P. 1
Ekonomi Makro Dalnis

Ekonomi Makro Dalnis

5.0

|Views: 23,526|Likes:
Published by syahdan_ilham

More info:

Published by: syahdan_ilham on Jan 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2015

pdf

text

original

Garis Pemerataan

Sempurna (sudut

450
)

P

Q

R

Kurva Lorenz

Persentase Jumlah Penduduk
(diurutkan dari kelompok
berpenghasilan paling rendah)

Keterangan Gambar:

Sumbu horisontal menyatakan jumlah penduduk dalam persentase
kumulatif. Dari kiri ke kanan menunjukkan jumlah penduduk dengan
urutan pendapatan paling rendah. Pada titik A menunjukkan kelompok
pertama sebanyak 10% berpendapatan terendah. Titik B adalah kelompok
kedua sebanyak 20% berpendapatan terendah, dan seterusnya hingga
titik I adalah menggambarkan 90% berpendapatan terendah. Sedangkan
sumbu vertikal menunjukkan bagian dari total pendapatan yang diterima
oleh masing-masing kelompok penduduk yang disebutkan pada sumbu
horisontal. Garis diagonal adalah garis dengan sudut 450

, menunjukkan

garis pemerataan sempurna. Kurva Lorenz menunjukkan tingkat distribusi
yang sebenarnya terjadi.
Tingkat ketimpangan distribusi nampak dari besar/kecilnya wilayah
Q, sebagai celah antara garis diagonal yang menunjukkan pemerataan
sempurna dengan Kurva Lorenz sebagai distribusi yang sesungguhnya.
Semakin besar celah (wilayah Q), semakin timpang tingkat pemerataan
dalam distribusi pendapatan.
Misalnya, titik D pada Kurva Lorenz, untuk 40% dari jumlah penduduk
(sumbu horisontal) berpenghasilan terendah menerima pendapatan kira-
kira sebanyak 18% dari total pendapatan nasional. Pada titik H, 80%
pendudukberpenghasilanterendah menerima pendapatan kira-kira
sebanyak 50% dari total pendapatan nasional.

Pusdiklatwas BPKP — 2007

70

Ekonomi Makro

Besar-kecilnya celah Q pada umumnya dinyatakan dalam bentuk Indeks
Giniyangperhitungannyadilakukan melalui rumus matematis. Untuk
menghindari kesulitan matematis, di sini hanya disampaikan prinsip dasar dari
perhitungan Indeks Gini yang dapat diketahui melalui indikasi sbb:

Secara visual, tingkat ketidakmerataan atau ketimpangan ini dapat dilihat
pada Gambar-7.2 berikut ini.

Gambar-7.2 Kurva Lorenz: PERBEDAAN TINGKAT KETIDAKMERATAAN

Semakin besar celah, semakin timpang distribusi pendapatan

Pemerataan
Sempurna

Q

P

R

Pemerataan
Sempurna

Q

P

R

Persentase Jumlah Penduduk

Persentase Jumlah Penduduk

Celah Q sempit, lebih merata

Celah Q lebar, lebih timpang

Secara sederhana, Kbefisien Gini dapat juga dicari dengan perbandingan

sebagai berikut:

KG

wilayahQ
luaswilayah
(Q R)

Memperhatikan rumus atau perbandingan tersebut dapat dinyatakan bahwa
semakin sempit wilayah Q akan semakin kecil KG (Kbefisien Gini). Semakin
kecil wilayah Qhingga mendekati nbl (Q § 0), maka pembilang adalah nbl,
sedang penyebutnya (wilayah Q + R) adalah bidang seluas segitiga di bawah
garis pemerataan sempurna, atau:

Pusdiklatwas BPKP — 2007

71

Ekonomi Makro

KG

wilayahQ
luaswilayah
(Q R)

0

0

wil (0 R)

Kbefisien Gini = 0 atau mendekati 0 menunjukkan pemerataan secara
sempurna dalam distribusi pendapatan.

Sebaliknya, semakin luas wilayah Q, KG-nya akan mendekati 1. Jika
wilayah Q sangat luas, maka wilayah R semakin kecil karena terdesak bleh
wilayah Q sehingga luas wilayah R mendekati nbl (R § 0). Dengan demikian
antara pembilang dan penyebutnya sama, yakni seluas segitiga di bawah garis
pemerataan sempurna, maka:

KG

wilayahQ
luaswilayah
(Q R)

wilQ

Q

1

wil (Q 0) Q

Kbefisien Gini = 1 atau mendekati 1 menunjukkan adanya ketimpangan
sempurna dalam distribusi pendapatan.

Dari uraian tentang Indeks Gini dapat ditarik simpulan bahwa semakin
besar indeksnya, yakni mendekati 1, berarti pemerataan semakin buruk, dan
sebaliknya semakin kecil indeksnya, yakni mendekati 0, pemerataan semakin
baik atau semakin merata.

Di Indbnesia, penghitungan Kbefisien/Indeks Gini dilakukan bleh Badan
Pusat Statistik (BPS). Sayang sekali, BPS tidak menghitung Indeks Gini atas
pendapatan, melainkan atas dasar pengeluaran belanja masyarakat. Dalam
penghitungan Indeks Gini Belanja tersebut, BPS mengadbpsi kbnsep yang
diterapkan bleh Bank Dunia. Untuk itu penduduk digblbngkan menjadi tiga
kelas,yaitu 40% pendudukberpendapatan rendah, 40% penduduk
berpendapatan sedang, dan 20% penduduk berpendapatan tinggi. Ukuran
ketimpangan berdasarkan kriteria Bank Dunia dilihat dari besarnya persentase
pendapatan yang dinikmati bleh 40% penduduk berpendapatan rendah yang
dapat disajikan dalam bentuk matriks sebagai berikut:

Pusdiklatwas BPKP — 2007

72

Ekonomi Makro

Gblbngan I

Pendapatan nasibnal
yang diterima

Kategbri tingkat
ketimpangan

40% penduduk
berpenghasilan rendah

< 12%

tinggi

12% - 17%

sedang

>17%

rendah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->