P. 1
Islam Sebagai Ideologi Dan Islam Sebagai Budaya

Islam Sebagai Ideologi Dan Islam Sebagai Budaya

|Views: 63|Likes:
Published by Wayan Karyasa

More info:

Published by: Wayan Karyasa on Jan 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2011

pdf

text

original

ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI DAN ISLAM SEBAGAI BUDAYA (Dalam perspektif kajian histories Islam di masyarakat Jawa ) Oleh

: Bayu Pramutoko, SE A. Agama , ideologi dan budaya <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Agama Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut ³agama´ (religious). Terdapat banyak tema agama termasuk dalam superstruktur: agama terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial. Agama berasal dari bahasa Sanskrit, yang mempunyai arti: tidak pergi, tidak kocarkacir, tetap di tempat dan diwarisi turun-temurun. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa agama itu berarti teks atau kitab suci dan atau tuntunan. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa agama itu ajarannya bersifat tetap dan diwariskan secara turun -temurun, mempunyai kitab suci dan berfungsi sebagai tuntunan hidup bagi penganutnya. ³Din´ dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi, menguasai dan menundukkan untuk patuh kepada aturan Tuhan dengan menjalankan ajaranajarannya sebagai suatu kewajiban, merasa berutang bagi yang meninggalkan kewajiban yang telah biasa dilakukannya, memberi balasan baik bagi yang mematuhinya dan balasan tidak baik bagi yang melanggarnya. Sedangkan kata ³religi´ berasal dari bahasa Latin, mempunyai arti mengumpulkan, membaca dan mengikat. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan kumpulan aturan-aturan lainnya yang dikumpulkan dalam kitab suci yang harus dibaca, dan di samping itu, agama juga mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia, ikatan antara manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi atau ikatan antara manusia dengan Tuhan-nya. Sedangkan komponen-komponen atau unsur ± unsur penting yang ada atau yang harus ada dalam agama adalah: 1) Kekuatan gaib. 2) Keyakinan manusia 3) Respons yang bersifat emosional dari manusia. 4) Paham adanya yang kudus {sacred) dan suci dalam bentuk kekuatan gaib. Maka agama dapat diartikan sebagai jalan

<!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Ideologi dan budaya Ideologi dapat berarti suatu faham atau ajaran yang mempunyai nilai kebenaran atau dianggap benar sebagai hasil kontemplasi (perenungan) manusia baik berdasarkan wahyu maupun hasil kontemplasi akal budi secara murni. Sebaliknya ideologi dan kebudayaan dapat diagamakan. Adanya agama merupakan hakekat perwujudan Tuhan. karena kebudayaan adalah hasil dunia. Agama dapat di ideologikan dan dibudayakan. Agama (wahyu) pada dasarnya bukan ideologi ² dan memang bukan ideologi²akan tetapi dapat dijadikan sebagai ideologi apabila agama (wahyu) itu sudah dipersepsi oleh seseorang atau sejumlah orang dan dijadikan sebagai pedoman dalam hidupnya. antara agama (wahyu). dan faham Jabariah dan Qadariah di dunia Islam adalah contoh dalam hal ini. Memandang agama bukan sebagai peraturan yang dibuat oleh Tuhan untuk menyenangkan Tuhan. Karena ketiganya sama-sama dapat dijadikan sebagai pedoman hidup walaupun-masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Ideologi ini dapat melahirkan suatu kebudayaan. di samping ideologi itu sendiri merupakan kebudayaan. pembudayaan suatu agama dapat mengangkat citra agama apabila pembudayaan itu dilakukan dengan tepat dan penuh tanggung jawab .yang harus dilalui dan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat berhubungan dengan kekuatan gaib dan supranatural melalui aktivitas penyembahan dan pemujaan agar hidup bahagia dan sejahtera. <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Agama budaya Agama yang dibudayakan adalah ajaran suatu agama yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh penganutnya sehingga menghasilkan suatu karya/budaya tertentu yang mencerminkan ajaran agama yang dibudayakannya itu. rasa dan karsa manusia dalam arti yang seluas-luasnya. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa membudayakan agama berarti membumikan dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Contoh : Ideologi sosialis-komunis dan liberalis-kapitalis di dunia Eropa Timur dan dunia Barat. Seperti dalam mengideologikan agama. ideologi itu mesti kebudayaan tetapi kebudayaan belum tentu menjadi ideologi. ideologi dan kebudayaan seringkali sulit untuk dibedakan. melainkan agama itu sebagai kebutuhan manusia dan untuk kebaikan manusia. Dengan demikian. Ideologi ini biasanya merupakan hasil kerja para filosof atau orang yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk memikirkan tentang diri dan lingkungannya atau segala yang ada. Dalam kehidupan sehari-hari.

Islam sebagai Ideologi Ditinjau dari segi munculnya. B. Di sinilah letak urgensinya studi awal terhadap agama. agama Kristen dan agama Islam. Sebaliknya. <!±[if !supportLists]±><!±[endif]±>Agama Wahyu (langit) dan Agama Budaya (adat istiadat) Sedangkan ideologi dan kebudayaan yang diagamakan maksudnya adalah suatu ideologi atau kebudayaan yang mempunyai nilai kebenaran ² walau sebenarnya relatif ² atau dianggap benar atau dapat memberikan kepuasan. Akan tetapi agama wahyu itu bukan ideologi dan bukan pula kebudayaan. Ragam agama yang terakhir ini merupakan jawaban dari pertolongan Tuhan terhadap manusia setelah ³gagal´ mencari kedamaian dan atau kebenaran hakiki melalui indera. Budha. agama filsafat.sehingga mampu mencerminkan agamanya. Kong Hu Cu. agama-agama selain monoteisme murni merupakan hasil kontemplasi manusia. disakralkan dan lebih dari itu dipercayainya sebagai doktrin yang harus diikuti. Yang termasuk agama budaya dapat disebutkan di sini misalnya: Agama Hindu. Shinto dan sebagainya. sedangkan monoteisme murni merupakan wahyu dan hasil ciptaan Tuhan (Satu zat yang diyakini keabsolutannya). tanpa wahyu pun manusia dapat menciptakan ideologi dan kebudayaan dan dapat pula melahirkan suatu agama yaitu agama budaya. termasuk aliran kepercayaan. Ideologi dan kebudayaan dapat merupakan pencerminan dari suatu agama apabila hal itu dilakukan oleh seorang yang taat beragama. menemukan agama monoteisme murni untuk dipeluk berarti telah memegang kunci kebenaran serta Kedamaian . Ideologi atau kebudayaan itu diwariskan turun-temurun. Dapat dikatakan bahwa agama monoteisme murni merupakan jawaban yang paling tepat dan final dalam mencari agama serta kebenaran hakiki yang dicia-citakan. agama profetis dan revealed relegion. Sedangkan agama budaya disebut juga sebagai agama bumi. non-revealed relegion dan natural relegion. Ditinjau dari sumbernya. Maka dapat dijelaskan bahwa agama (wahyu) dapat dijadikan sebagai ideologi. agama akal. Inilah proses lahirnya agama budaya atau agama ardli. Sebaliknya dapat menurunkan nilai agama apabila dilakukan dengan tidak bertanggung jawab. Yang termasuk agama wahyu dapat disebutkan di sini misalnya agama Yahudi. Agam wahyu a disebut juga dengan agama langit. melahirkan ideologi dan kebudayaan. agama-agama yang dipeluk umat manusia di dunia ini dapat diklasifikasi menjadi dua bagian yaitu agama wahyu dan agama budaya.

mengandung pengertian ³damai´. akan mendapatkan kedamaian. Islam telah memiliki ciri-ciri di atas. berarti ³patuh´ dan ³menyerahkan diri´. Kemudian. pesimis dan takut dalam hidupnya. Jadi pengertian Islam secara lughowi pada prinsipnya: Penyerahan diri secara bulat kepada Allah yang melahirkan satu sikap hidup tertentu. tidak pernah gentar. Kata ini berakar pada kata ³slim´. melakukan dan komitmen terhadap ajaran ajaran agama berarti telah hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan berada dalam kebenaran serta kedamaian-Nya. namun pada prinsipnya mengarah pemahaman yang sama. Kedua asal kata Islam yakni ³aslama´ dan ³silm´ mempunyai hubungan pengertian yang mendasar. Al Qur¶an mempergunakan kata Islam di berbagai tempat dengan pengertian yang berbeda-beda. Selanjutnya. Dalam hal ini Allah telah berjanji kepada siapa pun yang menyerahkan diri disertai dengan amal saleh.yang sebenarnya. tunduk disertai dengan ikhlas hanya kepada Allah. Para linguist bahasa Arab menyatakan bahwa kata ³Islam´ berasal dari kata ³aslama´. Kerasulan dan ajaran-ajaran yang menunjukkan kesatuan (Tauhid) yang murni. Agama Nasrani diambil dari negeri kelahirannya (Nazaret). Pengertian Islam secara umum: mengandung dimensi-dimensi iman yang tidak dikotori oleh unsur-unsur syirik. bahkan tidaklah mungkin. Kristen. komitmen terhadap ajaranajarannya. Bila kita amati secara obyektif. diambil dari nama pembawanya 0esus Kristus). Syarat mencapai suatu kebenaran dan kedamaian yang sebenarnya haruslah terlebih dahulu mengenal Islam secara tepat dan benar. . baik konsep Ketuhanan. Inilah yang sebenarnya dicari-cari manusia (fitrah). Untuk membuktikan bahwa Islam tidak memiliki ciri-ciri khusus di atas sama sulitnya dengan membuktikan adanya ciri-ciri tersebut dalam agama selain Islam. sebab kunci itu milik dan datang dari pemilik kebenaran yang sebenarnya. Orang yang menyatakan dirinya Islam atau berserah diri. Terwujudnya suatu ³kedamaian´ apabila adanya penyerahan serta kepatuhan (Islam) terhadap Sang Pencipta. Para orientalis menyebut ³Islam´ dengan istilah ³Muhammadan-isme´ mereka mengasosiasikan sebutan ini dengan sebutan-sebutan bagi agama-agama selain Islam yang dianologikan pada pembawanya atau tempat kelahirannya. adanya penyerahan diri (= kata aslama) karena adanya tujuan hidup damai (= silm). tunduk dan patuh kepada kehendak penciptanya disebut ³Muslim´. berarti ³selamat sejahtera´. meyakini. Adanya kata pertama karena kata kedua. berserah diri disertai dengan amal saleh serta sikap tegar dan optimistis. sebab dalam penyerahan (Islam) ini terdapat konsekuensi sikap muslim yang logis. Dialah Tuhan Yang Satu.

. Agama Islam bukanlah milik pembawanya yang bersifat individual ataupun milik dan diperuntukkan suatu golongan atau negara tertentu. kapan dan di mana saja. Hubungan semua rasul sejak Adam a. Islam sebagai agama universal dan eternal merupakan wujud realisasi konsep Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi seluruh umat). tetaplah sama. Perjuangan Wali Songo ´(1999) yang diterbitkan oleh Yayasan Festival Walisongo. Kalau di sana terdapat perbedaan-perbedaan. Para ahli berpendapat bahwa sekitar tahun 1416 M agama Islam sudah mulai dikenal oleh masyarakat Jawa. C. Zoroaster Namun nama ³Islam´ mengandung pengertian yang mendasar. Keberadaan Islam di Indonesia secara historis tidak terlepas dari sejarah Islam masuk Pertama kali di Tanah Jawa. mereka melihat adanya tiga masyarakat. (Zoroasteranisme) dari pendirinya. Menurut salah satu Literatur dengan judul ´ Jejak Kanjeng Sunan. Menurut buku ´ Jejak Kanjeng Sunan. ketika perutusan Tiongkok datang ke Jawa Timur 1413 M. bagaikan mata rantai yang selalu datang berkesinambungan dan merupakan penyempurnaan ajaran sebelumnya sehingga agama Allah tersebut akan mampu menjawab seluruh hajat manusia di pelbagai zaman. yaitu : .Budha (Budhisme) dari nama pembawanya (Sang Budha Gautama). Agama-agama Allah tersebut pada prinsipnya Agama Islam (= agama yang menyerahkan diri hanya kepada Tuhan Yang Satu). Sejak awal sejarah lahirnya manusia.a. dalam sejarah Syeh Maulana Malik Ibrahim menceritakan bahwa masuknya Islam di Jawa Pertama kali dibawa oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim dan sebagai pendiri Pondok Pesantren Pertama di Indonesia.w. Istilah ³Mohammadanisme´ membuka peluang bagi timbulnya berbagai interpretasi serta persepsi terhadap Islam yang diidentikkan dengan agama-agama lain yang jelas berbeda konsepsi. bahkan menurut sumber Tiongkok. sampai Muhammad s. terdapat satu bentuk petunjuk yang berupa wahyu ilahi melalui seorang rasul (agama Allah). berdasarkan ajaran yang mereka bawakan. Mengenai konsep Tuhan Yang Satu dan ajaran penyerahan diri kepada Allah. Mengenai konsep totalitas serta ke-sempurnaan agama Islam maupun keabsahannya dari agama-agama Allah yang lain yang datang sebelumnya. Yahudi (Yuda-isme) dari negerinya (Yudea).s. Perjuangan Wali Songo ´(1999) . karena perbedaan dalam memahami konsep konsep yang bersifat umum dalam masalah-masalah mua¶malah dan bukanlah masalah yang fundamental. Islam sebagai Budaya dalam perspektif masyarakat Jawa.

Slametan Suro (bersih deso). Pengejawantahan dari kelompok sosial Abangan ini dapat dilihat dalam berbagai kepercayaan masyarakat Jawa terhadap berbagai jenis makhluk halus. Santri. Slametan perkawinan. Hindu. dan Priyayi. tiga varian keberagamaan masyarakat Jawa diambil dari istilah yang digunakan oleh orang Jawa sendiri ketika mendefinisikan kategori keagamaan mereka. tentang Agama masyarakat Jawa ini. Model masyarakat inilah yang menjadi obyek dakwah para penyebar agama Islam. Sebagaimana sudah menjadi wacana yang amat familiar dalam dunia akademik. seperti: Slametan kelahiran. dalam penelitian Geertz. walaupun mereka bukan orang Jawa asli tetapi mampu mengantisipasi keadaan masyarakat yang dihadapinya. Dengan definisi itu. yaitu masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan seseorang jatuh sakit atau gila). Deskripsi singkat dari tiap-tiap tipologi keagamaan tadi dapat dikemukakan demikian. Menurut Geertz. lelembut (makhluk halus yang mempunyai sifat kebalikan dari memedi. Geertz menulis sebuah buku yang amat menggemparkan jagat akademik Indonesia: The Religion of Java. Kalangan Abangan juga sangat rajin dalam mengadakan berbagai upacara slametan.seperti yang dikutip diatas. dan sebagainya. kasta waisya. Slametan khitanan. Tampaknya. Santri konservatif atau santri kolot adalah kelompok santri yang cenderung bersikap toleran . Dalam buku yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Abangan. dengan titik kuat pada keyakinan dan keimanan. kalangan santri ini justru sangat patuh terhadap doktrin Islam dan ritual. kasta ksatria dan kasta brahmana. dan Islam. tuyul (makhluk halus yang menyerupai anak anak. yaitu kasta sudra.Orang ± orang Islam yang berpakaian bersih. agaknya kata lain yang lebih cocok untuk menyubstitusi istilah santri adalah Muslim sejati. memaparkan tipologi atau kategori agama masyarakat Jawa melalui tiga varian yang disebutnya: Abangan. tapi bukan manusia). Geertz mendefinisikan santri sebagai orang Islam yang taat pada ajaranajaran atau doktrin agama dan menjalankannya secara taat berdasarkan tuntunan yang diberikan agama. masyarakat Jawa pada umumnya adalah penganut animisme dan dinamisme yang juga sebagai pemeluk agama Hindu/Budha dan berada dibawah pemerintahan kerajaan Mojopahit. Berbeda dengan kalangan Abangan yang cenderung mengabaikan terhadap berbagai ritual Islam. Masyarakat menganut struktur sosial yang berkasta. yaitu ada yang disebut santri konservatif dan santri modern. Slametan kematian. seperti memedi (suatu istilah untuk makhluk halus secara umum). Kedua. Istilah ini didefinisikan oleh Geertz sebagai teologi dan ideologi orang Jawa yang memadukan atau mengintegrasikan unsur-unsur animistik. tipologi Santri ini juga mempunyai sub-sub tipologi atau subvarian. Slametan desa. Santri. hidupnya teratur dan makanannya enak-enak. Pertama. Pada masa itu.

Komunitas muslim itu kemudian memeluk suatu sinkritisme yang menekankan aspek kebudayaan Islam. Sementara itu santri modern adalah mereka yang cenderung meninggalkan ritualitas konservatif tersebut. walau tak hanya disana). menurut Muhaimin (2002) di Jawa. yakni mereka yang mempunyai kaitan langsung dengan raja-raja Jawa dahulu. seperti yang dinyatakan dalam bentuk tembang atau disebut juga dengan istilah wirama. Sementara itu. aspek seni dan kepercayaan priyayi dinyatakan dalam berbagai manifestasi. dapat dikategorikan sebagai kalangan priyayi modern. seperti tradisi slametan. varian ini mengalami pemekaran makna yang cukup signifikan. Tujuan yang hendak dicapai dengan adanya praktik mistik ini adalah mencapai kejernihan pengetahuan yang dalam. yang terdiri atas : a) Abangan. Ketiga. Agama ini hanya menyentuh kulit luar budaya Hindu-Budha-Animistis yang telah berakar kuat. yakni kerajaan Jawa Hindu/Budha. Priyayi. Hasil dari seluruh proses tersebut adalah masyarakat Jawa kontemporer dengan sejumlah kelompok sosio-religiusnya yang rumit. telah berakar kuat di masyarakat Indonesia (khususnya di Jawa. Melalui proses panjang asimilasi secara damai dan berhasil membentuk kantong-kantong masyarakat pedagang di beberapa kota besar dan dikalangan petani kaya. Pengejawantahan dari kelompok sosial priyayi ini dapat dilihat dalam berbagai etiket. Santri konservatif ini juga diindikasikan dengan masih kuatnya mereka berpegang pada rujukan Kitab Kuning dalam kelompok santri konservatif ini. Saat ini. Bahasa lisan terlihat dari tingkatan bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari hari. Fenomena ini juga dijelaskan . religius dan sosial terbesar di Asia. Akibatnya Islam menurut pendapat Geertz.estetika. tapi hanya menyelaraskannya´. melainkan ke salah satu wilayah bentukan politik. yang menekankan unsur sinkritisme Islami dan umumnya berkaitan dengan . b) Santri. C (1975)´ Islam tidak bergerak ke wilayah baru. Bagi masyarakat Jawa. yang walaupun pada masa itu mulai melemah. seni dan praktik mistik. Pengaruh Islam dapat dikatakan tidaklah terlalu besar. mereka yang mempunyai status sosial cukup tinggi. Geertz mendefinisikan priyayi sebagai kelompok orang yang mempunyai garis keturunan (trah) bangsawan atau darah biru. Tampaknya. atau mereka yang masih menitik beratkan unsur animistis dari keseluruhan sinkritisme Jawa dan berkaitan erat dengan elemen petani. ´Islam tidak menyusun bangunan peradaban. Islam adalah Tradisi asing yang dipeluk dan dibawa oleh para saudagar musafir di pesisir.terhadap berbagai praktik keagamaan setempat yang merupakan warisan nenek moyang. baik karena banyak harta atau mempunyai jabatan tertentu. Adapun aspek mistik merupakan kelanjutan dari aspek seni tadi. Etiket di kalangan Priyayi menyangkut bahasa lisan dan bahasa sikap.

saat itu agak emosi karena ada sesuatu yang kurang pas dengan pekerja sawahnya. dan ada pula penyisipan unsur Islam. mereka melanjutkan penggaliannya di tempat itu dengan keyakinan bahwa di tempat ini ada danyangnya (makhluk ghaib yang menjaga tempat itu). Akhirnya. Sehingga Islam melebur dalam budaya masyarakat dan mampu mewarnai setiap gerak kehidupan yang ada tanpa melepaskan akidah dan syariatnya. dimana secara tegas tidak diketahui secara pasti ketika itu. tetapi masih ada lagi pengalaman nyata yang dialami oleh orang-orang Islam lainnya yang ada di Jawa dan bukan menjadi rahasia umum lagi. Keadaan kebudayaan masyarakat ini sebenarnya seirama dengan situasi etnis (suku bangsa) pendatang. besuknya. c) Priyayi. Bahan bacaan : . Pada praktik slametan terkandung berbagai unsur adat lokal dan Islam.wage. mereka mau menggali sumur di tempat sebelahnya. Misalnya . Di situ ada praktik magis berupa kepercayaan kepada roh.pahing kliwon. budaya slametan.elemen pedagang dan dengan elemen petani tertentu. yaitu doa yang dikumandangkan pada saat selesai melakukan acara slemetan. bersih deso. Dimana orang-orang Islam yang ada di Jawa. misalnya. pitonan bayi. la melihat adanya perpaduan antara kepercayaan asli masyarakat Jawa dan kepercayaan Islam yang datang belakangan. Adat istiadat yang berkembang di daerah Jawa tetap bernafaskan Islam.pon. Karena pondasi sudah tidak ada lagi. Mojokerto. dalam praktik slametan yang biasanya dilakukan oleh kalangan Abangan. Kejadian semacam tadi tidak hanya dialami oleh satu orang saja. walaupun bentuk dan tata cara pelaksanaanya berbeda -beda antara satu tempat dengan tempat lain dalam satu desa. Sampai sekarang terlihat bahwa kebudayaan mereka berlatar belakang ajaran Islam. Ketika emosi muncul tiba-tiba galian tanah yang mau dipakai untuk sumur tidak bisa dilanjutkan karena ada pondasi yang terbuat dari batu merah persis batu merah yang ada di candi Trowulan. Adanya kepercayaan animisme/dinamisme. Ternyata pondasi sudah tidak ada lagi. Maka dengan hormatnya mereka mengadakan ritual adat berupa permintaan maaf dan permohonan ijin kepada sang penunggu dengan sesaji berupa slametan. yang menitik beratkan unsur Hinduisme dan berkaitan dengan elemen-elemen birokrat. ketika seseorang menggali sumur. Bahkan juga kesenian dan kebudayaan lainnya turut berkembang sehingga terlihat adanya percampuran antara Hindu dan Islam contoh pagelaran wayang kulit. Sesampainya di sawah. Geertz sampai pada muara kesimpulan bahwa yang dinamakan agama Jawa tidak lain adalah sinkretisme. penerapan penanggalan Jawa : legi. sebagian masih percaya dengan animisme dan dinamisme. Akhirnya mereka berhenti dan pulang. Yang dapat diketahui sesudah berkembangnya agama Islam di Jawa. Hal ini dapat dilihat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->