P. 1
Teori Pembuktian Dan Alat

Teori Pembuktian Dan Alat

|Views: 41|Likes:
Published by Bento Wibowo

More info:

Published by: Bento Wibowo on Jan 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2011

pdf

text

original

Teori Pembuktian Dan Alat-Alat Bukti Dalam Hukum Acara Perdata

A. Pendahuluan

Teori

Pembuktian

Pokok bahasan mengenai pembuktian mengundang perbedaan pendapat diantara ahli hukum dalam mengklasifikasikannya apakah termasuk kedalam hukum perdata atau hukum acara perdata. Prof. Subekti, S.H. mantan ketua MA dan guru besar hukum perdata pada Universitas Indonesia berpendapat bahwa sebenarnya soal pembuktian ini lebih tepat diklasifikasikan sebagai hukum acara perdata (procesrecht) dan tidak pada tempatnya di masukkan dalam B.W., yang pada asasnya hanya mengatur hal-hal yang termasuk hukum materil.[1] Akan tetapi memang ada suatu pendapat, bahwa hukum acara itu dapat dibagi lagi dalam hukum acara materil dan hukum acara formil. Peraturan tentang alat-alat pembuktian, termasuk dalam pembagian yang pertama (hukum acara perdata), yang dapat juga dimasukkan kedalam kitab undang-undang tentang hukum perdata materil. Pendapat ini rupanya yang dianut oleh pembuat undang-undang pada waktu B.W. dilahirkan. Untuk bangsa Indonesia perihal pembuktian ini telah dimasukkan dalam H.I.R., yang memuat hukum acara yang berlaku di Pengadilan Negeri.[2] Hukum positif tentang pembuktian (pokok bahasan makalah ini) yang berlaku saat ini di RI terserak dalam HIR dan Rbg baik yang materiil maupun yang formil. Serta dalam BW buku IV yang isinya hanya hukum pembuktian materiil. Pengertian Pembuktian/membuktikan ´Membuktikan´ menurut Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., guru besar FH-UGM mengandung beberapa pengertian:[3] a) Membuktikan dalam arti logis atau ilmiah

Membuktikan berarti memberikan kepastian mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinkan adanya bukti lawan. b) Membuktikan dalam arti konvensionil

Membuktikan berarti memberikan kepastian yang nisbi/relatif sifatnya yang mempunyai tingkatan-tingkatan: - kepastian yang didasarkan atas perasaan belaka/bersifat instuitif (conviction intime) kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal (conviction raisonnee)

maka membuktikan pada hakekatnya berarti mempertimbangkan secara logis mengapa peristiwaperistiwa tertentu dianggap benar. cukup dengan kebenaran formil saja. Berbeda dengan azas yang terdapat pada hukum acara pidana. Apabila penggugat tidak berhasil membuktikan dalil-dalilnya yang menjadi dasar gugatannya. maka gugatannya akan ditolak. Pembuktian secara yuridis tidak lain adalah pembuktian ´historis´ yang mencoba menetapkan apa yang telah terjadi secara konkreto. apabila diakui sepenuhnya oleh pihak lawan. Akan tetapi merupakan pembuktian konvensionil yang bersifat khusus.[6] Beberapa hal/keadaan yang tidak harus yang dibuktikan antara telah lain :[7] diakui hal-hal/keadaan-keadaan . Dengan demikian pembuktian dalam arti yuridis tidak menuju kepada kebenaran mutlak. tidak perlu adanya keyakinan hakim. Dengan perkataan lain. Baik pembuktian yang yuridis maupun yang ilmiah. maka tidak perlu dibuktikan lagi.[4] Prinsip-Prinsip Pembuktian Dalam suatu proses perdata. kesaksian atau surat-surat itu tidak benar atau palsu atau dipalsukan.[5] Tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya. dimana seseorang tidak boleh dipersalahkan telah melakukan tindak pidana. Pembuktian dalam arti yuridis ini hanya berlaku bagi pihak-pihak yang beperkara atau yang memperoleh hak dari mereka. Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat mengiginkan kemenangan dalam suatu perkara. kecuali apabila berdasarkan buki-bukti yang sah hakim memperoleh keyakinan tentang kesalahan terdakwa. sedangkan apabila berhasil.c) Membuktikan dalam hukum acara mempunyai arti yuridis Didalam ilmu hukum tidak dimungkinkan adanya pembuktian yang logis dan mutlak yang berlaku bagi setiap orang serta menutup segala kemungkinan adanya bukti lawan. Maka hal ini dimungkinkan adanya bukti lawan. Yang penting adalah adanya alatalat bukti yang sah. dalam hukum acara perdata. maka gugatannya akan dikabulkan. Ada kemungkinan bahwa pengakuan. dalam hukum acara perdata untuk memenangkan seseorang. dan berdasarkan alat-alat bukti tersebut hakim akan mengambil keputusan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. untuk dalil-dalil yang tidak disangkal. Membuktikan dalam arti yuridis tidak lain berarti memberikan dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan. salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak.

b) Teori Pembuktian Negatif Teori ini hanya menghendaki ketentuan-ketentuan yang mengatur larangan-larangan kepada . apakah pihak penggugat atau sebaliknya pihak tergugat. hakim terikat dalam penilaiannya (ps. Secara ringkas disimpulkan bahwa hakim sendiri yang menentukan pihak yang mana yang akan memikul beban pembuktian. sehingga penilaian pembuktian seberapa dapat diserahkan kepada hakim. hakim dapat bertindak bebas [contoh: hakim tidak wajib mempercayai satu orang saksi saja.[8] Merupakan fakta notoir. Terdapat 3 (tiga) teori yang menjelaskan tentang sampai berapa jauhkah hukum positif dapat mengikat hakim atau para pihak dalam pembuktian peristiwa didalam sidang. 1908 BW)] atau diikat oleh undang-undang [contoh: terhadap akta yang merupakan alat bukti tertulis. 309 Rbg. Atau hal-hal yang secara kebetulan telah diketahui sendiri oleh hakim. yaitu :[11] a) Teori Pembuktian Bebas Teori ini tidak menghendaki adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat hakim. bahwa pada hari Minggu semua kantor pemerintah tutup. Teori-Teori Tentang Penilaian Pembuktian Sekalipun untuk peristiwa yang disengketakan itu telah diajukan pembuktian. hakim harus bertindak arif dan bijaksana. diwajibkan membuktikan peristiwa-pristiwa itu. Semua peristiwa dan keadaan yang konkrit harus diperhatikan dengan seksama olehnya. Didalam soal menjatuhkan beban pembuktian.[9] Sebagai pedoman. 1782 HIR.- hal-hal/keadaan-keadaan yang tidak disangkal . Hakim yang memeriksa perkara itu yang akan menentukan siapa diantara pihak-pihak yang berperkara yang akan diwajibkan memberikan bukti. 1870 BW)]. 285 Rbg. diwajibkan juga membuktikan peristiwa-peristiwa itu´ 4. dan bahwa harga tanah di jakarta lebih mahal dari di desa. yang berarti hakim bebas menilai kesaksiannya (ps. 165 HIR. bahwa: ´ Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas mana dia mendasarkan suatu hak. Berhubung dengan menilai pembuktian. Teori ini dikehendaki jumhur/pendapat umum karena akan memberikan kelonggaran wewenang kepada hakim dalam mencari kebenaran.hal-hal/keadaan-keadaan yang telah diketahui oleh khalayak ramai (notoire feiten/fakta notoir). sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwaperistiwa guna pembantahan hak orang lain. dijelaskan oleh pasal 1865 BW[10]. Dalam soal pembuktian tidak selalu pihak penggugat saja yang harus membuktikan dalilnya. serta tidak boleh berat sebelah. namun pembuktian itu masih harus dinilai.

untuk membuktikan dengan segala macam alat bukti. Kewajiban ini harus disertai sanksi pidana. dan siapa yang mengemukakan atau mempunyai suatu hak harus membuktikannya. Teori-Teori Tentang Beban Pembuktian Seperti telah diuraikan sekilas diatas (dalam sub judul prinsip-prinsip pembuktian). d) Teori hukum publik Menurut teori ini maka mencari kebenaran suatu pristiwa dalam peradilan merupakan kepentingan publik. 1870 BW). antara lain:[12] a) Teori pembuktian yang bersifat menguatkan belaka (bloot affirmatief) Menurut teori ini siapa yang mengemukakan sesuatu harus membuktikannya dan bukan yang mengingkari atau yang menyangkalnya. Oleh karena itu penggugat harus membuktikan kebenaran daripada peristiwa yang diajukan dan kemudian mencari hukum obyektifnya untuk diterapkan pada peristiwa itu.hakim untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian. tetapi dengan syarat (ps. Hakimlah yang memerintahkan kepada para pihak untuk mengajukan alat-alat buktinya. 165 HIR. mengajukan gugatan hak atau gugatan berarti bahwa penggugat minta kepada hakim agar hakim menerapkan ketentuan-ketentuan hukum obyektif terhadap pristiwa yang diajukan. 169 HIR. Dalam ilmu pengetahuan terdapat beberapa teori tentang beban pembuktian yang menjadi pedoman bagi hakim. Disamping itu para pihak ada kewajiban yang sifatnya hukum publik. 5. maka pembuktian dilakukan oleh para pihak bukan oleh hakim. b) Teori hukum subyektif Menurut teori ini suatu proses perdata itu selalu merupakan pelaksanaan hukum subyektif atau bertujuan mempertahankan hukum subyektif. 285 Rbg. Oleh karena itu hakim harus diberi wewenang yang lebih besar untuk mencari kebenaran. teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim. Disini hakim diwajibkan. 1905 BW) c) Teori Pembuktian Positif Disamping adanya larangan. Teori ini telah ditinggalkan. 306 Rbg. e) Teori hukum acara Asas audi et alteram partem atau juga asas kedudukkan prosesuil yang sama daripada para pihak . Jadi hakim disini dilarang dengan pengecualian (ps. c) Teori hukum obyektif Menurut teori ini.

yaitu[13] : 1.dimuka hakim merupakan asas pembagian beban pembuktian menurut teori ini. Hakim harus membagi beban pembuktian berdasarkan kesamaan kedudukkan para pihak. Suatu akte di bawah tangan (onderhands) ialah tiap akte yang tidak dibuat oleh atau dengan perantara seorang pejabat umum. 4. Suatu akte resmi (authentiek) ialah suatu akte yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum yang menurut undang-undang ditugaskan untuk membuat surat-surat akte tesebut. 5. Menurut undang-undang suatu akte resmi (authentiek) mempunyai suatu kekuatan pembuktian sempurna (volledig bewijs). karenanya suatu akte harus selalu ditandatangani. Berikut ini akan kami uraikan secara ringkas tentang alat-alat bukti Surat-surat Kesaksian persangkaan Pengakuan Sumpah tersebut. jurusita pada suatu pengadilan. surat perjanjian jual-beli atau sewa menyewa yang dibuat sendiri dan ditandatangani sendiri oleh kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian itu. maka akte dibawah tangan tersebut memperoleh suatu kekuatan . sehingga kemungkinan menang antara para pihak adalah sama. sehingga hakim tidak boleh memerintahkan penambahan pembuktian lagi. Surat-surat akte dapat dibagi lagi atas akte resmi (authentiek) dan surat-surat akte di bawah tangan (onderhands). dsb. Alat-Alat Bukti Menurut undang-undang. artinya apabila suatu pihak mengajukan suatu akte resmi. hakim harus menerimanya dan menganggap apa yang dituliskan didalam akte itu. yang berarti ia mengakui atau tidak menyangkal kebenaran apa yang tertulis dalam surat perjanjian itu. Pegawai Pencatatan Sipil (Ambtenaar Burgelijke Stand). surat-surat dapat dibagi dalam surat-surat akte dan surat-surat lain. hakim. Misalnya. Jika pihak yang menandatangani surat perjanjian itu mengakui atau tidak menyangkal tandatangannya. B. ada 5 (lima) macam alat pembuktian yang sah. 2. 3. Surat akte ialah suatu tulisan yang semata-mata dibuat untuk membuktikan sesuatu hal atau peristiwa. Surat-Surat[14] Menurut undang-undang. sungguh-sungguh telah terjadi. Pejabat umum yang dimaksud adalah notaris.

maka pihak yang mengajukan surat perjanjian tersebut diwajibkan untuk membuktikan kebenaran penandatanganan atau isi akte tersebut. Artinya. Jadi tidak boleh saksi itu hanya mendengar saja tentang adanya peristiwa dari orang lain.pembuktian yang sama dengan suatu akte resmi. Kesaksian bukanlah suatu alat pembuktian yang sempurna dan mengikat hakim. hakim tidak boleh mendasarkan putusan tentang kalah menangnya suatu pihak atas keterangannya satu saksi saja. Dalam pembuktian. sedangkan saksi itu sendiri dapat meminta dibebaskan dari kewajibannya untuk memberikan kesaksian. pejabat umum (notaris) yang membuat akte tersebut telah melakukan pemalsuan surat. Selanjutnya. Kesaksian[15] Sesudah pembuktian dengan tulisan. catatan yang dibuat oleh suatu pihak. Selanjutnya tidak boleh pula keterangan saksi itu merupakan kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya dari peristiwa yang dilihat atau dialaminya. Suatu kesaksian. Ini adalah suatu hal yang sebaliknya dari apa yang berlaku terhadap suatu akte resmi. faktur. dapat ditolak oleh pihak lawan. harus mengenai peristiwa-peristiwa yang dilihat dengan mata sendiri atau yang dialami sendiri oleh seorang saksi. artinya tulisan yang bukan akte seperti surat. Dari peristiwa yang terang dan nyata ini ditarik kesimpulan bahwa suatu peristiwa lain yang dibuktikan juga telah terjadi. undang-undang menetapkan bahwa keterangan satu saksi tidak cukup. . tetapi terserah pada hakim untuk menerimanya atau tidak. dsb. hakim leluasa untuk mempercayai atau tidak mempercayai kebenarannya. diwajibkan membuktikan bahwa tanda tangan itu palsu. Barang siapa menyangkal tanda tangannya pada suatu akte resmi. Jadi kesaksian itu selalu harus ditambah dengan suatu alat pembuktian lain. ada dua macam persangkaan. Artinya. Yang kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim. Akan tetapi jika tanda tangan itu disangkal. Seorang saksi yang sangat rapat hubungan kekeluargaan dengan pihak yang berperkara. karena hakimlah yang berhak menarik kesimpulan-kesimpulan itu. pembuktian dengan kesaksian merupakan cara pembuktian yang terpenting dalam perkara yang sedang diperiksa didepan hakim. ada persangkaan yang ditetapkan oleh undangundang sendiri (watterlijk vermoeden) dan persangkaan yang ditetapkan oleh hakim (rechtelijk vermoeden). hakim leluasa untuk mempercayai atau tidak mempercayai keterangan seorang saksi. Persangkaan[16] Persangkan ialah suatu kesimpulan yang diambil dari suatu peristiwa yang sudah terang dan nyata. Berbagai tulisan-tulisan lain. dengan kata lain.

Sebab pemeriksaan didepan hakim belum sampai pada tingkat pembuktian.Persangkaan yang ditetapkan oleh undang-undang (watterlijk vermoeden). ia mengakui adanya perjanjian jual beli. suatu pengakuan di depan hakim. Menurut undang-undang. sehingga tidak dapat dikatakan pihak lawan ini telah membuktikan hal tersebut. adanya tiga kwitansi pembayaran sewa rumah yang berturut-turut. Misalnya. Dan memang dalam perbuatan zina itu lazimnya hanya dapat dibuktikan dengan persangkaan. Pengakuan[17] Sebenarnya pengakuan bukan suatu alat pembuktian. oleh hakim tidak boleh dipecah-pecah hingga merugian kedudukkan pihak tergugat didalam proses yang telah berlangsung itu. tetapi sebagai pembelaan mengajukan suatu peristiwa lain yang menghapuskan dasar tuntutan. Adakalanya. si penjual barang masih harus membuktikan adanya perjanjian jual beli dan terjadinya penyerahan barang yang telah dibelinya itu pada si pembeli. Sumpah[18] Menurut UU ada dua macam bentuk sumpah. Akan tetapi. maka pihak lawan dibebaskan untuk membuktikan hak tersebut. Misalnya. yaitu dalam suatu perkara yang diajukan oleh seorang istri terhadap suaminya untuk mendapatkan pemisahan kekayaan. suatu pengakuan yang disertai suatu peristiwa pembebasan oleh UU tidak dianggap sebagai suatu pengakuan (onplitsbare bekentenis). yaitu sumpah yang ´menentukan´ (decissoire eed) . Misalnya. jika ada saksi-saksi yang melihat si istri itu menginap dalan satu kamar dengan seorang lelaki sedangkan didalam kamar tersebut hanya ada satu buah tempat tidur saja. suatu peristiwa yang telah diakui memang benar-benar telah terjadi. seorang tergugat dalam suatu perkara perdata mengakui suatu peristiwa yang diajukan oleh penggugat. Jadi dalam praktek. meskipun sebetulnya ia sendiri tidak percaya bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh telah terjadi. merupakan suatu pembuktian yang sempurna tentang kebenaran hal atau peristiwa yang diakui. dalam suatu perkara dimana seorang suami mendakwa istrinya berbuat zina dengan lelaki lain. Perlu diterangkan. Dengan kata lain. bahwa dalam suatu hal UU melarang dipakai pengakuan sebagai alat pembuktian dalam suatu proses. tetapi mengajukan bahwa ia sudah membayar harganya barang yang telah ia terima dari penggugat. maka dari keterangan saksi-saksi itu hakim dapat menetapkan suatu persangkaan bahwa kedua orang itu sudah melakukan perbuatan zina. Ini berarti. karena jika suatu pihak mengakui sesuatu hal. Persangkaan yang ditetapkan oleh hakim (rechtelijk vermoeden). hakim terpaksa untuk menerima dan menganggap. bahwa uang sewa untuk waktu yang sebelumnya juga telah dibayar olehnya. terdapat pada pemeriksaan suatu perkara dimana tidak terdapat saksi-saksi yang dengan mata kepalanya sendiri telah melihat peristiwa itu. Menurut UU suatu pengakuan yang demikian. Menurut UU menimbulkan suatu persangkaan. Hal ini tentunya sangat sukar memperoleh saksi-saksi yang melihat dengan mata kepalanya sendiri perbuatan zina itu. pada hakekatnya merupakan suatu pembebasan dari kewajiban membuktikan suatu hal untuk keuntungan salah satu pihak yang berperkara.

Misalnya. Pihak yang diperintahkan mengangkat sumpah. Jakarta: P. Sebaliknya ia akan dikalahkan apabila dia menolak pengangkatan sumpah itu. Daftar Pustaka R. Cet. sebaliknya. leluasa apakah ia akan memerintahkan suatu sumpah tambahan atau tidak dan apakah suatu hal sudah merupakan permulaan pembuktian. akan dimenangkan oleh hakim apabila ia mengangkat sumpah itu. bahwa ia menentukan juga jalannya perkara.T. Pihak yang mendapat perintah untuk mengangkat suatu sumpah tambahan. Selanjutnya harus dipertimbangkan apakah sungguh-sungguh dengan terbuktinya hal yang disumpahkan itu nanti perselisihan antara kedua pihak yang berperkara itu dapat diakhiri. Subekti. Tentu saja perumusan sumpah yang dikembalikan itu sebaliknya dari perumusan semula. 2005. sehingga perbedaan sebenarnya dengan suatu sumpah decissoir ialah. XXV Retnowulan S dan Iskandar O. Sebenarnya. hakim harus mempertimbangkan dahulu apakah ia dapat mengizinkan perintah mengangkat sumpah itu. Tjitrosudibio. ia akan dikalahkan. karena dipandang kurang memuaskan untuk menjatuhkan putusan atas dasar bukti-bukti yang terdapat itu. XXXII R. Subekti dan R. Jakarta: P. Kitab Undang-undang Hukum Perdata. adalah suatu sumpah yang diperintahkan oleh hakim pada salah satu pihak yang beperkara apabila hakim itu barpendapat bahwa didalam suatu perkara sudah terdapat suatu ´permulaan pembuktian´. ia akan dimenangkan. Intermasa. jadi atas kehendak hakim itu sendiri. 2005. X .dan ´tambahan´ (supletoir eed). artinya meminta kepada pihak lawannya sendiri mengangkat sumpah itu. Suatu sumpah tambahan. terhadap sumpah tambahan ini pun dapat dikatakan. 2005.V . Jika suatu pihak yang berperkara hendak memerintahkan pengangkatan suatu sumpah yang menentukan. Sumpah yang ´menentukan´ (decissoire eed) adalah sumpah yang diperintahkan oleh salah satu pihak yang berperkara kepada pihak lawan dengan maksud untuk mengakhiri perkara yang sedang diperiksa oleh hakim. bahwa yang belakangan diperintahkan oleh suatu pihak yang beperkara kepada pihak lawannya. Untuk itu hakim memeriksa apakah hal yang disebutkan dalam perumusan sumpah itu sungguh-sungguh mengenai suatu perbuatan yang telah dilakukan sendiri oleh pihak yang mengangkat sumpah atau suatu peristiwa yang telah dilihat sendiri oleh pihak itu. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Hukum Acara Perdata Dalam Teori Dan Praktek. jika rumusan yang semula berbunyi : ´Saya bersumpah bahwa sungguh-sungguh Saya telah menyerahkan barang´ perumusan sumpah yang dikembalikan akan berbunyi ´Saya bersumpah bahwa sungguhsungguh Saya tidak menerima barang´. yang perlu ditambah dengan penyumpahan. Pradnya Paramita. Jika pihak lawan mengangkat sumpah yang perumusannya disusun sendiri oleh pihak yang memerintahkan pengangkatan sumpah itu. Tetapi ia tak dapat ´mengembalikan´ sumpah tersebut kepada pihak lawan. hanya dapat mengangkat atau menolak sumpah itu. sedangkan sumpah tambahan diperintahkan oleh hakim karena jabatannya. Jika sumpah dikembalikan. maka pihak yang semula memerintahkan pengangkatan sumpah itu. jika ia tidak berani dan menolak pengangkatan sumpah itu. Hakim. Bandung: C.T. mempunyai hak untuk ´mengembalikan´ perintah itu. Cet. sehingga dapat dikatakan bahwa sumpah itu sungguh-sungguh ´menentukan´ jalannya perkara. Mandar Maju. Cet.

59 [6] Ibid [7] Ibid [8] R.R. (Bandung: C. 1866 BW . Cet. 2005). Hal. Hal. I. Mandar Maju. Hukum Acara Perdata Dalam Teori Dan Praktek. Cet. 141 [12] Ibid. Op. 60 [5]Ibid. 475 [11] Sudikno Mertokusumo. Soesilo. (Jakarta: P. I [1]R Subekti. XXV. Subekti dan R. Pradnya Paramita. 2005). Cit. Hal. Cet. 177 [9] Ibid [10] R. 284 Rbg. 1995 Sudikno Mertokusumo.V . (Jakarta: P. Hal. 2005). Cet. Yogyakarta: Liberty. Op. 176 [2] Ibid [3] Sudikno Mertokusumo. 2006. 134-136 [4] Retnowulan S dan Iskandar O. Subekti. (Yogyakarta: Liberty. Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Tjitrosudibio.T. Hukum Acara Perdata Indonesia Edisi Ke 7. X.T. RIB/HIR Dengan Penjelasan. Hal. Hukum Acara Perdata Indonesia Edisi Ke 7. Bogor: Politeia. XXXII. Intermasa. Cit. 2006). Cet. Hal. 143-147 [13] Pasal 164 HIR. Pokok-Pokok Hukum Perdata.

Cit.[14] Subekti. Cit 178-180 [15]Op. Cit 180-181 [16]Op. 181-182 [17]Op. Pokok-Pokok Hukum Perdata. 182-183 . Op. Cit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->