AYAT-AYAT MUTASHABIHAT

:
Metode Penafsiran dan Hikmahnya
Oleh: Sokhi Huda

A. PENDAHULUAN
Allah telah menurunkan al-Qur’an kepada hambanya, agar dia menjadi bashir dan
nadhir bagi seluruh alam. Untuk itu, Allah mendeskripsikan akidah yang benar dan
pokok-pokok ajaran yang lurus dalam ayat-ayat yang jelas dan tegas, dan ini merupakan
karunia Allah yang besar atas manusia.
Pokok-pokok ajaran agama (usul al-din) itu kadangkala disebutkan dalam al-
Qur’an dalam lafaz dan ungkapan yang berbeda, meskipun makna yang dikandungnya
sama, tanpa ada perselisihan sedikitpun. Tetapi selain itu yang merupakan cabang/ rincian
agama (furu‘ al-din) dibahas dalam ayat-ayat yang umum dan mengandung banyak
kesamaran. Hal ini dapat memberikan keleluasaan kepada para mujtahid/ mufassir yang
ilmunya mendalam untuk dapat mereferensikan ayat-ayat itu kepada muhkamnya dengan
mendasarkan furu‘ kepada usul. Dengan kesempurnaan yang terdapat dalam usul dan
keumuman yang terdapat pada furu‘nya Islam merupakan agama yang abadi dan dapat
memberikan kebaikan hidup bagi manusia, di dunia dan akhirat.
Makalah ini berusaha untuk mengungkap metode penafsiran dan hikmah ayat-ayat
mutashabihat, dalam pembahasan yang ringkas dan padat. Sebelum ke fokus utama
pembahasan, terlebih dulu dipaparkan sekitar konsep dasarnya yang meliputi pengertian,
dasar-dasar, dan macam-macam mutashabihat.

B. PENGERTIAN MUTASHABIHAT
Lafaz mutashabihat adalah bentuk kata sifat mu’annath yang digunakan untuk
menyifati isim mu’annath pula, seperti “ayat mutashabihat”. Sedangkan bentuk
mudhakkarnya adalah mutashabihLafaz ini mempunyai banyak arti, baik menurut bahasa
(etimologi) maupun istilah (terminologi).
Kata mutashabih berasal dari tashabuh. Para ahli bahasa menngunakannya untuk
arti keserupaan dan kesamaan yang membawa kepada kesamaran antara dua hal
1
,
sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an, dalam menyifati rejeki surga:
“Dan mereka diberi buah-buahan yang serupa”
2
.
Tashabah dan ishtabah, keduanya berarti dua hal yang saling menyerupai yang
satu dengan yang lain, sehingga sukar dibedakan
3
. Dalam kisah tentang Bani Israil, al-
Qur’an menyebutkan:
4

“Sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami.”
Secara terminologis, para ulama memiliki definisi yang bervariasi tentang
mutashabih, sebagaimana perbedaan mereka tentang muhkam, antonimnyaAl-Suyuti
misalnya, telah mengemukakan 18 makna mutashabih yang diberikan oleh ulama
5
.
Sedangkan al-Zarqani mengemukaan 11 definisi, yang sebagiannya dikutip oleh a-Suyuti
6
.
Di antara beberapa definisi mutashabih yang dikemukakan oleh al-Zarqani adalah
sebagai berikut:
1. Mutashabih adalah ayat yang tersembunyi maknanya, tidak diketahui maksudnya,
baik secara aqli maupun naqli, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah,
seperti datangnya hari kiamat, huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat.
Pendapat ini dinisbatkan oleh al-Alusi kepada pemimpin-pemimpin mazhab Hanafi.
2. Mutashabih adalah ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya, seperti
datangnya hari kiamat, keluarnya dajjal, huruf-huruf yang terputus-putus di awal
suratPendapat ini dinisbatkan kepada ahl sunnah sebagai pendapat terpilih di kalangan
mereka.
3. Mutashabih adalah ayat yang tidak jelas maknanya dan mengandung ishkal
(kepelikan)Muhkam, sebagai lawan dari mutashabih, terdiri atas lafaz nas dan lafaz

1
Lihat Muhammad bin Ya`qub al-Fayruz Abadi, al-Qamus al-Muhit, Vol4 (Beirut: Dar al-Kutub
al-`Ilmiyah, 1995), 266; al-Zarqani, Manahil al-`Irfan fi 'Ulum al-Qur'an, Jilid 2 (Mesir: Dar al-
Kutub al-'Arabiyah, t.t.), 270.
2
Al-Qur'an, surat al-Baqarah: 25.
3
Al-Zarqani, Manahil..., 270.
4
al-Qur'an, surat al-Baqarah: 70.
5
Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi `Ulum al-Qur'an, Jilid 2, 2-3.
6
Al-Zarqani, Manahil…, Jil.2, 271.
zahir. Sedangkan mutashabih terdiri atas asma‘ mubhamah (kata-kata benda yang
samar)Ini adalah pendapat al-Tibi.
4. Mutashabih adalah ayat yang tunjukan maknanya tidak kuat, yaitu lafaz mujmal
(global), mu’awwal (lafaz yang perlu ditakwil agar dapat dipahami) dan mushkil
(pelik). Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam al-Razi, dan dipilih oleh banyak
peneliti.
Setelah mengemukakan beberapa definisi di atas, al-Zarqani kemudian
berkomentar bahwa definisi-definisi tersebut tidak bertentangan, bahkan di antaranya
terdapat persamaan dan kedekatan makna. Tetapi, menurut dia, pendapat Imam al-Razi
lebih jelas, karena sebenarnya masalah ihkam dan tashabuh kembali kepada persoalan
jelas atau tidaknya makna yang dimaksud oleh Allah dari kalam yang diturunkanNya. Dari
perspektif ini, definisi yang dikemukakan oleh Imam al-Razi merupakan definisi yang
jami‘ (mencakup seluruh personnya) dan mani‘ (menolak segala yang di luar person-
personnya). Dengan definisi ini, ayat lafaz atau ayat yang maknanya tersembunyi tidak
akan masuk kepada muhkam, dan ayat atau lafaz yang maknanya jelas tidak akan masuk
kepada mutashabih.
7

Memang, definisi yang diseleksi oleh al-Zarqani tersebut tampak lebih tandas dan
mumpuni dibanding dengan definisi-definisi lainnya. Di samping alasan yang
dikemukakan oleh al-Zarqani di atas, dapat ditambahkan bahwa kata ‘kuat’ yang
diterjemahkan dari kata rajihah dalam definisi muhkam, dan kata ‘tidak kuat’ yang
diterjemahkan dari kata ghayr rajihah dalam definisi mutashabih, penggunaannya akurat
dalam definisi yang dikemukakan oleh Imam al-Razi. Sebab, asal arti rajih sendiri adalah
‘berat’. Sesuatu yang dipandang berat dalam timbangan berarti lebih berat/ berbobot
daripada yang lainnya. Dengan demikian, penggunaan kata rajihah dalam definisi tersebut
akurat daripada kata wadih (jelas) dalam definisi al-Tibi. Suatu ayat atau lafaz dapat
mempunyai beberapa makna yang wadih, akan tetapi maknanya yang rajih dalam konteks
tertentu hanya tunggal.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa pembicaraan mengenai mutashabih
menimbulkan masalah yang perlu dibahas lebih lanjut. Sebaliknya, dalam pembicaraan
tentang muhkam, tidak memerlukan diskusi panjang, oleh karena ia adalah ayat yang jelas
dan rajih maknanya.

C. DASAR-DASAR MUTASHABIH
Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang merupakan dasar mutashabih, di
antaranya adalah:
Pertama, firman Allah:
 ﻲِ ﻧﺎﹶ ﺜ ﻣ ﺎ ﻬِ ﺑﺎ ﺸ ﺘ ﻣ ﺎ ﺑﺎ ﺘِ ﻛ
8

Artinya:
“(yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutashabih) lagi berulang-ulang”.
Kedua, firman Allah:
ِ ﻜﹾ ﻟﺍ  ﻚ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﹶ ﻝ ﺰ ﻧﹶ ﺃ ﻱِ ﺬﱠ ﻟﺍ  ﻮ ﻫ  ﺮ ﺧﹸ ﺃ ﻭ ِ ﺏﺎ ﺘِ ﻜﹾ ﻟﺍ  ﻡﹸ ﺃ  ﻦ ﻫ  ﺕﺎ ﻤﹶ ﻜ ﺤ ﻣ  ﺕﺎ ﻳَ ﺁ  ﻪ ﻨِ ﻣ  ﺏﺎ ﺘ
ِ ﺔ ﻨ ﺘِ ﻔﹾ ﻟﺍ َ ﺀﺎ ﻐِ ﺘ ﺑﺍ  ﻪ ﻨِ ﻣ  ﻪ ﺑﺎ ﺸ ﺗ ﺎ ﻣ ﹶ ﻥﻮ ﻌِﺒ ﺘ ﻴﹶ ﻓ ﹲ ﻎ ﻳ ﺯ  ﻢِ ﻬِ ﺑﻮﹸ ﻠﹸ ﻗ ﻲِ ﻓ  ﻦﻳِ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻣﹶ ﺄﹶ ﻓ  ﺕﺎ ﻬِ ﺑﺎ ﺸ ﺘ ﻣ
 ﺮﻟﺍ ﻭ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﺎﱠ ﻟِ ﺇ  ﻪﹶ ﻠﻳِ ﻭﹾ ﺄ ﺗ  ﻢﹶ ﻠ ﻌ ﻳ ﺎ ﻣ ﻭ ِ ﻪِ ﻠﻳِ ﻭﹾ ﺄ ﺗ َ ﺀﺎ ﻐِ ﺘ ﺑﺍ ﻭ ِ ﻪِ ﺑ ﺎ ﻨ ﻣَ ﺁ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﻳ ِ ﻢﹾ ﻠِ ﻌﹾ ﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﹶ ﻥﻮ ﺨِ ﺳﺍ
ِ ﺏﺎ ﺒﹾ ﻟﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﻮﹸ ﻟﻭﹸ ﺃ ﺎﱠ ﻟِ ﺇ  ﺮﱠ ﻛﱠ ﺬ ﻳ ﺎ ﻣ ﻭ ﺎ ﻨ ﺑ ﺭ ِ ﺪ ﻨِ ﻋ  ﻦِ ﻣ ﱞ ﻞﹸ ﻛ
9

Artinya:
“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)-nya terdapat ayat
yang muhkamat, itulah pokok isi al-Qur’an, dan yang lain ialah (ayat-ayat) mutashabihat.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya terdapat kecondongan kepada kesesatan, maka
mereka mengikuti ayat-ayat yang mutashabihat, untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mwncari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Orang-
orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘kami beriman kepada ayat-ayat mutashabihat;
semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali
orang-orang yang berakal.”
Sepintas, ayat di atas dapat menimbulkan pemahaman yang kontradiktif. Oleh
karenanya, Ibn Habib al-Naysaburi menyebutkan tiga pendapat tentang masalah ini.
Pertama, bahwa al-Qur’an seluruhnya adalah muhkamPendapat ini didasarka pada firman

7
Al-Zarqani, Manahil..., 275.
8
Al-Qur'an, surat al-Zumar (39): 23.
9
Al-Qur'an, surat Ali Imran (3): 7.
Allah ُ -'َ -َ ' ْ-َ -ِ ´ْ =ُ أ ٌب'َ -ِ آ ُ ª (Sebuah kitab yang disempurnakan (dijelaskan) ayat-ayatnya).
10

Kedua, bahwa al-Qur’an seluruhya mutashabih berdasarkan ayat pertamadi atas. Ketiga,
bahwa sebagian ayat al-Qur’an adalah muhkam dan sebagian lainnya adalah mutashabih,
berdasarkan ayat kedua di atas, dan inilah pendapat yang lebih sahih menurut kebanyakan
ulama. Sedangkan yang dimaksud muhkamnya al-Qur’an adalah kesempurnaannya dan
tidak adanya pertentangan antar ayat-ayatnyamaksud mutashabih dalam ayat pertama
adalah menjelaskan segi-segi kesamaan ayat-ayat al-Qur’an dalam kebenaran, kebaikan,
dan kemukjizatannya dalam kaitan ini, para ulama memandang tentang tidak adanya
pertentangan antara kedua ayat tersebut di atas dan ayat 1 surat Hud. Lebih dari itu,
mereka menegaskan bahwa yang menjadi perhatian dalam pembahasan ini adalah ayat
yang kedua, dan bukan ayat yang pertama dan ketiga.

D. MACAM-MACAM MUTASHABIH
Secara ringkas dapat dinyatakan bahwa sumber mutashabih adalah
ketersembunyian maksud Allah dari kalamnya. Ketersembunyian itu dapat merujuk pada
lafaz, pada makna, atau pada lafaz dan makna sekaligus.
Menurut al-Zarqani, ayat-ayat mutashabihat dapat dibagi menjadi tiga macam:
1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak mampu mencapai maksudnya, seperti
pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifatNya, pengetahuan tentang waktu
kiamat dan hal-hal gaib lainnya. Allah berfirman:
 ﻮ ﻫ ﺎﱠ ﻟِ ﺇ ﺎ ﻬ ﻤﹶ ﻠ ﻌ ﻳ ﺎﹶ ﻟ ِ ﺐ ﻴ ﻐﹾ ﻟﺍ  ﺢِ ﺗﺎﹶ ﻔ ﻣ  ﻩ ﺪﻨِ ﻋ ﻭ
11

Artinya:
“Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri”

10
Al-Qur'an, surat Hud (11): 1.
11
Al-Qur'an, surat al-An`am (6): 59.
ﻱِ ﺭ ﺪ ﺗ ﺎ ﻣ ﻭ ِ ﻡﺎ ﺣ ﺭﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﺎ ﻣ  ﻢﹶ ﻠ ﻌ ﻳ ﻭ ﹶ ﺚ ﻴ ﻐﹾ ﻟﺍ ﹸ ﻝ ﺰ ﻨ ﻳ ﻭ ِ ﺔ ﻋﺎ ﺴﻟﺍ  ﻢﹾ ﻠِ ﻋ  ﻩ ﺪ ﻨِ ﻋ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠﻥِ ﺇ
 ﻢﻴِ ﻠ ﻋ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥِ ﺇ  ﺕﻮ ﻤ ﺗ ٍ ﺽ ﺭﹶ ﺃ  ﻱﹶ ﺄِ ﺑ  ﺲﹾ ﻔ ﻧ ﻱِ ﺭ ﺪ ﺗ ﺎ ﻣ ﻭ ﺍ ﺪﹶ ﻏ  ﺐِ ﺴﹾ ﻜ ﺗ ﺍﹶ ﺫﺎ ﻣ  ﺲﹾ ﻔ ﻧ
 ﲑِ ﺒ ﺧ
12

Artinya:
“Sesungguhnya Allah, hanya di sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.
Dialah yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahimTidak ada
seorang pun yang dapat mengetahui --dengan pasti apa yang diusahakannya besok.
Tidak ada seorang pun mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Waspada.”
2. Ayat-ayat yang setiap orang dapat mengetahui maksudnya melalui penelitian dan
pengkajian, seperti ayat-ayat mutashabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas,
panjang, urutan atau semisalnya. Allah berfirman:
ِ ﺀﺎ ﺴ ﻨﻟﺍ  ﻦِ ﻣ  ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ  ﺏﺎﹶ ﻃ ﺎ ﻣ ﺍﻮ ﺤِ ﻜ ﻧﺎﹶ ﻓ ﻰ ﻣﺎ ﺘﻴﹾ ﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﺍﻮﹸ ﻄِ ﺴﹾ ﻘ ﺗ ﺎﱠ ﻟﹶ ﺃ  ﻢ ﺘﹾ ﻔِ ﺧ ﹾ ﻥِ ﺇ ﻭ
13

Artinya:
“Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang
yatim, maka nikahilah wanita-wanita....”
Maksud ayat ini tidak jelas, dan ketidakjelasannya timbul karena lafaz yang
ringkas. Kalimat asalnya berbunyi:
ﻰ ﻣﺎ ﺘ ﻴﹾ ﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﺍﻮﹸ ﻄِ ﺴﹾ ﻘ ﺗ ﺎﱠ ﻟﹶ ﺃ  ﻢ ﺘﹾ ﻔِ ﺧ ﹾ ﻥِ ﺇ ﻭ ﹶ ﺍ  ﺗ ﹾ ﻥ ﻮ ﺤِ ﻜ ﻨ  ﻦ ﻫ  ﻦِ ﻣ  ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ  ﺏﺎﹶ ﻃ ﺎ ﻣ ﺍﻮ ﺤِ ﻜ ﻧﺎﹶ ﻓ
ِ ﺀﺎ ﺴ ﻨﻟﺍ
“Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap perempuan yang yatim sekiranya
kamu kawini mereka, maka nikahilah wanita-wanita selain mereka.”

12
Al-Qur'an, surat Luqman (31): 34.
13
Al-Qur'an, surat al-Nisa' (4): 3.
3. Ayat-ayat mutashabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan
bukan semua ulamaMaksudnya adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati
orang-orang yang jernih jiwanya dan para mujtahid.
Dalam kitab al-Mufradat, al-Raghib al-Asfahani memberikan penjelasan yang
hampir sama. Menurut dia
14
, mutashabih terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: (1) jenis yang
tidak ada jalan untuk mengetahuinya, seperti waktu kiamat, keluarnya dabbah (binatang)
dan sejenisnya, (2) jenis yang dapat diketahui oleh manusia, seperti lafaz-lafaz yang ganjil
(gharib) dan hukum yang tertutup, dan (3) jenis yang hanya diketahui oleh ulama tertentu
yang mendalam ilmunya. Jenis terakhir inilah yang diisyaratkan dalam doanya bagi Ibn
Abbas:
“Ya Tuhanku, jadiklanlah dia seorang yang paham dalam agama, ajarkanlah
kepadanya takwil.”
Pendapat al-Raghib tersebut merupakan pendapat yang paling moderat, karena
memang Zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah.
Demikian juga halnya hal-hal gaib, yang merupakan “dominasi mutlak” Tuhan. Hal ini
sesuai dengan firman Allah di atas yang artinya: “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci
semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”
15
.
uθδ “%!$# tΑt“Ρr& y7‹n=tã |=≈tG39$# µΖΒ M≈tƒ#u M≈yϑs3t’Χ ´δ ‘Π& =≈tG39$# `yz&uρ M≈yγ7≈t±tF`Β $Βr'sù t%!$# ’û
`Ογ/θ=% ƒy— tβθ`è6KuŠsù $tΒ tµt7≈t±s? µΖΒ u!$tóG¯/$# πuΖG9$# u!$tóG¯/$#uρ &#ƒρ's? $tΒuρ `Νn=ètƒ …`&s#ƒρ's? āω) ª!$# tβθ`‚™≡¯9$#uρ
’û Ο=è9$# tβθ9θ)tƒ $ΖtΒ#u µ/ @≅. Β ‰Ζã $uΖ/u‘ $tΒuρ `.‹tƒ Hω) (#θ9'ρ& =≈t69F{$# ∩∠∪

E. METODE PENAFSIRAN MUTASHABIH
Sebagaimana perbedaan pendapat di antara para ulama dalam merumuskan
mutashabih, mereka juga berbeda pendapat tentang metode penafsiran dan kemungkinan
mengetahui maksudnya, dalam dua mazhab. Hal ini dimodali oleh perbedaan tentang waqf

14
Al-Raghib al-Asfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), 261.
15
Al-Qur'an, surat al-An`am (6): 59.
pada lafaz ª!$# `āω) &s#ƒρ's? Νn=ètƒ $tΒuρ dalam surat Ali Imran: 7, dan perbedaan tentang
kedudukan wawu (uρ) pada kalimat berikutnya (Ο=è9$#’û tβθ`‚™≡¯9$#uρ); apakah ia untuk isti’naf
atau ‘atf.
Pertama, mazhab salaf, mayoritas ulamanya mengatakan bahwa tidak ada yang
mengetahui takwil mutashabih kecuali Allah SWT. Oleh karenanya, meraka mewajibkan
waqf pada ism jalalah ( ). Mereka enggan untuk mentakilkannya dan meninggalkan segala
upaya untuk menggali artinya sesungguhnya.
Dalam hal itu mereka berpedoman pada beberapa dalil, di antaranya qira’ah Ibn
Abbas yang berbunyi:
$tΒuρ `Νn=ètƒ …`&s#ƒρ's? āω) ª!$# tβθ`‚™≡¯9$#uρ ’û Ο=è9$# tβθ9θ)tƒ $ΖtΒ#u µ/
“Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata: kami beriman dengannya.”
Apa yang diisyaratkan oleh ayat tersebut tentang dhamm (pencelaan) terhadap pencari-cari
mutashabih dengan menyifasinya sebagai orang yang hatinya condong kepada kesesatan
dan menimbulkan fitnah, justru sebaliknya, pada ayat yang sama memuji orang-orang
yang menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada Allah. Dalam sebuah hadith, ‘Aishah
RA berkata:
16

“Dari `Aishah RA berkata: Rasulullah membaca ayat ini, lalu bersabda: Jika engkau
dapati mereka yang mencari-cari mutashabih, merekalah golongan yang dinamakan
sebagai ‘pencari fitnah’ oleh Allah, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.”
Kedua, mazhab khalaf, sebagian ulamanya dimotori oleh mujtahid, mengatakan
bahwa mereka yang mendalam ilmunya dapat mengetahui takwil mutashabihPendapat
inilah yang dipilih oleh al-Nawawi. Oleh karenanya, mereka menetapkan waqf pada ayat
di atas pada kalimat :

16
Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari wa Irshad al-Shari`, Juz 10, 103, hadith 4547.
$tΒuρ `Νn=ètƒ …`&s#ƒρ's? āω) ª!$# tβθ`‚™≡¯9$#uρ ’û Ο=è9$# tβθ9θ)tƒ $ΖtΒ#u µ/
dan mengatakan bahwa huruf wawu menunjukkan ‘atf.
17

Abu Ishaq al-Shayrazi dalam dukunganya terhadap pendapat mazhab khalaf
mengatakan: “tidak ada sesuatu (dalam al-Qur’an) yang dirahasiakan oleh Allah dari para
ulama, karena Allah menyebut mereka (dalam ayat di atas) sebagai pujian atas mereka,
dan jika mereka tidak mengetahui takwil mutashabih, niscaya keadaan mereka sama
dengan `ammah (golongan manusia biasa/ umum)”.
18

Untuk memperkuat pendapatnya, mereka mengambil beberapa athar sahabat, di
antaranya:
19

“Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: ‘Dan tidak mengetahui takwilnya
kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya’, berkata Ibn Abbas:
Saya adalah di antara orang-orang yang mengetahui takwilnya.
Dalam mentakwilkan ayat-ayat mutashabih al-sifat --sebagai contoh-kelompok
kedua ini mentakwilkan lafaz yang makna lahirnya mustahil merujuk kepada makna yang
layak dengan Zat Allah. Mereka memaknakan istiwa‘ dengan ketinggian yang abstrak,
berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. Kedatangan allah
diartikan dengan kedatangan perintahNya. Allah berada di atas hambaNya, dalam keadaan
Maha Tinggi, bukan di atas suatu tempat “sisi” Allah diartikan hak Allah, “wajah”
diartikan zat, “mata” diartikan pengawasan, “tangan” diartikan kekuasaan, dan “diri”
diartikan siksa. Demikianlah cara yang ditempuh oleh ulama khalaf. Sedangkan semua
lafaz yang mengandung makna “cinta”, “murka”, dan “malu” bagi Allah, ditakwil dengan
majaz yang terdekat.
20
Mereka berkata:


17
Al-Zarkashi, al-Burhan fi `Ulum al-Qur'an, Jil.2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1988), 83; al-Qattan,
Mabahith fi `Ulum al-Qur'an (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994), 282; Wahbah al-Zuhayli, Usul
al-Fiqh al-Islami, Vol.1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1986), 343.
18
Al-Zarkashi, al-Burhan.., jil.2, 83.
19
Sahihal-Bukhari, "Fada'il al-Sahabah", 6.
20
Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi `Ulum al-Qur'an, Vol.2, 3-4
“Setiap sifat yang makna hakikatnya mustahil bagi Allah ditafsirkan (ditakwil)
dengan kelazimannya.”

F. HIKMAH KEBERADAAN MUTASHABIH
Ayat-ayat al-Qur’an, baik yang muhkam maupun yang mutashabih, semuanya
datang dari Allah. Apabila yang muhkam memiliki makna yang jelas dan mudah dipahami,
sedangkan yang mutashabih mempunyai makna yang samar dan tidak semua orang dapat
menangkapnya, maka muncul peroslan: mengapa tidak sekaligus diturunkan seluruhya
berupa muhkam, sehingga semua orang secara mudah memahami kandungan al-Qur’an?.
Para ulama telah mencoba untuk mengungkap hikmah dan rahasia keberadaan ayat
mutashabihat al-Suyuti misalnya, menyebutkan empat hikmah keberadaan ayat
mutashabihat:
1. Ayat-ayat mutashabihat mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap
maksudnya, sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.
2. Sekiranya al-Qur’an, seluruhnya adalah muhkam, maka tentu hanya ada satu mazhab
saja. Sebab, kejelasannya akan mambatalkan semua mazhab di luarnya. Sedangkan
yang demikian ini tidak dapat diterima oleh semua mazhab dan tidak memberinya
manfaat. Tetapi, jika al-Qur’an mengandung muhkam dan mutashabih, maka masing-
masing penganut mazhab berupaya untuk menguatkan pendapatnya. Kemudian, semua
penganut mazhab memperhatikan dan merenungkannya. Apabila mereka terus
menggalinya, maka ayat-ayat muhkamat menjadi penafsirnya.
3. Jika al-Qur’an mengandung ayat-ayat mutashabihat, maka untuk memahaminya
diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya. Hal ini
memerlukan dukungan berbagai ilmu, seperti ilmu bahasa, gramatika, ma‘ani, ilmu
bayan, usul fiqh, dan sebagainya. Apabila tidak semikian, tentu ilmu-ilmu itu tidak
muncul.
4. Al-Qur’an berisi da’wah kepada orang-orang tertentu dan umum. Orang awam biasanya
tidak menyukai hal-hal yang bersifat abstraks. Jika mereka mendengar pertama kalinya
tentang suatu wujud, akan tetapi tidak berwujud fisik dan tidak berbentuk, maka
mereka menyangka bahwa hal itu tidak benar, dan akhirnya mereka terperosok ke
dalam ta’til (peniadaan sifat-sifat Allah). Oleh karena itu, sebaiknya disampaikan
kepada mereka lafaz-lafaz yang menunjukkan pengertian yang sesuai dengan imajinasi
dan daya khayal mereka; ketika itu bercampur antara kebenaran empirik dan hakikat.
Bagian pertama adalah ayat-ayat mutashabihat yang dengannya mereka diajak bicara
pada tahap permulaan. Sedangkan bagian lainnya berupa ayat-ayat muhkamat untuk
menyingkap hakikat sebenarnya.
21

Al-Zarqani menyebutkan delapan hikmah. Empat di antaranya merupakan hkmah
yang disebutkan oleh al-Suyuti di atas. Sedangkan empat hikmah lainnya adalah:
1. Ayat-ayat mutashabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak
mampu ntuk mengetahui segala sesuatu. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada bukit,
mukit itu hancur-luluh dan Nabi Musa jatuh-pingsan. Bagaimana sekiranya Tuhan
menampakkan zat dan hakikat sifat-sifatNya kepada manusia?. Oleh karena itu, Tuhan
menyembunyikan pengetahuan tentang hari kiamat bagi manusia agar mereka tidak
bermalas-malasan dalam membuat persiapan untuk menghadapinya.
2. Keberadaan ayat-ayat mutashabihat juga merupakan cobaan dan ujian bagi manusia,
apakah mereka percaya atau tidak tentang hal-hal gaib berdasarkan berita yang
disampaikan oleh orang yang benar. Orang-orang yang mendapat hidayah niscaya
meyakininya, meskipun mereka tidak mengetahui secara detil. Sedangkan orang-orang
yang sesat mengingkarinya.
3. Ayat-ayat mutashabihat menjadi dalil atas kelemahan dan kebodohan manusia.
Bagaimanapun besar kesiapan dan seberapapun ilmunya, akan tetapi Tuhan sendirilah
yang mengetahui segala-galanya.
4. Ayat-ayat mutashabihat dalam al-Qur’an menguatkan kemukjizatannya. Sebab, setiap
ayat di dalamnya mengandung pengertian yang tersembunyi, yang membawa kepada
tashabuh memiliki andil yang besar dalam kebalaghahannya dan pencapaian ke tingkat
yang paling tinggi dalam bayan.
22

Inilah sebagian hikmah keberadaan ayat mutashabihat yang dikemukakan oleh
para ulama.

21
Al-Suyuti, al-Itqan..., jil.2, 13.
22
Al-Zarqani, Manahil..., 282-285.
G. SIMPULAN
Pertama, mutashabih dalam al-Qur’an lebih bernuansa menitikberatkan pada
rangsangan untuk tumbuhnya ilmu-ilmu lain yang merupakan kebutuhan bagi upaya
ijtihadiah dalam menggali kandungan al-Qur’an, di samping merupakan strategi dalam
aktifitas dakwah sesuai dengan masyarakat sasarannya.
Kedua, sikap ulama salaf terhadap ayat mutashabihat lebih pasrah dan menjaga
diri dengan asumsi bahwa hanya Allah yang megetahui makna dan maksudnyaSedangkan
sikap ulama khalaf terhadap ayat tersebut lebih agresif dengan penekanan pada karakter
ilmuwan (al-rasikhun fi al-‘ilm) yang senantiasa kreatif dibandingkan dengan orang
awam.


BIBLIOGRAFI


Abadi, Muhammad bin Ya‘qub al-Fayruz. al-Qamus al-Muhit, Vol4. Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyah, 1995.

Asfahani. al-Raghib. al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Bukhari. Sahih al-Bukhari wa Irshad al-Shari‘, Juz 10. Beirut: Dar al-Fikr, 1991.

Qattan, Manna‘ Khalil. Mabahith fi `Ulum al-Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994.

Salih, Subhi. Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1977.

Suyuti, Jalal al-Din. al-’Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Jilid II. Beirut: Dar al-Fikr, 1979.

Zarkashi, Muhammad bin ‘Abd Allah. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Jil.2. Beirut: Dar al-
Fikr, 1988.

Zarqani, Muhammad ‘Abd al-’Aziz. Manahil al-`Irfan fi `Ulum al-Qur’an, Jilid I dan II.
Mesir: Dar Ihy al-Kutub al-’Arabiyah, 1988.

Zuhayli, Wahbah. Usul al-Fiqh al-Islami, Vol.1. Beirut: Dar al-Fikr, 1986.

Tashabah dan ishtabah. Jilid 2 (Mesir: Dar alKutub al-'Arabiyah. baik secara aqli maupun naqli. sebagaimana perbedaan mereka tentang muhkam.). al-Qamus al-Muhit. telah mengemukakan 18 makna mutashabih yang diberikan oleh ulama5. 271. Sedangkan al-Zarqani mengemukaan 11 definisi. Mutashabih adalah ayat yang tidak jelas maknanya dan mengandung ishkal (kepelikan)Muhkam. t.” Secara terminologis. 3. seperti datangnya hari kiamat. 270. 4 al-Qur'an. dalam menyifati rejeki surga: “Dan mereka diberi buah-buahan yang serupa”2. 2-3. terdiri atas lafaz nas dan lafaz Lihat Muhammad bin Ya`qub al-Fayruz Abadi. sehingga sukar dibedakan3.. surat al-Baqarah: 70. Mutashabih adalah ayat yang tersembunyi maknanya. para ulama memiliki definisi yang bervariasi tentang mutashabih. 1995). al-Itqan fi `Ulum al-Qur'an. 266.t. Manahil al-`Irfan fi 'Ulum al-Qur'an. keluarnya dajjal. al-Zarqani. huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat. surat al-Baqarah: 25. antonimnyaAl-Suyuti misalnya.2. Para ahli bahasa menngunakannya untuk arti keserupaan dan kesamaan yang membawa kepada kesamaran antara dua hal1. 2 Al-Qur'an. Dalam kisah tentang Bani Israil. 1 . dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. 270. keduanya berarti dua hal yang saling menyerupai yang satu dengan yang lain.Kata mutashabih berasal dari tashabuh. 2. Jilid 2. Jil. Mutashabih adalah ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya. Vol4 (Beirut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah. huruf-huruf yang terputus-putus di awal suratPendapat ini dinisbatkan kepada ahl sunnah sebagai pendapat terpilih di kalangan mereka. Pendapat ini dinisbatkan oleh al-Alusi kepada pemimpin-pemimpin mazhab Hanafi. 6 Al-Zarqani. yang sebagiannya dikutip oleh a-Suyuti6.. 5 Jalal al-Din al-Suyuti. Di antara beberapa definisi mutashabih yang dikemukakan oleh al-Zarqani adalah sebagai berikut: 1. Manahil. Manahil…. tidak diketahui maksudnya. sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an. alQur’an menyebutkan: 4 “Sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami.. sebagai lawan dari mutashabih. 3 Al-Zarqani. seperti datangnya hari kiamat.

Dengan definisi ini.zahir. asal arti rajih sendiri adalah ‘berat’. Sesuatu yang dipandang berat dalam timbangan berarti lebih berat/ berbobot daripada yang lainnya. mu’awwal (lafaz yang perlu ditakwil agar dapat dipahami) dan mushkil (pelik). dapat dipahami bahwa pembicaraan mengenai mutashabih menimbulkan masalah yang perlu dibahas lebih lanjut. Dari uraian di atas.7 Memang. definisi yang diseleksi oleh al-Zarqani tersebut tampak lebih tandas dan mumpuni dibanding dengan definisi-definisi lainnya. karena sebenarnya masalah ihkam dan tashabuh kembali kepada persoalan jelas atau tidaknya makna yang dimaksud oleh Allah dari kalam yang diturunkanNya. Sebab. pendapat Imam al-Razi lebih jelas. ayat lafaz atau ayat yang maknanya tersembunyi tidak akan masuk kepada muhkam. penggunaannya akurat dalam definisi yang dikemukakan oleh Imam al-Razi. Mutashabih adalah ayat yang tunjukan maknanya tidak kuat. Suatu ayat atau lafaz dapat mempunyai beberapa makna yang wadih. definisi yang dikemukakan oleh Imam al-Razi merupakan definisi yang jami‘ (mencakup seluruh personnya) dan mani‘ (menolak segala yang di luar personpersonnya). dan dipilih oleh banyak peneliti. Dari perspektif ini. penggunaan kata rajihah dalam definisi tersebut akurat daripada kata wadih (jelas) dalam definisi al-Tibi. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam al-Razi. dan ayat atau lafaz yang maknanya jelas tidak akan masuk kepada mutashabih. menurut dia. akan tetapi maknanya yang rajih dalam konteks tertentu hanya tunggal. Sebaliknya. 4. dapat ditambahkan bahwa kata ‘kuat’ yang diterjemahkan dari kata rajihah dalam definisi muhkam. Setelah mengemukakan beberapa definisi di atas. dan kata ‘tidak kuat’ yang diterjemahkan dari kata ghayr rajihah dalam definisi mutashabih. yaitu lafaz mujmal (global). bahkan di antaranya terdapat persamaan dan kedekatan makna. Sedangkan mutashabih terdiri atas asma‘ mubhamah (kata-kata benda yang samar)Ini adalah pendapat al-Tibi. dalam pembicaraan . al-Zarqani kemudian berkomentar bahwa definisi-definisi tersebut tidak bertentangan. Tetapi. Dengan demikian. Di samping alasan yang dikemukakan oleh al-Zarqani di atas.

DASAR-DASAR MUTASHABIH Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang merupakan dasar mutashabih. Al-Qur'an. padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Kedua. semuanya itu dari sisi Tuhan kami. . maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutashabihat.tentang muhkam. ayat di atas dapat menimbulkan pemahaman yang kontradiktif. firman Allah: 8 ‫ﺎ ﻣﺜﹶﺎِﻧﻲ‬‫ﺎِﺑﻬ‬‫ﺘﺸ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﺎﺑ‬‫ﻛﺘ‬    ِ Artinya: “(yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutashabih) lagi berulang-ulang”. Al-Qur'an..” Sepintas. firman Allah: ‫ﺎﺏ ﻭﹸﺃﺧﺮ‬‫ﺎﺕ ﻫﻦ ﹸﺃﻡ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﺎﺕ ﻣﺤﻜﻤ‬‫ﻨﻪ ﺁﻳ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻴﻚ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﺰﻝ ﻋﻠ‬‫ﻫﻮ ﺍﱠﻟﺬِﻱ ﹶﺃ‬    ِ ِ     ‫ ﹶ‬   َ  ِ  ِ  ‫ﹶ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﻨﺔ‬‫ﺘ‬‫ﺎﺀ ﺍﹾﻟﻔ‬‫ﺑِﺘﻐ‬‫ﻨﻪ ﺍ‬‫ﺑﻪ ﻣ‬‫ﺎ‬‫ﺗﺸ‬ ‫ﺎ‬‫ﻮﻥ ﻣ‬ ِ‫ﺘﺒ‬‫ﻴ‬‫ﻳﻎ ﻓ‬‫ﺎ ﺍﱠﻟﺬِﻳﻦ ﻓِﻲ ﻗﹸﻮِﺑﻬﻢ ﺯ‬ ‫ﺎﺕ ﻓﺄ‬‫ﺎِﺑﻬ‬‫ﺘﺸ‬‫ﻣ‬ ِ ِ َ ِ  ‫ ﹲ ﹶ ﻌ ﹶ‬  ِ ‫ ﹸﻠ‬ ‫ ﹶﹶﻣ‬  ‫ﺎ ِﺑﻪ‬‫ﻳ ﹸﻮﹸﻮﻥ ﺁﻣ‬ ‫ﻮﻥ ﻓِﻲ ﺍﹾﻟﻌﻠﻢ‬ ‫ﺍﻟﺮﺍﺳ‬‫ﺗﺄﻭِﻳﻠﻪ ِﺇﱠﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ‬ ‫ﻳﻌﻠﻢ‬ ‫ﺎ‬‫ﺗﺄﻭِﻳﻠﻪ ﻭﻣ‬ ‫ﺎﺀ‬‫ﺑِﺘﻐ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ِ ‫ﻨ‬ َ ‫ِ ﹾ ِ ﻘ ﻟ ﹶ‬ ‫ ِﺨ ﹶ‬  ‫ ﻟ ﱠ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬ ‫ﹶ‬  ِ ِ ‫َ ﹾ‬ 9 ‫ﺎﺏ‬‫ﻳﺬﻛﺮ ِﺇﱠﺎ ﹸﻭﹸﻮ ﺍﹾﻟﺄﹾﻟﺒ‬ ‫ﺎ‬‫ﺎ ﻭﻣ‬‫ﺑﻨ‬‫ﻨﺪ ﺭ‬‫ﻛﻞ ﻣﻦ ﻋ‬ ِ ‫ ﻟ ﺃ ﻟ ﹶ‬‫ ﱠ ﱠ‬  ِ ِ  ِ ‫ﹸ ﱞ‬ Artinya: “Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Oleh karenanya. Adapun orang-orang yang dalam hatinya terdapat kecondongan kepada kesesatan. Orangorang yang mendalam ilmunya berkata: ‘kami beriman kepada ayat-ayat mutashabihat. di antaranya adalah: Pertama. Manahil. 275.’ Tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali orang-orang yang berakal. C. Ibn Habib al-Naysaburi menyebutkan tiga pendapat tentang masalah ini. dan yang lain ialah (ayat-ayat) mutashabihat.. untuk menimbulkan fitnah dan untuk mwncari takwilnya. itulah pokok isi al-Qur’an. surat Ali Imran (3): 7. bahwa al-Qur’an seluruhnya adalah muhkamPendapat ini didasarka pada firman 7 8 9 Al-Zarqani. Di antara (isi)-nya terdapat ayat yang muhkamat. oleh karena ia adalah ayat yang jelas dan rajih maknanya.. tidak memerlukan diskusi panjang. surat al-Zumar (39): 23. Pertama.

dan bukan ayat yang pertama dan ketiga. Allah berfirman: 11 ‫ﺎ ِﺇﱠﺎ ﻫﻮ‬‫ﻳﻌﻠﻤﻬ‬ ‫ﻴﺐ ﻟﹶﺎ‬‫ﺪﻩ ﻣﻔﹶﺎِﺗﺢ ﺍﹾﻟﻐ‬‫ﻭﻋﻨ‬   ‫ ﻟ‬ ‫ﹶ‬ ِ      ِ  Artinya: “Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib. para ulama memandang tentang tidak adanya pertentangan antara kedua ayat tersebut di atas dan ayat 1 surat Hud. bahwa sebagian ayat al-Qur’an adalah muhkam dan sebagian lainnya adalah mutashabih. Ketersembunyian itu dapat merujuk pada lafaz. pengetahuan tentang waktu kiamat dan hal-hal gaib lainnya. berdasarkan ayat kedua di atas. kebaikan. seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifatNya. MACAM-MACAM MUTASHABIH Secara ringkas dapat dinyatakan bahwa sumber mutashabih adalah ketersembunyian maksud Allah dari kalamnya. surat al-An`am (6): 59. . dan inilah pendapat yang lebih sahih menurut kebanyakan ulama. pada makna. Menurut al-Zarqani. tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” 10 11 Al-Qur'an. atau pada lafaz dan makna sekaligus. D. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak mampu mencapai maksudnya. mereka menegaskan bahwa yang menjadi perhatian dalam pembahasan ini adalah ayat yang kedua. Ketiga.Allah ُ ُ َ َ ْ َ ِ ْ ‫( آ َ ٌ أ‬Sebuah kitab yang disempurnakan (dijelaskan) ayat-ayatnya). surat Hud (11): 1.10 ُ‫ِ ب‬ Kedua. Sedangkan yang dimaksud muhkamnya al-Qur’an adalah kesempurnaannya dan tidak adanya pertentangan antar ayat-ayatnyamaksud mutashabih dalam ayat pertama adalah menjelaskan segi-segi kesamaan ayat-ayat al-Qur’an dalam kebenaran. Al-Qur'an. ayat-ayat mutashabihat dapat dibagi menjadi tiga macam: 1. bahwa al-Qur’an seluruhya mutashabih berdasarkan ayat pertamadi atas. Lebih dari itu. dan kemukjizatannya dalam kaitan ini.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada. urutan atau semisalnya. hanya di sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.‫ﺗﺪﺭِﻱ‬ ‫ﺎ‬‫ﺎﻡ ﻭﻣ‬‫ﺎ ﻓِﻲ ﺍﹾﻟﺄﺭﺣ‬‫ﻳﻌﻠﻢ ﻣ‬‫ﻴﺚ ﻭ‬‫ﻨﺰﻝ ﺍﹾﻟﻐ‬‫ﻳ‬‫ﺎﻋﺔ ﻭ‬ ‫ﻨﺪﻩ ﻋﻠﻢ ﺍﻟ‬‫ِﺇﻥﱠ ﺍﻟﻠﻪ ﻋ‬   ِ ‫ﹶ‬  ‫ﹶ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ ﹸ‬  ِ  ‫ ﺴ‬ ‫ ِ ﹾ‬  ِ  ‫ﱠ‬ ‫ﻮﺕ ِﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠِﻴﻢ‬ ‫ﺗ‬ ‫ﻧﻔﺲ ِﺑﺄﻱ ﹶﺃﺭﺽ‬ ‫ﺗﺪﺭِﻱ‬ ‫ﺎ‬‫ﺍ ﻭﻣ‬‫ﺗﻜﺴﺐ ﻏﺪ‬ ‫ﺎﺫﹶﺍ‬‫ﻧﻔﺲ ﻣ‬   ‫ ﱠ ﱠ‬ ‫ ٍ ﻤ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﹾ‬   ‫ ﹶ‬ ِ‫ﹾ‬  ‫ﹾ‬ 12 ‫ﺧِﺒﲑ‬   Artinya: “Sesungguhnya Allah. dan ketidakjelasannya timbul karena lafaz yang ringkas.” 2.” Maksud ayat ini tidak jelas.” 12 13 Al-Qur'an. Ayat-ayat yang setiap orang dapat mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian. seperti ayat-ayat mutashabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas. mengetahui apa yang ada dalam rahimTidak ada seorang pun yang dapat mengetahui --dengan pasti apa yang diusahakannya besok.. maka nikahilah wanita-wanita selain mereka.. Al-Qur'an.. Allah berfirman: 13 ‫ﺎﺀ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺎ ﻃﹶﺎﺏ ﹶﻟﻜﻢ ﻣﻦ ﺍﻟ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬ ‫ﻧﻜ‬‫ﻰ ﻓﹶﺎ‬‫ﺎﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺗﻘﺴ ﹸﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﹾﻟﻴ‬ ‫ﺘﻢ ﹶﺃﱠﺎ‬‫ﻭِﺇﻥ ﺧﻔ‬ ِ ِ ‫ ﹸ‬ ‫ِﺤ‬ ‫ ﻟ ﹾ ِﻄ‬ ‫ ﹾ ِ ﹾ‬ Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. surat al-Nisa' (4): 3. maka nikahilah wanita-wanita. Tidak ada seorang pun mengetahui di bumi mana ia akan mati. Dialah yang menurunkan hujan. Kalimat asalnya berbunyi: ‫ﺎ ﻃﹶﺎﺏ ﹶﻟﻜﻢ ﻣﻦ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬ ‫ﻧﻜ‬‫ﻮﻫﻦ ﻓﹶﺎ‬ ‫ﻨﻜ‬‫ﺗ‬ ‫ﻰ ﹶﺍﻥ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻴﺘ‬‫ﺗﻘﺴ ﹸﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﹾﻟ‬ ‫ﺘﻢ ﹶﺃﱠﺎ‬‫ﻭِﺇﻥ ﺧﻔ‬ ِ ‫ ﹸ‬ ‫ ِﺤ‬  ‫ﹾ ِﺤ‬ ‫ ﻟ ﹾ ِﻄ‬ ‫ ﹾ ِ ﹾ‬ ‫ﺎﺀ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺍﻟ‬ ِ “Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap perempuan yang yatim sekiranya kamu kawini mereka. surat Luqman (31): 34. . panjang.

Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”15. (2) jenis yang dapat diketahui oleh manusia. Hal ini dimodali oleh perbedaan tentang waqf 14 15 Al-Raghib al-Asfahani. . mutashabih terbagi menjadi tiga jenis. seperti waktu kiamat. METODE PENAFSIRAN MUTASHABIH Sebagaimana perbedaan pendapat di antara para ulama dalam merumuskan mutashabih. al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an (Beirut: Dar al-Fikr. Demikian juga halnya hal-hal gaib. tt. jadiklanlah dia seorang yang paham dalam agama. surat al-An`am (6): 59. seperti lafaz-lafaz yang ganjil (gharib) dan hukum yang tertutup.3. karena memang Zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah. al-Raghib al-Asfahani memberikan penjelasan yang hampir sama. keluarnya dabbah (binatang) dan sejenisnya. Menurut dia14. Ayat-ayat mutashabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua ulamaMaksudnya adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang yang jernih jiwanya dan para mujtahid. Hal ini sesuai dengan firman Allah di atas yang artinya: “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. ajarkanlah kepadanya takwil. yang merupakan “dominasi mutlak” Tuhan.¤‹tƒ $tΒuρ 3 $uΖÎn/u‘ ωΖÏã ôÏiΒ @≅ä. Dalam kitab al-Mufradat.” Pendapat al-Raghib tersebut merupakan pendapat yang paling moderat. ’Îû Ï%©!$# $¨Β'sù ( ×M≈yγÎ7≈t±tFãΒ ãzé&uρ É=≈tGÅ3ø9$# ‘Πé& £èδ ìM≈yϑs3øt’Χ ×M≈tƒ#u çµ÷ΖÏΒ |=≈tGÅ3ø9$# y7ø‹n=tã tΑt“Ρr& ü“Ï%©!$# uθèδ t r y tβθã‚™≡§9$#uρ 3 ª!$# ωÎ) ÿ…ã&s#ƒÍρù's? ãΝn=÷èƒ $tΒρ 3 Ï&Î#ƒÍρù's? u!$tóÏGö/$#ρ ÏπuΖ÷GÏ ø9$# u!$tóÏGö/$# çµ÷ΖΒ tµt7≈t±s? $tΒ tβθãèÎ6®KuŠsù Ô ÷ƒy— óΟÎγÎ/θè=è% Å ā t u u Ï ∩∠∪ É=≈t6ø9F{$# (#θä9'ρé& HωÎ) ㍩. yaitu: (1) jenis yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. dan (3) jenis yang hanya diketahui oleh ulama tertentu yang mendalam ilmunya. Jenis terakhir inilah yang diisyaratkan dalam doanya bagi Ibn Abbas: “Ya Tuhanku. mereka juga berbeda pendapat tentang metode penafsiran dan kemungkinan mengetahui maksudnya. dalam dua mazhab.). Al-Qur'an. ϵÎ/ $¨ΖtΒ#u tβθä9θà)tƒ ÉΟù=Ïèø9$# ’Îû E. 261.

mazhab khalaf. 103. Mereka enggan untuk mentakilkannya dan meninggalkan segala upaya untuk menggali artinya sesungguhnya. mayoritas ulamanya mengatakan bahwa tidak ada yang mengetahui takwil mutashabih kecuali Allah SWT. dan perbedaan tentang kedudukan wawu (uρ) pada kalimat berikutnya (ÉΟù=Ïèø9$#’Îû tβθã‚Å™≡§9$#uρ). maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka. Oleh karenanya. mengatakan bahwa mereka yang mendalam ilmunya dapat mengetahui takwil mutashabihPendapat inilah yang dipilih oleh al-Nawawi. Dalam sebuah hadith. . pada ayat yang sama memuji orang-orang yang menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada Allah. meraka mewajibkan waqf pada ism jalalah ( ). merekalah golongan yang dinamakan sebagai ‘pencari fitnah’ oleh Allah.pada lafaz 3 ª!$# ãāωÎ) &s#ƒÍρù's? Νn=÷ètƒ $tΒuρ dalam surat Ali Imran: 7. sebagian ulamanya dimotori oleh mujtahid. di antaranya qira’ah Ibn Abbas yang berbunyi: ϵÎ/ $¨ΖtΒ#u tβθä9θà)tƒ ÉΟù=Ïè9$# ’Îû tβθã‚Å™≡§9$#uρ 3 ª!$# āωÎ) ÿ…ã&s#ƒÍρù's? ãΝn=÷ètƒ $tΒuρ ø “Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Juz 10. Oleh karenanya. ‘Aishah RA berkata: 16 “Dari `Aishah RA berkata: Rasulullah membaca ayat ini. Dalam hal itu mereka berpedoman pada beberapa dalil.” Apa yang diisyaratkan oleh ayat tersebut tentang dhamm (pencelaan) terhadap pencari-cari mutashabih dengan menyifasinya sebagai orang yang hatinya condong kepada kesesatan dan menimbulkan fitnah. apakah ia untuk isti’naf atau ‘atf. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: kami beriman dengannya.” Kedua. lalu bersabda: Jika engkau dapati mereka yang mencari-cari mutashabih. justru sebaliknya. hadith 4547. mereka menetapkan waqf pada ayat di atas pada kalimat : 16 Al-Bukhari. Pertama. Sahih al-Bukhari wa Irshad al-Shari`. mazhab salaf.

berkata Ibn Abbas: Saya adalah di antara orang-orang yang mengetahui takwilnya. 282. “mata” diartikan pengawasan. al-Qattan. 3-4 .2. Vol. al-Burhan.. 1994). "Fada'il al-Sahabah". ditakwil dengan majaz yang terdekat. 19 Sahihal-Bukhari. Sedangkan semua lafaz yang mengandung makna “cinta”.1 (Beirut: Dar al-Fikr.ϵÎ/ $¨ΖtΒ#u tβθä9θà)tƒ ÉΟù=Ïè9$# ’Îû tβθã‚Å™≡§9$#uρ 3 ª!$# āωÎ) ÿ…ã&s#ƒÍρù's? ãΝn=÷ètƒ $tΒuρ ø dan mengatakan bahwa huruf wawu menunjukkan ‘atf.2.18 Untuk memperkuat pendapatnya. karena Allah menyebut mereka (dalam ayat di atas) sebagai pujian atas mereka.17 Abu Ishaq al-Shayrazi dalam dukunganya terhadap pendapat mazhab khalaf mengatakan: “tidak ada sesuatu (dalam al-Qur’an) yang dirahasiakan oleh Allah dari para ulama. dalam keadaan Maha Tinggi.20 Mereka berkata: 17 Al-Zarkashi. 83. dan jika mereka tidak mengetahui takwil mutashabih. Wahbah al-Zuhayli. 343. “tangan” diartikan kekuasaan. niscaya keadaan mereka sama dengan `ammah (golongan manusia biasa/ umum)”. Kedatangan allah diartikan dengan kedatangan perintahNya. 83. al-Burhan fi `Ulum al-Qur'an. dan “diri” diartikan siksa. mereka mengambil beberapa athar sahabat. Mabahith fi `Ulum al-Qur'an (Beirut: Muassasah al-Risalah. 6. Dalam mentakwilkan ayat-ayat mutashabih al-sifat --sebagai contoh-kelompok kedua ini mentakwilkan lafaz yang makna lahirnya mustahil merujuk kepada makna yang layak dengan Zat Allah.. 18 Al-Zarkashi. Usul al-Fiqh al-Islami. al-Itqan fi `Ulum al-Qur'an. jil. 1988). Demikianlah cara yang ditempuh oleh ulama khalaf. bukan di atas suatu tempat “sisi” Allah diartikan hak Allah. di antaranya: 19 “Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: ‘Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya’. berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. Jil. “wajah” diartikan zat. 1986). dan “malu” bagi Allah. Mereka memaknakan istiwa‘ dengan ketinggian yang abstrak. Allah berada di atas hambaNya. Vol.2 (Beirut: Dar al-Fikr. “murka”. 20 Jalal al-Din al-Suyuti.

usul fiqh. Kemudian. maka muncul peroslan: mengapa tidak sekaligus diturunkan seluruhya berupa muhkam. 3. maka mereka menyangka bahwa hal itu tidak benar. Orang awam biasanya tidak menyukai hal-hal yang bersifat abstraks. Para ulama telah mencoba untuk mengungkap hikmah dan rahasia keberadaan ayat mutashabihat al-Suyuti misalnya. Ayat-ayat mutashabihat mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya. dan sebagainya. maka ayat-ayat muhkamat menjadi penafsirnya. Sedangkan yang demikian ini tidak dapat diterima oleh semua mazhab dan tidak memberinya manfaat. semuanya datang dari Allah. Hal ini memerlukan dukungan berbagai ilmu. ilmu bayan. Apabila tidak semikian. Sekiranya al-Qur’an. maka masingmasing penganut mazhab berupaya untuk menguatkan pendapatnya. seperti ilmu bahasa. jika al-Qur’an mengandung muhkam dan mutashabih. sehingga semua orang secara mudah memahami kandungan al-Qur’an?. 2. kejelasannya akan mambatalkan semua mazhab di luarnya. Sebab. HIKMAH KEBERADAAN MUTASHABIH Ayat-ayat al-Qur’an. Jika al-Qur’an mengandung ayat-ayat mutashabihat. Apabila yang muhkam memiliki makna yang jelas dan mudah dipahami. menyebutkan empat hikmah keberadaan ayat mutashabihat: 1. maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya. semua penganut mazhab memperhatikan dan merenungkannya. gramatika.“Setiap sifat yang makna hakikatnya mustahil bagi Allah ditafsirkan (ditakwil) dengan kelazimannya. 4. ma‘ani. Jika mereka mendengar pertama kalinya tentang suatu wujud. Al-Qur’an berisi da’wah kepada orang-orang tertentu dan umum. maka tentu hanya ada satu mazhab saja. akan tetapi tidak berwujud fisik dan tidak berbentuk. sedangkan yang mutashabih mempunyai makna yang samar dan tidak semua orang dapat menangkapnya. baik yang muhkam maupun yang mutashabih. Apabila mereka terus menggalinya. seluruhnya adalah muhkam.” F. tentu ilmu-ilmu itu tidak muncul. Tetapi. sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya. dan akhirnya mereka terperosok ke .

sebaiknya disampaikan kepada mereka lafaz-lafaz yang menunjukkan pengertian yang sesuai dengan imajinasi dan daya khayal mereka. Al-Zarqani.2. 3. . Ayat-ayat mutashabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak mampu ntuk mengetahui segala sesuatu. Sedangkan empat hikmah lainnya adalah: 1. 282-285.... Tuhan menyembunyikan pengetahuan tentang hari kiamat bagi manusia agar mereka tidak bermalas-malasan dalam membuat persiapan untuk menghadapinya. 4.. Bagaimana sekiranya Tuhan menampakkan zat dan hakikat sifat-sifatNya kepada manusia?. jil. Sedangkan bagian lainnya berupa ayat-ayat muhkamat untuk menyingkap hakikat sebenarnya. meskipun mereka tidak mengetahui secara detil.dalam ta’til (peniadaan sifat-sifat Allah). akan tetapi Tuhan sendirilah yang mengetahui segala-galanya. mukit itu hancur-luluh dan Nabi Musa jatuh-pingsan. Oleh karena itu.. Sedangkan orang-orang yang sesat mengingkarinya. Empat di antaranya merupakan hkmah yang disebutkan oleh al-Suyuti di atas. setiap ayat di dalamnya mengandung pengertian yang tersembunyi. yang membawa kepada tashabuh memiliki andil yang besar dalam kebalaghahannya dan pencapaian ke tingkat yang paling tinggi dalam bayan. Ayat-ayat mutashabihat menjadi dalil atas kelemahan dan kebodohan manusia. Manahil. Keberadaan ayat-ayat mutashabihat juga merupakan cobaan dan ujian bagi manusia. Ayat-ayat mutashabihat dalam al-Qur’an menguatkan kemukjizatannya. apakah mereka percaya atau tidak tentang hal-hal gaib berdasarkan berita yang disampaikan oleh orang yang benar. Bagian pertama adalah ayat-ayat mutashabihat yang dengannya mereka diajak bicara pada tahap permulaan. 21 22 Al-Suyuti.21 Al-Zarqani menyebutkan delapan hikmah. Bagaimanapun besar kesiapan dan seberapapun ilmunya.22 Inilah sebagian hikmah keberadaan ayat mutashabihat yang dikemukakan oleh para ulama. Oleh karena itu. 13. ketika itu bercampur antara kebenaran empirik dan hakikat.. al-Itqan. Orang-orang yang mendapat hidayah niscaya meyakininya. 2. Sebab. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada bukit.

Salih. 1977. Zarkashi. Muhammad bin Ya‘qub al-Fayruz. Zarqani. al-Raghib. 1991. al-Qamus al-Muhit.G. Usul al-Fiqh al-Islami. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Vol. 1986. Wahbah. Vol4. Manahil al-`Irfan fi `Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr. Sahih al-Bukhari wa Irshad al-Shari‘. Qattan.2. Bukhari. Subhi. Beirut: Dar al-Fikr. Beirut: Muassasah al-Risalah. Kedua. Jilid II. BIBLIOGRAFI Abadi. Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an. . Suyuti. Beirut: Dar al-Fikr. 1988. Asfahani. Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin.1. Jil. Muhammad ‘Abd al-’Aziz. 1988. Manna‘ Khalil. al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Jilid I dan II. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. SIMPULAN Pertama. al-’Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. tt. sikap ulama salaf terhadap ayat mutashabihat lebih pasrah dan menjaga diri dengan asumsi bahwa hanya Allah yang megetahui makna dan maksudnyaSedangkan sikap ulama khalaf terhadap ayat tersebut lebih agresif dengan penekanan pada karakter ilmuwan (al-rasikhun fi al-‘ilm) yang senantiasa kreatif dibandingkan dengan orang awam. Zuhayli. Beirut: Dar al-Fikr. Muhammad bin ‘Abd Allah. Juz 10. Mabahith fi `Ulum al-Qur’an. 1979. 1995. 1994. Mesir: Dar Ihy al-Kutub al-’Arabiyah. di samping merupakan strategi dalam aktifitas dakwah sesuai dengan masyarakat sasarannya. Beirut: Dar alFikr. mutashabih dalam al-Qur’an lebih bernuansa menitikberatkan pada rangsangan untuk tumbuhnya ilmu-ilmu lain yang merupakan kebutuhan bagi upaya ijtihadiah dalam menggali kandungan al-Qur’an. Jalal al-Din.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful