P. 1
Evaluasi Merupakan Bagian Dari Sistem Manajemen Yaitu an

Evaluasi Merupakan Bagian Dari Sistem Manajemen Yaitu an

|Views: 339|Likes:
Published by lhenymechant

More info:

Published by: lhenymechant on Jan 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2012

pdf

text

original

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.

Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Tulisan ini akan membahas mengenai pengertian evaluasi kurikulum, pentingnya evaluasi kurikulum dan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan evaluasi kurikulum

Just another "perdodolan" anak FKG

³Managemen Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut´
Bab I Pendahuluan Latar Belakang Penyakit gigi dan mulut adalah penyakit termahal keempat dan tertinggi keenam. Ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dari orang-orang untuk menjaga perilakunya dalam merawat kesehatan gigi dan mulut. Banyak aspek yang menyebabkan buruknya perilaku kesehatan gigi dan mulut, seperti ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan. Dari segi ekonomi dapat dilihat dari pemukiman kumuh dan daerah pedalaman. Segi sosial dapat dilihat dari kurangnya sosialisasi tentang kesehatan gigi dan mulut. Selain itu kurangnya tenaga medis yang dibutuhkan (menurut data dari WHO perbandingan dokter gigi dengan masyarakat yang membutuhkan adalah 1:2000; di Indonesia pada tahun 2008 perbandingannya adalah 1:12.000). Dari segi budaya misalnya kesehatan gigi dan mulut masih dipengaruhi oleh kebudayaankebudayaan yang melekat pada diri masyarakat. Contohnya budaya pangur dan sirih. Dilihat dari ilmu pengetahuan, masih banyak dari masyarakat yang belum mengetahui pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sehingga mereka juga tidak mengetahui dampak/efek yang timbul apabila mereka tidak menjaga dan merawat kebersiha gigi dan mulut. Selain itu, ada juga sekelompok masyarakat yang hanya mengetahui tapi tidak paham sehingga mereka tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik dan benar. Pemicu Seorang dokter gigi ditugaskan mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut disuatu wilayah padat penduduk dan wilayah kumuh daerah aliran sungai, yang diketahui bahwa perilaku kesehatan gigi mulut mereka masih sangat terpengaruh oleh kondisi sosial, budaya, dan ekonomi penduduk yang khas wilayah kumuh tersebut. Tugas: Bahas kasus tersebut dari segi managemen perilaku dalam kesehatan gigi dan mulut!

Bab II Tinjauan Pustaka A. Masalah Kesehatan Gigi Mulut Masyarakat, Faktor Resiko, dan Pemecahannya Adanya dan timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat sering kali kita temukan baik di msyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan. Bermacam-macam masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat, misalnya sakit gigi, gigi berlubang, gigi sensitif, gigi goyang, gusi berdarah, sariawan sampai bau mulut. Masalah-masalah tersebut dapat disebabkan berbagai faktor baik intrinsik maupun ekstrinsik, misalnya pengaruh lingkungan, pendidikan, prilaku, ekonomi, sosial, dan budaya. Adapun resiko-resiko yang dapat ditimbulkan, masyarakat di desa tersebut akan mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut secara terus-menerus karena unsur kebudayaan, prilaku masyarakat tersebut akan diturunkan ke generasi selanjutnya. Maka dari situ masyarakat tersebut harus ada prevensinya. Dari masalah diatas harus ada pemecahan. upaya-upaya pemecahannya ada berbagai cara contohnya dengan mengadakan penyuluhan yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat itu (pendekatan terhadap tokoh masyarakat) sendiri karena dengan mengajak para tokoh masyarakat, mungkin masyarakat bisa lebih mengerti dan percaya. B. Sistem Kesehatan dan Subsistem Kesehatan Nasional (SKN) SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. Dari rumusan pengertian di atas, jelaslah SKN tidak hanya menghimpun upaya sektor kesehatan saja melainkan juga upaya dari berbagai sektor lainnya termasuk masyarakat dan swasta. Pada hakikatnya SKN adalah juga merupakan wujud dan sekaligus metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan, yang memadukan berbagai upaya Bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan. Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil-guna dan berdaya-guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sesuai dengan pengertian SKN, SKN terdiri dari enam subsistem, yakni: 1. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi Bangsa Indonesia.

2. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Dukungan dana sangat berpengaruh terhadap pembiayaan kesehatan yang semakin penting dalam menentukan kinerja SKN. Mengingat kompleksnya pembiayaan kesehatan, maka pembiayaan kesehatan merupakan subsistem kedua. 3. Subsistem Sumberdaya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan, diperlukan sumberdaya manusia yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya sesuai tuntutan kebutuhan pembangunan kesehatan. 4. Subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan Permasalahan obat dan perbekalan kesehatan sangat kompleks karena menyangkut aspek mutu, harga, khasiat, keamanan, ketersediaan dan keterjangkauan bagi konsumen kesehatan. 5. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai obyek pembangunan kesehatan, melainkan juga sebagai subyek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting, agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Selain itu, para petugas kesehatan dituntut untuk mampu memberdayakan masyarakat sekitar agar dapat membantu meningkatkan mutu dan kualitas kesehatan, khususnya pada kesehatan gigi dan mulut. 6. Subsistem Manajemen Kesehatan Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, diperlukan manajemen kesehatan. Berhasil atau tidaknya pembangunan kesehatan ditentukan oleh manajemen kesehatan. C. Biaya dan Asuransi Kesehatan Biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau untuk memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok, dan atau masyarakat. Ada dua pihak yang berperan dalam pembiayaan kesehatan, yaitu: 1. Health Provider: biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan. 2. Health consumer: biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa layanan kesehatan. Asuransi adalah suatu perjanjian antara penanggung dan tertanggung. Penganggung, dengan menerima suatu premi mengikkatkan dirinya untuk memberi ganti rugi kepada tertanggung yang

mungkin menderita karena terjadinya suatu perisriwa ketidakpastian yang berakibat kehilangan, kerugian, atau kehilangan suatu keuntungan (kitab Undang-Undang hukum dagang, 1987). Asuransi Kesehatan merupakan salah satu produk asuransi yang secara khusus menjamin biaya kesehatan atau perawatan para anggota asuransi tersebut jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan. D. Kebijakan Kesehatan atau Program Kesehatan Gigi Mulut Masyarakat Kebijakan kesehatan masyarakat dibuat berdasarkan pada visi yang ingin dicapai dan bukti sesuai permasalahan yang nyata ada di masyarakat. Bukti di masyarakat saat ini memperlihatkan masih perlunya upaya promosi kesehatan yang lebih intensif dan berkesinambungan. Banyak program kebijakan kesehatan dari pemerintah dalam menanggulangi masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat, misalnya pemerintah mengadakan posko-posko periksa gigi gratis, program ini dapat menarik minat masyarakat untuk memperhatikan kesehatan gigi mereka, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. Di Indonesia sendiri, ada beberapa kebijakan Pemerintah yang terbaru menyangkut bidang kesehatan & profesi dokter gigi, yaitu :
y y y y

Sistem Kesehatan Nasional (2004) Praktik Kedokteran (2004) Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010 (2000) Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga (2005)

E. Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja. Puskesmas merupakan satuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran aktif masyarakat, menggunakan pengembangan hasil IPTEK tepat guna, biaya dipikul oleh pemerintah dan masyarakat, dan upaya kesehatan pada masyarakat luas Upaya dan azas penyelenggaraan: 1. Upaya kesehatan wajib puskesmas 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan lingkungan 3. Kesehatan ibu dan anak serta KB 4. Perbaikan gizi masyarakat 5. Pencegahan dan pembrantasan penyakit menular 6. Pengobatan Pelayanan kesehatan gilut

-

Pelayanan kedaruratan medik Pelayanan medik rawat jalan 1. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas

Struktur Organisasi 1. Kepala Puskesmas adalah penanggung jawab pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan. 2. Dokter Puskesmas adalah tenaga kesehatan yang berkerja di Puskesmas yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan kepada Masyarakat pada sarana pelayanan kesehatan. 3. Dokter Gigi Puskesmas adalah tenaga kesehatan yang berkerja di puskesmas yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat pada sarana pelayanan kesehatan masayarakat. 4. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik didalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. 5. Bidan adalah wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku. F. Fluoridasi dan Penyikatan Penyikatan gigi itu tidak boleh berlebihan karena jika berlebihan maka akan merusak enamel gigi. Penyikatan gigi itu biasanya dua kali sehari. Pagi,setelah makan dan malam sebelum tidur. Bisa mencegah karies namun jika pengunaan nya berlebihan akan menyebabkan kegangguan gastro intestinal dan keracunan akut.Konsentrasi fluor di dalm air lebih baik 0.7-1.22 ppm. Fluor dapat mencegah metabolism kuman di dalam gigi,mencegah penggunaan pH dan pengunaan enzim yang berguna untuk pembentukan karies. (Hasil-hasil penelitian kesehatan dan kedokteran-Badan penelitian dan pengebangan kesehatran 1198,1999. Tim penyunting : Anorital,SKM , dkk). G. Program Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan Pengorganisasian masyarakat: Adalah suatu proses dimana masyarakat melakukan identifikasi kebutuhan, membuat urutan prioritas, menumbuhkan kemauan dan rasa percaya diri untuk memenuhi kebutuhannya, mencari sumber-sumber baik yang ada di masyarakat maupun yg berasal dr luar dan melakukan tindakan-tindakan untuk memenuhi kebutuhan sambil memperluas dan mengembangkan kerjasama dlm masyarakat. Pengembangan Masyarakat: Adalah proses dimana usaha masyarakat digabungkan dengan usaha pemerintah untuk meningkatkan keadaan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat serta untuk

mengintegrasikan masyarakat dlm kehidupan bangsa yg memungkinkan mereka untuk ikut berkontribusi dlm perkembangan bangsa. Kader: Adalah proses dimana usaha masyarakat digabungkan dengan usaha pemerintah untuk meningkatkan keadaan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat serta untuk mengintegrasikan masyarakat dlm kehidupan bangsa yg memungkinkan mereka untuk ikut berkontribusi dlm perkembangan bangsa. Cara mengoptimalkan kader masyarakat 1. Jangan terlalu ketat membuat pembatasan- pembatasan: kader desa harus memiliki ketrampilan yg dpt menumbuhkan kepercayaan dan penghargaan pd dirinya, pembatasan ketat thd ketrampilan tidak akan memunculkan pemimpin baru di desa. 2. Pembinaan kader desa harus dilakukan secara positif dan berkesinambungan: positif adalah mengembangkan potensi kader baik kepribadian maupun ketrampilan, berkesinambungan berarti pembinaan yang tidak terputus-putus dan tanpa arah. 3. Menumbuhkan dan mengembangkan sistem yang dapat menunjang peran kader desa. Proses dan syarat pemilihan kader masyarakat: 1. pemilihan dapat dengan penyaringan melalui tes kemampuan dan di ambil yang nilainya tertinggi, atau tanpa tes. Kemudian ditanyai kesanggupannya untuk bekerja secara sukarela untuk meluangkan waktu dan tenaga. 2. dapat menulis dan membaca 3. Bersedia, mau dan sanggup untuk bekerja secara sukarela untuk meluangkan waktu dan tenaga lebih dipentingkan dibanding hanya sekedar mampu karena mempunyai pendidikan tinggi atau nilai tes tinggi, karena kegiatan ini dibutuhkan komitmen. 4. pemilihan kader baru dapat dilakukan oleh kader lama sebagai pelaksana dengan dibantu petugas kesehatan gigi dan mulut. Pendidikan non-formal kader desa 1. Materi sesuai dengan kebutuhan setempat (melalui wawancara, observasi dll). 2. Materi disesuaikan dgn kemampuan. Jadi tujuan jelas dan terbatas, bahasa dan istilah sederhana,contoh diambil dr pengalaman peserta dan keadaan sekitar, materi mempunyai dasar dari keadaan sebenarnya. 3. Isi harus praktis sehingga dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 4. Peserta diikutsertakan secara aktif. Tanya jawab bebas, diskusi kelompok, dan praktek lapangan. 5. Kualitas ketrampilan dapat dipertanggung jawabkan. 6. Adanya program sebagai tindak lanjut. Keuntungan masyarakat memiliki kader desa 1. Meningkatkan kualitas kemampuan hingga menumbuhkan pemimpin dan kepemimpinan baru dalam masyarakat.

2. Masyarakat dpt memanfaatkan kegiatan atau fasilitas yang disediakan oleh program secara optimal. 3. Keterlibatan masyarakat menjadi lebih besar sehingga ikut serta berperan aktif dlm menyusun tujuan-tujuan yang akan dicapai. H. Posyandu, UKGMD, dan Posbindu Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak balita. Posyandu adalah wadah pelayanan terpadu yang dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat guna mempercepat peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak dan keluarga. Tujuan Posyandu Menghimpun potensi masyarakat untuk berperan serta secara aktif meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu, bayi,balita dan keluarga serta mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi dan balita. Kegiatan Pelayanan Di Posyandu Kegiatan posyandu dari sisi supply 5 program terpadu. 1. Gizi
y y y y

Pemantauan pertumbuhan, deteksi dini BGM Penyuluhan pemberian ASI Eklusif, MP ASI, makanan seimbang, pemanfaatan tanah pekarangan. Pemberian vitamin A Pebruari dan Agustus Rujukan BGM

2. Pelayanan Imunisasi
y y

Imunisasi rutin bayi Imunisasi TT ibu hamil

3. Pelayanan KIA
y y y

Pengobatan balita sakit Pelayanan antenatal termasuk tablet Fe Deteksi dini tumbuh kembang balita

4. Pelayanan KB
y y

Distribusi alat kontrasepsi ulang Pelayan KB baru

5. Penanggulangan diare melalui distribusi oralit

Pelayanan oleh tenaga kesehatan di posyandu: 1. Imunisasi rutin bayi 2. Penangan balita yang dirujuk kader 3. Penangan balita sakit dengan:
y

Balita dengan gejala batuk, sukar bernafas, diare, demam (malaria,DBD,campak), sakit telinga, BGM, anemia. o Bayi dengan masalah pemberian makan dan berat badan rendah o Konseling pemberian ASI dan MP ASI

1. Deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang balita. 2. Merujuk kasus gizi buruk, sakit berat dan gangguan tumbuh kembang ke tempat yang lebih mampu. 3. Pelayanan ibu hamil dan nifas / buteki, ibu balita:
y y

Pelayanan antenatal termasuk tablet Fe Pelayan KB.

Tugas Kader Tugas kader adalah hal-hal yang perlu dilakukan oleh kader dalam memberikan pelayanan kesehatan di Posyandu. Tugas-tugas kader dalam menyelenggarakan Posyandu dibagi dalam kelompok yaitu: 1. Tugas-tugas kader Posyandu pada H- atau saat persiapan hari buka posyandu, meliputi :
y

y y

y

Menyiapkan alat dan bahan, yaitu alat penimbangan bayi, KMS, alat peraga, LILA, alat pengukur, obat-obat yang dibutuhkan (pil besi, vitamin A, oralit), bahan/materi penyuluhan. Mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu-ibu untuk dating ke posyandu. Menghubungi Pokja Posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa dan meminta mereka untuk memastikan apakah petugas sector bisa hadir pada hari buka posyandu. Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas di antara kader posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

2. Tugas kader pada hari buka Posyandu disebut juga dengan tugas pelayanan 5 meja, meliputi : 1. Meja ± 1, terdiri dari tugas-tugas sebagai berikut:
y y

Mendaftar bayi/balita, yaitu menuliskan nama balita pada KMS dan secarik kertas yang diselipkan pada KMS. Mendaftar ibu hamil, yaitu menuliskan nama ibu hamil pada Formulir atau Register Ibu Hamil.

2. Meja ± 2, terdiri dari tugas-tugas sebagai berikut :
y y

Menimbang bayi/balita Mencatat hasil penimbangan pada secarik kertas yang akan dipindahkan pada KMS

3. Meja ± 3, terdiri dari tugas-tugas sebagai berikut :
y

Mengisi KMS atau memindahkan catatan hasil penimbangan balita dari secarik kertas ke dalam KMS anak tersebut.

4. Meja ± 4, terdiri dari tugas-tugas sebagai berikut :
y y y

y

Menjelaskan data KMS atau keadaan anak berdasarkan data kenaikan berat badan yang digambarkan dalam grafik KMS kepada ibu dari anak yang bersangkutan. Memberikan penyuluhan kepada setiap ibu dengan mengacu pada data KMS anaknya atau dari hasil pengamatan mengenai masalah yang dialami sasaran. Memberikan rujukan ke Puskesmas apabila diperlukan, untuk balita, ibu hamil, dan menyusui berikut ini : Balita : apabila berat badannya di bawah garis merah (BGM) pada KMS, 2 kali berturutturut berat badannya tidak naik, kelihatan sakit (lesu-kurus, busung lapar, mencret, rabun mata, dan sebagainya. Ibu hamil atau menyusui : apabila keadaannya kurus, pucat, bengkakØ kaki, pusing terus-menerus, pendarahan, sesak nafas, gondokan, dan sebagainya. Orang sakit. Memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar oleh kader Posyandu,Ø misalnya pemberian pil tambah darah (pil besi), vitamin A, oralit, dan sebagainya.

5. Meja ± 5, merupakan kegiatan pelayanan sektor yang biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan, PLKB, PPL, dll. Pelayanan yang diberikan antara lain :
y y y y

Pelayanan Imunisasi Pelayanan Keluarga Berencana Pengobatan Pemberian pil tambah darah (pil besi), vitamin A, dan obat-obatan lainnya.

Tugas-tugas kader setelah hari buka Posyandu, meliputi :
y y y y

Memindahkan catatan-catatan dalam Kartu Menuju Sehat ke dalam buku register atau buku bantu kader. Menilai (mengevaluasi) hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan hari Posyandu pada bulan berikutnya. Kegiatan diskusi kelompok (penyuluhan kelompok) bersama ibu-ibu yang rumahnya berdekatan (kelompok dasawisma). Kegiatan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan), sekaligus untuk tindak lanjut dan mengajak ibu-ibu datang ke Posyandu pada kegiatan bulan berikutnya.

Paket Pelayanan Minimal dan Paket Pilihan Posyandu Paket pelayanan minimal posyandu adalah kegiatan-kegiatan dasar yang merupakan tugas utama kader untuk dilaksanakan di Posyandu. Program yang termasuk dalam pelayanan minimal adalah: 1. Bayi dan Anak Balita
y y y y

Penimbangan bulanan dan penyuluhan gizi dan kesehatan. Pemberian paket pertolongan gizi : pemberian vitamin A, pemberian paket Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), dan pemberian makanan tambahan (PMT). Imunisasi dan pemantauan kasus lumpuh layuh Identifikasi gangguan/penyakit, pengobatan sederhana dan rujukan, terutama untuk diare, radang paru-paru (Pneumonia).

2. Ibu Hamil
y y y y

Pemeriksaan kehamilan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu kurang gizi atau Kurang Energi Kronis (KEK). Pemberian tablet tambah darah (pil besi) Penyuluhan tentang gizi dan kesehatan ibu.

3. Ibu Nifas/Menyusui
y y y y y

Pemberian kapsul vitamin A Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pelayanan nifas bagi ibu dan bayinya dan pemberian tablet tambah darah. Pelayanan KB KIE/penyuluhan tentang makanan selama menyusui, ASI Eksklusif, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, pengenalan tanda bahaya dan KB.

Sedangkan Paket Pilihan Posyandu merupakan kegiatan-kegiatan di luar kegiatan dasar yang disesuaikan dengan masalah/kebutuhan yang dirasakan masyarakat di wilayah layanan Posyandu masing-masing.
y y y

Program samijaga dan perbaikan lingkungan pemukiman. Perkembangan anak, termasuk kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Penanggulangan penyakit endemis setempat, misalnya gondok,

demam berdarah dengue (DBD), malaria dll.
y

Usaha Kesehatan Gizi Masyarakat Desa (UKGMD), dan lain-lain.

Sasaran Posyandu Sasaran Posyandu adalah semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar yang ada di Posyandu terutama : § Bayi dan anak balita § Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui § Pasangan Usia Subur (PUS) § Pengasuh Anak Manfaat Posyandu

a. Bagi Masyarakat
y y y y y y y

y

Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi anak balita dan ibu. Pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang/gizi buruk. Bayi dan anak balita mendapatkan kapsul vitamin A. Bayi memperoleh imunisasi lengkap. Ibu hamil juga akan terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah serta imunisasi TT. Ibu nifas memperoleh kapsul vitamin A dan tablet tambah darah. Memperoleh penyuluhan kesehatan yang berkaitan tentang kesehatan ibu dan anak. Apabila terdapat kelaianan pada anak balita, ibu hamil, ibu nifas, dan ibu menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke Puskesmas. Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak balita.

b. Bagi Kader
y y y y

Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lebih lengkap. Ikut berperan secara nyata dalam tumbuh kembang anak balita dan kesehatan ibu Citra diri meningkat di mata masyarakat sebagai orang yang terpercaya dalam bidang kesehatan. Menjadi panutan karena telah mengabdi demi pertumbuhan anak dan kesehatan ibu.

(Sumber : Dinkes Provinsi Jawa Timur DIPA PROGRAM Perbaikan Gizi Masyarakat (2006), Panduan Pelatihan Kader Posyandu; Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa (2006); Buku Pegangan Lembaga Pembina Posyandu, Pemkab Probolinggo; Pusat Promosi Kesehatan (2006), Buku pegangan kader. Depkes RI) Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD) merupakan suatu usaha kesehatan yang serupa dengan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) namun berlokasi pada lingkungan pedesaan. UKGMD merupakan salah satu program dari kegiatan pengembangan Posyandu. Posbindu merupakan singkatan dari Pos Pembinaan Terpadu, program ini berbeda dengan Posyandu, karena Posbindu dikhususkan untuk pembinaan para orang tua baik yang kan memasuki masa lansia maupun yang sudah memasuki masa lansia. Fungsi dan tugas pokok

posbindu itu membina lansia supaya tetap bisa beraktivitas, namun sesuai kondisi usianya (Kepala Seksi Anak Remaja Usia Lanjut Dinas Kesehatan Serang Euis Wangsih pada Pembinaan Kader Posbindu se Kabupaten Serang di Pusat Sumber Belaja). Salah satu sub-komponen dalam Sistem Kesehatan Nasional yang menjadi arah pembangunan sektor kesehatan adalah Sumber Daya Manusia Kesehatan. Tanpa tersedianya sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas, beretika, tersebar secara merata jenis yang rnemadai, maka pembangunan kesehatan tidak akan dapat berjalan secara optimal. Di sisi lain, hidup sehat merupakan kebutuhan dan tuntutan yang semakin meningkat, walaupun pada kenyataannya derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih belum sesuai dengan harapan. Sementara itu pemerintah telah mencanangkan Indonesia Sehat 2010, yang merupakan paradigma baru yaitu paradigma sehat, yang salah satunya menekankan pendekatan promotif dan preventif dalam mengatasi permasalahan kesehatan di masyarakat, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Departemen Kesehatan telah memprogramkan upaya promotif dan preventif untuk anak usia sekolah melalui Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dan untuk masyarakat melalui Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD). Upaya promotif dan preventif paling efektif dilakukan dengan sasaran anak sekolah dasar, karena perawatan kesehatan gigi harus dilakukan sejak dini dan dilakukan secara kontinyu agar menjadi suatu kebiasaan. Disamping itu jumlah masyarakat sekolah dasar ini merupakan komunitas yang terkoordinasi dengan baik dengan jumlah yang sangat besar, yaitu 10.800.130 orang yang dididik melalui 140.741 SD Negeri dn 10.373 SD Swasta (tahun 2001) di seluruh Indonesia. Di sekolahpun ada potensi sumber dana yang dapat digali dan difasilitasi oleh BP3 atau Komite Sekolah untuk mendukung upaya pemeliharaan kesehatan gigi anak sekolah. Untuk dapat melakukan kegiatan pelayanan kesehatan gigi promotif dan preventif di sekolah melalui kerjasama saling menguntungkan antara tenaga kesehatan dengan pihak sekolah (Komite Sekolah) dengan baik, ada tahapan yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan sebagai pelaksana yaitu: 1. Organisasi Banyak pelaku usaha berpandangan bahwa sukses sebuah organisasi usaha tergantung pada modal dan aset yang dimiliki. Namun yang paling penting adalah sumber daya manusia yang memiliki kemampuan prima dan relevan dengan bidang dan profesinya. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan disiapkan untuk kelancaran organisasi (unit pelayanan kesehatan gigi promotif dan preventif) 1. Tenaga : 1. Dokter Gigi, adalah lulusan Fakultas Kedokteran Gigi yang bekerja pada sarana pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif, termasuk dokter gigi yang baru lulus dan memilih bekerja diluar jalur PTT dalam melaksanakan masa pengabdian profesinya sesuai dengan Kepmenkes 1540/Menkes/SK/XII/ 2002 tentang penempatan tenaga medis melalui Masa Bakti dan cara lain

2.

3.

4.

5.

2. Perawat Gigi yang ada di lapangan terdiri dari lulusan Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) dan lulusan Jurusan Kesehatan Gigi (JKG) Politeknik Kesehatan (Poltekkes) yang dulu bernama Akademi kesehatan Gigi(AKG) yang belum bekerja 2. Dana pembiayaan pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif dilakukan secara swadana yang dikelola komite sekolah melalui dana sehat dari murid sekolah, bantuan dari sekolah atau bantuan yang tidak mengikat. Besar kecilnya biaya pelayanan ditentukan oleh jumlah peserta didikdan jenis pelayanan. Kelayakan biaya dipengaruhi oleh kualitas pelayanan, besarnya cakupan jumlah peserta didik yang terlayani, efektifitas dan efisiensi penggunaan bahan dan obat habis pakai. 3. Bentuk pelayanan, secara legal, model pelayanan mandiri kesehatan gigi dan mulut promotif dan preventif harus bernaung dibawah badan hukum yang sah, yaitu bernaung dibawah JKG (Jurusan Kesehatan Gigi), bernaung dibawah dokter gigi yang memiliki ijin praktek, bernaung dibawah yayasan/badan hukum lainnya yang bergerak dibidang kesehatan. 4. Jenis pelayanan, dibuat dalam bentuk paket I, II dan paket III. Perencanaan, Dilakukan sebelum kegiatan pelayanan kesehatan gigi diselenggarakan di sekolah. Perlu dilakukan perencanaan yang matang agar dapat diantisipasi kesulitan-kesulitan teknis maupun administratif pada waktu pelaksanaannya di lapangan, yaitu 1. Melakukan Feasibility Study (Studi Kelayakan) 2. Penyusunan Proposal 3. Penawaran Proposal. Persiapan: 1. Penandatanganan MoU 2. Penyiapan bahan dan alat, 3. Menyusun jadwal kegiatan pelayanan Pelaksanaan: 1. Melakukan kegiatan yang sesuai dengan paket pelayanan yang disepakati, 2. Melakukan pencatatan dan pelaporan. Monitoring dan Evaluasi Monitoring diperlukan sebagai kegiatan pengamatan yang dilakukan secara terus menerus untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan. Evaluasi dilakukan minimal pada setiap semester dengan melakukan analisis terhadap hasil monitoring serta penyimpangan yang terjadi. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pengelola pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif.

Pengembangan Pengembangan Pelayanan Mandiri Kesehatan Gigi dan Mulut Promotif dan Preventif pada hakekatnya meliputi dua aspek, yaitu: Aspek peningkatan mutu.

Pengembangan pelayanan melalui peningkatan mutu pada dasarnya adalah melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan upaya pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif yang meliputi unsur unsur kegiatan operasional (administratif dan teknis) antara lain perbaikan mutu: 1. tenaga 2. alat dan bahan 3. pembiayaan. Aspek peningkatan cakupan. 1. Untuk memperluas cakupan pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif dapat dilakukan dengan cara perbaikan terhadap hubungan lintas sektor dan lintas program terkait, sehingga pelayanan kesehatan gigi dan mulut di sekolah dapat dikembangkan di sekolah-sekolah (SD) lain, yang dimulai di sekolah dasar kemudian dapat dikembangkan ke SMP yang berdekatan. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ditingkat yang lebih luas, pola pendayagunaan perawat gigi dan dokter gigi ini dikembangkan sehingga terjadi replikasi pelayanan serupa di kabupaten, propinsi lain bahkan di seluruh Indonesia. Aspek peningkatan cakupan terdiri dari: 1. 1. Pembinaan, tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan mandiri secara optimal dalam upaya pencapaian tujuan pelayanan. Pembianaan dilakukan dalam 3 kegiatan yaitu: 1. Pembinaan administrasi, 2. Pembinaan Teknis, 3. Pembinaan Sosial. 2. Monitoring dan Evaluasi, diperlukan sebagai kegiatan pengamatan yang dilakukan secara terus menerus untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Evaluasi dilakukan minimal pada setiap semester dengan melakukan analisis terhadap monitoring serta penyimpangan yang terjadi. Sumber: Buletin PPSDM Kesehatan Edisi 5/X/200 I. Manajemen Perilaku Pada pemicu yang telah diberikan, dikatakan bahawa perilaku masyarakat terhadap kesehatan gigi mulut mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya dan ekonomi penduduk yang khas pedesaan. Persepsi masyarakat bahwa sakit gigi tidak perlu segera diobati, penderita pada umumnya datang berobat setelah terjadi pembengkakan pada daerah gusi dan pipi. Rendahnya pengetahuan kesehatan gigi masyarakat, mengakibatkan perilaku mencari pengobatan ke puskesmas maupun Rumah Sakit juga rendah.

Saparinah Sadli (1982) menggambarkan individu dengan lingkungan sosial yang saling mempengaruhi didalam suatu diagram. Dengan keterangan : a. Perilaku kesehatan individu; sikap dan kebiasaan individu yang erat kaitannya dengan lingkungan. b. Lingkungan keluarga; kebiasaan-kebiasaan tiap anggota keluarga mengenai kesehatan. c. Lingkungan terbatas; tradisi, adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat sehubungan dengan kesehatan. d. Lingkungan umum; kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang kesehatan, undang-undang kesehatan, program-program kesehatan, dan sebagainya. Setiap individu sejak lahir terkait didalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Dalam keterkaitannya dengan kelompok ini membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Oleh karena pada setiap kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan atau norma-norma sosial tertentu maka perilaku tiap individu anggota kelompok berlangsung didalam suatu jaringan norma. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan sebagai berikut :
y

Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya. Perilaku sakit (illness behavior), yaitu tindakan atau kegiatan yang dilakukan seorang individu yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Termasuk disini kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut. Perilaku mencari kesembuhan (the sick role behavior), yaitu segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan / kesakitannya sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain terutama kepada anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya.

y

y

Didalam suatu pembentukan dan atau perubahan, perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, proses belajar, lingkungan, dan sebagainya.

Perubahan-perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda meskipun mengamati objek yang sama. Motivasi yang diartikan sebagai suatu dorongan untuk bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan, juga dapat terwujud dalam bentuk perilaku. Perilaku juga dapat timbul karena emosi. Aspek psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani, yang pada hakekatnya merupakan faktor keturunan (bawaan). Manusia dalam mencapai kedewasaan semua aspek tersebut diatas akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan. Belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan. Belajar adalah suatu perubahan perilaku yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku itu dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi 2, yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Bab III Pembahasan Managemen perilaku adalah kemampuan memahami konsep perilaku kesehatan individu dan masyarakat di bidang kesehatan gigi Kesehatan gigi dan mulut adalah mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat menuju kesehatan gigi dan mulut prima. Melakukan survey di daerah tersebut supaya kita bisa mengetahui kondisi derajat kesehatan mereka, misalnya sikat gigi yang baik dan benar berapa kali dalam sehari melalui soal jawab. Pendekatan yang dilakukan dapat dilakukan dengan dua cara: 1. Pendekatan secara sugestif kita melakukan pendekatan pada penduduk di wilayah kumuh tersebut dengan cara menakut-nakuti mereka secara halus agar mereka memiliki keinginan, motivasi, dorongan ataupun kemauan untuk menjaga dan merawat kebersihan gigi dan mulut mereka supaya terhindar dari penyakit-penyakit yang mereka takuti. 1. Pendekatan secara persuasif kita melakukan pendekatan pada penduduk tersebut dengan cara memberikan pengetahuan kepada mereka mengenai kesehatan gigi dan mulut. Bisa dilakukan dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan.

Masukan Proses Output Input Proses pembelajaran ada empat: Kognitif (Pengetahuan) Sikap seseorang bisa berubah karena adanya informasi, dipaksa dari lingkungan, dan keinginan untuk berubah. Proses belajar (ada lupa dan ingat) mencakupi : Trial dan error ± ilmu yang didapat tidak bisa langsung masuk. Gestal ± dari bagian gambar yang sama tetapi pengertiang yang berbeda. Jembatan keledai (singkatan) ± khusus untuk pembelajaran mengingat. Pembanjiran ± pembelajaran secara terus menerus. Ada 5 macam pengetahuan :
y y y y y

Belajar

Keluaran

Pengetahuan Pemahaman Analisa Aplikasi Sintesa

Afektif Sikap yaitu segala sesuatu yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu. Misalnya motivasi dan disiplin. Sikap bukan merupakan perilaku, tidak dapat ditangkap oleh pancaindera tapi bisa diukur menggunakan skala tertentu. Contoh : Kita tidak bisa tahu orang tidak suka sama kita. Sikap yang positif: - cenderung motivasi - cenderung minat baik Motivasi ± intrinsik: melakukan sesuatu untuk mencapai cita-cita. - ekstrinsik: melakukan sesuatu untuk dapat imbalan. ± cenderung disiplin

Perilaku / behaviour Perilaku adalah tindakan dari pengetahuan/sikap yang dapat diamati oleh indera kita. (pengetahuan ± sikap ± perilaku). Sikap yang positif menghasilkan perilaku yang positif. Perilaku sehat ± orang yang mendapat informasi agar dirinya tetap sehat. Perilaku sakit ± orang yang sangat ekstrim. Kalau sakit harus mencari tahu dan mencari cara bagaimana harus mengobatinya. Psikomotorik/keterampilan Dalam memberi penyuluhan kita harus fokus pada orang yang dekat dengan objek (tokoh masyarakat). Tokoh masyarakat sangat berpengaruh makanya kita harus mendekatkan diri agar masyarakat mulai ikutin tokoh (perilaku yang baik.) Komunikasi
y

Satu arah

Komunikasi satu arah yaitu komunikasi yang berlangsung secara tidak aktif. Jadi hanya pembicara yang aktif, pendengar hanya mendengarkan saja (ceramah, pidato).
y

Dua arah

Yaitu komunikasi yang memiliki tujuan tertentu dan memiliki hubungan timbal balik (misalnya tanya jawab). Bab IV Kesimpulan Untuk memperbaiki perilaku kesehatan gigi dan mulut di daerah pemukiman kumuh dekat aliran sungai daerah perkotaan, kita sebagai tenaga medis kesehatan gigi dan mulut harus melakukan survey terlebih dahulu agar kita bisa mengetahui bagaimana keadaan/kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat setempat. Kemudian setelah melakukan survey dan pengamatan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi kesehatan gigi dan mulut daerah tersebut, kita melakukan perencanaan program untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah tersebut. Dalam hal ini, kelompok kami sepakat bahwa untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat di wilayah padat penduduk dan wilayah kumuh daerah aliran sungai, sebagai tenaga medis kita menggunakan pendekatan sugestif. Hal ini dilakukan karena bila kita hanya memberikan informasi tentang apa itu kesehatan gigi dan mulut, apa pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, kemungkinan besar masyarakat tersebut hanya sebatas mengetahuitetapi tidak

mengerti/memahami apa yang sebaiknya mereka lakukan. Jadi kita harus mempengaruhi emosi mereka dengan hal-hal yang nantinya akan menberikan dampak positif bagi mereka. Sebagai contoh kita dapat mengatakan bahwa sakit gigi bisa menyebabkan penyakit jantung dan kencing manis karena banyak orang yang berpikiran bahwa penyakit tersebut adalah penyakit yang sangat menakutkan/mengerikan sehingga mereka akan mencoba dan berusaha menghindari penyakit tersebut dengan cara mulai menjaga dan merawat kesehatan gigi dan mulut mereka. Program-program yang dilakukan untuk memperbaiki perilaku kesehatan gigi dan mulut dapat berupa penyuluhan, pelatihan kader-kader kesehatan gigi dan mulut, dan lain-lain. Setalah program berjalan dengan baik, kita tidak boleh lepas tangan begitu saja. Kita harus tetap memantau secara berkala kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat di daerah tersebut dengan melakukan survey ulang dalam jangka waktu tertentu dan tetap melanjutkan pelatihan kader kesehatan supaya tidak berhenti pada satu titik saja (kader kesehatannya bukan itu-itu saja), tapi berkelanjutan.

3 Votes

~ by littleaboutme on October 20, 2009. Posted in Kuliah oh Kuliah-semester 2 Tags: asuransi kesehatan, Cara mengoptimalkan kader masyarakat, dan Posbindu, kebijakan kesehatan, Kegiatan Pelayanan Di Posyandu, managemen perilaku kesehatan gigi dan mulut, Manfaat Posyandu, masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat, Paket Pelayanan Minimal dan Paket Pilihan Posyandu, Pendidikan non-formal kader desa, perilaku kesehatan, perilaku mencari kesembuhan, perilaku sakit, Posyandu, program kesehatan gigi mulut, Program Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan, Proses pembelajaran, puskesmas, sistem kesehatan dan subsistem kesehatan nasional, SKN, struktur organisasi puskesmas, Subsistem SKN, tujuan SKN, UKGMD, upaya kesehatan wajib puskesmas Like Be the first to like this post.

2 Responses to ³³Managemen Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut´´
1. Saya maw tanya boleh??? 1. Seorang ibu datang dengan keinginan untuk membuat gigi tiruan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ibu tersebut kehilangan smua gigi depan atas. a. Identifikasi gigi insisive dan kaninus atas! b. Jelaskan anatomi gigi insisive atas sesuai dengan tipe muka dan jenis kelamin! c. Sebutkan perbedaannya dengan gigi anterior bawah!

2. Seorang bapak dengan keluahan sakit pada gigi belakang kiri. Bapak tersebut tidak dapat menentukan gigi yang sakit dengan tepat. Pada pemeriksaan terlihat gigi geraham atas dan bawah berlubang. A. Jelaskan perbedaan molar atas dan bawah! B. Tentukan jumlaj dan letak akar molar atas dan bawah! C. Tentukan jumlah dan letak cusp molar atas dan bawah! D. Jelaskan perbedaan gigi premolar atas dan bawah !

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->