P. 1
Mubtada & khobar

Mubtada & khobar

|Views: 1,097|Likes:
Published by Husaini Hisham

More info:

Published by: Husaini Hisham on Jan 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

Mubtada

(
Mubtada ( Fikar ) dan Khabar (

) dan Khabar (
)

)

In Bahasa Arab on December 15, 2005 at 11:25 am

Sebelum berbicara mengenai Mubtada dan Khabar, sepatutnya untuk diketahui terlebih dahulu bahwa kalimat ( ) baik kalimat sempurna maupun tidak, dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu Jumlah ismiyah ( ) adalah kalimat yang didahului oleh isim dan setiap isim yang berada di awal kalimat tersebut dinamakan mubtada dan bagian yang melengkapinya dinamakan Khabar yang mana hukumnya dalam I¶rab harus mengikuti kepada mubtada. Dan Jumlah Fi¶liyah ( ) yaitu kalimat yang didahului oleh fi¶il. Dengan mengetahui pembagian jumlah tersebut akan mempermudah dalam memahami akan mubtada dan khabar, dan dalam kesempatan kali ini kita akan membahas secara garis besar tentang mubtada dan khabar yang sekiranya akan semakin membantu dalam mempelajari bahasa Arab, adapun pembahasan secara terperinci akan dibahas pada kesempatan berikutnya bila tidak ada halangan ataupun bisa kembali melihat pada buku-buku yang menerangkannya lebih mendetail, seperti Syarah Alfiya Ibnu Malik baik yang disyarah oleh Ibnu µAgil atau Ibnu Hisyam dan Asymuni. Mubtada ( ) Mubtada adalah setiap isim yang dimulai pada awal kalimat baik didahului oleh nafyu maupun istifham, contoh ( =Muhammad tersenyum), contoh didahului oleh nafyu ( =tamu itu tidak datang) dan contoh isim yang didahului oleh kata Tanya ( =apakah yang lulus adalah Ali). Dan hukum isim yang dimulai pada awal kalimat tersebut ( ) adalah Marfu¶ (dibaca akhir katanya dengan harakah dhamma), kecuali apabila isim tersebut didahului oleh huruf Jarr tambahan atau yang menyerupainya maka hukumnya secara Lafadznya adalah Majrur namun kedudukannya dalam

atau dengan kata lain An dan fi¶ilnya dijadikan mashdar sebagai mubtada sehingga An Tashumu menjadi Shiyamukum dan An Tattahidu menjadi itthidadukum karena mashdar dari kata Shama-Yashumu=berpuasa adalah Shiyam dan Ittahada-yattahidu=bersatu mashdarnya adalah ittihad. Macam-macam Mubtada Apabila dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua. Dan Mubtada terbagi menjadi dua. yang Kedua adalah Mubtada Muawwal ( ) dari An ( ) dan fi¶ilnya.) ). contohnya ( =dia bersungguh-sungguh) atau ( =kamu ikhlas). Contohnya firman Allah SWT : kata Ilah pada ayat tersebut secara lafadznya adalah majrur namun kedudukannya tetaplah Rafa¶. Mubtada boleh terdiri dari banyak kata sedangkan khabarnya hanyalah satu. contoh lain ( =tidaklah terpuji orang kikir).( = = ( . Mubtada yang memiliki khabar haruslah terdiri dari isim sharih atau dhahir ataupun yang telah dita¶wilkan menjadi mashdar yang sharih. . yaitu Mubtada Sharih ( ) yang mencakup semua isim dhahir seperti pada contoh di atas. dan juga terdiri dari Dhamir. mahmud=terpuji adalah mubtada dan bukhli adalah Naib Fa¶il yang menempati tempatnya khabar. contohnya ( ) dan Mubtada yang tidak memiliki Khabar. contohnya firman Allah SWT ( ) dan ( ) mubtada pada contoh ini adalah An dan Fi¶ilnya dita¶wilkan menjadi isim mashdar sebagai mubtada.kalimat tetaplah Marfu¶. yaitu Mubtada yang mempunyai khabar. akan tetapi mempunyai isim marfu¶yang menempati posisi dari pada khabar. sedangkan mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh menta¶wilkannya dan penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau istifham. contohnya ( ). contohnya ( =apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl adalah Fa¶il yang menempati posisi khabar.

atau Naib Fa¶il apabila terletak setelah isim maf¶ul. contohnya ( ) dan ( ). Pertama: sifat yang pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya adalah Fa¶il karena letaknya setelah Isim Fa¶il. Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan setelahnya adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar). maka sifat yang pertama adalah mubtada dan isim setelahnya tersebut adalah Fa¶il atau naib fa¶il yang menempati posisi khabar. 2. keduanya marfu¶menempati kedudukan khabar. Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya adalah isim yang tunggal contohnya ( ) atau ( ) maka I¶rabnya ada dua kemungkinan. contoh ( ) dan ( ) kata Muhmil adalah mubtada sedangkan thalibani adalah Fa¶il karena terletak setelah isim Fa¶il. Kedua: Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar). 3. kecuali apabila didahului oleh nafyu atau istifham maka boleh mubtada itu nakirah dengan catatan kenakirahannya tidaklah mengurangi dan mempengaruhi makna yang dapat diperincikan sebagai berikut: . Asal dari Mubtada adalah Ma¶rifah atau mubtada haruslah isim yang ma¶rifah sebagaimana pada contoh-contoh di atas. dan kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah Naíb Fa¶il karena terletak setelah Isim Maf¶ul.Adapun Isim marfu¶yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki khabar yang dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya dalam I¶rab kalimat adalah sebagai berikut: 1. Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian setelahnya adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau Jamak. kata musafirani dan muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan mujtahidun adalah Mubtada muakkhar.

e. contohnya ( ).a. Maupun mubtada yang nakirah tersebut terletak dalam kalimat yang didahului oleh nafyu atau istifham. mubtada di sini adalah nakirah karena di dahului oleh jar majrur. ada yang bertanya ( ) maka jawabannya ( dengan menggunakan nakirah. Nakirah harus Athaf (mengikuti) pada ma¶rifah atau diikutkan pada ma¶rifah. Mubtada yang nakirah haruslah didahului oleh kalimat yang terdiri dari jar majrurr atau dharf. ) g. contohnya ( ) dan ( ). kesemuanya itu mempunyai aturan yang wajib didahulukan maupun boleh didahulukan. Nakirah yang menunjukkan pada sesuatu yang umum. contohnya ( ) kata rajul di sini nakirah karena ikut pada Muhammad. Terletak setelah Laula ( ). c. Mubtada yang nakirah merupakan jawaban atas pertanyaan. contohnya ( ). kata asyjar adalah nakirah karena didahului oleh dzharf. contohnya. Jika khabarnya adalah sesuatu yang aneh yang keluar dari kebiasaan. contohnya ( ) dan contoh yang idhaf ( ). baik mubtadanya adalah bentuk yang umum. takdirnya adalah ( ). contohnya ( =pohon bersujud). b. d. dan ( ). dan ( ) kata rajul diikutkan pada yusuf. kata man di sini adalah bentuk nakirah yang umum. contoh ( ). Nakirah tersebut menunjukkan kekhususan baik dengan menyebutkan sifat atau tidak. Wajib mendahulukan Mubtada Mubtada itu wajib didahulukan apabila: . f. Apabila kita melihat dari contoh-contoh di atas dapat dilihat perbedaan kedudukan mubtada yang kadang didahulukan (mubtada muqaddam) dan kadang diakhirkan (mubtada muakkhar). ataupun nakirah tersebut secara lafadznya bersandar pada ma¶rifat.

Mubtada teringkas khabarnya oleh Illa atau Innama. 2. contoh lain ( =alangkah indahnya musim semi) Kata Ma disini adalah Ma takjub yang mana harus dan wajib didahulukan.1. 3. Isim tersebut haruslah disandarkan kepada isim yang menempati posisi dan kedudukan kata pendahuluan. contoh lain ( =siapakah yang akan bepergian besok). kata Man di sini adalah mubtada yang harus di dahulukan karena posisinya dalam kalimat sebagai pembukaan dan pendahuluan. contohnya ( ) dan ( ). contohnya ( ) jika ingin memberitahukan tentang bapaknya maka wajib didahulukannya. kata allazi dalam kalimat ini menyerupai isim syarat. Isim tersebut haruslah disertai dengan huruf Lam untuk memulai atau Lam tauwkid. Mubtada dan khabarnya adalah Ma¶rifat atau kedua-duanya nakirah dan tidak adanya kata yang menjelaskannya. contohnya ( =Muhammad bermain bola) kata yal¶ab adalah khabar jumlah fi¶liyah dan fa¶ilnya dhamir tersembunyi kembali ke Muhammad. 7. Mubtada yang menyerupai isim syarat. dan ( ) jika ingin memberitahukan tentang Muhammad. contohnya ( ) kata µamal disandarkan pada Man yang kedudukannya sebagai pendahuluan. contohnya ( =yang menang maka baginya piala). seperti isim syarat. 6. contoh ( ) kata addar dimasuki oleh lam ibtida. atau istifham atau Ma yang menunjukkan ketakjuban. Isim yang mempunyai kedudukan sebagai pendahuluan di dalam kalimat. contohnya ( =barangsiapa yang membaca syair maka akan bertambah kekayaannya dengan bahasa). . 4. 5. Apabila khabarnya adalah jumlah fi¶liyah dan fa¶ilnya adalah dhamir yang tersembunyi yang kembali kepada mubtada. dan ( ) dimasuki lam tawkid. kata man di sini adalah kata Tanya yang harus selalu didahulukan dan ia adalah mubtada.

4. ( ) dan ( ) asalnya adalah ( ) dan ( ). asalny adalah ( ) dan ( ). Apabila mubtada ikut kepada Sifat yang marfu¶ dengan tujuan memuji atau menghina atau sebagai rasa iba dan saying. mubtada juga kebanyakan dihilangkan jika terletak setelah kata qaul (berkata). Selain dari empat masalah ini. asalnya adalah ( ) mubtada nya wajib dihilangkan karena disifati oleh sifat yang marfu´. asalnya adalah ( ). 3. contohnya ( ) asalnya adalah ( ) dengan menghilangkan mubtadanya yaitu µahd. Contoh lain ( =jauhilah dari orang jahat yang jelek sifatnya). maka boleh mendahulukan atau mengakhirkan mubtada. Jika khabarnya dikhususkan pada pujian atau cercaan setelah kata Ni¶ma ( ) dan Bi¶sa ( ) dan terletak diakhir. contohnya ( =alangkah baiknya pelajar yaitu Muhammad) dan ( =alangkah buruknya pelajar yang pemalas). Jika menunjukkan jawaban terhadap sumpah. contohnya ( ) mubtadanya dihilangkan karena disifati oleh sifat yang rafa¶. muhammad dan kusul pada contoh di atas adalah khabar dari mubtada yang dihilangkan. asalnya adalah ( ). . Atau mubtadanya terletak setelah Fa sebagai jawban dari syarat. 2. contohnya ( ) asalnya adalah ( ) maka wajib menghilangkan mubtadanya. contohnya ( ) asalnya adalah ( ). contohnya ( ) mubtadanya dihilangkan. Jika khabarnya adalah mashdar yang mengganti fi¶ilnya. contoh lain.Selain dari tujuh masalah di atas. Wajib menghilangkan Mubtada Mubtada wajib dihilangkan dalam hal-hal sebagai berikut: 1.

( ) dan ( ). Hukum Khabar Para ahli nahwu menyebutkan hukum dari pada khabar adalah sebagai berikut: . asalnya adalah ( ) dan ( ). atau Mubtada itu boleh dihilangkan apabila ada kalimat atau kata yang menunjukkan tentangnya. dan bisa saja terdiri dari segala bentuk sifat baik ia isim fa¶il. contohnya ( ) yang dihapus dari kalimat tersebut adalah mubtada dan khabarnya yaitu ( ) aslinya haruslah ( ) dihapus karena telah dijelaskan pada kalimat sebelumnya. dan jawabnya ( ) aslinya adalah ( ). contohnya. Para pakar Nahwu menyebut bagian pertama dari jumlah ismiah ini dengan Mubtada karena ia adalah bagian yang dimulai dalam pembicaraan. contohnya firman Allah SWT ( ) kata Falinafsihi kedudukannya rafa¶ khabar dan dhamir Ha majrur bil idhafah sedangkan mubtadanya mahzuf (dihilangkan) begitu juga pada wa man asaa fa¶alaiha. Khabar ( ) Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai Jumlah Ismiah ( ) yang terdiri dari dua bagian yang memberikan petunjuk serta pemahaman kepada pendengar agar diterima. atau maf¶ul ataupun tafdhil. sedangkan bagian keduanya dinamakan Khabar karena ia memberitahukan keadaan yang ada pada mubtada. Dan boleh juga menghilangkan Mubtada dan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya.Boleh menghilangkan Mubtada Mubtada boleh dihilangkan dan dihapus sebagai jawaban atas pertanyaan orang yang bertanya ( )?.

5. contoh ( (. Khabar boleh banyak dan beragam sedangkan mubtadanya hanya satu. akan tetapi terdiri dari satu kata baik menunjukkan pada tunggal atau mutsanna (bentuk dua) ataupun jamak. mutsanna dan jamak. contohnya ( fadhil adalah nakirah dan ia khabar mubtada. Khabar haruslah disesuaikan atau ikut kepada mubtada dari segi tunggalnya atau tasniyah (bentuk duanya) ataupun jamak. dan harus disesuaikan dengan Mubtada dalam pentazkiran (berbentuk muzakkarf=lk) atau ta¶nis juga dalam bentuk tunggal. yaitu: 1. Khabar Mufrad ( ) yaitu khabar yang bukan berbentuk kalimat atau yang menyerupai kalimat. ) 3.1. Boleh dan wajib didahulukan khabar dari pada mubtada. . Wajib merafa¶ (memberi harakah dhamma) khabar. Boleh menghilangkan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya. contoh lain ( ). Contoh ( =bulan bersinar). dan masalah ini nanti akan dibahas pada pembahasannya. Wajib menghilangkan khabarnya. 6. contohnya ( ) Karim adalah khabar marfu¶disebabkan oleh mubtada. 2. dan pembahasan ini pun akan di bahas pada pembahasannya.) ). 4. masalh ini pun akan dibahas nanti pada pembahasannya. Khabar pada dasarnya haruslah nakirah. contohnya ( ) zakiyun dan fithn adalah khabar mubtada. 7. Contoh lain ( ) Khair khabar mubtada marfu¶. dan ( ). Macam-macam Khabar Khabar terbagi menjadi tiga. penyebab khabar itu marfu¶adalah mubtada . ( =pelajar pr itu sopan).

yaitu khabar yang berbentuk kalimat baik jumlah ismiah ( ) maupun fi¶liyah ( ). ( =akan bepergian setelah seminggu).2. Khabar jumlah baik ismiah maupun fi¶liyah haruslah berhubungan dengan mubtada. Contoh khabar dari dharf makan (keterangan tempat). Wajib mendahulukan Khabar Khabar wajib di dahulukan dari mubtada dalam keadaan sebagai berikut: 1. ( =anak-anak bermain di taman) yal¶abun adalah fi¶il mudhari¶marfu¶karena khabar mubtada yang berbentuk jumlah fi¶liyah. 3. Contoh khabar dari jar wal majrur ( =buku di dalam tas). ( =burung di atas pohon). Atsaub =adalah mubtada pertama. contohnya ( ). Apabila mubtada nya adalah isim nakirah yang semata-mata tidak untuk memberitahukan dan khabarnya adalah jar wal majrur atau dharf. contoh dharf zaman (keterangan waktu). . Khabar syibhu jumlah ( ) yaitu khabar yang bukan mufrad atau jumlah akan tetapi menyerupai jumlah. Adapaun contoh khabar mubtada dari jumlah fi¶liyah. terdiri dari Jarr wal majrur ( ) dan dharf =kata keterangan. contohnya ( =di sekolah ada para guru). ( =bepergian pada hari kamis). Nashi¶=khabar mubtada kedua. Jika mubtadanya nakirah dengan maksud untuk memberitahukan maka hukumnya boleh didahulukan atau pada tempatnya semula. ( =surga dibawah telapak kaki ibu). Lawn=Mubtada kedua dan mudhaf. Khabar Jumlah ( ). Jumlah dari mubtada kedua dan khabarnya menempati posisi rafa¶ yaitu khabar dari mubtada pertama.( ). ( =ada tamu). dhamir Hu=mudhaf ilaih. ( =air di dalam teko). Contoh khabar jumlah ismiah ( =taman itu pepohonannya berwarna hijau) atau ( =pakaian itu warnanya bersih).

( =di tama nada anak-anak-nya). contohnya ( =saya keluar tiba tiba ada harimau).2. dan bisa saja mubtadanya dihilangkan dan Muhammad di sini adalah khabarnya. contohnya. Boleh menghilangkan Khabar Khabar boleh dihilangkan apabila terletak setelah Iza al fajaiyah (tibatiba). Meringkas khabar mubtada dengan Illa ( ) atau Innama ( ). ( =di sekolah ada murid-murid-nya). ( =alangkah buruknya perbuatan khianat). contohnya ( =bagaimana kabarmu). Jika khabarnya adalah istifham (kata Tanya) atau disandarkan pada kata Tanya. misalanya ada yang bertanya ( =siapa yang alpa?). Apabila ada dhamir yang berhubungan atau bergandengan dengan mubtada sedangkan kembalinya dhamir tersebut kepada khabarnya atau sebagian dari khabarnya. dalam contoh ini kata faiz diringkas atau dipendekkan sebagai sifat dari Muhammad. khabarnya dihilangkan. ( =yang menang adalah Muhammad). jawabannya ( ) dengan menghapus khabarnya yaitu ( ) karena telah . Apabila ada dalil yang menjelaskannya maka khabar pun boleh dihilangkan. Boleh mendahulukan atau mengakhirkan khabar apabila khabarnya sebagai pengkhususan setelah kata Ni¶ ( ) ma dan Bi¶sa ( ). asli dari kalimat tersebut adalah ( ) dan ( ). dhamir yang ada pada mubtada kembali kepada khabarnya. ( =anak siapa ini) atau ( =jam berapa perginya). yang dapat ditemukan pada jawaban dari pertanyaan. contohnya. ( =saya sampai tiba-tiba hujan). Muhammad di sini bisa saja mubtada muakkhar dan jumlah fi¶liyah sebelumnya adalah khabar muqaddam. contohnya ( =alangkah baiknya lelaki itu muhammad). 3. 4. ( =tiada yang menang kecuali Muhammad). karena apabila pengkhususan setelah ni¶ ma dan bi¶ sa didahulukan atas fi¶ilnya maka ia adalah mubtada dan jumlah fi¶liyahnya adalah khabar muakhhar oleh sebab itu boleh didahulukan atau diakhirkan.

dijelaskan pada pertanyaannya. Khabarnya menunjukkan pada sifat yang mutlak artinya sifat tersebut menunjukkan akan keberadaan dari sesuatu. Jika mubtadanya adalah mashdar atau isim tafdhil yang disandarkan pada mashdar dan setelahnya bukanlah khabar melainkan hal yang menduduki tempatnya khabar. asal dari kalimat di atas ( ). contohnya ( =muhammad rajin dan ahmad juga). yang menunjukkan khabarnya telah dihilangkan yaitu ( ). contohnya ( =air berada di dalam teko). dihilangkan khabar jumlah ismiah yang ma¶tuf karena telah dijelaskan pada sebelumnya. contohnya ( =jika tidak ada Allah. contohnya ( =saya mendukung pelajar yang berprestasi). dan hal itu terdapat pada kata yang bergandengan dengan jar majrur atau dharf. asalnya adalah ( ). Dan apabila mubtadanya terletak setelah Lau la ( ) maka khabarnya yang berarti keberadaan pun wajib dihilangkan. maka boleh menghilangkan khabar pada jumlah ismiah yang ma¶thuf. contohnya ( =demi hidupmu saya bersaksi dengan kebenaran). (: =sebaik-baik shalatnya sorang hamba dalam keadaan khusu¶) asalnya adalah ( ). khabar yang dihilangkan adalah kata ( ) pada contoh ini. 3. ( =buku berada di atas meja). 2. apabila mubtadanya adalah isim yang sharih yang menunjukkan pada sumpah. khabarnya wajib dihilangkan. Dan apabila jumlah ismiah mengikuti (athf) pada jumlah ismiah yang tidak dihilangkan khabarnya. . Wajib menghilangkan Khabar Adapun tempat-tempat dimana khabar itu wajib dihilangkan adalah sebagai berikut: 1. maka mobil akan menabrak anak itu).

akan tetapi ada sebagian ayat-ayat Al Quran yang membingungkan dan menimbulkan kesan bertentangan dengan hukum penyesuaian tersebut. dan kata yang dihilangkan tersebutlah yang marfu¶ yang . contohnya ( ). 2. tapi bisa juga assabiqun dan anta yang kedua adalah taukid (menegaskan) pada yang pertama.4. dan khabar yang dihilangkan adalah kata ( ). 5. Asal dari pada mubtada adalah ma¶rifah sedangkan khabar adalah Nakirah. padahal jika dilihat dengan seksama ternyata semua itu ada kesesuaian antar keduanya. Contoh lain ( ) assabiqun yang pertama adalah mubtada dan yang kedua adalah khabarnya. contohnya. Khabar yang terdiri dari jarr dan majrur atau dharf pada dasarnya bukanlah khabar. contohnya ( ) kata penyair. 4. terdiri dari mubtada dan khabar. maka mubtadanya boleh didahulukan. melainkan ia berhubungan dengan kata yang dihilangkan. sebagaimana yang telah disebutkan pada hukum-hukum khabar di atas. Kesimpulan dan Perhatian 1. namun boleh saja khabar terhadap mubtada menjadi banyak. Haruslah memperhatikan pnyesuaian antara khabar dan mubtada. ( =semua pelajar bersama kawanya). contohnya ( ) dan ( ) mubtadanya ma¶rifah dan khabarnya pun ma¶rifah karena idhafah. Jika mubtadanya adalah mashdar marfu¶. penulis dan penulis kisah semuanya adalah khabar dari mubtada yang menunjukkan bolehnya ta¶addud khabar terhadap mubtada. sama dengan ( ). Khabarnya terletak setelah huruf Wau ( ) yang berarti dengan/bersama ( ). contohnya ( ). Asal dari khabar mubtada adalah satu. 3. namun kadang ada mubtada datang dalam bentuk ma¶rifat dan khabarnya pun ma¶rifat. wau di sini berarti bersama sehingga khabarnya dihilangkan.

menunjukkan ia adalah khabar. dipisahkan oleh jar majrur yang berkaitan dengan khabarnya yaitu yuqinun. Boleh memisahkan antara mubtada dan khabar. . 7. kata hum adalah mubtada. Khabar mufrad boleh diikutkan (athaf) kepada khabar jarr majrur. contohnya ( ). 6. takdirnya adalah ( ) atau ( ). dan yuqinun adalah khabarnya. ( ) jarr majrur di sini hanyalah berhubungan dengan kata yang dihilangkan yaitu khabar mubtada. contohnya ( ) aysaddu qaswah khabar yang diathafkan pada jar majrur yaitu kal hijarah. contohnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->