P. 1
Bab I

Bab I

|Views: 397|Likes:
Published by r_segara

More info:

Published by: r_segara on Jan 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2012

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan
hal yang penting untuk meningkatkan kesehatan dan menetapkan pola asuh
yang sehat. Pola asuh merupakan kunci utama dalam perkembangan awal
karakter serta mentalitas anak, sehingga anak mampu mandiri sesuai tahap
perkembangan anak. Perkembangan anak pra sekolah atau anak-anak dimulai
sekitar 2 – 6 tahun. Saat itu anak mulai memiliki kesadaran akan dirinya,
seperti: mengatur untuk buang air, mengenal sesuatu yang membahayakan
dirinya, dan lain-lain. Menurut Froebel (1989:69) dalam Carol Seefeldt &
Barbara A. Wasik, permainan dan kegiatan sendiri merupakan sarana yang
mampu memacu perkembangan anak dan lewat pengungkapan diri yang
kreatif, perasaan indera dan kehidupan harmonis dengan orang lain, anak akan
mencapai kesatuan.
1

Disisi lain, apabila diperhatikan makna dari mempelajari perkembangan
anak tidak hanya membuat kita tahu apa yang terjadi dalam tahap tertentu
kehidupan anak, tetapi juga membantu kita untuk memahami bagaimana anak-
anak berpikir dan pemahaman mereka terhadap diri sendiri. Anak-anak yang
masih berusia pra sekolah tidak memiliki kemampuan untuk mengevaluasi
diri, tetapi mereka telah memiliki kemampuan kemandirian yang dapat
berkembang secara bertahap. Kemandirian dapat berkembang dengan baik jika

1
Carol Seefeldt, Barbara A. Wasik. Pendidikan Anak Usia Dini:Menyiapkan Anak Usia
Tiga, Empat dan Lima Tahun Masuk Sekolah, edisi kedua, terj Pius Nasar (Jakarta: PT.INDEKS,
2008), hal. 7.
2
diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan
secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini serta disesuaikan dengan usia
dan kemampuan anak.
Barbara M. Newman & Philip R. Newman dalam Agoes Dariyo
menyebutkan 9 jenis perkembangan diri pada anak tiga tahun pertama
yaitu: (1) diri (self) merupakan sumber perubahan pada setiap individu,
terutama bayi atau anak, (2) bayi atau anak harus menyadari kondisi
tubuh, bentuk tubuh dan fungsi tubuhnya agar mampu mengembangkan
perkembangan diri, (3) bayi atau anak harus mampu memiliki kesadaran
diri, kemampuan mengevaluasi diri dan mengembangkan konsep diri, (4)
setiap orang anak merupakan seorang pribadi yang harus mampu
menerima berbagai pengalaman hidup baik yang menyenangkan maupun
yang mengecewakan, (5) setiap anak harus mampu mengenal dan
menyebuTKan identitas dirinya (nama, jenis kelamin, waktu lahir, orang
tua, agama, sekolah dan lain sebagainya), (6) setiap anak memiliki hak
untuk melakukan dan memiliki sesuatu (bermain, memperoleh
pendidikan, memperoleh pengakuan sebagai anak dari orang tua), (7)
setiap anak mampu mengamati dan memahami kehidupan dunianya, (8)
diri anak mampu melakukan refleksi sesuatu hal dari luar terhadap diri
sendiri, (9) diri anak merupakan pribadi yang mandiri dan bertanggung
jawab terhadap diri sendiri. Perkembangan diri dari nomor 1 sampai 4
terjadi pada anak usia 0-1,5 tahun, sedangkan perkembangan diri dari
nomor 5 sampai 9 terjadi pada anak usia 1,5 tahun sampai 3 tahun.
2


Perkembangan diri anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan orang tua
dan keluarganya. Orang tua yang memberi perhatian dan kasih sayang secara
hangat akan mampu menumbuh-kembangkan perkembangan kepribadian diri
anak menjadi positif, matang dan bertanggung jawab di kemudian hari.
Dengan demikian, orang tua harus mengembangkan kemampuan IQ, EQ, SQ
kepada anak-anaknya yang sangat penting sebagai dasar perkembangan
kemampuan secara intelektual, kemampuan secara emosional dan juga
kemampuan secara spiritual atau keagamaan.
Terkait dengan orang tua mengembangkan IQ, EQ, SQ anak-anaknya
maka setiap orang tua mempunyai persepsi yang berbeda-beda mengenai

2
Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Usia Tiga Tahun Pertama (Psikologi
Atitama) (Bandung: 2007), hal. 213.
3
berhasil dan tidaknya cara yang akan dilakukan. Pada umumnya orang tua
mengajari anak-anak mereka dengan empat cara, yaitu:
(1) Memberi contoh. Cara utama untuk mengajari anak adalah
melalui contoh. Anak-anak usia pra sekolah biasanya mudah menyerap
segala sesuatu yang kita lakukan dibandingkan dengan apa yang kita
katakan, (2) Respon positif. Cara kedua untuk mengajari anak adalah
melalui respon positif mengenai sikap mereka. Jika kita mengatakan
kepada anak-anak tentang penghargaan yang dapat kita berikan kepada
mereka karena telah menuruti nasihat kita, mereka akan mengulangi sikap
tersebut, (3) Tidak ada respon. Orang tua juga mengajari anak-anak
dengan cara mengabaikan sikap anak-anak. Sikap yang tidak direspon
pada akhirnya cenderung tidak diulangi. Dengan kata lain, mengabaikan
perilaku tertentu bisa jadi mengurangi perilaku tersebut, khususnya jika
perilaku-perilaku tersebut hanya bersifat menggangu, (4) Hukuman.
Akhirnya orang tua memberikan pelajaran kepada anak-anak melalui
hukuman atau secara aktif memberikan respon negatif terhadap suatu
sikap. Meskipun hukuman bisa menjadi sarana pembelajaran yang efektif,
dibandingkan dengan metode-metode yang lebih positif, hukuman tidak
banyak membantu.
3


Menurut Agoes Dariyo, sejak usia dini orang tua dapat mengembangkan
konsep diri pada anak. Orang tua perlu mengkomunikasikan ciri-ciri fisik
maupun psikis anak agar dapat mengenali, memahami dan menghayati
gambaran diri sendiri. Penghayatan diri (self-internalization) tersebut akan
menumbuhkan kebanggaan diri bahwa anak memiliki ciri-ciri fisik dan psikis
tertentu yang berbeda dengan anak yang lain. Dalam perkembangan
selanjutnya orang tua perlu mendorong anak untuk dapat menghargai diri
sendiri. Orang tua dapat memberi penghargaan terhadap tindakan-tindakan
anak yang cenderung bermanfaat untuk kepentingan diri sendiri, misalnya
bayi usia 7 – 8 bulan sudah dapat merangkak, memegang sendok, memegang
mainan dan bermain sendiri. Orang tua dapat menyampaikan pujian secara
tulus bahwa anaknya pintar, pandai, cerdas atau hebat. Hal ini akan

3
Jenny Gichara, Mengatasi Perilaku Buruk Anak (Jakarta: 2006), hal. 47.
4
menumbuhkan konsep diri yang positif pada diri anak, sehingga anak akan
mengulang perilaku yang baik untuk mengembangkan kepribadian dirinya.
Dengan demikian anak akan dapat menghargai diri sendiri.
4

Hal ini telah diungkap di dalam hadits Rasulullah Saw, beliau bersabda:
- + - - ' ': -~= ' : - - -7: '': - :- ' ) -! -':: ª='- ó (
”Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah tata kramanya.”(HR. Ibnu
Majah/3661).
5

Menurut Yadi (2005) dalam Agoes Dariyo, pengasuhan orang tua yang
ditandai dengan komunikasi efektif, akrab, empati dan penerimaan sosial
terhadap anak akan menumbuh kembangkan rasa percaya diri pada anak.
6

Orang tua dapat mengembangkan nilai-nilai sosio-budaya dalam keluarga
seperti nilai kemandirian, kerja keras, kerja sama dan tanggung jawab. Orang
tua perlu memberi contoh perilaku yang nyata sebelum mengajarkan,
mendidik, melatih atau mengembangkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak.
Sebagai orang tua baik ayah maupun ibu secara alamiah menunjukkan
perilaku nilai-nilai tersebut di hadapan anak-anak. Tanpa diajar pun anak-anak
akan melihat, mengobservasi, meniru dan menginternalisasikan nilai-nilai
tersebut dari kedua orang tuanya. Albert Bandura mempercayai bahwa proses
pembelajaran sosial (social learning process) pada anak-anak usia di bawah
tiga tahun dimulai dari lingkungan keluarga.
7

Dengan kata lain, setiap individu tidak pernah mempunyai pola asuh
yang sama. Batasan larangan, cara memerintah, cara membujuk hingga nilai-

4
Agoes Dariyo, Op.Cit., hal. 215
5
Abdul Haris, “Diktat Hadits II” (Diktat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah
Malang, Malang 2009), hal. 23.
6
Agoes Dariyo, Op.Cit., hal. 215
7
Ibid., hal. 216
5
nilai yang disampaikan dari orang-orang terdekat dengan anak tidak pernah
sama bahkan kadang bertolak belakang. Berdasarkan hal tersebut di atas,
maka penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pola asuh
orang tua dengan tingkat kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan sehari-
hari pada anak usia pra sekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota
Malang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka yang
menjadi permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pola asuh orang tua dalam peningkatan kemandirian anak pra
sekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di TK Aisyiyah Bustanul
Athfal 16 Kota Malang?
2. Apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam
peningkatan kemandirian anak pra sekolah oleh orang tua di TK Aisyiyah
Bustanul Athfal 16 Kota Malang?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah di atas, maka dalam penelitian ini bertujuan sebagai
berikut:
1. Untuk mendeskripsikan pola asuh orang tua dalam peningkatan
kemandirian anak pra sekolah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di
TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang.
6
2. Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat
dalam peningkatan kemandirian anak pra sekolah oleh orang tua di TK
Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang dan jalan keluarnya.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi kalangan akademisi Jurusan Tarbiyah, hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan pengetahuan, informasi dan sekaligus referensi yang
berupa bacaan ilmiah dan selanjutnya dapat diaplikasikan pada peserta
didik di usia dini.
2. Bagi TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang
Dengan mengetahui model pola asuh yang diberikan, maka akan
menambah pengetahuan para pendidik (guru, orang tua dan masyarakat
yang peduli pada perkembangan anak usia pra sekolah) dalam
memberikan asuhan pada anak usia pra sekolah.
3. Bagi Guru TK
Memberikan masukan bagi para guru dalam praktik asuhan anak usia pra
sekolah tantang pola asuh yang dapat diterapkan orang tua dalam
meningkaTKan kemandirian anak.
4. Bagi Orang Tua Murid
Pengetahuan ini juga sangat penting untuk disampaikan kepada orang
tua, sehingga dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi orang tua
dalam mengasuh dan membimbing anak-anaknya sesuai perkembangan
anak.

7
E. Definisi Operasional
1. Pola Asuh :
Menurut Agoes Dariyo (2007:214) memilih dan menerapkan pola
pengasuhan (parenting style) adalah penting dilakukan oleh orang tua untuk
pengembangan kepribadian diri pada anakdalam keluarga. Tiap keluarga
memiliki hak untuk memilih dan menggunakan pola pengasuhan yang
berbeda dengan keluarga yang lain. Masing-masing dapat memilih jenis pola
pengasuhan yang sesuai dengan karakteristik keluarganya sendiri. Tetapi hal
yang terpenting dalam pengasuhan terhadap anak-anak adalah menggunakan
aspek komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak-anak.pertumbuhan
dan perkembangan kepribadian diri anak akan makin matang, adequate dan
stabil bila orang tua dapat menerapkan komunikasi efektif. Komunikasi yang
ditandai dengan upaya orang tua untuk memberi perhatian, kasih sayang dan
mengontrol perilaku pada anak-anaknya. Dalam penelitian Baumrind (dalam
Papalia, et.al., 2004) ditemukan bahwa pola pengasuhan yang efektif untuk
pengembangan kepribadian diri ditandai dengan komunikasi dua arah antara
orang tua dengan anak-anaknya. Oleh karena itu pola pengasuhan
demokratis cenderung memberi pengaruh yang lebih baik untuk
pengembangan kepribadian diri anak dibandingkan pola pengasuhan
permisif atau otoriter.
8

2. Orang tua :
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan
merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat

8
Ibid., hal. 214
8
membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk
mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai
tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan
bermasyarakat. Sedangkan pengertian orang tua di atas tidak terlepas dari
pengertian keluarga, karena orang tua merupakan bagian keluarga besar
yang sebagian besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari
ayah, ibu dan anak-anak.
9

3. Peningkatan Kemandirian :
Erikson (1968) dalam John W. Santrock, seperti Mahler, yakin bahwa
kemandirian merupakan isu yang penting pada tahun kedua kehidupan.
Erikson menggambarkan tahap kedua perkembangan sebagai tahap otonomi
versus rasa malu dan ragu-ragu. Otonomi dibangun di atas perkembangan
kemampuan mental dan kemampuan motorik. Pada tahap ini bayi tidak
hanya dapat berjalan, tetapi mereka juga dapat memanjat, membuka dan
menutup, menjatuhkan, menolak dan menarik, memegang dan melepaskan.
Bayi merasa bangga dengan prestasi baru ini dan ingin melakukan segala
sesuatu sendiri, apakah itu menyiram jamban, membuka bungkusan paket
atau memutuskan apa yang akan dimakan.
10

Erikson juga yakin bahwa tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-
ragu memiliki implikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan
identitas selama masa remaja. Perkembangan otonomi selama tahun-tahun

9
Pengertian Orang Tua, diakses pada tanggal 30 September 2010 dari http://definisi-
pengertian.blogspot.com/2010/04/pengertian-orang-tua.html.
10
John W. Santrock, Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, edisi 5, jilid I,
terj. Juda Damanik, Achmad Chusairi (Jakarta: 2002), hal. 210.
9
balita memberi remaja dorongan untuk menjadi individu yang mandiri yang
dapat memilih dan menuntun masa depan mereka sendiri.
11

4. Anak Pra Sekolah :
Carol Seefeldt dan Barbara A. Wasik (2008: 6) mengatakan pra sekolah
adalah istilah untuk menyebut sekolah bagi anak usia empat tahun atau
kurang. Hampir 70% dari semua anak bangsa kita mengunjungi bentuk pra
sekolah yang dibiayai swasta atau negara.
12

5. Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari :
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada
kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan
upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek
perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual, bahasa,
motorik dan sosio emosional). Dengan demikian berbagai jenis kegiatan
pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang
disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada
masing-masing anak.
13

Macam-macam kebutuhan anak sehari-hari antara lain (Silabus TK
Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Tahun Pelajaran 2005 – 2006 Semester I dan II
Kelompok B, 2005:4) :
1. Manfaat makanan / minuman (misal: menghilangkan lapar / haus, untuk
kesehatan)

11
Ibid.
12
Carol Seefeldt, Barbara A. Wasik. Op.Cit., hal. 6
13
Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompeetensi Taman Kanak-
Kanak dan Raudhatul Athfal. (Jakarta: 2004), hal. 8.
10
2. Jenis makanan dan minuman (misal: 4 sehat 5 sempurna, yaitu: nasi,
sayur, lauk pauk, buah-buahan, susu dan lain sebagainya)
3. Manfaat pakaian:
- Kesehatan (misal: melindungi tubuh)
- Keindahan
4. Jenis pakaian (misal: baju, kaos kaki, celana dalam, kemeja, celana
panjang)
5. Penggunaan pakaian sesuai dengan situasi, keperluan dan iklim (misal:
jika ke sekolah memakai seragam, jika sakit memakai baju hangat)
6. Manfaat kebersihan dan kesehatan (misal: menghindari penyakit)
7. Cara memlihara kebersihan dan kesehatan:
- Kebersihan dan kesehatan diri sendiri (misal: mandi, gosok gigi,
berpakaian, pemeliharaan hidung, telinga dan mata)
- Kebersihan dan kesehatan lingkungan (misal: menjaga kebersihan
lingkungan sekolah dan lingkungan rumah)
8. Cara mencegah bahaya yang disebabkan oleh benda-benda dan obat-
obatan tertentu (misal: korek api, pisau, racun, pecahan kaca).
6. TK ABA 16 Kota Malang :
TK ABA 16 Malang bertempat di jalan MT. Haryono Gg.2 No. 517 Malang
berdiri pada tanggal 1 Januari 1971. TK ABA 16 berdiri diatas tanah seluas
200 m2 + 35 m2 yang berstatus milik sendiri, sedangkan bangunan TK ABA
16 ini merupakan milik Yayasan ‘Aisiyah. TK ABA 16 berstatus swasta.
14



14
Yayasan Aisyiyah, Buku Profil TK ABA 16 Malang, (Malang: 1971)
11
F. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini secara keseluruhan mencakup 5 (lima) Bab yang masing-
masing disusun secara sistematis, sebagai berikut:
BAB I : Merupakan bab pendahuluan yang di dalamnya mencakup latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, definisi operasional, sistematika penulisan.
BAB II : Terdiri dari: tinjauan pustaka terdiri dari: (a) konsep pola asuh dan
ruang lingkupnya, meliputi: pengertian pola asuh, faktor yang
mempengaruhi pola asuh, macam-macam pola asuh, teknik dalam
mengasuh anak, sikap orang tua dalam menyiasati pola asuh, (b)
perkembangan anak usia 3 – 5 tahun pra sekolah dalam
peningkatan kemandirian, pengertian tumbuh kembang anak, fase
perkembangan anak usia 3 – 5 tahun, proses perkembangan
kemandirian anak pra sekolah, tingkat kemandirian anak usia pra
sekolah (3 – 5 tahun), (c) faktor penghambat pola asuh serta jalan
keluarnya.
BAB III : Terdiri dari: metode penelitian, (a) jenis penelitian, (b) informan,
(c) teknik pengumpulan data, (d) teknik analisa data.
BAB IV : Terdiri dari: hasil penelitian, (a) latar belakang obyek penelitian,
yang lebih menekankan pada pembahasan profil TK Aisyiyah
Bustanul Athfal 16 Kota Malang, (b) penyajian dan analisa data
lebih menekankan pada: karakteristik orang tua, karakteristik
anak, model pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya,
peningkatan kemandirian anak dalam pemenuhan kebutuhan
12
sehari-hari, serta analisis pola asuh orang tua dalam peningkatan
kemandirian anak pra sekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang.
BAB V : Merupakan bab terakhir yang disebut dengan penutup, diantaranya
berisi tentang kesimpulan, saran-saran dan berikutnya berisikan
daftar pustaka serta lampiran-lampiran.

(5) setiap anak harus mampu mengenal dan menyebuTKan identitas dirinya (nama. SQ kepada anak-anaknya yang sangat penting sebagai dasar perkembangan kemampuan secara intelektual. EQ. agama. (9) diri anak merupakan pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. (4) setiap orang anak merupakan seorang pribadi yang harus mampu menerima berbagai pengalaman hidup baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan.5 tahun sampai 3 tahun. Terkait dengan orang tua mengembangkan IQ. waktu lahir. orang tua harus mengembangkan kemampuan IQ. 2 Perkembangan diri anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan orang tua dan keluarganya. Newman dalam Agoes Dariyo menyebutkan 9 jenis perkembangan diri pada anak tiga tahun pertama yaitu: (1) diri (self) merupakan sumber perubahan pada setiap individu. sedangkan perkembangan diri dari nomor 5 sampai 9 terjadi pada anak usia 1. (3) bayi atau anak harus mampu memiliki kesadaran diri. jenis kelamin. Newman & Philip R. terutama bayi atau anak. 2 2 . (7) setiap anak mampu mengamati dan memahami kehidupan dunianya. kemampuan mengevaluasi diri dan mengembangkan konsep diri. Barbara M. hal. Dengan demikian. Perkembangan diri dari nomor 1 sampai 4 terjadi pada anak usia 0-1.5 tahun.diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini serta disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. bentuk tubuh dan fungsi tubuhnya agar mampu mengembangkan perkembangan diri. Psikologi Perkembangan Anak Usia Tiga Tahun Pertama (Psikologi Atitama) (Bandung: 2007). orang tua. (6) setiap anak memiliki hak untuk melakukan dan memiliki sesuatu (bermain. memperoleh pengakuan sebagai anak dari orang tua). (2) bayi atau anak harus menyadari kondisi tubuh. (8) diri anak mampu melakukan refleksi sesuatu hal dari luar terhadap diri sendiri. EQ. Orang tua yang memberi perhatian dan kasih sayang secara hangat akan mampu menumbuh-kembangkan perkembangan kepribadian diri anak menjadi positif. sekolah dan lain sebagainya). kemampuan secara emosional dan juga kemampuan secara spiritual atau keagamaan. memperoleh pendidikan. SQ anak-anaknya maka setiap orang tua mempunyai persepsi yang berbeda-beda mengenai Agoes Dariyo. 213. matang dan bertanggung jawab di kemudian hari.

memegang sendok. Orang tua dapat menyampaikan pujian secara tulus bahwa anaknya pintar. (3) Tidak ada respon. (4) Hukuman. hukuman tidak banyak membantu. Anak-anak usia pra sekolah biasanya mudah menyerap segala sesuatu yang kita lakukan dibandingkan dengan apa yang kita katakan. memegang mainan dan bermain sendiri. Orang tua perlu mengkomunikasikan ciri-ciri fisik maupun psikis anak agar dapat mengenali. Cara utama untuk mengajari anak adalah melalui contoh. mereka akan mengulangi sikap tersebut. (2) Respon positif. Sikap yang tidak direspon pada akhirnya cenderung tidak diulangi. Mengatasi Perilaku Buruk Anak (Jakarta: 2006). Hal ini akan 3 Jenny Gichara. Pada umumnya orang tua mengajari anak-anak mereka dengan empat cara. misalnya bayi usia 7 – 8 bulan sudah dapat merangkak. khususnya jika perilaku-perilaku tersebut hanya bersifat menggangu. pandai.3 Menurut Agoes Dariyo. Orang tua dapat memberi penghargaan terhadap tindakan-tindakan anak yang cenderung bermanfaat untuk kepentingan diri sendiri. Cara kedua untuk mengajari anak adalah melalui respon positif mengenai sikap mereka. memahami dan menghayati gambaran diri sendiri. Meskipun hukuman bisa menjadi sarana pembelajaran yang efektif. Dengan kata lain. hal. cerdas atau hebat. Orang tua juga mengajari anak-anak dengan cara mengabaikan sikap anak-anak. sejak usia dini orang tua dapat mengembangkan konsep diri pada anak. 3 .berhasil dan tidaknya cara yang akan dilakukan. dibandingkan dengan metode-metode yang lebih positif. Penghayatan diri (self-internalization) tersebut akan menumbuhkan kebanggaan diri bahwa anak memiliki ciri-ciri fisik dan psikis tertentu yang berbeda dengan anak yang lain. Jika kita mengatakan kepada anak-anak tentang penghargaan yang dapat kita berikan kepada mereka karena telah menuruti nasihat kita. yaitu: (1) Memberi contoh. 47. mengabaikan perilaku tertentu bisa jadi mengurangi perilaku tersebut. Akhirnya orang tua memberikan pelajaran kepada anak-anak melalui hukuman atau secara aktif memberikan respon negatif terhadap suatu sikap. Dalam perkembangan selanjutnya orang tua perlu mendorong anak untuk dapat menghargai diri sendiri.

melatih atau mengembangkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak. 6 Agoes Dariyo. cara memerintah. akrab. beliau bersabda: ”Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah tata kramanya. 215 Abdul Haris.6 Orang tua dapat mengembangkan nilai-nilai sosio-budaya dalam keluarga seperti nilai kemandirian.7 Dengan kata lain. kerja sama dan tanggung jawab.5 Menurut Yadi (2005) dalam Agoes Dariyo. pengasuhan orang tua yang ditandai dengan komunikasi efektif. Albert Bandura mempercayai bahwa proses pembelajaran sosial (social learning process) pada anak-anak usia di bawah tiga tahun dimulai dari lingkungan keluarga. mengobservasi. sehingga anak akan mengulang perilaku yang baik untuk mengembangkan kepribadian dirinya. “Diktat Hadits II” (Diktat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. Orang tua perlu memberi contoh perilaku yang nyata sebelum mengajarkan. 215 7 Ibid.4 Hal ini telah diungkap di dalam hadits Rasulullah Saw.menumbuhkan konsep diri yang positif pada diri anak.Cit. hal. hal. kerja keras. Malang 2009). mendidik. Op. Sebagai orang tua baik ayah maupun ibu secara alamiah menunjukkan perilaku nilai-nilai tersebut di hadapan anak-anak. empati dan penerimaan sosial terhadap anak akan menumbuh kembangkan rasa percaya diri pada anak. setiap individu tidak pernah mempunyai pola asuh yang sama.. hal. meniru dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dari kedua orang tuanya.Cit. hal..”(HR. Ibnu Majah/3661). Batasan larangan.. Op. cara membujuk hingga nilaiAgoes Dariyo. Dengan demikian anak akan dapat menghargai diri sendiri. 216 5 4 4 . 23. Tanpa diajar pun anak-anak akan melihat.

maka yang menjadi permasalahan sebagai berikut: 1. maka dalam penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hal tersebut di atas. Bagaimana pola asuh orang tua dalam peningkatan kemandirian anak pra sekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang? 2. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan di atas. maka penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pola asuh orang tua dengan tingkat kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan seharihari pada anak usia pra sekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang. Untuk mendeskripsikan pola asuh orang tua dalam peningkatan kemandirian anak pra sekolah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang. Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah di atas.nilai yang disampaikan dari orang-orang terdekat dengan anak tidak pernah sama bahkan kadang bertolak belakang. 5 . Apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam peningkatan kemandirian anak pra sekolah oleh orang tua di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang? C.

Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam peningkatan kemandirian anak pra sekolah oleh orang tua di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang dan jalan keluarnya. Bagi Orang Tua Murid Pengetahuan ini juga sangat penting untuk disampaikan kepada orang tua. Manfaat Penelitian 1. 2.2. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan. sehingga dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi orang tua dalam mengasuh dan membimbing anak-anaknya sesuai perkembangan anak. Bagi TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang Dengan mengetahui model pola asuh yang diberikan. 3. Bagi kalangan akademisi Jurusan Tarbiyah. orang tua dan masyarakat yang peduli pada perkembangan anak usia pra sekolah) dalam memberikan asuhan pada anak usia pra sekolah. Bagi Guru TK Memberikan masukan bagi para guru dalam praktik asuhan anak usia pra sekolah tantang pola asuh yang dapat diterapkan orang tua dalam meningkaTKan kemandirian anak. D. 6 . maka akan menambah pengetahuan para pendidik (guru. informasi dan sekaligus referensi yang berupa bacaan ilmiah dan selanjutnya dapat diaplikasikan pada peserta didik di usia dini. 4.

al. Definisi Operasional 1. Pola Asuh : Menurut Agoes Dariyo (2007:214) memilih dan menerapkan pola pengasuhan (parenting style) adalah penting dilakukan oleh orang tua untuk pengembangan kepribadian diri pada anakdalam keluarga.E. Orang tua : Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu. adequate dan stabil bila orang tua dapat menerapkan komunikasi efektif. Dalam penelitian Baumrind (dalam Papalia.. Tetapi hal yang terpenting dalam pengasuhan terhadap anak-anak adalah menggunakan aspek komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak-anak. Oleh karena itu pola pengasuhan demokratis cenderung memberi pengaruh yang lebih baik untuk pengembangan kepribadian diri anak dibandingkan pola pengasuhan permisif atau otoriter. Komunikasi yang ditandai dengan upaya orang tua untuk memberi perhatian. kasih sayang dan mengontrol perilaku pada anak-anaknya. dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat 8 Ibid. 2004) ditemukan bahwa pola pengasuhan yang efektif untuk pengembangan kepribadian diri ditandai dengan komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak-anaknya. et. Masing-masing dapat memilih jenis pola pengasuhan yang sesuai dengan karakteristik keluarganya sendiri.. hal. 214 7 .pertumbuhan dan perkembangan kepribadian diri anak akan makin matang. Tiap keluarga memiliki hak untuk memilih dan menggunakan pola pengasuhan yang berbeda dengan keluarga yang lain.8 2.

Santrock. 210.blogspot. 10 John W. Peningkatan Kemandirian : Erikson (1968) dalam John W. edisi 5. ibu dan anak-anak. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik. membuka dan menutup. karena orang tua merupakan bagian keluarga besar yang sebagian besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah. Pada tahap ini bayi tidak hanya dapat berjalan.9 3. terj. seperti Mahler. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup.html. Juda Damanik. menjatuhkan. apakah itu menyiram jamban. Achmad Chusairi (Jakarta: 2002).10 Erikson juga yakin bahwa tahap otonomi versus rasa malu dan raguragu memiliki implikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan identitas selama masa remaja. Erikson menggambarkan tahap kedua perkembangan sebagai tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu. 9 8 . memegang dan melepaskan. Otonomi dibangun di atas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik. membuka bungkusan paket atau memutuskan apa yang akan dimakan. yakin bahwa kemandirian merupakan isu yang penting pada tahun kedua kehidupan. Santrock. tetapi mereka juga dapat memanjat. Sedangkan pengertian orang tua di atas tidak terlepas dari pengertian keluarga.com/2010/04/pengertian-orang-tua. Bayi merasa bangga dengan prestasi baru ini dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri. mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan otonomi selama tahun-tahun Pengertian Orang Tua. menolak dan menarik. jilid I. hal. diakses pada tanggal 30 September 2010 dari http://definisipengertian.membentuk sebuah keluarga.

. untuk kesehatan) Ibid. Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari : Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. 2005:4) : 1. bahasa. Kurikulum 2004 Standar Kompeetensi Taman KanakKanak dan Raudhatul Athfal. 6 13 Departemen Pendidikan Nasional. hal. Wasik (2008: 6) mengatakan pra sekolah adalah istilah untuk menyebut sekolah bagi anak usia empat tahun atau kurang. Wasik. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak. 8.12 5. (Jakarta: 2004). motorik dan sosio emosional). Manfaat makanan / minuman (misal: menghilangkan lapar / haus. Barbara A. Carol Seefeldt.Cit.balita memberi remaja dorongan untuk menjadi individu yang mandiri yang dapat memilih dan menuntun masa depan mereka sendiri. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual. 12 11 9 . Hampir 70% dari semua anak bangsa kita mengunjungi bentuk pra sekolah yang dibiayai swasta atau negara. Anak Pra Sekolah : Carol Seefeldt dan Barbara A. hal.11 4.13 Macam-macam kebutuhan anak sehari-hari antara lain (Silabus TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Tahun Pelajaran 2005 – 2006 Semester I dan II Kelompok B. Op.

Keindahan 4. pisau. TK ABA 16 Kota Malang : TK ABA 16 Malang bertempat di jalan MT. Jenis makanan dan minuman (misal: 4 sehat 5 sempurna. Manfaat pakaian: . pemeliharaan hidung. kaos kaki. gosok gigi.Kesehatan (misal: melindungi tubuh) . (Malang: 1971) 10 . Penggunaan pakaian sesuai dengan situasi.2 No. buah-buahan.14 14 Yayasan Aisyiyah. racun.Kebersihan dan kesehatan diri sendiri (misal: mandi. keperluan dan iklim (misal: jika ke sekolah memakai seragam. Manfaat kebersihan dan kesehatan (misal: menghindari penyakit) 7. telinga dan mata) . sedangkan bangunan TK ABA 16 ini merupakan milik Yayasan ‘Aisiyah. TK ABA 16 berstatus swasta. kemeja. susu dan lain sebagainya) 3.2. sayur. celana panjang) 5. celana dalam. lauk pauk. TK ABA 16 berdiri diatas tanah seluas 200 m2 + 35 m2 yang berstatus milik sendiri. yaitu: nasi.Kebersihan dan kesehatan lingkungan (misal: menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan lingkungan rumah) 8. 517 Malang berdiri pada tanggal 1 Januari 1971. Haryono Gg. Cara mencegah bahaya yang disebabkan oleh benda-benda dan obatobatan tertentu (misal: korek api. berpakaian. Jenis pakaian (misal: baju. jika sakit memakai baju hangat) 6. Buku Profil TK ABA 16 Malang. pecahan kaca). 6. Cara memlihara kebersihan dan kesehatan: .

(a) latar belakang obyek penelitian. sistematika penulisan. pengertian tumbuh kembang anak. proses perkembangan kemandirian anak pra sekolah. rumusan masalah. (a) jenis penelitian. (c) faktor penghambat pola asuh serta jalan keluarnya. BAB IV : Terdiri dari: hasil penelitian. meliputi: pengertian pola asuh. peningkatan kemandirian anak dalam pemenuhan kebutuhan 11 . (c) teknik pengumpulan data. definisi operasional. tingkat kemandirian anak usia pra sekolah (3 – 5 tahun). macam-macam pola asuh. (b) penyajian dan analisa data lebih menekankan pada: karakteristik orang tua. BAB III : Terdiri dari: metode penelitian. (b) perkembangan anak usia 3 – 5 tahun pra sekolah dalam peningkatan kemandirian. model pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya.F. sikap orang tua dalam menyiasati pola asuh. manfaat penelitian. fase perkembangan anak usia 3 – 5 tahun. Sistematika Penulisan Penulisan skripsi ini secara keseluruhan mencakup 5 (lima) Bab yang masingmasing disusun secara sistematis. sebagai berikut: BAB I : Merupakan bab pendahuluan yang di dalamnya mencakup latar belakang masalah. (d) teknik analisa data. karakteristik anak. yang lebih menekankan pada pembahasan profil TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang. tujuan penelitian. (b) informan. faktor yang mempengaruhi pola asuh. teknik dalam mengasuh anak. BAB II : Terdiri dari: tinjauan pustaka terdiri dari: (a) konsep pola asuh dan ruang lingkupnya.

diantaranya berisi tentang kesimpulan.sehari-hari. 12 . BAB V : Merupakan bab terakhir yang disebut dengan penutup. saran-saran dan berikutnya berisikan daftar pustaka serta lampiran-lampiran. serta analisis pola asuh orang tua dalam peningkatan kemandirian anak pra sekolah untuk memenuhi kebutuhan seharihari di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->