IV E

S NEGERI SE MA ITA RS

N RA

UN

G

UNNES

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008

BAHASA INDONESIA
(SMA)

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON XII UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2008

REKTOR NEGERISEMARANG UNIVERSITAS SAMBUTAN REKTOR

As s alamu' alailstm Warahmatutlahi Wab arakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur tidak putus selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dzat yang maha tinggi, atas rakhmat dan ilmuNya yang diturunkan kepada umat manusia. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2OO7, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan

pelaksanaan uji melalui portofolio.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan portofolio, bagi peserta yang belum dinyatakan lulus, LP|K Rayon merekomendasikan alternatif : (1) melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (2) mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru ( PLPG ) yang diakhiri dengan ujian. Penyelenggaraan PLPG telah distandardisasikan oleh Konsorsium Sertilikasi Guru ( KSG ) Jakarta dalam bentuk pedoman PLPG secara Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Panitia Sertifikasi Guru ( PSG ) Rayon 12 dalam rangka standardisasi penyelenggaraan PLPG mulai penyediaan tempat, ruang kelas, jumlah jam, sistem penilaian, kualitas instruktur dan ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar yang ada di tangan Saudara ini salah satu upaya PSG Rayon 12 dalam memenuhi

standard pelaksanaan PLPG secara nasional untuk itu saya menyambut dengan baik atas terbitnya Bahan Ajar PLPG ini. Sukses PLPG tidak hanya tergantung ketersediaan buku, kualitas instruktur, sarana prasarana yang disediakan namun lebih daripada itu dengan baik sejak adalah kesiapan peserta baik mental maupun fisik, untuk itu harapan saya para peserta PLPG telah menyiapkannya keberangkatannya dari rumah masing-masing. Pada kesempatan ini ijinkan saya, memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dosen/lnstruktur yang telah berkontribusi dan berusaha men)rusun buku ini, agar dapat membantu guru menempuh program PLPG dalam rangka sertihkasi guru. Buku ini menggunakan pilihan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan seksama. Akhirnya kepada khalayak pembaca saya ucapkan selamat menikmati buku ini, semoga dapat memperoleh manfaat yang sebanyakbanyaknya.

Rektor Universitas Negeri Semarang

Sudijono Sastroatmodjo

BUKU AJAR

PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU

PENDAHULUAN
Fakta tentang kualitas guru menunjukkan bahwa sedikitnya 50 persen guru di Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standardisasi pendidikan nasional (SPN). Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia belum memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar pada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SMP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan pada bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM guru kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia. Untuk itu, perlu dibangun landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal (Toharudin 2006:1). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Rektor UNJ sebagai berikut. "Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," (Sutjipto dalam Jurnalnet, 16/10/2005). Fakta lain yang diungkap oleh Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Djalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai nol untuk materi mata pelajaran yang sesungguhnya mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Fakta itu terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu. Secara nasional, penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak mencapai 50 persen dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi guru. Beliau juga mengatakan skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga memprihatinkan. Guru PPKN, sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sosiologi, geografi, dan pendidikan seni

1-2

Pengembangan Profesionalitas Guru

hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari 40 soal. "Artinya, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 46 untuk skor nilai tertinggi 100," (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006). Mengacu pada data kasar kondisi guru saat ini tentulah kita sangat prihatin dengan buruknya kompetensi guru itu. Padahal, memasuki tahun 2006 tuntutan minimal kepada siswa untuk memenuhi syarat kelulusan harus menguasai 42,5 persen. Untuk itu, layak kiranya pada tulisan ini dicari format bagaimanakah seharusnya mengembangkan guru yang profesional?

A. Guru sebagai Profesi Djojonegoro (1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesilaisasi, (2) kemampuan untuk

memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus) yang dimiliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills (1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan/jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Usman (1990:4) mengatakan bahwa guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu: (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-3

pekerjaan yang dilaksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki obyek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan siswanya, dan (8) diakui di masyarakat karena memang diperlukan jasanya di

masyarakat. Pengertian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur terpenting dalam sebuah profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus, untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme adalah guru yang kompeten (memiliki kemampuan) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesi keguruan.

B. Kompetensi Guru Sejalan dengan uraian pengertian kompetensi guru di atas, Sahertian (1990:4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan,

penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang calon guru agar menguasai kompetensi guru dengan mengikuti pendidikan khusus yang

diselenggarakan oleh LPTK. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut: (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan guru menguasai pengetahuan serta keterampilan/keahlian kependidikan dan

pengatahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang

1-4

Pengembangan Profesionalitas Guru

pelaksanaannya pengajar.

berhubungan

dengan

tugas-tugasnya

sebagai

Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru setelah program sarjana atau D4. Kompetensi pribadi meliputi: (1) pengembangan kepribadian, (2) berinteraksi dan berkomunikasi, (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, (4) melaksanakan administrasi sekolah, (5) melaksanakan tulisan sederhana untuk keperluan pengajaran.

1. Kompetensi Profesional Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter). Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b)

penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-5

membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman,

penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju. Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.

1-6

Pengembangan Profesionalitas Guru

Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut

perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas

seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat

penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat

meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan

Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. Kompetensi Paedagogik Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat. meski guru sangat disiplin. Pertama. serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa. ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini. guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. perkembangan fisik dan psikis anak didik. karakter. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana. mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. 3. Yang perlu diperhatikan di sini adalah. ciri anak didik dan perkembangannya.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-7 rumah. menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. tingkat pemikiran. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik. mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa. Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar. tahu ilmu . Guru diharapkan memahami sifat-sifat.

maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut. (3) menyusun program pembelajaran. (4) melaksanakan program pembelajaran. Ketiga. guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran.1-8 Pengembangan Profesionalitas Guru psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran. maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan. (2) menguasai bahan pembelajaran. Kedua. Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya. Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka. diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis. guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. . diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif. Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan.

musik. (2) memiliki toleransi pada orang lain. 1994). Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial. pribadi. dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki. bahasa. pendekatan komperehensif. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik. Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti . 1998). raga. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas. Hanya saja. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika. kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. alam. sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. atau pendekatan multidisiplin. ruang. Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-9 4. dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong. Uniknya lagi. Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence). 1995). (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain. mungkin beberapa di antaranya menonjol.

baik finansial maupun non finansial. dapat kita saring dari konsep life skills (www. kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. lembaga. (9) berempati. yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. atau perusahaan. Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu. bekerja sama. menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan.lifeskills4kids. Beberapa dimensi ini. (8) berbagi. misalnya. bergaul. dan memberi kepada orang lain. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen. (12) solusi konflik. ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru. Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi. (10) kepedulian kepada sesama. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita.com). (6) relawan sosial. (3) peran dalam kegiatan kelompok. yaitu: (1) kerja tim. (11) toleransi. (5) kepemimpinan. dan (15) komunikasi. dan pengendalian diri yang menonjol. (2) melihat peluang.1-10 Pengembangan Profesionalitas Guru karier di masyarakat. (4) tanggung jawab sebagai warga. Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama. . (7) kedewasaan dalam bekreasi. (13) menerima perbedaan. (14) kerja sama. berempati.

peserta didik. Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang ini (hingga disahkan pada 6 Desember 2005) tersirat keinginan Pemerintah untuk memperbaiki wajah suram nasib guru dari sisi kesejahteraan dan profesionalisme. jauh dari cukup sehingga tidak sedikit guru yang mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mengandalkan penghasilan dan profesi guru. serta tidak dapat dipisahkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. dan kurikulum merupakan tiga komponen utama pendidikan. dan menjadikan profesi ini menjadi pilihan utama bagi generasi guru berikutnya (Situmorang dan Budyanto 2005:1). Memimpikan Guru yang Profesional Untuk memperbaiki kualitas pendidikan. . karena di tangan para gurulah proses belajar dan mengajar dilaksanakan. Sertifikasi kompetensi guru sebagai tindak lanjut dari UndangUndang ini menyisakan persoalan sebagaimana disampaikan Mendiknas pada media masa pada saat pengesahan Undang-Undang ini. Ketiga komponen ini saling terkait dan saling mempengaruhi. pemerintah telah memberikan perhatian khusus dengan merumuskan sebuah UndangUndang yang mengatur profesi guru dan dosen. Jumlah guru di Indonesia saat ini 2.2 juta orang. Guru. Dari ketiga komponen tersebut. baik di dalam dan di luar sekolah dengan menggunakan bahan ajar. antara lain kesepahaman akan ukuran uji kompetensi guru. baik yang terdapat di dalam kurikulum nasional maupun kurikulum lokal.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-11 C. faktor gurulah yang dinilai sebagai satu faktor yang paling penting dan strategis. dan hanya sebagian kecil guru dari sekolah negeri dan sekolah elit yang hidup berkecukupan. Sejak awal gagasan pembuatan RUU Guru dan Dosen dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk mengangkat martabat guru dalam memajukan pendidikan nasional.

Cooper menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan tetang guru dari aspek pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga profesional.1-12 Pengembangan Profesionalitas Guru Untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif. Profesional menunjuk dua hal. strategi. James M. serta melakukan tulisan dan pengabdian kepada masyarakat. tetapi harus dibangun. Dedi Supriadi dalam bukunya yang bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan (secara amat jelas) tentang makna profesi. Profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat kinerja seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu. Cooper. guru sebagai profesi yang amat mulia. dibentuk. mengawali dengan satu pertanyaan menggelitik “what is teacher?”. dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. seorang profesional muda. kebijakan dan program yang tepat. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dan profesionalitas sebagai berikut ini Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian. profesional. dalam tulisannya bertajuk “The teachers as a Decision Maker”. Demikian pula. profesionalisme. dan program pembinaan guru di masa lalu perlu dirumuskan kembali (Suparlan 2006:1). Misalnya. guru harus memiliki kemampuan profesionalisme yang dapat dihandalkan. kebijakan. dipupuk dan dikembangkan melalui satu proses. strategi. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Sebagai contoh. atau dia bekerja secara profesional. menilai hasil pembelajaran. tanggung jawab. yakni orangnya dan kinerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Proses. Kemampuan profesionalisme yang handal tersebut tidak dibawa sejak lahir oleh calon guru. .

Guru merupakan tenaga profesional dalam bidang pendidikan dan pengajaran. pemerintah sejak lama telah berupaya untuk merumuskan perangkat standar komptensi guru. yang ditandai dengan adanya standar kompetensi tertentu. dan (3) keterampilan (Supriadi 1998:96). seperti dokter. yang dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun akan dapat dihasilkan keputusan yang baik’. Pertama. sehingga yang dianggap bidang diperbolehkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Kedua. insinyur. Ketiga. Dapat dianalogikan dengan pentingnya hakim dan UndangUndang. Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik. yang menyatakan bahwa. memiliki organisasi profesi yang. dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-13 Sebagai tenaga profesional. bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik. Westby-Gybson (1965). adanya pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi tertentu yang berbeda dengan profesi lain. di samping melindungi kepentingan anggotanya. semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi. Soerjadi (2001:1-2) menyebutkan beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi. Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal. juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotannya menyelenggarakan layanan keahlian yang terbaik yang dapat diberikan (Suparlan. Dalam dunia yang sedemikian maju. maka kaidah itu dapat . Kelima. (2) komitmen. memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan pekerjaan profesional tersebut. yakni (1) keahlian. guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus. termasuk guru. 2004:2). Keempat. ‘berilah aku hakim dan jaksa yang baik. memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan kompetitiflah seleksi yang secara efektif.

yakni dengan ungkapan bijak ‘berilah aku guru yang baik. guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. Ketiga. Kelima. Standar Pengembangan Karir Guru Mutu pendidikan amat ditentukan oleh kualitas gurunya. Belajar dapat dilakukan di mana saja. Hal yang sama. Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal. misalnya di PGRI dan organisasi profesi lainnya. Artinya. yang terpenting adalah manusianya. maka guru tersebut dapat disebut sebagai tenaga dan pendidik yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya (Supriadi 2003:14). D. guru menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. Supriadi mengutip laporan dari Jurnal Educational Leadership edisi Maret 1993. guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik’. Keempat. tetapi guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh siapa atau alat apa . guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya. Untuk menggambarkan guru profesional. aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum. Apabila kelima hal tersebut dapat dimiliki oleh guru. Pertama.1-14 Pengembangan Profesionalitas Guru dianalogikan dengan pentingnya guru. Sama dengan manusia dengan senjatanya. dan belajar dari pengalamannya. mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. ‘man behind the gun’. Kedua. Mendiknas memberikan penegasan bahwa “guru yang utama” (Republika 10 Februari 2003).

Untuk membangun pendidikan yang bermutu. Pada akhirnya orang mudah menebak. Gaji akan mengikuti dedikasi. gaji dan dedikasi terkait erat dengan faktor lain yang bernama kompetensi profesional. Peningkatan mutu guru merupakan upaya yang amat kompleks. Pekerjaan besar ini mulai dari proses yang menjadi tugas lembaga pendidikan prajabatan yang dikenal dengan LPTK. Sebagai salah satu komponen utama pendidikan. Gaji dan penghargaan guru belum dapat disejajarkan dengan profesi lain. Ternyata. selain memang harus dipikirkan dengan sungguhsungguh upaya untuk meningkatkan gaji dan penghargaan kepada . karena melibatkan banyak komponen. Di samping itu. karena indikasi adanya mutu profesionalisme guru masih rendah. Namun. ada orang yang berpendapat bahwa antara gaji dan dedikasi tidak dapat dipisahkan. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu. mencerdaskan.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-15 pun juga. yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya. melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembalajaran yang yang berkualitas. Banyak orang menganggap bahwa gaji dan penghargaan terhadap guru menjadi penyebab atau causa prima-nya. karena pada akhirnya menyangkut duit atau gaji dan penghargaan. LPTK mengalami kesulitan besar ketika dihadapkan kepada masalah kualitas calon mahasiswa kelas dua yang akan dididik menjadi guru. Terjadilah lingkaran setan yang sudah diketahui sebab akibatnya. guru harus memiliki tiga kualifikasi dasar: (1) menguasai materi atau bahan ajar. karena masalah rendahnya mutu calon guru itu lebih disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi guru. Ketidakmampuan LPTK ternyata memang di luar tanggung jawabnya. Jadi. mengasyikkan. (2) antusiasme. yakni proses dan pembelajaran menyenangkan. dan (3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Mas’ud 2003:194).

1-16 Pengembangan Profesionalitas Guru guru. dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Untuk menjelaskan pengertian tentang kompetensi itulah maka Gronzi (1997) dan Hager (1995) menjelaskan bahwa “An integrated view sees competence as a complex combination of knowledge. Sejalan dengan definisi tersebut. keterampilan. Pada saat itu Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis) Dikdasmen pernah mengeluarkan “buku saku berwarna biru” tentang “sepuluh kompetensi guru”. Dua dekade kemudian. Direktorat Tenaga Kependidikan (Dit Tendik). Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK. and values displayed in the context of task performance”. nama baru Dikgutentis telah membentuk satu tim Penyusun Kompetensi Guru yang beranggotakan para pakar pendidikan yang tergabung dalam Konsorsium Pendidikan untuk menghasilkan produk kompetensi guru. skill. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan. namun masih ada pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. Pada tahun 70-an. Sementara itu. terkenal wacana akademis tentang apa yang disebut sebagai Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi atau Competency-based Training and Education (CBTE). para penyelenggra pendidikan di kabupaten/kota telah menunggu kelahiran kompetensi guru itu. Bahkan mereka mendambakan adanya satu instrumen atau alat ukur yang akan mereka gunakan dalam melaksanakan skill audit dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi guru di daerah masing-masing. tim itu telah dapat menghasilkan rendahnya kompetensi guru. yakni meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru. menjelaskan bahwa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. sikap. Apakah yang dimaksud kompetensi? Istilah kompetensi memang bukan barang baru. Setelah sekitar dua tahun berjalan. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya. . keterampilan. attitudes.

. Standar Kompetensi Guru bermanfaat untuk: (1) menjadi tolok ukur semua pihak yang berkepentingan di bidang pendidikan dalam rangka pembinaan. yakni (1) pengelolaan pembelajaran. (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar. dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan profesinya (Direktorat Profesi Pendidik. keterampilan. Diten PMPTK. 2005). kemandirian. Standar kompetensi guru SKS memiliki tujuan dan manfaat ganda. Standar kompetensi guru bertujuan ‘untuk memperoleh acuan baku dalam pengukuran kinerja guru untuk mendapatkan jaminan kualitas proses pembelajaran’ (SKG. inovasi. dan (3) penguasaan akademik. Ketiga standar kompetensi tersebut dijiwai oleh sikap dan kepribadian yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi. kualifikasi. yaitu: (1) penyusunan rencana pembelajaran. dan jenjang pendidikan’ (Direktorat Profesi Pendidik. standar kompetensi guru diartikan sebagai ‘satu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas. (5) pengembangan profesi. Oleh karena itu. Standar kompetensi guru terdiri atas tiga komponen yang saling mengait. (2) meningkatkan kinerja guru dalam bentuk kreativitas. (7) penguasaan bahan kajian akademik. peningkatan kualitas dan penjenjangan karir guru. Direktorat Tendik 2003:5). (3) penilaian prestasi belajar peserta didik. 2005). Di samping itu. (6) pemahaman wawasan kependidikan.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-17 Berdasarkan pengertian tersebut. (2) pengembangan profesi. ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi. Ketiga komponen masing-masing terdiri atas dua kemampuan. PMPTK. (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik.

yang sekarang menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi. Kepala sekolah sering terpaksa menandatangani usul kenaikan pangkat guru hanya karena faktor ‘kasihan’. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil) dan ketentuan lain tentang kenaikan pangkat dengan sistem kredit. Pada tahun 1970-an kegiatan ‘up-grading’ guru mulai gencar dilaksanakan di BPG dan PPPG. Pelaksanaan kenaikan pangkat guru dengan sistem kredit pun sama. Dengan kondisi seperti itu. ada sebagaian kecil guru yang karena kapasitas pribadinya atau karena faktor lainnya dapat berubah atau meningkat karirnya menjadi kepala desa. Dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan tersebut berjalan dengan berbagai penyimpangan. dan Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk pelbagai mata pelajaran dan bidang keahlian di beberapa daerah di Indonesia. Region-region penataran telah dibentuk di berbagai kawasan di Indonesia. dengan melibatkan antara direktorat terkait dengan . Pengembangan Karir Guru Pada era sentralisasi pendidikan. anggota legeslatif. dan bahkan menjadi tenaga struktural di dinas pendidikan. Kegiatan itu pada umumnya dirancang oleh direktorat-direktorat di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sekarang LPMP dan P4TK berada di bawah Ditjen PMPTK. Sedang sebagian besar lainnya mengalami nasib yang tidak menentu. Mengingat kondisi itulah maka pada tahun 1970-an dan 1980an telah didirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan yang bernama Balai Penataran Guru (BPG).1-18 Pengembangan Profesionalitas Guru E. PGPS sering diplesetkan menjadi ‘pinter goblok penghasilan sama’ atau ‘pandai pandir penghasilan sama’. antara lain karena belum ada kejelasan tentang standar pengembangan karir mereka. pembinaan guru diatur secara terpusat oleh pemerintah.

. dan Latihan Kerja Pengawas Sekolah (LKPS) untuk pengawas sekolah. dan sekolah. Sebagian besar instruktur ini juga telah memperoleh pengalaman dalam mengikuti penataran di luar negeri. Selain itu. para guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) guru biasa. satu jenjang fungsional bagi guru yang telah menjabat sebagai kepala sekolah. (4) pengelola sanggar. (5) kepala sekolah. para guru memiliki wadah pembinaan profesional melalui orgabnisasi yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). guru yang telah mengikuti klegiatan diklat TOT (training of trainer) di tingkat pusat atau nasional dan memperoleh predikat sebagai penatar di tingkat provinsi. yang sistem penyelenggaraan diklatnya dinilai melibatkan elemen pendidikan yang lebih luas.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-19 lembaga diklat (preservice training) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai lembaga preservice training. yakni tempat bertemunya para guru berdiskusi atau mengikuti penataran tingkat kabupaten atau sekolah. guru yang telah ditatar di tingkat provinsi atau nasional dan memperoleh predikat yang sebagai penatar di tingkat kabupaten. (6) Pengawas sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagaian besar dilaksanakan di satu sanggar yang disebut sanggar PKG. Salah satu pola pembinaan guru melalui diklat ini adalah mengikuti pola Pembinaan kegiatan Guru (PKG). kecamatan. Melalui pola PKG ini. yakni instruktur yang telah diangkat untuk menduduki jabatan sebagai kepala sekolah. (2) guru Inti. guru instruktur yang diberi tugas untuk mengelola Sanggar PKG. sementara para kepala sekolah aktif dalam kegiatan Latihan Kerja Kepala Sekolah (LKKS). serta melibatkan juga peranan lembaga pendidikan sekolah sebagai on the job training yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan yang ada di regionnya masing-masing. yakni guru baru atau guru yang belum pernah mengikuti penataran. atau baru sebatas ditatar di tingkat kecamatan atau sekolah. (3) instruktur.

LPMP. Dinas Pendidikan. PENUTUP Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru.1-20 Pengembangan Profesionalitas Guru F. dan LPTK sebagai mitra kerja. Berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut dilaksanakan dengan melibatkan P4TK (PPPG). . oleh Depdiknas sekarang dikelola oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Pusat Data dan Informasi Pendidikan. Santoso S. Penelitian Balitbang dan Lemlit UNNES. 2000. Balitbang Depdiknas. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. . Rogers. Undang-Undang No. 2004. 1995. Akibatnya pada Mutu Pendidikan”. Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Masa Depan.DAFTAR PUSTAKA Chamidi. 2004. Diffusion of Innovation. 2002. Rich. Undang-undan No. 2004. Inovation in Education: Reformers and Their Critics. dalam Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua. John Martin.1995. 2002. Indra Djati Sidi. 2006. Jakarta: Depdiknas. Ace dan Dasim Budimansyah. Gunawan. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan. Studi Kebijakan Pengelolaan Guru Di Era Otonomi Daerah dalam Rangka Peningkatan mutu pendidikan. Rokhman. Yogyakarta: Bigraf Publishing. 2002. Safrudin Ismi. Direktorat Ketenagaan. Suparno. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Dirjen Dikti Dir PPTK Depdiknas. 2005. New York: The Free Press. 1992. Jakarta:Paramadina dan Logos Wacana Ilmu. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. dalam Syarif Ikhwanudin dan Dodo Murtadhlo. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI Program D-II PGSD. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Jakarta: Grasindo. New York: Cross Cultural Approach. Jakarta: Genesindo. Fathur dkk. Zamroni. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar. Ary H. “Status dan Peran Guru. Menuju Masyarakat Pembelajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. “Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah”. 2002. Hamijoyo. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Grasindo. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Suryadi. Everett M. Paul.

BUKU AJAR MEMBACA PEMAHAMAN .

Kompetensi Dasar Memahami konsep dasar membaca pemahaman yang meliputi pengertian membaca pemahaman dan kiat membaca pemahaman.13). Membaca Telaah isi diklasifikasikan . Berdasarkan cakupan bahan bacaan yang dibaca. Menjelaskan kiat membaca pemahaman. metode. membaca intensif dapat diklasifikasikan menjadi membaca telaah isi dan telaah bahasa. Pengertian Membaca Dalam kajian teori membaca. Uraian Materi 1. Menjelaskan pengertian membaca pemahaman. E. dan teknik membaca serta penerapan model. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading) (Harras dan Sulistianingsih 1998: 2. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . B. D. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif dan ekstensif. Menurut Broughtton (dalam Tarigan 1990). metode. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). KONSEP DASAR MEMBACA PEMAHAMAN A. Standar Kompetensi Menguasai konsep dasar membaca pemahaman. 2.BAB I. C. Indikator 1. Deskripsi Penyajian model.

variatif (berbagai ragam bacaan yang dibaca). latihan terus-menerus). dan buku biografi. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra.2-2 Membaca Pemahaman   menjadi membaca teliti. Membaca ekstensif diklasifikasikan menjadi tiga. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. Berdasarkan kurikulum 2006. metode. Disamping itu. kritis. 2. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. sekilas. dan dangkal. . Membaca telaah bahasa diklasifikasikan menjadi membaca bahasa asing dan sastra. pemahaman. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. dan teknik yang sesuai dengan keperluan (Haryadi 2006:5). yaitu ektensif dan intensif. memindai buku. dan memindai grafik. dan ide. yaitu membaca survai. artikel. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. paragraf. Kiat Membaca Pemahaman Untuk dapat terampil membaca siswa harus berlatih membaca secara kontinyu (sering latihan. dan meningkat (dari yang mudah ditingkatkan ke yang sulit). kritik teks sastra.

siswa SMA kelas X dituntut untuk dapat . C. Membaca Cepat Teks Bacaan Berdasarkan kompetensi dasar yang tercantum di standar isi pada kurikulum 2006. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. MEMBACA EKSTENSIF A. dan mampu menerapkan model. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. 5. dan teknik membaca. Menerapkan model membaca sewaktu membaca ekstensif.BAB II. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. metode. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. metode. 3. metode. Indikator 1. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. E. menerapkan kiat B. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca ekstensif. 6. Uraian Materi 1. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca ekstensif. 2. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. metode. dan teknik membaca serta penerapan model. D. Deskripsi Penyajian model. 4.

selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang telah dimilikinya. metode paragraf dan P2R. MMAB berpandangan bahwa pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaan merupakan unsur sekunder. dan teknik skimming. metode. model membaca ini disebut model membaca atas bawah. a. Karena kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan. metode. Siswa kelas XII dituntut dapat membaca cepat 300-350 kata/menit untuk menemukan ide pokok. Bagan 1 Model Membaca Atas Bawah . Model. dan teknik) membaca yang tepat dan benar. Model Membaca Atas Bawah Model membaca yang dapat digunakan adalah model membaca atas bawah (MMAB).2-4 Membaca Pemahaman   membaca cepat 250 kata/menit berbagai teks bacaan nonsasatra dengan berbagai teknik membaca untuk menemukan ide pokok. Siswa Kelas XI dituntut dapat membaca cepat 300 kata/menit menemukan pokok-pokok untuk isi teks. Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat symbol grafis seperlunya saja. siswa harus membaca dengan menggunakan kiat (model. Untuk dapat memenuhi tuntutan itu. teknik membaca yang dapat dipilih untuk membaca cepat teks nonsastra adalah model membaca atas bawah. MMAB dapat dibagankan berikut ini.

tetapi pembaca memberikan makna atas simbol-simbol grafis yang dibaca. Jika tidak diberi interpretasi. titik tersebut sebagai tanda atau lambing-lambang. Pembaca hanya melihat beberapa bagian dari bacaan (kata kunci. dimaknai sebagai letak sebuah kota. kemudian pembaca memprediksi pemahaman . Pembaca tidak memperoleh makna dari simbol-simbol grafis yang dibaca. Jika titik tersebut berada di dalam peta. Dengan menggunakan MMAB. pembaca membuat prediksi (prakiraan) terhadap bacaan yang dibacanya. Hal itu terjadi karena pembaca sudah mempunyai pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya. Tranformasi dalam bidang vokabuler (kosa kata) atau sintaksis yang tidak mengubah makna dipandang sebagai hal yang dapat diterima. bagian yang penting. titik tersebut tidak bermakna. Contohnya adalah jika pembaca melihat sebuah titik pada kertas. 3. Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak. Titik yang berada di akhir deretan kata-kata yang berbentuk klausa maka titik tersebut berarti atau bermakna sebuah tanda berhenti. Lambang-lambang grafis pada dasarnya tidak punya makna apa-apa. Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan. Titik tersebut bermakna jika diberi tafsir pembaca. Dalam bahasa Yunani. titik itu tidak punya makna apa-apa. Pembaca yang sudah terampil dalam membaca akan selalu melangkah langsung menghubungkan kata-kata yang dibaca ke makna tanpa melakukan identifikasi kata-kata yang dibaca secara cermat. 1. Dalam sandi morse.  Membaca Pemahaman 2-5 Proses membaca berdasarkan bagan 1 adalah berikut ini. 2. titik itu diberi interpretasi sebagai lambang huruf. dan atau kalimat pokok). Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya.

2-6 Membaca Pemahaman   atau informasi secara menyeluruh yang terdapat pada bacaan. Otak menginterpretasikan apa yang diterimanya ke dalam bentuk pesan. pembaca menggunakan strategi konfirmasi. Tugas mata dalam MMAB hanyalah sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk cahaya dan mengubahnya menjadi 6paragraf syaraf merambat melalui jutaan serabut syaraf 6arag yang kemudian diteruskan ke otak pembaca. pembaca memahami bacaan dan mengantisipasi yang 6paragrafap pada bagian bacaan selanjutnya ketepatan prakiraan dibuat dengan menggunakan stategi konfirmasi. Metode Paragraf Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf. Informasi visual akan langsung hilang bersamaan dengan beralihnya pandangan mata ke bagian yang lainnya. Jika prediksi kurang cermat. lisan. Dengan menggunakan syarat 6paragrafap dan sintaksis. Informasi visual dan nonvisual dibutuhkan dalam kegiatan membaca. hubungan keduanya dapat dikatakan bahwa semakin banyak informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca pada waktu membaca maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. berita. Pembaca tidak lagi memfokuskan perhatian . b. walaupun hubungannya tidak dapat digunakan secara jelas atau tidak dapat dijelaskan secara kongkrit. Secara umum. kebutuhan akan informasi visual semakin bertambah. Keduanya saling berhubungan secara timbal balik. dan atau informasi dengan memanfaatkan informasi visual. Sebaliknya. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca sewaktu membaca. Jika prediksi kurang cermat. pembaca menggunakan strategi koreksi yang di dalamnya terjadi pemprosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. Informasi yang dapat bertahan lama di dalam pikiran atau otak pembaca adalah informasi nonvisual.

Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa sebuah paragraf merupakan satuan bacaan yang mengandung ide pokok yang ingin disampaikan oleh penulis. konseptual.  Membaca Pemahaman 2-7 pada kalimat demi kalimat. Membaca paragraf merupakan membaca yang paling kompleks dan rumit. pembaca didorong untuk menghentikan ayunan matanya pada akhir paragraf dan memahami ide-ide atau yang dibaca. pembaca menemukan pikiran pokok paragraf atau informasi yang dicari ditengah paragraf. Mata menghentikan geraknya pada setiap akhir paragraf. Latihan metode paragraf dapat dibagi menjadi dua. pembaca dilatih untuk dapat menggerakkan matanya secara tepat dan cepat dalam menatap unsur-unsur yang ada pada paragraf. Boleh saja mata menghentikan kerjanya sebelum akhir paragraf. pembaca dituntut dapat merangkaikan ide-ide pokok yang dikandung oleh tiap-tiap paragraf membentuk satu topik bacaan. Latihan metode paragraf secara mekanik dapat dilatihkan dengan bacaan berikut ini. dalam penguasaannya perlu latihan secara kontinyu. Misalnya. jika ada tujuan tertentu yang berkaitan dengan pemahaman. Dalam prakteknya dibutuhkan keterampilan-keterampilan atau kemahirankemahiran yang telah dikuasai dalam metode sebelumnya. yaitu mekanik dan menjadi jalinan yang utuh yang (1) Metode Paragraf secara Mekanik Pada latihan ini. Metode paragraf adalah metode yang paling tinggi tingkatannya dalam metode menengah. . Di pikiran-pikiran pokok yang ada dalam paragraf samping itu. tetapi memusatkan perhatian atas jalinan kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf. Dalam metode ini. dan tekun. berkesinambungan. Untuk itu.

Begitu pula dengan rumput. mari kita ambil selembar rumput atau daun apa pun dan potongan kecilnya diperiksa di bawah mikroskop. Kloroplas ini seperti sebuah kantung kecil yang berisi kantung-kantung pipih lebih kecil yang disebut tilakoid. Ketika cahaya matahari menerpa permukaan tilakoid. yakni fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II).Ternyata. Ada dua jenis fotosistem. Akan terlihat. Untuk menjelaskannya. . Gelombang cahaya yang ditangkal rumput atau daun tadi justru sangat berharga bagi manusia. daun itu tidak berwarna hijau. tetapi dipantulkan ke mata kita. sebenarnya hati yang menyejukkan gelombang mata yang dan tidak meneduhkan merupakan dibutuhkan tumbuhan dalam proses pembuatan makanan. Cahaya merah diserapnya. Jadi. (Intisari Juli 2000:101). hanya cahaya hijau yang tidak digunakan atau diserap. PS II dari molelul klorofil menjeratnya. Mereka merupakan tim dalam proses fotosintesis.2-8 Membaca Pemahaman   Bacaan 1 Rumput Menolak Gelombang Hijau Kita tentu senang melihat tanaman di sekitar kita dalam keadaan segar dan telihat hijau. tetapi sebagian besar tembus pandang dan dipenuhi kira-kira 50 – 100 kloroplas. Bagian-bagian renik inilah yang disebut fotosistem. PS I mencari cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan klorofil menyerap cahaya tumbuhan. Molekul-molekul klorofil hijau (sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis) melekat pada tilakoid dengan membentuk jalur-jalur yang teratur. warna hijau yang kita tangkap lewat mata sebenarnya gelombang cahaya yang ditolak tanaman itu.

Berlatihlah terus-menerus pada hari-hari berikutnya. 2. Jika ada tujuan tertentu. Anda biasa saja berhenti sejenak pada akhir sebuah kalimat yang terletak di awal atau ditengah paragraf. Gerakan mata dari kalimat satu ke kalimat yang lain menggunakan kecepatan baca yang tidak sama. 3. Kemahiran membaca dan pengetahuan tentang paragraf diperlukan pada latihan ini. Kalimat . Peran paragraf yang diemban oleh kalimat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut ini. 5. Gerakkanlah mata Anda mulai dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir pada tiap-tiap paragraf. Lakukanlah latihan tersebut selama 2 atau 3 kali. Setiap kalimat yang membentuk sebuah paragraf mempunyai peran paragraf. 3. Tataplah satu halaman penuh dari atas sampai bawah atau dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. 4. (2) Metode Paragraf secara Konseptual Pada latihan ini pembaca dilatih untuk dapat memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang terdapat dalam sebuah bacaan. 1. 6. Kalimat sebagai kalimat topik atau kalimat utama. Kalimat sebagai kalimat penjelas. 2. Hal tersebut bergantung pada isi masing-masing kalimat. Kalimat yang penting (kalimat utama) bisa dibaca lebih lambat paragraf kalimat penjelas. 1. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki pembaca adalah struktur paragraf (Harjasujana dan Mulyati 1997:186). Kalimat sebagai pemuas.  Membaca Pemahaman 2-9 Alternatif cara membaca bacaan di atas adalah berikut ini. yaitu kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama.

Tandanya kulit buah sudah kuning keabu-abuan. Dengan memotong tandan buah dari tangga. karena banyak yang rusak. Biasanya 4 – 5 kali panen sebelum semua buah dari satu pohon habis dipetik. Bacaan 2 Bisnis Duku. Pakai tangga. sehingga perbungaan berikutnya tidak normal lagi. Hasilnya turun! Karena itu. Buah dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan buahnya dengan gunting pemangkas kebun. butiran buah dilepas sebutir demi sebutir dari tandanya. Bisnis Kilat Para pedagang biasanya memborong buah duku dari petani pekebun ketika buah sudah matang komersial. kemungkinan merusak kuncup bunga yang masing menunggu giliran tumbuh. meskipun dikemas dalam peti kayu beralas 10arag (bekas) yang sudah kering. Penulis mencantumkan hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan. Bacaan berikut ini dapat digunakan sebagai latihan metode paragraf secara konseptual. beberapa pedagang langganan petani pekebun kemudian memakai cara lain. Memetiknya harus dalam cuaca kering. Ini bisa menghasilkan buah lagi. ketika buah sudah tidak basah lagi oleh embun pagi.2-10 Membaca Pemahaman   pemuas tidak bermanfaat bagi pembaca. Cara ini kadang banyak melukai batang tempat menempelnya tangkai tandan buah. Itu pun masih harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dijajakan. agar buah bisa lebih tahan lama kalau dikirim ke tempat jauh. dan dipilih yang bobotnya 20 – 40 g . Tujuannya. Di tempat pengemasan. Buah yang masih basah akan mudah berjamur. bisa dikurangi.

meskipun cepat. Biasanya terpaksa diobral. Tataplah satu halaman penuh dari sebuah bacaan dari atas sampai bawah. . Begitu selesai memborong buah di pohon. kulit buah duku cepat ber-totoltotol coklat. duku sudah dibongkar di pasar induk Kramatjati Jakarta untuk dijual kepada para agen. Peti dilapisi 11arag bekas atau daun pisang kering yang tebal sebagai peredam benturan. (Intisari Juli 2000:87).  Membaca Pemahaman 2-11 sebutir saja yang akan dijual. mereka segera mengemasnya. Mulailah memahami paragraf pertama dengan cara membaca kalimat pertama sampai kalimat terakhir. 1. Dalam 18 jam. Itu sebabnya. sudah dijual lagi ke para pengecer yang memasarkannya ke konsumen esok harinya. buah sudah bertotol-totol hitam. Penampilannya menyebalkan. Begitu juga kalau buah sudah keburu dikemas ketika masih agak basah. dan peti juga dengan kasar dilempar-lempar ke atas truk. 2. Malam harinya. Tahap-tahap alternatif yang dapat digunakan untuk membaca bacaan tersebut adalah sebagai berikut ini. meskipun rasa buahnya masih tetap manis. Kalau terbentur-bentur karena peradam dalam pengemasannya kurang tebal. para pedagang duku harus bekerja cermat. Semuanya selesai dalam waktu tiga hari. Buah pilihan ini dikemas dalam peti kayu yang diberi ventilasi pada semua sisinya. Malam itu juga “peti kemas” diangkut dengan truk yang berjalan malam. dari daerah 11paragrafaph ke Jakarta lewat Trans Sumatra Highway. Kalau teralmbat sampai tidak terjual dalam waktu yang singkat itu.

Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. Berlatihlah terus-menerus di hari-hari berikutnya dengan bacaan yang lainnya. Pahamilah masing-masing kalimat dalam paragraf itu secara tidak sama. Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah berikut ini. Metode P2R Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview. Jika memang sudah tahu tentang bacaan. 7. Jika ada tujuan tertentu. Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan. Pemahaman atas kalimat utama lebih dipentingkan dari pada pemahaman kalimat penjelas. pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau tidak. Informasi bersifat pokok atau inti dan bisa juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. read. 1.2-12 Membaca Pemahaman   3. 6. pembaca melanjutkan tahap berikutnya. bisa memfokuskan pemahaman terhadap sebuah paragraf. dan sebagainya. dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien (Gordon 2006 : 79). 2. relevansi. Setelah itu. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. Lakukanlah latihan ini selama 2 atau 3 kali. Jika hanya ingin mengetahui informasi yang pokok. 4. c. Lakukanlah memahami paragraf berikutnya seperti tahap nomor 2 dengan memperhatikan tahap nomor 3 dan 4. pokok-pokok pikiran. Jika belum tahu. 5. pembaca bisa hanya . Pada tahap ini. pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca. pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran.

Walaupun membaca teliti. 3. Yang berbeda adalah tujuannya. Pada saat lain. pembaca tidak melakukan read. Bisa saja. Pada tahap ini. Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. sebaliknya bacaan yang belum dikenal dibaca secara pelan. Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa yakin tidak ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya semester 1. Hal tersebut bergantung pada situasinya. sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan. ketiga tahap itu digunakan secara tertib. jika preview untuk mengenal bacaan. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan. pembaca membaca dengan teliti. pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca telah mengenal struktur materi bacaan.  Membaca Pemahaman 2-13 membaca secara sepintas (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehigga tidak perlu dibaca. Bacaan yang bersifat ilmiah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat paragraf. Jika memang diperlukan. Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat. pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. Ketiga tahap dalam metode ini tidak harus digunakan semua secara tertib. . diusahakan membaca secepat mungkin.

Gelombang air laut bergerak menyapu setiap bagian laut dan pantai yang dilaluinya. Teknik Skimming Skimming berasal dari bahasa Inggris to skim yang berarti mengambil kepala susu atau krim dengan sendok atau menyendok kepala susu. Kecepatan gelombang bergantung dari daya dorong paragraf daya dorong dari dalam laut. tetapi dapat juga terdapat ditengah. Gelombang mempunyai bentuk berdasarkan kecepatan gelombang dan hambatan yang dilaluinya. dan selintas (Widyamartaya. Kepala susu merupakan bagian yang mengental yang berada di atas setelah semangkok susu yang dipanaskan didinginkan. Ia diharapkan butuh waktu beberapa detik atau menit untuk menskim. Hal itu relefan dengan pendapat Soedarso (2004:88). yaitu bahwa skimming merupakan teknik membaca efisien. Hal yang dicari adalah hal-hal yang pokok atau penting. tinggi. Ide pokok tidak selalu diawal paragraf.2-14 Membaca Pemahaman   d. sedang atau rendah. Istilah lain dari skimming adalah baca layap (Harjasujana dan Mulyati 1997:64). skimming merupakan teknik membaca yang dilaksanakan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien. Berdasarkan uraian tersebut. Gelombang mempunyai kecepatan dan bentuk tertentu. Untuk mencari ide-ide pokok pembaca tidak diperbolehkan membuang-buang waktu. Gelombang bisa sangat cepat. Kepala susu adalah intisari atau bagian yang banyak mengandung gizi. Kecepatan . Gerak mata dalam membaca dengan teknik skimming mempunyai gerak mata yang cepat dan bentuk yang tinggi. diakhir. cepat. atau diawal dan diakhir. sedang atau pelan. yaitu ide-ide pokok. Dalam menskim tidak hanya menjelajahi halaman demi halaman secara cepat. tetapi juga ada yang dicari. sekilas (Tarigan 1994:30). 2004:44). Gelombang ada yang tinggi sekali. Skimming dalam bidang membaca merupakan sebuah istilah salah satu teknik membaca ekstensif. Gerak mata pada membaca dengan teknik skimming bisa diibaratkan gelombang air laut.

Pada saat mata melihat bagian yang penting gerak mata diperlambat untuk memahami bagian penting tersebut. Ilustrasi dari gerak mata dalam membaca teknik skimming pada pembaca yang masih taraf pemula adalah sebagai berikut. dicetak tebal. misalnya ditulis miring. kemudian melompat (skipping). dan ditulis dalam kotak. Contoh gerak mata dalam teknik skimming adalah sebagai berikut: .  Membaca Pemahaman 2-15 dan bentuk ayunan mata dalam setiap bagian yang dibaca tidaklah sama bergantung penting tidaknya bagian yang dibaca dan tujuan dalam membaca. Pertamatama mata bergerak pada baris-baris yang mengandung ide pokok dari sebuah paragraf. Pembaca dapat mengenal detail penting bacaan berdasarkan tipografi atau tanda-tanda tertentu dalam bacaan. Awal mula mata dipersiapkan bergerak secara cepat untuk membaca bagian demi bagian dalam bacaan. dan memperlambat (bahkan boleh berhenti) pada beberapa fakta yang penting yang menunjang ide pokok. Kemudian mata bergerak pada kecepatan yang tinggi lagi.

2-16 Membaca Pemahaman   Bacaan 3 Latihan Teknik Skimming .

dan judul subbab. judul-judul bab. dan Tarigan 1994: 32). Soedarsono 2004: 88-89. ia bisa saja mengambil buku tersebut untuk membaca sekilas daftar isi buku . Dengan men-skim buku tersebut. bagian penting organisasi bacaan. Yang dapat diterapkan adalah mengenal bacaan. dan mengetahui bagian penting. opini. Pembaca melihat secara sekilas judul-judul buku membaca yang terdapat rak khusus buku-buku membaca. dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati 1997: 64-65. Apabila ada buku yang cocok. pembaca tahu judul-judul buku apa saja yang tersedia di toko buku tersebut. penyegaran. yaitu mengenal paragraf bacaan.  Membaca Pemahaman 2-17 1) Tujuan Membaca Skimming Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan. Widyamartaya 2004: 44. Yang dimaksud topik bacaan adalah judul buku atau artikel. Misalnya pembaca datang ke toko buku untuk mengetahui buku-buku membaca apa yang terdapat pada toko buku tersebut. mengetahui opini.

Skimming dapat diterapkan sewaktu pembaca mencari bahan di perpustakaan. Ia membaca sekilas kartu pparagrafa atau daftar pparagrafa yang ada di pparagrafap mengenai judul buku yang tersedia di perpustakaan tersebut. Apabila ya. tetapi bacaan yang bersifat paragraf umumnya ada opininya.2-18 Membaca Pemahaman   itu guna mengetahui apakah ada judul bab atau subbab yang diinginkannya. ia mencari atau meminjam buku tersebut. Ia cukup mencari judul artikel yang ada dalam surat kabar yang dibaca secara sekilas tentang gempa yang melanda Yogya. . pembaca bisa saja men-skim semua halaman yang ada pada buku untuk meyakinkan bahwa yang dicari memang betul-betul tidak ada karena ada kemungkinan informasi yang dicari ada di dalam buku. kemudian melihat daftar isi untuk menentukan apakah buku tersebut mengandung pembahasan tentang hal-hal yang dibutuhkan. Sewaktu men-skim daftar isi dan tidak menemukan hal-hal yang dicari. Pembaca dapat membaca layap surat kabar yang dibaca untuk mencari informasi yang diinginkan. Bacaan ilmiah biasanya tidak mengandung opini. Pada sebuah bacaan opini belum tentu ada. Jika ada buku-buku yang dibutuhkan. Opini berarti pendapat. bukalah halaman yang mungkin mengandung informasi yang dibutuhkan secara cepat. tetapi tidak secara eksplisit tercantum dalam daftar isi. Kadang kala pada sebuah surat kabar memuat artikel yang justru kehadiran opini diwajibkan karena tanpa opini artikel tersebut kurang bermutu sehingga orang yang ingin mengirim artikel untuk kolom itu diharuskan menampilkan opini-opini. informasi gempa bumi yang terjadi di Yogya. Teknik baca layap juga dapat digunakan untuk melihat paragraftopik artikel yang ada pada majalah atau surat kabar. Opini digunakan untuk menggugah pikiran pembaca untuk berfikir kritis sehingga pembaca diharapkan dapat paragraf umpan baliknya yang berupa tanggapan. Misalnya. pikiran atau pendirian.

nama tokoh. pembaca tidak perlu membaca keseluruhan bacaan. Dalam rangka menemukan informasi yang penting dari sebuah bacaan. tempat peristiwa. Disamping kedua cara tersebut. Informasi yang dicari misalnya adalah nama peristiwa. pembaca hanya melihat secara skimming seluruh bacaan dengan menangkap ide-ide pokok. Bacaan yang demikian merupakan bacaan yang bersifat induktif. Pembaca cukup membaca dengan sekilas dari atas sampai bawah untuk menemukan informasi tertentu yang dicari. pembaca bisa juga menemukan opini pada awal dan akhir bacaan karena penulis artikel menampilkan opini pada awal bacaan dan diulang diakhir bacaan dalam bentuk simpulan. Untuk mengetahui bagian penting dari sebuah bacaan. Setelah mengetahui paragraf-topik bacaan. Artikel yang seperti itu merupakan bacaan yang bersifat deduktif. Semua pendapat yang akan diuraikan berikutnya ditulis pada paragraf awal. Bacaan tersebut dinamakan bacaan yang bersifat deduktif – induktif. Cara yang efektif dan efisien untuk mendapatkannya adalah cukup dengan membaca paragraf awal dan akhir. 1. jumlah korban. biasanya pembaca melanjutkan membaca untuk mengetahui pendapat penulis terhadap permasalahan yang dibahas. Tentukan dengan jelas informasi atau fakta yang akan dicari atau buatlah pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi yang ada dalam bacaan. . Jika ingin mengetahui bagian penting. Paragraf awal sebuah bacaan umumnya mengandung pokokpokok pikiran yang diuraikan pada paragraf berikutnya (paragraf isi).  Membaca Pemahaman 2-19 Artikel semacam ini diminati pembaca yang ingin mencari hal-hal yang bersifat sensasi. Tarigan (1990 : 33) paragraf petunjuk sebagai berikut. Pendapat yang diungkapkan pada akhir bacaan biasanya berupa simpulan. Penulis boleh saja menampilkan ringkasan pendapatnya pada akhir bacaan.

Skipping diartikan sebagai teknik baca lompat. locating. Lihatlah setiap halaman dengan cepat hanya untuk tujuan mencari kata kunci atau informasi yang diinginkan. carilah di bawah subjek yang lebih luas. sampling. Hal tersebut bergantung pada letak atau jarak bagian yang penting dengan bagian penting lainnya. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja. pokok. yang dicari atau dibutuhkan ke begian yang penting berikutnya. 2) Jenis Teknik Skimming Jenis teknik membaca yang termasuk dalam teknik skimming adalah skipping. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. .2-20 Membaca Pemahaman   2. sebaiknya pembaca melihat apakah kata kunci tersebut tercantum dalam indeks. Kemungkinan lain dalam membaca dengan skipping adalah pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat pertama pada paragraf berikutnya. Bagian bacaan yang tidak penting dilompati atau tidak dihiraukan. pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat terakhir. 4. Pembaca yang menggunakan teknik ini berarti melakukan ayunan mata dari bagian bacaan yang penting ke bagian bacaan yang lain. Jika tidak ada. dan previewing. Apabila pembaca mencari informasi dalam sebuah buku. Ayunan mata tidak memakai irama yang sama. dari kalimat awal ke kalimat tengah pada sebuah halaman. Maksudnya adalah membaca melompatlompat dari bagian yang penting. dari kalimat akhir ke kalimat akhir pada paragraf berikutnya. Jika pada sebuah paragraf hal yang penting terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. 3. Siapkan kata kunci yang tepat untuk menunjuk informasi yang dibutuhkan. seri atau kalah. misalnya dalam pertandingan sepak bola kata kunci tersebut adalah menang.

Informasi kunci belum tentu terdapat pada kalimat pertama. ketiga. Kalimat utama umumnya mengandung informasi kunci yang biasanya terletak pada kalimat pertama dari sebuah paragraf. dari kalimat awal ke kalimat awal pada halaman berikutnya.  Membaca Pemahaman 2-21 dari kalimat awal ke kalimat akhir pada sebuah halaman. 2. dan seterusnya. yaitu pandangan mata bergerak dari bagian atas ke bawah secara cepat. pembaca tidak hanya terpaku pada kalimat pertama dari setiap paragraf. Pembaca memusatkan pandangan matanya di bagian tengah bacaan dan . Untuk itu. yaitu kalimat inti atau kalimat utama. penggunaan teknik ini dipusatkan pada membaca kalimat pertama setiap paragraf. Bagian-bagian bacaan yang dianggap dapat mewakili bacaan. dilaksakan dengan sekilas. Locating merupakan teknik membaca paragraf. keempat. pembaca memperoleh gambaran umum dari bacaan yang dibaca. Oleh karena itu. pembaca akan mendapatkan gambaran umum sebuah bacaan dengan cepat. tetapi bisa-bisa saja terdapat pada kalimat kedua. Sampling merupakan teknik membaca bagian tertentu bacaan dengan cepat supaya mendapat gambaran umum dari bacaan yang dibaca. Disamping itu. 3. Adakalanya sebuah paragraf tidak mengandung informasi kunci. Maksudnya adalah mata pembaca bergerak secara paragraf. Prinsip yang dianut teknik ini adalah membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah bacaan yang dianggap dapat mewakili keseluruhan bacaan. Dalam pengembangan penggunaan teknik ini. Dengan teknik ini. dalam menerapkan teknik sampling pembaca diberikan keleluasaan untuk membaca bagian-bagian tertentu dari bacaan dengan syarat: 1. bagian-bagian yang dibaca mengandung informasi kunci atau pokok. dan seterusnya. informasi pokok belum tentu berada di setiap paragraf.

tetapi secara paragraf dari kiri ke kanan. Dalam tipografi. Kenyataan yang mempersulit penggunaan teknik locating adalah membaca sepintas hanya akan berkerja optimal apabila pembaca telah menenemukan kata atau frase kunci. Walaupun demikian. otak pembaca bisa melihatnya dengan jelas sehingga bisa menuntun mata pembaca secara tepat ke awal baris berikutnya. pembaca akan banyak menghabiskan banyak waktu dalam membaca kerena pembaca harus melewati baris-baris yang telah dibaca. Dengan kedua kemampuan itu.2-22 Membaca Pemahaman   bagian kanan dan kiri tetap dalam jangkauan pandangan mata. Hal ini terjadi karena pembaca selain mempunyai kemampuan pandang paragraf dekat yang disebut rentang pandang mata (eye span). kata yang dimulai dengan huruf paragraf. Kemampuan peripheral vision dapat juga digunakan oleh pembaca pada tiap sampai ujung kalimat yang dengan cepat kembali ke bagian awal baris berikutnya. Seandainya hal tersebut tidak bisa dilakukan. . kepala kalimat. Pandangan mata akan tertuju pada informasi tersebut karena selain bidang pandangan paragraf dekat (eye span). juga mempunyai kemampuan pandang sekeliling atau daya melihat sekeliling (peripheral vision). Mata pembaca diharuskan bergerak secara diagonal kembali ke kiri untuk membaca garis berikutnya sehingga mata bergerak dengan pola zig-zag. kata yang di cetak tebal atau miring. Pembaca melihat sisi kanan halaman dan tidak dapat melihat secara jelas yang ada pada sebelah kiri halaman. Penggunaan teknik locating tidaklah mudah karena materi bacaan tidak ditulis secara paragraf. awal paragraf dibuat untuk membantu menarik perhatian otak dan mata supaya dapat mengenali perbedaan dalam pergatian bagian. pembaca juga memiliki daya melihat sekeliling. pembaca dapat menggerakkan matanya dari bagian tengah atas ke bagian tengah bawah secara cepat.

Penggabungan kedua teknik tersebut digunakan untuk menerima atau mengenali pokokpokok pikiran yang penting dengan cepat. pembaca akan dapat menerka isi 23paragrafaph tersebut. disamping menemukan ide pokok. Teknik juga dapat digunakan untuk menangkap garis besar materi bacaan sebelum pembaca menolak untuk membacanya. Blok ini bentuknya adalah paragraf. spiral. blok. zig-zag.  Membaca Pemahaman 2-23 Previewing merupakan gabungan dari teknik sampling dan locating. Gambar membaca dengan pola Blok adalah berikut ini. Pola blok merupakan pola membaca dengan cara mata berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. pembaca memperoleh hal yang primer dan yang sekunder. Pengunaan teknik ini adalah pembaca membaca kalimat pertama pada setiap paragraf dan pembaca menggunakan kemampuan daya melihat sekeliling pada kalimat-kalimat yang lain dari setiap paragrafnya. Teknik ini menggunakan teknik sampling dari sisi pemusatan perhatian pada kalimat pertama setiap paragraf dan memanfaatkan teknik locating dari sisi daya melihat sekeliling. Pola Membaca Cepat Pola membaca yang digunakan dalam teknik lanjutan adalah pola paragraph diagonal. Kalau hal tersebut dilakukan dapat menghemat waktu yang banyak. Pola yang dapat diterapkan adalah blok dan horizontal. . Jadi. pembaca dapat memperoleh hal-hal yang diinginkan lainnya. Atau dengan kata lain. Dengan membaca bagian awal dan atau akhir sebuah paragraf dengan tepat. Pembaca mendapatkan ide-ide pokok atau informasi inti dan sekaligus bisa menemukan hal-hal yang diperlukan untuk mendukung ide pokok. dan paragrafaph (Harjasujana dan Mulyati 1997:168-169).

dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Pola membaca horizontal dapat digambar sebagai berikut: Gambar 2 Pola Horisontal 2. siswa kelas X dituntut untuk dapat membaca berbagai ragam wacana untuk merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai.2-24 Membaca Pemahaman   Gambar 1 Pola Blok Pola horizontal merupakan pola membaca dengan cara mata meluncur dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. kecepatannya harus cepat kilat karena pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. Membaca Memindai Buku Dalam standas isi pada kurikulum 2006. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. Yang dapat dilakukan oleh siswa SMA untuk mencapai tujuan itu adalah membaca dengan model membaca model .

Pengetahuan pembaca pada setiap bagian bacaan juga kadangkala berbeda. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan. ortografis. sulit atau pokok. tetapi mengkombinasikan kedua model tersebut dalam proses membaca. Untuk itu. mudah atau tidak pokok dan ada bagian yang belum dikenal. Model Membaca Timbal Balik Sebuah bacaan kadangkala ada bagian yang sudah dikenal. Sistem atau cara kerja membaca seperti itu dinamakan MMTB. paragraf. yaitu mulai dengan paragraf atau makna. . dan leksikon bekerja secara serempak untuk memahami (mentransfer) informasi yang disampaikan penulis. metode SQ3R. proses MMTB dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca yang meliputi sintaksis.  Membaca Pemahaman 2-25 atas bawah (lihat hal 4) atau model membaca timbal balik. dan pola blok (lihat 2. melainkan proses paragraf balik yang bersifat simultan. a. Disamping itu. Pada peringkat ini bank data bekerja secara simultan. Oleh karena itu. Membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-berlanjut. Jika dibagankan.1. teknik scanning. yaitu MMBA atau MMAB. MMTB adalah berikut ini. Ada bagian bacaan yang sudah sesuai dengan pengetahuan pembaca dan ada yang belum sesuai dengan pengetahuan sehingga pembaca tidak bisa menerapkan MMBA atau MMAB saja. pembaca tidak bisa menerapkan salah satu model membaca yang sudah ada. Penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis (informasi visual) dan informasi nonvisual (informasi yang sudah dimiliki oleh pembaca). pembaca dituntun tidak hanya memakai salah satu model membaca tersebut.4) dan vertical. MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan. Pembaca menggunanakan MMBA dan MMAB secara bergantian.

dan cara membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah buku. question. Metode SQ3R Metode SQ3R merupakan metode membaca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap. dan tahun terbit. mengkaji. yaitu survai. dan bagian akhir. Penjelasan dari kelima tahap dalam SQ3R adalah sebagai berikut Survai adalah meninjau. Metode ini dibuat untuk kepentingan membaca bacaan yang berupa buku untuk kepentingan belajar. pengarang. daftar paragraf. daftar gambar. reading. Mula-mula metode ini dikembangkan oleh Robinson pada tahun 1946. penerbit. meneliti. paragraf. kata pengarang. dan ulang. dan abstrak (bila ada). b. Penerapannya adalah berikut ini. Tampubolon (1990:170) 26paragraf nama metode SQ3R dengan istilah surtabaku yang merupakan akronim dari survai. bagian isi. tempat terbit. Bagian isi yang disurvai meliputi judul . recite dan review (Tarigan 1990:54). baca. Pada halaman judul yang disurvai adalah judul buku.2-26 Membaca Pemahaman   Bagan 2 Model Membaca Timbal Balik Metode yang dapat diterapka untuk membaca buku untuk merangkum isi buku dalam beberapa kalimat adalah metode PQ3R. daftar isi. Bagian awal (preliminaries) yang disurvai meliputi halaman judul. paragraf. Bagian-bagian buku yang disurvai adalah bagian awal.

Tahap mensurvai buku diperlukan untuk tahap berikutnya. Tujuan dilakukannya survai adalah untuk mengetahui anatomi buku. Bagian akhir buku yang disurvai meliputi simpulan. Survai dilakukan dalam waktu beberapa menit saja dan merupakan kegiatan awal dari penerapan metode ini. dan penutup. Dalam waktu yang singkat pembaca sudah dapat mengetahui buku yang disurvai itu cocok atau tidak. sub-sub bab. Jika jawabannya ya. isi. Survai juga digunakan untuk mengetahui mutu buku. Buku yang bermutu baik akan mengandung bagian-bagian buku yang lengkap. daftar paragraf.  Membaca Pemahaman 2-27 tiap bab. dan paragraf (bila ada). dan indeks. Bagian awal dari sebuah buku yang lengkap terdiri atas halaman judul. kata pengantar. Bagian-bagian buku yang disurvai dibaca dengan teknik baca layap (skimming. daftar gambar. mutu buku. ringkasan yang tersusun secara sistematis. dan indeks (bila ada).) yaitu membaca secepat mungkin halaman demi halaman. Cara mensurvai bagian-bagian tersebut adalah dengan membuka-buka bagian-bagian tersebut secara cepat dan menyeluruh dalam sekali pandang. pembaca akan meneruskan kegiatan membacanya pada tahap berikutnya. daftar pustaka. dan sari. Bagian akhir dari sebuah buku yang bermutu meliputi simpulan. daftar isi. pembaca tidak akan bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi buku. daftar pustaka. bagan. diagram. subjudul. pembaca tidak perlu meneruskan ke tahap berikutnya. Bagian isi dari sebuah buku yang baik adalah terdapat bab. . Anatomi buku merupakan bagian-bagian dari sebuah buku yang umumnya meliputi bagian pendahuluan. dan gambaran umum isi buku. Tujuan lain dari mensurvai adalah untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara cepat. grafik. Jika jawabannya tidak. Jika tidak melakukan survai. mengandung informasiinformasi yang dibutuhkan atau tidak.

Sebaiknya. 2. ada buku yang berjudul Membaca Efektif dan Efisien. pertanyaan-pertanyaan menanyakan mengenai halhal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pembaca untuk menemukan isi bacaan pada waktu pembaca melakukan tahap reading. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan memotivasi pembaca untuk membaca dengan sungguh-sungguh karena sudah tahu target yang ingin dicapai. 3. Pembaca dikondisikan berpikir kritis atas bacaan yang .2-28 Membaca Pemahaman   Questioin (bertanya) merupakan tahap kedua dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca menyusun pertanyaanpertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul karena keinginan atau hasrat pembaca untuk mengetahui mengenai sesuatu hal yang diperkirakan terdapat dalam bacaan. Misalnya. 4. 1. 1. pertanyaan-pertanyaan itu dicatat supaya pembaca tidak lupa dan tidak membebani pembaca untuk selalu mengingat-ingat pertanyaan sehingga dapat mengganggu konsentrasi pada waktu membaca. 2. Pertanyaan dibuat berdasarkan perkiraan-perkiraan pembaca sewaktu melakukan survai. 3. Pertanyaan-Pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pikiran pembaca pada bagian-bagian tertentu dari bacaan yang dibaca. Kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah berikut ini. 5. 6. Manfaat melakukan question bagi pembaca sebelum membaca adalah sebagai berikut. Umumnya. Apakah yang dimaksud membaca yang efektif ? Apakah yang dimaksud membaca yang efisien? Apakah yang dimaksud membaca yang efektif dan efisien? Bagaimana caranya membaca efektif? Bagaimana caranya membaca efisien? Apa manfaat membaca efektif dan efisien? Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat atau dihafal.

dan bagian bacaan yang mudah dibaca . Kecepatan baca bidang cepat jika yang ingin diperoleh hanya hal-hal tertentu saja atau hal-hal yang penting dan kecepatan baca lambat (diperlambat) jika yang diinginkan adalah mengetahui semua isi yang ada pada bacaan. Pembaca biasanya membaca dengan teliti sambil mencari jawaban dari pertanyaan pada tahap question. pikiran-pikiran pokok yang terdapat dalam bacaan. pembaca boleh meragukan apa yang dikatakan penulis sambil mencari sumbersumber lainnya yang dapat meyakinkan pembaca atau bahkan pembaca tambah ragu atau tidak yakin tentang apa yang ditulis penulis. Untuk memperlancar proses membaca. Pembaca tidak hanya menerima informasi yang disampaikan penulis. Tahap sebelumnya (survai end question) dipersiapkan untuk melakukan tahap ini. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dari metode ini. Kedua tahap sesudahnya (recite end review) merupakan tindak lanjut dari tahap ini. Kecepatan baca disesuaikan dengan tujuan membaca dan bacaan. Jika belum yakin. pembaca memfokuskan pada kata-kata kunci. pembaca tidak harus melakukan kecepatan baca yang sama.  Membaca Pemahaman 2-29 dibaca. Jika diperlukan. Dalam membaca. pembaca bisa membuat catatan tentang hal-hal yang penting yang telah ditemukannya atau pembaca cukup berupa menggarisbawahi hal-hal yang penting pada buku. bagian bacaan yang sedang dibaca kecepatan sedang. Apa yang telah dirintis pada kedua tahap sebelumnya akan direalisasikan pada tahap reading. yaitu membaca bab demi bab dan bagian demi bagian bab. Bagian bacaan yang sukar akan dibaca dengan lambat. pembaca melakukan kegiatan membaca secara menyeluruh. Reading (membaca) merupakan tahap ketiga dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk membaca bacaan. Pada tahap ini. dan simpulan yang dibuat penulis.

pembaca melakukan membaca secara fleksibel. Model membaca yang cocok untuk membaca secara fleksibel adalah model membaca campuran. Kedua. dan jenis membaca yang dipraktekkan. Pilihan teknik membaca juga didasarkan atas tingkat kesulitan bagian-bagian bacaan.2-30 Membaca Pemahaman   dengan kecepatan yang tinggi. Keberagaman pilihan teknik membaca dapat dibaca pada bab IV. Pertama. Dengan fleksibilitas baca. pembaca buku termasuk di dalam jenis membaca dalam hati. Gaya (model) yang ditawarkan ada dua. membaca buku termasuk di dalam membaca intensif. Model membaca ini menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan cara yang tidak sama pada setiap bagian bacaan. Membaca ekstensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami informasi-informasi yang penting atau pokok yang terdapat pada bacaan dengan cara membaca secara sepintas. Teknik skimming dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitannya mudah. Dengan cara seperti itu. Menurut Tarigan (1990:12). dengan cara membaca secara teliti. . pembaca harus pandai memilih model membaca yang diterapkan. yaitu membaca intensif dan ekstensif. teknik close reading dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitan bacaan tinggi atau sedang. gaya membaca bawah atas untuk membaca bacaan yang sulit atau belum dikenal. teknik membaca yang digunakan. Kedua gaya diterapkan bersama-sama pada waktu membaca. Membaca dalam hati dapat diklasifikasi menjadi dua. Dari dua jenis membaca itu. gaya membaca atas bawah untuk membaca bacaan yang mudah atau sedang. baik yang paling atau pokok maupun yang detail. Membaca intensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami semua informasi yang ada dalam bacaan. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa kesulitan bagianbagian bacaan tidak sama.

Pembaca yang belum mahir lebih baik melakukan recite tiap subbab. Bacaan yang sulit merecitenya setelah selesai membaca pada setiap subbab. per bab atau setelah bacaan selesai dibaca. bacaan yang sedang merecitenya setelah selesai membaca setiap bab. dan ada juga yang setelah selesai tiaptiap subbab. ada yang selesai tiap-tiap bab. dan panjang pendeknya bacaan. Pertimbangan yang dijadikan dasar adalah kemahiran yang dimiliki pembaca. dan bacaan yang panjang setelah selesai per subbab. dan pembaca yang sudah mahir melakukan recite setelah selesai membaca semua bab. Ada pembaca yag biasa menceritakan kembali isi bacaan setelah selesai semua bab dibaca. Recite menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca. Pada tahap ini. . bacaan yang sedang setelah selesai per bab. tingkat kesulitan bacaan. Bacaan yang pendek menceritakan kembalinya setelah selesai membaca semua. Ada kemungkinan pembaca lupa tentang sesuatu hal yang akan diceritakan. kebiasaan.  Membaca Pemahaman 2-31 Recite (menceritakan kembali) merupakan tahap keempat dari metode SQ3R yang berupa kegiatan membaca untuk menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri. Pembaca dalam menceritakan kembali harus sudah hafal mengenai isi bacaan. pembaca tidak boleh membuka-buka buku yang telah dibaca. pembaca yang sudah cukup mahir disarankan merecite tiap bab. dan bacaan yang mudah mericetenya setelah selesai membaca semua bab. Tahap ini dilakukan apabila pembaca sudah merasa yakin bahwa pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap question bisa dijawab dan dapat menceritakan dengan benar mengenai bacaan yang telah dibacanya. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca bagian yang terlupakan. Hal tersebut diperbolehkan supaya tidak mengganggu tahap berikutnya (review). Tingkat kesulitan dan panjang-pendeknya bacaan menjadi menjadi pertimbangan dalam melakukan recite. Tahap ini dapat dilakukan per subbab.

Bagian yang . padat. 1. pembaca yang belum berhasil adalah pembaca yang tidak dapat bercerita secara cermat. misalnya sambil membaca atau sambil membuka-buka kembali halaman buku. luas atau banyaknya informasi yang telah dicerna melalui kegiatan membaca. Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatan. sedangkan meninjau ulang merupakan kegiatan untuk melihat-lihat bagian-bagian bacaan secara secepat kilat. dan rinci. dan rinci. tetapi dapat dikembangkan. 2.2-32 Membaca Pemahaman   Sebaiknya. Sebaliknya. Ikhtisar dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain. Ikhtisar dibuat secara singkat. Menceritakan kembali isi bacaan (buku) tidak harus hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat pada tahap question. dan jelas yang mencakup butir-butir penting isi bacaan. bukan lisan. Recite tertulis dapat berupa ikhtisar. (Harjasujana dan Mulyati 1997:212). Ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata pembaca sendiri. tahap ini merupakan tahap evaluasi. keteraturan. Membaca ulang merupakan kegiatan membaca untuk mengulang membaca bacaan yang telah dibaca secara teliti. dan kedalaman dalam menceritakan kembali isi buku. teratur. Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang. Review (meninjau kembali) merupakan tahap akhir dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami. Ikhtisar dibuat berdasarkan rambu-rambu berikut ini. Pembaca dievaluasi seberapa jauh. Bagi pembaca. 3. Pembaca yang telah berhasil adalah pembaca yang dapat bercerita secara cermat. recite dilakukan secara tulis (tertulis). teratur. Pembaca bisa saja menceritakan kembali hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh guru atau dosen waktu ujian dan ditanya teman-temannya sewaktu diskusi.

Disamping itu. 2. Informasi-informasi yang didapat dari buku secara bertahap. kritik dan saran yang bisa disampaikan untuk menyempurnakan buku yang dibaca. pembaca dilatih membaca secara sistematis. ringkasan mengenai pokok-pokok penting isi bacaan dengan bahasa pembaca sendiri. Meninjau kembali bacaan diperlukan untuk menyegarkan kembali ingatan atas informasi-informasi yang telah diperoleh pada waktu membaca. Agar hasil baca dari metode SQ3R terpelihara dengan baik.  Membaca Pemahaman 2-33 ditinjau ulang misalnya judul. tahun terbit. 4. diagram. review bermanfaat untuk mengecek barangkali ada hal-hal yang penting terlewati. tetapi pembaca juga merenungkan yang dan memikirkan penulis. pembaca yang sudah mahir tidak sekedar merasa yakin telah menguasai semua isi yang ada dalam buku. gambar. dan penerbit. Nama lain kartu baca menurut Tampubolon (1990:173) adalah kartu rangkuman pokok bacaan studi. Kelima tahap dalam SQ3R dilaksanakan secara sistematis mulai dari survai sampai dengan review. Hal-hal yang dicatat dalam kartu baca adalah sebagai berikut: 1. tempat terbit. nama pengarang. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan metode SQ3R ada lima. Tahap ini berguna dalam membantu pembaca mengingat-ingat dan mengeluarkannya pada waktu ujian. Pada tahap ini. subjudul. dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada buku. benar-tidaknya kelebihan dan informasi-informasi disampaikan kelemahan buku yang dibaca. perlu ditulis dalam kartu baca. kutipan lengkap bagian informasi atau pernyataan yang dipandang penting dengan disertai keterangan sumber otentik (tahun terbit dan halaman). Pertama. Kedua. 3. judul buku. 33arag atau judul bacaan. membaca akan .

Sub-sub bab pada bab VIII berjudul pengertian. Pemahaman yang diperoleh akan tahan lama tersimpan di dalam otak karena diperoleh dengan menggunakan cara yang bertahap. Contohnya adalah jika pembaca diberi tugas mencari pengertian metode SQ3R. pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah buku yang dihadapinya sesuai dengan yang diperlukan atau tidak. Tempo baca akan diperlambat jika membaca halhal yang belum diketahuinya atau bacaannya sulit. Ketiga. Pembaca akan mempercepat tempo bacanya jika membaca hal-hal yang sudah diketahui atau bacaannya mudah. Buku tersebut disurvai pada daftar isi. tahap-tahap penggunaan. Dalam daftar isi terdapat judul bab metode SQ3R pada bab VIII. Pembaca dapat mengetahui hal tersebut setelah selesai melakukan survai. Jika buku itu tidak diperlukan. pembaca akan beralih pada bacaan lain yang sesuai kebutuhannya. pembaca diberi kesempatan untuk membaca secara fleksibel. dan manfaat menggunakan SQ3R. Dari hasil survai tersebut pembaca dapat menentukan bahwa buku itu diperlukan sehingga pembaca melakukan tahap berikutnya. Tujuan yang ingin dicapai dalam membaca buku dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Buku yang dihadapi untuk dibaca adalah buku yang berjudul Membaca 2 karangan Harjasujana dan Mulyati. Pengaturan tempo membaca tiap-tiap bagian bacaan tidak selalu harus sama. Kelima. tahap-tahap. dan manfaat SQ3R.2-34 Membaca Pemahaman   memperoleh pemahaman yang komprehensif dan tahan lama. Keempat. pembaca melakukan serangkaian tahapan yaitu . Semua bagian-bagian buku dibaca mulai dari halaman judul sampai daftar pustaka atau indeks. Jika buku tersebut diperlukan. Untuk mencapai tujuan. Keefektifan pembaca membaca membaca dapat dilihat secara dari efektif dan efisien. pembaca akan meneruskan membacanya. kegiatan tercapainya membaca sesuai dengan tujuan.

1. pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh atau memahami informasi atau fakta yang dicari. Dalam penggunaannya. Setelah yang dicari ditemukan. Keefisien membaca dilihat dari sisi waktu yang dibutuhkan dalam membaca.  Membaca Pemahaman 2-35 reading. pembaca perlu memperhatikan hal-hal berikut ini. tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Harjasujana dan Mulyati 1997:65 dan Tarigan 1994:31). . Waktu baca dari sebuah buku dengan metode SQ3R 35paragrafap cepat. recide. pembaca melaju dengan penuh keyakinan. Scanning merupakan teknik membaca sekilas cepat. 4. Untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus. Pembaca sudah mempunyai tahap-tahap yang pasti dan persiapan yang mantap untuk membaca sehingga akan mempercepat proses membaca buku. Kedua paragraf dilakukan sekilas dan teliti. pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memperhatikan atau membaca bagian-bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari. yaitu proses mencari atau menemukan dan proses memperoleh informasi atau fakta. Pembaca tidak akan mengulang bacaan yang telah dibaca. dan review sehingga tujuan baca akan bisa tercapai dengan baik. Teknik Scanning Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas atau teknik baca tatap. 3. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. Teknik scanning terjadi dua proses. c. Di samping itu. 2. Prinsip membaca scanning adalah cepat menemukan informasi untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus pembaca. Tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan informasi tertentu dan atau fakta khusus.

Sumber yang diperlukan tidak hanya satu. dan mencari entri pada indeks (Soedarso 2004: 90-96). mencari nomor telefon. Dalam rangka menulis sebuah artikel. 6. Untuk itu. Pembaca seyogyanya mengenai organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk menafsirkan letak informasi terentu atau fakta khusus. Pembaca disarankan mengetahui kata-kata kunci atau frasefrase kunci yang menjadi petunjuk. 4. menemukan kata di kamus. Pembaca menggerakkan matanya secara sistematis dan cepat. tetapi sebanyak mungkin. grafik. memilih acara paragraf. 2. dengan pola S atau zig-zag. ilustrasi atau 36arag yang berhubungan dengan informasi atu fakta yang dicari. Dalam menulis karya ilmiah semakin banyak sumber yang diacu dan sumbernya bermutu mempunyai nilai tersendiri karena salah satu paragraf dalam menilai sebuah tulisan ilmiah adalah dari sumber yang dipakai. . makalah atau buku. 3. Jika ada. seperti anak panah yang langsung meluncur dari bagian tengah busur ke sasaran yang dituju oleh pemanah. Pembaca memperlambat kecepatan bacanya jika sudah menemukan informasi atau fakta yang dicari untuk meyakinkan kebenaran mengenai hal yang dicari. pembaca lebih baik melihat gambar.2-36 Membaca Pemahaman   1. antara lain menemukan topik tertentu. Yang dapat diterapkan adalah menemukan topik tertentu dan mencari entri pada indeks. Pembaca dapat mempermudah atau mempercepat mencari lewat daftar-daftar isi dan atau indeks 5. Dalam kehidupan sehari-hari teknik scanning digunakan dengan tujuan. seorang penulis memerlukan sumber.

bagan. Topik yang dicari bisa saja terdapat pada beberapa bab. Indeks merupakan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan yang tersusun menurut abjad yang memuat informasi mengenai halaman. Setelah itu. 3. dan gambar. grafik. kata atau istilah yang ada di dalam . Karena tidak ada daftar isi. Apabila ditemukan paragraf yang dicari. Untuk melengkapi pencarian paragraf. tetapi cukup men-scan (menemukan) melalaui daftar isi. Pembaca membuka halaman yang ditemukan pada tahap 3. paragraf-topik tertentu dapat dicari dari surat kabar. Pembaca men-scan daftar isi untuk mencari paragraf tertentu. pembaca dapat juga men-scan daftar indeks. indeks. dan atau grafik. pembaca juga tidak perlu membaca semua bagian yang ada pada surat kabar. Pembaca yang mengenal surat kabar tersebut bisa lebih cepat dalam menemukan hal yang dicari karena ia sudah tahu kira-kira pada halaman berapa paragraftersebut dibahas. Pembaca membuka halaman dari paragraf yang telah ditemukan dan men-scannya. Untuk mencarinya pembaca tidak perlu membaca semua bagian buku. 4. 2. Topik-topik tersebut dicari dari buku atau sumber yang lainnya. pembaca berhenti pada halaman tersebut dan melakukan membaca secara biasa dengan tujuan memperoleh informasi. Selain dari buku. Untuk mencari paragraf. pembaca cukup men-scan halaman demi halaman. Tahap yang dapat dilakukan dalam men-scan buku untuk menemukan paragraf tertentu adalah sebagai berikut: 1. gambar. pembaca dapat men-scan halaman berikutnya atau pada surat kabar yang lain. Pembaca dituntut dapat mencarinya dan memperolehnya dengan cepat sehingga dapat mencari paragraftopik tersebut dari buku yang lain.  Membaca Pemahaman 2-37 penulis terlebih dahulu dituntut untuk mencari dan mempelajari paragraf-topik yang relevan dengan pembahasan yang akan dibuat.

Indeks terdapat pada bagian akhir dari sebuah buku.2-38 Membaca Pemahaman   buku. demografi. Pola Vertikal Pola paragraf merupakan pola membaca dengan cara bola mata bergerak meluncur secara paragraf dari atas ke bawah. d. 2. Untuk dapat mencari istilah atau kata pada indeks secara cepat pembaca dapat menggunakan teknik scanning dengan tahap-tahap sebagai berikut. tidak semua buku terdapat indeks. jumlah penduduk. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman atau melewati batas pandang yang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu kata kuncinya adalah sensus. Lihat juga gambar. paragraf yang berhubungan dengan kata yang dicari. pemukiman. 1. Kenali organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk memperkirakan letak jawaban. Setelah menemukannya. Namun. Pembaca harus mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk. 3. Apabila buku yang dibaca tidak memiliki indeks. 2. 1. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan . Bukalah halaman yang memuat indeks. Cobalah cari melalui daftar isi. dapat melakukan tahap-tahap berikut ini. 3. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan indeks atau mungkin penulis tidak tahu mengenai indeks. Tentukanlah istilah atau kata yang ingin dicari dalam indeks. lambatkanlah kecepatan membaca untuk memahami kata atau istilah yang dicari. dan lain-lain. Indeks sangat berguna bagi pembaca pada waktu ingin mencari istilah dan uraiannya secara cepat. grafik. Carilah istilah atau kata tersebut pada indeks dengan gerakan mata secara sistematis dan cepat. ilustrasi.

2. grafik atau diagram. Gambar 3 Pola Vertikal 3. Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca paragraf. Membaca Memindai Grafik Dalam standar isi pada kurikulum 2006. teknik scanning.4).2. metode S2QR. dan pola vertical (lihat 2. sehingga pembaca . rumus atau hal yang dicari). question.  Membaca Pemahaman 2-39 bantuan telunjuk tangan kiri. kemudian apabila dirasa sudah dimengerti. kecepatan secara otomatis diperlambat.1). Pembaca menerapkan pola ini dengan cara pandangan mata diarahkan dari bagian atas ke bagian bawah secara cepat. gerak mata dengan pola paragraf adalah berikut ini. Penerapak metode S2QR adalah berikut ini. kecepatan ditingkatkan beberapa kali. siswa dapat menggunakan model membaca atas bawah (lihat 2. grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai. seek. siswa kelas X dituntut untuk dapat merangkum seluruh isi informasi grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. Apabila digambarkan. Untuk dapat terampil memindai grafik. definisi. dan reading (Depdikbud 2004:4-5). Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman berikutnya. Metode tersebut digunakan apabila pembaca tidak memiliki tujuan khusus sewaktu membaca paragraf. Pada saat merasa ada hal-hal yang penting (kata kunci.1.3 dan 2.

Informasi tersebut bisa dicari pada bagian kolom dan baris pada paragraf. dan reading. Pembaca langsung mencari hal-hal yang diinginkan. seek. question. Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada di luar kolom paragraf. Setelah informasi didapat yang perlu dilakukan adalah mencari informasi tambahan jika ada. Informasi tambahan berupa keterangan yang tidak mungkin dimasukkan di dalam paragraf. Hal yang dianggap perlu atau yang diinginkan biasanya adalah hal-hal yang bersifat menonjol. Pembaca harus meresapi judul yang disurvai karena judul merupakan ringkasan yang padat tentang informasi yang disampaikan penulis dalam bentuk paragraf. Pembaca yang sedang studi membaca paragraf dengan tahap survai. 3. Informasi yang ingin disampaikan secara rinci dalam bentuk paragraf umumnya berupa urutan tahun. Jika tidak ada tujuan khusus. Manfaat mensurvai judul adalah untuk memahami pesan secara utuh dan menyeluruh. sehingga tidak perlu melakukan tahap S2QR. Pembaca yang tidak sedang studi membaca paragraf untuk tujuan khusus. Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam paragraf. persentase. membaca paragraf biasanya bertujuan untuk mencari informasi yang tertuang dalam paragraf. Question adalah kegiatan pembaca membuat pertanyaan tentang isi paragraf atau tujuan membaca paragraf.2-40 Membaca Pemahaman   dapat membaca secara cermat dan menyeluruh. Setelah menemukannya pembaca langsung membaca pada bacaan yang lain. 1. 2. Informasi apa saja yang ada dalam paragraf merupakan pertanyaan . misalnya sumber data paragraf. sehingga ia tidak merasa perlu mencermati seluruh paparan yang ada pada paragraf. Hal-hal pokok yang perlu disurvai adalah judul paragraf dan subjudul. dan angka-angka.

Walaupun demikian. 4. Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question. Berapa angka tertinggi? Kelompok mana yang paling baik? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu. . Pembaca dalam kegiatanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan pada tahap 3. misalnya.  Membaca Pemahaman 2-41 pokok tentang isi paragraf. Reading adalah kegiatan membaca paragraf secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari. pembaca tidak hanya terpancang pada menemukan jawaban-jawaban tersebut. Ia bisa saja menemukan informasiinformasi yang lainnya. Pertanyaan yang lain bisa saja dibuat dengan cara mengubah judul menjadi pertanyaan. pembaca harus melakukan tahap reading.

Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Menerapkan model membaca sewaktu membaca intensif. siswa kelas X dituntut untuk dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik . menerapkan kiat B. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Indikator 1. metode. dan mampu menerapkan model. E. 5. 6. Deskripsi Penyajian model. Uraian Materi 1. Membaca Intensif Pemahaman Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca intensif. 4. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. D. C. metode. dan teknik membaca serta penerapan model. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca intensif. dan teknik membaca. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif.BAB III. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. metode. 2. 3. MEMBACA INTENSIF A. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca intensif. metode.

sedangkan struktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peran sampingan (sekunder). kiatnya adalah menggunakan model membaca bawah atas. Dalam membaca.  Membaca Pemahaman 2-43 sastra Melayu klasik dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik. pembaca melakukan penyandian kembali paragraf-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. metode kalimat. dan teknik close reading. Model Membaca Bawah Atas Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau battom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan. paragraf membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas. Apabila dibagankan model membaca bawah atas adalah berikut. Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. a. Karena paragraf atau cara kerja berawal dan bergantung pada bacaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menganalisis unsur intrisik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. . Pembaca bergantung sekali pada bacaan. Siswa kelas XII dituntut untuk dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. Untuk dapat terampil membaca intensif seperti tuntutan di atas.

dan kalimat secara eksplisit.2-44 Membaca Pemahaman   Bagan 4 Model Membaca Bawah Atas Berdasarkan bagan 3. Penerjemahan tidak hanya diartikan sebagai penerjemahan paragraf grafis ke bentuk lisan (fisik). Setelah itu. yaitu bacaan. hasil penyandian kembali dikirim ke otak untuk dipahami. pemahaman makna leksikal. tetapi juga penerjemahan paragraf grafis ke bentuk pemahaman (psikis). 2. Dekoding tidak hanya terjadi pada proses membaca. Dekoding pada pembaca terjadi pada komunikasi tulis. sedangkan paragraf pada menyimak terjadi pada komunikasi lisan. tetapi juga pada proses menyimak. kemudian pembaca melakukan penyandian kembali 44paragraf-simbol tertulis. Membaca pada hakikatnya merupakan proses penerjemahan dan dekod. pemahaman maksud dan tujuan pengarang secara paragraf. . gramatikal. yaitu : 1. Berita-berita yang diterima pembaca mengandung informasi yang dibutuhkan atau dicarinya. Pemahaman tersebut mencakup dua hal. Bacaan merangsang atau menstimulus mata. proses membaca diawali dari bawah. Dekoding merupakan proses pengubahan tanda-tanda grafis menjadi berita yang bermakna bagi pembaca.

Metode Kalimat Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang ada dalam bacaan. yaitu mekanik dan konseptual. Jika demikian. Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. Pembaca hanya diperbolehkan mengadakan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. mata lebih dapat leluasa bergerak secara cepat. Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat. pembaca akan dapat menangkap makna kalimat dengan mudah dalam waktu yang paragraf singkat. Pembaca akan lebih dapat menghemat waktu baca sebab paragraf tidak lagi berhenti pada satuan-satuan frase atau kata. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat. yaitu menerapkan beberapa kemahiran yang sudah didapat dalam latihan sebelumnya. .  Membaca Pemahaman 2-45 b. Dengan demikian. Latihan membaca dengan metode ini dapat dibagi menjadi dua. Untuk mencapai hal tersebut tidak mudah karena metode kalimat merupakan membaca yang kompleks. tetapi pada setiap akhir kalimat. pembaca perlu latihan yang serius dan terencana. Untuk itu. Kata dan frase dipandang sebagai paragraf kalimat pembentuk ide. Pembaca mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya. pembaca mengayunkan matanya lebih jauh lagi paragraf membaca frase. Sewaktu mengayunkan pandangan mata pembaca dituntut memahami bacaan kalimat yang dibaca. Di samping itu.

tetapi . Hentian sementara dilakukan lebih jauh dibandingkan pada membaca frase. Ketiga. Dibandingkan dengan membaca frase. sekali pandang mata sudah dapat memandang satu kalimat. Kesulitan komunikasi selagi mereka mulai ke luar dari keluarga. Pertama. sulit rasanya kemahiran dapat dicapai karena membacanya semakin rumit. Latihan membaca kalimat secara mekanik dapat dilakukan dengan bacaan berikut ini. dan tekun. pembaca melakukan lompatan pandangan mata dari kalimat ke kalimat berikutnya. mata tidak mudah lelah karena mata tidak sering melakukan lompatan-lompatan. Apabila diperhatikan dalam satu paragraf mata hanya bergerak atau melompat beberapa kali saja (4 sampai 5 kali). dilihat dari cara kerja mata. Tanpa latihan seperti itu. Anda adalah pribadi khusus. Bacaan 4 Pentingnya Komunikasi Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan. dan dunia kerja. dalam wawancara pekerjaan Anda harus tampil sebagai orang pribadi sekaligus sebagai komoditi. pembaca melakukan hentian bisa mencapai kurang lebih 12 sampai dengan 20 kali pada setiap pparagrafafnya. Untuk mencapai kemahiran itu. Serta merta.2-46 Membaca Pemahaman   (1) Metode Kalimat secara Mekanik Secara mekanik. Kedua. pembaca perlu berlatih secara kontinyu. memasuki dunia sekolah. Keuntungan membaca kalimat secara mekanik ada tiga. Pembaca dikondisikan dapat membaca kalimat demi kalimat. Membaca kalimat lebih cepat 3 atau 4 kali membaca frase. pembaca lebih cepat selesai dalam membaca dibandingkan membaca frase. teratur. Mata lebih didorong untuk melakukan lompatan yang jauh dan mata didorong untuk mempunyai pandangan yang lebar.

pemerintahan. Cara memahami metode frase digunakan sebagai dasar dalam .  Membaca Pemahaman 2-47 Anda sedang mencoba menjual keterampilan. Anda sebagai calon karyawan menjadi sungguh-sungguh sadar akan pentingnya keterampilan komunikasi dasar dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. 1. Mulailah pandangan mata terfokus pada kalimat pertama. 5. Ayunkan pandangan mata beralih ke kalimat berikutnya secara perlahan-lahan. Betapa pun wawancara pekerjaan itu bisa dijadikan contoh pentingnya komunikasi dalam bisnis. 4. Tataplah bacaan di atas dengan pandangan yang lebar. atau perintah (. 6. Namun. . Dalam tatap muka dengan manajer personalia. pendidikan. Ulangilah latihan sampai empat atau lima kali sambil meningkatkan kecepatan gerak mata. yaitu sekali pandang semua bacaan terlihat. Keterampilan Anda kepada seseorang yang membutuhkannya. 2. dan profesi. ? . Tahap-tahap berikut ini dapat digunakan sebagai paragraf dalam latihan membaca bacaan di atas. (2) Metode Kalimat secara Konseptual Secara konseptual. !) sebagai tanda batas antarkalimat. 3. paragraf. Berlatih pada hari-hari berikutnya sampai Anda mempunyai kemahiran membaca kalimat demi kalimat secara mekanik. Mata tidak boleh berhenti sebelum kalimat selesai atau Anda boleh berhenti pada tanda titik atau 47arag. setiap situasi kerja menuntut berbagai kemampuan berbicara yang luwes. membaca melakukan usaha untuk memahami atau menafsirkan makna yang terkandung dalam masingmasing kalimat dan merangkaikannya menjadi makna yang utuh.

Untuk pengajaran membaca. paragraf-pamplet. majalah. Masalahnya. Bacaan 5 Bahan Ajar Membaca Sebagai seorang guru. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. dan lain-lain.2-48 Membaca Pemahaman   melakukan latihan ini. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macan bahan ajar yang ada. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. buku ilmiah. guru bidang studi apapun. Tetaplah bacaan itu dengan sekali pandang. tuntutan memilihkan bahan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Dalam kenyatan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk dikonsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan paragraf kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Alternatif latihan metode kalimat secara konseptual pada bacaan tersebut adalah sebagai berikut. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. . Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. Pembaca dapat melakukan latihan membaca secara konseptual dengan bacaan berikut ini. surat kabar. 1. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terkait oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu.

hubungan ide-ide bawahan dan ide-ide utama. Pembaca hanya menerima (memahami) apa yang ada pada tulisan. menangkap. 3. Pembaca merangkaikan informasi yang baru diperoleh ke dalam suatu kerangka yang telah ada. Pembaca menerapkan keterampilan pemahaman pada tingkat yang rendah (dasar). Pembaca tidak diperbolehkan memahami frase demi frase. c. Menurut Farr dan Roser (1979:359) yang dapat dilakukan oleh pembaca dengan menggunakan teknik ini ada dua. Pembaca tinggal menangkap maknamakna tersebut. 4. pembaca mengenal. 2. tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi (paragraf) atau makna dibalik baris-baris. 2. Berlatihlah pada hari-hari berikutnya sampai mahir. Dengan teknik ini. Ulangilah latihan ini 2 atau 3 kali sambil meningkatkan daya pemahaman terhadap bacaan. Pembaca hanya menangkap informasi-informasi yang terletak secara jelas dalam bacaan. yaitu: 1. Pahamilah kalimat demi kalimat secara perlahan-lahan. Teknik Close Reading Close reading (membaca teliti atau membaca cermat) adalah teknik membaca yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan (Tarigan 1994:33). Pembaca memahami organisasi. 3. Ciri-ciri pembaca yang menggunakan teknik close reading adalah sebagai berikut: 1. Nurhadi (2004:57) paragraf nama membaca literal. Pembaca hanya memahami makna secara tersurat. Informasi secara eksplisit terdapat dalam baris-baris.  Membaca Pemahaman 2-49 2. . dan memahami informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan secara tersurat (eksplisit).

Tujuan yang lain selain tujuan umum adalah tujuan khusus. pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut ini. 4.2-50 Membaca Pemahaman   4. Pembaca membaca bacaan yang mengandung informasi-informasi yang diperlukan pelajar untuk . Pembaca harus sudah mempunyai keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membaca dengan teknik close reading. Dengan teknik ini. 3. 3. Tujuan yang diinginkan oleh pembaca pada umumnya adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan. Pembaca mempunyai tujuan dalam membaca yang dirancang sebelum melakukan kegiatan membaca. halhal yang diperoleh bersifat paragraf. memperoleh informasi (ide) lain atau tambahan yang ada dalam bacaan. 1. 2. Agar dapat berhasil dalam menggunakan teknik ini. Tujuan khusus meliputi: 1. tentang hal yang ada pada bacaan. Pembaca menerapkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca dengan teknik ini secara bertingkat sesuai tingkatan keterampilan yang dibutuhkan atau sesuai urutan keterampilan. Teknik ini perlu dilatihkan terutama untuk pembaca yang sedang belajar karena teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk membaca telaah atau membaca studi. Pembaca hanya mengingat-ingat informasi yang ada dalam bacaan. 2. memperoleh ide-ide pokok yang ada pada bacaan. apa. menemukan urutan atau susunan organisasi cerita yang ada dalam bacaan. menemukan rincian atas fakta-fakta yang terjadi dalam bacaan. yaitu tentang siapa. Pembaca tidak berpikir kritis dalam menerima informasi yang ada pada bacaan. 5. di mana.

memahami makna frase. dan teknik yang dapat digunakan untuk membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. 3. siswa kelas X dituntut dapat menganalisis keterakaitan unsut paragraf suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari.4. . menangkap paragraf perbandingan. menangkap paragraf urutan. Menurutnya. menangkap paragraf sebab akibat. menyatakan kembali paragraf perbandingan. metode. 2. 5. siapa. Siswa kelas XI dituntut dapat membandingkan paragraf-paragraf dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan dengan hikayat. dan dimana. Model. Teknik close reading melatihkan kemahiran pembaca dalam hal: 1. kapan. 12. memahami makna paragraf. dan teknik retensi. menyatakan kembali paragraf sebab akibat.1). metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu. 11. 10. 6. 8. memahami (menjawab) apa. menyatakan kembali paragraf urutan. a) Metode GPID Metode GPID diusulkan oleh Merrit. memahami makna kalimat. metode GPID.  Membaca Pemahaman 2-51 memperoleh dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. memahami makna kata. 9. Membaca Intensif Kritis Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Siswa kelas XII dituntut dapat menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode. 7. 2. memahami makna paragraf detail. . 4.

memusatkan perhatian. dan penyusunan pola membaca. pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. Pembaca sudah mempunyai arah yang jelas. dan development (Yap 1978:114115). Plans dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan maksud pilihan bagian-bagian yang dibaca. dimaksud atau apa tujuan membaca. bagian-bagian yang akan dibaca. Pembaca terlebih dahulu menentukan untuk apa ia membaca. kendala. plans. apa yang ingin dicapai. Dengan cara seperti itu. Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut. 2. Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan. Goall dapat dilakukan dengan cara membatasi perhatian.2-52 Membaca Pemahaman   paragraph. 1. dan rencanarencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk paragraf tanda atau catatan). perincian maksud yang lebih khusus. Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. Sewaktu membaca pembaca sudah tahu hal-hal yang akan dicari dalam bacaan sehingga bisa membaca lebih efektif. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca. Pelaksanaan membaca sudah dengan teknik dan pola baca yang . 3. Hal tersebut berguna sebagai pedoman apa yang dilakukan selanjutnya. Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut. Goall adalah apa yang diharapkan. latar belakang. dan merumuskan maksud atau tujuan. Pada tahap ini. Implementation adalah pelaksanaan membaca. implementation. dan apa manfaat membaca. pembaca akan termotivasi untuk melakukan kegiatan membaca sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya yang maksimal. Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan.

Jika tidak berhasil. pembaca mengecek apakah ia telah melakukan kegiatan membaca sesuai rencana. dapat ditarik simpulan apakah kegiatan baca berhasil atau tidak. dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai. pembaca disarankan melakukan kegiatan membaca lagi atau pembaca dapat mengubah tujuan (rencana) baca yang telah disusun. tahap plans. Ia juga tidak akan membaca hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tujuan membaca. ataukah pada tahap implementation. . Jika sudah berarti rencana telah berjalan dengan baik dan jika belum berarti rencana belum berjalan dengan baik. Dalam mengevaluasi rencana.Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah tercapai. berarti kegiatan membaca belum berhasil. 4. apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncanakan. Jika belum. Jika sudah berhasil. Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan. berarti kegiatan membaca telah berhasil. Setelah dinilai secara keseluruhan. Pembaca tidak lagi membaca tanpa arah dan tanpa tujuan. Pembaca mengevaluasi dengan cara mengecek apakah informasi yang diinginkan pada tahap paragraph sudah didapat.  Membaca Pemahaman 2-53 direncanakan sehingga pembaca tidak akan membuang-buang waktu dan tidak akan kehilangan pemahaman yang sudah direncanakan. pembaca bisa menghentikan kegiatan bacanya atau membaca bacaan yang lainnya. Jika sudah. Hal tersebut bergantung pada di mana letak ketidakbehasilan dalam membaca: apakah pada tahap paragraph. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kegiatan baca secara keseluruhan.

menulis informasi. Pertama. Untuk membantu pembaca menyimpan hafalan dengan baik diperlukan teknik membaca secara khusus. misalnya mengenai emansipasi wanita. pembaca ditanya sewaktu ujian tentang hal-hal yang telah dibacanya (menceritakan kembali isi bacaan atau menjawab mengenai informasi yang ada dalam bacaan). Hal tersebut bisa dilakukan dengan dua teknik. Teknik diskusi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan oleh pembaca dengan bertukar pikiran kepada orang lain tentang informasi yang telah diperolehnya dari bacaan. pembaca yang tidak dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes kesulitan mengingat kembali apa yang telah dihafal atau bahkan lupa sama sekali tentang informasi yang telah dihafal. diskusi. Kemudian pembaca mendiskusikan tentang apa-apa yang telah dibacanya dengan temannya yang sudah membaca atau mengetahui . menggunakan informasi. dan tes (Wainwraught 2006: 5758). Teknik retensi ada lima. Misalnya. Yang diterapkan adalah diskusi dan menggunakan informasi. Teknik retensi dibuat untuk membantu pembaca untuk menyimpan ingatan tentang informasi yang ada dalam bacaan dan sewaktu dibutuhkan siap untuk dipanggil atau dimunculkan. yang perlu dikerjakan berikutnya oleh pembaca adalah menyimpan hafalan atau ingatan supaya sewaktu hafalan tersebut digunakan segera atau cepat muncul. Sebaliknya. yaitu repetesi. Seorang pembaca yang dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes segera dapat ingat kembali tentang apa-apa yang telah diingatnya. pembaca membaca bacaan.2-54 Membaca Pemahaman   b) Teknik Retensi Sesudah informasi atau isi yang ada dalam bacaan dihafal. Teknik tersebut dinamakan teknik retensi. Pembaca mengungkapkan pendapatnya mengenai sesuatu berdasarkan hasil membaca. Kata retensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyimpanan.

kemudian pada suatu kesempatan (lain waktu). teknik diskusi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. . Biasanya teknik ini dilakukan pada waktu pembaca sedang studi. Kedua. Apabila dalam berdiskusi pendapatnya benar atau orang lain setuju maka akan memperkuat retensi. Salah satu caranya adalah dengan mempraktekkan resep masakan padang dari buku resep masakan. Tiap hari si penjaja paragraf selalu menelepon agen tersebut untuk pesan paragraf. Misalnya. Sebaliknya. Setelah berkali-kali digunakan. penjaja paragraf menelepon dengan tanpa membaca karena sudah hafal. Kapan pun. informasi tersebut tidak akan hilang bahkan akan selalu setia dalam ingatan. Untuk menyenangkan suaminya. Dalam berdiskusi. Jadi. dalam situasi apa pun informasi itu akan digunakan selalu cepat teringat atau muncul. pembaca berdiskusi dengan orang lain tentang sesuatu hal yang telah dibaca. jika pendapat pembaca tidak benar. Jika sebuah informasi yang didapat selalu digunakan.  Membaca Pemahaman 2-55 tentang hal tersebut. si ibu tersebut berusaha dapat memasak masakan padang. penjaja paragraf menelepon agen itu dengan membaca nomor telepon. pembaca membaca sebuah bacaan (misalnya tentang bencana alam).menerus. Teknik menggunakan informasi merupakan teknik retensi yang dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh dari bacaan. Untuk kali pertama. seorang ibu yang mempunyai suami dari Padang yang suka masakan padang. Untuk memperkuat retensi bisa juga dilakukan atau dipraktekkan secara terus. pembaca dapat menambah informasi yang telah didapat dengan menyesuaikan atau memodifikasi ingatan yang telah diperoleh dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. kurang lengkap atau orang lain menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh pembaca. nomor telepon agen surat kabar. pembaca menggunakan informasi yang telah didapat. Misalnya.

Siswa kelas XII dapat menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi. metode.4. Setelah dilakukan berulang-ulang. si ibu memasak sambil membaca.1. siswa kelas XI dituntut untuk membedakan fakta dan opini pada editoral dengan membaca intensif dan siswa kelas XII dituntut untuk menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif.2-56 Membaca Pemahaman   Awal mula. deduksi dengan membaca intensif. d) Membaca Intensif Artikel Dalam standar isi pada kurikulum 2006.2).2 dan 2. Model. Untuk memenuhi tuntutan tersebut model.3). metode kalimat dan atau paragraf (lihat2. dan teknik yang dapat dipilih adalah model membaca bawah atas (lihat 2. dan teknik retensi (lihat 2.4.1).4. sisiwa kelas X dituntut dapat menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif.1). dan teknik. c) Membaca Intensif Pparagrafaf Dalam standar isi pada kurikulum 206. Model.4.5. metode pparagrafaf (lihat 2.3).1. dan teknik retensi (lihat 2. metode.2) dan PQRST. dan teknik yang dapat dipilih untuk digunakan dalam membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. sisiwa dituntut untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam buku biografi.5.2). e) Membaca Intensif Buku Biografi Dalam standar isi pada kurikulum 2006. dan teknik yang dipilih untuk digunakan adalah model membaca bawah atas (lihat 2. metode kalimat (lihat 2. .4. si ibu itu sudah tidak perlu membaca lagi karena sudah hafal.1). metode.

Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya. Hal-hal yang ditulis dalam kegiatan meringkas adalah informasi-informasi yang telah diperoleh sesuai dengan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question dan tujuan lain yang ingin diringkas. dan read pada metode ini bersinonim dengan tahap survai.  Membaca Pemahaman 2-57 (a) Metode PQRST PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. sedangkan Willy (1996:198 dalam Tarigan 1994:35) mengartikan paragraph menjadi ikhtisar. . yaitu dalam hal tahap-tahap yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai. Pembuatan ringkasan bisa saja dibuat per subbab jika memang menurut pembaca lebih baik seperti itu atau ada kekawatiran kalau satu bab tidak bisa membuatnya karena sudah lupa. dan tes (Widyamartaya 2004:63). Nurhadi (2005:131) menerjemahkan paragraph menjadi ringkasan. Ringkasan bersinonim dengan ikhtisar. Yang tidak bersinonim adalah tahap paragraph dan tes. question. Ringkasan dibuat oleh pembaca setelah selesai membaca satu bab dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh tidak hilang (lupa). Perbedaan tersebut dapat dilihat pada paragraf berikut ini. question. Walaupun bersinonim. dan read pada metode SQ3R. yaitu preview. paragraph. read. kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan. Tahap preview. question.

2-58 Membaca Pemahaman   Tabel Perbedaan Ringkasan dan Iktisar (Nurhadi 2004:138) Tes (uji periksa) merupakan tahap terakhir dari metode SQRST yang berwujud kegiatan pembaca untuk menguji seberapa banyak penguasaan terhadap buku yang telah dibaca. 1. . Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. Cara yang digunakan untuk menguji penguasaan isi buku ada empat. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada akhir sebuah bab atau akhir buku. Pembaca memeriksa (menguji) rangkuman yang telah dibuatnya. 2. Apakah rangkuman itu sudah sesuai dengan isi bacaan atau belum dan sudah benarkah rangkuman yang dibuatnya.

Keempat cara tersebut bisa dipilih satu. Apakah pembaca dapat menceritakan isi bacaan atau tidak. dan atau membuat ringkasan sesuai dengan isi bacaan dari sebuah buku. pembaca akan dapat mengingat . Loci berasal dari bahasa latin yang berarti tempat-tempat. (b) Teknik Loci Teknik loci merupakan teknik mengingat yang mula-mula digunakan untuk mengingat bahan pidato yang akan disampaikan. dapat menjawab pertanyaan. metode ini tidak berhasil diterapkan apabila pembaca tidak dapat menceritakan kembali isi bacaan. Teknik ini telah digunakan sebagai teknik mengingat sejak tahun 500 SM. Dengan cara seperti itu. Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. cara kerja pembaca adalah dengan membayangkan tempat atau bangunan yang telah dikenal.  Membaca Pemahaman 2-59 3. tiga atau empat cara sekaligus. tidak dapat menjawab pertanyaan. 4. Sebaliknya. dan atau membuat rangkuman sesuai dengan isi bacaan dari yang dibaca. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question. Pada setiap tempat (bagian bangunan). dua. Modifikasi dari teknik ini dalam membaca adalah mengingat-ingat bahan bacaan yang akan disampaikan oleh pembaca. pembaca membuat asosiasi antara pokok pikiran atau informasi pokok yang ingin diingat dengan suatu tempat yang dikenal. kemudian menyusun urutan atau rute perjalanan untuk melakukan perjalanan dalam menelusuri tempat tersebut. Penerapan metode ini dikatakan berhasil jika pembaca dapat menceritakan kembali isi bacaan. Pembaca menceritakan kembali tentang isi bacaan yang telah diperoleh. Berdasarkan arti tersebut. Keberhasilan penggunaan SQRST dapat dilihat dari hasil tahap tes.

2-60 Membaca Pemahaman   pokok-pokok pikiran bacaan dalam urutan tempat atau kejadian yang benar. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat informasi yang telah dihafal sehingga mudah untuk diingat kembali. (c) Teknik Repetisi Teknik repetisi merupakan jenis teknik yang digunakan pembaca dengan mengulang bacaan yang sudah dibaca. yaitu bagian yang perlu dihafal lagi. teknik ini dapat diterapkan pada tahap review. Yang direpetisi tidaklah semua bagian bacaan. Teknik ini dapat digunakan oleh pembaca dalam membaca bacaan sastra. Pembaca juga tidak membaca dengan cara yang sama sewaktu membaca bacaan kali pertama. Membaca bacaan berita dapat menggunakan teknik ini dengan mengasosiasikan isi berita dengan tempat yang sesuai dengan berita yang yang dibaca. Bacaan yang isinya tentang prosa juga dapat digunakan dengan teknik ini dengan mengasosiasikan prosa yang dibaca dengan tempat-tempat yang telah dikenal. berita. Pembaca dapat membaca dengan kecepatan yang tinggi. tetapi bagian tertentu atau hal tertentu saja. dibaca Pembaca dengan mengasosiasikan kejadian-kejadian mengurutkan tempat kejadian yang telah dikenal atau dialami oleh pembaca. kata kunci dan hal-hal lain yang dianggap penting. Pada tahap review pembaca hanya membolik-balik halaman yang telah dibaca secara cepat. dan proses. Dalam metode SQ3R. informasi penting. . kejadian. Dalam bacaan sastra digunakan untuk mengingat nama-nama tempat kejadian dengan cara mengasosiasikan tempat-tempat dalam cerita dengan tempattempat yang telah dikenal. Bagian bacaan yang tidak perlu (sudah dihafal) dilewati dan bagian bacaan yang ingin diretensi dibaca secara sepintas. Salah satu tujuan mereview adalah untuk memperkuat ingatan.

yaitu yang mengetes adalah pembaca. pembaca mengingat informasi tentang nomor telepon UNNES di buku telepon atau di surat kabar. Misalnya. (e) Teknik Tes Teknik tes merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mengecek (mengetes) informasi-informasi yang telah dihafal pembaca. bukan orang lain. Dengan adanya tes. Tes informal dilakukan oleh pembaca sendiri. pembaca bisa mengulang membaca bacaan dengan cara yang sesuai dan tepat sampai pembaca ingat kembali. pembaca sudah lupa. Teknik tes digunakan untuk memastikan apakah informasi yang telah diperoleh dapat diingat kembali. Sewaktu mau menghubungi nomor tersebut. Menulis informasi yang telah diterima bisa memperkuat ingatan dan memudahkan untuk mengingat kembali (memanggil kembali) informasi yang telah diingat sewaktu dibutuhkan. Dengan mencatat. Hal-hal yang diringkas adalah informasi yang penting atau yang dibutuhkan oleh pembaca. pembaca akan terbantu untuk mengingat kembali nomor itu sehingga sewaktu menghubungi tidak lupa lagi. pembaca dituntut mencari dan menyimpan informasi dengan baik. Informasi-informasi yang telah diperoleh dari membaca diringkas di dalam bentuk catatan. pembaca melakukan teknik ini dengan meringkas atau merangkumnya. Teknik tes dapat dilaksanakan dengan dua jenis. yaitu informal dan formal. Jika ada informasi yang terlupakan. Jika yang dibaca merupakan sebuah bacaan. Pembaca dituntut mengingat apa-apa yang telah dibaca.  Membaca Pemahaman 2-61 (d) Teknik Menulis Informasi Teknik menulis informasi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mencatat informasi yang telah didapat dari kegiatan membaca. Pembaca menutup . Untuk mengatasinya pembaca membaca lagi sambil mencatat nomor itu.

2-62 Membaca Pemahaman   bacaan. siswa disuruh menceritakan kembali berita yang telah dibaca atau menjawab pertanyaan tentang isi berita tersebut. Jika ada yang lupa. asosiasi. Setelah itu. Misalnya. kita mengingat begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat yang bisa digunakan untuk bermain tebak-tebakan di pub atau bermain Trival Pursuit. Oleh karena itu. Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengetes pemahaman prosedur. pertama-tama kita harus tahu benar arti informasi tersebut bagi kita dan bagaimana kita akan memanfaatkannya. Teknik ini umumnya dilakukan dalam pembelajaran. Tujuannya adalah apakah siswa dapat menguasai informasi-informasi dari bacaan berita yang telah dibaca atau belum. Pembaca dites untuk menceritakan kembali bacaan yang telah dibaca. kemudian mengingat-ingat kembali informasi-informasi yang telah didapat. retensi dapat diperkuat dengan memilih bacaan yang memiliki arti. Teknik tes formal dilakukan berdasarkan permintaan atau perintah orang lain. visualisasi. Yang diceritakan adalah hal-hal yang penting atau pokok. siswa adalah close . atensi. seorang guru menyuruh siswa membaca pemahaman sebuah bacaan berita di surat kabar. pembaca dapat menghentikan kegiatan membacanya atau membaca bagian lainnya. Jika sudah ingat semua. Pembaca bercerita dalam hati. Memang. organisasi. Apakah ia bisa ingat atau tidak. namun sebenarnya kita lebih banyak mengingat informasi yang berguna. pembaca disarankan membuka lagi bagian bacaan yang dilupakan. Informasi itu harus memiliki relevansi. Teknik tes informal relevan dengan tahap recite dalam metode SQ3R. Disamping dengan kelima teknik ini. dan umpan balik (Wainwright 2006: 55-57) Kita akan terbantu mengingat sesuatu jika informasi tersebut memiliki arti tertentu bagi kita. minat.

mereka menghasilkan pola berupa sejenis pera rute dalam paragraf yang mempersempit kemungkinan mereka kembali ke area yang sama lebih dari sekali dalam setiap kunjungan. tindakan ini akan memperkuat kesan yang ditimbulkan informasi tersebut. Keadilan sering kali divisualisasikan sebagai timbangan. yaitu suatu sruktur. Konsep-konsep abstrak pun bisa kita visualisasikan. . Demokrasi bisa kita visualisasikan sebagai kertas suara yang dimasukkan ke dalam kotak suara. Pemetaan pikiran bisa dimanfaatkan sebagai tahap penghubung antara materi bacaan yang disajikan serampangan dan rencana yang terperinci. kita harus mencari cara untuk mengorganisasinya sendiri. Selanjutnya. Visualisasi membantu kita mengingat berbagai hal. Jika paragraf itu mengubah tata letaknya. Kemudian barang kebutuhan mereka disusun untuk menimbulkan asosiasi dengan area-area tersebut. Banyak orang yang mengingat daftar belanjaan dengan cara seperti ini. selanjutnya kita hanya perlu mencari urutan yang sesuai untuk kita. asosiasi-asosiasi tersebut bisa kita hubungkan untuk menghasilkan suatu pola. proses tersebut diulangi lagi agar sesuai dengan pola yang baru.  Membaca Pemahaman 2-63 Informasi lebih mudah diingat jika memiliki pola organisasi. pola semacam ini mudah dikenal. Sering kali. Dengan demikian. Jika kita dapat melihat hal-hal tersebut dalam mata pikiran kita kemudian menambahi informasi tersebut dengan serangkaian gambar. karena penulis suka menyajikan gagasan-gagasan dengan cara yang logis dan teratur. Kita harus mencari asosiasi yang mudah diingat sehubungan dengan apa yang ingin kita ingat dan apa yang sudah kita ingat. Mereka mengetahui tata letak pasar swalayan di daerah mereka dan memisah-misahkannya menjadi beberapa area. Jika pola ini tidak mudah dikenali. Setelah mengelompokkan pokok-pokok pikiran yang serupa ke dalam peta pikiran.

ketika anda dimungkinkan melakukannya. meskipun tidak sampai membuat kita mengerutkan dahi yang hanya akan membuat kening kita sakit. paragraf-topik yang tidak menarik pun bisa menjadi lebih mudah diingat. Tentukan paragraf yang jelas mengapa Anda harus mengingat sesuatu. Sebagian besar orang menganggap pagi hari lebih efektif dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. Jangan lupa untuk mengeceknya kembali agar tidak ada informasi penting yang tertinggal. Cara termudah untuk mengatasi hal ini adalah. manfaatkanlah semaksimal mungkin. Perpustakaan atau ruang wawancara tanpa jendela biasanya merupakan lokasi siap pakai yang dapat Anda manfaatkan. Retensi yang efektif membutuhkan konsentrasi. Walaupun tidak seallu berhasil. Kita perlu mengecek apakah kita benar-benar mengingat apa yang ingin kita ingat. Dengan motivasi. kita bisa mendapatkan umpan balik yang sangat penting ini. Rangkuman Membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). pilihlah waktu dan tempat yang menurut pengalaman bisa mempermudah Anda melakukannya. Umpan balik sangatlah penting. F.2-64 Membaca Pemahaman   Sering kali kita tidak bisa mengingat sesuatu karena kita kurang paragraf perhatian. Dengan penghafal. Berdasarkan cakupan bahan bacaan . didukung kondisi yang paragraf tenang. saat Anda harus memberhentikan sesuatu dan berkonsentrasi. Anda bisa terbantu jika memiliki tingkat minat yang tinggi terhadap suatu subjek serta punya motivasi yang kuat untuk mengingatnya. Kita akan berusaha untuk mengingatnya.

membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . dan buku biografi. metode paragraf dan PQRST. metode kalimat. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. metode S2QR. metode kalimat dan paragraf. dan teknik yang sesuai dengan keperluan. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. dan teknik retensi digunakan untuk membaca artikel. 1. Model membaca bawah atas. teknik retensi digunakan untuk membaca paragraf. metode SQ3R. 8. pparagrafaf. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai buku. metode GPID. dan memindai grafik. Model membaca bawah atas. Model membaca atas bawah. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. metode kalimat. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. dan teknik skimming pola blok dan horizontal digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra. Berdasarkan kurikulum 2006. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading). Model membaca bawah atas. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai grafik. Kiat membaca yang digunakan untuk membaca ekstentif dan intensif di SMA adalah berikut ini. Model membaca bawah atas. teknik loci dan retensi digunakan untuk membaca buku biografi. kritis teks sastra. 3. 5. Model membaca bawah atas. memindai buku. Untuk dapat membaca intensif dan ekstensif secara efektif dan efisien. Model membaca atas bawah. Model membaca timbal balik. artikel. dan teknik retensi digunakan untuk membaca kritis teks sastra. teknik close reading digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra. metode. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. metode paragraf dan P2R. 4. 6. 2. yaitu ektensif dan intensif. .  Membaca Pemahaman 2-65 yang dibaca. 7.

dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra? cara menerapkannya! 5. Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca buku biografi? menerapkannya! . metode. Model . Model . Model . Model . metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai grafik? menerapkannya! 4. metode. metode. metode. metode. Model . dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca artikel? Jelaskan cara menerapkannya! 8. Model . LatihanSoal 1. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca kritis teks sastra? menerapkannya! 6. metode. digunakan untuk dan teknik membaca apakah yang dapat membaca pparagrafaf? Jelaskan cara menerapkannya! 7. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra? Jelaskan cara menerapkannya! 2. Model .2-66 Membaca Pemahaman   G. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai buku? menerapkannya! 3.

Seni Membaca untuk Studi. Standar Isi. Membaca Efektif. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. 2004. 1990. A. Edward B. Harras. Bandung: Angkasa Bandung. Retorika Membaca: Model.P. 2006. Tarigan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Semarang: Rumah Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Teaching a Child to Read. 2004. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. 2004. 1994. Bandung : Angkasa Bandung. Tampubolon. Tarigan. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fry. 2006. Nurhadi. Harjasujana. dan Lilis Sulistianingsih. Haryadi. Waingwright. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Bandung : Angkasa Bandung. Metode. Ferr. Manfaatkan Teknik-teknik Teruji untuk Membaca lebih Cepat dan Mengingat secara Maksimal. 2006. Membaca : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Roger dan Nancy Roser. Yogyakarta: Kanisius. 1997. 1978. Speed Reading Better Recoding. Kholid A. Henry Guntur. D. Membaca Cepat dan Efektif: Teori dan Latihan. . Soedarso. Skimming and Scanning. New York: Harcourt Brace Javanovich. Membaca 1. Ahkmad Slamet dan Yeti Mulyati. Terjemahan Heru Sutrisno. dan Teknik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Widyamartoyo. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 1979. Nurhadi. Gordon. Membaca 2. Henry Guntur. 1990. 2005. 2001. Province: Rhode Island.

Vol J. “Some Apects of Reading”. Sumaryono. 1978.2-68 Membaca Pemahaman   Wiryodijoyo. Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya. No. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yap. 2 (109-118). Relc Journal. . Athur. 1989.

BUKU AJAR MEMBACA PUISI .

Pembaca puisi. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. pada umumnya puisi bersifat lirik. Oleh karena itu. Oleh karena itu. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca.MEMBACA PUISI A. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Sebagai penghubung. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. Jadi. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung.

membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. Oleh karena itu.3-2 Membaca Puisi MEMBACA PUISI A. Sebagai penghubung. Jadi. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. Oleh karena itu. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. pada umumnya puisi bersifat lirik. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . Pembaca puisi. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi.

memang berasal dari bahasa yang berbeda. Sebab dalam praktiknya. seni baca puisi hakikatnya merupakan “seni tontonan”. Istilah baca puisi merupakan terjemahan dari poetry reading (Amerika). Istilah baca puisi berasal dari bahasa Inggris. Varian Baca Puisi 1. Agar enak dilihat berarti “semua gerak yang dihasilkan oleh anggota tubuh” si pembaca puisi harus juga benar dan indah. yaitu baca puisi dan deklamasi. B. Dalam bahasa aslinya baca puisi diartikan sebagai “membaca” puisi. Dalam seni baca puisi. pada praktiknya pembaca puisi “membawa” teks. Dengan kata lain. meskipun . sedangkan deklamasi diartikan sebagai “menyampaikan” puisi. sedangkan istilah deklamasi berasal dari bahasa Belanda. yaitu ketika WS Rendra memperkenalkannya. Istilah baca puisi baru muncul sekitar tahun 1960-an (Suharianto 1981:52). Istilah deklamasi lebih dulu dikenal masyarakat dibandingkan dengan istilah baca puisi. Deklamasi Di Indonesia selain istilah seni baca puisi orang juga mengenal istilah deklamasi. Agar enak didengar berarti “semua yang dihasilkan oleh alat ucap” si pembaca harus benar dan indah. deklamasi dipahami sebagai penyampaian puisi yang menitikberatkan pada lepasnya teks ketika deklamator menyampaikan puisinya. Inilah yang menyebabkan orang “membedakan” antara baca puisi dan deklamasi. kedua istilah tersebut. Sebagai seni “audio-visual” seni baca puisi dituntut enak didengar dan enak dilihat. Dalam tradisi di Indonesia. Namun. sebenarnya secara substansial antara deklamasi dan baca puisi tidak berbeda. Seni baca puisi adalah seni “audio-visual” (Suharianto 2001:2). Dengan demikian.Membaca Puisi 3-3 pendengar atau penontonnya “memahami dan merasakan” apa yang dibacanya tersebut. Karena deklamator tidak membawa teks maka aktivitas di panggung dititikberatkan pada gerak tubuh dan vokal.

Dengan demikian. yakni lepas teks dan membawa teks. bukan pengertian leksikal. keberadaan musik hanya sebagai pelengkap. Jika nada puisi itu gembira. musikalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk memusikkan dan atau melagukan puisi. baik mengenai konsep maupun dalam cara atau teknik penyampaian tidak dibedakan. Dengan demikian. 2. penyertaan musik (instrumen) dalam pembacaan puisi. Tentu saja dalam hal ini pengertian membaca merupakan pengertian dalam arti luas. jika puisi yang dibaca bernada sedih. dalam musikalisasi puisi. . Wujud konkret musikalisasi puisi dapat berupa pembacaan puisi dengan cara dilagukan. Dalam pembacaan puisi yang diiringi musik. pembicaraan dalam buku ini. orang yang membedakan antara deklamasi dan baca puisi mendasarkan anggapannya pada “kebiasaan” pembawanya. Tanpa melihat teks pun upaya untuk menyampaikan dengan memahami sebuah teks sebenarnya dapat dikategorikan sebagai aktivitas membaca. sedangkan materi dasar seni musik adalah lagu dan instrumen. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi merupakan upaya memusikkan puisi atau menggabungkan antara seni baca puisi dan seni musik. Musik. misalnya. Berangkat dari konsep tersebut. Oleh karena itu. Materi dasar seni baca puisi adalah puisi itu sendiri. yakni melihat teks. atau gabungan keduanya. Namun. Jika dikaji lebih jauh.3-4 Membaca Puisi membawa teks. antara baca puisi dan deklamasi dalam praktiknya tidak berbeda. sebenarnya makna yang terkandung dalam konsep “membaca” tidak sesempit yang banyak diartikan orang. baik yang berupa lagu maupun yang berupa instrumen merupakan satu kesatuan dengan puisi. musik merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan. banyak juga pembaca puisi yang sebenarnya hafal puisi tersebut. Yang dimaksud dengan penyertaan instrumen di sini. kesan kesedihan itu dapat dimunculkan oleh musik. Musikalisasi berbeda dengan baca puisi yang diiringi musik.

tidak sekadar kita dialogkan. Yang dimaksud dengan pendramaan puisi di sini adalah mendialogkan puisi. dengan pengubahan menjadi dramatisasi puisi. Dalam teater ada seni sastra. Ciri khas drama adalah adanya dialog. Dengan demikian. Semua unsur seni tersebut melebur menjadi satu dalam teater. Istilah sederhananya adalah mendramakan puisi. musik. dan sebagainya. Unsur yang paling menonjol dalam teater adalah unsur act atau gerak. Dengan demikian. olah tubuh. teaterikalisasi puisi—meneaterkan puisi-pada dasarnya merupakan peng-gerak-an puisi. teater tergolong seni pertunjukan yang kompleks. dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai bentuk pendramaan puisi. jika semula puisi bersifat monolog. Oleh karena itu. di dalamnya sudah ada unsur akting. dan seni rupa. Bedasarkan hakikat drama tersebut. Puisi dalam hal ini tidak sekadar kita baca. Dramatisasi Puisi Dramatisasi puisi merupakan penggabungan seni puisi dan seni drama. 5.Membaca Puisi 3-5 suasana kegembiraan dapat dihadirkan oleh musik. jika biasanya dalam seni baca puisi. Sinematisasi Puisi Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata sinema? Film? Tentu sebuah tontonan di layar yang gambarnya tidak diambil . Teaterikalisasi Puisi Dibandingkan dengan seni yang lain. Tidak ada drama yang tidak menyertakan dialog di dalamnya. seni gerak. tetapi sudah kita “mainkan” sebagai seni teater. seni musik. Dalam kondisi demikian. 4. puisi diubah menjadi dialog. puisi hanya dibaca oleh satu orang atau dua orang secara bergantian. keberadaan musik tidak sekadar menjadi pelengkap tetapi benar-benar menyatu dengan puisi untuk menampilkan suasana tertentu. dalam dramatisasi puisi diubah dalam bentuk dialog dengan menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakternya. Dalam pengertian sempit. 3.

Kita tentu pernah merasakan betapa “tidak enaknya” mendengar orang menyanyi tetapi lagu yang dipilihnya tidak sesuai dengan karakter suaranya. Kalau kita sebagai calon pembaca. yaitu calon pembaca. bisa jadi ada gambar yang dihilangkan. calon pendengar. Dalam film. Sinematisasi puisi berangkat dari konsep tersebut. jika dalam proses pementasan atau pembacaan itu terjadi gangguan atau "kecelakaan". dan jika perlu ada pengulanagan pengambilan gambar. gambar ditampilkan setelah melalui proses pemilihan dan pengeditan. Artinya. dan situasi pembacaan. maka gangguan atau "kecelakaan" itu juga akan tampak. Hal yang sama juga dapat terjadi pada pembacaan puisi. Jika kita menonton pertunjukan teater atau pembacaan puisi. ada gambar yang dibalik waktu pemunculannya. kita akan melihat proses permainan atau pembacaan itu berlangsung dari awal sampai akhir dengan plus minusnya. hal seperti ini tentu saja tidak akan terjadi dalam sinema atau film karena proses pengambilan gambar dapat dilakukan kapan saja dan pengeditan gambar memungkinkan menghilangkan gangguan atau "kecelakaan" itu. dengan demikian. Memilih Puisi Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. sehingga proses pengambilan gambar dan pengeditan juga dilakukan sebelum pementasan atau pertunjukan dilakukan.3-6 Membaca Puisi secara langsung tetapi merupakan hasil pengeditan. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi. Persiapan Baca Puisi 1. Pembacaan puisi diformat dalam bentuk film atau sinema. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pembaca. C. Namun. dalam memilih . Dalam pengeditan itu.

akan semakin teliti kita dalam memilih puisi. Yang dimaksud kemampuan di dalamnya termasuk keuatan fisik dan suara. Pendidikan akan menentukan tingkat kesulitan puisi yang harus kita baca. Secara umum pembaca dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pendengar? Kita dapat menyebutkannya selengkap mungkin. sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. tetapi bagi pendengar golongan kedua memandang pebacaan puisi “hanya” sebatas hiburan. kemampuan memahami. Hal lain yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pendengar antara lain masalah pendidikan. Oleh karena itu. Bagi pendengar golongan pertama. agama. jika pendengar agamanya berbeda. misalnya. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi. Usia pendengar . Namun. akan sesuai kita baca di hadapan pendengar yang agamanya sama. Semakin tinggi tingkat pendidikannya. Sebaliknya. isi puisi dan panjang pendeknya puisi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan pendengar. Tentu saja dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan mungkin bisa memuaskan seluruh pendengar. setidaknya. semakin tinggi pula kemampuan mencerna puisi. yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. sebagian besar pendengar “senang” mendengarkan pembacaan puisi kita. dan kemampuan mengekspresikan. pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda.Membaca Puisi 3-7 puisi harus kita sesuaikan dengan kemampuan kita. Agama juga berpengaruh pada pemilihan isi puisi. Semakin banyak kita mengetahui pendengar. menikmati pembacaan puisi tidak sekadar sebagai hiburan. Puisi-puisi keagamaan. puisi yang harus kita pilih adalah puisi yang tidak memihak salah satu agama. Dengan demikian. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah siapa calon pendengar. dan usia. Jika perlu disesuaikan dengan keinginan dan kesenangan kita.

dan sederhana-tidak sederhananya bahasa puisi. . Hal ini dimaksudkan agar “daya jangkau” pembacaan puisi tersebut sampai kepada seluruh pendengar. di luar atau di dalam ruangan. Kita dapat membedakan suasana atas suasaana sedih. dan sebagainya. Meskipun tidak dijelaskan di sini. Oleh karena itu.3-8 Membaca Puisi berpengaruh pada penentuan panjang pendeknya puisi. berat-ringannya isi uisi. semakin ringan isi puisi yang harus kita siapkan. kita tentu akan dengan mudah memilih puisi mana yang cocok untuk dibaca dalam ulang tahun perkawinan. Selain calon pembaca dan pendengar. Ketiganya membutuhkan corak puisi yang berbeda. akan sangat melelahkan pendengar. puisi yang sesuai untuk dibaca adalah puisi yang tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sederhana. semakin pendek puisi yang harus kita siapkan. Selain suara pembaca puisi harus bersaing dengan suara alam–angin atau suara-suara lain—pandangan pendengar juga tidak hanya tertuju kepada pembaca karena ada alternatif yang lain. kematian. tempat terbuka jauh lebih susah dikendalikan. Dengan memerhatikan tiga hal tersebut. dan serius. gembira. Puisi yang panjang akan melelahkan pendengar. Untuk tempat yang terbuka. Dibandingkan dengan tempat tertutup. dalam menentukan puisi kita juga harus memahami situasi pembacaan. untuk jenis pembaca umum. atau serius. tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih: terbuka atau tertutup. siang atau malam hari. Suasana akan menentukan pemilihan isi puisi. atau pengukuhan guru besar. Ketiganya membutuhkan jenis puisi yang berbeda. Tempat yang tertutup atau terbuka akan memengaruhi pemilihan puisi. Semakin rendah usia pendengar. dalam suasana sedih. gembira. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi--di mana tempatnya. Demikian juga dengan puisi yang bahasanya susah dicerna. dan semakin sederhana bahasa puisi yang digunakan.

(1) Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. ketika pendengar baru akan merasakan puisi itu. tentu puisi yang kita pilih akan lebih pendek jika dibandingkan dengan mahasiswa. nilai-niai. puisi yang terlalu panjang akan melelahkan pendengar. nilai atau yang lain itu harus disesuaikan dengan pendengar pembacaan puisi. Kita dapat mengira-ira sendiri panjang pendeknya puisi tersebut berkaitan dengan tempat pembacaan dan pendengar. Arti bersifat melodius adalah jika dibaca puisi tersebut akan memunculkan nada dan irama “yang enak” didengar. Puisi yang terlalu pendek tidak akan memperlihatkan isi puisi yang jelas dan tidak akan mampu mengondisikan pendengar pada pembacaan puisi. (2) Bersifat melodius. Dalam pembacaan puisi dibutuhkan juga gerakan tubuh. Ada puisi yang secara mudah memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh kita ketika kita harus membacanya. Pesan. kesan. atau apa pun bentuknya. Syarat terakhir adalah isi puisi harus disesuaikan dengan pendengar. misalnya. Sebaliknya. (4) Bersifa teaterikal. Panjang pendeknya puisi menjadi pertimbangan khusus dalam memilih puisi. . Oleh karena itu. (3) Bahasanya sederhana. kejenuhan pendengar akan terlihat. Istilah sederhananya. namun juga tidak terlalu panjang. kesan terhadap sesuatu. Syarat berikutnya adalah bersifat teaterikal. puisi yang kita pilih haruslah tidak terlalu pendek. namun ada pula puisi yang susah kita maknai dengan gerakan tubuh. Gerakan tubuh ini disesuaikan dengan puisi. Syarat yang kedua bersifat melodius. Belum lagi kalau pembacaannya bersifat monoton. apakah itu berupa amanat.Membaca Puisi 3-9 kita dapat memilih puisi yang memenuhi syarat berikut. (5) Isinya sesuai dengan pendengar dan situasi. Yang diaksud dengan isi puisi di sini adalah apa saja yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembaca puisi. Jika pendengarnya anak-anak. pembacaan ternyata sudah berakhir.

alam sekitar.3-10 Membaca Puisi 2. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. Kata-kata yang digunakan dalam puisi adalah kata-kata kias atau pelambang. Memahami Puisi Sebelum membaca puisi. Dengan kata lain. dan sebagainya. perlulah kita membedah puisi tersebut dengan maksud untuk memahami puisi yang dimaksud. yang dengan demikian tidak secara langsung menyampaikan sesuatu tadi: pengalaman. dan bisa juga hasil pengembaraan imajinasi penyair. Jika pemahaman kita terhadap puisi salah. manusia lain. Pada hakikatnya puisi merupakan sebuah media yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan sesuatu kepada pembaca. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman-pengalaman penyair. Salah satu ciri puisi yang cukup menonjol adalah bersifat konsentrif. Oleh karena itu. . nada dan suasana puisi yang bersangkutan. dan gagasan kepada pembacanya. gagasan atau ide atau keinginan-keinginan tertentu dari penyair. serta dapat menentukan irama dan lagu yang tepat pada puisi yang akan dibacanya. Kesemua itu telah diramu dengan perasaan dan pikiran penyair yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk puisi. pembacaan puisi yang kita lakukan tidak akan sempurna. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar maksud atau arti puisi yang akan dibaca. Pemahaman puisi dapat dilakukan dengan cara membuat parafrase puisi terlebih dahulu. keinginan. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan ketika berhadapan dengan Tuhan. kecuali harus memahami cara mengucapkan lambang-lambang bahasa puisi bersangkutan pembaca puisi dituntut dapat menjadikan puisi yang akan dibacanya itu sebagai “miliknya” sendiri. terlebih dahulu kita harus memahami isi puisi tersebut. Maksud langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca.

pelatihan olah tubuh. Salah satu cara untuk membantu usaha tersebut adalah dengan membuat parafrase terlebih dahulu. Semakin lama masa kita berlatih secara tidak langsung. pelatihan ini dapat dilaksanakan jauh sebelum kita membaca puisi. secara teoretis. yaitu pelatihan dasar dan pengayaan. . dan pelatihan ekspresi. Oleh karena itu. Inti pelatihan pernafasan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengatur pernafasannya sehingga vokal menjadi lebih jelas. yaitu pelatihan pernafasan. Bentuk pelatihan semacam ini tentu saja masih dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa bentuk lain. menangkap Oleh karena hal-hal tersebutlah maka untuk memahami sebuah puisi dibutuhkan cara khusus yang terutama dapat memudahkan pembaca memahami kata-kata kias dan maksud-maksud yang tersembunyi dalam puisi. dialog menjadi lebih lancar. Pelatihan pernafasan merupakan pelatihan dasar yang bertujuan untuk memberikan kemampuan mengatur nafas—menarik dan mengeluarkan nafas—agar tidak mengganggu ucapan dan memperkuat stamina pembaca puisi. akan semakin tinggi pula modal kita dalam membaca puisi. Pelatihan Baca Puisi a. pelatihan konsentrasi. Pelatihan Tidak Langsung Pelatihan tidak langsung dimaksudkan sebagai pelatihan yang tidak berhadapan secara langsung dengan puisi yang akan dibaca. (1) Pelatihan Dasar Ada beberapa macam bentuk pelatihan dasar. Pelatihan tidak langsung adalah pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung atau memperkaya kemampuan membaca puisi. Ada dua jenis pelatihan secara tidak langsung. dan stamina pembacaan menjadi semakin kuat.Membaca Puisi 3-11 Hal ini menjadikan pembaca tidak bisa secara langsung sesuatu dari puisi tersebut. 3. pelatihan vokal.

3-12 Membaca Puisi Yang dekat dengan pelatihan pernafasan adalah pelatihan konsentrasi. pelatihan vokal juga bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan seorang pembaca puisi dalam menyampaikan puisi. dan mempunyai kekuatan untuk bermain sampai pembacaan selesai tanpa kehabisan suara. Oleh karena inti pelatihan konsentrasi ada pada kemampuan memusatkan perhatian. serta seluruh anggota tubuhnya dan kemudian mampu memerintahkannya untuk berlaku sesuai dengan isi puisi yang akan dibacanya. Untuk mampu menyatu dengan puisi yang dibacanya diperlukan konsentrasi yang kuat. (2) Pengayaan Selain pelatihan dasar. Jenis pelatihan dasar yang terakhir adalah pelatihan ekspresi Ekspresi adalah kemampuan seorang pembaca puisi dalam menampilkan ekspresi wajah sesuai dengan susasana puisi yang dibaca. Pengayaan dalam hal ini diartikan . Tugas seorang pembaca puisi adalah menyatukan dirinya sendiri dengan puisi yang dibacanya. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi dengan cara mengadakan pelatihan olah tubuh. Gerakan anggota tubuh harus selalu selaras dengan isi puisi. yang dapat digolongkan ke dalam pelatihan tidak langsung adalah pengayaan. Pelatihan vokal bertujuan untuk menciptakan vokal yang baik sehingga seorang pembaca puisi memiliki kemampuan mengucapkan kata-kata dengan jelas. pikirannya. Dalam konsentrasi ini seorang pembaca puisi harus mampu menundukkan panca-indranya. juga harus selaras dengan kondisi panggung. Dalam sebuah permainan pemusatan pikiran menjadi amat penting keberadaannya karena tanpa pemusatan pikiran permainan tidak akan berjalan dengan sempurna. Lebih jauh. maka istilah lain yang sering digunakan adalah pemusatan pikiran. uraturatnya. Olah tubuh menyangkut pelatihan bagaimaan supaya anggota tubuh seorang pembaca puisi menjadi lentur dan selalu mendukung penampilan. dalam hal ini menyangkut intonasi dan aksentuasi. mampu menguasai panggung dengan suaranya.

Meskipun kita “merasa” tidak mampu membaca puisi. baik secara teoretis maupun secara praktis. akhirnya tanpa disadari tidak sengaja kita telah hafal lagu tersebut. tidak . Kondisi seperti ini tergolong pelatihan secara langsung. Kita tidak pernah secara sengaja menghafalkan lagu tersebut. Semakin sering kita menonton pembacaan puisi. dan sebagainya. kita secara teoretis akan mengetahui bagaimana cara membaca puisi. persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum kita membaca puisi. baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dalam hal membaca puisi peristiwa semacam ini juga sering terjadi. Barangkali kita sering secara tidak sadar hafal baris-baris lagu tertentu. Melalui ativitas “menonton” orang membaca puisi kita akan mengenal bagaimana cara membaca puisi. karena hampir tiap hari kita mendengar lagu tersebut. Melalui aktivitas membaca buku ini atau buku-buku lain yang sejenis. Cara lain untuk pengayaan adalah dengan berdialog atau mengikuti seminar-seminar. unsur apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai pembacaan puisi yang baik dan yang tidak baik. namun karena kita sering mendengar orang membaca puisi. apa yang kita lakukan ini tergolong sebagai pengayaan.Membaca Puisi 3-13 sebagai upaya. apa saja yang diperlukan dalam membaca puisi. untuk memperkaya pemahaman atau keterampilan kita dalam membaca puisi. akhirnya kita pun dapat “menirukan” membaca puisi. semakin kaya pula pemahaman kita tentang cara membaca puisi. Ketika kita membaca buku ini. Namun. pengayaan juga dapat kita lakukan dengan membaca teori baca puisi. Selain dengan menonton pembacaan puisi. misalnya. Kita bisa menempuh cara ini dengan bertanya atau berdiskusi dengan orang lain yang kita pandang mampu dalam membaca puisi. Melalui dialog atau tanya jawab dengan narasumber kita bisa menggali informasi-infirmasi yang kita butuhkan dalam pembacaan puisi.

karena angin pada kemuning. tidak ada yang berkata-kata. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. karena ia tak berani lagi. Jika diibaratkan sebagai pelatihan naik sepeda. kematian itu. pelatihan langsung berarti pelatihan dengan cara kita menaiki secara langsung sepeda yang dimaksud. Pelatihan Langsung Pelatihan langsung adalah pelatihan dengan cara menghadapi teks yang akan dibaca secara langsung. Perhatikan puisi berikut ini. Tapi di antara mereka berdua. (1) Membuat Baris Pembacaan Ketika berhadapan langsung dengan puisi. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. nasib. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan.3-14 Membaca Puisi b. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. Ia melihat peta. . Ada beberapa tahapan dalam pelatihan secara langsung. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. yang jauh. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba.

. Perhatikan baris kedua dan baris ketiga pada bait pertama dan baris pertama pada bait ketiga puisi tersebut seperti berikut ini. Baris dan bait tersebut masih membutuhkan interpretasi untuk dibaca. Kelengkapan makna barisbaris tersebut ada pada baris-baris berikutnya. seperti dulu. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. kulupakan wajahmu. Bulan pun lamban dalam angin. Puisi tersebut ditulis sesuai dengan aslinya. langkah awal dalam berhadapan dengan puisi adalah mengubah baris-baris puisi tersebut ke dalam barisbaris pembacaan. Yang dimaksud dengan baris pembacaan adalah baris . Sebab bila esok …………………………………………………………………………. yaitu dengan baris dan bait yang tetap. Oleh karena itu. karena angin pada kemuning. Menghadapi puisi seperti itu tentu dengan mudah kita akan mendapatkan baris-baris yang jika kita baca tidak akan utuh maknanya. Bukankah akan sangat janggal jika kita membaca baris-baris puisi tersebut secara sepotong-sepotong? Mengapa bisa demikian? Yya. makna puisi tidak akan muncul. kaulupakan wajahku. pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. Berkaitan dengan hal tersebut.Membaca Puisi 3-15 Anjasmara. abai daam waktu. adikku. langkah-langkah dalam berlatih harus dimulai dari penafsiran akan baris-baris tersebut. Lewat remang dan kunang-kunang.. karena kita membaca secara tidak lengkap. tinggallah. Ia dengar resah kuda serta langkah …………………………………………………………………………. Oleh karena itu. jika kita membaca puisi dengan memenggal per baris seperti itu. …………………………………………………………………….

tinggallah. Bulan pun lamban dalam angin. Ia melihat peta. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. kulupakan wajahmu. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. . Anjasmara.3-16 Membaca Puisi puisi yang kita buat sendiri—bukan oleh penyair—yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. Dengan model puisi “Asmaradana” seperti tersebut di atas. abai dalam waktu. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. tidak ada yang berkata-kata. karena ia tak berani lagi. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Tapi di antara mereka berdua. Lewat remang dan kunang-kunang. nasib. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh. kaulupakan wajahku. adikku. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. karena angin pada kemuning. kematian itu. seperti dulu. jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut.

setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. Oleh karena itu.Membaca Puisi 3-17 (2) Membuat Pemenggalan Pembacaan Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan. Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar / dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning // Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati / ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh // Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata // Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu// Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan // Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis // Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara / ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba / karena ia tak berani lagi // Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu // . berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad. Sebagai bahan pelatihan. langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas.

antara lain ditentukan oleh suasana puisi tadi. perpisahan. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang . Apakah kita akan membaca puisi dengan semangat menyala-nyala. Cara mencari suasana puisi dapat melalui diksi yang digunakan. riang gembira. Selain itu. Bagaimana cara kita harus membaca puisi antara lain ditentukan oleh suasana puisi. (4) Melafalkan puisi Melafalkan puisi. misalnya. atau yang lain. muncul dalam puisi tersebut. hilang pedih peri.3-18 Membaca Puisi Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu // Lewat remang dan kunang-kunang / kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu // (3) Mencari suasana puisi Ada puisi yang bersuasana sedih. Seperti puisi "Aku" karya Chairil Anwar. ditentukan oleh suasana puisi. atau lebih luas mengintonasikan puisi. baris-baris puisi. marah. (5) Menjiwai puisi Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. Suasana puisi ini merupakan kunci dalam melafalkan puisi. Ada puisi yang diksinya condong pada suasana tertentu. dan semacamnya. dan kesesuaian lagu yang kita pilih dengan isi atau maksud puisi. berlari. misalnya. kematian. Kata atau baris tersebut mengisyaratkan suasana semangat. atau isi puisi yang ada. Dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Muhamad. variasi intonasi (tidak monoton). mau hidup seribu tahun lagi. ada yang bersuasana gembira. pelan melankolis. semangat. Suasana kesedihan atau paling tidak kesepian. perlu juga kita perhatikan kejelasan ucapan. Karena itu. pemahaman terhadap suasana puisi menjadi penting. atau yang lain. muncul kata resah kuda. kata atau baris yang digunakan antara lain.

Prinsip memegang teks yang paling penting adalah tidak menutupi wajah dan tidak mengganggu gerakan pada saat membaca puisi. misalnya "Aku karya Chairil Anwar". Membaca Puisi di Panggung Membaca puisi di panggung berarti mempraktikkan hasil pelatihan. Kalau pendengarnya orang yang tidak menyukai puisi. misalnya "Chairil Anwar dalam goresan penanya: Aku". karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi.Membaca Puisi 3-19 benar. Karena itu. dan blocking. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud. D. Yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah kesiapan pembaca dan kesiapan pendengar. gaya apa pun yang . Namun kalau pendengarnya orang yang menyenangi puisi. Konsentrasi menjadi kata kunci dalam pelaksanaan teknik muncul. serta ekspresi akan mengikutinya. pandangan mata. cara memegang teks. cara membaca judul. seyogyanya kita memakai gaya konvensional. Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Judul puisi dapat kita baca secara konvensional. Pilihan model pembacaan ini ditentukan oleh pendengarnya. Teknik muncul adalah cara kali pertama kita muncul di panggung. penghayatan penuh harus kita lakukan. keberhasilan pembacaan puisi di panggung juga akan ditentukan oleh hasil pelatihan itu sendiri. jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi di panggung adalah teknik muncul. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan. dapat juga dengan gaya tertentu. Dengan demikian. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh. Dengan demikian kita tidak akan overacting.

terlebih dahulu kita harus memahaminya. Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini. Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. Meskipun begitu. Dalam membaca puisi sesungguhnya kita sedang berdialog dengan pembaca. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. yaitu penghayatan. Paling tidak dalam langkah ini kita harus mampu menangkap apa makna yang terkandung dalam puisi itu. Karena itu. namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting. misalnya. Yang terakhir adalah masalah blocking. mata kita tidak boleh menjauhi pendengar. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi. Jika. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi. E. Penghayatan Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri. Aspek Penilaian Baca Puisi Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi. apa makna . 1. Meskipun ketiga komponen tersebut samasama penting. vokal. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama. Pandangan mata juga harus kita jaga. Oleh karena itu. jangan pula kita menatap mata pendengar atau penonton. maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. dan penampilan.3-20 Membaca Puisi kita gunakan tidak masalah. Panggung harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga posisi kita di panggung menjadi "enak" dilihat oleh penonton. sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi.

dan bagaimana suasananya. (2) nada dan intonasi. Perempuan itu terisak. Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam tiga hal berikut. Meskipun ia mengecup rambutnya (Dongeng Sebelum Tidur. Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair “sesuatu” kepada itu. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut. Perhatikan petikan puisi berikut ini. Goenawan Mohamad) Tanpa memahami isi puisi tersebut. kita tidak akan dapat memenggal secara tepat baris-baris puisi “Dongeng Sebelum Tidur” itu menjadi. Perempuan itu terisak. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. misalnya. pendengar bagaimana atau penonton. kita Tanpa dapat mengetahui mungkin menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. Meskipun ia mengecup rambutnya .Membaca Puisi 3-21 simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu. (1) pemenggalan. sebagai berikut. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya. Pemahaman itu pula yang akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari baris puisi menjadi bagian-bagian pembacaan. (3) ekspresi.

Variasi tersebut ditentukan oleh corak puisi. tekanan tempo. aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang kita baca yang harus memdapatkan penekanan. Harus ada variasi. Tekanan nada menyangkut tinggi-rendahnya pembacaan puisi. Tekanan dinamik menyangkut lemah-kerasnya pembacaan puisi. Selain suasana sedih dan semangat. Kita bisa memberikan tekanan pada puisi dengan cara mempercepat atau memperlambat pembacaan. Berkaitan dengan intonasi. Melalui pemenggalan itulah pendengar atau penonton akan lebih mudah memahami puisi yang kita baca. tinggi-rendah. Dari seluruh .3-22 Membaca Puisi Pemenggalan dalam pembacaan puisi tidak sekadar berhubungan dengan pengambilan nafas. Suasana-suasana tersebut harus dimunculkan dalam pembacaan puisi secara tepat. dan mempertinggi atau memperendah pembacaan. Dengan dan cepat-lambat. tetapi juga berhubungan dengan pemaknaan baris-baris puisi. Tekanan tempo menyangkut cepat-lambatnya pembacaan puisi. Ekspresi secara sempit dapat terlihat pada wajah. Melalui pemahaman pula kita dapat mengekspresikan puisi secara tepat. kita tentu masih bisa menjumpai suasana gembira. Ketiga tekanan tersebut dapat digunakan untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada puisi yang kita baca. memperkeras atau memperlemah pembacaan. Melalui pemenggalan itu pula larik-larik puisi dapat sampai kepada pendengar atau penonton secara sistematis. Melalui pemahaman puisi kita juga dapat menentukan intonasi atau lagu dalam pembacaan puisi. dan tekanan dinamik. Jika intonasi menyangkut tekanan nada. ahal penting yang harus kita perhatikan adalah masalah tekanan atau aksentuasi. Intonasi digunakan keras-lemah. suasana serius atau sungguh-sungguh. intonasi harus dalam secara bervariasi. demikian pembacaan tersebut tidak bersifat datar-datar saja atau bersifat monoton. dan suasana santai atau main-main dalam puisi.

Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Mata kemarahan. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. (2) jeda. atau yang lain. harus kita ekspresikan secara maksimal sesuai dengan isi atau suasana puisi. Perhatikan bait kelima puisi “Pembuka” di atas. Akan sangat terlihat orang yang membaca puisi mempunyai penghayatan yang tinggi atau tidak telihat pada matanya. jika kita membaca puisi dengan suara tinggi dan tempo yang cepat. Warna suara berat. kunci ekspresi sebenarnya ada pada mata. semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan. kejelasan ucapan benar-benar harus dijaga karena bisa terlewatkan. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. (3) ketahanan.Membaca Puisi 3-23 anggota tubuh manusia. Vokal Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini. Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu . b. Namun. dan (4) kelancaran. besar. tinggi. kejelasan ucapan mungkin akan lebih terlihat. atau kecil. mata kesedihan. Ketika kita membaca puisi dengan lambat. yaitu: (1) kejelasan ucapan.

Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi . (2) gerakan tubuh. (1) blocking dan pemanfaatan setting. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. ketahanan sangat dibutuhkan. (3) cara berpakaian. kejelasan ucapan harus dijaga. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan. biasanya pengucapan katakata atau baris-baris puisi tidak lancar. menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang. c. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik.3-24 Membaca Puisi Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Bait tersebut menghendaki pembacaan yang cepat dan tinggi. Penampilan Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalanpersoalan: teknik muncul. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama. kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Selain itu. Terutama untuk puisi panjang. Pada kondisi tersebut. Selain kejelasan ucapan.

kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. Dalam pembacaan puisi juga demikian. Dalam sebuah dialog. sebelum membaca puisi. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. apakah kita harus duduk. berdiri. begitu kita berdiri di panggung. atau campuran keduanya. apakah kita harus berjalan-jalan. Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Secara umum ada dua jenis blocking. sebelum puisi kita baca. itu semua merupakan persoalan blocking. bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita. blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. atau gabungan keduanya. suasana dialogis tidak akan tercipta. membelakangi. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya. Oleh karena itu. maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi. Pendek kata. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan. Sebaliknya. Secara teoretis. Apakah kita harus menghadap penonton.Membaca Puisi 3-25 dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. . Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap. yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. berdiri di satu tempat saja. kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton. itulah persoalan blocking. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. atau campuran keduanya. pada saat pertama kita muncul di panggung. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi.

Gerakan tubuh dalam hal ini merupakan perwujudan ekspresi atas penghayatan pembaca pada puisi yang dibacanya. ada pula yang menghendaki blocking dinamis. pembaca puisi tidak bisa lepas begitu saja dengan model panggung. misalnya. Ukuran baik-tidaknya gerakan tubuh dalam pembacaan puisi adalah kesesuaian dengan jiwa puisi. tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis. Jika model panggung sudah dibuat demikian. misalnya. pembaca puisi mengucapkan baris: Lihatlah . tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. Ketika kita berada di panggung. atau pemanfaatan benda-benda atau apa pun bentuknya yang ada di panggung. Gerakan tubuh seharusnya kita biarkan muncul sendiri sebagai akibat adanya penghayatan pada puisi. puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Masing-masing orang mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad. Dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. panggung didesain sedemikian rupa sehingga memuncculkan nilai artistik. Sebaliknya. Hal ketiga yang harus kita perhatikan berkaitan dengan penampilan adalah masalah gerakan tubuh. Blocking juga berkaitan dengan pemanfaatan setting. gerakan tubuh dalam pembacaan puisi tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis. pembaca puisi harus menyesuaikan diri—atau bahkan memanfaatkan—dengan panggung dan segala peralatan yang ada di panggung.3-26 Membaca Puisi Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. kita tidak bisa lepas dari bentuk panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. Dalam pertunjukan secara khusus. Oleh karena itu. Artinya. Banyak orang menduga bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi harus disiapkan atau dilatih secara khusus seperti halnya gerakan pada penari latar pertunjukan musik. Ketika .

Pembacaan puisi yang baik adalah pembacaan puisi yang penghayatan. jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mengganggu pembacaan puisi. ukuran baik-tidaknya dalam pembacaan puisi dapat dilihat dari ketiga komponen tersebut. Karena itu. Ketiga komponen pembacaan puisi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai kriteria penilaian pembacaan puisi. vokal. dan penampilannya baik. . Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi selain selaras dengan jiwa puisi. Sebagai contoh. masalah pakaian juga perlu kita perhatikan dalam pembacaan puisi. Bagaimana sebaiknya kita berpakaian ketika menghadap Tuhan? Tentu bukan pakaian yang terbuka. Isi puisi tersebut adalah dialog antara manusia dan Tuhan. pakaian harus sejalan dengan isi puisi. . misalnya. tentu akan menjadi tidak tepat kalau pakaian kita terbuka. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal berpakaian. ketika kita harus membaca puisi “Pembuka” karya Emha Ainun Nadjib. Yang lebih baik. Yang terpenting. juga akan selaras dengan kebiasaan atau cara pembaca puisi mengekspresikan puisi tersebut.Membaca Puisi 3-27 Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan masing-masing orang akan berbeda dalam menggerakkan tangan atau anggota tubuhnya. Meskipun tidak terlalu penting.

Surakarta: Widyaduta. Suharianto. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Seni Teater. Japy. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Tentang Bermain Drama. 2001. Pelatihan. Depdikbud. Marjorie. The Anatomy of Poetry. S. Dasar-Dasar Teori Sastra. Pengantar Apresiasi Puisi. 1981.DAFTAR PUSTAKA Boleslavsky. Suharianto. Modal Dasar bagi Calon Aktor. Seni Baca Puisi (Persiapan. Jakarta: Pustaka Jaya. S. Bahan Pelatihan Baca Pusisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. Herman J. Masalah Penyutradaraan. Dasar-Dasar Dramaturgi. Sekilas Mengenai Seni Baca Puisi. Mukh. Boulton. Semarang: Bandungan Institute. Tambayong. 2001. 2008. 1982. Jakarta: Erlangga. 1979. Bahan Pelatihan Baca Puisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. 1979. Rizanur. Jakarta: P3G Hanindawan. 1982. Doyin. 26-31 Mei 2001. Mukh. Doyin. . Banjarbaru: Dewan Kesenian Daerah. Abdul Azis. 2001. Surakarta: Widya Duta. 1981. 26-31 Mei 2001. dan Penilaian). Doyin. 1981. London: Routledge and Keagan Paul. Teori dan Apresiasi Puisi. Richard. Rendra. Bandung: Pustaka Waluyo. Pengajaran Apresiasi Puisi. 2001. Prima. 1995. Muslim. 2001. S. Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani). Suharianto. Gani. Mukh. Jakarta: Pustaka Jaya. Tahapan dalam Pelatihan Membaca Puisi.

mereka yang selalu memperkosa hak-hakku sebagai seorang hakim yang selalu melumpuhkan rasa keadilan dalam kalbuku Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. PEMBUKA . oh Tuhan Betapapun aku mendengar hati nuraniku terus menjerit PadaMu aku tak bersembunyi Engkaulah Yang Mahatahu derita dan kebimbanganku Setelah doa bagiku sendiri selesai Akhirnya. mereka yang aku tak pernah berani mengadilinya Amin.Membaca Puisi 3-29 Pelatihan: Bacalah puisi berikut dengan benar! DOA SEORANG HAKIM PENSIUNAN DI JAMAN PENJAJAHAN Leon Agusta Tuhan Masih sudikah engkau mendengarkan aku? Setelah aku hukum mereka yang aku yakin tidak bersalah Setelah aku bebaskan mereka yang aku yakin mereka telah bersalah Setelah aku bebaskan diriku yang mengabaikan rasa keadilan Hambamu ini sungguh tak berdaya. inilah doaku sebagai seorang hakim Tuhanku: Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. mereka yang aku tak sanggup memanggilnya ke Mahkamah Pengadilan resmi Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu.

malam ini pun Kami tak berada di mana-mana Melainkan di hadapanMu Tapi kami sering lupa Sebab mengalahkan musuh-musuhMu Yang kecil saja. Gusti Inilah tawananMu Tak berani menengadahkan muka Mripat kami yang terbuka Telah lama menjadi buta Sebab telah menyia-nyiakan dirinya Dengan hanya menatap Hal-hal yang maya Gusti Kami berkumpul di sini Untuk mengukur keterbatasan kami sendiri Melontarkan beratus kata Seperti buih-buih Agar melayang ke udara Dihisap kembali oleh telinga agungMu Dan tinggal jiwa kami termangu-mangu di sini Menunggu tetesan-tetesan firmanMu Yang membeningkan hidup kami .3-30 Membaca Puisi Emha Ainun Nadjib Gusti Seperti kapan saja. kami tak kuasa.

Membaca Puisi 3-31 Gusti Kami pasrah sepasrah-pasrahnya Kami telanjang setelanjang-telanjangnya Kami syukuri apapun Karena rahasiamu agung Tak ada apa-apa yang penting Dalam hidup yang sejenak ini Kecuali berlomba lari Untuk melihat telapak kaki siapa Yang paling dahulu menginjak Halaman rumahMu Gusti Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Gusti Masa depan kami sendiri kami bakar Tapi engkau terlampau sabar Peradaban kami semakin hina .

Malam ini taklagi kulihat kunang-kunang Yang dengan cahaya tubuhnya Berputar-putar di depan rumah Mungkinkah mereka kedinginan Karena hujan terus-menerus berjatuhan Ataukah karena halaman rumah ini Yang tak lagi mampu menyalakan cahayanya .3-32 Membaca Puisi Tapi engkau terlalu bijaksana Kelakuan kami semakin nakal Tapi engkau mahakebal Nafsu kami semain rakus Tapi rakhmatmu tak kunjung putus Kemanusiaan kami semakin dangkal Sehingga engkau pun semakin mahal Gusti Kamilah pesakitan Yang tak berwajah lagi Kaki dan tangan ini Kami ikat sendiri Hukum atau ampuni kami Mohon segeralah Hampir kami tak tahan Menunggu dan menanti SAAT HUJAN DATANG Mukh Doyin Mama.

mama Tak ada tangis.Membaca Puisi 3-33 Angin masih saja berhembus Membawa suara-suara burung malam Yang terbatuk-batuk karena hujan Membawa riak-riak gelombang laut Yang keruh karena hujan Membawa kesunyian malam Yang beku karena hujan Lihatlah. Tersenyumlah Agar kunang-kunang dan rembulan Tak lagi tenggelam dalam kegelapan malam . mama Bulan di atas pun tak lagi tampak Langit yang hitam pekat Telah mengurungnya Adakah yang bias dikerjakan dewa-dewa di atas sana Dalam gulita seperti ini. memang Tak ada rintih. memang Tapi kegelapan ini Jauh lebih menusuk hati Ketimbang tangis dan rintihan para dewa Mama.

BUKU AJAR MENULIS RESENSI BUKU .

seperti: 1) siapa pengarangnya?. 4) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?. atau mengkritik buku. Pembuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan. STANDAR KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA B. (d) menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit. 2) mengapa ia menulis buku itu?. MENULIS RESENSI BUKU DI SMA A. yaitu “revidere” atau “recensere” yang artinya melihat kembali. atau menilai. (c) memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA 1. (b) mengajak pembaca untuk memikirkan. C. dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. resensi buku dikenal dengan “recensie”. 3) apa pertanyaannya?.BAB I. mengungkapkan kembali isi buku. menimbang. sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “review”. 5) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang . Hakikat Resensi Menurut Samad (1997:1) resensi berasal dari bahasa Latin. merenungkan. membahas. yaitu mengulas buku. Dalam bahasa Belanda. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama. KOMPETENSI DASAR Menguasai hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian. yaitu: (a) memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku.

c) . Dengan kata lain. bedah.4-2 Menulis Resensi Buku dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?. maksudnya resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca (tentu saja setelah mereka membeli). atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Istilah yang lain yang sering dipakai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan. resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. Sedangkan menurut Djuharie dan Suherli (2005:21) resensi merupakan salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara memberikan komentar secara objektif. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Sayuti juga menjelaskan bahwa buku yang diresensi biasanya merupakan buku terbitan baru. Tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut: a) menimbang agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang membutuhkannya. Sedangkan menurut Keraf (2001:274) resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. atau ulasan buku (Sayuti 2002:13). b) memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga penilaian itu diketahui khalayak. Resensi berarti pertimbangan atau pembicaraan. di samping nilai informasi. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. sebuah resensi juga seringkali mengandung nilai advertensi. Jadi. seorang penulis resensi buku ingin membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu. Oleh karena itu. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. (e) untuk pembaca yang membaca resensi agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku atau jika tidak ada waktu untuk membaca buku maka dapat membaca resensi tersebut (Samad 1997:2).

dari kalangan macam apa asalnya. e) mengungkapkan kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan atau alur pementasan. resentator harus menguasai dan mengetahui bahan yang akan diresensi. dan sebagainya. b) peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. penokohan. Samad (1997:2-3) menyebutkan dasar-dasar resensi ada empat. f) memberikan pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra (untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku. dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi. yaitu: a) peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain. Berdasarkan pendapat di atas. c) peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera. resensi yang dimuat di surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. Atas dasar itu. d) peresensi memahami .Menulis Resensi Buku 4-3 melihat kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian karakteristik tokoh. setting (untuk pementasan) dengan bahan yang ditulisnya atau sajian pementasan. Sedangkan tujuan resensi adalah memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang terungkap dalam buku atau hasil karya dan memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. tingkat pendidikan. Dasar-Dasar Resensi Pada saat membuat resensi. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. 2. d) menghargai keunggulan dari suatu penulisan buku atau penyajian pentas.

seperti surat kabar (nasional atau daerah). Demikian pula. termasuk visi dan misi. Dengan menilai kaitan antara tujuan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. Dengan demikian. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu. Jenis buku yang dimuat pastilah buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. dan majalah (ilmiah. Apakah tujuan itu betul-betul terealisasi dalam seluruh buku.4-4 Menulis Resensi Buku karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. Selain itu. Setiap media cetak mempunyai identitas. Begitu juga dengan majalah teknik atau filsafat. dan bagaimana tingkat pendidikan mereka. kedua. penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang aslinya. kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam yang bagaimana yang disukai oleh redaksi. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. ilmiah populer. Pembaca dalam hal ini adalah semua langganan majalah atau media massa yang memuat resensi itu. Singkatnya. Sebuah resensi harus dibuat dengan memperhatikan kualitas pembacanya. resentator harus memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhi dalam membuat resensi itu. Menurut Keraf (2001:274) seorang resentator harus memperhatikan dua faktor dalam memberikan penilaian atau pertimbangan secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku. penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca. dua faktor tersebut yaitu: pertama. bagaimana selera mereka. . Misalnya. majalah ekonomi tidak menampilkan resensi buku tentang kimia. peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju. jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. atau hiburan). Untuk itu resentator harus menganalisis bagaimana pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu. resentator harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi itu.. yaitu kewajibannya terhadap para pembaca dan bagaimana penilaiannya atas buku tersebut.

c) peresensi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi. Maksudnya. b) peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjai sasarannya.Menulis Resensi Buku 4-5 Djuharie dan Suherli (2005:23) juga menguraikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi. Di samping nilai informasi. resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. tegas dan tandas. Oleh karena itu. Buku yang diresensi biasanya merupakan terbitan baru. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. Menurut Samad (1997:4) bahasa resensi biasanya singkat. f) peresensi harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. e) peresensi harus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapar dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya oleh pembaca. Misalnya. d) peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resentator dengan penulis buku tersebut. Resensi buku biasanya dimuat dalam surat kabar atau majalah. tulisan yang runtun . yaitu dengan cara mengetahiu dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya tersebut. sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. yaitu: a) peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan sepenuhnya sikap subjektifitas. padat. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan.

penyajian tulisan resensi bersifat padat. e) membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis. dan enak dibaca. yaitu meringkas. Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. Bila perlu bagianbagian yang mendukung uraian dikutip. singkat mudah ditangkap. f) menilai. b) organisasi atau kerangka buku. menjabarkan. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku (Samad 1997:5-6). dan tidak terlalu banyak coretan. d) kesalahan cetak. Untuk itu. baik karya pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain. atau bekas hapusan. Sebuah bulu biasanya menyajikan banyak persoalan. c) bahasa.4-6 Menulis Resensi Buku kalimatnya. dan mengulas. tidak berpanjang lebar (bertele-tele). Ada tiga pola tulisan resensi buku. mencakup kesan peresensi terhadap buku. . Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Di samping itu. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: a) isi peranyaan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan). ejaannya benar. menarik.

LANGKAH-LANGKAH MERESENSI BUKU A. . kapan dan di mana diterbitkan. KOMPETENSI DASAR Menguasai langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi C. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. Kemudian siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. Penjajakan ini dimulai dari tema buku yang diresensi. a) Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. buku atau karya apa saja yang pernah ditulis hingga mengapa ia sampai menulis buku itu. d) Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi. STANDAR KOMPETENSI Memahami langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi B. disertai deskripsi isi buku. penjajakan tentang pengarang buku tersebut: namanya siapa.BAB II. b) Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif. latar belakang pendidikannya bagaimana. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mempraktikkan langkah-langkah menulis resensi buku sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya 1. Langkah-Langkah Menulis Resensi Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. c) Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data. tebal (jumlah bab dan halaman). reputasi dan prestasinya. dan teliti. cermat. format hingga harga nya berapa. Setelah itu.

(4) aspek teknis (bagaimana tata letak. a) Membuat judul resensi Judul resensi berarti wajah resensi itu sendiri. apakah hubungan itu harmonis. Judul resensi ini yang pertama dibaca. 2. Cara merumuskan judul resensi . Unsur-Unsur Pembangun Resensi Buku Adapun unsur-unsur pembangun resensi buku antara lain sebagai berikut. (3) bahasa (bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan. dan bagaimana hubungan antar kalimat serta pilihan kata yang dipergunakan). dengan isi pernyataan hambar dan tidak relevan. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan pencetakannya). (2) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. jelas. Demikian pula judul yang mentereng. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. bagaimana penyajian datanya. dan bagaimana dinamikanya). Sekalipun buku yang diresensi itu bagus dan penyajian tulisannya memenuhi syarat.4-8 Menulis Resensi Buku e) Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi: (1) organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. bagaimana tata wajah. Untuk itu. Judul yang menarik berarti merangsang keinginan orang untuk segera membacanya. tidak menutup kemungkinan kalau resensi tersebut tidak dibaca orang. bagaimana srtuktur kalimatnya. bagaimana kerapian dan kebersihan. bagaimana sistematikanya. bagaimana analisisnya. judul hendaknya menarik perhatian dan mencerminkan isi resensi. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). jika judulnya kurang menarik. pasti juga akan mengecewakan pembacanya. Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan perensensi setelah mencermati buku yang bersangkutan. f) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasardasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya.

3) penerbit (siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. b) Menyusun data buku Data buku disusun sebagai berikut: 1) judul buku (jika buku itu termasuk buku terjemahan maka judul aslinya harus dituliskan). karyanya berbentuk apa saja. dan kabur. kapan dan di mana diterbitkan) . baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lainnya. c) Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dalam meresensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini: 1) memperkenalkan siapa pengarangnya. mencerminkan isi pernyataan resensi secara akurat. dan 6) harga buku (jika diperlukan). dan menghindari perulangan kata. atau penyunting seperti yang tertera pada buku. kalau ada ditulis juga penerjemah. dan prestasi apa saja yang diperoleh. apakah relevan atau mendukung jika pembukaan . terutama yang berkaitan dengan topik buku itu. seperti untuk menegaskan kata. akan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi pernyataan resensi. Kalau pengarang buku mempunyai ciri khas atau sosok yang menarik. 5) tebal buku (jumlah bab dan halaman).. 2) pengarang. Namun perkenalan pengarang itu cukup singkat saja.Menulis Resensi Buku 4-9 dengan membuat sinopsis dan memahami inti resensi. kecuali kalau fungsinya benar-benar penting. 4) tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa). 3) memaparkan kekhasan atau sosok pengarang. peresensi dapat memulai dengan pembukaan yang memaparkan kekhasan atau sosok pengarang buku itu. editor. Selain itu. menggunakan kalimat aktif. 2) membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis. karena yang lebih penting justru masalah yang dibahas dalam buku itu. judul resensi harus menarik perhatian dan menimbulkan keingintahuan pembaca. Dengan demikian. tidak bertele-tele. dirumuskan sesingkat-singkatnya. bagaimana latar belakang pendidikannya. Alasan menggunakan cara itu pun juga harus kuat.

sertakan juga keunggulan buku. Keunikan itu dapat dilihat dari segisegi yang ada pada buku itu jarang ada atau langka dimiliki buku sejenisnya. 3) keunggulan buku. Pertama. padat. d) Tubuh atau isi pernyataan resensi buku Tubuh atau isi pernyataan resensi buku biasanya memuat hal-hal berikut ini: 1) sinopsis atau ringkasan isi buku secara singkat. jelas dan kronologis. berilah alasan (penyebab) mengenai keleamhan buku. menuliskan jumlah bab buku dengan uraian seperlunya. 6) mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku. Peresensi tidak cukup hanya membaca buku yang diresensinya. Ulasan itu pun bisa juga dipertegas dengan kutipan yang tepat. kelemahan buku hendaknya dipaparkan secara proposional. 8) memperkenalkan penerbit. Kedua. Ada dua cara merumuskan kerangka buku. Gambaran umum yang dipaparkan dalam sinopsis perlu diulas agar lebih jelas dan berbobot. 4) kelemahan buku. dan 10) membuka dialog. Tubuh resensi akan kelihatan lebih baik jika menyertakan keunggulan- keunggulan buku. Sinopsis ini mengemukakan pokok isi buku secara garis besar. Kedua. menuliskan jumlah bab buku tanpa pembahasan. 2) ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya. 9) mengajukan pertanyaan. Dengan cara ini. agar pembaca mendapat pemahaman yang utuh terhadap buku itu. Alenia pembuka juga dapat diawali dengan mendeskripsikan keunikankeunikan yang dimiliki buku tersebut. 7) mengungkapkan kesan terhadap buku. Tujuannya. 6) organisasi atau kerangka penulisan . Tujuannya. tetapi juga buku-buku lain yang membahas topik yang sama. 4) memaparkan keunikan buku. 5) rumusan kerangka buku.4-10 Menulis Resensi Buku dibuka dengan mendeskripsikan keunikan pengarang. terlebih lagi jika dihubungkan dengan topik buku itu. Pertama. peresensi mengetahui kelebihan-kelebihan buku yang diresensi tersebut. Ada dua hal yang perlu diperhatikan peresensi. 5) merumuskan tema buku.. memberi gambaran global mengenai apa yang akan dipapatkan pada tubuh resensi.

seperti bahasa sederhana. Kedua. dan bagaimana dinamikanya). seperti pewajahan (layout) dan kebersihan. untuk menyatakan kualitas atau kesalahan cetak. Barulah dikatakan kesalahan cetak atau kualitas cetakan yang kurang bagus. sebelumnya dikemukakan dahulu hal-hal yang berkaitan dengan kelebihan buku.Menulis Resensi Buku 4-11 (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. jelas. jelas. Bahasa yang baik. seraya menyarakan perbaikan kepada penerbit. terutama cetakannya. dapat dirumuskan dengan dua cara. Bagian penutup. Penjelasan mengenai bahasa buku dapat disampaiakan dengan cara langsung mengatakannya. yaitu. 8) tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit). Jadi. secara langsung menyebutkan halaman yang salah cetak atau kualitas cetakan yang kurang baik. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat menggangu pembaca. bagaimana penyajian datanya. e) Penutup resensi buku. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. hubungan antarkalimat. . pertama. dan mudah dipahami. dan 9) adanya kesalahan cetak. apakah hubungan itu harmonis. dinilai dari struktur kalimat. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). bagaimana analisisnya. 7) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. dan pilihan kata yang digunakan. atau menggambarkan kekhasan bahasa pengarang. Penilaian terhadap buku juga mencakup masalah teknis. bagaimana sistematikanya. biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa.

Pelatihan Meresensi Buku Pelatihan ini akan membawa Anda berproses untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan berupa resensi buku. PELATIHAN A. Pelatihan-1 Pelatihan dilaksanakan secara individu dengan mengikuti tahaptahap berikut.BAB III. KOMPETENSI DASAR Mempraktikan langkah-langkah menulis resensi buku yang sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya C. baik buku maupun film. Sebuah surat kabar yang terbit pada hari Minggu pada umumnya menampilkan kolom resensi buku dengan berbagai macam nama kolomnya. STANDAR KOMPETENSI Terampil menulis resensi buku B. Bacalah resensi berikut! Judul Buku : Wajah Peradaban (Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam) Penulis : M. Hasil resensi buku banyak muncul dalam media cetakan. a. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menulis resensi buku sesuai dengan langkah-langkah dan unsur-unsur pembangunnya 1. Sebuah majalah—yang biasanya terbit mingguan—banyak sekali menampilkan karya resensi. khususnya surat kabar dan majalah. Atiqul Haque .

yang merupakan pahlawan-pahlawan Islam di masa atau era keemasan Islam. Spanyol. peradaban itu mengantarkan Islam pada masa kejayaannya. Sehingga tidak heran kalau seorang filosof Prancis. yaitu dari abad ke-1 sampai abad ke-7. namun—tidak perlu dipungkiri—untuk melakukan hal itu sangat sulit. Meski demikian. Maskman. II . Wilayah kekuasaan Islam saat itu telah mencapai sebagian besar Eropa. seperti Turki. seperti Power Ranger. Ibnu Taymiya. atau Ibnu Khaldun. Salah satu di antaranya adalah melalui penerbitan buku-buku. Mac Gyver. Cordoba. pahlawan-pahlawan yang hadir di televisi. Saat ini kita seakan telah terbelenggu dengan konstruksi peradaban yang diciptakan oleh bangsa Barat. Melainkan. sejak disyiarkan Rasulullah SAW sampai sekitar abad ke-7.Menulis Resensi Buku 4-13 Editor Penerbit Cetakan Tebal : Cecep Syamsul Hari : Zaman Wacana Mulia Bandung : Cetakan I. Padahal. Kini Islam hendak bangkit kembali. berbagai upaya untuk kebangkitan Islam itu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. atau Viper. Roger Graudy. Januari 1998 : 148 halaman I SIAPA yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita sekarang? Jawabannya tentu bukan Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar Sidiq. yang banyak membukakan wawasan tentang peradaban Islam di era keemasan itu. dan Andalusia. Itulah zaman kebesaran Islam. kisah itu merupakan gambaran tentang wajah peradaban pada masa keemasan Islam. Ke mana kisahnya kini? Cerita kehebatan para pahlawan Muslim saat ini hanya menjadi nostalgia belaka. memandang peradaban Islam sebagai pewaris ketiga di samping peradaban Greko Romawi. Ibnu Rusyd. Anak-anak itu tentu tidak akan tahu siapa Ibnu Sina. Banyak diakui.

ia juga menjadi orang pertama yang menaburkan benih negara Islam merdeka di kalangan kaum Muslim India. Bahkan. dalam edisi Wajah Peradaban ini terbagi menjadi lima bagian. Paling tidak. dan Matsnawi . yang banyak muncul sekarang ini. Mereka adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Dalam edisi bahasa Inggris. al-Thabari. Syah Waylillah. ini terbukti dengan diakuinya Ibnu Rusyd sebagai Bapak Filsafat Barat. al-Biruni. mulai dari sosiolog. Buku ini memperkenalkan sejumlah pahlawan Muslim dalam berbagai bidang. yaitu: Lautan Pengetahuan. misalnya. Tidak hanya itu. Al-Bukhari. tidak dilakukan pemilahan menurut bagian-bagian tertentu. hingga politikus seperti Ibnu Taimiyah. yang diterbitkan TaHa Publisher London. Mereka juga adalah inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu. Menghidupkan Kembali Ilmu Agama. Yang patut diteladani oleh kita adalah semangatnya dalam mencari ilmu tidak pernah menyerah. tahun 1995. tetapi juga terhadap bangsa Barat. menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia. dan tidak pernah lelah melakukannya. guru besar. Mereka tidak hanya memiliki akses terhadap Islam itu sendiri. Namun. dan memberinya inspirasi jihad dalam menegakkan kebenaran. dokter. Kontribusi mereka sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan sekarang ini. Gairah para pahlawan Islam untuk mencari ilmu juga dilandasi oleh semangat untuk menyiarkan ajaran Islam. Buku ini berjudul asli The Moslem Heroes of The World. Dari Musafir ke Musafir. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari ilmu belaka. penyair. dan Ibnu Khaldun selalu merasa kehausan akan ilmu sehingga mereka harus menjadi musafir. Pengetahuan dan Kekuasaan.4-14 Menulis Resensi Buku Buku ini dapat memenuhi harapan di atas. tidak sedikit ilmuwan Barat yang menjadi murid pemikir-pemikir Islam seperti al-Gazhali.

dan (iv) mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan (surat kabar atau majalah). (ii) apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Pelatihan-2 Tugas dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. Tiap-tiap anggota dalam kelompoknya mempunyai tugas yang tidak sama. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. Selamat membaca.Menulis Resensi Buku 4-15 Cahaya. Buku ini lebih cenderung untuk konsumsi orang dewasa. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut: (i) unsurunsur apa saja yang dikemukakan oleh penulis dalam teks yang Anda baca itu. Buatlah rumusan pengertian resensi buku dengan menjawab “apa pengertian resensi buku”. (iii) apa tujuan yang ingin dicapai dengan teks itu. sebagai referensi dalam memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya. (Sumber: Romli. Pembagian ini akan memudahkan pembaca lebih paham tentang tokoh-tokoh yang diceritakan. . orang tua. buku ini sangat layak dibaca para pendidik. Akan tetapi. Apa sebenarnya yang sudah Anda lakukan itu? Sejatinya. 2003:81—85) b. III Sayangnya. karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris. maka bahasanya pun tidak cukup layak dikonsumsi anak-anak. c. Jadi. Anda melakukan tahap-tahap secara induktif dalam rangka memahami hakikat dan pengertian resensi buku. khususnya ibu-ibu. tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

b. Hasil akhir hakikatnya adalah hasil kelompok. Apa hakikatnya yang sudah Anda lakukan secara individu dan kelompok itu? Sejatinya. Anda melakukan tahap-tahap dalam rangka memahami pengertian resensi. Buku ini diangkat dari naskah disertasi yang dipertahankan terhadap sanggahan para penguji di hadapan Sidang Ujian Disertasi Tahap II Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 12 Desember 2001 dan mengalami pengubahan penyajian jika dibanding dengan naskah disertasi yang asli. Selanjutnya. Yang dipaparkan dalam buku ini ialah karakteristik bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik—khususnya pasca Orde Baru—beserta konteks penggunaannya. c. Pertanyaan untuk anggota-4: apa persamaan dan perbedaan teks yang dibaca dengan teks resensi yang berasal dari surat kabar. Dalam tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dan secara berkelompok. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Bacalah resensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Teks yang Anda baca adalah karya resensi buku yang muncul di majalah. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” pada bagian berikut.4-16 Menulis Resensi Buku a. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertanyaan untuk anggota-2: apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Bagian 1 dan 2 berupa pengantar ke arah bahasa politik dan “pisau analisis” yang . susunlah menjadi satu paragraf utuh yang memiliki kesatuan dan kepaduan. Pelatihan-3 a. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok menjadi satu. d. Pertanyaan untuk anggota-3: mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan. khususnya dalam sistematikanya. Pertanyaan untuk anggota-1: apa saja yang dikemukakan dalam teks yang Anda baca itu. dari kumpulan jawaban itu.

dan hiponimi). Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Prof. Juga kepada Drs..A. Dr. Prof. metafora. 12. ketransitifan. Soeseno Kartomihardjo. Kepada Prof. Rofi’uddin. Prof. yakni pola klasifikasi.. sinonimi. Abdul Wahab. Willem Mantja (penguji bidang pendidikan). interogatif. Ph. Suparno yang telah memberikan bimbingan selama proses pembuatan disertasi. Dr. (penguji bidang studi) ucapan terima kasih yang tulus sudah sepantasnya penulis sampaikan. dan nomina tertentu). saran. (alm. yang telah membangun “jembatan” antara . Dr. M. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yayasan Darma Aji Bakti. leksikalisasi. (penguji tamu dari Universitas Gadjah Mada).Menulis Resensi Buku 4-17 relevan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia.). M. yang telah memberikan dana bantuan bagi penelitian disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. dan Prof. Soepomo Poedjosoedarmo. modus kalimat (deklaratif.D.D. dan Dr.. Ph. Hariyono. Ph.Pd. strategi kehadiran diri (kita. Oka. modalitas (relasional dan ekspresif).Pd. M.. bentuk pasif dan negatif. Dr. kami. Karakteristik bahasa politik pasca Orde Baru dipaparkan pada bagian 3 s. Oleh karena itu. Jakarta. Imam Syafi’ie. saya ingin menyampaikan terima kasih yang setulustulusnya kepada Penerbit Wedatama Widya Sastra (WWS) yang telah mengupayakan penerbitan hasil penelitian ini dalam bentuk buku. dan imperatif). M. M. Diterbitkannya karya tulis ini memungkinkan apa yang saya paparkan dalam disertasi yang konsumennya bersifat amat terbatas dapat diinformasikan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. M. Prof. Akhirnya. dan struktur teks (konvensi interaksional dan penataan teks). Ah. sepatutnyalah disampaikan harapan bahwa tulisan ini akan memperoleh tanggapan.D. Monica Djoehana D.A.A. Saran dan pertanyaan yang Bapak ajukan pada ujian disertasi amat membantu penyempurnaan karya tulis ini.A.d. relasi makna (antonimi. saya. bahkan kritik yang dapat saya manfaatkan untuk memperbaikinya. Bagian 13 berupa paparan eksplanasi kritis mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan.

Selanjutnya. Hasil diskusi sebaiknya dirumuskan sebagai hasil kelompok. dan Politik ----------------------------------------------------------6 Rambu-Rambu Orwell -----------------------------------------------------------------------9 Beberapa Kajian Bahasa Politik Indonesia Sebelumnya --------------------------10 Catatan Akhir ---------------------------------------------------------------------------------24 “PISAU BEDAH” YANG RELEVAN: Menggali Ideologi dengan Analisis Wacana Kritis ----------------------------------25 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------25 Teori Kritis: Teori sebagai Praksis dan Emansipatif --------------------------------26 Linguistik Fungsional-Sistemik Halliday: Bahasa sebagai Semiotik Sosial ---29 . diskusikan hasil rumusan kelompok ke dalam diskusi kelas. c. Rumuskan apa tujuan penulis atau pengarang buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dapat diketahui dari bab “Sekapur Sirih” di atas. b. Rumuskan jawaban Anda dalam satu paragraf singkat. Apakah terdapat perbedaan yang mencolok dari tiap-tiap kelompok? Pelatihan-4 a. Komunikasi. b. A. ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya sudah seharusnya penulis sampaikan. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. Diskusikan hasil rumusan Anda dengan anggota dalam satu kelompok.4-18 Menulis Resensi Buku penulis dan penerbit. yang dipaparkan berikut ini.S. DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH ------------------------------------------------------------------------------v FENOMENA BAHASA POLITIK INDONESIA -----------------------------------------1 Bahasa Politik ----------------------------------------------------------------------------------1 Mengapa Bahasa Politik ---------------------------------------------------------------------3 Bahasa. Bacalah daftar isi dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso.

Interogatif.Menulis Resensi Buku 4-19 Kajian Bahasa dengan Paradigma Kritis ----------------------------------------------36 Analisis Wacana Kritis: Tiga Dimensi Wacana secara Simultan ----------------47 POLA KLASIFIKASI DALAM WACANA POLITIK -----------------------------------70 Pola Klasifikasi -------------------------------------------------------------------------------70 Kosakata Pengklasifikasi ------------------------------------------------------------------70 LEKSIKALISASI DALAM WACANA POLITIK ----------------------------------------91 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------91 Kosakata Utama yang Pertama Muncul -----------------------------------------------91 Perkembangan Lanjut Kosakata Utama -----------------------------------------------93 Leksikalisasi dari Berbagai Bidang Kehidupan -------------------------------------100 Leksikalisasi Khusus ----------------------------------------------------------------------107 RELASI MAKNA DALAM WACANA POLITIK: Antonimi.168 MODUS KALIMAT DALAM WACANA POLITIK: Deklaratif. Sinonimi. dan Hiponimi ------------------------------------------------------114 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------114 Antonimi --------------------------------------------------------------------------------------114 Sinonimi --------------------------------------------------------------------------------------119 Hiponimi --------------------------------------------------------------------------------------122 METAFORA DALAM WACANA POLITIK -------------------------------------------128 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------128 Metafora Nominatif ------------------------------------------------------------------------129 Metafora Predikatif ------------------------------------------------------------------------134 Metafora Kalimat ---------------------------------------------------------------------------136 KETRANSITIFAN DALAM WACANA POLITIK ------------------------------------140 Pengertian Ketransitifan ------------------------------------------------------------------140 Proses Material -----------------------------------------------------------------------------141 Proses Mental atau Proses Proyeksi -------------------------------------------------155 Proses Relasi atau Proses Menjadi ---------------------------------------------------157 BENTUK PASIF DAN NEGATIF DALAM WACANA POLITIK -----------------161 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Pasif ---------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Negatif ----------------------------------------------------------------------------. dan Imperatif ---------------------------------------------------175 .

205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Saya” -----------------------------------------------207 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kami” ---------------------------------------------. Kami.190 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------190 Modalitas Relasional --------------------------------------------------------------------. Setelah membaca dua teks di atas.205 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.211 STRUKTUR TEKS POLITIK: Konvensi Interaksional dan Penataan Teks -214 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------214 Konvensi Interaksional -------------------------------------------------------------------214 Pengurutan Teks ---------------------------------------------------------------------------238 PERSPEKTIF DALAM WACANA POLITIK: Sebuah Eksplanasi Kritis-----. dan Nomina Tertentu --------------------------------------------. rumuskan tujuan Anda membuat resensi. Rumusan Anda ditujukan kepada khalayak pembaca. Saya.175 Kalimat Interogatif ------------------------------------------------------------------------.201 STRATEGI KEHADIRAN DIRI DALAM WACANA POLITIK: Kita. .185 MODALITAS DALAM WACANA POLITIK: Relasional dan Ekspresif ------.4-20 Menulis Resensi Buku Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.245 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.209 Strategi Kehadiran Diri dengan Pronomina Tertentu ---------------------------.245 Perspektif dalam Pilihan Kosakata --------------------------------------------------.179 Kalimat Imperatif -------------------------------------------------------------------------.190 Modalitas Ekspresif ----------------------------------------------------------------------.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kita” -----------------------------------------------.175 Kalimat Deklaratif ------------------------------------------------------------------------.246 Perspektif dalam Pilihan Gramatika ---------------------------------------------------250 Perspektif dalam Pilihan Struktur Teks -----------------------------------------------253 DAFTAR PUSTAKA -----------------------------------------------------------------------256 c.

Hal ini antara lain terjadi karena perbedaan perspektif para elite politik atas suatu masalah. terutama yang bersangkut paut dengan penggunaan bahasa. Bacalah teks pertama—berupa sampul buku--berikut! Bahasa Politik Pasca Orde Baru Anang Santoso Penerbit WEDATAMA WIDYA SASTRA Jakarta.Menulis Resensi Buku 4-21 Pelatihan-5 a. Maret 2003 b. Bacalah teks kedua—berupa catatan penerbit--berikut! Buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru ini diangkat dari disertasi berjudul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik Era Pasca Orde Baru. suatu penelitian “jargon” dan “bahasa” politik yang digunakan oleh para pejabat dan politikus seputar Pemilihan Umum di Indonesia tahun 1999. Hasil temuan dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pelaku politik dan pejabat pemerintahan di negeri ini untuk menyusun strategi perjuangan politiknya. ISBN 979—3258—04—7 . Penelitian ini antara lain menjawab pertanyaan “mengapa elite politik memilih dan mengistimewakan serta mengabaikan dan tidak menggunakan satuan bahasa tertentu?”. Ada gejala “proses institusional” dan “proses sosiokultural” penggunaan bahasa dalam dunia politik di Indonesia.

selera. Identifikasi karakteristik. Tugas anggota-2: Bacalah sekali lagi teks “Daftar Isi” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! c. Tugas anggota-1: Bacalah sekali lagi teks “Sekapur Sirih” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! b.4-22 Menulis Resensi Buku c. Judul Buku: Bahasa Politik Pasca Orde Baru Penulis: Anang Santoso Penerbit: Wedatama Widya Sastra. Pelatihan-7 a. Tugas anggota-3: Bacalah sekali lagi teks “Catatan Penerbit” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! d. Pelatihan-6 a. Jakarta Cetakan: Pertama. dan tingkat pemahaman (kadar intelektualitas) dari konsumen buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dibidik oleh penerbit. Bacalah teks “pendahuluan” resensi berikut! Teks ini pernah muncul dalam sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Timur. Maret 2003 Tebal: ix + 273 halaman . Diskusikan jawaban-jawaban itu dalam diskusi kelompok! e. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok ke dalam satu jawaban kelompok yang akan menjadi bahan diskusi kelas.

Maklum. keempat tokoh itu: Gus Dur. Cak Nur. c. a. Diskusikan hasil identifikasi yang Anda buat dengan teman lainnya. Ketika umat sedang “bingung” dengan fenomena sosial politik yang terjadi belakangan ini. kalau Zaman penerbit buku ini. Pelatihan-9: a. Identifikasi persamaan dan perbedaan antara jawaban Anda dengan jawaban yang lain. buku ini berasal dari tesis S-2 penulisnya (Dedy Djamaluddin Malik) yang telah diubah secara populer dan menjelma menjadi buku ini. tetapi juga ditambah dengan Nurcholish Madjid. b. maka pada permulaan 1998 ini terbit sebuah buku. Pelatihan-8: a. buku ini lebih komprehensif. dan Kang Jalal—begitu mereka biasa dipanggil oleh para . Dari materi dan metode penulisan. dan mau tidak mau. Informasikan bagian identitas buku itu kepada khalayak menjadi bagian pendahuluan dari sebuah resensi. Bacalah bagian buku—bagian halaman judul—yakni bagian yang menggunakan halaman huruf kecil angka romawi. Pilihlah salah satu buku yang akan diresensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Mas Amien. dedengkot Paramadina.Menulis Resensi Buku 4-23 b. yang tidak hanya membahas pemikiran dan aksi politik mereka berdua. dan Jalaludin Rakhmat. Identifikasikan identitas buku yang selayaknya disampaikan kepada khalayak pembacanya. pentolan Muthahhari. Bacalah teks “isi” sebuah resensi berikut! Kalau dua tahun lalu terbit sebuah buku yang mengungkap soal strategi perjuangan umat model Abdurrahman Wahid dan Amien Rais—dan sempat menghebohkan itu. menjagokan buku ini sebagai “anak sulung” terbitan tahun pertamanya. Tak salah.

inilah yang dimaksud dengan “Teori Gelang Karet”. Lantaran pemikiran-pemikiran atau lebih tepatnya “sejarah pemikiran” seorang tokoh. Namun. Semua fakta itu tidak bisa diabaikan kalau kita berbicara tentang Islam dan Indonesia. Ketika pendulum sedang bergeser ke kanan. sekeras apa pun mereka bicara. Dan. Namun. Kendati demikian. Atau. Belum lagi. setelah sebelumnya dengan Mbak Mega. . situasi pun kemudian berubah. semua itu hanyalah timbangan sementara. masing-masing tokoh itu mempunyai umat yang tidak terbilang sedikit. tak pernah berhenti secara final. buku ini pun sedikit banyak merekam dinamika pemikiran mereka. meminjam istilah pengamat politik almarhum Alfian. Atau. maka suatu saat akan bergeser ke kiri. umatnya—pun terkait dengan proses dialektika Suara Gus Dur yang mulai melemah ketika runtang-runtung dengan Mbak Tutut. Dan. Tak terkecuali dengan buku ini. Kita ambil kasus buku tentang Gus Gur dan Mas Amien. Inilah realitas politik. Sehingga. justru di sinilah kesulitan bagi pengamat untuk secara benar me-metakan mereka dalam sebuah posisi yang tetap. Yang satu dianggap mewakili arus bawah dan yang satu lagi arus atas. setelah sebelumnya menelurkan jargon “Islam yes. seperti yang sudah disinggung di muka. Sampai-sampai majalah Ummat menganugerahinya sebagai “Tokoh 1997”. menurut Mohammad Sobary dalam kata pengantarnya pada buku ini. suatu saat mulur dan pada saat lain mengkeret. misalnya. Partai Islam no” itu. penulis telah berupaya keras untuk menganalisis sepak terjang mereka dari sejarah biografi pemikiran mereka berempat. Kemudian Cak Nur yang makin intens membina kelas menengah Muslim di metropolitan.4-24 Menulis Resensi Buku pengagum maupun perjalanan bangsa ini. agaknya pemerintah tidak berani untuk bertindak gegabah. Lantas Mas Amien yang kian meninggi volume suaranya sejak kasus Busang dan suksesi— yang membuatnya terdepak dari ICMI—sampai kesediannya dicalonkan sebagai presiden. Kang Jalal yang kontroversial sebagai “Agen Syiah” dan secara menghanyutkan tekun mendalami dunia tasawuf bersama keluarga mantan Wakil Presiden Soedharmono. Lain ketika yang bertindak itu Sri Bintang Pamungkas. belum lama buku itu terbit.

dimungkinkan dengan berubahnya pandangan pemerintah terhadap Islam. yakni suatu era di mana orientasi perjuangan umat Islam tidak lagi…dst. Hadangan banyak mengganjal mereka. Namun demikian. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Identifikasikan apa saja yang ingin dikemukakan peresensi dalam bagian “isi” yang dipaparkan di atas. keempatnya tidak sekali pun terlintas untuk membentuk negara Islam. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah informasi tentang tujuan penulisan buku. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. dan adakah ulasan perbandingan dengan buku lain dari pengarang yang sama. Mulai dari telepon gelap sampai ucapan yang mengkafirkan mereka. tapi yang diperjuangkan mereka adalah demokratisasi. Lantaran. kemunculan keempat tokoh dalam waktu yang tidak beda berselang itu. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah informasi tentang latar belakang penulisan. c. Jika ada. . Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah paparan singkat tentang isi buku atau gambaran secara keseluruhan terhadap isi buku. Untuk membimbing Anda. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Dari buku ini juga terungkap. Untuk selanjutnya Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota enam orang. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Sumber: Romli (2003:79—81) b. Merekalah tokoh intelektual Muslim paling menonjol dalam kelahiran “Zaman Baru Islam Indonesia”. bukan berarti langkah mereka mulus-mulus saja. Pertanyaan untuk anggota-6: adakah ulasan perbandingan dengan buku lain yang temanya sejenis. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Islam yang diusung keempat tokoh itu adalah Islam yang lebih toleran dan terbuka. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah ulasan tentang gaya penulisan.Menulis Resensi Buku 4-25 Sebenarnya. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah ulasan tentang tema atau judul.

Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil dari kelompok penyaji. Pelatihan-10: a. b. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. d. Setiap kelompok menyampaikan hasil rumusannya dalam diskusi kelas. Bacalah bagian isi buku. Jawaban setiap anggota kelompok tersebut selanjutnya didiiskusikan di dalam kelompok masing-masing. Tugas anggota-2: menulis paparan isi buku secara singkat atau gambaran isi buku secara keseluruhan. Tugas anggota-6: menuliskan. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi enam orang. Hasilnya dirumuskan menjadi sebuah rumusan yang berupa jawaban dari kelompok. Gabungkan jawaban setiap individu itu ke dalam teks yang padu. membandingkan. Tugas anggota-3: merumuskan latar belakang penulisan buku yang diresensi. Hasil rumusan itu adalah bagian “isi” untuk resensi menurut kelompok Anda sendiri. dan mengulas buku dengan tema yang sejenis & membandingkan serta mengulas buku lain yang dihasilkan pengarang yang sama. e. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Tugas anggota-4: merumuskan tujuan penulisan buku yang diresensi. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Tugas anggota-5: memberikan ulasan tentang gaya penulisan yang digunakan penulis buku. Bacalah teks “penutup” sebuah resensi berikut! .4-26 Menulis Resensi Buku d. c. Pelatihan-11: a. Tugas anggota-1: memberikan ulasan tentang judul atau tema buku. yakni halaman 1 sampai dengan halaman daftar pustaka atau daftar rujukan.

Pertanyaan untuk anggota-1: adakah penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah kritik atau saran kepada penulis. salah satu tokoh dalam buku ini. buku ini layak kita ucapi selamat datang. telah teruji secara ilmiah dan aktual. Amien Rais. apalagi yang tergerak untuk meneruskan perjuangan mereka dalam kerangka penegakan ajaran Islam. Anda masih bekerja dalam kelompok masing-masing. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah pertimbangan kepada pembaca agar membaca atau membeli. is perlu reediting.Menulis Resensi Buku 4-27 Materi dalam buku ini cukup komprehensif. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah penilaian kelebihan dan kelemahan buku. apa kelebihan dan kelemannya. Bagi kaum muda Muslim. berkaitan dengan isu suksesi dan aksi politiknya menyatakan siap menjadi presiden. utamanya bagi mereka yang selama ini dibuat “bingung” oleh aksi dan pemikiran keempat tokoh tersebut. tengah menjadi newsmaker dewasa ini. Apalagi. Masih ditemukan di sana-sini kalimat yang kurang tertib menurut kaidah EYD. kata-kata jenuh dan mubazir. Jika ada. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Sumber: Romli (2003:81—82) b. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Dengan referensi buku ini. ada pertimbangannya. Jika ada. buku ini tetaplah penting untuk dibaca dan dimiliki. kita pun bisa memprediksi gebrakan apa lagi yang akan dibuat dan mengerti jika suatu saat sang tokoh kita ini tiba-tiba “berubah”. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah saran- . Untuk membimbing Anda. khususnya di Indonesia. atau sebaliknya. sehingga mengurangi kenikmatan membaca. buku ini dapat menjadi referensi utama bagi penentuan strategi dakwah masa depan. Sehingga. Karenanya. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Namun demikian. apa kritik atau saran itu. Sayangnya. pengeditan buku ini tampak dilakukan tergesa-gesa. rumuskan penilaian itu menurut bahasa Anda sendiri.

Ini adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Hasil ini masih perlu dikomunikasikan kepada kelompok lain. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Tugas anggota-3: memberikan saran dan kritik kepada penulis tentang kekurangan yang ada. atau tidak. e. dari bagian awal sampai akhir. Tugas anggota-5: memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki. Jika ada. d. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu jawaban kelompok. d. c. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Pelatihan-12: a. Tugas anggota-4: memberikan saran dan kritik kepada penerbit demi penyempurnaan pe-nerbitan. .4-28 Menulis Resensi Buku saran perbaikan bagi penerbitnya. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Tugas ang-gota-2: memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan buku. c. Tugas anggota-1: memberikan penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. b. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi lima orang. apa saran-saran perbaikannya. Hasil rumusan itu adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu. Hasilnya ditata ke dalam sebuah teks yang padu. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Rumuskan ulasan Anda secara individu ke dalam bentuk tulisan. Bacalah bagian buku secara keseluruhan.

BUKU AJAR APRESIASI SASTRA INDONESIA .

puisi. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. kepekaan pikiran kritis. penghargaan. E. Menjelaskan perbedaan antara kegiatan langsung dan taklangsung dalam apresiasi sastra 4. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. bekal awal pengapresiasi sastra. C. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. Menjelaskan bekal awal pengapresiasi sastra 3. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. KONSEP DASAR APRESIASI SASTRA A. DESKRIPSI Penyajian teori apresiasi sastra yang meliputi meliputi pengertian apresiasi sastra. Menjelaskan berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra. serta mampu mengapresiasi prosa. puisi. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra 2. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar apresiasi sastra yang meliputi pengertian apresiasi sastra. D. bekal awal pengapresiasi sastra. B.BAB I. dan drama. . INDIKATOR 1. URAIAN MATERI Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian.

sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi. yakni (1) aspek kognitif. memahami.5-2 Apresiasi Bahasa Indonesia Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unnsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. atau unsur ekstrinsik karya sastra. Selain itu. atau unsur intrinsik karya sastra. menikmati. Oleh karena itu. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sastra. apresiasi melibatkan tiga unsur inti. Adapun unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang. aspek tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna yang tersurat. unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya . Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca.misalnya. (2) aspek emotif. Unsur intrinsik yang bersifat objektif itu. dan menilai karya sastra yang dibaca. maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran karya sastra. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sebagaimana yang diuraikan berikut ini. Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra. Pada sisi lain. apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin serta (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. dan unsur-unsur di luar teks sastra itu sendiri. Dalam konteks yang lebih luas. Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik. 1 Pengertian Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. latar proses kreatif penciptaan. Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses. dan (2) aspek evaluatif.

Dari pendapat itu juga disimpulkan . penghargaan. pelaku wanita yang tampil dengan pupur tebal di tengah malam duduk sendirian di sebuah nite club akan memberikan sugesti makna yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelaku wanita yang tampil dengan jernih. sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian. Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan terhadap penilaian baik buruk. dirinya. Dengan kata lain. mampu menghayati kualitas ragam hidup demikian. duduk di nite club sendirian tengah malam. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur signifikan tertentu. Bagaimana penyimpulan makna yang dipaparkan lewat cara penampilan pelaku serta penataan setting yang terpapar secara sugestif tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh kepekaan pembaca yang pada dasarnya dibentuk oleh endapan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. tentu mampu memberikan penilaian. tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. Misalnya. kepekaan pikiran kritis. serta sejumlah ragam penilaian utama yang tidak harus hadir dalam serbuah karya kritik.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-3 memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. tekun membaca buku. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. sesuai-tidak sesuai. keterlibatan unsur penilaian dalam unsur ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespons karya sastra yang telah dibaca sampai pada tahap pemahaman dan penghayatan. pembaca yang telah memahami karakter pelaku yang tampil dengan pupur tebal. misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. Effendi (1982) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi tersebut. Sebagai contoh. secara imajinatif. indah tidak indah. tengah malam duduk sendirian di kamarnya.

sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya. Kegiatan apresiasi karya sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra. baik yang berupa prosa. Kegiatan membaca karya sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca/mendengarkan. kegiatan dalam rangka kemampuan . Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati karya sastra secara langsung. Kegiatan apresiasi karya sastra selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra. Kegiatan Langsung dan Tak Langsung dalam Mengapresiasi Karya sastra Dari uraian pengertian apresiasi sastra sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. 2. puisi.5-4 Apresiasi Bahasa Indonesia bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab sikap dengan teks sastra yang serta diapresiasinya. melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara kongkret. maupun drama. serta mengevaluasi karya sastra. Kegiatan itu disebut sebagai apresiasi sastra secara tidak langsung karena pada akhirnya selain dapat mengembangkan pengetahuan seseorang tersebut juga akan meningkatkan tentang sastra. menikmati. melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya. serta mempelajari sejarah sastra. memahami. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung. menumbuhkan sungguh-sungguh. membaca artikel yang berhubungan dengan sastra baik di majalah maupun koran.

ia selalu berusaha menciptakan sikap serius. . politik. Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa karya sastra. maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-5 mengapresiasi suatu karya sastra. filsafat. dan struktur wacana. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan. kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperanan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. media tulisan/lisan. Sementara pada sisi lain. juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontempelasi batin. Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut akan tergambar lewat media kebahasaan. Kellet mengungkapkan bahwa pada saat membaca suatu karya sastra. karya sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguhsungguh dan berulang-ulang kepekaan sehingga dan dapat perasaan melatih dalam dan rangka mengembangkan pikiran mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan atau lisan. 3 Bekal Awal Pengapresiasi Karya Sastra E. Penumbuhan sikap serius dalam membaca karya sastra itu terjadi karena karya sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya. Dengan demikian.E. tetapi dengan suasana batin riang.

tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya. Terdapatnya berbagai unsur karya sastra sebagaimana tersebut mengimplikasikan bahwa untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. Dari keseluruhan uraian tersebut dapat diambil simpulan bahwa karya sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks. maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan. sastra sebagai salah satu cabang seni. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat di dalam karya sastra. sebagai bacaan. politik. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. misalnya buku filsafat dan psikologi. Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu salah satunya ditandai oleh adanya unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics. (3) media pemaparan baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. baik lewat penghayatan atas kehidupan secara intensif-kontemplatif. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra. Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut sebagai bekal awal karena untuk mampu mengapresiasi karya sastra seseorang harus secara terus menerus menggauli karya sastra. tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text karena teks sastra bagaimana pun memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya. (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan. dan (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik karya sastra itu sendiri sebagai suatu teks. filsafat.5-6 Apresiasi Bahasa Indonesia Dengan demikian. serta berbagai kompleksitas masalah kehidupan. antara lain (1) unsur keindahan. .

yakni jika pembaca semakin sering dan akrab dengan kegiatan membaca karya sastra. (4) pendekatan sosiopsikologis. (2) pendekatan analitis. Lebih lanjut. 4 Pendekatan dalam Mengapresiasi Karya Sastra Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan dalam mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. (3) pendekatan historis. dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi.1 Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang menggugah perasaan pembaca yang dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan yang lucu dan menarik. Hal itu disebabkan adanya (1) perbedaan tujuan dan apa yang diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya. dalam kegiatan apresiasi karya sastra. (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-7 Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah. Oleh sebab itu. sedangkan kegiatan menggauli karya sastra sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. yakni level objektif yang berhubungan dengan respons intelektual dan level subjektif yang berhubungan dengan respons emosional. dan (5) pendekatan didaktis (Aminudin 1995). melainkan juga berhubungan dengan usaha pemahaman kandungan makna yang umumnya bersifat konotatif. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. . kepekaan emosi dan perasaan itu bukan hanya berhubungan dengan kegiatan penghayatan dan pemahaman nilai-nilai keindahan. 4. Brooks membedakan adanya dua level.

(2) bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra yang dibaca. 4.2 Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan. (2) setiap elemen dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. atau komedi. cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ideidenya. Untuk menemukan dan menikmati karya sastra yang mengandung kelucuan. (4) bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu. dan (3) setiap elemen dapat dibicarakan secara terpisah tetapi pada akhirnya setiap elemen harus disikapi sebagai satu kesatuan. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan analitis adalah bahwa (1) karya sastra dibentuk oleh elemen-elemen tertentu. pembaca tentunya harus memilih karya sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. sarkasme. elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur intrinsik sehingga membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.5-8 Apresiasi Bahasa Indonesia Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya. Dalam pelaksanaannya. misalnya ragam humor. dan (5) berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan. (3) bagaimana wujud keindahan itu setelah digambarkan pengarangnya. melalui pendekatan ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) adakah unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. satirik. .

Apresiasi Bahasa Indonesia 5-9 Dalam pelaksanaannya. . kehidupan masyarakat. (2) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang dibacanya. 4. dan (4) bagaimana cara memahaminya. (2) bagaimana unsur-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangnya. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan historis adalah adanya anggapan bahwa karya sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya. maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat karya sastra diwujudkan.4 Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya. pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna suatu karya sastra. serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman. (3) bagaimana peran setiap unsur dan bagaimana hubungan antarunsurnya. (3) memahami mekanisme hubungan antarunsur intrinsiknya. penerapan pendekatan analitis selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) unsur-unsur apakah yang membangun karya yang saya baca ini. latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya prosa fiksi yang dibaca. Selain itu. 4.3 Pendekatan Historis Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang. Adapun secara konkret langkah-langkah yang harus ditempuh adalah (1) membaca teks secara keseluruhan. (4) menganalisis fungsi setiap unsur dalam rangka mewujudkan karya sastra.

yakni pendekatan yang satu digunakan secara bersamaan dengan pendekatan yang lain. Dari pemahaman tersebut. . dan (3) penerapan pendekatan secara eklektik sesuai dengan konpleksitas aspek maupun keragaman karakteristik karya sastra itu sendiri. 4. Dalam pelaksanaannya.5 Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis berusaha menemukan dan memahami gagasan. Dalam pelaksanaannya. tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. dan bagaimana hubungan antara karya sastra dengan zamannya. filosofis. penerapan pendekatan didaktis dilakukan melalui upaya memahami satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu karya sastra yang disarikan dari paparan gagasan pengarang yang berupa tuturan ekspresif. atau bahkan salah. tanggapan. melalui pendekatan ini kita berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa karya itu diciptakan. berbagai pendekatan itu pada umumnya digunakan secara eklektik.5-10 Apresiasi Bahasa Indonesia Dalam pelaksanaannya. maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis. Demikianlah berbagai pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra. bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya. (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakap. maupun deskripsi peristiwa dari pengarang. lakuan. dialog. Adapun alasannya adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan. Gagasan. komentar. kita dapat menyimpulkan nilai-nilai apa yang terkandung di dalam karya sastra yang kita hadapi. maupun agamis. sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.

(3) pendekatan historis. penghargaan. Pendekatanpendekatan tersebut sebaiknya digunakan secara eklektik. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan/lisan. RANGKUMAN Apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. (2) pendekatan analitis. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan. Apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. Untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. . (4) pendekatan sosiopsikologis.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-11 F. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. dan (5) pendekatan didaktis. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra. kepekaan pikiran kritis.

BAB II. dan unsur prosa 2. Hakikat Prosa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). Dengan kata lain. yang berarti cerita rekaan (cerkan) atau “khayalan”. jenis. Hal itu disebabkan prosa (yang untuk pembicaraan selanjutnya disebut prosa fiksi) merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. puisi. jenis. C. prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. Mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. dan drama. URAIAN MATERI 1. Menjelaskan hakikat. khayalan. dan unsur pembangun prosa serta mampu mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. B. jenis. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. INDIKATOR 1. E. MENGAPRESIASI PROSA A. puisi. serta mampu mengapresiasi prosa. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar prosa yang meliputi hakikat. DESKRIPSI Penyajian konsep dasar prosa yang meliputi pengertian ahakikat. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya . dan unsur prosa serta praktik mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa.

Oleh karena itu. diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif. dan Tuhan. tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. dirinya sendiri. Meskipun demikian. Ia merupakan hasil dialog. prosa fiksi merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dapat dikatakan bahwa dunia dalam prosa fiksi merupakan 'dunia lain' di samping kenyataan. dan tempat yang disebut-sebut di dalam prosa fiksi bersifat imajinatif. Dengan demikian. . Walaupun berupa khayalan. peristiwa. prosa fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. Dengan demikian. 'dunia' dalam prosa fiksi dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa faktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi. dan latar yang semuanya tentu saja bersifat imajinatif.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-13 dalam dunia nyata. meskipun dalam beberapa aspek menunjukkan kesamaan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. prosa fiksi bukan sekadar hasil kerja lamunan. hidup dan kehidupan. dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. menurut Alterbern dan Lewis. Sebagai karya imajinatif. peristiwa. akan tetapi semua itu berjalan dengan sistem dan koherensinya sendiri. Prosa fiksi menampilkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. Prosa fiksi menawarkan sebuah dunia yang dibangun melalui cerita. Jika dibandingkan dengan karya nonfiksi. sedangkan di dalam karya nonfiksi bersifat faktual. tokoh. sesama. prosa fiksi. kebenaran dalam prosa fiksi tidak sama dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. kontemplasi. tokoh.

dan bertempat di dunia seperti yang kita . a.5-14 Apresiasi Bahasa Indonesia 2. legenda adalah cerita rakyat yang dianggaps ebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Contoh mite adalah cerita Dewi Sri dari Jawa dan Mado-Mado dari Pulau Nias. terjadinya maut. Peristiwa terjadi didunia lain. berbeda dengan mite. manusia pertama. bentuk topografi. terjadinya pada masa yang belum begitu lampau. Seperti halnya mite. dan dongeng. 1) Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang sejak belum terdapat tradisi tulisan. Di dalam tradisi lisan terdapat berbagai jenis cerita rakyat. kegenda bersifat keduniawian. legenda. Mite ditokohi oleh para dewa. dunia. Oleh karena sifatnya yang demikian. atau mkakhluk setengah dewa. percintaan. Hanya saja. pengarang cerita rakyat pada umumnya tidak dikenal serta ceritanya sangat mudah berubah dari waktu ke waktu. dan gejala alam. di antaranya adalah mite. Mite pada umumnya mengisahkan alam semesta. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita. dibacakan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga cerita itu dirasakan sebagai milik bersama. bentuk khas binatang. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. Jenis Prosa Fiksi Menurut sejarah perkembangannya. Mite juga mengisahkan petualangan. hubungan kekerabatan. atau di dunia yang bukan seperti yang kt akenal sekarang dan terjadi di masa lampau. atau kisah perang para dewa. Cerita rakyat dikenal dan diceritakan dalam kalangan masyarakat. Prosa Fiksi Lama Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat.

b. 2) Hikayat Hikayat adalah bentuk cerita fiksi yang lain dalam kesusasteraan lama. dan Bawang Merah Bawang Putih. (b) hikayat yang mendapat pengaruh dari jawa. hikayat dapat dibedakan menjadi (a) hikayat asli Melayu. sejarah. Berdasarkan asal ceritanya. pada perkembangannya kemudian tercampur dan terjalin dengan ceritacerita asing. kepercayaan Hindu. misalnya Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Raja-Raja Pasai. walaupun ada kalanya mempunyai sifat yang luar biasa. Contoh dongeng adalah Timun Emas. Prosa Fiksi Baru . berisikan pelajaran (moral) atau sindiran. misalnya Hikayat Srang Manyang dan Hikayat Malim Deman.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-15 kenal sekarang. nabi-nabi Islam. Hikayat umumnya menceritakan riwayat ajaib tentang putera dan puteri raja. Contoh legenda adalah kisah terhadinya Rawa Pening. (c) hikayat yang mendapat pengaruh Hindu. misalnya dongengdongeng binatang. asal mula terjadinya nama Banyu Wangi. Legenda ditokohi manusia. Tangkuban Perahu. di dalamnya bercampur aduk antara lukisan Melayu asli dan dewa-dewa Hindu yang menjelma. misalnya Hikayat Perang Pandawa Lima dan Hikayat Sang Boma. misalnya Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar. Kancil dan Buaya. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. walaupun banyak yang juga melukiskan kebenaran. dan cerita Batu Belah. Meskipun hikayat sebenarnya bentuk asli kesusasteraan Indonesia. dan sebagainya. (d) hikayat yanag mendapat pengaruh dari Persia. dan seraingkali dibantu oleh makhlukmakhluk ajaib. misalnya Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Damar Wulan. dan (d) hikayat yang mendapat pengaruh Arab. Dongeng biasanya diceritakan untuk hiburan.

(4) novel anak-anak. tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya. suasana cerita yang beragam. (3) novel adat. dan (7) novel percintaan. (6) novel psikologis. karakter yang banyak. sosial. prosa fiksi baru dibagi menjadi dua jenis yaitu novel dan cerpen. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang juga berbeda. yaitu novel avontur. ditektif. baik dilihat dari segi teknik berceritanya maupun isi yang diungkapkan pengarang. (5) novel politik. 2) Cerita Pendek . suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada cerita rekaan yang lain. yakni cerpen. 1) Novel Dalam arti luas. novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks. Penggolongan lain dilakukan oleh Mochtar Lubis yang membagi novel menjadi 6 jenis. Karena keluasannya. dalam novel dimungkinkan adanya degresi. Degresi atau lanturan adalah masuknya masalah yang tidak begitu integral dalam cerita yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. dan kolektif. yakni novel serius dan novel populer yang masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri. Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang mendominasi novel yang ditulisnya. ukuran luas disini tidak mutlak sifatnya. novel dibedakan menjadi (1) novel bertendens. di Indonesia juga dikenal istilah roman. psikologis. dan ketidakhadirannya tidak akan mengganggu keutuhan cerita. (2) novel sejarah. politik. Di samping novel. Di samping itu ada yang membagi novel menjadi dua.5-16 Apresiasi Bahasa Indonesia Secara garis besar. Tetapi. Sebenarnya kedua bentuk cerita itu pada hakikatnya sama. dan latar yang beragam pula. kemudian dicari-cari perbedaannya.

dan latar. yakni fakta cerita. Unsur Pembangun Prosa Fiksi Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. dalam cerpen tidak mungkin muncul degresi atau lanturan sebagaimana yang biasa terjadi dalam novel. Cerpen hanya memusatkan perhatian pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita. sedangkan unsur isi adalah sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu. kepaduan merupakan syarat utama sebuah cerpen. alur. Cerpen mempunyai kecenderungan berukuran pendek dan pekat. cerpen merupakan karya sastra yang lengkap dan selesai sebagai suatu bentuk karya rekaan. dan latar yang terbatas. Predikat pendek di sini bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu. Dengan demikian. Dalam kesingkatannya. atau sedikitnya tokoh yang terdapat di dalamnya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-17 Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur. Ruang lingkup permasalahan yang diungkapkan di dalam cerpen adalah sebagian kecil dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. Alur . serta gaya (bahasa). a. Sarana cerita itu meliputi unsur judul. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan lewat bentuk karya itu. dan tema cerita. tidak beragam. Oleh karena itu. sudut pandang. Ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi tiga bagian. tokoh. dan tidak kompleks. karakter. 3. Pembagian lain dikemukakan oleh Stanton (1965). Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita. Yang perlu diingat adalah bahwa dalam kesingkatannya. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. cerpen hanya mempunyai efek tunggal. sarana cerita.

dalam alur akan dijumpai puncak-puncak konflik.5-18 Apresiasi Bahasa Indonesia Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. atau manusia dengan Tuhan. Adapun tahap akhir atau peleraian menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Peristiwa dalam prosa fiksi dapat disusun dengan mengikuti garis lurus. berupa pengenalan tentang waktu dan tempat terjadinya peristiwa dan pengenalan tokoh cerita. yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh. misalnya antara manusia dengan manusia lain. Jadi. konflik eksternal. misalnya. Tahap tengah atau pertikaian menampilkan peningkatan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal. yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. Peristiwa-peristiwa yang jalin menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut alur. bagian ini menunjukkan bagaimanakah akhir sebuah cerita yang penyelesaiannya bisa bersifat tertutup dan bisa juga terbuka. Konflik-konflik itu dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri). alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu. dari konflik kecil sampai konflik yang besar. manusia dengan alam. yaitu konflik antara tokoh dengan hal lain di luar dirinya. atau kedua-duanya sekaligus. alur selalu menampilkan konflik-konflik. Dalam tahap tengah inilah klimaks dimunculkan. Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. dan utuh. Pada tahap awal cerita konflik sedikit demi sedikit mulai dimunculkan. bulat. Peristiwa A merupakan awal cerita. dapat pula berupa konflik eksternal. Bahkan. Tahap awal biasanya disebut tahap perkenalan. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa. Dengan kata lain. diikuti oleh peristiwa B yang .

melainkan dari peristiwa akhir kemudian baru dikisahkan peristiwa yang mendahuluinya. atau benda yang diinsankan. Melalui cara itu. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. kejutan (surprise). pembaca dibawa kembali ke inti cerita. Kaidah yang dimaksud meliputi masalah kemasukakalan (plausibility). dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. misalnya dalam Tinjaulah Dunia Sana karya Maria Amin. meskipun dapat juga berwujud binatang. Ketika sedang berada pada peristiwa pokok.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-19 merupakan inti cerita. Namun demikian. Dalam membentuk alur tertentu. pertama. b. Contoh cerita yang menggunakan susunan seperti itu adalah Atheis karya Achdiat Kartamiharja. Tokoh pada umumnya berwujud manusia. Peristiwa tidak disusun secara urut dari peristiwa awal sampai peristiwa akhir. pembaca langsung diajak masuk ke dalam peristiwa pokok. Urutan seperti itu dinamakan alur sorot baik. yaitu (1) tokoh sentral atau tokoh utama dan (2) tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). ada semacam ketentuan atau kaidah yang perlu dipertimbangkan. Cara yang lain adalah dengan menggabungkan dua cara di atas. Tokoh sentral atau tokoh utama yang disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan . Dalam membaca urutan cerita yang demikian pembaca seolah-olah diajak untuk mengenang peristiwa masa lalu. tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua. dan berakhir dengan peristiwa C sebagai penutup cerita. Setelah kenangan itu habis. Urutan peristiwa seperti itu disebut alur lurus. tiba-tiba pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu. pengarang memiliki kebebasan kreativitas. Ada pula prosa fiksi yang disusun sebaliknya. Tokoh dan Penokohan Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. dan ketidaktentuan (suspense).

tokoh utama atau tokoh sentral suatu prosa fiksi dapat ditentukan dengan paling tidak tiga cara. antara lain dengan mencermati: . dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. perlu bagi pembaca untuk menentukan tokoh sentralnya. Agar manusia yang perikehidupannya diceritakan itu lebih jelas bagi pembaca. tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Bagaimana kita pembaca mengenali watak tokoh-tokoh cerita? Ada beberapa cara yang dapat membawa pembaca sampai pada sebuah simpulan tentang watak tokoh. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh itulah yang disebut penokohan.5-20 Apresiasi Bahasa Indonesia cerita itu ada. Peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadina perubahan sikap terhadap diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap cerita tersebut. pengarang berusaha menyajikan sosok tokoh cerita itu di hadapan pembaca. Karena sebuah prosa fiksi biasanya melibatkan beberapa tokoh. yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. Yang termasuk tokoh bawahan misalnya tokoh andalan. Jelasnya. Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita dijumpai adanya tokoh datar/sederhana/pipih yang wataknya tidak berkembang dan tokoh bulat/kompleks/ bundar yang wataknya berkembang dan kompleks sehingga terlihat kelemahan dan kelebihannya dan dapat dibedakan dari watak tokoh lain. Yang ingin diungkapkan pengarang melalui cerkan adalah manusia dan kehidupannya. yang berhasil mengisinya dengan darah dan daging akan dengan sendirinya meyakinkan kebenaran ceritanya. dantokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) ialah tokoh yang tidak sentral dalam cerita. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya. Biasanya tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita.

pikiran-pikirannya. sampai pada rincian sebuah ruangan. Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah cara penting untuk menggambarkan watak tokoh. Waktu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-21 1. penggambaran fisik tokoh. Latar Cerita merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu di suatu tempat dan dalam suasana tertentu. tetapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. pemandangan. c. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. 5. Secara terinci. Penulis sering membuat deskripsi tentang bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya: tentang cara berpakaiannya. penerangan langsung. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita. tindakan-tindakannya. sukunya. dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita disebut latar atau setting. terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. latar meliputi penggambaran (1) lokasi geografis. tempat. Jadi. 4. latar meliputi segala keterangan. 7. wanita atau pria. petunjuk. (2) waktu terjadinya . dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita. ucapan-ucapannya. 2. gambaran latar atau lingkungan tempat tinggal tokoh. dan sebagainya. misalnya pengarang menjelaskan bahwa tokoh A adalah orang yang jujur. dan baik hati. pengacuan yang berkaitan dengan tempat. 6. sabar. bentuk tubuhnya. apa yang diperbuatnya. orang berbudi halus atau kasar. pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan. 3. waktu. Dalam hal ini penulis memberitahukan panjang lebar watak tokoh secara langsung. kita dapat mengenali apakah ia orang tua. ciri-ciri fisiknya yang dapat menunjukkan watak tokoh yang bersangkutan. Situasi kritis di sini tidak perlu mengandung bahaya. orang dengan pendidikan rendah atau tinggi.

d. sejarahnya. atau menunjukkan sifat-sifat manusia pada suatu saat di suatu tempat. musim terjadinya. latar kota Jakarta menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu: suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang yang menyebabkan orang mudah merasa terasing. cara hidup. Sudut Pandang . kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. dan atau tema tertentu. Adapun Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya. misalnya nilai kebenaran. melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai. pengkhianatan. Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik (material). adat kebiasaan. artinya hanya sekadar memberi petunjuk bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi di suatu tempat pada waktu dan suasana tertentu. Karena itu. tema. dan (3) lingkungan agama. biasanya pengarang tidak akan sembarangan dalam menentukan latar cerita. dendam.5-22 Apresiasi Bahasa Indonesia peristiwa. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual. misalnya. dapat berbicara soal-soal khusus seperti pelarian. Dengan demikian. yaitu bangunan. Dari latar wilayah tertentu harus dihasilkan watak tertentu. intelektual. dan keagungan Tuhan yang akan diungkap pengarang melalui cerita tersebut. sosial. dan emosional para tokoh cerita. untuk memperkenalkan adat istiadat suatu daerah. bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. Kegunaan latar biasanya bukan semata-mata sebagai petunjuk kapan dan di mana cerita itu terjadi. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat. Sebaliknya. latar hendaknya mempunyai fungsi untuk menggarap alur. daerah. suasana tertentu. latar yang hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. dan sebagainya. dan penokohan. dan kemanusiaan. patriotisme. Dalam prosa fiksi. moral. disebut latar netral. Misalnya dalam cerpen "Jakarta". Cerita dengan latar perang. dapat dikatakan bahwa latar bukan sekadar background cerita. cinta kasih.

yakni sudut pandang Orang Pertama (Pencerita Akuan) dan sudut pandang Orang Ketiga (Pencerita Diaan). Yang pertama. atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Di samping jenis-jenis sudut pandang di atas. Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Utama atau Akuan-Sertaan. Yang kedua. Sudut Pandang Orang Ketiga memiliki dua kemungkinan. Bagian pertama novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang Diaan Serba Tahu. bahkan mampu mengungkap pikiran. pencerita berada di luar cerita. Akan tetapi mulai bagian kedua. Orang Ketiga Mahatahu apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita. sedangkan apabila pencerita menjadi tokoh bawahan disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Bawahan atau Akuan-Taksertaan. tatanan sampai mitos sejarahnya. dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Sudut pandang dibagi menjadi dua. Orang Ketiga Terbatas apabila pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar. Ahmad Tohari mendongeng tentang Dukuh Paruk. Dalam sudut pandang Orang Ketiga. teknik. Dalam sudut pandang Orang Pertama. sering kita jumpai prosa fiksi yang menggunakan sudut pandang campuran. Dengan demikian. latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. yang juga disebut pencerita "Akuan". tradisi. Dalam kisahannya pencerita mengacu kepada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti Orang Ketiga (ia. pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-23 Sudut pandang atau point of vieuw merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. dia). Ronggeng . Seperti dalang. pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya. atau menyebut nama tokoh. dari alam. tindakan. misalnya.

perubahan sudut pandang diaan ke akuan mengisyaratkan adanya sebuah kesan “meninggalkan” negeri dongeng. Di samping itu.5-24 Apresiasi Bahasa Indonesia Dukuh Paruk disajikan dengan menggunakan sudut pandang Akuan Sertaan. dan perasaannya sendiri kepada pembaca. sudut pandang Orang Pertama cocok untuk cerita dengan kecenderungan psikologis. Tetapi karena ia harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu sudut. Cerita tersaji melalui mulut tokoh Aku. Ditinjau dari penangkapan dan pemahaman cerita oleh pembaca. Sudut pandang Orang Pertama cepat membina keakraban antara cerita dan pembaca. bahkan . dan pembaca. perubahan sudut pandang dalam novel itu juga berkaitan dengan perubahan karakter tokoh Rasus. Di samping itu. yakni Rasus. ceritanya menjadi sangat padu. penggunaan sudut pandang Orang Ketiga dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak dalam waktu yang bersamaan. pencerita tidak dapat memperkenalkan apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat lain. dia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi. tetapi tentang tokoh lain ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. Berdasarkan kekurangan dan kelebihannya itu. Apabila digunakan sudut pandang diaan terbatas. pikiran. Apabila digunakan sudut pandang diaan serba-tahu. Perubahan sudut pandang dalam sebuah prosa fiksi biasanya memiliki nilai-nilai tertentu. dan kemudian pembaca semakin dekat dengan peristiwa yang disajikan dalam cerita. Ia tidak dapat menduga dalam-dalam pikiran dan sikap tokoh lain. tetapi ada keterbatasan karena sudut pandangnya bersifat sepihak. setiap sudut pandang ada kelebihan dan kekurangannya. relevansinya dengan sifat cerita. Di lain pihak. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk. dari pola pemikiran tradisional menuju ke pemikiran yang modern. “Aku” secara langsung dan dengan bebas dapat emnyatakan sikap. ceritanya menjadi lebih bersifat objektif.

Gaya dan Nada Gaya merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. Dalam artian ini. dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya. Ia dapat berkomentar dan memberikan penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya. Berdasarkan pengertian gaya sebagaimana tersebut di atas. kelompok kata.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-25 dapat menembusi pikiran dan perasaan tokoh. Akan tetapi kelemahannya. gramatikal. yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. Unsur leksikal menyangkut diksi. penggunaan sudut pandang diaan serba tahu bertentangan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. gaya pengarang adalah suarasuara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya. dapat dikatakan bahwa menganalisis gaya sebuah cerita rekaan berarti menganalisis wujud verbal karya sastra itu sendiri. . Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lain. dan ungkapan yang menentukan keberhasilan. bahasa kias. e. dan sarana retorika. kalimat. dan penyiasatan struktur. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya. unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi unsur leksikal. gaya dapat didefinisikan sebagai cara pemakaian bahasa yang khas oleh seorang pengarang. Seorang pengarang selalu menyajikan halhal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Secara ringkas. keindahan. Oleh karena itu. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan. sering dikatakan bahwa gaya adalah oranngnya. semua pengarang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri. Secara sederhana.

serta menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. menegangkan. tema tidak perlu selalu berwujud ajaran moral. religius. Meskipun demikian. sementara kita sebagai pembaca baru memahami tema setelah kita selesai memahami unsur-unsur pembangun yang menjadi media pemaparan tersebut. atau pikiran utama yang mendasari sebuah cerita rekaan. Oleh karena itu. Salah satu fungsi gaya yang penting adalah sumbangannya untuk mencapai tone atau nada dalam prosa fiksi. menjijikkan. untuk memahami tema kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembangunnya. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. Tema dan Amanat Tema merupakan gagasan. tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita. f. Ia terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. . Nada yang sering disamakan dengan istilah suasana adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. Suasana cerita dapat berkisar pada suasana yang bersemangat. ide. wajar. Tema bisa saja hanya berwujud hasil pengamatan pengarang terhadap kehidupan. tragis. Pengarang bisa hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan tanpa memberikan jalan keluarnya. mengharukan. atau bahkan hanya hasil pengamatannya saja. dan sebagainya. Jadi. menyimpulkan makna yang dikandungnya. romantis. kesimpulannya.5-26 Apresiasi Bahasa Indonesia Yang dimaksud sarana retorika adalah penggunaan berbagai bentuk kebahasaan untuk memperjelas dan memperindah pengungkapan sehingga dihasilkan wacana yang efektif dan khas. mencekam. melankolis.

Meskipun demikian.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-27 Brooks (1975) mengungkapkan bahwa dalam mengapresiasi tema suatu cerita. 4. 6. memahami alur ceritanya. melainkan tersebar di balik keseluruhan unsur cerita. 2. menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok yang satuan peristiwa. memahami latar prosa fiksi yang dibaca. pokok pikiran. Dalam upaya pemahaman tema cerita. perlu diperhatikan beberapa langkah berikut secara cermat: 1. 3. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lain yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam cerita. 8. 7. serta tahapan ditampilkannya. apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas karena tema sebenarnya merupakan pandalaman dan kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta merumuskannya dalam satu atau dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya. b) Amanat/ Nilai/Pesan Moral Unsur lain yang dapat diperoleh sewaktu berusaha memahami tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. Tema dalam hal ini inklusif di dalam cerita. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut . 5. memahami peristiwanya. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam cerita yang dibaca. keberadaan tema tidak dirumuskan dalam satu atau dua kalimat secara eksplisit. mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.

Hal ini membuat Ramelan menjadi pendiam dan selingkuh dengan gadis lain yang bernama Laksmi yang tidak lain adalah langganan menjahit Rani. dan Preti. dan dengan Tuhan.5-28 Apresiasi Bahasa Indonesia akan dapat dinemukan nilai-nilai yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaaan serta hidup kehidupan. hidup mereka berkecukupan. Untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Perubahan ini membuat Rani menjadi cerewet dan selalu ingin mengatur. dan keempat anak mereka Raja. Prosa fiksi itu harus dibaca dengan sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Nora. Kehidupan Rani membaik walaupun tanpa suami. Yang dimaksud nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi dapat secara tersurat maupun secara tersirat. 4. Contoh Apresiasi Novel Pelabuhan Hati Karya Titis Basino dengan Pendekatan Analitik Pelabuhan Hati mengisahkan sebuah keluarga yaitu Ramelan beserta istrinya Rani. Ketika Rani mengetahui. Rima. Pada awal pernikahan. misalnya. Meskipun demikian. Jenis dan wujud pesan moral/ nilai dapat mencakupi seluruh persoalan hidup dan kehidupan yang meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Semua kata dan kalimat harus benar-benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi pekerti. Setelah Ramelan mendapat pekerjaan dan proyek. hidup mereka serba kekurangan. dengan masyarakat dan lingkungannya. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerkan itulah yang sering disebut amanat. Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja. . ia marah dan minta cerai karena tidak mau dimadu. hidup mereka bahagia. Untuk menopang hidupnya Rani kemudian membuka tempat kos dan menerima jahitan.

Bubarkan semua yang ada di sini. Ramelan masih peduli terhadap istrinya. tetapi Rani menolak. kemudian bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga dalam sepuluh tahun.” (PH) Ramelan adalah seorang laki-laki atau suami yang baik. itulah cela yang tidak disukai laki-laki. Ramelan kesepian dan ingin kembali pada Rani. tegas. Dia sangat menyayangi keluarga. Yang dimaksud Laksmi. Rani sebagai tokoh utama memiliki sikap yang keras. istri dan anak-anaknya. Cerewet. Sebagai wanita sekaligus istri ia juga menyadari kelemahannya yaitu cerewet dan suka mengatur sehingga suaminya berpaling pada gadis lain. Memang membosankan berdekatan dengan perempuan nyiyir dan sok tahu urusan laki-laki. dimulai dari kehidupan awal Ramelan dan Rani sampai punya empat anak. Ramelan jatuh sakit dan akhirnya meninggal di pangkuan Rani.” “Dia tidak peduli soal-soal kecil. pendiam. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. tidak pernah mencela atau menegur. dan aku bertambah cerewet. dan mandiri.” Walaupun sudah bercerai. “Aku ingin kembali ke rumah ini. Dia kini tambah pendiam. Ia telah berusaha bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak bergantung pada laki-laki. “Suratnya selalu mengatakan ingin menemuiku. Dan aku tidak menyadari selama ini.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-29 Perkawinan Ramelan dan Laksmi tidak membuahkan anak.” (PH) Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Ia percaya bahwa wanita bukan makhluk yang lemah. Aku perlu berkumpul dengan anakanak. Dia tidak cerewet.” “Ini uang. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut. Peristiwa berlanjut dengan pernikahan Ramelan dan Laksmi yang tidak . “Ramelan selalu mengiyakan tuntutanku.

Diam dan mengawasi mereka berdua. yaitu di rumah Rani. LATIHAN/SOAL . sedangkan prosa fiksi baru meliputi novel dan cerpen. RANGKUMAN Prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. di rumah sakit Yayasan Kristen Jakarta. tokoh. jadilah wanita yang tegar. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. serta gaya (bahasa). sarana cerita yang meliputi judul.” “Aku membaca surat Yasin. Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa wanita sebenarnya bukan makhluk yang lemah. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. F. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguhsungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. Novel ini berlatar di kota Jakarta. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. kuat. dan latar. khayalan. Rumah Sakit Petambunan. Unsur pembangun prosa fiksi yaitu fakta cerita yang meliputi alur.” “Aku inginkan ada kolam ikan. Ramelan merasa kesepian.5-30 Apresiasi Bahasa Indonesia bahagia karena tidak punya anak. sudut pandang. dan tema cerita. mandiri.” “Aku terpana. Menurut sejarah perkembangannya. rumah Laksmi di Mampang. “Aku sibuk mengatur rumah baruku. kemudian jatuh sakit dan meninggal.” (PH) Adapun tema novel Pelabuhan Hati ini adalah ketegaran seorang wanita dalam menghadapi cobaan hidup. dan tidak selalu bergantung pada laki-laki. Karena itu. G.

Dengan demikian. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan. Bahkan bisa lebih banyak. Cukup panggil calak. Perhitungannya ternyata meleset. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek. ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. untuk waktu sehari semalam penuh. Cukup kerabat-kerabat terdekat. tukang khitan. Kemudian tak uasah nanggap wayang atau ketoprak. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah. pada acara khitanan anaknya ini. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. dengan bayaran dua ribu rupiah. . yang belum sembuh karena dikhitan kemarin. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini. Daroji. malah rugi. ludruk. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. atau apa saja asal ada kasetnya. Anaknya. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-31 Bacalah cerpen berikut dengan saksama kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Tapi mana bisa. kini sudah mulai menagih. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Ia tidak pakai acara macem-macem. tetapi terutama orangorang yang dulu pernah mengundanfgnya berhajat. lagu-lagu ngangdut atau kasidahan. Cobalah pikir.

” kaata istrinya lagi. pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu. Yang dulu ia kasih beras sekilo. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” kata istri Kang Dasrip. uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya. sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo.” “Usaha apa!” “Soal sewan tebu itu misalnya. Tak usah bingung. Apa tak kurang ajar. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewannya. dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tak berani membantah. “Sudahlah.-. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Ngomongnya saja Tebu Rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita.5-32 Apresiasi Bahasa Indonesia Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar.” Tertawa Kang Dsrip mengeras. “Kau kira berapa sewan utnuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Kang Dasrip misuh-misuh. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek.sekarang Cuma ngasih Rp100. padahal ikut makan dan minum.” Kang Dasrip tertawa kecut. ya! Dia itu takut sama atasannya. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. “Kau kira lurah kita itu pahlawan. Yang dulu ia buwuhi Rp200. dia masih merasa kurang kaya …!” . tapi dia belum pernah merasa puas. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa. Kang. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar.

ributlah orang desa. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. Ketika surat itu selesai diantarnya. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. Bahkan lebih dari itu. “Memalukan desa kita!” Kecam mereka. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Daroji menangis. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya. “Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip. “Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Mei 1992) . Nak …!” ujarnya. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. (Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya. Istrinya ketakutan. kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. kecuali nama yang memalukan. Tapi tentu saja ini sia-sia. ada yang memaki-maki. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp200. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. Ada yang tertawa. Kang Dasrip naik pitam. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali.-“ tulisnya. “Radionya dicopet di pasar.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-33 “Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu.kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100.. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya.

jelaskan disertai data yang mendukung! f. di samping sebagai penanda waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita itu? Jika ada. Sudut pandang apakah yang digunakan dalam cerpen tersebut? g. bagaimana gaya penceritaannya? Kemukakan dengan bukti yang mendukung pendapat Anda! i. Sebutkan peristiwa-peristiwa pokok dalam cerpen Kang Dasrip“ tersebut! b. Menurut Anda. Jelaskan hubungan antarperistiwa pokok dalam cerita itu! c. Adakah fungsi latar yang lain. Uraikan watak tokoh Kang Dasrip dan anaknya disertai data yang mendukung! e. Apakah tema dan amanat cerita tersebut? Uraikan disertai data yang mendukung! . Terangkan konflik yang dialami tokoh dan cara mengatasi konflik itu1 d.5-34 Apresiasi Bahasa Indonesia PERTANYAAN a. Bagaimana peran pencerita (narator) dalam penggambaran watak tokoh? Jelaskan! h.

.

Menjelaskan hakikat dan unsur puisi 2. Hakikat Puisi Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. URAIAN MATERI 1. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi. jenis. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. serta mampu mengapresiasi prosa. pengarang tidak menjelaskan secara rinci apa . Mengapresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. MENGAPRESIASI PUISI A. INDIKATOR 1. B. atau pemusatan dan pemadatan. dan unsur puisi serta praktik mengepresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. puisi bersifat konsentris dan intensif. E. Artinya. Berbeda dengan prosa. puisi. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar puisi yang meliputi hakikat dan unsur pembangun puisi serta mampu mengapresiasi puisi dalam berbagai kegiatan berbahasa.BAB III. DESKRIPSI Penyajian konsep puisi yang meliputi hakikat. C. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. puisi. dan drama.

untuk memahami makna. pesan. dan keindahan puisi. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. kata konkret. bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. dan keindahan puisi. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. tetapi juga pengaruh “rasa” yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. nada dan suasana. versifikasi (rima dan irama). Struktur fisik meliputi diksi. Penafsiran atau interpretasi terhadap puisi adalah pemberian makna terhadap teks puisi. Akibat adanya intensifikasi tersebut. serta amanat (Waluyo 1991). seorang pembaca harus memahami unsur-unsur pembangun puisi. pembaca harus menafsirkan puisi tersebut. pesan. pengimajian. Hal itu dilakukan bukan sebatas pada masalah yang disampaikan melainkan juga pada cara penyampaiannya. majas. melainkan hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian pokok atau penting. penyair memilih kata dengan mempertimbangkan makna dan daya sugestinya. Oleh karena puisi merupakan dunia simbol. perasaan. serta tipografi.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-35 yang ingin diungkapkannya. Berdasarkan hal tersebut. yaitu memahami makna. a. Unsur-unsur Pembangun Puisi Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. komposisi bunyi . dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mempertimbangkan aspek maknanya. Diksi Diksi atau pilihan kata digunakan untuk (1)mendapatkan kepuitisan dan nilai estetis. Agar dapat menafsirkan puisi dengan baik.dan (2) mengekspresikan pengalaman puisi secara padat dan intens. 3. Pemberian makna itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna. Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan.

yakni pengalaman yang dapat ditangkap melalui pancaindera. dan imaji pencecapan (rasa pahit di mulut). Majas Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. Artinya. pembaca akan terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. Dengan demikian. untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan. imaji perabaan (cubit biar sakit). Kata-katanya juga dipilih yang puitis sehingga memperoleh efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.5-36 Apresiasi Bahasa Indonesia dalam rima dan irama. kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya. Misalnya. Pengimajian ditandai oleh penggunaan kata-kata yang konkret dan khas. artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Dengan penggunaan kata-kata konkret. kata-kata harus diperkonkret. penyair menulis: hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan riang. Imaji yang ditimbulkan oleh penggunaan kata-kata itu dapat berupa imaji penglihatan (serupa dara dibalik tirai). yakni secara tidak langsung . imaji penciuman (udara berbau tembaga). d. Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji atau daya bayang pembaca. b. kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. dan kedudukan kata itu dalam konteks secara keseluruhan. Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. mendengar. c. Pengimajian/ Pencitraan Pengimajinasian atau pencitraan adalah kata atau susunan katakata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris. imaji pendengaran (haram gemerincing genta rebana). pembaca seolah-olah melihat.

dan personifikasi. ditulis . aliterasi.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-37 mengungkapkan makna. Kiasan adalah pembandingan sesuatu hal dengan hal lain. e. rima awal. Rima mempunyai peranan yang sangat penting dalam puisi karena hal tersebut berkaitan dengan nada dan suasana puisi. Adapun lambang adalah penggantian sesuatu hal dengan hal lain. dan rima sempurna. Penggunaan tipografi oleh penyair mungkin dimaksudkan sekadar untuk keindahan indrawi. misalnya. misalnya asonansi. digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana puisi menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. Dengan bantuan unsur rima. Tipografi dan Enjambemen Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. rima akhir. Baris-baris puisi Sutardji “Tragedi Sihka dan Winka”. misalnya perbandingan. misalnya lambang warna. d. Majas. nada dan suasana puisi tercipta lebih nyata dan lebih dapat menimbulkan kesan pada benak pembaca. dan lambang suasana. metafora. baik kiasan maupun lambang. (2) alasan penyair memilih majas tersebut. Analisis terhadap majas dalam puisi dapat dilakukan dengan menanyakan (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi. Termasuk ke dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata dalam puisi. Termasuk jenis rima. lambang bunyi. tetapi mungkin juga sengaja dimanfaatkan untuk mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan. dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas tersebut. lambang benda. Wujudnya berupa kiasan dan lambang. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi.

atau bersikap lugas. sedih. Adapun enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi dan hubungan antarbaris dalam puisi tersebut. tema sosial yang melukiskan kondisi masyarakat yang lebih merupakan protes sosial. Wujudnya berupa pemisahan bagian kalimat (kata/kelompok kata) dan pemindahan bagian kalimat itu ke larik berikutnya. dan tema percintaan yang melukiskan cinta dan kasih sayang. seperti haru. mengejek. Atau dengan kata lain. menasihati. gembira. hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. g.5-38 Apresiasi Bahasa Indonesia berbentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan. suasana adalah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. dan dengan Tuhan. Dealam pemaknaan puisi. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut. Nada dan Suasana Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca. iba. . sesuai dengan makna puisi. Enjambemen dimaksudkan untuk memberikan penekanan atau penonjolan. atau pemberontakan. dengan manusia lain. tema kebangsaan yang melukiskan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. enjembemen ini perlu memperoleh perhatian karena akan sangat menentukan makna puisi. dengan alam. Tema puisi sangat luas menyangkut hubungan antara manusia dengan diri sendiri. Tema Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair di dalam puisinya. f. dengan binatang. Sebagai contoh ada tema ketuhanan yang menunjukkan pengalaman religi penyair. menyindir. apakah dia bersikap menggurui. Enjambemen dapat pula dimanfaatkan untuk mengaburkan makna sehingga menyebabkan puisi menjadi multitafsir.

Demikian seterusnya. dan (g) memahami totalitas makna dan amanat puisi (Depdiknas 2004). anak-anakku Selain buku-buku dan sedikit ilmu Sumber pengabdian kepadamu. Amanat (Pesan) Amanat adalah maksud. (f) memahami tipografi dan enjambemen. imbauan. Amanat dapat diketahui dengan mengacu pada tema cerita. (e) memahami bait dan baris. yaitu (a) memahami judul. Amanat bersifat subjektif. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati bagi pembacanya. (b) memahami latar. 4. Langkah Menafsirkan Puisi Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam menafsirkan makna puisi. (d) memahami majas. atau pesan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. (c) memahami kata ganti.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-39 Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Contoh Apresiasi terhadap Puisi “Dari Seorang Guru kepada MuridMuridnya” Karya Hartoyo Andangjaya dengan Pendekatan Analitik Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya. Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku Aku takut. Nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. 5. anak-anakku Kursi-kursi tua yang di sana . yakni berdasarkan interpretasi pembaca. h.

karena rumah dan perabotannya jelek dan kuno. tentang ini tak pernah aku bercerita Depan kelas. Bunyi u. anak-anakku Engkau terlalu muda Engkau terlalu bersih dari dosa Untuk mengenal ini semua Puisi ini menceritakan kehidupan guru sekitar tahun 60-an yang serba kekurangan.5-40 Apresiasi Bahasa Indonesia Dan meja tulis sederhana Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya Semua padamu akan bercerita Tentang hidupku di rumah tangga Ah. seperti pada bait pertama dan kedua. bahkan ia juga tidak pernah mengeluh. sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagikuKarena kutahu. Dalam puisi ini terdapat imaji penglihatan : kursi-kursi tua. sedang menatap . mendominasi bait pertama dan kedua. a. Dia malu seandainya ada murid yang berkunjung ke rumahnya. Justru ia selalu berdoa agar murid-muridnya sukses dan tidak mengalami nasib jelek seperti dirinya. Puisi ini termasuk puisi transparan karena bahan yang digunakan mudah dipahami. Unsur bunyi berperan penting dalam puisi ini untuk memperdalam ucapan dan menimbulkan rasa. Tetapi semua kesederhanaan dan kekurangannya itu tidak pernah diceritakan kepada murid-muridnya. jendela yang tak pernah diganti kainnya. meja tulis sederhana. Kekayaan yang dimiliki hanyalah buku-buka dan sedikit ilmu sebagai sumber pengabdian kepada murid-muridnya. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari dan tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. suasana khusus.

Jelaskan ciri-ciri puisi! 2. simbol.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-41 wajah-wajahmu remaja. Struktur fisik meliputi diksi. Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. F. Jelaskan unsur-unsur puisi! 3. G. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. LATIHAN/SOAL 1. Amanat yang disampaikan pengarang adalah walaupun hidup serba kekurangan. dan lambang. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. seorang guru janganlah pernah mengeluh dan tetaplah mengabdikan diri untuk anak didik. Apresiasilah puisi berikut dengan menggunakan pendekatan analitik! Ibu . Zawawi Imron berikut? Jelaskan alasannya! 4. majas. Bahasa kias terdapat pada: horison yang selalu biru bagiku. nada dan suasana. Tema puisi ini adalah keprihatinan terhadap nasib guru. Puisi transparan tidak banyak menggunakan simbol-simbol dan kata kias sehingga mudah dipahami. Adapun nada puisi tidak bersifat menggurui. dan tipografi. versifikasi. pengimajian. serta amanat. RANGKUMAN Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. Puisi prismatis adalah puisi yang sarat dengan kata kias. Puisi dibedakan menjadi puisi transparan/diaphan dan puisi prismatis. sedangkan suasana puisi mengharukan. Pendekatan apa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi puisi “Ibu” karya D.

menebar pukat dan melempar sauh Lokan-lokan. mencuci lumut pada diri Tempatku berlayar. daunan pun gugur bersama ranting Hanya mataair airmatamu ibu. yang tetap lancar mengalir Bila aku merantau Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar Ibu adalah gua pertapaanku Dan ibulah yang meletakkanku di sini Saat bunga kembang menyemerbak bau sayazng Ibu menunjuk ke langit. kemudian ke bumi Aku mengangguk meskipun kurang mengerti Bila kasihmu ibarat samudra Sempit lautan teduh Tempatku mandi.5-42 Apresiasi Bahasa Indonesia D. mutiara dan kembang laut semua bagiku Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan Namamu ibu. Zawawi Imron Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau Sumur-sumur kering. yang kan kusebut paling dahulu Lantaran aku tahu Engkau ibu dan aku anakmu Bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal .

bidadari yang berselendang bianglala Sesekali datang padaku Menyuruhku menulis langit biru Dengan sajakku .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-43 Ibulah itu.

C. INDIKATOR 1.BAB IV. drama memunyai karakter khusus. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa B. latar. amanat. URAIAN MATERI 1. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. E. DESKRIPSI Penyajian konsep drama yang meliputi hakikat dan unsur drama serta praktik mengepresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. tema. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar drama yang meliputi hakikat drama unsur pembangun drama dan mampu mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. MENGAPRESIASI DRAMA A. Sebagai sebuah genre sastra. alur. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. Mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. . Menjelaskan hakikat dan unsur-unsur drama 2. Hakikat Drama Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. Sebagai sebuah karya.

Dilihat dari sisi pengarang. dan ide-ide utama. Dialog juga berfungsi memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. Konflik merupakan penggerak cerita. misalnya. latar. Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. yakni naskah. Konflik internal adalah konflik antara seseorang dengan dirinya sendiri. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa di dalam drama. fakta. 2. Unsur-Unsur Drama Unsur drama dalam dimensi sastra meliputi tokoh dan penokohan. atau konflik antara tokoh dengan lingkungannya. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-45 serta dialog. . Sifat dan kedudukan tokoh di dalam drama bermacam-macam. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal dan dapat pula bersifat eksternal. Ada yang berkedudukan sebagai protagonis. Di sisi lain. dialog dapat menciptakan serta melukiskan suasana. Ada yang bersifat penting (mayor) dan ada yang tidak penting (minor). konflik antartokoh. dialog merupakan wadah untuk menyampaikan informasi informasi. a. protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat di dalam kesukarankesukaran. Karena perannya itu. dan penonton. tema (premise). Dialog merupakan sarana primer drama. amanat. Hakikat drama adalah tikaian atau konflik. serta dialog (Waluyo 2003. sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara tokoh dengan sesuatu yang lain. Sebagai sebuah pertunjukan. Asmara 1983). Biasanya kepadanya pembaca berempati. pementasan. alur.

pikiran. dan sosiologis. Konflik itu saling berbentrokan sehingga terjadilah suatu rentetan peristiwa yang kemudian membentuk drama. masalah yang timbul. misalnya tokohnya. atau latarnya. antara kemauan yang berlawanan. Tokoh lain adalah tokoh tritagonis yang menjadi peran penengah antara protagonis dan antagonis. Dengan dimulainya suatu konflik berarti pula mulainya suatu lakon drama yang sebenarnya. dan dirasakan tentang dirinya atau diri orang lain. atau nasib. klimaks/krisis. penanjakan laku (rising action). b. yaitu: insiden permulaan. seperti melawan takdir. penampilan fisik. Ciri-ciri tersebut dapat diketahui melalui tindakan atau lakuan. Alur Lakon drama selalu mengandung konflik atau pertentanganpertentangan di dalam suatu kehidupan. berakhir pulalah lakon drama.5-46 Apresiasi Bahasa Indonesia Lawan protagonis adalah antagonis yang berperan sebagai penghalang bagi protagonis. penurunan laku (falling action). antara manusia dengan keadaan yang mengelilinginya. sebelum insiden awal. di dalam Dengan . terdapat bagian pemaparan (eksposisi) yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami cerita selanjutnya. psikologis. Pada kenyataannya. Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita. ujaran (dialog). penyelesaian konflik itu. pada dasarnya alur drama tersusun menurut garis lakon (dramatic line). Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan protagonis atau antagonis. Menurut Hudson (dalam Asmara 1983). Mungkin itu pertentangan antara pribadi-pribadi yang berlawanan. perasaan. Oleh karena itu. Di dalam drama tokoh-tokoh cerita digambarkan memiliki ciri-ciri fisik. dan keputusan (catastrope). yang disebut peran pembantu. Pertentangan antara perasaan-perasaan di luar manusia. dan apa yang dipikirkan.

dan konklusi. resolusi. terdapat banyak peristiwa yang masing-=masing mengemban permasalahan. latar yang abstrak akan berhubungan dengan peristiwa dan tokoh yang abstrak. c. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan. dan latar. tingkah laku tokoh. dan dialog para tokohnya. tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut. atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. d. Pencarian amanat identik dengan cara pencarian tema. Adapun amanat adalah opini. penokohan. Oleh sebab itu amanat juga merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa. Latar harus menunjang alur dan penokohan. Latar Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu. Tema (Premise) dan Amanat Tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa. yang terkait dengan latar. kecenderungan. Petunjuk mengenai latar itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang. dan suasana terjadinya peristiwa di dalam drama. tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. dan latar drama. perilaku tokoh. tempat. Latar konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-47 srtuktur dramatik Aristoteles disebutkan bahwa struktur alur drama itu meliputi eksposisi. Amanat di dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. Oleh sebab itu. Secara langsung latar berhubungan dengan tokoh dan alur. gambaran tokoh. . komplikasi. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang. klimaks. Dalam sebuah drama. Permasalahan itu dapat muncul melalui perilaku para tokoh. Sebaliknya.

Sakri anak sulungnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang serba kekurangan itu. Dia menanyakan keberadaan . Artinya. adiknya. Ia mau membantu ayahnya di rumah. dialog harus mencerminkan apa yang telah terjadi dan juga mencerminkan pikiran serta perasaan para tokoh. dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak. jika seorang tokoh berada pada situasi. mau menerima kenyataan. Penggunaan bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh. Kedua. dan (3) menggambarkan alur cerita. Latar terjadi di rumahnya yang sangat sederhana pada pagi hari sekitar pukul 10 ketika ayah pulang dari sawah. dan peran yang berbeda. Artinya. Tidak boleh ada kata-kata yang tidak perlu. Contoh Apresiasi Teks Drama berjudul “Ayah Dua Laki-Laki” dengan Pendekatan Analitik Drama ini menceritakan sebuah keluarga petani yang miskin dan sederhana. Peristiwa dimulai ketika ayah tiba di rumah sepulang dari sawah. dialog harus lebih teratur daripada percakapan sehari-hari. Seperti remaja lainnya. harus jelas. dan menuju sasaran (to the point). suasana. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa fungsi dialog dalam drama antara lain adalah: (a) mempertinggi nilai gerak. terang. Alur yang digunakan adalah alur lurus.5-48 Apresiasi Bahasa Indonesia e. penggunaan bahasa terlihat pada dialog merupakan situasi bahasa utama. emosi. Di samping bersekolah. ia pergi bekerja sebagai tukang parkir pada malam hari. Ayah memiliki dua orang anak laki-laki yang perangainya sangat berbeda. Dia malu memakai sepeda. (b) menggambarkan karakter tokoh. dialog harus baik dan bernilai tinggi. penggunaan bahasanya juga berbeda. Oleh sebab itu. Pertama. Dialog dalam drama harus memenuhi dua hal. dia mau sekolah kalau dibelikan sepeda motor. 3. Bahasa/Dialog Di dalam sebuah drama. Sebaliknya Bandar. dan latar cerita.

” Bandar adalah anak yang berbakti pada orang tua. Apa kalau tidak pakai motor tidak bisa pintar? Lalu tidak lulus? ‘Jadi bapak tidak mau membelikan motor? (Si ayah pergi meninggalkan Sakri) Ayah adalah sosok yang yang baik. Kerja pada malam hari banyak resikonya. tetapi aku perlu motor. sebagaimana terlihat pada kutipan berikut. baik. Aku tidak bisa. Konfilk pun muncul. selalu berusaha keras dan pekerja keras.” “Bapak mau makan? Aku masak kacang panjang sambel pete. Perhatikan kutipan berikut! “Ooo ngambek to. karena sepulang sekolah saya langsung kerja. seperti terlihat pada kutipan berikut.” Sakri adalah anak yang malas. Perhatikan kutipan berikut. “Pak. dan adil. pulang agak malam. Bandar berangkat sekolah. lesu rasanya. Klimaks terjadi pada waktu ayah berhadapan dengan Sakri. Yang berakhir dengan kepergian Ayah Sakri. sayang. “Pak. selalu memperhatikan anak-anaknya. hati-hati. Ternyata Sakri sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena menuntut dibelikan motor.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-49 Sakri kepada Bandar yang waktu itu sedang menyiapkan masakan sebelum berangkat ke sekolah siang hari.” “Aku mau sekolah.” . ingin hidup senang dan suka menuntut. berpikiran sederhana. dan tempe goreng. “Kamu sudah makan? Apa kakakmu sudah pulang sekolah? “Ya.

G. Jelaskan unsur-unsur drama dalam dimensi sastra! 3. Anak laki-laki hendaknya bertanggung jawab dalam hidupnya. alur. dan penonton. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. serta dialog. drama mempunyai karakter khusus. cita-cita tak akan tercapai. amanat. Jelaskan pengertian drama sebagai karya dalam dua dimensi! 2. Sebagai sebuah pertunjukan. yakni naskah. latar. F. apresiasilah dengan menggunakan pendekatan analitik! Kemudian ORANG TERASING Aji Sudarmadjie Mukhsin Para Pelaku: 1. Bacalah naskah drama “Orang Terasing “berikut. Adapun amanat yang ingin disampaikan adalah berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. tema. pementasan. Sebagai sebuah genre sastra. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. LATIHAN/SOAL 1. Sebagai sebuah karya. Isteri 2. Seorang anak hendaknya berbakti kepada orang tua. RANGKUMAN Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan.5-50 Apresiasi Bahasa Indonesia Tema drama ini adalah tanpa kerja keras. Suami .

Isteri : (Mengharap) “Banyakkah hasil yang kauterima hari ini?” Suami : “Bah. 9. 8. benar. aku orang kecil. Tetapi hanya untuknya. maksudku selain dari roti itu. suamiku. 1. 6. Suami : “Oh. Isteri : “Oh. Jangan mengemis. Bisakah kau membikinkan api?” 13. dan kau bagaimana?” 3. pastilah mereka akan tahu … bahwa aku lapar. Ini bisa menolong malam nanti kalau kedinginan. Kamu orang baik-baik.” Suami : “Terima kasih. (Membuka suratkabar itu) Surat kabar Anu atau entah apa . Apa yang diberikannya? 5.” 12. karena udara terlalu lembab. masih ada simpanan untuk besok pagi?” Isteri : “Masih.” 16. Suami : “Bagus.” 11.” Isteri : “Ada. Jangan membawa anak itu keluar. Isteri : “Sepotong roti.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-51 Panggung menggambarkan sebuah kamar yang reot.” Suami : “Tak ada yang lain? Ah. 2. Di dalamnya terdapat sebuah dipan dan dua buah kursi yang sudah rusak pula. Suasana kemiskinanlah yang tampil di situ. Dan kalau saja mereka mamu memegangi kemudian merasakan detak darahku. Suami : “(Tak memperhatikan) Ada kertas?” 15. 7. Istirahatlah. mereka selalu memberikan nasihat. Suami : “Ya. 4. supaya jangan membawa anak itu keluar. tapi aku tak berani.” 10.” Suami : “Kalau begitu. Moga-moga Tuhan memberkahinya. Sepotong nasihat. Padahal aku juga ingin menjelaskan kepada mereka. seperempat rupiah pun tak dapat. Isteri : “(Mengambil lembaran surat kabar yang usang) Ini. Isteri : “Ada seorang wanita muda memberi makan kepada kita. Isteri : ”Buat apa?” 14. kosong sama sekali. kau terlalu lemah.

seharusnya aku mati saja. memberiku segenggam tembakau sambil berkata. Isteri : “Bukan. Ketika rintik-rintik hujan datang. dan orang-orang kaya itu. sambil berkata lapar. Isteri : “Jangan dihabiskan. menghindari mobil.” 20. membersihkan sepatunya. Semua yang terjadi atas kita ini adalah nasib.” 21.5-52 Apresiasi Bahasa Indonesia itu namanya. Apakah masih ada tembakau di dalam pipaku? Aku jadi ingat seorang polisi yang mengusirku dari trotoar jalan. kala itu orang-orang sedang keluar dari gedung pertunjukan. Suami : “(Tak memperhatikan) “Berjam-jam aku berdiri di lapangan. mengeluarkan sepeda motornya. aku terpaksa menghindari mereka. tetapi siasia. Oh. Suami : “Jangan kuatir. aku mengharap untuk disuruh apa saja. Bagaimana denga Nyonya Sumarti?” . misalnya memanggil becak. “ (Menyalakan korek api) 17. Isteri : “Kasihan. Betama menderitanya dirimu. Ah. berpuluh orang macam kita hanya bisa memperhatikan saja.” 19. Dengan harapan untuk mendapat uang. ya.” 18. Suami : “(Menggeleng) Tidak. Mereka yang keluar dengan perasaan bahagia.” 24. memberitahukan bahwa kita adalah bangsa yang berbahagia. Dan kesalahankulah waktu firma tempatku bekerja tempo hari itu bangkrut? Karena aku yang terlalu jujur?” 23. Penyakitku itulah yang menyebabkan malapetaka ini. Suami : “Dan aku akan kautinggalkan? Kau tidak akan berbuat semacam … Oh. “Jangan mengemis!” Itu yang kuperoleh hari ini. atau disuruh membersihkan mobil-mobil mereka. Satu ini pun pasti sudah bisa. sehingga habis seluruhnya harta kekayaan simpanan kita. ya. Isteri : “Tapi apakah kau mempunyai kesalahan padanya” 22.

Isteri : “Meskipun Cuma seratus rupiah seharinya. Isteri : “Ya. Dan dia malah berbaik kepada kita. Suami : “Haruskah begitu? Ah. dikejar lapar. seorang bertahun-tahun sekolah. Isteri :”Aku menemukannya. Nanti kita pasti akan segera bisa mendapat uang setiap harinya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-53 25. kenapa harus kita tolak?” 35. Suami : “Ya. Suami : “Ya … 33. Suami : Seratusrupiah seharinya sudah cukup besar buat kita.” (Memperlihatkan dompet) 40. “ 42. Mungkin baru kali ini terjadi padaku.” 26.” 30. bekerja beberapa tahun pula setelah bertemu dengan kemiskinan. biar dipakainya tempat ini.” 28. kukira tinggal mengerjakan begitu saja. Isteri : “Sebenarnya tidak seratus persis. Isteri : “Sebenarnya dia pun sangat miskin. Suami : “Menemukan di jalan?” . Suami : “Dompet?” 41. tetapi dia bilang. kenapa?” 37. Sekarang secara kebetulan sekali ada pekerjaan yang datang. nyetanya tidak ada yang datang. Suami : “Berapa banyak?” 27.” 44. Suami : “Ya. Isteri : “Bukankah kita juga sudah berusaha?” 34. kita diajak belajar membuat bungkus korak api. Isteri : “Ini. karena kita harus mencari bahan sendiri. seperti kita.” 31. Tapi baiklah. Isteri : “Suamiku …” 32. Isteri : “(Berdiri terduduk) 38. Isteri : “Suamiku …” 36.” 29. dan belum pernah satu pekerjaan pun yang kita tolak. Suami : “Kenapa?” 39. dan aku pun yakin bahwa aku pun bisa membuatnya. Suami : “Kau …” 43.

” 52. dia tak memperhatikan.” 58. . Dan aku sendiri pun tak bisa lari cepat karena menggendong anak itu. Suami : “Kau sendiri belum membukanya?” 57. Gelangnya emas. Suami : “Jalannya bagaimana?” 47. Isteri : “Kita harus berbuat sesuatu. Isteri : “Belum. Waktu mengambil uang di dalam dompet.” 46. jika ada kesempatan. Suami : “Berapa banyak uang di dalamnya?” 55. Suami : “Tak seorang pun mengikutimu?” 51. Isteri : “Aku belum membukanya. aku pun pergi dan kemudian sadar aku telah berada di jalanan sambil membawa dompet itu. Isteri : “Waktu hujan turun. aku tak berani. Suami : “Dompet itu kaubawa kabur?” 49. kejujuran tidak menolong kita.” 56. Kemudian datanglah seorang wanita tua membeli surat kabar.” 59. Isteri : “Tidak ada yang mendorongnya. Waktu aku menyentuhnya. Isteri : “Ya. Suami : “Aku tidak mengira kalaupada akhirnya kita berbuat begini. Setelah dia pergi. ditaruhnya dompet itu di dekat tanganku.” 54. Isteri : “Begitu kira-kira jalannya. aku bergegas ke setasiun dan berdiri di dekat kios buku sambil menunjukkan gambar-gambar kepada anak-anak kita.” 50. Suami : “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan ini semua?” 53. Bagaimana kejadian selanjutnya? Aku sendiri tidak mengerti karena tahu-tahu aku telah berada di jalanan kembali … sambil membawa dompet itu. Kupikir wanita tua itu pasti tidak akan merasa kehilangan karena ia amat kaya.” 48. Isteri : “Tidak. Wanita tua itu menaruh dompet di dekat jariku.5-54 Apresiasi Bahasa Indonesia 45.

” 69.” 62. Isteri : “Kasihan anak itu. Suami : “Ya. Suami : “Membelikan anak pencuri?” 77. bagaimana nanti apabila ada orang yang mau memberi kepada kita dengan layak barulah dompet ini kukembalikan kepada pemiliknya.” 67. Isteri : “He!” . kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan. dan tak mungkin orang lain akan menemukan kita di sini. berat. dia merasa lapar.” 64.” 72. Suami : “Benar. 68.” 70. Kelihatannya berat. dan mengapa pula tidak kau …” 75. Suami : “Kenapa kau sendiri tak membukanya? 63. Suami : “Mana api?” (Menerima dan merokok) 71. Isteri : “Nanti kita bisa membeli pakaian untuknya. Suami : “Tadi kau bilang sudah makan. Suami : “Tapi akhirnya kita terbiasa juga.” 65. Isteri : “Hati-hati.” 74. Berapa banyak isinya?” 60. Suami : “Ya.” 66.” 76. jangan berteriak keras-keras. Isteri : “Cepat buka. dan barangkali apabila pakaianmu lebih sempurna. memang mereka menertawakan aku selama ini. Kau tak akan batuk sepanjang malam. Isteri : “Itu jam tiga siang tadi. Suami : “Ya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-55 cincinnya pun emas. Isteri : “Kita tidak akan kelaparan seperti sekarang.” 73. tapi yang menjadi beban sekarang adalah anak kita. nanti anak kita itu terbangun. Isteri : “Dan sebenarnya aku pun malu berjalan di jalan besar memakai pakaian seperti ini.” 61. Isteri : “Baru saja terpikir. Dan uang di dalamnya tak mungkin akan berbicara.

kenapa kaulakukan itu?” 84.” 99.” 97.” 85. Suami : “Kurang enak didengar. Suami : “kau talah menemukannya.” 87. tapi ah persetan. aku tak mau kalau anak kita disebut sebagai anak pencuri. Suami : “Mungkin juga.5-56 Apresiasi Bahasa Indonesia 78. Suami : “Ya. dengan kejujuranmu apakah yang telah kauperoleh salama ini? Kemiskinan dan kelaparan.” 89. 82. . Suami : “Ada polisi di jalanan?” 81. Isteri : “Kau memilih dia untuk terus kelaparan?” 100. Isteri : “Dengan kepicikanmu. Suami : “Soalnya anak kita. aku katakan pula bahwa aku belum membukanya. Isteri : “Ya … ya … lekas!” 80. Suami : “Aku tidak tahu bagaimana mendengar kejadian-kejadian di atas tadi. Ayolah kita buka isinya. lapar. kumal. Isteri : “Di mana?” 90.. Isteri : “Ai . Isteri : “Kau tolol. Isteri : “Apakah itu lebih jelek daripada anak jembel seperti ini?” 98.” 96. Suami : “Aku kira bagaimanapun juga memang begitu.” 79. Isteri : “Apa katamu kepada mereka?” 88.” 93.” 91. Suami : “Adikku.” (Ketika akan membuka suami berlari keluar) 83.” 94.” 95. Kita hampir setahun menderita semacam ini. Suami : “Aku sendiri tidak tahu.” 92. kurus. Isteri : “Jangan berprasangka yang bukan-bukan. tak ada seorang pun yang peduli. Isteri : “Aku mengira akan dipakainya uang itu untuk dirinya sendiri. dan tempat kita di petak ini. Isteri : “Kau berikan dompet itu kepada polisi?” 86. Suami : “Baru kali inilah aku di dalam hidup takut kepada polisi. Suami : “Di stasiun.

Isteri : “Huss. Suami : “Bukan. Mreka memperlakukan aku seperti anjing. Isteri : “Suamiku …” 114.” 116. Suami : “Kau maafkan aku kan? Karena aku talah mengembalikan dompet itu? 111.” 117. Suami : “Kita punya uang di dalam dompet itu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-57 101. Suami : “Tapi anak kita pasti mendapat jatah makanan. yang bisa menyenangkan anakku. bukan kau yang salah. rupanya karena kelaparan itulah yang menyebabkan aku tak menguasai diri. aku yang tolol. 107.” 109.” 115.” 112.” 113. Isteri : “Benar. Suami : “Ya. tapi ah. Nanti anak kita bangun. Suami : “(Tak mempedulikan) Aku bisa membeli pakaian. Aku pengecut. tetapi aku. Suami : “Bagaimana kalau kita menggabung diri.” 108. Isteri : “Dengan para pengemis lain?” 106. Isteri : “Jangan.” 105.” 104. mengapa aku harus mempedulikannya? Kalau ini manusia. seperti yang sudhsudah. Apa artinya semua. Isteri : “Aku akan masuk ke liang kubur poengemis. Tetapi telah kukembalikan karena kejujuranku.” 103. Isteri : “Dalam penggabungan itu mereka akan memisahkan kita. Betapa tololnya aku. uang yang telah berada di tangan kita. Aku sangat mencintaimu… 110. Isteri : “Kau takut?” 102. dan siapa tahu ini hanya cobaan. bisa meninggalkan kehidupan macam begini. uang yang sangat kita butuhkan … Kau sangat kucintai. Kau katakan juga di mana kita tinggal?” . Isteri : “Mereka pasti akan memisahkan kita. Suami : “Aku tak menginginkan kau dimasukkan ke penjara. kenapa tidak? Bagaimanapun akhirnya harus kita alamu.

Isteri : “Kita sudah tidak punya kawan lagi.” 122. Suami : “Berpikir demikian? Jangan. Yah. Suami : “Semoga aku besok bertemu dengan seorang kawan yang pernah mengenalku. Andai aku jadi mengambil uang itu … 121. Suami : “Ya.5-58 Apresiasi Bahasa Indonesia 118. tetapi jika kau memanggilnya … mereka selalu menghindar. Isteri : “Kau pernah berpikir demikian juga?” 124. Isteri : “Sudah lewat sekarang. Isteri : “Apa? Kita berjalan lagi?” 126.” 125. sebaiknya kita berpikir saja.” 130. Dan aku girang atas tindakanmu. keran sudah tidak ada lagi tempat untuk kita. Tetapi besok pagi aku akans egera menyelusuri kembali jalan-jalan setelah batukku kembali datang. Suami : “Aneh. Baiknya kita metunggu saja. jangan kita bicara soal kematian. Isteri : “Mati?!” 120.” 128. agar kematian itu cepat datang … Kenapa tidak sekarang saja mati?” 119. Suami : “Benar.” .” 129. bagaimana kita besok kembali berjalan menyelusuri jalan itu lagi. Suami : “Jangan. Aku tak pernah menginginkan yang lebih bagus. memang. Suami : “Benar. Itu pikiran jelek. karena nanti apabila kita menghadap Tuhan tangan kita bersih. Dan bagaimana caranya supaya besok kita dapat rejeki ?” 127. Isteri : “Kau juga pernah bertemu dengan kawan-kawanmu. 123. kecuali sekadar makan untuk kita ternyata sia-sia. Dan di hadapan-Nya nanti akan aku katakan bahwa orangs ekitar kita tidak mengizinkan kita untuk hidup lebih lama.

144. biar bunuh aku. (Suara tangis bayi dari dalam. Suami : “Bukankah hal ini justru akan lebih baik?” 143. Isteri : “Bukankah kau pernah memasukinya?” 140. kau tanpa batuk-batuk. selama ini aku telah berusaha menjadi isteri yang baik.” 142. Mereka tidak mempercayaiku lagi. Suami : “”Hai!” (Memegangi tangan isterinya) 135. Suami : “Tidak. tetapi aku tidak berpisah dengan kau. Kita tidak boleh kalah dengan kemiskinan. Suami : “Beginilah … kemiskinan-kemiskinan. dan juga anak kita.” 139.” 134.” 133. Isteri : “Kau pernah memperhatikan bagaimana mereka mencibirkan cicir terhadap kita yang terlalu jujur? Sekarang kita akan masuk ke sana.” 141. kita akan mati bersama-sama …” 136. Isteri : “Aku sudah tidak tahan lagi. Si isteri masuk) 145. Tidak kuat. Kalau toh mereka mau membunuh. Meskipun kita telah berantakan. Suami : “Tidak!” 137.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-59 131. di mana kita bisa tidur nyenyak.” 132. Suami : “Ini usaha kita terakhir. Isteri : “Jadi engkau tidak mau?” 138. Mereka membenciku. ibu yang baik. Isteri : “Nah. di mana-mana diasingkan. Di tempat orang kaya diusir dan di tempat orang miskin pengemis yang jujur. jangan anak isteriku. Sebaiknya kita bergabung saja dengan teman-teman yang miskin. Suami : “Benar. . Isteri : “Aku sangat gembira. dan yang lebih utama lagi aku mencintaimu. hingga membuat terkejut keduanya. dan Tuhan pasti akan lebih baik daripada orang-orang disekitar kita ini. Suami : “Jangan kau ucapkan itu. sebaiknya kita mati saja. Isteri : “Aku tidak mau. senantiasa aku diusir. da kandang orang miskin yang sejawat maupun di gedung-gedung mewah milik orang kaya.

5-60 Apresiasi Bahasa Indonesia .

Hasanuddin W. Harianto. Jakarta: UT. . 1996. Apresiasi Drama. Semarang: IKIP Semarang Press. 1976. Pengkajian Fiksi. Suharianto. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP. Burhan. Nurgiyantoro. Yogyakarta: Pengkajian Puisi. Bandung: Sinar Baru Algesindo. B. 1998. Baribin. “Pengembangan Kemampuan Membaca Sastra”. 2005b. Teori Gadjahmada University Press. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1995. 1985. Semarang: Rumah Indonesia. Bandung: Angkasa. Suharianto. Panuti. Sayuti.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin.1993. 2005a. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. (Ed. Kumpulan Drama Remaja. Drama: Karya Dua Dimensi. Adhy. Jakarta: Direktorat PLP. Suharianto. A. 1981. Raminah. 1991. 1993. Apresiasi Prosa Fiksi. Rumadi. E. Pradopo. Pengantar Apresiasi Puisi. Memahami Cerita Rekaan. Dramaturgi. 2004. 1988. Yogyakarta: Rahmanto. Gadjahmada University Press. Semarang: Rumah Indonesia. The Apreciation of Literature. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Yogyakarta: Nur Cahaya. Depdiknas. 1996. Memahami dan Menikmati Cerita Rekaan. Harymawan. Sudjiman. Kellet. S. S. S. Asmara.E. dan P.). Rachmat Djoko. Surakarta: Widya Duta. Cerita Rekaan dan Drama. Suminto A. London: The Epwort Press. Jakarta: Pustaka Jaya. Dasar-Dasar Teori Sastra. 1999. Jakarta: Proyek Penataran Guru. 1983. Jakarta: Grasindo.S.

Herman J. Herman J. Yogyakarta: Hanindito . Jakarta: Erlangga. Teori dan Apresiasi Puisi. Drama. Teori dan Pengajarannya. 1991. Waluyo.5-62 Apresiasi Bahasa Indonesia Waluyo. 2003.

BUKU AJAR PEMBELAJARAN INOVATIF .

Kinerja kependidikan Indonesia dilandasi filsafat pendidikan. dapat merancang silabus. andragogik. sintakmatik). Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi guru. cara pengorganisasian materi (urutan). Di kelas dan di luar kelas. situasi. dan kondisi setempat. Sebagai guru tentunya Anda mengharapkan agar siswa dapat mengeks-plorasi dunia. mengua-sai kurikulum yang berlaku. pedagogik. Guru berperan mem-bimbing. alat dan . dapat merancang dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang efektif dan efisien Perlu disadari hakikat strategi pembelajaran berbeda dengan kahikat model pembelajaran.PENDAHULUAN Guru merupakan salah satu unsur pendidikan yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. guru perlu menguasai kebijakan kependidikan mikro. mengarahkan agar hasil eksplorasi itu bermanfaat bagi dirinya. Filsafat Pancasila. Ilmu-ilmu didik dan mengajar di-bangun di atas paradigma didik yang benar. Untuk dapat melakukannya itu secara profesional tentu saja guru dituntut menguasai ilmu mendidik dan mengajar. Strategi instruksional (pembelajaran) merupakan perpaduan dari urutan kegiatan (metode. dapat meran-cang dan melaksanakan pedoman kinerja peran guru di lapangan (di kelas dan di luar kelas) yang sesuai dengan kebutuhan. prinsip belajar dan prinsip pembelajaran. Tampaknya para ahli sepakat bahwa strategi instruksional berke-naan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional. serta menga-nut paham konstruktivisme dalam menyikapi dan pengembangan ilmu penge-tahuan teknologi dan seni. ilmu-ilmu kemanusiaan khusus-nya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. metodik. didaktik. mengembang-kan rasa percaya diri. memfasilitasi. dan selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri. Berdasarkan paradigma tersebut. langkah-langkah. guru seyogianya dapat menciptakan teori-teori pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. siswa. dan bertindak mempengaruhi siswa mendidik dirinya sendiri.

mengesankan. Winataputra (2001: 3) menulis bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual (operasional) yang melu-kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman (contoh) bagi para perancang pembelajaran dan para mengajar dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”. tematik. Bahkan Dick dan Carey (1985. merupakan rancangan yang dapat berlaku umum bagi berbagai bidang studi. sarana tertentu. terjala. terpadu. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. kompe-tensi tertentu. dalam Suparman. sedangkan tujuan yang dicapai model ada-lah kompetensi dasar. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menje-laskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu. dsb. Dalam paparan seterusnya akan jelas terlihat pada contoh-contoh model yang dikemukakan. menarik. penulis sependapat bahwa strategi berada dalam tataran konseptual.. serta alokasi waktu. Akan tetapi “model pembelajaran” perlu diperhatikan urutan dan langkah-langkah tertentu. Tujuan yang perlu dicapai suatu strategi adalah standar kompetensi. Mata pelatihan pembelajaran inovatif merupakan pelatihan yang meli-batkan Anda dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan lebih efektif. alokasi tertentu. komprehensif. Berbeda dengan hakikat model pembela-jaran yang dapat dikutip sebagai berikut. “Model” strategi yang sudah dikenal seperti Quantum Teaching. Melalui buku ajar ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji . JAIKEM. sedangkan model pembelajaran berada dalam tataran operasional. portofolio. Tentu saja tataran konseptual ini berdasarkan landasan para-digma didik yang jelas dan taat asas.6-2 Pembelajaran Inovatif media. (huruf miring tambahan penulis) Bila kedua penjelasan teresbut saja dibandingkan. bahkan tempat tertentu. dan menyenangkan.

Ino-vatif. Dengan menguasai materi ajar dalam kurikulum dan silabus. khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam bahasan ini akan dikaji rasional. penguasaan materi pelajaran dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan prasyarat untuk merancang model pembelajaran inovatif. Efektif. Setelah Anda mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda memiliki standar kompetensi merancang model pembelajaran inovatif bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan strategi JAIKEM atau strategi PORTOFOLIO dengan indi-kator keberhasilan Anda mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. Penguasaan konsep pembelajaran inovatif akan sangat membantu Anda dalam mengelola pembelajaran. karena Anda akan mampu menyiapkan berbagai pengalaman belajar yang sesuai de-ngan bahan ajar. situasi. inovatif. merancang model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk dapat melaksanakan-nya di sekolah secara efektif. Pemahaman terhadap konsep dan karakteristik strategi dan model terse-but sangat penting bagi guru bahasa Indonesia pada era sekarang yang syarat dengan tuntutan dan arus informasi yang mengglobal. Kreatif. Anda dapat merancang strategi dan model-model pembelajaran inovatif yang tepat. dan konteks. Dengan buku ajar ini Anda akan dengan mudah memahami hakikat pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif yang dapat dilaksanakan di kelas Anda. serta karakteristik siswa tertentu. kondisi. Oleh karena itu. dan Menyenangkan).Pembelajaran Inovatif 6-3 hakikat pembelajaran yang inovatif. Dengan demi-kian. pengertian. . Pembelajaran Kuantum (Boby dePorte) dan JAIKEM (Jajaki. kreatif. setelah mengikuti pelatihan ini Anda akan dapat mencapai standar kom-petensi. dan menyenangkan itu. Aktif. dan tujuan pembela-jaran inovatif serta karakteristik starategi pembelajaran inovatif seperti strategi portofolio.

dan antara penge-tahuan dengan pengamalannya belum . c) Anda dapat menjelaskan hakikat model pembelajarn inovatif bahasa Indo-nesia. keterampilan. Apa yang diperoleh anak-anak di sekolah. b) Anda dapat menjelaskan karakteristik strategi pembelajaran JAIKEM (Jajaki. e) Anda dapat mengkritisi contoh model-model pembelajaran yang disajikan dan yang tidak disajikan. f) Anda dapat merancang Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk disimulasikan. Rasional Apa yang kita amati di sekolah dan sekitarnya adalah kehambaran proses pembelajaran dan kelemahan hasil pembelajaran sebagai output dan hasil pen-didikan alumni peserta didik sebagai outcome dalam menerapkan pengetahuan. dan tujuan. pengertian. g) Anda dapat melakukan evaluasi diri menerapkan kriteria penilaian mengajar URAIAN MATERI 1. Nilai didik yang sangat pendik dalam pembentukan karakter bangsa hampir disebut gagal. Kreatif. dan Menyenangkan) dan strategi Portofolio. Aktif. dan pengamalan yang diperlajari untuk mengatasi per-soalan sehari-hari. Inovatif. Efektif. sikap. sementara keter-kaiatan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah. sebagian hanya hapalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. mencakup rasional. d) Anda dapat menerapkan karakteristik umum dalam model pembelajaran yang Anda rancang. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta.6-4 Pembelajaran Inovatif a) Anda dapat menjelaskan kembali dibutuhkannya penguasaan Strategi dan Model Pembelajaran yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran.

Namun kompetensi yang komprehensif. 2. karena pembaharuan dan perbaikan kependidikan yang berdimensi karakter bangsa dan superkompleks ini diyakini tidak semudah membangun jalan tol dan memperbaiki gedung bertingkat. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponenkomponen umum dalam program instruksional dan prosedur- . bahkan cuma meniru model pembelajaran negara lain. serta alokasi waktu. alat dan media. dan pelatihan inilah tugasnya. arah pembelajaran pada kurikulum 2006 ditekankan pada penguasaan kompetensi. Strategi Pembelajaran. sumberdaya insani paripurna. dan pemerintah pengelola kependidikan. Hakikat Strategi Pembelajaran Strategi instruksional merupakan sistem perpaduan dari urutan kegi-atan cara pengorganisasian materi.Pembelajaran Inovatif 6-5 mereka dikuasai. Diyakini dengan upaya pela-tihan ini mutu kinerja dan tanggungjawab guru makin baik. Oleh karena itu. Padahal model pembelajaran adalah milik dan buatan setiap guru yang mengajar. Tugas guru sekarang adalah meningkatkan mutu kinerja pembelajaran sekaligus meningkatkan mutu hasil pendidikan. Itulah rasional mengapa model pembelajaran menjadi perhatian utama kita. Kekayaan model pembelajaran rupanya masih miskin di Indonesia. setiap orang tua. Dick dan Carey (1985. a. siswa. dan itulah tugas guru. Tataran konseptual ini berdasarkan pendekatan tertentu. pendidik. melainkan dunia sumberdaya insani yang membutuhkan berbagai upaya yang tidak ringan. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Penguasaan akan model pembelajaran rupaya perlu ditingkatkan. Dunia pendidikan bukan dunia bisnis. Buktinya kita masih meng-import dan mengadopsi. yang menjadi misi pendidikan nasional belum menyentuh apalagi menjiwai dunia pendidikan tingkat operasional. Walaupun demikian kiranya dapat dimaklumi. dalam Suparman.

maka siswa aktif baik di kelas maupun di luar kelas. Keputusan-keputusan strategis diten-tukan dalam upaya merancang strategi pembelajaran tertentu menjadi suatu “model strategi”. atomistik. kontekstual. siswa perlu aktif proaktif. bagaimana karakteristiknya. dikenal pendekatan kuantum. Jika tidak maka bukan strategi yang dimaksud. jaikem. untuk peningkatan kompetensi secara efektif. wajib dilakukan kegiatan menjajaki atau biasa dikenal sebagai apersepsi. perlu dilakukan. kognitif. 1975). pendirian. Berdasarkan paham itu. mengembangkan berbagai bukti tersebut. mendoku-mentasikan segala bukti proses dan hasil belajar. memiliki karakter dasar pembelajaran yang dilakukan bersifat simphonis. Strategi tidak berdasarkan standar kompetensi tertentu Suatu strategi berlaku umum dan tidak mempunyai batas waktu. dsb. komunikatif. portofolio. kegiatan guru dan siswa kreatif. misalnya filsafat behaviorisme dan konstruktivisme. karakter proses pembelajarannya mengumpulkan doku-men bukti proses dan hasil . Misalnya strategi kuantum. Strategi merupakan suatu keputusan strategis berdasarkan komponen dan prosedur umum. tematik. Demikian juga jika menerapkan Strategi Kuantum. Strategi menggambarkan prosedur umum dan jenis kegiatan umum untuk mencapai kompetensi mana saja. tidak boleh tidak. Jika diputuskan menerapkan Strategi Portofolio. melakukan evaluasi diri wajib dilakukan. Maka strategi bersifat pendekatan. namun berdasar-kan filsafat pendidikan yang sedang berlaku. Oleh karena itu tidak perlu dibantah. Pendekatan itu aksionatis (menurut Anthony. Strategi juga dapat merupakan karakter dasar proses pembelajaran yang menonjol. b. proses interaksi yang inovatif. dan dalam situasi yang menyenangkan.6-6 Pembelajaran Inovatif prosedur utama yang memandu kegiatan untuk mencapai hasil belajar. Jika diputuskan menerapkan strategi Jaikem. manasuka. Strategi portofolio. holistik.

Model Pembelajaran Inovatif a. dan membaca. dan Suparno. dkk. menulis. Rasional Pembelajaran Inovatif Model belajar adalah model mengajar (Joyce. dan nilai. keterampilan. belajar mandiri. 2001). karena walaupun ada empat aspek kemahiran berbahasa. Oleh karena itu kegiatan tersebut dinamakan strategi portofolio. . Apabila suatu program itu bergan-tung kepada kompetensi tertentu disebut suatu model pembelajaran. Disebut pendekatan atau strategi pembelajaran integratif. Sesungguhnya keluaran jangka panjang (outcome) yang terpenting sangat boleh jadi (may be) peningkatan kemampuan belajar. pembelajaran perlu dilakukan tidak terpisah-pisah. Oleh karena itu dikatakan model pembelajaran. baik melalui pengetahuan dan keteranpilan yang diperoleh. alias kelompok ragam strategi kognitif.Pembelajaran Inovatif 6-7 belajar. di-antaranya model-model pencapaian konsep. guru juga membimbing mereka bagaimana belajar tentang hal itu. Oleh karena itu masalahnya adalah bagai-mana guru bertindak mempengaruhi siswa agar dapat mendidik dirinya sendiri. cara berpikir. Ketika kita membantu siswa memperoleh pengetahuan. atau jalan sendiri. Begitulah hakikat paham konstruktivisme dalam dimensi pendidikan (Schwandt. menyimak. serta mengeks-plorasi dirinya. ide. Panen. Pertanyaan berikutnya adalah dalam aspek apa atau unsur mana suatu model dinilai inovatif? Nanti akan terlihat pada karakteristik umum suatu model. 1997. 2000:6). Strategi JAIKEM merupakan singkatan dari karakter kegiatan pokok. berbi-cara. Berbagai model pembelajaran diturunkan berdasarkan paham konstruk-tivisme. 3. Salah satu rumpun model yang dikemukakan Joyce (200) adalah ragam pengolahan informasi. maupun melalui penga-laman belajar melalui sekolah. 1994.

(6) sistem pendukung. pokok dan subpokok bahasan. dan (3c) penutup. bahkan sudah menjadi tradisi. (3) sintakmatik. (2) tujuan dan asumsi. Pembelajaran perlu bertolak dari dasar kompetensi dan pengetahuan yang sudah dikuasai untuk berubah menjadi kompetensi yang diharapkan. Asumsi merupakan penjelasan pengetahuan prerekuisit apa yang telah dikuasai dan perubahan yang diinginkan akan dapat tercapai. pertemuan ke berapa.6-8 Pembelajaran Inovatif b. Oleh karena itu hakikat dan makna pembukaan adalah . (1) Identitas mata pelajaran. dan siap berperan serta dalam proses pembel-ajaran. Langkah umum suatu model sudah baku. yang mendasari dan menjadi titik tolak perancangan model. (2) Tujuan dan asumsinya. (3b) inti penyajian. Namun langkah khusus dalam setiap langkah umum itu masih belum disadari benar kebutuhannya. kelas dan waktu. (5) sistem interaksi. dan dalam langkah penutup. Kelak dapat diketahui apabila kompetensi baru tidak tercapai berarti ada kekeliruan atau kelemahan dalam menetapkan asumsi dan tujuannya. Karakristik umum model pembelajaran Setiap model pembelajaran selalu memiliki unsur-unsur (1) identitas mata pelajaran. Untuk itu melalui pembukaan yang tepat siswa perlu terangsang dan siap menyerap informasi. dalam inti penyajian. yang terdiri dari nama mata pelajaran. (3) Sintakmatik atau langkah-langkah pembelajaran. sering diabaikan. Langka-langkah khusus dalam pembu-kaan. standar kompetensi dan kompetensi dasar. dan indikator keberhasilan belajar. (7) dampak instruksional dan dampak pengiring. (3a2) mempunyai bayangan awal tentang apa yang akan dipelajari dan (3a3) harapan bahwa kompetensi akan tercapai. Hakikat dan makna pembukaan adalah menciptakan suasana mental siswa agar siswa siap berkonsentrasi dan berminat mengikuti proses pem-belajaran. (4) sistem sosial. baik yang dilaku-kan guru maupun siswa. yaitu (3a) pembukaan. Biasanya siswa tertarik kepada (3a1) permasalahan.

tetangga. dalam proses pembukaan perlu dibahas masalah berkenaan dengan topik bahasan. teknik-tekniknya. asal tidak monoton apapun dapat dilakukan. dan kiat-kiat interaksinya bisa saja beragam dan bervariasi. siswa. serta kiat-kiat interaksinya dapat beragam dan berva-riasi. dan ling-kungan keluarga. serta kiat-kiat interaksinya bisa beragam dan bervariasi. Hakikat dan makna (3b) sajian inti adalah terjadinya transaksi informasi antara informasi lama dan baru dalam diri siswa. (3b2) memperhatikan prinsip prerekuisit. dan mengingatkan kembali kompetensi yang perlu dicapai. Kegiatan apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah haki-kat dan fungsinya. Namun persyaratan agar proses transaksi itu terjadi perlu (3b1) memperhatikan prinsip-prinsip dan teori-teori pembelajaran. teknik-tekniknya dan alat dan medianya. alat dan medianya. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. Bagaimana jenis prosesnya. (4) Sistem Sosial. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. Kreativitas yang inovatif. Bagaimana guru merancang . dan (3c3) petunjuk tindak lanjut. Dalam proses ini terjadi pengembangan dan pengendapan ilmu pengetahuan atau kete-rampilan dan sikap. Hakikat dan makna (3c) penutup proses pembelajaran adalah terja-dinya pemantapan kesan akan kompetensi yang baru saja dibahas. guru lain.Pembelajaran Inovatif 6-9 menciptakan kesiapan siswa untuk berpartisipasi. urutan logis bahan ajar misalnya silabus yang sesuai dengan hasil analisis instruksional. dan (3b5) pemberian umpan balik. (3b4) dilakukannya pelatihan. men-deskripsikan garis besar lingkup sub-subpokok bahasan. atau disebut juga berbagai unsur lingkungan seperti hubungan guru. Kreativitas yang inovatif asal tidak monoton dapat dilakukan. teknik-teknik-nya dan alat dan medianya. Bagaimana jenis prosesnya. lingkungan masyarakat: tokoh masyarakat. (3c2) pemberian umpan balik umum. Untuk itu dilakukan (3c1) menulis refleksi. dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. (3b3) dilakukan pemberian dan pembahasan contoh. Bagaimana jenis prosesnya.

Bagaimana bahan ajar ditampilkan. Semuanya diatur dalam suatu model tsb. Misalnya model pembelajaran laboratoris perlu menggunakan laboratorium dan lainnya yang ada di laboratorium itu. Setiap model selalu membutuhkan sarana. media pembelajaran. maupun penutup. Tanyajawab. Dsb. Dampak pengiring adalah nilai yang me-nunjukkan terbinanya mentalitas. wawancara.6-10 Pembelajaran Inovatif hubungan interaktir ini merupakan prestasi tersendiri. Yang terakhir dan terpenting dalam proses pendidikan adalah (7) dampak pengiring atau “nurture effect” selain dampak instruk-sional yang telah ditetapkan dan diketahui keberhasilannya melalui proses interaksi dan ulangan atau ujian. anjang sana akademik. atau anak-anak panti asuhan. Dalam proses demikian apakah peran guru dan dukungan sekolah. bagaimana umpan balik dan kuis disampaikan untuk menguji pencapaian kompetensi. dan bagaimana refleksi seharusnya ditulis. dibahas. serta bagaimana guru memotivasi agar siswa menyempurnakan catatan dan melakukan belajar mandiri. alat. Bagaimana pula guru mengundang anak jalanan untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. (6) Sistem pendukung. Semua itu dideskripsikan sebagai sistem interaksi. dan apa saja dapat dilakukan. menghargai pendapat orang lain dalam proses diskusi . Guru merancang agar siswa melakukan kegiatan belajar dalam menerapkan kemahiran wawancara dengan tokoh masyarakat. Model wisata membutuhkan alat transportasi. serta berbagai evaluasi diri siswa dikerjakan. Pendukung ini dirancang berdasarkan kebutuhan khusus. berdiskusi. (5) Sistem reaksi (interaksi) terjadi baik pada proses pembukaan. penyajian. tergantung pada teknik dan kiat guru melakukannya. dipertanyakan. Misalnya bagaimana kemahiran berbicara yang menerapkan model anjangsana belajar. Bagaimana peran guru dan siswa serta unsur-unsur pendidikan yang terlibat diatur merupakan prestasi guru tersebut. dan dijadikan alat pembentukkan dan pembinaan karakter peserta didik. seperti toleransi.

silabus. atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). suatu sistem pemikiran. Standar Isi kurikulum pendidikan berupa daftar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD). c. Struktur pemikiran tentang model dituangkan dalam bentuk desain yang biasa disebut Rancangan Pembelajaran (RP).Pembelajaran Inovatif 6-11 kelompok. atau KTSP. pengembangan kecermatan dan keteli-tian dalam proses tugas mengedit karya tulis peserta didik setelah dialami-nya proses pembela-jaran dengan penyelenggaraan “model kontes editing”. Desain dirancang berdasarkan hasil analisis instruksional kurikulum. percaya diri dalam kegiatan evaluasi diri. Desain Instruksional Model . pengembangan rasa ingin tahu melalui proses “model anjang sana belajar”. Wujud Model Pembelajaran (c1) Model Kesederhanaan Pembelajaran Pembelajaran (Inovatif) hanyalah istilah suatu “konsep”. Analisis Instruksional kurikulum dalam arti analisis standar isi pendi-dikan. atau apalah namanya. Model desain rancangan itu dapat dilihat seperti berikut. Hakikat-nya adalah pedoman pelaksanaan praktek mengajar. kebiasaan mawas diri. Suatu model pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan kompetensi (SK-KD) dan isi bahan ajar.

pelatihan d. sanggahan. perasaan. Permasalahan/relevansi b. perasaan. Guru terlebih dahulu pada pertemuan sebe-lumnya menyiapkan dan membagikan naskah materi yang akan didiskusikan agar siswa menyiapkan diri membaca naskah itu. Deskripsi singkat c. contoh c. Kompetensi Membahas/melakukan/memberi: a.6-12 Pembelajaran Inovatif Bidang Studi Standar Kompetensi Pokok bahasan Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia : Mengemukakan pikiran. dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti dan alasan . 2. refleksi b. dan penolakan pendapat Indikator Keberhasilan : 1. sanggahan. umpan balik e. Menyampaikan persetujuan. Siswa dapat membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. dan penolakan pendapat . serta santun Subpokok Bahasan : persetujuan. contoh g. Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : 1. seperti hanya terlihat langkah terlihat pada dan pada unsur teknik-teknik rancangan yang yang Inovasinya tidak sederhana itu. uraian konsep f. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : pikiran. Uraian konsep b. dst Membahas/melakukan/memberi: a. serta santun Identitas matapelajaran Satuan Acara Pembelajaran Kegiatan: URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL Pembukaan Membahas/mempertanyakan: Penyajian Penutup a. setiap langkah proses. tindak lanjut dialog MODEL: DISKUSI KELOMPOK TEKNIK MEDIA WAKTU OHP Rancangan 5’ Bagi kelompok Penjelasan Diskusi kelompok Laporan hasil Diskusi hasil Penyimpulan Kerja individual menulis refleksi Penugasan OHP Artikel materi diskusi 5’ 25’ 45’ Lembar refleksi 10’ (c2) Bentuk interaksi kreatif dan inovatif di setiap unsur proses Di bagian manakah ciri inovatifnya suatu model? Dalam rancangan diterapkan. melainkan dalam pro-ses. Rancangan hanya memberi peluang kepada guru untuk .2. sanggahan. umpan balik c. Siswa dapat menyampaikan persetujuan. telah dikemukakan lang-kah-langkah (sintakmatik).

memberi saran bagaimana bergilirannya bicara. Winataputra (2001). Kelompok dan Contoh Model Pembelajaran Inovatif a. Kelompok Model Sistem Perilaku (The Behavioral System Family). 2) 3) 4) Kelompok Model Personal (The Personal Family). Selanjutnya dalam bahan ajar ini disampaikan kutipan jenis model pembelajaran inovatif. 4. kecerdikan. Dibutuhkan kemahiran. 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family) Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memehami dunia dengan cara menggali masalah dan dan mengorganisasikan mengupayakan data. Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori. kelompok dan kreativitas contoh guru mengelola tadi). mengamati proses diskusi. Udin S. dan Atwi Suparman (2001). Kelompok Model Sosial (The Social Family). lengkap namun terpilih dari sumber Bruce Joyce (2000). memberi petunjuk tentang proses diskusi. jalan merasakan adanya . Kelompok Model Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar kependidikan di bidang itu. yakni: 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family). proses diskusi (dalam SAP menyam-paikan tujuan/kompetensi.Pembelajaran Inovatif 6-13 menciptakan suasana belajar yang inovatif.

6-14 Pembelajaran Inovatif pemecahannya. . dan mem-bentuk keluarga secara bersama-sama. Proses pendidikan sengaja diusahakan agar memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik memikul tanggung jawab untuk pendi-dikan. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah: Model a) b) c) d) e) f) g) Pencapaian Konsep (Concept Attainment) Berpikir Induktif (Inductive Thinking) Latihan Penelitian (Inquiry Trainging) Pemandu Awal (Advance Organizers) Memorisasi (Memorization) Pengembangan Intelek (Developing Intellect). dan Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry) 2) Kelompok Model Personal (Personal Models) Disadari bahwa kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu. menitikberatkan pada Beberapa kelompok dan memberikan ke-pada para guru sejumlah konsep. bekerja. dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau selfhood dari individu. sengaja dirancang untuk mem-perkuat kemampuan intelektual umum. Pengertian umum meru-pakan hasil kesepakatan individu yang harus hidup. dan melihat dunia dari sudut pandangannya yang juga unik yang meru-pakan hasil dari pengalaman dan kedudukannya. Beberapa model. Secara umum banyak dari model pengolahan informasi ini yang dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia. sebagian lagi pem-bentukan konsep pengetesan hipotesis. serta mengembangkan model dalam bahasa untuk ini mengungkapkannya. Manusia mengembangkan kepribadian yang unik. dan sebagian lainnya memu-satkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif.

Kelompok Model Sosial ini dirancang untuk me-manfaatkan fenomena kerjasama. dan oleh karena itu pula model-model sosial merupakan bagian penting dari proses pembelajaran secara keseluruhan. ternyata belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. Kelompok model ini meliputi sejumlah model. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry). Yang harus dicatat ialah. model-model pembelajaran ini a) b) c) d) Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching) Sinektiks (Synectics Model) Latihan Kesadaran (Awareness Training). Dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan meng-himpun tenaga atau energy secara bersama yang kemudian disebut synergy (Joyce dan Weil: 1986). a) b) c) Investigasi Kelompok (Group Investigation). hal ini tidaklah berarti bisa dipakai begitu saja. Hasilnya cukup meyakinkan. Bermain Peran (Role Playing). . Termasuk ke dalam kelompok ini. 1981). dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). dan struktur tugas kerja-sama (cooperative task structure) dalam suatu kegiatan kelompok. David serta Roder Johnson dan kawan-kawan (1974. Robert Shavin (1983) telah berkerja sama dengan para guru untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan cooperative rewards atau hadiah yang diberikan atas suatu kerjasama. Model ini telah banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakuannya. seperti berikut. sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. Namun demikian. 3) Kelompok Model Sosial (Social Models) Diakui bahwa kerjasama merupakan suatu fenomena kehidupan ber-masyarakat. sinergy dapat memberikan keuntungan.Pembelajaran Inovatif 6-15 Kelompok Model Personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif.

Yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu: a) b) c) d) e) Belajar Tuntas (Mastery Learning). sosial dan fisik yang perlu bagi seorang pilot datau astronout. seperti Skinner (1953) telah mempelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat memberikan kemudahan terhadap hilangnya rasa takut pada diri seseorang. Dasar pemikiran dari kelompok model ini ialah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self-correcting communication systems yang memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya.6-16 Pembelajaran Inovatif d) e) 4) Latihan Laboratoris (Laboratory Training). dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomuni-kasikan keberhasilan. menghilangkan rasa cemas dan cara santai. Dengan berdasar pada konsep bagaimana seseorang memberikan res-pons terhadap tugas dan umpan balik. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development). mengembangkan keterampilan kinestetik dan sosial. dan mempelajari keterampilan intelektual. dan Sibernetika atau Cybernetics. Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy. Kelompok Model Sistem Perilaku (Behavioral System) Dasar teoritik dari kelompok model ini ialah teori-teori belajar sosial atau social learning theories. dan Latihan Asertif (Assertive Training) . Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). para ahli psikologis. bagaimana belajar membaca dan menghitung. model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi atau overt behavior. belajar Kontrol Diri (Learning Self Control). Model ini dikenal pula sebagai model Modifikasi Perilaku atau Behavioral Modification. Oleh karena itu. dan Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry).

Contoh-contoh ini merupakan kutipan dan adaptasi dari sumber yang sudah tersebar secara nasional sebagai materi pelatihan dosen di perguruan tinggi. penduduk. Model Jurisprudensial Model Latihan Laboratoris. nama.Pembelajaran Inovatif 6-17 Beberapa model dari semua kelompok model itu dibahas pada uraian bagian selanjutnya untuk diterapkan dalam bidang kajian yang relevan. ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial. . b. 1) MODEL PENCAPAIAN KONSEP Tujuan dan Asumsi Setiap konsep memiliki empat elemen yaitu. Model Kontrol Diri. pemerintah. atau pengalaman. dan nilai dari ciri-ciri terse-but. Nama ialah istilah yang dipakai untuk suatu kategori benda. Contoh atau eksemplar adalah gambaran atau bentuk nyata dari kon-sep itu. ialah gambaran atau bentuk nyata yang tidak sesuai dengan konsep itu. biana-tang. Model Penelitian Sosial. dapat diaplikasikan di tingkat pendidikan dasar 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Model Pencapaian Konsep. Model Pertemuam Kelas. contoh atau eksem-plar. Namun hakikatnya pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah menengah bahkan. dalam batas-batas tertentu. mahluk hidup. sayur-mayur. Model Investigasi Kelompok. manusia. Contohnya. Model Sinektiks. feno-mena. dan Model Simulasi. Bukan contoh atau noneksemplar. contohnya. dan kerajaan. Model Latihan Penelitian. Contoh Model Pembelajaran Berikut disampaikan beberapa Model Pembelajaran Pilihan sebagai contoh yang diperkirakan dapat dimanfaatkan di sekolah.

Nilai atribut ialah kualitas dari setiap atribut. Sintakmatik Model Pencapaian Konsep memiliki tiga tahap kegiatan. Tahap pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep (1) (2) (3) (4) Pengajar menyajikan contoh yang sudah diberi label. semua anak telah membentuk keluarga baru. dan usiaperkawinan merupakan nilai dan atribut keluarga. atribut esensial dari konsep keluarga ialah adanya orang tua (ayah dan ibu atau salah satu untuk keluarga orang tua tunggal). karena banyak keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri saja. yang sekalipun memiliki anak. keadaan rumah. Suryadi dan Suryani putra/putrinya sebagai anggota keluarga merupakan contoh atau contoh positif dari konsep Keluarga. Tahap Kedua: Mengetes Pencapaian Konsep (1) Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label de-ngan menyatakan ya atau bukan. adanya anak bukan atribut esensial. yang apabila ciri itu tidak terdapat dalam suatu contoh positif tidak mengurangi makna dari konsep itu. . Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri esensial. atau keluarga senior. pendidikan.6-18 Pembelajaran Inovatif keluarga Pak Haji Abdullah yang terdiri dari Haji Abdullah sebagai Kepala keluarga. Misalnya untuk contoh konsep ke-luarga. Ibu abdulleah sebagai ibu rumah tangga. Atribut yang tidak esensial ialah ciri-ciri lain yang melengkapi gambaran konsep. Sedangkan. Ahmad yang hidup sendirian adalah bukan contoh atau contoh negatif dari konsep keluarga. Misalnya. tingkat kesejahteraan. (hal 11) Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan negatif. Siswa membuat dan mengetes hipotesis. dan tempat tinggal yang tetap. Atribut esensial ialah ciri-ciri utama yang memberikan gambaran sosok utuh suatu konsep. Misalnya. misalnya keluarga baru. mata pencaharian.

Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis. Interaksi antar mahasiswa digalakkan oleh peng-ajar. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan duga-an yang satu dari yang lainnya. Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep.Pembelajaran Inovatif 6-19 (2) Pengajar menegaskan hipotesis. Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan mahasiswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai. Pusatkan perhatian para siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik. mereka akan dapat bertukar pikiran dan . Tahap Ketiga: Menganalisis Strategi Berpikir (1) (2) (3) Siswa mengungkapkan pemikirannya. Pengajar melakukan pengendalian terhadap aktivitas. Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. namun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. dan menyatakan kem-bali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. nama konsep. Prinsip Reaksi (1) (2) (3) (4) Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat diskusidiskusi yang berlangsung. Bila siswa sudah dapat berpikir semakin kompleks.

dan kesadaran akan pilihan pandangan.6-20 Pembelajaran Inovatif bekerjasama dalam membuat unit-unit data. Dengan situasi yang penuh teka-teki ini secara alami siswa akan terdorong untuk memecahkan teka-teki itu. karena itu model latihan penelitian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi. Umumnya manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. 2) MODEL PELATIHAN PENELITIAN Tujuan dan Asumsi Latihan Penelitian (Inquiry Training) bertolak dari kepercayaan bahwa perkembangan sesorang agar mandiri. dan menelitinya dengan cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis. seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari contoh-contoh lainnya. Latihan penelitian dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh pertanyaan. mengapa suatu peristiwa terjadi. konsep-konsep yang spesifik. memiliki perhatian besar untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. dan penalaran induksi. menuntut metode yang dapat mem-beri kemudahan bagi para siswa untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. Dampak pengiring model ini adalah kepekaan terhadap penalaran logis. Penguasaan tentang strategi pembentukan konsep. Dengan cara ini diyakini bahwa para mahasiswa dapat menjadi semakin sadar akan proses penelitian yang dilakukannya dan pada saat itu secara . Dengan model ini Suchman. Yang diharapkan ialah agar siswa dapat mempertanyakan. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampat Instruksional model ini adalah penguasaan akan hakikat konsep. memberikan arah khusus sehingga mereka akan dapat mela-kukan eksplorasi itu dengan semangat dan dengan penuh kesungguhan. toleransi terhadap ketidaktentuan.

Tahap Ketiga : Mengkaji Data dan Eksperimentasi (1) Mengisolasi variabel yang sesuai . Sintakmatik Model ini memiliki 5 tahap seperti berikut: (Joyce & Weil 1986: 61) Tahap Pertama: Menghadapkan Masalah (1) (2) Menjelaskan prosedur penelitian Menyajikan situasi yang saling bertentangan atau berbeda Tahap Kedua: Mencari dan Mengkaji Data (1) (2) Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi. demikian menurut Suchman sebagai pengembang model ini. dan Penelitian yang bersifat kerjasama akan memperkaya proses berpikir dan membantu siswa untuk belajar tentang sifat tentatif dari pengeta-huan. Memeriksa tampilnya masalah. sifat selalu berkembang dari pengetahuan. menyajikan kepada siswa suatu sikap bahwa “pengetahuan itu bersifat tentatif” artinya selalu terbuka untuk dikaji secara terus menerus. Mereka akan menjadi sadar tentang dan bekajar mengenai strategi berpikir yang dimilikinya. (1) (2) (3) (4) Secara alami siswa akan mencari sesuatu segera setelah dihadapkan pada masalah. dan menghargai berbagai alternatif penjelasan mengenai sesuatu hal. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung melengkapi strategi yang telah dimilikinya.Pembelajaran Inovatif 6-21 langsung dapat diajarkan cara melakukan prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. Yang paling penting. Pada dasarnya model ini mengikuti teori Suchman sebagai berikut.

kebebasan intelektual.6-22 Pembelajaran Inovatif (2) Merumuskan hipotesis sebab akibat. . Interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. Tahap Keempat : Mengorganisasikan. Jika ada butir persoalan yang tidak sahih. Tahap Kelima: Menganalisis Proses Penelitian Dilakukan dengan cara menganalisis strategi penelitian untuk men-dapatkan prosedur yang lebih efektif. Dalam konteks ini pengajar dan siswa seyogyanya berpartisipasi atas dasar persamaan derajat dalam menghadapi suatu ide. tetap diperhatikan bahwa prinsip dan norma yang dikandung dalam model ini ialah kerjasama. Dilakukan dengan cara merumuskan cara-cara atau aturan untuk menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya. Mintalah siswa untuk merumuskan pertanyaan yang kurang tepat. Akan tetapi. Merumuskan dan Menjelaskan. Prinsip Pengelolaan / Reaksi (1) (2) (3) (4) Pertanyaan yang diajukan harus diungkapkan dengan jelas sehingga dapat dijawab siswa. tunjukkan kepada siswa dengan jelas. misalnya dengan cara menunjukkan kepada siswa teori mana yang memerlukan percobaan. dan kesamaan derajat. Lingkungan intelektual juga ditan-dai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan. Gunakan bahasa yang baik untuk melakukan proses penelitian. Sistem Sosial Model Latihan Penelitian dapat diorganisasikan secara lebih terstruk-tur di mana pengajar mengendalikan keseluruhan proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus ditempuh.

(1) Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dampak pengiring dari model ini adalah meningkatnya kemandirian. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah materi yang dapat dikonfrontasikan pengajar yang mengerti proses intelektual dan strategi penelitian. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah memahami strategi untuk penulisan karya ilmiah. Gordon menitikberatkan kreativitas seba-gai salah satu bagian dari . dan terlatihnya semangat kreatif. toleransi yang menantang bagi siswa untuk 3) MODEL SINEKTIKS Tujuan dan Asumsi Gordon dalam Joyce dan Weil (1986: 164-165) mendasarkan model sinektik ini pada empat ide yang menentang pandangan lama tentang kreativitas. otonom dalam berpikir. Hampir semua orang setiap hari bergulat dengan masalah yang menuntut kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan.Pembelajaran Inovatif 6-23 (5) (6) Cobalah berikan suasana kebebasan intelektual dengan cara tidak menilai teori yang diajukan siswa. Berikan dorongan dan kemudahan bagi siswa untuk melakukan interaksi di antara mereka. Berikan dorongan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan ten-tang teori dan selanjutnya memberikan dukungan untuk melakukan perumusan generalisasi. terhadap ketidakpastian. terlatihnya keterampilan proses. dan sumber bahan yang mampu memberikan permasa-lahan melakukan penelitian.

Analogi personal dilakukan oleh para mahasiswa Pada saat mereka meletakan diri . dan memiliki wawasan sosial.6-24 Pembelajaran Inovatif pekerjaan dan waktu senggang sehari-hari. Indifidu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam bentuk yang serupa. Ia dapat dipaparkan. Diya-kini bahwa proses berpikir mencipta dalam kiat atau seni erat sekali hubungannya dengan proses berpikir dalam ilmu. Di samping itu ditekankan pula makna ide-ide yang dapat diperkuat me-lalui aktivitas yang kreatif dengan cara melihat sesuatu lebih luas. menunjukkan empathy. analogi langsung dan konflik yang dipadatkan (Joyce dan Weil. Gordon percaya bahwa seseorang dapat memahami inti proses kreatif dan ia akan dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara bebas sebagai anggota masyarakat. (4) Penemuan yang kreatif dari indifidu dan kelompok pada dasarnya serupa. Kegiatan metaporis ber-tujuan menyajikan perbedaan konseptual antara diri mahasiswa de-ngan obyek yang dihadapi atau meteri yang dipelajari. Inti dari model sinektiks ialah aktivitas metapora yang meliputi analogi personal. mengekspresikan sesuatu secara kreatif. (3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya. 1986: 166_168). (2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. Pengembangan kreativitas ini dapat dilakukan dalam suasana pendidikan formal. karena ia sangat mungkin untuk melatih seseorang secara lagsung sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya. Oleh karena itu model ini dirancang untuk meningkatkan kemam-puan seseorang dalam memecahkan masalah. Misalnya de-ngan cara meminta mengandaikan sisrem tubuhnya sebagai jaringan transportasi.

Pembelajaran Inovatif 6-25 pada obyek yang sedang dibandingkan. Misalkan dengan cara menggadaikan dirinya sebuah mobil. Tahap keempat: konflik yang dipadatkan Siswa mengambil apa yang dipaparkan atau didiskripsikan pada tahap kedua dan ketiga. Fungsi dari proses ini ialah untuk mentransposekan sesuatu keadaan nyata pada keadaanyang lain dalam rangka memperoleh pandangan baru atau masalah baru. sedangkan yang dimaksud dengan konflik yang di padatkan. Dalam analogi personal ini terdapat empat tahap: (1) (2) (3) (4) Mendiskripsikan fakta mengenai orang pertama’ Mengidentifikasi orang pertamadengan perasaan. Tahap ketiga:Analogi personal Siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan yang dianalo-gikan pada tahap sebelumnya. dan memilih salah satu.dan Mengidentifikasikan diri pada obyek yang tidak hidup Analogi langsung merupakan perbandingan sederhana antara dua obyek atau konsep. ialah cara mengkontraskan dua ide dengan memberi label sinkat biasanya dengan hanya dua kata. kemudian memilih salah satu untuk diekplorasi lebih jauh. kemudian membuat beberapa konflik yang dipa-datkan. . misalnya” sangat galak atau sangat ramah” Sintakmatik Model sinektiks ini memiliki enam tahap: Tahap pertama: Deskripsi Kondisi saat ini Pengajar meminta mahasiswa untuk memaparkan atau mendiskripsi-kan situasi yang ia amati saat ini. Tahap kedua: Proses analogi langsung Siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian. Mengidentifikasi diri pada obyek hidup.

Dalam keseluruhan proses. Walaupun demikian. keseluruhan proses sinektiks itu akan dapat berjalan sesuai dengan jalan pikiran dan ide yang melatarbelanginya. Perlu diperhatikan agar jangan sampai terjadi analis yang bersifat premature atau terlalu dini atau lahir sebelum waktunya.6-26 Pembelajaran Inovatif Tahap kelima: Analogi langsung Siswa mengemukakan dsan memilih analogi langsung yang lain ber-dasarkan pada konflik yang dipadatkan. Tahap keenam: Pengujian kembali tugas awal Pengajar mengarahkan siswa untuk kembali kepada tugas awal atau masalah dan menggunakan analogi yang terakhir atau keseluruhan proses sinektis. Dengan demikian. saat kegiatan metaporis para mahasiswa tetap memi-liki kebebasan dalam diskusi yang tebuka dan tanpa akhir atau open-ended Prinsip Pengelolaan/reaksi Pengajar mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh pola berpikir yang reguler dan ia mencoba untuk menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon. di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan urutan dan membimbing mekanisme interaksi belajar. Pengajar juga membantu mahasiswa untuk mengkonseptualisasikan proses mental. Sistem Sosial Model ini terstruktur sedang. pengajar harus dapat menerima respon siswa agar mereka merasa bahwa dalam kegiatan metaporis itu tidak dicampuri oleh pihak luar dirinya. Ada kalanya pengajar harus menggunakan teknik yang tidak rasional untuk mendorong siswa yang enggan melibatkan diri dalam proses metaporis. .

Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok. 4) MODEL PERTEMUAN KELAS Tujuan dan asumsi Glasser dalam Joyce dan Weil (1986. untuk mencapai keberhasilan. Dampak instrusional dan pengiring Dampak instrusional model ini adalah siswa memiliki kapasitas ke-kreatifan umum. berdasarkan konsep terapi dalam perubahan peri-laku. Diyakini sekolah gagal bukan dalam me-nampilkan profil akademis tetapi dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan. Kelas yang perlu diperhatikan. Dalam kelas rasa cinta tercer-min dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. Asumsi yang kedua. Metode terapi yang bersifat tradisional sering tidak realistis sebagai akibat perilaku tidak berfungsi. Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki dan harga diri. berupa ruangan yang lebih besaryang memungkinkan terciptnya lingkungan yang kreaktif melalui aktifitas yang bervariasi.Pembelajaran Inovatif 6-27 Sistem pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini ialah adanya pengajar yang kompeten menjadi pemimpin dalam prosis sinektiks kadang-kala diperlukan pula sejumlah alat dan bahan atau tempat untuk membuat model analogi yang bersifatfisik. konstruktif. kapasitas kreatif dalam bidang studi. Glasser . 205) mengajukan pemikiran bahwa pada umumnya masalah kemanusiaan merupakan kegagalan dari fungsi sosial dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar untuk dicintai dan dihargai. sedangkan dampak pengiringnya adalah keutuhan dan produktivitas kelompok.

dicintai. Tujuan terapi ini ialah meningkatkan kemampuan untuk memenuhi komitmen pada perubahan perilaku. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap (Joyce danWeil 1986: 210) Tahap pertama. apa yang bertanggung jawab dan mana yang benar. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul Mengidentifikasi norma sosial. Mahasiswa bersepakat tentang pilihanya itu Tahap kelima: Membuat komentar secara umum Tahap Keenam: Tindak Lanjut Perilaku Tahap ketiga. Membuat keputusan nilai personal .6-28 Pembelajaran Inovatif mencoba berusaha untuk memper-baiki penampilan dan memenuhi kebutuhan dengan cara membantu orang lain mengenai apa yang nyata. Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai. dan memiliki identitas. Mengidentifikasi nilai yang ada di balaik masalah perilaku dan norma sosial. Tahap kedua: Menyajikan masalah untuk didiskusikan (1) (2) (3) (4) Siswa dan atau pengajar membawa isu atau masalah Memaparkan masalah secara utuh. siswa membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki Tahap keempat: Mengidentifikasi Pilihan Tindakan (1) (2) Mahasiswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku. Cara ini juga untuk memenuhi kebu-tuhan emosional orang lain untuk merasa berharga. Membangun iklim keterlibatan (1) (2) Mendorong siswa agar berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri.

dan hubungan yang peka antara siswa dan pengajar. pengajar harus dapat mene-rima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa. tidaklah menentukan. (2) Dengan melalui sikap tidak menentukan. mahasiswa menguji efektivitas dari komit-men dan perilaku baru itu. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Perilaku Pengajar dibimbing oleh tiga prinsip: (1) Prinsip melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat. Walaupun demikiam diharapkan pula siswa dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi setelah mengalami beberapa aktivitas. Apa yang dikemukakan oleh pengajar pada saat mendengarkan pemaparan kajian nilai.Pembelajaran Inovatif 6-29 Setelah periode tertentu. . keputusan moral terletak pada siswa. personal. dan pada saat yang bersamaan ia mampu membimbing kelompok menuju penilaian perilaku komitment dan tindak lanjut dari perilaku itu. yakni tanggung jawab untuk membimbing interaksi mela-lui tahap tahap tersebut terletak pada tangan pengajar. Walaupun tanggung jawab ada pada tangan pengajar. Kepemimpinan. Ia juga harus mampu untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak bersifat defensif atau selalu bertahan diri. (3) Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada. Sistem Sosial Model Pertemuan Kelas ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. menarik. Sistem Pendukung Yang diperlukam untuk melaksanakan model ini ialah pengajar yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dalam diskusi.

yang di dalamnya memiliki tata tertib. menurut Joyce danWeil (1986: 228) suasana kelas meru-pakan analogi dari kehidupan masyarakat. pengajar seyogianya Model berusaha Pembelajaran untuk menciptakan suasana atau yang Group memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu. dan budaya kelas. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah siswa mempelajari pengetahuan .6-30 Pembelajaran Inovatif Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah pencapaian tujuan dan eva-luasi. Investigasi Kelompok Investigation mengambil model yang berlaku dalam masyarakat. Untuk kepentingan praktis model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut. yakni standard hidup dan pengaharapan yang tumbuh dalam suasana kelas. Dalam kerangka itu. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. siswa berusaha untuk memelihara cara hidup yang berkembang di situ. serta terbinanya keterbukaan dan keutuhan. terutama menganai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serang-kaian kesepakatan sosial. 5) MODEL INVESTIGASI KELOMPOK Tujuan dan Asumsi Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehi-dupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. sedangkan dampak pengiringnya adalah tercapainya kemandirian dan pengarahan diri. Berkenaan dengan hal itu.

Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama. Tahap Kedua: Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang problematis. Tahap Pertama: Siswa dihadapkan dengan situasi yang problematis. pengetahuan atau knowledge. Yang dimaksud dengan penelitian ialah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah.Pembelajaran Inovatif 6-31 akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. Untuk memecahkan masalah ini. dan dinamika belajar kelompok atau dynamics of the learning group. Masalah itu sendiri dapat timbul dari siswa atau diberikan oleh pengajar. Tahap Ketiga: . Yang dimaksud dengan pengetahuan ialah pengalaman yang tidak dibawa lahir tapi diperoleh oleh individu melalui dan dari pengalamannya secara langsung maupun tidak langsung. yaitu penelitian atau inquiry. menuntut prosedur dan persyaratan yang sudah tertentu. Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. Sintakmatik Model Investigasi Kelompok ini memiliki enam tahapan kegiatan. Dinamika kelom-pok menunjuk pada suasana yang menggambarkan sekelompok individu saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama. Hal-hal tersebut merupakan dasar dari model investigasi kelompok. sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Dalam interaksi ini melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta saling tukar peng-alaman melalui proses saling berargumentasi.

(3) Tahap pemaknaan secara perseorangan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Di dalam kelas yang menerapkan model Investigasi Kelompok. Dengan demikian suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur. Tahap Kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian kelompok itu. Tahap Keempat: Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok. Tahap Keenam: Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities. konsultan. dan apa . Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab perta-nyaan. Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap pemecahan masalah. pengajar lebih berperan sebagai konselor. Pengajar dan siswa memiliki status yang sama menghadapi masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus. apa yang menjadi hakikat masalah.6-32 Pembelajaran Inovatif Siswa merumuskan tugas-tugas belajar atau learning tasks dan mengorga-nisasikannya untuk membangun suatu proses penelitian. Sistem Sosial Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model ini bersifat demokratis yang ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. (2) Tahap pengelolaan kelas. dan pemberi kritik yang bersahabat.

tercapainya proses dan keteraturan kelompok yang efektif. Perpustakaan diusahakan untuk cukup memiliki sumber informasi yang komprehensif dengan alat bantu mengajar atau media yang relatif memadai pula.Pembelajaran Inovatif 6-33 yang menjadi fokus masalah. mempero-leh bagaimana informasi mengorga-nisasikan itu. 1986: 234) Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. peningkatan kemampuan meneliti secara disiplin. sedangkan dam-pak pengiringnya adalah dorasakannya kehangatan dan keterikatan antar-manusia. dan apa yang membe-dakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Joyce dan Weil. komitmen terhadap penelitian sosial. dan komitmen terhadap keberagaman 6) MODEL PENELTIAN JURISPRUDENSIAL Tujuan dan Asumsi Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986: 260-267) model ini me-miliki sejumlah karakteristik. informasi apa saja yang diperlukan. Dasar pemikiran model ini . sedangkan kelompok tahap untuk pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya. kemerdekaan sebagai pela-jar. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional misalnya tercapainya kesepakatan atas pandang-an tentang pengetahuan. menghormati hak asasi manusia. Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan.

Tahap Pertama: Orientasi terhadap Kasus . yang pada hakekatnya berkenaan dengan konsep keadilan. dan (3) Menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya. Lingkup dan tingkat kerumitan dari masing-masing bidang kajian tersebut. pendidikan. Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif. setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik mela-kukan kesepakatan dengan orang lain. Yang tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik rasial dan etnis. konflik antargolongan ekonomi kesehatan. hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi.6-34 Pembelajaran Inovatif ialah konsepsi ten-tang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut diperlukan tiga kemampuan. tentu saja harus disesuikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa. (2) Memiliki seperngkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam men-jernihkan dan memecahkan masalah nilai. (1) Mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada dilingkungan negaranya. konflik ideologi atau keagamaan. kesejahteraan dan keamanan nasional. Setiap warga negar harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengam-bil contoh masalah sosial yang paling tepat. Sintakmatik Model Jurisprudensial ini memiliki enam tahap (Joyce & Weil 1986: 268). keamanan pribadi.

Tahap Keenam: Mengetes Asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskannya. Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih. Pengajar mereviu data yang tersedia. Tahap kelima: Menjernihkan dan menguji Posisi (1) Mahasiswa menyatakan posisinya dan memberikan rasional mengenai posisinya itu. Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya. . dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa. Kemudian menyatakan edudukannya dalam konflik nilai itu dan dalam hbungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu. Menjernihkan konflik nilai dengan melakuakn proses analogi. Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan. Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi Siswa memilih suatu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan.Pembelajaran Inovatif 6-35 (1) (2) (1) (2) (3) (4) Pengajar memperkenalkan bahan-bahan. (2) Mahasiswa meluruskan posisinya. Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan konflik nilai. Menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya. Tahap Keempat: Mengekplorasi contoh-contoh dan pola argumentasi (1) (2) (3) (4) Menetapkan titik di mana terihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh.

Seyogyanya . Sistem Pendukung Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumbersumber dokumen yang relevan dengan masalah. Secara umum. terutama yang terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui atau menyetujui. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Reaksi pengajar. Untuk dapat memerankan hal tersebut. pengejar memulai mem-buka tahapan dan bergerak dari tahap ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. pengajar harus dapat mengantisipasi nilai yang diajukan oleh siswa dan berkenaan dengan hal itu pengajar harus siap untuk menantang dan melacaknya lebih jauh. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis. dan kejelasan secara definitif.6-36 Pembelajaran Inovatif (1) (2) Mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya. keumuman. kekhususan. reaksi ter-hadap komentar siswa dengan keajegan. Sistem Sosial Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang terstruktur rendah sampai pada yang terstruktur ketat. cara memberikan atau pertanyaan mengenai relevansi. diharapkan masing-masing akan dapat melakukanya tanpa bantuan dari orang lain. Setelah mahasiswa mengalami satu kali proses jurisprudensial. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa. Menetapkan konsekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dari konsekuensi itu.

terbinanya rasa empati dan wawasan pluralistik. umpan balik. Lebih jauh ditegaskan oleh Joyce & Weil (1986: 279-283) bahwa proses intrapersonal memberi tekanan pada tujuan yang akan dicapai yaitu pegetahuan sendiri (selfknowledge). memberi dan menerima ban-tuan. pengiringnya kemampuan untuk berparti-sipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial. dan kemampuan berdialog. atau yang memang sukar diperoleh oleh mahasiswa. kepemimpinan. Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka. dan lingkungan berlajar.Pembelajaran Inovatif 6-37 disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus yang aktual. Proses interpersonal memusatkan perhatian pada dinamika hubungan antar individu yang berupa hubungan mempengaruhi. dinamika kelompok. seperti tingkat usia siswa. 7) MODEL LATIHAN LARATORIS Tujuan dan Asumsi Model ini bertolak dari konsep T-Group Experience yang menitik-beratkan pada proses intrapersonal. Di dalam menerapkan model ini perlu diperhati-kan hal-hal. kekuasaan dan kontrol. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model dalam Jurisprudensial Dampak ini memiliki dampak adalah instruksional meningkatnya kemampuan mengasumsikan peranan orang lain. penyelesaian konflik. interpersonal. komunikasi. Memperoleh wawasan terhadap perilaku dan reaksi seseorang. Tujuannya ialah untukl mengerti . pemahaman lebih luas tentang fakta masalah sosial. khususnya dengan cara memper-oleh umpan balik dari orang lain merupakan tugas belajar atau learning task. dan pengarahan sendiri.

menuju perilaku yang baru. Kedua. data yang menjadi bahan analisis adalah pengalaman dan umpan balik yang diperoleh mahasiswa pada saat mereka belajar bersama. Biasanya Struktur T-Group merupakan struktur yang utama. Ketiga. Pertama. situasi yang kurang bertujuan. Kesemua tujuan iotu akan dicapai dengan cara meningkatkan kesadaran. orientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kelompok. seperti diuraikan dalam . Tahapan kegi-atan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri. Yang terakhir. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini. merubah sikap. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk tiap-tiap tahap utama. Di sini keka-buran situasi menimbulkan ketegangan. para anggota kelompok dan pelatih seyogianya melaksanakan peranan sebagai pengamat yang terlibat atau participant observer. Model ini memiliki empat elemen dasar. Sintakmatik Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. dan memungkinkan siswa mem-berikan respon terhadap keadaan itu yang pada akhirnya dilakukan dengan pengarahan.6-38 Pembelajaran Inovatif kondisi dan kemudahan atau hambatan terhadap berfungsinya kelompok. kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya.

3. 4.14 TAHAP PENGEMBANGAN T-GROUP I. Kontra ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan.Pembelajaran Inovatif 6-39 Tabel 3. evaluasi keterlibatan. dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalamT-Group ini. Tahap Ketergantungan Hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok 1. . pengajar sebagai pelatih menjelaskan ahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok.Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin) 2. terarah. dan bersifat mendukung. namun masih tetap dalam batas yang dapat ditoleransi. perasaan positif). Peduli terhadap orang lain dan kerjasama mengatasi masalah umum. mau dan mampu memberi dan menerima umopan balik. anggota kelompok. 5. struktur tidaklah tampak. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Pelatih. Saling ketergantungan. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama. yakni sebagai: pengamat yang terlibat. dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri.) II. bersemangat belajar yang tinggi. serta rasa takut diserang) 6. dan sebagai mediator atau perantara. pemberi contoh. pengenalan terhadap bermacam-macam. rasa percaya dan kerjasama. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok. munculnya dua kelompok yang berbeda keinginan). Di dalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka. Di sini. sikap. penghargaan terhadap pelatih. Pemikatan (solidaritas kelompok. sadar akan tanggapan terhadap orang lain) Sistem Sosial Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan. jujur. Pemecahan masalah (munculnya keinginnan untuk memanfaatkan waktu lebih baik. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan dan keterlibatan lebih banyak.

Dampak Instruksioal dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional adalah tercapainya kemam-puan mengatasi perubahan. luasnya wawasan atas perilaku interpersonal. dan lapang dada atas hakikat afektif dari respon manusia. dan Penggunaan fakta sebagai bukti. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis.6-40 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan dan paling utama ialah penga-jar/pelatih yang berpengalaman dalam model ini. Model ini dapat dilaksana-kan dalam situasi kelembagaan. 8) MODEL PENELITIAN SOSIAL Tujuan dan Asumsi Menurut Massialas dan Cox dalam Joyce dan Weil (1986: 294) suasana kelas yang bersifat reflektif memiliki tiga karakteristik utama : (1) (2) (3) Aspek sosial kelas dan keterbukaan dalam diskusi. . Penekanan pada hipotesis sebagai fokus utama. kemampuan bersepakat dan ekspresi diri. (2) (3) Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian. situasi kelas. sedang-kan dampak pengiringnya adalah kemampuan beradaptasi terhadap peru-bahan. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut: (1) Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terha-dap masalah dan dapat merumuskannya yang akan menjadi pusat penelitian. toleran terhadap kebi-nekaan. dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari.

Pengajar ber-tugas membantu siswa dalam penggunaan bahasa yang jelas. Merumuskan generalisasi. (5) (6) Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis. pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif yang membantu siswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. . yaitu pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang lebih luas. Siswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemam-puan dalam penelitian. Sistem Sosial Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. Akibat dari tugas tersebut. dan ia harus memikul tanggung jawab untuk meng-ikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir.Pembelajaran Inovatif 6-41 (4) Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian. dan instruktur. pengarah. logika yang nalar. Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih. pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang bertugas membentu siswa untuk menjernihkan kedudukannya. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam keseluruhan tahap. pengertian tentang asumsi. objektif. konselor. mem-perbaiki proses belajar membuat dan melaksanakan rencana. Pengajar meng-ambil inisiatif untuk meneliti dan memandu siswa dari tahap lainnya.

sumber kepustakaan yang tak terbatas. Orang yang membangun hubungan konti-ngensi antara stimulus dan respon ini harus menydari akan adanya respon yang memang diinginkan dan tidak diinginkan. dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pad saat-saat tertentu setelah munculnya respon. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal adalah penjagaan terhadap permasalahan sosial. Kondisi ini disebut Contingent atau tergantung pada. 9) MODEL KONTROL DIRI Tujuan dan Asumsi Pada teoretisi perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan pengu-atan. Di samping itu juga harus . Ling-kungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik. Pengelolaal ketergantungan pada atau contingency management yang menjadi inti dari model Kontrol Diri. Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. sedangkan efek pengiringnya penghargaan terhadap hak asasi manusia. dan tindakan sosial. pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam meng-atasi masalah kehidupan.6-42 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama. Ciri yang paling esensial ialah hubungn antara respon dan stimulus yang diberi penguatan. dan komitmen terhadap peningkatan mutu sumber daya.

Dalam prinsip ini diharapkan dapat diberi penguatan yang terlibat peranan reinforces yaitu yang dapat mempertinggi respon. Penguatan dapat bersifat material. seperti rasa takut atau rasa cemas. sosial. Model ini terutama. Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak belakang dari prinsip Operant Conditioning. dan aktivitas. Penguatan dianggap negatif bila yang diberi-kan itu mengurangi suasana yang ada. sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis. atau mengacungkan ibu jari. dan keterampilan mengelola diri. Respon yang positif maupun negatif. dan sebagai model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keteramplan yang baru.Pembelajaran Inovatif 6-43 disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting. dan melahirkan respon. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional. keterampilan sosial. Penguatan positif ialah tanggapan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik di bawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau maladaptive behavior. Termasuk dalam tujuan ini adalah kelanggengan atau “durability” dari perilaku. seperti dengan tersenyum. Sintakmatik Model ini memiliki lima tahap (Joyce & Weil 1986: 347) seperti berikut: Tahap Pertama: Perumusan Perilaku Akhir . Tujuan utama dari program pengelolaan kontinginsi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku ke dalam situasi yang lain.

Tahap Keempat: Melembagakan Program (1) Menata lingkungan. (2) Memberikan pengantar bagi mahasiswa. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan. Sistem Sosial Sistem sosial yang perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur. mengukur dan mengembali-kan para program kontingensi. (2) Memilih sarana penguat atau reinforces dan pola pemberian penguatan. (2) Merumuskan secara khusus perilaku akhir. Pengajar berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. (3) Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan. Demikian juga dalam pola dan jadwal pemberian . Tahap Kelima: Mengevaluasi Program (1) Mengukur respon yang diharapkan. hakikat dan konteks dari perilaku itu.6-44 Pembelajaran Inovatif (1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran. (3) Mengembangkan rencana untuk mengukur dan mencatat perilaku Tahap Kedua: Mengkaji Perilaku Mengamati. dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu. (3) Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir. dalam arti sam-bil berjalan dapat ditumbuhkan. Tahap Ketiga: Merumuskan Kontingensi (1) Membuat keputusan mengenai lingkungan. (2) Membangun kembali kondisi yang lama.

keterampilan pengelolaan diri. Secara umum. Per-bedaannnya. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini. perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. dikuatkan. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi ke situasi. pengajar dapat melakukan kesempatan dengan Prinsip Pengelolaan/Reaksi Prinsip pengelolaan atau reaksi pengajar terhadap mahasiswa di da-sarkan pada prinsip “operant conditioning” dan pengelolaan kontingensi. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memer-lukan sarana pendukung. Hal ini dapat dilakukan secara fisik. Pengajar yang mengem-bangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat. dan tetap ajeg. perilaku dan keterampilan sosial. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal model ini adalah pengetahuan dan keterampilan akademik. mahasiswa. perilaku dan keterampilan personal. seperti dengan mematikan televisi sedang-kan perilaku yang diinginkan seyogyanya . Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. Sedang program yang bersifat kompleks.Pembelajaran Inovatif 6-45 penguatan. sabar. respons emosional. memer-lukan perencanaan dan alat yang lebih memadai. Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. dalm model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan.

Tahap Ketiga: Menyusun Program Kontrol Diri (1) Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat. Sintakmatik Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce & Weil 1986: 363) Tahap Pertama: Memperkenalkan Prinsip Perilaku (1) Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan. (2) Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. Tahap Keempat: Memantau dan Memperbaiki Program (1) Melibatkan mahasiswa dalam program. dapat digunakan respon yang saling berbeda atau bertentangan dengan peikiran. dan memberikan respon yang menantang. (2) Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. memberi pe-nguatan. dan (4) Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan. (3) Membuat program tertulis. Tahap Kedua: membangun landasan Berpijak (1) Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus.6-46 Pembelajaran Inovatif yang sedang ditonton. mencatat kendali rangsangan. (2) Melakukan pertemuan periodik dengan guru/pelatih untuk mereviu kemajuan dan memperbaiki program. Dalam membang-kitkan rangsangan. (2) Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri. jika memang diperlukan. . Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model Kontrol diri ini. (3) Melakuakn pengukuran. (3) Membangun kemauan untuk berpartisipasi.

ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan pengajar dan siswa. (4) membantu mahasiswa dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu. Berkembangnya harga diri dan keyakinan. (2) menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan. Dampak pengi-ringnya adalah berkembangnya kesadaran tentang kontrol diri. Dari kegiatan-kegiatan itu. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah meningkatkan perilaku sa-saran. mungkin sebagian dilaku-kan secata mandiri. Secara terinci. Sistem Pendukung Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus. sebagian lagi secara bersama. pada akhirnya mehasiswa yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan. rasa rendah diri dan kendala lingkungan seseorang. . Yang harus dicatat. dan memiliki pandangan perilaku. mengurangi perilaku yang salah. Walaupun pengajar memiliki peranan dalam mengambil inisiatif. dan menguasai metode untuk mem-bangun kontrol diri. (3) menjamin tersusunnya rencana yang realistik.Pembelajaran Inovatif 6-47 Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya: (1) memberi semangat kepada mahasiswa. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini pengajar memiliki peranan yang menentukan dalam keseluruhan program.

dalam proses simulasi itu dilakukan dengan meng-gunakan simulator. Sintakmatik Model ini memiliki tahap sebagai berikut (Joyce dan Weil 1986: 378). Para ahli psikologi sibernetika membuat analogi antara manusia dengan mesin dan mengkonseptualisasi-kan siswa sebagai sistem umpan balik yang mengatur dan mengontrol sendiri. dan berperilaku nyata. Dalam suatu situasi yang khusus. Model Simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang diana-logikan dengan proses sibernetika itu. berperilaku simbolik. Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dan gerakannya yang dianggap kompleks sengaja dikontrol.6-48 Pembelajaran Inovatif 10) MODEL SIMULASI Tujuan dan Asumsi Simulasi sebagai model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan. Gerakan dan perilakunya itu disesuaikan dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia memiliki pola gerakan seperti berpikir. . Misalnya. Tahap Pertama : Orientasi (1) Menyajikan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. individu memodifikasi perilakunya sesuai dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Bertolak dari prinsip itu. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan gerakan sensorinya menjadi dasar dari penerimaan umpan balik itu. Para ahli psikologi sibernetika ini menafsirkan manusia sebagai sistem kendali yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan sendiri melalui mekanisme umpan balik.

pencatatan. Menganalisis proses. Mencoba secara singkat suatu episode. Memperoleh umpoan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terha-dap performan si pemeran. Tahap Ketiga: Proses simulasi (1) (2) (3) (4) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. peranan. bentuk keputusan yang harus dibuat. Sistem Sosial Di dalam simulasi pengajar harus dengan sengaja memilih jenis ke-giatan dan mengatur mahasiswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. model ini . langkah. Memberikan rinkasan mengenai kesulitan-kesuliatan dan wawasan para peserta. Tahap Kedua: Latihan Bagi Peserta (1) Membuat skenario yang berisi aturan. Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi. Tahap keempat: Pemantapan atau Debriefeing (1) (2) (3) (4) (5) (6) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. Menghubungkan prose simulasi dengan isi pelajaran. Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional Melanjutkan permainan/simulasi. Menilai dan merancang kembali simulasi. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. (2) (3) Menugaskan para pemeran dalam simulasi. dan tujuan yang akan dicapai. Karena itu.Pembelajaran Inovatif 6-49 (2) (3) Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan.

tentu hal ini memerlukan biaya yang besar. pengajar bertugas untuk lebih dulu mendorong pengertian dan penafsiran para mahasiswa terhadap isi dan makna dari simulasi itu. Dalam hal ini. tentu sangat murah. pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator. Dalam keselutuhan proses simulasi. empati. Dampak pengiring nya adalah berpikir kritis dalam mengambil keputusan. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari mahasiswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini. berkembangnya kesa-daran dan kesempatan. dan berani mengha-dapi konsekuensi. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah kelereng atau kartu. . Dampak Instruksional dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional model ini adalah memiliki keterampilan dan penguasaan konsep. ke yang paling kompleks dan mahal.6-50 Pembelajaran Inovatif termasuk model yang terstruktur. pengajar bertugas dan ber-tanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjuk-kan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini. Misalnya bila saran yang digunakan berupa simulator elektronik. dan mengetahui pengetahui pengeta-huan tentang politik dan sistem ekonomi. mulai dari yang paling sederhana dan murah. kesadaran tentang efektivitas. Namun demikian kerjasama antar peserta sangat diperhatikan.

Dengan demikiam model tersebut akan dapat digunakan lebih bebas. Artinya. khusus disampaikan model pembalajaran diskusi kelompok saja. Model-model Diskusi kelompok Dalam bagian ini.Pembelajaran Inovatif 6-51 Beberapa Model Pembelajaran Yang Bersifat Umum Model pembelajaran yang disajikan pada bagian sebelumnya meru-pakan kerangka konseptual dan operasional pengelolaan proses belajar. sebagian dari model-model itu dapat dipakai dalam rangka proses pembelajaran dengan menyesuaikannya terhadap konteks pembelajaran. Kedua kelompok model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Model-model Pengorganisasian Pertemuan Model-model Pengorganisasian Pertemuan dikembangkan oleh Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) seperti digam-barkan sebagai berikut. (2) Model Diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam interaksi pembelajaran kelompok secara bervariasi. Pada bagian ini akan disajikan model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum dan tidak secara khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu. dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu. dan sebagian dapat dipakai dalam rangka pertemuan di luar proses situasi . Model ini ternyata lebih efektif dan efisien dalam proses kognitif dan keterampilan berbicara dalam belajar bahasa Indonesia di berbagai tingkat. yag bertolak dari teori psikologi tertentu. Ada dua kelompok model yang dapat kita kaji: (1) Model Pengorganisasian Pertemuan dapat digunakan baik dalam situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interaksi pembelajaran formal. Selain itu model ini modelmodel diskusi kelompok berlaku secara umum.

(5) Kelompok mendiskusikan secara singkat masalah tertentu. (3) Waktu pertemuan berkisar dari pertemuan singkat beberapa menit sampai pertemuan panjang beberapa jam. (3) Para peserta dihadapkan kepada suasana problematik. (4) Biasanya digunakan sebagai langkah awal membuat keputusan atau memecahkan masalah. (4) Biasanya digunakan sebagai strategi dalam kelompok. Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) mengembangkan 13 model dengan masing-masing karakteristik sebagai berikut: (a) Model Kelompok Curah Pendapat atau Brainstorming Group yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok yang terdiri dari 3-12 peserta. (2) Tidak memerlukan pimpinan penuh. Khusus untuk suasana pendidikan formal yang menitikberatkan pada proses pembelajaran. (2) Tidak memerlukan pemimpinan yang penuh. . (c) Model Case Study atau Studi kasus. (b) Model Buzz Group tau kelompok Bebas. (6) Ide-ide yang muncul tidak diberi kritik atau tanggapan. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 2-6 peserta. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan tingkat kerumitan kasuis. (5) Para peserta diminta untuk mengemukakan ide sebanyak mungkin dalam waktu yang berkelanjutan menuju pemecahan masalah. (3) Waktu pertemuan berkisar antara 2-15 menit. (1) Jumlah anggota kelompok bersifat luwes.6-52 Pembelajaran Inovatif pendidikan formal.

(f) Model Horse Shoe group atau kelompok Tapal Kuda. (5) Orang tersebut selanjutnya menyumbangkan berbagai ide dan pengalaman dalam kelompok baru itu. didefinisikan dan didiskusikan secara singkat dalam kelompok. . (3) Topik diskusi. (d) Model Crosses-Over atau Kelompok Silang Pendapat. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri 4-12 peserta. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit dan berlangsung beberapa kali. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok besar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang besar-nya sebanyak akar (√) dari jumlah keseluruhan. (3) Topik dan arah diskusi dikendalikan oleh peserta sendiri. (2) Waktu pertemuan bervariasi namun tetap konsisten dengan waktu yang tersedia bagi kelompok besar. (e) Model Free Group Discussion atau Diskusi Kelompok Bebas. (2) Waktu pertemuan disesuaikan dengan jam pertemuan yang tersedia.Pembelajaran Inovatif 6-53 (4) Para peserta dituntut untuk berbagai evaluasi terhadap kasus dan memberi jalan melakukan tindakan. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok disusun dengan membentuk tapal kuda menghadap Tutor/Guru. (4) Salah seorang dari setiap kelompok pada saaat tertentu berpindak ke kelompok lain. (6) Prosedur perpindahan anggota berlangsung sampai di dalam kelompok itu hanya tinggal seorang anggota yang asli.

yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok bervariasi. (g) Model Problem-Centered Group atau kelompok Terpusat pada Masalah. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 5-15 orang. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan lama pertemuan yang tersedia. (2) Waktu pertemuan sesuai dengan yang tersedia. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit. (3) Para peserta mencoba sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana yang interaktif. (i) Model Seminar Group atau Kelompok Seminar. (4) Penyaji makalah dipilih dari anggota kelompok. (j) Model Simulation atau Simulasi. (4) Bentuk Tapal Kuda dapat dipakai dalam model ini. . (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan peran yang harus dimainkan. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel. (3) Para peserta dihadapkan kepada tugas dan pekerjaan untuk memenuhi sesuatu atau memecahkan masalah. (4) Para peserta dapat mempersiapkan laporan dengan menggu-nakan media visual seperti transparansi. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 4-12 orang. (h) Model Role Play atau Bermain Peran. (3) Membahas makalah yang disajikan.6-54 Pembelajaran Inovatif (3) Biasanya digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan peserta dalam kelas besar.

(2) Waktu pertemuan bervariasi mulai dari hanya 1 jam. berlangsung beberapa bulan atau lebih. (l) Model T-Group atau Kelompok T. (3) Diskusi digunakan untuk Kekuatan sebagai berikut. (2) Waktu pertemuan 45 menit atau lebih. (m) Model Tutorial atau Bimbingan Belajar. 1. yang memiliki ciri-ciri : (1) Kelompok terdiri dari 7-14 orang. (4) Para peserta diminta mengandalkan peran tertentu dan bertindak sesuai dengan aturan tertentu. Orang yang pandai berbahasa artinya orang yang pandai berbicara. (3) Teknik kelompok Terapetik digunakan di mana individu dalam setiap kelompok mendiskusikan dan menganalisis hubungannya satu dengan yang lain. Sesuai dengan hakikat belajar bahasa. (3) Setiap kelompok diberi atau memilih suatu tugas. (2) Waktu pertemuan biasanya beberapa jam perhari untuk bebe-rapa minggu. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel tapi tidak lebih dari 6 orang.Pembelajaran Inovatif 6-55 (3) Para peserta dihadapkan kepada model kehidupan nyata. dan keuntungan model diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat menengah dapat disampaikan . yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 3-15 orang. Berbahasa adalah berbicara. (k) Model Syndicate Group atau Kelompok Sindikat. (4) Setiap kelompok diminta mencari informasi yang relevan dan membuat laporan bersama untuk ditanggapi kelompok lain.

. 2. meningkatnya kecerdasan. Simpulan: Nilai didik yang dapat dikembangkan melalui model diskusi kelompok itu adalah kesantunan. Berbicara dengan kontrol diri. Kema-hiran berpikir penyimak dikembangkan. membandingkan. Aspek pendidikan nilai dalam diskusi kelompok dapat dikembangkan. Oleh karena itu model diskusi kelompok merupa-kan pembelajaran bahasa terintegratif. dan terlatihnya pembelajaran bahasa yang terintegratif. bahkan menulis teks bahan berbicara. Artinya seorang pembicara yang baik seharusnya juga pandai menyimak. yang relevan dengan kebutuhannya. Dalam proses diskusi setiap peserta berperan juga sebagai pendengar bah-kan penyimak. menghargai pendapat orang lain. Pelatihan berdiskusi dalam pembelajaran bahasa dimulai dengan membaca sumber bahan yang akan didiskusikan. 4. bicara. membaca. sikap toleran bila ada penda-pat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai mendengarkan. memilah. 5. terlaihnya kemampuan menahan diri. mencocokan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. menulis yang diperlukan sebagai catatan untuk dibicarakan. Pembicara perlu menahan diri bila aspek emosi terusik. toleransi. 3. dan menyimak tidak biasa disebut pandai berbahasa. membedakan. memilih. Penyimak Pembicara perlu perlu memperhatikan memperhatikan bersabar pembicaraan peserta diskusi lain. yang penting. kareka penyimak mencoba mela-kukan analisis: menghubungkan. demokratis. Penyimak terus menerus berpikir untuk menyaring informasi yang manarik perhatiannya. Sambil berbicara pembicara dalam diskusi perlu penyimak respons pendengar lain.6-56 Pembelajaran Inovatif Pandai menu-lis. meng-hargai pemikiran dan pendapat penutur lain. Pembicara perlu menahan diri untuk tidak melakukan kasantunan monopoli bicara.

Laporannya bentuk tertulis b. dan empatik d. santun verbal dan nonverbal. Diperlukan penguasan bahan pembicaraan. toleran. Sumber : Tokoh-tokoh yang mengubah dunia Waktu : 2 x 2 x 45” Pertemuan Langkahlangkah Pendahuluan a. keteram-pilan ujaran. dan empatik ter-capai dengan baik dilakukan secara spontan Hari pertama: a. sumber yang telah disiapkan siswa Transparensi dan pelengkapnya 10’ dan 5’ : 3-4 Uraian Materi Media Waktu Kegiatan Inti Catatan hasil 15’ persiapan. Membahas program diskusi kelompok tentang tokoh penting dan mendiskusikan kriteria penilaian berbicara. Mengecek persiapan yang telah dirancang pada pertemujan sebelumnya. alat perekam 15’ Instrumen/kriteria 15’ penilaian evaluasi diri 15’ 15’ 15’ 15’ . santun. intonasi. kepribadian demokratis. tata dan norma berdskusi Hari kedua: c.Pembelajaran Inovatif 6-57 Contoh Model Pembelajaran Diskusi Kelompok Standar Kompetensi 10 : Berbicara: mengungkapkan pikiran. Membahas tujuan. Berlatih praktek sampai kompetensi ujaran. sikap demokratis. intonasi. informasi dan pengalaman melalui kegiatan membaca dan menanggapi cerita Kompetensi Dasar : Menceritakan tokoh idola para penemu ilmu pengetahuan dengan mengemukakan identitas dan keungulan tokoh dan alasan mengidolakannya. Pandai bicara dapat meningkatk an kesejahtera an c. pengorganisasian kelompok e. Dilakukan proses diskusi sesuai Rancangan. perasan. Membahas proses kegiatan yang terinci d. toleran. b. Membahas pengelompokan.

Melaporkan hasil diskusi kelompok j. Kesan-kesan dan kritik atas proses kegiatan b. Tindak lanjut untuk memperluas wawasan e. Evaluasi diri setiap anggota kelompok i. Dilakukan pengamatan evaluatif dan umpan g. Simpulan karakteristik tokoh pada umumnya d. Menulis refleksi Penutup a. Informasi baru tentang tokohtokoh c. Menulis refleksi 15’ 10’ Lembar simpulan 15 dan lembar refleksi .6-58 Pembelajaran Inovatif topik f. Evaluasi oleh anggota kelompok lain l. Tanggapan terhadap laporan kelompok k. Dilakukan diskusi simpulan hasil diskusi h.

BUKU AJAR PENILAIAN PEMBELAJARAN .

Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut.BAB I. Manfaat penilaian kelas 3. KONSEP DASAR DAN PRINSIP PENILAIAN KELAS Selamat datang. Anda tengah memasuki wilayah bahan ajar pelatihan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Kriteria penilaian kelas 5. 1. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan konsep dasar dan prinsip penilaian kelasl. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. C. Prinsip-prinsip penilaian kelas 6. 1) Memaparkan konsep dasar penilaian kelas 2) Memaparkan manfaat penilaian kelas 3) Memaparkan fungsi penilaian kelas 4) Memaparkan kriteria penilaian kelas 5) Memaparkan prinsip-prinsip penilaian kelas 6) Menjelaskan ranah penilaian kelas 7) Menjelaskan tata cara pelaksanaan penilaian kelas. Fungsi penilaian kelas 4. Ranah penilaian kelas . Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. dan praktikanlah. Konsep dasar penilaian kelas 2. B. Bacalah. pahamilah. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. A.

Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan dinilai. D. dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya.7-2 Penilaian Pembelajaran 7. yang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis melalui bukti menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik. diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum kompetensi. Konsep Dasar Penilaian Kelas Pada kurikulum baru (KTSP) penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian kelas. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Dari proses ini. . 1. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan perencanaan. Untuk itu. pengolahan. Jadi. Pelaksanaan penilaian kelas. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Oleh sebab itu. penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan. diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi. informasi penyusunan sejumlah alat penilaian.

Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. 2. tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. kegiatan. e. c. Penilaian hasil belajar. Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. pendekatan. penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio). Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru. dan penilaian diri. penilaian sikap. penilaian produk. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode. seperti penilaian unjuk kerja (performance). dan sumber belajar yang digunakan. Dengan demikian. baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan kompetensi. penilaian proyek. Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut: a. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. d.Penilaian Pembelajaran 7-3 dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. penilaian tertulis (paper and pencil test). Manfaat Penilaian Kelas Pelaksanaan penilaian kelas tgerdapat beberapa manfaat yang dapat diambil. dan kelemahannya dalam proses pencapaian . b. tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara.

Fungsi Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki beberapa fungsi. b. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan. Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut: a. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya. c. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbagkan konsep penilaian kelas yang baik digunakan 3. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.7-4 Penilaian Pembelajaran f. Validitas Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. e. Keenam kriteria itu dipaparkan sebagai berikut. membuat keputusan tentang langkah berikutnya. d. baik untuk pemilihan program. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan. Kriteria Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki kriteria sebagai dasar acuan kualitas. a. 4. . pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).

Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. berkesinambungan. Misal. guru ingin menilai kompetensi dasar kelas IX semester 2: Memahami berbagai bahaya bencana alam. terencana. Penilaian itu harus dilaksanakan secara obyektif.Penilaian Pembelajaran 7-5 Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur. b. dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor. tolong menolong. toleransi. e. dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. penilaian harus adil. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas. penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan). Keseluruhan/Komprehensif Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Untuk itu. . pengambilan keputusan dalam kelompok. c. penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan). Objektivitas Penilaian dikatakan objektif kalau penilaian itu menilaia apa yang seharusnya dinilai. Jika menggunakan tes pratek atau unjuk kerja penilaian tidak valid. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan atau tulis. Misalnya guru menilai dengan proyek kelas IX semester 2 untuk kompetensi dasar mempraktikkan perencanaan dasar-dasar kegiatan menjelajah alam bebas serta nilai kerja sama. Terfokus pada kompetensi Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi. d.

Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. ulangan akhir semester.7-6 Penilaian Pembelajaran f. dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian. produk. e. g. Dalam melaksanakan penilaian. f. dan pengamatan tingkah laku. Mendidik Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. c. lisan. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah . d. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis. proyek. observasi atau lainnya. dan ulangan kenaikan kelas. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses. unjuk kerja. kemajuan. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis. guru sebaiknya: a. Prinsip Penilaian Kelas Dalam pelaksanaan penilaian kelas harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian. ulangan tengah semester. portofolio. Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. b. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. 5.

Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun). kurikulum tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah berorientasi pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan. Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar. (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya). keterampilan. dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran. 6. guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian.Penilaian Pembelajaran 7-7 menyelesaikan beberapa kompetensi dasar. sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. Agar penilaian objektif. . Indikator tersebut menjadi acuan dalam merancang penilaian. tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta kompetensi secara utuh yang merefleksikan tetapi pengetahuan. satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Ranah Penilaian Kelas Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yang berbasis kompetensi didik. Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap. Dengan kata lain. Kurikulum tersebut memuat sejumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran.

pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. karakteristik. 2) pemetaan standar kompetensi. mendemonstrasikan. yang menjadi bagian dari silabus. menghitung. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar yang terkait. ciri-ciri. Berikut contoh penetapan indikator mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs . Penetapan Indikator Pencapaian kompetensi Indikator merupakan ukuran. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi. menyimpulkan. Indikator pencapaian kompetensi. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi.7-8 Penilaian Pembelajaran 7. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. mempraktikkan. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. a. dijadikan acuan dalam merancang penilaian. menceritakan kembali. dan mendeskripsikan. seperti: mengidentifikasi. dan 3) penetapan teknik penilaian. membedakan. dan indikator. Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kelas Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. kompetensi dasar.

Kompetensi Dasar.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat • : dikembangkan oleh guru b. dan teknik penilaian.1 Menyimpul-kan Mampu menuliskan isi berita yang dibacakan dalam pokok-pokok berita yang didengarkan beberapa kalimat Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1. kompetensi dasar. Berikut diberikan contoh pemetaan standar kompetensi. dan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian. . indikator.Penilaian Pembelajaran 7-9 Standar Kompetensi Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar Indikator pencapaian* 1. Pemetaan Indikator Standar Kompetensi.

7-10 Penilaian Pembelajaran

Standar Kompeten si

Kompete nsi Dasar

Indikator

KK M

Teknik Penilaian Pe Port rfo Pr Pr o Tes rm od oy Foli en uk ek o t V

Memahami 1.1 wacana Menyi lisan m-pulmelalui kan isi berita kegiatan yang mendengar kan berita dibaca kan dalam bebera pa kalimat

Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

75

70

v

c. Penetapan Teknik Penilaian Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh: • • • Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja (performance). Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis. Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan maka teknik penilaiannya adalah proyek.

E. Rangkuman Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu.

Penilaian Pembelajaran 7-11

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian kelas, di antaranya untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Selain itu, ada beberapa fungsi penilaian kelas di antaranya menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan, yaitu validitas, reliabilitas, terfokus pada kompetensi, keseluruhan/Komprehensif, objektivitas, dan mendidik Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Di antaranya dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya 1) memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu dan 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani,

olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui 1) Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2) Ulangan, dan/atau

penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yangberbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran.

7-12 Penilaian Pembelajaran

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi, 2) pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, dan 3) penetapan teknik penilaian.

F. Latihan Soal Jawablah Pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Kemukakan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian kelas! 2. Kemukakan dan jelaskan manfaat penilaian kelas! 3. Kemukakan dan jelaskan fungsi penilaian kelas! 4. Coba Anda kemukakan dan jelaskan kriteria penilaian kelas! 5. Coba jelaskan prinsip-prinsip penilaian kelas! 6. Jelaskan ranah yang dinilai dalam penilaian kelas! 7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan penilaian kelas!

BAB II. TEKNIK-TEKNIK DAN RANAH PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dapat diperoleh guru manakala guru memahami makna dan fungsi teknik-teknik penilaiannya. Karena itu, bagianl ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting tentang teknik-teknik penilaian, seperti teknik-teknik penilaian dan ranah penilaian

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan teknik-teknik dan ranah penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui

pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. a. Memaparkan dan menerapkan teknik-teknik penilaian bahasa dan sastra Indonesia b. Memaparkan ranah-ranah penilaian

C. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut, berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. 1. Teknik-teknik penilaian 2. Ranah penilaian tersebut tergambarkan sebagai

7-14 Penilaian Pembelajaran

D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

1. Teknik-teknik Penilaian Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Beragam teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikatorindikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

a. Penilaian Unjuk Kerja Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian unjuk kerja. 1) Pengertian Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Dalam 2) teknik

Penilaian Pembelajaran 7-15

penilaian mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti berbicara/menceritakan

sesuatu. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan penilaian unjuk kerja perlu

mempertimbangkan hal-hal berikut Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. 2) Teknik Penilaian Unjuk Kerja Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk dilakukan

menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya

pengamatan atau observasi praktik berbicara yang beragam, seperti: lafal, intonasi, kelancaran, keberanian, dll. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen (1) daftar cek, (2) skala penilaian. ( 1) Daftar Cek (Check-list) Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik

7-16 Penilaian Pembelajaran

mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak

memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Perhatikan contoh Check list berikut.

Format Penilaian Berbicara Nama peserta didik: ________ No. 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Pilihan kata 5. Dll Skor yang dicapai Skor maksimum Keterangan: Baik mendapat skor 1 Tidak baik mendapat skor 0 (2) Skala Penilaian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Baik Tidak baik

memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum memiliki pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih

Penilaian Pembelajaran 7-17

dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Berikut ini diberikan contoh Rating Scale. Format Penilaian Berbicara Nama Siswa: ________ N o 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Dll. 5. Jumlah Skor Maksimum Keterangan penilaian: 1 = tidak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Jika seorang siswa memperoleh skor 25-32 dapat ditetapkan sangat kompeten 2) Jika seorang siswa memperoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten 3) Jika seorang siswa memperoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten 4) Jika seorang siswa memperoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten b. Penilaian Sikap Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian sikap. 2) teknik Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Nilai 1 2 3 4

7-18 Penilaian Pembelajaran

a) Pengertian Penilain Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah

kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

adalah sebagai berikut. • Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. • Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi,

Penilaian Pembelajaran 7-19

metodologi,

dan

teknik

pembelajaran

yang

digunakan.

Proses

pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah peningkatan

pemakaian ejaan dan tata tulis. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus kesalahan ejaan dan tata tulis tertentu (kegiatan cermat berbahasa). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program cermat berbahasa. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan pemakaian bahasa yang salah. • Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi menggunakan perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan catatan khusus tentang kejadian-kejadian

buku

Berikut contoh format buku catatan harian. Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadian . Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian: BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK Mata Pelajaran Kelas Nama Guru : ___________________ : ___________________ : ___________________ Tahun Pelajaran : ___________________ SMP INSAN MULIA SEMARANG 2007 Contoh isi Buku Catatan Harian : No.7-20 Penilaian Pembelajaran berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.

Keterangan diisi dengan kriteria berikut Nilai 18-20 berarti amat baik Nilai 14-17 berarti baik Nilai 10-13 berarti sedang Nilai 6-9 berarti kurang Nilai 0-5 berarti sangat kurang (2) Pertanyaan langsung Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = amat baik b. Nama Ahmad Mualimah .. Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.Penilaian Pembelajaran 7-21 Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. Catatan: a. Berikut contoh format Penilaian Sikap. Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku c. Catatan dalam lembaran buku tersebut. selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan.. .. dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. Contoh Format Penilaian Sikap dalam Praktik Berbicara: Perilaku Semangat BeriniPenuh Berlatih Nilai Keterangan siatif Perhatian intensif 1 2 2 3 3 3 3 2 9 10 Kurang Sedang No. Misalnya. 2. 1. Selain itu. 3.

Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/sikap yang diamati: Nama peserta didik: .... khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.7-22 Penilaian Pembelajaran bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Ketuntasan Hasil Belajar Minimal mata pelajaran penjaskes"..Hari/Tgl....... Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap........... peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Prestasi Bahasa Indonesia di Sekolah" yang dicapai akhir-akhir ini... kelas... (3) Laporan pribadi Melalui penggunaan teknik ini di sekolah.. 1 2 3 4 ... keadaan.............. Misalnya. peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah... semester.... atau hal yang menjadi objek sikap. Capaian ST T R S R Deskripsi perubahan Pertemuan . semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut.... Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan. No Deskripsi perilaku awal . guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah.

Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku ST = perubahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah b. yaitu: a) memilih jawaban. Penilaian Tertulis Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian tertulis yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian tertulis. Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari: 1) pertanyaan langsung 2) Laporan pribadi 3) Buku Catatan Harian c. 1) Pengertian Penilaian Tertulis Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban. tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda.Penilaian Pembelajaran 7-23 Keterangan: a. ya-tidak) (3) menjodohkan (4) sebab-akibat b) mensuplai jawaban. yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda (2) dua pilihan (benar-salah. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. dan lain sebagainya. dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi (2) jawaban singkat atau pendek . 2) Teknik Penilaian Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis. menggambar. mewarnai.

Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat.7-24 Penilaian Pembelajaran (3) uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. . yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. misalnya mengemukakan pendapat. tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. berpikir logis. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi. tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. memahami. maka peserta didik akan menerka. tes memilih jawaban benarsalah. a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran. dan menyimpulkan. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya. Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. Selain itu. isian singkat. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas. Karena itu. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan cakupan materi yang luas.

3. . Cara Penskoran: Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. c) konstruksi. d) bahasa. .. Ceritakan kembali secara ringkas cerpen Robohnya Surau Kami! 2.Penilaian Pembelajaran 7-25 b) materi. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. Penilaian Proyek Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian proyek yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian proyek. d. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Semakin lengkap dan tepat jawaban. pengorganisasian. misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi. semakin tinggi perolehan skor... pengolahan. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum. pengumpulan data. Contoh Penilaian Tertulis Mata Pelajaran Kelas/Semester : Bahasa dan Sastra Indonesia : IX/1 Mensuplai jawaban (Bentuk Uraian) 1. 1) Pengertian Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. dan penyajian data.. .

penyelidikan. • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. analisis data. Untuk itu. sampai hasil akhir proyek. Berikut diberikan dalam penilaian proyek: beberapa contoh kegiatan peserta didik a) penelitian sederhana tentang peningkatan kesegaran jasmani melalui alat modern di rumah. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. • Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. dan . proyek dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan kemampuan mengaplikasikan. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. dan penyiapkan laporan tertulis. seperti penyusunan disain.7-26 Penilaian Pembelajaran Penilaian pemahaman. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. • Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. pengumpulan data. dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. b) Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut. proses pengerjaan. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.

Analisis Data e. Pelaksanaan a. Keakuratan Sumber Data/Informasi c. Semakin lengkap dan tepat jawaban. Penilaian Produk Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian produk yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian produk. Performans b. Sistematika Penulisan b. Kuantitas Sumber Data d. Persiapan b. semakin tinggi perolehan skor. Laporan Proyek a. Presentasi / Penguasaan Total Skor Keterangan: * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. e. Rumusan Judul 2. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Proyek : Perkembangan Cerpen Indonesia Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : IX/1 No Aspek * Skor (1 – 5)** 1.Penilaian Pembelajaran 7-27 b) Penelitian sederhana tentang perkembangan prestasi olahraga daerah. Penarikan Kesimpulan 3. . Perencanaan: a.

• Tahap penilaian produk (appraisal). meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. dan mengembangkan gagasan. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. alat. . Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian sebagai berikut. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. seperti: bola. dan teknik. b) Teknik Penilaian Produk Teknik penilaian produk yang biasanya digunakan adalah cara holistik atau analitik.7-28 Penilaian Pembelajaran a) Pengertian Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. jaring. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. dan mendesain produk. • Tahap persiapan. b) Cara holistik. a) Cara analitik. • Tahap pembuatan produk (proses). dan lain-lain. menggali. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. lapangan.

Hasil Produk a. Inovasi Total Skor Keterangan: Aspek * Penggunaan Pilihan Kata * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. 1) Pengertian Penilain Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Teknik penulisan c. 2. . Persiapan penulisan b. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-29 Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Menulis Cerpen : 2 Minggu Kelas : Skor (1 – 5)** Nama Siswa : ______________________ IX/1 No 1. Proses penulisan a. Penilaian Portofolio Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian portofolio. Kebersihan dan kerapian 3. Semakin lengkap dan tepat jawaban. semakin tinggi perolehan skor. Bentuk Fisik (Unsur Instrinsik) b. f.

sinopsis. dsb. antara lain: karangan. Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut. Dengan demikian. b) Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. antara lain: a) Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu buku/ literatur.7-30 Penilaian Pembelajaran hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik melakukan perbaikan. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. dan terus dapat portofolio memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan d) guru Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan . Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah. sendiri. resensi laporan penelitian.

e) Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik. tetapi . dan minatnya. 2) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkahlangkah sebagai berikut: a) Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-31 Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. f) Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan. keterampilan. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan. tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian. h) Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. g) Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil.

dan sistematika penulisan. c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di madrasah. serta bagaimana cara memperbaikinya. misalnya 2 . Dengan demikian. pemilihan kosa-kata.7-32 Penilaian Pembelajaran membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. kelengkapan gagasan. Misalnya. f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Contoh. e) Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya . g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. d) Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. Guru dapat membimbing peserta didik. untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangankarangannya. Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan tentang olah raga. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Namun. yaitu: penggunaan tata bahasa. b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan. bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut.

Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik. h) Bila perlu. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Alokasi Waktu : 1 Semester Nama Siswa : _________________ VIII/1 Kriteria Standar No Kompetensi/Ko mpetensi Dasar 1.Penilaian Pembelajaran 7-33 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. .100. Tata bahas a Kos a kata Kelengkap an gagasan Sistemati ka penulisan Ke t Kelas : 2. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 . jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Catatan: Setiap karya siswa sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Menulis karangan Perkembangan Olahraga Daerah Peri ode 30/7 10/8 dst. semakin tinggi skor yang diberikan. Jika perlu.10 atau 0 . Membuat 1/9 resensi buku 30/9 Olahraga 10/1 0 Dst. undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio. sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

afektif. misalnya. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. • Penilaian kompetensi kognitif di kelas. 1) Pengertian Penilaian Diri Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. • Penilaian kompetensi afektif. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Penilaian Diri (self assessment) Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian diri yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian diri.7-34 Penilaian Pembelajaran g. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. Selanjutnya. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. . • Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik. dan psikomotor. misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu.

6) Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian secara acak. 1) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai. • dapat mendorong. atau skala penilaian. 4) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. 2) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. 3) Merumuskan format penilaian. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. dapat berupa pedoman penskoran. b) Teknik Penilaian Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. 5) Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak. membiasakan. Oleh karena itu.Penilaian Pembelajaran 7-35 • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika mereka melakukan penilaian. untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. terhadap sampel hasil penilaian yang diambil . daftar tanda cek.

Kompetensi / K. karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Dasar Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham 2. interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran. 2. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. S. keterampilan. Domain Penilaian Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. Lagi pula. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. seperti .7-36 Penilaian Pembelajaran Contoh Penilaian Diri Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kognitif : 1 Semester Kelas : Nama Siswa : _________________ IX/1 Tanggapa n 1 0 No 1. Dst Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya. pengetahuan dan sikap seseorang.

teori. Contoh kegiatan belajar: • mengemukakan arti • menamakan (memberi nama) • membuat daftar • menentukan lokasi • mendeskripsikan sesuatu • menceritakan apa yang terjadi .Penilaian Pembelajaran 7-37 domain kognitif. daftar. konsep. a. Pengetahuan Deskripsi Arti : • Pengetahuan terhadap fakta. tahun. rumus. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. definisi. Berikut ini kan dipaparkan ketiga jabaran domain tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk penilaian yang tepat untuk mata pelajaran penjaskes. dan kesimpulan. Domain Kognitif TINGKATAN DOMAIN KOGNITIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Evaluasi Sintesis Analisis Penerapan Pemahaman Pengetahuan KEMAMPUAN BERPIKIR (KOGNITIF) Bloom Tingkat I. afektif. peristiwa. nama.

Pemahaman • menguraikan apa yang terjadi Arti : • Pengertian terhadap hubungan antar-faktor. pesawat sederhana III. Aplikasi IV. hubungan sebab-akibat. Sintesis .7-38 Penilaian Pembelajaran II. penyelesaian. dan antar-data. Contoh kegiatan belajar: • mengidentifikasi faktor penyebab• merumuskan masalah • mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi • membuat grafik • mengkaji ulang Arti : • Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep • Meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: • membuat desain • mengarang komposisi lagu • menemukan solusi masalah • memprediksi • merancang model mobil-mobilan. antar konsep. Analisis V. membandingkan • mengintepretasi data • mendiskripsi dengan kata-kata sendiri • menjelaskan gagasan pokok • menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti : • Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah • Menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan belajar: • menghitung kebutuhan • melakukan percobaan • membuat peta • membuat model • merancang strategi Arti : • Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. dan penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: • mengungkapkan gagasan/pendapat dengan katakata sendiri • membedakan.

dkk .Penilaian Pembelajaran 7-39 VI. b. Evaluasi • menciptakan produk baru Arti : • Mempertimbangkan dan menilai benarsalah. bermanfaat-tak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: • mempertahankan pendapat • beradu argumentasi • memilih solusi yang lebih baik • menyusun kriteria penilaian • menyarankan perubahan • menulis laporan • membahas suatu kasus • menyarankan strategi baru. baik-buruk. Domain Afektif TINGKATAN DOMAIN AFEKTIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Karakterisasi Pengorganisasian Penilaian Pemberian respon Penerimaan KEMAMPUAN BERSIKAP/NILAI (AFEKTIF) Kratwohl.

lebih menyukai. atau barang antik • melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran II. ingin. Acuan nilai (Valuing) . Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : • Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli • Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar: • sering mendengarkan musik • senang membaca puisi • senang mengerjakan soal matematika • ingin menonton sesuatu • senang membaca cerita • senang menyanyikan lagu Arti : • Menunjukkan perhatian aktif • Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena • Setuju. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: • mengapresiasi seni • menghargai peran • menunjukkan keprihatinan • menunjukkan alasan perasaan jengkel • mengoleksi kaset lagu. puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: • mentaati aturan • mengerjakan tugas • mengungkapkan perasaan • menanggapi pendapat • meminta maaf atas kesalahan • mendamaikan orang yang bertengkar • menunjukkan empati • menulis puisi • melakukan renungan • melakukan introspeksi Arti : • Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai •Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti •Tingkatan: menerima. novel. Responsi (Responding) III.7-40 Penilaian Pembelajaran Tingkat I.

tepat waktu.Penilaian Pembelajaran 7-41 IV. berdisiplin diri • mandiri dalam bekerja secara independen • objektif dalam memecahkan masalah • mempertahankan pola hidup sehat • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan • menyarankan pemecahan masalah HAM • menilai kebiasaan konsumsi • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman V. • Menentukan saling hubungan antarnilai • Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana • Tingkatan : .Konseptualisasi suatu nilai Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: • bertanggung jawab terhadap perilaku • menerima kelebihan dan kekurangan pribadi • membuat rancangan hidup masa depan • merefleksi pengalaman dalam hal tertentu • membahas cara melestarikan lingkungan hidup • merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan Arti : • Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter • Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu. Contoh kegiatan belajar: • rajin. diorganisasi secara konsisten. Karakterisasi (menjadi karakter) . Organisasi HAM • menjelaskan alasan senang membaca novel Arti: • Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam latu sistem. dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu.

menggerakkan leher dan kepala. mengenggam. berjalan. memegang Contoh kegiatan belajar: • mengupas mangga dengan pisau • memotong dahan bunga • menampilkan ekspresi yang berbeda • meniru gerakan polisi lalu lintas. Arti: • Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik • Gerakan ini terpola dan dapat ditebak II.7-42 Penilaian Pembelajaran c. Domain Psikomotor TINGKATAN DOMAIN PSIKOMOTOR TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN NATURALISASI MERANGKAIKAN KETEPATAN MENGGUNAKAN MENIRU KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR) Tingkat I. menunduk. Gerakan dasar (Basic fundamental movements) . juru parkir • meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin. Gerakan refleks Deskripsi Arti : • Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak • Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat.

Gerakan persepsi (Perceptual abilities) Contoh kegiatan belajar: • Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. blok. menarik. meluncur. pemain biola. menarik-mendorong. Gerakan terampil . berjalan. menggambar dengan crayon. kegiatan memperkuat lengan. merentang. menggambar. pingpong • membedakan bunyi beragam alat musik • membedakan suara berbagai binatang • mengulangi ritme lagu yang pernah didengar • membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : • Gerak lebih efisien • Berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: • menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu • berlari jauh • mengangkat beban. maju perlahan-lahan. Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities) V. mendorong. meloncatloncat. berlari.Penilaian Pembelajaran 7-43 III. membungkuk. memegang dan melepas objek. kaki. pemain bola Arti : • Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak •Terampil. menggunting. atau mainan • Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola. cekatan melalukan gerakan IV. berputar • Contoh gerakan berpindah: merangkak. melakukan push-ups. dan perut • menari • melakukan senam • melakukan gerak pesenam. memanjat • Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok. berputar mengitari. tangkas. Arti: • Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: • menangkap bola. memeluk. mendrible bola • melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan • memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang kurannya bervariasi • membaca • melihat terbangnya bola pingpong • melihat gerak pendulun • menggambar simbol geometri • menulis alfabet • mengulangi pola gerak tarian • memukul bola tenis.

penilaian produk. . dan penilaian diri. Rangkuman Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik di SMP/MTs. bermain drama (acting) • keterampilan olahraga tingkat tinggi VI. melukis. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. menari balet. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain.7-44 Penilaian Pembelajaran (Skilled movements) yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar: • melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga • menari. yaitu penilaian unjuk kerja. penilaian sikap. afektif. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. penilaian proyek. Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication) E. penggunaan portofolio. melakukan senam tingkat tinggi. berdansa • membuat kerajinan tangan • menggergaji • mengetik • bermain piano • memanah • skating • melakukan gerak akrobatik • melakukan koprol yang sulit Arti : • Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan • Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah • Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: • kerja seni yang bermutu (membuat patung. seperti domain kognitif. penilaian tertulis.

Sebutkan salah satu tes keterampilan berbicara yang dapat menghemat waktu pelaksanaannya? 3. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Buatlah salah satu bentuk daftar cek yang berisikan skill-skill yang menurut anda layak dikuasai oleh siswa setelah taat kelas IX SMP/MTs? 4. Jelaskan teknik-teknik penilaian yang dapat digunakan untuk penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. Dari beberapa tes pengetahuan dan sikap.Penilaian Pembelajaran 7-45 F. coba anda diskusikan salah satu bentuk tes pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan materi kesegaran jasmani? Perhatikan pelaksanaan tes tersebut harus menghemat waktu! . Selain bentuk yang sudah diuraikan di atas. cara mana yang menurut anda paling cocok buat anda sendiri? 5.

Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. Menentukan jenis teknik dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. C. seperti konsep memilih teknik penilaian dan contoh implementasi pemilihan teknik penilaian. Contoh implementasi pemilihan teknik dan bentuk penilaian. B. Konsep memilih teknik dan bentuk penilaian 2. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut 1. PEMILIIHAN TEKNIK PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP/MTS Pembahasan tentang pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTS sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. A.BAB III. 1. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. 2. . Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Karena itu. Menerapkan jenis teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs.

Tuliskan objektif pokokpokok berita Nontes: yang tugas didengar harian dari rekaman guru! 2. Lagi pula. Tes 1. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Berikut diberikan contoh teknik penilaian yang mungkin dapat digunakan dalam menilai kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP?MTs. dan sikap seseorang.1 Indikator Materi Pembelajaran Teks Berita •Pokokpokok berita •Simpulan isi berita Menyimp ul-kan isi berita yang dibacaka n dalam beberapa Mampu menyimpulkan kalimat isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen Esai. Contoh Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas/Semester : VII/1 : Memahami wacana lisan melalui kegiatan Standar Kompetensi mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1. Tulislah simpulan isi berita yang . Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Dalam memilih teknik penilaian. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. keterampilan. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. pengetahuan.Penilaian Pembelajaran 7-47 D.

tugas Ceritakanla individual h pengalaman yang paling mengesank an dengan menggunak an pilihan Jenis Tagihan Tes Mampu menentukan pokok-pokok cerita Mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif . objketif Tuliskan kembali berita yang didengar dari rekaman guru ke dalam beberapa kalimat! Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Kelas/Semester : VII/1 Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman Kompetensi Dasar 2. Tulislah Esai po-kokpokok cerita pengalaman yang paling mengesankan! Kinerja Nontes: 2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunaka n pilihan kata dan kalimat efektif Indikator Materi Pembelajaran Pengalaman yang mengesankan • Pokokpokok cerita • Cara bercerita Penilaian Bentuk Contoh Instrumen Instrumen 1.2 Menulisk an kembali berita yang dibacaka n ke dalam beberapa kalimat Teks Berita •Isi Berita Tes Nontes: tugas harian Esai.7-48 Penilaian Pembelajaran kamu dengarka n dari rekaman guru! 1.

observasi. dan tes tertulis/lisan/kuis. dan sikap seseorang. penilaian diri. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Lagi pula. Tulislah pokokpokok pegumuman ! 2. Latihan Soal . pengetahuan. Tes Esai kata dan kalimat efektif! 1. Sampaikan pengumuma n dengan intonasi yang tepat serta menggunak an kalimat yang lugas dan sederhana! kinerja Nontes: tugas individual D. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Rangkuman Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran penjaskes di MA di antaranya unjuk kerja.2 Teks pengumuman Menyampai • Pokokkan pokok cerita pengumum • Cara an dengan Mampu menyampaik intonasi menyampaikan an yang tepat pengumuman pengumuma serta dengan n menggunak intonasi yang an kalimattepat serta kalimat yang lugas menggunakan kalimat yang dan sederhana lugas dan sederhana Mampu menuliskan pokok-pokok pegumuman. keterampilan. E.Penilaian Pembelajaran 7-49 2.

2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang 6. Perhatikan kompetensi dasar berikut dan tentukan jenis penilaiannya! Kompetensi Dasar Indikator Materi Pembelajaran Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen 5. dan mimik yang tepat 6. gestur. lafal. Jelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menilai Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. suara. intonasi.1 Bercerita dengan urutan yang baik.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarka n 5.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7.7-50 Penilaian Pembelajaran Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca .2 Bercerita dengan alat peraga 7.

Penilaian Pembelajaran 7-51 8.2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar .1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.

dan cara pelapran informasi hasil belajar. penskoran. PENGUMPULAN. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. PENGOLAHAN. a. Memaparkan cara penskoran informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP c. seperti cara pengumpulan. A. dan cara pelapran informasi hasil belajar. B. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah/madrasah. DAN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pengumpulan. Karena itu. Standar Kompetensi Setelah mempelajari bagian ini peserta diklat PLPG diharapkan mampu mendeskripsikan dan menerapkan cara pengumpulan. cara penskoran.7-52 Penilaian Pembelajaran BAB IV. Memaparkan cara pengumpulan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP b. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. Memaparkan cara pelaporan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP . cara penskoran.

Pengumpulan informasi hasi belajar 9. Pengelolaan informasi hasil belajar 10. Berikut dipaparka beberapa cara pengumpulan informasi hasil belajar. 1. Cara Pengumpulan Informasi (Cara Penilaian) 1 2 3 4 5 6 7 Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk kerja Produk Portofolio Observai/pengamatan Jawaban tertulis Jawaban tertulis Tuturan/ucapan Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah laku Aspek yang Dinilai tersebut tergambarkan sebagai . 8. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Ketujuh materi pokok berikut. Pelaporan informasi hasil belajar D. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. No.Penilaian Pembelajaran 7-53 C. Pengumpulan informasi hasil belajar Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

75 x 10 = 7. Misalnya. penyampaian gagasan jelas. ada 8 aspek yang dinilai. menatap kepada hadirin. Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%. skor maksimumnya 8. maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0. sistematis. Dengan demikian. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. Pengolahan Hasil Penilaian a. Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 -100). maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar. Nilai 7. dan sebagainya. Apabila seseorang mendapat skor 6. Data Penilaian Unjuk Kerja Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi. b. antara lain: berdiri tegak. . Data Penilaian Sikap Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran.7-54 Penilaian Pembelajaran 2.5.5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato.

dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. guru mata pelajaran dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan. berdasarkan catatancatatan tentang peserta didik yang dimilikinya. yang berkaitan dengan sikap. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku. guru mata pelajaran merumuskan sintesis. dan unjuk kerja peserta didik. . baik positif maupun negatif. benar salah. atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. sebagai deskripsi dari sikap. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. c. Selain itu. perilaku. Pada akhir semester. Data Penilaian Tertulis Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik. jawaban singkat. perilaku. Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda. uraian. menjodohkan. Yang dimaksud dengan kejadian-kejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian. hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol. baik berupa peringatan atau rekomendasi. menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan.Penilaian Pembelajaran 7-55 Seperti telah diutarakan sebelumnya. sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor.

dibagi skor maksimal. bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. menjodohkan. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar -----------------------------.X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah. dikali dengan 10. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu . Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1.5. uraian objektif dan uraian non-objektif. Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif. Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. misalnya 0 . Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik. Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar. dan jawaban singkat.7-56 Penilaian Pembelajaran Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu. karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori.

Berikut tabel yang memuat contoh deskripsi dan penskoran untuk masing-masing tahap. pengolahan data.Penilaian Pembelajaran 7-57 kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. . Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. Dalam menilai setiap tahap. data yang diperoleh dengan masing-masing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot. Data Penilaian Proyek Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahaptahap: perencanaan/persiapan. guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban. Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. nilai 6. d. pengumpulan data. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran. Misalnya. dengan dua angka di belakang koma.50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut. dan penyajian data/laporan. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10. Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai.

menuliskan alat dan bahan. waktu. jelas dan lengkap. bahan/alat. dan tahap penilaian.4 1. guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan. tahap pembuatan (produk). Cara penilaian analitik. Dengan cara holistik. Data Penilaian Produk Data penilaian produk diperoleh dari tiga tahap. menguraikan cara kerja (langkah-langkah kegiatan) Penulisan laporan sistematis. jadwal. tahap pembuatan. Total Skor Skor 1. langkah-langkah kerja. Merumuskan topik. yaitu tahap persiapan. e. menggunakan bahasa yang komunikatif. yaitu mulai dari tahap persiapan. memuat kesimpulan dan saran. daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan. tujuan.4 1. Informasi tentang data penilaian produk diperoleh dengan menggunakan cara holistik atau cara analitik.7-58 Penilaian Pembelajaran Tahap Perencanaan/ persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data/ laporan Deskripsi Memuat: topik. perkiraan data yang akan diperoleh. Penyajian data lengkap. Data tercatat dengan rapi.4 Keterangan: Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh. penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian. merumuskan tujuan penelitian. Ketepatan menggunakan alat/bahan Ada pengklasifikasian data. dan tahap penilaian (appraisal). . guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. tempat penelitian.4 1.

(2) hasil pekerjaan peserta didik. dan (3) profil perkembangan peserta didik. • mendesain produk.Penilaian Pembelajaran 7-59 Contoh tabel penilaian analitik dan penskorannya Tahap Persiapan Deskripsi Kemampuan merencanakan seperti: • menggali dan mengembangkan gagasan. Skor 1-10 Pembuatan Produk 1-10 Penilaian produk 1-10 Kriteria penskoran: • menggunakan skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. (3) perkembangan dokumen. semakin tinggi skor yang diperoleh. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio. Data penilaian Portofolio Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. menentukan alat dan bahan • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru. (2) dokumentasi/data dalam folder. • Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan/fungsinya. • Produk memenuhi kriteria keindahan. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik. f. Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi . Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. (5) presentasi dan (6) penampilan. (4) ringkasan setiap dokumen. • semakin baik kemampuan yang ditampilkan.

dikali dengan 10 atau 100. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut. dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. karena dua alasan utama. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja. sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam melakukan penilaian. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing.100. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 – 100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai. hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan.7-60 Penilaian Pembelajaran peserta didik pada selang waktu tertentu. Pertama. karena peserta didik belum terbiasa dan terlatih. sangat terbuka kemungkinan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. g. yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 – 10 atau 0 . atau penguasaan kompetensi tertentu. Kedua. Data Penilaian Diri Data penilaian diri adalah data yang diperoleh dari hasil penilaian tentang kemampuan. kecakapan. karena terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai . Pada taraf awal.

guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali. 20% untuk ditelaah. Kriteria ideal untuk masingmasing indikator lebih besar dari 60%. Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas. para peserta didik menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik.d. pada taraf awal. Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipercaya serta dapat dipahami. guru perlu melakukan langkah-langkah telaahan terhadap hasil penilaian diri peserta didik. Guru perlu mengambil sampel antara 10% s. dikoreksi. 3. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru. Interpretasi Hasil Penilaian dalam Menetapkan Ketuntasan Belajar Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu ke indikator. dan dilakukan penilaian ulang. dan jujur. objektif. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung. Apabila peserta didik telah terlatih dalam melakukan penilaian diri secara guru. Apabila hasil koreksi ulang yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi. Namun sekolah dapat . Dua atau tiga kali guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini. diinterpresikan. Oleh karena itu. dengan menunjukkan catatan tentang kelemahan-kelemahan yang telah mereka lakukan dalam koreksian pertama.Penilaian Pembelajaran 7-61 yang baik.

dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. Sebaliknya. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas sama atau lebih dari 50%. Melalui pemeringkatan ini diharapkan sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya. 60% atau 70%. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. . Apabila semua indikator telah tuntas. peserta didik dapat mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas. misalnya melalui ujian nasional. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas lebih dari 50%. Dengan demikian. dapat dikatakan peserta didik itu belum menuntaskan indikator itu. dalam hal ini meningkatkan kriteria pencapaian indikator semakin mendekati 100%.7-62 Penilaian Pembelajaran menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Namun. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. Hasil penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar secara berkala. apakah 50%. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. apabila nilai indikator dari suatu KD lebih kecil dari kriteria ketuntasan.

peserta didik perlu mengikuti remedial untuk indikator tersebut. indikator ke. E. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Jadi.5 2 Pada kompetensi dasar di atas.= 67. Nilai rata-rata indikator 2: 60 + 75 --------.Penilaian Pembelajaran 7-63 Contoh penghitungan nilai kompetensi dasar dan ketuntasan belajar pada suatu mata pelajaran. . Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Rangkuman Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung.1 Kriteria Ketuntasa n 75% Nilai peserta didik 60 Ketuntasa n Tidak Tuntas 70% 75 Tuntas Indikator Mampu Menceri menentukan pokokpokok cerita takan pengalam Mampu an yang menceritakan paling pengalaman yang mengesa paling nkan mengesankan dengan menggun dengan menggunakan akan pilihan kata dan pilihan kalimat efektif kata dan kalimat efektif Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa nilai indikator pada kompetensi dasar di atas bervariasi. nilai kompetensi dasar di atas 60 dan 75. Jadi. Kompetensi Dasar 2.1 belum tuntas.

Dengan demikian. . dan observasi. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. F. Apabila semua indikator telah tuntas.7-64 Penilaian Pembelajaran Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. Interpretasi hasil penilaian adalah proses mencocokkan hasil penilaian dengan Kriteria Ketuntasan Minimal. Hasil engolahan data ini selanjutnya dilakukan interpretasi. Jelaskan bagaimana cara pengolahan data cara-cara penilaian berikut ini. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Namun. lisan. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. 60% atau 70%. sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Kriteria ideal untuk tiap-taip indikator lebih besar dari 60%. porfolio. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. unjuk kerja. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. Cara itu antara lain tertulis. Pengolahan data hasil penilaian disesuaikan dengan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. Jelaskan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia peserta didik di SMP? 2. apakah 50%. produk.

Jelaskan apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan KKM! 4. tertulis. g. dan . b. f. porfolio. e. d. observas. lisan. unjuk kerja. penilaian diri 3.Penilaian Pembelajaran 7-65 a.Jelaskan bagaimana seorang anak dikatakan telah menuntaskan hasil belajar KD! . c. produk.

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu memaparkan cara pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. B. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut.BAB V. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pemanfaatan dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. modul ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. . Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. Karena itu. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. 1) Memaparkan cara pemanfaatan penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP 2) Memaparkan cara membuat pelaporan hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP C. seperti pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian.

(2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. Pemanfaatan hasil penilaian di antaranya sebagai berikut. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya. a) Bagi peserta didik yang memerlukan remedial Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi. Pemanfaatan Hasil Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal. atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci.Penilaian Pembelajaran 7-67 D. Misalnya. 1. guru kelas. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran. Pelaporan hasil belajar Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. 1. memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. (4) pelaporan. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. Pemanfaatan penilaian 2. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi . Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. dan (5) penentuan kenaikan kelas.

Oleh karena itu. dan memperbaiki program pembelajarannya. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru. latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. strategi pembelajaran yang telah disiapkan. dapat diberikan program akselerasi. atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. c) Bagi Guru Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum. Misalnya. dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. dan bahan yang telah . program yang telah dirancang. Salah satu kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan. atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran. atau mengerjakan tugas mengumpulkan data. agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan. membuat rangkuman pelajaran. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat.7-68 Penilaian Pembelajaran kesempatan untuk belajar sendiri. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan. b) Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai npeserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif.

komite sekolah. Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat. d) Bagi Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan Kepala sekolah untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa.Penilaian Pembelajaran 7-69 disiapkan perlu dievaluasi. atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. Atas dasar itu. dan instansi terkait lainnya. Laporan sebagai Akuntabilitas Publik Kurikulum berbasis kompetensi dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. tetapi juga di bidang akademik. transparansi dan akuntabilitas publik. di mana peran-serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja. laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. dan akurat. 2. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. . orang tua. komprehensif. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester. masyarakat. Pelaporan Hasil Penilain Kelas a. direvisi. karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat. Pelaporan hasil belajar hendaknya: • Merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik • Memberikan informasi yang jelas.

Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami). ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan. misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika. sosial dan emosional? Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? . statistika. sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya. Dipihak anak. Namun. Bentuk Laporan Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor).7-70 Penilaian Pembelajaran • Menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar b. c. aljabar. fisik. Isi Laporan Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: • • • • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik. makna nilai tunggal seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti apakah anaknya perlu dibantu dalam bidang aritmatika. geometri. Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik. atau hal lain.

Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya. . Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif. Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik. Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. • • • • • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami. nilai tugas perseorangan maupun kelompok. Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD.Penilaian Pembelajaran 7-71 Untuk menjawab pertanyaan tersebut. tes sumatif. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik. hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. d. dalam kurun waktu 1 semester. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak.

. Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik. berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. (Contoh model rapor beserta petunjuk pengisiannya lihat lampiran ). N K K K . N R Kd K K . Rapor Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya. Rangkuman Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) . KD dan Indikator semester bersangkutan..7-72 Penilaian Pembelajaran CONTOH FORMAT REKAP NILAI MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris KELAS/SEMESTER : TAHUN PELAJARAN : Mendengarkan NA NO MA 1 Riri Berbicara Membaca Menulis Kd 2 Kd 3 .. Untuk model rapor.. N Kd 1 d d R d d d R d d d R 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2 Toto * NR = nilai rata-rata KD untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada rapor e... E. N K K K . Laporan prestasi mata pelajaran... Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK.

Jelaskan pemanfaatan hasil penilaian penjaskes peserta didik di MA? 2. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. F. (4) pelaporan. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. orang tua. dan instansi terkait lainnya. Bagaimana cara menantukan nilai rapor penjaskes di MA! . Jelaskan bentuk laporan yang idela untuk penjaskes di MA! 4. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Jelaskan apa saja isi laporan hasil belajar penjaskes di MA! 5. Jelaskan apa yang dimaksud laparan sebagai akuntabilitas publik! 3. komite sekolah. dan (5) penentuan kenaikan kelas. masyarakat. Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-73 bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah.

Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan. dsb. untuk menunjukkan bahwa peserta didik itu kompetensi dasar tertentu. Indikator : karakteristik. keterampilan. telah memiliki pertanyaan. kemmapuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik dari standar kompetensi. Kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. tanda-tanda. Asesmen : penilaian. lisan di kelas/ulangan harian. tugas individu. perbuatan. tugas kelompok. penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Bentuk tes:olongan tes menurut penggolongan menjadi tes pilihan ganda. dsb. tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya. atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program. Berkesinambungan: berkelanjutan. Evaluasi : kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program. penafsiran hasil pengukuran. tidak berhenti pada suatu saat. . dan perilaku. Keandalan tes: kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg atau konsisten. Jenis tagihan: golongan tagihaan menurut klasifikasi menjadi kuis. yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan sehingga mengandung unsur subjektivitas. ciri-ciri. tes uraian.7-74 Penilaian Pembelajaran Lampiran: GLOSARIUM Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap Analisis : kajian terhadap suatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Standar kompetensi: kemammpuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran. dan mengungkapkan sikap peserta didik itu terhadap mata pelajaran tertentu. perkembangan peserta didik itu dalam kemampuan berpikir. : pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan. Tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur. sejumlah hasil karya seorang peserta didik. Ujian : proses kualifikasi kemampuan peserta didik pada ranah kognitif dan psikomotor. kemampuan peserta didik itu dalam mengungkapkan gagasan. kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran. Penilaian :proses menetapkan nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen atau pengukuran. baik lisan maupun tertulis. .Penilaian Pembelajaran 7-75 Kuis : ulangan singkat atau ujian singkat. pemahaman pesert didik itu atas materi pelajaran. Pengujian Pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik. Reliabilitas: kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. Validitas: kemampuan alat ukur yang mempengaruhi fungsinya sebagai alat ukur. Nilai yang diberikan itu diharapkan dapat mencerminkan kemajuan belajar anak Portofolio: kumpulan hasil karya seorang peserta didik.

.

SDLB. dan MI. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama: Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Direktorat TK-SD. . Direktorat Menengah Umum. 2007. SLB Tingkat Dasar. Depdiknas. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. 2002.Penilaian Pembelajaran 7-1 DAFTAR PUSTAKA BSNP. Standar Isi. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD. Puskur. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU): Pedoman Umum. 2001. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menegah Umum. Burhan. Jakarta: BSNP-Direktorat Pembinaan SMP. Nurgiyantoro. Yogyakarta: BPFE. 2002. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Direktorat TK-SD. 2002.

Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP di antaranya sebagai berikut. menggunakan orang lain 4. ada alat penilaian yang secara lengkap mengumpulkan prestasi hasil belajar c.. Guru dalam melakukan penilaian pembelajaran di kelas. Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebagai berikut a. melibatkan orang lain c. a. kecuali . untuk mengukur prestasi hasil belajar bisa satu alat penilaian d. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. alat penilaian semuanya baik . mengetahui keberadaan siswa d. observasi c. mengetahui keberhasilan guru 6. mengatahui kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu c. C atau D! 1. tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap b. Ada beberpa alternatif alternatif yang dapat digunakan guru untuk menghemat waktu dan lebih bermanfaat bagi para siswa dalam melakukan penilaian di antaranya sebagai berikut kecuali . produk 5. tes kecermatan berbahasa b. mengetes sendiri dan dengan partner b. a. tes sikap 7. penilaian diri d. B.. unjuk kerja b. mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung b. tes keterampilan berbahasa c. tes pengetahuan d. a.. kecuali … a. terutama digunakan untuk ….. bagian dari proses pembelajaran d.7-2 Penilaian Pembelajaran A. Tes Mandiri Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf A.

. saling menghormati. a. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri.. produk 7.. produk 9. penghargaan guru dan siswa . Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan sebagai berikut kecuali … a. penilaian diri d. observasi c. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri. Untuk mengukur KD Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri.. etika. saling menghormati. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri. a. perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan b.. kebesamaan.. observasi c... observasi c. toleransi. etika. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat penilaian . produk 8. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat permainan . toleransi.Penilaian Pembelajaran 7-3 6. perbaikan program dan proses pembelajaran d. penilaian diri d.. pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan c. unjuk kerja b. kebesamaan. toleransi. kebesamaan. saling menghormati. etika. kebesamaan. saling menghormati. produk 10. Observasi c. penilaian diri d. unjuk kerja b. etika. a. a. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian .. penilaian diri d. unjuk kerja b. unjuk kerja b. toleransi.. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian .

(Jumlah jawaban yang benar x 2) Hasil belajar = --------------------------------------------.x 100% 20 Hasil belajar = 90% . kemudian tentukan hasil belajar Anda dengan rumus berikut. Karena itu. semoga upaya Anda mendapat rahmat dan ridho-Nya. Kemmapuan Anda perlu diperkaya dengan melakukan diskusi antarsesama teman sejawat. KATA PENUTUP Alhamdulilah Anda telah mempelajari modul ini. tukarkanlah dengan teman Anda! Setelha itu. umat kokoh.89% = baik 70% . siswa mampu. Ini berarti kesuksesan Anda tertunda! C. Anda telah mencapai kompetensi baik dan diharapkan dapat mengevaluasi hasil belajar penjas di MITs dengan baik. bila hasil belajar yang Anda peroleh ternyata di bawah 80%. membaca literatur lain.79% = cukup < 70% = kurang Apabila hasil belajar Anda mencapai 80% atau lebih. TINDAK LANJUT Setelah Anda menyelesaikan soal-soal tes mandiri. Selamat sukses! Pembelajaran berhasil.7-4 Penilaian Pembelajaran B. . negara maju. atau konsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang kompeten. sebaiknya Anda pelajari kembali bagian-bagian yang belum Anda kuasai dan mantapkanlah untuk mencapai skor kemmapuan di atas 80%.100% = baik sekali 80% . koresilah! Hitunglah jawaban Anda yang benar. layak Anda mendapat ucapan selamat untuk sukses! Sebaliknya. Selamat sukses.

A 2. D . B 8. B 9. B 7.Penilaian Pembelajaran 7-5 KUNCI TES MANDIRI 1. D 5. D 4. B 10. A 3. D 6.

BUKU AJAR MEDIA PEMBELAJARAN .

Kompetensi Dasar Menguasai konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. ada satu lagi istilah yang erat kaitannya dengan materi dan media ini. Pada saat tertentu konsep dasar kedua istilah itu dapat dipisahkan. media. Anda pertamatama diajak untuk memahami pengertian materi dan media pembelajaran pada umumnya. . Kedua. yaitu sumber bahan. Hakikat Media Pembelajaran Dalam pembahasan tentang pengertian istilah. Menghubungkan antara materi. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Itulah sebabnya dalam perencanaan pembelajaran ketiga istilah itu sering disatukan. Hal ini dilakukan karena konsep dasar materi dan media dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar materi dan media pada umumnya itu. Hal ini dapat dilihat pada ulasan berikut. Standar Kompetensi Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 2. dalam bahan pelatihan ini Anda diajak untuk membahas materi dan media secara bersamaan karena memang konsep dasar di antara keduanya tidak selalu dapat dipisahkan. tampak juga bahwa ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan. Kalau Anda mengamati dalam GBPP kurikulum berbasis kompetensi tentang materi pokok. D.Media Pembelajaran 8-1 BAB I. Bahkan. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN A. dan sumber pembelajaran. tetapi pada saat yang lain konsep dasar kedua istilah itu tidak dapat dipisahkan.

media. media. materi pokoknya adalah anatomi tumbuhan paku. mata pelajaran Biologi.8-2 Media Pembelajaran Dalam kompetensi dasar membaca memindai ensiklopedi/buku telepon. Tidak dapat dipisahkannya antara materi. misalnya. misalnya. Dalam Dictionary of Education dikemukakan bahwa instructional media is devices and other materials which present a . Untuk kompetensi dasar siswa mampu menjelaskan anatomi tumbuhan paku. Bukankah buku ilmu pengetahuan populer itu merupakan sumber bahan/materi? Bukankah materinya adalah teks yang ada dalam buku ilmu pengetahuan populer itu? Bukankah medianya berupa tabel yang kita buat untuk menuliskan ciri pembeda antara buku ilmiah populer dan buku ilmiah atau buku populer yang lain? Hal ini ternyata berbeda dengan. sumber materinya adalah buku paket atau buku-buku lain yang berisi ulasan tentang tumbuhan paku dan medianya adalah contoh tumbuhan paku atau gambar tumbuhan paku. misalnya. ataukah sumber? Bukankah materi dalam pembelajaran itu adalah teks yang ada dalam ensiklopedi dan buku telepon itu? Bukankah medianya berupa OHP yang digunakan untuk memperbesar teks dalam rangka memberi contoh model membaca memindai atau tabel yang berisi kata dan istilah yang harus dicari dengan membaca memindai itu beserta isian kunci penemuannya? Bukankah media dalam pembelajaran itu berupa “hadiah” yang akan diberikan kepada siswa atau kelompok siswa yang dapat menemukan kata atau istilah yang dicari terlebih dahulu? Bukankah ensiklopedi dan buku telepon itu merupakan sumber materi? Contoh lain dapat Anda lihat dalam kompetensi dasar membaca pemahaman dan mengevaluasi buku yang berisi ilmu pengetahuan populer dengan materi pokok buku ilmu pengetahuan populer. materi pokoknya adalah ensiklopedi dan buku telepon. dan sumber juga dapat dilihat pada pengertian dan klasifikasi media pembelajaran berikut itu. Pertanyaannya sekarang adalah ensiklopedi dan buku telepon itu materi. Sementara itu.

Sementara itu. Meskipun dari pengertian dan klasifikasi di atas tampak bahwa pengertian materi. Untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya dapat Anda ikuti uraian berikut ini. kelas. ruang diskusi. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori materi pembelajaran. perpustakaan. dari mana materi pembelajaran itu Anda dapatkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori sumber bahan atau sumber materi. Pertama. laboratorium elektronik. televisi. buku penunjang. Ketiga. majalah. ensiklopedi. program TV. Fasilitas belajar mencakup gedung. Brown. kartun. gambar dan lukisan. dan lain-lain. papan panel. media. kliping. . Kedua. kamera. laboratorium. dan lain-lain. telepon. sarana pendidikan untuk belajar (educational media for learning). tetapi rambu-rambu pertanyaan berikut kiranya dapat digunakan untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya. dengan alat bantu apa Anda mengajarkan materi itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori media pembelajaran. peta. video player. program radio. papan tulis. poster. boneka.Media Pembelajaran 8-3 complete body of information and are largely self-suporting rather than supplementary in the teaching-learning process. radio. OHP. Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. globe. Media pembelajaran adalah alat atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat menunjang proses belajar mengajar. studio. Sarana pendidikan untuk belajar mencakup buku teks. Sarana belajar mencakup tape recorder. tempat bermain. dan fasilitas belajar (facilities for learning). (1977) membuat klasifikasi media pembelajaran yang sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning). dan lain-lain. dan sumber bahan sulit dipisahkan. surat kabar. dkk.

Dalam hal ini. Kedua. dari mana teks berita tersebut Anda peroleh? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dari radio atau dari TV. Dengan demikian. dan lain-lain. stop watch. dari majalah Intisari. Pertama. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah dengan tape recorder karena teks berita itu Anda bawa ke kelas dalam bentuk rekaman dan akan Anda perdengarkan kepada siswa dengan tape recorder. Dengan demikian. dari buku paket. dan lama waktu membaca. dan lain-lain merupakan sumber bahan atau sumber materi. teks berita dalam pembelajaran Anda ini dapat Anda kategorikan sebagai materi pembelajaran. apa yang Anda ajarkan? Jawabannya adalah teks bacaan. Pada contoh ini. majalah Intisari. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah teks berita. Pertama. Dengan demikian. surat kabar Kompas. Berdasar uraian di atas. radio dan TV merupakan sumber bahan atau sumber materi. Kedua. Dengan demikian. arloji. menurut Bovee (Ena. dan tabel isian tersebut dapat Anda kategorikan sebagai media pembelajaran. tape recorder merupakan media pembelajaran. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. Berdasarkan . dari mana teks bacaan tersebut Anda peroleh? Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah dari surat kabar Kompas. jumlah kata. buku paket. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah arloji atau stop watch dan tabel isian yang berisi nama siswa. Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar mendengarkan dan memahami berita dari radio/televisi. 2004:2).8-4 Media Pembelajaran Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar membaca cepat 250 kata per menit. teks bacaan dalam pembelajaran Anda ini adalah materi pembelajaran. media adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan.

membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain: buku. video. Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. . grafik. film. kamera. kaset. slide (gambar bingkai). tape recorder. video recorder. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. televisi dan komputer. gambar. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. foto.Media Pembelajaran 8-5 pengertian tersebut maka media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses pembelajaran.

melatih. Dengan berbagai latihan itu. Wacana dalam kaset rekaman itu merupakan materi pembelajaran. sedangkan kaset rekaman dan tape recorder merupakan media pembelajaran. . Kompetensi Dasar Menguasai kriteria pemilihan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Apabila Anda akan mengadakan pembelajaran agar siswa Anda mempunyai kompetensi dalam menyimak wacana tertentu. diharapkan siswa memiliki kompetensi tertentu dalam berbahasa dan bersastra dengan berbagai variasinya. wacana “model”. Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Media pembelajaran pada dasarnya merupakan semua alat bantu yang dimanfaatkan guru dalam rangka mempermudah pembelajaran. Standar Kompetensi Memahami kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Indikator Pencapaian Kompetensi menjelaskan Indonesia kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra D. dan lain-lain yang dapat Anda gunakan untuk mengajarkan wacana dalam rangka melatih. media pembelajaran Anda dapat berupa kaset rekaman tentang wacana itu dan tape recorder. diagram. KRITERIA MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA A. Media dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat pula berupa gambar-gambar.8-6 Media Pembelajaran BAB II. dan melatih siswa dalam menggunakan bahasa.

Apabila Anda ingin melatih siswa untuk membuat karangan tentang bunga mawar. misalnya. misalnya bentuk bunga. warna daun. warna batang. berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. media pembelajaran Anda dapat pula berupa objek yang menjadi pijakan pembelajaran. media yang Anda gunakan dapat berupa tumbuhan bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. dan seterusnya. bentuk batang. ukuran bunga. ukuran daun. atau benda-benda itu. Di samping itu. media lain yang dapat Anda gunakan dapat juga berupa diagram atau tabel kosong yang harus diisi siswa setelah mengamati tumbuhan dan atau gambar bunga mawar itu. ketika Anda akan membelajarkan wacana tulis agar siswa Anda memiliki kompetensi dasar mampu mengarang. proses pembelajarannya dapat Anda lakukan. Hasil pengamatan itulah yang dituangkan siswa dalam karangannya nanti. benda-benda. Media yang berupa diagram dan atau tabel kosong di atas digunakan untuk membantu siswa dalam menuliskan hasil pengamatan terhadap bungan mawar. warna bunga. Berkaitan dengan media pembelajaran itu. dan atau gambar-gambar tentang bunga. binatang. lalu siswa disuruh membuat karangan seperti model dengan objek yang berupa bunga mawar.Media Pembelajaran 8-7 Dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Misalnya. Oleh karena itu. bentuk daun. Namun. media pembelajaran Anda dapat berupa tumbuhan. binatang. . ukuran batang. sebelum dituangkan dalam karangan siswa. misalnya. pertama-tama siswa Anda ajak untuk mambaca “wacana model”. hasil pengamatan itu dituangkan dulu dalam tabel atau diagram agar siswa mudah memahaminya dan mudah menuangkannya dalam karangan. kedua siswa Anda ajak mengamati bunga mawar dan atau gambar bunga mawar.

Dengan media itu. Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar memiliki fungsi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan benar-benar berfungsi untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. berbicara. siswa Anda berlatih menyimak. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah komunikasi. tape recorder). maka media yang tepat adalah media audio (radio. membaca. Fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut ini. Media pembelajaran yang Anda gunakan bukan sekadar sebagai pelengkap proses pembelajaran. Misalnya.8-8 Media Pembelajaran (1) Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran (sesuai dengan indikator). baik dalam sastra maupun non-sastra sesuai dengan fokus pembelajaran saat itu. ketidaksiapan siswa. (2) Fungsional Salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. berlatih. (a) Untuk menghindari kesalahpahaman antara pengajar dan siswa. tetapi benar-benar merangsang siswa untuk berlatih. Di dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif dan efefisien. Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling utama. sedangkan lainnya merupakan kelengkapannya dari kelengkapan dari kriteria itu. (b) Media sebagai penyaji stimulus (informasi. kurangnya minat dan gairah siswa. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalistis. dan berlatih berbahasa dan bersastra. dsb. . dan lain-lain) dan untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. dan menulis dengan berbagai variasinya. bila tujuan pembelajaran itu agar siswa dapat melafalkan ucapan kata-kata. sikap.

Seandainya materi dan media itu tidak tersedia. (d) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar konkret. media itu sudah tersedia atau sudah siap pakai. Misalnya. beserta perangkat pendukungnya (misalnya listrik) tidak tersedia. Artinya.semuanya sudah tersedia. Dengan demikian. tape recorder. dan kaset rekaman berita dan tape recorder itu benar-benar tersedia. Bentuk pembelajarannya dapat berupa Anda bacakan teks itu dan siswa diminta untuk menyimaknya. Jika ternyata di sekolah Anda. kaset rekaman berita. apabila siswa Anda minta untuk menyimak wacana yang Anda bacakan. dan realitas. Yang perlu Anda perhatikan adalah hakikat kompetensi berbahasa yang harus dimiliki siswa. (e) Media dapat membangkitkan motivasi dan minat baru. pada saat Anda perlukan dalam pembelajaran. Anda perlu memikirkan media pembelajaran lain yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran menyimak berita. Misalnya. maka kaset rekaman dan tape recorder itu bukan media pembelajaran yang tepat Anda gunakan saat itu. menyimak adalah kegiatan berbahasa lisan. Apabila hal di atas terjadi. (3) Tersedia Pertimbangan lain dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah ketersediaan media itu. Misalnya. kaset rekaman berita dan tape recorder itu dapat Anda upayakan sehingga pada saat Anda memerlukan media itu. Tetapi. berarti bahwa Anda sudah melatih siswa untuk menyimak. kalau wacana yang berupa teks bacaan itu . Anda dapat saja menggunakan wacana yang berupa teks bacaan.Media Pembelajaran 8-9 (c) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa karena pengalaman mereka berbeda-beda. ketika Anda akan melatih siswa agar siswa Anda memiliki kompetensi dalam menyimak berita dan Anda memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yang berupa kaset rekaman berita dan tape recorder.

Misalnya. (3) memungkinkan terjadinya gangguan aspek non-linguistik lain pada saat guru membacakan wacana itu. proses pembelajaran itu bergeser menjadi melatih siswa untuk membaca. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di lingkungan siswa. Oleh karena itu. (4) Murah Media pembelajaran yang Anda gunakan untuk melatih siswa berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal. Di sekolah Anda terdapat taman atau pohon besar dengan berbagai jenisnya. dan lain-lain. Sementara itu. pembelajaran menyimak secara langsung seperti ini tentu juga memiliki kelemahan. Hanya saja. ada surat pembaca. di lingkungan sekolah. Hal ini dapat dipahami karena membicarakan tentang apa pun melibatkan kemahiran berbahasa dalam proses komunikasi. untuk Anda gunakan sebagai media pembelajaran bahasa. pada saat tertentu Anda membeli surat kabar. Dalam surat kabar itu ada berita. ada iklan. Bahkan. Di antara kelemahan itu adalah (1) kualitas suara guru yang membacakan wacana itu belum tentu ideal. misalnya IPA. Koran yang Anda beli itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. kelebihannya adalah Anda memperoleh kepastian bahwa pembelajaran menyimak dengan cara ini dapat Anda lakukan karena sangat mudah dilaksanakan. guru kurang dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Anda tidak perlu memikirkan media pembelajaran yang mahal yang memang tidak . Anda dapat meminjam alat peraga mata pelajaran yang lain.8-10 Media Pembelajaran Anda berikan kepada siswa. dan di lingkungan Anda dapat Anda gunakan untuk media pembelajaran bahasa dan sastra. (2) penerapan unsur suprasegmental dalam pembacaan itu belum tentu tepat. Taman dan berbagai pohon besar di sekolah Anda itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. dan (4) pada saat membacakan wacana.

(5) Menarik Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah tingkat kemenarikan. (7) Keadaan siswa Sebuah program media tidak mungkin cocok untuk tujuan tertentu. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa yang akan menggunakan media tersebut. besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi penggunaan media. (6) Ketepatgunaan Jika materi yang dipelajari adalah bagian-bagian yang terpenting dari suatu benda. bungkus makanan. Sedangkan jika yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak. jika tingkat kerumitan serta kosakata yang digunakan lebih tinggi di atas kemampuan siswa maka media tersebut tidak dapat dipilih. slogan di sekolah. bungkus roti. Akan tetapi. (2) kesesuaian media pembelajaran itu dengan dunia siswa. maka gambar mati seperti bagan chart atau slide dapat digunakan. Bungkus obat. setidaknya Anda perlu mempertimbangkan (1) kesesuaian media itu dengan kebutuhan siswa. maka media film atau video lebih tepat. media pembelajaran yang Anda gunakan dalam pembelajaran Anda adalah media yang menarik bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran Anda secara lebih inten. Artinya. Untuk dapat memilih dan menentukan media pembelajaran yang menarik. . dan lain-lain dapat pula Anda manfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra. (4) menantang. (3) baru. dan (5) variatif.Media Pembelajaran 8-11 dapat Anda dapatkan di sekolah Anda.

8-12 Media Pembelajaran (8) Mutu Teknis Seandainya ada media yang cocok untuk tujuan pembelajaran tetapi ternyata tidak lengkap atau terputus-putus. maka media itu tidak dapat digunakan karena mutu teknisnya tidak memenuhi syarat. .

. camera. Standar Kompetensi Menerapkan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Kompetensi Dasar Menjelaskan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. grafik. film. televisi dan komputer. Indikator Pencapaian Kompetensi Memilih dan mengembangkan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain buku. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. tape recorder. kaset. slide (gambar bingkai).Media Pembelajaran 8-13 BAB III. vidio recorder. gambar. Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. foto. video.

media terdiri atas media audio (dengar). (3) penekanan. Grafik. harus diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: (1) kesederhanaan. media audio-visual (pandang-dengar). tulisan cukup tebal dan mudah dibaca. (2) kesatuan. Ada dua jenis media yang sederhana tetapi sangat efektif penggunaannya yaitu media grafis dan media transparansi. Oleh karena itu. Pembuatan Media Grafis dalam Pembelajaran Bahasa Media grafis sering disebut media visual dasar. sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting. tidak semua media yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran tersedia. media grafis. Poster. jelas dan mudah dipahami. Media-media menyampaikan itu sangat membantu tugas kepada pengajar siswa. Kartun dan Komik. Kesederhanaan Bahan untuk media grafis harus ringkas. Flip Chart. dan media berprograma. dan (4) keseimbangan. Dalam program ini hanya diberikan satu ilustrasi pembuatan media grafik yaitu flip chart.8-14 Media Pembelajaran Menurut jenisnya. Dalam mendesain media grafis. 1. dalam Namun materi pembelajaran kendalanya. meliputi Papan Flanel. media visual (pandang). Papan Buletin. . media transparansi. A. seorang pengajar harus bisa merencanakan dan membuat media sendiri. media proyeksi. karena flip chart paling mudah pembuatannya dan paling sering digunakan dalam proses belajar mengajar.

tekstur dan ruangan. memberi warna atau ruang pada bagian tertentu. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan. Desain keseimbangan formal apabila ada suatu poros yang membagi visual secara simetris. 4. Penekanan itu dapat dilakukan dalam berbagai cara. Penekanan Dalam media grafis. misalnya dengan cara memperbesar. Keseimbangan . memperjelas. yaitu formal dan informal.Media Pembelajaran 8-15 2. bentuk. Jalinan antarbagian ini dapat dinyatakan dengan batas yang bertumpangan. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah jalinan yang harmonis antara bagian-bagian visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. garis. diperlukan penekanan pada bagian tertentu untuk dijadikan pusat perhatian. warna. 3. dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah.

Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah garis. Hal ini dapat memberi kesan dinamis dan biasanya mempunyai daya tarik yang kuat. Desain keseimbangan informal adalah yang tidak simetris. Garis Dalam media grafis sebuah garis dapat menghubungkan unsurunsur dan membimbing yang melihatnya kepada suatu unsur tertentu. warna merupakan unsur . a. warna. dan ruang. c. tekstur. Bentuk Suatu bentuk yang aneh akan membangkitkan perhatian khusus kepada yang divisualisasikan. Warna Untuk kebanyakan visual. b.8-16 Media Pembelajaran formal memberikan kesan statis. Hal ini sering digunakan dalam mendesain caption dan judul.

Hal ini harus digunakan hati-hati sekali. Usahakan batas warna dengan jelas. Pergunakan dua atau tiga warna saja untuk suatu visual. Ruang Ruang terbuka di sekeliling unsur visual dan akan mencegah perasaan terlalu berdesakan tatalah ruang yang digunakan dengan cermat agar . untuk memberikan penekanan. d. e. Tekstur Tekstur adalah visual yang dapat bertindak sebagai pengganti perasaan yang menyentuh dan dalam banyak hal dapat digunakan sebagai pengganti warna.Media Pembelajaran 8-17 tambahan yang penting. pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan. Usahakan agar warna tidak terlalu banyak dan berbaur satu dengan yang lain.

ikutilah ilustrasi berikut ini. Hal tersebut sering digunakan untuk memberikan judul-judul untuk suatu diskusi atau membuat daftar prosedur yang berurutan. Selanjutnya bagaimana teknik atau cara pembuatan flip chart yang mempertimbangkan prinsip-prinsip media grafis. Sebuah flip chart dengan ukuran 60 X 80 cm biasanya cukup efektif untuk dipakai di depan kelas sebanyak 40 orang. tempat cat. • Pensil. B. kertas gambar. cellotape. Untuk di laboratorium flip chart adalah ekonomis dan mudah dibuat. Flip chart juga dapat dipergunakan untuk memberikan pembelajaran di depan kelas. lem. Pembuatan Flip Chart Flip chart biasanya berupa gambar di atas sehelai kertas yang tidak mudah sobek. Bahan dan alat yang diperlukan: • Kertas: kertas putih biasa. standard. gunting. spidol.8-18 Media Pembelajaran unsur-unsur dalam desain jadi efektif. • Jangka. cat air. cat plakat. kuas. letter press. pembolong kertas. kertas bufalo. cutter. penggaris. .

C. buatlah pada kertas pesan yang Anda inginkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Anda berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan terhadap siswa. Berikut cara mempergunakan media transparansi dalam proses belajar mengajar. 1. Anda tidak perlu membelakangi kelas menuju ke layar. b. c. Terlebih dahulu buatlah sketsa dari pesan yang ingin Anda sampaikan. Alat untuk media ini adalah Overhead Proyektor (OHP). tetapi cukup dengan menunjuk pada bagian pesan pada transparansi yang ada di . Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.Media Pembelajaran 8-19 Cara membuatnya: 1. Setelah diperoleh komposisi serta bentuk yang memadai barulah Anda buat pada kertas yang disediakan untuk flip chart. Alat tersebut dapat digunakan dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan gelap. 2. Untuk mengarahkan perhatian. Pembuatan Media Transparansi dalam Pembelajaran Bahasa Media transparansi sebagai media pembelajarana merupakan komunikasi yang sangat potensi dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan memperhatikan keempat prinsip serta kelima unsur pembuatan media grafis. uraikanlah materi pembelajaran yang akan disajikan menjadi beberapa bagian yang penting untuk dipelajari siswa. Kemudian pasangkanlah flip chart yang sudah selesai pada standard dengan terlebih dulu membuat lubang pada flip chart Anda untuk menggantungkannya.

Bayangan penunjuk Anda akan terlihat jelas. 3. Pada waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak terproyeksikan . transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali dengan alkohol. Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan. Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat digunakan untuk menambah catatan pada waktu menjelaskan materi tanpa merusak transparansi aslinya. Setelah selesai dipergunakan. Pada penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan.8-20 Media Pembelajaran hadapan Anda. 2.

Mempergunakan Overlays. 4. kesatuan. tekstur. Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi sama dengan prinsip-prinsip pembuatan media grafis. serta lima unsur tambahan seperti garis. penekanan. yaitu transparansi lain yang berisian bagian dari pesan yang akan disampaikan langkah demi langkah. kapas dan alkohol d. 5. Dengan demikian. bentuk.Media Pembelajaran 8-21 ke layar karena kertasnya tidak tembus cahaya. Dengan memanipulasi bendabenda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan. transparansi b. pena transparansi yang permanen c. konsep yang sulit dapat diberikan setahap demi setahap selama proses belajar mengajar. warna dan ruang. kertas milimeter . yaitu empat prinsip umum seperti kesederhanaan. dan keseimbangan. Mempergunakan benda tiga dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. Bahan dan alat yang diperlukan adalah: a. Sedapat mungkin dalam mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan.

Dengan kelemahan ini maka pengguna atau siswa tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara langsung. dan juga tersedianya fasilitas untuk dihubungkan dengan internet. Dengan kegiatan pembelajaran melalui media interaktif berbasis komputer. waktu.8-22 Media Pembelajaran D. tersedianya banyak fasilitas aplikasi sehingga pemakai tidak perlu mempelajari bahasa pemrograman komputer. tenaga. dan pikiran sebab guru tidak harus mempelajari dulu bahasa pemrograman komputer. Untuk mengatasi kelemahan ini. Kelemahan dari program aplikasi Microsoft Powerpoint adalah tidak tersedianya fasilitas untuk menyimpan informasi dari pengguna setelah melakukan eksplorasi pembelajaran. grafik. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembuatan multimedia pembelajaran menggunanakan program microsoft powerpoint akan menghemat biaya. keuntungan lainnya adalah sederhananya tampilan ikon-ikon yang kurang lebih sama dengan Microsoft word yang sudah banyak dikenal. bunyi. Pemanfaatan program aplikasi microsoft powerpoint untuk pembuatan multimedia pembelajaran memiliki keuntungan bagi guru. dan video untuk menyampaikan pesan atau informasi. Hal ini seperti diungkap Ena (2004:4) bahwa keuntungan terbesar memanfaatkan program aplikasi microsoft powerpoint adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah ada di dalam Microsoft office. dalam hal ini program microsoft power point. maka akan dapat memberikan rangsangan bagi siswa untuk mau belajar lebih giat sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulis. Dengan demikian kita bisa menggunakan kombinasi tampilan berbagai media yang berbeda seperti teks. Pembuatan Komputer Multimedia Pembelajaran Bahasa Berbasis Dengan bantuan teknologi perangkat komputer maka dapat dihasilkan multimedia pembelajaran yang interaktif. maka .

menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. tidak terpaku pada sumber tunggal. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee. materi yang otentik. Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. berbicara. motivasi. Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. lebih pribadi. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentukbentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. 1996). Pembelajaran berbagai memberi penekan pada pengintegrasian ketrampilan berbahasa. meningkatkan pembelajaran. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. interaksi yang lebih luas. dan pemahaman global. mendengarkan.Media Pembelajaran 8-23 dapat digunakan lembar kertas kerja siswa sehingga guru dapat memantau perkembangan belajar siswa. permainan dan . Periode pembelajaran integratif atau dengan kecenderungan komputer yang yang terakhir adalah integratif. Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman.

8-24 Media Pembelajaran kreativitas. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh . keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. 1. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. meningkat. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk kurang dari piranti lunak dan kerasnya. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. ketersediaan piranti lunak dan keras komputer. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Media pembelajaranpun pengetahuan berkembang pengajar atau karena ahli keterbatasan dan tehnis pengajaran keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram.

Media Pembelajaran 8-25 kebanyakan pemakai komputer. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. membaca atau pembelajaran yang lain. Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from . Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. (a) Memasukkan Teks. Gambar. Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan tehnis dan teori. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture.

8-26 Media Pembelajaran file .. dan from clip art. (b) Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. Fasilitas yang pertama adalah background. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. more color dan fill effects. Fasilitas . pilih warna dan tekan apply. dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects. Background akan memperindah tampilan program. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. yang pertama adalah dengan memberi warna. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan. pilih tekstur atau gambar dan tekan apply.. Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan. apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color...

Media Pembelajaran 8-27 animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. kiri. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas. kanan. pribadi dan otentik. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Objek bisa melayang dari atas. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. bawah. atau dari sudut. Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. sesudah itu akan muncul dialog . (c) Membuat Hyperlink Fasilitas pembelajaran ini sangat penting dengan dan sangat mendukung bahasa karena hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran.

(a). (b). 2. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik. kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan. Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran . Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Mengembangkan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini.8-28 Media Pembelajaran box. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama. Membaca Fasilitas memungkinkan menampilkan pembuatan teks materi dalam program aplikasi ini pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah.

Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Permainan penyapu ranjau (mine . Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. (c). Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. (d). Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran.Media Pembelajaran 8-29 dengan video ataupun audio. Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya. latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slideslide yang berbeda. Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan.

8-30 Media Pembelajaran sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. . 3. dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Namun.

Media Pembelajaran 8-31 BAB IV. diskusikan dalam kelompok Anda media pembelajaran yang tepat Anda gunakan dalam membelajarkan siswa dengan materi pembelajaran itu agar siswa memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam . kelompok B bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. dan kelompok C bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas IX. Indikator Pencapaian Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. Praktik Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kegiatan 01: Menentukan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Bagilah peserta pelatihan ini menjadi 3 kelompok! Kelompok A bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. (1) Berdasarkan identifikasi kompetensi dasar dalam Kurikulum KTSP dan materi pembelajaran yang sudah Anda rumuskan. Standard Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. PRAKTIK PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. Kompetensi Dasar Menyajikan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Kalau diperlukan. setiap kelompok dapat dibagi lagi menjadi subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran sastra.

sebaiknya ada kelompok yang membuat perencanaan perencanaan perencanaan perencanaan pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran menyimak berbicara membaca menulis beserta beserta beserta beserta medianya. (4) Presentasikan hasil kerja kelompok Anda dalam diskusi kelas! . lakukan kegiatan 02 berikut ini. perencanaan pembelajaran sastra beserta medianya.8-32 Media Pembelajaran Kurikulum KTSP! Pertimbangkan kriteria pemilihan media di atas dalam diskusi kelompok Anda! (2) Tuangkan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam kertas manila yang disediakan panitia! Sajikan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam diskusi kelas! Agar setelah mengikuti pelatihan ini Anda mendapatkan pengalaman yang lebih kongkret dan siap Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kegiatan 02: Membuat Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra (1) Berdasarkan hasil kegiatan (01) dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia dalam pelatihan ini. medianya. selanjutnya buatlah media pembelajaran yang sesungguhnya yang siap Anda gunakan untuk mengajar di kelas! (2) Wujudkan tugas untuk Anda tersebut dalam bentuk rencana pembelajaran kompetensi dasar tertentu berdasarkan Kurikulum KTSP dan lengkapilah rencana pembelajaran itu dengan media yang akan Anda gunakan! (3) Dalam kegiatan ini. medianya. medianya..

Media Pembelajaran 8-33 E. Soal Evaluasi Setelah mempelajari dan mengikuti proses pelatihan subbagian bahan pelatihan ini. (6) Ketepatgunaan.. Media pembelajaran bahasa dan sastra pada dasarnya semua alat yang Anda gunakan dalam membantu mempermudah pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda lakukan. dan (8) mutu teknis. Kemukakan kriteria penggunaan media pembelajaran yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra! Masingmasing berilah penjelasan dan contoh! 3. benar-benar Anda dapatkan pada saat Anda memerlukannya dalam proses pembelajaran. lakukan penilaian diri dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut! 1. Media pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda gunakan setidaknya harus memenuhi kriteria: (1) tujuan. F. tidak perlu mahal karena pada dasarnya Anda dapat menggunakan apa saja yang berada di lingkungan tempat Anda mengajar. (5) menarik. (3) tersedia. (2) fungsional. (7) keadaan siswa. Berilah alasan kebenaran pernyataan ini beserta contohnya! 2. (4) murah. RANGKUMAN Media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. Manfaat apa yang Anda peroleh setelah Anda mempelajari media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra? . dan yang penting bahwa media pembelajaran yang Anda gunakan harus menarik bagi siswa. Media pembelajaran yang Anda gunakan harus benar-benar menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda laksanakan.

Kemukakan pula contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut! 7. Apakah penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan selama ini sesuai dengan kriteria tersebut? Berilah alasan! 5. Apakah ketidaksesuaian penggunaan media pembelajaran yang Anda lakukan dengan kriteria penggunaannya seperti yang Anda kemukakan pada butir (4) tersebut Anda sengaja? Berilah penjelasan dan atau alasan! 8. Kemukakan pendapat dan atau saran berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia! . Apakah rencana Anda setelah Anda memahami media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya? 10. Kemukakan contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang sesuai dengan kriteria tersebut! 6. Apakah kendala yang Anda rasakan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran bahasa dan sastra? Berilah penjelasan! 9.8-34 Media Pembelajaran 4.

ac. Jonassen. Kemp. The Internet TESL Journal. Stephen N et al.Media Pembelajaran 8-35 DAFTAR PUSTAKA Brown. S.. Peter et al. Brown and Benchmark: Dubuque. E. dkk. http:/www. Computer as a Mindtools for Schools.aitech. New York: McGraw-Hill. New Jersey.T. Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar.. Ben. Dwi. 1993. dan Norton. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Draft belum diterbitkan). VI. December 2000. Nuny S. Hubbard. 1996. Planning and Producing Audiovisual Materials. 1982. Lee. and Methods. Prentice Hall. Ruseffendi. a paper presented at Technology and Education Conference in Athens. Davis. 1977. Oxford University Press: Oxford. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. David H. Kwuang-wu. 2003. Lawrence. Greece. E. Language Arts Activities for Children. A Paper presented at KIPBIPA III. Ferrod E. Iowa. Educational Psychology. A Training Course for TEFL. No.jp/~iteslj/ Norton. Bandung. James W. New York: Merrill.6. Harper and Row: New York. http:/www.ac.N. 1991. 1996. Media. No. 1996. Malang: Buku Ajar (Tidak diterbitkan) . 2000. Elliot. 12. 1983. Vol. CALL: Its Scope and Limits. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. 1999.jp/~iteslj/ Idris. Hunter. Saksomo. Depdiknas. Jakarta: Depdikbud. AV Instruction. P3G. The Internet TESL Journal. Technology. II. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. Teaching with Media. 1980. 1986. Vol. June 1996.aitech. an imprint of Macmillan College Publishing Company.

G.3. Widdowson. V. 2003. New York: John Willey and Son. Wacana Bahasa Indonesia. Vol.aitech. 1999. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas. Social Psychology and Contemporarry Society. March 1999. H.8-36 Media Pembelajaran Sampson.ac. Bahan pelatihan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. . 1976. Schocolnik. The Internet TESL Journal. Oxford: Oxford University Press. No. Using Presentation Software to Enhance Language Learning.G. http:/www.jp/~iteslj/ Sumadi. 1978. E. Miriam. Teaching Language as Communication.

BUKU AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .

1989. Keempat jenis penelitian pendidikan ini pada hakikatnya menekankan perbedaan tolak pandang dalam melihat hakikat kebenaran (truth) dan hakikat pengetahuan. 1993). Dalam penelitian emperisme. Penelitian-penelitian pendidikan pada dasarnya dapat digolongkan dalam empat kategori (Candy. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Untuk action tindakan memahami research kelas classroom (penelitian secara [PTK]) penuh. (3) criticalisme. 1. (2) interpretivisme. Keempat penelitian tersebut dapat disarikan sebagai berikut. Penelitian-penelitian emperisme .BAB I KERANGKA DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. peneliti adalah orang luar yang terpisah dari objek yang diteliti. Penelitian ini juga memandang bahwa: (a) pengetahuan itu objektif. dan (4) post-criticalisme/ post-modernisme. 1991. perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai jenisjenis pendekatan dalam penelitian pendidikan kelebihan dengan dan segala kekurangannya. Penelitian emperisme (emperism research) adalah jenis penelitian yang menekankan metode ilmiah sebagai satu-satunya cara/ metode penghasil pengetahuan. (b) pengetahuan itu dapat digeneralisasikan. (c) pengetahuan itu bersifat replicable/ dapat diulang. Dalam konsep penelitian emperisme manusia dianggap sebagai objek yang pasif. McTaggart. yakni: (1) emperisme. posisi PTK dan filofofinya dapat ditangkap secara jebih jelas. dan (d) pengetahuan itu dapat dipahami melalui aturan-aturan yang ada. Hanya dengan memahami jenis-jenis penelitian pendidikan terlebih dahulu. Connole.

artinya: pengetahuan itu di samping dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan. Penelitian kritis (criticalism research) memandang bahwa pengetahuan itu di samping subjektif juga problematik. (d) masalah-masalah pendidikan tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari aturan-aturan yang ada sebab manusia mempunyai motif. penelitian ini menekankan aspek pemikiran reflektif/ kritis (reflective thinking) terhadap segala faktor luar yang dapat mempengaruhi kualitas penelitian itu sendiri. Untuk itu. karena penelitian intepretivisme meyakini bahwa: (a) pengetahuan/fakta/realita itu mengandung unsur-unsur subjektivitas. penelitian emperisme dipandang tradisional. nilai-nilai yang tidak dapat dipahami dari luar. Untuk memahami masalah-masalah manusia. Menurut penelitian ini. Penelitian ini mengkritik pendekatan intepretivisme sebagai penelitian yang terlalu menekankan pemahaman daripada hasil (output). 2.9-2 Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan penelitian yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu murni IPA. ideologi. Pendekatan penelitian ini menekankan pemahaman yang komprehensif/ mendalam terhadap objek yang diteliti. Objek IPA dan peneliti merupakan bagian yang terpisah. Tanpa menjadi insider pemahaman terhadap objek yang diteliti tidak akan sempurna. Menurut pendekatan ini. peneliti harus menjadi insider dari objek yang diteliti. 3. 4. (b) pengetahuan itu dapat berubah (not fixed). Apa yang disebut . Penelitian post-critical adalah penelitian yang menekankan bahwa kebenaran/ realita itu sendiri sebenarnya tidak ada. Penelitian intepretivisme (intepretive research). yang berarti juga tidak ada satu sekolah pun yang sama persis dengan sekolah lain. suatu penelitian harus berorientasi pada hasil (product oriented) agar hasil penelitian tidak sia-sia. Siapa yang berkuasa (who is on power) dapat mempengaruhi hakikat kebenaran/ realita/ pengetahuan itu sendiri. (c) pengetahuan itu tidak dapat digeneralisasikan (not generalizable) karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sama persis.

Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri. Penelitian-penelitian jenis ini umumnya mempertanyakan kembali apa yang sudah dianggap benar/ realitas itu sendiri. guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. Australia. dalil. Dengan melakukan penelitian tindakan. teori yang selama ini diyakini kebenarannya digugat kembali. . Canada. Bahkan McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum. Sekalipun demikian. dan sebagainya. pengembangan keahlian mengajar. Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. pengembangan sekolah. Hukum. jenis-jenis pendekatan tersebut menggambarkan revolusi pemikiran manusia terhadap masalah-masalah pendidikan. Dalam literatur berbahasa Inggris PTK sering disebut dengan classroom action research. Amerika. dengan melibatkan siswanya sendiri.Penelitian Tindakan Kelas 9-3 realitas itu sendiri hanya sebatas bahasa yang mengungkapkan. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. Masing-masing jenis penelitian merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Setiap pendekatan akan menawarkan hasil yang berbeda dan ’bintik buta’ (blind spot) tersendiri. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan. di kelas sendiri. Keempat jenis penelitian tersebut menegaskan bahwa ada beberapa pendekatan dalam meneropong masalah-masalah pendidikan.

Berikut ini disajikan beberapa kutipan batasan tersebut.menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional (Elliot 1982:1).9-4 Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. perencanaan. dan dievaluasi. dan pengaruh-. dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut (Cohen dan Manion 1980:174). serta pemahaman mereka terhadap praktikpraktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart 1988:5-6). Sebaliknya. Berkenaan dengan uraian di atas. Dengan demikian. Seluruh prosesnya --telaah. merasakan. Jika dengan penghayatannya itu dapat menyimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti: pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak. maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur penelitian tindakan kelas. diagnostik. Kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif. melalui penelitian tindakan kelas guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang lebih efektif dan optimal. guru juga dapat melihat. sejumlah batasan tentang penelitian tindakan telah dikemukakan oleh para pakar. guru dapat membuktikan apakah teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia dimiliki. guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelas. pelaksanaan. cara bertanya guru kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berpikir. . pemantauan. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka.

mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas secara profesional. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan. Dengan demikian.Penelitian Tindakan Kelas 9-5 Penelitian tindakan (action research) adalah jenis pendekatan penelitian criticalism (Priyono 1999:3). salah satu contoh jenis penelitian criticalism adalah penelitian tindakan itu sendiri. Suyanto (1997). dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif. Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan: PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. (b) dilakukan oleh pelaku tindakan . prinsip-prinsip penelitian tindakan sangat diwarnai oleh pendekatan penelitian critical. (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut. serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Dengan kata lain. 1992) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri. Stephen Kemmis (dalam Hopkins. misalnya. Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas.

pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut. pelaksanaan tindakan. PTK dilaksanakan dalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap. dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. Anda akan terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik. observasi. dan refleksi. Dari pemikiran itu. Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian. 0leh sebab itu. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut.9-6 Penelitian Tindakan Kelas PTK bersifat reflektif. . Anda kemudian dapat mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto. 1997). Artinya. yakni perencanaan.

KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS Priyono (1999:3-6) memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut. 1. Kalau peneliti adalah . On-the (masalah job yang problem-oriented diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam jawab masalah kewenangan/ peneliti).Penelitian Tindakan Kelas 9-7 B. yang Ini diteliti tanggung berarti adalah masalah-masalah riil yang dihadapi sehari-hari.

komponen-konponen sekolah itu (guru. 1999). Action research menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi itu berkembang (berubah lebih baik). Penelitian-penelitian pemahaman semacam itu hanyalah menghasilkan (understanding) terhadap masalah-masalah pemanfataan laboratorium dan pengaruh metode sosiodrama. bukan orang lain (outsiders). Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). siswa. Kalau sistem itu sekolah. karena tidak memecahkan masalah. masalah-masalah yang diteliti adalah masalah-masalah kelas/ sekolah yang merupakan bidang tanggung jawab utamanya. yakni: orang yang paling tahu masalah-masalah kelas adalah guru itu sendiri. penelitian-penelitian empirisme semacam itu tidak memberdayakan guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat memperbaiki kondisi kelas sendiri. (b) siswa/ guru diperlakukan sebagai objek (informan) pasif. 2. Penelitian-penelitian yang hanya menghasilkan pengertian/ pemahaman seperti pada penelitian empirisme dan intepretivisme dianggap tidak meaningfull (bermanfaat). Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas). Dengan kata lain. Ciri classroom-based action research ini diwarnai oleh pendekatan intepretivisme.9-8 Penelitian Tindakan Kelas seorang guru. b) Pengaruh Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Konsep saling Ketergantungan Organisme (Sungkono. Judul-judul penelitian empirisme yang ditulis oleh para mahasiswa strata 1 di bawah ini jelas bukan classroom-based action research: a) Pengaruh Pemanfaatan Laboratorium IPA terhadap Pemahaman Konsep Alat Transpotasi Tumbuhan (Yushriati. 1999). 4. dan (c) penelitian tidak membawa perubahan kepada siswa/ guru. . 3. Ada beberapa alasan mengapa penelitian semacam itu tidak membawa pemecahan masalah di kelas: (a) masalah penelitian bukan masalah yang dihadapi guru.

5. (4) kuesioner. 6. mengingat kebenaran (realitas) itu di samping subjektif juga problematik. action. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) melakukan setiap langkah AR. Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Konsep ini sangat diwarnai oleh prinsip penelitian critical: penelitian harus menghasilkan produk perubahan (product-oriented). dsb. Dengan PTK. demikian. lingkungan kelas/ sekolah) harus berkembang lebih baik. berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti: (1) observasi. Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik). Cyclic (siklis). pada penelitian-penelitian kemampuan inderawi empirism dapat yang hanya dipertanyakan . (3) wawancara. 1997). Anda akan berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. 7. Secara siklus yang pada hakikatnya menggambarkan pemikiran kritis dan reflektif terhadap efek tindakan. apa yang sebenarnya disebut kebenaran/ realita dapat lebih diungkap.Penelitian Tindakan Kelas 9-9 kepala sekolah. Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). Dengan bersandar validitasnya. (2) tes. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru. observing. PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. and reflecting. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto. Semua cara ini difokuskan untuk mendapatkan validitas hasil penelitian. Partisipatory/collaborative. Dengan penerapan semua cara koleksi data tersebut. Dampak suatu tindakan tersebut selalu diikuti secara kritis dan reflektif. konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK.

Pertama. misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar. Menurut Suyanto (1997). Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. yang . penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas. optimal. Kedua. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. Dengan demikian. dan fungsional. permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. atau bahkan oleh guru lain. Itu hanya merupakan penelitian kelas. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru.9-10 Penelitian Tindakan Kelas Pada sisi lain. oleh dosen LPTK. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. atau oleh kepala sekolah. Ketiga. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien. bukan PTK. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. pengawas. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda--dengan melibatkan siswa--Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran. Misalnya. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu. Sebaliknya.

ia tetap menekankan pada objektivitas. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung.Penelitian Tindakan Kelas 9-11 berisi ceritera-ceritera lucu. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. Dengan cara itu. Oleh sebab itu. maka penelitian semacam itu adalah PTK. PTK lebih longgar karena analisis datanya tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators). Namun sebagai penelitian. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. a. sebagai guru. dan sebagainya. c. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas? Memang. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru. Anda . Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within). Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif. upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam. Menurut Hopkins (1992). PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas. penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. b. yakni dari guru itu sendiri. Jadi. Bersifat reflektif (A reflective practice made public). melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah.

sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK. tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. Bagimana hasil identifikasi Anda? Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. Sebaliknya. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya. C. Prinsip tersebut sebagai berikut. 1. 2. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. menentukan hipotesis tindakan yang baik. Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat. Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan. serta membantu analisis data penelitian. 3. mengembangkan strategi yang dapat diterapkan .9-12 Penelitian Tindakan Kelas akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. Oleh sebab itu.

Tidak mengganggu komitmen mengajar. dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah. 5. Konsisten terhadap prosedur etika 6. 6. melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan. Merupakan masalah guru. Tidak terlalu menyita waktu. a. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga. Secara lebih ringkas. 2. Meskipun ada kelonggaran. Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya. prinsip-prinsip PTK dapat dituliskan sebagai berikut. Prinsip-Prinsip PTK 1. Artinya. 4. serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. disosialisasikan kepada teman sejawat.Penelitian Tindakan Kelas 9-13 pada situasi kelasnya. 3. strategi dapat diterapkan di kelas 4. di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik. Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah. dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan. meyakinkan . Metodologinya andal. Identifikasi dan rumusan hipotesis b. Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. 5.

akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran.9-14 Penelitian Tindakan Kelas D. Dengan PTK. Ketiga. ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK. diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf). . yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru. Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut. Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. Dengan kata lain. kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. tidak dalam situasi artifisial. PTK mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. Menurutnya. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. proses pelatihan terjadi secara hands-on. Kedua. Sebagai guru. Mengapa demikian? Pertama. PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Apabila kita mencermati pengertian PTK.

Untuk itu. secara ringkas. pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. Di samping itu. Anda dapat mengembangkan teknik. PTK merupakan bahan refleksi bagi Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas. . Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar. Pemilihan tujuan yang tepat. Dengan PTK. guru. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran. Dengan demikian. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK mengembangkan proses akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk belajar mengajar di kelas. Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbedabeda. materi yang sesuai. serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai.. di tempat Anda mengajar. (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. tingkat umurnya. dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri.Penelitian Tindakan Kelas 9-15 E. baik tingkat kelas. Dalam hal manfaat PTK ini. atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk melihat efektivitasnya di kelas. Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi. (3) peningkatan profesionalitas guru. latar sosial budayanya. Itu berarti bahwa Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya. maupun Iatar kecerdasannya. perubahan yang terus-menerus dikembangkannya. Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh di kelas. metode. Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran.

2. peneliti dengan berperan sebagai fasilitator mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti maslah yang telah diidentifikasi oleh para guru. Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi. dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen). PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS PENELITIAN TINDAKAN Ada lima persoalan praktis yang perlu diperhatikan dalam penelitian tindakan dan masing-masing akan diuraikan secara singkat di bawah ini. misalnya konsultan. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (a) kelompok orang yang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan. misalnya situasi belajarmengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. dan (b) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Pemilik penelitian tindakan. tetapi mereka kurgan mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi.9-16 Penelitian Tindakan Kelas F. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. seperti guru dalam situasi belajar-mengajar. misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tidak mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut. Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator. 1. dibuat merasa ikut memilikinya. Dalam situasi seperti itu. Pemrakarsa penelitian tindakan. Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat. Rasa ikut .

Data diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata. Persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. Data penelitian tindakan antara lain berupa semua catatan tentang hasil amatan. Fungsi data dalam penelitian tindakan adalah sebagai landasan reflektif. Sasaran penelitian tindakan. 4. Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-17 memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian. transkrip wawancara. 3. namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematis sering timbul karena ada masalah dalam suatu situasi. Analisis data. semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut merupakan bagian dari dirinya.iti merekonstruksi tindakan terkait. yang dikumpulkan lewat berbagai teknik. rekaman audio dan video kejadian. rekaman audio. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. dan oleh karena . foto dan sebaginya. Data dapat berbentuk catatan-catatan. 5. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif. rekaman video. melainkan unbtuk mendokumentasikan amatan dan oleh karena itu menjebatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan. yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah. Dengan demikian. Oleh karena itu. pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis. bukan hanya mengingat kembali. Data penelitian tindakan. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan penel.

usaha trianggulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain. Dengan kata lain.9-18 Penelitian Tindakan Kelas itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta lainnya untuk dapan melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. .

Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan. Dengan demikian. desain AR menurut Tripp (1996). misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu. REFLEKSI TINDAKAN REFLEKSI TINDAKAN OBSERVASI OBSERVASI . SIKLUS I PERENCANAAN SIKLUS II PERENCANAAN dst. Dengan kata lain. analisis dan refleksi. tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.BAB II PELAKSANAAN PENEILITIAN TINDAKAN KELAS A. serta-apabila perlu--perencanaan tindak lanjut. Sesuai dengan karakteristik dari pelaksanaaan AR yang siklis. pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi. digambarkan sebagai berikut. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. perencanaan tindakan. PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi. Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal.

b) Dalam pelajaran mengarang. tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya. Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas. para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar. Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi kelas. Prarefleksi Untuk memulai penelitian tindakan kelas.Misalnya: a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas. Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut. Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit. tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telah disarankan. Anda perlu proses belajar mengajar yang terjadi di dalam merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda. 1. a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas? b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang? c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca? .9-20 Penelitian Tindakan Kelas Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus AR yang diadaptasi dari Kember. Anda perlu menentukan suatu topik. D. c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat. meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya. Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut. Kelly (1992). agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. dan M.

Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan. Siapa akan mengerjakan apa. dan (c) perubahan sifat evaluasi. Pada tahap ini. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merkam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. 2. Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang .Penelitian Tindakan Kelas 9-21 Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. materi yang akan diajarakan. Perencanaan Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan. (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru. dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya. peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian.

Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. (2) menyusun pedoman observasi. dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi. wawancara. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan. sebagai Kelas diciptakan belajar komunitas (learning community) daripada laboratorium tindakan. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini. Tindakan Perlu diingat juga. dan jurnal. Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. Jadi. 3. dalam melaksanakan rencana Anda tersebut. (3) menyusun rancangan evaluasi. guru benarbenar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan. namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas. cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan. peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi.9-22 Penelitian Tindakan Kelas cukup rendah dalam keterampilan menulis. . Berdasarkan permasalahan tersebut. Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan.

siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf. Setelah itu. Pada tahap terakhir. Oleh karena itu. Melalui kegiatan ini. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi. Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan .Penelitian Tindakan Kelas 9-23 Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah. Kemudian. Kegiatan inti Pada kegiatan inti ini. siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. 4. dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. dan kelompok yang lain menanggapinya. setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan. Pengamatan Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. a. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Penutup Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Pendahuluan Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Melalui kegiatan ini. b. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. c. pola pengembangan. ciri-ciri. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut. dan pengertian paragraf eksposisi. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan. siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa.

peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan. dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. Selama penelitian berlangsung. dan pesan siswa terhadap materi.9-24 Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara. sedang. serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya. Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK. peneliti menguraikan jenisjenis data yang dikumpulkan. proses pembelajaran. peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan. sosiometri. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. Melalui lembar observasi. wawancara.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga. dan alat koleksi data (angket. jurnal. dan rendah. dll. Selain menggunakan lembar observasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain jurnal siswa. peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. hambatan yang dialami oleh guru. Pendek kata. kesan. pesan dan kesan. peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara . pada langkah ini. peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung. cara pengumpulan data.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti). Suasana perubahan pada atmosfir kelas . perubahan sikap percaya diri. dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi.) McTaggart (dalam Connle. keinginan tahu. Pada tahap ini. misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi. parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals. institutions.Penelitian Tindakan Kelas 9-25 5. kepuasan diri setelah mengajar. Dari catatan-catatan itulah. Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. Demikian pula perubahanperubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti. Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa. 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah: . dsb. dan suasana kelas. portofolio (catatancatatan tentang hasil/prestasi siswa). disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). bagaimana (how). and the other culture of the groups.. and societies to which the belongs …. mengapa demikian. Untuk itulah. peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas.. kepercayaan diri. on the one hand. guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why). antusiasme. responsif. seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas. apa kelebihan/kekurangan. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya. guru. langkah-langkah penyempurnaan.

Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber. Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya.63% dari jumlah keseluruhan siswa. Dalam indikator membuat daftar pertanyaan. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok. dsb. mengapa. Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana. dan bagaimana). Oleh karena itu. siapa. Yang jelas. Sedangkan kata tanya kapan dan mengapa belum digunakan. setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak. apa. suasana kelas yang lebih akrab. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. di mana. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52.9-26 Penelitian Tindakan Kelas juga disajikan. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik. perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok.73 dan termasuk dalam kategori cukup. dari mana. siapa. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan. karena bericara lebih cepat daripada menulis. seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran. Apa yang terjadi pada suatu siklus. Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan. apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. kapan. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. agar semua dapat .

Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan. ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57. Dengan demikian siswa akan lebih aktif. dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone.Penelitian Tindakan Kelas 9-27 terekam. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri. Selain itu. B. Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. Oleh karena itu. pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab . 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. dan 4 siswa sebagai pencatat pokokpokok informasi. sehingga siswa akan memperhatikan guru. masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran. dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi. Pada siklus I. berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara. Namun demikian.8% yang aktif. melihat tulisan teman. 1. Pada siklus I ini sekitar 42. diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. mereka cenderung mengobrol dengan temannya. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja. Selain itu. Merasakan Adanya Masalah Jika Anda tergolong pemula dalam PTK. Keempat hal tersebut sebagai berikut.1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf. perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi. PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN Ada empat hal yang harus diperhatikan terkait dengan penetapan fokus masalah penelitian. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber. yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus.

mungkin agaak sulit bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas.9-28 Penelitian Tindakan Kelas pertanyaan tersebut. serta berpikir balik. untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran. permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai guru dalam praktik pembelajaran. Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola. yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. Dalam proses perenungan itu. Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran. merenung. Dengan kata lain. agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional. Merasakan adanya masalah: • • • Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah Jadi. Anda harus mampu merefleksi. terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa. yang 0leh sebab itu. bukan permasalahan yang disarankan. . mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran. Oleh karena itu.

b. Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata adalah masalah-masalah yang problematik. . interaksi pembelajaran. bahan ajar. Masalah harus riil dan on the job problem oriented. ldentifikasi Masalah PTK Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian tahap-tahap penelitian. Masalah itu dilihat/ diamati/ dirasalan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari. 2. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. a. Masalah itu juga di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. Untuk itu. dan hasil belajar siswa. Untuk itu. Oleh sebab itu. c. kurikulum. dan (3) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan. (2) pemecahan masalah tersebut belum mendesak dilaksanakan. Masalah-masalah yang asal-asalan (yang kurgan teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi. artinya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. sebab: (1) pemecahan masalah tersebut tidak/kurgan mendapat dukungan literatur/sarana-prasarana/ birokrasi. sebab penelitian tidak membawa temuan yang bermanfaat. artinya masalah tersebut benar-benar ada (dirasakan sebagai masalah. Kualitas penelitian pun dapat ditentukan oleh kualitas masalah yang diteliti.Penelitian Tindakan Kelas 9-29 guru. Masalah itu datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri sehari-hari. Sebagaimana disinggung oleh tulisan sebelumnya. bukan datang dari pengamatan orang lain. identifikasi masalah sering merupakan tahap penting dalam pelaksanaan penelitian. beberapa langkah berikut dapat diikuti dengan seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan PTK.

selalu fisibel. atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar. dana. d.melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. problematik. memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah-masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan. Anda sebagai peneliti --secara individu atau bermitra dengan guru lain-. (2) resiko apa yang paling jelek bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. dapat dilontarkan beberapa pertanyaan berikut: (1) apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak dipecahkan. arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut.) maslah tersebut dapat dipecahkan. Untuk asas manfaat. Masalah PTK harus fisibel (dapat dipecahkan/ditangani). Dalam hubungan ini. akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti penguasaan operasi matematika. dan jelas manfaatnya. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini. harus dipilih masalah-masalah yang fisibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung di atas. Bahkan. media pembelajaran. tidak semua masalah penelitian yang sudah nyata.9-30 Penelitian Tindakan Kelas pilihlah masalah-masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. Untuk itu. seperti kemampuan membaca peta buta. dll. Bila dilihat dari sumber daya peneliti (waktu pembelajaran efektif. Dengan kata lain. seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. . 3. (3) kompetensi mana yang tidak tercapai bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. dukungan birokrasi. Menurut Abimanyu (1995).

Perumusan Masalah Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. e) Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prionitas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding). b) Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya. Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai . spesifik. temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK melaksanakannya. keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. Di samping itu. d) Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian. atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah. jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya. c) Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable). untuk juga mencoba 4.Penelitian Tindakan Kelas 9-31 a) Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya. dan operasional.

Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti. . Misalnya. Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK . (2) Mayoritas (85%) siswa kelas 5 SD N Sekaran membaca dengan kecepatan di bawah 100 kpm. perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya. penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. Di samping itu. Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan Dilihat dari sudut lain. alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan. PERENCANAAN TINDAKAN 1. (3) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP N 2 Kudus setalah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kooperatif metode jigsaw? C. Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): (1) Keterampilan menulis karangan narasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri Bandar masih rendah.9-32 Penelitian Tindakan Kelas proses dan/atau hasilnya itu direkam. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I. dalam PTK. jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan.

alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. dan e) Perefleksian pengalaman Anda sebagai guru. tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat. sebagai peneliti. c) Diskusi dengan rekan sejawat. hasil-hasil penelitian yang relevan dengan Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut. Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. peneliti lain dan sebagainya. maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian.Penelitian Tindakan Kelas 9-33 Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal. . Sebagai contoh lain. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah. akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”. pakar pendidikan. a) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan. b) Pengkajian permasalahan. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. a) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. Dengan kala lain. d) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program.

tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru. Berikut ini contoh rumusan hipotesis tindakan. .4 SMA 7 Semarang akan berubah ke arah yang positif”. “Keterampilan menulis karangan siswa kelas III SDN 03 Ungaran akan meningkat dan akan terjadi perubahan dalam tingkah laku siswa jika dalam pembelajaranya menggunakan metode stimulasi unik bertematik dan strategi pembelajaran mewnulis karangan secara terbimbing”. yang diambil dari skripsi mahasiswa PBSI. “Dengan pembelajaran teknik permainan simulasi maka keterampilan menulis hasil wawancara akan meningkat dan tingkah laku siswa pada kelas X.9-34 Penelitian Tindakan Kelas b) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan. d) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikanperbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu. FBS UNNES angkatan 2003. c) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual. Di samping itu. serta keterlaksanaannya. kelaikan teknis. “Pembelajaran apresiasi pusi dengan media syair lagu serta penayangan video klip dapat emningkatkan kemampuan apresiasi puisi serta akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengapresiasi puisi”.

Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya. Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka. beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut. namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif. sebagai aktor PTK. Dengan kata lain. kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. apabila diperlukan. yang paling penting. guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya. hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal OIeh karena itu. a) Implementasi PTK akan berhasil. untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan. Pada gilirannya. Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. Di pihak . gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain.Penelitian Tindakan Kelas 9-35 2. Menurut Soedarsono (1997). diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. Namun.

perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. e) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi. PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. Dengan kata lain. selain persyaratan kemampuan. c) Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan. Dengan kata lain. b) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik. psikologis dan sosial budaya maupun etik. guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. demi keherhasilan PTK. d) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan. sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. Dengan kata lain. dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK.9-36 Penelitian Tindakan Kelas lain. maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4). Dengan kata lain. . Selanjutnya. sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa. Oleh karena itu.

dilakukan oleh sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK seorang guru atas prakarsanya sendiri. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut. c) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan. sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. d) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. apa saja yang perlu Anda persiapkan? Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik.Penelitian Tindakan Kelas 9-37 Selain itu. meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif. Itu berarti bahwa . kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Sebagai aktor PTK. b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas. seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. Persiapan Tindakan Sebelum PTK dilaksanakan. PELAKSANAAN TINDAKAN DAN OBSERVASI INTERPRESTASI Sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. 3. a) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan. D.

Akhirya. patut dicatat bahwa Hopkins (1992) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK. fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi. tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran. gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu. penyelenggaraan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM. bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini. agar tidak menimbulkan kerancuan yang tidak perlu. Oleh karena itu. Hal itu juga berarti. seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK. apabila memang kebetulan telah terwujud. Dengan kata lain. Sebaliknya. betapapun canggihnya. melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional).9-38 Penelitian Tindakan Kelas observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam. penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi. harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan. dampak perbaikan yang diperoleh. .

dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas. pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi.Penelitian Tindakan Kelas 9-39 Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL. apabila memang masih ada. dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK. serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan. (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan. pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi. meskipun memang mungkin saja dalam PTK juga tergelar dimensi supervisi . (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. 1. Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasiinterpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK. tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas. Artinya. skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual. PTK bukan supervisi pengajaran. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran. Pelaksanaan Tindakan Jika semua tindakan persiapan telah selesai.

pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation). berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif. Sebagaimana telah diisyaratkan.9-40 Penelitian Tindakan Kelas pengajaran. Dengan kata lain. berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK . namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu. 2. observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk). konteks dan filosofi PTK berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal. sebaliknya dalam konteks PTK terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer). . (ii) ujaran siswa (pupil talk). Sebagaimana diketahui. Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi. dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK. Dengan kata lain. OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi. observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. Observasi dan Interpretasi Secara umum. supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision).

meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK . sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi. Apabila yang terakhir ini dilakukan. perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins. Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi. agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. 1992). terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Sebagai contoh. interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran.Penelitian Tindakan Kelas 9-41 Sebaliknya. Dalam observasi kesejawatan ini. 3. memusatkan perhatian kepada . sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki. Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. melakukan pengamatan secara umum. dapat dimanfaatkan secara produktif. mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual. Diskusi Balikan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Dalam hubungan ini. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL. maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan. Akan tetapi.

dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan. yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data.9-42 Penelitian Tindakan Kelas suatu fokus. dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian guru sebagai aktor tindakan perbaikan. b) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman. materi. ANALISIS DAN REFLEKSI Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum. Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal. diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru. kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan. Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan. sementara. apabila: a) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi. Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). d) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir E. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan. . c) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat. secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan guru aktor tindakan perbaikan.

serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji. sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. semut harus makan. ayam harus makan. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat . Dari banyak pengalaman keseharian. Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya. Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi. sementara. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan. serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan. mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi. dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan. refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis. serta dicermati unsur-unsurnya. Secara teknis. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagianbagian. yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan. ular harus makan. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran. melakukan refleksi. secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas. dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-43 Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan. Artinya. Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum. di samping induksi dan deduksi.

dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi. Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat dari hal abstrak yang berlaku umum. dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan. Dengan kata lain. batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan. atau deduksi.1997). Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir. Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang . Bagaimana penilaian mutu hasil induksi. dan (ii) karena ular adalah binatang. Untuk berfikir induktif. dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. semua binatang harus makan. contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup. Sebaliknya. yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas. Untuk membuatnya menjadi deduksi.9-44 Penelitian Tindakan Kelas dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi. Hanya saja berbeda dan penelitian formal. yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya. atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK . antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. sedangkan untuk berfikir deduktif.

Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. yaitu deduksi data.Penelitian Tindakan Kelas 9-45 telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. 1. baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru. meyederhanakan. dan penyimpulan. Dengan kata lain. tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya. Namun. mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. mengabstraksikan. refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. menyusun perencanaan baru. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. sebaliknya. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Analisis Data Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi. kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. paparan data. 1997). representasi tabular termasuk dalam format . Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. mengimplentasikan tindakan baru. Dengan kata lain. pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. memfokuskan.

Dengan kata lain. dan sebagainya. representasi grafis. Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis. tetapi mengandung pengertian luas. dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut. Refleksi Sebagaimana telah dikemukakan di atas. Apabila dicermati.merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan. refleksi . Apabila memang masih dipandang perlu. 2. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. IDENTIFIKASI ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN TINDAK LANJUT Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat. kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.9-46 Penelitian Tindakan Kelas matniks. . refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi. maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut.

yang hendak ditekankan . Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan. di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. Oleh karena itu. seorang pelaksana PTK pemikiran tentang sebab-sebab tidak boleh hanya terpaku pada kejadian-kejadian pada fase dan sebelumnya. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK membahas observasi inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. memprakirakan peluang keberhasilan. namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK . tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan direncanakan itu.Penelitian Tindakan Kelas 9-47 Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya. menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. dan pada gilirannya. ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan. Akhirnya. maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru. maka terbuka peluang untuk dampak samping dan tindakan yang mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru.

maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. Namun. Dengan demikian. memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang . Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya. maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau. ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak. dan analisis-refleksi. F. Namun. PERENCANAAN TINDAK LANJUT Sebagaimana telah diisyaratkan. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan. dan seterusnya. maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. yaitu perumusan masalah.9-48 Penelitian Tindakan Kelas dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya. pelaksanaan tindakan. hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan). observasi dan interpretasi. Di pihak lain. dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada. Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan. maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1. perencanaan tindakan. Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu.

kelas dalam suasana serius. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu. Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik untuk memulainya. Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa-peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Deskripsi perilaku ekologis. Alat Bantu Observasi Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan. Catatan anekdot adalah riwayat tertulis. Teknik-teknik yang dimaksud sebagai berikut. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. perilaku kurang perhatian. Seperti halnya catatan anekdot. b. misalnya dalam situasi belajar-mengajar: . kecerobohan. PROSEDUR OBSERVASI 1. c.Penelitian Tindakan Kelas 9-49 dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai. Deskripsi akurat ditekankan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. deskriptif. . Catatan lapangan. G. 1998). Catatan anekdot. tetapi tawa meledak …. dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto. pertengkaran picik. longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam suatu jangka waktu. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. guru. a. yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait.Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukan dan katakan” .

e.9-50 Penelitian Tindakan Kelas . tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan sejumlah topik. tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis. Gambaran tentang persoalan. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individu sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. kualitas pekerjaan siswa. kantor atau bagian kantor. kontak individual dengan siswa. dan atau peraturan. g. perasaan. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topiktopik seperti pendahuluan pelajaran. Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. hipotesis. Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian. reaksi. Catatan harian.Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggungnya. f. satu untuk satu kartu. pekerjaan siswa yang dipamerkan. dan perilaku . Analisis dokumen. dan penjelasan. papan pengumuman guru. Logs. kebijaksanaan. efisiensi penilaian. memo guru atau pejabat. garis besar. dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat. penafsiran. publikasi siswa atau karyawan. pengelompokan kelas. dsb. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan. tes formal dan informal. Kartu cuplikan butir. dugaan. memo untuk staf. disiplin. seorang siswa …. Catatan harian mungkin memuat observasi. papan pengumuman siswa. d. Teknik ini mirip dengan catatan harian. sekolah atau bagian sekolah. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tenbtang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif. edaran untuk orang tua atau karyawan.

korespodensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subjek penelitian. (b) Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi mana yang paling dekat dengan pendapat. kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Portofolio. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya. dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat pada atau timbulnya kebosanan dengan aspek tertentu. Angket. perasaan. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah. Teknik ini membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh. (a) Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. atau posisi mereka. Angket terdiri atas pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Pertanyaannya harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda).Penelitian Tindakan Kelas 9-51 seorang siswa. tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. h. Pertanyaan ada dua macam. penilaian. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahaptahap eksplorasi. . i. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambahan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti. singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat. dan atau tambahan-tambahan rapat staf yang relevan. Menguji coba pertanyaan dengan teman atau cuplikan kecil responden akan meningkatkan kualitasnya.

Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sisiogram yang mencatat hubungan seluruh kelompok. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subjek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. kategori jadwal dan checklist mungkin menunjuk pada: . (b) Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara. l. (c) Terstruktur: Pewawancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaannya. atau berdasarkan peristiwa. Metode Sosiometrik. Misalnya. Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subjek tertentu ingin bekerja sama. Metode ini digunakan untuk apakah individuindividu disukai atau saling menyukai. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu. Teknik ini memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dari pada angket. Wawancara dapat: (a) Tak terencana: misalnya.9-52 Penelitian Tindakan Kelas j. Wawancara. dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subjek penelitian. Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. dalam situasi sekolah. Jadwal dan checklist interaksi. yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. yang pencatatannya dilakukan dengan jarak waktu. k. tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan.

Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mna perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. berkelakar. lebih banyak perhatian dapat diberikan reaksi dan perilaku subjek secara perorangan. bertanya. Rekaman pita. memberi isyarat. (b) Perilaku verbal siswa: misalnya. diskusi. mondar-mandir. Jika transkripsi esktensif diperlukan. prosesnya mungkin menjadi panjang dari segi waktu. menyela. Bila ada asisten yang membantu. . menulis cepat. bertanya. n.Penelitian Tindakan Kelas 9-53 (a) Perilaku verba guru: misalnya. m. misalnya aspek kegiatan kelas. (d) Perilaku nonverbal siswa: menoleh. dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) analisis yang cermat. (c) Perilaku nonverbal guru: misalnya. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. rapat. mendisiplinkan (individu atau kelompok). menjelaskan. atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. menjawab. duduk dengan siswa yang lamban. seminar. menulis. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. menggambar. Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/ peristiwa untuk dianalisis kemudian. Foto dan slide berguna untuk merekam peristiwa penting. menulis. berdiri dekat siswa yang pandai. o. mengerutkan kening. Karena daya tarik bagi subjek penelitian. tertawa. tersenyum. Subjek-subjek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran. Foto dan slide. foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data. lokakarya. menangis. Rekaman video.

beberapa pertanyaan peserta pelatihan PTK menggambarkan tentang isu-isu sentral pelaksanaan PTK. Selanjutnya. Pertanyaan: Dapatkah dianggap bahwa penelitian tindakan (PT) itu adalah penelitian skala kecil? Jawab: Bukan masalah besar atau kecil yang mencerminkan suatu penelitian itu dapat dianggap PT. Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. PT pun dapat dilakukan dalam skala yang luas.selama proses pernbelajaran berlangsung. Sasaran Observasi Dalam PTK. secara bersamaan juga dilakukan pengamatan tentang segala sesuatu yang terjadi --atau tidak terjadi-. yang memberi ciri PT itu bukan masalah besar atau . masyarakat dan seterusnya. 3. Sebagaimana telah dikemukakan.9-54 Penelitian Tindakan Kelas p. data yang diperoleh dan observasi itu langsung diinterpr-etasikan maknanya dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah direncanakan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. sama seperti pada tindakan pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin. untuk mendiagnosis kelemahan dsb. 1. 2. Pertanyaan-Pertanyaan tentang PTK Sekalipun Penelitian Tindakan kelas telah diujicobakan dan disosialisasikan pada pelatihan-pelatihan guru. pada saat dilaksanakannya tindakan. data dan interpretasi hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan refleksi. Penampilan subjek penelitian pada kegiatan penilaian. Pada gilirannya. Jadi. organisasi besar. Alat penilaian dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya. Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi. misalnya: sekolah. penguasaan. sebagaimana halnya dalam tindakan pembelajaran umumnya.

untung/ dapat sesuatu yaitu pemahaman. bagaimana penjelasannya? Jawab: PT pada dasarnya tidak anti statistik. Jadi. PT bercirikan ”penelitian kritis” (criticalism approaches). Statistik masih dapat dimanfaatkan dalam penelitian PT. satu kelompok sebagai kelompok perlakuan. PT bukan penelitian empiris. masalah samplingpopulation. yang dapat diberi perlakuan (dibandingkan. PT tidak ambisius untuk membuat generalisasi.). manusia dianggap sebagai objek pasif. 3. Untuk itulah. Pertanyaan: Dapatkah disimpulkan bahwa PT itu sama dengan penelitian eksperimen? Jawab: Tidak bisa. prinsip-prinsip statistik inferensi (alat generalisasi berdasarkan sampel) seringkali ditinggalkan (tidak dipakai). yang lain diperlakukan sebagai objek pasif --tidak dapat keuntungan apa-apa (researched). manusia adalah agen of change yang dapat memperbaharui dunia. Penelitian eksperimen adalah satu contoh penelitian empiris. sebagaimana merupakan fokus penelitian empiris bukan merupakan masalah pokok dalam konsep PT. Pertanyaan: Ada yang menganggap bahwa PT itu anti statistik. 2. . Dalam konsep PT. manusia dianggap sebagai subjek aktif (subjek yang dapat memainkan peran). dst. mengingat di dunia ini tidak ada individu/ sekolah/ organisasi/ komunitas yang sama persis. Buat apa menggeneralisasikan? PT lebih berorientasi pada produk/ perubahan (improvement oriented) daripada sekadar generalisasi.Penelitian Tindakan Kelas 9-55 kecilnya kelompok. yang di antara researcher dan researched terdapat jurang pemisah sehingga yang satu. namun karena prinsip PT adalah critical approaches. Dalam konsep penelitian empiris. Dalam konsep PTK. Cara pandang empiris seperti ini ditolak oleh pendekatan critical yang berkeyakinan manusia bukan objek pasif yang dapat dimainkan: satu kelompok sebagai kontrol. diaduk-aduk supaya homogen. researcher. misalnya statistik deskriptif.

Pertanyaan: Hanya dari identifikasi masalah saja. artinya: masalah itu harus benar-benar riil/ nyata muncul dari dunia tanggung jawabnya. Pertanyaan: Masalah apa yang dapat didekati dengan PT? Jawab: Pada dasarnya setiap masalah dapat dipecahkan oleh pendekatan PT. Dengan demikian. suatu penelitian sudah dapat digolongkan apakah itu penelitian empiris atau critical (PT). (b) masalah harus problematik (perlu dipecahkan). Masalah PBM lain yang tidak menjadi tanggung jawab guru tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang on the job. jika ada seorang dosen/ mahasiswa melakukan penelitian di sekolah tempat guru tersebut mengajar. masalah-masalah proses pembelajaran di kelas tempat guru mengajar adalah masalah riil/ nyata yang bersifat on the job problem oriented. sekalipun demikian. bagaimana penjelasannya? Jawab: Ya. suatu penelitian langsung dapat disimpulkan sebagai penelitian empiris atau penelitian tindakan. yaitu: (a) masalah harus nyata (realistis): ada/ dirasakan oleh peneliti sebagai masalah. Sebagi contoh. hanya dari tahapan identifikasi masalah saja. mahasiswa/dosen tersebut. sudah dapat dibaca apakah masalah itu masalah milik peneliti sendiri (on tehe job) atau masalah orang luar (out of job-problem). untuk PT oleh guru. guru yang mengungkapkan masalah yang ada di kelasnya dengan penggalian yang lebih tajam oleh mahasiswa/dosen. masalah untuk PT harus memenuhi kriteria on the job problem oriented. 6.9-56 Penelitian Tindakan Kelas 4. artinya tidak semua masalah riil itu problematik (harus dipecahkan) sebab: (1) mungkin masalah itu sudah . Kecuali. 5. penelitian itu tidak dapat digolongkan sebagai PT. apabila untuk penggalian masalah yang diteliti terjadi kolaborasi dengan pihak guru. Hanya dari masalah yang diteliti saja. Pertanyaan: Bagaimana cara menemukan masalah PT? Jawab: Langkah-langkah berikut dapat dipakai untuk menemukan masalah yang bai. namun berasal dari orang luar (outsider. sebab masalah yang diteliti tidak datang dari guru itu sendiri.

(b) hasil/data cenderung dikuantitatifkan. 7. (c) ownership of a problems tidak kuat: rasa handarbeni terhadap suatu problem belum terlihat jelas sehingga keterlibatan dalam setiap langkah penelitian masih sebatas physical involvement belum mental involvement sehingga reflective thinking dari peserta belum menonjol. yaitu: (a) masih digunakan hanya satu alat koleksi data (angket. (c) masalah itu harus meaningfull (bila dipecahkan terasa manfaatnya. Pertanyaan: Kendala apakah yang sering ditemui pada pelaksanaan PTK? Jawab: Pada umumnya kendala-kendala pelaksanaan PTK adalah: (a) masih lemahnya pemahaman akan prinsip-prinsip PT. dan (3) masalah itu jelas manfaatnya. (b) komunikasi/ kolaborasi antara peserta penelitian yang belum optimal: diskusi kadangkala masih didominasi oleh salah satu peserta. (c) laporan belum menunjukkan perubahan (improvement-oriented) baik pada siswa.Penelitian Tindakan Kelas 9-57 ada yang membahas. belum critical. Pertanyaan: Bagaimana kesan laporan pilot project PTK yang selama ini telah dilaksanakan oleh para guru? Jawab: Warna penelitian empiris masih kental mewarnai laporan PTK. 8. tidak semua masalah riil. dan (3) kurang dukungan literatur. meaningfull itu dapat dipecahkan. dan (d) masalah itu harus fisibel (artinya dapat dipecahkan). dan (e) umumnya penelitian empirisme adalah jenis penelitian yang paling mendominasi di Indonesia. . tes saja). sehingga laporan masih terkesan empiris. data-data kualitatif yang sebenarnya berbobot belum tersaji. problematik. (2) masalah itu di luar kewenangan/ keahlian/ tanggung jawabnya. lingkungan sekolah. belum menyajikan berbagai cara koleksi data. (d) reflective thinking belum merupakan budaya pikir dan kerja peserta penelitian sehingga catatan-catatan harian (learning logs) belum dimaksimalkan dalam pembuatan laporan. karena: (1) mungkin tidak ada alat/ dana. guru. petunjuk-petunjuk ke araha ini belum disajikan. wawancara. (2) tidak cukup waktu.

sehingga peneliti mampu memahami dengan sempurna prinsip-prinsip PT yang berbeda dengan kedua pendekatan tersebut. 9. 10. justru sebaliknya menggambarkan pemahaman terhadap suatu perlakuan saja. 12. apakah harus menguasai statistik terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus! Seperti telah dijelaskan PT bukan penelitian empiris sehingga PT tidak ambigius membuat generalisasi-generalisasi sehingga untuk inferential statistics tidak harus dikuasai. kemajuan sistem/organisasi kelas/sekolah. hal inilah yang menyebabkan laporan-laporan PTK belum bisa menggambarkan perubahan/pembaharuan yang terjadi. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses (PTK maksudnya). Petunjuk-petunjuk ke arah kemajuan tersebut harus .9-58 Penelitian Tindakan Kelas sehingga para guru umumnya masih ’berbaju’ empiris saat melakukan PTK. namun prinsip-prinsip (filosofis) kedua jenis penelitian perlu dipahami. 11. Pertanyaan: Syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang peneliti PT/PTK yang sukses (action researchers)? Jawab: Syarat utama yang harus dimiliki adalah jiwa agen pembaharuan (agen of change): tanpa memiliki jiwa agen pembaharuan. dan kemudian menyenangi/ mempersiapkan diri untuk menjadi agent of change. sekalipun demikian descriptive statistics masih dapat dimanfaatkan. perlukah menguasai kedua penelitian jenis penelitian empiricalisme dan intepretivisme terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus menguasai semua. sehingga manfaat PT langsung dapat dirasakan yaitu adanya perubahan (kemajuan): baik kemajuan diri. susah kiranya menjadi peneliti PT yang sukses. kemajuan siswa. Pertanyaan: Syarat lain apakah yang diperlukan untuk melaksanakan PT/PTK? Jawab: Yang jelas sebelum melakukan PT/PTK harus memahami prinsip/filosofi PT itu sendiri.

Penelitian Tindakan Kelas 9-59 dipotret sejak awal/dini. Meskipun butuh waktu dan proses. pemahaman secara tuntas tentang filosofi PT akan mengurangi kebingungan pelaksanaan risen PT di tengah-tengah beberapa kemungkinan pendekatan penelitian yang ada. kendala/ isu lain akan terus dimonitor untuk mendapatkan keyakinan bahwa PTK dapat dipandang sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. beberapa isu yang dapat dihimpun. yes man. dst. itulah sebabnya menjadi peneliti PT harus seorang yang pemikir reflektif/ kreatif bukan reproduktif (meniru. .) Demikianlah.

Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. cara pemecahan masalah. daftar pustaka. halaman pengesahan. lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti. rencana anggaran penelitian. tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan). pangkat. Bagian pengesahan berisi: a) Judul PTK. b) Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya. jadwal penelitian. dan NIP. tujuan penelitian. Berikut ini adalah penjlasan bagian-bagian itu. sekolah atau lembaganya. 1. nama peneliti. 2004). Bagian Awal Usulan PTK Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan. bidang ilmu. FORMAT USULAN PTK Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting. yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK. metode penelitian atau rencana penelitian. perumusan masalah. jabatan fungsional. kontribusi/manfaat. dan kategori penelitian. d) Biaya penelitian.BAB III PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. dan lembaga tempat peneliti bekerja. 2. c) Lokasi penelitian. termasuk. e) Sumber dana penelitian. nama lengkap dengan gelar. golongan . Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti. pendahuluan/latar belakang masalah. . Bagian Isi Usulan PTK Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian.

dan sederhana. . judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK. Formulasi judul hendaknya singkat. (a) Dilema Pembelajaran Menyimak Bahasa Inggris pada Siswa Kelas III SMA (b) Pemakaian Bahasa Indonesia Lisan Siswa di Lingkungan SMA Kodia Surakarta (c) Hubungan Kemampuan Pengetahuan tentang Majas dengan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 2 Kudus Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-61 a) Judul Penelitian Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal. Judul berikut ini merupakan beberapa contoh judul PTK. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. Dengan kata lain. jelas. spesifik.

9-62 Penelitian Tindakan Kelas

(a) Peningkatan Keterampilan Menulis Hasil Wawancara Melalui Media Majalah Dinding dengan Metode Group Investigation pada Siswa Kelas X SMA Purusatama Semarang (b) Peningkatan Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Penciptaan Suasana Rileks pada Kelas II F Semestrer 1 MAN Rembang Tahun pelajaran 2003/2004 (c) Peningkatan Keterampilan Mengungkapkan Gagasan Secara Lisan dalam Bahasa Indonesia Melalui Metode Probing Question di Kelas 1.6 SMU Negeri 3 Sukoharjo (d) Perangkat Audio Visual sebagai sarana Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Bidang Studi Bahasa Inggris di Kelas 1.2 SMU Gemuh (e) Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA N 7 Semarang (f) Permainan Mencari Harta Karun sebagai Teknik Pembelajaran Membaca Denah, Peta, dan Petunjuk pada Siswa Kelas II D SMP N 3 Kalibagor (g) Peningkatan Menyimak Wawancara Melalui Media Audio Visual dengan Metode Student Teams-Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Kroya Kabupaten Cilacap (h) Strategi Kooperatif sebagai Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berwawancara pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Pancur Kabupaten Rembang (i) Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa dalam Mendeskripsikan Benda dengan Teknik Permainan Terka Gambar pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Trobayan Tahun Pelajaran 2005/2006 (j) Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif Teks Berita pada Siswa Kelas VIII D SMP N 3 Jekulo Kudus (k) Pengenalan Karakter Tokoh dalam VCD Dongeng sebagai Media

Penelitian Tindakan Kelas 9-63

Peningkatan Kemampuan Mendongeng pada Siswa Kelas VII SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan (l) Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Catatan Harian dengan Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X SMA N 1 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (m)Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Anak-anak dengan Menggunakan Metode Simulasi ”Perkampungan Sastra” pada Siswa Kelas V SD Bendanpete 1 Nulumsari Jepara

b) Pendahuluan/Latar Belakang Dalam pendahuluan/latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dari berbagai bahan pustaka yang relevan. Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapat memperkukuh alasan mengangkat permasalahan penelitian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian dalam bagian ini. Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan

lainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi)

9-64 Penelitian Tindakan Kelas

masalah

penelitiannya,

maka

selanjutnya

perlu

diidentifikasi

dan

dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antaranggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. c) Perumusaan Masalah Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benarbenar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

d) Cara Pemecahan Masalah Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil analisis masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang

Penelitian Tindakan Kelas 9-65

dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program

pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemänfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.

e) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

f) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan) Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir

9-66 Penelitian Tindakan Kelas

atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian.Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang yang

menggambarkan

tingkat

keberhasilan

tindakan

diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.

g) Tujuan Penelitian Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini. Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagianbagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang JPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya

ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.

h) Kontribusi/Kemanfaatan Hasil Penelitian Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungani, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas

pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para

Penelitian Tindakan Kelas 9-67

dosen LPTK sebagai pendidik guru., maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi

pengembangan ilmu, teknologi, dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

i) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan secara jelas, demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).

(1) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.

(2) Variabel yang diteliti Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel

tersebut dapat berupa (1) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses

9-68 Penelitian Tindakan Kelas

penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi, siswa, hasil belajar siswa, sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.

(3)

Rencana tindakan Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan

mutu pembelajanan seperti: (a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka

perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolah juga

dikemukakan pada bagian ini. (b) Implementasi tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenanio kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (c) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. (d) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak

Penelitian Tindakan Kelas 9-69

tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

(4) Data dan cara pengumpulan data Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai

kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik),

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang

canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

(5) Indikator kinerja Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam

9-70 Penelitian Tindakan Kelas

bentuk pengurangan (jenis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.

j) Jadwal Penelitian Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang

menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil

penelitian disusun selama 10 bulan.

k) Rencana Anggaran Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut. 1) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan); 2) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari total biaya); 3) Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan; 4) Lain-lain pengeluaran (laporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran. 1) Komponen Pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.

Penelitian Tindakan Kelas 9-71

(a) Persiapan Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. (b) Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. (c) Penyusunan laporan hasil PTK Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sehagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris).

2) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelüaran yang diharapkan.

3) Patokan Pembiayaan Satuan Kegiatan Penelitian (a) Honorarium • Ketua peneliti • Anggota tim penetiti • Tenaga administrasi

9-72 Penelitian Tindakan Kelas Besarnya honoranium bergantung pada sumber pendanaan. (b) Bahan dan peralatan penelitian • Bahan habis pakai • Alat habis • Sewa alat (c) Perjalanan • Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan • Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat • Lumpsum tenmasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan • Monitoning • Konsultasi (d) Laporan penelitian • Penggandaan • Penyusunan artiket • Pengiriman (e) Seminar Seminar Iokal • Konsumsi sesuai dengan harga setempat • Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat Seminar nasional • • Biaya transportasi peserta Biaya akomodasi l) Personalia Penelitian Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian/tugas peran setiap anggota peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. jika Anda ingin mengajukan usulan PTK ke Dikti. Pada sisi lain. 1 orang anggota peneliti (dosen . yang terdiri atas 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK). buku panduan penyusunan usulan PTK dari Ditjen Dikti (2004) menyebutkan bahwa jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang.

Diberikan pilihan oleh dosen dan guru disuruh HASIL PENILAIAN Nilai Bobot NxB 2 2 3 4 2 1 2 . menyangkut identitas. Relevansi Permasalahan a. Pengalaman dosen sebagai peneliti c. m) Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. riwayat pendidikan. Rambu-Rambu Penilaian Proposal PTK Berikut ini disampaikan tabel penilaian proposal penelitian tindakan kelas. Disodorkan dari luar b. Dipancing dalam diskusi dengan guru e. dan pengalaman dalam penelitian termasuk dalam PTK. Asal Permasalahan b. NO A KRITERIA Permasalahan INDIKATOR 1. Olahan penelitian setelah mengumpulkan data d. pangkat. Pustaka yang ditulis hendaknya benar-benar relevan dan sungguh-sungguh dipergunakan dalam penelitian n) Lampiran dan Lain-lain Bagian ini dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim peneliti.Penelitian Tindakan Kelas 9-73 LPTK). pelatihan di bidang penelitian yang telah diikuti. yaitu 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 1 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. golongan. Peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 2 orang peneliti. 6. baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. dan lembaga tempat tugas dirinci sama seperti pada Lembar Pengesahan. jabatan. Hal-hal lain yang dapat mempenjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan juga dapat disertakan dalam usulan penelitian ini. Nama peneliti. Berawal dari gagasan guru 2. dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah.

Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup satu siklus kegiatan c. tetapi tenaga dan sarana pendukung tidak jelas 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 4 4 3 2 1 1 D Prosedur penelitian 4 3 2 1 4 3 3 E Program kegiatan dan dukungan teknis 1 . Cukup potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran c.9-74 Penelitian Tindakan Kelas memilih c. Cakupan komprehensif. Dipancing melalui diskusi/negoisasi d. Sangat potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran b. Dari kepala sekolah/penilik/pejabat lain sebagai pembina b. Cakupan komprehensif. Hasil diskusi dengan guru d. Kontekstualitas tindakan a. Bertolak dari permasalahan yang diajukan oleh guru 3. Kontekstualitas tindakan a. Kurang potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran d. Dari dosen sebagai peneliti c. Berawal dari gagasan guru 2. Siklus berikut ditetapkan berdasarkan hasil refleksi C Kemanfaatan hasil a. tes konvensional b. Aspek kognitif. Kurang sesuai dengan langkah-langkah PTK d. Bertolak dari masalah yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Jadwal kegiatan tepat/jelas. Tidak sesuai dengan langkah-langkah PTK a. Aspek kognitif. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup lebih dari satu siklus kegiatan b. Rancangan tindakan a. Tidak potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran a. Jadwal kegiatan jelas/tepat. demikian juga dengan tenaga dan sarana pendukung b. Cakupan permasalahan a. asesmen komprehensif c. asesmen komprehensif B Cara Pemecahan 1. Solusi terhadap permasalahan berdasarkan kesepakatan guru dengan dosen LPTK d. Pilihan solusi diberikan oleh dosen LPTK dan ditetapkan oleh guru c. Dimunculkan oleh guru dalam diskusi 3. tes kognitif konvensional d. Bertolak dari permasalahan yang ditetapkan oleh dosen LPTK b.

proses. Komponen-komponen pembiayaan dirinci sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan b. c. Semua anggota tim peneliti adalah dosen 1. Jumlah biaya melebihi plafond yang ditetapkan 2. a. . Jadwal kegiatan serta sarana dan prasarana tidak sesuai F Kerjasama LPTK Sekolah a. Jumlah biaya sesuai dengan plafond yang ditetapkan b. atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10). Rincian komponen-komponen pembiayaan a. Jumlah dosen dalam tim jauh lebih banyak d. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara tidak wajar/berlebihan 2 1 4 1 3 2 1 3 2 1 G Pembiayaan 3 2 1 1 2 1 Di samping rambu-rambu penilaian di atas. kriteria seleksi yang dilakukan oleh Ditjen Dikti (2004) terhadap usulan PTK mencakup hal-hal sebagai berikut. Komposisi dosen dan guru berimbang tetapi guru tidak berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti c. Kesesuaian jumlah biaya a. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutamanya: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi. b. Komposisi dosen dan guru berimbang dan guru berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti b. Perumusan masalah (terutamanya: asal. Kewajaran pembiayaan a. Cara Pemecahan Masalah (terutamanya: rancangan tindakan. masukan. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara wajar b. dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25).Penelitian Tindakan Kelas 9-75 c. dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25). relevansi . Komponen-komponen pembiayaan tidak dirinci sebagaimana mestinya 3. Jadwal kegiatan kurang tepat/jelas d.

rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian. . prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30). sarana pendukung pembelajaran yang digunakan. e. perencanaan tindakan.9-76 Penelitian Tindakan Kelas d. dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10). Prosedur Penelitian (terutamanya: prosedur diagnosis masalah. prosedur observasi dan evaluasi. Kegiatan Pendukung (terutamanya: jadwal penelitian.

Laporan penelitian dapat beragam bentuk atau formatnya. Hal itu sangat bergantung pada tuntutan lembaga dan/atau sponsor yang mendukung dana penelitian tersebut. Bagaimanapun pentingnya teori dan hipotesis. PENGANTAR Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. bagaimana pun telitinya kita membuat rancangan penelitian.BAB V LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. B. . Bagaimana menyusun laponan PTK? Berikut ini akan diuraikan secara garis besar tentang teknik penyusunan laponan PTK. OIeh sebab itu. maupun bahasanya. penelitian hanya akan mempunyai arti apabila hasilnya dilaporkan secara memadai melalui laponan penelitian (Shah. Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. Jika pihak sponsor tidak menetapkan format yang harus diikuti atau penelitian dilaksanakan secara swadana. Ia merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. struktur. serta betapa hebatnya pun kita menghasilkan sebuah penelitian. ISI LAPORAN PTK Pada dasarnya apa yang telah ditulis dalam usulan penelitian akan dimuat lagi dalam laporan penelitian. Ia juga merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya. 1985). Meski beragam bentuk atau formatnya. peneliti dapat memilih atau mengembangkan sendiri format laporan yang akan digunakan. secara mendasar laporan itu sama dalam hal tuntutan isi. laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian.

adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas. yang sudah sangat umum. dan prosedur/langkah kerja. laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkas dan dituangkan dalam paragraf-paragraf yang ringkas dan padat. ada bermacam-macam format sesuai dengan pihak sponsor dana.9-78 Penelitian Tindakan Kelas Dalam perkembangannya yang terakhir. Misalnya. Jenis yang pertama laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif (executive summary). Dari sekian macam format laporan PTK akan disajikan satu contoh format laporan PTK berikut ini. (6) simpulan. Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif. sesuai dengan namanya. padat. sasaran penelitian. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format eksekutif adalah: (1) judul penelitian. dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. memiliki format yang berbeda. (4) metode penelitian yang memuat rancangan penelitiqan. Laporan penelitian yang lengkap. 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda (2 spasi). Karena itu. . sedangkan jenis yang kedua. dan tujuan penelitian. seperti dijelaskan di atas. Jenis laporan ini seolah-olah akan dibaca oleh para eksekutif yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca laporan lengkap dari suatu hasil penelitian. rumusan masalah. (5) hasil-hasil penelitian. adalah laporan penelitian yang lengkap. ada dua jenis laporan penelitian jika dilihat dari formatnya. (3) pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian. laporan PTK dari proyek OPF Diknas dan PTK PGSM. Para eksekutif dalam membaca suatu laporan penelitian hanya memerlukan butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. dan (7) daftar pustaka.d. (2) nama peneliti (ketua dan anggota). Panjang laporan sekitar 10 s.

.... Simpulan 2..Penelitian Tindakan Kelas 9-79 BAGIAN AWAL Halaman Judul Abstrak Prakata Daftar Isi BAGIAN UTAMA Bab I PENDAHULUAN 1............ Paparan Data 2.. Manfaat Penelitian Bab II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1.... Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4...... Bab III METODE PENELITIAN 1............................. Saran/Rekomendasi BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran .. Prosedur Observasi dan Refleksi 5... Uji Hipotesis 3.. Rancangan Penelitian 3. Tujuan Penelitian 4........ Prosedur Analisis Data Bab IV HASIL PENELITIAN 1......... . ...... 2........ Setting Penelitian dan Latar belakang Subjek Penelitian 2.................... Rumusan Masalah 3.... Pembahasan Bab V PENUTUP 1...... Latar Belakang Masalah 2... 3.... ..

di bawah nama lembaga atau sponsor dicantumkan tahun selesainya penelitian atau tahun ditulisnya laporan penelitian. jelas. BAGIAN AWAL Paling sedikit ada empat unsur pokok yang termasuk dalam Bagian Awal dari laporan PTK. yaitu: (1) halaman judul. Pada halaman judul ini judul penelitian ditulis simetris di bagian atas bidang pengetikan dengan huruf kapital. di mana dan kapan penelitian akan dilakukan. dan (4) daftar isi. Panjang abstrak sebaiknya satu halaman. pada bagian bawah bidang pengetikan ditulis lembaga yang menyelenggarakan atau menyeponsori penelitian. (2) abstrak. Akan tetapi jika tidak cukup bisa diperpanjang maksimum sampai dua halaman kertas ukuran kuarto. Abstrak bukanlah ringkasan hasil penelitian. tindakan sebagai upaya pemecahan. Dengan hanya membaca abstrak seseorang dapat memahami pokok- pokok yang ditulis dalam laporan. Agak jauh di bawah judul dicantumkan nama tim peneliti (bisa ketua saja atau lengkap ketua dan anggota). sederhana. 2. 1. singkat. Sekiranga diperlukan. daftar gambar. (3) prakata. daftar lampiran. melainkan inti sari yang sangat pnting dari hasil penelitian.9-80 Penelitian Tindakan Kelas Keterangan singkat tentang isi dari masing-masing format dari ketiga bagian laporan lengkap penelitian tersebut disajikan berikut ini. Halaman Judul Judul penelitian berupa kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti. Abstrak Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. Terakhir. Kemudian. daftar singkatan. Hal-hal penting tersebut adalah latar . bagian awal ini dapat ditambahkan dengan daftar tabel. terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan. dan mudah dipahami.

Daftar Isi Hal-hal yang dicantumkan dalam daftar isi adalah judul bab dan sub-judul (satu peringkat di bahawa judul bab). hasil penelitian. 1. dan (5) penutup. Prakata Prakata berisi ucapan syukur dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian. Sub-sub judul yang lebih dari satu peringkat di bawah judul bab tidak perlu dicantumkan karena akan menyebabkan daftar isi menjadi terlalu panjang. (4) hasil penelitian. BAGIAN UTAMA Isi bagian utama dari laporan penelitian merupakan inti dari keseluruhan laporan. tujuan penelitian. 3. yaitu: (1) pendahuluan. (3) metode penelitian. Lazimnya. 4. bagian ini bisanya diisi dengan harapan akan kemanfaatan hasil penelitian. dan implikasinya. dan (4) alasan pentingnya penelitian tindakan ini dilakukan. . dan kesediaan menerima masukan yang datang dari berbagai pihak. Pendahuluan a.Penelitian Tindakan Kelas 9-81 belakang masalah. (2) argumentasi teoretik tentang tindakan yang dipilik. Selain itu. (3) hasil penelitian terdahulu (jika ada). bagian utama laporan penelitian tindakan terbagi menjadi lima bagian (yang disebut bab). Latar Belakang masalah Berisi uraian (1) fakta-fakta yang mendukung yang berasal dari pengamatan peneliti. (2) kerangka teoretik dan hipotesis tindakan. pelaksanaan penelitian.

prosedur analisis data. (4) kalangan guru/dosen pada umumnya. Rumusan Masalah Berisi uraian yang menjelaskan: (1) kesenjangan antara situasi yang diinginkan dan yang ada dan dapat dipecahkan. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretik berisi kajian teoretik yang relevan yang mendasari penelitian tindakan. Tujuan Penelitian Secara operasional. Metode Penelitian Bab ini berisi hasil pengembangan dari yang telah ditulis dalam usulan penelitian dengan catatan bahwa metode dalam usulan adalah yang akan dilaksanakan. bukan yang akan dilaksanakan. 3. 2. Artinya yang dilaporkan adalah metode yang telah diterapkan dalam melaksanakan penelitian. prosedur observasi dan refleksi. Unsur-unsur yang ada pada bagian metode ini adalah: setting penelitian dan latar belakang subjek penelitian. dengan tindakan akan terjadi perubahan. rancangan penelitian. (5) sekolah/LPTK . (2) rancangan tindakan pembelajaran yang mempunyai landasan konseptual. Kata “akan” yang ada dalam usulan tidak boleh ada lagi dalam laporan. . (2) guru/dosen pelaksana PTK. perbaikan atau peningkatan. c. d. tujuan penelitian berisi pernyataan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh peneliti dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa.9-82 Penelitian Tindakan Kelas b. Manfaat Penelitian Berisi manfaat atau sumbangan hasil penelitian khususnya bagi (1) siswa. (3) dinyatakan dalam kalimat pertanyaan/pernyataan. tindakan inilah yang kemudian dituangkan dalam hipotesis tindakan dalam rangkan pemecahan masalah. perencanaan dan pelaksanaan tindakan. sedangkan pada laporan dikemukakan metode yang senyatanya telah dilaksanakan.

Daftar Pustaka Istilah “daftar pustaka” biasanya mempunyai dua arti: (a) referensi dan (b) bibliografi. Hasil Penelitian Pada bab ini dilaporkan tentang deskripsi data (perlakuan atau intervensi dan dampak intervensi). setiap judul tulisan yang dimuat dalam daftar pustaka harus telah dipergunakan sebagai rujukan secara eksplisit dalam naskah laporan. Judul tulisan yang tidak dikutip secara eksplisit dimasukkan dalam daftar karena dibaca dan secara umum ide-idenya dipakai sebagai dasar penulisan. 1. BAGIAN AKHIR Bagian akhir dari laporan penelitian tindakan memuat antara lain daftar pustaka dan lampiran. . dalam daftar pustaka dapat dimuat semua judul tulisan yang dibaca oleh peneliti dan mendasari penulisan naskah. Pembahasan ini berisi perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian lain atau pengetahuan teore yang relevan. pengujian hipotesis. namun tidak dapat dirujuk secara khusus. 5. Jika daftar pustaka diartikan referensi (daftar rujukan). Saran dibatasi hanya yang terkait langsung dengan simpulan. Penutup Bab ini berisi simpulan dan saran/rekomendasi. dan pembahasan hasil pengujian hipotesis. Saran yang didasarkan atas pertimbangan lain di luar simpulan tidak boleh diajukan dalam laporan penelitian. Riwayat hidup (curriculum vitae) peneliti biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. Simpulan didasarkan pada hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. baik yang dikutip secara eksplisit pada salah satu bagian di dalam naskah maupun yang tidak.Penelitian Tindakan Kelas 9-83 4. tetapi jika daftar pustaka disamakan artinya dengan bibliografi.

peneliti haruslah menyiapkan laporan penelitian dengan baik. Lampiran Semua dokumen yang tidak berupa naskah (teks) tetapi dianggap penting untuk mendukung apa yang ditulis pada naskah laporan dan dapat dilacak oleh pembaca dengan mempelajari dokumen tersebut. Peneliti harus benarbenar mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya benar-benar maksimal. isi. daftar cek. Laporan penelitian tidak dapat dianggap sebagai karya yang dapat dikerjakan sambil lalu. Oleh sebab itu. seperti kuesioner (angket). surat-surat penting dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian.9-84 Penelitian Tindakan Kelas 2. Ia harus dikemas secara baik. pedoman observasi. baik dari sudut format. menyusun dengan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang laporan penelitian dan harus dikerjakan secara profesional. print out hasil analisis data dengan komputer. Ia harus menata. PENUTUP Laporan penelitian merupakan pertanggunjawaban peneliti. Misalnya: instrumen penelitian. perlu dilampirkan pada laporan. C. maupun bahasanya. data asli (mentah). struktur. .

Sampel PTK khusus sedangkan penelitian formal represertatif . Penelitian ini dilakukan oleh orang di luar dunia pendidikan yang tidak menghayati masalah pendidikan dan penyebaran basil penelitian pendidikan memakan waktu yang lama untuk sampai pada guru. Oleh sebab itu.BAB V PENUTUP Penelitian pendidikan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi guru di dalam kelas. instrumentasi dan analisisnya tidak harus ketat seperti pada penelitian formal. PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran dengan memanfaatkan pengahayatan guru akan masalah pendidikan dengan cara kotaboratif dan reflektif Penelitian kelas dibatasi sebagai penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional. dan pengembangan peningkatan profesionalitas guru. PTK bercirikan perbaikan praksis pembelajaran dari dalam. dan pembelajaran. PTK itu metodologinya longgar. reflektif PTK mempunyai manfaat untuk inovasi kurikulum di tingkat sekolah. PTK mengembangkan praksis pembelajaran sedangkan penelitian formal verifikasi dan menemukan pengetahuan yang akan digeneralisasikan. PTK berbeda dengan penelitian formal dalam berbagai cara sebagai berikut. kolaboratif. PTK merupakan alternatif yang sangat tepat untuk menggantikan posisi penelitian formal atau penelitian kelas yang selama ini banyak dikerjakan untuk dapat meningkatkan praksis pembelajaran dari dalam dengan cara kolaboratif dan reflektif. PTK dikerjakan oleh orang dalam (baca guru) sedangkan penelitian formal dikerjakan oleh orang luar yang tidak menghayati masalah di kelas secara mendalam.

begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki praksis pembelajaran. pelaksanaan. dan refleksi. yakni pengamatan. dan terjadilah daur PTK . yakni perencanaan. wawancara. basil penelitian. atau kepala sekolah/birokrat pendidikan yang lain membuat rencana tindakan yang dipersiapkan secara matang dan melaksanakannya di dalam kelas. observasi.9-86 Penelitian Tindakan Kelas PTK dilaksanakan dengan prosedur berdaur. Tahap selanjutnya guru dengan berkolaborasi bersama teman sejawat. serta pengalaman mengajarnya. maka guru barus siap mengadakan revisi terhadap tindakan yang dilakukan dan menetapkan tindakan baru yang kemudian akan dilaksanakan dan diobservasi dan direfleksi. Masalah PTK adalah masalah yang memang benar-benar dirasakan oleh guru dan bukan masalah yang diturunkan dari atasan atau dan pihak dosen. dan sebagainya serta dengan tes untuk melihat kemajuan praksis pembelajaran siswa. Pada saat pelaksanaan itu guru mengadakan observasi yang berupa nontes. Dengan masalahnya itu guru berupaya untuk mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkan hipotesis tindakan yang dikajinya dan berbagai teori. dosen. Begitu seterusnya. . Hasilnya kemudian direfleksi oleh guru dibantu oleh teman kolaborasinya. Jika hasilnya belum baik.

Penelitian Tindakan Berbasis Kelas dan Sekolah. 1991. AERA. 1997. 11. 1998. IL. Hopkins. Research Methodology I: Issues and Methods in Research. S. Analyze. J.. “Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Cobstructs: an Accont of the work of the Ford Teaching Project”. A Teacher’s Guide to Classroom Research. dan Miller.DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. 1997. . H. B. “Alternative Paradigms in Educational Research”. dan Wisemen. & Kemmis. and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. Elliot. David. Gelong. Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM tanggal 18—22 Oktober. R. Geelong. 1993. Jakarta: Ditjen Dikti. M.C. Elliot. 1983. How To Design. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.d. Johnston. Second Edition. 1982. Australian Educational Researcher. L. Knowledge. 1992. Penyusunan Proposal PTK. 2004. “Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) untuk Tahun Anggaran 2004”. and Action Research. 1989. Geelong: Deaking University. Hadisubroto. S. Candy. Research Methods in Education. P. Chicago. STKIP. Jakarta. J. 1980. FIP IKJP Surabaya. 1982. Action Research for Educational Change. Victoria: Deakin University. Victoria. PTK. Dalam The Action Research Reader. Action Research in a School University Partnership. Australia: Deakin University. John. Smith.. 2000. L. Cohen. 16 (3) 1 s. Becoming Critical: Education. Philadephia: Open University Press. Format Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas . Carr. Branson. London & Canberra: Croom Helm. Connole. Singaraja. & Manion. Balian. Philadelphia : Open University Press. W. New York: University Press. Depdiknas. D. Soli 1998. Departemen Pendidikan Nasional. Edward. Tisno.

H. 1997. Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 1991. Dirjen Dikti. Kelly. Kember D. 1985. Priyono. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Victoria: Deakin University. PPGSM Ditjen Dikti. Natawidjaya. dan M. T. PPGSM Ditjen Dikti. J. Using Action Research to Improve Teaching. Vimal P. Beijing: Beijing Teacher College Press. Madya. Bandung : IKIP Bandung. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Dirjen Dikti. S. Bogor. Makalah pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi Dosen dan Guru. Rencana. Dirjen Dikti. Jakarta: BP3SD. tanggal 9 September 1999. Seri Metodologi Penelitian: Panduan Penelitian Tindakan. The Action Research Planner. Orto (eds. 1999. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 1991. ”Appraising Report of Inquiry”. Chapter prepared for inclusion in D. Tejemahan Muhajir Darwin dari Reporting Research. Menyusun Laporan Penelitian. R. 1998. 1997. Raka. Depdikbud. Rochman. . 1992. R. 3rd ed. McNiff. 1997. PCP. Suyanto. London: Routledge. Pemantauan dan Evaluasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Andreas. Muhadjir. Caulley. Desain. 1998. Shah. Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. Noeng. dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Kemmis. Semiawan. FX. Analisis dan Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Action Research: Principles and Practice. PCP. Jakarta BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud. 1988. 1997. Depdikbud. Moore and J. Jakarta: BP3SD. McTaggart. dan McTaggart. Soedarsono.) Social Science Methodology for Education Inquiry: A Conceptual Overview.9-88 Penelitian Tindakan Kelas Joni. Hong Kong: Hong Kong Polytechnic. Conny R. Jakarta: BP3SD. Sumarno. 1997. Suwarsih. “Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas”. 1994.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. SCOPE Program. . Penelitian Tindakan Kelas. D.Penelitian Tindakan Kelas 9-89 Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Perth: Education Department of Western Australia. 1996. Tripp.

BUKU AJAR PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH .

Hal ini mempunyai tujuan agar setelah pelaksanaan matapelajaran ini peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menyusun artikel ilmiah yang siap dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah yang tidak maupun terakreditasi. Deskripsi Buku Ajar mengenai “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini meliputi materi pembelajaran tentang penulisan artikel ilmiah. (3) menyusun draft proposal penelitian tindakan kelas. jenis dan struktur artikel ilmiah. (2) mengenal perbedaan penulisan artikel ilmiah yang konseptual dan yang non konseptual. PENDAHULUAN A. Secara garis besar.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 BAB I. artikel hasil pemikiran. Buku ajar ini mempunyai hubungan dengan buku ajar yang terutama adalah penelitian tindakan kelas. dan (4) menyusun draft artikel ilmiah. buku ajar ini mengantarkan peserta PLPG untuk memahami materi-materi tersebut di atas. (3) mengenal format penulisan artikel ilmiah. Karena standar kompetensi penelitian tindakan kelas adalah (1) mengenal metode penelitian tindakan kelas. namun demikian peserta juga diminta untuk menyusun draft penulisan artikel ilmiah di bidang kompetensi masingmasing. . serta praktik penulisan artikel ilmiah. pada saat peserta PLPG berkeinginan untuk menuliskan hasil penelitian tindakan kelas ke dalam jurnal penelitian pendidikan. artikel hasil penelitian. format tulisan. Jelas bahwa kompetensi dasar kedua mata pelajaran ini akan bersngkut paut. (2) mengenal format laporan penelitian tindakan kelas. Buku ajar “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini mempunyai standar kompetensi dasar (1) mengenal penulisan artikel ilmiah.

Peserta PLPG aktif berdiskusi dengan pelatih.9-4 Penulisan Karya Ilmiah B. serta dimintakan pendapat dari pelatih. Hasil draft itu selanjutnya digunakan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ini. Di samping itu. Kemudian peserta PLPG harus belajar menyusun suatu draft artikel ilmiah yang selaras dengan format yang tersaji di dalam buku ajar ini.Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil penelitian. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil pemikiran konseptual. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan esai. 6. . 5. C. 7. selanjutnya mendiskusikan dengan teman lainnya. 2. peserta pelatihan mencermati contoh-contoh yang telah disajikan oleh pelatih dan yang tersaji di dalam buku ajar ini. . Petunjuk Pembelajaran Peserta PLPG harus selalu aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami jenis dan struktur artikel ilmiah. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan enumeratif. Peserta mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyusun draft artikel ilmiah. Saran-saran dari pelatih yang belum dipahami perlu ditanyakan kembali kepada pelatih jika perlu meminta perbandingan dengan artikel yang telah termuat di dalam jurnal. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami kriteria penulisan artikel ilmiah. Kompetensi dan Indikator 1. 4. menanyakan hal-hal yang belum dipahami. 3.

Menjelaskan sifat artikel ilmiah. Kriteria ini adalah cerminan sifat karya ilmiah yang berupa norma dan nilai yang berakar pada tradisi ilmiah yang diterima secara luas dan diikuti secara sungguh-sungguh oleh para ilmuwan. 3. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. URAIAN MATERI Sesuai dengan namanya. artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal diharapkan memenuhi kriteria sebagai sebuah karya ilmiah. bapak dan ibu sudah sering membaca berbagai artikel.BAB II. Pertama. Menjelaskan sikap ilmiah. struktur dan sifat-sifat artikel ilmiah 4. Berbekal pengalaman bapak dan ibu dalam memahami artikel ilmiah. KEGIATAN BELAJAR I JENIS DAN STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH A. penerbitan ilmiah bersifat objektif. penerbitan ilmiah secara inherent harus menampilkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas karya ilmiah tersebut yang mungkin tidak selalu harus dipenuhi di dalam jenis penerbitan yang lain. Menjelaskan bentuk. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar pertama ini. ilmiah populer maupun yang memang benar-benar merupakan karya ilmiah. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Karya ilmiah tentu sudah merupakan bacaan yang sangat akrab dengan peserta PLPG. Oleh karena itu. sifat dan struktur karya tulis ilmiah. bapak dan ibu akan mengkaji bentuk. artinya isi penerbitan ilmiah hanya dapat dikembangkan dari fenomena yang memang exist. baik yang bersifat populer. 2. Berkaitan uraian di atas. walaupun kriteria . Menjelaskan perbedaan artikel hasil pemikian konseptual dengan hasil penelitian B. Sebagai guru.

dan sifat-sifat tertentu. ia juga mengemban sifat pembaharu dan up-to-date atau tidak ketinggalan jaman. Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Oleh karena itu. juga dipandang sebagai upaya penulis untuk memenuhi etika penulisan ilmiah. teknik. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Walaupun demikian. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. dan kaidah-kaidah tertentu juga. dan tidak menyertakan motif-motif pribadi atau kepentingan- kepantingan tertentu dalam menyampaikan pendapatnya. jujur. struktur. penerbitan ilmiah juga membawa ciri khas ini yang sekaligus berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik yang berkaitan dengan masalah yang dipersoalkan.9-2 Penulisan Karya Ilmiah eksistensi fenomena yang menjadi fokus bahasannya dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain. penulisannya harus mengikuti pola. dalam menulis artikel ilmiah penulis hendaknya juga tidak mengabaikan komponen sikap ilmiah yang lain seperti menahan diri (reserved). Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para . sifat lain karya ilmiah adalah rasional. Lain daripada itu. Oleh karena itu. Rasional menurut Karl Popper adalah tradisi berpikir kritis para ilmuwan. Selanjutnya. Semua sikap di atas. dilengkapi dengan keterbukaan dalam menyebutkan sumber bahan yang menjadi rujukannya. karena jurnal merupakan sarana komunikasi yang berada di garis depan dalam pengembangan IPTEKS. lugas. hati-hati dan tidak over-claiming. Selain objektif.

resensi dan obituari ini sejalan dengan rekomendasi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. (2) pengamatan empirik. seringkali majalah ilmiah juga memuat resensi buku dan obituari.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. Dalam praktik halhal tersebut akan diwujudkan atau dimuat di dalam salah satu dari dua bentuk artikel. C. 1993). . Akan tetapi sebagian jurnal biasanya memuat kedua jenis artikel: hasil pemikiran dan hasil penelitian. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. dan (3) gagasan atau usulan baru (Pringgoadisurjo. artikel hasi pemikiran. Ada beberapa jurnal yang hanya memuat artikel hasil penelitian. Selain itu. Sesuai dengan tujuan penerbitannya. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah. misalnya Journal of Research in Science Teaching yang terbit di Amerika Serikat dan Jurnal Penelitian Kependidikan terbitan Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Malang. yaitu artikel hasil pemikiran atau artikel non penelitian dan artikel hasil penelitian. LCD proyektor. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2000). majalah ilmiah pada umumnya memuat salah satu dari hal-hal berikut: (1) kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru. LEMBAR KEGIATAN 1. d. Laptop c. b. Alat dan Bahan a. Alat tulis. Pemuatan artikel hasil penelitian. Di dalam tulisan ini pembahasan akan dibatasi pada struktur dan anatomi dua jenis artikel saja yaitu artikel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian.

5 menit Curah pendapat. Kegiatan Inti 3.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. 35 menit Metode pemberian tugas dan .2 Presensi peserta pelatihan. 2. 2.9-4 Penulisan Karya Ilmiah 2. struktur dan sifat karya tulis ilmiah. Langkah Kegiatan No. 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2. 1.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan bentuk. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Kegiatan Waktu Metode 2.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian sifat artikel ilmiah.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. ceramah pemecahan masalah 3.

Penulisan Karya Ilmiah 9-5 3. Kegiatan Akhir 4. 4.3 Fasilitator memberikan ceramah tentang bentuk dan struktur artikel ilmiah 3. 3. 4. 3. dan struktur artikel ilmiah. 4.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit pendampingan Refleksi . tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sikap ilmiah.5 Sharing dalam kelas mengenai sikap ilmiah. dan struktur artikel ilmiah.4 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. sifat. 3.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang sikap ilmiah. bentuk. sifat.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. bentuk.

dan struktur karya tulis ilmiah. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai sifat artikel ilmiah. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. dan kaidah-kaidah tertentu juga. teknik.9-6 Penulisan Karya Ilmiah 3. RANGKUMAN Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai bentuk. Walaupun demikian. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. yang selanjutnya mempunyai kecenderungan positif jika dihadapkan pada kasus plagiariasme misalnya. . Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai karakter sikap ilmiah. struktur. c. Oleh karena itu. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. penulisannya harus mengikuti pola. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. dan sifat-sifat tertentu. b. D.

pendahuluan. Substansi suatu karya tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. fakta atau kenyataan b. rangkuman dan tindak lanjut b. kebudayaan c. simpulan umum c. pendidikan b. TES FORMATIF 1. penggunaan bahasa 2. Struktur sajian suatu karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari a. pendahuluan. Dalam karya tulis ilmiah. abstrak. dan tidak memihak. kecuali a. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat 1. penulis bersikap netral. Sikap ini sesuai dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada. rekomendasi penulis d. sikap penulis b. Aspek-aspek yang menentukan karakteristik karya tulis. panjang tulisan c. Bagian penutup suatu karya tulis ilmia. dan penutup b. bagian inti.Penulisan Karya Ilmiah 9-7 F. simpulan dan saran 4. kecuali a. bagian inti. kecuali a. bagian inti. abstrak. simpulan d. simpulan c. inti (pokok pembahasan). pada umumnya menyajikan tentang a. abstrak. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya tulis ilmiah. obyektif. informatika 5. pemulung d. penutup 3. struktur sajian d. pendahuluan. argumentasi .

impersonal d. lampiran 8. namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen a. daftar pustaka b.9-8 Penulisan Karya Ilmiah c. menggunakan gaya bahasa resmi d. pengaruh obat bius yang menghebohkan 10 . Keobyektifan penulis karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat a. Berikut ini adalah ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah. seseorang dapat mengkaji berbagai aspek tulisan. daftar tabel d. kecuali a. memaparkan bidang ilmu tertentu b. merupakan deskripsi suatu kejadian c. personal 7. abstrak c. sistematika tulisan b. yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah? a. panjang tulisan . pengaruh gizi pada pertumbuhan anak d. data empirik/hasil penelitian 6. baku c. Untuk membedakan karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah. senjata makan tuan b. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda adalah a. teori yang diakui kebenarannya d. kumbang cantik pengisap madu c. resmi b. disajikan secara sistematis 9. Di antara judul berikut. Komponen suatu karya tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan penulisannya.

coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal karakteristik karya tulis ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-9 c. Tes Uraian 1. pengarang 2. Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan seperti itu? 2. Secara umum. struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah? . ragam bahasa yang digunakan d. coba simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah! 3. Sebutkan aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. Setelah membaca uraian di atas. dan bagian penutup. inti. Berdasarkan uraian itu.

BAB III. Pembahasan mengenai materi ini akan bermanfaat pada saat bapak dan ibu menulis artikel konseptual. KEGIATAN BELAJAR II ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN DAN HASIL PENELITIAN A. 5. 8. Berkaitan uraian di atas. Menjelaskan penulisan pembahasan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 7. Di samping itu akan dibahas juga teknik menulis karya tulis ilmiah atas dasar hasil penelitian. 3. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar yang kedua ini akan dibahas bagaimana menentukan kelayakan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan serta struktur tulisan konseptual. Menjelaskan penulisan daftar pustaka karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian . 2. Menjelaskan penulisan simpulan dan saran karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan metode karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan hasil penelitian karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan pendahuluan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 4. 6. Menjelaskan pembuatan judul karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. Menjelaskan abstrak dan kata kunci karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar kedua ini.

yang dituangkan dalam bentuk tulisan. abstrak dan kata kunci. mengandung unsur-unsur utama masalah. apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber. a. Sumber-sumber yang dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan. Atikel Hasil Pemikiran Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan. tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. Salah satu ciri penting judul artikel hasil pemikiran adalah .Penulisan Karya Ilmiah 9-11 B. artikel hasil pemikiran bukanlah sekadar kolase atu tempelan cuplikan dari sejumlah artikel. jika memang ada. dan daftar rujukan. jelas. Judul Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Pilihan kata-kata harus tepat. yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya. Artikel hasil pemikiran biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya. hasil-hasil penelitian terdahulu. Jadi. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini. yaitu judul. penutup. Bagian paling vital dari artikel hasil pemikiran adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas. URAIAN MATERI 1. baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. pendahuluan. di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks. dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang kuat bagi calon pembaca. dan pikiran baru penulis tentang hal yang dikaji. bagian inti atau pembahasan. nama penulis.

9-12 Penulisan Karya Ilmiah bersifat ”provokatif”. Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini. dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi. argumentasi. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. b.) Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciriciri yang diharapkan ditunjukan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif. Nama lembaga tempat penulis bekerja sebagai catatan kaki di halaman pertama. IX No. No. analisis. dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan. (dan kawan-kawan). Hal ini penting karena artikel hasil pemkiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi. nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. argumentative. 33. . dan analitik. Nama Penulis Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis. hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan disertai tambahan dkk.1) Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? (Journal of Research in Science Teaching Vol. Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7. 1) Repelita IV: A Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi.2. Jika penulis lebih dari dua orang. dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu. No.

Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel. Dengan membaca abstrak diharapkan (calon) pembaca segera memperoleh gambaran umum dari masalah yang dibahas di dalam artikel. A qualitative study takes several stage in generating theories. In fact these two approaches serve different purposes. tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atau tubuh artikel. for example. A qualitative study is often contrasted with its quantitative counterpart. Format lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan). Ciri-ciri umum artikel hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini. These two approaches are more often inappropriately considered as two different schools of thought than as two different tools. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak artikel hasil pemikiran adalah ringkasan dari artikel yang dituangkan secara padat. Panjang abstrak biasanya sekitar 50-75 kata yang disusun dalam satu paragraf. theory development . yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel. bukan komentar atau pengantar penulis. Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci. sehingga (calon) pembaca tertarik untuk meneruskan pembacaannya. while their tendencies. frequencies. and other related quantitative values can be more appropriately investigated through quantitative study. can be investigated through qualitative study. Jika dapat diperoleh. Abstract: Theory Generation through Qualitative Study. Key words: qualitative study.Penulisan Karya Ilmiah 9-13 c. quantitative study. diketik dengan spasi tunggal. Perhatikan contoh abstrak dan kata-kata kunci berikut ini. kata-kata kunci hendaknya diambil dari tresaurus bidang ilmu terkait. Business transaction pattern and market characteristic.

Perhatikan tiga segmen bagian pendahuluan dalam contoh di bawah ini. Dari kajian terhadap berbagai tulisan dan hasil penelitian disebutkan di muka terlihat masih terdapat beberapa hal yang belum jelas benar atau setidak-tidaknya masih menimbulkan keraguan mengenai sebab-sebab menurunnya mutu partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Catatan sejarah pendidikan di negara-negara maju dan dikelompokkelompok masyarakat yang telah berkembang kegiatan pendidikan menunjukan bahwa keadaan dunia pendidikan mereka sekarang ini telah dicapai dengan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan di dalam berbagai bentuk. Dalam artikel-artikel ini akan dibahas kemungkinankemungkinan menurunnya partisipasi masyarakat tersebut berdasarkan analisis ekonomi pendidikan. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli yang berkaitan dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.”dst. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan.... Sementara itu penulis-penulis lain lebih memfokus pada faktor-faktor ekonomi. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem politik yang kurang demokratis dan budaya masyarakat paternalistik telah menyebabkan rendahnya partisipasi.9-14 Penulisan Karya Ilmiah d.. Partisipasi masyarakat merupakan unsur yang paling penting sekali bagi keberhasilan program pendidikan. misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan yang terkait dengan artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu. Di Amerika Serikat dalam tingkat pendidikan tinggi dikenal apa yang disebut “Land-Grant Universities. Diharapkan. dengan analisis ini kekurangan analisis terdahulu dapat dikurangi dan dapat disusun penjelasan baru yang lebih komprehensif. Pendahuluan Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas. .

Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan. Tinjauan dari berbagai sudut pandang telah menghasilkan kesimpulan yang beragam. argumentasi. analisis. 1996:54). analitik. lazimnya berisi kupasan. yang membuka kesempatan bagi penulis untuk menampilkan wacana penurunan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dari sudut pandang yang lan. keputusan.Penulisan Karya Ilmiah 9-15 Di dalam petikan bagian pendahuluan di atas dapat dilihat alur argumentasi yang diikuti penulis untuk menunjukan masih adanya perbedaan pandangan tentang menurunnya partisipasi masyarakat di dalam pengembangan pendidikan. e. Penggunaan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat. Hence. perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. . dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis. any consideration of the theoretical implementation must start by attempting to resolve the aims and intentions of this cultural practice…(Dari Osborne. Science earns its place on the curriculum because there is cultural commitment to the value of the knowledge and the practices by which this body of ideas has been derived. sejauh mungkin juga berciri komparatif dan menjauhi sikap tertutup dan instruktif. Bagian Inti Isi bagian ini sangat bervariasi. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif. Walaupun demikian. komparasi. Perhatikan contoh-contoh petikan bagian inti artikel berikut ini. dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.

9-16 Penulisan Karya Ilmiah

Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktik-praktik pendidikan adalah suatu keharusan jika dunia pendidikan Indonesia tidak ingin tertinggal dan kehilangan perannya sebagai wahana untuk menyiapkan generasi masa datang ironisnya, kalangan pendidikan sendiri tidak dengan cepat mengantisipasi, mengembangkan dan mengambil inisiatif inovasi yang diperlukan, walaupun kesadaran akan perlunya perubahanperubahan tertentu sudah secara luas dirasakan. Hesrh dan McKibbin (1983:3) menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak telah menyadari perlunya inovasi…(Dari Ibnu, 1996:2) John Hassard (1993) suggested that, ‘Unlike modern industrial society, where production was the cornerstone, in the post modern society simulation structure and control social affairs. We, at witnesses, are producing simulation whitin discorses. We are fabricating words, not because we are “falsyfaying” data, or “lying” about what we have learned, but because we are constructing truth within a shifting, but always limited discourse.’ (Dari Ropers-Huilman, 1997:5) Di dalam contoh-contoh bagian inti artikel hasil pemikiran di atas dapat dilihat dengan jelas bagian yang paling vital dari jenis artikel ini yaitu posisi atau pendirian penulis, seperti terlihat di dalam kalimatkalimat: (1) Hence, any consideration of the theoretical base of science and its practical implementation must start by…, (2) Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktek-praktek pendidikan, adalah suatu keharusan jika…, (3)…We are fabricating words not because …, or ‘lying’ about…, but…dan seterusnya.

f. Penutup atau Simpulan Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian

sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat dilihat pada berbagai

Penulisan Karya Ilmiah

9-17

artikel jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama: mengakhir diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. Perhatiakan contoh-contoh berikut.

Konsep pemikiran tentang Demokrasi Ekonomi pada prinsipnya adalah khas Indonesia. menurut Dr. M. Hatta dalam konsep Demokrasi Ekonomi berlandaskan pada tiga hal, yaitu: (a) etika sosial yang tersimpul dalam nilai-nilai Pancasila; (b) rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dengan perencanaan ekonomi oleh negara; dan (c) organisasi ekonomi yang mendasarkan azas bersama/koperasi. Isu tentang pelaksanaan Demokrasi Ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia menjadi menarik dan ramai pada era tahun 90-an. Hal tersebut terjadi sebagai reaksi atas permasalahan konglomerasi di Indonesia. Perlu diupayakan hubungan kemitraan yang baik antara pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pada saat ini nampak sudah ada political will dari pemerintah kita terhadap kegiatan ekonomi berskala menengah dan kecil. Namun demikian kemampuan politik saja tidak cukup tanpa disertai keberanian politik. Semangat untuk berpihak pada pengembangan usaha berskala menengah dan kecil perlu terus digalakkan, sehingga tingkat kesejahteraan seluruh msyarakat dapat ditingkatkan. (Dari Supriyanto, 1994:330-331) if, as has been discussed in this article, argumentation has a central role play in science and learning about science, then its current omission is a problem that needs to be seriously addressed. For in the light of our emerging understanding of science as social practice, with rhetoric and argument as a central feature, to continue with current approaches to the teaching of science would be to misrepresent science and its nature. If his pattern is to change, then it seems crucial that any intervention should pay attention not only to ways of enhancing the argument skills of young people, but also improving teachers’ knowledge, awareness, and competence in managing student participation in discussion and argument. Given that, for good or for ill, science and technology have ascended to ascended to a position of cultural dominance, studying the role of

9-18 Penulisan Karya Ilmiah

argument in science offers a means of prying open the black box that is science. Such an effort would seem well advisedboth for science and its relationship with the public, and the public and its relationship with science. (Dari Driver, Newton & Osborne, 2000:309) g. Daftar Rujukan Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten diikuti dalam setiap nomor penelitian.

2. Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian sering merupakan bagian yang paling dominan dari sebuah jurnal. Berbagai jurnal bahkan 100% berisi artikel jenis ini. Jurnal Penelitian Kependidikan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang, misalnya, dan Journal of Research in Science Teaching; termasuk kategori jurnal yang semata-mata memuat hasil penelitian. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau ”pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

Penulisan Karya Ilmiah

9-19

Bagian-bagian artikel hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal adalah judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, bagian pendahuluan, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan.

a. Judul Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan tepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antar variabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Walaupun demikian, harus dijaga agar judul artikel tidak menjadi terlalu panjang. Sebagaimana judul penelitian, judul artikel umumnya terdiri dari 5-15 kata. Berikut adalah beberapa contoh.

Pengaruh Metode Demonstrasi Ber-OHP terhadap Hasil Belajar Membuat Pakaian Siswa SMKK Negeri Malang (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No.1). Undergraduate Science Students’ Images of the Nature of Science (Research presented at the American Educational Research Association Annual Conference, Chicago, 24-28 March 1997). Effect of Knowledge and Persuasion on High-School Students’ Attitudes towards Nuclear Power Plants (Journal of Research in Science Teaching Vol.32, Issue 1).

Jika dibandingkan judul-judul di atas, akan sgera tampak perbedaannya dengan judul artikel hasil pemikiran, terutama dengan terlihatnya variabel-variabel utama yang diteliti seperti yang

diperlihatkan pada judul yang pertama dan ketiga.

9-20 Penulisan Karya Ilmiah

b. Nama Penulis Pedoman penulisan nama penulis untuk artikel hasil pemikiran juga berlaku untuk penulisan artikel hasil penelitian.

c. Abstrak dan Kata Kunci Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan terutama diberikan kepada hasil penelitian. Panjang abstrak lebih kurang sama dengan panjang artikel hasil pemikiran dan juga dilengkapi dengan kata-kata kunci (3-5 buah). Kata-kata kunci menggambarkan ranah masalah yang diteliti. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variable-variabel penelitian dan hubungan antara variable-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari variabelvariabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel.

Contoh abstrak: Abstract: The aim of this study was to asses the readiness of elementary school teachers in mathematic teaching, from the point of view of the teacher mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematic which was devided in to two part, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtained scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The result of the study indicated that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty nine point five percent of the teachers got more than 65 arithmetic, and 69,5% gained scores of more than 65 scores in both geometry and arithmetics. Key words: mathematic teaching, teaching readiness, subject mastery.

Penulisan Karya Ilmiah

9-21

d. Pendahuluan Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk

pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalaha penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitan dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemecahan (fisik) dari satu subbagin ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan dengan penggantian paragraf.

e. Metode Bagian ini menguraikan bagaimana penelitian dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Subsubbagian di atas umumnya (atau sebaiknya) disampaikan dalam format esei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif, misalnya:

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan observasi partisipatori. Peneliti terjun langsung ke dalam keidupan masyarakat desa, ikut serta melakukan berbagai aktivitas sosial sambil mengumpulkan data yang dapat diamati langsung di lapangan atau yang diperoleh dari informan kunci. Pencatatan dilakukan tidak langsung tetapi ditunda sampai peneliti dapat ”mengasingkan diri” dari anggota masyarakat sasaran. Informasi yang diberikan dari informan kunci diuji dengan membandingkannya dengan pendapat nara sumber yang lain. Analisis dengan menggunakan pendekatan... Rancangan eksperimen pretest-posttest control group design digunakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian dipilih secara random dari seluruh siswa kelas 3 kemudian

9-22 Penulisan Karya Ilmiah

secara random pula ditempatkan ke dalam kelompok percobaan dan kelompok control. Data diambil dengan menggunakan tes yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh Lembaga Pengembangan Tes Nasional. Analisis data dilakukan dengan... f. Hasil Penelitian Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan. Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan

penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Grafik dan tabel harus dibahas dalam tubuh artikel tetapi tidak dengan cara pembahasan yang rinci satu per satu. Penyajian hasil yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian

Contoh: Jumlah tulisan dari tiga suku ranah utama yang dimuat di dalam berbagai jurnal, dalam kurun waktu satu sampai empat tahun dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Jumlah Tulisan dari Tiga Suku Ranah Pendidikan Sains yang Dimuat dalam Berbagai Jurnal antara Januari 1994-Juli 1997

Suku ranah Konsep Sci. Literacy Teori & Pengaj. Jumlah ranah Lain-lain 3 suku

1994 7 5 2

1995 7 3 12

1996 13 14 1

1997 6 6 5

Jumlah 32 28 20 80

46

Penulisan Karya Ilmiah

9-23

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa frekuensi pemunculan artikel dari tiga suku ranah tersebut di atas jauh melebihi suku-suku ranah yang lain, yaitu 80:46. hal ini menunjukan bahwa...dst.

g. Pembahasan Bagian ini merupakan bagian terpenting dari artikel hasil penelitian. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian dan menunjukan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, mengintepretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan memunculkan ”teori-teori” baru atau modifikasi teori yang telah ada.

Contoh: Dari temuan penelitian yang diuraikan dalam artikel ini dapat dilihat bahwa berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenakalan remaja yang selama ini diyakini kebenarannya menjadi goyah. Kebenaran dari berbagai hal tersebut ternyata tidak berlaku secara universal tetapi kondisional. Gejala-gejala kenakalan remaja tertentu hanya muncul apabila kondisi lingkungan sosial setempat mendukung akan terjadinya bentuk-bentuk kenalan terkait. Hal ini sesuai dengan teori selektive cases dari Lincoln (1987:13) yang menyatakan bahwa... h. Simpulan dan Saran Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokokpokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian. Saran dapat mengacu kepada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan.

9-24 Penulisan Karya Ilmiah

i. Daftar Rujukan Daftar rujukan ditulis dengan menggunakan pedoman umum yang juga berlaku bagi penulis artikel nonpenelitian.

3. Penutup Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

jurnal

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

Penulisan Karya Ilmiah

9-25

C. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. Alat tulis; b. Laptop c. LCD proyektor; d. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah.

2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode

2.

Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran; 2.2 Presensi peserta pelatihan, jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya, maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali; 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan; 5 menit Curah pendapat, ceramah pemecahan masalah

9-26 Penulisan Karya Ilmiah

2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan artikel ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian. 3. Kegiatan Inti 3.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian; 3.3 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan; 3.4 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual; 3.5 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 4. Kegiatan Akhir Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu, tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian; Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan 10 menit Refleksi 35 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan

Penulisan Karya Ilmiah

9-27

pengalaman setelah dilakukan sharing; Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan

3. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran; b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian;

D. RANGKUMAN Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan jurnal baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

9-28 Penulisan Karya Ilmiah

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

F. TES FORMATIF 1. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat

1.

Artikel dapat dikelompokkan menjadi a. artikel laporan dan artikel rujukan b. artikel konseptual dan artikel teoritis c. artikel hasil telaahan dan artikel teoritis d. artikel hasil laporan dan artikel hasil telaahan

2.

Dari sudut ide, salah satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas tinggi adalah a. kelayakan ide untuk dipublikasikan b. wacana tentang ide yang sedang berkembang c. kesiapan ide untuk didiskusikan d. persamaan persepsi para ahli di bidang yang sama

3.

Tulisan analisis konseptual terdiri dari a. judul, abstrak, data, pembahasan, dan referensi b. judul, abstrak, pendahuluan, diskusi, referensi c. judul pendahuluan, diskusi, kesimpulan referensi

Penulisan Karya Ilmiah

9-29

d. judul, pendahuluan, temuan, pembahasan, referensi 4. Dalam suatu artikel konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam peta pengetahuan dimuat pada bagian a. abstrak b. pendahuluan c. diskusi d. referensi 5. Referensi memuat semua rujukan yang a. pernah dibaca penulis b. perlu dibaca pembaca c. dimuat dalam badan tulisan d. diperlukan dalam pengembangan tulisan 6. Salah satu dari tiga pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini a. apa inti teori/konsep yang dibahas? b. mengapa konsep itu dibahas? c. Apa kesimpulan yang dapat ditarik? d. Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan? 7. Salah satu hal yang harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah a. menjelaskan partisipan b. menulis masalah yang sudah pernah dibahas c. memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel d. melaporkan korelasi yang dibahas dalam penelitian 8. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek a. panjang tulisan b. nada tulisan c. gaya tulisan

hasil d. bahasa tulisan 9. Sebut dan jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian! 3. pendahuluan b. telaah unsur-unsur yang terdapat pada artikel itu! . Carilah salah satu artikel hasil penelitian. Rekomendasi untuk judul adalah a.9-30 Penulisan Karya Ilmiah d. Dalam suatu laporan atau artikel hasil penelitian. metode c. 15-30 kata 10. Jelaskan mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel penelitian 2. 8-10 kata b. diskusi 2. Tes Uraian 1. 10-12 kata c. 12-15 kata d. kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian a.

KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar kedua telah disajikan bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah yang bersifat hasil pemikiran dan hasil penelitian. membuat karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. indikator kegiatan belajar ketiga ini adalah: 1. Dengan demikian peserta PLPG diharapkan mempunyai keterampilan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang dapat dikirimkan kepada pengelola jurnal penelitian pendidikan (JIP). mengenal format penulisan enumeratif.BAB IV. KEGIATAN BELAJAR III PRAKTIK PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH A. mengenal format penulisan esay. Pada kesempatan ini akan dicontohkan beberapa petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan. Penggunaan format esai dalam penulisan artikel jurnal bertujuan untuk menjaga kelancaran pembacaan dan menjamin keutuhan ide yang ingin disampaikan. 3. 2. Mengenai Format Tulisan Semua bagian artikel yang dibicarakan di atas ditulis dalam format esai. Bandingkan dua format petikan berikut: . B. dan secara aktif berdialog dengan penulis. URAIAN MATERI 1. Oleh karena itu. Pada kegiatan belajar yang ketiga ini berisi mengenai latihan peserta PLPG dalam menulis karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. Dengan digunakannya format esai diharapkan pembaca memperoleh kesan seolah-olah berkomunikasi langsung.

Berkas (file) pada naskah pada disket dibuat dengan program olah kata WordStar. Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitiskritis setara dengan hasil penelitian di bidang filsafat kependidikan. Naskah diketik spasi ganda pada kertas kuarto sepanjang maksimal 20 halaman. teori kependidikan.9-32 Penulisan Karya Ilmiah Format Enumeratif Sesuai dengan lingkup penyebaran jurnal yang bersangkutan maka record ISSN dilaporkan kepada pihak-pihak berikut: (a) International Serials Data System di Paris untuk jurnal internasional (b) Regional Center for South East Asia bagi wilayah Asia Tenggara. Jika format esai masih dapat digunakan “penandaan” sejumlah elemen dapat dilakukan dengan format esei bernomor. dan seterusnya. dan (c) PDII-LIPI untuk wilayah Indonesia. (2)…. (3)…. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format . Format Esei Setiap record ISSN dilaporkan kepada internasional Serial Data System yang berkedudukan di Paris. Di dalam hal-hal tertentu format enumeratif boleh digunakan. WordPerfect atau MicroSoft Word. terutama apabila penggunaan format enumeratif tersebut benar-benar fungsional dan tidak tepat apabila diganti dengan format esei seperti dalam menyatakan urutan dan jadwal. Untuk kawasan Asia Tenggara dilaporkan melalui Regional Center for South East Asia dan untuk wilayah Indonesia dilaporkan kepada PDII-LIPI.. b. seperti (1)…. Petunjuk bagi Penulis Ilmu Pendidikan a. dan praktik kependidikan. c. dan diserahkan dalam bentuk cetakan (print out) komputer sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya. 2.

hlm. RATA DENGAN TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. . Anderson. Rata dengan Tepi Kiri) Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. abstrak (maksimum 100 kata). 1997.D. Juli 1997.E. Berkeley: McCutchan Publishing Co. D. metode. pembahasan. Teori. Hanurawan. f. C. masing-masing bagian. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency based Teacher Education. kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. kata-kata kunci.Penulisan Karya Ilmiah 9-33 esai. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan.. Daftar Rujukan disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. sedikit tinjauan pustaka. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dicetak tebal atau tebal miring). & Dickson. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). kata-kata kunci. disertai judul (heading). nama penulis (tanpa gelar akademik). Pandangan Aliran Humanistik tentang Filsafat Pendidikan Orang Dewasa. F. Sistematika artikel setara hasil penelitian: judul. dan hasil penelitian. Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat. dan tidak menggunakan angka/nomor bagian. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. Rata dengan tepi Kiri) d. Tahun 24. bahasan utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul). daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). dan Praktik Kependidikan. kesimpulan dan saran. e. Nomor 2. nama penulis (tanpa gelar akademik). dan tujuan penelitian. penutup atau kesimpulan. 127-137. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang. 1993.W. abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan. metode. V. Vault. Miring. hasil.

1991. Tesis. tabel. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. 200. 1987). b.000. Tata cara penyajian kutipan. h. g. Laptop c. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah e. 12 Juli. LEMBAR KEGIATAN 1. Artikel berbahasa Indonesia mengikuti aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud. Sebagai imbalannya. Malang. penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan cetak lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar yang akan diberikan jika kontribusi biaya cetak telah dibayar lunas. Pusat Penelitian IKIP MALANG. Kamera digital . rujukan. i. 200). Disertasi.00 (dua ratus ribu rupiah) perjudul. Alat dan Bahan a. Artikel berbahasa Inggris menggunakan ragam baku. d. Makalah. Pemeriksaan dan penyuntingan cetak-coba dilakukan oleh penyunting dan/atau melibatkan penulis. Artikel dan Laporan Penelitian (Universitas Negeri Malang. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di malang Angkataan XIV.9-34 Penulisan Karya Ilmiah Huda. Alat tulis. LCD proyektor. Artikel yang sudah dalam bentuk cetak-coba tidak dapat ditarik kembali oleh penulis. dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. C. Penulis yang artikelnya dimuat wajib memberi kontribusi biaya cetak minimal sebesar Rp. N.

3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan.Penulisan Karya Ilmiah 9-35 2. ceramah pemecahan masalah 3. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. 2. Langkah Kegiatan No. 2. Kegiatan Inti Fasilitator memberikan ceramah tentang format penulisan karya tulis ilmiah. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya.1 Berdoa bersama untuk mengawali 5 menit pembelajaran. Fasilitator memberikan 130 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan . Kegiatan Awal/Pendahuluan 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan Curah pendapat. 2.2 Presensi peserta pelatihan.

4.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual. 4. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian. . Fasilitator memberikan tugas menyusun karya tulis ilmiah baik dalam bentu pemikiran maupun hasil penelitian.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit Refleksi 3. 4. Kegiatan Akhir 4. Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. Hasil a.9-36 Penulisan Karya Ilmiah ceramah tentang salah satu contoh petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan . tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.

Artikel (hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa sub judul. dan masalah/tujuan penelitian) Metode Hasil Pembahasan Kesimpulan dan Saran Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uaraian saja) 2. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian. D.Penulisan Karya Ilmiah 9-37 b. memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka. Artikel (setara hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa subjudul) Subjudul Subjudul Subjudul Penutup (atau Kesimpulan dan Saran) Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja) sesuai dengan kebutuhan . RANGKUMAN 1.

Tugas ini sifatnya individual. TES FORMATIF Peserta PLPG ditugasi menyusun karya tulis ilmiah dengan cara memilih salah satunya yaitu hasil pemikiran konseptual atau hasil penelitian. tidak harus terkekang di dalam kelas. Tugas dapat ditulis menggunakan komputer atau tulis tangan. . Fasilitator memberikan bimbingan dan pendampingan pada saat peserta PLPG menyusun karya tulis ilmiah. Ruangan bebas.9-38 Penulisan Karya Ilmiah E.

b 10. c 5. c 2.Penulisan Karya Ilmiah 9-39 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Kegiatan Belajar 1 1. a 3. c 5. a 3. c 8. b 4. b 9. c 6. b 2. a 7. d 4. d . c 10. b 7. b 6. b 9. a 8. a Kegiatan Belajar 2 1.

I. 2007. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press): Malang. LIPI. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. G. Penerbit Universitas Terbuka: Jakarta.A. . Ikapindo. Depdiknas: Jakarta. Direktorat Profesi Pendidik.DAFTAR PUSTAKA Ditbinlitabmas Ditjen Dikti Depdikbud.M. dan Kantor Menristek: Jakarta.G. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Ditbinlitabmas Dikti. Saukah.K. 2000. Wardani. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. 2001. 2008. A. Sistematika Penulisan Laporan KTI Online. dan Waseso.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful