ENSIKLOPEDI ISLAM Metro TV : 14 Sept 08 Jam 17.05 - 18.

00

N
Niat
Sahabat-sahabat Rasulullah adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka terus belajar dari Rasulullah apa-apa saja yang harus dikerjakan dan apa saja yang mesti mereka tinggalkan. Soal menjaga lurusnya niat di dalam hidup dan perjuangan mereka, tak bosan-bosan para sahabat itu berguru kepada Rasulullah. Seperti dikisahkan oleh Umamah radhiyallahu 'anhu. Ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah dan bertanya, "Wahai Rasulullah, Apakah pendapat engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akhirat?" Rasulullah menjawab, "Dia tidak mendapatkan apa-apa ".Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah tetap menjawabnya, "Ia tidak menerima apa-apa!" Kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya. (HR. Abu Daud dan Nasa'i). Dalam kesempatan lain Abu Said Al-Khudri telah mengambil pelajaran berharga dari Rasulullah pada saat haji wada'. "Tiga perkara yang menjadikan seorang mukmin tidak akan menjadi pengkhianat: Ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada para pemimpin kaum Muslimin, dan senantiasa komitmen terhadap jama'ah ".(HR Ibnu Hibban). Seni menjaga lurusnya niat tidaklah mudah. Karenanya, seperti dikatakan oleh Fudhail bin "lyadh "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Maka, ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya ". Urgensi niat sangatlah mendasar bagi kehidupan dan perjuangan setiap mukmin. Dengannya segala amal akan diukur. Inilah yang didengar dan diamalkan Umar bin Khatab dari Rasulullah, "Bahwa amal itu tergantung niat-nya". Maka, tak berlebihan kalau Imam Syafi'i menyebut hadits Rasulullah ini adalah sepertiga dari seluruh ilmu. Niat yang baik sering mengubah sesuatu yang mubah menjadi ibadah, Wajar bila perhatian para salafusshalih kepada niat begitu besar. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Yahya bin Katsir, "Pelajarilah niat dalam beramal, karena niat itu lebih cepat sampai kepada Allah dari pada amal yang engkau lakukan itu ". Meski upaya menjaga lurusnya niat telah diupayakan, namun mereka tak merasa puas dan cukup begitu saja. Iman yang benar telah menjadikan mereka memadukan antara rasa

Seperti yang diucapkan oleh Ibnu Mas'ud. Saat genting setelah wafatnya Rasulullah juga menjadi waktu penting para sabahat untuk menjaga agar barisan da'wah Islam tetap utuh. misalnya. agar barisan masyarakat muslim tetap rapat. Sebagai pengikatnya. Suatu hari Ali bin Abi Thalib menemui 'Adi bin Hatim yang nampak kusut masai. di pertemuan-pertemuan dan di mana pun dirimu berda saat itu. Kisahnya. khususnya pengikut perang Badr. Mereka saling menghibur bila ada yang diuji oleh Allah. sangat layak bila mereka menjadikan perkara mereka diputuskan dengan syura bersama para ahli di antara mereka. Ibnu Mas'ud. Bila yang satu terkena sakit yang lain tak akan tinggal diam. Mereka bahkan tak boleh tinggal jauh di luar Madinah. jika engkau mau ". hendaklah kalian selalu taat dengan jama'ah kaum muslimin. di pasar. dan menjadikan duka dan nestapa di dalam sikap raguragu dan benci terhadap ketentuan-Nya". "Apakah engkau ini masih menjadi musuh Islam dan kaum muslimin. para sahabat itu selalu berusaha untuk dekat antara yang satu dengan yang lain. misalnya. Karenanya. Mendengar itu. Ali bin Abi Thalib menjawab lantang. "Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan untuk Islam ini orang-orang yang layak untuk memeluknya. Sesungguhnya semua ini (pengangkatan Abu Bakar) tak merugikan Islam dan umatnya sedikitpun. "esungguhnya Allah. kalau engkau mau. adalah lebih baik dari apa yang engkau sukai dalam keadaan terpecah belah ". setelah Abu Bakar di angkat menjadi Khalifah. Nah bagaimana dengan kita? Sebuah masyarakat muslim yang utuh menjadi dambaan setiap sahabat. pernah memberi nasehat. Apalagi sebuah jama'ah da’wah. Seorang muslim dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh. Umar bin Khatab dalam menjalankan pemerintahannya. Imam Hasan Al-Bashri berkata: "Perbanyaklah istighfar di rumahmu. menjadikan para sahabat senior. dengan keadilan dan pengetahuan-Nya menjadikan kebahagian dan suka cita di dalam sikap yang yakin dan ridha. Lalu Allah menyatukan hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara. Sebab engkau tidak akan tahu di temapt manakah turunnya maghfirah Rabb-mu". Sesungguhnya apa yang tidak engkau sukai dalam kebersamaan di jama'ah itu. Raut mukanya menggambarkan kesedihan yang berat. Untuk menjaga agar masyarakat mereka selalu rapi. . mereka menepatkan kerinduan akan ridha Allah untuk mengalahkan potensi-potensi konflik di antara mereka. seperti yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib. Menghindari perselisihan dan mengutamakan persatukan. di ruang makan. Tindak tanduk ucapan mereka bisa menjadi cermin bagi ucapan di atas. untuk menjadi tim penasihatnya. di tengah perjalanan. Karenanya. mereka masih menambahinya dengan istighfar. Karenanya. Karena sesungguhnya ia adalah tali Allah yang kokoh yang diperintahkan untuk dipegang. Abu Sufyan menemui Ali seraya berkata." Demikian Imam Ibnu Jarir meriwayatkan. kami akan memenuhi kampungnya dengan laki-laki dan kuda-kuda (menyerbu). Suatu hari Umar ber-pidato. tempat kerja. Para sahabat lebih suka memutuskan masalah dengan syura. Hal serupa juga dilakukan para sahabat lainnya. "Wahai sekalian manusia. Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa Abu Bakar memang layak untuk itu ".pengharapan dan kecemasan. "Engkau dikalahkan dalam urusan kekuasaan ini oleh suku Quraisy yang jumlah warganya sedikit? Demi Allah.

Namun ketahuilah. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Al 'Aqla [96]:15-16). maka pandangannya menjadi sempit dan Allah juga tidak memberkahinya". . bahwa setiap tahun Abdullah bin Rawahah datang menemui Yahudi Khaibar untuk menetapkan berapa bagian dari panen kurma yang harus mereka setor kepada Rasulullah.05 – 18. Dan sesungguhnya kalian lebih aku benci dari pada kera dan babi. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka ". Abu Sangkan ENSIKLOPEDI ISLAM Metro TV : 15 September 2008 Jam 17.00 O Otak Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Al-Baihaqi meriwayatkan. dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (QS. Al Baqarah [2]:164). maka jiwanya akan merasa lapang menerima hal itu. dan Allah pun akan memberkahinya. "Wahai musuh-musuh Allah. Ketahuilah. Tetapi. Mendengar itu orang-orang Yahudi itu berkata "Dengan sikap seperti itulah langit dan bumi tegak". sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. maka takdir itu tetap berlaku atasnya dan ia mendapatkan pahala-Nya. Ali menyahut. Kalian akan memberiku makanan kotor? Demi Allah. aku ini datang dari orang yang paling tercinta di antara seluruh manusia. "Barang siapa ridha terhadap takdir Allah. Selain itu. tidak akan membuatku berbuat tidak adil dengan menerima suap itu". Dengan marah Abdullah menolak. Maka mereka mengeluh. Abdullah bin Rawahah menetapkan separoh hasil panen yang harus disetorkan."Mengapa engkau tampak bersedih hati?" Adi menjawab. silih bergantinya malam dan siang. Dan barangsiapa yang tidak ridha terhadap takdir-Nya. para sahabat itu juga menjauhi berlaku curang. "Barangsiapa yang ridha terhadap apa yang sudah menjadi suratan hidupnya. Orang-orang Yahudi itu juga berusaha menyuap Abdullah bin Rawahah. sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. maka takdir itu pun tetap berlaku atasnya dan terhapuslah pahalanya". "span style="font-style: italic. (QS. sedangkan dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran". kebencianku kepada kalian. Lihatlah apa yang dikatakan Hasan Al-Bashri. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. barangsiapa yang tidak ridha.">Bagaimana aku tidak sedih. juga kecintaanku kepada Rasulullah. Sikap ini juga kemudian diwarisi oleh para tabi'in.

telah dinyatakan Allah dalam Al Qur'an sejak dulu. Di antara berpuasa. memberi dorongan. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan. dan memulai perilaku baik dan buruk. biji hitam (jadam) dan sebagainya. sedangkan ia biasa melalaikan shalatnya. anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. di bagian depan kepala. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan. sedangkan Al Qur'an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. madu. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan melalui Al Qur'an". nikmat. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.Ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" dalam ayat di atas sungguh menarik. Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak. Ini adalah daerah korteks asosiasi. Jadi. Buku berjudul Essentials of Anatomy and Physiology. Otak manusia dan Shalat Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia). dan bagian prefrontal. Hadist Riwayat Tabrani. menyatakan: Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal. yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak. bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Sholat itu bikin otak kita sehat "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah" (QS. Seorang Doktor di Amerika (Dr. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang. terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)". dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta. Ini artinya darah akan memasuki bagian . Jelas bahwa ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Kajian pengobatan melalui Al-Quran dengan menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir. yang berisi temuan-temuan terakhir hasil penelitian tentang fungsi bagian ini. akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar). terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Al Kautsar [108]:2) Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat.

sebab dalam konteks firman itu. iman dan ihsan. yaitu tingkat menengah (muqtashid). QS.urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam. dari mereka ada yang tingkat pertengahan (muqtashid). Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. dan memuncak dalam ihsan. Fathir35:32). Abu Sangkan ENSIKLOPEDI ISLAM Metro TV : 16 September 2008 Jam 17. orang yang menerima warisan Kitab Suci (yakni. pelibatan diri dalam kebenaran itu membuat ia tidak saja terbebas dari perbuatan . sebab iman belum masuk ke dalam hati mereka (lihat. kaum Arab Badui tersebut barulah tunduk kepada Nabi secara lahiriah. untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Menurut Ibn Taimiyah. dan dari mereka ada yang bergegas dengan berbagai kebijakan dengan izin Allah" (QS. menjadi seorang Muslim. Ibn Taimiyah menghubungkan pengertian ini dengan firman Allah. yaitu "tunduk" atau "menyerah ". Tentang hadits yang terkenal yang menggambarkan pengertian masing-masing Islam.05 – 18. yaitu orang yang telah terbebas dari perbuatan zalim. Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa agama memang terdiri dari tiga unsur: Islam. al-Hujarat 49:14). dan itulah makna kebahasaan perkataan "Islam". menjadi seorang mu'min. Jadi. Ia bisa berkembang menjadi seorang yang beriman. Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. mempercayai dengan berpegang pada ajaran-ajarannya) namun masih juga berbuat zalim adalah orang yang baru berIslam. berkembang ke arah iman. Sebuah Ayat Suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah beriman tapi Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam. maka dari mereka ada yang (masih) berbuat zalim. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini. namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja. "Kemudian Kami (Allah) wariskan Kitab Suci pada kalangan para hamba Kami yang Kami pilih. iman lebih mendalam daripada Islam. yang dalam ketiga unsur itu terselip makna kejenjangan: orang mulai dengan Islam.00 P Pasrah Ada indikasi bahwa Islam adalah inisial seseorang masuk ke dalam lingkaran ajaran Ilahi. iman dan ihsan. suatu tingkat permulaan pelibatan dari dalam kebenaran. Dalam tingkatnya yang lebih tinggi.

"berIslam") kepada-Nya mereka yang ada di langit dan di bumi. mencapai tingkat seorang muhsin. Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah Maha Esa. yang justru banyak diketemukan dalam Kitab Suci.S. khususnya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. yaitu menurut makna asal atau generiknya. sebagaimana antara lain bisa disimpulkan dari firman Nya." suatu semangat ajaran yang menjadikan karakteristik pokok semua agama yang benar. khususnya para penganut Kitab Suci. "Islam" bukanlah nama dalam arti kata sebagai nama jenis atau sebuah proper noun. kata-kata "al-Islam" telah menjadi nama sebuah agama. hal. secara generik. kecuali terhadap mereka yang dzalim. dan kepada-Nya-lah semuanya akan kembali. al-'Ankabut 29:46). Ya'qub serta anak turun mereka. perkataan muslimun dalam makna asalnya juga menjadi kualifikasi para pemeluk agama lain. Perkataan itu. dengan taat atau pun secara terpaksa. dalam hal ini sikap pasrah atau menyerahkan diri kepada Tuhan. Ishaq. Ibn Taimiyah. dan yang diturunkan kepada Ibrahim. Pada saat ini. dan itulah orang yang telah ber-ihsan. akan masuk surga tanpa terlebih dulu mengalami azab. perkataan "muslimun" dalam firman itu lebih tepat diartikan menurut makna generiknya. Dan janganlah kamu sekalian berbantahan dengan para penganut Kitab Suci (Ahl al-Kitab) melainkan dengan yang lebih baik. perkataan al-Islam dalam firman ini bisa diartikan secara lebih umum. Ini juga diisyaratkan dalam firman: "Apakah mereka mencari (agama) selain agama Tuhan? Padahal telah pasrah (aslama . kata Ibn Taimiyah. Orang yang telah mencapai tingkat muqtashid dengan imannya dan tingkat sabiq dengan ihsannya. Dan sikap itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar dan diterima Tuhan: "Sesungguhnya agama bagi Allah ialah sikap pasrah pada-Nya (al-Islam) (QS. Dan nyatakanlah kepada mereka itu. yaitu "orang-orang yang pasrah kepada Tuhan". dan yang disampaikan kepada Musa dan 'Isa .]. dan kepada ajaran yang diturunkan kepada kami. Al-Imran 3:19). al-Iman [Kairo: Dar al-Thiba'at al-Muhammadiyah. tt. yaitu agama Islam.jahat atau dzalim dan berbuat baik. Dan ini melibatkan pengertian tentang istilah itu yang lebih mendalam. yaitu agama Islam. dan kita semua pasrah kepada-Nya (muslimun) (Q. Jika ia tidak bertobat tidak diampuni Allah (Lihat. ia akan masuk surga setelah terlebih dulu merasakan azab akibat dosadosanya itu. dalam pengertian semuanya mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan. Jadi seperti diisyaratkan dalam firman itu. bahkan ia "bergegas" dan menjadi "pelomba" atau "pemuka" (sabiq) dalam berbagai kebaiikan. Inilah dasar pandangan dalam al-Qur'an bahwa semua agama yang benar adalah agama Islam. Sedangkan orang yang pelibatannya dalam kebenaran baru mencapai tingkat ber-Islam sehingga masih sempat berbuat dzalim. Maka selain dapat diartikan sebagai nama sebuah agama. sebagai kata benda verbal yang aktif. Tapi. yaitu "pasrah kepada Tuhan. 11). Sama dengan perkataan "al-Islam" di atas. tentu saja. Isma'il. Nyatakanlah. mengandung pengertian sikap pada sesuatu. "Kami percaya kepada Tuhan. "Kami beriman kepada Kitab Suci yang diturunkan kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada kamu.

tiada serikat bagi-Nya. jilid 1. sesungguhnya Allah telah memilihkan agama untuk kamu sekalian.S. . hal. 442). Dan kembalilah kamu semua kepada Tuhanmu.serta para Nabi yang lain dari Tuhan mereka. dan ia di akhirat pastilah termasuk orang-orang yang salih. ". hidupku dan matiku adalah untuk Allah seru sekalian alam. Jadi orang yang tulus itu tidak musyrik. maka janganlah sampai kamu mati kecuali kamu adalah orang-orang yang pasrah -muslimun. sebagaimana Allah firmankan: Dan siapalah yang tidak suka kepada agama Ibrahim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri. ketulusan dalam sikap tunduk kepada satu pemilik atau penguasa. dan aku adalah yang pertama dari kalangan orang-orang yang pasrah ". lalu kamu tidak tertolong lagi." dan mengartikan al-Islam sebagai sikap memaha-esakan (ber-tawhid) dan sikap pasrah diri kepada Tuhan" (taisir al-Kaskshaf [Teheran: Intisharat-e Aftab. "Sesungguhnya sembahyangku. "wa rajul-an salam-an li rajul-in" (Dan seorang lelaki yang tulus tunduk kepada satu orang lelaki) (QS. serta berserah dirilah kamu semua (aslimu) kepada-Nya sebelum tiba kepada kamu azab. hal. 1404 H/1984 M). ajaran Ibrahim. ia tidak akan diterima. Dari berbagai keterangan itu dapat ditegaskan bahwa beragama tanpa sikap pasrah kepada Tuhan. "Katakanlah (Hai Muhammad). ialah sikap tunduk dan patuh. dan ia adalah seorang hamba yang berserah diri hanya kepada Allah. mereka tidak mengingkarinya sedikitpun. al-Zumar 39:29).(kepada-Nya) (Q. Begitulah aku diperintahkan. "Wahai anak-anakku. adalah tidak benar dan tidak bakal diterima oleh Tuhan.] jilid 1. tt. yang hanif. Kami tidak membeda-bedakan mereka itu. Al-'lmran 3:83-85). Yaitu agama yang tegak. Katakan juga (hai Muhammad). seperti difirmankan Allah. Dan barang siapa menganut agama selain sikap pasrah (al-Islam) itu. (QS. Ketika Tuhannya bersabda kepadanya. darmabaktiku. (QS. Al-An'am [ 6]:161-163). Pangeran sekalian alam. pada semua Kitab Suci yang diturunkan. "Berserah dirilah engkau!'. penjelasan yang sangat penting tentang makna "al-Islam" ini juga diberikan oleh Ibn Taimiyah. "Aku berserah diri (aslam-tu) kepada Tuhan seru sekalian alam ". lalu ia menjawab. dan tidaklah dia termasuk orang-orang musyrik ".Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. Ibn Katsir dalam tafsirnya tentang mereka yang pasrah (muslimun) itu mengatakan yang dimaksud ialah "mereka dari kalangan umat ini yang percaya pada semua Nabi yang diutus. (QS. jadi tidak sombong. dan kita semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. dan di akkirat termasuk orang-orang yang merugi. Selanjutnya. kedua. betapapun seseorang mengaku sebagai "muslim" atau penganut "Islam". Al-Zumar [39]:54). melainkan menerima kebenaran segala sesuatu yang diturunkan dari sisi Tuhan dan dengan semua Nabi yang dibangkitkan oleh Tuhan" (Tafsir Ibn Katsir [Beirut: Dar al-Fikr. 380). Sedangkan al-Zamakhsari memberi makna pada perkataan Muslimun sebagai "mereka yang bertawhid dan mengikhlaskan diri pada-Nya. demikian pula Ya'qub. Dan dengan ajaran itu Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya. AlBaqarah [2]:130-132). Ia mengatakan bahwa "al-Islam" mengandung dua makna adalah: pertama. Padahal sungguh Kami telah memilihnya di dunia.

1976. mengenai Nabi Ibrahim as.Demikian itu sebagian dari penjelasan yang diberikan Ibn Taimiyah tentang makna al-Islam [lihat. hal. dan kepada-Nya kamu semua pasrah (muslim) (QS Al-Baqarah [2]:133). Abu Sangkan . 72-3). melainkan dia adalah seorang yang tulus mencari dan mengikuti kebenaran (hanif) dan yang pasrah kepada Tuhan (muslim) (QS. Demikian agama seluruh Nabi keturunan Ibrahim. demikian: "Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya'qub. sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab Suci. agama yang mengajarkan sikap tunduk dan patuh. pasrah dan berserah diri secara tulus kepada Tuhan dengan segala qudrat dan iradat-Nya. dan ketika ia bertanya kepada anak-anakuya. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 'Ali 'Imran 3:67). Ibn Taimiyah. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab al-Jadid. Berdasarkan pengertian-pengertian itu juga harus dipahami penegasan dalam alQur'an bahwa semua agama para Nabi dan Rasul adalah agama Islam. Yakni. khususnya anak-cucu Ya'qub atau Bani Israil. ditegaskan bahwa dia bukanlah seorang penganut agama komunal seperti Yahudi atau Nasrani. "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu. Maka sebagai misal. Isma'il dan Ishaq. Ibrahim. "Apakah yang akan kamu sekalian sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful