P. 1
Manusia Sebagai Makhluk Biologis

Manusia Sebagai Makhluk Biologis

|Views: 1,261|Likes:
Published by Dadan Rusmana

More info:

Published by: Dadan Rusmana on Jan 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2013

pdf

text

original

1

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BIOLOGIS
DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Dadan Rusmana
rusmana_dadan@yahoo.com


Kaum materialis menganggap kehidupan sebagai produk evolusi-alamiah-material
yang sepenuhnya materialistik. Di pihak lain, banyak agamawan yang cenderung
berpandangan bahwa penciptaan terjadi secara seketika dan sekali jadi. Sementara
al-Qur’an memandang penciptaan sebagai sauatu proses yang terus menerus dan
bahwa Allah tidak pernah berhenti mencipta (Murtadha Muthahari)


A. Penelusuran Linguistik
Al-Qur’an menggunakan tiga kata utama yang menunjuk pada konsep manusia,
yakni 1) menggunakan kata basyar; 2) menggunakan kata yang berakar pada huruf alif,
nun, dan sin, yakni insân, nâs, dan unas; dan 3) menggunakan frase/kolokasi (idhâfah)
banî Âdam dan dzurriyyât Âdam. Dari semua kata yang ada tersebut, kata insân dan
basyar menempati posisi dominan dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, penjelasan
mengenai tema ”manusia sebagai makhluk biologis” di atas akan banyak
mengaitkannya dengan kedua kata kunci (key-terms) tersebut, yakni kata insân dan
basyar. Secara umum, berdasarkan hasil penelitian Aisyah Bintu Syati, pengunaan kata
nâs, ins, insân, dan basyar dalam al-Qur’an mempunyai makna spesifik tertentu,
sekalipun semuanya sama-sama mengacu pada objek yang sama, yaitu manusia.
Menurutnya, kata yang dipergunakan oleh al-Qur’an untuk menunjuk pada manusia
sebagai makhluk biologi adalah basyar.
1. Al-Nâs, al-Ins, dan al-Insân
Kata al-nâs yang disebut dalam al-Qur’an pada 24 tempat, dengan tegas
menunjukkan nama jenis makhluk hidup bagi keturunan Adam atau menunjuk pada
keseluruhan makhluk hidup secara mutlak. Sedangkan kata ins dan insân, sebagai dua
kata yang musytarak (mempunyai sisi kesamaan), memiliki makna ”jinak” yang
berantonim dengan makna ”liar”.
Kata al-ins selalu disebut bersamaan dengan kata jin (sebagai antonimnya).
Beberapa ayat menggunakan kata al-ins, seperti dalam QS al-An’âm ayat 112, 127, dan
130, dipergunakan untuk menunjukkan arti ”tidak liar” atau ”tidak biadab”, dalam
artian tidak bersifat metafisik (bebas, karena tidak mengenal ruang dan waktu),
melainkan manusia sebagai al-ins terkerangkakan oleh ruang dan waktu.
Sedangkan kata al-insân, pada satu sisi memiliki makna yang sama dengan al-ins
yakni untuk menunjuk manusia sebagai makhluk yang ”tidak liar”, yakni terbatasi
oleh ruang dan waktu. Secara spesifik makna al-insân, menurut Aisyah Bint Syathi,
merujuk pada tingginya derajat manusia yang membuatnya layak menjadi khalifah di
atas bumi dan mampu memikul akibat-akibat taklif (tugas keagamaan), serta memikul
amanat. Hal ini dapat dilakukan manusia karena manusia memiliki keistimewaan ilmu,
pandai berbicara, mempunyai qalb, dan kemampuannya untuk berfikir. Kemampuan
inilah yang menempatkannya lebih tinggi derajatnya dibanding makhluk Allah
lainnya.

2
2. Basyar
Kata basyar, sebagaimana disebutkan dalam Mu'jam Maqāyīsu al-Lughah terdiri
dari huruf ba, syiin dan ra' yang menunjukan makna dasar ”penampakan yang berisi
kebaikan dan keindahan.” Dalam Mu'jam al-Wasit kata basyara-busyran (fariha; gembira),
basyira (bi al- khabar; kabar gembira). Basyura-basyāratu (hasuna wa jamula; kebaikan dan
keindahan). Dari akar kata yang sama lahirlah kata basyarah yaitu kulit. Manusia
dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit makhluk hidup
lainnya (terutama tumbuhan dan binatang).
Abdullah Abbas Nadwi mengemukakan dalam kamus Vocabulary of the Holy
Qur'an) kata basyar jika digabungkan dengan dhamîr seperti basyarū (they gave good
tidings; mereka memberi kabar gembira), yang aslinya basyara-tabsyīran (to give good
news; untuk memberikan kabar baik/gembira), basyartum, basyaruna, yubasyaru,
tubasyaru, tubasyirūna, nubasyiru (you give, we gave , he gives, you give dan we give
good tidings; kamu, kita, dia laki-laki, kamu dan kita memberi kabar gembira). Dari
kata-kata tersebut lahit juga kata basyarun (human being; manusia). Busyrun-busyran
(bearing good news; membawa kabar baik/gembira).
1

Menurut Ahmad Warson Munawwir dalam kamus Al-Munawwir, Kamus Arab-
Indonesia memberi padanan kata basyar dengan ”manusia, kabar gembira, menguliti.”
Kata-kata basyar mempunyai makna makna dan bentuk yang berbeda-beda. Basyara-
busyran (mengupas, menguliti, memotong tipis sampai kelihatan kulitnya), basyāral
amra (mengurus, mengendalikan), basyāral mar'ata (mengauli), istabsyara (optimis),
istabsyara bih (merasa senang, bersuka hati dengan), al-Bisyru (kegembiraan,
kesenangan), al-Basyaru (manusia), Abul basyari (Nabi Adam a.s), al-basyariyu (bersifat
manusia), al-Basyariyatu (kemanusiaan), at-Tabāsyīru- al-busyra (kabar gembira).
2

Pendapat John Penrice, B. A. kata basyara (to peel of the bark; menguliti kulit
kayu), busyurun wa busyrun (a bringer of good tidings; membawa kabar gembira/baik),
basyarun (a man, men, human being, masculine and feminime, sing and plur; laki-laki,
manusia, laki-laki dan perempuan, mufrad dan jamak), busyra (good news; kabar
baik/gembira), basyīrun (bearer of good tidings; memberi kabar gembira), mubasysyirun
(one who announces joy full new; seseorang yang mengumummkan atau
memberitakan), bāsyirun (to goin unto- a wife; menggauli istri), absyara (to receive
pleasure from good new- with ب of thing; menerima kesenangan dari berita/kabar
gembira), istabsyara (to rejoice, especially in good new- with ب ; menggembirakan,
sepesial dalam kabar yang baik).
3

Kata basyar bisa diartikan manusia atau penciptaan manusia baik itu satu orang
atau banyak. Pendapat Ibnu Saidah basyar adalah manusia satu dan banyak, laki-laki
dan perempuan sama saja. Namun jika menunjukan pada dua orang basyaraini (dalam
Al-Quran), maka jamaknya adalah absyāru. Basyaratu sesuatu yang diatas kulit kepala,
wajah, dan jasad dari manusia, yaitu yang diatasnya rambut, dikatakan basyaratu itu
adalah daging (kulit). Pendapat Ibnu Bazarji al-basyaru jamaknya basyarah jadi

1
Abdullah Abbas Nadwi, Vocabulary of the Holy Qur'an. IQRA International Education
Foundation, Jeddah 1983.
2
Ahmad Wrson Munawwir, al-Munawwir(Kamus Arab-Indonesia, Yogyakarta, 1984. hal: 92-93.
3
John Penrice, B.A., Dictionary and Glossary of the Koran (نا·-'ا -·'-- · ن'--'ا ´'-), Curzon Press,
London and Dublin, 1873.
3
maknanya sudah jelas yaitu kulit. Manusia diidentikan dengan kulit dan disebut basyar
karena kulit manusia berbeda dengan kulit binatang lainnya.
4

Dalam al-Qur’an, penggunaan kata basyar sendiri dan derivasinya dapat
dipetakan sebagai berikut:
a) Kata basyar dalam bentuk mufrad disebutkan 36 kali, baik dalam bentuk harakat
nashab, rafa’, dan majrur. Kata tersebut terdapat dalam surah: kata basyar
bentuk mufrad dalam harakat nashab; Hud: 27, Yusuf: 31, al-Hijr: 28, al-Isra’: 93
dan 94, Maryam: 17, al-Mu’minun: 34, al-Furqan: 54, Sad: 71, dan Al-Qamar:
24. Sedangkan kata basyar yang berbentuk mufrad dalam tataran harakat marfu'
terdapat dalam surah: Ali 'Imran: 47, al-Ma'idah: 18, Ibrahim: 10-11, an-Nahl:
103, al-Kahfi: 110, Maryam: 20, al-Anbiya': 3, al-Mu'minun: 24 dan 33, asy-
Syuura': 154 dan 186, ar-Rum: 20, Yasiin: 15, Fussilat: 5, dan at-Thalaq:6. Dan
yang berharakat majrur dalam bentuk mufrad terdapat dalam surah: Ali 'Imran:
79, al-An'am: 91, al-Hijr: 33, Maryam: 26, al-Anbiya': 34, asy-Syuura': 51, dan al-
Muddassir: 25, 29, 31, dan 36.
b) Sementara itu, kata basyar dalam bentuk mutsana ( ﻦﻳﺮـﺸﺑ) dalam al-Quran hanya
disebutkan satu kali yaitu terdapat dalam surah al-Mu'minun: 47.
c) Kata basyar dalam bentuk jamak mudzakar salim (rafa, nasab dan jar) dan
jamak muanas salim, di antaranya: a) Kata basyar dalam bentuk jamak yang
menunjukkan jamak mudzakar salim bentuk nasab dan jar (ﻦﻳﺮﺸﺒﻣ) dengan ciri ي
dan ن terdapat dalam surah Al-Baqarah: 213, An-Nisaa: 165, dan Al-Kahfi: 56.
b) Kata basyar dalam bentuk jamak yang menunjukkan jamak mudzakar salim
bentuk rafa' ( ﻥﻭﺮـﺸﺒﺘﺸﻳ) dengan ciri و dan ن terdapat dalam surah Al-Imran: 170-
171, at-Taubah: 124, Al-Hijr: 54, Ar-Rum: 48, Az-Zumar: 45. c) Kata basyar
dalam bentuk jamak yang menunjukkan jamak muanas salim bentuk ( ﺕﺍﺮـﺸﺒﻣ)
dengan ciri alif (ا) dan ta' (ت) terdapat dalam surah Ar-Rum: 46.
d) Kata basyar dalam bentuk jamak yang di-idhafat-kan dengan kata ganti orang
ke-tiga ( ﻢﻫﺮﺸﺒﻳ , ﻢﻫﺮﺸﺒﻓ ) terdapat dalam surah At-Taubah ayat 21 berbentuk ﻢﻫﺮـﺸﺒﻳ
Ali-Imrân: 21, al-Taubah: 34, al-Insyiqaaq: ayat 24 berbentuk ﻢﻫﺮﺸﺒﻓ
Kata basyar yang paling dominan dipakai dalam al-Quran adalah bentuk al-
basyaru yang merujuk pada makhluk hidup yang dinamai ”manusia” dan terkadang
dimaknasi sebagai orang dewasa. Pemaknaan ini sangat tergantung pada konteks
kalimat dan budaya dari penggunaan kata tersebut, baik secara sintagmatik maupun
paradigmatik. Kata basyar dalam bentuk al-busyra/basyir (kabar gembira) kata ini juga
tergantung redaksi dan makna yang dikandung oleh ayat. Misalnya, adakalanya
referent yang dituju oleh kata basyir adalah Muhammad, al-Quran, atau putra Ya'qub.
5

Menurut Aisyah Bint Syathi, kata basyar dalam al-Qur’an mengacu pada makna
”anak keturunan Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek
fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak keturunan Adam secara
keseluruhan. Dari 35 ayat al-Qur’an yang menggunakan basyar, 25 di antaranya adalah
menyangkut sisi kemanusiaan pada rasul dan nabi dengan dilengkapi teks yang
menunjukkan kata perumpamaan ka (seperti). Kata bansyar yang menunjukkan
kesamaan sisi kemanusiaan rasul dengan kesamaan kemanusiaan orang kafir disebut

4
Al-Imāmu 'alāmatu Jamālu ad-Dīn Abi al-Fadli M.M. Lisanul Arabi(ب··'ا ن'-'), jilid 4. Daarul
Kitab Al-'Alamiyah. Mesir.
5
Siti Chamamah Suratno, Ensiklopedi Al-Quran (Dunia Islam Modern), PT. Dana Bhakyi
Primayasa. Yogyakarta, 2002-2003. Jilid A-B-C.
4
dalam al-Qur’an di 13 tempat, baik melalui kutipan langsung maupun melalui
pernyataan orang-orang kafir yang mendustakan kenabian dan kerasulan, bahwa para
nabi dan rasul, secara fisik, mempunyai kesamaan fisikal dan biologis sebagaimana
manusia lainnya.
!Β ΝγŠ.!ƒ Β ,2Œ Β Νγ.¯‘ .‰>’Χ āω| νθ`-ϑ.`™¦ ¯Νδ´ρ βθ.-=ƒ ∩⊄∪ π´ŠδŸω ¯Νγ.θ=% ¦ρ•¸.¦´ρ “´θ>Ζ9¦
%!¦ ¦θΗ>L ¯≅δ ¦‹≈δ āω| ",:· ¯Ν6=:Β šχθ.!.·¦ ,`>.9¦ `Ο.Ρ¦´ρ šχρ¸.¯.. ∩⊂∪ Α!% ’.´‘ `Ν=-ƒ
Α¯θ)9¦ ’· !ϑ´.9¦ ¯‘{¦´ρ ´θδ´ρ ׋ϑ´.9¦ `ΟŠ=-9¦ ∩⊆∪ ¯≅. ¦θ9!% ±≈-.¦ Ο≈=>¦ ≅. µ1´¸.·¦ ¯≅. ´θδ ",s! :
!´Ζ.!´Š=· πƒ!↔. !ϑŸ2 Ÿ≅™¯‘¦ βθ9ρ{¦ ∩∈∪ !Β ·´ΖΒ¦´ Νγ=¯.% Β π ƒ¯,% !γ≈Ψ3=δ¦ ¯Νγ·¦ šχθ`ΖΒσ`ƒ ∩∉∪
!Β´ρ !´Ζ=™¯‘¦ š=¯.% āω| ωl>‘ -θœΡ ¯Νκ¯Ž9| ¦θ=↔`.· Ÿ≅δ¦ ,2%!¦ β| `Ο.Ζ. Ÿω šχθϑ=-. ∩∠∪ ! Β´ρ
¯Νγ≈Ψ=-> ¦´‰.> āω βθ=2!ƒ Π!-L9¦ !Β´ρ ¦θΡl. $#≈> ∩∇∪
(2). tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan
mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (3). (lagi) hati mereka
dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini
tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu,
Padahal kamu menyaksikannya?" (4) berkatalah Muhammad (kepada mereka): "Tuhanku
mengetahui semua Perkataan di langit dan di bumi dan Dialah yang Maha mendengar lagi
Maha Mengetahui". (5). bahkan mereka berkata (pula): "(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi
yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan Dia sendiri seorang penyair, Maka hendaknya ia
mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana Rasul-rasul yang telah lalu di-utus". (6)
tidak ada (penduduk) suatu negeripun yang beriman yang Kami telah membinasakannya
sebeIum mereka; Maka Apakah mereka akan beriman? (7). Kami tiada mengutus Rasul Rasul
sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (8). dan
tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu
orang-orang yang kekal (QS al-Anbiyâ [21]:2-8)


B. Penciptaan dan Proses Reproduksi Manusia
Jika kata insân disepakati mengacu pada konsep manusia, maka dapat dikatakan
bahwa al-Qur’an telah sejak awal menyinggung persoalan manusia, yakni melalui
surat al-’alaq ayat 1 sampai ayat 5. Ayat-ayat ini merupakan wahyu pertama yang
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, melalui rûh al-amîn (sering
diidentikkan dengan malak/malâikah Jibril). Kita dapat mencermati kemultidimensian
dari korpus wahyu pertama sebagaimana di bawah ini
¦,%¦ Ο`™!. 7.´‘ “%!¦ ,=> ∩⊇∪ ,=> ´≈.Σ}¦ Β ,=s ∩⊄∪ ¦,%¦ 7š.´‘´ρ `Π,.{¦ ∩⊂∪ “%!¦ ´Ο‾=.
Ο=)9!. ∩⊆∪ ´Ο‾=. ´≈.Σ}¦ !Β `Ο9 Λ>-ƒ ∩∈∪
1). Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; 2). Dia telah menciptakan
manusia dari ‘alaq; 3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah; 4). yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam; 5) Dia mengajar kepada manusia apa-apa yang tidak
diketahuinya.

Wahyu pertama di atas menyebut kata insân sebanyak dua kali, namun kedua-
duanya tidak secara langsung berbicara mengenai konsep manusia secara utuh,
sebagaimana buku sains, namun tidak juga harus ditempatkan sebagai konsep yang
parsial. Tetapi hal itu disajikan dalam konteks realasional-komprehensif-universal,
5
sesuai dengan karakteristik keuniversalan al-Qur’an itu sendiri. Sekalipun dalam ayat-
ayat ini dgunakan kata insân, namun secara sintagmatik karena dikaitkan dengan kata
’alaq, maka ayat-ayat ini dapat diposisikan sebagai rujukan dari konsep manusia
sebagai makhluk biologis. Ayat kedua, khusunya, bertujuan untuk mengingatkan
manusia akan asal-usul manusia itu sendiri; secara fisik, semua manusia itu sama,
yakni berasal dari ’alaq yang kemudian melalui proses biologis dengan tahapan-
tahapan tertentu sampailah manusia sebagaimana makhluk hidup di dunia ini.
Pertama, kata insân yang terdapat pada penggalan pertama (ayat 1 dan 2),
terutama ayat kedua dihubungkan dengan kata ’alaq. Kata ’alaq di sini dapat dimaknai
sebagai 1) bahan dasar (asal usul) manusia atau 2) pula dapat dimaknai sebagai
karakteristik (sifat) manusia, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian tulisan
selanjutnya. Namun, keduanya dapat dihubungkan dengan konsep manusia sebagai
makhluk biologis. Namun, pembacaan terhadap kata insân ini tidak dapat hanya
dipenggal untuk keperluan itu, karena penggunaannya dikaitkan pula dengan konteks
yang lebih luas, yakni 1) perintah membaca atas nama atau demi nama Tuhan 2)
Salah satu sifat Allah adalah yang menciptakan (khalaq) insân dari ’alaq. Secara
simplistis, kata insân di sini dapat didudukkan sebagai objek kedua dari keharusan
Nabi Muhammad saw. (dan manusia secara keseluruhan) untuk melakukan qirâah
atau istiqrâ (dalam konsep yang sebenarnya), setelah memikirkan objek pertama yakni
rabb. Namun, keterbatasan kemampuan manusia untuk memikirkan objek pertama
secara langsung, maka memikirkan objek kedua (sebagai sesuatu yang konkret), yakni
asal-usul atau sifat manusia, dapat mengantarkan atau berujung pada pengenalan
terhadap rabb.
Kedua, pada penggalan bagian kedua (yakni ayat ke-3 hingga ke-5), kata insân
dihubungkan dengan keharusan manusia untuk meneruskan kewajibannya untuk
membaca. Membaca di sini dihubungkan dengan konteks ke-Maha-Pemurah-an
Tuhan, yakni karena telah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahui
manusia melalui kalam (berarti ada proses yang harus dilalui dalam pembelajaran).
Penggalan ayat-ayat ini secara jelas menyebutkan proses ta’lim (pembelajaran), sumber
pembelajaran atau pengetahuan (Allah), subjek-objek pembelajaran (manusia), media
pembelajaran (kalam), dan lain-lain. Jika hal-hal ini disepakati, maka bagian kedua ini
pun tetap dapat dikaitkan dengan tema yang sedang kita bahas.
Ayat 2 surat al-’Alaq menyebutkan bahwa insân (manusia) diciptakan (khalaqa)
oleh Allah dari ’alaq. Ayat ini menegaskan bahwa insân (manusia) ”ada” karena
diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, dalam paparan di bawah ini akan diuraikan
mengenai kedua kata tersebut.
1. Makna Khalaqa
Kata yang digunakan untuk menunjukkan aktivitas menciptakan di sini adalah
khalaqa. Dalam al-Qur’an, kata ini dipergunakan sebagai salah satu kata yang
bermakna ”penciptaan”. Karena selain kata khalaqa, terdapat beberapa kata lain yang
bersinonim dan bermakna ”penciptaan”, yakni ja’ala, shana’a, bada’a, fathara, ’amar, dan
nasy’. Tiap kata tersebut bersinonim secara relatif, tidak tergantikan oleh yang lainnya,
serta mempunyai konteks makna tersendiri. Tulisan ini tidak berpretensi untuk
memperdalam semua kata tersebut, namun akan difokuskan untuk mendeskripsikan
penggunaan kata khalaqa saja.
6
Dalam al-Qur’an, kata khalq dengan berbagai perubahan bentuk (tashrif) nya
digunakan sebanyak 261 kali yang tersebar dalam 75 surat.
6
Beberapa bentukan dari
kata khalq tersebut adalah ikhtilâq
7
, khalâq
8
, khuluq
9
, dan mukhallaqat; dan semuanya
terkait dengan makna penciptaan dan kreasi. Dari keempat bentukan kata khalq di
atas, bentuk mukhallaqat (ism) merupakan bentuk yang terkait dengan penciptaan insân
(manusia). Kata mukhallaqat ini misalnya tertuang dalam surat al-Hajj (22) ayat 5.
dalam surat ini, kata mukhallaqat di sebut dua kali dan bermakna ciptaan yang
sempurna. Ibn Abbas memaknai mukhallaqat sebagai khalq tamâm (ciptaan yang
sempurna)
10
; al-Zamakhsyari melengkapiya dengan menambahkan bahwa mukhallaqat
bermaknia ”ciptaan yang sempurna dan terhindar dari kekurangan dan cacat”. Lebih
lanjut, al-Zamakhsyari menyebutkan bahwa Allah menciptakan janin dalam rahim
perempuan dengan berproses (berkembang atau menyurut), di antaranya ada yang
sempurna ciptaannya dan terbebas dari cacat, sementara yang lainnya ada yang tidak
sempurna ciptaaanya.
11

Khalq dalam bentuk mukhallaqat mempunyai makna dasar yaitu al-taqdîr al-
Mustaqîm
12
(ukuran atau ketentuan yang tetap, tepat, dan proporsional). Hal ini berarti
penciptaan dengan menggunakan kata khalaqa menurut asalnya mengharuskan
adanya substansi sebagai bahannya, termasuk dalam penciptaan manusia. Dengan
menelisik objek pemakaian kata ini secara cermat, maka dapat dikatakan bahwa
1) Apabila objeknya adalah alam semesta, maka al-Qur’an tidak menjelaskan
secara rinci tentang penciptaannya apakah ia diciptakan dari tiada atau dari
materi yang sudah ada; (lihat misalnya QS al-An’am [6]:73, al-A’râf [7]:73 dan
54).
2) Apabila objeknya adalah penciptaan manusia, jin, dan hewan (atau selain alam
semesta), maka kata khalaqa bermakna penciptaan sesuatu dari materi yang
sudah ada (îjâd al-syai’ min al-syai’). Misalnya, a) penciptaan manusia berasal dari
thin (misalnya QS al-Mukminûn [23] ayat 12), nuthfah (misalnya QS al-Nahl [16]
ayat 4), atau shalshal (misalnya QS al-Rahmân [55] ayat 14; b) penciptaan
jin/iblis berasal dari nâr (misalnya QS al-Rahmân [55] ayat 15 dan QS Shâd [38]
ayat 76) atau nâr al-samûm (misalnya QS al-Hijr [15] ayat 27); c) penciptaan jenis
hewan dari mâ (air) (misalnya dalam QS al-Nûr [24] ayat 45.

6
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqiy, Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim, Dar al-Fikr,
Beirut, 1987, halaman 241-244
7
Ikhtilâq (Mashdar bab sulâsiy mazid dua huruf), seperti terdapat dalam surat Shad (38) ayat 7. Ibn
Manzhur
7
dan al-Razy memaknai kata ikhtilâq di sini dengan takharrus atau kidzb (dusta).
8
Khalâq (al-sifat al-musyabahat), seperti terdapat dalam surat al-Baqarah (2) ayat 102 dan 200.
Menurut Ibn Manzhur kata khalâq bermakna al-hazhzh wa al-nashib min al-khair wa al-shalâh atau
keuntungan.
9
Khuluq (ism), seperti terdapat dalam al-syu’arâ (26) ayat 137 dan al-Qalam (68):4. Kata khuluq di
sini merupakan bentuk mufrad (tunggal) dari akhlâq yang bermakna al-sajjiyyat (akhlak atau budi
pekerti). Kedua ayat di atas bermakna pujian kepada Nabi Muhammad saw. yang memiliki akhlak yang
mulia. Masing-masing juga muncul sebagai penolakan terhadap penegasian orang-orang kepada akhlak
Nabi yang disebut oleh mereka sebagai gila (majnûn, asâthir al-awwalin, atau kâhin).
10
Abiy Thâhir ibn Ya’kub al-Fairûzâbâdiy, Tanwir al-Miqbâs min Tafsîr ibn Abbas, Dâr al-Fikr,
Beirut, t.t., halaman 277
11
Abiy al-Qâsim Jâr Allah Mahmûd ibn ‘Umar al-Zamakhsyari al-Khawarizmiy, Al-Kasysyâf ‘an
Haqâiq al-Tanzil wa ‘Uyûn Aqâwil fiy Wujûh al-Ta’wîl,
12
Al-Raghib al-Ashfahâniy, Mu’jam al-Mufradât li Alfâdz al-Qur’ân, Dâr al-Fikr, Beirut, 1972,
halaman 158. Lihat juga Al-Raghib al-Ashfahâniy, Al-Mufradât fiy al-Gharîb al-Qur’ân, Dâr al-Ma’ârif,
Beirut, t.t., halaman 157.
7

Kata khalq juga dipergunakan untuk penciptaan yang menunjukkan aksesntuasi
pada kemahakuasaan dan kehebatan ciptaan Allah. Dengan kesempurnaan kudrat dan
iradat-Nya, Allah menciptakan apa saja yang sudah diundangkannya sesuai dengan
proporsi atau ukuran yang sudah ditetapkan-Nya, walaupun proses dan sebab-
sebabnya tidak atau belum terjangkau oleh nalar manusiawi. Dapat saja penciptaan
tersebut dianggap tidak lazim oleh manusia seperti dalam kasus kelahiran Nabi Isa
a.s. sebagaimana terdapat dalam QS Ali Imrân (3) ayat 47. Dalam ayat ini, Allah
menggunakan kata khalaqa untuk mengekspresikan kelahiran Nabi isa yang lahir dari
seorang ibu tanpa ayah, yang prosesnya menyimpang atau berbeda dari proses
kebiasaan yang lazim di kalangan manusia. Sementara dalam QS Ali Imrân (3) ayat
40, al-Qur’an menggunakan kata ja’ala untuk mengekspresikan kelahiran Yahya a.s.
dari sepasang suami istri, yang proses kelahirannya sebagaimana lazimnya proses
kelahiran manusia biasa.
Atas dasar inilah, dalam al-Qur’an, Allah diberikan sifat atau nama dengan al-
Khâliq atau al-Khallâq; kedua nama ini hanya diatributkan kepada Allah dan tidak
diberikan pada makhluk. Kata al-Khâliq (ism al-fâil) terdapat dalam tujuh tempat
(misalnya QS al-An’âm [6] ayat 102 dan QS al-Ra’d [13] ayat 16), sementara al-Khallâq
(al-mubâlaghat) hanya muncul dalam dua tempat (al-Hijr [15] ayat 86 dan Yâsîn [36]
ayat 81). Al-Khâliq dipergunakan untuk ”mempertegas tentang kemahapenciptaan
Allah, sedangkan al-Khallâq dipergunakan untuk penekanan, penegasan, dan
pengadaan sifat dari objek yang sejati.
Sekalipun demikian, terdapat eksseptional penggunaaan khalaqa ini, yakni
ditemukan redaksi yang sama antara kata khalaqa dan ja’ala, seperti khalaqa minhâ
zaujahâ (dalam QS al-Nisâ [4] ayat 1 dan ja’ala minhâ zaujahâ (dalam QS al-A’râf [7]
ayat 189 dan al-Zumar [39] ayat 6). Penggunaan kedua kata (khalaqa dan ja’ala) di sini
merujuk pada pemaknaan yang sama
13
, yakni dimaksudkan menggambarkan
kemahakuasaan dan kehebatan Allah dalam penciptaan pasangan Adam (atau dikenal
dengan nama Hawa). Dalam hal ini, penciptaan Hawa begitu unik, tidak sebagaimana
dikenal manusia. Penciptaan Hawa berasal dari materi yang sudah ada sebelumnya
seperti diisyaratkan nafs wâhidat (nafs wâhidat dapat dimaknai dari materi yang satu
atau materi yang sama.
Pada sisi yang lain, penggunaan kata khalaqa juga menunjukkan bahwa
penciptaan yang mempergunakan kata khalaqa adalah penciptaan yang bersifat
gradual (tadrij). Pandangan ini dapat diamati terutama pada proses penciptaan alam
yang mempunyai tahapan atau periodesasi dan setiap tahapan tersebut menuju ke
arah kesempurnaan, yang akhirnya terjadilah alam semesta. Demikian juga dengan
penciptaan manusia yang berasal dari pencampuran atau penghimpunan antara
spermatozoa laki-laki dan ovum perempuan kemudian berkembang menjadi embrio,
janin, dan terjadinya manusia.

2. Proses Penciptaan Manusia
a. Pola Narasi al-Qur’an tentang Penciptaan Manusia
Al-Qur’an menguraikan penciptaan manusia dengan dua pola. Pertama, ketika
membicarakan penciptaan manusia pertama, al-Qur’an menggunakan pengganti nama
(dhamîr) tunggal (mufrad), yang merujuk pada sang Pencipta (khâlik). Misalnya

13
Al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf…, halaman 4.
8
Œ| Α!% 7•.´‘ π3×‾≈=ϑ=9 ’Τ| ´ ,=≈> ¦¸:· Β L ∩∠⊇∪
(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan
manusia dari tanah" (QS Shâd (38) ayat 71)

Α!% Š=¯.¦‾≈ƒ !Β 7-´ΖΒ β¦ ‰>`.· !ϑ9 ·)=> ´“‰´‹. .¸.3.`™¦ Π¦ ·Ζ. ´Β ,!!-9¦ ∩∠∈∪
Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan
dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk
orang-orang yang (lebih) tinggi?" (QS Shâd (38) ayat 75).


Sedangkan ketika membicarakan tentang penciptaan atau reproduksi manusia
secara umum, Yang Maha Pencipta (Allah) ditunjuk dengan menggunakan bentuk
jamak (plural). Misalnya
‰)9 !´Ζ)=> ´≈.Σ}¦ ’· .>¦ Οƒθ). ∩⊆∪
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (al-Thîn (95)
ayat 4).

Hal ini meunjukkan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan
proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia secara umum, melalui proses
keterlibatan Allah bersama selain-Nya, terutama ibu dan bapak. Keterlibatan ibu dan
bapak mempunyai pengaruh menyangkut gen, fisik, dan psikis anak. Sedangkan
dalam penciptaan Adam, tidak terdapat keterlibatan lain termasuk ibu dan bapak.

b. Bahan dasar Manusia
Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa secara umum segala makhluk hidup
(biologis) tercipta dari air (QS al-Anbiyâ [21] ayat 30; QS al-An’âm [6] ayat 99; dan
QS al-Nûr [24] ayat 45).
`Ο9´ρ¦ ,ƒ %!¦ ¦ρ`,±. β¦ .≡´θ≈ϑ´.9¦ ´¯‘{¦´ρ !.ΡlŸ2 !).´‘ !ϑγ≈Ψ).±· !Ψ=->´ρ ´Β
!ϑ9¦ ≅. `: ¯- Ÿξ·¦ βθ`ΖΒσ`ƒ ∩⊂⊃∪
Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari
air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
(QS al-Anbiyâ [21] ayat 30)

Al-Juba’i, sebagaimana dikutip al-Râzî, menyebutkan bahwa penciptaan
manusia sebagai makhluk biologis berbeda dengan penciptaan makhluk lainnya.
Manusia diciptakan di surga yang terletak di langit ketujuh, di luar planet bumi.
14

Dengan demikian, kulla sya’in di dalam ayat di atas, tidak termasuk Adam dan hawa.
Namun demikian pendapat al-Juba’î tersebut dibantah oleh Abu al-Qâsin al-Balkhi
dan Abu Muslim al-Isfahânî; karena menurut mereka, dengan berbagai analisis
pendukung, kata al-jannah dalam konteks penciptaan manusia pertama (Adam) masih
berada di planet bumi.

14
Al-Râzî, Tafsir al-Râzi, jilid I, halaman 452.
9
Berdasarkan pada beberapa ayat di atas dapat diambil penjelasan bahwa
penciptaan manusia berasal dari sesuatu atau materi yang sudah ada, bukan
penciptaan dari nihil (ketiadaan) sama sekali. Pada umumnya para mufassir
sependapat dengan pandangan ini. Mereka mendasarkan pendapatnya pada arti dasar
atau asal kata khalq, yakni al-taqdîr (penetapan, ukuran).
15
Namun demikian, bahan
dasar penciptaan manusia diekspresikan dengan cara yang bervariatif. Jika ditelusuri
secara cermat, maka tampaknya al-Qur’an menggunakan 12 istilah yang dapat
dianggap sebagai substansi kejadian manusia, yaitu 1) al-Mâ’ (air), 2) al-’ard (tanah,
bumi), 3) al-thurâb (tanah gemuk), 4) al-Thîn (tanah lempung), 5) thîn lâzib (tanah
lempung yang pekat), 6) shalshâl ka al-fakhkhâr (tanah lempung seperti tembikar), 7)
shalshâl min hamâin masnûn (tanah lempung dari lumpur yang dicetak), 8) sulâlat min al-
thîn (sari pati dari lempung), 9) maniy yumnâ (mani/sperma yang ditumpahkan), 10)
nuthfat amsâj (cairan mani yang bercampur), 11) mâin mahîn (cairan yang hina), dan
12) nafs wâhid (diri yang satu).
Menurut al-Râzi, jenis-jenis tanah dan air penyusun substansi manusia yang
disebutkan dalam al-Qur’an tersebut tidaklah saling bertentangan antara satu jenis
dengan jenis lainnya. Tetapi jenis-jenis tanah dan air tersebut disebutkan sesuai
dengan proses penciptaan manusia. Semula manusia diciptakan dari thurâb (debu),
kemudian berproses menjadi thîn (tanah), kemudian berproses menjadi seperti
lumpur yang dicetak (hamâin masnûn), kemudian menjadi lempung seperti tembikar
(shalshâl ka al-fakhkhâr). Sedangkan penyebutan jenis air, seperti manîy yumna (mani
yang ditumpahkan), nuthfat amsâj (cairan mani yang bercampur), dan mâ mahîn (cairan
yang hina) merujuk pada asal-usul reproduksi manusia sebagai anak cucu adam.
Hasil penelitian sains telah membuktikan juga bahwa jasad manusia tersusun
dari sel-sel yang terbentuk dari bagian-bagian yang disebut organel yang tersusun dari
molekul-molekul senyawa unsur-unsur kimiawi yang terdapat di bumi. Oleh karena
itu, Ahmad Baiquni menafsirkan sulâlat dalam surat al-Mukminûn (23) ayat 12 denan
sari atau ekstrak yang berasal dari tanah.
16
Dengan demikian, informasi al-Qur’an
mengenai bahan dasar biologis manusia ini tidak saling bertentangan.

c. Penciptaan Manusia Pertama
Al-Qur’an tidak memerinci secara detail mengenai proses kejadian manusia
pertama (Adam). Yang disampaikannya dalam konteks ini adalah a) bahan dasarnya
adalah tanah, b) bahan tersebut telah disempurnakan, c) setelah proses
penyempurnaan selesai, ditiupkan kepadanya ruh Ilahi (QS al-Hijr [115]:28-29; Shâd
[38]: 71-72). Al-Qur’an tidak menyinggung secara detail kapan dan bagaimana proses
penciptaannya dari awal hingga penyempurnaannya.
Terdapat banyak pemikiran ulama yang berusaha mengelaborasi mengenai
proses penciptaan ini. Di antaranya, terdapat beberapa pemikir muslim yang
berkesimpulan bahwa manusia diciptakan melalui fase dan tahapan evolusi tertentu,
dan bahwa terdapat kronologi, fase, dan tahapan tertentu menyangkut penciptaan
manusia, sebagaimana penciptaan alam. Mereka di antaranya adalah para filosof
emansi, yakni al-Farabi (783-950 M), Ibn Sina, Ibn Miskawaih (w. 1030). Selain
mereka adalah Ibn Khaldun (1332-1406 M) dan Ibn Bathuthah. Mereka dapat
disebut sebagai para pemikir evolusionis-muslim yang lahir sebelum lahirnya teori

15
Lihat misalnya, al-Thabâthbâiy, Al-Mîzân fiy al-Tafsîr al-Qur’ân, jilid XII, Mu’assasat li al-
Mathbu’ât, Beirut, 1983, halaman 15.
16
Ahmad Baiquni, Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern,
10
Lamark dan Darwin (1804-1872). Namun tentu saja rumusan dari aksioma, proposisi,
dan teori dari masing-masing pemikir muslim tersebut berbeda dengan rumusan dari
Lamark dan Darwin.
Dalam hal ini, Muhammad Abduh, yang lahir pada masa modenisasi awal dunia
Islam, menyatakan bahwa seandainya teori Darwin tentang proses penciptaan
manusia dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, maka tidak ada alasan dari
kaum Muslim untuk menolaknya. Karena al-Quran hanya menjelaskan proses awal,
pertengahan, dan akhir dari penciptaan manusia (dan tentunya alam), sedangkan apa
yang terjadi pada masa transisi dari pertama ke pertengahan serta masa transisi dari
pertengahan ke akhir tidak dijelaskan.

d. Tahapan Penciptaan manusia

!㕃!‾≈ƒ '!Ζ9¦ β| `Ο.Ζ. ’· .ƒ´‘ ´Β ±-.9¦ !‾Ρ¦· /3≈Ψ)=> Β .¦,. ¯Ν. Β π±LœΡ ¯Ν. Β π)=. ¯Ο. Β
π-.•Β π)‾=ƒ’Χ ¸¯s´ρ π)‾=ƒΧ .`Ψ9 ¯Ν39 ”,)Ρ´ρ ’· Θl>¯‘{¦ !Β '!:Σ ´’<| ≅>¦ ‘¯Κ.•Β ¯Ν. ¯Ν3`>,ƒΥ ξ±L ¯Ο.
¦θ-=¯..9 ¯Ν2´‰:¦ Ν6ΖΒ´ρ Β †‾·´θ .`ƒ Ν6ΖΒ´ρ Β –Š,`ƒ ´’<| ΑŒ¯‘¦ ,ϑ`-9¦ Ÿξ‹69 ´Ν=-ƒ Β ‰-. Ν=.
!↔‹: “,.´ρ š⇓¯‘{¦ ο‰Β!δ ¦Œ¦· !´Ζ9“Ρ¦ !γŠ=. ´! ϑ9¦ .”.δ¦ ·.´‘´ρ ·..Ρ¦´ρ Β ≅2 ~ρ— ~Šγ. ∩∈∪
5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah)
Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian
dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,
kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu
ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,
supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat
bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan
suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

‰)9´ρ !Ψ)=> ´≈.Σ}¦ Β '#≈=™ Β L ∩⊇⊄∪ ¯Ν. µ≈Ψ=-> π±LΡ ’· ‘¦,% 3Β ∩⊇⊂∪ ¯Ο. !´Ζ)=> π±L‘Ζ9¦
π)=. !´Ζ)=‚· π)=-9¦ π-.`Β !´Ζ)= ‚· π-.ϑ9¦ !ϑ≈Ls !Ρ¯θ.3· ´Ο≈L-9¦ !ϑ>: ¯Ο. µ≈Ρ!:Σ¦ !)=> ,>¦´
8´‘!..· ´<¦ .>¦ )=≈ƒ:¦ ∩⊇⊆∪
(12). dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
(13). kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
(14) kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS al-Mukminûn [23]:12-14)

Kedua ayat di atas berbicara tentang tahapan reproduksi manusia, tetapi ayat ini
dipergunakan untuk menyadarkan manusia tentang al-ba’ts hari kebangkitan (dan
peristiwa eskatologis umum lainnya). Dalam hal ini, al-Qur’an menggunakan jadâli-
burhani (demonstratif) dalam proses penyadaran manusia tentang kedudukannya di
hadapan Allah dan di antara alam semesta. Dalam hal fokus mengenai proses
reproduksinya, asal muasalm manusia secara umum mengalami tahapan-tahapan
kimiawi dan biologis tertentu sesuai dengan sunnatullah-Nya.
11
Disebutkan bahwa tahapan-tahapan proses reproduksi manusia tersebut adalah:









Disebutkan pada wahyu pertama, bahawa insân diciptakan dari atau bersifat
’alaq. Jika ’alaq dimaknai sebagai bahan dasar manusia, maka ayat tersebut dapat
dipergunakan sebagai dasar mengenai asal-usul struktur biologis manusia; namun jika
’alaq di sana dimaknai sebagai sifat, maka ayat tersebut dimaknai bahwa ”manusia
diciptakan dengan sifat yang mempunyai ketergantungan dan atau saling tergantung”,
maka ayat tersebut dapat ditempatkan sebagai dar mengenai karekateristik psikis dan
sosial manusia. Namun dalam kaitan dengan tema di atas, ’alaq di dalam ayat tersebut
akan ditempatkan pada konteks bahan dasar reproduksi manusia.
Perkataan Arab ’alaq atau ’alaqah mempunyai tiga arti, yaitu 1) Lintah, 2) sesuatu
yang mengambang atau menggantung, dan 3) segumpal darah. Dengan kemampuan
berpikir dan pengetahuan sains yang berkembang pada masayarakat Arab masa awal
dan pertengahan, kata ’alaq lebih banyak dimaknai dengan makna derivasinya, yakni
dimaknai sebagai ”segumpal darah”, namun dengan perkembangan sains modern,
pemaknaan ’alaq atau ’alaqah tidak hanya dimaknai demikian. Sesuai dengan temua-
temuan ilmiah dalam bidang sain tersebut, beberapa ahli menyebutkan bahwa ketiga
makna kata’alaq atau ’alaqah dapat dipergunakan untuk menunjuk proses reproduksi
manusia.
Pertama, kata ’alaq atau ’alaqah yang bermakna awal ”lintah” dapat dipergunakan
untuk menyebut fase tertentu, yakni ketika fase embrio tertentu yang bentuknya
menyerupai lintah. Kedua, arti kedua ’alaq atau ’alaqah adalah barang yang
mengambang atau bergantung, dapat dipergunakan untuk sebutan bagi proses
mengambangnya zygot (bakal embrio) di saluran Palopi atau sebutan bagi proses
menempelnya zygot di dingding uterus (rahim) ibu. Ketiga, makna ’alaq atau ’alaqah
yang ketiga adalah segumpal darah, dapat dipergunakan untuk menyebut ”proses
internal yang terjadi di dalam embrio, seperti pembentukan darah dalam ”tabung
tertutup”, sampai siklus metabolisme diselesaikan melalui placenta (ari-ari). Selama
tingkat ini, darah terperangkap dalam tabung-tabung tertutup dan karena itu embrio
memperoleh bentuk segumpal darah, sebagai tambahan terhadap bentuk lintah.
Ketiga fase reproduksi manusia itu digambarkan oleh al-Qur’an dengan kata yang
simpel, yaitu ’alaq atau ’alaqah.

Pada saat bertemunya ovum (dzat hidup) dan sperma (dzat hidup) menjadi
zygot (menjelma menjadi dzat hidup lain), kehidupan sebagai makhluk biologis
berlangsung. Sedangkan, kehidupan sebagai calon manusia (janin) berlangsung ketika
sesudah ruh ditiupkan.
Sementara proses biologis berlangsung, pada saat yang sama Allah
melengkapinya dengan ruh, indera, dan kelengkapan-kelengkapan bagian dalam
tubuh lainnya, sebagaimana disebutkan di dalam QS al-Sajdah (32) ayat 9:
Turab atau
Sulâla min
thîn
Nuthfah
(fî qarâr al-
makîn)
‘Alaqah
Thifl Nufikho al-
Rûh
Mudghah ‘idzâm lahm
Nuqirru fî
al-arhâm
12
¯Ο. µ1¯θ™ ‡±Ρ´ρ µŠ· Β µ>ρ•‘ Ÿ≅->´ρ `Ν39 ×ϑ´.9¦ ,≈.¯.{¦´ρ ο‰↔·{¦´ρ ξ‹=% !Β šχρ`,6:· ∩∪
kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur (QS al-Sajdah [32]:9).


C. Kelengkapan Manusia Sebagai Makhluk Biologis

!Β ΝγŠ.!ƒ Β ,2Œ Β Νγ.¯‘ .‰>’Χ āω| νθ`-ϑ.`™¦ ¯Νδ´ρ βθ.-=ƒ ∩⊄∪ π´ŠδŸω ¯Νγ.θ=% ¦ρ•¸.¦´ρ “´θ>Ζ9¦
%!¦ ¦θΗ>L ¯≅δ ¦‹≈δ āω| ",:· ¯Ν6=:Β šχθ.!.·¦ ,`>.9¦ `Ο.Ρ¦´ρ šχρ¸.¯.. ∩⊂∪ Α!% ’.´‘ `Ν=-ƒ
Α¯θ)9¦ ’· !ϑ´.9¦ ¯‘{¦´ρ ´θδ´ρ ׋ϑ´.9¦ `ΟŠ=-9¦ ∩⊆∪ ¯≅. ¦θ9!% ±≈-.¦ Ο≈=>¦ ≅. µ1´¸.·¦ ¯≅. ´θδ ",s! :
!´Ζ.!´Š=· πƒ!↔. !ϑŸ2 Ÿ≅™¯‘¦ βθ9ρ{¦ ∩∈∪ !Β ·´ΖΒ¦´ Νγ=¯.% Β π ƒ¯,% !γ≈Ψ3=δ¦ ¯Νγ·¦ šχθ`ΖΒσ`ƒ ∩∉∪
!Β´ρ !´Ζ=™¯‘¦ š=¯.% āω| ωl>‘ -θœΡ ¯Νκ¯Ž9| ¦θ=↔`.· Ÿ≅δ¦ ,2%!¦ β| `Ο.Ζ. Ÿω šχθϑ=-. ∩∠∪ ! Β´ρ
¯Νγ≈Ψ=-> ¦´‰.> āω βθ=2!ƒ Π!-L9¦ !Β´ρ ¦θΡl. $#≈> ∩∇∪
(2). tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan
mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (3). (lagi) hati mereka
dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini
tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu,
Padahal kamu menyaksikannya?" (4) berkatalah Muhammad (kepada mereka): "Tuhanku
mengetahui semua Perkataan di langit dan di bumi dan Dialah yang Maha mendengar lagi
Maha Mengetahui". (5). bahkan mereka berkata (pula): "(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi
yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan Dia sendiri seorang penyair, Maka hendaknya ia
mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana Rasul-rasul yang telah lalu di-utus". (6)
tidak ada (penduduk) suatu negeripun yang beriman yang Kami telah membinasakannya
sebeIum mereka; Maka Apakah mereka akan beriman? (7). Kami tiada mengutus Rasul Rasul
sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (8). dan
tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu
orang-orang yang kekal (QS al-Anbiyâ [21]:2-8)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Nabi atau Rasul, secara fisikal, memiliki
struktur tubuh atau fisik yang sama dengan manusia secara umumnya. Untuk
menunjukkan hal tersebut, al-Qur’an mengunakan kata basyar. Dalam ayat ini,
disebutkan beberapa karakteristik dan aktivitas fisikal dari rasul (sebagaimana
manusia lainnya), yakni 1) memiliki tubuh dengan berbagai fungsinya, 2) memakan
makanan, dan 3) mereka tidak kekal. Dengan demikian, secara fisikal, tubuh nabi dan
rasul mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan alamiah sesuai dengan
mengikuti sunnatullah yang telah ditentukan.
Secara fisik, manusia merupakan makhluk yang mempunyai struktur fisik
(hampir) sama dengan binatang, tentu saja dengan disertai pandangan bahwa struktur
fisik manusia telah diciptakan secara terukur, proporsional, sempurna, dan potensial.
Dalam al-Qur’an, struktur fisik manusia tidaklah dideskripsikan secara sistematis,
karena sekali lagi, murad Allah dari al-Qur’an tidak dimaksudkan untuk keperluan itu
(atau untuk sains). Penjelasan mengenai kelengkapan fisik manusia dalam al-Qur’an
13
tersebar di berbagai tempat. Beberapa ayat dikutip untuk menunjukkan tentang
struktur fisik, terutama dimunculkan dalam konteks potensi-fungsionalnya.

´θδ´ρ “%!¦ !:Σ¦ '/39 ×ϑ´.9¦ ,≈.¯.{¦´ρ ο‰↔·{¦´ρ ξ‹=% !Β βρ`,3:· ∩∠∇∪
Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati.
Amat sedikitlah kamu bersyukur (QS al-Mukminûn [23]: 78).

‰)9´ρ !Ρ¦´‘Œ ´ΟΨγ>9 ¦¸.Ÿ2 š∅Β ´>:¦ Ρ}¦´ρ ¯Νλ; '.θ=% āω šχθγ)±ƒ !κ. ¯Νλ;´ρ `s¦ āω βρ¸.¯.`ƒ !κ.
¯Νλ;´ρ β¦Œ¦´ āω βθ`-´Κ`.„ !κ. 7×‾≈9`ρ¦ Ο≈-Ρ{l. ¯≅. ¯Νδ ‘≅.¦ 7×‾≈9`ρ¦ `Νδ šχθ=±≈-9¦ ∩⊇∠∪

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-
ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah
orang-orang yang lalai (al-A’râf (7):

Dari ayat di atas, setidaknya kelangkapan fisik yang dimiliki oleh manusia adalah
1) udûn dengan fungsi al-sam’, 2) ’ain dengan fungsi al-bashar, dan 3) qalb dan atau al-
af’idah dengan fungsi yafqahu. Dari ayat di atas, setidaknya, dapat diambil hubungan
antara instrumen fisik manusia, terutama udûn dengan fungsi al-sam’, serta ’ain dengan
fungsi al-bashar, dengan proses pengetahuan manusia. Fungsi isntrumen pendengaran
(auditorial) lebih muncul dahulu dibanding dengan fungsi instrumen penglihatan
(visual). Dengan kata lain, pengetahuan manusia dicapai lebih awal melalui
pendengaran dibanding dari penglihatan. Hal ini dapat dijadikan salah satu dasar bagi
pembelajaran bagi janin dalam kadungan atau masa pra-natal. Bahwa janin dalam
rahim sudah dapat mendengar suara atau apa yang dibacakan oleh lingkungannya.
Selain dilengkapi kelengkapan fisik dan fungsinya, al-Qur’an cukup banyak
membicarakan mengenai struktur non fisik,sifat manusia, dan potensinya. Adapun
kelengkapan non fisik yang dimaksud adalah 1) Rûh atau Hayah, 2) Nafs, 3) Qalb, 4)
’Aql. Ditemukan sejumlah ayat yang secara eksplisit maupun implisit menjelaskan
mengenai potensi keunggulan dan potensi kelemahan manusia. Misalnya, Ditemukan
cukup banyak ayat al-Qur’an yang memuji dan memuliakan manusia, seperti
kesempurnaan penciptaan manusia (QS Thîn [95]:5), dan penegasan tentang
kemuliaan manusia dibanding lainnya (QS al-Isrâ [17]:70). Di sisi lain, al-Qur’an juga
menyitir sejumlah celaan Tuhan terhadap manusia, seperti celaan Allah bahwa
manusia amat aniaya dan tidak pandai bersyukur (QS Ibrâhîm [14] ayat 34), sangat
suka membantah (QS al-Kahf [118] ayat 54), dan bersifat keluh kesah lagi kikir (QS
al-Ma’ârij [70] ayat 19).


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->