P. 1
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menyelesaikan Pengerjaan Hitung Pecahan Dengan Menggunakan Kartu Pecahan Dan Diskusi Kelompok

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menyelesaikan Pengerjaan Hitung Pecahan Dengan Menggunakan Kartu Pecahan Dan Diskusi Kelompok

|Views: 3,149|Likes:
Published by adee13
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN DAN DISKUSI KELOMPOK
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN DAN DISKUSI KELOMPOK

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: adee13 on Jan 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2014

i

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM
MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG PECAHAN DENGAN
MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN DAN DISKUSI KELOMPOK
BAGI SISWA KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN SALATIGA
TAHUN AJARAN 2004/2005



Skripsi
Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan









Oleh :
Nama : Ghufron
NIM : 4102903073
Program Studi : Pendidikan Matematika
Jurusan : Matematika


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
ii
Kita tahu bahwa matematika merupakan ilmu yang memiliki
kecenderungan deduktif, aksiomatik, dan abstrak (fakta, konsep dan prinsip).
Karakteristik matematika inilah yang menyebabkan matematika menjadi suatu
pelajaran yang sulit dan begitu ditakuti oleh siswa. Oleh sebab itu pembelajaran
matematika khususnya pada Sekolah Dasar membutuhkan perhatian yang
sungguh-sungguh dari siswa, guru dan instansi pendidikan yang terkait. Dalam
hal ini perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang menyenangkan, sehingga
proses pembelajaran matematika dapat menjadi kegiatan yang diminati siswa
Salah satu cara menumbuhkan kondisi belajar yang menyenangkan
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika menggunakan media kartu
pecahan dan metode diskusi kelompok bagi siswa kelas III MI Ma’arif Blotongan
Salatiga Tahun Ajaran 2004/2005 . Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk
mengadakan penelitian tindakan kelas.
Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bagaimana hasil
belajar matematika pokok bahasan Penjumlahan dan pengurangan dengan
menggunakan kartu pecahan dan metode diskusi kelompok bagi siswa kelas III
MI Ma’arif Blotongan Salatiga Tahun Ajaran 2004/2005.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan Penjumlahan
dan pengurangan dengan menggunakan kartu pecahan dan metode diskusi
kelompok bagi siswa kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga Tahun Ajaran
2004/2005.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan melaksanakan dengan
melakukan proses pengkajian yang terdiri dari 2 tahap Yaitu: Perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2
siklus.Tiap siklus terdiri dari 1 pertemuan dan diakhir siklus diberi tes siklus
secara individu untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam
pelajran matematika pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan. Setelah
diadakan siklus I diperoleh nilai > 7,5 ada 77,7 % atau sebanyak 14 anak dari 18
siswa, kemudian siklus II diperoleh nilai > 7,5 ada 94,4 % atau sebanyak 17 anak
dari 18 siswa
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan media kartu pecahan dan metode diskusi kelompok pada pokok
bahasan penjumlahan dan pengurangan hasil belajar siswa dapat meningkat.
Selain itu dengan adanya media dapat mengkonkritkan konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan sehingga siswa lebih mudah memahaminya. Saran yang
dapat diajukan bahwa untuk menanamkan konsep penjumlahan dan pengurangan
pecahan, guru dapat menggunakan media kartu pecahan serta metode diskusi
kelompok





ABSTRAK
iii

NOTA PEMBIMBING


Disetujui oleh Dosen Pembimbing untuk dipertahankan dihadapan panitia
penguji skripsi pada Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang.
Hari : Rabu
Tanggal : 27 Juli 2005

Pembimbing I Pembimbing II

Walid, S. pd, M. Si Isnaini Rosyida, S. Si, M. Si
NIP. 132299121 NIP. 132205927












iv

PENGESAHAN

Skripsi

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM
MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG PECAHAN DENGAN
MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN DAN DISKUSI KELOMPOK
BAGI SISWA KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN SALATIGA
TAHUN AJARAN 2004/2005
Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang
pada :
Hari : Senin
Tanggal : 1 Agustus 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris,


Drs. Kasmadi Imam S, M. S. Drs. Supriyono, M. Si.
NIP. 130781011 NIP. 130 815 345

Pembimbing Utama, Ketua Penguji,


Walid, S. pd, M. Si Muh. Fajar Safa’atullah, S. Si, M. Si
NIP. 132299121 NIP. 132231408

Pembimbing Pendamping, Anggota Penguji,


Isnaini Rosyida, S. Si, M. Si Isnaini Rosyida, S. Si, M. Si
NIP. 132205927 NIP. 132205927
Anggota Penguji,


Walid, S. pd, M. Si
NIP. 132299121


v


PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat kata
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan
Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.


Semarang, 25 Juli 2005



GHUFRON
NIM. 4102903073













vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
... ِ ·َ·ْ·َ- ُª´''ا َ .-ِ -´'ا ا·ُ-َ-اَ ء ْ»ُ´ْ-ِ- َ .-ِ -´'اَ و ا·ُ-وُ أ َ »ْ'ِ·ْ'ا ٍ ت'َ=َ رَ د ...
Allah akan meninggikan dan mengangkat diantaramu orang-orang
yang beriman dan berilmu beberapa derajat”
ْ»َ'َ أ ْحَ ·ْ-َ- َ =َ' َ كَ رْ-َ- ) 1 ( 'َ-ْ·َ-َ وَ و َ =ْ-َ= َ كَ رْزِ و ) 2 ( ا يِ -´' َ .َ-ْ-َ أ َ كَ ·ْ+َ= ) 3 ( 'َ-ْ·َ·َ رَ و
َ =َ' َ كَ ·ْآِ ذ ) 4 ( ´ نِ 'َ· َ ·َ- ِ ·ْ-ُ·ْ'ا اً ·ْ-ُ- ) 5 ( ´ نِ إ َ ·َ- ِ ·ْ-ُ·ْ'ا اً ·ْ-ُ- ) 6 ( اَ ذِ 'َ· َ -ْ=َ ·َ·
ْ-َ-ْ-'َ· ) 7 ( َ'ِ إَ و َ =-َ ر ْ-َ=ْر'َ· ) 8 (

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami
telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan
punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari urusan satu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan
hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.

Persembahan
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
1. Ayah dan Ibu tercinta
2. Kakakku Mahfudi S. Ag dan Nila
Chikmawati A. Ma
3. Ustadz Mukhlas
4. Mursidah A. Ma
5. Rekan-rekan seperjuangan

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi berkat
limpahan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM
MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG PECAHAN DENGAN
MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN DAN DISKUSI KELOMPOK BAGI
SISWA KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN SALATIGA TAHUN
AJARAN 2004/2005”.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk mencapai
gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang.
Terima kasih penulis sampaikan atas bimbingan, bantuan dan nasehat
kepada :
1. Dr. A.T Soegito, SH., M.M., Rektor Universitas Negeri Semarang
2. Drs. Kasmadi Imam S., M.S, Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang.
3. Drs. Supriyono, M.Si, Ketua Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri
Semarang.
4. Walid, S. Pd, M.Si., Dosen Pembimbing utama dalam penyusunan skripsi ini.
5. Drs. Wardono, M.Si., Koordinator Senter Semarang A Universitas Negeri
Semarang.
viii
6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri
Semarang.
7. Rekan-rekan angkatan 2004/2005, PMPD Matematika FMIPA Universitas
Negeri Semarang.
8. Kepala Sekolah MI Ma’arif Blotongan Salatiga yang telah memberi ijin
penelitian.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat
kekurangan, maka saran dan kritik konstruktif para pembaca budiman sangat
penulis harapkan.
Semoga skripsi ini bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi semua
pihak.
Semarang, 27 Juli 2005

Penulis








ix

DAFTAR ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………….
Abstrak ……………………………………………………………………….
Nota Pembimbing ……………………………………………………………
Pengesahan …………………………………………………………………..
Pernyataan ……………………………………………………………………
Motto dan Persembahan ……………………………………………………..
Kata Pengantar ……………………………………………………………….
Daftar Isi ……………………………………………………………………..
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Pendahuluan …………………………………....................
B. Permasalahan ……………………………………………...
C. Tujuan Penelitian ………………………………………….
D. Manfaat Penelitian ………………………………………...
E. Penegasan Istilah ………………………………………….
F. Sistematika Penulisan Skripsi …………………………….

1
2
3
3
4
6

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teori ……………………………………………
1. Hakikat Belajar ……………………. …………..…….
2. Hakikat Belajar Matematika ………………………….

8
8
10
x
3. Materi Pelajaran penjumlahan dan pengurangan Kelas
III……............................................................................
a. Matematika SD…………………………......................
b. Hasil Belajar Matematika …………………………….
c. Pengertian Media …………………………………….
1. Kegunaan Media Pembelajaran …………………
2. Dasar pertimbangan pemilihan Media ………….
3. Kriteria Pemilihan Media ………………………
4. Prosedur pemilihan Media ……………………...
B. Kerangka Berpikir ………………………………………...
C. Hipotesis Penelitian ……………………………………….

15
15
18
21
22
23
23
24
28
28
BAB III METODE PENELITIAN
A. Subjek Penelitian ………………………………………….
B. Rencana Penelitian ………………………………………..
C. Data dan Cara Pengumpulan ……………………………...
D. Indikator Keberhasilan ……………………………………

29
29
34
34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian dan Pembahasan ………………….……...
B. Pembahasan ……………………………………………….




35
39
xi
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ……………………………………………….….
B. Saran ………………………………………………………

41
41
Daftar Pustaka
Daftar Riwayat Penulis
Lampiran-Lampiran


















xii

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Gedung D, Kampus Sekarang Gunungpati Telp. 7499375 Semarang (50229)

Yth. Dekan FMIPA UNNES
Up. Pembantu Dekan Bid. Akademik
Di –
Semarang

Sesuai dengan surat penetapan pembimbing penyusunan thesis / skripsi tanggal
……………………… dengan ini saya laporkan, bahwa thesis / skripsi yang disusun oleh :
Nama / NIM : Ghufron / 4102903073
Tempat / Tgl Lahir : Demak, 4 Juli 1981
SKS yang telah lulus : 74 SKS
Judul Thesis / Skripsi :
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
DALAM MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG
PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU
PECAHAN DAN DISKUSI KELOMPOK BAGI SISWA
KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN SALATIGA
TAHUN AJARAN 2004/2005

Telah selesai dan siap diujikan.
Pembimbing Pembantu Pembimbing Utama

……………………….. ……………………
NIP. NIP.
Mengetahui / Mengusulkan Penguji
Ketua Jurusan ……………………

……………………………………
NIP .

Jadwal Ujian :

Hari / Tanggal :
Jam :

Susunan Pengurus :
1. …………………………………………………………. (Penguji Utama)
2. …………………………………………………………. (Anggota)
3. …………………………………………………………. (Anggota)
xiii



BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul
Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang
layak bagi kemanusiaan. Tujuannya agar mereka dapat memenuhi hajat hidup
mereka.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Iptek pemahaman dan
penguasaan ilmu matematika semakin menempati peranan yang penting
sebagai pengantar dalam kecepatan atau keakuratan penghitungan dan
prediksi. Sayang motivasi anak biasanya stagnan dan bahkan menurun yang
berdampak kualitas keilmuan mereka dalam ilmu matematika kurang.
Seorang guru matematika harus pandai-pandai mensiasati untuk
memaksimalkan usahanya untuk membawa para peserta didik untuk
memahami dan menerapkan keilmuan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Sesungguhnya matematika itu merupakan ilmu abstrak yang butuh ketelitian,
kesabaran, ketekunan, keuletan dan kesungguhan guru dalam menerapkan
konsep dan mengetahui keadaan kondisi murid. Cara meminimalisir turunnya
motivasi anak dalam belajar matematika. Pada gilirannnya siswa dapat
menangkap makna pengajaran dari guru dan pada akhirnya siswa dapat
menjadi manusia yang handal di daerahnya.
xiv
“Semakin profesional guru dalam melaksanakan tugasnya semakin
terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan kehandalan seseorang sebagai
tunas bangsa”.
Keterlibatan latar belakang keluarga (cultur sosial masyarakat) dan
ketimpangan ekonomi yang begitu minim berdampak pada motivasi anak
dalam belajar matematika dan juga berpengaruh pada hasil belajar anak
kurang begitu memuaskan.
Kondisi riil di Madrasah Ibtidaiyah Blotongan tahun pelajaran
2003/2004 yang berjumlah 130 siswa mereka tergolong low motivation. Akan
tetapi hal ini memungkinkan untuk ditingkatkan dengan melalui penangan
pendidikan.
Berdasarkan diskripsi di atas penulis ingin mengadakan penelitian
dengan judul : UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
DALAM MENYELESAIKAN PENGERJAAN HITUNG PECAHAN
DENGAN MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN DAN DISKUSI
KELOMPOK BAGI SISWA KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN
SALATIGA TAHUN AJARAN 2004/2005

B. Permasalahan
Bagaimana pengaruh penggunaan kartu pecahan dan metode diskusi
kelompok bagi siswa kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga Tahun Ajaran
2004/2005 dalam Upaya Peningkatan Hasil belajar?

xv

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar anak
dalam menyelesaikan pengerjaan hitung pecahan dengan kartu pecahan dan
diskusi kelompok pada pelajaran matematika di kelas III MI Ma’arif
Blotongan Salatiga tahun 2004/2005.
D. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat pelaksanaan ini digunakan sebagai umpan balik
guru untuk melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, sebagai landasan
perbaikan pemilihan metode dan variatif mengajar. Serta meningkatkan mutu
dan kualitas dalam proses pembelajaran baik sekarang maupun yang akan
datang. Selain itu juga dapat memberikan manfaat bagi murid/siswa :
1. Manfat bagi siswa :
a. Meningkatkan pemahaman siswa dalam operasi hitung pecahan
b. Memudahkan siswa menyelesaikan soal-soal dalam operasi hitung
pecahan
c. Menghilangkan image bahwa matematika sulit dan pelajaran yang
ditakuti siswa
d. Meningkatkan hasil belajar dan prestasi siswa
e. Meningkatkan kemajuan anak dalam belajar matematika
2. Manfaat Bagi guru :
a. Meningkatkan kemampuan guru dalam menguasai materi pada operasi
hitung pecahan
xvi
b. Guru akan lebih mengerti akan pentingnya alat peraga dan metode
yang di terapkan setelah di uji cobakan
c. Melatih guru dalam melakukan penelitian khususnya penelitian
tindakan kelas.
Dari uraiaan diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan konsep operasi hitung pecahan
dengan menggunakan kartu pecahan dan diskusi kelompok serta sistem
belajar siswa kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga.
E. Penegasan Istilah
Untuk menghindari agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami atau
menafsirkan dari istilah-istilah yang ada. Maka Kami perlu memberikan
penegasan dan pembahasan dari istilah-istilah yang berkaitan dengan judul
skripsi:
1. Meningkatkan
Berasal dari kata tingkat yang artinya jenjang,babak,mendapat imbuhan
me-kan menjadi meningkatkan yang artinya membawa ke jenjang yang
lebih tinggi atau membawa ke jenjang berikutnya.
2. Pemahaman
Berasal dari kata paham yang artinya mengerti atau mengetahui mendapat
imbuhan pe-an yang artinya menjadi lebih mengerti atau menjadi lebih
mengetahui


xvii
3. Konsep
Konsep adalah suatu yang diterima dalam pikiran atau sebuah ide yang
umum dan abstrak sehingga konsep merupakan penyajian-penyajian
internal dari sekelompok stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat diamati
tapi konsep dapat disimpulkan dari perilaku.
4. Operasi hitung Pecahan
Bilangan pecahan adalah bilangan yang berbentuk a/b dimana a dan b
bilangan bulat dan b bukan nol, a di sebut pembilang dan b disebut dengan
penyebut dan b bukan faktor. ( Darhim, 1996: 272)
Operasi hitung pecahan adalah pengerjaan hitung bilangan pecahan yang
meliputi penjumlahan pengurangan perkalian dan pembagian
(Darhim,1996:317)
Dalam skripsi ini yang dimaksud operasi hitung pecahan adalah
penjumlahan dan pengurangan
Jadi meningkatkan pemahaman konsep operasi hitung pecahan dalam
hal ini adalah membawa siswa untuk mengetahui suatu rancangan menuju
jenjang yang lebih tinggi sehingga siswa lebih mengerti dan memahami
konsep operasi hitung pecahan





xviii
F. Sistematika
Skripsi ini terdiri dari tiga bagian yakni bagian awal bagian inti dan
bagian Akhir penutup

1. Bagian awal Skripsi
Bagian ini berisi tentang halaman judul, abstrak, halaman pengesahan,
halaman motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi dan daftar
lampiran
2. Bagian inti skripsi
Bagian ini terdiri dari lima bab yang meliputi:
a. BAB I PENDAHULUAN
BAB I pendahuluan meliputi pemilihan judul, permasalahan, cara
pemecahan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan
istilah dan sistimatika skripsi.
b. BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Bab II Landasan teori dan hipotesis meliputi pengertian belajar dan
pembelajaran, faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran di MI,
Prinsip-prinsip belajar, teori-teori belajar, penggunaan alat peraga
dalam pembelajaran, operasi hitung pecahan
c. BAB III METODE PENELITIAN
Bab III menguraikan tentang subyek penelitian variabel siklus
penelitian, analisis uji coba perangkat tes, cara pengambilan data dan
indikatornya.
xix
d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV Berisikan tentang analisis data penelitian membahas pengujian
hipotesis dan data hasil penguji.
e. BAB V PENUTUP
Bab V penutup berisikan tentang simpulan dan saran untuk
meningkatkan proses pembelajaran baik secara kuantitatif dan
kualitatif.
3. Bagian Akhir skripsi
Berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran.














xx
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teori
1. Hakikat belajar
Pembahasan perihal belajar pada hakikatnya cenderung untuk ingin
mengetahui kegiatan atau proses psikologis yang terjadi di dalam diri
seseorang. Para tokoh ilmuwan dalam perkembangan mutakhir telah
berhasil mencoba memaparkan beberapa teori-teori belajar dalam berbagai
jenis. Ada yang mereka sebut teori Thorndike, teori Skinner, teori Piaget
dan lain sebagainya.
Dengan demikian kemampuan pemikiran antara ahli satu dengan
yang lainnya berbeda titik permasalahannya. Berikut penulis coba
paparkan beberapa pendapat ahli yakni.
a. Theori Thorndike
Menurut hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon siswa
terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau
kepuasan.
b. Teori Skinner
Dalam bagian ini Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa
ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam
proses belajar.


xxi
c. Teori Ausebel
Toeri ini terkenal dengan belajar bermakna dan pentingnya
pengulangan sebelum belajar di mulai.
d. Teori Piaget
John Piaget berpendapat bahwa struktur kognitif sebagai skema, yaitu
kumpulan skema-skema. Seorang individu dapat mengikat,
memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan
karena bekerjanya skema itu. Skema itu berkembang akibat interkasi
antara individu dengan lingkungannya.
Dari beberapa pendapat ahli di atas penulis mengambil hakikat
belajar yakni adanya perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan
interaksi sehingga dapat menemukan ataupun bahkan memecahkan suatu
masalah dan akhirnya dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun beberapa hal perubahan-perubahan yang terjadi akibat
dampak dari belajar :
1) Hasil belajar adalah hasil pencapaian tujuan
2) Hasil belajar merupakan suatu proses
3) Hasil belajar merupakan produk proses latihan
4) Hasil belajar merupakan perilaku efektif dalam kurun
waktu tertentu
Dalam kegiatan belajar mengajar tujuan utama adalah adanya
perubahan tingkah laku dan transfer motivasi tinggi akan sangat tertarik
dengan berbagai tugas tanpa mengenal lelah dan putus asa. Ciri yang lain
xxii
dari orang yang sudah mendapatkan pelajaran adalah tingkatan
kematangan. Kreatifitas dan dinamisasi pemikiran serta perilaku ke dalam
suatu situasi yang bermakna.
Secara umum belajar adalah proses interaksi antara diri dan
lingkungan yang mungkin berujud fakta, konsep ataupun bahkan teori.
Dari pemaparan di atas jelas bahwa proses perubahan tingkah laku
dalam arti luas ditimbulkan atau diubah melalui praktik latihan dan
berlangsung secara kontinue atau berkelanjutan yang dimuarakan pada
suatu tujuan.
Hakikat mengajar
Hakikat mengajar adalah merupakan sebuah proses pembelajaran
dimana guru berfungsi sebagai transformator dan siswa sebagai mediator
dengan menggunakan media dan alat peraga tertentu untuk membantu
memperjelas pemahaman suatu konsep.
Selain itu juga mengajar dapat diartikan mengatur dan
mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat
mendorong dan menumbuhkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
2. Hakikat belajar matematika
Matematika sebagai sistem yang deduktif formal mengandung arti
bahwa matematika harus dikembangkan berdasarkan pola pikir atau
penalaran edukatif dan setiap prinsip, teori, sifat, dalil dalam matematika
harus dibuktikan kebenarannya secara formal berdasarkan konsistensi
kebenaran. Namun semua prinsip dalam matematika perlu dibuktikan
xxiii
dengan pola pikir deduktif hal ini dimaksudkan agar matematika yang
dibangun terhindar dari kontradiksi.
Tujuan pembelajaran matematika.
Secara umum tujuan pembelajaran matematika meliputi :
1. Mempersiapkan siswa dalam menghadapi masalah sehingga mampu
menyelesaikan secara logis, rasional kritis, cermat dan jujur.
2. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika
dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Secara kusus tujuan pembelajaran matematika meliputi :
1. Siswa memiliki kemampuan yang dapat dialih gunakan melalui kegiatan
matematika.
2. Siswa memiliki ketrampilan matematika untuk dapat digunakan dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Siswa memiliki pandangan yang lebih luas serta memiliki sikap
menghargai kegunaan matematika, sikap kritis, logis, objektif, terbuka,
kreatif serta inovatif.
4. Hakikat pengajaran dengan diskusi kelompok
Sejauh mana siswa memahami konsep pengerjaan operasi hitung
pecahan dan seberapa jauh siswa memahami serta menguasai cara
pengerjaan hitung pecahan pada sub pokok penjumlahan dan pengurangan


xxiv
Guru menyajikan bermacam-macam informasi yang harus
dipelajari oleh siswa, siswa diharapkan untuk dapat menerima dan
mengolah informasi ini menjadi bentuk yang dapat disimpan di dalam
ingatannya dan memakainya kembali atau memindahkannya ke dalam
situasi lain apabila diperlukan. Kemampuan siswa untuk menerima dan
mengolah informasi tersebut sangat bervariasi, siswa tidak mungkin
dapat menerima secara mempelajari semua informasi yang ada, dia
akan menyeleksi sesuai dengan kemampuan dan karakteristiknya.
Memori dikenal sebagai ingatan yang sesungguhnya adalah
fungsi mental yang menangkap informasi dari stimuli, dan merupakan
tempat penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di
dalam otak manusia. Kegiatan belajar mengajar dikatakan efisien kalau
hasil belajar yang diinginkan dapat dicapai dengan usaha yang sekecil
mungkin. Perwujudan perilaku belajar biasanya terlihat dalam
perubahan-perubahan kebiasaan, keterampilan, dan pengamatan, sikap
dan kemampuan yang biasanya disebut sebagai hasil belajar. Secara
umum belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai hasil
pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Hasil dari proses belajar disebut sebagai hasil belajar yang
dapat dilihat dan diukur. Keberhasilan seseorang di dalam mengikuti
satuan program pengajaran pada satu jenjang pendidikan tertentu dapat
dilihat dari hasil belajarnya dalam program tersebut. Bloom, (1976 :
76) membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif,
xxv
afektif dan ranah psikomotor. Untuk dapat belajar sesuatu
diperlukannya kondisi yang mempengaruhi belajar, meliputi kondisi
internal yang ada pada diri orang yang belajar. Kondisi internal ini
sebagai karakteristik siswa yang merupakan diskripsi umum dari sifat-
sifat siswa yang akan menerima pelajaran misalnya, usia, kelas, minat,
profesi, kesehatan, motivasi, tingkat prestasi, kemampuan, status social
ekonomi, atau kemampuan berbahasa asing. (Dick & Carey,
1985 : 95).
Kondisi eksternal adalah rangsangan yang bersumber dari luar
yang dapat menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar. Kondisi
eksternal ini dalam proses belajar mengajar dipengaruhi antara lain
oleh guru. Dalam hal ini bagaimana guru merancang dan menyediakan
kondisi yang khusus agar siswa berhasil dalam belajarnya. Kegagalan
seseorang dalam belajar tidak semata-mata disebabkan oleh
kemampuannya tetapi antara lain adanya gangguan dari informasi lain
yang menghambat untuk mengingat kembali apa yang telah pernah
dipelajarinya.
Menurut Assubel (1978 : 151-153) bila bahan yang dipelajari
masa lalu menghambat bahan yang dipelajari sesudahnya disebut
hambatan proaktif. Sedangkan bila bahan baru yang dipelajari
menghambat ingatan kembali tentang apa yang telah dipelajari di masa
lalu disebut menjadi hambatan retroaktif.
xxvi
Tidak semua materi pelajaran dapat dipelajari dengan ingatan
saja melainkan harus dengan percobaan atau dengan didemonstrasikan.
Pengaitan antara informasi yang telah ada dalam struktur kognitif
siswa dengan informasi baru oleh Aussubel disebut advanced
organizer. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran
matematika menjadi pelajaran yang penekanannya pada belajar
penemuan (discovery learning) yang artinya belajar untuk mencari dan
menemukan konsep baru bagi siswa dan belajar bermakna (meaningful
learning) yang artinya hasil belajar dapat diaplikasikan dan
dikembangkan bagi siswa.
Selanjutnya siswa diharapkan dapat mengaitkan informasi itu
pada struktur kognitif yang sudah dipunyainya. Bila siswa telah dapat
menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang
telah dimilikinya maka dalam hal ini telah terjadi belajar bermakna.
Bila siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru ini tanpa
menghubungkan pada konsep-konsep yang telah ada pada struktur
kognitifnya, maka dalam hal ini telah terjadi belajar hafalan.
Suatu konsep yang kompleks dalam ilmu pengetahuan
khususnya matematika hanya difahami jika konsep-konsep yang lebih
mendasar dan ikut dalam pembentukan konsep baru telah benar-benar
dipahami. Gagne (1977 : 142), menyarankan penggunaan kumpulan
pengetahuan (learning set) yang dapat mengurutkan pengajaran
dengan tepat. Kumpulan pengetahuan ini dapat didefinisikan sebagai
xxvii
sub-sub konsep yang berhubungan dengan suatu tingkat konsep
tertentu dalam hierarki konsep. Gagne selanjutnya mengemukakan
bahwa suatu program belajar terstruktur terdiri dari kumpulan
pengetahuan yang terorganisasi secara hierarkis. Sebagai contoh bila
diamati bagaimana seseorang mempelajari konsep matematika yang
terkait dengan matematika, maka terlihat bahwa penguasaan
pengetahuan yang berurutan tergantung pada penguasaan sebelumnya.
Penguasaan sebelumnya dapat merupakan persyaratan sebelum
pengetahuan lanjutnya dipelajari.
Keberhasilan dalam mempelajari sesuatu banyak dipengaruhi
oleh bagaimana cara siswa mempelajari dan apa karakteristik materi
atau bidang yang sedang dipelajari itu. Matematika merupakan salah
satu cabang ilmu pengetahuan yang sebagian konsepnya bersifat
abstrak meskipun beberapa konsep dalam isinya terdiri dari hal-hal
yang konkrit serta sebagian materinya memerlukan pemahaman secara
bermakna yang dapat diukur dengan seperangkat tes secara tertulis.
Untuk itu dalam penelitian ini selanjutnya untuk mengukur hasil
belajar matematika digunakan alat ukur berupa tes.
a. Matematika SD
Bagian inti matematika di SD mencakup aritmatika, pengantar
aljabar, geometri, pengukuran dan kajian data (statistika). Penekanan
matematika SD terletak pada penguasaan bilangan yang didalamnya
termasuk berhitung.
xxviii
Karena sifatnya masih anak-anak, sebaiknya matematika di SD
disampaikan dalam bentuk permainan atau nyanyian yang sebelumnya
telah dikenal siswa, hal ini bertujuan agar anak merasa senang belajar
matematika. Melalui permainan dan nyanyian siswa belajar dengan
penuh kegembiraan dan penuh semangat, baru kemudian
menumbuhkan kemampuan logika secara sederhana. Hal ini berarti
bahwa dalam menyampaikan materi matematika SD tidak cukup
bagaimana menyampaikan materi kepada siswa dan bagaimana agar
siswa dapat menyelesaikan soal, namun justru terletak pada bagaimana
anak memiliki logika secara sederhana untuk menemukan sendiri cara
penyelesaiannya dan sikap yang baik ketika belajar matematika.
Sutrisman Murtadho dan Tambunan (1987 : 24)
mendefinisikan matematika sebagai ilmu yang dapat membantu
manusia menafsirkan secara eksak berbagai ide dan kesimpulan-
kesimpulan serta dalam mengambil keputusan. Salah satu cara yang
dapat digunakan guru untuk membuat siswa memahami dan mengerti
konsep dalam matematika SD adalah dengan objek langsung kepada
anak. Anak dikenalkan benda secara konkrit yang dihubungkan dengan
konsep angka dan perhitungan. Objek langsung dalam matematika
terdiri dari fakta, konsep, dan prinsip. Selain objek langsung dalam
matematika juga terdapat objek tidak langsung yang terdiri dari
mengalihkan perhatian, kemampuan menyelidiki, kemampuan
pemecahan soal, disiplin diri, dan apresiasi terhadap struktur
xxix
matematika. Setiap objek langsung pengajaran matematika tersebut
memiliki tingkat kesulitan yang menuntut kemampuan kognitif yang
berbeda, maka mengajarkan objek langsung dalam pengajaran
matematika memerlukan strategi mengajar tersendiri yang sesuai
dengan objek yang sedang dipelajari siswa.
Fakta matematika menurut Sutrisman Murtadho dan Tambunan
(1987 : 26) diartikan sebagai ide abstrak yang memudahkan orang
dapat mengklasifikasikan objek atau kejadian dan menentukan apakah
objek atau kejadian itu adalah contoh dari ide abstrak itu. Konsep
dapat dipelajari melalui definisi-definisi atau melalui pengamatan
langsung. Dalam belajar konsep, siswa yang masih berada dalam tahap
operasi konkrit, biasanya perlu melihat dan memegang benda (objek)
yang dinyatakan oleh konsep itu, sedangkan siswa dalam tahap operasi
formal, mempelajari konsep melalui diskusi dan memperhatikannya
dengan sungguh-sungguh. Seseorang telah belajar konsep, jika
seseorang itu telah mampu memisahkan contoh konsep dari bukan
contoh konsep.
Prinsip adalah hubungan dari satu atau lebih dari objek
langsung pengajaran matematika yang berupa fakta, konsep, operasi
atau prinsip yang lain. Prinsip dapat dipelajari melalui proses inkuiri
ilmiah, penemuan yang dituntun, diskusi kelompok menggunakan
strategi pemecahan masalah soal dan demonstrasi. Seorang siswa telah
belajar prinsip, apabila siswa itu mampu menentukan konsep-konsep
xxx
itu pada relasi yang benar satu dengan lainnya dan mampu
menggunakan prinsip itu pada situasi tertentu.
Operasi adalah keterampilan menggunakan fakta, konsep, dan
prinsip yang dipelajari. Pemahaman fakta, konsep, dan prinsip sangat
diperlukan untuk mendapatkan kemahiran keterampilan. Tetapi ada
kalanya terlihat seorang siswa memiliki keterampilan yang baik, tetapi
waktu diminta menyebut prinsip apa yang digunakan siswa tidak
mampu menyebutnya. Operasi dapat dipelajari melalui demonstrasi
dan berbagai jenis latihan dan praktikum, seperti lembaran kertas
kerja, bekerja dipapan tulis, kegiatan kelompok dan permainan
kelompok. Siswa telah dianggap menguasai operasi apabila mereka
telah dapat mendemonstrasikan operasi itu secara tepat dan benar
dalam penyelesaian berbagai jenis soal atau menggunakan operasi itu
dalam berbagai situasi.
b. Hasil Belajar Matematika
Nana Sudjana (1995: 22) mengemukakan bahwa hasil belajar
matematika adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia memperoleh pengalaman belajarnya. Dalam belajar
matematika terjadi proses berpikir dan terjadi kegiatan mental dan
dalam kegiatan dalam menyusun hubungan-hubungan antara bagian-
bagian informasi yang diperoleh sebagai pengertian. Karena itu orang
menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut.
Dengan demikian ia dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan
xxxi
bahan yang dipelajari tersebut, inilah yang disebut hasil belajar. Gagne
(1977 : 47-48) mengelompokkan hasil belajar menjadi lima bagian
dalam bentuk kapabilitas yakni ketrampilan intelektual, strategi
kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap.
Gagne dan Briggs (1978 : 49-55) menerangkan bahwa hasil
belajar yang berkaitan dengan lima kategori tersebut adalah (1)
keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berkenaan dengan
pengetahuan procedural yang terdiri atas deskriminasi jamak, konsep
konkret dan terdefinisi, kaidah serta prinsip, (2) strategi kognitif
adalah kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan
jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam
memperhatikan, mengingat, dan berpikir. (3) Informasi verbal adalah
kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan
jalan mengatur informasi-informasi yang relevan, (4) keterampilan
motorik adalah kemampuan untuk melaksanakan dan
mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot,
(5) sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam
mengambil tindakan untuk menerima atau menolak berdasarkan
penilaian terhadap objek tersebut.
Bloom (1976 : 201-207) membagi hasil belajar menjadi tiga
kawasan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Kawasan kognitif
berkenaan dengan ingatan atau pengetahuan dan kemampuan
intelektual serta keterampilan-keterampilan. Kawasan afektif
xxxii
menggambarkan sikap-sikap, minat, dan nilai serta pengembangan
pengertian atau pengetahuan dan penyesuaian diri yang memadai.
Kawasan psikomotor adalah kemampuan-kemampuan menggiatkan
dan mengkoordinasikan gerak. Kawasan kognitif dibagi atas enam
macam kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang disusun
secara hirarkis dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling
kompleks, yaitu (1) pengetahuan adalah kemampuan mengingat
kembali hal-hal yang telah dipelajari, (2) pemahaman adalah
kemampuan menangkap makna atau arti sesuatu hal, (3) penerapan
adalah kemampuan mempergunakan hal-hal yang telah dipelajari
untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata, (4) analisis adalah
kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga
struktur organisasinya dapat dipahami, (5) sintesis adalah kemampuan
untuk memadukan bagian-bagian menjadi suatu keseluruhan yang
berarti, (6) penilaian adalah kemampuan memberi harga sesuatu hal
berdasarkan criteria intern atau kelompok atau criteria ekstern ataupun
yang ditetapkan lebih dahulu.
Berdasarkan pandangan-pandangan dari para ahli tersebut
diatas maka yang dimaksud dengan hasil belajar matematika dalam
penelitian ini adalah hasil dari seseorang siswa dalam mengikuti proses
pengajaran matematika pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar yang
diukur dari kemampuan siswa tersebut dalam menyelesaikan suatu
permasalahan matematika.
xxxiii
Hasil belajar di atas sangat dipengaruhi oleh penggunaan media
pembelajaran contohnya media komputer, disamping itu minat belajar
juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar matematika. Hasil
belajar dapat diukur dari dimensi kemampuan belajar siswa secara
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan siswa tersebut dapat
dimaksimalkan dengan penggunaan media di atas.
c. Pengertian Media
Bahwa dalam menggunakan media pembelajaran dianjurkan
untuk merencanakan secara sistematik agar pembelajaran berjalan
efektif dan penggunaan media pembelajaranpun berjalan secara efektif
pula. Pembelajaran efektif dengan menggunakan media perlu
direncanakan dengan baik agar : 1) menumbuhkan minat peserta didik,
2) menyampaikan materi baru, 3) melibatkan peserta didik secara aktif,
4) mengevaluasi tingkat pemahaman peserta didik, 5) menetapkan
tindak lanjut.
Hubungan dengan media pembelajaran selanjutnya Arief
Sadiman (1996 : 16-84) menjelaskan kegunaan-kegunaan media
pendidikan dalam proses belajar mengajar, pertimbangan-
pertimbangan dalam memilih media pembelajaran, criteria pemilihan
serta model atau prosedur pemilihan media pembelajaran.



xxxiv
1) Kegunaan media pembelajaran
Kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar, antara lain : a) memperjelas penyajian pesan agar tidak
terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau
lisan belaka), b) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya
indera, seperti misalnya (1) obyek yang teralu besar bisa digantikan
dengan realita, gambar film bingkai, film atau model, (2) obyek
yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai atau
gambar, (3) gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat
dibantu dengan timelapse atau high speed photography, (4)
Kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa ditampilkan
lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara
verbal, (5) konsep yang terlalu luas (missal gunung berapi, gempa
bumi, iklim dan lain-lain) dapat divisualkan dalam bentuk film,
film bingkai, gambar dan lain-lain. (6) obyek yang terlalu
kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model,
diagram dan lain-lain. c) Dengan menggunakan model pendidikan
secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk (1) menumbuhkan
kegairah belajar, (2) memungkinkan interaksi yang lebih langsung
antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan-kenyataan, (3)
memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut
kemampuan dan minatnya. d) Dengan media dapat mengatasi
xxxv
keunikan siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda
sedangkan kurikulum dan materi pendidikan sama, karena media
pendidikan memiliki kemampuan-kemampuan (1) memberikan
perangsang yang sama, (2) mempersamakan pengalaman, (3)
menimbulkan persepsi yang sama.
2) Dasar Pertimbangan Pemilihan Media
Beberapa dasar pertimbangan pemilihan media antara lain :
a) bermaksud untuk mendemonstrasikan media itu, b) merasa
sudah akrab dengan media itu, c) ingin memberikan penjelasan
yang lebih konkrit, d) merasa bahwa media dapat berbuat lebih dari
yang bisa dilakukannya, misalnya untuk menarik minat atau gairah
belajar siswa.
3) Kriteria Pemilihan
Pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya
bahwasannya media merupakan komponen dari system
instruksional secara keseluruhan. Karena itu, meskipun tujuan dan
isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik
siswa, strategi belajar-mengajar, organisasi kelompok belajar,
alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiannya juga perlu
dipertimbangkan.
Di samping kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya,
setidaknya masih ada empat faktor lagi yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan media, yaitu :
xxxvi
1) ketersediaan sumber setempat, artinya bila media yang
bersangkutan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada, maka
harus dibeli atau dibuat sendiri. 2) Apakah untuk membeli atau
memproduksi sendiri tersebut ada dana, tenaga, dan fasilitasnya. 3)
Adakah faktor yang menyangkut keluwesan, kepraktisan, dan
ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu lama. Artinya
bisa digunakan dimanapun dengan peralatan yang ada disekitarnya
dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan. 4) Efektifitas
biasanya dalam jangka waktu yang panjang. Hakekat dari
pemilihan media ini pada akhirnya adalah keputusan untuk
memakai, tidak memakai atau mengadaptasi media yang
bersangkutan.
4) Prosedur Pemilihan Media
Menurut Atwi Suparman (1997 : 180) dalam proses
pemilihan media pengembang instruksional mungkin dapat
mengidentifikasi beberapa media yang sesuai untuk tujuan
instruksional tertentu. Langlah selanjutnya adalah memilih salah
satu atau dua media diantaranya atas dasar berbagai pertimbangan
sebagai berikut : a) Biaya yang lebih murah, baik pada saat
pembelian maupun pemeliharaan, b) Kesesuaian dengan metode
instruksional, c) Kesesuaian dengan karakteristik mahasiswa
(siswa atau peserta didik), d) Pertimbangan praktis, meliputi :
xxxvii
(1) Kemudahan dipindahkan atau ditempatkan, (2)
Kesesuaiannya dengan fasilitas yang ada di kelas. (3) Keamanan
dalam penggunaannya. (4) Daya tahannya, (5) Kemudahan
perbaikannya. e) Ketersediaan media tersebut berikut suku
cadangnya di pasaran serta ketersediannya bagi
mahasiswa/siswa/peserta didik.
Dalam melakukan proses analisis peserta didik yang
menggunakan media pembelajaran agar pemanfaatan media
pembelajaran tersebut efektif, harus ada arahan antara karakteristik
peserta didik dengan metode, media, dan materi. Itulah perlunya
analisis peserta didik. Sedangkan hal-hal yang perlu dianalisis
dalam proses ini meliputi : 1) Karakteristik umum yang meliputi :
usia, kelas, posisi, budaya, dan sosial ekonomi seorang siswa, 2)
Kompotensi-kompetensi khusus yang terkait, antara lain :
kecakapan pre-rekuisit/kecakapan awal, sikap dan target
kemampuan yang harus dicapai dalam suatu proses pembelajaran
tertentu. 3) Gaya belajar, yang terdiri dari : tingkat kecemasan,
bakat yang dimiliki peserta didik, tipe belajar apakah termasuk
audio, visual atau audio-visual dan lain-lain aspek spectrum
psikologik.
Briggs (1977 : 184) mengemukakan tentang hal-hal yang
berhubungan dengan pembelajaran efektif yang menggunakan
media pembelajaran yang terdiri dari :
xxxviii
1) Mengurutkan pengajaran terdiri : a) Pengurutan
keterampilan intelektual. b) Pengurutan informasi verbal. c)
Pengurutan strategi cognitive. d) Pengurutan sikap-sikap khusus. e)
Pengurutan keterampilan motorik. 2) Merencanakan kegiatan-
kegiatan pengajaran.
Briggs dan Wager dalam Atwi Suparman (1997 : 156-157)
mengutarakan bahwa sebagian pelajaran hanya menggunakan
beberapa di antara sembilan urutan kegiatan tersebut, tergantung
pada karakteristik siswa dan jenis perilaku yang ada dalam tujuan
instruksional. Para ahli sepakat bahwa strategi instruksional
berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola
kegiatan instruksional untuk menyampaikan materi atau isi
pelajaran secara sistematik, sehingga kemampuan yang diharapkan
dapat dikuasai oleh para siswa secara efektif dan efisien. Didalam
strategi instruksional terkandung empat pengertian sebagai
berikut : 1) Urutan kegiatan instruksional, yaitu urutan kegiatan
belajar dalam menyampaikan isi pelajaran kepada para siswa. 2)
Metode instruksional, yaitu cara pengajar mengorganisasikan
materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses belajar secara efektif
dan efisien. 3) Media instruksional, yaitu peralatan dan bahan
instruksional yang digunakan pengajar dan para siswa dalam
kegiatan instruksional. 4) Waktu yang digunakan oleh pengajar dan
xxxix
siswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan
instruksional.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan media pembelajaran adalah segala sesuatu bentuk
yang dipergunakan untuk proses penyampaian informasi dalam proses
pembelajaran agar terjadi proses belajar pada diri seorang siswa.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa anak-anak,
khususnya di usia Sekolah Dasar, gaya belajar sebagian dari mereka
berpikir secara konkrit yang membutuhkan bantuan berupa gambar-
gambar atau benda-benda yang mewakili suatu ukuran tertentu. b)
untuk memperbesar perhatian para siswa terhadap suatu materi dalam
mata pelajaran. c) untuk meletakkan dasar-dasar yang penting dalam
perkembangan proses pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran
dapat berjalan lebih mantap, apalagi dalam menanamkan konsep
tertentu pada anak, d) memberikan pengalaman berpikir yang nyata
yang dapat menumbuhkan kreatifitas, kemandirian dalam belajar dan
kegiatan berusaha sendiri bagi siswa. e) menumbuhkan cara berpikir
secara teratur dan kontinu. f) membantu menumbuhkan pengertian dan
pemahaman tentang suatu konsep yang tidak mudah diperoleh dengan
cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih
mendalam dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.


xl
B. Kerangka Berpikir
Penggunaan kartu pecahan dan metode diskusi kelompok dalam
pembelajaran diduga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Ketepatan
pemilihan dan penggunaan media dalam pembelajaran matematika akan
berpengaruh terhadap kelancaran proses pembelajaran matematika serta dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk itu penggunaan media pembelajaran
akan membantu siswa dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan dan
membantu guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran dengan
menggunakan kartu pecahan dan metode diskusi kelompok diduga dapat
meningkatkan hasil belajar matematika.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan yang
diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Dengan menggunakan
kartu pecahan dan diskusi kelompok pada pengerjaan hitung pecahan dalam
materi penjumlahan dan pengurangan maka hasil belajar siswa akan
meningkat.






xli
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III MI
Ma’rif Blotongan Salatiga tahun ajaran 2004/2005. Adapun siswa yang
menjadi objek penelitian sebanyak 18 anak.

B. Rencana Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari dua siklus.Tiap
siklus direncanakan 2 pertemuan. Tiap-tiap siklus direncanakan
berkesinambungan artinya proses dan hasil siklus I akan ditindaklanjuti dalam
siklus 2.
Prosedur Penelitian tindakan kelas ini setiap siklus meliputi:
a. Perencanaan (planning)
b. Tindakan (Acting)
c. Observasi(Observing)
d. Refleksi(reflekting)
Siklus I
1. Perencanaan ( Planning)
a. Menyusun rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran dengan
menggunakan kartu pecahan dan metode diskusi kelompok
b. Menyiapkan alat bantu mengajar dan mengumpulkan data
xlii
c. Menyiapkan media kartu pecahan beserta program perencanaan kerja
kelompok.
d. Menyusun latihan evaluasi
2. Tindakan (acting)
a. Guru melakukan apersepsi dengan metode tanya jawab tentang
penjumlahan dengan tujuan:
1) Mengingat kembali konsep pecahan
2) Agar siswa memahami materi dengan tepat
3) Pencapaian materi tepat waktu yang direncanakan
4) Memusatkan perhatian pada situasi belajar
b. Guru memberikan motifasi siswa tentang materi yang akan di ajarkan
c. Proses transformasi materi
1) Guru memperagakan penjumlahan dan pengurangan dengan media
kartu pecahan dan metode diskusi kelompok
2) Guru membimbing dan mengamati siswa dalam menyelesaikan
soal penjumlahan dan pengurangan pecahan.
3) Setelah selesai menyelesaikan soal siswa diminta guru menulis
hasil kerjanya di papan tulis. Dengan bimbingan guru siswa di
harapkan dapat menarik kesimpulan dari materi yang sedang di
pelajari.
4) Guru memberikan tes siklus


xliii
3. Observasi
a. Teknik Pengumpulan data
- Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran dan kemampuan
siswa dalam menyelesaikan lembar kerja siswa
- Observer mengamati dan memberikan penilaian proses
pembelajaran dari awal hingga akhir
b. Alat pengumpulan data
- Tes Formatif : Pelaksanaan tes ini di gunakan untuk memperoleh
data kuantitatif berupa tes siswa setiap akhir pembelajaran.
- Tes Siklus I di laksanakan setelah selesai siklus I untuk
Memperoleh data kuantitatif di akir siklus I
- Instrumen monitoring observasi guru di kelas
4. Refleksi
Hasil refleksi merupakan landasan untuk menentukan tindakan pada siklus
II meliputi:
a. Mengetahui kemampuan hasil belajar siswa
b. Mengetahui kreativitas siswa dalam menyelesaikan permasalahan
dengan metode diskusi kelompok.
Siklus II
1. Perencanaan ( Planning)
a. Menyusun rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran dengan
menggunakan kartu pecahan dan metode diskusi kelompok
b. Menyiapkan alat bantu mengajar dan mengumpulkan data
xliv
c. Menyiapkan media kartu pecahan beserta program perencanaan kerja
kelompok.
d. Menyusun latihan evaluasi
2. Tindakan (acting)
a. Guru melakukan apersepsi dengan metode tanya jawab tentang
penjumlahan dengan tujuan:
1) Mengingat kembali konsep pecahan
2) Agar siswa memahami materi dengan tepat
3) Pencapaian materi tepat waktu yang direncanakan
4) Memusatkan perhatian pada situasi belajar
b. Guru memberikan motifasi siswa tentang materi yang akan diajarkan
c. Proses transformasi materi
1) Guru memperagakan penjumlahan dan pengurangan dengan media
kartu pecahan dan metode diskusi kelompok
2) Guru membimbing dan mengamati siswa dalam menyelesaikan
soal penjumlahan dan penngurangan pecahan.
3) Setelah selesai menyelesaikan soal siswa diminta guru menulis
hasil kerjanya di papan tulis.Dengan bimbingan guru
siswa di harapkan dapat menarik kesimpulan dari materi yang sedang
di pelajari.
4) Guru memberikan siklus II


xlv
3. Observasi
a. Teknik Pengumpulan data
- Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran dan kemampuan
siswa dalam menyelesaikan lembar kerja siswa
- Observer mengamati dan memberikan penilaian proses
pembelajaran dari awal hingga akhir
b. Alat pengumpulan data
- Tes Formatif : Pelaksanaan tes ini digunakan untuk memperoleh
data kuantitatif berupa tes siswa setiap akhir pembelajaran.
- Tes Siklus II di laksanakan setelah selesai siklus I untuk
Memperoleh data kuantitatif di akir siklus II
- Instrumen monitoring observasi guru di kelas
4. Refleksi
Pada tahap ini di lakukan analisis data pembahasannya. Kegiatan
ini untuk melihat sejauh mana efektifitas kegiatan belajar dengan
menggunakan media kartu pecahan dan diskusi kelompok pada pokok
bahasan penjumlahan dan pengurangan pecahan serta untuk mengetahui
perubahan-perubahan yang terjadi baik pada siswa, suasana kelas, maupun
guru.




xlvi
C. Data dan Cara Pengumpulan
Untuk memperoleh informasi yang valid dan reabel dari pelaksanaan
penelitian tindakan kelas ini, maka perlu kelengkapan data, kualitas alat
pengumpulan data dan ketepatan analisisnya.
1. Jenis Data
a. Data hasil belajar siswa
b. Data siswa dan guru selaku peneliti
c. Data keaktifan siswa
2. Cara pengumpulan data
Cara pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai
berikut:
a. Melalui hasil tes
b. Hasil pengamatan dari observasi
c. Hasil pengamatan dari peneliti

D. Indikator Keberhasilan
Tolok ukur keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini
dapat dilihat dari:
1. Nilai rata-rata kelas minimal 7.5
2. Prosentasi siswa yang memperoleh skor > 7.5 minimal 85% dari 18 siswa



xlvii
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Reduksi data telah dilaksanakan sejak pengambilan data penelitian
telah dilakukan proses penyelesaiaan sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Siklus I
a. Hasil Pengamatan
Siklus I merupakan proses pembelajaran operasi hitung
pecahan dengan menggunakan kartu pecahan dan daerah yang diarsir
sebagai alat peraga,dengan sub pokok bahasan penjumlahan 2 pecahan
penyebut sama yang dilaksanakan hari rabu tanggal 16 Maret 2005
dengan alokasi waktu satu kali pertemuan 2 jam pelajaran (2x 40
menit)
Pada jam pelajaran pertama untuk persiapan dan pelaksanaan
tindakan sedangkan jam pelajaran kedua digunakan untuk
melaksanakan tes siklus I.
Sebelum pelaksanaan tindakan guru menjelaskan terlebih dulu
tentang tatacara menjumlahkan dua pecahan berpenyebut sama. Pada
saat guru menjelaskan materi siswa kelihatan tegang, apabila guru
memberikan pertanyaan secara lisan kepada siswa terlibat beberapa
siswa diam dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru
xlviii
hal itu dilihat dari data yang telah terangkum mengenai partisipasi
siswa dalam pembelajaran siswa antara lain:
1) Banyak siswa yang bertanya 25% dari jumlah siswa
2) Banyak siswa yang terlibat dan aktif dalam mengikuti proses
pembelajaran 12 siswa
3) Siswa yang memperoleh nilai > 7.5 sebanyak 77.7% atau 14 dari
18 siswa.
Dari data di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa siswa
merasa takut untuk bertanya kepada guru hal itu menyebabkan ketidak
aktifan siswa dalam pembelajaran .
Selanjutnya guru dan siswa melaksanakan skenario yang telah
di tentukan, yakni guru menjelaskan cara penggunaan kartu pecahan
pada operasi hitung pecahan,guru menyuruh salah seorang siswa
untuk mengambil dua kartu pecahan yang sama penyebutnya
kemudian guru menyuruh lagi salah seorang siswa untuk mengambil
pecahan yang nilainya sama dengan kedua pecahan yang diambil
temannya tadi. Setelah berhasil mengambil kartu pecahan sebagai
jawaban yang benar, maka siswa harus memasangkan pada daerah
yang diarsir sehingga konsep benar-benar tertanam pada siswa.
b. Data hasil tes siklus I
Rata-Rata nilai 153: 18=8.5
Siswa yang memperoleh nilai > 7.5 sebanyak 77.7% atau 14 dari 18
siswa.
xlix
2. Siklus II
a. Hasil pengamatan
Siklus II merupakan proses pembelajaran operasi hitung
pecahan dengan menggunakan kartu pecahan dan daerah yang diarsir
sebagia alat peraga, dengan sub pokok bahasan pengurangan dua
pecahan berpenyebut sama, yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
23 Maret 2005 dengan alokasi waktu satu kali pertemuan 2 jam
pelajaran (2 x 40 menit) jam pelajaran pertama digunakan untuk
pelaksanaan tes siklus II
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini dimulai guru
menjelaskan terlebih dahului tentang cara mengurangkan dua pecahan
berpenyebut sama, berbeda pada siklus I, pada siklus II siswa tidak
kelihatan tegang, karena teknik bertanya dilakukan guru berbeda
dengan siklus I. Pada siklus II pertanyaan guru diberikan kepada siswa
dengan kemampuan bervariasi sehingga sebagian siswa dapat
menjawab pertanyaan guru dengan benar.
Selanjutnya siswa dan guru melaksanakan skenario yang telah
direncanakan yakni guru menjelaskan cara mengurangkan dua
pecahan dengan mengunakan gambar daerah yang diarsir, selanjutnya
menggunakan garis bilangan, kemudian siswa disuruh mengerjakan
soal pengurangan dua pecahan dengan menggunakan alat peraga.
Setelah siswa secara bergiliran maju mengerjakan di papan tulis
benar-benar dapat memahami konsep maka guru melanjutkan
l
pengurangan dua pecahan berpenyebut sama tanpa mengunakan alat
peraga. Di sini siswa mulai tampak keberanian serta keaktifan siswa
secara menyeluruh,sudah muncul, hal ini dapat dilihat dari tingkat
partisipasi siswa mulai meningkat .
Hal tersebut dapat ditunjukkan adanya indikator sebagai
berikut:
1) Banyak siswa yang bertanya 75% dari jumlah
2) Banyak siswa yang terlibat dan aktif dalam mengikuti proses
pembelajaran 18 siswa
3) Siswa yang memeperoleh nilai > 7.5 sebanyak 94.4% atau 17 dari
18 siswa.
Setelah pelaksanaan tindakan kelas selesai dilaksanakan tes,
untuk lebih jelasnya gambaran tentang hasil pengamatan proses
pembelajaran pada operasi hitung pengurangan berpenyebut sama
dapat dilihat pada lampiran.

b. Data hasil tes Siklus II
Rata-rata nilai tes 160.2 :18 =8.9
Siswa yang memeperoleh nilai > 7.5 sebanyak 94.4% atau 17 dari 18
siswa.



li
B.Pembahasan
Sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas, guru mengadakan uji
coba tes yang dilaksanakan setiap siklus yang dilaksanakan di MI Ma’arif
Blotongan Salatiga. Uji coba tes dilaksanakan setiap siklus, daftar peserta uji
coba dapat dilihat pada lampiran berikutnya, dan Siklus II pada lampiran
terakhir.
Dari analisis data hasil penelitian tindakan kelas ini yakni analisis
terhadap pengamatan proses pembelajaran dan hasil belajar dengan
menggunakan kartu pecahan dengan metode diskusi kelompok pada pokok
bahasan operasi hitung pecahan dengan penyebut sama pada siswa kelas III
MI Ma’arif Blotongan Salatiga diperoleh hasil menuju arah perbaikan dan
peningkatan pemahaman konsep operasi hitung pecahan serta
meningkatkannya prestasi belajar serta layanan guru dalam menangani proses
belajar. Penggunaan kartu pecahan sangatlah efektif karena dapat
meningkatkan kualitas proses pembelajaran . Hal itu dapat terlihat dari
peranan guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dalam penelitian
tindakan kelas ini. Dalam penelitian tindakan kelas ini guru menempatkan diri
sebagai sosok yang dapat membantu siswa belajar sesuai dengan kebutuhan
dan minatnya. Hal ini ditunjukkan dengan sikap guru sebagai pemimpin
belajar, fasilitator belajar, moderator belajar sekaligus sebagai evaluator
belajar.
Hal ini guru bertugas menentukan tujuan belajar, sumber belajar serta
mengarahkan bagaiman cara siswa melaksanakan kegiatan belajar,
lii
memotivasi siswa, mengawasi memberikan bantuan, bimbingan, petunjuk,
menilai proses belajar dan hasil belajar yang dicapai siswa.
Sedangkan untuk siswa sendiri dalam pelaksanaan tindakan kelas ini
siswa tidak hanya terlibat dalam fisik semata, namun terlibat secara mental
emosional intelektual dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan serta
pembentukan sikap dan nilai dalam pembentukan ketrampilan. Hal ini
ditunjukkan dengan keaktifan siswa dalam bermain kartu pecahan.
Dalam proses pembelajaran siswa menjadi semangat, lebih bergairah
dan tidak bosan. Untuk meningkatkan penguasaan berhitungnya, siswa
berusaha bermain kartu pecahan semaksimal mungkin, sehingga jelas bahwa
penggunaan kartu pecahan dan daerah yang diarsir dalam pembelajaran
operasi hitung pecahan dapat membangkitkan minat siswa. Minat belajar
siswa merupakan faktor yang mempunyai peran penting dalam belajar
matematika. Dengan minat belajar yang besar akan menimbulkan motivasi
belajar yang tinggi, karena motivasi belajar yang tinggi akan menentukan
keberhasilan belajar siswa.







liii
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari hasil keseluruhan kegiatan PTK di kelas III MI Ma’arif Blotongan
Salatiga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan kartu pecahan dan
metode diskusi kelompok, dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam
menyelesaikan konsep operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan
hal ini terbukti pada siklus 1:
Rata-Rata nilai 153: 18=8.5
Siswa yang memperoleh nilai > 7.5 sebanyak 77.7% atau 14 dari 18 siswa.
Dan pada siklus 11:
Rata-rata nilai tes 160.2 :18 =8.9
Siswa yang memeperoleh nilai > 7.5 sebanyak 94.4% atau 17 dari 18 siswa.
B. Saran
Setelah dilakasanakan PTK dikelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga
Pada Tahun Ajaran 2004/2005 bahwa salah satu cara untuk meningkatkan
hasil belajar siswa pada konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan
pecahan dapat digunakan pembelajaran menggunakan alat peraga kartu
pecahan dan metode diskusi kelompok.


liv
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Ronald H, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran,
(Edisi terjemahan oleh Yusuf Hadi Miarso, dkk) Jakarta, PT. Rajawali,
1987
Arief S. Sadiman, et. Al., Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatannya, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996
Atwi Suparman, Desain Intruksional, Jakarta, PAU PPAI Universitas Terbuka.
Ausubel, David. P., Joseph D. Novak and Helen Hanesian, Educational
Psychology : A Cognitive View, New York : Holt, Renehart and Winston.
1978
Bloom, Benyamin S.1976. Human Characteristic and School Learning. New
York: MeGraw-Hill book Company.
Briggs, Leslie, J., Intructional Design, Principle and Aplication, NewYork : Mc.
Graw-Hill Book Company, 1977
Crow, Lester D. And Crow, Alice, Educational Psychology, New York,
American, Book Company, 1989
De Porter, Bobbi and Hernarcki, Mike, Quantum Learning (Edisi Terjemahan
Oleh Alwiyah Abdurrahman), Bandung : CV. Kaifa, 2002
Dick, Walter, and Lou Carey, The Systematic Design Of Instruction, 3ed, Ed,
Florida : Harper Collins, 1985
Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Cet. I,
Jakarta, Rineka Cipta, 1999
Gagne, Robert M., The Conditions of Learning, New York, Holt, Renehart and
Winston, 1977
Marks, John L, Hiatt Arthur. A, dan Neufeld Evelyn, M., Metode Pengajaran
Matematika untuk Sekolah Dasar, Terjemahan oleh Bambang Sumantri,
Jakarta, PT. Gelora Aksara Pratama, 1988
Nana Sudjana, Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru, Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya

lv
Oemar Hamalik, Media Pendidikan, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1994
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Cet. II, Jakarta,
Rineka Cipta, 1991
Sutrisman Murtadho dan Tambunan, Pengajaran Matematika, Jakarta :
Universitas Terbuka, 1987
Toeti Soekamto, Perancangan dan Pengembangan Sistem Instruksional, Jakarta,
Intermedia, 1983
Winkel, W.S., Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, Cet. II, Jakarta,
Gramedia, 1989
R.Soedjadi., Matematika 3a, cet 1,Jakarta Balai Pustaka .



lvi
DAFTAR PESERTA UJI COBA TES
DAN KODENYA

Nomor
Urut Induk
Nama Siswa Kode
1 210 Fauzi A1
2 211 Wisnu A2
3 212 Agus A3
4 213 Wahyu A4
5 214 Saroh A5
6 215 Asa A6
7 216 Ayu A7
8 217 Eka A8
9 218 Nana A9
10 219 Engga A10
11 220 Eka A11
12 221 Debi A12
13 222 Roko A13
14 223 Bagas A14
15 224 Hafid A15
16 225 Wibi A16
17 226 Iqbal A17
18 227 Idi A18







lvii
DATA HASIL TES SIKLUS I

Nomor
Urut Induk
Nama Siswa Nilai
1 210 Fauzi 10
2 211 Wisnu 8
3 212 Agus 10
4 213 Wahyu 6.5
5 214 Saroh 10
6 215 Asa 10
7 216 Ayu 9
8 217 Eka 10
9 218 Nana 10
10 219 Engga 10
11 220 Eka 10
12 221 Debi 9
13 222 Riko 9
14 223 Bagus 6.5
15 224 Hafid 10
16 225 Wibi 10
17 226 Iqbal 6.5
18 227 Idi 7
Rata-rata 8.5

lviii
DATA HASIL TES SIKLUS II

Nomor
Urut Induk
Nama Siswa Nilai
1 210 Fauzi 10
2 211 Wisnu 8
3 212 Agus 9
4 213 Wahyu 10
5 214 Saroh 10
6 215 Asa 10
7 216 Ayu 10
8 217 Eka 9
9 218 Nana 9
10 219 Engga 9
11 220 Eka 8
12 221 Debi 7
13 222 Riko 8
14 223 Bagus 9
15 224 Hafid 9
16 225 Wibi 8
17 226 Iqbal 9
18 227 Idi 9
Rata-rata 8.9

lix
PEDOMAN OBSERVASI GURU
KEGITAN BELAJAR MENGAJAR

Mata pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : Pecahan
Sub Pokok Bahasan : Penjumlahan Pecahan
Subyek Penelitian : Guru Peneliti tindakan kelas
Nama sekolah : MI Ma’arif Blotongan Salatiga
Hari Tanggal : Selasa, 16 Maret 2005
Waktu : 09.00-selesai

Petunjuk pengisian
Berilah tanda cek(v) pada kolom yang sesuai dengan keadaan yang di amati
no Butir-butir Sasaran 1 2 3 4 5
1 ASPEK KOGNITIF
1.Kemampuan menentukan buku sumber
a. Penggunaan bahan pelajaran sesuai dengan
kurikulum
V
b. Sumber belajar sesuai dengan pembelajaran
yang telah di rencanakan
V
2. Kemampuan pengorganisasian materi
pelajaran

a. Materi sesuai dengan perkembangan siswa V
b. Urutan materi dari yang mudah ke yang sulit V
3. Kemapuan mendemonstrasikan bahan
pembelajaran

a. Mendemonstrasikan bahan dengan cermat V
b. Memecahkan masalah kehidupan melalui
konsep yang telah di pelajari
V
4. Kemampuan dalam membuat alat penilaian
a. Rumusan tugas sesuai dengan tujuan
pembelajaran khusus yang akan di capai
V
b. Menggunakan bahasa yang efektif dalam
merumuskan pertanyaan
V
5. Kemampuan merencanakan pembelajaran
a. Bahan pembelajaran sesuai dengan
kurikulum disertai penjabaran secara terperinci
V
b. Rumusan tujuan pembelajaran khusus
jelas,lengkap dan dirumuskan secara berjenjang
V
c. Tulisan dalam rencana pembelajaran mudah
di baca
V
II ASPEK AFEKTIF
1. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan
diri
v
a. Mendorong siswa agar berani mengerjakan di V
lx
muka kelas
b. Memberi penguatan kepada siswa yang
berhasil
V
c. Memberi dorongan semangat kepada yang
belum berhasil
V
2. Mendorong dan menggalakkan keterlibatan
siswa dalam proses pembelajaran

a. Menggunakan prosedur yang melibatkan
siswa pada awal pembelajaran
V
.b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk
berpartisipasi dalam pembelajaran
V
c. Memelihara Ketertiban siswa dalam
pembelajaran
V
d. Upaya guru untuk meningkatkan keterlibatan
siswa dalam proses belajar mengajar
V
3. Menunjukkan sikap ramah, penuh pengertian
dan sabar terhadap siswa

a. Menampilkan sikap bersahabat baik kepada
siswa
V
b. Mengendalikan diri bila menghadapi
perilaku siswa yang tidak diinginkan
V
c. Menggunakan kata-kata halus dalam
menegur siswa
V
4. Menunjukkan ke gairahan dalam mengajar
a. Menunjukkkan kesungguhan melalui
pemandangan mata dan ekspresi wajah
V
b. Keras dan lemahnya suara dalam proses
belajar mengajar
V
5. Mengembangkan hubungan antar pribadi
yang sehat dan serasi

a. Mendorong terjadinya tukar pendapat V
b. Menunjukkan sikap adil terhadap semua
siswa
V
c. Menerapkan peraturan yang sesuai selama
pelajaran
V
III ASPEK PSIKOMOTORIK
1.Kemampuan menggunakan waktu secara
efesien

a. Memahami pembelajaran tepat waktu V
b. Melaksanakan setiap kegiatan dalam
langkah-langkah pembelajaran sesuai waktu
yang direncanakan
V
c. tidak ada waktu yang terbuang sia-sia dalam
pembelajaran
v


lxi
2. Kemampuan menggunakan alat bantu
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan siswa,
situasi lingkungan

a. Guru menggunakan sendiri alat bantu
pembelajaran
V
b. Sebagian siswa dilibatkan dalam
pembelajaran
V
c. Semua siswa mendapat kesempatan
menggunakan alat bantu
V
d. Guru menggunakan alat bantu yang sesuai
secara terampil dan tepat sesuai dengan tujuan
V
3. Mendemonstrasikan kemampuan
pembelajaran dengan menggunakan berbagai
metode yang tepat

a. Menggunakan satu metode dengan tujuan,
materi, dan siswa
V
b. Menggunakan dua metode dengan tujuan,
materi, dan siswa
V
c. Menggunakan lebih dari dua metode yang
semuanya relevan dengan tujuan, materi, dan
siswa
V
. 4. Melakuakn pelaksanaan evaluasi baik
dengan tertulis lisan maupun dengan
pengamatan

a. Melakuakn tes tertulis sesuai dengan
pembelajaran
V
b.Melakukan tes lisan sesuai dengan
pembelajaran
V
c. Melakukan penilaian dengan pengamatan V



KETERANGAN:
1. Sangat kurang
2. Kurang
3. Sedang
4. Baik
5. Baik sekali

Salatiga , 16 Maret 2005
Observer



Siti Zumratun SpdI

lxii


PEDOMAN OBSERVASI GURU
KEGITAN BELAJAR MENGAJAR

Mata pelajarn : Matematika
Pokok Bahasan : Pecahan
Sub Pokok Bahasan : Penjumlahan Pecahan
Subyek Penelitian : Guru Peneliti tindaklan kelas
Nama sekolah : MI Ma’arif Blotongan Salatiga
Hari Tanggal : Selasa, , 23 Maret 2005
Waktu : 09.00-selesai

Petunjuk pengisian
Berilah tanda cek(v) pada kolom yang sesuai dengan keadan yang di amati
no Butir-butir Sasaran 1 2 3 4 5
1 ASPEK KOGNITIF
a. Siswa dapat memahami bahasa yang
digunakan guru dalam menjelaskan materi
pelajaran
V
b. Siswa dapat memahami penjelasan guru
mengenai materi operasi pecahan
V
c. Siswa dapat mengerti maksud dari
pertanyaan yang diberikan guru
V
d. Siswa dapat menjawab pertanyaan yang
diberikan guru
V
e. Siswa dapat menyelesaikan operasi pecahan V
f. Banyak siswa yang benar (>75%) dalam
mengerjakan seluruh soal operasi penjumlahan
dengan penyebut yang sama
V
g. Banyak siswa yang benar (>75%) dalam
mengerjakan seluruh soal operasi penjumlahan
dengan penyebut yang sama
V
II ASPEK AFEKTIF
a. Siswa siap duduk di meja saat pelajaran
dimulai
V
b. Siswa siap dengan buku dan alat pelajaran V
c. Siswa memperhatikan pada waktu guru
menjelaskan
V
d. Siswa senang dan tertarik dengan penjelasan
guru
V
e. Siswa mencatat materi yang dijelaskan guru V
f. Siswa aktif bertanya V
lxiii
g. Siswa menjawab setiap pertanyaan guru V

h. Siswa senang dan tertarik menggunakan alat
peraga
v
i. Siswa senang bermain kartu pecahan V
III ASPEK PSIKOMOTORIK
a. Siswa cepat dalam merespon atau
menanggapi pertanyaan yang di berikan
V
b.Siswa terampil dengan menggunakan kartu
pecahan dalam mengoperasikan pecahan
V



KETERANGAN:
1. Sangat kurang
2. Kurang
3. Sedang
4. Baik
5. Baik sekali

Salatiga, 23 Maret 2005
Observer




Siti Zumratun SpdI











lxiv
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR


Siklus : I
Petunjuk :
1. Isilah kolom jumlah. dengan jumlah siswa yang mengikuti kegiatan sesuai
dengan aktifitas.
2. Skala penilaian diisi dengan tanda cek ( V )
3. Jumlah siswa kelas III ada 18 siswa


Jumlah Skala Penilaian
No. Keaktifan Siswa
Siswa % SB B S K
1. Hadir dalam kegiatan pembelajaran V
2. Mengerjakan tugas rumah (PR) V
3. Aktif bertanya V
4. Aktif menjawab pertanyaan/ siap
menjawab (tunjuk jari)
V
5. Aktif mengerjakan tugas di depan/
siap mengerjakan
V
6. Mengikuti secara aktif pengoperasian
penjumlahan dan pengurangan
menggunakan kartu pecahan dan
metode diskusi kelompok
V
7. Menguasai konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan
V

Keterangan : Salatiga, 16 Maret 2005
SB : Sangat Baik ( 76 % - 100 % )
B : Baik ( 75 % - 51 % )
S : Sedang ( 50 % - 40 % )
K : Kurang ( < 39 % )





lxv
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR


Siklus : II
Petunjuk :
1. Isilah kolom jumlah. dengan jumlah siswa yang mengikuti kegiatan
sesuai dengan aktifitas.
2. Skala penilaian diisi dengan tanda cek ( V )
3. Jumlah siswa kelas III ada 18 siswa


Jumlah Skala Penilaian
No. Keaktifan Siswa
Siswa % SB B S K
1. Hadir dalam kegiatan pembelajaran V
2. Mengerjakan tugas rumah (PR) V
3. Aktif bertanya V
4. Aktif menjawab pertanyaan/ siap
menjawab (tunjuk jari)
V
5. Aktif mengerjakan tugas di depan/
siap mengerjakan
V
6. Mengikuti secara aktif pengoperasian
penjumlahan dan pengurangan
menggunakan kartu pecahan dan
metode diskusi kelompok
V
7. Menguasai konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan
V

Keterangan : Salatiga, 23 Maret 2005
SB : Sangat Baik ( 76 % - 100 % )
B : Baik ( 75 % - 51 % )
S : Sedang ( 50 % - 40 % )
K : Kurang ( < 39 % )





66
KISI-KISI SOAL TES
Mata Pelajaran : Matematika
Pokok bahasan : Pecahan
Penjumlahan Pecahan
Kelas : 111
Semester : 1

No Tujuan Pembelajaran Pokok
Bahasan/Sub
Pokok Bahasan
Kls Materi Jml Indikator
1 Siswa mampu melakukan
penjumlahan pecahan
perduaan, pertigaan,
perempatan dan perenaman.
Pecahan III Penjumlahan
dua pecahan
berpenyebut
sama
10 - Siswa dapat menjumlahkan dua pecahan
berpenyebut sama.
- Siswa dapat menjumlahkan dua pecahan
berpenyebut sama pecahan pertigaan.
- Siswa dapat menjumlahkan dua pecahan
berpenyebut sama pecahan perempatan.
- Siswa dapat menjumlahkan dua pecahan
berpenyebut sama pecahan perenaman.
1,10

2,6

5,3,8

4,7,9




67
RENCANA PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Matematika
Pokok bahasan : Penjumlahan Pecahan
Kelas : 111
Semester : 1
No TPK MATERI KBM Waktu
1 Siswa dapat:
1. Menjumlahkan
dua pecahan
berpenyebut
sama.
2. Menyelesaikan
soal yang
mengandung
penjumlahan
berpenyebut
sama
Untuk menjumlahkan dua pecahan berpenyebut sama
kita dapat lakukan sebagai berikut:
a. Penjumlahan dua pecahan dengan pecahan perpaduan.
Contoh:
1. Dengan menggunakan model konkret kartu
pecahan dengan metode diskusi:
2
2
2
1
2
1
= +

2. Dengan menggunakan garis bilangan.

0 1 2
2 2
2
2
2
1
2
1
= +
I. Pendahuluan
Apersepsi:
- Mengisi kembali pecahan
6
1
,
4
1
,
3
1
,
2
1
dan
- Mengingat kembali pecahan dengan
garis bilangan
II. Kegiatan Pokok
1. Guru mengajak anak dengan metode
diskusi tutor sebaya untuk
menyelesaikan penjumlahan
pecahan:
Contoh:
a.
2
2
2
1
2
1
= +

68
b. Penjumlahan dua pecahan dengan pecahan pertigaan
1. Dengan menggunakan model konkret kartu
pecahan
Contoh:
3
2
3
1
3
1
= +
2. Dengan menggunakan garis bilangan.
Contoh:

0 1 2
3 3
c. Penjumlahan dua pecahan dengan perempatan
1. Dengan model konkrit pecahan.
Contoh: ....
4
1
4
2
= +
4
3
4
1
4
2
= +
2. Dengan menggunakan garis bilangan
Contoh:
4
3
4
1
4
2
= +

0
4
1

4
2

4
3

4
4

b.
3
2
3
1
3
1
= +
c.
4
3
4
1
4
2
= +
d.
4
4
4
2
4
2
= +
e.
6
4
6
2
6
2
= +
1.
2. Siswa mengerjakan penjumlahan
dengan alat peraga
3. Guru menjelaskan cara
menjumlahkan pecahan berpenyebut
sama tanpa alat peraga.
- 1
2
2
2
1
2
1
= = +
-
3
2
3
1 1
3
1
3
1
=
+
= +
-
4
2
4
1 1
4
1
4
1
=
+
= +


69
d. Penjumlahan dua pecahan dengan pecahan perenaman
1) Dengan model konkret kartu pecahan. Contoh:
...
6
2
6
2
= +

2) Dengan menggunakan garis bilangan. Contoh:

6
4
6
2
6
2
= +

0
6
1

6
2

6
3

6
4

6
5

6
6

6
7



4. Siswa disuruh mengerjakan latihan
soal.
1) Siswa A memegang kartu senama.
Contoh:
4
2
4
1
dan
2) Siswa B diminta mengambil kartu
hasil penjumlahan.
III. PENUTUP
Dilaksanakan Post Test










70
SOAL UJI COBA TES SIKLUS I
Mata Pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : 7.1 Pecahan
Sub. Pokok : Penjumlahan Pecahan
Kelas/Semester : 111
Waktu : 2x45

Petunjuk Umum
1. Tulis dahulu Nama, Kelas dan No.Absen mu pada lembar jawaban.
2. Kerjakan terlebih dahulu soal yang kamu anggap lebih mudah
3. Periksalah kembali seluruh pekerjaanmu sebelum diserahkann pengawas.

Petunjuk khusus:
Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar:
1. ...
3
1
3
1
= +
2. ...
2
1
2
1
= +
3. ...
6
1
6
1
= +
4. ...
4
1
4
1
= +
5. ...
4
1
4
2
= +
6. ...
3
3
3
1
= +
7. ...
6
2
6
1
= +
8. ...
4
3
4
1
= +
9. ...
6
1
6
3
= +
71
10. ...
6
2
6
2
= +
LEMBAR JAWAB UJI COBA TEST
Mata Pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : 7.1 Pecahan
Sub Pokok Bahasan : Penjumlahan Pecahan
Kelas :
Waktu : 60 menit


Nama :
No :
Isilah titik-titik di bawah ini!
1. ….
2. ….
3. ….
4. ….
5. ….
6. ….
7. ….
8. ….
9. ….
10. ….








72
KISI-KISI SOAL TES
Mata Pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : 7.1 Pecahan
Pengurangan Pecahan
Kelas : 111
Waktu : 60 menit
No Tujuan Pembelajaran
Pokok Bhsn/Sub
Pokok Bahasan
Kls Materi Jml Indikator
No.
Soal
1 Siswa mampu
melakukan pengurangan
pecahan perduaan,
pertigaan, perempatan
dan perenaman
Pecahan III Pengurangan dua pecahan
penyebut sama
10 • Siswa dapat mengurangkan dua
pecahan berpenyebut sama pecahan
perduaan
• Siswa dapat mengurangkan dua
pecahan berpenyebut sama pecahan
pertigaan
• Siswa dapat mengurangkan dua
pecahan berpenyebut sama pecahan
perempatan
• Siswa dapat mengurangkan dua
pecahan berpenyebut sama pecahan
perenaman
1,3



2,6



4,9,5


7,10,8

73

RENCANA PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : Pengurangan Pecahan
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
Kelas / Semester : 111/1
TPK MATERI KBM WAKTU
Siswa dapat:
1. Mengurangkan
dua pecahan
berpenyebut
sama
2. Menyelesaikan
soal yang
mengandung
pengurangan
berpenyebut
sama
Untuk mengurangkan dua pecahan
berpenyebut sama dapat kita lakukan dengan:
a. Pengurangan dua pecahan dengan pecahan
perpaduan. Contoh:
1. Dengan model konkret kartu pecahan
2
1
2
1
2
2
= −
2. Dengan menggunakan garis bilangan.


0
2
1

2
2

2
` 3

1. PENDAHULUAN
Apersepsi
- Mengulang kembali penjumlahan pecahan.
Contoh:
2
4
2
1
2
3
= +
- Mengingat kembali penjumlahan pecahan
dengan garis bilangan
2. KEGIATAN POKOK
1. Guru menjelaskan cara mengurangkan
pecahan berpenyebut sama dengan bantuan
gambar daerah yang diarsir.
Contoh:
a). ...
2
1
2
2
= −

- =
74

b. Pengurangan pecahan dengan pecahan
pertigaan
1. Dengan menggunakan model konkret
kartu pecahan. Contoh:
- =


3
2
-
3
1
=
3
1

2. Dengan menggunakan garis bilangan.
Contoh:

0
3
1

3
2

3
3

c. Pengurangan dua pecahan dengan pecahan
perempatan

2
2
-
2
1
=
2
1

b). ...
3
1
3
2
= −

3
2
-
3
1
=
3
1

c). ...
4
1
4
3
= −
- =


4
3
-
4
1
=
4
2

d). ...
6
2
6
4
= −
- =


6
4
-
6
2
=
6
2

2. Siswa mengerjakan pengurangan dengan
alat peraga
3. Guru menjelaskan cara mengurangkan dua
pecahan berpenyebut sama tanpa alat

- =
- =
75
peraga.
1) Dengan model konkret kartu pecahan.
Contoh: 1 ...
4
1
4
3
= −
- =


4
3
-
4
1
=
4
2

2) Dengan menggunakan garis bilangan


0
4
1

4
2

4
3

4
4

...
4
2
4
3
= −
d. Dengan pengurangan dua pecahan dengan
pecahan perenaman.
1. Dengan menggunakan kartu kontrit kartu
pecahan. Contoh:
6
2
6
2
6
4
= −
- =


6
4
-
6
2
=
6
2


2
1
2
1 2
2
1
2
2
=

= −

3
2
3
1 3
3
1
3
3
=

= −

4
2
4
1 3
4
1
4
3
=

= −

6
2
6
2 4
6
2
6
4
=

= −
4. Siswa disuruh mengerjakan latihan soal
penerapan.
- Siswa A memegang kartu senama
Misal:
6
2
6
5
dan
- Siswa B diminta mengambil kartu hasil
pengurangan.
III. PENUTUP


76

2. Dengan menggunakan garis bilangan


0
6
1

6
2

6
3

6
4

6
5

6
6

6
7

6
2
6
2
6
4
= −















77

lxxviii
SOAL UJI COBA TES SIKLUS II

Mata Pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : 7.1 Pecahan
Sub Pokok Bahasan : Pengurangan Pecahan
Kelas/Semester : 111/1
Waktu : 60 menit

Petunjuk Umum
1. Tulislah dahulu Nama, Kelas dan Nomer Absen pada lembar jawab.
2. Kerjakan terlebih dahulu soal yang dianggap mudah
3. Periksalah kembali seluruh pekerjaanmu sebelum diserahkan bapak atau ibu gurumu

Petunjuk Khusus:
I. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar!
1. ...
4
1
4
2
= −
2. ...`
4
1
4
3
= −
lxxix
3. ...
6
1
6
3
= −
4. ...
3
2
3
4
= −
5. ...
3
2
3
5
= −
6. ...
4
2
4
5
= −
7. ...
6
2
6
5
= −
8. ...
4
3
4
5
= −
9. ...
4
3
4
7
= −
10. ...
6
5
6
7
= −
LEMBAR JAWAB UJI COBA TES

Mata Pelajaran : Matematika
Pokok Bahasan : 7.1 Pecahan
lxxx
Sub Pokok Bahasan : Pengurangan pecahan
Kelas/Semester : 111/1
Waktu : 60 menit

Nama :
No :

Isilah titik-titik di bawah ini!
1. ….
2. ….
3. ….
4. ….
5. ….
6. ….
7. ….
8. ….
9. ….
10. ….

lxxxi



















lxxxii



















lxxxiii



















lxxxiv



























lxxxv




























lxxxvi









You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->