IV E

S NEGERI SE MA ITA RS

N RA

UN

G

UNNES

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008

BAHASA INDONESIA
(SMA)

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON XII UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2008

REKTOR NEGERISEMARANG UNIVERSITAS SAMBUTAN REKTOR

As s alamu' alailstm Warahmatutlahi Wab arakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur tidak putus selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dzat yang maha tinggi, atas rakhmat dan ilmuNya yang diturunkan kepada umat manusia. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2OO7, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan

pelaksanaan uji melalui portofolio.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan portofolio, bagi peserta yang belum dinyatakan lulus, LP|K Rayon merekomendasikan alternatif : (1) melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (2) mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru ( PLPG ) yang diakhiri dengan ujian. Penyelenggaraan PLPG telah distandardisasikan oleh Konsorsium Sertilikasi Guru ( KSG ) Jakarta dalam bentuk pedoman PLPG secara Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Panitia Sertifikasi Guru ( PSG ) Rayon 12 dalam rangka standardisasi penyelenggaraan PLPG mulai penyediaan tempat, ruang kelas, jumlah jam, sistem penilaian, kualitas instruktur dan ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar yang ada di tangan Saudara ini salah satu upaya PSG Rayon 12 dalam memenuhi

standard pelaksanaan PLPG secara nasional untuk itu saya menyambut dengan baik atas terbitnya Bahan Ajar PLPG ini. Sukses PLPG tidak hanya tergantung ketersediaan buku, kualitas instruktur, sarana prasarana yang disediakan namun lebih daripada itu dengan baik sejak adalah kesiapan peserta baik mental maupun fisik, untuk itu harapan saya para peserta PLPG telah menyiapkannya keberangkatannya dari rumah masing-masing. Pada kesempatan ini ijinkan saya, memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dosen/lnstruktur yang telah berkontribusi dan berusaha men)rusun buku ini, agar dapat membantu guru menempuh program PLPG dalam rangka sertihkasi guru. Buku ini menggunakan pilihan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan seksama. Akhirnya kepada khalayak pembaca saya ucapkan selamat menikmati buku ini, semoga dapat memperoleh manfaat yang sebanyakbanyaknya.

Rektor Universitas Negeri Semarang

Sudijono Sastroatmodjo

BUKU AJAR

PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU

PENDAHULUAN
Fakta tentang kualitas guru menunjukkan bahwa sedikitnya 50 persen guru di Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standardisasi pendidikan nasional (SPN). Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia belum memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar pada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SMP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan pada bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM guru kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia. Untuk itu, perlu dibangun landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal (Toharudin 2006:1). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Rektor UNJ sebagai berikut. "Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," (Sutjipto dalam Jurnalnet, 16/10/2005). Fakta lain yang diungkap oleh Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Djalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai nol untuk materi mata pelajaran yang sesungguhnya mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Fakta itu terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu. Secara nasional, penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak mencapai 50 persen dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi guru. Beliau juga mengatakan skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga memprihatinkan. Guru PPKN, sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sosiologi, geografi, dan pendidikan seni

1-2

Pengembangan Profesionalitas Guru

hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari 40 soal. "Artinya, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 46 untuk skor nilai tertinggi 100," (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006). Mengacu pada data kasar kondisi guru saat ini tentulah kita sangat prihatin dengan buruknya kompetensi guru itu. Padahal, memasuki tahun 2006 tuntutan minimal kepada siswa untuk memenuhi syarat kelulusan harus menguasai 42,5 persen. Untuk itu, layak kiranya pada tulisan ini dicari format bagaimanakah seharusnya mengembangkan guru yang profesional?

A. Guru sebagai Profesi Djojonegoro (1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesilaisasi, (2) kemampuan untuk

memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus) yang dimiliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills (1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan/jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Usman (1990:4) mengatakan bahwa guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu: (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-3

pekerjaan yang dilaksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki obyek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan siswanya, dan (8) diakui di masyarakat karena memang diperlukan jasanya di

masyarakat. Pengertian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur terpenting dalam sebuah profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus, untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme adalah guru yang kompeten (memiliki kemampuan) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesi keguruan.

B. Kompetensi Guru Sejalan dengan uraian pengertian kompetensi guru di atas, Sahertian (1990:4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan,

penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang calon guru agar menguasai kompetensi guru dengan mengikuti pendidikan khusus yang

diselenggarakan oleh LPTK. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut: (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan guru menguasai pengetahuan serta keterampilan/keahlian kependidikan dan

pengatahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang

1-4

Pengembangan Profesionalitas Guru

pelaksanaannya pengajar.

berhubungan

dengan

tugas-tugasnya

sebagai

Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru setelah program sarjana atau D4. Kompetensi pribadi meliputi: (1) pengembangan kepribadian, (2) berinteraksi dan berkomunikasi, (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, (4) melaksanakan administrasi sekolah, (5) melaksanakan tulisan sederhana untuk keperluan pengajaran.

1. Kompetensi Profesional Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter). Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b)

penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-5

membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman,

penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju. Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.

1-6

Pengembangan Profesionalitas Guru

Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut

perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas

seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat

penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat

meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan

3. Kompetensi Paedagogik Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat. Guru diharapkan memahami sifat-sifat. sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. ciri anak didik dan perkembangannya. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini. tahu ilmu . Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana. Yang perlu diperhatikan di sini adalah. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar. perkembangan fisik dan psikis anak didik. serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa. mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik. mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan. ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. tingkat pemikiran. meski guru sangat disiplin. Pertama.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-7 rumah. karakter. Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan.

Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan. maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. Kedua. diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif. guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya.1-8 Pengembangan Profesionalitas Guru psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran. Ketiga. Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran. (3) menyusun program pembelajaran. (2) menguasai bahan pembelajaran. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis. (4) melaksanakan program pembelajaran. Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata. maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut. Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata. .

(3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain. Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence). Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. 1995). Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik. 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika. musik. Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas. (2) memiliki toleransi pada orang lain. kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong. 1998). dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. atau pendekatan multidisiplin. alam. Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain. raga. lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman. dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. Uniknya lagi.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-9 4. sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial. pribadi. pendekatan komperehensif. bahasa. mungkin beberapa di antaranya menonjol. Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki. Hanya saja. 1994). ruang. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti .

Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu.com). (4) tanggung jawab sebagai warga. lembaga. dan memberi kepada orang lain. berempati.1-10 Pengembangan Profesionalitas Guru karier di masyarakat. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama. Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi.lifeskills4kids. atau perusahaan. yaitu: (1) kerja tim. misalnya. (12) solusi konflik. Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen. (14) kerja sama. Beberapa dimensi ini. (13) menerima perbedaan. (7) kedewasaan dalam bekreasi. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru. (9) berempati. Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik. menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan. ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial. (10) kepedulian kepada sesama. dan (15) komunikasi. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita. bergaul. yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. (11) toleransi. . dapat kita saring dari konsep life skills (www. bekerja sama. (5) kepemimpinan. (3) peran dalam kegiatan kelompok. baik finansial maupun non finansial. dan pengendalian diri yang menonjol. (2) melihat peluang. kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. (6) relawan sosial. (8) berbagi.

jauh dari cukup sehingga tidak sedikit guru yang mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mengandalkan penghasilan dan profesi guru. baik di dalam dan di luar sekolah dengan menggunakan bahan ajar. baik yang terdapat di dalam kurikulum nasional maupun kurikulum lokal. pemerintah telah memberikan perhatian khusus dengan merumuskan sebuah UndangUndang yang mengatur profesi guru dan dosen. serta tidak dapat dipisahkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. Ketiga komponen ini saling terkait dan saling mempengaruhi.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-11 C.2 juta orang. Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang ini (hingga disahkan pada 6 Desember 2005) tersirat keinginan Pemerintah untuk memperbaiki wajah suram nasib guru dari sisi kesejahteraan dan profesionalisme. . Guru. faktor gurulah yang dinilai sebagai satu faktor yang paling penting dan strategis. dan menjadikan profesi ini menjadi pilihan utama bagi generasi guru berikutnya (Situmorang dan Budyanto 2005:1). Sejak awal gagasan pembuatan RUU Guru dan Dosen dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk mengangkat martabat guru dalam memajukan pendidikan nasional. antara lain kesepahaman akan ukuran uji kompetensi guru. Memimpikan Guru yang Profesional Untuk memperbaiki kualitas pendidikan. peserta didik. dan kurikulum merupakan tiga komponen utama pendidikan. Dari ketiga komponen tersebut. dan hanya sebagian kecil guru dari sekolah negeri dan sekolah elit yang hidup berkecukupan. Sertifikasi kompetensi guru sebagai tindak lanjut dari UndangUndang ini menyisakan persoalan sebagaimana disampaikan Mendiknas pada media masa pada saat pengesahan Undang-Undang ini. karena di tangan para gurulah proses belajar dan mengajar dilaksanakan. Jumlah guru di Indonesia saat ini 2.

atau dia bekerja secara profesional. kebijakan dan program yang tepat. dan profesionalitas sebagai berikut ini Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Profesional menunjuk dua hal. yakni orangnya dan kinerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. dibentuk. seorang profesional muda. tanggung jawab. profesional. guru sebagai profesi yang amat mulia. Cooper. mengawali dengan satu pertanyaan menggelitik “what is teacher?”. Kemampuan profesionalisme yang handal tersebut tidak dibawa sejak lahir oleh calon guru. dan program pembinaan guru di masa lalu perlu dirumuskan kembali (Suparlan 2006:1). Profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat kinerja seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu. Demikian pula. Sebagai contoh. serta melakukan tulisan dan pengabdian kepada masyarakat. tetapi harus dibangun. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dipupuk dan dikembangkan melalui satu proses. strategi. James M. strategi. profesionalisme. kebijakan. . Misalnya.1-12 Pengembangan Profesionalitas Guru Untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif. Proses. guru harus memiliki kemampuan profesionalisme yang dapat dihandalkan. dalam tulisannya bertajuk “The teachers as a Decision Maker”. menilai hasil pembelajaran. Cooper menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan tetang guru dari aspek pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga profesional. Dedi Supriadi dalam bukunya yang bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan (secara amat jelas) tentang makna profesi. dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu.

Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik. yang dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun akan dapat dihasilkan keputusan yang baik’. dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. pemerintah sejak lama telah berupaya untuk merumuskan perangkat standar komptensi guru. 2004:2). memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan pekerjaan profesional tersebut. di samping melindungi kepentingan anggotanya. Guru merupakan tenaga profesional dalam bidang pendidikan dan pengajaran. sehingga yang dianggap bidang diperbolehkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. maka kaidah itu dapat . juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotannya menyelenggarakan layanan keahlian yang terbaik yang dapat diberikan (Suparlan. Ketiga. ‘berilah aku hakim dan jaksa yang baik. memiliki organisasi profesi yang. yakni (1) keahlian. insinyur. dan (3) keterampilan (Supriadi 1998:96). yang menyatakan bahwa. yang ditandai dengan adanya standar kompetensi tertentu. semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi. (2) komitmen. Dapat dianalogikan dengan pentingnya hakim dan UndangUndang. Westby-Gybson (1965). Pertama. Kedua. memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan kompetitiflah seleksi yang secara efektif.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-13 Sebagai tenaga profesional. bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik. adanya pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi tertentu yang berbeda dengan profesi lain. Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal. guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus. Kelima. Dalam dunia yang sedemikian maju. termasuk guru. seperti dokter. Soerjadi (2001:1-2) menyebutkan beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi. Keempat.

1-14 Pengembangan Profesionalitas Guru dianalogikan dengan pentingnya guru. yang terpenting adalah manusianya. aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum. Belajar dapat dilakukan di mana saja. Kelima. dan belajar dari pengalamannya. ‘man behind the gun’. bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal. bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. Untuk menggambarkan guru profesional. dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik’. Hal yang sama. guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Artinya. Kedua. yakni dengan ungkapan bijak ‘berilah aku guru yang baik. guru menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. Keempat. guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Sama dengan manusia dengan senjatanya. Apabila kelima hal tersebut dapat dimiliki oleh guru. tetapi guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh siapa atau alat apa . Ketiga. Supriadi mengutip laporan dari Jurnal Educational Leadership edisi Maret 1993. misalnya di PGRI dan organisasi profesi lainnya. Mendiknas memberikan penegasan bahwa “guru yang utama” (Republika 10 Februari 2003). Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Standar Pengembangan Karir Guru Mutu pendidikan amat ditentukan oleh kualitas gurunya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. Pertama. mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. maka guru tersebut dapat disebut sebagai tenaga dan pendidik yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya (Supriadi 2003:14). D. guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya.

karena indikasi adanya mutu profesionalisme guru masih rendah. mencerdaskan. yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-15 pun juga. melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembalajaran yang yang berkualitas. ada orang yang berpendapat bahwa antara gaji dan dedikasi tidak dapat dipisahkan. Ketidakmampuan LPTK ternyata memang di luar tanggung jawabnya. Jadi. Di samping itu. dan (3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Mas’ud 2003:194). Untuk membangun pendidikan yang bermutu. karena pada akhirnya menyangkut duit atau gaji dan penghargaan. gaji dan dedikasi terkait erat dengan faktor lain yang bernama kompetensi profesional. Ternyata. selain memang harus dipikirkan dengan sungguhsungguh upaya untuk meningkatkan gaji dan penghargaan kepada . Sebagai salah satu komponen utama pendidikan. Peningkatan mutu guru merupakan upaya yang amat kompleks. Terjadilah lingkaran setan yang sudah diketahui sebab akibatnya. karena melibatkan banyak komponen. (2) antusiasme. Pada akhirnya orang mudah menebak. Pekerjaan besar ini mulai dari proses yang menjadi tugas lembaga pendidikan prajabatan yang dikenal dengan LPTK. Namun. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu. LPTK mengalami kesulitan besar ketika dihadapkan kepada masalah kualitas calon mahasiswa kelas dua yang akan dididik menjadi guru. Gaji dan penghargaan guru belum dapat disejajarkan dengan profesi lain. Banyak orang menganggap bahwa gaji dan penghargaan terhadap guru menjadi penyebab atau causa prima-nya. mengasyikkan. Gaji akan mengikuti dedikasi. guru harus memiliki tiga kualifikasi dasar: (1) menguasai materi atau bahan ajar. yakni proses dan pembelajaran menyenangkan. karena masalah rendahnya mutu calon guru itu lebih disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi guru.

Pada saat itu Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis) Dikdasmen pernah mengeluarkan “buku saku berwarna biru” tentang “sepuluh kompetensi guru”. namun masih ada pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. skill. terkenal wacana akademis tentang apa yang disebut sebagai Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi atau Competency-based Training and Education (CBTE). Sementara itu. Bahkan mereka mendambakan adanya satu instrumen atau alat ukur yang akan mereka gunakan dalam melaksanakan skill audit dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi guru di daerah masing-masing. para penyelenggra pendidikan di kabupaten/kota telah menunggu kelahiran kompetensi guru itu. Dua dekade kemudian. Untuk menjelaskan pengertian tentang kompetensi itulah maka Gronzi (1997) dan Hager (1995) menjelaskan bahwa “An integrated view sees competence as a complex combination of knowledge. Apakah yang dimaksud kompetensi? Istilah kompetensi memang bukan barang baru. Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK. keterampilan. menjelaskan bahwa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. attitudes. Sejalan dengan definisi tersebut. Direktorat Tenaga Kependidikan (Dit Tendik). sikap. dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya. yakni meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru. Setelah sekitar dua tahun berjalan.1-16 Pengembangan Profesionalitas Guru guru. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan. keterampilan. tim itu telah dapat menghasilkan rendahnya kompetensi guru. and values displayed in the context of task performance”. . nama baru Dikgutentis telah membentuk satu tim Penyusun Kompetensi Guru yang beranggotakan para pakar pendidikan yang tergabung dalam Konsorsium Pendidikan untuk menghasilkan produk kompetensi guru. Pada tahun 70-an.

(7) penguasaan bahan kajian akademik. Standar kompetensi guru bertujuan ‘untuk memperoleh acuan baku dalam pengukuran kinerja guru untuk mendapatkan jaminan kualitas proses pembelajaran’ (SKG. peningkatan kualitas dan penjenjangan karir guru. (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar. ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi. kemandirian. Ketiga komponen masing-masing terdiri atas dua kemampuan. yaitu: (1) penyusunan rencana pembelajaran. (6) pemahaman wawasan kependidikan. (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. dan jenjang pendidikan’ (Direktorat Profesi Pendidik. dan (3) penguasaan akademik. PMPTK. Standar kompetensi guru terdiri atas tiga komponen yang saling mengait. standar kompetensi guru diartikan sebagai ‘satu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas. 2005). . (2) pengembangan profesi. Di samping itu. Ketiga standar kompetensi tersebut dijiwai oleh sikap dan kepribadian yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi. keterampilan.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-17 Berdasarkan pengertian tersebut. 2005). Standar Kompetensi Guru bermanfaat untuk: (1) menjadi tolok ukur semua pihak yang berkepentingan di bidang pendidikan dalam rangka pembinaan. Direktorat Tendik 2003:5). Oleh karena itu. dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan profesinya (Direktorat Profesi Pendidik. (3) penilaian prestasi belajar peserta didik. inovasi. kualifikasi. Standar kompetensi guru SKS memiliki tujuan dan manfaat ganda. (2) meningkatkan kinerja guru dalam bentuk kreativitas. Diten PMPTK. yakni (1) pengelolaan pembelajaran. (5) pengembangan profesi.

dan Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk pelbagai mata pelajaran dan bidang keahlian di beberapa daerah di Indonesia. Dengan kondisi seperti itu. pembinaan guru diatur secara terpusat oleh pemerintah. Kepala sekolah sering terpaksa menandatangani usul kenaikan pangkat guru hanya karena faktor ‘kasihan’. Kegiatan itu pada umumnya dirancang oleh direktorat-direktorat di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sekarang LPMP dan P4TK berada di bawah Ditjen PMPTK.1-18 Pengembangan Profesionalitas Guru E. dan bahkan menjadi tenaga struktural di dinas pendidikan. antara lain karena belum ada kejelasan tentang standar pengembangan karir mereka. yang sekarang menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi. Sedang sebagian besar lainnya mengalami nasib yang tidak menentu. Mengingat kondisi itulah maka pada tahun 1970-an dan 1980an telah didirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan yang bernama Balai Penataran Guru (BPG). Dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan tersebut berjalan dengan berbagai penyimpangan. Pelaksanaan kenaikan pangkat guru dengan sistem kredit pun sama. Pada tahun 1970-an kegiatan ‘up-grading’ guru mulai gencar dilaksanakan di BPG dan PPPG. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil) dan ketentuan lain tentang kenaikan pangkat dengan sistem kredit. ada sebagaian kecil guru yang karena kapasitas pribadinya atau karena faktor lainnya dapat berubah atau meningkat karirnya menjadi kepala desa. Pengembangan Karir Guru Pada era sentralisasi pendidikan. Region-region penataran telah dibentuk di berbagai kawasan di Indonesia. dengan melibatkan antara direktorat terkait dengan . anggota legeslatif. PGPS sering diplesetkan menjadi ‘pinter goblok penghasilan sama’ atau ‘pandai pandir penghasilan sama’.

(2) guru Inti. guru yang telah mengikuti klegiatan diklat TOT (training of trainer) di tingkat pusat atau nasional dan memperoleh predikat sebagai penatar di tingkat provinsi. Salah satu pola pembinaan guru melalui diklat ini adalah mengikuti pola Pembinaan kegiatan Guru (PKG). guru instruktur yang diberi tugas untuk mengelola Sanggar PKG. satu jenjang fungsional bagi guru yang telah menjabat sebagai kepala sekolah. guru yang telah ditatar di tingkat provinsi atau nasional dan memperoleh predikat yang sebagai penatar di tingkat kabupaten. yakni instruktur yang telah diangkat untuk menduduki jabatan sebagai kepala sekolah. atau baru sebatas ditatar di tingkat kecamatan atau sekolah. (6) Pengawas sekolah. yakni guru baru atau guru yang belum pernah mengikuti penataran. para guru memiliki wadah pembinaan profesional melalui orgabnisasi yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Selain itu. yakni tempat bertemunya para guru berdiskusi atau mengikuti penataran tingkat kabupaten atau sekolah. (3) instruktur. sementara para kepala sekolah aktif dalam kegiatan Latihan Kerja Kepala Sekolah (LKKS). dan sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagaian besar dilaksanakan di satu sanggar yang disebut sanggar PKG. Sebagian besar instruktur ini juga telah memperoleh pengalaman dalam mengikuti penataran di luar negeri. . yang sistem penyelenggaraan diklatnya dinilai melibatkan elemen pendidikan yang lebih luas. kecamatan. dan Latihan Kerja Pengawas Sekolah (LKPS) untuk pengawas sekolah. para guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) guru biasa. Melalui pola PKG ini. serta melibatkan juga peranan lembaga pendidikan sekolah sebagai on the job training yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan yang ada di regionnya masing-masing.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-19 lembaga diklat (preservice training) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai lembaga preservice training. (4) pengelola sanggar. (5) kepala sekolah.

oleh Depdiknas sekarang dikelola oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut dilaksanakan dengan melibatkan P4TK (PPPG).1-20 Pengembangan Profesionalitas Guru F. LPMP. PENUTUP Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. . Dinas Pendidikan. dan LPTK sebagai mitra kerja.

Studi Kebijakan Pengelolaan Guru Di Era Otonomi Daerah dalam Rangka Peningkatan mutu pendidikan. Jakarta:Paramadina dan Logos Wacana Ilmu. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Diffusion of Innovation. Paradigma Pendidikan Masa Depan. dalam Syarif Ikhwanudin dan Dodo Murtadhlo. Direktorat Ketenagaan. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Dirjen Dikti Dir PPTK Depdiknas. New York: The Free Press. 1995. 2006. Rich. Fathur dkk. Undang-Undang No. 2002. John Martin. Rokhman. Jakarta: Rineka Cipta. 2004. Inovation in Education: Reformers and Their Critics.DAFTAR PUSTAKA Chamidi. Jakarta: Genesindo. Yogyakarta: Bigraf Publishing. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar. “Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah”. Pusat Data dan Informasi Pendidikan. Safrudin Ismi. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan. Rogers. “Status dan Peran Guru. Jakarta: Grasindo. Jakarta: Depdiknas. 2002. Suryadi. Suparno. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Zamroni. Santoso S. Everett M. Balitbang Depdiknas. Jakarta: Grasindo. Hamijoyo. 2005. 2000. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI Program D-II PGSD. Ace dan Dasim Budimansyah. Gunawan. 2004. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. New York: Cross Cultural Approach. 2002. 2002. .1995. Undang-undan No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Penelitian Balitbang dan Lemlit UNNES. Ary H. Menuju Masyarakat Pembelajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Paul. 2004. Akibatnya pada Mutu Pendidikan”. Indra Djati Sidi. dalam Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua. 1992. Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Masa Depan.

BUKU AJAR MEMBACA PEMAHAMAN .

membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . E. Menurut Broughtton (dalam Tarigan 1990). Menjelaskan kiat membaca pemahaman. Membaca Telaah isi diklasifikasikan . membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). C. Berdasarkan cakupan bahan bacaan yang dibaca. membaca intensif dapat diklasifikasikan menjadi membaca telaah isi dan telaah bahasa. 2. Standar Kompetensi Menguasai konsep dasar membaca pemahaman. B. Kompetensi Dasar Memahami konsep dasar membaca pemahaman yang meliputi pengertian membaca pemahaman dan kiat membaca pemahaman. Pengertian Membaca Dalam kajian teori membaca.BAB I. KONSEP DASAR MEMBACA PEMAHAMAN A. Menjelaskan pengertian membaca pemahaman. Indikator 1. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading) (Harras dan Sulistianingsih 1998: 2. dan teknik membaca serta penerapan model. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. metode. metode. Deskripsi Penyajian model.13). dan teknik membaca sewaktu membaca intensif dan ekstensif. Uraian Materi 1. D.

yaitu ektensif dan intensif. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. Membaca telaah bahasa diklasifikasikan menjadi membaca bahasa asing dan sastra. dan dangkal. dan ide. dan memindai grafik. paragraf. sekilas. latihan terus-menerus). dan buku biografi. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. metode. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. memindai buku. artikel. dan meningkat (dari yang mudah ditingkatkan ke yang sulit). Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. Membaca ekstensif diklasifikasikan menjadi tiga. dan teknik yang sesuai dengan keperluan (Haryadi 2006:5). kritis. . Berdasarkan kurikulum 2006.2-2 Membaca Pemahaman   menjadi membaca teliti. variatif (berbagai ragam bacaan yang dibaca). pemahaman. Kiat Membaca Pemahaman Untuk dapat terampil membaca siswa harus berlatih membaca secara kontinyu (sering latihan. yaitu membaca survai. Disamping itu. 2. kritik teks sastra. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model.

MEMBACA EKSTENSIF A. C. Membaca Cepat Teks Bacaan Berdasarkan kompetensi dasar yang tercantum di standar isi pada kurikulum 2006. metode. Deskripsi Penyajian model. menerapkan kiat B. metode. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. siswa SMA kelas X dituntut untuk dapat .BAB II. 4. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. 5. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Uraian Materi 1. dan teknik membaca serta penerapan model. metode. E. 6. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. dan mampu menerapkan model. 2. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca ekstensif. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca ekstensif. Menerapkan model membaca sewaktu membaca ekstensif. Indikator 1. 3. metode. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. D. dan teknik membaca.

MMAB dapat dibagankan berikut ini. Untuk dapat memenuhi tuntutan itu. metode paragraf dan P2R. dan teknik skimming. Bagan 1 Model Membaca Atas Bawah . metode.2-4 Membaca Pemahaman   membaca cepat 250 kata/menit berbagai teks bacaan nonsasatra dengan berbagai teknik membaca untuk menemukan ide pokok. Model. MMAB berpandangan bahwa pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaan merupakan unsur sekunder. Siswa Kelas XI dituntut dapat membaca cepat 300 kata/menit menemukan pokok-pokok untuk isi teks. Karena kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan. metode. Model Membaca Atas Bawah Model membaca yang dapat digunakan adalah model membaca atas bawah (MMAB). teknik membaca yang dapat dipilih untuk membaca cepat teks nonsastra adalah model membaca atas bawah. siswa harus membaca dengan menggunakan kiat (model. Siswa kelas XII dituntut dapat membaca cepat 300-350 kata/menit untuk menemukan ide pokok. selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang telah dimilikinya. Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat symbol grafis seperlunya saja. dan teknik) membaca yang tepat dan benar. model membaca ini disebut model membaca atas bawah. a.

Lambang-lambang grafis pada dasarnya tidak punya makna apa-apa. Dengan menggunakan MMAB. Pembaca tidak memperoleh makna dari simbol-simbol grafis yang dibaca. kemudian pembaca memprediksi pemahaman . Dalam bahasa Yunani. Pembaca yang sudah terampil dalam membaca akan selalu melangkah langsung menghubungkan kata-kata yang dibaca ke makna tanpa melakukan identifikasi kata-kata yang dibaca secara cermat. Contohnya adalah jika pembaca melihat sebuah titik pada kertas. pembaca membuat prediksi (prakiraan) terhadap bacaan yang dibacanya. Dalam sandi morse. titik tersebut sebagai tanda atau lambing-lambang. 1. Tranformasi dalam bidang vokabuler (kosa kata) atau sintaksis yang tidak mengubah makna dipandang sebagai hal yang dapat diterima. titik itu diberi interpretasi sebagai lambang huruf. Jika titik tersebut berada di dalam peta. 3. 2.  Membaca Pemahaman 2-5 Proses membaca berdasarkan bagan 1 adalah berikut ini. Jika tidak diberi interpretasi. Pembaca hanya melihat beberapa bagian dari bacaan (kata kunci. Hal itu terjadi karena pembaca sudah mempunyai pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya. tetapi pembaca memberikan makna atas simbol-simbol grafis yang dibaca. bagian yang penting. Titik yang berada di akhir deretan kata-kata yang berbentuk klausa maka titik tersebut berarti atau bermakna sebuah tanda berhenti. dan atau kalimat pokok). Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya. titik tersebut tidak bermakna. dimaknai sebagai letak sebuah kota. Titik tersebut bermakna jika diberi tafsir pembaca. titik itu tidak punya makna apa-apa. Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak. Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan.

Keduanya saling berhubungan secara timbal balik. Secara umum. Metode Paragraf Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf. pembaca menggunakan strategi koreksi yang di dalamnya terjadi pemprosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. Otak menginterpretasikan apa yang diterimanya ke dalam bentuk pesan. berita. Jika prediksi kurang cermat. Jika prediksi kurang cermat. kebutuhan akan informasi visual semakin bertambah. walaupun hubungannya tidak dapat digunakan secara jelas atau tidak dapat dijelaskan secara kongkrit. dan atau informasi dengan memanfaatkan informasi visual. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca sewaktu membaca. pembaca memahami bacaan dan mengantisipasi yang 6paragrafap pada bagian bacaan selanjutnya ketepatan prakiraan dibuat dengan menggunakan stategi konfirmasi.2-6 Membaca Pemahaman   atau informasi secara menyeluruh yang terdapat pada bacaan. Informasi visual dan nonvisual dibutuhkan dalam kegiatan membaca. Informasi visual akan langsung hilang bersamaan dengan beralihnya pandangan mata ke bagian yang lainnya. b. hubungan keduanya dapat dikatakan bahwa semakin banyak informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca pada waktu membaca maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. Informasi yang dapat bertahan lama di dalam pikiran atau otak pembaca adalah informasi nonvisual. Tugas mata dalam MMAB hanyalah sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk cahaya dan mengubahnya menjadi 6paragraf syaraf merambat melalui jutaan serabut syaraf 6arag yang kemudian diteruskan ke otak pembaca. Dengan menggunakan syarat 6paragrafap dan sintaksis. Pembaca tidak lagi memfokuskan perhatian . pembaca menggunakan strategi konfirmasi. lisan. Sebaliknya.

Latihan metode paragraf dapat dibagi menjadi dua. dan tekun. Metode paragraf adalah metode yang paling tinggi tingkatannya dalam metode menengah. pembaca menemukan pikiran pokok paragraf atau informasi yang dicari ditengah paragraf. Untuk itu. Misalnya. pembaca dituntut dapat merangkaikan ide-ide pokok yang dikandung oleh tiap-tiap paragraf membentuk satu topik bacaan. konseptual. dalam penguasaannya perlu latihan secara kontinyu. jika ada tujuan tertentu yang berkaitan dengan pemahaman. Boleh saja mata menghentikan kerjanya sebelum akhir paragraf. . Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa sebuah paragraf merupakan satuan bacaan yang mengandung ide pokok yang ingin disampaikan oleh penulis.  Membaca Pemahaman 2-7 pada kalimat demi kalimat. Mata menghentikan geraknya pada setiap akhir paragraf. pembaca didorong untuk menghentikan ayunan matanya pada akhir paragraf dan memahami ide-ide atau yang dibaca. berkesinambungan. tetapi memusatkan perhatian atas jalinan kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf. yaitu mekanik dan menjadi jalinan yang utuh yang (1) Metode Paragraf secara Mekanik Pada latihan ini. Latihan metode paragraf secara mekanik dapat dilatihkan dengan bacaan berikut ini. Dalam metode ini. Di pikiran-pikiran pokok yang ada dalam paragraf samping itu. Dalam prakteknya dibutuhkan keterampilan-keterampilan atau kemahirankemahiran yang telah dikuasai dalam metode sebelumnya. pembaca dilatih untuk dapat menggerakkan matanya secara tepat dan cepat dalam menatap unsur-unsur yang ada pada paragraf. Membaca paragraf merupakan membaca yang paling kompleks dan rumit.

Molekul-molekul klorofil hijau (sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis) melekat pada tilakoid dengan membentuk jalur-jalur yang teratur. PS II dari molelul klorofil menjeratnya. Kloroplas ini seperti sebuah kantung kecil yang berisi kantung-kantung pipih lebih kecil yang disebut tilakoid. sebenarnya hati yang menyejukkan gelombang mata yang dan tidak meneduhkan merupakan dibutuhkan tumbuhan dalam proses pembuatan makanan.Ternyata. hanya cahaya hijau yang tidak digunakan atau diserap. Begitu pula dengan rumput. Bagian-bagian renik inilah yang disebut fotosistem. tetapi sebagian besar tembus pandang dan dipenuhi kira-kira 50 – 100 kloroplas. Jadi. Akan terlihat. yakni fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II). Gelombang cahaya yang ditangkal rumput atau daun tadi justru sangat berharga bagi manusia. mari kita ambil selembar rumput atau daun apa pun dan potongan kecilnya diperiksa di bawah mikroskop. tetapi dipantulkan ke mata kita. Untuk menjelaskannya. Ketika cahaya matahari menerpa permukaan tilakoid. (Intisari Juli 2000:101). Cahaya merah diserapnya. . daun itu tidak berwarna hijau.2-8 Membaca Pemahaman   Bacaan 1 Rumput Menolak Gelombang Hijau Kita tentu senang melihat tanaman di sekitar kita dalam keadaan segar dan telihat hijau. warna hijau yang kita tangkap lewat mata sebenarnya gelombang cahaya yang ditolak tanaman itu. PS I mencari cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan klorofil menyerap cahaya tumbuhan. Ada dua jenis fotosistem. Mereka merupakan tim dalam proses fotosintesis.

Kalimat sebagai pemuas. Setiap kalimat yang membentuk sebuah paragraf mempunyai peran paragraf. 2. 3. Kemahiran membaca dan pengetahuan tentang paragraf diperlukan pada latihan ini. Kalimat sebagai kalimat penjelas. Lakukanlah latihan tersebut selama 2 atau 3 kali. 3. 1. Gerakan mata dari kalimat satu ke kalimat yang lain menggunakan kecepatan baca yang tidak sama. 5. Jika ada tujuan tertentu. Peran paragraf yang diemban oleh kalimat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut ini. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki pembaca adalah struktur paragraf (Harjasujana dan Mulyati 1997:186). 6. 4. yaitu kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama.  Membaca Pemahaman 2-9 Alternatif cara membaca bacaan di atas adalah berikut ini. Anda biasa saja berhenti sejenak pada akhir sebuah kalimat yang terletak di awal atau ditengah paragraf. Berlatihlah terus-menerus pada hari-hari berikutnya. 2. Gerakkanlah mata Anda mulai dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir pada tiap-tiap paragraf. Tataplah satu halaman penuh dari atas sampai bawah atau dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. Kalimat sebagai kalimat topik atau kalimat utama. Kalimat . 1. Kalimat yang penting (kalimat utama) bisa dibaca lebih lambat paragraf kalimat penjelas. (2) Metode Paragraf secara Konseptual Pada latihan ini pembaca dilatih untuk dapat memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang terdapat dalam sebuah bacaan. Hal tersebut bergantung pada isi masing-masing kalimat.

Ini bisa menghasilkan buah lagi. Di tempat pengemasan. Bacaan 2 Bisnis Duku. Tujuannya. Bacaan berikut ini dapat digunakan sebagai latihan metode paragraf secara konseptual. Hasilnya turun! Karena itu. bisa dikurangi. Penulis mencantumkan hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan. Bisnis Kilat Para pedagang biasanya memborong buah duku dari petani pekebun ketika buah sudah matang komersial. agar buah bisa lebih tahan lama kalau dikirim ke tempat jauh. Dengan memotong tandan buah dari tangga. Buah dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan buahnya dengan gunting pemangkas kebun. Tandanya kulit buah sudah kuning keabu-abuan.2-10 Membaca Pemahaman   pemuas tidak bermanfaat bagi pembaca. Cara ini kadang banyak melukai batang tempat menempelnya tangkai tandan buah. butiran buah dilepas sebutir demi sebutir dari tandanya. Biasanya 4 – 5 kali panen sebelum semua buah dari satu pohon habis dipetik. Buah yang masih basah akan mudah berjamur. Pakai tangga. ketika buah sudah tidak basah lagi oleh embun pagi. Itu pun masih harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dijajakan. sehingga perbungaan berikutnya tidak normal lagi. Memetiknya harus dalam cuaca kering. meskipun dikemas dalam peti kayu beralas 10arag (bekas) yang sudah kering. kemungkinan merusak kuncup bunga yang masing menunggu giliran tumbuh. karena banyak yang rusak. dan dipilih yang bobotnya 20 – 40 g . beberapa pedagang langganan petani pekebun kemudian memakai cara lain.

Semuanya selesai dalam waktu tiga hari. buah sudah bertotol-totol hitam. sudah dijual lagi ke para pengecer yang memasarkannya ke konsumen esok harinya. mereka segera mengemasnya. Itu sebabnya. 1. 2. Malam harinya. Malam itu juga “peti kemas” diangkut dengan truk yang berjalan malam. Kalau teralmbat sampai tidak terjual dalam waktu yang singkat itu.  Membaca Pemahaman 2-11 sebutir saja yang akan dijual. Tahap-tahap alternatif yang dapat digunakan untuk membaca bacaan tersebut adalah sebagai berikut ini. duku sudah dibongkar di pasar induk Kramatjati Jakarta untuk dijual kepada para agen. Biasanya terpaksa diobral. meskipun cepat. dan peti juga dengan kasar dilempar-lempar ke atas truk. dari daerah 11paragrafaph ke Jakarta lewat Trans Sumatra Highway. (Intisari Juli 2000:87). para pedagang duku harus bekerja cermat. meskipun rasa buahnya masih tetap manis. kulit buah duku cepat ber-totoltotol coklat. Tataplah satu halaman penuh dari sebuah bacaan dari atas sampai bawah. Buah pilihan ini dikemas dalam peti kayu yang diberi ventilasi pada semua sisinya. Dalam 18 jam. Penampilannya menyebalkan. Peti dilapisi 11arag bekas atau daun pisang kering yang tebal sebagai peredam benturan. Kalau terbentur-bentur karena peradam dalam pengemasannya kurang tebal. Mulailah memahami paragraf pertama dengan cara membaca kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Begitu selesai memborong buah di pohon. . Begitu juga kalau buah sudah keburu dikemas ketika masih agak basah.

relevansi. Pada tahap ini. Metode P2R Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview. Pahamilah masing-masing kalimat dalam paragraf itu secara tidak sama. pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran. c. pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca. Berlatihlah terus-menerus di hari-hari berikutnya dengan bacaan yang lainnya. Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan. 4. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien (Gordon 2006 : 79). read. Setelah itu. Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. Jika belum tahu. bisa memfokuskan pemahaman terhadap sebuah paragraf. 7. Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah berikut ini. Lakukanlah memahami paragraf berikutnya seperti tahap nomor 2 dengan memperhatikan tahap nomor 3 dan 4. pokok-pokok pikiran. Jika ada tujuan tertentu. dan sebagainya. Informasi bersifat pokok atau inti dan bisa juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. pembaca bisa hanya .2-12 Membaca Pemahaman   3. Jika memang sudah tahu tentang bacaan. Pemahaman atas kalimat utama lebih dipentingkan dari pada pemahaman kalimat penjelas. 2. 1. 6. pembaca melanjutkan tahap berikutnya. pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau tidak. Jika hanya ingin mengetahui informasi yang pokok. 5. Lakukanlah latihan ini selama 2 atau 3 kali.

Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat. pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. pembaca tidak melakukan read. Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. Bacaan yang bersifat ilmiah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat paragraf. ketiga tahap itu digunakan secara tertib. . Pada saat lain. Jika memang diperlukan. Ketiga tahap dalam metode ini tidak harus digunakan semua secara tertib. Walaupun membaca teliti. pembaca membaca dengan teliti.  Membaca Pemahaman 2-13 membaca secara sepintas (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. jika preview untuk mengenal bacaan. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehigga tidak perlu dibaca. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan. Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa yakin tidak ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya semester 1. diusahakan membaca secepat mungkin. sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan. pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca telah mengenal struktur materi bacaan. sebaliknya bacaan yang belum dikenal dibaca secara pelan. Bisa saja. Pada tahap ini. Hal tersebut bergantung pada situasinya. Yang berbeda adalah tujuannya. 3.

Ia diharapkan butuh waktu beberapa detik atau menit untuk menskim. Hal yang dicari adalah hal-hal yang pokok atau penting. tinggi. Kecepatan . Kepala susu merupakan bagian yang mengental yang berada di atas setelah semangkok susu yang dipanaskan didinginkan. tetapi dapat juga terdapat ditengah. Dalam menskim tidak hanya menjelajahi halaman demi halaman secara cepat. sedang atau rendah. Teknik Skimming Skimming berasal dari bahasa Inggris to skim yang berarti mengambil kepala susu atau krim dengan sendok atau menyendok kepala susu. cepat. atau diawal dan diakhir. sedang atau pelan. Untuk mencari ide-ide pokok pembaca tidak diperbolehkan membuang-buang waktu. yaitu ide-ide pokok. Kepala susu adalah intisari atau bagian yang banyak mengandung gizi. yaitu bahwa skimming merupakan teknik membaca efisien. Berdasarkan uraian tersebut. dan selintas (Widyamartaya. diakhir. Hal itu relefan dengan pendapat Soedarso (2004:88). Gelombang bisa sangat cepat. Istilah lain dari skimming adalah baca layap (Harjasujana dan Mulyati 1997:64). Gelombang mempunyai kecepatan dan bentuk tertentu. Gelombang ada yang tinggi sekali. Skimming dalam bidang membaca merupakan sebuah istilah salah satu teknik membaca ekstensif. Gelombang air laut bergerak menyapu setiap bagian laut dan pantai yang dilaluinya.2-14 Membaca Pemahaman   d. tetapi juga ada yang dicari. Gerak mata pada membaca dengan teknik skimming bisa diibaratkan gelombang air laut. Ide pokok tidak selalu diawal paragraf. sekilas (Tarigan 1994:30). skimming merupakan teknik membaca yang dilaksanakan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien. 2004:44). Gerak mata dalam membaca dengan teknik skimming mempunyai gerak mata yang cepat dan bentuk yang tinggi. Kecepatan gelombang bergantung dari daya dorong paragraf daya dorong dari dalam laut. Gelombang mempunyai bentuk berdasarkan kecepatan gelombang dan hambatan yang dilaluinya.

Awal mula mata dipersiapkan bergerak secara cepat untuk membaca bagian demi bagian dalam bacaan. dan memperlambat (bahkan boleh berhenti) pada beberapa fakta yang penting yang menunjang ide pokok. Pertamatama mata bergerak pada baris-baris yang mengandung ide pokok dari sebuah paragraf. misalnya ditulis miring. dicetak tebal. kemudian melompat (skipping). Ilustrasi dari gerak mata dalam membaca teknik skimming pada pembaca yang masih taraf pemula adalah sebagai berikut. Contoh gerak mata dalam teknik skimming adalah sebagai berikut: . Kemudian mata bergerak pada kecepatan yang tinggi lagi. Pada saat mata melihat bagian yang penting gerak mata diperlambat untuk memahami bagian penting tersebut. Pembaca dapat mengenal detail penting bacaan berdasarkan tipografi atau tanda-tanda tertentu dalam bacaan.  Membaca Pemahaman 2-15 dan bentuk ayunan mata dalam setiap bagian yang dibaca tidaklah sama bergantung penting tidaknya bagian yang dibaca dan tujuan dalam membaca. dan ditulis dalam kotak.

2-16 Membaca Pemahaman   Bacaan 3 Latihan Teknik Skimming .

Apabila ada buku yang cocok. Yang dapat diterapkan adalah mengenal bacaan. Widyamartaya 2004: 44. Dengan men-skim buku tersebut.  Membaca Pemahaman 2-17 1) Tujuan Membaca Skimming Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan. opini. pembaca tahu judul-judul buku apa saja yang tersedia di toko buku tersebut. dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati 1997: 64-65. yaitu mengenal paragraf bacaan. judul-judul bab. penyegaran. Misalnya pembaca datang ke toko buku untuk mengetahui buku-buku membaca apa yang terdapat pada toko buku tersebut. Soedarsono 2004: 88-89. Yang dimaksud topik bacaan adalah judul buku atau artikel. dan judul subbab. Pembaca melihat secara sekilas judul-judul buku membaca yang terdapat rak khusus buku-buku membaca. ia bisa saja mengambil buku tersebut untuk membaca sekilas daftar isi buku . mengetahui opini. bagian penting organisasi bacaan. dan mengetahui bagian penting. dan Tarigan 1994: 32).

Opini berarti pendapat. kemudian melihat daftar isi untuk menentukan apakah buku tersebut mengandung pembahasan tentang hal-hal yang dibutuhkan. . ia mencari atau meminjam buku tersebut. Kadang kala pada sebuah surat kabar memuat artikel yang justru kehadiran opini diwajibkan karena tanpa opini artikel tersebut kurang bermutu sehingga orang yang ingin mengirim artikel untuk kolom itu diharuskan menampilkan opini-opini. Sewaktu men-skim daftar isi dan tidak menemukan hal-hal yang dicari. Ia cukup mencari judul artikel yang ada dalam surat kabar yang dibaca secara sekilas tentang gempa yang melanda Yogya. Teknik baca layap juga dapat digunakan untuk melihat paragraftopik artikel yang ada pada majalah atau surat kabar. informasi gempa bumi yang terjadi di Yogya. Misalnya. Bacaan ilmiah biasanya tidak mengandung opini. tetapi tidak secara eksplisit tercantum dalam daftar isi. pembaca bisa saja men-skim semua halaman yang ada pada buku untuk meyakinkan bahwa yang dicari memang betul-betul tidak ada karena ada kemungkinan informasi yang dicari ada di dalam buku. tetapi bacaan yang bersifat paragraf umumnya ada opininya. Apabila ya. Pada sebuah bacaan opini belum tentu ada. Skimming dapat diterapkan sewaktu pembaca mencari bahan di perpustakaan. Opini digunakan untuk menggugah pikiran pembaca untuk berfikir kritis sehingga pembaca diharapkan dapat paragraf umpan baliknya yang berupa tanggapan. Pembaca dapat membaca layap surat kabar yang dibaca untuk mencari informasi yang diinginkan.2-18 Membaca Pemahaman   itu guna mengetahui apakah ada judul bab atau subbab yang diinginkannya. Ia membaca sekilas kartu pparagrafa atau daftar pparagrafa yang ada di pparagrafap mengenai judul buku yang tersedia di perpustakaan tersebut. Jika ada buku-buku yang dibutuhkan. pikiran atau pendirian. bukalah halaman yang mungkin mengandung informasi yang dibutuhkan secara cepat.

Semua pendapat yang akan diuraikan berikutnya ditulis pada paragraf awal. Paragraf awal sebuah bacaan umumnya mengandung pokokpokok pikiran yang diuraikan pada paragraf berikutnya (paragraf isi). Artikel yang seperti itu merupakan bacaan yang bersifat deduktif. Pembaca cukup membaca dengan sekilas dari atas sampai bawah untuk menemukan informasi tertentu yang dicari. tempat peristiwa. Untuk mengetahui bagian penting dari sebuah bacaan. Setelah mengetahui paragraf-topik bacaan.  Membaca Pemahaman 2-19 Artikel semacam ini diminati pembaca yang ingin mencari hal-hal yang bersifat sensasi. Bacaan tersebut dinamakan bacaan yang bersifat deduktif – induktif. Penulis boleh saja menampilkan ringkasan pendapatnya pada akhir bacaan. pembaca bisa juga menemukan opini pada awal dan akhir bacaan karena penulis artikel menampilkan opini pada awal bacaan dan diulang diakhir bacaan dalam bentuk simpulan. . Informasi yang dicari misalnya adalah nama peristiwa. Bacaan yang demikian merupakan bacaan yang bersifat induktif. Jika ingin mengetahui bagian penting. Pendapat yang diungkapkan pada akhir bacaan biasanya berupa simpulan. pembaca tidak perlu membaca keseluruhan bacaan. nama tokoh. Disamping kedua cara tersebut. Cara yang efektif dan efisien untuk mendapatkannya adalah cukup dengan membaca paragraf awal dan akhir. pembaca hanya melihat secara skimming seluruh bacaan dengan menangkap ide-ide pokok. jumlah korban. biasanya pembaca melanjutkan membaca untuk mengetahui pendapat penulis terhadap permasalahan yang dibahas. Tarigan (1990 : 33) paragraf petunjuk sebagai berikut. Tentukan dengan jelas informasi atau fakta yang akan dicari atau buatlah pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi yang ada dalam bacaan. 1. Dalam rangka menemukan informasi yang penting dari sebuah bacaan.

Jika tidak ada. Pembaca yang menggunakan teknik ini berarti melakukan ayunan mata dari bagian bacaan yang penting ke bagian bacaan yang lain. misalnya dalam pertandingan sepak bola kata kunci tersebut adalah menang. dan previewing. . Skipping diartikan sebagai teknik baca lompat. Kemungkinan lain dalam membaca dengan skipping adalah pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat pertama pada paragraf berikutnya. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja. Apabila pembaca mencari informasi dalam sebuah buku. seri atau kalah. pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat terakhir. 4. Jika pada sebuah paragraf hal yang penting terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. dari kalimat awal ke kalimat tengah pada sebuah halaman. Maksudnya adalah membaca melompatlompat dari bagian yang penting. pokok. 3. Hal tersebut bergantung pada letak atau jarak bagian yang penting dengan bagian penting lainnya.2-20 Membaca Pemahaman   2. Siapkan kata kunci yang tepat untuk menunjuk informasi yang dibutuhkan. locating. dari kalimat akhir ke kalimat akhir pada paragraf berikutnya. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. carilah di bawah subjek yang lebih luas. Ayunan mata tidak memakai irama yang sama. Lihatlah setiap halaman dengan cepat hanya untuk tujuan mencari kata kunci atau informasi yang diinginkan. sampling. sebaiknya pembaca melihat apakah kata kunci tersebut tercantum dalam indeks. yang dicari atau dibutuhkan ke begian yang penting berikutnya. Bagian bacaan yang tidak penting dilompati atau tidak dihiraukan. 2) Jenis Teknik Skimming Jenis teknik membaca yang termasuk dalam teknik skimming adalah skipping.

Untuk itu. Maksudnya adalah mata pembaca bergerak secara paragraf. Sampling merupakan teknik membaca bagian tertentu bacaan dengan cepat supaya mendapat gambaran umum dari bacaan yang dibaca. dilaksakan dengan sekilas. 3. informasi pokok belum tentu berada di setiap paragraf. Dalam pengembangan penggunaan teknik ini. Dengan teknik ini. dari kalimat awal ke kalimat awal pada halaman berikutnya. Bagian-bagian bacaan yang dianggap dapat mewakili bacaan. Pembaca memusatkan pandangan matanya di bagian tengah bacaan dan . dalam menerapkan teknik sampling pembaca diberikan keleluasaan untuk membaca bagian-bagian tertentu dari bacaan dengan syarat: 1. Oleh karena itu. dan seterusnya. yaitu kalimat inti atau kalimat utama. keempat. Informasi kunci belum tentu terdapat pada kalimat pertama. Adakalanya sebuah paragraf tidak mengandung informasi kunci. Locating merupakan teknik membaca paragraf. tetapi bisa-bisa saja terdapat pada kalimat kedua. pembaca tidak hanya terpaku pada kalimat pertama dari setiap paragraf. dan seterusnya. pembaca memperoleh gambaran umum dari bacaan yang dibaca. penggunaan teknik ini dipusatkan pada membaca kalimat pertama setiap paragraf. Kalimat utama umumnya mengandung informasi kunci yang biasanya terletak pada kalimat pertama dari sebuah paragraf. bagian-bagian yang dibaca mengandung informasi kunci atau pokok. ketiga. 2. yaitu pandangan mata bergerak dari bagian atas ke bawah secara cepat.  Membaca Pemahaman 2-21 dari kalimat awal ke kalimat akhir pada sebuah halaman. Disamping itu. Prinsip yang dianut teknik ini adalah membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah bacaan yang dianggap dapat mewakili keseluruhan bacaan. pembaca akan mendapatkan gambaran umum sebuah bacaan dengan cepat.

pembaca akan banyak menghabiskan banyak waktu dalam membaca kerena pembaca harus melewati baris-baris yang telah dibaca. pembaca juga memiliki daya melihat sekeliling. Kenyataan yang mempersulit penggunaan teknik locating adalah membaca sepintas hanya akan berkerja optimal apabila pembaca telah menenemukan kata atau frase kunci. Mata pembaca diharuskan bergerak secara diagonal kembali ke kiri untuk membaca garis berikutnya sehingga mata bergerak dengan pola zig-zag. otak pembaca bisa melihatnya dengan jelas sehingga bisa menuntun mata pembaca secara tepat ke awal baris berikutnya. Dengan kedua kemampuan itu. awal paragraf dibuat untuk membantu menarik perhatian otak dan mata supaya dapat mengenali perbedaan dalam pergatian bagian. Kemampuan peripheral vision dapat juga digunakan oleh pembaca pada tiap sampai ujung kalimat yang dengan cepat kembali ke bagian awal baris berikutnya. . kepala kalimat. kata yang dimulai dengan huruf paragraf. Penggunaan teknik locating tidaklah mudah karena materi bacaan tidak ditulis secara paragraf. Pembaca melihat sisi kanan halaman dan tidak dapat melihat secara jelas yang ada pada sebelah kiri halaman. Pandangan mata akan tertuju pada informasi tersebut karena selain bidang pandangan paragraf dekat (eye span). pembaca dapat menggerakkan matanya dari bagian tengah atas ke bagian tengah bawah secara cepat. Walaupun demikian. tetapi secara paragraf dari kiri ke kanan. kata yang di cetak tebal atau miring.2-22 Membaca Pemahaman   bagian kanan dan kiri tetap dalam jangkauan pandangan mata. juga mempunyai kemampuan pandang sekeliling atau daya melihat sekeliling (peripheral vision). Hal ini terjadi karena pembaca selain mempunyai kemampuan pandang paragraf dekat yang disebut rentang pandang mata (eye span). Seandainya hal tersebut tidak bisa dilakukan. Dalam tipografi.

Kalau hal tersebut dilakukan dapat menghemat waktu yang banyak. Pola Membaca Cepat Pola membaca yang digunakan dalam teknik lanjutan adalah pola paragraph diagonal. Pola yang dapat diterapkan adalah blok dan horizontal. Pengunaan teknik ini adalah pembaca membaca kalimat pertama pada setiap paragraf dan pembaca menggunakan kemampuan daya melihat sekeliling pada kalimat-kalimat yang lain dari setiap paragrafnya. disamping menemukan ide pokok. . pembaca dapat memperoleh hal-hal yang diinginkan lainnya.  Membaca Pemahaman 2-23 Previewing merupakan gabungan dari teknik sampling dan locating. dan paragrafaph (Harjasujana dan Mulyati 1997:168-169). blok. Blok ini bentuknya adalah paragraf. Jadi. zig-zag. Teknik juga dapat digunakan untuk menangkap garis besar materi bacaan sebelum pembaca menolak untuk membacanya. Teknik ini menggunakan teknik sampling dari sisi pemusatan perhatian pada kalimat pertama setiap paragraf dan memanfaatkan teknik locating dari sisi daya melihat sekeliling. Gambar membaca dengan pola Blok adalah berikut ini. Pola blok merupakan pola membaca dengan cara mata berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. Dengan membaca bagian awal dan atau akhir sebuah paragraf dengan tepat. Atau dengan kata lain. pembaca memperoleh hal yang primer dan yang sekunder. spiral. pembaca akan dapat menerka isi 23paragrafaph tersebut. Pembaca mendapatkan ide-ide pokok atau informasi inti dan sekaligus bisa menemukan hal-hal yang diperlukan untuk mendukung ide pokok. Penggabungan kedua teknik tersebut digunakan untuk menerima atau mengenali pokokpokok pikiran yang penting dengan cepat.

Yang dapat dilakukan oleh siswa SMA untuk mencapai tujuan itu adalah membaca dengan model membaca model . kecepatannya harus cepat kilat karena pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. Membaca Memindai Buku Dalam standas isi pada kurikulum 2006.2-24 Membaca Pemahaman   Gambar 1 Pola Blok Pola horizontal merupakan pola membaca dengan cara mata meluncur dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Pola membaca horizontal dapat digambar sebagai berikut: Gambar 2 Pola Horisontal 2. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. siswa kelas X dituntut untuk dapat membaca berbagai ragam wacana untuk merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai.

MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan. dan leksikon bekerja secara serempak untuk memahami (mentransfer) informasi yang disampaikan penulis. metode SQ3R. Oleh karena itu. Membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-berlanjut. paragraf. melainkan proses paragraf balik yang bersifat simultan. mudah atau tidak pokok dan ada bagian yang belum dikenal. Ada bagian bacaan yang sudah sesuai dengan pengetahuan pembaca dan ada yang belum sesuai dengan pengetahuan sehingga pembaca tidak bisa menerapkan MMBA atau MMAB saja. Jika dibagankan. teknik scanning. dan pola blok (lihat 2. Sistem atau cara kerja membaca seperti itu dinamakan MMTB. sulit atau pokok. Pembaca menggunanakan MMBA dan MMAB secara bergantian. proses MMTB dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. a. yaitu mulai dengan paragraf atau makna. Model Membaca Timbal Balik Sebuah bacaan kadangkala ada bagian yang sudah dikenal. ortografis. Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca yang meliputi sintaksis. Pada peringkat ini bank data bekerja secara simultan. Disamping itu.4) dan vertical. Pengetahuan pembaca pada setiap bagian bacaan juga kadangkala berbeda. Penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis (informasi visual) dan informasi nonvisual (informasi yang sudah dimiliki oleh pembaca). tetapi mengkombinasikan kedua model tersebut dalam proses membaca. . pembaca tidak bisa menerapkan salah satu model membaca yang sudah ada. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan.1. pembaca dituntun tidak hanya memakai salah satu model membaca tersebut.  Membaca Pemahaman 2-25 atas bawah (lihat hal 4) atau model membaca timbal balik. Untuk itu. MMTB adalah berikut ini. yaitu MMBA atau MMAB.

question. penerbit. dan tahun terbit. dan ulang. paragraf. dan cara membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah buku.2-26 Membaca Pemahaman   Bagan 2 Model Membaca Timbal Balik Metode yang dapat diterapka untuk membaca buku untuk merangkum isi buku dalam beberapa kalimat adalah metode PQ3R. Pada halaman judul yang disurvai adalah judul buku. daftar gambar. daftar paragraf. pengarang. yaitu survai. Bagian awal (preliminaries) yang disurvai meliputi halaman judul. Metode SQ3R Metode SQ3R merupakan metode membaca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap. mengkaji. Penerapannya adalah berikut ini. recite dan review (Tarigan 1990:54). Bagian-bagian buku yang disurvai adalah bagian awal. daftar isi. paragraf. b. reading. meneliti. baca. Tampubolon (1990:170) 26paragraf nama metode SQ3R dengan istilah surtabaku yang merupakan akronim dari survai. dan abstrak (bila ada). Penjelasan dari kelima tahap dalam SQ3R adalah sebagai berikut Survai adalah meninjau. bagian isi. Mula-mula metode ini dikembangkan oleh Robinson pada tahun 1946. kata pengarang. Bagian isi yang disurvai meliputi judul . dan bagian akhir. Metode ini dibuat untuk kepentingan membaca bacaan yang berupa buku untuk kepentingan belajar. tempat terbit.

Buku yang bermutu baik akan mengandung bagian-bagian buku yang lengkap.) yaitu membaca secepat mungkin halaman demi halaman. Survai dilakukan dalam waktu beberapa menit saja dan merupakan kegiatan awal dari penerapan metode ini. Jika jawabannya ya. ringkasan yang tersusun secara sistematis. Dalam waktu yang singkat pembaca sudah dapat mengetahui buku yang disurvai itu cocok atau tidak. Jika jawabannya tidak. diagram. Bagian isi dari sebuah buku yang baik adalah terdapat bab. daftar isi. Jika tidak melakukan survai. Bagian awal dari sebuah buku yang lengkap terdiri atas halaman judul. isi. bagan. pembaca tidak perlu meneruskan ke tahap berikutnya. kata pengantar. daftar gambar. dan gambaran umum isi buku. dan penutup. dan indeks. Tujuan lain dari mensurvai adalah untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara cepat. daftar pustaka. daftar pustaka. Bagian akhir dari sebuah buku yang bermutu meliputi simpulan. . Survai juga digunakan untuk mengetahui mutu buku. Bagian akhir buku yang disurvai meliputi simpulan. grafik. dan sari. Tujuan dilakukannya survai adalah untuk mengetahui anatomi buku.  Membaca Pemahaman 2-27 tiap bab. pembaca tidak akan bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi buku. daftar paragraf. Tahap mensurvai buku diperlukan untuk tahap berikutnya. pembaca akan meneruskan kegiatan membacanya pada tahap berikutnya. Cara mensurvai bagian-bagian tersebut adalah dengan membuka-buka bagian-bagian tersebut secara cepat dan menyeluruh dalam sekali pandang. dan paragraf (bila ada). subjudul. mengandung informasiinformasi yang dibutuhkan atau tidak. mutu buku. Bagian-bagian buku yang disurvai dibaca dengan teknik baca layap (skimming. sub-sub bab. Anatomi buku merupakan bagian-bagian dari sebuah buku yang umumnya meliputi bagian pendahuluan. dan indeks (bila ada).

Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pembaca untuk menemukan isi bacaan pada waktu pembaca melakukan tahap reading. Misalnya.2-28 Membaca Pemahaman   Questioin (bertanya) merupakan tahap kedua dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca menyusun pertanyaanpertanyaan. pertanyaan-pertanyaan menanyakan mengenai halhal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. 4. 6. 1. 5. 2. Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul karena keinginan atau hasrat pembaca untuk mengetahui mengenai sesuatu hal yang diperkirakan terdapat dalam bacaan. 3. Manfaat melakukan question bagi pembaca sebelum membaca adalah sebagai berikut. 3. 1. Pembaca dikondisikan berpikir kritis atas bacaan yang . Pertanyaan dibuat berdasarkan perkiraan-perkiraan pembaca sewaktu melakukan survai. Apakah yang dimaksud membaca yang efektif ? Apakah yang dimaksud membaca yang efisien? Apakah yang dimaksud membaca yang efektif dan efisien? Bagaimana caranya membaca efektif? Bagaimana caranya membaca efisien? Apa manfaat membaca efektif dan efisien? Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat atau dihafal. Pertanyaan-Pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pikiran pembaca pada bagian-bagian tertentu dari bacaan yang dibaca. Umumnya. Sebaiknya. Kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah berikut ini. pertanyaan-pertanyaan itu dicatat supaya pembaca tidak lupa dan tidak membebani pembaca untuk selalu mengingat-ingat pertanyaan sehingga dapat mengganggu konsentrasi pada waktu membaca. ada buku yang berjudul Membaca Efektif dan Efisien. 2. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan memotivasi pembaca untuk membaca dengan sungguh-sungguh karena sudah tahu target yang ingin dicapai.

pembaca boleh meragukan apa yang dikatakan penulis sambil mencari sumbersumber lainnya yang dapat meyakinkan pembaca atau bahkan pembaca tambah ragu atau tidak yakin tentang apa yang ditulis penulis. Kedua tahap sesudahnya (recite end review) merupakan tindak lanjut dari tahap ini. bagian bacaan yang sedang dibaca kecepatan sedang. dan bagian bacaan yang mudah dibaca . Bagian bacaan yang sukar akan dibaca dengan lambat. Reading (membaca) merupakan tahap ketiga dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk membaca bacaan. Untuk memperlancar proses membaca. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dari metode ini. pikiran-pikiran pokok yang terdapat dalam bacaan. Apa yang telah dirintis pada kedua tahap sebelumnya akan direalisasikan pada tahap reading. Jika diperlukan. yaitu membaca bab demi bab dan bagian demi bagian bab. Jika belum yakin. pembaca melakukan kegiatan membaca secara menyeluruh. Pembaca tidak hanya menerima informasi yang disampaikan penulis. pembaca memfokuskan pada kata-kata kunci. pembaca bisa membuat catatan tentang hal-hal yang penting yang telah ditemukannya atau pembaca cukup berupa menggarisbawahi hal-hal yang penting pada buku. Kecepatan baca disesuaikan dengan tujuan membaca dan bacaan. dan simpulan yang dibuat penulis.  Membaca Pemahaman 2-29 dibaca. Pada tahap ini. pembaca tidak harus melakukan kecepatan baca yang sama. Kecepatan baca bidang cepat jika yang ingin diperoleh hanya hal-hal tertentu saja atau hal-hal yang penting dan kecepatan baca lambat (diperlambat) jika yang diinginkan adalah mengetahui semua isi yang ada pada bacaan. Dalam membaca. Pembaca biasanya membaca dengan teliti sambil mencari jawaban dari pertanyaan pada tahap question. Tahap sebelumnya (survai end question) dipersiapkan untuk melakukan tahap ini.

pembaca melakukan membaca secara fleksibel. pembaca buku termasuk di dalam jenis membaca dalam hati. gaya membaca bawah atas untuk membaca bacaan yang sulit atau belum dikenal. Kedua. Dari dua jenis membaca itu. yaitu membaca intensif dan ekstensif. teknik close reading dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitan bacaan tinggi atau sedang. gaya membaca atas bawah untuk membaca bacaan yang mudah atau sedang. Gaya (model) yang ditawarkan ada dua. Dengan cara seperti itu. teknik membaca yang digunakan. Membaca dalam hati dapat diklasifikasi menjadi dua. Keberagaman pilihan teknik membaca dapat dibaca pada bab IV. Membaca ekstensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami informasi-informasi yang penting atau pokok yang terdapat pada bacaan dengan cara membaca secara sepintas. Membaca intensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami semua informasi yang ada dalam bacaan. dengan cara membaca secara teliti. Kedua gaya diterapkan bersama-sama pada waktu membaca. Model membaca yang cocok untuk membaca secara fleksibel adalah model membaca campuran. Pilihan teknik membaca juga didasarkan atas tingkat kesulitan bagian-bagian bacaan. pembaca harus pandai memilih model membaca yang diterapkan. Pertama. Menurut Tarigan (1990:12). baik yang paling atau pokok maupun yang detail. Dengan fleksibilitas baca. Model membaca ini menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan cara yang tidak sama pada setiap bagian bacaan. membaca buku termasuk di dalam membaca intensif. . Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa kesulitan bagianbagian bacaan tidak sama.2-30 Membaca Pemahaman   dengan kecepatan yang tinggi. dan jenis membaca yang dipraktekkan. Teknik skimming dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitannya mudah.

tingkat kesulitan bacaan. Hal tersebut diperbolehkan supaya tidak mengganggu tahap berikutnya (review). . kebiasaan. Tingkat kesulitan dan panjang-pendeknya bacaan menjadi menjadi pertimbangan dalam melakukan recite. Pertimbangan yang dijadikan dasar adalah kemahiran yang dimiliki pembaca. Pembaca yang belum mahir lebih baik melakukan recite tiap subbab. dan panjang pendeknya bacaan.  Membaca Pemahaman 2-31 Recite (menceritakan kembali) merupakan tahap keempat dari metode SQ3R yang berupa kegiatan membaca untuk menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri. Recite menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca. dan bacaan yang panjang setelah selesai per subbab. dan ada juga yang setelah selesai tiaptiap subbab. bacaan yang sedang merecitenya setelah selesai membaca setiap bab. Tahap ini dapat dilakukan per subbab. Ada kemungkinan pembaca lupa tentang sesuatu hal yang akan diceritakan. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca bagian yang terlupakan. bacaan yang sedang setelah selesai per bab. Pada tahap ini. pembaca tidak boleh membuka-buka buku yang telah dibaca. Ada pembaca yag biasa menceritakan kembali isi bacaan setelah selesai semua bab dibaca. per bab atau setelah bacaan selesai dibaca. Bacaan yang pendek menceritakan kembalinya setelah selesai membaca semua. Bacaan yang sulit merecitenya setelah selesai membaca pada setiap subbab. ada yang selesai tiap-tiap bab. Tahap ini dilakukan apabila pembaca sudah merasa yakin bahwa pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap question bisa dijawab dan dapat menceritakan dengan benar mengenai bacaan yang telah dibacanya. dan pembaca yang sudah mahir melakukan recite setelah selesai membaca semua bab. dan bacaan yang mudah mericetenya setelah selesai membaca semua bab. pembaca yang sudah cukup mahir disarankan merecite tiap bab. Pembaca dalam menceritakan kembali harus sudah hafal mengenai isi bacaan.

pembaca yang belum berhasil adalah pembaca yang tidak dapat bercerita secara cermat. tahap ini merupakan tahap evaluasi. Review (meninjau kembali) merupakan tahap akhir dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami. 1. tetapi dapat dikembangkan. Ikhtisar dibuat berdasarkan rambu-rambu berikut ini. misalnya sambil membaca atau sambil membuka-buka kembali halaman buku. Sebaliknya. dan rinci. luas atau banyaknya informasi yang telah dicerna melalui kegiatan membaca. Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang.2-32 Membaca Pemahaman   Sebaiknya. 2. dan rinci. recite dilakukan secara tulis (tertulis). Recite tertulis dapat berupa ikhtisar. teratur. bukan lisan. 3. Bagi pembaca. Ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata pembaca sendiri. Ikhtisar dibuat secara singkat. padat. Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatan. Pembaca dievaluasi seberapa jauh. dan jelas yang mencakup butir-butir penting isi bacaan. Menceritakan kembali isi bacaan (buku) tidak harus hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat pada tahap question. Membaca ulang merupakan kegiatan membaca untuk mengulang membaca bacaan yang telah dibaca secara teliti. sedangkan meninjau ulang merupakan kegiatan untuk melihat-lihat bagian-bagian bacaan secara secepat kilat. Bagian yang . dan kedalaman dalam menceritakan kembali isi buku. (Harjasujana dan Mulyati 1997:212). Pembaca bisa saja menceritakan kembali hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh guru atau dosen waktu ujian dan ditanya teman-temannya sewaktu diskusi. keteraturan. teratur. Ikhtisar dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain. Pembaca yang telah berhasil adalah pembaca yang dapat bercerita secara cermat.

subjudul. Kedua. pembaca yang sudah mahir tidak sekedar merasa yakin telah menguasai semua isi yang ada dalam buku. kutipan lengkap bagian informasi atau pernyataan yang dipandang penting dengan disertai keterangan sumber otentik (tahun terbit dan halaman). dan penerbit. Pertama. review bermanfaat untuk mengecek barangkali ada hal-hal yang penting terlewati. perlu ditulis dalam kartu baca. tempat terbit. dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada buku. membaca akan . judul buku. Kelima tahap dalam SQ3R dilaksanakan secara sistematis mulai dari survai sampai dengan review. tahun terbit. tetapi pembaca juga merenungkan yang dan memikirkan penulis. 4. gambar. Meninjau kembali bacaan diperlukan untuk menyegarkan kembali ingatan atas informasi-informasi yang telah diperoleh pada waktu membaca. Hal-hal yang dicatat dalam kartu baca adalah sebagai berikut: 1. 3. benar-tidaknya kelebihan dan informasi-informasi disampaikan kelemahan buku yang dibaca. Disamping itu. pembaca dilatih membaca secara sistematis. 33arag atau judul bacaan. kritik dan saran yang bisa disampaikan untuk menyempurnakan buku yang dibaca. nama pengarang. Informasi-informasi yang didapat dari buku secara bertahap. Agar hasil baca dari metode SQ3R terpelihara dengan baik. 2. Pada tahap ini. ringkasan mengenai pokok-pokok penting isi bacaan dengan bahasa pembaca sendiri. Tahap ini berguna dalam membantu pembaca mengingat-ingat dan mengeluarkannya pada waktu ujian.  Membaca Pemahaman 2-33 ditinjau ulang misalnya judul. Nama lain kartu baca menurut Tampubolon (1990:173) adalah kartu rangkuman pokok bacaan studi. diagram. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan metode SQ3R ada lima.

Untuk mencapai tujuan. Contohnya adalah jika pembaca diberi tugas mencari pengertian metode SQ3R. Kelima. Pembaca akan mempercepat tempo bacanya jika membaca hal-hal yang sudah diketahui atau bacaannya mudah. Dalam daftar isi terdapat judul bab metode SQ3R pada bab VIII. pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah buku yang dihadapinya sesuai dengan yang diperlukan atau tidak. Jika buku tersebut diperlukan. dan manfaat SQ3R. Keempat. pembaca melakukan serangkaian tahapan yaitu . Ketiga.2-34 Membaca Pemahaman   memperoleh pemahaman yang komprehensif dan tahan lama. Tujuan yang ingin dicapai dalam membaca buku dituangkan dalam bentuk pertanyaan. tahap-tahap penggunaan. kegiatan tercapainya membaca sesuai dengan tujuan. Dari hasil survai tersebut pembaca dapat menentukan bahwa buku itu diperlukan sehingga pembaca melakukan tahap berikutnya. Pemahaman yang diperoleh akan tahan lama tersimpan di dalam otak karena diperoleh dengan menggunakan cara yang bertahap. pembaca akan beralih pada bacaan lain yang sesuai kebutuhannya. Pembaca dapat mengetahui hal tersebut setelah selesai melakukan survai. Buku yang dihadapi untuk dibaca adalah buku yang berjudul Membaca 2 karangan Harjasujana dan Mulyati. Semua bagian-bagian buku dibaca mulai dari halaman judul sampai daftar pustaka atau indeks. pembaca diberi kesempatan untuk membaca secara fleksibel. Sub-sub bab pada bab VIII berjudul pengertian. Tempo baca akan diperlambat jika membaca halhal yang belum diketahuinya atau bacaannya sulit. tahap-tahap. Jika buku itu tidak diperlukan. dan manfaat menggunakan SQ3R. Keefektifan pembaca membaca membaca dapat dilihat secara dari efektif dan efisien. pembaca akan meneruskan membacanya. Pengaturan tempo membaca tiap-tiap bagian bacaan tidak selalu harus sama. Buku tersebut disurvai pada daftar isi.

. Di samping itu. Teknik scanning terjadi dua proses. Pembaca tidak akan mengulang bacaan yang telah dibaca. dan review sehingga tujuan baca akan bisa tercapai dengan baik. 4. 3. 1. Tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan informasi tertentu dan atau fakta khusus. Scanning merupakan teknik membaca sekilas cepat. c. Waktu baca dari sebuah buku dengan metode SQ3R 35paragrafap cepat. Teknik Scanning Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas atau teknik baca tatap. tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Harjasujana dan Mulyati 1997:65 dan Tarigan 1994:31). pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memperhatikan atau membaca bagian-bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari. Dalam penggunaannya. Prinsip membaca scanning adalah cepat menemukan informasi untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus pembaca.  Membaca Pemahaman 2-35 reading. pembaca perlu memperhatikan hal-hal berikut ini. pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh atau memahami informasi atau fakta yang dicari. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. 2. Keefisien membaca dilihat dari sisi waktu yang dibutuhkan dalam membaca. Kedua paragraf dilakukan sekilas dan teliti. Pembaca sudah mempunyai tahap-tahap yang pasti dan persiapan yang mantap untuk membaca sehingga akan mempercepat proses membaca buku. Setelah yang dicari ditemukan. Untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus. recide. yaitu proses mencari atau menemukan dan proses memperoleh informasi atau fakta. pembaca melaju dengan penuh keyakinan.

Pembaca memperlambat kecepatan bacanya jika sudah menemukan informasi atau fakta yang dicari untuk meyakinkan kebenaran mengenai hal yang dicari.2-36 Membaca Pemahaman   1. 4. Pembaca seyogyanya mengenai organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk menafsirkan letak informasi terentu atau fakta khusus. makalah atau buku. Pembaca menggerakkan matanya secara sistematis dan cepat. 2. Jika ada. Dalam menulis karya ilmiah semakin banyak sumber yang diacu dan sumbernya bermutu mempunyai nilai tersendiri karena salah satu paragraf dalam menilai sebuah tulisan ilmiah adalah dari sumber yang dipakai. . Sumber yang diperlukan tidak hanya satu. grafik. antara lain menemukan topik tertentu. Pembaca disarankan mengetahui kata-kata kunci atau frasefrase kunci yang menjadi petunjuk. ilustrasi atau 36arag yang berhubungan dengan informasi atu fakta yang dicari. Dalam kehidupan sehari-hari teknik scanning digunakan dengan tujuan. tetapi sebanyak mungkin. dan mencari entri pada indeks (Soedarso 2004: 90-96). 3. seperti anak panah yang langsung meluncur dari bagian tengah busur ke sasaran yang dituju oleh pemanah. Untuk itu. seorang penulis memerlukan sumber. dengan pola S atau zig-zag. Yang dapat diterapkan adalah menemukan topik tertentu dan mencari entri pada indeks. pembaca lebih baik melihat gambar. Pembaca dapat mempermudah atau mempercepat mencari lewat daftar-daftar isi dan atau indeks 5. menemukan kata di kamus. mencari nomor telefon. 6. Dalam rangka menulis sebuah artikel. memilih acara paragraf.

Topik yang dicari bisa saja terdapat pada beberapa bab.  Membaca Pemahaman 2-37 penulis terlebih dahulu dituntut untuk mencari dan mempelajari paragraf-topik yang relevan dengan pembahasan yang akan dibuat. Indeks merupakan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan yang tersusun menurut abjad yang memuat informasi mengenai halaman. Pembaca dituntut dapat mencarinya dan memperolehnya dengan cepat sehingga dapat mencari paragraftopik tersebut dari buku yang lain. pembaca cukup men-scan halaman demi halaman. Untuk melengkapi pencarian paragraf. kata atau istilah yang ada di dalam . pembaca dapat men-scan halaman berikutnya atau pada surat kabar yang lain. Karena tidak ada daftar isi. gambar. 4. dan gambar. bagan. Topik-topik tersebut dicari dari buku atau sumber yang lainnya. Pembaca yang mengenal surat kabar tersebut bisa lebih cepat dalam menemukan hal yang dicari karena ia sudah tahu kira-kira pada halaman berapa paragraftersebut dibahas. Apabila ditemukan paragraf yang dicari. grafik. pembaca juga tidak perlu membaca semua bagian yang ada pada surat kabar. Selain dari buku. 2. paragraf-topik tertentu dapat dicari dari surat kabar. Untuk mencari paragraf. Untuk mencarinya pembaca tidak perlu membaca semua bagian buku. Pembaca membuka halaman dari paragraf yang telah ditemukan dan men-scannya. dan atau grafik. pembaca dapat juga men-scan daftar indeks. pembaca berhenti pada halaman tersebut dan melakukan membaca secara biasa dengan tujuan memperoleh informasi. 3. Setelah itu. Pembaca membuka halaman yang ditemukan pada tahap 3. Pembaca men-scan daftar isi untuk mencari paragraf tertentu. tetapi cukup men-scan (menemukan) melalaui daftar isi. indeks. Tahap yang dapat dilakukan dalam men-scan buku untuk menemukan paragraf tertentu adalah sebagai berikut: 1.

Carilah istilah atau kata tersebut pada indeks dengan gerakan mata secara sistematis dan cepat.2-38 Membaca Pemahaman   buku. Namun. Cobalah cari melalui daftar isi. demografi. Kenali organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk memperkirakan letak jawaban. Apabila buku yang dibaca tidak memiliki indeks. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman atau melewati batas pandang yang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. Indeks terdapat pada bagian akhir dari sebuah buku. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu kata kuncinya adalah sensus. Indeks sangat berguna bagi pembaca pada waktu ingin mencari istilah dan uraiannya secara cepat. d. dan lain-lain. jumlah penduduk. 1. Bukalah halaman yang memuat indeks. grafik. dapat melakukan tahap-tahap berikut ini. Tentukanlah istilah atau kata yang ingin dicari dalam indeks. 2. Lihat juga gambar. lambatkanlah kecepatan membaca untuk memahami kata atau istilah yang dicari. paragraf yang berhubungan dengan kata yang dicari. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan indeks atau mungkin penulis tidak tahu mengenai indeks. pemukiman. 2. 1. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan . Untuk dapat mencari istilah atau kata pada indeks secara cepat pembaca dapat menggunakan teknik scanning dengan tahap-tahap sebagai berikut. ilustrasi. Setelah menemukannya. tidak semua buku terdapat indeks. 3. Pola Vertikal Pola paragraf merupakan pola membaca dengan cara bola mata bergerak meluncur secara paragraf dari atas ke bawah. 3. Pembaca harus mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk.

Pada saat merasa ada hal-hal yang penting (kata kunci.1).  Membaca Pemahaman 2-39 bantuan telunjuk tangan kiri. Gambar 3 Pola Vertikal 3. rumus atau hal yang dicari). dan pola vertical (lihat 2. Penerapak metode S2QR adalah berikut ini. sehingga pembaca . Untuk dapat terampil memindai grafik. Pembaca menerapkan pola ini dengan cara pandangan mata diarahkan dari bagian atas ke bagian bawah secara cepat. question. kemudian apabila dirasa sudah dimengerti. kecepatan ditingkatkan beberapa kali. grafik atau diagram. gerak mata dengan pola paragraf adalah berikut ini. definisi. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman berikutnya.2. siswa kelas X dituntut untuk dapat merangkum seluruh isi informasi grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai. dan reading (Depdikbud 2004:4-5).1. teknik scanning. Apabila digambarkan. Membaca Memindai Grafik Dalam standar isi pada kurikulum 2006. kecepatan secara otomatis diperlambat. Metode tersebut digunakan apabila pembaca tidak memiliki tujuan khusus sewaktu membaca paragraf.4). siswa dapat menggunakan model membaca atas bawah (lihat 2. seek. Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca paragraf.3 dan 2. metode S2QR.2.

dan angka-angka. sehingga ia tidak merasa perlu mencermati seluruh paparan yang ada pada paragraf. Jika tidak ada tujuan khusus. Informasi tersebut bisa dicari pada bagian kolom dan baris pada paragraf. Question adalah kegiatan pembaca membuat pertanyaan tentang isi paragraf atau tujuan membaca paragraf. Pembaca harus meresapi judul yang disurvai karena judul merupakan ringkasan yang padat tentang informasi yang disampaikan penulis dalam bentuk paragraf. Hal-hal pokok yang perlu disurvai adalah judul paragraf dan subjudul. 1. Pembaca langsung mencari hal-hal yang diinginkan. Informasi apa saja yang ada dalam paragraf merupakan pertanyaan . seek. Setelah informasi didapat yang perlu dilakukan adalah mencari informasi tambahan jika ada. Informasi yang ingin disampaikan secara rinci dalam bentuk paragraf umumnya berupa urutan tahun. persentase. Setelah menemukannya pembaca langsung membaca pada bacaan yang lain. sehingga tidak perlu melakukan tahap S2QR.2-40 Membaca Pemahaman   dapat membaca secara cermat dan menyeluruh. Pembaca yang sedang studi membaca paragraf dengan tahap survai. Informasi tambahan berupa keterangan yang tidak mungkin dimasukkan di dalam paragraf. dan reading. Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam paragraf. Hal yang dianggap perlu atau yang diinginkan biasanya adalah hal-hal yang bersifat menonjol. Pembaca yang tidak sedang studi membaca paragraf untuk tujuan khusus. Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada di luar kolom paragraf. question. 2. misalnya sumber data paragraf. 3. membaca paragraf biasanya bertujuan untuk mencari informasi yang tertuang dalam paragraf. Manfaat mensurvai judul adalah untuk memahami pesan secara utuh dan menyeluruh.

. Pertanyaan yang lain bisa saja dibuat dengan cara mengubah judul menjadi pertanyaan. Reading adalah kegiatan membaca paragraf secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari. misalnya. Walaupun demikian. Pembaca dalam kegiatanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan pada tahap 3. Berapa angka tertinggi? Kelompok mana yang paling baik? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu.  Membaca Pemahaman 2-41 pokok tentang isi paragraf. 4. Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question. pembaca tidak hanya terpancang pada menemukan jawaban-jawaban tersebut. Ia bisa saja menemukan informasiinformasi yang lainnya. pembaca harus melakukan tahap reading.

4. Indikator 1. Membaca Intensif Pemahaman Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. dan teknik membaca serta penerapan model. D. menerapkan kiat B. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. C. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. dan teknik membaca. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. Uraian Materi 1. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca intensif. metode. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Deskripsi Penyajian model. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca intensif. E. 5. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. metode. 2. siswa kelas X dituntut untuk dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik .BAB III. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca intensif. 3. dan mampu menerapkan model. metode. MEMBACA INTENSIF A. Menerapkan model membaca sewaktu membaca intensif. 6. metode.

dan teknik close reading. Siswa kelas XII dituntut untuk dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. Karena paragraf atau cara kerja berawal dan bergantung pada bacaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas. metode kalimat. Pembaca bergantung sekali pada bacaan. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menganalisis unsur intrisik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. . Dalam membaca. sedangkan struktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peran sampingan (sekunder). pembaca melakukan penyandian kembali paragraf-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. paragraf membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas. Apabila dibagankan model membaca bawah atas adalah berikut. kiatnya adalah menggunakan model membaca bawah atas. Untuk dapat terampil membaca intensif seperti tuntutan di atas. a.  Membaca Pemahaman 2-43 sastra Melayu klasik dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik. Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. Model Membaca Bawah Atas Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau battom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan.

dan kalimat secara eksplisit. tetapi juga penerjemahan paragraf grafis ke bentuk pemahaman (psikis). Setelah itu.2-44 Membaca Pemahaman   Bagan 4 Model Membaca Bawah Atas Berdasarkan bagan 3. Dekoding merupakan proses pengubahan tanda-tanda grafis menjadi berita yang bermakna bagi pembaca. tetapi juga pada proses menyimak. . Pemahaman tersebut mencakup dua hal. gramatikal. yaitu : 1. Dekoding tidak hanya terjadi pada proses membaca. kemudian pembaca melakukan penyandian kembali 44paragraf-simbol tertulis. pemahaman maksud dan tujuan pengarang secara paragraf. 2. yaitu bacaan. proses membaca diawali dari bawah. Bacaan merangsang atau menstimulus mata. Dekoding pada pembaca terjadi pada komunikasi tulis. pemahaman makna leksikal. hasil penyandian kembali dikirim ke otak untuk dipahami. Berita-berita yang diterima pembaca mengandung informasi yang dibutuhkan atau dicarinya. Membaca pada hakikatnya merupakan proses penerjemahan dan dekod. Penerjemahan tidak hanya diartikan sebagai penerjemahan paragraf grafis ke bentuk lisan (fisik). sedangkan paragraf pada menyimak terjadi pada komunikasi lisan.

Pembaca mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya. Untuk itu. pembaca mengayunkan matanya lebih jauh lagi paragraf membaca frase. Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. yaitu menerapkan beberapa kemahiran yang sudah didapat dalam latihan sebelumnya. Di samping itu. tetapi pada setiap akhir kalimat. Metode Kalimat Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang ada dalam bacaan. Pembaca hanya diperbolehkan mengadakan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. Dengan demikian. yaitu mekanik dan konseptual. Latihan membaca dengan metode ini dapat dibagi menjadi dua. Kata dan frase dipandang sebagai paragraf kalimat pembentuk ide. Jika demikian. Untuk mencapai hal tersebut tidak mudah karena metode kalimat merupakan membaca yang kompleks. mata lebih dapat leluasa bergerak secara cepat. pembaca akan dapat menangkap makna kalimat dengan mudah dalam waktu yang paragraf singkat. Sewaktu mengayunkan pandangan mata pembaca dituntut memahami bacaan kalimat yang dibaca.  Membaca Pemahaman 2-45 b. . Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat. Pembaca akan lebih dapat menghemat waktu baca sebab paragraf tidak lagi berhenti pada satuan-satuan frase atau kata. pembaca perlu latihan yang serius dan terencana. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat.

pembaca melakukan hentian bisa mencapai kurang lebih 12 sampai dengan 20 kali pada setiap pparagrafafnya. dalam wawancara pekerjaan Anda harus tampil sebagai orang pribadi sekaligus sebagai komoditi. dan dunia kerja.2-46 Membaca Pemahaman   (1) Metode Kalimat secara Mekanik Secara mekanik. pembaca perlu berlatih secara kontinyu. mata tidak mudah lelah karena mata tidak sering melakukan lompatan-lompatan. Anda adalah pribadi khusus. Pembaca dikondisikan dapat membaca kalimat demi kalimat. memasuki dunia sekolah. Kesulitan komunikasi selagi mereka mulai ke luar dari keluarga. Mata lebih didorong untuk melakukan lompatan yang jauh dan mata didorong untuk mempunyai pandangan yang lebar. dilihat dari cara kerja mata. Tanpa latihan seperti itu. Pertama. sulit rasanya kemahiran dapat dicapai karena membacanya semakin rumit. Untuk mencapai kemahiran itu. teratur. dan tekun. sekali pandang mata sudah dapat memandang satu kalimat. Apabila diperhatikan dalam satu paragraf mata hanya bergerak atau melompat beberapa kali saja (4 sampai 5 kali). Dibandingkan dengan membaca frase. Latihan membaca kalimat secara mekanik dapat dilakukan dengan bacaan berikut ini. Ketiga. Bacaan 4 Pentingnya Komunikasi Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan. Kedua. Hentian sementara dilakukan lebih jauh dibandingkan pada membaca frase. Keuntungan membaca kalimat secara mekanik ada tiga. Membaca kalimat lebih cepat 3 atau 4 kali membaca frase. pembaca lebih cepat selesai dalam membaca dibandingkan membaca frase. tetapi . pembaca melakukan lompatan pandangan mata dari kalimat ke kalimat berikutnya. Serta merta.

Dalam tatap muka dengan manajer personalia. !) sebagai tanda batas antarkalimat. 2. paragraf. Anda sebagai calon karyawan menjadi sungguh-sungguh sadar akan pentingnya keterampilan komunikasi dasar dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. Keterampilan Anda kepada seseorang yang membutuhkannya. Mulailah pandangan mata terfokus pada kalimat pertama. 1. Mata tidak boleh berhenti sebelum kalimat selesai atau Anda boleh berhenti pada tanda titik atau 47arag. (2) Metode Kalimat secara Konseptual Secara konseptual. yaitu sekali pandang semua bacaan terlihat. atau perintah (. Tahap-tahap berikut ini dapat digunakan sebagai paragraf dalam latihan membaca bacaan di atas. Betapa pun wawancara pekerjaan itu bisa dijadikan contoh pentingnya komunikasi dalam bisnis. Ayunkan pandangan mata beralih ke kalimat berikutnya secara perlahan-lahan. Berlatih pada hari-hari berikutnya sampai Anda mempunyai kemahiran membaca kalimat demi kalimat secara mekanik. membaca melakukan usaha untuk memahami atau menafsirkan makna yang terkandung dalam masingmasing kalimat dan merangkaikannya menjadi makna yang utuh. Ulangilah latihan sampai empat atau lima kali sambil meningkatkan kecepatan gerak mata. ? . .  Membaca Pemahaman 2-47 Anda sedang mencoba menjual keterampilan. 6. Tataplah bacaan di atas dengan pandangan yang lebar. 5. Cara memahami metode frase digunakan sebagai dasar dalam . dan profesi. Namun. 4. 3. setiap situasi kerja menuntut berbagai kemampuan berbicara yang luwes. pendidikan. pemerintahan.

Tetaplah bacaan itu dengan sekali pandang. Pembaca dapat melakukan latihan membaca secara konseptual dengan bacaan berikut ini. majalah. guru bidang studi apapun. paragraf-pamplet. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. Dalam kenyatan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. . Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terkait oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Masalahnya. surat kabar.2-48 Membaca Pemahaman   melakukan latihan ini. buku ilmiah. Bacaan 5 Bahan Ajar Membaca Sebagai seorang guru. dan lain-lain. Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macan bahan ajar yang ada. 1. tuntutan memilihkan bahan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk dikonsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan paragraf kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Alternatif latihan metode kalimat secara konseptual pada bacaan tersebut adalah sebagai berikut. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. Untuk pengajaran membaca.

2. . Dengan teknik ini. pembaca mengenal. Pembaca menerapkan keterampilan pemahaman pada tingkat yang rendah (dasar). Nurhadi (2004:57) paragraf nama membaca literal.  Membaca Pemahaman 2-49 2. c. Pembaca hanya memahami makna secara tersurat. tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi (paragraf) atau makna dibalik baris-baris. Teknik Close Reading Close reading (membaca teliti atau membaca cermat) adalah teknik membaca yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan (Tarigan 1994:33). Ulangilah latihan ini 2 atau 3 kali sambil meningkatkan daya pemahaman terhadap bacaan. 3. Berlatihlah pada hari-hari berikutnya sampai mahir. 3. Pahamilah kalimat demi kalimat secara perlahan-lahan. Pembaca tinggal menangkap maknamakna tersebut. Informasi secara eksplisit terdapat dalam baris-baris. Pembaca hanya menerima (memahami) apa yang ada pada tulisan. yaitu: 1. Pembaca memahami organisasi. Pembaca hanya menangkap informasi-informasi yang terletak secara jelas dalam bacaan. 2. dan memahami informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan secara tersurat (eksplisit). Pembaca tidak diperbolehkan memahami frase demi frase. Pembaca merangkaikan informasi yang baru diperoleh ke dalam suatu kerangka yang telah ada. hubungan ide-ide bawahan dan ide-ide utama. 4. menangkap. Menurut Farr dan Roser (1979:359) yang dapat dilakukan oleh pembaca dengan menggunakan teknik ini ada dua. Ciri-ciri pembaca yang menggunakan teknik close reading adalah sebagai berikut: 1.

Tujuan yang diinginkan oleh pembaca pada umumnya adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan. Agar dapat berhasil dalam menggunakan teknik ini. Pembaca hanya mengingat-ingat informasi yang ada dalam bacaan. apa. 2. halhal yang diperoleh bersifat paragraf. memperoleh informasi (ide) lain atau tambahan yang ada dalam bacaan. 5. Pembaca membaca bacaan yang mengandung informasi-informasi yang diperlukan pelajar untuk . tentang hal yang ada pada bacaan. Pembaca mempunyai tujuan dalam membaca yang dirancang sebelum melakukan kegiatan membaca. menemukan urutan atau susunan organisasi cerita yang ada dalam bacaan. menemukan rincian atas fakta-fakta yang terjadi dalam bacaan. 4. 3. Dengan teknik ini. 2. Pembaca harus sudah mempunyai keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membaca dengan teknik close reading. Tujuan yang lain selain tujuan umum adalah tujuan khusus. pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut ini. memperoleh ide-ide pokok yang ada pada bacaan. Teknik ini perlu dilatihkan terutama untuk pembaca yang sedang belajar karena teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk membaca telaah atau membaca studi. 1. yaitu tentang siapa. di mana. Pembaca tidak berpikir kritis dalam menerima informasi yang ada pada bacaan.2-50 Membaca Pemahaman   4. Pembaca menerapkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca dengan teknik ini secara bertingkat sesuai tingkatan keterampilan yang dibutuhkan atau sesuai urutan keterampilan. Tujuan khusus meliputi: 1. 3.

siswa kelas X dituntut dapat menganalisis keterakaitan unsut paragraf suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari. memahami makna kalimat. menyatakan kembali paragraf perbandingan. Membaca Intensif Kritis Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006.4. 6. menyatakan kembali paragraf sebab akibat. Teknik close reading melatihkan kemahiran pembaca dalam hal: 1. 12. 10. Siswa kelas XII dituntut dapat menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode. memahami makna paragraf detail. 2. a) Metode GPID Metode GPID diusulkan oleh Merrit. Menurutnya. menyatakan kembali paragraf urutan. menangkap paragraf perbandingan. siapa. 3. 9. memahami makna kata. 4. metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu. 2. kapan. menangkap paragraf sebab akibat. memahami makna frase. dan teknik retensi.1). 7.  Membaca Pemahaman 2-51 memperoleh dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. 11. memahami makna paragraf. 8. metode GPID. Model. metode. . dan dimana. dan teknik yang dapat digunakan untuk membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. menangkap paragraf urutan. memahami (menjawab) apa. Siswa kelas XI dituntut dapat membandingkan paragraf-paragraf dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan dengan hikayat. 5. .

Goall adalah apa yang diharapkan. Plans dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan maksud pilihan bagian-bagian yang dibaca. dan merumuskan maksud atau tujuan. apa yang ingin dicapai.2-52 Membaca Pemahaman   paragraph. dan development (Yap 1978:114115). dan penyusunan pola membaca. Pelaksanaan membaca sudah dengan teknik dan pola baca yang . kendala. 2. Pembaca sudah mempunyai arah yang jelas. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca. plans. latar belakang. dan apa manfaat membaca. Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan. dimaksud atau apa tujuan membaca. 3. Sewaktu membaca pembaca sudah tahu hal-hal yang akan dicari dalam bacaan sehingga bisa membaca lebih efektif. memusatkan perhatian. perincian maksud yang lebih khusus. Hal tersebut berguna sebagai pedoman apa yang dilakukan selanjutnya. Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut. dan rencanarencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk paragraf tanda atau catatan). 1. bagian-bagian yang akan dibaca. Goall dapat dilakukan dengan cara membatasi perhatian. Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut. pembaca akan termotivasi untuk melakukan kegiatan membaca sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya yang maksimal. Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan. Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. Pada tahap ini. pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. implementation. Dengan cara seperti itu. Implementation adalah pelaksanaan membaca. Pembaca terlebih dahulu menentukan untuk apa ia membaca.

Jika tidak berhasil. berarti kegiatan membaca belum berhasil. Jika belum. Hal tersebut bergantung pada di mana letak ketidakbehasilan dalam membaca: apakah pada tahap paragraph. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kegiatan baca secara keseluruhan. . Dalam mengevaluasi rencana. pembaca disarankan melakukan kegiatan membaca lagi atau pembaca dapat mengubah tujuan (rencana) baca yang telah disusun. Jika sudah. ataukah pada tahap implementation. dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai. pembaca mengecek apakah ia telah melakukan kegiatan membaca sesuai rencana.Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah tercapai. 4. pembaca bisa menghentikan kegiatan bacanya atau membaca bacaan yang lainnya. Pembaca mengevaluasi dengan cara mengecek apakah informasi yang diinginkan pada tahap paragraph sudah didapat. Pembaca tidak lagi membaca tanpa arah dan tanpa tujuan. Jika sudah berarti rencana telah berjalan dengan baik dan jika belum berarti rencana belum berjalan dengan baik. Jika sudah berhasil. dapat ditarik simpulan apakah kegiatan baca berhasil atau tidak. berarti kegiatan membaca telah berhasil. Ia juga tidak akan membaca hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tujuan membaca. tahap plans. Setelah dinilai secara keseluruhan.  Membaca Pemahaman 2-53 direncanakan sehingga pembaca tidak akan membuang-buang waktu dan tidak akan kehilangan pemahaman yang sudah direncanakan. apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncanakan. Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan.

Kata retensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyimpanan. Kemudian pembaca mendiskusikan tentang apa-apa yang telah dibacanya dengan temannya yang sudah membaca atau mengetahui . Misalnya. pembaca ditanya sewaktu ujian tentang hal-hal yang telah dibacanya (menceritakan kembali isi bacaan atau menjawab mengenai informasi yang ada dalam bacaan). Yang diterapkan adalah diskusi dan menggunakan informasi. Sebaliknya. Untuk membantu pembaca menyimpan hafalan dengan baik diperlukan teknik membaca secara khusus.2-54 Membaca Pemahaman   b) Teknik Retensi Sesudah informasi atau isi yang ada dalam bacaan dihafal. Teknik diskusi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan oleh pembaca dengan bertukar pikiran kepada orang lain tentang informasi yang telah diperolehnya dari bacaan. diskusi. pembaca yang tidak dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes kesulitan mengingat kembali apa yang telah dihafal atau bahkan lupa sama sekali tentang informasi yang telah dihafal. yaitu repetesi. Hal tersebut bisa dilakukan dengan dua teknik. Teknik tersebut dinamakan teknik retensi. dan tes (Wainwraught 2006: 5758). pembaca membaca bacaan. misalnya mengenai emansipasi wanita. Pertama. Teknik retensi ada lima. menggunakan informasi. yang perlu dikerjakan berikutnya oleh pembaca adalah menyimpan hafalan atau ingatan supaya sewaktu hafalan tersebut digunakan segera atau cepat muncul. menulis informasi. Teknik retensi dibuat untuk membantu pembaca untuk menyimpan ingatan tentang informasi yang ada dalam bacaan dan sewaktu dibutuhkan siap untuk dipanggil atau dimunculkan. Pembaca mengungkapkan pendapatnya mengenai sesuatu berdasarkan hasil membaca. Seorang pembaca yang dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes segera dapat ingat kembali tentang apa-apa yang telah diingatnya.

Setelah berkali-kali digunakan. Dalam berdiskusi. . pembaca berdiskusi dengan orang lain tentang sesuatu hal yang telah dibaca. Tiap hari si penjaja paragraf selalu menelepon agen tersebut untuk pesan paragraf.  Membaca Pemahaman 2-55 tentang hal tersebut. Jadi. Biasanya teknik ini dilakukan pada waktu pembaca sedang studi. teknik diskusi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Untuk memperkuat retensi bisa juga dilakukan atau dipraktekkan secara terus. dalam situasi apa pun informasi itu akan digunakan selalu cepat teringat atau muncul. Untuk kali pertama. seorang ibu yang mempunyai suami dari Padang yang suka masakan padang. Kapan pun. Kedua. informasi tersebut tidak akan hilang bahkan akan selalu setia dalam ingatan. jika pendapat pembaca tidak benar. penjaja paragraf menelepon agen itu dengan membaca nomor telepon. Misalnya. Teknik menggunakan informasi merupakan teknik retensi yang dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh dari bacaan. Untuk menyenangkan suaminya. pembaca menggunakan informasi yang telah didapat. pembaca membaca sebuah bacaan (misalnya tentang bencana alam). si ibu tersebut berusaha dapat memasak masakan padang. nomor telepon agen surat kabar. Jika sebuah informasi yang didapat selalu digunakan. penjaja paragraf menelepon dengan tanpa membaca karena sudah hafal. kemudian pada suatu kesempatan (lain waktu). Apabila dalam berdiskusi pendapatnya benar atau orang lain setuju maka akan memperkuat retensi. kurang lengkap atau orang lain menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh pembaca.menerus. Misalnya. Salah satu caranya adalah dengan mempraktekkan resep masakan padang dari buku resep masakan. pembaca dapat menambah informasi yang telah didapat dengan menyesuaikan atau memodifikasi ingatan yang telah diperoleh dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. Sebaliknya.

Siswa kelas XII dapat menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi. si ibu itu sudah tidak perlu membaca lagi karena sudah hafal. dan teknik. metode.4. Model.4. dan teknik yang dapat dipilih untuk digunakan dalam membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2.4. dan teknik yang dipilih untuk digunakan adalah model membaca bawah atas (lihat 2.3). d) Membaca Intensif Artikel Dalam standar isi pada kurikulum 2006. metode kalimat (lihat 2.2 dan 2.5. Untuk memenuhi tuntutan tersebut model. dan teknik retensi (lihat 2. Setelah dilakukan berulang-ulang.1). metode.4. sisiwa dituntut untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam buku biografi. metode kalimat dan atau paragraf (lihat2.1.2). Model. sisiwa kelas X dituntut dapat menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif. c) Membaca Intensif Pparagrafaf Dalam standar isi pada kurikulum 206. dan teknik yang dapat dipilih adalah model membaca bawah atas (lihat 2. metode. . dan teknik retensi (lihat 2. deduksi dengan membaca intensif.2) dan PQRST.2-56 Membaca Pemahaman   Awal mula. metode pparagrafaf (lihat 2.1.4. e) Membaca Intensif Buku Biografi Dalam standar isi pada kurikulum 2006.3).2). si ibu memasak sambil membaca.5.1).1). siswa kelas XI dituntut untuk membedakan fakta dan opini pada editoral dengan membaca intensif dan siswa kelas XII dituntut untuk menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif.

Yang tidak bersinonim adalah tahap paragraph dan tes. Ringkasan bersinonim dengan ikhtisar. kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan. yaitu preview. Tahap preview. Pembuatan ringkasan bisa saja dibuat per subbab jika memang menurut pembaca lebih baik seperti itu atau ada kekawatiran kalau satu bab tidak bisa membuatnya karena sudah lupa. Nurhadi (2005:131) menerjemahkan paragraph menjadi ringkasan. read. question. yaitu dalam hal tahap-tahap yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai. Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya. paragraph. Ringkasan dibuat oleh pembaca setelah selesai membaca satu bab dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh tidak hilang (lupa). dan tes (Widyamartaya 2004:63). Perbedaan tersebut dapat dilihat pada paragraf berikut ini. question. dan read pada metode SQ3R.  Membaca Pemahaman 2-57 (a) Metode PQRST PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. dan read pada metode ini bersinonim dengan tahap survai. question. Walaupun bersinonim. . Hal-hal yang ditulis dalam kegiatan meringkas adalah informasi-informasi yang telah diperoleh sesuai dengan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question dan tujuan lain yang ingin diringkas. sedangkan Willy (1996:198 dalam Tarigan 1994:35) mengartikan paragraph menjadi ikhtisar.

. Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada akhir sebuah bab atau akhir buku. 2. 1.2-58 Membaca Pemahaman   Tabel Perbedaan Ringkasan dan Iktisar (Nurhadi 2004:138) Tes (uji periksa) merupakan tahap terakhir dari metode SQRST yang berwujud kegiatan pembaca untuk menguji seberapa banyak penguasaan terhadap buku yang telah dibaca. Pembaca memeriksa (menguji) rangkuman yang telah dibuatnya. Apakah rangkuman itu sudah sesuai dengan isi bacaan atau belum dan sudah benarkah rangkuman yang dibuatnya. Cara yang digunakan untuk menguji penguasaan isi buku ada empat.

dan atau membuat rangkuman sesuai dengan isi bacaan dari yang dibaca. dua. dan atau membuat ringkasan sesuai dengan isi bacaan dari sebuah buku. Loci berasal dari bahasa latin yang berarti tempat-tempat. metode ini tidak berhasil diterapkan apabila pembaca tidak dapat menceritakan kembali isi bacaan. cara kerja pembaca adalah dengan membayangkan tempat atau bangunan yang telah dikenal. Teknik ini telah digunakan sebagai teknik mengingat sejak tahun 500 SM. tiga atau empat cara sekaligus. 4. Keempat cara tersebut bisa dipilih satu. pembaca membuat asosiasi antara pokok pikiran atau informasi pokok yang ingin diingat dengan suatu tempat yang dikenal. (b) Teknik Loci Teknik loci merupakan teknik mengingat yang mula-mula digunakan untuk mengingat bahan pidato yang akan disampaikan. Berdasarkan arti tersebut. dapat menjawab pertanyaan. Modifikasi dari teknik ini dalam membaca adalah mengingat-ingat bahan bacaan yang akan disampaikan oleh pembaca. Dengan cara seperti itu. Apakah pembaca dapat menceritakan isi bacaan atau tidak. Pembaca menceritakan kembali tentang isi bacaan yang telah diperoleh. kemudian menyusun urutan atau rute perjalanan untuk melakukan perjalanan dalam menelusuri tempat tersebut. pembaca akan dapat mengingat . Pada setiap tempat (bagian bangunan). Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca.  Membaca Pemahaman 2-59 3. Keberhasilan penggunaan SQRST dapat dilihat dari hasil tahap tes. Penerapan metode ini dikatakan berhasil jika pembaca dapat menceritakan kembali isi bacaan. Sebaliknya. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question. tidak dapat menjawab pertanyaan.

Dalam bacaan sastra digunakan untuk mengingat nama-nama tempat kejadian dengan cara mengasosiasikan tempat-tempat dalam cerita dengan tempattempat yang telah dikenal. Dalam metode SQ3R. (c) Teknik Repetisi Teknik repetisi merupakan jenis teknik yang digunakan pembaca dengan mengulang bacaan yang sudah dibaca. kata kunci dan hal-hal lain yang dianggap penting.2-60 Membaca Pemahaman   pokok-pokok pikiran bacaan dalam urutan tempat atau kejadian yang benar. Membaca bacaan berita dapat menggunakan teknik ini dengan mengasosiasikan isi berita dengan tempat yang sesuai dengan berita yang yang dibaca. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat informasi yang telah dihafal sehingga mudah untuk diingat kembali. dan proses. Yang direpetisi tidaklah semua bagian bacaan. . tetapi bagian tertentu atau hal tertentu saja. teknik ini dapat diterapkan pada tahap review. Pada tahap review pembaca hanya membolik-balik halaman yang telah dibaca secara cepat. Bagian bacaan yang tidak perlu (sudah dihafal) dilewati dan bagian bacaan yang ingin diretensi dibaca secara sepintas. Pembaca juga tidak membaca dengan cara yang sama sewaktu membaca bacaan kali pertama. dibaca Pembaca dengan mengasosiasikan kejadian-kejadian mengurutkan tempat kejadian yang telah dikenal atau dialami oleh pembaca. informasi penting. kejadian. yaitu bagian yang perlu dihafal lagi. Bacaan yang isinya tentang prosa juga dapat digunakan dengan teknik ini dengan mengasosiasikan prosa yang dibaca dengan tempat-tempat yang telah dikenal. berita. Pembaca dapat membaca dengan kecepatan yang tinggi. Teknik ini dapat digunakan oleh pembaca dalam membaca bacaan sastra. Salah satu tujuan mereview adalah untuk memperkuat ingatan.

Informasi-informasi yang telah diperoleh dari membaca diringkas di dalam bentuk catatan. Misalnya. Untuk mengatasinya pembaca membaca lagi sambil mencatat nomor itu. pembaca akan terbantu untuk mengingat kembali nomor itu sehingga sewaktu menghubungi tidak lupa lagi. Dengan adanya tes. Jika yang dibaca merupakan sebuah bacaan. pembaca mengingat informasi tentang nomor telepon UNNES di buku telepon atau di surat kabar. yaitu yang mengetes adalah pembaca. Sewaktu mau menghubungi nomor tersebut. Hal-hal yang diringkas adalah informasi yang penting atau yang dibutuhkan oleh pembaca. pembaca bisa mengulang membaca bacaan dengan cara yang sesuai dan tepat sampai pembaca ingat kembali. yaitu informal dan formal. pembaca sudah lupa. Pembaca dituntut mengingat apa-apa yang telah dibaca. Pembaca menutup .  Membaca Pemahaman 2-61 (d) Teknik Menulis Informasi Teknik menulis informasi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mencatat informasi yang telah didapat dari kegiatan membaca. Jika ada informasi yang terlupakan. Teknik tes digunakan untuk memastikan apakah informasi yang telah diperoleh dapat diingat kembali. Menulis informasi yang telah diterima bisa memperkuat ingatan dan memudahkan untuk mengingat kembali (memanggil kembali) informasi yang telah diingat sewaktu dibutuhkan. Teknik tes dapat dilaksanakan dengan dua jenis. bukan orang lain. pembaca melakukan teknik ini dengan meringkas atau merangkumnya. (e) Teknik Tes Teknik tes merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mengecek (mengetes) informasi-informasi yang telah dihafal pembaca. pembaca dituntut mencari dan menyimpan informasi dengan baik. Dengan mencatat. Tes informal dilakukan oleh pembaca sendiri.

retensi dapat diperkuat dengan memilih bacaan yang memiliki arti. Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengetes pemahaman prosedur. Jika ada yang lupa. siswa disuruh menceritakan kembali berita yang telah dibaca atau menjawab pertanyaan tentang isi berita tersebut. Oleh karena itu. Apakah ia bisa ingat atau tidak. pertama-tama kita harus tahu benar arti informasi tersebut bagi kita dan bagaimana kita akan memanfaatkannya. minat. organisasi. Disamping dengan kelima teknik ini. Pembaca dites untuk menceritakan kembali bacaan yang telah dibaca. Tujuannya adalah apakah siswa dapat menguasai informasi-informasi dari bacaan berita yang telah dibaca atau belum. kemudian mengingat-ingat kembali informasi-informasi yang telah didapat. Jika sudah ingat semua. Yang diceritakan adalah hal-hal yang penting atau pokok.2-62 Membaca Pemahaman   bacaan. Teknik tes informal relevan dengan tahap recite dalam metode SQ3R. Teknik tes formal dilakukan berdasarkan permintaan atau perintah orang lain. pembaca dapat menghentikan kegiatan membacanya atau membaca bagian lainnya. Teknik ini umumnya dilakukan dalam pembelajaran. seorang guru menyuruh siswa membaca pemahaman sebuah bacaan berita di surat kabar. Setelah itu. Informasi itu harus memiliki relevansi. pembaca disarankan membuka lagi bagian bacaan yang dilupakan. kita mengingat begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat yang bisa digunakan untuk bermain tebak-tebakan di pub atau bermain Trival Pursuit. namun sebenarnya kita lebih banyak mengingat informasi yang berguna. siswa adalah close . Misalnya. Pembaca bercerita dalam hati. dan umpan balik (Wainwright 2006: 55-57) Kita akan terbantu mengingat sesuatu jika informasi tersebut memiliki arti tertentu bagi kita. visualisasi. atensi. asosiasi. Memang.

Konsep-konsep abstrak pun bisa kita visualisasikan. Jika kita dapat melihat hal-hal tersebut dalam mata pikiran kita kemudian menambahi informasi tersebut dengan serangkaian gambar. Keadilan sering kali divisualisasikan sebagai timbangan. kita harus mencari cara untuk mengorganisasinya sendiri. Demokrasi bisa kita visualisasikan sebagai kertas suara yang dimasukkan ke dalam kotak suara. Mereka mengetahui tata letak pasar swalayan di daerah mereka dan memisah-misahkannya menjadi beberapa area. Kemudian barang kebutuhan mereka disusun untuk menimbulkan asosiasi dengan area-area tersebut. Selanjutnya. tindakan ini akan memperkuat kesan yang ditimbulkan informasi tersebut. karena penulis suka menyajikan gagasan-gagasan dengan cara yang logis dan teratur. Dengan demikian. Visualisasi membantu kita mengingat berbagai hal. . Kita harus mencari asosiasi yang mudah diingat sehubungan dengan apa yang ingin kita ingat dan apa yang sudah kita ingat.  Membaca Pemahaman 2-63 Informasi lebih mudah diingat jika memiliki pola organisasi. Jika paragraf itu mengubah tata letaknya. Sering kali. selanjutnya kita hanya perlu mencari urutan yang sesuai untuk kita. asosiasi-asosiasi tersebut bisa kita hubungkan untuk menghasilkan suatu pola. Jika pola ini tidak mudah dikenali. Setelah mengelompokkan pokok-pokok pikiran yang serupa ke dalam peta pikiran. proses tersebut diulangi lagi agar sesuai dengan pola yang baru. yaitu suatu sruktur. mereka menghasilkan pola berupa sejenis pera rute dalam paragraf yang mempersempit kemungkinan mereka kembali ke area yang sama lebih dari sekali dalam setiap kunjungan. Pemetaan pikiran bisa dimanfaatkan sebagai tahap penghubung antara materi bacaan yang disajikan serampangan dan rencana yang terperinci. pola semacam ini mudah dikenal. Banyak orang yang mengingat daftar belanjaan dengan cara seperti ini.

pilihlah waktu dan tempat yang menurut pengalaman bisa mempermudah Anda melakukannya. Retensi yang efektif membutuhkan konsentrasi. Sebagian besar orang menganggap pagi hari lebih efektif dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi.2-64 Membaca Pemahaman   Sering kali kita tidak bisa mengingat sesuatu karena kita kurang paragraf perhatian. paragraf-topik yang tidak menarik pun bisa menjadi lebih mudah diingat. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. Kita akan berusaha untuk mengingatnya. Dengan penghafal. Dengan motivasi. Jangan lupa untuk mengeceknya kembali agar tidak ada informasi penting yang tertinggal. kita bisa mendapatkan umpan balik yang sangat penting ini. Perpustakaan atau ruang wawancara tanpa jendela biasanya merupakan lokasi siap pakai yang dapat Anda manfaatkan. F. Tentukan paragraf yang jelas mengapa Anda harus mengingat sesuatu. Kita perlu mengecek apakah kita benar-benar mengingat apa yang ingin kita ingat. Berdasarkan cakupan bahan bacaan . Umpan balik sangatlah penting. saat Anda harus memberhentikan sesuatu dan berkonsentrasi. meskipun tidak sampai membuat kita mengerutkan dahi yang hanya akan membuat kening kita sakit. didukung kondisi yang paragraf tenang. Anda bisa terbantu jika memiliki tingkat minat yang tinggi terhadap suatu subjek serta punya motivasi yang kuat untuk mengingatnya. ketika anda dimungkinkan melakukannya. manfaatkanlah semaksimal mungkin. Cara termudah untuk mengatasi hal ini adalah. Walaupun tidak seallu berhasil. Rangkuman Membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading).

Model membaca bawah atas. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. dan memindai grafik. yaitu ektensif dan intensif. 2. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. dan teknik skimming pola blok dan horizontal digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra. Model membaca timbal balik. kritis teks sastra. pparagrafaf. teknik loci dan retensi digunakan untuk membaca buku biografi. Kiat membaca yang digunakan untuk membaca ekstentif dan intensif di SMA adalah berikut ini. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai buku. artikel. Berdasarkan kurikulum 2006. metode SQ3R. Model membaca atas bawah. Untuk dapat membaca intensif dan ekstensif secara efektif dan efisien. teknik retensi digunakan untuk membaca paragraf. 3. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. memindai buku. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai grafik. 6. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . Model membaca bawah atas. dan buku biografi. metode kalimat. metode kalimat. dan teknik yang sesuai dengan keperluan. . Model membaca bawah atas. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. 7. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra.  Membaca Pemahaman 2-65 yang dibaca. metode GPID. 8. metode kalimat dan paragraf. 5. 4. metode paragraf dan PQRST. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading). 1. teknik close reading digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra. metode S2QR. dan teknik retensi digunakan untuk membaca kritis teks sastra. dan teknik retensi digunakan untuk membaca artikel. Model membaca bawah atas. metode. Model membaca atas bawah. metode paragraf dan P2R. Model membaca bawah atas.

Model . Model . Model . metode. Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai grafik? menerapkannya! 4. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra? cara menerapkannya! 5. metode. Model . metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra? Jelaskan cara menerapkannya! 2. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca kritis teks sastra? menerapkannya! 6. Model . metode. LatihanSoal 1. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca buku biografi? menerapkannya! . Model . metode. digunakan untuk dan teknik membaca apakah yang dapat membaca pparagrafaf? Jelaskan cara menerapkannya! 7. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai buku? menerapkannya! 3. metode. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca artikel? Jelaskan cara menerapkannya! 8.2-66 Membaca Pemahaman   G. Model .

Bandung : Angkasa Bandung. Bandung: Sinar Baru Algensindo.P. 1979. Kholid A. Roger dan Nancy Roser. 1997. 2004. 1978. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2005. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2001. 2004. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Standar Isi. Ahkmad Slamet dan Yeti Mulyati. Speed Reading Better Recoding. A. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Fry. Gordon. dan Teknik. Haryadi. Henry Guntur. 2006. Tarigan. Nurhadi. Seni Membaca untuk Studi. Terjemahan Heru Sutrisno. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1994. 1990. Ferr. Membaca : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Harjasujana. Bandung: Angkasa Bandung. Skimming and Scanning. Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Membaca Efektif. Henry Guntur. D. Waingwright. Bandung : Angkasa Bandung. 2004. 1998. Harras. Tarigan. Membaca Cepat dan Efektif: Teori dan Latihan. Teaching a Child to Read. New York: Harcourt Brace Javanovich. Membaca 2. dan Lilis Sulistianingsih. Manfaatkan Teknik-teknik Teruji untuk Membaca lebih Cepat dan Mengingat secara Maksimal. . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2006. Retorika Membaca: Model. Nurhadi.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. Edward B. 2006. Tampubolon. Membaca 1. Metode. Soedarso. Semarang: Rumah Indonesia. Province: Rhode Island. Widyamartoyo.

. No. Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya. Yap. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2 (109-118). Relc Journal. 1989. Athur. Sumaryono. Vol J. “Some Apects of Reading”.2-68 Membaca Pemahaman   Wiryodijoyo. 1978.

BUKU AJAR MEMBACA PUISI .

pada umumnya puisi bersifat lirik. Pembaca puisi. Oleh karena itu. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi.MEMBACA PUISI A. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. Sebagai penghubung. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Oleh karena itu. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. Jadi. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung.

Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. Oleh karena itu. Sebagai penghubung. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca.3-2 Membaca Puisi MEMBACA PUISI A. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Jadi. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Oleh karena itu. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. pada umumnya puisi bersifat lirik. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. Pembaca puisi. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton.

Inilah yang menyebabkan orang “membedakan” antara baca puisi dan deklamasi. Varian Baca Puisi 1. Dalam bahasa aslinya baca puisi diartikan sebagai “membaca” puisi. sedangkan deklamasi diartikan sebagai “menyampaikan” puisi. meskipun . Istilah baca puisi baru muncul sekitar tahun 1960-an (Suharianto 1981:52). Agar enak dilihat berarti “semua gerak yang dihasilkan oleh anggota tubuh” si pembaca puisi harus juga benar dan indah. Dengan demikian. yaitu ketika WS Rendra memperkenalkannya. memang berasal dari bahasa yang berbeda. Istilah baca puisi berasal dari bahasa Inggris. Sebab dalam praktiknya. Dalam seni baca puisi. kedua istilah tersebut. Sebagai seni “audio-visual” seni baca puisi dituntut enak didengar dan enak dilihat. B. seni baca puisi hakikatnya merupakan “seni tontonan”. deklamasi dipahami sebagai penyampaian puisi yang menitikberatkan pada lepasnya teks ketika deklamator menyampaikan puisinya. pada praktiknya pembaca puisi “membawa” teks. Dalam tradisi di Indonesia. Istilah deklamasi lebih dulu dikenal masyarakat dibandingkan dengan istilah baca puisi. Istilah baca puisi merupakan terjemahan dari poetry reading (Amerika). Seni baca puisi adalah seni “audio-visual” (Suharianto 2001:2). yaitu baca puisi dan deklamasi. Dengan kata lain.Membaca Puisi 3-3 pendengar atau penontonnya “memahami dan merasakan” apa yang dibacanya tersebut. Namun. Agar enak didengar berarti “semua yang dihasilkan oleh alat ucap” si pembaca harus benar dan indah. sedangkan istilah deklamasi berasal dari bahasa Belanda. sebenarnya secara substansial antara deklamasi dan baca puisi tidak berbeda. Deklamasi Di Indonesia selain istilah seni baca puisi orang juga mengenal istilah deklamasi. Karena deklamator tidak membawa teks maka aktivitas di panggung dititikberatkan pada gerak tubuh dan vokal.

kesan kesedihan itu dapat dimunculkan oleh musik.3-4 Membaca Puisi membawa teks. baik yang berupa lagu maupun yang berupa instrumen merupakan satu kesatuan dengan puisi. keberadaan musik hanya sebagai pelengkap. penyertaan musik (instrumen) dalam pembacaan puisi. Wujud konkret musikalisasi puisi dapat berupa pembacaan puisi dengan cara dilagukan. Musik. Namun. bukan pengertian leksikal. Oleh karena itu. Dengan demikian. musik merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan. antara baca puisi dan deklamasi dalam praktiknya tidak berbeda. Dalam pembacaan puisi yang diiringi musik. orang yang membedakan antara deklamasi dan baca puisi mendasarkan anggapannya pada “kebiasaan” pembawanya. misalnya. yakni melihat teks. atau gabungan keduanya. Musikalisasi berbeda dengan baca puisi yang diiringi musik. Materi dasar seni baca puisi adalah puisi itu sendiri. banyak juga pembaca puisi yang sebenarnya hafal puisi tersebut. pembicaraan dalam buku ini. dalam musikalisasi puisi. Dengan demikian. Jika nada puisi itu gembira. baik mengenai konsep maupun dalam cara atau teknik penyampaian tidak dibedakan. Berangkat dari konsep tersebut. sedangkan materi dasar seni musik adalah lagu dan instrumen. sebenarnya makna yang terkandung dalam konsep “membaca” tidak sesempit yang banyak diartikan orang. Tanpa melihat teks pun upaya untuk menyampaikan dengan memahami sebuah teks sebenarnya dapat dikategorikan sebagai aktivitas membaca. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi merupakan upaya memusikkan puisi atau menggabungkan antara seni baca puisi dan seni musik. Jika dikaji lebih jauh. yakni lepas teks dan membawa teks. musikalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk memusikkan dan atau melagukan puisi. . Tentu saja dalam hal ini pengertian membaca merupakan pengertian dalam arti luas. jika puisi yang dibaca bernada sedih. Yang dimaksud dengan penyertaan instrumen di sini. 2.

olah tubuh. seni musik. dalam dramatisasi puisi diubah dalam bentuk dialog dengan menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakternya. Dalam kondisi demikian. dan sebagainya. Tidak ada drama yang tidak menyertakan dialog di dalamnya. Dalam pengertian sempit. Semua unsur seni tersebut melebur menjadi satu dalam teater. Oleh karena itu. 5. Bedasarkan hakikat drama tersebut. puisi hanya dibaca oleh satu orang atau dua orang secara bergantian. Dengan demikian.Membaca Puisi 3-5 suasana kegembiraan dapat dihadirkan oleh musik. dan seni rupa. 4. teaterikalisasi puisi—meneaterkan puisi-pada dasarnya merupakan peng-gerak-an puisi. Unsur yang paling menonjol dalam teater adalah unsur act atau gerak. Puisi dalam hal ini tidak sekadar kita baca. Sinematisasi Puisi Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata sinema? Film? Tentu sebuah tontonan di layar yang gambarnya tidak diambil . dengan pengubahan menjadi dramatisasi puisi. teater tergolong seni pertunjukan yang kompleks. Istilah sederhananya adalah mendramakan puisi. Dengan demikian. Dalam teater ada seni sastra. Ciri khas drama adalah adanya dialog. di dalamnya sudah ada unsur akting. tetapi sudah kita “mainkan” sebagai seni teater. Dramatisasi Puisi Dramatisasi puisi merupakan penggabungan seni puisi dan seni drama. puisi diubah menjadi dialog. 3. tidak sekadar kita dialogkan. Yang dimaksud dengan pendramaan puisi di sini adalah mendialogkan puisi. Teaterikalisasi Puisi Dibandingkan dengan seni yang lain. jika biasanya dalam seni baca puisi. keberadaan musik tidak sekadar menjadi pelengkap tetapi benar-benar menyatu dengan puisi untuk menampilkan suasana tertentu. musik. jika semula puisi bersifat monolog. seni gerak. dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai bentuk pendramaan puisi.

Sinematisasi puisi berangkat dari konsep tersebut. gambar ditampilkan setelah melalui proses pemilihan dan pengeditan. dan jika perlu ada pengulanagan pengambilan gambar. kita akan melihat proses permainan atau pembacaan itu berlangsung dari awal sampai akhir dengan plus minusnya. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pembaca. Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. Dalam film. Hal yang sama juga dapat terjadi pada pembacaan puisi. Jika kita menonton pertunjukan teater atau pembacaan puisi. calon pendengar. yaitu calon pembaca. dalam memilih . dan situasi pembacaan. C. dengan demikian. Kalau kita sebagai calon pembaca. sehingga proses pengambilan gambar dan pengeditan juga dilakukan sebelum pementasan atau pertunjukan dilakukan. bisa jadi ada gambar yang dihilangkan. Persiapan Baca Puisi 1. maka gangguan atau "kecelakaan" itu juga akan tampak. ada gambar yang dibalik waktu pemunculannya. Artinya. hal seperti ini tentu saja tidak akan terjadi dalam sinema atau film karena proses pengambilan gambar dapat dilakukan kapan saja dan pengeditan gambar memungkinkan menghilangkan gangguan atau "kecelakaan" itu.3-6 Membaca Puisi secara langsung tetapi merupakan hasil pengeditan. Namun. Memilih Puisi Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. jika dalam proses pementasan atau pembacaan itu terjadi gangguan atau "kecelakaan". Kita tentu pernah merasakan betapa “tidak enaknya” mendengar orang menyanyi tetapi lagu yang dipilihnya tidak sesuai dengan karakter suaranya. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi. Pembacaan puisi diformat dalam bentuk film atau sinema. Dalam pengeditan itu.

Sebaliknya. Pendidikan akan menentukan tingkat kesulitan puisi yang harus kita baca. Semakin tinggi tingkat pendidikannya. sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. Jika perlu disesuaikan dengan keinginan dan kesenangan kita. kemampuan memahami. menikmati pembacaan puisi tidak sekadar sebagai hiburan. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah siapa calon pendengar. Bagi pendengar golongan pertama. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. isi puisi dan panjang pendeknya puisi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan pendengar. akan sesuai kita baca di hadapan pendengar yang agamanya sama. Oleh karena itu. puisi yang harus kita pilih adalah puisi yang tidak memihak salah satu agama. Yang dimaksud kemampuan di dalamnya termasuk keuatan fisik dan suara. yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. Namun. agama. sebagian besar pendengar “senang” mendengarkan pembacaan puisi kita. akan semakin teliti kita dalam memilih puisi. misalnya. Agama juga berpengaruh pada pemilihan isi puisi. Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pendengar? Kita dapat menyebutkannya selengkap mungkin. Usia pendengar . Secara umum pembaca dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi. semakin tinggi pula kemampuan mencerna puisi. jika pendengar agamanya berbeda. setidaknya.Membaca Puisi 3-7 puisi harus kita sesuaikan dengan kemampuan kita. dan kemampuan mengekspresikan. Dengan demikian. pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda. Hal lain yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pendengar antara lain masalah pendidikan. Tentu saja dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan mungkin bisa memuaskan seluruh pendengar. Puisi-puisi keagamaan. tetapi bagi pendengar golongan kedua memandang pebacaan puisi “hanya” sebatas hiburan. dan usia. Semakin banyak kita mengetahui pendengar.

Semakin rendah usia pendengar. siang atau malam hari. Demikian juga dengan puisi yang bahasanya susah dicerna. dan sederhana-tidak sederhananya bahasa puisi. semakin ringan isi puisi yang harus kita siapkan. Untuk tempat yang terbuka. dan semakin sederhana bahasa puisi yang digunakan. kematian. di luar atau di dalam ruangan. puisi yang sesuai untuk dibaca adalah puisi yang tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sederhana. gembira. Selain suara pembaca puisi harus bersaing dengan suara alam–angin atau suara-suara lain—pandangan pendengar juga tidak hanya tertuju kepada pembaca karena ada alternatif yang lain. dalam suasana sedih. Meskipun tidak dijelaskan di sini. untuk jenis pembaca umum. tempat terbuka jauh lebih susah dikendalikan. Puisi yang panjang akan melelahkan pendengar. . dan serius. dalam menentukan puisi kita juga harus memahami situasi pembacaan. akan sangat melelahkan pendengar. atau serius. Ketiganya membutuhkan jenis puisi yang berbeda. Kita dapat membedakan suasana atas suasaana sedih.3-8 Membaca Puisi berpengaruh pada penentuan panjang pendeknya puisi. dan sebagainya. berat-ringannya isi uisi. kita tentu akan dengan mudah memilih puisi mana yang cocok untuk dibaca dalam ulang tahun perkawinan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi--di mana tempatnya. Tempat yang tertutup atau terbuka akan memengaruhi pemilihan puisi. Selain calon pembaca dan pendengar. Dengan memerhatikan tiga hal tersebut. Ketiganya membutuhkan corak puisi yang berbeda. Oleh karena itu. tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih: terbuka atau tertutup. Hal ini dimaksudkan agar “daya jangkau” pembacaan puisi tersebut sampai kepada seluruh pendengar. gembira. Suasana akan menentukan pemilihan isi puisi. Dibandingkan dengan tempat tertutup. atau pengukuhan guru besar. semakin pendek puisi yang harus kita siapkan.

Yang diaksud dengan isi puisi di sini adalah apa saja yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembaca puisi. (2) Bersifat melodius. (1) Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. misalnya. namun juga tidak terlalu panjang. (5) Isinya sesuai dengan pendengar dan situasi. (3) Bahasanya sederhana. nilai-niai. Oleh karena itu. Kita dapat mengira-ira sendiri panjang pendeknya puisi tersebut berkaitan dengan tempat pembacaan dan pendengar. Arti bersifat melodius adalah jika dibaca puisi tersebut akan memunculkan nada dan irama “yang enak” didengar. pembacaan ternyata sudah berakhir. Panjang pendeknya puisi menjadi pertimbangan khusus dalam memilih puisi. Syarat terakhir adalah isi puisi harus disesuaikan dengan pendengar. Syarat berikutnya adalah bersifat teaterikal. Sebaliknya. Istilah sederhananya. kejenuhan pendengar akan terlihat. Jika pendengarnya anak-anak. (4) Bersifa teaterikal. nilai atau yang lain itu harus disesuaikan dengan pendengar pembacaan puisi. Ada puisi yang secara mudah memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh kita ketika kita harus membacanya. apakah itu berupa amanat. puisi yang terlalu panjang akan melelahkan pendengar. atau apa pun bentuknya. Gerakan tubuh ini disesuaikan dengan puisi. Dalam pembacaan puisi dibutuhkan juga gerakan tubuh. Pesan. namun ada pula puisi yang susah kita maknai dengan gerakan tubuh. Puisi yang terlalu pendek tidak akan memperlihatkan isi puisi yang jelas dan tidak akan mampu mengondisikan pendengar pada pembacaan puisi. ketika pendengar baru akan merasakan puisi itu. Syarat yang kedua bersifat melodius.Membaca Puisi 3-9 kita dapat memilih puisi yang memenuhi syarat berikut. puisi yang kita pilih haruslah tidak terlalu pendek. kesan. . tentu puisi yang kita pilih akan lebih pendek jika dibandingkan dengan mahasiswa. kesan terhadap sesuatu. Belum lagi kalau pembacaannya bersifat monoton.

Salah satu ciri puisi yang cukup menonjol adalah bersifat konsentrif. Oleh karena itu. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman-pengalaman penyair. perlulah kita membedah puisi tersebut dengan maksud untuk memahami puisi yang dimaksud. Jika pemahaman kita terhadap puisi salah. Kesemua itu telah diramu dengan perasaan dan pikiran penyair yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk puisi. yang dengan demikian tidak secara langsung menyampaikan sesuatu tadi: pengalaman. Dengan kata lain. dan bisa juga hasil pengembaraan imajinasi penyair. nada dan suasana puisi yang bersangkutan. . Memahami Puisi Sebelum membaca puisi. alam sekitar. kecuali harus memahami cara mengucapkan lambang-lambang bahasa puisi bersangkutan pembaca puisi dituntut dapat menjadikan puisi yang akan dibacanya itu sebagai “miliknya” sendiri. pembacaan puisi yang kita lakukan tidak akan sempurna. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. serta dapat menentukan irama dan lagu yang tepat pada puisi yang akan dibacanya. Kata-kata yang digunakan dalam puisi adalah kata-kata kias atau pelambang. terlebih dahulu kita harus memahami isi puisi tersebut. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar maksud atau arti puisi yang akan dibaca.3-10 Membaca Puisi 2. gagasan atau ide atau keinginan-keinginan tertentu dari penyair. Pemahaman puisi dapat dilakukan dengan cara membuat parafrase puisi terlebih dahulu. dan sebagainya. Maksud langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca. dan gagasan kepada pembacanya. manusia lain. Pada hakikatnya puisi merupakan sebuah media yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan sesuatu kepada pembaca. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan ketika berhadapan dengan Tuhan. keinginan.

yaitu pelatihan dasar dan pengayaan. Salah satu cara untuk membantu usaha tersebut adalah dengan membuat parafrase terlebih dahulu. . Pelatihan tidak langsung adalah pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung atau memperkaya kemampuan membaca puisi. Ada dua jenis pelatihan secara tidak langsung. pelatihan konsentrasi. secara teoretis. menangkap Oleh karena hal-hal tersebutlah maka untuk memahami sebuah puisi dibutuhkan cara khusus yang terutama dapat memudahkan pembaca memahami kata-kata kias dan maksud-maksud yang tersembunyi dalam puisi. dan stamina pembacaan menjadi semakin kuat. pelatihan vokal. Inti pelatihan pernafasan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengatur pernafasannya sehingga vokal menjadi lebih jelas. Pelatihan Tidak Langsung Pelatihan tidak langsung dimaksudkan sebagai pelatihan yang tidak berhadapan secara langsung dengan puisi yang akan dibaca. dan pelatihan ekspresi. dialog menjadi lebih lancar. akan semakin tinggi pula modal kita dalam membaca puisi. yaitu pelatihan pernafasan.Membaca Puisi 3-11 Hal ini menjadikan pembaca tidak bisa secara langsung sesuatu dari puisi tersebut. pelatihan ini dapat dilaksanakan jauh sebelum kita membaca puisi. (1) Pelatihan Dasar Ada beberapa macam bentuk pelatihan dasar. 3. Bentuk pelatihan semacam ini tentu saja masih dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa bentuk lain. pelatihan olah tubuh. Pelatihan Baca Puisi a. Oleh karena itu. Pelatihan pernafasan merupakan pelatihan dasar yang bertujuan untuk memberikan kemampuan mengatur nafas—menarik dan mengeluarkan nafas—agar tidak mengganggu ucapan dan memperkuat stamina pembaca puisi. Semakin lama masa kita berlatih secara tidak langsung.

Pengayaan dalam hal ini diartikan . Dalam konsentrasi ini seorang pembaca puisi harus mampu menundukkan panca-indranya. Lebih jauh. Pelatihan vokal bertujuan untuk menciptakan vokal yang baik sehingga seorang pembaca puisi memiliki kemampuan mengucapkan kata-kata dengan jelas. pelatihan vokal juga bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan seorang pembaca puisi dalam menyampaikan puisi. dan mempunyai kekuatan untuk bermain sampai pembacaan selesai tanpa kehabisan suara.3-12 Membaca Puisi Yang dekat dengan pelatihan pernafasan adalah pelatihan konsentrasi. Untuk mampu menyatu dengan puisi yang dibacanya diperlukan konsentrasi yang kuat. mampu menguasai panggung dengan suaranya. Dalam sebuah permainan pemusatan pikiran menjadi amat penting keberadaannya karena tanpa pemusatan pikiran permainan tidak akan berjalan dengan sempurna. dalam hal ini menyangkut intonasi dan aksentuasi. pikirannya. serta seluruh anggota tubuhnya dan kemudian mampu memerintahkannya untuk berlaku sesuai dengan isi puisi yang akan dibacanya. maka istilah lain yang sering digunakan adalah pemusatan pikiran. yang dapat digolongkan ke dalam pelatihan tidak langsung adalah pengayaan. Jenis pelatihan dasar yang terakhir adalah pelatihan ekspresi Ekspresi adalah kemampuan seorang pembaca puisi dalam menampilkan ekspresi wajah sesuai dengan susasana puisi yang dibaca. Gerakan anggota tubuh harus selalu selaras dengan isi puisi. Oleh karena inti pelatihan konsentrasi ada pada kemampuan memusatkan perhatian. juga harus selaras dengan kondisi panggung. (2) Pengayaan Selain pelatihan dasar. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi dengan cara mengadakan pelatihan olah tubuh. Tugas seorang pembaca puisi adalah menyatukan dirinya sendiri dengan puisi yang dibacanya. Olah tubuh menyangkut pelatihan bagaimaan supaya anggota tubuh seorang pembaca puisi menjadi lentur dan selalu mendukung penampilan. uraturatnya.

apa yang kita lakukan ini tergolong sebagai pengayaan. baik secara teoretis maupun secara praktis. dan sebagainya. pengayaan juga dapat kita lakukan dengan membaca teori baca puisi. Selain dengan menonton pembacaan puisi. baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Kita bisa menempuh cara ini dengan bertanya atau berdiskusi dengan orang lain yang kita pandang mampu dalam membaca puisi. akhirnya kita pun dapat “menirukan” membaca puisi. Namun. Ketika kita membaca buku ini. karena hampir tiap hari kita mendengar lagu tersebut. persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum kita membaca puisi. Kondisi seperti ini tergolong pelatihan secara langsung. semakin kaya pula pemahaman kita tentang cara membaca puisi. apa saja yang diperlukan dalam membaca puisi. Melalui ativitas “menonton” orang membaca puisi kita akan mengenal bagaimana cara membaca puisi. Dalam hal membaca puisi peristiwa semacam ini juga sering terjadi. untuk memperkaya pemahaman atau keterampilan kita dalam membaca puisi. Kita tidak pernah secara sengaja menghafalkan lagu tersebut. kita secara teoretis akan mengetahui bagaimana cara membaca puisi.Membaca Puisi 3-13 sebagai upaya. Melalui dialog atau tanya jawab dengan narasumber kita bisa menggali informasi-infirmasi yang kita butuhkan dalam pembacaan puisi. misalnya. Melalui aktivitas membaca buku ini atau buku-buku lain yang sejenis. akhirnya tanpa disadari tidak sengaja kita telah hafal lagu tersebut. namun karena kita sering mendengar orang membaca puisi. unsur apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai pembacaan puisi yang baik dan yang tidak baik. Semakin sering kita menonton pembacaan puisi. Barangkali kita sering secara tidak sadar hafal baris-baris lagu tertentu. tidak . Meskipun kita “merasa” tidak mampu membaca puisi. Cara lain untuk pengayaan adalah dengan berdialog atau mengikuti seminar-seminar.

kematian itu. karena angin pada kemuning. pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. . Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Ia melihat peta. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Ada beberapa tahapan dalam pelatihan secara langsung. Pelatihan Langsung Pelatihan langsung adalah pelatihan dengan cara menghadapi teks yang akan dibaca secara langsung. Perhatikan puisi berikut ini. (1) Membuat Baris Pembacaan Ketika berhadapan langsung dengan puisi. Tapi di antara mereka berdua. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. nasib. karena ia tak berani lagi. pelatihan langsung berarti pelatihan dengan cara kita menaiki secara langsung sepeda yang dimaksud. yang jauh.3-14 Membaca Puisi b. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. Jika diibaratkan sebagai pelatihan naik sepeda. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. tidak ada yang berkata-kata.

Sebab bila esok …………………………………………………………………………. adikku. Menghadapi puisi seperti itu tentu dengan mudah kita akan mendapatkan baris-baris yang jika kita baca tidak akan utuh maknanya. ……………………………………………………………………. Puisi tersebut ditulis sesuai dengan aslinya. kulupakan wajahmu. kaulupakan wajahku. Kelengkapan makna barisbaris tersebut ada pada baris-baris berikutnya. yaitu dengan baris dan bait yang tetap. makna puisi tidak akan muncul. Bulan pun lamban dalam angin.Membaca Puisi 3-15 Anjasmara.. abai daam waktu. tinggallah. karena kita membaca secara tidak lengkap. Berkaitan dengan hal tersebut. langkah awal dalam berhadapan dengan puisi adalah mengubah baris-baris puisi tersebut ke dalam barisbaris pembacaan. jika kita membaca puisi dengan memenggal per baris seperti itu. Ia dengar resah kuda serta langkah …………………………………………………………………………. Oleh karena itu. Yang dimaksud dengan baris pembacaan adalah baris . Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti.. Bukankah akan sangat janggal jika kita membaca baris-baris puisi tersebut secara sepotong-sepotong? Mengapa bisa demikian? Yya. Baris dan bait tersebut masih membutuhkan interpretasi untuk dibaca. karena angin pada kemuning. Lewat remang dan kunang-kunang. seperti dulu. Perhatikan baris kedua dan baris ketiga pada bait pertama dan baris pertama pada bait ketiga puisi tersebut seperti berikut ini. Oleh karena itu. langkah-langkah dalam berlatih harus dimulai dari penafsiran akan baris-baris tersebut.

Dengan model puisi “Asmaradana” seperti tersebut di atas. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. Tapi di antara mereka berdua. kaulupakan wajahku. abai dalam waktu. kematian itu. kulupakan wajahmu. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh. jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. Bulan pun lamban dalam angin. tinggallah. karena angin pada kemuning. nasib. Ia melihat peta. seperti dulu. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.3-16 Membaca Puisi puisi yang kita buat sendiri—bukan oleh penyair—yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. karena ia tak berani lagi. Lewat remang dan kunang-kunang. . adikku. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. tidak ada yang berkata-kata. Anjasmara.

Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan.Membaca Puisi 3-17 (2) Membuat Pemenggalan Pembacaan Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan. berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad. langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas. Oleh karena itu. Sebagai bahan pelatihan. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar / dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning // Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati / ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh // Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata // Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu// Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan // Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis // Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara / ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba / karena ia tak berani lagi // Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu // .

hilang pedih peri. atau yang lain. baris-baris puisi. (4) Melafalkan puisi Melafalkan puisi. Karena itu. riang gembira. atau isi puisi yang ada. Selain itu. Seperti puisi "Aku" karya Chairil Anwar. pelan melankolis. atau lebih luas mengintonasikan puisi. Dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Muhamad. Cara mencari suasana puisi dapat melalui diksi yang digunakan. pemahaman terhadap suasana puisi menjadi penting.3-18 Membaca Puisi Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu // Lewat remang dan kunang-kunang / kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu // (3) Mencari suasana puisi Ada puisi yang bersuasana sedih. perpisahan. ada yang bersuasana gembira. marah. Suasana puisi ini merupakan kunci dalam melafalkan puisi. misalnya. dan kesesuaian lagu yang kita pilih dengan isi atau maksud puisi. muncul kata resah kuda. Ada puisi yang diksinya condong pada suasana tertentu. misalnya. Suasana kesedihan atau paling tidak kesepian. kematian. Kata atau baris tersebut mengisyaratkan suasana semangat. mau hidup seribu tahun lagi. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang . Apakah kita akan membaca puisi dengan semangat menyala-nyala. muncul dalam puisi tersebut. kata atau baris yang digunakan antara lain. (5) Menjiwai puisi Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. berlari. perlu juga kita perhatikan kejelasan ucapan. atau yang lain. antara lain ditentukan oleh suasana puisi tadi. Bagaimana cara kita harus membaca puisi antara lain ditentukan oleh suasana puisi. dan semacamnya. variasi intonasi (tidak monoton). semangat. ditentukan oleh suasana puisi.

Karena itu. gaya apa pun yang . Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi di panggung adalah teknik muncul. cara membaca judul. seyogyanya kita memakai gaya konvensional. karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. pandangan mata. D. misalnya "Chairil Anwar dalam goresan penanya: Aku". dan blocking. Dengan demikian kita tidak akan overacting. Kalau pendengarnya orang yang tidak menyukai puisi. cara memegang teks. serta ekspresi akan mengikutinya. penghayatan penuh harus kita lakukan. Pilihan model pembacaan ini ditentukan oleh pendengarnya. Konsentrasi menjadi kata kunci dalam pelaksanaan teknik muncul. Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan. Dengan demikian. misalnya "Aku karya Chairil Anwar". dapat juga dengan gaya tertentu. Prinsip memegang teks yang paling penting adalah tidak menutupi wajah dan tidak mengganggu gerakan pada saat membaca puisi. Yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah kesiapan pembaca dan kesiapan pendengar. Namun kalau pendengarnya orang yang menyenangi puisi. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud. Judul puisi dapat kita baca secara konvensional. keberhasilan pembacaan puisi di panggung juga akan ditentukan oleh hasil pelatihan itu sendiri. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh.Membaca Puisi 3-19 benar. jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Teknik muncul adalah cara kali pertama kita muncul di panggung. Membaca Puisi di Panggung Membaca puisi di panggung berarti mempraktikkan hasil pelatihan.

namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting. Dalam membaca puisi sesungguhnya kita sedang berdialog dengan pembaca. 1. vokal. Meskipun begitu. Paling tidak dalam langkah ini kita harus mampu menangkap apa makna yang terkandung dalam puisi itu. Pandangan mata juga harus kita jaga. tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Penghayatan Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. Yang terakhir adalah masalah blocking. jangan pula kita menatap mata pendengar atau penonton. apa makna . maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. Karena itu. Aspek Penilaian Baca Puisi Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi. yaitu penghayatan. dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama. dan penampilan. Jika. terlebih dahulu kita harus memahaminya. Panggung harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga posisi kita di panggung menjadi "enak" dilihat oleh penonton. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. misalnya. Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi. E. Oleh karena itu.3-20 Membaca Puisi kita gunakan tidak masalah. Meskipun ketiga komponen tersebut samasama penting. sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi. Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. mata kita tidak boleh menjauhi pendengar. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi.

(3) ekspresi. Perempuan itu terisak. dan bagaimana suasananya. sebagai berikut. (1) pemenggalan. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. (2) nada dan intonasi. Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair “sesuatu” kepada itu.Membaca Puisi 3-21 simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut. Meskipun ia mengecup rambutnya . Pemahaman itu pula yang akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari baris puisi menjadi bagian-bagian pembacaan. yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya. Meskipun ia mengecup rambutnya (Dongeng Sebelum Tidur. Goenawan Mohamad) Tanpa memahami isi puisi tersebut. Perhatikan petikan puisi berikut ini. kita tidak akan dapat memenggal secara tepat baris-baris puisi “Dongeng Sebelum Tidur” itu menjadi. Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam tiga hal berikut. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. pendengar bagaimana atau penonton. misalnya. kita Tanpa dapat mengetahui mungkin menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. Perempuan itu terisak.

suasana serius atau sungguh-sungguh. dan tekanan dinamik. Variasi tersebut ditentukan oleh corak puisi. Melalui pemenggalan itu pula larik-larik puisi dapat sampai kepada pendengar atau penonton secara sistematis. Harus ada variasi. demikian pembacaan tersebut tidak bersifat datar-datar saja atau bersifat monoton. aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang kita baca yang harus memdapatkan penekanan.3-22 Membaca Puisi Pemenggalan dalam pembacaan puisi tidak sekadar berhubungan dengan pengambilan nafas. memperkeras atau memperlemah pembacaan. Melalui pemahaman pula kita dapat mengekspresikan puisi secara tepat. Ekspresi secara sempit dapat terlihat pada wajah. Dari seluruh . intonasi harus dalam secara bervariasi. Tekanan dinamik menyangkut lemah-kerasnya pembacaan puisi. Berkaitan dengan intonasi. Intonasi digunakan keras-lemah. dan mempertinggi atau memperendah pembacaan. Tekanan nada menyangkut tinggi-rendahnya pembacaan puisi. Dengan dan cepat-lambat. ahal penting yang harus kita perhatikan adalah masalah tekanan atau aksentuasi. Suasana-suasana tersebut harus dimunculkan dalam pembacaan puisi secara tepat. dan suasana santai atau main-main dalam puisi. Melalui pemahaman puisi kita juga dapat menentukan intonasi atau lagu dalam pembacaan puisi. Selain suasana sedih dan semangat. Melalui pemenggalan itulah pendengar atau penonton akan lebih mudah memahami puisi yang kita baca. Ketiga tekanan tersebut dapat digunakan untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada puisi yang kita baca. kita tentu masih bisa menjumpai suasana gembira. tekanan tempo. Kita bisa memberikan tekanan pada puisi dengan cara mempercepat atau memperlambat pembacaan. tinggi-rendah. Jika intonasi menyangkut tekanan nada. tetapi juga berhubungan dengan pemaknaan baris-baris puisi. Tekanan tempo menyangkut cepat-lambatnya pembacaan puisi.

Akan sangat terlihat orang yang membaca puisi mempunyai penghayatan yang tinggi atau tidak telihat pada matanya. atau kecil. Namun. mata kesedihan. Mata kemarahan. semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan. yaitu: (1) kejelasan ucapan. besar. harus kita ekspresikan secara maksimal sesuai dengan isi atau suasana puisi. dan (4) kelancaran. Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. Warna suara berat. kunci ekspresi sebenarnya ada pada mata. Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu . Ketika kita membaca puisi dengan lambat. atau yang lain. kejelasan ucapan mungkin akan lebih terlihat. kejelasan ucapan benar-benar harus dijaga karena bisa terlewatkan. (3) ketahanan. jika kita membaca puisi dengan suara tinggi dan tempo yang cepat. Vokal Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini.Membaca Puisi 3-23 anggota tubuh manusia. b. tinggi. (2) jeda. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. Perhatikan bait kelima puisi “Pembuka” di atas.

(1) blocking dan pemanfaatan setting. Selain kejelasan ucapan. (2) gerakan tubuh. Pada kondisi tersebut. Selain itu. c. (3) cara berpakaian. menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton. Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. biasanya pengucapan katakata atau baris-baris puisi tidak lancar. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. kejelasan ucapan harus dijaga. kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan. Penampilan Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalanpersoalan: teknik muncul. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. ketahanan sangat dibutuhkan. Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi .3-24 Membaca Puisi Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Bait tersebut menghendaki pembacaan yang cepat dan tinggi. masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Terutama untuk puisi panjang. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama.

Membaca Puisi 3-25 dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. suasana dialogis tidak akan tercipta. Dalam pembacaan puisi juga demikian. Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. atau campuran keduanya. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. . blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita. kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. sebelum puisi kita baca. pada saat pertama kita muncul di panggung. membelakangi. Secara umum ada dua jenis blocking. begitu kita berdiri di panggung. Oleh karena itu. itu semua merupakan persoalan blocking. kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan. berdiri di satu tempat saja. maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. itulah persoalan blocking. Apakah kita harus menghadap penonton. apakah kita harus berjalan-jalan. Dalam sebuah dialog. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya. Secara teoretis. atau campuran keduanya. sebelum membaca puisi. apakah kita harus duduk. berdiri. Pendek kata. yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap. Sebaliknya. kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton. atau gabungan keduanya.

puisi “Aku” karya Chairil Anwar. kita tidak bisa lepas dari bentuk panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. Gerakan tubuh dalam hal ini merupakan perwujudan ekspresi atas penghayatan pembaca pada puisi yang dibacanya. Blocking juga berkaitan dengan pemanfaatan setting. panggung didesain sedemikian rupa sehingga memuncculkan nilai artistik. Artinya. ada pula yang menghendaki blocking dinamis. Ukuran baik-tidaknya gerakan tubuh dalam pembacaan puisi adalah kesesuaian dengan jiwa puisi. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis. pembaca puisi mengucapkan baris: Lihatlah . Ketika . Ketika kita berada di panggung. tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. misalnya. gerakan tubuh dalam pembacaan puisi tidak bisa disamakan untuk setiap orang. misalnya. Oleh karena itu. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad. Dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Jika model panggung sudah dibuat demikian. pembaca puisi harus menyesuaikan diri—atau bahkan memanfaatkan—dengan panggung dan segala peralatan yang ada di panggung.3-26 Membaca Puisi Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. Sebaliknya. Dalam pertunjukan secara khusus. Gerakan tubuh seharusnya kita biarkan muncul sendiri sebagai akibat adanya penghayatan pada puisi. atau pemanfaatan benda-benda atau apa pun bentuknya yang ada di panggung. Masing-masing orang mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu. Banyak orang menduga bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi harus disiapkan atau dilatih secara khusus seperti halnya gerakan pada penari latar pertunjukan musik. Hal ketiga yang harus kita perhatikan berkaitan dengan penampilan adalah masalah gerakan tubuh. tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis. pembaca puisi tidak bisa lepas begitu saja dengan model panggung.

Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi selain selaras dengan jiwa puisi. Ketiga komponen pembacaan puisi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai kriteria penilaian pembacaan puisi. Yang lebih baik. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal berpakaian. jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mengganggu pembacaan puisi. juga akan selaras dengan kebiasaan atau cara pembaca puisi mengekspresikan puisi tersebut. ketika kita harus membaca puisi “Pembuka” karya Emha Ainun Nadjib. ukuran baik-tidaknya dalam pembacaan puisi dapat dilihat dari ketiga komponen tersebut. Yang terpenting. Pembacaan puisi yang baik adalah pembacaan puisi yang penghayatan. pakaian harus sejalan dengan isi puisi. . misalnya. Bagaimana sebaiknya kita berpakaian ketika menghadap Tuhan? Tentu bukan pakaian yang terbuka. Isi puisi tersebut adalah dialog antara manusia dan Tuhan. Sebagai contoh.Membaca Puisi 3-27 Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan masing-masing orang akan berbeda dalam menggerakkan tangan atau anggota tubuhnya. Meskipun tidak terlalu penting. masalah pakaian juga perlu kita perhatikan dalam pembacaan puisi. vokal. dan penampilannya baik. Karena itu. . tentu akan menjadi tidak tepat kalau pakaian kita terbuka.

Bahan Pelatihan Baca Pusisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. 2001. Abdul Azis. Pengantar Apresiasi Puisi. Sekilas Mengenai Seni Baca Puisi. Marjorie. 2008. Doyin. Teori dan Apresiasi Puisi. 26-31 Mei 2001. Bahan Pelatihan Baca Puisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. . Modal Dasar bagi Calon Aktor. 26-31 Mei 2001. 2001. Jakarta: Pustaka Jaya. Mukh. The Anatomy of Poetry.DAFTAR PUSTAKA Boleslavsky. Banjarbaru: Dewan Kesenian Daerah. Pengajaran Apresiasi Puisi. 1979. dan Penilaian). London: Routledge and Keagan Paul. Herman J. Semarang: Bandungan Institute. Doyin. Depdikbud. 1982. Tambayong. 1981. Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani). Seni Baca Puisi (Persiapan. 1981. 2001. 1982. 2001. Gani. 1981. Bandung: Pustaka Waluyo. Tahapan dalam Pelatihan Membaca Puisi. Dasar-Dasar Teori Sastra. 1979. Surakarta: Widyaduta. Suharianto. Suharianto. S. Tentang Bermain Drama. Mukh. S. Rizanur. Jakarta: P3G Hanindawan. Richard. Suharianto. Jakarta: Erlangga. Rendra. Masalah Penyutradaraan. Muslim. Boulton. Prima. Seni Teater. Jakarta: Pustaka Jaya. Dasar-Dasar Dramaturgi. Pelatihan. 1995. Mukh. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Doyin. 2001. Japy. S. Surakarta: Widya Duta. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang.

mereka yang aku tak sanggup memanggilnya ke Mahkamah Pengadilan resmi Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. inilah doaku sebagai seorang hakim Tuhanku: Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. mereka yang selalu memperkosa hak-hakku sebagai seorang hakim yang selalu melumpuhkan rasa keadilan dalam kalbuku Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. PEMBUKA . oh Tuhan Betapapun aku mendengar hati nuraniku terus menjerit PadaMu aku tak bersembunyi Engkaulah Yang Mahatahu derita dan kebimbanganku Setelah doa bagiku sendiri selesai Akhirnya.Membaca Puisi 3-29 Pelatihan: Bacalah puisi berikut dengan benar! DOA SEORANG HAKIM PENSIUNAN DI JAMAN PENJAJAHAN Leon Agusta Tuhan Masih sudikah engkau mendengarkan aku? Setelah aku hukum mereka yang aku yakin tidak bersalah Setelah aku bebaskan mereka yang aku yakin mereka telah bersalah Setelah aku bebaskan diriku yang mengabaikan rasa keadilan Hambamu ini sungguh tak berdaya. mereka yang aku tak pernah berani mengadilinya Amin.

malam ini pun Kami tak berada di mana-mana Melainkan di hadapanMu Tapi kami sering lupa Sebab mengalahkan musuh-musuhMu Yang kecil saja. kami tak kuasa. Gusti Inilah tawananMu Tak berani menengadahkan muka Mripat kami yang terbuka Telah lama menjadi buta Sebab telah menyia-nyiakan dirinya Dengan hanya menatap Hal-hal yang maya Gusti Kami berkumpul di sini Untuk mengukur keterbatasan kami sendiri Melontarkan beratus kata Seperti buih-buih Agar melayang ke udara Dihisap kembali oleh telinga agungMu Dan tinggal jiwa kami termangu-mangu di sini Menunggu tetesan-tetesan firmanMu Yang membeningkan hidup kami .3-30 Membaca Puisi Emha Ainun Nadjib Gusti Seperti kapan saja.

Membaca Puisi 3-31 Gusti Kami pasrah sepasrah-pasrahnya Kami telanjang setelanjang-telanjangnya Kami syukuri apapun Karena rahasiamu agung Tak ada apa-apa yang penting Dalam hidup yang sejenak ini Kecuali berlomba lari Untuk melihat telapak kaki siapa Yang paling dahulu menginjak Halaman rumahMu Gusti Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Gusti Masa depan kami sendiri kami bakar Tapi engkau terlampau sabar Peradaban kami semakin hina .

Malam ini taklagi kulihat kunang-kunang Yang dengan cahaya tubuhnya Berputar-putar di depan rumah Mungkinkah mereka kedinginan Karena hujan terus-menerus berjatuhan Ataukah karena halaman rumah ini Yang tak lagi mampu menyalakan cahayanya .3-32 Membaca Puisi Tapi engkau terlalu bijaksana Kelakuan kami semakin nakal Tapi engkau mahakebal Nafsu kami semain rakus Tapi rakhmatmu tak kunjung putus Kemanusiaan kami semakin dangkal Sehingga engkau pun semakin mahal Gusti Kamilah pesakitan Yang tak berwajah lagi Kaki dan tangan ini Kami ikat sendiri Hukum atau ampuni kami Mohon segeralah Hampir kami tak tahan Menunggu dan menanti SAAT HUJAN DATANG Mukh Doyin Mama.

mama Tak ada tangis. memang Tapi kegelapan ini Jauh lebih menusuk hati Ketimbang tangis dan rintihan para dewa Mama. Tersenyumlah Agar kunang-kunang dan rembulan Tak lagi tenggelam dalam kegelapan malam .Membaca Puisi 3-33 Angin masih saja berhembus Membawa suara-suara burung malam Yang terbatuk-batuk karena hujan Membawa riak-riak gelombang laut Yang keruh karena hujan Membawa kesunyian malam Yang beku karena hujan Lihatlah. mama Bulan di atas pun tak lagi tampak Langit yang hitam pekat Telah mengurungnya Adakah yang bias dikerjakan dewa-dewa di atas sana Dalam gulita seperti ini. memang Tak ada rintih.

BUKU AJAR MENULIS RESENSI BUKU .

resensi buku dikenal dengan “recensie”. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama. Pembuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan. 2) mengapa ia menulis buku itu?. atau menilai. MENULIS RESENSI BUKU DI SMA A. KOMPETENSI DASAR Menguasai hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA. (c) memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. mengungkapkan kembali isi buku. (d) menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit. 3) apa pertanyaannya?.BAB I. membahas. dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. yaitu: (a) memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku. yaitu “revidere” atau “recensere” yang artinya melihat kembali. STANDAR KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA B. (b) mengajak pembaca untuk memikirkan. yaitu mengulas buku. Dalam bahasa Belanda. 5) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang . atau mengkritik buku. sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “review”. menimbang. merenungkan. seperti: 1) siapa pengarangnya?. C. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA 1. 4) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?. Hakikat Resensi Menurut Samad (1997:1) resensi berasal dari bahasa Latin.

Resensi berarti pertimbangan atau pembicaraan. sebuah resensi juga seringkali mengandung nilai advertensi. (e) untuk pembaca yang membaca resensi agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku atau jika tidak ada waktu untuk membaca buku maka dapat membaca resensi tersebut (Samad 1997:2). Sayuti juga menjelaskan bahwa buku yang diresensi biasanya merupakan buku terbitan baru. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. bedah. Istilah yang lain yang sering dipakai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan. Jadi. maksudnya resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca (tentu saja setelah mereka membeli). atau ulasan buku (Sayuti 2002:13). b) memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga penilaian itu diketahui khalayak. seorang penulis resensi buku ingin membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu. Sedangkan menurut Keraf (2001:274) resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. c) . Oleh karena itu. Sedangkan menurut Djuharie dan Suherli (2005:21) resensi merupakan salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara memberikan komentar secara objektif. Dengan kata lain. di samping nilai informasi. resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni.4-2 Menulis Resensi Buku dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?. Tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut: a) menimbang agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang membutuhkannya. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu.

Berdasarkan pendapat di atas. c) peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera. resensi yang dimuat di surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. f) memberikan pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra (untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan. tingkat pendidikan. setting (untuk pementasan) dengan bahan yang ditulisnya atau sajian pementasan. Sedangkan tujuan resensi adalah memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang terungkap dalam buku atau hasil karya dan memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. d) menghargai keunggulan dari suatu penulisan buku atau penyajian pentas. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. Dasar-Dasar Resensi Pada saat membuat resensi. Atas dasar itu. dan sebagainya. yaitu: a) peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain.Menulis Resensi Buku 4-3 melihat kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian karakteristik tokoh. 2. b) peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. resentator harus menguasai dan mengetahui bahan yang akan diresensi. d) peresensi memahami . dari kalangan macam apa asalnya. dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi. penokohan. Samad (1997:2-3) menyebutkan dasar-dasar resensi ada empat. e) mengungkapkan kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan atau alur pementasan. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku.

penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca. Dengan menilai kaitan antara tujuan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. dan majalah (ilmiah. Singkatnya. Misalnya. Jenis buku yang dimuat pastilah buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Untuk itu resentator harus menganalisis bagaimana pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu. atau hiburan). termasuk visi dan misi. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu. dan bagaimana tingkat pendidikan mereka. resentator harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi itu. Apakah tujuan itu betul-betul terealisasi dalam seluruh buku. peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju.4-4 Menulis Resensi Buku karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam yang bagaimana yang disukai oleh redaksi. seperti surat kabar (nasional atau daerah). Dengan demikian. Menurut Keraf (2001:274) seorang resentator harus memperhatikan dua faktor dalam memberikan penilaian atau pertimbangan secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku. . Setiap media cetak mempunyai identitas. Sebuah resensi harus dibuat dengan memperhatikan kualitas pembacanya. kedua. Selain itu.. yaitu kewajibannya terhadap para pembaca dan bagaimana penilaiannya atas buku tersebut. jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. Pembaca dalam hal ini adalah semua langganan majalah atau media massa yang memuat resensi itu. majalah ekonomi tidak menampilkan resensi buku tentang kimia. bagaimana selera mereka. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. Begitu juga dengan majalah teknik atau filsafat. penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang aslinya. ilmiah populer. dua faktor tersebut yaitu: pertama. resentator harus memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhi dalam membuat resensi itu. Demikian pula.

tegas dan tandas. Misalnya. Maksudnya. b) peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi. d) peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resentator dengan penulis buku tersebut. sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. Resensi buku biasanya dimuat dalam surat kabar atau majalah. yaitu: a) peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan sepenuhnya sikap subjektifitas. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu.Menulis Resensi Buku 4-5 Djuharie dan Suherli (2005:23) juga menguraikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi. yaitu dengan cara mengetahiu dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya tersebut. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. Di samping nilai informasi. f) peresensi harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi. resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjai sasarannya. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Menurut Samad (1997:4) bahasa resensi biasanya singkat. c) peresensi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi. padat. tulisan yang runtun . e) peresensi harus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapar dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya oleh pembaca. Buku yang diresensi biasanya merupakan terbitan baru. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Oleh karena itu.

menarik. Sebuah bulu biasanya menyajikan banyak persoalan. menjabarkan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Bila perlu bagianbagian yang mendukung uraian dikutip. dan tidak terlalu banyak coretan. Ada tiga pola tulisan resensi buku. Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. atau bekas hapusan. ejaannya benar. c) bahasa. b) organisasi atau kerangka buku. dan mengulas. f) menilai. e) membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis. tidak berpanjang lebar (bertele-tele). Di samping itu. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: a) isi peranyaan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan). Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku (Samad 1997:5-6). . Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. singkat mudah ditangkap. Untuk itu. mencakup kesan peresensi terhadap buku. d) kesalahan cetak. penyajian tulisan resensi bersifat padat.4-6 Menulis Resensi Buku kalimatnya. perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat. baik karya pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain. yaitu meringkas. dan enak dibaca.

format hingga harga nya berapa. KOMPETENSI DASAR Menguasai langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi C. b) Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif. LANGKAH-LANGKAH MERESENSI BUKU A. Penjajakan ini dimulai dari tema buku yang diresensi. STANDAR KOMPETENSI Memahami langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi B. a) Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. Setelah itu. d) Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi. Langkah-Langkah Menulis Resensi Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. disertai deskripsi isi buku. latar belakang pendidikannya bagaimana. .BAB II. kapan dan di mana diterbitkan. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mempraktikkan langkah-langkah menulis resensi buku sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya 1. reputasi dan prestasinya. c) Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data. Kemudian siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. cermat. buku atau karya apa saja yang pernah ditulis hingga mengapa ia sampai menulis buku itu. penjajakan tentang pengarang buku tersebut: namanya siapa. dan teliti. tebal (jumlah bab dan halaman).

jika judulnya kurang menarik. bagaimana srtuktur kalimatnya. Sekalipun buku yang diresensi itu bagus dan penyajian tulisannya memenuhi syarat. bagaimana penyajian datanya. tidak menutup kemungkinan kalau resensi tersebut tidak dibaca orang. judul hendaknya menarik perhatian dan mencerminkan isi resensi. bagaimana kerapian dan kebersihan. apakah hubungan itu harmonis. bagaimana tata wajah. Unsur-Unsur Pembangun Resensi Buku Adapun unsur-unsur pembangun resensi buku antara lain sebagai berikut. Untuk itu. bagaimana analisisnya. dengan isi pernyataan hambar dan tidak relevan. (2) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. (4) aspek teknis (bagaimana tata letak. Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan perensensi setelah mencermati buku yang bersangkutan. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan bagaimana hubungan antar kalimat serta pilihan kata yang dipergunakan). dan bagaimana kreativitas pemikirannya). a) Membuat judul resensi Judul resensi berarti wajah resensi itu sendiri. Judul resensi ini yang pertama dibaca. dan bagaimana dinamikanya). Demikian pula judul yang mentereng. (3) bahasa (bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan. 2. Judul yang menarik berarti merangsang keinginan orang untuk segera membacanya.4-8 Menulis Resensi Buku e) Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi: (1) organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. bagaimana sistematikanya. pasti juga akan mengecewakan pembacanya. f) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasardasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya. jelas. Cara merumuskan judul resensi . dan pencetakannya).

4) tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa). kecuali kalau fungsinya benar-benar penting. menggunakan kalimat aktif. peresensi dapat memulai dengan pembukaan yang memaparkan kekhasan atau sosok pengarang buku itu. editor. judul resensi harus menarik perhatian dan menimbulkan keingintahuan pembaca. kapan dan di mana diterbitkan) . 5) tebal buku (jumlah bab dan halaman). bagaimana latar belakang pendidikannya. Alasan menggunakan cara itu pun juga harus kuat. karyanya berbentuk apa saja. karena yang lebih penting justru masalah yang dibahas dalam buku itu. 3) memaparkan kekhasan atau sosok pengarang. dan prestasi apa saja yang diperoleh.Menulis Resensi Buku 4-9 dengan membuat sinopsis dan memahami inti resensi. b) Menyusun data buku Data buku disusun sebagai berikut: 1) judul buku (jika buku itu termasuk buku terjemahan maka judul aslinya harus dituliskan). Dengan demikian. tidak bertele-tele. dan 6) harga buku (jika diperlukan). baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lainnya. seperti untuk menegaskan kata. Selain itu. apakah relevan atau mendukung jika pembukaan . 2) pengarang. kalau ada ditulis juga penerjemah. Namun perkenalan pengarang itu cukup singkat saja. 3) penerbit (siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. mencerminkan isi pernyataan resensi secara akurat. dan kabur. c) Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dalam meresensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini: 1) memperkenalkan siapa pengarangnya. akan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi pernyataan resensi. dirumuskan sesingkat-singkatnya. terutama yang berkaitan dengan topik buku itu.. Kalau pengarang buku mempunyai ciri khas atau sosok yang menarik. atau penyunting seperti yang tertera pada buku. dan menghindari perulangan kata. 2) membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis.

jelas dan kronologis. Dengan cara ini. menuliskan jumlah bab buku tanpa pembahasan. Peresensi tidak cukup hanya membaca buku yang diresensinya. Ada dua cara merumuskan kerangka buku. 6) mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku. 6) organisasi atau kerangka penulisan . 5) rumusan kerangka buku. Keunikan itu dapat dilihat dari segisegi yang ada pada buku itu jarang ada atau langka dimiliki buku sejenisnya. d) Tubuh atau isi pernyataan resensi buku Tubuh atau isi pernyataan resensi buku biasanya memuat hal-hal berikut ini: 1) sinopsis atau ringkasan isi buku secara singkat. Tujuannya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan peresensi. 2) ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya. terlebih lagi jika dihubungkan dengan topik buku itu. Gambaran umum yang dipaparkan dalam sinopsis perlu diulas agar lebih jelas dan berbobot. berilah alasan (penyebab) mengenai keleamhan buku. 4) kelemahan buku. Kedua. memberi gambaran global mengenai apa yang akan dipapatkan pada tubuh resensi. agar pembaca mendapat pemahaman yang utuh terhadap buku itu. 8) memperkenalkan penerbit. dan 10) membuka dialog. Alenia pembuka juga dapat diawali dengan mendeskripsikan keunikankeunikan yang dimiliki buku tersebut.. padat. Sinopsis ini mengemukakan pokok isi buku secara garis besar. Pertama. 7) mengungkapkan kesan terhadap buku. 3) keunggulan buku. kelemahan buku hendaknya dipaparkan secara proposional.4-10 Menulis Resensi Buku dibuka dengan mendeskripsikan keunikan pengarang. peresensi mengetahui kelebihan-kelebihan buku yang diresensi tersebut. sertakan juga keunggulan buku. 9) mengajukan pertanyaan. Pertama. Kedua. Tujuannya. 4) memaparkan keunikan buku. Ulasan itu pun bisa juga dipertegas dengan kutipan yang tepat. Tubuh resensi akan kelihatan lebih baik jika menyertakan keunggulan- keunggulan buku. tetapi juga buku-buku lain yang membahas topik yang sama. 5) merumuskan tema buku. menuliskan jumlah bab buku dengan uraian seperlunya.

biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. dan bagaimana dinamikanya). terutama cetakannya. atau menggambarkan kekhasan bahasa pengarang. 7) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. dan 9) adanya kesalahan cetak. dapat dirumuskan dengan dua cara. jelas. apakah hubungan itu harmonis. dan pilihan kata yang digunakan. jelas. hubungan antarkalimat. Bahasa yang baik. Penjelasan mengenai bahasa buku dapat disampaiakan dengan cara langsung mengatakannya. Barulah dikatakan kesalahan cetak atau kualitas cetakan yang kurang bagus. seperti pewajahan (layout) dan kebersihan. e) Penutup resensi buku. secara langsung menyebutkan halaman yang salah cetak atau kualitas cetakan yang kurang baik. bagaimana analisisnya.Menulis Resensi Buku 4-11 (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. Kedua. seperti bahasa sederhana. . untuk menyatakan kualitas atau kesalahan cetak. dinilai dari struktur kalimat. bagaimana sistematikanya. Jadi. pertama. Penilaian terhadap buku juga mencakup masalah teknis. sebelumnya dikemukakan dahulu hal-hal yang berkaitan dengan kelebihan buku. seraya menyarakan perbaikan kepada penerbit. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan mudah dipahami. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat menggangu pembaca. yaitu. Bagian penutup. bagaimana penyajian datanya. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). 8) tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit).

Atiqul Haque . Sebuah surat kabar yang terbit pada hari Minggu pada umumnya menampilkan kolom resensi buku dengan berbagai macam nama kolomnya. PELATIHAN A. STANDAR KOMPETENSI Terampil menulis resensi buku B. baik buku maupun film. Pelatihan Meresensi Buku Pelatihan ini akan membawa Anda berproses untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan berupa resensi buku. khususnya surat kabar dan majalah.BAB III. Bacalah resensi berikut! Judul Buku : Wajah Peradaban (Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam) Penulis : M. a. Sebuah majalah—yang biasanya terbit mingguan—banyak sekali menampilkan karya resensi. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menulis resensi buku sesuai dengan langkah-langkah dan unsur-unsur pembangunnya 1. KOMPETENSI DASAR Mempraktikan langkah-langkah menulis resensi buku yang sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya C. Pelatihan-1 Pelatihan dilaksanakan secara individu dengan mengikuti tahaptahap berikut. Hasil resensi buku banyak muncul dalam media cetakan.

Meski demikian. atau Viper. Kini Islam hendak bangkit kembali. memandang peradaban Islam sebagai pewaris ketiga di samping peradaban Greko Romawi. Mac Gyver. Itulah zaman kebesaran Islam. Saat ini kita seakan telah terbelenggu dengan konstruksi peradaban yang diciptakan oleh bangsa Barat. Wilayah kekuasaan Islam saat itu telah mencapai sebagian besar Eropa. namun—tidak perlu dipungkiri—untuk melakukan hal itu sangat sulit. Spanyol. seperti Turki. Anak-anak itu tentu tidak akan tahu siapa Ibnu Sina. dan Andalusia. sejak disyiarkan Rasulullah SAW sampai sekitar abad ke-7. seperti Power Ranger. kisah itu merupakan gambaran tentang wajah peradaban pada masa keemasan Islam. atau Ibnu Khaldun. yang banyak membukakan wawasan tentang peradaban Islam di era keemasan itu. yang merupakan pahlawan-pahlawan Islam di masa atau era keemasan Islam. pahlawan-pahlawan yang hadir di televisi. Padahal. Maskman. Roger Graudy. yaitu dari abad ke-1 sampai abad ke-7.Menulis Resensi Buku 4-13 Editor Penerbit Cetakan Tebal : Cecep Syamsul Hari : Zaman Wacana Mulia Bandung : Cetakan I. Ibnu Rusyd. Salah satu di antaranya adalah melalui penerbitan buku-buku. Ibnu Taymiya. Cordoba. Melainkan. Januari 1998 : 148 halaman I SIAPA yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita sekarang? Jawabannya tentu bukan Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar Sidiq. Sehingga tidak heran kalau seorang filosof Prancis. Ke mana kisahnya kini? Cerita kehebatan para pahlawan Muslim saat ini hanya menjadi nostalgia belaka. berbagai upaya untuk kebangkitan Islam itu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. Banyak diakui. peradaban itu mengantarkan Islam pada masa kejayaannya. II .

Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari ilmu belaka. Buku ini memperkenalkan sejumlah pahlawan Muslim dalam berbagai bidang. Gairah para pahlawan Islam untuk mencari ilmu juga dilandasi oleh semangat untuk menyiarkan ajaran Islam.4-14 Menulis Resensi Buku Buku ini dapat memenuhi harapan di atas. misalnya. Al-Bukhari. Mereka tidak hanya memiliki akses terhadap Islam itu sendiri. Buku ini berjudul asli The Moslem Heroes of The World. mulai dari sosiolog. Mereka juga adalah inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu. penyair. dan memberinya inspirasi jihad dalam menegakkan kebenaran. tetapi juga terhadap bangsa Barat. ini terbukti dengan diakuinya Ibnu Rusyd sebagai Bapak Filsafat Barat. Paling tidak. tahun 1995. hingga politikus seperti Ibnu Taimiyah. Syah Waylillah. tidak dilakukan pemilahan menurut bagian-bagian tertentu. Namun. tidak sedikit ilmuwan Barat yang menjadi murid pemikir-pemikir Islam seperti al-Gazhali. Dalam edisi bahasa Inggris. Pengetahuan dan Kekuasaan. guru besar. dan tidak pernah lelah melakukannya. ia juga menjadi orang pertama yang menaburkan benih negara Islam merdeka di kalangan kaum Muslim India. al-Thabari. Kontribusi mereka sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan sekarang ini. Yang patut diteladani oleh kita adalah semangatnya dalam mencari ilmu tidak pernah menyerah. Tidak hanya itu. Mereka adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Bahkan. Dari Musafir ke Musafir. menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia. dokter. yang diterbitkan TaHa Publisher London. dan Ibnu Khaldun selalu merasa kehausan akan ilmu sehingga mereka harus menjadi musafir. dalam edisi Wajah Peradaban ini terbagi menjadi lima bagian. al-Biruni. yaitu: Lautan Pengetahuan. yang banyak muncul sekarang ini. Menghidupkan Kembali Ilmu Agama. dan Matsnawi .

orang tua. Jadi. Buku ini lebih cenderung untuk konsumsi orang dewasa. Apa sebenarnya yang sudah Anda lakukan itu? Sejatinya. khususnya ibu-ibu. maka bahasanya pun tidak cukup layak dikonsumsi anak-anak. Anda melakukan tahap-tahap secara induktif dalam rangka memahami hakikat dan pengertian resensi buku. . Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. buku ini sangat layak dibaca para pendidik. tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Selamat membaca. karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris. 2003:81—85) b. Pembagian ini akan memudahkan pembaca lebih paham tentang tokoh-tokoh yang diceritakan.Menulis Resensi Buku 4-15 Cahaya. Akan tetapi. (iii) apa tujuan yang ingin dicapai dengan teks itu. III Sayangnya. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut: (i) unsurunsur apa saja yang dikemukakan oleh penulis dalam teks yang Anda baca itu. c. Tiap-tiap anggota dalam kelompoknya mempunyai tugas yang tidak sama. (ii) apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. (Sumber: Romli. sebagai referensi dalam memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya. dan (iv) mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan (surat kabar atau majalah). Pelatihan-2 Tugas dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. Buatlah rumusan pengertian resensi buku dengan menjawab “apa pengertian resensi buku”.

baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Teks yang Anda baca adalah karya resensi buku yang muncul di majalah. b. susunlah menjadi satu paragraf utuh yang memiliki kesatuan dan kepaduan. Bacalah resensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok menjadi satu. Buku ini diangkat dari naskah disertasi yang dipertahankan terhadap sanggahan para penguji di hadapan Sidang Ujian Disertasi Tahap II Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 12 Desember 2001 dan mengalami pengubahan penyajian jika dibanding dengan naskah disertasi yang asli. Pertanyaan untuk anggota-4: apa persamaan dan perbedaan teks yang dibaca dengan teks resensi yang berasal dari surat kabar. Hasil akhir hakikatnya adalah hasil kelompok. Pertanyaan untuk anggota-1: apa saja yang dikemukakan dalam teks yang Anda baca itu. dari kumpulan jawaban itu. Pertanyaan untuk anggota-3: mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan. Apa hakikatnya yang sudah Anda lakukan secara individu dan kelompok itu? Sejatinya. Pertanyaan untuk anggota-2: apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Bagian 1 dan 2 berupa pengantar ke arah bahasa politik dan “pisau analisis” yang . Yang dipaparkan dalam buku ini ialah karakteristik bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik—khususnya pasca Orde Baru—beserta konteks penggunaannya. Anda melakukan tahap-tahap dalam rangka memahami pengertian resensi. Pelatihan-3 a. khususnya dalam sistematikanya. c. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” pada bagian berikut. Selanjutnya. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Dalam tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dan secara berkelompok. d.4-16 Menulis Resensi Buku a. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut.

D. Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Prof. 12. leksikalisasi. M. Abdul Wahab. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yayasan Darma Aji Bakti. yakni pola klasifikasi.A. relasi makna (antonimi. kami.. modus kalimat (deklaratif. Diterbitkannya karya tulis ini memungkinkan apa yang saya paparkan dalam disertasi yang konsumennya bersifat amat terbatas dapat diinformasikan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. Ph. M.. Monica Djoehana D. (penguji tamu dari Universitas Gadjah Mada). dan Prof. sinonimi. Prof. Ah. Prof. Rofi’uddin. bentuk pasif dan negatif.Pd. dan nomina tertentu). Soeseno Kartomihardjo.. Dr. Hariyono. Kepada Prof.D. dan imperatif). Ph. dan struktur teks (konvensi interaksional dan penataan teks). Oleh karena itu. Bagian 13 berupa paparan eksplanasi kritis mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan.A.D. (alm. Dr.A. Imam Syafi’ie.Menulis Resensi Buku 4-17 relevan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia. Saran dan pertanyaan yang Bapak ajukan pada ujian disertasi amat membantu penyempurnaan karya tulis ini. ketransitifan. (penguji bidang studi) ucapan terima kasih yang tulus sudah sepantasnya penulis sampaikan. M. Prof. saya ingin menyampaikan terima kasih yang setulustulusnya kepada Penerbit Wedatama Widya Sastra (WWS) yang telah mengupayakan penerbitan hasil penelitian ini dalam bentuk buku.Pd. M. Willem Mantja (penguji bidang pendidikan). Juga kepada Drs. metafora. Dr. bahkan kritik yang dapat saya manfaatkan untuk memperbaikinya. M. Jakarta. dan hiponimi). Oka. Dr. Akhirnya. saya. modalitas (relasional dan ekspresif). interogatif. saran. sepatutnyalah disampaikan harapan bahwa tulisan ini akan memperoleh tanggapan.d. Suparno yang telah memberikan bimbingan selama proses pembuatan disertasi. Ph. yang telah memberikan dana bantuan bagi penelitian disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini.. Karakteristik bahasa politik pasca Orde Baru dipaparkan pada bagian 3 s. yang telah membangun “jembatan” antara . strategi kehadiran diri (kita. M. Soepomo Poedjosoedarmo.A.). dan Dr.

S. Rumuskan jawaban Anda dalam satu paragraf singkat. Hasil diskusi sebaiknya dirumuskan sebagai hasil kelompok. Diskusikan hasil rumusan Anda dengan anggota dalam satu kelompok. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. b. A. c. Rumuskan apa tujuan penulis atau pengarang buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dapat diketahui dari bab “Sekapur Sirih” di atas. DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH ------------------------------------------------------------------------------v FENOMENA BAHASA POLITIK INDONESIA -----------------------------------------1 Bahasa Politik ----------------------------------------------------------------------------------1 Mengapa Bahasa Politik ---------------------------------------------------------------------3 Bahasa.4-18 Menulis Resensi Buku penulis dan penerbit. ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya sudah seharusnya penulis sampaikan. yang dipaparkan berikut ini. b. dan Politik ----------------------------------------------------------6 Rambu-Rambu Orwell -----------------------------------------------------------------------9 Beberapa Kajian Bahasa Politik Indonesia Sebelumnya --------------------------10 Catatan Akhir ---------------------------------------------------------------------------------24 “PISAU BEDAH” YANG RELEVAN: Menggali Ideologi dengan Analisis Wacana Kritis ----------------------------------25 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------25 Teori Kritis: Teori sebagai Praksis dan Emansipatif --------------------------------26 Linguistik Fungsional-Sistemik Halliday: Bahasa sebagai Semiotik Sosial ---29 . diskusikan hasil rumusan kelompok ke dalam diskusi kelas. Selanjutnya. Apakah terdapat perbedaan yang mencolok dari tiap-tiap kelompok? Pelatihan-4 a. Komunikasi. Bacalah daftar isi dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso.

Interogatif. dan Imperatif ---------------------------------------------------175 . dan Hiponimi ------------------------------------------------------114 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------114 Antonimi --------------------------------------------------------------------------------------114 Sinonimi --------------------------------------------------------------------------------------119 Hiponimi --------------------------------------------------------------------------------------122 METAFORA DALAM WACANA POLITIK -------------------------------------------128 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------128 Metafora Nominatif ------------------------------------------------------------------------129 Metafora Predikatif ------------------------------------------------------------------------134 Metafora Kalimat ---------------------------------------------------------------------------136 KETRANSITIFAN DALAM WACANA POLITIK ------------------------------------140 Pengertian Ketransitifan ------------------------------------------------------------------140 Proses Material -----------------------------------------------------------------------------141 Proses Mental atau Proses Proyeksi -------------------------------------------------155 Proses Relasi atau Proses Menjadi ---------------------------------------------------157 BENTUK PASIF DAN NEGATIF DALAM WACANA POLITIK -----------------161 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Pasif ---------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Negatif ----------------------------------------------------------------------------.Menulis Resensi Buku 4-19 Kajian Bahasa dengan Paradigma Kritis ----------------------------------------------36 Analisis Wacana Kritis: Tiga Dimensi Wacana secara Simultan ----------------47 POLA KLASIFIKASI DALAM WACANA POLITIK -----------------------------------70 Pola Klasifikasi -------------------------------------------------------------------------------70 Kosakata Pengklasifikasi ------------------------------------------------------------------70 LEKSIKALISASI DALAM WACANA POLITIK ----------------------------------------91 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------91 Kosakata Utama yang Pertama Muncul -----------------------------------------------91 Perkembangan Lanjut Kosakata Utama -----------------------------------------------93 Leksikalisasi dari Berbagai Bidang Kehidupan -------------------------------------100 Leksikalisasi Khusus ----------------------------------------------------------------------107 RELASI MAKNA DALAM WACANA POLITIK: Antonimi.168 MODUS KALIMAT DALAM WACANA POLITIK: Deklaratif. Sinonimi.

dan Nomina Tertentu --------------------------------------------.205 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.246 Perspektif dalam Pilihan Gramatika ---------------------------------------------------250 Perspektif dalam Pilihan Struktur Teks -----------------------------------------------253 DAFTAR PUSTAKA -----------------------------------------------------------------------256 c.179 Kalimat Imperatif -------------------------------------------------------------------------.175 Kalimat Interogatif ------------------------------------------------------------------------. Rumusan Anda ditujukan kepada khalayak pembaca.185 MODALITAS DALAM WACANA POLITIK: Relasional dan Ekspresif ------.190 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------190 Modalitas Relasional --------------------------------------------------------------------.4-20 Menulis Resensi Buku Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.245 Perspektif dalam Pilihan Kosakata --------------------------------------------------.209 Strategi Kehadiran Diri dengan Pronomina Tertentu ---------------------------. Setelah membaca dua teks di atas.190 Modalitas Ekspresif ----------------------------------------------------------------------. Kami. Saya.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Saya” -----------------------------------------------207 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kami” ---------------------------------------------. .205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kita” -----------------------------------------------.245 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------. rumuskan tujuan Anda membuat resensi.211 STRUKTUR TEKS POLITIK: Konvensi Interaksional dan Penataan Teks -214 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------214 Konvensi Interaksional -------------------------------------------------------------------214 Pengurutan Teks ---------------------------------------------------------------------------238 PERSPEKTIF DALAM WACANA POLITIK: Sebuah Eksplanasi Kritis-----.175 Kalimat Deklaratif ------------------------------------------------------------------------.201 STRATEGI KEHADIRAN DIRI DALAM WACANA POLITIK: Kita.

suatu penelitian “jargon” dan “bahasa” politik yang digunakan oleh para pejabat dan politikus seputar Pemilihan Umum di Indonesia tahun 1999. Penelitian ini antara lain menjawab pertanyaan “mengapa elite politik memilih dan mengistimewakan serta mengabaikan dan tidak menggunakan satuan bahasa tertentu?”. terutama yang bersangkut paut dengan penggunaan bahasa. Ada gejala “proses institusional” dan “proses sosiokultural” penggunaan bahasa dalam dunia politik di Indonesia. Maret 2003 b. Hal ini antara lain terjadi karena perbedaan perspektif para elite politik atas suatu masalah. Bacalah teks pertama—berupa sampul buku--berikut! Bahasa Politik Pasca Orde Baru Anang Santoso Penerbit WEDATAMA WIDYA SASTRA Jakarta. ISBN 979—3258—04—7 . Bacalah teks kedua—berupa catatan penerbit--berikut! Buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru ini diangkat dari disertasi berjudul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik Era Pasca Orde Baru.Menulis Resensi Buku 4-21 Pelatihan-5 a. Hasil temuan dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pelaku politik dan pejabat pemerintahan di negeri ini untuk menyusun strategi perjuangan politiknya.

Tugas anggota-1: Bacalah sekali lagi teks “Sekapur Sirih” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! b. Pelatihan-6 a. Pelatihan-7 a. Tugas anggota-2: Bacalah sekali lagi teks “Daftar Isi” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! c. Judul Buku: Bahasa Politik Pasca Orde Baru Penulis: Anang Santoso Penerbit: Wedatama Widya Sastra. Tugas anggota-3: Bacalah sekali lagi teks “Catatan Penerbit” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! d. Diskusikan jawaban-jawaban itu dalam diskusi kelompok! e. dan tingkat pemahaman (kadar intelektualitas) dari konsumen buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dibidik oleh penerbit. Maret 2003 Tebal: ix + 273 halaman . Bacalah teks “pendahuluan” resensi berikut! Teks ini pernah muncul dalam sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Timur. Jakarta Cetakan: Pertama. selera.4-22 Menulis Resensi Buku c. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok ke dalam satu jawaban kelompok yang akan menjadi bahan diskusi kelas. Identifikasi karakteristik.

Cak Nur. yang tidak hanya membahas pemikiran dan aksi politik mereka berdua. Bacalah teks “isi” sebuah resensi berikut! Kalau dua tahun lalu terbit sebuah buku yang mengungkap soal strategi perjuangan umat model Abdurrahman Wahid dan Amien Rais—dan sempat menghebohkan itu. dan mau tidak mau. maka pada permulaan 1998 ini terbit sebuah buku. Ketika umat sedang “bingung” dengan fenomena sosial politik yang terjadi belakangan ini. Pelatihan-9: a. buku ini berasal dari tesis S-2 penulisnya (Dedy Djamaluddin Malik) yang telah diubah secara populer dan menjelma menjadi buku ini. Mas Amien. Bacalah bagian buku—bagian halaman judul—yakni bagian yang menggunakan halaman huruf kecil angka romawi. buku ini lebih komprehensif. Pelatihan-8: a. dedengkot Paramadina. tetapi juga ditambah dengan Nurcholish Madjid. menjagokan buku ini sebagai “anak sulung” terbitan tahun pertamanya. Informasikan bagian identitas buku itu kepada khalayak menjadi bagian pendahuluan dari sebuah resensi. c. kalau Zaman penerbit buku ini. Maklum.Menulis Resensi Buku 4-23 b. Identifikasikan identitas buku yang selayaknya disampaikan kepada khalayak pembacanya. b. Identifikasi persamaan dan perbedaan antara jawaban Anda dengan jawaban yang lain. Dari materi dan metode penulisan. Diskusikan hasil identifikasi yang Anda buat dengan teman lainnya. dan Jalaludin Rakhmat. dan Kang Jalal—begitu mereka biasa dipanggil oleh para . a. pentolan Muthahhari. keempat tokoh itu: Gus Dur. Tak salah. Pilihlah salah satu buku yang akan diresensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

Atau. maka suatu saat akan bergeser ke kiri. justru di sinilah kesulitan bagi pengamat untuk secara benar me-metakan mereka dalam sebuah posisi yang tetap. inilah yang dimaksud dengan “Teori Gelang Karet”. Semua fakta itu tidak bisa diabaikan kalau kita berbicara tentang Islam dan Indonesia. Dan. penulis telah berupaya keras untuk menganalisis sepak terjang mereka dari sejarah biografi pemikiran mereka berempat. masing-masing tokoh itu mempunyai umat yang tidak terbilang sedikit. setelah sebelumnya dengan Mbak Mega. Lain ketika yang bertindak itu Sri Bintang Pamungkas. seperti yang sudah disinggung di muka. buku ini pun sedikit banyak merekam dinamika pemikiran mereka. Partai Islam no” itu. situasi pun kemudian berubah. Belum lagi. Sehingga. Kendati demikian. meminjam istilah pengamat politik almarhum Alfian. semua itu hanyalah timbangan sementara. Lantas Mas Amien yang kian meninggi volume suaranya sejak kasus Busang dan suksesi— yang membuatnya terdepak dari ICMI—sampai kesediannya dicalonkan sebagai presiden. agaknya pemerintah tidak berani untuk bertindak gegabah.4-24 Menulis Resensi Buku pengagum maupun perjalanan bangsa ini. Dan. . Kita ambil kasus buku tentang Gus Gur dan Mas Amien. Tak terkecuali dengan buku ini. sekeras apa pun mereka bicara. Kang Jalal yang kontroversial sebagai “Agen Syiah” dan secara menghanyutkan tekun mendalami dunia tasawuf bersama keluarga mantan Wakil Presiden Soedharmono. Lantaran pemikiran-pemikiran atau lebih tepatnya “sejarah pemikiran” seorang tokoh. Ketika pendulum sedang bergeser ke kanan. Kemudian Cak Nur yang makin intens membina kelas menengah Muslim di metropolitan. Yang satu dianggap mewakili arus bawah dan yang satu lagi arus atas. misalnya. suatu saat mulur dan pada saat lain mengkeret. setelah sebelumnya menelurkan jargon “Islam yes. Sampai-sampai majalah Ummat menganugerahinya sebagai “Tokoh 1997”. Namun. tak pernah berhenti secara final. umatnya—pun terkait dengan proses dialektika Suara Gus Dur yang mulai melemah ketika runtang-runtung dengan Mbak Tutut. Namun. Inilah realitas politik. belum lama buku itu terbit. Atau. menurut Mohammad Sobary dalam kata pengantarnya pada buku ini.

ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Sumber: Romli (2003:79—81) b. tapi yang diperjuangkan mereka adalah demokratisasi. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. keempatnya tidak sekali pun terlintas untuk membentuk negara Islam. yakni suatu era di mana orientasi perjuangan umat Islam tidak lagi…dst. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Lantaran.Menulis Resensi Buku 4-25 Sebenarnya. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-6: adakah ulasan perbandingan dengan buku lain yang temanya sejenis. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah informasi tentang latar belakang penulisan. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. dan adakah ulasan perbandingan dengan buku lain dari pengarang yang sama. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah informasi tentang tujuan penulisan buku. Untuk membimbing Anda. Islam yang diusung keempat tokoh itu adalah Islam yang lebih toleran dan terbuka. Namun demikian. Hadangan banyak mengganjal mereka. bukan berarti langkah mereka mulus-mulus saja. Jika ada. Untuk selanjutnya Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota enam orang. c. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah paparan singkat tentang isi buku atau gambaran secara keseluruhan terhadap isi buku. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah ulasan tentang gaya penulisan. Jika ada. kemunculan keempat tokoh dalam waktu yang tidak beda berselang itu. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah ulasan tentang tema atau judul. Jika ada. Merekalah tokoh intelektual Muslim paling menonjol dalam kelahiran “Zaman Baru Islam Indonesia”. dimungkinkan dengan berubahnya pandangan pemerintah terhadap Islam. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. . Dari buku ini juga terungkap. Identifikasikan apa saja yang ingin dikemukakan peresensi dalam bagian “isi” yang dipaparkan di atas. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Mulai dari telepon gelap sampai ucapan yang mengkafirkan mereka.

Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil dari kelompok penyaji. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Bacalah bagian isi buku. Hasil rumusan itu adalah bagian “isi” untuk resensi menurut kelompok Anda sendiri. c. Tugas anggota-6: menuliskan. e. Tugas anggota-5: memberikan ulasan tentang gaya penulisan yang digunakan penulis buku. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi enam orang. d. yakni halaman 1 sampai dengan halaman daftar pustaka atau daftar rujukan. Setiap kelompok menyampaikan hasil rumusannya dalam diskusi kelas. Tugas anggota-2: menulis paparan isi buku secara singkat atau gambaran isi buku secara keseluruhan. Jawaban setiap anggota kelompok tersebut selanjutnya didiiskusikan di dalam kelompok masing-masing. Bacalah teks “penutup” sebuah resensi berikut! . Pelatihan-10: a. Tugas anggota-1: memberikan ulasan tentang judul atau tema buku. Gabungkan jawaban setiap individu itu ke dalam teks yang padu. membandingkan. Hasilnya dirumuskan menjadi sebuah rumusan yang berupa jawaban dari kelompok.4-26 Menulis Resensi Buku d. Tugas anggota-3: merumuskan latar belakang penulisan buku yang diresensi. b. Pelatihan-11: a. dan mengulas buku dengan tema yang sejenis & membandingkan serta mengulas buku lain yang dihasilkan pengarang yang sama. Tugas anggota-4: merumuskan tujuan penulisan buku yang diresensi.

kata-kata jenuh dan mubazir. Untuk membimbing Anda. Apalagi. pengeditan buku ini tampak dilakukan tergesa-gesa. atau sebaliknya. apa kelebihan dan kelemannya. Jika ada. Namun demikian. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Bagi kaum muda Muslim. Sumber: Romli (2003:81—82) b. Jika ada. berkaitan dengan isu suksesi dan aksi politiknya menyatakan siap menjadi presiden. apalagi yang tergerak untuk meneruskan perjuangan mereka dalam kerangka penegakan ajaran Islam. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah penilaian kelebihan dan kelemahan buku. Amien Rais. buku ini dapat menjadi referensi utama bagi penentuan strategi dakwah masa depan. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah pertimbangan kepada pembaca agar membaca atau membeli. Masih ditemukan di sana-sini kalimat yang kurang tertib menurut kaidah EYD. Sayangnya. kita pun bisa memprediksi gebrakan apa lagi yang akan dibuat dan mengerti jika suatu saat sang tokoh kita ini tiba-tiba “berubah”. Anda masih bekerja dalam kelompok masing-masing. salah satu tokoh dalam buku ini. Karenanya. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah saran- . Dengan referensi buku ini. buku ini tetaplah penting untuk dibaca dan dimiliki. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Jika ada. is perlu reediting. apa kritik atau saran itu. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. buku ini layak kita ucapi selamat datang. rumuskan penilaian itu menurut bahasa Anda sendiri. ada pertimbangannya. Sehingga. telah teruji secara ilmiah dan aktual.Menulis Resensi Buku 4-27 Materi dalam buku ini cukup komprehensif. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah kritik atau saran kepada penulis. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. tengah menjadi newsmaker dewasa ini. khususnya di Indonesia. sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Jika ada. utamanya bagi mereka yang selama ini dibuat “bingung” oleh aksi dan pemikiran keempat tokoh tersebut. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan.

Hasil rumusan itu adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. c. atau tidak. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Tugas anggota-1: memberikan penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Ini adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Hasil ini masih perlu dikomunikasikan kepada kelompok lain. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu.4-28 Menulis Resensi Buku saran perbaikan bagi penerbitnya. Tugas anggota-3: memberikan saran dan kritik kepada penulis tentang kekurangan yang ada. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu jawaban kelompok. d. . Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi lima orang. Tugas anggota-4: memberikan saran dan kritik kepada penerbit demi penyempurnaan pe-nerbitan. e. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Pelatihan-12: a. Tugas anggota-5: memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki. apa saran-saran perbaikannya. Tugas ang-gota-2: memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan buku. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. c. Hasilnya ditata ke dalam sebuah teks yang padu. dari bagian awal sampai akhir. b. Rumuskan ulasan Anda secara individu ke dalam bentuk tulisan. Bacalah bagian buku secara keseluruhan. d.

BUKU AJAR APRESIASI SASTRA INDONESIA .

KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar apresiasi sastra yang meliputi pengertian apresiasi sastra. puisi. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra 2. Menjelaskan perbedaan antara kegiatan langsung dan taklangsung dalam apresiasi sastra 4. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. . DESKRIPSI Penyajian teori apresiasi sastra yang meliputi meliputi pengertian apresiasi sastra. D. Menjelaskan bekal awal pengapresiasi sastra 3. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. bekal awal pengapresiasi sastra. dan drama. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. URAIAN MATERI Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. KONSEP DASAR APRESIASI SASTRA A. puisi.BAB I. kepekaan pikiran kritis. penghargaan. E. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. bekal awal pengapresiasi sastra. B. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. C. INDIKATOR 1. serta mampu mengapresiasi prosa. Menjelaskan berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra.

apresiasi melibatkan tiga unsur inti. Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses. dan unsur-unsur di luar teks sastra itu sendiri. dan (2) aspek evaluatif. 1 Pengertian Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sastra. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unnsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. (2) aspek emotif. atau unsur intrinsik karya sastra. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sebagaimana yang diuraikan berikut ini.misalnya. Oleh karena itu. Adapun unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang. Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik. menikmati. apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin serta (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra. memahami. latar proses kreatif penciptaan.5-2 Apresiasi Bahasa Indonesia Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran karya sastra. sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi. yakni (1) aspek kognitif. dan menilai karya sastra yang dibaca. Unsur intrinsik yang bersifat objektif itu. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. atau unsur ekstrinsik karya sastra. Selain itu. Dalam konteks yang lebih luas. unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya . Pada sisi lain. aspek tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna yang tersurat.

Bagaimana penyimpulan makna yang dipaparkan lewat cara penampilan pelaku serta penataan setting yang terpapar secara sugestif tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh kepekaan pembaca yang pada dasarnya dibentuk oleh endapan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-3 memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. mampu menghayati kualitas ragam hidup demikian. Sebagai contoh. tengah malam duduk sendirian di kamarnya. serta sejumlah ragam penilaian utama yang tidak harus hadir dalam serbuah karya kritik. pelaku wanita yang tampil dengan pupur tebal di tengah malam duduk sendirian di sebuah nite club akan memberikan sugesti makna yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelaku wanita yang tampil dengan jernih. indah tidak indah. tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. Dari pendapat itu juga disimpulkan . Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan terhadap penilaian baik buruk. dirinya. misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. pembaca yang telah memahami karakter pelaku yang tampil dengan pupur tebal. Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi tersebut. keterlibatan unsur penilaian dalam unsur ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespons karya sastra yang telah dibaca sampai pada tahap pemahaman dan penghayatan. sesuai-tidak sesuai. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur signifikan tertentu. penghargaan. secara imajinatif. sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian. tentu mampu memberikan penilaian. kepekaan pikiran kritis. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Effendi (1982) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. duduk di nite club sendirian tengah malam. tekun membaca buku. Misalnya.

Kegiatan Langsung dan Tak Langsung dalam Mengapresiasi Karya sastra Dari uraian pengertian apresiasi sastra sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati karya sastra secara langsung. Kegiatan membaca karya sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca/mendengarkan. Kegiatan apresiasi karya sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra. membaca artikel yang berhubungan dengan sastra baik di majalah maupun koran. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung. maupun drama. melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya. serta mempelajari sejarah sastra. menumbuhkan sungguh-sungguh. serta mengevaluasi karya sastra. Kegiatan itu disebut sebagai apresiasi sastra secara tidak langsung karena pada akhirnya selain dapat mengembangkan pengetahuan seseorang tersebut juga akan meningkatkan tentang sastra. puisi. baik yang berupa prosa. mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra. kegiatan dalam rangka kemampuan . 2. memahami. Kegiatan apresiasi karya sastra selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. menikmati.5-4 Apresiasi Bahasa Indonesia bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab sikap dengan teks sastra yang serta diapresiasinya. melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara kongkret. sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.

Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut akan tergambar lewat media kebahasaan. filsafat.E. dan struktur wacana. Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa karya sastra. Sementara pada sisi lain.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-5 mengapresiasi suatu karya sastra. Kellet mengungkapkan bahwa pada saat membaca suatu karya sastra. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. karya sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya. maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. media tulisan/lisan. ia selalu berusaha menciptakan sikap serius. 3 Bekal Awal Pengapresiasi Karya Sastra E. politik. tetapi dengan suasana batin riang. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguhsungguh dan berulang-ulang kepekaan sehingga dan dapat perasaan melatih dalam dan rangka mengembangkan pikiran mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan atau lisan. kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperanan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra. juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontempelasi batin. Dengan demikian. . Penumbuhan sikap serius dalam membaca karya sastra itu terjadi karena karya sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya.

(2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya. Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu salah satunya ditandai oleh adanya unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. serta berbagai kompleksitas masalah kehidupan. (3) media pemaparan baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text karena teks sastra bagaimana pun memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya. politik. Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut sebagai bekal awal karena untuk mampu mengapresiasi karya sastra seseorang harus secara terus menerus menggauli karya sastra. (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan. Terdapatnya berbagai unsur karya sastra sebagaimana tersebut mengimplikasikan bahwa untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. misalnya buku filsafat dan psikologi. . baik lewat penghayatan atas kehidupan secara intensif-kontemplatif. Dari keseluruhan uraian tersebut dapat diambil simpulan bahwa karya sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks. sebagai bacaan. lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics. sastra sebagai salah satu cabang seni. dan (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik karya sastra itu sendiri sebagai suatu teks. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra. filsafat. maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan.5-6 Apresiasi Bahasa Indonesia Dengan demikian. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat di dalam karya sastra. antara lain (1) unsur keindahan.

(4) pendekatan sosiopsikologis. yakni jika pembaca semakin sering dan akrab dengan kegiatan membaca karya sastra. 4. Lebih lanjut. dalam kegiatan apresiasi karya sastra. dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. Brooks membedakan adanya dua level. kepekaan emosi dan perasaan itu bukan hanya berhubungan dengan kegiatan penghayatan dan pemahaman nilai-nilai keindahan. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. sedangkan kegiatan menggauli karya sastra sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. dan (5) pendekatan didaktis (Aminudin 1995). (2) pendekatan analitis. Oleh sebab itu. (3) pendekatan historis. (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana. melainkan juga berhubungan dengan usaha pemahaman kandungan makna yang umumnya bersifat konotatif. .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-7 Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah. 4 Pendekatan dalam Mengapresiasi Karya Sastra Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan dalam mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. yakni level objektif yang berhubungan dengan respons intelektual dan level subjektif yang berhubungan dengan respons emosional.1 Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang menggugah perasaan pembaca yang dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan yang lucu dan menarik. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. Hal itu disebabkan adanya (1) perbedaan tujuan dan apa yang diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya.

satirik. melalui pendekatan ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) adakah unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. dan (3) setiap elemen dapat dibicarakan secara terpisah tetapi pada akhirnya setiap elemen harus disikapi sebagai satu kesatuan. sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya.5-8 Apresiasi Bahasa Indonesia Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. (3) bagaimana wujud keindahan itu setelah digambarkan pengarangnya. sarkasme. cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ideidenya. (2) bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu. (2) setiap elemen dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. (4) bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu.2 Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan analitis adalah bahwa (1) karya sastra dibentuk oleh elemen-elemen tertentu. pembaca tentunya harus memilih karya sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. Dalam pelaksanaannya. . misalnya ragam humor. 4. dan (5) berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan. Untuk menemukan dan menikmati karya sastra yang mengandung kelucuan. atau komedi. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra yang dibaca. elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur intrinsik sehingga membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.

maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat karya sastra diwujudkan.3 Pendekatan Historis Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang. . penerapan pendekatan analitis selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) unsur-unsur apakah yang membangun karya yang saya baca ini. 4. pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna suatu karya sastra.4 Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya. (3) bagaimana peran setiap unsur dan bagaimana hubungan antarunsurnya. serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman. Selain itu. (3) memahami mekanisme hubungan antarunsur intrinsiknya. latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya prosa fiksi yang dibaca. (2) bagaimana unsur-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangnya. (2) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang dibacanya. dan (4) bagaimana cara memahaminya. Adapun secara konkret langkah-langkah yang harus ditempuh adalah (1) membaca teks secara keseluruhan. 4.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-9 Dalam pelaksanaannya. (4) menganalisis fungsi setiap unsur dalam rangka mewujudkan karya sastra. kehidupan masyarakat. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan historis adalah adanya anggapan bahwa karya sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya.

dan bagaimana hubungan antara karya sastra dengan zamannya. Demikianlah berbagai pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra. yakni pendekatan yang satu digunakan secara bersamaan dengan pendekatan yang lain. 4.5-10 Apresiasi Bahasa Indonesia Dalam pelaksanaannya. . maupun agamis. (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakap. Dalam pelaksanaannya. komentar. dan (3) penerapan pendekatan secara eklektik sesuai dengan konpleksitas aspek maupun keragaman karakteristik karya sastra itu sendiri. sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. berbagai pendekatan itu pada umumnya digunakan secara eklektik. dialog. Dari pemahaman tersebut.5 Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis berusaha menemukan dan memahami gagasan. tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. lakuan. kita dapat menyimpulkan nilai-nilai apa yang terkandung di dalam karya sastra yang kita hadapi. penerapan pendekatan didaktis dilakukan melalui upaya memahami satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu karya sastra yang disarikan dari paparan gagasan pengarang yang berupa tuturan ekspresif. Dalam pelaksanaannya. Gagasan. atau bahkan salah. melalui pendekatan ini kita berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa karya itu diciptakan. filosofis. maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis. Adapun alasannya adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan. maupun deskripsi peristiwa dari pengarang. bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya. tanggapan.

Apresiasi Bahasa Indonesia 5-11 F. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan/lisan. kepekaan pikiran kritis. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan. RANGKUMAN Apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. (2) pendekatan analitis. . penghargaan. (4) pendekatan sosiopsikologis. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. Pendekatanpendekatan tersebut sebaiknya digunakan secara eklektik. (3) pendekatan historis. dan (5) pendekatan didaktis. Apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif.

C. prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. jenis. yang berarti cerita rekaan (cerkan) atau “khayalan”. E. Hal itu disebabkan prosa (yang untuk pembicaraan selanjutnya disebut prosa fiksi) merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. Mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. MENGAPRESIASI PROSA A. dan unsur pembangun prosa serta mampu mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Hakikat Prosa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). Menjelaskan hakikat. puisi. URAIAN MATERI 1. serta mampu mengapresiasi prosa. puisi. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar prosa yang meliputi hakikat. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya . dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. dan unsur prosa 2. INDIKATOR 1. DESKRIPSI Penyajian konsep dasar prosa yang meliputi pengertian ahakikat. B. jenis. khayalan. jenis. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa.BAB II. dan unsur prosa serta praktik mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Dengan kata lain. dan drama.

akan tetapi semua itu berjalan dengan sistem dan koherensinya sendiri. tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. dan Tuhan. Dengan demikian. Walaupun berupa khayalan. sesama. peristiwa. diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif. dirinya sendiri. hidup dan kehidupan. peristiwa. menurut Alterbern dan Lewis. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. prosa fiksi. Prosa fiksi menawarkan sebuah dunia yang dibangun melalui cerita. kebenaran dalam prosa fiksi tidak sama dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. 'dunia' dalam prosa fiksi dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa faktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi. prosa fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. prosa fiksi bukan sekadar hasil kerja lamunan. dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Sebagai karya imajinatif. Prosa fiksi menampilkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. kontemplasi. tokoh.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-13 dalam dunia nyata. tokoh. dan tempat yang disebut-sebut di dalam prosa fiksi bersifat imajinatif. Dapat dikatakan bahwa dunia dalam prosa fiksi merupakan 'dunia lain' di samping kenyataan. dan latar yang semuanya tentu saja bersifat imajinatif. Meskipun demikian. meskipun dalam beberapa aspek menunjukkan kesamaan. Oleh karena itu. Dengan demikian. sedangkan di dalam karya nonfiksi bersifat faktual. prosa fiksi merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Ia merupakan hasil dialog. Jika dibandingkan dengan karya nonfiksi. .

Jenis Prosa Fiksi Menurut sejarah perkembangannya. hubungan kekerabatan. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. Contoh mite adalah cerita Dewi Sri dari Jawa dan Mado-Mado dari Pulau Nias. Mite juga mengisahkan petualangan. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. bentuk khas binatang. Mite ditokohi oleh para dewa. Peristiwa terjadi didunia lain. Mite pada umumnya mengisahkan alam semesta. Seperti halnya mite. 1) Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang sejak belum terdapat tradisi tulisan. terjadinya pada masa yang belum begitu lampau. dan bertempat di dunia seperti yang kita . di antaranya adalah mite. Di dalam tradisi lisan terdapat berbagai jenis cerita rakyat. percintaan. Cerita rakyat dikenal dan diceritakan dalam kalangan masyarakat. Oleh karena sifatnya yang demikian. dan dongeng. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita. dunia. manusia pertama. dibacakan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga cerita itu dirasakan sebagai milik bersama. berbeda dengan mite. atau mkakhluk setengah dewa.5-14 Apresiasi Bahasa Indonesia 2. bentuk topografi. atau kisah perang para dewa. Prosa Fiksi Lama Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. kegenda bersifat keduniawian. terjadinya maut. a. pengarang cerita rakyat pada umumnya tidak dikenal serta ceritanya sangat mudah berubah dari waktu ke waktu. dan gejala alam. legenda. atau di dunia yang bukan seperti yang kt akenal sekarang dan terjadi di masa lampau. Hanya saja. legenda adalah cerita rakyat yang dianggaps ebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi.

misalnya Hikayat Srang Manyang dan Hikayat Malim Deman. dan cerita Batu Belah. Kancil dan Buaya. (c) hikayat yang mendapat pengaruh Hindu. misalnya dongengdongeng binatang. dan sebagainya. Prosa Fiksi Baru . (b) hikayat yang mendapat pengaruh dari jawa. Tangkuban Perahu. dan (d) hikayat yang mendapat pengaruh Arab. walaupun ada kalanya mempunyai sifat yang luar biasa. Legenda ditokohi manusia. Berdasarkan asal ceritanya. asal mula terjadinya nama Banyu Wangi. pada perkembangannya kemudian tercampur dan terjalin dengan ceritacerita asing. (d) hikayat yanag mendapat pengaruh dari Persia. Contoh legenda adalah kisah terhadinya Rawa Pening. dan seraingkali dibantu oleh makhlukmakhluk ajaib. Meskipun hikayat sebenarnya bentuk asli kesusasteraan Indonesia. misalnya Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar. misalnya Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Raja-Raja Pasai. berisikan pelajaran (moral) atau sindiran. Hikayat umumnya menceritakan riwayat ajaib tentang putera dan puteri raja. misalnya Hikayat Perang Pandawa Lima dan Hikayat Sang Boma. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. di dalamnya bercampur aduk antara lukisan Melayu asli dan dewa-dewa Hindu yang menjelma. dan Bawang Merah Bawang Putih. 2) Hikayat Hikayat adalah bentuk cerita fiksi yang lain dalam kesusasteraan lama. b. hikayat dapat dibedakan menjadi (a) hikayat asli Melayu. kepercayaan Hindu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-15 kenal sekarang. sejarah. Contoh dongeng adalah Timun Emas. nabi-nabi Islam. Dongeng biasanya diceritakan untuk hiburan. misalnya Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Damar Wulan. walaupun banyak yang juga melukiskan kebenaran.

yakni novel serius dan novel populer yang masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri. dan kolektif. Penggolongan lain dilakukan oleh Mochtar Lubis yang membagi novel menjadi 6 jenis. karakter yang banyak. sosial. 2) Cerita Pendek . ditektif. psikologis. ukuran luas disini tidak mutlak sifatnya. Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang mendominasi novel yang ditulisnya. (5) novel politik. kemudian dicari-cari perbedaannya. novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. (4) novel anak-anak. politik. Di samping novel. prosa fiksi baru dibagi menjadi dua jenis yaitu novel dan cerpen. baik dilihat dari segi teknik berceritanya maupun isi yang diungkapkan pengarang. novel dibedakan menjadi (1) novel bertendens. (6) novel psikologis. yaitu novel avontur. dalam novel dimungkinkan adanya degresi. Sebenarnya kedua bentuk cerita itu pada hakikatnya sama. Degresi atau lanturan adalah masuknya masalah yang tidak begitu integral dalam cerita yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja.5-16 Apresiasi Bahasa Indonesia Secara garis besar. dan ketidakhadirannya tidak akan mengganggu keutuhan cerita. dan (7) novel percintaan. (3) novel adat. Karena keluasannya. tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya. di Indonesia juga dikenal istilah roman. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks. (2) novel sejarah. yakni cerpen. Tetapi. dan latar yang beragam pula. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang juga berbeda. 1) Novel Dalam arti luas. Di samping itu ada yang membagi novel menjadi dua. suasana cerita yang beragam. suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada cerita rekaan yang lain.

dan tema cerita. Ruang lingkup permasalahan yang diungkapkan di dalam cerpen adalah sebagian kecil dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. atau sedikitnya tokoh yang terdapat di dalamnya. serta gaya (bahasa). Unsur Pembangun Prosa Fiksi Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. Ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi tiga bagian. cerpen hanya mempunyai efek tunggal. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. Alur . tokoh. karakter. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan lewat bentuk karya itu. sarana cerita. Yang perlu diingat adalah bahwa dalam kesingkatannya. a. tidak beragam. kepaduan merupakan syarat utama sebuah cerpen. Dengan demikian. dalam cerpen tidak mungkin muncul degresi atau lanturan sebagaimana yang biasa terjadi dalam novel. Predikat pendek di sini bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu. Cerpen hanya memusatkan perhatian pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita. Dalam kesingkatannya. Sarana cerita itu meliputi unsur judul. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur. dan tidak kompleks. Pembagian lain dikemukakan oleh Stanton (1965). Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita. yakni fakta cerita. 3. dan latar. Oleh karena itu. Cerpen mempunyai kecenderungan berukuran pendek dan pekat. alur. sudut pandang. cerpen merupakan karya sastra yang lengkap dan selesai sebagai suatu bentuk karya rekaan. sedangkan unsur isi adalah sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu. dan latar yang terbatas.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-17 Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek.

alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu.5-18 Apresiasi Bahasa Indonesia Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. Dalam tahap tengah inilah klimaks dimunculkan. Peristiwa-peristiwa yang jalin menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut alur. Dengan kata lain. berupa pengenalan tentang waktu dan tempat terjadinya peristiwa dan pengenalan tokoh cerita. Peristiwa A merupakan awal cerita. Bahkan. Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. dari konflik kecil sampai konflik yang besar. bagian ini menunjukkan bagaimanakah akhir sebuah cerita yang penyelesaiannya bisa bersifat tertutup dan bisa juga terbuka. misalnya. Tahap tengah atau pertikaian menampilkan peningkatan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal. Peristiwa dalam prosa fiksi dapat disusun dengan mengikuti garis lurus. Jadi. konflik eksternal. atau manusia dengan Tuhan. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa. Pada tahap awal cerita konflik sedikit demi sedikit mulai dimunculkan. Adapun tahap akhir atau peleraian menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. yaitu konflik antara tokoh dengan hal lain di luar dirinya. manusia dengan alam. dapat pula berupa konflik eksternal. yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. diikuti oleh peristiwa B yang . bulat. Tahap awal biasanya disebut tahap perkenalan. misalnya antara manusia dengan manusia lain. yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh. atau kedua-duanya sekaligus. alur selalu menampilkan konflik-konflik. dan utuh. Konflik-konflik itu dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri). dalam alur akan dijumpai puncak-puncak konflik.

dan ketidaktentuan (suspense). pengarang memiliki kebebasan kreativitas.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-19 merupakan inti cerita. kejutan (surprise). Cara yang lain adalah dengan menggabungkan dua cara di atas. Tokoh pada umumnya berwujud manusia. Urutan peristiwa seperti itu disebut alur lurus. Dalam membaca urutan cerita yang demikian pembaca seolah-olah diajak untuk mengenang peristiwa masa lalu. Contoh cerita yang menggunakan susunan seperti itu adalah Atheis karya Achdiat Kartamiharja. ada semacam ketentuan atau kaidah yang perlu dipertimbangkan. pembaca dibawa kembali ke inti cerita. dan berakhir dengan peristiwa C sebagai penutup cerita. Namun demikian. Urutan seperti itu dinamakan alur sorot baik. melainkan dari peristiwa akhir kemudian baru dikisahkan peristiwa yang mendahuluinya. Setelah kenangan itu habis. pembaca langsung diajak masuk ke dalam peristiwa pokok. Tokoh sentral atau tokoh utama yang disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan . dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. misalnya dalam Tinjaulah Dunia Sana karya Maria Amin. Ada pula prosa fiksi yang disusun sebaliknya. Tokoh dan Penokohan Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. Dalam membentuk alur tertentu. pertama. atau benda yang diinsankan. Kaidah yang dimaksud meliputi masalah kemasukakalan (plausibility). yaitu (1) tokoh sentral atau tokoh utama dan (2) tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. Peristiwa tidak disusun secara urut dari peristiwa awal sampai peristiwa akhir. Melalui cara itu. meskipun dapat juga berwujud binatang. Ketika sedang berada pada peristiwa pokok. tiba-tiba pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu. tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua. b.

Bagaimana kita pembaca mengenali watak tokoh-tokoh cerita? Ada beberapa cara yang dapat membawa pembaca sampai pada sebuah simpulan tentang watak tokoh. yang berhasil mengisinya dengan darah dan daging akan dengan sendirinya meyakinkan kebenaran ceritanya. antara lain dengan mencermati: . Jelasnya. Agar manusia yang perikehidupannya diceritakan itu lebih jelas bagi pembaca. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh itulah yang disebut penokohan. Yang termasuk tokoh bawahan misalnya tokoh andalan. tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Karena sebuah prosa fiksi biasanya melibatkan beberapa tokoh. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya. pengarang berusaha menyajikan sosok tokoh cerita itu di hadapan pembaca. Peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadina perubahan sikap terhadap diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap cerita tersebut. yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. perlu bagi pembaca untuk menentukan tokoh sentralnya. (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. tokoh utama atau tokoh sentral suatu prosa fiksi dapat ditentukan dengan paling tidak tiga cara. Yang ingin diungkapkan pengarang melalui cerkan adalah manusia dan kehidupannya. dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.5-20 Apresiasi Bahasa Indonesia cerita itu ada. dantokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) ialah tokoh yang tidak sentral dalam cerita. Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita dijumpai adanya tokoh datar/sederhana/pipih yang wataknya tidak berkembang dan tokoh bulat/kompleks/ bundar yang wataknya berkembang dan kompleks sehingga terlihat kelemahan dan kelebihannya dan dapat dibedakan dari watak tokoh lain. Biasanya tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita.

tetapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan. Jadi. 4. orang berbudi halus atau kasar. wanita atau pria. apa yang diperbuatnya. dan baik hati. latar meliputi penggambaran (1) lokasi geografis. kita dapat mengenali apakah ia orang tua. penerangan langsung. pengacuan yang berkaitan dengan tempat. Waktu. ucapan-ucapannya. Dalam hal ini penulis memberitahukan panjang lebar watak tokoh secara langsung. tempat. Situasi kritis di sini tidak perlu mengandung bahaya. dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita disebut latar atau setting. (2) waktu terjadinya . 5. 6. dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita. sampai pada rincian sebuah ruangan. 3. tindakan-tindakannya. sukunya. pikiran-pikirannya. terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-21 1. misalnya pengarang menjelaskan bahwa tokoh A adalah orang yang jujur. Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah cara penting untuk menggambarkan watak tokoh. c. Penulis sering membuat deskripsi tentang bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya: tentang cara berpakaiannya. waktu. Secara terinci. gambaran latar atau lingkungan tempat tinggal tokoh. latar meliputi segala keterangan. bentuk tubuhnya. dan sebagainya. pemandangan. penggambaran fisik tokoh. ciri-ciri fisiknya yang dapat menunjukkan watak tokoh yang bersangkutan. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. orang dengan pendidikan rendah atau tinggi. petunjuk. 2. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita. Latar Cerita merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu di suatu tempat dan dalam suasana tertentu. sabar. 7.

Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat. yaitu bangunan. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual. dan emosional para tokoh cerita. Karena itu. latar hendaknya mempunyai fungsi untuk menggarap alur. dapat berbicara soal-soal khusus seperti pelarian. musim terjadinya. dan kemanusiaan.5-22 Apresiasi Bahasa Indonesia peristiwa. misalnya. bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. moral. Sudut Pandang . cinta kasih. latar kota Jakarta menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu: suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang yang menyebabkan orang mudah merasa terasing. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. Sebaliknya. d. dan penokohan. sejarahnya. biasanya pengarang tidak akan sembarangan dalam menentukan latar cerita. misalnya nilai kebenaran. intelektual. dapat dikatakan bahwa latar bukan sekadar background cerita. Dalam prosa fiksi. sosial. dendam. suasana tertentu. Adapun Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya. atau menunjukkan sifat-sifat manusia pada suatu saat di suatu tempat. Cerita dengan latar perang. cara hidup. pengkhianatan. artinya hanya sekadar memberi petunjuk bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi di suatu tempat pada waktu dan suasana tertentu. Dari latar wilayah tertentu harus dihasilkan watak tertentu. dan atau tema tertentu. disebut latar netral. dan keagungan Tuhan yang akan diungkap pengarang melalui cerita tersebut. untuk memperkenalkan adat istiadat suatu daerah. Misalnya dalam cerpen "Jakarta". Kegunaan latar biasanya bukan semata-mata sebagai petunjuk kapan dan di mana cerita itu terjadi. patriotisme. melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai. dan sebagainya. Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik (material). adat kebiasaan. Dengan demikian. latar yang hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. dan (3) lingkungan agama. daerah. tema.

sering kita jumpai prosa fiksi yang menggunakan sudut pandang campuran. atau menyebut nama tokoh. yang juga disebut pencerita "Akuan". Di samping jenis-jenis sudut pandang di atas. yakni sudut pandang Orang Pertama (Pencerita Akuan) dan sudut pandang Orang Ketiga (Pencerita Diaan). tatanan sampai mitos sejarahnya. tindakan. teknik. dia). Yang pertama. Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Utama atau Akuan-Sertaan. Sudut pandang dibagi menjadi dua. dari alam. latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Ronggeng . Dalam sudut pandang Orang Pertama. bahkan mampu mengungkap pikiran. Dengan demikian. Bagian pertama novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang Diaan Serba Tahu. Seperti dalang. Akan tetapi mulai bagian kedua. Ahmad Tohari mendongeng tentang Dukuh Paruk. dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Orang Ketiga Mahatahu apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita. Dalam sudut pandang Orang Ketiga. sedangkan apabila pencerita menjadi tokoh bawahan disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Bawahan atau Akuan-Taksertaan. Dalam kisahannya pencerita mengacu kepada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti Orang Ketiga (ia. tradisi. pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi. Yang kedua. atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Orang Ketiga Terbatas apabila pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-23 Sudut pandang atau point of vieuw merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. pencerita berada di luar cerita. misalnya. pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya. Sudut Pandang Orang Ketiga memiliki dua kemungkinan.

pencerita tidak dapat memperkenalkan apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat lain. dan kemudian pembaca semakin dekat dengan peristiwa yang disajikan dalam cerita. Berdasarkan kekurangan dan kelebihannya itu. dia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi. Ditinjau dari penangkapan dan pemahaman cerita oleh pembaca. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk. relevansinya dengan sifat cerita. pikiran. Di lain pihak. yakni Rasus. dari pola pemikiran tradisional menuju ke pemikiran yang modern. sudut pandang Orang Pertama cocok untuk cerita dengan kecenderungan psikologis. Tetapi karena ia harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu sudut. Ia tidak dapat menduga dalam-dalam pikiran dan sikap tokoh lain. Apabila digunakan sudut pandang diaan serba-tahu. Di samping itu. tetapi tentang tokoh lain ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. penggunaan sudut pandang Orang Ketiga dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak dalam waktu yang bersamaan. Cerita tersaji melalui mulut tokoh Aku. dan perasaannya sendiri kepada pembaca. Perubahan sudut pandang dalam sebuah prosa fiksi biasanya memiliki nilai-nilai tertentu. dan pembaca. perubahan sudut pandang diaan ke akuan mengisyaratkan adanya sebuah kesan “meninggalkan” negeri dongeng. ceritanya menjadi sangat padu. setiap sudut pandang ada kelebihan dan kekurangannya. “Aku” secara langsung dan dengan bebas dapat emnyatakan sikap. ceritanya menjadi lebih bersifat objektif. tetapi ada keterbatasan karena sudut pandangnya bersifat sepihak. perubahan sudut pandang dalam novel itu juga berkaitan dengan perubahan karakter tokoh Rasus. Di samping itu. Sudut pandang Orang Pertama cepat membina keakraban antara cerita dan pembaca.5-24 Apresiasi Bahasa Indonesia Dukuh Paruk disajikan dengan menggunakan sudut pandang Akuan Sertaan. bahkan . Apabila digunakan sudut pandang diaan terbatas.

dapat dikatakan bahwa menganalisis gaya sebuah cerita rekaan berarti menganalisis wujud verbal karya sastra itu sendiri. Dalam artian ini. Oleh karena itu. Akan tetapi kelemahannya. unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi unsur leksikal. penggunaan sudut pandang diaan serba tahu bertentangan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Gaya dan Nada Gaya merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. Unsur leksikal menyangkut diksi. dan sarana retorika. Seorang pengarang selalu menyajikan halhal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lain. yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. kalimat. semua pengarang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri. bahasa kias. dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya. Secara ringkas. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata. dan ungkapan yang menentukan keberhasilan. e. . sering dikatakan bahwa gaya adalah oranngnya. Secara sederhana. keindahan. kelompok kata. dan penyiasatan struktur. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya. gaya pengarang adalah suarasuara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya. Ia dapat berkomentar dan memberikan penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya. gramatikal. Berdasarkan pengertian gaya sebagaimana tersebut di atas. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-25 dapat menembusi pikiran dan perasaan tokoh. gaya dapat didefinisikan sebagai cara pemakaian bahasa yang khas oleh seorang pengarang.

Meskipun demikian. f. menyimpulkan makna yang dikandungnya. atau pikiran utama yang mendasari sebuah cerita rekaan. Oleh karena itu. menjijikkan. romantis. religius. mencekam. Ia terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. melankolis. wajar. serta menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. Tema dan Amanat Tema merupakan gagasan. tema tidak perlu selalu berwujud ajaran moral. Tema bisa saja hanya berwujud hasil pengamatan pengarang terhadap kehidupan. dan sebagainya. untuk memahami tema kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembangunnya. tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita.5-26 Apresiasi Bahasa Indonesia Yang dimaksud sarana retorika adalah penggunaan berbagai bentuk kebahasaan untuk memperjelas dan memperindah pengungkapan sehingga dihasilkan wacana yang efektif dan khas. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. Nada yang sering disamakan dengan istilah suasana adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. mengharukan. . atau bahkan hanya hasil pengamatannya saja. kesimpulannya. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. Suasana cerita dapat berkisar pada suasana yang bersemangat. tragis. menegangkan. Jadi. Pengarang bisa hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan tanpa memberikan jalan keluarnya. ide. Salah satu fungsi gaya yang penting adalah sumbangannya untuk mencapai tone atau nada dalam prosa fiksi. sementara kita sebagai pembaca baru memahami tema setelah kita selesai memahami unsur-unsur pembangun yang menjadi media pemaparan tersebut.

7. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut . menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lain yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam cerita. menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok yang satuan peristiwa. apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas karena tema sebenarnya merupakan pandalaman dan kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal. memahami peristiwanya. keberadaan tema tidak dirumuskan dalam satu atau dua kalimat secara eksplisit. 8. 4. 6. pokok pikiran. memahami latar prosa fiksi yang dibaca. Dalam upaya pemahaman tema cerita. 3. 2. serta tahapan ditampilkannya. Meskipun demikian. b) Amanat/ Nilai/Pesan Moral Unsur lain yang dapat diperoleh sewaktu berusaha memahami tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta merumuskannya dalam satu atau dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya. memahami alur ceritanya. 5. perlu diperhatikan beberapa langkah berikut secara cermat: 1. Tema dalam hal ini inklusif di dalam cerita. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam cerita yang dibaca. melainkan tersebar di balik keseluruhan unsur cerita. mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-27 Brooks (1975) mengungkapkan bahwa dalam mengapresiasi tema suatu cerita.

Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi dapat secara tersurat maupun secara tersirat. Untuk menopang hidupnya Rani kemudian membuka tempat kos dan menerima jahitan. Setelah Ramelan mendapat pekerjaan dan proyek. dengan masyarakat dan lingkungannya. misalnya. . Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja. 4. Contoh Apresiasi Novel Pelabuhan Hati Karya Titis Basino dengan Pendekatan Analitik Pelabuhan Hati mengisahkan sebuah keluarga yaitu Ramelan beserta istrinya Rani. Prosa fiksi itu harus dibaca dengan sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Meskipun demikian. hidup mereka berkecukupan. Semua kata dan kalimat harus benar-benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi pekerti. Hal ini membuat Ramelan menjadi pendiam dan selingkuh dengan gadis lain yang bernama Laksmi yang tidak lain adalah langganan menjahit Rani. ia marah dan minta cerai karena tidak mau dimadu. hidup mereka serba kekurangan. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerkan itulah yang sering disebut amanat. Perubahan ini membuat Rani menjadi cerewet dan selalu ingin mengatur.5-28 Apresiasi Bahasa Indonesia akan dapat dinemukan nilai-nilai yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaaan serta hidup kehidupan. hidup mereka bahagia. Nora. Ketika Rani mengetahui. Kehidupan Rani membaik walaupun tanpa suami. dan dengan Tuhan. Yang dimaksud nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. dan keempat anak mereka Raja. Pada awal pernikahan. dan Preti. Jenis dan wujud pesan moral/ nilai dapat mencakupi seluruh persoalan hidup dan kehidupan yang meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Rima.

dan aku bertambah cerewet. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Bubarkan semua yang ada di sini. Yang dimaksud Laksmi.” (PH) Ramelan adalah seorang laki-laki atau suami yang baik. tegas. Ramelan kesepian dan ingin kembali pada Rani.” Walaupun sudah bercerai. “Suratnya selalu mengatakan ingin menemuiku.” “Dia tidak peduli soal-soal kecil. Ramelan jatuh sakit dan akhirnya meninggal di pangkuan Rani. Cerewet. Ia percaya bahwa wanita bukan makhluk yang lemah. tetapi Rani menolak. istri dan anak-anaknya. tidak pernah mencela atau menegur. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.” “Ini uang. “Ramelan selalu mengiyakan tuntutanku. Dia kini tambah pendiam. Ramelan masih peduli terhadap istrinya. Dia sangat menyayangi keluarga. Peristiwa berlanjut dengan pernikahan Ramelan dan Laksmi yang tidak . Ia telah berusaha bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak bergantung pada laki-laki.” (PH) Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Dan aku tidak menyadari selama ini. dan mandiri. Aku perlu berkumpul dengan anakanak. Dia tidak cerewet. Memang membosankan berdekatan dengan perempuan nyiyir dan sok tahu urusan laki-laki. Rani sebagai tokoh utama memiliki sikap yang keras. dimulai dari kehidupan awal Ramelan dan Rani sampai punya empat anak. pendiam. Sebagai wanita sekaligus istri ia juga menyadari kelemahannya yaitu cerewet dan suka mengatur sehingga suaminya berpaling pada gadis lain.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-29 Perkawinan Ramelan dan Laksmi tidak membuahkan anak. kemudian bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga dalam sepuluh tahun. “Aku ingin kembali ke rumah ini. itulah cela yang tidak disukai laki-laki.

G. dan latar. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguhsungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. dan tidak selalu bergantung pada laki-laki. “Aku sibuk mengatur rumah baruku. rumah Laksmi di Mampang. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. serta gaya (bahasa). kuat. sedangkan prosa fiksi baru meliputi novel dan cerpen.” (PH) Adapun tema novel Pelabuhan Hati ini adalah ketegaran seorang wanita dalam menghadapi cobaan hidup.” “Aku membaca surat Yasin. Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. Diam dan mengawasi mereka berdua. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Menurut sejarah perkembangannya. dan tema cerita. jadilah wanita yang tegar. Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa wanita sebenarnya bukan makhluk yang lemah. Karena itu. mandiri. tokoh. LATIHAN/SOAL . prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. F. kemudian jatuh sakit dan meninggal. Rumah Sakit Petambunan. sarana cerita yang meliputi judul. RANGKUMAN Prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. yaitu di rumah Rani. Novel ini berlatar di kota Jakarta.” “Aku inginkan ada kolam ikan. Unsur pembangun prosa fiksi yaitu fakta cerita yang meliputi alur. Ramelan merasa kesepian. di rumah sakit Yayasan Kristen Jakarta.” “Aku terpana.5-30 Apresiasi Bahasa Indonesia bahagia karena tidak punya anak. khayalan. sudut pandang.

lagu-lagu ngangdut atau kasidahan. pada acara khitanan anaknya ini. Cukup kerabat-kerabat terdekat. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. tetapi terutama orangorang yang dulu pernah mengundanfgnya berhajat. Dengan demikian. Anaknya. Kemudian tak uasah nanggap wayang atau ketoprak. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. untuk waktu sehari semalam penuh. Cukup panggil calak. tukang khitan. .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-31 Bacalah cerpen berikut dengan saksama kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan. Cobalah pikir. atau apa saja asal ada kasetnya. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek. malah rugi. kini sudah mulai menagih. ludruk. Yang diundang tak usah banyak-banyak. dengan bayaran dua ribu rupiah. Tapi mana bisa. makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Perhitungannya ternyata meleset. Bahkan bisa lebih banyak. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. Daroji. ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Ia tidak pakai acara macem-macem. yang belum sembuh karena dikhitan kemarin.

Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu.” kata istri Kang Dasrip. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung.sekarang Cuma ngasih Rp100.” Kang Dasrip tertawa kecut. sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo. “Kau kira berapa sewan utnuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewannya. Kang. Kang Dasrip misuh-misuh. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.5-32 Apresiasi Bahasa Indonesia Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp200. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu.” kaata istrinya lagi. tapi dia belum pernah merasa puas.” “Usaha apa!” “Soal sewan tebu itu misalnya.. padahal ikut makan dan minum. dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tak berani membantah. Yang dulu ia kasih beras sekilo. “Kau kira lurah kita itu pahlawan. Tak usah bingung. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu. “Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Ngomongnya saja Tebu Rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. “Sudahlah. dia masih merasa kurang kaya …!” .” Tertawa Kang Dsrip mengeras. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar. Apa tak kurang ajar. pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana.-. uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.

kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. ributlah orang desa. (Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp200. Daroji menangis. kecuali nama yang memalukan. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. Tapi tentu saja ini sia-sia. di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. ada yang memaki-maki. “Radionya dicopet di pasar.kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100. Istrinya ketakutan. Ketika surat itu selesai diantarnya. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Kang Dasrip naik pitam. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Nak …!” ujarnya. “Memalukan desa kita!” Kecam mereka. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Ada yang tertawa. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya.-“ tulisnya. “Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Mei 1992) . Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. Bahkan lebih dari itu..Apresiasi Bahasa Indonesia 5-33 “Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih. Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya. “Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip.

Sudut pandang apakah yang digunakan dalam cerpen tersebut? g. jelaskan disertai data yang mendukung! f. Sebutkan peristiwa-peristiwa pokok dalam cerpen Kang Dasrip“ tersebut! b. Apakah tema dan amanat cerita tersebut? Uraikan disertai data yang mendukung! . Bagaimana peran pencerita (narator) dalam penggambaran watak tokoh? Jelaskan! h. Terangkan konflik yang dialami tokoh dan cara mengatasi konflik itu1 d. Adakah fungsi latar yang lain. Jelaskan hubungan antarperistiwa pokok dalam cerita itu! c. Uraikan watak tokoh Kang Dasrip dan anaknya disertai data yang mendukung! e. Menurut Anda.5-34 Apresiasi Bahasa Indonesia PERTANYAAN a. di samping sebagai penanda waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita itu? Jika ada. bagaimana gaya penceritaannya? Kemukakan dengan bukti yang mendukung pendapat Anda! i.

.

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. pengarang tidak menjelaskan secara rinci apa . puisi. Berbeda dengan prosa.BAB III. DESKRIPSI Penyajian konsep puisi yang meliputi hakikat. MENGAPRESIASI PUISI A. serta mampu mengapresiasi prosa. B. C. puisi. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar puisi yang meliputi hakikat dan unsur pembangun puisi serta mampu mengapresiasi puisi dalam berbagai kegiatan berbahasa. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Artinya. atau pemusatan dan pemadatan. dan unsur puisi serta praktik mengepresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. INDIKATOR 1. puisi bersifat konsentris dan intensif. Hakikat Puisi Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. Mengapresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. dan drama. URAIAN MATERI 1. Menjelaskan hakikat dan unsur puisi 2. jenis. E. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi.

pengimajian. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. untuk memahami makna. versifikasi (rima dan irama). penyair memilih kata dengan mempertimbangkan makna dan daya sugestinya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-35 yang ingin diungkapkannya. serta amanat (Waluyo 1991). Diksi Diksi atau pilihan kata digunakan untuk (1)mendapatkan kepuitisan dan nilai estetis. Hal itu dilakukan bukan sebatas pada masalah yang disampaikan melainkan juga pada cara penyampaiannya. Berdasarkan hal tersebut. pesan. serta tipografi. Struktur fisik meliputi diksi. yaitu memahami makna. Akibat adanya intensifikasi tersebut. dan keindahan puisi. 3. perasaan. nada dan suasana. dan keindahan puisi. komposisi bunyi .dan (2) mengekspresikan pengalaman puisi secara padat dan intens. Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. seorang pembaca harus memahami unsur-unsur pembangun puisi. Pemberian makna itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna. Oleh karena puisi merupakan dunia simbol. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. tetapi juga pengaruh “rasa” yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. a. dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mempertimbangkan aspek maknanya. Agar dapat menafsirkan puisi dengan baik. kata konkret. pembaca harus menafsirkan puisi tersebut. Penafsiran atau interpretasi terhadap puisi adalah pemberian makna terhadap teks puisi. pesan. Unsur-unsur Pembangun Puisi Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. melainkan hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian pokok atau penting. bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. majas.

dan kedudukan kata itu dalam konteks secara keseluruhan. Misalnya. penyair menulis: hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan riang. d. yakni pengalaman yang dapat ditangkap melalui pancaindera. artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Imaji yang ditimbulkan oleh penggunaan kata-kata itu dapat berupa imaji penglihatan (serupa dara dibalik tirai). atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. pembaca seolah-olah melihat. imaji penciuman (udara berbau tembaga). pembaca akan terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. Pengimajian ditandai oleh penggunaan kata-kata yang konkret dan khas. yakni secara tidak langsung . kata-kata harus diperkonkret. b. imaji pendengaran (haram gemerincing genta rebana). Dengan demikian. Pengimajian/ Pencitraan Pengimajinasian atau pencitraan adalah kata atau susunan katakata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris. mendengar. Artinya.5-36 Apresiasi Bahasa Indonesia dalam rima dan irama. c. Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji atau daya bayang pembaca. kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya. Kata-katanya juga dipilih yang puitis sehingga memperoleh efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penggunaan kata-kata konkret. Majas Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. imaji perabaan (cubit biar sakit). dan imaji pencecapan (rasa pahit di mulut). untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan. kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh.

dan rima sempurna. dan personifikasi. Rima mempunyai peranan yang sangat penting dalam puisi karena hal tersebut berkaitan dengan nada dan suasana puisi. Termasuk jenis rima. dan lambang suasana. nada dan suasana puisi tercipta lebih nyata dan lebih dapat menimbulkan kesan pada benak pembaca. Penggunaan tipografi oleh penyair mungkin dimaksudkan sekadar untuk keindahan indrawi. rima akhir. aliterasi.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-37 mengungkapkan makna. digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana puisi menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. Dengan bantuan unsur rima. lambang benda. misalnya lambang warna. d. misalnya perbandingan. Baris-baris puisi Sutardji “Tragedi Sihka dan Winka”. metafora. misalnya asonansi. lambang bunyi. Wujudnya berupa kiasan dan lambang. ditulis . Analisis terhadap majas dalam puisi dapat dilakukan dengan menanyakan (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi. tetapi mungkin juga sengaja dimanfaatkan untuk mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan. Adapun lambang adalah penggantian sesuatu hal dengan hal lain. e. Majas. Termasuk ke dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata dalam puisi. Kiasan adalah pembandingan sesuatu hal dengan hal lain. Tipografi dan Enjambemen Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. (2) alasan penyair memilih majas tersebut. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. misalnya. baik kiasan maupun lambang. dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas tersebut. rima awal.

Wujudnya berupa pemisahan bagian kalimat (kata/kelompok kata) dan pemindahan bagian kalimat itu ke larik berikutnya. hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Enjambemen dapat pula dimanfaatkan untuk mengaburkan makna sehingga menyebabkan puisi menjadi multitafsir. Nada dan Suasana Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca. Tema Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair di dalam puisinya.5-38 Apresiasi Bahasa Indonesia berbentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan. Enjambemen dimaksudkan untuk memberikan penekanan atau penonjolan. gembira. iba. atau bersikap lugas. seperti haru. dan tema percintaan yang melukiskan cinta dan kasih sayang. g. Atau dengan kata lain. dengan alam. Tema puisi sangat luas menyangkut hubungan antara manusia dengan diri sendiri. enjembemen ini perlu memperoleh perhatian karena akan sangat menentukan makna puisi. apakah dia bersikap menggurui. tema kebangsaan yang melukiskan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. menyindir. sedih. . dan dengan Tuhan. menasihati. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut. atau pemberontakan. mengejek. tema sosial yang melukiskan kondisi masyarakat yang lebih merupakan protes sosial. Adapun enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi dan hubungan antarbaris dalam puisi tersebut. Dealam pemaknaan puisi. dengan binatang. dengan manusia lain. suasana adalah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. Sebagai contoh ada tema ketuhanan yang menunjukkan pengalaman religi penyair. sesuai dengan makna puisi. f.

(f) memahami tipografi dan enjambemen. atau pesan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. 4. anak-anakku Kursi-kursi tua yang di sana . Nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. (b) memahami latar. Demikian seterusnya. 5. (e) memahami bait dan baris. Amanat bersifat subjektif. Contoh Apresiasi terhadap Puisi “Dari Seorang Guru kepada MuridMuridnya” Karya Hartoyo Andangjaya dengan Pendekatan Analitik Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-39 Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku Aku takut. yaitu (a) memahami judul. Amanat (Pesan) Amanat adalah maksud. Langkah Menafsirkan Puisi Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam menafsirkan makna puisi. h. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati bagi pembacanya. dan (g) memahami totalitas makna dan amanat puisi (Depdiknas 2004). (c) memahami kata ganti. (d) memahami majas. Amanat dapat diketahui dengan mengacu pada tema cerita. imbauan. yakni berdasarkan interpretasi pembaca. anak-anakku Selain buku-buku dan sedikit ilmu Sumber pengabdian kepadamu.

sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagikuKarena kutahu. seperti pada bait pertama dan kedua. suasana khusus. anak-anakku Engkau terlalu muda Engkau terlalu bersih dari dosa Untuk mengenal ini semua Puisi ini menceritakan kehidupan guru sekitar tahun 60-an yang serba kekurangan. Justru ia selalu berdoa agar murid-muridnya sukses dan tidak mengalami nasib jelek seperti dirinya.5-40 Apresiasi Bahasa Indonesia Dan meja tulis sederhana Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya Semua padamu akan bercerita Tentang hidupku di rumah tangga Ah. karena rumah dan perabotannya jelek dan kuno. tentang ini tak pernah aku bercerita Depan kelas. bahkan ia juga tidak pernah mengeluh. Puisi ini termasuk puisi transparan karena bahan yang digunakan mudah dipahami. Dia malu seandainya ada murid yang berkunjung ke rumahnya. Kekayaan yang dimiliki hanyalah buku-buka dan sedikit ilmu sebagai sumber pengabdian kepada murid-muridnya. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari dan tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. jendela yang tak pernah diganti kainnya. Tetapi semua kesederhanaan dan kekurangannya itu tidak pernah diceritakan kepada murid-muridnya. sedang menatap . a. meja tulis sederhana. Bunyi u. Dalam puisi ini terdapat imaji penglihatan : kursi-kursi tua. Unsur bunyi berperan penting dalam puisi ini untuk memperdalam ucapan dan menimbulkan rasa. mendominasi bait pertama dan kedua.

Jelaskan unsur-unsur puisi! 3. F. dan tipografi. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Jelaskan ciri-ciri puisi! 2. Adapun nada puisi tidak bersifat menggurui. Tema puisi ini adalah keprihatinan terhadap nasib guru. nada dan suasana. versifikasi. Zawawi Imron berikut? Jelaskan alasannya! 4. pengimajian. simbol. Struktur fisik meliputi diksi. majas. Amanat yang disampaikan pengarang adalah walaupun hidup serba kekurangan. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. Apresiasilah puisi berikut dengan menggunakan pendekatan analitik! Ibu . seorang guru janganlah pernah mengeluh dan tetaplah mengabdikan diri untuk anak didik. dan lambang. Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. Puisi transparan tidak banyak menggunakan simbol-simbol dan kata kias sehingga mudah dipahami. serta amanat. LATIHAN/SOAL 1. G. Pendekatan apa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi puisi “Ibu” karya D. sedangkan suasana puisi mengharukan. Puisi prismatis adalah puisi yang sarat dengan kata kias.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-41 wajah-wajahmu remaja. RANGKUMAN Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. Bahasa kias terdapat pada: horison yang selalu biru bagiku. Puisi dibedakan menjadi puisi transparan/diaphan dan puisi prismatis.

yang kan kusebut paling dahulu Lantaran aku tahu Engkau ibu dan aku anakmu Bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal . mencuci lumut pada diri Tempatku berlayar. daunan pun gugur bersama ranting Hanya mataair airmatamu ibu.5-42 Apresiasi Bahasa Indonesia D. yang tetap lancar mengalir Bila aku merantau Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar Ibu adalah gua pertapaanku Dan ibulah yang meletakkanku di sini Saat bunga kembang menyemerbak bau sayazng Ibu menunjuk ke langit. kemudian ke bumi Aku mengangguk meskipun kurang mengerti Bila kasihmu ibarat samudra Sempit lautan teduh Tempatku mandi. Zawawi Imron Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau Sumur-sumur kering. mutiara dan kembang laut semua bagiku Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan Namamu ibu. menebar pukat dan melempar sauh Lokan-lokan.

Apresiasi Bahasa Indonesia 5-43 Ibulah itu. bidadari yang berselendang bianglala Sesekali datang padaku Menyuruhku menulis langit biru Dengan sajakku .

drama memunyai karakter khusus. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung.BAB IV. E. tema. MENGAPRESIASI DRAMA A. amanat. alur. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. latar. Sebagai sebuah genre sastra. URAIAN MATERI 1. Menjelaskan hakikat dan unsur-unsur drama 2. INDIKATOR 1. DESKRIPSI Penyajian konsep drama yang meliputi hakikat dan unsur drama serta praktik mengepresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Sebagai sebuah karya. . STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa B. Hakikat Drama Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. C. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar drama yang meliputi hakikat drama unsur pembangun drama dan mampu mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. Mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D.

dan ide-ide utama. Biasanya kepadanya pembaca berempati. Sifat dan kedudukan tokoh di dalam drama bermacam-macam. Di sisi lain. . serta dialog (Waluyo 2003. a. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal dan dapat pula bersifat eksternal.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-45 serta dialog. Ada yang bersifat penting (mayor) dan ada yang tidak penting (minor). amanat. Karena perannya itu. Hakikat drama adalah tikaian atau konflik. yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita. Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. dialog merupakan wadah untuk menyampaikan informasi informasi. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa di dalam drama. alur. dan penonton. Asmara 1983). dialog dapat menciptakan serta melukiskan suasana. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. Sebagai sebuah pertunjukan. Dialog juga berfungsi memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. Konflik merupakan penggerak cerita. misalnya. fakta. konflik antartokoh. pementasan. Dialog merupakan sarana primer drama. Konflik internal adalah konflik antara seseorang dengan dirinya sendiri. protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat di dalam kesukarankesukaran. sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara tokoh dengan sesuatu yang lain. yakni naskah. Dilihat dari sisi pengarang. atau konflik antara tokoh dengan lingkungannya. Ada yang berkedudukan sebagai protagonis. 2. Unsur-Unsur Drama Unsur drama dalam dimensi sastra meliputi tokoh dan penokohan. tema (premise). latar.

Tokoh lain adalah tokoh tritagonis yang menjadi peran penengah antara protagonis dan antagonis. ujaran (dialog). Oleh karena itu. seperti melawan takdir. Menurut Hudson (dalam Asmara 1983). dan dirasakan tentang dirinya atau diri orang lain. masalah yang timbul. berakhir pulalah lakon drama. pikiran. Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita. antara kemauan yang berlawanan. Konflik itu saling berbentrokan sehingga terjadilah suatu rentetan peristiwa yang kemudian membentuk drama. Di dalam drama tokoh-tokoh cerita digambarkan memiliki ciri-ciri fisik. Dengan dimulainya suatu konflik berarti pula mulainya suatu lakon drama yang sebenarnya. sebelum insiden awal. yang disebut peran pembantu. klimaks/krisis. dan apa yang dipikirkan. antara manusia dengan keadaan yang mengelilinginya. b. atau latarnya. dan sosiologis. Pertentangan antara perasaan-perasaan di luar manusia. di dalam Dengan . penyelesaian konflik itu. Ciri-ciri tersebut dapat diketahui melalui tindakan atau lakuan. penampilan fisik. penurunan laku (falling action). atau nasib. Pada kenyataannya. penanjakan laku (rising action).5-46 Apresiasi Bahasa Indonesia Lawan protagonis adalah antagonis yang berperan sebagai penghalang bagi protagonis. yaitu: insiden permulaan. Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan protagonis atau antagonis. terdapat bagian pemaparan (eksposisi) yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami cerita selanjutnya. dan keputusan (catastrope). Mungkin itu pertentangan antara pribadi-pribadi yang berlawanan. Alur Lakon drama selalu mengandung konflik atau pertentanganpertentangan di dalam suatu kehidupan. perasaan. pada dasarnya alur drama tersusun menurut garis lakon (dramatic line). psikologis. misalnya tokohnya.

Tema (Premise) dan Amanat Tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa. Amanat di dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. Sebaliknya. gambaran tokoh. latar yang abstrak akan berhubungan dengan peristiwa dan tokoh yang abstrak. . Oleh sebab itu amanat juga merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan. c. klimaks. dan dialog para tokohnya. terdapat banyak peristiwa yang masing-=masing mengemban permasalahan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-47 srtuktur dramatik Aristoteles disebutkan bahwa struktur alur drama itu meliputi eksposisi. perilaku tokoh. kecenderungan. Secara langsung latar berhubungan dengan tokoh dan alur. tingkah laku tokoh. d. atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. Adapun amanat adalah opini. penokohan. dan latar. Latar Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu. Dalam sebuah drama. Petunjuk mengenai latar itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang. dan suasana terjadinya peristiwa di dalam drama. dan konklusi. Pencarian amanat identik dengan cara pencarian tema. Latar konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret. dan latar drama. tempat. tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut. yang terkait dengan latar. tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. resolusi. Latar harus menunjang alur dan penokohan. komplikasi. Oleh sebab itu. Permasalahan itu dapat muncul melalui perilaku para tokoh.

Penggunaan bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh. Seperti remaja lainnya. dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak. Dialog dalam drama harus memenuhi dua hal. Peristiwa dimulai ketika ayah tiba di rumah sepulang dari sawah. Oleh sebab itu. penggunaan bahasanya juga berbeda. adiknya. dialog harus baik dan bernilai tinggi. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa fungsi dialog dalam drama antara lain adalah: (a) mempertinggi nilai gerak. suasana. Ayah memiliki dua orang anak laki-laki yang perangainya sangat berbeda. Dia malu memakai sepeda. Kedua. Alur yang digunakan adalah alur lurus. harus jelas. Latar terjadi di rumahnya yang sangat sederhana pada pagi hari sekitar pukul 10 ketika ayah pulang dari sawah. Artinya. Dia menanyakan keberadaan . Bahasa/Dialog Di dalam sebuah drama. (b) menggambarkan karakter tokoh. Artinya. dan latar cerita. Di samping bersekolah. dia mau sekolah kalau dibelikan sepeda motor. mau menerima kenyataan. terang.5-48 Apresiasi Bahasa Indonesia e. Pertama. jika seorang tokoh berada pada situasi. penggunaan bahasa terlihat pada dialog merupakan situasi bahasa utama. dan peran yang berbeda. dialog harus lebih teratur daripada percakapan sehari-hari. Tidak boleh ada kata-kata yang tidak perlu. dan (3) menggambarkan alur cerita. Contoh Apresiasi Teks Drama berjudul “Ayah Dua Laki-Laki” dengan Pendekatan Analitik Drama ini menceritakan sebuah keluarga petani yang miskin dan sederhana. Ia mau membantu ayahnya di rumah. 3. Sebaliknya Bandar. Sakri anak sulungnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang serba kekurangan itu. emosi. ia pergi bekerja sebagai tukang parkir pada malam hari. dan menuju sasaran (to the point). dialog harus mencerminkan apa yang telah terjadi dan juga mencerminkan pikiran serta perasaan para tokoh.

Konfilk pun muncul. Ternyata Sakri sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena menuntut dibelikan motor. Perhatikan kutipan berikut! “Ooo ngambek to. pulang agak malam. baik. berpikiran sederhana.” Sakri adalah anak yang malas. Klimaks terjadi pada waktu ayah berhadapan dengan Sakri. Perhatikan kutipan berikut. ingin hidup senang dan suka menuntut. dan tempe goreng. tetapi aku perlu motor.” “Bapak mau makan? Aku masak kacang panjang sambel pete. selalu berusaha keras dan pekerja keras.” “Aku mau sekolah. lesu rasanya. “Pak.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-49 Sakri kepada Bandar yang waktu itu sedang menyiapkan masakan sebelum berangkat ke sekolah siang hari. Aku tidak bisa. Bandar berangkat sekolah. sayang. karena sepulang sekolah saya langsung kerja. sebagaimana terlihat pada kutipan berikut. Yang berakhir dengan kepergian Ayah Sakri.” . “Kamu sudah makan? Apa kakakmu sudah pulang sekolah? “Ya. selalu memperhatikan anak-anaknya. Apa kalau tidak pakai motor tidak bisa pintar? Lalu tidak lulus? ‘Jadi bapak tidak mau membelikan motor? (Si ayah pergi meninggalkan Sakri) Ayah adalah sosok yang yang baik. “Pak. hati-hati. seperti terlihat pada kutipan berikut. dan adil. Kerja pada malam hari banyak resikonya.” Bandar adalah anak yang berbakti pada orang tua.

dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. Seorang anak hendaknya berbakti kepada orang tua. Sebagai sebuah genre sastra. Sebagai sebuah pertunjukan. cita-cita tak akan tercapai. Sebagai sebuah karya. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. Jelaskan pengertian drama sebagai karya dalam dua dimensi! 2. alur. latar. dan penonton. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. LATIHAN/SOAL 1. Jelaskan unsur-unsur drama dalam dimensi sastra! 3. serta dialog. drama mempunyai karakter khusus. G. tema. apresiasilah dengan menggunakan pendekatan analitik! Kemudian ORANG TERASING Aji Sudarmadjie Mukhsin Para Pelaku: 1. Adapun amanat yang ingin disampaikan adalah berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Suami . amanat. Bacalah naskah drama “Orang Terasing “berikut.5-50 Apresiasi Bahasa Indonesia Tema drama ini adalah tanpa kerja keras. Isteri 2. Anak laki-laki hendaknya bertanggung jawab dalam hidupnya. pementasan. RANGKUMAN Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. yakni naskah. F.

” 16.” Suami : “Terima kasih. 7. 6. Isteri : “Ada seorang wanita muda memberi makan kepada kita.” Isteri : “Ada. Padahal aku juga ingin menjelaskan kepada mereka. maksudku selain dari roti itu. Isteri : (Mengharap) “Banyakkah hasil yang kauterima hari ini?” Suami : “Bah.” 12. seperempat rupiah pun tak dapat. Suasana kemiskinanlah yang tampil di situ. suamiku. Moga-moga Tuhan memberkahinya. Jangan membawa anak itu keluar. Apa yang diberikannya? 5. 1. dan kau bagaimana?” 3. Suami : “Bagus. benar. Sepotong nasihat. Bisakah kau membikinkan api?” 13. Isteri : “(Mengambil lembaran surat kabar yang usang) Ini.” 10.” 11. Suami : “(Tak memperhatikan) Ada kertas?” 15. Di dalamnya terdapat sebuah dipan dan dua buah kursi yang sudah rusak pula. Kamu orang baik-baik. masih ada simpanan untuk besok pagi?” Isteri : “Masih. mereka selalu memberikan nasihat. (Membuka suratkabar itu) Surat kabar Anu atau entah apa . Jangan mengemis. pastilah mereka akan tahu … bahwa aku lapar. Isteri : ”Buat apa?” 14. Isteri : “Sepotong roti. supaya jangan membawa anak itu keluar. 8. kosong sama sekali. kau terlalu lemah.” Suami : “Kalau begitu. Suami : “Oh. Isteri : “Oh. 2. 9. 4.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-51 Panggung menggambarkan sebuah kamar yang reot. Tetapi hanya untuknya.” Suami : “Tak ada yang lain? Ah. Suami : “Ya. Ini bisa menolong malam nanti kalau kedinginan. Istirahatlah. aku orang kecil. tapi aku tak berani. Dan kalau saja mereka mamu memegangi kemudian merasakan detak darahku. karena udara terlalu lembab.

Penyakitku itulah yang menyebabkan malapetaka ini. Suami : “Jangan kuatir. dan orang-orang kaya itu. Suami : “Dan aku akan kautinggalkan? Kau tidak akan berbuat semacam … Oh. Semua yang terjadi atas kita ini adalah nasib. ya. Isteri : “Jangan dihabiskan. Ketika rintik-rintik hujan datang. aku terpaksa menghindari mereka. misalnya memanggil becak. Dengan harapan untuk mendapat uang. memberitahukan bahwa kita adalah bangsa yang berbahagia.5-52 Apresiasi Bahasa Indonesia itu namanya. kala itu orang-orang sedang keluar dari gedung pertunjukan. atau disuruh membersihkan mobil-mobil mereka.” 18.” 19. Ah. “ (Menyalakan korek api) 17.” 21. sambil berkata lapar. Satu ini pun pasti sudah bisa.” 20.” 24. tetapi siasia. Dan kesalahankulah waktu firma tempatku bekerja tempo hari itu bangkrut? Karena aku yang terlalu jujur?” 23. Betama menderitanya dirimu. Isteri : “Tapi apakah kau mempunyai kesalahan padanya” 22. aku mengharap untuk disuruh apa saja. Oh. seharusnya aku mati saja. memberiku segenggam tembakau sambil berkata. menghindari mobil. Bagaimana denga Nyonya Sumarti?” . ya. “Jangan mengemis!” Itu yang kuperoleh hari ini. membersihkan sepatunya. Isteri : “Kasihan. Apakah masih ada tembakau di dalam pipaku? Aku jadi ingat seorang polisi yang mengusirku dari trotoar jalan. Suami : “(Tak memperhatikan) “Berjam-jam aku berdiri di lapangan. berpuluh orang macam kita hanya bisa memperhatikan saja. Suami : “(Menggeleng) Tidak. mengeluarkan sepeda motornya. sehingga habis seluruhnya harta kekayaan simpanan kita. Isteri : “Bukan. Mereka yang keluar dengan perasaan bahagia.

kita diajak belajar membuat bungkus korak api. Suami : “Berapa banyak?” 27. Nanti kita pasti akan segera bisa mendapat uang setiap harinya. Tapi baiklah. Isteri : “Suamiku …” 36. dan belum pernah satu pekerjaan pun yang kita tolak. nyetanya tidak ada yang datang. Isteri : “Suamiku …” 32. Mungkin baru kali ini terjadi padaku.” 26. seorang bertahun-tahun sekolah. kenapa harus kita tolak?” 35. seperti kita. Suami : “Kau …” 43. Isteri : “Ini. biar dipakainya tempat ini. karena kita harus mencari bahan sendiri. Suami : “Ya. tetapi dia bilang. Isteri : “Meskipun Cuma seratus rupiah seharinya. Isteri : “Bukankah kita juga sudah berusaha?” 34. Suami : “Ya … 33. dikejar lapar. Isteri : “(Berdiri terduduk) 38. kenapa?” 37.” 28.” (Memperlihatkan dompet) 40. Suami : “Menemukan di jalan?” . Isteri : “Sebenarnya dia pun sangat miskin. Suami : “Haruskah begitu? Ah. Dan dia malah berbaik kepada kita. Isteri : “Ya. Suami : “Kenapa?” 39. “ 42. kukira tinggal mengerjakan begitu saja. Sekarang secara kebetulan sekali ada pekerjaan yang datang.” 29. Suami : “Ya. Isteri : “Sebenarnya tidak seratus persis.” 30.” 31.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-53 25. dan aku pun yakin bahwa aku pun bisa membuatnya. bekerja beberapa tahun pula setelah bertemu dengan kemiskinan. Suami : “Dompet?” 41.” 44. Suami : Seratusrupiah seharinya sudah cukup besar buat kita. Isteri :”Aku menemukannya.

” 58. ditaruhnya dompet itu di dekat tanganku.5-54 Apresiasi Bahasa Indonesia 45. Kupikir wanita tua itu pasti tidak akan merasa kehilangan karena ia amat kaya. Isteri : “Kita harus berbuat sesuatu.” 50. Kemudian datanglah seorang wanita tua membeli surat kabar. aku bergegas ke setasiun dan berdiri di dekat kios buku sambil menunjukkan gambar-gambar kepada anak-anak kita. aku pun pergi dan kemudian sadar aku telah berada di jalanan sambil membawa dompet itu.” 48. Wanita tua itu menaruh dompet di dekat jariku. Isteri : “Belum. Suami : “Tak seorang pun mengikutimu?” 51.” 52.” 59. Suami : “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan ini semua?” 53. Isteri : “Ya. Dan aku sendiri pun tak bisa lari cepat karena menggendong anak itu. Suami : “Dompet itu kaubawa kabur?” 49. jika ada kesempatan. Suami : “Jalannya bagaimana?” 47. Suami : “Aku tidak mengira kalaupada akhirnya kita berbuat begini.” 56. Suami : “Kau sendiri belum membukanya?” 57.” 46. Waktu mengambil uang di dalam dompet. aku tak berani. Suami : “Berapa banyak uang di dalamnya?” 55. Isteri : “Tidak ada yang mendorongnya. Isteri : “Waktu hujan turun.” 54. Isteri : “Tidak. Bagaimana kejadian selanjutnya? Aku sendiri tidak mengerti karena tahu-tahu aku telah berada di jalanan kembali … sambil membawa dompet itu. Gelangnya emas. . Isteri : “Aku belum membukanya. Setelah dia pergi. kejujuran tidak menolong kita. Waktu aku menyentuhnya. Isteri : “Begitu kira-kira jalannya. dia tak memperhatikan.

” 61. Suami : “Ya. Suami : “Ya. Isteri : “Cepat buka. Suami : “Tadi kau bilang sudah makan. Isteri : “Itu jam tiga siang tadi. Suami : “Kenapa kau sendiri tak membukanya? 63. nanti anak kita itu terbangun. Isteri : “Kita tidak akan kelaparan seperti sekarang. Suami : “Ya.” 73. 68. Isteri : “Baru saja terpikir. bagaimana nanti apabila ada orang yang mau memberi kepada kita dengan layak barulah dompet ini kukembalikan kepada pemiliknya.” 70. dan mengapa pula tidak kau …” 75. Kau tak akan batuk sepanjang malam.” 74.” 76. Suami : “Tapi akhirnya kita terbiasa juga.” 69. dia merasa lapar. tapi yang menjadi beban sekarang adalah anak kita. Kelihatannya berat. Berapa banyak isinya?” 60.” 66.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-55 cincinnya pun emas. Suami : “Benar. Isteri : “He!” . Isteri : “Kasihan anak itu.” 65. Isteri : “Nanti kita bisa membeli pakaian untuknya.” 72. berat. jangan berteriak keras-keras.” 67. memang mereka menertawakan aku selama ini. Suami : “Mana api?” (Menerima dan merokok) 71. kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan.” 64. Isteri : “Dan sebenarnya aku pun malu berjalan di jalan besar memakai pakaian seperti ini. Suami : “Membelikan anak pencuri?” 77.” 62. dan barangkali apabila pakaianmu lebih sempurna. Dan uang di dalamnya tak mungkin akan berbicara. dan tak mungkin orang lain akan menemukan kita di sini. Isteri : “Hati-hati.

” 89. Isteri : “Apakah itu lebih jelek daripada anak jembel seperti ini?” 98. Suami : “Di stasiun. Suami : “Adikku. tapi ah persetan.” 97. Isteri : “Di mana?” 90.” 99. kurus. tak ada seorang pun yang peduli.” 79. 82.” 85. Suami : “Baru kali inilah aku di dalam hidup takut kepada polisi. Isteri : “Kau tolol.5-56 Apresiasi Bahasa Indonesia 78. Kita hampir setahun menderita semacam ini. aku katakan pula bahwa aku belum membukanya. dan tempat kita di petak ini. Isteri : “Kau berikan dompet itu kepada polisi?” 86. Ayolah kita buka isinya. Suami : “Mungkin juga.” 94. Suami : “Aku sendiri tidak tahu. Isteri : “Dengan kepicikanmu. kumal. Isteri : “Ai .. Suami : “Ada polisi di jalanan?” 81.” 96. Isteri : “Apa katamu kepada mereka?” 88. aku tak mau kalau anak kita disebut sebagai anak pencuri. Suami : “Aku tidak tahu bagaimana mendengar kejadian-kejadian di atas tadi.” 95. Suami : “Soalnya anak kita.” 91.” 87. kenapa kaulakukan itu?” 84. Suami : “kau talah menemukannya.” (Ketika akan membuka suami berlari keluar) 83. .” 92. Isteri : “Aku mengira akan dipakainya uang itu untuk dirinya sendiri. Isteri : “Jangan berprasangka yang bukan-bukan.” 93. Suami : “Kurang enak didengar. dengan kejujuranmu apakah yang telah kauperoleh salama ini? Kemiskinan dan kelaparan. Isteri : “Kau memilih dia untuk terus kelaparan?” 100. lapar. Isteri : “Ya … ya … lekas!” 80. Suami : “Aku kira bagaimanapun juga memang begitu. Suami : “Ya.

Isteri : “Aku akan masuk ke liang kubur poengemis. aku yang tolol. Suami : “Tapi anak kita pasti mendapat jatah makanan. Suami : “(Tak mempedulikan) Aku bisa membeli pakaian. 107. tetapi aku. rupanya karena kelaparan itulah yang menyebabkan aku tak menguasai diri. Isteri : “Huss.” 103.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-57 101. Tetapi telah kukembalikan karena kejujuranku. bisa meninggalkan kehidupan macam begini. Suami : “Bukan. Betapa tololnya aku. Suami : “Aku tak menginginkan kau dimasukkan ke penjara. Suami : “Kau maafkan aku kan? Karena aku talah mengembalikan dompet itu? 111. Suami : “Kita punya uang di dalam dompet itu. Aku pengecut. uang yang sangat kita butuhkan … Kau sangat kucintai. Isteri : “Jangan. Isteri : “Suamiku …” 114.” 116. seperti yang sudhsudah. Isteri : “Mereka pasti akan memisahkan kita. kenapa tidak? Bagaimanapun akhirnya harus kita alamu. Suami : “Bagaimana kalau kita menggabung diri. dan siapa tahu ini hanya cobaan. Apa artinya semua.” 117. Suami : “Ya. Isteri : “Kau takut?” 102.” 105. uang yang telah berada di tangan kita. Kau katakan juga di mana kita tinggal?” .” 112. Mreka memperlakukan aku seperti anjing. mengapa aku harus mempedulikannya? Kalau ini manusia.” 108.” 115. bukan kau yang salah.” 104. Isteri : “Benar. Aku sangat mencintaimu… 110. Nanti anak kita bangun. Isteri : “Dengan para pengemis lain?” 106. Isteri : “Dalam penggabungan itu mereka akan memisahkan kita.” 109.” 113. yang bisa menyenangkan anakku. tapi ah.

Suami : “Aneh.” 125. Isteri : “Apa? Kita berjalan lagi?” 126.5-58 Apresiasi Bahasa Indonesia 118. Baiknya kita metunggu saja. Isteri : “Kau juga pernah bertemu dengan kawan-kawanmu. Suami : “Berpikir demikian? Jangan. Yah. bagaimana kita besok kembali berjalan menyelusuri jalan itu lagi. Suami : “Benar. karena nanti apabila kita menghadap Tuhan tangan kita bersih. Aku tak pernah menginginkan yang lebih bagus. 123. jangan kita bicara soal kematian. Isteri : “Kita sudah tidak punya kawan lagi. Suami : “Ya.” .” 130. memang. kecuali sekadar makan untuk kita ternyata sia-sia.” 129. agar kematian itu cepat datang … Kenapa tidak sekarang saja mati?” 119. Dan di hadapan-Nya nanti akan aku katakan bahwa orangs ekitar kita tidak mengizinkan kita untuk hidup lebih lama. sebaiknya kita berpikir saja.” 122. Suami : “Benar. Dan aku girang atas tindakanmu. Suami : “Jangan. Isteri : “Sudah lewat sekarang. Itu pikiran jelek.” 128. Andai aku jadi mengambil uang itu … 121. keran sudah tidak ada lagi tempat untuk kita. Dan bagaimana caranya supaya besok kita dapat rejeki ?” 127. Isteri : “Mati?!” 120. Suami : “Semoga aku besok bertemu dengan seorang kawan yang pernah mengenalku. tetapi jika kau memanggilnya … mereka selalu menghindar. Isteri : “Kau pernah berpikir demikian juga?” 124. Tetapi besok pagi aku akans egera menyelusuri kembali jalan-jalan setelah batukku kembali datang.

” 139. tetapi aku tidak berpisah dengan kau. Isteri : “Nah. ibu yang baik. Mereka membenciku. 144. Isteri : “Jadi engkau tidak mau?” 138. Meskipun kita telah berantakan. Suami : “Tidak!” 137. Mereka tidak mempercayaiku lagi. dan yang lebih utama lagi aku mencintaimu. Suami : “Bukankah hal ini justru akan lebih baik?” 143. Tidak kuat.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-59 131. (Suara tangis bayi dari dalam. Suami : “Tidak.” 134. Isteri : “Kau pernah memperhatikan bagaimana mereka mencibirkan cicir terhadap kita yang terlalu jujur? Sekarang kita akan masuk ke sana. Kalau toh mereka mau membunuh. Suami : “Ini usaha kita terakhir.” 133. . Suami : “Jangan kau ucapkan itu. kau tanpa batuk-batuk. sebaiknya kita mati saja. hingga membuat terkejut keduanya.” 141. di mana kita bisa tidur nyenyak. Isteri : “Aku sangat gembira. selama ini aku telah berusaha menjadi isteri yang baik.” 142. senantiasa aku diusir. dan Tuhan pasti akan lebih baik daripada orang-orang disekitar kita ini. Kita tidak boleh kalah dengan kemiskinan. Suami : “”Hai!” (Memegangi tangan isterinya) 135. Isteri : “Aku tidak mau.” 132. kita akan mati bersama-sama …” 136. biar bunuh aku. Suami : “Beginilah … kemiskinan-kemiskinan. jangan anak isteriku. Suami : “Benar. Si isteri masuk) 145. Isteri : “Aku sudah tidak tahan lagi. dan juga anak kita. di mana-mana diasingkan. da kandang orang miskin yang sejawat maupun di gedung-gedung mewah milik orang kaya. Isteri : “Bukankah kau pernah memasukinya?” 140. Sebaiknya kita bergabung saja dengan teman-teman yang miskin. Di tempat orang kaya diusir dan di tempat orang miskin pengemis yang jujur.

5-60 Apresiasi Bahasa Indonesia .

S. 1983. S. Burhan. Rumadi. Harianto. Harymawan. Semarang: IKIP Semarang Press. “Pengembangan Kemampuan Membaca Sastra”.S. Depdiknas. 2005b. S.1993. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. Yogyakarta: Nur Cahaya. Cerita Rekaan dan Drama. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Bandung: Angkasa. Pengantar Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya. E. Hasanuddin W. 1996. Yogyakarta: Rahmanto. Sudjiman. Raminah. Gadjahmada University Press. 1981. dan P. . 1988. Sayuti. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP. 1985. Kumpulan Drama Remaja. B. 2004. 2005a. London: The Epwort Press. Nurgiyantoro. Dramaturgi. The Apreciation of Literature. Suminto A. Pradopo. Baribin. Jakarta: Proyek Penataran Guru. Teori Gadjahmada University Press. 1976. Suharianto. (Ed. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Adhy. A. Jakarta: UT. 1993. Kellet.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. Semarang: Rumah Indonesia. Drama: Karya Dua Dimensi.E. Semarang: Rumah Indonesia. Apresiasi Drama. Dasar-Dasar Teori Sastra. Yogyakarta: Pengkajian Puisi. Apresiasi Prosa Fiksi. Memahami Cerita Rekaan. 1999. Memahami dan Menikmati Cerita Rekaan. 1995. Suharianto. Rachmat Djoko. Pengkajian Fiksi. Panuti. Asmara. Bandung: Remaja Rosdakarya. Surakarta: Widya Duta. Suharianto. 1991. 1996. 1998. Jakarta: Grasindo. Jakarta: Direktorat PLP.).

Herman J. Yogyakarta: Hanindito . Waluyo. 2003. Drama. Teori dan Apresiasi Puisi.5-62 Apresiasi Bahasa Indonesia Waluyo. Herman J. Teori dan Pengajarannya. 1991. Jakarta: Erlangga.

BUKU AJAR PEMBELAJARAN INOVATIF .

Berdasarkan paradigma tersebut. dapat meran-cang dan melaksanakan pedoman kinerja peran guru di lapangan (di kelas dan di luar kelas) yang sesuai dengan kebutuhan. ilmu-ilmu kemanusiaan khusus-nya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. mengembang-kan rasa percaya diri. pedagogik. memfasilitasi. Kinerja kependidikan Indonesia dilandasi filsafat pendidikan. cara pengorganisasian materi (urutan). Ilmu-ilmu didik dan mengajar di-bangun di atas paradigma didik yang benar. Di kelas dan di luar kelas. dapat merancang dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang efektif dan efisien Perlu disadari hakikat strategi pembelajaran berbeda dengan kahikat model pembelajaran. Tampaknya para ahli sepakat bahwa strategi instruksional berke-naan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional. Guru berperan mem-bimbing. siswa. Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi guru. guru seyogianya dapat menciptakan teori-teori pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. mengua-sai kurikulum yang berlaku. dapat merancang silabus. dan kondisi setempat. sintakmatik). Untuk dapat melakukannya itu secara profesional tentu saja guru dituntut menguasai ilmu mendidik dan mengajar. guru perlu menguasai kebijakan kependidikan mikro. situasi. prinsip belajar dan prinsip pembelajaran. dan selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri. Strategi instruksional (pembelajaran) merupakan perpaduan dari urutan kegiatan (metode. metodik. dan bertindak mempengaruhi siswa mendidik dirinya sendiri. andragogik.PENDAHULUAN Guru merupakan salah satu unsur pendidikan yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Sebagai guru tentunya Anda mengharapkan agar siswa dapat mengeks-plorasi dunia. Filsafat Pancasila. langkah-langkah. serta menga-nut paham konstruktivisme dalam menyikapi dan pengembangan ilmu penge-tahuan teknologi dan seni. mengarahkan agar hasil eksplorasi itu bermanfaat bagi dirinya. didaktik. alat dan .

2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menje-laskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu. terpadu. alokasi tertentu. tematik. penulis sependapat bahwa strategi berada dalam tataran konseptual. komprehensif. Tujuan yang perlu dicapai suatu strategi adalah standar kompetensi. “Model” strategi yang sudah dikenal seperti Quantum Teaching. Dalam paparan seterusnya akan jelas terlihat pada contoh-contoh model yang dikemukakan. Bahkan Dick dan Carey (1985. sedangkan model pembelajaran berada dalam tataran operasional. Winataputra (2001: 3) menulis bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual (operasional) yang melu-kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman (contoh) bagi para perancang pembelajaran dan para mengajar dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”. sedangkan tujuan yang dicapai model ada-lah kompetensi dasar. menarik. portofolio. mengesankan. kompe-tensi tertentu. terjala. sarana tertentu. dalam Suparman. Melalui buku ajar ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji . serta alokasi waktu. merupakan rancangan yang dapat berlaku umum bagi berbagai bidang studi. bahkan tempat tertentu.6-2 Pembelajaran Inovatif media. dsb. (huruf miring tambahan penulis) Bila kedua penjelasan teresbut saja dibandingkan. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Akan tetapi “model pembelajaran” perlu diperhatikan urutan dan langkah-langkah tertentu. Berbeda dengan hakikat model pembela-jaran yang dapat dikutip sebagai berikut. JAIKEM. dan menyenangkan. Tentu saja tataran konseptual ini berdasarkan landasan para-digma didik yang jelas dan taat asas. Mata pelatihan pembelajaran inovatif merupakan pelatihan yang meli-batkan Anda dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan lebih efektif..

Dalam bahasan ini akan dikaji rasional. dan menyenangkan itu. Dengan demi-kian. serta karakteristik siswa tertentu. Setelah Anda mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda memiliki standar kompetensi merancang model pembelajaran inovatif bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan strategi JAIKEM atau strategi PORTOFOLIO dengan indi-kator keberhasilan Anda mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. pengertian.Pembelajaran Inovatif 6-3 hakikat pembelajaran yang inovatif. Penguasaan konsep pembelajaran inovatif akan sangat membantu Anda dalam mengelola pembelajaran. Ino-vatif. Kreatif. khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. karena Anda akan mampu menyiapkan berbagai pengalaman belajar yang sesuai de-ngan bahan ajar. situasi. Efektif. dan konteks. inovatif. merancang model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk dapat melaksanakan-nya di sekolah secara efektif. Pemahaman terhadap konsep dan karakteristik strategi dan model terse-but sangat penting bagi guru bahasa Indonesia pada era sekarang yang syarat dengan tuntutan dan arus informasi yang mengglobal. Oleh karena itu. . Anda dapat merancang strategi dan model-model pembelajaran inovatif yang tepat. kondisi. penguasaan materi pelajaran dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan prasyarat untuk merancang model pembelajaran inovatif. dan Menyenangkan). dan tujuan pembela-jaran inovatif serta karakteristik starategi pembelajaran inovatif seperti strategi portofolio. Dengan buku ajar ini Anda akan dengan mudah memahami hakikat pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif yang dapat dilaksanakan di kelas Anda. Dengan menguasai materi ajar dalam kurikulum dan silabus. Pembelajaran Kuantum (Boby dePorte) dan JAIKEM (Jajaki. Aktif. setelah mengikuti pelatihan ini Anda akan dapat mencapai standar kom-petensi. kreatif.

sebagian hanya hapalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. dan Menyenangkan) dan strategi Portofolio. Kreatif. keterampilan. c) Anda dapat menjelaskan hakikat model pembelajarn inovatif bahasa Indo-nesia. dan antara penge-tahuan dengan pengamalannya belum . dan tujuan. dan pengamalan yang diperlajari untuk mengatasi per-soalan sehari-hari. f) Anda dapat merancang Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk disimulasikan. e) Anda dapat mengkritisi contoh model-model pembelajaran yang disajikan dan yang tidak disajikan. sikap. Nilai didik yang sangat pendik dalam pembentukan karakter bangsa hampir disebut gagal. g) Anda dapat melakukan evaluasi diri menerapkan kriteria penilaian mengajar URAIAN MATERI 1. sementara keter-kaiatan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah. pengertian. b) Anda dapat menjelaskan karakteristik strategi pembelajaran JAIKEM (Jajaki.6-4 Pembelajaran Inovatif a) Anda dapat menjelaskan kembali dibutuhkannya penguasaan Strategi dan Model Pembelajaran yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. d) Anda dapat menerapkan karakteristik umum dalam model pembelajaran yang Anda rancang. Aktif. Efektif. Rasional Apa yang kita amati di sekolah dan sekitarnya adalah kehambaran proses pembelajaran dan kelemahan hasil pembelajaran sebagai output dan hasil pen-didikan alumni peserta didik sebagai outcome dalam menerapkan pengetahuan. Inovatif. Apa yang diperoleh anak-anak di sekolah. mencakup rasional.

Dick dan Carey (1985. dan pemerintah pengelola kependidikan. dan pelatihan inilah tugasnya. siswa. Buktinya kita masih meng-import dan mengadopsi. Kekayaan model pembelajaran rupanya masih miskin di Indonesia. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponenkomponen umum dalam program instruksional dan prosedur- . bahkan cuma meniru model pembelajaran negara lain. dan itulah tugas guru. setiap orang tua. Namun kompetensi yang komprehensif. 2. Tugas guru sekarang adalah meningkatkan mutu kinerja pembelajaran sekaligus meningkatkan mutu hasil pendidikan. Tataran konseptual ini berdasarkan pendekatan tertentu. arah pembelajaran pada kurikulum 2006 ditekankan pada penguasaan kompetensi. Padahal model pembelajaran adalah milik dan buatan setiap guru yang mengajar. Strategi Pembelajaran. Walaupun demikian kiranya dapat dimaklumi. melainkan dunia sumberdaya insani yang membutuhkan berbagai upaya yang tidak ringan. sumberdaya insani paripurna. yang menjadi misi pendidikan nasional belum menyentuh apalagi menjiwai dunia pendidikan tingkat operasional. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan.Pembelajaran Inovatif 6-5 mereka dikuasai. a. serta alokasi waktu. dalam Suparman. karena pembaharuan dan perbaikan kependidikan yang berdimensi karakter bangsa dan superkompleks ini diyakini tidak semudah membangun jalan tol dan memperbaiki gedung bertingkat. alat dan media. pendidik. Oleh karena itu. Itulah rasional mengapa model pembelajaran menjadi perhatian utama kita. Hakikat Strategi Pembelajaran Strategi instruksional merupakan sistem perpaduan dari urutan kegi-atan cara pengorganisasian materi. Penguasaan akan model pembelajaran rupaya perlu ditingkatkan. Dunia pendidikan bukan dunia bisnis. Diyakini dengan upaya pela-tihan ini mutu kinerja dan tanggungjawab guru makin baik.

misalnya filsafat behaviorisme dan konstruktivisme.6-6 Pembelajaran Inovatif prosedur utama yang memandu kegiatan untuk mencapai hasil belajar. jaikem. Jika diputuskan menerapkan Strategi Portofolio. wajib dilakukan kegiatan menjajaki atau biasa dikenal sebagai apersepsi. Berdasarkan paham itu. proses interaksi yang inovatif. manasuka. untuk peningkatan kompetensi secara efektif. tidak boleh tidak. kegiatan guru dan siswa kreatif. Strategi merupakan suatu keputusan strategis berdasarkan komponen dan prosedur umum. portofolio. bagaimana karakteristiknya. Pendekatan itu aksionatis (menurut Anthony. kognitif. siswa perlu aktif proaktif. b. Strategi tidak berdasarkan standar kompetensi tertentu Suatu strategi berlaku umum dan tidak mempunyai batas waktu. Demikian juga jika menerapkan Strategi Kuantum. dsb. Oleh karena itu tidak perlu dibantah. memiliki karakter dasar pembelajaran yang dilakukan bersifat simphonis. melakukan evaluasi diri wajib dilakukan. Maka strategi bersifat pendekatan. pendirian. kontekstual. perlu dilakukan. mendoku-mentasikan segala bukti proses dan hasil belajar. maka siswa aktif baik di kelas maupun di luar kelas. holistik. karakter proses pembelajarannya mengumpulkan doku-men bukti proses dan hasil . komunikatif. 1975). Jika tidak maka bukan strategi yang dimaksud. Strategi juga dapat merupakan karakter dasar proses pembelajaran yang menonjol. Keputusan-keputusan strategis diten-tukan dalam upaya merancang strategi pembelajaran tertentu menjadi suatu “model strategi”. dikenal pendekatan kuantum. dan dalam situasi yang menyenangkan. Jika diputuskan menerapkan strategi Jaikem. Misalnya strategi kuantum. Strategi portofolio. atomistik. mengembangkan berbagai bukti tersebut. namun berdasar-kan filsafat pendidikan yang sedang berlaku. Strategi menggambarkan prosedur umum dan jenis kegiatan umum untuk mencapai kompetensi mana saja. tematik.

ide. alias kelompok ragam strategi kognitif. Disebut pendekatan atau strategi pembelajaran integratif. serta mengeks-plorasi dirinya. berbi-cara. Berbagai model pembelajaran diturunkan berdasarkan paham konstruk-tivisme. Oleh karena itu dikatakan model pembelajaran. pembelajaran perlu dilakukan tidak terpisah-pisah. Strategi JAIKEM merupakan singkatan dari karakter kegiatan pokok. dan nilai. maupun melalui penga-laman belajar melalui sekolah. Rasional Pembelajaran Inovatif Model belajar adalah model mengajar (Joyce. Pertanyaan berikutnya adalah dalam aspek apa atau unsur mana suatu model dinilai inovatif? Nanti akan terlihat pada karakteristik umum suatu model. Apabila suatu program itu bergan-tung kepada kompetensi tertentu disebut suatu model pembelajaran. baik melalui pengetahuan dan keteranpilan yang diperoleh. cara berpikir. guru juga membimbing mereka bagaimana belajar tentang hal itu. Oleh karena itu masalahnya adalah bagai-mana guru bertindak mempengaruhi siswa agar dapat mendidik dirinya sendiri. Salah satu rumpun model yang dikemukakan Joyce (200) adalah ragam pengolahan informasi. dan membaca. 2000:6). 1997. Model Pembelajaran Inovatif a. . Begitulah hakikat paham konstruktivisme dalam dimensi pendidikan (Schwandt. menyimak. dan Suparno. 2001). Oleh karena itu kegiatan tersebut dinamakan strategi portofolio. Ketika kita membantu siswa memperoleh pengetahuan. belajar mandiri. di-antaranya model-model pencapaian konsep. 3. atau jalan sendiri. Panen. karena walaupun ada empat aspek kemahiran berbahasa. keterampilan.Pembelajaran Inovatif 6-7 belajar. dkk. 1994. menulis. Sesungguhnya keluaran jangka panjang (outcome) yang terpenting sangat boleh jadi (may be) peningkatan kemampuan belajar.

Oleh karena itu hakikat dan makna pembukaan adalah . Langkah umum suatu model sudah baku. kelas dan waktu. bahkan sudah menjadi tradisi. (3b) inti penyajian. Namun langkah khusus dalam setiap langkah umum itu masih belum disadari benar kebutuhannya. yang terdiri dari nama mata pelajaran. dalam inti penyajian. yang mendasari dan menjadi titik tolak perancangan model. dan dalam langkah penutup. Kelak dapat diketahui apabila kompetensi baru tidak tercapai berarti ada kekeliruan atau kelemahan dalam menetapkan asumsi dan tujuannya. dan indikator keberhasilan belajar. (5) sistem interaksi. Karakristik umum model pembelajaran Setiap model pembelajaran selalu memiliki unsur-unsur (1) identitas mata pelajaran. (3) sintakmatik. Hakikat dan makna pembukaan adalah menciptakan suasana mental siswa agar siswa siap berkonsentrasi dan berminat mengikuti proses pem-belajaran.6-8 Pembelajaran Inovatif b. Pembelajaran perlu bertolak dari dasar kompetensi dan pengetahuan yang sudah dikuasai untuk berubah menjadi kompetensi yang diharapkan. pertemuan ke berapa. (3a2) mempunyai bayangan awal tentang apa yang akan dipelajari dan (3a3) harapan bahwa kompetensi akan tercapai. sering diabaikan. dan siap berperan serta dalam proses pembel-ajaran. Untuk itu melalui pembukaan yang tepat siswa perlu terangsang dan siap menyerap informasi. pokok dan subpokok bahasan. (6) sistem pendukung. (4) sistem sosial. Asumsi merupakan penjelasan pengetahuan prerekuisit apa yang telah dikuasai dan perubahan yang diinginkan akan dapat tercapai. (2) Tujuan dan asumsinya. baik yang dilaku-kan guru maupun siswa. Langka-langkah khusus dalam pembu-kaan. dan (3c) penutup. (1) Identitas mata pelajaran. (3) Sintakmatik atau langkah-langkah pembelajaran. (7) dampak instruksional dan dampak pengiring. Biasanya siswa tertarik kepada (3a1) permasalahan. yaitu (3a) pembukaan. (2) tujuan dan asumsi. standar kompetensi dan kompetensi dasar.

dan (3b5) pemberian umpan balik. (3b3) dilakukan pemberian dan pembahasan contoh. dalam proses pembukaan perlu dibahas masalah berkenaan dengan topik bahasan. dan kiat-kiat interaksinya bisa saja beragam dan bervariasi. Dalam proses ini terjadi pengembangan dan pengendapan ilmu pengetahuan atau kete-rampilan dan sikap. asal tidak monoton apapun dapat dilakukan. (4) Sistem Sosial. urutan logis bahan ajar misalnya silabus yang sesuai dengan hasil analisis instruksional. atau disebut juga berbagai unsur lingkungan seperti hubungan guru. alat dan medianya. lingkungan masyarakat: tokoh masyarakat. (3b2) memperhatikan prinsip prerekuisit. Kreativitas yang inovatif. Bagaimana guru merancang . teknik-tekniknya. Hakikat dan makna (3c) penutup proses pembelajaran adalah terja-dinya pemantapan kesan akan kompetensi yang baru saja dibahas. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. serta kiat-kiat interaksinya bisa beragam dan bervariasi. (3c2) pemberian umpan balik umum. dan mengingatkan kembali kompetensi yang perlu dicapai. dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. Untuk itu dilakukan (3c1) menulis refleksi. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. Kegiatan apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah haki-kat dan fungsinya. dan (3c3) petunjuk tindak lanjut. teknik-teknik-nya dan alat dan medianya. dan ling-kungan keluarga. Hakikat dan makna (3b) sajian inti adalah terjadinya transaksi informasi antara informasi lama dan baru dalam diri siswa. (3b4) dilakukannya pelatihan. siswa. tetangga. men-deskripsikan garis besar lingkup sub-subpokok bahasan. Bagaimana jenis prosesnya. serta kiat-kiat interaksinya dapat beragam dan berva-riasi.Pembelajaran Inovatif 6-9 menciptakan kesiapan siswa untuk berpartisipasi. Bagaimana jenis prosesnya. Namun persyaratan agar proses transaksi itu terjadi perlu (3b1) memperhatikan prinsip-prinsip dan teori-teori pembelajaran. Kreativitas yang inovatif asal tidak monoton dapat dilakukan. teknik-tekniknya dan alat dan medianya. guru lain. Bagaimana jenis prosesnya.

alat. media pembelajaran. Pendukung ini dirancang berdasarkan kebutuhan khusus. serta bagaimana guru memotivasi agar siswa menyempurnakan catatan dan melakukan belajar mandiri. (5) Sistem reaksi (interaksi) terjadi baik pada proses pembukaan. bagaimana umpan balik dan kuis disampaikan untuk menguji pencapaian kompetensi. berdiskusi. Dsb. serta berbagai evaluasi diri siswa dikerjakan. seperti toleransi. Tanyajawab. Bagaimana pula guru mengundang anak jalanan untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. Dampak pengiring adalah nilai yang me-nunjukkan terbinanya mentalitas. atau anak-anak panti asuhan. (6) Sistem pendukung. Dalam proses demikian apakah peran guru dan dukungan sekolah. Bagaimana bahan ajar ditampilkan. menghargai pendapat orang lain dalam proses diskusi . dipertanyakan. Setiap model selalu membutuhkan sarana. dan dijadikan alat pembentukkan dan pembinaan karakter peserta didik. wawancara. maupun penutup. anjang sana akademik. penyajian. Model wisata membutuhkan alat transportasi. tergantung pada teknik dan kiat guru melakukannya. Misalnya model pembelajaran laboratoris perlu menggunakan laboratorium dan lainnya yang ada di laboratorium itu. Yang terakhir dan terpenting dalam proses pendidikan adalah (7) dampak pengiring atau “nurture effect” selain dampak instruk-sional yang telah ditetapkan dan diketahui keberhasilannya melalui proses interaksi dan ulangan atau ujian. Semuanya diatur dalam suatu model tsb. dibahas. dan apa saja dapat dilakukan. Misalnya bagaimana kemahiran berbicara yang menerapkan model anjangsana belajar. Bagaimana peran guru dan siswa serta unsur-unsur pendidikan yang terlibat diatur merupakan prestasi guru tersebut. Semua itu dideskripsikan sebagai sistem interaksi. Guru merancang agar siswa melakukan kegiatan belajar dalam menerapkan kemahiran wawancara dengan tokoh masyarakat. dan bagaimana refleksi seharusnya ditulis.6-10 Pembelajaran Inovatif hubungan interaktir ini merupakan prestasi tersendiri.

Standar Isi kurikulum pendidikan berupa daftar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD). Model desain rancangan itu dapat dilihat seperti berikut. suatu sistem pemikiran. Struktur pemikiran tentang model dituangkan dalam bentuk desain yang biasa disebut Rancangan Pembelajaran (RP). Desain Instruksional Model . Desain dirancang berdasarkan hasil analisis instruksional kurikulum.Pembelajaran Inovatif 6-11 kelompok. Analisis Instruksional kurikulum dalam arti analisis standar isi pendi-dikan. silabus. Suatu model pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan kompetensi (SK-KD) dan isi bahan ajar. atau KTSP. percaya diri dalam kegiatan evaluasi diri. kebiasaan mawas diri. pengembangan rasa ingin tahu melalui proses “model anjang sana belajar”. atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). c. atau apalah namanya. pengembangan kecermatan dan keteli-tian dalam proses tugas mengedit karya tulis peserta didik setelah dialami-nya proses pembela-jaran dengan penyelenggaraan “model kontes editing”. Wujud Model Pembelajaran (c1) Model Kesederhanaan Pembelajaran Pembelajaran (Inovatif) hanyalah istilah suatu “konsep”. Hakikat-nya adalah pedoman pelaksanaan praktek mengajar.

contoh g. tindak lanjut dialog MODEL: DISKUSI KELOMPOK TEKNIK MEDIA WAKTU OHP Rancangan 5’ Bagi kelompok Penjelasan Diskusi kelompok Laporan hasil Diskusi hasil Penyimpulan Kerja individual menulis refleksi Penugasan OHP Artikel materi diskusi 5’ 25’ 45’ Lembar refleksi 10’ (c2) Bentuk interaksi kreatif dan inovatif di setiap unsur proses Di bagian manakah ciri inovatifnya suatu model? Dalam rancangan diterapkan. perasaan. Siswa dapat membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. refleksi b. umpan balik c. pelatihan d. Permasalahan/relevansi b. sanggahan. Guru terlebih dahulu pada pertemuan sebe-lumnya menyiapkan dan membagikan naskah materi yang akan didiskusikan agar siswa menyiapkan diri membaca naskah itu. Deskripsi singkat c. perasaan. Menyampaikan persetujuan. melainkan dalam pro-ses. dan penolakan pendapat Indikator Keberhasilan : 1. dan penolakan pendapat . umpan balik e. uraian konsep f.6-12 Pembelajaran Inovatif Bidang Studi Standar Kompetensi Pokok bahasan Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia : Mengemukakan pikiran. sanggahan. Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : pikiran. seperti hanya terlihat langkah terlihat pada dan pada unsur teknik-teknik rancangan yang yang Inovasinya tidak sederhana itu. Rancangan hanya memberi peluang kepada guru untuk . dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti dan alasan . serta santun Identitas matapelajaran Satuan Acara Pembelajaran Kegiatan: URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL Pembukaan Membahas/mempertanyakan: Penyajian Penutup a. 2.2. telah dikemukakan lang-kah-langkah (sintakmatik). dst Membahas/melakukan/memberi: a. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : 1. Siswa dapat menyampaikan persetujuan. Uraian konsep b. setiap langkah proses. Kompetensi Membahas/melakukan/memberi: a. sanggahan. serta santun Subpokok Bahasan : persetujuan. contoh c.

Kelompok Model Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar kependidikan di bidang itu. proses diskusi (dalam SAP menyam-paikan tujuan/kompetensi. dan Atwi Suparman (2001). mengamati proses diskusi. memberi saran bagaimana bergilirannya bicara. 2) 3) 4) Kelompok Model Personal (The Personal Family). jalan merasakan adanya . Kelompok Model Sosial (The Social Family). yakni: 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family).Pembelajaran Inovatif 6-13 menciptakan suasana belajar yang inovatif. Kelompok dan Contoh Model Pembelajaran Inovatif a. 4. lengkap namun terpilih dari sumber Bruce Joyce (2000). Udin S. Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori. memberi petunjuk tentang proses diskusi. Selanjutnya dalam bahan ajar ini disampaikan kutipan jenis model pembelajaran inovatif. 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family) Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memehami dunia dengan cara menggali masalah dan dan mengorganisasikan mengupayakan data. kelompok dan kreativitas contoh guru mengelola tadi). Winataputra (2001). kecerdikan. Kelompok Model Sistem Perilaku (The Behavioral System Family). Dibutuhkan kemahiran.

Secara umum banyak dari model pengolahan informasi ini yang dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia. dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. bekerja. dan Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry) 2) Kelompok Model Personal (Personal Models) Disadari bahwa kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu. sebagian lagi pem-bentukan konsep pengetesan hipotesis. Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau selfhood dari individu. sengaja dirancang untuk mem-perkuat kemampuan intelektual umum. Proses pendidikan sengaja diusahakan agar memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik memikul tanggung jawab untuk pendi-dikan. Manusia mengembangkan kepribadian yang unik. menitikberatkan pada Beberapa kelompok dan memberikan ke-pada para guru sejumlah konsep. serta mengembangkan model dalam bahasa untuk ini mengungkapkannya. Beberapa model. dan mem-bentuk keluarga secara bersama-sama. . dan sebagian lainnya memu-satkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. Pengertian umum meru-pakan hasil kesepakatan individu yang harus hidup. dan melihat dunia dari sudut pandangannya yang juga unik yang meru-pakan hasil dari pengalaman dan kedudukannya. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah: Model a) b) c) d) e) f) g) Pencapaian Konsep (Concept Attainment) Berpikir Induktif (Inductive Thinking) Latihan Penelitian (Inquiry Trainging) Pemandu Awal (Advance Organizers) Memorisasi (Memorization) Pengembangan Intelek (Developing Intellect).6-14 Pembelajaran Inovatif pemecahannya.

Model ini telah banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakuannya. . sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. David serta Roder Johnson dan kawan-kawan (1974.Pembelajaran Inovatif 6-15 Kelompok Model Personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif. Dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan meng-himpun tenaga atau energy secara bersama yang kemudian disebut synergy (Joyce dan Weil: 1986). Kelompok model ini meliputi sejumlah model. Yang harus dicatat ialah. Bermain Peran (Role Playing). sinergy dapat memberikan keuntungan. Termasuk ke dalam kelompok ini. seperti berikut. ternyata belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. 3) Kelompok Model Sosial (Social Models) Diakui bahwa kerjasama merupakan suatu fenomena kehidupan ber-masyarakat. hal ini tidaklah berarti bisa dipakai begitu saja. model-model pembelajaran ini a) b) c) d) Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching) Sinektiks (Synectics Model) Latihan Kesadaran (Awareness Training). dan oleh karena itu pula model-model sosial merupakan bagian penting dari proses pembelajaran secara keseluruhan. Namun demikian. Robert Shavin (1983) telah berkerja sama dengan para guru untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan cooperative rewards atau hadiah yang diberikan atas suatu kerjasama. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry). 1981). Kelompok Model Sosial ini dirancang untuk me-manfaatkan fenomena kerjasama. a) b) c) Investigasi Kelompok (Group Investigation). Hasilnya cukup meyakinkan. dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). dan struktur tugas kerja-sama (cooperative task structure) dalam suatu kegiatan kelompok.

model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi atau overt behavior. Kelompok Model Sistem Perilaku (Behavioral System) Dasar teoritik dari kelompok model ini ialah teori-teori belajar sosial atau social learning theories. Oleh karena itu. seperti Skinner (1953) telah mempelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat memberikan kemudahan terhadap hilangnya rasa takut pada diri seseorang. menghilangkan rasa cemas dan cara santai. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). sosial dan fisik yang perlu bagi seorang pilot datau astronout. dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomuni-kasikan keberhasilan. mengembangkan keterampilan kinestetik dan sosial. Dasar pemikiran dari kelompok model ini ialah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self-correcting communication systems yang memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. dan Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry). dan Latihan Asertif (Assertive Training) . para ahli psikologis. Model ini dikenal pula sebagai model Modifikasi Perilaku atau Behavioral Modification.6-16 Pembelajaran Inovatif d) e) 4) Latihan Laboratoris (Laboratory Training). dan mempelajari keterampilan intelektual. Dengan berdasar pada konsep bagaimana seseorang memberikan res-pons terhadap tugas dan umpan balik. belajar Kontrol Diri (Learning Self Control). Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development). dan Sibernetika atau Cybernetics. Yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu: a) b) c) d) e) Belajar Tuntas (Mastery Learning). bagaimana belajar membaca dan menghitung. Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy.

dan kerajaan. 1) MODEL PENCAPAIAN KONSEP Tujuan dan Asumsi Setiap konsep memiliki empat elemen yaitu. Model Kontrol Diri. Contoh atau eksemplar adalah gambaran atau bentuk nyata dari kon-sep itu. contohnya. dapat diaplikasikan di tingkat pendidikan dasar 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Model Pencapaian Konsep. Model Penelitian Sosial. Contoh-contoh ini merupakan kutipan dan adaptasi dari sumber yang sudah tersebar secara nasional sebagai materi pelatihan dosen di perguruan tinggi. nama. Model Latihan Penelitian. Bukan contoh atau noneksemplar.Pembelajaran Inovatif 6-17 Beberapa model dari semua kelompok model itu dibahas pada uraian bagian selanjutnya untuk diterapkan dalam bidang kajian yang relevan. sayur-mayur. dalam batas-batas tertentu. dan nilai dari ciri-ciri terse-but. atau pengalaman. Model Sinektiks. contoh atau eksem-plar. Nama ialah istilah yang dipakai untuk suatu kategori benda. Model Pertemuam Kelas. Namun hakikatnya pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah menengah bahkan. dan Model Simulasi. mahluk hidup. biana-tang. Model Jurisprudensial Model Latihan Laboratoris. ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial. b. penduduk. ialah gambaran atau bentuk nyata yang tidak sesuai dengan konsep itu. Model Investigasi Kelompok. . pemerintah. feno-mena. Contoh Model Pembelajaran Berikut disampaikan beberapa Model Pembelajaran Pilihan sebagai contoh yang diperkirakan dapat dimanfaatkan di sekolah. Contohnya. manusia.

semua anak telah membentuk keluarga baru. adanya anak bukan atribut esensial. Misalnya untuk contoh konsep ke-luarga. Atribut yang tidak esensial ialah ciri-ciri lain yang melengkapi gambaran konsep. (hal 11) Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan negatif. atau keluarga senior. Ibu abdulleah sebagai ibu rumah tangga. Nilai atribut ialah kualitas dari setiap atribut. Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri esensial. tingkat kesejahteraan. Misalnya. Ahmad yang hidup sendirian adalah bukan contoh atau contoh negatif dari konsep keluarga. dan tempat tinggal yang tetap. dan usiaperkawinan merupakan nilai dan atribut keluarga. Sintakmatik Model Pencapaian Konsep memiliki tiga tahap kegiatan. Atribut esensial ialah ciri-ciri utama yang memberikan gambaran sosok utuh suatu konsep. misalnya keluarga baru. Misalnya. Tahap pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep (1) (2) (3) (4) Pengajar menyajikan contoh yang sudah diberi label. yang sekalipun memiliki anak. Siswa membuat dan mengetes hipotesis. Tahap Kedua: Mengetes Pencapaian Konsep (1) Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label de-ngan menyatakan ya atau bukan. yang apabila ciri itu tidak terdapat dalam suatu contoh positif tidak mengurangi makna dari konsep itu. mata pencaharian. pendidikan. keadaan rumah. . Sedangkan. karena banyak keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri saja. Suryadi dan Suryani putra/putrinya sebagai anggota keluarga merupakan contoh atau contoh positif dari konsep Keluarga. atribut esensial dari konsep keluarga ialah adanya orang tua (ayah dan ibu atau salah satu untuk keluarga orang tua tunggal).6-18 Pembelajaran Inovatif keluarga Pak Haji Abdullah yang terdiri dari Haji Abdullah sebagai Kepala keluarga.

Pusatkan perhatian para siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik. Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis. dan menyatakan kem-bali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai.Pembelajaran Inovatif 6-19 (2) Pengajar menegaskan hipotesis. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan mahasiswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan duga-an yang satu dari yang lainnya. Tahap Ketiga: Menganalisis Strategi Berpikir (1) (2) (3) Siswa mengungkapkan pemikirannya. Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat. Interaksi antar mahasiswa digalakkan oleh peng-ajar. nama konsep. Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep. Prinsip Reaksi (1) (2) (3) (4) Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat diskusidiskusi yang berlangsung. Bila siswa sudah dapat berpikir semakin kompleks. Pengajar melakukan pengendalian terhadap aktivitas. namun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. mereka akan dapat bertukar pikiran dan .

6-20 Pembelajaran Inovatif bekerjasama dalam membuat unit-unit data. Yang diharapkan ialah agar siswa dapat mempertanyakan. karena itu model latihan penelitian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi. memiliki perhatian besar untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. toleransi terhadap ketidaktentuan. memberikan arah khusus sehingga mereka akan dapat mela-kukan eksplorasi itu dengan semangat dan dengan penuh kesungguhan. Dengan cara ini diyakini bahwa para mahasiswa dapat menjadi semakin sadar akan proses penelitian yang dilakukannya dan pada saat itu secara . dan kesadaran akan pilihan pandangan. Penguasaan tentang strategi pembentukan konsep. mengapa suatu peristiwa terjadi. konsep-konsep yang spesifik. Latihan penelitian dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh pertanyaan. Dampak pengiring model ini adalah kepekaan terhadap penalaran logis. Umumnya manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. Dengan situasi yang penuh teka-teki ini secara alami siswa akan terdorong untuk memecahkan teka-teki itu. dan menelitinya dengan cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis. 2) MODEL PELATIHAN PENELITIAN Tujuan dan Asumsi Latihan Penelitian (Inquiry Training) bertolak dari kepercayaan bahwa perkembangan sesorang agar mandiri. seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari contoh-contoh lainnya. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampat Instruksional model ini adalah penguasaan akan hakikat konsep. menuntut metode yang dapat mem-beri kemudahan bagi para siswa untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. dan penalaran induksi. Dengan model ini Suchman.

Pembelajaran Inovatif 6-21 langsung dapat diajarkan cara melakukan prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. Tahap Ketiga : Mengkaji Data dan Eksperimentasi (1) Mengisolasi variabel yang sesuai . demikian menurut Suchman sebagai pengembang model ini. dan Penelitian yang bersifat kerjasama akan memperkaya proses berpikir dan membantu siswa untuk belajar tentang sifat tentatif dari pengeta-huan. Yang paling penting. menyajikan kepada siswa suatu sikap bahwa “pengetahuan itu bersifat tentatif” artinya selalu terbuka untuk dikaji secara terus menerus. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung melengkapi strategi yang telah dimilikinya. Pada dasarnya model ini mengikuti teori Suchman sebagai berikut. Memeriksa tampilnya masalah. Sintakmatik Model ini memiliki 5 tahap seperti berikut: (Joyce & Weil 1986: 61) Tahap Pertama: Menghadapkan Masalah (1) (2) Menjelaskan prosedur penelitian Menyajikan situasi yang saling bertentangan atau berbeda Tahap Kedua: Mencari dan Mengkaji Data (1) (2) Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi. Mereka akan menjadi sadar tentang dan bekajar mengenai strategi berpikir yang dimilikinya. (1) (2) (3) (4) Secara alami siswa akan mencari sesuatu segera setelah dihadapkan pada masalah. sifat selalu berkembang dari pengetahuan. dan menghargai berbagai alternatif penjelasan mengenai sesuatu hal.

Akan tetapi. Prinsip Pengelolaan / Reaksi (1) (2) (3) (4) Pertanyaan yang diajukan harus diungkapkan dengan jelas sehingga dapat dijawab siswa. misalnya dengan cara menunjukkan kepada siswa teori mana yang memerlukan percobaan. Dalam konteks ini pengajar dan siswa seyogyanya berpartisipasi atas dasar persamaan derajat dalam menghadapi suatu ide. Interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. Mintalah siswa untuk merumuskan pertanyaan yang kurang tepat. Tahap Keempat : Mengorganisasikan. kebebasan intelektual. Dilakukan dengan cara merumuskan cara-cara atau aturan untuk menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya. dan kesamaan derajat. tunjukkan kepada siswa dengan jelas. Gunakan bahasa yang baik untuk melakukan proses penelitian.6-22 Pembelajaran Inovatif (2) Merumuskan hipotesis sebab akibat. Lingkungan intelektual juga ditan-dai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan. Jika ada butir persoalan yang tidak sahih. Tahap Kelima: Menganalisis Proses Penelitian Dilakukan dengan cara menganalisis strategi penelitian untuk men-dapatkan prosedur yang lebih efektif. tetap diperhatikan bahwa prinsip dan norma yang dikandung dalam model ini ialah kerjasama. . Merumuskan dan Menjelaskan. Sistem Sosial Model Latihan Penelitian dapat diorganisasikan secara lebih terstruk-tur di mana pengajar mengendalikan keseluruhan proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus ditempuh.

Hampir semua orang setiap hari bergulat dengan masalah yang menuntut kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan. dan sumber bahan yang mampu memberikan permasa-lahan melakukan penelitian. terhadap ketidakpastian.Pembelajaran Inovatif 6-23 (5) (6) Cobalah berikan suasana kebebasan intelektual dengan cara tidak menilai teori yang diajukan siswa. Gordon menitikberatkan kreativitas seba-gai salah satu bagian dari . Dampak pengiring dari model ini adalah meningkatnya kemandirian. terlatihnya keterampilan proses. Berikan dorongan dan kemudahan bagi siswa untuk melakukan interaksi di antara mereka. Berikan dorongan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan ten-tang teori dan selanjutnya memberikan dukungan untuk melakukan perumusan generalisasi. dan terlatihnya semangat kreatif. (1) Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah memahami strategi untuk penulisan karya ilmiah. toleransi yang menantang bagi siswa untuk 3) MODEL SINEKTIKS Tujuan dan Asumsi Gordon dalam Joyce dan Weil (1986: 164-165) mendasarkan model sinektik ini pada empat ide yang menentang pandangan lama tentang kreativitas. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah materi yang dapat dikonfrontasikan pengajar yang mengerti proses intelektual dan strategi penelitian. otonom dalam berpikir.

1986: 166_168). karena ia sangat mungkin untuk melatih seseorang secara lagsung sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya.6-24 Pembelajaran Inovatif pekerjaan dan waktu senggang sehari-hari. Diya-kini bahwa proses berpikir mencipta dalam kiat atau seni erat sekali hubungannya dengan proses berpikir dalam ilmu. (2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. Pengembangan kreativitas ini dapat dilakukan dalam suasana pendidikan formal. mengekspresikan sesuatu secara kreatif. Analogi personal dilakukan oleh para mahasiswa Pada saat mereka meletakan diri . Di samping itu ditekankan pula makna ide-ide yang dapat diperkuat me-lalui aktivitas yang kreatif dengan cara melihat sesuatu lebih luas. menunjukkan empathy. Gordon percaya bahwa seseorang dapat memahami inti proses kreatif dan ia akan dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara bebas sebagai anggota masyarakat. Ia dapat dipaparkan. Inti dari model sinektiks ialah aktivitas metapora yang meliputi analogi personal. (3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya. (4) Penemuan yang kreatif dari indifidu dan kelompok pada dasarnya serupa. Indifidu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam bentuk yang serupa. Oleh karena itu model ini dirancang untuk meningkatkan kemam-puan seseorang dalam memecahkan masalah. Misalnya de-ngan cara meminta mengandaikan sisrem tubuhnya sebagai jaringan transportasi. Kegiatan metaporis ber-tujuan menyajikan perbedaan konseptual antara diri mahasiswa de-ngan obyek yang dihadapi atau meteri yang dipelajari. analogi langsung dan konflik yang dipadatkan (Joyce dan Weil. dan memiliki wawasan sosial.

Tahap ketiga:Analogi personal Siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan yang dianalo-gikan pada tahap sebelumnya. Misalkan dengan cara menggadaikan dirinya sebuah mobil. kemudian memilih salah satu untuk diekplorasi lebih jauh. sedangkan yang dimaksud dengan konflik yang di padatkan.Pembelajaran Inovatif 6-25 pada obyek yang sedang dibandingkan.dan Mengidentifikasikan diri pada obyek yang tidak hidup Analogi langsung merupakan perbandingan sederhana antara dua obyek atau konsep. misalnya” sangat galak atau sangat ramah” Sintakmatik Model sinektiks ini memiliki enam tahap: Tahap pertama: Deskripsi Kondisi saat ini Pengajar meminta mahasiswa untuk memaparkan atau mendiskripsi-kan situasi yang ia amati saat ini. kemudian membuat beberapa konflik yang dipa-datkan. dan memilih salah satu. Tahap kedua: Proses analogi langsung Siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian. Dalam analogi personal ini terdapat empat tahap: (1) (2) (3) (4) Mendiskripsikan fakta mengenai orang pertama’ Mengidentifikasi orang pertamadengan perasaan. . ialah cara mengkontraskan dua ide dengan memberi label sinkat biasanya dengan hanya dua kata. Fungsi dari proses ini ialah untuk mentransposekan sesuatu keadaan nyata pada keadaanyang lain dalam rangka memperoleh pandangan baru atau masalah baru. Mengidentifikasi diri pada obyek hidup. Tahap keempat: konflik yang dipadatkan Siswa mengambil apa yang dipaparkan atau didiskripsikan pada tahap kedua dan ketiga.

di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan urutan dan membimbing mekanisme interaksi belajar. keseluruhan proses sinektiks itu akan dapat berjalan sesuai dengan jalan pikiran dan ide yang melatarbelanginya. Walaupun demikian. Dalam keseluruhan proses. Dengan demikian. pengajar harus dapat menerima respon siswa agar mereka merasa bahwa dalam kegiatan metaporis itu tidak dicampuri oleh pihak luar dirinya. Perlu diperhatikan agar jangan sampai terjadi analis yang bersifat premature atau terlalu dini atau lahir sebelum waktunya. Ada kalanya pengajar harus menggunakan teknik yang tidak rasional untuk mendorong siswa yang enggan melibatkan diri dalam proses metaporis. saat kegiatan metaporis para mahasiswa tetap memi-liki kebebasan dalam diskusi yang tebuka dan tanpa akhir atau open-ended Prinsip Pengelolaan/reaksi Pengajar mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh pola berpikir yang reguler dan ia mencoba untuk menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon. . Tahap keenam: Pengujian kembali tugas awal Pengajar mengarahkan siswa untuk kembali kepada tugas awal atau masalah dan menggunakan analogi yang terakhir atau keseluruhan proses sinektis.6-26 Pembelajaran Inovatif Tahap kelima: Analogi langsung Siswa mengemukakan dsan memilih analogi langsung yang lain ber-dasarkan pada konflik yang dipadatkan. Sistem Sosial Model ini terstruktur sedang. Pengajar juga membantu mahasiswa untuk mengkonseptualisasikan proses mental.

Asumsi yang kedua. 4) MODEL PERTEMUAN KELAS Tujuan dan asumsi Glasser dalam Joyce dan Weil (1986.Pembelajaran Inovatif 6-27 Sistem pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini ialah adanya pengajar yang kompeten menjadi pemimpin dalam prosis sinektiks kadang-kala diperlukan pula sejumlah alat dan bahan atau tempat untuk membuat model analogi yang bersifatfisik. Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok. berupa ruangan yang lebih besaryang memungkinkan terciptnya lingkungan yang kreaktif melalui aktifitas yang bervariasi. 205) mengajukan pemikiran bahwa pada umumnya masalah kemanusiaan merupakan kegagalan dari fungsi sosial dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar untuk dicintai dan dihargai. Dalam kelas rasa cinta tercer-min dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. konstruktif. Glasser . sedangkan dampak pengiringnya adalah keutuhan dan produktivitas kelompok. berdasarkan konsep terapi dalam perubahan peri-laku. Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki dan harga diri. kapasitas kreatif dalam bidang studi. Kelas yang perlu diperhatikan. Dampak instrusional dan pengiring Dampak instrusional model ini adalah siswa memiliki kapasitas ke-kreatifan umum. Metode terapi yang bersifat tradisional sering tidak realistis sebagai akibat perilaku tidak berfungsi. Diyakini sekolah gagal bukan dalam me-nampilkan profil akademis tetapi dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan. untuk mencapai keberhasilan.

dicintai. Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai. Cara ini juga untuk memenuhi kebu-tuhan emosional orang lain untuk merasa berharga. Tujuan terapi ini ialah meningkatkan kemampuan untuk memenuhi komitmen pada perubahan perilaku.6-28 Pembelajaran Inovatif mencoba berusaha untuk memper-baiki penampilan dan memenuhi kebutuhan dengan cara membantu orang lain mengenai apa yang nyata. Membuat keputusan nilai personal . Mengidentifikasi nilai yang ada di balaik masalah perilaku dan norma sosial. dan memiliki identitas. Membangun iklim keterlibatan (1) (2) Mendorong siswa agar berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri. apa yang bertanggung jawab dan mana yang benar. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul Mengidentifikasi norma sosial. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap (Joyce danWeil 1986: 210) Tahap pertama. Tahap kedua: Menyajikan masalah untuk didiskusikan (1) (2) (3) (4) Siswa dan atau pengajar membawa isu atau masalah Memaparkan masalah secara utuh. Mahasiswa bersepakat tentang pilihanya itu Tahap kelima: Membuat komentar secara umum Tahap Keenam: Tindak Lanjut Perilaku Tahap ketiga. siswa membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki Tahap keempat: Mengidentifikasi Pilihan Tindakan (1) (2) Mahasiswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku.

(3) Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada. dan hubungan yang peka antara siswa dan pengajar. Sistem Sosial Model Pertemuan Kelas ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. . pengajar harus dapat mene-rima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa.Pembelajaran Inovatif 6-29 Setelah periode tertentu. personal. Kepemimpinan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Perilaku Pengajar dibimbing oleh tiga prinsip: (1) Prinsip melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat. Apa yang dikemukakan oleh pengajar pada saat mendengarkan pemaparan kajian nilai. mahasiswa menguji efektivitas dari komit-men dan perilaku baru itu. (2) Dengan melalui sikap tidak menentukan. menarik. Ia juga harus mampu untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak bersifat defensif atau selalu bertahan diri. dan pada saat yang bersamaan ia mampu membimbing kelompok menuju penilaian perilaku komitment dan tindak lanjut dari perilaku itu. yakni tanggung jawab untuk membimbing interaksi mela-lui tahap tahap tersebut terletak pada tangan pengajar. tidaklah menentukan. Walaupun tanggung jawab ada pada tangan pengajar. Sistem Pendukung Yang diperlukam untuk melaksanakan model ini ialah pengajar yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dalam diskusi. keputusan moral terletak pada siswa. Walaupun demikiam diharapkan pula siswa dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi setelah mengalami beberapa aktivitas.

yakni standard hidup dan pengaharapan yang tumbuh dalam suasana kelas. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. pengajar seyogianya Model berusaha Pembelajaran untuk menciptakan suasana atau yang Group memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu. Berkenaan dengan hal itu. Investigasi Kelompok Investigation mengambil model yang berlaku dalam masyarakat. Dalam kerangka itu. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah siswa mempelajari pengetahuan . serta terbinanya keterbukaan dan keutuhan. terutama menganai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serang-kaian kesepakatan sosial.6-30 Pembelajaran Inovatif Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah pencapaian tujuan dan eva-luasi. Untuk kepentingan praktis model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut. sedangkan dampak pengiringnya adalah tercapainya kemandirian dan pengarahan diri. 5) MODEL INVESTIGASI KELOMPOK Tujuan dan Asumsi Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehi-dupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. yang di dalamnya memiliki tata tertib. menurut Joyce danWeil (1986: 228) suasana kelas meru-pakan analogi dari kehidupan masyarakat. dan budaya kelas. siswa berusaha untuk memelihara cara hidup yang berkembang di situ.

Tahap Kedua: Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang problematis. dan dinamika belajar kelompok atau dynamics of the learning group. Masalah itu sendiri dapat timbul dari siswa atau diberikan oleh pengajar. Yang dimaksud dengan pengetahuan ialah pengalaman yang tidak dibawa lahir tapi diperoleh oleh individu melalui dan dari pengalamannya secara langsung maupun tidak langsung. pengetahuan atau knowledge. Sintakmatik Model Investigasi Kelompok ini memiliki enam tahapan kegiatan. Hal-hal tersebut merupakan dasar dari model investigasi kelompok. Dalam interaksi ini melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta saling tukar peng-alaman melalui proses saling berargumentasi. Dinamika kelom-pok menunjuk pada suasana yang menggambarkan sekelompok individu saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama. Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. Untuk memecahkan masalah ini. Tahap Pertama: Siswa dihadapkan dengan situasi yang problematis. yaitu penelitian atau inquiry. menuntut prosedur dan persyaratan yang sudah tertentu. sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama.Pembelajaran Inovatif 6-31 akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. Tahap Ketiga: . Yang dimaksud dengan penelitian ialah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah.

Sistem Sosial Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model ini bersifat demokratis yang ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus. dan pemberi kritik yang bersahabat. Tahap Keempat: Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok. (2) Tahap pengelolaan kelas. Dengan demikian suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur. (3) Tahap pemaknaan secara perseorangan. apa yang menjadi hakikat masalah. konsultan.6-32 Pembelajaran Inovatif Siswa merumuskan tugas-tugas belajar atau learning tasks dan mengorga-nisasikannya untuk membangun suatu proses penelitian. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Di dalam kelas yang menerapkan model Investigasi Kelompok. dan apa . pengajar lebih berperan sebagai konselor. Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap pemecahan masalah. Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab perta-nyaan. Tahap Kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian kelompok itu. Tahap Keenam: Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities. Pengajar dan siswa memiliki status yang sama menghadapi masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda.

Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan. sedangkan dam-pak pengiringnya adalah dorasakannya kehangatan dan keterikatan antar-manusia. informasi apa saja yang diperlukan. dan apa yang membe-dakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Joyce dan Weil.Pembelajaran Inovatif 6-33 yang menjadi fokus masalah. Dasar pemikiran model ini . kemerdekaan sebagai pela-jar. tercapainya proses dan keteraturan kelompok yang efektif. 1986: 234) Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. dan komitmen terhadap keberagaman 6) MODEL PENELTIAN JURISPRUDENSIAL Tujuan dan Asumsi Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986: 260-267) model ini me-miliki sejumlah karakteristik. menghormati hak asasi manusia. Perpustakaan diusahakan untuk cukup memiliki sumber informasi yang komprehensif dengan alat bantu mengajar atau media yang relatif memadai pula. sedangkan kelompok tahap untuk pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional misalnya tercapainya kesepakatan atas pandang-an tentang pengetahuan. mempero-leh bagaimana informasi mengorga-nisasikan itu. komitmen terhadap penelitian sosial. peningkatan kemampuan meneliti secara disiplin.

pendidikan. konflik ideologi atau keagamaan. hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif. yang pada hakekatnya berkenaan dengan konsep keadilan. keamanan pribadi. kesejahteraan dan keamanan nasional. setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik mela-kukan kesepakatan dengan orang lain. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut diperlukan tiga kemampuan. tentu saja harus disesuikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa. Sintakmatik Model Jurisprudensial ini memiliki enam tahap (Joyce & Weil 1986: 268). Yang tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik rasial dan etnis. Lingkup dan tingkat kerumitan dari masing-masing bidang kajian tersebut. (2) Memiliki seperngkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam men-jernihkan dan memecahkan masalah nilai. Setiap warga negar harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengam-bil contoh masalah sosial yang paling tepat. (1) Mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada dilingkungan negaranya. dan (3) Menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya.6-34 Pembelajaran Inovatif ialah konsepsi ten-tang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain. Tahap Pertama: Orientasi terhadap Kasus . konflik antargolongan ekonomi kesehatan.

Kemudian menyatakan edudukannya dalam konflik nilai itu dan dalam hbungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu. . Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih. Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan. Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi Siswa memilih suatu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan. Menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya. (2) Mahasiswa meluruskan posisinya. dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa.Pembelajaran Inovatif 6-35 (1) (2) (1) (2) (3) (4) Pengajar memperkenalkan bahan-bahan. Tahap Keempat: Mengekplorasi contoh-contoh dan pola argumentasi (1) (2) (3) (4) Menetapkan titik di mana terihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh. Tahap kelima: Menjernihkan dan menguji Posisi (1) Mahasiswa menyatakan posisinya dan memberikan rasional mengenai posisinya itu. Menjernihkan konflik nilai dengan melakuakn proses analogi. Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan konflik nilai. Pengajar mereviu data yang tersedia. Tahap Keenam: Mengetes Asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskannya. Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya.

diharapkan masing-masing akan dapat melakukanya tanpa bantuan dari orang lain. Sistem Sosial Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang terstruktur rendah sampai pada yang terstruktur ketat. Untuk dapat memerankan hal tersebut. reaksi ter-hadap komentar siswa dengan keajegan. cara memberikan atau pertanyaan mengenai relevansi. keumuman. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa. pengajar harus dapat mengantisipasi nilai yang diajukan oleh siswa dan berkenaan dengan hal itu pengajar harus siap untuk menantang dan melacaknya lebih jauh.6-36 Pembelajaran Inovatif (1) (2) Mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya. dan kejelasan secara definitif. terutama yang terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui atau menyetujui. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Reaksi pengajar. Seyogyanya . Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis. pengejar memulai mem-buka tahapan dan bergerak dari tahap ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. kekhususan. Menetapkan konsekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dari konsekuensi itu. Setelah mahasiswa mengalami satu kali proses jurisprudensial. Secara umum. Sistem Pendukung Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumbersumber dokumen yang relevan dengan masalah.

Pembelajaran Inovatif 6-37 disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus yang aktual. 7) MODEL LATIHAN LARATORIS Tujuan dan Asumsi Model ini bertolak dari konsep T-Group Experience yang menitik-beratkan pada proses intrapersonal. dinamika kelompok. Lebih jauh ditegaskan oleh Joyce & Weil (1986: 279-283) bahwa proses intrapersonal memberi tekanan pada tujuan yang akan dicapai yaitu pegetahuan sendiri (selfknowledge). umpan balik. pengiringnya kemampuan untuk berparti-sipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial. dan kemampuan berdialog. interpersonal. komunikasi. Memperoleh wawasan terhadap perilaku dan reaksi seseorang. khususnya dengan cara memper-oleh umpan balik dari orang lain merupakan tugas belajar atau learning task. Tujuannya ialah untukl mengerti . memberi dan menerima ban-tuan. Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka. seperti tingkat usia siswa. dan lingkungan berlajar. atau yang memang sukar diperoleh oleh mahasiswa. Proses interpersonal memusatkan perhatian pada dinamika hubungan antar individu yang berupa hubungan mempengaruhi. penyelesaian konflik. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model dalam Jurisprudensial Dampak ini memiliki dampak adalah instruksional meningkatnya kemampuan mengasumsikan peranan orang lain. kekuasaan dan kontrol. dan pengarahan sendiri. kepemimpinan. pemahaman lebih luas tentang fakta masalah sosial. Di dalam menerapkan model ini perlu diperhati-kan hal-hal. terbinanya rasa empati dan wawasan pluralistik.

Kesemua tujuan iotu akan dicapai dengan cara meningkatkan kesadaran. Biasanya Struktur T-Group merupakan struktur yang utama. menuju perilaku yang baru. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini. orientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kelompok. situasi yang kurang bertujuan. merubah sikap. Pertama. kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. para anggota kelompok dan pelatih seyogianya melaksanakan peranan sebagai pengamat yang terlibat atau participant observer. Ketiga. Di sini keka-buran situasi menimbulkan ketegangan. dan memungkinkan siswa mem-berikan respon terhadap keadaan itu yang pada akhirnya dilakukan dengan pengarahan. Model ini memiliki empat elemen dasar. data yang menjadi bahan analisis adalah pengalaman dan umpan balik yang diperoleh mahasiswa pada saat mereka belajar bersama. Kedua. Tahapan kegi-atan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri. seperti diuraikan dalam .6-38 Pembelajaran Inovatif kondisi dan kemudahan atau hambatan terhadap berfungsinya kelompok. Sintakmatik Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Yang terakhir. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk tiap-tiap tahap utama.

Pemecahan masalah (munculnya keinginnan untuk memanfaatkan waktu lebih baik. evaluasi keterlibatan. Di sini.Pembelajaran Inovatif 6-39 Tabel 3. sikap. struktur tidaklah tampak.Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin) 2. dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalamT-Group ini. 5. Di dalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka. yakni sebagai: pengamat yang terlibat. Peduli terhadap orang lain dan kerjasama mengatasi masalah umum. 4. pengenalan terhadap bermacam-macam. munculnya dua kelompok yang berbeda keinginan). dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri. dan sebagai mediator atau perantara.) II. sadar akan tanggapan terhadap orang lain) Sistem Sosial Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan. . pemberi contoh. bersemangat belajar yang tinggi. rasa percaya dan kerjasama. Tahap Ketergantungan Hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok 1. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Pelatih. dan bersifat mendukung. serta rasa takut diserang) 6. jujur. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama. Kontra ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan.14 TAHAP PENGEMBANGAN T-GROUP I. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan dan keterlibatan lebih banyak. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok. mau dan mampu memberi dan menerima umopan balik. namun masih tetap dalam batas yang dapat ditoleransi. Pemikatan (solidaritas kelompok. Saling ketergantungan. pengajar sebagai pelatih menjelaskan ahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok. perasaan positif). 3. terarah. anggota kelompok. penghargaan terhadap pelatih.

situasi kelas. toleran terhadap kebi-nekaan. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional adalah tercapainya kemam-puan mengatasi perubahan. . kemampuan bersepakat dan ekspresi diri. sedang-kan dampak pengiringnya adalah kemampuan beradaptasi terhadap peru-bahan.6-40 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan dan paling utama ialah penga-jar/pelatih yang berpengalaman dalam model ini. dan Penggunaan fakta sebagai bukti. 8) MODEL PENELITIAN SOSIAL Tujuan dan Asumsi Menurut Massialas dan Cox dalam Joyce dan Weil (1986: 294) suasana kelas yang bersifat reflektif memiliki tiga karakteristik utama : (1) (2) (3) Aspek sosial kelas dan keterbukaan dalam diskusi. Penekanan pada hipotesis sebagai fokus utama. dan lapang dada atas hakikat afektif dari respon manusia. luasnya wawasan atas perilaku interpersonal. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis. Model ini dapat dilaksana-kan dalam situasi kelembagaan. dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari. (2) (3) Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut: (1) Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terha-dap masalah dan dapat merumuskannya yang akan menjadi pusat penelitian.

(5) (6) Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis. mem-perbaiki proses belajar membuat dan melaksanakan rencana. dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam keseluruhan tahap. pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif yang membantu siswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. objektif. Sistem Sosial Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang bertugas membentu siswa untuk menjernihkan kedudukannya. dan instruktur. Pengajar ber-tugas membantu siswa dalam penggunaan bahasa yang jelas. Siswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemam-puan dalam penelitian. pengarah. . Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih. Pengajar meng-ambil inisiatif untuk meneliti dan memandu siswa dari tahap lainnya. yaitu pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang lebih luas. Merumuskan generalisasi.Pembelajaran Inovatif 6-41 (4) Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian. konselor. Akibat dari tugas tersebut. pengertian tentang asumsi. dan ia harus memikul tanggung jawab untuk meng-ikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir. logika yang nalar.

dan tindakan sosial. Orang yang membangun hubungan konti-ngensi antara stimulus dan respon ini harus menydari akan adanya respon yang memang diinginkan dan tidak diinginkan. merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pad saat-saat tertentu setelah munculnya respon. Kondisi ini disebut Contingent atau tergantung pada. Pengelolaal ketergantungan pada atau contingency management yang menjadi inti dari model Kontrol Diri. Ling-kungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik. 9) MODEL KONTROL DIRI Tujuan dan Asumsi Pada teoretisi perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan pengu-atan. dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal adalah penjagaan terhadap permasalahan sosial. sumber kepustakaan yang tak terbatas.6-42 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama. pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam meng-atasi masalah kehidupan. dan komitmen terhadap peningkatan mutu sumber daya. sedangkan efek pengiringnya penghargaan terhadap hak asasi manusia. Di samping itu juga harus . Ciri yang paling esensial ialah hubungn antara respon dan stimulus yang diberi penguatan.

atau mengacungkan ibu jari. Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak belakang dari prinsip Operant Conditioning. Model ini terutama. seperti dengan tersenyum. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik di bawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan. Dalam prinsip ini diharapkan dapat diberi penguatan yang terlibat peranan reinforces yaitu yang dapat mempertinggi respon. Tujuan utama dari program pengelolaan kontinginsi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku ke dalam situasi yang lain. Respon yang positif maupun negatif. Termasuk dalam tujuan ini adalah kelanggengan atau “durability” dari perilaku. seperti rasa takut atau rasa cemas. dan keterampilan mengelola diri. sosial. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional. dan aktivitas. dan sebagai model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keteramplan yang baru. Penguatan dapat bersifat material. keterampilan sosial. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau maladaptive behavior.Pembelajaran Inovatif 6-43 disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting. Penguatan dianggap negatif bila yang diberi-kan itu mengurangi suasana yang ada. dan melahirkan respon. Penguatan positif ialah tanggapan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana. sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis. Sintakmatik Model ini memiliki lima tahap (Joyce & Weil 1986: 347) seperti berikut: Tahap Pertama: Perumusan Perilaku Akhir .

(3) Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir. Tahap Keempat: Melembagakan Program (1) Menata lingkungan. dalam arti sam-bil berjalan dapat ditumbuhkan. Tahap Ketiga: Merumuskan Kontingensi (1) Membuat keputusan mengenai lingkungan. (2) Memilih sarana penguat atau reinforces dan pola pemberian penguatan. (2) Merumuskan secara khusus perilaku akhir. (3) Mengembangkan rencana untuk mengukur dan mencatat perilaku Tahap Kedua: Mengkaji Perilaku Mengamati. Sistem Sosial Sistem sosial yang perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur. (3) Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan. Tahap Kelima: Mengevaluasi Program (1) Mengukur respon yang diharapkan. dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu. Demikian juga dalam pola dan jadwal pemberian . (2) Membangun kembali kondisi yang lama. mengukur dan mengembali-kan para program kontingensi. (2) Memberikan pengantar bagi mahasiswa. hakikat dan konteks dari perilaku itu. Pengajar berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan.6-44 Pembelajaran Inovatif (1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran.

seperti dengan mematikan televisi sedang-kan perilaku yang diinginkan seyogyanya . mahasiswa. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal model ini adalah pengetahuan dan keterampilan akademik. Pengajar yang mengem-bangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat. perilaku dan keterampilan personal. pengajar dapat melakukan kesempatan dengan Prinsip Pengelolaan/Reaksi Prinsip pengelolaan atau reaksi pengajar terhadap mahasiswa di da-sarkan pada prinsip “operant conditioning” dan pengelolaan kontingensi. memer-lukan perencanaan dan alat yang lebih memadai. Per-bedaannnya. dikuatkan. respons emosional.Pembelajaran Inovatif 6-45 penguatan. perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi ke situasi. dalm model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan. Sedang program yang bersifat kompleks. terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. sabar. Secara umum. Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. perilaku dan keterampilan sosial. dan tetap ajeg. Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. keterampilan pengelolaan diri. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memer-lukan sarana pendukung. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini. Hal ini dapat dilakukan secara fisik.

Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model Kontrol diri ini. dan (4) Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan. (2) Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. (2) Melakukan pertemuan periodik dengan guru/pelatih untuk mereviu kemajuan dan memperbaiki program. (2) Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri. (3) Membuat program tertulis. (3) Membangun kemauan untuk berpartisipasi. Sintakmatik Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce & Weil 1986: 363) Tahap Pertama: Memperkenalkan Prinsip Perilaku (1) Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan. dapat digunakan respon yang saling berbeda atau bertentangan dengan peikiran. dan memberikan respon yang menantang. Tahap Kedua: membangun landasan Berpijak (1) Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus. (2) Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. Tahap Keempat: Memantau dan Memperbaiki Program (1) Melibatkan mahasiswa dalam program.6-46 Pembelajaran Inovatif yang sedang ditonton. . Dalam membang-kitkan rangsangan. jika memang diperlukan. mencatat kendali rangsangan. memberi pe-nguatan. Tahap Ketiga: Menyusun Program Kontrol Diri (1) Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat. (3) Melakuakn pengukuran.

mengurangi perilaku yang salah. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini pengajar memiliki peranan yang menentukan dalam keseluruhan program. Secara terinci. dan memiliki pandangan perilaku. Berkembangnya harga diri dan keyakinan. Sistem Pendukung Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus. dan menguasai metode untuk mem-bangun kontrol diri. Dampak pengi-ringnya adalah berkembangnya kesadaran tentang kontrol diri. mungkin sebagian dilaku-kan secata mandiri. dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya: (1) memberi semangat kepada mahasiswa.Pembelajaran Inovatif 6-47 Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. (2) menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan. (4) membantu mahasiswa dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu. (3) menjamin tersusunnya rencana yang realistik. ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan pengajar dan siswa. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah meningkatkan perilaku sa-saran. rasa rendah diri dan kendala lingkungan seseorang. . sebagian lagi secara bersama. Yang harus dicatat. pada akhirnya mehasiswa yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan. Dari kegiatan-kegiatan itu. Walaupun pengajar memiliki peranan dalam mengambil inisiatif.

Bertolak dari prinsip itu. Misalnya. Tahap Pertama : Orientasi (1) Menyajikan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. dalam proses simulasi itu dilakukan dengan meng-gunakan simulator. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan gerakan sensorinya menjadi dasar dari penerimaan umpan balik itu. Para ahli psikologi sibernetika ini menafsirkan manusia sebagai sistem kendali yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan sendiri melalui mekanisme umpan balik. Para ahli psikologi sibernetika membuat analogi antara manusia dengan mesin dan mengkonseptualisasi-kan siswa sebagai sistem umpan balik yang mengatur dan mengontrol sendiri. individu memodifikasi perilakunya sesuai dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Dalam suatu situasi yang khusus. Sintakmatik Model ini memiliki tahap sebagai berikut (Joyce dan Weil 1986: 378). Gerakan dan perilakunya itu disesuaikan dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia memiliki pola gerakan seperti berpikir. dan berperilaku nyata. berperilaku simbolik. Model Simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang diana-logikan dengan proses sibernetika itu.6-48 Pembelajaran Inovatif 10) MODEL SIMULASI Tujuan dan Asumsi Simulasi sebagai model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan. Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dan gerakannya yang dianggap kompleks sengaja dikontrol. .

peranan. Memperoleh umpoan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terha-dap performan si pemeran. Tahap Ketiga: Proses simulasi (1) (2) (3) (4) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. Menghubungkan prose simulasi dengan isi pelajaran. Mencoba secara singkat suatu episode. Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. (2) (3) Menugaskan para pemeran dalam simulasi. model ini . pencatatan. dan tujuan yang akan dicapai. Tahap Kedua: Latihan Bagi Peserta (1) Membuat skenario yang berisi aturan. Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional Melanjutkan permainan/simulasi. Sistem Sosial Di dalam simulasi pengajar harus dengan sengaja memilih jenis ke-giatan dan mengatur mahasiswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. langkah. Menganalisis proses. bentuk keputusan yang harus dibuat.Pembelajaran Inovatif 6-49 (2) (3) Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan. Memberikan rinkasan mengenai kesulitan-kesuliatan dan wawasan para peserta. Karena itu. Tahap keempat: Pemantapan atau Debriefeing (1) (2) (3) (4) (5) (6) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. Menilai dan merancang kembali simulasi.

tentu hal ini memerlukan biaya yang besar. Misalnya bila saran yang digunakan berupa simulator elektronik. kesadaran tentang efektivitas. . dan mengetahui pengetahui pengeta-huan tentang politik dan sistem ekonomi. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi. mulai dari yang paling sederhana dan murah. ke yang paling kompleks dan mahal. Dampak pengiring nya adalah berpikir kritis dalam mengambil keputusan.6-50 Pembelajaran Inovatif termasuk model yang terstruktur. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah kelereng atau kartu. Dalam keselutuhan proses simulasi. dan berani mengha-dapi konsekuensi. Namun demikian kerjasama antar peserta sangat diperhatikan. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari mahasiswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini. empati. Dampak Instruksional dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional model ini adalah memiliki keterampilan dan penguasaan konsep. pengajar bertugas dan ber-tanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjuk-kan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. berkembangnya kesa-daran dan kesempatan. pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator. Dalam hal ini. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini. pengajar bertugas untuk lebih dulu mendorong pengertian dan penafsiran para mahasiswa terhadap isi dan makna dari simulasi itu. tentu sangat murah.

Ada dua kelompok model yang dapat kita kaji: (1) Model Pengorganisasian Pertemuan dapat digunakan baik dalam situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interaksi pembelajaran formal. sebagian dari model-model itu dapat dipakai dalam rangka proses pembelajaran dengan menyesuaikannya terhadap konteks pembelajaran. dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model ini ternyata lebih efektif dan efisien dalam proses kognitif dan keterampilan berbicara dalam belajar bahasa Indonesia di berbagai tingkat. Dengan demikiam model tersebut akan dapat digunakan lebih bebas. (2) Model Diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam interaksi pembelajaran kelompok secara bervariasi. Artinya. Kedua kelompok model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Model-model Pengorganisasian Pertemuan Model-model Pengorganisasian Pertemuan dikembangkan oleh Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) seperti digam-barkan sebagai berikut. Model-model Diskusi kelompok Dalam bagian ini. Selain itu model ini modelmodel diskusi kelompok berlaku secara umum. dan sebagian dapat dipakai dalam rangka pertemuan di luar proses situasi .Pembelajaran Inovatif 6-51 Beberapa Model Pembelajaran Yang Bersifat Umum Model pembelajaran yang disajikan pada bagian sebelumnya meru-pakan kerangka konseptual dan operasional pengelolaan proses belajar. yag bertolak dari teori psikologi tertentu. khusus disampaikan model pembalajaran diskusi kelompok saja. Pada bagian ini akan disajikan model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum dan tidak secara khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu.

(2) Tidak memerlukan pemimpinan yang penuh. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (1) Jumlah anggota kelompok bersifat luwes. (4) Biasanya digunakan sebagai strategi dalam kelompok. Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) mengembangkan 13 model dengan masing-masing karakteristik sebagai berikut: (a) Model Kelompok Curah Pendapat atau Brainstorming Group yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok yang terdiri dari 3-12 peserta. (c) Model Case Study atau Studi kasus. (4) Biasanya digunakan sebagai langkah awal membuat keputusan atau memecahkan masalah. (3) Waktu pertemuan berkisar antara 2-15 menit. (5) Para peserta diminta untuk mengemukakan ide sebanyak mungkin dalam waktu yang berkelanjutan menuju pemecahan masalah. (3) Para peserta dihadapkan kepada suasana problematik.6-52 Pembelajaran Inovatif pendidikan formal. (2) Tidak memerlukan pimpinan penuh. (3) Waktu pertemuan berkisar dari pertemuan singkat beberapa menit sampai pertemuan panjang beberapa jam. Khusus untuk suasana pendidikan formal yang menitikberatkan pada proses pembelajaran. . (b) Model Buzz Group tau kelompok Bebas. (5) Kelompok mendiskusikan secara singkat masalah tertentu. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan tingkat kerumitan kasuis. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 2-6 peserta. (6) Ide-ide yang muncul tidak diberi kritik atau tanggapan.

(e) Model Free Group Discussion atau Diskusi Kelompok Bebas. didefinisikan dan didiskusikan secara singkat dalam kelompok. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri 4-12 peserta. (3) Topik dan arah diskusi dikendalikan oleh peserta sendiri. (d) Model Crosses-Over atau Kelompok Silang Pendapat. . (2) Waktu pertemuan disesuaikan dengan jam pertemuan yang tersedia.Pembelajaran Inovatif 6-53 (4) Para peserta dituntut untuk berbagai evaluasi terhadap kasus dan memberi jalan melakukan tindakan. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit dan berlangsung beberapa kali. (2) Waktu pertemuan bervariasi namun tetap konsisten dengan waktu yang tersedia bagi kelompok besar. (3) Topik diskusi. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok besar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang besar-nya sebanyak akar (√) dari jumlah keseluruhan. (6) Prosedur perpindahan anggota berlangsung sampai di dalam kelompok itu hanya tinggal seorang anggota yang asli. (f) Model Horse Shoe group atau kelompok Tapal Kuda. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok disusun dengan membentuk tapal kuda menghadap Tutor/Guru. (4) Salah seorang dari setiap kelompok pada saaat tertentu berpindak ke kelompok lain. (5) Orang tersebut selanjutnya menyumbangkan berbagai ide dan pengalaman dalam kelompok baru itu.

(2) Waktu pertemuan sesuai dengan yang tersedia. (i) Model Seminar Group atau Kelompok Seminar. . (3) Para peserta mencoba sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana yang interaktif. (h) Model Role Play atau Bermain Peran. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan lama pertemuan yang tersedia. (4) Penyaji makalah dipilih dari anggota kelompok. (3) Para peserta dihadapkan kepada tugas dan pekerjaan untuk memenuhi sesuatu atau memecahkan masalah. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit. (3) Membahas makalah yang disajikan. (4) Para peserta dapat mempersiapkan laporan dengan menggu-nakan media visual seperti transparansi.6-54 Pembelajaran Inovatif (3) Biasanya digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan peserta dalam kelas besar. (g) Model Problem-Centered Group atau kelompok Terpusat pada Masalah. (4) Bentuk Tapal Kuda dapat dipakai dalam model ini. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan peran yang harus dimainkan. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 4-12 orang. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok bervariasi. (j) Model Simulation atau Simulasi. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 5-15 orang.

(3) Setiap kelompok diberi atau memilih suatu tugas. yang memiliki ciri-ciri : (1) Kelompok terdiri dari 7-14 orang. dan keuntungan model diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat menengah dapat disampaikan . yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel tapi tidak lebih dari 6 orang. (3) Diskusi digunakan untuk Kekuatan sebagai berikut. (2) Waktu pertemuan 45 menit atau lebih. Orang yang pandai berbahasa artinya orang yang pandai berbicara. (4) Setiap kelompok diminta mencari informasi yang relevan dan membuat laporan bersama untuk ditanggapi kelompok lain. (m) Model Tutorial atau Bimbingan Belajar. (3) Teknik kelompok Terapetik digunakan di mana individu dalam setiap kelompok mendiskusikan dan menganalisis hubungannya satu dengan yang lain. Berbahasa adalah berbicara. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 3-15 orang. (2) Waktu pertemuan biasanya beberapa jam perhari untuk bebe-rapa minggu. (k) Model Syndicate Group atau Kelompok Sindikat.Pembelajaran Inovatif 6-55 (3) Para peserta dihadapkan kepada model kehidupan nyata. (2) Waktu pertemuan bervariasi mulai dari hanya 1 jam. 1. berlangsung beberapa bulan atau lebih. Sesuai dengan hakikat belajar bahasa. (4) Para peserta diminta mengandalkan peran tertentu dan bertindak sesuai dengan aturan tertentu. (l) Model T-Group atau Kelompok T.

dan terlatihnya pembelajaran bahasa yang terintegratif. Berbicara dengan kontrol diri. bicara. mencocokan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Pelatihan berdiskusi dalam pembelajaran bahasa dimulai dengan membaca sumber bahan yang akan didiskusikan. demokratis. terlaihnya kemampuan menahan diri. dan menyimak tidak biasa disebut pandai berbahasa. membedakan. membandingkan. membaca. toleransi. menulis yang diperlukan sebagai catatan untuk dibicarakan. 4. 2. 3. Pembicara perlu menahan diri untuk tidak melakukan kasantunan monopoli bicara. Artinya seorang pembicara yang baik seharusnya juga pandai menyimak. 5. Sambil berbicara pembicara dalam diskusi perlu penyimak respons pendengar lain. kareka penyimak mencoba mela-kukan analisis: menghubungkan. yang relevan dengan kebutuhannya. Simpulan: Nilai didik yang dapat dikembangkan melalui model diskusi kelompok itu adalah kesantunan. Kema-hiran berpikir penyimak dikembangkan. Pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai mendengarkan.6-56 Pembelajaran Inovatif Pandai menu-lis. Aspek pendidikan nilai dalam diskusi kelompok dapat dikembangkan. memilah. Dalam proses diskusi setiap peserta berperan juga sebagai pendengar bah-kan penyimak. sikap toleran bila ada penda-pat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Pembicara perlu menahan diri bila aspek emosi terusik. Penyimak Pembicara perlu perlu memperhatikan memperhatikan bersabar pembicaraan peserta diskusi lain. yang penting. bahkan menulis teks bahan berbicara. Penyimak terus menerus berpikir untuk menyaring informasi yang manarik perhatiannya. Oleh karena itu model diskusi kelompok merupa-kan pembelajaran bahasa terintegratif. memilih. . menghargai pendapat orang lain. meng-hargai pemikiran dan pendapat penutur lain. meningkatnya kecerdasan.

Berlatih praktek sampai kompetensi ujaran. keteram-pilan ujaran. sikap demokratis. Diperlukan penguasan bahan pembicaraan. Dilakukan proses diskusi sesuai Rancangan. santun verbal dan nonverbal. Membahas program diskusi kelompok tentang tokoh penting dan mendiskusikan kriteria penilaian berbicara. santun. Sumber : Tokoh-tokoh yang mengubah dunia Waktu : 2 x 2 x 45” Pertemuan Langkahlangkah Pendahuluan a. Membahas pengelompokan. intonasi. kepribadian demokratis. intonasi. b. toleran. dan empatik ter-capai dengan baik dilakukan secara spontan Hari pertama: a.Pembelajaran Inovatif 6-57 Contoh Model Pembelajaran Diskusi Kelompok Standar Kompetensi 10 : Berbicara: mengungkapkan pikiran. informasi dan pengalaman melalui kegiatan membaca dan menanggapi cerita Kompetensi Dasar : Menceritakan tokoh idola para penemu ilmu pengetahuan dengan mengemukakan identitas dan keungulan tokoh dan alasan mengidolakannya. Mengecek persiapan yang telah dirancang pada pertemujan sebelumnya. alat perekam 15’ Instrumen/kriteria 15’ penilaian evaluasi diri 15’ 15’ 15’ 15’ . perasan. Membahas tujuan. Membahas proses kegiatan yang terinci d. pengorganisasian kelompok e. Pandai bicara dapat meningkatk an kesejahtera an c. toleran. sumber yang telah disiapkan siswa Transparensi dan pelengkapnya 10’ dan 5’ : 3-4 Uraian Materi Media Waktu Kegiatan Inti Catatan hasil 15’ persiapan. Laporannya bentuk tertulis b. dan empatik d. tata dan norma berdskusi Hari kedua: c.

Kesan-kesan dan kritik atas proses kegiatan b. Evaluasi oleh anggota kelompok lain l. Evaluasi diri setiap anggota kelompok i. Tindak lanjut untuk memperluas wawasan e. Informasi baru tentang tokohtokoh c. Melaporkan hasil diskusi kelompok j.6-58 Pembelajaran Inovatif topik f. Dilakukan pengamatan evaluatif dan umpan g. Simpulan karakteristik tokoh pada umumnya d. Menulis refleksi Penutup a. Menulis refleksi 15’ 10’ Lembar simpulan 15 dan lembar refleksi . Tanggapan terhadap laporan kelompok k. Dilakukan diskusi simpulan hasil diskusi h.

BUKU AJAR PENILAIAN PEMBELAJARAN .

Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. A. pahamilah. Anda tengah memasuki wilayah bahan ajar pelatihan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Manfaat penilaian kelas 3. 1. Kriteria penilaian kelas 5. B.BAB I. Fungsi penilaian kelas 4. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Prinsip-prinsip penilaian kelas 6. dan praktikanlah. 1) Memaparkan konsep dasar penilaian kelas 2) Memaparkan manfaat penilaian kelas 3) Memaparkan fungsi penilaian kelas 4) Memaparkan kriteria penilaian kelas 5) Memaparkan prinsip-prinsip penilaian kelas 6) Menjelaskan ranah penilaian kelas 7) Menjelaskan tata cara pelaksanaan penilaian kelas. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan konsep dasar dan prinsip penilaian kelasl. Ranah penilaian kelas . Bacalah. KONSEP DASAR DAN PRINSIP PENILAIAN KELAS Selamat datang. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. C. Konsep dasar penilaian kelas 2.

Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Dari proses ini. 1. penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan. D. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan dinilai. informasi penyusunan sejumlah alat penilaian. diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan perencanaan. . Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Pelaksanaan penilaian kelas. Jadi. diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi. penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum kompetensi. Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. pengolahan. yang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis melalui bukti menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik. Oleh sebab itu.7-2 Penilaian Pembelajaran 7. Untuk itu. dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Konsep Dasar Penilaian Kelas Pada kurikulum baru (KTSP) penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian kelas.

penilaian proyek. dan penilaian diri. b. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara. Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut: a. dan sumber belajar yang digunakan. dan kelemahannya dalam proses pencapaian . Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. penilaian sikap. Dengan demikian. penilaian produk. penilaian tertulis (paper and pencil test). kegiatan. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. pendekatan. peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru. e. c. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. Manfaat Penilaian Kelas Pelaksanaan penilaian kelas tgerdapat beberapa manfaat yang dapat diambil. d. penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio). tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode. seperti penilaian unjuk kerja (performance). baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya.Penilaian Pembelajaran 7-3 dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. 2. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. Penilaian hasil belajar. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan kompetensi.

Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan. b. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik. Fungsi Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki beberapa fungsi. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya. baik untuk pemilihan program. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya. pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan). . Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan. c. e. a. membuat keputusan tentang langkah berikutnya. Keenam kriteria itu dipaparkan sebagai berikut. Kriteria Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki kriteria sebagai dasar acuan kualitas. Validitas Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbagkan konsep penilaian kelas yang baik digunakan 3. Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut: a. d. 4.7-4 Penilaian Pembelajaran f.

toleransi. bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan). Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas. pengambilan keputusan dalam kelompok. tolong menolong. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan atau tulis. penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. e. Objektivitas Penilaian dikatakan objektif kalau penilaian itu menilaia apa yang seharusnya dinilai. dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. Keseluruhan/Komprehensif Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik. b. penilaian harus adil. berkesinambungan. Untuk itu. Misal. terencana. Jika menggunakan tes pratek atau unjuk kerja penilaian tidak valid. Terfokus pada kompetensi Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan). Misalnya guru menilai dengan proyek kelas IX semester 2 untuk kompetensi dasar mempraktikkan perencanaan dasar-dasar kegiatan menjelajah alam bebas serta nilai kerja sama. .Penilaian Pembelajaran 7-5 Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur. guru ingin menilai kompetensi dasar kelas IX semester 2: Memahami berbagai bahaya bencana alam. d. dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor. Penilaian itu harus dilaksanakan secara obyektif. c. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi.

5. portofolio. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar.7-6 Penilaian Pembelajaran f. Prinsip Penilaian Kelas Dalam pelaksanaan penilaian kelas harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. Dalam melaksanakan penilaian. Mendidik Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. produk. e. observasi atau lainnya. ulangan tengah semester. dan ulangan kenaikan kelas. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. unjuk kerja. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses. kemajuan. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah . Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian. dan pengamatan tingkah laku. d. lisan. g. c. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. b. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. proyek. f. ulangan akhir semester. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis. guru sebaiknya: a.

. kurikulum tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah berorientasi pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan. satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap. sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta kompetensi secara utuh yang merefleksikan tetapi pengetahuan. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun). 6. dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran. keterampilan. Agar penilaian objektif. dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. Indikator tersebut menjadi acuan dalam merancang penilaian. Ranah Penilaian Kelas Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yang berbasis kompetensi didik.Penilaian Pembelajaran 7-7 menyelesaikan beberapa kompetensi dasar. Dengan kata lain. guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian. (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya). Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar. Kurikulum tersebut memuat sejumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran.

ciri-ciri. pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. dan mendeskripsikan. 2) pemetaan standar kompetensi. dan 3) penetapan teknik penilaian. dijadikan acuan dalam merancang penilaian.7-8 Penilaian Pembelajaran 7. Berikut contoh penetapan indikator mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs . menghitung. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar yang terkait. Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kelas Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. membedakan. dan indikator. menceritakan kembali. Penetapan Indikator Pencapaian kompetensi Indikator merupakan ukuran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. kompetensi dasar. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi. seperti: mengidentifikasi. mempraktikkan. a. mendemonstrasikan. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi. menyimpulkan. yang menjadi bagian dari silabus. Indikator pencapaian kompetensi. karakteristik.

1 Menyimpul-kan Mampu menuliskan isi berita yang dibacakan dalam pokok-pokok berita yang didengarkan beberapa kalimat Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1. Kompetensi Dasar. kompetensi dasar. Berikut diberikan contoh pemetaan standar kompetensi.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat • : dikembangkan oleh guru b. . indikator. Pemetaan Indikator Standar Kompetensi. dan teknik penilaian.Penilaian Pembelajaran 7-9 Standar Kompetensi Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar Indikator pencapaian* 1. dan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian.

7-10 Penilaian Pembelajaran

Standar Kompeten si

Kompete nsi Dasar

Indikator

KK M

Teknik Penilaian Pe Port rfo Pr Pr o Tes rm od oy Foli en uk ek o t V

Memahami 1.1 wacana Menyi lisan m-pulmelalui kan isi berita kegiatan yang mendengar kan berita dibaca kan dalam bebera pa kalimat

Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

75

70

v

c. Penetapan Teknik Penilaian Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh: • • • Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja (performance). Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis. Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan maka teknik penilaiannya adalah proyek.

E. Rangkuman Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu.

Penilaian Pembelajaran 7-11

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian kelas, di antaranya untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Selain itu, ada beberapa fungsi penilaian kelas di antaranya menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan, yaitu validitas, reliabilitas, terfokus pada kompetensi, keseluruhan/Komprehensif, objektivitas, dan mendidik Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Di antaranya dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya 1) memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu dan 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani,

olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui 1) Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2) Ulangan, dan/atau

penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yangberbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran.

7-12 Penilaian Pembelajaran

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi, 2) pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, dan 3) penetapan teknik penilaian.

F. Latihan Soal Jawablah Pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Kemukakan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian kelas! 2. Kemukakan dan jelaskan manfaat penilaian kelas! 3. Kemukakan dan jelaskan fungsi penilaian kelas! 4. Coba Anda kemukakan dan jelaskan kriteria penilaian kelas! 5. Coba jelaskan prinsip-prinsip penilaian kelas! 6. Jelaskan ranah yang dinilai dalam penilaian kelas! 7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan penilaian kelas!

BAB II. TEKNIK-TEKNIK DAN RANAH PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dapat diperoleh guru manakala guru memahami makna dan fungsi teknik-teknik penilaiannya. Karena itu, bagianl ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting tentang teknik-teknik penilaian, seperti teknik-teknik penilaian dan ranah penilaian

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan teknik-teknik dan ranah penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui

pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. a. Memaparkan dan menerapkan teknik-teknik penilaian bahasa dan sastra Indonesia b. Memaparkan ranah-ranah penilaian

C. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut, berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. 1. Teknik-teknik penilaian 2. Ranah penilaian tersebut tergambarkan sebagai

7-14 Penilaian Pembelajaran

D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

1. Teknik-teknik Penilaian Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Beragam teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikatorindikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

a. Penilaian Unjuk Kerja Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian unjuk kerja. 1) Pengertian Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Dalam 2) teknik

Penilaian Pembelajaran 7-15

penilaian mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti berbicara/menceritakan

sesuatu. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan penilaian unjuk kerja perlu

mempertimbangkan hal-hal berikut Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. 2) Teknik Penilaian Unjuk Kerja Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk dilakukan

menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya

pengamatan atau observasi praktik berbicara yang beragam, seperti: lafal, intonasi, kelancaran, keberanian, dll. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen (1) daftar cek, (2) skala penilaian. ( 1) Daftar Cek (Check-list) Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik

7-16 Penilaian Pembelajaran

mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak

memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Perhatikan contoh Check list berikut.

Format Penilaian Berbicara Nama peserta didik: ________ No. 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Pilihan kata 5. Dll Skor yang dicapai Skor maksimum Keterangan: Baik mendapat skor 1 Tidak baik mendapat skor 0 (2) Skala Penilaian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Baik Tidak baik

memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum memiliki pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih

Penilaian Pembelajaran 7-17

dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Berikut ini diberikan contoh Rating Scale. Format Penilaian Berbicara Nama Siswa: ________ N o 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Dll. 5. Jumlah Skor Maksimum Keterangan penilaian: 1 = tidak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Jika seorang siswa memperoleh skor 25-32 dapat ditetapkan sangat kompeten 2) Jika seorang siswa memperoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten 3) Jika seorang siswa memperoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten 4) Jika seorang siswa memperoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten b. Penilaian Sikap Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian sikap. 2) teknik Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Nilai 1 2 3 4

7-18 Penilaian Pembelajaran

a) Pengertian Penilain Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah

kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

adalah sebagai berikut. • Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. • Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi,

Penilaian Pembelajaran 7-19

metodologi,

dan

teknik

pembelajaran

yang

digunakan.

Proses

pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah peningkatan

pemakaian ejaan dan tata tulis. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus kesalahan ejaan dan tata tulis tertentu (kegiatan cermat berbahasa). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program cermat berbahasa. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan pemakaian bahasa yang salah. • Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi menggunakan perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan catatan khusus tentang kejadian-kejadian

buku

Berikut contoh format buku catatan harian. Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadian . Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian: BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK Mata Pelajaran Kelas Nama Guru : ___________________ : ___________________ : ___________________ Tahun Pelajaran : ___________________ SMP INSAN MULIA SEMARANG 2007 Contoh isi Buku Catatan Harian : No.7-20 Penilaian Pembelajaran berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.

Berikut contoh format Penilaian Sikap. . selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. 3.Penilaian Pembelajaran 7-21 Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. Nama Ahmad Mualimah . Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. Catatan dalam lembaran buku tersebut. 1. Misalnya. dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu.. 2. Keterangan diisi dengan kriteria berikut Nilai 18-20 berarti amat baik Nilai 14-17 berarti baik Nilai 10-13 berarti sedang Nilai 6-9 berarti kurang Nilai 0-5 berarti sangat kurang (2) Pertanyaan langsung Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Selain itu.. 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = amat baik b. Catatan: a.. Contoh Format Penilaian Sikap dalam Praktik Berbicara: Perilaku Semangat BeriniPenuh Berlatih Nilai Keterangan siatif Perhatian intensif 1 2 2 3 3 3 3 2 9 10 Kurang Sedang No. Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku c.

... 1 2 3 4 ...... (3) Laporan pribadi Melalui penggunaan teknik ini di sekolah..Hari/Tgl..... semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut... peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Prestasi Bahasa Indonesia di Sekolah" yang dicapai akhir-akhir ini. Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan... khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.7-22 Penilaian Pembelajaran bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Ketuntasan Hasil Belajar Minimal mata pelajaran penjaskes"... Misalnya. semester. guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik. atau hal yang menjadi objek sikap... peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap..... keadaan..... kelas........... Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/sikap yang diamati: Nama peserta didik: .... Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah....... No Deskripsi perilaku awal . Capaian ST T R S R Deskripsi perubahan Pertemuan .

2) Teknik Penilaian Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis. yaitu: a) memilih jawaban. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban. 1) Pengertian Penilaian Tertulis Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. dan lain sebagainya. Penilaian Tertulis Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian tertulis yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian tertulis. menggambar. dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi (2) jawaban singkat atau pendek . Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku ST = perubahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah b. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari: 1) pertanyaan langsung 2) Laporan pribadi 3) Buku Catatan Harian c. yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda (2) dua pilihan (benar-salah. tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. mewarnai.Penilaian Pembelajaran 7-23 Keterangan: a. ya-tidak) (3) menjodohkan (4) sebab-akibat b) mensuplai jawaban.

Karena itu. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas. menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. Selain itu. . dan menyimpulkan. tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. isian singkat. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. berpikir logis. tes memilih jawaban benarsalah. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). misalnya mengemukakan pendapat. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. memahami. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran. Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan cakupan materi yang luas. maka peserta didik akan menerka. a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya.7-24 Penilaian Pembelajaran (3) uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar.

. semakin tinggi perolehan skor. pengorganisasian. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Ceritakan kembali secara ringkas cerpen Robohnya Surau Kami! 2. Semakin lengkap dan tepat jawaban. d. misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi.. kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. . pengolahan.. c) konstruksi. 3. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. Penilaian Proyek Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian proyek yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian proyek. Cara Penskoran: Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Contoh Penilaian Tertulis Mata Pelajaran Kelas/Semester : Bahasa dan Sastra Indonesia : IX/1 Mensuplai jawaban (Bentuk Uraian) 1.Penilaian Pembelajaran 7-25 b) materi. pengumpulan data. dan penyajian data. . d) bahasa. 1) Pengertian Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. ..

• Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. Untuk itu. pengumpulan data. • Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. proyek dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan kemampuan mengaplikasikan. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. b) Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. dan penyiapkan laporan tertulis. seperti penyusunan disain. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. sampai hasil akhir proyek. analisis data. Berikut diberikan dalam penilaian proyek: beberapa contoh kegiatan peserta didik a) penelitian sederhana tentang peningkatan kesegaran jasmani melalui alat modern di rumah. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. dan . Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. proses pengerjaan. penyelidikan. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.7-26 Penilaian Pembelajaran Penilaian pemahaman.

Presentasi / Penguasaan Total Skor Keterangan: * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Proyek : Perkembangan Cerpen Indonesia Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : IX/1 No Aspek * Skor (1 – 5)** 1. . Kuantitas Sumber Data d. Laporan Proyek a. Keakuratan Sumber Data/Informasi c. Rumusan Judul 2. semakin tinggi perolehan skor. Sistematika Penulisan b. Penilaian Produk Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian produk yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian produk. Semakin lengkap dan tepat jawaban. Analisis Data e. Performans b. e. Pelaksanaan a. Perencanaan: a. Persiapan b. Penarikan Kesimpulan 3.Penilaian Pembelajaran 7-27 b) Penelitian sederhana tentang perkembangan prestasi olahraga daerah.

a) Cara analitik. • Tahap penilaian produk (appraisal). meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. jaring. dan mendesain produk. menggali. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian sebagai berikut. seperti: bola. dan lain-lain. alat.7-28 Penilaian Pembelajaran a) Pengertian Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. lapangan. b) Teknik Penilaian Produk Teknik penilaian produk yang biasanya digunakan adalah cara holistik atau analitik. • Tahap pembuatan produk (proses). dan mengembangkan gagasan. dan teknik. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. • Tahap persiapan. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. . Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. b) Cara holistik. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk.

Penilaian Portofolio Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian portofolio.Penilaian Pembelajaran 7-29 Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Menulis Cerpen : 2 Minggu Kelas : Skor (1 – 5)** Nama Siswa : ______________________ IX/1 No 1. Hasil Produk a. Inovasi Total Skor Keterangan: Aspek * Penggunaan Pilihan Kata * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. 2. f. Proses penulisan a. Bentuk Fisik (Unsur Instrinsik) b. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. . Semakin lengkap dan tepat jawaban. Teknik penulisan c. Persiapan penulisan b. semakin tinggi perolehan skor. 1) Pengertian Penilain Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Kebersihan dan kerapian 3.

Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. antara lain: karangan. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. antara lain: a) Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu buku/ literatur.7-30 Penilaian Pembelajaran hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. sinopsis. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut. saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. dsb. b) Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya. resensi laporan penelitian. dan terus dapat portofolio memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah. guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik melakukan perbaikan. Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. Dengan demikian. sendiri. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan d) guru Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan .

Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan. e) Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan. dan minatnya.Penilaian Pembelajaran 7-31 Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. tetapi . keterampilan. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik. 2) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkahlangkah sebagai berikut: a) Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio. f) Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. h) Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. g) Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil.

b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. pemilihan kosa-kata. peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. yaitu: penggunaan tata bahasa. dan sistematika penulisan. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Dengan demikian. Namun. untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangankarangannya. g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Contoh.7-32 Penilaian Pembelajaran membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. e) Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya . Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut. c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di madrasah. d) Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. kelengkapan gagasan. antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan. Misalnya. serta bagaimana cara memperbaikinya. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. misalnya 2 . Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan tentang olah raga. Guru dapat membimbing peserta didik.

Membuat 1/9 resensi buku 30/9 Olahraga 10/1 0 Dst. Menulis karangan Perkembangan Olahraga Daerah Peri ode 30/7 10/8 dst. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai.10 atau 0 . h) Bila perlu. Jika perlu. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 . Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Alokasi Waktu : 1 Semester Nama Siswa : _________________ VIII/1 Kriteria Standar No Kompetensi/Ko mpetensi Dasar 1.Penilaian Pembelajaran 7-33 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya. Catatan: Setiap karya siswa sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. .100. semakin tinggi skor yang diberikan. jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik. Tata bahas a Kos a kata Kelengkap an gagasan Sistemati ka penulisan Ke t Kelas : 2. undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio.

dan psikomotor. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. 1) Pengertian Penilaian Diri Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. • Penilaian kompetensi afektif. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. afektif.7-34 Penilaian Pembelajaran g. Penilaian Diri (self assessment) Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian diri yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian diri. misalnya. • Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. . • Penilaian kompetensi kognitif di kelas. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. Selanjutnya.

1) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai.Penilaian Pembelajaran 7-35 • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika mereka melakukan penilaian. daftar tanda cek. Oleh karena itu. penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. dapat berupa pedoman penskoran. 3) Merumuskan format penilaian. membiasakan. • dapat mendorong. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. 6) Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian secara acak. terhadap sampel hasil penilaian yang diambil . 4) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. 2) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. atau skala penilaian. 5) Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak. untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian. b) Teknik Penilaian Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif.

pengetahuan dan sikap seseorang. karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Dasar Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham 2.7-36 Penilaian Pembelajaran Contoh Penilaian Diri Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kognitif : 1 Semester Kelas : Nama Siswa : _________________ IX/1 Tanggapa n 1 0 No 1. Lagi pula. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Kompetensi / K. 2. interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. seperti . Domain Penilaian Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran. S. keterampilan. Dst Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya.

nama. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. definisi. daftar. Contoh kegiatan belajar: • mengemukakan arti • menamakan (memberi nama) • membuat daftar • menentukan lokasi • mendeskripsikan sesuatu • menceritakan apa yang terjadi .Penilaian Pembelajaran 7-37 domain kognitif. konsep. teori. a. Domain Kognitif TINGKATAN DOMAIN KOGNITIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Evaluasi Sintesis Analisis Penerapan Pemahaman Pengetahuan KEMAMPUAN BERPIKIR (KOGNITIF) Bloom Tingkat I. peristiwa. dan kesimpulan. tahun. afektif. rumus. Pengetahuan Deskripsi Arti : • Pengetahuan terhadap fakta. Berikut ini kan dipaparkan ketiga jabaran domain tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk penilaian yang tepat untuk mata pelajaran penjaskes.

dan antar-data. pesawat sederhana III. hubungan sebab-akibat. Aplikasi IV.7-38 Penilaian Pembelajaran II. Contoh kegiatan belajar: • mengidentifikasi faktor penyebab• merumuskan masalah • mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi • membuat grafik • mengkaji ulang Arti : • Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep • Meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: • membuat desain • mengarang komposisi lagu • menemukan solusi masalah • memprediksi • merancang model mobil-mobilan. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Pemahaman • menguraikan apa yang terjadi Arti : • Pengertian terhadap hubungan antar-faktor. membandingkan • mengintepretasi data • mendiskripsi dengan kata-kata sendiri • menjelaskan gagasan pokok • menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti : • Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah • Menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan belajar: • menghitung kebutuhan • melakukan percobaan • membuat peta • membuat model • merancang strategi Arti : • Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. dan penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: • mengungkapkan gagasan/pendapat dengan katakata sendiri • membedakan. Analisis V. antar konsep. Sintesis . penyelesaian.

Evaluasi • menciptakan produk baru Arti : • Mempertimbangkan dan menilai benarsalah. baik-buruk. Domain Afektif TINGKATAN DOMAIN AFEKTIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Karakterisasi Pengorganisasian Penilaian Pemberian respon Penerimaan KEMAMPUAN BERSIKAP/NILAI (AFEKTIF) Kratwohl. b. bermanfaat-tak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: • mempertahankan pendapat • beradu argumentasi • memilih solusi yang lebih baik • menyusun kriteria penilaian • menyarankan perubahan • menulis laporan • membahas suatu kasus • menyarankan strategi baru.dkk .Penilaian Pembelajaran 7-39 VI.

7-40 Penilaian Pembelajaran Tingkat I. Acuan nilai (Valuing) . puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: • mentaati aturan • mengerjakan tugas • mengungkapkan perasaan • menanggapi pendapat • meminta maaf atas kesalahan • mendamaikan orang yang bertengkar • menunjukkan empati • menulis puisi • melakukan renungan • melakukan introspeksi Arti : • Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai •Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti •Tingkatan: menerima. Responsi (Responding) III. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: • mengapresiasi seni • menghargai peran • menunjukkan keprihatinan • menunjukkan alasan perasaan jengkel • mengoleksi kaset lagu. ingin. lebih menyukai. atau barang antik • melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran II. Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : • Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli • Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar: • sering mendengarkan musik • senang membaca puisi • senang mengerjakan soal matematika • ingin menonton sesuatu • senang membaca cerita • senang menyanyikan lagu Arti : • Menunjukkan perhatian aktif • Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena • Setuju. novel.

dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu. tepat waktu. Karakterisasi (menjadi karakter) . diorganisasi secara konsisten.Konseptualisasi suatu nilai Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: • bertanggung jawab terhadap perilaku • menerima kelebihan dan kekurangan pribadi • membuat rancangan hidup masa depan • merefleksi pengalaman dalam hal tertentu • membahas cara melestarikan lingkungan hidup • merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan Arti : • Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter • Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu.Penilaian Pembelajaran 7-41 IV. • Menentukan saling hubungan antarnilai • Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana • Tingkatan : . berdisiplin diri • mandiri dalam bekerja secara independen • objektif dalam memecahkan masalah • mempertahankan pola hidup sehat • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan • menyarankan pemecahan masalah HAM • menilai kebiasaan konsumsi • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman V. Organisasi HAM • menjelaskan alasan senang membaca novel Arti: • Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam latu sistem. Contoh kegiatan belajar: • rajin.

Gerakan dasar (Basic fundamental movements) . juru parkir • meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin. Gerakan refleks Deskripsi Arti : • Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak • Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat. menggerakkan leher dan kepala. Domain Psikomotor TINGKATAN DOMAIN PSIKOMOTOR TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN NATURALISASI MERANGKAIKAN KETEPATAN MENGGUNAKAN MENIRU KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR) Tingkat I. menunduk.7-42 Penilaian Pembelajaran c. berjalan. Arti: • Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik • Gerakan ini terpola dan dapat ditebak II. memegang Contoh kegiatan belajar: • mengupas mangga dengan pisau • memotong dahan bunga • menampilkan ekspresi yang berbeda • meniru gerakan polisi lalu lintas. mengenggam.

membungkuk. dan perut • menari • melakukan senam • melakukan gerak pesenam. menarik. Gerakan terampil . Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities) V. meloncatloncat. pemain bola Arti : • Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak •Terampil. merentang. kaki. Gerakan persepsi (Perceptual abilities) Contoh kegiatan belajar: • Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. mendrible bola • melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan • memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang kurannya bervariasi • membaca • melihat terbangnya bola pingpong • melihat gerak pendulun • menggambar simbol geometri • menulis alfabet • mengulangi pola gerak tarian • memukul bola tenis. menarik-mendorong. tangkas. berjalan. maju perlahan-lahan. atau mainan • Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola. pemain biola. memegang dan melepas objek. pingpong • membedakan bunyi beragam alat musik • membedakan suara berbagai binatang • mengulangi ritme lagu yang pernah didengar • membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : • Gerak lebih efisien • Berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: • menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu • berlari jauh • mengangkat beban. menggambar dengan crayon. Arti: • Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: • menangkap bola. berlari. berputar • Contoh gerakan berpindah: merangkak. menggambar. berputar mengitari. kegiatan memperkuat lengan. memanjat • Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok. menggunting. memeluk. melakukan push-ups. mendorong.Penilaian Pembelajaran 7-43 III. meluncur. cekatan melalukan gerakan IV. blok.

7-44 Penilaian Pembelajaran (Skilled movements) yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar: • melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga • menari. afektif. seperti domain kognitif. dan penilaian diri. penilaian tertulis. penilaian sikap. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. melakukan senam tingkat tinggi. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. penggunaan portofolio. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. penilaian proyek. Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication) E. bermain drama (acting) • keterampilan olahraga tingkat tinggi VI. . berdansa • membuat kerajinan tangan • menggergaji • mengetik • bermain piano • memanah • skating • melakukan gerak akrobatik • melakukan koprol yang sulit Arti : • Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan • Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah • Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: • kerja seni yang bermutu (membuat patung. penilaian produk. yaitu penilaian unjuk kerja. Rangkuman Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. melukis. menari balet. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik di SMP/MTs.

Jelaskan teknik-teknik penilaian yang dapat digunakan untuk penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. coba anda diskusikan salah satu bentuk tes pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan materi kesegaran jasmani? Perhatikan pelaksanaan tes tersebut harus menghemat waktu! . Dari beberapa tes pengetahuan dan sikap. Sebutkan salah satu tes keterampilan berbicara yang dapat menghemat waktu pelaksanaannya? 3. Buatlah salah satu bentuk daftar cek yang berisikan skill-skill yang menurut anda layak dikuasai oleh siswa setelah taat kelas IX SMP/MTs? 4. Selain bentuk yang sudah diuraikan di atas. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.Penilaian Pembelajaran 7-45 F. cara mana yang menurut anda paling cocok buat anda sendiri? 5.

Contoh implementasi pemilihan teknik dan bentuk penilaian. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. A. . 2. Menentukan jenis teknik dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. B. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. Karena itu. Menerapkan jenis teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs.BAB III. Konsep memilih teknik dan bentuk penilaian 2. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut 1. 1. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. PEMILIIHAN TEKNIK PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP/MTS Pembahasan tentang pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTS sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. seperti konsep memilih teknik penilaian dan contoh implementasi pemilihan teknik penilaian. C. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut.

Dalam memilih teknik penilaian. pengetahuan. hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. Tulislah simpulan isi berita yang . Tuliskan objektif pokokpokok berita Nontes: yang tugas didengar harian dari rekaman guru! 2. keterampilan. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Contoh Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas/Semester : VII/1 : Memahami wacana lisan melalui kegiatan Standar Kompetensi mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1.1 Indikator Materi Pembelajaran Teks Berita •Pokokpokok berita •Simpulan isi berita Menyimp ul-kan isi berita yang dibacaka n dalam beberapa Mampu menyimpulkan kalimat isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen Esai. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Berikut diberikan contoh teknik penilaian yang mungkin dapat digunakan dalam menilai kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP?MTs. dan sikap seseorang.Penilaian Pembelajaran 7-47 D. Tes 1. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Lagi pula.

2 Menulisk an kembali berita yang dibacaka n ke dalam beberapa kalimat Teks Berita •Isi Berita Tes Nontes: tugas harian Esai. Tulislah Esai po-kokpokok cerita pengalaman yang paling mengesankan! Kinerja Nontes: 2. tugas Ceritakanla individual h pengalaman yang paling mengesank an dengan menggunak an pilihan Jenis Tagihan Tes Mampu menentukan pokok-pokok cerita Mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif .1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunaka n pilihan kata dan kalimat efektif Indikator Materi Pembelajaran Pengalaman yang mengesankan • Pokokpokok cerita • Cara bercerita Penilaian Bentuk Contoh Instrumen Instrumen 1.7-48 Penilaian Pembelajaran kamu dengarka n dari rekaman guru! 1. objketif Tuliskan kembali berita yang didengar dari rekaman guru ke dalam beberapa kalimat! Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Kelas/Semester : VII/1 Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman Kompetensi Dasar 2.

penilaian diri. E.2 Teks pengumuman Menyampai • Pokokkan pokok cerita pengumum • Cara an dengan Mampu menyampaik intonasi menyampaikan an yang tepat pengumuman pengumuma serta dengan n menggunak intonasi yang an kalimattepat serta kalimat yang lugas menggunakan kalimat yang dan sederhana lugas dan sederhana Mampu menuliskan pokok-pokok pegumuman. Tulislah pokokpokok pegumuman ! 2. dan sikap seseorang. Latihan Soal .Penilaian Pembelajaran 7-49 2. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran penjaskes di MA di antaranya unjuk kerja. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Rangkuman Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. pengetahuan. Tes Esai kata dan kalimat efektif! 1. keterampilan. Lagi pula. dan tes tertulis/lisan/kuis. observasi. Sampaikan pengumuma n dengan intonasi yang tepat serta menggunak an kalimat yang lugas dan sederhana! kinerja Nontes: tugas individual D.

gestur.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarka n 5. dan mimik yang tepat 6. Perhatikan kompetensi dasar berikut dan tentukan jenis penilaiannya! Kompetensi Dasar Indikator Materi Pembelajaran Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen 5. lafal.2 Bercerita dengan alat peraga 7.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang 6.1 Bercerita dengan urutan yang baik.7-50 Penilaian Pembelajaran Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. suara.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca . Jelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menilai Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7. intonasi.

1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.Penilaian Pembelajaran 7-51 8.2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar .

bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. a. B. DAN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pengumpulan. A. penskoran. Karena itu.7-52 Penilaian Pembelajaran BAB IV. Memaparkan cara penskoran informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP c. cara penskoran. seperti cara pengumpulan. PENGOLAHAN. dan cara pelapran informasi hasil belajar. dan cara pelapran informasi hasil belajar. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. PENGUMPULAN. Memaparkan cara pengumpulan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP b. cara penskoran. Memaparkan cara pelaporan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP . Standar Kompetensi Setelah mempelajari bagian ini peserta diklat PLPG diharapkan mampu mendeskripsikan dan menerapkan cara pengumpulan. dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah/madrasah.

1. Pelaporan informasi hasil belajar D. Berikut dipaparka beberapa cara pengumpulan informasi hasil belajar. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Cara Pengumpulan Informasi (Cara Penilaian) 1 2 3 4 5 6 7 Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk kerja Produk Portofolio Observai/pengamatan Jawaban tertulis Jawaban tertulis Tuturan/ucapan Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah laku Aspek yang Dinilai tersebut tergambarkan sebagai . berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut.Penilaian Pembelajaran 7-53 C. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. No. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. 8. Pengumpulan informasi hasil belajar Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketujuh materi pokok berikut. Pengumpulan informasi hasi belajar 9. Pengelolaan informasi hasil belajar 10. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

Dengan demikian.5. ada 8 aspek yang dinilai. menatap kepada hadirin. penyampaian gagasan jelas. maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Pengolahan Hasil Penilaian a. Misalnya. . Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 -100).7-54 Penilaian Pembelajaran 2.5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya. maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0. Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%. sistematis. antara lain: berdiri tegak. Apabila seseorang mendapat skor 6. Data Penilaian Sikap Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran.75 x 10 = 7. skor maksimumnya 8. dan sebagainya. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. b. dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato. Nilai 7. Data Penilaian Unjuk Kerja Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi.

Penilaian Pembelajaran 7-55 Seperti telah diutarakan sebelumnya. Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. guru mata pelajaran dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan. baik positif maupun negatif. jawaban singkat. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol. perilaku. . dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. berdasarkan catatancatatan tentang peserta didik yang dimilikinya. yang berkaitan dengan sikap. menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan. Yang dimaksud dengan kejadian-kejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian. Pada akhir semester. Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda. sebagai deskripsi dari sikap. baik berupa peringatan atau rekomendasi. Data Penilaian Tertulis Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik. Selain itu. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku. menjodohkan. guru mata pelajaran merumuskan sintesis. sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor. benar salah. c. perilaku. uraian. dan unjuk kerja peserta didik.

Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar.5.7-56 Penilaian Pembelajaran Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar. menjodohkan. dibagi skor maksimal. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu. uraian objektif dan uraian non-objektif. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar -----------------------------. Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif. bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu . Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar. misalnya 0 .X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah. dikali dengan 10. karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri. dan jawaban singkat. Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik.

Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. d. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10. dengan dua angka di belakang koma. dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban. . guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. Dalam menilai setiap tahap. dan penyajian data/laporan. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran. Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai.50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut. pengumpulan data. Berikut tabel yang memuat contoh deskripsi dan penskoran untuk masing-masing tahap. data yang diperoleh dengan masing-masing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot.Penilaian Pembelajaran 7-57 kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. Misalnya. Data Penilaian Proyek Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahaptahap: perencanaan/persiapan. Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. pengolahan data. Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. nilai 6.

4 1. yaitu mulai dari tahap persiapan. menuliskan alat dan bahan. Ketepatan menggunakan alat/bahan Ada pengklasifikasian data. dan tahap penilaian (appraisal). langkah-langkah kerja. Informasi tentang data penilaian produk diperoleh dengan menggunakan cara holistik atau cara analitik. memuat kesimpulan dan saran. Cara penilaian analitik. daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan. penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian. dan tahap penilaian. Penyajian data lengkap. menguraikan cara kerja (langkah-langkah kegiatan) Penulisan laporan sistematis. waktu. tahap pembuatan. Data tercatat dengan rapi. yaitu tahap persiapan.4 Keterangan: Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh. jelas dan lengkap. Merumuskan topik. Total Skor Skor 1. tempat penelitian. tujuan. perkiraan data yang akan diperoleh.7-58 Penilaian Pembelajaran Tahap Perencanaan/ persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data/ laporan Deskripsi Memuat: topik. Dengan cara holistik. e. bahan/alat. . Data Penilaian Produk Data penilaian produk diperoleh dari tiga tahap.4 1. menggunakan bahasa yang komunikatif. guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan. merumuskan tujuan penelitian. jadwal. tahap pembuatan (produk).4 1.

(2) hasil pekerjaan peserta didik. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio. (3) perkembangan dokumen. • Produk memenuhi kriteria keindahan. Skor 1-10 Pembuatan Produk 1-10 Penilaian produk 1-10 Kriteria penskoran: • menggunakan skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi . • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik. Data penilaian Portofolio Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. menentukan alat dan bahan • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan. dan (3) profil perkembangan peserta didik. • Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan/fungsinya.Penilaian Pembelajaran 7-59 Contoh tabel penilaian analitik dan penskorannya Tahap Persiapan Deskripsi Kemampuan merencanakan seperti: • menggali dan mengembangkan gagasan. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. (5) presentasi dan (6) penampilan. (4) ringkasan setiap dokumen. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat. f. (2) dokumentasi/data dalam folder. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru. • semakin baik kemampuan yang ditampilkan. semakin tinggi skor yang diperoleh. • mendesain produk.

hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan. dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. karena dua alasan utama.7-60 Penilaian Pembelajaran peserta didik pada selang waktu tertentu. Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja.100. sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing. sangat terbuka kemungkinan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. dikali dengan 10 atau 100. Pertama. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 – 100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai. Pada taraf awal. atau penguasaan kompetensi tertentu. karena terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai . karena peserta didik belum terbiasa dan terlatih. kecakapan. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut. guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 – 10 atau 0 . Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. Kedua. Data Penilaian Diri Data penilaian diri adalah data yang diperoleh dari hasil penilaian tentang kemampuan. ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam melakukan penilaian. g.

Kriteria ideal untuk masingmasing indikator lebih besar dari 60%. diinterpresikan. dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru.Penilaian Pembelajaran 7-61 yang baik. dikoreksi. Interpretasi Hasil Penilaian dalam Menetapkan Ketuntasan Belajar Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu ke indikator. Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas. Namun sekolah dapat .d. pada taraf awal. guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali. Apabila hasil koreksi ulang yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi. dengan menunjukkan catatan tentang kelemahan-kelemahan yang telah mereka lakukan dalam koreksian pertama. dan jujur. 20% untuk ditelaah. para peserta didik menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipercaya serta dapat dipahami. 3. guru perlu melakukan langkah-langkah telaahan terhadap hasil penilaian diri peserta didik. objektif. Apabila peserta didik telah terlatih dalam melakukan penilaian diri secara guru. Oleh karena itu. dan dilakukan penilaian ulang. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung. Dua atau tiga kali guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini. Guru perlu mengambil sampel antara 10% s.

Apabila semua indikator telah tuntas. apakah 50%. Sebaliknya. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar secara berkala. Namun. Melalui pemeringkatan ini diharapkan sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya. Dengan demikian.7-62 Penilaian Pembelajaran menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas lebih dari 50%. dapat dikatakan peserta didik itu belum menuntaskan indikator itu. peserta didik dapat mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas. dalam hal ini meningkatkan kriteria pencapaian indikator semakin mendekati 100%. 60% atau 70%. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas sama atau lebih dari 50%. peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya. Hasil penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. apabila nilai indikator dari suatu KD lebih kecil dari kriteria ketuntasan. . Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. misalnya melalui ujian nasional.

= 67. .Penilaian Pembelajaran 7-63 Contoh penghitungan nilai kompetensi dasar dan ketuntasan belajar pada suatu mata pelajaran.5 2 Pada kompetensi dasar di atas. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum.1 Kriteria Ketuntasa n 75% Nilai peserta didik 60 Ketuntasa n Tidak Tuntas 70% 75 Tuntas Indikator Mampu Menceri menentukan pokokpokok cerita takan pengalam Mampu an yang menceritakan paling pengalaman yang mengesa paling nkan mengesankan dengan menggun dengan menggunakan akan pilihan kata dan pilihan kalimat efektif kata dan kalimat efektif Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa nilai indikator pada kompetensi dasar di atas bervariasi.1 belum tuntas. Jadi. Jadi. indikator ke. Kompetensi Dasar 2. Rangkuman Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. peserta didik perlu mengikuti remedial untuk indikator tersebut. E. Nilai rata-rata indikator 2: 60 + 75 --------. nilai kompetensi dasar di atas 60 dan 75.

Dengan demikian. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. Jelaskan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia peserta didik di SMP? 2. unjuk kerja. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. apakah 50%.7-64 Penilaian Pembelajaran Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. porfolio. . Pengolahan data hasil penilaian disesuaikan dengan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar. Apabila semua indikator telah tuntas. produk. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. 60% atau 70%. lisan. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Interpretasi hasil penilaian adalah proses mencocokkan hasil penilaian dengan Kriteria Ketuntasan Minimal. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. Hasil engolahan data ini selanjutnya dilakukan interpretasi. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. Namun. Jelaskan bagaimana cara pengolahan data cara-cara penilaian berikut ini. Kriteria ideal untuk tiap-taip indikator lebih besar dari 60%. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. F. Cara itu antara lain tertulis. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. dan observasi.

Jelaskan bagaimana seorang anak dikatakan telah menuntaskan hasil belajar KD! . d. b.Jelaskan apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan KKM! 4. e. observas.Penilaian Pembelajaran 7-65 a. penilaian diri 3. c. porfolio. lisan. g. produk. unjuk kerja. f. tertulis. dan .

1) Memaparkan cara pemanfaatan penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP 2) Memaparkan cara membuat pelaporan hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP C. B. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu memaparkan cara pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. . Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. seperti pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. modul ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. A. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pemanfaatan dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. Karena itu. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut.BAB V.

(2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. Pemanfaatan Hasil Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal.Penilaian Pembelajaran 7-67 D. 1. Misalnya. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran. atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. guru kelas. dan (5) penentuan kenaikan kelas. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. a) Bagi peserta didik yang memerlukan remedial Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi. 1. bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. (4) pelaporan. Pemanfaatan hasil penilaian di antaranya sebagai berikut. Pelaporan hasil belajar Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Pemanfaatan penilaian 2. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi .

Misalnya. atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran. kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan. dan bahan yang telah . dapat diberikan program akselerasi. dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. dan memperbaiki program pembelajarannya. Oleh karena itu. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai npeserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas. strategi pembelajaran yang telah disiapkan. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif. b) Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya. guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum.7-68 Penilaian Pembelajaran kesempatan untuk belajar sendiri. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru. Salah satu kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan. membuat rangkuman pelajaran. latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. c) Bagi Guru Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. program yang telah dirancang. atau mengerjakan tugas mengumpulkan data.

Laporan sebagai Akuntabilitas Publik Kurikulum berbasis kompetensi dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. direvisi. tetapi juga di bidang akademik. d) Bagi Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan Kepala sekolah untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa. Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat. masyarakat. . komite sekolah. dan akurat.Penilaian Pembelajaran 7-69 disiapkan perlu dievaluasi. Pelaporan Hasil Penilain Kelas a. laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. 2. orang tua. karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat. komprehensif. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester. dan instansi terkait lainnya. di mana peran-serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja. Atas dasar itu. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. transparansi dan akuntabilitas publik. Pelaporan hasil belajar hendaknya: • Merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik • Memberikan informasi yang jelas.

Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik. ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan. Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami).7-70 Penilaian Pembelajaran • Menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar b. misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika. atau hal lain. Dipihak anak. c. fisik. statistika. Isi Laporan Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: • • • • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik. Namun. sosial dan emosional? Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? . sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya. geometri. Bentuk Laporan Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. makna nilai tunggal seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti apakah anaknya perlu dibantu dalam bidang aritmatika. aljabar. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor).

dalam kurun waktu 1 semester. sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak. tes sumatif. nilai tugas perseorangan maupun kelompok. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik. Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya. Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian.Penilaian Pembelajaran 7-71 Untuk menjawab pertanyaan tersebut. . Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik. yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD. Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif. d. • • • • • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

N K K K . Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK.. Rapor Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. KD dan Indikator semester bersangkutan. N Kd 1 d d R d d d R d d d R 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2 Toto * NR = nilai rata-rata KD untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada rapor e... Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik. Rangkuman Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) ...7-72 Penilaian Pembelajaran CONTOH FORMAT REKAP NILAI MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris KELAS/SEMESTER : TAHUN PELAJARAN : Mendengarkan NA NO MA 1 Riri Berbicara Membaca Menulis Kd 2 Kd 3 . berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.. E.. masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya. Untuk model rapor.. karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). Laporan prestasi mata pelajaran. (Contoh model rapor beserta petunjuk pengisiannya lihat lampiran ). N K K K . N R Kd K K .

komite sekolah. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. dan instansi terkait lainnya. dan (5) penentuan kenaikan kelas. Jelaskan apa yang dimaksud laparan sebagai akuntabilitas publik! 3. Bagaimana cara menantukan nilai rapor penjaskes di MA! . dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. Jelaskan apa saja isi laporan hasil belajar penjaskes di MA! 5.Penilaian Pembelajaran 7-73 bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Jelaskan pemanfaatan hasil penilaian penjaskes peserta didik di MA? 2. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. (4) pelaporan. Jelaskan bentuk laporan yang idela untuk penjaskes di MA! 4. masyarakat. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. F. orang tua.

keterampilan. Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan. dsb. untuk menunjukkan bahwa peserta didik itu kompetensi dasar tertentu. tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya. tugas kelompok. dsb. tanda-tanda. kemmapuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik dari standar kompetensi. tidak berhenti pada suatu saat. Jenis tagihan: golongan tagihaan menurut klasifikasi menjadi kuis. penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Bentuk tes:olongan tes menurut penggolongan menjadi tes pilihan ganda. dan perilaku. Indikator : karakteristik. yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan sehingga mengandung unsur subjektivitas.7-74 Penilaian Pembelajaran Lampiran: GLOSARIUM Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap Analisis : kajian terhadap suatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Keandalan tes: kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg atau konsisten. kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program. . lisan di kelas/ulangan harian. atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. telah memiliki pertanyaan. penafsiran hasil pengukuran. perbuatan. Asesmen : penilaian. tugas individu. Kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. Berkesinambungan: berkelanjutan. ciri-ciri. Evaluasi : kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program. tes uraian.

. laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan. perkembangan peserta didik itu dalam kemampuan berpikir. Ujian : proses kualifikasi kemampuan peserta didik pada ranah kognitif dan psikomotor. Standar kompetensi: kemammpuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran. baik lisan maupun tertulis. Penilaian :proses menetapkan nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen atau pengukuran. Validitas: kemampuan alat ukur yang mempengaruhi fungsinya sebagai alat ukur. Tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur. : pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik. kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran. pemahaman pesert didik itu atas materi pelajaran. Nilai yang diberikan itu diharapkan dapat mencerminkan kemajuan belajar anak Portofolio: kumpulan hasil karya seorang peserta didik. kemampuan peserta didik itu dalam mengungkapkan gagasan. dan mengungkapkan sikap peserta didik itu terhadap mata pelajaran tertentu. sejumlah hasil karya seorang peserta didik. Reliabilitas: kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. Pengujian Pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu.Penilaian Pembelajaran 7-75 Kuis : ulangan singkat atau ujian singkat.

.

Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Direktorat Menengah Umum. Jakarta: Direktorat TK-SD. dan MI. Nurgiyantoro. Jakarta: BSNP-Direktorat Pembinaan SMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU): Pedoman Umum. SLB Tingkat Dasar. Depdiknas. Burhan. Puskur. 2002. 2002. Standar Isi. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menegah Umum. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama: Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. 2007.Penilaian Pembelajaran 7-1 DAFTAR PUSTAKA BSNP. 2004. SDLB. . 2002. Direktorat TK-SD. 2001. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas. Yogyakarta: BPFE. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD.

Berikut ini merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.7-2 Penilaian Pembelajaran A. mengatahui kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu c. observasi c. tes kecermatan berbahasa b. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP di antaranya sebagai berikut. mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung b. penilaian diri d.. tes sikap 7. C atau D! 1. untuk mengukur prestasi hasil belajar bisa satu alat penilaian d. mengetahui keberadaan siswa d. Tes Mandiri Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf A. produk 5. kecuali … a. kecuali . a. Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebagai berikut a. B. bagian dari proses pembelajaran d. tes pengetahuan d. Guru dalam melakukan penilaian pembelajaran di kelas. tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap b. mengetes sendiri dan dengan partner b. menggunakan orang lain 4. a. Ada beberpa alternatif alternatif yang dapat digunakan guru untuk menghemat waktu dan lebih bermanfaat bagi para siswa dalam melakukan penilaian di antaranya sebagai berikut kecuali . mengetahui keberhasilan guru 6. unjuk kerja b.. tes keterampilan berbahasa c. ada alat penilaian yang secara lengkap mengumpulkan prestasi hasil belajar c. melibatkan orang lain c.. alat penilaian semuanya baik . terutama digunakan untuk ….. a.

Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri..Penilaian Pembelajaran 7-3 6. penghargaan guru dan siswa . unjuk kerja b. observasi c. observasi c. produk 9. toleransi. etika. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . kebesamaan. unjuk kerja b.. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat penilaian .. pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan c. a. saling menghormati. penilaian diri d. kebesamaan. Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan sebagai berikut kecuali … a. penilaian diri d. etika. toleransi. Untuk mengukur KD Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri. perbaikan program dan proses pembelajaran d... a. etika. a. a. produk 7.. penilaian diri d. observasi c. penilaian diri d. produk 10. saling menghormati. etika. kebesamaan. kebesamaan. saling menghormati. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri. Observasi c. unjuk kerja b. produk 8. saling menghormati... dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan b. toleransi.. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat permainan . unjuk kerja b... toleransi. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri.

Karena itu. (Jumlah jawaban yang benar x 2) Hasil belajar = --------------------------------------------. koresilah! Hitunglah jawaban Anda yang benar. Anda telah mencapai kompetensi baik dan diharapkan dapat mengevaluasi hasil belajar penjas di MITs dengan baik. semoga upaya Anda mendapat rahmat dan ridho-Nya. bila hasil belajar yang Anda peroleh ternyata di bawah 80%. siswa mampu. kemudian tentukan hasil belajar Anda dengan rumus berikut. sebaiknya Anda pelajari kembali bagian-bagian yang belum Anda kuasai dan mantapkanlah untuk mencapai skor kemmapuan di atas 80%. TINDAK LANJUT Setelah Anda menyelesaikan soal-soal tes mandiri. atau konsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang kompeten. umat kokoh. Kemmapuan Anda perlu diperkaya dengan melakukan diskusi antarsesama teman sejawat. Ini berarti kesuksesan Anda tertunda! C.79% = cukup < 70% = kurang Apabila hasil belajar Anda mencapai 80% atau lebih. tukarkanlah dengan teman Anda! Setelha itu. Selamat sukses! Pembelajaran berhasil. negara maju. KATA PENUTUP Alhamdulilah Anda telah mempelajari modul ini. Selamat sukses.89% = baik 70% .100% = baik sekali 80% .7-4 Penilaian Pembelajaran B. membaca literatur lain.x 100% 20 Hasil belajar = 90% . . layak Anda mendapat ucapan selamat untuk sukses! Sebaliknya.

D . B 10. D 4. A 2. B 8. D 6. B 9.Penilaian Pembelajaran 7-5 KUNCI TES MANDIRI 1. A 3. B 7. D 5.

BUKU AJAR MEDIA PEMBELAJARAN .

Itulah sebabnya dalam perencanaan pembelajaran ketiga istilah itu sering disatukan. Hal ini dilakukan karena konsep dasar materi dan media dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar materi dan media pada umumnya itu. Hal ini dapat dilihat pada ulasan berikut. Menghubungkan antara materi. Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Bahkan. media. tampak juga bahwa ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan. dan sumber pembelajaran. Hakikat Media Pembelajaran Dalam pembahasan tentang pengertian istilah.Media Pembelajaran 8-1 BAB I. yaitu sumber bahan. Kedua. Anda pertamatama diajak untuk memahami pengertian materi dan media pembelajaran pada umumnya. . Kompetensi Dasar Menguasai konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Standar Kompetensi Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. ada satu lagi istilah yang erat kaitannya dengan materi dan media ini. tetapi pada saat yang lain konsep dasar kedua istilah itu tidak dapat dipisahkan. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. D. Pada saat tertentu konsep dasar kedua istilah itu dapat dipisahkan. Kalau Anda mengamati dalam GBPP kurikulum berbasis kompetensi tentang materi pokok. dalam bahan pelatihan ini Anda diajak untuk membahas materi dan media secara bersamaan karena memang konsep dasar di antara keduanya tidak selalu dapat dipisahkan. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN A.

misalnya. dan sumber juga dapat dilihat pada pengertian dan klasifikasi media pembelajaran berikut itu. Untuk kompetensi dasar siswa mampu menjelaskan anatomi tumbuhan paku. Sementara itu. materi pokoknya adalah anatomi tumbuhan paku. misalnya. sumber materinya adalah buku paket atau buku-buku lain yang berisi ulasan tentang tumbuhan paku dan medianya adalah contoh tumbuhan paku atau gambar tumbuhan paku.8-2 Media Pembelajaran Dalam kompetensi dasar membaca memindai ensiklopedi/buku telepon. Tidak dapat dipisahkannya antara materi. Dalam Dictionary of Education dikemukakan bahwa instructional media is devices and other materials which present a . media. Pertanyaannya sekarang adalah ensiklopedi dan buku telepon itu materi. misalnya. Bukankah buku ilmu pengetahuan populer itu merupakan sumber bahan/materi? Bukankah materinya adalah teks yang ada dalam buku ilmu pengetahuan populer itu? Bukankah medianya berupa tabel yang kita buat untuk menuliskan ciri pembeda antara buku ilmiah populer dan buku ilmiah atau buku populer yang lain? Hal ini ternyata berbeda dengan. materi pokoknya adalah ensiklopedi dan buku telepon. media. mata pelajaran Biologi. ataukah sumber? Bukankah materi dalam pembelajaran itu adalah teks yang ada dalam ensiklopedi dan buku telepon itu? Bukankah medianya berupa OHP yang digunakan untuk memperbesar teks dalam rangka memberi contoh model membaca memindai atau tabel yang berisi kata dan istilah yang harus dicari dengan membaca memindai itu beserta isian kunci penemuannya? Bukankah media dalam pembelajaran itu berupa “hadiah” yang akan diberikan kepada siswa atau kelompok siswa yang dapat menemukan kata atau istilah yang dicari terlebih dahulu? Bukankah ensiklopedi dan buku telepon itu merupakan sumber materi? Contoh lain dapat Anda lihat dalam kompetensi dasar membaca pemahaman dan mengevaluasi buku yang berisi ilmu pengetahuan populer dengan materi pokok buku ilmu pengetahuan populer.

studio. kamera. Sementara itu. majalah. Ketiga. video player.Media Pembelajaran 8-3 complete body of information and are largely self-suporting rather than supplementary in the teaching-learning process. laboratorium elektronik. Fasilitas belajar mencakup gedung. sarana pendidikan untuk belajar (educational media for learning). dari mana materi pembelajaran itu Anda dapatkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori sumber bahan atau sumber materi. laboratorium. perpustakaan. Media pembelajaran adalah alat atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat menunjang proses belajar mengajar. radio. Untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya dapat Anda ikuti uraian berikut ini. dan lain-lain. kartun. Kedua. globe. dengan alat bantu apa Anda mengajarkan materi itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori media pembelajaran. Sarana pendidikan untuk belajar mencakup buku teks. Brown. dan fasilitas belajar (facilities for learning). kelas. boneka. program radio. Sarana belajar mencakup tape recorder. . Meskipun dari pengertian dan klasifikasi di atas tampak bahwa pengertian materi. poster. ensiklopedi. gambar dan lukisan. tetapi rambu-rambu pertanyaan berikut kiranya dapat digunakan untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya. dan lain-lain. peta. tempat bermain. kliping. buku penunjang. papan tulis. dan sumber bahan sulit dipisahkan. media. OHP. surat kabar. televisi. telepon. Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. papan panel. dkk. dan lain-lain. (1977) membuat klasifikasi media pembelajaran yang sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning). Pertama. program TV. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori materi pembelajaran. ruang diskusi.

dan lain-lain. dari majalah Intisari. dari mana teks berita tersebut Anda peroleh? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dari radio atau dari TV. dan tabel isian tersebut dapat Anda kategorikan sebagai media pembelajaran. Pertama. Dalam hal ini. Kedua. Dengan demikian. stop watch. Dengan demikian. Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar mendengarkan dan memahami berita dari radio/televisi. Kedua. majalah Intisari. apa yang Anda ajarkan? Jawabannya adalah teks bacaan.8-4 Media Pembelajaran Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar membaca cepat 250 kata per menit. buku paket. Berdasar uraian di atas. Dengan demikian. surat kabar Kompas. teks bacaan dalam pembelajaran Anda ini adalah materi pembelajaran. Pada contoh ini. 2004:2). menurut Bovee (Ena. dari buku paket. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah teks berita. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah arloji atau stop watch dan tabel isian yang berisi nama siswa. dan lama waktu membaca. Berdasarkan . radio dan TV merupakan sumber bahan atau sumber materi. tape recorder merupakan media pembelajaran. Dengan demikian. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah dengan tape recorder karena teks berita itu Anda bawa ke kelas dalam bentuk rekaman dan akan Anda perdengarkan kepada siswa dengan tape recorder. Pertama. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. media adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan. teks berita dalam pembelajaran Anda ini dapat Anda kategorikan sebagai materi pembelajaran. arloji. jumlah kata. dari mana teks bacaan tersebut Anda peroleh? Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah dari surat kabar Kompas. dan lain-lain merupakan sumber bahan atau sumber materi.

slide (gambar bingkai). Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. film. kaset. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. tape recorder. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. foto. . video recorder. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain: buku. video.Media Pembelajaran 8-5 pengertian tersebut maka media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses pembelajaran. grafik. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. gambar. kamera. televisi dan komputer.

Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Media pembelajaran pada dasarnya merupakan semua alat bantu yang dimanfaatkan guru dalam rangka mempermudah pembelajaran. Kompetensi Dasar Menguasai kriteria pemilihan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. wacana “model”. dan lain-lain yang dapat Anda gunakan untuk mengajarkan wacana dalam rangka melatih. sedangkan kaset rekaman dan tape recorder merupakan media pembelajaran. diagram. melatih. Apabila Anda akan mengadakan pembelajaran agar siswa Anda mempunyai kompetensi dalam menyimak wacana tertentu. . Wacana dalam kaset rekaman itu merupakan materi pembelajaran.8-6 Media Pembelajaran BAB II. Indikator Pencapaian Kompetensi menjelaskan Indonesia kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra D. dan melatih siswa dalam menggunakan bahasa. Media dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat pula berupa gambar-gambar. media pembelajaran Anda dapat berupa kaset rekaman tentang wacana itu dan tape recorder. Standar Kompetensi Memahami kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. KRITERIA MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA A. Dengan berbagai latihan itu. diharapkan siswa memiliki kompetensi tertentu dalam berbahasa dan bersastra dengan berbagai variasinya.

Di samping itu. misalnya bentuk bunga. benda-benda.Media Pembelajaran 8-7 Dalam pembelajaran bahasa dan sastra. misalnya. kedua siswa Anda ajak mengamati bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. binatang. Namun. warna bunga. ukuran daun. bentuk batang. berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. media pembelajaran Anda dapat pula berupa objek yang menjadi pijakan pembelajaran. ukuran bunga. bentuk daun. ketika Anda akan membelajarkan wacana tulis agar siswa Anda memiliki kompetensi dasar mampu mengarang. dan seterusnya. Apabila Anda ingin melatih siswa untuk membuat karangan tentang bunga mawar. Hasil pengamatan itulah yang dituangkan siswa dalam karangannya nanti. lalu siswa disuruh membuat karangan seperti model dengan objek yang berupa bunga mawar. ukuran batang. proses pembelajarannya dapat Anda lakukan. pertama-tama siswa Anda ajak untuk mambaca “wacana model”. warna daun. warna batang. . Misalnya. media pembelajaran Anda dapat berupa tumbuhan. media yang Anda gunakan dapat berupa tumbuhan bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. Berkaitan dengan media pembelajaran itu. sebelum dituangkan dalam karangan siswa. atau benda-benda itu. Media yang berupa diagram dan atau tabel kosong di atas digunakan untuk membantu siswa dalam menuliskan hasil pengamatan terhadap bungan mawar. hasil pengamatan itu dituangkan dulu dalam tabel atau diagram agar siswa mudah memahaminya dan mudah menuangkannya dalam karangan. misalnya. binatang. dan atau gambar-gambar tentang bunga. Oleh karena itu. media lain yang dapat Anda gunakan dapat juga berupa diagram atau tabel kosong yang harus diisi siswa setelah mengamati tumbuhan dan atau gambar bunga mawar itu.

(2) Fungsional Salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. tetapi benar-benar merangsang siswa untuk berlatih. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalistis. (a) Untuk menghindari kesalahpahaman antara pengajar dan siswa. Misalnya. dan menulis dengan berbagai variasinya. dan lain-lain) dan untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. Dengan media itu. ketidaksiapan siswa. Media pembelajaran yang Anda gunakan bukan sekadar sebagai pelengkap proses pembelajaran. Fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut ini. dan berlatih berbahasa dan bersastra. sikap. Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar memiliki fungsi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan benar-benar berfungsi untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. membaca. bila tujuan pembelajaran itu agar siswa dapat melafalkan ucapan kata-kata. berlatih. kurangnya minat dan gairah siswa. . (b) Media sebagai penyaji stimulus (informasi. Di dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif dan efefisien. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah komunikasi. tape recorder). sedangkan lainnya merupakan kelengkapannya dari kelengkapan dari kriteria itu.8-8 Media Pembelajaran (1) Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran (sesuai dengan indikator). baik dalam sastra maupun non-sastra sesuai dengan fokus pembelajaran saat itu. dsb. siswa Anda berlatih menyimak. berbicara. Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling utama. maka media yang tepat adalah media audio (radio.

Artinya. Misalnya. Yang perlu Anda perhatikan adalah hakikat kompetensi berbahasa yang harus dimiliki siswa. beserta perangkat pendukungnya (misalnya listrik) tidak tersedia. kalau wacana yang berupa teks bacaan itu . Tetapi. (3) Tersedia Pertimbangan lain dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah ketersediaan media itu. kaset rekaman berita. Misalnya. (d) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar konkret. pada saat Anda perlukan dalam pembelajaran. Dengan demikian. dan realitas. menyimak adalah kegiatan berbahasa lisan. Anda dapat saja menggunakan wacana yang berupa teks bacaan. berarti bahwa Anda sudah melatih siswa untuk menyimak. ketika Anda akan melatih siswa agar siswa Anda memiliki kompetensi dalam menyimak berita dan Anda memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yang berupa kaset rekaman berita dan tape recorder.Media Pembelajaran 8-9 (c) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa karena pengalaman mereka berbeda-beda.semuanya sudah tersedia. apabila siswa Anda minta untuk menyimak wacana yang Anda bacakan. media itu sudah tersedia atau sudah siap pakai. Apabila hal di atas terjadi. Seandainya materi dan media itu tidak tersedia. tape recorder. kaset rekaman berita dan tape recorder itu dapat Anda upayakan sehingga pada saat Anda memerlukan media itu. maka kaset rekaman dan tape recorder itu bukan media pembelajaran yang tepat Anda gunakan saat itu. Bentuk pembelajarannya dapat berupa Anda bacakan teks itu dan siswa diminta untuk menyimaknya. dan kaset rekaman berita dan tape recorder itu benar-benar tersedia. Jika ternyata di sekolah Anda. Anda perlu memikirkan media pembelajaran lain yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran menyimak berita. Misalnya. (e) Media dapat membangkitkan motivasi dan minat baru.

Hal ini dapat dipahami karena membicarakan tentang apa pun melibatkan kemahiran berbahasa dalam proses komunikasi. Misalnya. Di sekolah Anda terdapat taman atau pohon besar dengan berbagai jenisnya. Anda tidak perlu memikirkan media pembelajaran yang mahal yang memang tidak . ada surat pembaca. Hanya saja. Oleh karena itu. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di lingkungan siswa. Anda dapat meminjam alat peraga mata pelajaran yang lain. dan di lingkungan Anda dapat Anda gunakan untuk media pembelajaran bahasa dan sastra. (4) Murah Media pembelajaran yang Anda gunakan untuk melatih siswa berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal. di lingkungan sekolah. Koran yang Anda beli itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. ada iklan. pada saat tertentu Anda membeli surat kabar.8-10 Media Pembelajaran Anda berikan kepada siswa. pembelajaran menyimak secara langsung seperti ini tentu juga memiliki kelemahan. misalnya IPA. dan (4) pada saat membacakan wacana. Bahkan. proses pembelajaran itu bergeser menjadi melatih siswa untuk membaca. guru kurang dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. kelebihannya adalah Anda memperoleh kepastian bahwa pembelajaran menyimak dengan cara ini dapat Anda lakukan karena sangat mudah dilaksanakan. (2) penerapan unsur suprasegmental dalam pembacaan itu belum tentu tepat. Sementara itu. Dalam surat kabar itu ada berita. (3) memungkinkan terjadinya gangguan aspek non-linguistik lain pada saat guru membacakan wacana itu. untuk Anda gunakan sebagai media pembelajaran bahasa. Taman dan berbagai pohon besar di sekolah Anda itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. Di antara kelemahan itu adalah (1) kualitas suara guru yang membacakan wacana itu belum tentu ideal. dan lain-lain.

dan lain-lain dapat pula Anda manfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra. slogan di sekolah. (4) menantang. (7) Keadaan siswa Sebuah program media tidak mungkin cocok untuk tujuan tertentu. . (3) baru. Akan tetapi. (2) kesesuaian media pembelajaran itu dengan dunia siswa. (6) Ketepatgunaan Jika materi yang dipelajari adalah bagian-bagian yang terpenting dari suatu benda. Artinya.Media Pembelajaran 8-11 dapat Anda dapatkan di sekolah Anda. (5) Menarik Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah tingkat kemenarikan. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa yang akan menggunakan media tersebut. media pembelajaran yang Anda gunakan dalam pembelajaran Anda adalah media yang menarik bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran Anda secara lebih inten. setidaknya Anda perlu mempertimbangkan (1) kesesuaian media itu dengan kebutuhan siswa. besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi penggunaan media. Sedangkan jika yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak. bungkus roti. jika tingkat kerumitan serta kosakata yang digunakan lebih tinggi di atas kemampuan siswa maka media tersebut tidak dapat dipilih. maka gambar mati seperti bagan chart atau slide dapat digunakan. maka media film atau video lebih tepat. bungkus makanan. dan (5) variatif. Untuk dapat memilih dan menentukan media pembelajaran yang menarik. Bungkus obat.

8-12 Media Pembelajaran (8) Mutu Teknis Seandainya ada media yang cocok untuk tujuan pembelajaran tetapi ternyata tidak lengkap atau terputus-putus. . maka media itu tidak dapat digunakan karena mutu teknisnya tidak memenuhi syarat.

foto. televisi dan komputer. film. slide (gambar bingkai). PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. kaset. Indikator Pencapaian Kompetensi Memilih dan mengembangkan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. Kompetensi Dasar Menjelaskan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru.Media Pembelajaran 8-13 BAB III. Standar Kompetensi Menerapkan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. gambar. vidio recorder. camera. grafik. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain buku. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. . video. tape recorder. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran.

Kartun dan Komik. (2) kesatuan. Pembuatan Media Grafis dalam Pembelajaran Bahasa Media grafis sering disebut media visual dasar. Flip Chart. media visual (pandang). tulisan cukup tebal dan mudah dibaca. Dalam program ini hanya diberikan satu ilustrasi pembuatan media grafik yaitu flip chart. dan media berprograma. dan (4) keseimbangan. sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting. Oleh karena itu.8-14 Media Pembelajaran Menurut jenisnya. Papan Buletin. Media-media menyampaikan itu sangat membantu tugas kepada pengajar siswa. media terdiri atas media audio (dengar). Kesederhanaan Bahan untuk media grafis harus ringkas. media grafis. 1. Grafik. (3) penekanan. A. tidak semua media yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran tersedia. seorang pengajar harus bisa merencanakan dan membuat media sendiri. jelas dan mudah dipahami. media proyeksi. harus diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: (1) kesederhanaan. media audio-visual (pandang-dengar). Dalam mendesain media grafis. media transparansi. dalam Namun materi pembelajaran kendalanya. . Poster. meliputi Papan Flanel. karena flip chart paling mudah pembuatannya dan paling sering digunakan dalam proses belajar mengajar. Ada dua jenis media yang sederhana tetapi sangat efektif penggunaannya yaitu media grafis dan media transparansi.

Jalinan antarbagian ini dapat dinyatakan dengan batas yang bertumpangan. Desain keseimbangan formal apabila ada suatu poros yang membagi visual secara simetris. diperlukan penekanan pada bagian tertentu untuk dijadikan pusat perhatian. Keseimbangan . garis. dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah. yaitu formal dan informal.Media Pembelajaran 8-15 2. Penekanan itu dapat dilakukan dalam berbagai cara. memperjelas. 3. misalnya dengan cara memperbesar. memberi warna atau ruang pada bagian tertentu. Penekanan Dalam media grafis. bentuk. tekstur dan ruangan. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah jalinan yang harmonis antara bagian-bagian visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan. warna. 4.

warna merupakan unsur . warna. Garis Dalam media grafis sebuah garis dapat menghubungkan unsurunsur dan membimbing yang melihatnya kepada suatu unsur tertentu. Desain keseimbangan informal adalah yang tidak simetris. Bentuk Suatu bentuk yang aneh akan membangkitkan perhatian khusus kepada yang divisualisasikan.8-16 Media Pembelajaran formal memberikan kesan statis. b. dan ruang. Hal ini dapat memberi kesan dinamis dan biasanya mempunyai daya tarik yang kuat. Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah garis. tekstur. a. Hal ini sering digunakan dalam mendesain caption dan judul. Warna Untuk kebanyakan visual. c.

Tekstur Tekstur adalah visual yang dapat bertindak sebagai pengganti perasaan yang menyentuh dan dalam banyak hal dapat digunakan sebagai pengganti warna. Pergunakan dua atau tiga warna saja untuk suatu visual. pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan. e.Media Pembelajaran 8-17 tambahan yang penting. Hal ini harus digunakan hati-hati sekali. Ruang Ruang terbuka di sekeliling unsur visual dan akan mencegah perasaan terlalu berdesakan tatalah ruang yang digunakan dengan cermat agar . untuk memberikan penekanan. Usahakan batas warna dengan jelas. Usahakan agar warna tidak terlalu banyak dan berbaur satu dengan yang lain. d.

• Jangka. cat plakat. • Pensil. ikutilah ilustrasi berikut ini. Selanjutnya bagaimana teknik atau cara pembuatan flip chart yang mempertimbangkan prinsip-prinsip media grafis. cellotape. standard. B. Pembuatan Flip Chart Flip chart biasanya berupa gambar di atas sehelai kertas yang tidak mudah sobek. tempat cat. letter press. Sebuah flip chart dengan ukuran 60 X 80 cm biasanya cukup efektif untuk dipakai di depan kelas sebanyak 40 orang. . cat air. penggaris. gunting. kertas gambar. cutter. Untuk di laboratorium flip chart adalah ekonomis dan mudah dibuat. kuas. spidol. Flip chart juga dapat dipergunakan untuk memberikan pembelajaran di depan kelas. Hal tersebut sering digunakan untuk memberikan judul-judul untuk suatu diskusi atau membuat daftar prosedur yang berurutan. kertas bufalo. pembolong kertas. Bahan dan alat yang diperlukan: • Kertas: kertas putih biasa. lem.8-18 Media Pembelajaran unsur-unsur dalam desain jadi efektif.

Berikut cara mempergunakan media transparansi dalam proses belajar mengajar. Terlebih dahulu buatlah sketsa dari pesan yang ingin Anda sampaikan. 2. uraikanlah materi pembelajaran yang akan disajikan menjadi beberapa bagian yang penting untuk dipelajari siswa. C. tetapi cukup dengan menunjuk pada bagian pesan pada transparansi yang ada di . Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Anda berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan terhadap siswa. Kemudian pasangkanlah flip chart yang sudah selesai pada standard dengan terlebih dulu membuat lubang pada flip chart Anda untuk menggantungkannya. c. buatlah pada kertas pesan yang Anda inginkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. 1. Pembuatan Media Transparansi dalam Pembelajaran Bahasa Media transparansi sebagai media pembelajarana merupakan komunikasi yang sangat potensi dalam kegiatan belajar mengajar. Setelah diperoleh komposisi serta bentuk yang memadai barulah Anda buat pada kertas yang disediakan untuk flip chart. Untuk mengarahkan perhatian. Anda tidak perlu membelakangi kelas menuju ke layar. b.Media Pembelajaran 8-19 Cara membuatnya: 1. Alat untuk media ini adalah Overhead Proyektor (OHP). Alat tersebut dapat digunakan dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan gelap. Dengan memperhatikan keempat prinsip serta kelima unsur pembuatan media grafis.

Pada waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak terproyeksikan . 2. Bayangan penunjuk Anda akan terlihat jelas. Pada penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan. 3. transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali dengan alkohol. Setelah selesai dipergunakan. Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan.8-20 Media Pembelajaran hadapan Anda. Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat digunakan untuk menambah catatan pada waktu menjelaskan materi tanpa merusak transparansi aslinya.

penekanan. serta lima unsur tambahan seperti garis. 4. warna dan ruang. konsep yang sulit dapat diberikan setahap demi setahap selama proses belajar mengajar. Dengan memanipulasi bendabenda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan. bentuk. kapas dan alkohol d. kertas milimeter . tekstur. yaitu transparansi lain yang berisian bagian dari pesan yang akan disampaikan langkah demi langkah.Media Pembelajaran 8-21 ke layar karena kertasnya tidak tembus cahaya. kesatuan. Mempergunakan Overlays. Dengan demikian. Sedapat mungkin dalam mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan. pena transparansi yang permanen c. yaitu empat prinsip umum seperti kesederhanaan. dan keseimbangan. Mempergunakan benda tiga dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. Bahan dan alat yang diperlukan adalah: a. 5. Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi sama dengan prinsip-prinsip pembuatan media grafis. transparansi b.

keuntungan lainnya adalah sederhananya tampilan ikon-ikon yang kurang lebih sama dengan Microsoft word yang sudah banyak dikenal. dan pikiran sebab guru tidak harus mempelajari dulu bahasa pemrograman komputer.8-22 Media Pembelajaran D. grafik. Dengan demikian kita bisa menggunakan kombinasi tampilan berbagai media yang berbeda seperti teks. maka akan dapat memberikan rangsangan bagi siswa untuk mau belajar lebih giat sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulis. dalam hal ini program microsoft power point. Dengan kegiatan pembelajaran melalui media interaktif berbasis komputer. dan video untuk menyampaikan pesan atau informasi. Hal ini seperti diungkap Ena (2004:4) bahwa keuntungan terbesar memanfaatkan program aplikasi microsoft powerpoint adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah ada di dalam Microsoft office. tersedianya banyak fasilitas aplikasi sehingga pemakai tidak perlu mempelajari bahasa pemrograman komputer. waktu. maka . dan juga tersedianya fasilitas untuk dihubungkan dengan internet. bunyi. Kelemahan dari program aplikasi Microsoft Powerpoint adalah tidak tersedianya fasilitas untuk menyimpan informasi dari pengguna setelah melakukan eksplorasi pembelajaran. Dengan kelemahan ini maka pengguna atau siswa tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara langsung. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembuatan multimedia pembelajaran menggunanakan program microsoft powerpoint akan menghemat biaya. tenaga. Pemanfaatan program aplikasi microsoft powerpoint untuk pembuatan multimedia pembelajaran memiliki keuntungan bagi guru. Untuk mengatasi kelemahan ini. Pembuatan Komputer Multimedia Pembelajaran Bahasa Berbasis Dengan bantuan teknologi perangkat komputer maka dapat dihasilkan multimedia pembelajaran yang interaktif.

Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. 1996). meningkatkan pembelajaran. motivasi. interaksi yang lebih luas. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentukbentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan. 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman. berbicara. mendengarkan. Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee. menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. materi yang otentik. dan pemahaman global. permainan dan . Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek.Media Pembelajaran 8-23 dapat digunakan lembar kertas kerja siswa sehingga guru dapat memantau perkembangan belajar siswa. lebih pribadi. Periode pembelajaran integratif atau dengan kecenderungan komputer yang yang terakhir adalah integratif. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee. Pembelajaran berbagai memberi penekan pada pengintegrasian ketrampilan berbahasa. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. tidak terpaku pada sumber tunggal.

Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. 1.8-24 Media Pembelajaran kreativitas. Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. ketersediaan piranti lunak dan keras komputer. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Media pembelajaranpun pengetahuan berkembang pengajar atau karena ahli keterbatasan dan tehnis pengajaran keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. meningkat. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh . Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk kurang dari piranti lunak dan kerasnya.

Gambar. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from . Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan tehnis dan teori.Media Pembelajaran 8-25 kebanyakan pemakai komputer. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. membaca atau pembelajaran yang lain. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. (a) Memasukkan Teks. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman.

Fasilitas yang pertama adalah background. Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan. apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color.. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply. Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background. dan from clip art. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill.. yang pertama adalah dengan memberi warna. dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects. Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan.. more color dan fill effects. Fasilitas . Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. (b) Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. pilih tekstur atau gambar dan tekan apply. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. pilih warna dan tekan apply.. Background akan memperindah tampilan program.8-26 Media Pembelajaran file . yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri.

Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas. kiri. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir.Media Pembelajaran 8-27 animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. sesudah itu akan muncul dialog . Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. pribadi dan otentik. atau dari sudut. bawah. Objek bisa melayang dari atas. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings. Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. (c) Membuat Hyperlink Fasilitas pembelajaran ini sangat penting dengan dan sangat mendukung bahasa karena hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. kanan. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet.

kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama. Mengembangkan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran . 2. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. (a). Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Membaca Fasilitas memungkinkan menampilkan pembuatan teks materi dalam program aplikasi ini pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah.8-28 Media Pembelajaran box. Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. (b).

Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya. (d). Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran. yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Permainan penyapu ranjau (mine . Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. (c). latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slideslide yang berbeda.Media Pembelajaran 8-29 dengan video ataupun audio. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. 3. sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. Namun.8-30 Media Pembelajaran sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan. Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. . dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik.

Standard Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. PRAKTIK PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. kelompok B bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. Praktik Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kegiatan 01: Menentukan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Bagilah peserta pelatihan ini menjadi 3 kelompok! Kelompok A bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. Kalau diperlukan. diskusikan dalam kelompok Anda media pembelajaran yang tepat Anda gunakan dalam membelajarkan siswa dengan materi pembelajaran itu agar siswa memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam . setiap kelompok dapat dibagi lagi menjadi subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran sastra. dan kelompok C bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas IX. Indikator Pencapaian Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D.Media Pembelajaran 8-31 BAB IV. Kompetensi Dasar Menyajikan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. (1) Berdasarkan identifikasi kompetensi dasar dalam Kurikulum KTSP dan materi pembelajaran yang sudah Anda rumuskan.

medianya.. sebaiknya ada kelompok yang membuat perencanaan perencanaan perencanaan perencanaan pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran menyimak berbicara membaca menulis beserta beserta beserta beserta medianya. selanjutnya buatlah media pembelajaran yang sesungguhnya yang siap Anda gunakan untuk mengajar di kelas! (2) Wujudkan tugas untuk Anda tersebut dalam bentuk rencana pembelajaran kompetensi dasar tertentu berdasarkan Kurikulum KTSP dan lengkapilah rencana pembelajaran itu dengan media yang akan Anda gunakan! (3) Dalam kegiatan ini. perencanaan pembelajaran sastra beserta medianya. (4) Presentasikan hasil kerja kelompok Anda dalam diskusi kelas! . medianya. Kegiatan 02: Membuat Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra (1) Berdasarkan hasil kegiatan (01) dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia dalam pelatihan ini. lakukan kegiatan 02 berikut ini. medianya.8-32 Media Pembelajaran Kurikulum KTSP! Pertimbangkan kriteria pemilihan media di atas dalam diskusi kelompok Anda! (2) Tuangkan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam kertas manila yang disediakan panitia! Sajikan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam diskusi kelas! Agar setelah mengikuti pelatihan ini Anda mendapatkan pengalaman yang lebih kongkret dan siap Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

dan yang penting bahwa media pembelajaran yang Anda gunakan harus menarik bagi siswa. dan (8) mutu teknis.Media Pembelajaran 8-33 E. RANGKUMAN Media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. (4) murah. F. lakukan penilaian diri dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut! 1. (7) keadaan siswa. (3) tersedia.. (5) menarik. (2) fungsional. (6) Ketepatgunaan. Media pembelajaran yang Anda gunakan harus benar-benar menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda laksanakan. Media pembelajaran bahasa dan sastra pada dasarnya semua alat yang Anda gunakan dalam membantu mempermudah pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda lakukan. Kemukakan kriteria penggunaan media pembelajaran yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra! Masingmasing berilah penjelasan dan contoh! 3. Manfaat apa yang Anda peroleh setelah Anda mempelajari media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra? . benar-benar Anda dapatkan pada saat Anda memerlukannya dalam proses pembelajaran. Soal Evaluasi Setelah mempelajari dan mengikuti proses pelatihan subbagian bahan pelatihan ini. Media pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda gunakan setidaknya harus memenuhi kriteria: (1) tujuan. Berilah alasan kebenaran pernyataan ini beserta contohnya! 2. tidak perlu mahal karena pada dasarnya Anda dapat menggunakan apa saja yang berada di lingkungan tempat Anda mengajar.

8-34 Media Pembelajaran 4. Kemukakan pendapat dan atau saran berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia! . Kemukakan contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang sesuai dengan kriteria tersebut! 6. Kemukakan pula contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut! 7. Apakah rencana Anda setelah Anda memahami media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya? 10. Apakah kendala yang Anda rasakan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran bahasa dan sastra? Berilah penjelasan! 9. Apakah ketidaksesuaian penggunaan media pembelajaran yang Anda lakukan dengan kriteria penggunaannya seperti yang Anda kemukakan pada butir (4) tersebut Anda sengaja? Berilah penjelasan dan atau alasan! 8. Apakah penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan selama ini sesuai dengan kriteria tersebut? Berilah alasan! 5.

Language Arts Activities for Children. Dwi. 2000. 1991. Oxford University Press: Oxford. 1993. Malang: Buku Ajar (Tidak diterbitkan) . No. Kemp. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Draft belum diterbitkan). June 1996. an imprint of Macmillan College Publishing Company. dkk. 1999. Ruseffendi. December 2000.T. 1982. Brown and Benchmark: Dubuque. Technology.jp/~iteslj/ Idris. Elliot. Saksomo. AV Instruction. E. 1983. dan Norton. Depdiknas. The Internet TESL Journal. 1996.. Bandung. a paper presented at Technology and Education Conference in Athens.aitech. Lee. 12. Ferrod E. http:/www. E. New York: McGraw-Hill. II. Planning and Producing Audiovisual Materials.ac. Davis. Kwuang-wu. S. Iowa. David H.ac. Jonassen. Educational Psychology. and Methods. Stephen N et al. Vol. 1977.jp/~iteslj/ Norton. Hubbard. 1980. Prentice Hall. Nuny S. Hunter. A Paper presented at KIPBIPA III.N. Media. Teaching with Media. 1986. P3G. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. New York: Merrill. 2003. Ben. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. CALL: Its Scope and Limits. New Jersey. The Internet TESL Journal. Computer as a Mindtools for Schools.Media Pembelajaran 8-35 DAFTAR PUSTAKA Brown. Harper and Row: New York. A Training Course for TEFL. http:/www. Vol. 1996. Lawrence. No.6. James W. VI. 1996. Peter et al. Jakarta: Depdikbud.. Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. Greece. Media Pengajaran Bahasa Indonesia.aitech.

Bahan pelatihan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.8-36 Media Pembelajaran Sampson.G. Schocolnik.ac. V.G. March 1999. Vol. New York: John Willey and Son. . Wacana Bahasa Indonesia. 1999. Teaching Language as Communication. Widdowson. 2003. 1978. No.aitech. http:/www. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas. E.3.jp/~iteslj/ Sumadi. The Internet TESL Journal. H. Social Psychology and Contemporarry Society. 1976. Oxford: Oxford University Press. Using Presentation Software to Enhance Language Learning. Miriam.

BUKU AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .

(2) interpretivisme. Hanya dengan memahami jenis-jenis penelitian pendidikan terlebih dahulu. 1. Keempat penelitian tersebut dapat disarikan sebagai berikut.BAB I KERANGKA DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. (b) pengetahuan itu dapat digeneralisasikan. 1991. Dalam konsep penelitian emperisme manusia dianggap sebagai objek yang pasif. Penelitian-penelitian emperisme . Penelitian-penelitian pendidikan pada dasarnya dapat digolongkan dalam empat kategori (Candy. peneliti adalah orang luar yang terpisah dari objek yang diteliti. Keempat jenis penelitian pendidikan ini pada hakikatnya menekankan perbedaan tolak pandang dalam melihat hakikat kebenaran (truth) dan hakikat pengetahuan. McTaggart. (c) pengetahuan itu bersifat replicable/ dapat diulang. (3) criticalisme. dan (d) pengetahuan itu dapat dipahami melalui aturan-aturan yang ada. dan (4) post-criticalisme/ post-modernisme. yakni: (1) emperisme. Dalam penelitian emperisme. Penelitian ini juga memandang bahwa: (a) pengetahuan itu objektif. perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai jenisjenis pendekatan dalam penelitian pendidikan kelebihan dengan dan segala kekurangannya. Penelitian emperisme (emperism research) adalah jenis penelitian yang menekankan metode ilmiah sebagai satu-satunya cara/ metode penghasil pengetahuan. Connole. posisi PTK dan filofofinya dapat ditangkap secara jebih jelas. 1989. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Untuk action tindakan memahami research kelas classroom (penelitian secara [PTK]) penuh. 1993).

Menurut penelitian ini. suatu penelitian harus berorientasi pada hasil (product oriented) agar hasil penelitian tidak sia-sia. Penelitian ini mengkritik pendekatan intepretivisme sebagai penelitian yang terlalu menekankan pemahaman daripada hasil (output). Siapa yang berkuasa (who is on power) dapat mempengaruhi hakikat kebenaran/ realita/ pengetahuan itu sendiri. Penelitian post-critical adalah penelitian yang menekankan bahwa kebenaran/ realita itu sendiri sebenarnya tidak ada. (b) pengetahuan itu dapat berubah (not fixed). Apa yang disebut .9-2 Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan penelitian yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu murni IPA. Menurut pendekatan ini. Untuk memahami masalah-masalah manusia. Penelitian intepretivisme (intepretive research). 4. ideologi. (d) masalah-masalah pendidikan tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari aturan-aturan yang ada sebab manusia mempunyai motif. Objek IPA dan peneliti merupakan bagian yang terpisah. Pendekatan penelitian ini menekankan pemahaman yang komprehensif/ mendalam terhadap objek yang diteliti. (c) pengetahuan itu tidak dapat digeneralisasikan (not generalizable) karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sama persis. yang berarti juga tidak ada satu sekolah pun yang sama persis dengan sekolah lain. Penelitian kritis (criticalism research) memandang bahwa pengetahuan itu di samping subjektif juga problematik. 3. penelitian ini menekankan aspek pemikiran reflektif/ kritis (reflective thinking) terhadap segala faktor luar yang dapat mempengaruhi kualitas penelitian itu sendiri. nilai-nilai yang tidak dapat dipahami dari luar. peneliti harus menjadi insider dari objek yang diteliti. 2. penelitian emperisme dipandang tradisional. Untuk itu. Tanpa menjadi insider pemahaman terhadap objek yang diteliti tidak akan sempurna. artinya: pengetahuan itu di samping dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan. karena penelitian intepretivisme meyakini bahwa: (a) pengetahuan/fakta/realita itu mengandung unsur-unsur subjektivitas.

Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. pengembangan sekolah. Dengan melakukan penelitian tindakan. Bahkan McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum. dan sebagainya. Canada. . teori yang selama ini diyakini kebenarannya digugat kembali. Sekalipun demikian. Amerika. pengembangan keahlian mengajar. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri. dalil. Masing-masing jenis penelitian merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Setiap pendekatan akan menawarkan hasil yang berbeda dan ’bintik buta’ (blind spot) tersendiri. Hukum. guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. Keempat jenis penelitian tersebut menegaskan bahwa ada beberapa pendekatan dalam meneropong masalah-masalah pendidikan. dengan melibatkan siswanya sendiri. Penelitian-penelitian jenis ini umumnya mempertanyakan kembali apa yang sudah dianggap benar/ realitas itu sendiri. jenis-jenis pendekatan tersebut menggambarkan revolusi pemikiran manusia terhadap masalah-masalah pendidikan. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. Australia. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. di kelas sendiri. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. Dalam literatur berbahasa Inggris PTK sering disebut dengan classroom action research.Penelitian Tindakan Kelas 9-3 realitas itu sendiri hanya sebatas bahasa yang mengungkapkan.

dan pengaruh-. Berikut ini disajikan beberapa kutipan batasan tersebut. melalui penelitian tindakan kelas guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang lebih efektif dan optimal.9-4 Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. sejumlah batasan tentang penelitian tindakan telah dikemukakan oleh para pakar. perencanaan. guru juga dapat melihat. Jika dengan penghayatannya itu dapat menyimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti: pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak.menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional (Elliot 1982:1). cara bertanya guru kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berpikir. Seluruh prosesnya --telaah. guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar. pemantauan. . dan dievaluasi. pelaksanaan. umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif. serta pemahaman mereka terhadap praktikpraktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart 1988:5-6). merasakan. Dengan demikian. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka. maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur penelitian tindakan kelas. guru dapat membuktikan apakah teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia dimiliki. diagnostik. Kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut (Cohen dan Manion 1980:174). Berkenaan dengan uraian di atas. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelas. Sebaliknya.

misalnya. mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas secara profesional. prinsip-prinsip penelitian tindakan sangat diwarnai oleh pendekatan penelitian critical. Suyanto (1997). dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif. Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan: PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. salah satu contoh jenis penelitian criticalism adalah penelitian tindakan itu sendiri. Dengan demikian. Dengan kata lain. serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. (b) dilakukan oleh pelaku tindakan . Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas.Penelitian Tindakan Kelas 9-5 Penelitian tindakan (action research) adalah jenis pendekatan penelitian criticalism (Priyono 1999:3). Stephen Kemmis (dalam Hopkins. dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. 1992) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri. (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut.

Anda kemudian dapat mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto. Artinya. . yakni perencanaan. pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut. 1997). PTK dilaksanakan dalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap. observasi.9-6 Penelitian Tindakan Kelas PTK bersifat reflektif. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut. dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. 0leh sebab itu. Dari pemikiran itu. pelaksanaan tindakan. Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian. Anda akan terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik. dan refleksi.

Kalau peneliti adalah .Penelitian Tindakan Kelas 9-7 B. On-the (masalah job yang problem-oriented diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam jawab masalah kewenangan/ peneliti). yang Ini diteliti tanggung berarti adalah masalah-masalah riil yang dihadapi sehari-hari. 1. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS Priyono (1999:3-6) memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut.

1999). masalah-masalah yang diteliti adalah masalah-masalah kelas/ sekolah yang merupakan bidang tanggung jawab utamanya. 1999). Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas). dan (c) penelitian tidak membawa perubahan kepada siswa/ guru. Penelitian-penelitian pemahaman semacam itu hanyalah menghasilkan (understanding) terhadap masalah-masalah pemanfataan laboratorium dan pengaruh metode sosiodrama. b) Pengaruh Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Konsep saling Ketergantungan Organisme (Sungkono. karena tidak memecahkan masalah. siswa. komponen-konponen sekolah itu (guru. penelitian-penelitian empirisme semacam itu tidak memberdayakan guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat memperbaiki kondisi kelas sendiri. 2. (b) siswa/ guru diperlakukan sebagai objek (informan) pasif. yakni: orang yang paling tahu masalah-masalah kelas adalah guru itu sendiri. 3. Judul-judul penelitian empirisme yang ditulis oleh para mahasiswa strata 1 di bawah ini jelas bukan classroom-based action research: a) Pengaruh Pemanfaatan Laboratorium IPA terhadap Pemahaman Konsep Alat Transpotasi Tumbuhan (Yushriati.9-8 Penelitian Tindakan Kelas seorang guru. Dengan kata lain. bukan orang lain (outsiders). Penelitian-penelitian yang hanya menghasilkan pengertian/ pemahaman seperti pada penelitian empirisme dan intepretivisme dianggap tidak meaningfull (bermanfaat). 4. . Kalau sistem itu sekolah. Ada beberapa alasan mengapa penelitian semacam itu tidak membawa pemecahan masalah di kelas: (a) masalah penelitian bukan masalah yang dihadapi guru. Ciri classroom-based action research ini diwarnai oleh pendekatan intepretivisme. Action research menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi itu berkembang (berubah lebih baik).

observing. apa yang sebenarnya disebut kebenaran/ realita dapat lebih diungkap. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) melakukan setiap langkah AR. (3) wawancara. Konsep ini sangat diwarnai oleh prinsip penelitian critical: penelitian harus menghasilkan produk perubahan (product-oriented). Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. 5. PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. (4) kuesioner. 6. Dengan PTK. 1997). and reflecting. lingkungan kelas/ sekolah) harus berkembang lebih baik. Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). Secara siklus yang pada hakikatnya menggambarkan pemikiran kritis dan reflektif terhadap efek tindakan. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru.Penelitian Tindakan Kelas 9-9 kepala sekolah. Dampak suatu tindakan tersebut selalu diikuti secara kritis dan reflektif. Cyclic (siklis). pada penelitian-penelitian kemampuan inderawi empirism dapat yang hanya dipertanyakan . Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik). Dengan bersandar validitasnya. Anda akan berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. mengingat kebenaran (realitas) itu di samping subjektif juga problematik. 7. Dengan penerapan semua cara koleksi data tersebut. action. konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning. Semua cara ini difokuskan untuk mendapatkan validitas hasil penelitian. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. demikian. Partisipatory/collaborative. (2) tes. berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti: (1) observasi. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto. dsb.

PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar. Pertama. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. dan fungsional. Menurut Suyanto (1997). Sebaliknya. jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. atau oleh kepala sekolah. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. bukan PTK. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien. pengawas. permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. Misalnya. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru. optimal. penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas. Dengan demikian. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Ketiga. oleh dosen LPTK. Itu hanya merupakan penelitian kelas. atau bahkan oleh guru lain. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. yang .9-10 Penelitian Tindakan Kelas Pada sisi lain. Kedua. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda--dengan melibatkan siswa--Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran.

b. PTK lebih longgar karena analisis datanya tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. Bersifat reflektif (A reflective practice made public). Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators). penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. Namun sebagai penelitian. Dengan cara itu. PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas.Penelitian Tindakan Kelas 9-11 berisi ceritera-ceritera lucu. upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam. Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within). Oleh sebab itu. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. Menurut Hopkins (1992). ia tetap menekankan pada objektivitas. yakni dari guru itu sendiri. Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. sebagai guru. a. dan sebagainya. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas? Memang. c. maka penelitian semacam itu adalah PTK. melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. Jadi. Anda . Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif.

Sebaliknya. dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian. PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK. menentukan hipotesis tindakan yang baik. 1. Bagimana hasil identifikasi Anda? Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. 3. 2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. C. Oleh sebab itu.9-12 Penelitian Tindakan Kelas akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya. tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. mengembangkan strategi yang dapat diterapkan . Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat. Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan. Prinsip tersebut sebagai berikut. serta membantu analisis data penelitian.

dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu. Konsisten terhadap prosedur etika 6. meyakinkan . Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Merupakan masalah guru. penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan. Secara lebih ringkas. Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah. di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. Tidak terlalu menyita waktu. dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah. 6. 2. Tidak mengganggu komitmen mengajar. Artinya. prinsip-prinsip PTK dapat dituliskan sebagai berikut. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga.Penelitian Tindakan Kelas 9-13 pada situasi kelasnya. 4. Prinsip-Prinsip PTK 1. 5. strategi dapat diterapkan di kelas 4. disosialisasikan kepada teman sejawat. Metodologinya andal. Identifikasi dan rumusan hipotesis b. serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. a. 3. melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan. Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya. Meskipun ada kelonggaran. 5.

Dengan kata lain. tidak dalam situasi artifisial. Mengapa demikian? Pertama. . Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. PTK mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. Menurutnya. diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik. apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf).9-14 Penelitian Tindakan Kelas D. PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK. Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut. proses pelatihan terjadi secara hands-on. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Apabila kita mencermati pengertian PTK. Dengan PTK. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. Sebagai guru. yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru. Ketiga. Kedua. akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran.

PTK merupakan bahan refleksi bagi Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas.Penelitian Tindakan Kelas 9-15 E. tingkat umurnya. Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbedabeda. secara ringkas. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi. maupun Iatar kecerdasannya. baik tingkat kelas. (3) peningkatan profesionalitas guru. Pemilihan tujuan yang tepat. Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh di kelas. guru. Untuk itu. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK mengembangkan proses akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk belajar mengajar di kelas. Itu berarti bahwa Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya. MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran. (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. Dalam hal manfaat PTK ini. pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. materi yang sesuai. Dengan PTK. . latar sosial budayanya. dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri. Dengan demikian. Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar. atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk melihat efektivitasnya di kelas. serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai. Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan. Di samping itu. Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran. di tempat Anda mengajar. Anda dapat mengembangkan teknik. metode.. perubahan yang terus-menerus dikembangkannya.

seperti guru dalam situasi belajar-mengajar. sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut. misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS PENELITIAN TINDAKAN Ada lima persoalan praktis yang perlu diperhatikan dalam penelitian tindakan dan masing-masing akan diuraikan secara singkat di bawah ini. dibuat merasa ikut memilikinya. misalnya situasi belajarmengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. Pemilik penelitian tindakan. Dalam situasi seperti itu. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan. 2. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator. dan (b) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya. tetapi mereka kurgan mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi. 1. Rasa ikut . peneliti dengan berperan sebagai fasilitator mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti maslah yang telah diidentifikasi oleh para guru. Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi. dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen).9-16 Penelitian Tindakan Kelas F. Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tidak mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (a) kelompok orang yang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait. Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat. misalnya konsultan. Pemrakarsa penelitian tindakan.

Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif. rekaman audio. rekaman audio dan video kejadian. semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut merupakan bagian dari dirinya. 5. Persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah. namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematis sering timbul karena ada masalah dalam suatu situasi. 3. Sasaran penelitian tindakan.iti merekonstruksi tindakan terkait. Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. Data penelitian tindakan. Data dapat berbentuk catatan-catatan. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata. pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis. Fungsi data dalam penelitian tindakan adalah sebagai landasan reflektif. Data diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya.Penelitian Tindakan Kelas 9-17 memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian. Dengan demikian. yang dikumpulkan lewat berbagai teknik. melainkan unbtuk mendokumentasikan amatan dan oleh karena itu menjebatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan. foto dan sebaginya. bukan hanya mengingat kembali. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan penel. transkrip wawancara. Oleh karena itu. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. rekaman video. Analisis data. yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. dan oleh karena . 4. Data penelitian tindakan antara lain berupa semua catatan tentang hasil amatan.

. usaha trianggulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain. Dengan kata lain.9-18 Penelitian Tindakan Kelas itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta lainnya untuk dapan melihat datanya lewat perspektif yang berbeda.

Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan. serta-apabila perlu--perencanaan tindak lanjut. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. Sesuai dengan karakteristik dari pelaksanaaan AR yang siklis. analisis dan refleksi. Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal. desain AR menurut Tripp (1996). tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut. REFLEKSI TINDAKAN REFLEKSI TINDAKAN OBSERVASI OBSERVASI . Dengan kata lain. Dengan demikian. digambarkan sebagai berikut. perencanaan tindakan. pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi.BAB II PELAKSANAAN PENEILITIAN TINDAKAN KELAS A. PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi. misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu. SIKLUS I PERENCANAAN SIKLUS II PERENCANAAN dst.

meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya. para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar. b) Dalam pelajaran mengarang. Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut. tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya. D. Kelly (1992). c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat. agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas? b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang? c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca? .Misalnya: a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas. Anda perlu proses belajar mengajar yang terjadi di dalam merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda. Prarefleksi Untuk memulai penelitian tindakan kelas. Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas. 1. Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi kelas. Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit.9-20 Penelitian Tindakan Kelas Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus AR yang diadaptasi dari Kember. dan M. Anda perlu menentukan suatu topik. Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut. tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telah disarankan.

Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK. materi yang akan diajarakan. Pada tahap ini. dan (c) perubahan sifat evaluasi. dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut. Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. 2. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merkam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. Perencanaan Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan. Siapa akan mengerjakan apa. peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian. Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang . (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru. Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan.Penelitian Tindakan Kelas 9-21 Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut.

Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK. jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan. dan jurnal. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. guru benarbenar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan. wawancara. Berdasarkan permasalahan tersebut. (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi. Jadi. peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. sebagai Kelas diciptakan belajar komunitas (learning community) daripada laboratorium tindakan. cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan. . Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. (2) menyusun pedoman observasi. (3) menyusun rancangan evaluasi. dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi. Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini. Tindakan Perlu diingat juga.9-22 Penelitian Tindakan Kelas cukup rendah dalam keterampilan menulis. 3. dalam melaksanakan rencana Anda tersebut. Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas.

Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Pendahuluan Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Pengamatan Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi. Melalui kegiatan ini. siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut. Pada tahap terakhir. 4. Penutup Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu. Melalui kegiatan ini. dan pengertian paragraf eksposisi. dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. Setelah itu. guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. c. b. a. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. dan kelompok yang lain menanggapinya. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik.Penelitian Tindakan Kelas 9-23 Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah. Kegiatan inti Pada kegiatan inti ini. Oleh karena itu. setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. ciri-ciri. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan . pola pengembangan. Kemudian. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan. siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa.

Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. dll. proses pembelajaran. pesan dan kesan. peneliti menguraikan jenisjenis data yang dikumpulkan. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan. sosiometri.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi. peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara. Selain jurnal siswa. peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan. wawancara. dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung. Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif. dan alat koleksi data (angket. jurnal. Melalui lembar observasi. kesan. dan rendah. pada langkah ini. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK. sedang. dan pesan siswa terhadap materi. hambatan yang dialami oleh guru. Selama penelitian berlangsung. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. Selain menggunakan lembar observasi.9-24 Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya. cara pengumpulan data. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pendek kata. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara . peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

. antusiasme. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti). Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi.. dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa. peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). guru. Untuk itulah. on the one hand. kepuasan diri setelah mengajar. perubahan sikap percaya diri. keinginan tahu. dsb. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya.Penelitian Tindakan Kelas 9-25 5. misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi. seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas. Demikian pula perubahanperubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti. kepercayaan diri. Pada tahap ini. portofolio (catatancatatan tentang hasil/prestasi siswa). responsif. and the other culture of the groups. parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals. guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why). and societies to which the belongs …. dan suasana kelas. mengapa demikian. Suasana perubahan pada atmosfir kelas .) McTaggart (dalam Connle. langkah-langkah penyempurnaan. bagaimana (how). Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. apa kelebihan/kekurangan. Dari catatan-catatan itulah. institutions. 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah: .

9-26 Penelitian Tindakan Kelas juga disajikan. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup. perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok. Yang jelas. seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. Oleh karena itu. di mana. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa. mengapa. dari mana. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69. Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana. Sedangkan kata tanya kapan dan mengapa belum digunakan. Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. karena bericara lebih cepat daripada menulis. Dalam indikator membuat daftar pertanyaan. agar semua dapat .63% dari jumlah keseluruhan siswa. siapa. dsb. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. siapa. suasana kelas yang lebih akrab. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber. kapan. penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak. dan bagaimana). apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan.73 dan termasuk dalam kategori cukup. setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Apa yang terjadi pada suatu siklus. apa. Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik.

Penelitian Tindakan Kelas 9-27 terekam. melihat tulisan teman. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja. Namun demikian. Merasakan Adanya Masalah Jika Anda tergolong pemula dalam PTK. berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara. Dengan demikian siswa akan lebih aktif. PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN Ada empat hal yang harus diperhatikan terkait dengan penetapan fokus masalah penelitian. Selain itu. Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran.8% yang aktif. 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. Pada siklus I. perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi. Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Oleh karena itu. pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab . dan 4 siswa sebagai pencatat pokokpokok informasi. sehingga siswa akan memperhatikan guru. Pada siklus I ini sekitar 42. Keempat hal tersebut sebagai berikut. konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus.1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran. yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf. dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri. 1. pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. mereka cenderung mengobrol dengan temannya. B. Selain itu. Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber.

yang 0leh sebab itu. Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran. merenung. bukan permasalahan yang disarankan. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran. untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran. Oleh karena itu. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa.9-28 Penelitian Tindakan Kelas pertanyaan tersebut. mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. mungkin agaak sulit bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas. Dalam proses perenungan itu. Merasakan adanya masalah: • • • Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah Jadi. permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai guru dalam praktik pembelajaran. Dengan kata lain. serta berpikir balik. Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola. . terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional. Anda harus mampu merefleksi.

Masalah itu juga di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. Masalah-masalah yang asal-asalan (yang kurgan teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi. ldentifikasi Masalah PTK Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian tahap-tahap penelitian. kurikulum. Untuk itu. bahan ajar. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. a. . identifikasi masalah sering merupakan tahap penting dalam pelaksanaan penelitian. Kualitas penelitian pun dapat ditentukan oleh kualitas masalah yang diteliti. Masalah harus riil dan on the job problem oriented. artinya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. dan hasil belajar siswa. Sebagaimana disinggung oleh tulisan sebelumnya. Oleh sebab itu. artinya masalah tersebut benar-benar ada (dirasakan sebagai masalah. Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). 2. tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. (2) pemecahan masalah tersebut belum mendesak dilaksanakan. beberapa langkah berikut dapat diikuti dengan seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-29 guru. interaksi pembelajaran. Masalah itu datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri sehari-hari. Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata adalah masalah-masalah yang problematik. Untuk itu. bukan datang dari pengamatan orang lain. Masalah itu dilihat/ diamati/ dirasalan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari. dan (3) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan. sebab penelitian tidak membawa temuan yang bermanfaat. b. c. sebab: (1) pemecahan masalah tersebut tidak/kurgan mendapat dukungan literatur/sarana-prasarana/ birokrasi.

atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar. Bila dilihat dari sumber daya peneliti (waktu pembelajaran efektif. dukungan birokrasi. Masalah PTK harus fisibel (dapat dipecahkan/ditangani). Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah-masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan. arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut.9-30 Penelitian Tindakan Kelas pilihlah masalah-masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. dan jelas manfaatnya. problematik. tidak semua masalah penelitian yang sudah nyata. media pembelajaran. memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK. Dalam hubungan ini. (2) resiko apa yang paling jelek bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. selalu fisibel. Anda sebagai peneliti --secara individu atau bermitra dengan guru lain-. akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti penguasaan operasi matematika. seperti kemampuan membaca peta buta. Untuk itu. Bahkan. (3) kompetensi mana yang tidak tercapai bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. Untuk asas manfaat. dapat dilontarkan beberapa pertanyaan berikut: (1) apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak dipecahkan. dll. dana. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini. harus dipilih masalah-masalah yang fisibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung di atas. 3. Menurut Abimanyu (1995). seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. d. Dengan kata lain.melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. .) maslah tersebut dapat dipecahkan.

untuk juga mencoba 4. Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. Di samping itu. khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai . d) Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding). keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. c) Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable). b) Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya. dan operasional. jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK melaksanakannya. selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas. e) Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prionitas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah. spesifik. Perumusan Masalah Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.Penelitian Tindakan Kelas 9-31 a) Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya. atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.

Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan Dilihat dari sudut lain. alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan. penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. (3) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP N 2 Kudus setalah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kooperatif metode jigsaw? C. (2) Mayoritas (85%) siswa kelas 5 SD N Sekaran membaca dengan kecepatan di bawah 100 kpm. Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti. . Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK . dalam PTK. Di samping itu. Misalnya. perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya. Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): (1) Keterampilan menulis karangan narasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri Bandar masih rendah.9-32 Penelitian Tindakan Kelas proses dan/atau hasilnya itu direkam. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I. PERENCANAAN TINDAKAN 1. jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan.

a) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan. dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. a) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. pakar pendidikan. b) Pengkajian permasalahan. d) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program. c) Diskusi dengan rekan sejawat. alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”. “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah. hasil-hasil penelitian yang relevan dengan Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut. Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian. sebagai peneliti. peneliti lain dan sebagainya. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. Dengan kala lain. dan e) Perefleksian pengalaman Anda sebagai guru. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. Sebagai contoh lain.Penelitian Tindakan Kelas 9-33 Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal. Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat. .

“Dengan pembelajaran teknik permainan simulasi maka keterampilan menulis hasil wawancara akan meningkat dan tingkah laku siswa pada kelas X. Berikut ini contoh rumusan hipotesis tindakan. “Pembelajaran apresiasi pusi dengan media syair lagu serta penayangan video klip dapat emningkatkan kemampuan apresiasi puisi serta akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengapresiasi puisi”. kelaikan teknis.9-34 Penelitian Tindakan Kelas b) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan. .4 SMA 7 Semarang akan berubah ke arah yang positif”. serta keterlaksanaannya. FBS UNNES angkatan 2003. Di samping itu. tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. yang diambil dari skripsi mahasiswa PBSI. “Keterampilan menulis karangan siswa kelas III SDN 03 Ungaran akan meningkat dan akan terjadi perubahan dalam tingkah laku siswa jika dalam pembelajaranya menggunakan metode stimulasi unik bertematik dan strategi pembelajaran mewnulis karangan secara terbimbing”. c) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual. baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru. d) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikanperbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu.

a) Implementasi PTK akan berhasil. Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka. gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain. Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif. Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya.Penelitian Tindakan Kelas 9-35 2. untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan. Di pihak . Namun. Pada gilirannya. Dengan kata lain. yang paling penting. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan. guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya. Menurut Soedarsono (1997). kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut. selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal OIeh karena itu. sebagai aktor PTK. diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. apabila diperlukan.

guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa. Dengan kata lain. e) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi. keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. d) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan. Selanjutnya. c) Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan. . sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. Dengan kata lain. Oleh karena itu. maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4). keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK. b) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik. PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial.9-36 Penelitian Tindakan Kelas lain. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. psikologis dan sosial budaya maupun etik. demi keherhasilan PTK. Dengan kata lain. selain persyaratan kemampuan. Dengan kata lain.

Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas. guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan. Sebagai aktor PTK. D.Penelitian Tindakan Kelas 9-37 Selain itu. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut. PELAKSANAAN TINDAKAN DAN OBSERVASI INTERPRESTASI Sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. a) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. apa saja yang perlu Anda persiapkan? Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. dilakukan oleh sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK seorang guru atas prakarsanya sendiri. tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. c) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan. meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif. 3. d) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. Itu berarti bahwa . Persiapan Tindakan Sebelum PTK dilaksanakan.

dampak perbaikan yang diperoleh. Sebaliknya. Akhirya. agar tidak menimbulkan kerancuan yang tidak perlu. Oleh karena itu. gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu. seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Hal itu juga berarti. kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi.9-38 Penelitian Tindakan Kelas observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam. . apabila memang kebetulan telah terwujud. betapapun canggihnya. fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK. Dengan kata lain. bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini. tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran. melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional). penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi. penyelenggaraan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM. harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan. patut dicatat bahwa Hopkins (1992) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK.

meskipun memang mungkin saja dalam PTK juga tergelar dimensi supervisi . tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas. dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas. Pelaksanaan Tindakan Jika semua tindakan persiapan telah selesai. dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara. pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran. pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi. apabila memang masih ada. Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasiinterpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK. (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual. Artinya.Penelitian Tindakan Kelas 9-39 Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL. serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan. 1. (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK. PTK bukan supervisi pengajaran.

berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif. Dengan kata lain. konteks dan filosofi PTK berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. Sebagaimana telah diisyaratkan. Observasi dan Interpretasi Secara umum. pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation). . supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision).9-40 Penelitian Tindakan Kelas pengajaran. OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi. (ii) ujaran siswa (pupil talk). dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK. sebaliknya dalam konteks PTK terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer). Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi. namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu. 2. Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal. Dengan kata lain. Sebagaimana diketahui. kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk). berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK . observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu.

dapat dimanfaatkan secara produktif. Akan tetapi. sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki. 3.Penelitian Tindakan Kelas 9-41 Sebaliknya. mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual. Sebagai contoh. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL. terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. 1992). interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran. Diskusi Balikan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. memusatkan perhatian kepada . melakukan pengamatan secara umum. maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan. agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK . Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi. Dalam observasi kesejawatan ini. Dalam hubungan ini. Apabila yang terakhir ini dilakukan. sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi. perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins. Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi.

secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung. d) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir E. c) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat. apabila: a) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi. kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. sementara. dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan.9-42 Penelitian Tindakan Kelas suatu fokus. diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru. yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data. ANALISIS DAN REFLEKSI Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum. . Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal. b) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman. dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan. Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan. dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian guru sebagai aktor tindakan perbaikan. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan guru aktor tindakan perbaikan. Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). materi.

Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK. Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan. Dari banyak pengalaman keseharian. Secara teknis. serta dicermati unsur-unsurnya. semut harus makan. serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan. ayam harus makan. sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan. dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis. sementara.Penelitian Tindakan Kelas 9-43 Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan. dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan. melakukan refleksi. di samping induksi dan deduksi. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat . Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagianbagian. Artinya. Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya. ular harus makan. dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan. yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi. secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran. Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum. serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji.

yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. Sebaliknya. antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan. dan (ii) karena ular adalah binatang. Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat dari hal abstrak yang berlaku umum. dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang . atau deduksi. seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir. proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK . Untuk membuatnya menjadi deduksi. dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif. dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi. sedangkan untuk berfikir deduktif. pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya. maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan. atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. Dengan kata lain.1997). Bagaimana penilaian mutu hasil induksi. Untuk berfikir induktif. Hanya saja berbeda dan penelitian formal. semua binatang harus makan. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup.9-44 Penelitian Tindakan Kelas dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi.

mengabstraksikan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. Dengan kata lain. Analisis Data Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif.Penelitian Tindakan Kelas 9-45 telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. sebaliknya. 1. yaitu deduksi data. kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. menyusun perencanaan baru. representasi tabular termasuk dalam format . mengimplentasikan tindakan baru. Dengan kata lain. memfokuskan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. meyederhanakan. tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya. dan penyimpulan. mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi. Namun. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. paparan data. refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. 1997). pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru.

merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. tetapi mengandung pengertian luas. 2. Apabila memang masih dipandang perlu. apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Dengan kata lain. Refleksi Sebagaimana telah dikemukakan di atas. kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi.9-46 Penelitian Tindakan Kelas matniks. dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut. . Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat. Apabila dicermati. IDENTIFIKASI ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN TINDAK LANJUT Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. representasi grafis. dan sebagainya. Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. refleksi .

ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan. Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan. Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif. maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru. maka terbuka peluang untuk dampak samping dan tindakan yang mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru.Penelitian Tindakan Kelas 9-47 Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya. menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK membahas observasi inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. seorang pelaksana PTK pemikiran tentang sebab-sebab tidak boleh hanya terpaku pada kejadian-kejadian pada fase dan sebelumnya. refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK . Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan direncanakan itu. Oleh karena itu. di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. yang hendak ditekankan . dan pada gilirannya. Akhirnya. memprakirakan peluang keberhasilan.

Di pihak lain. Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. PERENCANAAN TINDAK LANJUT Sebagaimana telah diisyaratkan.9-48 Penelitian Tindakan Kelas dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya. dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak. Namun. pelaksanaan tindakan. Namun. jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan. Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau. Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya. F. yaitu perumusan masalah. dan seterusnya. maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu. Dengan demikian. perencanaan tindakan. memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang . Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan). observasi dan interpretasi. dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada. ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. dan analisis-refleksi. maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1.

tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. tetapi tawa meledak …. Deskripsi akurat ditekankan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. a. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. guru. longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam suatu jangka waktu.Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukan dan katakan” . Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik. Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot. . misalnya dalam situasi belajar-mengajar: . Catatan lapangan. Seperti halnya catatan anekdot. Catatan anekdot adalah riwayat tertulis. dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto. PROSEDUR OBSERVASI 1. G. kecerobohan. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. pertengkaran picik. 1998). Alat Bantu Observasi Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan.kelas dalam suasana serius. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai. b. perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik untuk memulainya. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa-peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. Deskripsi perilaku ekologis. yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. c. Teknik-teknik yang dimaksud sebagai berikut. Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. perilaku kurang perhatian. deskriptif. Catatan anekdot.Penelitian Tindakan Kelas 9-49 dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa.

f. dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat. d. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis. papan pengumuman guru. perasaan. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individu sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. efisiensi penilaian. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain. dsb. Catatan harian mungkin memuat observasi. kontak individual dengan siswa. Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. g. disiplin. kantor atau bagian kantor. garis besar. Catatan harian. e. hipotesis. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan. satu untuk satu kartu. memo untuk staf. dan atau peraturan. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tenbtang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif. seorang siswa …. papan pengumuman siswa. dugaan. Gambaran tentang persoalan. kebijaksanaan. dan perilaku . publikasi siswa atau karyawan. Analisis dokumen. memo guru atau pejabat.Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggungnya. Kartu cuplikan butir. kualitas pekerjaan siswa. penafsiran. tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu. tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan sejumlah topik. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topiktopik seperti pendahuluan pelajaran. edaran untuk orang tua atau karyawan.9-50 Penelitian Tindakan Kelas . reaksi. tes formal dan informal. dan penjelasan. sekolah atau bagian sekolah. Teknik ini mirip dengan catatan harian. Logs. Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian. pekerjaan siswa yang dipamerkan. pengelompokan kelas.

(a) Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai. i. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh.Penelitian Tindakan Kelas 9-51 seorang siswa. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya. Angket. singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat. dan atau tambahan-tambahan rapat staf yang relevan. penilaian. Pertanyaannya harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). Pertanyaan ada dua macam. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambahan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti. atau posisi mereka. h. (b) Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi mana yang paling dekat dengan pendapat. Teknik ini membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Menguji coba pertanyaan dengan teman atau cuplikan kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. Portofolio. perasaan. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah. korespodensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subjek penelitian. Angket terdiri atas pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahaptahap eksplorasi. . dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat pada atau timbulnya kebosanan dengan aspek tertentu. tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan.

Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sisiogram yang mencatat hubungan seluruh kelompok. yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. kategori jadwal dan checklist mungkin menunjuk pada: . atau berdasarkan peristiwa. (b) Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara. Teknik ini memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dari pada angket. Wawancara. atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. yang pencatatannya dilakukan dengan jarak waktu. Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas. k. l. Metode ini digunakan untuk apakah individuindividu disukai atau saling menyukai. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu. Misalnya. omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subjek penelitian. Metode Sosiometrik. Jadwal dan checklist interaksi. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subjek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan.9-52 Penelitian Tindakan Kelas j. (c) Terstruktur: Pewawancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaannya. dalam situasi sekolah. Wawancara dapat: (a) Tak terencana: misalnya. tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subjek tertentu ingin bekerja sama.

(b) Perilaku verbal siswa: misalnya. bertanya. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. (d) Perilaku nonverbal siswa: menoleh. mendisiplinkan (individu atau kelompok). tersenyum. seminar. Bila ada asisten yang membantu. menyela. m. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. memberi isyarat. Foto dan slide berguna untuk merekam peristiwa penting. lokakarya. menulis. berdiri dekat siswa yang pandai. misalnya aspek kegiatan kelas. diskusi. Foto dan slide. menulis. Subjek-subjek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian.Penelitian Tindakan Kelas 9-53 (a) Perilaku verba guru: misalnya. prosesnya mungkin menjadi panjang dari segi waktu. menjawab. foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data. mondar-mandir. dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) analisis yang cermat. menjelaskan. yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. lebih banyak perhatian dapat diberikan reaksi dan perilaku subjek secara perorangan. menulis cepat. rapat. tertawa. atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran. Rekaman video. mengerutkan kening. Rekaman pita. menangis. Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/ peristiwa untuk dianalisis kemudian. Karena daya tarik bagi subjek penelitian. duduk dengan siswa yang lamban. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mna perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. . Jika transkripsi esktensif diperlukan. bertanya. menggambar. (c) Perilaku nonverbal guru: misalnya. n. berkelakar. o.

Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi. Sebagaimana telah dikemukakan. data yang diperoleh dan observasi itu langsung diinterpr-etasikan maknanya dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah direncanakan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya. Selanjutnya. beberapa pertanyaan peserta pelatihan PTK menggambarkan tentang isu-isu sentral pelaksanaan PTK. sama seperti pada tindakan pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin.selama proses pernbelajaran berlangsung. misalnya: sekolah. Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. pada saat dilaksanakannya tindakan. Jadi. Pertanyaan: Dapatkah dianggap bahwa penelitian tindakan (PT) itu adalah penelitian skala kecil? Jawab: Bukan masalah besar atau kecil yang mencerminkan suatu penelitian itu dapat dianggap PT. untuk mendiagnosis kelemahan dsb. sebagaimana halnya dalam tindakan pembelajaran umumnya. penguasaan. secara bersamaan juga dilakukan pengamatan tentang segala sesuatu yang terjadi --atau tidak terjadi-. Alat penilaian dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. yang memberi ciri PT itu bukan masalah besar atau . data dan interpretasi hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan refleksi. Pada gilirannya. 3.9-54 Penelitian Tindakan Kelas p. Sasaran Observasi Dalam PTK. 1. Pertanyaan-Pertanyaan tentang PTK Sekalipun Penelitian Tindakan kelas telah diujicobakan dan disosialisasikan pada pelatihan-pelatihan guru. PT pun dapat dilakukan dalam skala yang luas. 2. Penampilan subjek penelitian pada kegiatan penilaian. masyarakat dan seterusnya. organisasi besar.

manusia adalah agen of change yang dapat memperbaharui dunia. masalah samplingpopulation. yang lain diperlakukan sebagai objek pasif --tidak dapat keuntungan apa-apa (researched). Penelitian eksperimen adalah satu contoh penelitian empiris. yang dapat diberi perlakuan (dibandingkan. mengingat di dunia ini tidak ada individu/ sekolah/ organisasi/ komunitas yang sama persis.). PT tidak ambisius untuk membuat generalisasi. Dalam konsep PTK. 3. researcher. dst. namun karena prinsip PT adalah critical approaches. sebagaimana merupakan fokus penelitian empiris bukan merupakan masalah pokok dalam konsep PT. manusia dianggap sebagai objek pasif. Pertanyaan: Dapatkah disimpulkan bahwa PT itu sama dengan penelitian eksperimen? Jawab: Tidak bisa. 2. bagaimana penjelasannya? Jawab: PT pada dasarnya tidak anti statistik. Untuk itulah. PT bukan penelitian empiris. yang di antara researcher dan researched terdapat jurang pemisah sehingga yang satu. Buat apa menggeneralisasikan? PT lebih berorientasi pada produk/ perubahan (improvement oriented) daripada sekadar generalisasi. misalnya statistik deskriptif. Jadi. manusia dianggap sebagai subjek aktif (subjek yang dapat memainkan peran). untung/ dapat sesuatu yaitu pemahaman. diaduk-aduk supaya homogen. satu kelompok sebagai kelompok perlakuan. prinsip-prinsip statistik inferensi (alat generalisasi berdasarkan sampel) seringkali ditinggalkan (tidak dipakai).Penelitian Tindakan Kelas 9-55 kecilnya kelompok. Pertanyaan: Ada yang menganggap bahwa PT itu anti statistik. Cara pandang empiris seperti ini ditolak oleh pendekatan critical yang berkeyakinan manusia bukan objek pasif yang dapat dimainkan: satu kelompok sebagai kontrol. Dalam konsep penelitian empiris. PT bercirikan ”penelitian kritis” (criticalism approaches). Statistik masih dapat dimanfaatkan dalam penelitian PT. . Dalam konsep PT.

bagaimana penjelasannya? Jawab: Ya. suatu penelitian langsung dapat disimpulkan sebagai penelitian empiris atau penelitian tindakan. masalah-masalah proses pembelajaran di kelas tempat guru mengajar adalah masalah riil/ nyata yang bersifat on the job problem oriented. sudah dapat dibaca apakah masalah itu masalah milik peneliti sendiri (on tehe job) atau masalah orang luar (out of job-problem). namun berasal dari orang luar (outsider. apabila untuk penggalian masalah yang diteliti terjadi kolaborasi dengan pihak guru. Masalah PBM lain yang tidak menjadi tanggung jawab guru tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang on the job. hanya dari tahapan identifikasi masalah saja.9-56 Penelitian Tindakan Kelas 4. Sebagi contoh. yaitu: (a) masalah harus nyata (realistis): ada/ dirasakan oleh peneliti sebagai masalah. masalah untuk PT harus memenuhi kriteria on the job problem oriented. untuk PT oleh guru. sebab masalah yang diteliti tidak datang dari guru itu sendiri. artinya: masalah itu harus benar-benar riil/ nyata muncul dari dunia tanggung jawabnya. penelitian itu tidak dapat digolongkan sebagai PT. jika ada seorang dosen/ mahasiswa melakukan penelitian di sekolah tempat guru tersebut mengajar. guru yang mengungkapkan masalah yang ada di kelasnya dengan penggalian yang lebih tajam oleh mahasiswa/dosen. suatu penelitian sudah dapat digolongkan apakah itu penelitian empiris atau critical (PT). Pertanyaan: Hanya dari identifikasi masalah saja. artinya tidak semua masalah riil itu problematik (harus dipecahkan) sebab: (1) mungkin masalah itu sudah . sekalipun demikian. Pertanyaan: Bagaimana cara menemukan masalah PT? Jawab: Langkah-langkah berikut dapat dipakai untuk menemukan masalah yang bai. (b) masalah harus problematik (perlu dipecahkan). Dengan demikian. 6. Kecuali. 5. Hanya dari masalah yang diteliti saja. mahasiswa/dosen tersebut. Pertanyaan: Masalah apa yang dapat didekati dengan PT? Jawab: Pada dasarnya setiap masalah dapat dipecahkan oleh pendekatan PT.

(2) masalah itu di luar kewenangan/ keahlian/ tanggung jawabnya. dan (3) kurang dukungan literatur.Penelitian Tindakan Kelas 9-57 ada yang membahas. (c) laporan belum menunjukkan perubahan (improvement-oriented) baik pada siswa. 7. 8. (b) komunikasi/ kolaborasi antara peserta penelitian yang belum optimal: diskusi kadangkala masih didominasi oleh salah satu peserta. guru. data-data kualitatif yang sebenarnya berbobot belum tersaji. (c) ownership of a problems tidak kuat: rasa handarbeni terhadap suatu problem belum terlihat jelas sehingga keterlibatan dalam setiap langkah penelitian masih sebatas physical involvement belum mental involvement sehingga reflective thinking dari peserta belum menonjol. belum menyajikan berbagai cara koleksi data. (2) tidak cukup waktu. Pertanyaan: Bagaimana kesan laporan pilot project PTK yang selama ini telah dilaksanakan oleh para guru? Jawab: Warna penelitian empiris masih kental mewarnai laporan PTK. dan (d) masalah itu harus fisibel (artinya dapat dipecahkan). problematik. lingkungan sekolah. dan (3) masalah itu jelas manfaatnya. wawancara. . karena: (1) mungkin tidak ada alat/ dana. (d) reflective thinking belum merupakan budaya pikir dan kerja peserta penelitian sehingga catatan-catatan harian (learning logs) belum dimaksimalkan dalam pembuatan laporan. Pertanyaan: Kendala apakah yang sering ditemui pada pelaksanaan PTK? Jawab: Pada umumnya kendala-kendala pelaksanaan PTK adalah: (a) masih lemahnya pemahaman akan prinsip-prinsip PT. yaitu: (a) masih digunakan hanya satu alat koleksi data (angket. tes saja). meaningfull itu dapat dipecahkan. dan (e) umumnya penelitian empirisme adalah jenis penelitian yang paling mendominasi di Indonesia. (b) hasil/data cenderung dikuantitatifkan. tidak semua masalah riil. belum critical. (c) masalah itu harus meaningfull (bila dipecahkan terasa manfaatnya. sehingga laporan masih terkesan empiris. petunjuk-petunjuk ke araha ini belum disajikan.

perlukah menguasai kedua penelitian jenis penelitian empiricalisme dan intepretivisme terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus menguasai semua. hal inilah yang menyebabkan laporan-laporan PTK belum bisa menggambarkan perubahan/pembaharuan yang terjadi. justru sebaliknya menggambarkan pemahaman terhadap suatu perlakuan saja.9-58 Penelitian Tindakan Kelas sehingga para guru umumnya masih ’berbaju’ empiris saat melakukan PTK. kemajuan siswa. 10. namun prinsip-prinsip (filosofis) kedua jenis penelitian perlu dipahami. Pertanyaan: Syarat lain apakah yang diperlukan untuk melaksanakan PT/PTK? Jawab: Yang jelas sebelum melakukan PT/PTK harus memahami prinsip/filosofi PT itu sendiri. 11. Petunjuk-petunjuk ke arah kemajuan tersebut harus . sekalipun demikian descriptive statistics masih dapat dimanfaatkan. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses. sehingga peneliti mampu memahami dengan sempurna prinsip-prinsip PT yang berbeda dengan kedua pendekatan tersebut. 9. kemajuan sistem/organisasi kelas/sekolah. susah kiranya menjadi peneliti PT yang sukses. dan kemudian menyenangi/ mempersiapkan diri untuk menjadi agent of change. 12. sehingga manfaat PT langsung dapat dirasakan yaitu adanya perubahan (kemajuan): baik kemajuan diri. Pertanyaan: Syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang peneliti PT/PTK yang sukses (action researchers)? Jawab: Syarat utama yang harus dimiliki adalah jiwa agen pembaharuan (agen of change): tanpa memiliki jiwa agen pembaharuan. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses (PTK maksudnya). apakah harus menguasai statistik terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus! Seperti telah dijelaskan PT bukan penelitian empiris sehingga PT tidak ambigius membuat generalisasi-generalisasi sehingga untuk inferential statistics tidak harus dikuasai.

pemahaman secara tuntas tentang filosofi PT akan mengurangi kebingungan pelaksanaan risen PT di tengah-tengah beberapa kemungkinan pendekatan penelitian yang ada. yes man.) Demikianlah. Meskipun butuh waktu dan proses. beberapa isu yang dapat dihimpun. kendala/ isu lain akan terus dimonitor untuk mendapatkan keyakinan bahwa PTK dapat dipandang sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.Penelitian Tindakan Kelas 9-59 dipotret sejak awal/dini. dst. itulah sebabnya menjadi peneliti PT harus seorang yang pemikir reflektif/ kreatif bukan reproduktif (meniru. .

FORMAT USULAN PTK Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting. sekolah atau lembaganya. perumusan masalah. Bagian Isi Usulan PTK Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian. Bagian pengesahan berisi: a) Judul PTK. termasuk. rencana anggaran penelitian. kontribusi/manfaat. dan kategori penelitian. halaman pengesahan. bidang ilmu. tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan). 2. pangkat. metode penelitian atau rencana penelitian. 1. Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. d) Biaya penelitian. lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti. dan lembaga tempat peneliti bekerja. Bagian Awal Usulan PTK Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar.BAB III PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. jadwal penelitian. tujuan penelitian. e) Sumber dana penelitian. golongan . nama peneliti. Berikut ini adalah penjlasan bagian-bagian itu. . 2004). daftar pustaka. nama lengkap dengan gelar. b) Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya. Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan. dan NIP. jabatan fungsional. yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK. cara pemecahan masalah. pendahuluan/latar belakang masalah. c) Lokasi penelitian.

namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal. . Dengan kata lain. judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-61 a) Judul Penelitian Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. dan sederhana. spesifik. Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. (a) Dilema Pembelajaran Menyimak Bahasa Inggris pada Siswa Kelas III SMA (b) Pemakaian Bahasa Indonesia Lisan Siswa di Lingkungan SMA Kodia Surakarta (c) Hubungan Kemampuan Pengetahuan tentang Majas dengan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 2 Kudus Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK. Formulasi judul hendaknya singkat. Judul berikut ini merupakan beberapa contoh judul PTK. jelas.

9-62 Penelitian Tindakan Kelas

(a) Peningkatan Keterampilan Menulis Hasil Wawancara Melalui Media Majalah Dinding dengan Metode Group Investigation pada Siswa Kelas X SMA Purusatama Semarang (b) Peningkatan Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Penciptaan Suasana Rileks pada Kelas II F Semestrer 1 MAN Rembang Tahun pelajaran 2003/2004 (c) Peningkatan Keterampilan Mengungkapkan Gagasan Secara Lisan dalam Bahasa Indonesia Melalui Metode Probing Question di Kelas 1.6 SMU Negeri 3 Sukoharjo (d) Perangkat Audio Visual sebagai sarana Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Bidang Studi Bahasa Inggris di Kelas 1.2 SMU Gemuh (e) Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA N 7 Semarang (f) Permainan Mencari Harta Karun sebagai Teknik Pembelajaran Membaca Denah, Peta, dan Petunjuk pada Siswa Kelas II D SMP N 3 Kalibagor (g) Peningkatan Menyimak Wawancara Melalui Media Audio Visual dengan Metode Student Teams-Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Kroya Kabupaten Cilacap (h) Strategi Kooperatif sebagai Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berwawancara pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Pancur Kabupaten Rembang (i) Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa dalam Mendeskripsikan Benda dengan Teknik Permainan Terka Gambar pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Trobayan Tahun Pelajaran 2005/2006 (j) Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif Teks Berita pada Siswa Kelas VIII D SMP N 3 Jekulo Kudus (k) Pengenalan Karakter Tokoh dalam VCD Dongeng sebagai Media

Penelitian Tindakan Kelas 9-63

Peningkatan Kemampuan Mendongeng pada Siswa Kelas VII SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan (l) Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Catatan Harian dengan Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X SMA N 1 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (m)Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Anak-anak dengan Menggunakan Metode Simulasi ”Perkampungan Sastra” pada Siswa Kelas V SD Bendanpete 1 Nulumsari Jepara

b) Pendahuluan/Latar Belakang Dalam pendahuluan/latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dari berbagai bahan pustaka yang relevan. Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapat memperkukuh alasan mengangkat permasalahan penelitian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian dalam bagian ini. Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan

lainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi)

9-64 Penelitian Tindakan Kelas

masalah

penelitiannya,

maka

selanjutnya

perlu

diidentifikasi

dan

dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antaranggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. c) Perumusaan Masalah Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benarbenar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

d) Cara Pemecahan Masalah Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil analisis masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang

Penelitian Tindakan Kelas 9-65

dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program

pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemänfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.

e) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

f) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan) Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir

9-66 Penelitian Tindakan Kelas

atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian.Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang yang

menggambarkan

tingkat

keberhasilan

tindakan

diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.

g) Tujuan Penelitian Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini. Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagianbagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang JPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya

ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.

h) Kontribusi/Kemanfaatan Hasil Penelitian Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungani, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas

pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para

Penelitian Tindakan Kelas 9-67

dosen LPTK sebagai pendidik guru., maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi

pengembangan ilmu, teknologi, dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

i) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan secara jelas, demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).

(1) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.

(2) Variabel yang diteliti Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel

tersebut dapat berupa (1) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses

9-68 Penelitian Tindakan Kelas

penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi, siswa, hasil belajar siswa, sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.

(3)

Rencana tindakan Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan

mutu pembelajanan seperti: (a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka

perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolah juga

dikemukakan pada bagian ini. (b) Implementasi tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenanio kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (c) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. (d) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak

Penelitian Tindakan Kelas 9-69

tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

(4) Data dan cara pengumpulan data Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai

kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik),

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang

canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

(5) Indikator kinerja Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam

9-70 Penelitian Tindakan Kelas

bentuk pengurangan (jenis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.

j) Jadwal Penelitian Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang

menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil

penelitian disusun selama 10 bulan.

k) Rencana Anggaran Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut. 1) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan); 2) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari total biaya); 3) Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan; 4) Lain-lain pengeluaran (laporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran. 1) Komponen Pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.

Penelitian Tindakan Kelas 9-71

(a) Persiapan Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. (b) Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. (c) Penyusunan laporan hasil PTK Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sehagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris).

2) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelüaran yang diharapkan.

3) Patokan Pembiayaan Satuan Kegiatan Penelitian (a) Honorarium • Ketua peneliti • Anggota tim penetiti • Tenaga administrasi

1 orang anggota peneliti (dosen . buku panduan penyusunan usulan PTK dari Ditjen Dikti (2004) menyebutkan bahwa jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang.9-72 Penelitian Tindakan Kelas Besarnya honoranium bergantung pada sumber pendanaan. jika Anda ingin mengajukan usulan PTK ke Dikti. yang terdiri atas 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK). (b) Bahan dan peralatan penelitian • Bahan habis pakai • Alat habis • Sewa alat (c) Perjalanan • Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan • Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat • Lumpsum tenmasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan • Monitoning • Konsultasi (d) Laporan penelitian • Penggandaan • Penyusunan artiket • Pengiriman (e) Seminar Seminar Iokal • Konsumsi sesuai dengan harga setempat • Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat Seminar nasional • • Biaya transportasi peserta Biaya akomodasi l) Personalia Penelitian Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian/tugas peran setiap anggota peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. Pada sisi lain.

Asal Permasalahan b. pelatihan di bidang penelitian yang telah diikuti. Hal-hal lain yang dapat mempenjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan juga dapat disertakan dalam usulan penelitian ini. yaitu 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 1 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Pustaka yang ditulis hendaknya benar-benar relevan dan sungguh-sungguh dipergunakan dalam penelitian n) Lampiran dan Lain-lain Bagian ini dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim peneliti. NO A KRITERIA Permasalahan INDIKATOR 1. riwayat pendidikan. Olahan penelitian setelah mengumpulkan data d.Penelitian Tindakan Kelas 9-73 LPTK). dan lembaga tempat tugas dirinci sama seperti pada Lembar Pengesahan. golongan. Diberikan pilihan oleh dosen dan guru disuruh HASIL PENILAIAN Nilai Bobot NxB 2 2 3 4 2 1 2 . Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 2 orang peneliti. Relevansi Permasalahan a. Berawal dari gagasan guru 2. jabatan. 6. pangkat. Nama peneliti. Pengalaman dosen sebagai peneliti c. dan pengalaman dalam penelitian termasuk dalam PTK. m) Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. menyangkut identitas. Dipancing dalam diskusi dengan guru e. Disodorkan dari luar b. Peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rambu-Rambu Penilaian Proposal PTK Berikut ini disampaikan tabel penilaian proposal penelitian tindakan kelas.

Hasil diskusi dengan guru d. Jadwal kegiatan tepat/jelas. Cakupan komprehensif. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup lebih dari satu siklus kegiatan b.9-74 Penelitian Tindakan Kelas memilih c. Aspek kognitif. asesmen komprehensif B Cara Pemecahan 1. Pilihan solusi diberikan oleh dosen LPTK dan ditetapkan oleh guru c. tes konvensional b. Sangat potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran b. Cakupan komprehensif. Dimunculkan oleh guru dalam diskusi 3. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup satu siklus kegiatan c. tes kognitif konvensional d. Tidak potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran a. Dari kepala sekolah/penilik/pejabat lain sebagai pembina b. Rancangan tindakan a. Bertolak dari permasalahan yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. tetapi tenaga dan sarana pendukung tidak jelas 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 4 4 3 2 1 1 D Prosedur penelitian 4 3 2 1 4 3 3 E Program kegiatan dan dukungan teknis 1 . Cukup potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran c. Dipancing melalui diskusi/negoisasi d. Tidak sesuai dengan langkah-langkah PTK a. Kurang potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran d. Jadwal kegiatan jelas/tepat. Bertolak dari permasalahan yang diajukan oleh guru 3. demikian juga dengan tenaga dan sarana pendukung b. Kontekstualitas tindakan a. Bertolak dari masalah yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Siklus berikut ditetapkan berdasarkan hasil refleksi C Kemanfaatan hasil a. Solusi terhadap permasalahan berdasarkan kesepakatan guru dengan dosen LPTK d. Kontekstualitas tindakan a. Cakupan permasalahan a. asesmen komprehensif c. Dari dosen sebagai peneliti c. Berawal dari gagasan guru 2. Kurang sesuai dengan langkah-langkah PTK d. Aspek kognitif.

masukan. Komponen-komponen pembiayaan dirinci sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan b. Komposisi dosen dan guru berimbang tetapi guru tidak berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti c. Komposisi dosen dan guru berimbang dan guru berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti b. relevansi . Jumlah biaya melebihi plafond yang ditetapkan 2. Jumlah dosen dalam tim jauh lebih banyak d. Semua anggota tim peneliti adalah dosen 1. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara tidak wajar/berlebihan 2 1 4 1 3 2 1 3 2 1 G Pembiayaan 3 2 1 1 2 1 Di samping rambu-rambu penilaian di atas. Jadwal kegiatan kurang tepat/jelas d. dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25). Perumusan masalah (terutamanya: asal. Rincian komponen-komponen pembiayaan a. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutamanya: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi. kriteria seleksi yang dilakukan oleh Ditjen Dikti (2004) terhadap usulan PTK mencakup hal-hal sebagai berikut. dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25). Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara wajar b. Kewajaran pembiayaan a. Cara Pemecahan Masalah (terutamanya: rancangan tindakan. . proses.Penelitian Tindakan Kelas 9-75 c. b. Jumlah biaya sesuai dengan plafond yang ditetapkan b. Komponen-komponen pembiayaan tidak dirinci sebagaimana mestinya 3. a. c. Kesesuaian jumlah biaya a. Jadwal kegiatan serta sarana dan prasarana tidak sesuai F Kerjasama LPTK Sekolah a. atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10).

. rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian. perencanaan tindakan. Prosedur Penelitian (terutamanya: prosedur diagnosis masalah. prosedur observasi dan evaluasi. e. Kegiatan Pendukung (terutamanya: jadwal penelitian. prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30). sarana pendukung pembelajaran yang digunakan.9-76 Penelitian Tindakan Kelas d. dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10).

Bagaimanapun pentingnya teori dan hipotesis. struktur. serta betapa hebatnya pun kita menghasilkan sebuah penelitian. ISI LAPORAN PTK Pada dasarnya apa yang telah ditulis dalam usulan penelitian akan dimuat lagi dalam laporan penelitian. B. peneliti dapat memilih atau mengembangkan sendiri format laporan yang akan digunakan. Laporan penelitian dapat beragam bentuk atau formatnya.BAB V LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. . penelitian hanya akan mempunyai arti apabila hasilnya dilaporkan secara memadai melalui laponan penelitian (Shah. 1985). secara mendasar laporan itu sama dalam hal tuntutan isi. bagaimana pun telitinya kita membuat rancangan penelitian. Ia merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. OIeh sebab itu. Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. maupun bahasanya. Meski beragam bentuk atau formatnya. PENGANTAR Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Hal itu sangat bergantung pada tuntutan lembaga dan/atau sponsor yang mendukung dana penelitian tersebut. laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. Ia juga merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya. Jika pihak sponsor tidak menetapkan format yang harus diikuti atau penelitian dilaksanakan secara swadana. Bagaimana menyusun laponan PTK? Berikut ini akan diuraikan secara garis besar tentang teknik penyusunan laponan PTK.

laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkas dan dituangkan dalam paragraf-paragraf yang ringkas dan padat. dan prosedur/langkah kerja. Laporan penelitian yang lengkap. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format eksekutif adalah: (1) judul penelitian. (3) pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian. rumusan masalah. dan (7) daftar pustaka. Misalnya. dan tujuan penelitian. (6) simpulan.d. (5) hasil-hasil penelitian. dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. Dari sekian macam format laporan PTK akan disajikan satu contoh format laporan PTK berikut ini. (2) nama peneliti (ketua dan anggota). memiliki format yang berbeda. sasaran penelitian. adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas. Panjang laporan sekitar 10 s. 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda (2 spasi). adalah laporan penelitian yang lengkap. Karena itu. ada bermacam-macam format sesuai dengan pihak sponsor dana. padat. . laporan PTK dari proyek OPF Diknas dan PTK PGSM.9-78 Penelitian Tindakan Kelas Dalam perkembangannya yang terakhir. sesuai dengan namanya. seperti dijelaskan di atas. ada dua jenis laporan penelitian jika dilihat dari formatnya. (4) metode penelitian yang memuat rancangan penelitiqan. sedangkan jenis yang kedua. Para eksekutif dalam membaca suatu laporan penelitian hanya memerlukan butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. yang sudah sangat umum. Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif. Jenis laporan ini seolah-olah akan dibaca oleh para eksekutif yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca laporan lengkap dari suatu hasil penelitian. Jenis yang pertama laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif (executive summary).

Pembahasan Bab V PENUTUP 1. Manfaat Penelitian Bab II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1.... .. Latar Belakang Masalah 2....................Penelitian Tindakan Kelas 9-79 BAGIAN AWAL Halaman Judul Abstrak Prakata Daftar Isi BAGIAN UTAMA Bab I PENDAHULUAN 1.. 2. Rumusan Masalah 3..... Tujuan Penelitian 4........... Saran/Rekomendasi BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran ............... Prosedur Analisis Data Bab IV HASIL PENELITIAN 1....... 3.. Bab III METODE PENELITIAN 1.... Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4. Uji Hipotesis 3.. Prosedur Observasi dan Refleksi 5..... ......... Paparan Data 2........ Setting Penelitian dan Latar belakang Subjek Penelitian 2... Rancangan Penelitian 3... ............................. Simpulan 2....

Sekiranga diperlukan. di mana dan kapan penelitian akan dilakukan. singkat. 1. Terakhir. dan (4) daftar isi. (2) abstrak. Halaman Judul Judul penelitian berupa kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti. daftar singkatan. Abstrak bukanlah ringkasan hasil penelitian. sederhana. daftar gambar. Dengan hanya membaca abstrak seseorang dapat memahami pokok- pokok yang ditulis dalam laporan. Abstrak Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. bagian awal ini dapat ditambahkan dengan daftar tabel. melainkan inti sari yang sangat pnting dari hasil penelitian. yaitu: (1) halaman judul. Pada halaman judul ini judul penelitian ditulis simetris di bagian atas bidang pengetikan dengan huruf kapital. jelas. dan mudah dipahami. BAGIAN AWAL Paling sedikit ada empat unsur pokok yang termasuk dalam Bagian Awal dari laporan PTK. Hal-hal penting tersebut adalah latar . Akan tetapi jika tidak cukup bisa diperpanjang maksimum sampai dua halaman kertas ukuran kuarto. (3) prakata. pada bagian bawah bidang pengetikan ditulis lembaga yang menyelenggarakan atau menyeponsori penelitian. daftar lampiran. Kemudian. Agak jauh di bawah judul dicantumkan nama tim peneliti (bisa ketua saja atau lengkap ketua dan anggota).9-80 Penelitian Tindakan Kelas Keterangan singkat tentang isi dari masing-masing format dari ketiga bagian laporan lengkap penelitian tersebut disajikan berikut ini. Panjang abstrak sebaiknya satu halaman. di bawah nama lembaga atau sponsor dicantumkan tahun selesainya penelitian atau tahun ditulisnya laporan penelitian. tindakan sebagai upaya pemecahan. 2. terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan.

(2) kerangka teoretik dan hipotesis tindakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-81 belakang masalah. . (3) metode penelitian. Sub-sub judul yang lebih dari satu peringkat di bawah judul bab tidak perlu dicantumkan karena akan menyebabkan daftar isi menjadi terlalu panjang. bagian utama laporan penelitian tindakan terbagi menjadi lima bagian (yang disebut bab). dan (4) alasan pentingnya penelitian tindakan ini dilakukan. tujuan penelitian. dan kesediaan menerima masukan yang datang dari berbagai pihak. Lazimnya. yaitu: (1) pendahuluan. Daftar Isi Hal-hal yang dicantumkan dalam daftar isi adalah judul bab dan sub-judul (satu peringkat di bahawa judul bab). 3. 1. pelaksanaan penelitian. (4) hasil penelitian. dan implikasinya. BAGIAN UTAMA Isi bagian utama dari laporan penelitian merupakan inti dari keseluruhan laporan. (2) argumentasi teoretik tentang tindakan yang dipilik. Prakata Prakata berisi ucapan syukur dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian. bagian ini bisanya diisi dengan harapan akan kemanfaatan hasil penelitian. (3) hasil penelitian terdahulu (jika ada). hasil penelitian. Latar Belakang masalah Berisi uraian (1) fakta-fakta yang mendukung yang berasal dari pengamatan peneliti. Pendahuluan a. Selain itu. 4. dan (5) penutup.

(4) kalangan guru/dosen pada umumnya. Tujuan Penelitian Secara operasional. (5) sekolah/LPTK . prosedur observasi dan refleksi. dengan tindakan akan terjadi perubahan. 2. Metode Penelitian Bab ini berisi hasil pengembangan dari yang telah ditulis dalam usulan penelitian dengan catatan bahwa metode dalam usulan adalah yang akan dilaksanakan.9-82 Penelitian Tindakan Kelas b. Manfaat Penelitian Berisi manfaat atau sumbangan hasil penelitian khususnya bagi (1) siswa. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretik berisi kajian teoretik yang relevan yang mendasari penelitian tindakan. Artinya yang dilaporkan adalah metode yang telah diterapkan dalam melaksanakan penelitian. c. tujuan penelitian berisi pernyataan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh peneliti dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa. rancangan penelitian. (3) dinyatakan dalam kalimat pertanyaan/pernyataan. bukan yang akan dilaksanakan. perbaikan atau peningkatan. (2) rancangan tindakan pembelajaran yang mempunyai landasan konseptual. 3. d. Rumusan Masalah Berisi uraian yang menjelaskan: (1) kesenjangan antara situasi yang diinginkan dan yang ada dan dapat dipecahkan. perencanaan dan pelaksanaan tindakan. prosedur analisis data. . Kata “akan” yang ada dalam usulan tidak boleh ada lagi dalam laporan. (2) guru/dosen pelaksana PTK. sedangkan pada laporan dikemukakan metode yang senyatanya telah dilaksanakan. Unsur-unsur yang ada pada bagian metode ini adalah: setting penelitian dan latar belakang subjek penelitian. tindakan inilah yang kemudian dituangkan dalam hipotesis tindakan dalam rangkan pemecahan masalah.

Hasil Penelitian Pada bab ini dilaporkan tentang deskripsi data (perlakuan atau intervensi dan dampak intervensi). Simpulan didasarkan pada hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. Daftar Pustaka Istilah “daftar pustaka” biasanya mempunyai dua arti: (a) referensi dan (b) bibliografi. 1. dalam daftar pustaka dapat dimuat semua judul tulisan yang dibaca oleh peneliti dan mendasari penulisan naskah. tetapi jika daftar pustaka disamakan artinya dengan bibliografi.Penelitian Tindakan Kelas 9-83 4. dan pembahasan hasil pengujian hipotesis. pengujian hipotesis. Pembahasan ini berisi perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian lain atau pengetahuan teore yang relevan. Saran dibatasi hanya yang terkait langsung dengan simpulan. Saran yang didasarkan atas pertimbangan lain di luar simpulan tidak boleh diajukan dalam laporan penelitian. setiap judul tulisan yang dimuat dalam daftar pustaka harus telah dipergunakan sebagai rujukan secara eksplisit dalam naskah laporan. Penutup Bab ini berisi simpulan dan saran/rekomendasi. . BAGIAN AKHIR Bagian akhir dari laporan penelitian tindakan memuat antara lain daftar pustaka dan lampiran. Judul tulisan yang tidak dikutip secara eksplisit dimasukkan dalam daftar karena dibaca dan secara umum ide-idenya dipakai sebagai dasar penulisan. Riwayat hidup (curriculum vitae) peneliti biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. Jika daftar pustaka diartikan referensi (daftar rujukan). namun tidak dapat dirujuk secara khusus. 5. baik yang dikutip secara eksplisit pada salah satu bagian di dalam naskah maupun yang tidak.

isi. menyusun dengan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang laporan penelitian dan harus dikerjakan secara profesional. . Lampiran Semua dokumen yang tidak berupa naskah (teks) tetapi dianggap penting untuk mendukung apa yang ditulis pada naskah laporan dan dapat dilacak oleh pembaca dengan mempelajari dokumen tersebut.9-84 Penelitian Tindakan Kelas 2. Misalnya: instrumen penelitian. perlu dilampirkan pada laporan. baik dari sudut format. maupun bahasanya. Peneliti harus benarbenar mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya benar-benar maksimal. Ia harus dikemas secara baik. Ia harus menata. data asli (mentah). surat-surat penting dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian. pedoman observasi. Oleh sebab itu. daftar cek. Laporan penelitian tidak dapat dianggap sebagai karya yang dapat dikerjakan sambil lalu. peneliti haruslah menyiapkan laporan penelitian dengan baik. C. struktur. seperti kuesioner (angket). PENUTUP Laporan penelitian merupakan pertanggunjawaban peneliti. print out hasil analisis data dengan komputer.

PTK bercirikan perbaikan praksis pembelajaran dari dalam. kolaboratif. PTK merupakan alternatif yang sangat tepat untuk menggantikan posisi penelitian formal atau penelitian kelas yang selama ini banyak dikerjakan untuk dapat meningkatkan praksis pembelajaran dari dalam dengan cara kolaboratif dan reflektif. dan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan oleh orang di luar dunia pendidikan yang tidak menghayati masalah pendidikan dan penyebaran basil penelitian pendidikan memakan waktu yang lama untuk sampai pada guru. PTK itu metodologinya longgar. PTK mengembangkan praksis pembelajaran sedangkan penelitian formal verifikasi dan menemukan pengetahuan yang akan digeneralisasikan.BAB V PENUTUP Penelitian pendidikan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi guru di dalam kelas. Sampel PTK khusus sedangkan penelitian formal represertatif . reflektif PTK mempunyai manfaat untuk inovasi kurikulum di tingkat sekolah. instrumentasi dan analisisnya tidak harus ketat seperti pada penelitian formal. PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran dengan memanfaatkan pengahayatan guru akan masalah pendidikan dengan cara kotaboratif dan reflektif Penelitian kelas dibatasi sebagai penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional. PTK berbeda dengan penelitian formal dalam berbagai cara sebagai berikut. Oleh sebab itu. PTK dikerjakan oleh orang dalam (baca guru) sedangkan penelitian formal dikerjakan oleh orang luar yang tidak menghayati masalah di kelas secara mendalam. dan pengembangan peningkatan profesionalitas guru.

serta pengalaman mengajarnya. Dengan masalahnya itu guru berupaya untuk mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkan hipotesis tindakan yang dikajinya dan berbagai teori. Begitu seterusnya. Jika hasilnya belum baik. pelaksanaan. begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki praksis pembelajaran. Pada saat pelaksanaan itu guru mengadakan observasi yang berupa nontes. maka guru barus siap mengadakan revisi terhadap tindakan yang dilakukan dan menetapkan tindakan baru yang kemudian akan dilaksanakan dan diobservasi dan direfleksi. dan sebagainya serta dengan tes untuk melihat kemajuan praksis pembelajaran siswa.9-86 Penelitian Tindakan Kelas PTK dilaksanakan dengan prosedur berdaur. wawancara. dan terjadilah daur PTK . Tahap selanjutnya guru dengan berkolaborasi bersama teman sejawat. yakni pengamatan. . observasi. dan refleksi. yakni perencanaan. atau kepala sekolah/birokrat pendidikan yang lain membuat rencana tindakan yang dipersiapkan secara matang dan melaksanakannya di dalam kelas. basil penelitian. Masalah PTK adalah masalah yang memang benar-benar dirasakan oleh guru dan bukan masalah yang diturunkan dari atasan atau dan pihak dosen. Hasilnya kemudian direfleksi oleh guru dibantu oleh teman kolaborasinya. dosen.

Jakarta. Edward. dan Miller. 1982. 2004. Tisno.d. Hopkins. Candy. Action Research in a School University Partnership. 1989. Elliot. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Australian Educational Researcher. 1992. Geelong: Deaking University. Jakarta: Ditjen Dikti. and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. B. J. S.. Smith. Gelong. 1991. W. Victoria: Deakin University. H. Hadisubroto. 1998. Singaraja. L. Chicago. Departemen Pendidikan Nasional. “Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Cobstructs: an Accont of the work of the Ford Teaching Project”. M. 2000. London & Canberra: Croom Helm. & Manion. Research Methods in Education. Cohen. How To Design. P.C. STKIP. David. Penyusunan Proposal PTK. New York: University Press. & Kemmis. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Geelong. “Alternative Paradigms in Educational Research”. D. Format Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas . Australia: Deakin University. Research Methodology I: Issues and Methods in Research. AERA. Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM tanggal 18—22 Oktober. Knowledge. Dalam The Action Research Reader. 1993. Soli 1998. Second Edition. J. Victoria. “Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) untuk Tahun Anggaran 2004”. 1980. IL.. dan Wisemen. 16 (3) 1 s. S. Branson. Philadelphia : Open University Press. FIP IKJP Surabaya. Elliot. R. Action Research for Educational Change. 11. Philadephia: Open University Press. PTK. Penelitian Tindakan Berbasis Kelas dan Sekolah. Connole. 1982. Balian. John. 1983. Johnston.DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. 1997. 1997. Analyze. Depdiknas. and Action Research. L. Becoming Critical: Education. Carr. .

Makalah pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi Dosen dan Guru. H. Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK). R. Jakarta BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud. McTaggart. Using Action Research to Improve Teaching. Caulley. dan McTaggart. London: Routledge. 1994. PCP. dan M. 1992. Suwarsih. 1991. J. T. McNiff. Noeng. S. Hong Kong: Hong Kong Polytechnic. 1985. Andreas. 1988. Semiawan. Rochman. Desain. 3rd ed. tanggal 9 September 1999. Bandung : IKIP Bandung. Action Research: Principles and Practice. . Beijing: Beijing Teacher College Press. PPGSM Ditjen Dikti. Bogor. FX. Kemmis. Jakarta: BP3SD. Conny R. Rencana. Natawidjaya. Jakarta: BP3SD. Depdikbud. Pemantauan dan Evaluasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. PCP. Sumarno. Kember D. Dirjen Dikti. Jakarta: BP3SD. PPGSM Ditjen Dikti. Soedarsono. Menyusun Laporan Penelitian. Shah.) Social Science Methodology for Education Inquiry: A Conceptual Overview. Muhadjir. Priyono. 1991. 1997. Raka. Seri Metodologi Penelitian: Panduan Penelitian Tindakan. Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. The Action Research Planner. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). “Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas”.9-88 Penelitian Tindakan Kelas Joni. 1997. Kelly. 1998. ”Appraising Report of Inquiry”. R. Yogyakarta: Gajahmada University Press. 1997. Analisis dan Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas. dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Victoria: Deakin University. Dirjen Dikti. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Vimal P. 1999. Dirjen Dikti. 1997. 1997. Moore and J. Depdikbud. Suyanto. Tejemahan Muhajir Darwin dari Reporting Research. Orto (eds. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta. Madya. Chapter prepared for inclusion in D. 1998.

Perth: Education Department of Western Australia. 1996. SCOPE Program. Penelitian Tindakan Kelas. . D. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1999.Penelitian Tindakan Kelas 9-89 Tim Pelatih Proyek PGSM. Tripp.

BUKU AJAR PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH .

buku ajar ini mengantarkan peserta PLPG untuk memahami materi-materi tersebut di atas. jenis dan struktur artikel ilmiah. artikel hasil penelitian. Buku ajar “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini mempunyai standar kompetensi dasar (1) mengenal penulisan artikel ilmiah. (3) mengenal format penulisan artikel ilmiah. (2) mengenal format laporan penelitian tindakan kelas. Hal ini mempunyai tujuan agar setelah pelaksanaan matapelajaran ini peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menyusun artikel ilmiah yang siap dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah yang tidak maupun terakreditasi. PENDAHULUAN A. Karena standar kompetensi penelitian tindakan kelas adalah (1) mengenal metode penelitian tindakan kelas. namun demikian peserta juga diminta untuk menyusun draft penulisan artikel ilmiah di bidang kompetensi masingmasing. Deskripsi Buku Ajar mengenai “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini meliputi materi pembelajaran tentang penulisan artikel ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 BAB I. dan (4) menyusun draft artikel ilmiah. format tulisan. serta praktik penulisan artikel ilmiah. . Secara garis besar. Buku ajar ini mempunyai hubungan dengan buku ajar yang terutama adalah penelitian tindakan kelas. (3) menyusun draft proposal penelitian tindakan kelas. artikel hasil pemikiran. pada saat peserta PLPG berkeinginan untuk menuliskan hasil penelitian tindakan kelas ke dalam jurnal penelitian pendidikan. (2) mengenal perbedaan penulisan artikel ilmiah yang konseptual dan yang non konseptual. Jelas bahwa kompetensi dasar kedua mata pelajaran ini akan bersngkut paut.

Hasil draft itu selanjutnya digunakan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ini. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan enumeratif. Peserta PLPG aktif berdiskusi dengan pelatih. 5. 7. serta dimintakan pendapat dari pelatih. menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Saran-saran dari pelatih yang belum dipahami perlu ditanyakan kembali kepada pelatih jika perlu meminta perbandingan dengan artikel yang telah termuat di dalam jurnal. selanjutnya mendiskusikan dengan teman lainnya. Peserta mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyusun draft artikel ilmiah. 2.Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil penelitian. Di samping itu. peserta pelatihan mencermati contoh-contoh yang telah disajikan oleh pelatih dan yang tersaji di dalam buku ajar ini. Petunjuk Pembelajaran Peserta PLPG harus selalu aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas.9-4 Penulisan Karya Ilmiah B. Kemudian peserta PLPG harus belajar menyusun suatu draft artikel ilmiah yang selaras dengan format yang tersaji di dalam buku ajar ini. 4. 3. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami kriteria penulisan artikel ilmiah. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan esai. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil pemikiran konseptual. . C. 6. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami jenis dan struktur artikel ilmiah. Kompetensi dan Indikator 1. .

artinya isi penerbitan ilmiah hanya dapat dikembangkan dari fenomena yang memang exist. sifat dan struktur karya tulis ilmiah. Kriteria ini adalah cerminan sifat karya ilmiah yang berupa norma dan nilai yang berakar pada tradisi ilmiah yang diterima secara luas dan diikuti secara sungguh-sungguh oleh para ilmuwan. artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal diharapkan memenuhi kriteria sebagai sebuah karya ilmiah. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar pertama ini. Menjelaskan bentuk. Menjelaskan sikap ilmiah. 2. 3. Berbekal pengalaman bapak dan ibu dalam memahami artikel ilmiah. Menjelaskan perbedaan artikel hasil pemikian konseptual dengan hasil penelitian B. bapak dan ibu sudah sering membaca berbagai artikel.BAB II. baik yang bersifat populer. Sebagai guru. Oleh karena itu. Pertama. struktur dan sifat-sifat artikel ilmiah 4. walaupun kriteria . Berkaitan uraian di atas. penerbitan ilmiah secara inherent harus menampilkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas karya ilmiah tersebut yang mungkin tidak selalu harus dipenuhi di dalam jenis penerbitan yang lain. penerbitan ilmiah bersifat objektif. Menjelaskan sifat artikel ilmiah. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Karya ilmiah tentu sudah merupakan bacaan yang sangat akrab dengan peserta PLPG. bapak dan ibu akan mengkaji bentuk. ilmiah populer maupun yang memang benar-benar merupakan karya ilmiah. URAIAN MATERI Sesuai dengan namanya. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. KEGIATAN BELAJAR I JENIS DAN STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH A.

Oleh karena itu.9-2 Penulisan Karya Ilmiah eksistensi fenomena yang menjadi fokus bahasannya dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain. Selanjutnya. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. ia juga mengemban sifat pembaharu dan up-to-date atau tidak ketinggalan jaman. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Lain daripada itu. penulisannya harus mengikuti pola. jujur. Oleh karena itu. hati-hati dan tidak over-claiming. dilengkapi dengan keterbukaan dalam menyebutkan sumber bahan yang menjadi rujukannya. penerbitan ilmiah juga membawa ciri khas ini yang sekaligus berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik yang berkaitan dengan masalah yang dipersoalkan. juga dipandang sebagai upaya penulis untuk memenuhi etika penulisan ilmiah. Semua sikap di atas. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. Rasional menurut Karl Popper adalah tradisi berpikir kritis para ilmuwan. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para . dan tidak menyertakan motif-motif pribadi atau kepentingan- kepantingan tertentu dalam menyampaikan pendapatnya. karena jurnal merupakan sarana komunikasi yang berada di garis depan dalam pengembangan IPTEKS. dan kaidah-kaidah tertentu juga. dalam menulis artikel ilmiah penulis hendaknya juga tidak mengabaikan komponen sikap ilmiah yang lain seperti menahan diri (reserved). Walaupun demikian. Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Selain objektif. sifat lain karya ilmiah adalah rasional. lugas. struktur. teknik. dan sifat-sifat tertentu. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah.

Pemuatan artikel hasil penelitian. dan (3) gagasan atau usulan baru (Pringgoadisurjo. Ada beberapa jurnal yang hanya memuat artikel hasil penelitian. Di dalam tulisan ini pembahasan akan dibatasi pada struktur dan anatomi dua jenis artikel saja yaitu artikel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian. 1993). seringkali majalah ilmiah juga memuat resensi buku dan obituari. yaitu artikel hasil pemikiran atau artikel non penelitian dan artikel hasil penelitian. Alat dan Bahan a. artikel hasi pemikiran. Selain itu. d. majalah ilmiah pada umumnya memuat salah satu dari hal-hal berikut: (1) kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah. Alat tulis. b. Sesuai dengan tujuan penerbitannya. resensi dan obituari ini sejalan dengan rekomendasi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Dalam praktik halhal tersebut akan diwujudkan atau dimuat di dalam salah satu dari dua bentuk artikel. Laptop c. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2000). Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. Akan tetapi sebagian jurnal biasanya memuat kedua jenis artikel: hasil pemikiran dan hasil penelitian. misalnya Journal of Research in Science Teaching yang terbit di Amerika Serikat dan Jurnal Penelitian Kependidikan terbitan Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Malang.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. (2) pengamatan empirik. LEMBAR KEGIATAN 1. . LCD proyektor. C.

2. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.2 Presensi peserta pelatihan. Kegiatan Inti 3. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian sifat artikel ilmiah.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. ceramah pemecahan masalah 3. 2. 1. Langkah Kegiatan No.9-4 Penulisan Karya Ilmiah 2. struktur dan sifat karya tulis ilmiah.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan bentuk. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Kegiatan Waktu Metode 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran. 5 menit Curah pendapat. 35 menit Metode pemberian tugas dan . 2.

5 Sharing dalam kelas mengenai sikap ilmiah. 4.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu.4 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan.3 Fasilitator memberikan ceramah tentang bentuk dan struktur artikel ilmiah 3.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit pendampingan Refleksi . bentuk. sifat. sifat.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 3. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sikap ilmiah.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang sikap ilmiah. dan struktur artikel ilmiah. 3. Kegiatan Akhir 4. 4.Penulisan Karya Ilmiah 9-5 3. bentuk. 4. dan struktur artikel ilmiah.

setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. dan kaidah-kaidah tertentu juga. Walaupun demikian. dan sifat-sifat tertentu. Hasil a. D. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai karakter sikap ilmiah. penulisannya harus mengikuti pola. c.9-6 Penulisan Karya Ilmiah 3. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. teknik. dan struktur karya tulis ilmiah. b. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. RANGKUMAN Artikel ilmiah mempunyai bentuk. struktur. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. yang selanjutnya mempunyai kecenderungan positif jika dihadapkan pada kasus plagiariasme misalnya. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai bentuk. Oleh karena itu. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. . Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai sifat artikel ilmiah.

kebudayaan c. rekomendasi penulis d. dan tidak memihak. simpulan c. dan penutup b. kecuali a. pemulung d. penulis bersikap netral. Substansi suatu karya tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal.Penulisan Karya Ilmiah 9-7 F. struktur sajian d. bagian inti. obyektif. kecuali a. pendidikan b. rangkuman dan tindak lanjut b. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat 1. fakta atau kenyataan b. inti (pokok pembahasan). dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. pendahuluan. abstrak. informatika 5. Bagian penutup suatu karya tulis ilmia. Aspek-aspek yang menentukan karakteristik karya tulis. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya tulis ilmiah. panjang tulisan c. TES FORMATIF 1. penutup 3. abstrak. Dalam karya tulis ilmiah. kecuali a. simpulan umum c. bagian inti. penggunaan bahasa 2. Sikap ini sesuai dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada. pendahuluan. argumentasi . Struktur sajian suatu karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari a. simpulan d. pendahuluan. abstrak. bagian inti. pada umumnya menyajikan tentang a. simpulan dan saran 4. sikap penulis b.

disajikan secara sistematis 9. memaparkan bidang ilmu tertentu b. namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen a. daftar tabel d. Keobyektifan penulis karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat a. yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah? a. teori yang diakui kebenarannya d. Di antara judul berikut. data empirik/hasil penelitian 6.9-8 Penulisan Karya Ilmiah c. impersonal d. lampiran 8. abstrak c. daftar pustaka b. kumbang cantik pengisap madu c. kecuali a. baku c. pengaruh obat bius yang menghebohkan 10 . Untuk membedakan karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah. Berikut ini adalah ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda adalah a. panjang tulisan . menggunakan gaya bahasa resmi d. Komponen suatu karya tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan penulisannya. seseorang dapat mengkaji berbagai aspek tulisan. resmi b. pengaruh gizi pada pertumbuhan anak d. merupakan deskripsi suatu kejadian c. personal 7. senjata makan tuan b. sistematika tulisan b.

dan bagian penutup. coba simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah! 3.Penulisan Karya Ilmiah 9-9 c. Sebutkan aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal. inti. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah? . Tes Uraian 1. pengarang 2. Setelah membaca uraian di atas. Berdasarkan uraian itu. Secara umum. coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal karakteristik karya tulis ilmiah. Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan seperti itu? 2. ragam bahasa yang digunakan d.

KEGIATAN BELAJAR II ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN DAN HASIL PENELITIAN A. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar kedua ini. 8. Menjelaskan abstrak dan kata kunci karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar yang kedua ini akan dibahas bagaimana menentukan kelayakan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan serta struktur tulisan konseptual. 5. 3. Menjelaskan penulisan simpulan dan saran karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan pembuatan judul karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian.BAB III. Berkaitan uraian di atas. Menjelaskan penulisan pembahasan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 7. Di samping itu akan dibahas juga teknik menulis karya tulis ilmiah atas dasar hasil penelitian. 2. Menjelaskan penulisan pendahuluan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 4. Pembahasan mengenai materi ini akan bermanfaat pada saat bapak dan ibu menulis artikel konseptual. Menjelaskan penulisan hasil penelitian karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 6. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. Menjelaskan penulisan daftar pustaka karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian . Menjelaskan penulisan metode karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian.

Sumber-sumber yang dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan.Penulisan Karya Ilmiah 9-11 B. dan pikiran baru penulis tentang hal yang dikaji. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya. baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. Jadi. mengandung unsur-unsur utama masalah. pendahuluan. Salah satu ciri penting judul artikel hasil pemikiran adalah . dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang kuat bagi calon pembaca. Pilihan kata-kata harus tepat. apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber. yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya. hasil-hasil penelitian terdahulu. Judul Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini. tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya. URAIAN MATERI 1. yaitu judul. dan daftar rujukan. di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks. bagian inti atau pembahasan. jelas. a. jika memang ada. Artikel hasil pemikiran biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok. Atikel Hasil Pemikiran Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan. nama penulis. yang dituangkan dalam bentuk tulisan. abstrak dan kata kunci. penutup. artikel hasil pemikiran bukanlah sekadar kolase atu tempelan cuplikan dari sejumlah artikel. Bagian paling vital dari artikel hasil pemikiran adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas.

IX No.2. Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi. Nama Penulis Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis. No. dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu. argumentative. . Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. 1) Repelita IV: A Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. analisis.9-12 Penulisan Karya Ilmiah bersifat ”provokatif”. dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan.) Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciriciri yang diharapkan ditunjukan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif. dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi. No. Nama lembaga tempat penulis bekerja sebagai catatan kaki di halaman pertama. hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan disertai tambahan dkk. Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini. Hal ini penting karena artikel hasil pemkiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi. b. dan analitik. (dan kawan-kawan). Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7. 33. Jika penulis lebih dari dua orang. nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain.1) Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? (Journal of Research in Science Teaching Vol. argumentasi.

Perhatikan contoh abstrak dan kata-kata kunci berikut ini. diketik dengan spasi tunggal. A qualitative study is often contrasted with its quantitative counterpart. Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel. sehingga (calon) pembaca tertarik untuk meneruskan pembacaannya. In fact these two approaches serve different purposes. Abstract: Theory Generation through Qualitative Study. Business transaction pattern and market characteristic. yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel. Panjang abstrak biasanya sekitar 50-75 kata yang disusun dalam satu paragraf. and other related quantitative values can be more appropriately investigated through quantitative study. tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atau tubuh artikel. These two approaches are more often inappropriately considered as two different schools of thought than as two different tools. Format lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan). theory development . A qualitative study takes several stage in generating theories. quantitative study. bukan komentar atau pengantar penulis. frequencies.Penulisan Karya Ilmiah 9-13 c. Dengan membaca abstrak diharapkan (calon) pembaca segera memperoleh gambaran umum dari masalah yang dibahas di dalam artikel. Key words: qualitative study. kata-kata kunci hendaknya diambil dari tresaurus bidang ilmu terkait. Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci. for example. while their tendencies. Jika dapat diperoleh. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak artikel hasil pemikiran adalah ringkasan dari artikel yang dituangkan secara padat. Ciri-ciri umum artikel hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini. can be investigated through qualitative study.

. Pendahuluan Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas.”dst. Dalam artikel-artikel ini akan dibahas kemungkinankemungkinan menurunnya partisipasi masyarakat tersebut berdasarkan analisis ekonomi pendidikan. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli yang berkaitan dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.. Partisipasi masyarakat merupakan unsur yang paling penting sekali bagi keberhasilan program pendidikan. Perhatikan tiga segmen bagian pendahuluan dalam contoh di bawah ini. Di Amerika Serikat dalam tingkat pendidikan tinggi dikenal apa yang disebut “Land-Grant Universities. Diharapkan. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem politik yang kurang demokratis dan budaya masyarakat paternalistik telah menyebabkan rendahnya partisipasi. dengan analisis ini kekurangan analisis terdahulu dapat dikurangi dan dapat disusun penjelasan baru yang lebih komprehensif.9-14 Penulisan Karya Ilmiah d. Catatan sejarah pendidikan di negara-negara maju dan dikelompokkelompok masyarakat yang telah berkembang kegiatan pendidikan menunjukan bahwa keadaan dunia pendidikan mereka sekarang ini telah dicapai dengan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan di dalam berbagai bentuk.. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan. . Dari kajian terhadap berbagai tulisan dan hasil penelitian disebutkan di muka terlihat masih terdapat beberapa hal yang belum jelas benar atau setidak-tidaknya masih menimbulkan keraguan mengenai sebab-sebab menurunnya mutu partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Sementara itu penulis-penulis lain lebih memfokus pada faktor-faktor ekonomi. misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan yang terkait dengan artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu..

komparasi. lazimnya berisi kupasan. Walaupun demikian. analisis. keputusan. Penggunaan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif. . Perhatikan contoh-contoh petikan bagian inti artikel berikut ini. Hence. Bagian Inti Isi bagian ini sangat bervariasi. Science earns its place on the curriculum because there is cultural commitment to the value of the knowledge and the practices by which this body of ideas has been derived. dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis. any consideration of the theoretical implementation must start by attempting to resolve the aims and intentions of this cultural practice…(Dari Osborne. tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. yang membuka kesempatan bagi penulis untuk menampilkan wacana penurunan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dari sudut pandang yang lan. perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. sejauh mungkin juga berciri komparatif dan menjauhi sikap tertutup dan instruktif. Tinjauan dari berbagai sudut pandang telah menghasilkan kesimpulan yang beragam. 1996:54). dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. argumentasi.Penulisan Karya Ilmiah 9-15 Di dalam petikan bagian pendahuluan di atas dapat dilihat alur argumentasi yang diikuti penulis untuk menunjukan masih adanya perbedaan pandangan tentang menurunnya partisipasi masyarakat di dalam pengembangan pendidikan. analitik. Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan. e.

9-16 Penulisan Karya Ilmiah

Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktik-praktik pendidikan adalah suatu keharusan jika dunia pendidikan Indonesia tidak ingin tertinggal dan kehilangan perannya sebagai wahana untuk menyiapkan generasi masa datang ironisnya, kalangan pendidikan sendiri tidak dengan cepat mengantisipasi, mengembangkan dan mengambil inisiatif inovasi yang diperlukan, walaupun kesadaran akan perlunya perubahanperubahan tertentu sudah secara luas dirasakan. Hesrh dan McKibbin (1983:3) menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak telah menyadari perlunya inovasi…(Dari Ibnu, 1996:2) John Hassard (1993) suggested that, ‘Unlike modern industrial society, where production was the cornerstone, in the post modern society simulation structure and control social affairs. We, at witnesses, are producing simulation whitin discorses. We are fabricating words, not because we are “falsyfaying” data, or “lying” about what we have learned, but because we are constructing truth within a shifting, but always limited discourse.’ (Dari Ropers-Huilman, 1997:5) Di dalam contoh-contoh bagian inti artikel hasil pemikiran di atas dapat dilihat dengan jelas bagian yang paling vital dari jenis artikel ini yaitu posisi atau pendirian penulis, seperti terlihat di dalam kalimatkalimat: (1) Hence, any consideration of the theoretical base of science and its practical implementation must start by…, (2) Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktek-praktek pendidikan, adalah suatu keharusan jika…, (3)…We are fabricating words not because …, or ‘lying’ about…, but…dan seterusnya.

f. Penutup atau Simpulan Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian

sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat dilihat pada berbagai

Penulisan Karya Ilmiah

9-17

artikel jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama: mengakhir diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. Perhatiakan contoh-contoh berikut.

Konsep pemikiran tentang Demokrasi Ekonomi pada prinsipnya adalah khas Indonesia. menurut Dr. M. Hatta dalam konsep Demokrasi Ekonomi berlandaskan pada tiga hal, yaitu: (a) etika sosial yang tersimpul dalam nilai-nilai Pancasila; (b) rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dengan perencanaan ekonomi oleh negara; dan (c) organisasi ekonomi yang mendasarkan azas bersama/koperasi. Isu tentang pelaksanaan Demokrasi Ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia menjadi menarik dan ramai pada era tahun 90-an. Hal tersebut terjadi sebagai reaksi atas permasalahan konglomerasi di Indonesia. Perlu diupayakan hubungan kemitraan yang baik antara pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pada saat ini nampak sudah ada political will dari pemerintah kita terhadap kegiatan ekonomi berskala menengah dan kecil. Namun demikian kemampuan politik saja tidak cukup tanpa disertai keberanian politik. Semangat untuk berpihak pada pengembangan usaha berskala menengah dan kecil perlu terus digalakkan, sehingga tingkat kesejahteraan seluruh msyarakat dapat ditingkatkan. (Dari Supriyanto, 1994:330-331) if, as has been discussed in this article, argumentation has a central role play in science and learning about science, then its current omission is a problem that needs to be seriously addressed. For in the light of our emerging understanding of science as social practice, with rhetoric and argument as a central feature, to continue with current approaches to the teaching of science would be to misrepresent science and its nature. If his pattern is to change, then it seems crucial that any intervention should pay attention not only to ways of enhancing the argument skills of young people, but also improving teachers’ knowledge, awareness, and competence in managing student participation in discussion and argument. Given that, for good or for ill, science and technology have ascended to ascended to a position of cultural dominance, studying the role of

9-18 Penulisan Karya Ilmiah

argument in science offers a means of prying open the black box that is science. Such an effort would seem well advisedboth for science and its relationship with the public, and the public and its relationship with science. (Dari Driver, Newton & Osborne, 2000:309) g. Daftar Rujukan Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten diikuti dalam setiap nomor penelitian.

2. Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian sering merupakan bagian yang paling dominan dari sebuah jurnal. Berbagai jurnal bahkan 100% berisi artikel jenis ini. Jurnal Penelitian Kependidikan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang, misalnya, dan Journal of Research in Science Teaching; termasuk kategori jurnal yang semata-mata memuat hasil penelitian. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau ”pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

Penulisan Karya Ilmiah

9-19

Bagian-bagian artikel hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal adalah judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, bagian pendahuluan, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan.

a. Judul Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan tepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antar variabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Walaupun demikian, harus dijaga agar judul artikel tidak menjadi terlalu panjang. Sebagaimana judul penelitian, judul artikel umumnya terdiri dari 5-15 kata. Berikut adalah beberapa contoh.

Pengaruh Metode Demonstrasi Ber-OHP terhadap Hasil Belajar Membuat Pakaian Siswa SMKK Negeri Malang (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No.1). Undergraduate Science Students’ Images of the Nature of Science (Research presented at the American Educational Research Association Annual Conference, Chicago, 24-28 March 1997). Effect of Knowledge and Persuasion on High-School Students’ Attitudes towards Nuclear Power Plants (Journal of Research in Science Teaching Vol.32, Issue 1).

Jika dibandingkan judul-judul di atas, akan sgera tampak perbedaannya dengan judul artikel hasil pemikiran, terutama dengan terlihatnya variabel-variabel utama yang diteliti seperti yang

diperlihatkan pada judul yang pertama dan ketiga.

9-20 Penulisan Karya Ilmiah

b. Nama Penulis Pedoman penulisan nama penulis untuk artikel hasil pemikiran juga berlaku untuk penulisan artikel hasil penelitian.

c. Abstrak dan Kata Kunci Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan terutama diberikan kepada hasil penelitian. Panjang abstrak lebih kurang sama dengan panjang artikel hasil pemikiran dan juga dilengkapi dengan kata-kata kunci (3-5 buah). Kata-kata kunci menggambarkan ranah masalah yang diteliti. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variable-variabel penelitian dan hubungan antara variable-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari variabelvariabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel.

Contoh abstrak: Abstract: The aim of this study was to asses the readiness of elementary school teachers in mathematic teaching, from the point of view of the teacher mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematic which was devided in to two part, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtained scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The result of the study indicated that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty nine point five percent of the teachers got more than 65 arithmetic, and 69,5% gained scores of more than 65 scores in both geometry and arithmetics. Key words: mathematic teaching, teaching readiness, subject mastery.

Penulisan Karya Ilmiah

9-21

d. Pendahuluan Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk

pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalaha penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitan dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemecahan (fisik) dari satu subbagin ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan dengan penggantian paragraf.

e. Metode Bagian ini menguraikan bagaimana penelitian dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Subsubbagian di atas umumnya (atau sebaiknya) disampaikan dalam format esei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif, misalnya:

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan observasi partisipatori. Peneliti terjun langsung ke dalam keidupan masyarakat desa, ikut serta melakukan berbagai aktivitas sosial sambil mengumpulkan data yang dapat diamati langsung di lapangan atau yang diperoleh dari informan kunci. Pencatatan dilakukan tidak langsung tetapi ditunda sampai peneliti dapat ”mengasingkan diri” dari anggota masyarakat sasaran. Informasi yang diberikan dari informan kunci diuji dengan membandingkannya dengan pendapat nara sumber yang lain. Analisis dengan menggunakan pendekatan... Rancangan eksperimen pretest-posttest control group design digunakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian dipilih secara random dari seluruh siswa kelas 3 kemudian

9-22 Penulisan Karya Ilmiah

secara random pula ditempatkan ke dalam kelompok percobaan dan kelompok control. Data diambil dengan menggunakan tes yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh Lembaga Pengembangan Tes Nasional. Analisis data dilakukan dengan... f. Hasil Penelitian Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan. Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan

penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Grafik dan tabel harus dibahas dalam tubuh artikel tetapi tidak dengan cara pembahasan yang rinci satu per satu. Penyajian hasil yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian

Contoh: Jumlah tulisan dari tiga suku ranah utama yang dimuat di dalam berbagai jurnal, dalam kurun waktu satu sampai empat tahun dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Jumlah Tulisan dari Tiga Suku Ranah Pendidikan Sains yang Dimuat dalam Berbagai Jurnal antara Januari 1994-Juli 1997

Suku ranah Konsep Sci. Literacy Teori & Pengaj. Jumlah ranah Lain-lain 3 suku

1994 7 5 2

1995 7 3 12

1996 13 14 1

1997 6 6 5

Jumlah 32 28 20 80

46

Penulisan Karya Ilmiah

9-23

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa frekuensi pemunculan artikel dari tiga suku ranah tersebut di atas jauh melebihi suku-suku ranah yang lain, yaitu 80:46. hal ini menunjukan bahwa...dst.

g. Pembahasan Bagian ini merupakan bagian terpenting dari artikel hasil penelitian. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian dan menunjukan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, mengintepretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan memunculkan ”teori-teori” baru atau modifikasi teori yang telah ada.

Contoh: Dari temuan penelitian yang diuraikan dalam artikel ini dapat dilihat bahwa berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenakalan remaja yang selama ini diyakini kebenarannya menjadi goyah. Kebenaran dari berbagai hal tersebut ternyata tidak berlaku secara universal tetapi kondisional. Gejala-gejala kenakalan remaja tertentu hanya muncul apabila kondisi lingkungan sosial setempat mendukung akan terjadinya bentuk-bentuk kenalan terkait. Hal ini sesuai dengan teori selektive cases dari Lincoln (1987:13) yang menyatakan bahwa... h. Simpulan dan Saran Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokokpokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian. Saran dapat mengacu kepada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan.

9-24 Penulisan Karya Ilmiah

i. Daftar Rujukan Daftar rujukan ditulis dengan menggunakan pedoman umum yang juga berlaku bagi penulis artikel nonpenelitian.

3. Penutup Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

jurnal

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

Penulisan Karya Ilmiah

9-25

C. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. Alat tulis; b. Laptop c. LCD proyektor; d. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah.

2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode

2.

Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran; 2.2 Presensi peserta pelatihan, jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya, maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali; 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan; 5 menit Curah pendapat, ceramah pemecahan masalah

9-26 Penulisan Karya Ilmiah

2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan artikel ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian. 3. Kegiatan Inti 3.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian; 3.3 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan; 3.4 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual; 3.5 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 4. Kegiatan Akhir Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu, tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian; Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan 10 menit Refleksi 35 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan

Penulisan Karya Ilmiah

9-27

pengalaman setelah dilakukan sharing; Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan

3. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran; b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian;

D. RANGKUMAN Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan jurnal baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

9-28 Penulisan Karya Ilmiah

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

F. TES FORMATIF 1. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat

1.

Artikel dapat dikelompokkan menjadi a. artikel laporan dan artikel rujukan b. artikel konseptual dan artikel teoritis c. artikel hasil telaahan dan artikel teoritis d. artikel hasil laporan dan artikel hasil telaahan

2.

Dari sudut ide, salah satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas tinggi adalah a. kelayakan ide untuk dipublikasikan b. wacana tentang ide yang sedang berkembang c. kesiapan ide untuk didiskusikan d. persamaan persepsi para ahli di bidang yang sama

3.

Tulisan analisis konseptual terdiri dari a. judul, abstrak, data, pembahasan, dan referensi b. judul, abstrak, pendahuluan, diskusi, referensi c. judul pendahuluan, diskusi, kesimpulan referensi

Penulisan Karya Ilmiah

9-29

d. judul, pendahuluan, temuan, pembahasan, referensi 4. Dalam suatu artikel konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam peta pengetahuan dimuat pada bagian a. abstrak b. pendahuluan c. diskusi d. referensi 5. Referensi memuat semua rujukan yang a. pernah dibaca penulis b. perlu dibaca pembaca c. dimuat dalam badan tulisan d. diperlukan dalam pengembangan tulisan 6. Salah satu dari tiga pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini a. apa inti teori/konsep yang dibahas? b. mengapa konsep itu dibahas? c. Apa kesimpulan yang dapat ditarik? d. Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan? 7. Salah satu hal yang harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah a. menjelaskan partisipan b. menulis masalah yang sudah pernah dibahas c. memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel d. melaporkan korelasi yang dibahas dalam penelitian 8. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek a. panjang tulisan b. nada tulisan c. gaya tulisan

bahasa tulisan 9. 15-30 kata 10. Rekomendasi untuk judul adalah a. Dalam suatu laporan atau artikel hasil penelitian. metode c.9-30 Penulisan Karya Ilmiah d. Tes Uraian 1. Carilah salah satu artikel hasil penelitian. 10-12 kata c. pendahuluan b. telaah unsur-unsur yang terdapat pada artikel itu! . diskusi 2. hasil d. kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian a. 12-15 kata d. 8-10 kata b. Sebut dan jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian! 3. Jelaskan mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel penelitian 2.

BAB IV. B. Dengan digunakannya format esai diharapkan pembaca memperoleh kesan seolah-olah berkomunikasi langsung. mengenal format penulisan esay. Mengenai Format Tulisan Semua bagian artikel yang dibicarakan di atas ditulis dalam format esai. Pada kesempatan ini akan dicontohkan beberapa petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan. Penggunaan format esai dalam penulisan artikel jurnal bertujuan untuk menjaga kelancaran pembacaan dan menjamin keutuhan ide yang ingin disampaikan. indikator kegiatan belajar ketiga ini adalah: 1. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar kedua telah disajikan bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah yang bersifat hasil pemikiran dan hasil penelitian. Pada kegiatan belajar yang ketiga ini berisi mengenai latihan peserta PLPG dalam menulis karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. Oleh karena itu. Dengan demikian peserta PLPG diharapkan mempunyai keterampilan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang dapat dikirimkan kepada pengelola jurnal penelitian pendidikan (JIP). Bandingkan dua format petikan berikut: . dan secara aktif berdialog dengan penulis. 2. KEGIATAN BELAJAR III PRAKTIK PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH A. membuat karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. URAIAN MATERI 1. mengenal format penulisan enumeratif. 3.

dan (c) PDII-LIPI untuk wilayah Indonesia. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format . (2)…. Jika format esai masih dapat digunakan “penandaan” sejumlah elemen dapat dilakukan dengan format esei bernomor. dan diserahkan dalam bentuk cetakan (print out) komputer sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya. (3)…. Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitiskritis setara dengan hasil penelitian di bidang filsafat kependidikan. b.. WordPerfect atau MicroSoft Word. dan praktik kependidikan. dan seterusnya. 2. Petunjuk bagi Penulis Ilmu Pendidikan a. teori kependidikan. Format Esei Setiap record ISSN dilaporkan kepada internasional Serial Data System yang berkedudukan di Paris. Untuk kawasan Asia Tenggara dilaporkan melalui Regional Center for South East Asia dan untuk wilayah Indonesia dilaporkan kepada PDII-LIPI. seperti (1)….9-32 Penulisan Karya Ilmiah Format Enumeratif Sesuai dengan lingkup penyebaran jurnal yang bersangkutan maka record ISSN dilaporkan kepada pihak-pihak berikut: (a) International Serials Data System di Paris untuk jurnal internasional (b) Regional Center for South East Asia bagi wilayah Asia Tenggara. Naskah diketik spasi ganda pada kertas kuarto sepanjang maksimal 20 halaman. c. Berkas (file) pada naskah pada disket dibuat dengan program olah kata WordStar. Di dalam hal-hal tertentu format enumeratif boleh digunakan. terutama apabila penggunaan format enumeratif tersebut benar-benar fungsional dan tidak tepat apabila diganti dengan format esei seperti dalam menyatakan urutan dan jadwal.

kata-kata kunci. Juli 1997. metode. Anderson. Daftar Rujukan disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. Rata dengan tepi Kiri) d. dan tujuan penelitian. D. e.Penulisan Karya Ilmiah 9-33 esai. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). hasil. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dicetak tebal atau tebal miring). abstrak (maksimum 100 kata). 1993. sedikit tinjauan pustaka. Hanurawan. metode. dan Praktik Kependidikan. disertai judul (heading). masing-masing bagian. dan tidak menggunakan angka/nomor bagian. abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan. kata-kata kunci. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). Pandangan Aliran Humanistik tentang Filsafat Pendidikan Orang Dewasa. Miring. RATA DENGAN TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. 1997. Berkeley: McCutchan Publishing Co. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang. Rata dengan Tepi Kiri) Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. pembahasan. Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat. 127-137.. hlm. bahasan utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul). Teori.W. . penutup atau kesimpulan. nama penulis (tanpa gelar akademik). f. nama penulis (tanpa gelar akademik). pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan. dan hasil penelitian. Sistematika artikel setara hasil penelitian: judul. Nomor 2. PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. Tahun 24. V. kesimpulan dan saran. Vault.D. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency based Teacher Education.E. C. F. & Dickson.

Penulis yang artikelnya dimuat wajib memberi kontribusi biaya cetak minimal sebesar Rp. h. Tata cara penyajian kutipan. i. Sebagai imbalannya. Pemeriksaan dan penyuntingan cetak-coba dilakukan oleh penyunting dan/atau melibatkan penulis. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah e.000. Kamera digital . Alat dan Bahan a. Malang. Alat tulis. 1987). Artikel dan Laporan Penelitian (Universitas Negeri Malang.00 (dua ratus ribu rupiah) perjudul. 200. dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. Disertasi. Artikel yang sudah dalam bentuk cetak-coba tidak dapat ditarik kembali oleh penulis. b. Tesis. g. tabel. LEMBAR KEGIATAN 1. Pusat Penelitian IKIP MALANG. penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan cetak lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar yang akan diberikan jika kontribusi biaya cetak telah dibayar lunas. 200). rujukan. 1991. 12 Juli. Artikel berbahasa Inggris menggunakan ragam baku. LCD proyektor. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di malang Angkataan XIV.9-34 Penulisan Karya Ilmiah Huda. Laptop c. C. Artikel berbahasa Indonesia mengikuti aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. Makalah. d. N.

maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode 2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan Inti Fasilitator memberikan ceramah tentang format penulisan karya tulis ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-35 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan Curah pendapat. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya. 2. Fasilitator memberikan 130 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan . 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.2 Presensi peserta pelatihan. ceramah pemecahan masalah 3.1 Berdoa bersama untuk mengawali 5 menit pembelajaran. 2.

4. 4.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit Refleksi 3. Fasilitator memberikan tugas menyusun karya tulis ilmiah baik dalam bentu pemikiran maupun hasil penelitian. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. 4. . Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian. Kegiatan Akhir 4. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran. Hasil a.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan.9-36 Penulisan Karya Ilmiah ceramah tentang salah satu contoh petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan . Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual.

dan masalah/tujuan penelitian) Metode Hasil Pembahasan Kesimpulan dan Saran Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uaraian saja) 2. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian.Penulisan Karya Ilmiah 9-37 b. Artikel (hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa sub judul. memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka. RANGKUMAN 1. D. Artikel (setara hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa subjudul) Subjudul Subjudul Subjudul Penutup (atau Kesimpulan dan Saran) Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja) sesuai dengan kebutuhan .

Ruangan bebas. Tugas dapat ditulis menggunakan komputer atau tulis tangan. Fasilitator memberikan bimbingan dan pendampingan pada saat peserta PLPG menyusun karya tulis ilmiah. tidak harus terkekang di dalam kelas. Tugas ini sifatnya individual.9-38 Penulisan Karya Ilmiah E. TES FORMATIF Peserta PLPG ditugasi menyusun karya tulis ilmiah dengan cara memilih salah satunya yaitu hasil pemikiran konseptual atau hasil penelitian. .

a 7. b 4. d . a Kegiatan Belajar 2 1. b 2. a 3.Penulisan Karya Ilmiah 9-39 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Kegiatan Belajar 1 1. c 2. a 8. b 10. c 10. c 5. d 4. b 9. b 6. b 7. a 3. c 6. b 9. c 5. c 8.

A.G. dan Waseso. 2007. Ditbinlitabmas Dikti. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. . Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press): Malang. Direktorat Profesi Pendidik. Sistematika Penulisan Laporan KTI Online.M. I. Wardani. 2008.K. Penerbit Universitas Terbuka: Jakarta. Teknik Menulis Karya Ilmiah. dan Kantor Menristek: Jakarta. Saukah. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. G.A.DAFTAR PUSTAKA Ditbinlitabmas Ditjen Dikti Depdikbud. 2001. LIPI. 2000. Ikapindo. Depdiknas: Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful