P. 1
35. BAHASA INDONESIA SMA Bahan Sertifikasi

35. BAHASA INDONESIA SMA Bahan Sertifikasi

5.0

|Views: 2,140|Likes:
Published by Ami Muza

More info:

Published by: Ami Muza on Jan 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2013

pdf

text

original

IV E

S NEGERI SE MA ITA RS

N RA

UN

G

UNNES

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008

BAHASA INDONESIA
(SMA)

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON XII UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2008

REKTOR NEGERISEMARANG UNIVERSITAS SAMBUTAN REKTOR

As s alamu' alailstm Warahmatutlahi Wab arakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur tidak putus selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dzat yang maha tinggi, atas rakhmat dan ilmuNya yang diturunkan kepada umat manusia. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2OO7, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan

pelaksanaan uji melalui portofolio.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan portofolio, bagi peserta yang belum dinyatakan lulus, LP|K Rayon merekomendasikan alternatif : (1) melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (2) mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru ( PLPG ) yang diakhiri dengan ujian. Penyelenggaraan PLPG telah distandardisasikan oleh Konsorsium Sertilikasi Guru ( KSG ) Jakarta dalam bentuk pedoman PLPG secara Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Panitia Sertifikasi Guru ( PSG ) Rayon 12 dalam rangka standardisasi penyelenggaraan PLPG mulai penyediaan tempat, ruang kelas, jumlah jam, sistem penilaian, kualitas instruktur dan ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar yang ada di tangan Saudara ini salah satu upaya PSG Rayon 12 dalam memenuhi

standard pelaksanaan PLPG secara nasional untuk itu saya menyambut dengan baik atas terbitnya Bahan Ajar PLPG ini. Sukses PLPG tidak hanya tergantung ketersediaan buku, kualitas instruktur, sarana prasarana yang disediakan namun lebih daripada itu dengan baik sejak adalah kesiapan peserta baik mental maupun fisik, untuk itu harapan saya para peserta PLPG telah menyiapkannya keberangkatannya dari rumah masing-masing. Pada kesempatan ini ijinkan saya, memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dosen/lnstruktur yang telah berkontribusi dan berusaha men)rusun buku ini, agar dapat membantu guru menempuh program PLPG dalam rangka sertihkasi guru. Buku ini menggunakan pilihan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan seksama. Akhirnya kepada khalayak pembaca saya ucapkan selamat menikmati buku ini, semoga dapat memperoleh manfaat yang sebanyakbanyaknya.

Rektor Universitas Negeri Semarang

Sudijono Sastroatmodjo

BUKU AJAR

PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU

PENDAHULUAN
Fakta tentang kualitas guru menunjukkan bahwa sedikitnya 50 persen guru di Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standardisasi pendidikan nasional (SPN). Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia belum memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar pada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SMP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan pada bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM guru kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia. Untuk itu, perlu dibangun landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal (Toharudin 2006:1). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Rektor UNJ sebagai berikut. "Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," (Sutjipto dalam Jurnalnet, 16/10/2005). Fakta lain yang diungkap oleh Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Djalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai nol untuk materi mata pelajaran yang sesungguhnya mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Fakta itu terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu. Secara nasional, penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak mencapai 50 persen dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi guru. Beliau juga mengatakan skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga memprihatinkan. Guru PPKN, sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sosiologi, geografi, dan pendidikan seni

1-2

Pengembangan Profesionalitas Guru

hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari 40 soal. "Artinya, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 46 untuk skor nilai tertinggi 100," (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006). Mengacu pada data kasar kondisi guru saat ini tentulah kita sangat prihatin dengan buruknya kompetensi guru itu. Padahal, memasuki tahun 2006 tuntutan minimal kepada siswa untuk memenuhi syarat kelulusan harus menguasai 42,5 persen. Untuk itu, layak kiranya pada tulisan ini dicari format bagaimanakah seharusnya mengembangkan guru yang profesional?

A. Guru sebagai Profesi Djojonegoro (1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesilaisasi, (2) kemampuan untuk

memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus) yang dimiliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills (1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan/jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Usman (1990:4) mengatakan bahwa guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu: (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-3

pekerjaan yang dilaksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki obyek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan siswanya, dan (8) diakui di masyarakat karena memang diperlukan jasanya di

masyarakat. Pengertian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur terpenting dalam sebuah profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus, untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme adalah guru yang kompeten (memiliki kemampuan) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesi keguruan.

B. Kompetensi Guru Sejalan dengan uraian pengertian kompetensi guru di atas, Sahertian (1990:4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan,

penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang calon guru agar menguasai kompetensi guru dengan mengikuti pendidikan khusus yang

diselenggarakan oleh LPTK. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut: (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan guru menguasai pengetahuan serta keterampilan/keahlian kependidikan dan

pengatahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang

1-4

Pengembangan Profesionalitas Guru

pelaksanaannya pengajar.

berhubungan

dengan

tugas-tugasnya

sebagai

Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru setelah program sarjana atau D4. Kompetensi pribadi meliputi: (1) pengembangan kepribadian, (2) berinteraksi dan berkomunikasi, (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, (4) melaksanakan administrasi sekolah, (5) melaksanakan tulisan sederhana untuk keperluan pengajaran.

1. Kompetensi Profesional Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter). Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b)

penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-5

membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman,

penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju. Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.

1-6

Pengembangan Profesionalitas Guru

Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut

perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas

seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat

penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat

meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan

Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini. Kompetensi Paedagogik Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat. Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. meski guru sangat disiplin. mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. Guru diharapkan memahami sifat-sifat. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. Yang perlu diperhatikan di sini adalah. serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa. sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. ciri anak didik dan perkembangannya.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-7 rumah. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar. Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa. guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. tahu ilmu . ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana. Pertama. 3. perkembangan fisik dan psikis anak didik. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan. menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa. karakter. tingkat pemikiran. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik.

Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata. Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan. (3) menyusun program pembelajaran. diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis. (4) melaksanakan program pembelajaran. guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran. Kedua. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan. maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata. maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. . (2) menguasai bahan pembelajaran.1-8 Pengembangan Profesionalitas Guru psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif. guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka. diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran. Ketiga. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya.

musik. 1998). Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik. pribadi. Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial. pendekatan komperehensif. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti . sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain. Hanya saja. beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong. raga.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-9 4. dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman. ruang. Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence). 1995). alam. atau pendekatan multidisiplin. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas. 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi. (2) memiliki toleransi pada orang lain. bahasa. mungkin beberapa di antaranya menonjol. Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki. Uniknya lagi. 1994). dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika.

kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan. dan pengendalian diri yang menonjol. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita. Beberapa dimensi ini. (11) toleransi.1-10 Pengembangan Profesionalitas Guru karier di masyarakat. (2) melihat peluang. (12) solusi konflik. bekerja sama. yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya.lifeskills4kids. lembaga. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama. (13) menerima perbedaan. Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. (4) tanggung jawab sebagai warga. misalnya. berempati. yaitu: (1) kerja tim. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru. bergaul. atau perusahaan. (8) berbagi. (14) kerja sama.com). Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik. (10) kepedulian kepada sesama. . (7) kedewasaan dalam bekreasi. baik finansial maupun non finansial. (3) peran dalam kegiatan kelompok. Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi. Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen. dapat kita saring dari konsep life skills (www. dan memberi kepada orang lain. (5) kepemimpinan. (9) berempati. ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial. dan (15) komunikasi. (6) relawan sosial.

2 juta orang. Sejak awal gagasan pembuatan RUU Guru dan Dosen dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk mengangkat martabat guru dalam memajukan pendidikan nasional. baik yang terdapat di dalam kurikulum nasional maupun kurikulum lokal. dan hanya sebagian kecil guru dari sekolah negeri dan sekolah elit yang hidup berkecukupan. jauh dari cukup sehingga tidak sedikit guru yang mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mengandalkan penghasilan dan profesi guru. baik di dalam dan di luar sekolah dengan menggunakan bahan ajar. . Ketiga komponen ini saling terkait dan saling mempengaruhi. antara lain kesepahaman akan ukuran uji kompetensi guru. karena di tangan para gurulah proses belajar dan mengajar dilaksanakan. serta tidak dapat dipisahkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang ini (hingga disahkan pada 6 Desember 2005) tersirat keinginan Pemerintah untuk memperbaiki wajah suram nasib guru dari sisi kesejahteraan dan profesionalisme. Sertifikasi kompetensi guru sebagai tindak lanjut dari UndangUndang ini menyisakan persoalan sebagaimana disampaikan Mendiknas pada media masa pada saat pengesahan Undang-Undang ini.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-11 C. Dari ketiga komponen tersebut. Jumlah guru di Indonesia saat ini 2. dan kurikulum merupakan tiga komponen utama pendidikan. peserta didik. Guru. pemerintah telah memberikan perhatian khusus dengan merumuskan sebuah UndangUndang yang mengatur profesi guru dan dosen. faktor gurulah yang dinilai sebagai satu faktor yang paling penting dan strategis. dan menjadikan profesi ini menjadi pilihan utama bagi generasi guru berikutnya (Situmorang dan Budyanto 2005:1). Memimpikan Guru yang Profesional Untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

kebijakan dan program yang tepat. . Sebagai contoh. tetapi harus dibangun. yakni orangnya dan kinerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya.1-12 Pengembangan Profesionalitas Guru Untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif. Kemampuan profesionalisme yang handal tersebut tidak dibawa sejak lahir oleh calon guru. Profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat kinerja seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu. dan profesionalitas sebagai berikut ini Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. dipupuk dan dikembangkan melalui satu proses. dalam tulisannya bertajuk “The teachers as a Decision Maker”. Profesional menunjuk dua hal. Misalnya. Demikian pula. guru harus memiliki kemampuan profesionalisme yang dapat dihandalkan. profesionalisme. guru sebagai profesi yang amat mulia. strategi. Dedi Supriadi dalam bukunya yang bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan (secara amat jelas) tentang makna profesi. Cooper menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan tetang guru dari aspek pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga profesional. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. atau dia bekerja secara profesional. seorang profesional muda. profesional. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dan program pembinaan guru di masa lalu perlu dirumuskan kembali (Suparlan 2006:1). kebijakan. serta melakukan tulisan dan pengabdian kepada masyarakat. tanggung jawab. dibentuk. strategi. dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu. Proses. Cooper. mengawali dengan satu pertanyaan menggelitik “what is teacher?”. James M. menilai hasil pembelajaran.

sehingga yang dianggap bidang diperbolehkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik. seperti dokter. yang menyatakan bahwa.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-13 Sebagai tenaga profesional. maka kaidah itu dapat . guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus. (2) komitmen. Kedua. termasuk guru. Keempat. insinyur. yakni (1) keahlian. Guru merupakan tenaga profesional dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Dalam dunia yang sedemikian maju. juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotannya menyelenggarakan layanan keahlian yang terbaik yang dapat diberikan (Suparlan. Pertama. adanya pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi tertentu yang berbeda dengan profesi lain. dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. dan (3) keterampilan (Supriadi 1998:96). 2004:2). Dapat dianalogikan dengan pentingnya hakim dan UndangUndang. memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan kompetitiflah seleksi yang secara efektif. Soerjadi (2001:1-2) menyebutkan beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi. Kelima. memiliki organisasi profesi yang. yang ditandai dengan adanya standar kompetensi tertentu. di samping melindungi kepentingan anggotanya. Ketiga. semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi. bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik. pemerintah sejak lama telah berupaya untuk merumuskan perangkat standar komptensi guru. yang dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun akan dapat dihasilkan keputusan yang baik’. memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan pekerjaan profesional tersebut. ‘berilah aku hakim dan jaksa yang baik. Westby-Gybson (1965). Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal.

maka guru tersebut dapat disebut sebagai tenaga dan pendidik yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya (Supriadi 2003:14). Ketiga. Mendiknas memberikan penegasan bahwa “guru yang utama” (Republika 10 Februari 2003). yang terpenting adalah manusianya. guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. tetapi guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh siapa atau alat apa . Hal yang sama. mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik’. guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Belajar dapat dilakukan di mana saja. Kelima. Pertama. guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya. yakni dengan ungkapan bijak ‘berilah aku guru yang baik. Standar Pengembangan Karir Guru Mutu pendidikan amat ditentukan oleh kualitas gurunya. Keempat.1-14 Pengembangan Profesionalitas Guru dianalogikan dengan pentingnya guru. bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. dan belajar dari pengalamannya. guru menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal. Artinya. guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. D. Untuk menggambarkan guru profesional. Sama dengan manusia dengan senjatanya. ‘man behind the gun’. aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum. Supriadi mengutip laporan dari Jurnal Educational Leadership edisi Maret 1993. Apabila kelima hal tersebut dapat dimiliki oleh guru. Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. misalnya di PGRI dan organisasi profesi lainnya. Kedua.

guru harus memiliki tiga kualifikasi dasar: (1) menguasai materi atau bahan ajar. Pada akhirnya orang mudah menebak. selain memang harus dipikirkan dengan sungguhsungguh upaya untuk meningkatkan gaji dan penghargaan kepada . Namun. karena pada akhirnya menyangkut duit atau gaji dan penghargaan. karena melibatkan banyak komponen. Banyak orang menganggap bahwa gaji dan penghargaan terhadap guru menjadi penyebab atau causa prima-nya. Terjadilah lingkaran setan yang sudah diketahui sebab akibatnya. yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-15 pun juga. gaji dan dedikasi terkait erat dengan faktor lain yang bernama kompetensi profesional. LPTK mengalami kesulitan besar ketika dihadapkan kepada masalah kualitas calon mahasiswa kelas dua yang akan dididik menjadi guru. dan (3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Mas’ud 2003:194). Peningkatan mutu guru merupakan upaya yang amat kompleks. melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembalajaran yang yang berkualitas. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu. ada orang yang berpendapat bahwa antara gaji dan dedikasi tidak dapat dipisahkan. mengasyikkan. Di samping itu. Untuk membangun pendidikan yang bermutu. (2) antusiasme. karena masalah rendahnya mutu calon guru itu lebih disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi guru. Gaji dan penghargaan guru belum dapat disejajarkan dengan profesi lain. Ternyata. mencerdaskan. karena indikasi adanya mutu profesionalisme guru masih rendah. Jadi. yakni proses dan pembelajaran menyenangkan. Gaji akan mengikuti dedikasi. Sebagai salah satu komponen utama pendidikan. Pekerjaan besar ini mulai dari proses yang menjadi tugas lembaga pendidikan prajabatan yang dikenal dengan LPTK. Ketidakmampuan LPTK ternyata memang di luar tanggung jawabnya.

tim itu telah dapat menghasilkan rendahnya kompetensi guru. dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. attitudes. nama baru Dikgutentis telah membentuk satu tim Penyusun Kompetensi Guru yang beranggotakan para pakar pendidikan yang tergabung dalam Konsorsium Pendidikan untuk menghasilkan produk kompetensi guru. keterampilan. terkenal wacana akademis tentang apa yang disebut sebagai Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi atau Competency-based Training and Education (CBTE). para penyelenggra pendidikan di kabupaten/kota telah menunggu kelahiran kompetensi guru itu. namun masih ada pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. Untuk menjelaskan pengertian tentang kompetensi itulah maka Gronzi (1997) dan Hager (1995) menjelaskan bahwa “An integrated view sees competence as a complex combination of knowledge. Sementara itu. keterampilan. skill. Apakah yang dimaksud kompetensi? Istilah kompetensi memang bukan barang baru. Pada tahun 70-an. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya. Setelah sekitar dua tahun berjalan. Dua dekade kemudian. Bahkan mereka mendambakan adanya satu instrumen atau alat ukur yang akan mereka gunakan dalam melaksanakan skill audit dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi guru di daerah masing-masing. Direktorat Tenaga Kependidikan (Dit Tendik). and values displayed in the context of task performance”. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan. yakni meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru. Sejalan dengan definisi tersebut. Pada saat itu Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis) Dikdasmen pernah mengeluarkan “buku saku berwarna biru” tentang “sepuluh kompetensi guru”. Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK.1-16 Pengembangan Profesionalitas Guru guru. menjelaskan bahwa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. sikap. .

Standar kompetensi guru bertujuan ‘untuk memperoleh acuan baku dalam pengukuran kinerja guru untuk mendapatkan jaminan kualitas proses pembelajaran’ (SKG. Di samping itu. (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. (3) penilaian prestasi belajar peserta didik. 2005). peningkatan kualitas dan penjenjangan karir guru. PMPTK. keterampilan. standar kompetensi guru diartikan sebagai ‘satu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas. (6) pemahaman wawasan kependidikan. yakni (1) pengelolaan pembelajaran. (2) meningkatkan kinerja guru dalam bentuk kreativitas. dan jenjang pendidikan’ (Direktorat Profesi Pendidik. (2) pengembangan profesi. (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar. Ketiga standar kompetensi tersebut dijiwai oleh sikap dan kepribadian yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi. Standar Kompetensi Guru bermanfaat untuk: (1) menjadi tolok ukur semua pihak yang berkepentingan di bidang pendidikan dalam rangka pembinaan. dan (3) penguasaan akademik. ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-17 Berdasarkan pengertian tersebut. Ketiga komponen masing-masing terdiri atas dua kemampuan. dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan profesinya (Direktorat Profesi Pendidik. kualifikasi. kemandirian. . Direktorat Tendik 2003:5). yaitu: (1) penyusunan rencana pembelajaran. (5) pengembangan profesi. Oleh karena itu. Standar kompetensi guru terdiri atas tiga komponen yang saling mengait. Diten PMPTK. inovasi. (7) penguasaan bahan kajian akademik. Standar kompetensi guru SKS memiliki tujuan dan manfaat ganda. 2005).

dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil) dan ketentuan lain tentang kenaikan pangkat dengan sistem kredit. PGPS sering diplesetkan menjadi ‘pinter goblok penghasilan sama’ atau ‘pandai pandir penghasilan sama’. Dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan tersebut berjalan dengan berbagai penyimpangan. dengan melibatkan antara direktorat terkait dengan . dan Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk pelbagai mata pelajaran dan bidang keahlian di beberapa daerah di Indonesia. dan bahkan menjadi tenaga struktural di dinas pendidikan. Region-region penataran telah dibentuk di berbagai kawasan di Indonesia. Sedang sebagian besar lainnya mengalami nasib yang tidak menentu. Mengingat kondisi itulah maka pada tahun 1970-an dan 1980an telah didirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan yang bernama Balai Penataran Guru (BPG). pembinaan guru diatur secara terpusat oleh pemerintah. Pada tahun 1970-an kegiatan ‘up-grading’ guru mulai gencar dilaksanakan di BPG dan PPPG. anggota legeslatif.1-18 Pengembangan Profesionalitas Guru E. Pengembangan Karir Guru Pada era sentralisasi pendidikan. Kegiatan itu pada umumnya dirancang oleh direktorat-direktorat di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sekarang LPMP dan P4TK berada di bawah Ditjen PMPTK. Kepala sekolah sering terpaksa menandatangani usul kenaikan pangkat guru hanya karena faktor ‘kasihan’. yang sekarang menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi. Dengan kondisi seperti itu. antara lain karena belum ada kejelasan tentang standar pengembangan karir mereka. ada sebagaian kecil guru yang karena kapasitas pribadinya atau karena faktor lainnya dapat berubah atau meningkat karirnya menjadi kepala desa. Pelaksanaan kenaikan pangkat guru dengan sistem kredit pun sama.

Pengembangan Profesionalitas Guru 1-19 lembaga diklat (preservice training) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai lembaga preservice training. Salah satu pola pembinaan guru melalui diklat ini adalah mengikuti pola Pembinaan kegiatan Guru (PKG). yakni guru baru atau guru yang belum pernah mengikuti penataran. guru yang telah ditatar di tingkat provinsi atau nasional dan memperoleh predikat yang sebagai penatar di tingkat kabupaten. Selain itu. (5) kepala sekolah. yang sistem penyelenggaraan diklatnya dinilai melibatkan elemen pendidikan yang lebih luas. yakni tempat bertemunya para guru berdiskusi atau mengikuti penataran tingkat kabupaten atau sekolah. Sebagian besar instruktur ini juga telah memperoleh pengalaman dalam mengikuti penataran di luar negeri. guru yang telah mengikuti klegiatan diklat TOT (training of trainer) di tingkat pusat atau nasional dan memperoleh predikat sebagai penatar di tingkat provinsi. (4) pengelola sanggar. . Melalui pola PKG ini. (3) instruktur. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagaian besar dilaksanakan di satu sanggar yang disebut sanggar PKG. para guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) guru biasa. (2) guru Inti. serta melibatkan juga peranan lembaga pendidikan sekolah sebagai on the job training yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan yang ada di regionnya masing-masing. kecamatan. para guru memiliki wadah pembinaan profesional melalui orgabnisasi yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). (6) Pengawas sekolah. guru instruktur yang diberi tugas untuk mengelola Sanggar PKG. sementara para kepala sekolah aktif dalam kegiatan Latihan Kerja Kepala Sekolah (LKKS). atau baru sebatas ditatar di tingkat kecamatan atau sekolah. dan sekolah. satu jenjang fungsional bagi guru yang telah menjabat sebagai kepala sekolah. dan Latihan Kerja Pengawas Sekolah (LKPS) untuk pengawas sekolah. yakni instruktur yang telah diangkat untuk menduduki jabatan sebagai kepala sekolah.

PENUTUP Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. Berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut dilaksanakan dengan melibatkan P4TK (PPPG). LPMP. oleh Depdiknas sekarang dikelola oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.1-20 Pengembangan Profesionalitas Guru F. . dan LPTK sebagai mitra kerja. Dinas Pendidikan.

Safrudin Ismi. 1995. Penelitian Balitbang dan Lemlit UNNES. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. . 2004. Jakarta: Grasindo. Indra Djati Sidi. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI Program D-II PGSD. Inovation in Education: Reformers and Their Critics. “Status dan Peran Guru. 2000. Rich. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta:Paramadina dan Logos Wacana Ilmu.1995. 1992. Jakarta: Grasindo. 2002. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan. Akibatnya pada Mutu Pendidikan”. Balitbang Depdiknas. dalam Syarif Ikhwanudin dan Dodo Murtadhlo. Studi Kebijakan Pengelolaan Guru Di Era Otonomi Daerah dalam Rangka Peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Masa Depan. 2004. 2006. Pusat Data dan Informasi Pendidikan. Rokhman. Hamijoyo.DAFTAR PUSTAKA Chamidi. Undang-undan No. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Dirjen Dikti Dir PPTK Depdiknas. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. 2002. 2002. Suryadi. 2002. Undang-Undang No. Ary H. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar. Fathur dkk. Zamroni. Santoso S. John Martin. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Direktorat Ketenagaan. New York: Cross Cultural Approach. New York: The Free Press. Paul. 2004. Suparno. Jakarta: Genesindo. Yogyakarta: Bigraf Publishing. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2005. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Diffusion of Innovation. Gunawan. Rogers. dalam Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua. Jakarta: Depdiknas. Ace dan Dasim Budimansyah. Everett M. Menuju Masyarakat Pembelajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. “Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah”.

BUKU AJAR MEMBACA PEMAHAMAN .

Standar Kompetensi Menguasai konsep dasar membaca pemahaman. metode. membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). Uraian Materi 1. Indikator 1. dan teknik membaca serta penerapan model. 2. E. D. Kompetensi Dasar Memahami konsep dasar membaca pemahaman yang meliputi pengertian membaca pemahaman dan kiat membaca pemahaman. Menjelaskan kiat membaca pemahaman. metode. membaca intensif dapat diklasifikasikan menjadi membaca telaah isi dan telaah bahasa. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . Pengertian Membaca Dalam kajian teori membaca. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif dan ekstensif.13). Membaca Telaah isi diklasifikasikan . Menurut Broughtton (dalam Tarigan 1990). C. Deskripsi Penyajian model. Berdasarkan cakupan bahan bacaan yang dibaca. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading) (Harras dan Sulistianingsih 1998: 2. Menjelaskan pengertian membaca pemahaman. KONSEP DASAR MEMBACA PEMAHAMAN A. B. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan.BAB I.

kritis. memindai buku. Membaca ekstensif diklasifikasikan menjadi tiga. variatif (berbagai ragam bacaan yang dibaca). dan meningkat (dari yang mudah ditingkatkan ke yang sulit). Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. 2. Disamping itu. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. Kiat Membaca Pemahaman Untuk dapat terampil membaca siswa harus berlatih membaca secara kontinyu (sering latihan. dan dangkal. dan buku biografi. sekilas. dan memindai grafik. Membaca telaah bahasa diklasifikasikan menjadi membaca bahasa asing dan sastra.2-2 Membaca Pemahaman   menjadi membaca teliti. latihan terus-menerus). pemahaman. artikel. dan ide. yaitu membaca survai. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. metode. dan teknik yang sesuai dengan keperluan (Haryadi 2006:5). yaitu ektensif dan intensif. paragraf. kritik teks sastra. Berdasarkan kurikulum 2006. .

Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. 4. Membaca Cepat Teks Bacaan Berdasarkan kompetensi dasar yang tercantum di standar isi pada kurikulum 2006. siswa SMA kelas X dituntut untuk dapat . menerapkan kiat B. D. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca ekstensif. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Menerapkan model membaca sewaktu membaca ekstensif. 6. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. metode. dan mampu menerapkan model. metode. 2. Deskripsi Penyajian model.BAB II. 3. dan teknik membaca. metode. MEMBACA EKSTENSIF A. metode. Indikator 1. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. dan teknik membaca serta penerapan model. E. C. 5. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Uraian Materi 1. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca ekstensif.

siswa harus membaca dengan menggunakan kiat (model. Siswa kelas XII dituntut dapat membaca cepat 300-350 kata/menit untuk menemukan ide pokok. Untuk dapat memenuhi tuntutan itu. a. dan teknik skimming. Karena kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan. Model.2-4 Membaca Pemahaman   membaca cepat 250 kata/menit berbagai teks bacaan nonsasatra dengan berbagai teknik membaca untuk menemukan ide pokok. MMAB berpandangan bahwa pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaan merupakan unsur sekunder. teknik membaca yang dapat dipilih untuk membaca cepat teks nonsastra adalah model membaca atas bawah. MMAB dapat dibagankan berikut ini. Model Membaca Atas Bawah Model membaca yang dapat digunakan adalah model membaca atas bawah (MMAB). model membaca ini disebut model membaca atas bawah. metode. Bagan 1 Model Membaca Atas Bawah . metode paragraf dan P2R. Siswa Kelas XI dituntut dapat membaca cepat 300 kata/menit menemukan pokok-pokok untuk isi teks. metode. Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat symbol grafis seperlunya saja. dan teknik) membaca yang tepat dan benar. selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang telah dimilikinya.

  Membaca Pemahaman 2-5 Proses membaca berdasarkan bagan 1 adalah berikut ini. Pembaca tidak memperoleh makna dari simbol-simbol grafis yang dibaca. Dengan menggunakan MMAB. Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak. Titik tersebut bermakna jika diberi tafsir pembaca. kemudian pembaca memprediksi pemahaman . pembaca membuat prediksi (prakiraan) terhadap bacaan yang dibacanya. bagian yang penting. Dalam sandi morse. dimaknai sebagai letak sebuah kota. Jika tidak diberi interpretasi. Tranformasi dalam bidang vokabuler (kosa kata) atau sintaksis yang tidak mengubah makna dipandang sebagai hal yang dapat diterima. dan atau kalimat pokok). Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya. Dalam bahasa Yunani. Pembaca yang sudah terampil dalam membaca akan selalu melangkah langsung menghubungkan kata-kata yang dibaca ke makna tanpa melakukan identifikasi kata-kata yang dibaca secara cermat. Lambang-lambang grafis pada dasarnya tidak punya makna apa-apa. 2. titik itu tidak punya makna apa-apa. Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan. Titik yang berada di akhir deretan kata-kata yang berbentuk klausa maka titik tersebut berarti atau bermakna sebuah tanda berhenti. titik tersebut sebagai tanda atau lambing-lambang. 3. Jika titik tersebut berada di dalam peta. Contohnya adalah jika pembaca melihat sebuah titik pada kertas. Hal itu terjadi karena pembaca sudah mempunyai pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya. 1. titik itu diberi interpretasi sebagai lambang huruf. tetapi pembaca memberikan makna atas simbol-simbol grafis yang dibaca. Pembaca hanya melihat beberapa bagian dari bacaan (kata kunci. titik tersebut tidak bermakna.

Informasi visual dan nonvisual dibutuhkan dalam kegiatan membaca. Otak menginterpretasikan apa yang diterimanya ke dalam bentuk pesan. dan atau informasi dengan memanfaatkan informasi visual. lisan. pembaca memahami bacaan dan mengantisipasi yang 6paragrafap pada bagian bacaan selanjutnya ketepatan prakiraan dibuat dengan menggunakan stategi konfirmasi. Tugas mata dalam MMAB hanyalah sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk cahaya dan mengubahnya menjadi 6paragraf syaraf merambat melalui jutaan serabut syaraf 6arag yang kemudian diteruskan ke otak pembaca. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca sewaktu membaca. Pembaca tidak lagi memfokuskan perhatian . pembaca menggunakan strategi konfirmasi. Keduanya saling berhubungan secara timbal balik. Sebaliknya. Dengan menggunakan syarat 6paragrafap dan sintaksis. Informasi yang dapat bertahan lama di dalam pikiran atau otak pembaca adalah informasi nonvisual. kebutuhan akan informasi visual semakin bertambah. berita. b. Metode Paragraf Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf. walaupun hubungannya tidak dapat digunakan secara jelas atau tidak dapat dijelaskan secara kongkrit. Secara umum.2-6 Membaca Pemahaman   atau informasi secara menyeluruh yang terdapat pada bacaan. Informasi visual akan langsung hilang bersamaan dengan beralihnya pandangan mata ke bagian yang lainnya. Jika prediksi kurang cermat. Jika prediksi kurang cermat. hubungan keduanya dapat dikatakan bahwa semakin banyak informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca pada waktu membaca maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. pembaca menggunakan strategi koreksi yang di dalamnya terjadi pemprosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan.

Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa sebuah paragraf merupakan satuan bacaan yang mengandung ide pokok yang ingin disampaikan oleh penulis. dalam penguasaannya perlu latihan secara kontinyu. pembaca dilatih untuk dapat menggerakkan matanya secara tepat dan cepat dalam menatap unsur-unsur yang ada pada paragraf. Latihan metode paragraf secara mekanik dapat dilatihkan dengan bacaan berikut ini. Di pikiran-pikiran pokok yang ada dalam paragraf samping itu. yaitu mekanik dan menjadi jalinan yang utuh yang (1) Metode Paragraf secara Mekanik Pada latihan ini. tetapi memusatkan perhatian atas jalinan kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf. konseptual. pembaca didorong untuk menghentikan ayunan matanya pada akhir paragraf dan memahami ide-ide atau yang dibaca. . Latihan metode paragraf dapat dibagi menjadi dua. Dalam prakteknya dibutuhkan keterampilan-keterampilan atau kemahirankemahiran yang telah dikuasai dalam metode sebelumnya. jika ada tujuan tertentu yang berkaitan dengan pemahaman. Dalam metode ini. Membaca paragraf merupakan membaca yang paling kompleks dan rumit. Metode paragraf adalah metode yang paling tinggi tingkatannya dalam metode menengah. Misalnya. berkesinambungan. pembaca dituntut dapat merangkaikan ide-ide pokok yang dikandung oleh tiap-tiap paragraf membentuk satu topik bacaan. pembaca menemukan pikiran pokok paragraf atau informasi yang dicari ditengah paragraf. Boleh saja mata menghentikan kerjanya sebelum akhir paragraf. dan tekun. Mata menghentikan geraknya pada setiap akhir paragraf.  Membaca Pemahaman 2-7 pada kalimat demi kalimat. Untuk itu.

Mereka merupakan tim dalam proses fotosintesis. tetapi dipantulkan ke mata kita. Molekul-molekul klorofil hijau (sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis) melekat pada tilakoid dengan membentuk jalur-jalur yang teratur. tetapi sebagian besar tembus pandang dan dipenuhi kira-kira 50 – 100 kloroplas. warna hijau yang kita tangkap lewat mata sebenarnya gelombang cahaya yang ditolak tanaman itu.2-8 Membaca Pemahaman   Bacaan 1 Rumput Menolak Gelombang Hijau Kita tentu senang melihat tanaman di sekitar kita dalam keadaan segar dan telihat hijau. Bagian-bagian renik inilah yang disebut fotosistem. mari kita ambil selembar rumput atau daun apa pun dan potongan kecilnya diperiksa di bawah mikroskop. Akan terlihat. hanya cahaya hijau yang tidak digunakan atau diserap. daun itu tidak berwarna hijau. Jadi. Ada dua jenis fotosistem. Ketika cahaya matahari menerpa permukaan tilakoid. PS II dari molelul klorofil menjeratnya. Gelombang cahaya yang ditangkal rumput atau daun tadi justru sangat berharga bagi manusia. Kloroplas ini seperti sebuah kantung kecil yang berisi kantung-kantung pipih lebih kecil yang disebut tilakoid. PS I mencari cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan klorofil menyerap cahaya tumbuhan.Ternyata. yakni fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II). sebenarnya hati yang menyejukkan gelombang mata yang dan tidak meneduhkan merupakan dibutuhkan tumbuhan dalam proses pembuatan makanan. (Intisari Juli 2000:101). Cahaya merah diserapnya. Untuk menjelaskannya. . Begitu pula dengan rumput.

Kalimat .  Membaca Pemahaman 2-9 Alternatif cara membaca bacaan di atas adalah berikut ini. Berlatihlah terus-menerus pada hari-hari berikutnya. Tataplah satu halaman penuh dari atas sampai bawah atau dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. 4. Lakukanlah latihan tersebut selama 2 atau 3 kali. Hal tersebut bergantung pada isi masing-masing kalimat. Anda biasa saja berhenti sejenak pada akhir sebuah kalimat yang terletak di awal atau ditengah paragraf. (2) Metode Paragraf secara Konseptual Pada latihan ini pembaca dilatih untuk dapat memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang terdapat dalam sebuah bacaan. Setiap kalimat yang membentuk sebuah paragraf mempunyai peran paragraf. Kalimat yang penting (kalimat utama) bisa dibaca lebih lambat paragraf kalimat penjelas. Kalimat sebagai pemuas. Gerakan mata dari kalimat satu ke kalimat yang lain menggunakan kecepatan baca yang tidak sama. 3. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki pembaca adalah struktur paragraf (Harjasujana dan Mulyati 1997:186). 2. Kalimat sebagai kalimat penjelas. 5. Peran paragraf yang diemban oleh kalimat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut ini. Kalimat sebagai kalimat topik atau kalimat utama. Gerakkanlah mata Anda mulai dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir pada tiap-tiap paragraf. 3. yaitu kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama. 2. 1. 6. 1. Kemahiran membaca dan pengetahuan tentang paragraf diperlukan pada latihan ini. Jika ada tujuan tertentu.

Pakai tangga. Bacaan 2 Bisnis Duku. Bisnis Kilat Para pedagang biasanya memborong buah duku dari petani pekebun ketika buah sudah matang komersial. Itu pun masih harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dijajakan. sehingga perbungaan berikutnya tidak normal lagi. Hasilnya turun! Karena itu. Cara ini kadang banyak melukai batang tempat menempelnya tangkai tandan buah. kemungkinan merusak kuncup bunga yang masing menunggu giliran tumbuh. Buah dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan buahnya dengan gunting pemangkas kebun. ketika buah sudah tidak basah lagi oleh embun pagi. beberapa pedagang langganan petani pekebun kemudian memakai cara lain. meskipun dikemas dalam peti kayu beralas 10arag (bekas) yang sudah kering. Tujuannya. Biasanya 4 – 5 kali panen sebelum semua buah dari satu pohon habis dipetik. Dengan memotong tandan buah dari tangga. Memetiknya harus dalam cuaca kering. karena banyak yang rusak. butiran buah dilepas sebutir demi sebutir dari tandanya. Di tempat pengemasan. Ini bisa menghasilkan buah lagi. dan dipilih yang bobotnya 20 – 40 g . Penulis mencantumkan hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan. Bacaan berikut ini dapat digunakan sebagai latihan metode paragraf secara konseptual.2-10 Membaca Pemahaman   pemuas tidak bermanfaat bagi pembaca. Buah yang masih basah akan mudah berjamur. Tandanya kulit buah sudah kuning keabu-abuan. bisa dikurangi. agar buah bisa lebih tahan lama kalau dikirim ke tempat jauh.

Tahap-tahap alternatif yang dapat digunakan untuk membaca bacaan tersebut adalah sebagai berikut ini. . 1. Malam harinya. buah sudah bertotol-totol hitam. Malam itu juga “peti kemas” diangkut dengan truk yang berjalan malam. duku sudah dibongkar di pasar induk Kramatjati Jakarta untuk dijual kepada para agen. dan peti juga dengan kasar dilempar-lempar ke atas truk. Dalam 18 jam. Tataplah satu halaman penuh dari sebuah bacaan dari atas sampai bawah. Semuanya selesai dalam waktu tiga hari. (Intisari Juli 2000:87). Kalau teralmbat sampai tidak terjual dalam waktu yang singkat itu. mereka segera mengemasnya. Itu sebabnya. kulit buah duku cepat ber-totoltotol coklat. meskipun cepat. Mulailah memahami paragraf pertama dengan cara membaca kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Begitu selesai memborong buah di pohon. Buah pilihan ini dikemas dalam peti kayu yang diberi ventilasi pada semua sisinya. Kalau terbentur-bentur karena peradam dalam pengemasannya kurang tebal. meskipun rasa buahnya masih tetap manis. Penampilannya menyebalkan. dari daerah 11paragrafaph ke Jakarta lewat Trans Sumatra Highway. sudah dijual lagi ke para pengecer yang memasarkannya ke konsumen esok harinya. para pedagang duku harus bekerja cermat.  Membaca Pemahaman 2-11 sebutir saja yang akan dijual. Biasanya terpaksa diobral. Peti dilapisi 11arag bekas atau daun pisang kering yang tebal sebagai peredam benturan. 2. Begitu juga kalau buah sudah keburu dikemas ketika masih agak basah.

read. Jika belum tahu. Berlatihlah terus-menerus di hari-hari berikutnya dengan bacaan yang lainnya. bisa memfokuskan pemahaman terhadap sebuah paragraf. 4. 6. pembaca bisa hanya . pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran. Lakukanlah memahami paragraf berikutnya seperti tahap nomor 2 dengan memperhatikan tahap nomor 3 dan 4. c. Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan. Informasi bersifat pokok atau inti dan bisa juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. Jika hanya ingin mengetahui informasi yang pokok. pembaca melanjutkan tahap berikutnya. 2. Jika memang sudah tahu tentang bacaan. Metode P2R Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview. Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah berikut ini. Pahamilah masing-masing kalimat dalam paragraf itu secara tidak sama. Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. relevansi. 5. pokok-pokok pikiran. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. dan sebagainya.2-12 Membaca Pemahaman   3. Lakukanlah latihan ini selama 2 atau 3 kali. pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau tidak. Setelah itu. 1. Pemahaman atas kalimat utama lebih dipentingkan dari pada pemahaman kalimat penjelas. dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien (Gordon 2006 : 79). Jika ada tujuan tertentu. pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca. Pada tahap ini. 7.

Yang berbeda adalah tujuannya. sebaliknya bacaan yang belum dikenal dibaca secara pelan. Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat. Bacaan yang bersifat ilmiah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat paragraf. ketiga tahap itu digunakan secara tertib. 3. pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan. diusahakan membaca secepat mungkin. jika preview untuk mengenal bacaan. Pada tahap ini. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehigga tidak perlu dibaca. . Ketiga tahap dalam metode ini tidak harus digunakan semua secara tertib. Bisa saja. Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. pembaca membaca dengan teliti. Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa yakin tidak ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya semester 1. pembaca tidak melakukan read.  Membaca Pemahaman 2-13 membaca secara sepintas (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. Pada saat lain. Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. Walaupun membaca teliti. Hal tersebut bergantung pada situasinya. pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca telah mengenal struktur materi bacaan. sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan. Jika memang diperlukan.

cepat. Teknik Skimming Skimming berasal dari bahasa Inggris to skim yang berarti mengambil kepala susu atau krim dengan sendok atau menyendok kepala susu. yaitu bahwa skimming merupakan teknik membaca efisien. Hal itu relefan dengan pendapat Soedarso (2004:88). tinggi. sedang atau pelan. yaitu ide-ide pokok. diakhir. Kepala susu merupakan bagian yang mengental yang berada di atas setelah semangkok susu yang dipanaskan didinginkan. atau diawal dan diakhir. sedang atau rendah.2-14 Membaca Pemahaman   d. Gerak mata dalam membaca dengan teknik skimming mempunyai gerak mata yang cepat dan bentuk yang tinggi. Hal yang dicari adalah hal-hal yang pokok atau penting. tetapi juga ada yang dicari. Dalam menskim tidak hanya menjelajahi halaman demi halaman secara cepat. Kecepatan . Kecepatan gelombang bergantung dari daya dorong paragraf daya dorong dari dalam laut. Untuk mencari ide-ide pokok pembaca tidak diperbolehkan membuang-buang waktu. Gelombang mempunyai bentuk berdasarkan kecepatan gelombang dan hambatan yang dilaluinya. Gelombang bisa sangat cepat. 2004:44). Skimming dalam bidang membaca merupakan sebuah istilah salah satu teknik membaca ekstensif. sekilas (Tarigan 1994:30). Gelombang ada yang tinggi sekali. Kepala susu adalah intisari atau bagian yang banyak mengandung gizi. Istilah lain dari skimming adalah baca layap (Harjasujana dan Mulyati 1997:64). Ia diharapkan butuh waktu beberapa detik atau menit untuk menskim. Gelombang air laut bergerak menyapu setiap bagian laut dan pantai yang dilaluinya. skimming merupakan teknik membaca yang dilaksanakan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien. Ide pokok tidak selalu diawal paragraf. dan selintas (Widyamartaya. Berdasarkan uraian tersebut. Gelombang mempunyai kecepatan dan bentuk tertentu. tetapi dapat juga terdapat ditengah. Gerak mata pada membaca dengan teknik skimming bisa diibaratkan gelombang air laut.

dan ditulis dalam kotak. Awal mula mata dipersiapkan bergerak secara cepat untuk membaca bagian demi bagian dalam bacaan. Pertamatama mata bergerak pada baris-baris yang mengandung ide pokok dari sebuah paragraf. Contoh gerak mata dalam teknik skimming adalah sebagai berikut: . misalnya ditulis miring. Ilustrasi dari gerak mata dalam membaca teknik skimming pada pembaca yang masih taraf pemula adalah sebagai berikut. Pembaca dapat mengenal detail penting bacaan berdasarkan tipografi atau tanda-tanda tertentu dalam bacaan. Kemudian mata bergerak pada kecepatan yang tinggi lagi. dicetak tebal. Pada saat mata melihat bagian yang penting gerak mata diperlambat untuk memahami bagian penting tersebut. kemudian melompat (skipping). dan memperlambat (bahkan boleh berhenti) pada beberapa fakta yang penting yang menunjang ide pokok.  Membaca Pemahaman 2-15 dan bentuk ayunan mata dalam setiap bagian yang dibaca tidaklah sama bergantung penting tidaknya bagian yang dibaca dan tujuan dalam membaca.

2-16 Membaca Pemahaman   Bacaan 3 Latihan Teknik Skimming .

Apabila ada buku yang cocok. Soedarsono 2004: 88-89. dan Tarigan 1994: 32). pembaca tahu judul-judul buku apa saja yang tersedia di toko buku tersebut. dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati 1997: 64-65. penyegaran. bagian penting organisasi bacaan. opini. Misalnya pembaca datang ke toko buku untuk mengetahui buku-buku membaca apa yang terdapat pada toko buku tersebut. dan mengetahui bagian penting.  Membaca Pemahaman 2-17 1) Tujuan Membaca Skimming Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan. ia bisa saja mengambil buku tersebut untuk membaca sekilas daftar isi buku . mengetahui opini. Pembaca melihat secara sekilas judul-judul buku membaca yang terdapat rak khusus buku-buku membaca. dan judul subbab. Widyamartaya 2004: 44. Yang dapat diterapkan adalah mengenal bacaan. yaitu mengenal paragraf bacaan. Dengan men-skim buku tersebut. Yang dimaksud topik bacaan adalah judul buku atau artikel. judul-judul bab.

ia mencari atau meminjam buku tersebut. Kadang kala pada sebuah surat kabar memuat artikel yang justru kehadiran opini diwajibkan karena tanpa opini artikel tersebut kurang bermutu sehingga orang yang ingin mengirim artikel untuk kolom itu diharuskan menampilkan opini-opini. Pada sebuah bacaan opini belum tentu ada. informasi gempa bumi yang terjadi di Yogya. Misalnya. Teknik baca layap juga dapat digunakan untuk melihat paragraftopik artikel yang ada pada majalah atau surat kabar. Sewaktu men-skim daftar isi dan tidak menemukan hal-hal yang dicari. Bacaan ilmiah biasanya tidak mengandung opini. . Ia cukup mencari judul artikel yang ada dalam surat kabar yang dibaca secara sekilas tentang gempa yang melanda Yogya. bukalah halaman yang mungkin mengandung informasi yang dibutuhkan secara cepat. pembaca bisa saja men-skim semua halaman yang ada pada buku untuk meyakinkan bahwa yang dicari memang betul-betul tidak ada karena ada kemungkinan informasi yang dicari ada di dalam buku.2-18 Membaca Pemahaman   itu guna mengetahui apakah ada judul bab atau subbab yang diinginkannya. Jika ada buku-buku yang dibutuhkan. Ia membaca sekilas kartu pparagrafa atau daftar pparagrafa yang ada di pparagrafap mengenai judul buku yang tersedia di perpustakaan tersebut. Opini digunakan untuk menggugah pikiran pembaca untuk berfikir kritis sehingga pembaca diharapkan dapat paragraf umpan baliknya yang berupa tanggapan. tetapi tidak secara eksplisit tercantum dalam daftar isi. Opini berarti pendapat. tetapi bacaan yang bersifat paragraf umumnya ada opininya. Skimming dapat diterapkan sewaktu pembaca mencari bahan di perpustakaan. pikiran atau pendirian. Apabila ya. Pembaca dapat membaca layap surat kabar yang dibaca untuk mencari informasi yang diinginkan. kemudian melihat daftar isi untuk menentukan apakah buku tersebut mengandung pembahasan tentang hal-hal yang dibutuhkan.

Untuk mengetahui bagian penting dari sebuah bacaan. Artikel yang seperti itu merupakan bacaan yang bersifat deduktif. jumlah korban. pembaca hanya melihat secara skimming seluruh bacaan dengan menangkap ide-ide pokok. Cara yang efektif dan efisien untuk mendapatkannya adalah cukup dengan membaca paragraf awal dan akhir. Dalam rangka menemukan informasi yang penting dari sebuah bacaan. Bacaan tersebut dinamakan bacaan yang bersifat deduktif – induktif. Tentukan dengan jelas informasi atau fakta yang akan dicari atau buatlah pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi yang ada dalam bacaan. Pendapat yang diungkapkan pada akhir bacaan biasanya berupa simpulan. Jika ingin mengetahui bagian penting. . Paragraf awal sebuah bacaan umumnya mengandung pokokpokok pikiran yang diuraikan pada paragraf berikutnya (paragraf isi). Informasi yang dicari misalnya adalah nama peristiwa. Disamping kedua cara tersebut. nama tokoh. 1. Penulis boleh saja menampilkan ringkasan pendapatnya pada akhir bacaan. Setelah mengetahui paragraf-topik bacaan. tempat peristiwa. pembaca tidak perlu membaca keseluruhan bacaan. pembaca bisa juga menemukan opini pada awal dan akhir bacaan karena penulis artikel menampilkan opini pada awal bacaan dan diulang diakhir bacaan dalam bentuk simpulan. Pembaca cukup membaca dengan sekilas dari atas sampai bawah untuk menemukan informasi tertentu yang dicari. Semua pendapat yang akan diuraikan berikutnya ditulis pada paragraf awal. Bacaan yang demikian merupakan bacaan yang bersifat induktif.  Membaca Pemahaman 2-19 Artikel semacam ini diminati pembaca yang ingin mencari hal-hal yang bersifat sensasi. Tarigan (1990 : 33) paragraf petunjuk sebagai berikut. biasanya pembaca melanjutkan membaca untuk mengetahui pendapat penulis terhadap permasalahan yang dibahas.

Ayunan mata tidak memakai irama yang sama. Kemungkinan lain dalam membaca dengan skipping adalah pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat pertama pada paragraf berikutnya. Jika pada sebuah paragraf hal yang penting terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. seri atau kalah. Pembaca yang menggunakan teknik ini berarti melakukan ayunan mata dari bagian bacaan yang penting ke bagian bacaan yang lain. dan previewing. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. carilah di bawah subjek yang lebih luas. pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat terakhir.2-20 Membaca Pemahaman   2. yang dicari atau dibutuhkan ke begian yang penting berikutnya. Siapkan kata kunci yang tepat untuk menunjuk informasi yang dibutuhkan. Bagian bacaan yang tidak penting dilompati atau tidak dihiraukan. Maksudnya adalah membaca melompatlompat dari bagian yang penting. dari kalimat akhir ke kalimat akhir pada paragraf berikutnya. 4. Hal tersebut bergantung pada letak atau jarak bagian yang penting dengan bagian penting lainnya. sebaiknya pembaca melihat apakah kata kunci tersebut tercantum dalam indeks. Jika tidak ada. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja. 2) Jenis Teknik Skimming Jenis teknik membaca yang termasuk dalam teknik skimming adalah skipping. pokok. dari kalimat awal ke kalimat tengah pada sebuah halaman. misalnya dalam pertandingan sepak bola kata kunci tersebut adalah menang. Apabila pembaca mencari informasi dalam sebuah buku. Lihatlah setiap halaman dengan cepat hanya untuk tujuan mencari kata kunci atau informasi yang diinginkan. sampling. Skipping diartikan sebagai teknik baca lompat. 3. . locating.

informasi pokok belum tentu berada di setiap paragraf. dan seterusnya. Pembaca memusatkan pandangan matanya di bagian tengah bacaan dan . pembaca akan mendapatkan gambaran umum sebuah bacaan dengan cepat.  Membaca Pemahaman 2-21 dari kalimat awal ke kalimat akhir pada sebuah halaman. Informasi kunci belum tentu terdapat pada kalimat pertama. Bagian-bagian bacaan yang dianggap dapat mewakili bacaan. Disamping itu. Prinsip yang dianut teknik ini adalah membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah bacaan yang dianggap dapat mewakili keseluruhan bacaan. dan seterusnya. tetapi bisa-bisa saja terdapat pada kalimat kedua. Adakalanya sebuah paragraf tidak mengandung informasi kunci. pembaca memperoleh gambaran umum dari bacaan yang dibaca. yaitu kalimat inti atau kalimat utama. Oleh karena itu. Kalimat utama umumnya mengandung informasi kunci yang biasanya terletak pada kalimat pertama dari sebuah paragraf. keempat. 3. bagian-bagian yang dibaca mengandung informasi kunci atau pokok. Locating merupakan teknik membaca paragraf. ketiga. Dengan teknik ini. 2. Dalam pengembangan penggunaan teknik ini. Sampling merupakan teknik membaca bagian tertentu bacaan dengan cepat supaya mendapat gambaran umum dari bacaan yang dibaca. penggunaan teknik ini dipusatkan pada membaca kalimat pertama setiap paragraf. yaitu pandangan mata bergerak dari bagian atas ke bawah secara cepat. dalam menerapkan teknik sampling pembaca diberikan keleluasaan untuk membaca bagian-bagian tertentu dari bacaan dengan syarat: 1. Untuk itu. dari kalimat awal ke kalimat awal pada halaman berikutnya. pembaca tidak hanya terpaku pada kalimat pertama dari setiap paragraf. dilaksakan dengan sekilas. Maksudnya adalah mata pembaca bergerak secara paragraf.

awal paragraf dibuat untuk membantu menarik perhatian otak dan mata supaya dapat mengenali perbedaan dalam pergatian bagian. Pembaca melihat sisi kanan halaman dan tidak dapat melihat secara jelas yang ada pada sebelah kiri halaman. kata yang dimulai dengan huruf paragraf. Mata pembaca diharuskan bergerak secara diagonal kembali ke kiri untuk membaca garis berikutnya sehingga mata bergerak dengan pola zig-zag. juga mempunyai kemampuan pandang sekeliling atau daya melihat sekeliling (peripheral vision). pembaca akan banyak menghabiskan banyak waktu dalam membaca kerena pembaca harus melewati baris-baris yang telah dibaca. Pandangan mata akan tertuju pada informasi tersebut karena selain bidang pandangan paragraf dekat (eye span). Seandainya hal tersebut tidak bisa dilakukan. Hal ini terjadi karena pembaca selain mempunyai kemampuan pandang paragraf dekat yang disebut rentang pandang mata (eye span). otak pembaca bisa melihatnya dengan jelas sehingga bisa menuntun mata pembaca secara tepat ke awal baris berikutnya. kepala kalimat. pembaca juga memiliki daya melihat sekeliling. Dengan kedua kemampuan itu. Dalam tipografi. . Walaupun demikian. tetapi secara paragraf dari kiri ke kanan. kata yang di cetak tebal atau miring. Kenyataan yang mempersulit penggunaan teknik locating adalah membaca sepintas hanya akan berkerja optimal apabila pembaca telah menenemukan kata atau frase kunci.2-22 Membaca Pemahaman   bagian kanan dan kiri tetap dalam jangkauan pandangan mata. pembaca dapat menggerakkan matanya dari bagian tengah atas ke bagian tengah bawah secara cepat. Penggunaan teknik locating tidaklah mudah karena materi bacaan tidak ditulis secara paragraf. Kemampuan peripheral vision dapat juga digunakan oleh pembaca pada tiap sampai ujung kalimat yang dengan cepat kembali ke bagian awal baris berikutnya.

pembaca dapat memperoleh hal-hal yang diinginkan lainnya. Gambar membaca dengan pola Blok adalah berikut ini. Kalau hal tersebut dilakukan dapat menghemat waktu yang banyak. Pola blok merupakan pola membaca dengan cara mata berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. Atau dengan kata lain. Penggabungan kedua teknik tersebut digunakan untuk menerima atau mengenali pokokpokok pikiran yang penting dengan cepat. Teknik juga dapat digunakan untuk menangkap garis besar materi bacaan sebelum pembaca menolak untuk membacanya.  Membaca Pemahaman 2-23 Previewing merupakan gabungan dari teknik sampling dan locating. blok. disamping menemukan ide pokok. pembaca akan dapat menerka isi 23paragrafaph tersebut. Jadi. Blok ini bentuknya adalah paragraf. Teknik ini menggunakan teknik sampling dari sisi pemusatan perhatian pada kalimat pertama setiap paragraf dan memanfaatkan teknik locating dari sisi daya melihat sekeliling. Pembaca mendapatkan ide-ide pokok atau informasi inti dan sekaligus bisa menemukan hal-hal yang diperlukan untuk mendukung ide pokok. Pola yang dapat diterapkan adalah blok dan horizontal. dan paragrafaph (Harjasujana dan Mulyati 1997:168-169). Pengunaan teknik ini adalah pembaca membaca kalimat pertama pada setiap paragraf dan pembaca menggunakan kemampuan daya melihat sekeliling pada kalimat-kalimat yang lain dari setiap paragrafnya. Pola Membaca Cepat Pola membaca yang digunakan dalam teknik lanjutan adalah pola paragraph diagonal. zig-zag. . spiral. Dengan membaca bagian awal dan atau akhir sebuah paragraf dengan tepat. pembaca memperoleh hal yang primer dan yang sekunder.

kecepatannya harus cepat kilat karena pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. Pola membaca horizontal dapat digambar sebagai berikut: Gambar 2 Pola Horisontal 2. siswa kelas X dituntut untuk dapat membaca berbagai ragam wacana untuk merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Membaca Memindai Buku Dalam standas isi pada kurikulum 2006.2-24 Membaca Pemahaman   Gambar 1 Pola Blok Pola horizontal merupakan pola membaca dengan cara mata meluncur dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Yang dapat dilakukan oleh siswa SMA untuk mencapai tujuan itu adalah membaca dengan model membaca model .

Oleh karena itu. Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca yang meliputi sintaksis.4) dan vertical. melainkan proses paragraf balik yang bersifat simultan. paragraf. tetapi mengkombinasikan kedua model tersebut dalam proses membaca.1. dan leksikon bekerja secara serempak untuk memahami (mentransfer) informasi yang disampaikan penulis. ortografis. proses MMTB dimulai dari peringkat yang lebih tinggi.  Membaca Pemahaman 2-25 atas bawah (lihat hal 4) atau model membaca timbal balik. Membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-berlanjut. Pengetahuan pembaca pada setiap bagian bacaan juga kadangkala berbeda. yaitu mulai dengan paragraf atau makna. Untuk itu. mudah atau tidak pokok dan ada bagian yang belum dikenal. Penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis (informasi visual) dan informasi nonvisual (informasi yang sudah dimiliki oleh pembaca). pembaca tidak bisa menerapkan salah satu model membaca yang sudah ada. Sistem atau cara kerja membaca seperti itu dinamakan MMTB. . teknik scanning. a. MMTB adalah berikut ini. MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan. sulit atau pokok. Ada bagian bacaan yang sudah sesuai dengan pengetahuan pembaca dan ada yang belum sesuai dengan pengetahuan sehingga pembaca tidak bisa menerapkan MMBA atau MMAB saja. metode SQ3R. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan. Jika dibagankan. Model Membaca Timbal Balik Sebuah bacaan kadangkala ada bagian yang sudah dikenal. Disamping itu. yaitu MMBA atau MMAB. Pembaca menggunanakan MMBA dan MMAB secara bergantian. dan pola blok (lihat 2. Pada peringkat ini bank data bekerja secara simultan. pembaca dituntun tidak hanya memakai salah satu model membaca tersebut.

penerbit. dan abstrak (bila ada). daftar gambar. baca. daftar isi. Bagian isi yang disurvai meliputi judul . reading. Bagian-bagian buku yang disurvai adalah bagian awal. question. Penerapannya adalah berikut ini. pengarang. Mula-mula metode ini dikembangkan oleh Robinson pada tahun 1946. dan cara membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah buku. Pada halaman judul yang disurvai adalah judul buku. Tampubolon (1990:170) 26paragraf nama metode SQ3R dengan istilah surtabaku yang merupakan akronim dari survai. b. dan ulang. paragraf. Bagian awal (preliminaries) yang disurvai meliputi halaman judul. recite dan review (Tarigan 1990:54). paragraf. meneliti. Metode ini dibuat untuk kepentingan membaca bacaan yang berupa buku untuk kepentingan belajar. Penjelasan dari kelima tahap dalam SQ3R adalah sebagai berikut Survai adalah meninjau. mengkaji. tempat terbit. Metode SQ3R Metode SQ3R merupakan metode membaca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap. yaitu survai. daftar paragraf. dan tahun terbit. kata pengarang. dan bagian akhir. bagian isi.2-26 Membaca Pemahaman   Bagan 2 Model Membaca Timbal Balik Metode yang dapat diterapka untuk membaca buku untuk merangkum isi buku dalam beberapa kalimat adalah metode PQ3R.

Tahap mensurvai buku diperlukan untuk tahap berikutnya. Bagian akhir buku yang disurvai meliputi simpulan. dan paragraf (bila ada). dan penutup. Jika tidak melakukan survai. Survai dilakukan dalam waktu beberapa menit saja dan merupakan kegiatan awal dari penerapan metode ini. pembaca akan meneruskan kegiatan membacanya pada tahap berikutnya.  Membaca Pemahaman 2-27 tiap bab. . Bagian-bagian buku yang disurvai dibaca dengan teknik baca layap (skimming. dan gambaran umum isi buku. daftar pustaka. dan indeks (bila ada). Bagian isi dari sebuah buku yang baik adalah terdapat bab. mutu buku. sub-sub bab. daftar gambar. dan sari.) yaitu membaca secepat mungkin halaman demi halaman. grafik. daftar isi. daftar paragraf. ringkasan yang tersusun secara sistematis. pembaca tidak perlu meneruskan ke tahap berikutnya. diagram. mengandung informasiinformasi yang dibutuhkan atau tidak. Bagian awal dari sebuah buku yang lengkap terdiri atas halaman judul. Bagian akhir dari sebuah buku yang bermutu meliputi simpulan. kata pengantar. Jika jawabannya tidak. Cara mensurvai bagian-bagian tersebut adalah dengan membuka-buka bagian-bagian tersebut secara cepat dan menyeluruh dalam sekali pandang. subjudul. isi. Jika jawabannya ya. pembaca tidak akan bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi buku. daftar pustaka. Dalam waktu yang singkat pembaca sudah dapat mengetahui buku yang disurvai itu cocok atau tidak. Buku yang bermutu baik akan mengandung bagian-bagian buku yang lengkap. Tujuan lain dari mensurvai adalah untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara cepat. Survai juga digunakan untuk mengetahui mutu buku. bagan. Anatomi buku merupakan bagian-bagian dari sebuah buku yang umumnya meliputi bagian pendahuluan. Tujuan dilakukannya survai adalah untuk mengetahui anatomi buku. dan indeks.

Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pembaca untuk menemukan isi bacaan pada waktu pembaca melakukan tahap reading. Manfaat melakukan question bagi pembaca sebelum membaca adalah sebagai berikut. Pertanyaan dibuat berdasarkan perkiraan-perkiraan pembaca sewaktu melakukan survai. 3. pertanyaan-pertanyaan menanyakan mengenai halhal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. pertanyaan-pertanyaan itu dicatat supaya pembaca tidak lupa dan tidak membebani pembaca untuk selalu mengingat-ingat pertanyaan sehingga dapat mengganggu konsentrasi pada waktu membaca. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan memotivasi pembaca untuk membaca dengan sungguh-sungguh karena sudah tahu target yang ingin dicapai. 6. Sebaiknya. ada buku yang berjudul Membaca Efektif dan Efisien. Pembaca dikondisikan berpikir kritis atas bacaan yang . 1. Apakah yang dimaksud membaca yang efektif ? Apakah yang dimaksud membaca yang efisien? Apakah yang dimaksud membaca yang efektif dan efisien? Bagaimana caranya membaca efektif? Bagaimana caranya membaca efisien? Apa manfaat membaca efektif dan efisien? Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat atau dihafal. 3.2-28 Membaca Pemahaman   Questioin (bertanya) merupakan tahap kedua dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca menyusun pertanyaanpertanyaan. Umumnya. Misalnya. Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul karena keinginan atau hasrat pembaca untuk mengetahui mengenai sesuatu hal yang diperkirakan terdapat dalam bacaan. 2. 1. Pertanyaan-Pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pikiran pembaca pada bagian-bagian tertentu dari bacaan yang dibaca. 2. 4. Kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah berikut ini. 5.

Pembaca biasanya membaca dengan teliti sambil mencari jawaban dari pertanyaan pada tahap question. Kecepatan baca disesuaikan dengan tujuan membaca dan bacaan. Kecepatan baca bidang cepat jika yang ingin diperoleh hanya hal-hal tertentu saja atau hal-hal yang penting dan kecepatan baca lambat (diperlambat) jika yang diinginkan adalah mengetahui semua isi yang ada pada bacaan. Jika diperlukan. yaitu membaca bab demi bab dan bagian demi bagian bab. Jika belum yakin. pembaca memfokuskan pada kata-kata kunci. dan bagian bacaan yang mudah dibaca . pikiran-pikiran pokok yang terdapat dalam bacaan. Dalam membaca. pembaca bisa membuat catatan tentang hal-hal yang penting yang telah ditemukannya atau pembaca cukup berupa menggarisbawahi hal-hal yang penting pada buku. pembaca melakukan kegiatan membaca secara menyeluruh. Tahap sebelumnya (survai end question) dipersiapkan untuk melakukan tahap ini. Kedua tahap sesudahnya (recite end review) merupakan tindak lanjut dari tahap ini. Bagian bacaan yang sukar akan dibaca dengan lambat. Pembaca tidak hanya menerima informasi yang disampaikan penulis. Apa yang telah dirintis pada kedua tahap sebelumnya akan direalisasikan pada tahap reading.  Membaca Pemahaman 2-29 dibaca. Untuk memperlancar proses membaca. pembaca boleh meragukan apa yang dikatakan penulis sambil mencari sumbersumber lainnya yang dapat meyakinkan pembaca atau bahkan pembaca tambah ragu atau tidak yakin tentang apa yang ditulis penulis. Pada tahap ini. pembaca tidak harus melakukan kecepatan baca yang sama. Reading (membaca) merupakan tahap ketiga dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk membaca bacaan. dan simpulan yang dibuat penulis. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dari metode ini. bagian bacaan yang sedang dibaca kecepatan sedang.

Kedua gaya diterapkan bersama-sama pada waktu membaca. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa kesulitan bagianbagian bacaan tidak sama. Menurut Tarigan (1990:12). Keberagaman pilihan teknik membaca dapat dibaca pada bab IV. Pertama.2-30 Membaca Pemahaman   dengan kecepatan yang tinggi. pembaca harus pandai memilih model membaca yang diterapkan. pembaca melakukan membaca secara fleksibel. Teknik skimming dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitannya mudah. yaitu membaca intensif dan ekstensif. teknik close reading dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitan bacaan tinggi atau sedang. Model membaca ini menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan cara yang tidak sama pada setiap bagian bacaan. . Membaca dalam hati dapat diklasifikasi menjadi dua. gaya membaca bawah atas untuk membaca bacaan yang sulit atau belum dikenal. Dengan cara seperti itu. Membaca ekstensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami informasi-informasi yang penting atau pokok yang terdapat pada bacaan dengan cara membaca secara sepintas. dan jenis membaca yang dipraktekkan. Membaca intensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami semua informasi yang ada dalam bacaan. Kedua. Pilihan teknik membaca juga didasarkan atas tingkat kesulitan bagian-bagian bacaan. pembaca buku termasuk di dalam jenis membaca dalam hati. Gaya (model) yang ditawarkan ada dua. Model membaca yang cocok untuk membaca secara fleksibel adalah model membaca campuran. baik yang paling atau pokok maupun yang detail. Dengan fleksibilitas baca. dengan cara membaca secara teliti. gaya membaca atas bawah untuk membaca bacaan yang mudah atau sedang. teknik membaca yang digunakan. membaca buku termasuk di dalam membaca intensif. Dari dua jenis membaca itu.

dan bacaan yang mudah mericetenya setelah selesai membaca semua bab. Tingkat kesulitan dan panjang-pendeknya bacaan menjadi menjadi pertimbangan dalam melakukan recite. dan bacaan yang panjang setelah selesai per subbab. pembaca tidak boleh membuka-buka buku yang telah dibaca. Pertimbangan yang dijadikan dasar adalah kemahiran yang dimiliki pembaca.  Membaca Pemahaman 2-31 Recite (menceritakan kembali) merupakan tahap keempat dari metode SQ3R yang berupa kegiatan membaca untuk menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri. Pembaca dalam menceritakan kembali harus sudah hafal mengenai isi bacaan. ada yang selesai tiap-tiap bab. Tahap ini dapat dilakukan per subbab. dan pembaca yang sudah mahir melakukan recite setelah selesai membaca semua bab. bacaan yang sedang merecitenya setelah selesai membaca setiap bab. tingkat kesulitan bacaan. per bab atau setelah bacaan selesai dibaca. . Pembaca yang belum mahir lebih baik melakukan recite tiap subbab. Bacaan yang pendek menceritakan kembalinya setelah selesai membaca semua. Pada tahap ini. pembaca yang sudah cukup mahir disarankan merecite tiap bab. dan ada juga yang setelah selesai tiaptiap subbab. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca bagian yang terlupakan. Bacaan yang sulit merecitenya setelah selesai membaca pada setiap subbab. Recite menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca. dan panjang pendeknya bacaan. kebiasaan. Tahap ini dilakukan apabila pembaca sudah merasa yakin bahwa pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap question bisa dijawab dan dapat menceritakan dengan benar mengenai bacaan yang telah dibacanya. Ada pembaca yag biasa menceritakan kembali isi bacaan setelah selesai semua bab dibaca. Hal tersebut diperbolehkan supaya tidak mengganggu tahap berikutnya (review). bacaan yang sedang setelah selesai per bab. Ada kemungkinan pembaca lupa tentang sesuatu hal yang akan diceritakan.

dan rinci. dan jelas yang mencakup butir-butir penting isi bacaan. sedangkan meninjau ulang merupakan kegiatan untuk melihat-lihat bagian-bagian bacaan secara secepat kilat. 1. teratur. tahap ini merupakan tahap evaluasi. Recite tertulis dapat berupa ikhtisar. Bagi pembaca. 2. Bagian yang . teratur. bukan lisan. Ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata pembaca sendiri. padat. Ikhtisar dibuat berdasarkan rambu-rambu berikut ini. dan rinci. dan kedalaman dalam menceritakan kembali isi buku. Membaca ulang merupakan kegiatan membaca untuk mengulang membaca bacaan yang telah dibaca secara teliti. Menceritakan kembali isi bacaan (buku) tidak harus hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat pada tahap question. recite dilakukan secara tulis (tertulis). keteraturan. Pembaca bisa saja menceritakan kembali hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh guru atau dosen waktu ujian dan ditanya teman-temannya sewaktu diskusi. Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang. Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatan. Sebaliknya. luas atau banyaknya informasi yang telah dicerna melalui kegiatan membaca. misalnya sambil membaca atau sambil membuka-buka kembali halaman buku. Pembaca yang telah berhasil adalah pembaca yang dapat bercerita secara cermat. 3. Review (meninjau kembali) merupakan tahap akhir dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami. tetapi dapat dikembangkan. Ikhtisar dibuat secara singkat.2-32 Membaca Pemahaman   Sebaiknya. (Harjasujana dan Mulyati 1997:212). Ikhtisar dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain. pembaca yang belum berhasil adalah pembaca yang tidak dapat bercerita secara cermat. Pembaca dievaluasi seberapa jauh.

tahun terbit. pembaca dilatih membaca secara sistematis. Nama lain kartu baca menurut Tampubolon (1990:173) adalah kartu rangkuman pokok bacaan studi. review bermanfaat untuk mengecek barangkali ada hal-hal yang penting terlewati. Pertama. Meninjau kembali bacaan diperlukan untuk menyegarkan kembali ingatan atas informasi-informasi yang telah diperoleh pada waktu membaca. Kelima tahap dalam SQ3R dilaksanakan secara sistematis mulai dari survai sampai dengan review. 4. 2. Tahap ini berguna dalam membantu pembaca mengingat-ingat dan mengeluarkannya pada waktu ujian. dan penerbit. gambar. Agar hasil baca dari metode SQ3R terpelihara dengan baik. diagram. pembaca yang sudah mahir tidak sekedar merasa yakin telah menguasai semua isi yang ada dalam buku. judul buku. 3. subjudul.  Membaca Pemahaman 2-33 ditinjau ulang misalnya judul. kutipan lengkap bagian informasi atau pernyataan yang dipandang penting dengan disertai keterangan sumber otentik (tahun terbit dan halaman). 33arag atau judul bacaan. Disamping itu. dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada buku. Informasi-informasi yang didapat dari buku secara bertahap. nama pengarang. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan metode SQ3R ada lima. tetapi pembaca juga merenungkan yang dan memikirkan penulis. perlu ditulis dalam kartu baca. Kedua. benar-tidaknya kelebihan dan informasi-informasi disampaikan kelemahan buku yang dibaca. tempat terbit. membaca akan . Pada tahap ini. kritik dan saran yang bisa disampaikan untuk menyempurnakan buku yang dibaca. Hal-hal yang dicatat dalam kartu baca adalah sebagai berikut: 1. ringkasan mengenai pokok-pokok penting isi bacaan dengan bahasa pembaca sendiri.

Jika buku tersebut diperlukan. Untuk mencapai tujuan. pembaca akan beralih pada bacaan lain yang sesuai kebutuhannya. kegiatan tercapainya membaca sesuai dengan tujuan. Keefektifan pembaca membaca membaca dapat dilihat secara dari efektif dan efisien. pembaca akan meneruskan membacanya. Buku yang dihadapi untuk dibaca adalah buku yang berjudul Membaca 2 karangan Harjasujana dan Mulyati.2-34 Membaca Pemahaman   memperoleh pemahaman yang komprehensif dan tahan lama. Pengaturan tempo membaca tiap-tiap bagian bacaan tidak selalu harus sama. dan manfaat menggunakan SQ3R. Tempo baca akan diperlambat jika membaca halhal yang belum diketahuinya atau bacaannya sulit. Keempat. Contohnya adalah jika pembaca diberi tugas mencari pengertian metode SQ3R. Pembaca akan mempercepat tempo bacanya jika membaca hal-hal yang sudah diketahui atau bacaannya mudah. tahap-tahap. pembaca melakukan serangkaian tahapan yaitu . Tujuan yang ingin dicapai dalam membaca buku dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Semua bagian-bagian buku dibaca mulai dari halaman judul sampai daftar pustaka atau indeks. Ketiga. Pemahaman yang diperoleh akan tahan lama tersimpan di dalam otak karena diperoleh dengan menggunakan cara yang bertahap. Jika buku itu tidak diperlukan. Sub-sub bab pada bab VIII berjudul pengertian. Kelima. Buku tersebut disurvai pada daftar isi. tahap-tahap penggunaan. pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah buku yang dihadapinya sesuai dengan yang diperlukan atau tidak. Dalam daftar isi terdapat judul bab metode SQ3R pada bab VIII. Dari hasil survai tersebut pembaca dapat menentukan bahwa buku itu diperlukan sehingga pembaca melakukan tahap berikutnya. Pembaca dapat mengetahui hal tersebut setelah selesai melakukan survai. pembaca diberi kesempatan untuk membaca secara fleksibel. dan manfaat SQ3R.

Setelah yang dicari ditemukan. 1. Keefisien membaca dilihat dari sisi waktu yang dibutuhkan dalam membaca. pembaca melaju dengan penuh keyakinan. dan review sehingga tujuan baca akan bisa tercapai dengan baik. Di samping itu. 4. pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memperhatikan atau membaca bagian-bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari. 3.  Membaca Pemahaman 2-35 reading. Scanning merupakan teknik membaca sekilas cepat. Tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan informasi tertentu dan atau fakta khusus. Pembaca tidak akan mengulang bacaan yang telah dibaca. c. Waktu baca dari sebuah buku dengan metode SQ3R 35paragrafap cepat. pembaca perlu memperhatikan hal-hal berikut ini. 2. . Teknik scanning terjadi dua proses. Pembaca sudah mempunyai tahap-tahap yang pasti dan persiapan yang mantap untuk membaca sehingga akan mempercepat proses membaca buku. recide. Prinsip membaca scanning adalah cepat menemukan informasi untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus pembaca. yaitu proses mencari atau menemukan dan proses memperoleh informasi atau fakta. tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Harjasujana dan Mulyati 1997:65 dan Tarigan 1994:31). Untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus. Teknik Scanning Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas atau teknik baca tatap. pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh atau memahami informasi atau fakta yang dicari. Dalam penggunaannya. Kedua paragraf dilakukan sekilas dan teliti. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.

dengan pola S atau zig-zag. seorang penulis memerlukan sumber. Pembaca memperlambat kecepatan bacanya jika sudah menemukan informasi atau fakta yang dicari untuk meyakinkan kebenaran mengenai hal yang dicari. 2. 4. memilih acara paragraf. 6. Dalam rangka menulis sebuah artikel. makalah atau buku. Jika ada. Dalam menulis karya ilmiah semakin banyak sumber yang diacu dan sumbernya bermutu mempunyai nilai tersendiri karena salah satu paragraf dalam menilai sebuah tulisan ilmiah adalah dari sumber yang dipakai. seperti anak panah yang langsung meluncur dari bagian tengah busur ke sasaran yang dituju oleh pemanah. mencari nomor telefon. tetapi sebanyak mungkin. Pembaca menggerakkan matanya secara sistematis dan cepat. Sumber yang diperlukan tidak hanya satu. Pembaca disarankan mengetahui kata-kata kunci atau frasefrase kunci yang menjadi petunjuk. pembaca lebih baik melihat gambar. Yang dapat diterapkan adalah menemukan topik tertentu dan mencari entri pada indeks. ilustrasi atau 36arag yang berhubungan dengan informasi atu fakta yang dicari. grafik.2-36 Membaca Pemahaman   1. Pembaca seyogyanya mengenai organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk menafsirkan letak informasi terentu atau fakta khusus. menemukan kata di kamus. . antara lain menemukan topik tertentu. Pembaca dapat mempermudah atau mempercepat mencari lewat daftar-daftar isi dan atau indeks 5. Dalam kehidupan sehari-hari teknik scanning digunakan dengan tujuan. Untuk itu. 3. dan mencari entri pada indeks (Soedarso 2004: 90-96).

Karena tidak ada daftar isi. Pembaca men-scan daftar isi untuk mencari paragraf tertentu. Apabila ditemukan paragraf yang dicari. pembaca berhenti pada halaman tersebut dan melakukan membaca secara biasa dengan tujuan memperoleh informasi. Pembaca dituntut dapat mencarinya dan memperolehnya dengan cepat sehingga dapat mencari paragraftopik tersebut dari buku yang lain. 3. Pembaca membuka halaman yang ditemukan pada tahap 3. pembaca dapat men-scan halaman berikutnya atau pada surat kabar yang lain. dan gambar. Topik yang dicari bisa saja terdapat pada beberapa bab. pembaca juga tidak perlu membaca semua bagian yang ada pada surat kabar. bagan.  Membaca Pemahaman 2-37 penulis terlebih dahulu dituntut untuk mencari dan mempelajari paragraf-topik yang relevan dengan pembahasan yang akan dibuat. Indeks merupakan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan yang tersusun menurut abjad yang memuat informasi mengenai halaman. gambar. Untuk mencarinya pembaca tidak perlu membaca semua bagian buku. tetapi cukup men-scan (menemukan) melalaui daftar isi. grafik. indeks. Tahap yang dapat dilakukan dalam men-scan buku untuk menemukan paragraf tertentu adalah sebagai berikut: 1. Selain dari buku. pembaca dapat juga men-scan daftar indeks. 4. dan atau grafik. Untuk mencari paragraf. Untuk melengkapi pencarian paragraf. pembaca cukup men-scan halaman demi halaman. Pembaca membuka halaman dari paragraf yang telah ditemukan dan men-scannya. Pembaca yang mengenal surat kabar tersebut bisa lebih cepat dalam menemukan hal yang dicari karena ia sudah tahu kira-kira pada halaman berapa paragraftersebut dibahas. Topik-topik tersebut dicari dari buku atau sumber yang lainnya. Setelah itu. paragraf-topik tertentu dapat dicari dari surat kabar. 2. kata atau istilah yang ada di dalam .

Carilah istilah atau kata tersebut pada indeks dengan gerakan mata secara sistematis dan cepat. Indeks terdapat pada bagian akhir dari sebuah buku. jumlah penduduk. 3. dan lain-lain. grafik. Lihat juga gambar. Setelah menemukannya. Tentukanlah istilah atau kata yang ingin dicari dalam indeks. Namun. Bukalah halaman yang memuat indeks. Untuk dapat mencari istilah atau kata pada indeks secara cepat pembaca dapat menggunakan teknik scanning dengan tahap-tahap sebagai berikut. Kenali organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk memperkirakan letak jawaban. Indeks sangat berguna bagi pembaca pada waktu ingin mencari istilah dan uraiannya secara cepat. Cobalah cari melalui daftar isi. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman atau melewati batas pandang yang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. demografi. 2. Pembaca harus mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk. ilustrasi. lambatkanlah kecepatan membaca untuk memahami kata atau istilah yang dicari. 3. Pola Vertikal Pola paragraf merupakan pola membaca dengan cara bola mata bergerak meluncur secara paragraf dari atas ke bawah. 1. pemukiman. d. tidak semua buku terdapat indeks. paragraf yang berhubungan dengan kata yang dicari. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu kata kuncinya adalah sensus. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan . dapat melakukan tahap-tahap berikut ini. 2. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan indeks atau mungkin penulis tidak tahu mengenai indeks. 1.2-38 Membaca Pemahaman   buku. Apabila buku yang dibaca tidak memiliki indeks.

grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai. seek. dan reading (Depdikbud 2004:4-5). question. metode S2QR. gerak mata dengan pola paragraf adalah berikut ini. teknik scanning. Pembaca menerapkan pola ini dengan cara pandangan mata diarahkan dari bagian atas ke bagian bawah secara cepat. siswa dapat menggunakan model membaca atas bawah (lihat 2. kecepatan secara otomatis diperlambat.1). Membaca Memindai Grafik Dalam standar isi pada kurikulum 2006.1. Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca paragraf. Gambar 3 Pola Vertikal 3. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman berikutnya. Metode tersebut digunakan apabila pembaca tidak memiliki tujuan khusus sewaktu membaca paragraf. definisi.3 dan 2. kemudian apabila dirasa sudah dimengerti. grafik atau diagram. Penerapak metode S2QR adalah berikut ini.  Membaca Pemahaman 2-39 bantuan telunjuk tangan kiri. siswa kelas X dituntut untuk dapat merangkum seluruh isi informasi grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. Apabila digambarkan. dan pola vertical (lihat 2. sehingga pembaca . Pada saat merasa ada hal-hal yang penting (kata kunci. Untuk dapat terampil memindai grafik.4).2.2. kecepatan ditingkatkan beberapa kali. rumus atau hal yang dicari).

Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada di luar kolom paragraf. persentase. Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam paragraf. Informasi yang ingin disampaikan secara rinci dalam bentuk paragraf umumnya berupa urutan tahun. sehingga ia tidak merasa perlu mencermati seluruh paparan yang ada pada paragraf. 3. Hal yang dianggap perlu atau yang diinginkan biasanya adalah hal-hal yang bersifat menonjol. dan reading. Pembaca yang sedang studi membaca paragraf dengan tahap survai.2-40 Membaca Pemahaman   dapat membaca secara cermat dan menyeluruh. membaca paragraf biasanya bertujuan untuk mencari informasi yang tertuang dalam paragraf. 1. Hal-hal pokok yang perlu disurvai adalah judul paragraf dan subjudul. Jika tidak ada tujuan khusus. Informasi tambahan berupa keterangan yang tidak mungkin dimasukkan di dalam paragraf. Pembaca yang tidak sedang studi membaca paragraf untuk tujuan khusus. misalnya sumber data paragraf. Pembaca langsung mencari hal-hal yang diinginkan. seek. Informasi apa saja yang ada dalam paragraf merupakan pertanyaan . 2. Setelah informasi didapat yang perlu dilakukan adalah mencari informasi tambahan jika ada. question. Informasi tersebut bisa dicari pada bagian kolom dan baris pada paragraf. Manfaat mensurvai judul adalah untuk memahami pesan secara utuh dan menyeluruh. Setelah menemukannya pembaca langsung membaca pada bacaan yang lain. Pembaca harus meresapi judul yang disurvai karena judul merupakan ringkasan yang padat tentang informasi yang disampaikan penulis dalam bentuk paragraf. Question adalah kegiatan pembaca membuat pertanyaan tentang isi paragraf atau tujuan membaca paragraf. sehingga tidak perlu melakukan tahap S2QR. dan angka-angka.

Walaupun demikian. Reading adalah kegiatan membaca paragraf secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari.  Membaca Pemahaman 2-41 pokok tentang isi paragraf. misalnya. pembaca harus melakukan tahap reading. pembaca tidak hanya terpancang pada menemukan jawaban-jawaban tersebut. Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question. . Pertanyaan yang lain bisa saja dibuat dengan cara mengubah judul menjadi pertanyaan. 4. Ia bisa saja menemukan informasiinformasi yang lainnya. Pembaca dalam kegiatanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan pada tahap 3. Berapa angka tertinggi? Kelompok mana yang paling baik? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu.

4. dan mampu menerapkan model.BAB III. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. siswa kelas X dituntut untuk dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik . E. MEMBACA INTENSIF A. Indikator 1. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. metode. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca intensif. D. metode. dan teknik membaca serta penerapan model. 3. Uraian Materi 1. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca intensif. 5. Deskripsi Penyajian model. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca intensif. Menerapkan model membaca sewaktu membaca intensif. menerapkan kiat B. Membaca Intensif Pemahaman Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. 6. C. 2. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. dan teknik membaca. metode. metode. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif.

Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menganalisis unsur intrisik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. Dalam membaca. Siswa kelas XII dituntut untuk dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. Model Membaca Bawah Atas Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau battom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan. paragraf membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas. Pembaca bergantung sekali pada bacaan. Apabila dibagankan model membaca bawah atas adalah berikut. Karena paragraf atau cara kerja berawal dan bergantung pada bacaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas.  Membaca Pemahaman 2-43 sastra Melayu klasik dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik. pembaca melakukan penyandian kembali paragraf-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. a. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. metode kalimat. Untuk dapat terampil membaca intensif seperti tuntutan di atas. . dan teknik close reading. kiatnya adalah menggunakan model membaca bawah atas. sedangkan struktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peran sampingan (sekunder).

yaitu bacaan. tetapi juga pada proses menyimak. pemahaman maksud dan tujuan pengarang secara paragraf. Berita-berita yang diterima pembaca mengandung informasi yang dibutuhkan atau dicarinya. Pemahaman tersebut mencakup dua hal. 2. dan kalimat secara eksplisit.2-44 Membaca Pemahaman   Bagan 4 Model Membaca Bawah Atas Berdasarkan bagan 3. Setelah itu. Dekoding tidak hanya terjadi pada proses membaca. Membaca pada hakikatnya merupakan proses penerjemahan dan dekod. Dekoding pada pembaca terjadi pada komunikasi tulis. proses membaca diawali dari bawah. kemudian pembaca melakukan penyandian kembali 44paragraf-simbol tertulis. pemahaman makna leksikal. tetapi juga penerjemahan paragraf grafis ke bentuk pemahaman (psikis). . Penerjemahan tidak hanya diartikan sebagai penerjemahan paragraf grafis ke bentuk lisan (fisik). hasil penyandian kembali dikirim ke otak untuk dipahami. yaitu : 1. gramatikal. Dekoding merupakan proses pengubahan tanda-tanda grafis menjadi berita yang bermakna bagi pembaca. sedangkan paragraf pada menyimak terjadi pada komunikasi lisan. Bacaan merangsang atau menstimulus mata.

pembaca mengayunkan matanya lebih jauh lagi paragraf membaca frase. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat. Kata dan frase dipandang sebagai paragraf kalimat pembentuk ide. Pembaca mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya. Dengan demikian. Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat. Untuk itu. Pembaca akan lebih dapat menghemat waktu baca sebab paragraf tidak lagi berhenti pada satuan-satuan frase atau kata. pembaca perlu latihan yang serius dan terencana. Untuk mencapai hal tersebut tidak mudah karena metode kalimat merupakan membaca yang kompleks. Metode Kalimat Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang ada dalam bacaan. Pembaca hanya diperbolehkan mengadakan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. yaitu mekanik dan konseptual. Jika demikian.  Membaca Pemahaman 2-45 b. Di samping itu. yaitu menerapkan beberapa kemahiran yang sudah didapat dalam latihan sebelumnya. . Sewaktu mengayunkan pandangan mata pembaca dituntut memahami bacaan kalimat yang dibaca. mata lebih dapat leluasa bergerak secara cepat. Latihan membaca dengan metode ini dapat dibagi menjadi dua. Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. pembaca akan dapat menangkap makna kalimat dengan mudah dalam waktu yang paragraf singkat. tetapi pada setiap akhir kalimat.

Pembaca dikondisikan dapat membaca kalimat demi kalimat. dalam wawancara pekerjaan Anda harus tampil sebagai orang pribadi sekaligus sebagai komoditi. pembaca perlu berlatih secara kontinyu. Mata lebih didorong untuk melakukan lompatan yang jauh dan mata didorong untuk mempunyai pandangan yang lebar. Bacaan 4 Pentingnya Komunikasi Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan. pembaca melakukan hentian bisa mencapai kurang lebih 12 sampai dengan 20 kali pada setiap pparagrafafnya. Latihan membaca kalimat secara mekanik dapat dilakukan dengan bacaan berikut ini. sekali pandang mata sudah dapat memandang satu kalimat. Dibandingkan dengan membaca frase. Pertama. Tanpa latihan seperti itu. Ketiga. sulit rasanya kemahiran dapat dicapai karena membacanya semakin rumit. memasuki dunia sekolah. Membaca kalimat lebih cepat 3 atau 4 kali membaca frase. Keuntungan membaca kalimat secara mekanik ada tiga. pembaca lebih cepat selesai dalam membaca dibandingkan membaca frase. tetapi . Hentian sementara dilakukan lebih jauh dibandingkan pada membaca frase. Apabila diperhatikan dalam satu paragraf mata hanya bergerak atau melompat beberapa kali saja (4 sampai 5 kali). dan tekun. dan dunia kerja. Untuk mencapai kemahiran itu. pembaca melakukan lompatan pandangan mata dari kalimat ke kalimat berikutnya. Kedua. dilihat dari cara kerja mata. teratur.2-46 Membaca Pemahaman   (1) Metode Kalimat secara Mekanik Secara mekanik. Serta merta. Anda adalah pribadi khusus. mata tidak mudah lelah karena mata tidak sering melakukan lompatan-lompatan. Kesulitan komunikasi selagi mereka mulai ke luar dari keluarga.

Tahap-tahap berikut ini dapat digunakan sebagai paragraf dalam latihan membaca bacaan di atas. Tataplah bacaan di atas dengan pandangan yang lebar. 4. . Namun. membaca melakukan usaha untuk memahami atau menafsirkan makna yang terkandung dalam masingmasing kalimat dan merangkaikannya menjadi makna yang utuh. 1. Dalam tatap muka dengan manajer personalia. !) sebagai tanda batas antarkalimat. 5. Keterampilan Anda kepada seseorang yang membutuhkannya. paragraf.  Membaca Pemahaman 2-47 Anda sedang mencoba menjual keterampilan. 6. yaitu sekali pandang semua bacaan terlihat. setiap situasi kerja menuntut berbagai kemampuan berbicara yang luwes. pemerintahan. pendidikan. Cara memahami metode frase digunakan sebagai dasar dalam . Ayunkan pandangan mata beralih ke kalimat berikutnya secara perlahan-lahan. Betapa pun wawancara pekerjaan itu bisa dijadikan contoh pentingnya komunikasi dalam bisnis. Mulailah pandangan mata terfokus pada kalimat pertama. 2. Mata tidak boleh berhenti sebelum kalimat selesai atau Anda boleh berhenti pada tanda titik atau 47arag. ? . (2) Metode Kalimat secara Konseptual Secara konseptual. Ulangilah latihan sampai empat atau lima kali sambil meningkatkan kecepatan gerak mata. Berlatih pada hari-hari berikutnya sampai Anda mempunyai kemahiran membaca kalimat demi kalimat secara mekanik. dan profesi. 3. Anda sebagai calon karyawan menjadi sungguh-sungguh sadar akan pentingnya keterampilan komunikasi dasar dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. atau perintah (.

1. tuntutan memilihkan bahan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. dan lain-lain. Dalam kenyatan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat.2-48 Membaca Pemahaman   melakukan latihan ini. guru bidang studi apapun. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk dikonsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan paragraf kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Alternatif latihan metode kalimat secara konseptual pada bacaan tersebut adalah sebagai berikut. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macan bahan ajar yang ada. Masalahnya. paragraf-pamplet. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. surat kabar. Pembaca dapat melakukan latihan membaca secara konseptual dengan bacaan berikut ini. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terkait oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Tetaplah bacaan itu dengan sekali pandang. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. majalah. Untuk pengajaran membaca. Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. . Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. Bacaan 5 Bahan Ajar Membaca Sebagai seorang guru. buku ilmiah.

Teknik Close Reading Close reading (membaca teliti atau membaca cermat) adalah teknik membaca yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan (Tarigan 1994:33). dan memahami informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan secara tersurat (eksplisit). yaitu: 1. menangkap. Informasi secara eksplisit terdapat dalam baris-baris. Pahamilah kalimat demi kalimat secara perlahan-lahan. Nurhadi (2004:57) paragraf nama membaca literal. Pembaca merangkaikan informasi yang baru diperoleh ke dalam suatu kerangka yang telah ada. 2.  Membaca Pemahaman 2-49 2. Dengan teknik ini. Pembaca hanya menerima (memahami) apa yang ada pada tulisan. 4. 3. Pembaca tinggal menangkap maknamakna tersebut. Menurut Farr dan Roser (1979:359) yang dapat dilakukan oleh pembaca dengan menggunakan teknik ini ada dua. Pembaca hanya menangkap informasi-informasi yang terletak secara jelas dalam bacaan. hubungan ide-ide bawahan dan ide-ide utama. tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi (paragraf) atau makna dibalik baris-baris. Pembaca hanya memahami makna secara tersurat. Ciri-ciri pembaca yang menggunakan teknik close reading adalah sebagai berikut: 1. 2. c. Pembaca memahami organisasi. pembaca mengenal. Ulangilah latihan ini 2 atau 3 kali sambil meningkatkan daya pemahaman terhadap bacaan. Pembaca menerapkan keterampilan pemahaman pada tingkat yang rendah (dasar). Berlatihlah pada hari-hari berikutnya sampai mahir. . 3. Pembaca tidak diperbolehkan memahami frase demi frase.

Dengan teknik ini. Teknik ini perlu dilatihkan terutama untuk pembaca yang sedang belajar karena teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk membaca telaah atau membaca studi.2-50 Membaca Pemahaman   4. 2. menemukan urutan atau susunan organisasi cerita yang ada dalam bacaan. 5. di mana. 3. 4. Pembaca mempunyai tujuan dalam membaca yang dirancang sebelum melakukan kegiatan membaca. Tujuan yang diinginkan oleh pembaca pada umumnya adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan. menemukan rincian atas fakta-fakta yang terjadi dalam bacaan. 1. memperoleh ide-ide pokok yang ada pada bacaan. 3. yaitu tentang siapa. Pembaca membaca bacaan yang mengandung informasi-informasi yang diperlukan pelajar untuk . Pembaca harus sudah mempunyai keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membaca dengan teknik close reading. Pembaca tidak berpikir kritis dalam menerima informasi yang ada pada bacaan. Pembaca menerapkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca dengan teknik ini secara bertingkat sesuai tingkatan keterampilan yang dibutuhkan atau sesuai urutan keterampilan. Pembaca hanya mengingat-ingat informasi yang ada dalam bacaan. apa. pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut ini. Tujuan yang lain selain tujuan umum adalah tujuan khusus. halhal yang diperoleh bersifat paragraf. memperoleh informasi (ide) lain atau tambahan yang ada dalam bacaan. tentang hal yang ada pada bacaan. Agar dapat berhasil dalam menggunakan teknik ini. Tujuan khusus meliputi: 1. 2.

5. . a) Metode GPID Metode GPID diusulkan oleh Merrit. metode. Teknik close reading melatihkan kemahiran pembaca dalam hal: 1. 7. memahami makna paragraf. dan teknik yang dapat digunakan untuk membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. 10. Membaca Intensif Kritis Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. memahami makna frase. dan teknik retensi. memahami makna paragraf detail. Model.1).  Membaca Pemahaman 2-51 memperoleh dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. Siswa kelas XI dituntut dapat membandingkan paragraf-paragraf dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan dengan hikayat. 2. 6. menyatakan kembali paragraf urutan. memahami makna kata. 12. 3. dan dimana. siswa kelas X dituntut dapat menganalisis keterakaitan unsut paragraf suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari. kapan. metode GPID. 9. siapa. menangkap paragraf perbandingan. 8.4. metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu. memahami (menjawab) apa. menyatakan kembali paragraf perbandingan. menangkap paragraf sebab akibat. memahami makna kalimat. Siswa kelas XII dituntut dapat menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode. 2. Menurutnya. 4. . menyatakan kembali paragraf sebab akibat. menangkap paragraf urutan. 11.

Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan. dan development (Yap 1978:114115). dan merumuskan maksud atau tujuan. memusatkan perhatian. Pembaca sudah mempunyai arah yang jelas. Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut. bagian-bagian yang akan dibaca. plans. Pada tahap ini. Pembaca terlebih dahulu menentukan untuk apa ia membaca. 3. Sewaktu membaca pembaca sudah tahu hal-hal yang akan dicari dalam bacaan sehingga bisa membaca lebih efektif. dan penyusunan pola membaca. apa yang ingin dicapai. Hal tersebut berguna sebagai pedoman apa yang dilakukan selanjutnya. Goall dapat dilakukan dengan cara membatasi perhatian. Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut. dimaksud atau apa tujuan membaca. pembaca akan termotivasi untuk melakukan kegiatan membaca sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya yang maksimal. Plans dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan maksud pilihan bagian-bagian yang dibaca. Pelaksanaan membaca sudah dengan teknik dan pola baca yang . perincian maksud yang lebih khusus. kendala. latar belakang. 2. Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca. implementation. 1. Implementation adalah pelaksanaan membaca. dan rencanarencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk paragraf tanda atau catatan). Dengan cara seperti itu. pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. dan apa manfaat membaca. Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai.2-52 Membaca Pemahaman   paragraph. Goall adalah apa yang diharapkan.

ataukah pada tahap implementation. Ia juga tidak akan membaca hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tujuan membaca. berarti kegiatan membaca belum berhasil. Dalam mengevaluasi rencana. berarti kegiatan membaca telah berhasil.Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah tercapai. Jika sudah berarti rencana telah berjalan dengan baik dan jika belum berarti rencana belum berjalan dengan baik. dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai. pembaca bisa menghentikan kegiatan bacanya atau membaca bacaan yang lainnya. Hal tersebut bergantung pada di mana letak ketidakbehasilan dalam membaca: apakah pada tahap paragraph. apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncanakan. dapat ditarik simpulan apakah kegiatan baca berhasil atau tidak. pembaca disarankan melakukan kegiatan membaca lagi atau pembaca dapat mengubah tujuan (rencana) baca yang telah disusun. Jika sudah. Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan.  Membaca Pemahaman 2-53 direncanakan sehingga pembaca tidak akan membuang-buang waktu dan tidak akan kehilangan pemahaman yang sudah direncanakan. Jika tidak berhasil. 4. Jika sudah berhasil. Pembaca tidak lagi membaca tanpa arah dan tanpa tujuan. Jika belum. Setelah dinilai secara keseluruhan. Pembaca mengevaluasi dengan cara mengecek apakah informasi yang diinginkan pada tahap paragraph sudah didapat. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kegiatan baca secara keseluruhan. . pembaca mengecek apakah ia telah melakukan kegiatan membaca sesuai rencana. tahap plans.

diskusi. Hal tersebut bisa dilakukan dengan dua teknik. Misalnya. Pertama. misalnya mengenai emansipasi wanita. yang perlu dikerjakan berikutnya oleh pembaca adalah menyimpan hafalan atau ingatan supaya sewaktu hafalan tersebut digunakan segera atau cepat muncul. pembaca ditanya sewaktu ujian tentang hal-hal yang telah dibacanya (menceritakan kembali isi bacaan atau menjawab mengenai informasi yang ada dalam bacaan). Teknik diskusi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan oleh pembaca dengan bertukar pikiran kepada orang lain tentang informasi yang telah diperolehnya dari bacaan. Pembaca mengungkapkan pendapatnya mengenai sesuatu berdasarkan hasil membaca. pembaca yang tidak dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes kesulitan mengingat kembali apa yang telah dihafal atau bahkan lupa sama sekali tentang informasi yang telah dihafal. yaitu repetesi. Untuk membantu pembaca menyimpan hafalan dengan baik diperlukan teknik membaca secara khusus. dan tes (Wainwraught 2006: 5758). pembaca membaca bacaan. Teknik retensi ada lima. Teknik retensi dibuat untuk membantu pembaca untuk menyimpan ingatan tentang informasi yang ada dalam bacaan dan sewaktu dibutuhkan siap untuk dipanggil atau dimunculkan. Seorang pembaca yang dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes segera dapat ingat kembali tentang apa-apa yang telah diingatnya. Sebaliknya. Teknik tersebut dinamakan teknik retensi. Kata retensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyimpanan. Kemudian pembaca mendiskusikan tentang apa-apa yang telah dibacanya dengan temannya yang sudah membaca atau mengetahui . menggunakan informasi. menulis informasi. Yang diterapkan adalah diskusi dan menggunakan informasi.2-54 Membaca Pemahaman   b) Teknik Retensi Sesudah informasi atau isi yang ada dalam bacaan dihafal.

kurang lengkap atau orang lain menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh pembaca. Kapan pun. Untuk menyenangkan suaminya. . jika pendapat pembaca tidak benar. seorang ibu yang mempunyai suami dari Padang yang suka masakan padang. Misalnya. kemudian pada suatu kesempatan (lain waktu). Tiap hari si penjaja paragraf selalu menelepon agen tersebut untuk pesan paragraf. penjaja paragraf menelepon dengan tanpa membaca karena sudah hafal. teknik diskusi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. si ibu tersebut berusaha dapat memasak masakan padang. pembaca membaca sebuah bacaan (misalnya tentang bencana alam). Jadi. Apabila dalam berdiskusi pendapatnya benar atau orang lain setuju maka akan memperkuat retensi. Misalnya. Biasanya teknik ini dilakukan pada waktu pembaca sedang studi. Setelah berkali-kali digunakan. penjaja paragraf menelepon agen itu dengan membaca nomor telepon. pembaca berdiskusi dengan orang lain tentang sesuatu hal yang telah dibaca. informasi tersebut tidak akan hilang bahkan akan selalu setia dalam ingatan. Jika sebuah informasi yang didapat selalu digunakan. Dalam berdiskusi.menerus. dalam situasi apa pun informasi itu akan digunakan selalu cepat teringat atau muncul. Untuk memperkuat retensi bisa juga dilakukan atau dipraktekkan secara terus.  Membaca Pemahaman 2-55 tentang hal tersebut. Untuk kali pertama. Kedua. pembaca menggunakan informasi yang telah didapat. pembaca dapat menambah informasi yang telah didapat dengan menyesuaikan atau memodifikasi ingatan yang telah diperoleh dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. Salah satu caranya adalah dengan mempraktekkan resep masakan padang dari buku resep masakan. Sebaliknya. nomor telepon agen surat kabar. Teknik menggunakan informasi merupakan teknik retensi yang dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh dari bacaan.

si ibu memasak sambil membaca.1). dan teknik.4. sisiwa kelas X dituntut dapat menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif.4.4. dan teknik retensi (lihat 2. e) Membaca Intensif Buku Biografi Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Model. Siswa kelas XII dapat menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi. sisiwa dituntut untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam buku biografi. metode kalimat (lihat 2.4. metode.5. deduksi dengan membaca intensif. dan teknik yang dapat dipilih untuk digunakan dalam membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. c) Membaca Intensif Pparagrafaf Dalam standar isi pada kurikulum 206.2).1.1.3).1). si ibu itu sudah tidak perlu membaca lagi karena sudah hafal. siswa kelas XI dituntut untuk membedakan fakta dan opini pada editoral dengan membaca intensif dan siswa kelas XII dituntut untuk menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif.2) dan PQRST.3). d) Membaca Intensif Artikel Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Model. dan teknik yang dipilih untuk digunakan adalah model membaca bawah atas (lihat 2.2). Untuk memenuhi tuntutan tersebut model. dan teknik retensi (lihat 2. dan teknik yang dapat dipilih adalah model membaca bawah atas (lihat 2. metode. metode pparagrafaf (lihat 2.5. metode kalimat dan atau paragraf (lihat2.2 dan 2.4. metode.2-56 Membaca Pemahaman   Awal mula.1). . Setelah dilakukan berulang-ulang.

sedangkan Willy (1996:198 dalam Tarigan 1994:35) mengartikan paragraph menjadi ikhtisar. Ringkasan bersinonim dengan ikhtisar. dan tes (Widyamartaya 2004:63). kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan. Pembuatan ringkasan bisa saja dibuat per subbab jika memang menurut pembaca lebih baik seperti itu atau ada kekawatiran kalau satu bab tidak bisa membuatnya karena sudah lupa. dan read pada metode SQ3R. question. Nurhadi (2005:131) menerjemahkan paragraph menjadi ringkasan. Tahap preview. read. Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya. Walaupun bersinonim. question. Hal-hal yang ditulis dalam kegiatan meringkas adalah informasi-informasi yang telah diperoleh sesuai dengan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question dan tujuan lain yang ingin diringkas. . yaitu preview. Yang tidak bersinonim adalah tahap paragraph dan tes. question.  Membaca Pemahaman 2-57 (a) Metode PQRST PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada paragraf berikut ini. Ringkasan dibuat oleh pembaca setelah selesai membaca satu bab dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh tidak hilang (lupa). paragraph. dan read pada metode ini bersinonim dengan tahap survai. yaitu dalam hal tahap-tahap yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai.

Cara yang digunakan untuk menguji penguasaan isi buku ada empat. Apakah rangkuman itu sudah sesuai dengan isi bacaan atau belum dan sudah benarkah rangkuman yang dibuatnya. Pembaca memeriksa (menguji) rangkuman yang telah dibuatnya. . 1. 2. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada akhir sebuah bab atau akhir buku. Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca.2-58 Membaca Pemahaman   Tabel Perbedaan Ringkasan dan Iktisar (Nurhadi 2004:138) Tes (uji periksa) merupakan tahap terakhir dari metode SQRST yang berwujud kegiatan pembaca untuk menguji seberapa banyak penguasaan terhadap buku yang telah dibaca.

Pembaca menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question. (b) Teknik Loci Teknik loci merupakan teknik mengingat yang mula-mula digunakan untuk mengingat bahan pidato yang akan disampaikan. Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca.  Membaca Pemahaman 2-59 3. Apakah pembaca dapat menceritakan isi bacaan atau tidak. Teknik ini telah digunakan sebagai teknik mengingat sejak tahun 500 SM. dan atau membuat rangkuman sesuai dengan isi bacaan dari yang dibaca. Keempat cara tersebut bisa dipilih satu. pembaca akan dapat mengingat . Sebaliknya. tidak dapat menjawab pertanyaan. cara kerja pembaca adalah dengan membayangkan tempat atau bangunan yang telah dikenal. Penerapan metode ini dikatakan berhasil jika pembaca dapat menceritakan kembali isi bacaan. 4. Berdasarkan arti tersebut. Dengan cara seperti itu. pembaca membuat asosiasi antara pokok pikiran atau informasi pokok yang ingin diingat dengan suatu tempat yang dikenal. kemudian menyusun urutan atau rute perjalanan untuk melakukan perjalanan dalam menelusuri tempat tersebut. tiga atau empat cara sekaligus. dan atau membuat ringkasan sesuai dengan isi bacaan dari sebuah buku. Pembaca menceritakan kembali tentang isi bacaan yang telah diperoleh. Pada setiap tempat (bagian bangunan). Keberhasilan penggunaan SQRST dapat dilihat dari hasil tahap tes. Modifikasi dari teknik ini dalam membaca adalah mengingat-ingat bahan bacaan yang akan disampaikan oleh pembaca. metode ini tidak berhasil diterapkan apabila pembaca tidak dapat menceritakan kembali isi bacaan. Loci berasal dari bahasa latin yang berarti tempat-tempat. dapat menjawab pertanyaan. dua.

kata kunci dan hal-hal lain yang dianggap penting. Pada tahap review pembaca hanya membolik-balik halaman yang telah dibaca secara cepat. berita. dan proses. Salah satu tujuan mereview adalah untuk memperkuat ingatan. kejadian. Yang direpetisi tidaklah semua bagian bacaan. Bacaan yang isinya tentang prosa juga dapat digunakan dengan teknik ini dengan mengasosiasikan prosa yang dibaca dengan tempat-tempat yang telah dikenal. Pembaca juga tidak membaca dengan cara yang sama sewaktu membaca bacaan kali pertama.2-60 Membaca Pemahaman   pokok-pokok pikiran bacaan dalam urutan tempat atau kejadian yang benar. Dalam metode SQ3R. (c) Teknik Repetisi Teknik repetisi merupakan jenis teknik yang digunakan pembaca dengan mengulang bacaan yang sudah dibaca. . dibaca Pembaca dengan mengasosiasikan kejadian-kejadian mengurutkan tempat kejadian yang telah dikenal atau dialami oleh pembaca. Dalam bacaan sastra digunakan untuk mengingat nama-nama tempat kejadian dengan cara mengasosiasikan tempat-tempat dalam cerita dengan tempattempat yang telah dikenal. teknik ini dapat diterapkan pada tahap review. yaitu bagian yang perlu dihafal lagi. Bagian bacaan yang tidak perlu (sudah dihafal) dilewati dan bagian bacaan yang ingin diretensi dibaca secara sepintas. Pembaca dapat membaca dengan kecepatan yang tinggi. informasi penting. Teknik ini dapat digunakan oleh pembaca dalam membaca bacaan sastra. tetapi bagian tertentu atau hal tertentu saja. Membaca bacaan berita dapat menggunakan teknik ini dengan mengasosiasikan isi berita dengan tempat yang sesuai dengan berita yang yang dibaca. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat informasi yang telah dihafal sehingga mudah untuk diingat kembali.

Misalnya. Teknik tes dapat dilaksanakan dengan dua jenis. Teknik tes digunakan untuk memastikan apakah informasi yang telah diperoleh dapat diingat kembali. bukan orang lain.  Membaca Pemahaman 2-61 (d) Teknik Menulis Informasi Teknik menulis informasi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mencatat informasi yang telah didapat dari kegiatan membaca. pembaca dituntut mencari dan menyimpan informasi dengan baik. Tes informal dilakukan oleh pembaca sendiri. Pembaca menutup . Menulis informasi yang telah diterima bisa memperkuat ingatan dan memudahkan untuk mengingat kembali (memanggil kembali) informasi yang telah diingat sewaktu dibutuhkan. yaitu yang mengetes adalah pembaca. Jika yang dibaca merupakan sebuah bacaan. Hal-hal yang diringkas adalah informasi yang penting atau yang dibutuhkan oleh pembaca. Pembaca dituntut mengingat apa-apa yang telah dibaca. Jika ada informasi yang terlupakan. (e) Teknik Tes Teknik tes merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mengecek (mengetes) informasi-informasi yang telah dihafal pembaca. yaitu informal dan formal. pembaca mengingat informasi tentang nomor telepon UNNES di buku telepon atau di surat kabar. pembaca bisa mengulang membaca bacaan dengan cara yang sesuai dan tepat sampai pembaca ingat kembali. pembaca melakukan teknik ini dengan meringkas atau merangkumnya. Untuk mengatasinya pembaca membaca lagi sambil mencatat nomor itu. Dengan adanya tes. Informasi-informasi yang telah diperoleh dari membaca diringkas di dalam bentuk catatan. Dengan mencatat. Sewaktu mau menghubungi nomor tersebut. pembaca sudah lupa. pembaca akan terbantu untuk mengingat kembali nomor itu sehingga sewaktu menghubungi tidak lupa lagi.

siswa adalah close . Pembaca bercerita dalam hati. Pembaca dites untuk menceritakan kembali bacaan yang telah dibaca. Jika ada yang lupa. dan umpan balik (Wainwright 2006: 55-57) Kita akan terbantu mengingat sesuatu jika informasi tersebut memiliki arti tertentu bagi kita. kita mengingat begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat yang bisa digunakan untuk bermain tebak-tebakan di pub atau bermain Trival Pursuit. Disamping dengan kelima teknik ini. Teknik tes informal relevan dengan tahap recite dalam metode SQ3R. pembaca disarankan membuka lagi bagian bacaan yang dilupakan. Jika sudah ingat semua. visualisasi. kemudian mengingat-ingat kembali informasi-informasi yang telah didapat. Memang. Yang diceritakan adalah hal-hal yang penting atau pokok. minat. atensi. siswa disuruh menceritakan kembali berita yang telah dibaca atau menjawab pertanyaan tentang isi berita tersebut. organisasi. Misalnya. Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengetes pemahaman prosedur. Setelah itu. Teknik tes formal dilakukan berdasarkan permintaan atau perintah orang lain. Apakah ia bisa ingat atau tidak. retensi dapat diperkuat dengan memilih bacaan yang memiliki arti. asosiasi. seorang guru menyuruh siswa membaca pemahaman sebuah bacaan berita di surat kabar. Teknik ini umumnya dilakukan dalam pembelajaran.2-62 Membaca Pemahaman   bacaan. pertama-tama kita harus tahu benar arti informasi tersebut bagi kita dan bagaimana kita akan memanfaatkannya. pembaca dapat menghentikan kegiatan membacanya atau membaca bagian lainnya. namun sebenarnya kita lebih banyak mengingat informasi yang berguna. Informasi itu harus memiliki relevansi. Oleh karena itu. Tujuannya adalah apakah siswa dapat menguasai informasi-informasi dari bacaan berita yang telah dibaca atau belum.

Kemudian barang kebutuhan mereka disusun untuk menimbulkan asosiasi dengan area-area tersebut. Setelah mengelompokkan pokok-pokok pikiran yang serupa ke dalam peta pikiran. yaitu suatu sruktur. Konsep-konsep abstrak pun bisa kita visualisasikan. Jika kita dapat melihat hal-hal tersebut dalam mata pikiran kita kemudian menambahi informasi tersebut dengan serangkaian gambar. mereka menghasilkan pola berupa sejenis pera rute dalam paragraf yang mempersempit kemungkinan mereka kembali ke area yang sama lebih dari sekali dalam setiap kunjungan. Jika paragraf itu mengubah tata letaknya. karena penulis suka menyajikan gagasan-gagasan dengan cara yang logis dan teratur. selanjutnya kita hanya perlu mencari urutan yang sesuai untuk kita. Demokrasi bisa kita visualisasikan sebagai kertas suara yang dimasukkan ke dalam kotak suara. Kita harus mencari asosiasi yang mudah diingat sehubungan dengan apa yang ingin kita ingat dan apa yang sudah kita ingat. Visualisasi membantu kita mengingat berbagai hal. asosiasi-asosiasi tersebut bisa kita hubungkan untuk menghasilkan suatu pola. Keadilan sering kali divisualisasikan sebagai timbangan. kita harus mencari cara untuk mengorganisasinya sendiri. . Pemetaan pikiran bisa dimanfaatkan sebagai tahap penghubung antara materi bacaan yang disajikan serampangan dan rencana yang terperinci. tindakan ini akan memperkuat kesan yang ditimbulkan informasi tersebut. Mereka mengetahui tata letak pasar swalayan di daerah mereka dan memisah-misahkannya menjadi beberapa area. Selanjutnya. Banyak orang yang mengingat daftar belanjaan dengan cara seperti ini. proses tersebut diulangi lagi agar sesuai dengan pola yang baru. pola semacam ini mudah dikenal.  Membaca Pemahaman 2-63 Informasi lebih mudah diingat jika memiliki pola organisasi. Sering kali. Jika pola ini tidak mudah dikenali. Dengan demikian.

Dengan motivasi. paragraf-topik yang tidak menarik pun bisa menjadi lebih mudah diingat. Perpustakaan atau ruang wawancara tanpa jendela biasanya merupakan lokasi siap pakai yang dapat Anda manfaatkan. Anda bisa terbantu jika memiliki tingkat minat yang tinggi terhadap suatu subjek serta punya motivasi yang kuat untuk mengingatnya. Dengan penghafal. didukung kondisi yang paragraf tenang. Jangan lupa untuk mengeceknya kembali agar tidak ada informasi penting yang tertinggal. pilihlah waktu dan tempat yang menurut pengalaman bisa mempermudah Anda melakukannya. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. kita bisa mendapatkan umpan balik yang sangat penting ini. Umpan balik sangatlah penting. Rangkuman Membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). Berdasarkan cakupan bahan bacaan . Retensi yang efektif membutuhkan konsentrasi. Sebagian besar orang menganggap pagi hari lebih efektif dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi. manfaatkanlah semaksimal mungkin. Kita akan berusaha untuk mengingatnya. meskipun tidak sampai membuat kita mengerutkan dahi yang hanya akan membuat kening kita sakit. Kita perlu mengecek apakah kita benar-benar mengingat apa yang ingin kita ingat. saat Anda harus memberhentikan sesuatu dan berkonsentrasi. Tentukan paragraf yang jelas mengapa Anda harus mengingat sesuatu.2-64 Membaca Pemahaman   Sering kali kita tidak bisa mengingat sesuatu karena kita kurang paragraf perhatian. Walaupun tidak seallu berhasil. ketika anda dimungkinkan melakukannya. F. Cara termudah untuk mengatasi hal ini adalah.

teknik loci dan retensi digunakan untuk membaca buku biografi. memindai buku. dan teknik retensi digunakan untuk membaca kritis teks sastra. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading). metode S2QR. 7. dan buku biografi. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. teknik retensi digunakan untuk membaca paragraf. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. 2. Model membaca timbal balik. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai buku. metode kalimat. 4. Model membaca atas bawah. 1. Model membaca bawah atas. 5. kritis teks sastra. . Model membaca bawah atas. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai grafik. 3. Model membaca bawah atas. yaitu ektensif dan intensif. metode GPID. dan teknik yang sesuai dengan keperluan. metode. Berdasarkan kurikulum 2006. Untuk dapat membaca intensif dan ekstensif secara efektif dan efisien. teknik close reading digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra. metode SQ3R. Model membaca bawah atas. metode paragraf dan P2R. dan teknik skimming pola blok dan horizontal digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra. 8. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. metode kalimat dan paragraf. 6. dan teknik retensi digunakan untuk membaca artikel.  Membaca Pemahaman 2-65 yang dibaca. Model membaca bawah atas. Model membaca atas bawah. pparagrafaf. dan memindai grafik. metode paragraf dan PQRST. artikel. metode kalimat. Kiat membaca yang digunakan untuk membaca ekstentif dan intensif di SMA adalah berikut ini.

Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca kritis teks sastra? menerapkannya! 6. metode. metode. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai grafik? menerapkannya! 4. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai buku? menerapkannya! 3. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca buku biografi? menerapkannya! . Model . dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra? Jelaskan cara menerapkannya! 2. Model . metode. digunakan untuk dan teknik membaca apakah yang dapat membaca pparagrafaf? Jelaskan cara menerapkannya! 7. metode. Model . LatihanSoal 1. Model . metode. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca artikel? Jelaskan cara menerapkannya! 8. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra? cara menerapkannya! 5. Model .2-66 Membaca Pemahaman   G. Model . Model .

Tampubolon. 2006. 1990. Speed Reading Better Recoding. Ferr. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Harras. Gordon. Retorika Membaca: Model. 1997. Ahkmad Slamet dan Yeti Mulyati. Terjemahan Heru Sutrisno. Tarigan. D. 1994. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Henry Guntur. 1979. dan Lilis Sulistianingsih. 2004. 1998. Province: Rhode Island. dan Teknik. Bandung : Angkasa Bandung. 2006. Membaca 2. Edward B. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Teaching a Child to Read. Yogyakarta: Kanisius. Haryadi. 2006. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. New York: Harcourt Brace Javanovich. Nurhadi. Fry. Bandung : Angkasa Bandung. Kholid A. 1978. Membaca Cepat dan Efektif: Teori dan Latihan. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Skimming and Scanning. 2004. Standar Isi. Metode. Membaca Efektif. Seni Membaca untuk Studi. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. . Soedarso. 1990. 2005. 2004. Harjasujana. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Membaca 1. A. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. Henry Guntur. Semarang: Rumah Indonesia. Tarigan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Waingwright.P. 2001. Bandung: Angkasa Bandung. Nurhadi. Widyamartoyo. Manfaatkan Teknik-teknik Teruji untuk Membaca lebih Cepat dan Mengingat secara Maksimal. Membaca : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Roger dan Nancy Roser.

Sumaryono. 1978. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Relc Journal. Vol J. Yap. Athur. No. “Some Apects of Reading”. Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya. 1989. .2-68 Membaca Pemahaman   Wiryodijoyo. 2 (109-118).

BUKU AJAR MEMBACA PUISI .

Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. pada umumnya puisi bersifat lirik. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Jadi. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Oleh karena itu. Pembaca puisi. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita.MEMBACA PUISI A. Sebagai penghubung. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. Oleh karena itu. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi.

Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. Sebagai penghubung. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. pada umumnya puisi bersifat lirik. Pembaca puisi. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. Oleh karena itu. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Jadi. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . Oleh karena itu. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca.3-2 Membaca Puisi MEMBACA PUISI A.

Varian Baca Puisi 1. Istilah baca puisi berasal dari bahasa Inggris. meskipun . Agar enak dilihat berarti “semua gerak yang dihasilkan oleh anggota tubuh” si pembaca puisi harus juga benar dan indah. deklamasi dipahami sebagai penyampaian puisi yang menitikberatkan pada lepasnya teks ketika deklamator menyampaikan puisinya. Sebab dalam praktiknya. yaitu ketika WS Rendra memperkenalkannya. memang berasal dari bahasa yang berbeda. B. sedangkan istilah deklamasi berasal dari bahasa Belanda. seni baca puisi hakikatnya merupakan “seni tontonan”. Karena deklamator tidak membawa teks maka aktivitas di panggung dititikberatkan pada gerak tubuh dan vokal. Sebagai seni “audio-visual” seni baca puisi dituntut enak didengar dan enak dilihat. Seni baca puisi adalah seni “audio-visual” (Suharianto 2001:2). Dengan kata lain. Istilah baca puisi baru muncul sekitar tahun 1960-an (Suharianto 1981:52). Dalam seni baca puisi. Deklamasi Di Indonesia selain istilah seni baca puisi orang juga mengenal istilah deklamasi. Inilah yang menyebabkan orang “membedakan” antara baca puisi dan deklamasi. Dalam tradisi di Indonesia. Istilah deklamasi lebih dulu dikenal masyarakat dibandingkan dengan istilah baca puisi. Namun. Dalam bahasa aslinya baca puisi diartikan sebagai “membaca” puisi. sebenarnya secara substansial antara deklamasi dan baca puisi tidak berbeda. sedangkan deklamasi diartikan sebagai “menyampaikan” puisi. Dengan demikian. kedua istilah tersebut. Istilah baca puisi merupakan terjemahan dari poetry reading (Amerika).Membaca Puisi 3-3 pendengar atau penontonnya “memahami dan merasakan” apa yang dibacanya tersebut. pada praktiknya pembaca puisi “membawa” teks. Agar enak didengar berarti “semua yang dihasilkan oleh alat ucap” si pembaca harus benar dan indah. yaitu baca puisi dan deklamasi.

baik mengenai konsep maupun dalam cara atau teknik penyampaian tidak dibedakan. Materi dasar seni baca puisi adalah puisi itu sendiri. Namun. sebenarnya makna yang terkandung dalam konsep “membaca” tidak sesempit yang banyak diartikan orang. yakni lepas teks dan membawa teks. Dengan demikian. Wujud konkret musikalisasi puisi dapat berupa pembacaan puisi dengan cara dilagukan. Dalam pembacaan puisi yang diiringi musik. misalnya. Musik. kesan kesedihan itu dapat dimunculkan oleh musik. Oleh karena itu. musikalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk memusikkan dan atau melagukan puisi. bukan pengertian leksikal. yakni melihat teks. Jika nada puisi itu gembira. orang yang membedakan antara deklamasi dan baca puisi mendasarkan anggapannya pada “kebiasaan” pembawanya. baik yang berupa lagu maupun yang berupa instrumen merupakan satu kesatuan dengan puisi. dalam musikalisasi puisi. Berangkat dari konsep tersebut. sedangkan materi dasar seni musik adalah lagu dan instrumen. musik merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan. Dengan demikian. Musikalisasi berbeda dengan baca puisi yang diiringi musik. pembicaraan dalam buku ini. atau gabungan keduanya. banyak juga pembaca puisi yang sebenarnya hafal puisi tersebut. penyertaan musik (instrumen) dalam pembacaan puisi.3-4 Membaca Puisi membawa teks. Yang dimaksud dengan penyertaan instrumen di sini. Jika dikaji lebih jauh. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi merupakan upaya memusikkan puisi atau menggabungkan antara seni baca puisi dan seni musik. . keberadaan musik hanya sebagai pelengkap. jika puisi yang dibaca bernada sedih. antara baca puisi dan deklamasi dalam praktiknya tidak berbeda. Tanpa melihat teks pun upaya untuk menyampaikan dengan memahami sebuah teks sebenarnya dapat dikategorikan sebagai aktivitas membaca. 2. Tentu saja dalam hal ini pengertian membaca merupakan pengertian dalam arti luas.

jika semula puisi bersifat monolog. seni gerak. Dramatisasi Puisi Dramatisasi puisi merupakan penggabungan seni puisi dan seni drama. seni musik. Semua unsur seni tersebut melebur menjadi satu dalam teater. dengan pengubahan menjadi dramatisasi puisi.Membaca Puisi 3-5 suasana kegembiraan dapat dihadirkan oleh musik. 5. jika biasanya dalam seni baca puisi. musik. Dalam pengertian sempit. 4. Dengan demikian. puisi hanya dibaca oleh satu orang atau dua orang secara bergantian. Puisi dalam hal ini tidak sekadar kita baca. puisi diubah menjadi dialog. tidak sekadar kita dialogkan. keberadaan musik tidak sekadar menjadi pelengkap tetapi benar-benar menyatu dengan puisi untuk menampilkan suasana tertentu. Teaterikalisasi Puisi Dibandingkan dengan seni yang lain. Dalam kondisi demikian. di dalamnya sudah ada unsur akting. Sinematisasi Puisi Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata sinema? Film? Tentu sebuah tontonan di layar yang gambarnya tidak diambil . Bedasarkan hakikat drama tersebut. 3. Oleh karena itu. dalam dramatisasi puisi diubah dalam bentuk dialog dengan menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakternya. Dalam teater ada seni sastra. Dengan demikian. dan seni rupa. dan sebagainya. teater tergolong seni pertunjukan yang kompleks. dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai bentuk pendramaan puisi. teaterikalisasi puisi—meneaterkan puisi-pada dasarnya merupakan peng-gerak-an puisi. Ciri khas drama adalah adanya dialog. tetapi sudah kita “mainkan” sebagai seni teater. Tidak ada drama yang tidak menyertakan dialog di dalamnya. Yang dimaksud dengan pendramaan puisi di sini adalah mendialogkan puisi. olah tubuh. Istilah sederhananya adalah mendramakan puisi. Unsur yang paling menonjol dalam teater adalah unsur act atau gerak.

gambar ditampilkan setelah melalui proses pemilihan dan pengeditan. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pembaca. hal seperti ini tentu saja tidak akan terjadi dalam sinema atau film karena proses pengambilan gambar dapat dilakukan kapan saja dan pengeditan gambar memungkinkan menghilangkan gangguan atau "kecelakaan" itu. dalam memilih . Dalam film. yaitu calon pembaca. calon pendengar. Jika kita menonton pertunjukan teater atau pembacaan puisi. maka gangguan atau "kecelakaan" itu juga akan tampak. Hal yang sama juga dapat terjadi pada pembacaan puisi. sehingga proses pengambilan gambar dan pengeditan juga dilakukan sebelum pementasan atau pertunjukan dilakukan. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi. Sinematisasi puisi berangkat dari konsep tersebut. dengan demikian. Pembacaan puisi diformat dalam bentuk film atau sinema. kita akan melihat proses permainan atau pembacaan itu berlangsung dari awal sampai akhir dengan plus minusnya. Memilih Puisi Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. dan situasi pembacaan. C. Namun. bisa jadi ada gambar yang dihilangkan. Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. ada gambar yang dibalik waktu pemunculannya. dan jika perlu ada pengulanagan pengambilan gambar. Dalam pengeditan itu. Kalau kita sebagai calon pembaca. Artinya.3-6 Membaca Puisi secara langsung tetapi merupakan hasil pengeditan. Kita tentu pernah merasakan betapa “tidak enaknya” mendengar orang menyanyi tetapi lagu yang dipilihnya tidak sesuai dengan karakter suaranya. Persiapan Baca Puisi 1. jika dalam proses pementasan atau pembacaan itu terjadi gangguan atau "kecelakaan".

menikmati pembacaan puisi tidak sekadar sebagai hiburan. Sebaliknya. akan sesuai kita baca di hadapan pendengar yang agamanya sama. tetapi bagi pendengar golongan kedua memandang pebacaan puisi “hanya” sebatas hiburan. Yang dimaksud kemampuan di dalamnya termasuk keuatan fisik dan suara.Membaca Puisi 3-7 puisi harus kita sesuaikan dengan kemampuan kita. yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. isi puisi dan panjang pendeknya puisi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan pendengar. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. Jika perlu disesuaikan dengan keinginan dan kesenangan kita. agama. Pendidikan akan menentukan tingkat kesulitan puisi yang harus kita baca. Tentu saja dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan mungkin bisa memuaskan seluruh pendengar. Dengan demikian. Bagi pendengar golongan pertama. misalnya. Usia pendengar . sebagian besar pendengar “senang” mendengarkan pembacaan puisi kita. puisi yang harus kita pilih adalah puisi yang tidak memihak salah satu agama. dan kemampuan mengekspresikan. semakin tinggi pula kemampuan mencerna puisi. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah siapa calon pendengar. kemampuan memahami. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi. Secara umum pembaca dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. setidaknya. dan usia. Oleh karena itu. akan semakin teliti kita dalam memilih puisi. Puisi-puisi keagamaan. pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda. Namun. Semakin banyak kita mengetahui pendengar. Hal lain yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pendengar antara lain masalah pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikannya. jika pendengar agamanya berbeda. sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pendengar? Kita dapat menyebutkannya selengkap mungkin. Agama juga berpengaruh pada pemilihan isi puisi.

Oleh karena itu.3-8 Membaca Puisi berpengaruh pada penentuan panjang pendeknya puisi. Suasana akan menentukan pemilihan isi puisi. kematian. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi--di mana tempatnya. gembira. Semakin rendah usia pendengar. siang atau malam hari. dalam suasana sedih. atau pengukuhan guru besar. Tempat yang tertutup atau terbuka akan memengaruhi pemilihan puisi. dan sederhana-tidak sederhananya bahasa puisi. dan sebagainya. akan sangat melelahkan pendengar. Untuk tempat yang terbuka. berat-ringannya isi uisi. atau serius. Selain suara pembaca puisi harus bersaing dengan suara alam–angin atau suara-suara lain—pandangan pendengar juga tidak hanya tertuju kepada pembaca karena ada alternatif yang lain. gembira. Ketiganya membutuhkan jenis puisi yang berbeda. . untuk jenis pembaca umum. Puisi yang panjang akan melelahkan pendengar. Hal ini dimaksudkan agar “daya jangkau” pembacaan puisi tersebut sampai kepada seluruh pendengar. tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih: terbuka atau tertutup. di luar atau di dalam ruangan. Meskipun tidak dijelaskan di sini. Selain calon pembaca dan pendengar. Demikian juga dengan puisi yang bahasanya susah dicerna. Ketiganya membutuhkan corak puisi yang berbeda. kita tentu akan dengan mudah memilih puisi mana yang cocok untuk dibaca dalam ulang tahun perkawinan. puisi yang sesuai untuk dibaca adalah puisi yang tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sederhana. tempat terbuka jauh lebih susah dikendalikan. semakin pendek puisi yang harus kita siapkan. dan serius. semakin ringan isi puisi yang harus kita siapkan. dan semakin sederhana bahasa puisi yang digunakan. dalam menentukan puisi kita juga harus memahami situasi pembacaan. Kita dapat membedakan suasana atas suasaana sedih. Dibandingkan dengan tempat tertutup. Dengan memerhatikan tiga hal tersebut.

(4) Bersifa teaterikal. Pesan. Syarat yang kedua bersifat melodius. nilai atau yang lain itu harus disesuaikan dengan pendengar pembacaan puisi. namun ada pula puisi yang susah kita maknai dengan gerakan tubuh. Sebaliknya. puisi yang kita pilih haruslah tidak terlalu pendek. Syarat terakhir adalah isi puisi harus disesuaikan dengan pendengar. puisi yang terlalu panjang akan melelahkan pendengar. Istilah sederhananya. tentu puisi yang kita pilih akan lebih pendek jika dibandingkan dengan mahasiswa. (5) Isinya sesuai dengan pendengar dan situasi.Membaca Puisi 3-9 kita dapat memilih puisi yang memenuhi syarat berikut. namun juga tidak terlalu panjang. pembacaan ternyata sudah berakhir. nilai-niai. Kita dapat mengira-ira sendiri panjang pendeknya puisi tersebut berkaitan dengan tempat pembacaan dan pendengar. misalnya. apakah itu berupa amanat. ketika pendengar baru akan merasakan puisi itu. . (3) Bahasanya sederhana. (1) Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Belum lagi kalau pembacaannya bersifat monoton. Ada puisi yang secara mudah memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh kita ketika kita harus membacanya. Arti bersifat melodius adalah jika dibaca puisi tersebut akan memunculkan nada dan irama “yang enak” didengar. (2) Bersifat melodius. Panjang pendeknya puisi menjadi pertimbangan khusus dalam memilih puisi. kesan. kesan terhadap sesuatu. Yang diaksud dengan isi puisi di sini adalah apa saja yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembaca puisi. Oleh karena itu. Puisi yang terlalu pendek tidak akan memperlihatkan isi puisi yang jelas dan tidak akan mampu mengondisikan pendengar pada pembacaan puisi. Syarat berikutnya adalah bersifat teaterikal. Gerakan tubuh ini disesuaikan dengan puisi. atau apa pun bentuknya. Dalam pembacaan puisi dibutuhkan juga gerakan tubuh. Jika pendengarnya anak-anak. kejenuhan pendengar akan terlihat.

. kecuali harus memahami cara mengucapkan lambang-lambang bahasa puisi bersangkutan pembaca puisi dituntut dapat menjadikan puisi yang akan dibacanya itu sebagai “miliknya” sendiri. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman-pengalaman penyair. Oleh karena itu. Salah satu ciri puisi yang cukup menonjol adalah bersifat konsentrif. Dengan kata lain.3-10 Membaca Puisi 2. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. dan sebagainya. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan ketika berhadapan dengan Tuhan. Kesemua itu telah diramu dengan perasaan dan pikiran penyair yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk puisi. dan bisa juga hasil pengembaraan imajinasi penyair. Memahami Puisi Sebelum membaca puisi. alam sekitar. Kata-kata yang digunakan dalam puisi adalah kata-kata kias atau pelambang. gagasan atau ide atau keinginan-keinginan tertentu dari penyair. pembacaan puisi yang kita lakukan tidak akan sempurna. nada dan suasana puisi yang bersangkutan. yang dengan demikian tidak secara langsung menyampaikan sesuatu tadi: pengalaman. Jika pemahaman kita terhadap puisi salah. manusia lain. Pemahaman puisi dapat dilakukan dengan cara membuat parafrase puisi terlebih dahulu. perlulah kita membedah puisi tersebut dengan maksud untuk memahami puisi yang dimaksud. Maksud langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca. terlebih dahulu kita harus memahami isi puisi tersebut. dan gagasan kepada pembacanya. serta dapat menentukan irama dan lagu yang tepat pada puisi yang akan dibacanya. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar maksud atau arti puisi yang akan dibaca. Pada hakikatnya puisi merupakan sebuah media yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan sesuatu kepada pembaca. keinginan.

Pelatihan Tidak Langsung Pelatihan tidak langsung dimaksudkan sebagai pelatihan yang tidak berhadapan secara langsung dengan puisi yang akan dibaca. pelatihan ini dapat dilaksanakan jauh sebelum kita membaca puisi. pelatihan olah tubuh. Pelatihan pernafasan merupakan pelatihan dasar yang bertujuan untuk memberikan kemampuan mengatur nafas—menarik dan mengeluarkan nafas—agar tidak mengganggu ucapan dan memperkuat stamina pembaca puisi. pelatihan vokal. dan stamina pembacaan menjadi semakin kuat. Semakin lama masa kita berlatih secara tidak langsung.Membaca Puisi 3-11 Hal ini menjadikan pembaca tidak bisa secara langsung sesuatu dari puisi tersebut. akan semakin tinggi pula modal kita dalam membaca puisi. 3. Ada dua jenis pelatihan secara tidak langsung. Pelatihan tidak langsung adalah pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung atau memperkaya kemampuan membaca puisi. dan pelatihan ekspresi. (1) Pelatihan Dasar Ada beberapa macam bentuk pelatihan dasar. menangkap Oleh karena hal-hal tersebutlah maka untuk memahami sebuah puisi dibutuhkan cara khusus yang terutama dapat memudahkan pembaca memahami kata-kata kias dan maksud-maksud yang tersembunyi dalam puisi. Pelatihan Baca Puisi a. pelatihan konsentrasi. secara teoretis. dialog menjadi lebih lancar. Bentuk pelatihan semacam ini tentu saja masih dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa bentuk lain. Inti pelatihan pernafasan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengatur pernafasannya sehingga vokal menjadi lebih jelas. yaitu pelatihan dasar dan pengayaan. yaitu pelatihan pernafasan. Oleh karena itu. . Salah satu cara untuk membantu usaha tersebut adalah dengan membuat parafrase terlebih dahulu.

Pengayaan dalam hal ini diartikan .3-12 Membaca Puisi Yang dekat dengan pelatihan pernafasan adalah pelatihan konsentrasi. Dalam sebuah permainan pemusatan pikiran menjadi amat penting keberadaannya karena tanpa pemusatan pikiran permainan tidak akan berjalan dengan sempurna. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi dengan cara mengadakan pelatihan olah tubuh. Oleh karena inti pelatihan konsentrasi ada pada kemampuan memusatkan perhatian. Tugas seorang pembaca puisi adalah menyatukan dirinya sendiri dengan puisi yang dibacanya. Untuk mampu menyatu dengan puisi yang dibacanya diperlukan konsentrasi yang kuat. pikirannya. dalam hal ini menyangkut intonasi dan aksentuasi. Olah tubuh menyangkut pelatihan bagaimaan supaya anggota tubuh seorang pembaca puisi menjadi lentur dan selalu mendukung penampilan. mampu menguasai panggung dengan suaranya. pelatihan vokal juga bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan seorang pembaca puisi dalam menyampaikan puisi. Lebih jauh. Dalam konsentrasi ini seorang pembaca puisi harus mampu menundukkan panca-indranya. juga harus selaras dengan kondisi panggung. Jenis pelatihan dasar yang terakhir adalah pelatihan ekspresi Ekspresi adalah kemampuan seorang pembaca puisi dalam menampilkan ekspresi wajah sesuai dengan susasana puisi yang dibaca. uraturatnya. Pelatihan vokal bertujuan untuk menciptakan vokal yang baik sehingga seorang pembaca puisi memiliki kemampuan mengucapkan kata-kata dengan jelas. serta seluruh anggota tubuhnya dan kemudian mampu memerintahkannya untuk berlaku sesuai dengan isi puisi yang akan dibacanya. dan mempunyai kekuatan untuk bermain sampai pembacaan selesai tanpa kehabisan suara. yang dapat digolongkan ke dalam pelatihan tidak langsung adalah pengayaan. maka istilah lain yang sering digunakan adalah pemusatan pikiran. (2) Pengayaan Selain pelatihan dasar. Gerakan anggota tubuh harus selalu selaras dengan isi puisi.

tidak . Kondisi seperti ini tergolong pelatihan secara langsung. Melalui aktivitas membaca buku ini atau buku-buku lain yang sejenis. Semakin sering kita menonton pembacaan puisi. misalnya. pengayaan juga dapat kita lakukan dengan membaca teori baca puisi. Kita bisa menempuh cara ini dengan bertanya atau berdiskusi dengan orang lain yang kita pandang mampu dalam membaca puisi. Kita tidak pernah secara sengaja menghafalkan lagu tersebut. baik secara sengaja maupun tidak sengaja. akhirnya tanpa disadari tidak sengaja kita telah hafal lagu tersebut. untuk memperkaya pemahaman atau keterampilan kita dalam membaca puisi. Selain dengan menonton pembacaan puisi. Cara lain untuk pengayaan adalah dengan berdialog atau mengikuti seminar-seminar. Melalui ativitas “menonton” orang membaca puisi kita akan mengenal bagaimana cara membaca puisi. Melalui dialog atau tanya jawab dengan narasumber kita bisa menggali informasi-infirmasi yang kita butuhkan dalam pembacaan puisi.Membaca Puisi 3-13 sebagai upaya. karena hampir tiap hari kita mendengar lagu tersebut. dan sebagainya. apa yang kita lakukan ini tergolong sebagai pengayaan. Namun. persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum kita membaca puisi. Meskipun kita “merasa” tidak mampu membaca puisi. apa saja yang diperlukan dalam membaca puisi. kita secara teoretis akan mengetahui bagaimana cara membaca puisi. namun karena kita sering mendengar orang membaca puisi. Barangkali kita sering secara tidak sadar hafal baris-baris lagu tertentu. unsur apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai pembacaan puisi yang baik dan yang tidak baik. Ketika kita membaca buku ini. semakin kaya pula pemahaman kita tentang cara membaca puisi. akhirnya kita pun dapat “menirukan” membaca puisi. baik secara teoretis maupun secara praktis. Dalam hal membaca puisi peristiwa semacam ini juga sering terjadi.

yang jauh. pelatihan langsung berarti pelatihan dengan cara kita menaiki secara langsung sepeda yang dimaksud.3-14 Membaca Puisi b. pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. Ada beberapa tahapan dalam pelatihan secara langsung. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. (1) Membuat Baris Pembacaan Ketika berhadapan langsung dengan puisi. Tapi di antara mereka berdua. Perhatikan puisi berikut ini. Jika diibaratkan sebagai pelatihan naik sepeda. tidak ada yang berkata-kata. Ia melihat peta. karena angin pada kemuning. karena ia tak berani lagi. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. kematian itu. . Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. nasib. Pelatihan Langsung Pelatihan langsung adalah pelatihan dengan cara menghadapi teks yang akan dibaca secara langsung. Lalu ia ucapkan perpisahan itu.

adikku.. makna puisi tidak akan muncul. Bulan pun lamban dalam angin. Perhatikan baris kedua dan baris ketiga pada bait pertama dan baris pertama pada bait ketiga puisi tersebut seperti berikut ini. jika kita membaca puisi dengan memenggal per baris seperti itu. karena angin pada kemuning. Puisi tersebut ditulis sesuai dengan aslinya. Lewat remang dan kunang-kunang. Oleh karena itu.Membaca Puisi 3-15 Anjasmara. karena kita membaca secara tidak lengkap. Baris dan bait tersebut masih membutuhkan interpretasi untuk dibaca. Menghadapi puisi seperti itu tentu dengan mudah kita akan mendapatkan baris-baris yang jika kita baca tidak akan utuh maknanya. yaitu dengan baris dan bait yang tetap. Sebab bila esok …………………………………………………………………………. langkah-langkah dalam berlatih harus dimulai dari penafsiran akan baris-baris tersebut.. kaulupakan wajahku. pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. ……………………………………………………………………. Oleh karena itu. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. abai daam waktu. Kelengkapan makna barisbaris tersebut ada pada baris-baris berikutnya. langkah awal dalam berhadapan dengan puisi adalah mengubah baris-baris puisi tersebut ke dalam barisbaris pembacaan. Yang dimaksud dengan baris pembacaan adalah baris . kulupakan wajahmu. Berkaitan dengan hal tersebut. Ia dengar resah kuda serta langkah …………………………………………………………………………. Bukankah akan sangat janggal jika kita membaca baris-baris puisi tersebut secara sepotong-sepotong? Mengapa bisa demikian? Yya. seperti dulu. tinggallah.

perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. Lewat remang dan kunang-kunang. abai dalam waktu. karena angin pada kemuning. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh. tinggallah. kulupakan wajahmu. Ia melihat peta. Lalu ia ucapkan perpisahan itu.3-16 Membaca Puisi puisi yang kita buat sendiri—bukan oleh penyair—yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. kaulupakan wajahku. kematian itu. jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut. adikku. Bulan pun lamban dalam angin. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. tidak ada yang berkata-kata. Anjasmara. nasib. karena ia tak berani lagi. Dengan model puisi “Asmaradana” seperti tersebut di atas. Tapi di antara mereka berdua. seperti dulu. .

ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar / dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning // Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati / ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh // Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata // Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu// Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan // Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis // Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara / ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba / karena ia tak berani lagi // Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu // . Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. Oleh karena itu.Membaca Puisi 3-17 (2) Membuat Pemenggalan Pembacaan Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan. Sebagai bahan pelatihan. setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas. berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad.

pelan melankolis. perlu juga kita perhatikan kejelasan ucapan. baris-baris puisi. atau yang lain.3-18 Membaca Puisi Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu // Lewat remang dan kunang-kunang / kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu // (3) Mencari suasana puisi Ada puisi yang bersuasana sedih. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang . kematian. dan semacamnya. atau yang lain. Cara mencari suasana puisi dapat melalui diksi yang digunakan. Suasana puisi ini merupakan kunci dalam melafalkan puisi. riang gembira. muncul dalam puisi tersebut. dan kesesuaian lagu yang kita pilih dengan isi atau maksud puisi. variasi intonasi (tidak monoton). Ada puisi yang diksinya condong pada suasana tertentu. Selain itu. (4) Melafalkan puisi Melafalkan puisi. Karena itu. Dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Muhamad. mau hidup seribu tahun lagi. ada yang bersuasana gembira. marah. Suasana kesedihan atau paling tidak kesepian. berlari. Bagaimana cara kita harus membaca puisi antara lain ditentukan oleh suasana puisi. semangat. (5) Menjiwai puisi Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. Kata atau baris tersebut mengisyaratkan suasana semangat. atau isi puisi yang ada. atau lebih luas mengintonasikan puisi. Apakah kita akan membaca puisi dengan semangat menyala-nyala. hilang pedih peri. antara lain ditentukan oleh suasana puisi tadi. muncul kata resah kuda. perpisahan. ditentukan oleh suasana puisi. Seperti puisi "Aku" karya Chairil Anwar. misalnya. pemahaman terhadap suasana puisi menjadi penting. misalnya. kata atau baris yang digunakan antara lain.

keberhasilan pembacaan puisi di panggung juga akan ditentukan oleh hasil pelatihan itu sendiri. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh. karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. Judul puisi dapat kita baca secara konvensional. Membaca Puisi di Panggung Membaca puisi di panggung berarti mempraktikkan hasil pelatihan. Dengan demikian kita tidak akan overacting. Karena itu. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan. pandangan mata. seyogyanya kita memakai gaya konvensional. Pilihan model pembacaan ini ditentukan oleh pendengarnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi di panggung adalah teknik muncul. Yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah kesiapan pembaca dan kesiapan pendengar. Namun kalau pendengarnya orang yang menyenangi puisi. Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Dengan demikian.Membaca Puisi 3-19 benar. cara memegang teks. cara membaca judul. dan blocking. serta ekspresi akan mengikutinya. dapat juga dengan gaya tertentu. jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Teknik muncul adalah cara kali pertama kita muncul di panggung. D. gaya apa pun yang . Kalau pendengarnya orang yang tidak menyukai puisi. penghayatan penuh harus kita lakukan. Prinsip memegang teks yang paling penting adalah tidak menutupi wajah dan tidak mengganggu gerakan pada saat membaca puisi. Konsentrasi menjadi kata kunci dalam pelaksanaan teknik muncul. misalnya "Chairil Anwar dalam goresan penanya: Aku". misalnya "Aku karya Chairil Anwar".

Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting. Panggung harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga posisi kita di panggung menjadi "enak" dilihat oleh penonton. dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama. Jika. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi. vokal. tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri. Pandangan mata juga harus kita jaga. Dalam membaca puisi sesungguhnya kita sedang berdialog dengan pembaca. E. Oleh karena itu. Penghayatan Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. Meskipun begitu. Aspek Penilaian Baca Puisi Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi. terlebih dahulu kita harus memahaminya. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Paling tidak dalam langkah ini kita harus mampu menangkap apa makna yang terkandung dalam puisi itu. mata kita tidak boleh menjauhi pendengar. Karena itu.3-20 Membaca Puisi kita gunakan tidak masalah. dan penampilan. Meskipun ketiga komponen tersebut samasama penting. misalnya. 1. yaitu penghayatan. Yang terakhir adalah masalah blocking. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. jangan pula kita menatap mata pendengar atau penonton. sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi. apa makna . Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi.

pendengar bagaimana atau penonton. Perhatikan petikan puisi berikut ini. misalnya. (2) nada dan intonasi. Pemahaman itu pula yang akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari baris puisi menjadi bagian-bagian pembacaan. Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair “sesuatu” kepada itu. sebagai berikut. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam tiga hal berikut. kita tidak akan dapat memenggal secara tepat baris-baris puisi “Dongeng Sebelum Tidur” itu menjadi.Membaca Puisi 3-21 simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu. kita Tanpa dapat mengetahui mungkin menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. (1) pemenggalan. Meskipun ia mengecup rambutnya . dan bagaimana suasananya. Goenawan Mohamad) Tanpa memahami isi puisi tersebut. Perempuan itu terisak. (3) ekspresi. Perempuan itu terisak. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. Meskipun ia mengecup rambutnya (Dongeng Sebelum Tidur. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut. yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya.

Harus ada variasi. intonasi harus dalam secara bervariasi. ahal penting yang harus kita perhatikan adalah masalah tekanan atau aksentuasi. Melalui pemenggalan itulah pendengar atau penonton akan lebih mudah memahami puisi yang kita baca. Suasana-suasana tersebut harus dimunculkan dalam pembacaan puisi secara tepat. dan mempertinggi atau memperendah pembacaan. tetapi juga berhubungan dengan pemaknaan baris-baris puisi. Ketiga tekanan tersebut dapat digunakan untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada puisi yang kita baca. Kita bisa memberikan tekanan pada puisi dengan cara mempercepat atau memperlambat pembacaan. Dengan dan cepat-lambat. Intonasi digunakan keras-lemah. Berkaitan dengan intonasi. Jika intonasi menyangkut tekanan nada. Tekanan dinamik menyangkut lemah-kerasnya pembacaan puisi. kita tentu masih bisa menjumpai suasana gembira. tinggi-rendah. dan suasana santai atau main-main dalam puisi. aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang kita baca yang harus memdapatkan penekanan. Melalui pemahaman puisi kita juga dapat menentukan intonasi atau lagu dalam pembacaan puisi. tekanan tempo. memperkeras atau memperlemah pembacaan. Selain suasana sedih dan semangat. dan tekanan dinamik.3-22 Membaca Puisi Pemenggalan dalam pembacaan puisi tidak sekadar berhubungan dengan pengambilan nafas. Dari seluruh . Melalui pemahaman pula kita dapat mengekspresikan puisi secara tepat. suasana serius atau sungguh-sungguh. demikian pembacaan tersebut tidak bersifat datar-datar saja atau bersifat monoton. Tekanan nada menyangkut tinggi-rendahnya pembacaan puisi. Variasi tersebut ditentukan oleh corak puisi. Ekspresi secara sempit dapat terlihat pada wajah. Tekanan tempo menyangkut cepat-lambatnya pembacaan puisi. Melalui pemenggalan itu pula larik-larik puisi dapat sampai kepada pendengar atau penonton secara sistematis.

Namun. atau yang lain. Ketika kita membaca puisi dengan lambat. dan (4) kelancaran.Membaca Puisi 3-23 anggota tubuh manusia. semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan. atau kecil. mata kesedihan. yaitu: (1) kejelasan ucapan. Vokal Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini. tinggi. kunci ekspresi sebenarnya ada pada mata. harus kita ekspresikan secara maksimal sesuai dengan isi atau suasana puisi. (3) ketahanan. Warna suara berat. Perhatikan bait kelima puisi “Pembuka” di atas. Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu . kejelasan ucapan mungkin akan lebih terlihat. (2) jeda. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. kejelasan ucapan benar-benar harus dijaga karena bisa terlewatkan. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. Mata kemarahan. b. besar. Akan sangat terlihat orang yang membaca puisi mempunyai penghayatan yang tinggi atau tidak telihat pada matanya. jika kita membaca puisi dengan suara tinggi dan tempo yang cepat.

c. menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton. masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Penampilan Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalanpersoalan: teknik muncul. (1) blocking dan pemanfaatan setting. Pada kondisi tersebut. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama.3-24 Membaca Puisi Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Bait tersebut menghendaki pembacaan yang cepat dan tinggi. Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan. (3) cara berpakaian. Selain kejelasan ucapan. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. ketahanan sangat dibutuhkan. kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. biasanya pengucapan katakata atau baris-baris puisi tidak lancar. kejelasan ucapan harus dijaga. Selain itu. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. (2) gerakan tubuh. Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi . Terutama untuk puisi panjang.

kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi. berdiri di satu tempat saja. kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton. atau gabungan keduanya. apakah kita harus berjalan-jalan. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. Oleh karena itu. yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. suasana dialogis tidak akan tercipta. blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. itulah persoalan blocking. atau campuran keduanya. . Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. itu semua merupakan persoalan blocking.Membaca Puisi 3-25 dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. Dalam sebuah dialog. pada saat pertama kita muncul di panggung. Apakah kita harus menghadap penonton. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap. bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita. Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Secara umum ada dua jenis blocking. apakah kita harus duduk. sebelum puisi kita baca. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan. membelakangi. Sebaliknya. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. begitu kita berdiri di panggung. sebelum membaca puisi. berdiri. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. Pendek kata. Secara teoretis. Dalam pembacaan puisi juga demikian. atau campuran keduanya.

misalnya. Gerakan tubuh dalam hal ini merupakan perwujudan ekspresi atas penghayatan pembaca pada puisi yang dibacanya. Jika model panggung sudah dibuat demikian. gerakan tubuh dalam pembacaan puisi tidak bisa disamakan untuk setiap orang. ada pula yang menghendaki blocking dinamis. Oleh karena itu. puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Banyak orang menduga bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi harus disiapkan atau dilatih secara khusus seperti halnya gerakan pada penari latar pertunjukan musik. Hal ketiga yang harus kita perhatikan berkaitan dengan penampilan adalah masalah gerakan tubuh. Ukuran baik-tidaknya gerakan tubuh dalam pembacaan puisi adalah kesesuaian dengan jiwa puisi. Artinya. tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis. atau pemanfaatan benda-benda atau apa pun bentuknya yang ada di panggung. Dalam pertunjukan secara khusus. pembaca puisi harus menyesuaikan diri—atau bahkan memanfaatkan—dengan panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad. Dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Masing-masing orang mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu. Sebaliknya. misalnya. Ketika . panggung didesain sedemikian rupa sehingga memuncculkan nilai artistik. Gerakan tubuh seharusnya kita biarkan muncul sendiri sebagai akibat adanya penghayatan pada puisi.3-26 Membaca Puisi Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. pembaca puisi tidak bisa lepas begitu saja dengan model panggung. kita tidak bisa lepas dari bentuk panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. Ketika kita berada di panggung. pembaca puisi mengucapkan baris: Lihatlah . Blocking juga berkaitan dengan pemanfaatan setting.

pakaian harus sejalan dengan isi puisi. tentu akan menjadi tidak tepat kalau pakaian kita terbuka. Bagaimana sebaiknya kita berpakaian ketika menghadap Tuhan? Tentu bukan pakaian yang terbuka. Karena itu. Meskipun tidak terlalu penting. dan penampilannya baik. Pembacaan puisi yang baik adalah pembacaan puisi yang penghayatan.Membaca Puisi 3-27 Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan masing-masing orang akan berbeda dalam menggerakkan tangan atau anggota tubuhnya. Yang lebih baik. juga akan selaras dengan kebiasaan atau cara pembaca puisi mengekspresikan puisi tersebut. Yang terpenting. Isi puisi tersebut adalah dialog antara manusia dan Tuhan. Ketiga komponen pembacaan puisi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai kriteria penilaian pembacaan puisi. jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mengganggu pembacaan puisi. ukuran baik-tidaknya dalam pembacaan puisi dapat dilihat dari ketiga komponen tersebut. masalah pakaian juga perlu kita perhatikan dalam pembacaan puisi. . Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi selain selaras dengan jiwa puisi. vokal. . ketika kita harus membaca puisi “Pembuka” karya Emha Ainun Nadjib. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal berpakaian. Sebagai contoh. misalnya.

Seni Baca Puisi (Persiapan. S. Jakarta: Pustaka Jaya. 2008. Gani. Depdikbud. Mukh. 2001. Rizanur. Tambayong. Bandung: Pustaka Waluyo. Boulton. The Anatomy of Poetry. Japy. 1979. Dasar-Dasar Teori Sastra. 1981. Tahapan dalam Pelatihan Membaca Puisi. 1982. S. Muslim. Tentang Bermain Drama. . Jakarta: P3G Hanindawan. 1979. Richard. Dasar-Dasar Dramaturgi. 1995. Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani). Suharianto. Teori dan Apresiasi Puisi. S. London: Routledge and Keagan Paul. Doyin. Bahan Pelatihan Baca Pusisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. Jakarta: Pustaka Jaya. Jakarta: Erlangga. Banjarbaru: Dewan Kesenian Daerah. Sekilas Mengenai Seni Baca Puisi. Mukh. Seni Teater. Suharianto.DAFTAR PUSTAKA Boleslavsky. Pengajaran Apresiasi Puisi. Abdul Azis. Suharianto. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Surakarta: Widya Duta. 2001. 2001. 1982. 1981. 2001. Marjorie. Herman J. Doyin. 26-31 Mei 2001. Mukh. Prima. Bahan Pelatihan Baca Puisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. Doyin. Surakarta: Widyaduta. Semarang: Bandungan Institute. Rendra. 1981. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Masalah Penyutradaraan. dan Penilaian). Pelatihan. 2001. Modal Dasar bagi Calon Aktor. 26-31 Mei 2001. Pengantar Apresiasi Puisi.

mereka yang selalu memperkosa hak-hakku sebagai seorang hakim yang selalu melumpuhkan rasa keadilan dalam kalbuku Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu.Membaca Puisi 3-29 Pelatihan: Bacalah puisi berikut dengan benar! DOA SEORANG HAKIM PENSIUNAN DI JAMAN PENJAJAHAN Leon Agusta Tuhan Masih sudikah engkau mendengarkan aku? Setelah aku hukum mereka yang aku yakin tidak bersalah Setelah aku bebaskan mereka yang aku yakin mereka telah bersalah Setelah aku bebaskan diriku yang mengabaikan rasa keadilan Hambamu ini sungguh tak berdaya. mereka yang aku tak pernah berani mengadilinya Amin. PEMBUKA . inilah doaku sebagai seorang hakim Tuhanku: Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. mereka yang aku tak sanggup memanggilnya ke Mahkamah Pengadilan resmi Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. oh Tuhan Betapapun aku mendengar hati nuraniku terus menjerit PadaMu aku tak bersembunyi Engkaulah Yang Mahatahu derita dan kebimbanganku Setelah doa bagiku sendiri selesai Akhirnya.

Gusti Inilah tawananMu Tak berani menengadahkan muka Mripat kami yang terbuka Telah lama menjadi buta Sebab telah menyia-nyiakan dirinya Dengan hanya menatap Hal-hal yang maya Gusti Kami berkumpul di sini Untuk mengukur keterbatasan kami sendiri Melontarkan beratus kata Seperti buih-buih Agar melayang ke udara Dihisap kembali oleh telinga agungMu Dan tinggal jiwa kami termangu-mangu di sini Menunggu tetesan-tetesan firmanMu Yang membeningkan hidup kami .3-30 Membaca Puisi Emha Ainun Nadjib Gusti Seperti kapan saja. kami tak kuasa. malam ini pun Kami tak berada di mana-mana Melainkan di hadapanMu Tapi kami sering lupa Sebab mengalahkan musuh-musuhMu Yang kecil saja.

Membaca Puisi 3-31 Gusti Kami pasrah sepasrah-pasrahnya Kami telanjang setelanjang-telanjangnya Kami syukuri apapun Karena rahasiamu agung Tak ada apa-apa yang penting Dalam hidup yang sejenak ini Kecuali berlomba lari Untuk melihat telapak kaki siapa Yang paling dahulu menginjak Halaman rumahMu Gusti Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Gusti Masa depan kami sendiri kami bakar Tapi engkau terlampau sabar Peradaban kami semakin hina .

Malam ini taklagi kulihat kunang-kunang Yang dengan cahaya tubuhnya Berputar-putar di depan rumah Mungkinkah mereka kedinginan Karena hujan terus-menerus berjatuhan Ataukah karena halaman rumah ini Yang tak lagi mampu menyalakan cahayanya .3-32 Membaca Puisi Tapi engkau terlalu bijaksana Kelakuan kami semakin nakal Tapi engkau mahakebal Nafsu kami semain rakus Tapi rakhmatmu tak kunjung putus Kemanusiaan kami semakin dangkal Sehingga engkau pun semakin mahal Gusti Kamilah pesakitan Yang tak berwajah lagi Kaki dan tangan ini Kami ikat sendiri Hukum atau ampuni kami Mohon segeralah Hampir kami tak tahan Menunggu dan menanti SAAT HUJAN DATANG Mukh Doyin Mama.

memang Tapi kegelapan ini Jauh lebih menusuk hati Ketimbang tangis dan rintihan para dewa Mama. mama Bulan di atas pun tak lagi tampak Langit yang hitam pekat Telah mengurungnya Adakah yang bias dikerjakan dewa-dewa di atas sana Dalam gulita seperti ini.Membaca Puisi 3-33 Angin masih saja berhembus Membawa suara-suara burung malam Yang terbatuk-batuk karena hujan Membawa riak-riak gelombang laut Yang keruh karena hujan Membawa kesunyian malam Yang beku karena hujan Lihatlah. Tersenyumlah Agar kunang-kunang dan rembulan Tak lagi tenggelam dalam kegelapan malam . memang Tak ada rintih. mama Tak ada tangis.

BUKU AJAR MENULIS RESENSI BUKU .

atau menilai. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama. seperti: 1) siapa pengarangnya?. Hakikat Resensi Menurut Samad (1997:1) resensi berasal dari bahasa Latin. menimbang. (d) menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit. 4) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?. atau mengkritik buku. 5) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang . STANDAR KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA B. MENULIS RESENSI BUKU DI SMA A. sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “review”. membahas. mengungkapkan kembali isi buku. yaitu: (a) memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku. merenungkan. 3) apa pertanyaannya?.BAB I. Pembuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan. resensi buku dikenal dengan “recensie”. C. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian. yaitu “revidere” atau “recensere” yang artinya melihat kembali. (b) mengajak pembaca untuk memikirkan. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA 1. yaitu mengulas buku. 2) mengapa ia menulis buku itu?. dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. Dalam bahasa Belanda. KOMPETENSI DASAR Menguasai hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA. (c) memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. Jadi. b) memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga penilaian itu diketahui khalayak. Tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut: a) menimbang agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang membutuhkannya. di samping nilai informasi. Istilah yang lain yang sering dipakai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. maksudnya resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca (tentu saja setelah mereka membeli). atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Resensi berarti pertimbangan atau pembicaraan. Oleh karena itu. Sayuti juga menjelaskan bahwa buku yang diresensi biasanya merupakan buku terbitan baru. atau ulasan buku (Sayuti 2002:13). Sedangkan menurut Djuharie dan Suherli (2005:21) resensi merupakan salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara memberikan komentar secara objektif. (e) untuk pembaca yang membaca resensi agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku atau jika tidak ada waktu untuk membaca buku maka dapat membaca resensi tersebut (Samad 1997:2). bedah. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu.4-2 Menulis Resensi Buku dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. seorang penulis resensi buku ingin membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu. sebuah resensi juga seringkali mengandung nilai advertensi. Sedangkan menurut Keraf (2001:274) resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. c) . Dengan kata lain.

resensi yang dimuat di surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. d) peresensi memahami . d) menghargai keunggulan dari suatu penulisan buku atau penyajian pentas. setting (untuk pementasan) dengan bahan yang ditulisnya atau sajian pementasan. yaitu: a) peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu.Menulis Resensi Buku 4-3 melihat kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian karakteristik tokoh. resentator harus menguasai dan mengetahui bahan yang akan diresensi. c) peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera. dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku. Sedangkan tujuan resensi adalah memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang terungkap dalam buku atau hasil karya dan memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain. Berdasarkan pendapat di atas. tingkat pendidikan. e) mengungkapkan kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan atau alur pementasan. b) peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. Samad (1997:2-3) menyebutkan dasar-dasar resensi ada empat. Atas dasar itu. 2. penokohan. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. Dasar-Dasar Resensi Pada saat membuat resensi. f) memberikan pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra (untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan. dari kalangan macam apa asalnya. dan sebagainya.

seperti surat kabar (nasional atau daerah). Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu.. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam yang bagaimana yang disukai oleh redaksi. majalah ekonomi tidak menampilkan resensi buku tentang kimia. atau hiburan). Setiap media cetak mempunyai identitas. yaitu kewajibannya terhadap para pembaca dan bagaimana penilaiannya atas buku tersebut. dua faktor tersebut yaitu: pertama. resentator harus memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhi dalam membuat resensi itu. penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca. ilmiah populer. Dengan menilai kaitan antara tujuan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. Dengan demikian. Sebuah resensi harus dibuat dengan memperhatikan kualitas pembacanya. Untuk itu resentator harus menganalisis bagaimana pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu. Menurut Keraf (2001:274) seorang resentator harus memperhatikan dua faktor dalam memberikan penilaian atau pertimbangan secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku. penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang aslinya. Selain itu. Singkatnya. Jenis buku yang dimuat pastilah buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. resentator harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi itu. Demikian pula. Apakah tujuan itu betul-betul terealisasi dalam seluruh buku. . Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya.4-4 Menulis Resensi Buku karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. bagaimana selera mereka. Misalnya. Begitu juga dengan majalah teknik atau filsafat. kedua. Pembaca dalam hal ini adalah semua langganan majalah atau media massa yang memuat resensi itu. dan bagaimana tingkat pendidikan mereka. peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju. termasuk visi dan misi. dan majalah (ilmiah.

Oleh karena itu. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Misalnya. Resensi buku biasanya dimuat dalam surat kabar atau majalah. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. padat. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. c) peresensi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi. tulisan yang runtun .Menulis Resensi Buku 4-5 Djuharie dan Suherli (2005:23) juga menguraikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Menurut Samad (1997:4) bahasa resensi biasanya singkat. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjai sasarannya. resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. Buku yang diresensi biasanya merupakan terbitan baru. b) peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi. f) peresensi harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi. tegas dan tandas. sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. yaitu dengan cara mengetahiu dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya tersebut. e) peresensi harus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapar dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya oleh pembaca. d) peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resentator dengan penulis buku tersebut. yaitu: a) peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan sepenuhnya sikap subjektifitas. Di samping nilai informasi. Maksudnya.

Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. singkat mudah ditangkap. Sebuah bulu biasanya menyajikan banyak persoalan. Bila perlu bagianbagian yang mendukung uraian dikutip. yaitu meringkas. c) bahasa. Ada tiga pola tulisan resensi buku. perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat. d) kesalahan cetak. menarik. e) membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis. dan mengulas. b) organisasi atau kerangka buku. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Di samping itu. baik karya pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku (Samad 1997:5-6). mencakup kesan peresensi terhadap buku. f) menilai. dan enak dibaca. menjabarkan. penyajian tulisan resensi bersifat padat. dan tidak terlalu banyak coretan. ejaannya benar. Untuk itu.4-6 Menulis Resensi Buku kalimatnya. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: a) isi peranyaan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan). atau bekas hapusan. . tidak berpanjang lebar (bertele-tele). Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas.

LANGKAH-LANGKAH MERESENSI BUKU A. kapan dan di mana diterbitkan. d) Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi.BAB II. Langkah-Langkah Menulis Resensi Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. dan teliti. disertai deskripsi isi buku. reputasi dan prestasinya. latar belakang pendidikannya bagaimana. format hingga harga nya berapa. cermat. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mempraktikkan langkah-langkah menulis resensi buku sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya 1. b) Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. buku atau karya apa saja yang pernah ditulis hingga mengapa ia sampai menulis buku itu. a) Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. Kemudian siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. c) Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data. KOMPETENSI DASAR Menguasai langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi C. Setelah itu. STANDAR KOMPETENSI Memahami langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi B. . penjajakan tentang pengarang buku tersebut: namanya siapa. tebal (jumlah bab dan halaman). Penjajakan ini dimulai dari tema buku yang diresensi.

Judul resensi ini yang pertama dibaca. jika judulnya kurang menarik. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. (4) aspek teknis (bagaimana tata letak. Sekalipun buku yang diresensi itu bagus dan penyajian tulisannya memenuhi syarat.4-8 Menulis Resensi Buku e) Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi: (1) organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. pasti juga akan mengecewakan pembacanya. dan bagaimana dinamikanya). bagaimana tata wajah. (3) bahasa (bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan. Cara merumuskan judul resensi . jelas. Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan perensensi setelah mencermati buku yang bersangkutan. judul hendaknya menarik perhatian dan mencerminkan isi resensi. Demikian pula judul yang mentereng. bagaimana analisisnya. bagaimana penyajian datanya. f) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasardasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya. 2. a) Membuat judul resensi Judul resensi berarti wajah resensi itu sendiri. bagaimana sistematikanya. apakah hubungan itu harmonis. dengan isi pernyataan hambar dan tidak relevan. bagaimana srtuktur kalimatnya. dan bagaimana hubungan antar kalimat serta pilihan kata yang dipergunakan). Unsur-Unsur Pembangun Resensi Buku Adapun unsur-unsur pembangun resensi buku antara lain sebagai berikut. Judul yang menarik berarti merangsang keinginan orang untuk segera membacanya. dan pencetakannya). dan bagaimana kreativitas pemikirannya). Untuk itu. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. (2) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. tidak menutup kemungkinan kalau resensi tersebut tidak dibaca orang. bagaimana kerapian dan kebersihan.

dan menghindari perulangan kata. karena yang lebih penting justru masalah yang dibahas dalam buku itu. menggunakan kalimat aktif. peresensi dapat memulai dengan pembukaan yang memaparkan kekhasan atau sosok pengarang buku itu. 2) pengarang. 3) penerbit (siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. judul resensi harus menarik perhatian dan menimbulkan keingintahuan pembaca. 5) tebal buku (jumlah bab dan halaman). kapan dan di mana diterbitkan) .. 4) tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa). akan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi pernyataan resensi.Menulis Resensi Buku 4-9 dengan membuat sinopsis dan memahami inti resensi. dirumuskan sesingkat-singkatnya. dan kabur. editor. dan 6) harga buku (jika diperlukan). dan prestasi apa saja yang diperoleh. karyanya berbentuk apa saja. terutama yang berkaitan dengan topik buku itu. Namun perkenalan pengarang itu cukup singkat saja. Alasan menggunakan cara itu pun juga harus kuat. kecuali kalau fungsinya benar-benar penting. 2) membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis. Kalau pengarang buku mempunyai ciri khas atau sosok yang menarik. apakah relevan atau mendukung jika pembukaan . seperti untuk menegaskan kata. Selain itu. baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lainnya. 3) memaparkan kekhasan atau sosok pengarang. tidak bertele-tele. kalau ada ditulis juga penerjemah. c) Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dalam meresensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini: 1) memperkenalkan siapa pengarangnya. Dengan demikian. atau penyunting seperti yang tertera pada buku. b) Menyusun data buku Data buku disusun sebagai berikut: 1) judul buku (jika buku itu termasuk buku terjemahan maka judul aslinya harus dituliskan). bagaimana latar belakang pendidikannya. mencerminkan isi pernyataan resensi secara akurat.

kelemahan buku hendaknya dipaparkan secara proposional. dan 10) membuka dialog. 5) merumuskan tema buku. Alenia pembuka juga dapat diawali dengan mendeskripsikan keunikankeunikan yang dimiliki buku tersebut. sertakan juga keunggulan buku. Tujuannya. 8) memperkenalkan penerbit. jelas dan kronologis. Kedua. Kedua. Dengan cara ini. Peresensi tidak cukup hanya membaca buku yang diresensinya. Sinopsis ini mengemukakan pokok isi buku secara garis besar. 7) mengungkapkan kesan terhadap buku. 3) keunggulan buku. 2) ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya.. 4) kelemahan buku. Tubuh resensi akan kelihatan lebih baik jika menyertakan keunggulan- keunggulan buku. menuliskan jumlah bab buku tanpa pembahasan. menuliskan jumlah bab buku dengan uraian seperlunya. 6) mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku. Tujuannya. Ada dua cara merumuskan kerangka buku. Pertama. agar pembaca mendapat pemahaman yang utuh terhadap buku itu. 9) mengajukan pertanyaan. Gambaran umum yang dipaparkan dalam sinopsis perlu diulas agar lebih jelas dan berbobot. 4) memaparkan keunikan buku. 5) rumusan kerangka buku. Pertama. memberi gambaran global mengenai apa yang akan dipapatkan pada tubuh resensi. Keunikan itu dapat dilihat dari segisegi yang ada pada buku itu jarang ada atau langka dimiliki buku sejenisnya.4-10 Menulis Resensi Buku dibuka dengan mendeskripsikan keunikan pengarang. d) Tubuh atau isi pernyataan resensi buku Tubuh atau isi pernyataan resensi buku biasanya memuat hal-hal berikut ini: 1) sinopsis atau ringkasan isi buku secara singkat. 6) organisasi atau kerangka penulisan . terlebih lagi jika dihubungkan dengan topik buku itu. tetapi juga buku-buku lain yang membahas topik yang sama. berilah alasan (penyebab) mengenai keleamhan buku. peresensi mengetahui kelebihan-kelebihan buku yang diresensi tersebut. Ada dua hal yang perlu diperhatikan peresensi. padat. Ulasan itu pun bisa juga dipertegas dengan kutipan yang tepat.

pertama. sebelumnya dikemukakan dahulu hal-hal yang berkaitan dengan kelebihan buku. . atau menggambarkan kekhasan bahasa pengarang. bagaimana penyajian datanya. secara langsung menyebutkan halaman yang salah cetak atau kualitas cetakan yang kurang baik. dan pilihan kata yang digunakan. Bahasa yang baik. Kedua. 7) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. Barulah dikatakan kesalahan cetak atau kualitas cetakan yang kurang bagus. 8) tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit). hubungan antarkalimat. biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. Penjelasan mengenai bahasa buku dapat disampaiakan dengan cara langsung mengatakannya. seraya menyarakan perbaikan kepada penerbit. bagaimana analisisnya. e) Penutup resensi buku. Bagian penutup. jelas. jelas. bagaimana sistematikanya. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). seperti pewajahan (layout) dan kebersihan. dan 9) adanya kesalahan cetak. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. Jadi. apakah hubungan itu harmonis. dan mudah dipahami. seperti bahasa sederhana. terutama cetakannya.Menulis Resensi Buku 4-11 (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. Penilaian terhadap buku juga mencakup masalah teknis. untuk menyatakan kualitas atau kesalahan cetak. dan bagaimana dinamikanya). dapat dirumuskan dengan dua cara. yaitu. dinilai dari struktur kalimat. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat menggangu pembaca.

Hasil resensi buku banyak muncul dalam media cetakan. Pelatihan Meresensi Buku Pelatihan ini akan membawa Anda berproses untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan berupa resensi buku. Sebuah majalah—yang biasanya terbit mingguan—banyak sekali menampilkan karya resensi. baik buku maupun film. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menulis resensi buku sesuai dengan langkah-langkah dan unsur-unsur pembangunnya 1. khususnya surat kabar dan majalah. a. STANDAR KOMPETENSI Terampil menulis resensi buku B. KOMPETENSI DASAR Mempraktikan langkah-langkah menulis resensi buku yang sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya C. Bacalah resensi berikut! Judul Buku : Wajah Peradaban (Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam) Penulis : M.BAB III. Pelatihan-1 Pelatihan dilaksanakan secara individu dengan mengikuti tahaptahap berikut. Atiqul Haque . Sebuah surat kabar yang terbit pada hari Minggu pada umumnya menampilkan kolom resensi buku dengan berbagai macam nama kolomnya. PELATIHAN A.

Ibnu Rusyd. Cordoba. seperti Power Ranger. seperti Turki. peradaban itu mengantarkan Islam pada masa kejayaannya. Saat ini kita seakan telah terbelenggu dengan konstruksi peradaban yang diciptakan oleh bangsa Barat. Salah satu di antaranya adalah melalui penerbitan buku-buku. berbagai upaya untuk kebangkitan Islam itu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. atau Viper. Padahal. yaitu dari abad ke-1 sampai abad ke-7. sejak disyiarkan Rasulullah SAW sampai sekitar abad ke-7. Itulah zaman kebesaran Islam. Januari 1998 : 148 halaman I SIAPA yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita sekarang? Jawabannya tentu bukan Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar Sidiq. Sehingga tidak heran kalau seorang filosof Prancis. Melainkan. Ibnu Taymiya. yang merupakan pahlawan-pahlawan Islam di masa atau era keemasan Islam. Roger Graudy. Anak-anak itu tentu tidak akan tahu siapa Ibnu Sina. II . kisah itu merupakan gambaran tentang wajah peradaban pada masa keemasan Islam. pahlawan-pahlawan yang hadir di televisi. Banyak diakui. Mac Gyver.Menulis Resensi Buku 4-13 Editor Penerbit Cetakan Tebal : Cecep Syamsul Hari : Zaman Wacana Mulia Bandung : Cetakan I. Maskman. atau Ibnu Khaldun. Kini Islam hendak bangkit kembali. Spanyol. dan Andalusia. Ke mana kisahnya kini? Cerita kehebatan para pahlawan Muslim saat ini hanya menjadi nostalgia belaka. namun—tidak perlu dipungkiri—untuk melakukan hal itu sangat sulit. Meski demikian. Wilayah kekuasaan Islam saat itu telah mencapai sebagian besar Eropa. memandang peradaban Islam sebagai pewaris ketiga di samping peradaban Greko Romawi. yang banyak membukakan wawasan tentang peradaban Islam di era keemasan itu.

Bahkan. dan tidak pernah lelah melakukannya. tidak sedikit ilmuwan Barat yang menjadi murid pemikir-pemikir Islam seperti al-Gazhali. yang diterbitkan TaHa Publisher London. Mereka adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Mereka tidak hanya memiliki akses terhadap Islam itu sendiri. guru besar. Pengetahuan dan Kekuasaan. dan Ibnu Khaldun selalu merasa kehausan akan ilmu sehingga mereka harus menjadi musafir. Namun. dokter. yang banyak muncul sekarang ini. Gairah para pahlawan Islam untuk mencari ilmu juga dilandasi oleh semangat untuk menyiarkan ajaran Islam. Dari Musafir ke Musafir. Al-Bukhari. mulai dari sosiolog. Yang patut diteladani oleh kita adalah semangatnya dalam mencari ilmu tidak pernah menyerah. dan memberinya inspirasi jihad dalam menegakkan kebenaran. al-Biruni. tetapi juga terhadap bangsa Barat. al-Thabari. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari ilmu belaka. hingga politikus seperti Ibnu Taimiyah. Mereka juga adalah inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu. tahun 1995. Syah Waylillah. Dalam edisi bahasa Inggris. misalnya. Tidak hanya itu. dalam edisi Wajah Peradaban ini terbagi menjadi lima bagian. menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia. Buku ini berjudul asli The Moslem Heroes of The World. Buku ini memperkenalkan sejumlah pahlawan Muslim dalam berbagai bidang. yaitu: Lautan Pengetahuan. tidak dilakukan pemilahan menurut bagian-bagian tertentu. Kontribusi mereka sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan sekarang ini. ini terbukti dengan diakuinya Ibnu Rusyd sebagai Bapak Filsafat Barat.4-14 Menulis Resensi Buku Buku ini dapat memenuhi harapan di atas. Paling tidak. dan Matsnawi . ia juga menjadi orang pertama yang menaburkan benih negara Islam merdeka di kalangan kaum Muslim India. Menghidupkan Kembali Ilmu Agama. penyair.

(Sumber: Romli. Akan tetapi. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut: (i) unsurunsur apa saja yang dikemukakan oleh penulis dalam teks yang Anda baca itu. khususnya ibu-ibu. maka bahasanya pun tidak cukup layak dikonsumsi anak-anak. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris.Menulis Resensi Buku 4-15 Cahaya. dan (iv) mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan (surat kabar atau majalah). Pembagian ini akan memudahkan pembaca lebih paham tentang tokoh-tokoh yang diceritakan. tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. buku ini sangat layak dibaca para pendidik. tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Jadi. Apa sebenarnya yang sudah Anda lakukan itu? Sejatinya. Buku ini lebih cenderung untuk konsumsi orang dewasa. 2003:81—85) b. orang tua. Tiap-tiap anggota dalam kelompoknya mempunyai tugas yang tidak sama. Pelatihan-2 Tugas dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. sebagai referensi dalam memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya. c. III Sayangnya. Buatlah rumusan pengertian resensi buku dengan menjawab “apa pengertian resensi buku”. . (iii) apa tujuan yang ingin dicapai dengan teks itu. (ii) apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Selamat membaca. Anda melakukan tahap-tahap secara induktif dalam rangka memahami hakikat dan pengertian resensi buku.

4-16 Menulis Resensi Buku a. Pertanyaan untuk anggota-2: apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Teks yang Anda baca adalah karya resensi buku yang muncul di majalah. dari kumpulan jawaban itu. Bagian 1 dan 2 berupa pengantar ke arah bahasa politik dan “pisau analisis” yang . khususnya dalam sistematikanya. Pertanyaan untuk anggota-4: apa persamaan dan perbedaan teks yang dibaca dengan teks resensi yang berasal dari surat kabar. Pertanyaan untuk anggota-1: apa saja yang dikemukakan dalam teks yang Anda baca itu. susunlah menjadi satu paragraf utuh yang memiliki kesatuan dan kepaduan. Bacalah resensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok menjadi satu. Dalam tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dan secara berkelompok. d. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” pada bagian berikut. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut. Apa hakikatnya yang sudah Anda lakukan secara individu dan kelompok itu? Sejatinya. Buku ini diangkat dari naskah disertasi yang dipertahankan terhadap sanggahan para penguji di hadapan Sidang Ujian Disertasi Tahap II Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 12 Desember 2001 dan mengalami pengubahan penyajian jika dibanding dengan naskah disertasi yang asli. Yang dipaparkan dalam buku ini ialah karakteristik bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik—khususnya pasca Orde Baru—beserta konteks penggunaannya. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Anda melakukan tahap-tahap dalam rangka memahami pengertian resensi. c. Pelatihan-3 a. Hasil akhir hakikatnya adalah hasil kelompok. b. Pertanyaan untuk anggota-3: mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan. Selanjutnya.

M. ketransitifan. Prof. yang telah membangun “jembatan” antara .). Akhirnya. Jakarta. Dr. dan Dr.. (penguji bidang studi) ucapan terima kasih yang tulus sudah sepantasnya penulis sampaikan. sepatutnyalah disampaikan harapan bahwa tulisan ini akan memperoleh tanggapan. bentuk pasif dan negatif. kami. Dr. relasi makna (antonimi. interogatif. dan hiponimi). Prof.D. dan struktur teks (konvensi interaksional dan penataan teks). M. sinonimi. (alm. 12. M. Soepomo Poedjosoedarmo. leksikalisasi. saya ingin menyampaikan terima kasih yang setulustulusnya kepada Penerbit Wedatama Widya Sastra (WWS) yang telah mengupayakan penerbitan hasil penelitian ini dalam bentuk buku. Suparno yang telah memberikan bimbingan selama proses pembuatan disertasi. M. Bagian 13 berupa paparan eksplanasi kritis mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan. modus kalimat (deklaratif. yang telah memberikan dana bantuan bagi penelitian disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini.. Kepada Prof. Rofi’uddin.A. dan nomina tertentu).Pd. yakni pola klasifikasi. Ph. dan imperatif). Ah. Soeseno Kartomihardjo. Ph.D. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yayasan Darma Aji Bakti.A. Monica Djoehana D.Pd. strategi kehadiran diri (kita.Menulis Resensi Buku 4-17 relevan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia. Juga kepada Drs.A. Willem Mantja (penguji bidang pendidikan).d. Saran dan pertanyaan yang Bapak ajukan pada ujian disertasi amat membantu penyempurnaan karya tulis ini. saya.A. Diterbitkannya karya tulis ini memungkinkan apa yang saya paparkan dalam disertasi yang konsumennya bersifat amat terbatas dapat diinformasikan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. M. Imam Syafi’ie. M.. Prof. Dr. bahkan kritik yang dapat saya manfaatkan untuk memperbaikinya. Ph. saran. (penguji tamu dari Universitas Gadjah Mada). Karakteristik bahasa politik pasca Orde Baru dipaparkan pada bagian 3 s.. Oleh karena itu. dan Prof. Abdul Wahab. Hariyono. Oka. metafora. Dr. Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Prof. modalitas (relasional dan ekspresif).D.

b. DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH ------------------------------------------------------------------------------v FENOMENA BAHASA POLITIK INDONESIA -----------------------------------------1 Bahasa Politik ----------------------------------------------------------------------------------1 Mengapa Bahasa Politik ---------------------------------------------------------------------3 Bahasa. dan Politik ----------------------------------------------------------6 Rambu-Rambu Orwell -----------------------------------------------------------------------9 Beberapa Kajian Bahasa Politik Indonesia Sebelumnya --------------------------10 Catatan Akhir ---------------------------------------------------------------------------------24 “PISAU BEDAH” YANG RELEVAN: Menggali Ideologi dengan Analisis Wacana Kritis ----------------------------------25 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------25 Teori Kritis: Teori sebagai Praksis dan Emansipatif --------------------------------26 Linguistik Fungsional-Sistemik Halliday: Bahasa sebagai Semiotik Sosial ---29 . Diskusikan hasil rumusan Anda dengan anggota dalam satu kelompok. c. Bacalah daftar isi dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. Komunikasi. A. Hasil diskusi sebaiknya dirumuskan sebagai hasil kelompok. ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya sudah seharusnya penulis sampaikan. yang dipaparkan berikut ini.S. Rumuskan jawaban Anda dalam satu paragraf singkat. Selanjutnya.4-18 Menulis Resensi Buku penulis dan penerbit. diskusikan hasil rumusan kelompok ke dalam diskusi kelas. b. Rumuskan apa tujuan penulis atau pengarang buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dapat diketahui dari bab “Sekapur Sirih” di atas. Apakah terdapat perbedaan yang mencolok dari tiap-tiap kelompok? Pelatihan-4 a.

Sinonimi.Menulis Resensi Buku 4-19 Kajian Bahasa dengan Paradigma Kritis ----------------------------------------------36 Analisis Wacana Kritis: Tiga Dimensi Wacana secara Simultan ----------------47 POLA KLASIFIKASI DALAM WACANA POLITIK -----------------------------------70 Pola Klasifikasi -------------------------------------------------------------------------------70 Kosakata Pengklasifikasi ------------------------------------------------------------------70 LEKSIKALISASI DALAM WACANA POLITIK ----------------------------------------91 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------91 Kosakata Utama yang Pertama Muncul -----------------------------------------------91 Perkembangan Lanjut Kosakata Utama -----------------------------------------------93 Leksikalisasi dari Berbagai Bidang Kehidupan -------------------------------------100 Leksikalisasi Khusus ----------------------------------------------------------------------107 RELASI MAKNA DALAM WACANA POLITIK: Antonimi.168 MODUS KALIMAT DALAM WACANA POLITIK: Deklaratif. dan Hiponimi ------------------------------------------------------114 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------114 Antonimi --------------------------------------------------------------------------------------114 Sinonimi --------------------------------------------------------------------------------------119 Hiponimi --------------------------------------------------------------------------------------122 METAFORA DALAM WACANA POLITIK -------------------------------------------128 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------128 Metafora Nominatif ------------------------------------------------------------------------129 Metafora Predikatif ------------------------------------------------------------------------134 Metafora Kalimat ---------------------------------------------------------------------------136 KETRANSITIFAN DALAM WACANA POLITIK ------------------------------------140 Pengertian Ketransitifan ------------------------------------------------------------------140 Proses Material -----------------------------------------------------------------------------141 Proses Mental atau Proses Proyeksi -------------------------------------------------155 Proses Relasi atau Proses Menjadi ---------------------------------------------------157 BENTUK PASIF DAN NEGATIF DALAM WACANA POLITIK -----------------161 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Pasif ---------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Negatif ----------------------------------------------------------------------------. dan Imperatif ---------------------------------------------------175 . Interogatif.

245 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.245 Perspektif dalam Pilihan Kosakata --------------------------------------------------.185 MODALITAS DALAM WACANA POLITIK: Relasional dan Ekspresif ------.205 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.4-20 Menulis Resensi Buku Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.211 STRUKTUR TEKS POLITIK: Konvensi Interaksional dan Penataan Teks -214 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------214 Konvensi Interaksional -------------------------------------------------------------------214 Pengurutan Teks ---------------------------------------------------------------------------238 PERSPEKTIF DALAM WACANA POLITIK: Sebuah Eksplanasi Kritis-----.175 Kalimat Deklaratif ------------------------------------------------------------------------. .209 Strategi Kehadiran Diri dengan Pronomina Tertentu ---------------------------. rumuskan tujuan Anda membuat resensi.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kita” -----------------------------------------------.175 Kalimat Interogatif ------------------------------------------------------------------------.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Saya” -----------------------------------------------207 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kami” ---------------------------------------------.190 Modalitas Ekspresif ----------------------------------------------------------------------.179 Kalimat Imperatif -------------------------------------------------------------------------.246 Perspektif dalam Pilihan Gramatika ---------------------------------------------------250 Perspektif dalam Pilihan Struktur Teks -----------------------------------------------253 DAFTAR PUSTAKA -----------------------------------------------------------------------256 c. dan Nomina Tertentu --------------------------------------------. Rumusan Anda ditujukan kepada khalayak pembaca. Kami.190 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------190 Modalitas Relasional --------------------------------------------------------------------. Setelah membaca dua teks di atas.201 STRATEGI KEHADIRAN DIRI DALAM WACANA POLITIK: Kita. Saya.

Penelitian ini antara lain menjawab pertanyaan “mengapa elite politik memilih dan mengistimewakan serta mengabaikan dan tidak menggunakan satuan bahasa tertentu?”. Hal ini antara lain terjadi karena perbedaan perspektif para elite politik atas suatu masalah. Ada gejala “proses institusional” dan “proses sosiokultural” penggunaan bahasa dalam dunia politik di Indonesia.Menulis Resensi Buku 4-21 Pelatihan-5 a. Bacalah teks pertama—berupa sampul buku--berikut! Bahasa Politik Pasca Orde Baru Anang Santoso Penerbit WEDATAMA WIDYA SASTRA Jakarta. Bacalah teks kedua—berupa catatan penerbit--berikut! Buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru ini diangkat dari disertasi berjudul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik Era Pasca Orde Baru. Hasil temuan dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pelaku politik dan pejabat pemerintahan di negeri ini untuk menyusun strategi perjuangan politiknya. ISBN 979—3258—04—7 . suatu penelitian “jargon” dan “bahasa” politik yang digunakan oleh para pejabat dan politikus seputar Pemilihan Umum di Indonesia tahun 1999. terutama yang bersangkut paut dengan penggunaan bahasa. Maret 2003 b.

Identifikasi karakteristik. Jakarta Cetakan: Pertama.4-22 Menulis Resensi Buku c. Tugas anggota-3: Bacalah sekali lagi teks “Catatan Penerbit” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! d. selera. dan tingkat pemahaman (kadar intelektualitas) dari konsumen buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dibidik oleh penerbit. Tugas anggota-1: Bacalah sekali lagi teks “Sekapur Sirih” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! b. Pelatihan-7 a. Pelatihan-6 a. Maret 2003 Tebal: ix + 273 halaman . Judul Buku: Bahasa Politik Pasca Orde Baru Penulis: Anang Santoso Penerbit: Wedatama Widya Sastra. Tugas anggota-2: Bacalah sekali lagi teks “Daftar Isi” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! c. Bacalah teks “pendahuluan” resensi berikut! Teks ini pernah muncul dalam sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Timur. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok ke dalam satu jawaban kelompok yang akan menjadi bahan diskusi kelas. Diskusikan jawaban-jawaban itu dalam diskusi kelompok! e.

menjagokan buku ini sebagai “anak sulung” terbitan tahun pertamanya. Pelatihan-9: a. Tak salah. dedengkot Paramadina. dan Jalaludin Rakhmat. b. Identifikasi persamaan dan perbedaan antara jawaban Anda dengan jawaban yang lain. dan Kang Jalal—begitu mereka biasa dipanggil oleh para . Pelatihan-8: a. dan mau tidak mau. c.Menulis Resensi Buku 4-23 b. yang tidak hanya membahas pemikiran dan aksi politik mereka berdua. Pilihlah salah satu buku yang akan diresensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. keempat tokoh itu: Gus Dur. Maklum. a. Dari materi dan metode penulisan. Bacalah bagian buku—bagian halaman judul—yakni bagian yang menggunakan halaman huruf kecil angka romawi. pentolan Muthahhari. Bacalah teks “isi” sebuah resensi berikut! Kalau dua tahun lalu terbit sebuah buku yang mengungkap soal strategi perjuangan umat model Abdurrahman Wahid dan Amien Rais—dan sempat menghebohkan itu. buku ini lebih komprehensif. tetapi juga ditambah dengan Nurcholish Madjid. kalau Zaman penerbit buku ini. maka pada permulaan 1998 ini terbit sebuah buku. Diskusikan hasil identifikasi yang Anda buat dengan teman lainnya. Mas Amien. Ketika umat sedang “bingung” dengan fenomena sosial politik yang terjadi belakangan ini. buku ini berasal dari tesis S-2 penulisnya (Dedy Djamaluddin Malik) yang telah diubah secara populer dan menjelma menjadi buku ini. Informasikan bagian identitas buku itu kepada khalayak menjadi bagian pendahuluan dari sebuah resensi. Identifikasikan identitas buku yang selayaknya disampaikan kepada khalayak pembacanya. Cak Nur.

Semua fakta itu tidak bisa diabaikan kalau kita berbicara tentang Islam dan Indonesia. Namun. belum lama buku itu terbit. setelah sebelumnya menelurkan jargon “Islam yes. masing-masing tokoh itu mempunyai umat yang tidak terbilang sedikit. buku ini pun sedikit banyak merekam dinamika pemikiran mereka.4-24 Menulis Resensi Buku pengagum maupun perjalanan bangsa ini. justru di sinilah kesulitan bagi pengamat untuk secara benar me-metakan mereka dalam sebuah posisi yang tetap. Dan. Lantaran pemikiran-pemikiran atau lebih tepatnya “sejarah pemikiran” seorang tokoh. Kang Jalal yang kontroversial sebagai “Agen Syiah” dan secara menghanyutkan tekun mendalami dunia tasawuf bersama keluarga mantan Wakil Presiden Soedharmono. Dan. setelah sebelumnya dengan Mbak Mega. Yang satu dianggap mewakili arus bawah dan yang satu lagi arus atas. penulis telah berupaya keras untuk menganalisis sepak terjang mereka dari sejarah biografi pemikiran mereka berempat. Namun. Kita ambil kasus buku tentang Gus Gur dan Mas Amien. Sehingga. Lantas Mas Amien yang kian meninggi volume suaranya sejak kasus Busang dan suksesi— yang membuatnya terdepak dari ICMI—sampai kesediannya dicalonkan sebagai presiden. Lain ketika yang bertindak itu Sri Bintang Pamungkas. Belum lagi. Ketika pendulum sedang bergeser ke kanan. Atau. Inilah realitas politik. inilah yang dimaksud dengan “Teori Gelang Karet”. Atau. . Partai Islam no” itu. tak pernah berhenti secara final. menurut Mohammad Sobary dalam kata pengantarnya pada buku ini. sekeras apa pun mereka bicara. situasi pun kemudian berubah. Tak terkecuali dengan buku ini. seperti yang sudah disinggung di muka. semua itu hanyalah timbangan sementara. umatnya—pun terkait dengan proses dialektika Suara Gus Dur yang mulai melemah ketika runtang-runtung dengan Mbak Tutut. meminjam istilah pengamat politik almarhum Alfian. Kemudian Cak Nur yang makin intens membina kelas menengah Muslim di metropolitan. agaknya pemerintah tidak berani untuk bertindak gegabah. maka suatu saat akan bergeser ke kiri. Sampai-sampai majalah Ummat menganugerahinya sebagai “Tokoh 1997”. misalnya. suatu saat mulur dan pada saat lain mengkeret. Kendati demikian.

Pertanyaan untuk anggota-3: adakah informasi tentang latar belakang penulisan. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah ulasan tentang gaya penulisan. c. Mulai dari telepon gelap sampai ucapan yang mengkafirkan mereka. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah paparan singkat tentang isi buku atau gambaran secara keseluruhan terhadap isi buku. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. dan adakah ulasan perbandingan dengan buku lain dari pengarang yang sama. keempatnya tidak sekali pun terlintas untuk membentuk negara Islam. Merekalah tokoh intelektual Muslim paling menonjol dalam kelahiran “Zaman Baru Islam Indonesia”. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-6: adakah ulasan perbandingan dengan buku lain yang temanya sejenis. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah informasi tentang tujuan penulisan buku. . dimungkinkan dengan berubahnya pandangan pemerintah terhadap Islam. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Jika ada. Jika ada. Jika ada. Islam yang diusung keempat tokoh itu adalah Islam yang lebih toleran dan terbuka. Sumber: Romli (2003:79—81) b. Jika ada. kemunculan keempat tokoh dalam waktu yang tidak beda berselang itu. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Identifikasikan apa saja yang ingin dikemukakan peresensi dalam bagian “isi” yang dipaparkan di atas. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri.Menulis Resensi Buku 4-25 Sebenarnya. Untuk selanjutnya Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota enam orang. Dari buku ini juga terungkap. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah ulasan tentang tema atau judul. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Untuk membimbing Anda. Namun demikian. Lantaran. yakni suatu era di mana orientasi perjuangan umat Islam tidak lagi…dst. Hadangan banyak mengganjal mereka. bukan berarti langkah mereka mulus-mulus saja. tapi yang diperjuangkan mereka adalah demokratisasi.

Jawaban setiap anggota kelompok tersebut selanjutnya didiiskusikan di dalam kelompok masing-masing. b. Tugas anggota-1: memberikan ulasan tentang judul atau tema buku. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil dari kelompok penyaji. Tugas anggota-6: menuliskan. c. yakni halaman 1 sampai dengan halaman daftar pustaka atau daftar rujukan. Bacalah bagian isi buku. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi enam orang.4-26 Menulis Resensi Buku d. membandingkan. Hasilnya dirumuskan menjadi sebuah rumusan yang berupa jawaban dari kelompok. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. e. dan mengulas buku dengan tema yang sejenis & membandingkan serta mengulas buku lain yang dihasilkan pengarang yang sama. Gabungkan jawaban setiap individu itu ke dalam teks yang padu. Tugas anggota-4: merumuskan tujuan penulisan buku yang diresensi. Setiap kelompok menyampaikan hasil rumusannya dalam diskusi kelas. Tugas anggota-5: memberikan ulasan tentang gaya penulisan yang digunakan penulis buku. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. d. Pelatihan-11: a. Hasil rumusan itu adalah bagian “isi” untuk resensi menurut kelompok Anda sendiri. Pelatihan-10: a. Tugas anggota-3: merumuskan latar belakang penulisan buku yang diresensi. Tugas anggota-2: menulis paparan isi buku secara singkat atau gambaran isi buku secara keseluruhan. Bacalah teks “penutup” sebuah resensi berikut! .

kata-kata jenuh dan mubazir. Dengan referensi buku ini. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah penilaian kelebihan dan kelemahan buku. kita pun bisa memprediksi gebrakan apa lagi yang akan dibuat dan mengerti jika suatu saat sang tokoh kita ini tiba-tiba “berubah”. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah pertimbangan kepada pembaca agar membaca atau membeli. Sayangnya. Masih ditemukan di sana-sini kalimat yang kurang tertib menurut kaidah EYD. apa kritik atau saran itu. apa kelebihan dan kelemannya. Jika ada.Menulis Resensi Buku 4-27 Materi dalam buku ini cukup komprehensif. Apalagi. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Namun demikian. is perlu reediting. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Sumber: Romli (2003:81—82) b. rumuskan penilaian itu menurut bahasa Anda sendiri. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Anda masih bekerja dalam kelompok masing-masing. Karenanya. berkaitan dengan isu suksesi dan aksi politiknya menyatakan siap menjadi presiden. Amien Rais. Bagi kaum muda Muslim. telah teruji secara ilmiah dan aktual. khususnya di Indonesia. salah satu tokoh dalam buku ini. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. tengah menjadi newsmaker dewasa ini. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah kritik atau saran kepada penulis. sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Untuk membimbing Anda. Sehingga. buku ini tetaplah penting untuk dibaca dan dimiliki. utamanya bagi mereka yang selama ini dibuat “bingung” oleh aksi dan pemikiran keempat tokoh tersebut. ada pertimbangannya. atau sebaliknya. pengeditan buku ini tampak dilakukan tergesa-gesa. buku ini layak kita ucapi selamat datang. Jika ada. apalagi yang tergerak untuk meneruskan perjuangan mereka dalam kerangka penegakan ajaran Islam. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah saran- . buku ini dapat menjadi referensi utama bagi penentuan strategi dakwah masa depan. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut.

Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi lima orang.4-28 Menulis Resensi Buku saran perbaikan bagi penerbitnya. Pelatihan-12: a. Hasilnya ditata ke dalam sebuah teks yang padu. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu. apa saran-saran perbaikannya. e. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu jawaban kelompok. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. d. Jika ada. dari bagian awal sampai akhir. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. c. Rumuskan ulasan Anda secara individu ke dalam bentuk tulisan. Tugas anggota-1: memberikan penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Hasil ini masih perlu dikomunikasikan kepada kelompok lain. Tugas ang-gota-2: memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan buku. d. Hasil rumusan itu adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Tugas anggota-5: memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki. c. Tugas anggota-3: memberikan saran dan kritik kepada penulis tentang kekurangan yang ada. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Ini adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. . Bacalah bagian buku secara keseluruhan. Tugas anggota-4: memberikan saran dan kritik kepada penerbit demi penyempurnaan pe-nerbitan. b. atau tidak.

BUKU AJAR APRESIASI SASTRA INDONESIA .

serta mampu mengapresiasi prosa. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. Menjelaskan bekal awal pengapresiasi sastra 3. Menjelaskan perbedaan antara kegiatan langsung dan taklangsung dalam apresiasi sastra 4. B. bekal awal pengapresiasi sastra. bekal awal pengapresiasi sastra. E. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra 2. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa.BAB I. C. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar apresiasi sastra yang meliputi pengertian apresiasi sastra. puisi. INDIKATOR 1. D. penghargaan. DESKRIPSI Penyajian teori apresiasi sastra yang meliputi meliputi pengertian apresiasi sastra. KONSEP DASAR APRESIASI SASTRA A. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. URAIAN MATERI Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. kepekaan pikiran kritis. Menjelaskan berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra. puisi. . dan drama.

Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra.misalnya. unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya . Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unnsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sebagaimana yang diuraikan berikut ini. atau unsur ekstrinsik karya sastra. Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik. 1 Pengertian Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sastra. memahami. yakni (1) aspek kognitif. apresiasi melibatkan tiga unsur inti. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. menikmati. atau unsur intrinsik karya sastra. maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran karya sastra. dan (2) aspek evaluatif. sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi. apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin serta (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.5-2 Apresiasi Bahasa Indonesia Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. Unsur intrinsik yang bersifat objektif itu. Adapun unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang. Oleh karena itu. aspek tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna yang tersurat. Pada sisi lain. latar proses kreatif penciptaan. dan menilai karya sastra yang dibaca. dan unsur-unsur di luar teks sastra itu sendiri. Selain itu. Dalam konteks yang lebih luas. (2) aspek emotif.

Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi tersebut. Dengan kata lain. tekun membaca buku. misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. secara imajinatif.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-3 memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. indah tidak indah. Bagaimana penyimpulan makna yang dipaparkan lewat cara penampilan pelaku serta penataan setting yang terpapar secara sugestif tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh kepekaan pembaca yang pada dasarnya dibentuk oleh endapan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. kepekaan pikiran kritis. keterlibatan unsur penilaian dalam unsur ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespons karya sastra yang telah dibaca sampai pada tahap pemahaman dan penghayatan. pelaku wanita yang tampil dengan pupur tebal di tengah malam duduk sendirian di sebuah nite club akan memberikan sugesti makna yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelaku wanita yang tampil dengan jernih. serta sejumlah ragam penilaian utama yang tidak harus hadir dalam serbuah karya kritik. Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan terhadap penilaian baik buruk. mampu menghayati kualitas ragam hidup demikian. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Effendi (1982) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. tentu mampu memberikan penilaian. tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. pembaca yang telah memahami karakter pelaku yang tampil dengan pupur tebal. dirinya. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur signifikan tertentu. tengah malam duduk sendirian di kamarnya. Dari pendapat itu juga disimpulkan . sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian. Sebagai contoh. penghargaan. sesuai-tidak sesuai. duduk di nite club sendirian tengah malam. Misalnya.

Kegiatan apresiasi karya sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra. serta mengevaluasi karya sastra. kegiatan dalam rangka kemampuan . membaca artikel yang berhubungan dengan sastra baik di majalah maupun koran. menumbuhkan sungguh-sungguh. Kegiatan apresiasi karya sastra selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. 2. Kegiatan membaca karya sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca/mendengarkan. Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati karya sastra secara langsung. melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara kongkret. baik yang berupa prosa. memahami. Kegiatan Langsung dan Tak Langsung dalam Mengapresiasi Karya sastra Dari uraian pengertian apresiasi sastra sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya.5-4 Apresiasi Bahasa Indonesia bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab sikap dengan teks sastra yang serta diapresiasinya. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung. serta mempelajari sejarah sastra. sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya. menikmati. Kegiatan itu disebut sebagai apresiasi sastra secara tidak langsung karena pada akhirnya selain dapat mengembangkan pengetahuan seseorang tersebut juga akan meningkatkan tentang sastra. puisi. maupun drama. mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra.

Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguhsungguh dan berulang-ulang kepekaan sehingga dan dapat perasaan melatih dalam dan rangka mengembangkan pikiran mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan atau lisan. juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontempelasi batin. 3 Bekal Awal Pengapresiasi Karya Sastra E. Kellet mengungkapkan bahwa pada saat membaca suatu karya sastra.E. ia selalu berusaha menciptakan sikap serius. Sementara pada sisi lain. dan struktur wacana. politik. karya sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya. Penumbuhan sikap serius dalam membaca karya sastra itu terjadi karena karya sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-5 mengapresiasi suatu karya sastra. Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa karya sastra. filsafat. . maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. media tulisan/lisan. Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut akan tergambar lewat media kebahasaan. kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperanan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra. tetapi dengan suasana batin riang. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Dengan demikian.

sastra sebagai salah satu cabang seni. sebagai bacaan. . maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan. Terdapatnya berbagai unsur karya sastra sebagaimana tersebut mengimplikasikan bahwa untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. politik. (3) media pemaparan baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat di dalam karya sastra. Dari keseluruhan uraian tersebut dapat diambil simpulan bahwa karya sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks. dan (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik karya sastra itu sendiri sebagai suatu teks. serta berbagai kompleksitas masalah kehidupan. lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics. Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut sebagai bekal awal karena untuk mampu mengapresiasi karya sastra seseorang harus secara terus menerus menggauli karya sastra. filsafat.5-6 Apresiasi Bahasa Indonesia Dengan demikian. Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu salah satunya ditandai oleh adanya unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text karena teks sastra bagaimana pun memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra. misalnya buku filsafat dan psikologi. baik lewat penghayatan atas kehidupan secara intensif-kontemplatif. antara lain (1) unsur keindahan. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya. (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan.

(2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana. Hal itu disebabkan adanya (1) perbedaan tujuan dan apa yang diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-7 Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah. (4) pendekatan sosiopsikologis. Oleh sebab itu. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. sedangkan kegiatan menggauli karya sastra sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. yakni level objektif yang berhubungan dengan respons intelektual dan level subjektif yang berhubungan dengan respons emosional.1 Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang menggugah perasaan pembaca yang dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan yang lucu dan menarik. dalam kegiatan apresiasi karya sastra. Lebih lanjut. dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. . melainkan juga berhubungan dengan usaha pemahaman kandungan makna yang umumnya bersifat konotatif. Brooks membedakan adanya dua level. 4. kepekaan emosi dan perasaan itu bukan hanya berhubungan dengan kegiatan penghayatan dan pemahaman nilai-nilai keindahan. yakni jika pembaca semakin sering dan akrab dengan kegiatan membaca karya sastra. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. (2) pendekatan analitis. (3) pendekatan historis. 4 Pendekatan dalam Mengapresiasi Karya Sastra Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan dalam mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. dan (5) pendekatan didaktis (Aminudin 1995).

dan (3) setiap elemen dapat dibicarakan secara terpisah tetapi pada akhirnya setiap elemen harus disikapi sebagai satu kesatuan. melalui pendekatan ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) adakah unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. (3) bagaimana wujud keindahan itu setelah digambarkan pengarangnya. sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya. (2) setiap elemen dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. sarkasme.5-8 Apresiasi Bahasa Indonesia Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. (2) bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu. atau komedi. . Dalam pelaksanaannya. (4) bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra yang dibaca. elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur intrinsik sehingga membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya. Untuk menemukan dan menikmati karya sastra yang mengandung kelucuan. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan analitis adalah bahwa (1) karya sastra dibentuk oleh elemen-elemen tertentu. cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ideidenya. 4. dan (5) berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan. pembaca tentunya harus memilih karya sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu.2 Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan. satirik. misalnya ragam humor.

(3) bagaimana peran setiap unsur dan bagaimana hubungan antarunsurnya. . latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya prosa fiksi yang dibaca. 4. 4. (4) menganalisis fungsi setiap unsur dalam rangka mewujudkan karya sastra. Adapun secara konkret langkah-langkah yang harus ditempuh adalah (1) membaca teks secara keseluruhan.4 Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya. dan (4) bagaimana cara memahaminya. serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman. maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat karya sastra diwujudkan.3 Pendekatan Historis Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang. (3) memahami mekanisme hubungan antarunsur intrinsiknya. kehidupan masyarakat. (2) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang dibacanya. Selain itu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-9 Dalam pelaksanaannya. penerapan pendekatan analitis selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) unsur-unsur apakah yang membangun karya yang saya baca ini. pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna suatu karya sastra. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan historis adalah adanya anggapan bahwa karya sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya. (2) bagaimana unsur-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangnya.

yakni pendekatan yang satu digunakan secara bersamaan dengan pendekatan yang lain. komentar. (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakap. 4. penerapan pendekatan didaktis dilakukan melalui upaya memahami satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu karya sastra yang disarikan dari paparan gagasan pengarang yang berupa tuturan ekspresif. atau bahkan salah. kita dapat menyimpulkan nilai-nilai apa yang terkandung di dalam karya sastra yang kita hadapi. tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. filosofis. Dalam pelaksanaannya. Demikianlah berbagai pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra. Dari pemahaman tersebut. melalui pendekatan ini kita berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa karya itu diciptakan. maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis. berbagai pendekatan itu pada umumnya digunakan secara eklektik. tanggapan. lakuan. maupun deskripsi peristiwa dari pengarang. Adapun alasannya adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan. . dialog.5 Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis berusaha menemukan dan memahami gagasan. Dalam pelaksanaannya. maupun agamis. dan (3) penerapan pendekatan secara eklektik sesuai dengan konpleksitas aspek maupun keragaman karakteristik karya sastra itu sendiri.5-10 Apresiasi Bahasa Indonesia Dalam pelaksanaannya. dan bagaimana hubungan antara karya sastra dengan zamannya. sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. Gagasan. bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya.

kepekaan pikiran kritis. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. . RANGKUMAN Apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. (2) pendekatan analitis. Apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. (3) pendekatan historis. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan/lisan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-11 F. dan (5) pendekatan didaktis. Pendekatanpendekatan tersebut sebaiknya digunakan secara eklektik. penghargaan. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan. Untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. (4) pendekatan sosiopsikologis.

jenis. C.BAB II. Menjelaskan hakikat. dan drama. Mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. dan unsur prosa 2. Hakikat Prosa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). Hal itu disebabkan prosa (yang untuk pembicaraan selanjutnya disebut prosa fiksi) merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. B. DESKRIPSI Penyajian konsep dasar prosa yang meliputi pengertian ahakikat. URAIAN MATERI 1. jenis. khayalan. serta mampu mengapresiasi prosa. yang berarti cerita rekaan (cerkan) atau “khayalan”. prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. MENGAPRESIASI PROSA A. INDIKATOR 1. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. puisi. dan unsur prosa serta praktik mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya . jenis. Dengan kata lain. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar prosa yang meliputi hakikat. E. puisi. dan unsur pembangun prosa serta mampu mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa.

Dengan demikian. meskipun dalam beberapa aspek menunjukkan kesamaan. tokoh. prosa fiksi. Walaupun berupa khayalan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. sedangkan di dalam karya nonfiksi bersifat faktual. kebenaran dalam prosa fiksi tidak sama dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Prosa fiksi menawarkan sebuah dunia yang dibangun melalui cerita. sesama. dan tempat yang disebut-sebut di dalam prosa fiksi bersifat imajinatif. menurut Alterbern dan Lewis. prosa fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. Dengan demikian. dan latar yang semuanya tentu saja bersifat imajinatif. tokoh. Sebagai karya imajinatif.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-13 dalam dunia nyata. Oleh karena itu. diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif. prosa fiksi bukan sekadar hasil kerja lamunan. dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. peristiwa. kontemplasi. tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. . hidup dan kehidupan. Dapat dikatakan bahwa dunia dalam prosa fiksi merupakan 'dunia lain' di samping kenyataan. Jika dibandingkan dengan karya nonfiksi. 'dunia' dalam prosa fiksi dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa faktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi. peristiwa. dan Tuhan. dirinya sendiri. prosa fiksi merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. akan tetapi semua itu berjalan dengan sistem dan koherensinya sendiri. Meskipun demikian. Prosa fiksi menampilkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. Ia merupakan hasil dialog.

pengarang cerita rakyat pada umumnya tidak dikenal serta ceritanya sangat mudah berubah dari waktu ke waktu. terjadinya pada masa yang belum begitu lampau. legenda adalah cerita rakyat yang dianggaps ebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. dan gejala alam. Contoh mite adalah cerita Dewi Sri dari Jawa dan Mado-Mado dari Pulau Nias. Mite pada umumnya mengisahkan alam semesta. Cerita rakyat dikenal dan diceritakan dalam kalangan masyarakat. percintaan. di antaranya adalah mite. a. dan dongeng. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita. 1) Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang sejak belum terdapat tradisi tulisan. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. hubungan kekerabatan. atau mkakhluk setengah dewa. Prosa Fiksi Lama Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. dan bertempat di dunia seperti yang kita . Peristiwa terjadi didunia lain. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. Mite ditokohi oleh para dewa. terjadinya maut. berbeda dengan mite. Mite juga mengisahkan petualangan. kegenda bersifat keduniawian. bentuk khas binatang.5-14 Apresiasi Bahasa Indonesia 2. Hanya saja. dunia. Oleh karena sifatnya yang demikian. atau kisah perang para dewa. manusia pertama. Jenis Prosa Fiksi Menurut sejarah perkembangannya. atau di dunia yang bukan seperti yang kt akenal sekarang dan terjadi di masa lampau. legenda. Seperti halnya mite. dibacakan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga cerita itu dirasakan sebagai milik bersama. Di dalam tradisi lisan terdapat berbagai jenis cerita rakyat. bentuk topografi.

Berdasarkan asal ceritanya. misalnya Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar. di dalamnya bercampur aduk antara lukisan Melayu asli dan dewa-dewa Hindu yang menjelma. Contoh legenda adalah kisah terhadinya Rawa Pening. dan seraingkali dibantu oleh makhlukmakhluk ajaib. hikayat dapat dibedakan menjadi (a) hikayat asli Melayu. Contoh dongeng adalah Timun Emas. Prosa Fiksi Baru . Legenda ditokohi manusia. Tangkuban Perahu. dan (d) hikayat yang mendapat pengaruh Arab. b.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-15 kenal sekarang. (b) hikayat yang mendapat pengaruh dari jawa. asal mula terjadinya nama Banyu Wangi. kepercayaan Hindu. Meskipun hikayat sebenarnya bentuk asli kesusasteraan Indonesia. misalnya dongengdongeng binatang. walaupun ada kalanya mempunyai sifat yang luar biasa. Dongeng biasanya diceritakan untuk hiburan. walaupun banyak yang juga melukiskan kebenaran. misalnya Hikayat Srang Manyang dan Hikayat Malim Deman. dan cerita Batu Belah. dan sebagainya. berisikan pelajaran (moral) atau sindiran. nabi-nabi Islam. Hikayat umumnya menceritakan riwayat ajaib tentang putera dan puteri raja. (d) hikayat yanag mendapat pengaruh dari Persia. sejarah. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. pada perkembangannya kemudian tercampur dan terjalin dengan ceritacerita asing. 2) Hikayat Hikayat adalah bentuk cerita fiksi yang lain dalam kesusasteraan lama. misalnya Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Damar Wulan. Kancil dan Buaya. misalnya Hikayat Perang Pandawa Lima dan Hikayat Sang Boma. (c) hikayat yang mendapat pengaruh Hindu. dan Bawang Merah Bawang Putih. misalnya Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Raja-Raja Pasai.

tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya. (2) novel sejarah. psikologis. kemudian dicari-cari perbedaannya. yakni cerpen. Karena keluasannya. yaitu novel avontur. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks. dan ketidakhadirannya tidak akan mengganggu keutuhan cerita. (6) novel psikologis. dan kolektif. Sebenarnya kedua bentuk cerita itu pada hakikatnya sama. Di samping novel. politik. dan (7) novel percintaan. dan latar yang beragam pula. prosa fiksi baru dibagi menjadi dua jenis yaitu novel dan cerpen. Di samping itu ada yang membagi novel menjadi dua. novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. ditektif. (3) novel adat. Tetapi. (5) novel politik. 2) Cerita Pendek . 1) Novel Dalam arti luas. sosial. dalam novel dimungkinkan adanya degresi. (4) novel anak-anak. ukuran luas disini tidak mutlak sifatnya. Penggolongan lain dilakukan oleh Mochtar Lubis yang membagi novel menjadi 6 jenis. di Indonesia juga dikenal istilah roman. novel dibedakan menjadi (1) novel bertendens. suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada cerita rekaan yang lain. Degresi atau lanturan adalah masuknya masalah yang tidak begitu integral dalam cerita yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. suasana cerita yang beragam. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang juga berbeda. karakter yang banyak. yakni novel serius dan novel populer yang masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri.5-16 Apresiasi Bahasa Indonesia Secara garis besar. Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang mendominasi novel yang ditulisnya. baik dilihat dari segi teknik berceritanya maupun isi yang diungkapkan pengarang.

Predikat pendek di sini bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu. tidak beragam.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-17 Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita. Dalam kesingkatannya. Dengan demikian. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. dalam cerpen tidak mungkin muncul degresi atau lanturan sebagaimana yang biasa terjadi dalam novel. Cerpen hanya memusatkan perhatian pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita. Unsur Pembangun Prosa Fiksi Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur. cerpen merupakan karya sastra yang lengkap dan selesai sebagai suatu bentuk karya rekaan. Pembagian lain dikemukakan oleh Stanton (1965). dan tidak kompleks. Ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi tiga bagian. cerpen hanya mempunyai efek tunggal. Ruang lingkup permasalahan yang diungkapkan di dalam cerpen adalah sebagian kecil dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. sedangkan unsur isi adalah sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu. karakter. Sarana cerita itu meliputi unsur judul. tokoh. a. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan lewat bentuk karya itu. dan latar. atau sedikitnya tokoh yang terdapat di dalamnya. Cerpen mempunyai kecenderungan berukuran pendek dan pekat. Yang perlu diingat adalah bahwa dalam kesingkatannya. dan tema cerita. serta gaya (bahasa). Alur . 3. dan latar yang terbatas. sudut pandang. Oleh karena itu. alur. yakni fakta cerita. sarana cerita. kepaduan merupakan syarat utama sebuah cerpen.

Tahap awal biasanya disebut tahap perkenalan. Tahap tengah atau pertikaian menampilkan peningkatan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal. Adapun tahap akhir atau peleraian menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Peristiwa A merupakan awal cerita. konflik eksternal. diikuti oleh peristiwa B yang . Bahkan. yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh. yaitu konflik antara tokoh dengan hal lain di luar dirinya. atau manusia dengan Tuhan. manusia dengan alam. Dalam tahap tengah inilah klimaks dimunculkan. Konflik-konflik itu dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri). alur selalu menampilkan konflik-konflik. dari konflik kecil sampai konflik yang besar. atau kedua-duanya sekaligus. bagian ini menunjukkan bagaimanakah akhir sebuah cerita yang penyelesaiannya bisa bersifat tertutup dan bisa juga terbuka. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa. dan utuh. Pada tahap awal cerita konflik sedikit demi sedikit mulai dimunculkan. dalam alur akan dijumpai puncak-puncak konflik. Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. Jadi. Peristiwa dalam prosa fiksi dapat disusun dengan mengikuti garis lurus. dapat pula berupa konflik eksternal. bulat.5-18 Apresiasi Bahasa Indonesia Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu. Dengan kata lain. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal. Peristiwa-peristiwa yang jalin menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut alur. misalnya. berupa pengenalan tentang waktu dan tempat terjadinya peristiwa dan pengenalan tokoh cerita. yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. misalnya antara manusia dengan manusia lain.

b. dan berakhir dengan peristiwa C sebagai penutup cerita. pembaca dibawa kembali ke inti cerita. pengarang memiliki kebebasan kreativitas. Tokoh dan Penokohan Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. yaitu (1) tokoh sentral atau tokoh utama dan (2) tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Melalui cara itu. misalnya dalam Tinjaulah Dunia Sana karya Maria Amin. Contoh cerita yang menggunakan susunan seperti itu adalah Atheis karya Achdiat Kartamiharja. Ketika sedang berada pada peristiwa pokok. Peristiwa tidak disusun secara urut dari peristiwa awal sampai peristiwa akhir. Urutan seperti itu dinamakan alur sorot baik. pertama. tiba-tiba pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu. Tokoh sentral atau tokoh utama yang disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan . dan ketidaktentuan (suspense). dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. Tokoh pada umumnya berwujud manusia. melainkan dari peristiwa akhir kemudian baru dikisahkan peristiwa yang mendahuluinya. Cara yang lain adalah dengan menggabungkan dua cara di atas. Urutan peristiwa seperti itu disebut alur lurus. atau benda yang diinsankan. tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua. Kaidah yang dimaksud meliputi masalah kemasukakalan (plausibility). pembaca langsung diajak masuk ke dalam peristiwa pokok. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. kejutan (surprise).Apresiasi Bahasa Indonesia 5-19 merupakan inti cerita. Dalam membaca urutan cerita yang demikian pembaca seolah-olah diajak untuk mengenang peristiwa masa lalu. meskipun dapat juga berwujud binatang. Namun demikian. Ada pula prosa fiksi yang disusun sebaliknya. ada semacam ketentuan atau kaidah yang perlu dipertimbangkan. Dalam membentuk alur tertentu. Setelah kenangan itu habis.

tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Karena sebuah prosa fiksi biasanya melibatkan beberapa tokoh. (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. antara lain dengan mencermati: . yang berhasil mengisinya dengan darah dan daging akan dengan sendirinya meyakinkan kebenaran ceritanya. dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Yang termasuk tokoh bawahan misalnya tokoh andalan. Jelasnya. yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. Biasanya tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh itulah yang disebut penokohan. Yang ingin diungkapkan pengarang melalui cerkan adalah manusia dan kehidupannya. pengarang berusaha menyajikan sosok tokoh cerita itu di hadapan pembaca. Peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadina perubahan sikap terhadap diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap cerita tersebut. Bagaimana kita pembaca mengenali watak tokoh-tokoh cerita? Ada beberapa cara yang dapat membawa pembaca sampai pada sebuah simpulan tentang watak tokoh. tokoh utama atau tokoh sentral suatu prosa fiksi dapat ditentukan dengan paling tidak tiga cara. Agar manusia yang perikehidupannya diceritakan itu lebih jelas bagi pembaca. perlu bagi pembaca untuk menentukan tokoh sentralnya. dantokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) ialah tokoh yang tidak sentral dalam cerita. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya. Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita dijumpai adanya tokoh datar/sederhana/pipih yang wataknya tidak berkembang dan tokoh bulat/kompleks/ bundar yang wataknya berkembang dan kompleks sehingga terlihat kelemahan dan kelebihannya dan dapat dibedakan dari watak tokoh lain.5-20 Apresiasi Bahasa Indonesia cerita itu ada.

Dalam hal ini penulis memberitahukan panjang lebar watak tokoh secara langsung. Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah cara penting untuk menggambarkan watak tokoh. orang dengan pendidikan rendah atau tinggi. dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita disebut latar atau setting. apa yang diperbuatnya. Waktu. sabar. Jadi. 4. petunjuk. Latar Cerita merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu di suatu tempat dan dalam suasana tertentu. latar meliputi penggambaran (1) lokasi geografis. tetapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. ucapan-ucapannya. bentuk tubuhnya. penerangan langsung. terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. sampai pada rincian sebuah ruangan. 3. pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. orang berbudi halus atau kasar. gambaran latar atau lingkungan tempat tinggal tokoh. latar meliputi segala keterangan. dan baik hati. pemandangan. tempat. wanita atau pria. Secara terinci. dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita. Situasi kritis di sini tidak perlu mengandung bahaya. sukunya. kita dapat mengenali apakah ia orang tua. (2) waktu terjadinya . 2. misalnya pengarang menjelaskan bahwa tokoh A adalah orang yang jujur. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita. tindakan-tindakannya. 6. pengacuan yang berkaitan dengan tempat. ciri-ciri fisiknya yang dapat menunjukkan watak tokoh yang bersangkutan. 5. dan sebagainya. waktu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-21 1. Penulis sering membuat deskripsi tentang bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya: tentang cara berpakaiannya. penggambaran fisik tokoh. c. pikiran-pikirannya. 7.

latar hendaknya mempunyai fungsi untuk menggarap alur. tema. atau menunjukkan sifat-sifat manusia pada suatu saat di suatu tempat. Kegunaan latar biasanya bukan semata-mata sebagai petunjuk kapan dan di mana cerita itu terjadi. biasanya pengarang tidak akan sembarangan dalam menentukan latar cerita. dan (3) lingkungan agama. dan emosional para tokoh cerita. latar kota Jakarta menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu: suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang yang menyebabkan orang mudah merasa terasing. Dari latar wilayah tertentu harus dihasilkan watak tertentu. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. misalnya nilai kebenaran. daerah. bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. untuk memperkenalkan adat istiadat suatu daerah. intelektual. Sudut Pandang . adat kebiasaan. d. melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai. dan sebagainya. cinta kasih.5-22 Apresiasi Bahasa Indonesia peristiwa. dapat berbicara soal-soal khusus seperti pelarian. suasana tertentu. dan penokohan. Adapun Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya. dan atau tema tertentu. dan kemanusiaan. misalnya. latar yang hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. disebut latar netral. Dengan demikian. Dalam prosa fiksi. artinya hanya sekadar memberi petunjuk bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi di suatu tempat pada waktu dan suasana tertentu. patriotisme. Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik (material). dendam. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual. Sebaliknya. yaitu bangunan. cara hidup. Karena itu. pengkhianatan. dapat dikatakan bahwa latar bukan sekadar background cerita. sosial. moral. dan keagungan Tuhan yang akan diungkap pengarang melalui cerita tersebut. Misalnya dalam cerpen "Jakarta". sejarahnya. musim terjadinya. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat. Cerita dengan latar perang.

teknik. pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya. atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut Pandang Orang Ketiga memiliki dua kemungkinan. Ronggeng . dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Di samping jenis-jenis sudut pandang di atas. tindakan. atau menyebut nama tokoh. yakni sudut pandang Orang Pertama (Pencerita Akuan) dan sudut pandang Orang Ketiga (Pencerita Diaan). bahkan mampu mengungkap pikiran. Akan tetapi mulai bagian kedua. Orang Ketiga Mahatahu apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita. dari alam. sedangkan apabila pencerita menjadi tokoh bawahan disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Bawahan atau Akuan-Taksertaan. tatanan sampai mitos sejarahnya. Orang Ketiga Terbatas apabila pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar. Bagian pertama novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang Diaan Serba Tahu. Dalam sudut pandang Orang Pertama. misalnya. latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Seperti dalang. Dalam kisahannya pencerita mengacu kepada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti Orang Ketiga (ia.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-23 Sudut pandang atau point of vieuw merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. Yang pertama. Sudut pandang dibagi menjadi dua. Yang kedua. yang juga disebut pencerita "Akuan". Dalam sudut pandang Orang Ketiga. pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi. Dengan demikian. pencerita berada di luar cerita. tradisi. Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Utama atau Akuan-Sertaan. dia). sering kita jumpai prosa fiksi yang menggunakan sudut pandang campuran. Ahmad Tohari mendongeng tentang Dukuh Paruk.

relevansinya dengan sifat cerita. Berdasarkan kekurangan dan kelebihannya itu. dia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi. Tetapi karena ia harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu sudut. setiap sudut pandang ada kelebihan dan kekurangannya. Di lain pihak. Apabila digunakan sudut pandang diaan terbatas. Di samping itu. “Aku” secara langsung dan dengan bebas dapat emnyatakan sikap. Ia tidak dapat menduga dalam-dalam pikiran dan sikap tokoh lain. ceritanya menjadi sangat padu. dan pembaca. Cerita tersaji melalui mulut tokoh Aku. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk. perubahan sudut pandang dalam novel itu juga berkaitan dengan perubahan karakter tokoh Rasus. tetapi ada keterbatasan karena sudut pandangnya bersifat sepihak. penggunaan sudut pandang Orang Ketiga dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak dalam waktu yang bersamaan. Ditinjau dari penangkapan dan pemahaman cerita oleh pembaca. bahkan . pencerita tidak dapat memperkenalkan apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat lain.5-24 Apresiasi Bahasa Indonesia Dukuh Paruk disajikan dengan menggunakan sudut pandang Akuan Sertaan. Di samping itu. tetapi tentang tokoh lain ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. dan perasaannya sendiri kepada pembaca. sudut pandang Orang Pertama cocok untuk cerita dengan kecenderungan psikologis. Apabila digunakan sudut pandang diaan serba-tahu. yakni Rasus. Sudut pandang Orang Pertama cepat membina keakraban antara cerita dan pembaca. dari pola pemikiran tradisional menuju ke pemikiran yang modern. dan kemudian pembaca semakin dekat dengan peristiwa yang disajikan dalam cerita. pikiran. Perubahan sudut pandang dalam sebuah prosa fiksi biasanya memiliki nilai-nilai tertentu. ceritanya menjadi lebih bersifat objektif. perubahan sudut pandang diaan ke akuan mengisyaratkan adanya sebuah kesan “meninggalkan” negeri dongeng.

dan sarana retorika. Oleh karena itu. . dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya. Akan tetapi kelemahannya. gaya pengarang adalah suarasuara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya. Secara sederhana. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lain. penggunaan sudut pandang diaan serba tahu bertentangan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. kalimat. yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. dapat dikatakan bahwa menganalisis gaya sebuah cerita rekaan berarti menganalisis wujud verbal karya sastra itu sendiri. sering dikatakan bahwa gaya adalah oranngnya. unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi unsur leksikal. gaya dapat didefinisikan sebagai cara pemakaian bahasa yang khas oleh seorang pengarang. e. Seorang pengarang selalu menyajikan halhal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. kelompok kata. Secara ringkas. Gaya dan Nada Gaya merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. dan penyiasatan struktur. semua pengarang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri. Dalam artian ini. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-25 dapat menembusi pikiran dan perasaan tokoh. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan. gramatikal. dan ungkapan yang menentukan keberhasilan. Unsur leksikal menyangkut diksi. Berdasarkan pengertian gaya sebagaimana tersebut di atas. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya. keindahan. bahasa kias. Ia dapat berkomentar dan memberikan penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya.

tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita. Tema bisa saja hanya berwujud hasil pengamatan pengarang terhadap kehidupan. kesimpulannya. Pengarang bisa hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan tanpa memberikan jalan keluarnya. ide. Nada yang sering disamakan dengan istilah suasana adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. atau pikiran utama yang mendasari sebuah cerita rekaan. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. menegangkan. tema tidak perlu selalu berwujud ajaran moral. untuk memahami tema kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembangunnya. serta menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. Jadi. mencekam.5-26 Apresiasi Bahasa Indonesia Yang dimaksud sarana retorika adalah penggunaan berbagai bentuk kebahasaan untuk memperjelas dan memperindah pengungkapan sehingga dihasilkan wacana yang efektif dan khas. Suasana cerita dapat berkisar pada suasana yang bersemangat. Meskipun demikian. Ia terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. atau bahkan hanya hasil pengamatannya saja. melankolis. romantis. religius. tragis. mengharukan. Tema dan Amanat Tema merupakan gagasan. wajar. f. sementara kita sebagai pembaca baru memahami tema setelah kita selesai memahami unsur-unsur pembangun yang menjadi media pemaparan tersebut. Salah satu fungsi gaya yang penting adalah sumbangannya untuk mencapai tone atau nada dalam prosa fiksi. menjijikkan. dan sebagainya. . menyimpulkan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu.

memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam cerita yang dibaca.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-27 Brooks (1975) mengungkapkan bahwa dalam mengapresiasi tema suatu cerita. perlu diperhatikan beberapa langkah berikut secara cermat: 1. mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. 5. melainkan tersebar di balik keseluruhan unsur cerita. serta tahapan ditampilkannya. Tema dalam hal ini inklusif di dalam cerita. 8. keberadaan tema tidak dirumuskan dalam satu atau dua kalimat secara eksplisit. 7. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lain yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam cerita. memahami alur ceritanya. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta merumuskannya dalam satu atau dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya. pokok pikiran. Meskipun demikian. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut . memahami peristiwanya. Dalam upaya pemahaman tema cerita. 2. menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok yang satuan peristiwa. b) Amanat/ Nilai/Pesan Moral Unsur lain yang dapat diperoleh sewaktu berusaha memahami tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. 6. 3. apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas karena tema sebenarnya merupakan pandalaman dan kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal. memahami latar prosa fiksi yang dibaca. 4.

4. Contoh Apresiasi Novel Pelabuhan Hati Karya Titis Basino dengan Pendekatan Analitik Pelabuhan Hati mengisahkan sebuah keluarga yaitu Ramelan beserta istrinya Rani.5-28 Apresiasi Bahasa Indonesia akan dapat dinemukan nilai-nilai yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaaan serta hidup kehidupan. Rima. ia marah dan minta cerai karena tidak mau dimadu. Jenis dan wujud pesan moral/ nilai dapat mencakupi seluruh persoalan hidup dan kehidupan yang meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. . Kehidupan Rani membaik walaupun tanpa suami. Untuk menopang hidupnya Rani kemudian membuka tempat kos dan menerima jahitan. Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja. Yang dimaksud nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Meskipun demikian. Ketika Rani mengetahui. dengan masyarakat dan lingkungannya. Nora. Semua kata dan kalimat harus benar-benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi pekerti. dan dengan Tuhan. Setelah Ramelan mendapat pekerjaan dan proyek. hidup mereka serba kekurangan. hidup mereka berkecukupan. Perubahan ini membuat Rani menjadi cerewet dan selalu ingin mengatur. misalnya. Prosa fiksi itu harus dibaca dengan sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerkan itulah yang sering disebut amanat. hidup mereka bahagia. dan keempat anak mereka Raja. Hal ini membuat Ramelan menjadi pendiam dan selingkuh dengan gadis lain yang bernama Laksmi yang tidak lain adalah langganan menjahit Rani. dan Preti. Pada awal pernikahan. Untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi dapat secara tersurat maupun secara tersirat.

kemudian bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga dalam sepuluh tahun. Ramelan kesepian dan ingin kembali pada Rani. Ramelan jatuh sakit dan akhirnya meninggal di pangkuan Rani. Bubarkan semua yang ada di sini. Dia sangat menyayangi keluarga. Memang membosankan berdekatan dengan perempuan nyiyir dan sok tahu urusan laki-laki. pendiam. dan aku bertambah cerewet. istri dan anak-anaknya. Dan aku tidak menyadari selama ini. “Ramelan selalu mengiyakan tuntutanku.” “Ini uang. dan mandiri. Cerewet.” “Dia tidak peduli soal-soal kecil. Dia tidak cerewet. Ia percaya bahwa wanita bukan makhluk yang lemah. Aku perlu berkumpul dengan anakanak.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-29 Perkawinan Ramelan dan Laksmi tidak membuahkan anak.” (PH) Ramelan adalah seorang laki-laki atau suami yang baik. Peristiwa berlanjut dengan pernikahan Ramelan dan Laksmi yang tidak . Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut. tegas. tetapi Rani menolak.” Walaupun sudah bercerai. Sebagai wanita sekaligus istri ia juga menyadari kelemahannya yaitu cerewet dan suka mengatur sehingga suaminya berpaling pada gadis lain. Ramelan masih peduli terhadap istrinya. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. tidak pernah mencela atau menegur.” (PH) Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. “Suratnya selalu mengatakan ingin menemuiku. Dia kini tambah pendiam. Ia telah berusaha bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak bergantung pada laki-laki. Yang dimaksud Laksmi. “Aku ingin kembali ke rumah ini. Rani sebagai tokoh utama memiliki sikap yang keras. itulah cela yang tidak disukai laki-laki. dimulai dari kehidupan awal Ramelan dan Rani sampai punya empat anak.

atau sesuatu yang tidak terjadi sungguhsungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata.” “Aku membaca surat Yasin. sedangkan prosa fiksi baru meliputi novel dan cerpen. Unsur pembangun prosa fiksi yaitu fakta cerita yang meliputi alur. Karena itu. Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. tokoh.” (PH) Adapun tema novel Pelabuhan Hati ini adalah ketegaran seorang wanita dalam menghadapi cobaan hidup. dan tidak selalu bergantung pada laki-laki.” “Aku terpana. Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa wanita sebenarnya bukan makhluk yang lemah. rumah Laksmi di Mampang. kemudian jatuh sakit dan meninggal. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. G. sudut pandang. F. serta gaya (bahasa). khayalan. dan latar. yaitu di rumah Rani. “Aku sibuk mengatur rumah baruku. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. mandiri.” “Aku inginkan ada kolam ikan. jadilah wanita yang tegar. Menurut sejarah perkembangannya. Novel ini berlatar di kota Jakarta. RANGKUMAN Prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. dan tema cerita. sarana cerita yang meliputi judul. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. LATIHAN/SOAL . Rumah Sakit Petambunan. Ramelan merasa kesepian. di rumah sakit Yayasan Kristen Jakarta. kuat.5-30 Apresiasi Bahasa Indonesia bahagia karena tidak punya anak. Diam dan mengawasi mereka berdua.

ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Perhitungannya ternyata meleset. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu. Cukup kerabat-kerabat terdekat. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Dengan demikian. lagu-lagu ngangdut atau kasidahan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-31 Bacalah cerpen berikut dengan saksama kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. tukang khitan. atau apa saja asal ada kasetnya. kini sudah mulai menagih. ludruk. Tapi mana bisa. Anaknya. Kemudian tak uasah nanggap wayang atau ketoprak. Cukup panggil calak. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek. Bahkan bisa lebih banyak. dengan bayaran dua ribu rupiah. untuk waktu sehari semalam penuh. Cobalah pikir. melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. tetapi terutama orangorang yang dulu pernah mengundanfgnya berhajat. . beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. malah rugi. pada acara khitanan anaknya ini. Daroji. yang belum sembuh karena dikhitan kemarin.

ya! Dia itu takut sama atasannya. Kang Dasrip misuh-misuh.-. pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana. Kang. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha. “Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji. Apa tak kurang ajar. dia masih merasa kurang kaya …!” . Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewannya. “Kau kira lurah kita itu pahlawan. Tak usah bingung. “Kau kira berapa sewan utnuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tak berani membantah. Ngomongnya saja Tebu Rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. tapi dia belum pernah merasa puas. padahal ikut makan dan minum.. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu.” Kang Dasrip tertawa kecut. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Yang dulu ia kasih beras sekilo. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. Yang dulu ia buwuhi Rp200. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar.” kaata istrinya lagi.” kata istri Kang Dasrip. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa.5-32 Apresiasi Bahasa Indonesia Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. “Sudahlah. uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya.” Tertawa Kang Dsrip mengeras. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo.sekarang Cuma ngasih Rp100.” “Usaha apa!” “Soal sewan tebu itu misalnya.

Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp200. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Daroji menangis. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. Tapi tentu saja ini sia-sia. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya. Mei 1992) . ributlah orang desa. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Nak …!” ujarnya. Ketika surat itu selesai diantarnya.-“ tulisnya. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Ada yang tertawa. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. “Radionya dicopet di pasar. Kang Dasrip naik pitam. kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. (Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip. “Memalukan desa kita!” Kecam mereka. kecuali nama yang memalukan. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam.. Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya. Istrinya ketakutan.kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100. di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. “Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat. ada yang memaki-maki. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-33 “Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih. Bahkan lebih dari itu.

di samping sebagai penanda waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita itu? Jika ada.5-34 Apresiasi Bahasa Indonesia PERTANYAAN a. Sebutkan peristiwa-peristiwa pokok dalam cerpen Kang Dasrip“ tersebut! b. jelaskan disertai data yang mendukung! f. Terangkan konflik yang dialami tokoh dan cara mengatasi konflik itu1 d. bagaimana gaya penceritaannya? Kemukakan dengan bukti yang mendukung pendapat Anda! i. Uraikan watak tokoh Kang Dasrip dan anaknya disertai data yang mendukung! e. Bagaimana peran pencerita (narator) dalam penggambaran watak tokoh? Jelaskan! h. Jelaskan hubungan antarperistiwa pokok dalam cerita itu! c. Sudut pandang apakah yang digunakan dalam cerpen tersebut? g. Adakah fungsi latar yang lain. Menurut Anda. Apakah tema dan amanat cerita tersebut? Uraikan disertai data yang mendukung! .

.

puisi. DESKRIPSI Penyajian konsep puisi yang meliputi hakikat. Artinya. Hakikat Puisi Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. atau pemusatan dan pemadatan. Menjelaskan hakikat dan unsur puisi 2. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. Mengapresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. URAIAN MATERI 1. C. jenis. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar puisi yang meliputi hakikat dan unsur pembangun puisi serta mampu mengapresiasi puisi dalam berbagai kegiatan berbahasa. serta mampu mengapresiasi prosa. pengarang tidak menjelaskan secara rinci apa . INDIKATOR 1. puisi. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa.BAB III. E. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi. dan unsur puisi serta praktik mengepresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. MENGAPRESIASI PUISI A. Berbeda dengan prosa. puisi bersifat konsentris dan intensif. B. dan drama.

Oleh karena puisi merupakan dunia simbol. pesan. dan keindahan puisi. yaitu memahami makna. Berdasarkan hal tersebut. pesan. pembaca harus menafsirkan puisi tersebut. tetapi juga pengaruh “rasa” yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. seorang pembaca harus memahami unsur-unsur pembangun puisi. majas.dan (2) mengekspresikan pengalaman puisi secara padat dan intens. 3. dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mempertimbangkan aspek maknanya. perasaan. nada dan suasana. pengimajian. Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. serta amanat (Waluyo 1991). bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. untuk memahami makna. melainkan hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian pokok atau penting. Penafsiran atau interpretasi terhadap puisi adalah pemberian makna terhadap teks puisi. serta tipografi. komposisi bunyi . Agar dapat menafsirkan puisi dengan baik. Diksi Diksi atau pilihan kata digunakan untuk (1)mendapatkan kepuitisan dan nilai estetis. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. versifikasi (rima dan irama). dan keindahan puisi. Pemberian makna itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna. kata konkret.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-35 yang ingin diungkapkannya. Struktur fisik meliputi diksi. Unsur-unsur Pembangun Puisi Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. a. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Akibat adanya intensifikasi tersebut. penyair memilih kata dengan mempertimbangkan makna dan daya sugestinya. Hal itu dilakukan bukan sebatas pada masalah yang disampaikan melainkan juga pada cara penyampaiannya.

yakni pengalaman yang dapat ditangkap melalui pancaindera. pembaca seolah-olah melihat. kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya. Misalnya. Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan. Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji atau daya bayang pembaca. Pengimajian ditandai oleh penggunaan kata-kata yang konkret dan khas. artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. b. kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. dan imaji pencecapan (rasa pahit di mulut). imaji pendengaran (haram gemerincing genta rebana). dan kedudukan kata itu dalam konteks secara keseluruhan.5-36 Apresiasi Bahasa Indonesia dalam rima dan irama. Pengimajian/ Pencitraan Pengimajinasian atau pencitraan adalah kata atau susunan katakata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris. pembaca akan terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. penyair menulis: hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan riang. Imaji yang ditimbulkan oleh penggunaan kata-kata itu dapat berupa imaji penglihatan (serupa dara dibalik tirai). mendengar. atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. imaji penciuman (udara berbau tembaga). Dengan penggunaan kata-kata konkret. c. Dengan demikian. kata-kata harus diperkonkret. d. imaji perabaan (cubit biar sakit). yakni secara tidak langsung . Kata-katanya juga dipilih yang puitis sehingga memperoleh efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Majas Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. Artinya.

dan personifikasi. Majas. Adapun lambang adalah penggantian sesuatu hal dengan hal lain. dan lambang suasana. e. misalnya perbandingan. Rima mempunyai peranan yang sangat penting dalam puisi karena hal tersebut berkaitan dengan nada dan suasana puisi. Analisis terhadap majas dalam puisi dapat dilakukan dengan menanyakan (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi. Wujudnya berupa kiasan dan lambang. dan rima sempurna. tetapi mungkin juga sengaja dimanfaatkan untuk mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan. Termasuk jenis rima. Termasuk ke dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata dalam puisi. rima awal. Tipografi dan Enjambemen Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Baris-baris puisi Sutardji “Tragedi Sihka dan Winka”. rima akhir. digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana puisi menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. ditulis . nada dan suasana puisi tercipta lebih nyata dan lebih dapat menimbulkan kesan pada benak pembaca. misalnya. lambang bunyi. (2) alasan penyair memilih majas tersebut. Penggunaan tipografi oleh penyair mungkin dimaksudkan sekadar untuk keindahan indrawi. aliterasi. misalnya asonansi. Kiasan adalah pembandingan sesuatu hal dengan hal lain. misalnya lambang warna. d. lambang benda. baik kiasan maupun lambang. Dengan bantuan unsur rima. metafora.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-37 mengungkapkan makna. dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas tersebut. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi.

Enjambemen dapat pula dimanfaatkan untuk mengaburkan makna sehingga menyebabkan puisi menjadi multitafsir. gembira. apakah dia bersikap menggurui. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut. dengan binatang. Tema puisi sangat luas menyangkut hubungan antara manusia dengan diri sendiri. dan dengan Tuhan.5-38 Apresiasi Bahasa Indonesia berbentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan. atau pemberontakan. mengejek. menasihati. seperti haru. enjembemen ini perlu memperoleh perhatian karena akan sangat menentukan makna puisi. Nada dan Suasana Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca. hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. dengan manusia lain. Sebagai contoh ada tema ketuhanan yang menunjukkan pengalaman religi penyair. Tema Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair di dalam puisinya. sesuai dengan makna puisi. atau bersikap lugas. sedih. menyindir. dengan alam. Wujudnya berupa pemisahan bagian kalimat (kata/kelompok kata) dan pemindahan bagian kalimat itu ke larik berikutnya. dan tema percintaan yang melukiskan cinta dan kasih sayang. tema sosial yang melukiskan kondisi masyarakat yang lebih merupakan protes sosial. suasana adalah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. iba. Adapun enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi dan hubungan antarbaris dalam puisi tersebut. g. f. tema kebangsaan yang melukiskan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. . Atau dengan kata lain. Dealam pemaknaan puisi. Enjambemen dimaksudkan untuk memberikan penekanan atau penonjolan.

atau pesan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. (f) memahami tipografi dan enjambemen. 5. (e) memahami bait dan baris. Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku Aku takut. 4. Nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. h. Amanat (Pesan) Amanat adalah maksud.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-39 Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. yaitu (a) memahami judul. anak-anakku Selain buku-buku dan sedikit ilmu Sumber pengabdian kepadamu. imbauan. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati bagi pembacanya. (d) memahami majas. (c) memahami kata ganti. Contoh Apresiasi terhadap Puisi “Dari Seorang Guru kepada MuridMuridnya” Karya Hartoyo Andangjaya dengan Pendekatan Analitik Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya. Amanat dapat diketahui dengan mengacu pada tema cerita. yakni berdasarkan interpretasi pembaca. anak-anakku Kursi-kursi tua yang di sana . Demikian seterusnya. (b) memahami latar. Amanat bersifat subjektif. dan (g) memahami totalitas makna dan amanat puisi (Depdiknas 2004). Langkah Menafsirkan Puisi Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam menafsirkan makna puisi.

meja tulis sederhana. Puisi ini termasuk puisi transparan karena bahan yang digunakan mudah dipahami. Kekayaan yang dimiliki hanyalah buku-buka dan sedikit ilmu sebagai sumber pengabdian kepada murid-muridnya. sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagikuKarena kutahu.5-40 Apresiasi Bahasa Indonesia Dan meja tulis sederhana Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya Semua padamu akan bercerita Tentang hidupku di rumah tangga Ah. bahkan ia juga tidak pernah mengeluh. Bunyi u. Unsur bunyi berperan penting dalam puisi ini untuk memperdalam ucapan dan menimbulkan rasa. suasana khusus. karena rumah dan perabotannya jelek dan kuno. anak-anakku Engkau terlalu muda Engkau terlalu bersih dari dosa Untuk mengenal ini semua Puisi ini menceritakan kehidupan guru sekitar tahun 60-an yang serba kekurangan. seperti pada bait pertama dan kedua. a. Dalam puisi ini terdapat imaji penglihatan : kursi-kursi tua. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari dan tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Justru ia selalu berdoa agar murid-muridnya sukses dan tidak mengalami nasib jelek seperti dirinya. jendela yang tak pernah diganti kainnya. Dia malu seandainya ada murid yang berkunjung ke rumahnya. Tetapi semua kesederhanaan dan kekurangannya itu tidak pernah diceritakan kepada murid-muridnya. tentang ini tak pernah aku bercerita Depan kelas. sedang menatap . mendominasi bait pertama dan kedua.

pengimajian. LATIHAN/SOAL 1. Pendekatan apa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi puisi “Ibu” karya D. simbol.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-41 wajah-wajahmu remaja. Adapun nada puisi tidak bersifat menggurui. seorang guru janganlah pernah mengeluh dan tetaplah mengabdikan diri untuk anak didik. Puisi transparan tidak banyak menggunakan simbol-simbol dan kata kias sehingga mudah dipahami. Jelaskan ciri-ciri puisi! 2. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. Struktur fisik meliputi diksi. majas. Apresiasilah puisi berikut dengan menggunakan pendekatan analitik! Ibu . versifikasi. dan lambang. RANGKUMAN Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. Zawawi Imron berikut? Jelaskan alasannya! 4. F. nada dan suasana. serta amanat. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. dan tipografi. Puisi prismatis adalah puisi yang sarat dengan kata kias. Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. Amanat yang disampaikan pengarang adalah walaupun hidup serba kekurangan. sedangkan suasana puisi mengharukan. Bahasa kias terdapat pada: horison yang selalu biru bagiku. Puisi dibedakan menjadi puisi transparan/diaphan dan puisi prismatis. G. Tema puisi ini adalah keprihatinan terhadap nasib guru. Jelaskan unsur-unsur puisi! 3.

mutiara dan kembang laut semua bagiku Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan Namamu ibu. kemudian ke bumi Aku mengangguk meskipun kurang mengerti Bila kasihmu ibarat samudra Sempit lautan teduh Tempatku mandi.5-42 Apresiasi Bahasa Indonesia D. menebar pukat dan melempar sauh Lokan-lokan. mencuci lumut pada diri Tempatku berlayar. daunan pun gugur bersama ranting Hanya mataair airmatamu ibu. Zawawi Imron Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau Sumur-sumur kering. yang kan kusebut paling dahulu Lantaran aku tahu Engkau ibu dan aku anakmu Bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal . yang tetap lancar mengalir Bila aku merantau Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar Ibu adalah gua pertapaanku Dan ibulah yang meletakkanku di sini Saat bunga kembang menyemerbak bau sayazng Ibu menunjuk ke langit.

bidadari yang berselendang bianglala Sesekali datang padaku Menyuruhku menulis langit biru Dengan sajakku .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-43 Ibulah itu.

drama memunyai karakter khusus. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung.BAB IV. DESKRIPSI Penyajian konsep drama yang meliputi hakikat dan unsur drama serta praktik mengepresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. . Sebagai sebuah karya. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. latar. tema. MENGAPRESIASI DRAMA A. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa B. Mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. alur. E. Hakikat Drama Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar drama yang meliputi hakikat drama unsur pembangun drama dan mampu mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. INDIKATOR 1. amanat. C. URAIAN MATERI 1. Menjelaskan hakikat dan unsur-unsur drama 2. Sebagai sebuah genre sastra.

Sifat dan kedudukan tokoh di dalam drama bermacam-macam.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-45 serta dialog. Karena perannya itu. pementasan. Di sisi lain. atau konflik antara tokoh dengan lingkungannya. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal dan dapat pula bersifat eksternal. konflik antartokoh. Dilihat dari sisi pengarang. amanat. Dialog merupakan sarana primer drama. Hakikat drama adalah tikaian atau konflik. dan penonton. Biasanya kepadanya pembaca berempati. Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara tokoh dengan sesuatu yang lain. Unsur-Unsur Drama Unsur drama dalam dimensi sastra meliputi tokoh dan penokohan. a. yakni naskah. Ada yang bersifat penting (mayor) dan ada yang tidak penting (minor). latar. Asmara 1983). drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa di dalam drama. misalnya. Ada yang berkedudukan sebagai protagonis. Dialog juga berfungsi memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. dialog merupakan wadah untuk menyampaikan informasi informasi. tema (premise). dialog dapat menciptakan serta melukiskan suasana. Konflik internal adalah konflik antara seseorang dengan dirinya sendiri. serta dialog (Waluyo 2003. 2. alur. . protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat di dalam kesukarankesukaran. dan ide-ide utama. Sebagai sebuah pertunjukan. Konflik merupakan penggerak cerita. fakta.

Ciri-ciri tersebut dapat diketahui melalui tindakan atau lakuan. Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita. pikiran. yaitu: insiden permulaan. penyelesaian konflik itu. pada dasarnya alur drama tersusun menurut garis lakon (dramatic line). Alur Lakon drama selalu mengandung konflik atau pertentanganpertentangan di dalam suatu kehidupan. di dalam Dengan . berakhir pulalah lakon drama. penampilan fisik. Pertentangan antara perasaan-perasaan di luar manusia. perasaan. Menurut Hudson (dalam Asmara 1983). atau nasib. Dengan dimulainya suatu konflik berarti pula mulainya suatu lakon drama yang sebenarnya.5-46 Apresiasi Bahasa Indonesia Lawan protagonis adalah antagonis yang berperan sebagai penghalang bagi protagonis. psikologis. Di dalam drama tokoh-tokoh cerita digambarkan memiliki ciri-ciri fisik. dan dirasakan tentang dirinya atau diri orang lain. Mungkin itu pertentangan antara pribadi-pribadi yang berlawanan. misalnya tokohnya. b. terdapat bagian pemaparan (eksposisi) yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami cerita selanjutnya. seperti melawan takdir. antara kemauan yang berlawanan. sebelum insiden awal. atau latarnya. antara manusia dengan keadaan yang mengelilinginya. dan apa yang dipikirkan. Konflik itu saling berbentrokan sehingga terjadilah suatu rentetan peristiwa yang kemudian membentuk drama. ujaran (dialog). Oleh karena itu. penurunan laku (falling action). Pada kenyataannya. Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan protagonis atau antagonis. penanjakan laku (rising action). masalah yang timbul. yang disebut peran pembantu. dan sosiologis. dan keputusan (catastrope). klimaks/krisis. Tokoh lain adalah tokoh tritagonis yang menjadi peran penengah antara protagonis dan antagonis.

Petunjuk mengenai latar itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang. Secara langsung latar berhubungan dengan tokoh dan alur. atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. Latar Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu. tingkah laku tokoh. Oleh sebab itu amanat juga merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa. penokohan. gambaran tokoh.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-47 srtuktur dramatik Aristoteles disebutkan bahwa struktur alur drama itu meliputi eksposisi. perilaku tokoh. Amanat di dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. Oleh sebab itu. Latar harus menunjang alur dan penokohan. tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. komplikasi. terdapat banyak peristiwa yang masing-=masing mengemban permasalahan. dan konklusi. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang. yang terkait dengan latar. d. Sebaliknya. dan dialog para tokohnya. klimaks. . tempat. dan latar. Adapun amanat adalah opini. Tema (Premise) dan Amanat Tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa. resolusi. latar yang abstrak akan berhubungan dengan peristiwa dan tokoh yang abstrak. tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut. c. dan suasana terjadinya peristiwa di dalam drama. Permasalahan itu dapat muncul melalui perilaku para tokoh. Dalam sebuah drama. Pencarian amanat identik dengan cara pencarian tema. kecenderungan. dan latar drama. Latar konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan.

Dia malu memakai sepeda. Tidak boleh ada kata-kata yang tidak perlu. Artinya. dia mau sekolah kalau dibelikan sepeda motor. Bahasa/Dialog Di dalam sebuah drama. Latar terjadi di rumahnya yang sangat sederhana pada pagi hari sekitar pukul 10 ketika ayah pulang dari sawah. terang. penggunaan bahasa terlihat pada dialog merupakan situasi bahasa utama. Dialog dalam drama harus memenuhi dua hal. dialog harus baik dan bernilai tinggi. Seperti remaja lainnya. ia pergi bekerja sebagai tukang parkir pada malam hari. (b) menggambarkan karakter tokoh. Di samping bersekolah.5-48 Apresiasi Bahasa Indonesia e. Sebaliknya Bandar. Alur yang digunakan adalah alur lurus. jika seorang tokoh berada pada situasi. Peristiwa dimulai ketika ayah tiba di rumah sepulang dari sawah. dialog harus mencerminkan apa yang telah terjadi dan juga mencerminkan pikiran serta perasaan para tokoh. dan menuju sasaran (to the point). dan peran yang berbeda. Sakri anak sulungnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang serba kekurangan itu. Dia menanyakan keberadaan . Ayah memiliki dua orang anak laki-laki yang perangainya sangat berbeda. 3. Oleh sebab itu. Kedua. Contoh Apresiasi Teks Drama berjudul “Ayah Dua Laki-Laki” dengan Pendekatan Analitik Drama ini menceritakan sebuah keluarga petani yang miskin dan sederhana. Artinya. adiknya. Penggunaan bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh. Ia mau membantu ayahnya di rumah. harus jelas. emosi. suasana. dan latar cerita. dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak. penggunaan bahasanya juga berbeda. Pertama. dialog harus lebih teratur daripada percakapan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa fungsi dialog dalam drama antara lain adalah: (a) mempertinggi nilai gerak. dan (3) menggambarkan alur cerita. mau menerima kenyataan.

Yang berakhir dengan kepergian Ayah Sakri. seperti terlihat pada kutipan berikut. baik.” Bandar adalah anak yang berbakti pada orang tua. Apa kalau tidak pakai motor tidak bisa pintar? Lalu tidak lulus? ‘Jadi bapak tidak mau membelikan motor? (Si ayah pergi meninggalkan Sakri) Ayah adalah sosok yang yang baik. dan adil. Perhatikan kutipan berikut! “Ooo ngambek to. Kerja pada malam hari banyak resikonya.” . sebagaimana terlihat pada kutipan berikut.” “Bapak mau makan? Aku masak kacang panjang sambel pete. selalu memperhatikan anak-anaknya. sayang. Klimaks terjadi pada waktu ayah berhadapan dengan Sakri. “Pak. pulang agak malam.” Sakri adalah anak yang malas. Aku tidak bisa. ingin hidup senang dan suka menuntut. selalu berusaha keras dan pekerja keras. “Pak. karena sepulang sekolah saya langsung kerja. Bandar berangkat sekolah. Perhatikan kutipan berikut. Ternyata Sakri sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena menuntut dibelikan motor.” “Aku mau sekolah. dan tempe goreng. “Kamu sudah makan? Apa kakakmu sudah pulang sekolah? “Ya. lesu rasanya. hati-hati.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-49 Sakri kepada Bandar yang waktu itu sedang menyiapkan masakan sebelum berangkat ke sekolah siang hari. tetapi aku perlu motor. berpikiran sederhana. Konfilk pun muncul.

dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. Adapun amanat yang ingin disampaikan adalah berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. Sebagai sebuah pertunjukan. cita-cita tak akan tercapai. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. tema. Sebagai sebuah genre sastra. latar. alur.5-50 Apresiasi Bahasa Indonesia Tema drama ini adalah tanpa kerja keras. Sebagai sebuah karya. Anak laki-laki hendaknya bertanggung jawab dalam hidupnya. drama mempunyai karakter khusus. Seorang anak hendaknya berbakti kepada orang tua. F. dan penonton. Suami . Bacalah naskah drama “Orang Terasing “berikut. amanat. RANGKUMAN Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. apresiasilah dengan menggunakan pendekatan analitik! Kemudian ORANG TERASING Aji Sudarmadjie Mukhsin Para Pelaku: 1. Jelaskan unsur-unsur drama dalam dimensi sastra! 3. pementasan. Isteri 2. G. Jelaskan pengertian drama sebagai karya dalam dua dimensi! 2. LATIHAN/SOAL 1. yakni naskah. serta dialog. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan.

Apresiasi Bahasa Indonesia 5-51 Panggung menggambarkan sebuah kamar yang reot. karena udara terlalu lembab. supaya jangan membawa anak itu keluar. masih ada simpanan untuk besok pagi?” Isteri : “Masih. suamiku. Suami : “Oh. Sepotong nasihat.” 16. dan kau bagaimana?” 3. Isteri : (Mengharap) “Banyakkah hasil yang kauterima hari ini?” Suami : “Bah. 1.” Suami : “Tak ada yang lain? Ah. Isteri : “Ada seorang wanita muda memberi makan kepada kita. (Membuka suratkabar itu) Surat kabar Anu atau entah apa . Kamu orang baik-baik. Suami : “Bagus. Tetapi hanya untuknya. benar.” Suami : “Kalau begitu. 6. kosong sama sekali. aku orang kecil. Padahal aku juga ingin menjelaskan kepada mereka. Suasana kemiskinanlah yang tampil di situ. Jangan mengemis. Bisakah kau membikinkan api?” 13. Dan kalau saja mereka mamu memegangi kemudian merasakan detak darahku. seperempat rupiah pun tak dapat. Isteri : ”Buat apa?” 14. Isteri : “Sepotong roti. kau terlalu lemah. Ini bisa menolong malam nanti kalau kedinginan.” 12. Suami : “Ya.” Isteri : “Ada. 4. mereka selalu memberikan nasihat. 9. 2.” 10. Isteri : “Oh. Istirahatlah. pastilah mereka akan tahu … bahwa aku lapar. Isteri : “(Mengambil lembaran surat kabar yang usang) Ini. maksudku selain dari roti itu. 8. Jangan membawa anak itu keluar. Di dalamnya terdapat sebuah dipan dan dua buah kursi yang sudah rusak pula. 7.” Suami : “Terima kasih.” 11. tapi aku tak berani. Suami : “(Tak memperhatikan) Ada kertas?” 15. Moga-moga Tuhan memberkahinya. Apa yang diberikannya? 5.

Suami : “Dan aku akan kautinggalkan? Kau tidak akan berbuat semacam … Oh. Isteri : “Bukan. Isteri : “Tapi apakah kau mempunyai kesalahan padanya” 22. membersihkan sepatunya. memberiku segenggam tembakau sambil berkata. aku mengharap untuk disuruh apa saja. menghindari mobil. Dengan harapan untuk mendapat uang. Bagaimana denga Nyonya Sumarti?” . Penyakitku itulah yang menyebabkan malapetaka ini. Suami : “(Menggeleng) Tidak. dan orang-orang kaya itu. Apakah masih ada tembakau di dalam pipaku? Aku jadi ingat seorang polisi yang mengusirku dari trotoar jalan. Dan kesalahankulah waktu firma tempatku bekerja tempo hari itu bangkrut? Karena aku yang terlalu jujur?” 23. Isteri : “Jangan dihabiskan. Betama menderitanya dirimu.” 19. Satu ini pun pasti sudah bisa. Semua yang terjadi atas kita ini adalah nasib. ya.” 24. sambil berkata lapar. atau disuruh membersihkan mobil-mobil mereka. Oh.5-52 Apresiasi Bahasa Indonesia itu namanya. “Jangan mengemis!” Itu yang kuperoleh hari ini. seharusnya aku mati saja. “ (Menyalakan korek api) 17. berpuluh orang macam kita hanya bisa memperhatikan saja. aku terpaksa menghindari mereka. misalnya memanggil becak. tetapi siasia. Ah. kala itu orang-orang sedang keluar dari gedung pertunjukan. mengeluarkan sepeda motornya. Suami : “Jangan kuatir. Ketika rintik-rintik hujan datang. Suami : “(Tak memperhatikan) “Berjam-jam aku berdiri di lapangan. Mereka yang keluar dengan perasaan bahagia. memberitahukan bahwa kita adalah bangsa yang berbahagia.” 18. sehingga habis seluruhnya harta kekayaan simpanan kita. ya.” 20.” 21. Isteri : “Kasihan.

Suami : “Haruskah begitu? Ah. Suami : “Menemukan di jalan?” . Tapi baiklah. karena kita harus mencari bahan sendiri. Dan dia malah berbaik kepada kita. Suami : “Kau …” 43.” 26.” 30.” 28. dikejar lapar. Isteri : “Bukankah kita juga sudah berusaha?” 34. Isteri : “Ya. dan aku pun yakin bahwa aku pun bisa membuatnya. Isteri : “Suamiku …” 32. kenapa harus kita tolak?” 35. Suami : “Ya. biar dipakainya tempat ini. Isteri : “(Berdiri terduduk) 38. “ 42. Suami : Seratusrupiah seharinya sudah cukup besar buat kita. bekerja beberapa tahun pula setelah bertemu dengan kemiskinan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-53 25. Isteri : “Ini. Suami : “Dompet?” 41. Nanti kita pasti akan segera bisa mendapat uang setiap harinya. seorang bertahun-tahun sekolah.” 31. tetapi dia bilang. Sekarang secara kebetulan sekali ada pekerjaan yang datang. Suami : “Ya … 33. Isteri :”Aku menemukannya. Isteri : “Sebenarnya tidak seratus persis.” 44. Suami : “Kenapa?” 39.” (Memperlihatkan dompet) 40. kenapa?” 37. seperti kita.” 29. kukira tinggal mengerjakan begitu saja. nyetanya tidak ada yang datang. Suami : “Ya. Suami : “Berapa banyak?” 27. Mungkin baru kali ini terjadi padaku. kita diajak belajar membuat bungkus korak api. Isteri : “Sebenarnya dia pun sangat miskin. Isteri : “Suamiku …” 36. Isteri : “Meskipun Cuma seratus rupiah seharinya. dan belum pernah satu pekerjaan pun yang kita tolak.

Waktu mengambil uang di dalam dompet. Kemudian datanglah seorang wanita tua membeli surat kabar.” 48. aku bergegas ke setasiun dan berdiri di dekat kios buku sambil menunjukkan gambar-gambar kepada anak-anak kita. Isteri : “Waktu hujan turun. Isteri : “Kita harus berbuat sesuatu. . Suami : “Kau sendiri belum membukanya?” 57. Dan aku sendiri pun tak bisa lari cepat karena menggendong anak itu. Suami : “Jalannya bagaimana?” 47. aku tak berani. Kupikir wanita tua itu pasti tidak akan merasa kehilangan karena ia amat kaya. dia tak memperhatikan.” 46.5-54 Apresiasi Bahasa Indonesia 45. Setelah dia pergi. jika ada kesempatan.” 54.” 50. Suami : “Aku tidak mengira kalaupada akhirnya kita berbuat begini. Suami : “Dompet itu kaubawa kabur?” 49. Isteri : “Tidak ada yang mendorongnya.” 58. ditaruhnya dompet itu di dekat tanganku.” 52. Gelangnya emas. Suami : “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan ini semua?” 53. Isteri : “Belum. Bagaimana kejadian selanjutnya? Aku sendiri tidak mengerti karena tahu-tahu aku telah berada di jalanan kembali … sambil membawa dompet itu. Suami : “Tak seorang pun mengikutimu?” 51. Isteri : “Begitu kira-kira jalannya.” 56. kejujuran tidak menolong kita. Isteri : “Aku belum membukanya. Wanita tua itu menaruh dompet di dekat jariku.” 59. Isteri : “Tidak. Waktu aku menyentuhnya. Isteri : “Ya. aku pun pergi dan kemudian sadar aku telah berada di jalanan sambil membawa dompet itu. Suami : “Berapa banyak uang di dalamnya?” 55.

nanti anak kita itu terbangun. Isteri : “Baru saja terpikir.” 61.” 66.” 74. 68.” 69. Kelihatannya berat.” 73. Suami : “Benar. dan tak mungkin orang lain akan menemukan kita di sini. tapi yang menjadi beban sekarang adalah anak kita. kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-55 cincinnya pun emas. dan mengapa pula tidak kau …” 75.” 64. Suami : “Ya. Isteri : “Cepat buka.” 65. Suami : “Tadi kau bilang sudah makan. Suami : “Ya. dan barangkali apabila pakaianmu lebih sempurna. Suami : “Mana api?” (Menerima dan merokok) 71. memang mereka menertawakan aku selama ini. berat. Isteri : “Kasihan anak itu.” 72. jangan berteriak keras-keras. Dan uang di dalamnya tak mungkin akan berbicara. dia merasa lapar.” 76. Isteri : “Hati-hati. Suami : “Kenapa kau sendiri tak membukanya? 63. Suami : “Ya. Isteri : “Dan sebenarnya aku pun malu berjalan di jalan besar memakai pakaian seperti ini. Isteri : “He!” . bagaimana nanti apabila ada orang yang mau memberi kepada kita dengan layak barulah dompet ini kukembalikan kepada pemiliknya.” 62. Kau tak akan batuk sepanjang malam. Berapa banyak isinya?” 60. Isteri : “Kita tidak akan kelaparan seperti sekarang. Isteri : “Nanti kita bisa membeli pakaian untuknya. Suami : “Membelikan anak pencuri?” 77.” 70. Suami : “Tapi akhirnya kita terbiasa juga. Isteri : “Itu jam tiga siang tadi.” 67.

Suami : “Aku sendiri tidak tahu. Isteri : “Ai . aku tak mau kalau anak kita disebut sebagai anak pencuri.” 91. Suami : “Adikku. Isteri : “Jangan berprasangka yang bukan-bukan. Suami : “Mungkin juga. dengan kejujuranmu apakah yang telah kauperoleh salama ini? Kemiskinan dan kelaparan. Isteri : “Ya … ya … lekas!” 80. 82. Isteri : “Di mana?” 90. Isteri : “Apa katamu kepada mereka?” 88. Suami : “Aku kira bagaimanapun juga memang begitu. Isteri : “Kau berikan dompet itu kepada polisi?” 86.” 87.” 79.” (Ketika akan membuka suami berlari keluar) 83. Suami : “Baru kali inilah aku di dalam hidup takut kepada polisi. Suami : “Ya. Kita hampir setahun menderita semacam ini. .” 92.” 89. tapi ah persetan. Isteri : “Apakah itu lebih jelek daripada anak jembel seperti ini?” 98.” 93.” 95. Isteri : “Dengan kepicikanmu. Suami : “Di stasiun. aku katakan pula bahwa aku belum membukanya.” 96.5-56 Apresiasi Bahasa Indonesia 78. Ayolah kita buka isinya. kumal. Suami : “Aku tidak tahu bagaimana mendengar kejadian-kejadian di atas tadi. Suami : “kau talah menemukannya. Suami : “Ada polisi di jalanan?” 81. Isteri : “Kau memilih dia untuk terus kelaparan?” 100.” 97. Suami : “Kurang enak didengar.” 85. kurus.” 99.” 94. Isteri : “Aku mengira akan dipakainya uang itu untuk dirinya sendiri. Suami : “Soalnya anak kita. Isteri : “Kau tolol. dan tempat kita di petak ini. kenapa kaulakukan itu?” 84. tak ada seorang pun yang peduli. lapar..

Betapa tololnya aku. Aku sangat mencintaimu… 110. uang yang sangat kita butuhkan … Kau sangat kucintai. tapi ah.” 112. Suami : “Kau maafkan aku kan? Karena aku talah mengembalikan dompet itu? 111. Kau katakan juga di mana kita tinggal?” . Isteri : “Suamiku …” 114. Apa artinya semua. bisa meninggalkan kehidupan macam begini. tetapi aku. Isteri : “Dalam penggabungan itu mereka akan memisahkan kita.” 113. Suami : “(Tak mempedulikan) Aku bisa membeli pakaian. uang yang telah berada di tangan kita. Nanti anak kita bangun. seperti yang sudhsudah. Isteri : “Aku akan masuk ke liang kubur poengemis. Suami : “Tapi anak kita pasti mendapat jatah makanan.” 103. bukan kau yang salah.” 117.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-57 101. Isteri : “Kau takut?” 102. Suami : “Bukan. mengapa aku harus mempedulikannya? Kalau ini manusia. Suami : “Ya.” 115. Suami : “Bagaimana kalau kita menggabung diri. aku yang tolol. kenapa tidak? Bagaimanapun akhirnya harus kita alamu. Isteri : “Benar. dan siapa tahu ini hanya cobaan. Isteri : “Dengan para pengemis lain?” 106. Mreka memperlakukan aku seperti anjing.” 105. Isteri : “Huss. Isteri : “Jangan. Suami : “Aku tak menginginkan kau dimasukkan ke penjara. rupanya karena kelaparan itulah yang menyebabkan aku tak menguasai diri.” 104.” 116. Isteri : “Mereka pasti akan memisahkan kita. Aku pengecut. yang bisa menyenangkan anakku. Tetapi telah kukembalikan karena kejujuranku.” 108.” 109. Suami : “Kita punya uang di dalam dompet itu. 107.

sebaiknya kita berpikir saja. karena nanti apabila kita menghadap Tuhan tangan kita bersih. Tetapi besok pagi aku akans egera menyelusuri kembali jalan-jalan setelah batukku kembali datang. jangan kita bicara soal kematian. Isteri : “Kau juga pernah bertemu dengan kawan-kawanmu. agar kematian itu cepat datang … Kenapa tidak sekarang saja mati?” 119. Baiknya kita metunggu saja.5-58 Apresiasi Bahasa Indonesia 118.” 125. 123. bagaimana kita besok kembali berjalan menyelusuri jalan itu lagi. Isteri : “Kita sudah tidak punya kawan lagi. Suami : “Aneh.” 122. Suami : “Benar. Suami : “Benar. memang.” 130. tetapi jika kau memanggilnya … mereka selalu menghindar. Isteri : “Apa? Kita berjalan lagi?” 126. Dan bagaimana caranya supaya besok kita dapat rejeki ?” 127. Suami : “Berpikir demikian? Jangan. Dan aku girang atas tindakanmu. Suami : “Ya. Suami : “Jangan. Isteri : “Sudah lewat sekarang. Itu pikiran jelek. Aku tak pernah menginginkan yang lebih bagus.” 129.” . Isteri : “Mati?!” 120. keran sudah tidak ada lagi tempat untuk kita. kecuali sekadar makan untuk kita ternyata sia-sia. Andai aku jadi mengambil uang itu … 121. Isteri : “Kau pernah berpikir demikian juga?” 124.” 128. Yah. Suami : “Semoga aku besok bertemu dengan seorang kawan yang pernah mengenalku. Dan di hadapan-Nya nanti akan aku katakan bahwa orangs ekitar kita tidak mengizinkan kita untuk hidup lebih lama.

Meskipun kita telah berantakan. dan Tuhan pasti akan lebih baik daripada orang-orang disekitar kita ini. sebaiknya kita mati saja. kau tanpa batuk-batuk. Suami : “Ini usaha kita terakhir. di mana kita bisa tidur nyenyak. Sebaiknya kita bergabung saja dengan teman-teman yang miskin. Suami : “”Hai!” (Memegangi tangan isterinya) 135. tetapi aku tidak berpisah dengan kau. Suami : “Jangan kau ucapkan itu. Tidak kuat. jangan anak isteriku.” 141. selama ini aku telah berusaha menjadi isteri yang baik. Isteri : “Bukankah kau pernah memasukinya?” 140.” 142. Suami : “Tidak. dan yang lebih utama lagi aku mencintaimu. senantiasa aku diusir. dan juga anak kita. ibu yang baik. Isteri : “Nah. Kalau toh mereka mau membunuh. Mereka tidak mempercayaiku lagi. Suami : “Benar. . 144. hingga membuat terkejut keduanya. Mereka membenciku. biar bunuh aku. Isteri : “Aku sudah tidak tahan lagi. Suami : “Beginilah … kemiskinan-kemiskinan. Suami : “Bukankah hal ini justru akan lebih baik?” 143.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-59 131. Di tempat orang kaya diusir dan di tempat orang miskin pengemis yang jujur.” 133. Kita tidak boleh kalah dengan kemiskinan. kita akan mati bersama-sama …” 136.” 139.” 134. (Suara tangis bayi dari dalam. Si isteri masuk) 145. Isteri : “Aku sangat gembira. Isteri : “Kau pernah memperhatikan bagaimana mereka mencibirkan cicir terhadap kita yang terlalu jujur? Sekarang kita akan masuk ke sana. da kandang orang miskin yang sejawat maupun di gedung-gedung mewah milik orang kaya.” 132. Suami : “Tidak!” 137. Isteri : “Jadi engkau tidak mau?” 138. di mana-mana diasingkan. Isteri : “Aku tidak mau.

5-60 Apresiasi Bahasa Indonesia .

The Apreciation of Literature. Apresiasi Drama. Semarang: Rumah Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya. 1988. Pradopo. Asmara. Suminto A. Jakarta: Proyek Penataran Guru. S. B. E. 2005b. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. Bandung: Angkasa. Adhy. 2004. Harianto. Semarang: Rumah Indonesia. Memahami Cerita Rekaan. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP. 1995. Rumadi. dan P. 1985. 1999. Sudjiman. Sayuti. Harymawan. Baribin. Semarang: IKIP Semarang Press.). Depdiknas. Yogyakarta: Pengkajian Puisi. 1996. S. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1993. 1981. Jakarta: UT. 1998. S. (Ed. Jakarta: Direktorat PLP. Cerita Rekaan dan Drama. A. London: The Epwort Press.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. 1983. Kellet. Teori Gadjahmada University Press. . Pengkajian Fiksi. Nurgiyantoro. 2005a. Hasanuddin W. Kumpulan Drama Remaja. Suharianto. 1976. “Pengembangan Kemampuan Membaca Sastra”. Dasar-Dasar Teori Sastra. Yogyakarta: Rahmanto. 1991. Jakarta: Grasindo. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Rachmat Djoko. Raminah. Dramaturgi. Memahami dan Menikmati Cerita Rekaan. Suharianto. Drama: Karya Dua Dimensi. 1996.1993. Surakarta: Widya Duta. Gadjahmada University Press. Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Burhan. Apresiasi Prosa Fiksi. Yogyakarta: Nur Cahaya. Suharianto.S.E. Panuti.

5-62 Apresiasi Bahasa Indonesia Waluyo. Herman J. Waluyo. Teori dan Pengajarannya. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. 2003. Herman J. Drama. Yogyakarta: Hanindito .

BUKU AJAR PEMBELAJARAN INOVATIF .

guru perlu menguasai kebijakan kependidikan mikro. didaktik.PENDAHULUAN Guru merupakan salah satu unsur pendidikan yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Berdasarkan paradigma tersebut. dan selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri. Strategi instruksional (pembelajaran) merupakan perpaduan dari urutan kegiatan (metode. siswa. Tampaknya para ahli sepakat bahwa strategi instruksional berke-naan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional. dapat merancang silabus. prinsip belajar dan prinsip pembelajaran. Sebagai guru tentunya Anda mengharapkan agar siswa dapat mengeks-plorasi dunia. pedagogik. sintakmatik). mengembang-kan rasa percaya diri. dan kondisi setempat. dapat merancang dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang efektif dan efisien Perlu disadari hakikat strategi pembelajaran berbeda dengan kahikat model pembelajaran. Di kelas dan di luar kelas. Filsafat Pancasila. langkah-langkah. ilmu-ilmu kemanusiaan khusus-nya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. guru seyogianya dapat menciptakan teori-teori pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. situasi. memfasilitasi. Untuk dapat melakukannya itu secara profesional tentu saja guru dituntut menguasai ilmu mendidik dan mengajar. cara pengorganisasian materi (urutan). andragogik. mengua-sai kurikulum yang berlaku. dapat meran-cang dan melaksanakan pedoman kinerja peran guru di lapangan (di kelas dan di luar kelas) yang sesuai dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu didik dan mengajar di-bangun di atas paradigma didik yang benar. Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi guru. metodik. serta menga-nut paham konstruktivisme dalam menyikapi dan pengembangan ilmu penge-tahuan teknologi dan seni. mengarahkan agar hasil eksplorasi itu bermanfaat bagi dirinya. dan bertindak mempengaruhi siswa mendidik dirinya sendiri. alat dan . Kinerja kependidikan Indonesia dilandasi filsafat pendidikan. Guru berperan mem-bimbing.

. dan menyenangkan. merupakan rancangan yang dapat berlaku umum bagi berbagai bidang studi. mengesankan. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. sedangkan model pembelajaran berada dalam tataran operasional. sedangkan tujuan yang dicapai model ada-lah kompetensi dasar. terjala. penulis sependapat bahwa strategi berada dalam tataran konseptual. sarana tertentu. menarik. terpadu. Melalui buku ajar ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji . Tujuan yang perlu dicapai suatu strategi adalah standar kompetensi. dalam Suparman. serta alokasi waktu. Dalam paparan seterusnya akan jelas terlihat pada contoh-contoh model yang dikemukakan. bahkan tempat tertentu. Berbeda dengan hakikat model pembela-jaran yang dapat dikutip sebagai berikut. “Model” strategi yang sudah dikenal seperti Quantum Teaching. alokasi tertentu. kompe-tensi tertentu. tematik. Tentu saja tataran konseptual ini berdasarkan landasan para-digma didik yang jelas dan taat asas. Akan tetapi “model pembelajaran” perlu diperhatikan urutan dan langkah-langkah tertentu. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menje-laskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu. Mata pelatihan pembelajaran inovatif merupakan pelatihan yang meli-batkan Anda dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan lebih efektif. JAIKEM. dsb.6-2 Pembelajaran Inovatif media. komprehensif. portofolio. (huruf miring tambahan penulis) Bila kedua penjelasan teresbut saja dibandingkan. Winataputra (2001: 3) menulis bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual (operasional) yang melu-kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman (contoh) bagi para perancang pembelajaran dan para mengajar dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”. Bahkan Dick dan Carey (1985.

kreatif. Dengan buku ajar ini Anda akan dengan mudah memahami hakikat pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif yang dapat dilaksanakan di kelas Anda. Penguasaan konsep pembelajaran inovatif akan sangat membantu Anda dalam mengelola pembelajaran. setelah mengikuti pelatihan ini Anda akan dapat mencapai standar kom-petensi. merancang model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk dapat melaksanakan-nya di sekolah secara efektif. Anda dapat merancang strategi dan model-model pembelajaran inovatif yang tepat. dan Menyenangkan). Dalam bahasan ini akan dikaji rasional. Aktif. Kreatif. .Pembelajaran Inovatif 6-3 hakikat pembelajaran yang inovatif. Pemahaman terhadap konsep dan karakteristik strategi dan model terse-but sangat penting bagi guru bahasa Indonesia pada era sekarang yang syarat dengan tuntutan dan arus informasi yang mengglobal. karena Anda akan mampu menyiapkan berbagai pengalaman belajar yang sesuai de-ngan bahan ajar. kondisi. dan konteks. pengertian. penguasaan materi pelajaran dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan prasyarat untuk merancang model pembelajaran inovatif. Pembelajaran Kuantum (Boby dePorte) dan JAIKEM (Jajaki. Ino-vatif. Setelah Anda mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda memiliki standar kompetensi merancang model pembelajaran inovatif bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan strategi JAIKEM atau strategi PORTOFOLIO dengan indi-kator keberhasilan Anda mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. serta karakteristik siswa tertentu. inovatif. situasi. Dengan menguasai materi ajar dalam kurikulum dan silabus. dan tujuan pembela-jaran inovatif serta karakteristik starategi pembelajaran inovatif seperti strategi portofolio. Oleh karena itu. Efektif. Dengan demi-kian. dan menyenangkan itu.

Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. f) Anda dapat merancang Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk disimulasikan. Rasional Apa yang kita amati di sekolah dan sekitarnya adalah kehambaran proses pembelajaran dan kelemahan hasil pembelajaran sebagai output dan hasil pen-didikan alumni peserta didik sebagai outcome dalam menerapkan pengetahuan. dan pengamalan yang diperlajari untuk mengatasi per-soalan sehari-hari. sementara keter-kaiatan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah. keterampilan.6-4 Pembelajaran Inovatif a) Anda dapat menjelaskan kembali dibutuhkannya penguasaan Strategi dan Model Pembelajaran yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran. Aktif. c) Anda dapat menjelaskan hakikat model pembelajarn inovatif bahasa Indo-nesia. dan tujuan. Efektif. b) Anda dapat menjelaskan karakteristik strategi pembelajaran JAIKEM (Jajaki. dan antara penge-tahuan dengan pengamalannya belum . mencakup rasional. g) Anda dapat melakukan evaluasi diri menerapkan kriteria penilaian mengajar URAIAN MATERI 1. dan Menyenangkan) dan strategi Portofolio. d) Anda dapat menerapkan karakteristik umum dalam model pembelajaran yang Anda rancang. Kreatif. Nilai didik yang sangat pendik dalam pembentukan karakter bangsa hampir disebut gagal. sikap. pengertian. e) Anda dapat mengkritisi contoh model-model pembelajaran yang disajikan dan yang tidak disajikan. Inovatif. sebagian hanya hapalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. Apa yang diperoleh anak-anak di sekolah.

Itulah rasional mengapa model pembelajaran menjadi perhatian utama kita. siswa. karena pembaharuan dan perbaikan kependidikan yang berdimensi karakter bangsa dan superkompleks ini diyakini tidak semudah membangun jalan tol dan memperbaiki gedung bertingkat. Strategi Pembelajaran. Penguasaan akan model pembelajaran rupaya perlu ditingkatkan. Tataran konseptual ini berdasarkan pendekatan tertentu. Dick dan Carey (1985. Buktinya kita masih meng-import dan mengadopsi. Kekayaan model pembelajaran rupanya masih miskin di Indonesia. Walaupun demikian kiranya dapat dimaklumi. dan pemerintah pengelola kependidikan. Diyakini dengan upaya pela-tihan ini mutu kinerja dan tanggungjawab guru makin baik. dan itulah tugas guru. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponenkomponen umum dalam program instruksional dan prosedur- . Namun kompetensi yang komprehensif. pendidik. Hakikat Strategi Pembelajaran Strategi instruksional merupakan sistem perpaduan dari urutan kegi-atan cara pengorganisasian materi. setiap orang tua. 2. melainkan dunia sumberdaya insani yang membutuhkan berbagai upaya yang tidak ringan. alat dan media. dalam Suparman. dan pelatihan inilah tugasnya. Padahal model pembelajaran adalah milik dan buatan setiap guru yang mengajar. serta alokasi waktu. sumberdaya insani paripurna. arah pembelajaran pada kurikulum 2006 ditekankan pada penguasaan kompetensi. Dunia pendidikan bukan dunia bisnis. Tugas guru sekarang adalah meningkatkan mutu kinerja pembelajaran sekaligus meningkatkan mutu hasil pendidikan. a. yang menjadi misi pendidikan nasional belum menyentuh apalagi menjiwai dunia pendidikan tingkat operasional. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Oleh karena itu. bahkan cuma meniru model pembelajaran negara lain.Pembelajaran Inovatif 6-5 mereka dikuasai.

kognitif. memiliki karakter dasar pembelajaran yang dilakukan bersifat simphonis.6-6 Pembelajaran Inovatif prosedur utama yang memandu kegiatan untuk mencapai hasil belajar. perlu dilakukan. pendirian. Jika diputuskan menerapkan Strategi Portofolio. Strategi portofolio. Strategi juga dapat merupakan karakter dasar proses pembelajaran yang menonjol. Jika tidak maka bukan strategi yang dimaksud. Demikian juga jika menerapkan Strategi Kuantum. portofolio. mengembangkan berbagai bukti tersebut. bagaimana karakteristiknya. kegiatan guru dan siswa kreatif. mendoku-mentasikan segala bukti proses dan hasil belajar. dan dalam situasi yang menyenangkan. Strategi tidak berdasarkan standar kompetensi tertentu Suatu strategi berlaku umum dan tidak mempunyai batas waktu. dsb. karakter proses pembelajarannya mengumpulkan doku-men bukti proses dan hasil . misalnya filsafat behaviorisme dan konstruktivisme. melakukan evaluasi diri wajib dilakukan. Jika diputuskan menerapkan strategi Jaikem. jaikem. tematik. dikenal pendekatan kuantum. Strategi merupakan suatu keputusan strategis berdasarkan komponen dan prosedur umum. komunikatif. Misalnya strategi kuantum. Pendekatan itu aksionatis (menurut Anthony. Keputusan-keputusan strategis diten-tukan dalam upaya merancang strategi pembelajaran tertentu menjadi suatu “model strategi”. siswa perlu aktif proaktif. b. 1975). Strategi menggambarkan prosedur umum dan jenis kegiatan umum untuk mencapai kompetensi mana saja. Maka strategi bersifat pendekatan. Oleh karena itu tidak perlu dibantah. tidak boleh tidak. maka siswa aktif baik di kelas maupun di luar kelas. wajib dilakukan kegiatan menjajaki atau biasa dikenal sebagai apersepsi. kontekstual. proses interaksi yang inovatif. manasuka. untuk peningkatan kompetensi secara efektif. atomistik. Berdasarkan paham itu. namun berdasar-kan filsafat pendidikan yang sedang berlaku. holistik.

dan membaca. 2001). berbi-cara. Ketika kita membantu siswa memperoleh pengetahuan. keterampilan. dan nilai. 1994. Rasional Pembelajaran Inovatif Model belajar adalah model mengajar (Joyce. Sesungguhnya keluaran jangka panjang (outcome) yang terpenting sangat boleh jadi (may be) peningkatan kemampuan belajar. ide. Begitulah hakikat paham konstruktivisme dalam dimensi pendidikan (Schwandt. Apabila suatu program itu bergan-tung kepada kompetensi tertentu disebut suatu model pembelajaran. menulis. Oleh karena itu kegiatan tersebut dinamakan strategi portofolio. atau jalan sendiri. baik melalui pengetahuan dan keteranpilan yang diperoleh. Oleh karena itu masalahnya adalah bagai-mana guru bertindak mempengaruhi siswa agar dapat mendidik dirinya sendiri. Strategi JAIKEM merupakan singkatan dari karakter kegiatan pokok. 2000:6). Disebut pendekatan atau strategi pembelajaran integratif. alias kelompok ragam strategi kognitif. belajar mandiri. 3. Model Pembelajaran Inovatif a. pembelajaran perlu dilakukan tidak terpisah-pisah. Salah satu rumpun model yang dikemukakan Joyce (200) adalah ragam pengolahan informasi. cara berpikir. maupun melalui penga-laman belajar melalui sekolah. karena walaupun ada empat aspek kemahiran berbahasa. di-antaranya model-model pencapaian konsep. . guru juga membimbing mereka bagaimana belajar tentang hal itu.Pembelajaran Inovatif 6-7 belajar. menyimak. 1997. dkk. serta mengeks-plorasi dirinya. dan Suparno. Panen. Berbagai model pembelajaran diturunkan berdasarkan paham konstruk-tivisme. Oleh karena itu dikatakan model pembelajaran. Pertanyaan berikutnya adalah dalam aspek apa atau unsur mana suatu model dinilai inovatif? Nanti akan terlihat pada karakteristik umum suatu model.

(4) sistem sosial. Namun langkah khusus dalam setiap langkah umum itu masih belum disadari benar kebutuhannya. dan siap berperan serta dalam proses pembel-ajaran. yaitu (3a) pembukaan. (3) Sintakmatik atau langkah-langkah pembelajaran. Biasanya siswa tertarik kepada (3a1) permasalahan. Asumsi merupakan penjelasan pengetahuan prerekuisit apa yang telah dikuasai dan perubahan yang diinginkan akan dapat tercapai. (2) tujuan dan asumsi. kelas dan waktu. (6) sistem pendukung. Pembelajaran perlu bertolak dari dasar kompetensi dan pengetahuan yang sudah dikuasai untuk berubah menjadi kompetensi yang diharapkan. sering diabaikan.6-8 Pembelajaran Inovatif b. Untuk itu melalui pembukaan yang tepat siswa perlu terangsang dan siap menyerap informasi. standar kompetensi dan kompetensi dasar. Langka-langkah khusus dalam pembu-kaan. Oleh karena itu hakikat dan makna pembukaan adalah . pertemuan ke berapa. (3b) inti penyajian. pokok dan subpokok bahasan. Kelak dapat diketahui apabila kompetensi baru tidak tercapai berarti ada kekeliruan atau kelemahan dalam menetapkan asumsi dan tujuannya. (2) Tujuan dan asumsinya. bahkan sudah menjadi tradisi. (3a2) mempunyai bayangan awal tentang apa yang akan dipelajari dan (3a3) harapan bahwa kompetensi akan tercapai. (1) Identitas mata pelajaran. dan dalam langkah penutup. (7) dampak instruksional dan dampak pengiring. baik yang dilaku-kan guru maupun siswa. dan indikator keberhasilan belajar. yang mendasari dan menjadi titik tolak perancangan model. yang terdiri dari nama mata pelajaran. Hakikat dan makna pembukaan adalah menciptakan suasana mental siswa agar siswa siap berkonsentrasi dan berminat mengikuti proses pem-belajaran. (5) sistem interaksi. (3) sintakmatik. dan (3c) penutup. Langkah umum suatu model sudah baku. dalam inti penyajian. Karakristik umum model pembelajaran Setiap model pembelajaran selalu memiliki unsur-unsur (1) identitas mata pelajaran.

alat dan medianya. Dalam proses ini terjadi pengembangan dan pengendapan ilmu pengetahuan atau kete-rampilan dan sikap. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. dan ling-kungan keluarga. siswa. Kegiatan apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah haki-kat dan fungsinya. Untuk itu dilakukan (3c1) menulis refleksi. (4) Sistem Sosial. dan (3b5) pemberian umpan balik. Namun persyaratan agar proses transaksi itu terjadi perlu (3b1) memperhatikan prinsip-prinsip dan teori-teori pembelajaran. Bagaimana jenis prosesnya. (3c2) pemberian umpan balik umum. teknik-tekniknya dan alat dan medianya. tetangga. serta kiat-kiat interaksinya dapat beragam dan berva-riasi.Pembelajaran Inovatif 6-9 menciptakan kesiapan siswa untuk berpartisipasi. (3b2) memperhatikan prinsip prerekuisit. Kreativitas yang inovatif. (3b3) dilakukan pemberian dan pembahasan contoh. Bagaimana jenis prosesnya. Hakikat dan makna (3c) penutup proses pembelajaran adalah terja-dinya pemantapan kesan akan kompetensi yang baru saja dibahas. dan mengingatkan kembali kompetensi yang perlu dicapai. lingkungan masyarakat: tokoh masyarakat. teknik-tekniknya. Kreativitas yang inovatif asal tidak monoton dapat dilakukan. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. dan (3c3) petunjuk tindak lanjut. Bagaimana jenis prosesnya. teknik-teknik-nya dan alat dan medianya. (3b4) dilakukannya pelatihan. atau disebut juga berbagai unsur lingkungan seperti hubungan guru. guru lain. dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. dalam proses pembukaan perlu dibahas masalah berkenaan dengan topik bahasan. dan kiat-kiat interaksinya bisa saja beragam dan bervariasi. asal tidak monoton apapun dapat dilakukan. Hakikat dan makna (3b) sajian inti adalah terjadinya transaksi informasi antara informasi lama dan baru dalam diri siswa. Bagaimana guru merancang . urutan logis bahan ajar misalnya silabus yang sesuai dengan hasil analisis instruksional. serta kiat-kiat interaksinya bisa beragam dan bervariasi. men-deskripsikan garis besar lingkup sub-subpokok bahasan.

Setiap model selalu membutuhkan sarana. media pembelajaran. penyajian. Bagaimana pula guru mengundang anak jalanan untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. Dsb. (5) Sistem reaksi (interaksi) terjadi baik pada proses pembukaan. seperti toleransi. Dalam proses demikian apakah peran guru dan dukungan sekolah. Dampak pengiring adalah nilai yang me-nunjukkan terbinanya mentalitas. Misalnya model pembelajaran laboratoris perlu menggunakan laboratorium dan lainnya yang ada di laboratorium itu. Tanyajawab. (6) Sistem pendukung.6-10 Pembelajaran Inovatif hubungan interaktir ini merupakan prestasi tersendiri. Semuanya diatur dalam suatu model tsb. Bagaimana bahan ajar ditampilkan. menghargai pendapat orang lain dalam proses diskusi . atau anak-anak panti asuhan. berdiskusi. dan bagaimana refleksi seharusnya ditulis. Guru merancang agar siswa melakukan kegiatan belajar dalam menerapkan kemahiran wawancara dengan tokoh masyarakat. Misalnya bagaimana kemahiran berbicara yang menerapkan model anjangsana belajar. Yang terakhir dan terpenting dalam proses pendidikan adalah (7) dampak pengiring atau “nurture effect” selain dampak instruk-sional yang telah ditetapkan dan diketahui keberhasilannya melalui proses interaksi dan ulangan atau ujian. serta berbagai evaluasi diri siswa dikerjakan. maupun penutup. Semua itu dideskripsikan sebagai sistem interaksi. serta bagaimana guru memotivasi agar siswa menyempurnakan catatan dan melakukan belajar mandiri. dipertanyakan. dan apa saja dapat dilakukan. Model wisata membutuhkan alat transportasi. anjang sana akademik. bagaimana umpan balik dan kuis disampaikan untuk menguji pencapaian kompetensi. tergantung pada teknik dan kiat guru melakukannya. dibahas. wawancara. Pendukung ini dirancang berdasarkan kebutuhan khusus. dan dijadikan alat pembentukkan dan pembinaan karakter peserta didik. Bagaimana peran guru dan siswa serta unsur-unsur pendidikan yang terlibat diatur merupakan prestasi guru tersebut. alat.

Analisis Instruksional kurikulum dalam arti analisis standar isi pendi-dikan. Desain Instruksional Model . Desain dirancang berdasarkan hasil analisis instruksional kurikulum. c. Model desain rancangan itu dapat dilihat seperti berikut. pengembangan rasa ingin tahu melalui proses “model anjang sana belajar”.Pembelajaran Inovatif 6-11 kelompok. silabus. Hakikat-nya adalah pedoman pelaksanaan praktek mengajar. percaya diri dalam kegiatan evaluasi diri. pengembangan kecermatan dan keteli-tian dalam proses tugas mengedit karya tulis peserta didik setelah dialami-nya proses pembela-jaran dengan penyelenggaraan “model kontes editing”. Suatu model pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan kompetensi (SK-KD) dan isi bahan ajar. atau apalah namanya. atau KTSP. kebiasaan mawas diri. atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). suatu sistem pemikiran. Wujud Model Pembelajaran (c1) Model Kesederhanaan Pembelajaran Pembelajaran (Inovatif) hanyalah istilah suatu “konsep”. Standar Isi kurikulum pendidikan berupa daftar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD). Struktur pemikiran tentang model dituangkan dalam bentuk desain yang biasa disebut Rancangan Pembelajaran (RP).

sanggahan. umpan balik c. Menyampaikan persetujuan. contoh c.6-12 Pembelajaran Inovatif Bidang Studi Standar Kompetensi Pokok bahasan Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia : Mengemukakan pikiran. dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti dan alasan . informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : pikiran. Guru terlebih dahulu pada pertemuan sebe-lumnya menyiapkan dan membagikan naskah materi yang akan didiskusikan agar siswa menyiapkan diri membaca naskah itu. dan penolakan pendapat Indikator Keberhasilan : 1. perasaan. melainkan dalam pro-ses. Siswa dapat membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. telah dikemukakan lang-kah-langkah (sintakmatik). sanggahan. Kompetensi Membahas/melakukan/memberi: a. setiap langkah proses. seperti hanya terlihat langkah terlihat pada dan pada unsur teknik-teknik rancangan yang yang Inovasinya tidak sederhana itu. pelatihan d. serta santun Subpokok Bahasan : persetujuan. dan penolakan pendapat . uraian konsep f. umpan balik e. Deskripsi singkat c. refleksi b. Rancangan hanya memberi peluang kepada guru untuk . Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. tindak lanjut dialog MODEL: DISKUSI KELOMPOK TEKNIK MEDIA WAKTU OHP Rancangan 5’ Bagi kelompok Penjelasan Diskusi kelompok Laporan hasil Diskusi hasil Penyimpulan Kerja individual menulis refleksi Penugasan OHP Artikel materi diskusi 5’ 25’ 45’ Lembar refleksi 10’ (c2) Bentuk interaksi kreatif dan inovatif di setiap unsur proses Di bagian manakah ciri inovatifnya suatu model? Dalam rancangan diterapkan. perasaan. Uraian konsep b. contoh g. sanggahan. Siswa dapat menyampaikan persetujuan. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : 1. 2.2. dst Membahas/melakukan/memberi: a. serta santun Identitas matapelajaran Satuan Acara Pembelajaran Kegiatan: URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL Pembukaan Membahas/mempertanyakan: Penyajian Penutup a. Permasalahan/relevansi b.

1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family) Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memehami dunia dengan cara menggali masalah dan dan mengorganisasikan mengupayakan data. Winataputra (2001). memberi petunjuk tentang proses diskusi. lengkap namun terpilih dari sumber Bruce Joyce (2000).Pembelajaran Inovatif 6-13 menciptakan suasana belajar yang inovatif. kecerdikan. Dibutuhkan kemahiran. yakni: 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family). dan Atwi Suparman (2001). Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori. Kelompok dan Contoh Model Pembelajaran Inovatif a. Udin S. 4. Kelompok Model Sistem Perilaku (The Behavioral System Family). proses diskusi (dalam SAP menyam-paikan tujuan/kompetensi. memberi saran bagaimana bergilirannya bicara. Kelompok Model Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar kependidikan di bidang itu. kelompok dan kreativitas contoh guru mengelola tadi). jalan merasakan adanya . 2) 3) 4) Kelompok Model Personal (The Personal Family). mengamati proses diskusi. Selanjutnya dalam bahan ajar ini disampaikan kutipan jenis model pembelajaran inovatif. Kelompok Model Sosial (The Social Family).

Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau selfhood dari individu. menitikberatkan pada Beberapa kelompok dan memberikan ke-pada para guru sejumlah konsep. Pengertian umum meru-pakan hasil kesepakatan individu yang harus hidup. Secara umum banyak dari model pengolahan informasi ini yang dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia.6-14 Pembelajaran Inovatif pemecahannya. dan Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry) 2) Kelompok Model Personal (Personal Models) Disadari bahwa kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu. Manusia mengembangkan kepribadian yang unik. serta mengembangkan model dalam bahasa untuk ini mengungkapkannya. Beberapa model. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah: Model a) b) c) d) e) f) g) Pencapaian Konsep (Concept Attainment) Berpikir Induktif (Inductive Thinking) Latihan Penelitian (Inquiry Trainging) Pemandu Awal (Advance Organizers) Memorisasi (Memorization) Pengembangan Intelek (Developing Intellect). Proses pendidikan sengaja diusahakan agar memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik memikul tanggung jawab untuk pendi-dikan. dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. dan mem-bentuk keluarga secara bersama-sama. dan melihat dunia dari sudut pandangannya yang juga unik yang meru-pakan hasil dari pengalaman dan kedudukannya. dan sebagian lainnya memu-satkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. bekerja. sebagian lagi pem-bentukan konsep pengetesan hipotesis. . sengaja dirancang untuk mem-perkuat kemampuan intelektual umum.

Kelompok model ini meliputi sejumlah model. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry). Bermain Peran (Role Playing). Termasuk ke dalam kelompok ini. sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. Kelompok Model Sosial ini dirancang untuk me-manfaatkan fenomena kerjasama. hal ini tidaklah berarti bisa dipakai begitu saja. dan oleh karena itu pula model-model sosial merupakan bagian penting dari proses pembelajaran secara keseluruhan. a) b) c) Investigasi Kelompok (Group Investigation). ternyata belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. model-model pembelajaran ini a) b) c) d) Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching) Sinektiks (Synectics Model) Latihan Kesadaran (Awareness Training).Pembelajaran Inovatif 6-15 Kelompok Model Personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif. Model ini telah banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakuannya. 1981). sinergy dapat memberikan keuntungan. Yang harus dicatat ialah. dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). 3) Kelompok Model Sosial (Social Models) Diakui bahwa kerjasama merupakan suatu fenomena kehidupan ber-masyarakat. . Robert Shavin (1983) telah berkerja sama dengan para guru untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan cooperative rewards atau hadiah yang diberikan atas suatu kerjasama. dan struktur tugas kerja-sama (cooperative task structure) dalam suatu kegiatan kelompok. Dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan meng-himpun tenaga atau energy secara bersama yang kemudian disebut synergy (Joyce dan Weil: 1986). David serta Roder Johnson dan kawan-kawan (1974. Namun demikian. Hasilnya cukup meyakinkan. seperti berikut.

bagaimana belajar membaca dan menghitung.6-16 Pembelajaran Inovatif d) e) 4) Latihan Laboratoris (Laboratory Training). sosial dan fisik yang perlu bagi seorang pilot datau astronout. model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi atau overt behavior. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development). dan mempelajari keterampilan intelektual. Kelompok Model Sistem Perilaku (Behavioral System) Dasar teoritik dari kelompok model ini ialah teori-teori belajar sosial atau social learning theories. dan Sibernetika atau Cybernetics. Dengan berdasar pada konsep bagaimana seseorang memberikan res-pons terhadap tugas dan umpan balik. para ahli psikologis. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). dan Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry). Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy. menghilangkan rasa cemas dan cara santai. belajar Kontrol Diri (Learning Self Control). Model ini dikenal pula sebagai model Modifikasi Perilaku atau Behavioral Modification. Yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu: a) b) c) d) e) Belajar Tuntas (Mastery Learning). mengembangkan keterampilan kinestetik dan sosial. dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomuni-kasikan keberhasilan. dan Latihan Asertif (Assertive Training) . Dasar pemikiran dari kelompok model ini ialah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self-correcting communication systems yang memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. seperti Skinner (1953) telah mempelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat memberikan kemudahan terhadap hilangnya rasa takut pada diri seseorang. Oleh karena itu.

Model Investigasi Kelompok. Bukan contoh atau noneksemplar. ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial. ialah gambaran atau bentuk nyata yang tidak sesuai dengan konsep itu. Contoh atau eksemplar adalah gambaran atau bentuk nyata dari kon-sep itu. . Contoh-contoh ini merupakan kutipan dan adaptasi dari sumber yang sudah tersebar secara nasional sebagai materi pelatihan dosen di perguruan tinggi. feno-mena. sayur-mayur. dalam batas-batas tertentu. biana-tang.Pembelajaran Inovatif 6-17 Beberapa model dari semua kelompok model itu dibahas pada uraian bagian selanjutnya untuk diterapkan dalam bidang kajian yang relevan. 1) MODEL PENCAPAIAN KONSEP Tujuan dan Asumsi Setiap konsep memiliki empat elemen yaitu. pemerintah. dan nilai dari ciri-ciri terse-but. atau pengalaman. Contohnya. Model Jurisprudensial Model Latihan Laboratoris. Model Kontrol Diri. Nama ialah istilah yang dipakai untuk suatu kategori benda. Namun hakikatnya pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah menengah bahkan. contohnya. dan Model Simulasi. Model Pertemuam Kelas. Model Sinektiks. contoh atau eksem-plar. mahluk hidup. b. dapat diaplikasikan di tingkat pendidikan dasar 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Model Pencapaian Konsep. penduduk. manusia. Model Latihan Penelitian. Contoh Model Pembelajaran Berikut disampaikan beberapa Model Pembelajaran Pilihan sebagai contoh yang diperkirakan dapat dimanfaatkan di sekolah. nama. dan kerajaan. Model Penelitian Sosial.

Misalnya. Ibu abdulleah sebagai ibu rumah tangga. semua anak telah membentuk keluarga baru. dan usiaperkawinan merupakan nilai dan atribut keluarga. misalnya keluarga baru. yang apabila ciri itu tidak terdapat dalam suatu contoh positif tidak mengurangi makna dari konsep itu. Nilai atribut ialah kualitas dari setiap atribut. yang sekalipun memiliki anak. pendidikan. atribut esensial dari konsep keluarga ialah adanya orang tua (ayah dan ibu atau salah satu untuk keluarga orang tua tunggal). adanya anak bukan atribut esensial. Siswa membuat dan mengetes hipotesis. Misalnya. Sintakmatik Model Pencapaian Konsep memiliki tiga tahap kegiatan. (hal 11) Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan negatif. Misalnya untuk contoh konsep ke-luarga.6-18 Pembelajaran Inovatif keluarga Pak Haji Abdullah yang terdiri dari Haji Abdullah sebagai Kepala keluarga. Tahap Kedua: Mengetes Pencapaian Konsep (1) Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label de-ngan menyatakan ya atau bukan. dan tempat tinggal yang tetap. . Suryadi dan Suryani putra/putrinya sebagai anggota keluarga merupakan contoh atau contoh positif dari konsep Keluarga. Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri esensial. Atribut esensial ialah ciri-ciri utama yang memberikan gambaran sosok utuh suatu konsep. tingkat kesejahteraan. Tahap pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep (1) (2) (3) (4) Pengajar menyajikan contoh yang sudah diberi label. mata pencaharian. keadaan rumah. Ahmad yang hidup sendirian adalah bukan contoh atau contoh negatif dari konsep keluarga. atau keluarga senior. karena banyak keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri saja. Atribut yang tidak esensial ialah ciri-ciri lain yang melengkapi gambaran konsep. Sedangkan.

Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan mahasiswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. dan menyatakan kem-bali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. nama konsep. Interaksi antar mahasiswa digalakkan oleh peng-ajar. Tahap Ketiga: Menganalisis Strategi Berpikir (1) (2) (3) Siswa mengungkapkan pemikirannya. Pusatkan perhatian para siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik. Pengajar melakukan pengendalian terhadap aktivitas. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan duga-an yang satu dari yang lainnya.Pembelajaran Inovatif 6-19 (2) Pengajar menegaskan hipotesis. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai. mereka akan dapat bertukar pikiran dan . Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep. Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat. Bila siswa sudah dapat berpikir semakin kompleks. namun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. Prinsip Reaksi (1) (2) (3) (4) Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat diskusidiskusi yang berlangsung.

toleransi terhadap ketidaktentuan. seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari contoh-contoh lainnya. Yang diharapkan ialah agar siswa dapat mempertanyakan. dan kesadaran akan pilihan pandangan. Dengan situasi yang penuh teka-teki ini secara alami siswa akan terdorong untuk memecahkan teka-teki itu. menuntut metode yang dapat mem-beri kemudahan bagi para siswa untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. mengapa suatu peristiwa terjadi. memberikan arah khusus sehingga mereka akan dapat mela-kukan eksplorasi itu dengan semangat dan dengan penuh kesungguhan. dan menelitinya dengan cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis. Umumnya manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. 2) MODEL PELATIHAN PENELITIAN Tujuan dan Asumsi Latihan Penelitian (Inquiry Training) bertolak dari kepercayaan bahwa perkembangan sesorang agar mandiri. Dampak pengiring model ini adalah kepekaan terhadap penalaran logis.6-20 Pembelajaran Inovatif bekerjasama dalam membuat unit-unit data. karena itu model latihan penelitian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi. Latihan penelitian dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh pertanyaan. dan penalaran induksi. Penguasaan tentang strategi pembentukan konsep. memiliki perhatian besar untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. Dengan cara ini diyakini bahwa para mahasiswa dapat menjadi semakin sadar akan proses penelitian yang dilakukannya dan pada saat itu secara . konsep-konsep yang spesifik. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampat Instruksional model ini adalah penguasaan akan hakikat konsep. Dengan model ini Suchman.

Tahap Ketiga : Mengkaji Data dan Eksperimentasi (1) Mengisolasi variabel yang sesuai . (1) (2) (3) (4) Secara alami siswa akan mencari sesuatu segera setelah dihadapkan pada masalah. Mereka akan menjadi sadar tentang dan bekajar mengenai strategi berpikir yang dimilikinya. Yang paling penting. dan Penelitian yang bersifat kerjasama akan memperkaya proses berpikir dan membantu siswa untuk belajar tentang sifat tentatif dari pengeta-huan. dan menghargai berbagai alternatif penjelasan mengenai sesuatu hal. Memeriksa tampilnya masalah. menyajikan kepada siswa suatu sikap bahwa “pengetahuan itu bersifat tentatif” artinya selalu terbuka untuk dikaji secara terus menerus. demikian menurut Suchman sebagai pengembang model ini. sifat selalu berkembang dari pengetahuan. Sintakmatik Model ini memiliki 5 tahap seperti berikut: (Joyce & Weil 1986: 61) Tahap Pertama: Menghadapkan Masalah (1) (2) Menjelaskan prosedur penelitian Menyajikan situasi yang saling bertentangan atau berbeda Tahap Kedua: Mencari dan Mengkaji Data (1) (2) Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi. Pada dasarnya model ini mengikuti teori Suchman sebagai berikut.Pembelajaran Inovatif 6-21 langsung dapat diajarkan cara melakukan prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung melengkapi strategi yang telah dimilikinya.

tunjukkan kepada siswa dengan jelas. Tahap Kelima: Menganalisis Proses Penelitian Dilakukan dengan cara menganalisis strategi penelitian untuk men-dapatkan prosedur yang lebih efektif. Merumuskan dan Menjelaskan. Akan tetapi. Dalam konteks ini pengajar dan siswa seyogyanya berpartisipasi atas dasar persamaan derajat dalam menghadapi suatu ide. Interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. Tahap Keempat : Mengorganisasikan. Mintalah siswa untuk merumuskan pertanyaan yang kurang tepat. Sistem Sosial Model Latihan Penelitian dapat diorganisasikan secara lebih terstruk-tur di mana pengajar mengendalikan keseluruhan proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus ditempuh. Dilakukan dengan cara merumuskan cara-cara atau aturan untuk menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya. Prinsip Pengelolaan / Reaksi (1) (2) (3) (4) Pertanyaan yang diajukan harus diungkapkan dengan jelas sehingga dapat dijawab siswa. . Jika ada butir persoalan yang tidak sahih. Lingkungan intelektual juga ditan-dai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan. kebebasan intelektual.6-22 Pembelajaran Inovatif (2) Merumuskan hipotesis sebab akibat. misalnya dengan cara menunjukkan kepada siswa teori mana yang memerlukan percobaan. Gunakan bahasa yang baik untuk melakukan proses penelitian. tetap diperhatikan bahwa prinsip dan norma yang dikandung dalam model ini ialah kerjasama. dan kesamaan derajat.

dan sumber bahan yang mampu memberikan permasa-lahan melakukan penelitian. Gordon menitikberatkan kreativitas seba-gai salah satu bagian dari . terlatihnya keterampilan proses. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah materi yang dapat dikonfrontasikan pengajar yang mengerti proses intelektual dan strategi penelitian.Pembelajaran Inovatif 6-23 (5) (6) Cobalah berikan suasana kebebasan intelektual dengan cara tidak menilai teori yang diajukan siswa. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah memahami strategi untuk penulisan karya ilmiah. (1) Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Berikan dorongan dan kemudahan bagi siswa untuk melakukan interaksi di antara mereka. Hampir semua orang setiap hari bergulat dengan masalah yang menuntut kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan. terhadap ketidakpastian. dan terlatihnya semangat kreatif. Berikan dorongan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan ten-tang teori dan selanjutnya memberikan dukungan untuk melakukan perumusan generalisasi. otonom dalam berpikir. Dampak pengiring dari model ini adalah meningkatnya kemandirian. toleransi yang menantang bagi siswa untuk 3) MODEL SINEKTIKS Tujuan dan Asumsi Gordon dalam Joyce dan Weil (1986: 164-165) mendasarkan model sinektik ini pada empat ide yang menentang pandangan lama tentang kreativitas.

Oleh karena itu model ini dirancang untuk meningkatkan kemam-puan seseorang dalam memecahkan masalah. 1986: 166_168). Ia dapat dipaparkan. (2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. Gordon percaya bahwa seseorang dapat memahami inti proses kreatif dan ia akan dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara bebas sebagai anggota masyarakat. Indifidu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam bentuk yang serupa. (3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya. Kegiatan metaporis ber-tujuan menyajikan perbedaan konseptual antara diri mahasiswa de-ngan obyek yang dihadapi atau meteri yang dipelajari. Diya-kini bahwa proses berpikir mencipta dalam kiat atau seni erat sekali hubungannya dengan proses berpikir dalam ilmu. mengekspresikan sesuatu secara kreatif. Analogi personal dilakukan oleh para mahasiswa Pada saat mereka meletakan diri .6-24 Pembelajaran Inovatif pekerjaan dan waktu senggang sehari-hari. karena ia sangat mungkin untuk melatih seseorang secara lagsung sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya. Misalnya de-ngan cara meminta mengandaikan sisrem tubuhnya sebagai jaringan transportasi. menunjukkan empathy. Pengembangan kreativitas ini dapat dilakukan dalam suasana pendidikan formal. analogi langsung dan konflik yang dipadatkan (Joyce dan Weil. Di samping itu ditekankan pula makna ide-ide yang dapat diperkuat me-lalui aktivitas yang kreatif dengan cara melihat sesuatu lebih luas. dan memiliki wawasan sosial. (4) Penemuan yang kreatif dari indifidu dan kelompok pada dasarnya serupa. Inti dari model sinektiks ialah aktivitas metapora yang meliputi analogi personal.

kemudian memilih salah satu untuk diekplorasi lebih jauh. kemudian membuat beberapa konflik yang dipa-datkan. Tahap keempat: konflik yang dipadatkan Siswa mengambil apa yang dipaparkan atau didiskripsikan pada tahap kedua dan ketiga. misalnya” sangat galak atau sangat ramah” Sintakmatik Model sinektiks ini memiliki enam tahap: Tahap pertama: Deskripsi Kondisi saat ini Pengajar meminta mahasiswa untuk memaparkan atau mendiskripsi-kan situasi yang ia amati saat ini. Mengidentifikasi diri pada obyek hidup. Tahap ketiga:Analogi personal Siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan yang dianalo-gikan pada tahap sebelumnya. dan memilih salah satu. Fungsi dari proses ini ialah untuk mentransposekan sesuatu keadaan nyata pada keadaanyang lain dalam rangka memperoleh pandangan baru atau masalah baru. Misalkan dengan cara menggadaikan dirinya sebuah mobil.dan Mengidentifikasikan diri pada obyek yang tidak hidup Analogi langsung merupakan perbandingan sederhana antara dua obyek atau konsep. . Tahap kedua: Proses analogi langsung Siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian. sedangkan yang dimaksud dengan konflik yang di padatkan. Dalam analogi personal ini terdapat empat tahap: (1) (2) (3) (4) Mendiskripsikan fakta mengenai orang pertama’ Mengidentifikasi orang pertamadengan perasaan.Pembelajaran Inovatif 6-25 pada obyek yang sedang dibandingkan. ialah cara mengkontraskan dua ide dengan memberi label sinkat biasanya dengan hanya dua kata.

6-26 Pembelajaran Inovatif Tahap kelima: Analogi langsung Siswa mengemukakan dsan memilih analogi langsung yang lain ber-dasarkan pada konflik yang dipadatkan. Dalam keseluruhan proses. Pengajar juga membantu mahasiswa untuk mengkonseptualisasikan proses mental. Dengan demikian. saat kegiatan metaporis para mahasiswa tetap memi-liki kebebasan dalam diskusi yang tebuka dan tanpa akhir atau open-ended Prinsip Pengelolaan/reaksi Pengajar mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh pola berpikir yang reguler dan ia mencoba untuk menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon. keseluruhan proses sinektiks itu akan dapat berjalan sesuai dengan jalan pikiran dan ide yang melatarbelanginya. Ada kalanya pengajar harus menggunakan teknik yang tidak rasional untuk mendorong siswa yang enggan melibatkan diri dalam proses metaporis. Walaupun demikian. di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan urutan dan membimbing mekanisme interaksi belajar. pengajar harus dapat menerima respon siswa agar mereka merasa bahwa dalam kegiatan metaporis itu tidak dicampuri oleh pihak luar dirinya. Perlu diperhatikan agar jangan sampai terjadi analis yang bersifat premature atau terlalu dini atau lahir sebelum waktunya. Sistem Sosial Model ini terstruktur sedang. . Tahap keenam: Pengujian kembali tugas awal Pengajar mengarahkan siswa untuk kembali kepada tugas awal atau masalah dan menggunakan analogi yang terakhir atau keseluruhan proses sinektis.

Diyakini sekolah gagal bukan dalam me-nampilkan profil akademis tetapi dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan. Glasser . Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki dan harga diri. Dalam kelas rasa cinta tercer-min dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. Kelas yang perlu diperhatikan. 4) MODEL PERTEMUAN KELAS Tujuan dan asumsi Glasser dalam Joyce dan Weil (1986. berupa ruangan yang lebih besaryang memungkinkan terciptnya lingkungan yang kreaktif melalui aktifitas yang bervariasi. kapasitas kreatif dalam bidang studi. berdasarkan konsep terapi dalam perubahan peri-laku. konstruktif. Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok. untuk mencapai keberhasilan.Pembelajaran Inovatif 6-27 Sistem pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini ialah adanya pengajar yang kompeten menjadi pemimpin dalam prosis sinektiks kadang-kala diperlukan pula sejumlah alat dan bahan atau tempat untuk membuat model analogi yang bersifatfisik. 205) mengajukan pemikiran bahwa pada umumnya masalah kemanusiaan merupakan kegagalan dari fungsi sosial dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar untuk dicintai dan dihargai. Asumsi yang kedua. Dampak instrusional dan pengiring Dampak instrusional model ini adalah siswa memiliki kapasitas ke-kreatifan umum. sedangkan dampak pengiringnya adalah keutuhan dan produktivitas kelompok. Metode terapi yang bersifat tradisional sering tidak realistis sebagai akibat perilaku tidak berfungsi.

dicintai. Tahap kedua: Menyajikan masalah untuk didiskusikan (1) (2) (3) (4) Siswa dan atau pengajar membawa isu atau masalah Memaparkan masalah secara utuh. Mahasiswa bersepakat tentang pilihanya itu Tahap kelima: Membuat komentar secara umum Tahap Keenam: Tindak Lanjut Perilaku Tahap ketiga.6-28 Pembelajaran Inovatif mencoba berusaha untuk memper-baiki penampilan dan memenuhi kebutuhan dengan cara membantu orang lain mengenai apa yang nyata. dan memiliki identitas. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap (Joyce danWeil 1986: 210) Tahap pertama. siswa membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki Tahap keempat: Mengidentifikasi Pilihan Tindakan (1) (2) Mahasiswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku. Membangun iklim keterlibatan (1) (2) Mendorong siswa agar berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri. Mengidentifikasi nilai yang ada di balaik masalah perilaku dan norma sosial. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul Mengidentifikasi norma sosial. apa yang bertanggung jawab dan mana yang benar. Cara ini juga untuk memenuhi kebu-tuhan emosional orang lain untuk merasa berharga. Tujuan terapi ini ialah meningkatkan kemampuan untuk memenuhi komitmen pada perubahan perilaku. Membuat keputusan nilai personal . Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai.

dan hubungan yang peka antara siswa dan pengajar. Ia juga harus mampu untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak bersifat defensif atau selalu bertahan diri. personal. Sistem Sosial Model Pertemuan Kelas ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. menarik. (2) Dengan melalui sikap tidak menentukan. keputusan moral terletak pada siswa. Walaupun tanggung jawab ada pada tangan pengajar. yakni tanggung jawab untuk membimbing interaksi mela-lui tahap tahap tersebut terletak pada tangan pengajar. Kepemimpinan. pengajar harus dapat mene-rima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa. tidaklah menentukan. . Sistem Pendukung Yang diperlukam untuk melaksanakan model ini ialah pengajar yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dalam diskusi. Walaupun demikiam diharapkan pula siswa dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi setelah mengalami beberapa aktivitas. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Perilaku Pengajar dibimbing oleh tiga prinsip: (1) Prinsip melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat. mahasiswa menguji efektivitas dari komit-men dan perilaku baru itu. Apa yang dikemukakan oleh pengajar pada saat mendengarkan pemaparan kajian nilai. dan pada saat yang bersamaan ia mampu membimbing kelompok menuju penilaian perilaku komitment dan tindak lanjut dari perilaku itu.Pembelajaran Inovatif 6-29 Setelah periode tertentu. (3) Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada.

Berkenaan dengan hal itu. siswa berusaha untuk memelihara cara hidup yang berkembang di situ. menurut Joyce danWeil (1986: 228) suasana kelas meru-pakan analogi dari kehidupan masyarakat.6-30 Pembelajaran Inovatif Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah pencapaian tujuan dan eva-luasi. sedangkan dampak pengiringnya adalah tercapainya kemandirian dan pengarahan diri. Untuk kepentingan praktis model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut. pengajar seyogianya Model berusaha Pembelajaran untuk menciptakan suasana atau yang Group memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu. 5) MODEL INVESTIGASI KELOMPOK Tujuan dan Asumsi Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehi-dupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. dan budaya kelas. yakni standard hidup dan pengaharapan yang tumbuh dalam suasana kelas. Dalam kerangka itu. yang di dalamnya memiliki tata tertib. serta terbinanya keterbukaan dan keutuhan. Investigasi Kelompok Investigation mengambil model yang berlaku dalam masyarakat. terutama menganai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serang-kaian kesepakatan sosial. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah siswa mempelajari pengetahuan .

Dalam interaksi ini melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta saling tukar peng-alaman melalui proses saling berargumentasi. Masalah itu sendiri dapat timbul dari siswa atau diberikan oleh pengajar. Hal-hal tersebut merupakan dasar dari model investigasi kelompok. Tahap Ketiga: . Sintakmatik Model Investigasi Kelompok ini memiliki enam tahapan kegiatan. pengetahuan atau knowledge. Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama.Pembelajaran Inovatif 6-31 akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. Yang dimaksud dengan penelitian ialah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah. Yang dimaksud dengan pengetahuan ialah pengalaman yang tidak dibawa lahir tapi diperoleh oleh individu melalui dan dari pengalamannya secara langsung maupun tidak langsung. Untuk memecahkan masalah ini. menuntut prosedur dan persyaratan yang sudah tertentu. Tahap Pertama: Siswa dihadapkan dengan situasi yang problematis. Tahap Kedua: Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang problematis. Dinamika kelom-pok menunjuk pada suasana yang menggambarkan sekelompok individu saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama. yaitu penelitian atau inquiry. sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. dan dinamika belajar kelompok atau dynamics of the learning group.

6-32 Pembelajaran Inovatif Siswa merumuskan tugas-tugas belajar atau learning tasks dan mengorga-nisasikannya untuk membangun suatu proses penelitian. Dengan demikian suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur. konsultan. Tahap Keempat: Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok. (2) Tahap pengelolaan kelas. Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab perta-nyaan. Tahap Keenam: Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities. (3) Tahap pemaknaan secara perseorangan. Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap pemecahan masalah. Sistem Sosial Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model ini bersifat demokratis yang ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. apa yang menjadi hakikat masalah. Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus. Pengajar dan siswa memiliki status yang sama menghadapi masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Tahap Kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian kelompok itu. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. pengajar lebih berperan sebagai konselor. dan apa . dan pemberi kritik yang bersahabat. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Di dalam kelas yang menerapkan model Investigasi Kelompok.

kemerdekaan sebagai pela-jar. dan komitmen terhadap keberagaman 6) MODEL PENELTIAN JURISPRUDENSIAL Tujuan dan Asumsi Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986: 260-267) model ini me-miliki sejumlah karakteristik.Pembelajaran Inovatif 6-33 yang menjadi fokus masalah. Dasar pemikiran model ini . mempero-leh bagaimana informasi mengorga-nisasikan itu. menghormati hak asasi manusia. sedangkan kelompok tahap untuk pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya. informasi apa saja yang diperlukan. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional misalnya tercapainya kesepakatan atas pandang-an tentang pengetahuan. peningkatan kemampuan meneliti secara disiplin. 1986: 234) Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan. tercapainya proses dan keteraturan kelompok yang efektif. Perpustakaan diusahakan untuk cukup memiliki sumber informasi yang komprehensif dengan alat bantu mengajar atau media yang relatif memadai pula. komitmen terhadap penelitian sosial. sedangkan dam-pak pengiringnya adalah dorasakannya kehangatan dan keterikatan antar-manusia. dan apa yang membe-dakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Joyce dan Weil.

Yang tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik rasial dan etnis. Sintakmatik Model Jurisprudensial ini memiliki enam tahap (Joyce & Weil 1986: 268). tentu saja harus disesuikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa. keamanan pribadi. pendidikan. yang pada hakekatnya berkenaan dengan konsep keadilan. Tahap Pertama: Orientasi terhadap Kasus . Lingkup dan tingkat kerumitan dari masing-masing bidang kajian tersebut. (2) Memiliki seperngkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam men-jernihkan dan memecahkan masalah nilai. Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif. dan (3) Menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya. konflik ideologi atau keagamaan. (1) Mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada dilingkungan negaranya.6-34 Pembelajaran Inovatif ialah konsepsi ten-tang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain. konflik antargolongan ekonomi kesehatan. kesejahteraan dan keamanan nasional. hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik mela-kukan kesepakatan dengan orang lain. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut diperlukan tiga kemampuan. Setiap warga negar harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengam-bil contoh masalah sosial yang paling tepat.

Tahap Keenam: Mengetes Asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskannya. Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih. Kemudian menyatakan edudukannya dalam konflik nilai itu dan dalam hbungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu. Tahap kelima: Menjernihkan dan menguji Posisi (1) Mahasiswa menyatakan posisinya dan memberikan rasional mengenai posisinya itu. Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi Siswa memilih suatu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan. dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa. Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya. Tahap Keempat: Mengekplorasi contoh-contoh dan pola argumentasi (1) (2) (3) (4) Menetapkan titik di mana terihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh. Pengajar mereviu data yang tersedia. . (2) Mahasiswa meluruskan posisinya.Pembelajaran Inovatif 6-35 (1) (2) (1) (2) (3) (4) Pengajar memperkenalkan bahan-bahan. Menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya. Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan. Menjernihkan konflik nilai dengan melakuakn proses analogi. Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan konflik nilai.

Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis.6-36 Pembelajaran Inovatif (1) (2) Mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya. Menetapkan konsekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dari konsekuensi itu. Sistem Pendukung Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumbersumber dokumen yang relevan dengan masalah. cara memberikan atau pertanyaan mengenai relevansi. Setelah mahasiswa mengalami satu kali proses jurisprudensial. Secara umum. reaksi ter-hadap komentar siswa dengan keajegan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Reaksi pengajar. diharapkan masing-masing akan dapat melakukanya tanpa bantuan dari orang lain. pengajar harus dapat mengantisipasi nilai yang diajukan oleh siswa dan berkenaan dengan hal itu pengajar harus siap untuk menantang dan melacaknya lebih jauh. Seyogyanya . kekhususan. Untuk dapat memerankan hal tersebut. pengejar memulai mem-buka tahapan dan bergerak dari tahap ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. dan kejelasan secara definitif. keumuman. terutama yang terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui atau menyetujui. Sistem Sosial Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang terstruktur rendah sampai pada yang terstruktur ketat.

Di dalam menerapkan model ini perlu diperhati-kan hal-hal. Memperoleh wawasan terhadap perilaku dan reaksi seseorang. Proses interpersonal memusatkan perhatian pada dinamika hubungan antar individu yang berupa hubungan mempengaruhi. seperti tingkat usia siswa. memberi dan menerima ban-tuan. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model dalam Jurisprudensial Dampak ini memiliki dampak adalah instruksional meningkatnya kemampuan mengasumsikan peranan orang lain. 7) MODEL LATIHAN LARATORIS Tujuan dan Asumsi Model ini bertolak dari konsep T-Group Experience yang menitik-beratkan pada proses intrapersonal. kepemimpinan. terbinanya rasa empati dan wawasan pluralistik. dan kemampuan berdialog. pengiringnya kemampuan untuk berparti-sipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial. dan pengarahan sendiri. Tujuannya ialah untukl mengerti . komunikasi. umpan balik. pemahaman lebih luas tentang fakta masalah sosial. dinamika kelompok. penyelesaian konflik. dan lingkungan berlajar.Pembelajaran Inovatif 6-37 disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus yang aktual. khususnya dengan cara memper-oleh umpan balik dari orang lain merupakan tugas belajar atau learning task. interpersonal. atau yang memang sukar diperoleh oleh mahasiswa. Lebih jauh ditegaskan oleh Joyce & Weil (1986: 279-283) bahwa proses intrapersonal memberi tekanan pada tujuan yang akan dicapai yaitu pegetahuan sendiri (selfknowledge). Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka. kekuasaan dan kontrol.

Biasanya Struktur T-Group merupakan struktur yang utama. Yang terakhir. menuju perilaku yang baru. data yang menjadi bahan analisis adalah pengalaman dan umpan balik yang diperoleh mahasiswa pada saat mereka belajar bersama. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk tiap-tiap tahap utama. orientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kelompok. situasi yang kurang bertujuan. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini. Pertama. seperti diuraikan dalam . para anggota kelompok dan pelatih seyogianya melaksanakan peranan sebagai pengamat yang terlibat atau participant observer. kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. Di sini keka-buran situasi menimbulkan ketegangan. Sintakmatik Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Ketiga. dan memungkinkan siswa mem-berikan respon terhadap keadaan itu yang pada akhirnya dilakukan dengan pengarahan. Tahapan kegi-atan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri. merubah sikap. Model ini memiliki empat elemen dasar. Kesemua tujuan iotu akan dicapai dengan cara meningkatkan kesadaran.6-38 Pembelajaran Inovatif kondisi dan kemudahan atau hambatan terhadap berfungsinya kelompok. Kedua.

namun masih tetap dalam batas yang dapat ditoleransi.14 TAHAP PENGEMBANGAN T-GROUP I. 4.Pembelajaran Inovatif 6-39 Tabel 3. dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalamT-Group ini. 5. 3. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok. munculnya dua kelompok yang berbeda keinginan). evaluasi keterlibatan.Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin) 2. terarah. pemberi contoh. struktur tidaklah tampak. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan dan keterlibatan lebih banyak. pengenalan terhadap bermacam-macam. dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri. perasaan positif). bersemangat belajar yang tinggi. Tahap Ketergantungan Hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok 1. anggota kelompok.) II. mau dan mampu memberi dan menerima umopan balik. yakni sebagai: pengamat yang terlibat. sadar akan tanggapan terhadap orang lain) Sistem Sosial Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan. . penghargaan terhadap pelatih. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Pelatih. sikap. Pemikatan (solidaritas kelompok. pengajar sebagai pelatih menjelaskan ahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama. rasa percaya dan kerjasama. Pemecahan masalah (munculnya keinginnan untuk memanfaatkan waktu lebih baik. serta rasa takut diserang) 6. Saling ketergantungan. dan bersifat mendukung. Di dalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka. jujur. Peduli terhadap orang lain dan kerjasama mengatasi masalah umum. Kontra ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan. Di sini. dan sebagai mediator atau perantara.

toleran terhadap kebi-nekaan. . (2) (3) Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian. Penekanan pada hipotesis sebagai fokus utama. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional adalah tercapainya kemam-puan mengatasi perubahan. dan Penggunaan fakta sebagai bukti. situasi kelas. kemampuan bersepakat dan ekspresi diri.6-40 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan dan paling utama ialah penga-jar/pelatih yang berpengalaman dalam model ini. sedang-kan dampak pengiringnya adalah kemampuan beradaptasi terhadap peru-bahan. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut: (1) Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terha-dap masalah dan dapat merumuskannya yang akan menjadi pusat penelitian. luasnya wawasan atas perilaku interpersonal. dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari. dan lapang dada atas hakikat afektif dari respon manusia. 8) MODEL PENELITIAN SOSIAL Tujuan dan Asumsi Menurut Massialas dan Cox dalam Joyce dan Weil (1986: 294) suasana kelas yang bersifat reflektif memiliki tiga karakteristik utama : (1) (2) (3) Aspek sosial kelas dan keterbukaan dalam diskusi. Model ini dapat dilaksana-kan dalam situasi kelembagaan.

dan instruktur. Pengajar ber-tugas membantu siswa dalam penggunaan bahasa yang jelas. Sistem Sosial Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. pengarah. mem-perbaiki proses belajar membuat dan melaksanakan rencana. pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif yang membantu siswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. logika yang nalar. yaitu pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang lebih luas. Akibat dari tugas tersebut. Pengajar meng-ambil inisiatif untuk meneliti dan memandu siswa dari tahap lainnya. . Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih. pengertian tentang asumsi. dan ia harus memikul tanggung jawab untuk meng-ikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir. konselor. Siswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemam-puan dalam penelitian. pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang bertugas membentu siswa untuk menjernihkan kedudukannya. Merumuskan generalisasi. objektif. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam keseluruhan tahap. (5) (6) Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis.Pembelajaran Inovatif 6-41 (4) Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian.

Pengelolaal ketergantungan pada atau contingency management yang menjadi inti dari model Kontrol Diri.6-42 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama. dan tindakan sosial. Ciri yang paling esensial ialah hubungn antara respon dan stimulus yang diberi penguatan. 9) MODEL KONTROL DIRI Tujuan dan Asumsi Pada teoretisi perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan pengu-atan. Kondisi ini disebut Contingent atau tergantung pada. Di samping itu juga harus . dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. Orang yang membangun hubungan konti-ngensi antara stimulus dan respon ini harus menydari akan adanya respon yang memang diinginkan dan tidak diinginkan. merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pad saat-saat tertentu setelah munculnya respon. pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam meng-atasi masalah kehidupan. Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. dan komitmen terhadap peningkatan mutu sumber daya. sumber kepustakaan yang tak terbatas. Ling-kungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik. sedangkan efek pengiringnya penghargaan terhadap hak asasi manusia. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal adalah penjagaan terhadap permasalahan sosial.

atau mengacungkan ibu jari. Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak belakang dari prinsip Operant Conditioning. dan aktivitas. Model ini terutama. Dalam prinsip ini diharapkan dapat diberi penguatan yang terlibat peranan reinforces yaitu yang dapat mempertinggi respon. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau maladaptive behavior. Penguatan positif ialah tanggapan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana. Respon yang positif maupun negatif. sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis. dan keterampilan mengelola diri. Penguatan dianggap negatif bila yang diberi-kan itu mengurangi suasana yang ada. Termasuk dalam tujuan ini adalah kelanggengan atau “durability” dari perilaku. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional. keterampilan sosial. seperti rasa takut atau rasa cemas. Penguatan dapat bersifat material. Sintakmatik Model ini memiliki lima tahap (Joyce & Weil 1986: 347) seperti berikut: Tahap Pertama: Perumusan Perilaku Akhir . seperti dengan tersenyum.Pembelajaran Inovatif 6-43 disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting. sosial. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik di bawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan. dan melahirkan respon. dan sebagai model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keteramplan yang baru. Tujuan utama dari program pengelolaan kontinginsi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku ke dalam situasi yang lain.

(2) Memilih sarana penguat atau reinforces dan pola pemberian penguatan. Pengajar berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. Sistem Sosial Sistem sosial yang perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur. (2) Merumuskan secara khusus perilaku akhir. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan. mengukur dan mengembali-kan para program kontingensi. (2) Membangun kembali kondisi yang lama. (2) Memberikan pengantar bagi mahasiswa. Tahap Keempat: Melembagakan Program (1) Menata lingkungan. (3) Mengembangkan rencana untuk mengukur dan mencatat perilaku Tahap Kedua: Mengkaji Perilaku Mengamati. (3) Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan. dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu. (3) Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir. Tahap Kelima: Mengevaluasi Program (1) Mengukur respon yang diharapkan. dalam arti sam-bil berjalan dapat ditumbuhkan. hakikat dan konteks dari perilaku itu.6-44 Pembelajaran Inovatif (1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran. Demikian juga dalam pola dan jadwal pemberian . Tahap Ketiga: Merumuskan Kontingensi (1) Membuat keputusan mengenai lingkungan.

Per-bedaannnya. Secara umum. seperti dengan mematikan televisi sedang-kan perilaku yang diinginkan seyogyanya . pengajar dapat melakukan kesempatan dengan Prinsip Pengelolaan/Reaksi Prinsip pengelolaan atau reaksi pengajar terhadap mahasiswa di da-sarkan pada prinsip “operant conditioning” dan pengelolaan kontingensi.Pembelajaran Inovatif 6-45 penguatan. perilaku dan keterampilan personal. sabar. Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. respons emosional. Pengajar yang mengem-bangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat. keterampilan pengelolaan diri. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini. dikuatkan. perilaku dan keterampilan sosial. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi ke situasi. mahasiswa. dan tetap ajeg. terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memer-lukan sarana pendukung. perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. memer-lukan perencanaan dan alat yang lebih memadai. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal model ini adalah pengetahuan dan keterampilan akademik. dalm model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan. Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. Hal ini dapat dilakukan secara fisik. Sedang program yang bersifat kompleks.

dan (4) Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan. mencatat kendali rangsangan. Tahap Ketiga: Menyusun Program Kontrol Diri (1) Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat. (2) Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model Kontrol diri ini. memberi pe-nguatan. . (2) Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam membang-kitkan rangsangan.6-46 Pembelajaran Inovatif yang sedang ditonton. (2) Melakukan pertemuan periodik dengan guru/pelatih untuk mereviu kemajuan dan memperbaiki program. dapat digunakan respon yang saling berbeda atau bertentangan dengan peikiran. Tahap Keempat: Memantau dan Memperbaiki Program (1) Melibatkan mahasiswa dalam program. (3) Melakuakn pengukuran. (2) Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri. dan memberikan respon yang menantang. Tahap Kedua: membangun landasan Berpijak (1) Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus. jika memang diperlukan. (3) Membangun kemauan untuk berpartisipasi. (3) Membuat program tertulis. Sintakmatik Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce & Weil 1986: 363) Tahap Pertama: Memperkenalkan Prinsip Perilaku (1) Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan.

rasa rendah diri dan kendala lingkungan seseorang. Secara terinci. dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya: (1) memberi semangat kepada mahasiswa. Walaupun pengajar memiliki peranan dalam mengambil inisiatif. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah meningkatkan perilaku sa-saran. mengurangi perilaku yang salah. mungkin sebagian dilaku-kan secata mandiri. (3) menjamin tersusunnya rencana yang realistik. Dari kegiatan-kegiatan itu. pada akhirnya mehasiswa yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan. Yang harus dicatat. sebagian lagi secara bersama.Pembelajaran Inovatif 6-47 Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. Dampak pengi-ringnya adalah berkembangnya kesadaran tentang kontrol diri. Berkembangnya harga diri dan keyakinan. Sistem Pendukung Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini pengajar memiliki peranan yang menentukan dalam keseluruhan program. (4) membantu mahasiswa dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu. ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan pengajar dan siswa. . dan memiliki pandangan perilaku. dan menguasai metode untuk mem-bangun kontrol diri. (2) menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan.

Para ahli psikologi sibernetika ini menafsirkan manusia sebagai sistem kendali yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan sendiri melalui mekanisme umpan balik. Misalnya. individu memodifikasi perilakunya sesuai dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Dalam suatu situasi yang khusus. Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dan gerakannya yang dianggap kompleks sengaja dikontrol. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan gerakan sensorinya menjadi dasar dari penerimaan umpan balik itu.6-48 Pembelajaran Inovatif 10) MODEL SIMULASI Tujuan dan Asumsi Simulasi sebagai model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan. Bertolak dari prinsip itu. dalam proses simulasi itu dilakukan dengan meng-gunakan simulator. . Sintakmatik Model ini memiliki tahap sebagai berikut (Joyce dan Weil 1986: 378). berperilaku simbolik. Model Simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang diana-logikan dengan proses sibernetika itu. Tahap Pertama : Orientasi (1) Menyajikan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. Para ahli psikologi sibernetika membuat analogi antara manusia dengan mesin dan mengkonseptualisasi-kan siswa sebagai sistem umpan balik yang mengatur dan mengontrol sendiri. Gerakan dan perilakunya itu disesuaikan dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. dan berperilaku nyata. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia memiliki pola gerakan seperti berpikir.

Memperoleh umpoan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terha-dap performan si pemeran. Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi. Memberikan rinkasan mengenai kesulitan-kesuliatan dan wawasan para peserta. peranan. Karena itu. dan tujuan yang akan dicapai. (2) (3) Menugaskan para pemeran dalam simulasi. Tahap Kedua: Latihan Bagi Peserta (1) Membuat skenario yang berisi aturan. Tahap Ketiga: Proses simulasi (1) (2) (3) (4) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. pencatatan.Pembelajaran Inovatif 6-49 (2) (3) Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan. Menghubungkan prose simulasi dengan isi pelajaran. Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional Melanjutkan permainan/simulasi. langkah. Menganalisis proses. Mencoba secara singkat suatu episode. Sistem Sosial Di dalam simulasi pengajar harus dengan sengaja memilih jenis ke-giatan dan mengatur mahasiswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. bentuk keputusan yang harus dibuat. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. Tahap keempat: Pemantapan atau Debriefeing (1) (2) (3) (4) (5) (6) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. Menilai dan merancang kembali simulasi. model ini .

Dalam hal ini. mulai dari yang paling sederhana dan murah. pengajar bertugas untuk lebih dulu mendorong pengertian dan penafsiran para mahasiswa terhadap isi dan makna dari simulasi itu. Namun demikian kerjasama antar peserta sangat diperhatikan. pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator. Dalam keselutuhan proses simulasi. dan berani mengha-dapi konsekuensi. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah kelereng atau kartu. kesadaran tentang efektivitas. tentu hal ini memerlukan biaya yang besar.6-50 Pembelajaran Inovatif termasuk model yang terstruktur. dan mengetahui pengetahui pengeta-huan tentang politik dan sistem ekonomi. ke yang paling kompleks dan mahal. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi. pengajar bertugas dan ber-tanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjuk-kan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. tentu sangat murah. empati. Misalnya bila saran yang digunakan berupa simulator elektronik. Dampak Instruksional dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional model ini adalah memiliki keterampilan dan penguasaan konsep. berkembangnya kesa-daran dan kesempatan. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari mahasiswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini. . Dampak pengiring nya adalah berpikir kritis dalam mengambil keputusan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini.

Ada dua kelompok model yang dapat kita kaji: (1) Model Pengorganisasian Pertemuan dapat digunakan baik dalam situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interaksi pembelajaran formal. Kedua kelompok model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Model-model Pengorganisasian Pertemuan Model-model Pengorganisasian Pertemuan dikembangkan oleh Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) seperti digam-barkan sebagai berikut. Selain itu model ini modelmodel diskusi kelompok berlaku secara umum. Model ini ternyata lebih efektif dan efisien dalam proses kognitif dan keterampilan berbicara dalam belajar bahasa Indonesia di berbagai tingkat. Pada bagian ini akan disajikan model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum dan tidak secara khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu. sebagian dari model-model itu dapat dipakai dalam rangka proses pembelajaran dengan menyesuaikannya terhadap konteks pembelajaran. Dengan demikiam model tersebut akan dapat digunakan lebih bebas. dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model-model Diskusi kelompok Dalam bagian ini. dan sebagian dapat dipakai dalam rangka pertemuan di luar proses situasi .Pembelajaran Inovatif 6-51 Beberapa Model Pembelajaran Yang Bersifat Umum Model pembelajaran yang disajikan pada bagian sebelumnya meru-pakan kerangka konseptual dan operasional pengelolaan proses belajar. (2) Model Diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam interaksi pembelajaran kelompok secara bervariasi. khusus disampaikan model pembalajaran diskusi kelompok saja. yag bertolak dari teori psikologi tertentu. Artinya.

.6-52 Pembelajaran Inovatif pendidikan formal. (3) Waktu pertemuan berkisar antara 2-15 menit. (3) Waktu pertemuan berkisar dari pertemuan singkat beberapa menit sampai pertemuan panjang beberapa jam. Khusus untuk suasana pendidikan formal yang menitikberatkan pada proses pembelajaran. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (5) Kelompok mendiskusikan secara singkat masalah tertentu. (6) Ide-ide yang muncul tidak diberi kritik atau tanggapan. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan tingkat kerumitan kasuis. (4) Biasanya digunakan sebagai strategi dalam kelompok. (3) Para peserta dihadapkan kepada suasana problematik. (5) Para peserta diminta untuk mengemukakan ide sebanyak mungkin dalam waktu yang berkelanjutan menuju pemecahan masalah. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 2-6 peserta. (2) Tidak memerlukan pemimpinan yang penuh. (b) Model Buzz Group tau kelompok Bebas. Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) mengembangkan 13 model dengan masing-masing karakteristik sebagai berikut: (a) Model Kelompok Curah Pendapat atau Brainstorming Group yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok yang terdiri dari 3-12 peserta. (c) Model Case Study atau Studi kasus. (1) Jumlah anggota kelompok bersifat luwes. (2) Tidak memerlukan pimpinan penuh. (4) Biasanya digunakan sebagai langkah awal membuat keputusan atau memecahkan masalah.

yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri 4-12 peserta. (4) Salah seorang dari setiap kelompok pada saaat tertentu berpindak ke kelompok lain. (3) Topik dan arah diskusi dikendalikan oleh peserta sendiri. (d) Model Crosses-Over atau Kelompok Silang Pendapat. (2) Waktu pertemuan disesuaikan dengan jam pertemuan yang tersedia. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok disusun dengan membentuk tapal kuda menghadap Tutor/Guru.Pembelajaran Inovatif 6-53 (4) Para peserta dituntut untuk berbagai evaluasi terhadap kasus dan memberi jalan melakukan tindakan. (5) Orang tersebut selanjutnya menyumbangkan berbagai ide dan pengalaman dalam kelompok baru itu. . (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit dan berlangsung beberapa kali. (2) Waktu pertemuan bervariasi namun tetap konsisten dengan waktu yang tersedia bagi kelompok besar. (6) Prosedur perpindahan anggota berlangsung sampai di dalam kelompok itu hanya tinggal seorang anggota yang asli. (f) Model Horse Shoe group atau kelompok Tapal Kuda. didefinisikan dan didiskusikan secara singkat dalam kelompok. (e) Model Free Group Discussion atau Diskusi Kelompok Bebas. (3) Topik diskusi. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok besar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang besar-nya sebanyak akar (√) dari jumlah keseluruhan.

(2) Waktu pertemuan sesuai dengan yang tersedia. (3) Membahas makalah yang disajikan. (3) Para peserta dihadapkan kepada tugas dan pekerjaan untuk memenuhi sesuatu atau memecahkan masalah. (4) Para peserta dapat mempersiapkan laporan dengan menggu-nakan media visual seperti transparansi. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan peran yang harus dimainkan. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan lama pertemuan yang tersedia. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok bervariasi. (j) Model Simulation atau Simulasi. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel. (i) Model Seminar Group atau Kelompok Seminar. .6-54 Pembelajaran Inovatif (3) Biasanya digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan peserta dalam kelas besar. (4) Penyaji makalah dipilih dari anggota kelompok. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 5-15 orang. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 4-12 orang. (h) Model Role Play atau Bermain Peran. (3) Para peserta mencoba sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana yang interaktif. (4) Bentuk Tapal Kuda dapat dipakai dalam model ini. (g) Model Problem-Centered Group atau kelompok Terpusat pada Masalah.

(2) Waktu pertemuan 45 menit atau lebih. (3) Diskusi digunakan untuk Kekuatan sebagai berikut. dan keuntungan model diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat menengah dapat disampaikan . (2) Waktu pertemuan biasanya beberapa jam perhari untuk bebe-rapa minggu. (l) Model T-Group atau Kelompok T. Berbahasa adalah berbicara. berlangsung beberapa bulan atau lebih. (3) Setiap kelompok diberi atau memilih suatu tugas. 1. (4) Setiap kelompok diminta mencari informasi yang relevan dan membuat laporan bersama untuk ditanggapi kelompok lain. Sesuai dengan hakikat belajar bahasa. (m) Model Tutorial atau Bimbingan Belajar. (4) Para peserta diminta mengandalkan peran tertentu dan bertindak sesuai dengan aturan tertentu. (3) Teknik kelompok Terapetik digunakan di mana individu dalam setiap kelompok mendiskusikan dan menganalisis hubungannya satu dengan yang lain. yang memiliki ciri-ciri : (1) Kelompok terdiri dari 7-14 orang.Pembelajaran Inovatif 6-55 (3) Para peserta dihadapkan kepada model kehidupan nyata. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel tapi tidak lebih dari 6 orang. Orang yang pandai berbahasa artinya orang yang pandai berbicara. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 3-15 orang. (2) Waktu pertemuan bervariasi mulai dari hanya 1 jam. (k) Model Syndicate Group atau Kelompok Sindikat.

Berbicara dengan kontrol diri. terlaihnya kemampuan menahan diri. menulis yang diperlukan sebagai catatan untuk dibicarakan. memilah. Artinya seorang pembicara yang baik seharusnya juga pandai menyimak. Penyimak terus menerus berpikir untuk menyaring informasi yang manarik perhatiannya. sikap toleran bila ada penda-pat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. yang penting. dan terlatihnya pembelajaran bahasa yang terintegratif. bahkan menulis teks bahan berbicara. Pembicara perlu menahan diri untuk tidak melakukan kasantunan monopoli bicara. yang relevan dengan kebutuhannya. meningkatnya kecerdasan. Pembicara perlu menahan diri bila aspek emosi terusik. membandingkan. bicara. 3. demokratis. membedakan. 5. mencocokan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. 4. . Pelatihan berdiskusi dalam pembelajaran bahasa dimulai dengan membaca sumber bahan yang akan didiskusikan. Aspek pendidikan nilai dalam diskusi kelompok dapat dikembangkan. Pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai mendengarkan. membaca. menghargai pendapat orang lain. Oleh karena itu model diskusi kelompok merupa-kan pembelajaran bahasa terintegratif. toleransi. memilih. Penyimak Pembicara perlu perlu memperhatikan memperhatikan bersabar pembicaraan peserta diskusi lain.6-56 Pembelajaran Inovatif Pandai menu-lis. 2. Simpulan: Nilai didik yang dapat dikembangkan melalui model diskusi kelompok itu adalah kesantunan. Dalam proses diskusi setiap peserta berperan juga sebagai pendengar bah-kan penyimak. meng-hargai pemikiran dan pendapat penutur lain. kareka penyimak mencoba mela-kukan analisis: menghubungkan. dan menyimak tidak biasa disebut pandai berbahasa. Sambil berbicara pembicara dalam diskusi perlu penyimak respons pendengar lain. Kema-hiran berpikir penyimak dikembangkan.

Pembelajaran Inovatif 6-57 Contoh Model Pembelajaran Diskusi Kelompok Standar Kompetensi 10 : Berbicara: mengungkapkan pikiran. sumber yang telah disiapkan siswa Transparensi dan pelengkapnya 10’ dan 5’ : 3-4 Uraian Materi Media Waktu Kegiatan Inti Catatan hasil 15’ persiapan. toleran. perasan. dan empatik ter-capai dengan baik dilakukan secara spontan Hari pertama: a. pengorganisasian kelompok e. alat perekam 15’ Instrumen/kriteria 15’ penilaian evaluasi diri 15’ 15’ 15’ 15’ . toleran. b. Laporannya bentuk tertulis b. tata dan norma berdskusi Hari kedua: c. santun verbal dan nonverbal. sikap demokratis. Berlatih praktek sampai kompetensi ujaran. Dilakukan proses diskusi sesuai Rancangan. Membahas pengelompokan. keteram-pilan ujaran. dan empatik d. intonasi. Membahas proses kegiatan yang terinci d. Diperlukan penguasan bahan pembicaraan. santun. Membahas tujuan. kepribadian demokratis. intonasi. Membahas program diskusi kelompok tentang tokoh penting dan mendiskusikan kriteria penilaian berbicara. Pandai bicara dapat meningkatk an kesejahtera an c. informasi dan pengalaman melalui kegiatan membaca dan menanggapi cerita Kompetensi Dasar : Menceritakan tokoh idola para penemu ilmu pengetahuan dengan mengemukakan identitas dan keungulan tokoh dan alasan mengidolakannya. Mengecek persiapan yang telah dirancang pada pertemujan sebelumnya. Sumber : Tokoh-tokoh yang mengubah dunia Waktu : 2 x 2 x 45” Pertemuan Langkahlangkah Pendahuluan a.

Simpulan karakteristik tokoh pada umumnya d. Menulis refleksi Penutup a. Menulis refleksi 15’ 10’ Lembar simpulan 15 dan lembar refleksi . Kesan-kesan dan kritik atas proses kegiatan b. Melaporkan hasil diskusi kelompok j.6-58 Pembelajaran Inovatif topik f. Dilakukan pengamatan evaluatif dan umpan g. Tanggapan terhadap laporan kelompok k. Informasi baru tentang tokohtokoh c. Evaluasi oleh anggota kelompok lain l. Tindak lanjut untuk memperluas wawasan e. Dilakukan diskusi simpulan hasil diskusi h. Evaluasi diri setiap anggota kelompok i.

BUKU AJAR PENILAIAN PEMBELAJARAN .

Fungsi penilaian kelas 4. Bacalah. Kriteria penilaian kelas 5. C. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. B. pahamilah. Prinsip-prinsip penilaian kelas 6. 1. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan konsep dasar dan prinsip penilaian kelasl. Anda tengah memasuki wilayah bahan ajar pelatihan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.BAB I. A. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Manfaat penilaian kelas 3. KONSEP DASAR DAN PRINSIP PENILAIAN KELAS Selamat datang. dan praktikanlah. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Ranah penilaian kelas . Konsep dasar penilaian kelas 2. 1) Memaparkan konsep dasar penilaian kelas 2) Memaparkan manfaat penilaian kelas 3) Memaparkan fungsi penilaian kelas 4) Memaparkan kriteria penilaian kelas 5) Memaparkan prinsip-prinsip penilaian kelas 6) Menjelaskan ranah penilaian kelas 7) Menjelaskan tata cara pelaksanaan penilaian kelas.

Jadi. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Dari proses ini. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan dinilai.7-2 Penilaian Pembelajaran 7. informasi penyusunan sejumlah alat penilaian. 1. . Untuk itu. penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan. Konsep Dasar Penilaian Kelas Pada kurikulum baru (KTSP) penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian kelas. Oleh sebab itu. Pelaksanaan penilaian kelas. diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi. yang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis melalui bukti menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik. pengolahan. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan perencanaan. penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum kompetensi. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

penilaian sikap. baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. 2. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. b. penilaian proyek. penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio). peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru. seperti penilaian unjuk kerja (performance). Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan kompetensi. c. dan kelemahannya dalam proses pencapaian . Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara. Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut: a. dan penilaian diri. pendekatan. tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. penilaian produk. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. d. dan sumber belajar yang digunakan. Manfaat Penilaian Kelas Pelaksanaan penilaian kelas tgerdapat beberapa manfaat yang dapat diambil. penilaian tertulis (paper and pencil test).Penilaian Pembelajaran 7-3 dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar. tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode. kegiatan. Dengan demikian. e.

4. e. Kriteria Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki kriteria sebagai dasar acuan kualitas. c. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya. pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan). Keenam kriteria itu dipaparkan sebagai berikut. . membuat keputusan tentang langkah berikutnya. Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut: a. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Validitas Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya. baik untuk pemilihan program. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan. b.7-4 Penilaian Pembelajaran f. d. a. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbagkan konsep penilaian kelas yang baik digunakan 3. Fungsi Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki beberapa fungsi.

bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan). Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas. Keseluruhan/Komprehensif Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik. Terfokus pada kompetensi Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi. Jika menggunakan tes pratek atau unjuk kerja penilaian tidak valid. guru ingin menilai kompetensi dasar kelas IX semester 2: Memahami berbagai bahaya bencana alam. berkesinambungan. dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor. pengambilan keputusan dalam kelompok. d. tolong menolong. penilaian harus adil. . Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan atau tulis. Objektivitas Penilaian dikatakan objektif kalau penilaian itu menilaia apa yang seharusnya dinilai. c. Penilaian itu harus dilaksanakan secara obyektif. penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan). Misalnya guru menilai dengan proyek kelas IX semester 2 untuk kompetensi dasar mempraktikkan perencanaan dasar-dasar kegiatan menjelajah alam bebas serta nilai kerja sama. penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. b. Misal. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. toleransi. e. Untuk itu. terencana.Penilaian Pembelajaran 7-5 Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur. dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi.

ulangan tengah semester. guru sebaiknya: a. unjuk kerja. e. dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Dalam melaksanakan penilaian. d. proyek. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.7-6 Penilaian Pembelajaran f. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah . Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. 5. observasi atau lainnya. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. dan ulangan kenaikan kelas. portofolio. c. f. dan pengamatan tingkah laku. b. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis. produk. ulangan akhir semester. kemajuan. g. Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. lisan. Mendidik Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. Prinsip Penilaian Kelas Dalam pelaksanaan penilaian kelas harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian.

Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Indikator tersebut menjadi acuan dalam merancang penilaian. Kurikulum tersebut memuat sejumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran. keterampilan. (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya). Ranah Penilaian Kelas Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yang berbasis kompetensi didik. dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran. 6. guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian. . Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun). Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap. dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap.Penilaian Pembelajaran 7-7 menyelesaikan beberapa kompetensi dasar. sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. Agar penilaian objektif. Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar. tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta kompetensi secara utuh yang merefleksikan tetapi pengetahuan. satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Dengan kata lain. kurikulum tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah berorientasi pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan.

Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kelas Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. menceritakan kembali. karakteristik. kompetensi dasar. mendemonstrasikan. 2) pemetaan standar kompetensi. dan 3) penetapan teknik penilaian. ciri-ciri. seperti: mengidentifikasi. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. dijadikan acuan dalam merancang penilaian. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi. pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. menyimpulkan. Berikut contoh penetapan indikator mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs . menghitung. yang menjadi bagian dari silabus. a. Indikator pencapaian kompetensi. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar yang terkait.7-8 Penilaian Pembelajaran 7. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi. dan indikator. dan mendeskripsikan. membedakan. mempraktikkan. Penetapan Indikator Pencapaian kompetensi Indikator merupakan ukuran.

1 Menyimpul-kan Mampu menuliskan isi berita yang dibacakan dalam pokok-pokok berita yang didengarkan beberapa kalimat Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1.Penilaian Pembelajaran 7-9 Standar Kompetensi Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar Indikator pencapaian* 1. dan teknik penilaian. . kompetensi dasar. indikator. dan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian. Pemetaan Indikator Standar Kompetensi. Berikut diberikan contoh pemetaan standar kompetensi. Kompetensi Dasar.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat • : dikembangkan oleh guru b.

7-10 Penilaian Pembelajaran

Standar Kompeten si

Kompete nsi Dasar

Indikator

KK M

Teknik Penilaian Pe Port rfo Pr Pr o Tes rm od oy Foli en uk ek o t V

Memahami 1.1 wacana Menyi lisan m-pulmelalui kan isi berita kegiatan yang mendengar kan berita dibaca kan dalam bebera pa kalimat

Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

75

70

v

c. Penetapan Teknik Penilaian Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh: • • • Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja (performance). Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis. Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan maka teknik penilaiannya adalah proyek.

E. Rangkuman Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu.

Penilaian Pembelajaran 7-11

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian kelas, di antaranya untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Selain itu, ada beberapa fungsi penilaian kelas di antaranya menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan, yaitu validitas, reliabilitas, terfokus pada kompetensi, keseluruhan/Komprehensif, objektivitas, dan mendidik Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Di antaranya dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya 1) memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu dan 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani,

olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui 1) Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2) Ulangan, dan/atau

penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yangberbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran.

7-12 Penilaian Pembelajaran

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi, 2) pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, dan 3) penetapan teknik penilaian.

F. Latihan Soal Jawablah Pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Kemukakan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian kelas! 2. Kemukakan dan jelaskan manfaat penilaian kelas! 3. Kemukakan dan jelaskan fungsi penilaian kelas! 4. Coba Anda kemukakan dan jelaskan kriteria penilaian kelas! 5. Coba jelaskan prinsip-prinsip penilaian kelas! 6. Jelaskan ranah yang dinilai dalam penilaian kelas! 7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan penilaian kelas!

BAB II. TEKNIK-TEKNIK DAN RANAH PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dapat diperoleh guru manakala guru memahami makna dan fungsi teknik-teknik penilaiannya. Karena itu, bagianl ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting tentang teknik-teknik penilaian, seperti teknik-teknik penilaian dan ranah penilaian

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan teknik-teknik dan ranah penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui

pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. a. Memaparkan dan menerapkan teknik-teknik penilaian bahasa dan sastra Indonesia b. Memaparkan ranah-ranah penilaian

C. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut, berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. 1. Teknik-teknik penilaian 2. Ranah penilaian tersebut tergambarkan sebagai

7-14 Penilaian Pembelajaran

D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

1. Teknik-teknik Penilaian Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Beragam teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikatorindikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

a. Penilaian Unjuk Kerja Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian unjuk kerja. 1) Pengertian Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Dalam 2) teknik

Penilaian Pembelajaran 7-15

penilaian mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti berbicara/menceritakan

sesuatu. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan penilaian unjuk kerja perlu

mempertimbangkan hal-hal berikut Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. 2) Teknik Penilaian Unjuk Kerja Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk dilakukan

menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya

pengamatan atau observasi praktik berbicara yang beragam, seperti: lafal, intonasi, kelancaran, keberanian, dll. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen (1) daftar cek, (2) skala penilaian. ( 1) Daftar Cek (Check-list) Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik

7-16 Penilaian Pembelajaran

mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak

memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Perhatikan contoh Check list berikut.

Format Penilaian Berbicara Nama peserta didik: ________ No. 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Pilihan kata 5. Dll Skor yang dicapai Skor maksimum Keterangan: Baik mendapat skor 1 Tidak baik mendapat skor 0 (2) Skala Penilaian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Baik Tidak baik

memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum memiliki pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih

Penilaian Pembelajaran 7-17

dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Berikut ini diberikan contoh Rating Scale. Format Penilaian Berbicara Nama Siswa: ________ N o 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Dll. 5. Jumlah Skor Maksimum Keterangan penilaian: 1 = tidak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Jika seorang siswa memperoleh skor 25-32 dapat ditetapkan sangat kompeten 2) Jika seorang siswa memperoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten 3) Jika seorang siswa memperoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten 4) Jika seorang siswa memperoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten b. Penilaian Sikap Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian sikap. 2) teknik Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Nilai 1 2 3 4

7-18 Penilaian Pembelajaran

a) Pengertian Penilain Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah

kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

adalah sebagai berikut. • Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. • Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi,

Penilaian Pembelajaran 7-19

metodologi,

dan

teknik

pembelajaran

yang

digunakan.

Proses

pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah peningkatan

pemakaian ejaan dan tata tulis. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus kesalahan ejaan dan tata tulis tertentu (kegiatan cermat berbahasa). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program cermat berbahasa. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan pemakaian bahasa yang salah. • Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi menggunakan perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan catatan khusus tentang kejadian-kejadian

buku

7-20 Penilaian Pembelajaran berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian: BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK Mata Pelajaran Kelas Nama Guru : ___________________ : ___________________ : ___________________ Tahun Pelajaran : ___________________ SMP INSAN MULIA SEMARANG 2007 Contoh isi Buku Catatan Harian : No. Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadian . Berikut contoh format buku catatan harian.

. Catatan dalam lembaran buku tersebut. 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = amat baik b. dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu.. 1. Contoh Format Penilaian Sikap dalam Praktik Berbicara: Perilaku Semangat BeriniPenuh Berlatih Nilai Keterangan siatif Perhatian intensif 1 2 2 3 3 3 3 2 9 10 Kurang Sedang No.. Selain itu. Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. Nama Ahmad Mualimah . Catatan: a. Keterangan diisi dengan kriteria berikut Nilai 18-20 berarti amat baik Nilai 14-17 berarti baik Nilai 10-13 berarti sedang Nilai 6-9 berarti kurang Nilai 0-5 berarti sangat kurang (2) Pertanyaan langsung Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya. 2. Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku c. .Penilaian Pembelajaran 7-21 Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. Berikut contoh format Penilaian Sikap. selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. 3.

........ Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.... guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik... Capaian ST T R S R Deskripsi perubahan Pertemuan .. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap.. 1 2 3 4 ..... semester........... No Deskripsi perilaku awal ......... Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/sikap yang diamati: Nama peserta didik: .. keadaan. Misalnya.. kelas. (3) Laporan pribadi Melalui penggunaan teknik ini di sekolah.Hari/Tgl. Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan. semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut... atau hal yang menjadi objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah.... peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Prestasi Bahasa Indonesia di Sekolah" yang dicapai akhir-akhir ini.7-22 Penilaian Pembelajaran bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Ketuntasan Hasil Belajar Minimal mata pelajaran penjaskes".... khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.. peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah..

Penilaian Pembelajaran 7-23 Keterangan: a. 2) Teknik Penilaian Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis. 1) Pengertian Penilaian Tertulis Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi (2) jawaban singkat atau pendek . Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban. ya-tidak) (3) menjodohkan (4) sebab-akibat b) mensuplai jawaban. Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku ST = perubahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah b. tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. mewarnai. yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda (2) dua pilihan (benar-salah. yaitu: a) memilih jawaban. dan lain sebagainya. menggambar. Penilaian Tertulis Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian tertulis yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian tertulis. Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari: 1) pertanyaan langsung 2) Laporan pribadi 3) Buku Catatan Harian c. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.

dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. misalnya mengemukakan pendapat. kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. maka peserta didik akan menerka. isian singkat. tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi. Karena itu. Selain itu. tes memilih jawaban benarsalah. Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri.7-24 Penilaian Pembelajaran (3) uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. memahami. . Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya. berpikir logis. dan menyimpulkan. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan cakupan materi yang luas.

Semakin lengkap dan tepat jawaban. pengolahan. . d) bahasa. Penilaian Proyek Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian proyek yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian proyek. kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum.. misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi. 1) Pengertian Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. semakin tinggi perolehan skor. c) konstruksi. .. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. pengorganisasian. d. .Penilaian Pembelajaran 7-25 b) materi. pengumpulan data. 3.. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.. Cara Penskoran: Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Ceritakan kembali secara ringkas cerpen Robohnya Surau Kami! 2. dan penyajian data. Contoh Penilaian Tertulis Mata Pelajaran Kelas/Semester : Bahasa dan Sastra Indonesia : IX/1 Mensuplai jawaban (Bentuk Uraian) 1.

pengumpulan data. Untuk itu. Berikut diberikan dalam penilaian proyek: beberapa contoh kegiatan peserta didik a) penelitian sederhana tentang peningkatan kesegaran jasmani melalui alat modern di rumah. dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.7-26 Penilaian Pembelajaran Penilaian pemahaman. penyelidikan. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut. analisis data. sampai hasil akhir proyek. proyek dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan kemampuan mengaplikasikan. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. seperti penyusunan disain. dan penyiapkan laporan tertulis. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. • Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. proses pengerjaan. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. b) Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. • Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. dan . • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.

Semakin lengkap dan tepat jawaban. Analisis Data e. Sistematika Penulisan b. . Kuantitas Sumber Data d. e. Rumusan Judul 2. Penarikan Kesimpulan 3. Perencanaan: a. Presentasi / Penguasaan Total Skor Keterangan: * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Penilaian Produk Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian produk yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian produk. Keakuratan Sumber Data/Informasi c. semakin tinggi perolehan skor. Pelaksanaan a. Laporan Proyek a. Persiapan b. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Proyek : Perkembangan Cerpen Indonesia Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : IX/1 No Aspek * Skor (1 – 5)** 1.Penilaian Pembelajaran 7-27 b) Penelitian sederhana tentang perkembangan prestasi olahraga daerah. Performans b.

meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. jaring. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. dan teknik. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. dan mendesain produk. b) Cara holistik. alat. • Tahap persiapan. . • Tahap pembuatan produk (proses). a) Cara analitik. dan mengembangkan gagasan. lapangan. b) Teknik Penilaian Produk Teknik penilaian produk yang biasanya digunakan adalah cara holistik atau analitik. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian sebagai berikut. seperti: bola. dan lain-lain. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.7-28 Penilaian Pembelajaran a) Pengertian Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. menggali. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. • Tahap penilaian produk (appraisal).

Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Penilaian Portofolio Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian portofolio. Proses penulisan a.Penilaian Pembelajaran 7-29 Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Menulis Cerpen : 2 Minggu Kelas : Skor (1 – 5)** Nama Siswa : ______________________ IX/1 No 1. 2. Hasil Produk a. Kebersihan dan kerapian 3. Inovasi Total Skor Keterangan: Aspek * Penggunaan Pilihan Kata * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. 1) Pengertian Penilain Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Semakin lengkap dan tepat jawaban. . Bentuk Fisik (Unsur Instrinsik) b. Teknik penulisan c. semakin tinggi perolehan skor. Persiapan penulisan b. f.

Dengan demikian. saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. sinopsis. antara lain: karangan. sendiri. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah. dsb. guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik melakukan perbaikan.7-30 Penilaian Pembelajaran hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan d) guru Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan . antara lain: a) Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu buku/ literatur. b) Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut. resensi laporan penelitian. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. dan terus dapat portofolio memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya.

Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan. g) Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. 2) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkahlangkah sebagai berikut: a) Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian. tetapi . keterampilan. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan. h) Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. dan minatnya.Penilaian Pembelajaran 7-31 Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. e) Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. f) Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut. d) Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangankarangannya. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di madrasah.7-32 Penilaian Pembelajaran membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan tentang olah raga. pemilihan kosa-kata. Dengan demikian. Guru dapat membimbing peserta didik. g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. kelengkapan gagasan. b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. yaitu: penggunaan tata bahasa. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. serta bagaimana cara memperbaikinya. Misalnya. e) Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya . Namun. dan sistematika penulisan. Contoh. peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan. misalnya 2 .

Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Alokasi Waktu : 1 Semester Nama Siswa : _________________ VIII/1 Kriteria Standar No Kompetensi/Ko mpetensi Dasar 1. Catatan: Setiap karya siswa sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya.10 atau 0 . Membuat 1/9 resensi buku 30/9 Olahraga 10/1 0 Dst.100. jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik. semakin tinggi skor yang diberikan. Menulis karangan Perkembangan Olahraga Daerah Peri ode 30/7 10/8 dst. h) Bila perlu. . Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya.Penilaian Pembelajaran 7-33 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio. Tata bahas a Kos a kata Kelengkap an gagasan Sistemati ka penulisan Ke t Kelas : 2. Jika perlu. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 .

1) Pengertian Penilaian Diri Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. Penilaian Diri (self assessment) Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian diri yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian diri. dan psikomotor. • Penilaian kompetensi afektif. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. • Penilaian kompetensi kognitif di kelas. misalnya. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Selanjutnya. misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri.7-34 Penilaian Pembelajaran g. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. . • Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik. afektif.

5) Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak. terhadap sampel hasil penilaian yang diambil . harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. 1) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian. 6) Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian secara acak. atau skala penilaian. daftar tanda cek. • dapat mendorong.Penilaian Pembelajaran 7-35 • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika mereka melakukan penilaian. untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. 4) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. membiasakan. penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. b) Teknik Penilaian Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Oleh karena itu. 2) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. dapat berupa pedoman penskoran. 3) Merumuskan format penilaian.

keterampilan. pengetahuan dan sikap seseorang. S. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Dst Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya. karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Dasar Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham 2. seperti . Domain Penilaian Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. Lagi pula. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran. Kompetensi / K. 2. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain.7-36 Penilaian Pembelajaran Contoh Penilaian Diri Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kognitif : 1 Semester Kelas : Nama Siswa : _________________ IX/1 Tanggapa n 1 0 No 1. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap.

a. Domain Kognitif TINGKATAN DOMAIN KOGNITIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Evaluasi Sintesis Analisis Penerapan Pemahaman Pengetahuan KEMAMPUAN BERPIKIR (KOGNITIF) Bloom Tingkat I. Contoh kegiatan belajar: • mengemukakan arti • menamakan (memberi nama) • membuat daftar • menentukan lokasi • mendeskripsikan sesuatu • menceritakan apa yang terjadi . dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. rumus.Penilaian Pembelajaran 7-37 domain kognitif. daftar. Pengetahuan Deskripsi Arti : • Pengetahuan terhadap fakta. Berikut ini kan dipaparkan ketiga jabaran domain tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk penilaian yang tepat untuk mata pelajaran penjaskes. nama. tahun. afektif. definisi. konsep. peristiwa. dan kesimpulan. teori.

7-38 Penilaian Pembelajaran II. penyelesaian. dan antar-data. Sintesis . dan penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: • mengungkapkan gagasan/pendapat dengan katakata sendiri • membedakan. Pemahaman • menguraikan apa yang terjadi Arti : • Pengertian terhadap hubungan antar-faktor. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. membandingkan • mengintepretasi data • mendiskripsi dengan kata-kata sendiri • menjelaskan gagasan pokok • menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti : • Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah • Menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan belajar: • menghitung kebutuhan • melakukan percobaan • membuat peta • membuat model • merancang strategi Arti : • Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. antar konsep. Aplikasi IV. hubungan sebab-akibat. Contoh kegiatan belajar: • mengidentifikasi faktor penyebab• merumuskan masalah • mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi • membuat grafik • mengkaji ulang Arti : • Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep • Meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: • membuat desain • mengarang komposisi lagu • menemukan solusi masalah • memprediksi • merancang model mobil-mobilan. Analisis V. pesawat sederhana III.

Domain Afektif TINGKATAN DOMAIN AFEKTIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Karakterisasi Pengorganisasian Penilaian Pemberian respon Penerimaan KEMAMPUAN BERSIKAP/NILAI (AFEKTIF) Kratwohl.dkk . Evaluasi • menciptakan produk baru Arti : • Mempertimbangkan dan menilai benarsalah.Penilaian Pembelajaran 7-39 VI. bermanfaat-tak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: • mempertahankan pendapat • beradu argumentasi • memilih solusi yang lebih baik • menyusun kriteria penilaian • menyarankan perubahan • menulis laporan • membahas suatu kasus • menyarankan strategi baru. b. baik-buruk.

Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : • Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli • Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar: • sering mendengarkan musik • senang membaca puisi • senang mengerjakan soal matematika • ingin menonton sesuatu • senang membaca cerita • senang menyanyikan lagu Arti : • Menunjukkan perhatian aktif • Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena • Setuju. Acuan nilai (Valuing) . atau barang antik • melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran II. lebih menyukai. puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: • mentaati aturan • mengerjakan tugas • mengungkapkan perasaan • menanggapi pendapat • meminta maaf atas kesalahan • mendamaikan orang yang bertengkar • menunjukkan empati • menulis puisi • melakukan renungan • melakukan introspeksi Arti : • Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai •Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti •Tingkatan: menerima. novel.7-40 Penilaian Pembelajaran Tingkat I. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: • mengapresiasi seni • menghargai peran • menunjukkan keprihatinan • menunjukkan alasan perasaan jengkel • mengoleksi kaset lagu. Responsi (Responding) III. ingin.

tepat waktu. diorganisasi secara konsisten. Organisasi HAM • menjelaskan alasan senang membaca novel Arti: • Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam latu sistem. berdisiplin diri • mandiri dalam bekerja secara independen • objektif dalam memecahkan masalah • mempertahankan pola hidup sehat • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan • menyarankan pemecahan masalah HAM • menilai kebiasaan konsumsi • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman V. Contoh kegiatan belajar: • rajin. • Menentukan saling hubungan antarnilai • Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana • Tingkatan : .Konseptualisasi suatu nilai Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: • bertanggung jawab terhadap perilaku • menerima kelebihan dan kekurangan pribadi • membuat rancangan hidup masa depan • merefleksi pengalaman dalam hal tertentu • membahas cara melestarikan lingkungan hidup • merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan Arti : • Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter • Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu.Penilaian Pembelajaran 7-41 IV. dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu. Karakterisasi (menjadi karakter) .

Gerakan refleks Deskripsi Arti : • Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak • Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat.7-42 Penilaian Pembelajaran c. berjalan. mengenggam. menggerakkan leher dan kepala. memegang Contoh kegiatan belajar: • mengupas mangga dengan pisau • memotong dahan bunga • menampilkan ekspresi yang berbeda • meniru gerakan polisi lalu lintas. Arti: • Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik • Gerakan ini terpola dan dapat ditebak II. Gerakan dasar (Basic fundamental movements) . juru parkir • meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin. Domain Psikomotor TINGKATAN DOMAIN PSIKOMOTOR TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN NATURALISASI MERANGKAIKAN KETEPATAN MENGGUNAKAN MENIRU KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR) Tingkat I. menunduk.

kegiatan memperkuat lengan. menggambar. Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities) V. pingpong • membedakan bunyi beragam alat musik • membedakan suara berbagai binatang • mengulangi ritme lagu yang pernah didengar • membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : • Gerak lebih efisien • Berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: • menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu • berlari jauh • mengangkat beban. melakukan push-ups. berputar • Contoh gerakan berpindah: merangkak. menggunting.Penilaian Pembelajaran 7-43 III. memegang dan melepas objek. menarik-mendorong. Gerakan persepsi (Perceptual abilities) Contoh kegiatan belajar: • Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. berjalan. pemain biola. blok. berlari. Gerakan terampil . menarik. mendorong. menggambar dengan crayon. meloncatloncat. atau mainan • Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola. memeluk. dan perut • menari • melakukan senam • melakukan gerak pesenam. pemain bola Arti : • Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak •Terampil. kaki. cekatan melalukan gerakan IV. maju perlahan-lahan. meluncur. Arti: • Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: • menangkap bola. berputar mengitari. memanjat • Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok. merentang. mendrible bola • melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan • memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang kurannya bervariasi • membaca • melihat terbangnya bola pingpong • melihat gerak pendulun • menggambar simbol geometri • menulis alfabet • mengulangi pola gerak tarian • memukul bola tenis. tangkas. membungkuk.

dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. penilaian sikap. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. yaitu penilaian unjuk kerja. penilaian produk. menari balet. seperti domain kognitif. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik di SMP/MTs. Rangkuman Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. . penggunaan portofolio. penilaian tertulis. afektif.7-44 Penilaian Pembelajaran (Skilled movements) yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar: • melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga • menari. dan penilaian diri. penilaian proyek. berdansa • membuat kerajinan tangan • menggergaji • mengetik • bermain piano • memanah • skating • melakukan gerak akrobatik • melakukan koprol yang sulit Arti : • Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan • Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah • Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: • kerja seni yang bermutu (membuat patung. bermain drama (acting) • keterampilan olahraga tingkat tinggi VI. melukis. Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication) E. melakukan senam tingkat tinggi.

Buatlah salah satu bentuk daftar cek yang berisikan skill-skill yang menurut anda layak dikuasai oleh siswa setelah taat kelas IX SMP/MTs? 4. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Selain bentuk yang sudah diuraikan di atas. Jelaskan teknik-teknik penilaian yang dapat digunakan untuk penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. Dari beberapa tes pengetahuan dan sikap.Penilaian Pembelajaran 7-45 F. cara mana yang menurut anda paling cocok buat anda sendiri? 5. Sebutkan salah satu tes keterampilan berbicara yang dapat menghemat waktu pelaksanaannya? 3. coba anda diskusikan salah satu bentuk tes pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan materi kesegaran jasmani? Perhatikan pelaksanaan tes tersebut harus menghemat waktu! .

Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. 2. Menentukan jenis teknik dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. . C. Menerapkan jenis teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. PEMILIIHAN TEKNIK PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP/MTS Pembahasan tentang pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTS sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut 1. seperti konsep memilih teknik penilaian dan contoh implementasi pemilihan teknik penilaian. 1. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting.BAB III. A. Karena itu. B. Contoh implementasi pemilihan teknik dan bentuk penilaian. Konsep memilih teknik dan bentuk penilaian 2. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut.

keterampilan. Tes 1. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Dalam memilih teknik penilaian. Contoh Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas/Semester : VII/1 : Memahami wacana lisan melalui kegiatan Standar Kompetensi mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.1 Indikator Materi Pembelajaran Teks Berita •Pokokpokok berita •Simpulan isi berita Menyimp ul-kan isi berita yang dibacaka n dalam beberapa Mampu menyimpulkan kalimat isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen Esai.Penilaian Pembelajaran 7-47 D. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Tulislah simpulan isi berita yang . Berikut diberikan contoh teknik penilaian yang mungkin dapat digunakan dalam menilai kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP?MTs. Tuliskan objektif pokokpokok berita Nontes: yang tugas didengar harian dari rekaman guru! 2. hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. dan sikap seseorang. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Lagi pula. pengetahuan.

Tulislah Esai po-kokpokok cerita pengalaman yang paling mengesankan! Kinerja Nontes: 2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunaka n pilihan kata dan kalimat efektif Indikator Materi Pembelajaran Pengalaman yang mengesankan • Pokokpokok cerita • Cara bercerita Penilaian Bentuk Contoh Instrumen Instrumen 1.2 Menulisk an kembali berita yang dibacaka n ke dalam beberapa kalimat Teks Berita •Isi Berita Tes Nontes: tugas harian Esai. tugas Ceritakanla individual h pengalaman yang paling mengesank an dengan menggunak an pilihan Jenis Tagihan Tes Mampu menentukan pokok-pokok cerita Mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif .7-48 Penilaian Pembelajaran kamu dengarka n dari rekaman guru! 1. objketif Tuliskan kembali berita yang didengar dari rekaman guru ke dalam beberapa kalimat! Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Kelas/Semester : VII/1 Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman Kompetensi Dasar 2.

pengetahuan. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Tulislah pokokpokok pegumuman ! 2. dan tes tertulis/lisan/kuis. penilaian diri. E. Tes Esai kata dan kalimat efektif! 1. Rangkuman Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap.Penilaian Pembelajaran 7-49 2. Sampaikan pengumuma n dengan intonasi yang tepat serta menggunak an kalimat yang lugas dan sederhana! kinerja Nontes: tugas individual D. keterampilan. dan sikap seseorang.2 Teks pengumuman Menyampai • Pokokkan pokok cerita pengumum • Cara an dengan Mampu menyampaik intonasi menyampaikan an yang tepat pengumuman pengumuma serta dengan n menggunak intonasi yang an kalimattepat serta kalimat yang lugas menggunakan kalimat yang dan sederhana lugas dan sederhana Mampu menuliskan pokok-pokok pegumuman. Lagi pula. observasi. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran penjaskes di MA di antaranya unjuk kerja. Latihan Soal .

1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7.7-50 Penilaian Pembelajaran Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. dan mimik yang tepat 6.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca . Jelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menilai Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarka n 5.2 Bercerita dengan alat peraga 7. suara. lafal.1 Bercerita dengan urutan yang baik. gestur. Perhatikan kompetensi dasar berikut dan tentukan jenis penilaiannya! Kompetensi Dasar Indikator Materi Pembelajaran Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen 5.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang 6. intonasi.

Penilaian Pembelajaran 7-51 8.2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar .1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.

Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. a. penskoran. PENGUMPULAN. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. Memaparkan cara penskoran informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP c. seperti cara pengumpulan.7-52 Penilaian Pembelajaran BAB IV. Memaparkan cara pengumpulan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP b. A. Memaparkan cara pelaporan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP . PENGOLAHAN. dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah/madrasah. Standar Kompetensi Setelah mempelajari bagian ini peserta diklat PLPG diharapkan mampu mendeskripsikan dan menerapkan cara pengumpulan. DAN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pengumpulan. cara penskoran. Karena itu. cara penskoran. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. B. dan cara pelapran informasi hasil belajar. dan cara pelapran informasi hasil belajar.

Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Berikut dipaparka beberapa cara pengumpulan informasi hasil belajar. Pengumpulan informasi hasi belajar 9. Pengelolaan informasi hasil belajar 10. Pelaporan informasi hasil belajar D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Cara Pengumpulan Informasi (Cara Penilaian) 1 2 3 4 5 6 7 Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk kerja Produk Portofolio Observai/pengamatan Jawaban tertulis Jawaban tertulis Tuturan/ucapan Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah laku Aspek yang Dinilai tersebut tergambarkan sebagai . Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Pengumpulan informasi hasil belajar Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. 8. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut.Penilaian Pembelajaran 7-53 C. 1. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. No. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa.

antara lain: berdiri tegak. .75 x 10 = 7. Nilai 7. Pengolahan Hasil Penilaian a. Data Penilaian Sikap Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran. b. peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. Apabila seseorang mendapat skor 6. Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 -100). Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%. Data Penilaian Unjuk Kerja Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi.7-54 Penilaian Pembelajaran 2. dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato. maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0. Misalnya. penyampaian gagasan jelas. skor maksimumnya 8. sistematis.5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar.5. dan sebagainya. Dengan demikian. ada 8 aspek yang dinilai. menatap kepada hadirin.

sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor. guru mata pelajaran merumuskan sintesis. Data Penilaian Tertulis Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-55 Seperti telah diutarakan sebelumnya. perilaku. dan unjuk kerja peserta didik. Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. c. . sebagai deskripsi dari sikap. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. berdasarkan catatancatatan tentang peserta didik yang dimilikinya. yang berkaitan dengan sikap. Selain itu. Pada akhir semester. Yang dimaksud dengan kejadian-kejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku. jawaban singkat. baik positif maupun negatif. baik berupa peringatan atau rekomendasi. guru mata pelajaran dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan. uraian. benar salah. hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol. menjodohkan. Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda. atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. perilaku. menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan.

karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri. Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik. uraian objektif dan uraian non-objektif. bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. dibagi skor maksimal. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar -----------------------------. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1.X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah.5. dan jawaban singkat. Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu . misalnya 0 . Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu. Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar. Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar. dikali dengan 10. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban.7-56 Penilaian Pembelajaran Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. menjodohkan.

Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. data yang diperoleh dengan masing-masing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot. pengolahan data. Berikut tabel yang memuat contoh deskripsi dan penskoran untuk masing-masing tahap. guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai. nilai 6. pengumpulan data. Dalam menilai setiap tahap.50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut.Penilaian Pembelajaran 7-57 kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10. d. dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran. Misalnya. Data Penilaian Proyek Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahaptahap: perencanaan/persiapan. . dan penyajian data/laporan. Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. dengan dua angka di belakang koma.

tujuan. menggunakan bahasa yang komunikatif. Merumuskan topik.4 Keterangan: Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh. Cara penilaian analitik. menuliskan alat dan bahan. Dengan cara holistik. menguraikan cara kerja (langkah-langkah kegiatan) Penulisan laporan sistematis. jadwal. merumuskan tujuan penelitian. penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian. Data Penilaian Produk Data penilaian produk diperoleh dari tiga tahap. tahap pembuatan. dan tahap penilaian (appraisal). Ketepatan menggunakan alat/bahan Ada pengklasifikasian data.7-58 Penilaian Pembelajaran Tahap Perencanaan/ persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data/ laporan Deskripsi Memuat: topik. tahap pembuatan (produk). memuat kesimpulan dan saran. dan tahap penilaian. Total Skor Skor 1. perkiraan data yang akan diperoleh. daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan. langkah-langkah kerja. yaitu mulai dari tahap persiapan. e. Penyajian data lengkap.4 1. jelas dan lengkap. yaitu tahap persiapan. . Informasi tentang data penilaian produk diperoleh dengan menggunakan cara holistik atau cara analitik. bahan/alat.4 1. tempat penelitian. waktu. Data tercatat dengan rapi.4 1. guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan. guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0 – 10 atau 1 – 100.

• Produk memenuhi kriteria keindahan. Data penilaian Portofolio Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. dan (3) profil perkembangan peserta didik. (5) presentasi dan (6) penampilan. menentukan alat dan bahan • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan. • Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan/fungsinya. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. • mendesain produk. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio.Penilaian Pembelajaran 7-59 Contoh tabel penilaian analitik dan penskorannya Tahap Persiapan Deskripsi Kemampuan merencanakan seperti: • menggali dan mengembangkan gagasan. (3) perkembangan dokumen. • semakin baik kemampuan yang ditampilkan. Skor 1-10 Pembuatan Produk 1-10 Penilaian produk 1-10 Kriteria penskoran: • menggunakan skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. (2) dokumentasi/data dalam folder. Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi . (4) ringkasan setiap dokumen. semakin tinggi skor yang diperoleh. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik. (2) hasil pekerjaan peserta didik. f. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat.

7-60 Penilaian Pembelajaran peserta didik pada selang waktu tertentu. karena dua alasan utama. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam melakukan penilaian. sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Kedua. karena terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai . kecakapan. Pertama.100. Data Penilaian Diri Data penilaian diri adalah data yang diperoleh dari hasil penilaian tentang kemampuan. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut. Pada taraf awal. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 – 100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai. dikali dengan 10 atau 100. atau penguasaan kompetensi tertentu. hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan. sangat terbuka kemungkinan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. g. Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing. dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 – 10 atau 0 . karena peserta didik belum terbiasa dan terlatih.

Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipercaya serta dapat dipahami. Dua atau tiga kali guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini. guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali. Oleh karena itu. dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru. objektif. dan dilakukan penilaian ulang. dikoreksi. Interpretasi Hasil Penilaian dalam Menetapkan Ketuntasan Belajar Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu ke indikator. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. 20% untuk ditelaah. 3. diinterpresikan. Apabila hasil koreksi ulang yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi.Penilaian Pembelajaran 7-61 yang baik. para peserta didik menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik. dan jujur. pada taraf awal. Kriteria ideal untuk masingmasing indikator lebih besar dari 60%. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung.d. Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas. dengan menunjukkan catatan tentang kelemahan-kelemahan yang telah mereka lakukan dalam koreksian pertama. guru perlu melakukan langkah-langkah telaahan terhadap hasil penilaian diri peserta didik. Namun sekolah dapat . Apabila peserta didik telah terlatih dalam melakukan penilaian diri secara guru. Guru perlu mengambil sampel antara 10% s.

Melalui pemeringkatan ini diharapkan sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya. dalam hal ini meningkatkan kriteria pencapaian indikator semakin mendekati 100%. apakah 50%. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. Sebaliknya. dapat dikatakan peserta didik itu belum menuntaskan indikator itu. Hasil penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). 60% atau 70%. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar secara berkala.7-62 Penilaian Pembelajaran menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. apabila nilai indikator dari suatu KD lebih kecil dari kriteria ketuntasan. peserta didik dapat mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas. Dengan demikian. Apabila semua indikator telah tuntas. misalnya melalui ujian nasional. peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas sama atau lebih dari 50%. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. . dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. Namun. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas lebih dari 50%.

Penilaian Pembelajaran 7-63 Contoh penghitungan nilai kompetensi dasar dan ketuntasan belajar pada suatu mata pelajaran.5 2 Pada kompetensi dasar di atas. Jadi. Jadi. .= 67. Nilai rata-rata indikator 2: 60 + 75 --------. E. indikator ke. nilai kompetensi dasar di atas 60 dan 75.1 belum tuntas. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. peserta didik perlu mengikuti remedial untuk indikator tersebut. Rangkuman Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. Kompetensi Dasar 2.1 Kriteria Ketuntasa n 75% Nilai peserta didik 60 Ketuntasa n Tidak Tuntas 70% 75 Tuntas Indikator Mampu Menceri menentukan pokokpokok cerita takan pengalam Mampu an yang menceritakan paling pengalaman yang mengesa paling nkan mengesankan dengan menggun dengan menggunakan akan pilihan kata dan pilihan kalimat efektif kata dan kalimat efektif Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa nilai indikator pada kompetensi dasar di atas bervariasi. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu.

Namun. Pengolahan data hasil penilaian disesuaikan dengan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar. 60% atau 70%.7-64 Penilaian Pembelajaran Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. produk. Jelaskan bagaimana cara pengolahan data cara-cara penilaian berikut ini. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. apakah 50%. Interpretasi hasil penilaian adalah proses mencocokkan hasil penilaian dengan Kriteria Ketuntasan Minimal. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. Hasil engolahan data ini selanjutnya dilakukan interpretasi. lisan. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. dan observasi. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. . Dengan demikian. Apabila semua indikator telah tuntas. sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Kriteria ideal untuk tiap-taip indikator lebih besar dari 60%. F. Cara itu antara lain tertulis. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. Jelaskan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia peserta didik di SMP? 2. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. unjuk kerja. porfolio.

lisan. c. b. g. porfolio. penilaian diri 3. f. produk. d. observas. dan .Jelaskan bagaimana seorang anak dikatakan telah menuntaskan hasil belajar KD! . unjuk kerja. e.Jelaskan apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan KKM! 4.Penilaian Pembelajaran 7-65 a. tertulis.

Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut.BAB V. PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pemanfaatan dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. B. seperti pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. . 1) Memaparkan cara pemanfaatan penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP 2) Memaparkan cara membuat pelaporan hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP C. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. A. Karena itu. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu memaparkan cara pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. modul ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting.

(4) pelaporan. atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran. Pemanfaatan penilaian 2. a) Bagi peserta didik yang memerlukan remedial Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi. 1. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. guru kelas. bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi . Pelaporan hasil belajar Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. dan (5) penentuan kenaikan kelas.Penilaian Pembelajaran 7-67 D. Pemanfaatan Hasil Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal. Pemanfaatan hasil penilaian di antaranya sebagai berikut. 1. Misalnya.

strategi pembelajaran yang telah disiapkan. atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran. atau mengerjakan tugas mengumpulkan data. Oleh karena itu. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat. Misalnya. guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum. membuat rangkuman pelajaran. kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan. c) Bagi Guru Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif. dan memperbaiki program pembelajarannya. agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. dan bahan yang telah . Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru. Salah satu kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas.7-68 Penilaian Pembelajaran kesempatan untuk belajar sendiri. atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai npeserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. b) Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya. program yang telah dirancang. dapat diberikan program akselerasi. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan.

Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat. Laporan sebagai Akuntabilitas Publik Kurikulum berbasis kompetensi dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat. Pelaporan Hasil Penilain Kelas a. dan instansi terkait lainnya. direvisi. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester. Atas dasar itu. di mana peran-serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja. . laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. orang tua.Penilaian Pembelajaran 7-69 disiapkan perlu dievaluasi. dan akurat. masyarakat. tetapi juga di bidang akademik. komite sekolah. d) Bagi Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan Kepala sekolah untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. 2. transparansi dan akuntabilitas publik. komprehensif. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. Pelaporan hasil belajar hendaknya: • Merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik • Memberikan informasi yang jelas.

ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan. sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya. Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik. Bentuk Laporan Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. c. geometri. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor). Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti apakah anaknya perlu dibantu dalam bidang aritmatika. Namun. aljabar. sosial dan emosional? Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? . statistika. Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami). fisik. atau hal lain. Dipihak anak.7-70 Penilaian Pembelajaran • Menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar b. makna nilai tunggal seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika. Isi Laporan Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: • • • • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik.

Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif. d. hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung.Penilaian Pembelajaran 7-71 Untuk menjawab pertanyaan tersebut. dalam kurun waktu 1 semester. Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik. nilai tugas perseorangan maupun kelompok. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak. yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD. Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik. Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. . tes sumatif. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. • • • • • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik. Rangkuman Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) . N R Kd K K . N Kd 1 d d R d d d R d d d R 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2 Toto * NR = nilai rata-rata KD untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada rapor e.. KD dan Indikator semester bersangkutan. berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.. Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK. N K K K ..... N K K K . Untuk model rapor. Laporan prestasi mata pelajaran. Rapor Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. (Contoh model rapor beserta petunjuk pengisiannya lihat lampiran )..7-72 Penilaian Pembelajaran CONTOH FORMAT REKAP NILAI MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris KELAS/SEMESTER : TAHUN PELAJARAN : Mendengarkan NA NO MA 1 Riri Berbicara Membaca Menulis Kd 2 Kd 3 . karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya. E..

Jelaskan apa yang dimaksud laparan sebagai akuntabilitas publik! 3. F. komite sekolah. dan (5) penentuan kenaikan kelas.Penilaian Pembelajaran 7-73 bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Jelaskan pemanfaatan hasil penilaian penjaskes peserta didik di MA? 2. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. dan instansi terkait lainnya. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. orang tua. Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. Bagaimana cara menantukan nilai rapor penjaskes di MA! . masyarakat. Jelaskan apa saja isi laporan hasil belajar penjaskes di MA! 5. Jelaskan bentuk laporan yang idela untuk penjaskes di MA! 4. (4) pelaporan.

dsb. penafsiran hasil pengukuran. lisan di kelas/ulangan harian. tugas individu. Jenis tagihan: golongan tagihaan menurut klasifikasi menjadi kuis. tugas kelompok. yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan sehingga mengandung unsur subjektivitas. penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Bentuk tes:olongan tes menurut penggolongan menjadi tes pilihan ganda. Kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. telah memiliki pertanyaan. dan perilaku. perbuatan. untuk menunjukkan bahwa peserta didik itu kompetensi dasar tertentu. keterampilan. tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya. kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program.7-74 Penilaian Pembelajaran Lampiran: GLOSARIUM Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap Analisis : kajian terhadap suatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. ciri-ciri. tes uraian. Indikator : karakteristik. Asesmen : penilaian. Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan. kemmapuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik dari standar kompetensi. Keandalan tes: kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg atau konsisten. tidak berhenti pada suatu saat. dsb. Evaluasi : kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program. . atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Berkesinambungan: berkelanjutan. tanda-tanda.

. Penilaian :proses menetapkan nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen atau pengukuran. baik lisan maupun tertulis. dan mengungkapkan sikap peserta didik itu terhadap mata pelajaran tertentu. kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik. Pengujian Pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. kemampuan peserta didik itu dalam mengungkapkan gagasan. Reliabilitas: kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. sejumlah hasil karya seorang peserta didik. Validitas: kemampuan alat ukur yang mempengaruhi fungsinya sebagai alat ukur. Nilai yang diberikan itu diharapkan dapat mencerminkan kemajuan belajar anak Portofolio: kumpulan hasil karya seorang peserta didik. Standar kompetensi: kemammpuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran. alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur. Ujian : proses kualifikasi kemampuan peserta didik pada ranah kognitif dan psikomotor. perkembangan peserta didik itu dalam kemampuan berpikir. Tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. pemahaman pesert didik itu atas materi pelajaran. : pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran.Penilaian Pembelajaran 7-75 Kuis : ulangan singkat atau ujian singkat. laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan.

.

SLB Tingkat Dasar. Depdiknas. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas. 2002. Jakarta: BSNP-Direktorat Pembinaan SMP. Direktorat Menengah Umum. 2002. Nurgiyantoro. Direktorat TK-SD. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menegah Umum. dan MI. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama: Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Standar Isi. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD. 2007. SDLB. Jakarta: Direktorat TK-SD. . Yogyakarta: BPFE. 2002. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU): Pedoman Umum.Penilaian Pembelajaran 7-1 DAFTAR PUSTAKA BSNP. 2004. Puskur. Burhan.

kecuali .. a. mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung b. tes kecermatan berbahasa b. mengetahui keberadaan siswa d. bagian dari proses pembelajaran d. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP di antaranya sebagai berikut. mengatahui kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu c. tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap b. mengetes sendiri dan dengan partner b. melibatkan orang lain c. a. alat penilaian semuanya baik . tes pengetahuan d. unjuk kerja b.. Ada beberpa alternatif alternatif yang dapat digunakan guru untuk menghemat waktu dan lebih bermanfaat bagi para siswa dalam melakukan penilaian di antaranya sebagai berikut kecuali . ada alat penilaian yang secara lengkap mengumpulkan prestasi hasil belajar c.7-2 Penilaian Pembelajaran A. B. untuk mengukur prestasi hasil belajar bisa satu alat penilaian d. tes sikap 7. C atau D! 1. terutama digunakan untuk …. Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebagai berikut a. tes keterampilan berbahasa c. Guru dalam melakukan penilaian pembelajaran di kelas. menggunakan orang lain 4. a.. penilaian diri d. Tes Mandiri Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf A. kecuali … a. mengetahui keberhasilan guru 6.. produk 5. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. observasi c.

. observasi c. etika. kebesamaan. Observasi c. a. kebesamaan. Untuk mengukur KD Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri. toleransi. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . penilaian diri d. observasi c.. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri. unjuk kerja b. saling menghormati. produk 7. produk 8. penghargaan guru dan siswa . dan demokrasi lebih cocok digunakan alat penilaian .. toleransi. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat permainan .. penilaian diri d. etika...Penilaian Pembelajaran 7-3 6. penilaian diri d. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri. Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan sebagai berikut kecuali … a. saling menghormati.. produk 9. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri. unjuk kerja b. unjuk kerja b. saling menghormati. perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan b. pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan c. unjuk kerja b.. penilaian diri d. etika.. kebesamaan. saling menghormati. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . observasi c. produk 10.. a. toleransi. kebesamaan. perbaikan program dan proses pembelajaran d. a. etika. toleransi.. a.

79% = cukup < 70% = kurang Apabila hasil belajar Anda mencapai 80% atau lebih. .89% = baik 70% . Anda telah mencapai kompetensi baik dan diharapkan dapat mengevaluasi hasil belajar penjas di MITs dengan baik. kemudian tentukan hasil belajar Anda dengan rumus berikut. siswa mampu. TINDAK LANJUT Setelah Anda menyelesaikan soal-soal tes mandiri. Selamat sukses! Pembelajaran berhasil. Karena itu. Kemmapuan Anda perlu diperkaya dengan melakukan diskusi antarsesama teman sejawat.100% = baik sekali 80% . Ini berarti kesuksesan Anda tertunda! C.x 100% 20 Hasil belajar = 90% . tukarkanlah dengan teman Anda! Setelha itu. layak Anda mendapat ucapan selamat untuk sukses! Sebaliknya.7-4 Penilaian Pembelajaran B. Selamat sukses. negara maju. bila hasil belajar yang Anda peroleh ternyata di bawah 80%. umat kokoh. koresilah! Hitunglah jawaban Anda yang benar. membaca literatur lain. atau konsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang kompeten. KATA PENUTUP Alhamdulilah Anda telah mempelajari modul ini. (Jumlah jawaban yang benar x 2) Hasil belajar = --------------------------------------------. sebaiknya Anda pelajari kembali bagian-bagian yang belum Anda kuasai dan mantapkanlah untuk mencapai skor kemmapuan di atas 80%. semoga upaya Anda mendapat rahmat dan ridho-Nya.

B 7. D . D 5.Penilaian Pembelajaran 7-5 KUNCI TES MANDIRI 1. D 4. B 10. D 6. B 9. B 8. A 2. A 3.

BUKU AJAR MEDIA PEMBELAJARAN .

dan sumber pembelajaran. ada satu lagi istilah yang erat kaitannya dengan materi dan media ini. Hal ini dilakukan karena konsep dasar materi dan media dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar materi dan media pada umumnya itu. . Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 2. dalam bahan pelatihan ini Anda diajak untuk membahas materi dan media secara bersamaan karena memang konsep dasar di antara keduanya tidak selalu dapat dipisahkan. tetapi pada saat yang lain konsep dasar kedua istilah itu tidak dapat dipisahkan. Anda pertamatama diajak untuk memahami pengertian materi dan media pembelajaran pada umumnya. Pada saat tertentu konsep dasar kedua istilah itu dapat dipisahkan. Kalau Anda mengamati dalam GBPP kurikulum berbasis kompetensi tentang materi pokok. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Kompetensi Dasar Menguasai konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Standar Kompetensi Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Hal ini dapat dilihat pada ulasan berikut. Bahkan. Itulah sebabnya dalam perencanaan pembelajaran ketiga istilah itu sering disatukan.Media Pembelajaran 8-1 BAB I. tampak juga bahwa ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan. Kedua. Hakikat Media Pembelajaran Dalam pembahasan tentang pengertian istilah. D. media. yaitu sumber bahan. Menghubungkan antara materi. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN A.

sumber materinya adalah buku paket atau buku-buku lain yang berisi ulasan tentang tumbuhan paku dan medianya adalah contoh tumbuhan paku atau gambar tumbuhan paku. media. ataukah sumber? Bukankah materi dalam pembelajaran itu adalah teks yang ada dalam ensiklopedi dan buku telepon itu? Bukankah medianya berupa OHP yang digunakan untuk memperbesar teks dalam rangka memberi contoh model membaca memindai atau tabel yang berisi kata dan istilah yang harus dicari dengan membaca memindai itu beserta isian kunci penemuannya? Bukankah media dalam pembelajaran itu berupa “hadiah” yang akan diberikan kepada siswa atau kelompok siswa yang dapat menemukan kata atau istilah yang dicari terlebih dahulu? Bukankah ensiklopedi dan buku telepon itu merupakan sumber materi? Contoh lain dapat Anda lihat dalam kompetensi dasar membaca pemahaman dan mengevaluasi buku yang berisi ilmu pengetahuan populer dengan materi pokok buku ilmu pengetahuan populer. Bukankah buku ilmu pengetahuan populer itu merupakan sumber bahan/materi? Bukankah materinya adalah teks yang ada dalam buku ilmu pengetahuan populer itu? Bukankah medianya berupa tabel yang kita buat untuk menuliskan ciri pembeda antara buku ilmiah populer dan buku ilmiah atau buku populer yang lain? Hal ini ternyata berbeda dengan. Pertanyaannya sekarang adalah ensiklopedi dan buku telepon itu materi. misalnya. mata pelajaran Biologi. Sementara itu. misalnya. Untuk kompetensi dasar siswa mampu menjelaskan anatomi tumbuhan paku. materi pokoknya adalah ensiklopedi dan buku telepon. materi pokoknya adalah anatomi tumbuhan paku. misalnya. media. Dalam Dictionary of Education dikemukakan bahwa instructional media is devices and other materials which present a . Tidak dapat dipisahkannya antara materi.8-2 Media Pembelajaran Dalam kompetensi dasar membaca memindai ensiklopedi/buku telepon. dan sumber juga dapat dilihat pada pengertian dan klasifikasi media pembelajaran berikut itu.

program TV. dengan alat bantu apa Anda mengajarkan materi itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori media pembelajaran. majalah. (1977) membuat klasifikasi media pembelajaran yang sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning). Ketiga. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori materi pembelajaran. kartun. papan panel. program radio. Sementara itu. dan fasilitas belajar (facilities for learning). Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. laboratorium. Meskipun dari pengertian dan klasifikasi di atas tampak bahwa pengertian materi. surat kabar. boneka. peta. Fasilitas belajar mencakup gedung. OHP. telepon. papan tulis. kamera. kliping. Brown. dan lain-lain. Kedua. Untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya dapat Anda ikuti uraian berikut ini. televisi. perpustakaan. video player. dari mana materi pembelajaran itu Anda dapatkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori sumber bahan atau sumber materi. dan lain-lain. poster. sarana pendidikan untuk belajar (educational media for learning). Pertama. ensiklopedi. dkk. Sarana belajar mencakup tape recorder.Media Pembelajaran 8-3 complete body of information and are largely self-suporting rather than supplementary in the teaching-learning process. laboratorium elektronik. Media pembelajaran adalah alat atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat menunjang proses belajar mengajar. tetapi rambu-rambu pertanyaan berikut kiranya dapat digunakan untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya. . tempat bermain. dan sumber bahan sulit dipisahkan. kelas. media. dan lain-lain. radio. ruang diskusi. globe. gambar dan lukisan. Sarana pendidikan untuk belajar mencakup buku teks. buku penunjang. studio.

arloji. surat kabar Kompas. Dengan demikian. majalah Intisari. Berdasarkan . menurut Bovee (Ena. apa yang Anda ajarkan? Jawabannya adalah teks bacaan. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. jumlah kata. dan lama waktu membaca. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah dengan tape recorder karena teks berita itu Anda bawa ke kelas dalam bentuk rekaman dan akan Anda perdengarkan kepada siswa dengan tape recorder. dan lain-lain merupakan sumber bahan atau sumber materi. dan tabel isian tersebut dapat Anda kategorikan sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini. 2004:2). dari majalah Intisari. stop watch. teks berita dalam pembelajaran Anda ini dapat Anda kategorikan sebagai materi pembelajaran. buku paket. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah teks berita. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. Berdasar uraian di atas. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah arloji atau stop watch dan tabel isian yang berisi nama siswa. dari mana teks berita tersebut Anda peroleh? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dari radio atau dari TV. Dengan demikian. Kedua. media adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan. dan lain-lain. Pertama. Pertama. dari buku paket. radio dan TV merupakan sumber bahan atau sumber materi. teks bacaan dalam pembelajaran Anda ini adalah materi pembelajaran. Dengan demikian. dari mana teks bacaan tersebut Anda peroleh? Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah dari surat kabar Kompas. Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar mendengarkan dan memahami berita dari radio/televisi. tape recorder merupakan media pembelajaran.8-4 Media Pembelajaran Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar membaca cepat 250 kata per menit. Kedua. Pada contoh ini. Dengan demikian.

slide (gambar bingkai). membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. gambar. televisi dan komputer. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain: buku. grafik. foto. kamera. film. video recorder. Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. kaset.Media Pembelajaran 8-5 pengertian tersebut maka media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses pembelajaran. tape recorder. video. . dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa.

Wacana dalam kaset rekaman itu merupakan materi pembelajaran.8-6 Media Pembelajaran BAB II. KRITERIA MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA A. dan melatih siswa dalam menggunakan bahasa. . diagram. Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Media pembelajaran pada dasarnya merupakan semua alat bantu yang dimanfaatkan guru dalam rangka mempermudah pembelajaran. Kompetensi Dasar Menguasai kriteria pemilihan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Dengan berbagai latihan itu. melatih. dan lain-lain yang dapat Anda gunakan untuk mengajarkan wacana dalam rangka melatih. Standar Kompetensi Memahami kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. sedangkan kaset rekaman dan tape recorder merupakan media pembelajaran. diharapkan siswa memiliki kompetensi tertentu dalam berbahasa dan bersastra dengan berbagai variasinya. media pembelajaran Anda dapat berupa kaset rekaman tentang wacana itu dan tape recorder. Media dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat pula berupa gambar-gambar. wacana “model”. Apabila Anda akan mengadakan pembelajaran agar siswa Anda mempunyai kompetensi dalam menyimak wacana tertentu. Indikator Pencapaian Kompetensi menjelaskan Indonesia kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra D.

warna batang. ketika Anda akan membelajarkan wacana tulis agar siswa Anda memiliki kompetensi dasar mampu mengarang. warna bunga. berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. lalu siswa disuruh membuat karangan seperti model dengan objek yang berupa bunga mawar. ukuran batang. atau benda-benda itu. kedua siswa Anda ajak mengamati bunga mawar dan atau gambar bunga mawar.Media Pembelajaran 8-7 Dalam pembelajaran bahasa dan sastra. media lain yang dapat Anda gunakan dapat juga berupa diagram atau tabel kosong yang harus diisi siswa setelah mengamati tumbuhan dan atau gambar bunga mawar itu. hasil pengamatan itu dituangkan dulu dalam tabel atau diagram agar siswa mudah memahaminya dan mudah menuangkannya dalam karangan. sebelum dituangkan dalam karangan siswa. proses pembelajarannya dapat Anda lakukan. ukuran bunga. bentuk daun. misalnya. Di samping itu. dan atau gambar-gambar tentang bunga. media pembelajaran Anda dapat berupa tumbuhan. media pembelajaran Anda dapat pula berupa objek yang menjadi pijakan pembelajaran. warna daun. media yang Anda gunakan dapat berupa tumbuhan bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. Misalnya. misalnya bentuk bunga. ukuran daun. misalnya. pertama-tama siswa Anda ajak untuk mambaca “wacana model”. Oleh karena itu. Berkaitan dengan media pembelajaran itu. Namun. Apabila Anda ingin melatih siswa untuk membuat karangan tentang bunga mawar. Hasil pengamatan itulah yang dituangkan siswa dalam karangannya nanti. Media yang berupa diagram dan atau tabel kosong di atas digunakan untuk membantu siswa dalam menuliskan hasil pengamatan terhadap bungan mawar. dan seterusnya. . binatang. benda-benda. bentuk batang. binatang.

Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar memiliki fungsi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan benar-benar berfungsi untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. Dengan media itu. tape recorder). berbicara. baik dalam sastra maupun non-sastra sesuai dengan fokus pembelajaran saat itu. maka media yang tepat adalah media audio (radio. kurangnya minat dan gairah siswa. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah komunikasi. sikap. Misalnya. (b) Media sebagai penyaji stimulus (informasi. bila tujuan pembelajaran itu agar siswa dapat melafalkan ucapan kata-kata.8-8 Media Pembelajaran (1) Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran (sesuai dengan indikator). dan lain-lain) dan untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling utama. (2) Fungsional Salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. dsb. Di dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif dan efefisien. Media pembelajaran yang Anda gunakan bukan sekadar sebagai pelengkap proses pembelajaran. ketidaksiapan siswa. dan menulis dengan berbagai variasinya. berlatih. . dan berlatih berbahasa dan bersastra. sedangkan lainnya merupakan kelengkapannya dari kelengkapan dari kriteria itu. (a) Untuk menghindari kesalahpahaman antara pengajar dan siswa. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalistis. tetapi benar-benar merangsang siswa untuk berlatih. Fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut ini. membaca. siswa Anda berlatih menyimak.

Misalnya. apabila siswa Anda minta untuk menyimak wacana yang Anda bacakan. Apabila hal di atas terjadi. Anda dapat saja menggunakan wacana yang berupa teks bacaan. maka kaset rekaman dan tape recorder itu bukan media pembelajaran yang tepat Anda gunakan saat itu. tape recorder. ketika Anda akan melatih siswa agar siswa Anda memiliki kompetensi dalam menyimak berita dan Anda memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yang berupa kaset rekaman berita dan tape recorder.Media Pembelajaran 8-9 (c) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa karena pengalaman mereka berbeda-beda. (e) Media dapat membangkitkan motivasi dan minat baru. Bentuk pembelajarannya dapat berupa Anda bacakan teks itu dan siswa diminta untuk menyimaknya. dan realitas. beserta perangkat pendukungnya (misalnya listrik) tidak tersedia. Tetapi.semuanya sudah tersedia. Artinya. media itu sudah tersedia atau sudah siap pakai. Dengan demikian. (3) Tersedia Pertimbangan lain dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah ketersediaan media itu. kaset rekaman berita. dan kaset rekaman berita dan tape recorder itu benar-benar tersedia. Anda perlu memikirkan media pembelajaran lain yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran menyimak berita. Jika ternyata di sekolah Anda. (d) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar konkret. menyimak adalah kegiatan berbahasa lisan. kalau wacana yang berupa teks bacaan itu . Seandainya materi dan media itu tidak tersedia. berarti bahwa Anda sudah melatih siswa untuk menyimak. kaset rekaman berita dan tape recorder itu dapat Anda upayakan sehingga pada saat Anda memerlukan media itu. Misalnya. Misalnya. pada saat Anda perlukan dalam pembelajaran. Yang perlu Anda perhatikan adalah hakikat kompetensi berbahasa yang harus dimiliki siswa.

Koran yang Anda beli itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. ada surat pembaca. (2) penerapan unsur suprasegmental dalam pembacaan itu belum tentu tepat. Misalnya. Hanya saja. (3) memungkinkan terjadinya gangguan aspek non-linguistik lain pada saat guru membacakan wacana itu. di lingkungan sekolah. untuk Anda gunakan sebagai media pembelajaran bahasa. Anda tidak perlu memikirkan media pembelajaran yang mahal yang memang tidak .8-10 Media Pembelajaran Anda berikan kepada siswa. Bahkan. guru kurang dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. kelebihannya adalah Anda memperoleh kepastian bahwa pembelajaran menyimak dengan cara ini dapat Anda lakukan karena sangat mudah dilaksanakan. pada saat tertentu Anda membeli surat kabar. dan lain-lain. Taman dan berbagai pohon besar di sekolah Anda itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. Di sekolah Anda terdapat taman atau pohon besar dengan berbagai jenisnya. Oleh karena itu. dan (4) pada saat membacakan wacana. misalnya IPA. Anda dapat meminjam alat peraga mata pelajaran yang lain. Hal ini dapat dipahami karena membicarakan tentang apa pun melibatkan kemahiran berbahasa dalam proses komunikasi. Di antara kelemahan itu adalah (1) kualitas suara guru yang membacakan wacana itu belum tentu ideal. dan di lingkungan Anda dapat Anda gunakan untuk media pembelajaran bahasa dan sastra. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di lingkungan siswa. proses pembelajaran itu bergeser menjadi melatih siswa untuk membaca. (4) Murah Media pembelajaran yang Anda gunakan untuk melatih siswa berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal. pembelajaran menyimak secara langsung seperti ini tentu juga memiliki kelemahan. Dalam surat kabar itu ada berita. Sementara itu. ada iklan.

Akan tetapi. (5) Menarik Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah tingkat kemenarikan. maka gambar mati seperti bagan chart atau slide dapat digunakan. bungkus makanan. bungkus roti. media pembelajaran yang Anda gunakan dalam pembelajaran Anda adalah media yang menarik bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran Anda secara lebih inten. Sedangkan jika yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak. Bungkus obat. Untuk dapat memilih dan menentukan media pembelajaran yang menarik. setidaknya Anda perlu mempertimbangkan (1) kesesuaian media itu dengan kebutuhan siswa. dan (5) variatif. (6) Ketepatgunaan Jika materi yang dipelajari adalah bagian-bagian yang terpenting dari suatu benda. dan lain-lain dapat pula Anda manfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra. slogan di sekolah. (3) baru. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa yang akan menggunakan media tersebut. jika tingkat kerumitan serta kosakata yang digunakan lebih tinggi di atas kemampuan siswa maka media tersebut tidak dapat dipilih. (4) menantang. Artinya. . (7) Keadaan siswa Sebuah program media tidak mungkin cocok untuk tujuan tertentu.Media Pembelajaran 8-11 dapat Anda dapatkan di sekolah Anda. besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi penggunaan media. (2) kesesuaian media pembelajaran itu dengan dunia siswa. maka media film atau video lebih tepat.

maka media itu tidak dapat digunakan karena mutu teknisnya tidak memenuhi syarat.8-12 Media Pembelajaran (8) Mutu Teknis Seandainya ada media yang cocok untuk tujuan pembelajaran tetapi ternyata tidak lengkap atau terputus-putus. .

foto. kaset. gambar. camera. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. slide (gambar bingkai). televisi dan komputer. Kompetensi Dasar Menjelaskan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain buku. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. . vidio recorder. grafik. Indikator Pencapaian Kompetensi Memilih dan mengembangkan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. tape recorder. Standar Kompetensi Menerapkan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B.Media Pembelajaran 8-13 BAB III. film. video.

Grafik. Media-media menyampaikan itu sangat membantu tugas kepada pengajar siswa. media grafis. Dalam program ini hanya diberikan satu ilustrasi pembuatan media grafik yaitu flip chart. Flip Chart. Ada dua jenis media yang sederhana tetapi sangat efektif penggunaannya yaitu media grafis dan media transparansi. dan media berprograma.8-14 Media Pembelajaran Menurut jenisnya. Papan Buletin. (3) penekanan. harus diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: (1) kesederhanaan. Oleh karena itu. media audio-visual (pandang-dengar). jelas dan mudah dipahami. tidak semua media yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran tersedia. . seorang pengajar harus bisa merencanakan dan membuat media sendiri. Kesederhanaan Bahan untuk media grafis harus ringkas. Kartun dan Komik. dan (4) keseimbangan. (2) kesatuan. 1. dalam Namun materi pembelajaran kendalanya. Pembuatan Media Grafis dalam Pembelajaran Bahasa Media grafis sering disebut media visual dasar. karena flip chart paling mudah pembuatannya dan paling sering digunakan dalam proses belajar mengajar. tulisan cukup tebal dan mudah dibaca. sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting. Poster. media proyeksi. Dalam mendesain media grafis. media terdiri atas media audio (dengar). meliputi Papan Flanel. media visual (pandang). A. media transparansi.

yaitu formal dan informal.Media Pembelajaran 8-15 2. garis. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan. memberi warna atau ruang pada bagian tertentu. Keseimbangan . warna. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah jalinan yang harmonis antara bagian-bagian visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Jalinan antarbagian ini dapat dinyatakan dengan batas yang bertumpangan. 3. misalnya dengan cara memperbesar. Penekanan itu dapat dilakukan dalam berbagai cara. bentuk. dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah. 4. diperlukan penekanan pada bagian tertentu untuk dijadikan pusat perhatian. Penekanan Dalam media grafis. memperjelas. tekstur dan ruangan. Desain keseimbangan formal apabila ada suatu poros yang membagi visual secara simetris.

Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah garis. warna merupakan unsur . b. Garis Dalam media grafis sebuah garis dapat menghubungkan unsurunsur dan membimbing yang melihatnya kepada suatu unsur tertentu. c. a. Desain keseimbangan informal adalah yang tidak simetris. Warna Untuk kebanyakan visual.8-16 Media Pembelajaran formal memberikan kesan statis. tekstur. Bentuk Suatu bentuk yang aneh akan membangkitkan perhatian khusus kepada yang divisualisasikan. Hal ini sering digunakan dalam mendesain caption dan judul. dan ruang. warna. Hal ini dapat memberi kesan dinamis dan biasanya mempunyai daya tarik yang kuat.

Hal ini harus digunakan hati-hati sekali. Usahakan batas warna dengan jelas. untuk memberikan penekanan. pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan. Pergunakan dua atau tiga warna saja untuk suatu visual. e. Ruang Ruang terbuka di sekeliling unsur visual dan akan mencegah perasaan terlalu berdesakan tatalah ruang yang digunakan dengan cermat agar .Media Pembelajaran 8-17 tambahan yang penting. d. Usahakan agar warna tidak terlalu banyak dan berbaur satu dengan yang lain. Tekstur Tekstur adalah visual yang dapat bertindak sebagai pengganti perasaan yang menyentuh dan dalam banyak hal dapat digunakan sebagai pengganti warna.

gunting. cellotape. Flip chart juga dapat dipergunakan untuk memberikan pembelajaran di depan kelas. ikutilah ilustrasi berikut ini. spidol. . Sebuah flip chart dengan ukuran 60 X 80 cm biasanya cukup efektif untuk dipakai di depan kelas sebanyak 40 orang. Hal tersebut sering digunakan untuk memberikan judul-judul untuk suatu diskusi atau membuat daftar prosedur yang berurutan. penggaris.8-18 Media Pembelajaran unsur-unsur dalam desain jadi efektif. Bahan dan alat yang diperlukan: • Kertas: kertas putih biasa. tempat cat. cutter. standard. pembolong kertas. cat air. kertas gambar. Pembuatan Flip Chart Flip chart biasanya berupa gambar di atas sehelai kertas yang tidak mudah sobek. • Pensil. Untuk di laboratorium flip chart adalah ekonomis dan mudah dibuat. Selanjutnya bagaimana teknik atau cara pembuatan flip chart yang mempertimbangkan prinsip-prinsip media grafis. letter press. kertas bufalo. B. cat plakat. • Jangka. lem. kuas.

tetapi cukup dengan menunjuk pada bagian pesan pada transparansi yang ada di . buatlah pada kertas pesan yang Anda inginkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Terlebih dahulu buatlah sketsa dari pesan yang ingin Anda sampaikan. Anda tidak perlu membelakangi kelas menuju ke layar. Alat untuk media ini adalah Overhead Proyektor (OHP).Media Pembelajaran 8-19 Cara membuatnya: 1. C. c. uraikanlah materi pembelajaran yang akan disajikan menjadi beberapa bagian yang penting untuk dipelajari siswa. Anda berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan terhadap siswa. Dengan memperhatikan keempat prinsip serta kelima unsur pembuatan media grafis. 1. 2. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Setelah diperoleh komposisi serta bentuk yang memadai barulah Anda buat pada kertas yang disediakan untuk flip chart. b. Pembuatan Media Transparansi dalam Pembelajaran Bahasa Media transparansi sebagai media pembelajarana merupakan komunikasi yang sangat potensi dalam kegiatan belajar mengajar. Alat tersebut dapat digunakan dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan gelap. Kemudian pasangkanlah flip chart yang sudah selesai pada standard dengan terlebih dulu membuat lubang pada flip chart Anda untuk menggantungkannya. Untuk mengarahkan perhatian. Berikut cara mempergunakan media transparansi dalam proses belajar mengajar.

8-20 Media Pembelajaran hadapan Anda. 2. 3. Pada waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak terproyeksikan . Bayangan penunjuk Anda akan terlihat jelas. Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan. transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali dengan alkohol. Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat digunakan untuk menambah catatan pada waktu menjelaskan materi tanpa merusak transparansi aslinya. Setelah selesai dipergunakan. Pada penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan.

kapas dan alkohol d. yaitu empat prinsip umum seperti kesederhanaan. transparansi b. kesatuan. 4. Mempergunakan benda tiga dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. Mempergunakan Overlays. Sedapat mungkin dalam mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan. warna dan ruang. konsep yang sulit dapat diberikan setahap demi setahap selama proses belajar mengajar. dan keseimbangan. Bahan dan alat yang diperlukan adalah: a. Dengan demikian. kertas milimeter . tekstur.Media Pembelajaran 8-21 ke layar karena kertasnya tidak tembus cahaya. pena transparansi yang permanen c. Dengan memanipulasi bendabenda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan. 5. yaitu transparansi lain yang berisian bagian dari pesan yang akan disampaikan langkah demi langkah. Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi sama dengan prinsip-prinsip pembuatan media grafis. serta lima unsur tambahan seperti garis. penekanan. bentuk.

Pemanfaatan program aplikasi microsoft powerpoint untuk pembuatan multimedia pembelajaran memiliki keuntungan bagi guru. tenaga. Kelemahan dari program aplikasi Microsoft Powerpoint adalah tidak tersedianya fasilitas untuk menyimpan informasi dari pengguna setelah melakukan eksplorasi pembelajaran. Dengan kelemahan ini maka pengguna atau siswa tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara langsung. dalam hal ini program microsoft power point. grafik. bunyi. Hal ini seperti diungkap Ena (2004:4) bahwa keuntungan terbesar memanfaatkan program aplikasi microsoft powerpoint adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah ada di dalam Microsoft office. Untuk mengatasi kelemahan ini. dan juga tersedianya fasilitas untuk dihubungkan dengan internet. dan video untuk menyampaikan pesan atau informasi. Dengan kegiatan pembelajaran melalui media interaktif berbasis komputer. waktu. Dengan demikian kita bisa menggunakan kombinasi tampilan berbagai media yang berbeda seperti teks.8-22 Media Pembelajaran D. maka . maka akan dapat memberikan rangsangan bagi siswa untuk mau belajar lebih giat sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulis. Pembuatan Komputer Multimedia Pembelajaran Bahasa Berbasis Dengan bantuan teknologi perangkat komputer maka dapat dihasilkan multimedia pembelajaran yang interaktif. dan pikiran sebab guru tidak harus mempelajari dulu bahasa pemrograman komputer. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembuatan multimedia pembelajaran menggunanakan program microsoft powerpoint akan menghemat biaya. tersedianya banyak fasilitas aplikasi sehingga pemakai tidak perlu mempelajari bahasa pemrograman komputer. keuntungan lainnya adalah sederhananya tampilan ikon-ikon yang kurang lebih sama dengan Microsoft word yang sudah banyak dikenal.

interaksi yang lebih luas. motivasi. permainan dan . Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. tidak terpaku pada sumber tunggal. berbicara. dan pemahaman global. mendengarkan. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. materi yang otentik. meningkatkan pembelajaran. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist.Media Pembelajaran 8-23 dapat digunakan lembar kertas kerja siswa sehingga guru dapat memantau perkembangan belajar siswa. Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee. Pembelajaran berbagai memberi penekan pada pengintegrasian ketrampilan berbahasa. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentukbentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman. Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode pembelajaran integratif atau dengan kecenderungan komputer yang yang terakhir adalah integratif. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan. menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. 1996). lebih pribadi. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee.

Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh . Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. ketersediaan piranti lunak dan keras komputer. meningkat. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. 1. keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. Media pembelajaranpun pengetahuan berkembang pengajar atau karena ahli keterbatasan dan tehnis pengajaran keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk kurang dari piranti lunak dan kerasnya. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office.8-24 Media Pembelajaran kreativitas.

Media Pembelajaran 8-25 kebanyakan pemakai komputer. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan tehnis dan teori. Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. membaca atau pembelajaran yang lain. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. (a) Memasukkan Teks. Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. Gambar. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from . Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa.

. pilih warna dan tekan apply. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill. Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan.8-26 Media Pembelajaran file . Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. dan from clip art. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background.. apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply. yang pertama adalah dengan memberi warna.. Fasilitas yang pertama adalah background. more color dan fill effects. Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. pilih tekstur atau gambar dan tekan apply. Fasilitas .. yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri. dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects. (b) Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. Background akan memperindah tampilan program.

kiri. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. (c) Membuat Hyperlink Fasilitas pembelajaran ini sangat penting dengan dan sangat mendukung bahasa karena hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas. pribadi dan otentik. Objek bisa melayang dari atas. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet.Media Pembelajaran 8-27 animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. bawah. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. atau dari sudut. kanan. sesudah itu akan muncul dialog . Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings.

Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan. (b).8-28 Media Pembelajaran box. kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. 2. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama. khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran . Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik. (a). Membaca Fasilitas memungkinkan menampilkan pembuatan teks materi dalam program aplikasi ini pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Mengembangkan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik.

Media Pembelajaran 8-29 dengan video ataupun audio. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan. Permainan penyapu ranjau (mine . Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya. Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran. (d). Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slideslide yang berbeda. (c).

dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan. Namun. .8-30 Media Pembelajaran sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata. Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. 3.

PRAKTIK PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. Praktik Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kegiatan 01: Menentukan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Bagilah peserta pelatihan ini menjadi 3 kelompok! Kelompok A bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. (1) Berdasarkan identifikasi kompetensi dasar dalam Kurikulum KTSP dan materi pembelajaran yang sudah Anda rumuskan. Kalau diperlukan. Indikator Pencapaian Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D.Media Pembelajaran 8-31 BAB IV. Kompetensi Dasar Menyajikan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. dan kelompok C bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas IX. kelompok B bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. diskusikan dalam kelompok Anda media pembelajaran yang tepat Anda gunakan dalam membelajarkan siswa dengan materi pembelajaran itu agar siswa memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam . setiap kelompok dapat dibagi lagi menjadi subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran sastra. Standard Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B.

medianya.. sebaiknya ada kelompok yang membuat perencanaan perencanaan perencanaan perencanaan pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran menyimak berbicara membaca menulis beserta beserta beserta beserta medianya. (4) Presentasikan hasil kerja kelompok Anda dalam diskusi kelas! . perencanaan pembelajaran sastra beserta medianya. medianya. selanjutnya buatlah media pembelajaran yang sesungguhnya yang siap Anda gunakan untuk mengajar di kelas! (2) Wujudkan tugas untuk Anda tersebut dalam bentuk rencana pembelajaran kompetensi dasar tertentu berdasarkan Kurikulum KTSP dan lengkapilah rencana pembelajaran itu dengan media yang akan Anda gunakan! (3) Dalam kegiatan ini. lakukan kegiatan 02 berikut ini.8-32 Media Pembelajaran Kurikulum KTSP! Pertimbangkan kriteria pemilihan media di atas dalam diskusi kelompok Anda! (2) Tuangkan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam kertas manila yang disediakan panitia! Sajikan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam diskusi kelas! Agar setelah mengikuti pelatihan ini Anda mendapatkan pengalaman yang lebih kongkret dan siap Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kegiatan 02: Membuat Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra (1) Berdasarkan hasil kegiatan (01) dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia dalam pelatihan ini. medianya.

Media pembelajaran yang Anda gunakan harus benar-benar menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda laksanakan. dan yang penting bahwa media pembelajaran yang Anda gunakan harus menarik bagi siswa. RANGKUMAN Media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. Media pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda gunakan setidaknya harus memenuhi kriteria: (1) tujuan. benar-benar Anda dapatkan pada saat Anda memerlukannya dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran bahasa dan sastra pada dasarnya semua alat yang Anda gunakan dalam membantu mempermudah pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda lakukan. (2) fungsional. F. (7) keadaan siswa. Soal Evaluasi Setelah mempelajari dan mengikuti proses pelatihan subbagian bahan pelatihan ini.. (4) murah. tidak perlu mahal karena pada dasarnya Anda dapat menggunakan apa saja yang berada di lingkungan tempat Anda mengajar. Manfaat apa yang Anda peroleh setelah Anda mempelajari media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra? . (3) tersedia. Kemukakan kriteria penggunaan media pembelajaran yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra! Masingmasing berilah penjelasan dan contoh! 3.Media Pembelajaran 8-33 E. lakukan penilaian diri dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut! 1. (5) menarik. Berilah alasan kebenaran pernyataan ini beserta contohnya! 2. dan (8) mutu teknis. (6) Ketepatgunaan.

Apakah ketidaksesuaian penggunaan media pembelajaran yang Anda lakukan dengan kriteria penggunaannya seperti yang Anda kemukakan pada butir (4) tersebut Anda sengaja? Berilah penjelasan dan atau alasan! 8. Kemukakan pula contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut! 7.8-34 Media Pembelajaran 4. Apakah kendala yang Anda rasakan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran bahasa dan sastra? Berilah penjelasan! 9. Apakah penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan selama ini sesuai dengan kriteria tersebut? Berilah alasan! 5. Kemukakan contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang sesuai dengan kriteria tersebut! 6. Apakah rencana Anda setelah Anda memahami media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya? 10. Kemukakan pendapat dan atau saran berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia! .

ac. 2000. 12.6. Peter et al. 1977. David H. E. S. 1983. Depdiknas. dan Norton. Kwuang-wu. 1999. Jakarta: Depdikbud. VI. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Draft belum diterbitkan). and Methods.jp/~iteslj/ Idris. AV Instruction. Greece. Iowa. Dwi. Ferrod E. Davis. The Internet TESL Journal. CALL: Its Scope and Limits. 1996. Prentice Hall. A Paper presented at KIPBIPA III. Oxford University Press: Oxford.. Saksomo. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. The Internet TESL Journal. Kemp. http:/www. Vol.T. Hunter. 1996. Nuny S. P3G. Ruseffendi. Brown and Benchmark: Dubuque. Planning and Producing Audiovisual Materials. Stephen N et al. 1996. an imprint of Macmillan College Publishing Company.jp/~iteslj/ Norton. James W. Hubbard.Media Pembelajaran 8-35 DAFTAR PUSTAKA Brown. Harper and Row: New York.. Malang: Buku Ajar (Tidak diterbitkan) . Educational Psychology. Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. No.ac. New Jersey. II. No. Vol. a paper presented at Technology and Education Conference in Athens. Teaching with Media.aitech. 1986. 1980. June 1996. New York: Merrill. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. Technology. 1982. 2003. A Training Course for TEFL. Media. Ben. http:/www.N. Lawrence. 1991. 1993. Bandung. Elliot. New York: McGraw-Hill. Jonassen. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. Language Arts Activities for Children. December 2000. Lee. Computer as a Mindtools for Schools. dkk. E.aitech.

March 1999. Bahan pelatihan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. 2003.G. . H. Social Psychology and Contemporarry Society. 1978.ac. Using Presentation Software to Enhance Language Learning. Schocolnik. Teaching Language as Communication.jp/~iteslj/ Sumadi.aitech.3. V. The Internet TESL Journal. Vol. E. New York: John Willey and Son. Widdowson. Miriam. No. 1999. 1976.8-36 Media Pembelajaran Sampson. http:/www. Oxford: Oxford University Press. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas.G. Wacana Bahasa Indonesia.

BUKU AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .

(b) pengetahuan itu dapat digeneralisasikan. dan (d) pengetahuan itu dapat dipahami melalui aturan-aturan yang ada. Penelitian-penelitian emperisme . PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Untuk action tindakan memahami research kelas classroom (penelitian secara [PTK]) penuh. (3) criticalisme. McTaggart. (c) pengetahuan itu bersifat replicable/ dapat diulang. peneliti adalah orang luar yang terpisah dari objek yang diteliti. 1. perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai jenisjenis pendekatan dalam penelitian pendidikan kelebihan dengan dan segala kekurangannya. Hanya dengan memahami jenis-jenis penelitian pendidikan terlebih dahulu. Keempat jenis penelitian pendidikan ini pada hakikatnya menekankan perbedaan tolak pandang dalam melihat hakikat kebenaran (truth) dan hakikat pengetahuan. 1993). Keempat penelitian tersebut dapat disarikan sebagai berikut. 1989. 1991. dan (4) post-criticalisme/ post-modernisme. yakni: (1) emperisme. Dalam konsep penelitian emperisme manusia dianggap sebagai objek yang pasif.BAB I KERANGKA DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. posisi PTK dan filofofinya dapat ditangkap secara jebih jelas. (2) interpretivisme. Dalam penelitian emperisme. Penelitian ini juga memandang bahwa: (a) pengetahuan itu objektif. Penelitian-penelitian pendidikan pada dasarnya dapat digolongkan dalam empat kategori (Candy. Penelitian emperisme (emperism research) adalah jenis penelitian yang menekankan metode ilmiah sebagai satu-satunya cara/ metode penghasil pengetahuan. Connole.

Menurut pendekatan ini. Penelitian kritis (criticalism research) memandang bahwa pengetahuan itu di samping subjektif juga problematik. penelitian ini menekankan aspek pemikiran reflektif/ kritis (reflective thinking) terhadap segala faktor luar yang dapat mempengaruhi kualitas penelitian itu sendiri. 4. Pendekatan penelitian ini menekankan pemahaman yang komprehensif/ mendalam terhadap objek yang diteliti. Untuk memahami masalah-masalah manusia. (c) pengetahuan itu tidak dapat digeneralisasikan (not generalizable) karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sama persis. Objek IPA dan peneliti merupakan bagian yang terpisah. 2. peneliti harus menjadi insider dari objek yang diteliti. yang berarti juga tidak ada satu sekolah pun yang sama persis dengan sekolah lain. penelitian emperisme dipandang tradisional. (d) masalah-masalah pendidikan tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari aturan-aturan yang ada sebab manusia mempunyai motif. (b) pengetahuan itu dapat berubah (not fixed). Menurut penelitian ini. Tanpa menjadi insider pemahaman terhadap objek yang diteliti tidak akan sempurna. Penelitian post-critical adalah penelitian yang menekankan bahwa kebenaran/ realita itu sendiri sebenarnya tidak ada. karena penelitian intepretivisme meyakini bahwa: (a) pengetahuan/fakta/realita itu mengandung unsur-unsur subjektivitas. ideologi.9-2 Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan penelitian yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu murni IPA. nilai-nilai yang tidak dapat dipahami dari luar. 3. Penelitian intepretivisme (intepretive research). Siapa yang berkuasa (who is on power) dapat mempengaruhi hakikat kebenaran/ realita/ pengetahuan itu sendiri. Penelitian ini mengkritik pendekatan intepretivisme sebagai penelitian yang terlalu menekankan pemahaman daripada hasil (output). Apa yang disebut . suatu penelitian harus berorientasi pada hasil (product oriented) agar hasil penelitian tidak sia-sia. artinya: pengetahuan itu di samping dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan. Untuk itu.

Canada. Dalam literatur berbahasa Inggris PTK sering disebut dengan classroom action research. Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. pengembangan sekolah. Amerika. melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan. . di kelas sendiri. Masing-masing jenis penelitian merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Keempat jenis penelitian tersebut menegaskan bahwa ada beberapa pendekatan dalam meneropong masalah-masalah pendidikan. Hukum. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. dan sebagainya. dalil. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. Setiap pendekatan akan menawarkan hasil yang berbeda dan ’bintik buta’ (blind spot) tersendiri. jenis-jenis pendekatan tersebut menggambarkan revolusi pemikiran manusia terhadap masalah-masalah pendidikan. Bahkan McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum. guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. Sekalipun demikian. pengembangan keahlian mengajar. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri. teori yang selama ini diyakini kebenarannya digugat kembali. Dengan melakukan penelitian tindakan. Penelitian-penelitian jenis ini umumnya mempertanyakan kembali apa yang sudah dianggap benar/ realitas itu sendiri. Australia. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. dengan melibatkan siswanya sendiri.Penelitian Tindakan Kelas 9-3 realitas itu sendiri hanya sebatas bahasa yang mengungkapkan.

Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelas. guru dapat membuktikan apakah teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia dimiliki. sejumlah batasan tentang penelitian tindakan telah dikemukakan oleh para pakar. dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. diagnostik. Berkenaan dengan uraian di atas. Kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. . merasakan. umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif. pelaksanaan. Berikut ini disajikan beberapa kutipan batasan tersebut. Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut (Cohen dan Manion 1980:174). guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar. Sebaliknya. melalui penelitian tindakan kelas guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang lebih efektif dan optimal. cara bertanya guru kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berpikir. guru juga dapat melihat.9-4 Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur penelitian tindakan kelas. dan pengaruh-. perencanaan.menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional (Elliot 1982:1). serta pemahaman mereka terhadap praktikpraktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart 1988:5-6). Dengan demikian. Seluruh prosesnya --telaah. dan dievaluasi. pemantauan. Jika dengan penghayatannya itu dapat menyimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti: pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak.

dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. Dengan kata lain. Suyanto (1997). (b) dilakukan oleh pelaku tindakan .Penelitian Tindakan Kelas 9-5 Penelitian tindakan (action research) adalah jenis pendekatan penelitian criticalism (Priyono 1999:3). Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas. Dengan demikian. Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan: PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. misalnya. 1992) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri. Stephen Kemmis (dalam Hopkins. prinsip-prinsip penelitian tindakan sangat diwarnai oleh pendekatan penelitian critical. dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif. (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut. salah satu contoh jenis penelitian criticalism adalah penelitian tindakan itu sendiri. mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas secara profesional.

0leh sebab itu. PTK dilaksanakan dalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap. dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut. Anda akan terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik.9-6 Penelitian Tindakan Kelas PTK bersifat reflektif. yakni perencanaan. Anda kemudian dapat mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto. . observasi. Artinya. 1997). Dari pemikiran itu. pelaksanaan tindakan. pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut. dan refleksi.

1. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS Priyono (1999:3-6) memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut. yang Ini diteliti tanggung berarti adalah masalah-masalah riil yang dihadapi sehari-hari. Kalau peneliti adalah .Penelitian Tindakan Kelas 9-7 B. On-the (masalah job yang problem-oriented diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam jawab masalah kewenangan/ peneliti).

Penelitian-penelitian pemahaman semacam itu hanyalah menghasilkan (understanding) terhadap masalah-masalah pemanfataan laboratorium dan pengaruh metode sosiodrama. Dengan kata lain. 1999). b) Pengaruh Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Konsep saling Ketergantungan Organisme (Sungkono. Ciri classroom-based action research ini diwarnai oleh pendekatan intepretivisme. 3. Judul-judul penelitian empirisme yang ditulis oleh para mahasiswa strata 1 di bawah ini jelas bukan classroom-based action research: a) Pengaruh Pemanfaatan Laboratorium IPA terhadap Pemahaman Konsep Alat Transpotasi Tumbuhan (Yushriati.9-8 Penelitian Tindakan Kelas seorang guru. Action research menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi itu berkembang (berubah lebih baik). 4. 1999). (b) siswa/ guru diperlakukan sebagai objek (informan) pasif. 2. siswa. Ada beberapa alasan mengapa penelitian semacam itu tidak membawa pemecahan masalah di kelas: (a) masalah penelitian bukan masalah yang dihadapi guru. Penelitian-penelitian yang hanya menghasilkan pengertian/ pemahaman seperti pada penelitian empirisme dan intepretivisme dianggap tidak meaningfull (bermanfaat). yakni: orang yang paling tahu masalah-masalah kelas adalah guru itu sendiri. masalah-masalah yang diteliti adalah masalah-masalah kelas/ sekolah yang merupakan bidang tanggung jawab utamanya. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). komponen-konponen sekolah itu (guru. penelitian-penelitian empirisme semacam itu tidak memberdayakan guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat memperbaiki kondisi kelas sendiri. bukan orang lain (outsiders). Kalau sistem itu sekolah. Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas). dan (c) penelitian tidak membawa perubahan kepada siswa/ guru. . karena tidak memecahkan masalah.

and reflecting. lingkungan kelas/ sekolah) harus berkembang lebih baik. PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. pada penelitian-penelitian kemampuan inderawi empirism dapat yang hanya dipertanyakan . 6. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. (3) wawancara. Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) melakukan setiap langkah AR. (4) kuesioner. dsb. apa yang sebenarnya disebut kebenaran/ realita dapat lebih diungkap. (2) tes. Dampak suatu tindakan tersebut selalu diikuti secara kritis dan reflektif. Cyclic (siklis). 1997). Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik).Penelitian Tindakan Kelas 9-9 kepala sekolah. mengingat kebenaran (realitas) itu di samping subjektif juga problematik. Dengan bersandar validitasnya. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto. 7. Secara siklus yang pada hakikatnya menggambarkan pemikiran kritis dan reflektif terhadap efek tindakan. Dengan penerapan semua cara koleksi data tersebut. demikian. konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning. Semua cara ini difokuskan untuk mendapatkan validitas hasil penelitian. observing. berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti: (1) observasi. Dengan PTK. Anda akan berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. Konsep ini sangat diwarnai oleh prinsip penelitian critical: penelitian harus menghasilkan produk perubahan (product-oriented). Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). 5. Partisipatory/collaborative. action. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru.

yang . dan fungsional. penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas. atau bahkan oleh guru lain. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. Menurut Suyanto (1997). Sebaliknya.9-10 Penelitian Tindakan Kelas Pada sisi lain. pengawas. optimal. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. Misalnya. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Pertama. Ketiga. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien. jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. Dengan demikian. Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda--dengan melibatkan siswa--Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru. Kedua. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan. oleh dosen LPTK. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. bukan PTK. atau oleh kepala sekolah. permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. Itu hanya merupakan penelitian kelas.

Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. a. Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas? Memang. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. PTK lebih longgar karena analisis datanya tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. Anda . Namun sebagai penelitian. sebagai guru. Oleh sebab itu. ia tetap menekankan pada objektivitas. b. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung. Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif. Dengan cara itu. maka penelitian semacam itu adalah PTK. melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. dan sebagainya. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru. upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam. Bersifat reflektif (A reflective practice made public). PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas.Penelitian Tindakan Kelas 9-11 berisi ceritera-ceritera lucu. Menurut Hopkins (1992). c. Jadi. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators). yakni dari guru itu sendiri. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within).

Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. C. 2. 3. 1. Bagimana hasil identifikasi Anda? Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK. menentukan hipotesis tindakan yang baik. Oleh sebab itu. Prinsip tersebut sebagai berikut.9-12 Penelitian Tindakan Kelas akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. serta membantu analisis data penelitian. mengembangkan strategi yang dapat diterapkan . tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat. dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. Sebaliknya. Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya. Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh.

6. Merupakan masalah guru. meyakinkan . Tidak mengganggu komitmen mengajar. Artinya. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga. 5. Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya. Tidak terlalu menyita waktu. disosialisasikan kepada teman sejawat. dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Secara lebih ringkas. Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. 3. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan. 5. Metodologinya andal. Meskipun ada kelonggaran. serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu.Penelitian Tindakan Kelas 9-13 pada situasi kelasnya. Identifikasi dan rumusan hipotesis b. Konsisten terhadap prosedur etika 6. 4. di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik. Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah. Prinsip-Prinsip PTK 1. a. melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan. 2. dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah. strategi dapat diterapkan di kelas 4. prinsip-prinsip PTK dapat dituliskan sebagai berikut.

PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK. Dengan PTK. Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. Kedua. . apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf). PTK mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Sebagai guru. kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. Menurutnya. Mengapa demikian? Pertama. tidak dalam situasi artifisial. TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Apabila kita mencermati pengertian PTK. Dengan kata lain. Ketiga. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut. yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru. proses pelatihan terjadi secara hands-on. akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran.9-14 Penelitian Tindakan Kelas D.

Dengan demikian. Untuk itu. Anda dapat mengembangkan teknik. Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan. MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran. Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran. (3) peningkatan profesionalitas guru. . perubahan yang terus-menerus dikembangkannya.. Itu berarti bahwa Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya. di tempat Anda mengajar. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. latar sosial budayanya.Penelitian Tindakan Kelas 9-15 E. (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh di kelas. Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbedabeda. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK mengembangkan proses akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk belajar mengajar di kelas. Dalam hal manfaat PTK ini. serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai. Dengan PTK. Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar. Pemilihan tujuan yang tepat. guru. atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk melihat efektivitasnya di kelas. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi. baik tingkat kelas. secara ringkas. Di samping itu. pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri. metode. tingkat umurnya. materi yang sesuai. maupun Iatar kecerdasannya. PTK merupakan bahan refleksi bagi Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas.

Rasa ikut . Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat. 2. Pemilik penelitian tindakan. Pemrakarsa penelitian tindakan. misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. tetapi mereka kurgan mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi. seperti guru dalam situasi belajar-mengajar. peneliti dengan berperan sebagai fasilitator mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti maslah yang telah diidentifikasi oleh para guru. sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut. Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (a) kelompok orang yang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait. dibuat merasa ikut memilikinya. 1. Dalam situasi seperti itu. misalnya situasi belajarmengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan. misalnya konsultan. Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tidak mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen). Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi. PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS PENELITIAN TINDAKAN Ada lima persoalan praktis yang perlu diperhatikan dalam penelitian tindakan dan masing-masing akan diuraikan secara singkat di bawah ini.9-16 Penelitian Tindakan Kelas F. dan (b) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya.

Analisis data. Fungsi data dalam penelitian tindakan adalah sebagai landasan reflektif.Penelitian Tindakan Kelas 9-17 memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian. Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. dan oleh karena . Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif. transkrip wawancara. Data dapat berbentuk catatan-catatan. foto dan sebaginya. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. Data diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. bukan hanya mengingat kembali. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata. Dengan demikian. rekaman video.iti merekonstruksi tindakan terkait. melainkan unbtuk mendokumentasikan amatan dan oleh karena itu menjebatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan. rekaman audio dan video kejadian. Oleh karena itu. 5. Persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. rekaman audio. Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah. yang dikumpulkan lewat berbagai teknik. yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Data penelitian tindakan. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan penel. Sasaran penelitian tindakan. semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut merupakan bagian dari dirinya. Data penelitian tindakan antara lain berupa semua catatan tentang hasil amatan. 4. namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematis sering timbul karena ada masalah dalam suatu situasi. pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis. 3.

Dengan kata lain. usaha trianggulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain.9-18 Penelitian Tindakan Kelas itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta lainnya untuk dapan melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. .

PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi. analisis dan refleksi. digambarkan sebagai berikut. misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu. Sesuai dengan karakteristik dari pelaksanaaan AR yang siklis. desain AR menurut Tripp (1996). serta-apabila perlu--perencanaan tindak lanjut. Dengan demikian. Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal. Dengan kata lain. REFLEKSI TINDAKAN REFLEKSI TINDAKAN OBSERVASI OBSERVASI . pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi. tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut. perencanaan tindakan. SIKLUS I PERENCANAAN SIKLUS II PERENCANAAN dst. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan.BAB II PELAKSANAAN PENEILITIAN TINDAKAN KELAS A.

c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat. Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut. D. Anda perlu menentukan suatu topik. b) Dalam pelajaran mengarang. Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut. Prarefleksi Untuk memulai penelitian tindakan kelas. a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas? b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang? c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca? . Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi kelas. Kelly (1992). Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas. 1. Anda perlu proses belajar mengajar yang terjadi di dalam merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda. tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telah disarankan. dan M.Misalnya: a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas. agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar. tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya.9-20 Penelitian Tindakan Kelas Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus AR yang diadaptasi dari Kember. Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit. meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya.

dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya. Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum. (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru.Penelitian Tindakan Kelas 9-21 Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Siapa akan mengerjakan apa. peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK. Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang . Pada tahap ini. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merkam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut. dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. 2. Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. Perencanaan Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan. dan (c) perubahan sifat evaluasi. Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. materi yang akan diajarakan. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu.

(2) menyusun pedoman observasi. dan jurnal. sebagai Kelas diciptakan belajar komunitas (learning community) daripada laboratorium tindakan. (3) menyusun rancangan evaluasi. peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. Tindakan Perlu diingat juga. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini. Jadi. Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan. guru benarbenar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan. jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan. dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. . dalam melaksanakan rencana Anda tersebut. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK. namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas. cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan. Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. Berdasarkan permasalahan tersebut.9-22 Penelitian Tindakan Kelas cukup rendah dalam keterampilan menulis. (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi. 3. wawancara.

Kemudian. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. Oleh karena itu. b. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. 4. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Melalui kegiatan ini. Pendahuluan Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Penutup Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Pengamatan Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa. pola pengembangan. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu. Melalui kegiatan ini. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut. ciri-ciri. siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan . Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi. c. Kegiatan inti Pada kegiatan inti ini. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Pada tahap terakhir. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan.Penelitian Tindakan Kelas 9-23 Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah. guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. dan pengertian paragraf eksposisi. Setelah itu. siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi. a. dan kelompok yang lain menanggapinya.

peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. dan pesan siswa terhadap materi. peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan. peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga. dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. Selain jurnal siswa. pada langkah ini. kesan. peneliti menguraikan jenisjenis data yang dikumpulkan. wawancara. peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi. dll. serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya. peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa. Pendek kata. Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif.9-24 Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. proses pembelajaran. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK. cara pengumpulan data. sosiometri. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara . hambatan yang dialami oleh guru. Melalui lembar observasi. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. sedang. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara. Selama penelitian berlangsung. dan alat koleksi data (angket. dan rendah. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. Selain menggunakan lembar observasi. jurnal. pesan dan kesan.

kepuasan diri setelah mengajar. Dari catatan-catatan itulah. Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi.) McTaggart (dalam Connle. disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). langkah-langkah penyempurnaan. dan suasana kelas. seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas.. on the one hand. antusiasme. Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya. Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa. keinginan tahu. misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi. and societies to which the belongs …. dsb. Demikian pula perubahanperubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti. and the other culture of the groups. Untuk itulah. portofolio (catatancatatan tentang hasil/prestasi siswa).. peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. responsif. guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why). mengapa demikian. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti). dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. institutions. perubahan sikap percaya diri. parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals. guru.Penelitian Tindakan Kelas 9-25 5. 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah: . bagaimana (how). apa kelebihan/kekurangan. Suasana perubahan pada atmosfir kelas . kepercayaan diri. Pada tahap ini.

Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. Dalam indikator membuat daftar pertanyaan.63% dari jumlah keseluruhan siswa. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan. Oleh karena itu. Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. kapan. dsb. Apa yang terjadi pada suatu siklus. seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat.73 dan termasuk dalam kategori cukup. apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52. suasana kelas yang lebih akrab. agar semua dapat . Sedangkan kata tanya kapan dan mengapa belum digunakan.9-26 Penelitian Tindakan Kelas juga disajikan. siapa. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok. apa. mengapa. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa. Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup. dari mana. perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi. Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya. di mana. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69. Yang jelas. karena bericara lebih cepat daripada menulis. penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak. setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan. siapa. dan bagaimana). Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat.

Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan.1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran. dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi. Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. mereka cenderung mengobrol dengan temannya. sehingga siswa akan memperhatikan guru. Merasakan Adanya Masalah Jika Anda tergolong pemula dalam PTK. ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57. pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. dan 4 siswa sebagai pencatat pokokpokok informasi. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri. Dengan demikian siswa akan lebih aktif.8% yang aktif. Keempat hal tersebut sebagai berikut. 1. Namun demikian. melihat tulisan teman.Penelitian Tindakan Kelas 9-27 terekam. yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN Ada empat hal yang harus diperhatikan terkait dengan penetapan fokus masalah penelitian. B. masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran. Pada siklus I. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara. Selain itu. Oleh karena itu. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber. dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf. perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi. Pada siklus I ini sekitar 42. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja. 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab . Selain itu.

mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa. Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola. agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional. serta berpikir balik. bukan permasalahan yang disarankan. permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai guru dalam praktik pembelajaran. yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. mungkin agaak sulit bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas. Anda harus mampu merefleksi. Merasakan adanya masalah: • • • Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah Jadi. untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran. Dalam proses perenungan itu.9-28 Penelitian Tindakan Kelas pertanyaan tersebut. merenung. apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. yang 0leh sebab itu. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran. . Dengan kata lain. Oleh karena itu. Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran.

dan hasil belajar siswa. Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata adalah masalah-masalah yang problematik. Masalah itu dilihat/ diamati/ dirasalan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari. Masalah-masalah yang asal-asalan (yang kurgan teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi. Masalah itu juga di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. Sebagaimana disinggung oleh tulisan sebelumnya. bukan datang dari pengamatan orang lain. sebab penelitian tidak membawa temuan yang bermanfaat. b. Untuk itu.Penelitian Tindakan Kelas 9-29 guru. identifikasi masalah sering merupakan tahap penting dalam pelaksanaan penelitian. (2) pemecahan masalah tersebut belum mendesak dilaksanakan. Kualitas penelitian pun dapat ditentukan oleh kualitas masalah yang diteliti. . interaksi pembelajaran. c. bahan ajar. 2. sebab: (1) pemecahan masalah tersebut tidak/kurgan mendapat dukungan literatur/sarana-prasarana/ birokrasi. Masalah itu datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri sehari-hari. Masalah harus riil dan on the job problem oriented. dan (3) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan. a. ldentifikasi Masalah PTK Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian tahap-tahap penelitian. Untuk itu. kurikulum. tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). Masalah harus memberi manfaat yang jelas. beberapa langkah berikut dapat diikuti dengan seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan PTK. artinya masalah tersebut benar-benar ada (dirasakan sebagai masalah. artinya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. Oleh sebab itu.

arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut. problematik. (3) kompetensi mana yang tidak tercapai bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. harus dipilih masalah-masalah yang fisibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung di atas. seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. selalu fisibel. dapat dilontarkan beberapa pertanyaan berikut: (1) apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak dipecahkan.) maslah tersebut dapat dipecahkan.melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK. Untuk asas manfaat. media pembelajaran. d. (2) resiko apa yang paling jelek bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar. Masalah PTK harus fisibel (dapat dipecahkan/ditangani). Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini. . dana. 3. Bila dilihat dari sumber daya peneliti (waktu pembelajaran efektif.9-30 Penelitian Tindakan Kelas pilihlah masalah-masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. Dengan kata lain. seperti kemampuan membaca peta buta. Bahkan. dukungan birokrasi. dll. dan jelas manfaatnya. tidak semua masalah penelitian yang sudah nyata. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah-masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan. Menurut Abimanyu (1995). Anda sebagai peneliti --secara individu atau bermitra dengan guru lain-. Dalam hubungan ini. Untuk itu. akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti penguasaan operasi matematika.

selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas. Perumusan Masalah Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. b) Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya. e) Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prionitas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah. atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah. Di samping itu. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding). khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai . Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya.Penelitian Tindakan Kelas 9-31 a) Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya. dan operasional. keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya. d) Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian. temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK melaksanakannya. c) Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable). untuk juga mencoba 4. spesifik.

Misalnya. (2) Mayoritas (85%) siswa kelas 5 SD N Sekaran membaca dengan kecepatan di bawah 100 kpm. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I. penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. dalam PTK. Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): (1) Keterampilan menulis karangan narasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri Bandar masih rendah. . Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti.9-32 Penelitian Tindakan Kelas proses dan/atau hasilnya itu direkam. perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya. Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK . alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Di samping itu. jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan. (3) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP N 2 Kudus setalah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kooperatif metode jigsaw? C. Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan Dilihat dari sudut lain. PERENCANAAN TINDAKAN 1.

.Penelitian Tindakan Kelas 9-33 Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal. c) Diskusi dengan rekan sejawat. sebagai peneliti. akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”. “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah. Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian. peneliti lain dan sebagainya. pakar pendidikan. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. b) Pengkajian permasalahan. Dengan kala lain. Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat. hasil-hasil penelitian yang relevan dengan Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut. alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. a) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan. d) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program. a) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. dan e) Perefleksian pengalaman Anda sebagai guru. Sebagai contoh lain.

tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. kelaikan teknis. serta keterlaksanaannya. baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru. d) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikanperbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu. FBS UNNES angkatan 2003. “Keterampilan menulis karangan siswa kelas III SDN 03 Ungaran akan meningkat dan akan terjadi perubahan dalam tingkah laku siswa jika dalam pembelajaranya menggunakan metode stimulasi unik bertematik dan strategi pembelajaran mewnulis karangan secara terbimbing”. . “Dengan pembelajaran teknik permainan simulasi maka keterampilan menulis hasil wawancara akan meningkat dan tingkah laku siswa pada kelas X. Berikut ini contoh rumusan hipotesis tindakan. yang diambil dari skripsi mahasiswa PBSI. “Pembelajaran apresiasi pusi dengan media syair lagu serta penayangan video klip dapat emningkatkan kemampuan apresiasi puisi serta akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengapresiasi puisi”. Di samping itu.4 SMA 7 Semarang akan berubah ke arah yang positif”. c) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual.9-34 Penelitian Tindakan Kelas b) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan.

Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif. gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain. selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan.Penelitian Tindakan Kelas 9-35 2. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan. untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan. diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut. tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal OIeh karena itu. a) Implementasi PTK akan berhasil. Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka. sebagai aktor PTK. guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya. Di pihak . yang paling penting. hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. Namun. Pada gilirannya. apabila diperlukan. Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya. Menurut Soedarsono (1997). Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. Dengan kata lain.

Dengan kata lain. selain persyaratan kemampuan. sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Selanjutnya. dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. Dengan kata lain. demi keherhasilan PTK. Dengan kata lain. b) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik. Oleh karena itu. perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4). keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. psikologis dan sosial budaya maupun etik. e) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi. PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. c) Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan. . d) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain.9-36 Penelitian Tindakan Kelas lain. PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.

3.Penelitian Tindakan Kelas 9-37 Selain itu. dilakukan oleh sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK seorang guru atas prakarsanya sendiri. apa saja yang perlu Anda persiapkan? Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Sebagai aktor PTK. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. Itu berarti bahwa . seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas. meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif. Persiapan Tindakan Sebelum PTK dilaksanakan. kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan. d) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. a) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. D. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut. tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. PELAKSANAAN TINDAKAN DAN OBSERVASI INTERPRESTASI Sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. c) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan.

9-38 Penelitian Tindakan Kelas observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam. kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi. bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini. fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi. gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. dampak perbaikan yang diperoleh. Akhirya. melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional). penyelenggaraan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM. betapapun canggihnya. Oleh karena itu. para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu. patut dicatat bahwa Hopkins (1992) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK. Sebaliknya. apabila memang kebetulan telah terwujud. . seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari. agar tidak menimbulkan kerancuan yang tidak perlu. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK. Dengan kata lain. tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran. harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan. Hal itu juga berarti.

1. pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi. dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara.Penelitian Tindakan Kelas 9-39 Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL. dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas. apabila memang masih ada. Pelaksanaan Tindakan Jika semua tindakan persiapan telah selesai. Artinya. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK. (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi. meskipun memang mungkin saja dalam PTK juga tergelar dimensi supervisi . skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual. Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasiinterpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK. (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan. tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran. serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan. PTK bukan supervisi pengajaran.

Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal. sebaliknya dalam konteks PTK terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer).9-40 Penelitian Tindakan Kelas pengajaran. berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif. Dengan kata lain. konteks dan filosofi PTK berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision). observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK. kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk). Sebagaimana telah diisyaratkan. namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu. . (ii) ujaran siswa (pupil talk). Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi. 2. dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK . Dengan kata lain. Observasi dan Interpretasi Secara umum. Sebagaimana diketahui. OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi. observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation).

meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK . maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan. melakukan pengamatan secara umum. memusatkan perhatian kepada . Sebagai contoh. ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL. Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi. perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins. mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual. terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki. Dalam hubungan ini. Diskusi Balikan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. 3. Akan tetapi. 1992). dapat dimanfaatkan secara produktif. Dalam observasi kesejawatan ini. Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. Apabila yang terakhir ini dilakukan.Penelitian Tindakan Kelas 9-41 Sebaliknya. sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi. interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran.

Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal. b) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman. kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan.9-42 Penelitian Tindakan Kelas suatu fokus. c) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan guru aktor tindakan perbaikan. Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan. ANALISIS DAN REFLEKSI Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum. apabila: a) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi. materi. dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan. secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung. d) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir E. yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan. dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian guru sebagai aktor tindakan perbaikan. sementara. . diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru.

Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan. Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK. ular harus makan. Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum. serta dicermati unsur-unsurnya. dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagianbagian. yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. Dari banyak pengalaman keseharian. semut harus makan. secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat . Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya.Penelitian Tindakan Kelas 9-43 Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan. Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi. dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan. di samping induksi dan deduksi. serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji. sementara. ayam harus makan. refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis. melakukan refleksi. Artinya. Secara teknis. serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan.

dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan. proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK . Dengan kata lain. Bagaimana penilaian mutu hasil induksi. Untuk berfikir induktif. seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran.1997). Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. dan (ii) karena ular adalah binatang. maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan. Sebaliknya. Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang . atau deduksi. sedangkan untuk berfikir deduktif. contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup. semua binatang harus makan. dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi. pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya.9-44 Penelitian Tindakan Kelas dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi. Untuk membuatnya menjadi deduksi. yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat dari hal abstrak yang berlaku umum. Hanya saja berbeda dan penelitian formal. dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas. untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif.

paparan data. refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. dan penyimpulan. sebaliknya. baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru. Analisis Data Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya.Penelitian Tindakan Kelas 9-45 telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. mengimplentasikan tindakan baru. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. memfokuskan. 1997). Dengan kata lain. yaitu deduksi data. pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. 1. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi. Dengan kata lain. representasi tabular termasuk dalam format . mengabstraksikan. menyusun perencanaan baru. Namun. meyederhanakan.

Apabila dicermati. IDENTIFIKASI ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN TINDAK LANJUT Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Apabila memang masih dipandang perlu. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. dan sebagainya. maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. representasi grafis. Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat. Refleksi Sebagaimana telah dikemukakan di atas. apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan.merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain. tetapi mengandung pengertian luas.9-46 Penelitian Tindakan Kelas matniks. refleksi . Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan. refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi. dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut. 2. . Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis.

Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. maka terbuka peluang untuk dampak samping dan tindakan yang mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru. maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru.Penelitian Tindakan Kelas 9-47 Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya. Oleh karena itu. memprakirakan peluang keberhasilan. namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan. di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK . tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif. menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. yang hendak ditekankan . Akhirnya. Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan. refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. dan pada gilirannya. seorang pelaksana PTK pemikiran tentang sebab-sebab tidak boleh hanya terpaku pada kejadian-kejadian pada fase dan sebelumnya. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK membahas observasi inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan direncanakan itu. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri.

dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu. Namun. pelaksanaan tindakan. observasi dan interpretasi. jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan. perencanaan tindakan. hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1. dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada. Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya.9-48 Penelitian Tindakan Kelas dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya. yaitu perumusan masalah. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan. maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau. Dengan demikian. Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. dan seterusnya. Di pihak lain. F. maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. Namun. maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang . Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan). dan analisis-refleksi. ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak. PERENCANAAN TINDAK LANJUT Sebagaimana telah diisyaratkan.

Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukan dan katakan” . Seperti halnya catatan anekdot. b. c. kecerobohan. Teknik-teknik yang dimaksud sebagai berikut. PROSEDUR OBSERVASI 1. guru. longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam suatu jangka waktu. tetapi tawa meledak …. a. tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Alat Bantu Observasi Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu. pertengkaran picik. Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot. perilaku kurang perhatian. misalnya dalam situasi belajar-mengajar: . Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. Catatan anekdot adalah riwayat tertulis. Catatan anekdot. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa-peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto. perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik untuk memulainya. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap.kelas dalam suasana serius. Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai. yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. . Deskripsi perilaku ekologis. G. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik. deskriptif. Deskripsi akurat ditekankan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran.Penelitian Tindakan Kelas 9-49 dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa. Catatan lapangan. 1998).

hipotesis. garis besar. Teknik ini mirip dengan catatan harian. tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu. pekerjaan siswa yang dipamerkan. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis. Kartu cuplikan butir. Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian. edaran untuk orang tua atau karyawan. dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat. e. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topiktopik seperti pendahuluan pelajaran.9-50 Penelitian Tindakan Kelas . memo guru atau pejabat. disiplin. dan perilaku . Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tenbtang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif.Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggungnya. dugaan. Catatan harian mungkin memuat observasi. dan penjelasan. tes formal dan informal. Logs. Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. seorang siswa …. dsb. sekolah atau bagian sekolah. Catatan harian. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain. perasaan. Gambaran tentang persoalan. dan atau peraturan. g. kebijaksanaan. d. publikasi siswa atau karyawan. papan pengumuman guru. efisiensi penilaian. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individu sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. memo untuk staf. papan pengumuman siswa. satu untuk satu kartu. kontak individual dengan siswa. pengelompokan kelas. tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan sejumlah topik. Analisis dokumen. penafsiran. f. reaksi. kualitas pekerjaan siswa. kantor atau bagian kantor.

dan atau tambahan-tambahan rapat staf yang relevan. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya. Angket. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh. Portofolio. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambahan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti. korespodensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subjek penelitian. dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat pada atau timbulnya kebosanan dengan aspek tertentu. atau posisi mereka. perasaan. singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat. Menguji coba pertanyaan dengan teman atau cuplikan kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. (b) Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi mana yang paling dekat dengan pendapat. i. (a) Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri.Penelitian Tindakan Kelas 9-51 seorang siswa. Pertanyaannya harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). Pertanyaan ada dua macam. tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah. h. Angket terdiri atas pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahaptahap eksplorasi. . penilaian. Teknik ini membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai.

Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. Wawancara dapat: (a) Tak terencana: misalnya. Teknik ini memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dari pada angket. Metode Sosiometrik. omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subjek penelitian. Jadwal dan checklist interaksi. Misalnya.9-52 Penelitian Tindakan Kelas j. Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subjek tertentu ingin bekerja sama. Wawancara. kategori jadwal dan checklist mungkin menunjuk pada: . k. l. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas. dalam situasi sekolah. dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. (b) Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara. atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. yang pencatatannya dilakukan dengan jarak waktu. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu. Metode ini digunakan untuk apakah individuindividu disukai atau saling menyukai. yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. atau berdasarkan peristiwa. Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sisiogram yang mencatat hubungan seluruh kelompok. (c) Terstruktur: Pewawancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaannya. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subjek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan.

o. (b) Perilaku verbal siswa: misalnya. foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data. mengerutkan kening. menulis cepat. mondar-mandir. lebih banyak perhatian dapat diberikan reaksi dan perilaku subjek secara perorangan. misalnya aspek kegiatan kelas. (c) Perilaku nonverbal guru: misalnya. bertanya. m. lokakarya. duduk dengan siswa yang lamban. menyela. mendisiplinkan (individu atau kelompok). Foto dan slide berguna untuk merekam peristiwa penting. menggambar. yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. menjelaskan. dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) analisis yang cermat. . (d) Perilaku nonverbal siswa: menoleh. seminar.Penelitian Tindakan Kelas 9-53 (a) Perilaku verba guru: misalnya. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. menulis. berdiri dekat siswa yang pandai. Foto dan slide. memberi isyarat. tertawa. menjawab. bertanya. Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/ peristiwa untuk dianalisis kemudian. menangis. Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran. diskusi. prosesnya mungkin menjadi panjang dari segi waktu. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mna perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. Subjek-subjek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada asisten yang membantu. n. Karena daya tarik bagi subjek penelitian. berkelakar. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. Rekaman video. Rekaman pita. tersenyum. rapat. menulis. atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Jika transkripsi esktensif diperlukan.

1. observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya. organisasi besar. misalnya: sekolah. Sebagaimana telah dikemukakan. Sasaran Observasi Dalam PTK. Selanjutnya. yang memberi ciri PT itu bukan masalah besar atau . PT pun dapat dilakukan dalam skala yang luas. Pertanyaan: Dapatkah dianggap bahwa penelitian tindakan (PT) itu adalah penelitian skala kecil? Jawab: Bukan masalah besar atau kecil yang mencerminkan suatu penelitian itu dapat dianggap PT. Alat penilaian dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. untuk mendiagnosis kelemahan dsb. beberapa pertanyaan peserta pelatihan PTK menggambarkan tentang isu-isu sentral pelaksanaan PTK. pada saat dilaksanakannya tindakan. secara bersamaan juga dilakukan pengamatan tentang segala sesuatu yang terjadi --atau tidak terjadi-. sama seperti pada tindakan pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin. masyarakat dan seterusnya. sebagaimana halnya dalam tindakan pembelajaran umumnya. Penampilan subjek penelitian pada kegiatan penilaian. Jadi. Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 2. 3. Pertanyaan-Pertanyaan tentang PTK Sekalipun Penelitian Tindakan kelas telah diujicobakan dan disosialisasikan pada pelatihan-pelatihan guru.selama proses pernbelajaran berlangsung.9-54 Penelitian Tindakan Kelas p. data dan interpretasi hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan refleksi. Pada gilirannya. penguasaan. data yang diperoleh dan observasi itu langsung diinterpr-etasikan maknanya dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah direncanakan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi.

diaduk-aduk supaya homogen. Statistik masih dapat dimanfaatkan dalam penelitian PT.). masalah samplingpopulation. Untuk itulah. Jadi. bagaimana penjelasannya? Jawab: PT pada dasarnya tidak anti statistik.Penelitian Tindakan Kelas 9-55 kecilnya kelompok. Penelitian eksperimen adalah satu contoh penelitian empiris. namun karena prinsip PT adalah critical approaches. PT bukan penelitian empiris. 3. manusia adalah agen of change yang dapat memperbaharui dunia. PT tidak ambisius untuk membuat generalisasi. untung/ dapat sesuatu yaitu pemahaman. yang di antara researcher dan researched terdapat jurang pemisah sehingga yang satu. 2. Dalam konsep PT. Pertanyaan: Dapatkah disimpulkan bahwa PT itu sama dengan penelitian eksperimen? Jawab: Tidak bisa. mengingat di dunia ini tidak ada individu/ sekolah/ organisasi/ komunitas yang sama persis. satu kelompok sebagai kelompok perlakuan. Dalam konsep PTK. yang dapat diberi perlakuan (dibandingkan. yang lain diperlakukan sebagai objek pasif --tidak dapat keuntungan apa-apa (researched). misalnya statistik deskriptif. researcher. manusia dianggap sebagai objek pasif. Pertanyaan: Ada yang menganggap bahwa PT itu anti statistik. Buat apa menggeneralisasikan? PT lebih berorientasi pada produk/ perubahan (improvement oriented) daripada sekadar generalisasi. . prinsip-prinsip statistik inferensi (alat generalisasi berdasarkan sampel) seringkali ditinggalkan (tidak dipakai). manusia dianggap sebagai subjek aktif (subjek yang dapat memainkan peran). Dalam konsep penelitian empiris. sebagaimana merupakan fokus penelitian empiris bukan merupakan masalah pokok dalam konsep PT. dst. PT bercirikan ”penelitian kritis” (criticalism approaches). Cara pandang empiris seperti ini ditolak oleh pendekatan critical yang berkeyakinan manusia bukan objek pasif yang dapat dimainkan: satu kelompok sebagai kontrol.

Kecuali. Masalah PBM lain yang tidak menjadi tanggung jawab guru tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang on the job. bagaimana penjelasannya? Jawab: Ya. mahasiswa/dosen tersebut. sekalipun demikian. 5. Sebagi contoh. 6. sebab masalah yang diteliti tidak datang dari guru itu sendiri. masalah untuk PT harus memenuhi kriteria on the job problem oriented. penelitian itu tidak dapat digolongkan sebagai PT. hanya dari tahapan identifikasi masalah saja. Dengan demikian. untuk PT oleh guru. Hanya dari masalah yang diteliti saja. masalah-masalah proses pembelajaran di kelas tempat guru mengajar adalah masalah riil/ nyata yang bersifat on the job problem oriented. Pertanyaan: Hanya dari identifikasi masalah saja. artinya: masalah itu harus benar-benar riil/ nyata muncul dari dunia tanggung jawabnya. (b) masalah harus problematik (perlu dipecahkan). namun berasal dari orang luar (outsider. artinya tidak semua masalah riil itu problematik (harus dipecahkan) sebab: (1) mungkin masalah itu sudah . Pertanyaan: Masalah apa yang dapat didekati dengan PT? Jawab: Pada dasarnya setiap masalah dapat dipecahkan oleh pendekatan PT. sudah dapat dibaca apakah masalah itu masalah milik peneliti sendiri (on tehe job) atau masalah orang luar (out of job-problem). apabila untuk penggalian masalah yang diteliti terjadi kolaborasi dengan pihak guru. suatu penelitian sudah dapat digolongkan apakah itu penelitian empiris atau critical (PT).9-56 Penelitian Tindakan Kelas 4. jika ada seorang dosen/ mahasiswa melakukan penelitian di sekolah tempat guru tersebut mengajar. yaitu: (a) masalah harus nyata (realistis): ada/ dirasakan oleh peneliti sebagai masalah. guru yang mengungkapkan masalah yang ada di kelasnya dengan penggalian yang lebih tajam oleh mahasiswa/dosen. suatu penelitian langsung dapat disimpulkan sebagai penelitian empiris atau penelitian tindakan. Pertanyaan: Bagaimana cara menemukan masalah PT? Jawab: Langkah-langkah berikut dapat dipakai untuk menemukan masalah yang bai.

(2) masalah itu di luar kewenangan/ keahlian/ tanggung jawabnya. (c) masalah itu harus meaningfull (bila dipecahkan terasa manfaatnya. belum menyajikan berbagai cara koleksi data. (c) laporan belum menunjukkan perubahan (improvement-oriented) baik pada siswa. petunjuk-petunjuk ke araha ini belum disajikan. lingkungan sekolah. tes saja). 8.Penelitian Tindakan Kelas 9-57 ada yang membahas. meaningfull itu dapat dipecahkan. (d) reflective thinking belum merupakan budaya pikir dan kerja peserta penelitian sehingga catatan-catatan harian (learning logs) belum dimaksimalkan dalam pembuatan laporan. dan (3) masalah itu jelas manfaatnya. (c) ownership of a problems tidak kuat: rasa handarbeni terhadap suatu problem belum terlihat jelas sehingga keterlibatan dalam setiap langkah penelitian masih sebatas physical involvement belum mental involvement sehingga reflective thinking dari peserta belum menonjol. . 7. dan (e) umumnya penelitian empirisme adalah jenis penelitian yang paling mendominasi di Indonesia. (b) komunikasi/ kolaborasi antara peserta penelitian yang belum optimal: diskusi kadangkala masih didominasi oleh salah satu peserta. dan (3) kurang dukungan literatur. Pertanyaan: Bagaimana kesan laporan pilot project PTK yang selama ini telah dilaksanakan oleh para guru? Jawab: Warna penelitian empiris masih kental mewarnai laporan PTK. problematik. wawancara. Pertanyaan: Kendala apakah yang sering ditemui pada pelaksanaan PTK? Jawab: Pada umumnya kendala-kendala pelaksanaan PTK adalah: (a) masih lemahnya pemahaman akan prinsip-prinsip PT. dan (d) masalah itu harus fisibel (artinya dapat dipecahkan). guru. tidak semua masalah riil. karena: (1) mungkin tidak ada alat/ dana. (b) hasil/data cenderung dikuantitatifkan. sehingga laporan masih terkesan empiris. yaitu: (a) masih digunakan hanya satu alat koleksi data (angket. belum critical. data-data kualitatif yang sebenarnya berbobot belum tersaji. (2) tidak cukup waktu.

dan kemudian menyenangi/ mempersiapkan diri untuk menjadi agent of change. Petunjuk-petunjuk ke arah kemajuan tersebut harus . hal inilah yang menyebabkan laporan-laporan PTK belum bisa menggambarkan perubahan/pembaharuan yang terjadi. 10. Pertanyaan: Syarat lain apakah yang diperlukan untuk melaksanakan PT/PTK? Jawab: Yang jelas sebelum melakukan PT/PTK harus memahami prinsip/filosofi PT itu sendiri. namun prinsip-prinsip (filosofis) kedua jenis penelitian perlu dipahami. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses. perlukah menguasai kedua penelitian jenis penelitian empiricalisme dan intepretivisme terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus menguasai semua. sekalipun demikian descriptive statistics masih dapat dimanfaatkan. 11. 9. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses (PTK maksudnya).9-58 Penelitian Tindakan Kelas sehingga para guru umumnya masih ’berbaju’ empiris saat melakukan PTK. Pertanyaan: Syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang peneliti PT/PTK yang sukses (action researchers)? Jawab: Syarat utama yang harus dimiliki adalah jiwa agen pembaharuan (agen of change): tanpa memiliki jiwa agen pembaharuan. kemajuan sistem/organisasi kelas/sekolah. 12. apakah harus menguasai statistik terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus! Seperti telah dijelaskan PT bukan penelitian empiris sehingga PT tidak ambigius membuat generalisasi-generalisasi sehingga untuk inferential statistics tidak harus dikuasai. susah kiranya menjadi peneliti PT yang sukses. sehingga peneliti mampu memahami dengan sempurna prinsip-prinsip PT yang berbeda dengan kedua pendekatan tersebut. kemajuan siswa. sehingga manfaat PT langsung dapat dirasakan yaitu adanya perubahan (kemajuan): baik kemajuan diri. justru sebaliknya menggambarkan pemahaman terhadap suatu perlakuan saja.

beberapa isu yang dapat dihimpun. pemahaman secara tuntas tentang filosofi PT akan mengurangi kebingungan pelaksanaan risen PT di tengah-tengah beberapa kemungkinan pendekatan penelitian yang ada. kendala/ isu lain akan terus dimonitor untuk mendapatkan keyakinan bahwa PTK dapat dipandang sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. . dst.Penelitian Tindakan Kelas 9-59 dipotret sejak awal/dini. itulah sebabnya menjadi peneliti PT harus seorang yang pemikir reflektif/ kreatif bukan reproduktif (meniru. Meskipun butuh waktu dan proses. yes man.) Demikianlah.

Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti. rencana anggaran penelitian. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan. kontribusi/manfaat. dan lembaga tempat peneliti bekerja. e) Sumber dana penelitian. sekolah atau lembaganya.BAB III PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. cara pemecahan masalah. pendahuluan/latar belakang masalah. 2. Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. perumusan masalah. termasuk. . b) Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya. jabatan fungsional. yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK. nama lengkap dengan gelar. 2004). tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan). lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti. dan kategori penelitian. Bagian pengesahan berisi: a) Judul PTK. nama peneliti. daftar pustaka. golongan . d) Biaya penelitian. metode penelitian atau rencana penelitian. Bagian Isi Usulan PTK Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian. tujuan penelitian. halaman pengesahan. dan NIP. 1. bidang ilmu. Bagian Awal Usulan PTK Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar. Berikut ini adalah penjlasan bagian-bagian itu. FORMAT USULAN PTK Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting. pangkat. c) Lokasi penelitian. jadwal penelitian.

(a) Dilema Pembelajaran Menyimak Bahasa Inggris pada Siswa Kelas III SMA (b) Pemakaian Bahasa Indonesia Lisan Siswa di Lingkungan SMA Kodia Surakarta (c) Hubungan Kemampuan Pengetahuan tentang Majas dengan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 2 Kudus Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK. Formulasi judul hendaknya singkat. Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. dan sederhana. spesifik. jelas. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. Judul berikut ini merupakan beberapa contoh judul PTK. judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK. Dengan kata lain. . namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal.Penelitian Tindakan Kelas 9-61 a) Judul Penelitian Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah.

9-62 Penelitian Tindakan Kelas

(a) Peningkatan Keterampilan Menulis Hasil Wawancara Melalui Media Majalah Dinding dengan Metode Group Investigation pada Siswa Kelas X SMA Purusatama Semarang (b) Peningkatan Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Penciptaan Suasana Rileks pada Kelas II F Semestrer 1 MAN Rembang Tahun pelajaran 2003/2004 (c) Peningkatan Keterampilan Mengungkapkan Gagasan Secara Lisan dalam Bahasa Indonesia Melalui Metode Probing Question di Kelas 1.6 SMU Negeri 3 Sukoharjo (d) Perangkat Audio Visual sebagai sarana Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Bidang Studi Bahasa Inggris di Kelas 1.2 SMU Gemuh (e) Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA N 7 Semarang (f) Permainan Mencari Harta Karun sebagai Teknik Pembelajaran Membaca Denah, Peta, dan Petunjuk pada Siswa Kelas II D SMP N 3 Kalibagor (g) Peningkatan Menyimak Wawancara Melalui Media Audio Visual dengan Metode Student Teams-Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Kroya Kabupaten Cilacap (h) Strategi Kooperatif sebagai Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berwawancara pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Pancur Kabupaten Rembang (i) Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa dalam Mendeskripsikan Benda dengan Teknik Permainan Terka Gambar pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Trobayan Tahun Pelajaran 2005/2006 (j) Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif Teks Berita pada Siswa Kelas VIII D SMP N 3 Jekulo Kudus (k) Pengenalan Karakter Tokoh dalam VCD Dongeng sebagai Media

Penelitian Tindakan Kelas 9-63

Peningkatan Kemampuan Mendongeng pada Siswa Kelas VII SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan (l) Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Catatan Harian dengan Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X SMA N 1 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (m)Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Anak-anak dengan Menggunakan Metode Simulasi ”Perkampungan Sastra” pada Siswa Kelas V SD Bendanpete 1 Nulumsari Jepara

b) Pendahuluan/Latar Belakang Dalam pendahuluan/latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dari berbagai bahan pustaka yang relevan. Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapat memperkukuh alasan mengangkat permasalahan penelitian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian dalam bagian ini. Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan

lainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi)

9-64 Penelitian Tindakan Kelas

masalah

penelitiannya,

maka

selanjutnya

perlu

diidentifikasi

dan

dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antaranggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. c) Perumusaan Masalah Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benarbenar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

d) Cara Pemecahan Masalah Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil analisis masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang

Penelitian Tindakan Kelas 9-65

dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program

pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemänfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.

e) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

f) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan) Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir

9-66 Penelitian Tindakan Kelas

atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian.Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang yang

menggambarkan

tingkat

keberhasilan

tindakan

diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.

g) Tujuan Penelitian Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini. Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagianbagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang JPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya

ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.

h) Kontribusi/Kemanfaatan Hasil Penelitian Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungani, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas

pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para

Penelitian Tindakan Kelas 9-67

dosen LPTK sebagai pendidik guru., maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi

pengembangan ilmu, teknologi, dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

i) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan secara jelas, demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).

(1) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.

(2) Variabel yang diteliti Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel

tersebut dapat berupa (1) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses

9-68 Penelitian Tindakan Kelas

penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi, siswa, hasil belajar siswa, sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.

(3)

Rencana tindakan Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan

mutu pembelajanan seperti: (a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka

perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolah juga

dikemukakan pada bagian ini. (b) Implementasi tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenanio kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (c) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. (d) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak

Penelitian Tindakan Kelas 9-69

tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

(4) Data dan cara pengumpulan data Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai

kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik),

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang

canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

(5) Indikator kinerja Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam

9-70 Penelitian Tindakan Kelas

bentuk pengurangan (jenis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.

j) Jadwal Penelitian Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang

menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil

penelitian disusun selama 10 bulan.

k) Rencana Anggaran Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut. 1) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan); 2) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari total biaya); 3) Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan; 4) Lain-lain pengeluaran (laporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran. 1) Komponen Pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.

Penelitian Tindakan Kelas 9-71

(a) Persiapan Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. (b) Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. (c) Penyusunan laporan hasil PTK Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sehagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris).

2) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelüaran yang diharapkan.

3) Patokan Pembiayaan Satuan Kegiatan Penelitian (a) Honorarium • Ketua peneliti • Anggota tim penetiti • Tenaga administrasi

buku panduan penyusunan usulan PTK dari Ditjen Dikti (2004) menyebutkan bahwa jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang. jika Anda ingin mengajukan usulan PTK ke Dikti. 1 orang anggota peneliti (dosen .9-72 Penelitian Tindakan Kelas Besarnya honoranium bergantung pada sumber pendanaan. (b) Bahan dan peralatan penelitian • Bahan habis pakai • Alat habis • Sewa alat (c) Perjalanan • Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan • Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat • Lumpsum tenmasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan • Monitoning • Konsultasi (d) Laporan penelitian • Penggandaan • Penyusunan artiket • Pengiriman (e) Seminar Seminar Iokal • Konsumsi sesuai dengan harga setempat • Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat Seminar nasional • • Biaya transportasi peserta Biaya akomodasi l) Personalia Penelitian Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian/tugas peran setiap anggota peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. yang terdiri atas 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK). Pada sisi lain.

pangkat. dan lembaga tempat tugas dirinci sama seperti pada Lembar Pengesahan. m) Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. Rambu-Rambu Penilaian Proposal PTK Berikut ini disampaikan tabel penilaian proposal penelitian tindakan kelas. Relevansi Permasalahan a. golongan. Asal Permasalahan b. Pustaka yang ditulis hendaknya benar-benar relevan dan sungguh-sungguh dipergunakan dalam penelitian n) Lampiran dan Lain-lain Bagian ini dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim peneliti. Berawal dari gagasan guru 2. dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. 6. Hal-hal lain yang dapat mempenjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan juga dapat disertakan dalam usulan penelitian ini. dan pengalaman dalam penelitian termasuk dalam PTK. baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. Peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. jabatan. Diberikan pilihan oleh dosen dan guru disuruh HASIL PENILAIAN Nilai Bobot NxB 2 2 3 4 2 1 2 . Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 2 orang peneliti. menyangkut identitas. Pengalaman dosen sebagai peneliti c. Olahan penelitian setelah mengumpulkan data d. yaitu 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 1 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. NO A KRITERIA Permasalahan INDIKATOR 1. Dipancing dalam diskusi dengan guru e.Penelitian Tindakan Kelas 9-73 LPTK). riwayat pendidikan. pelatihan di bidang penelitian yang telah diikuti. Disodorkan dari luar b. Nama peneliti.

Kontekstualitas tindakan a. Kurang sesuai dengan langkah-langkah PTK d. Bertolak dari permasalahan yang diajukan oleh guru 3. tetapi tenaga dan sarana pendukung tidak jelas 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 4 4 3 2 1 1 D Prosedur penelitian 4 3 2 1 4 3 3 E Program kegiatan dan dukungan teknis 1 . Tidak potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran a. tes kognitif konvensional d. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup satu siklus kegiatan c.9-74 Penelitian Tindakan Kelas memilih c. demikian juga dengan tenaga dan sarana pendukung b. tes konvensional b. Bertolak dari masalah yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Kurang potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran d. Cakupan permasalahan a. Kontekstualitas tindakan a. asesmen komprehensif B Cara Pemecahan 1. Bertolak dari permasalahan yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Dipancing melalui diskusi/negoisasi d. Tidak sesuai dengan langkah-langkah PTK a. Rancangan tindakan a. Aspek kognitif. Jadwal kegiatan tepat/jelas. Pilihan solusi diberikan oleh dosen LPTK dan ditetapkan oleh guru c. Dimunculkan oleh guru dalam diskusi 3. Cukup potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran c. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup lebih dari satu siklus kegiatan b. Berawal dari gagasan guru 2. Cakupan komprehensif. Jadwal kegiatan jelas/tepat. Cakupan komprehensif. Siklus berikut ditetapkan berdasarkan hasil refleksi C Kemanfaatan hasil a. Aspek kognitif. asesmen komprehensif c. Sangat potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran b. Dari dosen sebagai peneliti c. Dari kepala sekolah/penilik/pejabat lain sebagai pembina b. Solusi terhadap permasalahan berdasarkan kesepakatan guru dengan dosen LPTK d. Hasil diskusi dengan guru d.

dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25). . dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25). a. Komponen-komponen pembiayaan dirinci sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan b. Jumlah dosen dalam tim jauh lebih banyak d. kriteria seleksi yang dilakukan oleh Ditjen Dikti (2004) terhadap usulan PTK mencakup hal-hal sebagai berikut. Cara Pemecahan Masalah (terutamanya: rancangan tindakan. Kesesuaian jumlah biaya a. Perumusan masalah (terutamanya: asal. b. Jadwal kegiatan kurang tepat/jelas d. relevansi . Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutamanya: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi. c. Rincian komponen-komponen pembiayaan a. atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10). Semua anggota tim peneliti adalah dosen 1. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara tidak wajar/berlebihan 2 1 4 1 3 2 1 3 2 1 G Pembiayaan 3 2 1 1 2 1 Di samping rambu-rambu penilaian di atas. proses. Jadwal kegiatan serta sarana dan prasarana tidak sesuai F Kerjasama LPTK Sekolah a. Komponen-komponen pembiayaan tidak dirinci sebagaimana mestinya 3. masukan. Komposisi dosen dan guru berimbang tetapi guru tidak berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti c. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara wajar b. Kewajaran pembiayaan a. Komposisi dosen dan guru berimbang dan guru berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti b.Penelitian Tindakan Kelas 9-75 c. Jumlah biaya melebihi plafond yang ditetapkan 2. Jumlah biaya sesuai dengan plafond yang ditetapkan b.

Prosedur Penelitian (terutamanya: prosedur diagnosis masalah. Kegiatan Pendukung (terutamanya: jadwal penelitian.9-76 Penelitian Tindakan Kelas d. e. dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10). prosedur observasi dan evaluasi. sarana pendukung pembelajaran yang digunakan. rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian. . perencanaan tindakan. prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30).

PENGANTAR Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Ia merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. secara mendasar laporan itu sama dalam hal tuntutan isi. ISI LAPORAN PTK Pada dasarnya apa yang telah ditulis dalam usulan penelitian akan dimuat lagi dalam laporan penelitian. bagaimana pun telitinya kita membuat rancangan penelitian. B. 1985). penelitian hanya akan mempunyai arti apabila hasilnya dilaporkan secara memadai melalui laponan penelitian (Shah. Bagaimana menyusun laponan PTK? Berikut ini akan diuraikan secara garis besar tentang teknik penyusunan laponan PTK. serta betapa hebatnya pun kita menghasilkan sebuah penelitian. maupun bahasanya. struktur. Meski beragam bentuk atau formatnya. . Laporan penelitian dapat beragam bentuk atau formatnya. Hal itu sangat bergantung pada tuntutan lembaga dan/atau sponsor yang mendukung dana penelitian tersebut. Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. Ia juga merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya. OIeh sebab itu. laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. Bagaimanapun pentingnya teori dan hipotesis. peneliti dapat memilih atau mengembangkan sendiri format laporan yang akan digunakan. Jika pihak sponsor tidak menetapkan format yang harus diikuti atau penelitian dilaksanakan secara swadana.BAB V LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A.

9-78 Penelitian Tindakan Kelas Dalam perkembangannya yang terakhir. adalah laporan penelitian yang lengkap. yang sudah sangat umum. dan prosedur/langkah kerja. seperti dijelaskan di atas. (5) hasil-hasil penelitian. . sedangkan jenis yang kedua. (4) metode penelitian yang memuat rancangan penelitiqan. sasaran penelitian. (3) pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian. (6) simpulan. Karena itu. Misalnya. 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda (2 spasi). laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkas dan dituangkan dalam paragraf-paragraf yang ringkas dan padat. ada bermacam-macam format sesuai dengan pihak sponsor dana. rumusan masalah. dan (7) daftar pustaka. ada dua jenis laporan penelitian jika dilihat dari formatnya. laporan PTK dari proyek OPF Diknas dan PTK PGSM. (2) nama peneliti (ketua dan anggota). adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas. Laporan penelitian yang lengkap. Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif. padat. dan tujuan penelitian. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format eksekutif adalah: (1) judul penelitian. Para eksekutif dalam membaca suatu laporan penelitian hanya memerlukan butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. Dari sekian macam format laporan PTK akan disajikan satu contoh format laporan PTK berikut ini.d. sesuai dengan namanya. Jenis laporan ini seolah-olah akan dibaca oleh para eksekutif yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca laporan lengkap dari suatu hasil penelitian. dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. Panjang laporan sekitar 10 s. Jenis yang pertama laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif (executive summary). memiliki format yang berbeda.

..... 3..... .. Rumusan Masalah 3............ Prosedur Observasi dan Refleksi 5.... Saran/Rekomendasi BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran .. . Manfaat Penelitian Bab II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1...... Latar Belakang Masalah 2..... . Bab III METODE PENELITIAN 1....... Tujuan Penelitian 4......... Simpulan 2............... Pembahasan Bab V PENUTUP 1......... Paparan Data 2...... Prosedur Analisis Data Bab IV HASIL PENELITIAN 1. Setting Penelitian dan Latar belakang Subjek Penelitian 2............ Uji Hipotesis 3....... Rancangan Penelitian 3.. 2.....................Penelitian Tindakan Kelas 9-79 BAGIAN AWAL Halaman Judul Abstrak Prakata Daftar Isi BAGIAN UTAMA Bab I PENDAHULUAN 1..... Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4.

(3) prakata. bagian awal ini dapat ditambahkan dengan daftar tabel. Abstrak bukanlah ringkasan hasil penelitian. Halaman Judul Judul penelitian berupa kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti. pada bagian bawah bidang pengetikan ditulis lembaga yang menyelenggarakan atau menyeponsori penelitian. sederhana. BAGIAN AWAL Paling sedikit ada empat unsur pokok yang termasuk dalam Bagian Awal dari laporan PTK. tindakan sebagai upaya pemecahan. Dengan hanya membaca abstrak seseorang dapat memahami pokok- pokok yang ditulis dalam laporan.9-80 Penelitian Tindakan Kelas Keterangan singkat tentang isi dari masing-masing format dari ketiga bagian laporan lengkap penelitian tersebut disajikan berikut ini. Akan tetapi jika tidak cukup bisa diperpanjang maksimum sampai dua halaman kertas ukuran kuarto. yaitu: (1) halaman judul. Agak jauh di bawah judul dicantumkan nama tim peneliti (bisa ketua saja atau lengkap ketua dan anggota). Kemudian. di bawah nama lembaga atau sponsor dicantumkan tahun selesainya penelitian atau tahun ditulisnya laporan penelitian. Hal-hal penting tersebut adalah latar . daftar gambar. Panjang abstrak sebaiknya satu halaman. singkat. dan mudah dipahami. Abstrak Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. di mana dan kapan penelitian akan dilakukan. terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan. Pada halaman judul ini judul penelitian ditulis simetris di bagian atas bidang pengetikan dengan huruf kapital. 1. daftar singkatan. Terakhir. 2. (2) abstrak. daftar lampiran. melainkan inti sari yang sangat pnting dari hasil penelitian. Sekiranga diperlukan. dan (4) daftar isi. jelas.

tujuan penelitian. pelaksanaan penelitian. 3. bagian ini bisanya diisi dengan harapan akan kemanfaatan hasil penelitian. dan (4) alasan pentingnya penelitian tindakan ini dilakukan. yaitu: (1) pendahuluan. Selain itu. . Daftar Isi Hal-hal yang dicantumkan dalam daftar isi adalah judul bab dan sub-judul (satu peringkat di bahawa judul bab). 4.Penelitian Tindakan Kelas 9-81 belakang masalah. dan implikasinya. Latar Belakang masalah Berisi uraian (1) fakta-fakta yang mendukung yang berasal dari pengamatan peneliti. (3) hasil penelitian terdahulu (jika ada). (3) metode penelitian. Pendahuluan a. Sub-sub judul yang lebih dari satu peringkat di bawah judul bab tidak perlu dicantumkan karena akan menyebabkan daftar isi menjadi terlalu panjang. (4) hasil penelitian. BAGIAN UTAMA Isi bagian utama dari laporan penelitian merupakan inti dari keseluruhan laporan. hasil penelitian. Lazimnya. dan (5) penutup. 1. (2) kerangka teoretik dan hipotesis tindakan. dan kesediaan menerima masukan yang datang dari berbagai pihak. (2) argumentasi teoretik tentang tindakan yang dipilik. bagian utama laporan penelitian tindakan terbagi menjadi lima bagian (yang disebut bab). Prakata Prakata berisi ucapan syukur dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian.

Manfaat Penelitian Berisi manfaat atau sumbangan hasil penelitian khususnya bagi (1) siswa. . Metode Penelitian Bab ini berisi hasil pengembangan dari yang telah ditulis dalam usulan penelitian dengan catatan bahwa metode dalam usulan adalah yang akan dilaksanakan. (5) sekolah/LPTK . 3. rancangan penelitian. (2) guru/dosen pelaksana PTK. Kata “akan” yang ada dalam usulan tidak boleh ada lagi dalam laporan. tujuan penelitian berisi pernyataan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh peneliti dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa. (2) rancangan tindakan pembelajaran yang mempunyai landasan konseptual. tindakan inilah yang kemudian dituangkan dalam hipotesis tindakan dalam rangkan pemecahan masalah. d. Rumusan Masalah Berisi uraian yang menjelaskan: (1) kesenjangan antara situasi yang diinginkan dan yang ada dan dapat dipecahkan. bukan yang akan dilaksanakan. sedangkan pada laporan dikemukakan metode yang senyatanya telah dilaksanakan. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretik berisi kajian teoretik yang relevan yang mendasari penelitian tindakan. prosedur observasi dan refleksi. perbaikan atau peningkatan. dengan tindakan akan terjadi perubahan. (3) dinyatakan dalam kalimat pertanyaan/pernyataan. Artinya yang dilaporkan adalah metode yang telah diterapkan dalam melaksanakan penelitian. Tujuan Penelitian Secara operasional. 2.9-82 Penelitian Tindakan Kelas b. c. perencanaan dan pelaksanaan tindakan. (4) kalangan guru/dosen pada umumnya. Unsur-unsur yang ada pada bagian metode ini adalah: setting penelitian dan latar belakang subjek penelitian. prosedur analisis data.

pengujian hipotesis. Pembahasan ini berisi perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian lain atau pengetahuan teore yang relevan. setiap judul tulisan yang dimuat dalam daftar pustaka harus telah dipergunakan sebagai rujukan secara eksplisit dalam naskah laporan. Judul tulisan yang tidak dikutip secara eksplisit dimasukkan dalam daftar karena dibaca dan secara umum ide-idenya dipakai sebagai dasar penulisan. Daftar Pustaka Istilah “daftar pustaka” biasanya mempunyai dua arti: (a) referensi dan (b) bibliografi. 1. BAGIAN AKHIR Bagian akhir dari laporan penelitian tindakan memuat antara lain daftar pustaka dan lampiran. Penutup Bab ini berisi simpulan dan saran/rekomendasi.Penelitian Tindakan Kelas 9-83 4. tetapi jika daftar pustaka disamakan artinya dengan bibliografi. baik yang dikutip secara eksplisit pada salah satu bagian di dalam naskah maupun yang tidak. Hasil Penelitian Pada bab ini dilaporkan tentang deskripsi data (perlakuan atau intervensi dan dampak intervensi). 5. Jika daftar pustaka diartikan referensi (daftar rujukan). Saran dibatasi hanya yang terkait langsung dengan simpulan. dan pembahasan hasil pengujian hipotesis. . namun tidak dapat dirujuk secara khusus. Riwayat hidup (curriculum vitae) peneliti biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. Saran yang didasarkan atas pertimbangan lain di luar simpulan tidak boleh diajukan dalam laporan penelitian. Simpulan didasarkan pada hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. dalam daftar pustaka dapat dimuat semua judul tulisan yang dibaca oleh peneliti dan mendasari penulisan naskah.

Laporan penelitian tidak dapat dianggap sebagai karya yang dapat dikerjakan sambil lalu. . menyusun dengan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang laporan penelitian dan harus dikerjakan secara profesional. Ia harus menata. Peneliti harus benarbenar mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya benar-benar maksimal. data asli (mentah). peneliti haruslah menyiapkan laporan penelitian dengan baik. maupun bahasanya. surat-surat penting dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian. pedoman observasi. Oleh sebab itu. perlu dilampirkan pada laporan. seperti kuesioner (angket). print out hasil analisis data dengan komputer. Lampiran Semua dokumen yang tidak berupa naskah (teks) tetapi dianggap penting untuk mendukung apa yang ditulis pada naskah laporan dan dapat dilacak oleh pembaca dengan mempelajari dokumen tersebut. Misalnya: instrumen penelitian. PENUTUP Laporan penelitian merupakan pertanggunjawaban peneliti.9-84 Penelitian Tindakan Kelas 2. Ia harus dikemas secara baik. struktur. C. isi. daftar cek. baik dari sudut format.

BAB V PENUTUP Penelitian pendidikan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi guru di dalam kelas. dan pengembangan peningkatan profesionalitas guru. PTK dikerjakan oleh orang dalam (baca guru) sedangkan penelitian formal dikerjakan oleh orang luar yang tidak menghayati masalah di kelas secara mendalam. PTK bercirikan perbaikan praksis pembelajaran dari dalam. PTK berbeda dengan penelitian formal dalam berbagai cara sebagai berikut. PTK merupakan alternatif yang sangat tepat untuk menggantikan posisi penelitian formal atau penelitian kelas yang selama ini banyak dikerjakan untuk dapat meningkatkan praksis pembelajaran dari dalam dengan cara kolaboratif dan reflektif. PTK mengembangkan praksis pembelajaran sedangkan penelitian formal verifikasi dan menemukan pengetahuan yang akan digeneralisasikan. Sampel PTK khusus sedangkan penelitian formal represertatif . kolaboratif. Penelitian ini dilakukan oleh orang di luar dunia pendidikan yang tidak menghayati masalah pendidikan dan penyebaran basil penelitian pendidikan memakan waktu yang lama untuk sampai pada guru. PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran dengan memanfaatkan pengahayatan guru akan masalah pendidikan dengan cara kotaboratif dan reflektif Penelitian kelas dibatasi sebagai penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional. reflektif PTK mempunyai manfaat untuk inovasi kurikulum di tingkat sekolah. PTK itu metodologinya longgar. dan pembelajaran. instrumentasi dan analisisnya tidak harus ketat seperti pada penelitian formal. Oleh sebab itu.

maka guru barus siap mengadakan revisi terhadap tindakan yang dilakukan dan menetapkan tindakan baru yang kemudian akan dilaksanakan dan diobservasi dan direfleksi. dan refleksi. basil penelitian. dan terjadilah daur PTK . dan sebagainya serta dengan tes untuk melihat kemajuan praksis pembelajaran siswa. pelaksanaan. Hasilnya kemudian direfleksi oleh guru dibantu oleh teman kolaborasinya. . serta pengalaman mengajarnya. begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki praksis pembelajaran. yakni pengamatan. Begitu seterusnya. dosen. atau kepala sekolah/birokrat pendidikan yang lain membuat rencana tindakan yang dipersiapkan secara matang dan melaksanakannya di dalam kelas. yakni perencanaan. Pada saat pelaksanaan itu guru mengadakan observasi yang berupa nontes. observasi. Jika hasilnya belum baik. Dengan masalahnya itu guru berupaya untuk mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkan hipotesis tindakan yang dikajinya dan berbagai teori. wawancara. Masalah PTK adalah masalah yang memang benar-benar dirasakan oleh guru dan bukan masalah yang diturunkan dari atasan atau dan pihak dosen. Tahap selanjutnya guru dengan berkolaborasi bersama teman sejawat.9-86 Penelitian Tindakan Kelas PTK dilaksanakan dengan prosedur berdaur.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Philadelphia : Open University Press. J. Research Methods in Education. 1993. 2000. 1980. W. STKIP. Action Research in a School University Partnership. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Dalam The Action Research Reader. 1982. S. “Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) untuk Tahun Anggaran 2004”. Victoria. How To Design. Elliot. Analyze. Candy. & Kemmis. 16 (3) 1 s. Balian.DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. 1982. Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM tanggal 18—22 Oktober. Penelitian Tindakan Berbasis Kelas dan Sekolah. London & Canberra: Croom Helm. Tisno. Victoria: Deakin University. 1991. D. Branson. 1998. R. H. & Manion. Elliot. Geelong. dan Miller.. J. P. Knowledge. Connole. New York: University Press. Johnston.d. Australian Educational Researcher. 1997. Hopkins. Australia: Deakin University.C. FIP IKJP Surabaya. 1989. Becoming Critical: Education. Chicago. “Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Cobstructs: an Accont of the work of the Ford Teaching Project”. Smith. Depdiknas. Research Methodology I: Issues and Methods in Research. L. PTK. David. Carr. Gelong. Hadisubroto. 1992. dan Wisemen. Geelong: Deaking University. Cohen.. and Action Research. Edward. 2004. John. L. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. AERA. 1997. 11. M. Penyusunan Proposal PTK. Action Research for Educational Change. . IL. “Alternative Paradigms in Educational Research”. and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. B. Format Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Ditjen Dikti. Soli 1998. 1983. S. Singaraja. Second Edition. Philadephia: Open University Press.

PPGSM Ditjen Dikti. Makalah pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi Dosen dan Guru. 1997. Dirjen Dikti. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Natawidjaya. Dirjen Dikti. Noeng. Jakarta: BP3SD. R. 1998. Priyono. 1992. Rencana. Jakarta: BP3SD. Depdikbud. Suyanto. Victoria: Deakin University. Tejemahan Muhajir Darwin dari Reporting Research. Chapter prepared for inclusion in D. 1994. dan McTaggart. S. Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. Muhadjir. Moore and J. PCP. Beijing: Beijing Teacher College Press. Shah. 1998. 3rd ed. Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 1988. 1997. Pemantauan dan Evaluasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Vimal P. dan M. . R. ”Appraising Report of Inquiry”. McTaggart. T. Kelly. 1997. tanggal 9 September 1999. PCP. J. 1985. Using Action Research to Improve Teaching. Soedarsono. Madya. “Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas”. 1991. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kemmis. dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta: BP3SD. Desain. Action Research: Principles and Practice. 1999. 1997. McNiff. FX. Bandung : IKIP Bandung. 1997. Hong Kong: Hong Kong Polytechnic.) Social Science Methodology for Education Inquiry: A Conceptual Overview. Orto (eds. Caulley. Depdikbud. Bogor. Kember D. London: Routledge. PPGSM Ditjen Dikti. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Dirjen Dikti. Seri Metodologi Penelitian: Panduan Penelitian Tindakan. Conny R. The Action Research Planner. Rochman. Semiawan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta. Sumarno. Raka. Andreas. 1991. H.9-88 Penelitian Tindakan Kelas Joni. Menyusun Laporan Penelitian. Suwarsih. Analisis dan Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas.

D. SCOPE Program. . 1996. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perth: Education Department of Western Australia.Penelitian Tindakan Kelas 9-89 Tim Pelatih Proyek PGSM. Penelitian Tindakan Kelas. Tripp. 1999.

BUKU AJAR PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH .

Hal ini mempunyai tujuan agar setelah pelaksanaan matapelajaran ini peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menyusun artikel ilmiah yang siap dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah yang tidak maupun terakreditasi. pada saat peserta PLPG berkeinginan untuk menuliskan hasil penelitian tindakan kelas ke dalam jurnal penelitian pendidikan. PENDAHULUAN A. artikel hasil penelitian. Deskripsi Buku Ajar mengenai “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini meliputi materi pembelajaran tentang penulisan artikel ilmiah. . Buku ajar “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini mempunyai standar kompetensi dasar (1) mengenal penulisan artikel ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 BAB I. buku ajar ini mengantarkan peserta PLPG untuk memahami materi-materi tersebut di atas. Karena standar kompetensi penelitian tindakan kelas adalah (1) mengenal metode penelitian tindakan kelas. jenis dan struktur artikel ilmiah. namun demikian peserta juga diminta untuk menyusun draft penulisan artikel ilmiah di bidang kompetensi masingmasing. (2) mengenal perbedaan penulisan artikel ilmiah yang konseptual dan yang non konseptual. Jelas bahwa kompetensi dasar kedua mata pelajaran ini akan bersngkut paut. format tulisan. Buku ajar ini mempunyai hubungan dengan buku ajar yang terutama adalah penelitian tindakan kelas. serta praktik penulisan artikel ilmiah. Secara garis besar. dan (4) menyusun draft artikel ilmiah. (3) menyusun draft proposal penelitian tindakan kelas. (3) mengenal format penulisan artikel ilmiah. artikel hasil pemikiran. (2) mengenal format laporan penelitian tindakan kelas.

Kompetensi dan Indikator 1. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan enumeratif. 5. Di samping itu. Kemudian peserta PLPG harus belajar menyusun suatu draft artikel ilmiah yang selaras dengan format yang tersaji di dalam buku ajar ini. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan esai. Petunjuk Pembelajaran Peserta PLPG harus selalu aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas. .9-4 Penulisan Karya Ilmiah B.Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil penelitian. 4. peserta pelatihan mencermati contoh-contoh yang telah disajikan oleh pelatih dan yang tersaji di dalam buku ajar ini. 2. 7. . Saran-saran dari pelatih yang belum dipahami perlu ditanyakan kembali kepada pelatih jika perlu meminta perbandingan dengan artikel yang telah termuat di dalam jurnal. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami jenis dan struktur artikel ilmiah. serta dimintakan pendapat dari pelatih. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami kriteria penulisan artikel ilmiah. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil pemikiran konseptual. menanyakan hal-hal yang belum dipahami. 6. selanjutnya mendiskusikan dengan teman lainnya. C. Peserta mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyusun draft artikel ilmiah. Peserta PLPG aktif berdiskusi dengan pelatih. Hasil draft itu selanjutnya digunakan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ini. 3.

KOMPETENSI DAN INDIKATOR Karya ilmiah tentu sudah merupakan bacaan yang sangat akrab dengan peserta PLPG. walaupun kriteria . URAIAN MATERI Sesuai dengan namanya. bapak dan ibu sudah sering membaca berbagai artikel. sifat dan struktur karya tulis ilmiah. Pertama. 2. Menjelaskan perbedaan artikel hasil pemikian konseptual dengan hasil penelitian B. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar pertama ini. 3. bapak dan ibu akan mengkaji bentuk. KEGIATAN BELAJAR I JENIS DAN STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH A.BAB II. struktur dan sifat-sifat artikel ilmiah 4. Menjelaskan sifat artikel ilmiah. penerbitan ilmiah secara inherent harus menampilkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas karya ilmiah tersebut yang mungkin tidak selalu harus dipenuhi di dalam jenis penerbitan yang lain. artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal diharapkan memenuhi kriteria sebagai sebuah karya ilmiah. Sebagai guru. Berbekal pengalaman bapak dan ibu dalam memahami artikel ilmiah. Oleh karena itu. Menjelaskan sikap ilmiah. ilmiah populer maupun yang memang benar-benar merupakan karya ilmiah. Menjelaskan bentuk. penerbitan ilmiah bersifat objektif. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. baik yang bersifat populer. Berkaitan uraian di atas. artinya isi penerbitan ilmiah hanya dapat dikembangkan dari fenomena yang memang exist. Kriteria ini adalah cerminan sifat karya ilmiah yang berupa norma dan nilai yang berakar pada tradisi ilmiah yang diterima secara luas dan diikuti secara sungguh-sungguh oleh para ilmuwan.

dilengkapi dengan keterbukaan dalam menyebutkan sumber bahan yang menjadi rujukannya. dan tidak menyertakan motif-motif pribadi atau kepentingan- kepantingan tertentu dalam menyampaikan pendapatnya. penulisannya harus mengikuti pola. teknik. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan.9-2 Penulisan Karya Ilmiah eksistensi fenomena yang menjadi fokus bahasannya dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain. Selanjutnya. ia juga mengemban sifat pembaharu dan up-to-date atau tidak ketinggalan jaman. hati-hati dan tidak over-claiming. Semua sikap di atas. juga dipandang sebagai upaya penulis untuk memenuhi etika penulisan ilmiah. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. Selain objektif. struktur. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para . Walaupun demikian. karena jurnal merupakan sarana komunikasi yang berada di garis depan dalam pengembangan IPTEKS. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. Lain daripada itu. dalam menulis artikel ilmiah penulis hendaknya juga tidak mengabaikan komponen sikap ilmiah yang lain seperti menahan diri (reserved). tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Artikel ilmiah mempunyai bentuk. sifat lain karya ilmiah adalah rasional. Oleh karena itu. lugas. Oleh karena itu. jujur. dan sifat-sifat tertentu. penerbitan ilmiah juga membawa ciri khas ini yang sekaligus berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik yang berkaitan dengan masalah yang dipersoalkan. dan kaidah-kaidah tertentu juga. Rasional menurut Karl Popper adalah tradisi berpikir kritis para ilmuwan.

Akan tetapi sebagian jurnal biasanya memuat kedua jenis artikel: hasil pemikiran dan hasil penelitian. Pemuatan artikel hasil penelitian. . dan (3) gagasan atau usulan baru (Pringgoadisurjo. seringkali majalah ilmiah juga memuat resensi buku dan obituari. resensi dan obituari ini sejalan dengan rekomendasi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Alat dan Bahan a. yaitu artikel hasil pemikiran atau artikel non penelitian dan artikel hasil penelitian. artikel hasi pemikiran. Ada beberapa jurnal yang hanya memuat artikel hasil penelitian. misalnya Journal of Research in Science Teaching yang terbit di Amerika Serikat dan Jurnal Penelitian Kependidikan terbitan Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Malang. C. Laptop c. Selain itu. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2000). majalah ilmiah pada umumnya memuat salah satu dari hal-hal berikut: (1) kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah. d. Sesuai dengan tujuan penerbitannya. (2) pengamatan empirik. b. Di dalam tulisan ini pembahasan akan dibatasi pada struktur dan anatomi dua jenis artikel saja yaitu artikel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian. Alat tulis. LCD proyektor.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. Dalam praktik halhal tersebut akan diwujudkan atau dimuat di dalam salah satu dari dua bentuk artikel. 1993). Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. LEMBAR KEGIATAN 1.

ceramah pemecahan masalah 3. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. 5 menit Curah pendapat. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai.9-4 Penulisan Karya Ilmiah 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan bentuk. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Kegiatan Waktu Metode 2. 35 menit Metode pemberian tugas dan . Langkah Kegiatan No.2 Presensi peserta pelatihan. struktur dan sifat karya tulis ilmiah. 2.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian sifat artikel ilmiah. 1. 2. Kegiatan Inti 3.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran. 2.

3 Fasilitator memberikan ceramah tentang bentuk dan struktur artikel ilmiah 3. sifat. 3. 3. bentuk.4 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. dan struktur artikel ilmiah. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sikap ilmiah.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. 4. 3. bentuk.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. dan struktur artikel ilmiah.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu.5 Sharing dalam kelas mengenai sikap ilmiah.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit pendampingan Refleksi . 4. Kegiatan Akhir 4.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang sikap ilmiah. sifat.Penulisan Karya Ilmiah 9-5 3. 4.

Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. dan kaidah-kaidah tertentu juga. b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai bentuk. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai sifat artikel ilmiah. yang selanjutnya mempunyai kecenderungan positif jika dihadapkan pada kasus plagiariasme misalnya. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai karakter sikap ilmiah. RANGKUMAN Artikel ilmiah mempunyai bentuk. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. . Walaupun demikian. dan struktur karya tulis ilmiah. dan sifat-sifat tertentu. struktur. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. c. teknik. D. Oleh karena itu. penulisannya harus mengikuti pola.9-6 Penulisan Karya Ilmiah 3.

sikap penulis b. panjang tulisan c. Struktur sajian suatu karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari a. bagian inti. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat 1. penulis bersikap netral. Bagian penutup suatu karya tulis ilmia. Substansi suatu karya tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal. dan tidak memihak. pemulung d. pada umumnya menyajikan tentang a. informatika 5. abstrak. simpulan umum c. simpulan c. Aspek-aspek yang menentukan karakteristik karya tulis. pendahuluan.Penulisan Karya Ilmiah 9-7 F. bagian inti. Dalam karya tulis ilmiah. struktur sajian d. dan penutup b. penggunaan bahasa 2. rekomendasi penulis d. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. inti (pokok pembahasan). TES FORMATIF 1. kecuali a. Sikap ini sesuai dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada. simpulan dan saran 4. pendahuluan. kecuali a. fakta atau kenyataan b. argumentasi . penutup 3. obyektif. pendahuluan. pendidikan b. kecuali a. kebudayaan c. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya tulis ilmiah. abstrak. bagian inti. simpulan d. abstrak. rangkuman dan tindak lanjut b.

data empirik/hasil penelitian 6. Untuk membedakan karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah. memaparkan bidang ilmu tertentu b. daftar pustaka b. pengaruh gizi pada pertumbuhan anak d. baku c. menggunakan gaya bahasa resmi d. seseorang dapat mengkaji berbagai aspek tulisan. kecuali a. resmi b. lampiran 8. kumbang cantik pengisap madu c. daftar tabel d. Keobyektifan penulis karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat a. disajikan secara sistematis 9. Berikut ini adalah ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah. teori yang diakui kebenarannya d. pengaruh obat bius yang menghebohkan 10 . personal 7.9-8 Penulisan Karya Ilmiah c. Di antara judul berikut. impersonal d. yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah? a. abstrak c. Komponen suatu karya tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan penulisannya. namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen a. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda adalah a. senjata makan tuan b. panjang tulisan . sistematika tulisan b. merupakan deskripsi suatu kejadian c.

pengarang 2. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah? .Penulisan Karya Ilmiah 9-9 c. Setelah membaca uraian di atas. ragam bahasa yang digunakan d. struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal. inti. Berdasarkan uraian itu. Secara umum. coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal karakteristik karya tulis ilmiah. Sebutkan aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. dan bagian penutup. Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan seperti itu? 2. coba simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah! 3. Tes Uraian 1.

BAB III. 8. Menjelaskan penulisan daftar pustaka karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian . Menjelaskan penulisan pembahasan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 7. Menjelaskan penulisan metode karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. KEGIATAN BELAJAR II ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN DAN HASIL PENELITIAN A. 3. Berkaitan uraian di atas. 6. Menjelaskan penulisan pendahuluan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 4. Menjelaskan pembuatan judul karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan simpulan dan saran karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan hasil penelitian karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 5. Menjelaskan abstrak dan kata kunci karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar yang kedua ini akan dibahas bagaimana menentukan kelayakan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan serta struktur tulisan konseptual. 2. Pembahasan mengenai materi ini akan bermanfaat pada saat bapak dan ibu menulis artikel konseptual. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar kedua ini. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. Di samping itu akan dibahas juga teknik menulis karya tulis ilmiah atas dasar hasil penelitian.

nama penulis. jika memang ada. dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang kuat bagi calon pembaca. yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini. yaitu judul. jelas. a. artikel hasil pemikiran bukanlah sekadar kolase atu tempelan cuplikan dari sejumlah artikel. penutup. baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Artikel hasil pemikiran biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok. di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks. bagian inti atau pembahasan. Bagian paling vital dari artikel hasil pemikiran adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas. mengandung unsur-unsur utama masalah. dan pikiran baru penulis tentang hal yang dikaji. Pilihan kata-kata harus tepat. yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya.Penulisan Karya Ilmiah 9-11 B. apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber. Atikel Hasil Pemikiran Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan. hasil-hasil penelitian terdahulu. Salah satu ciri penting judul artikel hasil pemikiran adalah . Judul Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Sumber-sumber yang dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan. tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya. dan daftar rujukan. abstrak dan kata kunci. URAIAN MATERI 1. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya. Jadi. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. pendahuluan.

Nama Penulis Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis. nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain.) Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciriciri yang diharapkan ditunjukan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif.1) Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? (Journal of Research in Science Teaching Vol. IX No. analisis. Hal ini penting karena artikel hasil pemkiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi. Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi. No. Jika penulis lebih dari dua orang. dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan. argumentasi. 33. Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini. Nama lembaga tempat penulis bekerja sebagai catatan kaki di halaman pertama. . No. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan.9-12 Penulisan Karya Ilmiah bersifat ”provokatif”. dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu. argumentative.2. Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7. dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi. b. dan analitik. hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan disertai tambahan dkk. 1) Repelita IV: A Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. (dan kawan-kawan).

Panjang abstrak biasanya sekitar 50-75 kata yang disusun dalam satu paragraf. A qualitative study is often contrasted with its quantitative counterpart. diketik dengan spasi tunggal. while their tendencies. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak artikel hasil pemikiran adalah ringkasan dari artikel yang dituangkan secara padat. bukan komentar atau pengantar penulis. quantitative study. tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atau tubuh artikel. Format lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan). can be investigated through qualitative study. Jika dapat diperoleh. Key words: qualitative study. In fact these two approaches serve different purposes. Dengan membaca abstrak diharapkan (calon) pembaca segera memperoleh gambaran umum dari masalah yang dibahas di dalam artikel. Perhatikan contoh abstrak dan kata-kata kunci berikut ini. Business transaction pattern and market characteristic. frequencies. Abstract: Theory Generation through Qualitative Study. theory development . These two approaches are more often inappropriately considered as two different schools of thought than as two different tools. A qualitative study takes several stage in generating theories.Penulisan Karya Ilmiah 9-13 c. yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel. Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci. for example. Ciri-ciri umum artikel hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini. sehingga (calon) pembaca tertarik untuk meneruskan pembacaannya. Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel. and other related quantitative values can be more appropriately investigated through quantitative study. kata-kata kunci hendaknya diambil dari tresaurus bidang ilmu terkait.

Catatan sejarah pendidikan di negara-negara maju dan dikelompokkelompok masyarakat yang telah berkembang kegiatan pendidikan menunjukan bahwa keadaan dunia pendidikan mereka sekarang ini telah dicapai dengan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan di dalam berbagai bentuk. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem politik yang kurang demokratis dan budaya masyarakat paternalistik telah menyebabkan rendahnya partisipasi.. misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan yang terkait dengan artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu. dengan analisis ini kekurangan analisis terdahulu dapat dikurangi dan dapat disusun penjelasan baru yang lebih komprehensif. Partisipasi masyarakat merupakan unsur yang paling penting sekali bagi keberhasilan program pendidikan. Di Amerika Serikat dalam tingkat pendidikan tinggi dikenal apa yang disebut “Land-Grant Universities.. . Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli yang berkaitan dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.. Dalam artikel-artikel ini akan dibahas kemungkinankemungkinan menurunnya partisipasi masyarakat tersebut berdasarkan analisis ekonomi pendidikan.9-14 Penulisan Karya Ilmiah d.”dst. Pendahuluan Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas. Diharapkan. Perhatikan tiga segmen bagian pendahuluan dalam contoh di bawah ini. Sementara itu penulis-penulis lain lebih memfokus pada faktor-faktor ekonomi.. Dari kajian terhadap berbagai tulisan dan hasil penelitian disebutkan di muka terlihat masih terdapat beberapa hal yang belum jelas benar atau setidak-tidaknya masih menimbulkan keraguan mengenai sebab-sebab menurunnya mutu partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.

e. any consideration of the theoretical implementation must start by attempting to resolve the aims and intentions of this cultural practice…(Dari Osborne. analisis. yang membuka kesempatan bagi penulis untuk menampilkan wacana penurunan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dari sudut pandang yang lan. . Walaupun demikian. keputusan. Hence. Science earns its place on the curriculum because there is cultural commitment to the value of the knowledge and the practices by which this body of ideas has been derived. dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. Perhatikan contoh-contoh petikan bagian inti artikel berikut ini. sejauh mungkin juga berciri komparatif dan menjauhi sikap tertutup dan instruktif.Penulisan Karya Ilmiah 9-15 Di dalam petikan bagian pendahuluan di atas dapat dilihat alur argumentasi yang diikuti penulis untuk menunjukan masih adanya perbedaan pandangan tentang menurunnya partisipasi masyarakat di dalam pengembangan pendidikan. Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif. perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. Penggunaan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat. analitik. 1996:54). tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Tinjauan dari berbagai sudut pandang telah menghasilkan kesimpulan yang beragam. dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis. argumentasi. lazimnya berisi kupasan. komparasi. Bagian Inti Isi bagian ini sangat bervariasi.

9-16 Penulisan Karya Ilmiah

Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktik-praktik pendidikan adalah suatu keharusan jika dunia pendidikan Indonesia tidak ingin tertinggal dan kehilangan perannya sebagai wahana untuk menyiapkan generasi masa datang ironisnya, kalangan pendidikan sendiri tidak dengan cepat mengantisipasi, mengembangkan dan mengambil inisiatif inovasi yang diperlukan, walaupun kesadaran akan perlunya perubahanperubahan tertentu sudah secara luas dirasakan. Hesrh dan McKibbin (1983:3) menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak telah menyadari perlunya inovasi…(Dari Ibnu, 1996:2) John Hassard (1993) suggested that, ‘Unlike modern industrial society, where production was the cornerstone, in the post modern society simulation structure and control social affairs. We, at witnesses, are producing simulation whitin discorses. We are fabricating words, not because we are “falsyfaying” data, or “lying” about what we have learned, but because we are constructing truth within a shifting, but always limited discourse.’ (Dari Ropers-Huilman, 1997:5) Di dalam contoh-contoh bagian inti artikel hasil pemikiran di atas dapat dilihat dengan jelas bagian yang paling vital dari jenis artikel ini yaitu posisi atau pendirian penulis, seperti terlihat di dalam kalimatkalimat: (1) Hence, any consideration of the theoretical base of science and its practical implementation must start by…, (2) Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktek-praktek pendidikan, adalah suatu keharusan jika…, (3)…We are fabricating words not because …, or ‘lying’ about…, but…dan seterusnya.

f. Penutup atau Simpulan Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian

sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat dilihat pada berbagai

Penulisan Karya Ilmiah

9-17

artikel jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama: mengakhir diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. Perhatiakan contoh-contoh berikut.

Konsep pemikiran tentang Demokrasi Ekonomi pada prinsipnya adalah khas Indonesia. menurut Dr. M. Hatta dalam konsep Demokrasi Ekonomi berlandaskan pada tiga hal, yaitu: (a) etika sosial yang tersimpul dalam nilai-nilai Pancasila; (b) rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dengan perencanaan ekonomi oleh negara; dan (c) organisasi ekonomi yang mendasarkan azas bersama/koperasi. Isu tentang pelaksanaan Demokrasi Ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia menjadi menarik dan ramai pada era tahun 90-an. Hal tersebut terjadi sebagai reaksi atas permasalahan konglomerasi di Indonesia. Perlu diupayakan hubungan kemitraan yang baik antara pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pada saat ini nampak sudah ada political will dari pemerintah kita terhadap kegiatan ekonomi berskala menengah dan kecil. Namun demikian kemampuan politik saja tidak cukup tanpa disertai keberanian politik. Semangat untuk berpihak pada pengembangan usaha berskala menengah dan kecil perlu terus digalakkan, sehingga tingkat kesejahteraan seluruh msyarakat dapat ditingkatkan. (Dari Supriyanto, 1994:330-331) if, as has been discussed in this article, argumentation has a central role play in science and learning about science, then its current omission is a problem that needs to be seriously addressed. For in the light of our emerging understanding of science as social practice, with rhetoric and argument as a central feature, to continue with current approaches to the teaching of science would be to misrepresent science and its nature. If his pattern is to change, then it seems crucial that any intervention should pay attention not only to ways of enhancing the argument skills of young people, but also improving teachers’ knowledge, awareness, and competence in managing student participation in discussion and argument. Given that, for good or for ill, science and technology have ascended to ascended to a position of cultural dominance, studying the role of

9-18 Penulisan Karya Ilmiah

argument in science offers a means of prying open the black box that is science. Such an effort would seem well advisedboth for science and its relationship with the public, and the public and its relationship with science. (Dari Driver, Newton & Osborne, 2000:309) g. Daftar Rujukan Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten diikuti dalam setiap nomor penelitian.

2. Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian sering merupakan bagian yang paling dominan dari sebuah jurnal. Berbagai jurnal bahkan 100% berisi artikel jenis ini. Jurnal Penelitian Kependidikan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang, misalnya, dan Journal of Research in Science Teaching; termasuk kategori jurnal yang semata-mata memuat hasil penelitian. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau ”pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

Penulisan Karya Ilmiah

9-19

Bagian-bagian artikel hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal adalah judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, bagian pendahuluan, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan.

a. Judul Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan tepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antar variabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Walaupun demikian, harus dijaga agar judul artikel tidak menjadi terlalu panjang. Sebagaimana judul penelitian, judul artikel umumnya terdiri dari 5-15 kata. Berikut adalah beberapa contoh.

Pengaruh Metode Demonstrasi Ber-OHP terhadap Hasil Belajar Membuat Pakaian Siswa SMKK Negeri Malang (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No.1). Undergraduate Science Students’ Images of the Nature of Science (Research presented at the American Educational Research Association Annual Conference, Chicago, 24-28 March 1997). Effect of Knowledge and Persuasion on High-School Students’ Attitudes towards Nuclear Power Plants (Journal of Research in Science Teaching Vol.32, Issue 1).

Jika dibandingkan judul-judul di atas, akan sgera tampak perbedaannya dengan judul artikel hasil pemikiran, terutama dengan terlihatnya variabel-variabel utama yang diteliti seperti yang

diperlihatkan pada judul yang pertama dan ketiga.

9-20 Penulisan Karya Ilmiah

b. Nama Penulis Pedoman penulisan nama penulis untuk artikel hasil pemikiran juga berlaku untuk penulisan artikel hasil penelitian.

c. Abstrak dan Kata Kunci Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan terutama diberikan kepada hasil penelitian. Panjang abstrak lebih kurang sama dengan panjang artikel hasil pemikiran dan juga dilengkapi dengan kata-kata kunci (3-5 buah). Kata-kata kunci menggambarkan ranah masalah yang diteliti. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variable-variabel penelitian dan hubungan antara variable-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari variabelvariabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel.

Contoh abstrak: Abstract: The aim of this study was to asses the readiness of elementary school teachers in mathematic teaching, from the point of view of the teacher mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematic which was devided in to two part, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtained scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The result of the study indicated that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty nine point five percent of the teachers got more than 65 arithmetic, and 69,5% gained scores of more than 65 scores in both geometry and arithmetics. Key words: mathematic teaching, teaching readiness, subject mastery.

Penulisan Karya Ilmiah

9-21

d. Pendahuluan Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk

pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalaha penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitan dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemecahan (fisik) dari satu subbagin ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan dengan penggantian paragraf.

e. Metode Bagian ini menguraikan bagaimana penelitian dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Subsubbagian di atas umumnya (atau sebaiknya) disampaikan dalam format esei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif, misalnya:

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan observasi partisipatori. Peneliti terjun langsung ke dalam keidupan masyarakat desa, ikut serta melakukan berbagai aktivitas sosial sambil mengumpulkan data yang dapat diamati langsung di lapangan atau yang diperoleh dari informan kunci. Pencatatan dilakukan tidak langsung tetapi ditunda sampai peneliti dapat ”mengasingkan diri” dari anggota masyarakat sasaran. Informasi yang diberikan dari informan kunci diuji dengan membandingkannya dengan pendapat nara sumber yang lain. Analisis dengan menggunakan pendekatan... Rancangan eksperimen pretest-posttest control group design digunakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian dipilih secara random dari seluruh siswa kelas 3 kemudian

9-22 Penulisan Karya Ilmiah

secara random pula ditempatkan ke dalam kelompok percobaan dan kelompok control. Data diambil dengan menggunakan tes yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh Lembaga Pengembangan Tes Nasional. Analisis data dilakukan dengan... f. Hasil Penelitian Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan. Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan

penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Grafik dan tabel harus dibahas dalam tubuh artikel tetapi tidak dengan cara pembahasan yang rinci satu per satu. Penyajian hasil yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian

Contoh: Jumlah tulisan dari tiga suku ranah utama yang dimuat di dalam berbagai jurnal, dalam kurun waktu satu sampai empat tahun dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Jumlah Tulisan dari Tiga Suku Ranah Pendidikan Sains yang Dimuat dalam Berbagai Jurnal antara Januari 1994-Juli 1997

Suku ranah Konsep Sci. Literacy Teori & Pengaj. Jumlah ranah Lain-lain 3 suku

1994 7 5 2

1995 7 3 12

1996 13 14 1

1997 6 6 5

Jumlah 32 28 20 80

46

Penulisan Karya Ilmiah

9-23

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa frekuensi pemunculan artikel dari tiga suku ranah tersebut di atas jauh melebihi suku-suku ranah yang lain, yaitu 80:46. hal ini menunjukan bahwa...dst.

g. Pembahasan Bagian ini merupakan bagian terpenting dari artikel hasil penelitian. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian dan menunjukan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, mengintepretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan memunculkan ”teori-teori” baru atau modifikasi teori yang telah ada.

Contoh: Dari temuan penelitian yang diuraikan dalam artikel ini dapat dilihat bahwa berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenakalan remaja yang selama ini diyakini kebenarannya menjadi goyah. Kebenaran dari berbagai hal tersebut ternyata tidak berlaku secara universal tetapi kondisional. Gejala-gejala kenakalan remaja tertentu hanya muncul apabila kondisi lingkungan sosial setempat mendukung akan terjadinya bentuk-bentuk kenalan terkait. Hal ini sesuai dengan teori selektive cases dari Lincoln (1987:13) yang menyatakan bahwa... h. Simpulan dan Saran Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokokpokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian. Saran dapat mengacu kepada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan.

9-24 Penulisan Karya Ilmiah

i. Daftar Rujukan Daftar rujukan ditulis dengan menggunakan pedoman umum yang juga berlaku bagi penulis artikel nonpenelitian.

3. Penutup Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

jurnal

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

Penulisan Karya Ilmiah

9-25

C. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. Alat tulis; b. Laptop c. LCD proyektor; d. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah.

2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode

2.

Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran; 2.2 Presensi peserta pelatihan, jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya, maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali; 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan; 5 menit Curah pendapat, ceramah pemecahan masalah

9-26 Penulisan Karya Ilmiah

2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan artikel ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian. 3. Kegiatan Inti 3.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian; 3.3 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan; 3.4 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual; 3.5 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 4. Kegiatan Akhir Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu, tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian; Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan 10 menit Refleksi 35 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan

Penulisan Karya Ilmiah

9-27

pengalaman setelah dilakukan sharing; Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan

3. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran; b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian;

D. RANGKUMAN Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan jurnal baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

9-28 Penulisan Karya Ilmiah

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

F. TES FORMATIF 1. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat

1.

Artikel dapat dikelompokkan menjadi a. artikel laporan dan artikel rujukan b. artikel konseptual dan artikel teoritis c. artikel hasil telaahan dan artikel teoritis d. artikel hasil laporan dan artikel hasil telaahan

2.

Dari sudut ide, salah satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas tinggi adalah a. kelayakan ide untuk dipublikasikan b. wacana tentang ide yang sedang berkembang c. kesiapan ide untuk didiskusikan d. persamaan persepsi para ahli di bidang yang sama

3.

Tulisan analisis konseptual terdiri dari a. judul, abstrak, data, pembahasan, dan referensi b. judul, abstrak, pendahuluan, diskusi, referensi c. judul pendahuluan, diskusi, kesimpulan referensi

Penulisan Karya Ilmiah

9-29

d. judul, pendahuluan, temuan, pembahasan, referensi 4. Dalam suatu artikel konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam peta pengetahuan dimuat pada bagian a. abstrak b. pendahuluan c. diskusi d. referensi 5. Referensi memuat semua rujukan yang a. pernah dibaca penulis b. perlu dibaca pembaca c. dimuat dalam badan tulisan d. diperlukan dalam pengembangan tulisan 6. Salah satu dari tiga pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini a. apa inti teori/konsep yang dibahas? b. mengapa konsep itu dibahas? c. Apa kesimpulan yang dapat ditarik? d. Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan? 7. Salah satu hal yang harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah a. menjelaskan partisipan b. menulis masalah yang sudah pernah dibahas c. memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel d. melaporkan korelasi yang dibahas dalam penelitian 8. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek a. panjang tulisan b. nada tulisan c. gaya tulisan

pendahuluan b. Tes Uraian 1.9-30 Penulisan Karya Ilmiah d. kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian a. Sebut dan jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian! 3. 8-10 kata b. Rekomendasi untuk judul adalah a. 10-12 kata c. Jelaskan mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel penelitian 2. bahasa tulisan 9. Carilah salah satu artikel hasil penelitian. metode c. hasil d. telaah unsur-unsur yang terdapat pada artikel itu! . 15-30 kata 10. Dalam suatu laporan atau artikel hasil penelitian. diskusi 2. 12-15 kata d.

KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar kedua telah disajikan bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah yang bersifat hasil pemikiran dan hasil penelitian. Oleh karena itu. indikator kegiatan belajar ketiga ini adalah: 1. Dengan demikian peserta PLPG diharapkan mempunyai keterampilan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang dapat dikirimkan kepada pengelola jurnal penelitian pendidikan (JIP). B. Bandingkan dua format petikan berikut: . Mengenai Format Tulisan Semua bagian artikel yang dibicarakan di atas ditulis dalam format esai. mengenal format penulisan esay. 2. Pada kegiatan belajar yang ketiga ini berisi mengenai latihan peserta PLPG dalam menulis karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian.BAB IV. membuat karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. Penggunaan format esai dalam penulisan artikel jurnal bertujuan untuk menjaga kelancaran pembacaan dan menjamin keutuhan ide yang ingin disampaikan. dan secara aktif berdialog dengan penulis. 3. mengenal format penulisan enumeratif. Pada kesempatan ini akan dicontohkan beberapa petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan. URAIAN MATERI 1. KEGIATAN BELAJAR III PRAKTIK PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH A. Dengan digunakannya format esai diharapkan pembaca memperoleh kesan seolah-olah berkomunikasi langsung.

teori kependidikan. dan (c) PDII-LIPI untuk wilayah Indonesia. (2)…. seperti (1)…. Berkas (file) pada naskah pada disket dibuat dengan program olah kata WordStar. WordPerfect atau MicroSoft Word. Petunjuk bagi Penulis Ilmu Pendidikan a. Jika format esai masih dapat digunakan “penandaan” sejumlah elemen dapat dilakukan dengan format esei bernomor. Untuk kawasan Asia Tenggara dilaporkan melalui Regional Center for South East Asia dan untuk wilayah Indonesia dilaporkan kepada PDII-LIPI. c. dan praktik kependidikan. Naskah diketik spasi ganda pada kertas kuarto sepanjang maksimal 20 halaman.. (3)…. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format . terutama apabila penggunaan format enumeratif tersebut benar-benar fungsional dan tidak tepat apabila diganti dengan format esei seperti dalam menyatakan urutan dan jadwal. dan diserahkan dalam bentuk cetakan (print out) komputer sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya. Format Esei Setiap record ISSN dilaporkan kepada internasional Serial Data System yang berkedudukan di Paris. Di dalam hal-hal tertentu format enumeratif boleh digunakan. b. 2.9-32 Penulisan Karya Ilmiah Format Enumeratif Sesuai dengan lingkup penyebaran jurnal yang bersangkutan maka record ISSN dilaporkan kepada pihak-pihak berikut: (a) International Serials Data System di Paris untuk jurnal internasional (b) Regional Center for South East Asia bagi wilayah Asia Tenggara. dan seterusnya. Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitiskritis setara dengan hasil penelitian di bidang filsafat kependidikan.

Teori. penutup atau kesimpulan. metode. . & Dickson. dan hasil penelitian. sedikit tinjauan pustaka. Rata dengan Tepi Kiri) Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. kata-kata kunci. RATA DENGAN TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. F. dan Praktik Kependidikan. metode. kesimpulan dan saran. Berkeley: McCutchan Publishing Co. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dicetak tebal atau tebal miring). f. 1997.. 1993. Daftar Rujukan disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat.Penulisan Karya Ilmiah 9-33 esai. C. Tahun 24. Sistematika artikel setara hasil penelitian: judul. dan tidak menggunakan angka/nomor bagian. kata-kata kunci. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. V. Juli 1997. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). hasil.E. Pandangan Aliran Humanistik tentang Filsafat Pendidikan Orang Dewasa. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang. masing-masing bagian. dan tujuan penelitian. e. Hanurawan. hlm. D. 127-137.W. nama penulis (tanpa gelar akademik). Vault. kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. abstrak (maksimum 100 kata). bahasan utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul). Rata dengan tepi Kiri) d. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan. nama penulis (tanpa gelar akademik). disertai judul (heading). Nomor 2.D. Miring. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency based Teacher Education. Anderson. abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan. pembahasan.

tabel. Pusat Penelitian IKIP MALANG. Laptop c. Malang. Alat tulis. 12 Juli.9-34 Penulisan Karya Ilmiah Huda. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di malang Angkataan XIV. dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. Penulis yang artikelnya dimuat wajib memberi kontribusi biaya cetak minimal sebesar Rp. Artikel berbahasa Indonesia mengikuti aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud. Tata cara penyajian kutipan. 200.000. penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan cetak lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar yang akan diberikan jika kontribusi biaya cetak telah dibayar lunas. 200). Kamera digital .00 (dua ratus ribu rupiah) perjudul. b. 1987). Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. i. d. rujukan. Artikel berbahasa Inggris menggunakan ragam baku. LCD proyektor. Tesis. Artikel dan Laporan Penelitian (Universitas Negeri Malang. Sebagai imbalannya. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah e. Artikel yang sudah dalam bentuk cetak-coba tidak dapat ditarik kembali oleh penulis. N. Makalah. g. 1991. Pemeriksaan dan penyuntingan cetak-coba dilakukan oleh penyunting dan/atau melibatkan penulis. Alat dan Bahan a. C. Disertasi. LEMBAR KEGIATAN 1. h.

2 Presensi peserta pelatihan. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya. 2.Penulisan Karya Ilmiah 9-35 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Kegiatan 1.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan Curah pendapat. Fasilitator memberikan 130 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan . Kegiatan Inti Fasilitator memberikan ceramah tentang format penulisan karya tulis ilmiah. ceramah pemecahan masalah 3. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. Langkah Kegiatan No. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode 2. 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali 5 menit pembelajaran. 2. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan.

4. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual. 4.9-36 Penulisan Karya Ilmiah ceramah tentang salah satu contoh petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan .1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. . Hasil a.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. Fasilitator memberikan tugas menyusun karya tulis ilmiah baik dalam bentu pemikiran maupun hasil penelitian. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. 4. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian. Kegiatan Akhir 4.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit Refleksi 3.

memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka. Artikel (hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa sub judul. Artikel (setara hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa subjudul) Subjudul Subjudul Subjudul Penutup (atau Kesimpulan dan Saran) Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja) sesuai dengan kebutuhan . RANGKUMAN 1. D. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian.Penulisan Karya Ilmiah 9-37 b. dan masalah/tujuan penelitian) Metode Hasil Pembahasan Kesimpulan dan Saran Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uaraian saja) 2.

Ruangan bebas. Tugas ini sifatnya individual. Fasilitator memberikan bimbingan dan pendampingan pada saat peserta PLPG menyusun karya tulis ilmiah. Tugas dapat ditulis menggunakan komputer atau tulis tangan. TES FORMATIF Peserta PLPG ditugasi menyusun karya tulis ilmiah dengan cara memilih salah satunya yaitu hasil pemikiran konseptual atau hasil penelitian.9-38 Penulisan Karya Ilmiah E. . tidak harus terkekang di dalam kelas.

d . b 2. c 5. c 5. b 7.Penulisan Karya Ilmiah 9-39 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Kegiatan Belajar 1 1. d 4. a 3. a Kegiatan Belajar 2 1. a 7. b 9. a 3. c 2. b 4. c 6. a 8. c 10. b 9. b 10. b 6. c 8.

DAFTAR PUSTAKA Ditbinlitabmas Ditjen Dikti Depdikbud. Saukah. 2001.G. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. G. LIPI. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. Ditbinlitabmas Dikti. A. . dan Kantor Menristek: Jakarta. 2008.K. 2000. Depdiknas: Jakarta. Sistematika Penulisan Laporan KTI Online. 2007. dan Waseso. Direktorat Profesi Pendidik. Teknik Menulis Karya Ilmiah.M.A. I. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press): Malang. Wardani. Ikapindo. Penerbit Universitas Terbuka: Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->