ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI DAN ISLAM SEBAGAI BUDAYA (Dalam perspektif kajian histories Islam di masyarakat Jawa ) Oleh

: Bayu Pramutoko, SE A. Agama , ideologi dan budaya <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Agama Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut ³agama´ (religious). Terdapat banyak tema agama termasuk dalam superstruktur: agama terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial. Agama berasal dari bahasa Sanskrit, yang mempunyai arti: tidak pergi, tidak kocarkacir, tetap di tempat dan diwarisi turun-temurun. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa agama itu berarti teks atau kitab suci dan atau tuntunan. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa agama itu ajarannya bersifat tetap dan diwariskan secara turun -temurun, mempunyai kitab suci dan berfungsi sebagai tuntunan hidup bagi penganutnya. ³Din´ dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi, menguasai dan menundukkan untuk patuh kepada aturan Tuhan dengan menjalankan ajaranajarannya sebagai suatu kewajiban, merasa berutang bagi yang meninggalkan kewajiban yang telah biasa dilakukannya, memberi balasan baik bagi yang mematuhinya dan balasan tidak baik bagi yang melanggarnya. Sedangkan kata ³religi´ berasal dari bahasa Latin, mempunyai arti mengumpulkan, membaca dan mengikat. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan kumpulan aturan-aturan lainnya yang dikumpulkan dalam kitab suci yang harus dibaca, dan di samping itu, agama juga mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia, ikatan antara manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi atau ikatan antara manusia dengan Tuhan-nya. Sedangkan komponen-komponen atau unsur ± unsur penting yang ada atau yang harus ada dalam agama adalah: 1) Kekuatan gaib. 2) Keyakinan manusia 3) Respons yang bersifat emosional dari manusia. 4) Paham adanya yang kudus {sacred) dan suci dalam bentuk kekuatan gaib. Maka agama dapat diartikan sebagai jalan

Memandang agama bukan sebagai peraturan yang dibuat oleh Tuhan untuk menyenangkan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari. pembudayaan suatu agama dapat mengangkat citra agama apabila pembudayaan itu dilakukan dengan tepat dan penuh tanggung jawab . Contoh : Ideologi sosialis-komunis dan liberalis-kapitalis di dunia Eropa Timur dan dunia Barat. ideologi itu mesti kebudayaan tetapi kebudayaan belum tentu menjadi ideologi. Ideologi ini dapat melahirkan suatu kebudayaan. Ideologi ini biasanya merupakan hasil kerja para filosof atau orang yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk memikirkan tentang diri dan lingkungannya atau segala yang ada. rasa dan karsa manusia dalam arti yang seluas-luasnya. Karena ketiganya sama-sama dapat dijadikan sebagai pedoman hidup walaupun-masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. karena kebudayaan adalah hasil dunia. melainkan agama itu sebagai kebutuhan manusia dan untuk kebaikan manusia. <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Ideologi dan budaya Ideologi dapat berarti suatu faham atau ajaran yang mempunyai nilai kebenaran atau dianggap benar sebagai hasil kontemplasi (perenungan) manusia baik berdasarkan wahyu maupun hasil kontemplasi akal budi secara murni. Dengan demikian. dan faham Jabariah dan Qadariah di dunia Islam adalah contoh dalam hal ini. Seperti dalam mengideologikan agama. <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Agama budaya Agama yang dibudayakan adalah ajaran suatu agama yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh penganutnya sehingga menghasilkan suatu karya/budaya tertentu yang mencerminkan ajaran agama yang dibudayakannya itu. ideologi dan kebudayaan seringkali sulit untuk dibedakan. di samping ideologi itu sendiri merupakan kebudayaan. Agama (wahyu) pada dasarnya bukan ideologi ² dan memang bukan ideologi²akan tetapi dapat dijadikan sebagai ideologi apabila agama (wahyu) itu sudah dipersepsi oleh seseorang atau sejumlah orang dan dijadikan sebagai pedoman dalam hidupnya. antara agama (wahyu). Agama dapat di ideologikan dan dibudayakan. Sebaliknya ideologi dan kebudayaan dapat diagamakan.yang harus dilalui dan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat berhubungan dengan kekuatan gaib dan supranatural melalui aktivitas penyembahan dan pemujaan agar hidup bahagia dan sejahtera. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa membudayakan agama berarti membumikan dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Adanya agama merupakan hakekat perwujudan Tuhan.

agama Kristen dan agama Islam. Sedangkan agama budaya disebut juga sebagai agama bumi. agama-agama yang dipeluk umat manusia di dunia ini dapat diklasifikasi menjadi dua bagian yaitu agama wahyu dan agama budaya. Inilah proses lahirnya agama budaya atau agama ardli. Sebaliknya. Agam wahyu a disebut juga dengan agama langit. Maka dapat dijelaskan bahwa agama (wahyu) dapat dijadikan sebagai ideologi. Kong Hu Cu. tanpa wahyu pun manusia dapat menciptakan ideologi dan kebudayaan dan dapat pula melahirkan suatu agama yaitu agama budaya. B. Ragam agama yang terakhir ini merupakan jawaban dari pertolongan Tuhan terhadap manusia setelah ³gagal´ mencari kedamaian dan atau kebenaran hakiki melalui indera. melahirkan ideologi dan kebudayaan. Dapat dikatakan bahwa agama monoteisme murni merupakan jawaban yang paling tepat dan final dalam mencari agama serta kebenaran hakiki yang dicia-citakan. agama filsafat. Akan tetapi agama wahyu itu bukan ideologi dan bukan pula kebudayaan. Shinto dan sebagainya. Islam sebagai Ideologi Ditinjau dari segi munculnya. Budha.sehingga mampu mencerminkan agamanya. non-revealed relegion dan natural relegion. Sebaliknya dapat menurunkan nilai agama apabila dilakukan dengan tidak bertanggung jawab. termasuk aliran kepercayaan. Yang termasuk agama budaya dapat disebutkan di sini misalnya: Agama Hindu. Ditinjau dari sumbernya. Di sinilah letak urgensinya studi awal terhadap agama. agama-agama selain monoteisme murni merupakan hasil kontemplasi manusia. Ideologi dan kebudayaan dapat merupakan pencerminan dari suatu agama apabila hal itu dilakukan oleh seorang yang taat beragama. agama profetis dan revealed relegion. menemukan agama monoteisme murni untuk dipeluk berarti telah memegang kunci kebenaran serta Kedamaian . agama akal. disakralkan dan lebih dari itu dipercayainya sebagai doktrin yang harus diikuti. Yang termasuk agama wahyu dapat disebutkan di sini misalnya agama Yahudi. sedangkan monoteisme murni merupakan wahyu dan hasil ciptaan Tuhan (Satu zat yang diyakini keabsolutannya). <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Agama Wahyu (langit) dan Agama Budaya (adat istiadat) Sedangkan ideologi dan kebudayaan yang diagamakan maksudnya adalah suatu ideologi atau kebudayaan yang mempunyai nilai kebenaran ² walau sebenarnya relatif ² atau dianggap benar atau dapat memberikan kepuasan. Ideologi atau kebudayaan itu diwariskan turun-temurun.

komitmen terhadap ajaranajarannya. mengandung pengertian ³damai´. Dialah Tuhan Yang Satu. Kemudian. diambil dari nama pembawanya 0esus Kristus). sebab dalam penyerahan (Islam) ini terdapat konsekuensi sikap muslim yang logis. . Selanjutnya. akan mendapatkan kedamaian. berserah diri disertai dengan amal saleh serta sikap tegar dan optimistis. Untuk membuktikan bahwa Islam tidak memiliki ciri-ciri khusus di atas sama sulitnya dengan membuktikan adanya ciri-ciri tersebut dalam agama selain Islam. Para linguist bahasa Arab menyatakan bahwa kata ³Islam´ berasal dari kata ³aslama´. tunduk disertai dengan ikhlas hanya kepada Allah.yang sebenarnya. Jadi pengertian Islam secara lughowi pada prinsipnya: Penyerahan diri secara bulat kepada Allah yang melahirkan satu sikap hidup tertentu. meyakini. Kedua asal kata Islam yakni ³aslama´ dan ³silm´ mempunyai hubungan pengertian yang mendasar. Dalam hal ini Allah telah berjanji kepada siapa pun yang menyerahkan diri disertai dengan amal saleh. berarti ³selamat sejahtera´. namun pada prinsipnya mengarah pemahaman yang sama. Al Qur¶an mempergunakan kata Islam di berbagai tempat dengan pengertian yang berbeda-beda. Kerasulan dan ajaran-ajaran yang menunjukkan kesatuan (Tauhid) yang murni. Islam telah memiliki ciri-ciri di atas. Terwujudnya suatu ³kedamaian´ apabila adanya penyerahan serta kepatuhan (Islam) terhadap Sang Pencipta. Orang yang menyatakan dirinya Islam atau berserah diri. Adanya kata pertama karena kata kedua. bahkan tidaklah mungkin. baik konsep Ketuhanan. Bila kita amati secara obyektif. tidak pernah gentar. Para orientalis menyebut ³Islam´ dengan istilah ³Muhammadan-isme´ mereka mengasosiasikan sebutan ini dengan sebutan-sebutan bagi agama-agama selain Islam yang dianologikan pada pembawanya atau tempat kelahirannya. adanya penyerahan diri (= kata aslama) karena adanya tujuan hidup damai (= silm). pesimis dan takut dalam hidupnya. Agama Nasrani diambil dari negeri kelahirannya (Nazaret). Kata ini berakar pada kata ³slim´. Pengertian Islam secara umum: mengandung dimensi-dimensi iman yang tidak dikotori oleh unsur-unsur syirik. Syarat mencapai suatu kebenaran dan kedamaian yang sebenarnya haruslah terlebih dahulu mengenal Islam secara tepat dan benar. melakukan dan komitmen terhadap ajaran ajaran agama berarti telah hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan berada dalam kebenaran serta kedamaian-Nya. sebab kunci itu milik dan datang dari pemilik kebenaran yang sebenarnya. berarti ³patuh´ dan ³menyerahkan diri´. Inilah yang sebenarnya dicari-cari manusia (fitrah). tunduk dan patuh kepada kehendak penciptanya disebut ³Muslim´. Kristen.

Budha (Budhisme) dari nama pembawanya (Sang Budha Gautama). Para ahli berpendapat bahwa sekitar tahun 1416 M agama Islam sudah mulai dikenal oleh masyarakat Jawa. ketika perutusan Tiongkok datang ke Jawa Timur 1413 M. C. Sejak awal sejarah lahirnya manusia. Perjuangan Wali Songo ´(1999) yang diterbitkan oleh Yayasan Festival Walisongo. yaitu : . Menurut salah satu Literatur dengan judul ´ Jejak Kanjeng Sunan. Mengenai konsep totalitas serta ke-sempurnaan agama Islam maupun keabsahannya dari agama-agama Allah yang lain yang datang sebelumnya.a. Agama-agama Allah tersebut pada prinsipnya Agama Islam (= agama yang menyerahkan diri hanya kepada Tuhan Yang Satu).. karena perbedaan dalam memahami konsep konsep yang bersifat umum dalam masalah-masalah mua¶malah dan bukanlah masalah yang fundamental. Perjuangan Wali Songo ´(1999) . Zoroaster Namun nama ³Islam´ mengandung pengertian yang mendasar. terdapat satu bentuk petunjuk yang berupa wahyu ilahi melalui seorang rasul (agama Allah). Istilah ³Mohammadanisme´ membuka peluang bagi timbulnya berbagai interpretasi serta persepsi terhadap Islam yang diidentikkan dengan agama-agama lain yang jelas berbeda konsepsi. Hubungan semua rasul sejak Adam a. sampai Muhammad s.w. Menurut buku ´ Jejak Kanjeng Sunan. berdasarkan ajaran yang mereka bawakan. kapan dan di mana saja. Islam sebagai Budaya dalam perspektif masyarakat Jawa.s. Agama Islam bukanlah milik pembawanya yang bersifat individual ataupun milik dan diperuntukkan suatu golongan atau negara tertentu. bagaikan mata rantai yang selalu datang berkesinambungan dan merupakan penyempurnaan ajaran sebelumnya sehingga agama Allah tersebut akan mampu menjawab seluruh hajat manusia di pelbagai zaman. Mengenai konsep Tuhan Yang Satu dan ajaran penyerahan diri kepada Allah. tetaplah sama. (Zoroasteranisme) dari pendirinya. dalam sejarah Syeh Maulana Malik Ibrahim menceritakan bahwa masuknya Islam di Jawa Pertama kali dibawa oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim dan sebagai pendiri Pondok Pesantren Pertama di Indonesia. Islam sebagai agama universal dan eternal merupakan wujud realisasi konsep Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi seluruh umat). Keberadaan Islam di Indonesia secara historis tidak terlepas dari sejarah Islam masuk Pertama kali di Tanah Jawa. Yahudi (Yuda-isme) dari negerinya (Yudea). Kalau di sana terdapat perbedaan-perbedaan. bahkan menurut sumber Tiongkok. mereka melihat adanya tiga masyarakat.

tentang Agama masyarakat Jawa ini. kasta waisya. Santri konservatif atau santri kolot adalah kelompok santri yang cenderung bersikap toleran . Geertz mendefinisikan santri sebagai orang Islam yang taat pada ajaranajaran atau doktrin agama dan menjalankannya secara taat berdasarkan tuntunan yang diberikan agama. Santri. Pertama. Pengejawantahan dari kelompok sosial Abangan ini dapat dilihat dalam berbagai kepercayaan masyarakat Jawa terhadap berbagai jenis makhluk halus.seperti yang dikutip diatas. tipologi Santri ini juga mempunyai sub-sub tipologi atau subvarian. tiga varian keberagamaan masyarakat Jawa diambil dari istilah yang digunakan oleh orang Jawa sendiri ketika mendefinisikan kategori keagamaan mereka. lelembut (makhluk halus yang mempunyai sifat kebalikan dari memedi. dan Priyayi. tapi bukan manusia). Dengan definisi itu. Masyarakat menganut struktur sosial yang berkasta. kasta ksatria dan kasta brahmana. Slametan Suro (bersih deso). Kalangan Abangan juga sangat rajin dalam mengadakan berbagai upacara slametan. masyarakat Jawa pada umumnya adalah penganut animisme dan dinamisme yang juga sebagai pemeluk agama Hindu/Budha dan berada dibawah pemerintahan kerajaan Mojopahit. yaitu ada yang disebut santri konservatif dan santri modern. Slametan desa. Berbeda dengan kalangan Abangan yang cenderung mengabaikan terhadap berbagai ritual Islam. tuyul (makhluk halus yang menyerupai anak anak. agaknya kata lain yang lebih cocok untuk menyubstitusi istilah santri adalah Muslim sejati. dalam penelitian Geertz. yaitu kasta sudra. yaitu masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan seseorang jatuh sakit atau gila). hidupnya teratur dan makanannya enak-enak. kalangan santri ini justru sangat patuh terhadap doktrin Islam dan ritual. Deskripsi singkat dari tiap-tiap tipologi keagamaan tadi dapat dikemukakan demikian. Istilah ini didefinisikan oleh Geertz sebagai teologi dan ideologi orang Jawa yang memadukan atau mengintegrasikan unsur-unsur animistik. Slametan khitanan. Dalam buku yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Model masyarakat inilah yang menjadi obyek dakwah para penyebar agama Islam. walaupun mereka bukan orang Jawa asli tetapi mampu mengantisipasi keadaan masyarakat yang dihadapinya. Abangan. dengan titik kuat pada keyakinan dan keimanan. dan Islam. Slametan perkawinan. seperti: Slametan kelahiran. Geertz menulis sebuah buku yang amat menggemparkan jagat akademik Indonesia: The Religion of Java. Kedua. Santri. Slametan kematian. Menurut Geertz.Orang ± orang Islam yang berpakaian bersih. Pada masa itu. seperti memedi (suatu istilah untuk makhluk halus secara umum). memaparkan tipologi atau kategori agama masyarakat Jawa melalui tiga varian yang disebutnya: Abangan. Tampaknya. Hindu. Sebagaimana sudah menjadi wacana yang amat familiar dalam dunia akademik. dan sebagainya.

aspek seni dan kepercayaan priyayi dinyatakan dalam berbagai manifestasi. Santri konservatif ini juga diindikasikan dengan masih kuatnya mereka berpegang pada rujukan Kitab Kuning dalam kelompok santri konservatif ini. varian ini mengalami pemekaran makna yang cukup signifikan. yakni mereka yang mempunyai kaitan langsung dengan raja-raja Jawa dahulu. yang terdiri atas : a) Abangan. Geertz mendefinisikan priyayi sebagai kelompok orang yang mempunyai garis keturunan (trah) bangsawan atau darah biru. Islam adalah Tradisi asing yang dipeluk dan dibawa oleh para saudagar musafir di pesisir. yakni kerajaan Jawa Hindu/Budha. melainkan ke salah satu wilayah bentukan politik. Pengaruh Islam dapat dikatakan tidaklah terlalu besar. Agama ini hanya menyentuh kulit luar budaya Hindu-Budha-Animistis yang telah berakar kuat. Saat ini. Fenomena ini juga dijelaskan . Priyayi. dapat dikategorikan sebagai kalangan priyayi modern. telah berakar kuat di masyarakat Indonesia (khususnya di Jawa. seperti tradisi slametan. religius dan sosial terbesar di Asia. b) Santri. C (1975)´ Islam tidak bergerak ke wilayah baru. Pengejawantahan dari kelompok sosial priyayi ini dapat dilihat dalam berbagai etiket. Sementara itu. yang menekankan unsur sinkritisme Islami dan umumnya berkaitan dengan . atau mereka yang masih menitik beratkan unsur animistis dari keseluruhan sinkritisme Jawa dan berkaitan erat dengan elemen petani. baik karena banyak harta atau mempunyai jabatan tertentu. Tujuan yang hendak dicapai dengan adanya praktik mistik ini adalah mencapai kejernihan pengetahuan yang dalam. Bagi masyarakat Jawa. Sementara itu santri modern adalah mereka yang cenderung meninggalkan ritualitas konservatif tersebut. seni dan praktik mistik. Bahasa lisan terlihat dari tingkatan bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari hari.estetika.terhadap berbagai praktik keagamaan setempat yang merupakan warisan nenek moyang. walau tak hanya disana). Etiket di kalangan Priyayi menyangkut bahasa lisan dan bahasa sikap. mereka yang mempunyai status sosial cukup tinggi. menurut Muhaimin (2002) di Jawa. Komunitas muslim itu kemudian memeluk suatu sinkritisme yang menekankan aspek kebudayaan Islam. tapi hanya menyelaraskannya´. Hasil dari seluruh proses tersebut adalah masyarakat Jawa kontemporer dengan sejumlah kelompok sosio-religiusnya yang rumit. Adapun aspek mistik merupakan kelanjutan dari aspek seni tadi. seperti yang dinyatakan dalam bentuk tembang atau disebut juga dengan istilah wirama. yang walaupun pada masa itu mulai melemah. Melalui proses panjang asimilasi secara damai dan berhasil membentuk kantong-kantong masyarakat pedagang di beberapa kota besar dan dikalangan petani kaya. ´Islam tidak menyusun bangunan peradaban. Tampaknya. Ketiga. Akibatnya Islam menurut pendapat Geertz.

Geertz sampai pada muara kesimpulan bahwa yang dinamakan agama Jawa tidak lain adalah sinkretisme. mereka mau menggali sumur di tempat sebelahnya. la melihat adanya perpaduan antara kepercayaan asli masyarakat Jawa dan kepercayaan Islam yang datang belakangan. sebagian masih percaya dengan animisme dan dinamisme. dalam praktik slametan yang biasanya dilakukan oleh kalangan Abangan. Ketika emosi muncul tiba-tiba galian tanah yang mau dipakai untuk sumur tidak bisa dilanjutkan karena ada pondasi yang terbuat dari batu merah persis batu merah yang ada di candi Trowulan. Maka dengan hormatnya mereka mengadakan ritual adat berupa permintaan maaf dan permohonan ijin kepada sang penunggu dengan sesaji berupa slametan. Kejadian semacam tadi tidak hanya dialami oleh satu orang saja. yaitu doa yang dikumandangkan pada saat selesai melakukan acara slemetan. Di situ ada praktik magis berupa kepercayaan kepada roh. Pada praktik slametan terkandung berbagai unsur adat lokal dan Islam. pitonan bayi. Mojokerto. Dimana orang-orang Islam yang ada di Jawa. dan ada pula penyisipan unsur Islam. Sehingga Islam melebur dalam budaya masyarakat dan mampu mewarnai setiap gerak kehidupan yang ada tanpa melepaskan akidah dan syariatnya. Keadaan kebudayaan masyarakat ini sebenarnya seirama dengan situasi etnis (suku bangsa) pendatang. bersih deso. Adat istiadat yang berkembang di daerah Jawa tetap bernafaskan Islam. misalnya. mereka melanjutkan penggaliannya di tempat itu dengan keyakinan bahwa di tempat ini ada danyangnya (makhluk ghaib yang menjaga tempat itu). walaupun bentuk dan tata cara pelaksanaanya berbeda -beda antara satu tempat dengan tempat lain dalam satu desa. Karena pondasi sudah tidak ada lagi. tetapi masih ada lagi pengalaman nyata yang dialami oleh orang-orang Islam lainnya yang ada di Jawa dan bukan menjadi rahasia umum lagi. besuknya. Bahan bacaan : . dimana secara tegas tidak diketahui secara pasti ketika itu. Misalnya . budaya slametan. ketika seseorang menggali sumur. Adanya kepercayaan animisme/dinamisme.pahing kliwon. Akhirnya.elemen pedagang dan dengan elemen petani tertentu. Yang dapat diketahui sesudah berkembangnya agama Islam di Jawa. Bahkan juga kesenian dan kebudayaan lainnya turut berkembang sehingga terlihat adanya percampuran antara Hindu dan Islam contoh pagelaran wayang kulit. c) Priyayi. Ternyata pondasi sudah tidak ada lagi. penerapan penanggalan Jawa : legi.pon. Sampai sekarang terlihat bahwa kebudayaan mereka berlatar belakang ajaran Islam.wage. saat itu agak emosi karena ada sesuatu yang kurang pas dengan pekerja sawahnya. Sesampainya di sawah. Hal ini dapat dilihat. yang menitik beratkan unsur Hinduisme dan berkaitan dengan elemen-elemen birokrat. Akhirnya mereka berhenti dan pulang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful