never stop learning | ilmu kalam

Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail.umm.ac.id http://anjarbahruddin.student.umm.ac.id/2010/04/13/ilmu-kalam/

ilmu kalam
KAJIAN ILMU KALAM DI IAIN

M. Amin Abdullah

Dalam Islamic Studies atau Dirasat Islamiyah, ilmu kalam (`ilm al-kalâm) termasuk kajian yang pokok dan sentral. Ilmu ini termasuk rumpun ilmu ushuluddin (dasar-dasar atau sumber-sumber pokok agama). Begitu sentralnya kedudukan ilmu kalam dalam Dirasat Islamiyah sehingga ia menawari, mengarahkan sampai batas-batas tertentu “mendominasi” arah, corak, muatan materi dan metodologi kajian-kajian keislaman yang lain, seperti fikih, (al-ahwal al-syakhsyiyah, perbandingan mazdhab, jinayah-siyasah), ushul fiqh, filsafah (Islam), ulum al-tafsir, ulum al-hadist, teori dan praktik dakwah dan pendidikan Islam, bahkan sampai merembet pada persoalan-persoalan yang terkait dengan pemikiran ekonomi dan politik Islam. Lima fakultas di lingkungan IAIN1 (Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin) seluruhnya mengajarkan ilmu kalam dalam Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Sedemikian kokohnya kedudukan ilmu kalam dalam studi-studi keislaman sehingga nyaris terlupakan sisi historisitas bangunan pola pikir, logika, metodologi dan sisitematika keilmuam kalam itu sendiri, yang pada gilirannya terlupakan pula agenda pengembangannya. Bagaimana sejarah perkembangan “teori-teori” ilmu kalam, model/tipe logika apa yang biasa digunakan oleh para penggunanya, faktor apa saja yang mendorong menguatnya pengaruh pendekatan kalam dalam keberagamaan Islam? Mengapa kemudian muncul ke permukaan pendekatan tasawuf menjadi counter terhadap model dan corak pendekatan kalam? Kritik terhadap model pendekatan kalam oleh ulama klasik begitu gencar, tetapi mengapa ia tetap bertahan kokoh seperti sediakala, bahkan belakangan terkesan “diproteksi” oleh berbagai kepentingan sosial-politik yang selalu mengelilinginya?

Pada era globalisasi agama dan budaya, umat Islam di seantero dunia secara alamiah harus bersentuhan dan bergaul dengan budaya dan agama orang lain. Sering kali dijumpai bahwa umat Islam, baik sebagai individu dan lebih-lebih sebagai kelompok, mengalami kesulitan keagamaan -untuk tidak mengatakan tidak siap-ketika harus berhadapan dengan arus dan gelombang budaya baru ini. Bangunan keilmuan kalam klasik rupanya tidak cukup kokoh menyediakan seperangkat teori dan metodologi yang banyak menjelaskan bagaiamana seorang agamawan yang baik harus berhadapan, bergaul, bersentuhan, berhubungan dengan penganut agama-agama yang lain dalam alam praksis sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Adanya jarak yang terlalu lebar antara “teori” dan “praksis” dalam kajian kalam, antara “idealitas” dan “relitas”, antara “teks” dan “konteks”, mendorong munculnya pertanyaan yang bersifat akademis: bagaimana hal demikian dapat dijelaskan? Mengapa materi ilmu kalam, lebih-lebih aspek metodologinya, tidak dapat dikembangkan sedemikian rupa –tidak seperti halnya yang terjadi pada disiplin-disiplin ilmu yang lain-sehingga diharapkan dapat memberi bekal yang cukup bagi konsumennya untuk mengarungi samudra kehidupan era baru era industri dan post industri? Mengapa seringkali timbul dalam diri umat Islam bahwa mereka adalah selalu minoritas, padahal dalam statistik mereka adalah mayoritas? Mengapa umat Islam mengalami disartikulasi politik meskipun mereka mayoritas? Adakah andil yang diduga dapat disumbangkan oleh ilmu kalam dalam konfliks etnik, ras, suku, dan agama?

Menurut pengamatan dalam penelitian Fazlur Rahman, salah satu penyebab tidak berkembangnya disiplin keilmuan kalam khususnya atau studi-studi keislaman pada umumnya, lebih dari segi materi maupun metodologi, adalah dipisahkannya dan dihindarinya pendekatan dan pemahaman filosofis dalam batang tubuh kerangka keilmuan kalam. Menurutnya, disiplin ilmu filsafat dan pendekatan filosofis pada umumnya sangat membantu untuk menerobos kemacetan, bahkan jalan buntu yang dihadapi oleh ilmu-ilmu apapun. Lebih lanjut dikatakan bahwa: “philosophy is, however, a perennial intellectual need and has to be allowed to flourish both for its own sake of other disciplines, since it inculcates a much-needed analytical-critical spirit and generates mew ideas that become important intellectual tools for other sciences not least for religion and theology. Therefore a people that deprives itself of philosophy necessarily exposes itself to starvation in terms of fresh ideas – in fact it commits intellectual suicide”. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut: “Bagaiamanapun juga filsafat adalah merupakan alat intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu, ia harus boleh berkembang secara alamiah, baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal demikian dapat dipahami, karena filsafat menanamkan kebiasaan dan melatih akal-pikiran untuk bersifat kritis-analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang sangat dibutuhkan, sehingga dengan demikian ia menjadi alat intelektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu yang lain, tidak terkecuali agama dan teologi (kalam). Oleh karenanya, orang yang menjauhi filsafat dapat dipastikan akan mengalami kekurangan energi dan kelesuan darah -dalam arti kekurangan ide-ide segar-dan lebih dari itu, ia telah melakukan bunuh diri intelektual.”2

page 1 / 9

khususnya yang berbasis pada pemikiran kalam selalu menyerang dan memojokkan filsafat. pendekatan dan pemahaman filosofis terhadap realitas keberagamaan pada umumnya.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ Kelesuan berpikir dan berijtihad dalam bidang ilmu kalam bukannya hanya datang belakangan ini. karena adanya unsur campur tangan dan intervensi manusia Muslim (nabi. adalah sebagai berikut: bolehkah apa yang biasa dan selama ini disebut-sebut sebagai “doktrin”. metodologi dan konteknya sesuai dengan pergumulan dan perubahan zaman serta perkembangan metodologi keilmuan yang mengitarinya? Bolehkah rumusan dan adagium-adagium ilmu kalam disusun ulang sesuai dengan tuntutan dan tantangan sosial-keagamaan serta perkembangan ilmu pengetahuan yang mengitarinya? Dapatkah dominasi pendekatan tekstual dan kontektual bergulir ke arah kontektual dan praksis sosial yang aktual dalam kehidupan kongkrit sehari-hari? Puncak pertanyaannya. baik di pesantren. usuliyyun. yang selama berabad-diupayakan namun selalu gagal? Jika memang begitu kenyataannya. Dengan demikian telah terjadi proses pembakuan dan sekaligus pembekuan keilmuan. yakni yang disusun dan dirancang oleh para ahli ilmu kalam klasik. “dogma” atau “akidah” digagas sebagai teori” keilmuan kalam. Apakah mungkin mengawinkan atau setidaknya mendialogkan disiplin dan metodologi “filsafat” dan “kalam” dalam pemikiran Islam kontemporer. maka sama halnya kita mensakralkan suatu produk rumusan pemikiran yang sesungguhnya tidak perlu disakralkan. lantaran lengketnya “kepentingan” politik di dalamnya.ac. adalah wadl’iy (disusun dan diturunkan begitu saja adanya dari langit) dengan serta-merta melupakan dan mengabaikan dimensi historisitas bangunan keilmuan kalam itu sendiri. jika harus sampai dikatakan bahwa seluruh hal yang terkait dengan akidah. apakah disiplin ilmu kalam. dan ilmu agama (religious studies) –dirasakan amat mustahil jika para peneliti dan pengkaji ilmu keislaman belum-belum sudah beranggapan bahwa akidah Islamiyah yang mengejawantah dan terbungkus dalam konsepsi keilmuan kalam klasik –yang kemudian pada gilirannya membentuk dan mewarnai corak bangunan materi dan metodologi keilmuan keislaman yang lain-terlepas sama sekali dari campur tangan manusia dalam menyusun dan men-sistematis-kannya.umm. Jika kita mengunci rapat (menutup pintu ijtihad) dan memustahilkan perlunya telaah ulang terhadap rumusan-rumusan argumen ilmu kalam klasik. dapat begitu saja terlepas dari pengaruh dan campur tangan dimensi ruang dan waktu ketika ia dirumuskan baik dahulu. ilmu alam. lebih-lebih ilmu kalam. barangkali.6 Bisa dianggap sebagai terlalu bersemangat mempertahankan rumusan-rumusan baku keilmuan agama Islam.student. seluruh khazanah intelektual Muslim yang tertulis dalam bahasa Arab (kitab kuning). yang disusun oleh ulama dan kaum cerdik cendekia terdahulu. tengah dan modern tidak boleh diubah sistematika. yakni dari tahun 150 sampai dengan 550 Hijriyyah. yakni setelah ditemukan dan dikembangkannya ilmu homaniora. Perkawinan ilmu kalam (teologi) dan falsafah –lebih-lebih dengan mempertimbangkan masukan yang diberikan oleh metodologi keilmuan yang dikembangkan para ilmuwan dan cerdik-cendekia abad 18 hingga sekarang. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Institut Agama Islam Negeri (IAIN). beberapa pertanyaan pendahuluan perlu dikemukakan terlebih dahulu sebelum penulis mengeksplorasi lebih lanjut tema tulisan ini. dan realitas keberagamaan Islam khusunya kurang begitu dikenal dan begitu berkembang dalam alam pikiran Muslim era kontemporer. sekarang maupun yang akan datang? Apakah akidah Islamiyah. mutakallimun.ac. cerdik cendekia) dalam merumuskan dan mensistematisasikannya? Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang lebih bersifat metodologis-epistemologis tersebut perlu dijawab terlebih dahulu. Sebuah proses yang mungkin saja terjadi dalam disiplin ilmu-ilmu keagamaan. Pertanyaan Epistemologis Dengan mencamkan dan mempertimbangkan temuan Fazlur Rahman dan Muhammad Abid al-Jabiri. majlis-majlis ta’lim maupun tokoh-tokoh masyarakat lainnya. sahabat. namun secara epistemologis amat dipertanyakan validitas dan keabsahannya. Namun justru pengabaian aspek historisitas keilmuan kalam inilah yang menjadi ciri umum sekaligus kekuatan dan unggulan diskursus pemikiran keislaman yang secara luas dianut dengan kokoh oleh para konsumen dan pengguna jasa ilmu-ilmu keislaman. baik sebagai pendekatan. khususnya yang dirumuskan dan diteorisasikan oleh ulama kalam klasik. metodologi maupun disiplin.id http://anjarbahruddin. ulama. Menurut penelitian Muhammad Abid al-Jabiri.umm. Dimensi historis-epistemologis dari ilmu-ilmu keislaman klasik amat terabaikan dalam pemahaman pemikiran keislaman kontemporer. Pengembangan metodologi keilmuan tidak mungkin dan terjadilah dengan sendirinya penyempitan horizon cara pandang terhadap realitas keberagaman manusia. dan pemikiran keagamaan Islam pada Perguruan Tinggi Umum (PTU). dan bukannya pertanyaan-pertanyaan yang bersifat doktrinal-apologis. jika saja semua jawaban terhadap semua pertanyaan tersebut di atas bersifat “negatif”. Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS).never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. page 2 / 9 .3 Akibatnya dapat diduga. hampir selama 400 tahun lebih.5 Tidak terkecuali ilmu kalam dan ilmu-ilmu keagamaan yang lain. apalagi yang terkonsepsikan dan terumuskan dalam ilmu kalam. Perlu ditegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang lebih bersifat filosofis-epistemologis. Jangan berharap diskursus ini dapat dilanjutkan dan berhasil guna. sebagai body of knowledge.4 Padahal sejarah dan sosiologi ilmu pengetahuan menggarisbawahi adanya campur tangan “kepentingan” manusia dalam setiap bangunan keilmuan. fuqaha. sebelum penulis melangkah lebih lanjut.

Hanya saja fungsi ide-ide bawaan dalam pola pikir Plato tersebut diganti -untuk tidak menyatakan diislamkan-oleh ayat-ayat al-Qur’an dan teks-teks al-Hadist. Menurut pola pemikiran ini. yang dapat ditangkap oleh indera dan dirasakan oleh pengalaman ini kemudian diabtraksikan (abstraction) menjadi konsep-konsep. gagasan-gagasan. definisi. Realitas empiris-historis yang berubah-ubah. rumus-rumus. dalil-dalil. Perkembangan ilmu pengetahuan abad 20 memunculkan kategori baru dalam pola pikir keilmuan. pola pikir atau logika yang digunakan oleh sistem berpikir akidah. Yang menjadi perhatian utama tulisan ini adalah kata “rumusan” tentang `aqîdah. Struktur Fundamental Pola Pikir Akidah Mula pertama perlu dikemukakan asumsi dasar penulis yang terbuka untuk dipertanyakan ulang. atau akidah (`aqîdah) harus dipercayai begitu saja adanya oleh para pemeluknya.7 Perlu dicatat bahwa pola pikir deduktif hanyalah salah satu dari sekian banyak pola pikir yang ada. Logika abduktif lebih menekankan pada unsur hipotesis. dan pemikiran kalam khususnya. dalam tulisan ini akan ditelah tiga aspek yang terkait dengan akidah. Dalam analisis sejarah perkembangan ilmu pengetahuan (history of science). interpretasi. Bahkan seringkali melebar sampai ke Ijma’ dan Qias.ac. maka realitas semacam itu dianggap ilusi dan tidak meyakinkan. tetapi diperoleh dari ide bawaan yang dibawa manusia sejak “sebelum” lahir.student. maka di sinilah letak bahan perbincangan keilmuan yang menarik. kepercayaan. dan (3) masa depan pendekatan pengkajian ilmu kalam: kerjasama antarmetodologi keilmuan. ide-ide. tidaklah diketahui melalui pengalaman historis-empiris-induktif. kepercayaan. tidak ada sesuatu apapun yang disebut ilusif. Abid al-Jabiri menyebut pola pikir seperti itu sebagai pola pikir “bayaniyyun” dan bukan `irfaniyyun. doktrin atau dogma adalah pola pikir deduktif (deductive). dapat dikaji kembali validitas dan kebenarannya melalui pengalaman-pengalaman yang terus-menerus page 3 / 9 . credo. Sebagai pola.11 Pengujian secara kritis terhadap apa saja yang dapat disebut sebagai bangunan keilmuan.ac. belief. Maka bagi pola pikir induktif. Perhatikan perlunya “dalil” dan “istidlal” sebagai landasan pola pikir dan pola bertindak dalam hidup keseharian umat Islam. proses pengujian di lapangan terhadap rumus-rumus. Pola logika pemikiran kalam yang bersifat deduktif adalah mirip-mirip pola berpikir deduktif Plato. juga bersifat deduktif. Penulis sepakat dengan anggapan dasar yang demikian karena memang itulah fundamental structure dari apa yang disebut sebagai “agama”. îmân. Manusia tinggal mengingat kembali (recollection) tentang ide-ide bawaan yang telah melekat begitu rupa dalam keberadaannya.umm. Pola pikir yang sangat tergantung pada teks atau nash-nash kitab suci adalah pola pikir yang bersifat deduktif. Pemikiran keislaman pada umumnya. (2) teks atau nash-nash keagamaan yang terbatas. îmân. Pola pikir ini dengan mudah menggiring seseorang dan kelompok ke arah model berpikir yang bersifat justifikatif (justificative)  terhadap teks-teks yang sudah tersedia. gagasan-gagasan yang dihasilkan dari kombinasi pola pikir deduktif dan induktif.9 Plato tidak menyetujui pendapat bahwa ilmu pengetahuan dapat diperoleh manusia melalui pengetahuan dan pemeriksaan secara cermat dan seksama terhadap realitas alam dan realitas sosial sekitar melalui pengamatan dan pengalaman inderawi. pemikiran deduktif disanggah dan dikritik oleh pola pemikiran induktif. Pola pikir ini lebih menekankan the logic of discovery dan bukannya the logic of justification.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ Untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru. menurut Plato.8 Plato pernah berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui manusia berasal dari “idea”. dalîl dan istidlâl serta batasan-batasan yang lain mengandaikan adanya pola pikir dan logika yang menyertainya. ta`rîf. dalil-dalil yang disusun sendiri oleh akal pikiran. yaitu ide-ide yang tertanam dan melekat pada diri manusia secara kodrati sejak awal mulanya. Ide “kebaikan” atau “keadilan” misalnya. ilmu pengetahuan bersumber dari realitas empiris-historis. Umumnya. Oleh karena itu harus dibedakan antara istilah “recollection” dan “abstraction”. pola pemikiran deduktif dan induktif dianggap tidak lagi cukup memadai untuk dapat menjelaskan secara cermat tata kerja diperolehnya ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. yaitu pola pikir abduktif. karena rumusan. Lantaran sifatnya yang berubah-ubah. termasuk di dalamnya rumusan manusia tentang keilmuan agama atau rumusan akidah. Kaum agamawan pada umumnya berpendapat bahwa “rumusan” belief.umm. khususnya yang telah tersistematisasikan dan terformulasikan melalui ilmu kalam: (1) Struktur fundamental pola pikir atau logika akidah. atau credo. Ilmu pengetahuan manusia adalah hasil kerjasama antara pengalaman historis-empiris (panca indera dan alat-alat pembantunya) dan kekuatan abstraksi (akal pikiran dalam merumuskan dan membahasakannya). Jika semuanya ini tidak dapat dilepaskan sama sekali dari “rumusan” bahasa manusia. dan juga bukan burhaniyyun. Semua yang dikenal oleh manusia dalam alam historis-empiris dapat dijadikan bahan dasar ilmu pengetahuan10 . konsep-konsep.id http://anjarbahruddin. Selain itu masih ada pola pikir lain seperti yang menggunakan cara pendekatan induktif (inductive) atau abduktif abductive).

Aliran dualisme mengatakan bahwa antara isi (makna) dengan lafal atau bentuk teks dapat dipisahkan. Pendekatan linguistik atau kebahasaan dapat mempertanyakan sejauhmana fungsi majâz. Cara memahami ayat-ayat al-Qur’an melalui pendekatan induktif-historis dianggap terlalu mendesakralisasikan makna dan peran ketuhanan. tidak lain dan tidak bukan adalah pola pikir induktif dan bukan deduktif. Bukankah telah terjadi doktrin ilmu kalam bahwa Tuhan itu harus terbebas dari peristiwa keseharian alam semesta dan umat manusia agar terjaga kesucian-Nya. Aliran pluralisme yang mengatakan bahwa hubungan antara isi (makna) dengan lafal atau bentuk teks amatlah kompleks. meskipun ada hubungan tetapi hubungan tersebut tidaklah begitu kompleks. dan bukan menganut aliran dualistik maupun pluralistik. corak dan pola pemikiran induktif-historis yang tercermin dalam istilah asbab al-nuzul pada akhirnya menipis dan menghilang dari wawasan dan kesadaran individu maupun kolektif umat Islam dan diganti dengan pola pemikiran deduktif yang ternyata lebih bersifat tekstualistik-skriptualistik. 2. tanpa rasa takut dan segan. pemikiran kalam ternyata lebih dekat pola pikir deduktif. tertutup. Aliran monisme berpendapat bahwa antara isi (makna) dengan lafal atau bentuk teks merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. ada kekhawatiran yang sungguh mendalam dalam diri umat Islam. diskursus tantang majâz dalam studi ilmu-ilmu al-Qur’an perlu dicermati kembali. satu kesatuan.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. Hal demikian semata-mata karena bahan dasar deduksi yang digunakan oleh akidah dan kalam adalah ayat-ayat al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi. 3. maka pola pikir logika deduktif keagamaan –yang dalam hal ini adalah pemikiran kalam– nyaris tidak boleh dipertanyakan ulang. Jika pola pikir logika deduktif model Plato dapat dikritik dan dipertanyakan ulang oleh pola pikir manusia yang datang belakangan. Menurut pengamat penulis. yaitu pola pikir yang didasarkan pada peristiwa-peristiwa sejarah sosial-kemasyarakatan dan sejarah sosial-keagamaan yang terjadi saat “diturunkannya” ayat-ayat tersebut. Dalam perkembangan ilmu linguistik. ditinjau dan ditelaah ulang. Sebuah teks menurut aliran ini merupakan konstruksi metafungsional yang terdiri dari makna ideasional. Dengan kata lain. jika asbab al-nuzul sampai dimaknai melalui pola pikir yang bersifat induktif. Bahasa teknis yang biasanya digunakan oleh ilmu kalam adalah “tanzîh”. Jika memang demikian kenyataannya. tapi hubungan antara keduanya bersifat amat kompleks13 . Dengan kata lain bahwa masing-masing mempunyai eksistensi. Hanya saja. Pengalaman mengajar di IAIN baik dalam program strata satu maupun strata dua dan tiga menunjukkan bahwa sangat sulit menjelaskan pada pengguna jasa keilmuan pemikiran Islam dan pemikiran kalam bahwa pola pikir yang digunakan al-Qur’an sesungguhnya adalah induktif dan sekali waktu bahkan abduktif. dalam hubungan antara makna dan lafal atau bentuk teks. interpersonal dan tektual yang kompleks.ac. Dengan kata lain. ada perbedaan tajam antara keduanya. tidak ada kemungkinan perbedaan pendapat dalam memahami teks karena antara teks dengan maknanya adalah sesuatu yang manunggal.umm. Dalam arti bahwa Tuhan tidak perlu dan kurang begitu pantas untuk terlalu turut campur tangan dalam urusan-urusan kecil sejarah kemanusiaan di dunia. yakni: 1. Seperti diketahui. ghayru qabilin li al-taghyir. bukan hanya masing-masing makna dan bentuk teks mempunyai eksistensi tersendiri. terdapat tiga aliran.student. dikritik. Dengan lain ungkapan.12 Jika memang demikian gambaran pola kerjanya. Dengan demikian.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ berkembang dalam kehidupan aktual. yakni ungkapan yang bersifat metaforis. Dari tiga corak pola logika berpikir tersebut.umm. Para peneliti pemikiran keislaman kontemporer seperti Muhammad Arkoun mengatakan bahwa pemikiran keislaman sampai page 4 / 9 . maka dari sudut kajian linguistik kontemporer dapat dijelaskan bahwa pemikiran kalam dan pola pikir akidah pada umumnya lebih menganut aliran monistik. maka pendekatan linguistik perlu juga diikutsertakan dalam pengkajian ilmu kalam kontemporer. Istilah “asbab al-nuzul” yang sering disebut-sebut oleh ulama tafsir dan “asbab al-wurud” yang disebut-sebut oleh ulama Hadist. dalam diskursus ulum al-Qur’an dapat diangkat ke permukaan untuk membantu memecahkan kesulitan yang dihadapi oleh pendekatan tekstualistik-skriptualistik yang cenderung mengambil pola pemaknaan monistik dalam pemikiran keagamaan Islam. produk pemikiran kalam dan pola pikir akidah pada umumnya telah dikunci rapat.ac.id http://anjarbahruddin.

Akibatnya. dan seterusnya). Salah satu konsekuensi dari pola dan tata pikir deduktif-tekstualistik-skriptualistik adalah kurang tajamnya seseorang atau kelompok dalam melihat dan mencermati fenomena alam.17 Menghilangnya nuansa historisitas (salah satu problem historisitas adalah perbedaan letak geografis. Mereka harus kawin atau memilih gadis pasangannya dari daerah pedalaman Turki. apakah dalam arti yang sebenarnya atau bukan sebenarnya. ‘amalî) dan begitu juga seterusnya. dogma atau akidah-sulit dipahami oleh pemikiran umumnya dan pemikiran Islam pada khususnya. bi al-ra’y. yakni lebih ditekankan pada masalah estetiknya saja. metodologi. Perkawinan model ini umumnya tidak berusia panjang karena perbedaan budaya dan tradisi serta tingkat dan model pendidikan yang diperoleh kedua mempelai. Maroko. temuan-temuan keilmuan linguistik yang baru seperti ini besar pengaruhnya dalam pengkajian ilmu kalam kontemporer. anak keturunan mereka yang sudah berbudaya dan berpendidikan Eropa juga mengalami kesulitan jika hendak berkeluarga. yang semarak hingga sekarang. sehingga orang lebih suka diam dan tidak bersuara daripada menyampaikan pendapat yang dipandang keluar dari patokan-patokan berpikir “baku” yang telah dirumuskan dan ditentukan oleh generasi keilmuan keislaman terdahulu yang usianya sudah hampir seribu tahun. bi al-ma’tsûr. yang kemudian disebut majâz mursal? Adapun persoalan makna berskala mikro yang memandang majâz sebagai sarana untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat konseptual dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan. “The role of metaphor and metonimy in religious language has not yet been fully considered up to now &ldots. Pakistan yang oleh orang tuanya diyakini masih dalam wilayah dâr al-Islâm yang murni. musim. maka bagaimana hubungan arti baru ini dengan arti asalnya. belum banyak –untuk tidak menyatakan belum ada-dibahas dalam kajian balaghah. Tidaklah aneh jika banyak dijumpai ungkapan seperti “apabila tidak ada majâz dalam al-Qur’an. dalam menjalani ibadah puasa anak-anak lebih mengalami kesulitan dibandingkan orang tua. mursal. tasawuf (salâfî. Syarat-syarat ijtihad terlalu rumit untuk diikuti. Sudah barang tentu. hasan.15 Akibat selanjutnya. budaya dan sosial kemasyarakatan yang selalu berubah dan berkembang sedemikian dahsyatnya. Kajian majâz yang berkembang dalam bidang balaghah umumnya masih terbatas pada persoalan makna yang berskala mikro menyangkut arti kata perkata atau arti penyandaran. berkeluarga dan sudah turun-temurun sampai pada generasi ketiga-masih saja merasa hidup dalam wilayah dâr al-harb. tafsif (model tahlîlî. antara ahl al-bayt dan bukan ahl al-bayt. Jika bukan dalam arti sebenarnya (arti majâz). Perbedaan antara Sunnî dan Syi’î. Pakistan dan negara berpenduduk mayoritas Muslim yang lain di Timur Tengah yang tinggal di Eropa –meskipun mereka telah bekerja. dalam hal ini Mu’awiyah. ataukah bukan merupakan perserupaan (ghayr musyâbahah). shahîh. muqâran. Penguasa. ijmâlî. Semua ilmu-ilmu keislaman tersebut mengaku merujuk kepada teks al-Qur’an sebagai dasar pola pijakannya. ahad. yakni sebagai pemoles bahasa supaya kedengaran indah.umm. ide dan gagasan (history of ideas) –apalagi jika gagasan.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. Kita juga sering lupa jika pemikiran hukum fikih hanyalah hasil ijtihad para ulama fikih klasik. agar ia dapat dikembangkan seiring dengan derap perkembangan ilmu-ilmu yang lain. yang lantas disebut isti’ârah. ide. Orang lupa bahwa konsep “dosa besar” dalam pemikiran kalam sesungguhnya bermula dari peristiwa historis-politik.16 Orang juga lupa bahwa al-Qur’an dalam bentuknya yang mushhâfî seperti yang ada sekarang ini adalah jasa khalifah Usman ibn Affan yang berhasil menyatukan cara membaca al-Qur’an yang saat itu ada beberapa macam bacaan dan naskah yang tersebar di berbagai wilayah. Oleh karena bersikap demikian. sangat berkepentingan dengan konsep ini untuk meredam suara rakyat yang mempertanyakan kebijakan-kebijakan politiknya. maudhû’î. Maroko. Warga Muslim minoritas keturunan Turki. Orthodox exegesis has been limited by the traditional definition of metaphor as a simple rhetorical divice used to embelish style”14 Tampaknya keprihatinan Arkoun muncul karena pemahaman terhadap ungkapan majâzî dalam kajian studi Islam (balaghah) masih sangat sederhana. baik Hanafi.umm. kesadaran akan adanya dimensi historisitas sebuah konsep. Masalah ini adalah masalah politik murni. iklim. sebetulnya tidak lain dan tidak bukan adalah perbedaan penafsiran terhadap berbagai kekuasaan politik. Lebih-lebih masalah “al-jabr” dan “al-ikhtiyâr”. bahkan hasil berpikir dan berijtihad pada era page 5 / 9 . Ali bin Ali Talib dan Mu’awiyah. Syafi’i.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ sekarang belum memiliki teori yang komprehensif mengenai majâz.18 Sempitnya wilayah ijtihad–lantaran generasi Muslim sekarang masih harus terpaku pada cara. Maliki mupun Hambali dan yang lain-lain.ac. maka akan hilanglah sebagian keindahan dan kemu’jizatannya” dan para ahli balaghah sepakat bahwa ungkapan majâz itu lebih baligh (lebih indah) dari pada ungkapan haqîqî.student. Begitu pula dalam hadist (konsep hadits mutawâtir. Apakah ia merupakan perserupaan (musyâbahah). Mereka tidak berani berijtihad sendiri untuk memecahkan persoalan ini. juga budaya dan tradisi antara satu wilayah dan lainnya) menyebabkan orang-orang Muslim imigran di Eropa harus berpuasa dengan tempo lebih lama dari waktu umumnya yang dijadikan patokan orang berpuasa di wilayah Timur Tengah dan daerah ekuator atau katulistiwa pada umumnya. Menipisnya–untuk tidak mengatakan menghilangnya-kesadaran historisitas pemikiran keislaman menyulitkan para pemikir Muslim kapanpun dan dimanapun mereka berada untuk berijtihad secara mandiri.id http://anjarbahruddin.ac. dha’îf. yaitu konflik antara Amr ibn ‘Ash. dan seterusnya).

Demikian gambaran singkat betapa sekat-sekat teologis. Abdullahi Ahmed an-Na’im. dari ayat-ayat atau nash-nash kitab suci tersebut. alam dan manusia era klasik-skolastik-prascientific. di wilayah Tanah Air pun sering terjadi perasaan kikuk karena harus bertetangga dengan orang yang kebetulan menganut agama lain. Tidak harus sampai ke Eropa. ternyata teks-teks. akan sulit menerangkan bagaimana percobaan-percobaan rekayasa genetika dan bioteknologi yang dilakukan oleh umat manusia dapat berhasil sedemikian rupa.22 Untuk menutup tulisan ini penulis akan menyorot serba sekilas bagaimana metodologi filsafat dapat membantu memperbaiki citra dan wibawa keilmuan kalam dan kajian-kajian keislaman lainnya dalam menghadapi persoalan-persoalan masa depan page 6 / 9 . politik. batas pemahamannya pun jangan sampai terlalu menekankan pada yang tertulis atau tersurat. era skolastik. baik dari segi waktu maupun tempat (salihun li kulli zaman wa makan). turut memberi andil bagaimana memaknai kembali teks-teks keagaman. era sahabat. sekat-sekat kalam yang dikonsepsikan dan dirumuskan era klasik-skolastik terus menerus dipelihara oleh umat beragama dewasa ini. lagi-lagi hanya menandaskan bahwa pola berpikir deduktif-tekstual-skripturalis yang biasa mewarnai pola pikir kalam mengalami kesulitan yang luar biasa ketika harus menatap realitas kehidupan aktual dan keharusan untuk melakukan ijtihad baru untuk menyelesaikan persoalan-persoalan baru yang muncul karena perkembangan dan perubahan zaman. budaya. dan begitu seterusnya) memang “terbatas”. Perlu pemahaman sisi makna terdalam. ilmu pengetahuan. Oleh karena itu. maghza. Contoh yang tak seberapa di atas. jika Tuhan ikut bekerjasama membantu manusia menciptakan makhluk baru dari hasil jerih payah kecerdasan manusia dalam meneliti dan memahami perilaku dan keajegan-keajegan alam. Bibel. perkembangan dan keberhasilan ilmu dan teknologi telah mengubah seluruh tatanan kehidupan era klasik. Keberhasilan rekayasa bioleknologi hanya dapat diapahami. dapat dibayangkan betapa kerasnya reaksi sebagian umat Islam jika ada kelompok umat Islam tertentu yang mengajak “kerjasama” dan bergabung dengan kelompok penganut agama lain dalam satu kekuatan pollitik. ayat-ayat. satelit komunikasi dan begitu seterusnya–sulit diterangkan melalui model pola hubungan antara Tuhan.ac. Hassan Hanafi. seperti teknologi bayi tabung. teknologi ruang angkasa–yang memicu timbulnya revolusi informasi dalam gelombang ketiga. ketika mereka menolong tetangga yang kebetulan tidak seagama.ac. dan era tabi’in. nash-nash dan dalil-dalil tersebut mempunyai umur panjang. Dari uraian sekilas di atas dapat dipahami. dengan dibarengi sikap kritis-abduktif. mentalitas dan perilaku budaya yang menyertai penemuan ilmu dan teknologi tersebut. Konsepsi ketuhanan dalam agama-agama yang memposisikan Tuhan terlalu jauh dari jangkauan umat manusia (tanzîh). kloning. Dalam 200 tahun terakhir. rekayasa genetika. Muhammad Arkoun. Weda. Muhammad Syahrur.umm. Perkembangan situasi sosial. jika apa yang diupayakan oleh manusia tidak didukung oleh campur tangan Tuhan di dalamnya. maka sesungguhnya mereka telah mengaktualkan metodologi keilmuan filsafat dalam persoalan-persoalan kalam dan akidah Islamiyah. sehingga hanya cocok untuk dikaji sebagai obyek peribadatan semata. Taurat.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. (setelah revolusi hijau and revolusi industri).student. juga tidak terkecuali era salaf. Realitas keberhasilan bioteknologi dan rekayasa genetika menggambarkan betapa kerjasama antara manusia. Keberhasilan dalam pemenuan teknologi baru dalam bidang kedokteran. dalil-dalil kitab suci (al-Qur’an. semangat. padahal fenomena plural tersebut terus menerus berkembang dalam dunia praksis sosial keagamaan. Perlu sedikit pergeseran dari titik tekan yang dulunya hanya aspek “dalalah” kepada “maghza”. Langkah-langkah demikian itulah yang sedang dilakukan oleh generasi pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman.20 Agar teks-teks. Makna kebahasaan secara konvensional saja tidak lagi cukup dapat menjangkau sisi terdalam dari makna ayat-ayat tersebut. Perubahan itu terjadi dalam cara berpikir. Sebagaimana umat Islam merasa tidak berbuat kebajikan dan beramal soleh.umm. nash-nash al-Qur’an dan al-Hadist21 yang selama ini hanya biasa dipahami secara deduktif-normatif dengan realitas kehidupan yang aktual yang terus-menerus berubah dan berkembang dan hanya dapat dipahami secara induktif-historis. spirit. Menghindari Eksklusivisme Disiplin Kelimuan Ketika manusia Muslim menatap masa depan peradabannya dengan cara mempertautkan teks-teks. Muhammad Abid al-Jabiri dan lain-lain.id http://anjarbahruddin. bioteknologi. Farid Esack.19 Jika demikian fakta empiris yang biasa dijumpai dalam kehidupan aktual bertetangga sehari-hari. revolusi informasi. maka ia harus dipahami secara komprehensif melalui pemahaman yang mendalam dan interdisipliner. Umat beragama pada umumnya kurang senang dan tidak begitu nyaman melihat fenomena sosial keagamaan yang bersifat plural. Model konsepsi ketuhanan dan doktrin-doktrin keagamaan era klasik-skolastik membutuhkan uluran keberanian dari para pemikir keagamaan untuk merumuskan ulang konsepsi-konsepsi yang telah ada. sekat-sekat akidah.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ klasik-skolastik-menumbuhkan sebuah generasi Muslim imigran yang mengalami split personality (keterpecahan kepribadian). alam dan Tuhan semakin nyata. Nasr Hamid Abu Zaid.

Tidak bisa tidak. cerdik-cendekia di Perguruan Tinggi maupun orang awam menyetujui konsep baru ini.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ kemanusiaan yang mencakup dua masalah: pertama. khususnya para pejabat dan para juru dakwah dan penceramah keagamaan. maka konsep Dialog Antar Umat Beragama lebih mencerminkan sikap. dalam praktik di lapangan. yang berkaitan dengan upaya mentransformasikan norma-norma agama dalam bingkai keilmuan sebagai kekuatan budaya (cultural force) dan bukannya sekadar sebagai kekuatan moral atau spiritual (moral. Ia lebih merupakan slogan dalam berpidato di atas podium namun tidak terlaksana dalam praktik. tentang Pluralitas Agama dan Dialog Antar Umat Beragama.ac. Dua konsep ini merupakan persoalan baru yang dihadapi oleh umat Islam khususnya dan umat beragama pada umumnya. hal itu semata-mata karena didorong oleh kesadaran paling dalam dari seseorang dan bukan karena tekanan. Dalam al-Qur’an memang ada prinsip “lakum dinukum wa lii al-dien” (bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku). pesantren dan majlis-majlis taklim dan forum pengajian-pengajian lain. Kepedulian terhadap isu-isu aktual. menahan diri. Konsep Dialog Antar Umat Beragama muncul ke permukaan sebagai pengganti atau counter terhadap hak kebebasan beragama yang telah dideklarasikan oleh PBB.umm. kepentingan-kepentingan umum agaknya kurang begitu diperhatikan oleh dogma-dogma agama dan ilmu kalam pada umumnya di IAIN. Tidak semua teolog. keluarga. Kebebasan Beragama lebih mencerminkan worldview atau pandangan hidup pelaku dan mentalitas having a religion. Jangankan memberi solusi yang aplikabel dalam kehidupan masyarakat luas. apalagi sampai terlihat dalam pergumulan isu-isu sosial-eksoterik yang sedang digelisahkan oleh umat manusia sekarang ini. Namun kekuatan keimanan ini belum dihadapkan pada prsoalan-persoalan aktual.umm. Ibaratnya. dan kedua adalah soal pluralitas agama-agama dalam hubungannya dengan Dialog Antar Umat Beragama. problem kehidupan sosial yang aktual dan kongkrit. isu-isu publik. mengolok-olok.id http://anjarbahruddin. ajakan atau bujukan dari pihak luar. Sama seperti ketika mereka merespon Hak Kebebasan Beragama 50 tahun yang lalu (1948).student. yang dihadapi umat manusia dalam kehidupan sehari-hari sehingga tampak kurang dimanfaatkan sebagai cultural force. Ternyata KKN mempunyai logika dan mekanisme kerja tersendiri. persoalan-persoalan kongkrit. sebagai orang luar yang tidak seagama hanya ingin memahami bagaimana sesungguhnya model keselamatan yang dipahami. yang terlepas dan luput dari pengamatan dan telaah sistem peribadatan pribadi umat Islam (al-ahwal al-syakhsiyyah) yang biasa mereka kaji dan tekuni dalam forum-forum kajian keislaman di Perguruan Tinggi. Tidak ada orang meragukan betapa kuat dan kokohnya kepercayaan umat Islam terhadap keberadaan dan keagungan Allah SWT. namun konsep tersebut. bukan semata-mata dalam wilayah individual morality (kesalehan pribadi). maka ilmu kalam. masyarakat maupun bangsa. dan arif terhadap realitas kemajemukan umat beragama. menurut hemat penulis. toleran. pendeta. memandang rendah apalagi sampai merebut atau memindah pemeluk agama yang satu ke yang lain. menunjukkan hal itu. Jika konsep Kebebasan Beragama. pastur. cara berpikir dan bertindak yang lebih santun. diyakini dan dipraktikkan oleh pengikut agama-agama lain. Hal itu terbukti dengan telah membudayanya korupsi. Tidak ada sedikitpun keinginan atau niatan untuk secara agresif menyerang. Wilayah individual-morality barangkali memang cukup dibekali dan diselesaikan melalui pendekatan al-ahwal al-syakhsiyah. STAIN dan PTAIS. ditawarkan. model dan coraknya-sudah ada dalam setiap agama-agama besar dan kecil. kyai. Lebih-lebih karena cara berpikir. Yang lebih diperlukan adalah proses reduksi yang dilakukan oleh masing-masing kelompok agama bagi para pengikutnya masing-masing untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan dan page 7 / 9 . bhikhu. akidah atau dogma hanya akan bermakna secara esoteris-metafisis tetapi kurang begitu peduli. Ketika umat Islam Indonesia dihadapkan pada isu aktual dan kongkrit seperti KKN ternyata kebanyakan mereka justru kurang peka terhadap isu tersebut. Dalam telaah teoritik ilmu-ilmu sosial. lebih terkait dengan konsep Kebebasan Beragama dan bukan Dialog Antar Umat Beragama. sikap mental dan agenda yang muncul dari kedua konsep tersebut memang sangatlah berbeda. Praktik Imtaq dalam praksis sosial sangatlah lemah. Kalaupun terdapat apa yang disebut-sebut sebagai conversi (pindah agama). sedangkan Dialog Antar Umat Beragama lebih mencerminkan sikap. sedikit lebih banyak mencerminkan sifat kecemburuan dan agresivitas dalam memandang dan berhubungan dengan penganut agama lain. Sekarang mereka baru sadar bahwa penyakit KKN tidak dapat diobati melalui himbauan dan ajakan retorika keagamaan di atas podium.ac. perilaku dan mentalitas being religious. ia harus bersedia menjalin kerjasama dengan pendekatan critical social sciences dan humaniora pada umumnya. jika ilmu kalam dan akidah Islam hendak diperankan dalam memecahkan problem kehidupan sosial kekinian. Pertama. Dialog Antar Umat Beragama beranggapan dan bahkan berkeyakinan bahwa “keselamatan” –apapun bentuk. Jika tidak. Kedua.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. kolusi dan nepotisme (KKN) dalam hampir seluruh lini kehidupan di Tanah Air. norma agama sebagai kekuatan budaya. Istilah “iman dan taqwa” (Imtaq) yang biasa disitir oleh siapa pun di Tanah Air. Religious truth claim (monopoli kebenaran Agama) tidak terlalu diperlukan di sini. spiritual force) seperti yang biasa terdengar dalam bahasa dakwah. mencemooh. mereka sendiri justru baru sadar bahwa ternyata di luar pagar sistem peribadatan murni (mahdlah) terdapat kekuatan yang lebih dasyat yang dapat memporak-porandakan sendi-sendi moral-keagamaan perorangan. sedangkan persoalan public morality mempersyaratkan dikuasainya seperangkat keilmuan critical social sciences yang diharapkan dapat menciptakan sistem kontrol sosial yang handal. KKN termasuk dalam wilayah public morality (kesalehan publik).

id http://anjarbahruddin. harus dikembangkan selangkah lebih lanjut menjadi Dialog Antar Umat Beragama yang mempersyaratkan perlunya kerjasama antarumat beragama. dengan tetap mengakui otonomi dan eksistensi metafisis warna keagamaan masing-masing. maka upaya untuk menggantikan dengan konsep Dialog Antar Umat Beragama –yang lebih perpadanan dengan konsep al-Qur’an dalam surat al-Hujarat-rasanya memang lebih plausible dan viable untuk masa-masa yang akan datang. habit of mind dan seterusnya.” ia juga lengket dengan fenomena kultural. konsep Dialog Antar Umat Beragama lebih mencerminkan mentalitas. “eksklusif”dan “rigid” perlu digeser ke arah corak pemikiran keagamaan yang lebih bersifat “terbuka”.23 Tidak terbersit sedaikitpun usaha-usaha untuk secara sepihak “menyalahkan”. luwes”. kerjasama antarberbagai umat beragama dalam praksis kehidupan. perlu juga dikenalkan bagaiaman pola-pola keimanan yang dimiliki oleh orang lain. sebaliknya dalam konsep “kerukunan” belum tentu demikian adanya. rigid dan tertutup. selain melibatkan “wahyu. “tidak menyukai” dan “menganggap tidak selamat” penganut agama lain sehingga harus diselamatkan ulang atau diagamakan kembali. Untuk itu pada level aktual-historis-empiris.ac. tradisi. “meng-kafirkan”. “inklusif” dan “arif”.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. jika umat manusia dan umat beragama tidak bersedia memahami ulang secara lebih subtansial dan berani mengubah konsepsi mereka tentang “apakah hakekat atau esensi agama tersebut”? Menurut hemat penulis. harapan demikian akan tinggal menjadi harapan. biru. cara berpikir. sistem ajaran. Sementara itu.student. menentramkan. Tampaknya. Yang diperlukan hanyalah proses saling mengenal dan saling memahami eksistensi dan hak masing-masing agama. memahami dan menyadari adanya warna-warna keagamaan yang hitam. yang secara terus-menerus ingin dipelihara dan dilestarikan para penganut agama-agama era sekarang. Ia dengan tulus. Maka hujat-menghujat. tetapi sekaligus memustahilkan keberhasilan usaha yang dilakukan oleh siapapun untuk menyatuwarnakan seluruh warna-warna keagamaan yang ada.ac. tanpa keinginan untuk merubah keyakinan agamanya supaya sama dengan keyakinan yang kita miliki. adalah realistik dan bertanggung jawab rasanya untuk lebih memperbincangkan. maka Kebebasan Beragama yang mengandaikan perlunya dikembangkan teologi “kerukunan” antar umat beragama. kafir-mengkafirkan tidak diperlukan lagi dalam era Dialog Antar Umat Beragama. Dalam menghadapi nestapa manusia era modern dan modern tingkat lanjut seperti saat sekarang ini. Jika fundamental structure dan implikasi yang ditimbulkan dari masing-masing konsep demikian adanya. Janji dan harapan adanya keselamatan diangggap sudah ada dalam masing-masing agama. Untuk itu. umat beragama perlu juga memahami bahwa fenomena agama. lebih menjanjikan dan memberi harapan baru. yang dibarengi cara berpikir yang absolut. dihadapkan pada pilihan tersebut. syari’ah dan konsepsinya berbeda dari yang biasa dimiliki oleh masing-masing pemeluk. sepenuh dan rendah hati mengakui eksistensi warna-warna keagamaan tersebut. Hanya saja cara. agama diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu yang menyejukkan. lebih mengutamakan agenda dan prioritas yang berusaha agar seluruh warna-warna keagamaan tersebut di atas dihapus dan diganti oleh satu warna yang paling unggul (superoritas keagamaan atau religious truth claim). hijau. bertindak dari perilaku keagamaan yang lebih santun dan rendah hati. Jika dalam konsep “Kebebasan Beragama” masih dimungkinkan munculnya keinginan untuk “menyalahkan”. merah dan begitu seterusnya daripada terjebak pada logical fallacy “buta warna-warna” keagamaan. bukan malah menjadi sumber keruwetan dan menambah tambahan beban ekstra berat yang perlu dipecahkan oleh umat-umat beragama. model. serta mewarisi pola pikir dan mentalitas keagamaan era skolastik. kerukunan antarumat beragama sudah built-in dalam konsep “kerjasama”. mentalitas dan perilaku budaya masing-masing pengikut agama-agama. bahasa. “mengolok-olok”. adat-istiadat. putih. di luar yang biasa diyakini. Dialog Antar Umat Beragama lebih menitikberatkan pada keinginan dan kebutuhan untuk saling memahami dan saling tukar menukar pengalaman keagamaan yang telah dimiliki oleh masing-masing tradisi pengikut agama-agama. “menganggap tidak selamat” sistem kepercayaan dan keimanan yang dimiliki oleh orang dan kelompok lain. Namun. salah-menyalahkan. maka dalam konsep Dialog Antar Umat Beragama justru sebaliknya. Dari situ konsep Kebebasan Beragama –yang lebih berpadanan dengan konsep al-Qur’an dalam surat al-Kafirun-yang dideklarasikan 50 tahun yang lalu oleh anggota PBB terasa kehilangan relevansinya dan perlu dipertanyakan ulang nilai manfaatnya oleh banyak kalangan.umm. Dengan ungkapan lain. Pola pemikiran keagamaan. Dengan demikian pengajaran dan kajian kalam kontemporer tidak lagi cukup hanya mempelajari pola-pola keimanan yang dianut dan dimiliki oleh kalangan sendiri. Konsep klasik tentang Kebebasan Beragama. “tertutup”. Dalam era globalisasi agama dan budaya seperti saat ini. Sekali waktu. fakta historis-sosiologisnya justru menunjukkan adanya pemisahan yang bersifat diametral antara dua macam sikap dan cara berpikir keagamaan. “dîn” atau “religion” itu sendiri–yang notabene acapkali dianggap absolut atau mutlak oleh para pengikutnya–tetapi lebih pada cara berpikir.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ integritas sesorang. Kita menerima keberadaan orang lain sepertia apa adanya. yang menjadi akar persoalan bukanlah “agama”. mentalitas dan perilaku budaya yang bersifat “absolut”. Kajian perbandingan dalam page 8 / 9 .umm. Setelah mencermati watak dasar dan implikasi dari kedua konsep tersebut. kuning.

dan bukan sekadar “produk” berpikir. Dalam tulisan ini. Hubungan antarkeduanya adalah ibarat minyak dan air. page 9 / 9 . Asy’ariyah. basic. Budha. Berpikir kritis-analisis dan sistematis. Ideologi-idelogi besar dunia justru menjadi lawan dari ideologi Islam.student. Dalam “proses” berpikir itulah metodologi filsafat dapat diaktualisasikan dalam pemikiran kalam. dalam pengkajian kalam kontemporer lebih diperlukan untuk mengedepankan pentingnya metodologi. sudah saatnya dan semestinya dikaitkan juga dengan pola-pola dan aliran-aliran teologi yang dimiliki oleh kelompok-kelompok di luar Islam (Katolik. agama dan kekuatan spiritual yang lain dalam era globalisasi budaya akan semakin sulit memerankan jati dirinya.umm. Hindu. Kerjasama antarberbagai metodologi keilmuan –dan bukannya eksklusivisme disiplin keilmuan-adalah merupakan conditio sine qua non bagi pengembangan keilmuan kalam dalam menatap realitas sosial keagamaan di masa depan.umm. Yahudi. Penutup Jika yang dimaksud “filsafat” seperti yang diungkapkan Fazlur Rahman dalam awal tulisan ini adalah “isme-isme” atau aliran-arilan filsafat yang biasanya dikenal sekarang ini.ac.ac. living atau actual issues serta comparative perspective (perspektif perbandingan) dalam persoalan-persoalan keagamaan dalam hidup sehari-hari daripada hanya sekadar menyentuh aspek sejarah dan perkembangan ilmu kalam dalam dirinya sendiri. fundamental theories. current. Dengan demikian. apa yang disebut-sebut sebagai “filsafat” adalah “metodologi berpikir”.never stop learning | ilmu kalam Copyright anjarbahruddin anjarbahrudin@webmail. atau Sunnî versus Syi’î di lain pihak). Protestan. Tanpa dibarengi sentuhan filsafat. Kong Hu Cu). Maturidiyah di satu pihak. maka aktualisasi filsafat dalam pengajaran dan pengkajian kalam sangatlan tidak mungkin. Ia lebih memcerminkan “proses” berpikir. apalagi kalau hanya terbatas pada pembahasan dan pengulangan konsep-konsep yang abstrak yang tidak menyentuh persoalan hidup keseharian manusia baik sebagai individu maupun kelompok.id http://anjarbahruddin.id/2010/04/13/ilmu-kalam/ pengajaran kalam dalam Dunia Islam (Mu’tazilah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful