P. 1
Bab 7 Teori an Uang

Bab 7 Teori an Uang

|Views: 127|Likes:
Published by aleksicon

More info:

Published by: aleksicon on Jan 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2011

pdf

text

original

8ab 7 Teori Permintaan Uang

7.1. PENDAHULUAN

Dalam kepustakaan ekonomi sejak lama ada kepercayaan terhadap J.U.B. yaitu bahwa UANG, HARGA dan AKTIVIT AS EKONOMI saling berhubungan satu sarna lainnya. Telah terjadi perubahan teori dari yang percaya bahwa ada hubungan yang kaku (a rigid relation) antara J.U.B. dengan nilai transaksi sampai pada hipotesis yang menyatakan bahwa tingkat pendapatan (nominal) merupakan faktor yang dominan, walaupun bukan satu satunya, dalam mempengaruhi J. U .B. Akhirnya sampai pada kepercayaan bahwa uang dianggap sebagai salah satu cara pemegang kekayaan dimana permintaannya ditentukan oleh hasil relatif (Relative Yield) dan faktor lainnya. atau ringkasnya perkembangan teori permintaan uang dari Klasik (Fisher, Hume); Keynes (dan Marshall) sampai pada Friedman dan Pigou.

7.2. PENDEKATAN TEORI KUANTITAS

Pemyataan bahwa JUB berhubungan dengan nilai transaksi merupakan salah satu versi dari teori kuantitas uang yang dikembangkan oleh IRVING FISHER (1911) dimana:

MV=PT

M adalah JUB

V adalah kecepatan peredaan uang P adalah tingkat harga.

T adalahjumlah (volume) transaksi

Pada mulanya teori Fishertidak dikenal sebagai teori permintaan uang hanya merupakan identitas saja. Akan tetapi dengan pertolongan 3 (tiga) hipotesis yang berkait dengan perilaku ekonomi dari bukan teori diubah menjadi teori penentuan harga. Misalnya M dianggap eksogenous artinya berapapun kita tidak dapat mempengaruhi, V dianggap konstan, dan T ditentukan oleh output FE dalam perekonomian maka :

MV

V

P=--atau P=--. M,

- -

T T

65

ini berarti bahwa adanya perubahan dalam M akan mengakibatkan perubahan dalam P.

Anggapan bahwa M ditentukan secara eksogen serta perekonomian akan mencapai keseimbangan pada FE merupakan anggapan Klasik. Tetapi anggapan bahwa V adalah konstan masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, karena hal ini berarti bahwa dengan strukturindustri tertentu (given), mekanisme pembayaran dan tehnis pembayaran (upah,gaji), sejumlah tertentu uang diperlukan untuk berjalannya transaksi secara bebas. Misal sejumlah input dalamjumlah tetap diperlukan oleh suatu industri tertentu, ini berarti bahwa harus ada sejumlah tertentu uang agar transaksi ini dapat berjalan. Diperlukannya sejumlah tertentu input karena koefisien tehnisnya mengharuskan demikian. Koefisien tehnis akan berubah dengan adanya perubahan dalam cara pembayaran, derajat integrasi industri ataupun karakteristik struktural perekonomian. Akan tetapi, dalam jangka pendek, hal diatas dianggap tetap. Ini berarti bahwa V tidak akan berubah, dengan adanya perubahan perekonomian.

Tentunya dalam jangka panjang adanya perubahan dalam struktur perekonomian akan mempengaruhi nilai koefisien tehnis. Kebalikan dari V yaitu 1 IV = M/PT, merupakan ukuran sejumlah uang yang diperlukan pada setiap unit transaksi atau lebih dikenal sebagai laju perubahan (Rate of Turn Over) penggunaan setiap unit uang setiap waktu.

Agar dapat menjelaskan teori pendapatan, anggapan bahwa total transaksi berubah secara langsung dengan perubahan pendapatan, dan harga didefinisikan sebagai harga barang (output) riiI. Sehingga persamaan kuantitas menjadi :

MV=PY

dimana Y adalah pendapatan riil.

V adalah laju kecepatan pendapatan.

Dari persamaan diatas dapat digali bahwa sejumlah uang diperlukan pada suatu tingkat pendapatan (Y) dan harga P sehingga :

M = IIV . PY, dimana V konstan.

Teori di atas memperkirakan bahwa M akan berubah secara langsung dengan berubahnya PY tanpa faktor lain mempengaruhi.

Teori yang lain dalam teori kuantitas uang dikembangkan oleh Ekonom Cambridge antara lain Marshall (1923) dan Pigou (1917) yang dikenal dengan "The Cambridge Equation" yaitu :

M = k PY, dimana k = IIV

Persamaan Cambridge diatas menekankan pada pendapatan sebagai faktor yang mempengaruhi permintaan uang dan juga mereka menganggap bahwa faktor lain, tingkat bunga adalah penting. Sehingga k didalam persamaan Cambridge akan konstan jika faktor

66

lain terrnasuk tingkat bunga juga konstan. Agar supaya tidak rnernbingungkan persarnaan diatas ditulis lagi sebagai berikut :

M = k(r). PY, dirnana r adalah tingkat bunga.

Sebelurn Keynes tingkat bunga tidak banyak dianalisis, latar belakang ketergantungan k pada tingkat bunga.

7.3. PENDEKATAN KEYNES

Surnbangan Keynes (1936) kepada teori permintaan uang rnencoba rnenganalisis secara rinci faktor yang rnernpengaruhi perrnintaan khususnya peranan tingkat bunga.

Keynes rnernbedakan 3(tiga) rnotivasi rnernegang uang yaitu:

a. Motivasi transaksi rnenunjukkan perlunya uang kas untuk rnernenuhi transaksi saat ini baik perseorangan ataupun perusahaan.

b. Motivasi berjaga-jaga yang berkaitan dengan keinginan kearnanan (security) karena rnenyangkut transaksi yang tidak terencana.

c. Motivasi Spekulasi didefinisikan sebagai us aha rnencari keuntungan karena rnengetahui situasi pasar lebih baik dari yang lain akibat dalarn situasi ketidak tentuan diperlukan inforrnasi yang sernpuma.

Perrnintaan uang untuk transaksi harnpir sarna dengan pandangan koefisien teknis tetap.

Uang diperlukan untuk rnenjernbatani jarak (interval) antara penerirnaan dan pengeluaran serta antara biaya yang dikeluarkan dan penerirnaan hasil penjualan. Jurnlah uang yang diinginkan untuk tujuan ini diharapkan berubah secara lang sung dengan tingkat pendapatan. Dan tidak akan berubah dengan adanya perubahan tingkat bunga.

Perrnintaan uang untuk berjaga-jaga merupakan suatu benih (a hybrid). Perrnintan uang ini diperlukan untuk mencadangkan pengeluaran yang rnendadak (tidak direncana). Besar kecilnya uang kas yang dipegang narnpaknya juga dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tetapi faktor yang mungkin lebih penting rnernpengaruhi pernegangan uang ini adalah likuiditas kekayaan yang dirniliki dalarn artian bahwa biaya serta tingkat kepercayaan kekayaan untuk di perjual belikan.

Kedua rnacam perrnintaan di atas dikenal dengan uang kas aktif - active balance (M), dirnana secara grafik dapat ditunjukkan sebagai berikut:

67

Gambar 7.3.l Permintaan Uang untuk transaksi

p y

o

Gambar di atas menunjukkan bahwa r 1 (tingkat bunga) lebih tinggi daripada ro sehingga M, nya lebih rendah untuk setiap nilai PY.

Dalam mempertimbangkan permintaan uang untuk spekulasi Keynes memusatkan perhatian kepada 2 (dua) pilihan cara pemegangan kekayaan finansial yaitu uang dan obligasi (jangka panjang). Nilai nominal uang tetap, tetapi nilai obligasi akan kembali jika tingkat bung a kembali. Meningkatnya tingkat bunga di pasar akan berakibat menurunnya harga obligasi yang menjanjikan hasil tetap setiap tahunnya dan sebaliknya jika tingkat bunga turun. Dalam memutuskan apakah memegang uang atau obligasi investor akan memperhitungkan harapan akan adanya "capital gain" dan "capital loss" . Dalam pemegangan obligasi akan beruntung seandainya memegang obligasi daripada memegang uang jika nilai kapital tidak turun sebesar penurunan tingkat bung a, dan sebaliknya lebih baik memegang uang, walaupun tanpa hasil sekalipun.

Karena tingkat bunga dimas a depan tidak pasti harapan pemegang kekayaan atas bagaimana mereka akan bergerak (beraksi) nampaknya berbeda : beberapa mungkin berharap bahwa tingkat bunga akan meningkat dengan drastis, yang lain mungkin mengharapkan perubahan kecil dan mungkin yang lain malah mengharapkan turun. Semua anggota kelompok pertama akan (berantisipasi) mendapatkan kerugian, jika mereka akan memegang obligasi dan tentunya mereka akan memilih memegang uang kas. Untuk sebagian anggota kelompok kedua mungkin ada yang memegang obligasi disamping uang kas dan semua anggota kelompok ketiga akan memegang obligasi semua. Perbedaan pandangan ini berkaitan dengan pembagian pemegangan kekayaan yang dipengaruhi oleh pandangan umum akan pengharapan, akan naik turunnya tingkat bunga. Kalau kebanyakan investor mengharapkan tingkat bunga turun, permintaan akan obligasi semakin besar dan permintaan uang turun.

68

Dalam teori ini yang penting bukannya tingkat bunga absolut tetapi derajat perbedaan antara yang dianggap sebagai tingkat bunga yang aman. Setiap individu mempunyai pandangan terhadap tingkat bunga yang dianggap "NORMAL". Kalau tingkat bunga saat ini (r) lebih besar daripada tingkat bunga normal (p) maka semakin besar proporsi kekayaan yang dipegang dan berharap agar r turun sehingga memilih memegang obligasi dan sebaliknya kalau r < p proporsi pemegangan kekayaan akan cenderung beralih ke uang lebih besar. Hubungan antara tingkat bung a dengan permintaan uang untuk spekulasi dikenal sebagai kurva preferensi likuiditas.

Gambar ini menunjukkan dua contoh kurva preferensi likuiditas pada dua nilai p yang berbeda, dimana PI dianggap lebih besar daripada Po.

r-p

o

Gambar 7.3.2 Permintaan Uang untuk spekulasi

M2= f'(r-pj) MI= fer-po)

Permintaan uang untuk spekulasi merupakan fungsi yang menurun atas r-p:

ML = f (r-p), dimana fl (r-p) < O.

Kelompok Keynes telah menjelaskan bahwa pada beberapa tingkat bunga (positif), elastisitas dari kurva preferensi likuiditas sarna dengan tak terhingga (INFINITE) dimana pada tingkat bunga ini masyarakat tidak percaya bahwa tingkat bunga yang rendah tidak akan ada dan tidak akan dikompensasi untuk risiko kerugian kapital dari hasil yang ada (walau kecil). Daripada memegang obligasi pada hasil yang kecil dibanding kekayaannya jika dipegang dalam uang. Bagian dari kurva yang ini disebut sebagai JEBAKAN LIQUIDIT AS (LIQUIDITY TRAP).

Dalam beberapa hal nilai P sering dianggap konstan dim ana Keynes tidak memberikan model penetuan tingkat bung a normal dan bentuk permintaan uang untuk spekulasinya

69

adalah:

M = f (r) atau L = f (r)

Analisis Keynes telah dikritik karen a menganggap bahwa disamping permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga setiap individu memegang uang atau obligasi tetapi bukan kedua-duanya. Permintaan uang untuk tujuan spekulasi meningkat jika proporsi dari uang kas yang dipegang oleh investor meningkat dan pada pemegang obligasi menurun. Tobin (1958) menyiapkan sebuah model yang memperkirakan bahwa proporsi dari setiap kekayaan yang dipegang oleh individua bervariasi dengan variasi tingkat bunga. Kalau Keynes hanya mempertimbangkan pengharapan atas tingkat bunga dimas a mendatang, Tobin merupakan penemu ketidakpastian. Menurut Tobin karena para investor tidak yakin akan tingkat bunga dimas a depan, obligasi dipandang sebagai kekayaan yang berisiko besar yang mungkin akan memberikan kerugian ataupun keuntungan kapital, sedangkan uang kas mempunyai nilai nominal yang tetap. Dengan mempertimbangkan portofolio (pemilihan kekayaan) investor atas obligasi dan uang kas secara keseluruhan, adanya kenaikan dalam obligasi akam membawa dampak pada pendapatan dan pada risiko.

Misalnya pemilihan antara uang dan obligasi seorang investor dianggap berkeinginan mendapat pendapatan dan tidak menyukai resiko. Hal ini ditunjukkan oleh gambar berikut

70

Gambar 7.3.3

Fungsi Preferensi Pendapatan Risiko

o

G

Jika u mengukur harapan hasil dari portofolio dan G risiko yang dihadapi, ini berarti bahwa seorang investor menginginkan pendapatan yang lebih besar untuk mengimbangi adanya setiap kenaikan dalam risiko: sehingga fungsi preferensinya berarah positif dan kekanan.

Pada suatu tingkat bunga tertentu .r, ada kesempatan terbuka bagi investor dengan sejumlah tertentu uang dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 7.3.4 Keseimbangan Investor

11 X

o

G

OX, garis anggaran investor. Pada titik 0 berarti semuanya dipegang dalam bentuk uang dimana tidak ada pendapatan dan tidak ada risiko. Dan pada semuanya dipegang dalam bentuk obligasi dengan pendapatan dan fisiko keduanya maksimum. Proporsi pemegang obligasi meningkat dari 0 ke 100 per sen kalau investor bergerak sepanjang garis OX. Dengan adanya garis anggaran ini maka kurva preferensi tertinggi yang dapat dicapai adalah 12 dan posisi keseimbangan investor pada PI dimana portofolionya berisi campuran antara uang dan obligasi. Kalau tingkat bunga meningkat, tanpa perubahan ketidak pastian, karena garis kesempatannya bergeser ke oX dan posisi keseimbangannya P dimana semakin besar proporsi obligasi yang dipegang.

Perlu dicatat bahwa analisis ini menjelaskan kenapa ketidak pastian yang mungkin mendorong investoruntuk melakukan diversifikasi (penganeka-ragaman) portfolionya antara uang dan obligasi dan berapa perubahan tingkat bunga mungkin mempengaruhi pembagian portfolio terse but. Analisis ini membolehkan kita untuk memperkirakan bahwa semua investor akan memilih untuk menganekaragamkan portafolio mereka. Hipotesis yang menyatakan bahwa permintaan uang untuk tujuan spekulasi akan bergerak berkebalikan dengan perubahan tingkat bung a berdasar pada anal isis Keynes.

71

Dengan menggabungkan motivasi transaksi berjaga-jagadan spekulasi maka permintaan uangnya sekarang sebagai fungsi dari PY,r dan P sebagai berikut.

M = g (PY, r, p).

Ada 2(dua) hal yang perlu dicatat terhadap pendekatan ini yaitu pertama jika analisis Keynes diterima maka stabilitas permintaan uang tergantung pada stabilitas dan perkiraan tingkat bunga normal, P. Kurva permintaan menjadi tidak stabil jika tingkat bung a normal berubah drastis dalam jangka pendek karen a investor mendasarkan pengharapan pada ekstrapolasi kecenderungan (TREND) tingkat bunga. Kedua dalam membicarakan komposisi pemegang kekayaan nampaknya agak ganjil untuk saat ini, untuk menempatkan pemilihan antara uang dan obligasi saja. Dalam banyak negara ada banyak barang-barang substitusi terhadap uang yang mempunyai nilai nominal tetap dan mungkin menanggung tingkat bunga yang lebih tinggi. Ada kemungkinan bahwa pengharapan akan tingkat bunga dimas a depan mungkin mempengaruhi pemilihan kekayaan ini dengan obligasi daripada antara uang dan obligasi, sehingga permintaan uang untuk spekulasi nampaknya tidak begitu penting lagi. Tetapi, hasil, yang didapat dari pengganti uang ini mungkin berpengaruh pada permintaan uang untuk tujuan transaksi.

7.4. TEORI KUANTITAS MODERN

Teori ini menganggap bahwa permintaan uang sarna halnya dengan permintaan untuk kekayaan finansial ataupun fisik yang lain. Dalam teori konsumsi permintaan barang-barang ditentukan oleh harga barang itu sendiri dan juga faktor-faktor lain. Demikian juga dalam pemilihan kekayaan yang akan dipegang ditentukan oleh karakteristik masing-masing termasuk didalamnya hasil yang didapat berkaitan dengan kekayaan terse but, alternatif pilihan bagi pemegang kekayaan dibatasi oleh kendala kekayaan (WEALTH CONSTRAINT).

Menurut Friedman (1956) uang dapat dianggap sebagai salah satu dari 5(lima) cara pemegang kekayaan yaitu: UANG, OBLIGASI, SAHAM, BARANG-BARANG FISIK dan KEKA Y AAN HUMANI. Masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda dan menawarkan hasil yang berbeda pada peserta resiko masing-masing.

Secara singkat permintaan uang Friedman dapat di tuliskan sebagai berikut :

M = f(P, r, Yp, u).

dimana P adalah harga barang-barang r adalah tingkat bunga

Yp adalah permanent Income u adalah faktor preferensi

Penyederhanaan di atas bedasarkan pada analisis Keynes tentang permintaan uang untuk tujuan spekulasi dimana hasil ataupun kerugian yang mungkin didapat dari saham atau obligasi tidak sesederhana dalam prakteknya (kenyataan) tetapi lebih pada pengharapan yang

72

akan terjadi. Tidak ada tolok ukur untuk pengharapan kerugian ataupun keuntungan atas kapital yang dipegang karena perubahan dalam tingkat bunga tersedia sehingga faktor ini dapat dihilangkan

[(1/rb), drb dan (lire), dre].

dt dt

Laju inflasi juga dihilangkan kecuali dalam situasi hyper inflasi dan juga perbandingan antara kekayaan humani dan non-humani jarang dimasukkan. Dan karena alasan statistik yang digunakan hanya l(satu) macam tingkat bunga sebagai individu hasil kotor dari berbagai pilihan kekayaan tersebut. Dari persamaan diatas dapat dibuat permintaan uang kas riil dimana ini tidak tergantung pada skala yang digunakan untuk mengukur, persamaan didapat dengan membagi harga :

M = f (r, Yp, u) atau M = f(r, W, u)

- - - -

P P P P

Perbedaan menyolok antara fungsi permintaan Keynes dengan Friedman terletak pada dimasukkannya "kekayaan" kedalam teori kuantitas sebagai lawan dari pendapatan saat ini; penghapusan beberapa elemen yangtidak stabiI sebagaimana dimasukkankedalam permintaan uang untuk tujuan spekulasi tetapi ada faktor yang tidak dihapuskan baik di Keynes maupun Friedman yaitu tingkat bunga tetapi dalam prakteknya tidak dimasukkan.

Perbedaan yang lain adalah bahwa teori kuantitas menekankan pada faktor harga atau asa-inflasi (expected inflation) yang mungkin berpengaruh pada biaya pemegangan uang. Sebaliknya, tingkat bunga pada obligasi tidak begitu diperhatikan. Sedangkan Keynes menekankan peranan bunga pada permintaan uang spekulasi (interest elasticity).

7.5. SEKELUMIT CATATAN TEORI KUANTITAS

Teori kuantitas uang adalah teori permintaan uang dan teori pendapatan. Sebagai teori permintaan berdasar pada hipotesis bahwa permintaan untuk uang kas (riiI) adalah sangat stabil dan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tidak bergantung (independent) pada faktor - faktor yang mempengaruhi penawaran uang. Sebagai teori penentuan pendapatan berbeda dengan teori penentuan pendapatan yang lainnya karena karakteristik fungsi permintaan serta variable-varibel yang ditekankan mempengaruhinya.

Kestabilan dan kekhususan karakteristik dari fungsi permintaan uang diatas dijabarkan oleh Friedman bahwa "teori kuantitas tidak hanya sebagai fungsi permintaan uang yang stabil tetapi juga memerankan peranan penting dalam menentukan variabel variabel yang sangat penting dalam analisis perekonomian secara keseluruhan, misalnya pendapatan (nominal) dan harga-harga.

Teori permintaan uang Klasik dan Neo-Klasik mempunyai beberapa hal yang perlu dicatat antara lain bahwa mereka mengang gap bahwa Ms dan Md bersama-sama menentukan pendapatan riil bukan suku bunga ; Md adalah stabil dan dengan melalui "V" menghubungkan

73

antara pendapatan (nominal) dengan harga-harga. Sedangkan teori permintaan uang Keynes (sebagai preferensi likuiditas) menentukan suku bunga.

Dalam teori kuantitas uang, permintaan uang di gunakan baik sebagai teori perubahan harga (dengan output tetap) atau teori tingkat harga (dengan output dan velocity tetap). Sedangkan dalam teori Neo Klasik menggunakan permintaan uang sebagai teori perubahan pendapatan (dengan anggapan baik output maupun velocity mungkin berubah) sebagai akibat perubahan JUB.

Sedangkan teori permintaan uang Keynes menganggap bahwa permintaan uang sebagai teori suku bunga atau perubahan suku bunga dengan anggapan harga tetap. Meskipun teori Klasik dan Neo Klasik mengetahui bahwa suku bunga mempengaruhi permintaan uang mereka tidak memasangnya sebagai faktor yang mempengaruhi keputusan portofolionya. Menurut mereka produktivitas dan penghematan mempengaruhi suku bung a dan bentuk permintaan uang. Penyesuaian di sektor moneter sebaliknya tidak mempengaruhi keseimbangan suku bunga. Mereka mengetahui bahwa perubahandi dalam permintaan atau penawaran uang akan mempe ngaruhi suku bunga secara temporer.

Teori Kuantitas uang klasik menganggap bahwa permintaan uang stabil sehingga (menyebabkan bahwa) perubahan kecepatan peredaran uang tidak akan terjadi kecuali didorong oleh perubahan JUB sebelumnya, dimana perubahan dalam sektor moneter ini tidak mempengaruhi (secara permanen) suku bunga yang ditentukan di sektor riil kecuali kemungkinan kecepatan peredaran uang berubah selama periode transisi.

Teori Kuantitas uang Klasik menganggap bahwa pada suatu tingkat output tertentu, perubahan harga dikaitkan dengan perubahan JUB dan dipakai untuk meramal perubahan tingkat harga.

Perumusan Teori kuantitas modern banyak dipengaruhi oleh analisis Liquidity Preference yang menekankan pada pemilihan portofolio dan substitusi uang dengan obligasi, saham dan lain-lainnya. Teori permintan uang modern menganggap bahwa permintaan uang sebagai teori kapital (bukan hanya untuk transaksi dan berjaga- j aga mungkin untuk spekulasi) dan menekankan komposisi kekayaan yang dipegangnya berdasarkan seleksi kekayaan serta neraca.

Teori Kuantitas Modern menganggap bahwa:

1) Permintaan uang fungsi dari suku bung a dan varibellain

2) JUB adalah varibel endogen dan tidak selalu hanya tergantung, pada penguasa moneter

3) Adanya perubahan JUB nominal akan mempengaruhi suku bunga, pendapatan dan harga.

4) Dampak sukubunga = liquidity

effect + (Keynes)

price

short run

expectation effect

(Fisher) long run

5) "Velocity" relatif stabil.

74

Teori Kuantitas Modern menggunakan permintaan uang untuk memperkirakan perubahan pendapatan.

Perkembangan teori permintaan uang Keynes agak "Radikal" karena permintaan uang kas dianggap suatu "Datum" dan mengubah LP sebagai teori suku bunga. Ingat Keynes, Ms = Md -> i. Dalam teori permintaan uang yang baru LP bukan hanya menentukan suku bunga dalam jangka pendek tetapi merupakan suatu teori tentang suku bunga yang berarti bahwa sektor moneter menentukan suku bunga baik sektor moneter atau sektor riil keduanya menentukan suku bunga (lngat IS = LM).

Teori permintaan uang Keynesian menghubungkan M atau M/P dengan suku bunga melalui teori LP dan menurut mereka perbedaan antara "Actual" dengan "Desired" real balances menentukan peru bah an pendapatan dan tingkat harga, dan menganggap M sebagai variabel (operasional) kebijakasanaan. Teori ini juga menekankan pada perbedaan antara output "Actual" dengan output "FE" dan menganggap bahwa suku bung a sebagai variabel kebijaksanaan yang lainnya kalau suatu saat diperlukan.

Pergeseran penekanan (dari teori harga ke teori "Emploment"; dari teori permintan uang ke LP; dari anggapan real balances sebagai endogen factors menjadi antonomous factors) menunjukkan peranan penting dari peru bah an rn/p dan suku bunga. Kalau "real cash balances" merupakan kunci utama yang menghubungkan langsung antara penggunaan uang dengan JUB, suku bunga merupakan variabel kunci dalam Keynesian dan rn/p dianggap sebagai policy instrument. Penekanan peranan suku bung a disini, dengan menganggap JUB dapat dikontrol oleh penguasa moneter sangat menentukan laju inflasi dan tingkat harga.

Ringkasnya, kalau teori kuantitas modern menekankan pada tingkat harga tetapi tidak mempunyai teori yang cukup baik untuk menjelaskan perubahan harga yang lambat (mild I creeping inflation). Keynesian mempunyai teori yang cukup baik dalam menjelaskan perubahan pendapatan (uang) yang dibagi menjadi perubahan harga dan perubahan pendapatan sebagaimana yang dikatakan oleh Friedman: "Keynesian cenderung menganggap output elastis sempurna terhadap peru bah an harga umum sampai batas tertentu dan inelastis sempurna terhadap peru bah an harga pada batas yang lain sehingga bentuk penawaran outputnya adalah L-Shaped supply curve of output.

75

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->