IV E

S NEGERI SE MA ITA RS

N RA

UN

G

UNNES

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008

BAHASA INDONESIA
(SMA)

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON XII UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2008

REKTOR NEGERISEMARANG UNIVERSITAS SAMBUTAN REKTOR

As s alamu' alailstm Warahmatutlahi Wab arakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur tidak putus selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dzat yang maha tinggi, atas rakhmat dan ilmuNya yang diturunkan kepada umat manusia. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2OO7, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan

pelaksanaan uji melalui portofolio.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan portofolio, bagi peserta yang belum dinyatakan lulus, LP|K Rayon merekomendasikan alternatif : (1) melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (2) mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru ( PLPG ) yang diakhiri dengan ujian. Penyelenggaraan PLPG telah distandardisasikan oleh Konsorsium Sertilikasi Guru ( KSG ) Jakarta dalam bentuk pedoman PLPG secara Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Panitia Sertifikasi Guru ( PSG ) Rayon 12 dalam rangka standardisasi penyelenggaraan PLPG mulai penyediaan tempat, ruang kelas, jumlah jam, sistem penilaian, kualitas instruktur dan ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar yang ada di tangan Saudara ini salah satu upaya PSG Rayon 12 dalam memenuhi

standard pelaksanaan PLPG secara nasional untuk itu saya menyambut dengan baik atas terbitnya Bahan Ajar PLPG ini. Sukses PLPG tidak hanya tergantung ketersediaan buku, kualitas instruktur, sarana prasarana yang disediakan namun lebih daripada itu dengan baik sejak adalah kesiapan peserta baik mental maupun fisik, untuk itu harapan saya para peserta PLPG telah menyiapkannya keberangkatannya dari rumah masing-masing. Pada kesempatan ini ijinkan saya, memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dosen/lnstruktur yang telah berkontribusi dan berusaha men)rusun buku ini, agar dapat membantu guru menempuh program PLPG dalam rangka sertihkasi guru. Buku ini menggunakan pilihan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan seksama. Akhirnya kepada khalayak pembaca saya ucapkan selamat menikmati buku ini, semoga dapat memperoleh manfaat yang sebanyakbanyaknya.

Rektor Universitas Negeri Semarang

Sudijono Sastroatmodjo

BUKU AJAR

PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU

PENDAHULUAN
Fakta tentang kualitas guru menunjukkan bahwa sedikitnya 50 persen guru di Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standardisasi pendidikan nasional (SPN). Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia belum memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar pada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SMP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan pada bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM guru kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia. Untuk itu, perlu dibangun landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal (Toharudin 2006:1). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Rektor UNJ sebagai berikut. "Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," (Sutjipto dalam Jurnalnet, 16/10/2005). Fakta lain yang diungkap oleh Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Djalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai nol untuk materi mata pelajaran yang sesungguhnya mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Fakta itu terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu. Secara nasional, penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak mencapai 50 persen dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi guru. Beliau juga mengatakan skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga memprihatinkan. Guru PPKN, sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sosiologi, geografi, dan pendidikan seni

1-2

Pengembangan Profesionalitas Guru

hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari 40 soal. "Artinya, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 46 untuk skor nilai tertinggi 100," (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006). Mengacu pada data kasar kondisi guru saat ini tentulah kita sangat prihatin dengan buruknya kompetensi guru itu. Padahal, memasuki tahun 2006 tuntutan minimal kepada siswa untuk memenuhi syarat kelulusan harus menguasai 42,5 persen. Untuk itu, layak kiranya pada tulisan ini dicari format bagaimanakah seharusnya mengembangkan guru yang profesional?

A. Guru sebagai Profesi Djojonegoro (1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesilaisasi, (2) kemampuan untuk

memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus) yang dimiliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills (1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan/jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Usman (1990:4) mengatakan bahwa guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu: (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-3

pekerjaan yang dilaksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki obyek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan siswanya, dan (8) diakui di masyarakat karena memang diperlukan jasanya di

masyarakat. Pengertian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur terpenting dalam sebuah profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus, untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme adalah guru yang kompeten (memiliki kemampuan) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesi keguruan.

B. Kompetensi Guru Sejalan dengan uraian pengertian kompetensi guru di atas, Sahertian (1990:4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan,

penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang calon guru agar menguasai kompetensi guru dengan mengikuti pendidikan khusus yang

diselenggarakan oleh LPTK. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut: (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan guru menguasai pengetahuan serta keterampilan/keahlian kependidikan dan

pengatahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang

1-4

Pengembangan Profesionalitas Guru

pelaksanaannya pengajar.

berhubungan

dengan

tugas-tugasnya

sebagai

Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru setelah program sarjana atau D4. Kompetensi pribadi meliputi: (1) pengembangan kepribadian, (2) berinteraksi dan berkomunikasi, (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, (4) melaksanakan administrasi sekolah, (5) melaksanakan tulisan sederhana untuk keperluan pengajaran.

1. Kompetensi Profesional Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter). Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b)

penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-5

membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman,

penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju. Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.

1-6

Pengembangan Profesionalitas Guru

Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut

perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas

seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat

penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat

meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan

Yang perlu diperhatikan di sini adalah. Kompetensi Paedagogik Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat. perkembangan fisik dan psikis anak didik. mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa. guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa. meski guru sangat disiplin. ciri anak didik dan perkembangannya. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. tingkat pemikiran. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana. sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini. Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. Guru diharapkan memahami sifat-sifat. menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik. 3.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-7 rumah. tahu ilmu . ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar. mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. Pertama. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan. karakter.

Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya. Ketiga. Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata. diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan. Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut. diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif. guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. . (4) melaksanakan program pembelajaran. dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran. guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. (3) menyusun program pembelajaran.1-8 Pengembangan Profesionalitas Guru psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran. maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. (2) menguasai bahan pembelajaran. Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis. Kedua.

raga. 1995). (2) memiliki toleransi pada orang lain. Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence). pendekatan komperehensif. lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-9 4. dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain. dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. musik. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. ruang. 1998). atau pendekatan multidisiplin. Hanya saja. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti . mungkin beberapa di antaranya menonjol. Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki. Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain. 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas. Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik. bahasa. beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong. Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi. alam. 1994). pribadi. sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika. Uniknya lagi.

bekerja sama. kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. misalnya. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru. (4) tanggung jawab sebagai warga. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen. (7) kedewasaan dalam bekreasi. (9) berempati. (5) kepemimpinan. atau perusahaan. (13) menerima perbedaan. (12) solusi konflik. (8) berbagi. menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan. (11) toleransi. dan memberi kepada orang lain. dan (15) komunikasi. bergaul. ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial. Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. (10) kepedulian kepada sesama. (6) relawan sosial.1-10 Pengembangan Profesionalitas Guru karier di masyarakat. lembaga. Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu.com). yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. Beberapa dimensi ini. baik finansial maupun non finansial. (14) kerja sama. (3) peran dalam kegiatan kelompok. yaitu: (1) kerja tim. (2) melihat peluang. berempati. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita. Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik. dan pengendalian diri yang menonjol. dapat kita saring dari konsep life skills (www. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama. Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi.lifeskills4kids. .

Dari ketiga komponen tersebut. Memimpikan Guru yang Profesional Untuk memperbaiki kualitas pendidikan. dan kurikulum merupakan tiga komponen utama pendidikan. baik di dalam dan di luar sekolah dengan menggunakan bahan ajar. Sertifikasi kompetensi guru sebagai tindak lanjut dari UndangUndang ini menyisakan persoalan sebagaimana disampaikan Mendiknas pada media masa pada saat pengesahan Undang-Undang ini. serta tidak dapat dipisahkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. Jumlah guru di Indonesia saat ini 2. Sejak awal gagasan pembuatan RUU Guru dan Dosen dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk mengangkat martabat guru dalam memajukan pendidikan nasional. Ketiga komponen ini saling terkait dan saling mempengaruhi.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-11 C. Guru. jauh dari cukup sehingga tidak sedikit guru yang mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. . faktor gurulah yang dinilai sebagai satu faktor yang paling penting dan strategis. Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang ini (hingga disahkan pada 6 Desember 2005) tersirat keinginan Pemerintah untuk memperbaiki wajah suram nasib guru dari sisi kesejahteraan dan profesionalisme. peserta didik. dan hanya sebagian kecil guru dari sekolah negeri dan sekolah elit yang hidup berkecukupan. dan menjadikan profesi ini menjadi pilihan utama bagi generasi guru berikutnya (Situmorang dan Budyanto 2005:1). antara lain kesepahaman akan ukuran uji kompetensi guru. Mengandalkan penghasilan dan profesi guru. pemerintah telah memberikan perhatian khusus dengan merumuskan sebuah UndangUndang yang mengatur profesi guru dan dosen. baik yang terdapat di dalam kurikulum nasional maupun kurikulum lokal.2 juta orang. karena di tangan para gurulah proses belajar dan mengajar dilaksanakan.

dibentuk. Dedi Supriadi dalam bukunya yang bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan (secara amat jelas) tentang makna profesi. James M.1-12 Pengembangan Profesionalitas Guru Untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif. tanggung jawab. dalam tulisannya bertajuk “The teachers as a Decision Maker”. strategi. dipupuk dan dikembangkan melalui satu proses. melakukan pembimbingan dan pelatihan. strategi. mengawali dengan satu pertanyaan menggelitik “what is teacher?”. Proses. kebijakan. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Demikian pula. Cooper. tetapi harus dibangun. guru harus memiliki kemampuan profesionalisme yang dapat dihandalkan. Sebagai contoh. profesionalisme. yakni orangnya dan kinerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Misalnya. . menilai hasil pembelajaran. Cooper menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan tetang guru dari aspek pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga profesional. profesional. Profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat kinerja seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu. dan program pembinaan guru di masa lalu perlu dirumuskan kembali (Suparlan 2006:1). atau dia bekerja secara profesional. guru sebagai profesi yang amat mulia. serta melakukan tulisan dan pengabdian kepada masyarakat. dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu. Profesional menunjuk dua hal. kebijakan dan program yang tepat. dan profesionalitas sebagai berikut ini Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian. seorang profesional muda. Kemampuan profesionalisme yang handal tersebut tidak dibawa sejak lahir oleh calon guru.

yang ditandai dengan adanya standar kompetensi tertentu. adanya pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi tertentu yang berbeda dengan profesi lain. semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi. juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotannya menyelenggarakan layanan keahlian yang terbaik yang dapat diberikan (Suparlan. ‘berilah aku hakim dan jaksa yang baik. dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan kompetitiflah seleksi yang secara efektif. yang dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun akan dapat dihasilkan keputusan yang baik’. Dalam dunia yang sedemikian maju. di samping melindungi kepentingan anggotanya. Soerjadi (2001:1-2) menyebutkan beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi. insinyur. guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus. seperti dokter. Kedua. memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan pekerjaan profesional tersebut. Guru merupakan tenaga profesional dalam bidang pendidikan dan pengajaran. yang menyatakan bahwa. memiliki organisasi profesi yang. maka kaidah itu dapat . Kelima. Ketiga.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-13 Sebagai tenaga profesional. Pertama. (2) komitmen. sehingga yang dianggap bidang diperbolehkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Keempat. bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik. dan (3) keterampilan (Supriadi 1998:96). 2004:2). Dapat dianalogikan dengan pentingnya hakim dan UndangUndang. Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik. yakni (1) keahlian. pemerintah sejak lama telah berupaya untuk merumuskan perangkat standar komptensi guru. termasuk guru. Westby-Gybson (1965). Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal.

Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. guru menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal. Hal yang sama. guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum.1-14 Pengembangan Profesionalitas Guru dianalogikan dengan pentingnya guru. yakni dengan ungkapan bijak ‘berilah aku guru yang baik. Kelima. Keempat. dan belajar dari pengalamannya. misalnya di PGRI dan organisasi profesi lainnya. Sama dengan manusia dengan senjatanya. dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik’. tetapi guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh siapa atau alat apa . Kedua. guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya. Untuk menggambarkan guru profesional. Ketiga. bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. Pertama. mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. maka guru tersebut dapat disebut sebagai tenaga dan pendidik yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya (Supriadi 2003:14). yang terpenting adalah manusianya. D. Standar Pengembangan Karir Guru Mutu pendidikan amat ditentukan oleh kualitas gurunya. Mendiknas memberikan penegasan bahwa “guru yang utama” (Republika 10 Februari 2003). Supriadi mengutip laporan dari Jurnal Educational Leadership edisi Maret 1993. ‘man behind the gun’. Belajar dapat dilakukan di mana saja. Apabila kelima hal tersebut dapat dimiliki oleh guru. Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Artinya.

yakni proses dan pembelajaran menyenangkan. karena pada akhirnya menyangkut duit atau gaji dan penghargaan. ada orang yang berpendapat bahwa antara gaji dan dedikasi tidak dapat dipisahkan. mencerdaskan. Ketidakmampuan LPTK ternyata memang di luar tanggung jawabnya. Jadi. Di samping itu. karena indikasi adanya mutu profesionalisme guru masih rendah. mengasyikkan.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-15 pun juga. Namun. LPTK mengalami kesulitan besar ketika dihadapkan kepada masalah kualitas calon mahasiswa kelas dua yang akan dididik menjadi guru. Sebagai salah satu komponen utama pendidikan. guru harus memiliki tiga kualifikasi dasar: (1) menguasai materi atau bahan ajar. Gaji dan penghargaan guru belum dapat disejajarkan dengan profesi lain. Pada akhirnya orang mudah menebak. melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembalajaran yang yang berkualitas. Ternyata. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu. Peningkatan mutu guru merupakan upaya yang amat kompleks. Pekerjaan besar ini mulai dari proses yang menjadi tugas lembaga pendidikan prajabatan yang dikenal dengan LPTK. karena melibatkan banyak komponen. dan (3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Mas’ud 2003:194). yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya. karena masalah rendahnya mutu calon guru itu lebih disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi guru. (2) antusiasme. Banyak orang menganggap bahwa gaji dan penghargaan terhadap guru menjadi penyebab atau causa prima-nya. Terjadilah lingkaran setan yang sudah diketahui sebab akibatnya. gaji dan dedikasi terkait erat dengan faktor lain yang bernama kompetensi profesional. selain memang harus dipikirkan dengan sungguhsungguh upaya untuk meningkatkan gaji dan penghargaan kepada . Gaji akan mengikuti dedikasi. Untuk membangun pendidikan yang bermutu.

menjelaskan bahwa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. attitudes. namun masih ada pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. Bahkan mereka mendambakan adanya satu instrumen atau alat ukur yang akan mereka gunakan dalam melaksanakan skill audit dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi guru di daerah masing-masing. Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK. Dua dekade kemudian. dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. terkenal wacana akademis tentang apa yang disebut sebagai Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi atau Competency-based Training and Education (CBTE). para penyelenggra pendidikan di kabupaten/kota telah menunggu kelahiran kompetensi guru itu. keterampilan. Setelah sekitar dua tahun berjalan. sikap. tim itu telah dapat menghasilkan rendahnya kompetensi guru. keterampilan. and values displayed in the context of task performance”. Sementara itu.1-16 Pengembangan Profesionalitas Guru guru. nama baru Dikgutentis telah membentuk satu tim Penyusun Kompetensi Guru yang beranggotakan para pakar pendidikan yang tergabung dalam Konsorsium Pendidikan untuk menghasilkan produk kompetensi guru. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan. yakni meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru. Untuk menjelaskan pengertian tentang kompetensi itulah maka Gronzi (1997) dan Hager (1995) menjelaskan bahwa “An integrated view sees competence as a complex combination of knowledge. skill. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya. Direktorat Tenaga Kependidikan (Dit Tendik). . Sejalan dengan definisi tersebut. Pada tahun 70-an. Pada saat itu Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis) Dikdasmen pernah mengeluarkan “buku saku berwarna biru” tentang “sepuluh kompetensi guru”. Apakah yang dimaksud kompetensi? Istilah kompetensi memang bukan barang baru.

dan jenjang pendidikan’ (Direktorat Profesi Pendidik. Standar kompetensi guru bertujuan ‘untuk memperoleh acuan baku dalam pengukuran kinerja guru untuk mendapatkan jaminan kualitas proses pembelajaran’ (SKG.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-17 Berdasarkan pengertian tersebut. (2) pengembangan profesi. (6) pemahaman wawasan kependidikan. dan (3) penguasaan akademik. . yakni (1) pengelolaan pembelajaran. Ketiga komponen masing-masing terdiri atas dua kemampuan. Standar Kompetensi Guru bermanfaat untuk: (1) menjadi tolok ukur semua pihak yang berkepentingan di bidang pendidikan dalam rangka pembinaan. 2005). (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar. PMPTK. kualifikasi. (3) penilaian prestasi belajar peserta didik. keterampilan. Di samping itu. (5) pengembangan profesi. inovasi. peningkatan kualitas dan penjenjangan karir guru. Direktorat Tendik 2003:5). Oleh karena itu. Diten PMPTK. (2) meningkatkan kinerja guru dalam bentuk kreativitas. dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan profesinya (Direktorat Profesi Pendidik. ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi. yaitu: (1) penyusunan rencana pembelajaran. Standar kompetensi guru SKS memiliki tujuan dan manfaat ganda. Standar kompetensi guru terdiri atas tiga komponen yang saling mengait. (7) penguasaan bahan kajian akademik. (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. kemandirian. 2005). Ketiga standar kompetensi tersebut dijiwai oleh sikap dan kepribadian yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi. standar kompetensi guru diartikan sebagai ‘satu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas.

Kepala sekolah sering terpaksa menandatangani usul kenaikan pangkat guru hanya karena faktor ‘kasihan’. Dengan kondisi seperti itu. antara lain karena belum ada kejelasan tentang standar pengembangan karir mereka. Mengingat kondisi itulah maka pada tahun 1970-an dan 1980an telah didirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan yang bernama Balai Penataran Guru (BPG). dan Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk pelbagai mata pelajaran dan bidang keahlian di beberapa daerah di Indonesia. PGPS sering diplesetkan menjadi ‘pinter goblok penghasilan sama’ atau ‘pandai pandir penghasilan sama’. Pada tahun 1970-an kegiatan ‘up-grading’ guru mulai gencar dilaksanakan di BPG dan PPPG. Pengembangan Karir Guru Pada era sentralisasi pendidikan. dengan melibatkan antara direktorat terkait dengan . yang sekarang menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi. Pelaksanaan kenaikan pangkat guru dengan sistem kredit pun sama. Kegiatan itu pada umumnya dirancang oleh direktorat-direktorat di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sekarang LPMP dan P4TK berada di bawah Ditjen PMPTK. Sedang sebagian besar lainnya mengalami nasib yang tidak menentu. pembinaan guru diatur secara terpusat oleh pemerintah.1-18 Pengembangan Profesionalitas Guru E. dan bahkan menjadi tenaga struktural di dinas pendidikan. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil) dan ketentuan lain tentang kenaikan pangkat dengan sistem kredit. Region-region penataran telah dibentuk di berbagai kawasan di Indonesia. Dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan tersebut berjalan dengan berbagai penyimpangan. ada sebagaian kecil guru yang karena kapasitas pribadinya atau karena faktor lainnya dapat berubah atau meningkat karirnya menjadi kepala desa. anggota legeslatif.

serta melibatkan juga peranan lembaga pendidikan sekolah sebagai on the job training yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan yang ada di regionnya masing-masing.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-19 lembaga diklat (preservice training) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai lembaga preservice training. Selain itu. guru yang telah ditatar di tingkat provinsi atau nasional dan memperoleh predikat yang sebagai penatar di tingkat kabupaten. para guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) guru biasa. (5) kepala sekolah. yang sistem penyelenggaraan diklatnya dinilai melibatkan elemen pendidikan yang lebih luas. (6) Pengawas sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagaian besar dilaksanakan di satu sanggar yang disebut sanggar PKG. yakni guru baru atau guru yang belum pernah mengikuti penataran. . sementara para kepala sekolah aktif dalam kegiatan Latihan Kerja Kepala Sekolah (LKKS). guru yang telah mengikuti klegiatan diklat TOT (training of trainer) di tingkat pusat atau nasional dan memperoleh predikat sebagai penatar di tingkat provinsi. Melalui pola PKG ini. atau baru sebatas ditatar di tingkat kecamatan atau sekolah. Sebagian besar instruktur ini juga telah memperoleh pengalaman dalam mengikuti penataran di luar negeri. yakni instruktur yang telah diangkat untuk menduduki jabatan sebagai kepala sekolah. (4) pengelola sanggar. para guru memiliki wadah pembinaan profesional melalui orgabnisasi yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). yakni tempat bertemunya para guru berdiskusi atau mengikuti penataran tingkat kabupaten atau sekolah. dan Latihan Kerja Pengawas Sekolah (LKPS) untuk pengawas sekolah. kecamatan. satu jenjang fungsional bagi guru yang telah menjabat sebagai kepala sekolah. (2) guru Inti. guru instruktur yang diberi tugas untuk mengelola Sanggar PKG. Salah satu pola pembinaan guru melalui diklat ini adalah mengikuti pola Pembinaan kegiatan Guru (PKG). (3) instruktur. dan sekolah.

1-20 Pengembangan Profesionalitas Guru F. Berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut dilaksanakan dengan melibatkan P4TK (PPPG). . Dinas Pendidikan. oleh Depdiknas sekarang dikelola oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. PENUTUP Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. LPMP. dan LPTK sebagai mitra kerja.

Akibatnya pada Mutu Pendidikan”. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Jakarta: Genesindo. 2006. Safrudin Ismi. “Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah”. Jakarta: Grasindo. Ace dan Dasim Budimansyah. 2002. Jakarta:Paramadina dan Logos Wacana Ilmu. 2004. Paul. 2002. Ary H. Suparno. Penelitian Balitbang dan Lemlit UNNES. Jakarta: Rineka Cipta. John Martin. Undang-Undang No. Yogyakarta: Bigraf Publishing. 2004. Fathur dkk. Rokhman. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan. Rogers. Balitbang Depdiknas. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Dirjen Dikti Dir PPTK Depdiknas. Indra Djati Sidi. . 2002. Suryadi. Direktorat Ketenagaan. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru.DAFTAR PUSTAKA Chamidi. Studi Kebijakan Pengelolaan Guru Di Era Otonomi Daerah dalam Rangka Peningkatan mutu pendidikan. New York: The Free Press. Santoso S. Rich. Pusat Data dan Informasi Pendidikan. Menuju Masyarakat Pembelajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar. 2000. Everett M.1995. Jakarta: Depdiknas. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI Program D-II PGSD. 1992. 2004. “Status dan Peran Guru. Diffusion of Innovation. Inovation in Education: Reformers and Their Critics. New York: Cross Cultural Approach. 1995. Zamroni. Hamijoyo. Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Masa Depan. dalam Syarif Ikhwanudin dan Dodo Murtadhlo. Jakarta: Grasindo. 2002. Undang-undan No. Paradigma Pendidikan Masa Depan. 2005. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Gunawan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dalam Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua.

BUKU AJAR MEMBACA PEMAHAMAN .

Deskripsi Penyajian model. Kompetensi Dasar Memahami konsep dasar membaca pemahaman yang meliputi pengertian membaca pemahaman dan kiat membaca pemahaman. E. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan.BAB I. 2. Indikator 1. KONSEP DASAR MEMBACA PEMAHAMAN A. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . dan teknik membaca sewaktu membaca intensif dan ekstensif. B. Menurut Broughtton (dalam Tarigan 1990). D. Pengertian Membaca Dalam kajian teori membaca. Membaca Telaah isi diklasifikasikan . metode. Standar Kompetensi Menguasai konsep dasar membaca pemahaman.13). membaca intensif dapat diklasifikasikan menjadi membaca telaah isi dan telaah bahasa. Menjelaskan pengertian membaca pemahaman. C. dan teknik membaca serta penerapan model. Uraian Materi 1. membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). metode. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading) (Harras dan Sulistianingsih 1998: 2. Menjelaskan kiat membaca pemahaman. Berdasarkan cakupan bahan bacaan yang dibaca.

yaitu membaca survai. pemahaman. sekilas. dan ide. Membaca ekstensif diklasifikasikan menjadi tiga. . yaitu ektensif dan intensif.2-2 Membaca Pemahaman   menjadi membaca teliti. paragraf. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. variatif (berbagai ragam bacaan yang dibaca). Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. kritis. dan teknik yang sesuai dengan keperluan (Haryadi 2006:5). memindai buku. dan meningkat (dari yang mudah ditingkatkan ke yang sulit). Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. kritik teks sastra. 2. Disamping itu. Berdasarkan kurikulum 2006. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. dan memindai grafik. latihan terus-menerus). metode. dan dangkal. Kiat Membaca Pemahaman Untuk dapat terampil membaca siswa harus berlatih membaca secara kontinyu (sering latihan. dan buku biografi. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. Membaca telaah bahasa diklasifikasikan menjadi membaca bahasa asing dan sastra. artikel.

5.BAB II. metode. Membaca Cepat Teks Bacaan Berdasarkan kompetensi dasar yang tercantum di standar isi pada kurikulum 2006. 4. C. siswa SMA kelas X dituntut untuk dapat . metode. Deskripsi Penyajian model. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. Uraian Materi 1. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca ekstensif. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. dan teknik membaca. menerapkan kiat B. dan teknik membaca serta penerapan model. 2. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. metode. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. 3. Indikator 1. dan mampu menerapkan model. E. metode. 6. D. Menerapkan model membaca sewaktu membaca ekstensif. MEMBACA EKSTENSIF A. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca ekstensif.

a.2-4 Membaca Pemahaman   membaca cepat 250 kata/menit berbagai teks bacaan nonsasatra dengan berbagai teknik membaca untuk menemukan ide pokok. Model Membaca Atas Bawah Model membaca yang dapat digunakan adalah model membaca atas bawah (MMAB). selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang telah dimilikinya. dan teknik skimming. MMAB dapat dibagankan berikut ini. Model. MMAB berpandangan bahwa pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaan merupakan unsur sekunder. Siswa kelas XII dituntut dapat membaca cepat 300-350 kata/menit untuk menemukan ide pokok. dan teknik) membaca yang tepat dan benar. teknik membaca yang dapat dipilih untuk membaca cepat teks nonsastra adalah model membaca atas bawah. Untuk dapat memenuhi tuntutan itu. metode. Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat symbol grafis seperlunya saja. metode paragraf dan P2R. siswa harus membaca dengan menggunakan kiat (model. Bagan 1 Model Membaca Atas Bawah . metode. Siswa Kelas XI dituntut dapat membaca cepat 300 kata/menit menemukan pokok-pokok untuk isi teks. Karena kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan. model membaca ini disebut model membaca atas bawah.

Dalam sandi morse. Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya. bagian yang penting. 1. Tranformasi dalam bidang vokabuler (kosa kata) atau sintaksis yang tidak mengubah makna dipandang sebagai hal yang dapat diterima. titik tersebut sebagai tanda atau lambing-lambang. Dengan menggunakan MMAB. 2. titik itu tidak punya makna apa-apa. Pembaca hanya melihat beberapa bagian dari bacaan (kata kunci. Jika tidak diberi interpretasi. tetapi pembaca memberikan makna atas simbol-simbol grafis yang dibaca. Titik yang berada di akhir deretan kata-kata yang berbentuk klausa maka titik tersebut berarti atau bermakna sebuah tanda berhenti.  Membaca Pemahaman 2-5 Proses membaca berdasarkan bagan 1 adalah berikut ini. Jika titik tersebut berada di dalam peta. kemudian pembaca memprediksi pemahaman . Titik tersebut bermakna jika diberi tafsir pembaca. Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan. Lambang-lambang grafis pada dasarnya tidak punya makna apa-apa. Pembaca yang sudah terampil dalam membaca akan selalu melangkah langsung menghubungkan kata-kata yang dibaca ke makna tanpa melakukan identifikasi kata-kata yang dibaca secara cermat. Pembaca tidak memperoleh makna dari simbol-simbol grafis yang dibaca. dimaknai sebagai letak sebuah kota. pembaca membuat prediksi (prakiraan) terhadap bacaan yang dibacanya. Hal itu terjadi karena pembaca sudah mempunyai pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya. dan atau kalimat pokok). 3. Dalam bahasa Yunani. Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak. titik tersebut tidak bermakna. titik itu diberi interpretasi sebagai lambang huruf. Contohnya adalah jika pembaca melihat sebuah titik pada kertas.

pembaca menggunakan strategi konfirmasi. Jika prediksi kurang cermat. hubungan keduanya dapat dikatakan bahwa semakin banyak informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca pada waktu membaca maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. pembaca menggunakan strategi koreksi yang di dalamnya terjadi pemprosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. dan atau informasi dengan memanfaatkan informasi visual. berita. Informasi yang dapat bertahan lama di dalam pikiran atau otak pembaca adalah informasi nonvisual. walaupun hubungannya tidak dapat digunakan secara jelas atau tidak dapat dijelaskan secara kongkrit. Secara umum. Jika prediksi kurang cermat. b. Keduanya saling berhubungan secara timbal balik. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca sewaktu membaca. Sebaliknya. Metode Paragraf Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf. lisan. Informasi visual dan nonvisual dibutuhkan dalam kegiatan membaca. kebutuhan akan informasi visual semakin bertambah. Pembaca tidak lagi memfokuskan perhatian . Otak menginterpretasikan apa yang diterimanya ke dalam bentuk pesan. Tugas mata dalam MMAB hanyalah sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk cahaya dan mengubahnya menjadi 6paragraf syaraf merambat melalui jutaan serabut syaraf 6arag yang kemudian diteruskan ke otak pembaca. Dengan menggunakan syarat 6paragrafap dan sintaksis.2-6 Membaca Pemahaman   atau informasi secara menyeluruh yang terdapat pada bacaan. Informasi visual akan langsung hilang bersamaan dengan beralihnya pandangan mata ke bagian yang lainnya. pembaca memahami bacaan dan mengantisipasi yang 6paragrafap pada bagian bacaan selanjutnya ketepatan prakiraan dibuat dengan menggunakan stategi konfirmasi.

pembaca didorong untuk menghentikan ayunan matanya pada akhir paragraf dan memahami ide-ide atau yang dibaca. Dalam metode ini. berkesinambungan. tetapi memusatkan perhatian atas jalinan kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf. pembaca dituntut dapat merangkaikan ide-ide pokok yang dikandung oleh tiap-tiap paragraf membentuk satu topik bacaan. pembaca menemukan pikiran pokok paragraf atau informasi yang dicari ditengah paragraf. Metode paragraf adalah metode yang paling tinggi tingkatannya dalam metode menengah. Membaca paragraf merupakan membaca yang paling kompleks dan rumit. Boleh saja mata menghentikan kerjanya sebelum akhir paragraf. Dalam prakteknya dibutuhkan keterampilan-keterampilan atau kemahirankemahiran yang telah dikuasai dalam metode sebelumnya. jika ada tujuan tertentu yang berkaitan dengan pemahaman.  Membaca Pemahaman 2-7 pada kalimat demi kalimat. konseptual. . dalam penguasaannya perlu latihan secara kontinyu. yaitu mekanik dan menjadi jalinan yang utuh yang (1) Metode Paragraf secara Mekanik Pada latihan ini. Untuk itu. Misalnya. Latihan metode paragraf dapat dibagi menjadi dua. Mata menghentikan geraknya pada setiap akhir paragraf. dan tekun. Di pikiran-pikiran pokok yang ada dalam paragraf samping itu. Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa sebuah paragraf merupakan satuan bacaan yang mengandung ide pokok yang ingin disampaikan oleh penulis. pembaca dilatih untuk dapat menggerakkan matanya secara tepat dan cepat dalam menatap unsur-unsur yang ada pada paragraf. Latihan metode paragraf secara mekanik dapat dilatihkan dengan bacaan berikut ini.

Cahaya merah diserapnya. PS I mencari cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan klorofil menyerap cahaya tumbuhan. tetapi dipantulkan ke mata kita.2-8 Membaca Pemahaman   Bacaan 1 Rumput Menolak Gelombang Hijau Kita tentu senang melihat tanaman di sekitar kita dalam keadaan segar dan telihat hijau. Mereka merupakan tim dalam proses fotosintesis. Ada dua jenis fotosistem. Akan terlihat. . Kloroplas ini seperti sebuah kantung kecil yang berisi kantung-kantung pipih lebih kecil yang disebut tilakoid. sebenarnya hati yang menyejukkan gelombang mata yang dan tidak meneduhkan merupakan dibutuhkan tumbuhan dalam proses pembuatan makanan. Jadi. Untuk menjelaskannya.Ternyata. PS II dari molelul klorofil menjeratnya. warna hijau yang kita tangkap lewat mata sebenarnya gelombang cahaya yang ditolak tanaman itu. yakni fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II). Gelombang cahaya yang ditangkal rumput atau daun tadi justru sangat berharga bagi manusia. (Intisari Juli 2000:101). mari kita ambil selembar rumput atau daun apa pun dan potongan kecilnya diperiksa di bawah mikroskop. Bagian-bagian renik inilah yang disebut fotosistem. daun itu tidak berwarna hijau. Molekul-molekul klorofil hijau (sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis) melekat pada tilakoid dengan membentuk jalur-jalur yang teratur. Ketika cahaya matahari menerpa permukaan tilakoid. Begitu pula dengan rumput. tetapi sebagian besar tembus pandang dan dipenuhi kira-kira 50 – 100 kloroplas. hanya cahaya hijau yang tidak digunakan atau diserap.

yaitu kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama. 3. Kalimat sebagai pemuas. Kalimat . Kemahiran membaca dan pengetahuan tentang paragraf diperlukan pada latihan ini. 2. 6.  Membaca Pemahaman 2-9 Alternatif cara membaca bacaan di atas adalah berikut ini. Kalimat sebagai kalimat penjelas. 5. Gerakkanlah mata Anda mulai dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir pada tiap-tiap paragraf. 3. Jika ada tujuan tertentu. Kalimat yang penting (kalimat utama) bisa dibaca lebih lambat paragraf kalimat penjelas. 1. Hal tersebut bergantung pada isi masing-masing kalimat. Peran paragraf yang diemban oleh kalimat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut ini. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki pembaca adalah struktur paragraf (Harjasujana dan Mulyati 1997:186). (2) Metode Paragraf secara Konseptual Pada latihan ini pembaca dilatih untuk dapat memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang terdapat dalam sebuah bacaan. Gerakan mata dari kalimat satu ke kalimat yang lain menggunakan kecepatan baca yang tidak sama. 4. Anda biasa saja berhenti sejenak pada akhir sebuah kalimat yang terletak di awal atau ditengah paragraf. Lakukanlah latihan tersebut selama 2 atau 3 kali. Berlatihlah terus-menerus pada hari-hari berikutnya. Tataplah satu halaman penuh dari atas sampai bawah atau dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. Setiap kalimat yang membentuk sebuah paragraf mempunyai peran paragraf. 1. Kalimat sebagai kalimat topik atau kalimat utama. 2.

ketika buah sudah tidak basah lagi oleh embun pagi. Bacaan 2 Bisnis Duku. Penulis mencantumkan hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan. Bacaan berikut ini dapat digunakan sebagai latihan metode paragraf secara konseptual. Itu pun masih harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dijajakan. Buah yang masih basah akan mudah berjamur. Dengan memotong tandan buah dari tangga. meskipun dikemas dalam peti kayu beralas 10arag (bekas) yang sudah kering. Hasilnya turun! Karena itu.2-10 Membaca Pemahaman   pemuas tidak bermanfaat bagi pembaca. bisa dikurangi. Biasanya 4 – 5 kali panen sebelum semua buah dari satu pohon habis dipetik. dan dipilih yang bobotnya 20 – 40 g . Tandanya kulit buah sudah kuning keabu-abuan. agar buah bisa lebih tahan lama kalau dikirim ke tempat jauh. Cara ini kadang banyak melukai batang tempat menempelnya tangkai tandan buah. butiran buah dilepas sebutir demi sebutir dari tandanya. Buah dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan buahnya dengan gunting pemangkas kebun. Pakai tangga. Di tempat pengemasan. sehingga perbungaan berikutnya tidak normal lagi. Tujuannya. kemungkinan merusak kuncup bunga yang masing menunggu giliran tumbuh. karena banyak yang rusak. Bisnis Kilat Para pedagang biasanya memborong buah duku dari petani pekebun ketika buah sudah matang komersial. beberapa pedagang langganan petani pekebun kemudian memakai cara lain. Memetiknya harus dalam cuaca kering. Ini bisa menghasilkan buah lagi.

sudah dijual lagi ke para pengecer yang memasarkannya ke konsumen esok harinya. Buah pilihan ini dikemas dalam peti kayu yang diberi ventilasi pada semua sisinya. Dalam 18 jam. meskipun rasa buahnya masih tetap manis. (Intisari Juli 2000:87). Kalau teralmbat sampai tidak terjual dalam waktu yang singkat itu. Tataplah satu halaman penuh dari sebuah bacaan dari atas sampai bawah. dari daerah 11paragrafaph ke Jakarta lewat Trans Sumatra Highway. meskipun cepat. Begitu juga kalau buah sudah keburu dikemas ketika masih agak basah. Semuanya selesai dalam waktu tiga hari.  Membaca Pemahaman 2-11 sebutir saja yang akan dijual. Penampilannya menyebalkan. Malam harinya. . para pedagang duku harus bekerja cermat. 1. Tahap-tahap alternatif yang dapat digunakan untuk membaca bacaan tersebut adalah sebagai berikut ini. Kalau terbentur-bentur karena peradam dalam pengemasannya kurang tebal. mereka segera mengemasnya. dan peti juga dengan kasar dilempar-lempar ke atas truk. Itu sebabnya. Biasanya terpaksa diobral. kulit buah duku cepat ber-totoltotol coklat. Mulailah memahami paragraf pertama dengan cara membaca kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Malam itu juga “peti kemas” diangkut dengan truk yang berjalan malam. 2. Begitu selesai memborong buah di pohon. Peti dilapisi 11arag bekas atau daun pisang kering yang tebal sebagai peredam benturan. buah sudah bertotol-totol hitam. duku sudah dibongkar di pasar induk Kramatjati Jakarta untuk dijual kepada para agen.

pokok-pokok pikiran. Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. pembaca melanjutkan tahap berikutnya. Setelah itu. 2. pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca.2-12 Membaca Pemahaman   3. Pada tahap ini. c. read. Jika belum tahu. dan sebagainya. Lakukanlah memahami paragraf berikutnya seperti tahap nomor 2 dengan memperhatikan tahap nomor 3 dan 4. Jika hanya ingin mengetahui informasi yang pokok. pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau tidak. relevansi. pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran. Berlatihlah terus-menerus di hari-hari berikutnya dengan bacaan yang lainnya. dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien (Gordon 2006 : 79). 4. 6. pembaca bisa hanya . Metode P2R Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. Informasi bersifat pokok atau inti dan bisa juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. 5. Lakukanlah latihan ini selama 2 atau 3 kali. Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan. bisa memfokuskan pemahaman terhadap sebuah paragraf. 7. Pemahaman atas kalimat utama lebih dipentingkan dari pada pemahaman kalimat penjelas. Pahamilah masing-masing kalimat dalam paragraf itu secara tidak sama. Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah berikut ini. 1. Jika ada tujuan tertentu. Jika memang sudah tahu tentang bacaan.

Pada tahap ini. Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. jika preview untuk mengenal bacaan. pembaca membaca dengan teliti. pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca telah mengenal struktur materi bacaan. Ketiga tahap dalam metode ini tidak harus digunakan semua secara tertib. Bisa saja. Walaupun membaca teliti. pembaca tidak melakukan read. sebaliknya bacaan yang belum dikenal dibaca secara pelan. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehigga tidak perlu dibaca.  Membaca Pemahaman 2-13 membaca secara sepintas (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa yakin tidak ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya semester 1. Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. . 3. ketiga tahap itu digunakan secara tertib. Pada saat lain. pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan. Bacaan yang bersifat ilmiah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat paragraf. Hal tersebut bergantung pada situasinya. Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat. Jika memang diperlukan. diusahakan membaca secepat mungkin. Yang berbeda adalah tujuannya.

Kecepatan gelombang bergantung dari daya dorong paragraf daya dorong dari dalam laut. Gelombang air laut bergerak menyapu setiap bagian laut dan pantai yang dilaluinya. Gelombang bisa sangat cepat. Kepala susu adalah intisari atau bagian yang banyak mengandung gizi. yaitu bahwa skimming merupakan teknik membaca efisien. tetapi juga ada yang dicari. Gerak mata pada membaca dengan teknik skimming bisa diibaratkan gelombang air laut.2-14 Membaca Pemahaman   d. diakhir. tinggi. Hal yang dicari adalah hal-hal yang pokok atau penting. Ia diharapkan butuh waktu beberapa detik atau menit untuk menskim. Kepala susu merupakan bagian yang mengental yang berada di atas setelah semangkok susu yang dipanaskan didinginkan. Kecepatan . tetapi dapat juga terdapat ditengah. Dalam menskim tidak hanya menjelajahi halaman demi halaman secara cepat. sekilas (Tarigan 1994:30). Hal itu relefan dengan pendapat Soedarso (2004:88). sedang atau rendah. Istilah lain dari skimming adalah baca layap (Harjasujana dan Mulyati 1997:64). Gerak mata dalam membaca dengan teknik skimming mempunyai gerak mata yang cepat dan bentuk yang tinggi. cepat. Teknik Skimming Skimming berasal dari bahasa Inggris to skim yang berarti mengambil kepala susu atau krim dengan sendok atau menyendok kepala susu. Gelombang mempunyai kecepatan dan bentuk tertentu. Gelombang mempunyai bentuk berdasarkan kecepatan gelombang dan hambatan yang dilaluinya. 2004:44). Skimming dalam bidang membaca merupakan sebuah istilah salah satu teknik membaca ekstensif. Berdasarkan uraian tersebut. atau diawal dan diakhir. Untuk mencari ide-ide pokok pembaca tidak diperbolehkan membuang-buang waktu. sedang atau pelan. skimming merupakan teknik membaca yang dilaksanakan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien. Ide pokok tidak selalu diawal paragraf. Gelombang ada yang tinggi sekali. dan selintas (Widyamartaya. yaitu ide-ide pokok.

dicetak tebal. Pada saat mata melihat bagian yang penting gerak mata diperlambat untuk memahami bagian penting tersebut. misalnya ditulis miring. dan memperlambat (bahkan boleh berhenti) pada beberapa fakta yang penting yang menunjang ide pokok. Awal mula mata dipersiapkan bergerak secara cepat untuk membaca bagian demi bagian dalam bacaan. Ilustrasi dari gerak mata dalam membaca teknik skimming pada pembaca yang masih taraf pemula adalah sebagai berikut. kemudian melompat (skipping). Kemudian mata bergerak pada kecepatan yang tinggi lagi. Pertamatama mata bergerak pada baris-baris yang mengandung ide pokok dari sebuah paragraf. dan ditulis dalam kotak. Contoh gerak mata dalam teknik skimming adalah sebagai berikut: .  Membaca Pemahaman 2-15 dan bentuk ayunan mata dalam setiap bagian yang dibaca tidaklah sama bergantung penting tidaknya bagian yang dibaca dan tujuan dalam membaca. Pembaca dapat mengenal detail penting bacaan berdasarkan tipografi atau tanda-tanda tertentu dalam bacaan.

2-16 Membaca Pemahaman   Bacaan 3 Latihan Teknik Skimming .

Yang dapat diterapkan adalah mengenal bacaan. mengetahui opini. Misalnya pembaca datang ke toko buku untuk mengetahui buku-buku membaca apa yang terdapat pada toko buku tersebut. dan Tarigan 1994: 32). opini. pembaca tahu judul-judul buku apa saja yang tersedia di toko buku tersebut. penyegaran. Pembaca melihat secara sekilas judul-judul buku membaca yang terdapat rak khusus buku-buku membaca. dan judul subbab. judul-judul bab. Apabila ada buku yang cocok. dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati 1997: 64-65. Soedarsono 2004: 88-89. bagian penting organisasi bacaan. Widyamartaya 2004: 44.  Membaca Pemahaman 2-17 1) Tujuan Membaca Skimming Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan. yaitu mengenal paragraf bacaan. Yang dimaksud topik bacaan adalah judul buku atau artikel. Dengan men-skim buku tersebut. dan mengetahui bagian penting. ia bisa saja mengambil buku tersebut untuk membaca sekilas daftar isi buku .

Bacaan ilmiah biasanya tidak mengandung opini. Teknik baca layap juga dapat digunakan untuk melihat paragraftopik artikel yang ada pada majalah atau surat kabar. Misalnya. Pada sebuah bacaan opini belum tentu ada. pembaca bisa saja men-skim semua halaman yang ada pada buku untuk meyakinkan bahwa yang dicari memang betul-betul tidak ada karena ada kemungkinan informasi yang dicari ada di dalam buku. . ia mencari atau meminjam buku tersebut. tetapi tidak secara eksplisit tercantum dalam daftar isi. Skimming dapat diterapkan sewaktu pembaca mencari bahan di perpustakaan.2-18 Membaca Pemahaman   itu guna mengetahui apakah ada judul bab atau subbab yang diinginkannya. Apabila ya. Ia cukup mencari judul artikel yang ada dalam surat kabar yang dibaca secara sekilas tentang gempa yang melanda Yogya. tetapi bacaan yang bersifat paragraf umumnya ada opininya. bukalah halaman yang mungkin mengandung informasi yang dibutuhkan secara cepat. Opini digunakan untuk menggugah pikiran pembaca untuk berfikir kritis sehingga pembaca diharapkan dapat paragraf umpan baliknya yang berupa tanggapan. Jika ada buku-buku yang dibutuhkan. kemudian melihat daftar isi untuk menentukan apakah buku tersebut mengandung pembahasan tentang hal-hal yang dibutuhkan. pikiran atau pendirian. Opini berarti pendapat. Sewaktu men-skim daftar isi dan tidak menemukan hal-hal yang dicari. Pembaca dapat membaca layap surat kabar yang dibaca untuk mencari informasi yang diinginkan. informasi gempa bumi yang terjadi di Yogya. Kadang kala pada sebuah surat kabar memuat artikel yang justru kehadiran opini diwajibkan karena tanpa opini artikel tersebut kurang bermutu sehingga orang yang ingin mengirim artikel untuk kolom itu diharuskan menampilkan opini-opini. Ia membaca sekilas kartu pparagrafa atau daftar pparagrafa yang ada di pparagrafap mengenai judul buku yang tersedia di perpustakaan tersebut.

Penulis boleh saja menampilkan ringkasan pendapatnya pada akhir bacaan. Informasi yang dicari misalnya adalah nama peristiwa. jumlah korban. Tentukan dengan jelas informasi atau fakta yang akan dicari atau buatlah pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi yang ada dalam bacaan. Artikel yang seperti itu merupakan bacaan yang bersifat deduktif. Untuk mengetahui bagian penting dari sebuah bacaan.  Membaca Pemahaman 2-19 Artikel semacam ini diminati pembaca yang ingin mencari hal-hal yang bersifat sensasi. Paragraf awal sebuah bacaan umumnya mengandung pokokpokok pikiran yang diuraikan pada paragraf berikutnya (paragraf isi). tempat peristiwa. Pembaca cukup membaca dengan sekilas dari atas sampai bawah untuk menemukan informasi tertentu yang dicari. Jika ingin mengetahui bagian penting. biasanya pembaca melanjutkan membaca untuk mengetahui pendapat penulis terhadap permasalahan yang dibahas. pembaca hanya melihat secara skimming seluruh bacaan dengan menangkap ide-ide pokok. Setelah mengetahui paragraf-topik bacaan. pembaca bisa juga menemukan opini pada awal dan akhir bacaan karena penulis artikel menampilkan opini pada awal bacaan dan diulang diakhir bacaan dalam bentuk simpulan. nama tokoh. Pendapat yang diungkapkan pada akhir bacaan biasanya berupa simpulan. Bacaan yang demikian merupakan bacaan yang bersifat induktif. Tarigan (1990 : 33) paragraf petunjuk sebagai berikut. Disamping kedua cara tersebut. Bacaan tersebut dinamakan bacaan yang bersifat deduktif – induktif. . Dalam rangka menemukan informasi yang penting dari sebuah bacaan. 1. pembaca tidak perlu membaca keseluruhan bacaan. Cara yang efektif dan efisien untuk mendapatkannya adalah cukup dengan membaca paragraf awal dan akhir. Semua pendapat yang akan diuraikan berikutnya ditulis pada paragraf awal.

dari kalimat akhir ke kalimat akhir pada paragraf berikutnya. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. . locating. Apabila pembaca mencari informasi dalam sebuah buku. yang dicari atau dibutuhkan ke begian yang penting berikutnya. pokok. Jika pada sebuah paragraf hal yang penting terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. Ayunan mata tidak memakai irama yang sama. 4. Jika tidak ada. Siapkan kata kunci yang tepat untuk menunjuk informasi yang dibutuhkan.2-20 Membaca Pemahaman   2. carilah di bawah subjek yang lebih luas. 2) Jenis Teknik Skimming Jenis teknik membaca yang termasuk dalam teknik skimming adalah skipping. Maksudnya adalah membaca melompatlompat dari bagian yang penting. dari kalimat awal ke kalimat tengah pada sebuah halaman. 3. pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat terakhir. misalnya dalam pertandingan sepak bola kata kunci tersebut adalah menang. Skipping diartikan sebagai teknik baca lompat. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja. seri atau kalah. Kemungkinan lain dalam membaca dengan skipping adalah pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat pertama pada paragraf berikutnya. dan previewing. Pembaca yang menggunakan teknik ini berarti melakukan ayunan mata dari bagian bacaan yang penting ke bagian bacaan yang lain. Bagian bacaan yang tidak penting dilompati atau tidak dihiraukan. sebaiknya pembaca melihat apakah kata kunci tersebut tercantum dalam indeks. Lihatlah setiap halaman dengan cepat hanya untuk tujuan mencari kata kunci atau informasi yang diinginkan. sampling. Hal tersebut bergantung pada letak atau jarak bagian yang penting dengan bagian penting lainnya.

tetapi bisa-bisa saja terdapat pada kalimat kedua. pembaca tidak hanya terpaku pada kalimat pertama dari setiap paragraf. Dengan teknik ini. Kalimat utama umumnya mengandung informasi kunci yang biasanya terletak pada kalimat pertama dari sebuah paragraf. penggunaan teknik ini dipusatkan pada membaca kalimat pertama setiap paragraf. 3. Sampling merupakan teknik membaca bagian tertentu bacaan dengan cepat supaya mendapat gambaran umum dari bacaan yang dibaca. dan seterusnya. Informasi kunci belum tentu terdapat pada kalimat pertama. Bagian-bagian bacaan yang dianggap dapat mewakili bacaan. Pembaca memusatkan pandangan matanya di bagian tengah bacaan dan . pembaca memperoleh gambaran umum dari bacaan yang dibaca. pembaca akan mendapatkan gambaran umum sebuah bacaan dengan cepat. yaitu pandangan mata bergerak dari bagian atas ke bawah secara cepat. Prinsip yang dianut teknik ini adalah membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah bacaan yang dianggap dapat mewakili keseluruhan bacaan. dilaksakan dengan sekilas. Adakalanya sebuah paragraf tidak mengandung informasi kunci. dan seterusnya. Dalam pengembangan penggunaan teknik ini. dalam menerapkan teknik sampling pembaca diberikan keleluasaan untuk membaca bagian-bagian tertentu dari bacaan dengan syarat: 1. Locating merupakan teknik membaca paragraf. dari kalimat awal ke kalimat awal pada halaman berikutnya. informasi pokok belum tentu berada di setiap paragraf.  Membaca Pemahaman 2-21 dari kalimat awal ke kalimat akhir pada sebuah halaman. yaitu kalimat inti atau kalimat utama. Oleh karena itu. Untuk itu. Disamping itu. 2. keempat. bagian-bagian yang dibaca mengandung informasi kunci atau pokok. Maksudnya adalah mata pembaca bergerak secara paragraf. ketiga.

Kenyataan yang mempersulit penggunaan teknik locating adalah membaca sepintas hanya akan berkerja optimal apabila pembaca telah menenemukan kata atau frase kunci. Seandainya hal tersebut tidak bisa dilakukan. Walaupun demikian. pembaca dapat menggerakkan matanya dari bagian tengah atas ke bagian tengah bawah secara cepat. kepala kalimat. kata yang di cetak tebal atau miring. Dalam tipografi. otak pembaca bisa melihatnya dengan jelas sehingga bisa menuntun mata pembaca secara tepat ke awal baris berikutnya. Mata pembaca diharuskan bergerak secara diagonal kembali ke kiri untuk membaca garis berikutnya sehingga mata bergerak dengan pola zig-zag. pembaca akan banyak menghabiskan banyak waktu dalam membaca kerena pembaca harus melewati baris-baris yang telah dibaca. Pandangan mata akan tertuju pada informasi tersebut karena selain bidang pandangan paragraf dekat (eye span). Kemampuan peripheral vision dapat juga digunakan oleh pembaca pada tiap sampai ujung kalimat yang dengan cepat kembali ke bagian awal baris berikutnya. Hal ini terjadi karena pembaca selain mempunyai kemampuan pandang paragraf dekat yang disebut rentang pandang mata (eye span). Dengan kedua kemampuan itu. juga mempunyai kemampuan pandang sekeliling atau daya melihat sekeliling (peripheral vision). tetapi secara paragraf dari kiri ke kanan. Pembaca melihat sisi kanan halaman dan tidak dapat melihat secara jelas yang ada pada sebelah kiri halaman. Penggunaan teknik locating tidaklah mudah karena materi bacaan tidak ditulis secara paragraf. awal paragraf dibuat untuk membantu menarik perhatian otak dan mata supaya dapat mengenali perbedaan dalam pergatian bagian. kata yang dimulai dengan huruf paragraf.2-22 Membaca Pemahaman   bagian kanan dan kiri tetap dalam jangkauan pandangan mata. pembaca juga memiliki daya melihat sekeliling. .

Pengunaan teknik ini adalah pembaca membaca kalimat pertama pada setiap paragraf dan pembaca menggunakan kemampuan daya melihat sekeliling pada kalimat-kalimat yang lain dari setiap paragrafnya. pembaca dapat memperoleh hal-hal yang diinginkan lainnya. Blok ini bentuknya adalah paragraf. dan paragrafaph (Harjasujana dan Mulyati 1997:168-169). spiral. Penggabungan kedua teknik tersebut digunakan untuk menerima atau mengenali pokokpokok pikiran yang penting dengan cepat. Gambar membaca dengan pola Blok adalah berikut ini. pembaca akan dapat menerka isi 23paragrafaph tersebut. Teknik juga dapat digunakan untuk menangkap garis besar materi bacaan sebelum pembaca menolak untuk membacanya. Pola blok merupakan pola membaca dengan cara mata berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. Jadi. pembaca memperoleh hal yang primer dan yang sekunder. Atau dengan kata lain. Kalau hal tersebut dilakukan dapat menghemat waktu yang banyak. blok. zig-zag. Pembaca mendapatkan ide-ide pokok atau informasi inti dan sekaligus bisa menemukan hal-hal yang diperlukan untuk mendukung ide pokok. disamping menemukan ide pokok. Teknik ini menggunakan teknik sampling dari sisi pemusatan perhatian pada kalimat pertama setiap paragraf dan memanfaatkan teknik locating dari sisi daya melihat sekeliling. Pola Membaca Cepat Pola membaca yang digunakan dalam teknik lanjutan adalah pola paragraph diagonal.  Membaca Pemahaman 2-23 Previewing merupakan gabungan dari teknik sampling dan locating. Dengan membaca bagian awal dan atau akhir sebuah paragraf dengan tepat. Pola yang dapat diterapkan adalah blok dan horizontal. .

kecepatannya harus cepat kilat karena pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. Pola membaca horizontal dapat digambar sebagai berikut: Gambar 2 Pola Horisontal 2. Membaca Memindai Buku Dalam standas isi pada kurikulum 2006. Yang dapat dilakukan oleh siswa SMA untuk mencapai tujuan itu adalah membaca dengan model membaca model . Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. siswa kelas X dituntut untuk dapat membaca berbagai ragam wacana untuk merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai.2-24 Membaca Pemahaman   Gambar 1 Pola Blok Pola horizontal merupakan pola membaca dengan cara mata meluncur dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris.

Ada bagian bacaan yang sudah sesuai dengan pengetahuan pembaca dan ada yang belum sesuai dengan pengetahuan sehingga pembaca tidak bisa menerapkan MMBA atau MMAB saja. MMTB adalah berikut ini.1. Untuk itu. Pengetahuan pembaca pada setiap bagian bacaan juga kadangkala berbeda. a. pembaca tidak bisa menerapkan salah satu model membaca yang sudah ada. metode SQ3R. Sistem atau cara kerja membaca seperti itu dinamakan MMTB. mudah atau tidak pokok dan ada bagian yang belum dikenal. Disamping itu. pembaca dituntun tidak hanya memakai salah satu model membaca tersebut. sulit atau pokok. Pada peringkat ini bank data bekerja secara simultan. dan leksikon bekerja secara serempak untuk memahami (mentransfer) informasi yang disampaikan penulis.4) dan vertical. tetapi mengkombinasikan kedua model tersebut dalam proses membaca. Jika dibagankan. Oleh karena itu. yaitu MMBA atau MMAB. proses MMTB dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan.  Membaca Pemahaman 2-25 atas bawah (lihat hal 4) atau model membaca timbal balik. yaitu mulai dengan paragraf atau makna. Model Membaca Timbal Balik Sebuah bacaan kadangkala ada bagian yang sudah dikenal. Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca yang meliputi sintaksis. Pembaca menggunanakan MMBA dan MMAB secara bergantian. dan pola blok (lihat 2. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan. . teknik scanning. Membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-berlanjut. ortografis. paragraf. Penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis (informasi visual) dan informasi nonvisual (informasi yang sudah dimiliki oleh pembaca). melainkan proses paragraf balik yang bersifat simultan.

paragraf. daftar gambar. Pada halaman judul yang disurvai adalah judul buku. Tampubolon (1990:170) 26paragraf nama metode SQ3R dengan istilah surtabaku yang merupakan akronim dari survai. mengkaji. dan abstrak (bila ada). recite dan review (Tarigan 1990:54). daftar isi. meneliti. bagian isi. reading. tempat terbit. baca. Metode ini dibuat untuk kepentingan membaca bacaan yang berupa buku untuk kepentingan belajar. pengarang. dan ulang. dan bagian akhir. Mula-mula metode ini dikembangkan oleh Robinson pada tahun 1946. Bagian awal (preliminaries) yang disurvai meliputi halaman judul. paragraf. Penjelasan dari kelima tahap dalam SQ3R adalah sebagai berikut Survai adalah meninjau. dan tahun terbit. yaitu survai. Bagian-bagian buku yang disurvai adalah bagian awal. question. daftar paragraf. penerbit. kata pengarang. b. Bagian isi yang disurvai meliputi judul . Penerapannya adalah berikut ini.2-26 Membaca Pemahaman   Bagan 2 Model Membaca Timbal Balik Metode yang dapat diterapka untuk membaca buku untuk merangkum isi buku dalam beberapa kalimat adalah metode PQ3R. Metode SQ3R Metode SQ3R merupakan metode membaca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap. dan cara membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah buku.

Jika jawabannya ya. ringkasan yang tersusun secara sistematis. Anatomi buku merupakan bagian-bagian dari sebuah buku yang umumnya meliputi bagian pendahuluan. subjudul. Dalam waktu yang singkat pembaca sudah dapat mengetahui buku yang disurvai itu cocok atau tidak. dan indeks (bila ada). daftar pustaka. pembaca tidak akan bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi buku. daftar pustaka. kata pengantar. Survai dilakukan dalam waktu beberapa menit saja dan merupakan kegiatan awal dari penerapan metode ini. daftar isi. mutu buku. Bagian awal dari sebuah buku yang lengkap terdiri atas halaman judul. pembaca akan meneruskan kegiatan membacanya pada tahap berikutnya. Jika tidak melakukan survai. Bagian akhir dari sebuah buku yang bermutu meliputi simpulan. Tujuan lain dari mensurvai adalah untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara cepat. Tujuan dilakukannya survai adalah untuk mengetahui anatomi buku. dan sari. Buku yang bermutu baik akan mengandung bagian-bagian buku yang lengkap.) yaitu membaca secepat mungkin halaman demi halaman. .  Membaca Pemahaman 2-27 tiap bab. dan gambaran umum isi buku. sub-sub bab. daftar gambar. diagram. daftar paragraf. grafik. dan paragraf (bila ada). pembaca tidak perlu meneruskan ke tahap berikutnya. Bagian isi dari sebuah buku yang baik adalah terdapat bab. Tahap mensurvai buku diperlukan untuk tahap berikutnya. dan penutup. bagan. dan indeks. mengandung informasiinformasi yang dibutuhkan atau tidak. Bagian akhir buku yang disurvai meliputi simpulan. Cara mensurvai bagian-bagian tersebut adalah dengan membuka-buka bagian-bagian tersebut secara cepat dan menyeluruh dalam sekali pandang. Survai juga digunakan untuk mengetahui mutu buku. Jika jawabannya tidak. Bagian-bagian buku yang disurvai dibaca dengan teknik baca layap (skimming. isi.

4. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pembaca untuk menemukan isi bacaan pada waktu pembaca melakukan tahap reading. Misalnya. pertanyaan-pertanyaan itu dicatat supaya pembaca tidak lupa dan tidak membebani pembaca untuk selalu mengingat-ingat pertanyaan sehingga dapat mengganggu konsentrasi pada waktu membaca. Pembaca dikondisikan berpikir kritis atas bacaan yang . 2. Kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah berikut ini. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan memotivasi pembaca untuk membaca dengan sungguh-sungguh karena sudah tahu target yang ingin dicapai. Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul karena keinginan atau hasrat pembaca untuk mengetahui mengenai sesuatu hal yang diperkirakan terdapat dalam bacaan. Umumnya. Pertanyaan-Pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pikiran pembaca pada bagian-bagian tertentu dari bacaan yang dibaca. 1. Sebaiknya. 6. pertanyaan-pertanyaan menanyakan mengenai halhal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. ada buku yang berjudul Membaca Efektif dan Efisien. 2. 3.2-28 Membaca Pemahaman   Questioin (bertanya) merupakan tahap kedua dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca menyusun pertanyaanpertanyaan. Apakah yang dimaksud membaca yang efektif ? Apakah yang dimaksud membaca yang efisien? Apakah yang dimaksud membaca yang efektif dan efisien? Bagaimana caranya membaca efektif? Bagaimana caranya membaca efisien? Apa manfaat membaca efektif dan efisien? Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat atau dihafal. 3. 5. Pertanyaan dibuat berdasarkan perkiraan-perkiraan pembaca sewaktu melakukan survai. 1. Manfaat melakukan question bagi pembaca sebelum membaca adalah sebagai berikut.

Bagian bacaan yang sukar akan dibaca dengan lambat. Pada tahap ini. bagian bacaan yang sedang dibaca kecepatan sedang. Apa yang telah dirintis pada kedua tahap sebelumnya akan direalisasikan pada tahap reading. Reading (membaca) merupakan tahap ketiga dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk membaca bacaan. dan bagian bacaan yang mudah dibaca . pembaca tidak harus melakukan kecepatan baca yang sama. dan simpulan yang dibuat penulis. Pembaca biasanya membaca dengan teliti sambil mencari jawaban dari pertanyaan pada tahap question. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dari metode ini. Jika belum yakin.  Membaca Pemahaman 2-29 dibaca. Kecepatan baca disesuaikan dengan tujuan membaca dan bacaan. pembaca melakukan kegiatan membaca secara menyeluruh. Kecepatan baca bidang cepat jika yang ingin diperoleh hanya hal-hal tertentu saja atau hal-hal yang penting dan kecepatan baca lambat (diperlambat) jika yang diinginkan adalah mengetahui semua isi yang ada pada bacaan. pikiran-pikiran pokok yang terdapat dalam bacaan. pembaca memfokuskan pada kata-kata kunci. pembaca boleh meragukan apa yang dikatakan penulis sambil mencari sumbersumber lainnya yang dapat meyakinkan pembaca atau bahkan pembaca tambah ragu atau tidak yakin tentang apa yang ditulis penulis. Jika diperlukan. yaitu membaca bab demi bab dan bagian demi bagian bab. Dalam membaca. Tahap sebelumnya (survai end question) dipersiapkan untuk melakukan tahap ini. pembaca bisa membuat catatan tentang hal-hal yang penting yang telah ditemukannya atau pembaca cukup berupa menggarisbawahi hal-hal yang penting pada buku. Untuk memperlancar proses membaca. Pembaca tidak hanya menerima informasi yang disampaikan penulis. Kedua tahap sesudahnya (recite end review) merupakan tindak lanjut dari tahap ini.

yaitu membaca intensif dan ekstensif. Model membaca yang cocok untuk membaca secara fleksibel adalah model membaca campuran. Kedua gaya diterapkan bersama-sama pada waktu membaca. Kedua. Dari dua jenis membaca itu. Dengan fleksibilitas baca. Model membaca ini menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan cara yang tidak sama pada setiap bagian bacaan. baik yang paling atau pokok maupun yang detail. membaca buku termasuk di dalam membaca intensif. Membaca intensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami semua informasi yang ada dalam bacaan. teknik close reading dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitan bacaan tinggi atau sedang. Dengan cara seperti itu. gaya membaca atas bawah untuk membaca bacaan yang mudah atau sedang. pembaca harus pandai memilih model membaca yang diterapkan. dan jenis membaca yang dipraktekkan. Gaya (model) yang ditawarkan ada dua. Menurut Tarigan (1990:12). Pilihan teknik membaca juga didasarkan atas tingkat kesulitan bagian-bagian bacaan. Pertama. Membaca dalam hati dapat diklasifikasi menjadi dua. dengan cara membaca secara teliti. gaya membaca bawah atas untuk membaca bacaan yang sulit atau belum dikenal. teknik membaca yang digunakan. pembaca buku termasuk di dalam jenis membaca dalam hati. Teknik skimming dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitannya mudah.2-30 Membaca Pemahaman   dengan kecepatan yang tinggi. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa kesulitan bagianbagian bacaan tidak sama. . Membaca ekstensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami informasi-informasi yang penting atau pokok yang terdapat pada bacaan dengan cara membaca secara sepintas. pembaca melakukan membaca secara fleksibel. Keberagaman pilihan teknik membaca dapat dibaca pada bab IV.

dan panjang pendeknya bacaan. . Bacaan yang pendek menceritakan kembalinya setelah selesai membaca semua. dan pembaca yang sudah mahir melakukan recite setelah selesai membaca semua bab. tingkat kesulitan bacaan. Ada pembaca yag biasa menceritakan kembali isi bacaan setelah selesai semua bab dibaca. per bab atau setelah bacaan selesai dibaca. dan bacaan yang panjang setelah selesai per subbab. Pembaca yang belum mahir lebih baik melakukan recite tiap subbab. dan ada juga yang setelah selesai tiaptiap subbab. Ada kemungkinan pembaca lupa tentang sesuatu hal yang akan diceritakan. Recite menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca. bacaan yang sedang setelah selesai per bab. pembaca tidak boleh membuka-buka buku yang telah dibaca. pembaca yang sudah cukup mahir disarankan merecite tiap bab. Bacaan yang sulit merecitenya setelah selesai membaca pada setiap subbab. ada yang selesai tiap-tiap bab. kebiasaan. Pertimbangan yang dijadikan dasar adalah kemahiran yang dimiliki pembaca. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca bagian yang terlupakan. Tahap ini dilakukan apabila pembaca sudah merasa yakin bahwa pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap question bisa dijawab dan dapat menceritakan dengan benar mengenai bacaan yang telah dibacanya. Hal tersebut diperbolehkan supaya tidak mengganggu tahap berikutnya (review). Pembaca dalam menceritakan kembali harus sudah hafal mengenai isi bacaan. dan bacaan yang mudah mericetenya setelah selesai membaca semua bab. Tingkat kesulitan dan panjang-pendeknya bacaan menjadi menjadi pertimbangan dalam melakukan recite.  Membaca Pemahaman 2-31 Recite (menceritakan kembali) merupakan tahap keempat dari metode SQ3R yang berupa kegiatan membaca untuk menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri. Tahap ini dapat dilakukan per subbab. bacaan yang sedang merecitenya setelah selesai membaca setiap bab. Pada tahap ini.

(Harjasujana dan Mulyati 1997:212).2-32 Membaca Pemahaman   Sebaiknya. dan jelas yang mencakup butir-butir penting isi bacaan. Pembaca dievaluasi seberapa jauh. dan rinci. Bagian yang . Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang. recite dilakukan secara tulis (tertulis). teratur. sedangkan meninjau ulang merupakan kegiatan untuk melihat-lihat bagian-bagian bacaan secara secepat kilat. dan kedalaman dalam menceritakan kembali isi buku. Sebaliknya. tahap ini merupakan tahap evaluasi. Ikhtisar dibuat berdasarkan rambu-rambu berikut ini. luas atau banyaknya informasi yang telah dicerna melalui kegiatan membaca. dan rinci. Ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata pembaca sendiri. teratur. Menceritakan kembali isi bacaan (buku) tidak harus hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat pada tahap question. 2. Bagi pembaca. Pembaca bisa saja menceritakan kembali hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh guru atau dosen waktu ujian dan ditanya teman-temannya sewaktu diskusi. tetapi dapat dikembangkan. pembaca yang belum berhasil adalah pembaca yang tidak dapat bercerita secara cermat. Recite tertulis dapat berupa ikhtisar. 1. Pembaca yang telah berhasil adalah pembaca yang dapat bercerita secara cermat. Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatan. bukan lisan. padat. Ikhtisar dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain. misalnya sambil membaca atau sambil membuka-buka kembali halaman buku. keteraturan. 3. Membaca ulang merupakan kegiatan membaca untuk mengulang membaca bacaan yang telah dibaca secara teliti. Ikhtisar dibuat secara singkat. Review (meninjau kembali) merupakan tahap akhir dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami.

Nama lain kartu baca menurut Tampubolon (1990:173) adalah kartu rangkuman pokok bacaan studi. Kelima tahap dalam SQ3R dilaksanakan secara sistematis mulai dari survai sampai dengan review. Pertama. review bermanfaat untuk mengecek barangkali ada hal-hal yang penting terlewati. subjudul. kritik dan saran yang bisa disampaikan untuk menyempurnakan buku yang dibaca. perlu ditulis dalam kartu baca.  Membaca Pemahaman 2-33 ditinjau ulang misalnya judul. dan penerbit. dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada buku. 3. tempat terbit. Informasi-informasi yang didapat dari buku secara bertahap. 4. benar-tidaknya kelebihan dan informasi-informasi disampaikan kelemahan buku yang dibaca. nama pengarang. Kedua. Agar hasil baca dari metode SQ3R terpelihara dengan baik. tetapi pembaca juga merenungkan yang dan memikirkan penulis. judul buku. pembaca dilatih membaca secara sistematis. Hal-hal yang dicatat dalam kartu baca adalah sebagai berikut: 1. pembaca yang sudah mahir tidak sekedar merasa yakin telah menguasai semua isi yang ada dalam buku. diagram. membaca akan . Tahap ini berguna dalam membantu pembaca mengingat-ingat dan mengeluarkannya pada waktu ujian. Pada tahap ini. ringkasan mengenai pokok-pokok penting isi bacaan dengan bahasa pembaca sendiri. 33arag atau judul bacaan. Disamping itu. gambar. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan metode SQ3R ada lima. kutipan lengkap bagian informasi atau pernyataan yang dipandang penting dengan disertai keterangan sumber otentik (tahun terbit dan halaman). tahun terbit. Meninjau kembali bacaan diperlukan untuk menyegarkan kembali ingatan atas informasi-informasi yang telah diperoleh pada waktu membaca. 2.

Tempo baca akan diperlambat jika membaca halhal yang belum diketahuinya atau bacaannya sulit. dan manfaat SQ3R. pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah buku yang dihadapinya sesuai dengan yang diperlukan atau tidak.2-34 Membaca Pemahaman   memperoleh pemahaman yang komprehensif dan tahan lama. Dalam daftar isi terdapat judul bab metode SQ3R pada bab VIII. Keefektifan pembaca membaca membaca dapat dilihat secara dari efektif dan efisien. Tujuan yang ingin dicapai dalam membaca buku dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Keempat. Ketiga. tahap-tahap penggunaan. Contohnya adalah jika pembaca diberi tugas mencari pengertian metode SQ3R. Untuk mencapai tujuan. kegiatan tercapainya membaca sesuai dengan tujuan. Pembaca dapat mengetahui hal tersebut setelah selesai melakukan survai. Jika buku itu tidak diperlukan. tahap-tahap. Pengaturan tempo membaca tiap-tiap bagian bacaan tidak selalu harus sama. Pembaca akan mempercepat tempo bacanya jika membaca hal-hal yang sudah diketahui atau bacaannya mudah. Buku yang dihadapi untuk dibaca adalah buku yang berjudul Membaca 2 karangan Harjasujana dan Mulyati. Buku tersebut disurvai pada daftar isi. Sub-sub bab pada bab VIII berjudul pengertian. Jika buku tersebut diperlukan. pembaca akan beralih pada bacaan lain yang sesuai kebutuhannya. Semua bagian-bagian buku dibaca mulai dari halaman judul sampai daftar pustaka atau indeks. dan manfaat menggunakan SQ3R. Dari hasil survai tersebut pembaca dapat menentukan bahwa buku itu diperlukan sehingga pembaca melakukan tahap berikutnya. pembaca diberi kesempatan untuk membaca secara fleksibel. pembaca melakukan serangkaian tahapan yaitu . pembaca akan meneruskan membacanya. Kelima. Pemahaman yang diperoleh akan tahan lama tersimpan di dalam otak karena diperoleh dengan menggunakan cara yang bertahap.

Di samping itu. c. dan review sehingga tujuan baca akan bisa tercapai dengan baik. 1. Keefisien membaca dilihat dari sisi waktu yang dibutuhkan dalam membaca. Dalam penggunaannya. Teknik Scanning Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas atau teknik baca tatap. Pembaca sudah mempunyai tahap-tahap yang pasti dan persiapan yang mantap untuk membaca sehingga akan mempercepat proses membaca buku. Setelah yang dicari ditemukan. pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memperhatikan atau membaca bagian-bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari. Tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan informasi tertentu dan atau fakta khusus. pembaca melaju dengan penuh keyakinan. Kedua paragraf dilakukan sekilas dan teliti. Untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus. Waktu baca dari sebuah buku dengan metode SQ3R 35paragrafap cepat. Prinsip membaca scanning adalah cepat menemukan informasi untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus pembaca. . Pembaca tidak akan mengulang bacaan yang telah dibaca. yaitu proses mencari atau menemukan dan proses memperoleh informasi atau fakta. Teknik scanning terjadi dua proses. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. Scanning merupakan teknik membaca sekilas cepat. 2.  Membaca Pemahaman 2-35 reading. pembaca perlu memperhatikan hal-hal berikut ini. tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Harjasujana dan Mulyati 1997:65 dan Tarigan 1994:31). 3. recide. 4. pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh atau memahami informasi atau fakta yang dicari.

Yang dapat diterapkan adalah menemukan topik tertentu dan mencari entri pada indeks. Dalam menulis karya ilmiah semakin banyak sumber yang diacu dan sumbernya bermutu mempunyai nilai tersendiri karena salah satu paragraf dalam menilai sebuah tulisan ilmiah adalah dari sumber yang dipakai. antara lain menemukan topik tertentu. Untuk itu. . tetapi sebanyak mungkin. menemukan kata di kamus. 6. Pembaca dapat mempermudah atau mempercepat mencari lewat daftar-daftar isi dan atau indeks 5.2-36 Membaca Pemahaman   1. 2. 3. dan mencari entri pada indeks (Soedarso 2004: 90-96). Dalam kehidupan sehari-hari teknik scanning digunakan dengan tujuan. seperti anak panah yang langsung meluncur dari bagian tengah busur ke sasaran yang dituju oleh pemanah. Jika ada. memilih acara paragraf. grafik. Pembaca disarankan mengetahui kata-kata kunci atau frasefrase kunci yang menjadi petunjuk. Pembaca menggerakkan matanya secara sistematis dan cepat. seorang penulis memerlukan sumber. Pembaca seyogyanya mengenai organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk menafsirkan letak informasi terentu atau fakta khusus. mencari nomor telefon. Pembaca memperlambat kecepatan bacanya jika sudah menemukan informasi atau fakta yang dicari untuk meyakinkan kebenaran mengenai hal yang dicari. makalah atau buku. pembaca lebih baik melihat gambar. ilustrasi atau 36arag yang berhubungan dengan informasi atu fakta yang dicari. 4. Dalam rangka menulis sebuah artikel. dengan pola S atau zig-zag. Sumber yang diperlukan tidak hanya satu.

pembaca berhenti pada halaman tersebut dan melakukan membaca secara biasa dengan tujuan memperoleh informasi. Pembaca men-scan daftar isi untuk mencari paragraf tertentu. Pembaca membuka halaman yang ditemukan pada tahap 3. dan gambar. Untuk mencari paragraf. pembaca dapat juga men-scan daftar indeks. kata atau istilah yang ada di dalam . 3. bagan. 2. pembaca cukup men-scan halaman demi halaman. Tahap yang dapat dilakukan dalam men-scan buku untuk menemukan paragraf tertentu adalah sebagai berikut: 1. Selain dari buku. Topik yang dicari bisa saja terdapat pada beberapa bab. Apabila ditemukan paragraf yang dicari. pembaca juga tidak perlu membaca semua bagian yang ada pada surat kabar. Untuk melengkapi pencarian paragraf. Pembaca membuka halaman dari paragraf yang telah ditemukan dan men-scannya. grafik. Indeks merupakan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan yang tersusun menurut abjad yang memuat informasi mengenai halaman. tetapi cukup men-scan (menemukan) melalaui daftar isi. Topik-topik tersebut dicari dari buku atau sumber yang lainnya.  Membaca Pemahaman 2-37 penulis terlebih dahulu dituntut untuk mencari dan mempelajari paragraf-topik yang relevan dengan pembahasan yang akan dibuat. Untuk mencarinya pembaca tidak perlu membaca semua bagian buku. Setelah itu. Pembaca dituntut dapat mencarinya dan memperolehnya dengan cepat sehingga dapat mencari paragraftopik tersebut dari buku yang lain. Karena tidak ada daftar isi. gambar. dan atau grafik. 4. indeks. pembaca dapat men-scan halaman berikutnya atau pada surat kabar yang lain. Pembaca yang mengenal surat kabar tersebut bisa lebih cepat dalam menemukan hal yang dicari karena ia sudah tahu kira-kira pada halaman berapa paragraftersebut dibahas. paragraf-topik tertentu dapat dicari dari surat kabar.

3.2-38 Membaca Pemahaman   buku. Lihat juga gambar. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman atau melewati batas pandang yang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. 1. paragraf yang berhubungan dengan kata yang dicari. dapat melakukan tahap-tahap berikut ini. d. tidak semua buku terdapat indeks. jumlah penduduk. grafik. 1. Indeks terdapat pada bagian akhir dari sebuah buku. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu kata kuncinya adalah sensus. 2. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan indeks atau mungkin penulis tidak tahu mengenai indeks. demografi. 2. Setelah menemukannya. Untuk dapat mencari istilah atau kata pada indeks secara cepat pembaca dapat menggunakan teknik scanning dengan tahap-tahap sebagai berikut. Cobalah cari melalui daftar isi. Apabila buku yang dibaca tidak memiliki indeks. 3. dan lain-lain. ilustrasi. Indeks sangat berguna bagi pembaca pada waktu ingin mencari istilah dan uraiannya secara cepat. Tentukanlah istilah atau kata yang ingin dicari dalam indeks. Bukalah halaman yang memuat indeks. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan . Pola Vertikal Pola paragraf merupakan pola membaca dengan cara bola mata bergerak meluncur secara paragraf dari atas ke bawah. Carilah istilah atau kata tersebut pada indeks dengan gerakan mata secara sistematis dan cepat. lambatkanlah kecepatan membaca untuk memahami kata atau istilah yang dicari. pemukiman. Namun. Kenali organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk memperkirakan letak jawaban. Pembaca harus mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk.

Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman berikutnya.  Membaca Pemahaman 2-39 bantuan telunjuk tangan kiri.2. Penerapak metode S2QR adalah berikut ini. Metode tersebut digunakan apabila pembaca tidak memiliki tujuan khusus sewaktu membaca paragraf. grafik atau diagram. kecepatan secara otomatis diperlambat. definisi. dan reading (Depdikbud 2004:4-5). sehingga pembaca . siswa kelas X dituntut untuk dapat merangkum seluruh isi informasi grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. Untuk dapat terampil memindai grafik.2. metode S2QR. rumus atau hal yang dicari). kecepatan ditingkatkan beberapa kali. kemudian apabila dirasa sudah dimengerti.1). teknik scanning. Pembaca menerapkan pola ini dengan cara pandangan mata diarahkan dari bagian atas ke bagian bawah secara cepat. Pada saat merasa ada hal-hal yang penting (kata kunci. Membaca Memindai Grafik Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Gambar 3 Pola Vertikal 3.4). question. grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai. Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca paragraf. seek.1. Apabila digambarkan. gerak mata dengan pola paragraf adalah berikut ini. dan pola vertical (lihat 2. siswa dapat menggunakan model membaca atas bawah (lihat 2.3 dan 2.

seek. Hal yang dianggap perlu atau yang diinginkan biasanya adalah hal-hal yang bersifat menonjol. Setelah menemukannya pembaca langsung membaca pada bacaan yang lain. 2. Informasi tambahan berupa keterangan yang tidak mungkin dimasukkan di dalam paragraf. sehingga ia tidak merasa perlu mencermati seluruh paparan yang ada pada paragraf. Question adalah kegiatan pembaca membuat pertanyaan tentang isi paragraf atau tujuan membaca paragraf. Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam paragraf. Jika tidak ada tujuan khusus. Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada di luar kolom paragraf. Informasi yang ingin disampaikan secara rinci dalam bentuk paragraf umumnya berupa urutan tahun. Pembaca langsung mencari hal-hal yang diinginkan. Informasi tersebut bisa dicari pada bagian kolom dan baris pada paragraf. dan angka-angka. Informasi apa saja yang ada dalam paragraf merupakan pertanyaan . misalnya sumber data paragraf. Hal-hal pokok yang perlu disurvai adalah judul paragraf dan subjudul. Pembaca yang tidak sedang studi membaca paragraf untuk tujuan khusus. sehingga tidak perlu melakukan tahap S2QR. Manfaat mensurvai judul adalah untuk memahami pesan secara utuh dan menyeluruh. 1. Pembaca yang sedang studi membaca paragraf dengan tahap survai. Pembaca harus meresapi judul yang disurvai karena judul merupakan ringkasan yang padat tentang informasi yang disampaikan penulis dalam bentuk paragraf. persentase.2-40 Membaca Pemahaman   dapat membaca secara cermat dan menyeluruh. Setelah informasi didapat yang perlu dilakukan adalah mencari informasi tambahan jika ada. question. membaca paragraf biasanya bertujuan untuk mencari informasi yang tertuang dalam paragraf. dan reading. 3.

Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question.  Membaca Pemahaman 2-41 pokok tentang isi paragraf. Ia bisa saja menemukan informasiinformasi yang lainnya. Walaupun demikian. Reading adalah kegiatan membaca paragraf secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari. Pertanyaan yang lain bisa saja dibuat dengan cara mengubah judul menjadi pertanyaan. pembaca tidak hanya terpancang pada menemukan jawaban-jawaban tersebut. Pembaca dalam kegiatanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan pada tahap 3. Berapa angka tertinggi? Kelompok mana yang paling baik? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu. misalnya. . 4. pembaca harus melakukan tahap reading.

Indikator 1. Menerapkan model membaca sewaktu membaca intensif. metode. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca intensif. E. 5. Membaca Intensif Pemahaman Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. 4. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca intensif. Uraian Materi 1. metode. dan teknik membaca serta penerapan model. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. D. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif.BAB III. Deskripsi Penyajian model. C. metode. dan teknik membaca. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. 6. 2. MEMBACA INTENSIF A. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. siswa kelas X dituntut untuk dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik . Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. 3. metode. menerapkan kiat B. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca intensif. dan mampu menerapkan model.

Karena paragraf atau cara kerja berawal dan bergantung pada bacaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas. dan teknik close reading.  Membaca Pemahaman 2-43 sastra Melayu klasik dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. kiatnya adalah menggunakan model membaca bawah atas. Untuk dapat terampil membaca intensif seperti tuntutan di atas. Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. Pembaca bergantung sekali pada bacaan. Model Membaca Bawah Atas Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau battom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan. pembaca melakukan penyandian kembali paragraf-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. Siswa kelas XII dituntut untuk dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. Dalam membaca. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menganalisis unsur intrisik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. paragraf membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas. Apabila dibagankan model membaca bawah atas adalah berikut. metode kalimat. . a. sedangkan struktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peran sampingan (sekunder).

yaitu : 1. Penerjemahan tidak hanya diartikan sebagai penerjemahan paragraf grafis ke bentuk lisan (fisik). tetapi juga pada proses menyimak. Berita-berita yang diterima pembaca mengandung informasi yang dibutuhkan atau dicarinya. Setelah itu. Dekoding pada pembaca terjadi pada komunikasi tulis. gramatikal.2-44 Membaca Pemahaman   Bagan 4 Model Membaca Bawah Atas Berdasarkan bagan 3. hasil penyandian kembali dikirim ke otak untuk dipahami. Membaca pada hakikatnya merupakan proses penerjemahan dan dekod. kemudian pembaca melakukan penyandian kembali 44paragraf-simbol tertulis. sedangkan paragraf pada menyimak terjadi pada komunikasi lisan. proses membaca diawali dari bawah. Dekoding merupakan proses pengubahan tanda-tanda grafis menjadi berita yang bermakna bagi pembaca. Bacaan merangsang atau menstimulus mata. dan kalimat secara eksplisit. pemahaman makna leksikal. Dekoding tidak hanya terjadi pada proses membaca. tetapi juga penerjemahan paragraf grafis ke bentuk pemahaman (psikis). yaitu bacaan. 2. Pemahaman tersebut mencakup dua hal. . pemahaman maksud dan tujuan pengarang secara paragraf.

pembaca perlu latihan yang serius dan terencana. Kata dan frase dipandang sebagai paragraf kalimat pembentuk ide. . Untuk mencapai hal tersebut tidak mudah karena metode kalimat merupakan membaca yang kompleks. tetapi pada setiap akhir kalimat. Sewaktu mengayunkan pandangan mata pembaca dituntut memahami bacaan kalimat yang dibaca. Latihan membaca dengan metode ini dapat dibagi menjadi dua. pembaca akan dapat menangkap makna kalimat dengan mudah dalam waktu yang paragraf singkat. yaitu mekanik dan konseptual. Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat. Jika demikian. Pembaca hanya diperbolehkan mengadakan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. Di samping itu. mata lebih dapat leluasa bergerak secara cepat. Pembaca akan lebih dapat menghemat waktu baca sebab paragraf tidak lagi berhenti pada satuan-satuan frase atau kata. yaitu menerapkan beberapa kemahiran yang sudah didapat dalam latihan sebelumnya. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat. Pembaca mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya. pembaca mengayunkan matanya lebih jauh lagi paragraf membaca frase. Untuk itu. Metode Kalimat Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang ada dalam bacaan.  Membaca Pemahaman 2-45 b. Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. Dengan demikian.

memasuki dunia sekolah. Membaca kalimat lebih cepat 3 atau 4 kali membaca frase.2-46 Membaca Pemahaman   (1) Metode Kalimat secara Mekanik Secara mekanik. Latihan membaca kalimat secara mekanik dapat dilakukan dengan bacaan berikut ini. pembaca melakukan lompatan pandangan mata dari kalimat ke kalimat berikutnya. pembaca melakukan hentian bisa mencapai kurang lebih 12 sampai dengan 20 kali pada setiap pparagrafafnya. dalam wawancara pekerjaan Anda harus tampil sebagai orang pribadi sekaligus sebagai komoditi. Anda adalah pribadi khusus. dan tekun. Tanpa latihan seperti itu. Pembaca dikondisikan dapat membaca kalimat demi kalimat. Serta merta. mata tidak mudah lelah karena mata tidak sering melakukan lompatan-lompatan. sekali pandang mata sudah dapat memandang satu kalimat. tetapi . Hentian sementara dilakukan lebih jauh dibandingkan pada membaca frase. Pertama. Keuntungan membaca kalimat secara mekanik ada tiga. sulit rasanya kemahiran dapat dicapai karena membacanya semakin rumit. Apabila diperhatikan dalam satu paragraf mata hanya bergerak atau melompat beberapa kali saja (4 sampai 5 kali). pembaca lebih cepat selesai dalam membaca dibandingkan membaca frase. Bacaan 4 Pentingnya Komunikasi Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan. pembaca perlu berlatih secara kontinyu. Mata lebih didorong untuk melakukan lompatan yang jauh dan mata didorong untuk mempunyai pandangan yang lebar. Kedua. dan dunia kerja. Untuk mencapai kemahiran itu. Ketiga. dilihat dari cara kerja mata. Kesulitan komunikasi selagi mereka mulai ke luar dari keluarga. teratur. Dibandingkan dengan membaca frase.

yaitu sekali pandang semua bacaan terlihat. paragraf. Betapa pun wawancara pekerjaan itu bisa dijadikan contoh pentingnya komunikasi dalam bisnis. membaca melakukan usaha untuk memahami atau menafsirkan makna yang terkandung dalam masingmasing kalimat dan merangkaikannya menjadi makna yang utuh. !) sebagai tanda batas antarkalimat. Ayunkan pandangan mata beralih ke kalimat berikutnya secara perlahan-lahan. pendidikan.  Membaca Pemahaman 2-47 Anda sedang mencoba menjual keterampilan. 1. pemerintahan. 2. (2) Metode Kalimat secara Konseptual Secara konseptual. 6. Berlatih pada hari-hari berikutnya sampai Anda mempunyai kemahiran membaca kalimat demi kalimat secara mekanik. 3. Mata tidak boleh berhenti sebelum kalimat selesai atau Anda boleh berhenti pada tanda titik atau 47arag. Namun. Ulangilah latihan sampai empat atau lima kali sambil meningkatkan kecepatan gerak mata. Tataplah bacaan di atas dengan pandangan yang lebar. Anda sebagai calon karyawan menjadi sungguh-sungguh sadar akan pentingnya keterampilan komunikasi dasar dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. Keterampilan Anda kepada seseorang yang membutuhkannya. 4. . Tahap-tahap berikut ini dapat digunakan sebagai paragraf dalam latihan membaca bacaan di atas. dan profesi. Cara memahami metode frase digunakan sebagai dasar dalam . setiap situasi kerja menuntut berbagai kemampuan berbicara yang luwes. 5. ? . Mulailah pandangan mata terfokus pada kalimat pertama. atau perintah (. Dalam tatap muka dengan manajer personalia.

karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk dikonsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan paragraf kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Alternatif latihan metode kalimat secara konseptual pada bacaan tersebut adalah sebagai berikut. buku ilmiah. Tetaplah bacaan itu dengan sekali pandang.2-48 Membaca Pemahaman   melakukan latihan ini. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terkait oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. surat kabar. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. 1. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. . Bacaan 5 Bahan Ajar Membaca Sebagai seorang guru. Dalam kenyatan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. guru bidang studi apapun. Pembaca dapat melakukan latihan membaca secara konseptual dengan bacaan berikut ini. majalah. Masalahnya. paragraf-pamplet. dan lain-lain. Untuk pengajaran membaca. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macan bahan ajar yang ada. tuntutan memilihkan bahan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan.

pembaca mengenal. Pembaca merangkaikan informasi yang baru diperoleh ke dalam suatu kerangka yang telah ada. 4. dan memahami informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan secara tersurat (eksplisit). Menurut Farr dan Roser (1979:359) yang dapat dilakukan oleh pembaca dengan menggunakan teknik ini ada dua. Pahamilah kalimat demi kalimat secara perlahan-lahan. 2. Pembaca tinggal menangkap maknamakna tersebut. hubungan ide-ide bawahan dan ide-ide utama. Pembaca hanya memahami makna secara tersurat. . Pembaca hanya menangkap informasi-informasi yang terletak secara jelas dalam bacaan. Teknik Close Reading Close reading (membaca teliti atau membaca cermat) adalah teknik membaca yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan (Tarigan 1994:33). Pembaca memahami organisasi. Pembaca hanya menerima (memahami) apa yang ada pada tulisan. Informasi secara eksplisit terdapat dalam baris-baris. Pembaca menerapkan keterampilan pemahaman pada tingkat yang rendah (dasar). yaitu: 1. c. 3.  Membaca Pemahaman 2-49 2. Pembaca tidak diperbolehkan memahami frase demi frase. 2. menangkap. Dengan teknik ini. Ciri-ciri pembaca yang menggunakan teknik close reading adalah sebagai berikut: 1. tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi (paragraf) atau makna dibalik baris-baris. Berlatihlah pada hari-hari berikutnya sampai mahir. Nurhadi (2004:57) paragraf nama membaca literal. 3. Ulangilah latihan ini 2 atau 3 kali sambil meningkatkan daya pemahaman terhadap bacaan.

menemukan urutan atau susunan organisasi cerita yang ada dalam bacaan. yaitu tentang siapa. memperoleh ide-ide pokok yang ada pada bacaan. 3. di mana. memperoleh informasi (ide) lain atau tambahan yang ada dalam bacaan.2-50 Membaca Pemahaman   4. tentang hal yang ada pada bacaan. 1. Tujuan yang diinginkan oleh pembaca pada umumnya adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan. menemukan rincian atas fakta-fakta yang terjadi dalam bacaan. Pembaca mempunyai tujuan dalam membaca yang dirancang sebelum melakukan kegiatan membaca. apa. 3. Pembaca hanya mengingat-ingat informasi yang ada dalam bacaan. 5. 2. Tujuan khusus meliputi: 1. Teknik ini perlu dilatihkan terutama untuk pembaca yang sedang belajar karena teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk membaca telaah atau membaca studi. Pembaca tidak berpikir kritis dalam menerima informasi yang ada pada bacaan. halhal yang diperoleh bersifat paragraf. Dengan teknik ini. Agar dapat berhasil dalam menggunakan teknik ini. 2. Pembaca membaca bacaan yang mengandung informasi-informasi yang diperlukan pelajar untuk . Pembaca menerapkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca dengan teknik ini secara bertingkat sesuai tingkatan keterampilan yang dibutuhkan atau sesuai urutan keterampilan. pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut ini. Pembaca harus sudah mempunyai keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membaca dengan teknik close reading. Tujuan yang lain selain tujuan umum adalah tujuan khusus. 4.

6. Siswa kelas XI dituntut dapat membandingkan paragraf-paragraf dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan dengan hikayat. a) Metode GPID Metode GPID diusulkan oleh Merrit. 10. dan dimana. metode. 2. 12. Teknik close reading melatihkan kemahiran pembaca dalam hal: 1. 9.4. 4. menangkap paragraf sebab akibat. 2. 5. . memahami makna kalimat. siswa kelas X dituntut dapat menganalisis keterakaitan unsut paragraf suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari.  Membaca Pemahaman 2-51 memperoleh dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. 7. Siswa kelas XII dituntut dapat menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode. menangkap paragraf perbandingan. dan teknik yang dapat digunakan untuk membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. memahami makna kata. metode GPID. menyatakan kembali paragraf sebab akibat. siapa. 3. memahami makna paragraf. Menurutnya. memahami makna frase. dan teknik retensi. menyatakan kembali paragraf urutan. memahami (menjawab) apa. 11. memahami makna paragraf detail.1). Model. . menangkap paragraf urutan. menyatakan kembali paragraf perbandingan. 8. kapan. Membaca Intensif Kritis Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu.

dan rencanarencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk paragraf tanda atau catatan). bagian-bagian yang akan dibaca. Goall adalah apa yang diharapkan. Goall dapat dilakukan dengan cara membatasi perhatian. pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. 3. kendala. Dengan cara seperti itu. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca. plans. 2. Implementation adalah pelaksanaan membaca. perincian maksud yang lebih khusus. Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut. apa yang ingin dicapai.2-52 Membaca Pemahaman   paragraph. Plans dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan maksud pilihan bagian-bagian yang dibaca. dan development (Yap 1978:114115). Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. dan merumuskan maksud atau tujuan. Hal tersebut berguna sebagai pedoman apa yang dilakukan selanjutnya. Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut. dan apa manfaat membaca. dan penyusunan pola membaca. Pada tahap ini. implementation. Pembaca terlebih dahulu menentukan untuk apa ia membaca. Pembaca sudah mempunyai arah yang jelas. 1. latar belakang. Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan. Sewaktu membaca pembaca sudah tahu hal-hal yang akan dicari dalam bacaan sehingga bisa membaca lebih efektif. Pelaksanaan membaca sudah dengan teknik dan pola baca yang . memusatkan perhatian. Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan. pembaca akan termotivasi untuk melakukan kegiatan membaca sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya yang maksimal. dimaksud atau apa tujuan membaca.

Jika belum. ataukah pada tahap implementation. pembaca mengecek apakah ia telah melakukan kegiatan membaca sesuai rencana.  Membaca Pemahaman 2-53 direncanakan sehingga pembaca tidak akan membuang-buang waktu dan tidak akan kehilangan pemahaman yang sudah direncanakan. Jika tidak berhasil. dapat ditarik simpulan apakah kegiatan baca berhasil atau tidak.Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah tercapai. . dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai. apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncanakan. Jika sudah berhasil. Ia juga tidak akan membaca hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tujuan membaca. Jika sudah. Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan. tahap plans. pembaca disarankan melakukan kegiatan membaca lagi atau pembaca dapat mengubah tujuan (rencana) baca yang telah disusun. Setelah dinilai secara keseluruhan. Pembaca mengevaluasi dengan cara mengecek apakah informasi yang diinginkan pada tahap paragraph sudah didapat. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kegiatan baca secara keseluruhan. berarti kegiatan membaca belum berhasil. 4. Dalam mengevaluasi rencana. Jika sudah berarti rencana telah berjalan dengan baik dan jika belum berarti rencana belum berjalan dengan baik. Pembaca tidak lagi membaca tanpa arah dan tanpa tujuan. berarti kegiatan membaca telah berhasil. pembaca bisa menghentikan kegiatan bacanya atau membaca bacaan yang lainnya. Hal tersebut bergantung pada di mana letak ketidakbehasilan dalam membaca: apakah pada tahap paragraph.

Sebaliknya. Pembaca mengungkapkan pendapatnya mengenai sesuatu berdasarkan hasil membaca. Misalnya. Teknik retensi dibuat untuk membantu pembaca untuk menyimpan ingatan tentang informasi yang ada dalam bacaan dan sewaktu dibutuhkan siap untuk dipanggil atau dimunculkan. Teknik tersebut dinamakan teknik retensi. diskusi. pembaca yang tidak dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes kesulitan mengingat kembali apa yang telah dihafal atau bahkan lupa sama sekali tentang informasi yang telah dihafal.2-54 Membaca Pemahaman   b) Teknik Retensi Sesudah informasi atau isi yang ada dalam bacaan dihafal. Untuk membantu pembaca menyimpan hafalan dengan baik diperlukan teknik membaca secara khusus. yaitu repetesi. misalnya mengenai emansipasi wanita. Pertama. pembaca ditanya sewaktu ujian tentang hal-hal yang telah dibacanya (menceritakan kembali isi bacaan atau menjawab mengenai informasi yang ada dalam bacaan). pembaca membaca bacaan. Kemudian pembaca mendiskusikan tentang apa-apa yang telah dibacanya dengan temannya yang sudah membaca atau mengetahui . Teknik diskusi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan oleh pembaca dengan bertukar pikiran kepada orang lain tentang informasi yang telah diperolehnya dari bacaan. Kata retensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyimpanan. Teknik retensi ada lima. menggunakan informasi. menulis informasi. Hal tersebut bisa dilakukan dengan dua teknik. dan tes (Wainwraught 2006: 5758). Seorang pembaca yang dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes segera dapat ingat kembali tentang apa-apa yang telah diingatnya. yang perlu dikerjakan berikutnya oleh pembaca adalah menyimpan hafalan atau ingatan supaya sewaktu hafalan tersebut digunakan segera atau cepat muncul. Yang diterapkan adalah diskusi dan menggunakan informasi.

Sebaliknya. pembaca membaca sebuah bacaan (misalnya tentang bencana alam). Teknik menggunakan informasi merupakan teknik retensi yang dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh dari bacaan. si ibu tersebut berusaha dapat memasak masakan padang. Untuk kali pertama. Misalnya. Kapan pun. penjaja paragraf menelepon agen itu dengan membaca nomor telepon. Setelah berkali-kali digunakan.menerus. Jadi. Untuk menyenangkan suaminya. pembaca berdiskusi dengan orang lain tentang sesuatu hal yang telah dibaca. kemudian pada suatu kesempatan (lain waktu). Salah satu caranya adalah dengan mempraktekkan resep masakan padang dari buku resep masakan. pembaca menggunakan informasi yang telah didapat. Biasanya teknik ini dilakukan pada waktu pembaca sedang studi. Tiap hari si penjaja paragraf selalu menelepon agen tersebut untuk pesan paragraf. seorang ibu yang mempunyai suami dari Padang yang suka masakan padang. . pembaca dapat menambah informasi yang telah didapat dengan menyesuaikan atau memodifikasi ingatan yang telah diperoleh dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. informasi tersebut tidak akan hilang bahkan akan selalu setia dalam ingatan. kurang lengkap atau orang lain menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh pembaca. Apabila dalam berdiskusi pendapatnya benar atau orang lain setuju maka akan memperkuat retensi. nomor telepon agen surat kabar. Misalnya. dalam situasi apa pun informasi itu akan digunakan selalu cepat teringat atau muncul. Kedua. jika pendapat pembaca tidak benar. teknik diskusi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.  Membaca Pemahaman 2-55 tentang hal tersebut. Jika sebuah informasi yang didapat selalu digunakan. penjaja paragraf menelepon dengan tanpa membaca karena sudah hafal. Dalam berdiskusi. Untuk memperkuat retensi bisa juga dilakukan atau dipraktekkan secara terus.

5.1. sisiwa dituntut untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam buku biografi. Model.2) dan PQRST. metode kalimat dan atau paragraf (lihat2.1.5. . dan teknik retensi (lihat 2.3).4. Model. metode kalimat (lihat 2. c) Membaca Intensif Pparagrafaf Dalam standar isi pada kurikulum 206.2 dan 2.1). sisiwa kelas X dituntut dapat menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif. dan teknik yang dapat dipilih untuk digunakan dalam membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2.4. d) Membaca Intensif Artikel Dalam standar isi pada kurikulum 2006. siswa kelas XI dituntut untuk membedakan fakta dan opini pada editoral dengan membaca intensif dan siswa kelas XII dituntut untuk menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif. deduksi dengan membaca intensif. metode pparagrafaf (lihat 2.1).4.2-56 Membaca Pemahaman   Awal mula.3). si ibu itu sudah tidak perlu membaca lagi karena sudah hafal. e) Membaca Intensif Buku Biografi Dalam standar isi pada kurikulum 2006.2). dan teknik. Untuk memenuhi tuntutan tersebut model. dan teknik retensi (lihat 2.4.4. metode. metode.1). Siswa kelas XII dapat menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi.2). metode. dan teknik yang dapat dipilih adalah model membaca bawah atas (lihat 2. Setelah dilakukan berulang-ulang. si ibu memasak sambil membaca. dan teknik yang dipilih untuk digunakan adalah model membaca bawah atas (lihat 2.

dan read pada metode ini bersinonim dengan tahap survai. yaitu dalam hal tahap-tahap yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai. Ringkasan dibuat oleh pembaca setelah selesai membaca satu bab dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh tidak hilang (lupa).  Membaca Pemahaman 2-57 (a) Metode PQRST PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. Pembuatan ringkasan bisa saja dibuat per subbab jika memang menurut pembaca lebih baik seperti itu atau ada kekawatiran kalau satu bab tidak bisa membuatnya karena sudah lupa. Nurhadi (2005:131) menerjemahkan paragraph menjadi ringkasan. . Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya. Tahap preview. read. question. kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan. Ringkasan bersinonim dengan ikhtisar. dan tes (Widyamartaya 2004:63). Yang tidak bersinonim adalah tahap paragraph dan tes. question. sedangkan Willy (1996:198 dalam Tarigan 1994:35) mengartikan paragraph menjadi ikhtisar. question. yaitu preview. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada paragraf berikut ini. Hal-hal yang ditulis dalam kegiatan meringkas adalah informasi-informasi yang telah diperoleh sesuai dengan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question dan tujuan lain yang ingin diringkas. Walaupun bersinonim. dan read pada metode SQ3R. paragraph.

Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada akhir sebuah bab atau akhir buku. Cara yang digunakan untuk menguji penguasaan isi buku ada empat. . Pembaca memeriksa (menguji) rangkuman yang telah dibuatnya. Apakah rangkuman itu sudah sesuai dengan isi bacaan atau belum dan sudah benarkah rangkuman yang dibuatnya. 1. 2.2-58 Membaca Pemahaman   Tabel Perbedaan Ringkasan dan Iktisar (Nurhadi 2004:138) Tes (uji periksa) merupakan tahap terakhir dari metode SQRST yang berwujud kegiatan pembaca untuk menguji seberapa banyak penguasaan terhadap buku yang telah dibaca.

Teknik ini telah digunakan sebagai teknik mengingat sejak tahun 500 SM. dan atau membuat ringkasan sesuai dengan isi bacaan dari sebuah buku. Apakah pembaca dapat menceritakan isi bacaan atau tidak. Keempat cara tersebut bisa dipilih satu. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question. pembaca akan dapat mengingat . 4. Penerapan metode ini dikatakan berhasil jika pembaca dapat menceritakan kembali isi bacaan. tidak dapat menjawab pertanyaan. kemudian menyusun urutan atau rute perjalanan untuk melakukan perjalanan dalam menelusuri tempat tersebut. Pada setiap tempat (bagian bangunan). Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. Modifikasi dari teknik ini dalam membaca adalah mengingat-ingat bahan bacaan yang akan disampaikan oleh pembaca. Berdasarkan arti tersebut. Sebaliknya. metode ini tidak berhasil diterapkan apabila pembaca tidak dapat menceritakan kembali isi bacaan. Loci berasal dari bahasa latin yang berarti tempat-tempat. Pembaca menceritakan kembali tentang isi bacaan yang telah diperoleh. tiga atau empat cara sekaligus. Dengan cara seperti itu. dan atau membuat rangkuman sesuai dengan isi bacaan dari yang dibaca. dapat menjawab pertanyaan. pembaca membuat asosiasi antara pokok pikiran atau informasi pokok yang ingin diingat dengan suatu tempat yang dikenal. dua. Keberhasilan penggunaan SQRST dapat dilihat dari hasil tahap tes. cara kerja pembaca adalah dengan membayangkan tempat atau bangunan yang telah dikenal. (b) Teknik Loci Teknik loci merupakan teknik mengingat yang mula-mula digunakan untuk mengingat bahan pidato yang akan disampaikan.  Membaca Pemahaman 2-59 3.

kejadian. Bagian bacaan yang tidak perlu (sudah dihafal) dilewati dan bagian bacaan yang ingin diretensi dibaca secara sepintas. dibaca Pembaca dengan mengasosiasikan kejadian-kejadian mengurutkan tempat kejadian yang telah dikenal atau dialami oleh pembaca. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat informasi yang telah dihafal sehingga mudah untuk diingat kembali. Teknik ini dapat digunakan oleh pembaca dalam membaca bacaan sastra. Bacaan yang isinya tentang prosa juga dapat digunakan dengan teknik ini dengan mengasosiasikan prosa yang dibaca dengan tempat-tempat yang telah dikenal. . Dalam bacaan sastra digunakan untuk mengingat nama-nama tempat kejadian dengan cara mengasosiasikan tempat-tempat dalam cerita dengan tempattempat yang telah dikenal. Membaca bacaan berita dapat menggunakan teknik ini dengan mengasosiasikan isi berita dengan tempat yang sesuai dengan berita yang yang dibaca. Yang direpetisi tidaklah semua bagian bacaan.2-60 Membaca Pemahaman   pokok-pokok pikiran bacaan dalam urutan tempat atau kejadian yang benar. dan proses. tetapi bagian tertentu atau hal tertentu saja. informasi penting. yaitu bagian yang perlu dihafal lagi. berita. kata kunci dan hal-hal lain yang dianggap penting. Pembaca dapat membaca dengan kecepatan yang tinggi. teknik ini dapat diterapkan pada tahap review. Dalam metode SQ3R. Pembaca juga tidak membaca dengan cara yang sama sewaktu membaca bacaan kali pertama. Salah satu tujuan mereview adalah untuk memperkuat ingatan. (c) Teknik Repetisi Teknik repetisi merupakan jenis teknik yang digunakan pembaca dengan mengulang bacaan yang sudah dibaca. Pada tahap review pembaca hanya membolik-balik halaman yang telah dibaca secara cepat.

Teknik tes digunakan untuk memastikan apakah informasi yang telah diperoleh dapat diingat kembali. Pembaca menutup . yaitu yang mengetes adalah pembaca. pembaca mengingat informasi tentang nomor telepon UNNES di buku telepon atau di surat kabar. bukan orang lain. Sewaktu mau menghubungi nomor tersebut. pembaca akan terbantu untuk mengingat kembali nomor itu sehingga sewaktu menghubungi tidak lupa lagi. Jika ada informasi yang terlupakan. pembaca sudah lupa. Untuk mengatasinya pembaca membaca lagi sambil mencatat nomor itu. yaitu informal dan formal. Jika yang dibaca merupakan sebuah bacaan. Dengan adanya tes. Pembaca dituntut mengingat apa-apa yang telah dibaca. pembaca bisa mengulang membaca bacaan dengan cara yang sesuai dan tepat sampai pembaca ingat kembali. Dengan mencatat. (e) Teknik Tes Teknik tes merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mengecek (mengetes) informasi-informasi yang telah dihafal pembaca. Tes informal dilakukan oleh pembaca sendiri. Menulis informasi yang telah diterima bisa memperkuat ingatan dan memudahkan untuk mengingat kembali (memanggil kembali) informasi yang telah diingat sewaktu dibutuhkan. Misalnya. pembaca melakukan teknik ini dengan meringkas atau merangkumnya. Informasi-informasi yang telah diperoleh dari membaca diringkas di dalam bentuk catatan. Teknik tes dapat dilaksanakan dengan dua jenis. pembaca dituntut mencari dan menyimpan informasi dengan baik.  Membaca Pemahaman 2-61 (d) Teknik Menulis Informasi Teknik menulis informasi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mencatat informasi yang telah didapat dari kegiatan membaca. Hal-hal yang diringkas adalah informasi yang penting atau yang dibutuhkan oleh pembaca.

pembaca disarankan membuka lagi bagian bacaan yang dilupakan. kita mengingat begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat yang bisa digunakan untuk bermain tebak-tebakan di pub atau bermain Trival Pursuit. asosiasi. Disamping dengan kelima teknik ini. Tujuannya adalah apakah siswa dapat menguasai informasi-informasi dari bacaan berita yang telah dibaca atau belum. Pembaca bercerita dalam hati. Jika ada yang lupa. namun sebenarnya kita lebih banyak mengingat informasi yang berguna. Teknik tes informal relevan dengan tahap recite dalam metode SQ3R. Jika sudah ingat semua. Setelah itu. Oleh karena itu. Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengetes pemahaman prosedur. Yang diceritakan adalah hal-hal yang penting atau pokok. kemudian mengingat-ingat kembali informasi-informasi yang telah didapat. pertama-tama kita harus tahu benar arti informasi tersebut bagi kita dan bagaimana kita akan memanfaatkannya. pembaca dapat menghentikan kegiatan membacanya atau membaca bagian lainnya. atensi. minat. Apakah ia bisa ingat atau tidak. visualisasi. Teknik tes formal dilakukan berdasarkan permintaan atau perintah orang lain. organisasi. Teknik ini umumnya dilakukan dalam pembelajaran. siswa adalah close . siswa disuruh menceritakan kembali berita yang telah dibaca atau menjawab pertanyaan tentang isi berita tersebut. Misalnya. Memang. dan umpan balik (Wainwright 2006: 55-57) Kita akan terbantu mengingat sesuatu jika informasi tersebut memiliki arti tertentu bagi kita. retensi dapat diperkuat dengan memilih bacaan yang memiliki arti. Informasi itu harus memiliki relevansi. Pembaca dites untuk menceritakan kembali bacaan yang telah dibaca. seorang guru menyuruh siswa membaca pemahaman sebuah bacaan berita di surat kabar.2-62 Membaca Pemahaman   bacaan.

tindakan ini akan memperkuat kesan yang ditimbulkan informasi tersebut. Setelah mengelompokkan pokok-pokok pikiran yang serupa ke dalam peta pikiran. Jika pola ini tidak mudah dikenali. Demokrasi bisa kita visualisasikan sebagai kertas suara yang dimasukkan ke dalam kotak suara. kita harus mencari cara untuk mengorganisasinya sendiri. Konsep-konsep abstrak pun bisa kita visualisasikan. Banyak orang yang mengingat daftar belanjaan dengan cara seperti ini. Visualisasi membantu kita mengingat berbagai hal. proses tersebut diulangi lagi agar sesuai dengan pola yang baru. Jika paragraf itu mengubah tata letaknya. Kemudian barang kebutuhan mereka disusun untuk menimbulkan asosiasi dengan area-area tersebut.  Membaca Pemahaman 2-63 Informasi lebih mudah diingat jika memiliki pola organisasi. pola semacam ini mudah dikenal. Mereka mengetahui tata letak pasar swalayan di daerah mereka dan memisah-misahkannya menjadi beberapa area. Jika kita dapat melihat hal-hal tersebut dalam mata pikiran kita kemudian menambahi informasi tersebut dengan serangkaian gambar. Sering kali. Kita harus mencari asosiasi yang mudah diingat sehubungan dengan apa yang ingin kita ingat dan apa yang sudah kita ingat. . Selanjutnya. asosiasi-asosiasi tersebut bisa kita hubungkan untuk menghasilkan suatu pola. selanjutnya kita hanya perlu mencari urutan yang sesuai untuk kita. karena penulis suka menyajikan gagasan-gagasan dengan cara yang logis dan teratur. Keadilan sering kali divisualisasikan sebagai timbangan. Pemetaan pikiran bisa dimanfaatkan sebagai tahap penghubung antara materi bacaan yang disajikan serampangan dan rencana yang terperinci. mereka menghasilkan pola berupa sejenis pera rute dalam paragraf yang mempersempit kemungkinan mereka kembali ke area yang sama lebih dari sekali dalam setiap kunjungan. Dengan demikian. yaitu suatu sruktur.

Perpustakaan atau ruang wawancara tanpa jendela biasanya merupakan lokasi siap pakai yang dapat Anda manfaatkan. kita bisa mendapatkan umpan balik yang sangat penting ini. Rangkuman Membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading).2-64 Membaca Pemahaman   Sering kali kita tidak bisa mengingat sesuatu karena kita kurang paragraf perhatian. Dengan penghafal. Kita akan berusaha untuk mengingatnya. meskipun tidak sampai membuat kita mengerutkan dahi yang hanya akan membuat kening kita sakit. Anda bisa terbantu jika memiliki tingkat minat yang tinggi terhadap suatu subjek serta punya motivasi yang kuat untuk mengingatnya. Berdasarkan cakupan bahan bacaan . Dengan motivasi. ketika anda dimungkinkan melakukannya. Jangan lupa untuk mengeceknya kembali agar tidak ada informasi penting yang tertinggal. manfaatkanlah semaksimal mungkin. Walaupun tidak seallu berhasil. Tentukan paragraf yang jelas mengapa Anda harus mengingat sesuatu. Retensi yang efektif membutuhkan konsentrasi. Sebagian besar orang menganggap pagi hari lebih efektif dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi. Cara termudah untuk mengatasi hal ini adalah. F. Umpan balik sangatlah penting. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. didukung kondisi yang paragraf tenang. paragraf-topik yang tidak menarik pun bisa menjadi lebih mudah diingat. pilihlah waktu dan tempat yang menurut pengalaman bisa mempermudah Anda melakukannya. Kita perlu mengecek apakah kita benar-benar mengingat apa yang ingin kita ingat. saat Anda harus memberhentikan sesuatu dan berkonsentrasi.

teknik close reading digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra. 5. dan teknik retensi digunakan untuk membaca artikel. 7. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. Model membaca bawah atas. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. dan teknik yang sesuai dengan keperluan. metode paragraf dan PQRST. metode kalimat. metode kalimat. 3. 6. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai buku. teknik loci dan retensi digunakan untuk membaca buku biografi. Model membaca bawah atas. 4. Model membaca atas bawah. Model membaca bawah atas. yaitu ektensif dan intensif. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai grafik. metode. . kritis teks sastra. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. memindai buku. dan memindai grafik. metode kalimat dan paragraf. Kiat membaca yang digunakan untuk membaca ekstentif dan intensif di SMA adalah berikut ini. Untuk dapat membaca intensif dan ekstensif secara efektif dan efisien. pparagrafaf. Model membaca bawah atas. dan teknik retensi digunakan untuk membaca kritis teks sastra. artikel. metode paragraf dan P2R. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading). metode SQ3R. teknik retensi digunakan untuk membaca paragraf. Model membaca atas bawah. metode S2QR. metode GPID. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. Berdasarkan kurikulum 2006. 8. dan teknik skimming pola blok dan horizontal digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . 1. dan buku biografi.  Membaca Pemahaman 2-65 yang dibaca. Model membaca bawah atas. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. 2. Model membaca timbal balik.

metode. metode. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca buku biografi? menerapkannya! . metode. Model . Model . Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra? cara menerapkannya! 5.2-66 Membaca Pemahaman   G. Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai grafik? menerapkannya! 4. Model . metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai buku? menerapkannya! 3. digunakan untuk dan teknik membaca apakah yang dapat membaca pparagrafaf? Jelaskan cara menerapkannya! 7. LatihanSoal 1. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca kritis teks sastra? menerapkannya! 6. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca artikel? Jelaskan cara menerapkannya! 8. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra? Jelaskan cara menerapkannya! 2. metode. Model . Model . Model .

dan Lilis Sulistianingsih. Nurhadi. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. 2001. Terjemahan Heru Sutrisno. Ahkmad Slamet dan Yeti Mulyati. A. dan Teknik. Skimming and Scanning. Semarang: Rumah Indonesia. Tampubolon. Seni Membaca untuk Studi. . 2004. Soedarso. Widyamartoyo. Harjasujana. Fry. 1994. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Waingwright. 2006. Membaca Efektif. Manfaatkan Teknik-teknik Teruji untuk Membaca lebih Cepat dan Mengingat secara Maksimal. 2006.P. Membaca 2. Retorika Membaca: Model. Roger dan Nancy Roser. Teaching a Child to Read. 2006. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Speed Reading Better Recoding. Bandung : Angkasa Bandung. Bandung : Angkasa Bandung. Kholid A. Membaca 1. Ferr. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Membaca : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Metode. 2005. Henry Guntur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. New York: Harcourt Brace Javanovich.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004. Tarigan. Harras. Edward B. Yogyakarta: Kanisius. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. 1990. Henry Guntur. 2004. 1998. 1979. Nurhadi. 1978. Province: Rhode Island. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Membaca Cepat dan Efektif: Teori dan Latihan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. D. 1990. Bandung: Angkasa Bandung. Tarigan. Gordon. Standar Isi. Haryadi. 1997.

2 (109-118).2-68 Membaca Pemahaman   Wiryodijoyo. “Some Apects of Reading”. Athur. Sumaryono. 1989. . Relc Journal. 1978. Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yap. Vol J. No.

BUKU AJAR MEMBACA PUISI .

Oleh karena itu. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. pada umumnya puisi bersifat lirik. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu.MEMBACA PUISI A. Sebagai penghubung. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. Pembaca puisi. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. Oleh karena itu. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Jadi.

Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Oleh karena itu. Pembaca puisi.3-2 Membaca Puisi MEMBACA PUISI A. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. pada umumnya puisi bersifat lirik. Jadi. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. Sebagai penghubung.

Karena deklamator tidak membawa teks maka aktivitas di panggung dititikberatkan pada gerak tubuh dan vokal. yaitu ketika WS Rendra memperkenalkannya. sedangkan istilah deklamasi berasal dari bahasa Belanda. Agar enak dilihat berarti “semua gerak yang dihasilkan oleh anggota tubuh” si pembaca puisi harus juga benar dan indah. Dalam seni baca puisi. Istilah baca puisi berasal dari bahasa Inggris. B. Sebagai seni “audio-visual” seni baca puisi dituntut enak didengar dan enak dilihat. Seni baca puisi adalah seni “audio-visual” (Suharianto 2001:2). seni baca puisi hakikatnya merupakan “seni tontonan”. Deklamasi Di Indonesia selain istilah seni baca puisi orang juga mengenal istilah deklamasi. sebenarnya secara substansial antara deklamasi dan baca puisi tidak berbeda. Varian Baca Puisi 1. meskipun . Dengan kata lain. pada praktiknya pembaca puisi “membawa” teks. Dengan demikian. Istilah baca puisi merupakan terjemahan dari poetry reading (Amerika). Istilah deklamasi lebih dulu dikenal masyarakat dibandingkan dengan istilah baca puisi. memang berasal dari bahasa yang berbeda. Namun. Sebab dalam praktiknya. sedangkan deklamasi diartikan sebagai “menyampaikan” puisi. Istilah baca puisi baru muncul sekitar tahun 1960-an (Suharianto 1981:52). Inilah yang menyebabkan orang “membedakan” antara baca puisi dan deklamasi. deklamasi dipahami sebagai penyampaian puisi yang menitikberatkan pada lepasnya teks ketika deklamator menyampaikan puisinya.Membaca Puisi 3-3 pendengar atau penontonnya “memahami dan merasakan” apa yang dibacanya tersebut. Dalam tradisi di Indonesia. yaitu baca puisi dan deklamasi. Dalam bahasa aslinya baca puisi diartikan sebagai “membaca” puisi. Agar enak didengar berarti “semua yang dihasilkan oleh alat ucap” si pembaca harus benar dan indah. kedua istilah tersebut.

Materi dasar seni baca puisi adalah puisi itu sendiri. misalnya.3-4 Membaca Puisi membawa teks. yakni lepas teks dan membawa teks. Berangkat dari konsep tersebut. baik yang berupa lagu maupun yang berupa instrumen merupakan satu kesatuan dengan puisi. musik merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan. Yang dimaksud dengan penyertaan instrumen di sini. keberadaan musik hanya sebagai pelengkap. sebenarnya makna yang terkandung dalam konsep “membaca” tidak sesempit yang banyak diartikan orang. dalam musikalisasi puisi. Musik. antara baca puisi dan deklamasi dalam praktiknya tidak berbeda. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi merupakan upaya memusikkan puisi atau menggabungkan antara seni baca puisi dan seni musik. orang yang membedakan antara deklamasi dan baca puisi mendasarkan anggapannya pada “kebiasaan” pembawanya. musikalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk memusikkan dan atau melagukan puisi. banyak juga pembaca puisi yang sebenarnya hafal puisi tersebut. pembicaraan dalam buku ini. Wujud konkret musikalisasi puisi dapat berupa pembacaan puisi dengan cara dilagukan. bukan pengertian leksikal. sedangkan materi dasar seni musik adalah lagu dan instrumen. Tentu saja dalam hal ini pengertian membaca merupakan pengertian dalam arti luas. Jika nada puisi itu gembira. Tanpa melihat teks pun upaya untuk menyampaikan dengan memahami sebuah teks sebenarnya dapat dikategorikan sebagai aktivitas membaca. Dalam pembacaan puisi yang diiringi musik. Namun. kesan kesedihan itu dapat dimunculkan oleh musik. . Dengan demikian. baik mengenai konsep maupun dalam cara atau teknik penyampaian tidak dibedakan. 2. yakni melihat teks. Jika dikaji lebih jauh. atau gabungan keduanya. jika puisi yang dibaca bernada sedih. Dengan demikian. Oleh karena itu. Musikalisasi berbeda dengan baca puisi yang diiringi musik. penyertaan musik (instrumen) dalam pembacaan puisi.

tetapi sudah kita “mainkan” sebagai seni teater. Ciri khas drama adalah adanya dialog. musik. teater tergolong seni pertunjukan yang kompleks. dan seni rupa. Istilah sederhananya adalah mendramakan puisi. 4. dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai bentuk pendramaan puisi. dan sebagainya. olah tubuh. dengan pengubahan menjadi dramatisasi puisi. puisi hanya dibaca oleh satu orang atau dua orang secara bergantian. jika biasanya dalam seni baca puisi. Dalam kondisi demikian. Teaterikalisasi Puisi Dibandingkan dengan seni yang lain. Puisi dalam hal ini tidak sekadar kita baca.Membaca Puisi 3-5 suasana kegembiraan dapat dihadirkan oleh musik. Bedasarkan hakikat drama tersebut. di dalamnya sudah ada unsur akting. tidak sekadar kita dialogkan. 5. Semua unsur seni tersebut melebur menjadi satu dalam teater. 3. Dalam teater ada seni sastra. Sinematisasi Puisi Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata sinema? Film? Tentu sebuah tontonan di layar yang gambarnya tidak diambil . seni gerak. Unsur yang paling menonjol dalam teater adalah unsur act atau gerak. Tidak ada drama yang tidak menyertakan dialog di dalamnya. seni musik. teaterikalisasi puisi—meneaterkan puisi-pada dasarnya merupakan peng-gerak-an puisi. Dengan demikian. Dalam pengertian sempit. dalam dramatisasi puisi diubah dalam bentuk dialog dengan menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakternya. keberadaan musik tidak sekadar menjadi pelengkap tetapi benar-benar menyatu dengan puisi untuk menampilkan suasana tertentu. jika semula puisi bersifat monolog. Oleh karena itu. puisi diubah menjadi dialog. Yang dimaksud dengan pendramaan puisi di sini adalah mendialogkan puisi. Dramatisasi Puisi Dramatisasi puisi merupakan penggabungan seni puisi dan seni drama. Dengan demikian.

yaitu calon pembaca. Dalam film. dalam memilih . Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. Memilih Puisi Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. Namun. jika dalam proses pementasan atau pembacaan itu terjadi gangguan atau "kecelakaan". dengan demikian. calon pendengar. maka gangguan atau "kecelakaan" itu juga akan tampak. Pembacaan puisi diformat dalam bentuk film atau sinema. dan jika perlu ada pengulanagan pengambilan gambar. hal seperti ini tentu saja tidak akan terjadi dalam sinema atau film karena proses pengambilan gambar dapat dilakukan kapan saja dan pengeditan gambar memungkinkan menghilangkan gangguan atau "kecelakaan" itu. Artinya. Kita tentu pernah merasakan betapa “tidak enaknya” mendengar orang menyanyi tetapi lagu yang dipilihnya tidak sesuai dengan karakter suaranya.3-6 Membaca Puisi secara langsung tetapi merupakan hasil pengeditan. ada gambar yang dibalik waktu pemunculannya. kita akan melihat proses permainan atau pembacaan itu berlangsung dari awal sampai akhir dengan plus minusnya. dan situasi pembacaan. Sinematisasi puisi berangkat dari konsep tersebut. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pembaca. Kalau kita sebagai calon pembaca. Dalam pengeditan itu. bisa jadi ada gambar yang dihilangkan. C. Hal yang sama juga dapat terjadi pada pembacaan puisi. gambar ditampilkan setelah melalui proses pemilihan dan pengeditan. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi. Persiapan Baca Puisi 1. sehingga proses pengambilan gambar dan pengeditan juga dilakukan sebelum pementasan atau pertunjukan dilakukan. Jika kita menonton pertunjukan teater atau pembacaan puisi.

Dengan demikian. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda. akan semakin teliti kita dalam memilih puisi. Semakin tinggi tingkat pendidikannya. kemampuan memahami. semakin tinggi pula kemampuan mencerna puisi. jika pendengar agamanya berbeda. Oleh karena itu. puisi yang harus kita pilih adalah puisi yang tidak memihak salah satu agama. tetapi bagi pendengar golongan kedua memandang pebacaan puisi “hanya” sebatas hiburan. akan sesuai kita baca di hadapan pendengar yang agamanya sama. Secara umum pembaca dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. Namun. Yang dimaksud kemampuan di dalamnya termasuk keuatan fisik dan suara. dan kemampuan mengekspresikan. isi puisi dan panjang pendeknya puisi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan pendengar. Agama juga berpengaruh pada pemilihan isi puisi. Semakin banyak kita mengetahui pendengar. sebagian besar pendengar “senang” mendengarkan pembacaan puisi kita.Membaca Puisi 3-7 puisi harus kita sesuaikan dengan kemampuan kita. Sebaliknya. dan usia. agama. Tentu saja dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan mungkin bisa memuaskan seluruh pendengar. misalnya. yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. setidaknya. Bagi pendengar golongan pertama. Puisi-puisi keagamaan. Jika perlu disesuaikan dengan keinginan dan kesenangan kita. Pendidikan akan menentukan tingkat kesulitan puisi yang harus kita baca. sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. Usia pendengar . Hal kedua yang harus diperhatikan adalah siapa calon pendengar. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi. Hal lain yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pendengar antara lain masalah pendidikan. Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pendengar? Kita dapat menyebutkannya selengkap mungkin. menikmati pembacaan puisi tidak sekadar sebagai hiburan.

berat-ringannya isi uisi. Dibandingkan dengan tempat tertutup. Dengan memerhatikan tiga hal tersebut. untuk jenis pembaca umum. Meskipun tidak dijelaskan di sini. gembira. kematian. Selain suara pembaca puisi harus bersaing dengan suara alam–angin atau suara-suara lain—pandangan pendengar juga tidak hanya tertuju kepada pembaca karena ada alternatif yang lain. Puisi yang panjang akan melelahkan pendengar. tempat terbuka jauh lebih susah dikendalikan. puisi yang sesuai untuk dibaca adalah puisi yang tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sederhana. dan sebagainya. Oleh karena itu. Hal ini dimaksudkan agar “daya jangkau” pembacaan puisi tersebut sampai kepada seluruh pendengar. siang atau malam hari. semakin pendek puisi yang harus kita siapkan. kita tentu akan dengan mudah memilih puisi mana yang cocok untuk dibaca dalam ulang tahun perkawinan. dalam suasana sedih. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi--di mana tempatnya.3-8 Membaca Puisi berpengaruh pada penentuan panjang pendeknya puisi. atau serius. dalam menentukan puisi kita juga harus memahami situasi pembacaan. Tempat yang tertutup atau terbuka akan memengaruhi pemilihan puisi. Untuk tempat yang terbuka. Ketiganya membutuhkan corak puisi yang berbeda. dan semakin sederhana bahasa puisi yang digunakan. atau pengukuhan guru besar. Kita dapat membedakan suasana atas suasaana sedih. Demikian juga dengan puisi yang bahasanya susah dicerna. Semakin rendah usia pendengar. Suasana akan menentukan pemilihan isi puisi. dan serius. dan sederhana-tidak sederhananya bahasa puisi. tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih: terbuka atau tertutup. . gembira. Ketiganya membutuhkan jenis puisi yang berbeda. Selain calon pembaca dan pendengar. di luar atau di dalam ruangan. akan sangat melelahkan pendengar. semakin ringan isi puisi yang harus kita siapkan.

(2) Bersifat melodius. (3) Bahasanya sederhana. pembacaan ternyata sudah berakhir. Sebaliknya. Syarat yang kedua bersifat melodius. Istilah sederhananya.Membaca Puisi 3-9 kita dapat memilih puisi yang memenuhi syarat berikut. kejenuhan pendengar akan terlihat. kesan terhadap sesuatu. Arti bersifat melodius adalah jika dibaca puisi tersebut akan memunculkan nada dan irama “yang enak” didengar. tentu puisi yang kita pilih akan lebih pendek jika dibandingkan dengan mahasiswa. (5) Isinya sesuai dengan pendengar dan situasi. nilai atau yang lain itu harus disesuaikan dengan pendengar pembacaan puisi. Gerakan tubuh ini disesuaikan dengan puisi. namun ada pula puisi yang susah kita maknai dengan gerakan tubuh. Dalam pembacaan puisi dibutuhkan juga gerakan tubuh. Belum lagi kalau pembacaannya bersifat monoton. Syarat berikutnya adalah bersifat teaterikal. puisi yang kita pilih haruslah tidak terlalu pendek. Puisi yang terlalu pendek tidak akan memperlihatkan isi puisi yang jelas dan tidak akan mampu mengondisikan pendengar pada pembacaan puisi. apakah itu berupa amanat. Kita dapat mengira-ira sendiri panjang pendeknya puisi tersebut berkaitan dengan tempat pembacaan dan pendengar. Ada puisi yang secara mudah memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh kita ketika kita harus membacanya. (4) Bersifa teaterikal. Oleh karena itu. (1) Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Syarat terakhir adalah isi puisi harus disesuaikan dengan pendengar. nilai-niai. Jika pendengarnya anak-anak. puisi yang terlalu panjang akan melelahkan pendengar. ketika pendengar baru akan merasakan puisi itu. misalnya. namun juga tidak terlalu panjang. atau apa pun bentuknya. Panjang pendeknya puisi menjadi pertimbangan khusus dalam memilih puisi. Yang diaksud dengan isi puisi di sini adalah apa saja yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembaca puisi. . Pesan. kesan.

perlulah kita membedah puisi tersebut dengan maksud untuk memahami puisi yang dimaksud. alam sekitar. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman-pengalaman penyair. Memahami Puisi Sebelum membaca puisi. serta dapat menentukan irama dan lagu yang tepat pada puisi yang akan dibacanya. Kesemua itu telah diramu dengan perasaan dan pikiran penyair yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk puisi. kecuali harus memahami cara mengucapkan lambang-lambang bahasa puisi bersangkutan pembaca puisi dituntut dapat menjadikan puisi yang akan dibacanya itu sebagai “miliknya” sendiri. . Salah satu ciri puisi yang cukup menonjol adalah bersifat konsentrif. Pemahaman puisi dapat dilakukan dengan cara membuat parafrase puisi terlebih dahulu. dan bisa juga hasil pengembaraan imajinasi penyair. Pada hakikatnya puisi merupakan sebuah media yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan sesuatu kepada pembaca. manusia lain. yang dengan demikian tidak secara langsung menyampaikan sesuatu tadi: pengalaman. terlebih dahulu kita harus memahami isi puisi tersebut. Dengan kata lain. pembacaan puisi yang kita lakukan tidak akan sempurna. dan sebagainya.3-10 Membaca Puisi 2. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar maksud atau arti puisi yang akan dibaca. dan gagasan kepada pembacanya. Kata-kata yang digunakan dalam puisi adalah kata-kata kias atau pelambang. Oleh karena itu. Jika pemahaman kita terhadap puisi salah. keinginan. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. Maksud langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan ketika berhadapan dengan Tuhan. nada dan suasana puisi yang bersangkutan. gagasan atau ide atau keinginan-keinginan tertentu dari penyair.

menangkap Oleh karena hal-hal tersebutlah maka untuk memahami sebuah puisi dibutuhkan cara khusus yang terutama dapat memudahkan pembaca memahami kata-kata kias dan maksud-maksud yang tersembunyi dalam puisi. Pelatihan pernafasan merupakan pelatihan dasar yang bertujuan untuk memberikan kemampuan mengatur nafas—menarik dan mengeluarkan nafas—agar tidak mengganggu ucapan dan memperkuat stamina pembaca puisi.Membaca Puisi 3-11 Hal ini menjadikan pembaca tidak bisa secara langsung sesuatu dari puisi tersebut. yaitu pelatihan dasar dan pengayaan. Ada dua jenis pelatihan secara tidak langsung. akan semakin tinggi pula modal kita dalam membaca puisi. Inti pelatihan pernafasan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengatur pernafasannya sehingga vokal menjadi lebih jelas. dialog menjadi lebih lancar. 3. Semakin lama masa kita berlatih secara tidak langsung. pelatihan olah tubuh. pelatihan konsentrasi. yaitu pelatihan pernafasan. dan pelatihan ekspresi. Pelatihan Baca Puisi a. Oleh karena itu. Salah satu cara untuk membantu usaha tersebut adalah dengan membuat parafrase terlebih dahulu. . Pelatihan tidak langsung adalah pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung atau memperkaya kemampuan membaca puisi. Bentuk pelatihan semacam ini tentu saja masih dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa bentuk lain. secara teoretis. dan stamina pembacaan menjadi semakin kuat. Pelatihan Tidak Langsung Pelatihan tidak langsung dimaksudkan sebagai pelatihan yang tidak berhadapan secara langsung dengan puisi yang akan dibaca. (1) Pelatihan Dasar Ada beberapa macam bentuk pelatihan dasar. pelatihan vokal. pelatihan ini dapat dilaksanakan jauh sebelum kita membaca puisi.

serta seluruh anggota tubuhnya dan kemudian mampu memerintahkannya untuk berlaku sesuai dengan isi puisi yang akan dibacanya.3-12 Membaca Puisi Yang dekat dengan pelatihan pernafasan adalah pelatihan konsentrasi. Pelatihan vokal bertujuan untuk menciptakan vokal yang baik sehingga seorang pembaca puisi memiliki kemampuan mengucapkan kata-kata dengan jelas. mampu menguasai panggung dengan suaranya. Untuk mampu menyatu dengan puisi yang dibacanya diperlukan konsentrasi yang kuat. Dalam konsentrasi ini seorang pembaca puisi harus mampu menundukkan panca-indranya. (2) Pengayaan Selain pelatihan dasar. Oleh karena inti pelatihan konsentrasi ada pada kemampuan memusatkan perhatian. pikirannya. juga harus selaras dengan kondisi panggung. Tugas seorang pembaca puisi adalah menyatukan dirinya sendiri dengan puisi yang dibacanya. dalam hal ini menyangkut intonasi dan aksentuasi. Jenis pelatihan dasar yang terakhir adalah pelatihan ekspresi Ekspresi adalah kemampuan seorang pembaca puisi dalam menampilkan ekspresi wajah sesuai dengan susasana puisi yang dibaca. Dalam sebuah permainan pemusatan pikiran menjadi amat penting keberadaannya karena tanpa pemusatan pikiran permainan tidak akan berjalan dengan sempurna. yang dapat digolongkan ke dalam pelatihan tidak langsung adalah pengayaan. Lebih jauh. pelatihan vokal juga bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan seorang pembaca puisi dalam menyampaikan puisi. Gerakan anggota tubuh harus selalu selaras dengan isi puisi. dan mempunyai kekuatan untuk bermain sampai pembacaan selesai tanpa kehabisan suara. Olah tubuh menyangkut pelatihan bagaimaan supaya anggota tubuh seorang pembaca puisi menjadi lentur dan selalu mendukung penampilan. maka istilah lain yang sering digunakan adalah pemusatan pikiran. Pengayaan dalam hal ini diartikan . Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi dengan cara mengadakan pelatihan olah tubuh. uraturatnya.

akhirnya tanpa disadari tidak sengaja kita telah hafal lagu tersebut. Melalui ativitas “menonton” orang membaca puisi kita akan mengenal bagaimana cara membaca puisi.Membaca Puisi 3-13 sebagai upaya. namun karena kita sering mendengar orang membaca puisi. karena hampir tiap hari kita mendengar lagu tersebut. semakin kaya pula pemahaman kita tentang cara membaca puisi. untuk memperkaya pemahaman atau keterampilan kita dalam membaca puisi. unsur apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai pembacaan puisi yang baik dan yang tidak baik. akhirnya kita pun dapat “menirukan” membaca puisi. Cara lain untuk pengayaan adalah dengan berdialog atau mengikuti seminar-seminar. Melalui dialog atau tanya jawab dengan narasumber kita bisa menggali informasi-infirmasi yang kita butuhkan dalam pembacaan puisi. Barangkali kita sering secara tidak sadar hafal baris-baris lagu tertentu. baik secara sengaja maupun tidak sengaja. kita secara teoretis akan mengetahui bagaimana cara membaca puisi. apa yang kita lakukan ini tergolong sebagai pengayaan. Ketika kita membaca buku ini. Dalam hal membaca puisi peristiwa semacam ini juga sering terjadi. apa saja yang diperlukan dalam membaca puisi. pengayaan juga dapat kita lakukan dengan membaca teori baca puisi. baik secara teoretis maupun secara praktis. Namun. Semakin sering kita menonton pembacaan puisi. misalnya. persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum kita membaca puisi. Meskipun kita “merasa” tidak mampu membaca puisi. tidak . Kita tidak pernah secara sengaja menghafalkan lagu tersebut. dan sebagainya. Melalui aktivitas membaca buku ini atau buku-buku lain yang sejenis. Kondisi seperti ini tergolong pelatihan secara langsung. Kita bisa menempuh cara ini dengan bertanya atau berdiskusi dengan orang lain yang kita pandang mampu dalam membaca puisi. Selain dengan menonton pembacaan puisi.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. (1) Membuat Baris Pembacaan Ketika berhadapan langsung dengan puisi. nasib. karena angin pada kemuning. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. yang jauh. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. Perhatikan puisi berikut ini. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. Ia melihat peta. pelatihan langsung berarti pelatihan dengan cara kita menaiki secara langsung sepeda yang dimaksud. Pelatihan Langsung Pelatihan langsung adalah pelatihan dengan cara menghadapi teks yang akan dibaca secara langsung. Ada beberapa tahapan dalam pelatihan secara langsung. Jika diibaratkan sebagai pelatihan naik sepeda. tidak ada yang berkata-kata. kematian itu. karena ia tak berani lagi. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. . ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Tapi di antara mereka berdua.3-14 Membaca Puisi b.

Bukankah akan sangat janggal jika kita membaca baris-baris puisi tersebut secara sepotong-sepotong? Mengapa bisa demikian? Yya. Berkaitan dengan hal tersebut. karena angin pada kemuning. Oleh karena itu. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. abai daam waktu.. langkah-langkah dalam berlatih harus dimulai dari penafsiran akan baris-baris tersebut. ……………………………………………………………………. adikku. kaulupakan wajahku. kulupakan wajahmu. jika kita membaca puisi dengan memenggal per baris seperti itu. Yang dimaksud dengan baris pembacaan adalah baris . makna puisi tidak akan muncul. yaitu dengan baris dan bait yang tetap. karena kita membaca secara tidak lengkap.. seperti dulu. Oleh karena itu. tinggallah. Perhatikan baris kedua dan baris ketiga pada bait pertama dan baris pertama pada bait ketiga puisi tersebut seperti berikut ini. Bulan pun lamban dalam angin. langkah awal dalam berhadapan dengan puisi adalah mengubah baris-baris puisi tersebut ke dalam barisbaris pembacaan. pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. Sebab bila esok ………………………………………………………………………….Membaca Puisi 3-15 Anjasmara. Kelengkapan makna barisbaris tersebut ada pada baris-baris berikutnya. Lewat remang dan kunang-kunang. Puisi tersebut ditulis sesuai dengan aslinya. Ia dengar resah kuda serta langkah …………………………………………………………………………. Baris dan bait tersebut masih membutuhkan interpretasi untuk dibaca. Menghadapi puisi seperti itu tentu dengan mudah kita akan mendapatkan baris-baris yang jika kita baca tidak akan utuh maknanya.

tinggallah. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. nasib. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Ia melihat peta. karena angin pada kemuning. . Lewat remang dan kunang-kunang. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. kulupakan wajahmu. tidak ada yang berkata-kata. Tapi di antara mereka berdua. Dengan model puisi “Asmaradana” seperti tersebut di atas. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. abai dalam waktu. jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. kematian itu. Anjasmara. Bulan pun lamban dalam angin. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.3-16 Membaca Puisi puisi yang kita buat sendiri—bukan oleh penyair—yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. kaulupakan wajahku. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh. adikku. karena ia tak berani lagi. seperti dulu.

Sebagai bahan pelatihan. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar / dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning // Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati / ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh // Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata // Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu// Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan // Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis // Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara / ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba / karena ia tak berani lagi // Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu // . langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas. Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad. Oleh karena itu. setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan.Membaca Puisi 3-17 (2) Membuat Pemenggalan Pembacaan Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan.

3-18 Membaca Puisi Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu // Lewat remang dan kunang-kunang / kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu // (3) Mencari suasana puisi Ada puisi yang bersuasana sedih. misalnya. Bagaimana cara kita harus membaca puisi antara lain ditentukan oleh suasana puisi. marah. misalnya. semangat. Karena itu. dan kesesuaian lagu yang kita pilih dengan isi atau maksud puisi. muncul kata resah kuda. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang . mau hidup seribu tahun lagi. riang gembira. Apakah kita akan membaca puisi dengan semangat menyala-nyala. antara lain ditentukan oleh suasana puisi tadi. Ada puisi yang diksinya condong pada suasana tertentu. dan semacamnya. atau yang lain. perpisahan. (5) Menjiwai puisi Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. muncul dalam puisi tersebut. pemahaman terhadap suasana puisi menjadi penting. variasi intonasi (tidak monoton). Seperti puisi "Aku" karya Chairil Anwar. berlari. Selain itu. atau lebih luas mengintonasikan puisi. atau isi puisi yang ada. Kata atau baris tersebut mengisyaratkan suasana semangat. Cara mencari suasana puisi dapat melalui diksi yang digunakan. Dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Muhamad. Suasana kesedihan atau paling tidak kesepian. atau yang lain. kata atau baris yang digunakan antara lain. baris-baris puisi. hilang pedih peri. pelan melankolis. perlu juga kita perhatikan kejelasan ucapan. kematian. ditentukan oleh suasana puisi. Suasana puisi ini merupakan kunci dalam melafalkan puisi. (4) Melafalkan puisi Melafalkan puisi. ada yang bersuasana gembira.

D. jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Karena itu. Kalau pendengarnya orang yang tidak menyukai puisi. serta ekspresi akan mengikutinya. Membaca Puisi di Panggung Membaca puisi di panggung berarti mempraktikkan hasil pelatihan. Namun kalau pendengarnya orang yang menyenangi puisi. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan. cara membaca judul. penghayatan penuh harus kita lakukan. Yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah kesiapan pembaca dan kesiapan pendengar. gaya apa pun yang . Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh. pandangan mata. Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Dengan demikian. dapat juga dengan gaya tertentu. misalnya "Aku karya Chairil Anwar". Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi di panggung adalah teknik muncul. Prinsip memegang teks yang paling penting adalah tidak menutupi wajah dan tidak mengganggu gerakan pada saat membaca puisi. karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. cara memegang teks. Judul puisi dapat kita baca secara konvensional. dan blocking.Membaca Puisi 3-19 benar. Teknik muncul adalah cara kali pertama kita muncul di panggung. seyogyanya kita memakai gaya konvensional. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud. keberhasilan pembacaan puisi di panggung juga akan ditentukan oleh hasil pelatihan itu sendiri. Dengan demikian kita tidak akan overacting. misalnya "Chairil Anwar dalam goresan penanya: Aku". Konsentrasi menjadi kata kunci dalam pelaksanaan teknik muncul. Pilihan model pembacaan ini ditentukan oleh pendengarnya.

Meskipun begitu. Pandangan mata juga harus kita jaga. Aspek Penilaian Baca Puisi Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi. tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri. Jika. Meskipun ketiga komponen tersebut samasama penting. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi. Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi. Penghayatan Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. E. namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting. Yang terakhir adalah masalah blocking. mata kita tidak boleh menjauhi pendengar. dan penampilan. Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. jangan pula kita menatap mata pendengar atau penonton.3-20 Membaca Puisi kita gunakan tidak masalah. misalnya. terlebih dahulu kita harus memahaminya. 1. vokal. Dalam membaca puisi sesungguhnya kita sedang berdialog dengan pembaca. Karena itu. apa makna . dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama. sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi. maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. Paling tidak dalam langkah ini kita harus mampu menangkap apa makna yang terkandung dalam puisi itu. Oleh karena itu. Panggung harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga posisi kita di panggung menjadi "enak" dilihat oleh penonton. yaitu penghayatan.

Perhatikan petikan puisi berikut ini. (1) pemenggalan. Goenawan Mohamad) Tanpa memahami isi puisi tersebut. (2) nada dan intonasi. Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair “sesuatu” kepada itu. Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam tiga hal berikut. yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut. dan bagaimana suasananya. misalnya.Membaca Puisi 3-21 simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu. Perempuan itu terisak. Pemahaman itu pula yang akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari baris puisi menjadi bagian-bagian pembacaan. kita Tanpa dapat mengetahui mungkin menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. (3) ekspresi. sebagai berikut. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. kita tidak akan dapat memenggal secara tepat baris-baris puisi “Dongeng Sebelum Tidur” itu menjadi. Perempuan itu terisak. Meskipun ia mengecup rambutnya (Dongeng Sebelum Tidur. Meskipun ia mengecup rambutnya . pendengar bagaimana atau penonton.

Berkaitan dengan intonasi. Dengan dan cepat-lambat. Intonasi digunakan keras-lemah. Tekanan tempo menyangkut cepat-lambatnya pembacaan puisi.3-22 Membaca Puisi Pemenggalan dalam pembacaan puisi tidak sekadar berhubungan dengan pengambilan nafas. dan suasana santai atau main-main dalam puisi. Selain suasana sedih dan semangat. Tekanan dinamik menyangkut lemah-kerasnya pembacaan puisi. Ekspresi secara sempit dapat terlihat pada wajah. dan mempertinggi atau memperendah pembacaan. Melalui pemahaman pula kita dapat mengekspresikan puisi secara tepat. Kita bisa memberikan tekanan pada puisi dengan cara mempercepat atau memperlambat pembacaan. Tekanan nada menyangkut tinggi-rendahnya pembacaan puisi. ahal penting yang harus kita perhatikan adalah masalah tekanan atau aksentuasi. Dari seluruh . intonasi harus dalam secara bervariasi. kita tentu masih bisa menjumpai suasana gembira. tinggi-rendah. tekanan tempo. tetapi juga berhubungan dengan pemaknaan baris-baris puisi. Melalui pemenggalan itu pula larik-larik puisi dapat sampai kepada pendengar atau penonton secara sistematis. aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang kita baca yang harus memdapatkan penekanan. Melalui pemenggalan itulah pendengar atau penonton akan lebih mudah memahami puisi yang kita baca. Harus ada variasi. Variasi tersebut ditentukan oleh corak puisi. Ketiga tekanan tersebut dapat digunakan untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada puisi yang kita baca. Jika intonasi menyangkut tekanan nada. suasana serius atau sungguh-sungguh. Melalui pemahaman puisi kita juga dapat menentukan intonasi atau lagu dalam pembacaan puisi. Suasana-suasana tersebut harus dimunculkan dalam pembacaan puisi secara tepat. memperkeras atau memperlemah pembacaan. demikian pembacaan tersebut tidak bersifat datar-datar saja atau bersifat monoton. dan tekanan dinamik.

semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan. Akan sangat terlihat orang yang membaca puisi mempunyai penghayatan yang tinggi atau tidak telihat pada matanya. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. yaitu: (1) kejelasan ucapan. kejelasan ucapan mungkin akan lebih terlihat. kejelasan ucapan benar-benar harus dijaga karena bisa terlewatkan. Namun. Mata kemarahan. Vokal Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu . tinggi.Membaca Puisi 3-23 anggota tubuh manusia. Ketika kita membaca puisi dengan lambat. atau yang lain. mata kesedihan. Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. b. (2) jeda. (3) ketahanan. kunci ekspresi sebenarnya ada pada mata. jika kita membaca puisi dengan suara tinggi dan tempo yang cepat. harus kita ekspresikan secara maksimal sesuai dengan isi atau suasana puisi. Warna suara berat. besar. dan (4) kelancaran. Perhatikan bait kelima puisi “Pembuka” di atas. atau kecil.

kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. (1) blocking dan pemanfaatan setting. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. (3) cara berpakaian. Selain itu. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama. biasanya pengucapan katakata atau baris-baris puisi tidak lancar. Terutama untuk puisi panjang. (2) gerakan tubuh. Pada kondisi tersebut. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang. ketahanan sangat dibutuhkan. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Penampilan Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalanpersoalan: teknik muncul. Selain kejelasan ucapan. c. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi .3-24 Membaca Puisi Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Bait tersebut menghendaki pembacaan yang cepat dan tinggi. masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan. Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. kejelasan ucapan harus dijaga. menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton.

kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. begitu kita berdiri di panggung. Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. sebelum membaca puisi. pada saat pertama kita muncul di panggung. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. apakah kita harus berjalan-jalan. itu semua merupakan persoalan blocking. Dalam pembacaan puisi juga demikian. yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. Secara teoretis. Apakah kita harus menghadap penonton. berdiri. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita. sebelum puisi kita baca. atau campuran keduanya. maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap. kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. apakah kita harus duduk. Oleh karena itu. berdiri di satu tempat saja. atau gabungan keduanya. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan. Sebaliknya. Pendek kata. blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya. itulah persoalan blocking. membelakangi. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. . kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton.Membaca Puisi 3-25 dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. suasana dialogis tidak akan tercipta. atau campuran keduanya. Secara umum ada dua jenis blocking. Dalam sebuah dialog.

Ketika kita berada di panggung. Oleh karena itu. Gerakan tubuh seharusnya kita biarkan muncul sendiri sebagai akibat adanya penghayatan pada puisi. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad. Sebaliknya. kita tidak bisa lepas dari bentuk panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. Artinya. pembaca puisi harus menyesuaikan diri—atau bahkan memanfaatkan—dengan panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. ada pula yang menghendaki blocking dinamis. Dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis. puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Blocking juga berkaitan dengan pemanfaatan setting. Dalam pertunjukan secara khusus. panggung didesain sedemikian rupa sehingga memuncculkan nilai artistik. Ketika . Masing-masing orang mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu.3-26 Membaca Puisi Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. gerakan tubuh dalam pembacaan puisi tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Ukuran baik-tidaknya gerakan tubuh dalam pembacaan puisi adalah kesesuaian dengan jiwa puisi. misalnya. atau pemanfaatan benda-benda atau apa pun bentuknya yang ada di panggung. pembaca puisi mengucapkan baris: Lihatlah . misalnya. pembaca puisi tidak bisa lepas begitu saja dengan model panggung. tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. Banyak orang menduga bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi harus disiapkan atau dilatih secara khusus seperti halnya gerakan pada penari latar pertunjukan musik. Hal ketiga yang harus kita perhatikan berkaitan dengan penampilan adalah masalah gerakan tubuh. Jika model panggung sudah dibuat demikian. Gerakan tubuh dalam hal ini merupakan perwujudan ekspresi atas penghayatan pembaca pada puisi yang dibacanya.

misalnya. juga akan selaras dengan kebiasaan atau cara pembaca puisi mengekspresikan puisi tersebut. Yang lebih baik. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal berpakaian. ukuran baik-tidaknya dalam pembacaan puisi dapat dilihat dari ketiga komponen tersebut. Pembacaan puisi yang baik adalah pembacaan puisi yang penghayatan. Karena itu. Isi puisi tersebut adalah dialog antara manusia dan Tuhan. tentu akan menjadi tidak tepat kalau pakaian kita terbuka. . Meskipun tidak terlalu penting. Sebagai contoh. . masalah pakaian juga perlu kita perhatikan dalam pembacaan puisi. ketika kita harus membaca puisi “Pembuka” karya Emha Ainun Nadjib. Yang terpenting. Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi selain selaras dengan jiwa puisi. jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mengganggu pembacaan puisi. pakaian harus sejalan dengan isi puisi. Ketiga komponen pembacaan puisi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai kriteria penilaian pembacaan puisi. dan penampilannya baik.Membaca Puisi 3-27 Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan masing-masing orang akan berbeda dalam menggerakkan tangan atau anggota tubuhnya. vokal. Bagaimana sebaiknya kita berpakaian ketika menghadap Tuhan? Tentu bukan pakaian yang terbuka.

Banjarbaru: Dewan Kesenian Daerah. 26-31 Mei 2001. Surakarta: Widyaduta. Prima. Herman J. Tentang Bermain Drama. 1979. 2008. Rendra. Tahapan dalam Pelatihan Membaca Puisi. Mukh. 2001. 1981. Pelatihan. Dasar-Dasar Teori Sastra. Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani). 2001. Depdikbud. Suharianto. Rizanur. Suharianto. Mukh. Gani. Tambayong. . Doyin. 2001. Dasar-Dasar Dramaturgi. Japy. Jakarta: Erlangga. London: Routledge and Keagan Paul. Jakarta: P3G Hanindawan. Bahan Pelatihan Baca Pusisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. Surakarta: Widya Duta. Semarang: Bandungan Institute. Teori dan Apresiasi Puisi. Modal Dasar bagi Calon Aktor. 1995. dan Penilaian). 1982. The Anatomy of Poetry. Richard. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Bandung: Pustaka Waluyo. Jakarta: Pustaka Jaya. Bahan Pelatihan Baca Puisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. 1982. 1981. 1979.DAFTAR PUSTAKA Boleslavsky. S. Suharianto. Pengajaran Apresiasi Puisi. S. Jakarta: Pustaka Jaya. Boulton. Seni Baca Puisi (Persiapan. Doyin. Sekilas Mengenai Seni Baca Puisi. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. S. Seni Teater. 26-31 Mei 2001. Muslim. Mukh. Pengantar Apresiasi Puisi. 1981. Marjorie. 2001. Abdul Azis. Masalah Penyutradaraan. Doyin. 2001.

Membaca Puisi 3-29 Pelatihan: Bacalah puisi berikut dengan benar! DOA SEORANG HAKIM PENSIUNAN DI JAMAN PENJAJAHAN Leon Agusta Tuhan Masih sudikah engkau mendengarkan aku? Setelah aku hukum mereka yang aku yakin tidak bersalah Setelah aku bebaskan mereka yang aku yakin mereka telah bersalah Setelah aku bebaskan diriku yang mengabaikan rasa keadilan Hambamu ini sungguh tak berdaya. mereka yang aku tak pernah berani mengadilinya Amin. PEMBUKA . mereka yang aku tak sanggup memanggilnya ke Mahkamah Pengadilan resmi Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. oh Tuhan Betapapun aku mendengar hati nuraniku terus menjerit PadaMu aku tak bersembunyi Engkaulah Yang Mahatahu derita dan kebimbanganku Setelah doa bagiku sendiri selesai Akhirnya. inilah doaku sebagai seorang hakim Tuhanku: Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. mereka yang selalu memperkosa hak-hakku sebagai seorang hakim yang selalu melumpuhkan rasa keadilan dalam kalbuku Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu.

malam ini pun Kami tak berada di mana-mana Melainkan di hadapanMu Tapi kami sering lupa Sebab mengalahkan musuh-musuhMu Yang kecil saja. kami tak kuasa. Gusti Inilah tawananMu Tak berani menengadahkan muka Mripat kami yang terbuka Telah lama menjadi buta Sebab telah menyia-nyiakan dirinya Dengan hanya menatap Hal-hal yang maya Gusti Kami berkumpul di sini Untuk mengukur keterbatasan kami sendiri Melontarkan beratus kata Seperti buih-buih Agar melayang ke udara Dihisap kembali oleh telinga agungMu Dan tinggal jiwa kami termangu-mangu di sini Menunggu tetesan-tetesan firmanMu Yang membeningkan hidup kami .3-30 Membaca Puisi Emha Ainun Nadjib Gusti Seperti kapan saja.

Membaca Puisi 3-31 Gusti Kami pasrah sepasrah-pasrahnya Kami telanjang setelanjang-telanjangnya Kami syukuri apapun Karena rahasiamu agung Tak ada apa-apa yang penting Dalam hidup yang sejenak ini Kecuali berlomba lari Untuk melihat telapak kaki siapa Yang paling dahulu menginjak Halaman rumahMu Gusti Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Gusti Masa depan kami sendiri kami bakar Tapi engkau terlampau sabar Peradaban kami semakin hina .

Malam ini taklagi kulihat kunang-kunang Yang dengan cahaya tubuhnya Berputar-putar di depan rumah Mungkinkah mereka kedinginan Karena hujan terus-menerus berjatuhan Ataukah karena halaman rumah ini Yang tak lagi mampu menyalakan cahayanya .3-32 Membaca Puisi Tapi engkau terlalu bijaksana Kelakuan kami semakin nakal Tapi engkau mahakebal Nafsu kami semain rakus Tapi rakhmatmu tak kunjung putus Kemanusiaan kami semakin dangkal Sehingga engkau pun semakin mahal Gusti Kamilah pesakitan Yang tak berwajah lagi Kaki dan tangan ini Kami ikat sendiri Hukum atau ampuni kami Mohon segeralah Hampir kami tak tahan Menunggu dan menanti SAAT HUJAN DATANG Mukh Doyin Mama.

Tersenyumlah Agar kunang-kunang dan rembulan Tak lagi tenggelam dalam kegelapan malam . mama Tak ada tangis. mama Bulan di atas pun tak lagi tampak Langit yang hitam pekat Telah mengurungnya Adakah yang bias dikerjakan dewa-dewa di atas sana Dalam gulita seperti ini. memang Tak ada rintih.Membaca Puisi 3-33 Angin masih saja berhembus Membawa suara-suara burung malam Yang terbatuk-batuk karena hujan Membawa riak-riak gelombang laut Yang keruh karena hujan Membawa kesunyian malam Yang beku karena hujan Lihatlah. memang Tapi kegelapan ini Jauh lebih menusuk hati Ketimbang tangis dan rintihan para dewa Mama.

BUKU AJAR MENULIS RESENSI BUKU .

4) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA 1. 2) mengapa ia menulis buku itu?. atau menilai. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama. resensi buku dikenal dengan “recensie”. Hakikat Resensi Menurut Samad (1997:1) resensi berasal dari bahasa Latin. membahas. 5) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang . atau mengkritik buku. sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “review”. yaitu mengulas buku. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian. Pembuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan. menimbang. 3) apa pertanyaannya?.BAB I. seperti: 1) siapa pengarangnya?. yaitu: (a) memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku. MENULIS RESENSI BUKU DI SMA A. Dalam bahasa Belanda. C. yaitu “revidere” atau “recensere” yang artinya melihat kembali. KOMPETENSI DASAR Menguasai hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA. STANDAR KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA B. mengungkapkan kembali isi buku. (c) memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. (d) menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit. merenungkan. (b) mengajak pembaca untuk memikirkan.

Jadi. maksudnya resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca (tentu saja setelah mereka membeli). Sedangkan menurut Djuharie dan Suherli (2005:21) resensi merupakan salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara memberikan komentar secara objektif. bedah.4-2 Menulis Resensi Buku dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?. b) memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga penilaian itu diketahui khalayak. Sayuti juga menjelaskan bahwa buku yang diresensi biasanya merupakan buku terbitan baru. (e) untuk pembaca yang membaca resensi agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku atau jika tidak ada waktu untuk membaca buku maka dapat membaca resensi tersebut (Samad 1997:2). di samping nilai informasi. c) . sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Oleh karena itu. atau ulasan buku (Sayuti 2002:13). seorang penulis resensi buku ingin membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu. Sedangkan menurut Keraf (2001:274) resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Istilah yang lain yang sering dipakai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. Resensi berarti pertimbangan atau pembicaraan. Tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut: a) menimbang agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang membutuhkannya. Dengan kata lain. sebuah resensi juga seringkali mengandung nilai advertensi.

setting (untuk pementasan) dengan bahan yang ditulisnya atau sajian pementasan. b) peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. Samad (1997:2-3) menyebutkan dasar-dasar resensi ada empat. Atas dasar itu. d) peresensi memahami . dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi.Menulis Resensi Buku 4-3 melihat kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian karakteristik tokoh. Dasar-Dasar Resensi Pada saat membuat resensi. dan sebagainya. Berdasarkan pendapat di atas. orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain. f) memberikan pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra (untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku. 2. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. yaitu: a) peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. Sedangkan tujuan resensi adalah memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang terungkap dalam buku atau hasil karya dan memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. penokohan. resentator harus menguasai dan mengetahui bahan yang akan diresensi. tingkat pendidikan. e) mengungkapkan kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan atau alur pementasan. c) peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera. resensi yang dimuat di surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. dari kalangan macam apa asalnya. d) menghargai keunggulan dari suatu penulisan buku atau penyajian pentas.

Pembaca dalam hal ini adalah semua langganan majalah atau media massa yang memuat resensi itu. Jenis buku yang dimuat pastilah buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. resentator harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi itu. dan majalah (ilmiah. Selain itu. penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca. Apakah tujuan itu betul-betul terealisasi dalam seluruh buku. dua faktor tersebut yaitu: pertama. Dengan menilai kaitan antara tujuan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. ilmiah populer. Sebuah resensi harus dibuat dengan memperhatikan kualitas pembacanya. atau hiburan). Misalnya. termasuk visi dan misi. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. Dengan demikian. kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam yang bagaimana yang disukai oleh redaksi. penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang aslinya. Setiap media cetak mempunyai identitas. dan bagaimana tingkat pendidikan mereka. bagaimana selera mereka.4-4 Menulis Resensi Buku karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. Singkatnya. Begitu juga dengan majalah teknik atau filsafat. peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju. Menurut Keraf (2001:274) seorang resentator harus memperhatikan dua faktor dalam memberikan penilaian atau pertimbangan secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku. Demikian pula. Untuk itu resentator harus menganalisis bagaimana pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu. seperti surat kabar (nasional atau daerah). Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu. resentator harus memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhi dalam membuat resensi itu. . kedua. majalah ekonomi tidak menampilkan resensi buku tentang kimia.. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. yaitu kewajibannya terhadap para pembaca dan bagaimana penilaiannya atas buku tersebut.

Resensi buku biasanya dimuat dalam surat kabar atau majalah. resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. Buku yang diresensi biasanya merupakan terbitan baru. Menurut Samad (1997:4) bahasa resensi biasanya singkat. yaitu dengan cara mengetahiu dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya tersebut. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjai sasarannya. b) peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi. c) peresensi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi. Maksudnya. f) peresensi harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi. tulisan yang runtun .Menulis Resensi Buku 4-5 Djuharie dan Suherli (2005:23) juga menguraikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. yaitu: a) peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan sepenuhnya sikap subjektifitas. d) peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resentator dengan penulis buku tersebut. padat. Misalnya. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Oleh karena itu. tegas dan tandas. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Di samping nilai informasi. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. e) peresensi harus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapar dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya oleh pembaca.

atau bekas hapusan. Di samping itu. Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. d) kesalahan cetak. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. f) menilai. mencakup kesan peresensi terhadap buku. dan tidak terlalu banyak coretan. yaitu meringkas. b) organisasi atau kerangka buku. singkat mudah ditangkap.4-6 Menulis Resensi Buku kalimatnya. Sebuah bulu biasanya menyajikan banyak persoalan. . terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku (Samad 1997:5-6). Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. tidak berpanjang lebar (bertele-tele). menjabarkan. penyajian tulisan resensi bersifat padat. perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat. ejaannya benar. Ada tiga pola tulisan resensi buku. Bila perlu bagianbagian yang mendukung uraian dikutip. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: a) isi peranyaan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan). c) bahasa. baik karya pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain. dan enak dibaca. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Untuk itu. menarik. dan mengulas. e) membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis.

Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. a) Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. Langkah-Langkah Menulis Resensi Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. LANGKAH-LANGKAH MERESENSI BUKU A. latar belakang pendidikannya bagaimana. Penjajakan ini dimulai dari tema buku yang diresensi. Setelah itu. Kemudian siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. format hingga harga nya berapa.BAB II. . STANDAR KOMPETENSI Memahami langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi B. buku atau karya apa saja yang pernah ditulis hingga mengapa ia sampai menulis buku itu. cermat. penjajakan tentang pengarang buku tersebut: namanya siapa. d) Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi. dan teliti. KOMPETENSI DASAR Menguasai langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi C. c) Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data. kapan dan di mana diterbitkan. disertai deskripsi isi buku. reputasi dan prestasinya. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mempraktikkan langkah-langkah menulis resensi buku sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya 1. tebal (jumlah bab dan halaman). b) Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif.

4-8 Menulis Resensi Buku e) Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi: (1) organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. apakah hubungan itu harmonis. Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan perensensi setelah mencermati buku yang bersangkutan. Unsur-Unsur Pembangun Resensi Buku Adapun unsur-unsur pembangun resensi buku antara lain sebagai berikut. bagaimana penyajian datanya. bagaimana tata wajah. bagaimana sistematikanya. Judul resensi ini yang pertama dibaca. Sekalipun buku yang diresensi itu bagus dan penyajian tulisannya memenuhi syarat. a) Membuat judul resensi Judul resensi berarti wajah resensi itu sendiri. dan pencetakannya). (4) aspek teknis (bagaimana tata letak. bagaimana srtuktur kalimatnya. bagaimana kerapian dan kebersihan. dan bagaimana dinamikanya). jika judulnya kurang menarik. dengan isi pernyataan hambar dan tidak relevan. judul hendaknya menarik perhatian dan mencerminkan isi resensi. f) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasardasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya. bagaimana analisisnya. Demikian pula judul yang mentereng. 2. Judul yang menarik berarti merangsang keinginan orang untuk segera membacanya. Untuk itu. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. pasti juga akan mengecewakan pembacanya. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan bagaimana hubungan antar kalimat serta pilihan kata yang dipergunakan). (3) bahasa (bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan. jelas. (2) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. tidak menutup kemungkinan kalau resensi tersebut tidak dibaca orang. Cara merumuskan judul resensi . dan bagaimana kreativitas pemikirannya).

Alasan menggunakan cara itu pun juga harus kuat. kapan dan di mana diterbitkan) .Menulis Resensi Buku 4-9 dengan membuat sinopsis dan memahami inti resensi. Dengan demikian. Namun perkenalan pengarang itu cukup singkat saja. Kalau pengarang buku mempunyai ciri khas atau sosok yang menarik. karena yang lebih penting justru masalah yang dibahas dalam buku itu. dan 6) harga buku (jika diperlukan). tidak bertele-tele. dan kabur. kalau ada ditulis juga penerjemah. seperti untuk menegaskan kata. atau penyunting seperti yang tertera pada buku. bagaimana latar belakang pendidikannya. menggunakan kalimat aktif. apakah relevan atau mendukung jika pembukaan . terutama yang berkaitan dengan topik buku itu. editor. 4) tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa). dan prestasi apa saja yang diperoleh. Selain itu. peresensi dapat memulai dengan pembukaan yang memaparkan kekhasan atau sosok pengarang buku itu. akan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi pernyataan resensi. kecuali kalau fungsinya benar-benar penting. 5) tebal buku (jumlah bab dan halaman). judul resensi harus menarik perhatian dan menimbulkan keingintahuan pembaca. 2) membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis.. dirumuskan sesingkat-singkatnya. 3) penerbit (siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. mencerminkan isi pernyataan resensi secara akurat. 3) memaparkan kekhasan atau sosok pengarang. karyanya berbentuk apa saja. baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lainnya. dan menghindari perulangan kata. b) Menyusun data buku Data buku disusun sebagai berikut: 1) judul buku (jika buku itu termasuk buku terjemahan maka judul aslinya harus dituliskan). c) Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dalam meresensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini: 1) memperkenalkan siapa pengarangnya. 2) pengarang.

tetapi juga buku-buku lain yang membahas topik yang sama. sertakan juga keunggulan buku. Pertama. Alenia pembuka juga dapat diawali dengan mendeskripsikan keunikankeunikan yang dimiliki buku tersebut. Kedua. Ulasan itu pun bisa juga dipertegas dengan kutipan yang tepat. Tujuannya. padat. Pertama. 8) memperkenalkan penerbit. memberi gambaran global mengenai apa yang akan dipapatkan pada tubuh resensi. 7) mengungkapkan kesan terhadap buku. 6) mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku. kelemahan buku hendaknya dipaparkan secara proposional. terlebih lagi jika dihubungkan dengan topik buku itu. 3) keunggulan buku. Ada dua hal yang perlu diperhatikan peresensi. Sinopsis ini mengemukakan pokok isi buku secara garis besar. peresensi mengetahui kelebihan-kelebihan buku yang diresensi tersebut. 4) kelemahan buku. Ada dua cara merumuskan kerangka buku. 9) mengajukan pertanyaan. Dengan cara ini. menuliskan jumlah bab buku dengan uraian seperlunya. menuliskan jumlah bab buku tanpa pembahasan.4-10 Menulis Resensi Buku dibuka dengan mendeskripsikan keunikan pengarang.. Peresensi tidak cukup hanya membaca buku yang diresensinya. Tujuannya. 5) merumuskan tema buku. Gambaran umum yang dipaparkan dalam sinopsis perlu diulas agar lebih jelas dan berbobot. dan 10) membuka dialog. d) Tubuh atau isi pernyataan resensi buku Tubuh atau isi pernyataan resensi buku biasanya memuat hal-hal berikut ini: 1) sinopsis atau ringkasan isi buku secara singkat. 5) rumusan kerangka buku. Kedua. 2) ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya. Keunikan itu dapat dilihat dari segisegi yang ada pada buku itu jarang ada atau langka dimiliki buku sejenisnya. berilah alasan (penyebab) mengenai keleamhan buku. jelas dan kronologis. 6) organisasi atau kerangka penulisan . agar pembaca mendapat pemahaman yang utuh terhadap buku itu. Tubuh resensi akan kelihatan lebih baik jika menyertakan keunggulan- keunggulan buku. 4) memaparkan keunikan buku.

dan pilihan kata yang digunakan. seraya menyarakan perbaikan kepada penerbit. atau menggambarkan kekhasan bahasa pengarang. Barulah dikatakan kesalahan cetak atau kualitas cetakan yang kurang bagus. Jadi. biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. apakah hubungan itu harmonis. hubungan antarkalimat. pertama. bagaimana penyajian datanya. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). dapat dirumuskan dengan dua cara. e) Penutup resensi buku. Bagian penutup. Bahasa yang baik. dinilai dari struktur kalimat. dan mudah dipahami. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat menggangu pembaca. sebelumnya dikemukakan dahulu hal-hal yang berkaitan dengan kelebihan buku. terutama cetakannya. seperti bahasa sederhana. dan bagaimana dinamikanya). secara langsung menyebutkan halaman yang salah cetak atau kualitas cetakan yang kurang baik. jelas. Penjelasan mengenai bahasa buku dapat disampaiakan dengan cara langsung mengatakannya. bagaimana analisisnya. jelas. seperti pewajahan (layout) dan kebersihan. Penilaian terhadap buku juga mencakup masalah teknis. 7) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya.Menulis Resensi Buku 4-11 (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. untuk menyatakan kualitas atau kesalahan cetak. yaitu. 8) tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit). dan 9) adanya kesalahan cetak. bagaimana sistematikanya. . Kedua.

Atiqul Haque .BAB III. STANDAR KOMPETENSI Terampil menulis resensi buku B. Bacalah resensi berikut! Judul Buku : Wajah Peradaban (Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam) Penulis : M. KOMPETENSI DASAR Mempraktikan langkah-langkah menulis resensi buku yang sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya C. Pelatihan-1 Pelatihan dilaksanakan secara individu dengan mengikuti tahaptahap berikut. PELATIHAN A. baik buku maupun film. Pelatihan Meresensi Buku Pelatihan ini akan membawa Anda berproses untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan berupa resensi buku. Sebuah surat kabar yang terbit pada hari Minggu pada umumnya menampilkan kolom resensi buku dengan berbagai macam nama kolomnya. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menulis resensi buku sesuai dengan langkah-langkah dan unsur-unsur pembangunnya 1. Sebuah majalah—yang biasanya terbit mingguan—banyak sekali menampilkan karya resensi. Hasil resensi buku banyak muncul dalam media cetakan. a. khususnya surat kabar dan majalah.

Cordoba. Mac Gyver. Wilayah kekuasaan Islam saat itu telah mencapai sebagian besar Eropa. II . Ibnu Rusyd. seperti Turki. Melainkan. Itulah zaman kebesaran Islam. Kini Islam hendak bangkit kembali. kisah itu merupakan gambaran tentang wajah peradaban pada masa keemasan Islam. yaitu dari abad ke-1 sampai abad ke-7. Ke mana kisahnya kini? Cerita kehebatan para pahlawan Muslim saat ini hanya menjadi nostalgia belaka. namun—tidak perlu dipungkiri—untuk melakukan hal itu sangat sulit. Ibnu Taymiya. Padahal. sejak disyiarkan Rasulullah SAW sampai sekitar abad ke-7. Meski demikian. atau Ibnu Khaldun. Anak-anak itu tentu tidak akan tahu siapa Ibnu Sina.Menulis Resensi Buku 4-13 Editor Penerbit Cetakan Tebal : Cecep Syamsul Hari : Zaman Wacana Mulia Bandung : Cetakan I. yang merupakan pahlawan-pahlawan Islam di masa atau era keemasan Islam. Spanyol. Banyak diakui. peradaban itu mengantarkan Islam pada masa kejayaannya. Roger Graudy. Saat ini kita seakan telah terbelenggu dengan konstruksi peradaban yang diciptakan oleh bangsa Barat. berbagai upaya untuk kebangkitan Islam itu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. Januari 1998 : 148 halaman I SIAPA yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita sekarang? Jawabannya tentu bukan Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar Sidiq. seperti Power Ranger. memandang peradaban Islam sebagai pewaris ketiga di samping peradaban Greko Romawi. yang banyak membukakan wawasan tentang peradaban Islam di era keemasan itu. Sehingga tidak heran kalau seorang filosof Prancis. pahlawan-pahlawan yang hadir di televisi. Maskman. Salah satu di antaranya adalah melalui penerbitan buku-buku. atau Viper. dan Andalusia.

Mereka adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. dokter. al-Biruni. Bahkan. tetapi juga terhadap bangsa Barat. dalam edisi Wajah Peradaban ini terbagi menjadi lima bagian. Tidak hanya itu. Mereka tidak hanya memiliki akses terhadap Islam itu sendiri. tidak dilakukan pemilahan menurut bagian-bagian tertentu.4-14 Menulis Resensi Buku Buku ini dapat memenuhi harapan di atas. Dari Musafir ke Musafir. yaitu: Lautan Pengetahuan. tidak sedikit ilmuwan Barat yang menjadi murid pemikir-pemikir Islam seperti al-Gazhali. Mereka juga adalah inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu. Dalam edisi bahasa Inggris. menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia. ia juga menjadi orang pertama yang menaburkan benih negara Islam merdeka di kalangan kaum Muslim India. Namun. mulai dari sosiolog. yang diterbitkan TaHa Publisher London. misalnya. dan tidak pernah lelah melakukannya. Paling tidak. Yang patut diteladani oleh kita adalah semangatnya dalam mencari ilmu tidak pernah menyerah. ini terbukti dengan diakuinya Ibnu Rusyd sebagai Bapak Filsafat Barat. al-Thabari. Kontribusi mereka sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan sekarang ini. dan Ibnu Khaldun selalu merasa kehausan akan ilmu sehingga mereka harus menjadi musafir. tahun 1995. Syah Waylillah. dan memberinya inspirasi jihad dalam menegakkan kebenaran. hingga politikus seperti Ibnu Taimiyah. Buku ini berjudul asli The Moslem Heroes of The World. guru besar. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari ilmu belaka. Gairah para pahlawan Islam untuk mencari ilmu juga dilandasi oleh semangat untuk menyiarkan ajaran Islam. Pengetahuan dan Kekuasaan. Buku ini memperkenalkan sejumlah pahlawan Muslim dalam berbagai bidang. Menghidupkan Kembali Ilmu Agama. Al-Bukhari. yang banyak muncul sekarang ini. penyair. dan Matsnawi .

. Jadi. tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut: (i) unsurunsur apa saja yang dikemukakan oleh penulis dalam teks yang Anda baca itu. III Sayangnya. sebagai referensi dalam memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya. Anda melakukan tahap-tahap secara induktif dalam rangka memahami hakikat dan pengertian resensi buku. (Sumber: Romli. Selamat membaca. (iii) apa tujuan yang ingin dicapai dengan teks itu. Pelatihan-2 Tugas dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. Tiap-tiap anggota dalam kelompoknya mempunyai tugas yang tidak sama. karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris. Akan tetapi. Apa sebenarnya yang sudah Anda lakukan itu? Sejatinya. dan (iv) mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan (surat kabar atau majalah). maka bahasanya pun tidak cukup layak dikonsumsi anak-anak. (ii) apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.Menulis Resensi Buku 4-15 Cahaya. Buatlah rumusan pengertian resensi buku dengan menjawab “apa pengertian resensi buku”. khususnya ibu-ibu. orang tua. tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Buku ini lebih cenderung untuk konsumsi orang dewasa. c. 2003:81—85) b. buku ini sangat layak dibaca para pendidik. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Pembagian ini akan memudahkan pembaca lebih paham tentang tokoh-tokoh yang diceritakan.

dari kumpulan jawaban itu. Hasil akhir hakikatnya adalah hasil kelompok. Pertanyaan untuk anggota-3: mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan. d. Teks yang Anda baca adalah karya resensi buku yang muncul di majalah.4-16 Menulis Resensi Buku a. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertanyaan untuk anggota-2: apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Pertanyaan untuk anggota-4: apa persamaan dan perbedaan teks yang dibaca dengan teks resensi yang berasal dari surat kabar. Apa hakikatnya yang sudah Anda lakukan secara individu dan kelompok itu? Sejatinya. susunlah menjadi satu paragraf utuh yang memiliki kesatuan dan kepaduan. baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Yang dipaparkan dalam buku ini ialah karakteristik bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik—khususnya pasca Orde Baru—beserta konteks penggunaannya. b. khususnya dalam sistematikanya. c. Pertanyaan untuk anggota-1: apa saja yang dikemukakan dalam teks yang Anda baca itu. Anda melakukan tahap-tahap dalam rangka memahami pengertian resensi. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok menjadi satu. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” pada bagian berikut. Dalam tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dan secara berkelompok. Bacalah resensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Selanjutnya. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Buku ini diangkat dari naskah disertasi yang dipertahankan terhadap sanggahan para penguji di hadapan Sidang Ujian Disertasi Tahap II Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 12 Desember 2001 dan mengalami pengubahan penyajian jika dibanding dengan naskah disertasi yang asli. Bagian 1 dan 2 berupa pengantar ke arah bahasa politik dan “pisau analisis” yang . Pelatihan-3 a.

Karakteristik bahasa politik pasca Orde Baru dipaparkan pada bagian 3 s. Prof. sepatutnyalah disampaikan harapan bahwa tulisan ini akan memperoleh tanggapan.A. (penguji tamu dari Universitas Gadjah Mada). Imam Syafi’ie. metafora. sinonimi. Prof. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yayasan Darma Aji Bakti. Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Prof..D.Menulis Resensi Buku 4-17 relevan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia. M. Abdul Wahab.. kami. Willem Mantja (penguji bidang pendidikan). dan Prof. M. Ph. Suparno yang telah memberikan bimbingan selama proses pembuatan disertasi. Dr. modalitas (relasional dan ekspresif). M. Jakarta. Soeseno Kartomihardjo. dan struktur teks (konvensi interaksional dan penataan teks). (alm. Kepada Prof. Oka. Prof.Pd. ketransitifan. Ph. M. saya..A. Ah. dan hiponimi). dan Dr. Hariyono. dan imperatif).. M. modus kalimat (deklaratif.A. 12. yang telah memberikan dana bantuan bagi penelitian disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. saya ingin menyampaikan terima kasih yang setulustulusnya kepada Penerbit Wedatama Widya Sastra (WWS) yang telah mengupayakan penerbitan hasil penelitian ini dalam bentuk buku.Pd.d. Dr. saran. Ph.D. Soepomo Poedjosoedarmo. interogatif. Dr. Saran dan pertanyaan yang Bapak ajukan pada ujian disertasi amat membantu penyempurnaan karya tulis ini. Oleh karena itu. Rofi’uddin. Juga kepada Drs.D. bentuk pasif dan negatif. Akhirnya. yakni pola klasifikasi. strategi kehadiran diri (kita. leksikalisasi. bahkan kritik yang dapat saya manfaatkan untuk memperbaikinya. Bagian 13 berupa paparan eksplanasi kritis mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan.A. dan nomina tertentu). Diterbitkannya karya tulis ini memungkinkan apa yang saya paparkan dalam disertasi yang konsumennya bersifat amat terbatas dapat diinformasikan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. M. (penguji bidang studi) ucapan terima kasih yang tulus sudah sepantasnya penulis sampaikan. yang telah membangun “jembatan” antara . Dr. relasi makna (antonimi.). Monica Djoehana D.

Apakah terdapat perbedaan yang mencolok dari tiap-tiap kelompok? Pelatihan-4 a. b. ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya sudah seharusnya penulis sampaikan. DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH ------------------------------------------------------------------------------v FENOMENA BAHASA POLITIK INDONESIA -----------------------------------------1 Bahasa Politik ----------------------------------------------------------------------------------1 Mengapa Bahasa Politik ---------------------------------------------------------------------3 Bahasa.4-18 Menulis Resensi Buku penulis dan penerbit. A. Diskusikan hasil rumusan Anda dengan anggota dalam satu kelompok. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. Bacalah daftar isi dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso. Komunikasi. b. Rumuskan jawaban Anda dalam satu paragraf singkat. Selanjutnya. Rumuskan apa tujuan penulis atau pengarang buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dapat diketahui dari bab “Sekapur Sirih” di atas.S. dan Politik ----------------------------------------------------------6 Rambu-Rambu Orwell -----------------------------------------------------------------------9 Beberapa Kajian Bahasa Politik Indonesia Sebelumnya --------------------------10 Catatan Akhir ---------------------------------------------------------------------------------24 “PISAU BEDAH” YANG RELEVAN: Menggali Ideologi dengan Analisis Wacana Kritis ----------------------------------25 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------25 Teori Kritis: Teori sebagai Praksis dan Emansipatif --------------------------------26 Linguistik Fungsional-Sistemik Halliday: Bahasa sebagai Semiotik Sosial ---29 . yang dipaparkan berikut ini. c. diskusikan hasil rumusan kelompok ke dalam diskusi kelas. Hasil diskusi sebaiknya dirumuskan sebagai hasil kelompok.

Menulis Resensi Buku 4-19 Kajian Bahasa dengan Paradigma Kritis ----------------------------------------------36 Analisis Wacana Kritis: Tiga Dimensi Wacana secara Simultan ----------------47 POLA KLASIFIKASI DALAM WACANA POLITIK -----------------------------------70 Pola Klasifikasi -------------------------------------------------------------------------------70 Kosakata Pengklasifikasi ------------------------------------------------------------------70 LEKSIKALISASI DALAM WACANA POLITIK ----------------------------------------91 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------91 Kosakata Utama yang Pertama Muncul -----------------------------------------------91 Perkembangan Lanjut Kosakata Utama -----------------------------------------------93 Leksikalisasi dari Berbagai Bidang Kehidupan -------------------------------------100 Leksikalisasi Khusus ----------------------------------------------------------------------107 RELASI MAKNA DALAM WACANA POLITIK: Antonimi.168 MODUS KALIMAT DALAM WACANA POLITIK: Deklaratif. Interogatif. Sinonimi. dan Hiponimi ------------------------------------------------------114 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------114 Antonimi --------------------------------------------------------------------------------------114 Sinonimi --------------------------------------------------------------------------------------119 Hiponimi --------------------------------------------------------------------------------------122 METAFORA DALAM WACANA POLITIK -------------------------------------------128 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------128 Metafora Nominatif ------------------------------------------------------------------------129 Metafora Predikatif ------------------------------------------------------------------------134 Metafora Kalimat ---------------------------------------------------------------------------136 KETRANSITIFAN DALAM WACANA POLITIK ------------------------------------140 Pengertian Ketransitifan ------------------------------------------------------------------140 Proses Material -----------------------------------------------------------------------------141 Proses Mental atau Proses Proyeksi -------------------------------------------------155 Proses Relasi atau Proses Menjadi ---------------------------------------------------157 BENTUK PASIF DAN NEGATIF DALAM WACANA POLITIK -----------------161 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Pasif ---------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Negatif ----------------------------------------------------------------------------. dan Imperatif ---------------------------------------------------175 .

245 Perspektif dalam Pilihan Kosakata --------------------------------------------------.4-20 Menulis Resensi Buku Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.190 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------190 Modalitas Relasional --------------------------------------------------------------------. dan Nomina Tertentu --------------------------------------------.246 Perspektif dalam Pilihan Gramatika ---------------------------------------------------250 Perspektif dalam Pilihan Struktur Teks -----------------------------------------------253 DAFTAR PUSTAKA -----------------------------------------------------------------------256 c.175 Kalimat Deklaratif ------------------------------------------------------------------------.205 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------. Saya.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kita” -----------------------------------------------.185 MODALITAS DALAM WACANA POLITIK: Relasional dan Ekspresif ------. rumuskan tujuan Anda membuat resensi. Rumusan Anda ditujukan kepada khalayak pembaca.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Saya” -----------------------------------------------207 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kami” ---------------------------------------------. .245 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.179 Kalimat Imperatif -------------------------------------------------------------------------.190 Modalitas Ekspresif ----------------------------------------------------------------------. Setelah membaca dua teks di atas.201 STRATEGI KEHADIRAN DIRI DALAM WACANA POLITIK: Kita. Kami.209 Strategi Kehadiran Diri dengan Pronomina Tertentu ---------------------------.211 STRUKTUR TEKS POLITIK: Konvensi Interaksional dan Penataan Teks -214 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------214 Konvensi Interaksional -------------------------------------------------------------------214 Pengurutan Teks ---------------------------------------------------------------------------238 PERSPEKTIF DALAM WACANA POLITIK: Sebuah Eksplanasi Kritis-----.175 Kalimat Interogatif ------------------------------------------------------------------------.

Hasil temuan dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pelaku politik dan pejabat pemerintahan di negeri ini untuk menyusun strategi perjuangan politiknya. Hal ini antara lain terjadi karena perbedaan perspektif para elite politik atas suatu masalah. Ada gejala “proses institusional” dan “proses sosiokultural” penggunaan bahasa dalam dunia politik di Indonesia. suatu penelitian “jargon” dan “bahasa” politik yang digunakan oleh para pejabat dan politikus seputar Pemilihan Umum di Indonesia tahun 1999. Bacalah teks kedua—berupa catatan penerbit--berikut! Buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru ini diangkat dari disertasi berjudul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik Era Pasca Orde Baru. Bacalah teks pertama—berupa sampul buku--berikut! Bahasa Politik Pasca Orde Baru Anang Santoso Penerbit WEDATAMA WIDYA SASTRA Jakarta. Penelitian ini antara lain menjawab pertanyaan “mengapa elite politik memilih dan mengistimewakan serta mengabaikan dan tidak menggunakan satuan bahasa tertentu?”. Maret 2003 b. ISBN 979—3258—04—7 .Menulis Resensi Buku 4-21 Pelatihan-5 a. terutama yang bersangkut paut dengan penggunaan bahasa.

Pelatihan-6 a.4-22 Menulis Resensi Buku c. Bacalah teks “pendahuluan” resensi berikut! Teks ini pernah muncul dalam sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Timur. Jakarta Cetakan: Pertama. selera. Pelatihan-7 a. Judul Buku: Bahasa Politik Pasca Orde Baru Penulis: Anang Santoso Penerbit: Wedatama Widya Sastra. Identifikasi karakteristik. Tugas anggota-2: Bacalah sekali lagi teks “Daftar Isi” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! c. Diskusikan jawaban-jawaban itu dalam diskusi kelompok! e. Maret 2003 Tebal: ix + 273 halaman . dan tingkat pemahaman (kadar intelektualitas) dari konsumen buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dibidik oleh penerbit. Tugas anggota-1: Bacalah sekali lagi teks “Sekapur Sirih” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! b. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok ke dalam satu jawaban kelompok yang akan menjadi bahan diskusi kelas. Tugas anggota-3: Bacalah sekali lagi teks “Catatan Penerbit” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! d.

Mas Amien.Menulis Resensi Buku 4-23 b. c. yang tidak hanya membahas pemikiran dan aksi politik mereka berdua. keempat tokoh itu: Gus Dur. Pelatihan-9: a. buku ini lebih komprehensif. Diskusikan hasil identifikasi yang Anda buat dengan teman lainnya. a. Ketika umat sedang “bingung” dengan fenomena sosial politik yang terjadi belakangan ini. Bacalah bagian buku—bagian halaman judul—yakni bagian yang menggunakan halaman huruf kecil angka romawi. Maklum. Identifikasikan identitas buku yang selayaknya disampaikan kepada khalayak pembacanya. b. kalau Zaman penerbit buku ini. Identifikasi persamaan dan perbedaan antara jawaban Anda dengan jawaban yang lain. dan Kang Jalal—begitu mereka biasa dipanggil oleh para . Tak salah. dan Jalaludin Rakhmat. Pelatihan-8: a. Informasikan bagian identitas buku itu kepada khalayak menjadi bagian pendahuluan dari sebuah resensi. dan mau tidak mau. Cak Nur. dedengkot Paramadina. maka pada permulaan 1998 ini terbit sebuah buku. menjagokan buku ini sebagai “anak sulung” terbitan tahun pertamanya. buku ini berasal dari tesis S-2 penulisnya (Dedy Djamaluddin Malik) yang telah diubah secara populer dan menjelma menjadi buku ini. pentolan Muthahhari. Dari materi dan metode penulisan. tetapi juga ditambah dengan Nurcholish Madjid. Bacalah teks “isi” sebuah resensi berikut! Kalau dua tahun lalu terbit sebuah buku yang mengungkap soal strategi perjuangan umat model Abdurrahman Wahid dan Amien Rais—dan sempat menghebohkan itu. Pilihlah salah satu buku yang akan diresensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

setelah sebelumnya dengan Mbak Mega. buku ini pun sedikit banyak merekam dinamika pemikiran mereka. umatnya—pun terkait dengan proses dialektika Suara Gus Dur yang mulai melemah ketika runtang-runtung dengan Mbak Tutut. semua itu hanyalah timbangan sementara. Partai Islam no” itu. seperti yang sudah disinggung di muka. Semua fakta itu tidak bisa diabaikan kalau kita berbicara tentang Islam dan Indonesia. Belum lagi. Lantaran pemikiran-pemikiran atau lebih tepatnya “sejarah pemikiran” seorang tokoh. justru di sinilah kesulitan bagi pengamat untuk secara benar me-metakan mereka dalam sebuah posisi yang tetap. Atau. masing-masing tokoh itu mempunyai umat yang tidak terbilang sedikit. Sehingga. Namun. Tak terkecuali dengan buku ini. sekeras apa pun mereka bicara. Lain ketika yang bertindak itu Sri Bintang Pamungkas. Kang Jalal yang kontroversial sebagai “Agen Syiah” dan secara menghanyutkan tekun mendalami dunia tasawuf bersama keluarga mantan Wakil Presiden Soedharmono. Kendati demikian. misalnya. . Namun. Dan. Lantas Mas Amien yang kian meninggi volume suaranya sejak kasus Busang dan suksesi— yang membuatnya terdepak dari ICMI—sampai kesediannya dicalonkan sebagai presiden. belum lama buku itu terbit. meminjam istilah pengamat politik almarhum Alfian. situasi pun kemudian berubah. Yang satu dianggap mewakili arus bawah dan yang satu lagi arus atas. maka suatu saat akan bergeser ke kiri. tak pernah berhenti secara final. Kemudian Cak Nur yang makin intens membina kelas menengah Muslim di metropolitan.4-24 Menulis Resensi Buku pengagum maupun perjalanan bangsa ini. Sampai-sampai majalah Ummat menganugerahinya sebagai “Tokoh 1997”. setelah sebelumnya menelurkan jargon “Islam yes. agaknya pemerintah tidak berani untuk bertindak gegabah. penulis telah berupaya keras untuk menganalisis sepak terjang mereka dari sejarah biografi pemikiran mereka berempat. menurut Mohammad Sobary dalam kata pengantarnya pada buku ini. Ketika pendulum sedang bergeser ke kanan. Inilah realitas politik. suatu saat mulur dan pada saat lain mengkeret. Kita ambil kasus buku tentang Gus Gur dan Mas Amien. Dan. inilah yang dimaksud dengan “Teori Gelang Karet”. Atau.

rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Namun demikian. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Pertanyaan untuk anggota-6: adakah ulasan perbandingan dengan buku lain yang temanya sejenis. Jika ada. dan adakah ulasan perbandingan dengan buku lain dari pengarang yang sama. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah informasi tentang latar belakang penulisan. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Sumber: Romli (2003:79—81) b. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri.Menulis Resensi Buku 4-25 Sebenarnya. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah informasi tentang tujuan penulisan buku. c. Dari buku ini juga terungkap. Islam yang diusung keempat tokoh itu adalah Islam yang lebih toleran dan terbuka. bukan berarti langkah mereka mulus-mulus saja. yakni suatu era di mana orientasi perjuangan umat Islam tidak lagi…dst. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah ulasan tentang tema atau judul. Mulai dari telepon gelap sampai ucapan yang mengkafirkan mereka. Lantaran. Untuk membimbing Anda. keempatnya tidak sekali pun terlintas untuk membentuk negara Islam. dimungkinkan dengan berubahnya pandangan pemerintah terhadap Islam. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Untuk selanjutnya Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota enam orang. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah ulasan tentang gaya penulisan. tapi yang diperjuangkan mereka adalah demokratisasi. Jika ada. Hadangan banyak mengganjal mereka. Jika ada. Jika ada. . Pertanyaan untuk anggota-2: adakah paparan singkat tentang isi buku atau gambaran secara keseluruhan terhadap isi buku. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Identifikasikan apa saja yang ingin dikemukakan peresensi dalam bagian “isi” yang dipaparkan di atas. kemunculan keempat tokoh dalam waktu yang tidak beda berselang itu. Merekalah tokoh intelektual Muslim paling menonjol dalam kelahiran “Zaman Baru Islam Indonesia”.

yakni halaman 1 sampai dengan halaman daftar pustaka atau daftar rujukan. Pelatihan-10: a. Setiap kelompok menyampaikan hasil rumusannya dalam diskusi kelas. Hasilnya dirumuskan menjadi sebuah rumusan yang berupa jawaban dari kelompok. e. Bacalah teks “penutup” sebuah resensi berikut! . Tugas anggota-6: menuliskan. Gabungkan jawaban setiap individu itu ke dalam teks yang padu. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Tugas anggota-4: merumuskan tujuan penulisan buku yang diresensi. Tugas anggota-2: menulis paparan isi buku secara singkat atau gambaran isi buku secara keseluruhan. Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil dari kelompok penyaji.4-26 Menulis Resensi Buku d. Pelatihan-11: a. Bacalah bagian isi buku. b. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi enam orang. d. c. Hasil rumusan itu adalah bagian “isi” untuk resensi menurut kelompok Anda sendiri. Tugas anggota-1: memberikan ulasan tentang judul atau tema buku. Tugas anggota-5: memberikan ulasan tentang gaya penulisan yang digunakan penulis buku. dan mengulas buku dengan tema yang sejenis & membandingkan serta mengulas buku lain yang dihasilkan pengarang yang sama. Tugas anggota-3: merumuskan latar belakang penulisan buku yang diresensi. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Jawaban setiap anggota kelompok tersebut selanjutnya didiiskusikan di dalam kelompok masing-masing. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. membandingkan.

Jika ada. Amien Rais. Apalagi. apa kelebihan dan kelemannya. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah kritik atau saran kepada penulis. salah satu tokoh dalam buku ini. apalagi yang tergerak untuk meneruskan perjuangan mereka dalam kerangka penegakan ajaran Islam. sehingga mengurangi kenikmatan membaca. apa kritik atau saran itu. Namun demikian. atau sebaliknya. buku ini tetaplah penting untuk dibaca dan dimiliki. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah penilaian kelebihan dan kelemahan buku. berkaitan dengan isu suksesi dan aksi politiknya menyatakan siap menjadi presiden. tengah menjadi newsmaker dewasa ini. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah pertimbangan kepada pembaca agar membaca atau membeli. Dengan referensi buku ini. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. buku ini layak kita ucapi selamat datang. Untuk membimbing Anda. Bagi kaum muda Muslim. Sumber: Romli (2003:81—82) b. Anda masih bekerja dalam kelompok masing-masing.Menulis Resensi Buku 4-27 Materi dalam buku ini cukup komprehensif. rumuskan penilaian itu menurut bahasa Anda sendiri. kita pun bisa memprediksi gebrakan apa lagi yang akan dibuat dan mengerti jika suatu saat sang tokoh kita ini tiba-tiba “berubah”. Karenanya. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. telah teruji secara ilmiah dan aktual. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. utamanya bagi mereka yang selama ini dibuat “bingung” oleh aksi dan pemikiran keempat tokoh tersebut. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. ada pertimbangannya. Sayangnya. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah saran- . khususnya di Indonesia. Masih ditemukan di sana-sini kalimat yang kurang tertib menurut kaidah EYD. pengeditan buku ini tampak dilakukan tergesa-gesa. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. buku ini dapat menjadi referensi utama bagi penentuan strategi dakwah masa depan. Sehingga. kata-kata jenuh dan mubazir. is perlu reediting.

d. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Tugas anggota-1: memberikan penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Pelatihan-12: a. Hasil rumusan itu adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Bacalah bagian buku secara keseluruhan. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. e. c. c. Hasil ini masih perlu dikomunikasikan kepada kelompok lain. apa saran-saran perbaikannya. dari bagian awal sampai akhir.4-28 Menulis Resensi Buku saran perbaikan bagi penerbitnya. Jika ada. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. d. Tugas anggota-5: memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki. b. Rumuskan ulasan Anda secara individu ke dalam bentuk tulisan. Hasilnya ditata ke dalam sebuah teks yang padu. . Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi lima orang. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Tugas ang-gota-2: memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan buku. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu jawaban kelompok. Ini adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Tugas anggota-4: memberikan saran dan kritik kepada penerbit demi penyempurnaan pe-nerbitan. Tugas anggota-3: memberikan saran dan kritik kepada penulis tentang kekurangan yang ada. atau tidak.

BUKU AJAR APRESIASI SASTRA INDONESIA .

BAB I. penghargaan. puisi. dan drama. serta mampu mengapresiasi prosa. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar apresiasi sastra yang meliputi pengertian apresiasi sastra. Menjelaskan bekal awal pengapresiasi sastra 3. D. . kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. kepekaan pikiran kritis. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Menjelaskan perbedaan antara kegiatan langsung dan taklangsung dalam apresiasi sastra 4. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. E. URAIAN MATERI Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian. bekal awal pengapresiasi sastra. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra 2. C. B. KONSEP DASAR APRESIASI SASTRA A. bekal awal pengapresiasi sastra. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. DESKRIPSI Penyajian teori apresiasi sastra yang meliputi meliputi pengertian apresiasi sastra. Menjelaskan berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra. puisi. INDIKATOR 1.

aspek tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna yang tersurat. Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik. Selain itu. latar proses kreatif penciptaan. sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi. Pada sisi lain. Adapun unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang. (2) aspek emotif. atau unsur ekstrinsik karya sastra. menikmati. dan (2) aspek evaluatif. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sastra. apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin serta (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Dalam konteks yang lebih luas. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sebagaimana yang diuraikan berikut ini.misalnya. Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses. apresiasi melibatkan tiga unsur inti. dan menilai karya sastra yang dibaca. Oleh karena itu. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. memahami. dan unsur-unsur di luar teks sastra itu sendiri. atau unsur intrinsik karya sastra. yakni (1) aspek kognitif. 1 Pengertian Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”.5-2 Apresiasi Bahasa Indonesia Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. Unsur intrinsik yang bersifat objektif itu. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unnsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra. unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya . maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran karya sastra.

misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan terhadap penilaian baik buruk. duduk di nite club sendirian tengah malam. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. dirinya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-3 memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. keterlibatan unsur penilaian dalam unsur ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespons karya sastra yang telah dibaca sampai pada tahap pemahaman dan penghayatan. pelaku wanita yang tampil dengan pupur tebal di tengah malam duduk sendirian di sebuah nite club akan memberikan sugesti makna yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelaku wanita yang tampil dengan jernih. secara imajinatif. Sebagai contoh. mampu menghayati kualitas ragam hidup demikian. tekun membaca buku. sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian. sesuai-tidak sesuai. Misalnya. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur signifikan tertentu. kepekaan pikiran kritis. Dengan kata lain. penghargaan. Dari pendapat itu juga disimpulkan . serta sejumlah ragam penilaian utama yang tidak harus hadir dalam serbuah karya kritik. tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. tentu mampu memberikan penilaian. Bagaimana penyimpulan makna yang dipaparkan lewat cara penampilan pelaku serta penataan setting yang terpapar secara sugestif tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh kepekaan pembaca yang pada dasarnya dibentuk oleh endapan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi tersebut. Effendi (1982) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. indah tidak indah. pembaca yang telah memahami karakter pelaku yang tampil dengan pupur tebal. tengah malam duduk sendirian di kamarnya.

baik yang berupa prosa. memahami. 2. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung. Kegiatan apresiasi karya sastra selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. menikmati. membaca artikel yang berhubungan dengan sastra baik di majalah maupun koran. Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati karya sastra secara langsung. Kegiatan membaca karya sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca/mendengarkan. kegiatan dalam rangka kemampuan . sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya. serta mempelajari sejarah sastra. melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya. puisi. serta mengevaluasi karya sastra. Kegiatan Langsung dan Tak Langsung dalam Mengapresiasi Karya sastra Dari uraian pengertian apresiasi sastra sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. Kegiatan apresiasi karya sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra.5-4 Apresiasi Bahasa Indonesia bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab sikap dengan teks sastra yang serta diapresiasinya. maupun drama. mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra. menumbuhkan sungguh-sungguh. melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara kongkret. Kegiatan itu disebut sebagai apresiasi sastra secara tidak langsung karena pada akhirnya selain dapat mengembangkan pengetahuan seseorang tersebut juga akan meningkatkan tentang sastra.

Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut akan tergambar lewat media kebahasaan. . maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. dan struktur wacana. Penumbuhan sikap serius dalam membaca karya sastra itu terjadi karena karya sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya. tetapi dengan suasana batin riang. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan. ia selalu berusaha menciptakan sikap serius. filsafat. Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa karya sastra. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguhsungguh dan berulang-ulang kepekaan sehingga dan dapat perasaan melatih dalam dan rangka mengembangkan pikiran mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan atau lisan. kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperanan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-5 mengapresiasi suatu karya sastra. media tulisan/lisan.E. Dengan demikian. 3 Bekal Awal Pengapresiasi Karya Sastra E. Sementara pada sisi lain. karya sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya. politik. Kellet mengungkapkan bahwa pada saat membaca suatu karya sastra. juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontempelasi batin.

antara lain (1) unsur keindahan. lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics. filsafat. Terdapatnya berbagai unsur karya sastra sebagaimana tersebut mengimplikasikan bahwa untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat di dalam karya sastra. tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text karena teks sastra bagaimana pun memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya. Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut sebagai bekal awal karena untuk mampu mengapresiasi karya sastra seseorang harus secara terus menerus menggauli karya sastra. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra. serta berbagai kompleksitas masalah kehidupan. Dari keseluruhan uraian tersebut dapat diambil simpulan bahwa karya sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks. dan (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik karya sastra itu sendiri sebagai suatu teks. misalnya buku filsafat dan psikologi. (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan. maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan. politik. sebagai bacaan. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. .5-6 Apresiasi Bahasa Indonesia Dengan demikian. tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya. Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu salah satunya ditandai oleh adanya unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. (3) media pemaparan baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. baik lewat penghayatan atas kehidupan secara intensif-kontemplatif. sastra sebagai salah satu cabang seni.

Hal itu disebabkan adanya (1) perbedaan tujuan dan apa yang diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-7 Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah. dalam kegiatan apresiasi karya sastra. (4) pendekatan sosiopsikologis. dan (5) pendekatan didaktis (Aminudin 1995). Oleh sebab itu. (3) pendekatan historis. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. . melainkan juga berhubungan dengan usaha pemahaman kandungan makna yang umumnya bersifat konotatif. Brooks membedakan adanya dua level. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. 4 Pendekatan dalam Mengapresiasi Karya Sastra Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan dalam mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. yakni level objektif yang berhubungan dengan respons intelektual dan level subjektif yang berhubungan dengan respons emosional. yakni jika pembaca semakin sering dan akrab dengan kegiatan membaca karya sastra. sedangkan kegiatan menggauli karya sastra sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana. (2) pendekatan analitis.1 Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang menggugah perasaan pembaca yang dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan yang lucu dan menarik. Lebih lanjut. kepekaan emosi dan perasaan itu bukan hanya berhubungan dengan kegiatan penghayatan dan pemahaman nilai-nilai keindahan. 4.

dan (5) berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan. dan (3) setiap elemen dapat dibicarakan secara terpisah tetapi pada akhirnya setiap elemen harus disikapi sebagai satu kesatuan. elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur intrinsik sehingga membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya. sarkasme.5-8 Apresiasi Bahasa Indonesia Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. 4.2 Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan. sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya. satirik. pembaca tentunya harus memilih karya sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. Untuk menemukan dan menikmati karya sastra yang mengandung kelucuan. (2) bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu. . Dalam pelaksanaannya. (4) bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu. atau komedi. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan analitis adalah bahwa (1) karya sastra dibentuk oleh elemen-elemen tertentu. (2) setiap elemen dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. (3) bagaimana wujud keindahan itu setelah digambarkan pengarangnya. melalui pendekatan ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) adakah unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra yang dibaca. cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ideidenya. misalnya ragam humor.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan historis adalah adanya anggapan bahwa karya sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya. (2) bagaimana unsur-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangnya. kehidupan masyarakat. maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat karya sastra diwujudkan. latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya prosa fiksi yang dibaca.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-9 Dalam pelaksanaannya. (4) menganalisis fungsi setiap unsur dalam rangka mewujudkan karya sastra. 4. serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman. penerapan pendekatan analitis selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) unsur-unsur apakah yang membangun karya yang saya baca ini. (3) bagaimana peran setiap unsur dan bagaimana hubungan antarunsurnya. (2) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang dibacanya. Adapun secara konkret langkah-langkah yang harus ditempuh adalah (1) membaca teks secara keseluruhan. 4. pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna suatu karya sastra. Selain itu.4 Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya. (3) memahami mekanisme hubungan antarunsur intrinsiknya.3 Pendekatan Historis Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang. dan (4) bagaimana cara memahaminya. .

Gagasan. kita dapat menyimpulkan nilai-nilai apa yang terkandung di dalam karya sastra yang kita hadapi.5-10 Apresiasi Bahasa Indonesia Dalam pelaksanaannya. Dalam pelaksanaannya. berbagai pendekatan itu pada umumnya digunakan secara eklektik.5 Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis berusaha menemukan dan memahami gagasan. komentar. lakuan. maupun agamis. (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakap. penerapan pendekatan didaktis dilakukan melalui upaya memahami satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu karya sastra yang disarikan dari paparan gagasan pengarang yang berupa tuturan ekspresif. maupun deskripsi peristiwa dari pengarang. . dialog. Adapun alasannya adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan. melalui pendekatan ini kita berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa karya itu diciptakan. tanggapan. sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis. atau bahkan salah. dan (3) penerapan pendekatan secara eklektik sesuai dengan konpleksitas aspek maupun keragaman karakteristik karya sastra itu sendiri. filosofis. bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya. Demikianlah berbagai pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra. yakni pendekatan yang satu digunakan secara bersamaan dengan pendekatan yang lain. Dari pemahaman tersebut. Dalam pelaksanaannya. 4. tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. dan bagaimana hubungan antara karya sastra dengan zamannya.

dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. . dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. Untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. dan (5) pendekatan didaktis. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. Apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. (3) pendekatan historis. (4) pendekatan sosiopsikologis. kepekaan pikiran kritis.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-11 F. penghargaan. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan/lisan. (2) pendekatan analitis. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan. RANGKUMAN Apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. Pendekatanpendekatan tersebut sebaiknya digunakan secara eklektik.

atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya . KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar prosa yang meliputi hakikat. dan unsur pembangun prosa serta mampu mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. dan unsur prosa 2. prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. Dengan kata lain. puisi. yang berarti cerita rekaan (cerkan) atau “khayalan”. jenis. C. serta mampu mengapresiasi prosa. Hakikat Prosa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). DESKRIPSI Penyajian konsep dasar prosa yang meliputi pengertian ahakikat. puisi. Mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. URAIAN MATERI 1. INDIKATOR 1. dan unsur prosa serta praktik mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Menjelaskan hakikat.BAB II. jenis. B. jenis. khayalan. Hal itu disebabkan prosa (yang untuk pembicaraan selanjutnya disebut prosa fiksi) merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. E. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. dan drama. MENGAPRESIASI PROSA A. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa.

dan tempat yang disebut-sebut di dalam prosa fiksi bersifat imajinatif. Prosa fiksi menawarkan sebuah dunia yang dibangun melalui cerita. Sebagai karya imajinatif. prosa fiksi merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Jika dibandingkan dengan karya nonfiksi. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Prosa fiksi menampilkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. hidup dan kehidupan. Ia merupakan hasil dialog. meskipun dalam beberapa aspek menunjukkan kesamaan. tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. dan Tuhan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-13 dalam dunia nyata. akan tetapi semua itu berjalan dengan sistem dan koherensinya sendiri. peristiwa. 'dunia' dalam prosa fiksi dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa faktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi. diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif. prosa fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. tokoh. Oleh karena itu. menurut Alterbern dan Lewis. kebenaran dalam prosa fiksi tidak sama dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. peristiwa. kontemplasi. Walaupun berupa khayalan. sedangkan di dalam karya nonfiksi bersifat faktual. prosa fiksi bukan sekadar hasil kerja lamunan. prosa fiksi. Dengan demikian. tokoh. Dapat dikatakan bahwa dunia dalam prosa fiksi merupakan 'dunia lain' di samping kenyataan. Dengan demikian. dirinya sendiri. sesama. . Meskipun demikian. dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. dan latar yang semuanya tentu saja bersifat imajinatif.

berbeda dengan mite. Contoh mite adalah cerita Dewi Sri dari Jawa dan Mado-Mado dari Pulau Nias. dibacakan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga cerita itu dirasakan sebagai milik bersama. hubungan kekerabatan. Mite pada umumnya mengisahkan alam semesta. legenda. atau mkakhluk setengah dewa. bentuk khas binatang. Oleh karena sifatnya yang demikian. dan bertempat di dunia seperti yang kita . pengarang cerita rakyat pada umumnya tidak dikenal serta ceritanya sangat mudah berubah dari waktu ke waktu. percintaan. manusia pertama. kegenda bersifat keduniawian. Peristiwa terjadi didunia lain. terjadinya pada masa yang belum begitu lampau. di antaranya adalah mite. 1) Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang sejak belum terdapat tradisi tulisan. dan gejala alam.5-14 Apresiasi Bahasa Indonesia 2. terjadinya maut. Cerita rakyat dikenal dan diceritakan dalam kalangan masyarakat. Mite juga mengisahkan petualangan. Di dalam tradisi lisan terdapat berbagai jenis cerita rakyat. Jenis Prosa Fiksi Menurut sejarah perkembangannya. atau di dunia yang bukan seperti yang kt akenal sekarang dan terjadi di masa lampau. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita. Seperti halnya mite. Prosa Fiksi Lama Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. dan dongeng. atau kisah perang para dewa. dunia. a. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. Mite ditokohi oleh para dewa. legenda adalah cerita rakyat yang dianggaps ebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. Hanya saja. bentuk topografi.

(b) hikayat yang mendapat pengaruh dari jawa. nabi-nabi Islam. berisikan pelajaran (moral) atau sindiran. b. Kancil dan Buaya. Meskipun hikayat sebenarnya bentuk asli kesusasteraan Indonesia. dan seraingkali dibantu oleh makhlukmakhluk ajaib. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. (c) hikayat yang mendapat pengaruh Hindu. kepercayaan Hindu. di dalamnya bercampur aduk antara lukisan Melayu asli dan dewa-dewa Hindu yang menjelma. Berdasarkan asal ceritanya. Tangkuban Perahu. misalnya Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar. misalnya Hikayat Perang Pandawa Lima dan Hikayat Sang Boma. asal mula terjadinya nama Banyu Wangi. sejarah.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-15 kenal sekarang. (d) hikayat yanag mendapat pengaruh dari Persia. misalnya Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Raja-Raja Pasai. Prosa Fiksi Baru . hikayat dapat dibedakan menjadi (a) hikayat asli Melayu. misalnya Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Damar Wulan. misalnya Hikayat Srang Manyang dan Hikayat Malim Deman. Contoh dongeng adalah Timun Emas. dan sebagainya. Legenda ditokohi manusia. misalnya dongengdongeng binatang. Dongeng biasanya diceritakan untuk hiburan. Contoh legenda adalah kisah terhadinya Rawa Pening. 2) Hikayat Hikayat adalah bentuk cerita fiksi yang lain dalam kesusasteraan lama. dan cerita Batu Belah. walaupun banyak yang juga melukiskan kebenaran. dan (d) hikayat yang mendapat pengaruh Arab. dan Bawang Merah Bawang Putih. Hikayat umumnya menceritakan riwayat ajaib tentang putera dan puteri raja. pada perkembangannya kemudian tercampur dan terjalin dengan ceritacerita asing. walaupun ada kalanya mempunyai sifat yang luar biasa.

Degresi atau lanturan adalah masuknya masalah yang tidak begitu integral dalam cerita yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. Di samping novel. (6) novel psikologis. kemudian dicari-cari perbedaannya. (5) novel politik. dan (7) novel percintaan. (2) novel sejarah. (3) novel adat. (4) novel anak-anak. ditektif. dan ketidakhadirannya tidak akan mengganggu keutuhan cerita. tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya. psikologis. sosial.5-16 Apresiasi Bahasa Indonesia Secara garis besar. novel dibedakan menjadi (1) novel bertendens. di Indonesia juga dikenal istilah roman. dan kolektif. 2) Cerita Pendek . ukuran luas disini tidak mutlak sifatnya. dan latar yang beragam pula. novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. yakni cerpen. 1) Novel Dalam arti luas. suasana cerita yang beragam. Penggolongan lain dilakukan oleh Mochtar Lubis yang membagi novel menjadi 6 jenis. Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang mendominasi novel yang ditulisnya. politik. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang juga berbeda. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks. karakter yang banyak. prosa fiksi baru dibagi menjadi dua jenis yaitu novel dan cerpen. dalam novel dimungkinkan adanya degresi. yaitu novel avontur. suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada cerita rekaan yang lain. baik dilihat dari segi teknik berceritanya maupun isi yang diungkapkan pengarang. Tetapi. Sebenarnya kedua bentuk cerita itu pada hakikatnya sama. Karena keluasannya. Di samping itu ada yang membagi novel menjadi dua. yakni novel serius dan novel populer yang masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri.

tokoh. alur. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan lewat bentuk karya itu. Dalam kesingkatannya. yakni fakta cerita. sudut pandang. Predikat pendek di sini bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu. Cerpen mempunyai kecenderungan berukuran pendek dan pekat. Oleh karena itu. serta gaya (bahasa). 3. Sarana cerita itu meliputi unsur judul. dan latar yang terbatas. tidak beragam. dan tema cerita. cerpen merupakan karya sastra yang lengkap dan selesai sebagai suatu bentuk karya rekaan. Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita. Unsur Pembangun Prosa Fiksi Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. dalam cerpen tidak mungkin muncul degresi atau lanturan sebagaimana yang biasa terjadi dalam novel. kepaduan merupakan syarat utama sebuah cerpen. atau sedikitnya tokoh yang terdapat di dalamnya. dan tidak kompleks. Ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi tiga bagian. Dengan demikian. cerpen hanya mempunyai efek tunggal. Ruang lingkup permasalahan yang diungkapkan di dalam cerpen adalah sebagian kecil dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. dan latar. Cerpen hanya memusatkan perhatian pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur. a. Pembagian lain dikemukakan oleh Stanton (1965). karakter.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-17 Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. sarana cerita. Yang perlu diingat adalah bahwa dalam kesingkatannya. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. sedangkan unsur isi adalah sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu. Alur .

Bahkan. misalnya antara manusia dengan manusia lain. Peristiwa dalam prosa fiksi dapat disusun dengan mengikuti garis lurus. dalam alur akan dijumpai puncak-puncak konflik. yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa. dapat pula berupa konflik eksternal. konflik eksternal. dari konflik kecil sampai konflik yang besar. bagian ini menunjukkan bagaimanakah akhir sebuah cerita yang penyelesaiannya bisa bersifat tertutup dan bisa juga terbuka. Tahap awal biasanya disebut tahap perkenalan. Pada tahap awal cerita konflik sedikit demi sedikit mulai dimunculkan. manusia dengan alam. Konflik-konflik itu dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri). Peristiwa-peristiwa yang jalin menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut alur. Tahap tengah atau pertikaian menampilkan peningkatan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal. diikuti oleh peristiwa B yang . Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. yaitu konflik antara tokoh dengan hal lain di luar dirinya. Jadi. misalnya. Dalam tahap tengah inilah klimaks dimunculkan. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal. Dengan kata lain. alur selalu menampilkan konflik-konflik. atau kedua-duanya sekaligus. Peristiwa A merupakan awal cerita.5-18 Apresiasi Bahasa Indonesia Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. Adapun tahap akhir atau peleraian menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh. berupa pengenalan tentang waktu dan tempat terjadinya peristiwa dan pengenalan tokoh cerita. bulat. atau manusia dengan Tuhan. alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu. dan utuh.

tiba-tiba pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu. Peristiwa tidak disusun secara urut dari peristiwa awal sampai peristiwa akhir. Dalam membaca urutan cerita yang demikian pembaca seolah-olah diajak untuk mengenang peristiwa masa lalu. Tokoh pada umumnya berwujud manusia. atau benda yang diinsankan. pertama. dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. Tokoh dan Penokohan Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. Dalam membentuk alur tertentu. dan berakhir dengan peristiwa C sebagai penutup cerita. Kaidah yang dimaksud meliputi masalah kemasukakalan (plausibility). pembaca dibawa kembali ke inti cerita. yaitu (1) tokoh sentral atau tokoh utama dan (2) tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Ada pula prosa fiksi yang disusun sebaliknya. meskipun dapat juga berwujud binatang. Namun demikian. Contoh cerita yang menggunakan susunan seperti itu adalah Atheis karya Achdiat Kartamiharja. Cara yang lain adalah dengan menggabungkan dua cara di atas. dan ketidaktentuan (suspense). kejutan (surprise). Tokoh sentral atau tokoh utama yang disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan . ada semacam ketentuan atau kaidah yang perlu dipertimbangkan. tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua. misalnya dalam Tinjaulah Dunia Sana karya Maria Amin. Melalui cara itu. melainkan dari peristiwa akhir kemudian baru dikisahkan peristiwa yang mendahuluinya. Setelah kenangan itu habis. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. pembaca langsung diajak masuk ke dalam peristiwa pokok. pengarang memiliki kebebasan kreativitas. Urutan peristiwa seperti itu disebut alur lurus. b. Urutan seperti itu dinamakan alur sorot baik.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-19 merupakan inti cerita. Ketika sedang berada pada peristiwa pokok.

dantokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) ialah tokoh yang tidak sentral dalam cerita. yang berhasil mengisinya dengan darah dan daging akan dengan sendirinya meyakinkan kebenaran ceritanya. antara lain dengan mencermati: . Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh itulah yang disebut penokohan. Agar manusia yang perikehidupannya diceritakan itu lebih jelas bagi pembaca. Yang ingin diungkapkan pengarang melalui cerkan adalah manusia dan kehidupannya. Karena sebuah prosa fiksi biasanya melibatkan beberapa tokoh. pengarang berusaha menyajikan sosok tokoh cerita itu di hadapan pembaca. Peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadina perubahan sikap terhadap diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap cerita tersebut.5-20 Apresiasi Bahasa Indonesia cerita itu ada. yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. Biasanya tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita. Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita dijumpai adanya tokoh datar/sederhana/pipih yang wataknya tidak berkembang dan tokoh bulat/kompleks/ bundar yang wataknya berkembang dan kompleks sehingga terlihat kelemahan dan kelebihannya dan dapat dibedakan dari watak tokoh lain. perlu bagi pembaca untuk menentukan tokoh sentralnya. Bagaimana kita pembaca mengenali watak tokoh-tokoh cerita? Ada beberapa cara yang dapat membawa pembaca sampai pada sebuah simpulan tentang watak tokoh. dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya. Yang termasuk tokoh bawahan misalnya tokoh andalan. tokoh utama atau tokoh sentral suatu prosa fiksi dapat ditentukan dengan paling tidak tiga cara. Jelasnya.

5. pengacuan yang berkaitan dengan tempat. 2. apa yang diperbuatnya. latar meliputi penggambaran (1) lokasi geografis. Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah cara penting untuk menggambarkan watak tokoh. dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita. Secara terinci. penerangan langsung. c. petunjuk. (2) waktu terjadinya . dan sebagainya. orang dengan pendidikan rendah atau tinggi. ucapan-ucapannya. 7. Penulis sering membuat deskripsi tentang bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya: tentang cara berpakaiannya. waktu. dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita disebut latar atau setting.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-21 1. 3. pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan. gambaran latar atau lingkungan tempat tinggal tokoh. sukunya. Situasi kritis di sini tidak perlu mengandung bahaya. tindakan-tindakannya. 6. wanita atau pria. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita. kita dapat mengenali apakah ia orang tua. penggambaran fisik tokoh. Jadi. Latar Cerita merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu di suatu tempat dan dalam suasana tertentu. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. Dalam hal ini penulis memberitahukan panjang lebar watak tokoh secara langsung. tetapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. orang berbudi halus atau kasar. Waktu. bentuk tubuhnya. dan baik hati. tempat. pikiran-pikirannya. latar meliputi segala keterangan. misalnya pengarang menjelaskan bahwa tokoh A adalah orang yang jujur. sampai pada rincian sebuah ruangan. terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. ciri-ciri fisiknya yang dapat menunjukkan watak tokoh yang bersangkutan. pemandangan. 4. sabar.

dan sebagainya. sejarahnya. dan kemanusiaan. Dalam prosa fiksi. misalnya. misalnya nilai kebenaran. untuk memperkenalkan adat istiadat suatu daerah. tema. adat kebiasaan. biasanya pengarang tidak akan sembarangan dalam menentukan latar cerita. artinya hanya sekadar memberi petunjuk bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi di suatu tempat pada waktu dan suasana tertentu. Cerita dengan latar perang. intelektual. latar kota Jakarta menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu: suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang yang menyebabkan orang mudah merasa terasing. musim terjadinya. melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai. Adapun Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya. yaitu bangunan. cinta kasih. dan emosional para tokoh cerita. sosial. Dengan demikian. Kegunaan latar biasanya bukan semata-mata sebagai petunjuk kapan dan di mana cerita itu terjadi. Misalnya dalam cerpen "Jakarta". Dari latar wilayah tertentu harus dihasilkan watak tertentu. suasana tertentu. Sudut Pandang . dan atau tema tertentu. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat. latar hendaknya mempunyai fungsi untuk menggarap alur. Karena itu. atau menunjukkan sifat-sifat manusia pada suatu saat di suatu tempat. daerah. moral. latar yang hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. dan penokohan. cara hidup. dan (3) lingkungan agama. Sebaliknya. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. dapat dikatakan bahwa latar bukan sekadar background cerita. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual. bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. disebut latar netral. Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik (material). dan keagungan Tuhan yang akan diungkap pengarang melalui cerita tersebut. d. patriotisme. dapat berbicara soal-soal khusus seperti pelarian. dendam.5-22 Apresiasi Bahasa Indonesia peristiwa. pengkhianatan.

Yang pertama. atau menyebut nama tokoh. Akan tetapi mulai bagian kedua. Orang Ketiga Mahatahu apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita. tindakan. Orang Ketiga Terbatas apabila pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar. Sudut Pandang Orang Ketiga memiliki dua kemungkinan. Ronggeng . Dengan demikian. dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari mendongeng tentang Dukuh Paruk. yakni sudut pandang Orang Pertama (Pencerita Akuan) dan sudut pandang Orang Ketiga (Pencerita Diaan). Seperti dalang. yang juga disebut pencerita "Akuan". Sudut pandang dibagi menjadi dua. pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya. sering kita jumpai prosa fiksi yang menggunakan sudut pandang campuran. misalnya. dari alam. pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi. Dalam sudut pandang Orang Pertama. teknik.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-23 Sudut pandang atau point of vieuw merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. Dalam sudut pandang Orang Ketiga. sedangkan apabila pencerita menjadi tokoh bawahan disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Bawahan atau Akuan-Taksertaan. tatanan sampai mitos sejarahnya. dia). latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. pencerita berada di luar cerita. atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. tradisi. Dalam kisahannya pencerita mengacu kepada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti Orang Ketiga (ia. Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Utama atau Akuan-Sertaan. Di samping jenis-jenis sudut pandang di atas. bahkan mampu mengungkap pikiran. Yang kedua. Bagian pertama novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang Diaan Serba Tahu.

Berdasarkan kekurangan dan kelebihannya itu. dan kemudian pembaca semakin dekat dengan peristiwa yang disajikan dalam cerita. tetapi tentang tokoh lain ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. tetapi ada keterbatasan karena sudut pandangnya bersifat sepihak. ceritanya menjadi sangat padu. Tetapi karena ia harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu sudut. Apabila digunakan sudut pandang diaan serba-tahu. dari pola pemikiran tradisional menuju ke pemikiran yang modern. penggunaan sudut pandang Orang Ketiga dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak dalam waktu yang bersamaan. Sudut pandang Orang Pertama cepat membina keakraban antara cerita dan pembaca. pikiran. ceritanya menjadi lebih bersifat objektif. Di samping itu. Di lain pihak. dan pembaca. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk. perubahan sudut pandang diaan ke akuan mengisyaratkan adanya sebuah kesan “meninggalkan” negeri dongeng. setiap sudut pandang ada kelebihan dan kekurangannya. Ditinjau dari penangkapan dan pemahaman cerita oleh pembaca. perubahan sudut pandang dalam novel itu juga berkaitan dengan perubahan karakter tokoh Rasus. relevansinya dengan sifat cerita. dia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi. Apabila digunakan sudut pandang diaan terbatas. pencerita tidak dapat memperkenalkan apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat lain. Cerita tersaji melalui mulut tokoh Aku. bahkan . Di samping itu. Perubahan sudut pandang dalam sebuah prosa fiksi biasanya memiliki nilai-nilai tertentu. yakni Rasus. Ia tidak dapat menduga dalam-dalam pikiran dan sikap tokoh lain. sudut pandang Orang Pertama cocok untuk cerita dengan kecenderungan psikologis.5-24 Apresiasi Bahasa Indonesia Dukuh Paruk disajikan dengan menggunakan sudut pandang Akuan Sertaan. dan perasaannya sendiri kepada pembaca. “Aku” secara langsung dan dengan bebas dapat emnyatakan sikap.

semua pengarang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri. unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi unsur leksikal. dan sarana retorika. keindahan. penggunaan sudut pandang diaan serba tahu bertentangan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Secara ringkas. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya. gaya pengarang adalah suarasuara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya. bahasa kias. Dalam artian ini. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lain. dan penyiasatan struktur. kelompok kata. Berdasarkan pengertian gaya sebagaimana tersebut di atas. Oleh karena itu. Unsur leksikal menyangkut diksi. gaya dapat didefinisikan sebagai cara pemakaian bahasa yang khas oleh seorang pengarang. dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan. sering dikatakan bahwa gaya adalah oranngnya. dan ungkapan yang menentukan keberhasilan. kalimat. Seorang pengarang selalu menyajikan halhal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Gaya dan Nada Gaya merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-25 dapat menembusi pikiran dan perasaan tokoh. gramatikal. Ia dapat berkomentar dan memberikan penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya. yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. Secara sederhana. Akan tetapi kelemahannya. dapat dikatakan bahwa menganalisis gaya sebuah cerita rekaan berarti menganalisis wujud verbal karya sastra itu sendiri. e.

religius. . f. dan sebagainya. Tema bisa saja hanya berwujud hasil pengamatan pengarang terhadap kehidupan. Ia terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. Nada yang sering disamakan dengan istilah suasana adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. Meskipun demikian. untuk memahami tema kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembangunnya. Jadi. Oleh karena itu. mengharukan. atau pikiran utama yang mendasari sebuah cerita rekaan. Salah satu fungsi gaya yang penting adalah sumbangannya untuk mencapai tone atau nada dalam prosa fiksi. atau bahkan hanya hasil pengamatannya saja. melankolis. wajar. ide. romantis. serta menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. sementara kita sebagai pembaca baru memahami tema setelah kita selesai memahami unsur-unsur pembangun yang menjadi media pemaparan tersebut. tema tidak perlu selalu berwujud ajaran moral. mencekam. menyimpulkan makna yang dikandungnya. tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita. tragis. Suasana cerita dapat berkisar pada suasana yang bersemangat. menegangkan. menjijikkan.5-26 Apresiasi Bahasa Indonesia Yang dimaksud sarana retorika adalah penggunaan berbagai bentuk kebahasaan untuk memperjelas dan memperindah pengungkapan sehingga dihasilkan wacana yang efektif dan khas. Tema dan Amanat Tema merupakan gagasan. kesimpulannya. Pengarang bisa hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan tanpa memberikan jalan keluarnya. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu.

Meskipun demikian. melainkan tersebar di balik keseluruhan unsur cerita. memahami peristiwanya. memahami alur ceritanya. 7. mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. keberadaan tema tidak dirumuskan dalam satu atau dua kalimat secara eksplisit. 5. Dalam upaya pemahaman tema cerita. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lain yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam cerita. 2. perlu diperhatikan beberapa langkah berikut secara cermat: 1. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut . memahami latar prosa fiksi yang dibaca. 4.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-27 Brooks (1975) mengungkapkan bahwa dalam mengapresiasi tema suatu cerita. serta tahapan ditampilkannya. pokok pikiran. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta merumuskannya dalam satu atau dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya. menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok yang satuan peristiwa. b) Amanat/ Nilai/Pesan Moral Unsur lain yang dapat diperoleh sewaktu berusaha memahami tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. Tema dalam hal ini inklusif di dalam cerita. 8. 6. apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas karena tema sebenarnya merupakan pandalaman dan kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam cerita yang dibaca. 3.

4. Yang dimaksud nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Perubahan ini membuat Rani menjadi cerewet dan selalu ingin mengatur. dan keempat anak mereka Raja. Kehidupan Rani membaik walaupun tanpa suami. . Pada awal pernikahan. hidup mereka berkecukupan. Jenis dan wujud pesan moral/ nilai dapat mencakupi seluruh persoalan hidup dan kehidupan yang meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. misalnya. Prosa fiksi itu harus dibaca dengan sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Contoh Apresiasi Novel Pelabuhan Hati Karya Titis Basino dengan Pendekatan Analitik Pelabuhan Hati mengisahkan sebuah keluarga yaitu Ramelan beserta istrinya Rani. Meskipun demikian. hidup mereka serba kekurangan.5-28 Apresiasi Bahasa Indonesia akan dapat dinemukan nilai-nilai yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaaan serta hidup kehidupan. Semua kata dan kalimat harus benar-benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi pekerti. Untuk menopang hidupnya Rani kemudian membuka tempat kos dan menerima jahitan. ia marah dan minta cerai karena tidak mau dimadu. dan dengan Tuhan. dan Preti. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerkan itulah yang sering disebut amanat. Setelah Ramelan mendapat pekerjaan dan proyek. hidup mereka bahagia. Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja. Ketika Rani mengetahui. dengan masyarakat dan lingkungannya. Rima. Hal ini membuat Ramelan menjadi pendiam dan selingkuh dengan gadis lain yang bernama Laksmi yang tidak lain adalah langganan menjahit Rani. Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi dapat secara tersurat maupun secara tersirat. Nora. Untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah.

“Ramelan selalu mengiyakan tuntutanku. dan mandiri. dan aku bertambah cerewet.” Walaupun sudah bercerai.” (PH) Ramelan adalah seorang laki-laki atau suami yang baik. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut. itulah cela yang tidak disukai laki-laki.” “Dia tidak peduli soal-soal kecil. Cerewet. “Aku ingin kembali ke rumah ini. Dan aku tidak menyadari selama ini. Ramelan jatuh sakit dan akhirnya meninggal di pangkuan Rani. Ramelan kesepian dan ingin kembali pada Rani. pendiam. Memang membosankan berdekatan dengan perempuan nyiyir dan sok tahu urusan laki-laki.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-29 Perkawinan Ramelan dan Laksmi tidak membuahkan anak. “Suratnya selalu mengatakan ingin menemuiku. Ia percaya bahwa wanita bukan makhluk yang lemah. Ramelan masih peduli terhadap istrinya.” “Ini uang. Rani sebagai tokoh utama memiliki sikap yang keras. istri dan anak-anaknya. Bubarkan semua yang ada di sini. Dia sangat menyayangi keluarga. Aku perlu berkumpul dengan anakanak. dimulai dari kehidupan awal Ramelan dan Rani sampai punya empat anak. tidak pernah mencela atau menegur.” (PH) Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. kemudian bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga dalam sepuluh tahun. tetapi Rani menolak. Sebagai wanita sekaligus istri ia juga menyadari kelemahannya yaitu cerewet dan suka mengatur sehingga suaminya berpaling pada gadis lain. Dia kini tambah pendiam. Yang dimaksud Laksmi. Dia tidak cerewet. Ia telah berusaha bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak bergantung pada laki-laki. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Peristiwa berlanjut dengan pernikahan Ramelan dan Laksmi yang tidak . tegas.

Unsur pembangun prosa fiksi yaitu fakta cerita yang meliputi alur. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Rumah Sakit Petambunan. Karena itu. LATIHAN/SOAL . tokoh. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. sarana cerita yang meliputi judul. sudut pandang. serta gaya (bahasa). Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. kuat. Diam dan mengawasi mereka berdua.5-30 Apresiasi Bahasa Indonesia bahagia karena tidak punya anak. G. sedangkan prosa fiksi baru meliputi novel dan cerpen. Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa wanita sebenarnya bukan makhluk yang lemah. dan tema cerita. mandiri. F. Menurut sejarah perkembangannya. dan latar. dan tidak selalu bergantung pada laki-laki. di rumah sakit Yayasan Kristen Jakarta. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguhsungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. jadilah wanita yang tegar. Novel ini berlatar di kota Jakarta.” “Aku membaca surat Yasin.” “Aku inginkan ada kolam ikan. kemudian jatuh sakit dan meninggal. Ramelan merasa kesepian. Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. “Aku sibuk mengatur rumah baruku. yaitu di rumah Rani. khayalan. rumah Laksmi di Mampang.” (PH) Adapun tema novel Pelabuhan Hati ini adalah ketegaran seorang wanita dalam menghadapi cobaan hidup. RANGKUMAN Prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan.” “Aku terpana.

Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. . untuk waktu sehari semalam penuh. pada acara khitanan anaknya ini. Anaknya. tetapi terutama orangorang yang dulu pernah mengundanfgnya berhajat. malah rugi. Cukup panggil calak. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. yang belum sembuh karena dikhitan kemarin. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek. Cukup kerabat-kerabat terdekat.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-31 Bacalah cerpen berikut dengan saksama kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Bahkan bisa lebih banyak. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah. lagu-lagu ngangdut atau kasidahan. Perhitungannya ternyata meleset. kini sudah mulai menagih. Ia tidak pakai acara macem-macem. Daroji. atau apa saja asal ada kasetnya. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Kemudian tak uasah nanggap wayang atau ketoprak. makan minum dan jajan-jajan serta rokok. dengan bayaran dua ribu rupiah. tukang khitan. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini. melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. ludruk. Tapi mana bisa. Dengan demikian. beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Cobalah pikir.

Kang. ya! Dia itu takut sama atasannya.” “Usaha apa!” “Soal sewan tebu itu misalnya. dia masih merasa kurang kaya …!” . Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewannya. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu.-. “Sudahlah. “Kau kira lurah kita itu pahlawan. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu.5-32 Apresiasi Bahasa Indonesia Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp200.sekarang Cuma ngasih Rp100. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. Apa tak kurang ajar. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Tak usah bingung. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. padahal ikut makan dan minum. “Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo.. uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” kata istri Kang Dasrip. dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tak berani membantah. “Kau kira berapa sewan utnuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. tapi dia belum pernah merasa puas. Ngomongnya saja Tebu Rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar. pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana. Yang dulu ia kasih beras sekilo.” Tertawa Kang Dsrip mengeras.” Kang Dasrip tertawa kecut.” kaata istrinya lagi.

“Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah.kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100. ributlah orang desa. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. “Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya. di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Ada yang tertawa. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp200.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-33 “Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih. Bahkan lebih dari itu. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu.. Nak …!” ujarnya. (Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya. kecuali nama yang memalukan. “Radionya dicopet di pasar. Mei 1992) . Ia mengambil sisa-sisa surat undangan. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. Tapi tentu saja ini sia-sia. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. Daroji menangis. kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Kang Dasrip naik pitam.-“ tulisnya. Istrinya ketakutan. Ketika surat itu selesai diantarnya. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. ada yang memaki-maki. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. “Memalukan desa kita!” Kecam mereka. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya.

di samping sebagai penanda waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita itu? Jika ada. Menurut Anda. Terangkan konflik yang dialami tokoh dan cara mengatasi konflik itu1 d. Adakah fungsi latar yang lain. Bagaimana peran pencerita (narator) dalam penggambaran watak tokoh? Jelaskan! h. bagaimana gaya penceritaannya? Kemukakan dengan bukti yang mendukung pendapat Anda! i.5-34 Apresiasi Bahasa Indonesia PERTANYAAN a. Sudut pandang apakah yang digunakan dalam cerpen tersebut? g. Apakah tema dan amanat cerita tersebut? Uraikan disertai data yang mendukung! . Jelaskan hubungan antarperistiwa pokok dalam cerita itu! c. Uraikan watak tokoh Kang Dasrip dan anaknya disertai data yang mendukung! e. jelaskan disertai data yang mendukung! f. Sebutkan peristiwa-peristiwa pokok dalam cerpen Kang Dasrip“ tersebut! b.

.

Menjelaskan hakikat dan unsur puisi 2. INDIKATOR 1. Berbeda dengan prosa. serta mampu mengapresiasi prosa. pengarang tidak menjelaskan secara rinci apa . dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar puisi yang meliputi hakikat dan unsur pembangun puisi serta mampu mengapresiasi puisi dalam berbagai kegiatan berbahasa. DESKRIPSI Penyajian konsep puisi yang meliputi hakikat. B. E. puisi bersifat konsentris dan intensif. Mengapresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D.BAB III. Artinya. jenis. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi. puisi. atau pemusatan dan pemadatan. MENGAPRESIASI PUISI A. URAIAN MATERI 1. dan drama. puisi. dan unsur puisi serta praktik mengepresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Hakikat Puisi Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. C.

majas. dan keindahan puisi. Hal itu dilakukan bukan sebatas pada masalah yang disampaikan melainkan juga pada cara penyampaiannya. Penafsiran atau interpretasi terhadap puisi adalah pemberian makna terhadap teks puisi. kata konkret. a. Struktur fisik meliputi diksi. pengimajian. seorang pembaca harus memahami unsur-unsur pembangun puisi. yaitu memahami makna. komposisi bunyi .dan (2) mengekspresikan pengalaman puisi secara padat dan intens. Diksi Diksi atau pilihan kata digunakan untuk (1)mendapatkan kepuitisan dan nilai estetis. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. Pemberian makna itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna. untuk memahami makna. tetapi juga pengaruh “rasa” yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. serta amanat (Waluyo 1991). pembaca harus menafsirkan puisi tersebut. pesan. melainkan hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian pokok atau penting. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Berdasarkan hal tersebut.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-35 yang ingin diungkapkannya. penyair memilih kata dengan mempertimbangkan makna dan daya sugestinya. pesan. nada dan suasana. dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mempertimbangkan aspek maknanya. Akibat adanya intensifikasi tersebut. Oleh karena puisi merupakan dunia simbol. versifikasi (rima dan irama). perasaan. Agar dapat menafsirkan puisi dengan baik. bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. 3. Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. dan keindahan puisi. serta tipografi. Unsur-unsur Pembangun Puisi Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur.

d. Kata-katanya juga dipilih yang puitis sehingga memperoleh efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. imaji perabaan (cubit biar sakit). Dengan penggunaan kata-kata konkret. penyair menulis: hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan riang. kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Pengimajian/ Pencitraan Pengimajinasian atau pencitraan adalah kata atau susunan katakata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris. pembaca akan terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. dan kedudukan kata itu dalam konteks secara keseluruhan. imaji pendengaran (haram gemerincing genta rebana). yakni secara tidak langsung .5-36 Apresiasi Bahasa Indonesia dalam rima dan irama. kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya. Dengan demikian. Pengimajian ditandai oleh penggunaan kata-kata yang konkret dan khas. Imaji yang ditimbulkan oleh penggunaan kata-kata itu dapat berupa imaji penglihatan (serupa dara dibalik tirai). mendengar. dan imaji pencecapan (rasa pahit di mulut). imaji penciuman (udara berbau tembaga). yakni pengalaman yang dapat ditangkap melalui pancaindera. kata-kata harus diperkonkret. Artinya. Majas Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. c. atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. b. Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji atau daya bayang pembaca. pembaca seolah-olah melihat. Misalnya. Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan.

Analisis terhadap majas dalam puisi dapat dilakukan dengan menanyakan (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi. Adapun lambang adalah penggantian sesuatu hal dengan hal lain. metafora. misalnya perbandingan. Termasuk jenis rima. misalnya lambang warna. Tipografi dan Enjambemen Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. aliterasi. e. lambang benda. Baris-baris puisi Sutardji “Tragedi Sihka dan Winka”. lambang bunyi. (2) alasan penyair memilih majas tersebut. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan bantuan unsur rima. d. Penggunaan tipografi oleh penyair mungkin dimaksudkan sekadar untuk keindahan indrawi.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-37 mengungkapkan makna. Wujudnya berupa kiasan dan lambang. misalnya. digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana puisi menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. dan rima sempurna. dan personifikasi. rima akhir. Kiasan adalah pembandingan sesuatu hal dengan hal lain. tetapi mungkin juga sengaja dimanfaatkan untuk mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan. dan lambang suasana. dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas tersebut. baik kiasan maupun lambang. Majas. misalnya asonansi. Rima mempunyai peranan yang sangat penting dalam puisi karena hal tersebut berkaitan dengan nada dan suasana puisi. nada dan suasana puisi tercipta lebih nyata dan lebih dapat menimbulkan kesan pada benak pembaca. rima awal. ditulis . Termasuk ke dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata dalam puisi.

dengan manusia lain.5-38 Apresiasi Bahasa Indonesia berbentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan. menasihati. Dealam pemaknaan puisi. atau bersikap lugas. suasana adalah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. g. Enjambemen dapat pula dimanfaatkan untuk mengaburkan makna sehingga menyebabkan puisi menjadi multitafsir. tema kebangsaan yang melukiskan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. menyindir. atau pemberontakan. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut. Tema puisi sangat luas menyangkut hubungan antara manusia dengan diri sendiri. Tema Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair di dalam puisinya. mengejek. f. hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. sedih. enjembemen ini perlu memperoleh perhatian karena akan sangat menentukan makna puisi. Nada dan Suasana Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca. tema sosial yang melukiskan kondisi masyarakat yang lebih merupakan protes sosial. Adapun enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi dan hubungan antarbaris dalam puisi tersebut. . Enjambemen dimaksudkan untuk memberikan penekanan atau penonjolan. dengan alam. dengan binatang. Sebagai contoh ada tema ketuhanan yang menunjukkan pengalaman religi penyair. apakah dia bersikap menggurui. seperti haru. dan dengan Tuhan. sesuai dengan makna puisi. iba. dan tema percintaan yang melukiskan cinta dan kasih sayang. Atau dengan kata lain. Wujudnya berupa pemisahan bagian kalimat (kata/kelompok kata) dan pemindahan bagian kalimat itu ke larik berikutnya. gembira.

dan (g) memahami totalitas makna dan amanat puisi (Depdiknas 2004). Contoh Apresiasi terhadap Puisi “Dari Seorang Guru kepada MuridMuridnya” Karya Hartoyo Andangjaya dengan Pendekatan Analitik Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya. (d) memahami majas. 5. Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku Aku takut. (b) memahami latar. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati bagi pembacanya. atau pesan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. (f) memahami tipografi dan enjambemen. Amanat (Pesan) Amanat adalah maksud. 4. yakni berdasarkan interpretasi pembaca. yaitu (a) memahami judul. Demikian seterusnya. (c) memahami kata ganti. anak-anakku Selain buku-buku dan sedikit ilmu Sumber pengabdian kepadamu. Amanat bersifat subjektif. imbauan. (e) memahami bait dan baris. Amanat dapat diketahui dengan mengacu pada tema cerita. Langkah Menafsirkan Puisi Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam menafsirkan makna puisi. Nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. anak-anakku Kursi-kursi tua yang di sana . h.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-39 Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.

seperti pada bait pertama dan kedua. tentang ini tak pernah aku bercerita Depan kelas. anak-anakku Engkau terlalu muda Engkau terlalu bersih dari dosa Untuk mengenal ini semua Puisi ini menceritakan kehidupan guru sekitar tahun 60-an yang serba kekurangan. Bunyi u. Justru ia selalu berdoa agar murid-muridnya sukses dan tidak mengalami nasib jelek seperti dirinya. Unsur bunyi berperan penting dalam puisi ini untuk memperdalam ucapan dan menimbulkan rasa. Tetapi semua kesederhanaan dan kekurangannya itu tidak pernah diceritakan kepada murid-muridnya. Puisi ini termasuk puisi transparan karena bahan yang digunakan mudah dipahami. sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagikuKarena kutahu. sedang menatap . bahkan ia juga tidak pernah mengeluh. meja tulis sederhana. jendela yang tak pernah diganti kainnya. karena rumah dan perabotannya jelek dan kuno.5-40 Apresiasi Bahasa Indonesia Dan meja tulis sederhana Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya Semua padamu akan bercerita Tentang hidupku di rumah tangga Ah. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari dan tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Dia malu seandainya ada murid yang berkunjung ke rumahnya. Kekayaan yang dimiliki hanyalah buku-buka dan sedikit ilmu sebagai sumber pengabdian kepada murid-muridnya. suasana khusus. a. Dalam puisi ini terdapat imaji penglihatan : kursi-kursi tua. mendominasi bait pertama dan kedua.

Puisi dibedakan menjadi puisi transparan/diaphan dan puisi prismatis. RANGKUMAN Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. serta amanat. F. Adapun nada puisi tidak bersifat menggurui.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-41 wajah-wajahmu remaja. Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. Jelaskan ciri-ciri puisi! 2. versifikasi. Puisi prismatis adalah puisi yang sarat dengan kata kias. dan lambang. Tema puisi ini adalah keprihatinan terhadap nasib guru. Jelaskan unsur-unsur puisi! 3. dan tipografi. Struktur fisik meliputi diksi. seorang guru janganlah pernah mengeluh dan tetaplah mengabdikan diri untuk anak didik. nada dan suasana. majas. G. Puisi transparan tidak banyak menggunakan simbol-simbol dan kata kias sehingga mudah dipahami. sedangkan suasana puisi mengharukan. Apresiasilah puisi berikut dengan menggunakan pendekatan analitik! Ibu . simbol. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. Amanat yang disampaikan pengarang adalah walaupun hidup serba kekurangan. Pendekatan apa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron berikut? Jelaskan alasannya! 4. Bahasa kias terdapat pada: horison yang selalu biru bagiku. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. pengimajian. LATIHAN/SOAL 1.

daunan pun gugur bersama ranting Hanya mataair airmatamu ibu. kemudian ke bumi Aku mengangguk meskipun kurang mengerti Bila kasihmu ibarat samudra Sempit lautan teduh Tempatku mandi. mencuci lumut pada diri Tempatku berlayar.5-42 Apresiasi Bahasa Indonesia D. menebar pukat dan melempar sauh Lokan-lokan. yang kan kusebut paling dahulu Lantaran aku tahu Engkau ibu dan aku anakmu Bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal . mutiara dan kembang laut semua bagiku Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan Namamu ibu. yang tetap lancar mengalir Bila aku merantau Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar Ibu adalah gua pertapaanku Dan ibulah yang meletakkanku di sini Saat bunga kembang menyemerbak bau sayazng Ibu menunjuk ke langit. Zawawi Imron Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau Sumur-sumur kering.

Apresiasi Bahasa Indonesia 5-43 Ibulah itu. bidadari yang berselendang bianglala Sesekali datang padaku Menyuruhku menulis langit biru Dengan sajakku .

yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. Sebagai sebuah genre sastra. Sebagai sebuah karya. MENGAPRESIASI DRAMA A. INDIKATOR 1. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. latar. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. E. . DESKRIPSI Penyajian konsep drama yang meliputi hakikat dan unsur drama serta praktik mengepresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. alur. amanat. Hakikat Drama Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. drama memunyai karakter khusus.BAB IV. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa B. C. Menjelaskan hakikat dan unsur-unsur drama 2. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar drama yang meliputi hakikat drama unsur pembangun drama dan mampu mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. URAIAN MATERI 1. tema.

dan ide-ide utama. pementasan. konflik antartokoh. Ada yang berkedudukan sebagai protagonis. latar. Sebagai sebuah pertunjukan. atau konflik antara tokoh dengan lingkungannya. dan penonton. alur. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa di dalam drama. sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara tokoh dengan sesuatu yang lain. Konflik merupakan penggerak cerita. tema (premise). Ada yang bersifat penting (mayor) dan ada yang tidak penting (minor).Apresiasi Bahasa Indonesia 5-45 serta dialog. Hakikat drama adalah tikaian atau konflik. Sifat dan kedudukan tokoh di dalam drama bermacam-macam. Biasanya kepadanya pembaca berempati. Dialog merupakan sarana primer drama. Karena perannya itu. 2. amanat. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. serta dialog (Waluyo 2003. Dilihat dari sisi pengarang. Dialog juga berfungsi memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal dan dapat pula bersifat eksternal. a. Di sisi lain. protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat di dalam kesukarankesukaran. dialog dapat menciptakan serta melukiskan suasana. yakni naskah. yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita. fakta. misalnya. Asmara 1983). . Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. Unsur-Unsur Drama Unsur drama dalam dimensi sastra meliputi tokoh dan penokohan. Konflik internal adalah konflik antara seseorang dengan dirinya sendiri. dialog merupakan wadah untuk menyampaikan informasi informasi.

atau latarnya. penyelesaian konflik itu. sebelum insiden awal. Pada kenyataannya. ujaran (dialog). dan apa yang dipikirkan. Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita. Dengan dimulainya suatu konflik berarti pula mulainya suatu lakon drama yang sebenarnya. Menurut Hudson (dalam Asmara 1983). klimaks/krisis. dan keputusan (catastrope). antara kemauan yang berlawanan. misalnya tokohnya. penampilan fisik. Konflik itu saling berbentrokan sehingga terjadilah suatu rentetan peristiwa yang kemudian membentuk drama. berakhir pulalah lakon drama. Pertentangan antara perasaan-perasaan di luar manusia. masalah yang timbul. terdapat bagian pemaparan (eksposisi) yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami cerita selanjutnya. seperti melawan takdir. yang disebut peran pembantu. antara manusia dengan keadaan yang mengelilinginya. b. yaitu: insiden permulaan. Mungkin itu pertentangan antara pribadi-pribadi yang berlawanan. di dalam Dengan . Ciri-ciri tersebut dapat diketahui melalui tindakan atau lakuan. Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan protagonis atau antagonis. dan dirasakan tentang dirinya atau diri orang lain. atau nasib. dan sosiologis. penurunan laku (falling action). Di dalam drama tokoh-tokoh cerita digambarkan memiliki ciri-ciri fisik.5-46 Apresiasi Bahasa Indonesia Lawan protagonis adalah antagonis yang berperan sebagai penghalang bagi protagonis. Oleh karena itu. psikologis. pikiran. Alur Lakon drama selalu mengandung konflik atau pertentanganpertentangan di dalam suatu kehidupan. pada dasarnya alur drama tersusun menurut garis lakon (dramatic line). penanjakan laku (rising action). Tokoh lain adalah tokoh tritagonis yang menjadi peran penengah antara protagonis dan antagonis. perasaan.

Permasalahan itu dapat muncul melalui perilaku para tokoh. atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. kecenderungan. Pencarian amanat identik dengan cara pencarian tema. komplikasi. Secara langsung latar berhubungan dengan tokoh dan alur. klimaks. tempat. dan latar. Latar Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu. dan latar drama. resolusi. d. dan dialog para tokohnya. perilaku tokoh. Amanat di dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. gambaran tokoh. Dalam sebuah drama. tingkah laku tokoh. latar yang abstrak akan berhubungan dengan peristiwa dan tokoh yang abstrak. penokohan. Oleh sebab itu. tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut. Latar harus menunjang alur dan penokohan. dan suasana terjadinya peristiwa di dalam drama. c. Latar konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret. tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan. . Sebaliknya. yang terkait dengan latar. Tema (Premise) dan Amanat Tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa. terdapat banyak peristiwa yang masing-=masing mengemban permasalahan. Adapun amanat adalah opini.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-47 srtuktur dramatik Aristoteles disebutkan bahwa struktur alur drama itu meliputi eksposisi. Oleh sebab itu amanat juga merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang. Petunjuk mengenai latar itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang. dan konklusi.

5-48 Apresiasi Bahasa Indonesia e. Kedua. Ia mau membantu ayahnya di rumah. Dialog dalam drama harus memenuhi dua hal. Ayah memiliki dua orang anak laki-laki yang perangainya sangat berbeda. 3. Tidak boleh ada kata-kata yang tidak perlu. penggunaan bahasa terlihat pada dialog merupakan situasi bahasa utama. harus jelas. Latar terjadi di rumahnya yang sangat sederhana pada pagi hari sekitar pukul 10 ketika ayah pulang dari sawah. (b) menggambarkan karakter tokoh. dialog harus mencerminkan apa yang telah terjadi dan juga mencerminkan pikiran serta perasaan para tokoh. suasana. Peristiwa dimulai ketika ayah tiba di rumah sepulang dari sawah. dan (3) menggambarkan alur cerita. dialog harus baik dan bernilai tinggi. dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak. Penggunaan bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh. jika seorang tokoh berada pada situasi. Sebaliknya Bandar. Alur yang digunakan adalah alur lurus. Bahasa/Dialog Di dalam sebuah drama. Dia malu memakai sepeda. terang. adiknya. Oleh sebab itu. Pertama. Dia menanyakan keberadaan . Contoh Apresiasi Teks Drama berjudul “Ayah Dua Laki-Laki” dengan Pendekatan Analitik Drama ini menceritakan sebuah keluarga petani yang miskin dan sederhana. Artinya. Di samping bersekolah. dan peran yang berbeda. mau menerima kenyataan. Artinya. emosi. dan latar cerita. dan menuju sasaran (to the point). dia mau sekolah kalau dibelikan sepeda motor. Sakri anak sulungnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang serba kekurangan itu. ia pergi bekerja sebagai tukang parkir pada malam hari. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa fungsi dialog dalam drama antara lain adalah: (a) mempertinggi nilai gerak. Seperti remaja lainnya. dialog harus lebih teratur daripada percakapan sehari-hari. penggunaan bahasanya juga berbeda.

Kerja pada malam hari banyak resikonya. Bandar berangkat sekolah. Perhatikan kutipan berikut. berpikiran sederhana.” “Bapak mau makan? Aku masak kacang panjang sambel pete. selalu berusaha keras dan pekerja keras. sebagaimana terlihat pada kutipan berikut.” Sakri adalah anak yang malas. ingin hidup senang dan suka menuntut. selalu memperhatikan anak-anaknya. “Pak. Konfilk pun muncul. “Pak. Aku tidak bisa. Ternyata Sakri sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena menuntut dibelikan motor. seperti terlihat pada kutipan berikut. Apa kalau tidak pakai motor tidak bisa pintar? Lalu tidak lulus? ‘Jadi bapak tidak mau membelikan motor? (Si ayah pergi meninggalkan Sakri) Ayah adalah sosok yang yang baik.” . sayang. pulang agak malam. Klimaks terjadi pada waktu ayah berhadapan dengan Sakri. tetapi aku perlu motor. Perhatikan kutipan berikut! “Ooo ngambek to. baik.” “Aku mau sekolah. “Kamu sudah makan? Apa kakakmu sudah pulang sekolah? “Ya. dan adil. lesu rasanya. dan tempe goreng. karena sepulang sekolah saya langsung kerja. hati-hati.” Bandar adalah anak yang berbakti pada orang tua. Yang berakhir dengan kepergian Ayah Sakri.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-49 Sakri kepada Bandar yang waktu itu sedang menyiapkan masakan sebelum berangkat ke sekolah siang hari.

tema. Isteri 2. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. F. Bacalah naskah drama “Orang Terasing “berikut. serta dialog. Adapun amanat yang ingin disampaikan adalah berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Anak laki-laki hendaknya bertanggung jawab dalam hidupnya. RANGKUMAN Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. dan penonton. amanat. Sebagai sebuah pertunjukan. G. Seorang anak hendaknya berbakti kepada orang tua. pementasan. latar. drama mempunyai karakter khusus. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. Sebagai sebuah genre sastra.5-50 Apresiasi Bahasa Indonesia Tema drama ini adalah tanpa kerja keras. Suami . cita-cita tak akan tercapai. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. alur. Jelaskan pengertian drama sebagai karya dalam dua dimensi! 2. apresiasilah dengan menggunakan pendekatan analitik! Kemudian ORANG TERASING Aji Sudarmadjie Mukhsin Para Pelaku: 1. Sebagai sebuah karya. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. LATIHAN/SOAL 1. yakni naskah. Jelaskan unsur-unsur drama dalam dimensi sastra! 3.

Kamu orang baik-baik. Isteri : (Mengharap) “Banyakkah hasil yang kauterima hari ini?” Suami : “Bah. Isteri : “Ada seorang wanita muda memberi makan kepada kita. 9.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-51 Panggung menggambarkan sebuah kamar yang reot. Isteri : “Sepotong roti. Suami : “Ya. suamiku. Isteri : ”Buat apa?” 14. karena udara terlalu lembab.” Suami : “Kalau begitu. Di dalamnya terdapat sebuah dipan dan dua buah kursi yang sudah rusak pula. Suasana kemiskinanlah yang tampil di situ.” Suami : “Terima kasih. 4.” 11. supaya jangan membawa anak itu keluar.” Suami : “Tak ada yang lain? Ah. 1. 8. maksudku selain dari roti itu. Moga-moga Tuhan memberkahinya. Tetapi hanya untuknya. 6. Jangan mengemis.” 16. Padahal aku juga ingin menjelaskan kepada mereka. Bisakah kau membikinkan api?” 13. 2. Sepotong nasihat. masih ada simpanan untuk besok pagi?” Isteri : “Masih. dan kau bagaimana?” 3. Ini bisa menolong malam nanti kalau kedinginan. Jangan membawa anak itu keluar. Dan kalau saja mereka mamu memegangi kemudian merasakan detak darahku. (Membuka suratkabar itu) Surat kabar Anu atau entah apa . mereka selalu memberikan nasihat. Istirahatlah.” 12. Suami : “(Tak memperhatikan) Ada kertas?” 15. 7. aku orang kecil. kosong sama sekali. Suami : “Oh. seperempat rupiah pun tak dapat. Suami : “Bagus.” Isteri : “Ada. pastilah mereka akan tahu … bahwa aku lapar. kau terlalu lemah. benar. Apa yang diberikannya? 5. Isteri : “(Mengambil lembaran surat kabar yang usang) Ini. tapi aku tak berani. Isteri : “Oh.” 10.

Bagaimana denga Nyonya Sumarti?” . ya. Ketika rintik-rintik hujan datang. Dengan harapan untuk mendapat uang. dan orang-orang kaya itu.” 21. mengeluarkan sepeda motornya. Apakah masih ada tembakau di dalam pipaku? Aku jadi ingat seorang polisi yang mengusirku dari trotoar jalan. memberitahukan bahwa kita adalah bangsa yang berbahagia. sambil berkata lapar. aku mengharap untuk disuruh apa saja. Satu ini pun pasti sudah bisa.” 18. atau disuruh membersihkan mobil-mobil mereka. ya. memberiku segenggam tembakau sambil berkata. “ (Menyalakan korek api) 17. Isteri : “Kasihan. Isteri : “Bukan. Suami : “(Menggeleng) Tidak. membersihkan sepatunya. misalnya memanggil becak. Semua yang terjadi atas kita ini adalah nasib. berpuluh orang macam kita hanya bisa memperhatikan saja. Ah.” 20. kala itu orang-orang sedang keluar dari gedung pertunjukan. Oh. Suami : “(Tak memperhatikan) “Berjam-jam aku berdiri di lapangan. menghindari mobil. Isteri : “Jangan dihabiskan.” 19. sehingga habis seluruhnya harta kekayaan simpanan kita. Penyakitku itulah yang menyebabkan malapetaka ini. Mereka yang keluar dengan perasaan bahagia.5-52 Apresiasi Bahasa Indonesia itu namanya. Suami : “Dan aku akan kautinggalkan? Kau tidak akan berbuat semacam … Oh. Betama menderitanya dirimu. Dan kesalahankulah waktu firma tempatku bekerja tempo hari itu bangkrut? Karena aku yang terlalu jujur?” 23. Suami : “Jangan kuatir. tetapi siasia.” 24. “Jangan mengemis!” Itu yang kuperoleh hari ini. Isteri : “Tapi apakah kau mempunyai kesalahan padanya” 22. seharusnya aku mati saja. aku terpaksa menghindari mereka.

Isteri : “(Berdiri terduduk) 38.” 26. tetapi dia bilang.” 29. Suami : “Haruskah begitu? Ah. bekerja beberapa tahun pula setelah bertemu dengan kemiskinan. Suami : “Ya. dan belum pernah satu pekerjaan pun yang kita tolak. Suami : “Menemukan di jalan?” . Tapi baiklah. “ 42. Isteri : “Suamiku …” 32. Sekarang secara kebetulan sekali ada pekerjaan yang datang.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-53 25.” 28. kenapa harus kita tolak?” 35. kita diajak belajar membuat bungkus korak api.” 31. Isteri : “Meskipun Cuma seratus rupiah seharinya. nyetanya tidak ada yang datang. Isteri :”Aku menemukannya. Suami : “Kau …” 43. seperti kita. dan aku pun yakin bahwa aku pun bisa membuatnya. Suami : “Ya … 33.” (Memperlihatkan dompet) 40. biar dipakainya tempat ini. Isteri : “Ya. Suami : “Dompet?” 41. Isteri : “Sebenarnya tidak seratus persis. Dan dia malah berbaik kepada kita.” 44. dikejar lapar. kenapa?” 37. Suami : Seratusrupiah seharinya sudah cukup besar buat kita. Isteri : “Sebenarnya dia pun sangat miskin. Isteri : “Ini. karena kita harus mencari bahan sendiri. Mungkin baru kali ini terjadi padaku. Suami : “Ya. Isteri : “Suamiku …” 36. Isteri : “Bukankah kita juga sudah berusaha?” 34. Suami : “Kenapa?” 39.” 30. Suami : “Berapa banyak?” 27. Nanti kita pasti akan segera bisa mendapat uang setiap harinya. kukira tinggal mengerjakan begitu saja. seorang bertahun-tahun sekolah.

Isteri : “Kita harus berbuat sesuatu.” 48. Setelah dia pergi. .” 58. Gelangnya emas. Dan aku sendiri pun tak bisa lari cepat karena menggendong anak itu. Isteri : “Tidak. Bagaimana kejadian selanjutnya? Aku sendiri tidak mengerti karena tahu-tahu aku telah berada di jalanan kembali … sambil membawa dompet itu.” 54. Isteri : “Waktu hujan turun. Isteri : “Aku belum membukanya. ditaruhnya dompet itu di dekat tanganku. Waktu aku menyentuhnya.” 59. Suami : “Dompet itu kaubawa kabur?” 49. Kemudian datanglah seorang wanita tua membeli surat kabar.5-54 Apresiasi Bahasa Indonesia 45. jika ada kesempatan. Kupikir wanita tua itu pasti tidak akan merasa kehilangan karena ia amat kaya.” 46. Wanita tua itu menaruh dompet di dekat jariku.” 56. Suami : “Berapa banyak uang di dalamnya?” 55. Waktu mengambil uang di dalam dompet.” 52. Suami : “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan ini semua?” 53. kejujuran tidak menolong kita. Isteri : “Begitu kira-kira jalannya. aku pun pergi dan kemudian sadar aku telah berada di jalanan sambil membawa dompet itu. Suami : “Jalannya bagaimana?” 47. dia tak memperhatikan. aku bergegas ke setasiun dan berdiri di dekat kios buku sambil menunjukkan gambar-gambar kepada anak-anak kita. Isteri : “Belum. Suami : “Aku tidak mengira kalaupada akhirnya kita berbuat begini. Isteri : “Ya. Suami : “Tak seorang pun mengikutimu?” 51.” 50. aku tak berani. Isteri : “Tidak ada yang mendorongnya. Suami : “Kau sendiri belum membukanya?” 57.

Isteri : “Baru saja terpikir.” 76. Isteri : “Hati-hati.” 67.” 65. Suami : “Ya. Isteri : “Cepat buka.” 66. Suami : “Ya. Suami : “Mana api?” (Menerima dan merokok) 71. Berapa banyak isinya?” 60. dan barangkali apabila pakaianmu lebih sempurna. berat. Suami : “Kenapa kau sendiri tak membukanya? 63. Kelihatannya berat. bagaimana nanti apabila ada orang yang mau memberi kepada kita dengan layak barulah dompet ini kukembalikan kepada pemiliknya. Isteri : “Kasihan anak itu. nanti anak kita itu terbangun. kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan. tapi yang menjadi beban sekarang adalah anak kita. Isteri : “Dan sebenarnya aku pun malu berjalan di jalan besar memakai pakaian seperti ini. dia merasa lapar.” 69. Kau tak akan batuk sepanjang malam.” 62. jangan berteriak keras-keras.” 64.” 61. Isteri : “He!” . 68. Suami : “Ya. Suami : “Tadi kau bilang sudah makan. Suami : “Membelikan anak pencuri?” 77. dan tak mungkin orang lain akan menemukan kita di sini. Isteri : “Itu jam tiga siang tadi. Isteri : “Nanti kita bisa membeli pakaian untuknya. Suami : “Tapi akhirnya kita terbiasa juga.” 70. Suami : “Benar. Dan uang di dalamnya tak mungkin akan berbicara.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-55 cincinnya pun emas. memang mereka menertawakan aku selama ini.” 73.” 74.” 72. dan mengapa pula tidak kau …” 75. Isteri : “Kita tidak akan kelaparan seperti sekarang.

” 85. Suami : “Baru kali inilah aku di dalam hidup takut kepada polisi.” 89. tapi ah persetan. Isteri : “Jangan berprasangka yang bukan-bukan. Isteri : “Apakah itu lebih jelek daripada anak jembel seperti ini?” 98.” 96. aku tak mau kalau anak kita disebut sebagai anak pencuri. Suami : “Soalnya anak kita.” 97. Suami : “Ada polisi di jalanan?” 81.. Suami : “Aku sendiri tidak tahu.” (Ketika akan membuka suami berlari keluar) 83.” 79.” 93. Suami : “Aku kira bagaimanapun juga memang begitu.” 92. tak ada seorang pun yang peduli. . dengan kejujuranmu apakah yang telah kauperoleh salama ini? Kemiskinan dan kelaparan. Suami : “Adikku. Suami : “Di stasiun. aku katakan pula bahwa aku belum membukanya. Isteri : “Dengan kepicikanmu. Isteri : “Di mana?” 90. Suami : “Aku tidak tahu bagaimana mendengar kejadian-kejadian di atas tadi. Suami : “kau talah menemukannya. Suami : “Kurang enak didengar. Ayolah kita buka isinya. Suami : “Ya. Isteri : “Kau berikan dompet itu kepada polisi?” 86.5-56 Apresiasi Bahasa Indonesia 78. kurus.” 87. Kita hampir setahun menderita semacam ini. kenapa kaulakukan itu?” 84. 82. dan tempat kita di petak ini.” 95. Isteri : “Ai . Suami : “Mungkin juga. Isteri : “Aku mengira akan dipakainya uang itu untuk dirinya sendiri. Isteri : “Kau memilih dia untuk terus kelaparan?” 100. Isteri : “Ya … ya … lekas!” 80.” 94. Isteri : “Apa katamu kepada mereka?” 88. lapar.” 91.” 99. kumal. Isteri : “Kau tolol.

” 103.” 108. Suami : “Tapi anak kita pasti mendapat jatah makanan.” 113. Isteri : “Benar. Mreka memperlakukan aku seperti anjing. Apa artinya semua.” 116.” 117. Suami : “(Tak mempedulikan) Aku bisa membeli pakaian. Tetapi telah kukembalikan karena kejujuranku. Isteri : “Kau takut?” 102. uang yang sangat kita butuhkan … Kau sangat kucintai. Kau katakan juga di mana kita tinggal?” . mengapa aku harus mempedulikannya? Kalau ini manusia. Aku pengecut. Aku sangat mencintaimu… 110. uang yang telah berada di tangan kita. Suami : “Kau maafkan aku kan? Karena aku talah mengembalikan dompet itu? 111. bukan kau yang salah.” 104. tapi ah. Isteri : “Suamiku …” 114. rupanya karena kelaparan itulah yang menyebabkan aku tak menguasai diri.” 115. Isteri : “Dalam penggabungan itu mereka akan memisahkan kita. kenapa tidak? Bagaimanapun akhirnya harus kita alamu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-57 101.” 105. Nanti anak kita bangun. Suami : “Ya. dan siapa tahu ini hanya cobaan. Suami : “Kita punya uang di dalam dompet itu. Isteri : “Jangan. bisa meninggalkan kehidupan macam begini. 107. Suami : “Bukan. Suami : “Aku tak menginginkan kau dimasukkan ke penjara.” 112. seperti yang sudhsudah.” 109. tetapi aku. aku yang tolol. Isteri : “Huss. Isteri : “Dengan para pengemis lain?” 106. Suami : “Bagaimana kalau kita menggabung diri. yang bisa menyenangkan anakku. Isteri : “Mereka pasti akan memisahkan kita. Isteri : “Aku akan masuk ke liang kubur poengemis. Betapa tololnya aku.

Suami : “Aneh. sebaiknya kita berpikir saja. Baiknya kita metunggu saja. tetapi jika kau memanggilnya … mereka selalu menghindar. 123. Suami : “Benar. Itu pikiran jelek. Isteri : “Kau pernah berpikir demikian juga?” 124. Andai aku jadi mengambil uang itu … 121. Isteri : “Apa? Kita berjalan lagi?” 126. Suami : “Benar. Suami : “Semoga aku besok bertemu dengan seorang kawan yang pernah mengenalku.” 130. Isteri : “Sudah lewat sekarang. Aku tak pernah menginginkan yang lebih bagus. Dan bagaimana caranya supaya besok kita dapat rejeki ?” 127. Suami : “Berpikir demikian? Jangan.5-58 Apresiasi Bahasa Indonesia 118. Suami : “Jangan. Suami : “Ya. Isteri : “Kita sudah tidak punya kawan lagi. keran sudah tidak ada lagi tempat untuk kita.” 125. Yah. jangan kita bicara soal kematian.” 129. bagaimana kita besok kembali berjalan menyelusuri jalan itu lagi.” 122. karena nanti apabila kita menghadap Tuhan tangan kita bersih. agar kematian itu cepat datang … Kenapa tidak sekarang saja mati?” 119.” 128. Dan aku girang atas tindakanmu. Dan di hadapan-Nya nanti akan aku katakan bahwa orangs ekitar kita tidak mengizinkan kita untuk hidup lebih lama. memang. kecuali sekadar makan untuk kita ternyata sia-sia. Isteri : “Kau juga pernah bertemu dengan kawan-kawanmu. Tetapi besok pagi aku akans egera menyelusuri kembali jalan-jalan setelah batukku kembali datang.” . Isteri : “Mati?!” 120.

Tidak kuat. biar bunuh aku.” 133. 144. Isteri : “Aku sangat gembira. senantiasa aku diusir.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-59 131. Mereka tidak mempercayaiku lagi. Suami : “”Hai!” (Memegangi tangan isterinya) 135. Meskipun kita telah berantakan. Isteri : “Nah. kita akan mati bersama-sama …” 136. sebaiknya kita mati saja. Suami : “Benar. Suami : “Ini usaha kita terakhir.” 134. Isteri : “Aku tidak mau.” 142. Mereka membenciku. selama ini aku telah berusaha menjadi isteri yang baik. Kita tidak boleh kalah dengan kemiskinan. Si isteri masuk) 145. Di tempat orang kaya diusir dan di tempat orang miskin pengemis yang jujur. (Suara tangis bayi dari dalam. dan yang lebih utama lagi aku mencintaimu.” 132. dan juga anak kita. Suami : “Bukankah hal ini justru akan lebih baik?” 143. Suami : “Jangan kau ucapkan itu. Isteri : “Bukankah kau pernah memasukinya?” 140. kau tanpa batuk-batuk. di mana kita bisa tidur nyenyak.” 139. Isteri : “Kau pernah memperhatikan bagaimana mereka mencibirkan cicir terhadap kita yang terlalu jujur? Sekarang kita akan masuk ke sana. Sebaiknya kita bergabung saja dengan teman-teman yang miskin. Isteri : “Jadi engkau tidak mau?” 138. jangan anak isteriku. Isteri : “Aku sudah tidak tahan lagi. dan Tuhan pasti akan lebih baik daripada orang-orang disekitar kita ini. tetapi aku tidak berpisah dengan kau. Suami : “Beginilah … kemiskinan-kemiskinan. hingga membuat terkejut keduanya. ibu yang baik. Suami : “Tidak!” 137. . da kandang orang miskin yang sejawat maupun di gedung-gedung mewah milik orang kaya. Kalau toh mereka mau membunuh. Suami : “Tidak. di mana-mana diasingkan.” 141.

5-60 Apresiasi Bahasa Indonesia .

1996. Adhy. The Apreciation of Literature. Semarang: Rumah Indonesia. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Yogyakarta: Nur Cahaya. Raminah. “Pengembangan Kemampuan Membaca Sastra”. E. Apresiasi Drama. 1991. Rumadi. 1995. Burhan. Drama: Karya Dua Dimensi. Rachmat Djoko. 1985. Hasanuddin W. Teori Gadjahmada University Press.). 1981. . Semarang: Rumah Indonesia. S. 1998. Suminto A. Sudjiman. (Ed. Jakarta: Grasindo. London: The Epwort Press.E. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. Surakarta: Widya Duta. Dramaturgi. Kumpulan Drama Remaja. Harianto. Sayuti. Suharianto. Apresiasi Prosa Fiksi. Pradopo. Nurgiyantoro. 2004. Jakarta: Proyek Penataran Guru. A. Bandung: Remaja Rosdakarya. Harymawan. S. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Direktorat PLP. Pengantar Apresiasi Puisi. Gadjahmada University Press.S. 1983. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP. Memahami dan Menikmati Cerita Rekaan. Semarang: IKIP Semarang Press. 1988. Cerita Rekaan dan Drama. Asmara. S. Pengkajian Fiksi. Kellet. 1976.1993. Yogyakarta: Pengkajian Puisi. Dasar-Dasar Teori Sastra. 2005a. 1993. Baribin. Suharianto. Depdiknas. Panuti. 1996. 2005b. Bandung: Angkasa. 1999. B.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. Jakarta: UT. Yogyakarta: Rahmanto. Suharianto. dan P.

Teori dan Apresiasi Puisi. 2003. Jakarta: Erlangga. 1991.5-62 Apresiasi Bahasa Indonesia Waluyo. Drama. Herman J. Yogyakarta: Hanindito . Waluyo. Herman J. Teori dan Pengajarannya.

BUKU AJAR PEMBELAJARAN INOVATIF .

didaktik. dan selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri. Berdasarkan paradigma tersebut. prinsip belajar dan prinsip pembelajaran. metodik. Filsafat Pancasila. dan bertindak mempengaruhi siswa mendidik dirinya sendiri. guru perlu menguasai kebijakan kependidikan mikro. langkah-langkah. Kinerja kependidikan Indonesia dilandasi filsafat pendidikan. ilmu-ilmu kemanusiaan khusus-nya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.PENDAHULUAN Guru merupakan salah satu unsur pendidikan yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Guru berperan mem-bimbing. sintakmatik). situasi. Tampaknya para ahli sepakat bahwa strategi instruksional berke-naan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional. andragogik. dapat meran-cang dan melaksanakan pedoman kinerja peran guru di lapangan (di kelas dan di luar kelas) yang sesuai dengan kebutuhan. siswa. pedagogik. Ilmu-ilmu didik dan mengajar di-bangun di atas paradigma didik yang benar. Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi guru. memfasilitasi. Di kelas dan di luar kelas. serta menga-nut paham konstruktivisme dalam menyikapi dan pengembangan ilmu penge-tahuan teknologi dan seni. cara pengorganisasian materi (urutan). alat dan . dapat merancang silabus. guru seyogianya dapat menciptakan teori-teori pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. dan kondisi setempat. dapat merancang dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang efektif dan efisien Perlu disadari hakikat strategi pembelajaran berbeda dengan kahikat model pembelajaran. mengembang-kan rasa percaya diri. mengua-sai kurikulum yang berlaku. Untuk dapat melakukannya itu secara profesional tentu saja guru dituntut menguasai ilmu mendidik dan mengajar. mengarahkan agar hasil eksplorasi itu bermanfaat bagi dirinya. Sebagai guru tentunya Anda mengharapkan agar siswa dapat mengeks-plorasi dunia. Strategi instruksional (pembelajaran) merupakan perpaduan dari urutan kegiatan (metode.

serta alokasi waktu. Tujuan yang perlu dicapai suatu strategi adalah standar kompetensi. penulis sependapat bahwa strategi berada dalam tataran konseptual. sedangkan tujuan yang dicapai model ada-lah kompetensi dasar. JAIKEM. Bahkan Dick dan Carey (1985.. Berbeda dengan hakikat model pembela-jaran yang dapat dikutip sebagai berikut. Winataputra (2001: 3) menulis bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual (operasional) yang melu-kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman (contoh) bagi para perancang pembelajaran dan para mengajar dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”. merupakan rancangan yang dapat berlaku umum bagi berbagai bidang studi. dsb. Akan tetapi “model pembelajaran” perlu diperhatikan urutan dan langkah-langkah tertentu. alokasi tertentu.6-2 Pembelajaran Inovatif media. Melalui buku ajar ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji . sarana tertentu. portofolio. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. bahkan tempat tertentu. dalam Suparman. Tentu saja tataran konseptual ini berdasarkan landasan para-digma didik yang jelas dan taat asas. menarik. mengesankan. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menje-laskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu. sedangkan model pembelajaran berada dalam tataran operasional. dan menyenangkan. “Model” strategi yang sudah dikenal seperti Quantum Teaching. komprehensif. Dalam paparan seterusnya akan jelas terlihat pada contoh-contoh model yang dikemukakan. terpadu. (huruf miring tambahan penulis) Bila kedua penjelasan teresbut saja dibandingkan. kompe-tensi tertentu. Mata pelatihan pembelajaran inovatif merupakan pelatihan yang meli-batkan Anda dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan lebih efektif. tematik. terjala.

. kreatif. Efektif. situasi. Dalam bahasan ini akan dikaji rasional.Pembelajaran Inovatif 6-3 hakikat pembelajaran yang inovatif. pengertian. Aktif. penguasaan materi pelajaran dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan prasyarat untuk merancang model pembelajaran inovatif. dan menyenangkan itu. Penguasaan konsep pembelajaran inovatif akan sangat membantu Anda dalam mengelola pembelajaran. karena Anda akan mampu menyiapkan berbagai pengalaman belajar yang sesuai de-ngan bahan ajar. dan Menyenangkan). Oleh karena itu. dan konteks. Dengan demi-kian. dan tujuan pembela-jaran inovatif serta karakteristik starategi pembelajaran inovatif seperti strategi portofolio. inovatif. setelah mengikuti pelatihan ini Anda akan dapat mencapai standar kom-petensi. Dengan menguasai materi ajar dalam kurikulum dan silabus. kondisi. merancang model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk dapat melaksanakan-nya di sekolah secara efektif. Kreatif. Setelah Anda mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda memiliki standar kompetensi merancang model pembelajaran inovatif bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan strategi JAIKEM atau strategi PORTOFOLIO dengan indi-kator keberhasilan Anda mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. serta karakteristik siswa tertentu. Anda dapat merancang strategi dan model-model pembelajaran inovatif yang tepat. Pembelajaran Kuantum (Boby dePorte) dan JAIKEM (Jajaki. Pemahaman terhadap konsep dan karakteristik strategi dan model terse-but sangat penting bagi guru bahasa Indonesia pada era sekarang yang syarat dengan tuntutan dan arus informasi yang mengglobal. Ino-vatif. Dengan buku ajar ini Anda akan dengan mudah memahami hakikat pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif yang dapat dilaksanakan di kelas Anda. khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Apa yang diperoleh anak-anak di sekolah. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. dan antara penge-tahuan dengan pengamalannya belum . dan tujuan. dan pengamalan yang diperlajari untuk mengatasi per-soalan sehari-hari. b) Anda dapat menjelaskan karakteristik strategi pembelajaran JAIKEM (Jajaki. c) Anda dapat menjelaskan hakikat model pembelajarn inovatif bahasa Indo-nesia. Kreatif. g) Anda dapat melakukan evaluasi diri menerapkan kriteria penilaian mengajar URAIAN MATERI 1. Rasional Apa yang kita amati di sekolah dan sekitarnya adalah kehambaran proses pembelajaran dan kelemahan hasil pembelajaran sebagai output dan hasil pen-didikan alumni peserta didik sebagai outcome dalam menerapkan pengetahuan. dan Menyenangkan) dan strategi Portofolio. Efektif. sementara keter-kaiatan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah. Nilai didik yang sangat pendik dalam pembentukan karakter bangsa hampir disebut gagal. sebagian hanya hapalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. d) Anda dapat menerapkan karakteristik umum dalam model pembelajaran yang Anda rancang. mencakup rasional. keterampilan. sikap. e) Anda dapat mengkritisi contoh model-model pembelajaran yang disajikan dan yang tidak disajikan. Inovatif. f) Anda dapat merancang Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk disimulasikan.6-4 Pembelajaran Inovatif a) Anda dapat menjelaskan kembali dibutuhkannya penguasaan Strategi dan Model Pembelajaran yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran. Aktif. pengertian.

Namun kompetensi yang komprehensif. siswa. Dick dan Carey (1985. dan pelatihan inilah tugasnya. dan pemerintah pengelola kependidikan. Padahal model pembelajaran adalah milik dan buatan setiap guru yang mengajar. melainkan dunia sumberdaya insani yang membutuhkan berbagai upaya yang tidak ringan. Diyakini dengan upaya pela-tihan ini mutu kinerja dan tanggungjawab guru makin baik. Hakikat Strategi Pembelajaran Strategi instruksional merupakan sistem perpaduan dari urutan kegi-atan cara pengorganisasian materi. dalam Suparman. Tataran konseptual ini berdasarkan pendekatan tertentu. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponenkomponen umum dalam program instruksional dan prosedur- . 2. a. sumberdaya insani paripurna. dan itulah tugas guru. Penguasaan akan model pembelajaran rupaya perlu ditingkatkan. Tugas guru sekarang adalah meningkatkan mutu kinerja pembelajaran sekaligus meningkatkan mutu hasil pendidikan. Oleh karena itu. Dunia pendidikan bukan dunia bisnis. Itulah rasional mengapa model pembelajaran menjadi perhatian utama kita. pendidik. bahkan cuma meniru model pembelajaran negara lain. serta alokasi waktu. yang menjadi misi pendidikan nasional belum menyentuh apalagi menjiwai dunia pendidikan tingkat operasional. setiap orang tua. Strategi Pembelajaran. arah pembelajaran pada kurikulum 2006 ditekankan pada penguasaan kompetensi.Pembelajaran Inovatif 6-5 mereka dikuasai. karena pembaharuan dan perbaikan kependidikan yang berdimensi karakter bangsa dan superkompleks ini diyakini tidak semudah membangun jalan tol dan memperbaiki gedung bertingkat. Kekayaan model pembelajaran rupanya masih miskin di Indonesia. alat dan media. Walaupun demikian kiranya dapat dimaklumi. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Buktinya kita masih meng-import dan mengadopsi.

tidak boleh tidak.6-6 Pembelajaran Inovatif prosedur utama yang memandu kegiatan untuk mencapai hasil belajar. mengembangkan berbagai bukti tersebut. Strategi merupakan suatu keputusan strategis berdasarkan komponen dan prosedur umum. portofolio. Strategi tidak berdasarkan standar kompetensi tertentu Suatu strategi berlaku umum dan tidak mempunyai batas waktu. maka siswa aktif baik di kelas maupun di luar kelas. kognitif. b. dikenal pendekatan kuantum. wajib dilakukan kegiatan menjajaki atau biasa dikenal sebagai apersepsi. Strategi portofolio. Jika tidak maka bukan strategi yang dimaksud. 1975). untuk peningkatan kompetensi secara efektif. tematik. dsb. mendoku-mentasikan segala bukti proses dan hasil belajar. Misalnya strategi kuantum. atomistik. Oleh karena itu tidak perlu dibantah. melakukan evaluasi diri wajib dilakukan. Demikian juga jika menerapkan Strategi Kuantum. Pendekatan itu aksionatis (menurut Anthony. namun berdasar-kan filsafat pendidikan yang sedang berlaku. holistik. memiliki karakter dasar pembelajaran yang dilakukan bersifat simphonis. Keputusan-keputusan strategis diten-tukan dalam upaya merancang strategi pembelajaran tertentu menjadi suatu “model strategi”. Maka strategi bersifat pendekatan. manasuka. kegiatan guru dan siswa kreatif. Strategi menggambarkan prosedur umum dan jenis kegiatan umum untuk mencapai kompetensi mana saja. Jika diputuskan menerapkan Strategi Portofolio. pendirian. misalnya filsafat behaviorisme dan konstruktivisme. Jika diputuskan menerapkan strategi Jaikem. perlu dilakukan. jaikem. proses interaksi yang inovatif. Strategi juga dapat merupakan karakter dasar proses pembelajaran yang menonjol. komunikatif. Berdasarkan paham itu. siswa perlu aktif proaktif. karakter proses pembelajarannya mengumpulkan doku-men bukti proses dan hasil . dan dalam situasi yang menyenangkan. bagaimana karakteristiknya. kontekstual.

Oleh karena itu kegiatan tersebut dinamakan strategi portofolio. Begitulah hakikat paham konstruktivisme dalam dimensi pendidikan (Schwandt. dan Suparno. 1994. keterampilan. Rasional Pembelajaran Inovatif Model belajar adalah model mengajar (Joyce. menyimak. Apabila suatu program itu bergan-tung kepada kompetensi tertentu disebut suatu model pembelajaran. dan nilai. 3. Oleh karena itu masalahnya adalah bagai-mana guru bertindak mempengaruhi siswa agar dapat mendidik dirinya sendiri. pembelajaran perlu dilakukan tidak terpisah-pisah. Berbagai model pembelajaran diturunkan berdasarkan paham konstruk-tivisme.Pembelajaran Inovatif 6-7 belajar. cara berpikir. Model Pembelajaran Inovatif a. baik melalui pengetahuan dan keteranpilan yang diperoleh. 2001). di-antaranya model-model pencapaian konsep. guru juga membimbing mereka bagaimana belajar tentang hal itu. Strategi JAIKEM merupakan singkatan dari karakter kegiatan pokok. Sesungguhnya keluaran jangka panjang (outcome) yang terpenting sangat boleh jadi (may be) peningkatan kemampuan belajar. atau jalan sendiri. menulis. 1997. belajar mandiri. Pertanyaan berikutnya adalah dalam aspek apa atau unsur mana suatu model dinilai inovatif? Nanti akan terlihat pada karakteristik umum suatu model. serta mengeks-plorasi dirinya. . ide. 2000:6). Panen. berbi-cara. karena walaupun ada empat aspek kemahiran berbahasa. Oleh karena itu dikatakan model pembelajaran. maupun melalui penga-laman belajar melalui sekolah. Salah satu rumpun model yang dikemukakan Joyce (200) adalah ragam pengolahan informasi. Ketika kita membantu siswa memperoleh pengetahuan. dkk. alias kelompok ragam strategi kognitif. Disebut pendekatan atau strategi pembelajaran integratif. dan membaca.

Langkah umum suatu model sudah baku. dan dalam langkah penutup. kelas dan waktu. Langka-langkah khusus dalam pembu-kaan. bahkan sudah menjadi tradisi. (2) tujuan dan asumsi. (3b) inti penyajian. yang mendasari dan menjadi titik tolak perancangan model. Untuk itu melalui pembukaan yang tepat siswa perlu terangsang dan siap menyerap informasi. Namun langkah khusus dalam setiap langkah umum itu masih belum disadari benar kebutuhannya. (4) sistem sosial. dan indikator keberhasilan belajar. dan siap berperan serta dalam proses pembel-ajaran. Karakristik umum model pembelajaran Setiap model pembelajaran selalu memiliki unsur-unsur (1) identitas mata pelajaran. (3) sintakmatik. (2) Tujuan dan asumsinya. dalam inti penyajian. dan (3c) penutup. yang terdiri dari nama mata pelajaran. Kelak dapat diketahui apabila kompetensi baru tidak tercapai berarti ada kekeliruan atau kelemahan dalam menetapkan asumsi dan tujuannya. (3) Sintakmatik atau langkah-langkah pembelajaran. pokok dan subpokok bahasan. yaitu (3a) pembukaan. Pembelajaran perlu bertolak dari dasar kompetensi dan pengetahuan yang sudah dikuasai untuk berubah menjadi kompetensi yang diharapkan. (3a2) mempunyai bayangan awal tentang apa yang akan dipelajari dan (3a3) harapan bahwa kompetensi akan tercapai. (5) sistem interaksi. Oleh karena itu hakikat dan makna pembukaan adalah . (7) dampak instruksional dan dampak pengiring. baik yang dilaku-kan guru maupun siswa. pertemuan ke berapa. Biasanya siswa tertarik kepada (3a1) permasalahan. (1) Identitas mata pelajaran. Hakikat dan makna pembukaan adalah menciptakan suasana mental siswa agar siswa siap berkonsentrasi dan berminat mengikuti proses pem-belajaran. sering diabaikan.6-8 Pembelajaran Inovatif b. standar kompetensi dan kompetensi dasar. (6) sistem pendukung. Asumsi merupakan penjelasan pengetahuan prerekuisit apa yang telah dikuasai dan perubahan yang diinginkan akan dapat tercapai.

(3b4) dilakukannya pelatihan. alat dan medianya. atau disebut juga berbagai unsur lingkungan seperti hubungan guru. Bagaimana jenis prosesnya. dan mengingatkan kembali kompetensi yang perlu dicapai. dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. Bagaimana guru merancang . dan ling-kungan keluarga. (3b3) dilakukan pemberian dan pembahasan contoh. dan (3b5) pemberian umpan balik. Kreativitas yang inovatif asal tidak monoton dapat dilakukan. Hakikat dan makna (3c) penutup proses pembelajaran adalah terja-dinya pemantapan kesan akan kompetensi yang baru saja dibahas. Bagaimana jenis prosesnya. Kegiatan apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah haki-kat dan fungsinya. tetangga.Pembelajaran Inovatif 6-9 menciptakan kesiapan siswa untuk berpartisipasi. (3c2) pemberian umpan balik umum. men-deskripsikan garis besar lingkup sub-subpokok bahasan. lingkungan masyarakat: tokoh masyarakat. Kreativitas yang inovatif. serta kiat-kiat interaksinya bisa beragam dan bervariasi. Hakikat dan makna (3b) sajian inti adalah terjadinya transaksi informasi antara informasi lama dan baru dalam diri siswa. (3b2) memperhatikan prinsip prerekuisit. serta kiat-kiat interaksinya dapat beragam dan berva-riasi. Bagaimana jenis prosesnya. dan (3c3) petunjuk tindak lanjut. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. dalam proses pembukaan perlu dibahas masalah berkenaan dengan topik bahasan. asal tidak monoton apapun dapat dilakukan. siswa. teknik-tekniknya. Namun persyaratan agar proses transaksi itu terjadi perlu (3b1) memperhatikan prinsip-prinsip dan teori-teori pembelajaran. Untuk itu dilakukan (3c1) menulis refleksi. dan kiat-kiat interaksinya bisa saja beragam dan bervariasi. urutan logis bahan ajar misalnya silabus yang sesuai dengan hasil analisis instruksional. Dalam proses ini terjadi pengembangan dan pengendapan ilmu pengetahuan atau kete-rampilan dan sikap. guru lain. (4) Sistem Sosial. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. teknik-teknik-nya dan alat dan medianya. teknik-tekniknya dan alat dan medianya.

6-10 Pembelajaran Inovatif hubungan interaktir ini merupakan prestasi tersendiri. seperti toleransi. Bagaimana bahan ajar ditampilkan. berdiskusi. Misalnya model pembelajaran laboratoris perlu menggunakan laboratorium dan lainnya yang ada di laboratorium itu. menghargai pendapat orang lain dalam proses diskusi . Bagaimana pula guru mengundang anak jalanan untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. Tanyajawab. bagaimana umpan balik dan kuis disampaikan untuk menguji pencapaian kompetensi. wawancara. dibahas. Setiap model selalu membutuhkan sarana. Dsb. alat. anjang sana akademik. tergantung pada teknik dan kiat guru melakukannya. atau anak-anak panti asuhan. Semuanya diatur dalam suatu model tsb. dan apa saja dapat dilakukan. Bagaimana peran guru dan siswa serta unsur-unsur pendidikan yang terlibat diatur merupakan prestasi guru tersebut. Model wisata membutuhkan alat transportasi. serta bagaimana guru memotivasi agar siswa menyempurnakan catatan dan melakukan belajar mandiri. maupun penutup. Dalam proses demikian apakah peran guru dan dukungan sekolah. penyajian. (6) Sistem pendukung. media pembelajaran. Dampak pengiring adalah nilai yang me-nunjukkan terbinanya mentalitas. dipertanyakan. Semua itu dideskripsikan sebagai sistem interaksi. dan bagaimana refleksi seharusnya ditulis. Yang terakhir dan terpenting dalam proses pendidikan adalah (7) dampak pengiring atau “nurture effect” selain dampak instruk-sional yang telah ditetapkan dan diketahui keberhasilannya melalui proses interaksi dan ulangan atau ujian. (5) Sistem reaksi (interaksi) terjadi baik pada proses pembukaan. Misalnya bagaimana kemahiran berbicara yang menerapkan model anjangsana belajar. serta berbagai evaluasi diri siswa dikerjakan. Guru merancang agar siswa melakukan kegiatan belajar dalam menerapkan kemahiran wawancara dengan tokoh masyarakat. dan dijadikan alat pembentukkan dan pembinaan karakter peserta didik. Pendukung ini dirancang berdasarkan kebutuhan khusus.

c. pengembangan rasa ingin tahu melalui proses “model anjang sana belajar”. Model desain rancangan itu dapat dilihat seperti berikut. silabus. Wujud Model Pembelajaran (c1) Model Kesederhanaan Pembelajaran Pembelajaran (Inovatif) hanyalah istilah suatu “konsep”. percaya diri dalam kegiatan evaluasi diri. atau KTSP. Suatu model pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan kompetensi (SK-KD) dan isi bahan ajar. suatu sistem pemikiran. kebiasaan mawas diri. atau apalah namanya. Hakikat-nya adalah pedoman pelaksanaan praktek mengajar. Standar Isi kurikulum pendidikan berupa daftar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD). atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). Analisis Instruksional kurikulum dalam arti analisis standar isi pendi-dikan. Desain Instruksional Model . Desain dirancang berdasarkan hasil analisis instruksional kurikulum.Pembelajaran Inovatif 6-11 kelompok. Struktur pemikiran tentang model dituangkan dalam bentuk desain yang biasa disebut Rancangan Pembelajaran (RP). pengembangan kecermatan dan keteli-tian dalam proses tugas mengedit karya tulis peserta didik setelah dialami-nya proses pembela-jaran dengan penyelenggaraan “model kontes editing”.

telah dikemukakan lang-kah-langkah (sintakmatik). sanggahan. melainkan dalam pro-ses. 2. refleksi b. serta santun Identitas matapelajaran Satuan Acara Pembelajaran Kegiatan: URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL Pembukaan Membahas/mempertanyakan: Penyajian Penutup a. Deskripsi singkat c. Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : pikiran. sanggahan. contoh g. dst Membahas/melakukan/memberi: a. Rancangan hanya memberi peluang kepada guru untuk . Permasalahan/relevansi b. dan penolakan pendapat . Siswa dapat membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. setiap langkah proses. umpan balik e. umpan balik c. perasaan. pelatihan d. serta santun Subpokok Bahasan : persetujuan. tindak lanjut dialog MODEL: DISKUSI KELOMPOK TEKNIK MEDIA WAKTU OHP Rancangan 5’ Bagi kelompok Penjelasan Diskusi kelompok Laporan hasil Diskusi hasil Penyimpulan Kerja individual menulis refleksi Penugasan OHP Artikel materi diskusi 5’ 25’ 45’ Lembar refleksi 10’ (c2) Bentuk interaksi kreatif dan inovatif di setiap unsur proses Di bagian manakah ciri inovatifnya suatu model? Dalam rancangan diterapkan. dan penolakan pendapat Indikator Keberhasilan : 1. perasaan. uraian konsep f. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : 1.6-12 Pembelajaran Inovatif Bidang Studi Standar Kompetensi Pokok bahasan Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia : Mengemukakan pikiran. Menyampaikan persetujuan. Kompetensi Membahas/melakukan/memberi: a.2. Uraian konsep b. Siswa dapat menyampaikan persetujuan. sanggahan. Guru terlebih dahulu pada pertemuan sebe-lumnya menyiapkan dan membagikan naskah materi yang akan didiskusikan agar siswa menyiapkan diri membaca naskah itu. dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti dan alasan . contoh c. seperti hanya terlihat langkah terlihat pada dan pada unsur teknik-teknik rancangan yang yang Inovasinya tidak sederhana itu.

Kelompok dan Contoh Model Pembelajaran Inovatif a.Pembelajaran Inovatif 6-13 menciptakan suasana belajar yang inovatif. memberi petunjuk tentang proses diskusi. yakni: 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family). mengamati proses diskusi. 2) 3) 4) Kelompok Model Personal (The Personal Family). memberi saran bagaimana bergilirannya bicara. Kelompok Model Sistem Perilaku (The Behavioral System Family). 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family) Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memehami dunia dengan cara menggali masalah dan dan mengorganisasikan mengupayakan data. Kelompok Model Sosial (The Social Family). 4. dan Atwi Suparman (2001). jalan merasakan adanya . Dibutuhkan kemahiran. kelompok dan kreativitas contoh guru mengelola tadi). Winataputra (2001). lengkap namun terpilih dari sumber Bruce Joyce (2000). kecerdikan. Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori. Udin S. Kelompok Model Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar kependidikan di bidang itu. Selanjutnya dalam bahan ajar ini disampaikan kutipan jenis model pembelajaran inovatif. proses diskusi (dalam SAP menyam-paikan tujuan/kompetensi.

sengaja dirancang untuk mem-perkuat kemampuan intelektual umum. Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau selfhood dari individu. Beberapa model. dan sebagian lainnya memu-satkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif.6-14 Pembelajaran Inovatif pemecahannya. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah: Model a) b) c) d) e) f) g) Pencapaian Konsep (Concept Attainment) Berpikir Induktif (Inductive Thinking) Latihan Penelitian (Inquiry Trainging) Pemandu Awal (Advance Organizers) Memorisasi (Memorization) Pengembangan Intelek (Developing Intellect). . sebagian lagi pem-bentukan konsep pengetesan hipotesis. Secara umum banyak dari model pengolahan informasi ini yang dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia. Proses pendidikan sengaja diusahakan agar memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik memikul tanggung jawab untuk pendi-dikan. Pengertian umum meru-pakan hasil kesepakatan individu yang harus hidup. dan Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry) 2) Kelompok Model Personal (Personal Models) Disadari bahwa kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu. dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Manusia mengembangkan kepribadian yang unik. serta mengembangkan model dalam bahasa untuk ini mengungkapkannya. dan melihat dunia dari sudut pandangannya yang juga unik yang meru-pakan hasil dari pengalaman dan kedudukannya. menitikberatkan pada Beberapa kelompok dan memberikan ke-pada para guru sejumlah konsep. bekerja. dan mem-bentuk keluarga secara bersama-sama.

Bermain Peran (Role Playing). . seperti berikut. Namun demikian. ternyata belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. hal ini tidaklah berarti bisa dipakai begitu saja. David serta Roder Johnson dan kawan-kawan (1974. Hasilnya cukup meyakinkan. 3) Kelompok Model Sosial (Social Models) Diakui bahwa kerjasama merupakan suatu fenomena kehidupan ber-masyarakat. sinergy dapat memberikan keuntungan. dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry). dan struktur tugas kerja-sama (cooperative task structure) dalam suatu kegiatan kelompok. dan oleh karena itu pula model-model sosial merupakan bagian penting dari proses pembelajaran secara keseluruhan. Kelompok model ini meliputi sejumlah model. model-model pembelajaran ini a) b) c) d) Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching) Sinektiks (Synectics Model) Latihan Kesadaran (Awareness Training).Pembelajaran Inovatif 6-15 Kelompok Model Personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif. Robert Shavin (1983) telah berkerja sama dengan para guru untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan cooperative rewards atau hadiah yang diberikan atas suatu kerjasama. Termasuk ke dalam kelompok ini. Yang harus dicatat ialah. sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. Model ini telah banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakuannya. Kelompok Model Sosial ini dirancang untuk me-manfaatkan fenomena kerjasama. a) b) c) Investigasi Kelompok (Group Investigation). Dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan meng-himpun tenaga atau energy secara bersama yang kemudian disebut synergy (Joyce dan Weil: 1986). 1981).

Yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu: a) b) c) d) e) Belajar Tuntas (Mastery Learning). Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). Kelompok Model Sistem Perilaku (Behavioral System) Dasar teoritik dari kelompok model ini ialah teori-teori belajar sosial atau social learning theories. Dasar pemikiran dari kelompok model ini ialah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self-correcting communication systems yang memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. dan Sibernetika atau Cybernetics. Model ini dikenal pula sebagai model Modifikasi Perilaku atau Behavioral Modification. dan mempelajari keterampilan intelektual. dan Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry). Dengan berdasar pada konsep bagaimana seseorang memberikan res-pons terhadap tugas dan umpan balik. sosial dan fisik yang perlu bagi seorang pilot datau astronout. Oleh karena itu. dan Latihan Asertif (Assertive Training) .6-16 Pembelajaran Inovatif d) e) 4) Latihan Laboratoris (Laboratory Training). dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomuni-kasikan keberhasilan. mengembangkan keterampilan kinestetik dan sosial. Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy. seperti Skinner (1953) telah mempelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat memberikan kemudahan terhadap hilangnya rasa takut pada diri seseorang. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development). para ahli psikologis. bagaimana belajar membaca dan menghitung. belajar Kontrol Diri (Learning Self Control). menghilangkan rasa cemas dan cara santai. model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi atau overt behavior.

Model Sinektiks. Model Investigasi Kelompok. b. Contoh atau eksemplar adalah gambaran atau bentuk nyata dari kon-sep itu. penduduk. Model Jurisprudensial Model Latihan Laboratoris. Bukan contoh atau noneksemplar. contohnya. dan kerajaan. ialah gambaran atau bentuk nyata yang tidak sesuai dengan konsep itu. Contoh Model Pembelajaran Berikut disampaikan beberapa Model Pembelajaran Pilihan sebagai contoh yang diperkirakan dapat dimanfaatkan di sekolah. manusia. feno-mena. nama. Contoh-contoh ini merupakan kutipan dan adaptasi dari sumber yang sudah tersebar secara nasional sebagai materi pelatihan dosen di perguruan tinggi. dan nilai dari ciri-ciri terse-but. dapat diaplikasikan di tingkat pendidikan dasar 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Model Pencapaian Konsep. dalam batas-batas tertentu. Model Pertemuam Kelas. Nama ialah istilah yang dipakai untuk suatu kategori benda. Model Penelitian Sosial. pemerintah. Namun hakikatnya pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah menengah bahkan. . contoh atau eksem-plar. 1) MODEL PENCAPAIAN KONSEP Tujuan dan Asumsi Setiap konsep memiliki empat elemen yaitu. Contohnya. biana-tang.Pembelajaran Inovatif 6-17 Beberapa model dari semua kelompok model itu dibahas pada uraian bagian selanjutnya untuk diterapkan dalam bidang kajian yang relevan. sayur-mayur. dan Model Simulasi. mahluk hidup. Model Kontrol Diri. ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial. atau pengalaman. Model Latihan Penelitian.

. Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri esensial.6-18 Pembelajaran Inovatif keluarga Pak Haji Abdullah yang terdiri dari Haji Abdullah sebagai Kepala keluarga. atau keluarga senior. mata pencaharian. Sedangkan. Misalnya untuk contoh konsep ke-luarga. tingkat kesejahteraan. misalnya keluarga baru. Tahap pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep (1) (2) (3) (4) Pengajar menyajikan contoh yang sudah diberi label. Ibu abdulleah sebagai ibu rumah tangga. Atribut yang tidak esensial ialah ciri-ciri lain yang melengkapi gambaran konsep. dan usiaperkawinan merupakan nilai dan atribut keluarga. karena banyak keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri saja. Nilai atribut ialah kualitas dari setiap atribut. yang apabila ciri itu tidak terdapat dalam suatu contoh positif tidak mengurangi makna dari konsep itu. Ahmad yang hidup sendirian adalah bukan contoh atau contoh negatif dari konsep keluarga. Sintakmatik Model Pencapaian Konsep memiliki tiga tahap kegiatan. Atribut esensial ialah ciri-ciri utama yang memberikan gambaran sosok utuh suatu konsep. (hal 11) Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan negatif. Tahap Kedua: Mengetes Pencapaian Konsep (1) Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label de-ngan menyatakan ya atau bukan. semua anak telah membentuk keluarga baru. Suryadi dan Suryani putra/putrinya sebagai anggota keluarga merupakan contoh atau contoh positif dari konsep Keluarga. yang sekalipun memiliki anak. Misalnya. keadaan rumah. Misalnya. atribut esensial dari konsep keluarga ialah adanya orang tua (ayah dan ibu atau salah satu untuk keluarga orang tua tunggal). adanya anak bukan atribut esensial. pendidikan. dan tempat tinggal yang tetap. Siswa membuat dan mengetes hipotesis.

Interaksi antar mahasiswa digalakkan oleh peng-ajar.Pembelajaran Inovatif 6-19 (2) Pengajar menegaskan hipotesis. Prinsip Reaksi (1) (2) (3) (4) Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat diskusidiskusi yang berlangsung. Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis. namun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. dan menyatakan kem-bali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. Bila siswa sudah dapat berpikir semakin kompleks. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan duga-an yang satu dari yang lainnya. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan mahasiswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. mereka akan dapat bertukar pikiran dan . nama konsep. Pusatkan perhatian para siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik. Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai. Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat. Pengajar melakukan pengendalian terhadap aktivitas. Tahap Ketiga: Menganalisis Strategi Berpikir (1) (2) (3) Siswa mengungkapkan pemikirannya.

Umumnya manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. toleransi terhadap ketidaktentuan. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampat Instruksional model ini adalah penguasaan akan hakikat konsep. konsep-konsep yang spesifik. Latihan penelitian dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh pertanyaan. dan kesadaran akan pilihan pandangan. memberikan arah khusus sehingga mereka akan dapat mela-kukan eksplorasi itu dengan semangat dan dengan penuh kesungguhan. Dengan situasi yang penuh teka-teki ini secara alami siswa akan terdorong untuk memecahkan teka-teki itu. Dampak pengiring model ini adalah kepekaan terhadap penalaran logis. Penguasaan tentang strategi pembentukan konsep. menuntut metode yang dapat mem-beri kemudahan bagi para siswa untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. karena itu model latihan penelitian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi. mengapa suatu peristiwa terjadi. dan penalaran induksi. memiliki perhatian besar untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. 2) MODEL PELATIHAN PENELITIAN Tujuan dan Asumsi Latihan Penelitian (Inquiry Training) bertolak dari kepercayaan bahwa perkembangan sesorang agar mandiri.6-20 Pembelajaran Inovatif bekerjasama dalam membuat unit-unit data. Dengan model ini Suchman. Yang diharapkan ialah agar siswa dapat mempertanyakan. Dengan cara ini diyakini bahwa para mahasiswa dapat menjadi semakin sadar akan proses penelitian yang dilakukannya dan pada saat itu secara . seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari contoh-contoh lainnya. dan menelitinya dengan cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis.

demikian menurut Suchman sebagai pengembang model ini. Sintakmatik Model ini memiliki 5 tahap seperti berikut: (Joyce & Weil 1986: 61) Tahap Pertama: Menghadapkan Masalah (1) (2) Menjelaskan prosedur penelitian Menyajikan situasi yang saling bertentangan atau berbeda Tahap Kedua: Mencari dan Mengkaji Data (1) (2) Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung melengkapi strategi yang telah dimilikinya. sifat selalu berkembang dari pengetahuan. Pada dasarnya model ini mengikuti teori Suchman sebagai berikut. Yang paling penting. dan menghargai berbagai alternatif penjelasan mengenai sesuatu hal. Tahap Ketiga : Mengkaji Data dan Eksperimentasi (1) Mengisolasi variabel yang sesuai . (1) (2) (3) (4) Secara alami siswa akan mencari sesuatu segera setelah dihadapkan pada masalah. Mereka akan menjadi sadar tentang dan bekajar mengenai strategi berpikir yang dimilikinya. dan Penelitian yang bersifat kerjasama akan memperkaya proses berpikir dan membantu siswa untuk belajar tentang sifat tentatif dari pengeta-huan. menyajikan kepada siswa suatu sikap bahwa “pengetahuan itu bersifat tentatif” artinya selalu terbuka untuk dikaji secara terus menerus. Memeriksa tampilnya masalah.Pembelajaran Inovatif 6-21 langsung dapat diajarkan cara melakukan prosedur penelitian yang bersifat ilmiah.

6-22 Pembelajaran Inovatif (2) Merumuskan hipotesis sebab akibat. Dalam konteks ini pengajar dan siswa seyogyanya berpartisipasi atas dasar persamaan derajat dalam menghadapi suatu ide. Akan tetapi. Jika ada butir persoalan yang tidak sahih. Interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. Merumuskan dan Menjelaskan. Mintalah siswa untuk merumuskan pertanyaan yang kurang tepat. dan kesamaan derajat. tetap diperhatikan bahwa prinsip dan norma yang dikandung dalam model ini ialah kerjasama. Tahap Kelima: Menganalisis Proses Penelitian Dilakukan dengan cara menganalisis strategi penelitian untuk men-dapatkan prosedur yang lebih efektif. Prinsip Pengelolaan / Reaksi (1) (2) (3) (4) Pertanyaan yang diajukan harus diungkapkan dengan jelas sehingga dapat dijawab siswa. misalnya dengan cara menunjukkan kepada siswa teori mana yang memerlukan percobaan. kebebasan intelektual. . tunjukkan kepada siswa dengan jelas. Dilakukan dengan cara merumuskan cara-cara atau aturan untuk menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya. Sistem Sosial Model Latihan Penelitian dapat diorganisasikan secara lebih terstruk-tur di mana pengajar mengendalikan keseluruhan proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus ditempuh. Tahap Keempat : Mengorganisasikan. Gunakan bahasa yang baik untuk melakukan proses penelitian. Lingkungan intelektual juga ditan-dai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan.

dan terlatihnya semangat kreatif. (1) Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. terhadap ketidakpastian. Hampir semua orang setiap hari bergulat dengan masalah yang menuntut kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan. terlatihnya keterampilan proses. Gordon menitikberatkan kreativitas seba-gai salah satu bagian dari . Dampak pengiring dari model ini adalah meningkatnya kemandirian. Berikan dorongan dan kemudahan bagi siswa untuk melakukan interaksi di antara mereka. otonom dalam berpikir. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah memahami strategi untuk penulisan karya ilmiah. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah materi yang dapat dikonfrontasikan pengajar yang mengerti proses intelektual dan strategi penelitian. dan sumber bahan yang mampu memberikan permasa-lahan melakukan penelitian. Berikan dorongan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan ten-tang teori dan selanjutnya memberikan dukungan untuk melakukan perumusan generalisasi. toleransi yang menantang bagi siswa untuk 3) MODEL SINEKTIKS Tujuan dan Asumsi Gordon dalam Joyce dan Weil (1986: 164-165) mendasarkan model sinektik ini pada empat ide yang menentang pandangan lama tentang kreativitas.Pembelajaran Inovatif 6-23 (5) (6) Cobalah berikan suasana kebebasan intelektual dengan cara tidak menilai teori yang diajukan siswa.

Ia dapat dipaparkan. (4) Penemuan yang kreatif dari indifidu dan kelompok pada dasarnya serupa. karena ia sangat mungkin untuk melatih seseorang secara lagsung sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya. Inti dari model sinektiks ialah aktivitas metapora yang meliputi analogi personal. dan memiliki wawasan sosial. mengekspresikan sesuatu secara kreatif. Pengembangan kreativitas ini dapat dilakukan dalam suasana pendidikan formal. Di samping itu ditekankan pula makna ide-ide yang dapat diperkuat me-lalui aktivitas yang kreatif dengan cara melihat sesuatu lebih luas. Gordon percaya bahwa seseorang dapat memahami inti proses kreatif dan ia akan dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara bebas sebagai anggota masyarakat. (3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya.6-24 Pembelajaran Inovatif pekerjaan dan waktu senggang sehari-hari. Oleh karena itu model ini dirancang untuk meningkatkan kemam-puan seseorang dalam memecahkan masalah. Indifidu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam bentuk yang serupa. Misalnya de-ngan cara meminta mengandaikan sisrem tubuhnya sebagai jaringan transportasi. menunjukkan empathy. 1986: 166_168). Analogi personal dilakukan oleh para mahasiswa Pada saat mereka meletakan diri . analogi langsung dan konflik yang dipadatkan (Joyce dan Weil. (2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. Diya-kini bahwa proses berpikir mencipta dalam kiat atau seni erat sekali hubungannya dengan proses berpikir dalam ilmu. Kegiatan metaporis ber-tujuan menyajikan perbedaan konseptual antara diri mahasiswa de-ngan obyek yang dihadapi atau meteri yang dipelajari.

Mengidentifikasi diri pada obyek hidup. dan memilih salah satu. Tahap keempat: konflik yang dipadatkan Siswa mengambil apa yang dipaparkan atau didiskripsikan pada tahap kedua dan ketiga. Tahap ketiga:Analogi personal Siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan yang dianalo-gikan pada tahap sebelumnya.dan Mengidentifikasikan diri pada obyek yang tidak hidup Analogi langsung merupakan perbandingan sederhana antara dua obyek atau konsep. kemudian membuat beberapa konflik yang dipa-datkan. kemudian memilih salah satu untuk diekplorasi lebih jauh. Misalkan dengan cara menggadaikan dirinya sebuah mobil. . Dalam analogi personal ini terdapat empat tahap: (1) (2) (3) (4) Mendiskripsikan fakta mengenai orang pertama’ Mengidentifikasi orang pertamadengan perasaan. ialah cara mengkontraskan dua ide dengan memberi label sinkat biasanya dengan hanya dua kata.Pembelajaran Inovatif 6-25 pada obyek yang sedang dibandingkan. misalnya” sangat galak atau sangat ramah” Sintakmatik Model sinektiks ini memiliki enam tahap: Tahap pertama: Deskripsi Kondisi saat ini Pengajar meminta mahasiswa untuk memaparkan atau mendiskripsi-kan situasi yang ia amati saat ini. sedangkan yang dimaksud dengan konflik yang di padatkan. Tahap kedua: Proses analogi langsung Siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian. Fungsi dari proses ini ialah untuk mentransposekan sesuatu keadaan nyata pada keadaanyang lain dalam rangka memperoleh pandangan baru atau masalah baru.

Perlu diperhatikan agar jangan sampai terjadi analis yang bersifat premature atau terlalu dini atau lahir sebelum waktunya. Tahap keenam: Pengujian kembali tugas awal Pengajar mengarahkan siswa untuk kembali kepada tugas awal atau masalah dan menggunakan analogi yang terakhir atau keseluruhan proses sinektis. pengajar harus dapat menerima respon siswa agar mereka merasa bahwa dalam kegiatan metaporis itu tidak dicampuri oleh pihak luar dirinya. keseluruhan proses sinektiks itu akan dapat berjalan sesuai dengan jalan pikiran dan ide yang melatarbelanginya. saat kegiatan metaporis para mahasiswa tetap memi-liki kebebasan dalam diskusi yang tebuka dan tanpa akhir atau open-ended Prinsip Pengelolaan/reaksi Pengajar mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh pola berpikir yang reguler dan ia mencoba untuk menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon. Dengan demikian. Ada kalanya pengajar harus menggunakan teknik yang tidak rasional untuk mendorong siswa yang enggan melibatkan diri dalam proses metaporis.6-26 Pembelajaran Inovatif Tahap kelima: Analogi langsung Siswa mengemukakan dsan memilih analogi langsung yang lain ber-dasarkan pada konflik yang dipadatkan. . Dalam keseluruhan proses. Walaupun demikian. Pengajar juga membantu mahasiswa untuk mengkonseptualisasikan proses mental. di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan urutan dan membimbing mekanisme interaksi belajar. Sistem Sosial Model ini terstruktur sedang.

Glasser .Pembelajaran Inovatif 6-27 Sistem pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini ialah adanya pengajar yang kompeten menjadi pemimpin dalam prosis sinektiks kadang-kala diperlukan pula sejumlah alat dan bahan atau tempat untuk membuat model analogi yang bersifatfisik. sedangkan dampak pengiringnya adalah keutuhan dan produktivitas kelompok. Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok. Metode terapi yang bersifat tradisional sering tidak realistis sebagai akibat perilaku tidak berfungsi. Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki dan harga diri. Kelas yang perlu diperhatikan. untuk mencapai keberhasilan. berupa ruangan yang lebih besaryang memungkinkan terciptnya lingkungan yang kreaktif melalui aktifitas yang bervariasi. Diyakini sekolah gagal bukan dalam me-nampilkan profil akademis tetapi dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan. kapasitas kreatif dalam bidang studi. konstruktif. 4) MODEL PERTEMUAN KELAS Tujuan dan asumsi Glasser dalam Joyce dan Weil (1986. berdasarkan konsep terapi dalam perubahan peri-laku. Dampak instrusional dan pengiring Dampak instrusional model ini adalah siswa memiliki kapasitas ke-kreatifan umum. Dalam kelas rasa cinta tercer-min dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. Asumsi yang kedua. 205) mengajukan pemikiran bahwa pada umumnya masalah kemanusiaan merupakan kegagalan dari fungsi sosial dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar untuk dicintai dan dihargai.

Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai. Tujuan terapi ini ialah meningkatkan kemampuan untuk memenuhi komitmen pada perubahan perilaku. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul Mengidentifikasi norma sosial. Membuat keputusan nilai personal . Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap (Joyce danWeil 1986: 210) Tahap pertama. Tahap kedua: Menyajikan masalah untuk didiskusikan (1) (2) (3) (4) Siswa dan atau pengajar membawa isu atau masalah Memaparkan masalah secara utuh.6-28 Pembelajaran Inovatif mencoba berusaha untuk memper-baiki penampilan dan memenuhi kebutuhan dengan cara membantu orang lain mengenai apa yang nyata. apa yang bertanggung jawab dan mana yang benar. dicintai. Mahasiswa bersepakat tentang pilihanya itu Tahap kelima: Membuat komentar secara umum Tahap Keenam: Tindak Lanjut Perilaku Tahap ketiga. Membangun iklim keterlibatan (1) (2) Mendorong siswa agar berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri. Cara ini juga untuk memenuhi kebu-tuhan emosional orang lain untuk merasa berharga. dan memiliki identitas. siswa membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki Tahap keempat: Mengidentifikasi Pilihan Tindakan (1) (2) Mahasiswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku. Mengidentifikasi nilai yang ada di balaik masalah perilaku dan norma sosial.

Walaupun tanggung jawab ada pada tangan pengajar. (3) Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada. dan hubungan yang peka antara siswa dan pengajar. menarik. . Kepemimpinan. Apa yang dikemukakan oleh pengajar pada saat mendengarkan pemaparan kajian nilai. Sistem Pendukung Yang diperlukam untuk melaksanakan model ini ialah pengajar yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dalam diskusi. Walaupun demikiam diharapkan pula siswa dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi setelah mengalami beberapa aktivitas. personal. Sistem Sosial Model Pertemuan Kelas ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. dan pada saat yang bersamaan ia mampu membimbing kelompok menuju penilaian perilaku komitment dan tindak lanjut dari perilaku itu. (2) Dengan melalui sikap tidak menentukan. yakni tanggung jawab untuk membimbing interaksi mela-lui tahap tahap tersebut terletak pada tangan pengajar.Pembelajaran Inovatif 6-29 Setelah periode tertentu. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Perilaku Pengajar dibimbing oleh tiga prinsip: (1) Prinsip melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat. Ia juga harus mampu untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak bersifat defensif atau selalu bertahan diri. tidaklah menentukan. keputusan moral terletak pada siswa. pengajar harus dapat mene-rima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa. mahasiswa menguji efektivitas dari komit-men dan perilaku baru itu.

sedangkan dampak pengiringnya adalah tercapainya kemandirian dan pengarahan diri.6-30 Pembelajaran Inovatif Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah pencapaian tujuan dan eva-luasi. Investigasi Kelompok Investigation mengambil model yang berlaku dalam masyarakat. pengajar seyogianya Model berusaha Pembelajaran untuk menciptakan suasana atau yang Group memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu. siswa berusaha untuk memelihara cara hidup yang berkembang di situ. serta terbinanya keterbukaan dan keutuhan. Dalam kerangka itu. yakni standard hidup dan pengaharapan yang tumbuh dalam suasana kelas. menurut Joyce danWeil (1986: 228) suasana kelas meru-pakan analogi dari kehidupan masyarakat. terutama menganai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serang-kaian kesepakatan sosial. 5) MODEL INVESTIGASI KELOMPOK Tujuan dan Asumsi Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehi-dupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. Untuk kepentingan praktis model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut. yang di dalamnya memiliki tata tertib. dan budaya kelas. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah siswa mempelajari pengetahuan . Berkenaan dengan hal itu.

Masalah itu sendiri dapat timbul dari siswa atau diberikan oleh pengajar. yaitu penelitian atau inquiry. Yang dimaksud dengan pengetahuan ialah pengalaman yang tidak dibawa lahir tapi diperoleh oleh individu melalui dan dari pengalamannya secara langsung maupun tidak langsung. Hal-hal tersebut merupakan dasar dari model investigasi kelompok. sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Dalam interaksi ini melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta saling tukar peng-alaman melalui proses saling berargumentasi. Untuk memecahkan masalah ini. Tahap Pertama: Siswa dihadapkan dengan situasi yang problematis. Tahap Ketiga: . Yang dimaksud dengan penelitian ialah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah. Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama. pengetahuan atau knowledge.Pembelajaran Inovatif 6-31 akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. menuntut prosedur dan persyaratan yang sudah tertentu. dan dinamika belajar kelompok atau dynamics of the learning group. Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. Sintakmatik Model Investigasi Kelompok ini memiliki enam tahapan kegiatan. Dinamika kelom-pok menunjuk pada suasana yang menggambarkan sekelompok individu saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama. Tahap Kedua: Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang problematis.

Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap pemecahan masalah. (2) Tahap pengelolaan kelas. Tahap Keenam: Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities. Dengan demikian suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur. dan pemberi kritik yang bersahabat. dan apa . Pengajar dan siswa memiliki status yang sama menghadapi masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. konsultan. Tahap Kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian kelompok itu. Tahap Keempat: Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok. Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab perta-nyaan. pengajar lebih berperan sebagai konselor. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Di dalam kelas yang menerapkan model Investigasi Kelompok. Sistem Sosial Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model ini bersifat demokratis yang ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar.6-32 Pembelajaran Inovatif Siswa merumuskan tugas-tugas belajar atau learning tasks dan mengorga-nisasikannya untuk membangun suatu proses penelitian. apa yang menjadi hakikat masalah. Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus. (3) Tahap pemaknaan secara perseorangan.

mempero-leh bagaimana informasi mengorga-nisasikan itu. Perpustakaan diusahakan untuk cukup memiliki sumber informasi yang komprehensif dengan alat bantu mengajar atau media yang relatif memadai pula.Pembelajaran Inovatif 6-33 yang menjadi fokus masalah. komitmen terhadap penelitian sosial. 1986: 234) Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. dan apa yang membe-dakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Joyce dan Weil. tercapainya proses dan keteraturan kelompok yang efektif. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional misalnya tercapainya kesepakatan atas pandang-an tentang pengetahuan. sedangkan kelompok tahap untuk pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya. Dasar pemikiran model ini . Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan. sedangkan dam-pak pengiringnya adalah dorasakannya kehangatan dan keterikatan antar-manusia. kemerdekaan sebagai pela-jar. peningkatan kemampuan meneliti secara disiplin. informasi apa saja yang diperlukan. menghormati hak asasi manusia. dan komitmen terhadap keberagaman 6) MODEL PENELTIAN JURISPRUDENSIAL Tujuan dan Asumsi Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986: 260-267) model ini me-miliki sejumlah karakteristik.

Yang tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik rasial dan etnis. pendidikan. keamanan pribadi. setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik mela-kukan kesepakatan dengan orang lain. Lingkup dan tingkat kerumitan dari masing-masing bidang kajian tersebut. tentu saja harus disesuikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa. hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. dan (3) Menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya. Sintakmatik Model Jurisprudensial ini memiliki enam tahap (Joyce & Weil 1986: 268). Setiap warga negar harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengam-bil contoh masalah sosial yang paling tepat. Tahap Pertama: Orientasi terhadap Kasus . Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif. (2) Memiliki seperngkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam men-jernihkan dan memecahkan masalah nilai. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut diperlukan tiga kemampuan. konflik ideologi atau keagamaan. (1) Mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada dilingkungan negaranya.6-34 Pembelajaran Inovatif ialah konsepsi ten-tang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain. kesejahteraan dan keamanan nasional. konflik antargolongan ekonomi kesehatan. yang pada hakekatnya berkenaan dengan konsep keadilan.

Kemudian menyatakan edudukannya dalam konflik nilai itu dan dalam hbungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu. Pengajar mereviu data yang tersedia. Menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya. dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa. Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih. (2) Mahasiswa meluruskan posisinya. Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan. .Pembelajaran Inovatif 6-35 (1) (2) (1) (2) (3) (4) Pengajar memperkenalkan bahan-bahan. Menjernihkan konflik nilai dengan melakuakn proses analogi. Tahap kelima: Menjernihkan dan menguji Posisi (1) Mahasiswa menyatakan posisinya dan memberikan rasional mengenai posisinya itu. Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya. Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi Siswa memilih suatu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan. Tahap Keempat: Mengekplorasi contoh-contoh dan pola argumentasi (1) (2) (3) (4) Menetapkan titik di mana terihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh. Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan konflik nilai. Tahap Keenam: Mengetes Asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskannya.

Secara umum. reaksi ter-hadap komentar siswa dengan keajegan. keumuman. Untuk dapat memerankan hal tersebut. diharapkan masing-masing akan dapat melakukanya tanpa bantuan dari orang lain. pengajar harus dapat mengantisipasi nilai yang diajukan oleh siswa dan berkenaan dengan hal itu pengajar harus siap untuk menantang dan melacaknya lebih jauh. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa. pengejar memulai mem-buka tahapan dan bergerak dari tahap ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. cara memberikan atau pertanyaan mengenai relevansi.6-36 Pembelajaran Inovatif (1) (2) Mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya. Seyogyanya . kekhususan. Sistem Sosial Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang terstruktur rendah sampai pada yang terstruktur ketat. Menetapkan konsekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dari konsekuensi itu. dan kejelasan secara definitif. Setelah mahasiswa mengalami satu kali proses jurisprudensial. terutama yang terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui atau menyetujui. Sistem Pendukung Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumbersumber dokumen yang relevan dengan masalah. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Reaksi pengajar.

atau yang memang sukar diperoleh oleh mahasiswa. komunikasi. Tujuannya ialah untukl mengerti .Pembelajaran Inovatif 6-37 disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus yang aktual. umpan balik. penyelesaian konflik. pengiringnya kemampuan untuk berparti-sipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial. dan pengarahan sendiri. dan kemampuan berdialog. Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka. Memperoleh wawasan terhadap perilaku dan reaksi seseorang. seperti tingkat usia siswa. Di dalam menerapkan model ini perlu diperhati-kan hal-hal. pemahaman lebih luas tentang fakta masalah sosial. kekuasaan dan kontrol. dinamika kelompok. Lebih jauh ditegaskan oleh Joyce & Weil (1986: 279-283) bahwa proses intrapersonal memberi tekanan pada tujuan yang akan dicapai yaitu pegetahuan sendiri (selfknowledge). khususnya dengan cara memper-oleh umpan balik dari orang lain merupakan tugas belajar atau learning task. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model dalam Jurisprudensial Dampak ini memiliki dampak adalah instruksional meningkatnya kemampuan mengasumsikan peranan orang lain. kepemimpinan. Proses interpersonal memusatkan perhatian pada dinamika hubungan antar individu yang berupa hubungan mempengaruhi. terbinanya rasa empati dan wawasan pluralistik. dan lingkungan berlajar. 7) MODEL LATIHAN LARATORIS Tujuan dan Asumsi Model ini bertolak dari konsep T-Group Experience yang menitik-beratkan pada proses intrapersonal. memberi dan menerima ban-tuan. interpersonal.

seperti diuraikan dalam . Sintakmatik Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Model ini memiliki empat elemen dasar. data yang menjadi bahan analisis adalah pengalaman dan umpan balik yang diperoleh mahasiswa pada saat mereka belajar bersama. Biasanya Struktur T-Group merupakan struktur yang utama. dan memungkinkan siswa mem-berikan respon terhadap keadaan itu yang pada akhirnya dilakukan dengan pengarahan. Kedua. kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. para anggota kelompok dan pelatih seyogianya melaksanakan peranan sebagai pengamat yang terlibat atau participant observer. situasi yang kurang bertujuan. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk tiap-tiap tahap utama. Ketiga. Kesemua tujuan iotu akan dicapai dengan cara meningkatkan kesadaran. menuju perilaku yang baru. Yang terakhir.6-38 Pembelajaran Inovatif kondisi dan kemudahan atau hambatan terhadap berfungsinya kelompok. merubah sikap. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini. Di sini keka-buran situasi menimbulkan ketegangan. Pertama. orientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kelompok. Tahapan kegi-atan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri.

mau dan mampu memberi dan menerima umopan balik. Tahap Ketergantungan Hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok 1. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Pelatih. struktur tidaklah tampak.) II. dan sebagai mediator atau perantara. 3. namun masih tetap dalam batas yang dapat ditoleransi. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok. pengajar sebagai pelatih menjelaskan ahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok. sikap. . Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan dan keterlibatan lebih banyak. dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri. anggota kelompok. Pemecahan masalah (munculnya keinginnan untuk memanfaatkan waktu lebih baik. munculnya dua kelompok yang berbeda keinginan). jujur. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama. 5. perasaan positif). dan bersifat mendukung. penghargaan terhadap pelatih. evaluasi keterlibatan. Pemikatan (solidaritas kelompok. Di sini. pengenalan terhadap bermacam-macam. bersemangat belajar yang tinggi. sadar akan tanggapan terhadap orang lain) Sistem Sosial Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan. serta rasa takut diserang) 6. pemberi contoh. Saling ketergantungan. terarah. Peduli terhadap orang lain dan kerjasama mengatasi masalah umum.Pembelajaran Inovatif 6-39 Tabel 3. Di dalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka. Kontra ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan. rasa percaya dan kerjasama.Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin) 2. yakni sebagai: pengamat yang terlibat.14 TAHAP PENGEMBANGAN T-GROUP I. 4. dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalamT-Group ini.

. Penekanan pada hipotesis sebagai fokus utama. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis. dan Penggunaan fakta sebagai bukti. situasi kelas. luasnya wawasan atas perilaku interpersonal. dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari.6-40 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan dan paling utama ialah penga-jar/pelatih yang berpengalaman dalam model ini. sedang-kan dampak pengiringnya adalah kemampuan beradaptasi terhadap peru-bahan. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut: (1) Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terha-dap masalah dan dapat merumuskannya yang akan menjadi pusat penelitian. kemampuan bersepakat dan ekspresi diri. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional adalah tercapainya kemam-puan mengatasi perubahan. Model ini dapat dilaksana-kan dalam situasi kelembagaan. (2) (3) Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian. toleran terhadap kebi-nekaan. dan lapang dada atas hakikat afektif dari respon manusia. 8) MODEL PENELITIAN SOSIAL Tujuan dan Asumsi Menurut Massialas dan Cox dalam Joyce dan Weil (1986: 294) suasana kelas yang bersifat reflektif memiliki tiga karakteristik utama : (1) (2) (3) Aspek sosial kelas dan keterbukaan dalam diskusi.

Akibat dari tugas tersebut. logika yang nalar.Pembelajaran Inovatif 6-41 (4) Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian. yaitu pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang lebih luas. . konselor. pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif yang membantu siswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. Merumuskan generalisasi. (5) (6) Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis. dan ia harus memikul tanggung jawab untuk meng-ikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir. mem-perbaiki proses belajar membuat dan melaksanakan rencana. pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang bertugas membentu siswa untuk menjernihkan kedudukannya. objektif. Siswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemam-puan dalam penelitian. dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Pengajar ber-tugas membantu siswa dalam penggunaan bahasa yang jelas. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam keseluruhan tahap. Sistem Sosial Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. dan instruktur. pengertian tentang asumsi. pengarah. Pengajar meng-ambil inisiatif untuk meneliti dan memandu siswa dari tahap lainnya. Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih.

Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam meng-atasi masalah kehidupan. sumber kepustakaan yang tak terbatas.6-42 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama. Orang yang membangun hubungan konti-ngensi antara stimulus dan respon ini harus menydari akan adanya respon yang memang diinginkan dan tidak diinginkan. Ling-kungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik. Ciri yang paling esensial ialah hubungn antara respon dan stimulus yang diberi penguatan. sedangkan efek pengiringnya penghargaan terhadap hak asasi manusia. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal adalah penjagaan terhadap permasalahan sosial. merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pad saat-saat tertentu setelah munculnya respon. Kondisi ini disebut Contingent atau tergantung pada. Di samping itu juga harus . 9) MODEL KONTROL DIRI Tujuan dan Asumsi Pada teoretisi perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan pengu-atan. dan komitmen terhadap peningkatan mutu sumber daya. dan tindakan sosial. Pengelolaal ketergantungan pada atau contingency management yang menjadi inti dari model Kontrol Diri.

Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak belakang dari prinsip Operant Conditioning. Penguatan dapat bersifat material. Model ini terutama. dan aktivitas. seperti dengan tersenyum. dan melahirkan respon. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik di bawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan. Dalam prinsip ini diharapkan dapat diberi penguatan yang terlibat peranan reinforces yaitu yang dapat mempertinggi respon. seperti rasa takut atau rasa cemas. sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis.Pembelajaran Inovatif 6-43 disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting. Termasuk dalam tujuan ini adalah kelanggengan atau “durability” dari perilaku. sosial. atau mengacungkan ibu jari. Penguatan positif ialah tanggapan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau maladaptive behavior. Penguatan dianggap negatif bila yang diberi-kan itu mengurangi suasana yang ada. dan keterampilan mengelola diri. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional. keterampilan sosial. Tujuan utama dari program pengelolaan kontinginsi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku ke dalam situasi yang lain. Sintakmatik Model ini memiliki lima tahap (Joyce & Weil 1986: 347) seperti berikut: Tahap Pertama: Perumusan Perilaku Akhir . Respon yang positif maupun negatif. dan sebagai model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keteramplan yang baru.

(2) Merumuskan secara khusus perilaku akhir. Sistem Sosial Sistem sosial yang perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur. dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu. Tahap Keempat: Melembagakan Program (1) Menata lingkungan.6-44 Pembelajaran Inovatif (1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran. Tahap Ketiga: Merumuskan Kontingensi (1) Membuat keputusan mengenai lingkungan. (3) Mengembangkan rencana untuk mengukur dan mencatat perilaku Tahap Kedua: Mengkaji Perilaku Mengamati. (2) Memberikan pengantar bagi mahasiswa. Demikian juga dalam pola dan jadwal pemberian . hakikat dan konteks dari perilaku itu. (3) Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan. (2) Membangun kembali kondisi yang lama. Pengajar berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. (2) Memilih sarana penguat atau reinforces dan pola pemberian penguatan. (3) Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir. mengukur dan mengembali-kan para program kontingensi. Tahap Kelima: Mengevaluasi Program (1) Mengukur respon yang diharapkan. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan. dalam arti sam-bil berjalan dapat ditumbuhkan.

perilaku dan keterampilan sosial. perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. dikuatkan. Secara umum. sabar. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini. dalm model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan. Hal ini dapat dilakukan secara fisik. Sedang program yang bersifat kompleks. respons emosional. Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memer-lukan sarana pendukung. Per-bedaannnya. perilaku dan keterampilan personal. terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. dan tetap ajeg. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi ke situasi. Pengajar yang mengem-bangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat. Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. mahasiswa. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal model ini adalah pengetahuan dan keterampilan akademik. memer-lukan perencanaan dan alat yang lebih memadai.Pembelajaran Inovatif 6-45 penguatan. pengajar dapat melakukan kesempatan dengan Prinsip Pengelolaan/Reaksi Prinsip pengelolaan atau reaksi pengajar terhadap mahasiswa di da-sarkan pada prinsip “operant conditioning” dan pengelolaan kontingensi. keterampilan pengelolaan diri. seperti dengan mematikan televisi sedang-kan perilaku yang diinginkan seyogyanya .

(3) Membuat program tertulis. dan (4) Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan. dapat digunakan respon yang saling berbeda atau bertentangan dengan peikiran. (2) Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. (2) Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tahap Kedua: membangun landasan Berpijak (1) Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus. jika memang diperlukan. mencatat kendali rangsangan. Sintakmatik Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce & Weil 1986: 363) Tahap Pertama: Memperkenalkan Prinsip Perilaku (1) Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan. (2) Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri.6-46 Pembelajaran Inovatif yang sedang ditonton. Dalam membang-kitkan rangsangan. (3) Melakuakn pengukuran. Tahap Ketiga: Menyusun Program Kontrol Diri (1) Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat. (3) Membangun kemauan untuk berpartisipasi. . Tahap Keempat: Memantau dan Memperbaiki Program (1) Melibatkan mahasiswa dalam program. memberi pe-nguatan. Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model Kontrol diri ini. dan memberikan respon yang menantang. (2) Melakukan pertemuan periodik dengan guru/pelatih untuk mereviu kemajuan dan memperbaiki program.

sebagian lagi secara bersama. Berkembangnya harga diri dan keyakinan. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah meningkatkan perilaku sa-saran. Dari kegiatan-kegiatan itu. mungkin sebagian dilaku-kan secata mandiri. pada akhirnya mehasiswa yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini pengajar memiliki peranan yang menentukan dalam keseluruhan program. dan memiliki pandangan perilaku.Pembelajaran Inovatif 6-47 Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. Dampak pengi-ringnya adalah berkembangnya kesadaran tentang kontrol diri. (4) membantu mahasiswa dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu. (3) menjamin tersusunnya rencana yang realistik. rasa rendah diri dan kendala lingkungan seseorang. Walaupun pengajar memiliki peranan dalam mengambil inisiatif. (2) menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan. mengurangi perilaku yang salah. Secara terinci. Sistem Pendukung Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus. dan menguasai metode untuk mem-bangun kontrol diri. . dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya: (1) memberi semangat kepada mahasiswa. ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan pengajar dan siswa. Yang harus dicatat.

Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dan gerakannya yang dianggap kompleks sengaja dikontrol. Para ahli psikologi sibernetika membuat analogi antara manusia dengan mesin dan mengkonseptualisasi-kan siswa sebagai sistem umpan balik yang mengatur dan mengontrol sendiri. Para ahli psikologi sibernetika ini menafsirkan manusia sebagai sistem kendali yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan sendiri melalui mekanisme umpan balik. berperilaku simbolik. . Tahap Pertama : Orientasi (1) Menyajikan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. Sintakmatik Model ini memiliki tahap sebagai berikut (Joyce dan Weil 1986: 378). individu memodifikasi perilakunya sesuai dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya.6-48 Pembelajaran Inovatif 10) MODEL SIMULASI Tujuan dan Asumsi Simulasi sebagai model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan. Gerakan dan perilakunya itu disesuaikan dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. dalam proses simulasi itu dilakukan dengan meng-gunakan simulator. dan berperilaku nyata. Misalnya. Dalam suatu situasi yang khusus. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia memiliki pola gerakan seperti berpikir. Model Simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang diana-logikan dengan proses sibernetika itu. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan gerakan sensorinya menjadi dasar dari penerimaan umpan balik itu. Bertolak dari prinsip itu.

Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi. (2) (3) Menugaskan para pemeran dalam simulasi. langkah. Mencoba secara singkat suatu episode. Sistem Sosial Di dalam simulasi pengajar harus dengan sengaja memilih jenis ke-giatan dan mengatur mahasiswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional Melanjutkan permainan/simulasi. Tahap keempat: Pemantapan atau Debriefeing (1) (2) (3) (4) (5) (6) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. Tahap Kedua: Latihan Bagi Peserta (1) Membuat skenario yang berisi aturan. Menghubungkan prose simulasi dengan isi pelajaran.Pembelajaran Inovatif 6-49 (2) (3) Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan. model ini . Tahap Ketiga: Proses simulasi (1) (2) (3) (4) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. Memperoleh umpoan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terha-dap performan si pemeran. Memberikan rinkasan mengenai kesulitan-kesuliatan dan wawasan para peserta. peranan. bentuk keputusan yang harus dibuat. Karena itu. dan tujuan yang akan dicapai. Menganalisis proses. pencatatan. Menilai dan merancang kembali simulasi.

6-50 Pembelajaran Inovatif termasuk model yang terstruktur. kesadaran tentang efektivitas. pengajar bertugas untuk lebih dulu mendorong pengertian dan penafsiran para mahasiswa terhadap isi dan makna dari simulasi itu. Dampak pengiring nya adalah berpikir kritis dalam mengambil keputusan. . Namun demikian kerjasama antar peserta sangat diperhatikan. Misalnya bila saran yang digunakan berupa simulator elektronik. pengajar bertugas dan ber-tanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjuk-kan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah kelereng atau kartu. pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator. mulai dari yang paling sederhana dan murah. tentu hal ini memerlukan biaya yang besar. empati. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini. tentu sangat murah. Dalam hal ini. dan berani mengha-dapi konsekuensi. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari mahasiswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi. ke yang paling kompleks dan mahal. berkembangnya kesa-daran dan kesempatan. Dampak Instruksional dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional model ini adalah memiliki keterampilan dan penguasaan konsep. Dalam keselutuhan proses simulasi. dan mengetahui pengetahui pengeta-huan tentang politik dan sistem ekonomi.

Kedua kelompok model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Model-model Pengorganisasian Pertemuan Model-model Pengorganisasian Pertemuan dikembangkan oleh Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) seperti digam-barkan sebagai berikut.Pembelajaran Inovatif 6-51 Beberapa Model Pembelajaran Yang Bersifat Umum Model pembelajaran yang disajikan pada bagian sebelumnya meru-pakan kerangka konseptual dan operasional pengelolaan proses belajar. yag bertolak dari teori psikologi tertentu. khusus disampaikan model pembalajaran diskusi kelompok saja. Pada bagian ini akan disajikan model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum dan tidak secara khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu. dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu. sebagian dari model-model itu dapat dipakai dalam rangka proses pembelajaran dengan menyesuaikannya terhadap konteks pembelajaran. (2) Model Diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam interaksi pembelajaran kelompok secara bervariasi. Model ini ternyata lebih efektif dan efisien dalam proses kognitif dan keterampilan berbicara dalam belajar bahasa Indonesia di berbagai tingkat. Selain itu model ini modelmodel diskusi kelompok berlaku secara umum. Ada dua kelompok model yang dapat kita kaji: (1) Model Pengorganisasian Pertemuan dapat digunakan baik dalam situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interaksi pembelajaran formal. Dengan demikiam model tersebut akan dapat digunakan lebih bebas. Model-model Diskusi kelompok Dalam bagian ini. Artinya. dan sebagian dapat dipakai dalam rangka pertemuan di luar proses situasi .

. (1) Jumlah anggota kelompok bersifat luwes. (b) Model Buzz Group tau kelompok Bebas. (2) Tidak memerlukan pimpinan penuh. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 2-6 peserta. (c) Model Case Study atau Studi kasus. (3) Para peserta dihadapkan kepada suasana problematik. Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) mengembangkan 13 model dengan masing-masing karakteristik sebagai berikut: (a) Model Kelompok Curah Pendapat atau Brainstorming Group yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok yang terdiri dari 3-12 peserta. (2) Tidak memerlukan pemimpinan yang penuh. (3) Waktu pertemuan berkisar antara 2-15 menit. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan tingkat kerumitan kasuis. (6) Ide-ide yang muncul tidak diberi kritik atau tanggapan. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (4) Biasanya digunakan sebagai langkah awal membuat keputusan atau memecahkan masalah. (5) Kelompok mendiskusikan secara singkat masalah tertentu. (4) Biasanya digunakan sebagai strategi dalam kelompok. Khusus untuk suasana pendidikan formal yang menitikberatkan pada proses pembelajaran. (5) Para peserta diminta untuk mengemukakan ide sebanyak mungkin dalam waktu yang berkelanjutan menuju pemecahan masalah.6-52 Pembelajaran Inovatif pendidikan formal. (3) Waktu pertemuan berkisar dari pertemuan singkat beberapa menit sampai pertemuan panjang beberapa jam.

(4) Salah seorang dari setiap kelompok pada saaat tertentu berpindak ke kelompok lain. (6) Prosedur perpindahan anggota berlangsung sampai di dalam kelompok itu hanya tinggal seorang anggota yang asli. didefinisikan dan didiskusikan secara singkat dalam kelompok. (2) Waktu pertemuan disesuaikan dengan jam pertemuan yang tersedia. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit dan berlangsung beberapa kali. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri 4-12 peserta. . (f) Model Horse Shoe group atau kelompok Tapal Kuda. (2) Waktu pertemuan bervariasi namun tetap konsisten dengan waktu yang tersedia bagi kelompok besar. (e) Model Free Group Discussion atau Diskusi Kelompok Bebas. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok besar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang besar-nya sebanyak akar (√) dari jumlah keseluruhan. (3) Topik diskusi. (d) Model Crosses-Over atau Kelompok Silang Pendapat. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok disusun dengan membentuk tapal kuda menghadap Tutor/Guru.Pembelajaran Inovatif 6-53 (4) Para peserta dituntut untuk berbagai evaluasi terhadap kasus dan memberi jalan melakukan tindakan. (3) Topik dan arah diskusi dikendalikan oleh peserta sendiri. (5) Orang tersebut selanjutnya menyumbangkan berbagai ide dan pengalaman dalam kelompok baru itu.

(j) Model Simulation atau Simulasi. (4) Penyaji makalah dipilih dari anggota kelompok. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit. (4) Para peserta dapat mempersiapkan laporan dengan menggu-nakan media visual seperti transparansi. (3) Membahas makalah yang disajikan. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan peran yang harus dimainkan. (4) Bentuk Tapal Kuda dapat dipakai dalam model ini.6-54 Pembelajaran Inovatif (3) Biasanya digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan peserta dalam kelas besar. (h) Model Role Play atau Bermain Peran. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 5-15 orang. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan lama pertemuan yang tersedia. (3) Para peserta dihadapkan kepada tugas dan pekerjaan untuk memenuhi sesuatu atau memecahkan masalah. (g) Model Problem-Centered Group atau kelompok Terpusat pada Masalah. (i) Model Seminar Group atau Kelompok Seminar. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 4-12 orang. . yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok bervariasi. (2) Waktu pertemuan sesuai dengan yang tersedia. (3) Para peserta mencoba sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana yang interaktif. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel.

(4) Para peserta diminta mengandalkan peran tertentu dan bertindak sesuai dengan aturan tertentu. 1. (3) Teknik kelompok Terapetik digunakan di mana individu dalam setiap kelompok mendiskusikan dan menganalisis hubungannya satu dengan yang lain. (3) Setiap kelompok diberi atau memilih suatu tugas. (3) Diskusi digunakan untuk Kekuatan sebagai berikut. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel tapi tidak lebih dari 6 orang. (2) Waktu pertemuan bervariasi mulai dari hanya 1 jam. (k) Model Syndicate Group atau Kelompok Sindikat. Orang yang pandai berbahasa artinya orang yang pandai berbicara.Pembelajaran Inovatif 6-55 (3) Para peserta dihadapkan kepada model kehidupan nyata. dan keuntungan model diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat menengah dapat disampaikan . (l) Model T-Group atau Kelompok T. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 3-15 orang. Berbahasa adalah berbicara. (m) Model Tutorial atau Bimbingan Belajar. Sesuai dengan hakikat belajar bahasa. (4) Setiap kelompok diminta mencari informasi yang relevan dan membuat laporan bersama untuk ditanggapi kelompok lain. (2) Waktu pertemuan biasanya beberapa jam perhari untuk bebe-rapa minggu. (2) Waktu pertemuan 45 menit atau lebih. yang memiliki ciri-ciri : (1) Kelompok terdiri dari 7-14 orang. berlangsung beberapa bulan atau lebih.

Oleh karena itu model diskusi kelompok merupa-kan pembelajaran bahasa terintegratif. membaca. terlaihnya kemampuan menahan diri. meningkatnya kecerdasan.6-56 Pembelajaran Inovatif Pandai menu-lis. membedakan. 2. kareka penyimak mencoba mela-kukan analisis: menghubungkan. Berbicara dengan kontrol diri. . 4. Pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai mendengarkan. memilih. sikap toleran bila ada penda-pat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Penyimak Pembicara perlu perlu memperhatikan memperhatikan bersabar pembicaraan peserta diskusi lain. Simpulan: Nilai didik yang dapat dikembangkan melalui model diskusi kelompok itu adalah kesantunan. bicara. Pelatihan berdiskusi dalam pembelajaran bahasa dimulai dengan membaca sumber bahan yang akan didiskusikan. dan menyimak tidak biasa disebut pandai berbahasa. bahkan menulis teks bahan berbicara. dan terlatihnya pembelajaran bahasa yang terintegratif. Dalam proses diskusi setiap peserta berperan juga sebagai pendengar bah-kan penyimak. Pembicara perlu menahan diri bila aspek emosi terusik. menulis yang diperlukan sebagai catatan untuk dibicarakan. mencocokan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. menghargai pendapat orang lain. membandingkan. demokratis. toleransi. 3. yang penting. Aspek pendidikan nilai dalam diskusi kelompok dapat dikembangkan. Kema-hiran berpikir penyimak dikembangkan. memilah. Sambil berbicara pembicara dalam diskusi perlu penyimak respons pendengar lain. meng-hargai pemikiran dan pendapat penutur lain. Pembicara perlu menahan diri untuk tidak melakukan kasantunan monopoli bicara. yang relevan dengan kebutuhannya. 5. Penyimak terus menerus berpikir untuk menyaring informasi yang manarik perhatiannya. Artinya seorang pembicara yang baik seharusnya juga pandai menyimak.

Berlatih praktek sampai kompetensi ujaran. santun verbal dan nonverbal. sumber yang telah disiapkan siswa Transparensi dan pelengkapnya 10’ dan 5’ : 3-4 Uraian Materi Media Waktu Kegiatan Inti Catatan hasil 15’ persiapan. santun. toleran. Membahas proses kegiatan yang terinci d. intonasi. informasi dan pengalaman melalui kegiatan membaca dan menanggapi cerita Kompetensi Dasar : Menceritakan tokoh idola para penemu ilmu pengetahuan dengan mengemukakan identitas dan keungulan tokoh dan alasan mengidolakannya. alat perekam 15’ Instrumen/kriteria 15’ penilaian evaluasi diri 15’ 15’ 15’ 15’ . keteram-pilan ujaran. Dilakukan proses diskusi sesuai Rancangan. Diperlukan penguasan bahan pembicaraan. b. Sumber : Tokoh-tokoh yang mengubah dunia Waktu : 2 x 2 x 45” Pertemuan Langkahlangkah Pendahuluan a. toleran. Membahas tujuan. Laporannya bentuk tertulis b. dan empatik ter-capai dengan baik dilakukan secara spontan Hari pertama: a. Membahas program diskusi kelompok tentang tokoh penting dan mendiskusikan kriteria penilaian berbicara. intonasi. Pandai bicara dapat meningkatk an kesejahtera an c. perasan. kepribadian demokratis. sikap demokratis. pengorganisasian kelompok e. tata dan norma berdskusi Hari kedua: c. dan empatik d.Pembelajaran Inovatif 6-57 Contoh Model Pembelajaran Diskusi Kelompok Standar Kompetensi 10 : Berbicara: mengungkapkan pikiran. Membahas pengelompokan. Mengecek persiapan yang telah dirancang pada pertemujan sebelumnya.

Dilakukan diskusi simpulan hasil diskusi h. Melaporkan hasil diskusi kelompok j. Evaluasi diri setiap anggota kelompok i. Simpulan karakteristik tokoh pada umumnya d. Evaluasi oleh anggota kelompok lain l.6-58 Pembelajaran Inovatif topik f. Informasi baru tentang tokohtokoh c. Tanggapan terhadap laporan kelompok k. Menulis refleksi Penutup a. Tindak lanjut untuk memperluas wawasan e. Menulis refleksi 15’ 10’ Lembar simpulan 15 dan lembar refleksi . Dilakukan pengamatan evaluatif dan umpan g. Kesan-kesan dan kritik atas proses kegiatan b.

BUKU AJAR PENILAIAN PEMBELAJARAN .

BAB I. Kriteria penilaian kelas 5. Konsep dasar penilaian kelas 2. pahamilah. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. 1. dan praktikanlah. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Anda tengah memasuki wilayah bahan ajar pelatihan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Ranah penilaian kelas . 1) Memaparkan konsep dasar penilaian kelas 2) Memaparkan manfaat penilaian kelas 3) Memaparkan fungsi penilaian kelas 4) Memaparkan kriteria penilaian kelas 5) Memaparkan prinsip-prinsip penilaian kelas 6) Menjelaskan ranah penilaian kelas 7) Menjelaskan tata cara pelaksanaan penilaian kelas. Prinsip-prinsip penilaian kelas 6. Bacalah. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. B. KONSEP DASAR DAN PRINSIP PENILAIAN KELAS Selamat datang. Manfaat penilaian kelas 3. Fungsi penilaian kelas 4. A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan konsep dasar dan prinsip penilaian kelasl. C.

dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Oleh sebab itu. Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. 1. diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi. Konsep Dasar Penilaian Kelas Pada kurikulum baru (KTSP) penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian kelas. . Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. D. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan dinilai. informasi penyusunan sejumlah alat penilaian. penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan. pengolahan. penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum kompetensi. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Untuk itu. diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan.7-2 Penilaian Pembelajaran 7. yang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis melalui bukti menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik. Dari proses ini. Jadi. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan perencanaan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Pelaksanaan penilaian kelas.

peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru. seperti penilaian unjuk kerja (performance). dan penilaian diri. penilaian proyek. penilaian produk. Penilaian hasil belajar. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan kompetensi. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. b. Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut: a. baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. d. Manfaat Penilaian Kelas Pelaksanaan penilaian kelas tgerdapat beberapa manfaat yang dapat diambil. penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio). dan sumber belajar yang digunakan. kegiatan. penilaian sikap. e. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. pendekatan. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara. penilaian tertulis (paper and pencil test).Penilaian Pembelajaran 7-3 dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. c. 2. tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode. Dengan demikian. tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. dan kelemahannya dalam proses pencapaian .

baik untuk pemilihan program. a. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Fungsi Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki beberapa fungsi. c. 4. pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan). . Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan. d. Validitas Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. b. Kriteria Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki kriteria sebagai dasar acuan kualitas. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan. e.7-4 Penilaian Pembelajaran f. Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut: a. Keenam kriteria itu dipaparkan sebagai berikut. membuat keputusan tentang langkah berikutnya. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbagkan konsep penilaian kelas yang baik digunakan 3.

Keseluruhan/Komprehensif Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik. pengambilan keputusan dalam kelompok. Misalnya guru menilai dengan proyek kelas IX semester 2 untuk kompetensi dasar mempraktikkan perencanaan dasar-dasar kegiatan menjelajah alam bebas serta nilai kerja sama. . bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan). penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan). Terfokus pada kompetensi Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi. penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor. e. guru ingin menilai kompetensi dasar kelas IX semester 2: Memahami berbagai bahaya bencana alam. Untuk itu. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan atau tulis. berkesinambungan. Misal. Jika menggunakan tes pratek atau unjuk kerja penilaian tidak valid. Objektivitas Penilaian dikatakan objektif kalau penilaian itu menilaia apa yang seharusnya dinilai. Penilaian itu harus dilaksanakan secara obyektif. terencana. b. toleransi. tolong menolong. d. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas. penilaian harus adil. dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda.Penilaian Pembelajaran 7-5 Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur. c.

dan pengamatan tingkah laku. g. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. guru sebaiknya: a. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. Prinsip Penilaian Kelas Dalam pelaksanaan penilaian kelas harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian. proyek. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses. produk. observasi atau lainnya. portofolio. f. unjuk kerja. 5. e. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. dan ulangan kenaikan kelas. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. ulangan akhir semester. Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. c. dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian. d. Dalam melaksanakan penilaian.7-6 Penilaian Pembelajaran f. ulangan tengah semester. lisan. Mendidik Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. kemajuan. b. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah . Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.

Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar. kurikulum tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah berorientasi pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan. Agar penilaian objektif. Indikator tersebut menjadi acuan dalam merancang penilaian. satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Ranah Penilaian Kelas Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yang berbasis kompetensi didik. .Penilaian Pembelajaran 7-7 menyelesaikan beberapa kompetensi dasar. 6. Dengan kata lain. keterampilan. tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta kompetensi secara utuh yang merefleksikan tetapi pengetahuan. Kurikulum tersebut memuat sejumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran. guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian. (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya). dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun). Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap. Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan.

menghitung. dan 3) penetapan teknik penilaian. dan indikator. menceritakan kembali. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi. ciri-ciri. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar yang terkait. mempraktikkan. menyimpulkan. dan mendeskripsikan. a.7-8 Penilaian Pembelajaran 7. Penetapan Indikator Pencapaian kompetensi Indikator merupakan ukuran. 2) pemetaan standar kompetensi. yang menjadi bagian dari silabus. kompetensi dasar. membedakan. Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kelas Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. seperti: mengidentifikasi. mendemonstrasikan. Berikut contoh penetapan indikator mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs . pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator pencapaian kompetensi. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. karakteristik. dijadikan acuan dalam merancang penilaian.

2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat • : dikembangkan oleh guru b. Kompetensi Dasar.1 Menyimpul-kan Mampu menuliskan isi berita yang dibacakan dalam pokok-pokok berita yang didengarkan beberapa kalimat Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1. dan teknik penilaian.Penilaian Pembelajaran 7-9 Standar Kompetensi Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar Indikator pencapaian* 1. dan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian. Pemetaan Indikator Standar Kompetensi. kompetensi dasar. Berikut diberikan contoh pemetaan standar kompetensi. indikator. .

7-10 Penilaian Pembelajaran

Standar Kompeten si

Kompete nsi Dasar

Indikator

KK M

Teknik Penilaian Pe Port rfo Pr Pr o Tes rm od oy Foli en uk ek o t V

Memahami 1.1 wacana Menyi lisan m-pulmelalui kan isi berita kegiatan yang mendengar kan berita dibaca kan dalam bebera pa kalimat

Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

75

70

v

c. Penetapan Teknik Penilaian Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh: • • • Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja (performance). Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis. Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan maka teknik penilaiannya adalah proyek.

E. Rangkuman Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu.

Penilaian Pembelajaran 7-11

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian kelas, di antaranya untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Selain itu, ada beberapa fungsi penilaian kelas di antaranya menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan, yaitu validitas, reliabilitas, terfokus pada kompetensi, keseluruhan/Komprehensif, objektivitas, dan mendidik Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Di antaranya dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya 1) memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu dan 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani,

olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui 1) Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2) Ulangan, dan/atau

penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yangberbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran.

7-12 Penilaian Pembelajaran

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi, 2) pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, dan 3) penetapan teknik penilaian.

F. Latihan Soal Jawablah Pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Kemukakan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian kelas! 2. Kemukakan dan jelaskan manfaat penilaian kelas! 3. Kemukakan dan jelaskan fungsi penilaian kelas! 4. Coba Anda kemukakan dan jelaskan kriteria penilaian kelas! 5. Coba jelaskan prinsip-prinsip penilaian kelas! 6. Jelaskan ranah yang dinilai dalam penilaian kelas! 7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan penilaian kelas!

BAB II. TEKNIK-TEKNIK DAN RANAH PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dapat diperoleh guru manakala guru memahami makna dan fungsi teknik-teknik penilaiannya. Karena itu, bagianl ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting tentang teknik-teknik penilaian, seperti teknik-teknik penilaian dan ranah penilaian

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan teknik-teknik dan ranah penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui

pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. a. Memaparkan dan menerapkan teknik-teknik penilaian bahasa dan sastra Indonesia b. Memaparkan ranah-ranah penilaian

C. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut, berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. 1. Teknik-teknik penilaian 2. Ranah penilaian tersebut tergambarkan sebagai

7-14 Penilaian Pembelajaran

D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

1. Teknik-teknik Penilaian Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Beragam teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikatorindikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

a. Penilaian Unjuk Kerja Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian unjuk kerja. 1) Pengertian Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Dalam 2) teknik

Penilaian Pembelajaran 7-15

penilaian mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti berbicara/menceritakan

sesuatu. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan penilaian unjuk kerja perlu

mempertimbangkan hal-hal berikut Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. 2) Teknik Penilaian Unjuk Kerja Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk dilakukan

menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya

pengamatan atau observasi praktik berbicara yang beragam, seperti: lafal, intonasi, kelancaran, keberanian, dll. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen (1) daftar cek, (2) skala penilaian. ( 1) Daftar Cek (Check-list) Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik

7-16 Penilaian Pembelajaran

mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak

memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Perhatikan contoh Check list berikut.

Format Penilaian Berbicara Nama peserta didik: ________ No. 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Pilihan kata 5. Dll Skor yang dicapai Skor maksimum Keterangan: Baik mendapat skor 1 Tidak baik mendapat skor 0 (2) Skala Penilaian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Baik Tidak baik

memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum memiliki pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih

Penilaian Pembelajaran 7-17

dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Berikut ini diberikan contoh Rating Scale. Format Penilaian Berbicara Nama Siswa: ________ N o 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Dll. 5. Jumlah Skor Maksimum Keterangan penilaian: 1 = tidak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Jika seorang siswa memperoleh skor 25-32 dapat ditetapkan sangat kompeten 2) Jika seorang siswa memperoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten 3) Jika seorang siswa memperoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten 4) Jika seorang siswa memperoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten b. Penilaian Sikap Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian sikap. 2) teknik Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Nilai 1 2 3 4

7-18 Penilaian Pembelajaran

a) Pengertian Penilain Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah

kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

adalah sebagai berikut. • Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. • Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi,

Penilaian Pembelajaran 7-19

metodologi,

dan

teknik

pembelajaran

yang

digunakan.

Proses

pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah peningkatan

pemakaian ejaan dan tata tulis. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus kesalahan ejaan dan tata tulis tertentu (kegiatan cermat berbahasa). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program cermat berbahasa. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan pemakaian bahasa yang salah. • Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi menggunakan perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan catatan khusus tentang kejadian-kejadian

buku

7-20 Penilaian Pembelajaran berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian: BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK Mata Pelajaran Kelas Nama Guru : ___________________ : ___________________ : ___________________ Tahun Pelajaran : ___________________ SMP INSAN MULIA SEMARANG 2007 Contoh isi Buku Catatan Harian : No. Berikut contoh format buku catatan harian. Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadian .

Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku c. Nama Ahmad Mualimah . Catatan dalam lembaran buku tersebut.Penilaian Pembelajaran 7-21 Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. 2. . Contoh Format Penilaian Sikap dalam Praktik Berbicara: Perilaku Semangat BeriniPenuh Berlatih Nilai Keterangan siatif Perhatian intensif 1 2 2 3 3 3 3 2 9 10 Kurang Sedang No. Berikut contoh format Penilaian Sikap.. 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = amat baik b. Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. Keterangan diisi dengan kriteria berikut Nilai 18-20 berarti amat baik Nilai 14-17 berarti baik Nilai 10-13 berarti sedang Nilai 6-9 berarti kurang Nilai 0-5 berarti sangat kurang (2) Pertanyaan langsung Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal.. 3. Selain itu. Catatan: a. Misalnya.. 1. dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan.

Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah........ guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.... semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut... Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/sikap yang diamati: Nama peserta didik: ........ peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah.... Capaian ST T R S R Deskripsi perubahan Pertemuan ... keadaan.. Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan....... Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap.. atau hal yang menjadi objek sikap.... 1 2 3 4 ..Hari/Tgl. semester. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya. (3) Laporan pribadi Melalui penggunaan teknik ini di sekolah. Misalnya..... khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.7-22 Penilaian Pembelajaran bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Ketuntasan Hasil Belajar Minimal mata pelajaran penjaskes".... peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Prestasi Bahasa Indonesia di Sekolah" yang dicapai akhir-akhir ini....... kelas. No Deskripsi perilaku awal .

Penilaian Tertulis Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian tertulis yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian tertulis. yaitu: a) memilih jawaban. menggambar. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. 1) Pengertian Penilaian Tertulis Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. 2) Teknik Penilaian Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis. yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda (2) dua pilihan (benar-salah. tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. dan lain sebagainya. mewarnai. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban. Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari: 1) pertanyaan langsung 2) Laporan pribadi 3) Buku Catatan Harian c. dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi (2) jawaban singkat atau pendek . ya-tidak) (3) menjodohkan (4) sebab-akibat b) mensuplai jawaban.Penilaian Pembelajaran 7-23 Keterangan: a. Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku ST = perubahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah b.

dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi. Selain itu. isian singkat. pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. berpikir logis. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan cakupan materi yang luas. misalnya mengemukakan pendapat. . Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas.7-24 Penilaian Pembelajaran (3) uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri. maka peserta didik akan menerka. dan menyimpulkan. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya. Karena itu. tes memilih jawaban benarsalah. memahami. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran.

c) konstruksi. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.. misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi. pengolahan. d.. Penilaian Proyek Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian proyek yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian proyek. . . 1) Pengertian Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. pengorganisasian. d) bahasa. Contoh Penilaian Tertulis Mata Pelajaran Kelas/Semester : Bahasa dan Sastra Indonesia : IX/1 Mensuplai jawaban (Bentuk Uraian) 1. dan penyajian data. Cara Penskoran: Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. pengumpulan data.. . misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. Semakin lengkap dan tepat jawaban. 3..Penilaian Pembelajaran 7-25 b) materi. Ceritakan kembali secara ringkas cerpen Robohnya Surau Kami! 2. semakin tinggi perolehan skor. kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum.

• Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. Untuk itu. pengumpulan data. • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. • Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. proyek dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan kemampuan mengaplikasikan. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. penyelidikan. dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. dan penyiapkan laporan tertulis. analisis data. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut. b) Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. Berikut diberikan dalam penilaian proyek: beberapa contoh kegiatan peserta didik a) penelitian sederhana tentang peningkatan kesegaran jasmani melalui alat modern di rumah.7-26 Penilaian Pembelajaran Penilaian pemahaman. proses pengerjaan. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. sampai hasil akhir proyek. dan . guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. seperti penyusunan disain.

Penilaian Produk Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian produk yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian produk. e. . Rumusan Judul 2. Performans b. Penarikan Kesimpulan 3. Kuantitas Sumber Data d. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Proyek : Perkembangan Cerpen Indonesia Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : IX/1 No Aspek * Skor (1 – 5)** 1. Sistematika Penulisan b. Analisis Data e. Semakin lengkap dan tepat jawaban.Penilaian Pembelajaran 7-27 b) Penelitian sederhana tentang perkembangan prestasi olahraga daerah. Presentasi / Penguasaan Total Skor Keterangan: * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Keakuratan Sumber Data/Informasi c. Persiapan b. Pelaksanaan a. semakin tinggi perolehan skor. Laporan Proyek a. Perencanaan: a.

. alat. • Tahap pembuatan produk (proses). • Tahap penilaian produk (appraisal). jaring. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian sebagai berikut. lapangan. menggali. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. b) Cara holistik. dan lain-lain. a) Cara analitik.7-28 Penilaian Pembelajaran a) Pengertian Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. b) Teknik Penilaian Produk Teknik penilaian produk yang biasanya digunakan adalah cara holistik atau analitik. dan mendesain produk. dan teknik. dan mengembangkan gagasan. seperti: bola. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. • Tahap persiapan. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk.

Inovasi Total Skor Keterangan: Aspek * Penggunaan Pilihan Kata * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Kebersihan dan kerapian 3. Penilaian Portofolio Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian portofolio. semakin tinggi perolehan skor. f. 2. Persiapan penulisan b. 1) Pengertian Penilain Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Hasil Produk a. Proses penulisan a. Bentuk Fisik (Unsur Instrinsik) b. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-29 Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Menulis Cerpen : 2 Minggu Kelas : Skor (1 – 5)** Nama Siswa : ______________________ IX/1 No 1. Semakin lengkap dan tepat jawaban. Teknik penulisan c. .

Dengan demikian. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. sinopsis. Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. sendiri. antara lain: karangan. saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. antara lain: a) Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu buku/ literatur. guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik melakukan perbaikan. b) Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya. resensi laporan penelitian. dsb. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan d) guru Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan . Berdasarkan informasi perkembangan tersebut.7-30 Penilaian Pembelajaran hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah. dan terus dapat portofolio memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya.

2) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkahlangkah sebagai berikut: a) Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio. f) Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. tetapi . h) Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan. tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik. e) Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan.Penilaian Pembelajaran 7-31 Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. g) Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. dan minatnya. keterampilan. tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.

serta bagaimana cara memperbaikinya. misalnya 2 . g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. kelengkapan gagasan. Dengan demikian. antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan. yaitu: penggunaan tata bahasa. pemilihan kosa-kata. b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. dan sistematika penulisan. untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangankarangannya. Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan tentang olah raga. Contoh. bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Misalnya. c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di madrasah. Guru dapat membimbing peserta didik. peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. e) Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya . Namun. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan.7-32 Penilaian Pembelajaran membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. d) Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

100. Tata bahas a Kos a kata Kelengkap an gagasan Sistemati ka penulisan Ke t Kelas : 2. Menulis karangan Perkembangan Olahraga Daerah Peri ode 30/7 10/8 dst. undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio. jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika perlu.10 atau 0 . . semakin tinggi skor yang diberikan. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai.Penilaian Pembelajaran 7-33 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. Membuat 1/9 resensi buku 30/9 Olahraga 10/1 0 Dst. Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Alokasi Waktu : 1 Semester Nama Siswa : _________________ VIII/1 Kriteria Standar No Kompetensi/Ko mpetensi Dasar 1. Catatan: Setiap karya siswa sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik. sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 . h) Bila perlu.

7-34 Penilaian Pembelajaran g. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. . Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. dan psikomotor. 1) Pengertian Penilaian Diri Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Penilaian Diri (self assessment) Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian diri yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian diri. • Penilaian kompetensi kognitif di kelas. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. misalnya. afektif. misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. • Penilaian kompetensi afektif. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. Selanjutnya. • Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik.

4) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. Oleh karena itu. 6) Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian secara acak. terhadap sampel hasil penilaian yang diambil . dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian. 2) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. • dapat mendorong. membiasakan. untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. dapat berupa pedoman penskoran. 5) Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak.Penilaian Pembelajaran 7-35 • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika mereka melakukan penilaian. b) Teknik Penilaian Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. 1) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai. 3) Merumuskan format penilaian. atau skala penilaian. daftar tanda cek. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Lagi pula. interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Dasar Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham 2. S. pengetahuan dan sikap seseorang. Kompetensi / K. keterampilan. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran. Domain Penilaian Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. 2. seperti . Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir.7-36 Penilaian Pembelajaran Contoh Penilaian Diri Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kognitif : 1 Semester Kelas : Nama Siswa : _________________ IX/1 Tanggapa n 1 0 No 1. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Dst Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya.

peristiwa. daftar. rumus. afektif. teori.Penilaian Pembelajaran 7-37 domain kognitif. dan kesimpulan. tahun. a. konsep. definisi. Pengetahuan Deskripsi Arti : • Pengetahuan terhadap fakta. Berikut ini kan dipaparkan ketiga jabaran domain tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk penilaian yang tepat untuk mata pelajaran penjaskes. nama. Contoh kegiatan belajar: • mengemukakan arti • menamakan (memberi nama) • membuat daftar • menentukan lokasi • mendeskripsikan sesuatu • menceritakan apa yang terjadi . Domain Kognitif TINGKATAN DOMAIN KOGNITIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Evaluasi Sintesis Analisis Penerapan Pemahaman Pengetahuan KEMAMPUAN BERPIKIR (KOGNITIF) Bloom Tingkat I. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap.

dan penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: • mengungkapkan gagasan/pendapat dengan katakata sendiri • membedakan. Sintesis . dan antar-data. membandingkan • mengintepretasi data • mendiskripsi dengan kata-kata sendiri • menjelaskan gagasan pokok • menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti : • Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah • Menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan belajar: • menghitung kebutuhan • melakukan percobaan • membuat peta • membuat model • merancang strategi Arti : • Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. Pemahaman • menguraikan apa yang terjadi Arti : • Pengertian terhadap hubungan antar-faktor. Aplikasi IV. penyelesaian. antar konsep.7-38 Penilaian Pembelajaran II. hubungan sebab-akibat. Contoh kegiatan belajar: • mengidentifikasi faktor penyebab• merumuskan masalah • mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi • membuat grafik • mengkaji ulang Arti : • Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep • Meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: • membuat desain • mengarang komposisi lagu • menemukan solusi masalah • memprediksi • merancang model mobil-mobilan. pesawat sederhana III. Analisis V. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut.

baik-buruk.Penilaian Pembelajaran 7-39 VI. bermanfaat-tak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: • mempertahankan pendapat • beradu argumentasi • memilih solusi yang lebih baik • menyusun kriteria penilaian • menyarankan perubahan • menulis laporan • membahas suatu kasus • menyarankan strategi baru. b. Evaluasi • menciptakan produk baru Arti : • Mempertimbangkan dan menilai benarsalah. Domain Afektif TINGKATAN DOMAIN AFEKTIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Karakterisasi Pengorganisasian Penilaian Pemberian respon Penerimaan KEMAMPUAN BERSIKAP/NILAI (AFEKTIF) Kratwohl.dkk .

lebih menyukai. Responsi (Responding) III. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: • mengapresiasi seni • menghargai peran • menunjukkan keprihatinan • menunjukkan alasan perasaan jengkel • mengoleksi kaset lagu. atau barang antik • melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran II.7-40 Penilaian Pembelajaran Tingkat I. ingin. puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: • mentaati aturan • mengerjakan tugas • mengungkapkan perasaan • menanggapi pendapat • meminta maaf atas kesalahan • mendamaikan orang yang bertengkar • menunjukkan empati • menulis puisi • melakukan renungan • melakukan introspeksi Arti : • Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai •Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti •Tingkatan: menerima. novel. Acuan nilai (Valuing) . Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : • Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli • Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar: • sering mendengarkan musik • senang membaca puisi • senang mengerjakan soal matematika • ingin menonton sesuatu • senang membaca cerita • senang menyanyikan lagu Arti : • Menunjukkan perhatian aktif • Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena • Setuju.

berdisiplin diri • mandiri dalam bekerja secara independen • objektif dalam memecahkan masalah • mempertahankan pola hidup sehat • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan • menyarankan pemecahan masalah HAM • menilai kebiasaan konsumsi • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman V.Konseptualisasi suatu nilai Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: • bertanggung jawab terhadap perilaku • menerima kelebihan dan kekurangan pribadi • membuat rancangan hidup masa depan • merefleksi pengalaman dalam hal tertentu • membahas cara melestarikan lingkungan hidup • merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan Arti : • Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter • Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu. dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu. diorganisasi secara konsisten. • Menentukan saling hubungan antarnilai • Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana • Tingkatan : . Organisasi HAM • menjelaskan alasan senang membaca novel Arti: • Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam latu sistem. Karakterisasi (menjadi karakter) .Penilaian Pembelajaran 7-41 IV. tepat waktu. Contoh kegiatan belajar: • rajin.

berjalan. juru parkir • meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin. Gerakan refleks Deskripsi Arti : • Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak • Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat. memegang Contoh kegiatan belajar: • mengupas mangga dengan pisau • memotong dahan bunga • menampilkan ekspresi yang berbeda • meniru gerakan polisi lalu lintas. menggerakkan leher dan kepala. mengenggam. Gerakan dasar (Basic fundamental movements) . Arti: • Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik • Gerakan ini terpola dan dapat ditebak II.7-42 Penilaian Pembelajaran c. menunduk. Domain Psikomotor TINGKATAN DOMAIN PSIKOMOTOR TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN NATURALISASI MERANGKAIKAN KETEPATAN MENGGUNAKAN MENIRU KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR) Tingkat I.

kaki. pingpong • membedakan bunyi beragam alat musik • membedakan suara berbagai binatang • mengulangi ritme lagu yang pernah didengar • membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : • Gerak lebih efisien • Berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: • menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu • berlari jauh • mengangkat beban. berputar • Contoh gerakan berpindah: merangkak. Gerakan terampil . tangkas. kegiatan memperkuat lengan. meluncur. memanjat • Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok. menarik-mendorong. atau mainan • Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola. memegang dan melepas objek. mendorong. menarik. blok. mendrible bola • melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan • memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang kurannya bervariasi • membaca • melihat terbangnya bola pingpong • melihat gerak pendulun • menggambar simbol geometri • menulis alfabet • mengulangi pola gerak tarian • memukul bola tenis. pemain bola Arti : • Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak •Terampil. berputar mengitari. membungkuk. memeluk. meloncatloncat. Arti: • Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: • menangkap bola. merentang. melakukan push-ups. menggambar dengan crayon. pemain biola. menggunting. maju perlahan-lahan. dan perut • menari • melakukan senam • melakukan gerak pesenam. cekatan melalukan gerakan IV. berlari. Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities) V.Penilaian Pembelajaran 7-43 III. menggambar. Gerakan persepsi (Perceptual abilities) Contoh kegiatan belajar: • Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. berjalan.

afektif. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik di SMP/MTs. melukis. penilaian tertulis. dan penilaian diri. . menari balet. penilaian produk. yaitu penilaian unjuk kerja. penggunaan portofolio. melakukan senam tingkat tinggi. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain.7-44 Penilaian Pembelajaran (Skilled movements) yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar: • melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga • menari. Rangkuman Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. seperti domain kognitif. penilaian sikap. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. penilaian proyek. Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication) E. berdansa • membuat kerajinan tangan • menggergaji • mengetik • bermain piano • memanah • skating • melakukan gerak akrobatik • melakukan koprol yang sulit Arti : • Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan • Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah • Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: • kerja seni yang bermutu (membuat patung. bermain drama (acting) • keterampilan olahraga tingkat tinggi VI.

coba anda diskusikan salah satu bentuk tes pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan materi kesegaran jasmani? Perhatikan pelaksanaan tes tersebut harus menghemat waktu! . cara mana yang menurut anda paling cocok buat anda sendiri? 5. Jelaskan teknik-teknik penilaian yang dapat digunakan untuk penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. Selain bentuk yang sudah diuraikan di atas. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.Penilaian Pembelajaran 7-45 F. Sebutkan salah satu tes keterampilan berbicara yang dapat menghemat waktu pelaksanaannya? 3. Dari beberapa tes pengetahuan dan sikap. Buatlah salah satu bentuk daftar cek yang berisikan skill-skill yang menurut anda layak dikuasai oleh siswa setelah taat kelas IX SMP/MTs? 4.

Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. seperti konsep memilih teknik penilaian dan contoh implementasi pemilihan teknik penilaian. Contoh implementasi pemilihan teknik dan bentuk penilaian. PEMILIIHAN TEKNIK PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP/MTS Pembahasan tentang pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTS sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. Konsep memilih teknik dan bentuk penilaian 2. C. B. 2. Menerapkan jenis teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut 1. Karena itu. Menentukan jenis teknik dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. 1.BAB III. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. . berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. A. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya.

Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. dan sikap seseorang. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Tulislah simpulan isi berita yang . Lagi pula. Contoh Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas/Semester : VII/1 : Memahami wacana lisan melalui kegiatan Standar Kompetensi mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1.1 Indikator Materi Pembelajaran Teks Berita •Pokokpokok berita •Simpulan isi berita Menyimp ul-kan isi berita yang dibacaka n dalam beberapa Mampu menyimpulkan kalimat isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen Esai. Tuliskan objektif pokokpokok berita Nontes: yang tugas didengar harian dari rekaman guru! 2. hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Tes 1. Dalam memilih teknik penilaian. keterampilan. Berikut diberikan contoh teknik penilaian yang mungkin dapat digunakan dalam menilai kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP?MTs.Penilaian Pembelajaran 7-47 D. pengetahuan.

Tulislah Esai po-kokpokok cerita pengalaman yang paling mengesankan! Kinerja Nontes: 2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunaka n pilihan kata dan kalimat efektif Indikator Materi Pembelajaran Pengalaman yang mengesankan • Pokokpokok cerita • Cara bercerita Penilaian Bentuk Contoh Instrumen Instrumen 1. objketif Tuliskan kembali berita yang didengar dari rekaman guru ke dalam beberapa kalimat! Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Kelas/Semester : VII/1 Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman Kompetensi Dasar 2. tugas Ceritakanla individual h pengalaman yang paling mengesank an dengan menggunak an pilihan Jenis Tagihan Tes Mampu menentukan pokok-pokok cerita Mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif .7-48 Penilaian Pembelajaran kamu dengarka n dari rekaman guru! 1.2 Menulisk an kembali berita yang dibacaka n ke dalam beberapa kalimat Teks Berita •Isi Berita Tes Nontes: tugas harian Esai.

Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran penjaskes di MA di antaranya unjuk kerja. dan tes tertulis/lisan/kuis.2 Teks pengumuman Menyampai • Pokokkan pokok cerita pengumum • Cara an dengan Mampu menyampaik intonasi menyampaikan an yang tepat pengumuman pengumuma serta dengan n menggunak intonasi yang an kalimattepat serta kalimat yang lugas menggunakan kalimat yang dan sederhana lugas dan sederhana Mampu menuliskan pokok-pokok pegumuman. penilaian diri. Lagi pula. Latihan Soal . pengetahuan. observasi. Tulislah pokokpokok pegumuman ! 2. Rangkuman Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Tes Esai kata dan kalimat efektif! 1. E. keterampilan.Penilaian Pembelajaran 7-49 2. dan sikap seseorang. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Sampaikan pengumuma n dengan intonasi yang tepat serta menggunak an kalimat yang lugas dan sederhana! kinerja Nontes: tugas individual D.

Jelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menilai Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. gestur.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarka n 5.7-50 Penilaian Pembelajaran Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7.1 Bercerita dengan urutan yang baik.2 Bercerita dengan alat peraga 7.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca . dan mimik yang tepat 6.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang 6. lafal. Perhatikan kompetensi dasar berikut dan tentukan jenis penilaiannya! Kompetensi Dasar Indikator Materi Pembelajaran Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen 5. intonasi. suara.

Penilaian Pembelajaran 7-51 8.1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar .

PENGUMPULAN. B. Memaparkan cara pengumpulan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP b. cara penskoran. Memaparkan cara pelaporan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP . penskoran. cara penskoran. seperti cara pengumpulan. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. a. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. A. dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah/madrasah.7-52 Penilaian Pembelajaran BAB IV. Standar Kompetensi Setelah mempelajari bagian ini peserta diklat PLPG diharapkan mampu mendeskripsikan dan menerapkan cara pengumpulan. Memaparkan cara penskoran informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP c. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. DAN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pengumpulan. dan cara pelapran informasi hasil belajar. dan cara pelapran informasi hasil belajar. Karena itu. PENGOLAHAN.

Pengelolaan informasi hasil belajar 10. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. 8. Berikut dipaparka beberapa cara pengumpulan informasi hasil belajar. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Pengumpulan informasi hasi belajar 9. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Pengumpulan informasi hasil belajar Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung.Penilaian Pembelajaran 7-53 C. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Pelaporan informasi hasil belajar D. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. No. Cara Pengumpulan Informasi (Cara Penilaian) 1 2 3 4 5 6 7 Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk kerja Produk Portofolio Observai/pengamatan Jawaban tertulis Jawaban tertulis Tuturan/ucapan Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah laku Aspek yang Dinilai tersebut tergambarkan sebagai . 1. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar.

5. . maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar. skor maksimumnya 8. Data Penilaian Unjuk Kerja Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi.7-54 Penilaian Pembelajaran 2. Nilai 7. Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 -100). Misalnya. menatap kepada hadirin.75 x 10 = 7. penyampaian gagasan jelas. sistematis. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0. Pengolahan Hasil Penilaian a. antara lain: berdiri tegak. dan sebagainya. Data Penilaian Sikap Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran. Dengan demikian. b. dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato. ada 8 aspek yang dinilai.5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%. peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya. Apabila seseorang mendapat skor 6.

jawaban singkat. Yang dimaksud dengan kejadian-kejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian. guru mata pelajaran dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan. Pada akhir semester. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku. sebagai deskripsi dari sikap. menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan. guru mata pelajaran merumuskan sintesis. atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol. uraian. Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda.Penilaian Pembelajaran 7-55 Seperti telah diutarakan sebelumnya. baik positif maupun negatif. sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor. Data Penilaian Tertulis Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik. . perilaku. benar salah. berdasarkan catatancatatan tentang peserta didik yang dimilikinya. dan unjuk kerja peserta didik. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. baik berupa peringatan atau rekomendasi. Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. yang berkaitan dengan sikap. perilaku. dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. c. Selain itu. menjodohkan.

uraian objektif dan uraian non-objektif. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu. menjodohkan. dikali dengan 10. karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar -----------------------------. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu . Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar. Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar.7-56 Penilaian Pembelajaran Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah.5. dibagi skor maksimal. Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar. dan jawaban singkat. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1.X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah. misalnya 0 . Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif. Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik. bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti.

Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai. . Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. data yang diperoleh dengan masing-masing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot. Data Penilaian Proyek Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahaptahap: perencanaan/persiapan. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10.Penilaian Pembelajaran 7-57 kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. Berikut tabel yang memuat contoh deskripsi dan penskoran untuk masing-masing tahap. pengolahan data. nilai 6. Misalnya. Dalam menilai setiap tahap.50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut. guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. pengumpulan data. dengan dua angka di belakang koma. dan penyajian data/laporan. d. Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban. Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran.

Informasi tentang data penilaian produk diperoleh dengan menggunakan cara holistik atau cara analitik. yaitu tahap persiapan. bahan/alat. Data Penilaian Produk Data penilaian produk diperoleh dari tiga tahap. Merumuskan topik. Dengan cara holistik. waktu.4 Keterangan: Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh. guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan. e. merumuskan tujuan penelitian.4 1. Cara penilaian analitik. jadwal. dan tahap penilaian (appraisal). . tempat penelitian.7-58 Penilaian Pembelajaran Tahap Perencanaan/ persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data/ laporan Deskripsi Memuat: topik. tahap pembuatan (produk). guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0 – 10 atau 1 – 100.4 1. jelas dan lengkap. Penyajian data lengkap. menguraikan cara kerja (langkah-langkah kegiatan) Penulisan laporan sistematis. Total Skor Skor 1. yaitu mulai dari tahap persiapan. penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian. langkah-langkah kerja.4 1. daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan. menggunakan bahasa yang komunikatif. dan tahap penilaian. perkiraan data yang akan diperoleh. Data tercatat dengan rapi. memuat kesimpulan dan saran. Ketepatan menggunakan alat/bahan Ada pengklasifikasian data. tahap pembuatan. menuliskan alat dan bahan. tujuan.

• semakin baik kemampuan yang ditampilkan. dan (3) profil perkembangan peserta didik. (5) presentasi dan (6) penampilan. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio. (4) ringkasan setiap dokumen. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru. (2) hasil pekerjaan peserta didik. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat. (3) perkembangan dokumen. Data penilaian Portofolio Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi . • mendesain produk. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. • Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan/fungsinya. (2) dokumentasi/data dalam folder. Skor 1-10 Pembuatan Produk 1-10 Penilaian produk 1-10 Kriteria penskoran: • menggunakan skala skor 0 – 10 atau 1 – 100.Penilaian Pembelajaran 7-59 Contoh tabel penilaian analitik dan penskorannya Tahap Persiapan Deskripsi Kemampuan merencanakan seperti: • menggali dan mengembangkan gagasan. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik. menentukan alat dan bahan • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan. • Produk memenuhi kriteria keindahan. semakin tinggi skor yang diperoleh. f.

ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam melakukan penilaian. Kedua. hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan.100. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 – 10 atau 0 . dikali dengan 10 atau 100. dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Pertama. Pada taraf awal. sangat terbuka kemungkinan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. karena peserta didik belum terbiasa dan terlatih.7-60 Penilaian Pembelajaran peserta didik pada selang waktu tertentu. karena terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai . Data Penilaian Diri Data penilaian diri adalah data yang diperoleh dari hasil penilaian tentang kemampuan. atau penguasaan kompetensi tertentu. kecakapan. g. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut. Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 – 100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai. yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. karena dua alasan utama.

dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru. diinterpresikan. guru perlu melakukan langkah-langkah telaahan terhadap hasil penilaian diri peserta didik. objektif. dikoreksi. Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipercaya serta dapat dipahami.d. Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. dan jujur. Kriteria ideal untuk masingmasing indikator lebih besar dari 60%. 20% untuk ditelaah. Oleh karena itu. para peserta didik menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik. guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali. dan dilakukan penilaian ulang. Guru perlu mengambil sampel antara 10% s. pada taraf awal. dengan menunjukkan catatan tentang kelemahan-kelemahan yang telah mereka lakukan dalam koreksian pertama. Apabila hasil koreksi ulang yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi. Namun sekolah dapat . Apabila peserta didik telah terlatih dalam melakukan penilaian diri secara guru. Interpretasi Hasil Penilaian dalam Menetapkan Ketuntasan Belajar Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu ke indikator. Dua atau tiga kali guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini. 3. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung.Penilaian Pembelajaran 7-61 yang baik.

Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas lebih dari 50%. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar secara berkala. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. peserta didik dapat mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. dapat dikatakan peserta didik itu belum menuntaskan indikator itu. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. 60% atau 70%. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas sama atau lebih dari 50%. . Hasil penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). Namun. apabila nilai indikator dari suatu KD lebih kecil dari kriteria ketuntasan. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. apakah 50%. Apabila semua indikator telah tuntas. Dengan demikian. Sebaliknya. Melalui pemeringkatan ini diharapkan sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya.7-62 Penilaian Pembelajaran menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. dalam hal ini meningkatkan kriteria pencapaian indikator semakin mendekati 100%. misalnya melalui ujian nasional. peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya.

Penilaian Pembelajaran 7-63 Contoh penghitungan nilai kompetensi dasar dan ketuntasan belajar pada suatu mata pelajaran. Nilai rata-rata indikator 2: 60 + 75 --------.= 67. nilai kompetensi dasar di atas 60 dan 75. . E. peserta didik perlu mengikuti remedial untuk indikator tersebut. indikator ke. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum.5 2 Pada kompetensi dasar di atas. Kompetensi Dasar 2.1 Kriteria Ketuntasa n 75% Nilai peserta didik 60 Ketuntasa n Tidak Tuntas 70% 75 Tuntas Indikator Mampu Menceri menentukan pokokpokok cerita takan pengalam Mampu an yang menceritakan paling pengalaman yang mengesa paling nkan mengesankan dengan menggun dengan menggunakan akan pilihan kata dan pilihan kalimat efektif kata dan kalimat efektif Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa nilai indikator pada kompetensi dasar di atas bervariasi. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Jadi. Jadi. Rangkuman Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung.1 belum tuntas.

seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. . produk. lisan. Dengan demikian. Jelaskan bagaimana cara pengolahan data cara-cara penilaian berikut ini. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%.7-64 Penilaian Pembelajaran Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. Hasil engolahan data ini selanjutnya dilakukan interpretasi. apakah 50%. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Namun. Jelaskan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia peserta didik di SMP? 2. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. Cara itu antara lain tertulis. unjuk kerja. Pengolahan data hasil penilaian disesuaikan dengan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. F. Kriteria ideal untuk tiap-taip indikator lebih besar dari 60%. Apabila semua indikator telah tuntas. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. porfolio. Interpretasi hasil penilaian adalah proses mencocokkan hasil penilaian dengan Kriteria Ketuntasan Minimal. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. dan observasi. 60% atau 70%.

g. f. unjuk kerja. porfolio. lisan. observas. tertulis. penilaian diri 3.Penilaian Pembelajaran 7-65 a. produk. c. d. b.Jelaskan bagaimana seorang anak dikatakan telah menuntaskan hasil belajar KD! . e.Jelaskan apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan KKM! 4. dan .

berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Karena itu. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu memaparkan cara pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. A. . Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. modul ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pemanfaatan dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. seperti pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya.BAB V. 1) Memaparkan cara pemanfaatan penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP 2) Memaparkan cara membuat pelaporan hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP C. B.

Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. a) Bagi peserta didik yang memerlukan remedial Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi. guru kelas. dan (5) penentuan kenaikan kelas. Pemanfaatan Hasil Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal. Pelaporan hasil belajar Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi . Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. 1. Pemanfaatan penilaian 2. atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran. Pemanfaatan hasil penilaian di antaranya sebagai berikut. bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Misalnya. 1.Penilaian Pembelajaran 7-67 D. (4) pelaporan. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya.

Salah satu kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan. dan memperbaiki program pembelajarannya. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai npeserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran. guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum. program yang telah dirancang. c) Bagi Guru Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat. atau mengerjakan tugas mengumpulkan data. Oleh karena itu. kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan. b) Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru. Misalnya. dan bahan yang telah . atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif. latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. membuat rangkuman pelajaran. strategi pembelajaran yang telah disiapkan.7-68 Penilaian Pembelajaran kesempatan untuk belajar sendiri. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas. dapat diberikan program akselerasi. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan.

dan instansi terkait lainnya. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester. masyarakat. . transparansi dan akuntabilitas publik. Laporan sebagai Akuntabilitas Publik Kurikulum berbasis kompetensi dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. dan akurat. di mana peran-serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja. laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. Pelaporan hasil belajar hendaknya: • Merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik • Memberikan informasi yang jelas. Pelaporan Hasil Penilain Kelas a. orang tua. direvisi. Atas dasar itu. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. komprehensif. karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat. tetapi juga di bidang akademik.Penilaian Pembelajaran 7-69 disiapkan perlu dievaluasi. d) Bagi Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan Kepala sekolah untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa. komite sekolah. 2. atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat.

Isi Laporan Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: • • • • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik. makna nilai tunggal seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. Bentuk Laporan Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. c. Dipihak anak. statistika. Namun. misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika. sosial dan emosional? Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? . Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami). ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan. aljabar. atau hal lain.7-70 Penilaian Pembelajaran • Menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar b. Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti apakah anaknya perlu dibantu dalam bidang aritmatika. fisik. geometri. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor). Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik. sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya.

yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD. sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. • • • • • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami. hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. nilai tugas perseorangan maupun kelompok. Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-71 Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak. . tes sumatif. d. Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik. Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif. Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. dalam kurun waktu 1 semester.

. Laporan prestasi mata pelajaran. Rapor Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK. E. Rangkuman Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) ..7-72 Penilaian Pembelajaran CONTOH FORMAT REKAP NILAI MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris KELAS/SEMESTER : TAHUN PELAJARAN : Mendengarkan NA NO MA 1 Riri Berbicara Membaca Menulis Kd 2 Kd 3 .. N R Kd K K .. N K K K .. N K K K . Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik.. berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. (Contoh model rapor beserta petunjuk pengisiannya lihat lampiran ). KD dan Indikator semester bersangkutan. N Kd 1 d d R d d d R d d d R 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2 Toto * NR = nilai rata-rata KD untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada rapor e. masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya.. karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). Untuk model rapor..

Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. Jelaskan bentuk laporan yang idela untuk penjaskes di MA! 4. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. orang tua. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. dan (5) penentuan kenaikan kelas. Jelaskan apa yang dimaksud laparan sebagai akuntabilitas publik! 3. dan instansi terkait lainnya. (4) pelaporan. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. F. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. Bagaimana cara menantukan nilai rapor penjaskes di MA! . komite sekolah. Jelaskan pemanfaatan hasil penilaian penjaskes peserta didik di MA? 2. Jelaskan apa saja isi laporan hasil belajar penjaskes di MA! 5.Penilaian Pembelajaran 7-73 bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. masyarakat.

yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan sehingga mengandung unsur subjektivitas. untuk menunjukkan bahwa peserta didik itu kompetensi dasar tertentu. Jenis tagihan: golongan tagihaan menurut klasifikasi menjadi kuis. tidak berhenti pada suatu saat. telah memiliki pertanyaan. penafsiran hasil pengukuran. dan perilaku. Berkesinambungan: berkelanjutan. perbuatan.7-74 Penilaian Pembelajaran Lampiran: GLOSARIUM Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap Analisis : kajian terhadap suatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. kemmapuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik dari standar kompetensi. ciri-ciri. penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Bentuk tes:olongan tes menurut penggolongan menjadi tes pilihan ganda. dsb. lisan di kelas/ulangan harian. tugas individu. tugas kelompok. Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan. tanda-tanda. atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya. keterampilan. Indikator : karakteristik. Asesmen : penilaian. Keandalan tes: kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg atau konsisten. tes uraian. dsb. Evaluasi : kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program. kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program. .

Tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. dan mengungkapkan sikap peserta didik itu terhadap mata pelajaran tertentu. laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan.Penilaian Pembelajaran 7-75 Kuis : ulangan singkat atau ujian singkat. Reliabilitas: kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. pemahaman pesert didik itu atas materi pelajaran. Nilai yang diberikan itu diharapkan dapat mencerminkan kemajuan belajar anak Portofolio: kumpulan hasil karya seorang peserta didik. sejumlah hasil karya seorang peserta didik. baik lisan maupun tertulis. : pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. Penilaian :proses menetapkan nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen atau pengukuran. Pengujian Pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. Validitas: kemampuan alat ukur yang mempengaruhi fungsinya sebagai alat ukur. kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran. Ujian : proses kualifikasi kemampuan peserta didik pada ranah kognitif dan psikomotor. Standar kompetensi: kemammpuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran. . alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur. kemampuan peserta didik itu dalam mengungkapkan gagasan. perkembangan peserta didik itu dalam kemampuan berpikir. kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik.

.

Jakarta: BSNP-Direktorat Pembinaan SMP. 2002. . 2007. Jakarta: Direktorat TK-SD. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. 2002. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Nurgiyantoro. Yogyakarta: BPFE. Direktorat TK-SD. dan MI. 2001. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menegah Umum. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU): Pedoman Umum. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama: Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Direktorat Menengah Umum. 2004. Depdiknas. Standar Isi. SDLB. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas.Penilaian Pembelajaran 7-1 DAFTAR PUSTAKA BSNP. SLB Tingkat Dasar. Burhan. 2002. Puskur.

Ada beberpa alternatif alternatif yang dapat digunakan guru untuk menghemat waktu dan lebih bermanfaat bagi para siswa dalam melakukan penilaian di antaranya sebagai berikut kecuali . a. untuk mengukur prestasi hasil belajar bisa satu alat penilaian d. produk 5. mengetes sendiri dan dengan partner b. Tes Mandiri Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf A. penilaian diri d.. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. mengetahui keberadaan siswa d. menggunakan orang lain 4. unjuk kerja b. tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap b. mengetahui keberhasilan guru 6. mengatahui kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu c. a. ada alat penilaian yang secara lengkap mengumpulkan prestasi hasil belajar c. mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung b. Guru dalam melakukan penilaian pembelajaran di kelas. terutama digunakan untuk …..7-2 Penilaian Pembelajaran A. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP di antaranya sebagai berikut.. tes kecermatan berbahasa b. melibatkan orang lain c. kecuali . tes sikap 7. tes keterampilan berbahasa c. C atau D! 1. kecuali … a. B. tes pengetahuan d. a. bagian dari proses pembelajaran d. alat penilaian semuanya baik . Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebagai berikut a.. observasi c.

. produk 10. kebesamaan. Untuk mengukur KD Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri. penilaian diri d. Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan sebagai berikut kecuali … a.. a. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat permainan . saling menghormati. unjuk kerja b. penghargaan guru dan siswa . etika..Penilaian Pembelajaran 7-3 6... Observasi c. a. kebesamaan. saling menghormati. observasi c.... produk 8. kebesamaan. etika.. observasi c. kebesamaan. toleransi. toleransi. a. toleransi. a.. produk 9. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat penilaian .. saling menghormati. penilaian diri d. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri. saling menghormati. observasi c. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . toleransi. pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan c. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri. penilaian diri d. unjuk kerja b. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . produk 7. unjuk kerja b. perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan b. penilaian diri d. etika. unjuk kerja b. etika. perbaikan program dan proses pembelajaran d.

umat kokoh. sebaiknya Anda pelajari kembali bagian-bagian yang belum Anda kuasai dan mantapkanlah untuk mencapai skor kemmapuan di atas 80%. membaca literatur lain. layak Anda mendapat ucapan selamat untuk sukses! Sebaliknya. Karena itu. siswa mampu. atau konsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang kompeten. Ini berarti kesuksesan Anda tertunda! C. Selamat sukses! Pembelajaran berhasil.100% = baik sekali 80% . . bila hasil belajar yang Anda peroleh ternyata di bawah 80%. TINDAK LANJUT Setelah Anda menyelesaikan soal-soal tes mandiri. KATA PENUTUP Alhamdulilah Anda telah mempelajari modul ini.89% = baik 70% .79% = cukup < 70% = kurang Apabila hasil belajar Anda mencapai 80% atau lebih. kemudian tentukan hasil belajar Anda dengan rumus berikut. negara maju. (Jumlah jawaban yang benar x 2) Hasil belajar = --------------------------------------------. Selamat sukses. semoga upaya Anda mendapat rahmat dan ridho-Nya.7-4 Penilaian Pembelajaran B. tukarkanlah dengan teman Anda! Setelha itu. Kemmapuan Anda perlu diperkaya dengan melakukan diskusi antarsesama teman sejawat.x 100% 20 Hasil belajar = 90% . koresilah! Hitunglah jawaban Anda yang benar. Anda telah mencapai kompetensi baik dan diharapkan dapat mengevaluasi hasil belajar penjas di MITs dengan baik.

B 10. D . D 5. D 4.Penilaian Pembelajaran 7-5 KUNCI TES MANDIRI 1. A 3. B 7. A 2. B 9. D 6. B 8.

BUKU AJAR MEDIA PEMBELAJARAN .

Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Kalau Anda mengamati dalam GBPP kurikulum berbasis kompetensi tentang materi pokok. Standar Kompetensi Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. tetapi pada saat yang lain konsep dasar kedua istilah itu tidak dapat dipisahkan. dalam bahan pelatihan ini Anda diajak untuk membahas materi dan media secara bersamaan karena memang konsep dasar di antara keduanya tidak selalu dapat dipisahkan. Kompetensi Dasar Menguasai konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. yaitu sumber bahan. Hal ini dapat dilihat pada ulasan berikut. ada satu lagi istilah yang erat kaitannya dengan materi dan media ini. . Kedua. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN A.Media Pembelajaran 8-1 BAB I. Pada saat tertentu konsep dasar kedua istilah itu dapat dipisahkan. media. Hal ini dilakukan karena konsep dasar materi dan media dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar materi dan media pada umumnya itu. D. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Hakikat Media Pembelajaran Dalam pembahasan tentang pengertian istilah. Bahkan. dan sumber pembelajaran. Menghubungkan antara materi. Anda pertamatama diajak untuk memahami pengertian materi dan media pembelajaran pada umumnya. Itulah sebabnya dalam perencanaan pembelajaran ketiga istilah itu sering disatukan. tampak juga bahwa ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan.

media. Dalam Dictionary of Education dikemukakan bahwa instructional media is devices and other materials which present a . mata pelajaran Biologi. materi pokoknya adalah ensiklopedi dan buku telepon. Sementara itu. dan sumber juga dapat dilihat pada pengertian dan klasifikasi media pembelajaran berikut itu. Untuk kompetensi dasar siswa mampu menjelaskan anatomi tumbuhan paku. Bukankah buku ilmu pengetahuan populer itu merupakan sumber bahan/materi? Bukankah materinya adalah teks yang ada dalam buku ilmu pengetahuan populer itu? Bukankah medianya berupa tabel yang kita buat untuk menuliskan ciri pembeda antara buku ilmiah populer dan buku ilmiah atau buku populer yang lain? Hal ini ternyata berbeda dengan. media. misalnya. materi pokoknya adalah anatomi tumbuhan paku. misalnya.8-2 Media Pembelajaran Dalam kompetensi dasar membaca memindai ensiklopedi/buku telepon. Tidak dapat dipisahkannya antara materi. ataukah sumber? Bukankah materi dalam pembelajaran itu adalah teks yang ada dalam ensiklopedi dan buku telepon itu? Bukankah medianya berupa OHP yang digunakan untuk memperbesar teks dalam rangka memberi contoh model membaca memindai atau tabel yang berisi kata dan istilah yang harus dicari dengan membaca memindai itu beserta isian kunci penemuannya? Bukankah media dalam pembelajaran itu berupa “hadiah” yang akan diberikan kepada siswa atau kelompok siswa yang dapat menemukan kata atau istilah yang dicari terlebih dahulu? Bukankah ensiklopedi dan buku telepon itu merupakan sumber materi? Contoh lain dapat Anda lihat dalam kompetensi dasar membaca pemahaman dan mengevaluasi buku yang berisi ilmu pengetahuan populer dengan materi pokok buku ilmu pengetahuan populer. sumber materinya adalah buku paket atau buku-buku lain yang berisi ulasan tentang tumbuhan paku dan medianya adalah contoh tumbuhan paku atau gambar tumbuhan paku. misalnya. Pertanyaannya sekarang adalah ensiklopedi dan buku telepon itu materi.

peta. Fasilitas belajar mencakup gedung. Brown. sarana pendidikan untuk belajar (educational media for learning). Ketiga. tetapi rambu-rambu pertanyaan berikut kiranya dapat digunakan untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya. globe. poster. dengan alat bantu apa Anda mengajarkan materi itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori media pembelajaran. telepon. boneka. Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. dan lain-lain. surat kabar. kamera. majalah. Sarana belajar mencakup tape recorder. dan lain-lain. media. dan fasilitas belajar (facilities for learning). dan sumber bahan sulit dipisahkan. perpustakaan. laboratorium. ruang diskusi. tempat bermain. Kedua. dan lain-lain. program TV. papan panel. radio. (1977) membuat klasifikasi media pembelajaran yang sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning). apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori materi pembelajaran. Untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya dapat Anda ikuti uraian berikut ini. buku penunjang. Sementara itu. gambar dan lukisan. laboratorium elektronik. Media pembelajaran adalah alat atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat menunjang proses belajar mengajar. papan tulis. Meskipun dari pengertian dan klasifikasi di atas tampak bahwa pengertian materi. dari mana materi pembelajaran itu Anda dapatkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori sumber bahan atau sumber materi. . dkk. Sarana pendidikan untuk belajar mencakup buku teks. OHP. studio. ensiklopedi. video player. televisi. kliping.Media Pembelajaran 8-3 complete body of information and are largely self-suporting rather than supplementary in the teaching-learning process. kartun. Pertama. program radio. kelas.

arloji. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah teks berita. tape recorder merupakan media pembelajaran. Dengan demikian. Berdasarkan . Dengan demikian. dan tabel isian tersebut dapat Anda kategorikan sebagai media pembelajaran. media adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan. Dengan demikian. dan lain-lain merupakan sumber bahan atau sumber materi. dari buku paket. menurut Bovee (Ena. stop watch. Pertama. dan lama waktu membaca. Berdasar uraian di atas. Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar mendengarkan dan memahami berita dari radio/televisi. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. dari majalah Intisari. Pertama. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah dengan tape recorder karena teks berita itu Anda bawa ke kelas dalam bentuk rekaman dan akan Anda perdengarkan kepada siswa dengan tape recorder. buku paket. Pada contoh ini. dari mana teks berita tersebut Anda peroleh? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dari radio atau dari TV. majalah Intisari. surat kabar Kompas. apa yang Anda ajarkan? Jawabannya adalah teks bacaan. dari mana teks bacaan tersebut Anda peroleh? Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah dari surat kabar Kompas. teks bacaan dalam pembelajaran Anda ini adalah materi pembelajaran. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. Dalam hal ini. Kedua. radio dan TV merupakan sumber bahan atau sumber materi.8-4 Media Pembelajaran Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar membaca cepat 250 kata per menit. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah arloji atau stop watch dan tabel isian yang berisi nama siswa. dan lain-lain. 2004:2). Kedua. teks berita dalam pembelajaran Anda ini dapat Anda kategorikan sebagai materi pembelajaran. Dengan demikian. jumlah kata.

Media Pembelajaran 8-5 pengertian tersebut maka media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses pembelajaran. kaset. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. . membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. televisi dan komputer. slide (gambar bingkai). tape recorder. video. foto. video recorder. gambar. kamera. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. film. grafik. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain: buku.

diharapkan siswa memiliki kompetensi tertentu dalam berbahasa dan bersastra dengan berbagai variasinya. dan lain-lain yang dapat Anda gunakan untuk mengajarkan wacana dalam rangka melatih. media pembelajaran Anda dapat berupa kaset rekaman tentang wacana itu dan tape recorder. dan melatih siswa dalam menggunakan bahasa. Apabila Anda akan mengadakan pembelajaran agar siswa Anda mempunyai kompetensi dalam menyimak wacana tertentu. . diagram. Dengan berbagai latihan itu. Standar Kompetensi Memahami kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Media pembelajaran pada dasarnya merupakan semua alat bantu yang dimanfaatkan guru dalam rangka mempermudah pembelajaran. Wacana dalam kaset rekaman itu merupakan materi pembelajaran.8-6 Media Pembelajaran BAB II. wacana “model”. Kompetensi Dasar Menguasai kriteria pemilihan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Media dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat pula berupa gambar-gambar. melatih. sedangkan kaset rekaman dan tape recorder merupakan media pembelajaran. KRITERIA MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA A. Indikator Pencapaian Kompetensi menjelaskan Indonesia kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra D.

Di samping itu. misalnya. Oleh karena itu. Hasil pengamatan itulah yang dituangkan siswa dalam karangannya nanti. kedua siswa Anda ajak mengamati bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. sebelum dituangkan dalam karangan siswa. atau benda-benda itu. . ketika Anda akan membelajarkan wacana tulis agar siswa Anda memiliki kompetensi dasar mampu mengarang. proses pembelajarannya dapat Anda lakukan. benda-benda. warna batang. dan atau gambar-gambar tentang bunga. media pembelajaran Anda dapat berupa tumbuhan. dan seterusnya. Media yang berupa diagram dan atau tabel kosong di atas digunakan untuk membantu siswa dalam menuliskan hasil pengamatan terhadap bungan mawar. binatang. bentuk batang. media pembelajaran Anda dapat pula berupa objek yang menjadi pijakan pembelajaran. Apabila Anda ingin melatih siswa untuk membuat karangan tentang bunga mawar. media lain yang dapat Anda gunakan dapat juga berupa diagram atau tabel kosong yang harus diisi siswa setelah mengamati tumbuhan dan atau gambar bunga mawar itu. misalnya bentuk bunga. ukuran batang.Media Pembelajaran 8-7 Dalam pembelajaran bahasa dan sastra. media yang Anda gunakan dapat berupa tumbuhan bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. ukuran daun. warna daun. ukuran bunga. Misalnya. hasil pengamatan itu dituangkan dulu dalam tabel atau diagram agar siswa mudah memahaminya dan mudah menuangkannya dalam karangan. lalu siswa disuruh membuat karangan seperti model dengan objek yang berupa bunga mawar. binatang. Berkaitan dengan media pembelajaran itu. Namun. pertama-tama siswa Anda ajak untuk mambaca “wacana model”. warna bunga. misalnya. bentuk daun. berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

maka media yang tepat adalah media audio (radio. kurangnya minat dan gairah siswa. bila tujuan pembelajaran itu agar siswa dapat melafalkan ucapan kata-kata. Misalnya. Fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut ini.8-8 Media Pembelajaran (1) Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran (sesuai dengan indikator). (b) Media sebagai penyaji stimulus (informasi. (a) Untuk menghindari kesalahpahaman antara pengajar dan siswa. dan berlatih berbahasa dan bersastra. Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling utama. berlatih. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalistis. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah komunikasi. tetapi benar-benar merangsang siswa untuk berlatih. Media pembelajaran yang Anda gunakan bukan sekadar sebagai pelengkap proses pembelajaran. dan lain-lain) dan untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. berbicara. baik dalam sastra maupun non-sastra sesuai dengan fokus pembelajaran saat itu. membaca. tape recorder). . sikap. Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar memiliki fungsi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan benar-benar berfungsi untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. ketidaksiapan siswa. siswa Anda berlatih menyimak. dan menulis dengan berbagai variasinya. dsb. Di dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif dan efefisien. (2) Fungsional Salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. Dengan media itu. sedangkan lainnya merupakan kelengkapannya dari kelengkapan dari kriteria itu.

(e) Media dapat membangkitkan motivasi dan minat baru. beserta perangkat pendukungnya (misalnya listrik) tidak tersedia. Jika ternyata di sekolah Anda. ketika Anda akan melatih siswa agar siswa Anda memiliki kompetensi dalam menyimak berita dan Anda memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yang berupa kaset rekaman berita dan tape recorder. Tetapi. Dengan demikian. Artinya. Anda dapat saja menggunakan wacana yang berupa teks bacaan. media itu sudah tersedia atau sudah siap pakai. Yang perlu Anda perhatikan adalah hakikat kompetensi berbahasa yang harus dimiliki siswa. Bentuk pembelajarannya dapat berupa Anda bacakan teks itu dan siswa diminta untuk menyimaknya.semuanya sudah tersedia. Apabila hal di atas terjadi. kaset rekaman berita dan tape recorder itu dapat Anda upayakan sehingga pada saat Anda memerlukan media itu. berarti bahwa Anda sudah melatih siswa untuk menyimak. maka kaset rekaman dan tape recorder itu bukan media pembelajaran yang tepat Anda gunakan saat itu. Anda perlu memikirkan media pembelajaran lain yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran menyimak berita. kaset rekaman berita. dan kaset rekaman berita dan tape recorder itu benar-benar tersedia.Media Pembelajaran 8-9 (c) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa karena pengalaman mereka berbeda-beda. Misalnya. dan realitas. menyimak adalah kegiatan berbahasa lisan. (3) Tersedia Pertimbangan lain dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah ketersediaan media itu. Misalnya. tape recorder. Seandainya materi dan media itu tidak tersedia. kalau wacana yang berupa teks bacaan itu . pada saat Anda perlukan dalam pembelajaran. (d) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar konkret. apabila siswa Anda minta untuk menyimak wacana yang Anda bacakan. Misalnya.

(2) penerapan unsur suprasegmental dalam pembacaan itu belum tentu tepat. guru kurang dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.8-10 Media Pembelajaran Anda berikan kepada siswa. Koran yang Anda beli itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. kelebihannya adalah Anda memperoleh kepastian bahwa pembelajaran menyimak dengan cara ini dapat Anda lakukan karena sangat mudah dilaksanakan. pembelajaran menyimak secara langsung seperti ini tentu juga memiliki kelemahan. Dalam surat kabar itu ada berita. Misalnya. Taman dan berbagai pohon besar di sekolah Anda itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini dapat dipahami karena membicarakan tentang apa pun melibatkan kemahiran berbahasa dalam proses komunikasi. dan di lingkungan Anda dapat Anda gunakan untuk media pembelajaran bahasa dan sastra. Anda dapat meminjam alat peraga mata pelajaran yang lain. pada saat tertentu Anda membeli surat kabar. Sementara itu. Anda tidak perlu memikirkan media pembelajaran yang mahal yang memang tidak . dan (4) pada saat membacakan wacana. Bahkan. (4) Murah Media pembelajaran yang Anda gunakan untuk melatih siswa berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal. untuk Anda gunakan sebagai media pembelajaran bahasa. dan lain-lain. Oleh karena itu. proses pembelajaran itu bergeser menjadi melatih siswa untuk membaca. misalnya IPA. (3) memungkinkan terjadinya gangguan aspek non-linguistik lain pada saat guru membacakan wacana itu. Di sekolah Anda terdapat taman atau pohon besar dengan berbagai jenisnya. ada surat pembaca. di lingkungan sekolah. ada iklan. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di lingkungan siswa. Hanya saja. Di antara kelemahan itu adalah (1) kualitas suara guru yang membacakan wacana itu belum tentu ideal.

jika tingkat kerumitan serta kosakata yang digunakan lebih tinggi di atas kemampuan siswa maka media tersebut tidak dapat dipilih. maka media film atau video lebih tepat. Artinya. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa yang akan menggunakan media tersebut. (4) menantang. besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi penggunaan media. Sedangkan jika yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak. bungkus roti. Akan tetapi. Untuk dapat memilih dan menentukan media pembelajaran yang menarik. media pembelajaran yang Anda gunakan dalam pembelajaran Anda adalah media yang menarik bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran Anda secara lebih inten. setidaknya Anda perlu mempertimbangkan (1) kesesuaian media itu dengan kebutuhan siswa. (6) Ketepatgunaan Jika materi yang dipelajari adalah bagian-bagian yang terpenting dari suatu benda. . slogan di sekolah. maka gambar mati seperti bagan chart atau slide dapat digunakan. bungkus makanan. dan lain-lain dapat pula Anda manfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra. (7) Keadaan siswa Sebuah program media tidak mungkin cocok untuk tujuan tertentu. Bungkus obat. (2) kesesuaian media pembelajaran itu dengan dunia siswa. (3) baru. dan (5) variatif.Media Pembelajaran 8-11 dapat Anda dapatkan di sekolah Anda. (5) Menarik Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah tingkat kemenarikan.

. maka media itu tidak dapat digunakan karena mutu teknisnya tidak memenuhi syarat.8-12 Media Pembelajaran (8) Mutu Teknis Seandainya ada media yang cocok untuk tujuan pembelajaran tetapi ternyata tidak lengkap atau terputus-putus.

Media Pembelajaran 8-13 BAB III. tape recorder. televisi dan komputer. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. slide (gambar bingkai). foto. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Kompetensi Dasar Menjelaskan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. gambar. vidio recorder. PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. kaset. Standar Kompetensi Menerapkan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. video. grafik. film. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain buku. Indikator Pencapaian Kompetensi Memilih dan mengembangkan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. . Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. camera.

tidak semua media yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran tersedia. media grafis. Dalam program ini hanya diberikan satu ilustrasi pembuatan media grafik yaitu flip chart. Grafik. Dalam mendesain media grafis. . tulisan cukup tebal dan mudah dibaca. (2) kesatuan. dan (4) keseimbangan. media terdiri atas media audio (dengar). media transparansi. media visual (pandang). meliputi Papan Flanel. Kesederhanaan Bahan untuk media grafis harus ringkas. Poster. Ada dua jenis media yang sederhana tetapi sangat efektif penggunaannya yaitu media grafis dan media transparansi. media proyeksi. Pembuatan Media Grafis dalam Pembelajaran Bahasa Media grafis sering disebut media visual dasar. 1. dan media berprograma. Oleh karena itu. harus diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: (1) kesederhanaan. (3) penekanan. Media-media menyampaikan itu sangat membantu tugas kepada pengajar siswa. Papan Buletin. jelas dan mudah dipahami. karena flip chart paling mudah pembuatannya dan paling sering digunakan dalam proses belajar mengajar. Flip Chart. sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting. media audio-visual (pandang-dengar). seorang pengajar harus bisa merencanakan dan membuat media sendiri. dalam Namun materi pembelajaran kendalanya. Kartun dan Komik.8-14 Media Pembelajaran Menurut jenisnya. A.

4.Media Pembelajaran 8-15 2. dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah. Keseimbangan . tekstur dan ruangan. 3. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan. bentuk. warna. garis. memberi warna atau ruang pada bagian tertentu. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah jalinan yang harmonis antara bagian-bagian visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Penekanan Dalam media grafis. Jalinan antarbagian ini dapat dinyatakan dengan batas yang bertumpangan. memperjelas. Penekanan itu dapat dilakukan dalam berbagai cara. misalnya dengan cara memperbesar. diperlukan penekanan pada bagian tertentu untuk dijadikan pusat perhatian. Desain keseimbangan formal apabila ada suatu poros yang membagi visual secara simetris. yaitu formal dan informal.

Warna Untuk kebanyakan visual. Bentuk Suatu bentuk yang aneh akan membangkitkan perhatian khusus kepada yang divisualisasikan.8-16 Media Pembelajaran formal memberikan kesan statis. Desain keseimbangan informal adalah yang tidak simetris. Hal ini dapat memberi kesan dinamis dan biasanya mempunyai daya tarik yang kuat. Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah garis. Hal ini sering digunakan dalam mendesain caption dan judul. tekstur. warna. c. b. dan ruang. a. warna merupakan unsur . Garis Dalam media grafis sebuah garis dapat menghubungkan unsurunsur dan membimbing yang melihatnya kepada suatu unsur tertentu.

pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan. untuk memberikan penekanan. Pergunakan dua atau tiga warna saja untuk suatu visual. e. d. Usahakan batas warna dengan jelas. Hal ini harus digunakan hati-hati sekali.Media Pembelajaran 8-17 tambahan yang penting. Tekstur Tekstur adalah visual yang dapat bertindak sebagai pengganti perasaan yang menyentuh dan dalam banyak hal dapat digunakan sebagai pengganti warna. Ruang Ruang terbuka di sekeliling unsur visual dan akan mencegah perasaan terlalu berdesakan tatalah ruang yang digunakan dengan cermat agar . Usahakan agar warna tidak terlalu banyak dan berbaur satu dengan yang lain.

standard. lem. • Jangka. • Pensil. Hal tersebut sering digunakan untuk memberikan judul-judul untuk suatu diskusi atau membuat daftar prosedur yang berurutan. tempat cat. kuas. Selanjutnya bagaimana teknik atau cara pembuatan flip chart yang mempertimbangkan prinsip-prinsip media grafis. cutter. ikutilah ilustrasi berikut ini. Bahan dan alat yang diperlukan: • Kertas: kertas putih biasa. Pembuatan Flip Chart Flip chart biasanya berupa gambar di atas sehelai kertas yang tidak mudah sobek.8-18 Media Pembelajaran unsur-unsur dalam desain jadi efektif. kertas bufalo. pembolong kertas. kertas gambar. cat plakat. gunting. cellotape. Flip chart juga dapat dipergunakan untuk memberikan pembelajaran di depan kelas. Sebuah flip chart dengan ukuran 60 X 80 cm biasanya cukup efektif untuk dipakai di depan kelas sebanyak 40 orang. spidol. . letter press. B. cat air. Untuk di laboratorium flip chart adalah ekonomis dan mudah dibuat. penggaris.

Dengan memperhatikan keempat prinsip serta kelima unsur pembuatan media grafis. Alat tersebut dapat digunakan dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan gelap. buatlah pada kertas pesan yang Anda inginkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. C. Kemudian pasangkanlah flip chart yang sudah selesai pada standard dengan terlebih dulu membuat lubang pada flip chart Anda untuk menggantungkannya. Pembuatan Media Transparansi dalam Pembelajaran Bahasa Media transparansi sebagai media pembelajarana merupakan komunikasi yang sangat potensi dalam kegiatan belajar mengajar. 1. c.Media Pembelajaran 8-19 Cara membuatnya: 1. b. Berikut cara mempergunakan media transparansi dalam proses belajar mengajar. Anda tidak perlu membelakangi kelas menuju ke layar. Setelah diperoleh komposisi serta bentuk yang memadai barulah Anda buat pada kertas yang disediakan untuk flip chart. Terlebih dahulu buatlah sketsa dari pesan yang ingin Anda sampaikan. tetapi cukup dengan menunjuk pada bagian pesan pada transparansi yang ada di . uraikanlah materi pembelajaran yang akan disajikan menjadi beberapa bagian yang penting untuk dipelajari siswa. Anda berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan terhadap siswa. Untuk mengarahkan perhatian. 2. Alat untuk media ini adalah Overhead Proyektor (OHP).

2. Setelah selesai dipergunakan. Bayangan penunjuk Anda akan terlihat jelas. transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali dengan alkohol. Pada penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan. Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan. 3. Pada waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak terproyeksikan . Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat digunakan untuk menambah catatan pada waktu menjelaskan materi tanpa merusak transparansi aslinya.8-20 Media Pembelajaran hadapan Anda.

serta lima unsur tambahan seperti garis. Sedapat mungkin dalam mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan. kapas dan alkohol d. bentuk. transparansi b. Bahan dan alat yang diperlukan adalah: a. yaitu transparansi lain yang berisian bagian dari pesan yang akan disampaikan langkah demi langkah. kertas milimeter . pena transparansi yang permanen c.Media Pembelajaran 8-21 ke layar karena kertasnya tidak tembus cahaya. dan keseimbangan. Mempergunakan benda tiga dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi sama dengan prinsip-prinsip pembuatan media grafis. 4. tekstur. Mempergunakan Overlays. warna dan ruang. Dengan memanipulasi bendabenda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan. kesatuan. yaitu empat prinsip umum seperti kesederhanaan. Dengan demikian. 5. konsep yang sulit dapat diberikan setahap demi setahap selama proses belajar mengajar. penekanan.

tenaga. Dengan kegiatan pembelajaran melalui media interaktif berbasis komputer. maka . bunyi. dan video untuk menyampaikan pesan atau informasi. Pemanfaatan program aplikasi microsoft powerpoint untuk pembuatan multimedia pembelajaran memiliki keuntungan bagi guru. grafik.8-22 Media Pembelajaran D. dalam hal ini program microsoft power point. keuntungan lainnya adalah sederhananya tampilan ikon-ikon yang kurang lebih sama dengan Microsoft word yang sudah banyak dikenal. Pembuatan Komputer Multimedia Pembelajaran Bahasa Berbasis Dengan bantuan teknologi perangkat komputer maka dapat dihasilkan multimedia pembelajaran yang interaktif. waktu. dan pikiran sebab guru tidak harus mempelajari dulu bahasa pemrograman komputer. dan juga tersedianya fasilitas untuk dihubungkan dengan internet. maka akan dapat memberikan rangsangan bagi siswa untuk mau belajar lebih giat sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulis. Dengan kelemahan ini maka pengguna atau siswa tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara langsung. tersedianya banyak fasilitas aplikasi sehingga pemakai tidak perlu mempelajari bahasa pemrograman komputer. Untuk mengatasi kelemahan ini. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembuatan multimedia pembelajaran menggunanakan program microsoft powerpoint akan menghemat biaya. Kelemahan dari program aplikasi Microsoft Powerpoint adalah tidak tersedianya fasilitas untuk menyimpan informasi dari pengguna setelah melakukan eksplorasi pembelajaran. Hal ini seperti diungkap Ena (2004:4) bahwa keuntungan terbesar memanfaatkan program aplikasi microsoft powerpoint adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah ada di dalam Microsoft office. Dengan demikian kita bisa menggunakan kombinasi tampilan berbagai media yang berbeda seperti teks.

Pembelajaran berbagai memberi penekan pada pengintegrasian ketrampilan berbahasa. interaksi yang lebih luas.Media Pembelajaran 8-23 dapat digunakan lembar kertas kerja siswa sehingga guru dapat memantau perkembangan belajar siswa. permainan dan . Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. tidak terpaku pada sumber tunggal. Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman. Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. materi yang otentik. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. meningkatkan pembelajaran. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee. menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. dan pemahaman global. 1996). mendengarkan. berbicara. motivasi. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentukbentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. lebih pribadi. Periode pembelajaran integratif atau dengan kecenderungan komputer yang yang terakhir adalah integratif. Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee.

Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Media pembelajaranpun pengetahuan berkembang pengajar atau karena ahli keterbatasan dan tehnis pengajaran keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. 1. meningkat. ketersediaan piranti lunak dan keras komputer. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk kurang dari piranti lunak dan kerasnya. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh . Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya.8-24 Media Pembelajaran kreativitas.

Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. membaca atau pembelajaran yang lain. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Gambar. Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. (a) Memasukkan Teks. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from . Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture.Media Pembelajaran 8-25 kebanyakan pemakai komputer. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan tehnis dan teori. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana.

Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background.. dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects... Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery.. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan. pilih tekstur atau gambar dan tekan apply. Background akan memperindah tampilan program. Fasilitas yang pertama adalah background. more color dan fill effects. Fasilitas . Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. pilih warna dan tekan apply. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. dan from clip art. apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color.8-26 Media Pembelajaran file . Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. (b) Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri. yang pertama adalah dengan memberi warna.

Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. kiri. sesudah itu akan muncul dialog . atau dari sudut. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. pribadi dan otentik. Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. kanan. bawah.Media Pembelajaran 8-27 animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. (c) Membuat Hyperlink Fasilitas pembelajaran ini sangat penting dengan dan sangat mendukung bahasa karena hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Objek bisa melayang dari atas. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik.

Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama. kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan. (b). Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik. 2. Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Membaca Fasilitas memungkinkan menampilkan pembuatan teks materi dalam program aplikasi ini pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan.8-28 Media Pembelajaran box. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik. (a). Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran . Mengembangkan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini.

Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. (d). Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya. (c). Untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink.Media Pembelajaran 8-29 dengan video ataupun audio. Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slideslide yang berbeda. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. Permainan penyapu ranjau (mine . Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran. Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan.

Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. 3. dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. Namun.8-30 Media Pembelajaran sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata. .

setiap kelompok dapat dibagi lagi menjadi subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran sastra. Praktik Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kegiatan 01: Menentukan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Bagilah peserta pelatihan ini menjadi 3 kelompok! Kelompok A bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. Kalau diperlukan.Media Pembelajaran 8-31 BAB IV. PRAKTIK PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. (1) Berdasarkan identifikasi kompetensi dasar dalam Kurikulum KTSP dan materi pembelajaran yang sudah Anda rumuskan. kelompok B bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. Indikator Pencapaian Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. diskusikan dalam kelompok Anda media pembelajaran yang tepat Anda gunakan dalam membelajarkan siswa dengan materi pembelajaran itu agar siswa memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam . Kompetensi Dasar Menyajikan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Standard Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. dan kelompok C bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas IX.

perencanaan pembelajaran sastra beserta medianya.8-32 Media Pembelajaran Kurikulum KTSP! Pertimbangkan kriteria pemilihan media di atas dalam diskusi kelompok Anda! (2) Tuangkan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam kertas manila yang disediakan panitia! Sajikan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam diskusi kelas! Agar setelah mengikuti pelatihan ini Anda mendapatkan pengalaman yang lebih kongkret dan siap Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. medianya. medianya. selanjutnya buatlah media pembelajaran yang sesungguhnya yang siap Anda gunakan untuk mengajar di kelas! (2) Wujudkan tugas untuk Anda tersebut dalam bentuk rencana pembelajaran kompetensi dasar tertentu berdasarkan Kurikulum KTSP dan lengkapilah rencana pembelajaran itu dengan media yang akan Anda gunakan! (3) Dalam kegiatan ini.. (4) Presentasikan hasil kerja kelompok Anda dalam diskusi kelas! . lakukan kegiatan 02 berikut ini. sebaiknya ada kelompok yang membuat perencanaan perencanaan perencanaan perencanaan pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran menyimak berbicara membaca menulis beserta beserta beserta beserta medianya. medianya. Kegiatan 02: Membuat Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra (1) Berdasarkan hasil kegiatan (01) dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia dalam pelatihan ini.

(3) tersedia. F. tidak perlu mahal karena pada dasarnya Anda dapat menggunakan apa saja yang berada di lingkungan tempat Anda mengajar. Media pembelajaran yang Anda gunakan harus benar-benar menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda laksanakan. dan (8) mutu teknis. Media pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda gunakan setidaknya harus memenuhi kriteria: (1) tujuan. Kemukakan kriteria penggunaan media pembelajaran yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra! Masingmasing berilah penjelasan dan contoh! 3. Soal Evaluasi Setelah mempelajari dan mengikuti proses pelatihan subbagian bahan pelatihan ini.. Manfaat apa yang Anda peroleh setelah Anda mempelajari media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra? . (5) menarik. dan yang penting bahwa media pembelajaran yang Anda gunakan harus menarik bagi siswa. lakukan penilaian diri dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut! 1. (6) Ketepatgunaan. (4) murah. (7) keadaan siswa. benar-benar Anda dapatkan pada saat Anda memerlukannya dalam proses pembelajaran. (2) fungsional. RANGKUMAN Media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran tersebut.Media Pembelajaran 8-33 E. Berilah alasan kebenaran pernyataan ini beserta contohnya! 2. Media pembelajaran bahasa dan sastra pada dasarnya semua alat yang Anda gunakan dalam membantu mempermudah pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda lakukan.

Apakah penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan selama ini sesuai dengan kriteria tersebut? Berilah alasan! 5.8-34 Media Pembelajaran 4. Kemukakan pula contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut! 7. Apakah rencana Anda setelah Anda memahami media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya? 10. Apakah kendala yang Anda rasakan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran bahasa dan sastra? Berilah penjelasan! 9. Kemukakan pendapat dan atau saran berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia! . Kemukakan contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang sesuai dengan kriteria tersebut! 6. Apakah ketidaksesuaian penggunaan media pembelajaran yang Anda lakukan dengan kriteria penggunaannya seperti yang Anda kemukakan pada butir (4) tersebut Anda sengaja? Berilah penjelasan dan atau alasan! 8.

1986. II. Prentice Hall. Elliot.jp/~iteslj/ Idris. Nuny S. Kwuang-wu. Greece. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. James W. VI. Malang: Buku Ajar (Tidak diterbitkan) .. New York: Merrill.T.ac. Media. 1991. Vol. 2003. E.ac.N.. Technology. 1983. The Internet TESL Journal. E. 1993. A Paper presented at KIPBIPA III. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. Peter et al. Educational Psychology. a paper presented at Technology and Education Conference in Athens. and Methods. http:/www. Dwi. an imprint of Macmillan College Publishing Company. 1996. June 1996. New Jersey. Vol. Davis. Language Arts Activities for Children. Hunter.6. Harper and Row: New York. Depdiknas. Hubbard. Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung. Jakarta: Depdikbud.aitech. S. Lawrence. Planning and Producing Audiovisual Materials. New York: McGraw-Hill. http:/www. December 2000. 2000. 1980. Kemp. No. Lee. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. P3G. Saksomo. David H. Computer as a Mindtools for Schools. Jonassen. 1996. No. dkk. 1999. 1996.Media Pembelajaran 8-35 DAFTAR PUSTAKA Brown.jp/~iteslj/ Norton. Ferrod E.aitech. 12. dan Norton. AV Instruction. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Draft belum diterbitkan). Ben. A Training Course for TEFL. CALL: Its Scope and Limits. The Internet TESL Journal. Stephen N et al. 1977. Iowa. Ruseffendi. Oxford University Press: Oxford. Brown and Benchmark: Dubuque. 1982. Teaching with Media.

Using Presentation Software to Enhance Language Learning. Social Psychology and Contemporarry Society. H. 1976. http:/www.jp/~iteslj/ Sumadi.8-36 Media Pembelajaran Sampson. Miriam. E. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas. New York: John Willey and Son. 2003. Wacana Bahasa Indonesia.3.ac. The Internet TESL Journal. Bahan pelatihan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.G.aitech. 1999. V. Widdowson. Oxford: Oxford University Press. Schocolnik. No. Teaching Language as Communication. 1978. . Vol.G. March 1999.

BUKU AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .

Dalam konsep penelitian emperisme manusia dianggap sebagai objek yang pasif. Dalam penelitian emperisme. 1. 1989.BAB I KERANGKA DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. (3) criticalisme. McTaggart. Keempat jenis penelitian pendidikan ini pada hakikatnya menekankan perbedaan tolak pandang dalam melihat hakikat kebenaran (truth) dan hakikat pengetahuan. dan (4) post-criticalisme/ post-modernisme. 1991. Keempat penelitian tersebut dapat disarikan sebagai berikut. dan (d) pengetahuan itu dapat dipahami melalui aturan-aturan yang ada. 1993). (2) interpretivisme. (b) pengetahuan itu dapat digeneralisasikan. Penelitian-penelitian pendidikan pada dasarnya dapat digolongkan dalam empat kategori (Candy. posisi PTK dan filofofinya dapat ditangkap secara jebih jelas. Connole. yakni: (1) emperisme. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Untuk action tindakan memahami research kelas classroom (penelitian secara [PTK]) penuh. (c) pengetahuan itu bersifat replicable/ dapat diulang. Penelitian emperisme (emperism research) adalah jenis penelitian yang menekankan metode ilmiah sebagai satu-satunya cara/ metode penghasil pengetahuan. peneliti adalah orang luar yang terpisah dari objek yang diteliti. Penelitian-penelitian emperisme . Penelitian ini juga memandang bahwa: (a) pengetahuan itu objektif. Hanya dengan memahami jenis-jenis penelitian pendidikan terlebih dahulu. perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai jenisjenis pendekatan dalam penelitian pendidikan kelebihan dengan dan segala kekurangannya.

Untuk memahami masalah-masalah manusia. (b) pengetahuan itu dapat berubah (not fixed). karena penelitian intepretivisme meyakini bahwa: (a) pengetahuan/fakta/realita itu mengandung unsur-unsur subjektivitas. penelitian emperisme dipandang tradisional. Siapa yang berkuasa (who is on power) dapat mempengaruhi hakikat kebenaran/ realita/ pengetahuan itu sendiri. Apa yang disebut . Pendekatan penelitian ini menekankan pemahaman yang komprehensif/ mendalam terhadap objek yang diteliti. Untuk itu. 2. yang berarti juga tidak ada satu sekolah pun yang sama persis dengan sekolah lain. 3. ideologi. nilai-nilai yang tidak dapat dipahami dari luar. peneliti harus menjadi insider dari objek yang diteliti. suatu penelitian harus berorientasi pada hasil (product oriented) agar hasil penelitian tidak sia-sia. penelitian ini menekankan aspek pemikiran reflektif/ kritis (reflective thinking) terhadap segala faktor luar yang dapat mempengaruhi kualitas penelitian itu sendiri. Penelitian kritis (criticalism research) memandang bahwa pengetahuan itu di samping subjektif juga problematik. Penelitian intepretivisme (intepretive research). artinya: pengetahuan itu di samping dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan. Menurut pendekatan ini. 4.9-2 Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan penelitian yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu murni IPA. Penelitian ini mengkritik pendekatan intepretivisme sebagai penelitian yang terlalu menekankan pemahaman daripada hasil (output). Menurut penelitian ini. (c) pengetahuan itu tidak dapat digeneralisasikan (not generalizable) karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sama persis. (d) masalah-masalah pendidikan tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari aturan-aturan yang ada sebab manusia mempunyai motif. Tanpa menjadi insider pemahaman terhadap objek yang diteliti tidak akan sempurna. Penelitian post-critical adalah penelitian yang menekankan bahwa kebenaran/ realita itu sendiri sebenarnya tidak ada. Objek IPA dan peneliti merupakan bagian yang terpisah.

Australia. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. teori yang selama ini diyakini kebenarannya digugat kembali. Canada. Penelitian-penelitian jenis ini umumnya mempertanyakan kembali apa yang sudah dianggap benar/ realitas itu sendiri. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. Masing-masing jenis penelitian merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. pengembangan sekolah. melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan. dan sebagainya. Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. Hukum. dengan melibatkan siswanya sendiri. Bahkan McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum.Penelitian Tindakan Kelas 9-3 realitas itu sendiri hanya sebatas bahasa yang mengungkapkan. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. di kelas sendiri. Setiap pendekatan akan menawarkan hasil yang berbeda dan ’bintik buta’ (blind spot) tersendiri. Dengan melakukan penelitian tindakan. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. dalil. jenis-jenis pendekatan tersebut menggambarkan revolusi pemikiran manusia terhadap masalah-masalah pendidikan. guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. pengembangan keahlian mengajar. Sekalipun demikian. . Dalam literatur berbahasa Inggris PTK sering disebut dengan classroom action research. Amerika. Keempat jenis penelitian tersebut menegaskan bahwa ada beberapa pendekatan dalam meneropong masalah-masalah pendidikan.

menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional (Elliot 1982:1). cara bertanya guru kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berpikir. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelas. diagnostik. guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar. dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Berkenaan dengan uraian di atas. serta pemahaman mereka terhadap praktikpraktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart 1988:5-6). Kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. guru dapat membuktikan apakah teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia dimiliki. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka. . Dengan demikian. Berikut ini disajikan beberapa kutipan batasan tersebut. maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur penelitian tindakan kelas. perencanaan. Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut (Cohen dan Manion 1980:174). Sebaliknya. umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif. sejumlah batasan tentang penelitian tindakan telah dikemukakan oleh para pakar. Jika dengan penghayatannya itu dapat menyimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti: pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak. Seluruh prosesnya --telaah. merasakan. dan pengaruh-. guru juga dapat melihat. dan dievaluasi.9-4 Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. pemantauan. melalui penelitian tindakan kelas guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang lebih efektif dan optimal. pelaksanaan.

misalnya. Dengan kata lain. Suyanto (1997). dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan. serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif. mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas secara profesional. Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas. salah satu contoh jenis penelitian criticalism adalah penelitian tindakan itu sendiri. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. (b) dilakukan oleh pelaku tindakan . Dengan demikian. prinsip-prinsip penelitian tindakan sangat diwarnai oleh pendekatan penelitian critical. (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut. Stephen Kemmis (dalam Hopkins. Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan: PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. 1992) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri.Penelitian Tindakan Kelas 9-5 Penelitian tindakan (action research) adalah jenis pendekatan penelitian criticalism (Priyono 1999:3).

Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian. Artinya. Anda akan terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik. dan refleksi. Dari pemikiran itu. dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. Anda kemudian dapat mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto.9-6 Penelitian Tindakan Kelas PTK bersifat reflektif. 0leh sebab itu. Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut. . pelaksanaan tindakan. PTK dilaksanakan dalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap. yakni perencanaan. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut. observasi. pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. 1997).

Penelitian Tindakan Kelas 9-7 B. 1. On-the (masalah job yang problem-oriented diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam jawab masalah kewenangan/ peneliti). yang Ini diteliti tanggung berarti adalah masalah-masalah riil yang dihadapi sehari-hari. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS Priyono (1999:3-6) memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut. Kalau peneliti adalah .

Penelitian-penelitian pemahaman semacam itu hanyalah menghasilkan (understanding) terhadap masalah-masalah pemanfataan laboratorium dan pengaruh metode sosiodrama. masalah-masalah yang diteliti adalah masalah-masalah kelas/ sekolah yang merupakan bidang tanggung jawab utamanya. Action research menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi itu berkembang (berubah lebih baik). Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas).9-8 Penelitian Tindakan Kelas seorang guru. siswa. 1999). . yakni: orang yang paling tahu masalah-masalah kelas adalah guru itu sendiri. Ciri classroom-based action research ini diwarnai oleh pendekatan intepretivisme. bukan orang lain (outsiders). 2. Penelitian-penelitian yang hanya menghasilkan pengertian/ pemahaman seperti pada penelitian empirisme dan intepretivisme dianggap tidak meaningfull (bermanfaat). komponen-konponen sekolah itu (guru. (b) siswa/ guru diperlakukan sebagai objek (informan) pasif. dan (c) penelitian tidak membawa perubahan kepada siswa/ guru. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). b) Pengaruh Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Konsep saling Ketergantungan Organisme (Sungkono. 3. Judul-judul penelitian empirisme yang ditulis oleh para mahasiswa strata 1 di bawah ini jelas bukan classroom-based action research: a) Pengaruh Pemanfaatan Laboratorium IPA terhadap Pemahaman Konsep Alat Transpotasi Tumbuhan (Yushriati. karena tidak memecahkan masalah. penelitian-penelitian empirisme semacam itu tidak memberdayakan guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat memperbaiki kondisi kelas sendiri. 1999). Kalau sistem itu sekolah. Ada beberapa alasan mengapa penelitian semacam itu tidak membawa pemecahan masalah di kelas: (a) masalah penelitian bukan masalah yang dihadapi guru. Dengan kata lain. 4.

action. Konsep ini sangat diwarnai oleh prinsip penelitian critical: penelitian harus menghasilkan produk perubahan (product-oriented). pada penelitian-penelitian kemampuan inderawi empirism dapat yang hanya dipertanyakan . 1997). (4) kuesioner. apa yang sebenarnya disebut kebenaran/ realita dapat lebih diungkap. Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik). observing. Dampak suatu tindakan tersebut selalu diikuti secara kritis dan reflektif. lingkungan kelas/ sekolah) harus berkembang lebih baik. dsb. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) melakukan setiap langkah AR. Dengan PTK. 6. Partisipatory/collaborative. 5. Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Cyclic (siklis).Penelitian Tindakan Kelas 9-9 kepala sekolah. Secara siklus yang pada hakikatnya menggambarkan pemikiran kritis dan reflektif terhadap efek tindakan. Anda akan berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. (3) wawancara. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru. PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. (2) tes. demikian. and reflecting. Dengan bersandar validitasnya. mengingat kebenaran (realitas) itu di samping subjektif juga problematik. Dengan penerapan semua cara koleksi data tersebut. berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti: (1) observasi. Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). Semua cara ini difokuskan untuk mendapatkan validitas hasil penelitian. 7. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto. konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning.

Menurut Suyanto (1997). Kedua. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda--dengan melibatkan siswa--Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran. atau oleh kepala sekolah. yang . jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu. Dengan demikian. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. bukan PTK. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien. Pertama. Sebaliknya. optimal. Itu hanya merupakan penelitian kelas. Ketiga. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. pengawas. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas. dan fungsional.9-10 Penelitian Tindakan Kelas Pada sisi lain. misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar. permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. oleh dosen LPTK. Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan. atau bahkan oleh guru lain. Misalnya.

Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators). upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam. Anda . penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. yakni dari guru itu sendiri. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. sebagai guru. melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru. c. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif. PTK lebih longgar karena analisis datanya tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. Dengan cara itu. dan sebagainya. a. Bersifat reflektif (A reflective practice made public). PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. Namun sebagai penelitian. Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within). Jadi.Penelitian Tindakan Kelas 9-11 berisi ceritera-ceritera lucu. Menurut Hopkins (1992). Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas? Memang. ia tetap menekankan pada objektivitas. Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. Oleh sebab itu. maka penelitian semacam itu adalah PTK. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung. b.

dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya.9-12 Penelitian Tindakan Kelas akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. Bagimana hasil identifikasi Anda? Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. mengembangkan strategi yang dapat diterapkan . Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. Oleh sebab itu. Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian. menentukan hipotesis tindakan yang baik. tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya. serta membantu analisis data penelitian. Prinsip tersebut sebagai berikut. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. Sebaliknya. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat. Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan. 2. PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK. 3. 1. C.

Penelitian Tindakan Kelas 9-13 pada situasi kelasnya. Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah. Identifikasi dan rumusan hipotesis b. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu. a. 5. dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah. 6. serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan. Secara lebih ringkas. Prinsip-Prinsip PTK 1. Konsisten terhadap prosedur etika 6. Tidak terlalu menyita waktu. Tidak mengganggu komitmen mengajar. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga. Meskipun ada kelonggaran. Merupakan masalah guru. 2. 4. Metodologinya andal. disosialisasikan kepada teman sejawat. Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. strategi dapat diterapkan di kelas 4. di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik. 5. dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. 3. melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan. Artinya. prinsip-prinsip PTK dapat dituliskan sebagai berikut. meyakinkan . Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya.

9-14 Penelitian Tindakan Kelas D. Sebagai guru. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Apabila kita mencermati pengertian PTK. Menurutnya. Dengan kata lain. yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru. proses pelatihan terjadi secara hands-on. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. tidak dalam situasi artifisial. apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf). diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik. . Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran. Ketiga. Kedua. PTK mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK. Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. Dengan PTK. PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Mengapa demikian? Pertama. Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut.

di tempat Anda mengajar. atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk melihat efektivitasnya di kelas. perubahan yang terus-menerus dikembangkannya. Itu berarti bahwa Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya. pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. Dalam hal manfaat PTK ini. (3) peningkatan profesionalitas guru.. tingkat umurnya. Di samping itu. latar sosial budayanya. MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. PTK merupakan bahan refleksi bagi Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas. Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar. maupun Iatar kecerdasannya. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi. Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran. Untuk itu. baik tingkat kelas. Pemilihan tujuan yang tepat.Penelitian Tindakan Kelas 9-15 E. Anda dapat mengembangkan teknik. serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai. Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbedabeda. guru. secara ringkas. Dengan demikian. Dengan PTK. . Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan. materi yang sesuai. dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri. (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK mengembangkan proses akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk belajar mengajar di kelas. metode. Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh di kelas.

Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tidak mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat. tetapi mereka kurgan mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi. peneliti dengan berperan sebagai fasilitator mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti maslah yang telah diidentifikasi oleh para guru. Dalam situasi seperti itu. Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi. sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut. Pemrakarsa penelitian tindakan. Pemilik penelitian tindakan. dibuat merasa ikut memilikinya. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (a) kelompok orang yang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait. Rasa ikut .9-16 Penelitian Tindakan Kelas F. seperti guru dalam situasi belajar-mengajar. 1. dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen). 2. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. misalnya konsultan. misalnya situasi belajarmengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. dan (b) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya. PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS PENELITIAN TINDAKAN Ada lima persoalan praktis yang perlu diperhatikan dalam penelitian tindakan dan masing-masing akan diuraikan secara singkat di bawah ini. Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator.

Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. Data diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya.Penelitian Tindakan Kelas 9-17 memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian. yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. transkrip wawancara. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan penel. rekaman audio dan video kejadian. Data dapat berbentuk catatan-catatan. 5. 3. rekaman video. Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah. 4.iti merekonstruksi tindakan terkait. Oleh karena itu. Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. Sasaran penelitian tindakan. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif. Analisis data. semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut merupakan bagian dari dirinya. foto dan sebaginya. rekaman audio. Persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. melainkan unbtuk mendokumentasikan amatan dan oleh karena itu menjebatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan. namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematis sering timbul karena ada masalah dalam suatu situasi. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata. Data penelitian tindakan antara lain berupa semua catatan tentang hasil amatan. dan oleh karena . yang dikumpulkan lewat berbagai teknik. Fungsi data dalam penelitian tindakan adalah sebagai landasan reflektif. pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis. Dengan demikian. bukan hanya mengingat kembali. Data penelitian tindakan.

9-18 Penelitian Tindakan Kelas itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta lainnya untuk dapan melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. Dengan kata lain. . usaha trianggulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain.

desain AR menurut Tripp (1996). perencanaan tindakan. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. serta-apabila perlu--perencanaan tindak lanjut. SIKLUS I PERENCANAAN SIKLUS II PERENCANAAN dst. Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan. tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut. Sesuai dengan karakteristik dari pelaksanaaan AR yang siklis. REFLEKSI TINDAKAN REFLEKSI TINDAKAN OBSERVASI OBSERVASI .BAB II PELAKSANAAN PENEILITIAN TINDAKAN KELAS A. pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi. PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi. digambarkan sebagai berikut. Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal. analisis dan refleksi. Dengan kata lain. Dengan demikian. misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu.

Prarefleksi Untuk memulai penelitian tindakan kelas. meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya. b) Dalam pelajaran mengarang. Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi kelas. Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut.9-20 Penelitian Tindakan Kelas Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus AR yang diadaptasi dari Kember. Anda perlu menentukan suatu topik.Misalnya: a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas. dan M. agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas? b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang? c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca? . Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit. tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telah disarankan. Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas. c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat. Anda perlu proses belajar mengajar yang terjadi di dalam merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda. 1. D. tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya. para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar. Kelly (1992). Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut.

2. Siapa akan mengerjakan apa. Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum. (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru. peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian. Pada tahap ini. dan (c) perubahan sifat evaluasi. dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan. Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. Perencanaan Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merkam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya. Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang .Penelitian Tindakan Kelas 9-21 Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK. materi yang akan diajarakan.

namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas. Jadi. guru benarbenar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini. Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. Tindakan Perlu diingat juga. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK. wawancara. Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi. dalam melaksanakan rencana Anda tersebut. Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi. peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. Berdasarkan permasalahan tersebut. (2) menyusun pedoman observasi. sebagai Kelas diciptakan belajar komunitas (learning community) daripada laboratorium tindakan. cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan.9-22 Penelitian Tindakan Kelas cukup rendah dalam keterampilan menulis. 3. dan jurnal. jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. . (3) menyusun rancangan evaluasi.

Kemudian. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. b. guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. Pengamatan Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi. dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. Penutup Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. dan kelompok yang lain menanggapinya. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Melalui kegiatan ini. a. Pada tahap terakhir. Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan . ciri-ciri. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan. siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Kegiatan inti Pada kegiatan inti ini. pola pengembangan. siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa. dan pengertian paragraf eksposisi.Penelitian Tindakan Kelas 9-23 Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah. ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu. Melalui kegiatan ini. Setelah itu. setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf. Pendahuluan Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. c. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi. siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Oleh karena itu. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. 4.

Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara . Selain menggunakan lembar observasi. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. proses pembelajaran. Selain jurnal siswa. dan alat koleksi data (angket. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan. Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif. peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan. sedang. jurnal. Pendek kata. Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. dan pesan siswa terhadap materi. kesan. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara. dan rendah. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi. cara pengumpulan data. sosiometri. Melalui lembar observasi. pada langkah ini. dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa.9-24 Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya. peneliti menguraikan jenisjenis data yang dikumpulkan. Selama penelitian berlangsung. dll. hambatan yang dialami oleh guru. pesan dan kesan. peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. wawancara. peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga.

dan suasana kelas. Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. institutions. keinginan tahu.. Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya. bagaimana (how). mengapa demikian. Untuk itulah. on the one hand. portofolio (catatancatatan tentang hasil/prestasi siswa). Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti).Penelitian Tindakan Kelas 9-25 5. kepercayaan diri. Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi. misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi. parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals. dsb. peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. apa kelebihan/kekurangan. perubahan sikap percaya diri. antusiasme. and societies to which the belongs …. guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why). and the other culture of the groups. Pada tahap ini. 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah: . Dari catatan-catatan itulah. seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas. disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). langkah-langkah penyempurnaan. guru. kepuasan diri setelah mengajar. Demikian pula perubahanperubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti. responsif. dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan.) McTaggart (dalam Connle.. Suasana perubahan pada atmosfir kelas .

Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana. karena bericara lebih cepat daripada menulis. seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran. perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa. apa. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Sedangkan kata tanya kapan dan mengapa belum digunakan. penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak. suasana kelas yang lebih akrab. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. agar semua dapat . Dalam indikator membuat daftar pertanyaan. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan. di mana. Yang jelas. kapan.63% dari jumlah keseluruhan siswa. Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya. mengapa. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. dari mana. apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik. siapa.9-26 Penelitian Tindakan Kelas juga disajikan.73 dan termasuk dalam kategori cukup. Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup. dan bagaimana). Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69. Apa yang terjadi pada suatu siklus. Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. Oleh karena itu. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok. siapa. dsb.

Selain itu. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab . berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara. PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN Ada empat hal yang harus diperhatikan terkait dengan penetapan fokus masalah penelitian. 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber. konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus. Oleh karena itu. dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi. diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru.8% yang aktif. Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. B. Pada siklus I ini sekitar 42. sehingga siswa akan memperhatikan guru. pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. Keempat hal tersebut sebagai berikut. dan 4 siswa sebagai pencatat pokokpokok informasi. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja. melihat tulisan teman. masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran. Selain itu. mereka cenderung mengobrol dengan temannya. Namun demikian. dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan.1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf.Penelitian Tindakan Kelas 9-27 terekam. Pada siklus I. perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi. Dengan demikian siswa akan lebih aktif. 1. yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. Merasakan Adanya Masalah Jika Anda tergolong pemula dalam PTK. ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57.

Merasakan adanya masalah: • • • Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah Jadi. Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola. permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai guru dalam praktik pembelajaran. Dalam proses perenungan itu. merenung. Dengan kata lain. untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran. Anda harus mampu merefleksi. Oleh karena itu. yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran. mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. yang 0leh sebab itu. . agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa. serta berpikir balik. mungkin agaak sulit bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas. bukan permasalahan yang disarankan.9-28 Penelitian Tindakan Kelas pertanyaan tersebut.

kurikulum.Penelitian Tindakan Kelas 9-29 guru. artinya masalah tersebut benar-benar ada (dirasakan sebagai masalah. Untuk itu. Masalah itu juga di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. interaksi pembelajaran. Sebagaimana disinggung oleh tulisan sebelumnya. Masalah itu dilihat/ diamati/ dirasalan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari. dan hasil belajar siswa. artinya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. sebab penelitian tidak membawa temuan yang bermanfaat. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. bukan datang dari pengamatan orang lain. sebab: (1) pemecahan masalah tersebut tidak/kurgan mendapat dukungan literatur/sarana-prasarana/ birokrasi. ldentifikasi Masalah PTK Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian tahap-tahap penelitian. identifikasi masalah sering merupakan tahap penting dalam pelaksanaan penelitian. tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. bahan ajar. 2. Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). . Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata adalah masalah-masalah yang problematik. a. (2) pemecahan masalah tersebut belum mendesak dilaksanakan. Kualitas penelitian pun dapat ditentukan oleh kualitas masalah yang diteliti. Masalah itu datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri sehari-hari. Untuk itu. c. Masalah harus riil dan on the job problem oriented. dan (3) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan. Oleh sebab itu. b. beberapa langkah berikut dapat diikuti dengan seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan PTK. Masalah-masalah yang asal-asalan (yang kurgan teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi.

harus dipilih masalah-masalah yang fisibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung di atas. problematik. Bila dilihat dari sumber daya peneliti (waktu pembelajaran efektif.) maslah tersebut dapat dipecahkan. media pembelajaran. arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut. dana. 3. tidak semua masalah penelitian yang sudah nyata. selalu fisibel. Bahkan. Dalam hubungan ini. Anda sebagai peneliti --secara individu atau bermitra dengan guru lain-. Dengan kata lain. Menurut Abimanyu (1995).9-30 Penelitian Tindakan Kelas pilihlah masalah-masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. Masalah PTK harus fisibel (dapat dipecahkan/ditangani). Untuk asas manfaat. atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar. memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK. d. (3) kompetensi mana yang tidak tercapai bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. dan jelas manfaatnya. dapat dilontarkan beberapa pertanyaan berikut: (1) apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak dipecahkan.melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. (2) resiko apa yang paling jelek bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti penguasaan operasi matematika. Untuk itu. seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini. seperti kemampuan membaca peta buta. dukungan birokrasi. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah-masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan. dll. .

b) Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. c) Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable). atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah. d) Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian. Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-31 a) Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya. selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas. khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai . jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya. temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK melaksanakannya. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding). spesifik. untuk juga mencoba 4. Di samping itu. Perumusan Masalah Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. dan operasional. keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. e) Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prionitas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

PERENCANAAN TINDAKAN 1. Di samping itu. (3) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP N 2 Kudus setalah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kooperatif metode jigsaw? C. Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti. Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): (1) Keterampilan menulis karangan narasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri Bandar masih rendah. jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan. penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. . Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan Dilihat dari sudut lain. (2) Mayoritas (85%) siswa kelas 5 SD N Sekaran membaca dengan kecepatan di bawah 100 kpm. alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan.9-32 Penelitian Tindakan Kelas proses dan/atau hasilnya itu direkam. dalam PTK. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I. Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK . perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya. Misalnya.

dan e) Perefleksian pengalaman Anda sebagai guru. b) Pengkajian permasalahan. a) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian.Penelitian Tindakan Kelas 9-33 Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal. d) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. Dengan kala lain. sebagai peneliti. akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”. “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah. Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat. Sebagai contoh lain. Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. c) Diskusi dengan rekan sejawat. maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian. pakar pendidikan. peneliti lain dan sebagainya. . Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. a) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan. hasil-hasil penelitian yang relevan dengan Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut.

c) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual. “Dengan pembelajaran teknik permainan simulasi maka keterampilan menulis hasil wawancara akan meningkat dan tingkah laku siswa pada kelas X.4 SMA 7 Semarang akan berubah ke arah yang positif”.9-34 Penelitian Tindakan Kelas b) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan. baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru. Di samping itu. Berikut ini contoh rumusan hipotesis tindakan. serta keterlaksanaannya. FBS UNNES angkatan 2003. . “Keterampilan menulis karangan siswa kelas III SDN 03 Ungaran akan meningkat dan akan terjadi perubahan dalam tingkah laku siswa jika dalam pembelajaranya menggunakan metode stimulasi unik bertematik dan strategi pembelajaran mewnulis karangan secara terbimbing”. tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. yang diambil dari skripsi mahasiswa PBSI. kelaikan teknis. d) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikanperbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu. “Pembelajaran apresiasi pusi dengan media syair lagu serta penayangan video klip dapat emningkatkan kemampuan apresiasi puisi serta akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengapresiasi puisi”.

diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain. a) Implementasi PTK akan berhasil. sebagai aktor PTK. selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut. Namun. Pada gilirannya. tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal OIeh karena itu. Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka. hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. Dengan kata lain. yang paling penting. namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif. Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya. Menurut Soedarsono (1997). Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. Di pihak .Penelitian Tindakan Kelas 9-35 2. apabila diperlukan. kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan. guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya.

Dengan kata lain. demi keherhasilan PTK. Dengan kata lain. keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. Dengan kata lain. . sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. c) Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan. psikologis dan sosial budaya maupun etik. guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4). selain persyaratan kemampuan. Selanjutnya. b) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik. Dengan kata lain. e) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. d) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan. perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK.9-36 Penelitian Tindakan Kelas lain. dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. Oleh karena itu. PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.

sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. a) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. 3. D. d) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. PELAKSANAAN TINDAKAN DAN OBSERVASI INTERPRESTASI Sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Persiapan Tindakan Sebelum PTK dilaksanakan. apa saja yang perlu Anda persiapkan? Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. Sebagai aktor PTK. meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif. tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut. b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas. dilakukan oleh sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK seorang guru atas prakarsanya sendiri. Itu berarti bahwa . c) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan.Penelitian Tindakan Kelas 9-37 Selain itu.

harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK. Sebaliknya. penyelenggaraan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM. Dengan kata lain. dampak perbaikan yang diperoleh. betapapun canggihnya. fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional). Oleh karena itu.9-38 Penelitian Tindakan Kelas observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam. gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari. bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini. kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi. penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi. Hal itu juga berarti. Akhirya. apabila memang kebetulan telah terwujud. tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran. para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu. . agar tidak menimbulkan kerancuan yang tidak perlu. patut dicatat bahwa Hopkins (1992) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK.

Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK. dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas. pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi. dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran. (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan. 1. Pelaksanaan Tindakan Jika semua tindakan persiapan telah selesai. serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan. Artinya. skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual.Penelitian Tindakan Kelas 9-39 Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL. (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. apabila memang masih ada. tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas. Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasiinterpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK. PTK bukan supervisi pengajaran. meskipun memang mungkin saja dalam PTK juga tergelar dimensi supervisi . pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi.

Sebagaimana diketahui. (ii) ujaran siswa (pupil talk). berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK . observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. Dengan kata lain. Dengan kata lain.9-40 Penelitian Tindakan Kelas pengajaran. Sebagaimana telah diisyaratkan. supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision). Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal. dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). Observasi dan Interpretasi Secara umum. namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu. berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif. yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK. kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk). pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation). . observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. sebaliknya dalam konteks PTK terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer). OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi. konteks dan filosofi PTK berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. 2. Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi.

meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK . interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran. ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins. Apabila yang terakhir ini dilakukan. sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki. sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi. agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual. terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Dalam observasi kesejawatan ini. melakukan pengamatan secara umum. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL. Akan tetapi.Penelitian Tindakan Kelas 9-41 Sebaliknya. 1992). Dalam hubungan ini. dapat dimanfaatkan secara produktif. 3. Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi. maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan. Diskusi Balikan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. Sebagai contoh. memusatkan perhatian kepada .

b) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman. secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung. diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru. . dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan. c) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan guru aktor tindakan perbaikan. Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). d) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir E. sementara.9-42 Penelitian Tindakan Kelas suatu fokus. apabila: a) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi. yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data. Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan. ANALISIS DAN REFLEKSI Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum. dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan. kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian guru sebagai aktor tindakan perbaikan. materi. Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal.

yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. serta dicermati unsur-unsurnya. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan. sementara. secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas.Penelitian Tindakan Kelas 9-43 Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan. semut harus makan. melakukan refleksi. Artinya. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat . Secara teknis. Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK. sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan. Dari banyak pengalaman keseharian. dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagianbagian. Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi. mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi. Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya. dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran. ayam harus makan. refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis. Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan. dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan. Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum. ular harus makan. serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji. di samping induksi dan deduksi. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan.

atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir. sedangkan untuk berfikir deduktif. dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. Sebaliknya. contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup. Dengan kata lain. semua binatang harus makan. maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan. dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi. proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK . Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.1997). dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis.9-44 Penelitian Tindakan Kelas dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi. Untuk membuatnya menjadi deduksi. yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas. batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan. yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. dan (ii) karena ular adalah binatang. Untuk berfikir induktif. Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat dari hal abstrak yang berlaku umum. Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang . atau deduksi. Bagaimana penilaian mutu hasil induksi. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya. antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. Hanya saja berbeda dan penelitian formal. untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif.

refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. mengimplentasikan tindakan baru. Dengan kata lain. 1997). 1. yaitu deduksi data.Penelitian Tindakan Kelas 9-45 telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. Dengan kata lain. pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. paparan data. mengabstraksikan. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. sebaliknya. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi. dan penyimpulan. Analisis Data Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. representasi tabular termasuk dalam format . mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. Namun. baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. memfokuskan. meyederhanakan. atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. menyusun perencanaan baru.

dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. tetapi mengandung pengertian luas. refleksi . Apabila memang masih dipandang perlu. representasi grafis. IDENTIFIKASI ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN TINDAK LANJUT Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. . apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis. Dengan kata lain. kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Apabila dicermati.merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. 2. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan.9-46 Penelitian Tindakan Kelas matniks. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi. Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat. Refleksi Sebagaimana telah dikemukakan di atas. dan sebagainya. dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut.

maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru. Oleh karena itu. tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif. maka terbuka peluang untuk dampak samping dan tindakan yang mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru. menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. memprakirakan peluang keberhasilan. Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas.Penelitian Tindakan Kelas 9-47 Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan direncanakan itu. dan pada gilirannya. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK . Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan. Akhirnya. namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. seorang pelaksana PTK pemikiran tentang sebab-sebab tidak boleh hanya terpaku pada kejadian-kejadian pada fase dan sebelumnya. di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK membahas observasi inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. yang hendak ditekankan . ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan.

F. Namun. Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan). maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1. Namun. dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu. maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. dan seterusnya.9-48 Penelitian Tindakan Kelas dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan. perencanaan tindakan. dan analisis-refleksi. pelaksanaan tindakan. yaitu perumusan masalah. memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang . PERENCANAAN TINDAK LANJUT Sebagaimana telah diisyaratkan. Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau. Di pihak lain. ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. Dengan demikian. Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya. jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan. dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada. dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak. observasi dan interpretasi.

Catatan lapangan. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai. 1998). PROSEDUR OBSERVASI 1. kecerobohan.kelas dalam suasana serius. Catatan anekdot adalah riwayat tertulis. Catatan anekdot. Deskripsi perilaku ekologis. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. . perilaku kurang perhatian. perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik untuk memulainya. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa-peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. G.Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukan dan katakan” . tetapi tawa meledak …. Deskripsi akurat ditekankan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto. yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik. c. tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. a. longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam suatu jangka waktu. b. Teknik-teknik yang dimaksud sebagai berikut. Seperti halnya catatan anekdot. guru. deskriptif.Penelitian Tindakan Kelas 9-49 dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa. Alat Bantu Observasi Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan. pertengkaran picik. misalnya dalam situasi belajar-mengajar: . Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu.

9-50 Penelitian Tindakan Kelas . kebijaksanaan. garis besar. Logs. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis. Catatan harian mungkin memuat observasi.Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggungnya. tes formal dan informal. e. perasaan. dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat. kantor atau bagian kantor. hipotesis. dsb. efisiensi penilaian. penafsiran. dan atau peraturan. tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu. seorang siswa …. Analisis dokumen. dugaan. Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. f. papan pengumuman guru. kualitas pekerjaan siswa. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topiktopik seperti pendahuluan pelajaran. publikasi siswa atau karyawan. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individu sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan sejumlah topik. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan. Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian. Gambaran tentang persoalan. satu untuk satu kartu. papan pengumuman siswa. Kartu cuplikan butir. pekerjaan siswa yang dipamerkan. Catatan harian. edaran untuk orang tua atau karyawan. sekolah atau bagian sekolah. d. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tenbtang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif. reaksi. memo guru atau pejabat. Teknik ini mirip dengan catatan harian. memo untuk staf. g. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain. kontak individual dengan siswa. disiplin. pengelompokan kelas. dan perilaku . dan penjelasan.

dan atau tambahan-tambahan rapat staf yang relevan. (a) Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. . Angket terdiri atas pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya. Teknik ini membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh. korespodensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subjek penelitian. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah.Penelitian Tindakan Kelas 9-51 seorang siswa. h. i. atau posisi mereka. dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat pada atau timbulnya kebosanan dengan aspek tertentu. Pertanyaannya harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat. kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Pertanyaan ada dua macam. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambahan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti. perasaan. Portofolio. tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. penilaian. Angket. Menguji coba pertanyaan dengan teman atau cuplikan kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahaptahap eksplorasi. (b) Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi mana yang paling dekat dengan pendapat.

l. tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. kategori jadwal dan checklist mungkin menunjuk pada: . (b) Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara. Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. Wawancara dapat: (a) Tak terencana: misalnya. omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subjek penelitian. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas.9-52 Penelitian Tindakan Kelas j. yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. yang pencatatannya dilakukan dengan jarak waktu. Jadwal dan checklist interaksi. Metode ini digunakan untuk apakah individuindividu disukai atau saling menyukai. atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. dalam situasi sekolah. atau berdasarkan peristiwa. Misalnya. Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sisiogram yang mencatat hubungan seluruh kelompok. Teknik ini memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dari pada angket. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subjek tertentu ingin bekerja sama. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subjek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. k. (c) Terstruktur: Pewawancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaannya. Metode Sosiometrik. Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. Wawancara.

o. Bila ada asisten yang membantu. rapat. duduk dengan siswa yang lamban. menyela.Penelitian Tindakan Kelas 9-53 (a) Perilaku verba guru: misalnya. Rekaman video. menangis. tersenyum. berkelakar. menggambar. tertawa. Jika transkripsi esktensif diperlukan. menulis. (d) Perilaku nonverbal siswa: menoleh. mendisiplinkan (individu atau kelompok). menulis cepat. menjawab. memberi isyarat. . misalnya aspek kegiatan kelas. lokakarya. Subjek-subjek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian. menulis. yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. lebih banyak perhatian dapat diberikan reaksi dan perilaku subjek secara perorangan. prosesnya mungkin menjadi panjang dari segi waktu. berdiri dekat siswa yang pandai. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. (c) Perilaku nonverbal guru: misalnya. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. Foto dan slide. (b) Perilaku verbal siswa: misalnya. Rekaman pita. foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data. diskusi. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mna perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. mengerutkan kening. Karena daya tarik bagi subjek penelitian. mondar-mandir. bertanya. atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. seminar. bertanya. n. m. Foto dan slide berguna untuk merekam peristiwa penting. Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/ peristiwa untuk dianalisis kemudian. Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) analisis yang cermat. menjelaskan.

Jadi. Penampilan subjek penelitian pada kegiatan penilaian. Sasaran Observasi Dalam PTK. Pada gilirannya. Sebagaimana telah dikemukakan. penguasaan. masyarakat dan seterusnya. untuk mendiagnosis kelemahan dsb. 1.selama proses pernbelajaran berlangsung. Pertanyaan-Pertanyaan tentang PTK Sekalipun Penelitian Tindakan kelas telah diujicobakan dan disosialisasikan pada pelatihan-pelatihan guru. sebagaimana halnya dalam tindakan pembelajaran umumnya. beberapa pertanyaan peserta pelatihan PTK menggambarkan tentang isu-isu sentral pelaksanaan PTK. Alat penilaian dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. data yang diperoleh dan observasi itu langsung diinterpr-etasikan maknanya dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah direncanakan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. secara bersamaan juga dilakukan pengamatan tentang segala sesuatu yang terjadi --atau tidak terjadi-. misalnya: sekolah.9-54 Penelitian Tindakan Kelas p. Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi. data dan interpretasi hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan refleksi. yang memberi ciri PT itu bukan masalah besar atau . organisasi besar. observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya. Selanjutnya. sama seperti pada tindakan pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin. 2. pada saat dilaksanakannya tindakan. PT pun dapat dilakukan dalam skala yang luas. 3. Pertanyaan: Dapatkah dianggap bahwa penelitian tindakan (PT) itu adalah penelitian skala kecil? Jawab: Bukan masalah besar atau kecil yang mencerminkan suatu penelitian itu dapat dianggap PT.

researcher. . PT tidak ambisius untuk membuat generalisasi. Untuk itulah. sebagaimana merupakan fokus penelitian empiris bukan merupakan masalah pokok dalam konsep PT. Dalam konsep penelitian empiris. mengingat di dunia ini tidak ada individu/ sekolah/ organisasi/ komunitas yang sama persis. namun karena prinsip PT adalah critical approaches. Dalam konsep PTK. manusia dianggap sebagai subjek aktif (subjek yang dapat memainkan peran). Jadi. Buat apa menggeneralisasikan? PT lebih berorientasi pada produk/ perubahan (improvement oriented) daripada sekadar generalisasi. satu kelompok sebagai kelompok perlakuan. manusia dianggap sebagai objek pasif. Pertanyaan: Dapatkah disimpulkan bahwa PT itu sama dengan penelitian eksperimen? Jawab: Tidak bisa. 2.Penelitian Tindakan Kelas 9-55 kecilnya kelompok. PT bercirikan ”penelitian kritis” (criticalism approaches). PT bukan penelitian empiris. Dalam konsep PT. Penelitian eksperimen adalah satu contoh penelitian empiris. manusia adalah agen of change yang dapat memperbaharui dunia. untung/ dapat sesuatu yaitu pemahaman. yang lain diperlakukan sebagai objek pasif --tidak dapat keuntungan apa-apa (researched). diaduk-aduk supaya homogen. yang dapat diberi perlakuan (dibandingkan. 3. bagaimana penjelasannya? Jawab: PT pada dasarnya tidak anti statistik. dst. masalah samplingpopulation.). yang di antara researcher dan researched terdapat jurang pemisah sehingga yang satu. Cara pandang empiris seperti ini ditolak oleh pendekatan critical yang berkeyakinan manusia bukan objek pasif yang dapat dimainkan: satu kelompok sebagai kontrol. Pertanyaan: Ada yang menganggap bahwa PT itu anti statistik. prinsip-prinsip statistik inferensi (alat generalisasi berdasarkan sampel) seringkali ditinggalkan (tidak dipakai). misalnya statistik deskriptif. Statistik masih dapat dimanfaatkan dalam penelitian PT.

suatu penelitian langsung dapat disimpulkan sebagai penelitian empiris atau penelitian tindakan. artinya tidak semua masalah riil itu problematik (harus dipecahkan) sebab: (1) mungkin masalah itu sudah . (b) masalah harus problematik (perlu dipecahkan). Hanya dari masalah yang diteliti saja. bagaimana penjelasannya? Jawab: Ya.9-56 Penelitian Tindakan Kelas 4. untuk PT oleh guru. Sebagi contoh. mahasiswa/dosen tersebut. jika ada seorang dosen/ mahasiswa melakukan penelitian di sekolah tempat guru tersebut mengajar. namun berasal dari orang luar (outsider. Pertanyaan: Masalah apa yang dapat didekati dengan PT? Jawab: Pada dasarnya setiap masalah dapat dipecahkan oleh pendekatan PT. hanya dari tahapan identifikasi masalah saja. Kecuali. guru yang mengungkapkan masalah yang ada di kelasnya dengan penggalian yang lebih tajam oleh mahasiswa/dosen. sebab masalah yang diteliti tidak datang dari guru itu sendiri. artinya: masalah itu harus benar-benar riil/ nyata muncul dari dunia tanggung jawabnya. 5. sudah dapat dibaca apakah masalah itu masalah milik peneliti sendiri (on tehe job) atau masalah orang luar (out of job-problem). apabila untuk penggalian masalah yang diteliti terjadi kolaborasi dengan pihak guru. yaitu: (a) masalah harus nyata (realistis): ada/ dirasakan oleh peneliti sebagai masalah. masalah-masalah proses pembelajaran di kelas tempat guru mengajar adalah masalah riil/ nyata yang bersifat on the job problem oriented. Pertanyaan: Bagaimana cara menemukan masalah PT? Jawab: Langkah-langkah berikut dapat dipakai untuk menemukan masalah yang bai. suatu penelitian sudah dapat digolongkan apakah itu penelitian empiris atau critical (PT). masalah untuk PT harus memenuhi kriteria on the job problem oriented. Dengan demikian. sekalipun demikian. 6. Pertanyaan: Hanya dari identifikasi masalah saja. Masalah PBM lain yang tidak menjadi tanggung jawab guru tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang on the job. penelitian itu tidak dapat digolongkan sebagai PT.

lingkungan sekolah.Penelitian Tindakan Kelas 9-57 ada yang membahas. (c) laporan belum menunjukkan perubahan (improvement-oriented) baik pada siswa. . 8. dan (e) umumnya penelitian empirisme adalah jenis penelitian yang paling mendominasi di Indonesia. (c) masalah itu harus meaningfull (bila dipecahkan terasa manfaatnya. karena: (1) mungkin tidak ada alat/ dana. sehingga laporan masih terkesan empiris. problematik. (2) tidak cukup waktu. petunjuk-petunjuk ke araha ini belum disajikan. data-data kualitatif yang sebenarnya berbobot belum tersaji. (c) ownership of a problems tidak kuat: rasa handarbeni terhadap suatu problem belum terlihat jelas sehingga keterlibatan dalam setiap langkah penelitian masih sebatas physical involvement belum mental involvement sehingga reflective thinking dari peserta belum menonjol. tidak semua masalah riil. dan (d) masalah itu harus fisibel (artinya dapat dipecahkan). (b) hasil/data cenderung dikuantitatifkan. 7. (d) reflective thinking belum merupakan budaya pikir dan kerja peserta penelitian sehingga catatan-catatan harian (learning logs) belum dimaksimalkan dalam pembuatan laporan. tes saja). (2) masalah itu di luar kewenangan/ keahlian/ tanggung jawabnya. dan (3) kurang dukungan literatur. meaningfull itu dapat dipecahkan. Pertanyaan: Kendala apakah yang sering ditemui pada pelaksanaan PTK? Jawab: Pada umumnya kendala-kendala pelaksanaan PTK adalah: (a) masih lemahnya pemahaman akan prinsip-prinsip PT. dan (3) masalah itu jelas manfaatnya. belum critical. guru. yaitu: (a) masih digunakan hanya satu alat koleksi data (angket. (b) komunikasi/ kolaborasi antara peserta penelitian yang belum optimal: diskusi kadangkala masih didominasi oleh salah satu peserta. Pertanyaan: Bagaimana kesan laporan pilot project PTK yang selama ini telah dilaksanakan oleh para guru? Jawab: Warna penelitian empiris masih kental mewarnai laporan PTK. belum menyajikan berbagai cara koleksi data. wawancara.

apakah harus menguasai statistik terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus! Seperti telah dijelaskan PT bukan penelitian empiris sehingga PT tidak ambigius membuat generalisasi-generalisasi sehingga untuk inferential statistics tidak harus dikuasai. 9. sekalipun demikian descriptive statistics masih dapat dimanfaatkan. dan kemudian menyenangi/ mempersiapkan diri untuk menjadi agent of change. hal inilah yang menyebabkan laporan-laporan PTK belum bisa menggambarkan perubahan/pembaharuan yang terjadi. perlukah menguasai kedua penelitian jenis penelitian empiricalisme dan intepretivisme terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus menguasai semua. 11. Pertanyaan: Syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang peneliti PT/PTK yang sukses (action researchers)? Jawab: Syarat utama yang harus dimiliki adalah jiwa agen pembaharuan (agen of change): tanpa memiliki jiwa agen pembaharuan.9-58 Penelitian Tindakan Kelas sehingga para guru umumnya masih ’berbaju’ empiris saat melakukan PTK. kemajuan sistem/organisasi kelas/sekolah. 12. sehingga peneliti mampu memahami dengan sempurna prinsip-prinsip PT yang berbeda dengan kedua pendekatan tersebut. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses (PTK maksudnya). Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses. namun prinsip-prinsip (filosofis) kedua jenis penelitian perlu dipahami. susah kiranya menjadi peneliti PT yang sukses. kemajuan siswa. Pertanyaan: Syarat lain apakah yang diperlukan untuk melaksanakan PT/PTK? Jawab: Yang jelas sebelum melakukan PT/PTK harus memahami prinsip/filosofi PT itu sendiri. justru sebaliknya menggambarkan pemahaman terhadap suatu perlakuan saja. sehingga manfaat PT langsung dapat dirasakan yaitu adanya perubahan (kemajuan): baik kemajuan diri. Petunjuk-petunjuk ke arah kemajuan tersebut harus . 10.

Meskipun butuh waktu dan proses.Penelitian Tindakan Kelas 9-59 dipotret sejak awal/dini. itulah sebabnya menjadi peneliti PT harus seorang yang pemikir reflektif/ kreatif bukan reproduktif (meniru. yes man. kendala/ isu lain akan terus dimonitor untuk mendapatkan keyakinan bahwa PTK dapat dipandang sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. dst. pemahaman secara tuntas tentang filosofi PT akan mengurangi kebingungan pelaksanaan risen PT di tengah-tengah beberapa kemungkinan pendekatan penelitian yang ada.) Demikianlah. . beberapa isu yang dapat dihimpun.

dan NIP. rencana anggaran penelitian. nama peneliti. 2. lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti. pendahuluan/latar belakang masalah. daftar pustaka. b) Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya. Berikut ini adalah penjlasan bagian-bagian itu. 2004). 1. jabatan fungsional. halaman pengesahan. FORMAT USULAN PTK Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting. c) Lokasi penelitian. metode penelitian atau rencana penelitian. dan kategori penelitian. jadwal penelitian. sekolah atau lembaganya. Bagian Isi Usulan PTK Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian. tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan). termasuk. Bagian pengesahan berisi: a) Judul PTK. . cara pemecahan masalah. kontribusi/manfaat. Bagian Awal Usulan PTK Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar. e) Sumber dana penelitian. dan lembaga tempat peneliti bekerja. yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK. pangkat. perumusan masalah. tujuan penelitian. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan. Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti. bidang ilmu. d) Biaya penelitian.BAB III PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. golongan . nama lengkap dengan gelar.

Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-61 a) Judul Penelitian Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal. jelas. . (a) Dilema Pembelajaran Menyimak Bahasa Inggris pada Siswa Kelas III SMA (b) Pemakaian Bahasa Indonesia Lisan Siswa di Lingkungan SMA Kodia Surakarta (c) Hubungan Kemampuan Pengetahuan tentang Majas dengan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 2 Kudus Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK. spesifik. Formulasi judul hendaknya singkat. dan sederhana. Dengan kata lain. Judul berikut ini merupakan beberapa contoh judul PTK.

9-62 Penelitian Tindakan Kelas

(a) Peningkatan Keterampilan Menulis Hasil Wawancara Melalui Media Majalah Dinding dengan Metode Group Investigation pada Siswa Kelas X SMA Purusatama Semarang (b) Peningkatan Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Penciptaan Suasana Rileks pada Kelas II F Semestrer 1 MAN Rembang Tahun pelajaran 2003/2004 (c) Peningkatan Keterampilan Mengungkapkan Gagasan Secara Lisan dalam Bahasa Indonesia Melalui Metode Probing Question di Kelas 1.6 SMU Negeri 3 Sukoharjo (d) Perangkat Audio Visual sebagai sarana Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Bidang Studi Bahasa Inggris di Kelas 1.2 SMU Gemuh (e) Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA N 7 Semarang (f) Permainan Mencari Harta Karun sebagai Teknik Pembelajaran Membaca Denah, Peta, dan Petunjuk pada Siswa Kelas II D SMP N 3 Kalibagor (g) Peningkatan Menyimak Wawancara Melalui Media Audio Visual dengan Metode Student Teams-Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Kroya Kabupaten Cilacap (h) Strategi Kooperatif sebagai Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berwawancara pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Pancur Kabupaten Rembang (i) Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa dalam Mendeskripsikan Benda dengan Teknik Permainan Terka Gambar pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Trobayan Tahun Pelajaran 2005/2006 (j) Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif Teks Berita pada Siswa Kelas VIII D SMP N 3 Jekulo Kudus (k) Pengenalan Karakter Tokoh dalam VCD Dongeng sebagai Media

Penelitian Tindakan Kelas 9-63

Peningkatan Kemampuan Mendongeng pada Siswa Kelas VII SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan (l) Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Catatan Harian dengan Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X SMA N 1 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (m)Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Anak-anak dengan Menggunakan Metode Simulasi ”Perkampungan Sastra” pada Siswa Kelas V SD Bendanpete 1 Nulumsari Jepara

b) Pendahuluan/Latar Belakang Dalam pendahuluan/latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dari berbagai bahan pustaka yang relevan. Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapat memperkukuh alasan mengangkat permasalahan penelitian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian dalam bagian ini. Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan

lainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi)

9-64 Penelitian Tindakan Kelas

masalah

penelitiannya,

maka

selanjutnya

perlu

diidentifikasi

dan

dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antaranggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. c) Perumusaan Masalah Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benarbenar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

d) Cara Pemecahan Masalah Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil analisis masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang

Penelitian Tindakan Kelas 9-65

dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program

pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemänfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.

e) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

f) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan) Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir

9-66 Penelitian Tindakan Kelas

atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian.Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang yang

menggambarkan

tingkat

keberhasilan

tindakan

diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.

g) Tujuan Penelitian Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini. Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagianbagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang JPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya

ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.

h) Kontribusi/Kemanfaatan Hasil Penelitian Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungani, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas

pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para

Penelitian Tindakan Kelas 9-67

dosen LPTK sebagai pendidik guru., maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi

pengembangan ilmu, teknologi, dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

i) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan secara jelas, demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).

(1) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.

(2) Variabel yang diteliti Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel

tersebut dapat berupa (1) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses

9-68 Penelitian Tindakan Kelas

penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi, siswa, hasil belajar siswa, sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.

(3)

Rencana tindakan Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan

mutu pembelajanan seperti: (a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka

perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolah juga

dikemukakan pada bagian ini. (b) Implementasi tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenanio kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (c) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. (d) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak

Penelitian Tindakan Kelas 9-69

tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

(4) Data dan cara pengumpulan data Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai

kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik),

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang

canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

(5) Indikator kinerja Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam

9-70 Penelitian Tindakan Kelas

bentuk pengurangan (jenis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.

j) Jadwal Penelitian Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang

menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil

penelitian disusun selama 10 bulan.

k) Rencana Anggaran Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut. 1) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan); 2) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari total biaya); 3) Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan; 4) Lain-lain pengeluaran (laporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran. 1) Komponen Pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.

Penelitian Tindakan Kelas 9-71

(a) Persiapan Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. (b) Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. (c) Penyusunan laporan hasil PTK Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sehagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris).

2) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelüaran yang diharapkan.

3) Patokan Pembiayaan Satuan Kegiatan Penelitian (a) Honorarium • Ketua peneliti • Anggota tim penetiti • Tenaga administrasi

Pada sisi lain. buku panduan penyusunan usulan PTK dari Ditjen Dikti (2004) menyebutkan bahwa jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang. yang terdiri atas 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK). (b) Bahan dan peralatan penelitian • Bahan habis pakai • Alat habis • Sewa alat (c) Perjalanan • Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan • Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat • Lumpsum tenmasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan • Monitoning • Konsultasi (d) Laporan penelitian • Penggandaan • Penyusunan artiket • Pengiriman (e) Seminar Seminar Iokal • Konsumsi sesuai dengan harga setempat • Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat Seminar nasional • • Biaya transportasi peserta Biaya akomodasi l) Personalia Penelitian Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian/tugas peran setiap anggota peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. 1 orang anggota peneliti (dosen .9-72 Penelitian Tindakan Kelas Besarnya honoranium bergantung pada sumber pendanaan. jika Anda ingin mengajukan usulan PTK ke Dikti.

jabatan. pelatihan di bidang penelitian yang telah diikuti. Olahan penelitian setelah mengumpulkan data d. Rambu-Rambu Penilaian Proposal PTK Berikut ini disampaikan tabel penilaian proposal penelitian tindakan kelas. Nama peneliti. dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. riwayat pendidikan.Penelitian Tindakan Kelas 9-73 LPTK). m) Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. Peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. dan lembaga tempat tugas dirinci sama seperti pada Lembar Pengesahan. 6. Dipancing dalam diskusi dengan guru e. Pengalaman dosen sebagai peneliti c. Relevansi Permasalahan a. Pustaka yang ditulis hendaknya benar-benar relevan dan sungguh-sungguh dipergunakan dalam penelitian n) Lampiran dan Lain-lain Bagian ini dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim peneliti. yaitu 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 1 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Hal-hal lain yang dapat mempenjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan juga dapat disertakan dalam usulan penelitian ini. Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 2 orang peneliti. Berawal dari gagasan guru 2. Disodorkan dari luar b. dan pengalaman dalam penelitian termasuk dalam PTK. NO A KRITERIA Permasalahan INDIKATOR 1. Diberikan pilihan oleh dosen dan guru disuruh HASIL PENILAIAN Nilai Bobot NxB 2 2 3 4 2 1 2 . baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. golongan. pangkat. menyangkut identitas. Asal Permasalahan b.

Bertolak dari permasalahan yang diajukan oleh guru 3. Dipancing melalui diskusi/negoisasi d. tetapi tenaga dan sarana pendukung tidak jelas 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 4 4 3 2 1 1 D Prosedur penelitian 4 3 2 1 4 3 3 E Program kegiatan dan dukungan teknis 1 . Pilihan solusi diberikan oleh dosen LPTK dan ditetapkan oleh guru c. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup satu siklus kegiatan c. Bertolak dari permasalahan yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Cakupan permasalahan a. Jadwal kegiatan tepat/jelas. demikian juga dengan tenaga dan sarana pendukung b. tes kognitif konvensional d.9-74 Penelitian Tindakan Kelas memilih c. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup lebih dari satu siklus kegiatan b. Aspek kognitif. Jadwal kegiatan jelas/tepat. Kurang sesuai dengan langkah-langkah PTK d. Tidak potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran a. Cakupan komprehensif. Dari dosen sebagai peneliti c. Dari kepala sekolah/penilik/pejabat lain sebagai pembina b. Tidak sesuai dengan langkah-langkah PTK a. Kurang potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran d. Berawal dari gagasan guru 2. tes konvensional b. asesmen komprehensif c. Kontekstualitas tindakan a. Bertolak dari masalah yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Rancangan tindakan a. Cukup potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran c. Kontekstualitas tindakan a. Solusi terhadap permasalahan berdasarkan kesepakatan guru dengan dosen LPTK d. asesmen komprehensif B Cara Pemecahan 1. Aspek kognitif. Dimunculkan oleh guru dalam diskusi 3. Sangat potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran b. Cakupan komprehensif. Siklus berikut ditetapkan berdasarkan hasil refleksi C Kemanfaatan hasil a. Hasil diskusi dengan guru d.

Kesesuaian jumlah biaya a. Komponen-komponen pembiayaan tidak dirinci sebagaimana mestinya 3. relevansi . Perumusan masalah (terutamanya: asal. Jadwal kegiatan serta sarana dan prasarana tidak sesuai F Kerjasama LPTK Sekolah a. a. Jumlah biaya melebihi plafond yang ditetapkan 2. b. Semua anggota tim peneliti adalah dosen 1. Jadwal kegiatan kurang tepat/jelas d. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutamanya: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi. Kewajaran pembiayaan a. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara wajar b. dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25). Komposisi dosen dan guru berimbang dan guru berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti b. masukan. proses. Jumlah dosen dalam tim jauh lebih banyak d. dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25). kriteria seleksi yang dilakukan oleh Ditjen Dikti (2004) terhadap usulan PTK mencakup hal-hal sebagai berikut. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara tidak wajar/berlebihan 2 1 4 1 3 2 1 3 2 1 G Pembiayaan 3 2 1 1 2 1 Di samping rambu-rambu penilaian di atas. atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10). Komposisi dosen dan guru berimbang tetapi guru tidak berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti c. c. Rincian komponen-komponen pembiayaan a. Jumlah biaya sesuai dengan plafond yang ditetapkan b. Komponen-komponen pembiayaan dirinci sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan b. Cara Pemecahan Masalah (terutamanya: rancangan tindakan. .Penelitian Tindakan Kelas 9-75 c.

Prosedur Penelitian (terutamanya: prosedur diagnosis masalah. rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian. Kegiatan Pendukung (terutamanya: jadwal penelitian.9-76 Penelitian Tindakan Kelas d. . e. prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30). dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10). perencanaan tindakan. prosedur observasi dan evaluasi. sarana pendukung pembelajaran yang digunakan.

ISI LAPORAN PTK Pada dasarnya apa yang telah ditulis dalam usulan penelitian akan dimuat lagi dalam laporan penelitian. OIeh sebab itu. Laporan penelitian dapat beragam bentuk atau formatnya. Hal itu sangat bergantung pada tuntutan lembaga dan/atau sponsor yang mendukung dana penelitian tersebut. serta betapa hebatnya pun kita menghasilkan sebuah penelitian. . maupun bahasanya. PENGANTAR Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Meski beragam bentuk atau formatnya. bagaimana pun telitinya kita membuat rancangan penelitian. peneliti dapat memilih atau mengembangkan sendiri format laporan yang akan digunakan. Ia juga merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya.BAB V LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. B. Bagaimana menyusun laponan PTK? Berikut ini akan diuraikan secara garis besar tentang teknik penyusunan laponan PTK. struktur. Ia merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. Jika pihak sponsor tidak menetapkan format yang harus diikuti atau penelitian dilaksanakan secara swadana. penelitian hanya akan mempunyai arti apabila hasilnya dilaporkan secara memadai melalui laponan penelitian (Shah. secara mendasar laporan itu sama dalam hal tuntutan isi. laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. 1985). Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. Bagaimanapun pentingnya teori dan hipotesis.

d. dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. dan (7) daftar pustaka. Misalnya. (4) metode penelitian yang memuat rancangan penelitiqan. (6) simpulan. dan prosedur/langkah kerja. (3) pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian. (5) hasil-hasil penelitian. adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas. laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkas dan dituangkan dalam paragraf-paragraf yang ringkas dan padat. Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif. seperti dijelaskan di atas. Jenis yang pertama laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif (executive summary). (2) nama peneliti (ketua dan anggota). laporan PTK dari proyek OPF Diknas dan PTK PGSM. adalah laporan penelitian yang lengkap. memiliki format yang berbeda. Laporan penelitian yang lengkap. 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda (2 spasi). Para eksekutif dalam membaca suatu laporan penelitian hanya memerlukan butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. sasaran penelitian. yang sudah sangat umum. ada dua jenis laporan penelitian jika dilihat dari formatnya. ada bermacam-macam format sesuai dengan pihak sponsor dana. padat. rumusan masalah.9-78 Penelitian Tindakan Kelas Dalam perkembangannya yang terakhir. sesuai dengan namanya. Panjang laporan sekitar 10 s. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format eksekutif adalah: (1) judul penelitian. sedangkan jenis yang kedua. dan tujuan penelitian. Jenis laporan ini seolah-olah akan dibaca oleh para eksekutif yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca laporan lengkap dari suatu hasil penelitian. Dari sekian macam format laporan PTK akan disajikan satu contoh format laporan PTK berikut ini. Karena itu. .

... Simpulan 2. Bab III METODE PENELITIAN 1......... Tujuan Penelitian 4...... Prosedur Analisis Data Bab IV HASIL PENELITIAN 1..... Manfaat Penelitian Bab II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1...... Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4.. Saran/Rekomendasi BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran ...... .. 2..... 3......... Paparan Data 2. Prosedur Observasi dan Refleksi 5.................... ....... Pembahasan Bab V PENUTUP 1.......... Setting Penelitian dan Latar belakang Subjek Penelitian 2.......Penelitian Tindakan Kelas 9-79 BAGIAN AWAL Halaman Judul Abstrak Prakata Daftar Isi BAGIAN UTAMA Bab I PENDAHULUAN 1...... Uji Hipotesis 3................ ... Latar Belakang Masalah 2... Rancangan Penelitian 3........ Rumusan Masalah 3...

dan (4) daftar isi.9-80 Penelitian Tindakan Kelas Keterangan singkat tentang isi dari masing-masing format dari ketiga bagian laporan lengkap penelitian tersebut disajikan berikut ini. daftar gambar. melainkan inti sari yang sangat pnting dari hasil penelitian. yaitu: (1) halaman judul. tindakan sebagai upaya pemecahan. Abstrak Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. pada bagian bawah bidang pengetikan ditulis lembaga yang menyelenggarakan atau menyeponsori penelitian. BAGIAN AWAL Paling sedikit ada empat unsur pokok yang termasuk dalam Bagian Awal dari laporan PTK. daftar singkatan. (3) prakata. Kemudian. Terakhir. Halaman Judul Judul penelitian berupa kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti. daftar lampiran. Hal-hal penting tersebut adalah latar . Sekiranga diperlukan. 1. Abstrak bukanlah ringkasan hasil penelitian. di mana dan kapan penelitian akan dilakukan. bagian awal ini dapat ditambahkan dengan daftar tabel. jelas. Pada halaman judul ini judul penelitian ditulis simetris di bagian atas bidang pengetikan dengan huruf kapital. Panjang abstrak sebaiknya satu halaman. sederhana. dan mudah dipahami. singkat. terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan. Dengan hanya membaca abstrak seseorang dapat memahami pokok- pokok yang ditulis dalam laporan. Akan tetapi jika tidak cukup bisa diperpanjang maksimum sampai dua halaman kertas ukuran kuarto. di bawah nama lembaga atau sponsor dicantumkan tahun selesainya penelitian atau tahun ditulisnya laporan penelitian. (2) abstrak. 2. Agak jauh di bawah judul dicantumkan nama tim peneliti (bisa ketua saja atau lengkap ketua dan anggota).

Daftar Isi Hal-hal yang dicantumkan dalam daftar isi adalah judul bab dan sub-judul (satu peringkat di bahawa judul bab). Pendahuluan a.Penelitian Tindakan Kelas 9-81 belakang masalah. Latar Belakang masalah Berisi uraian (1) fakta-fakta yang mendukung yang berasal dari pengamatan peneliti. hasil penelitian. (3) hasil penelitian terdahulu (jika ada). 1. dan (5) penutup. 4. . Lazimnya. (2) kerangka teoretik dan hipotesis tindakan. bagian ini bisanya diisi dengan harapan akan kemanfaatan hasil penelitian. BAGIAN UTAMA Isi bagian utama dari laporan penelitian merupakan inti dari keseluruhan laporan. dan (4) alasan pentingnya penelitian tindakan ini dilakukan. tujuan penelitian. (3) metode penelitian. 3. bagian utama laporan penelitian tindakan terbagi menjadi lima bagian (yang disebut bab). dan kesediaan menerima masukan yang datang dari berbagai pihak. dan implikasinya. Prakata Prakata berisi ucapan syukur dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian. Sub-sub judul yang lebih dari satu peringkat di bawah judul bab tidak perlu dicantumkan karena akan menyebabkan daftar isi menjadi terlalu panjang. Selain itu. yaitu: (1) pendahuluan. pelaksanaan penelitian. (2) argumentasi teoretik tentang tindakan yang dipilik. (4) hasil penelitian.

tindakan inilah yang kemudian dituangkan dalam hipotesis tindakan dalam rangkan pemecahan masalah. (3) dinyatakan dalam kalimat pertanyaan/pernyataan.9-82 Penelitian Tindakan Kelas b. (2) guru/dosen pelaksana PTK. (5) sekolah/LPTK . tujuan penelitian berisi pernyataan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh peneliti dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa. 2. prosedur observasi dan refleksi. Rumusan Masalah Berisi uraian yang menjelaskan: (1) kesenjangan antara situasi yang diinginkan dan yang ada dan dapat dipecahkan. prosedur analisis data. perbaikan atau peningkatan. Metode Penelitian Bab ini berisi hasil pengembangan dari yang telah ditulis dalam usulan penelitian dengan catatan bahwa metode dalam usulan adalah yang akan dilaksanakan. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretik berisi kajian teoretik yang relevan yang mendasari penelitian tindakan. Unsur-unsur yang ada pada bagian metode ini adalah: setting penelitian dan latar belakang subjek penelitian. rancangan penelitian. Tujuan Penelitian Secara operasional. Manfaat Penelitian Berisi manfaat atau sumbangan hasil penelitian khususnya bagi (1) siswa. sedangkan pada laporan dikemukakan metode yang senyatanya telah dilaksanakan. 3. c. Kata “akan” yang ada dalam usulan tidak boleh ada lagi dalam laporan. (2) rancangan tindakan pembelajaran yang mempunyai landasan konseptual. (4) kalangan guru/dosen pada umumnya. bukan yang akan dilaksanakan. perencanaan dan pelaksanaan tindakan. . d. Artinya yang dilaporkan adalah metode yang telah diterapkan dalam melaksanakan penelitian. dengan tindakan akan terjadi perubahan.

. setiap judul tulisan yang dimuat dalam daftar pustaka harus telah dipergunakan sebagai rujukan secara eksplisit dalam naskah laporan.Penelitian Tindakan Kelas 9-83 4. tetapi jika daftar pustaka disamakan artinya dengan bibliografi. Judul tulisan yang tidak dikutip secara eksplisit dimasukkan dalam daftar karena dibaca dan secara umum ide-idenya dipakai sebagai dasar penulisan. Saran yang didasarkan atas pertimbangan lain di luar simpulan tidak boleh diajukan dalam laporan penelitian. Daftar Pustaka Istilah “daftar pustaka” biasanya mempunyai dua arti: (a) referensi dan (b) bibliografi. Saran dibatasi hanya yang terkait langsung dengan simpulan. namun tidak dapat dirujuk secara khusus. Jika daftar pustaka diartikan referensi (daftar rujukan). Pembahasan ini berisi perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian lain atau pengetahuan teore yang relevan. Hasil Penelitian Pada bab ini dilaporkan tentang deskripsi data (perlakuan atau intervensi dan dampak intervensi). baik yang dikutip secara eksplisit pada salah satu bagian di dalam naskah maupun yang tidak. 1. pengujian hipotesis. 5. BAGIAN AKHIR Bagian akhir dari laporan penelitian tindakan memuat antara lain daftar pustaka dan lampiran. Penutup Bab ini berisi simpulan dan saran/rekomendasi. Riwayat hidup (curriculum vitae) peneliti biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. Simpulan didasarkan pada hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. dalam daftar pustaka dapat dimuat semua judul tulisan yang dibaca oleh peneliti dan mendasari penulisan naskah. dan pembahasan hasil pengujian hipotesis.

perlu dilampirkan pada laporan. data asli (mentah). C. print out hasil analisis data dengan komputer. maupun bahasanya. peneliti haruslah menyiapkan laporan penelitian dengan baik. menyusun dengan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang laporan penelitian dan harus dikerjakan secara profesional. Laporan penelitian tidak dapat dianggap sebagai karya yang dapat dikerjakan sambil lalu. surat-surat penting dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian. Ia harus menata.9-84 Penelitian Tindakan Kelas 2. struktur. Ia harus dikemas secara baik. . PENUTUP Laporan penelitian merupakan pertanggunjawaban peneliti. isi. Lampiran Semua dokumen yang tidak berupa naskah (teks) tetapi dianggap penting untuk mendukung apa yang ditulis pada naskah laporan dan dapat dilacak oleh pembaca dengan mempelajari dokumen tersebut. Peneliti harus benarbenar mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya benar-benar maksimal. Oleh sebab itu. baik dari sudut format. Misalnya: instrumen penelitian. daftar cek. pedoman observasi. seperti kuesioner (angket).

PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran dengan memanfaatkan pengahayatan guru akan masalah pendidikan dengan cara kotaboratif dan reflektif Penelitian kelas dibatasi sebagai penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional. instrumentasi dan analisisnya tidak harus ketat seperti pada penelitian formal. kolaboratif. dan pengembangan peningkatan profesionalitas guru. PTK merupakan alternatif yang sangat tepat untuk menggantikan posisi penelitian formal atau penelitian kelas yang selama ini banyak dikerjakan untuk dapat meningkatkan praksis pembelajaran dari dalam dengan cara kolaboratif dan reflektif. PTK dikerjakan oleh orang dalam (baca guru) sedangkan penelitian formal dikerjakan oleh orang luar yang tidak menghayati masalah di kelas secara mendalam. Penelitian ini dilakukan oleh orang di luar dunia pendidikan yang tidak menghayati masalah pendidikan dan penyebaran basil penelitian pendidikan memakan waktu yang lama untuk sampai pada guru. Oleh sebab itu. reflektif PTK mempunyai manfaat untuk inovasi kurikulum di tingkat sekolah.BAB V PENUTUP Penelitian pendidikan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi guru di dalam kelas. dan pembelajaran. PTK bercirikan perbaikan praksis pembelajaran dari dalam. PTK itu metodologinya longgar. Sampel PTK khusus sedangkan penelitian formal represertatif . PTK mengembangkan praksis pembelajaran sedangkan penelitian formal verifikasi dan menemukan pengetahuan yang akan digeneralisasikan. PTK berbeda dengan penelitian formal dalam berbagai cara sebagai berikut.

dan terjadilah daur PTK . basil penelitian. yakni perencanaan. dan refleksi. Hasilnya kemudian direfleksi oleh guru dibantu oleh teman kolaborasinya. maka guru barus siap mengadakan revisi terhadap tindakan yang dilakukan dan menetapkan tindakan baru yang kemudian akan dilaksanakan dan diobservasi dan direfleksi. serta pengalaman mengajarnya. dosen. wawancara. Tahap selanjutnya guru dengan berkolaborasi bersama teman sejawat. Pada saat pelaksanaan itu guru mengadakan observasi yang berupa nontes. dan sebagainya serta dengan tes untuk melihat kemajuan praksis pembelajaran siswa. Begitu seterusnya. Masalah PTK adalah masalah yang memang benar-benar dirasakan oleh guru dan bukan masalah yang diturunkan dari atasan atau dan pihak dosen. observasi. atau kepala sekolah/birokrat pendidikan yang lain membuat rencana tindakan yang dipersiapkan secara matang dan melaksanakannya di dalam kelas. Dengan masalahnya itu guru berupaya untuk mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkan hipotesis tindakan yang dikajinya dan berbagai teori.9-86 Penelitian Tindakan Kelas PTK dilaksanakan dengan prosedur berdaur. . begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki praksis pembelajaran. Jika hasilnya belum baik. yakni pengamatan. pelaksanaan.

“Alternative Paradigms in Educational Research”. “Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) untuk Tahun Anggaran 2004”. Philadephia: Open University Press. Knowledge. IL. and Action Research.C. dan Wisemen. Tisno. 1993. Research Methodology I: Issues and Methods in Research. 1983. Dalam The Action Research Reader. Carr. Analyze. J. Penelitian Tindakan Berbasis Kelas dan Sekolah. Edward. Geelong. “Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Cobstructs: an Accont of the work of the Ford Teaching Project”. Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM tanggal 18—22 Oktober. Australian Educational Researcher. Connole. Branson. .d. Second Edition. Candy. D. & Manion. New York: University Press. 1991.. 1980. Victoria: Deakin University. AERA. London & Canberra: Croom Helm. Australia: Deakin University. Action Research in a School University Partnership. FIP IKJP Surabaya. L. and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. 1989. David. Geelong: Deaking University. Departemen Pendidikan Nasional. Gelong. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 1982. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Depdiknas. P. 1982. Format Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas . Elliot. Victoria. Action Research for Educational Change. Becoming Critical: Education. 2000. S. Johnston. R. B. H. Philadelphia : Open University Press. L. 1998. Singaraja. dan Miller. J. PTK. Balian. 2004. How To Design. S. 1992. Research Methods in Education. STKIP. John. & Kemmis. Hadisubroto. Hopkins. Penyusunan Proposal PTK. W. 11. Cohen. Soli 1998. Elliot..DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. 1997. Smith. Jakarta: Ditjen Dikti. 1997. Chicago. M. 16 (3) 1 s. Jakarta.

1998. Priyono. Using Action Research to Improve Teaching. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). McNiff. Muhadjir. Analisis dan Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Makalah pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi Dosen dan Guru. Depdikbud. Tejemahan Muhajir Darwin dari Reporting Research. PPGSM Ditjen Dikti. Chapter prepared for inclusion in D. Noeng. Shah. Pemantauan dan Evaluasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Beijing: Beijing Teacher College Press. ”Appraising Report of Inquiry”. 3rd ed. 1997. Jakarta: BP3SD. tanggal 9 September 1999. 1994. Sumarno.) Social Science Methodology for Education Inquiry: A Conceptual Overview. Andreas. Rencana. R. Caulley. 1998. Vimal P. Suyanto. dan McTaggart. Suwarsih. 1988. 1997. J. Kemmis. Action Research: Principles and Practice. The Action Research Planner. S. Bogor.9-88 Penelitian Tindakan Kelas Joni. 1997. Semiawan. 1999. PCP. Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 1992. Bandung : IKIP Bandung. Orto (eds. T. 1991. 1997. H. Raka. PPGSM Ditjen Dikti. 1991. Kember D. 1985. Seri Metodologi Penelitian: Panduan Penelitian Tindakan. Dirjen Dikti. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Victoria: Deakin University. dan M. 1997. Natawidjaya. Jakarta BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud. Depdikbud. . Soedarsono. R. Madya. dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Moore and J. Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta. FX. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Conny R. Dirjen Dikti. Hong Kong: Hong Kong Polytechnic. Dirjen Dikti. London: Routledge. PCP. Desain. Rochman. Menyusun Laporan Penelitian. McTaggart. “Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas”. Jakarta: BP3SD. Kelly. Jakarta: BP3SD.

Penelitian Tindakan Kelas. 1996.Penelitian Tindakan Kelas 9-89 Tim Pelatih Proyek PGSM. SCOPE Program. Tripp. D. 1999. Perth: Education Department of Western Australia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. .

BUKU AJAR PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH .

(2) mengenal format laporan penelitian tindakan kelas. (2) mengenal perbedaan penulisan artikel ilmiah yang konseptual dan yang non konseptual. (3) menyusun draft proposal penelitian tindakan kelas. (3) mengenal format penulisan artikel ilmiah. artikel hasil penelitian. . format tulisan. buku ajar ini mengantarkan peserta PLPG untuk memahami materi-materi tersebut di atas. artikel hasil pemikiran. pada saat peserta PLPG berkeinginan untuk menuliskan hasil penelitian tindakan kelas ke dalam jurnal penelitian pendidikan. dan (4) menyusun draft artikel ilmiah. PENDAHULUAN A. Secara garis besar. jenis dan struktur artikel ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 BAB I. Deskripsi Buku Ajar mengenai “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini meliputi materi pembelajaran tentang penulisan artikel ilmiah. namun demikian peserta juga diminta untuk menyusun draft penulisan artikel ilmiah di bidang kompetensi masingmasing. serta praktik penulisan artikel ilmiah. Buku ajar ini mempunyai hubungan dengan buku ajar yang terutama adalah penelitian tindakan kelas. Jelas bahwa kompetensi dasar kedua mata pelajaran ini akan bersngkut paut. Buku ajar “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini mempunyai standar kompetensi dasar (1) mengenal penulisan artikel ilmiah. Hal ini mempunyai tujuan agar setelah pelaksanaan matapelajaran ini peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menyusun artikel ilmiah yang siap dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah yang tidak maupun terakreditasi. Karena standar kompetensi penelitian tindakan kelas adalah (1) mengenal metode penelitian tindakan kelas.

Hasil draft itu selanjutnya digunakan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ini. 7. Petunjuk Pembelajaran Peserta PLPG harus selalu aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas. 3.9-4 Penulisan Karya Ilmiah B. Peserta mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyusun draft artikel ilmiah. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan enumeratif. Kemudian peserta PLPG harus belajar menyusun suatu draft artikel ilmiah yang selaras dengan format yang tersaji di dalam buku ajar ini. 4. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami kriteria penulisan artikel ilmiah. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil pemikiran konseptual. menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami jenis dan struktur artikel ilmiah. Saran-saran dari pelatih yang belum dipahami perlu ditanyakan kembali kepada pelatih jika perlu meminta perbandingan dengan artikel yang telah termuat di dalam jurnal. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan esai. . 5. C. . Di samping itu. serta dimintakan pendapat dari pelatih. 6.Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil penelitian. selanjutnya mendiskusikan dengan teman lainnya. Kompetensi dan Indikator 1. 2. peserta pelatihan mencermati contoh-contoh yang telah disajikan oleh pelatih dan yang tersaji di dalam buku ajar ini. Peserta PLPG aktif berdiskusi dengan pelatih.

artinya isi penerbitan ilmiah hanya dapat dikembangkan dari fenomena yang memang exist. Menjelaskan perbedaan artikel hasil pemikian konseptual dengan hasil penelitian B. penerbitan ilmiah secara inherent harus menampilkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas karya ilmiah tersebut yang mungkin tidak selalu harus dipenuhi di dalam jenis penerbitan yang lain. walaupun kriteria . sifat dan struktur karya tulis ilmiah. Menjelaskan sikap ilmiah. Berkaitan uraian di atas. Kriteria ini adalah cerminan sifat karya ilmiah yang berupa norma dan nilai yang berakar pada tradisi ilmiah yang diterima secara luas dan diikuti secara sungguh-sungguh oleh para ilmuwan. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. 3. struktur dan sifat-sifat artikel ilmiah 4. 2.BAB II. Berbekal pengalaman bapak dan ibu dalam memahami artikel ilmiah. artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal diharapkan memenuhi kriteria sebagai sebuah karya ilmiah. ilmiah populer maupun yang memang benar-benar merupakan karya ilmiah. baik yang bersifat populer. Menjelaskan bentuk. Menjelaskan sifat artikel ilmiah. URAIAN MATERI Sesuai dengan namanya. penerbitan ilmiah bersifat objektif. Sebagai guru. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Karya ilmiah tentu sudah merupakan bacaan yang sangat akrab dengan peserta PLPG. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar pertama ini. bapak dan ibu akan mengkaji bentuk. KEGIATAN BELAJAR I JENIS DAN STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH A. bapak dan ibu sudah sering membaca berbagai artikel. Pertama. Oleh karena itu.

Lain daripada itu. Rasional menurut Karl Popper adalah tradisi berpikir kritis para ilmuwan. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. struktur. ia juga mengemban sifat pembaharu dan up-to-date atau tidak ketinggalan jaman. Selanjutnya. karena jurnal merupakan sarana komunikasi yang berada di garis depan dalam pengembangan IPTEKS. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para . tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Walaupun demikian. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. dilengkapi dengan keterbukaan dalam menyebutkan sumber bahan yang menjadi rujukannya. juga dipandang sebagai upaya penulis untuk memenuhi etika penulisan ilmiah. dan tidak menyertakan motif-motif pribadi atau kepentingan- kepantingan tertentu dalam menyampaikan pendapatnya. Semua sikap di atas. teknik. dalam menulis artikel ilmiah penulis hendaknya juga tidak mengabaikan komponen sikap ilmiah yang lain seperti menahan diri (reserved). sifat lain karya ilmiah adalah rasional. dan sifat-sifat tertentu. penerbitan ilmiah juga membawa ciri khas ini yang sekaligus berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik yang berkaitan dengan masalah yang dipersoalkan. hati-hati dan tidak over-claiming. lugas. dan kaidah-kaidah tertentu juga.9-2 Penulisan Karya Ilmiah eksistensi fenomena yang menjadi fokus bahasannya dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. Oleh karena itu. Oleh karena itu. penulisannya harus mengikuti pola. jujur. Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Selain objektif.

misalnya Journal of Research in Science Teaching yang terbit di Amerika Serikat dan Jurnal Penelitian Kependidikan terbitan Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Malang. . Di dalam tulisan ini pembahasan akan dibatasi pada struktur dan anatomi dua jenis artikel saja yaitu artikel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian. Pemuatan artikel hasil penelitian. b. dan (3) gagasan atau usulan baru (Pringgoadisurjo. Selain itu. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah. (2) pengamatan empirik. LCD proyektor. d. yaitu artikel hasil pemikiran atau artikel non penelitian dan artikel hasil penelitian. majalah ilmiah pada umumnya memuat salah satu dari hal-hal berikut: (1) kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru. Akan tetapi sebagian jurnal biasanya memuat kedua jenis artikel: hasil pemikiran dan hasil penelitian. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2000). C. artikel hasi pemikiran. Sesuai dengan tujuan penerbitannya. resensi dan obituari ini sejalan dengan rekomendasi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. LEMBAR KEGIATAN 1. Dalam praktik halhal tersebut akan diwujudkan atau dimuat di dalam salah satu dari dua bentuk artikel. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. Alat tulis. Alat dan Bahan a. 1993). Laptop c. seringkali majalah ilmiah juga memuat resensi buku dan obituari. Ada beberapa jurnal yang hanya memuat artikel hasil penelitian.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing.

2. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan bentuk. Kegiatan Inti 3. 35 menit Metode pemberian tugas dan .3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. 1. struktur dan sifat karya tulis ilmiah.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian sifat artikel ilmiah. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Kegiatan Waktu Metode 2. 2. ceramah pemecahan masalah 3. Langkah Kegiatan No. 2.2 Presensi peserta pelatihan.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran.9-4 Penulisan Karya Ilmiah 2. 5 menit Curah pendapat. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya.

dan struktur artikel ilmiah. 4. 3.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit pendampingan Refleksi . 4. Kegiatan Akhir 4.3 Fasilitator memberikan ceramah tentang bentuk dan struktur artikel ilmiah 3.5 Sharing dalam kelas mengenai sikap ilmiah. bentuk.Penulisan Karya Ilmiah 9-5 3. sifat.4 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sikap ilmiah. 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang sikap ilmiah. 3. sifat.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. dan struktur artikel ilmiah. 4. bentuk.

c. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. D. dan struktur karya tulis ilmiah. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai sifat artikel ilmiah.9-6 Penulisan Karya Ilmiah 3. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. penulisannya harus mengikuti pola. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. teknik. dan kaidah-kaidah tertentu juga. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai bentuk. yang selanjutnya mempunyai kecenderungan positif jika dihadapkan pada kasus plagiariasme misalnya. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai karakter sikap ilmiah. b. struktur. dan sifat-sifat tertentu. Oleh karena itu. Walaupun demikian. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. RANGKUMAN Artikel ilmiah mempunyai bentuk. . Hasil a. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing.

Aspek-aspek yang menentukan karakteristik karya tulis. penulis bersikap netral. abstrak. panjang tulisan c. fakta atau kenyataan b. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya tulis ilmiah. obyektif. kebudayaan c. rangkuman dan tindak lanjut b. Sikap ini sesuai dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada. pendahuluan. sikap penulis b. rekomendasi penulis d. Struktur sajian suatu karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari a. argumentasi . kecuali a. Substansi suatu karya tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal. Bagian penutup suatu karya tulis ilmia. penggunaan bahasa 2. dan tidak memihak. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat 1. simpulan dan saran 4.Penulisan Karya Ilmiah 9-7 F. TES FORMATIF 1. pendidikan b. abstrak. penutup 3. abstrak. pemulung d. dan penutup b. kecuali a. bagian inti. pendahuluan. simpulan d. inti (pokok pembahasan). bagian inti. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. Dalam karya tulis ilmiah. simpulan umum c. kecuali a. informatika 5. bagian inti. pada umumnya menyajikan tentang a. struktur sajian d. pendahuluan. simpulan c.

menggunakan gaya bahasa resmi d. resmi b. Untuk membedakan karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah. panjang tulisan . disajikan secara sistematis 9. Keobyektifan penulis karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat a. seseorang dapat mengkaji berbagai aspek tulisan. daftar tabel d. baku c. Di antara judul berikut. daftar pustaka b. senjata makan tuan b. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda adalah a. pengaruh gizi pada pertumbuhan anak d. kumbang cantik pengisap madu c. memaparkan bidang ilmu tertentu b.9-8 Penulisan Karya Ilmiah c. namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen a. lampiran 8. abstrak c. sistematika tulisan b. yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah? a. merupakan deskripsi suatu kejadian c. impersonal d. teori yang diakui kebenarannya d. personal 7. Komponen suatu karya tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan penulisannya. Berikut ini adalah ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah. kecuali a. pengaruh obat bius yang menghebohkan 10 . data empirik/hasil penelitian 6.

Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan seperti itu? 2. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah? . inti. Setelah membaca uraian di atas. ragam bahasa yang digunakan d. Berdasarkan uraian itu. pengarang 2. struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal. coba simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah! 3. Sebutkan aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal karakteristik karya tulis ilmiah. dan bagian penutup.Penulisan Karya Ilmiah 9-9 c. Tes Uraian 1. Secara umum.

8.BAB III. Menjelaskan abstrak dan kata kunci karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan simpulan dan saran karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Di samping itu akan dibahas juga teknik menulis karya tulis ilmiah atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan pendahuluan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 4. KEGIATAN BELAJAR II ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN DAN HASIL PENELITIAN A. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. Menjelaskan penulisan daftar pustaka karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian . KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar yang kedua ini akan dibahas bagaimana menentukan kelayakan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan serta struktur tulisan konseptual. Menjelaskan penulisan pembahasan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 7. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar kedua ini. Menjelaskan penulisan metode karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 3. Pembahasan mengenai materi ini akan bermanfaat pada saat bapak dan ibu menulis artikel konseptual. Menjelaskan pembuatan judul karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 5. 2. 6. Berkaitan uraian di atas. Menjelaskan penulisan hasil penelitian karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian.

yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya. Salah satu ciri penting judul artikel hasil pemikiran adalah . yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. URAIAN MATERI 1. Artikel hasil pemikiran biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok. baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. mengandung unsur-unsur utama masalah. Judul Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya. dan pikiran baru penulis tentang hal yang dikaji. penutup.Penulisan Karya Ilmiah 9-11 B. dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang kuat bagi calon pembaca. bagian inti atau pembahasan. hasil-hasil penelitian terdahulu. di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks. Bagian paling vital dari artikel hasil pemikiran adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas. a. abstrak dan kata kunci. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini. jika memang ada. jelas. Atikel Hasil Pemikiran Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan. tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya. Pilihan kata-kata harus tepat. dan daftar rujukan. artikel hasil pemikiran bukanlah sekadar kolase atu tempelan cuplikan dari sejumlah artikel. Sumber-sumber yang dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan. nama penulis. pendahuluan. yaitu judul. Jadi. apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber.

dan analitik. Jika penulis lebih dari dua orang. argumentative. (dan kawan-kawan). Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini. No. b. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. Hal ini penting karena artikel hasil pemkiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi.1) Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? (Journal of Research in Science Teaching Vol. dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi. 1) Repelita IV: A Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol.2. nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. IX No.9-12 Penulisan Karya Ilmiah bersifat ”provokatif”. argumentasi. Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7.) Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciriciri yang diharapkan ditunjukan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif. . Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi. Nama lembaga tempat penulis bekerja sebagai catatan kaki di halaman pertama. dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu. analisis. No. Nama Penulis Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis. dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan. hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan disertai tambahan dkk. 33.

Ciri-ciri umum artikel hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini. yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel.Penulisan Karya Ilmiah 9-13 c. A qualitative study takes several stage in generating theories. Abstract: Theory Generation through Qualitative Study. bukan komentar atau pengantar penulis. Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci. kata-kata kunci hendaknya diambil dari tresaurus bidang ilmu terkait. These two approaches are more often inappropriately considered as two different schools of thought than as two different tools. Perhatikan contoh abstrak dan kata-kata kunci berikut ini. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak artikel hasil pemikiran adalah ringkasan dari artikel yang dituangkan secara padat. A qualitative study is often contrasted with its quantitative counterpart. Jika dapat diperoleh. diketik dengan spasi tunggal. In fact these two approaches serve different purposes. tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atau tubuh artikel. sehingga (calon) pembaca tertarik untuk meneruskan pembacaannya. Key words: qualitative study. while their tendencies. theory development . and other related quantitative values can be more appropriately investigated through quantitative study. Format lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan). for example. Business transaction pattern and market characteristic. Dengan membaca abstrak diharapkan (calon) pembaca segera memperoleh gambaran umum dari masalah yang dibahas di dalam artikel. can be investigated through qualitative study. Panjang abstrak biasanya sekitar 50-75 kata yang disusun dalam satu paragraf. quantitative study. Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel. frequencies.

Diharapkan. . Sementara itu penulis-penulis lain lebih memfokus pada faktor-faktor ekonomi.. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem politik yang kurang demokratis dan budaya masyarakat paternalistik telah menyebabkan rendahnya partisipasi. misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan yang terkait dengan artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu... Perhatikan tiga segmen bagian pendahuluan dalam contoh di bawah ini. Catatan sejarah pendidikan di negara-negara maju dan dikelompokkelompok masyarakat yang telah berkembang kegiatan pendidikan menunjukan bahwa keadaan dunia pendidikan mereka sekarang ini telah dicapai dengan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan di dalam berbagai bentuk. Di Amerika Serikat dalam tingkat pendidikan tinggi dikenal apa yang disebut “Land-Grant Universities. Partisipasi masyarakat merupakan unsur yang paling penting sekali bagi keberhasilan program pendidikan.9-14 Penulisan Karya Ilmiah d. Pendahuluan Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas.”dst. dengan analisis ini kekurangan analisis terdahulu dapat dikurangi dan dapat disusun penjelasan baru yang lebih komprehensif. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli yang berkaitan dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Dari kajian terhadap berbagai tulisan dan hasil penelitian disebutkan di muka terlihat masih terdapat beberapa hal yang belum jelas benar atau setidak-tidaknya masih menimbulkan keraguan mengenai sebab-sebab menurunnya mutu partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.. Dalam artikel-artikel ini akan dibahas kemungkinankemungkinan menurunnya partisipasi masyarakat tersebut berdasarkan analisis ekonomi pendidikan. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan.

any consideration of the theoretical implementation must start by attempting to resolve the aims and intentions of this cultural practice…(Dari Osborne. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif. Walaupun demikian. . Penggunaan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat. Science earns its place on the curriculum because there is cultural commitment to the value of the knowledge and the practices by which this body of ideas has been derived. Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan. 1996:54). Perhatikan contoh-contoh petikan bagian inti artikel berikut ini. perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. yang membuka kesempatan bagi penulis untuk menampilkan wacana penurunan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dari sudut pandang yang lan. argumentasi. keputusan. analitik. tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Hence. Tinjauan dari berbagai sudut pandang telah menghasilkan kesimpulan yang beragam. dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis. e.Penulisan Karya Ilmiah 9-15 Di dalam petikan bagian pendahuluan di atas dapat dilihat alur argumentasi yang diikuti penulis untuk menunjukan masih adanya perbedaan pandangan tentang menurunnya partisipasi masyarakat di dalam pengembangan pendidikan. dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. analisis. sejauh mungkin juga berciri komparatif dan menjauhi sikap tertutup dan instruktif. komparasi. lazimnya berisi kupasan. Bagian Inti Isi bagian ini sangat bervariasi.

9-16 Penulisan Karya Ilmiah

Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktik-praktik pendidikan adalah suatu keharusan jika dunia pendidikan Indonesia tidak ingin tertinggal dan kehilangan perannya sebagai wahana untuk menyiapkan generasi masa datang ironisnya, kalangan pendidikan sendiri tidak dengan cepat mengantisipasi, mengembangkan dan mengambil inisiatif inovasi yang diperlukan, walaupun kesadaran akan perlunya perubahanperubahan tertentu sudah secara luas dirasakan. Hesrh dan McKibbin (1983:3) menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak telah menyadari perlunya inovasi…(Dari Ibnu, 1996:2) John Hassard (1993) suggested that, ‘Unlike modern industrial society, where production was the cornerstone, in the post modern society simulation structure and control social affairs. We, at witnesses, are producing simulation whitin discorses. We are fabricating words, not because we are “falsyfaying” data, or “lying” about what we have learned, but because we are constructing truth within a shifting, but always limited discourse.’ (Dari Ropers-Huilman, 1997:5) Di dalam contoh-contoh bagian inti artikel hasil pemikiran di atas dapat dilihat dengan jelas bagian yang paling vital dari jenis artikel ini yaitu posisi atau pendirian penulis, seperti terlihat di dalam kalimatkalimat: (1) Hence, any consideration of the theoretical base of science and its practical implementation must start by…, (2) Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktek-praktek pendidikan, adalah suatu keharusan jika…, (3)…We are fabricating words not because …, or ‘lying’ about…, but…dan seterusnya.

f. Penutup atau Simpulan Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian

sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat dilihat pada berbagai

Penulisan Karya Ilmiah

9-17

artikel jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama: mengakhir diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. Perhatiakan contoh-contoh berikut.

Konsep pemikiran tentang Demokrasi Ekonomi pada prinsipnya adalah khas Indonesia. menurut Dr. M. Hatta dalam konsep Demokrasi Ekonomi berlandaskan pada tiga hal, yaitu: (a) etika sosial yang tersimpul dalam nilai-nilai Pancasila; (b) rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dengan perencanaan ekonomi oleh negara; dan (c) organisasi ekonomi yang mendasarkan azas bersama/koperasi. Isu tentang pelaksanaan Demokrasi Ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia menjadi menarik dan ramai pada era tahun 90-an. Hal tersebut terjadi sebagai reaksi atas permasalahan konglomerasi di Indonesia. Perlu diupayakan hubungan kemitraan yang baik antara pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pada saat ini nampak sudah ada political will dari pemerintah kita terhadap kegiatan ekonomi berskala menengah dan kecil. Namun demikian kemampuan politik saja tidak cukup tanpa disertai keberanian politik. Semangat untuk berpihak pada pengembangan usaha berskala menengah dan kecil perlu terus digalakkan, sehingga tingkat kesejahteraan seluruh msyarakat dapat ditingkatkan. (Dari Supriyanto, 1994:330-331) if, as has been discussed in this article, argumentation has a central role play in science and learning about science, then its current omission is a problem that needs to be seriously addressed. For in the light of our emerging understanding of science as social practice, with rhetoric and argument as a central feature, to continue with current approaches to the teaching of science would be to misrepresent science and its nature. If his pattern is to change, then it seems crucial that any intervention should pay attention not only to ways of enhancing the argument skills of young people, but also improving teachers’ knowledge, awareness, and competence in managing student participation in discussion and argument. Given that, for good or for ill, science and technology have ascended to ascended to a position of cultural dominance, studying the role of

9-18 Penulisan Karya Ilmiah

argument in science offers a means of prying open the black box that is science. Such an effort would seem well advisedboth for science and its relationship with the public, and the public and its relationship with science. (Dari Driver, Newton & Osborne, 2000:309) g. Daftar Rujukan Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten diikuti dalam setiap nomor penelitian.

2. Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian sering merupakan bagian yang paling dominan dari sebuah jurnal. Berbagai jurnal bahkan 100% berisi artikel jenis ini. Jurnal Penelitian Kependidikan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang, misalnya, dan Journal of Research in Science Teaching; termasuk kategori jurnal yang semata-mata memuat hasil penelitian. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau ”pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

Penulisan Karya Ilmiah

9-19

Bagian-bagian artikel hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal adalah judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, bagian pendahuluan, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan.

a. Judul Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan tepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antar variabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Walaupun demikian, harus dijaga agar judul artikel tidak menjadi terlalu panjang. Sebagaimana judul penelitian, judul artikel umumnya terdiri dari 5-15 kata. Berikut adalah beberapa contoh.

Pengaruh Metode Demonstrasi Ber-OHP terhadap Hasil Belajar Membuat Pakaian Siswa SMKK Negeri Malang (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No.1). Undergraduate Science Students’ Images of the Nature of Science (Research presented at the American Educational Research Association Annual Conference, Chicago, 24-28 March 1997). Effect of Knowledge and Persuasion on High-School Students’ Attitudes towards Nuclear Power Plants (Journal of Research in Science Teaching Vol.32, Issue 1).

Jika dibandingkan judul-judul di atas, akan sgera tampak perbedaannya dengan judul artikel hasil pemikiran, terutama dengan terlihatnya variabel-variabel utama yang diteliti seperti yang

diperlihatkan pada judul yang pertama dan ketiga.

9-20 Penulisan Karya Ilmiah

b. Nama Penulis Pedoman penulisan nama penulis untuk artikel hasil pemikiran juga berlaku untuk penulisan artikel hasil penelitian.

c. Abstrak dan Kata Kunci Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan terutama diberikan kepada hasil penelitian. Panjang abstrak lebih kurang sama dengan panjang artikel hasil pemikiran dan juga dilengkapi dengan kata-kata kunci (3-5 buah). Kata-kata kunci menggambarkan ranah masalah yang diteliti. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variable-variabel penelitian dan hubungan antara variable-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari variabelvariabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel.

Contoh abstrak: Abstract: The aim of this study was to asses the readiness of elementary school teachers in mathematic teaching, from the point of view of the teacher mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematic which was devided in to two part, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtained scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The result of the study indicated that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty nine point five percent of the teachers got more than 65 arithmetic, and 69,5% gained scores of more than 65 scores in both geometry and arithmetics. Key words: mathematic teaching, teaching readiness, subject mastery.

Penulisan Karya Ilmiah

9-21

d. Pendahuluan Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk

pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalaha penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitan dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemecahan (fisik) dari satu subbagin ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan dengan penggantian paragraf.

e. Metode Bagian ini menguraikan bagaimana penelitian dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Subsubbagian di atas umumnya (atau sebaiknya) disampaikan dalam format esei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif, misalnya:

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan observasi partisipatori. Peneliti terjun langsung ke dalam keidupan masyarakat desa, ikut serta melakukan berbagai aktivitas sosial sambil mengumpulkan data yang dapat diamati langsung di lapangan atau yang diperoleh dari informan kunci. Pencatatan dilakukan tidak langsung tetapi ditunda sampai peneliti dapat ”mengasingkan diri” dari anggota masyarakat sasaran. Informasi yang diberikan dari informan kunci diuji dengan membandingkannya dengan pendapat nara sumber yang lain. Analisis dengan menggunakan pendekatan... Rancangan eksperimen pretest-posttest control group design digunakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian dipilih secara random dari seluruh siswa kelas 3 kemudian

9-22 Penulisan Karya Ilmiah

secara random pula ditempatkan ke dalam kelompok percobaan dan kelompok control. Data diambil dengan menggunakan tes yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh Lembaga Pengembangan Tes Nasional. Analisis data dilakukan dengan... f. Hasil Penelitian Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan. Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan

penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Grafik dan tabel harus dibahas dalam tubuh artikel tetapi tidak dengan cara pembahasan yang rinci satu per satu. Penyajian hasil yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian

Contoh: Jumlah tulisan dari tiga suku ranah utama yang dimuat di dalam berbagai jurnal, dalam kurun waktu satu sampai empat tahun dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Jumlah Tulisan dari Tiga Suku Ranah Pendidikan Sains yang Dimuat dalam Berbagai Jurnal antara Januari 1994-Juli 1997

Suku ranah Konsep Sci. Literacy Teori & Pengaj. Jumlah ranah Lain-lain 3 suku

1994 7 5 2

1995 7 3 12

1996 13 14 1

1997 6 6 5

Jumlah 32 28 20 80

46

Penulisan Karya Ilmiah

9-23

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa frekuensi pemunculan artikel dari tiga suku ranah tersebut di atas jauh melebihi suku-suku ranah yang lain, yaitu 80:46. hal ini menunjukan bahwa...dst.

g. Pembahasan Bagian ini merupakan bagian terpenting dari artikel hasil penelitian. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian dan menunjukan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, mengintepretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan memunculkan ”teori-teori” baru atau modifikasi teori yang telah ada.

Contoh: Dari temuan penelitian yang diuraikan dalam artikel ini dapat dilihat bahwa berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenakalan remaja yang selama ini diyakini kebenarannya menjadi goyah. Kebenaran dari berbagai hal tersebut ternyata tidak berlaku secara universal tetapi kondisional. Gejala-gejala kenakalan remaja tertentu hanya muncul apabila kondisi lingkungan sosial setempat mendukung akan terjadinya bentuk-bentuk kenalan terkait. Hal ini sesuai dengan teori selektive cases dari Lincoln (1987:13) yang menyatakan bahwa... h. Simpulan dan Saran Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokokpokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian. Saran dapat mengacu kepada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan.

9-24 Penulisan Karya Ilmiah

i. Daftar Rujukan Daftar rujukan ditulis dengan menggunakan pedoman umum yang juga berlaku bagi penulis artikel nonpenelitian.

3. Penutup Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

jurnal

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

Penulisan Karya Ilmiah

9-25

C. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. Alat tulis; b. Laptop c. LCD proyektor; d. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah.

2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode

2.

Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran; 2.2 Presensi peserta pelatihan, jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya, maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali; 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan; 5 menit Curah pendapat, ceramah pemecahan masalah

9-26 Penulisan Karya Ilmiah

2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan artikel ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian. 3. Kegiatan Inti 3.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian; 3.3 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan; 3.4 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual; 3.5 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 4. Kegiatan Akhir Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu, tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian; Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan 10 menit Refleksi 35 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan

Penulisan Karya Ilmiah

9-27

pengalaman setelah dilakukan sharing; Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan

3. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran; b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian;

D. RANGKUMAN Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan jurnal baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

9-28 Penulisan Karya Ilmiah

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

F. TES FORMATIF 1. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat

1.

Artikel dapat dikelompokkan menjadi a. artikel laporan dan artikel rujukan b. artikel konseptual dan artikel teoritis c. artikel hasil telaahan dan artikel teoritis d. artikel hasil laporan dan artikel hasil telaahan

2.

Dari sudut ide, salah satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas tinggi adalah a. kelayakan ide untuk dipublikasikan b. wacana tentang ide yang sedang berkembang c. kesiapan ide untuk didiskusikan d. persamaan persepsi para ahli di bidang yang sama

3.

Tulisan analisis konseptual terdiri dari a. judul, abstrak, data, pembahasan, dan referensi b. judul, abstrak, pendahuluan, diskusi, referensi c. judul pendahuluan, diskusi, kesimpulan referensi

Penulisan Karya Ilmiah

9-29

d. judul, pendahuluan, temuan, pembahasan, referensi 4. Dalam suatu artikel konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam peta pengetahuan dimuat pada bagian a. abstrak b. pendahuluan c. diskusi d. referensi 5. Referensi memuat semua rujukan yang a. pernah dibaca penulis b. perlu dibaca pembaca c. dimuat dalam badan tulisan d. diperlukan dalam pengembangan tulisan 6. Salah satu dari tiga pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini a. apa inti teori/konsep yang dibahas? b. mengapa konsep itu dibahas? c. Apa kesimpulan yang dapat ditarik? d. Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan? 7. Salah satu hal yang harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah a. menjelaskan partisipan b. menulis masalah yang sudah pernah dibahas c. memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel d. melaporkan korelasi yang dibahas dalam penelitian 8. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek a. panjang tulisan b. nada tulisan c. gaya tulisan

hasil d. 12-15 kata d. 10-12 kata c. Jelaskan mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel penelitian 2. pendahuluan b. telaah unsur-unsur yang terdapat pada artikel itu! . 15-30 kata 10. Sebut dan jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian! 3. Carilah salah satu artikel hasil penelitian. kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian a. metode c. bahasa tulisan 9. Tes Uraian 1.9-30 Penulisan Karya Ilmiah d. Dalam suatu laporan atau artikel hasil penelitian. Rekomendasi untuk judul adalah a. 8-10 kata b. diskusi 2.

KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar kedua telah disajikan bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah yang bersifat hasil pemikiran dan hasil penelitian. Mengenai Format Tulisan Semua bagian artikel yang dibicarakan di atas ditulis dalam format esai. Pada kesempatan ini akan dicontohkan beberapa petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan. Penggunaan format esai dalam penulisan artikel jurnal bertujuan untuk menjaga kelancaran pembacaan dan menjamin keutuhan ide yang ingin disampaikan. Dengan digunakannya format esai diharapkan pembaca memperoleh kesan seolah-olah berkomunikasi langsung. membuat karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian.BAB IV. mengenal format penulisan esay. dan secara aktif berdialog dengan penulis. Dengan demikian peserta PLPG diharapkan mempunyai keterampilan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang dapat dikirimkan kepada pengelola jurnal penelitian pendidikan (JIP). Pada kegiatan belajar yang ketiga ini berisi mengenai latihan peserta PLPG dalam menulis karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. 3. B. indikator kegiatan belajar ketiga ini adalah: 1. KEGIATAN BELAJAR III PRAKTIK PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH A. Oleh karena itu. Bandingkan dua format petikan berikut: . URAIAN MATERI 1. mengenal format penulisan enumeratif. 2.

(3)…. Jika format esai masih dapat digunakan “penandaan” sejumlah elemen dapat dilakukan dengan format esei bernomor. dan praktik kependidikan. b. Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitiskritis setara dengan hasil penelitian di bidang filsafat kependidikan.. WordPerfect atau MicroSoft Word. Petunjuk bagi Penulis Ilmu Pendidikan a. teori kependidikan.9-32 Penulisan Karya Ilmiah Format Enumeratif Sesuai dengan lingkup penyebaran jurnal yang bersangkutan maka record ISSN dilaporkan kepada pihak-pihak berikut: (a) International Serials Data System di Paris untuk jurnal internasional (b) Regional Center for South East Asia bagi wilayah Asia Tenggara. dan (c) PDII-LIPI untuk wilayah Indonesia. Format Esei Setiap record ISSN dilaporkan kepada internasional Serial Data System yang berkedudukan di Paris. dan seterusnya. Untuk kawasan Asia Tenggara dilaporkan melalui Regional Center for South East Asia dan untuk wilayah Indonesia dilaporkan kepada PDII-LIPI. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format . Di dalam hal-hal tertentu format enumeratif boleh digunakan. dan diserahkan dalam bentuk cetakan (print out) komputer sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya. terutama apabila penggunaan format enumeratif tersebut benar-benar fungsional dan tidak tepat apabila diganti dengan format esei seperti dalam menyatakan urutan dan jadwal. c. (2)…. Naskah diketik spasi ganda pada kertas kuarto sepanjang maksimal 20 halaman. Berkas (file) pada naskah pada disket dibuat dengan program olah kata WordStar. 2. seperti (1)….

. abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan. Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat. kesimpulan dan saran.W. bahasan utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul). Juli 1997. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dicetak tebal atau tebal miring). penutup atau kesimpulan. . F. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). Rata dengan Tepi Kiri) Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. kata-kata kunci. Daftar Rujukan disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. nama penulis (tanpa gelar akademik). masing-masing bagian. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). e. Sistematika artikel hasil penelitian: judul.Penulisan Karya Ilmiah 9-33 esai. dan hasil penelitian. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency based Teacher Education. C. dan Praktik Kependidikan. Anderson. kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. Berkeley: McCutchan Publishing Co. hasil. Teori. abstrak (maksimum 100 kata). Nomor 2. RATA DENGAN TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan. 127-137. PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. Tahun 24. 1993. Vault. hlm. sedikit tinjauan pustaka. kata-kata kunci. pembahasan. Hanurawan.E.D. Rata dengan tepi Kiri) d. & Dickson. dan tidak menggunakan angka/nomor bagian. dan tujuan penelitian. Pandangan Aliran Humanistik tentang Filsafat Pendidikan Orang Dewasa. D. nama penulis (tanpa gelar akademik). Sistematika artikel setara hasil penelitian: judul. V. metode. Miring. metode. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang. f. 1997. disertai judul (heading).

rujukan. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di malang Angkataan XIV. Malang. 200). Disertasi. Makalah. Sebagai imbalannya. Tata cara penyajian kutipan. Pusat Penelitian IKIP MALANG. g. Tesis. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. i. h. Artikel dan Laporan Penelitian (Universitas Negeri Malang. 200. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah e. 1987). N. LEMBAR KEGIATAN 1. Kamera digital . Artikel yang sudah dalam bentuk cetak-coba tidak dapat ditarik kembali oleh penulis.000. tabel. C. Laptop c. Pemeriksaan dan penyuntingan cetak-coba dilakukan oleh penyunting dan/atau melibatkan penulis. 12 Juli.9-34 Penulisan Karya Ilmiah Huda. b.00 (dua ratus ribu rupiah) perjudul. 1991. d. Artikel berbahasa Inggris menggunakan ragam baku. Artikel berbahasa Indonesia mengikuti aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud. Alat dan Bahan a. Penulis yang artikelnya dimuat wajib memberi kontribusi biaya cetak minimal sebesar Rp. penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan cetak lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar yang akan diberikan jika kontribusi biaya cetak telah dibayar lunas. dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. LCD proyektor. Alat tulis.

2 Presensi peserta pelatihan. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. Fasilitator memberikan 130 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan . Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai.1 Berdoa bersama untuk mengawali 5 menit pembelajaran. 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan Curah pendapat. Kegiatan Inti Fasilitator memberikan ceramah tentang format penulisan karya tulis ilmiah. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2. Langkah Kegiatan No. ceramah pemecahan masalah 3. 2. Kegiatan 1.Penulisan Karya Ilmiah 9-35 2. 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode 2.

2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. Fasilitator memberikan tugas menyusun karya tulis ilmiah baik dalam bentu pemikiran maupun hasil penelitian.9-36 Penulisan Karya Ilmiah ceramah tentang salah satu contoh petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan . 4. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual. Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit Refleksi 3. 4. Kegiatan Akhir 4. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran. . tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. 4.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. Hasil a.

Artikel (hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa sub judul. RANGKUMAN 1.Penulisan Karya Ilmiah 9-37 b. dan masalah/tujuan penelitian) Metode Hasil Pembahasan Kesimpulan dan Saran Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uaraian saja) 2. Artikel (setara hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa subjudul) Subjudul Subjudul Subjudul Penutup (atau Kesimpulan dan Saran) Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja) sesuai dengan kebutuhan . Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian. memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka. D.

9-38 Penulisan Karya Ilmiah E. tidak harus terkekang di dalam kelas. Tugas ini sifatnya individual. Tugas dapat ditulis menggunakan komputer atau tulis tangan. TES FORMATIF Peserta PLPG ditugasi menyusun karya tulis ilmiah dengan cara memilih salah satunya yaitu hasil pemikiran konseptual atau hasil penelitian. . Fasilitator memberikan bimbingan dan pendampingan pada saat peserta PLPG menyusun karya tulis ilmiah. Ruangan bebas.

b 4. a 7. c 5. b 6. b 7. d . b 9. b 10. a 3. c 5. c 6.Penulisan Karya Ilmiah 9-39 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Kegiatan Belajar 1 1. a 8. c 10. c 8. d 4. c 2. b 2. a 3. b 9. a Kegiatan Belajar 2 1.

Ditbinlitabmas Dikti. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press): Malang. Direktorat Profesi Pendidik. LIPI. Ikapindo. . Sistematika Penulisan Laporan KTI Online. Penerbit Universitas Terbuka: Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Ditbinlitabmas Ditjen Dikti Depdikbud.G. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. dan Waseso. G. 2008. 2001. I. 2000.M. Wardani. dan Kantor Menristek: Jakarta. Saukah. A. 2007.K.A. Depdiknas: Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful