P. 1
kesalahan berbahasa

kesalahan berbahasa

|Views: 1,400|Likes:

More info:

Published by: Yana Suryateh Panonpoe on Jan 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/09/2013

pdf

text

original

Analisis Kesalahan Berbahasa

oleh Safriandi, S.Pd. (Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah) 1. Pengertian Kesalahan Berbahasa

Dalam bukunya yang berjudul “Common Error in Language Learning” H.V. George mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentukbentuk tuturan yang tidak diinginkan (unwanted form) khususnya suatu bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert Valdman yang mengatakan bahwa yang pertama-tama harus dipikirkan sebelum mengadakan pembahasan tentang berbagai pendekatan dan analisis kesalahan berbahasa adalah menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan. Sebagian besar guru bahasa Indonesia menggunakan kriteria ragam bahasa baku sebagai standar penyimpangan. Pengertian kesalahan berbahasa dibahas juga oleh S. Piet Corder dalam bukunya yang berjudul Introducing Applied Linguistics. Dikemukakan oleh Corder bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga merupakan tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya. Dikatakan oleh Corder bahwa baik penutur asli maupun bukan penutur asli sama-sama mempunyai kemugkinan berbuat kesalahan berbahasa. Berdasarkan berbagai pendapat tentang pengertian kesalahan berbahasa yang telah disebutkan di atas, dapatlah dikemukakan bahwa kesalahan berbahasa Indonesia adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit kebahasaan yang meliputi kata, kalimat, paragraf, yang menyimpang dari sistem kaidah bahasa Indonesia baku, serta pemakaian ejaan dan tanda baca yang menyimpang dari sistem ejaan dan tanda baca yang telah ditetapkan sebagaimana dinyatakan dalam buku Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Adapun sistem kaidah bahasa Indonesia yang digunakan sebagai standar acuan atau kriteria untuk menentukan suatu bentuk tuturan salah atau tidak adalah sistem kaidah bahasa baku. Kodifikasi kaidah bahasa baku dapat kita lihat dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Karakteristik bahasa baku antara lain adalah sebagai berikut. 1. Penggunaan konjungsi-konjungsi seperti bahwa, karena secara konsisten dan eksplisit.

1. Penggunaan partikel kah dan pun secara konsisten. 1. Penggunaan fungsi gramatikal secara eksplisit dan konsisten. 2. Penggunaan meN- dan ber- secara konsisten. 3. Penggunaan pola frase verbal aspek+agen+verba secara konsisten, misalnya Surat ini sudah saya baca. Bandingkan dengan bentuk yang sudah baku Surat ini saya sudah baca. 4. Penggunaan konstruksi yang sintetis, misalnya mobilnya bandingkan dengan bentuk yang tidak baku dia punya mobil, membersiihkan bandingkan dengan bentuk tidak baku bikin bersih, memberi tahu bandingkan dengan bentuk tidak baku kasih tahu. 5. Terbatasnya jumlah unsur leksikal dan gramatikal dari dialek-dialek regional dan bahasa-bahasa daerah yang masih dianggap asing. 6. Pengunaan popularitas tutur sapa yang konsisten, misalnya saya-tuan, sayasaudara. 7. Pengunaan unsur-unsur leksikal yang baku, misalnya: Leksikal baku Leksikal tidak baku mengapa begini berkata tidak tetapi Senin Rabu Kamis Jumat Sabtu daripada senyampang seperti oleh karena itu kenapa gini bilang nggak tapi Senen Rebo Kamis Jum’at Saptu ketimbang mumpung kayak makanya

Siswa sebenarnya telah mengetahui sistem linguistik bahasa yang digunakan. latihan. Kesalahan itu dapat berlangsung lama apabila tidak diperbaiki. Keterbatasan dalam mengingat sesuatu atau kelupaan menyebabkan kekeliruan dalam melaflakan bunyi bahasa. Hasil 6. bukan terjadi karena belum dikuasainya sistem kaidah bahasa yang bersangkutan. Kesalahan berbahasa merupakan gejala yang intern dengan proses belajar bahasa. Sering dikatakan bahwa kesalahan merupakan gambaran terhadap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang sedang dipelajari olehnya. Kekeliruan pada umumnya disebabkan oleh faktor performansi. melainkan karena kegagalan merealisasikan sistem kaidah bahasa yang sebenarnya sudah dikuasai. Durasi 4. tetapi karena suatu hal dia lupa akan sistem tersebut. Sumber 2. Perhatikan tabel berikut ini! KATEGORI Sudut pandang 1. Kekeliruan biasanya dapat diperbaiki sendiri oleh siswa bila yang bersangkutan. dsb. praktik. KESALAHAN KompetensiSistematis Agak Lama Belum Dikuasai Penyimpangan Dibantu oleh guru: latihan. lebih sadar atau memusatkan perhatian. Dari studi tentang kesalahan berbahasa itu dapat diketahui bahwa proses terjadinya kesalahan berbahasa berhubngan erat dengan proses belajar bahasa.Kesalahan berbahasa tidak sama dengan kekeliruan berbahasa. pengajaran remedial KEKELIRUAN PerformansiTidak Sistematis Sementara Sudah Dikuasai Penyimpangan Siswa Sendiri Pemusatan Perhatian . kata. kesalahan berbahasa tentu sering terjadi. kesalahan berbahasa akan berkurang apabila tahap pemahaman semakin meningkat. urutan kata. Proses Terjadinya Kesalahan Berbahasa Terjadinya kesalahan berbahasa di kalangan siswa yang sedang belajar bahasa terutama belajarar bahasa kedua. Sifat 3. Kekeliruan berbahasa tidak terjadi secara sistematis. atau kalimat. Perbaikan biasanya dilakukan oleh guru. misalnya melalui remedial. untuk memahami proses terjadinya kesalahan berbahasa. Sistem Linguistik 5. Perbaikan 2. Kesalahan biasanya terjadi secara konsisten dan sistematis. Kesalahan berbahasa terjadi secara sistematis kerena belum dikuasainya sistem kaidah bahasa yang bersangkutan. Bila tahap pemahaman siswa tentang sistem bahasa yang sedang dipelajari olehnya ternyata kurang. lebih mawas diri. Keduanya memang merupakan pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang. Kekeliruan ini bersifat acak. diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep belajar bahasa. Namun. terutama di kalangan siswa yang sedang belajar bahasa. Sebaliknya. artinya dapat terjadi pada berbaga tataran linguistik. dsb. tekanan kata. Oleh karena itu. artinya siswa memang belum memahami sistem linguistik bahasa yang digunakannya. kesalahan disebabkan oleh faktor kompetensi. Kelupaan itu biasanya tidak lama. merupakan femnomena yang mendorong para ahli pengajaran bahasa untuk mempelajari kesalahan berbahasa.

Proses belajar bahasa bersifat kompleks. manusia telah memiliki kapasitas belajar bahasa yang bersifat innate. dan sosiologis pasti mengalami proses pemerolehan bahasa pertama. Setiap ada yang normal secara fisik. proses penguasaan bahasa kedua terjadi setelah seseoang menguasai bahasa pertama dan disebut belajar bahasa (language learning). Menurut dia. baik dalam proses penguasaan bahasa pertama maupun bahasa kedua. yaitu psikologi kognitif dan psikologi behaviorisme. Dia juga menyadari motivasi apa yang mendorongnya untuk menguasai bahasa kedua itu. apabila seseorang belajar bahasa kedua. Perbedaan antara pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pemerolehan bahasa (language learning) berdasarkan ada atau tidaknya kesadaran pembelajar terhadap apa yang dilakukan sebenarnya bukanlah perbedaan yang sangat mendasar dan diskrit. belajar bahasa adalah suatu proses mental yang di dalamnya berisi aktivitas psikologis. kapasitas belajar bahasa dalam struktur dalam struktur psikologis itu akan teraktifkan. Selanjutnya. Proses belajar bahasa kedua pada umumnya berlangsung secara terstruktur di sekolah melalui perencanaan program kegiatan belajar mengajar yang sengaja disusun untuk keperluan itu. jika manusia bersifat aktif dalam mengakumulasi dan menguasai pengetahuan dan mengorganisasikannya sehingga merupakan bagian dari keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Proses ini sangat berkaitan dengan aspek fisik danpsikis pembelajar. untuk memahami proses terjadinya proses kesalahan berbahasa dalam kaitannya dengan belajar bahasa kedua menurut psikologi kognitif dapat diikuti pikiran-pikiran yang dikembangkan oleh Larry Salinker dalam tulisannya yang berjudul interlanguage. sedangkan sehubungan dengan aspek fisik. Proses penguasaan bahasa perama ini berlangsung tanpa adanya suatu perencanaan terstruktur. Kapasitas itu berada dala struktur psikologis yang bersifat laten dalam otak manusia. si pembelajar menyadari bahwa dia sedang belajar bahasa. Menurut pandangan ahli psikologi kognitif.Penguasaan bahasa. ia memusatkan perhatiannya terhadap norma bahasa yang dipelajarinya. Dalam belajar bahasa. Perbedaan tingkat perbedaan ini bersifat relatif saja. belajar bahasa berkaitan dengan perkembangan kematangan berbagai orrgan wicara. Dalam proses ini. Anak juga tidaak menyadari motivasi apa yang mendorongnya berada dalam kondisi pemerolehan bahasa pertama itu. si pembelajar belajar langsung bahasa kedua melalui kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakat. Demikian pula perbedaan penguasaan bahasa pertama dan bahasa kedua yang didasarkan pada terstruktur atau tidaknya proses belajar bahasa juga tidak selalu benar. Proses ini berlangsung tanpa disadari oleh anak. Selanjutnya. Proses terjadinya kesalahan berbahasa berkaitan erat baik dengan aspek psikis maupun dengan aspek fisik. Sehubungan dengan aspek psikis. Noam Chomsky menyebut kapasitas belajar bahasa itu dengan istilah Language Acquisition Device (LAD). Ada dua aliran psikologis yang besar pengaruhnya terhadap teori belajar bahasa. Artinya. Secara langsung anak-anak memperoleh bahasanya melalui kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Proses belajar bahasa juga bisa berlangsung secara alamiah. Apabila seseorang belajar bahasa. Proses penguasaan bahasa pertama bersifat ilmiah dan disebut pemerolehan bahasa (language acquisition). si pembelajar menyadari usahanya untuk mempelajari bahasa. psikis. Sebagian para ahli pengajaran bahasa membedakan antara proses penguasaan bahasa pertama dan penguasaan bahasa kedua. Selama membuat seperangkat tuturan dalam bahasa kedua yang tidak sama . Dalam kenyataannya. baik bahasa pertama maupun bahasa kedua diperoleh melalui proses belajar.

Dengan kata lain apat dikemukakan bahwa selama dalam proses belajar bahasa kedua. jenis serta frekuensi kesalahan berbahasa pada anak-anak serta orang asing yang seedang mempelajari suatu bahasa berbeda dengan orang dewasa yang telah menguasai bahasanya. Ujud kurangnya keterampilan berbahasa itu antara lain disebabkan oleh kesalahan-kesalahan berbahasa. yaitu unsur-unsur atau bentuk-bentuk tuturan pada interlanguage yang tiak sama dengan bentuk-bentuk tuturan pada bahasa kedua yang dipelajari. kecuali dalam hal pemakaian bahasa secara khusus seperti dalam lawak. Baik orang dewasa yang telah menguasai bahaasanya. Istilah lain untuk menyebut interlanguage adalah ideosyncratic dialect (Piet Corder). Kesalahan berbahasa terjadi pada sistem interlanguage ini. Konstruk itu adalah adanya sistem bahasa yang terpisah yang didasarkan atas output berwujud tuturan yang dihasilkan oleh si pembelajar dalam berusaha menghasilkan tuturan yang sesuai dengan norma bahasa kedua yang dipelarinya. Oleh karena itu. murid-murid “dipaksa” selama berjam-jam mengahafalkan dialog. yaitu practice makes perfect. Penguasaan ini akan dapat dicapai dengan memberikan latihan berulang-ulang berbagai maa pola kaidah bahasa. Belajar bahasa itu tdak lain adalah belajar menguasai suatu jenis kebiasaan. si pembelajar menggunakan seperangkat tuturan dalam bahasa kedua yang merupakan sistem bahasa tersendiri. Kesalahan-kesalahan berbahasa ini menyebabkan gangguan terhadap peristiwa komunikasi. kadang-kadang kesalahan berbahasa sengaja dibuat atau disadari oleh penutur untuk mencapa efek tertentu sepeti lucu. laitahan-latihan menguasai pola serta mempelajari semua jenis generalisasi gramatika. Beberapa Pandangan terhadap Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa adalah suatu peristiwa yang bersifat inheren dalam setiap pemakaian bahasa baik secara lisan maupun tulis. Dalam pemakaian bahasa secara khusus itu. maupun orang asing yang sedang mempelajari suatu bahasa dapat melakukan kesalahan-kesalahan berbahasa pada waktu mereka menggunakan bahasanya. pengajaran bahasa berdasarkan aliran behaviorisme ini sangat menekannkan pentingnya latihan-latihan secara intensif untuk menguasai bahasa. Dalam pelajaran bahasa. jenis ilan tertentu. Namun. Perbedaan ini bersumber dari perbedaan penguasaan kaidah-kaidah gramatika (grammatical competence) yang pada gilirannya jga menimbulkan perbedaan realisasi pemakaian bahasa yag dilakukannya (performance). Karena dapat diamati bahwa dua perangkat tuturan itu tidak sama dapatlah dibuat suatu konstruk yang untuk teori belajar bahasa kedua. 3. unsur-unsur sistem interlanguage itu terdiri atas pembauan antara unsur-unsur bahasa pertama dan bahasa kedua yang sedang dipelajari. proses belajar bahasa adalah proses yang bersifat empiris dalam jalinan hubungan antara stimulus daan respon. Sebagian dari unsur-unsur interlanguage ini sama dengan unsur bahasa kedua yang dipelajari dan sebagian yang lain tidak sama. Menurut para ahli psikologi behaviorisme. anak-anak. perbedaan itu juga bersumber dari penguasaan untuk menghasilkan atau menyusun tuturan yang sesuai dengan konteks komunikasi (comunicative competence) . . approximative system (William Nemser).dengan tuturan yang diperkirakan dibuat oleh penutur asli bahasa tersebut untuk menyatakan maksud yang sama dengan apa yang dinyatakan oleh tuturan si pembelajar. Sistem bahasa pembelajar ini disebut oleh Larry Salinker dengan nama interlanguage (bahasa antara). Salah satu hambatan dalam proses komunikasi adalah kurangnya keterampilan berbahasa. Di samping itu. Anggapan yang menopang pentingnya diberikan latihan-latihan pola serta menghafalkan dialog tersebut dapat kita pahami dalam ungkapan yang terkenal. serta dalam puisi. Secara teoretis.

Dikemukakannya pula metode untuk menghindari terjadi kesalahan dalam berbahasa adalah dengan melatihkan kepada si pembelajar model-model yang benar dalam waktu yang cukup lama. Dalam pelajaran bahasa. Makna dari ungkapan tersebut erat dengan pengajaran-pengajaran bahasa menurut pendekatan audiolingual sebagaimana yan dikemukan oleh Robert Lado dalam bukunya yang berjudul Language Teaching. terutama pengajaran bahasa asing. Kesalahan berbahasa dalam masyarakat Jawa dianggap sebagai noda. dengan sadar setiap pemakai bahasa berusaha untuk memakai bahasa sesuai dengan kaidah gramatika serta ketepatan pemilihan ragam tingkat tutur sesuai dengan konteksnya. Buku-buku pengajaran bahasa. tetapi hanya sedikit perhatian penulis terhadap kesalahan berbahasa. terutama pengajaran bahasa Inggris. Dikemukakan oleh Robert Lado 17 prinsip pengajaran bahasa. kesalahan-kesalahan berbahasa baik kesalahan gramatika maupun kesalahan yang berkenaan dengan konteks pemakaian mempengaruhi pandangan orang lain terhadap status sosial orang yang berbuat kesalahan berbahasa tersebut. Untuk mengatasi kesalahan berbahasa. Perkembangan pemikiran yang berkenaan dengan hubungan antara kesalahan berbahasa dengan proses belajar bahasa tersebut sejalan dengan tumbuhnya pandangan baru dalam pengajaran bahasa pada umumnya.menarik perhatian dan mendorong berpikir lebih intens. Dalam masyarakat Jawa. Termasuk kesalahan berbahasa yang berkaitan dengan konteks adalah kesalahan memilih ragam bahasa yang berkaitan dengan tingkat tutur yang terdapat dalam bahasa Jawa yang dikenal dengan istilah unggah ungguh. tetapi kehadirannya tidak dapat dielakkan. Salah satu prinsip itu adalah pentingnya latihan pola-pola. cara yang prinsipil adalah memperpendek jarak waktu antara respon yang tidak tepat (kesalahan berbahasa tersebut) dengan bentuk yang benar. Pendekatan ini menekankan pentingnya latihan-latihan untuk menguasai bahasa yang dilaksanakan secara intensif. Dalam dunia pengajaran bahasa perhatian terhadap kesalahan berbahasa baru berkembang selama waktu yang relatif belum lama. pandangan pendekatan pengajaran bahasa. murid-murid dipaksa selama berjam-jam menghafalkan dialog. yang berkembang pesat adalah pendekatan audiolingual (audiolingual approach). misalnya dalam masyarakat Jawa. Anggapan dasar yang menopang pentingnya diberikan latihan-latihan pola serta menghafalkan dialog tersebut dapat kita pahami dalam ungkapan yang erkenal. latihan-latihan menguasai pola serta. Dalam masyarakat bahasa tertentu. kaidah-kaidah bahasa dalam berbagai pola akan menjelma menjadi kebiasaan dan kalimat-kalimat dalam berbagai dialog dapat digunakan sebagai model untuk pemakaian bahasa serta serta belajar bahasa lebih lanjut. Selama dasawarsa lima puluhan dan enam puluhan. tetapi pikiran-pikiran tentang kaitan antara kesalahan berbahasa dengan proses belajar bahasa dalam waktu yang relatif singkat telah banyak mengalami perkembangan. Walaupun perhatian terhadap kesalaahan berbahasa belum begitu banyak. misalnya. mempelajari semua generalisasi gramatika. Nelson Brooks. Oleh karena itu. Para pengajur pendekatan audiolingual memandang kesalahan berbahasa dengan perspektif yang bersifat puritanistis. dan menghafalkan kalimat-kalimat percakapa dasar dalam model dialog-dialog. Hal ini sesuai dengan tinjauan fungsi bahasa dari pandangan Sosiolinguistik. Dengan cara itu. memandang kesalahan berbahasa sebagai dosa yang harus dihindari dan pegaruhnya harus dibatasi. telah banyak disusun. yaitu practice makes perfect (latihan praktik membuat sempurna) yang benar-benar diperhatikan oleh penganjur-penganjur pendekatan audiolingual. identifikasi seseorang antara lain dapat dilihat dari pemakaian bahasanya. .

Dala proses penguasaan bahasa pertama itu. Secara tradisional. 4. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan pada proses penguasaan bahasa pertama pada anak-anak di mana pun. kesalahan itu harus secepatnya diperbaiki agar tidak menjadi kebiasaan. tetapi sebagai hal yang wajar. Hal ini ditandai oleh timbulnya pandangan-pandangan yang baru terhadap proses penguasaan bahasa yang bersumber dari hasil studi ahli-ahli psikologi kognitif dan gramatika generatif transformasi. Pembelajar bahasa tidak boleh menggunakan kesalahan berbahasa. si pelajar lebih didorong keberaniannya untuk berkomunikasi dengan bahasa yang dipelajarinya. Apabila terjadi kesalahan berbahasa. Sehubungan dengan perkembangan yang terakkhir itu.1 Tujuan Analisis Kesalahan Analisis kesalahan merupakan usaha membahas kebutuhan-kebutuhan praktis guru kelas. Pengajaran bahasa yang bersifat mekanistis dalam pendekatan audiolingual bergeser ke arah pengajaran bahasa yang lebih lebih manusiawi serta kurang mekanistis. Aliran behaviorisme memandang kesalahan berbahasa sebagai suatu yang semata-mata harus dihindari dan diusahakan menghilangkan pengaruhnya. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan pada proses penguasaan bahasa pertama pada anak-anak d mana pun juga. Dalam proses penguasaan bahasa pertama itu.Pada akhir dasawarsa enam puluhan dan menginjak dasawarsa tujuh puluhan. Tujuan dan Manfaat Analisis Kesalahan Berbahasa 4. Apabila suatu kesalahan berbahasa terlanjur menjadi kebiasaan. perlu diciptakan situasi yang memungkinkan si pelajar bebas dari ketakutan berbuat salah. Kegiatan berbahasa lebih ditekankan pada pembentukan kemampuan berkomunikasi daripada latihan-latihan pola dan hafalan dialog. tetapi kesalahan berbahasa itu diterima oleh orang tua mereka serta orang dewasa di lingkungannya sebagai suatu yang wajara terjadi. memberikan remidi dan latihan-latihan. 1990:103). dunia pengajaran bahasa megalami perkembangan pesat. pandangan terhadap kesalahan berbahasa juga mengalami perubahan. perbaikan kesalahan itu akan sangat sulit dilakukan. Sebagai pendukung.2 Tujuan dan Metode Analisis Kesalahan Menganalisis kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa jelas memberikan manfaat tertentu karena pemahaman kesalahan itu merupakan umpan balik yang sangat berharga pengevaluasian dan perencanaan penyesuaian materi dan strategi pengajaraan di kelas. Kesalahan berbahasa tidak lagi dipandang sebagai dosa. penjelasan dan praktik yang diperlukan. 4. anak-anak membuat kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan berbahasa antara lain bertujuan untuk: (1) menentukan urutan penyajian butir-butir yang diajarkan dalam kelas dan buku teksmisalnya . teapi kesalahan tersebut diterima oleh orang tua mereka (orang dewasa di lingkungannya). analisis kesalalahan bertujuan menganalisis kesalahan-kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh pembelajar bahasa kedua. Oleh karena itu. anakanak pasti membuat kesalahan berbahasa. Hasil analisis ini diharapkan dapat membantu guru dalam hal menentukan urutan bahan pengajaran. memutuskan pemberian penekanan. Aliran psikologi kognitif memandang kesalahan berbahasa sebagai suatu yang wajar. dan memilih butir-butir bahasa kedua untuk keperluan tes profisiensi pembelajar (Sudiana.

dsb. (2) menentukan urutan jenjang relatif penekanan. dan latihan berbagai butir bahan yang diajarkan. Dalam data itu. penjelasan. unsurunsur bahasa yang menjadi fokus perhatian peneliti direncanakan kemunculannya baik jenis maupun frekuensinya. Kemunculannya dalam data sematamata karena kebetulan. Jadi.urutan mudah sukar. Hal ini tergantung pada jenis alat pemancingnya dan titik perhatian subjek ketika melakukan tugas. Dari segi alat pemancingnya. tingkat kestrukturan data itu berbeda-beda. Titik perhatian penelitian adalah plural dalam bahasa Inggris..Demikian pula data tak terstruktur yang diambil dengan alat pemancing walaupun mungkin tingkat perhatian subjek terhadap bentuk sedikit lebih banyak daripada dalam data spontan. Data seperti ini dikumpulkan dengan tugas manipulasi linguistik . uraian tentang suatu hal. data dapat dibedakan berdasarkan besarnya perhatian subje terhadap bentuk (form) (Dulay dkk. Pusat perhatian subjek terletak pada isi dan pesan yang disampaikan. dalam memilih jenis data untuk diananlisis kita perlu mempertimbangkan kemungkinan kemungkinan hasil yang akan diperoleh. 5. tesis. atau isian dan penyempurnaan kalimat. makalah. Alat pemancing itu mendorong subjek cenderung memberikan perhatian yang banyak terhadap bentuk bahasa. subjek akan memunculkan kata houses. dan gambar. 1982). Data Kebahasaan Analisis Kesalahan Berbahasa Yang menjadi data utama dalam analisis kesalahan berbahasa adalah wacana yang dibuat oleh pembelajar. Selain itu.). Dalam data spontan. subjek tidak begitu memperhatikan bentuk wacana. Bisa pula instrumen itu berbentuk tes penyempurnaan kalimat atau isian seperti “He…to school every day (go)”. 1990: 69). yaitu data tak terstruktur dan data terstruktur. memilih butir-butir bagi penngujian kemahiran siswa (Tarigan. Oleh karena itu. tidak menurut kehendak pemancing data. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik mengambil data mempengaruhi hasilnya baik jenis kesalahan yang ditemukan maupun urutan unsur-unsur bahasa yang menjadi titik perhatian analisis. Data inibisa bervariasi. Alat pemancing bisa berupa terjemahan. baik secara lisan maupun tertulis. Data untuk analis kesalahan berbahasa bisa diambil dari wacana yang diproduksi oleh pembelajar tanpa alat pemancing dan pembelajar tidak tahu bahwa wacana yang dibuat olehnya akan dianalisis. Data jenis ini dikumpulkan atau dipancing karena sengaja akan dianalisis. Harapan peneliti. Data seperti ini diambil dengan tugas komunikasi alami (natural communication task). subjek diminta menjawab pertanyaan “What are this?” dengan berpedoman pada tiga buah gambar rumah. misalnya percakapan atau pidatoyang direkam atau karangan tertulis(surat. Dalam data terstruktur. ada dua jenis data kesalahan berbahasa. jenis kesalahan atau frekuensi masing-masing unsur kesilapan tidak dikontrol. Dalam data yang diperoleh dengan alat pemancing yang disertai kontrol ketat terhadap unsur-unsur bahasa yang menjadi titik perhatian peneliti. Data tak terstruktur adalah data yang diperoleh dengan cara menyuruh subjek berbicara atau mengarang tanpa petunjuk yang ketat. petunjuk mengarang. Misalnya. (3) (4) merencanakan latihan dan pengajaran remedial. Jenis kedua adalah data pancingan (elicitated data) yaitu data yang dikumpulkan dari subjek dengan alat pemancing seperti tes. Data jenis ini disebut data spontan (spontaneous data).

dan perbaikannya dapat dilakukan oleh siswa sendiri. Oleh karena itu. Prosedur Analisis Kesalahan Berbahasa Prosedur analisis kesalahan berbahasa terdiri atas empat langkah. Penyimpangan dalam penggunaan bahasa yang sedang dipelajari oleh siswa. Data dan Metode Anakes Pit Corder mengatakan bahwa anakes pada dasarnya merupakan cabang linguistik komparatif.(linguistik manipulation task). kekeliruan berbahasa tersebut dapat diperbaiki oleh siswa yang bersangkutan. misalnya menjelaskan bagaimana startegi belajar yang digunakan oleh siswa. Sebaliknya. cara ini disebut cara rekonstruksi otoritatif. Kemudian. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merekonstruksi ajaran bahasa secara tepat. subjek tidak bisa lagi menghindari bentuk yang meragukan. cara ini disebut rekonstruksi akal sehat. sistematis. Tiga langkah pertama saling berkaitan dan langlah terakhir bersifat . Data yang dikumpulkan secara bebas (data spontan atau data tak terstruktur) memberi kesempatab banyak kepada subjek untuk menghindari kesalahan. Hasil rekonstruksi linguistik yang digunakan oleh siswa dapat dibandingkan denga sistem linguistik bahasa sasaran atau bahasa yan dipelajari oleh siswa. menjodohkan ujaran yang salah dengan pandangannya dalam bahasa ibu siswa. Kekeliruan bersifat sementara. Tugas anakes adalah menjelaskan serta mendeskripsikan sistem lingistik bahasa siswa dan membandingkannya dengan sistem linguistik B2 yang dipelajarinya. dan kuantifikasi. yaitu identifikasi. tetapi juga menyatakan penggunaan sistem bahasa yang salah atau benar. Apabila karena sesuatu siswa tidak dapat berkonsultasi dan peneliti hanya menyandarkan pemahamannya kepada maksud atau sistem linguistik siswa. Kekeliruan kurang tepat dijadikan sebagai sumber data anakes karena sifatnya yang tidak konsisten dan terjadinya hanya sementara. tidak konsisten. dan perbaikannya memerlukan bantuan guru. Sumber data Anakes yang paling cocok adalah kesalahan berbahasa baik kesalahan yang dapat diamati dengan jelas maupun tidak. Oleh karena itu. penjelasan. Subjek dapat mengatakan dengan cara lain bila ditemukan keraguan terhadap suatu bentuk sehingga frekuensi kesalahan bisa berkurang. data yang dikumpulkan dengan alat pemancing. Bila hal itu dilakukan dengan meminta siswa mengutarakan maksudnya dengan bahasa ibu. bagaimana proses belajar bahasa secara secara umum. deskripsi. subjek sering melakukan kesalahan. B2 atau bahasa asing disebabkan oleh kesalahandan kekeliruan. Kesalahan itu sendiri terbagi atas kesalahan yang tidak jelas terlihat dan kesalahan yang jelas terlihat. 6. sering dikatakan bahwa kekeliruan tidak fungsional bagi pengajaran bahasa. Hal ini didasarkan pada data dan metode anakes. 7. Jenis tugas yang dikerjakan oleh subjek dalam pengumpulan data ini mempengaruhi jenis dan frekuensi kesilapan. Penafsiran secara tepat ujaran siswa merupakan aspek yang paling rawan dalam penerimaan linguistik siswa. Oleh karena itu. Hasil pengolahan itu menghasilkan deskripsi linguistik siswa. terlebih-lebih yang ketat kontrolnya. Bahan-bahan yang terkumpul melalui kedua cara itu diolah kembali. deskripsi linguistik itu dilengkapi dengan penjelasan yan bersifat psikologis. Kedua jenis kesalahan ini tidak semata-mata melukiskan atau menandakan siswa benar atau salah. Kesalahan bersifat agak permanen. bila siswa lebih sadar dan mawas diri.

dan sintaksis. Bisa jadi dalam kasus pembelajar yang belum menguasai suatu struktur dengan sempurna itu menguji hipotesisnya (tentang bentuk yang betul). Dalam keraguan ini. dia memilih salah satu bentuk dan kebetulan benar secara gramatikal walaupun secara semantik tidak. Pada tahap ini.statistik. Tujuan utama langkah ini adalah memberikan keterangna tentang kesilapan itu s ecara linguistik. Adapun pola-pola kesalahan itu dapat diklasifikasikan menurut tataran dan jenis perubahan dari bentuk dalam bahasa sumber ke bahasa sasaran. morfologi. Identifikasi Kesalahan. Tahap deskripsi kesalahan menekankan proses kesalahan dari segi linguistik. Perbandingan dapat dilakukan antara frekuensi . pada tahap ini kita mencari sumber kesalahan itu dan proses terjadinya kesalahan dari sumbernya sampai dengan kemunculannya dalam bahasa sumber. perlulah diterapkan suatu model tata bahasa tertentu yang dipakai membuat deskripsi itu. ketikan lihat konteks pembicaraan. pada tahap identifikasi kesalahan. tidak ada penyimpangan ejaan atau gramatika. Kegiatan utama dalam melaukan deskripsi kesalahan adalah membandingkan wacana pembelajar dengan rekonstruksi yang sahih. Dari sekian ujiannya itu. yang sebenarnya dimaksudkan adalah “Paman saya mempunyai sebuah rumah yang bagus”. seorang pembelajar mengatakan “My uncle had beautiful houses”. Bentuk ini sempurna. Dia tidak bermaksud mengatakan bahwa pamannya mempunyai banyak rumah. betul. satu bentuk benar dan bentuk-bentuk yang lain salah. Konteks itu dapat pula dilihat secara kecil yang meliputi sebagian dari kalimat-kalimat yang mendahului atau mengikuti kalimat atau frasa yang sedang dianalisis itu. tetapi ternyata bentuk tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pembicara. Kuantifikasi Kesalahan. langkah yang diikuti mirip dengan analisis kontarstif. Tataran bahasa bisa meliputi fonologi. Oleh karena itu. Jadi. Interpretasi itu dapat dilakukan dengan melihat konteks munculnya wacana itu atau dengan melakukan dialog dengan pembelajar. Kuantifikasi kesalahan dilakukan dengan menghitung kemunculan masing-masing kesalahan berbahasa dan kemudian bisa pula dihitung persentase kesalahan berbahasa itu. Langkah terakhir ini tidak wajib dikerjakan. atau dengan melihat isi keseluruhan wacana itu. Dari perbandingan kedua bentuk itu (bentuk dari bahasa anatara pembelajar dan bentuk yang sempurna dalam bahasa sasaran yang dimaksud pembelajar dapat ditemukan pola-pola kesilapan. misalnya Tata Bahasa Struktural atau Tata Bahasa Transformasi Generatif. Deskripsi Kesalahan. Boleh jadi dia tidak ingat bentuk-bentuk jamak dan tunggal untuk kata yang berarti rumah. Ada bentuk dalam bahasa antara pembelajaran yang sempurna. Penjelasan Kesalahan. dalam arti sesuai dengan aturan dalam bahasa sasaran. yang penting adalah melakukan interpretasi terhadap yang dimaksud oleh pembelajar. tidak selalu apa yang terbaca secara ekspilisit (baik melalui tulisan maupun hasil transkripsi wacana lisan)menunjukkan kesalalahan. tetapi diperlukan dalam menarik kesimpulan dalam melakukan perbandingan. Misalnya. Namun. Pikirannya kacau pla dengan adanya penjamakan yang tidak teratur seperti houses dan children. Dengan kata lain. se dangkan tahap penjelasan memeberikan deskripsi tentang mengapa kesilapan itu terjadi dan bagaimana bisa terjadi. Dalam mengidentifikasi kesalahan berbahasa yang dibuat oleh pembelajar. dalam membuat perbandingan dan deskripsi.

(3) penjelasan kesalahan. Oleh karena itu. Tujuan yang hendak dicapai dengan penyajian kegiatan belajar . (b) kesalahan pada tataran morfologi. (4) pengklasifikasian kesalahan.jenis kesalahan dalam satu kasus (sampel) atau membandingkan dengan sampel lain. 8. langkah ini berkaitan erat dengan langkah deskripsi kesalahan. (e) (f) kesalahan pada tataran leksikal. terutama para ahli yang bergerak dalam bidang pengajaran bahasa. Permasalahan dalam Analisis Kesalahan Berbahasa dan Analisis Kontrastif Kesalahan yang dibuat oleh siswa pada saat mempelajari atau menggunakan B2 menarik perhatian para ahli. Ada pakar pengajaran bahasa mengemukan bahwa Anakes mempunyai langkah-langkah yang meliputi: (1) pengumpulan data. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku yang ditulis untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam pengajaran bahasa. Jenis Kesalahan Berbahasa Berdasarkan komponen bahasa. kesalahan pada tataran wacana. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan analisis sesalahan berbahasa dan analisis kontrastif. (d) kesalahan pada tataran semantik. (c) kesalahan pada tataran sintaksis. (2) pengidentifikasian kesalahan. (5) pengevaluasian kesalahan. kesalahan berbahasa dikomponenkan menjadi: (a) kesalahan pada tataran fonologi.

Untuk marilah kita cermati sajian berikut ini. berbicara. Sedangkan kesalahan dalam bidang linguistik meliputi tata bunyi. Kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan terjadi pada saat siswa menyimak. Permasalahan dalam Analisis Kesalahan Berbahasa Sebagai seorang guru atau calon guru yang sedang berpraktik mengajarkan bahasa Indonesia. masing-masing mempunyai permasalahan sendiri-sendiri. analisis kontrastif. dan tata kalimat. Pengajaran bahasa Indonesia dimulai sejak taman kanakkanak. Ini berarti bahwa pembinaan bahasa telah dimulai sejak dini. Bahasa Indonesia dianggap sebagai B2 bagi sebagian besar rakyat Indonesia. dan menulis. apabila diperhatikan dengan saksama. yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan dan kesalahan dalam bidang linguistik. . Permasalahan dalam Analisis Kontrastif Berdasarkan kenyataan menunjukkan bahwa orang Indonesia umumnya dan para siswa khususnya tergolong dwibahasawan.dua dalam modul ini adalah harapan agar Anda dapat membedakan sekaligus berbahasa memahami dengan hubungan antara analisis tujuan kesalahan tersebut. tata bentuk kata. Permasalahan-permasalahan yang dimaksud dapat dilihat pada uraian di bawah ini. membaca. Kesalahan-kesalahan itu ternyata dapat Anda pilah dalam dua kategori. Permasalahan Baik analisis kesalahan berbahasa maupun analisis kontrastif. Temuan-temuan Anda ini sangat menarik dan segera diatasi agar proses belajar-mengajar berhasil dengan baik. Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa. Dengan demikian permasalahan yang ditangani analisis kesalahan berbahasa itu berkisar pada kesalahan dalam keterampilan berbahasa dan kesalahan dalam kebahasaan (linguistik).

menentukan sifat. . Kegiatan guru semacam inilah yang sebenarnya disebut analisis kesalahan (Pateda. dan ada pula yang berhubungan dengan tata kalimat. 1989-32) Coba Anda bandingkan apa yang dikemukakan Pateda di atas dengan yang dikemukakan Ellis (daiam Tarigan. Kegiatan mengoreksi ini tidak lain menilai kompetensi bahasa siswa yang muncul dalam performansinya. Persoalan kebahasaan yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Indonesia ialah adanya pengaruh Bl (bahasa daerah atau bahasa ibu) terhadap B2 (bahasa Indonesia atau bahasa yang dipelajari). Persoalan yang muncul bagaimana seorang guru bahasa dapat memberantas atau mengurangai pengaruh Bl terhadap bahasa yang sedang dipelajari para siswa? Salah satu cara yang diajukan melalui analisis kontrastif. Kesalahan tersebut dianalisis dengan cara mengategorikan. jenis. Pengaruh itu ada yang berkaitan dengan tata bunyi. 1990:68) tenfang analisis kesalahan ini. maka salah satu pekerjaan guru (yang paling tidak disukai?) ialah mengoreksi pekerjaan siswa. Pada saat guru menilai (mengoreksi) pasti menemui kesalahan. Untuk jelasnya batasan antara analisis kesalahan dengan analisis kontrastif dapat Anda simak uraian di bawah ini. Analisis Kesalahan Batasan atau pengertian analisis kesalahan sudah Anda pelajari pada kegiatan belajar satu modul ini. EIUs memberi batasan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa. Jika kita perhatikan. Batasan Batasan dalam uraian ini diartikan sama dengan pengertian. tata bentuk kata. dan daerah kesalahannya. Namun tidak ada jeleknya jika dalam kegiatan belajar dua ini kita ulas kembali.Namun ternyata masih terdapat banyak kesalahan dan persoalan dalam berbahasa Indonesia. me! pengumpulan data.

serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu. Kesalahan mengacu pada kompetensi. Untuk itu guru harus mengenal analisis kontrastif. Pengaruh yang dimaksud dapat terjadi pada ujaran bahasa. Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis kontrastif adalah pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara Bl (bahasa ibu) dengan B2 (bahasa sasaran. Pengaruh Bl sering kita dengar atau bahkan kita alami sendiri ketika belajar atau menggunakan B2. Analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan pengajaran bahasa mengasumsikan bahwa Bl mempengaruhi siswa ketika mempelajari B2. kekeliruan mengacu pada performansi. pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan pen\e-babnya. pilihan kata atau struktur kalimat. Analisis Kontrastif Guru sering menghadapi kesulitan dalam mengajarkan B2 kepada para siswanya. Dengan demikian para siswa dapat segera menguasai bahasa sasaran (B2) yang dipelajari. yaitu membandingkan antara unsur yang berbeda dengan unsur yang sama. penjelasan kesalahan tersebut. Analisis ini dapat membantu guru bahasa menolong dan sekaligus memperbaiki kesalahan siswa. Bahkan dengan mendengarkan pembicaraan orang. Kadang-kadang kata-kata tertentu atau konstruksi Bl mempengaruhi secara tidak disadari. yaitu bahasa yang dipeljari) sehingga guru . kita dapat menebak daerah asal si pembicara. Meskipun demikian titik berat analisis kontrastif ditekankan pada unsur-unsur kebahasaan yang berbeda. Analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa menggunakan metode perbandingan. Kesalahan dibedakan dengan kekeliruan dan keseleo. misalnya karena lupa atau adanya tekanan kejiwaan.pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam data. sedangkan keseleo mengacu pada situasi pengucapan yang keliru.

berbicara. kontrastif B2. 1989:18). Psikologi behavioris mendominasi analisis kontrastif. Kesalahan . Ruang Lingkup Analisis Kesalahan Anda pasti tahu bahwa setiap orang apakah dia orang tua. Dalam berkomunikasi dengan bahasa itu pasti membuat kesalahan. Kesalahan itu ada yang sistematis dan ada yang tidak sistematis. dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran. Inti teori belajar psikologi behavioris adalah kebiasaan dan kesalahan. Analisis kontrastif dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan kesulitan siswa yang sedang belajar B2. membaca. Tarigan adalah (1990:59) dengan nafas yang sama tetapi dengan kata-kata yang mengatakan analisis dengan belajar. ikutilah penjelasan di bawah ini. dalam kegiatan berkomunikasi lisan maupun tulis (menyimak. Dalam kaitannya dengan analisis kesalahan. Untuk mengetahui ruang lingkup masing-masing. dan menulis) setiap hari menggunakan bahasa. Ruang Lingkup Analisis Setiap permasalahan mempunyai ruang lingkup atau cakupan sendiri-sendiri. Agar sedikit langkah kesulitan pengertian berbeda analisis kontrastif bahwa Bl itu lebih jelas. Demikian juga persoalan analisis kesalahan dan analisis kontrastif.dapat meramalkan kesalahan siswa dan si siswa segera menguasai bahasa yang dipelajari (Pateda. kegiatan membandingkan struktur Bl dengan B2 dengan langkahmembandingkan belajar dan struktur kesalahan memprediksi bahan menyusun pengajaran. remaja. Teori ini menyatakan bahwa kesalahan berbahasa dalam menggunakan B2 disebabkan oleh adanya transfer negatif atau interferensi Bl siswa terhadap B2 yang sedang dipelajari siswa. ataupun anak-anak. yang disoroti adalah kesalahan yang bersifat sistematis.

Kompetensi dalam pembicaraan ini adalah kemampuan pembicara atau penulis untuk melahirkan pikiran dan perasaannya melalui bahasa sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. dan logika kalimat. Ruang Lingkup Analisis Kontrastif Telah dijelaskan sebelumnya bahwa analisis kontrastif muncul karena adanya kenyataan yang dialami siswa ketika mempelajari B2. Kata dan kalimat berunsurkan bunyi-bunyi yang membedakan yang disebut fonem. Analisis kontrastif terbatas hanya menganalisis dua bahasa dengan jalan membandingkannya. Memperhatikan penjelasan di atas. kepaduan. Bahasa yang digunakan itu berwujud kata. dan silabisasi. kepaduan kalimat. kesalahan yang perlu dianalisis mencakup tataran tata bunyi (fonologi). Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata. susunan frase. grafemik. Analisis kesalahan dalam tata bentuk tentu saja kesalahan dalam membentuk kata terutarna pada afiksasi. . Hasilnya terutarna perbandingan unsur kebahasaan yang berbeda akan membantu guru bahasa untuk meramalkan kesalahan yang kemungkinan dilakukan siswa dan sekaligus menolong siswa agar segera menguasai bahasa sasaran (B2). dan tataran tata makna (semantik). frase atau kalimat yang didukung oleh makna baik makna gramatikal maupun makna leksikal. dan makna yang mendukungnya. kalimat. Analisis kesalahan bidang tata bunyi berhubungan dengan kesalahan ujaran atau pelafalan. yakni membandingkan B2 dengan Bl atau antara bahasa yang dipelajari dengan bahasa ibu. Dan yang berikutnya analisis kesalahan bidang semantik berkaitan dengan ketepatan penggunaan kata. Analisis kontrastif mencoba ingin menolong guru bahasa sekaligus menolong siswa yang sedang mempelajari B2 agar segera menguasai bahasa sasaran tersebut.sistematis berarti kesalahan yang berhubungan dengan kompetensi. pungtuasi. tata bentuk kata (morfologi) tata kalimat (sintaksis).

dosen memberikan kuliah. Objek analisis kesalahan adalah bahasa. berseminar. dan menulis). dan tata kalimat (sintaksis). berkonferensi. Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Bidang tata bentuk berhubungan dengan imbuhan. berdiskusi. membaca. . Analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar B2 (termasuk bahasa asing). berkongres. tata bentuk kata (morfologi). berceramah. khotbah. Bidang tata kalimat menyangkut urutan kata dan frase dikaitkan dengan hukum-hukumnya (DM. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak. Seperti kita ketahui dilihat dari ragam pemakaiannya bahasa itu dibedakan atas bahasa ragam santai dan bahasa ragam formal. guru mengajar di depan kelas. tata bentuk kata. tata kalimat. tata bunyi. Untuk keperluan itu semua perlu adanya deskripsi yang jelas antara bahasa Bl dan B2. dan sebagainya yang jelas bahasa yang digunakan dalam situasi resmi. berbicara. Oleh sebab itu analisis kesalahan dalam pembicaraan ini identik dengan analisis kesalahan berbahasa. kata dan pembentukannya. Apa dan bagaimana objek analisis kesalahan dan analisis kontrastif dapat dibaca pada uraian berikut. Bahasa ragam formal digunakan orang pada situasi formal seperti berpidato. Objek merupakan sasaran yang digarap suatu kegiatan. Analisis kesalahan menitikberatkan analisisnya pada bahasa ragam formal. Bidang tata bunyi berhubungan dengan bunyi (fonem) dan pelafalannya. MD). dan tata makna.Analisis Kesalahan Bertahasa Materi yang dibandingkan berhubungan dengan tata bunyi (fonologi). bermusyawarah.

Tujuan Akhirnya sampailah kita pada pembicaraan tujuan. Dan dilihat dari siswa diharapkan siswa segera menguasai bahasa yang dipelajarinya. interaksi belajar-mengajar. Dilihat dari guru. dapat menekankan aspek bahasa yang perlu dan diperjelas. daerah kesalahan. bahasalah yang dibandingkan. sebab guru yang bertindak sebagai pelaksana pengajaran bahasa dan siswa sebagai sasaran yang mempelajari bahasa. dan bahkan pemberian . Telah dikatakan di atas bahwa analisis kesalahan dapat membantu guru untuk mengetahui jenis kesalahan yang dibuat. penyusunan ujian bahasa. maka ada tujuan yang hendak dicapai. Sebagai bahan pengajaran berkaitan erat dengan guru dan siswa. Meskipun yang menjadi objek adalah bahasa. dapat dapat menyusun program rencana pengajaran remedial. sebab kesalahan-kesalahan yang mungkin akan dibuatnya segera dapat diramalkan berdasarkan perbandingan bahasa sebelumnya. Bila guru telah menemukan kesalahan-ke-salahan. Dengan begitu. pengajaran remedial. Dilihat dari sudut bahasa. perencanaan pengajaran. Tujuan analisis kesalahan maupun analisis kontrastif dapat dibaca pada uraian di bawah ini. menyusun pengajaran bahasa itu sendiri. sifat kesalahan. guru sebagai pelaksana perbandingan. bahasa sebagai objek dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran. misalnya pengelolaan kelas. sumber kesalahan. Dengan demikian jelas bahwa antara analisis kesalahan dengan bidang kajian yang lain. serta penyebab kesalahan.Objek Analisis Kontrastif Objek analisis kontrastif adalah bahasa. tetapi hasil analisisnya bukan untuk kepentingan bahasa itu sendiri melainkan untuk kepentingan pengajaran bahasa. Oleh karena analisis itu merupakan suatu kegiatan. guru dapat mengubah metode dan teknik mengajar yang digunakan.

Dia harus paham benar tata bahasa yang baku dan berlaku. Bagi seorang guru. (2) menentukan penekanan-penekanan dalam penjelasan dan latihan. seorang guru yang akan menerapkan analisis kesalahan tentu hams memiliki pengetahuan kebahasaan yang memadai. Khusus untuk guru. yang penting menemukan kesalahan itu kemudian menganalisisnya. Jika sekiranya guru tidak memahami perbedaan antara “syarat” pengetahuan bahasa. (3) memperbaiki pengajaran remedial. Pohon itu syarat dengan buah. Dengan memperhatikan tujuan di atas. sedangkan tujuan yang bersifat teoretis ialah adanya usaha untuk memahami proses belajar bahasa kedua. Sebagai ilustrasi perhatikanlah contoh kalimat di bawah . (4) memilih butir-butir yang tepat untuk mengevaluasi penggunaan bahasa siswa (Pateda. Misalnya tentang kebakuan pelafalari. Sah Iran yang terakhir adalah Mohammed Reza Pahlevi. bentukan kata. 1981:12) mengatakan bahwa analisis kesalahan itu mempunyai dua tujuan. Hasil analisis sangat berguna untuk tindak lanjut proses belajar-mengajar yang dilakukan. yaitu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. 1989:36).pekerjaan rumah ada hubungan timbal balik. Corder (dalam Baraja. Salatnya tetap syah meskipun tidak memakai peci. dan tata kalimatnya. Pengetahuan yang cukup memadai sangat dan diperlukan pemahaman oleh tata seorang guru. Tujuan yang bersifat praktis tidak berbeda dengan tujuan analisis tradisional. analisis kesalahan dapat digunakan untuk (1) menentukan urutan sajian. Lebih-lebih ini. tulisan (ejaan). la tidak memenuhi sarat menjadi ABRI. Dalam hal ini guru dihadapkan pada dua persoalan. yaitu tujuan teoretis dan tujuan praktis.

Tarigan (1990:77) mengatakan bahwa tujuan analisis kesalahan itu bersifat aplikatif dan teoretis. 3. menganalisis berbahasa siswa dapat diramalkan dan pengaruh Bl itu dapat diperbaiki. Pateda (1989:20) menjelaskan bahwa analisis kontrastif bertujuan: 1. hasil analisis digunakan untuk memmtaskan keterampilan membantu siswa untuk menyadari kesalahannya Jalam berbahasa siswa. Berdasarkan uraian di atas ternyata analisis kesalahan dengan analisis kontrastif itu sangat erat hubungannya. “syah” dan “sah” tentu guru tidak dapat menjelaskan kepada siswanya bahwa penggunaan keempat kata tersebut salah. Teoretis mengharapkan pemeroleh-an bahasa siswa pada gilirannya dapat memberikan pemahaman ke arah proses pemerolehan bahasa secara umum. Jika analisis kesalahan melihat kesalahan itu secara umum. menganalisis yang sedang dipelajari) agar pengajaran bahasa berhasil baik. demikian pula analisis kontrastif. 4. Dikatakan demikian sebab analisis kontrastif melihat kesalahan dengan cara membandingkan antara Bl dengan B2. Senada dengan yang diucapkan Corder. 2. Tujuan Analisis Kontrastif Seperti halnya analisis kesalahan memiliki tujuan.dan “sarat”. Hasil membandingkan itu dapat diketahui perbedaan antara Bl dengan B2 agar kesalahan perbedaan antara Bl (bahasa ibu) dengan B2 (bahasa . Aplikatif mengurangi dan memperbaiki kesalahan berbahasa siswa. analisis kontrastif melihat kesalahan itu secara khusus. Analisis kontrastif merupakan salah satu bagian dari analisis kesalahan. berbahasa sehingga siswa dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajarinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

adanya pengaruh (in-terferensi) Bl ke dalam B2 yang sedang dipelajari siswa. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->