak-macak (lunak) Macak-macak (lunak) Macak-macak (remah) Kadar serat (%) 50 30 70 Suhu Akhir (C) 32,5 32,5 32,5

E. PEMBAHASAN 3

Dalam pembuatan kompos ini, bahan terlebih dahulu diinkubasi selama kurang lebih 7 minggu. Setelah itu, pada masing-masing perlakuan diamati perubahan-perubahan yang terjadi diantaranya warna, sifat fisik, kadar serat (%) dan suhu (oC). maing-masing perlakuan tersebut, antara lain : 1. kompos dengan bahan mentah berupa Glyrecideae Ditinjau dari sifat fisiknya, kompos dari bahan mentah Glyrecideae memiliki sifat macak-macak (lunak), warna hijau kehitam-hitaman dan kadar serat 30%, maka kompos ini dikatakan sudah cukup matang, hal ini dapat dilihat dari kandungan serat yang terdapat dalam kompos tersebut. Pada saat diperas serat yang tersisa sedikit. Apabila dibandingkan dengan jati dan jerami, proses pengomposan pada Glyrecideae lebih efektif, karena kandungan lignin yang ada pada Glyrecideae agak rendah. 2. Kompos dengan bahan mentah berupa jerami Ditinjau dari sifat fisiknya, kompos dari bahan mentah jerami memiliki sifat macak-macak (lunak), warna coklat dan kadar serat 50%, Apabila dibandingkan dengan jati, proses pengomposan pada jerami lebih efektif, karena kandungan lignin yang ada pada jerami agak rendah dibandingkan jati. Ratio C/N yang tinggi pada jerami juga agak menghambat pematangan proses pengomposan. 3. Kompos dengan bahan mentah daun jati Ditinjau dari sifat fisiknya, kompos dari bahan mentah jati memiliki sifat macak-macak (remah), warna coklat tua dan kadar serat 70%, maka kompos ini dikatakan belum cukup matang. Apabila dibandingkan dengan Glyrecideae dan jerami, proses pengomposan pada jati berjalan lebih lama, karena kandungan lignin yang ada pada jati sangat tinggi.

F. KESIMPULAN 4

1. Perubahan yang terjadi pada pembuatan kompos dari bahan : a. Glyrecideae - Sifat fisik - Warna : macak-macak (lunak) : hijau kehitam-hitaman

- Kadar serat : 30% - Suhu akhir : 32,5 0C b. Jerami - Sifat fisik - warna : macak-macak (lunak) : coklat

- Kadar serat : 50% - Suhu akhir : 32,5 0C c. Daun jati - Sifat fisik - Warna : macak-macak (remah) : coklat tua

- Kadar serat : 70% - Suhu akhir : 32,5 0C 2. Proses pengomposan yang paling cepat adalah pada kompos Glyrecideae dan yang berjalan lama adalah daun jati.

DAFTAR PUSTAKA 5

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB II 6

PENERAPAN PUPUK AZOLLA

A. TUJUAN 1. Mengetahui manfaat dari tanaman azolla kaitannya dengan kesuburan tanah. 2. Mengetahui pengaruh dari pupuk azolla terhadap tanaman padi. B. LATAR BELAKANG Mengingat besarnya biaya yang diperlukan untuk penyediaan pupuk nitrogen buatan ditambah dengan resiko semakin menipisnya cadangan minyak bumi yang tidak dapat diperbaharui serta timbulnya dampak negatif bagi lingkungan, maka perlu diupayakan penyediaan hara nitrogen yang lebih murah, mudah dan tidak berdampak negatif bagi lingkungan dengan memanfaatkan dan meningkatkan kemampuan mikrobia tanah dalam menyediakan hara nitrogen secara alami khususnya pada lahan padi sawah. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa tanaman padi sawah di daerah tropis secara alami dapat memproduksi 2-3 ton gabah per ha dengan memanfaatkan nitrogen yang ada di alam melalui kegiatan fiksasi N secara biologis oleh mikrobia tanah (Reddy, Ladha, So, Hernandez, Ramos, Angeles, Dazzo dan de Bruijn, 1997). Tanaman Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azolla, merupakan cyanobacteria (salah satu Blue green algae) yang dapat menambat N2. penambatan N2 udara adalah Anabaena azolla lebih lebih efisien dibanding dengan Blue green algae lain yang hidup bebas, karena jumlah heterosite sebagai tempat berlangsungnya penambatan N2 lebih banyak. Azolla sangat efisien dalam memanfaatkan unsur K dari air irigasi, 7

sehingga konsentrasinya dapat mencapai 2-3,5 %. Konsentrasi pada air irigasi hanya 2-5 ppm K2O, maka disamping N, Azolla dapat dimanfaatkan sebagai sumber K.

C. TINJAUAN PUSTAKA Tanaman azolla sangat bermanfaat bagi peningkatan kesuburan tanah dalam hal ini peningkatan kadar hara yang tersedia bagi tanaman, karena tanaman azolla mengandung 3,5 – 4 % N; 41,5 – 45,3 % C; sehingga C/N rationya berkisar antara 8,3 – 10. dengan C/N ratio yang rendah, Azolla mudah terdekomposisi. Azolla sangat efisien dalam memanfaatkan unur K dari air irigasi, sehingga konsentrasinya dapat mencapai 2 – 3,5%. Konsentrasi K dalam air irigasi hanya 2 – 5 ppm K2O, maka disamping sumber N, Azolla dapat dimanfaatkan sebagai sumber K. Tanaman azolla tidak beracun bagi ternak, unggas, dan ikan. Dengan demikian azolla dapat dimanfaatkan untuk pupuk berbagai tanaman, pakan ternak, unggas maupun ikan. Kegunaan lain untuk pemurnian air, menekan perkembangan nyamuk dan menekan pertumbuhan gulma pada tanah sawah. Pemanfaatan azolla sebagai pupuk tanaman, dapat diberikan baik dalam bentuk segar, kerig atau kompos.

D. HASIL PENGAMATAN Tabel 2. Pengamatan Penerapan Pupuk Azolla 8

1. LATOSOL No Perlakuan Kontrol 1 ul 1 ul 2 rata-rata Azolla 60 g ul 1 ul 2 rata-rata Azolla 120 g ul 1 2 ul 2 rata-rata Azolla 180 g ul 1 ul 2 rata-rata Urea 0,2 g ul 1 3 ul 2 rata-rata Tinggi (cm) 59 61 60 64 63 63,5 62 63 62,5 67 67 67 75 72 73,5 Σ N Berat basah (gram) 11 23,5 17,25 7,8 21 14,4 17 26,9 21,95 23 31 27 18,5 13,7 16,1 Berat kering (gram) 2 3,3 2,65 1,5 3,3 2,4 2,7 3,7 3,2 3,5 4 3,75 2,4 3 2,7 Anakan Kualitatif 2 3 4 3 2 9 5,5 4 4 4 4 4 4 4 5 4,5 3 3 4 5 4,5 4 5 4,5 4 6 5 5,5 6 5,75

2. REGOSOL No Perlakuan Tinggi (cm) Σ N Berat basah (gram) Berat kering (gram) Anakan Kualitatif 9

Kontrol 1

ul 1 ul 2

71 64 67,5 70 73 71,6 73 75 74 77 78 77,5 76 74 75

7 7 7 4 3 3,5 4 13 8,5 7 12 9,5 9 11 10

3,5 3 3,25 3,5 5 4,25 4 3,5 3,75 4 2,5 3,25 3,5 3 3,25

64,5 36,8 50,65 33,5 52,5 43 62,5 82 72,25 60 56,5 58,25 80 110,6 95,3

4,8 7,7 6,25 5,6 31,5 18,55 10 19 14,5 10 9,9 9,95 17,3 31,5 24,4

rata-rata Azolla 60 g ul 1 ul 2 rata-rata Azolla 120 g ul 1 2 ul 2 rata-rata Azolla 180 g ul 1 ul 2 rata-rata Urea 0,2 g ul 1 3 ul 2 rata-rata

E. PEMBAHASAN Pada latosol, hasil dari perlakuan dengan pemberian pupuk urea sangat berpengaruh baik, dilihat dari pertumbuhan tanaman padi yang sangat subur. Dibandingkan dengan pemberian Azolla, tanaman kurang begitu merespon dalam menyerap N, diakibatkan dari pengaruh tanah yang sifat kimia nya termasuk tanah-tanah yang kekurangan N, sehingga apabila diberi pupuk anorganik berupa urea, tanaman langsung merespon lebih baik. Apabila dibandingkan dengan kontrol, pertumbuhan tanaman mengalami hambatan, dilihat dari pertumbuhan tanaman yang kerdil, jumlah anakan yang sedikit, serta N kualitatif yang rendah, ini diakibatkan karena tidak adanya pasokan unsur hara dari luar terutama unsur N yang membantu dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Pada regosol, pemberian pupuk urea dan Azolla sangat membantu didalam pertumbuhan tanaman padi. Dari perlakuan dengan pemberian Azolla dengan dosis pupuk yang meningkat, pertumbuhan tanaman dari segi jumlah 10

anakan semakin banyak, tetapi N kualitatif semakin menurun, ini diakibatkan oleh respon tanaman padi kurang begitu baik dengan dosis terlalu tinggi dalam penyerapan N. Pada Urea memberikan hasil yang hampir sama dengan pemberian Azolla. Dibandingkan dengan kontrol, pertumbuhan tanaman mengalami hambatan, dilihat dari pertumbuhan tanaman yang kerdil, jumlah anakan yang sedikit, serta N kualitatif yang rendah, ini diakibatkan karena tidak adanya pasokan unsur hara dari luar terutama unsur N yang membantu dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Pada regosol respon tanaman terhadap pasokan pupuk dari luar sangat baik dibandingkan dengan latosol, dilihat dari pertumbuhan tanaman pada regosol yang lebih subur dari pada latosol. F. KESIMPULAN 1. Pengaruh tanaman Azolla terhadap kesuburan tanah : a. Tanaman Azolla mampu meningkatkan unsur hara N yang tersedia bagi tanaman. b. Azolla juga dapat membantu tanaman dalam mengikat air lebih besar. 2. Dengan penambahan pupuk Azolla, maka nilai N kualitatif pada tanaman padi lebih tinggi dibanding dengan tanaman padi tanpa penambahan pupuk Azolla. 3. Dengan pemberian pupuk urea, ternyata mampu meningkatkan unsur hara N tersedia bagi tanaman padi.

DAFTAR PUSTAKA

11

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB III PENGENALAN JENIS PUPUK

12

A. TUJUAN 1. Untuk mengetahui atau mengenal karakteristik masing-masing pupuk 2. Untuk mengetahui berbagai macam jenis pupuk dan pengguanaan yang tepat sesuai dengan yang diperlukan oleh tanaman berdasarkan pada sifat fisika dan kimia bahan pupuk. B. LATAR BELAKANG Keberhasilan bercocok tanam dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pemupukan, baik cara, dosis maupun waktu pemberiannya. Sebenarnya hal-hal yang menyangkut pupuk tidak asing bagi petani atau masyarakat lain. Namun, yang mereka kerjakan belum tentu sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman sehingga budidayanya tidak berhasil dengan baik. Pupuk diberikan pada tanaman dengan tujuan menambah zat (unsur hara) yang dibutuhkan tanaman, umumnya unsur hara telah tersedia didalam tanah, tetapi karena terus menerus diserap oleh tanaman maka jumlahnya akan berkurang. Unsur hara yang dibutuhakan tanaman sangat banyak tetapi terpenting dan harus sekitar 16 unsur, 3 unsur yang dibutuhkan diambil tanaman dari udara, seperti karbondioksida, hidrogen dan oksigen. Oleh karena itu, ketersediaannya banyak maka unsur hara tersebut jarang dipermasalahkan. Lain halnya dengan ke13 unsur lainnya yang berada didalam tanah. Unsur hara dalam tanah terus berkurang seiring pertumbuhan tanaman karena perlu tambahan dari luar berupa pupuk. Unsur hara yang berada dalam tanah dapat dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan tanaman. Unsur hara yang banyak dibutuhkan tanaman disebut unsur makro, sedangkan yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut unsur mikro. Jenis pupuk di Indonesia bermacam-macam dengan kandungan unsur hara atau bahan organik yang berbeda pula. Oleh karenanya, pemupukan tergantung jenis tanah. Dengan mengetahui kebutuhan tanaman akan unsur hara dan kandungan unsur hara yang ada dalam pupuk maka diharapkan kita 13

dapat melakukan pemupukan secara tepat. Jenis pupuk (unsur hara) yang diberikan dapat disesuaikan dengan unsur yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, cara pemberian pupuk pun perlu untuk diperhatikan agar pupuk dapat diserap tanaman secara efisien (sebagian besar tanaman terserap tanaman dan hanya sedikit yang hilang). Demikian pula, waktu pemberian harus diperhatikan agar tidak banyak pupuk yang terbuang percuma. C. TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat pada tanah yang langsung atau tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Adapun pupuk menurut pengertian umum adalah bahan-bahan yang diberikan pada kompleks tanah, tumbuh-tumbuhan, agar langsung dan tidak langung dapat menambah zat makanan tanaman yang tersedia dalam tanah. Dalam arti sempit, pupuk adalah bahan yang ditambahkan pada kompleks tanah, tumbuhan, untuk melengkapi keadaan makanan dalam tanah yang tak cukup mengandung unsur tanaman. Pengenalan beberapa jenis pupuk berdasarkan sifat fisik dan kimia mutlak diperlukan. Hal ini berkaitan dengan cara penyimpanan dan penggunaannya. Kesalahan dalam penyimpanan dan cara penggunaan pupuk dapat menimbulkan kerugian yang tidak kecil karena disamping menyebabkan kurang efektifnya penggunaan pupuk juga akan menimbulkan kerusakan pada pupuk itu sendiri, baik kerusakan fisik maupun kimia. Pupuk harus digunakan secara efisien untuk mendapatkan hasil yang setinggi-tingginya dengan masukan pupuk yang minimum dan dengan memperhatikan kualitas lingkungan. Penggunaan pupuk yang efisien perlu mempertimbangkan faktor-faktor antara lain : 1. 2. Pemilihan yang tepat atas bentuk dan sumber pupuk Pemberian tepat waktu, untuk mendapat pertumbuhan,

hasil biji, dan kualitas tanaman yang optimum

14

3. 4. 5. tersebut.

Penempatan

yang

sesuai

untuk

menghasilkan

pengguanaan oleh tanaman. Aspek ekonomi penggunaan pupuk. Jenis-jenis pupuk dapat menentukan dari suatu pupuk

Adapun sifat-sifatnya adalah sebagai berikut : 1. NPK Pupuk NPK disebut juga sebagai “Pupuk Majemuk Lengkap”. Di Indonesia belum biasa digunakan namun mengetahui sifat fisik dan kimianya, kandungan didalamnya adalah perlu. Pupuk majemuk lengkap yang diperdagangkan mempunyai jumlah kadar total jauh lebih tinggi, yaitu antara 30-60 % dan untuk memenuhi kebutuhan pupuk yang berkaitan dengan berbagai jenis tanaman, serta tipe tanah telah diproduksi juga berbagai macam pupuk majemuk lengkap dengan perbandingan yang bermacam-macam. Tetapi pemakainnya harus dipilih perbandingan NPK yang sesuai dengan bagan pemupukan yang berlaku. Pemakaian pupuk NPK tentunya harus melalui penyelidikan terlebih dahulu sehingga dapat dipilih mana yang sesuai persentasi kandungan NPK nya untuk kepentingan tanah, dengan demikian maka ekonomis, efektifitas dan efisiensi penggunaannya dapat terjamin. Penggunaan pupuk majemuk lengkap ini masih sangat minim atau belum biasa digunakan, mungkin beberapa faktor telah menyebabkannya. Padahal keuntungan daripada pemakaian pupuk ini akan lebih menghemat waktu daya kerja dan biaya pengangkutan karena dengan satu kali pemberian. Pemupukan selesai dan tidak ada persoalan pencampuran pupuk, yang akan tetap dijumpai bila dipakai dua atau tiga macam pupuk tunggal. Pupuk ini diperdagangkan dalam bentuk butiran-butiran kasar atau granuler, berwarna biru muda dan pupuk ini larut dalam air. Bahan yang terpenting dalam pupuk ini ammonium fosfat.

2. Urea 15

Unsur haranya memperbaiki sifat kimia tanah. Urea berupa senyawa organik CO(NH2)2, kadar N-nya 45-46%. Termasuk golongan pupuk higroskopis, karena pada kelembaban relatif 75% sudah mulai menarik air dari udara. Berbentuk kristal (butir) putih bergaris tengah 1 mm larut dalam air, yang dengan pengaruh dan peranan jasad renik di dalam tubuh tanah diubah menjadi ammonium karbonat. Reaksi fisiologis Urea adalah asam lemah, sedangkan equivalent acidity nya 80. sifat-sifat dari urea adalah sebagai berikut : a. b. c. 3. Za Zwavelzure Amoniak (NH4)2SO4-. Pupuk Za telah lama dikenal di Indonesia dan pemakaiannya sekitar 50-80% dari semua pupuk, kenyataannya sekarang Za menurun produksi, mungkin karena pemakaian yang terus menerus, karena pupuk ini reaksi fisiologis asam maka tanahnya akan menjadi masam, namun demikian karena kita telah mengetahui pengaruh pemasaman tanah oleh pupuk ini dan equivalent acidity nya (EA) atau angka pengapuran untuk meniadakan kemasaman itu, maka penggunaan Za tetap diperlukan. Za diperdagangkan dalam bentuk kristal, berwarna putih abu-abu dan keabu-abuan atau kuning tergantung pembuatannya. Warna tidak mengandung arti penting karena hanya menunjukkan pembuatannya. Za terdiri dari 97% (NH4)2SO4 dan tidak boleh mengandung asam bebas lebih dari 0,4% kandungan zat lemas atau (N) 20,5-21%. Pupuk Za dapat dikatakan sedikit higroskopis, baru akan menarik uap air dari udara basa kelembaban nisbi 80% pada 30 °C. Pupuk ini larut dalam air selanjutnya didalam tanah pupuk ini akan terurai menjadi ion-ion ammonium dan sulfat. Ion amoniak diaborpsi oleh koloid-koloid tanah 16 Termasuk golongan pupuk higroskopis, pada kelembaban nisbi Larut dalam air, dalam tanah urea dirubah oleh bakteri-bakteri Reaksi fisiologisnya adalah asam lemah, angka pengapuran 80. 73% sudah mulai menarik uap air dari udara. menjadi ammonium sulfat.

sehingga bahaya peresapan N di dalam tanah kecil. Bila terdapat banyak oksigen, amoniak akan dinitrifikasikan menjadi nitrat, yang tidak diabsorpsi oleh koloid tanah. Dengan demikian bahaya pembasuhan N kedalam tanah menjadi lebih besar. Diamping itu nitrat dalam keadaan aerob akan mengalami denitrifikasi menjadi nitrit dan akhirnya menjadi gas nitrogen yang akan hilang ke udara. Pupuk Za mempunyai reaksi fisiologis masam, karena itu jika terus menerus dilakukan pemupukan dengan pupuk ini akan memasamkan tanah. Za tidak boleh dicampur dengan pupuk-pupuk yang mengandung kadar bebas, seperti kalsiumsianamida, kalium-amonium-nitrat. Pupuk ini berfungsi pada fase vegetatif. 4. KCl Pupuk Kalium klorida terdapat dalam dua macam adalah sebagai berikut : a. b. KCl 80 dengan kadar K2O 52-53% KCl 90 dengan kadar K2O 55-58% Tingginya kadar klorida (Cl) pemakaiannya demikian terbatas, sehubungan dengan ini maka KCl sering tidak dipergunakan bagi tanaman yang peka terhadap Cl. Pupuk KCl ini ternyata sedikit atau agak higroskopis, mempunyai reaksi fisiologis asam lemah. Berguna pada fase generatif. 5. Gandasil D Pupuk ini diserap dalam bentuk NH4+, NO3-, H2PO42-, Mg,dan Zn, termasuk pupuk majemuk karena mengandung unsur NPK. Bersifat higroskopis, tekstur halus. Pupuk ini merupakan pupuk daun lengkap atau sempurna, berbentuk seperti tepung halus dan larut dalam air, warna pupuk putih agak kehijauan atau hijau muda.kandungan kadar N 14%, P 2O5 12%, K2O 14% dan Mg 1% serta unsur hara makro lainnya yang melengkapi yaitu Mn, BO, Cu, Zn serta Aneurin (sejenis hormon tumbuh) kegunaan untuk fase vegetatif. 6. Gandasil B 17

Diserap tanaman dalam bentuk NH4+, NO3-, HPO42- , Mg dan Zn. Pupuk berbentuk tepung halus bewarna merah muda atau pink larut dalam air kandungan kadar N 6%, P 20%, K 30%, Mg 3% dan unsur hara mikro lainnya yang melengkapi yaitu Mn, BO, Cu, Zn dan vitamin. Kegunaannya pada fase generatif. 7. ZK Diserap tanaman dalam bentuk K+, termasuk pupuk tunggal karena mengandung K saja. Bersifat alkalis (pH 5). Berstruktur butiran, tekstur kasar, warna abu-abu. 8. SP-36 Diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42- termasuk pupuk tunggal karena mengandung P saja. Bersifat masam (pH 5). Berstruktur butiran, tekstur kasar, warna abu-abu.

18

D. HASIL PENGAMATAN Tabel 3. hasil pengamatan pengenalan jenis pupuk Macam Pengamatan Nama singkatan Simbol dagang Sifat fisis : a. Warna b. Tekstur c. Struktur d. Konsistensi e. Kadar Lengas f. Kelarutan g. Higroskopis h. Density Sifat Kimia : a. Rumus Kimia b. diserap tanaman dalam bentuk c. kadar unsur hara d. pH e. Zat Pembawa Hasil Pengamatan NPK Biru Kasar Butiran Lepas 3,14 % Larut 237,02 % NPK Urea Putih Kasar Kristal Lepas 4,13 % larut 503,7 % Za Putih Halus Kristal/butiran Lepas 0,07 % Cepat larut 234,54 % SP-36 Abu-abu Kasar Butir kasar Lepas 5,45 % Larut 261 % KCl Coklat kemerahan Kasar Kristal Lepas 4,27 % Larut 432,09 % KCl Gan B Pink Halus Tepung Lekat 0,075 % Larut 429,05 % NPK Gan D Hijau Halus Tepung Lekat 6,17 % Larut 537,3 % NPK ZK Krem Halus Tepung Lekat 10,9 % Larut 1272,2 % K2SO4

CO(NH2)2 NH4+, NO35,5 CO2

(NH4)2SO4 NH4+
5 SO42-

P2O5 H2PO43 O3

NH

+ 4 , -

NH4+, NO3-, NH4+, NO35–6 Cl-

NH4+, NO3-, HPO42-, Cu2+,
Mg2+, Zn2+ 8 Mg2+ K+ 5,5 SO4

NO3
4,5 CO4

HPO42-, Mg2+, Zn2+
7,5

19

E. PEMBAHASAN 1. Struktur pupuk Merupakan dari partikel-partikel pupuk berdasarkan pupuk yang diperdagangkan. Dari hasil pengamatan pengenalan jenis pupuk di peroleh data sebagai berikut : a. Berbentuk butir : NPK dan SP-36 b. Berbentuk kristal : Urea, ZA, dan KCl c. Berbentuk tepung : Gandasil B, Gandasil D dan ZK. Pada dasarnya pupuk yang diperdagangkan dalam bentuk apapun tidak mempunyai pengaruh, tetapi yang mempunyai pengaruh penting adalah kandungan hara dalam pupuk tersebut. 2. Kelarutan pupuk Menunjukkan mudah atau tidaknya pupuk tersebut larut dalam air. Dari hasil pengamatan pengenalan jenis pupuk diperoleh data sebagai berikut: a. Pupuk tidak mudah larut : NPK b. Pupuk mudah larut : Urea, ZA, SP-36, KCl, Gandasil B, Gandasil D, dan ZK. Pupuk yang tidak mudah larut dikarenakan unsur hara yang dikandung pupuk ini lebih banyak dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang dalam fase generatif, fase vegetatif dan untuk ketahanan tubuh tanaman. 3. Higroskopis pupuk Menyatakan mudah tidaknya pupuk tersebut menarik air dari udara. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan pengenalan jenis pupuk di peroleh data sebagai berikut : a. Pupuk dengan kandungan higroskopis di atas 500 % : Urea, ZK dan Gandasil D. b. Pupuk dengan kandungan higroskopis kurang dari 500% : ZA, SP-36, Gandasil B, NPK dan KCl. 20

c. Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa pupuk yang mempunyai higroskopis tinggi kurang baik karena akan lebih mudah mencair bila tidak tertutup dengan rapat, sehingga perlu penyimpanan yang baik. Dapat dikurangi tingkat higroskopisnya dengan pupuk tersebut dibuat butiran-butiran, semakin kecil luas permukaannya maka semakin kecil daya mengikat air dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi dalam kenyataannya pupuk NPK, Urea, KCL dan Gandasil D memiliki tingkat higroskopis yang lebih tinggi daripada pupuk ZA, SP-36, Gandasil B dan ZK karena dipengaruhi oleh struktur dan kelarutan dari pupuk terebut. 4. Berdasarkan pH Bahwa pada dasarnya pupuk yang bereaksi adalah pupuk dengan pH netral. Pupuk dengan pH masam NPK (pH = 4,5), ZA (pH = 5), Urea (pH = 5,5), KCl (pH = 6) dan SP-36 (pH = 3) akan mempengaruhi kelarutan pupuk dalam tanah, sedangkan pupuk pH basa, Gandasil B (pH = 7,5) dan Gandasil D (pH=8), juga akan mempengaruhi kelarutan pupuk dalam tanah. 5. Berdasarkan cara pemberian pupuk Berdasarkan cara pemberian pupuk dibedakan berdasarkan dua kategori adalah sebagai berikut : a. Pemberian pupuk pada akar Merupakan segala macam pupuk yang diberikan lewat akar, yaitu pupuk NPK, Urea, ZA, SP-36, KCl dan ZK. b. pemberian pupuk daun Merupakan segala macam pupuk yang diberikan lewat daun, yaitu pupuk Gandasil B dan Gandasil D.

21

F. KESIMPULAN 1) Penggunaan pupuk dalam usaha pemupukan sangat dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia dari suatu pupuk tetentu. 2) Pupuk yang baik adalah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, baik sesuai waktu pemberian, dosis atau sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh pupuk tertentu.

22

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

23

BAB IV PEMBUATAN PUPUK CAMPURAN

A. TUJUAN 1. Mengetahui cara membuat pupuk campur dengan formulasi yang telah ditentukan. 2. Mengetahui perubahan yang terjadi pada pembuatan pupuk campur. B. LATAR BELAKANG Perbedaan jenis tanah dan penggunaan lahan pertanian menyebabkan perbedaan dalam pemberian jenis pupuk. Perbedaan ini sering terjadi karena kelengkapan kandungan unsur, baik pada suatu jenis tanah maupun pada jenis pupuk tersebut. Untuk mengatasi hal ini maka dibuatlah pupuk campuran dengan formulasi yang sesuai dengan jenis tanah dan kondisi lahan pertanian yang ada. Pupuk campur adalah suatu pupuk majemuk atau lengkap yang dibuat diluar pabrik. Selama pembuatan pupuk campur ini, harus diperhatikan syaratsyarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan pupuk campur, sebab ada kalanya pupuk tersebut tidak dapat dicampur dengan pupuk lain. C. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Foth (1981), kemampuan tanah menyediakan nutrient tersedia bervariasi besar, juga kebutuhan mineral tanaman yang berbeda cukup bervariasi. Dalam menyediakan nutrient bagi bermacam-macam tanaman dengan kebutuhan pokok berbeda. Hal ini disebut dengan pupuk campur, dan dibuat dengan mencampur dua atau lebih pembawa pupuk yang terpisah. Pupuk campur adalah pupuk yang mengandung satu atau lebih unsur hara pokok yang diperlukan tanaman. Pupuk campur dibuat dengan mencampur dua atu tiga pupuk tunggal secara mekanis dengan perbandingan 24

tertentu, tergantung dari berat atomnya. Dalam pembuatan campur dikenal istilah filler atau zat pengisi. Filler berfungsi untuk memenuhi berat yang dikehendaki, juga berguna untuk pemerataan dalam penyebaran pupuk hingga akan memperoleh kadar pupuk yang jumlahnya relatif sama. Dulu, semua pupuk campur dimasukkan ke dalam kantung di pabrik pembuatan diangkut ke tempat penjualan bagi para petani. Biasanya para petani melaksanakan pemupukan bersama penanaman atau pembajakan dari pekerjaan lain. Menurut Buckman & Brandy (1982) pada saat ini penggunaan pupuk campur dan pengangkutan dalam bentuk cair (tidak di dalam kantung) sudah semakin biasa, teutama di Negara Amerika Serikat. Keuntungannya adalah menghemat tenaga kerja, biaya penyimpanan, produksi, pengangkutan, penaburan. Pupuk yang dihasilkan dari pabrik memilki kelebihan khuusnya dalam hal dosis, karena mempekerjakan para ahli. Lain halnya bila pupuk campur ini dibuat oleh para kelompok tani atau individu, karena dosis pupuk yang dibuat biasanya berlebihan ataupun kurang, bahkan tidak esuai aturan, sehingga akan menimbulkan pengaruh yang buruk tanaman aka mati. Masalah dalam pencampuran adalah tidak meratanya pencampuran pupuk ang diberikan akibat ada penggumpalan. Pupuk yna biaanya digunakan untuk mencampur adalah urea, ammonium nitrat, ammonium sulfat, ammonium fosfat, TSP, dan kalium khlorida. Syarat-syarat pembuatan pupuk campur adalah sebagai berikut : 1. Pupuk tunggal yang mengandung NH4+ tidak boleh dicampur dengan pupuk yang asam bebas (CaCO3) karena akan berubah menjadi NH3+ dan akan menguap. 2. Pupuk yang mengandung Ca bebas tidak boleh bercampur dengan pupuk asam fosfat yang larut, karena aka membentuk endapan Ca (PO4)2. 3. Pupuk tunggal yang mengandung Ca bebas tidak boleh dicampur dengan air, karena dapat mengurangi kelarutan serta daya guna asam fofat. 4. Garam-garam K dapat dicampur dengan bermacam pupuk buatan sesaat sebelum diberikan, karena akan menggumpal bila dicampur jauh hari sebelum disebarkan. 25

D.

HASIL PENGAMATAN (Urea – SP-36 – KCl = 10 – 10 – 5) Tabel 4. Hasil Pengamatan Pembuatan Pupuk Campur No 1 2 3 4 Macam pengamatan Warna Tekstur Struktur Konsistensi Kadar lengas a. botol kosong 5 b. botol kosong + pupuk c. botol + pupuk setelah dioven Sebelum Abu-abu kemerahan Kasar Butiran Tidak lekat 4,6 % 16,2 g 26,87 g 26,4 g Sesudah Abu-abu kemerahan Kasar Butiran Tidak lekat 7,02 % 20,8 g 30,25 g 29,63 g

E. PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa pengamatan awal dan akhir sebelum dan sesudah pupuk tersebut dicampur sifat fisiknya baik warna, struktur, tekstur maupun konsistensinya tidak mengalami perubahan. Adanya perbedaan pada tingkat kadar lengas disebabkan lamanya penyimpanan, tingkat higroskopisitas jaga turut mempengaruhi, karena dengan lamanya waktu penyimpanan mengakibatkan pupuk dapat menyerap air dari udara sehingga menambah kandungan air yang ada di pupuk. F. KESIMPULAN 1. Setelah pupuk campur dibiarkan selama ± 7 minggu, ternyata dari sifat fisiknya baik warna, struktur, tekstur maupun konsistensinya tidak mengalami perubahan. 2. Perubahan yang terjadi pada pembuatan pupuk campur adalah kadar lengas. DAFTAR PUSTAKA 26

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB V PENETAPAN KADAR ASAM BEBAS 27

A. TUJUAN Menentukan kadar asam bebas pada pupuk ZA. B. LATAR BELAKANG Pupuk buatan yang memiliki sifat fiiologis masam setalah bereaksi lebih lanjut dalam tanah akan melepaskan asam bebas, sehingga akan mempengaruhi reaksi tanah bila dipupukkan. Apabila tanah diperlakukan dengan pupuk yang mempunyai sifat (reaksi) fisiologis asam, maka tanaman akan lebih banyak menyerap yang masuk dalam larutan tanah. Hal ini akan mengganggu penyerapan unsur hara lain oleh tanaman. Unsur yang dapat menyebabkan tanah bereaksi asam inilah yang disebut asam bebas dalam pupuk. Jadi kadar asam bebas suatu pupuk adalah jumlah asam yang terdapat dalam pupuk yang dapat menyebabkan kemasaman atau penurunan pH tanah bila pupuk tersebut diberikan secara terus menerus, kadar asam bebas dari pupuk tidak boleh lebih dari 0,4% karena kadar asam bebas yang lebih dari 0,4% akan menghambat pertumbuhan dan dapat mematikan tanaman. Oleh karena itu, dalam melaksanakan pemupukan harus hati-hati karena pada umumnya pupuk buatan atau anorganik itu sendiri terdiri dari 3 jenis pupuk yaitu yang bersifat masam, netral, dan basa. Jadi harus dihindari pemakaian pupuk yang bereaksi masam. Kadar asam bebas pada pupuk akan meningkat jika pupuk telah rusak atau terlalu lama. C. TINJAUAN PUSTAKA Kadar asam bebas pada pupuk adalah asam yang tedapat dalam pupuk yang dapat menyebabkan kemasaman tanah atau penurunan pH, bila pupuk diberikan terus menerus (Anonim, 2004). Asam anorganik seperti H2SO4 merupakan asam yang dapat memberikan banyak hidrogen dalam tanah, kenyataannya asam ini bersama asam organik kuat lainnya, merupakan penyebab terbentuknya keadaan 28

keasaman sedang hingga sangat asam. Asam sulfat terbentuk tidak hanya oleh proses penguraian, akan tetapi juga oleh kegiatan mikrobia pada bahan pupuk tetentu seperti yang mengakibatkan terbentuknya asam sulfat (Lingga, 2000). Ammonium sulfat (ZA) adalah pupuk anorganik yang berbentuk padatan kristal putih, abu-abu, untuk ZA kadar nitrogen adalah 20,5 – 21,0% N. pupuk ini higroskopis, baru akan menarik air dari udara pada kelembaban nisbi 80% pada suhu 30 C. ammonium sulfat banyak mengandung asam bebas berupa SO4 yang tersedianya harus sangat sedikit yang boleh terikat, karena yang kuat terjadi melalui nitrifikasi, seperti diketahui dapat dengan mudah membuktikan asam pupuk ini asam pupuk cukup besar, ini akan mengakibatkan tanaman akan terganggu. Kadar asam bebas yang diperbolehkan dikandung oleh suatu pupuk batas maksimumnya adalah 0,4% maka pupuk tersebut tidak layak digunakan sebagai pupuk bagi tanaman, sebab akan menghambat pertumbuhan suatu tanaman, kadar asam bebas yang melebihi kadar maksimum akan dapat melepaskan ion H yang bersifat asam, sehingga tanah akan masam (Sutedjo,1987). D. HASIL PENGAMATAN Kadar asam bebas yang diperoleh : 0,09% E. PEMBAHASAN Hasil pengamatan pada pupuk, kadar asam bebas yang didapat adalah 0,09%. Nilai ini lebih rendah dari 0,4% yang ditetapkan untuk kadar asam bebas suatu pupuk, dari hasil ini berarti pupuk yang digunakan masih layak digunakan untuk tanaman. Peningkatan atau kenaikan kadar asam bebas suatu pupuk sangat dipengaruhi oleh kandungan pupuk dan lama penyimpanannya. Kemasaman tanah yang terlalu tinggi akan menyebabkan keracunan pada suatu tanaman oleh karena pupuk ZA cenderung besifat masam maka sebaiknya diterapkan pada tanah-tanah bersifat tidak masam. F. KESIMPULAN 29

1. Kadar asam bebas pupuk ZA adalah 0,09% 2. Hasil yang diperoleh menunjukkan kadar asam bebas lebih kecil dari 0,4% maka pupuk ZA ini dapat digunakan tanpa mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

30

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB VI PENETAPAN KADAR P2O5 PUPUK SP-36

31

A. TUJUAN 1. Untuk mempermudah perhitungan P yang terlarut dalam larutan 2. Untuk menetapkan kadar P2O5 dari pupuk yang larut air sehingga tersedia bagi tanaman. B. LATAR BELAKANG Pupuk SP-36 merupakan salah satu pupuk buatan yang mengandung unsur P. Unsur P dapat diserap oleh tanaman dalam bentuk H2PO4- dan HPO42-. Secara umum P (fosfat) dalam tanaman adalah sebagai berikut : 1.Dapat mempercepat pertumbuhan akar. 2.Dapat meningkatkan produksi biji-bijian. 3.Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah. 4.Dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa. 5.Ketahanan terhadap penyakit. 6.Sebagai penyusun lemak dan protein. Tanaman yang kekurangan unsur P akan menghambat perkembangan sistem perakarannya, anakan berkurang, jumlah ruas berkurang sehingga menyebabkan tanaman kerdil, daun biru kehijauan atau hijau keunguan (pigmen antosianin) dan akhirnya nekrotik. Dengan mengetahui peranan P bagi tanaman maka kita akan tahu bagaimana mengelola P supaya dapat dimanfaatkan oleh tanaman semaksimal mungkin sehingga diperoleh hasil yang tinggi.

C. TINJAUAN PUSTAKA Fosfor merupakan salah satu unsur yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil 32

dibandingkan dengan nitrogen dan kalium. Tetapi, fosfor dianggap sebagai sumber kehidupan (key of life). Fosfor di dalam tanah dapat digolongkan menjadi 2 bentuk, yaitu betuk organik dan bahan anorganik. Fosfor yang diserap tanaman dalam bentuk ion anorganik cepat berubah menjadi senyawa organik. Fosfor ini mobile atau mudah bergerak antar jaringan tanaman. Kadar optimal fosfor dalam tanaman pada saat pertumbuhan vegetatif adalah 0,3%0,5% dari berat kering tanaman (Affandi, 2002). Fosfor dalam tanaman umumnya tetap dalam bentuk oksida. P setelah diserap dalam bentuk H2PO4- umumnya cepat diestrifikasi melalui gugusan hidroksil berantai C menjadi fosfat berenergi tinggi P-P, misalnya ATP. Perubahan P organik menjadi P organik hanya memerlukan waktu beberapa menit (Affandi, 2002). Tetapi P organik ini cepat dilepaskan menjadi P anorganik lagi ke dalam xylem tanaman. P yang relatif stabil apabila P yang ada di dalam 2 ester (C-P-C) (Affandi,2002). Ketersediaan P di dalam tanah dipengaruhi oleh sifat fisika maupun sifat kimia. 1. Secara kimia a. Bentuk-bentuk fofor tanah Kandungan fosfat dalam tanah berkisar antara 0,02-0,10%. Jumlah ini sebenarnya kurang untuk tanah. Untuk mencukupinya, biasanya ditambahkan pupuk. Umumnya pupuk P yang ditambahklan bisa dalam bentuk organik maupun anorganik. Konsentrasi P total biasanya paling tinggi pada lapisan permukaan terendah dalam horison A yang lebih dibawah atau horizon B bagian atas sebagai hasil pendauran P oleh tanaman yang tumbuh. b. pH tanah Pada pH kisaran 5-7,2 bentuk ion yang dominant adalah H2PO4-. Sedangkan pada pH 7,2-9 ion yang dominan adalah HPO42-. 2. Secara Fisika a. Aerasi dan pemadatan

33

Sistem aerasi sangat mempengaruhi keadaan oksidatif senyawasenyawa anorganik, dekomposisi bahan organik dan pelepasan P pada kondisi anaerob yang diakibatkan oleh penggenangan ferro fosfat lebih mudah larut dari pada ferri fosfat, akibatnya ketersediaan P menjadi meningkat. Pemadatan justru menghambat penembusan akar. Kondisi demikian menyebabkan P tersedia menurun. b. Temperatur Pada temperatur yang rendah, dibawah 20 °C menyebabkan ketersediaan P menjadi turun sehingga menyebabkan pertumbuhan akar terhambat dan serapan P juga menjadi turun. c. Kelengasan Serapan P oleh tanaman akan menurun dengan meningkatkan kadar lengas tanah. d. Pergerakan dan kehilangan air Fosfor mobile pada jaringan tanaman dan immobile pada tanah tidak begitu bergerak pada titik aplikasi. Konsentrasi yang rendah dalam larutan tanah menyebabkan fosfor tidak mudah hilang karena proses pelindihan. Tetapi, fosfor rentan terhadap erosi (Aninim, 2004). D. HASIL PENGAMATAN Kadar P2O5 pada PupuK SP-36 adalah 19,77 % E. PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan, diperoleh Kadar P2O5 sebesar 19,77%. Nilai ini menunjukan bahwa Kadar P2O5 yang ada pada pupuk SP-36 sangat rendah sekali, kadar P2O5 ini turun dari kadar yang sebenarnya yaitu sebesar 36%, ini diakibatkan oleh pupuk yang telah lama tersimpan sehingga kadarnya menurun, sebab lain oleh sifat higroskopisitas yang dimiliki oleh SP-36 yang juga cukup besar, sehingga pupuk lebih mudah menyerap air dari udara dan menurunkan kadar P2O5 yang ada pada SP-36.

34

F. KESIMPULAN 1. Kadar yang ada pada pupuk SP-36 adalah sebesar 19,77% 2. Kadar ini turun dari kadar yang sebenarnya yaitu sebesar 36%.

DAFTAR PUSTAKA

35

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB VII PENETAPAN KADAR K2O PUPUK ZK

36

A.

TUJUAN Untuk menetapkan kadar K20 dalam pupuk ZK yang terlarut dalam air sehingga tersedia tanaman.

B.

LATAR BELAKANG Kalium merupakan hara penting yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tanaman dan dalam tanah terutama bersumber dari batuan.Kandungan total K dalam bumi diperkirakan 90-98% K2O dan hadir dalam batuan baik batuan basis ataupun masam dengan sumber utama mineral feldspar. Dalam tanah K hadir dalam mineral primer bantuan, mineral sekunder terutama illit dalam bentuk tertukar pada kompleks absorpsi lempung dan yang hadir dalam bahan organik tanah serta terlarut dalam larutan tanah.Penetapan K2O pupuk ZK disini ditetapkan dengan menggunakan prinsip analisis gravimetri (pengendapan) : Penerapan K dalam tanah adalah : 1. Mendorong tanaman untuk tumbuh kuat dan lebat. 2. Menambah ketahanan tanaman terhadap penyakit tertentu dan meningkatkan sitem perakaran. 3. Mendorong produksi hidrat arang. 4. Berperan penting dalam pengangkutan hidrat arang dalam tanaman. 5. Mengurangi kepekaan tanaman terhadap kekeringan. Gejala kekahatan ditunjukkan dengan pertumbuhan tanaman kerdil, tampak pada daun yaitu nekrotik pada tepi-tepinya dan pada puncak, bagian tengah daun tetap hijau.

C.

TINJAUAN PUSTAKA Berbeda dengan unsur N dan P, unsur K tidak sebagai pembentuk tubuh tanaman. Tetapi unsur ini terdapat pada semua sel sebagai ion dalam 37

cairan sel (cellsap) dan sebagai persenyawaan absorbsi pada zat putih telur plasma sel. Sebagai ion kalium pada daun, yaitu sekitar hijau daun, aktif dalam pembuatan hidrat arang (tepung atau gula), karena itu tanaman yang sama sekali tidak dapat menghisap kalium tidak dapat menghasilkan tepung atau gula. Dan karena tanaman yang banyak menghasilkan tepung atau gula menghendaki adanya kalium di tanah dalam jumlah yang besar. Kalium juga mengambil yang penting dalam pembelahan sel serta pembentukan protein. Jadi bila tidak tersedia unsur kalium di tanah, meski unsur-unsur lain tercukupi, tanaman akan kerdil atau sama sekali mati. Disamping itu kalium juga mempunyai peranan yang penting dalam menghisap air oleh tanaman. Tanaman yang mengandung banyak kalium akan kuat menghisap air. Sehingga tubuh tanaman akan tegak berdirinya kuat. Pemberian N yang banyak bila disertai dengan K (dan juga P), akan menghindari rebahnya suatu tanaman. Tanaman yang cukup mengadung unsur K akan tahan terhadap serangan penyakit Pericularia, suatu penyakit yang ditimbulkan oleh sejenis jamur. Unsur-unsur lain mempunyai peranan atau kegunaan yang tidak kalah pentingnya dengan ke-3 unsur tersebut. Tetapi umumnya tanah-tanah pertanian di Indonesia dianggap tidak kekurangan unsur lain, kecuali unsur N, P dan K (RM. Ali Sastrohoetomo, 1986).

D.

HASIL PENGAMATAN Kadar K2O Pupuk ZK adalah 46,76 %

38

E. PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan, diperoleh kadar K2O sebanyak 46,76%. Nilai ini menunjukkan bahwa kadar K2O yang diperoleh dari hasil pengamatan tergolong agak rendah dari kadar K2O yang sebenarnya yaitu sebesar 50%, ini diakibatkan oleh lamanya masa penyimpanan sehingga kadarnya menurun, pupuk ZK yang berbentuk butiran-butiran kecil berwarna putih yang dikenal oleh petani yaitu mengandung : 1. ZK 90 mengadung 40% - 50% K2O. 2. ZK 90 mengandumg 52% - 53% K2O Tabel 5. Harkat Penetapan Kadar K2O Kadar K2O < 10 10 – 20 21 – 40 41 – 60 > 60 Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Dari kadar K2O yang ada menunjukkan kadar K2O pada pupuk ZK masih tinggi, sehingga masih baik untuk diberikan kepada tanaman. F. KESIMPULAN Dalam penetapan kadar K2O diperoleh nilai kadar K2O pupuk ZK sebesar 46,76 %. Harkat Sangat rendah

DAFTAR PUSTAKA

39

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB VIII PENETAPAN KADAR C PUPUK

40

A. TUJUAN Untuk menetapkan kadar C organik dengan metode Walkley and Black. B. LATAR BELAKANG Bahan organik adalah sisa tumbuhan dan hewan yang terlonggok (akumulasi) yang telah mengalami perombakan sebagaian dan resistensi kembali. Kandungan bahan organik dalam tanah mineral berkisar 0,5 – 5 % sedangkan pada tanah gambut dapat mencapai 100%. Bahan organik sangat bermanfaat baik dalam sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Perbaikan sifat fisik diantaranya : bahan organik berupa senyawa organik polimer (rantai panjang senyawa karbon) mempunyai gugus fungsional COOH, COH, CO, dan lain-lain, dapat mengikat zarah-zarah tanah sehingga struktur menjadi baik, kapasitas mengikat air meningkat. Perbaikan sifat kimia ; sebagai unsur hara N, P, K, meningkatkan kapasitas pertukaran kation, meningkatkan keterediaan unsur hara dan mengurangi pelindihan. Sedangkan perbaikan sifat biologi tanah adalah membantu meningkatkan aktifitas mikrobia didalam tanah. Penetapan kadar C organik dengan metode Walkley and Black, yaitu volumetrik. Metode secara volumetrik disini yang digunakan adalah secara tidak langung yaitu menetapkan volume sisa oksidator (K2Cr2O7 + H2SO4) dengan menitrasi FeSO4. prinsip utamanya adalah mengoksidasi senyawa organik dengan campuran okidator (K2Cr2O7 + H2SO4). C. TINJAUAN PUSTAKA Bahan organik mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah, sedang pengaruh relatif sangat besar dibanding dengan jumlahnya yang sedikit dalam tanah. Biasanya paling sedikit separuh dari kemampuan menukar kation dipengaruhinya dan bertanggung jawab pada kemantapan agregat tanah lebih besar dibanding tiap-tiap faktor tunggal yang lain. Lagi pula bahan organik menyediakan senyawa energi dan senyawa pembentuk tubuh jasad mikro untuk aktifitasnya didalam tanah. 41

Sumber asli bahan oganik tanah ialah jaringan tumbuhan. Dalam keadaan alami diatas tanah, akar pohon semak-emak, rumput dan tanaman tingkat rendah lainnya tiap tahun menyediakan sejumlah besar sisa-sisa organik. Sebagian besar dari tumbuhan biasa diangkut sebagai hasil panen, akan tetapi beberapa bagian diatas tanah dan semua akar ditinggalkan. Karena bahan ini didekomposisikan dan dihancurkan oleh berbagi macam organime tanah, hasilnya akan menjadi bagian horizon dibawahnya, karena adsorbsi atau pencampuran fisik secara aktif. Hewan dianggap sebagai sumber bahan organik kedua. Kalau mereka menyerang jaringan tumbuhan, mereka memberikan hasil samping dan meninggalkan bagian tubuh mereka sebagai peredaran hidupnya. Unsur karbon merupakan penyusun umum dari semua bahan organik. Perbandingan karbon dari bahan organik dalam tanah pada umumnya berkisar dari 8:1 15:1. benyak energi yang diperlukan oleh flora dan fauna tanah berasal dari oksidasi karbon. Akibat oksidasi yang terus-menerus dan jumlah besar. Berbagai perubahan yang dialami oleh unsur ini didalam dan diluar tanah seluruhnya, disebut peredaran karbon. Pelepasan CO2 karena senyawa dalam sisa tumbuhan dihancurkan, karbon dioksida dilepaskan. Ini merupakan sumber utama dari gas tersebut, meskipun dalam jumlah sedikit akar tumbuhan juga menghasilkan dan turut serta dalam air hujan. Karbondioksida dalam tanah terjadi dalam panas dan dingin, karenanya menjadi lengkap. Sebagian kecil karbon diokida bereaksi dalam tanah, yang menghasilkan dalam tanah, yang menghailkan asam karbonat (H2CO3), karbonat, bilkarbonat dari kalsium, kalium, magnesium dan lain-lain. Garam-garam ini mudah larut dan dapat hilang karena drainase atau diguakan oleh tanaman tingkat tinggi. Jadi tidak hanya Ca, Mg dan K tersedia untuk adsorbsi oleh permukaan mikrobia dan tanaman tingkat tinggi, tetapi ion CO32- dan juga demikian HCO-. Sejumlah kecil karbon dapat masak dalam tumbuhan dengan cara ini. Tetapi kebanyakan karbon yang ada dalam tambahan tingkat tinggi diperoleh dari atmosfer karena fotosintesis.

42

Tabel 6. Harkat Kandungan C dan Bahan Organik tanah Menurut PPT Nilai C organik (%) <1 1–2 2,01 – 3 3,01 – 5 >5 Harkat Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi <2 2- 4 4 – 10 10 – 20 > 20 Menurut London, JR Nilai C organik (%) Harkat Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

D. HASIL PENGAMATAN Tabel 7. Pengamatan Kadar C dan BO No Jenis Pupuk 1 Jerami 2 3 4 5 6 7 8 Pupuk kandang Azolla Daun singkong Akasia Jati Glyrecideae Rumput Kadar C (%) 11,7 (Sangat tinggi) 0,3 10,1 18,1 8,27 2,5 6,25 (Sangat rendah) (Sangat tinggi) (Sangat tinggi) (Sangat tinggi) (Sedang) (Sangat tinggi) 10,53 (Sangat tinggi) BO (%) 20,16 0,6 18,2 17,3 31,2 14,3 4,3 10,8

E. PEMBAHASAN 1. Pupuk Jerami Kandungan bahan organik pada jerami adalah 20,16 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat sangat tinggi, hal ini disebabkan oleh masih segarnya jerami yang digunakan dalam pengamatan. Kadar C dan kadar bahan 43

organik pada pupuk jerami itu mempunyai nilai yang tinggi karena pupuk ini masih dalam bentuk yang segar atau belum banyak mengalami dekomposisi. Kadar lengas jerami adalah 20 % jumlah kadar lengas jerami ini termasuk tinggi yang artinya kemampuan menahan airnya cukup tinggi dan sangat baik apabila digunakan sebagai bahan organik tanah, karena dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kadar lengas yang tinggi berarti kapasitas mengikat air meningkat dan mengurangi adanya pelindihan unsur hara oleh aliran air permukaan atau Run off sehingga ketersediaan unsur haranya meningkat dan juga akan meningkatkan aktivitas mikrobia didalam tanah. 2. Pupuk kandang. Kandungan bahan organik pada pupuk kandang adalah 0,6 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat sangat rendah, hal ini disebabkan oleh sudah terdekomposisinya bahan organik pada pupuk kandang yang digunakan dalam pengamatan. Kadar lengas pupuk kandang adalah 13,7 % jumlah kadar lengas pupuk kandang ini termasuk agak tinggi. Pada pengamatan ini pupuk kandang yang akan digunakan sebagai bahan organik sudah siap untuk diberikan secara langsung kepada tanah karena unsur2 haranya telah banyak terdekomposisi dan tersedia bagi tanaman. 3. Azolla Kandungan bahan organik pada azolla adalah 18,2 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat tinggi, hal ini disebabkan oleh masih segarnya azolla yang digunakan dalam pengamatan. Kandungan bahan organik yang tinggi ini sangat baik untuk pemupukan, karena azolla merupakan sumber N yang cukup besar karena mampu menambat N dari udara dan digunakan oleh tanaman. 4. Daun singkong Kandungan bahan organik pada daun singkong adalah 17,3 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat tinggi, hal ini disebabkan oleh masih 44

segarnya daun singkong yang digunakan dalam pengamatan. Artinya bahan organik yang ada pada daun singkong belum mengalami dekomposisi lebih lanjut. 5. Akasia Kandungan bahan organik pada akasia adalah 31,2 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat sangat tinggi, hal ini disebabkan oleh masih segarnya akasia yang digunakan dalam pengamatan. Artinya kadar C dan kadar bahan organik yang ada pada akasia belum mengalami dekomposisi lebih lanjut. Tingginya bahan organik pada akasia juga disebabkan oleh adanya lignin yang ada pada akasia sehingga sangat sulit untuk terdekomposisi. 6. Jati Kandungan bahan organik pada jati adalah 14,3 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat tinggi, hal ini disebabkan oleh masih segarnya jati yang digunakan dalam pengamatan. Artinya kadar C dan kadar bahan organik yang ada pada jati belum mengalami dekomposisi lebih lanjut. Tingginya bahan organik pada jati juga disebabkan oleh lapisan lilin yang ada pada jati sehingga sangat sulit untuk terdekomposisi. 7. Glyrecideae Kandungan bahan organik pada Glyrecideae adalah 4,3 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat sedang, hal ini disebabkan oleh sudah matangnya bahan organik Glyrecideae yang digunakan dalam pengamatan. Dalam pengamatan kali ini, Glyrecideae mempunyai kandungan lignin yang sedikit sehingga sangat mudah terdekomposisi. 8. Rumput Kandungan bahan organik pada rumput adalah 14,3 %, menurut London JR termasuk kedalam harkat tinggi, rumput merupakan sumber bahan organik 45

yang sangat besar bagi tanaman karena umumnya terdapat dalam jumlah yang besar. Pada pengamatan kali ini rumput yang digunakan belum mengalami dekomposisi lebih lanjut, sehingga memiliki kandungan bahan organik yang tinggi. E. KESIMPULAN Nilai kadar C tertinggi terdapat pada pupuk akasia yaitu 18,1 % dan kadar C terendah terdapat pada pupuk kandang yaitu 0,3 %. Nilai kadar bahan organik tertinggi terdapat pada akasia yaitu 31,2 % dan yang terendah terdapat pada pupuk kandang yaitu 0,6 %.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. 46

Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

BAB IX PENETAPAN KADAR N

A. TUJUAN Untuk menetapkan kadar Nitrogen (N) pada beberapa bahan. 47

B. LATAR BELAKANG Nitrogen (N) merupakan unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak dan merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan tanaman. Bentuk N yang diserap tanah adalah : NO3 dan NH4 +. Sumber N berasal dari udara, tanaman penyemat N2, sisa tanaman, hewan dan jasad renik. Adapun senyawa yang ada tanah berupa : Amonia (NH 3), asam amino (R-CHNH2-COOH), N2, NO3-. disamping itu ada juga tambahan aktifitas manusia beupa pupuk organik misalnya : Urea (CO(NH2))2, KNO3, (NH4)2SO4. Kelakuan N dalam tanah besifat mobil (lincah) tergantung keadaan tanahnya. Dalam suasana oksidasi maka terjadi proses nitrifikasi dan terbentuk NO3, senyawa ini mudah terlindih karena tanah bermuatan negatif, sedang bentuk NH4+ terikat di kompleks pertukaran tanah. Fungsi N ditanaman untuk pertumbuhan vegetatif. Tanaman yang kekurangan N pertumbuhannya akan kedil dan menguning erta akan mudah terserang penyakit. Penetapan kadar N total dilakukan tahap-tahap ebagai berikut : 1. Destruksi : dalam tahapan ini senyawa N yang berada dalam ikatan kimiawi senyawa organik dilepaskan. 2. Destilasi : merubah NH4SO4 menjadi NH3, dengan menambah NaOH dan mengikatnya menjadi (NH4)SO4. 3. Menentukan jumlah N total dengan menitrasi sisa asam penampung yang berlebihan setelah bereaksi dengan NH3. C. TINJAUAN PUSTAKA N dalam jumlah yang cukup besar terdapat dalam bentuk-bentuk terkombinasikan secara kimiawi dalam tanah, formasi-formasi geologi dan lautan. Senyawa-senyawa Nitrogen dapat berupa organik maupun anorganik. Beberapa senyawa nitrogen, seperti dinitrogen elemental (N2) berbentuk gas

48

tetapi senyawa-senyawa yang paling penting dalam pertanian adalah Nitrat (NO3-) dan Amonium (NH4-). Perbandingan karbon dan nitrogen bahan organik di dalam tanah olah umumnya berkiar dari 8:1 – 15:1 dengan rata-rata antara 10 dan 12 banding 1, di daerah dengan iklim tertentu perbandingan ini variasimya kecil, sekurangkurangnya sama dengan tanah yang diusahakan, perbandingan C dengan N cenderung lebih rendah pada tanah didaerah kering daripada di daerah basah. Apabila suhu tahunan hampir sama. Pada umumnya perbandingan untuk subsoil lebih rendah daripada lapisan-lapisan permukaan. Perbandingan di dalam tumbuhan dan mikroba bebeda-beda sekitar 20 – 30 banding 1, untuk pupuk hijau dan pupuk kandang, sebear 90:1 bahkan lebih di dalam sisa-sisa jerami tertentu. Diantara nilai yang ekstrim ini, terdapat semua tingkatan. Sebaliknya perbandingan karbon nitrogen dalam jasad mikro tidak hanya lebih tetap tetapi juga lebih kecil, biasanya antara 4:1 dan 9:1. umumnya jaringan bakteri mengandung protein sedikit lebih banyak dari fungi dan dengan sendirinya mempunyai perbandingan yang lebih kecil, dapat dilihat bahwa kebanyakan sisa-sisa organik yang masuk ke dalam tanah sebagian besar terdiri dari karbon nitrogen besar, dan nilai perbandingan C dan N untuk tanah teletak diantara tanaman tingkat tinggi dan mikroba. Dalam banyak hal, perbandingan karbon nitrogen di dalam organik tanah meupakan faktor penting, dan diantaranya yang paling berarti sebagai berikut : 1. Persaingan untuk mengasilkan nitrogen yang tersedia terjadi jika sisa-sia bahan organik dengan perbandingan C:N yang tinggi ditambahakan pada tanah. 2. Karena perbandingan di dalam tanah itu tetap, pemeliharaan karbon dalam hal ini bahan organik, tergantung pada banyaknya nitrogen di dalam tanah. Perbandingan C dan N dan kadar organik karena karbon dan nitrogen berkurang sampai perbandingan kurang lebih tetap tertentu (katakanlah 11 berbending 1) jumlah nitrogen tanah sebagian besar ditentukan oleh jumlah karbon organik yang ada, bila terjadi keadaan yang mantap. Makin besar 49

jumlah nitrogen yang ada di dalam sisa yang asli, makin besar kemungkinan penimbunan ikatan karbon organik. Karena perbandingan yang kurang lebih tetap (kira-kira 1:1,7) ada diantara karbon oganik dan humus tanah, jumlah bahan organik yang harus dipertahnkan dalam setiap tanah sebagian besar tidak harus tergantung pada jumlah nitrogen organik yang ada. Diantara 3 unsur pupuk, nitrogen adalah satu-satunya unsur yang jika diberikan agak berlebihan akan mengakibatkan kerusakan pada tanaman tertentu. Daun berwarna hijau tua, lunak, banyak berair merupakan petunjuk pemberian nitrogen yang berlebih. Efek unsur ini yang dapat sangat merugikan ialah : 1. Nitrogen dapat menghambat waktu masak yang normal 2. Dapat melemahkan batang dan meningkatkan kehampaan biji. 3. Dapat merendahkan kualitas, ini terutama menonjol pada biji-bijian dan buah-buahan tertentu, seperti jawawut dan perik. 4. Kadang-kadang dapat mengurangi ketahanan terhapap penyakit. Tabel 8. Harkat Nitrogen total Menurut PPT N Total (%) < 0,1 0,1 – 0,2 0,21 – 0,5 0,51 – 0,75 > 0,75 Harkat Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi < 0,1 0,1 – 0,2 0,2 – 0,5 0,5 – 1 Menurut London, JR N Total (%) Harkat Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

Sumber : Anonim, 2005

Tabel 9. Harkat Nilai C/N Nilai C/N <5 5 – 10 11 – 15 16 - 25 > 25 Sumber : Anonim, 2005 50 Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Harkat

D. HASIL PENGAMATAN Tabel 10. Pengamatan Kadar N No Jenis Pupuk 1 Jerami 2 3 4 5 6 7 8 Pupuk kandang Azolla Daun singkong Akasia Jati Glyrecideae Rumput 0,94 3,9 3,23 1,12 1,62 2,2 2,5 3,8 Kadar N (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) 12,4 0,07 3,3 7,38 11,1 4,6 1 1,6 Ratio C/N (Sedang) (Sangat Rendah) (Sangat Rendah) (Rendah) (Sedang) (Sangat Rendah) (Sangat Rendah) (Sangat Rendah)

E. PEMBAHASAN 1. Jerami Kandungan N pada jerami sebesar 0,94 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari jerami yaitu sebesar 12,4. dan masuk ke dalam harkat yang sedang. Artinya pada nilai ini intensitas proses imobilisasi sudah menurun, dan proses mineralisasi sudah mulai berjalan dengan baik, sehingga apabila diberikan ke tanah maka akan baik sekali, karena unsur-unsur hara tidak digunakan lagi oleh mikrobia untuk keperluan hidupnya tetapi akan tersedia bagi tanaman. 2. Pupuk kandang Kandungan N pada pupuk kandang sebesar 3,9 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari pupuk kandang yaitu sebesar 0,07. dan masuk ke dalam harkat yang sangat rendah. Kalau dilihat nilai C/N ini berarti proses mineralisasi berjalan sangat cepat, sehingga unsur-unsur hara banyak tersedia bagi tanaman, dan pupuk kandang ini siap untuk dipakai tanpa diinkubasi terlebih dahulu. 51

3. Azolla Kandungan N pada azolla sebesar 3,23 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari azolla yaitu sebesar 3,3. dan masuk ke dalam harkat yang sangat rendah. Azolla sangat dibutuhkan oleh tanaman terutama dalam mensuplai N bagi tanaman. Penggunaan bahan organik berupa pupuk azolla sagat efektif karena proses pengomposannya yang cepat. 4. Daun singkong Kandungan N pada daun singkong sebesar 1,12 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya sangat cepat. Nilai C/N dari daun singkong yaitu sebesar 7,38. dan masuk ke dalam harkat yang rendah. Dilihat dari kadar N yang tinggi menandakan daun singkong juga efektif digunakan untuk sumber hara bagi tanaman. Daun singkong sangat mudah terdekomposisi karena mempunyai kandungan lignin yang sedikit.

5. Akasia Kandungan N pada akasia sebesar 1,62 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari akasia yaitu sebesar 1,62. dan masuk ke dalam harkat yang sangat rendah. Akasia memiliki C/N yang sangat rendah ini menandakan bahwa energi yang digunakan mikrobia untuk kelangsugan hidupnya atau untuk pembentukan sel tidak diambil lagi dari akasia, artinya ketersediaan N sudah cukup untuk digunakan oleh tanaman. 6. Jati

52

Kandungan N pada jati sebesar 2,2 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari jati yaitu sebesar 4,6. dan masuk ke dalam harkat yang sangat rendah. Nilai C/N dan kandungan N pada jati termasuk kategori sangat baik untuk diberikan sebagai sumber hara bagi tanaman, namun agak sedikit bertolak belakang dengan teori bahwa kandungan lignin yang dimiliki oleh jati sangat besar sehingga akan menghambat proses dekomposisi bahan organik, namun dalam hal ini berarti proses dekomposisi pada jati berjalan sangat cepat. 7. Glyrecideae Kandungan N pada Glyrecideae sebesar 2,5 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari jati yaitu sebesar 1. dan masuk ke dalam harkat yang sangat rendah. Glyrecideae termasuk golongan leguminose sehingga berperan dalam menambat N di udara, inilah yang mengakibatkan N pada Glyrecideae sangat tinggi. C/N yang sangat rendah menandakan mudahnya Glyrecideae terdekomposisi akibat kandungan lignin yang sedikit.

8. Rumput Kandungan N pada rumput sebesar 3,8 %. menurut PPT termasuk dalam harkat yang sangat tinggi, artinya proses dekomposisi bahan organiknya berjalan sangat cepat. Nilai C/N dari rumput yaitu sebesar 1,6. dan masuk ke dalam harkat yang sangat rendah. Artinya rumput merupakan sumber hara yang baik untuk tanaman, karena kandungan N yang besar dan C/N yang sangat rendah sehingga mikrobia tidak mengambil hara dari rumput untuk proses metabolismenya, oleh karena itu hara-haranya tersedia bagi tanaman.

53

F. KESIMPULAN Nilai kadar N yang tertinggi terdapat pada pupuk kandang yaitu 3,9 %, sedangkan nilai kadar N yang terendah terdapat pada pupuk jerami yaitu 0,94 %. Nisbah C/N yang tertinggi terdapat pada pupuk jerami yaitu 12,4, sedangkan nisbah C/N yang terendah terdapat pada pupuk kandang yaitu 0,07.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005. Buku Petunjuk Praktikum Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Lingga, P. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Yogyakarta. Sastrohoetomo, M. Ali. 1986. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Penerbit Djambatan, LPTP Bogor. Sosrosoedirdjo, S. Dkk.1992. Ilmu Memupuk 2. CV. Yasaguna, Jakarta. 54

Sutedjo, MM. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

55

LAMPIRAN

56

1. Hasil Perhitungan Pengenalan Jenis Pupuk a. Perhitungan kadar lengas 1). NPK; a: 18,67 g, b118,79 g, c118,66 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

118,79 – 118,66 x 100 % 118,66 – 18,67

= 0,13 % 2). Urea; a: 20,58 g, b: 121,38 g, c: 121,19 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

121,38 – 121,19 x 100 % 121,19 – 20,58 = 0,189 % = 3). Za; a: 19,29 g, b: 119,29 g, c: 119,11 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

119,29 – 119,11 x 100 % 119,11 – 19,29

= 0,18 % 4). SP-36; a: 4,70 g, b: 35,28 g, c: 33,70 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

35,28 – 33,70 33,70 – 4,70

x 100 %

= 5,45 %

5). KCl; a: 4,61 g, b: 25,14 g, c: 24,30 g 57

Kadar lengas =

b-c c–a

x 100 %

=

25,14 – 24,30 24,30 – 4,61

x 100 %

= 4,27 % 6). Gandasil B; a: 4,30 g, b: 31,10 g, c: 31,08 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

31,10 – 31,08 31,08 – 4,30

x 100 %

= 0,075% 7). Gandasil D; a: 4,92 g, b: 23,16 g, c: 22,10 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

23,16 – 22,10 22,10 – 4,92

x 100 %

= 6,17 % 8). ZK; a: 4,69 g, b: 12,02 g, c: 11,30 g Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

12,02 – 11,30 11,30 – 4,69

x 100 %

= 10,9 %

b. Higroskopisitas (H) Tabel 11. Pengamatan Higroskopisitas 58

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Jenis Pupuk ZA Urea SP-36 Gandasil B Gandasil D ZK NPK KCl

Berat Plastik Kosong (d) 0 0,74 0,25 0,7 0,41 0 0,73 0

Berat Pupuk Mula-mula 100 100 100 100 100 100 100 100 I 99,7 101,9 101,43 120,4 129 102 106,3 101,6

Minggu (e) II III 99,8 100,04 102, 4 101, 3 121, 5 138 100 111, 9 101, 6 103 101,7 131 169 114 95 103,2

IV 101 105,39 104,94 142,5 109,9 90,7 85,56 104,77

Perhitungan Pada minggu ke IV: Rumus : H= 1. ZA H= (101 – 0) – (34,58 – 4,39) (34,58 – 4,39) x100% (e – d) – (c – a) (c – a) x100%

= 234,54 % 2. Urea H= (105,39 – 0,74) – (21,76 – 4,49) (21,76 – 4,49) x100%

= 503,7 % 3. SP-36 H= (104,94 – 0,25) – (33,70 – 4,70) (33,70 – 4,70) x100%

59

= 261 % 4. Gandasil B H= (142,5 – 0,7) – (31,08 – 4,3) (31,08 – 4,3) x100%

= 429,5 % 5. Gandasil D H= (109,9 – 0,41) – (22,1 – 4,92) (22,1 – 4,92) x100%

= 537,3 % 6. ZK H= (90,7 – 0) – (11,30 – 4,69) (11,30 – 4,69) x100%

= 1272,2 % 7. NPK H= (85,56 – 0,73) – (30,2 – 5,03) (30,2 – 5,03) x100%

= 237,02 % 8. KCl H= (104,77 – 0) – (24,30 – 4,61) (24,30 – 4,61) 100%

= 432,09 %

60

2. Perhitungan Pembuatan Pupuk Campur Pada awal pengamatan Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

26,87 – 26,4 26,4 – 16,2

x 100 %

= 4,6 % Pada akhir pengamatan Kadar lengas = b-c c–a x 100 %

=

30,25 – 29,63 29,63 – 20,8

x 100 %

= 7,02 % 3. Perhitungan Kadar Asam Bebas Tabel 12. Pengamatan Penetapan Kadar Asam Bebas No 1 2 Macam Pengamatan Titrasi NaOH Berat Pupuk Kadar asam bebas Hasil Pengamatan 3,7 ml 20 g 0,09 % = 3,7 ml = 20 g

dik: ml NaOH 1 N dititrasi (a) Berat pupuk (b) Rumus : Kadar asam bebas = a x 0,0049 b

x 100 %

=

3,7 x 0,0049 20 61

x 100 %

= 0,09 %

4. Perhitungan Kadar P2O5 PupuK SP-36 Tabel 13. Hasil pengamatan Penetapan Kadar P2O5 Pupuk SP-36 Prosedur Pengamatan a. Berat Pupuk b. Berat kertas saring baku c. Berat b + endapan baku d. Berat endapan baku e. Berat kertas saring blanko f. Berat c + endapan blanko g. Berat endapan blanko h. Kadar P2O5 5g 0,96 x 2 = 1,92 g 4,46 g 2,54 g 0,97 g 2,31 g 1,34 g 19,77 % Hasil Pengamatan

Kadar P2O5 =

(endapan baku – endapan blanko) g Berat bahan pupuk

x

250 10

x 0,03295 x 100 %

=

(2,54 – 1,34) 5 = 19,77 %

x

250 10

x 0,03295 x 100 %

5.

Perhitungan Kadar K2O Pupuk ZK Tabel 14. Hasil Pengamatan Penetapan Kadar K2O Pupuk ZK Prosedur Pengamatan Berat Pupuk Berat kertas saring Berat b + endapan Berat endapan kadar K2O Hasil Pengamatan 4g 0,96 g 1,51 g 0,55 g

62

Kadar K2O = Kadar K2O =

Berat endapan KClO4 4 0,55 4

x 0,3401 x 10 x 100 %

x 0,3401 x 10 x 100 %

= 46,76 % 6. Perhitungan Kadar C Pupuk Tabel 15. Kadar Lengas Masing-masing Pupuk No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Pupuk Jerami Pupuk Kandang Glyrecideae Daun Singkong Daun Jati Azolla Akasia Rumput Cepuk (a gram) 21,9 26,9 19 42,2 16,7 18,5 21 26,5 a + pupuk (b gram) 22,5 30,2 22 43,5 19 21,9 23,5 27,4 b + oven (c gram) 22,4 29,8 21,8 43,4 18,8 21,7 23,4 27,2 Kadar Lengas (%) 20 13,7 7,1 8,3 9,5 6,2 4,2 28,5

Tabel 16. Jumlah FeSO4 yang dititrasi No Jenis Pupuk 1 Blanko 2 3 4 5 Jerami Pupuk kandang Azolla Daun singkong 63 ml FeSO4 yang dititrasi 1,025 0,525 0,95 0,52 0,55

6 7 8 9

Akasia Jati Glyrecideae

0,175 0,625 0,9 0,775

Rumput 1. jerami
kadar C =

(b − a ) × N FeSO 4 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×berat pupuk 100 + KL

BO = kadar C ×
kadar C =

100 % 58

(1,025 − 0,525 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 + 20

= 11,7 %
kadar BO =11,7 × 100 % 58

= 20,16 % 2. Pupuk kandang
kadar C = (1,025 − 0,95 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×500 100 +13 ,7

= 0,3 %
kadar BO = 0,3 × 100 % 58

= 0,6 % 3. Azolla
kadar C = (1,025 − 0,52 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 + 7,1

= 10,53 %
kadar BO =10 ,53 × 100 % 58

= 18,2 % 64

4. Daun singkong
kadar C = (1,025 − 0,55 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 +8,3

= 10,1 %
kadar BO =10 ,1 × 100 % 58

= 17,3 % 5. Akasia
kadar C = (1,025 − 0,175 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 +9,5

= 18,1 %
kadar BO =18 ,1 × 100 % 58

= 31,2 % 6. Jati
kadar C = (1,025 − 0,625 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 + 6,2

= 8,27 %
100 kadar BO =8,27 `× % 58

= 14,3 % 7. Glyrecideae
kadar C = (1,025 − 0,9) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 + 4,2

= 2,5 %

65

kadar BO = 2,5 ×

100 % 58

= 4,3 % 8. Rumput
kadar C = (1,025 − 0,775 ) ×1 × 3 50 100 × × ×100 % 100 10 77 ×100 100 + 28 ,5

= 6,25 %
100 kadar BO =6,25 ` × % 58

= 10,8 % 7. Perhitungan Kadar N Pupuk Tabel 17. Jumlah NaOH yang dititrasi No Jenis pupuk 1 Blanko 2 3 4 5 6 7 8 9 Jerami Pupuk kandang Azolla Daun singkong Akasia Jati Glyrecideae Rumput ml NaOH yang dititrasi 17,4 16 11,25 12 15,55 14,75 13,7 13 12,1

Rumus 66

kadar N =

(b − a ) × nNaOH ×14 ×100 % 100 × berat pupuk 100 + KL

1. Jerami
kadar N = (17 ,4 − 16 ) × 0,1 × 14 × 100 % 100 × 250 100 + 20
11,7 % 0,94 %

= 0,94%
Nilai C / N =

= 12,4 2. Pupuk kandang
kadar N = (17 ,4 −11,25 ) ×0,1×14 ×100 % 100 × 250 100 +13 ,7

= 3,9 %
Nilai C / N = 0,3 % 3,9 %

= 0,07 3. Azolla
kadar N = (17 ,4 − 12 ) × 0,1 ×14 ×100 % 100 × 250 100 + 7,1

= 3,23 %
Nilai C / N = 10 ,53 % 3,23 %

= 3,3

4. Daun singkong
kadar N = (17 ,4 − 15 ,55 ) × 0,1 ×14 ×100 % 100 × 250 100 + 8,3

67

= 1,12 %
Nilai C / N = 8,27 % 1,12 %

= 7,38 5. Akasia
kadar N = (17 ,4 − 14 ,75 ) × 0,1 ×14 ×100 % 100 × 250 100 + 9,5

= 1,62 %
Nilai C / N = 18 ,7 % 1,62 %

= 11,1 6. Jati
kadar N = (17 ,4 − 13 ,7) × 0,1 ×14 ×100 % 100 × 250 100 + 6,2

= 2,2 %
Nilai C / N = 10 ,1 % 2,2 %

= 4,6 7. Glyrecideae
kadar N = (17 ,4 − 13 ) × 0,1 ×14 ×100 % 100 × 250 100 + 4,2

= 2,5 %
Nilai C / N = 2,5 % 2,5 %

=1 8. Rumput

68

kadar N =

(17 ,4 −12 ,1) × 0,1 ×14 ×100 % 100 × 250 100 + 28 ,5

= 3,8 %
Nilai C / N = 6,25 % 3,8 %

= 1,6

69

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->