P. 1
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

|Views: 4,190|Likes:
Published by dian
Model Pembelajaran
Model Pembelajaran

More info:

Published by: dian on Jan 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2013

pdf

text

original

STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF ( SPK

)

A. KONSEP STRATEGI PEMBELAJARAN KELOMPOK Kelompok merupakan konsep yang penting dalam kehidupan manusia, karene sepanjang hidupnya manusia tidak akan terlepas dari kelompoknya. Kelompok dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai kumpulan dua orang individu atau lebih yang berinteraksi secara tatap muka, dan setiap individu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya, sehingga mereka merasa memiliki, dan merasa saling ketergantungan secara positif yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pembelajaran kelompok, setiap anggota kelompok akan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama pula. Dilihat dari landasan psikologi belajar, pembelajaran kelompok banyak dipengaruhi oleh psikologi belajar kognitif holistik yang menekankan bahwa belajar pada dasarnya adalah proses berpikir. Berdasarkan pembelajaran pengembangan interpersonal. Menurut Teori Medan, bersumber dari aliran psikologi kognitif Menurut Psikologi Gestalt, menjelaskan bahwa keseluruhan lebih memberi pengaruh. psikologi ini, humanistik kognitif juga harus mendasari diimbangi strategi dengan

pengembangan

pembelajaran

kelompok,

kemampuan

perkembangan pribadi secara utuh melalui kemampuan hubungan

Menurut Teori Psikodinamika, kelompok bukan hanya sekedar kumpulan individu, melainkan merupakan satu kesatuan yang memiliki dinamika dan emosi tersendiri.

B. KONSEP STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF ( SPK ) Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Empat unsur penting dalam SPK : 1. Adanya peserta dalam kelompok. 2. Adanya aturan dalam kelompok 3. Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok 4. Adanya tujuan yang harus dicapai Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar, pengelompokan siswa dapat ditetapkan berdasarkan atas minat dan bakat siswa, latar belakang kemampuan siswa, campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun yang ditinjau dari kemampuan. Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi

kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok Upaya belajar adalah segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya dan keterampilan yang telah dimiliki, maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan aspek pengetahuan, sikap,

Aspek

tujuan

dimaksudkan

untuk

memberikan

arah

perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, sehingga setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar Strategi dari pembelajaran kelompok adalah Strategi Pembelajaran kooperatif ( Cooperative learning ).

Menurut Slavin ( 1995 ) mengemukakan dua alasan : 1. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Sekaligus dapatmeningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. 2. Pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan belajar mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan Dari dua alasan tersebut, menurut Slavin pembelajaran berpikir, memecahkan masalah, dan

siswa dalam

kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan. C STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda ( heterogen ) Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok, setiap kelompok akan memperoleh penghargaan ( reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan SPK mempunyai dua komponen utama yaitu : 1. 2. Komponen tugas kooperatif ( cooperative task) tentang bekerja sama Komponen incentive structure) tentang membangkitkan motivasi individu untuk bekerjasama mencapai tujuan kelompok Dengan demikian diharapkan SPK memberikan dampak struktur insentif kooperatif ( cooperative

pembelajaran berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik ( student achievement), serta dampak pengiring relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memperikan pertolongan pada yang lain. Strategi ini dapat digunakan manakala : • • • Guru menekankan pentingnya usaha kolektif di samping usa individual dalam belajar Jika guru menghendaki seluruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar Jika guru ingin menanamkan, bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dari bantuan orang lain

• • •

Jika guru menghendaki utuk mengambangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan D. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN KOOPERATIF Pembelajaran kooperatif lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok, tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik, dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsure kerjasama untuk penguasaan materi tersebut, kerjasama ini merupakan cirri khas dari pembelajaran kooperatif Menurut Slavin dan Chambers ( 1996 ) berpendapat bahwa melalui pembelajaran melalui kooperatif dapat dijelaskan melalui beberapa perspektif : • Perspektif Sosial : melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar, karene mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan ( bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan oleh kelompok ) • Perspektif perkembangan Kognitif artinya adanya interaksi angtara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk mengolah berbagai informasi. Kolaborasi kognitif ( setiap siswa akan berusaha untuk menimba dan memahami informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya). Dengan demikian karakteristik Strategi Pembelajaran Kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Pembelajaran secara tim artinya tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, dengan demikian setiap siswa harus saling

membantu untuk mencapai tujuan tersebut, satu sama lain saling memberikan konstribusi demi keberhasilan kelompok. b. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, di antaranya ; fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Artinya segala bentuk membutuhkan perencanaan yang matang, sehingga dalam pelaksanaan pencapaian tujuan dapat berjalan sesuai dengan fungsi masing-masing, sedangkan criteria keberhasilannya melalui tes dan non tes c. Kemauan Untuk Bekerja sama, Keberhasilan dalam pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, maka prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif, perlunya saling membantu, saling berinteraksi dan sal;ing berkomunikasi d. Partisipasi dan Komunikasi ( Participation Communication ) ; melatih siswa agar mampu berinteraksi serta berpartisipasi dan berkomunikasi, hal ini sangat penting sebagai bekal mereka kelak di masyarakat. Untuk memiliki kemampuan berkomunikasi memang memerlukan waktu siswa tidak dapat secara langsung menguasai dalam waktu yang singkat, guru harus terus melatih sampai pada akhirnya siswa memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik. Dalam prosedur pembelajaran kooperatif dikenal beberapa prinsip di antaranya : 1. Penjelasan Materi, diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok, dalam proses ini guru dapat menggunakan metode

ceramah, metode Tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. 2. Belajar dalam Kelompok, Pengelompokan siswa dalam proses ini bias dengan cara heterogen, menurut Lie ( Anita Lie ( 2005) alasan penggunaan pengelompokan heterogen lebih disukai, karena dapat memberikan kesempatan untuk saling mengajar ( Peer Tutoring) dan saling mendukung, meningkatkan relasi dan interaksi, memudahkan pengelolaan kelas. 3. Penilaian ; dilakukan dengan tes atau bentuk kuis dan dilakukan secara individual dan kelompok. 4. Pengakuan Tim ( Tim Recognition), adalah poenerapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim yang berprestasi untuk diberikan hadiah, sehingga dapat memotivasi tim untuk meningkatkan keberhasilannya E. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN SPK 1. KEUNGGULAN SPK Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya : a. Melalui SPK siswa tidak terlalu tergantung pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain. b. SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkanide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain c. SPK dapat menumbuhkan rasa kerja sama dengan tidak mengenal berbagai perbedaan

d. SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. e. SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik, sekaligus kempuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah. f. Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik, berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya. g. SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemmampuan belajar abstrak menjadi nyata ( riil ) h. Interasksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir yang berguna untuk proses pendidikan jangka panjang. 2. KETERBATASAN/ KELEMAHAN SPK

a. Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK membutuhkan waktu, sangat tidak mungkin siswa secara langsung dapat memahami filsafat cooperative dalam waktu yang singkat. b. Ciri utama SPK adalah siswa saling membelajarkan, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka bias terjadi cara belajar yang demikian tidak dipahami dan tidak dapat dicapai oleh siswa.

c. Keberhasilan SPK lebih menonjol keberhasilan kelompok, sebenarnya yang diharapkan dalam pembelajaran adalah keberhasilan prestasi siswa secara individual. d. Keberhasilan SPK dalam upaya menganmbangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, hal ini tidak mungkin dapat dicapai dalam waktu yang singkat. e. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting bagi siswa, tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual, idealnya dalam SPK bagaimana membangun kepercayaan diri bagi setiap siswa.

STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL ( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING )
A. PENDAHULUAN Dalam Pembelajaran kelompok dengan menerapkan strategi pembelajaran kontekstual, kelas dijadikan sebagai tempat berdiskusi tentang hasil penemuan lapangan. Pembelajaran Kontekstual ( Contextual teaching and learning ) merupakan salah satu pendekatan yang menekankan pada pembelajaran kelompok yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran, siswa didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Belajar dalam konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses pengalaman langsung, dengan harapan perkembangan siswa secara utuh selain aspek kognitif, afektif, juga psikomotor, diharapkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang dipelajarinya. B. KONSEP DASAR STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Contextual Teaching and Learning ( CTL ) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupannya. Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami :

a. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung ( proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran ) b. CTL mendorong siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata c. CTL mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan, artinya melalui CTL materi yang diterima siswa bukan untuk ditumpuk di otak kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam mengarungi kehidupan nyata di masyarakat. Dalam strategi pembelajaran kontekstual terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajarannya yaitu : 1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada ( activating knowledge ) artinya apa yang akan dipelajari tidak lepas dari pengetahua yang sudah dipelajari 2. Dalam konsep yang kontekstual adalah belajar dalam rangka mengambangkan dan menambah pengetahuan baru ( acquiring) diperoleh secara deduktif , pembelajaran dimulai secara global dan verbal, kemudian kea rah yang lebih detail. 3. Pemahaman pegetahuan ( Understanding Knowledge ) artinya pengetahuan yang diterima bukan hanya dihapal, tetapi untuk dipahami dan diyakini. 4. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut ( applying knowledge ) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari sekolah dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehingga tampak perubahan perilaku siswa.

5. Melakukan refleksi ( reflecting knowledge ) terhadap perkembangan pengetahuan, hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi. C. LATAR BELAKANG FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS CTL 1. LATAR BELAKANG FILOSOFIS Banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktifisme yang digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh pemikiranpemikiran Epistemology Glambatista Vico ( Suparno, 1997 ) Vico mengungkapkan “ Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya”. Mengetahui menurut Vico berarti mengetahui bagaimana berbuat sesuatu, artinya seseorang dikatakan mengetahui manakala ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Oleh karena itu menurut Vico pengetahuan itu tidak terlepas dari orang ( subjek ) yang tahu pengetahuan merupakan stuktur konsep dari dari subjek yang mengamati. Pandangan filsafat konstruktifisme tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi konsep tentang proses belajar, bahwa belajar bukanlah sekedar menghafal, tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman, pengetahuan bukan suatu pemberian dari orang lain, tapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu.

Menurut Piaget ; sejak kecil setiap anak sudah diberi struktur kognitif yang dinamakan skema yang terbentuk dari pengalaman, berkat pengalaman itulah struktur kognitif anak terbentuk skema. Proses penyempurnaan skema tentang sesuatu yang dilakukan anak disebut asimilasi, sedangkan proses penyempurnaannya disebut proses akomodasi, sebelum ia mampu menyusun skema itu, ia dihadapkan pada posisi ketidakseimbangan ( disequilibrium) Pandangan Piaget ; pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, di antaranya model pembelajaran kontekstual, menurut model pembelajaran kontekstual pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan sendiri dan dibangun sendiri oleh siswa. 2. LATAR BELAKANG PSIKOLOGIS Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya, bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif yaitu proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan, belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan serta pengalaman. Dari latar belakang yang mendasarinya, terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL : a. Belajar bukan sekedar menghafal, tetapi merupakan proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki, semakin banyak pengalaman, semakin banyak pula pengetahuan yang dapat diperoleh. b. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta, pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia seperti

pola berpikir, bertindak, kemampuan memecahkan masalah, termasuk penampilan atau performance. c. Belajar adalah proses pemecahan masalah, maka akan berkembang secara utuh,bukan hanya perkembangan intelektual, melainkan pula mental dan emosi d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks e. Belajar pada hakikatnya menangkap pengetahuan dari kenyataan, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang bermakna untuk kehidupan anak. D. PERBEDAAN CTL DENGAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL 1. CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran, sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif. 2. Dalam CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran 3. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata

secara riil, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, bersifat teoritis dan abstrak. 4. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman, dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihanlatihan. 5. Tujuan akhir dari proses melalui CTL adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah nilai atau angka 6. Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena tahu bahwa itu akan rugi, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan dan perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar misalnya tidak melakukan sesuatu karena takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh nilai atau angka dari guru. 7. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, sedangkan dalam pembelajaran konvensional hal ini tidak mungkin terjadi, kebenaran yang yang dimiliki berifat absolute dan final, karena pengetahuan yang dimiliki siswa dikonstruksi oleh orang lain. 8. Dalam CTL, guru berperan memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, guru sebagai penentu jalannya proses pembelajaran. 9. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bias terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.

10.

Dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan

berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dsb, sedanglkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran hanya diukur melalui tes. Dari beberapa perbedaan di atas, CTL memang memiliki karakteristik tersendiri, baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya. E. PERAN GURU DAN SISWA DALAM CTL Menurut Bobbi Deporte ( 1992 ) siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar, siswa sebagai unsur modal belajar terdapat tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetis : Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan menggunakan indera penglihatan Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengaran. Tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Dalam pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa Beberapa hal yang harus diperhatikan guru : 1. Dalam pembelajaran kotekstual, siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. 2. Setiap anak memiliki kecenderugan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan.

3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui 4. Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada ( asimilasi ) atau proses pembentukan skema baru ( akomodasi ). F. ASAS-ASAS CTL CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memilki 7 asas yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL ( merupakan komponen CTL ) di antaranya : 1. Konstruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut Mark Baldwin yang dikembangkan oleh Piaget, bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi jua dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya., ada dua faktor yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretsi. Piaget menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut : a. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek b. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.

2. pencarian

Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah : a. Merumuskan masalah b. Mengajukan hipotesis c. Mengumpulkan data d. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan e. Membuat kesimpulan Penerapan asas ini dalam CTL dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan, siswa didorong utuk menemukan jawaban, dan hipotesis akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data, kemudian menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan, melalui proses ini diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis, hal tersebut diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas 3. Bertanya ( Questioning ) Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran CTL guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, tetapi memancing siswa

agar dapat menemukan sendiri. Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk : a. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran b. Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar c. Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu d. Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan e. Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu. 4. Masyarakat Belajar Penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan melalui kelompok belajar, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen. Guru dapat mengundang atau mendatangkan nara sumber yang memiliki keahlian khusus untuk membelajarkan siswa misalnya dokter, para petani dan lainlain. 5. Pemodelan ( Modelling ) Asas modeling adalah suatu proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran teoritis abstrak yang dapat memungkinkan verbalisme.

6. Refleksi Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran CTL guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenung, membiarkan siswa secara bebas menafsirkan pengalamannya sendiri. 7. Penilaian nyata Dalam CTL keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran yaitu : a. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental. b. CTL memandang belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata c. Dalam pembelajaran CTL, kelas bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan di lapangan d. Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian orang lain.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->