P. 1
hukuman [pidana

hukuman [pidana

|Views: 401|Likes:

More info:

Published by: Lianita Perfectcionist on Jan 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2013

pdf

text

original

Ringkasan Hukum Pidana A.

Istilah dan Pengertian Pidana berasal kata straf (Belanda), yang adakalanya disebut dengan istilah hukuman. Istilah pidana lebih tepat dari istilah hukuman karena hukum sudah lazim merupakan terjemahan dari recht. Dapat dikatakan istilah pidana dalam arti sempit adalah berkaitan dengan hukum pidana Pidana lebih tepat didefinisikan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan/diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) baginy atas perbuatannya yang a telah melanggar larangan hukum pidana. Secara khusus larangan dalam hukum pidana ini disebut sebagai tindak pidana (strafbaar feit). Selanjutnya istilah hukum pidana dalam bahasa Belanda adalah Strafrecht sedangkan dalam bahasa Inggris adalah Criminal Law . Adapun pengertian hukum pidana dibawah menurut pendapat para ahli sebagai berikut : 1.

SIMONS , hukum pidana adalah keseluruhan larangan -larangan dan keharusan yang pelanggaran terhadapnya dikaitkan dengan suatu nestapa (pidana/hukuman) oleh negara, keseluruhan aturan tentang syarat, cara menjatuhkan dan menjalankan pidana tersebut. 2.

MOELJATNO , hukum pidana adalah aturan yang menentukan :

Perbuatan yang tidak boleh dilakukan, dilarang, serta ancaman sanksi bagi yang melanggarnya

Kapan dan dalam hal apa kepada pelanggar dapat dijatuhi pidana

Cara pengenaan pidana kepada pelanggar tesebut dilaksanakan 1.

Wirjono Prodjodikoro , hukum pidana adalah peraturan hukum mengenai pidana. Kata pidana berarti hal yang dipidanakan yaitu oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan kepada seorang oknum sebagai hal yang tidak enak dirasakannya dan juga hal yang tidak sehari-hari dilimpahkan. 2.

WLG. LEMAIRE , hukum pidana itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan-keharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk UU) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma yang menentukan terhadap tindakan -tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukuman itu dapat dijatuhkan serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan -tindakan tersebut. (pengertian ini nampaknya dalam arti hukum pidana materil). 3.

WFC. HATTUM , hukum pidana (positif) adalah suatu keseluruhan dari asas-asas dan peraturan-peraturan yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya, dimana mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang dilakukannya tindakan -tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah mengaitkan pelanggaran terhadap peaturan-peraturannya denagan suatu penderitaan yang bersifat khusus berupa hukuman. 4.

WPJ. POMPE , hukum pidana adalah hukum pidana itu sama halnya dengan hukum tata negara, hukum perdata dan lain-lain bagian dari hukum, biasanya diartikan sebagai suatu keseluruhan dari peraturan peraturan yang sedikit banyak bersifat umum yang abstrahir dari keadaan -keadaan yang bersifat konkret. 5.

KANSIL, hukum pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran -pelanggaran dan kejahatankejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan. 6.

ADAMI CHAZAWI , dilihat dari garis besarnya, dengan berpijak pada kodifikasi sebagai sumber utama atau sumber pokok hukum pidana, hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang :

Aturan-aturan hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan denagan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/positif) maupun pasif/negatif) tertentu yang diserti dengan ancaman sanksi berupa pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu.

Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkanya sanksi pidana yang diancamkan pada lara ngan perbuatan yang dilanggarnya.

Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya polisi, jaksa, hakim), terhadap yang disangka dan di dakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan, menjatuhkan dan melaksanakan sanksi pidana terhadap dirinya, serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha melindungi dan mempertahankan hak haknya dari tindakan negara dalam upaya negara menegakkan hukum pidana tersebut. Berpijak dalam garis besarnya, dengan berpijak pada kodifikasi sebagai sumber utama atau sumber pokok hukum pidan, hukum pidana merupakan bagi dari hukum publik yang memuat/berisi ketentuan ketentuan tentang : 1.

Aturan umum hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan dengan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/posiitif) maupun pasf/negatif) tertentu yang disertai denagan ancaman sanksi pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu. 2.

Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkannya sanksi pidana yang diancamkan pada larangan perbuatan yang dilanggarnya. 3.

Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya polisi, jaksa, hakim), terhadap yang disangka dan didakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan, menjatuhkan dan melak sanakan sanksi pidana terhadap dirinya, serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha melindungi dan mempertahankan hak haknya dari tindakan negara dalam upaya negara menegakkan h ukum pidana tersebut B. Tujuan Hukum Pidana Ada dua macam :

1.Untuk menakut-nakuti setiap orang agar mereka tidak melakukan perbuatan pidana (fungsi preventif) 2.Untuk mendidik orang yang telah melakukan perbuatan yang tergolong perbuatan pidana ag ar mereka menjadi orang yang baik dan dapat diterima kembali dalam masyarakat (fungsi represif) . Jadi dapat disimpulkan tujuan hukum pidana adalah untuk melindungi masyarakat. Menurut para ahli tujuan hukum pidana adalah : 1.

Memenuhi rasa keadilan (WIRJONO PRODJODIKORO) 2.

Melindungi masyarakat (social defence) (TIRTA AMIDJAJA) 3.

Melindungi kepentingan individu (HAM) dan kepentingan masyarakat dengan negara ( (KANTER DAN SIANTURI) 4.

Menyelesaikan konflik (BARDA .N) Tujuan Pidana (Menurut literatur Inggris R3D) : 1.

Reformation, yaitu memperbaiki atau merehabilitasi penjahat menjadi orang baik dan berguna bagi masyarakat. Namun ini tidak menjamin karena masih banyak juga residivis. 2.

Restraint, yaitu mengasingkan pelanggar dari masyarakat sehingga timbul rasa aman masyarakat 3.

Retribution, yaitu pembalasan terhadap pelanggar karena telah melakukan kejahatan 4.

kepentingan hukum atas tubuh. kepentingan hukum (rechtsgut) itu meliputi (Satochid Kartanegara) : 1. kepentingan hukum terhadap rasa susila. Bangunan masyarakat (sociale instellingen) Kepentingan hukum yang wajib dilindungi itu ada tiga macam yaitu : 1. Fungsi Hukum Pidana Sebagai hukum publik hukum pidana memiliki fungsi sebagai berikut : 1. maupun anggota suatu negara. dsb. Semua ini ditujukan untuk terlaksana dan terjaminnya ketertiban di dalam segala bidang kehidupan. Kepentingan hukum negara (staatsbelangen). dsb. anggot masyarakat. Keadaan hukum (rechtstoestand) 4. 3. kepentingan hukum terhadap harga diri dan nama baik. kepentingan hukum . Hubungan hukum (rechtsbetrekking) 3. kepentingan hukum akan hak milik benda. Fungsi melindungi kepentingan hukum dari perbuatan ya menyerang atau memperkosanya. kepentingan hukum terhadap negara -negara sahabat. yang wajib dijaga dan dipertahankan agar tidak dilanggar/diperkosa oleh perbuatan-perbuatan manusia.Deterrence. misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan keselamatan negara. Di dalam doktrin hukum pidana Jerman. Hak-hak (rechten) 2. ketertiban berlalu lintas di jalan raya. Kepentingan hukum perorangan (individuale belangen) misalnya kepentingan hukum terhadap hak hidup (nyawa). 2. C. yaitu menjera atau mencegah sehingga baik terdakwa sebagai individual maupun orang lain yang potensi menjadi penjahat akan jera atau takut untuk melakukankejahatan. ng Kepentingan hukum (rechtsbelang) adalah segala kepentingan yang diperlukan dalam berbagai segi kehidupan manusia baik sebagai pribadi. melihat pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa. Kepentingan hukum masyarakat (sociale of maatschapppelijke belangen). misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan ketertiban umum.

Contoh kepetingan hukum yang diatur dalam hukum pidana materil (KUHP) larangan mencuri (pasal 362). maka tujuan dan fungsi hukum pidana tersebut .terhadap martabat kepala negara dan wakilnya. Fungsi hukum pidana yang dimaksud disini adalah adalah tiada lain memberi dasar legitimasi bagi negara agar negara dapat menjalankan fungsi menegakkan dan melindungi kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana tadi dengan sebaikbaiknya. pada sisi lain sebagai alat pembatasan negara dalam setiap melakukan tindakan hukum. penuntutan. pemeriksaan. Dengan demikian masyarakat sendiri dirugikan. vonis. Fungsi ini terutama terdapat dalam hukum acara pidana. Fungsi mengatur dan membatasi kekuasaan negara dalam rangka negara menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi. dsb. Sebagaimana diketahui bahwa fungsi hukum pidana yang kedua diatas adalah hukum pidana telah memberikan hak dan kekuasaan yang sangat besar pada negara agar dapat menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi dengan sebaik-baiknya. ng Misalnya bagaimana cara negara melakukan tindakan -tindakan hukum terhadap terjadinya tindak pidana seperti melakukan penangkapan. Untuk melindung kepentingan hukum diatas adalah melalui sanksi pidana/straf (hukuman penjara). Namun demikian atas kekuasaan negara diatas harus dibatasi. dll. Jika akibat suatu tindakan negara justru merugikan masyarakat. Misalnya pasal 362 KUHP dapat diancam hukuman penjara maksimum 5 tahun dan pasal 338 dapat diancam hukuman penjara maksimum 15 tahun. Namun tentunya pembatasan kekuasaan itu penting agar negara tidak melakukan sewenang-wenang kepada masyarakat dan pribadi manusia. melalui prosedur KUHAP diatas. Dalam hukum acara pidana telah diatur sedemikian rupa tentang apa yang dapat dilakukan negara dan bagaimana cara negara mempertahankan kepentingan hukum ya dilindungi oleh hukum pidana. Memberi dasar legitimasi bagi negara dalam rangka negara menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi. 1. Walaupun pada dasarnya adanya hukum pidana untuk melindungi kepentingan hukum yang dlindungi. yang telah dikodifikasikan dengan apa yang disebut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yakni UU No. larangan menghilangkan nyawa (pasal 338). Ketiga kepentingan hukum diatas saling berkait dan tidak bisa dipisahkan. menjadi wajib. Namun atas dasar kepentingan hukum dan negara tindakan negara tersebut dibenarkan. penahanan. Jika ketentuan diatas dilanggar oleh negara maka akan terjadi kesewenangan. Semua tindakan negara diatas tentu berakibat tidak menyenangkan bagi siapa saja. 8 tahun 1981. Adanya KUHP dan KUHAP sebagai hukum pidana materi dan formil dalam rangka mempertahankan kepentingan hukum masyarakat yang dilindungi pada sisi sebagai alat untuk melakukan tindakan hukum o negara apabila terjadi pelanggaran leh hukum pidana. Pasal 363 melindungi dan mempertahankan kepentingan hukum orang atas hak milik kebendaan pribadi dan pasal 338 adalah melindungi dan mempertahankan kepentingan hukum terhadap hak individu/nyawa orang. 1. dsb. Misalnya jika seseorang membunuh (pasal 338 KUHP) negara tidak boleh menghukum melebihi ancaman maksimum 15 tahun. Begitu juga ketika negara menahan seseorang ada batas masa penahanan misalnya penyidik hanya selama 20 hari. Pengaturan hak dan kewajiban negara dengan sebaik-baiknya dalam rangka negara menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi yang secara umum dapat disebut mempertahankan da menyelenggarakan n ketertiban hukum masyarakat itu.

PP No. 1 tahun 1960) Undang-undang Narkotika dan Undang-undang Psikotropika ( UU No. ada tetap berlaku untuk kaula-kaula dan orang itu. Hukum Adat (Pasal 5 ayat 3 (b) UU Darurat No. 8 tahun 1958. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika 3. buku II tentang kejahatan dan buku III tentang pelanggaran 2. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dan UU No. Undang-undang di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana Undang-undang Tindak Pidana Korupsi Undang-undang Tindak Pidana Terorisme (UU No. dengan pengertian : . 7 tahun 1955 dan UU No. Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) dan penjelasan = MVT yang terdiri dari buku I tentang aturan umum. 15 tahun 2003) Undang-undang Pidana Pencucian Uang (UU No. 15 tahun 2002) Undang-undang Tindak Pidana Ekonomi (UU DRT No. Tujuan hukum untuk kebenaran dan keadilan hanya semboyan saja.tidak tercapai. Sumber Hukum Pidana 1. D. 1 tahun 1951 yaitu berbunyi : Hukum materiil sipil dan untuk sementara waktu pun hukum materiil pidana sipil yang sampai kini berlaku untuk kaula-kaula daerah Swapraja dan orangorang yang dahulu diadili oleh Pengadilan Adat.

Aliran ini berfaham indeterminisme mengenai kebebasan kehendak ( free will ) manusia yang menekankan pada perbuatan pelaku kejahatan sehingga dikehendakilah hukum pidana perbuatan ( daad-strefrecht ). maka dianggap diancam dengan hukuman yang sama dengan hukuman bandingnya yang paling mirip kepada perbuatan pidana itu . bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut fikiran hakim melampaui padanya dengan hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas. Aliran klasik pada prinsipnya hanya menganut . Perbedaaan aliran klasik. yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak terhukum dan penggantian yang dimaksud dianggap sepadan oleh hakim dengan besar kesalahan yang terhukum. aliran modern (aliran positif) dan aliran neo klasik (sosiologis). maka atas kesalahan terdakwa dapat dikenakan hukumannya pengganti setinggi 10 tahun penjara. Aliran-aliran dalam Hukum Pidana Salah satu masalah pokok hukum pidana adalah mengenai konsep tujuan pemidanaan dan untuk mengetahui secara komprehensif mengenai tujuan pemidanaan ini harus dikaitkan dengan aliran-aliran dalam hukum pidana. 1. modern dan neo klasik atas karakteristik masing-masing erat sekali hubungannya dengan keadaan pada zaman pertumbuhan aliran-aliran tersebut. Aliran-aliran tersebut adalah aliran klasik. bahwa. dengan pengertian bahwa hukuman adat yang menurut faham hakim tidak selaras lagi dengan zaman senantiasa mesti diganti seperti tersebut di atas. maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah. Aliran klasik Aliran yang muncul pada abad ke-18 merupakan respon dari ancietn regime di Perancis dan Inggris yang banyak menimbulkan ketidakpastian huku ketidaksamaan hukum dan m.bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana. akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil. dan bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana dan yang ada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil. ketidakadilan. E.

Doktrin kebebasan berkehendak 4. hukum harus dirumuskan dengan jelas dan tidak memberikan kemungkinan bagi hakim untuk melakukan penafsiran. Prinsip dasar yang digunakan sebagai pedoman adalah kebahagiaan yang terbesar untuk orang sebanyak-banyaknya.single track system berupa sanksi tunggal. Definisi hukum dari kejahatan 2. Sementara Jeremy Bentham melihat suatu prinsip baru yaitu utilitarian yang menyatakan bahwa suatu perbuatan tidak dinilai dengan sistem yang irrasional yang absolut. Pidana yang ditentukan secara pasti. yaitu sanksi pidana. Pidana harus sesuai dengan kejahatannya 3. Pidana mati untuk beberapa tindak pidana 5. tetapi melalui prinsip-prinsip yang dapat diukur. sebagaimana dinyatakan oleh Beccarian adalah doktrin pidana harus sesuai dengan kejahatan. Bentham menyatakan bahwa hukum pidana jangan dijadikan sarana pembalasan tetapi untuk mencegah kejahatan. 1. Tidak ada riset empiris. Beccaria meyakini konsep kontrak sosial dimana individu menyerahkan kebebasan atau kemerdekaannya secukupnya kepada negara dan oleh karenanya hukum harusnya hanya ada untuk melindungi dan mempertahankan keseluruhan kemerdekaan yang dikorbankan terhadap persamaan kemerdekaan yang dilakukan oleh orang lain. dan 6. Aliran ini juga bersifat retributif dan represif terhadap tindak pidana karena tema aliran klasik ini. Tokoh dalam aliran klasik ini adalah Cesare Beccaria dan Jeremi Bentham. Aliran Modern atau aliran positif Aliran ini muncul pada abad ke-19 yang bertitik tolak pada aliran determinisme yang menggantikan doktrin kebebasan berkehendak ( . Sebagai konsekuensinya. Hakim hanya merupakan alat undang-undang yang hanya menentukan salah atau tidaknya ses eorang dan kemudian menentukan pidana. Aliran klasik ini mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Undang-undang menjadi kaku dan terstruktur.

penjahat tetap mengulangi kejahatan yang mengancam masyarakat dan korban kejahatan harus . Marc Ancel. Ciri-ciri aliran modern adalah sebagai berikut : 1. sehingga dia tidak dapat dipersalahkan atau dipertanggungjawabkan dan dipidana. Hanya saja dalam menggunakan hukum pidana. Pidana harus sesuai dengan pelaku tindak pidana 3. pidana mati merupakan seleksi terakhir yang bilamana penjara pembuangan dan kerja keras. Enrico Ferri dan Raffaele Garofalo. Penghapusan pidana mati 5. dan 6. aliran ini menolak penggunaan fiksi-fiksi yuridis dan teknik-teknik yuridis yang terlepas dari kenyataan sosial. tetapi dipengaruhi oleh watak lingkungannya.the doctrine of free will ). Pidana yang tidak ditentukan secara pasti. Lambroso menganjurkan bahwa pidana tidak ditetapkan secara pasti oleh pengadilan ( the indeterminate sentence ). Tokoh-tokoh lain yang merupakan pelopor aliran modern adalah Cesare Lambroso. penilaian hakim yang didasarkan pada konteks hukum yang murni atau sanksi pidana itu sendiri harus tetap dipertahankan. Doktrin determinisme 4. tindak pidana sebagai perbuatan yang diancam pidana oleh undang-undang. Aliran ini menolak pandangan pembalasan berdasarkan kesalahan yang subyektif. Marc Ancel mempelopori gerakan perlindungan masyarakat baru ( new social defence ) yang bertujuan mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi perlindungan masyarakat ke dalam konsepsi baru hukum pidana. salah satu tokoh aliran modern menyatakan bahwa kejahatan merupakan masalah kemanusiaan dan masalah sosial yang tidak mudah begitusaja dimasukkan ke dalam perumusan undang-undang. Aliran ini menghendaki adanya individualisasi pidana yang bertujuan untuk mengadakan resosialisasi pelaku. Aliran ini menyatakan bahwa sistem hukum pidana. Menolak definisi hukum dari kejahatan 2. Manusia dipandang tidak mempunyai kebebasan berkehendak. Riset empiris.

3. 1. 4. Aliran ini mulai mempertimbangkan kebutuhan adanya pembinaan individual dari pelaku tindak pidana. moral. ketidakmampuan. Ferri menyatakan bahwa seseorang memiliki kecenderungan bawaan menuju kejahatan tetapi bilamana ia mempunyai lingkungan yang baik maka ia akan hidup terus tanpa melanggar pidana ataupun hukum moral. Gorofalo mengusulkan konsep kejahatan natural ( natural crime ) yang merupakan pengertian paling jelas untuk menggambarkan perbuatan -perbuatan yang oleh masyarakat beradab diakui sebagai kejahatan dan ditekan melalui saranaberupa pidana. 2. kejahatan terutama dihasilkan oleh tipe masyarakat darimana kejahatan itu datang. Diterima berlakunya keadaan-keadaan yang meringankan. yakni kepercayaan pada kebebasan berkehendak manusia. Aliran neo klasik (sosiologis) Aliran ini muncul pada abad ke-19 mempunyai basis yang sama dengan aliran klasik. oleh karena itu pembuat undang-undang harus selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi. seperti penyakit jiwa usia dan keadaan-keadaan lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan kehendak seseorang pada saat terjadinya kejahatan. yang dapat dipengaruhi oleh patologi. administrasi dan politik di dalam tugasnya sehari-hari. Perbaikan selanjutnya adalah banyak kebijakan peradilan yang berdasarkan keadaaan -keadaan obyektif. Determinisme dan Indeterminisme . dan kejahatan hanya dapat diatasi dengan mengadakan perubahan-perubahan di masyarakat. Perbaikan dalam aliran neo klasik ini didasarkan pada beberapa kebijakan peradilan dengan merumuskan pidana minimum dan maksimum dan mengakui asas -asas tentang keadaan yang meringankan ( principle of extenuating circumtances ). Modifikasi dari doktrin kebebasan berkehendak. Karakteristik aliran neo klasik adalah sebagai berikut : 1. penyakit jiwa dan keadaan-keadaan lain. Aliran ini beranggapan bahwa pidana yang dihasilkan oleh aliran klasik terlalu berat dan merusak semangat kemanusiaan yang berkembang pada saat itu.diberi kompensasi atas kerugian yang diakibatkan oleh penjahat dan ia memberi tekanan yang b esar pada pencegahan kejahatan. Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban untuk mengadakan peringatan pemidanaan. dan. Masuknya kesaksian ahli di dalam acara peradilan guna menentukan derajat pertanggungjawaban. dengan kemungkinan adanya pertanggungjawaban sebagian di dalam kasus-kasus tertentu.

Demikian kalimat pertama yang dikatakan oleh Prof. Jadi kehendak melakukan perbuatan pidana menurut determinisme dikarenakan kehendak itu selalu ditentukan oleh kekuatan itu. 54 (staatblad 1866 No. J. die over zeen en oceanen baan koos naar de koloniale gebieden. Arab. Mr. Ada peraturanperaturan hukum tersendiri untuk orang-orang Belanda dan orang-orang Eropa lainnya yang merupakan jiplakan apa adanya dari hukum yang berlaku di Belanda dan ada peraturan -peraturan hukum tersendiri untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur Asing (Cina. dan kekuatan2 ini didorong pula oleh keadaan dalam masyarakattempat orang itu hidup. mungkin tanpa dipengaruhi kekuatan2 luar tersebut diatas. berlaku suatu kitab undang-undang hukum pidana tersendiri.Dualisme istilah ini berkisar pada pesoalan. Untuk orang-orang Eropa. Dualisme ini mula-mula juga ada dalam hukum pidana. Sejarah Hukum Pidana Indonesia De Nederlander. dan India/Pakiskan). nam zijn eigenrecht mee (orang-orang Belanda yang berada diseberang lautan dan samudera luas memiliki jalan untuk menetap di tanah-tanah jajahannya membawa hukumannya sendiri untuk berlaku baginya). E. Sedangkan indeterminisme seseorang melakukan suatu kejahatan. pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia sejak semula terdapat dualisme dalam perundang-undangan. trmuat dalam Firman raja Belanda tanggal 10 Februari 1866 No. apakah seorang manusia pada hakikatnya adalah bebas dari pengaruh (indeterminisme) atau justru selalu terpengaruh oleh kekuatan dari luar (determinisme) Kata determiner dalam bahasa Prancis bahkan berarti menentukan Determinisme adalah bahwa kekuatan menentukan dari luar itu adalah termasuk tabiat atau watak dari seorang dan alasan yg mendorong orang itu untuk pada akhirnya mempunyai kehendak tertentu itu.E Jonkers dalam buku karangannya Het Nederlandch-Indiche Strafstelsel yang diterbitkan pada tahun 1940 Maka. menurut faham indeterminisme dianggap mempunyai kehendak untuk itu. 55) yang mulai berlaku pada tanggal 1 januari .

selama belum diadakan yang baru menurut UndnagUndang Dasar ini . Keadaan hukum pidana ini dilanjutkan pada zaman pendudukan Jepang dan pada permulaan kemerdekaan Indonesia. mulai berlaku 1 Januari 1918. asal saja tidak bertentangan dengan UU tersebut. mulamula hanya untuk daerah-daerah yang langsung dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda. termuat dalam Berita Republik Indonesia II Nomor 9 diadakan penegasan tentang hukum pidana yang berlaku di Republik Indonesia. kemudian untuk seleuruh Indonesia. 497) yang mengatur secara terinci peralihan dari hukum pidana lama kepada hukum pidana baru. Tidak kurang dari 277 undang undang yang memuat peraturan hukum pidana di laur kedua kitab undnag-undang hukum pidana. KUHP ini ketika mulai berlakunya disertai oleh invoeringsverordening berupa Firman raja Belanda tanggal 4 Mei 1917 (Staatblad 1917 No. berdasar dari aturan-aturan peralihan. Seperti pada waktu itu di Belanda. 85 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1873. yang sekaligus menggantikan kedua kitab undang-undang hukum pidana tersebut yang diberlakukan bagi semua penduduk di Indonesia. Sedangkan untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur Asing berlaku suatu kitab undang-undang hukum pidana tersendiri termuat dalam Ordonantie tanggal 6 Mei 1872 (staatblad 1872 No. diakhiri dualisme dari hukum pidana di Indonesia. masih berlaku. Peraturan tersebut mengandung dua pasal berikut : Pasal 1 : Segala badang negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 tanggal 26 Februari 1946. sampai dimana peraturan-peraturan itu dipertahankan. baik dari pemerintah Jepang maupun dari Undang-undang Dasar RI 1945 pasal II dari aturan peralihan yang bebrunyi : Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku. Dengan demikian. Pada tahun 1881 di Belanda dibentuk dan mulai berlaku padatahun 1886 suatu kitab undang-undang hukum pidana baru yang bersifat nasional dan yang sebagian besar mencontoh kitab undang-undang hukum pidana di Jerman. kedua kitab undnag-undang hukum pidana di Indonesia ini adalah jiplakan dari Code Penal dari Prancis yang oleh Kaisar Napoleon dinyatakan berlaku di Belanda ketika negara itu ditaklukan oleh napoleon pada permulaan abad 19.1867. disebutkan : Dengan menyimpang seperlunya dari peraturan Presiden Republik Indonesia tertanggal 10 Oktober 1945 Nomor 2.. . slama belum diadakan yang baru menurut UUD. Sikap semacam ini bagi Indonesia baru diturut denagan dibentuknya kitab undang-undang hukum pidana baru (Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie) dengan Firman raja Belanda tanggal 15 Oktober 1915. ditetapkan satu peratu. dihapuskan atau diubah.

Isi peraturan ini hampir sama dengan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 tersbeut diatas. Dengan demikian. Perbedaannya adalah bahwa kini disebutkan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai tanggal pembatasan dan bahwa ditentukan peraturan -peraturan yang dulu itu dianggap tidak berlakuapabila bertentangan dengan UUD. 1 tahun 1946 adalah apa yang ditentukan dalam pasal I bahwa peraturan-peraturan hukum pidana yang sekrang (26 Februari 1946) berlaku adalah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942. Pasal II Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 mencabut semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh Panglima tertinggi balatentara Hindia Belanda dulu (Verordeningen van het Militair Gezag). Beberapa waktu sebelum 8 maret 1942 wilayah Hindia Belanda dinyatakan dalam keadaan perang (staat van oorlog en beleg alias SOB) dan penguasa militer Hindia-Belanda secara sah mengeluarkan agak banyak peraturan hukum pidana oleh Undang -undang Nomor 1 tahun 1946 semuanya dicabut. Jadi. maka perkataan . 10 Oktober 1945 Nomr 2 yang menurut peraturan tersebut. ditegaskan pertama -tama bahwa semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang dianggap tidak berlaku lagi Ini memang merupakan penyimpangan dari Peraturan Presiden No. semua peraturan yang ada pada tangal 17 Agustus 1945 tetap berlaku selama belum diganti dengan yang baru. pada tanggal 26 Februari 1946 belum ada undang-undang Republik Indonesia yang memuat peraturan hukum pidana. Sedangkan setahu saya.Pasal 2 : Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945. Selanjutnya oleh Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 ditentukan sebagai berikut : Pasal III : Jikalau dalam sesuatu peraturan hukum pidana ditulis perkataan Nederlandsch Indie atau Nederlandch Indich (e) (en) 2. yang tertinggal adalah peraturan-peraturan hukum pidana sebelum 8 Maret 1942 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Sipil Hindia-Belanda. Ketentuan y terakhir ini ang sering dilupakan oleh mereka yang cenderung menganggap semua peraturan dari zaman penjajahan Belanda yang tidak secara tegas dicabut atau diganti tetap berlaku tanpa kekecualiaan. Padahal diantara peraturan-peraturan itu ada beberapa yang jelas hanya layak dalam hubungan-hubungan kolonial . saat pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Balatentara Jepang yang berganti berkuasa di Indonesia sampai dengan tanggal 17 Agustus 1945. Penyimpangan dari Peraturan Presiden 10 Oktober Nomor 2 oleh UU No.

Pasal VI : (1) Nama undang- undang hukum pidana Wetboek van Strafrecht voor NederlandchIndie diubah menjadi Wetboek van Strarecht . kekuasaan atau perlindungan itu harus dianggap diberikan dan larangan tersebut ditujukan kepada pegawai. kewajiban kekuasaan atau perlindungan diberikan atas suatu larangan ditujukankepada suatu pegawai.perkataan itu harus dibaca Indonesie atau Indonesisch (e) (en) 2. yang seluruhnya atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan atau betentangan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai negara merdeka atau tidak mempunyai arti lagi. maka semua perkataan Nederlandch onderdaan dalam Kitab Undnag . Pasal IV : Jikalau dalam ssuatu peraturan hukum pidana suatu hak. badan. jawatan dan sebagainya. kewajiban. Pasal V : Peraturan hukum pidana. badan. yang sekarang tidak ada lagi maka hak. yang harus dianggap menggantinya. (2) Undang- undang tersebut dapat disebut Kitab Undang -undang Hukum Pidana Pasal VII : Dengan tidak mengurangi apa yang ditetapkan dalam Pasal III. harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku. jawatan dan sebagainya.

Pada akhirnya ditetapkan bahwa undnag-undang ini mulai berlaku untuk pulau Jawa dan Madura pada hari diumumkannya (26 Februari 1946) dan untuk daerah lain pada hari yang akan diteapkan oleh presiden. pasal XV mengenai penyiaran kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau yang tidak lengkap. Keadaan ini tetap berlangsung juga setelah pada 27 Desember 1949 kedaulatan Republik Indonesia Serikat diakui oleh pemerintah Belanda. Hukum pidana dalam arti objektif dan dalam arti subjektif Hukum pidana objektif (ius poenale) adalah hukum pidana yang dilihat dari aspek larangan-larangan berbuat.d XVI memuat beberapa tindak pidana baru yaitu pasal IX s/d XIII mengenai alat pembayaran yangs ah berupa mata uang atau uang kertas. pasal XIV mengenai penyiaran kabar bohong yang denagan itu sengaja diterbitkan keonaran di kalangan rakyat.undang Hukum Pidana diganti dengan warga negara Indonesia . Jadi hukum pidna objektif memili arti yang sama dengan hukum pidana materiil. Madura dan Sumatera maupun diluar daerah-daerah itu dan mengeluarkan beberpa undang-undang yang mengubah beberapa pasal dari KUHP yang tentunya hanya berlaku bagi daerah-daerah yang didudukinya sehingga ada dua KUHP. Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 1946 tanggal 8 Agustus 1946 (Berita Republik Indonesia II 2021 halaman 234) undang-undang ini untuk Sumatera ditetapkan berlaku mulai tanggal 8 Agustus 1946. Pembagian Hukum Pidana 1. Pada waktu itu. Sebagaimana dirumuskan oleh Hazewinkel . 73 tahun 1958 yang berjudul undang -undang tentang menyatakan berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 Republik Indonesia tenatang peraturan hukum pidana untuk seluruh wilayah Republik Indonesia dan mengubah Kitab Undangundang Hukum Pidana . sudah ada di Jakarta dan menguasai beberapa daerah baik di jawa. yaitu larangan yang disertai dengan ancaman pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. pasal XVI mengenai penghinaan terhadap bendera kebangsaanIndonesia. Pasal VIII : Beberapa paal dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana diubah atau dicabut. Dengan demikian pada saat itu jelas berlaku satu hukum pidana untuk seluruh wilayah RI dengan Kitan Undangundang Hukum Pidana atau KUHP sebagai intinya. Baru pada tanggal 29 September 1958 melalui Undangundang No. Pasal-pasal IX s. Pemerintah Hindia-Belanda yang menamakan dirinya pemeritah federal. F.

Selain pidana penjara dan denda 2. Misalnya dalam hukum pidana materil pasal 362 KUHP tentang larangan perbuatan mengambil benda milik orang lain dengan maksud memiliki benda itu secara melawan hukum (disebut pencurian) yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda maksimum Rp. Terhadap si pelanggar larangan ini. pada saat dan . Untuk menjalankan sanksi pidana yang telah dijatuhkan oleh negara pada si pelanggar hukum pidana tadi. Hak untuk menentukan perbuatan-perbuatan mana yang dilarang dan menentukan bentuk serta berat ringannya ancaman pidana (sanksi pidana) bagi pelanggarnya. Sementara hukum pidana subjektif (ius poeniendi) sebagai aspek subjektifnya huk pidana. Pembatasan tersebut melalui koridor-koridor hukum yang ditetap dalam hukum pidana materiil dan hukum pidana formil.000. Hak untuk menjalankan hukum pidana dengan menuntut dan menjatuhkan pidana pada si pelanggar aturan hukum pidana yang telah dibentuk tadi. dan 3. serta 3. um merupakan aturan yang berisi atau mengenai hak atau kewenangan negara : 1. ius poenali adalah sejumlah peraturan hukum yang mengandunbg larangan dan perintah dan keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana bagi si pelanggarnya. Walaupun negara mempunyai kewenangan/kekuasaan diatas namun tetap dibatasi jika tidak maka negara akan melakukan kesewenangan-wenangan sehingga menimbulkan ketidakadilan.Suringa. ketidaktentraman dan ketidaktenangan warga diantara negara. Juga dibatasi oleh hukum formil artinya tindakan-tindakan nyata negara sebelum. 900. hak negara dibatasi tidak boleh menjatuhkan pidana : 1. Hak untuk menjalankan sanksi pidana yang telah dijatuhkan pada pembuatnya/petindaknya. Jadi dari segi subjektif negara memiliki dan memegang tiga kekuasaan/hak fundamental yakni : 1. Untuk memberlakukan (sifat memaksanya) hukum pidana yang wujudnya denagan menjatuhkan pidana kepada si pelanggar larangan tersebut. Untuk menentukan larangan-larangan dalam upaya mencapai ketertiban umum.000. 2. 900. 2. Jika penjara tidak boleh melebihi 5 tahun. dan jika denda tidak diperkenankan diatas Rp.

Setiap warga negara harus tunduk dan patuh terhadap hukum pidana umum. peraturan-peraturan mengenai syarat tentang bilamana seseorang itu menjadi dapat dihukum. Hukum pidana materil itu menunjukkan asas-asas dan peraturan-peraturan yang mengaitkan pelanggaran hukum itu dengan hukuman. 3. SIMONS.setelah menjatuhkan pidana serta menjalankannya itu diatur dan ditentukan secara rinci dan cermat. penduduk negara yang berkualitas sebagai pegawai negeri saja atau hukum pidana yang termuat dalam Kitab UU Hukum Pidana Tentara (KUHPT) yang hanya berlaku bagi subjek hukum anggota TNI saja. Biasanya orang menyebut hukum pidana formil adalah hukum acara pidana. hukum pidana materil adalah semua ketentuan dan peraturan yang menujukkan tentang tindakan-tindakan yang mana adalah merupakan tindakan -tindakan yang dapat dihukum. Hukum Pidana Materil dan Hukum Pidana Formil Tentang hukum pidana materil dan hukum pidana formil akan dijelaskan menurut pendapat ahli dibawah ini : 1. 3. pasal 2 KUHP). Misalnya hukum pidana yang dimuat dalam BAB XXVIII buku II KUHP tentang kejahatan jabatan yang hanya diperuntukkan dan berlaku bagi orang-orang warga. 2. van HAMEL memberikan perbedaan antara hukum pidana materil dengan hukum pidana formil. Hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang dibentuk oleh negara yang hanya dikhususkan berlaku bagi subjek hukum tertentu saja. jadi ia menentukan tentang bilamana seseorang itu dapat dihukum. Sedangkan hukum pidana formilmemuat peraturanperaturan yang mengatur tentang bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus diberlakukan secara nyata. berlaku untuk seluruh wilayah hukum negara RI (asas toritorialitet. Contohnya adalah hukum pidana yang dimuat dalam KUHP. 2. van HATTUM. yang pada garis besarnya berupa tindakan penyelidikan. Sedangkan hukum pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat . maka dapat dibedakan antara hukum pidana umum dan hukum pidana lokal. Hu kum pidana umum adalah hukum pidana yang dibentuk oleh pemerintahan negara pusat yang berlaku bagi subjek hukum yang berada dan berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum negara. siapakah orangnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindakan -tindakan tersebut dan hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan terhadap orang tersebut (hukum pidana materil kadang disebut juga hukum pidana abstrak). Sedangkan hukum pidana formil menunjukkan bentuk bentuk dan jangka-jangka waktu yang mengikat pemberlakuan hukum pidana materil. Perlakuan-perlakuan negara terhadap pesakitan/pelaku pelanggaran harus menurut aturan yang sudah ditetapkan dalam hukum pidan formil. penunjukkan dari orang-orang yang dapat dihukum dan ketentuan-ketentuan mengenai hukuman-hukumannya sendiri. Hukum Pidana Umum dan Hukum Pidana Khusus Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang ditujukan dan berlaku untuk semua warga negara (subjek hukum) dan tidak membeda-bedakan kualitas pribadi subjek hukum tertentu. siapa yang dapat dihukum dan bilamana hukuman tersebut dapat dijatuhkan. persidangan dengan pembuktian dan pemutusan (vonis) dan barulah vonis dijalankan (eksekusi). Jika ditinjau dari dasar wilayah berlakunya hukum. hukum pidana materil itu memuat ketentuan-ketentuan dan rumusan-rumusan dari tindak pidana. penyidikan. penuntutan.

4. Setiap tindakan yang diambil oleh alat-alat negara dengan maksud menghukum seseorang yang telah dituduh melakukan suatu pelanggaran terhadap peraturan -peraturan daerah atau terhadap ketentuan-ketentuan pidana menurut UU tanpa bantuan dari pengadilan. pemerintah-pemerintah daerah berikut aalat kekuasaannya. kabupaten maupun pemerintahan kota. Namun demikian ada satu daar hukum yang dapat memberi kemungkinan untuk memberlakukan hukum pidana adat (tidak tertulis) dalam arti yang sangat terbatas berdasarkan Pasal 5 (3b) UU No. Menurut PAF. dan penyitaan-penyitaan. misalnya Kitab undang-undang Hukum Pidana (KUHP). maka masalah terbukti atau tidaknya sseorang yang telah dituduh melakukan suatu pelanggaran terhadap peraturan daerah. Dengan demikian. Hukum Pidana Tertulis dan Hukum Pidana Tidak Tertulis Hukum pidana tertulis adalah hukum pidana undang-undang. hanya pengadilanlah yang berwenang untuk memutuskannya. 1/Drt/1951. Sementara itu hukum pidana tidak tertulis tidak dapat dijalankan. LAMINTANG. penjatuhan-penjatuhan hukum seperti tlah diancamkan terhadap setiap pelanggar dan peraturan-peraturan daerah itu secara mutlak harus dilakukan oleh pengadilan. terikat pada ketentuan-ketentuan seperti yang telah diatur di dalam UU No. Dalam melakukan penahanan. Hukum pidana lokal dapat dijumpai did alam PERDA. memeriksa orang yang dituduh telah melakukan suatu pelanggaran terhadap barang-barangnya tanpa mengajukan mereka ke pengadilan untuk diadili. pemeriksaan. Tidak seorangpun termasuk pemerintah-pemerintah daerah dan alat-alat kekuasaannya boleh menahan. belanda) adalah hukum pidana tersebut telah disusun secara sistematis dan lengkap dalam kitab undang undang. tidak berwenang main ahakim sendiri . Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer (KUHPM). pengadilanlah satu -satunya lembaga yang berwenang untuk memutuskannya. yang bersumber dari hukum yang terkodifikasi yaitu Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan bersumber dari hukum yang diluar kodifikasi yang tersebar dipelbagai peraturan perundang -undangan. Hukum pidana yang berlaku dan dijalankan oleh negara adalah hukum tertulis saja. karena dalam hal berlakunya hukum pidana tunduk pada asas legalitas sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 (1) KUHP berbunyi tiada suatu perbuatan yang da pat dipidana kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang -undangan pidana yang telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan .oleh pemerintah daerah yang berlaku bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana di dalam wilayah hukum pemerintahah daerah tersebut. Sedangkan yang . 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana. 5. Sebagaimana diungkapkan oleh HAZEWINKEL SURINGA : di dalam hukum pidana baik negara maupun badan yang bersifat hukum publik yang lebih rendah lainya. Maka dapat dikat akan telah terjadi perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) dan jika dilakukan oleh penguasa disebut onrechtmatige overheidsdaad (perbuatan melanggar hukum oleh penguasa). Dengan pula mengenai hukuman yang bagaimana yang akan dijatuhkan kepada si pelanggar dan mengenai akibat-akibat hukum lainnya seperti dirampasnya barang-barang bukti untuk keuntungan negara. Hukum Pidana Yang DiKodifikasikan dan Tidak Dikodifikasikan Hukum pidana yang dikodifikasikan (codificatie. dikembalikannya barang -barang bukti kepaa terhukum dan lain-lainnya. baik di tingkat propinsi. pada hakikatnya merupakan suatu perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) yang dilarang oleh hukum.

pembentuk undnag-undang menyerahkan pada perkembangan praktik melalui penafsiran-penafsiran hakim. Untuk memenuhi kebutuhan hukum dan meng isi kekosongan norma semacam ini. Oleha karena itu. Oleh karena itu. salahy satu pekerjaan hakim dalam menerapkan hukum ialah melakukan penafsiran hukum. Hukum tertulis bersifat kaku. Untuk mengkuti perkembangan itu acap kali praktik hukum menggunakan suatu penafsiran. Hukum tertulis tidak dapat dengan segera mengikuti arus perkembangan masyarakat. dalam keadaan yang mendeak dapat menggunakan suatu penafsiran. Keterangan yang menjelaskan arti beberapa istilah atau kata dalam undnag -undang itu sendiri (Bab IX Buku I KUHP) tidak mungkin memuat seluruh istilah atau kata-kata penting dalam pasal-pasal perundang-undangan pidana. dalam menerapkan norma tadi akan menemukan kesulitan. Acap kali suatu norma dirumuskan secara singkat dan besifat sangat umum sehingga menjadi kurang jelas maksud dan artinya. Ketika hukum tertulis dibentuk. mengingat begitu banyaknya rumusan ketentuan hukum pidana. Dalam banyak hal. Oleh karena itu. barulah muncul persoalan mengenai hal-hal yang tidak diatur tadi. Pentingnya Penafsiran undnag-undang Pidana Dalam hal berlakunya hukum pidana tidak dapat dihindari adanya penafsiran (interpretatie) karena ha-hal sebagai berikut : 1. Namun setelah undang-undang dibentuk dan dijalanka. hukum selalu ketinggalan. PENAFSIRAN UNDANG-UNDANG PIDANA 1. terdapat ssuatu hal yang tidak diatur karena tidak menjadi perhatian pembentuk undang-undang. Dalam hal ini hakim bertugas untuk menemukan pikiran-pikiran apa yang sebenarnya yang terkandung dalam norma tertulis. tidak dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan masyarkat. dan nilai-nilai ini dapat mengukur segala sesuatu. Hal tersebut dapat . 3. 4. Dengan berkembangnya masyarakat berarti berubahnya hal-hal yang dianutnya. Pembentuk undang-undnag memberikan penjelasan hanyalah pada istilah atau unsur yang benar benar ketika undnag-undang dibentuk dianggap sangat penting. ssuai dengan maksud dari dibentuknya norma tertentu yang dirumuskan. Contohnya dalam rumusan Pasal 1 (2) KUHP perihal unsur aturan yang paling menguntungkan terdakwa mengandung ketidakjelasan arti dan maksud dari aturan yang paling menguntungkan. 2. misalnya tentang rasa keadilan masyarakat. Untuk mengatasi kesulitan itu dilakuakn jalan menafsirkan.termasuk dalam hukum pidana tidak terkodifikasi adalah peraturan-peraturan pidana yang terdapat di dalam undang-undang atau peraturan-peraturan yang bersifat khusus (van HATTUM) G.

pengobatan cuma Cuma dan fasiltas lainnya. b. 2. komisi. misalnya Pasal 98 KUHP : arti waktu malam berarti waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit. bukan dari sudut pelaksana hukum yakni hakim. Contoh lainnya dalam penjelasan atas pasal 12 B ayat (1) UU No 20 tahun 2001. apakah yang dimaksudkan dengan perkataan kenderaan itu. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkan dengan istilah kendaraan itu. Penafsiran Autentik Penafsiran autentik (resmi) Penafsiran sahih (autentik. Sedangkan diluar KUHP penafsiran resmi dapat dilihat dari ketentuan-ketentuan umum dan penejelasan pasal demi pasal. atau penafsiran ini sudah ada dalam penjelasan pasal demi pasal. Untuk melakukan penafsiran. hanyalah kenderaan bermotorkah ataukah termasuk juga sepeda dan bendi. dalam praktik penerapan hukum diperlukan penafsiran. Dalam penafsiran bermakna hakim kebebasannya dibatasi. Cara-cara penafsiran ada dalam doktrin hukum pidana. tiket perjalanan. Macam-Macam Penafsiran Dalam Hukum Pidana a. dengan cara mencaripengertian yang sebenarnya menurut bahasa sehar-hari yang digunakan masyarakat yang bersangkutan. Bedasarkan hal diatas sangatlah jelas bahwa perkembangan masyarakat dimana kebutuhan hukum dan rasa keadilan juga berubah sesuai denagan nilainilai yang dianut dalam masyarakat. Pasal 101 KUHP: ternak berarti hewan yang berkuku satu. menjelaskan yang dimaksud dengan gratifikasi dalam ayat in adalah i pemberian dalam arti luas. pinjaman tanpa bunga. dimana ada sebagian pakar hukum yang keberatan berkaiatan denga masalah n asas legalitas tentang berlakunya hukum pidana sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Untuk (KUHP) tidak memberikan petunjuk tentang bagaimana cara hakim untuk melakukan penafsiran. hewan memamah biak dan babi (periksa KUHP Buku I Titel IX). Sebagai contoh dapat dikemukakan hal yang berikut : Suatu peraturan perundangan melarang orang memparkir kenderaannya pada suatu tempat tertentu.menimbulkan bermacam pendapat hukum dari kalangan ahli hukum. cara yang akan digunakan diserahkan pada praktik hukum. Dikatakan penafsiran otentik karena tertulis secara esmi dalam undnag-undang artinya berasal dari pembentuk UU itu sendiri. yakni meliputi pemberian uang. Penafsiran tata bahasa (gramaticale interpretatie) . Timbulnya beragam pendapat seperti ini karena adanya penafsiran. barang. rabat (discount). maka untuk memenuhi tuntutan rasa keadilan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang berkembang dan dianut masyarakat tersbeut. Hanya saja terhadap suatu cara penafsiran telah terjadi perbedaan pendapat yaitu terhadap penggunaan penafsiran analogi. disebut juga penafisran menurut atau atas dasar bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Orang lalu bertanyatanya. Hakim tidak boleh memberikan arti diluar dari pengertian autentik. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau sarana tanpa elektronik. Bekerjanya penafsiran ini ialah dalam hal untuk mencari pengertian yang sebenarnya dari suatu rumusan norma/unsurnya. . fasiltas penginapan. resmi) ialah penafsiran yang pasti terhadap arti kata-kata itu sebagaimana yang diberikan oleh pembentuk UU. perjalanan wisata.

br.Contoh lain kata dipercayakan sebagaimana dirumuskan dalam dalam pasal 432 KUHP se cara gramatikal diartikan dengan diserahkan . c. Pertimbangan Pengadilan tinggi Medan seperti disini bukan ditujukan pada tepat atau tidak tepatnya pendapat itu. melainkan sekadar memberi contoh bahwa disini hakim telah berusaha untuk mencapai keadilan dengan menggunakan penafsian tata bahasa menurut bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang besangkutan walaupun diakui oleh hakim yang besangkutan sebagai pertimbangan yang berlebihan. laporan-laporan perdebatan dalam DPR dan surat menyurat antara Menteri dengan Komisi DPR yang bersangkutan. Penafsiran historis (historiche interpretatie) yaitu : 1) Sejarah hukumnya. bahwa walaupun belebihan. memori tanggapan pemerintah. Penafsiran sistematis/dogmatis (systematische interpretatie) .S menyeahkan kehormatannya kepada terdakwa samalah dengan menyeahkan benda/barang. dll 2) Sejarah undang-undangnya. misalnya rancangan UU. misalnya denda f 25. kata meninggalkan dalam pasal 305 KUHP diartikan secara gramatikal dengan menelantarkan . pandangan pandangan umum. Sejarah terjadinya hukum dapat diselidiki dari memori penjelasan. yang diatikan kemaluan sehingga bilsa saksi K. 144/Pid/PT Mdn telah memberikan arti bonda (bahasa Batak) dari unsur benda (goed) dalam penipuan adalah juga temasuk alat kelamin wanita . yang diselidiki maksudnya berdasarkan sejarah terjadinya hukum tersebut. dalam bahasa daeah tedakwa dan saksi (Tapanuli) dikenal istilah bonda yang tidak lain daripada barang. Perhatikanlah petimbangan Pengadilan Tinggi Medan mengenai hal ini sebagai berikut . sekarang ditafsirkan dengan uang Republik Indonesia sebab harga barang lebih mendekati pada waktu KUHP 1. penafsiran menilik susunan yang berhubungan dengan bunyi pasal-pasal lainnya baik dalam UU it . Contoh lain adalah kasus melalui putusan Pengadilan Tinggi Meda tanggal 8-8-1983 No. khusus dan teutama dalam perkara ini tentang istilah barang.-. Tentu pendapat Pengadilan Tinggi Medan ini masihd apat diperdebatkan. notulen rapa/sidang. yang diselidiki maksud pembentuk UU pada waktu membuat UU itu.

11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi (dicab dengan UU ut No. semua objek kejahatan dalam Bab XIX adalah nyawa. kemudian menurut ketentuan yang baru menjadi tidak dapat dipidana. Contoh lain. Mengapa demikian ? karena jika melihat pasal 347 itu dengan menghubungkannya pada judul Bab XIX tentang kejahatan terhadap Nyawa (secaa sistematis). janin tadi haruslah benyawa dan tidak berlaku bagi janin yang sudah tidak bernyawa atau telah mati. Janin yang hidup dalam peut ibu yang mengandungnya dipandang sebagai satu kehidupan yang bediri sendiri yang lain dari nyawa atau kehidupan ibu yang mengandungnya. Ini penting disebabkan kebutuhan kebutuhan berubah menurut masa sedangkan bunyi UU tetap sama saja. yaitu untuk memberantas setiap . dalam Pasal 347 KUHP. 26 tahun 1999). Penafsiran Teleologis (Teleologische Interpretatie) ) yaitu penafsiran dengan mengingat maksud dan tujuan UU itu. yang artinya kandungan (vucht) atau yang janin dari perut ibu bahwa vrucht yang dipaksa keluarkan itu harus dilakuk pada janin an yang hidup. 1. pengetiannya adalah suatu ketentuan tentang tidak dapat dipidanya perbuatan. Misalnya sebulan yang lalu A melakukan perbuatan pidana yang dapat dihukum. 2. Contoh pada saat masih ebrlakunya UU No. dimana pasal 347 itu adalah bagian dari Bab IX itu. Artinya semula perbuatan tetentu dipidana. Penafsiran Logis (Logische Interpretatie) adalah suatu macam penafsiran dengan cara menyelidiki untuk mencari maksud sebenarnya dari dibentuknya suatu rumusan norma dalam UU dengan menghubungkannya (mencari hubungannya) denagan rumusan norma yang lain atau dengan undang -undang yang lain yang masih ada sangkutpautnya dengan rumusan norma tersebut (lihat pasal 55 KUHP). misalnya pengertian perbuatan menggugurkan kandungan . selalu didasarkan pada maksud dari pembentuk UU itu. Artinya.u maupun dengan UU yang lainnya misalnya ketentuan paling menguntungkan dalam rumusan ayat 2 dari Pasal 1 KUHP apabila dihubungkan dengan rumusan ayat 1 pasal 1 KU yang HP merumuskan suatu perbuatan dapat dipidana keculai bedasarkan kekuatan ketentuan peundang -undangan pidana yang telah ada. di dalam menafsirkan rumusan yang ada dalam UU itu mengenai suatu kasus tertentu. bukan janin yang sudah mati. kemudian hari ini muncul UU yang mengatur perbuatan poidana tesebut tidak dapat dihukum. Dengan demikian yang dibelakukan adalah UU pidana bau yang menguntungkan.

Penafsiran Analogis. Walaupun banyak kalangan ahli hukum melarang menggunakan analogis karena bertentangan dengan asas legalitas namun dalam praktek hukum terjadi juga analogi misalnya (Arrest Hoge Raad tanggal 23 Mei 1921) yang menganalogikan menyambung aliran listrik dianggap sama dengan mengambil aliran listrik sehingga dapat dijeat pasal 362 KUHP. peranan dan tugas angkatan laut dan darat juga sama dengan tugas angkatan udara yaitu dalam usaha perlindungan keselamatan dan keamanan negara. 1. lalu dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut (ada rasio persamannya kejadian konkretnya terhadap noma-noma tesebut). yang sandaran maupun sifatnya sama. sedang hal hal ini tidak diliputi oleh UU yang mengatur hal-hal tegas ini (lihat Pasal 285 KUHP). 2. bahwa soal yang dihadapi itu tidak diliputi oleh pasal yang termaksud atau dengan kata lain berada diluar pasal tersebut. Jadi tidak ada diatur keperluan angkatan udara. tidak diatur denagan tegas oleh UU. Timbullah kini pertanyaan. penafisran ekstensif didasarkan makna norma itu menurut keadaan yang sekarang yang atinya ada perubahan makna dari sesuatu pengertian unsur-unsur rumusan atau umusan suatu norma (hampir sama dengan analogi). Dengan berdasarkan perlawanan pengertian (peringkaran) itu ditarik kesimpulan. memberi tafsiran pada sesuatu peraturan hukum dengan memberi ibarat (kiyas) pada kata-kata tersebut sesuai dengan asas hukumnya. sehingga sesuatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat dimasukkan. Jadi. Tetapi dengan menggunakan penafsirang analogis.perbuatan atau upaya-upaya yang menggangu dan menggoyang kelangsungan dan atau kestabilan kekuasaan pemerintahan negara ketika itu. Penafsiran Esktensip. Contoh Pasal 34 KUHPerdata menentukan bahwa seorang perempuan tidak diperkenankan menikah lagi sebelum liwat 300 hari setelah perkawinannya terdahulu diputuskan. tetapi disamping itu tedapat pula hal-hal. 3. Penafsiran ini diterangkan oleh Satochid Kartanega ra bahwa keadaan ini kita jumpai apabila terdapat beberapa hal yang diatur dengan tegas oleh UU. . memberi tafsiran dengan memperluas arti kata-kata dalam peraturan itu sehingga sesuatu peristiwa dapat dimasukkannya seperti aliran listrik termasuk juga benda . maka jika terjadinya menyerahkan pada angkatan udara maka pasal ini juga dapat dikenakan karena pada dasar fungsi. Penafsiran a Contrario (menurut peringkaran) ialah suatu cara menafsirkan UU yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang dihadapi dan soal yang diatur dalam suatu pasal UU. misalnya pasal 388 ayat (1) yang melarang oang melakukan pebuatan curang pada waktu meny eahkan keperluan angkatan laut atau angkatan darat yang dapat membahayakan keselamatan negaa dalam keadaan perang.

Motivasi pemilihan metode interpretasi itu tidak pernah kita jumpai dalam yurisprudensi : mengapa hakim memilih metode interpretasi yang ini dan bukan yang itu tidak pernah disebut dalam yurisprudensi. historis. prioritas kepada salah satu metode dalam menemukan hukum. Diatas telah dikemukakan beberapa metode penafsiran (interpretasi). berhubung dengan kemungkinan bahwa seorang perempuan sedang mengandung setelah perkawinannya diputuskan. yang mana yang harus dipilih ? Peraturan umum mengenai pertanyaan metode interpretasi yang mana.bagaimanakah halnya dengan seorang laki-laki ? Apakah seorang laki-laki juga harus dan khusus ditujukan kepada orang perempuan. yaitu : 1. Bab I pasal 1 KUHP) 2. sistematis dan teleologis. Maksudnya waktu menunggu dalam pasal 34 KUHPerdata ialah untuk mencegah adanya keragu-raguan mengenal kedudukan sang anak. yang harus digunakan oleh hakim tidak ada Pembentuk UU tidak memberi . Pemilihan mengenai metode interpretasi merupakan otonomi hakim dalam penemuan hukum. maka menurut UU anak itu adalah anaknya suaminya yang terdahulu (jika anak itu lahir sebelum liwat 300 hari setelah putusnya perkawinan teahulu). Ditetapkan waktu 300 hari ialah karena waktu itu dianggap sebagai waktu kandungan yan paling g lama. Hakim hanya akhirnya akan menjatuhkan pilihannya berdasarkan petimbangan metode manakah yang paling meyakinkan dan yang hasilnya paling memuaskan. Batas waktu (diatur dlm buku pertama. dibatasi oleh hal yang sangat penting. Dalam hal diberlakukannya hukum pidana ini. . Di dalam putusan-putusannnya hakim tidak pernah menegaskan argumen atau alasan apakah yang menentukan untuk memilih metode tertentu. Metode interpretasi itu sering digunakan bersama-sama atau campur aduk. Dapatlah dikatakan bahwa dalam tiap interpretasi atau penjelasan UU terdapat unsur2 gramatikal. Jika dilahirkan anak setelah perkawinan yang berikutnya. dalam peristiwa konkrit yang mana. BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA Hukum Pidana disusun dan dibentuk dengan maksud untuk diberlakukan dalam masyarakat agar dapat dipertahankan segala kepentingan hukum yang dilindungi dan terjaminnya kedamaian dan ketertiban.

BATAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT WAKTU Prinsip/asas legalitas telah diperjuangkan sejak abad XVIII di Eropa Barat sebagai reaksi atas berlakunya hukum pidana zaman monarki absolut dengan menjalankan hukum pidana secara sewenang-wenang. sekehendak dan menurut kebutuhan Raja sendiri. Kekuasaan legislatif atau membuat perundang-undangan yang dipegang leh parlemen. melainkan hanya semata-mata bertugas untuk memeriksa dan memutus apakah suatu perbuatan tertentu telah bertentangan dengan ketentuan undang -undang. 2.Batas tempat dan orang (diatur dlm buku Pertama Bab I Pasal 2 9 KUHP) A. yakni badan yang menjalankan hukum yang telah dibuat oleh parlemen. Ahli hukum yang memperjuangkan dan memperkenalkan asas legalitas ini yang terkenal adalah Montesquieu (1689-1755) dengan teori Trias Politicanya yang disempurnakan oleh Von Feurbach (1755-1833). . Kekuasaan eksekutif yang menjalankan pemerintahan yang dipegang oleh pemerinta dan 3. h Kekuasaan yudikatif atau kehakiman. Trias Politica : 1. Badan kehakiman ini tidak bertugas menentukan tentang perbuatan apa yang dilarang dan diancam pidana.

dan agar orang takut berbuat jahat.Dengan adanya ajaran Trias Politica itu. Asas legalitas yang juga dikenal dengan asas asas nulla poena pertamakali dimuat dalam pasal 8 Declaration des droits de L hommeet du Citoyen (1789). terlebih dulu ia harus mengetahui tentang ancaman pidana terhadap perbuatan jahat tersebut. hal-hal yang dilarang beserta ancaman pidananya itu harus ditetapkan terlebih dulu dalam UU. Anselm Von Feuerbach (Belanda) melakukan upaya yang lebih konkret dalam memperkenalkan asas legalitas yang terkenal dengan ucapannya dalam bahasa latin (dalam bukunya yang berjudul Lehrbuch des peinlichen Recht . Ucapannya ini secara jelas mengandung pengertian sebagaimana yang dimaksud dengan asas legalitas Selanjutnya menurut Anselm Von Feuerbach beliau mengajarkan bahwa untuk menjamin dan mempertahankan ketertiban masyarkat. untuk memidana seseorang atas perbuatan yang dilakukannya. pidana harus berfungsi menakut-nakuti orang-orang agar tidak berbuat jahat. semacam Undang-Undang Dasar yang pertama dibentuk pada masa . disyaratkan agar terlebih dulu harus ada ketentuan hukum yang menyatakan perbuatan itu sebagai dilarang dan dapat dipidana (dibuat dulu aturan oleh legislatif). Agar orang mengetahui perihal ancaman pidana itu. 1801) yaitu Nullum delictum nulla poena sina praevia lege yang artinya tidak ada pidana tanpa adanya ketentuan hukum yang lebih dulu menentukan demikian.

kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada terlebih dulu Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan vooragegane wettelike strafbepaling) . 1983 : 24). dimana juga asas legalitas ini tetap tercantum di dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP Indonesia. yang bunyinya tidak ada sesuatu yang boleh dipidana selain karena suatu wet yang ditetapkan dalam undang-undang dan diundangkan secara sah (Moeljatno. Code Penal ini tetap diberlakukan di Belanda sampai digantinya WvS Nederland 1881. Berdasarkan asas konkordansi WvS Nederland diberlakukan di Hindia Belanda pada 1 Januari1918 menjadi Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (yakni kini KUHP). Kemudian asas ini dimuat dalam Pasal 4 Code Penal Prancis tahun 1810.revolusi Prancis. Pasal 1 ayat 1 KUHP merumuskan suatu perbuatan tidak dapat dipidana. Ketika Belanda lepas dari pemerintahan Prancis tahun 1813. Code Penal 1810 ini berlaku 75 tahun di Belanda walaupun sifatnya sementara Dalam WvS Nederland (disusun tahun 1881 dan mulai berlaku tahun 1886) yang baru ini asas legalitas dari Code Penal Prancis itu masuk didalamnya (Pasal 1 ayat 1).

2) Dalam hal untuk menentukan suatu perbuatan apakah berupa tindak pidana ataukah bukan tidak boleh menggunakan penafsiran analogi. 3) Ketentuan hukum pidana tidak berlaku surut (terugwerkend atau retroaktif). Dalam ketentuan Pasal 1 ayat 1 KUHP tersebut.. ada tiga pengertian dasar dalam asas legalitas itu yaitu : 1) Ketentuan hukum pidana itu harus ditetapkan lebih dahulu secara tertulis. 1) Hukum pidana harus tertulis : . Asas ini dalam bahasa latinnya adalah Nullum delictum nulla poena sine praevia le gi poenali . Dari tiga pengertian dasar diatas. Asas legalitas adalah ajaran kepastian hukum Dapat disimpulkan hukum pidana harus tertulis. tidak boleh ada penafsiran analogi dan tidak boleh berlaku surut. tampak betul bahwa asas legalitas ini berlatarbelakang pada kepastian hukum yang berkaitan dengan perlindungan yang lebih konkret terhadap hak -hak warga yang berhadapan dengan kekuasaan pemerintahan negara Dengan asas legalitas terhindar dan dapat mencegah sewenang-wenangan penguasa dalam bidang peradilan pidana.

. tidak dapat dengan cepat mengikuti perkembangan masyarakat dan lagi pula banyak perbuatanperbuatan dalam masyarakat yang patut dipidana seperti dalam hukum adat (pidana) yang masih hidup namun tidak dapat dijalankan karena tidak ada bandingannya dalam peraturan tertulis ini.peraturan daerah (kabupatenatau kota). tetapi juga tertulis dalam bentuk peraturan-peraturan lainnya yang tingkatannya dibawah undang-undang. sumber hukum pidana itu bukan saja UU dalam arti formil tetapi juga dalam arti materiil termasuk peraturan pemerintah. peraturan menteri. Jadi. 1 (drt) 1951 sangatlah penting. baru kemudian diberlakukan. terutama terhadap norma tindak pidana dalam hukum tertulis ketika norma tersebut diterapkan dalam suatu peristiwa konkret tertentu. Kelemahan : Hukum pidana yang harus dibuat tertulis mempunyai kelemahan yaitu hukum pidana kaku. Ketentuan pidana harus tertulis bukan saja dalam bentuk undang -undang. Untuk peran hukum adat sebagaimana tertuang dalam Pasal 5 ayat 3b UU No. keputusan presiden dan lain sebagainya yang mengandung aspek hukum pidana. 2) Larangan Menggunakan Penafsiran Analogi Dalam Hukum Pidfana Salah satu pekerjaan hakim adalah melakukan penafisran hukum.Peraturan perundangan haruslah tertulis karena tertulis berarti harus ditetapkan terlebih dulu.

penafsiran logis. perluasan berlakunya hukum yang demikian ini mempunyai mamfaat dalam upaya mencapai keadilan. dimana menurut masyarakat sesuatu perbuatan yang tidak secara tepat dapat dipidana melalui aturan pidana tertentu. mengingat pasal 1 (1) KUHP walaupun ada sebagian pakar hukum membolehkan seperti Tavarne. mengenai salah satu atau beberapa unsur tindak pidananya. . penafsiran a kontrario.Norma-orma hukum pidana mengenai rumusan tindak pidana k etika diterapkan pada kejadian atau peristiwa-peristiwa konkret tertentu tidak jarang memerlukan penafsiran Hal ini dapat terjadi pada peristiwa tertentu yang tidak sama persis dengan apa yang dirumuskan dalam UU. terlepas dari adanya kelemahan dari larangan menggunakan analogi. penafisran ekstensif. penafsiran terbatas dan penafisran analogis . sebagaimana dasar dibentuknya rumusan Pasal 1 (1) KUHP ialah pada latar belakang kepastian hukum dalam rangka melindungi rakyat dari upaya kesewenang -wenangan penguasa melalui para hakim. Jonkers. Ada beberapa macam penafsiran yang telah dikenal dalam doktrin hukum pidana yaitu penafisran autentik. penafsiran gramatikal. Dirasakan sebagai penyerangan dan pelanggaran atas kepastian berlakunya hukum apab ila analogi itu dipergunakan. Pompe. penafsiran sistematis. di Indonesia Wirjono Prodjodikoro. Alasan mengapa analogi dilarang dalam hukum pidana berpokok pangkal untuk menjamin kepastian hukum. Akan tetapi. penafisran historis. namun dengan menggunakan analogi bagi pelaku perbuatan itu menjadi dapat dipidana. Dari sekian penafsiran diatas penafsiran analogi oleh berbagai kalangan ahli hukum tidak boleh digunakan dalam hukum pidana.

rasio larangan mencuri didalam trem yang sedang berjalan yang berlatar belakang pada larangan mencuri dalam kenderaan angkutan yang sedang berjalan pada dasarnya sama dengan rasio melarang mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan karen a kereta api. trem dan bis adalah sama. Dengan kata lain. Mengapa bis dianalogikan dengan trem. namun begitu analogiamat berguna dan dapat dipakai dalam hal untuk mengisi kekosongan dalam peraturan perundang -undangan. belum ada bis yang dipergunakan sebagai angkutan umum seperti keadaan sat ini. Analogi adalah penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum (pidana) dengan cara memperluas berlakunya aturan hukum tersebut dengan mengabstraksikan rasio ketentuan itu sedemikian rupa luasnya pada kejadian konkret tertentu sehingga kejadian yang sesungguhnya tidak masuk ke dalam ketentuan itu menjadi masuk ke dalam isi atau pengertian ketentuan hukum tersebut. Dalam hal ini bis dianalogikan dengan kereta api atau trem sehingga orang yang mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan dapat pula diterapkan ketentuan hukum pidana menurut Pasal 365 (2) sub 1 ini (Wirjono Prodjodikoro).Diakui bahwa analogi mengurangi kepastian hukum dan dapat disalahgunakan oleh penguasa melalui para hakimnya atau oleh hakim yang tidak bijaksana. . Contoh kasus : misalnya dari ketentuan pasal 365 (2) sub 1 yang antara lain melarang melakukan pencurian dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. tetapi peraturan itu dipergunakan juga bagi kejadian/peristiwa lain yang tidak termasuk dalam peraturan itu. Mengapa tidak disebut bis dalam Pasal 365 ayat 2 sub 1 karena ketika KUHP (WvS Belanda 1881) dibentuk. ada banyak persamaannya dengan kejadian yang disebut tadi.Jadi apa salahnya dengan analogi melarang pula mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan. analogi itu terjadi apabila suatu peraturan hukum menyebut dengan tegas suatu kejadian yang diatur. berlaku juga pada pencurian dalam sebuah bis yang sedang berjalan. angkutan umum yang berjalan.

maka dapat dimengerti bahwa kemudian pada sebagian ahli hukum memberi arti baru bahwa benda merupakan sesuatu yang bernilai ekonomis dan mempunyai nilai bagi manusia (Satochid Kartanegara. dalam arrest HR tanggal 23 Mei 1921 yang meganalogikan aliran/tenaga listrik itu dengan pengertian benda sebagaimana dimaksud dalam Pas 362 KUHP al (pencurian).Pengertian seperti ini sesuai dengan pengertian dari perbuatan mengambil sebagai unsur tingkah laku pada pencurian yaitu berupa benda-benda yang dapat diambil. Akan tetapi. Pengertian benda dalam kejahatan ini menurut keterangan dalam MvT mengenai pembentukan Pasal 310 WvS Belanda (362 KUHP kita) terbatas pada benda-benda bergerak (roerent goed) dan benda-benda berwujud (Stoffelijk goed). Contoh lain : dalam sejarah praktik hukum.. Dengan alasan seperti itu. Dengan dasar pengertian semacam itu. karena mempunyai nilai ekonomis. ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada (Pasal 1 ayat 1 KUHP) Yang artinya adalah ketika perbuatan itu dilakukan telah berlaku aturan hukum pidana yg melarang melakukan perbuatan tsb. yakni berupa sesuatu bagian dari kekayaan manusia. 172). . energi listrik dapat pula merupakan benda yang menjadi objek pencurian. artinya yang dapat dipidahkan kekuasaannya dalam arti yang sebenarnya. Hoge Raad telah menggunakan analogi dengan memberi arti baru tentang benda. tepai berlaku ke depan dapat d isimpulkan dari kalimat yang menyatakan . Aliran/energi dari sudut pandang demikian bukanlah benda. dengan menerapkan analogi yang terkenal dan banyak dimuat dalam berbagai literatur hukum. Disini perlu ada kepastian hukum (rechtszekerheid). untuk menjangkau keadilan. Energi listrik adalah bagian kekayaan. Mengambil dalam arti berbuat sesuatu dengan memindahkan kekuasaan atas sesuatu benda ke dalam kekuasaannya/ ke tangannya menurut akal pikiran orang pada umumnya hanyalah dapat dilakukan pada benda-benda berwjud dan bergerak saja. Pemakaian energi itu harus membayar kepada perusahaan si pemilik energi. 3) Hukum pidana tidak berlaku surut Pernyataan hukum pidana tidak berlaku surut.

ketentuan perundang Selanjutnya pada Pasal 1 ayat 2 KUHP berbunyi bilamana ada perubahan dalam peraturan perUUan sesudah perbuatan dilakukan. (Disini mengandung keadilan) Pasal 1 ayat 2 KUHP ini (asas retroaktif) adalah pengecualian pasal 1 ayat 1 KUHP (asas legalitas). Disini perlu ada kepastian hukum (rechtszekerheid).Pernyataan hukum pidana tidak berlaku surut. BATAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT TEMPAT DAN ORANG . Disini terjadi hukum boleh diberlakukan surut (hukum diberlakukan kebelakang) Ada 3 syarat diberlakukannya hukum berlaku ke belakang/surut menur pasal 1 ayat 2 KUHP yaitu : ut 1) Harus ada perubahan perUUan mengenai suatu perbuatan. maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yg paling menguntungkan . 2) Perubahan tersebut terjadi setelah perbuatan dilakukan.. dan 3) Dimana peraturan yangg baru itu lebih menguntungkan atau meringankan bagi pelaku perbuatan itu. Yang artinya adalah ketik a perbuatan itu dilakukan telah berlaku aturan hukum pidana yang melarang melakukan perbuatan tsb. B. . tetapi berlaku ke depan dapat disimpulkan dari kalimay yg menyatakan -undangan pidana yang telah ada (Pasal 1 ayat 1 KUHP).

7 KUHP.8.4.9 KUHP sedangkan batas berlakunya hukum pidana menurut orang atau subjeknya diatur dalam pasal 5. Asas teritorialiteit (territorialiteits-beginsel) atau asas wilayah negara 2. Asas personaliteit (personaliteits beginsel) disebut juga dengan asas kebangsaan.3.Batas diberlakunya hukum pidana menurut tempat diatur dalam pasal 2. Asas teritorial ini diatur dalam pasal 2 yang berbunyi aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku terhadap setiap orang yang melakukan tindak pida . Asas perlindungan (bescbermings beginsel) atau disebut juga asas nasional pasif 4. Asas ini dapat dilihat dari ketentuan Pasal 2 dan 3 KUHP.6. Mengenai berlakunya hukum pidana menurut tempat dan orang dikenal ada 4 asas yaitu : 1. asasnationalitet aktif atau asas subjektif (subjektions prinzip) 3. Tetapi KUHP tidak berlaku bagi mereka yang memiliki hak kebebasan diplomatik berdasarkan asas ekstrateritorial . Asas universaliteit (universaliteits beginsel) atau asas persamaan Asas teritorialiteit : Adalah asas yang memberlakukan KUHP bagi semua orang yang melakukan pidana di dalam lingkungan wilayah Indonesia.

Asas ini bertitik tolak pada orang yang melakukan perbuatan pidana. Wilayah laut 12 mil pulau terluar.na di dalam wilayah Inbdonesia Disini siapapun yang melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia dapat dipidana sesuai hukum pidana yang berlaku di Indonesia baik didarat. 4 tahun 194. laut maupun udara. dimana disebutkan ketentuan pidana perudang -undangan Indonesia berlaku bagi setaip orang yang diluar Indonesia melakukan tindak pidana di dalam kenderaan air atau pesawat udara Indonesia Asas Personaliteit : Adalah asas yang memberlakukan KUHP terhadap orang-orang Indonesia yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Republik Indonesia. 7 dan 8 KUHP Pasal 5 ayat 1 berbunyi Ketentuan pidana dalam Peraturan perundang . kalau kurang dari 12 mil. maka di pakai garis tengah selat (selat malaka) = UU No 4/Prp/1960 Pasal 1 ayat 2. 6. Sedangkan tindak pidana di air dan udara diatur dalam pasal 3 dan UU no. Asas ini terdapat dalam Pasal 5. Asas ini dinamakan juga asas personalitet.

. 279. - Sedangkan pasal 5 ayat 1 ke-2 hanya berlaku berkaitan dengan tindak pidana setiap warga negara RI yg melakukan diluar Indonesia namun tindak pidana tsb harus berupa kejahatan bukan pelanggaran dan perbuatan tindak pidana tsb oleh negara dimana perbauatan t b dilakukan juga merupakan s perbuatan pidana yg dapat diancam. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam peraturan perundang -undangan pidana Indonesia dipandang sebagai kejahatan. 450 dan 451 KUHP 2. Salah satu kejahatan tersebut dlm Bab I dan II Buku Kedua dan Pasal 160. Bab I berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara (104 -129) dan Bab II adalah mengenai kejahatan terhadap martabat presiden dan wakil presiden (130-139). 240. 161.-undangan Indonesia berlaku terhadap warga negara yang diluar Indonwesia melakukan : 1. Sedangkan ayat 2 Pasal 5 berkaitan dengan apabila ada orang asing melakukan tindak pidana diluar negeri setelah itu ia masuk warga negara Indonesia. sedangkan menurut perundang -undangan negara dimana perbuatan dilakukan diancam dengan pidana Pasal 5 ayat 2 berbunyi Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat dilakukan juga jika terdakwa menjadi warga negara sesudah melakukan perbuatan. Maka dapat juga dituntut menurut ayat2 ini. Pasal 5 ayat 1 ke-1 KUHP hanya berlaku berkaitan dengan tindak pidana yg terjadi kepada setiap warga negara RI yg melakukan diluar Indonesia sebagaimana diancam dalam pasal pasal tsb.

Bab XXIX buku kedua membahas tentang kejahatan-kejahatan pelayaran (Pasal 438-479) sedangkan bab IX buku ketiga ttg pelanggaran mengenai pelayaran (pasal 560-569) Asas Perlindungan atau Asas nasional Pasif .Selanjutnya dalam pasal 6 berbunyi berlakunya pasal 5 ayat 1 ke 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati. terhadapnya tidak diancam dengan pidana mati . 1927). sekalipun diluar kenderaan air. Artinya pasal ini tidak berlaku warga negara yg bukan pejabat. dan bab IX buku ketiga. Selanjutnya dalam pasal 7 berbunyi ketentuan pidana dalam perUUan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat Indonesia yg diluar Indonesia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan dalam bab XXVIII buku kedua. yang diluar Indonesia. jiak menurut perundang-undangan negara dimana perbauatan dilakukan. melakukan salah satu tindak pidana sbgmana dimaksudkan dlm bab XXIX buku kedua. Selanjutnya dalam pasal 8 KUHP berbunyi ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi nakhoda dan penumpang kenderaan air Indonesia. Pasal 7 ini menerangkan khusus warga negara sebagai pejabat Indonesia (PNS) yang melakukan perbuatan yg diancam salah satu bab XXVIII. begitupula yg tersebut dlm peraturan mengenai surat laut dan pas kapal Indonesia maupunn dalam ordonannsi perkapalan (schepnordonantie.

Juga kejahatan mata uang kertas. misalnya pasal 4 ayat 4 berkaiatan dengaan pembajakan di laut bebas (446) dan pembajakan udara (479) dan penerbangan sipil. 106. pemalsuan uang negara lain yang bukan uang negara Indonesia . 110 bis ke 1. Jadi yang diutamakan adalah keselamatan kepentingan suatu negara. dll Asas Universaliteit : Asas ini berlaku untuk kepentingan penduduk dunia atau bangsa duni . merek yang dikeluarkan pemerintah Indonesia. materai. 107. Asas ini bertumpu pada kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan pribadi/individu diatur dalam pasal 4 KUHP Pasal 4 berbunyi ketentuan pidana dalam peraturan perundang -undangan Indonesia diterapkan terhadap setiap orang yang melakukan di luar Indonesia yaitu salah satu kejahatan berdasarkan pasal 104. 108.3. 127 dan 131. Jadi bukan sekedar a kepentingan bangsa Indonesia Diatur dalam pasal 4 ayat 2.4 KUHP.Adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP terhadap siapapun juga baik WNI maupun WNA yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Indonesia.

Adapun pidana pokok sebagai berikut : 1.Pidana penjara 3.Pidana mati 2. Antara pidana pokok dan tambahan mempunyai perbedaan yaitu : 1.Asas universaliteit adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP terhadap perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Indonesia yang bertujuan untuk merugikan kepentingan internasional. Pidana pencabutan hak-hak tertentu 2.Pidana kurungan 4. BAB III JENIS-JENIS PIDANA Menurut Pasal 10 KUHP ada 2 jenis pidana yaitu pidana pokok dan pidana tambahan. . Pidana pengumuman putusan hakim Selanjutnya ada juga pidana pokok menurut UU No. Peristiwa pidana yang terjadi dapat berada di daerah yang tidak termasuk kedaulatan negara manapun. 20 tahun 1946 yaitu berupa pidana tutupan.Pidana denda Sedangkan pidana tambahan adalah 1. Jadi yang diutamakan oleh asas tersebut adalah keselamatan internasional. Pidana perampasan barang-barang tertentu 3.

. penjatuhan pidana tambahan tidak dapat berdiri sendiri. lepas dari pidana pokok melainkan hanya dapat dijatuhkan oleh hakim apabila dalam suatu putusannya itu telah menjatuhkan salah satu jenis pidana pokok sesuai dengan yg diancamkan pada tindak pidana yang bersangkutan. yakni dimana jenis pidana tambahan itu dapat dijatuhkan tidak bersama jenis pidana pokok tetapi bersama tindakan (maatregelen) seperti pasal 39 ayat 3 dan 40. sedangkan penjatuhan pidana tambahan sifatnya fakultatif Penjelasan : Apabila dalam persidangan tindak pidana yg didakwakan oleh jaksa penuntut umum menurut hakim telah terbukti secara sah dan meyakinkan hakim harus menjatuhkan satu jenis p idana pokok sesuai dengan jenis dan batas maksimum khusus yg diancamkan pada tindak pidana yg bersangkutan. berjalannya/dijalankannya putusan antara jenis pidana pokok dengan pidana pencabut n hak a tertentu berdasarkan pasal 38 ayat 2 tidak sama. 2. ada juga pengecualiannya. Hal ini dapat dilihat sbgmana tercantum dalam buku II (kejahatan) dan buku III (pelanggaran) dimana dijelaskan bahwa : 1. Dalam hal ini telah jelas bahwa pidana tambahan tidak dapat dijatuhkan kecuali setelah adanya penjatuhan pidana pokok. melainkan bersama dengan jenis pidana pokok. Ole karena itu. Penjatuhan jenis pidana pokok tidak harus bersamaan dengan menjatuhkan pidana tambahan (berdiri sendiri). 3. Penjelasan : Sesuai dengan namanya pidana tambahan. Walaupun jenis pidana tambahan mempunyai sifat yg demikian. sedangkan menjatuhkan pidana tambahan tidak diperbolehkan tanpa dengan menjatuhkan pidana pokok. Jenis pidana pokok yag dijatuhkan bila telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde zaak) diperlukan suatu tindakan pelaksanaan (executie) Penjelasannya : Pengecualiaannya adalah apabila pidana yg dijatuhkan itu adalah jenis pidana pokok dengan bersyarat (Pasal 14a) dan syarat yang ditetapkan dalam putusan itu tidak dilanggar. Artinya jenis pidana tambahan tidak dapat dijatuhkan sendiri secara terpisah dengan jenis pidana pokok. Menjatuhkan salah satu jenis pidana pokok sesuai dengan yang diancamkan pada tindak pidana yang dianggap terbukti adalah suatu keharusan artinya imperatif. Hal ini berbeda dengan sebagian jenis pidana tambahan misalnya pidana pencabutan hak -hak2 tertentu sudah berlaku sejak putusan hakim telah mempunyai kekuatan hukum tetap (pasal 38 ayat 2). artinya pidana pokok dapat berdiri sendiri sedangkan pidana tambahan tidak dapat berdiri sendiri. Selain itu juga ada prinsip dasar pidana pokok yaitu tidak dapat dijatuhkan secara kumulasi (menjatuhkan 2 pidana pokok secara bersamaan).Penjatuhan salah satu pidana pokok bersifat keharusan (imperatif).

31 tahun 1999 (UU tindak pidana korupsi). Di Belanda sejak tahun 1870 pidana mati tidak diberlakukan lagi. Di Indonesia sejak tahun 1918 masi diberlakukan pidana mati. Bagi tindak pidana khusus (diluar KUHP). Di Indonesia sejak tahun 1918 sampai sekarang masih diberlakukan pidana mati. Prinsip dasar jenis pidana pokok ini hanya berlaku pada tindak pidana umum (KUHP). Pidana mati (Pasal 11 KUHP) Di Belanda sejak tahun 1870 pidana mati tidak diberlakukan lagi. 2. RUU KUHP 1992 dan 1999/2000 revisi masih dicantumkan tapi bukan dalam pidana pokok. UU Perbankan (UU No. hanya dikategorikan pidana yang bersifat khusus dan selalu bersifat altertnatif. UU No.Dalam rumusan tindak pidana hanya diancam dengan satu jenis pidana pokok saja. . UU Narkotika (UU No. 22 tahun 1997). 10 tahun 1998). prinsip dasar ini ada penyimpangan seperti UU No 7 (drt) 1955 (UU tindak pidana ekonomi). Dalam beberapa rumusan tindak pidana yg diancam dgn lebih dari satu jenis pidana pokok ditetapkan sbg bersifat alternatif (misal pasal 340. 362 dll) dengan menggunakan kata atau. dll 1.

124 ayat 3 jo 129) 2. 2 (PNPS) tahun 1964. Pidana penjara (Pasal 12 . Kejahatan-kejahatan pembajakan laut.Penjatuhan pidana mati dalam KUHP hanya diatur dalam bentuk kejahatan berat saja. Pasal 59 UU No 5 tahun 1997 (Psikotropika). misalnya 140 ayat 3. 81. 80. Untuk itu dalam KUHP pasal pidana mati selalu dibuat alternatif dengan penjara seumur hidup. 104. 368 (2) jo 365 (4). Kejahatan terhadap harta benda yg disertai unsur/faktor yg sangat memberatkan (365 ayat 4. Kejahatan-kejahatan yang mengancam keamanan negara (Pasal 104. dll sedangkan diluar KUHP pidana mati diatur dalam UU 26 tahun 1999 (subversi). 111 ayat 2. Eksekusi pidana mati dulu dengan cara digantung (Pasal 11 KUP) telah dihapuskan diganti den gan cara ditembak oleh regu penembak sampai mati (UU No. sungai dan pantai (Pasal 444) Adanya pidana mati oleh pembentuk KUHP dalam penerapan harus hati-hati. 340. 1. pidana 20 tahun. 340 KUHP 3. misalnya : 1. Kejahatan-kejahatan pembunuhan terhadap orang tertentu dan atau dilakukan dengan faktorfaktor pemberat. misalnya pasal 365 (4). UU 22 tahun 1997 (Narkotika. 82). tidak boleh gegabah karena pidana mati berkaitan dengan hilangnya nyawa manusia. 368 ayat 2) 4.

.17 KUHP) Berdasarkan pasal 10 KUHP ada 2 jenis pidana hilang kemerdekaan bergerak yakni pidana penjara dan kurungan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->