Karya I Made Andi Arsana, ST.

, ME Batas Maritim Antarnegara - Sebuah Tinjauan Teknis dan Yuridis (Gadjah Mada University Press, 2007) more...

Tuesday, October 16, 2007
Batas Maritim Indonesia setelah 25 Tahun UNCLOS

Mengikuti Sidang Umum PBB di gedung Sekretarit PBB, New York merupakan pengalaman yang menarik. Sebagai pengamat, penulis dapat mengikuti dengan seksama jalannya negosiasi yang kadang alot. Saat itu terjadi konsultasi informal pembahasan resolusi hukum laut (law of the sea) yang berkutat tidak saja pada masalah isi tetapi juga bahasa. Pengalaman menarik itu mengingatkan bahwa nasib kelautan dan hukum laut planet ini sedang dibicarakan di ruangan itu. Tahun ini Konvensi PBB tentang hukum laut yang dikenal dengan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS) telah berumur 25 tahun. Orang menyebutnya Constitution of the Oceans karena dipandang sebagai bentuk kodifikasi hukum laut yang paling komprehensif sepanjang sejarah peradaban manusia. Konferensi untuk mewujukan konvensi tersebut berlangsung tidak kurang dari sembilan tahun sebelum akhirnya disetujui dan diratifikasi oleh sebagian besar negara pantai (coastal states) di dunia. Kini ada 155 negara yang meratifikasinya termasuk Indonesia dengan UU No.17/1985. Salah satu hal penting yang diatur dalam UNCLOS 1982 dan terkait erat dengan Indonesia adalah yurisdiksi dan batas maritim internasional. UNCLOS mengatur kewenangan sebuah negara pantai terhadap wilayah laut (laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi ekskluif, dan landas kontinen). Selain itu diatur juga tatacara penarikan garis batas maritim jika terjadi tumpang tindih klaim antara dua atau lebih negara bertetangga, baik yang bersebelaan (adjacent) maupun berseberangan (opposite).

PR Indonesia masih tersisa. Cerita tentang Sipadan dan Ligitan bahkan menjadi legenda yang siap dikisahkan kembali kapan saja. Harus diakui bahwa perjalanan Bangsa Indonesia masih diwarnai riak-riak yang terkait sengketa batas maritim. Menyebut Ambalat sebagai pulau dan menuduh Malaysia tidak berhak mengklaim lebih dari 12 mil wilayah laut karena bukan negara kepulauan adalah dua contoh komentar yang tidak pada tempatnya. Pemahaman ini penting untuk menghindarkan kita dari kesalahan menghujat pihak-pihak yang tidak semestinya dihujat. Sipadan dan Ligitan adalah dua pulau ³tak bertuan´ yang coba diklaim oleh Indonesia dan Malaysia tetapi dimenangkan oleh Malaysia karena alasan penguasaan efektif. 18 perjanjian batas maritim sudah disepakati sehingga tidak berlebihan jika ada pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia termasuk sangat produktif dalam menyelesaikan batas maritim dengan negara tetangga. ³Kemenangan´ ini tidak saja karena usaha Malaysia tetapi juga Inggris sebagai pendahulunya. Meski demikian. Malaysia. Palau. Inggrislah yang telah melakukan usaha yang menguatkan penguasaan atas kedua pulau itu baik berupa pemberlakuan hukum maupun pendirian dan pemeliharaan mercusuar. Saya yakin. Papua Nugini.Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dua benua memiliki sepuluh tetangga yaitu India. Kasus Ambalat yang mencuat di awal tahun 2005. memang harus diakui bahwa tidak semua berita di media massa menyampaikan duduk perkara kasus ini secara benar. Ada baiknya kita membaca secara seksama hasil keputusan Mahkamah Internasional yang secara mudah bisa didapatkan di Internet untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik. Hingga kini. Perlu juga diingat bahwa penguasaan efektif yang dimaksud tidak terkait pembangunan resort oleh Malaysia karena faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah sebelum tahun 1969 seperti disepakati kedua negara. Meski demikian. dan perbatasan dengan Singapura yang masih belum tuntas adalah sebagain kisah yang meramaikan media massa bahkan hingga saat ini. ada kalanya pejabat negara juga berkomentar emosional dan tanpa tanpa pemahaman yang memadai sehingga memperburuk suasana. Saatnya kita benar-benar paham bahwa Indonesia tidak pernah kehilangan pulau. Vietnam. hal ini . Langkah ke depan Ada setidaknya tiga hal yang harus kita lakukan bersama untuk menuntaskan PR batas maritim yang akhirnya berujung pada kehidupan berbangsa yang lebih damai. Lebih jauh lagi. Hal pertama adalah memusatkan perhatian pada penyelesaian batas maritim yang masih tertunda. Australia dan Timor Leste. Meluruskan Mitos Sipadan dan Ligitan Sebagian masyarakat memahami bahwa dua pulau Indonesia ini direbut Malaysia. Penetapan batas maritim sudah dilakukan sejak tahun 1969 dengan Malaysia ketika UNCLOS 1982 belum ada. Thailand. Apapun yang terjadi setelah 1969 tidak ada kaitannya dengan kedaulatan atas kedua pulau tersebut. Tidak mengherankan jika masyarakat salah mengerti dan kadang muncul reaksi nasionalisme berlebih. ada baiknya mengingat kembali kejadian itu dan mengambil pelajaran darinya untuk membangun kisah masa depan yang lebih baik. Filipina. Kini setelah UNCLOS berusia 25 tahun. Singapura. isu pulau terluar.

sudah semestinya kita belajar lebih banyak lagi. Tentu saja bukan berarti pakar yang ada sekarang tidak mumpuni. . Indonesia. Banyak jalan untuk meningkatkan kepakaran ini. Selain itu. Perjuangan Ir. Hal ketiga adalah meningkatkan kepakaran batas maritim dari aspek legal. demikian pula penjajagan dengan Palau sudah dilakukan. Adanya mata kuliah formal tentang batas wilayah di Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika UGM merupakan salah satu langkah yang baik. kuantitas perlu ditingkatkan dan regenerasi adalah hal yang tidak bisa diabaikan. terutama media massa. Menjaga dan memelihara batas menjadi tantangan yang juga sangat sulit. Mari menanamkan kesadaran bahari sejak dini. Di saat UNCLOS berumur 25 tahun. Peluang fellowship yang diberikan oleh United Nations dan Nippon Foundation untuk melakukan penelitian terkait selama sembilan bulan di luar negeri dan kantor PBB merupakan kesempatan yang sangat baik untuk diikuti oleh generasi muda Indonesia (lihat http://www. Memang tidak banyak berita di koran yang membahas pentingnya penentuan koordinat titik batas dengan datum geodesi yang jelas. masyarakat pesisir. Negosiasi dengan Malaysia dan Filipina sedang berlangsung. Mari kita mulai mengajarkan anak kita menggambar pemandangan laut. Menetapkan batas maritim bukanlah akhir dari segalanya. Pewujudan batas dalam peta dengan spesifikasi yang memadai termasuk mensosialisasikannya kepada pihak berkepentingan (nelayan. Usaha ini memerlukan konsentrasi dan dukungan kita. Djuanda Kartawidjaja dengan deklarasinya di tahun 1958 yang melahirkan konsep Wawasan Nusantara semestinya tetap menjadi inspirasi bagi Indonesia yang adalah negara bahari. penangkapan nelayan karena melewati garis batas tetap akan terjadi. memiliki banyak pakar hukum tetapi masih memerlukan orang-orang yang menekuni aspek teknis. Pemerintah dan institusi pendidikan sudah semestinya memberi dukungan terhadap kegiatan penelitian yang terkait batas maritim ini. Yang tidak banyak diketahui masyarakat umum adalah pentingnya keahlian teknis dalam hal ini. hydrografi.un. dll) adalah keharusan. pendirian pusat studi yang mengkaji isu batas martim di berbagai negara di seluruh dunia merupakan cara untuk belajar dari pengalaman orang lain.pastilah sudah menjadi agenda pemerintah bersama institusi terkait. Hal kedua adalah melakukan pemeliharaan dan sosialisasi batas maritim yang sudah ada. menurut hemat penulis. geologi) yang menekuni aspek teknis hukum laut untuk mendukung tim batas maritim Indonesia di masa depan. Delimitasi landas kontinen melebihi 200 mil laut pun sedang dilakukan dan siap untuk diserahkan kepada PBB. Memang batas maritim merupakan pesoalan hukum dan politis. misalnya. Tanpa sosialisasi dan pemahaman yang benar tentang posisi dan status batas maritim. Saatnya kita belajar dan peduli dengan wilayah dan perbatasan kita. Perlu lebih banyak ilmuwan kebumian (geodesi. politis maupun teknis. tidak hanya dua buah gunung dengan jalan di tengahnya.org/Depts/los/nippon/). sehingga sebagian masyarakat hanya melihatnya dari sudut pandang politis dan hukum. geofisika.

Maluku. Diberitakan. Mereka mendesak revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.Semua provinsi di Indonesia memiliki fitur kepulauan. Menurutnya. Tidak ada provinsi yang tidak menjadi bagian kepulauan. ³Indonesia adalah negara kepulauan.´ ujarnya. Sumatera adalah pulau. dan Kepulauan Riau menuntut pengakuan khusus sebagai provinsi kepulauan disertai penganggaran yang juga khusus. Jakarta. Nusa Tenggara Barat. costnya tinggi di Maluku. Sumut (Sumatera Utara) bagian Sumatera yang mempunyai pulau-pulau. Karenanya. Nusa Tenggara Timur. Padahal. gagasan menyebut provinsi kepulauan menjadi pertanyaan. rendah di Jawa. Penyebutan provinsi kepulauan bertentangan dengan Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Convention On The Law Of The Sea/UNCLOS) tahun 1982 yang dirativikasi menjadi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi UNCLOS 1982. dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung DPD. Bangka Belitung. secara geografis semua provinsi di wilayah Indonesia adalah kepulauan. ³Jika ada provinsi kepulauan. NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) juga bagian Sumatera yang mempunyai pulau-pulau. Sulawesi Utara. Rabu (21/4/2010). ³Karena kultur kita tidak laut. berupa pulau-pulau atau bagian pulau. Maluku Utara. karena penghitungannya hanya berdasarkan pikiran atau sudut pandang daratan bukan lautan. provinsi lain di negara kepulauan itu apa?´ ujarnya. . Senayan.Kepulauan Bertentangan dengan UNCLOS y y y Rabu.´ ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arif Havas Oegroseno. Arif mengatakan. 21 April 2010 | 21:45 WIB JAKARTA | Surya Online . provinsi tersebut menyoal formula dana sharing seperti dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) yang tidak adil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful