P. 1
Pengaruh Norma Moral Siswa Terhadap Proses Belajar

Pengaruh Norma Moral Siswa Terhadap Proses Belajar

|Views: 953|Likes:
Published by DR1EC

More info:

Published by: DR1EC on Jan 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENGARUH NORMA MORAL SISWA TERHADAP PROSES BELAJAR DI DALAM KELAS

Oleh :

Nama : Agung Prasetyo Rinaldi NIM : 5215077530

Prodi : Pendidikan Teknik Elektronika

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2010

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melindungi atas semua petunjuk, hikmah, dan hidayah – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini. Rasanya sulit bagi penulis tanpa pertolongan dari-Nya. Salawat dan salam tidak lupa semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Proposal ini disusun guna memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan mata kuliah Metode Penelitian. Proposal ini membahas tentang “ Norma Moral Siswa Terhadap Proses Belajar Di Kelas “. Tersusunnya proposal ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, arahan, dan petunjuk langsung dari berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. Bambang Dharmaputra, M. Pd selaku Dosen Metode Penelitian yang telah memberikan materi dan membimbing penulis. 2. Kedua orang tua tercinta yang telah membesarkan dan mendidik dengan curahan kasih sayang dan doa, mereka telah banyak berkorban yang tiada tara. 3. Teman – teman saya sayangi, terima kasih atas dukungannya dan bantuannya semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan proposal ini. 4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pembuatan proposal penelitian ini hingga selesai dengan baik. Dalam hal ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan proposal ini. untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Hanya kepada Allah SWT harapkan segala limpahan kasih sayang-Nya. Mudah-mudahan proposal ini bermanfaat bagi kami dan pembaca.

Jakarta, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI TANDA PERSETUJUAN PENELITIAN…………………………….. i KATA PENGANTAR …………………………………………………. DAFTAR ISI …………………………………………………………… ii iii

ABSTRAK………………………………………………………………. iv BAB I PENDAHULUAN A B Latar Belakang Masalah…………………………………………….. 1 Identifikasi Masalah ……………………………………………….. 1

C. Tujuan Masalah……………………………………………............... 1 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pendidikan ……………………………………………... 2 2.2 Pengertian Moral……………………..……………………………... 3 2.3 Macam – Macam Norma Moral…………..…….…………………… 4 2.4 Pendidikan Moral……………... …….……………………………… 8 2.5 Tujuan Pendidikan Moral…...…..……………...…...….….………... 10 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan…………………………………………………………... 12 3.2 Saran…………………………………………………………………. 12 DAFTAR PUSAKA………………………….…………..……………….. 13

ABSTRAK Realita dilapangan menunjukan bahwa siswa di Indonesia tidak dapat mengikuti norma moral yang ada disekitarnya termasuk di dalam kelas saat pelajaran berlangsung. Banyak siswa yang bersikap kurang baik atau tidak sewajarnya terhadap norma moral yang disekitarnya termasuk saat di dalam kelas juga, sehingga siswa merasa cuek atau tidak peduli saat di dalam kelas. Tentu dalam hal ini siswa tidak mampu memahami dengan baik pelajaran yang disampaikan oleh guru-guru mereka. Sehingga ini menunjukan bahwa siswa masih mengganggap kegiatan belajar tidak menyenangkan akibat dari norma moral siswa berkurang dan memilih kegiatan lain di luar kontek belajar seperti minum obat- obatan
terlarang, pergaulan bebas dan lainnya. Moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adapt kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Norma moral adalah tolok ukur penilaian dan pedoman yang mengikat bagi baik-buruknya perilaku atau benar-salahnya tindakan manusia sebagai manusia salah satunya siswa.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan sebuah usaha yang berjalan secara terus menurus untuk menjadikan manusia (masyarakat) mencapai taraf kemakmuran. Pendidikan di Indonesia lihat dari segi mutunya masih sangat memprihatinkan. Barkaca dari perkembangan teknologi dan informasi yang menuntut kemampuan sumber daya manusia yang mumpuni, pendidikan sebagai sarana pengantar untuk penyeimbang antara sumber daya manusia dan kemajuan teknologi dan informasi sudah seharusnya memberikan pelayanan maupun kontribusi yang tinggi. Belum lagi masalah diatas dapat terselesaikan, seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi, pendidikan di Indonesia dihadapkan pada problem rendahnya mutu pendidikan yang sudah ada serta banyaknya siswa terutama siswa SMK yang nilai norma moralnya sudah tidak ada lagi atau berkurang. Dengan demikian, pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia terutama siswa SMK. Dengan kemampuan sikap profesional, kreatif, dengan memiliki sikap/moral yang tinggi sehingga mampu untuk hidup bersama dan tolong menolong, bukan saling menggunakan keprofesionalannya untuk membodohi yang lebih bodoh, dan tentunya apabila program diatas berjalan secara baik dan benar mutu pendidikan semakin terus membaik. B. Identifikasi Masalah Sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang, maka masalah yang akan diidentifikasi sebagai berikut : 1. Apakah norma moral itu ? 2. Apakah perlu pendidikan moral untuk siswa SMK ?

C. Tujuan Masalah Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis mempunyai tujuan, tujuan dalam hal ini yaitu : 1. Agar kita dapat mengetahui norma moral itu. 2. Agar kita dapat mengetahui perlu atau tidak pendidikan moral untuk siswa SMK. D. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah pembaca dalam memahami alur penelitian proposal ini, maka penulis sajikan sistematika proposal berikut : 1. Bagian Awal Bagian awal ini meliputi : Halaman judul, halaman persetujuan, kata pengantar dan ucapan terima kasih, daftar isi. 2. Bagian Inti Pada bagian inti ini terdiri dari lima bab, secara berturut-turut meliputi :

BAB II KERANGKA TEORITIK Dalam bab ini akan dikemukakan uraian yang berhubungan dengan dasar-dasar teori untuk menganalisa masalah-masalah yang akan diteliti yang merupakan hasil studi kepustakaan. 2.1 Pengertian Pendidikan Pengertian pendidikan menurut GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: 1. Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. 2. Tujuan dan proses Pendidikan A. Tujuan pendidikan Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu :memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. B. Proses pendidikan Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen penndidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu: - Subjek yang dibimbing (peserta didik) - Orang yang membimbing (pendidik) - Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif) - Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan) - Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan) - Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode) - Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

2.2 Pengertian Moral Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adapt kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batasbatas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai : prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk, kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. Norma moral dapat saja berkaitan dengan norma agama, dan dalam praktek umumnya memang demikian. Akan tetapi norma moral dapat dikatakan lebih berlaku umum daripada norma agama. Norma moral adalah tolok ukur penilaian dan pedoman yang mengikat bagi baik-buruknya perilaku atau benar-salahnya tindakan manusia sebagai manusia. Semua manusia apa pun agamanya, sejauh ia manusia, terikat oleh norma moral. Sedangkan norma agama hanya berlaku untuk mereka yang memeluk agama tersebut. Memang dalam norma-norma agama, umumnya terkandung norma-norma moral; dan sejauh itu terjadi, maka isi norma tersebut juga berlaku bagi pemeluk agama yang lain. Tetapi dapat terjadi bahwa ada norma agama yang dalam praktek ternyata bertentangan dengan norma moral. Misalnya norma agama yang membenarkan penyiksaan dan pembunuhan kaum bidaah dan orang kafir, yang melibatkan pengorbanan jiwa manusia bagi dewa-dewa, dan yang melibatkan praktek pelacuran suci dsb., kini umumnya disadari sebagai bertentangan dengan norma moral. Kalau norma agama disamakan begitu saja dengan norma moral, sehingga penentuan baik-buruk dan benar-salahnya perilaku manusia langsung dikaitkan dengan apa yang menjadi perintah dan larangan Tuhan sebagaimana dimengerti dalam agama tertentu, maka berlaku etika teononom murni atau etika perintah ilahi dengan bahaya relativisme dan irrasionalisme yang sudah dibahas di atas. Ini tidak bersumberkan inspirasi keagamaan tidak dapat diterima. 2.3 Macam – Macam Norma Moral Manusia hidup di tengah masyarakat dalam suatu jaringan norma-norma termasuk dalam hal ini siswa SMK. Sejak siswa SMK lahir dan dibesarkan dalam suatu keluarga, ia dihadapkan pada macam-macam norma atau tata aturan tentang bagaimana ia berarti bahwa etika yang

seharusnya hidup dalam hubungan dengan orang lain dan dunia di sekitarnya. Di antara macam-macam tata aturan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup, dapat dibedakan norma sopan santun, norma hukum, norma moral dan norma agama. Norma sopan santun dimaksudkan etiket pergaulan hidup sehari-hari bersama orang lain. Etika seperti meliputi adat kebiasaan setempat tentang cara bicara, cara berpakaian, cara bersikap, cara bergaul, cara makan dsb. Penilaian baik dan buruk dalam hal ini erat terkait dengan adat kebiasaan setempat. Misalnya cara bicara anak SMK di dalam kelas bicara ketika guru menerangkan, cara berpakaian SMK ada yang dikeluarkan ketika masuk kelas serta masih ada siswa SMK yang makan diam-diam saat guru menerangkan pelajaran. Tentu semua itu akan mengakibatkan siswa SMK tidak dapat konsentrasi saat pelajaran berlangsung sehingga apa yang diajarkan guru menjadi sia – sia karena norma moral siswa SMK didalam kelas sudah tidak ada lagi. Bahkan itu berulang – ulang kali ketika siswa SMK melakukan itu semua jika tidak ketahuan guru saat mengajar. Walaupun guru sering menasehatkan banyak juga yang masih melakukan perbuatan itu. Norma hukum atau peraturan sekolah. Norma hukum atau peraturan yang tertulis sekolah SMK harus dilaksanakan siswa SMK sekolah tersebut agar siswa menjadi tertib atau dapat mematuhi hukum atau peraturan di luar sekolah. Namun peraturan sekolah sering dilanggar atau diabaikan siswa SMK.

Peraturan sekolah yang sering diabaikan atau dilanggar siswa SMK maka pihak sekolah dapat melaksanakan peraturannya bagi siswa SMK yang melanggar peraturan sekolah dengan ditindak dengan pasti atau dikenai sanksi hukuman oleh pihak sekolah yang sah yang mengeluarkan dan menjamin pelaksanaan hukum tersebut. Selain itu norma hukum atau peraturan sekolah juga harus berlaku dengan pasti dan bersifat adil terhadap siswa SMK . Norma agama adalah macam-macam aturan dan hukum yang berlaku dalam suatu lingkungan agama tertentu. Setiap agama memiliki norma-norma yang mengikat dan wajib dipatuhi oleh para pemeluknya. Norma agama tersebut bersama dengan rumusan iman atau pokok-pokok ajaran, tata peribadatan, pengaturan hidup bersama dalam komunitas agama tersebut dan dalam masyarakat membentuk identitas kelompok agama itu. Tapi dalam hal ini pun siswa SMK sebagian tidak peduli atau memperhatikan norma agama masing – masing. Sebagian siswa SMK tidak mematuhi norma agamanya masing – masing seperti bagi para pemeluk agama Islam ada kewajiban menjalankan lima syariat Islam dan norma-norma moral lainnya seperti perintah agama untuk menyembah dan menghormati Allah di atas segalanya, untuk menghormati orangtua, untuk berbuat

amal kasih kepada sesama, Demikian juga larangan agama untuk mencuri, membunuh, bersaksi dusta, berzinah, dsb. berlaku untuk semua manusia termasuk siswa SMK. Akan tetapi banyak siswa SMK yang sudah tidak menyadari lagi atau melanggar norma agamanya. Padahal disini agama, menegaskan, mendukung dan memberi dasar iman norma moral yang berlaku umum. Kekhususan Norma Moral a. Norma yang paling dasariah: Kalau memperhatikan perbandingan antara norma sopan-santun, norma hukum, norma moral dan norma agama di atas, maka menjadi jelas bahwa norma moral lebih dasariah daripada ketiga macam norma yang lain. Norma moral yang merupakan tolok ukur penilaian tentang benar-salahnya tindakan atau baik-buruknya perilaku manusia sebagai manusia, memang langsung mengenai inti pribadi seseorang. Tuduhan bahwa seseorang tidak bermoral jauh lebih berat daripada bahwa dia tidak patuh pada hukum, atau tidak sopan. Cukup umum diterima bahwa norma moral mempunyai otoritas yang lebih tinggi sebagai pedoman perilaku manusia daripada pedoman perilaku yang lain. Kalau ada konflik antara ketiga norma tersebut, maka norma moral mesti didahulukan. Mengenai hal ini misalnya filsuf moral Alan Gewirth pernah menyatakan bahwa norma moral “bermaksud untuk menetapkan bagi perilaku setiap orang, tuntutan-tuntutan yang mengatasi semua bentuk pedoman lain untuk perilaku, bahkan termasuk kepentingan diri pribadi-pribadi kepada siapa norma moral itu ditujukan. b. Norma yang menegaskan kewajiban dasariah manusia dalam bentuk perintah atau larangan (prescriptive): Kekhususan norma moral, dalam arti suatu unsur yang harus ada di dalamnya, adalah cirinya sebagai norma yang menegaskan kewajiban dasariah manusia dalam bentuk perintah atau larangan (prescriptive). Dalam bentuk perintah atau larangan (seperti: bertindaklah adil, jangan merampas hak orang lain,bertindaklah jujur, jangan bohong, hormatilah hidup manusia, jangan membunuh, dsb.) norma moral merupakan pedoman baik-buruk atau benar -salah bagi manusia dalam bertindak menghayati hidupnya sebagai manusia. Bentuk yang memerintah dan melarang memang bukan ciri khas norma moral dalam arti norma-norma lain tidak

dapat dirumuskan secara demikian, karena norma hukum dan norma sopansantun pun juga seringkali dirumuskan demikian. c. Norma yang berlaku umum (universal): Ciri khas lain dari norma moral dibandingkan dengan norma-norma yang lain adalah keberlakuanumumnya. Norma moral mesti berlaku umum atau berlaku secara kurang lebih sama bagi setiap orang dalam situasi yang kurang lebih sama. Prinsip konsistensi dalam logika pemikiran dan dalam tindakan, menuntut hal ini. Karena, seandainya dikatakan bahwa dengan telah siswa SMK merokok bagi kepentingan pribadinya siswa SMK secara moral salah, hal yang sama dapat dikatakan pula untuk mahasiswa, pelajar SMP, atau pun pelajar SMA. Norma moral menetapkan aturan untuk perilaku setiap manusia sebagai manusia, jadi apakah dia itu pandai atau bodoh, berpangkat tinggi atau rendah, kaya atau miskin, berhadapan dengan norma moral semua manusia berkedudukan sama. Asumsi dasar di balik ciri keberlakuanumum norma moral adalah bahwa norma tersebut bukanlah sekedar suatu penetapan subjektif dan sewenang-wenang, tetapi ada dasar objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Seperti masih akan kita lihat lebih jauh pada bagian pembicaraan tentang etika normatif, bagi filsuf moral seperti Immanuel Kant, norma moral secara kategoris (mutlak tanpa syarat), mengikat setiap manusia sebagai makhluk rasional, karena pada dasarnya moralitas erat terkait dengan rasionalitas manusia. Di mana saja dan kapan saja kalau manusia mau menjadi baik sebagai manusia, ada kaidah-kaidah tertentu yang secara rasional ditetapkan dan wajib dipatuhi tanpa syarat atau tanpa mengindahkan apakah akibatnya secara pribadi mengenakkan atau menyusahkan. d. Norma moral mengarahkan perilaku manusia pada kesuburan dan kepenuhan hidupnya sebagai manusia, pada kesejahteraan umum, atau sekurang-kurangnya pada kepedulian terhadap kepen-tingan orang lain: Ciri lain yang semestinya menandai norma moral adalah bahwa dari segi isinya norma tersebut mengarahkan perilaku manusia pada kesuburan dan kepenuhan hidupnya sebagai manusia, pada kesejahteraan umum, atau sekurang-kurangnya pada kepedulian terhadap kepentingan orang lain. Dengan kesuburan dan kepenuhan hidup sebagai manusia dimaksudkan

sesuatu yang cukup luas cakupannya. Di dalamnya tentu saja masih ada kemungkinan perbedaan pendapat tentang apa persis isi pengertian atau yang dimaksud dengan “kesuburan dan kepenuhan hidup sebagai manusia”. Kemungkinan perbedaan pendapat lebih besar lagi kalau sudah sampai pada penilaian dan penentuan apakah tindakan X atau tindakan Y yang akan lebih membawa ke tujuan tersebut dan mengapa demikian. Pengertian tersebut erat berkaitan dengan suatu konsep tertentu tentang manusia. Kalau ciri ini diartikan sebagai yang secara khusus membedakan norma moral dari norma-norma yang lain kiranya memang tidak tepat, karena norma- norma yang lain pun isinya mengarah pada tujuan yang sama. Maka dengan kekhususan di sini kiranya, sebagaimana berlaku untuk kekhususan b. lebih dimengerti sebagai yang semestinya ada padanya dan bukan sebagai ciri khas yang membedakannya dari norma-norma yang lain. 2.4 Pendidikan Moral Pendidikan moral adalah upaya dari orang dewasa dalam membentuk tingkah laku yang baik, yaitu tingkah laku yang sesuai dengan harapan masyarakat yang dilakukan secara sadar. (Daryono, 1998:13) mengemukakan bahwa: ”Pendidikan moral adalah merupakan suatu usaha sadar untuk menanamkan nilai – nilai moral pada anak didik sehingga anak bisa bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai moral tersebut”. Dewey (Daroeso, 1986:32) menyatakan pendidikan moral seperti

pendidikan intelektual mempunyai basis pada berfikir aktif mengenai masalah – masalah moral dan keputusan – keputusan selanjutnya ia mengatakan tujuan pendidikan adalah pertumbuhan atau perkembangan moral dan intelektual. Sementara itu (Sudarminta, 004:108) menyatakan bahwa pendidikan moral pada umumnya, baik di dalam keluarga maupun di sekolah, sebagai bagian pendidikan nilai, adalah upaya untuk membantu subjek didik mengenal, menyadari pentingnya, dan menghayati nilai – nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan tingkah lakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama – sama dalam suatu masyarakat. (Daroeso, 1986:45), berpendapat tentangpendidikan moral bahwa: “pendidikan moral adalah pendidikan yang menyangkut aspek dari pada watak seseorang yang sama pendidikannya, watak itu tidak baru dimulai pada saat ia masuk sekolah”. Pendidikan moral dapat dirumuskan sebagai suatu proses yang disengaja di mana para warga muda dari masyarakat dibantu supaya berkembang dari orientasi yang

berpusat pada diri sendiri mengenai hak – hak dan kewajiban mereka, ke arah pandangan yang lebih luas, yaitu bahwa dirinya berada dalam masyarakat dan ke arah pandangan yang lebih mendalam mengenai diri sendiri (Salam, 2000:76). Kehidupan manusia memang mempunyai otonomi, tetapi manusia tidak bebas sepenuhnya. Kehidupan manusia terkait oleh ketentuan – ketentuan yang ada dalam masyarakat. Ketentuan –ketentuan itu menurut Daroeso (1986:23) sebagai berikut: 1. ketentuan agama yang berdasarkan wahyu. 2. ketentuan kodrat yang terutama dalam diri manusia, termasuk didalamya ketentuan moral universal yaitu moral yang seharusnya. 3. ketentuan adat istiadat buatan manusia termasuk didalamnya ketentuan moral yang sedang berlaku pada suatu waktu. 4. ketentuan hukum buatan manusia, baik berbentuk adat istiadat atau hukum negara. Diungkapkan oleh Magnis (Daroeso, 1986:27) bahwa: berkesadaran moral tidak lain adalah merasa wajib untuk melakukan tindakan yang bermoral. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral itu ada dan terjadi di dalam hati sanubari manusia, siapapun, dimanapun dan kapanpun juga. Kohlberg seorang pakar Perkembangan Moral secara Kognitif (Cognitive Moral Development) memandang pendidikan moral adalah pendidikan mengenai prinsip – prinsip umum tentang moralitas dengan menggunakan metode pertimbangan moral atau cara – cara memberi pertimbangan moral. Prinsip – prinsip moralitas adalah prinsip mengenai pilihan. Kohlberg melihat pendidikan moral adalah kegiatan untuk membantu peserta didik menuju kearah yang sesuai dengan kesiapan mereka, dan tidak memaksakan pola – pola eksternal terhadapnya. Dalam pendidikan moral senantiasa melibatkan stimulasi perkembangan melalui tahap – tahap, dan tidak sekedar mengajarkan kebenaran – kebenaran yang sudah baku. Secara umum pendidikan moral berkenaan dengan aturan – aturan (moral rules), sikap – sikap (behavior), dan tingkah laku (action). Pandangan Wilson tentang esensi dari pendidikan moral adalah menanamkan pilihan – pilihan yang benar dan klarifikasi akan perasaan dan disposisi tersebut. Pendidikan moral umumnya lebih menunjuk kepada pengembangan konsepsi keadilan yang begitu dipengaruhi oleh pemikiran – pemikiran Kant (Haricahyono, 1995:210) moralitas mencakup makna yang begitu luas, antara lain:

a. Tingkah laku membantu orang lain, b. Tingkah laku yang sesuai dengan norma – norma sosial, c. Internaliasasi norma – norma sosial, d. Timbulnya empati atau rasa salah, atau bahkan keduanya, e. Penalaran tentang keadilan, dan f. Memperhatikan kepentingan orang lain. 2.5 Tujuan Pendidikan Moral Sasaran dari moral adalah keselarasan dari perbuatan manusia dengan aturan – aturan yang mengenai perbuatan – perbuatan manusia itu (Salam, 2000:9). Tujuan secara khusus pendidikan moral: untuk berkembangnya siswa dalam penalaran moral (moral reasioning) dan melaksanakan nilai – nilai moral (Salam, 2000:77).

Pandangan Salam (2000: 80) tentang tujuan pendidikan moral adalah: membimbing para generasi muda untuk memahami dan menghayati Pancasila secara keseluruhan dan setiap sila. Tujuan akhirnya adalah agar dapat menumbuhkan manusia – manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama – bersama bertanggungjawab atas pembangunan. Ditambahkan bahwa tujuan pendidikan moral adalah: (1) Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) Meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan. Tujuan utama pendidikan moral adalah untuk meningkatkan kapasitas berpikir secara moral dan mengambil keputusan moral. Tujuan pendidikan moral juga perlu ditekankan pada metode pertimbangan moral dan untuk membantu anak– anak untuk mengenal apa yang menjadi dasar untuk menerima suatu nilai. Selain itu tujuan pendidikan moral adalah untuk mengusahakan perkembangan yang optimal bagi setiap individu. Lickona (Koyan, 2000:85) mengemukakan tentang dua tujuan utama pendidikan moral, yaitu kebijakan dan kebaikan. Tujuan Pendidikan moral perlu diefektifkan, karena adanya kecenderungan remaja bertingkah laku menyimpang. Membangun manusia seutuhnya adalah masalah dan tugas pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan manusia seutuhnya adalah tugas untuk membantu manusia dalam perkembangannya menjadi manusia insan kamil/manusia yang sempurna, manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang seimbang dalam perkembangannya sebagai insan sosial yang adil (Daroeso, 1986:43).

Adapun pendidikan moral memiliki tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1. Perkembangan anak seutuhnya, 2. Membina warga negara yang bertanggung jawab, 3. Mengembangkan rasa hormat menghormati martabat individu dan kesucian hak asasi manusia, 4. Menanamkan patriotisme dan integrasi nasional, 5. Mengembangkan cara hidup dan berpikir demokratis, 6. Mengembangkan toleransi, mengerti perbedaan, 7. 8. 9. Mengembangkan persaudaraan, Mendorong tumbuhnya iman, Menanamkan prinsip moral.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pendidikan merupakan sebuah usaha yang berjalan secara terus menurus untuk menjadikan manusia (masyarakat) mencapai taraf kemakmuran. Pendidikan sebagai sarana pengantar untuk penyeimbang antara sumber daya manusia dan kemajuan teknologi dan informasi sudah seharusnya memberikan pelayanan maupun kontribusi yang tinggi. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu :memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Pendidikan dalam kegiatan pendidikan memiliki tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. Akan tetapi, pendidikan di indonesia dihadapkan pada problem rendahnya mutu pendidikan yang sudah ada serta banyaknya siswa terutama siswa SMK yang nilai norma moralnya sudah tidak ada lagi atau berkurang. Untuk itu, diperlukan pendidikan moral untuk siswa SMK. Ini dilakukan agar siswa SMK dapat membentuk tingkah laku yang baik, yaitu tingkah laku yang sesuai dengan harapan masyarakat yang dilakukan secara sadar. Dewey (Daroeso, 1986:32) menyatakan pendidikan moral seperti pendidikan intelektual mempunyai basis pada berfikir aktif mengenai masalah – masalah moral dan keputusan – keputusan selanjutnya ia mengatakan tujuan pendidikan adalah pertumbuhan atau perkembangan moral dan intelektual. 3.2 Saran Saran saya dalam proposal ini, kita harus sama – sama sebagai insan pendidik harus dapat mengajak peserta didik terutama siswa SMK yang norma moralnya berkurang perlahan – lahan dan harus adanya pendidikan moral yang dimana pendidikan itu dapat membuat tingkah laku atau norma moralnya bisa semakin baik, sehingga apa yang diharapkan lingkungan terhadap siswa SMK tidak buruk lagi.

DAFTAR PUSAKA

Alan Gewirth, Reason and Morality, Chicago: The University of Chicago Press, 1981, p. 1. Dr. Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kinesis, 1987, hlm. 16-17. tekpend-unm.com/index2.php?option=com_content&do_pdf.
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka

digilib.unnes.ac.id/.../library?. http://joko1234.wordpress.com/2010/03/13/indentifikasi-pemecahan-masalah/
http://www.detiknews.com. http://www.sib-bangkok.org. Pidarta, Prof. Dr. Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->