Sistem hukum civil law sistem hukum eropa kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri

adanya berbagai ketentuan-ketentuan dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang menganut sistem hukum ini. sistem hukum yang juga dikenal dengan nama civil law ini berasal dari romawi perkembangan diawali dengan penduduk romawi atas prancis pada masa itu sistem ini dipraktekan dalam interaksi antara kedua bangsa untuk mengatur kepentingan mereka. proses ini berlangsung bertahun-tahun, sampai-sampai negara prancis sendiri menagdopsi istem hukum ini untuk diterapkan pada bangsanya sendiri. bangsa prancis membawa sistem ini ke negeri belanda, dengan proses yang sama dengan masuknya ke prancis. selanjutnya sistem ini berkembang ke itali, jerman, portugal, spanyol, dan sebagainya sistem ini pun berkembang ke seluruh daratan benua eropa. ketika bagsabangsa eropa mulai mencari koloni di asia, afrika, dan amerika latin, sistem hukum ini digunakan oleh bangsa-bangsa eropa tersebut untuk mengatur masyarakat pribumi didaerah jajahannya. misalnya belanda menjajah indonesia pemerintah penjajah menggunakan sistem hukum eropa kontinental untuk mengatur masyarakat di negeri jajahannya. apabila terdapat suatu peristiwa hukum yang melibatkan orang belanda atau keturunannya dengan orang pribumi, sistem hukum ini yang menjadi dasar pengaturanya selama kurang lebih empat abad di bawah kekuasaan portugis dan seperempat abad pendudukan indonesia, sistem huium eropa kontinental yang berlaku. Sistem hukum Common law sistem huku anglo-saxon sitem adalah sutau sistem hukum yang d dasarkan pada yurisprudens, yaitu keputusan-keputusan hakim yang terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya sistem hukum ini diterapakan di irlandia, inggris, auastralia, selandia baryu. afrika selatan, kanada (kecuali provinsi quebec) dan amerika serikat (walaupun negara bagian louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistem hukum eropa kontinental napoleon). selain negara-negara tersebut beberapoa negara lain juga menerapkan sitem hukum anglo-saxon campuran, misalnya pakistan, india, dan nigeria yangh menerapkan sebagian besar sistem hukum anglo-saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama. sistem hukum anglo-saxon, sebenarnya penerapanya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman. pendapat para ahli dan praktisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutuskan perkara. di inggris unifikasi hukum dilaksanakan dan dilselesaikan oleh benc dan bar dari pengadilan bench dan bar ini sangat di hormati oleh rakyat inggris, oleh karena mampu mewakili rasa keadilan dari m,asyarakat selkalipun bench dan bar merupakan pegawai pemerintah selama periode revolusi industri, para hakim dan penasehat hukum yang merupakan penjabaran dari hobeas, corpus, centorari dan madamus tetap tidak memihak selama masa revolusi dan hukum yang dibentuk pengadilan justru mendukung kekauatan-kekauatan sosial politik yang menghendaki perubahan dari masyarakat agraris ke masayarakat industri. dengan demikian di inggris pada masa revolusi lembaga-lembaga hukum tetap berada di tangan pengadilan yang beribawa di negara-negara common law hukum kebiasaan berkembang ketika pemikiran manusia tentang hukum masih bersifat kaku. tugas menciptaka hukum kebiasaan semula di tangani oleh the court of chancery, the court of chancery ini digunakan oleh raja untuk menhadapai kekauasaan dari pengadilan. perkembangan tersebut kemudian menghasilakan perbedaan antara apa yang disebut dengan "law" dan "equity" di lai

pihak. . secara historis equity merupakan lembaga hukum terpisah dari law dan merupakan reaksi terhadap ketidakmampuan hukum kebasaan yang dikembangkan pengadilan dalam mengatasi adanya kerugian-kerugian yang di timbulkan oleh suatu pelanggaran hukum. berdasarka uraian diatas jelas terlihat bahwa negara-negara yang menganut common law system bahwa hukum itu dibentuk oleh pengadilan satu-satunya karakteristik yang sama dari kedua sistem hukum tersebut adalah sama. di negara-negara yang menganut system common law hukum kebiasaan yang di kembangkan melalui keputusan pengadilan telah berlangsung sejak lama dan tidak dipengarui oleh adanya perbedaan antara hukum piblik dan hukum privat.

Antara Civil law dan Common law Telah lama sejak berabad-abad yang lalu terjadi perdebatan sengit antara mana yang terbaik antara Civil law dan Common Law. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin merupakan Pendukung civil law. dan mereka menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog” Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. pengadilan membedakan antara kasus kasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi. Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis.V Hayek mengatakan bahwa system common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah.“ Tradisi common law lahir pada tahun 1066 . Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum. terjadi peristiwa pada tahun tersebut yakni ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. negara common law yang berasal . Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. F. Di Perancis misalnya. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi. Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. Cara terbaik untuk mengatsi perbedaan diatas adalah dengan menghampirinya dari aspek historis seperti sebagaimana dikatakan Benjamin N. sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan. Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. Akar perbedaan yang substansial diantara kedua system hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah. Sebelum revolusi. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. Sebaliknya. Hal ini tidak terlepas dari sejarah yang melandasi terciptanya perbedaan itu.

Sumber : Bismar Nasution . Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi.dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen.

antara lain disebabkan telah berabad lamanya. Studi perbandingan hukum berlanjut pada abad pertengahan dimana dilakukan studi perbandingan antara hukum Kanonik dan hukum Romawi. S. Perkembangan pengakuan perbandingan hukum sebagai cabang ilmu hukum baru menghadapi kendala-kendala. Sekalipun pengakuan terhadap perbandingan hukum sebagai disiplin hukum terjadi pada abad ke 19.pembahasan Midtest PERBANDINGAN HUKUM PIDANA Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Nama : Melita Kristin B. dan pada abad 16 di Inggris telah memperdebatkan kegunaan hukum Kanonik dan hukum Kebiasaan. Kodifikasi hukum pertama setelah munculnya nation state. relatif baru dimana istilah comparatif law atau droit compare baru dikenal dan diakui penggunaannya yang dimulai di daerah Eropa. Perkembangan pesat perbandingan hukum menjadi cabang khusus dalam studi ilmu hukum adalah bagian kedua pertengahan abad ke-18 yaitu yang dikenal sebagai era kodifikasi. Pertanyaan mendasar yang dikembangkan pada abad ke-19 adalah sebagai berikut: . dikenal dengan Code de Napoleon. Studi tentang hukum positif ketika itu diabaikan di perguruan tinggi. Studi perbandingan tentang hukum kebiasaan di Eropa pada waktu itu telah dijadikan dasar penyusunan asas-asas hukum perdata (ius civile) di Jerman.. akan tetapi perkembangan yang sangat pesat terjadi pada abd ke-20. Perkembangan perbandingan hukum sebagai ilmu.R NPM : 1101 1106 0604 Mata Kuliah : Perbandingan Hukum Pidana Dosen : Ibu Nella Sumika Putri.H. dan sangat kurang memperhatikan hukum dalam kenyataan atau penerapan hukum. M. terjadi di Perancis. serta lahirnya nasionalisme dalam bidang hukum yang ditandai oleh berperannya kodifikasi. Montesquieu telah melakukan studi perbandingan untuk menyusun suatu asas-asas umum dari suatu pemerintahan yang baik. ilmu hukum yang sesuai dengan perintah Tuhan dan bersumber pada hukum alam (natural law) serta mencapai cita kelayakan.H. Sejarah dan latar belakang terbentuknya Perbandingan Hukum dalam Ilmu Hukum yaitu sejak studi perbandingan hukum telah dimulai ketika Aristoteles (384-322 SM) melakukan penelitian terhadap 153 konstitusi Yunani dan beberapa kota lainnya yang dimuat dalam bukunya yang berjudul Politics. yang hanya mengajarkan hukum Romawi dan hukum Kanonik. '08 9:59 PM for everyone 1. seorang tokoh aliran sejarah hukum. Nov 10. Nasionalisasi hukum tersebut dipengaruhi oleh Von Savigny. Solon juga melakukan melakukan penelitian atau studi perbandingan hukum ketika menyusun hukum Athena (650-558 SM). Pada bagian terakhir dari abad ke-19 perbandingan hukum mulai disukai sebagai cara untuk membandingkan hukum-hukum di Eropa daratan. sejalan dengan memudarnya perhatian terhadap ius commune yang mengajarkan eksistensi hukum yang bersifat universal.

dan e. c. 2. Kedudukan perbandingan hukum dalam kerangka ilmu hukum. 1894 dan konvensi internasional lainnya. hukum tetap dapat berdiri sendiri namun berjalan beriringan. Tujuan yang bersifat pedagogis yaitu untuk memperluas wawasan mahasiswa sehingga mereka dapat berpikir inter dan multi disiplin. b. Kemungkinan penerapannya dan kegunaan yang bersifat umum . Unifikasi hukum yaitu.a. kedudukan perbandingan hukum (perbandingan hukum pidana) sebagai disiplin hukum merupakan salah satu ilmu kenyataan hukum. Dan untuk itu harus dipahami hukum di masa lampau dan hukum di masa sekarang. dan psikologi hukum. adanya kesatuan hukum sebagiamana telah diwujudkan dalam konvensi hak cipta 1886 dan General Postal Convention. b. Tujuan dan sifat perbandingan hukum . juga hakim. d. serta mempertajam penalaran dalam mempelajari hukum asing. c. Kita membutuhkan ilmu perbandingan hukum dikarenakan (menurut Van Apeldorn) beberapa tujuannya berikut : a. Tujuan yang bersifat teoritis yaitu untuk menjelaskan hukum sebagai gejala dunia (universal) dan oleh karena itu ilmu pengetahuan hukum harus dapat memahami gejala dunia tersebut. antropologi hukum. disamping sejarah hukum. Kontroversi tentang perbandingan hukum yang berdiri sendiri dan perbandingan hukum sebagai metode. Karakteristik dan metode perbandingan hukum. Tujuan yang bersifat politis yaitu mempelajari perbandingan hukum untuk mempertahankan “status quo” dimana tidak ada maksud sama sekali mengadakan perubahan mendasar di Negara yang berkembang. b. Tujuan yang bersifat praktis yaitu merupakan alat pertolongan untuk tertib masyarakat dan pembaharuan hukum nasional serta memberikan pengetahuan berbagai peraturan dan pikiran hukum kepada pembentuk undang-undang. Maka didalam konteks kerangka ilmu hokum. Mencegah chauvinisme hukum nasional yaitu kita dapat memperoleh gambaran . sosiologi hukum. c. d. Harmonisasi hukum yaitu. Menurut Soedarto bahwa kegunaan studi perbandingan hukum yaitu: a.

c. Ole Lando. Perdebatan antara kedudukan hukum sebagai metode dan ilmu masih berlangsung sampai sekarang. Memahami hukum asing Misalnya : apabila Negara Kesatuan Republik Indonesia hendak mengadakan perjanjian internasional dengan Negara lain. c. d. Winerton. Gutterdige. Lemaire. 3. b. b. Beberapa pendapat pakar yang menyebutkan hukum sebagai metode ialah sebagai berikut : a. persamaan dan perbedaannya.yang jelas tentang hukum nasional yang berlaku sehingga kita mawas diri akan kelemahan-kelemahan yang terdapat pada hukum pidana positif sehingga kita tidak melebih-lebihkan hukum nasional dan mengesampingkan hukum asing. Namun perbandingan hukum sebagai ilmu lebih tepat dikarenakan lebih relevan dengan perkembangan masyarakat masa kini karena perbandingan hukum . maka untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut pihak NKRI mau tidak mau harus paham akan system hukum Negara yang menjadi lawannya (dalam sengketa). Kesimpulannya. mengemukakan antara lain bahwa perbandingan hukum mencakup analysis dan comparison of laws. Hessel Yutema. mengemukakan perbandingan hukum sebagai cabang ilmu pengetahuan mempunyai lingkup kaidah-kaidah hukum. mengemukakan bahwa perbandingan hukum adalah suatu metode yang membandingkan system-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data system hukum yang dibandingkan. mengemukakan definisi perbandingan hukum hanya suatu nama lain untuk ilmu hukum dan merupakan bagian yang menyatu dari ilmu sosial atau seperti cabang ilmu lainnya yang bersifat universal. berpendapat bahwa perbandingan hukum merupkan cabang dari ilmu hukum dan karena itu lebih tepat menggunakan istilah perbandingan hukum dari istilah hukum perbandingan. Beberapa pendapat pakar yang menyebutkan perbandingan hukum sebagai ilmu ialah sebagai berikut : a. sebabsebabnya dan dasar-dasar kemasyarakatannya. mengatakan bahwa perbandingan hukum merupakan metode penyelidikan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang hukum tertentu. menyatakan bahwa perbandingan hukum tidak lain merupakan suatu metode perbandingan yang dapat digunakan dalam semua cabang ilmu hukum. Rudolf B. Schlesinger. Soedarto. kedudukan perbandingan hukum tersebut muncul sebagai metode dan ilmu berdasarkan masanya sehingga ada juga kebenaran dari para pendapat tersebut. d. lalu timbul kemudian masalah.

Keputusan hakim terdahulu itu menjadi dasar bagi hakim untuk memberi putusan. Seseorang tidak boleh menolak untuk menjadi juri kecuali untuk alasanalasan tertentu seperti adanya conflict interest atau mengenal terdakwa baik secara langsung maupun tidak langsung. hakim harus melihat keputusan kasus sebelumnya dan kemudian menjatuhkan hukuman. Di US. kira-kira juri mana yang pro pada mereka. tentunya harus cerdik dalam hal mengeluarkan anggota juri. maka Jaksa tidak punya hak untuk memanggil juri itu kembali. Pekerjaan jadi Juri sebenarnya tidak terlalu menguntungkan. sejarah dan sosiologis serta objek pembahasan tersendiri yaitu system hukum asing tertentu. Canada dan beberapa negara di Eropa memakai Sistem juri. hubungan juri dengan terdakwa atau pendapat mereka tentang kasus tersebut. Lalu setelah lulus tes psikologi. Dalam praktik sehari-hari asas preseden ini tidak lagi murni diterapkan karena sukar dalam pola penerapannya walaupun sangat penting sifatnya. Tapi khusus untuk Pengacara dan Jaksa. System Juri merupakan ciri khas dari Common Law yaitu orang-orang sipil yang mendapatkan tugas dari Negara untuk berperan sebagai juri dalam sidang perkara. Umumnya wawancara mengacu kepada latar belakang juri. Dalam mengambil keputusan. Para Juri hanya dibayar USD 50 per hari. 4. Bisa juga hanya sekedar perasaan tidak suka Pengacara atau Jaksa secara personal terhadap juri tersebut. senyumnya. kemudian mengikuti tes psikologi. kualitas para Juri. Tentu dapat dibayangkan. Tim juri terdiri dari 12 orang awam. Jaksa dan Hakim punya hak untuk mengatakan tidak setuju dengan juri tersebut. atau hal-hal lain yang personal (disebut sebagai “based on cause”). Kedua pihak dalam perkara kemudian diberi kesempatan untuk mewawancara dan menentukan juri pilihannya. Jaksa dan Hakim. dengan jam kerja tidak jelas. . Baik Pengacara. Begitu pula sebaliknya. Hal tersebut pula yang menjadi salah satu isu hukum di US. yang harus mendaftar.” Tidak terdapat voting di dalam system Juri. mulai dari wajahnya. Asas the binding force of precedent (kekuatan mengikat dari preseden atau putusan sebelumnya mengenai kasus yang sejenis) pada common law system memiliki peran yang penting karena hakim tunduk pada keputusan-keputusan hakim terdahulu mengenai kasus yang sejenis. melainkan sudah merupakan studi tersendiri yang mempergunakan metode dan pendekatan khas yaitu metode perbandingan. Jika ada kasus yang sama maka untuk membuat keputusan. rasnya. Juri ditunjuk oleh Negara secara acak dan seharusnya adalah orang-orang yang kedudukannya sangat netral dengan asumsi juri adalah orang awam yang tidak mengetahui sama sekali latar belakang perkara yang disidangkan. kualitas personal dari para Juri ini seperti apa. Rata-rata orang tidak mau jadi juri.tidak hanya semata-mata sebagai alat untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dua system hokum yang berbeda satu sama lain. karena mereka harus berstrategi. 5. ditambah lagi rapat-rapat internal berhubungan dengan sidang. karena bayarannya kecil dan hanya duduk seharian di kursi. akan dipilih 14 orang (2 orang cadangan) untuk “diwawancarai” oleh Pengacara. Bila Pengacara tidak setuju dengan salah satu juri. keduabelas juri tersebut harus bersama-sama (suara mutlak atau tak boleh berpecah suara) mengatakan “guilty” atau “not guilty. tergantung dengan lama tidaknya sidang.

hakim tersebut tidak dapat mengelak kecuali ia juga menjatuhkan putusan yang secara substantif sama dengan putusan sebelumnya. Dalam pencarian sumber hukum. hakim dituntut untuk menyelaraskan makna kemanfaatan itu tadi dengan kepentingan masyarakat luas. ia dipastikan sudah memperhatikan dengan saksama putusan-putusan sebelumnya yang mengadili kasus serupa. maka asas preseden yang mengikat (the binding force of precedent) diterapkan. tetapi lebih kepada konstelasi hubungan para pihak yang bersengketa. Kodifikasi merupakan sumber hukum materill yang kemudian dijadikan dasar dalam menyelesaikan permasalahan melalui hukum formil c. Untuk melembagakan semangat berkeadilan inilah. Tatkala hakim menjatuhkan putusan. perhatian mereka pertama-tama tidak tertuju kepada undang-undang. agar nilai kepastian hukum juga tercakup dalam putusan hakim. Zweckmäßigkeit) pada tempat pertama. Selanjutnya. Demikian juga dengan eksistensi pranata equity yang lahir sebagai alternatif dari pengadilan common law. namun konsep “pihak” di sini dapat saja diperluas. Perbedaan antara Civil Law dan Common Law Sistem hukum Civil Law yakni sebagai berikut : a. Sekalipun ada undangundang yang dapat dijadikan sumber acuan. keaktifan dituntut datang dari para hakim. dengan bertitik tolak dari pandangan subjektifnya atas kasus yang dihadapi. Pada kasus-kasus demikian. Ciri khas sistem hukum ini adalah adanya penghimpunan dari berbagai ketentuan hukum (kodifikasi) secara sistematis yang pada prakteknya ketentuan-ketentuan ini akan ditafsirkan lebih lanjut. khususnya dalam sengketa hukum publik. sehingga tercapai pula dimensi keadilan (Gerechtigkeit) dalamputusannya. Cara berpikir pragmatis ini mengarahkan hakim-hakim dari keluarga sistem common law untuk meletakkan nilai kemanfaatan (daya guna. hakim tetap diberi kesempatan untuk menemukan hukum lain di luar undang-undang. b. Pengambil keputusan dalam civil law adalah hakim atau mejelis hakim yang . Dalam civil law peraturan hukum yang telah dikodifikasikan berlaku sebagai undang-undang dan merupakan pedoman penegakan hukum dalam Negara. antara lain lalu dihadirkan dewan juri di pengadilan sebagai pranata khas common law.Dalam keluarga sistem common law. Kemanfaatan di sini tentu pertama-tama dilihat dari optik kepentingan para pihak yang bersengketa. Jika tidak ada alasan yang sangat prinsipiil. Undang-undang bukanlah sesuatu yang dapat diandalkan oleh mereka dalam menghadapi situasi terberi (given situation) di pengadilan. 6.

Kerper secara lengkap mendeskripsikan adversary model dengan menyatakan. yaitu suatu prinsip hukum yang menyatakan bahwa pengadilan yang lebih rendah harus mengikuti keputusan pengadilan yang lebih tinggi c. 7. f. (2) then permitting a neutral decision maker to determine the facts and apply the law in light of the opposing presentation of two sides. Dari kata “adversary” itu berarti pihak-pihak tidak dalam satu persekutuan (ally) tapi dalam posisi yang berlawanan (opponent). Dalam common law tidak ada kodifikasi hukum. System Common Law merupakan system hukum yang memakai logika berpikir induktif dan analogi. Civil Law menggunakan logika berpikir metode deduktif System hukum Common Law yakni sebagai berikut : a. Dalam coomon law dikenal stare decisis. Jadi tekanannya adalah pada proses bukan pada hasil atau putusan. Dalam pengambilan keputusan suatu perkara yurisprudensi merupakan dasar yang paling utama d. Artinya pihak-pihak mengajukan bukti-bukti dan argumentasi hukum tanpa ada pembatasan. d. System common law mengenal system juri yaitu orang-orang sipil yang mendapatkan tugas dari Negara untuk berperan sebagai juri dalam persidangan suatu perkara f. Pada civil law Yurisprudensi tidak terlalu dipertimbangkan tetapi dapat dipergunakan sebagai bahan acuan atau referensi. Selsain itu hakim bersifat aktif dalam persidangn dan memutus perkara berdasarkan undang-undang yang berlaku disertai keyakinan hakim itu sendiri dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan. “system which arrives at a decision by : (1) having each side to a dispute present its best case and. Selanjutnya. Case Law atau pengumpulan kasus-kasus preseden yang berkaitan dengan perkara sangat penting dalam common law e. Selain keyakinan hakim doktrin juga merupakan factor penting yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan suatu perkara e. dimana dalam proses ini kedua belah pihak yang berperkara mempresentasikan semaksimal mungkin “best case-nya”.memeriksa perkara tersebut. Hazel B. Adversarial system mengandung pengertian bahwa modus untuk menemukan kebenaran adalah melalui “benturan” argumentasi dari pihak-pihak yang berperkara di pengadilan dengan bukti-bukti pendukung yang diajukan para pihak tersebut. Dari gambaran di atas dapat diketahui bahwa penyelesaian satu perkara sampai pada putusan adalah setelah melalui proses. System hukumnya didasarkan pada yurisprudensi yaitu keputusan-keputuasan hakim yang terdahulu menjadi dasar putusan-putusan hakim selanjutnya b. para pihak tersebut menyerahkan pada “a neutral” untuk memeriksa fakta-fakta dan hukumnya dari semua yang disampaikan oleh pihak- .

maka dalam sistem ini dengan sendirinya tidak dikenal pihak “a neutral” dalam mengambil keputusan seperti dalam non adversary system. Dalam persidangan. Kedua belah pihak. tapi kedua belah pihak yang berperkara-lah yang aktif. untuk sampai pada putusan pengadilan tidak memperkenalkan benturan argumentasi dari kedua-belah pihak tapi hakim cukup mencari ada dua alat bukti saja ditambah keyakinan dari hakim. Sistem ini umumnya berlaku di negara yang menganut Common Law. yakni tidak berlawanan. dapat disimpulkan bahwa sistem peradilan yang dianut Indonesia ialah mengikuti non adversary model (Civil Law System). Oleh karena proses terpimpin. Secara lebih lengkap dapat dirumuskan bahwa non adversary model adalah satu modus untuk menemukan kebenaran materiil dari satu perkara pidana melalui proses penyidikan yang dilakukan agak tertutup yang kemudian pembuktian kasusnya dilakukan di pengadilan dengan cara “terpimpin”. maka non adversary model menekankan pada crime control. Selama proses persidangan hakim bersifat pasif. Gambaran dari pengadilan yang menganut adversary model ini adalah : (1) Adanya kesetaraan antara pihak-pihak yang berperkara. Non Adversarial System Secara harfiah kata non adversary adalah sebaliknya dari adversary. dalam hal ini jaksa dan penasehat hukum. sementara hukumnya tugas yang akan dilengkapi oleh hakim. Dalam sistem ini. Dalam non adversary system. (2) Secara diam-diam berpraduga bersalah. kedua belah pihak mengajukan pertanyaan hanya melalui perantaraan hakim. (3) Dengan hukuman tinggi. “a neutral” ini adalah hakim dan juri. jadi para pihak di pengadilan itu sekutu (ally). dimana gambaran dari proses pengadilannya adalah : (1) Mengabaikan pengawasan hukum (disregard legal control). (4) Adanya praduga tidak bersalah. semua aspek dari peradilan itu menjadi tanggung jawab hakim. Hakim hanya akan memfokuskan pada tata-tertib persidangan utamanya bila ada keberatan dari salah satu pihak. Oleh karena tertutup dan terpimpin proses pemeriksaannya. Dengan begitu seseorang sudah dapat dinyatakan bersalah dan kemudian dihukum.pihak dalam perkara. Dari penjabaran tersebut. Dibandingkan dengan adversary model yang menekankan pada due process. pengadilan akan menentukan fakta-fakta hukum yang dianggap terbukti dan menentukan hukum yang dapat diterapkan terhadap fakta itu. (2) Adanya aturan-aturan yang melindungi terdakwa selama proses dari kesewenangwenangan kekuasaan. Dengan demikian. . dapat saja mengajukan bukti-bukti tapi semua bukti-bukti itu tidak dengan sendirinya mengikat hakim. (4) Dukungan pada polisi. Bahkan hakim dapat menolak pertanyaan yang diajukan dengan alasan pertanyaan itu tidak relevan atau memerintahkan mengganti dengan pertanyaan yang lain. maka non adversary system ini disebut juga dengan the inquisitorial procedure. (3) Adanya proses yang mengendalikan penyalahgunaan kekuasaan. Menentukan Fakta-fakta (kesalahan) adalah wewenang juri.

putusan akhirnya diserahkan kepada hakim dan ia akan memutus berdasar keyakinannya. Dalam hokum system kita. sebaiknya didorong agar menghasilkan putusan-putusan yang progresif. masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. bagaimana latar belakang sosial. . Apa pun yang dikemukakan oleh jaksa. Siapa hakimnya. Jika sudah begini. dan lain menjadi acuan penting. Hal yang terpenting tanpa adanya system juri karena mungkin justru nantinya jadi mengacau proses peradilan karena adanya system baru yang diterapkan di Indonesia. Sejak sistem kita memberi kekuasaan besar kepada hakim. Ilmu hukum perilaku (behavioral jurisprudence) banyak meneliti masalah ini. Sehingga menurut saya tetap saja dipertahankan system hakim yang telah ada. berapa usianya. tetapi psikologis. Penerapan system juri dalam peradilan pidana Indonesia yakni Tidak ada sytem yang bebas dari cacat. kulturalnya. Predisposisi psikologis hakim menentukan kualitas putusan. ekonomi. Hal yang perlu dibenahi adalah sikap karakter intelektual dan moral dari hakim kita saat ini demi terciptanya putusan yang adil. bagaimana pendidikan. dan terdakwa dalam persidangan. yaitu predisposisi psikologis hakim dihubungkan dengan putusannya. Sistem juri maupun sistem hakim. advokat. dimensi persoalan sebenarnya tidak lagi murni hukum. kata putus terakhir ada pada hakim.8.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.