IV E

S NEGERI SE MA ITA RS

N RA

UN

G

UNNES

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008

BAHASA INDONESIA
(SMA)

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON XII UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2008

REKTOR NEGERISEMARANG UNIVERSITAS SAMBUTAN REKTOR

As s alamu' alailstm Warahmatutlahi Wab arakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur tidak putus selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dzat yang maha tinggi, atas rakhmat dan ilmuNya yang diturunkan kepada umat manusia. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2OO7, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan

pelaksanaan uji melalui portofolio.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan portofolio, bagi peserta yang belum dinyatakan lulus, LP|K Rayon merekomendasikan alternatif : (1) melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (2) mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru ( PLPG ) yang diakhiri dengan ujian. Penyelenggaraan PLPG telah distandardisasikan oleh Konsorsium Sertilikasi Guru ( KSG ) Jakarta dalam bentuk pedoman PLPG secara Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Panitia Sertifikasi Guru ( PSG ) Rayon 12 dalam rangka standardisasi penyelenggaraan PLPG mulai penyediaan tempat, ruang kelas, jumlah jam, sistem penilaian, kualitas instruktur dan ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar yang ada di tangan Saudara ini salah satu upaya PSG Rayon 12 dalam memenuhi

standard pelaksanaan PLPG secara nasional untuk itu saya menyambut dengan baik atas terbitnya Bahan Ajar PLPG ini. Sukses PLPG tidak hanya tergantung ketersediaan buku, kualitas instruktur, sarana prasarana yang disediakan namun lebih daripada itu dengan baik sejak adalah kesiapan peserta baik mental maupun fisik, untuk itu harapan saya para peserta PLPG telah menyiapkannya keberangkatannya dari rumah masing-masing. Pada kesempatan ini ijinkan saya, memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dosen/lnstruktur yang telah berkontribusi dan berusaha men)rusun buku ini, agar dapat membantu guru menempuh program PLPG dalam rangka sertihkasi guru. Buku ini menggunakan pilihan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan seksama. Akhirnya kepada khalayak pembaca saya ucapkan selamat menikmati buku ini, semoga dapat memperoleh manfaat yang sebanyakbanyaknya.

Rektor Universitas Negeri Semarang

Sudijono Sastroatmodjo

BUKU AJAR

PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU

PENDAHULUAN
Fakta tentang kualitas guru menunjukkan bahwa sedikitnya 50 persen guru di Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standardisasi pendidikan nasional (SPN). Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia belum memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar pada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SMP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan pada bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM guru kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia. Untuk itu, perlu dibangun landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal (Toharudin 2006:1). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Rektor UNJ sebagai berikut. "Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," (Sutjipto dalam Jurnalnet, 16/10/2005). Fakta lain yang diungkap oleh Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Djalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai nol untuk materi mata pelajaran yang sesungguhnya mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Fakta itu terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu. Secara nasional, penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak mencapai 50 persen dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi guru. Beliau juga mengatakan skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga memprihatinkan. Guru PPKN, sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sosiologi, geografi, dan pendidikan seni

1-2

Pengembangan Profesionalitas Guru

hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari 40 soal. "Artinya, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 46 untuk skor nilai tertinggi 100," (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006). Mengacu pada data kasar kondisi guru saat ini tentulah kita sangat prihatin dengan buruknya kompetensi guru itu. Padahal, memasuki tahun 2006 tuntutan minimal kepada siswa untuk memenuhi syarat kelulusan harus menguasai 42,5 persen. Untuk itu, layak kiranya pada tulisan ini dicari format bagaimanakah seharusnya mengembangkan guru yang profesional?

A. Guru sebagai Profesi Djojonegoro (1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesilaisasi, (2) kemampuan untuk

memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus) yang dimiliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills (1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan/jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Usman (1990:4) mengatakan bahwa guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu: (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-3

pekerjaan yang dilaksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki obyek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan siswanya, dan (8) diakui di masyarakat karena memang diperlukan jasanya di

masyarakat. Pengertian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur terpenting dalam sebuah profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus, untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme adalah guru yang kompeten (memiliki kemampuan) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesi keguruan.

B. Kompetensi Guru Sejalan dengan uraian pengertian kompetensi guru di atas, Sahertian (1990:4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan,

penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang calon guru agar menguasai kompetensi guru dengan mengikuti pendidikan khusus yang

diselenggarakan oleh LPTK. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut: (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan guru menguasai pengetahuan serta keterampilan/keahlian kependidikan dan

pengatahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang

1-4

Pengembangan Profesionalitas Guru

pelaksanaannya pengajar.

berhubungan

dengan

tugas-tugasnya

sebagai

Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru setelah program sarjana atau D4. Kompetensi pribadi meliputi: (1) pengembangan kepribadian, (2) berinteraksi dan berkomunikasi, (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, (4) melaksanakan administrasi sekolah, (5) melaksanakan tulisan sederhana untuk keperluan pengajaran.

1. Kompetensi Profesional Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter). Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b)

penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-5

membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman,

penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju. Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.

1-6

Pengembangan Profesionalitas Guru

Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut

perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas

seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat

penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat

meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan

Pengembangan Profesionalitas Guru 1-7 rumah. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini. Guru diharapkan memahami sifat-sifat. ciri anak didik dan perkembangannya. Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan. perkembangan fisik dan psikis anak didik. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. Yang perlu diperhatikan di sini adalah. tingkat pemikiran. mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. tahu ilmu . Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar. karakter. serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa. 3. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik. menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa. ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. meski guru sangat disiplin. mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa. Kompetensi Paedagogik Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat. sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. Pertama.

(3) menyusun program pembelajaran. Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka. (4) melaksanakan program pembelajaran. Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan. diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya. (2) menguasai bahan pembelajaran. Ketiga. guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. . Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut.1-8 Pengembangan Profesionalitas Guru psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran. guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. Kedua. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan. dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran. maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis. Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya.

1995). Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi. Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence). Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik. 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. 1994). kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain. atau pendekatan multidisiplin. beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti . Uniknya lagi. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas. 1998). pendekatan komperehensif. ruang. bahasa. Hanya saja. Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial. dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. (2) memiliki toleransi pada orang lain.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-9 4. mungkin beberapa di antaranya menonjol. pribadi. alam. Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki. Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain. dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman. raga. musik. sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang.

Beberapa dimensi ini. (12) solusi konflik. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru. lembaga. dan pengendalian diri yang menonjol. bergaul. Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama. (14) kerja sama.lifeskills4kids. ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial. . yaitu: (1) kerja tim. Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. dapat kita saring dari konsep life skills (www. baik finansial maupun non finansial. dan (15) komunikasi. (11) toleransi. yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. dan memberi kepada orang lain. atau perusahaan. (10) kepedulian kepada sesama. Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu. menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan. Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik. misalnya. (7) kedewasaan dalam bekreasi.1-10 Pengembangan Profesionalitas Guru karier di masyarakat.com). (9) berempati. (6) relawan sosial. (2) melihat peluang. (5) kepemimpinan. kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. (13) menerima perbedaan. (4) tanggung jawab sebagai warga. berempati. (8) berbagi. (3) peran dalam kegiatan kelompok. bekerja sama.

. Sejak awal gagasan pembuatan RUU Guru dan Dosen dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk mengangkat martabat guru dalam memajukan pendidikan nasional. Mengandalkan penghasilan dan profesi guru. faktor gurulah yang dinilai sebagai satu faktor yang paling penting dan strategis. Dari ketiga komponen tersebut. Ketiga komponen ini saling terkait dan saling mempengaruhi. pemerintah telah memberikan perhatian khusus dengan merumuskan sebuah UndangUndang yang mengatur profesi guru dan dosen. baik yang terdapat di dalam kurikulum nasional maupun kurikulum lokal. peserta didik.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-11 C. Jumlah guru di Indonesia saat ini 2. Memimpikan Guru yang Profesional Untuk memperbaiki kualitas pendidikan. dan hanya sebagian kecil guru dari sekolah negeri dan sekolah elit yang hidup berkecukupan. dan kurikulum merupakan tiga komponen utama pendidikan. karena di tangan para gurulah proses belajar dan mengajar dilaksanakan. Sertifikasi kompetensi guru sebagai tindak lanjut dari UndangUndang ini menyisakan persoalan sebagaimana disampaikan Mendiknas pada media masa pada saat pengesahan Undang-Undang ini. baik di dalam dan di luar sekolah dengan menggunakan bahan ajar. jauh dari cukup sehingga tidak sedikit guru yang mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang ini (hingga disahkan pada 6 Desember 2005) tersirat keinginan Pemerintah untuk memperbaiki wajah suram nasib guru dari sisi kesejahteraan dan profesionalisme. dan menjadikan profesi ini menjadi pilihan utama bagi generasi guru berikutnya (Situmorang dan Budyanto 2005:1). Guru. serta tidak dapat dipisahkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. antara lain kesepahaman akan ukuran uji kompetensi guru.2 juta orang.

serta melakukan tulisan dan pengabdian kepada masyarakat. yakni orangnya dan kinerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. James M. strategi. Profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat kinerja seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu. Kemampuan profesionalisme yang handal tersebut tidak dibawa sejak lahir oleh calon guru. Cooper. mengawali dengan satu pertanyaan menggelitik “what is teacher?”. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Misalnya. profesional. profesionalisme. strategi. Proses. Profesional menunjuk dua hal. dipupuk dan dikembangkan melalui satu proses. kebijakan dan program yang tepat. melakukan pembimbingan dan pelatihan. Demikian pula. guru sebagai profesi yang amat mulia. Dedi Supriadi dalam bukunya yang bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan (secara amat jelas) tentang makna profesi. Sebagai contoh. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. kebijakan. seorang profesional muda. dibentuk. atau dia bekerja secara profesional. dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu. guru harus memiliki kemampuan profesionalisme yang dapat dihandalkan. tanggung jawab. dalam tulisannya bertajuk “The teachers as a Decision Maker”. Cooper menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan tetang guru dari aspek pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga profesional. . dan program pembinaan guru di masa lalu perlu dirumuskan kembali (Suparlan 2006:1). tetapi harus dibangun. dan profesionalitas sebagai berikut ini Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian.1-12 Pengembangan Profesionalitas Guru Untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif. menilai hasil pembelajaran.

Pengembangan Profesionalitas Guru 1-13 Sebagai tenaga profesional. yang dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun akan dapat dihasilkan keputusan yang baik’. dan (3) keterampilan (Supriadi 1998:96). insinyur. yakni (1) keahlian. adanya pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi tertentu yang berbeda dengan profesi lain. Dalam dunia yang sedemikian maju. Pertama. Dapat dianalogikan dengan pentingnya hakim dan UndangUndang. Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal. Kelima. ‘berilah aku hakim dan jaksa yang baik. termasuk guru. sehingga yang dianggap bidang diperbolehkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik. seperti dokter. semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi. Guru merupakan tenaga profesional dalam bidang pendidikan dan pengajaran. pemerintah sejak lama telah berupaya untuk merumuskan perangkat standar komptensi guru. yang menyatakan bahwa. bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik. Westby-Gybson (1965). memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan kompetitiflah seleksi yang secara efektif. juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotannya menyelenggarakan layanan keahlian yang terbaik yang dapat diberikan (Suparlan. Ketiga. Keempat. di samping melindungi kepentingan anggotanya. memiliki organisasi profesi yang. Soerjadi (2001:1-2) menyebutkan beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi. 2004:2). yang ditandai dengan adanya standar kompetensi tertentu. dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. Kedua. guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus. (2) komitmen. maka kaidah itu dapat . memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan pekerjaan profesional tersebut.

Sama dengan manusia dengan senjatanya. bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. Kelima. aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum. tetapi guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh siapa atau alat apa . misalnya di PGRI dan organisasi profesi lainnya. D. mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. Apabila kelima hal tersebut dapat dimiliki oleh guru.1-14 Pengembangan Profesionalitas Guru dianalogikan dengan pentingnya guru. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. Artinya. Kedua. Mendiknas memberikan penegasan bahwa “guru yang utama” (Republika 10 Februari 2003). Hal yang sama. Ketiga. Pertama. Supriadi mengutip laporan dari Jurnal Educational Leadership edisi Maret 1993. guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. ‘man behind the gun’. yakni dengan ungkapan bijak ‘berilah aku guru yang baik. guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya. guru menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. dan belajar dari pengalamannya. guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. yang terpenting adalah manusianya. guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik’. Belajar dapat dilakukan di mana saja. bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal. Standar Pengembangan Karir Guru Mutu pendidikan amat ditentukan oleh kualitas gurunya. maka guru tersebut dapat disebut sebagai tenaga dan pendidik yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya (Supriadi 2003:14). Untuk menggambarkan guru profesional. Keempat.

mengasyikkan. selain memang harus dipikirkan dengan sungguhsungguh upaya untuk meningkatkan gaji dan penghargaan kepada . Banyak orang menganggap bahwa gaji dan penghargaan terhadap guru menjadi penyebab atau causa prima-nya. (2) antusiasme. Pekerjaan besar ini mulai dari proses yang menjadi tugas lembaga pendidikan prajabatan yang dikenal dengan LPTK. gaji dan dedikasi terkait erat dengan faktor lain yang bernama kompetensi profesional. Sebagai salah satu komponen utama pendidikan. Pada akhirnya orang mudah menebak. Namun. mencerdaskan. Ketidakmampuan LPTK ternyata memang di luar tanggung jawabnya. melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembalajaran yang yang berkualitas. Di samping itu. karena pada akhirnya menyangkut duit atau gaji dan penghargaan. Gaji dan penghargaan guru belum dapat disejajarkan dengan profesi lain. Ternyata. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu. yakni proses dan pembelajaran menyenangkan. karena melibatkan banyak komponen. Peningkatan mutu guru merupakan upaya yang amat kompleks. guru harus memiliki tiga kualifikasi dasar: (1) menguasai materi atau bahan ajar. dan (3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Mas’ud 2003:194). Jadi. Untuk membangun pendidikan yang bermutu. karena masalah rendahnya mutu calon guru itu lebih disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi guru. Gaji akan mengikuti dedikasi. yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya. ada orang yang berpendapat bahwa antara gaji dan dedikasi tidak dapat dipisahkan.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-15 pun juga. LPTK mengalami kesulitan besar ketika dihadapkan kepada masalah kualitas calon mahasiswa kelas dua yang akan dididik menjadi guru. karena indikasi adanya mutu profesionalisme guru masih rendah. Terjadilah lingkaran setan yang sudah diketahui sebab akibatnya.

Bahkan mereka mendambakan adanya satu instrumen atau alat ukur yang akan mereka gunakan dalam melaksanakan skill audit dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi guru di daerah masing-masing. Apakah yang dimaksud kompetensi? Istilah kompetensi memang bukan barang baru. Untuk menjelaskan pengertian tentang kompetensi itulah maka Gronzi (1997) dan Hager (1995) menjelaskan bahwa “An integrated view sees competence as a complex combination of knowledge. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan. yakni meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru. . Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK. para penyelenggra pendidikan di kabupaten/kota telah menunggu kelahiran kompetensi guru itu. Pada saat itu Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis) Dikdasmen pernah mengeluarkan “buku saku berwarna biru” tentang “sepuluh kompetensi guru”. tim itu telah dapat menghasilkan rendahnya kompetensi guru. Setelah sekitar dua tahun berjalan. attitudes. keterampilan. and values displayed in the context of task performance”. Dua dekade kemudian. dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Pada tahun 70-an. Direktorat Tenaga Kependidikan (Dit Tendik). dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya. Sejalan dengan definisi tersebut.1-16 Pengembangan Profesionalitas Guru guru. menjelaskan bahwa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. sikap. skill. keterampilan. namun masih ada pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. nama baru Dikgutentis telah membentuk satu tim Penyusun Kompetensi Guru yang beranggotakan para pakar pendidikan yang tergabung dalam Konsorsium Pendidikan untuk menghasilkan produk kompetensi guru. Sementara itu. terkenal wacana akademis tentang apa yang disebut sebagai Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi atau Competency-based Training and Education (CBTE).

(3) penilaian prestasi belajar peserta didik. keterampilan. dan jenjang pendidikan’ (Direktorat Profesi Pendidik. 2005). Diten PMPTK. inovasi. standar kompetensi guru diartikan sebagai ‘satu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas. peningkatan kualitas dan penjenjangan karir guru. (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar. PMPTK. Ketiga standar kompetensi tersebut dijiwai oleh sikap dan kepribadian yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi. Standar kompetensi guru bertujuan ‘untuk memperoleh acuan baku dalam pengukuran kinerja guru untuk mendapatkan jaminan kualitas proses pembelajaran’ (SKG. ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi. . kualifikasi. (2) pengembangan profesi. (6) pemahaman wawasan kependidikan. (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. Standar kompetensi guru terdiri atas tiga komponen yang saling mengait. dan (3) penguasaan akademik.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-17 Berdasarkan pengertian tersebut. Ketiga komponen masing-masing terdiri atas dua kemampuan. Direktorat Tendik 2003:5). (5) pengembangan profesi. yakni (1) pengelolaan pembelajaran. dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan profesinya (Direktorat Profesi Pendidik. Standar Kompetensi Guru bermanfaat untuk: (1) menjadi tolok ukur semua pihak yang berkepentingan di bidang pendidikan dalam rangka pembinaan. Di samping itu. kemandirian. 2005). (7) penguasaan bahan kajian akademik. yaitu: (1) penyusunan rencana pembelajaran. Oleh karena itu. (2) meningkatkan kinerja guru dalam bentuk kreativitas. Standar kompetensi guru SKS memiliki tujuan dan manfaat ganda.

dan bahkan menjadi tenaga struktural di dinas pendidikan. Pengembangan Karir Guru Pada era sentralisasi pendidikan. ada sebagaian kecil guru yang karena kapasitas pribadinya atau karena faktor lainnya dapat berubah atau meningkat karirnya menjadi kepala desa. Dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan tersebut berjalan dengan berbagai penyimpangan. Mengingat kondisi itulah maka pada tahun 1970-an dan 1980an telah didirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan yang bernama Balai Penataran Guru (BPG). pembinaan guru diatur secara terpusat oleh pemerintah. dan Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk pelbagai mata pelajaran dan bidang keahlian di beberapa daerah di Indonesia. dengan melibatkan antara direktorat terkait dengan . anggota legeslatif. Region-region penataran telah dibentuk di berbagai kawasan di Indonesia. antara lain karena belum ada kejelasan tentang standar pengembangan karir mereka. Sedang sebagian besar lainnya mengalami nasib yang tidak menentu. Pada tahun 1970-an kegiatan ‘up-grading’ guru mulai gencar dilaksanakan di BPG dan PPPG.1-18 Pengembangan Profesionalitas Guru E. yang sekarang menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi. Kepala sekolah sering terpaksa menandatangani usul kenaikan pangkat guru hanya karena faktor ‘kasihan’. Pelaksanaan kenaikan pangkat guru dengan sistem kredit pun sama. Kegiatan itu pada umumnya dirancang oleh direktorat-direktorat di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sekarang LPMP dan P4TK berada di bawah Ditjen PMPTK. PGPS sering diplesetkan menjadi ‘pinter goblok penghasilan sama’ atau ‘pandai pandir penghasilan sama’. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil) dan ketentuan lain tentang kenaikan pangkat dengan sistem kredit. Dengan kondisi seperti itu.

yang sistem penyelenggaraan diklatnya dinilai melibatkan elemen pendidikan yang lebih luas. para guru memiliki wadah pembinaan profesional melalui orgabnisasi yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). guru yang telah mengikuti klegiatan diklat TOT (training of trainer) di tingkat pusat atau nasional dan memperoleh predikat sebagai penatar di tingkat provinsi. para guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) guru biasa. (5) kepala sekolah. serta melibatkan juga peranan lembaga pendidikan sekolah sebagai on the job training yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan yang ada di regionnya masing-masing. dan Latihan Kerja Pengawas Sekolah (LKPS) untuk pengawas sekolah. kecamatan. Melalui pola PKG ini. sementara para kepala sekolah aktif dalam kegiatan Latihan Kerja Kepala Sekolah (LKKS). (6) Pengawas sekolah. yakni tempat bertemunya para guru berdiskusi atau mengikuti penataran tingkat kabupaten atau sekolah. satu jenjang fungsional bagi guru yang telah menjabat sebagai kepala sekolah. guru yang telah ditatar di tingkat provinsi atau nasional dan memperoleh predikat yang sebagai penatar di tingkat kabupaten. (4) pengelola sanggar. atau baru sebatas ditatar di tingkat kecamatan atau sekolah. yakni guru baru atau guru yang belum pernah mengikuti penataran. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagaian besar dilaksanakan di satu sanggar yang disebut sanggar PKG. Salah satu pola pembinaan guru melalui diklat ini adalah mengikuti pola Pembinaan kegiatan Guru (PKG). dan sekolah. (3) instruktur. guru instruktur yang diberi tugas untuk mengelola Sanggar PKG. (2) guru Inti. . yakni instruktur yang telah diangkat untuk menduduki jabatan sebagai kepala sekolah. Sebagian besar instruktur ini juga telah memperoleh pengalaman dalam mengikuti penataran di luar negeri. Selain itu.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-19 lembaga diklat (preservice training) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai lembaga preservice training.

LPMP. Berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut dilaksanakan dengan melibatkan P4TK (PPPG). PENUTUP Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. Dinas Pendidikan. oleh Depdiknas sekarang dikelola oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. dan LPTK sebagai mitra kerja.1-20 Pengembangan Profesionalitas Guru F. .

2004. Everett M. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Safrudin Ismi. 2006. Suparno. Ace dan Dasim Budimansyah. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Dirjen Dikti Dir PPTK Depdiknas. Yogyakarta: Bigraf Publishing. 2004. Jakarta: Grasindo. Menuju Masyarakat Pembelajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. “Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah”. New York: The Free Press. Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Masa Depan. . Rokhman. Jakarta: Rineka Cipta. 2000. 2004. 1992. Inovation in Education: Reformers and Their Critics. Paul. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. 1995. Jakarta: Genesindo. Ary H. 2002. Balitbang Depdiknas. 2002. Zamroni. Santoso S. Fathur dkk. dalam Syarif Ikhwanudin dan Dodo Murtadhlo. dalam Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua.1995. Gunawan. Jakarta: Grasindo. Undang-undan No. Rogers. 2002. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI Program D-II PGSD.DAFTAR PUSTAKA Chamidi. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan. Studi Kebijakan Pengelolaan Guru Di Era Otonomi Daerah dalam Rangka Peningkatan mutu pendidikan. Suryadi. 2002. Diffusion of Innovation. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta:Paramadina dan Logos Wacana Ilmu. Jakarta: Depdiknas. Rich. John Martin. “Status dan Peran Guru. Pusat Data dan Informasi Pendidikan. Direktorat Ketenagaan. 2005. Undang-Undang No. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Akibatnya pada Mutu Pendidikan”. Penelitian Balitbang dan Lemlit UNNES. New York: Cross Cultural Approach. Hamijoyo. Indra Djati Sidi.

BUKU AJAR MEMBACA PEMAHAMAN .

Menjelaskan pengertian membaca pemahaman. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . membaca intensif dapat diklasifikasikan menjadi membaca telaah isi dan telaah bahasa. Indikator 1. D. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif dan ekstensif. B. Kompetensi Dasar Memahami konsep dasar membaca pemahaman yang meliputi pengertian membaca pemahaman dan kiat membaca pemahaman. metode. 2. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading) (Harras dan Sulistianingsih 1998: 2. Membaca Telaah isi diklasifikasikan . Standar Kompetensi Menguasai konsep dasar membaca pemahaman. Berdasarkan cakupan bahan bacaan yang dibaca. Menjelaskan kiat membaca pemahaman. Pengertian Membaca Dalam kajian teori membaca. Uraian Materi 1. Menurut Broughtton (dalam Tarigan 1990). E.13). dan teknik membaca serta penerapan model. C. membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan.BAB I. Deskripsi Penyajian model. metode. KONSEP DASAR MEMBACA PEMAHAMAN A.

pemahaman. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. dan meningkat (dari yang mudah ditingkatkan ke yang sulit). memindai buku. dan memindai grafik. dan dangkal. Membaca ekstensif diklasifikasikan menjadi tiga. 2. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model.2-2 Membaca Pemahaman   menjadi membaca teliti. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. dan buku biografi. yaitu ektensif dan intensif. metode. artikel. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. dan ide. Kiat Membaca Pemahaman Untuk dapat terampil membaca siswa harus berlatih membaca secara kontinyu (sering latihan. dan teknik yang sesuai dengan keperluan (Haryadi 2006:5). . Membaca telaah bahasa diklasifikasikan menjadi membaca bahasa asing dan sastra. kritis. yaitu membaca survai. Berdasarkan kurikulum 2006. kritik teks sastra. sekilas. variatif (berbagai ragam bacaan yang dibaca). paragraf. latihan terus-menerus). Disamping itu.

Menerapkan metode membaca sewaktu membaca ekstensif. E. MEMBACA EKSTENSIF A. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca ekstensif. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. metode. metode. dan teknik membaca. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. Indikator 1. menerapkan kiat B. D. Uraian Materi 1. Deskripsi Penyajian model.BAB II. metode. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. 4. C. 3. dan mampu menerapkan model. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. metode. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. 5. siswa SMA kelas X dituntut untuk dapat . 2. 6. Membaca Cepat Teks Bacaan Berdasarkan kompetensi dasar yang tercantum di standar isi pada kurikulum 2006. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. Menerapkan model membaca sewaktu membaca ekstensif. dan teknik membaca serta penerapan model.

MMAB berpandangan bahwa pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaan merupakan unsur sekunder. metode. Siswa Kelas XI dituntut dapat membaca cepat 300 kata/menit menemukan pokok-pokok untuk isi teks. metode. Siswa kelas XII dituntut dapat membaca cepat 300-350 kata/menit untuk menemukan ide pokok. Bagan 1 Model Membaca Atas Bawah . Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat symbol grafis seperlunya saja. MMAB dapat dibagankan berikut ini. metode paragraf dan P2R. Karena kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan. siswa harus membaca dengan menggunakan kiat (model. a. model membaca ini disebut model membaca atas bawah. selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang telah dimilikinya. teknik membaca yang dapat dipilih untuk membaca cepat teks nonsastra adalah model membaca atas bawah. Untuk dapat memenuhi tuntutan itu. Model Membaca Atas Bawah Model membaca yang dapat digunakan adalah model membaca atas bawah (MMAB). Model.2-4 Membaca Pemahaman   membaca cepat 250 kata/menit berbagai teks bacaan nonsasatra dengan berbagai teknik membaca untuk menemukan ide pokok. dan teknik skimming. dan teknik) membaca yang tepat dan benar.

Lambang-lambang grafis pada dasarnya tidak punya makna apa-apa. pembaca membuat prediksi (prakiraan) terhadap bacaan yang dibacanya.  Membaca Pemahaman 2-5 Proses membaca berdasarkan bagan 1 adalah berikut ini. Pembaca hanya melihat beberapa bagian dari bacaan (kata kunci. tetapi pembaca memberikan makna atas simbol-simbol grafis yang dibaca. kemudian pembaca memprediksi pemahaman . Dalam sandi morse. Tranformasi dalam bidang vokabuler (kosa kata) atau sintaksis yang tidak mengubah makna dipandang sebagai hal yang dapat diterima. 3. 1. Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan. Pembaca yang sudah terampil dalam membaca akan selalu melangkah langsung menghubungkan kata-kata yang dibaca ke makna tanpa melakukan identifikasi kata-kata yang dibaca secara cermat. titik tersebut sebagai tanda atau lambing-lambang. Jika titik tersebut berada di dalam peta. Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak. dimaknai sebagai letak sebuah kota. titik tersebut tidak bermakna. Dengan menggunakan MMAB. Titik yang berada di akhir deretan kata-kata yang berbentuk klausa maka titik tersebut berarti atau bermakna sebuah tanda berhenti. titik itu tidak punya makna apa-apa. titik itu diberi interpretasi sebagai lambang huruf. 2. Jika tidak diberi interpretasi. Titik tersebut bermakna jika diberi tafsir pembaca. dan atau kalimat pokok). bagian yang penting. Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya. Pembaca tidak memperoleh makna dari simbol-simbol grafis yang dibaca. Contohnya adalah jika pembaca melihat sebuah titik pada kertas. Dalam bahasa Yunani. Hal itu terjadi karena pembaca sudah mempunyai pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya.

2-6 Membaca Pemahaman   atau informasi secara menyeluruh yang terdapat pada bacaan. Keduanya saling berhubungan secara timbal balik. Tugas mata dalam MMAB hanyalah sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk cahaya dan mengubahnya menjadi 6paragraf syaraf merambat melalui jutaan serabut syaraf 6arag yang kemudian diteruskan ke otak pembaca. lisan. Secara umum. Jika prediksi kurang cermat. Otak menginterpretasikan apa yang diterimanya ke dalam bentuk pesan. walaupun hubungannya tidak dapat digunakan secara jelas atau tidak dapat dijelaskan secara kongkrit. Informasi yang dapat bertahan lama di dalam pikiran atau otak pembaca adalah informasi nonvisual. Dengan menggunakan syarat 6paragrafap dan sintaksis. Pembaca tidak lagi memfokuskan perhatian . semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca sewaktu membaca. Sebaliknya. Informasi visual dan nonvisual dibutuhkan dalam kegiatan membaca. kebutuhan akan informasi visual semakin bertambah. Metode Paragraf Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf. Jika prediksi kurang cermat. berita. dan atau informasi dengan memanfaatkan informasi visual. Informasi visual akan langsung hilang bersamaan dengan beralihnya pandangan mata ke bagian yang lainnya. hubungan keduanya dapat dikatakan bahwa semakin banyak informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca pada waktu membaca maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. pembaca memahami bacaan dan mengantisipasi yang 6paragrafap pada bagian bacaan selanjutnya ketepatan prakiraan dibuat dengan menggunakan stategi konfirmasi. pembaca menggunakan strategi koreksi yang di dalamnya terjadi pemprosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. pembaca menggunakan strategi konfirmasi. b.

Metode paragraf adalah metode yang paling tinggi tingkatannya dalam metode menengah. yaitu mekanik dan menjadi jalinan yang utuh yang (1) Metode Paragraf secara Mekanik Pada latihan ini. Mata menghentikan geraknya pada setiap akhir paragraf. pembaca didorong untuk menghentikan ayunan matanya pada akhir paragraf dan memahami ide-ide atau yang dibaca. Dalam metode ini. Latihan metode paragraf dapat dibagi menjadi dua. pembaca dituntut dapat merangkaikan ide-ide pokok yang dikandung oleh tiap-tiap paragraf membentuk satu topik bacaan. pembaca dilatih untuk dapat menggerakkan matanya secara tepat dan cepat dalam menatap unsur-unsur yang ada pada paragraf. berkesinambungan. Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa sebuah paragraf merupakan satuan bacaan yang mengandung ide pokok yang ingin disampaikan oleh penulis. . Untuk itu. jika ada tujuan tertentu yang berkaitan dengan pemahaman. dan tekun. Latihan metode paragraf secara mekanik dapat dilatihkan dengan bacaan berikut ini. pembaca menemukan pikiran pokok paragraf atau informasi yang dicari ditengah paragraf. Di pikiran-pikiran pokok yang ada dalam paragraf samping itu. Membaca paragraf merupakan membaca yang paling kompleks dan rumit. Dalam prakteknya dibutuhkan keterampilan-keterampilan atau kemahirankemahiran yang telah dikuasai dalam metode sebelumnya. Misalnya.  Membaca Pemahaman 2-7 pada kalimat demi kalimat. Boleh saja mata menghentikan kerjanya sebelum akhir paragraf. dalam penguasaannya perlu latihan secara kontinyu. konseptual. tetapi memusatkan perhatian atas jalinan kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf.

Cahaya merah diserapnya. Bagian-bagian renik inilah yang disebut fotosistem. tetapi dipantulkan ke mata kita. Mereka merupakan tim dalam proses fotosintesis. warna hijau yang kita tangkap lewat mata sebenarnya gelombang cahaya yang ditolak tanaman itu. Ada dua jenis fotosistem. Akan terlihat. tetapi sebagian besar tembus pandang dan dipenuhi kira-kira 50 – 100 kloroplas. Gelombang cahaya yang ditangkal rumput atau daun tadi justru sangat berharga bagi manusia. hanya cahaya hijau yang tidak digunakan atau diserap. sebenarnya hati yang menyejukkan gelombang mata yang dan tidak meneduhkan merupakan dibutuhkan tumbuhan dalam proses pembuatan makanan. (Intisari Juli 2000:101). yakni fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II). daun itu tidak berwarna hijau. Kloroplas ini seperti sebuah kantung kecil yang berisi kantung-kantung pipih lebih kecil yang disebut tilakoid. Jadi. .Ternyata.2-8 Membaca Pemahaman   Bacaan 1 Rumput Menolak Gelombang Hijau Kita tentu senang melihat tanaman di sekitar kita dalam keadaan segar dan telihat hijau. Ketika cahaya matahari menerpa permukaan tilakoid. Molekul-molekul klorofil hijau (sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis) melekat pada tilakoid dengan membentuk jalur-jalur yang teratur. PS II dari molelul klorofil menjeratnya. mari kita ambil selembar rumput atau daun apa pun dan potongan kecilnya diperiksa di bawah mikroskop. PS I mencari cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan klorofil menyerap cahaya tumbuhan. Untuk menjelaskannya. Begitu pula dengan rumput.

Setiap kalimat yang membentuk sebuah paragraf mempunyai peran paragraf. Kalimat yang penting (kalimat utama) bisa dibaca lebih lambat paragraf kalimat penjelas. Anda biasa saja berhenti sejenak pada akhir sebuah kalimat yang terletak di awal atau ditengah paragraf.  Membaca Pemahaman 2-9 Alternatif cara membaca bacaan di atas adalah berikut ini. Kalimat . Berlatihlah terus-menerus pada hari-hari berikutnya. Jika ada tujuan tertentu. 1. Lakukanlah latihan tersebut selama 2 atau 3 kali. Hal tersebut bergantung pada isi masing-masing kalimat. 5. Kalimat sebagai pemuas. Kalimat sebagai kalimat penjelas. Kemahiran membaca dan pengetahuan tentang paragraf diperlukan pada latihan ini. 3. 1. Kalimat sebagai kalimat topik atau kalimat utama. Peran paragraf yang diemban oleh kalimat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut ini. (2) Metode Paragraf secara Konseptual Pada latihan ini pembaca dilatih untuk dapat memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang terdapat dalam sebuah bacaan. 2. yaitu kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki pembaca adalah struktur paragraf (Harjasujana dan Mulyati 1997:186). Gerakkanlah mata Anda mulai dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir pada tiap-tiap paragraf. 4. Gerakan mata dari kalimat satu ke kalimat yang lain menggunakan kecepatan baca yang tidak sama. 3. 2. Tataplah satu halaman penuh dari atas sampai bawah atau dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. 6.

karena banyak yang rusak. meskipun dikemas dalam peti kayu beralas 10arag (bekas) yang sudah kering. ketika buah sudah tidak basah lagi oleh embun pagi. Bacaan 2 Bisnis Duku. Bacaan berikut ini dapat digunakan sebagai latihan metode paragraf secara konseptual. Penulis mencantumkan hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan. Hasilnya turun! Karena itu. Memetiknya harus dalam cuaca kering. agar buah bisa lebih tahan lama kalau dikirim ke tempat jauh. Di tempat pengemasan. Buah yang masih basah akan mudah berjamur. Biasanya 4 – 5 kali panen sebelum semua buah dari satu pohon habis dipetik. Cara ini kadang banyak melukai batang tempat menempelnya tangkai tandan buah.2-10 Membaca Pemahaman   pemuas tidak bermanfaat bagi pembaca. Ini bisa menghasilkan buah lagi. Dengan memotong tandan buah dari tangga. kemungkinan merusak kuncup bunga yang masing menunggu giliran tumbuh. Buah dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan buahnya dengan gunting pemangkas kebun. dan dipilih yang bobotnya 20 – 40 g . beberapa pedagang langganan petani pekebun kemudian memakai cara lain. Tujuannya. sehingga perbungaan berikutnya tidak normal lagi. Pakai tangga. Bisnis Kilat Para pedagang biasanya memborong buah duku dari petani pekebun ketika buah sudah matang komersial. Tandanya kulit buah sudah kuning keabu-abuan. Itu pun masih harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dijajakan. bisa dikurangi. butiran buah dilepas sebutir demi sebutir dari tandanya.

(Intisari Juli 2000:87). 2. Biasanya terpaksa diobral. 1. Kalau teralmbat sampai tidak terjual dalam waktu yang singkat itu. Malam itu juga “peti kemas” diangkut dengan truk yang berjalan malam. dari daerah 11paragrafaph ke Jakarta lewat Trans Sumatra Highway. meskipun rasa buahnya masih tetap manis. Mulailah memahami paragraf pertama dengan cara membaca kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Begitu selesai memborong buah di pohon. . duku sudah dibongkar di pasar induk Kramatjati Jakarta untuk dijual kepada para agen. Kalau terbentur-bentur karena peradam dalam pengemasannya kurang tebal. Begitu juga kalau buah sudah keburu dikemas ketika masih agak basah. para pedagang duku harus bekerja cermat. Itu sebabnya. Peti dilapisi 11arag bekas atau daun pisang kering yang tebal sebagai peredam benturan. buah sudah bertotol-totol hitam.  Membaca Pemahaman 2-11 sebutir saja yang akan dijual. Tahap-tahap alternatif yang dapat digunakan untuk membaca bacaan tersebut adalah sebagai berikut ini. Buah pilihan ini dikemas dalam peti kayu yang diberi ventilasi pada semua sisinya. Tataplah satu halaman penuh dari sebuah bacaan dari atas sampai bawah. Semuanya selesai dalam waktu tiga hari. kulit buah duku cepat ber-totoltotol coklat. meskipun cepat. Malam harinya. sudah dijual lagi ke para pengecer yang memasarkannya ke konsumen esok harinya. Penampilannya menyebalkan. Dalam 18 jam. mereka segera mengemasnya. dan peti juga dengan kasar dilempar-lempar ke atas truk.

pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau tidak. Lakukanlah memahami paragraf berikutnya seperti tahap nomor 2 dengan memperhatikan tahap nomor 3 dan 4. dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien (Gordon 2006 : 79). Setelah itu. 4. 2. Jika hanya ingin mengetahui informasi yang pokok. Jika belum tahu. Berlatihlah terus-menerus di hari-hari berikutnya dengan bacaan yang lainnya. 1. Jika ada tujuan tertentu. 6. Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan. Pahamilah masing-masing kalimat dalam paragraf itu secara tidak sama. Jika memang sudah tahu tentang bacaan. pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca. pembaca bisa hanya . pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran. Pemahaman atas kalimat utama lebih dipentingkan dari pada pemahaman kalimat penjelas. dan sebagainya. relevansi. Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah berikut ini. c. read. 7.2-12 Membaca Pemahaman   3. pembaca melanjutkan tahap berikutnya. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. Metode P2R Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview. 5. Informasi bersifat pokok atau inti dan bisa juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. Lakukanlah latihan ini selama 2 atau 3 kali. bisa memfokuskan pemahaman terhadap sebuah paragraf. Pada tahap ini. Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. pokok-pokok pikiran.

Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehigga tidak perlu dibaca. Pada saat lain. ketiga tahap itu digunakan secara tertib. Jika memang diperlukan. 3. Ketiga tahap dalam metode ini tidak harus digunakan semua secara tertib. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan. sebaliknya bacaan yang belum dikenal dibaca secara pelan. Bisa saja. Bacaan yang bersifat ilmiah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat paragraf. Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa yakin tidak ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya semester 1. pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca telah mengenal struktur materi bacaan. Pada tahap ini.  Membaca Pemahaman 2-13 membaca secara sepintas (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. Yang berbeda adalah tujuannya. Hal tersebut bergantung pada situasinya. Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. jika preview untuk mengenal bacaan. sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan. diusahakan membaca secepat mungkin. pembaca tidak melakukan read. Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. pembaca membaca dengan teliti. pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. . Walaupun membaca teliti.

Kepala susu merupakan bagian yang mengental yang berada di atas setelah semangkok susu yang dipanaskan didinginkan.2-14 Membaca Pemahaman   d. Untuk mencari ide-ide pokok pembaca tidak diperbolehkan membuang-buang waktu. yaitu ide-ide pokok. tetapi dapat juga terdapat ditengah. sedang atau pelan. Hal yang dicari adalah hal-hal yang pokok atau penting. cepat. Gelombang bisa sangat cepat. Ide pokok tidak selalu diawal paragraf. Kecepatan . Hal itu relefan dengan pendapat Soedarso (2004:88). Ia diharapkan butuh waktu beberapa detik atau menit untuk menskim. Gerak mata dalam membaca dengan teknik skimming mempunyai gerak mata yang cepat dan bentuk yang tinggi. sedang atau rendah. Gelombang ada yang tinggi sekali. dan selintas (Widyamartaya. Gelombang air laut bergerak menyapu setiap bagian laut dan pantai yang dilaluinya. Gelombang mempunyai kecepatan dan bentuk tertentu. Gerak mata pada membaca dengan teknik skimming bisa diibaratkan gelombang air laut. Dalam menskim tidak hanya menjelajahi halaman demi halaman secara cepat. tinggi. yaitu bahwa skimming merupakan teknik membaca efisien. skimming merupakan teknik membaca yang dilaksanakan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien. Gelombang mempunyai bentuk berdasarkan kecepatan gelombang dan hambatan yang dilaluinya. Kecepatan gelombang bergantung dari daya dorong paragraf daya dorong dari dalam laut. 2004:44). Kepala susu adalah intisari atau bagian yang banyak mengandung gizi. Skimming dalam bidang membaca merupakan sebuah istilah salah satu teknik membaca ekstensif. diakhir. sekilas (Tarigan 1994:30). Teknik Skimming Skimming berasal dari bahasa Inggris to skim yang berarti mengambil kepala susu atau krim dengan sendok atau menyendok kepala susu. Berdasarkan uraian tersebut. Istilah lain dari skimming adalah baca layap (Harjasujana dan Mulyati 1997:64). tetapi juga ada yang dicari. atau diawal dan diakhir.

Pembaca dapat mengenal detail penting bacaan berdasarkan tipografi atau tanda-tanda tertentu dalam bacaan. Pada saat mata melihat bagian yang penting gerak mata diperlambat untuk memahami bagian penting tersebut. kemudian melompat (skipping). dan ditulis dalam kotak. Contoh gerak mata dalam teknik skimming adalah sebagai berikut: . Pertamatama mata bergerak pada baris-baris yang mengandung ide pokok dari sebuah paragraf. dan memperlambat (bahkan boleh berhenti) pada beberapa fakta yang penting yang menunjang ide pokok. dicetak tebal. misalnya ditulis miring. Kemudian mata bergerak pada kecepatan yang tinggi lagi. Awal mula mata dipersiapkan bergerak secara cepat untuk membaca bagian demi bagian dalam bacaan. Ilustrasi dari gerak mata dalam membaca teknik skimming pada pembaca yang masih taraf pemula adalah sebagai berikut.  Membaca Pemahaman 2-15 dan bentuk ayunan mata dalam setiap bagian yang dibaca tidaklah sama bergantung penting tidaknya bagian yang dibaca dan tujuan dalam membaca.

2-16 Membaca Pemahaman   Bacaan 3 Latihan Teknik Skimming .

dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati 1997: 64-65. ia bisa saja mengambil buku tersebut untuk membaca sekilas daftar isi buku . judul-judul bab. opini. Soedarsono 2004: 88-89. Yang dimaksud topik bacaan adalah judul buku atau artikel. Widyamartaya 2004: 44. Yang dapat diterapkan adalah mengenal bacaan. dan mengetahui bagian penting. mengetahui opini. Misalnya pembaca datang ke toko buku untuk mengetahui buku-buku membaca apa yang terdapat pada toko buku tersebut. Dengan men-skim buku tersebut. penyegaran. bagian penting organisasi bacaan. pembaca tahu judul-judul buku apa saja yang tersedia di toko buku tersebut. yaitu mengenal paragraf bacaan. dan judul subbab.  Membaca Pemahaman 2-17 1) Tujuan Membaca Skimming Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan. Pembaca melihat secara sekilas judul-judul buku membaca yang terdapat rak khusus buku-buku membaca. dan Tarigan 1994: 32). Apabila ada buku yang cocok.

tetapi tidak secara eksplisit tercantum dalam daftar isi. Sewaktu men-skim daftar isi dan tidak menemukan hal-hal yang dicari. Teknik baca layap juga dapat digunakan untuk melihat paragraftopik artikel yang ada pada majalah atau surat kabar. Opini digunakan untuk menggugah pikiran pembaca untuk berfikir kritis sehingga pembaca diharapkan dapat paragraf umpan baliknya yang berupa tanggapan. Apabila ya. Pada sebuah bacaan opini belum tentu ada. bukalah halaman yang mungkin mengandung informasi yang dibutuhkan secara cepat. tetapi bacaan yang bersifat paragraf umumnya ada opininya. Misalnya. kemudian melihat daftar isi untuk menentukan apakah buku tersebut mengandung pembahasan tentang hal-hal yang dibutuhkan. Bacaan ilmiah biasanya tidak mengandung opini. Skimming dapat diterapkan sewaktu pembaca mencari bahan di perpustakaan. . informasi gempa bumi yang terjadi di Yogya. Ia membaca sekilas kartu pparagrafa atau daftar pparagrafa yang ada di pparagrafap mengenai judul buku yang tersedia di perpustakaan tersebut. Jika ada buku-buku yang dibutuhkan. Pembaca dapat membaca layap surat kabar yang dibaca untuk mencari informasi yang diinginkan. ia mencari atau meminjam buku tersebut.2-18 Membaca Pemahaman   itu guna mengetahui apakah ada judul bab atau subbab yang diinginkannya. Ia cukup mencari judul artikel yang ada dalam surat kabar yang dibaca secara sekilas tentang gempa yang melanda Yogya. Kadang kala pada sebuah surat kabar memuat artikel yang justru kehadiran opini diwajibkan karena tanpa opini artikel tersebut kurang bermutu sehingga orang yang ingin mengirim artikel untuk kolom itu diharuskan menampilkan opini-opini. pembaca bisa saja men-skim semua halaman yang ada pada buku untuk meyakinkan bahwa yang dicari memang betul-betul tidak ada karena ada kemungkinan informasi yang dicari ada di dalam buku. Opini berarti pendapat. pikiran atau pendirian.

Tarigan (1990 : 33) paragraf petunjuk sebagai berikut. Informasi yang dicari misalnya adalah nama peristiwa. Cara yang efektif dan efisien untuk mendapatkannya adalah cukup dengan membaca paragraf awal dan akhir. Bacaan tersebut dinamakan bacaan yang bersifat deduktif – induktif. Dalam rangka menemukan informasi yang penting dari sebuah bacaan. Paragraf awal sebuah bacaan umumnya mengandung pokokpokok pikiran yang diuraikan pada paragraf berikutnya (paragraf isi). pembaca hanya melihat secara skimming seluruh bacaan dengan menangkap ide-ide pokok. Penulis boleh saja menampilkan ringkasan pendapatnya pada akhir bacaan. Untuk mengetahui bagian penting dari sebuah bacaan. Jika ingin mengetahui bagian penting. pembaca bisa juga menemukan opini pada awal dan akhir bacaan karena penulis artikel menampilkan opini pada awal bacaan dan diulang diakhir bacaan dalam bentuk simpulan. tempat peristiwa. biasanya pembaca melanjutkan membaca untuk mengetahui pendapat penulis terhadap permasalahan yang dibahas. 1. Setelah mengetahui paragraf-topik bacaan. Semua pendapat yang akan diuraikan berikutnya ditulis pada paragraf awal.  Membaca Pemahaman 2-19 Artikel semacam ini diminati pembaca yang ingin mencari hal-hal yang bersifat sensasi. jumlah korban. . Tentukan dengan jelas informasi atau fakta yang akan dicari atau buatlah pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi yang ada dalam bacaan. Disamping kedua cara tersebut. pembaca tidak perlu membaca keseluruhan bacaan. Pembaca cukup membaca dengan sekilas dari atas sampai bawah untuk menemukan informasi tertentu yang dicari. Artikel yang seperti itu merupakan bacaan yang bersifat deduktif. Bacaan yang demikian merupakan bacaan yang bersifat induktif. Pendapat yang diungkapkan pada akhir bacaan biasanya berupa simpulan. nama tokoh.

Jika pada sebuah paragraf hal yang penting terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. carilah di bawah subjek yang lebih luas. Lihatlah setiap halaman dengan cepat hanya untuk tujuan mencari kata kunci atau informasi yang diinginkan. Skipping diartikan sebagai teknik baca lompat. Bagian bacaan yang tidak penting dilompati atau tidak dihiraukan. Ayunan mata tidak memakai irama yang sama. locating. Siapkan kata kunci yang tepat untuk menunjuk informasi yang dibutuhkan. Apabila pembaca mencari informasi dalam sebuah buku. dan previewing. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja. . yang dicari atau dibutuhkan ke begian yang penting berikutnya. 3. dari kalimat awal ke kalimat tengah pada sebuah halaman. sampling. pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat terakhir. pokok. 4. Hal tersebut bergantung pada letak atau jarak bagian yang penting dengan bagian penting lainnya. misalnya dalam pertandingan sepak bola kata kunci tersebut adalah menang. seri atau kalah. Jika tidak ada. 2) Jenis Teknik Skimming Jenis teknik membaca yang termasuk dalam teknik skimming adalah skipping. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. Kemungkinan lain dalam membaca dengan skipping adalah pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat pertama pada paragraf berikutnya. Maksudnya adalah membaca melompatlompat dari bagian yang penting.2-20 Membaca Pemahaman   2. sebaiknya pembaca melihat apakah kata kunci tersebut tercantum dalam indeks. Pembaca yang menggunakan teknik ini berarti melakukan ayunan mata dari bagian bacaan yang penting ke bagian bacaan yang lain. dari kalimat akhir ke kalimat akhir pada paragraf berikutnya.

Adakalanya sebuah paragraf tidak mengandung informasi kunci. Untuk itu. Disamping itu. Prinsip yang dianut teknik ini adalah membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah bacaan yang dianggap dapat mewakili keseluruhan bacaan. bagian-bagian yang dibaca mengandung informasi kunci atau pokok. dilaksakan dengan sekilas. Dalam pengembangan penggunaan teknik ini. dalam menerapkan teknik sampling pembaca diberikan keleluasaan untuk membaca bagian-bagian tertentu dari bacaan dengan syarat: 1. Locating merupakan teknik membaca paragraf. 3. ketiga. pembaca tidak hanya terpaku pada kalimat pertama dari setiap paragraf.  Membaca Pemahaman 2-21 dari kalimat awal ke kalimat akhir pada sebuah halaman. yaitu pandangan mata bergerak dari bagian atas ke bawah secara cepat. Informasi kunci belum tentu terdapat pada kalimat pertama. pembaca memperoleh gambaran umum dari bacaan yang dibaca. dan seterusnya. Pembaca memusatkan pandangan matanya di bagian tengah bacaan dan . dan seterusnya. informasi pokok belum tentu berada di setiap paragraf. dari kalimat awal ke kalimat awal pada halaman berikutnya. Maksudnya adalah mata pembaca bergerak secara paragraf. 2. Oleh karena itu. Sampling merupakan teknik membaca bagian tertentu bacaan dengan cepat supaya mendapat gambaran umum dari bacaan yang dibaca. tetapi bisa-bisa saja terdapat pada kalimat kedua. Kalimat utama umumnya mengandung informasi kunci yang biasanya terletak pada kalimat pertama dari sebuah paragraf. yaitu kalimat inti atau kalimat utama. Bagian-bagian bacaan yang dianggap dapat mewakili bacaan. pembaca akan mendapatkan gambaran umum sebuah bacaan dengan cepat. keempat. Dengan teknik ini. penggunaan teknik ini dipusatkan pada membaca kalimat pertama setiap paragraf.

Seandainya hal tersebut tidak bisa dilakukan. kata yang dimulai dengan huruf paragraf. kata yang di cetak tebal atau miring. pembaca dapat menggerakkan matanya dari bagian tengah atas ke bagian tengah bawah secara cepat. Kenyataan yang mempersulit penggunaan teknik locating adalah membaca sepintas hanya akan berkerja optimal apabila pembaca telah menenemukan kata atau frase kunci. Penggunaan teknik locating tidaklah mudah karena materi bacaan tidak ditulis secara paragraf. Dengan kedua kemampuan itu. pembaca akan banyak menghabiskan banyak waktu dalam membaca kerena pembaca harus melewati baris-baris yang telah dibaca. awal paragraf dibuat untuk membantu menarik perhatian otak dan mata supaya dapat mengenali perbedaan dalam pergatian bagian. Pandangan mata akan tertuju pada informasi tersebut karena selain bidang pandangan paragraf dekat (eye span).2-22 Membaca Pemahaman   bagian kanan dan kiri tetap dalam jangkauan pandangan mata. Kemampuan peripheral vision dapat juga digunakan oleh pembaca pada tiap sampai ujung kalimat yang dengan cepat kembali ke bagian awal baris berikutnya. Dalam tipografi. . otak pembaca bisa melihatnya dengan jelas sehingga bisa menuntun mata pembaca secara tepat ke awal baris berikutnya. kepala kalimat. Hal ini terjadi karena pembaca selain mempunyai kemampuan pandang paragraf dekat yang disebut rentang pandang mata (eye span). pembaca juga memiliki daya melihat sekeliling. Pembaca melihat sisi kanan halaman dan tidak dapat melihat secara jelas yang ada pada sebelah kiri halaman. Mata pembaca diharuskan bergerak secara diagonal kembali ke kiri untuk membaca garis berikutnya sehingga mata bergerak dengan pola zig-zag. juga mempunyai kemampuan pandang sekeliling atau daya melihat sekeliling (peripheral vision). Walaupun demikian. tetapi secara paragraf dari kiri ke kanan.

. Pengunaan teknik ini adalah pembaca membaca kalimat pertama pada setiap paragraf dan pembaca menggunakan kemampuan daya melihat sekeliling pada kalimat-kalimat yang lain dari setiap paragrafnya. Pola yang dapat diterapkan adalah blok dan horizontal. zig-zag. pembaca dapat memperoleh hal-hal yang diinginkan lainnya. Penggabungan kedua teknik tersebut digunakan untuk menerima atau mengenali pokokpokok pikiran yang penting dengan cepat. blok. Blok ini bentuknya adalah paragraf. pembaca memperoleh hal yang primer dan yang sekunder. Kalau hal tersebut dilakukan dapat menghemat waktu yang banyak. Teknik ini menggunakan teknik sampling dari sisi pemusatan perhatian pada kalimat pertama setiap paragraf dan memanfaatkan teknik locating dari sisi daya melihat sekeliling. Atau dengan kata lain. pembaca akan dapat menerka isi 23paragrafaph tersebut. disamping menemukan ide pokok. Dengan membaca bagian awal dan atau akhir sebuah paragraf dengan tepat. Teknik juga dapat digunakan untuk menangkap garis besar materi bacaan sebelum pembaca menolak untuk membacanya. spiral.  Membaca Pemahaman 2-23 Previewing merupakan gabungan dari teknik sampling dan locating. Pola Membaca Cepat Pola membaca yang digunakan dalam teknik lanjutan adalah pola paragraph diagonal. Gambar membaca dengan pola Blok adalah berikut ini. Pola blok merupakan pola membaca dengan cara mata berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. Jadi. Pembaca mendapatkan ide-ide pokok atau informasi inti dan sekaligus bisa menemukan hal-hal yang diperlukan untuk mendukung ide pokok. dan paragrafaph (Harjasujana dan Mulyati 1997:168-169).

Yang dapat dilakukan oleh siswa SMA untuk mencapai tujuan itu adalah membaca dengan model membaca model . dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Membaca Memindai Buku Dalam standas isi pada kurikulum 2006.2-24 Membaca Pemahaman   Gambar 1 Pola Blok Pola horizontal merupakan pola membaca dengan cara mata meluncur dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Pola membaca horizontal dapat digambar sebagai berikut: Gambar 2 Pola Horisontal 2. siswa kelas X dituntut untuk dapat membaca berbagai ragam wacana untuk merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. kecepatannya harus cepat kilat karena pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan.

Disamping itu. Ada bagian bacaan yang sudah sesuai dengan pengetahuan pembaca dan ada yang belum sesuai dengan pengetahuan sehingga pembaca tidak bisa menerapkan MMBA atau MMAB saja. Pembaca menggunanakan MMBA dan MMAB secara bergantian. pembaca tidak bisa menerapkan salah satu model membaca yang sudah ada. . metode SQ3R.1. tetapi mengkombinasikan kedua model tersebut dalam proses membaca.4) dan vertical. pembaca dituntun tidak hanya memakai salah satu model membaca tersebut. dan leksikon bekerja secara serempak untuk memahami (mentransfer) informasi yang disampaikan penulis. Penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis (informasi visual) dan informasi nonvisual (informasi yang sudah dimiliki oleh pembaca). ortografis. paragraf. mudah atau tidak pokok dan ada bagian yang belum dikenal. Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca yang meliputi sintaksis. teknik scanning. Sistem atau cara kerja membaca seperti itu dinamakan MMTB. MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan. dan pola blok (lihat 2. yaitu mulai dengan paragraf atau makna. MMTB adalah berikut ini. Jika dibagankan. Membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-berlanjut. Oleh karena itu. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan. a. Pengetahuan pembaca pada setiap bagian bacaan juga kadangkala berbeda. melainkan proses paragraf balik yang bersifat simultan. Model Membaca Timbal Balik Sebuah bacaan kadangkala ada bagian yang sudah dikenal. sulit atau pokok. Untuk itu. yaitu MMBA atau MMAB.  Membaca Pemahaman 2-25 atas bawah (lihat hal 4) atau model membaca timbal balik. Pada peringkat ini bank data bekerja secara simultan. proses MMTB dimulai dari peringkat yang lebih tinggi.

dan ulang. Metode SQ3R Metode SQ3R merupakan metode membaca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap. recite dan review (Tarigan 1990:54). daftar isi. dan bagian akhir. daftar paragraf. baca. Mula-mula metode ini dikembangkan oleh Robinson pada tahun 1946. bagian isi. daftar gambar. Penjelasan dari kelima tahap dalam SQ3R adalah sebagai berikut Survai adalah meninjau. paragraf. yaitu survai. reading. Bagian-bagian buku yang disurvai adalah bagian awal. Metode ini dibuat untuk kepentingan membaca bacaan yang berupa buku untuk kepentingan belajar. Bagian isi yang disurvai meliputi judul . pengarang. Bagian awal (preliminaries) yang disurvai meliputi halaman judul. penerbit. mengkaji. b. kata pengarang. tempat terbit. question. paragraf. Penerapannya adalah berikut ini. dan cara membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah buku.2-26 Membaca Pemahaman   Bagan 2 Model Membaca Timbal Balik Metode yang dapat diterapka untuk membaca buku untuk merangkum isi buku dalam beberapa kalimat adalah metode PQ3R. meneliti. dan tahun terbit. dan abstrak (bila ada). Tampubolon (1990:170) 26paragraf nama metode SQ3R dengan istilah surtabaku yang merupakan akronim dari survai. Pada halaman judul yang disurvai adalah judul buku.

Survai dilakukan dalam waktu beberapa menit saja dan merupakan kegiatan awal dari penerapan metode ini. .) yaitu membaca secepat mungkin halaman demi halaman. ringkasan yang tersusun secara sistematis. Tujuan lain dari mensurvai adalah untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara cepat. daftar gambar. dan penutup. Bagian isi dari sebuah buku yang baik adalah terdapat bab. daftar paragraf. Survai juga digunakan untuk mengetahui mutu buku. Bagian akhir dari sebuah buku yang bermutu meliputi simpulan. Bagian awal dari sebuah buku yang lengkap terdiri atas halaman judul. bagan. Buku yang bermutu baik akan mengandung bagian-bagian buku yang lengkap. diagram. dan indeks. Bagian akhir buku yang disurvai meliputi simpulan. mutu buku. dan sari. dan paragraf (bila ada). grafik. Bagian-bagian buku yang disurvai dibaca dengan teknik baca layap (skimming. Tahap mensurvai buku diperlukan untuk tahap berikutnya. Jika jawabannya tidak. daftar isi.  Membaca Pemahaman 2-27 tiap bab. Anatomi buku merupakan bagian-bagian dari sebuah buku yang umumnya meliputi bagian pendahuluan. kata pengantar. sub-sub bab. subjudul. Jika tidak melakukan survai. Dalam waktu yang singkat pembaca sudah dapat mengetahui buku yang disurvai itu cocok atau tidak. pembaca tidak akan bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi buku. pembaca tidak perlu meneruskan ke tahap berikutnya. Cara mensurvai bagian-bagian tersebut adalah dengan membuka-buka bagian-bagian tersebut secara cepat dan menyeluruh dalam sekali pandang. Jika jawabannya ya. dan indeks (bila ada). mengandung informasiinformasi yang dibutuhkan atau tidak. pembaca akan meneruskan kegiatan membacanya pada tahap berikutnya. daftar pustaka. Tujuan dilakukannya survai adalah untuk mengetahui anatomi buku. daftar pustaka. isi. dan gambaran umum isi buku.

Pertanyaan-Pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pikiran pembaca pada bagian-bagian tertentu dari bacaan yang dibaca.2-28 Membaca Pemahaman   Questioin (bertanya) merupakan tahap kedua dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca menyusun pertanyaanpertanyaan. 2. 6. 2. Pembaca dikondisikan berpikir kritis atas bacaan yang . ada buku yang berjudul Membaca Efektif dan Efisien. 3. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pembaca untuk menemukan isi bacaan pada waktu pembaca melakukan tahap reading. Apakah yang dimaksud membaca yang efektif ? Apakah yang dimaksud membaca yang efisien? Apakah yang dimaksud membaca yang efektif dan efisien? Bagaimana caranya membaca efektif? Bagaimana caranya membaca efisien? Apa manfaat membaca efektif dan efisien? Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat atau dihafal. 4. 1. 1. 5. Manfaat melakukan question bagi pembaca sebelum membaca adalah sebagai berikut. Kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah berikut ini. Umumnya. pertanyaan-pertanyaan itu dicatat supaya pembaca tidak lupa dan tidak membebani pembaca untuk selalu mengingat-ingat pertanyaan sehingga dapat mengganggu konsentrasi pada waktu membaca. Pertanyaan dibuat berdasarkan perkiraan-perkiraan pembaca sewaktu melakukan survai. Misalnya. 3. Sebaiknya. pertanyaan-pertanyaan menanyakan mengenai halhal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul karena keinginan atau hasrat pembaca untuk mengetahui mengenai sesuatu hal yang diperkirakan terdapat dalam bacaan. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan memotivasi pembaca untuk membaca dengan sungguh-sungguh karena sudah tahu target yang ingin dicapai.

Kecepatan baca disesuaikan dengan tujuan membaca dan bacaan. Pembaca biasanya membaca dengan teliti sambil mencari jawaban dari pertanyaan pada tahap question. yaitu membaca bab demi bab dan bagian demi bagian bab. pembaca boleh meragukan apa yang dikatakan penulis sambil mencari sumbersumber lainnya yang dapat meyakinkan pembaca atau bahkan pembaca tambah ragu atau tidak yakin tentang apa yang ditulis penulis. dan simpulan yang dibuat penulis. pembaca melakukan kegiatan membaca secara menyeluruh. dan bagian bacaan yang mudah dibaca . Reading (membaca) merupakan tahap ketiga dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk membaca bacaan. Pembaca tidak hanya menerima informasi yang disampaikan penulis. Jika diperlukan. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dari metode ini. Bagian bacaan yang sukar akan dibaca dengan lambat. bagian bacaan yang sedang dibaca kecepatan sedang. pembaca bisa membuat catatan tentang hal-hal yang penting yang telah ditemukannya atau pembaca cukup berupa menggarisbawahi hal-hal yang penting pada buku. Pada tahap ini.  Membaca Pemahaman 2-29 dibaca. Untuk memperlancar proses membaca. pembaca memfokuskan pada kata-kata kunci. Kedua tahap sesudahnya (recite end review) merupakan tindak lanjut dari tahap ini. Dalam membaca. Kecepatan baca bidang cepat jika yang ingin diperoleh hanya hal-hal tertentu saja atau hal-hal yang penting dan kecepatan baca lambat (diperlambat) jika yang diinginkan adalah mengetahui semua isi yang ada pada bacaan. pikiran-pikiran pokok yang terdapat dalam bacaan. Tahap sebelumnya (survai end question) dipersiapkan untuk melakukan tahap ini. Jika belum yakin. Apa yang telah dirintis pada kedua tahap sebelumnya akan direalisasikan pada tahap reading. pembaca tidak harus melakukan kecepatan baca yang sama.

Model membaca yang cocok untuk membaca secara fleksibel adalah model membaca campuran. Membaca ekstensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami informasi-informasi yang penting atau pokok yang terdapat pada bacaan dengan cara membaca secara sepintas. Dengan cara seperti itu. Pertama. gaya membaca bawah atas untuk membaca bacaan yang sulit atau belum dikenal. teknik close reading dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitan bacaan tinggi atau sedang. yaitu membaca intensif dan ekstensif. pembaca harus pandai memilih model membaca yang diterapkan. gaya membaca atas bawah untuk membaca bacaan yang mudah atau sedang. Dari dua jenis membaca itu. Kedua. Menurut Tarigan (1990:12). Keberagaman pilihan teknik membaca dapat dibaca pada bab IV. membaca buku termasuk di dalam membaca intensif. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa kesulitan bagianbagian bacaan tidak sama. pembaca buku termasuk di dalam jenis membaca dalam hati. dengan cara membaca secara teliti. teknik membaca yang digunakan. Teknik skimming dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitannya mudah. . Model membaca ini menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan cara yang tidak sama pada setiap bagian bacaan. Kedua gaya diterapkan bersama-sama pada waktu membaca. Pilihan teknik membaca juga didasarkan atas tingkat kesulitan bagian-bagian bacaan. Dengan fleksibilitas baca. dan jenis membaca yang dipraktekkan. baik yang paling atau pokok maupun yang detail.2-30 Membaca Pemahaman   dengan kecepatan yang tinggi. Membaca dalam hati dapat diklasifikasi menjadi dua. Membaca intensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami semua informasi yang ada dalam bacaan. Gaya (model) yang ditawarkan ada dua. pembaca melakukan membaca secara fleksibel.

Pembaca dalam menceritakan kembali harus sudah hafal mengenai isi bacaan. kebiasaan. Pada tahap ini. Tingkat kesulitan dan panjang-pendeknya bacaan menjadi menjadi pertimbangan dalam melakukan recite. pembaca tidak boleh membuka-buka buku yang telah dibaca. Ada kemungkinan pembaca lupa tentang sesuatu hal yang akan diceritakan.  Membaca Pemahaman 2-31 Recite (menceritakan kembali) merupakan tahap keempat dari metode SQ3R yang berupa kegiatan membaca untuk menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri. Ada pembaca yag biasa menceritakan kembali isi bacaan setelah selesai semua bab dibaca. Bacaan yang pendek menceritakan kembalinya setelah selesai membaca semua. dan panjang pendeknya bacaan. Pertimbangan yang dijadikan dasar adalah kemahiran yang dimiliki pembaca. Bacaan yang sulit merecitenya setelah selesai membaca pada setiap subbab. tingkat kesulitan bacaan. bacaan yang sedang merecitenya setelah selesai membaca setiap bab. ada yang selesai tiap-tiap bab. Tahap ini dilakukan apabila pembaca sudah merasa yakin bahwa pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap question bisa dijawab dan dapat menceritakan dengan benar mengenai bacaan yang telah dibacanya. dan bacaan yang mudah mericetenya setelah selesai membaca semua bab. dan ada juga yang setelah selesai tiaptiap subbab. dan pembaca yang sudah mahir melakukan recite setelah selesai membaca semua bab. Recite menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca. Pembaca yang belum mahir lebih baik melakukan recite tiap subbab. Tahap ini dapat dilakukan per subbab. per bab atau setelah bacaan selesai dibaca. dan bacaan yang panjang setelah selesai per subbab. bacaan yang sedang setelah selesai per bab. . pembaca yang sudah cukup mahir disarankan merecite tiap bab. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca bagian yang terlupakan. Hal tersebut diperbolehkan supaya tidak mengganggu tahap berikutnya (review).

teratur. Review (meninjau kembali) merupakan tahap akhir dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami. misalnya sambil membaca atau sambil membuka-buka kembali halaman buku. pembaca yang belum berhasil adalah pembaca yang tidak dapat bercerita secara cermat. Membaca ulang merupakan kegiatan membaca untuk mengulang membaca bacaan yang telah dibaca secara teliti. dan rinci. Bagi pembaca. recite dilakukan secara tulis (tertulis). sedangkan meninjau ulang merupakan kegiatan untuk melihat-lihat bagian-bagian bacaan secara secepat kilat. 1. luas atau banyaknya informasi yang telah dicerna melalui kegiatan membaca. Menceritakan kembali isi bacaan (buku) tidak harus hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat pada tahap question. Ikhtisar dibuat berdasarkan rambu-rambu berikut ini. Pembaca yang telah berhasil adalah pembaca yang dapat bercerita secara cermat. bukan lisan. Recite tertulis dapat berupa ikhtisar. Ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata pembaca sendiri. Ikhtisar dibuat secara singkat. dan jelas yang mencakup butir-butir penting isi bacaan. keteraturan. 3. Pembaca dievaluasi seberapa jauh. Ikhtisar dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain. Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang. dan rinci. tetapi dapat dikembangkan.2-32 Membaca Pemahaman   Sebaiknya. teratur. dan kedalaman dalam menceritakan kembali isi buku. Bagian yang . Pembaca bisa saja menceritakan kembali hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh guru atau dosen waktu ujian dan ditanya teman-temannya sewaktu diskusi. Sebaliknya. 2. padat. (Harjasujana dan Mulyati 1997:212). Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatan. tahap ini merupakan tahap evaluasi.

perlu ditulis dalam kartu baca. Agar hasil baca dari metode SQ3R terpelihara dengan baik. dan penerbit. Pertama. diagram.  Membaca Pemahaman 2-33 ditinjau ulang misalnya judul. kritik dan saran yang bisa disampaikan untuk menyempurnakan buku yang dibaca. kutipan lengkap bagian informasi atau pernyataan yang dipandang penting dengan disertai keterangan sumber otentik (tahun terbit dan halaman). membaca akan . Nama lain kartu baca menurut Tampubolon (1990:173) adalah kartu rangkuman pokok bacaan studi. 2. tetapi pembaca juga merenungkan yang dan memikirkan penulis. Informasi-informasi yang didapat dari buku secara bertahap. ringkasan mengenai pokok-pokok penting isi bacaan dengan bahasa pembaca sendiri. Disamping itu. pembaca dilatih membaca secara sistematis. nama pengarang. Kedua. tempat terbit. dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada buku. 33arag atau judul bacaan. 3. tahun terbit. Meninjau kembali bacaan diperlukan untuk menyegarkan kembali ingatan atas informasi-informasi yang telah diperoleh pada waktu membaca. benar-tidaknya kelebihan dan informasi-informasi disampaikan kelemahan buku yang dibaca. subjudul. Kelima tahap dalam SQ3R dilaksanakan secara sistematis mulai dari survai sampai dengan review. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan metode SQ3R ada lima. review bermanfaat untuk mengecek barangkali ada hal-hal yang penting terlewati. 4. pembaca yang sudah mahir tidak sekedar merasa yakin telah menguasai semua isi yang ada dalam buku. Pada tahap ini. gambar. judul buku. Hal-hal yang dicatat dalam kartu baca adalah sebagai berikut: 1. Tahap ini berguna dalam membantu pembaca mengingat-ingat dan mengeluarkannya pada waktu ujian.

Jika buku itu tidak diperlukan. Buku yang dihadapi untuk dibaca adalah buku yang berjudul Membaca 2 karangan Harjasujana dan Mulyati. Pembaca akan mempercepat tempo bacanya jika membaca hal-hal yang sudah diketahui atau bacaannya mudah. pembaca melakukan serangkaian tahapan yaitu . tahap-tahap penggunaan. pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah buku yang dihadapinya sesuai dengan yang diperlukan atau tidak. Pengaturan tempo membaca tiap-tiap bagian bacaan tidak selalu harus sama. Pemahaman yang diperoleh akan tahan lama tersimpan di dalam otak karena diperoleh dengan menggunakan cara yang bertahap. Dari hasil survai tersebut pembaca dapat menentukan bahwa buku itu diperlukan sehingga pembaca melakukan tahap berikutnya. Jika buku tersebut diperlukan. Untuk mencapai tujuan.2-34 Membaca Pemahaman   memperoleh pemahaman yang komprehensif dan tahan lama. Keefektifan pembaca membaca membaca dapat dilihat secara dari efektif dan efisien. pembaca diberi kesempatan untuk membaca secara fleksibel. Buku tersebut disurvai pada daftar isi. pembaca akan beralih pada bacaan lain yang sesuai kebutuhannya. Contohnya adalah jika pembaca diberi tugas mencari pengertian metode SQ3R. Sub-sub bab pada bab VIII berjudul pengertian. Tujuan yang ingin dicapai dalam membaca buku dituangkan dalam bentuk pertanyaan. kegiatan tercapainya membaca sesuai dengan tujuan. Tempo baca akan diperlambat jika membaca halhal yang belum diketahuinya atau bacaannya sulit. pembaca akan meneruskan membacanya. Dalam daftar isi terdapat judul bab metode SQ3R pada bab VIII. tahap-tahap. dan manfaat menggunakan SQ3R. dan manfaat SQ3R. Ketiga. Semua bagian-bagian buku dibaca mulai dari halaman judul sampai daftar pustaka atau indeks. Pembaca dapat mengetahui hal tersebut setelah selesai melakukan survai. Kelima. Keempat.

Teknik Scanning Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas atau teknik baca tatap. 3. Prinsip membaca scanning adalah cepat menemukan informasi untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus pembaca. pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh atau memahami informasi atau fakta yang dicari. Pembaca tidak akan mengulang bacaan yang telah dibaca. tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Harjasujana dan Mulyati 1997:65 dan Tarigan 1994:31). Kedua paragraf dilakukan sekilas dan teliti. pembaca melaju dengan penuh keyakinan. Waktu baca dari sebuah buku dengan metode SQ3R 35paragrafap cepat. Teknik scanning terjadi dua proses. 1.  Membaca Pemahaman 2-35 reading. 4. Keefisien membaca dilihat dari sisi waktu yang dibutuhkan dalam membaca. Scanning merupakan teknik membaca sekilas cepat. . pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memperhatikan atau membaca bagian-bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari. Tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan informasi tertentu dan atau fakta khusus. Di samping itu. c. Dalam penggunaannya. 2. pembaca perlu memperhatikan hal-hal berikut ini. Setelah yang dicari ditemukan. Untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. yaitu proses mencari atau menemukan dan proses memperoleh informasi atau fakta. dan review sehingga tujuan baca akan bisa tercapai dengan baik. recide. Pembaca sudah mempunyai tahap-tahap yang pasti dan persiapan yang mantap untuk membaca sehingga akan mempercepat proses membaca buku.

Untuk itu. dan mencari entri pada indeks (Soedarso 2004: 90-96). 2. Jika ada. seorang penulis memerlukan sumber. 4. Pembaca menggerakkan matanya secara sistematis dan cepat. Pembaca disarankan mengetahui kata-kata kunci atau frasefrase kunci yang menjadi petunjuk. Pembaca dapat mempermudah atau mempercepat mencari lewat daftar-daftar isi dan atau indeks 5. 3. . pembaca lebih baik melihat gambar. 6. mencari nomor telefon. Dalam rangka menulis sebuah artikel. ilustrasi atau 36arag yang berhubungan dengan informasi atu fakta yang dicari. Yang dapat diterapkan adalah menemukan topik tertentu dan mencari entri pada indeks. makalah atau buku. Dalam menulis karya ilmiah semakin banyak sumber yang diacu dan sumbernya bermutu mempunyai nilai tersendiri karena salah satu paragraf dalam menilai sebuah tulisan ilmiah adalah dari sumber yang dipakai. Pembaca memperlambat kecepatan bacanya jika sudah menemukan informasi atau fakta yang dicari untuk meyakinkan kebenaran mengenai hal yang dicari. antara lain menemukan topik tertentu. tetapi sebanyak mungkin. Dalam kehidupan sehari-hari teknik scanning digunakan dengan tujuan. seperti anak panah yang langsung meluncur dari bagian tengah busur ke sasaran yang dituju oleh pemanah. dengan pola S atau zig-zag. Sumber yang diperlukan tidak hanya satu. menemukan kata di kamus. grafik.2-36 Membaca Pemahaman   1. memilih acara paragraf. Pembaca seyogyanya mengenai organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk menafsirkan letak informasi terentu atau fakta khusus.

Topik-topik tersebut dicari dari buku atau sumber yang lainnya. Indeks merupakan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan yang tersusun menurut abjad yang memuat informasi mengenai halaman. Karena tidak ada daftar isi. Pembaca membuka halaman yang ditemukan pada tahap 3. Apabila ditemukan paragraf yang dicari.  Membaca Pemahaman 2-37 penulis terlebih dahulu dituntut untuk mencari dan mempelajari paragraf-topik yang relevan dengan pembahasan yang akan dibuat. 3. Pembaca dituntut dapat mencarinya dan memperolehnya dengan cepat sehingga dapat mencari paragraftopik tersebut dari buku yang lain. Untuk mencarinya pembaca tidak perlu membaca semua bagian buku. Tahap yang dapat dilakukan dalam men-scan buku untuk menemukan paragraf tertentu adalah sebagai berikut: 1. Pembaca membuka halaman dari paragraf yang telah ditemukan dan men-scannya. kata atau istilah yang ada di dalam . Pembaca men-scan daftar isi untuk mencari paragraf tertentu. pembaca dapat juga men-scan daftar indeks. pembaca cukup men-scan halaman demi halaman. gambar. tetapi cukup men-scan (menemukan) melalaui daftar isi. pembaca berhenti pada halaman tersebut dan melakukan membaca secara biasa dengan tujuan memperoleh informasi. Topik yang dicari bisa saja terdapat pada beberapa bab. pembaca juga tidak perlu membaca semua bagian yang ada pada surat kabar. dan gambar. grafik. pembaca dapat men-scan halaman berikutnya atau pada surat kabar yang lain. bagan. paragraf-topik tertentu dapat dicari dari surat kabar. Untuk mencari paragraf. Pembaca yang mengenal surat kabar tersebut bisa lebih cepat dalam menemukan hal yang dicari karena ia sudah tahu kira-kira pada halaman berapa paragraftersebut dibahas. dan atau grafik. Selain dari buku. indeks. 2. Untuk melengkapi pencarian paragraf. Setelah itu. 4.

Cobalah cari melalui daftar isi. Pembaca harus mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk. dapat melakukan tahap-tahap berikut ini. 1. tidak semua buku terdapat indeks. ilustrasi. grafik. Apabila buku yang dibaca tidak memiliki indeks. Bukalah halaman yang memuat indeks. d. lambatkanlah kecepatan membaca untuk memahami kata atau istilah yang dicari. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu kata kuncinya adalah sensus. 1.2-38 Membaca Pemahaman   buku. Lihat juga gambar. Kenali organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk memperkirakan letak jawaban. Carilah istilah atau kata tersebut pada indeks dengan gerakan mata secara sistematis dan cepat. 3. paragraf yang berhubungan dengan kata yang dicari. Pola Vertikal Pola paragraf merupakan pola membaca dengan cara bola mata bergerak meluncur secara paragraf dari atas ke bawah. dan lain-lain. demografi. jumlah penduduk. 2. Indeks sangat berguna bagi pembaca pada waktu ingin mencari istilah dan uraiannya secara cepat. Namun. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan indeks atau mungkin penulis tidak tahu mengenai indeks. 2. 3. Untuk dapat mencari istilah atau kata pada indeks secara cepat pembaca dapat menggunakan teknik scanning dengan tahap-tahap sebagai berikut. pemukiman. Tentukanlah istilah atau kata yang ingin dicari dalam indeks. Indeks terdapat pada bagian akhir dari sebuah buku. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan . Setelah menemukannya. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman atau melewati batas pandang yang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira.

2. dan pola vertical (lihat 2.3 dan 2.  Membaca Pemahaman 2-39 bantuan telunjuk tangan kiri. question. Membaca Memindai Grafik Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Gambar 3 Pola Vertikal 3. grafik atau diagram. rumus atau hal yang dicari). seek.2. Pembaca menerapkan pola ini dengan cara pandangan mata diarahkan dari bagian atas ke bagian bawah secara cepat. dan reading (Depdikbud 2004:4-5). kecepatan secara otomatis diperlambat. definisi. Untuk dapat terampil memindai grafik. siswa dapat menggunakan model membaca atas bawah (lihat 2. Pada saat merasa ada hal-hal yang penting (kata kunci. Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca paragraf. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman berikutnya. Apabila digambarkan.1). kecepatan ditingkatkan beberapa kali. metode S2QR. gerak mata dengan pola paragraf adalah berikut ini. siswa kelas X dituntut untuk dapat merangkum seluruh isi informasi grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. kemudian apabila dirasa sudah dimengerti. sehingga pembaca . Metode tersebut digunakan apabila pembaca tidak memiliki tujuan khusus sewaktu membaca paragraf.4). Penerapak metode S2QR adalah berikut ini. grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai. teknik scanning.1.

Informasi apa saja yang ada dalam paragraf merupakan pertanyaan . question. Jika tidak ada tujuan khusus. Setelah informasi didapat yang perlu dilakukan adalah mencari informasi tambahan jika ada. Informasi tambahan berupa keterangan yang tidak mungkin dimasukkan di dalam paragraf. Setelah menemukannya pembaca langsung membaca pada bacaan yang lain. sehingga tidak perlu melakukan tahap S2QR. 3. Informasi yang ingin disampaikan secara rinci dalam bentuk paragraf umumnya berupa urutan tahun. Hal-hal pokok yang perlu disurvai adalah judul paragraf dan subjudul. Pembaca yang sedang studi membaca paragraf dengan tahap survai. 2. Manfaat mensurvai judul adalah untuk memahami pesan secara utuh dan menyeluruh. Hal yang dianggap perlu atau yang diinginkan biasanya adalah hal-hal yang bersifat menonjol. membaca paragraf biasanya bertujuan untuk mencari informasi yang tertuang dalam paragraf. sehingga ia tidak merasa perlu mencermati seluruh paparan yang ada pada paragraf. dan angka-angka. seek. persentase. misalnya sumber data paragraf.2-40 Membaca Pemahaman   dapat membaca secara cermat dan menyeluruh. Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam paragraf. Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada di luar kolom paragraf. Pembaca langsung mencari hal-hal yang diinginkan. Pembaca harus meresapi judul yang disurvai karena judul merupakan ringkasan yang padat tentang informasi yang disampaikan penulis dalam bentuk paragraf. Informasi tersebut bisa dicari pada bagian kolom dan baris pada paragraf. dan reading. Pembaca yang tidak sedang studi membaca paragraf untuk tujuan khusus. 1. Question adalah kegiatan pembaca membuat pertanyaan tentang isi paragraf atau tujuan membaca paragraf.

Walaupun demikian. misalnya. pembaca harus melakukan tahap reading. pembaca tidak hanya terpancang pada menemukan jawaban-jawaban tersebut. 4. Reading adalah kegiatan membaca paragraf secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari. Berapa angka tertinggi? Kelompok mana yang paling baik? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang lain bisa saja dibuat dengan cara mengubah judul menjadi pertanyaan. Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question. . Pembaca dalam kegiatanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan pada tahap 3.  Membaca Pemahaman 2-41 pokok tentang isi paragraf. Ia bisa saja menemukan informasiinformasi yang lainnya.

Deskripsi Penyajian model. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. 4. Indikator 1. metode. 3. 6. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca intensif. metode. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. menerapkan kiat B. dan teknik membaca. metode. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. D. 2. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca intensif. Uraian Materi 1. E. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Membaca Intensif Pemahaman Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. Menerapkan model membaca sewaktu membaca intensif. dan mampu menerapkan model. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca intensif.BAB III. MEMBACA INTENSIF A. 5. siswa kelas X dituntut untuk dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik . Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. dan teknik membaca serta penerapan model. C. metode.

Dalam membaca. sedangkan struktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peran sampingan (sekunder). Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. kiatnya adalah menggunakan model membaca bawah atas.  Membaca Pemahaman 2-43 sastra Melayu klasik dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik. Karena paragraf atau cara kerja berawal dan bergantung pada bacaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas. Apabila dibagankan model membaca bawah atas adalah berikut. pembaca melakukan penyandian kembali paragraf-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. . Model Membaca Bawah Atas Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau battom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan. Untuk dapat terampil membaca intensif seperti tuntutan di atas. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menganalisis unsur intrisik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. metode kalimat. dan teknik close reading. Pembaca bergantung sekali pada bacaan. paragraf membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas. Siswa kelas XII dituntut untuk dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. a.

Bacaan merangsang atau menstimulus mata. yaitu bacaan. pemahaman makna leksikal. Dekoding pada pembaca terjadi pada komunikasi tulis. yaitu : 1. hasil penyandian kembali dikirim ke otak untuk dipahami. tetapi juga pada proses menyimak. Berita-berita yang diterima pembaca mengandung informasi yang dibutuhkan atau dicarinya. tetapi juga penerjemahan paragraf grafis ke bentuk pemahaman (psikis). gramatikal. dan kalimat secara eksplisit. sedangkan paragraf pada menyimak terjadi pada komunikasi lisan. Pemahaman tersebut mencakup dua hal. Setelah itu. Dekoding merupakan proses pengubahan tanda-tanda grafis menjadi berita yang bermakna bagi pembaca. proses membaca diawali dari bawah.2-44 Membaca Pemahaman   Bagan 4 Model Membaca Bawah Atas Berdasarkan bagan 3. Membaca pada hakikatnya merupakan proses penerjemahan dan dekod. pemahaman maksud dan tujuan pengarang secara paragraf. . Dekoding tidak hanya terjadi pada proses membaca. Penerjemahan tidak hanya diartikan sebagai penerjemahan paragraf grafis ke bentuk lisan (fisik). 2. kemudian pembaca melakukan penyandian kembali 44paragraf-simbol tertulis.

pembaca perlu latihan yang serius dan terencana. Di samping itu. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat. mata lebih dapat leluasa bergerak secara cepat. Dengan demikian. Kata dan frase dipandang sebagai paragraf kalimat pembentuk ide. Pembaca akan lebih dapat menghemat waktu baca sebab paragraf tidak lagi berhenti pada satuan-satuan frase atau kata. Jika demikian. Untuk mencapai hal tersebut tidak mudah karena metode kalimat merupakan membaca yang kompleks. Pembaca hanya diperbolehkan mengadakan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. Sewaktu mengayunkan pandangan mata pembaca dituntut memahami bacaan kalimat yang dibaca. yaitu menerapkan beberapa kemahiran yang sudah didapat dalam latihan sebelumnya. yaitu mekanik dan konseptual. Untuk itu. Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. Pembaca mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya.  Membaca Pemahaman 2-45 b. Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat. pembaca mengayunkan matanya lebih jauh lagi paragraf membaca frase. . pembaca akan dapat menangkap makna kalimat dengan mudah dalam waktu yang paragraf singkat. tetapi pada setiap akhir kalimat. Latihan membaca dengan metode ini dapat dibagi menjadi dua. Metode Kalimat Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang ada dalam bacaan.

Untuk mencapai kemahiran itu. Mata lebih didorong untuk melakukan lompatan yang jauh dan mata didorong untuk mempunyai pandangan yang lebar. tetapi . dan dunia kerja. Keuntungan membaca kalimat secara mekanik ada tiga. Anda adalah pribadi khusus. pembaca perlu berlatih secara kontinyu. Kedua. Dibandingkan dengan membaca frase. Pembaca dikondisikan dapat membaca kalimat demi kalimat. Membaca kalimat lebih cepat 3 atau 4 kali membaca frase. sulit rasanya kemahiran dapat dicapai karena membacanya semakin rumit. memasuki dunia sekolah. Pertama. pembaca melakukan hentian bisa mencapai kurang lebih 12 sampai dengan 20 kali pada setiap pparagrafafnya. Apabila diperhatikan dalam satu paragraf mata hanya bergerak atau melompat beberapa kali saja (4 sampai 5 kali). Kesulitan komunikasi selagi mereka mulai ke luar dari keluarga. Ketiga. pembaca lebih cepat selesai dalam membaca dibandingkan membaca frase. mata tidak mudah lelah karena mata tidak sering melakukan lompatan-lompatan.2-46 Membaca Pemahaman   (1) Metode Kalimat secara Mekanik Secara mekanik. sekali pandang mata sudah dapat memandang satu kalimat. pembaca melakukan lompatan pandangan mata dari kalimat ke kalimat berikutnya. dilihat dari cara kerja mata. dan tekun. Serta merta. Latihan membaca kalimat secara mekanik dapat dilakukan dengan bacaan berikut ini. Hentian sementara dilakukan lebih jauh dibandingkan pada membaca frase. Bacaan 4 Pentingnya Komunikasi Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan. teratur. Tanpa latihan seperti itu. dalam wawancara pekerjaan Anda harus tampil sebagai orang pribadi sekaligus sebagai komoditi.

Namun.  Membaca Pemahaman 2-47 Anda sedang mencoba menjual keterampilan. 6. 1. Anda sebagai calon karyawan menjadi sungguh-sungguh sadar akan pentingnya keterampilan komunikasi dasar dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. 5. Tahap-tahap berikut ini dapat digunakan sebagai paragraf dalam latihan membaca bacaan di atas. !) sebagai tanda batas antarkalimat. Keterampilan Anda kepada seseorang yang membutuhkannya. Dalam tatap muka dengan manajer personalia. 4. Ayunkan pandangan mata beralih ke kalimat berikutnya secara perlahan-lahan. pendidikan. Betapa pun wawancara pekerjaan itu bisa dijadikan contoh pentingnya komunikasi dalam bisnis. Tataplah bacaan di atas dengan pandangan yang lebar. . (2) Metode Kalimat secara Konseptual Secara konseptual. Cara memahami metode frase digunakan sebagai dasar dalam . 3. Ulangilah latihan sampai empat atau lima kali sambil meningkatkan kecepatan gerak mata. ? . paragraf. Mulailah pandangan mata terfokus pada kalimat pertama. dan profesi. yaitu sekali pandang semua bacaan terlihat. pemerintahan. Berlatih pada hari-hari berikutnya sampai Anda mempunyai kemahiran membaca kalimat demi kalimat secara mekanik. membaca melakukan usaha untuk memahami atau menafsirkan makna yang terkandung dalam masingmasing kalimat dan merangkaikannya menjadi makna yang utuh. setiap situasi kerja menuntut berbagai kemampuan berbicara yang luwes. 2. atau perintah (. Mata tidak boleh berhenti sebelum kalimat selesai atau Anda boleh berhenti pada tanda titik atau 47arag.

dan lain-lain. 1. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terkait oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. Masalahnya. guru bidang studi apapun. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia.2-48 Membaca Pemahaman   melakukan latihan ini. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. buku ilmiah. tuntutan memilihkan bahan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. Dalam kenyatan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. majalah. paragraf-pamplet. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk dikonsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan paragraf kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Alternatif latihan metode kalimat secara konseptual pada bacaan tersebut adalah sebagai berikut. Tetaplah bacaan itu dengan sekali pandang. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macan bahan ajar yang ada. Untuk pengajaran membaca. . surat kabar. Pembaca dapat melakukan latihan membaca secara konseptual dengan bacaan berikut ini. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. Bacaan 5 Bahan Ajar Membaca Sebagai seorang guru.

Teknik Close Reading Close reading (membaca teliti atau membaca cermat) adalah teknik membaca yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan (Tarigan 1994:33). hubungan ide-ide bawahan dan ide-ide utama. pembaca mengenal. yaitu: 1. Pembaca memahami organisasi. 3. tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi (paragraf) atau makna dibalik baris-baris. Menurut Farr dan Roser (1979:359) yang dapat dilakukan oleh pembaca dengan menggunakan teknik ini ada dua. 2. Ulangilah latihan ini 2 atau 3 kali sambil meningkatkan daya pemahaman terhadap bacaan. Pembaca hanya menangkap informasi-informasi yang terletak secara jelas dalam bacaan.  Membaca Pemahaman 2-49 2. Informasi secara eksplisit terdapat dalam baris-baris. Ciri-ciri pembaca yang menggunakan teknik close reading adalah sebagai berikut: 1. Pembaca tinggal menangkap maknamakna tersebut. c. 2. Pembaca hanya menerima (memahami) apa yang ada pada tulisan. Dengan teknik ini. Pembaca merangkaikan informasi yang baru diperoleh ke dalam suatu kerangka yang telah ada. Pembaca hanya memahami makna secara tersurat. menangkap. 4. . Pahamilah kalimat demi kalimat secara perlahan-lahan. dan memahami informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan secara tersurat (eksplisit). Berlatihlah pada hari-hari berikutnya sampai mahir. Pembaca tidak diperbolehkan memahami frase demi frase. Pembaca menerapkan keterampilan pemahaman pada tingkat yang rendah (dasar). Nurhadi (2004:57) paragraf nama membaca literal. 3.

1. pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut ini. tentang hal yang ada pada bacaan. Tujuan khusus meliputi: 1. 3. Pembaca harus sudah mempunyai keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membaca dengan teknik close reading. yaitu tentang siapa. 5. menemukan urutan atau susunan organisasi cerita yang ada dalam bacaan. Agar dapat berhasil dalam menggunakan teknik ini. memperoleh informasi (ide) lain atau tambahan yang ada dalam bacaan. Teknik ini perlu dilatihkan terutama untuk pembaca yang sedang belajar karena teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk membaca telaah atau membaca studi. memperoleh ide-ide pokok yang ada pada bacaan. di mana. 4. 2. Tujuan yang diinginkan oleh pembaca pada umumnya adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan.2-50 Membaca Pemahaman   4. Tujuan yang lain selain tujuan umum adalah tujuan khusus. Pembaca hanya mengingat-ingat informasi yang ada dalam bacaan. Dengan teknik ini. Pembaca mempunyai tujuan dalam membaca yang dirancang sebelum melakukan kegiatan membaca. Pembaca membaca bacaan yang mengandung informasi-informasi yang diperlukan pelajar untuk . halhal yang diperoleh bersifat paragraf. 2. Pembaca tidak berpikir kritis dalam menerima informasi yang ada pada bacaan. Pembaca menerapkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca dengan teknik ini secara bertingkat sesuai tingkatan keterampilan yang dibutuhkan atau sesuai urutan keterampilan. menemukan rincian atas fakta-fakta yang terjadi dalam bacaan. 3. apa.

menyatakan kembali paragraf sebab akibat. Siswa kelas XI dituntut dapat membandingkan paragraf-paragraf dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan dengan hikayat. memahami makna kalimat. kapan.1). 11.  Membaca Pemahaman 2-51 memperoleh dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. metode. metode GPID. Menurutnya. Membaca Intensif Kritis Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. 5. dan teknik retensi. menangkap paragraf perbandingan. metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu. memahami makna kata. memahami makna frase. menangkap paragraf sebab akibat. 9. siapa. Teknik close reading melatihkan kemahiran pembaca dalam hal: 1. dan dimana.4. dan teknik yang dapat digunakan untuk membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. 2. 6. 12. menyatakan kembali paragraf perbandingan. memahami makna paragraf. siswa kelas X dituntut dapat menganalisis keterakaitan unsut paragraf suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari. menangkap paragraf urutan. 4. 10. . 7. a) Metode GPID Metode GPID diusulkan oleh Merrit. 3. Siswa kelas XII dituntut dapat menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode. menyatakan kembali paragraf urutan. . Model. 8. memahami (menjawab) apa. memahami makna paragraf detail. 2.

Sewaktu membaca pembaca sudah tahu hal-hal yang akan dicari dalam bacaan sehingga bisa membaca lebih efektif. Pada tahap ini. pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. apa yang ingin dicapai. 2. dan merumuskan maksud atau tujuan. Goall dapat dilakukan dengan cara membatasi perhatian. Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut. Pelaksanaan membaca sudah dengan teknik dan pola baca yang . Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. dimaksud atau apa tujuan membaca. Pembaca terlebih dahulu menentukan untuk apa ia membaca. Implementation adalah pelaksanaan membaca. dan penyusunan pola membaca. dan development (Yap 1978:114115). perincian maksud yang lebih khusus. Goall adalah apa yang diharapkan. kendala. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca. dan rencanarencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk paragraf tanda atau catatan). Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut. Plans dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan maksud pilihan bagian-bagian yang dibaca. plans. Dengan cara seperti itu. latar belakang. Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan. Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan. pembaca akan termotivasi untuk melakukan kegiatan membaca sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya yang maksimal. bagian-bagian yang akan dibaca. implementation. Hal tersebut berguna sebagai pedoman apa yang dilakukan selanjutnya. memusatkan perhatian. 3. Pembaca sudah mempunyai arah yang jelas. 1.2-52 Membaca Pemahaman   paragraph. dan apa manfaat membaca.

. Jika sudah berarti rencana telah berjalan dengan baik dan jika belum berarti rencana belum berjalan dengan baik. Dalam mengevaluasi rencana. Jika sudah berhasil. berarti kegiatan membaca telah berhasil. dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai. berarti kegiatan membaca belum berhasil. tahap plans. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kegiatan baca secara keseluruhan.Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah tercapai. Ia juga tidak akan membaca hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tujuan membaca. Pembaca mengevaluasi dengan cara mengecek apakah informasi yang diinginkan pada tahap paragraph sudah didapat. Pembaca tidak lagi membaca tanpa arah dan tanpa tujuan. Setelah dinilai secara keseluruhan. dapat ditarik simpulan apakah kegiatan baca berhasil atau tidak. pembaca mengecek apakah ia telah melakukan kegiatan membaca sesuai rencana. Jika sudah. Hal tersebut bergantung pada di mana letak ketidakbehasilan dalam membaca: apakah pada tahap paragraph.  Membaca Pemahaman 2-53 direncanakan sehingga pembaca tidak akan membuang-buang waktu dan tidak akan kehilangan pemahaman yang sudah direncanakan. pembaca bisa menghentikan kegiatan bacanya atau membaca bacaan yang lainnya. Jika tidak berhasil. 4. apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncanakan. Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan. pembaca disarankan melakukan kegiatan membaca lagi atau pembaca dapat mengubah tujuan (rencana) baca yang telah disusun. Jika belum. ataukah pada tahap implementation.

diskusi.2-54 Membaca Pemahaman   b) Teknik Retensi Sesudah informasi atau isi yang ada dalam bacaan dihafal. yaitu repetesi. pembaca yang tidak dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes kesulitan mengingat kembali apa yang telah dihafal atau bahkan lupa sama sekali tentang informasi yang telah dihafal. Kata retensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyimpanan. pembaca membaca bacaan. Teknik retensi dibuat untuk membantu pembaca untuk menyimpan ingatan tentang informasi yang ada dalam bacaan dan sewaktu dibutuhkan siap untuk dipanggil atau dimunculkan. Kemudian pembaca mendiskusikan tentang apa-apa yang telah dibacanya dengan temannya yang sudah membaca atau mengetahui . Misalnya. Teknik retensi ada lima. menggunakan informasi. yang perlu dikerjakan berikutnya oleh pembaca adalah menyimpan hafalan atau ingatan supaya sewaktu hafalan tersebut digunakan segera atau cepat muncul. Pembaca mengungkapkan pendapatnya mengenai sesuatu berdasarkan hasil membaca. Teknik tersebut dinamakan teknik retensi. Sebaliknya. dan tes (Wainwraught 2006: 5758). misalnya mengenai emansipasi wanita. Hal tersebut bisa dilakukan dengan dua teknik. menulis informasi. Pertama. Untuk membantu pembaca menyimpan hafalan dengan baik diperlukan teknik membaca secara khusus. Seorang pembaca yang dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes segera dapat ingat kembali tentang apa-apa yang telah diingatnya. Teknik diskusi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan oleh pembaca dengan bertukar pikiran kepada orang lain tentang informasi yang telah diperolehnya dari bacaan. Yang diterapkan adalah diskusi dan menggunakan informasi. pembaca ditanya sewaktu ujian tentang hal-hal yang telah dibacanya (menceritakan kembali isi bacaan atau menjawab mengenai informasi yang ada dalam bacaan).

Misalnya. Setelah berkali-kali digunakan. Dalam berdiskusi. jika pendapat pembaca tidak benar. Untuk memperkuat retensi bisa juga dilakukan atau dipraktekkan secara terus. Misalnya. kemudian pada suatu kesempatan (lain waktu). Kedua. Apabila dalam berdiskusi pendapatnya benar atau orang lain setuju maka akan memperkuat retensi. Salah satu caranya adalah dengan mempraktekkan resep masakan padang dari buku resep masakan. penjaja paragraf menelepon dengan tanpa membaca karena sudah hafal. Tiap hari si penjaja paragraf selalu menelepon agen tersebut untuk pesan paragraf.  Membaca Pemahaman 2-55 tentang hal tersebut. Teknik menggunakan informasi merupakan teknik retensi yang dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh dari bacaan. dalam situasi apa pun informasi itu akan digunakan selalu cepat teringat atau muncul. Untuk kali pertama. penjaja paragraf menelepon agen itu dengan membaca nomor telepon. Biasanya teknik ini dilakukan pada waktu pembaca sedang studi. kurang lengkap atau orang lain menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh pembaca. si ibu tersebut berusaha dapat memasak masakan padang. pembaca dapat menambah informasi yang telah didapat dengan menyesuaikan atau memodifikasi ingatan yang telah diperoleh dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. Sebaliknya. nomor telepon agen surat kabar. informasi tersebut tidak akan hilang bahkan akan selalu setia dalam ingatan. pembaca membaca sebuah bacaan (misalnya tentang bencana alam). . Untuk menyenangkan suaminya. Kapan pun. teknik diskusi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. seorang ibu yang mempunyai suami dari Padang yang suka masakan padang. pembaca menggunakan informasi yang telah didapat. Jadi.menerus. Jika sebuah informasi yang didapat selalu digunakan. pembaca berdiskusi dengan orang lain tentang sesuatu hal yang telah dibaca.

4. metode. e) Membaca Intensif Buku Biografi Dalam standar isi pada kurikulum 2006. si ibu memasak sambil membaca. Siswa kelas XII dapat menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi.5. d) Membaca Intensif Artikel Dalam standar isi pada kurikulum 2006. metode. siswa kelas XI dituntut untuk membedakan fakta dan opini pada editoral dengan membaca intensif dan siswa kelas XII dituntut untuk menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif. Setelah dilakukan berulang-ulang.2) dan PQRST. metode. dan teknik retensi (lihat 2. metode pparagrafaf (lihat 2.5.4. .2 dan 2. Untuk memenuhi tuntutan tersebut model. c) Membaca Intensif Pparagrafaf Dalam standar isi pada kurikulum 206. dan teknik retensi (lihat 2. si ibu itu sudah tidak perlu membaca lagi karena sudah hafal. sisiwa kelas X dituntut dapat menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif. dan teknik yang dipilih untuk digunakan adalah model membaca bawah atas (lihat 2.2-56 Membaca Pemahaman   Awal mula.1.1).2).4. Model. metode kalimat (lihat 2. metode kalimat dan atau paragraf (lihat2. Model.3). deduksi dengan membaca intensif.3).4. dan teknik yang dapat dipilih adalah model membaca bawah atas (lihat 2.4.2). sisiwa dituntut untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam buku biografi.1). dan teknik yang dapat dipilih untuk digunakan dalam membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2.1. dan teknik.1).

Hal-hal yang ditulis dalam kegiatan meringkas adalah informasi-informasi yang telah diperoleh sesuai dengan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question dan tujuan lain yang ingin diringkas. Tahap preview. Ringkasan bersinonim dengan ikhtisar. dan read pada metode SQ3R. paragraph. Pembuatan ringkasan bisa saja dibuat per subbab jika memang menurut pembaca lebih baik seperti itu atau ada kekawatiran kalau satu bab tidak bisa membuatnya karena sudah lupa. question. Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya. question. Walaupun bersinonim.  Membaca Pemahaman 2-57 (a) Metode PQRST PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. question. Yang tidak bersinonim adalah tahap paragraph dan tes. Nurhadi (2005:131) menerjemahkan paragraph menjadi ringkasan. kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan. . yaitu dalam hal tahap-tahap yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai. dan tes (Widyamartaya 2004:63). read. sedangkan Willy (1996:198 dalam Tarigan 1994:35) mengartikan paragraph menjadi ikhtisar. yaitu preview. dan read pada metode ini bersinonim dengan tahap survai. Ringkasan dibuat oleh pembaca setelah selesai membaca satu bab dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh tidak hilang (lupa). Perbedaan tersebut dapat dilihat pada paragraf berikut ini.

Cara yang digunakan untuk menguji penguasaan isi buku ada empat. Pembaca memeriksa (menguji) rangkuman yang telah dibuatnya. Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada akhir sebuah bab atau akhir buku. 1. Apakah rangkuman itu sudah sesuai dengan isi bacaan atau belum dan sudah benarkah rangkuman yang dibuatnya. . 2.2-58 Membaca Pemahaman   Tabel Perbedaan Ringkasan dan Iktisar (Nurhadi 2004:138) Tes (uji periksa) merupakan tahap terakhir dari metode SQRST yang berwujud kegiatan pembaca untuk menguji seberapa banyak penguasaan terhadap buku yang telah dibaca.

Keempat cara tersebut bisa dipilih satu. tidak dapat menjawab pertanyaan. 4. Loci berasal dari bahasa latin yang berarti tempat-tempat. tiga atau empat cara sekaligus. kemudian menyusun urutan atau rute perjalanan untuk melakukan perjalanan dalam menelusuri tempat tersebut. Modifikasi dari teknik ini dalam membaca adalah mengingat-ingat bahan bacaan yang akan disampaikan oleh pembaca. Berdasarkan arti tersebut. Sebaliknya. Apakah pembaca dapat menceritakan isi bacaan atau tidak. Teknik ini telah digunakan sebagai teknik mengingat sejak tahun 500 SM. Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. pembaca akan dapat mengingat . Penerapan metode ini dikatakan berhasil jika pembaca dapat menceritakan kembali isi bacaan. Pembaca menceritakan kembali tentang isi bacaan yang telah diperoleh. dan atau membuat rangkuman sesuai dengan isi bacaan dari yang dibaca. Pembaca menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question. metode ini tidak berhasil diterapkan apabila pembaca tidak dapat menceritakan kembali isi bacaan. pembaca membuat asosiasi antara pokok pikiran atau informasi pokok yang ingin diingat dengan suatu tempat yang dikenal. dua. Pada setiap tempat (bagian bangunan). Keberhasilan penggunaan SQRST dapat dilihat dari hasil tahap tes. dan atau membuat ringkasan sesuai dengan isi bacaan dari sebuah buku. Dengan cara seperti itu. (b) Teknik Loci Teknik loci merupakan teknik mengingat yang mula-mula digunakan untuk mengingat bahan pidato yang akan disampaikan. dapat menjawab pertanyaan.  Membaca Pemahaman 2-59 3. cara kerja pembaca adalah dengan membayangkan tempat atau bangunan yang telah dikenal.

Yang direpetisi tidaklah semua bagian bacaan. . kata kunci dan hal-hal lain yang dianggap penting. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat informasi yang telah dihafal sehingga mudah untuk diingat kembali. teknik ini dapat diterapkan pada tahap review. Dalam metode SQ3R. Pembaca juga tidak membaca dengan cara yang sama sewaktu membaca bacaan kali pertama. yaitu bagian yang perlu dihafal lagi. kejadian. Pada tahap review pembaca hanya membolik-balik halaman yang telah dibaca secara cepat. Salah satu tujuan mereview adalah untuk memperkuat ingatan. Teknik ini dapat digunakan oleh pembaca dalam membaca bacaan sastra. Dalam bacaan sastra digunakan untuk mengingat nama-nama tempat kejadian dengan cara mengasosiasikan tempat-tempat dalam cerita dengan tempattempat yang telah dikenal. tetapi bagian tertentu atau hal tertentu saja.2-60 Membaca Pemahaman   pokok-pokok pikiran bacaan dalam urutan tempat atau kejadian yang benar. Bagian bacaan yang tidak perlu (sudah dihafal) dilewati dan bagian bacaan yang ingin diretensi dibaca secara sepintas. berita. informasi penting. Pembaca dapat membaca dengan kecepatan yang tinggi. dan proses. Membaca bacaan berita dapat menggunakan teknik ini dengan mengasosiasikan isi berita dengan tempat yang sesuai dengan berita yang yang dibaca. Bacaan yang isinya tentang prosa juga dapat digunakan dengan teknik ini dengan mengasosiasikan prosa yang dibaca dengan tempat-tempat yang telah dikenal. (c) Teknik Repetisi Teknik repetisi merupakan jenis teknik yang digunakan pembaca dengan mengulang bacaan yang sudah dibaca. dibaca Pembaca dengan mengasosiasikan kejadian-kejadian mengurutkan tempat kejadian yang telah dikenal atau dialami oleh pembaca.

pembaca melakukan teknik ini dengan meringkas atau merangkumnya. yaitu yang mengetes adalah pembaca. pembaca bisa mengulang membaca bacaan dengan cara yang sesuai dan tepat sampai pembaca ingat kembali. yaitu informal dan formal. Sewaktu mau menghubungi nomor tersebut. Jika ada informasi yang terlupakan. Misalnya. pembaca mengingat informasi tentang nomor telepon UNNES di buku telepon atau di surat kabar. pembaca dituntut mencari dan menyimpan informasi dengan baik. Informasi-informasi yang telah diperoleh dari membaca diringkas di dalam bentuk catatan. Pembaca menutup . (e) Teknik Tes Teknik tes merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mengecek (mengetes) informasi-informasi yang telah dihafal pembaca. Dengan mencatat. bukan orang lain. Pembaca dituntut mengingat apa-apa yang telah dibaca. Jika yang dibaca merupakan sebuah bacaan. Menulis informasi yang telah diterima bisa memperkuat ingatan dan memudahkan untuk mengingat kembali (memanggil kembali) informasi yang telah diingat sewaktu dibutuhkan. Teknik tes dapat dilaksanakan dengan dua jenis. Untuk mengatasinya pembaca membaca lagi sambil mencatat nomor itu. Tes informal dilakukan oleh pembaca sendiri. Teknik tes digunakan untuk memastikan apakah informasi yang telah diperoleh dapat diingat kembali. pembaca akan terbantu untuk mengingat kembali nomor itu sehingga sewaktu menghubungi tidak lupa lagi. pembaca sudah lupa. Hal-hal yang diringkas adalah informasi yang penting atau yang dibutuhkan oleh pembaca. Dengan adanya tes.  Membaca Pemahaman 2-61 (d) Teknik Menulis Informasi Teknik menulis informasi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mencatat informasi yang telah didapat dari kegiatan membaca.

dan umpan balik (Wainwright 2006: 55-57) Kita akan terbantu mengingat sesuatu jika informasi tersebut memiliki arti tertentu bagi kita. asosiasi. atensi. Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengetes pemahaman prosedur. Jika sudah ingat semua. pembaca disarankan membuka lagi bagian bacaan yang dilupakan. minat. Teknik tes formal dilakukan berdasarkan permintaan atau perintah orang lain.2-62 Membaca Pemahaman   bacaan. Oleh karena itu. Pembaca bercerita dalam hati. siswa disuruh menceritakan kembali berita yang telah dibaca atau menjawab pertanyaan tentang isi berita tersebut. Teknik ini umumnya dilakukan dalam pembelajaran. Teknik tes informal relevan dengan tahap recite dalam metode SQ3R. pembaca dapat menghentikan kegiatan membacanya atau membaca bagian lainnya. visualisasi. pertama-tama kita harus tahu benar arti informasi tersebut bagi kita dan bagaimana kita akan memanfaatkannya. Misalnya. seorang guru menyuruh siswa membaca pemahaman sebuah bacaan berita di surat kabar. Informasi itu harus memiliki relevansi. kemudian mengingat-ingat kembali informasi-informasi yang telah didapat. Yang diceritakan adalah hal-hal yang penting atau pokok. retensi dapat diperkuat dengan memilih bacaan yang memiliki arti. kita mengingat begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat yang bisa digunakan untuk bermain tebak-tebakan di pub atau bermain Trival Pursuit. Memang. Tujuannya adalah apakah siswa dapat menguasai informasi-informasi dari bacaan berita yang telah dibaca atau belum. organisasi. Pembaca dites untuk menceritakan kembali bacaan yang telah dibaca. Setelah itu. siswa adalah close . namun sebenarnya kita lebih banyak mengingat informasi yang berguna. Disamping dengan kelima teknik ini. Jika ada yang lupa. Apakah ia bisa ingat atau tidak.

Selanjutnya. Setelah mengelompokkan pokok-pokok pikiran yang serupa ke dalam peta pikiran. Keadilan sering kali divisualisasikan sebagai timbangan. Kemudian barang kebutuhan mereka disusun untuk menimbulkan asosiasi dengan area-area tersebut. Dengan demikian. Jika pola ini tidak mudah dikenali. . Konsep-konsep abstrak pun bisa kita visualisasikan. Mereka mengetahui tata letak pasar swalayan di daerah mereka dan memisah-misahkannya menjadi beberapa area. Kita harus mencari asosiasi yang mudah diingat sehubungan dengan apa yang ingin kita ingat dan apa yang sudah kita ingat. Jika kita dapat melihat hal-hal tersebut dalam mata pikiran kita kemudian menambahi informasi tersebut dengan serangkaian gambar. karena penulis suka menyajikan gagasan-gagasan dengan cara yang logis dan teratur. pola semacam ini mudah dikenal. tindakan ini akan memperkuat kesan yang ditimbulkan informasi tersebut.  Membaca Pemahaman 2-63 Informasi lebih mudah diingat jika memiliki pola organisasi. Jika paragraf itu mengubah tata letaknya. Banyak orang yang mengingat daftar belanjaan dengan cara seperti ini. Visualisasi membantu kita mengingat berbagai hal. Demokrasi bisa kita visualisasikan sebagai kertas suara yang dimasukkan ke dalam kotak suara. selanjutnya kita hanya perlu mencari urutan yang sesuai untuk kita. Pemetaan pikiran bisa dimanfaatkan sebagai tahap penghubung antara materi bacaan yang disajikan serampangan dan rencana yang terperinci. Sering kali. asosiasi-asosiasi tersebut bisa kita hubungkan untuk menghasilkan suatu pola. kita harus mencari cara untuk mengorganisasinya sendiri. proses tersebut diulangi lagi agar sesuai dengan pola yang baru. mereka menghasilkan pola berupa sejenis pera rute dalam paragraf yang mempersempit kemungkinan mereka kembali ke area yang sama lebih dari sekali dalam setiap kunjungan. yaitu suatu sruktur.

saat Anda harus memberhentikan sesuatu dan berkonsentrasi. meskipun tidak sampai membuat kita mengerutkan dahi yang hanya akan membuat kening kita sakit. F. Cara termudah untuk mengatasi hal ini adalah. pilihlah waktu dan tempat yang menurut pengalaman bisa mempermudah Anda melakukannya. Umpan balik sangatlah penting. Kita perlu mengecek apakah kita benar-benar mengingat apa yang ingin kita ingat. Kita akan berusaha untuk mengingatnya. didukung kondisi yang paragraf tenang. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. Anda bisa terbantu jika memiliki tingkat minat yang tinggi terhadap suatu subjek serta punya motivasi yang kuat untuk mengingatnya. kita bisa mendapatkan umpan balik yang sangat penting ini. Dengan motivasi. manfaatkanlah semaksimal mungkin. Walaupun tidak seallu berhasil. Rangkuman Membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). paragraf-topik yang tidak menarik pun bisa menjadi lebih mudah diingat. Dengan penghafal. Jangan lupa untuk mengeceknya kembali agar tidak ada informasi penting yang tertinggal. ketika anda dimungkinkan melakukannya. Berdasarkan cakupan bahan bacaan . Sebagian besar orang menganggap pagi hari lebih efektif dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi. Perpustakaan atau ruang wawancara tanpa jendela biasanya merupakan lokasi siap pakai yang dapat Anda manfaatkan. Retensi yang efektif membutuhkan konsentrasi. Tentukan paragraf yang jelas mengapa Anda harus mengingat sesuatu.2-64 Membaca Pemahaman   Sering kali kita tidak bisa mengingat sesuatu karena kita kurang paragraf perhatian.

pparagrafaf. Model membaca timbal balik. Untuk dapat membaca intensif dan ekstensif secara efektif dan efisien. 6. dan teknik yang sesuai dengan keperluan. teknik retensi digunakan untuk membaca paragraf. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. Model membaca bawah atas. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai grafik. teknik close reading digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra.  Membaca Pemahaman 2-65 yang dibaca. teknik loci dan retensi digunakan untuk membaca buku biografi. Kiat membaca yang digunakan untuk membaca ekstentif dan intensif di SMA adalah berikut ini. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. metode. Model membaca bawah atas. 1. dan memindai grafik. 2. 7. Model membaca bawah atas. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. Berdasarkan kurikulum 2006. metode kalimat. Model membaca bawah atas. metode S2QR. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . dan teknik skimming pola blok dan horizontal digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra. memindai buku. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading). dan teknik retensi digunakan untuk membaca artikel. artikel. Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai buku. dan teknik retensi digunakan untuk membaca kritis teks sastra. 4. Model membaca bawah atas. 5. kritis teks sastra. Model membaca atas bawah. metode kalimat. dan buku biografi. metode SQ3R. metode GPID. . metode kalimat dan paragraf. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. metode paragraf dan PQRST. 3. 8. metode paragraf dan P2R. yaitu ektensif dan intensif. Model membaca atas bawah.

Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai buku? menerapkannya! 3. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca kritis teks sastra? menerapkannya! 6. Model . Model .2-66 Membaca Pemahaman   G. digunakan untuk dan teknik membaca apakah yang dapat membaca pparagrafaf? Jelaskan cara menerapkannya! 7. LatihanSoal 1. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca buku biografi? menerapkannya! . Model . Model . metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca artikel? Jelaskan cara menerapkannya! 8. metode. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra? Jelaskan cara menerapkannya! 2. metode. Model . metode. Model . metode. metode. Model . metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai grafik? menerapkannya! 4. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra? cara menerapkannya! 5.

2001. Fry. Harras. Bandung : Angkasa Bandung. Yogyakarta: Kanisius. D. 1990. 2004. Speed Reading Better Recoding. Seni Membaca untuk Studi. Roger dan Nancy Roser. Widyamartoyo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gordon. Province: Rhode Island. Edward B. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Haryadi. Henry Guntur. Bandung : Angkasa Bandung. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Nurhadi. 1997. dan Lilis Sulistianingsih. Waingwright. Tarigan. Teaching a Child to Read. . 2004. A. Manfaatkan Teknik-teknik Teruji untuk Membaca lebih Cepat dan Mengingat secara Maksimal. Soedarso. Tampubolon. Membaca Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1990.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Metode. dan Teknik. Retorika Membaca: Model. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1998. Harjasujana. Ahkmad Slamet dan Yeti Mulyati. Nurhadi. 2005. Terjemahan Heru Sutrisno. Tarigan. Semarang: Rumah Indonesia. 2004. 1994. 2006. Membaca 2. Membaca 1. 2006. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien.P. Membaca : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Bandung. Ferr. New York: Harcourt Brace Javanovich. 1978. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Skimming and Scanning. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Kholid A. 1979. Membaca Cepat dan Efektif: Teori dan Latihan. 2006. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Standar Isi. Henry Guntur.

1978. . Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya.2-68 Membaca Pemahaman   Wiryodijoyo. Relc Journal. Sumaryono. No. Vol J. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. “Some Apects of Reading”. 1989. Athur. Yap. 2 (109-118).

BUKU AJAR MEMBACA PUISI .

Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. Pembaca puisi. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung.MEMBACA PUISI A. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Oleh karena itu. pada umumnya puisi bersifat lirik. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. Oleh karena itu. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Sebagai penghubung. Jadi. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya.

Jadi. Oleh karena itu. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung.3-2 Membaca Puisi MEMBACA PUISI A. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. pada umumnya puisi bersifat lirik. Sebagai penghubung. Oleh karena itu. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. Pembaca puisi. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi.

Karena deklamator tidak membawa teks maka aktivitas di panggung dititikberatkan pada gerak tubuh dan vokal. Istilah deklamasi lebih dulu dikenal masyarakat dibandingkan dengan istilah baca puisi. Sebab dalam praktiknya. Dengan demikian. Dalam bahasa aslinya baca puisi diartikan sebagai “membaca” puisi. Sebagai seni “audio-visual” seni baca puisi dituntut enak didengar dan enak dilihat. Namun. deklamasi dipahami sebagai penyampaian puisi yang menitikberatkan pada lepasnya teks ketika deklamator menyampaikan puisinya. sebenarnya secara substansial antara deklamasi dan baca puisi tidak berbeda. B. kedua istilah tersebut. Agar enak dilihat berarti “semua gerak yang dihasilkan oleh anggota tubuh” si pembaca puisi harus juga benar dan indah. meskipun . memang berasal dari bahasa yang berbeda. yaitu baca puisi dan deklamasi. Istilah baca puisi berasal dari bahasa Inggris. Seni baca puisi adalah seni “audio-visual” (Suharianto 2001:2).Membaca Puisi 3-3 pendengar atau penontonnya “memahami dan merasakan” apa yang dibacanya tersebut. Varian Baca Puisi 1. Istilah baca puisi merupakan terjemahan dari poetry reading (Amerika). yaitu ketika WS Rendra memperkenalkannya. Dalam seni baca puisi. Dengan kata lain. sedangkan istilah deklamasi berasal dari bahasa Belanda. Deklamasi Di Indonesia selain istilah seni baca puisi orang juga mengenal istilah deklamasi. Istilah baca puisi baru muncul sekitar tahun 1960-an (Suharianto 1981:52). seni baca puisi hakikatnya merupakan “seni tontonan”. sedangkan deklamasi diartikan sebagai “menyampaikan” puisi. Inilah yang menyebabkan orang “membedakan” antara baca puisi dan deklamasi. Dalam tradisi di Indonesia. pada praktiknya pembaca puisi “membawa” teks. Agar enak didengar berarti “semua yang dihasilkan oleh alat ucap” si pembaca harus benar dan indah.

Tanpa melihat teks pun upaya untuk menyampaikan dengan memahami sebuah teks sebenarnya dapat dikategorikan sebagai aktivitas membaca. jika puisi yang dibaca bernada sedih. Materi dasar seni baca puisi adalah puisi itu sendiri. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi merupakan upaya memusikkan puisi atau menggabungkan antara seni baca puisi dan seni musik. Berangkat dari konsep tersebut. misalnya. Tentu saja dalam hal ini pengertian membaca merupakan pengertian dalam arti luas. pembicaraan dalam buku ini. Jika nada puisi itu gembira. Yang dimaksud dengan penyertaan instrumen di sini. atau gabungan keduanya. . sebenarnya makna yang terkandung dalam konsep “membaca” tidak sesempit yang banyak diartikan orang. Musik. Jika dikaji lebih jauh. penyertaan musik (instrumen) dalam pembacaan puisi. baik yang berupa lagu maupun yang berupa instrumen merupakan satu kesatuan dengan puisi. bukan pengertian leksikal. Dengan demikian. Dalam pembacaan puisi yang diiringi musik. yakni melihat teks. dalam musikalisasi puisi. Musikalisasi berbeda dengan baca puisi yang diiringi musik.3-4 Membaca Puisi membawa teks. banyak juga pembaca puisi yang sebenarnya hafal puisi tersebut. Oleh karena itu. sedangkan materi dasar seni musik adalah lagu dan instrumen. keberadaan musik hanya sebagai pelengkap. kesan kesedihan itu dapat dimunculkan oleh musik. Namun. musikalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk memusikkan dan atau melagukan puisi. musik merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan. Wujud konkret musikalisasi puisi dapat berupa pembacaan puisi dengan cara dilagukan. yakni lepas teks dan membawa teks. Dengan demikian. 2. orang yang membedakan antara deklamasi dan baca puisi mendasarkan anggapannya pada “kebiasaan” pembawanya. antara baca puisi dan deklamasi dalam praktiknya tidak berbeda. baik mengenai konsep maupun dalam cara atau teknik penyampaian tidak dibedakan.

tetapi sudah kita “mainkan” sebagai seni teater. puisi hanya dibaca oleh satu orang atau dua orang secara bergantian. Dalam pengertian sempit. teater tergolong seni pertunjukan yang kompleks. Sinematisasi Puisi Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata sinema? Film? Tentu sebuah tontonan di layar yang gambarnya tidak diambil . Unsur yang paling menonjol dalam teater adalah unsur act atau gerak. keberadaan musik tidak sekadar menjadi pelengkap tetapi benar-benar menyatu dengan puisi untuk menampilkan suasana tertentu. dan seni rupa. Bedasarkan hakikat drama tersebut. Ciri khas drama adalah adanya dialog. teaterikalisasi puisi—meneaterkan puisi-pada dasarnya merupakan peng-gerak-an puisi. musik. Semua unsur seni tersebut melebur menjadi satu dalam teater. tidak sekadar kita dialogkan. Dalam kondisi demikian. Tidak ada drama yang tidak menyertakan dialog di dalamnya. 4. puisi diubah menjadi dialog. dan sebagainya. olah tubuh. jika semula puisi bersifat monolog. Istilah sederhananya adalah mendramakan puisi. Puisi dalam hal ini tidak sekadar kita baca. seni musik. dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai bentuk pendramaan puisi. 3. di dalamnya sudah ada unsur akting. Yang dimaksud dengan pendramaan puisi di sini adalah mendialogkan puisi. dengan pengubahan menjadi dramatisasi puisi. seni gerak. Teaterikalisasi Puisi Dibandingkan dengan seni yang lain. jika biasanya dalam seni baca puisi. Oleh karena itu. Dengan demikian. 5. dalam dramatisasi puisi diubah dalam bentuk dialog dengan menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakternya.Membaca Puisi 3-5 suasana kegembiraan dapat dihadirkan oleh musik. Dramatisasi Puisi Dramatisasi puisi merupakan penggabungan seni puisi dan seni drama. Dalam teater ada seni sastra. Dengan demikian.

Artinya. calon pendengar. Memilih Puisi Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. Persiapan Baca Puisi 1.3-6 Membaca Puisi secara langsung tetapi merupakan hasil pengeditan. Kita tentu pernah merasakan betapa “tidak enaknya” mendengar orang menyanyi tetapi lagu yang dipilihnya tidak sesuai dengan karakter suaranya. maka gangguan atau "kecelakaan" itu juga akan tampak. Kalau kita sebagai calon pembaca. Jika kita menonton pertunjukan teater atau pembacaan puisi. dan jika perlu ada pengulanagan pengambilan gambar. Dalam pengeditan itu. kita akan melihat proses permainan atau pembacaan itu berlangsung dari awal sampai akhir dengan plus minusnya. sehingga proses pengambilan gambar dan pengeditan juga dilakukan sebelum pementasan atau pertunjukan dilakukan. gambar ditampilkan setelah melalui proses pemilihan dan pengeditan. dengan demikian. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi. Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. dalam memilih . dan situasi pembacaan. Hal yang sama juga dapat terjadi pada pembacaan puisi. Dalam film. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pembaca. yaitu calon pembaca. Pembacaan puisi diformat dalam bentuk film atau sinema. Sinematisasi puisi berangkat dari konsep tersebut. bisa jadi ada gambar yang dihilangkan. jika dalam proses pementasan atau pembacaan itu terjadi gangguan atau "kecelakaan". C. Namun. hal seperti ini tentu saja tidak akan terjadi dalam sinema atau film karena proses pengambilan gambar dapat dilakukan kapan saja dan pengeditan gambar memungkinkan menghilangkan gangguan atau "kecelakaan" itu. ada gambar yang dibalik waktu pemunculannya.

Hal kedua yang harus diperhatikan adalah siapa calon pendengar. semakin tinggi pula kemampuan mencerna puisi. pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. Pendidikan akan menentukan tingkat kesulitan puisi yang harus kita baca. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi. tetapi bagi pendengar golongan kedua memandang pebacaan puisi “hanya” sebatas hiburan. misalnya. isi puisi dan panjang pendeknya puisi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan pendengar. Oleh karena itu. Secara umum pembaca dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. Agama juga berpengaruh pada pemilihan isi puisi. Semakin tinggi tingkat pendidikannya. menikmati pembacaan puisi tidak sekadar sebagai hiburan. Usia pendengar . sebagian besar pendengar “senang” mendengarkan pembacaan puisi kita. Tentu saja dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan mungkin bisa memuaskan seluruh pendengar. Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pendengar? Kita dapat menyebutkannya selengkap mungkin. akan semakin teliti kita dalam memilih puisi. Bagi pendengar golongan pertama. Dengan demikian. Puisi-puisi keagamaan. sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. Hal lain yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pendengar antara lain masalah pendidikan. Namun. setidaknya. kemampuan memahami. puisi yang harus kita pilih adalah puisi yang tidak memihak salah satu agama. Yang dimaksud kemampuan di dalamnya termasuk keuatan fisik dan suara. dan usia. akan sesuai kita baca di hadapan pendengar yang agamanya sama. agama. jika pendengar agamanya berbeda. Sebaliknya. Semakin banyak kita mengetahui pendengar.Membaca Puisi 3-7 puisi harus kita sesuaikan dengan kemampuan kita. dan kemampuan mengekspresikan. Jika perlu disesuaikan dengan keinginan dan kesenangan kita.

untuk jenis pembaca umum. dan sebagainya. gembira. semakin pendek puisi yang harus kita siapkan. Meskipun tidak dijelaskan di sini. Untuk tempat yang terbuka. Ketiganya membutuhkan corak puisi yang berbeda. Dibandingkan dengan tempat tertutup. dan semakin sederhana bahasa puisi yang digunakan. gembira. Selain suara pembaca puisi harus bersaing dengan suara alam–angin atau suara-suara lain—pandangan pendengar juga tidak hanya tertuju kepada pembaca karena ada alternatif yang lain. puisi yang sesuai untuk dibaca adalah puisi yang tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sederhana. semakin ringan isi puisi yang harus kita siapkan. Kita dapat membedakan suasana atas suasaana sedih. atau pengukuhan guru besar. siang atau malam hari.3-8 Membaca Puisi berpengaruh pada penentuan panjang pendeknya puisi. Tempat yang tertutup atau terbuka akan memengaruhi pemilihan puisi. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi--di mana tempatnya. dalam menentukan puisi kita juga harus memahami situasi pembacaan. dalam suasana sedih. kita tentu akan dengan mudah memilih puisi mana yang cocok untuk dibaca dalam ulang tahun perkawinan. akan sangat melelahkan pendengar. Dengan memerhatikan tiga hal tersebut. Suasana akan menentukan pemilihan isi puisi. tempat terbuka jauh lebih susah dikendalikan. dan serius. berat-ringannya isi uisi. Puisi yang panjang akan melelahkan pendengar. Hal ini dimaksudkan agar “daya jangkau” pembacaan puisi tersebut sampai kepada seluruh pendengar. di luar atau di dalam ruangan. Ketiganya membutuhkan jenis puisi yang berbeda. kematian. tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih: terbuka atau tertutup. Oleh karena itu. Demikian juga dengan puisi yang bahasanya susah dicerna. Selain calon pembaca dan pendengar. Semakin rendah usia pendengar. dan sederhana-tidak sederhananya bahasa puisi. . atau serius.

Syarat berikutnya adalah bersifat teaterikal. Gerakan tubuh ini disesuaikan dengan puisi. Panjang pendeknya puisi menjadi pertimbangan khusus dalam memilih puisi. atau apa pun bentuknya. (1) Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Arti bersifat melodius adalah jika dibaca puisi tersebut akan memunculkan nada dan irama “yang enak” didengar. puisi yang kita pilih haruslah tidak terlalu pendek. (5) Isinya sesuai dengan pendengar dan situasi. Kita dapat mengira-ira sendiri panjang pendeknya puisi tersebut berkaitan dengan tempat pembacaan dan pendengar. (3) Bahasanya sederhana. misalnya. Ada puisi yang secara mudah memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh kita ketika kita harus membacanya. nilai-niai. puisi yang terlalu panjang akan melelahkan pendengar. Pesan. pembacaan ternyata sudah berakhir. tentu puisi yang kita pilih akan lebih pendek jika dibandingkan dengan mahasiswa. ketika pendengar baru akan merasakan puisi itu. namun juga tidak terlalu panjang. kesan terhadap sesuatu. Puisi yang terlalu pendek tidak akan memperlihatkan isi puisi yang jelas dan tidak akan mampu mengondisikan pendengar pada pembacaan puisi. nilai atau yang lain itu harus disesuaikan dengan pendengar pembacaan puisi. Belum lagi kalau pembacaannya bersifat monoton. Syarat terakhir adalah isi puisi harus disesuaikan dengan pendengar. namun ada pula puisi yang susah kita maknai dengan gerakan tubuh. (4) Bersifa teaterikal. Syarat yang kedua bersifat melodius. Jika pendengarnya anak-anak. Sebaliknya. Istilah sederhananya. Dalam pembacaan puisi dibutuhkan juga gerakan tubuh. . kesan. Yang diaksud dengan isi puisi di sini adalah apa saja yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembaca puisi.Membaca Puisi 3-9 kita dapat memilih puisi yang memenuhi syarat berikut. apakah itu berupa amanat. (2) Bersifat melodius. Oleh karena itu. kejenuhan pendengar akan terlihat.

serta dapat menentukan irama dan lagu yang tepat pada puisi yang akan dibacanya. alam sekitar. gagasan atau ide atau keinginan-keinginan tertentu dari penyair.3-10 Membaca Puisi 2. Oleh karena itu. terlebih dahulu kita harus memahami isi puisi tersebut. kecuali harus memahami cara mengucapkan lambang-lambang bahasa puisi bersangkutan pembaca puisi dituntut dapat menjadikan puisi yang akan dibacanya itu sebagai “miliknya” sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. Pada hakikatnya puisi merupakan sebuah media yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan sesuatu kepada pembaca. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar maksud atau arti puisi yang akan dibaca. Pemahaman puisi dapat dilakukan dengan cara membuat parafrase puisi terlebih dahulu. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman-pengalaman penyair. Maksud langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca. nada dan suasana puisi yang bersangkutan. manusia lain. dan bisa juga hasil pengembaraan imajinasi penyair. Jika pemahaman kita terhadap puisi salah. Kata-kata yang digunakan dalam puisi adalah kata-kata kias atau pelambang. yang dengan demikian tidak secara langsung menyampaikan sesuatu tadi: pengalaman. perlulah kita membedah puisi tersebut dengan maksud untuk memahami puisi yang dimaksud. Memahami Puisi Sebelum membaca puisi. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan ketika berhadapan dengan Tuhan. Salah satu ciri puisi yang cukup menonjol adalah bersifat konsentrif. Dengan kata lain. keinginan. pembacaan puisi yang kita lakukan tidak akan sempurna. dan gagasan kepada pembacanya. . dan sebagainya. Kesemua itu telah diramu dengan perasaan dan pikiran penyair yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk puisi.

Pelatihan tidak langsung adalah pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung atau memperkaya kemampuan membaca puisi. secara teoretis. menangkap Oleh karena hal-hal tersebutlah maka untuk memahami sebuah puisi dibutuhkan cara khusus yang terutama dapat memudahkan pembaca memahami kata-kata kias dan maksud-maksud yang tersembunyi dalam puisi. Oleh karena itu. 3. yaitu pelatihan pernafasan. Semakin lama masa kita berlatih secara tidak langsung.Membaca Puisi 3-11 Hal ini menjadikan pembaca tidak bisa secara langsung sesuatu dari puisi tersebut. Pelatihan pernafasan merupakan pelatihan dasar yang bertujuan untuk memberikan kemampuan mengatur nafas—menarik dan mengeluarkan nafas—agar tidak mengganggu ucapan dan memperkuat stamina pembaca puisi. akan semakin tinggi pula modal kita dalam membaca puisi. Inti pelatihan pernafasan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengatur pernafasannya sehingga vokal menjadi lebih jelas. yaitu pelatihan dasar dan pengayaan. Pelatihan Baca Puisi a. Ada dua jenis pelatihan secara tidak langsung. (1) Pelatihan Dasar Ada beberapa macam bentuk pelatihan dasar. pelatihan olah tubuh. dan pelatihan ekspresi. dialog menjadi lebih lancar. Pelatihan Tidak Langsung Pelatihan tidak langsung dimaksudkan sebagai pelatihan yang tidak berhadapan secara langsung dengan puisi yang akan dibaca. pelatihan ini dapat dilaksanakan jauh sebelum kita membaca puisi. dan stamina pembacaan menjadi semakin kuat. Bentuk pelatihan semacam ini tentu saja masih dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa bentuk lain. . pelatihan vokal. pelatihan konsentrasi. Salah satu cara untuk membantu usaha tersebut adalah dengan membuat parafrase terlebih dahulu.

Olah tubuh menyangkut pelatihan bagaimaan supaya anggota tubuh seorang pembaca puisi menjadi lentur dan selalu mendukung penampilan. Dalam konsentrasi ini seorang pembaca puisi harus mampu menundukkan panca-indranya. (2) Pengayaan Selain pelatihan dasar. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi dengan cara mengadakan pelatihan olah tubuh. Pengayaan dalam hal ini diartikan . Pelatihan vokal bertujuan untuk menciptakan vokal yang baik sehingga seorang pembaca puisi memiliki kemampuan mengucapkan kata-kata dengan jelas. juga harus selaras dengan kondisi panggung. Jenis pelatihan dasar yang terakhir adalah pelatihan ekspresi Ekspresi adalah kemampuan seorang pembaca puisi dalam menampilkan ekspresi wajah sesuai dengan susasana puisi yang dibaca. mampu menguasai panggung dengan suaranya. Oleh karena inti pelatihan konsentrasi ada pada kemampuan memusatkan perhatian. uraturatnya. dalam hal ini menyangkut intonasi dan aksentuasi. serta seluruh anggota tubuhnya dan kemudian mampu memerintahkannya untuk berlaku sesuai dengan isi puisi yang akan dibacanya. Tugas seorang pembaca puisi adalah menyatukan dirinya sendiri dengan puisi yang dibacanya. Untuk mampu menyatu dengan puisi yang dibacanya diperlukan konsentrasi yang kuat. yang dapat digolongkan ke dalam pelatihan tidak langsung adalah pengayaan. Lebih jauh.3-12 Membaca Puisi Yang dekat dengan pelatihan pernafasan adalah pelatihan konsentrasi. dan mempunyai kekuatan untuk bermain sampai pembacaan selesai tanpa kehabisan suara. pikirannya. Dalam sebuah permainan pemusatan pikiran menjadi amat penting keberadaannya karena tanpa pemusatan pikiran permainan tidak akan berjalan dengan sempurna. Gerakan anggota tubuh harus selalu selaras dengan isi puisi. pelatihan vokal juga bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan seorang pembaca puisi dalam menyampaikan puisi. maka istilah lain yang sering digunakan adalah pemusatan pikiran.

unsur apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai pembacaan puisi yang baik dan yang tidak baik. pengayaan juga dapat kita lakukan dengan membaca teori baca puisi. Meskipun kita “merasa” tidak mampu membaca puisi. apa yang kita lakukan ini tergolong sebagai pengayaan. karena hampir tiap hari kita mendengar lagu tersebut. misalnya.Membaca Puisi 3-13 sebagai upaya. Kita tidak pernah secara sengaja menghafalkan lagu tersebut. Melalui dialog atau tanya jawab dengan narasumber kita bisa menggali informasi-infirmasi yang kita butuhkan dalam pembacaan puisi. Namun. dan sebagainya. namun karena kita sering mendengar orang membaca puisi. Cara lain untuk pengayaan adalah dengan berdialog atau mengikuti seminar-seminar. Melalui ativitas “menonton” orang membaca puisi kita akan mengenal bagaimana cara membaca puisi. baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Semakin sering kita menonton pembacaan puisi. Selain dengan menonton pembacaan puisi. baik secara teoretis maupun secara praktis. Ketika kita membaca buku ini. Dalam hal membaca puisi peristiwa semacam ini juga sering terjadi. Kondisi seperti ini tergolong pelatihan secara langsung. tidak . Melalui aktivitas membaca buku ini atau buku-buku lain yang sejenis. Barangkali kita sering secara tidak sadar hafal baris-baris lagu tertentu. semakin kaya pula pemahaman kita tentang cara membaca puisi. apa saja yang diperlukan dalam membaca puisi. akhirnya kita pun dapat “menirukan” membaca puisi. kita secara teoretis akan mengetahui bagaimana cara membaca puisi. untuk memperkaya pemahaman atau keterampilan kita dalam membaca puisi. Kita bisa menempuh cara ini dengan bertanya atau berdiskusi dengan orang lain yang kita pandang mampu dalam membaca puisi. akhirnya tanpa disadari tidak sengaja kita telah hafal lagu tersebut. persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum kita membaca puisi.

kematian itu. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. tidak ada yang berkata-kata. Pelatihan Langsung Pelatihan langsung adalah pelatihan dengan cara menghadapi teks yang akan dibaca secara langsung. karena ia tak berani lagi. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. nasib. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. yang jauh. pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. Perhatikan puisi berikut ini. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Tapi di antara mereka berdua. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. . (1) Membuat Baris Pembacaan Ketika berhadapan langsung dengan puisi. Ada beberapa tahapan dalam pelatihan secara langsung. karena angin pada kemuning.3-14 Membaca Puisi b. pelatihan langsung berarti pelatihan dengan cara kita menaiki secara langsung sepeda yang dimaksud. Jika diibaratkan sebagai pelatihan naik sepeda. Ia melihat peta. Lalu ia ucapkan perpisahan itu.

karena kita membaca secara tidak lengkap. Oleh karena itu. kulupakan wajahmu. pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. Kelengkapan makna barisbaris tersebut ada pada baris-baris berikutnya. Menghadapi puisi seperti itu tentu dengan mudah kita akan mendapatkan baris-baris yang jika kita baca tidak akan utuh maknanya. kaulupakan wajahku. abai daam waktu. Ia dengar resah kuda serta langkah …………………………………………………………………………. langkah awal dalam berhadapan dengan puisi adalah mengubah baris-baris puisi tersebut ke dalam barisbaris pembacaan.. Bukankah akan sangat janggal jika kita membaca baris-baris puisi tersebut secara sepotong-sepotong? Mengapa bisa demikian? Yya. langkah-langkah dalam berlatih harus dimulai dari penafsiran akan baris-baris tersebut. adikku.Membaca Puisi 3-15 Anjasmara. jika kita membaca puisi dengan memenggal per baris seperti itu. Perhatikan baris kedua dan baris ketiga pada bait pertama dan baris pertama pada bait ketiga puisi tersebut seperti berikut ini. Bulan pun lamban dalam angin. Oleh karena itu.. ……………………………………………………………………. yaitu dengan baris dan bait yang tetap. karena angin pada kemuning. Berkaitan dengan hal tersebut. seperti dulu. Sebab bila esok …………………………………………………………………………. makna puisi tidak akan muncul. Yang dimaksud dengan baris pembacaan adalah baris . Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Lewat remang dan kunang-kunang. Puisi tersebut ditulis sesuai dengan aslinya. tinggallah. Baris dan bait tersebut masih membutuhkan interpretasi untuk dibaca.

kulupakan wajahmu. Lewat remang dan kunang-kunang. Dengan model puisi “Asmaradana” seperti tersebut di atas. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh. jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. Ia melihat peta. karena angin pada kemuning. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. karena ia tak berani lagi. tidak ada yang berkata-kata. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. abai dalam waktu. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. Tapi di antara mereka berdua. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. kaulupakan wajahku. seperti dulu. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. adikku. Bulan pun lamban dalam angin. .3-16 Membaca Puisi puisi yang kita buat sendiri—bukan oleh penyair—yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. kematian itu. tinggallah. nasib. Anjasmara.

Oleh karena itu. setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. Sebagai bahan pelatihan. berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad. Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas.Membaca Puisi 3-17 (2) Membuat Pemenggalan Pembacaan Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar / dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning // Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati / ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh // Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata // Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu// Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan // Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis // Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara / ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba / karena ia tak berani lagi // Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu // .

riang gembira. Dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Muhamad. antara lain ditentukan oleh suasana puisi tadi. marah. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang . Suasana puisi ini merupakan kunci dalam melafalkan puisi. misalnya. atau lebih luas mengintonasikan puisi. variasi intonasi (tidak monoton). semangat. kata atau baris yang digunakan antara lain. (5) Menjiwai puisi Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. (4) Melafalkan puisi Melafalkan puisi. atau yang lain. Bagaimana cara kita harus membaca puisi antara lain ditentukan oleh suasana puisi. dan kesesuaian lagu yang kita pilih dengan isi atau maksud puisi. baris-baris puisi. dan semacamnya. muncul dalam puisi tersebut. atau yang lain. hilang pedih peri. perlu juga kita perhatikan kejelasan ucapan. ditentukan oleh suasana puisi. kematian. Suasana kesedihan atau paling tidak kesepian. berlari. Karena itu. pelan melankolis. Selain itu. Apakah kita akan membaca puisi dengan semangat menyala-nyala. perpisahan. atau isi puisi yang ada. Ada puisi yang diksinya condong pada suasana tertentu. mau hidup seribu tahun lagi. Seperti puisi "Aku" karya Chairil Anwar. Kata atau baris tersebut mengisyaratkan suasana semangat. misalnya.3-18 Membaca Puisi Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu // Lewat remang dan kunang-kunang / kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu // (3) Mencari suasana puisi Ada puisi yang bersuasana sedih. ada yang bersuasana gembira. Cara mencari suasana puisi dapat melalui diksi yang digunakan. muncul kata resah kuda. pemahaman terhadap suasana puisi menjadi penting.

Konsentrasi menjadi kata kunci dalam pelaksanaan teknik muncul. karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. Namun kalau pendengarnya orang yang menyenangi puisi. Membaca Puisi di Panggung Membaca puisi di panggung berarti mempraktikkan hasil pelatihan. gaya apa pun yang . Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh. keberhasilan pembacaan puisi di panggung juga akan ditentukan oleh hasil pelatihan itu sendiri. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi di panggung adalah teknik muncul.Membaca Puisi 3-19 benar. Pilihan model pembacaan ini ditentukan oleh pendengarnya. jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. D. Yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah kesiapan pembaca dan kesiapan pendengar. cara membaca judul. misalnya "Aku karya Chairil Anwar". Dengan demikian kita tidak akan overacting. seyogyanya kita memakai gaya konvensional. dapat juga dengan gaya tertentu. Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Karena itu. serta ekspresi akan mengikutinya. pandangan mata. cara memegang teks. Kalau pendengarnya orang yang tidak menyukai puisi. Judul puisi dapat kita baca secara konvensional. misalnya "Chairil Anwar dalam goresan penanya: Aku". Teknik muncul adalah cara kali pertama kita muncul di panggung. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud. penghayatan penuh harus kita lakukan. Prinsip memegang teks yang paling penting adalah tidak menutupi wajah dan tidak mengganggu gerakan pada saat membaca puisi. dan blocking. Dengan demikian.

Meskipun ketiga komponen tersebut samasama penting. Penghayatan Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi. misalnya. E. Panggung harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga posisi kita di panggung menjadi "enak" dilihat oleh penonton. Aspek Penilaian Baca Puisi Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi. jangan pula kita menatap mata pendengar atau penonton. vokal. Yang terakhir adalah masalah blocking. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi. yaitu penghayatan.3-20 Membaca Puisi kita gunakan tidak masalah. maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. Dalam membaca puisi sesungguhnya kita sedang berdialog dengan pembaca. Oleh karena itu. Pandangan mata juga harus kita jaga. Karena itu. tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri. Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini. dan penampilan. Paling tidak dalam langkah ini kita harus mampu menangkap apa makna yang terkandung dalam puisi itu. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi. apa makna . terlebih dahulu kita harus memahaminya. dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama. 1. mata kita tidak boleh menjauhi pendengar. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Meskipun begitu. Jika. namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut.

pendengar bagaimana atau penonton. kita Tanpa dapat mengetahui mungkin menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. Goenawan Mohamad) Tanpa memahami isi puisi tersebut. Perempuan itu terisak. Perempuan itu terisak. Meskipun ia mengecup rambutnya (Dongeng Sebelum Tidur. yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya. Pemahaman itu pula yang akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari baris puisi menjadi bagian-bagian pembacaan. (3) ekspresi. (1) pemenggalan. kita tidak akan dapat memenggal secara tepat baris-baris puisi “Dongeng Sebelum Tidur” itu menjadi. (2) nada dan intonasi. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut.Membaca Puisi 3-21 simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu. dan bagaimana suasananya. Perhatikan petikan puisi berikut ini. sebagai berikut. Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair “sesuatu” kepada itu. Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam tiga hal berikut. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. Meskipun ia mengecup rambutnya . misalnya.

Tekanan dinamik menyangkut lemah-kerasnya pembacaan puisi. Harus ada variasi. tetapi juga berhubungan dengan pemaknaan baris-baris puisi. ahal penting yang harus kita perhatikan adalah masalah tekanan atau aksentuasi. kita tentu masih bisa menjumpai suasana gembira. tekanan tempo. Tekanan nada menyangkut tinggi-rendahnya pembacaan puisi. dan mempertinggi atau memperendah pembacaan. Ekspresi secara sempit dapat terlihat pada wajah. demikian pembacaan tersebut tidak bersifat datar-datar saja atau bersifat monoton. tinggi-rendah. dan suasana santai atau main-main dalam puisi. suasana serius atau sungguh-sungguh. Selain suasana sedih dan semangat. aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang kita baca yang harus memdapatkan penekanan. Melalui pemahaman puisi kita juga dapat menentukan intonasi atau lagu dalam pembacaan puisi. Tekanan tempo menyangkut cepat-lambatnya pembacaan puisi. Berkaitan dengan intonasi. Dengan dan cepat-lambat. Melalui pemenggalan itulah pendengar atau penonton akan lebih mudah memahami puisi yang kita baca. Intonasi digunakan keras-lemah. dan tekanan dinamik. intonasi harus dalam secara bervariasi. Melalui pemenggalan itu pula larik-larik puisi dapat sampai kepada pendengar atau penonton secara sistematis.3-22 Membaca Puisi Pemenggalan dalam pembacaan puisi tidak sekadar berhubungan dengan pengambilan nafas. memperkeras atau memperlemah pembacaan. Dari seluruh . Ketiga tekanan tersebut dapat digunakan untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada puisi yang kita baca. Melalui pemahaman pula kita dapat mengekspresikan puisi secara tepat. Variasi tersebut ditentukan oleh corak puisi. Jika intonasi menyangkut tekanan nada. Kita bisa memberikan tekanan pada puisi dengan cara mempercepat atau memperlambat pembacaan. Suasana-suasana tersebut harus dimunculkan dalam pembacaan puisi secara tepat.

harus kita ekspresikan secara maksimal sesuai dengan isi atau suasana puisi. besar. Warna suara berat. Vokal Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini. (2) jeda. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. jika kita membaca puisi dengan suara tinggi dan tempo yang cepat. kejelasan ucapan benar-benar harus dijaga karena bisa terlewatkan.Membaca Puisi 3-23 anggota tubuh manusia. kunci ekspresi sebenarnya ada pada mata. Akan sangat terlihat orang yang membaca puisi mempunyai penghayatan yang tinggi atau tidak telihat pada matanya. atau yang lain. Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Ketika kita membaca puisi dengan lambat. kejelasan ucapan mungkin akan lebih terlihat. b. tinggi. Mata kemarahan. mata kesedihan. yaitu: (1) kejelasan ucapan. dan (4) kelancaran. Namun. Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu . semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan. Perhatikan bait kelima puisi “Pembuka” di atas. atau kecil. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. (3) ketahanan.

c. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Selain kejelasan ucapan. menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang. kejelasan ucapan harus dijaga. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan. Pada kondisi tersebut. Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. Penampilan Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalanpersoalan: teknik muncul. kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. biasanya pengucapan katakata atau baris-baris puisi tidak lancar. Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi . masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. (1) blocking dan pemanfaatan setting. (2) gerakan tubuh. Terutama untuk puisi panjang.3-24 Membaca Puisi Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Bait tersebut menghendaki pembacaan yang cepat dan tinggi. (3) cara berpakaian. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama. Selain itu. ketahanan sangat dibutuhkan.

Dalam sebuah dialog. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Sebaliknya. yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. atau campuran keduanya. Secara umum ada dua jenis blocking. atau gabungan keduanya. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap. itulah persoalan blocking. blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. Secara teoretis. bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita. apakah kita harus duduk. Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. . itu semua merupakan persoalan blocking. pada saat pertama kita muncul di panggung. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. Dalam pembacaan puisi juga demikian. membelakangi. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan. sebelum puisi kita baca. atau campuran keduanya. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. sebelum membaca puisi. Oleh karena itu.Membaca Puisi 3-25 dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. Pendek kata. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya. Apakah kita harus menghadap penonton. apakah kita harus berjalan-jalan. suasana dialogis tidak akan tercipta. maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi. berdiri. berdiri di satu tempat saja. kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton. begitu kita berdiri di panggung.

Blocking juga berkaitan dengan pemanfaatan setting. Ukuran baik-tidaknya gerakan tubuh dalam pembacaan puisi adalah kesesuaian dengan jiwa puisi. tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. Ketika . Jika model panggung sudah dibuat demikian. Ketika kita berada di panggung. pembaca puisi tidak bisa lepas begitu saja dengan model panggung. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad. Artinya. gerakan tubuh dalam pembacaan puisi tidak bisa disamakan untuk setiap orang. atau pemanfaatan benda-benda atau apa pun bentuknya yang ada di panggung. Sebaliknya. panggung didesain sedemikian rupa sehingga memuncculkan nilai artistik. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis. Banyak orang menduga bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi harus disiapkan atau dilatih secara khusus seperti halnya gerakan pada penari latar pertunjukan musik. Masing-masing orang mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu. ada pula yang menghendaki blocking dinamis. misalnya. misalnya. Gerakan tubuh seharusnya kita biarkan muncul sendiri sebagai akibat adanya penghayatan pada puisi. Oleh karena itu. pembaca puisi mengucapkan baris: Lihatlah . kita tidak bisa lepas dari bentuk panggung dan segala peralatan yang ada di panggung.3-26 Membaca Puisi Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. puisi “Aku” karya Chairil Anwar. tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis. Dalam pertunjukan secara khusus. Hal ketiga yang harus kita perhatikan berkaitan dengan penampilan adalah masalah gerakan tubuh. Gerakan tubuh dalam hal ini merupakan perwujudan ekspresi atas penghayatan pembaca pada puisi yang dibacanya. pembaca puisi harus menyesuaikan diri—atau bahkan memanfaatkan—dengan panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. Dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar.

masalah pakaian juga perlu kita perhatikan dalam pembacaan puisi. ketika kita harus membaca puisi “Pembuka” karya Emha Ainun Nadjib. Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi selain selaras dengan jiwa puisi. ukuran baik-tidaknya dalam pembacaan puisi dapat dilihat dari ketiga komponen tersebut. dan penampilannya baik. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal berpakaian. tentu akan menjadi tidak tepat kalau pakaian kita terbuka. Bagaimana sebaiknya kita berpakaian ketika menghadap Tuhan? Tentu bukan pakaian yang terbuka. . pakaian harus sejalan dengan isi puisi. juga akan selaras dengan kebiasaan atau cara pembaca puisi mengekspresikan puisi tersebut. Pembacaan puisi yang baik adalah pembacaan puisi yang penghayatan. jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mengganggu pembacaan puisi. Yang lebih baik. Yang terpenting. vokal. Ketiga komponen pembacaan puisi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai kriteria penilaian pembacaan puisi. Sebagai contoh.Membaca Puisi 3-27 Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan masing-masing orang akan berbeda dalam menggerakkan tangan atau anggota tubuhnya. misalnya. Karena itu. . Isi puisi tersebut adalah dialog antara manusia dan Tuhan. Meskipun tidak terlalu penting.

Bahan Pelatihan Baca Pusisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. Herman J. Depdikbud. Marjorie. Mukh. London: Routledge and Keagan Paul. 1995. Doyin. Tentang Bermain Drama. Jakarta: Pustaka Jaya. S. S. Seni Baca Puisi (Persiapan. Masalah Penyutradaraan. 1981. S. Mukh. 2001. Suharianto. The Anatomy of Poetry. Bahan Pelatihan Baca Puisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. 2001.DAFTAR PUSTAKA Boleslavsky. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Doyin. 1982. 2001. 26-31 Mei 2001. Richard. Japy. Tambayong. Boulton. Surakarta: Widya Duta. Doyin. 2001. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Suharianto. Dasar-Dasar Teori Sastra. Pengantar Apresiasi Puisi. 2008. Jakarta: Pustaka Jaya. Bandung: Pustaka Waluyo. Banjarbaru: Dewan Kesenian Daerah. 26-31 Mei 2001. Rendra. dan Penilaian). Pelatihan. Modal Dasar bagi Calon Aktor. Prima. . Surakarta: Widyaduta. Jakarta: Erlangga. Gani. Dasar-Dasar Dramaturgi. Tahapan dalam Pelatihan Membaca Puisi. 1979. Sekilas Mengenai Seni Baca Puisi. Seni Teater. 1981. Abdul Azis. Muslim. 1982. 2001. 1979. Mukh. Pengajaran Apresiasi Puisi. Semarang: Bandungan Institute. Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani). Jakarta: P3G Hanindawan. Teori dan Apresiasi Puisi. 1981. Suharianto. Rizanur.

mereka yang selalu memperkosa hak-hakku sebagai seorang hakim yang selalu melumpuhkan rasa keadilan dalam kalbuku Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. PEMBUKA . oh Tuhan Betapapun aku mendengar hati nuraniku terus menjerit PadaMu aku tak bersembunyi Engkaulah Yang Mahatahu derita dan kebimbanganku Setelah doa bagiku sendiri selesai Akhirnya. mereka yang aku tak sanggup memanggilnya ke Mahkamah Pengadilan resmi Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu.Membaca Puisi 3-29 Pelatihan: Bacalah puisi berikut dengan benar! DOA SEORANG HAKIM PENSIUNAN DI JAMAN PENJAJAHAN Leon Agusta Tuhan Masih sudikah engkau mendengarkan aku? Setelah aku hukum mereka yang aku yakin tidak bersalah Setelah aku bebaskan mereka yang aku yakin mereka telah bersalah Setelah aku bebaskan diriku yang mengabaikan rasa keadilan Hambamu ini sungguh tak berdaya. inilah doaku sebagai seorang hakim Tuhanku: Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. mereka yang aku tak pernah berani mengadilinya Amin.

malam ini pun Kami tak berada di mana-mana Melainkan di hadapanMu Tapi kami sering lupa Sebab mengalahkan musuh-musuhMu Yang kecil saja. Gusti Inilah tawananMu Tak berani menengadahkan muka Mripat kami yang terbuka Telah lama menjadi buta Sebab telah menyia-nyiakan dirinya Dengan hanya menatap Hal-hal yang maya Gusti Kami berkumpul di sini Untuk mengukur keterbatasan kami sendiri Melontarkan beratus kata Seperti buih-buih Agar melayang ke udara Dihisap kembali oleh telinga agungMu Dan tinggal jiwa kami termangu-mangu di sini Menunggu tetesan-tetesan firmanMu Yang membeningkan hidup kami . kami tak kuasa.3-30 Membaca Puisi Emha Ainun Nadjib Gusti Seperti kapan saja.

Membaca Puisi 3-31 Gusti Kami pasrah sepasrah-pasrahnya Kami telanjang setelanjang-telanjangnya Kami syukuri apapun Karena rahasiamu agung Tak ada apa-apa yang penting Dalam hidup yang sejenak ini Kecuali berlomba lari Untuk melihat telapak kaki siapa Yang paling dahulu menginjak Halaman rumahMu Gusti Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Gusti Masa depan kami sendiri kami bakar Tapi engkau terlampau sabar Peradaban kami semakin hina .

Malam ini taklagi kulihat kunang-kunang Yang dengan cahaya tubuhnya Berputar-putar di depan rumah Mungkinkah mereka kedinginan Karena hujan terus-menerus berjatuhan Ataukah karena halaman rumah ini Yang tak lagi mampu menyalakan cahayanya .3-32 Membaca Puisi Tapi engkau terlalu bijaksana Kelakuan kami semakin nakal Tapi engkau mahakebal Nafsu kami semain rakus Tapi rakhmatmu tak kunjung putus Kemanusiaan kami semakin dangkal Sehingga engkau pun semakin mahal Gusti Kamilah pesakitan Yang tak berwajah lagi Kaki dan tangan ini Kami ikat sendiri Hukum atau ampuni kami Mohon segeralah Hampir kami tak tahan Menunggu dan menanti SAAT HUJAN DATANG Mukh Doyin Mama.

Membaca Puisi 3-33 Angin masih saja berhembus Membawa suara-suara burung malam Yang terbatuk-batuk karena hujan Membawa riak-riak gelombang laut Yang keruh karena hujan Membawa kesunyian malam Yang beku karena hujan Lihatlah. mama Bulan di atas pun tak lagi tampak Langit yang hitam pekat Telah mengurungnya Adakah yang bias dikerjakan dewa-dewa di atas sana Dalam gulita seperti ini. memang Tak ada rintih. Tersenyumlah Agar kunang-kunang dan rembulan Tak lagi tenggelam dalam kegelapan malam . memang Tapi kegelapan ini Jauh lebih menusuk hati Ketimbang tangis dan rintihan para dewa Mama. mama Tak ada tangis.

BUKU AJAR MENULIS RESENSI BUKU .

2) mengapa ia menulis buku itu?. seperti: 1) siapa pengarangnya?. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama. sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “review”. Dalam bahasa Belanda. resensi buku dikenal dengan “recensie”. atau mengkritik buku. merenungkan. C. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian. 4) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?. atau menilai. (c) memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. (b) mengajak pembaca untuk memikirkan. Hakikat Resensi Menurut Samad (1997:1) resensi berasal dari bahasa Latin. KOMPETENSI DASAR Menguasai hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA. Pembuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan. dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. menimbang. STANDAR KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA B.BAB I. MENULIS RESENSI BUKU DI SMA A. yaitu: (a) memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku. mengungkapkan kembali isi buku. (d) menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA 1. membahas. yaitu mengulas buku. 3) apa pertanyaannya?. 5) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang . yaitu “revidere” atau “recensere” yang artinya melihat kembali.

Dengan kata lain. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. b) memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga penilaian itu diketahui khalayak. di samping nilai informasi. Resensi berarti pertimbangan atau pembicaraan. Oleh karena itu. atau ulasan buku (Sayuti 2002:13). Sayuti juga menjelaskan bahwa buku yang diresensi biasanya merupakan buku terbitan baru. resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. bedah. Sedangkan menurut Djuharie dan Suherli (2005:21) resensi merupakan salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara memberikan komentar secara objektif. Sedangkan menurut Keraf (2001:274) resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Istilah yang lain yang sering dipakai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan.4-2 Menulis Resensi Buku dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?. Tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut: a) menimbang agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang membutuhkannya. (e) untuk pembaca yang membaca resensi agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku atau jika tidak ada waktu untuk membaca buku maka dapat membaca resensi tersebut (Samad 1997:2). atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. sebuah resensi juga seringkali mengandung nilai advertensi. c) . Jadi. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. maksudnya resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca (tentu saja setelah mereka membeli). seorang penulis resensi buku ingin membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu.

f) memberikan pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra (untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. resensi yang dimuat di surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. resentator harus menguasai dan mengetahui bahan yang akan diresensi. dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi. 2. Dasar-Dasar Resensi Pada saat membuat resensi. d) menghargai keunggulan dari suatu penulisan buku atau penyajian pentas. d) peresensi memahami . Berdasarkan pendapat di atas.Menulis Resensi Buku 4-3 melihat kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian karakteristik tokoh. tingkat pendidikan. Atas dasar itu. dari kalangan macam apa asalnya. penokohan. setting (untuk pementasan) dengan bahan yang ditulisnya atau sajian pementasan. yaitu: a) peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. Samad (1997:2-3) menyebutkan dasar-dasar resensi ada empat. e) mengungkapkan kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan atau alur pementasan. Sedangkan tujuan resensi adalah memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang terungkap dalam buku atau hasil karya dan memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. c) peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera. b) peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. dan sebagainya. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku. orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain.

Menurut Keraf (2001:274) seorang resentator harus memperhatikan dua faktor dalam memberikan penilaian atau pertimbangan secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku. Begitu juga dengan majalah teknik atau filsafat. Setiap media cetak mempunyai identitas. penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca. Jenis buku yang dimuat pastilah buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi.. penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang aslinya. yaitu kewajibannya terhadap para pembaca dan bagaimana penilaiannya atas buku tersebut. kedua. ilmiah populer. jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. seperti surat kabar (nasional atau daerah). Sebuah resensi harus dibuat dengan memperhatikan kualitas pembacanya. Dengan menilai kaitan antara tujuan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. dan majalah (ilmiah. dan bagaimana tingkat pendidikan mereka. atau hiburan). resentator harus memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhi dalam membuat resensi itu. Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu. Misalnya. majalah ekonomi tidak menampilkan resensi buku tentang kimia. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. Singkatnya. Demikian pula. . Dengan demikian. Untuk itu resentator harus menganalisis bagaimana pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu.4-4 Menulis Resensi Buku karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. termasuk visi dan misi. bagaimana selera mereka. resentator harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi itu. dua faktor tersebut yaitu: pertama. peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju. kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam yang bagaimana yang disukai oleh redaksi. Selain itu. Apakah tujuan itu betul-betul terealisasi dalam seluruh buku. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. Pembaca dalam hal ini adalah semua langganan majalah atau media massa yang memuat resensi itu.

e) peresensi harus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapar dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya oleh pembaca. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. f) peresensi harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi. sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. padat. Buku yang diresensi biasanya merupakan terbitan baru. Misalnya. b) peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi. tulisan yang runtun . tegas dan tandas. Resensi buku biasanya dimuat dalam surat kabar atau majalah. yaitu: a) peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan sepenuhnya sikap subjektifitas. Maksudnya. c) peresensi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi. Menurut Samad (1997:4) bahasa resensi biasanya singkat. yaitu dengan cara mengetahiu dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya tersebut. Di samping nilai informasi. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjai sasarannya. Oleh karena itu. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. d) peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resentator dengan penulis buku tersebut.Menulis Resensi Buku 4-5 Djuharie dan Suherli (2005:23) juga menguraikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi.

mencakup kesan peresensi terhadap buku. Di samping itu. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: a) isi peranyaan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan). tidak berpanjang lebar (bertele-tele).4-6 Menulis Resensi Buku kalimatnya. f) menilai. Ada tiga pola tulisan resensi buku. Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. dan mengulas. dan enak dibaca. Bila perlu bagianbagian yang mendukung uraian dikutip. singkat mudah ditangkap. c) bahasa. dan tidak terlalu banyak coretan. perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat. Untuk itu. menjabarkan. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Sebuah bulu biasanya menyajikan banyak persoalan. baik karya pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain. ejaannya benar. penyajian tulisan resensi bersifat padat. e) membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis. menarik. atau bekas hapusan. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. b) organisasi atau kerangka buku. terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku (Samad 1997:5-6). . yaitu meringkas. d) kesalahan cetak.

buku atau karya apa saja yang pernah ditulis hingga mengapa ia sampai menulis buku itu. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. LANGKAH-LANGKAH MERESENSI BUKU A. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mempraktikkan langkah-langkah menulis resensi buku sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya 1. KOMPETENSI DASAR Menguasai langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi C. dan teliti. reputasi dan prestasinya. a) Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. STANDAR KOMPETENSI Memahami langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi B. . kapan dan di mana diterbitkan. disertai deskripsi isi buku. format hingga harga nya berapa. penjajakan tentang pengarang buku tersebut: namanya siapa. Langkah-Langkah Menulis Resensi Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. Setelah itu. Kemudian siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. b) Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif. Penjajakan ini dimulai dari tema buku yang diresensi. cermat. tebal (jumlah bab dan halaman). latar belakang pendidikannya bagaimana. d) Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi. c) Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.BAB II.

bagaimana kerapian dan kebersihan. Judul resensi ini yang pertama dibaca. pasti juga akan mengecewakan pembacanya. jika judulnya kurang menarik. bagaimana analisisnya. bagaimana tata wajah. 2. dengan isi pernyataan hambar dan tidak relevan. dan bagaimana dinamikanya). dan pencetakannya). (2) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. f) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasardasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya. tidak menutup kemungkinan kalau resensi tersebut tidak dibaca orang. Demikian pula judul yang mentereng.4-8 Menulis Resensi Buku e) Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi: (1) organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. apakah hubungan itu harmonis. a) Membuat judul resensi Judul resensi berarti wajah resensi itu sendiri. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan bagaimana hubungan antar kalimat serta pilihan kata yang dipergunakan). dan bagaimana kreativitas pemikirannya). bagaimana penyajian datanya. judul hendaknya menarik perhatian dan mencerminkan isi resensi. bagaimana sistematikanya. Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan perensensi setelah mencermati buku yang bersangkutan. jelas. (3) bahasa (bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan. Untuk itu. Unsur-Unsur Pembangun Resensi Buku Adapun unsur-unsur pembangun resensi buku antara lain sebagai berikut. (4) aspek teknis (bagaimana tata letak. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. bagaimana srtuktur kalimatnya. Cara merumuskan judul resensi . Sekalipun buku yang diresensi itu bagus dan penyajian tulisannya memenuhi syarat. Judul yang menarik berarti merangsang keinginan orang untuk segera membacanya.

dan kabur. dan 6) harga buku (jika diperlukan). Dengan demikian. b) Menyusun data buku Data buku disusun sebagai berikut: 1) judul buku (jika buku itu termasuk buku terjemahan maka judul aslinya harus dituliskan). editor. Alasan menggunakan cara itu pun juga harus kuat. 4) tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa). karyanya berbentuk apa saja. tidak bertele-tele. kecuali kalau fungsinya benar-benar penting. Selain itu. c) Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dalam meresensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini: 1) memperkenalkan siapa pengarangnya. karena yang lebih penting justru masalah yang dibahas dalam buku itu. 2) pengarang. kapan dan di mana diterbitkan) . seperti untuk menegaskan kata. Kalau pengarang buku mempunyai ciri khas atau sosok yang menarik. atau penyunting seperti yang tertera pada buku. bagaimana latar belakang pendidikannya. menggunakan kalimat aktif. akan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi pernyataan resensi. baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lainnya. dirumuskan sesingkat-singkatnya. terutama yang berkaitan dengan topik buku itu.Menulis Resensi Buku 4-9 dengan membuat sinopsis dan memahami inti resensi. 3) penerbit (siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. mencerminkan isi pernyataan resensi secara akurat. dan prestasi apa saja yang diperoleh. 3) memaparkan kekhasan atau sosok pengarang. kalau ada ditulis juga penerjemah. peresensi dapat memulai dengan pembukaan yang memaparkan kekhasan atau sosok pengarang buku itu. 5) tebal buku (jumlah bab dan halaman). dan menghindari perulangan kata. judul resensi harus menarik perhatian dan menimbulkan keingintahuan pembaca. 2) membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis. apakah relevan atau mendukung jika pembukaan .. Namun perkenalan pengarang itu cukup singkat saja.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan peresensi. dan 10) membuka dialog. padat. Peresensi tidak cukup hanya membaca buku yang diresensinya. 7) mengungkapkan kesan terhadap buku. menuliskan jumlah bab buku tanpa pembahasan. Kedua. Alenia pembuka juga dapat diawali dengan mendeskripsikan keunikankeunikan yang dimiliki buku tersebut.. 6) mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku. Keunikan itu dapat dilihat dari segisegi yang ada pada buku itu jarang ada atau langka dimiliki buku sejenisnya. 9) mengajukan pertanyaan. Kedua. 2) ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya. Sinopsis ini mengemukakan pokok isi buku secara garis besar. peresensi mengetahui kelebihan-kelebihan buku yang diresensi tersebut. Ulasan itu pun bisa juga dipertegas dengan kutipan yang tepat. d) Tubuh atau isi pernyataan resensi buku Tubuh atau isi pernyataan resensi buku biasanya memuat hal-hal berikut ini: 1) sinopsis atau ringkasan isi buku secara singkat. sertakan juga keunggulan buku. 3) keunggulan buku. 5) rumusan kerangka buku. Dengan cara ini. berilah alasan (penyebab) mengenai keleamhan buku. 5) merumuskan tema buku. 4) memaparkan keunikan buku. 4) kelemahan buku. Tujuannya. Tubuh resensi akan kelihatan lebih baik jika menyertakan keunggulan- keunggulan buku. Ada dua cara merumuskan kerangka buku. 8) memperkenalkan penerbit. kelemahan buku hendaknya dipaparkan secara proposional. memberi gambaran global mengenai apa yang akan dipapatkan pada tubuh resensi. tetapi juga buku-buku lain yang membahas topik yang sama.4-10 Menulis Resensi Buku dibuka dengan mendeskripsikan keunikan pengarang. agar pembaca mendapat pemahaman yang utuh terhadap buku itu. Pertama. terlebih lagi jika dihubungkan dengan topik buku itu. jelas dan kronologis. 6) organisasi atau kerangka penulisan . Gambaran umum yang dipaparkan dalam sinopsis perlu diulas agar lebih jelas dan berbobot. Pertama. Tujuannya. menuliskan jumlah bab buku dengan uraian seperlunya.

8) tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit). jelas. dan pilihan kata yang digunakan. Bahasa yang baik. Bagian penutup. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat menggangu pembaca. sebelumnya dikemukakan dahulu hal-hal yang berkaitan dengan kelebihan buku.Menulis Resensi Buku 4-11 (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. yaitu. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). secara langsung menyebutkan halaman yang salah cetak atau kualitas cetakan yang kurang baik. dan bagaimana dinamikanya). Penjelasan mengenai bahasa buku dapat disampaiakan dengan cara langsung mengatakannya. apakah hubungan itu harmonis. dan mudah dipahami. dapat dirumuskan dengan dua cara. Penilaian terhadap buku juga mencakup masalah teknis. dinilai dari struktur kalimat. seraya menyarakan perbaikan kepada penerbit. Jadi. bagaimana analisisnya. 7) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. Kedua. jelas. pertama. bagaimana sistematikanya. hubungan antarkalimat. untuk menyatakan kualitas atau kesalahan cetak. atau menggambarkan kekhasan bahasa pengarang. . Barulah dikatakan kesalahan cetak atau kualitas cetakan yang kurang bagus. seperti bahasa sederhana. seperti pewajahan (layout) dan kebersihan. e) Penutup resensi buku. dan 9) adanya kesalahan cetak. terutama cetakannya. bagaimana penyajian datanya.

Sebuah majalah—yang biasanya terbit mingguan—banyak sekali menampilkan karya resensi. Bacalah resensi berikut! Judul Buku : Wajah Peradaban (Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam) Penulis : M.BAB III. PELATIHAN A. Pelatihan Meresensi Buku Pelatihan ini akan membawa Anda berproses untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan berupa resensi buku. Hasil resensi buku banyak muncul dalam media cetakan. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menulis resensi buku sesuai dengan langkah-langkah dan unsur-unsur pembangunnya 1. a. KOMPETENSI DASAR Mempraktikan langkah-langkah menulis resensi buku yang sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya C. khususnya surat kabar dan majalah. STANDAR KOMPETENSI Terampil menulis resensi buku B. baik buku maupun film. Sebuah surat kabar yang terbit pada hari Minggu pada umumnya menampilkan kolom resensi buku dengan berbagai macam nama kolomnya. Atiqul Haque . Pelatihan-1 Pelatihan dilaksanakan secara individu dengan mengikuti tahaptahap berikut.

peradaban itu mengantarkan Islam pada masa kejayaannya. Kini Islam hendak bangkit kembali. Ibnu Rusyd. yang banyak membukakan wawasan tentang peradaban Islam di era keemasan itu. II . Januari 1998 : 148 halaman I SIAPA yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita sekarang? Jawabannya tentu bukan Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar Sidiq. atau Ibnu Khaldun.Menulis Resensi Buku 4-13 Editor Penerbit Cetakan Tebal : Cecep Syamsul Hari : Zaman Wacana Mulia Bandung : Cetakan I. Sehingga tidak heran kalau seorang filosof Prancis. yang merupakan pahlawan-pahlawan Islam di masa atau era keemasan Islam. berbagai upaya untuk kebangkitan Islam itu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. memandang peradaban Islam sebagai pewaris ketiga di samping peradaban Greko Romawi. seperti Power Ranger. Padahal. seperti Turki. atau Viper. dan Andalusia. Ke mana kisahnya kini? Cerita kehebatan para pahlawan Muslim saat ini hanya menjadi nostalgia belaka. yaitu dari abad ke-1 sampai abad ke-7. sejak disyiarkan Rasulullah SAW sampai sekitar abad ke-7. Salah satu di antaranya adalah melalui penerbitan buku-buku. namun—tidak perlu dipungkiri—untuk melakukan hal itu sangat sulit. Saat ini kita seakan telah terbelenggu dengan konstruksi peradaban yang diciptakan oleh bangsa Barat. Anak-anak itu tentu tidak akan tahu siapa Ibnu Sina. kisah itu merupakan gambaran tentang wajah peradaban pada masa keemasan Islam. Wilayah kekuasaan Islam saat itu telah mencapai sebagian besar Eropa. Roger Graudy. Maskman. pahlawan-pahlawan yang hadir di televisi. Melainkan. Meski demikian. Spanyol. Itulah zaman kebesaran Islam. Banyak diakui. Ibnu Taymiya. Mac Gyver. Cordoba.

dan Matsnawi . dan Ibnu Khaldun selalu merasa kehausan akan ilmu sehingga mereka harus menjadi musafir. Syah Waylillah. penyair. Mereka tidak hanya memiliki akses terhadap Islam itu sendiri. Gairah para pahlawan Islam untuk mencari ilmu juga dilandasi oleh semangat untuk menyiarkan ajaran Islam. Pengetahuan dan Kekuasaan. tidak dilakukan pemilahan menurut bagian-bagian tertentu. dan memberinya inspirasi jihad dalam menegakkan kebenaran. tidak sedikit ilmuwan Barat yang menjadi murid pemikir-pemikir Islam seperti al-Gazhali. menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia. tahun 1995. Yang patut diteladani oleh kita adalah semangatnya dalam mencari ilmu tidak pernah menyerah. al-Thabari. Mereka adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Dalam edisi bahasa Inggris. Buku ini berjudul asli The Moslem Heroes of The World. yang diterbitkan TaHa Publisher London. Menghidupkan Kembali Ilmu Agama. al-Biruni. tetapi juga terhadap bangsa Barat. Bahkan. misalnya. ia juga menjadi orang pertama yang menaburkan benih negara Islam merdeka di kalangan kaum Muslim India. guru besar. Al-Bukhari. Buku ini memperkenalkan sejumlah pahlawan Muslim dalam berbagai bidang. hingga politikus seperti Ibnu Taimiyah. Kontribusi mereka sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan sekarang ini.4-14 Menulis Resensi Buku Buku ini dapat memenuhi harapan di atas. dokter. mulai dari sosiolog. Mereka juga adalah inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu. Namun. dan tidak pernah lelah melakukannya. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari ilmu belaka. ini terbukti dengan diakuinya Ibnu Rusyd sebagai Bapak Filsafat Barat. Tidak hanya itu. dalam edisi Wajah Peradaban ini terbagi menjadi lima bagian. Paling tidak. yaitu: Lautan Pengetahuan. Dari Musafir ke Musafir. yang banyak muncul sekarang ini.

Anda melakukan tahap-tahap secara induktif dalam rangka memahami hakikat dan pengertian resensi buku. c. Tiap-tiap anggota dalam kelompoknya mempunyai tugas yang tidak sama. 2003:81—85) b. (ii) apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. orang tua. Buku ini lebih cenderung untuk konsumsi orang dewasa. Buatlah rumusan pengertian resensi buku dengan menjawab “apa pengertian resensi buku”. khususnya ibu-ibu. III Sayangnya. dan (iv) mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan (surat kabar atau majalah). Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Jadi. . Akan tetapi. karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris.Menulis Resensi Buku 4-15 Cahaya. (Sumber: Romli. tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. Pembagian ini akan memudahkan pembaca lebih paham tentang tokoh-tokoh yang diceritakan. (iii) apa tujuan yang ingin dicapai dengan teks itu. Apa sebenarnya yang sudah Anda lakukan itu? Sejatinya. buku ini sangat layak dibaca para pendidik. tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Pelatihan-2 Tugas dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. sebagai referensi dalam memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya. Selamat membaca. maka bahasanya pun tidak cukup layak dikonsumsi anak-anak. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut: (i) unsurunsur apa saja yang dikemukakan oleh penulis dalam teks yang Anda baca itu.

4-16 Menulis Resensi Buku a. Pertanyaan untuk anggota-2: apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. d. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertanyaan untuk anggota-3: mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan. dari kumpulan jawaban itu. b. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok menjadi satu. khususnya dalam sistematikanya. Anda melakukan tahap-tahap dalam rangka memahami pengertian resensi. Dalam tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dan secara berkelompok. c. Teks yang Anda baca adalah karya resensi buku yang muncul di majalah. Bacalah resensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Pelatihan-3 a. Pertanyaan untuk anggota-4: apa persamaan dan perbedaan teks yang dibaca dengan teks resensi yang berasal dari surat kabar. Pertanyaan untuk anggota-1: apa saja yang dikemukakan dalam teks yang Anda baca itu. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” pada bagian berikut. baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Hasil akhir hakikatnya adalah hasil kelompok. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Selanjutnya. Yang dipaparkan dalam buku ini ialah karakteristik bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik—khususnya pasca Orde Baru—beserta konteks penggunaannya. susunlah menjadi satu paragraf utuh yang memiliki kesatuan dan kepaduan. Apa hakikatnya yang sudah Anda lakukan secara individu dan kelompok itu? Sejatinya. Bagian 1 dan 2 berupa pengantar ke arah bahasa politik dan “pisau analisis” yang . Buku ini diangkat dari naskah disertasi yang dipertahankan terhadap sanggahan para penguji di hadapan Sidang Ujian Disertasi Tahap II Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 12 Desember 2001 dan mengalami pengubahan penyajian jika dibanding dengan naskah disertasi yang asli.

M. bentuk pasif dan negatif. M. bahkan kritik yang dapat saya manfaatkan untuk memperbaikinya. Prof. strategi kehadiran diri (kita. Abdul Wahab. relasi makna (antonimi. Juga kepada Drs. dan struktur teks (konvensi interaksional dan penataan teks). kami. dan nomina tertentu). dan Dr. Monica Djoehana D. sepatutnyalah disampaikan harapan bahwa tulisan ini akan memperoleh tanggapan. Dr. modalitas (relasional dan ekspresif). yang telah membangun “jembatan” antara .Menulis Resensi Buku 4-17 relevan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia. Dr. Imam Syafi’ie.A. Soeseno Kartomihardjo.A. Akhirnya. Dr. yang telah memberikan dana bantuan bagi penelitian disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. modus kalimat (deklaratif. sinonimi.. Diterbitkannya karya tulis ini memungkinkan apa yang saya paparkan dalam disertasi yang konsumennya bersifat amat terbatas dapat diinformasikan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. M. M. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yayasan Darma Aji Bakti. saya. dan hiponimi). Kepada Prof. Willem Mantja (penguji bidang pendidikan). Hariyono. dan Prof. Prof. Oleh karena itu. Jakarta.A... Ph. Oka.d.D. Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Prof. Ph. Dr. saya ingin menyampaikan terima kasih yang setulustulusnya kepada Penerbit Wedatama Widya Sastra (WWS) yang telah mengupayakan penerbitan hasil penelitian ini dalam bentuk buku. 12. Prof. Karakteristik bahasa politik pasca Orde Baru dipaparkan pada bagian 3 s. M.).Pd. Bagian 13 berupa paparan eksplanasi kritis mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan. dan imperatif). Soepomo Poedjosoedarmo.D. Saran dan pertanyaan yang Bapak ajukan pada ujian disertasi amat membantu penyempurnaan karya tulis ini. Ph. (alm. Rofi’uddin. Suparno yang telah memberikan bimbingan selama proses pembuatan disertasi. leksikalisasi. saran.A. M.Pd. Ah.D. (penguji bidang studi) ucapan terima kasih yang tulus sudah sepantasnya penulis sampaikan. metafora. ketransitifan. yakni pola klasifikasi. interogatif. (penguji tamu dari Universitas Gadjah Mada)..

Bacalah daftar isi dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso. Hasil diskusi sebaiknya dirumuskan sebagai hasil kelompok. Rumuskan apa tujuan penulis atau pengarang buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dapat diketahui dari bab “Sekapur Sirih” di atas. c. ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya sudah seharusnya penulis sampaikan. DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH ------------------------------------------------------------------------------v FENOMENA BAHASA POLITIK INDONESIA -----------------------------------------1 Bahasa Politik ----------------------------------------------------------------------------------1 Mengapa Bahasa Politik ---------------------------------------------------------------------3 Bahasa. Rumuskan jawaban Anda dalam satu paragraf singkat. Komunikasi.S. yang dipaparkan berikut ini. diskusikan hasil rumusan kelompok ke dalam diskusi kelas. A. dan Politik ----------------------------------------------------------6 Rambu-Rambu Orwell -----------------------------------------------------------------------9 Beberapa Kajian Bahasa Politik Indonesia Sebelumnya --------------------------10 Catatan Akhir ---------------------------------------------------------------------------------24 “PISAU BEDAH” YANG RELEVAN: Menggali Ideologi dengan Analisis Wacana Kritis ----------------------------------25 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------25 Teori Kritis: Teori sebagai Praksis dan Emansipatif --------------------------------26 Linguistik Fungsional-Sistemik Halliday: Bahasa sebagai Semiotik Sosial ---29 . b. Diskusikan hasil rumusan Anda dengan anggota dalam satu kelompok. b. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. Apakah terdapat perbedaan yang mencolok dari tiap-tiap kelompok? Pelatihan-4 a. Selanjutnya.4-18 Menulis Resensi Buku penulis dan penerbit.

dan Imperatif ---------------------------------------------------175 .Menulis Resensi Buku 4-19 Kajian Bahasa dengan Paradigma Kritis ----------------------------------------------36 Analisis Wacana Kritis: Tiga Dimensi Wacana secara Simultan ----------------47 POLA KLASIFIKASI DALAM WACANA POLITIK -----------------------------------70 Pola Klasifikasi -------------------------------------------------------------------------------70 Kosakata Pengklasifikasi ------------------------------------------------------------------70 LEKSIKALISASI DALAM WACANA POLITIK ----------------------------------------91 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------91 Kosakata Utama yang Pertama Muncul -----------------------------------------------91 Perkembangan Lanjut Kosakata Utama -----------------------------------------------93 Leksikalisasi dari Berbagai Bidang Kehidupan -------------------------------------100 Leksikalisasi Khusus ----------------------------------------------------------------------107 RELASI MAKNA DALAM WACANA POLITIK: Antonimi. dan Hiponimi ------------------------------------------------------114 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------114 Antonimi --------------------------------------------------------------------------------------114 Sinonimi --------------------------------------------------------------------------------------119 Hiponimi --------------------------------------------------------------------------------------122 METAFORA DALAM WACANA POLITIK -------------------------------------------128 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------128 Metafora Nominatif ------------------------------------------------------------------------129 Metafora Predikatif ------------------------------------------------------------------------134 Metafora Kalimat ---------------------------------------------------------------------------136 KETRANSITIFAN DALAM WACANA POLITIK ------------------------------------140 Pengertian Ketransitifan ------------------------------------------------------------------140 Proses Material -----------------------------------------------------------------------------141 Proses Mental atau Proses Proyeksi -------------------------------------------------155 Proses Relasi atau Proses Menjadi ---------------------------------------------------157 BENTUK PASIF DAN NEGATIF DALAM WACANA POLITIK -----------------161 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Pasif ---------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Negatif ----------------------------------------------------------------------------. Sinonimi. Interogatif.168 MODUS KALIMAT DALAM WACANA POLITIK: Deklaratif.

175 Kalimat Interogatif ------------------------------------------------------------------------.245 Perspektif dalam Pilihan Kosakata --------------------------------------------------.175 Kalimat Deklaratif ------------------------------------------------------------------------. . rumuskan tujuan Anda membuat resensi.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kita” -----------------------------------------------.211 STRUKTUR TEKS POLITIK: Konvensi Interaksional dan Penataan Teks -214 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------214 Konvensi Interaksional -------------------------------------------------------------------214 Pengurutan Teks ---------------------------------------------------------------------------238 PERSPEKTIF DALAM WACANA POLITIK: Sebuah Eksplanasi Kritis-----.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Saya” -----------------------------------------------207 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kami” ---------------------------------------------.201 STRATEGI KEHADIRAN DIRI DALAM WACANA POLITIK: Kita. dan Nomina Tertentu --------------------------------------------.185 MODALITAS DALAM WACANA POLITIK: Relasional dan Ekspresif ------.205 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.179 Kalimat Imperatif -------------------------------------------------------------------------.190 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------190 Modalitas Relasional --------------------------------------------------------------------. Rumusan Anda ditujukan kepada khalayak pembaca. Setelah membaca dua teks di atas.209 Strategi Kehadiran Diri dengan Pronomina Tertentu ---------------------------. Saya.245 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.4-20 Menulis Resensi Buku Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------. Kami.246 Perspektif dalam Pilihan Gramatika ---------------------------------------------------250 Perspektif dalam Pilihan Struktur Teks -----------------------------------------------253 DAFTAR PUSTAKA -----------------------------------------------------------------------256 c.190 Modalitas Ekspresif ----------------------------------------------------------------------.

suatu penelitian “jargon” dan “bahasa” politik yang digunakan oleh para pejabat dan politikus seputar Pemilihan Umum di Indonesia tahun 1999. Hasil temuan dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pelaku politik dan pejabat pemerintahan di negeri ini untuk menyusun strategi perjuangan politiknya.Menulis Resensi Buku 4-21 Pelatihan-5 a. Penelitian ini antara lain menjawab pertanyaan “mengapa elite politik memilih dan mengistimewakan serta mengabaikan dan tidak menggunakan satuan bahasa tertentu?”. Bacalah teks kedua—berupa catatan penerbit--berikut! Buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru ini diangkat dari disertasi berjudul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik Era Pasca Orde Baru. Bacalah teks pertama—berupa sampul buku--berikut! Bahasa Politik Pasca Orde Baru Anang Santoso Penerbit WEDATAMA WIDYA SASTRA Jakarta. Ada gejala “proses institusional” dan “proses sosiokultural” penggunaan bahasa dalam dunia politik di Indonesia. Maret 2003 b. ISBN 979—3258—04—7 . terutama yang bersangkut paut dengan penggunaan bahasa. Hal ini antara lain terjadi karena perbedaan perspektif para elite politik atas suatu masalah.

Diskusikan jawaban-jawaban itu dalam diskusi kelompok! e. Tugas anggota-1: Bacalah sekali lagi teks “Sekapur Sirih” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! b. Maret 2003 Tebal: ix + 273 halaman . Identifikasi karakteristik. selera. Bacalah teks “pendahuluan” resensi berikut! Teks ini pernah muncul dalam sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Timur. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok ke dalam satu jawaban kelompok yang akan menjadi bahan diskusi kelas. Jakarta Cetakan: Pertama. Pelatihan-6 a. Tugas anggota-2: Bacalah sekali lagi teks “Daftar Isi” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! c. dan tingkat pemahaman (kadar intelektualitas) dari konsumen buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dibidik oleh penerbit. Pelatihan-7 a.4-22 Menulis Resensi Buku c. Judul Buku: Bahasa Politik Pasca Orde Baru Penulis: Anang Santoso Penerbit: Wedatama Widya Sastra. Tugas anggota-3: Bacalah sekali lagi teks “Catatan Penerbit” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! d.

tetapi juga ditambah dengan Nurcholish Madjid.Menulis Resensi Buku 4-23 b. kalau Zaman penerbit buku ini. Maklum. buku ini lebih komprehensif. Cak Nur. c. a. dan Kang Jalal—begitu mereka biasa dipanggil oleh para . Diskusikan hasil identifikasi yang Anda buat dengan teman lainnya. dan Jalaludin Rakhmat. Identifikasi persamaan dan perbedaan antara jawaban Anda dengan jawaban yang lain. Pelatihan-8: a. Bacalah teks “isi” sebuah resensi berikut! Kalau dua tahun lalu terbit sebuah buku yang mengungkap soal strategi perjuangan umat model Abdurrahman Wahid dan Amien Rais—dan sempat menghebohkan itu. Informasikan bagian identitas buku itu kepada khalayak menjadi bagian pendahuluan dari sebuah resensi. Ketika umat sedang “bingung” dengan fenomena sosial politik yang terjadi belakangan ini. keempat tokoh itu: Gus Dur. b. menjagokan buku ini sebagai “anak sulung” terbitan tahun pertamanya. dan mau tidak mau. Pelatihan-9: a. Tak salah. buku ini berasal dari tesis S-2 penulisnya (Dedy Djamaluddin Malik) yang telah diubah secara populer dan menjelma menjadi buku ini. pentolan Muthahhari. Dari materi dan metode penulisan. Pilihlah salah satu buku yang akan diresensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Mas Amien. maka pada permulaan 1998 ini terbit sebuah buku. dedengkot Paramadina. Bacalah bagian buku—bagian halaman judul—yakni bagian yang menggunakan halaman huruf kecil angka romawi. Identifikasikan identitas buku yang selayaknya disampaikan kepada khalayak pembacanya. yang tidak hanya membahas pemikiran dan aksi politik mereka berdua.

maka suatu saat akan bergeser ke kiri. Kemudian Cak Nur yang makin intens membina kelas menengah Muslim di metropolitan. Yang satu dianggap mewakili arus bawah dan yang satu lagi arus atas. situasi pun kemudian berubah. Sehingga. Namun. seperti yang sudah disinggung di muka. meminjam istilah pengamat politik almarhum Alfian. agaknya pemerintah tidak berani untuk bertindak gegabah. umatnya—pun terkait dengan proses dialektika Suara Gus Dur yang mulai melemah ketika runtang-runtung dengan Mbak Tutut. Lantaran pemikiran-pemikiran atau lebih tepatnya “sejarah pemikiran” seorang tokoh. Kita ambil kasus buku tentang Gus Gur dan Mas Amien. buku ini pun sedikit banyak merekam dinamika pemikiran mereka. Lantas Mas Amien yang kian meninggi volume suaranya sejak kasus Busang dan suksesi— yang membuatnya terdepak dari ICMI—sampai kesediannya dicalonkan sebagai presiden. tak pernah berhenti secara final. Atau. Belum lagi. Sampai-sampai majalah Ummat menganugerahinya sebagai “Tokoh 1997”. . Namun. Inilah realitas politik. suatu saat mulur dan pada saat lain mengkeret. Kang Jalal yang kontroversial sebagai “Agen Syiah” dan secara menghanyutkan tekun mendalami dunia tasawuf bersama keluarga mantan Wakil Presiden Soedharmono. masing-masing tokoh itu mempunyai umat yang tidak terbilang sedikit. Lain ketika yang bertindak itu Sri Bintang Pamungkas. setelah sebelumnya dengan Mbak Mega. Dan. Dan. sekeras apa pun mereka bicara. inilah yang dimaksud dengan “Teori Gelang Karet”. Semua fakta itu tidak bisa diabaikan kalau kita berbicara tentang Islam dan Indonesia. belum lama buku itu terbit.4-24 Menulis Resensi Buku pengagum maupun perjalanan bangsa ini. Atau. misalnya. Partai Islam no” itu. justru di sinilah kesulitan bagi pengamat untuk secara benar me-metakan mereka dalam sebuah posisi yang tetap. Ketika pendulum sedang bergeser ke kanan. Kendati demikian. penulis telah berupaya keras untuk menganalisis sepak terjang mereka dari sejarah biografi pemikiran mereka berempat. Tak terkecuali dengan buku ini. semua itu hanyalah timbangan sementara. menurut Mohammad Sobary dalam kata pengantarnya pada buku ini. setelah sebelumnya menelurkan jargon “Islam yes.

Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah informasi tentang latar belakang penulisan. keempatnya tidak sekali pun terlintas untuk membentuk negara Islam. Sumber: Romli (2003:79—81) b. Jika ada. dan adakah ulasan perbandingan dengan buku lain dari pengarang yang sama. Jika ada. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. dimungkinkan dengan berubahnya pandangan pemerintah terhadap Islam. yakni suatu era di mana orientasi perjuangan umat Islam tidak lagi…dst. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah ulasan tentang gaya penulisan. Hadangan banyak mengganjal mereka. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Untuk selanjutnya Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota enam orang. Pertanyaan untuk anggota-6: adakah ulasan perbandingan dengan buku lain yang temanya sejenis. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah paparan singkat tentang isi buku atau gambaran secara keseluruhan terhadap isi buku. . Jika ada. Untuk membimbing Anda.Menulis Resensi Buku 4-25 Sebenarnya. c. Merekalah tokoh intelektual Muslim paling menonjol dalam kelahiran “Zaman Baru Islam Indonesia”. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah informasi tentang tujuan penulisan buku. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Jika ada. Identifikasikan apa saja yang ingin dikemukakan peresensi dalam bagian “isi” yang dipaparkan di atas. Namun demikian. Lantaran. bukan berarti langkah mereka mulus-mulus saja. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Mulai dari telepon gelap sampai ucapan yang mengkafirkan mereka. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. tapi yang diperjuangkan mereka adalah demokratisasi. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Islam yang diusung keempat tokoh itu adalah Islam yang lebih toleran dan terbuka. Dari buku ini juga terungkap. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah ulasan tentang tema atau judul. kemunculan keempat tokoh dalam waktu yang tidak beda berselang itu.

Pelatihan-10: a. membandingkan. yakni halaman 1 sampai dengan halaman daftar pustaka atau daftar rujukan. e.4-26 Menulis Resensi Buku d. d. dan mengulas buku dengan tema yang sejenis & membandingkan serta mengulas buku lain yang dihasilkan pengarang yang sama. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi enam orang. Tugas anggota-6: menuliskan. Tugas anggota-5: memberikan ulasan tentang gaya penulisan yang digunakan penulis buku. Tugas anggota-3: merumuskan latar belakang penulisan buku yang diresensi. Tugas anggota-1: memberikan ulasan tentang judul atau tema buku. Setiap kelompok menyampaikan hasil rumusannya dalam diskusi kelas. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Tugas anggota-4: merumuskan tujuan penulisan buku yang diresensi. Hasilnya dirumuskan menjadi sebuah rumusan yang berupa jawaban dari kelompok. Gabungkan jawaban setiap individu itu ke dalam teks yang padu. Jawaban setiap anggota kelompok tersebut selanjutnya didiiskusikan di dalam kelompok masing-masing. b. Bacalah teks “penutup” sebuah resensi berikut! . Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. c. Tugas anggota-2: menulis paparan isi buku secara singkat atau gambaran isi buku secara keseluruhan. Hasil rumusan itu adalah bagian “isi” untuk resensi menurut kelompok Anda sendiri. Pelatihan-11: a. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil dari kelompok penyaji. Bacalah bagian isi buku.

pengeditan buku ini tampak dilakukan tergesa-gesa. Untuk membimbing Anda. Amien Rais. Apalagi. apalagi yang tergerak untuk meneruskan perjuangan mereka dalam kerangka penegakan ajaran Islam. utamanya bagi mereka yang selama ini dibuat “bingung” oleh aksi dan pemikiran keempat tokoh tersebut. Sumber: Romli (2003:81—82) b. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. buku ini dapat menjadi referensi utama bagi penentuan strategi dakwah masa depan. Masih ditemukan di sana-sini kalimat yang kurang tertib menurut kaidah EYD. Sayangnya. kita pun bisa memprediksi gebrakan apa lagi yang akan dibuat dan mengerti jika suatu saat sang tokoh kita ini tiba-tiba “berubah”. salah satu tokoh dalam buku ini. apa kritik atau saran itu. is perlu reediting. Bagi kaum muda Muslim. Jika ada. sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Karenanya. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. buku ini layak kita ucapi selamat datang.Menulis Resensi Buku 4-27 Materi dalam buku ini cukup komprehensif. telah teruji secara ilmiah dan aktual. apa kelebihan dan kelemannya. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. Anda masih bekerja dalam kelompok masing-masing. berkaitan dengan isu suksesi dan aksi politiknya menyatakan siap menjadi presiden. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah penilaian kelebihan dan kelemahan buku. Dengan referensi buku ini. Jika ada. buku ini tetaplah penting untuk dibaca dan dimiliki. Namun demikian. Sehingga. atau sebaliknya. kata-kata jenuh dan mubazir. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. ada pertimbangannya. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah pertimbangan kepada pembaca agar membaca atau membeli. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah kritik atau saran kepada penulis. rumuskan penilaian itu menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. khususnya di Indonesia. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah saran- . tengah menjadi newsmaker dewasa ini.

Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Tugas anggota-5: memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki. c. atau tidak. Hasil rumusan itu adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Ini adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. c. Hasilnya ditata ke dalam sebuah teks yang padu. Bacalah bagian buku secara keseluruhan. Tugas ang-gota-2: memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan buku. dari bagian awal sampai akhir. d. Jika ada. . Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Tugas anggota-3: memberikan saran dan kritik kepada penulis tentang kekurangan yang ada. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi lima orang. apa saran-saran perbaikannya. d.4-28 Menulis Resensi Buku saran perbaikan bagi penerbitnya. Tugas anggota-4: memberikan saran dan kritik kepada penerbit demi penyempurnaan pe-nerbitan. e. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Hasil ini masih perlu dikomunikasikan kepada kelompok lain. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pelatihan-12: a. Tugas anggota-1: memberikan penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu jawaban kelompok. Rumuskan ulasan Anda secara individu ke dalam bentuk tulisan. b. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

BUKU AJAR APRESIASI SASTRA INDONESIA .

kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. Menjelaskan bekal awal pengapresiasi sastra 3. puisi.BAB I. . dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. penghargaan. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Menjelaskan berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra. KONSEP DASAR APRESIASI SASTRA A. DESKRIPSI Penyajian teori apresiasi sastra yang meliputi meliputi pengertian apresiasi sastra. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar apresiasi sastra yang meliputi pengertian apresiasi sastra. bekal awal pengapresiasi sastra. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. B. C. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra 2. serta mampu mengapresiasi prosa. E. D. bekal awal pengapresiasi sastra. INDIKATOR 1. puisi. Menjelaskan perbedaan antara kegiatan langsung dan taklangsung dalam apresiasi sastra 4. kepekaan pikiran kritis. dan drama. URAIAN MATERI Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian.

sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi. Pada sisi lain. latar proses kreatif penciptaan. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sastra. (2) aspek emotif. Dalam konteks yang lebih luas. aspek tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna yang tersurat. apresiasi melibatkan tiga unsur inti. 1 Pengertian Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. menikmati. Adapun unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang. apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin serta (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Oleh karena itu. atau unsur intrinsik karya sastra. yakni (1) aspek kognitif. unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya . maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran karya sastra. dan unsur-unsur di luar teks sastra itu sendiri. Selain itu. dan menilai karya sastra yang dibaca. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sebagaimana yang diuraikan berikut ini. Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik. Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca.misalnya. Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses. memahami. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unnsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. atau unsur ekstrinsik karya sastra.5-2 Apresiasi Bahasa Indonesia Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. Unsur intrinsik yang bersifat objektif itu. dan (2) aspek evaluatif.

indah tidak indah. tekun membaca buku. secara imajinatif. sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian. Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi tersebut. misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. Effendi (1982) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. Bagaimana penyimpulan makna yang dipaparkan lewat cara penampilan pelaku serta penataan setting yang terpapar secara sugestif tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh kepekaan pembaca yang pada dasarnya dibentuk oleh endapan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. tentu mampu memberikan penilaian. Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan terhadap penilaian baik buruk. penghargaan. mampu menghayati kualitas ragam hidup demikian.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-3 memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. pelaku wanita yang tampil dengan pupur tebal di tengah malam duduk sendirian di sebuah nite club akan memberikan sugesti makna yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelaku wanita yang tampil dengan jernih. serta sejumlah ragam penilaian utama yang tidak harus hadir dalam serbuah karya kritik. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur signifikan tertentu. keterlibatan unsur penilaian dalam unsur ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespons karya sastra yang telah dibaca sampai pada tahap pemahaman dan penghayatan. Dari pendapat itu juga disimpulkan . Sebagai contoh. Dengan kata lain. dirinya. sesuai-tidak sesuai. Misalnya. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. tengah malam duduk sendirian di kamarnya. pembaca yang telah memahami karakter pelaku yang tampil dengan pupur tebal. duduk di nite club sendirian tengah malam. kepekaan pikiran kritis. tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.

mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra. maupun drama. Kegiatan itu disebut sebagai apresiasi sastra secara tidak langsung karena pada akhirnya selain dapat mengembangkan pengetahuan seseorang tersebut juga akan meningkatkan tentang sastra. baik yang berupa prosa.5-4 Apresiasi Bahasa Indonesia bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab sikap dengan teks sastra yang serta diapresiasinya. puisi. Kegiatan apresiasi karya sastra selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. kegiatan dalam rangka kemampuan . melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara kongkret. melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya. menikmati. membaca artikel yang berhubungan dengan sastra baik di majalah maupun koran. serta mempelajari sejarah sastra. Kegiatan apresiasi karya sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra. memahami. sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya. serta mengevaluasi karya sastra. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung. menumbuhkan sungguh-sungguh. Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati karya sastra secara langsung. Kegiatan membaca karya sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca/mendengarkan. Kegiatan Langsung dan Tak Langsung dalam Mengapresiasi Karya sastra Dari uraian pengertian apresiasi sastra sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. 2.

kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperanan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra. Penumbuhan sikap serius dalam membaca karya sastra itu terjadi karena karya sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya. karya sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya. maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. Dengan demikian. Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut akan tergambar lewat media kebahasaan. juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontempelasi batin. filsafat. dan struktur wacana. Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa karya sastra. tetapi dengan suasana batin riang.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-5 mengapresiasi suatu karya sastra. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguhsungguh dan berulang-ulang kepekaan sehingga dan dapat perasaan melatih dalam dan rangka mengembangkan pikiran mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan atau lisan. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan. media tulisan/lisan. 3 Bekal Awal Pengapresiasi Karya Sastra E. politik. Sementara pada sisi lain. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. Kellet mengungkapkan bahwa pada saat membaca suatu karya sastra.E. . ia selalu berusaha menciptakan sikap serius.

lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics. Dari keseluruhan uraian tersebut dapat diambil simpulan bahwa karya sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks. maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan. (3) media pemaparan baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. . filsafat. dan (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik karya sastra itu sendiri sebagai suatu teks. politik. serta berbagai kompleksitas masalah kehidupan. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra.5-6 Apresiasi Bahasa Indonesia Dengan demikian. (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. sastra sebagai salah satu cabang seni. misalnya buku filsafat dan psikologi. tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat di dalam karya sastra. antara lain (1) unsur keindahan. sebagai bacaan. Terdapatnya berbagai unsur karya sastra sebagaimana tersebut mengimplikasikan bahwa untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text karena teks sastra bagaimana pun memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya. Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut sebagai bekal awal karena untuk mampu mengapresiasi karya sastra seseorang harus secara terus menerus menggauli karya sastra. Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu salah satunya ditandai oleh adanya unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. baik lewat penghayatan atas kehidupan secara intensif-kontemplatif.

(3) pendekatan historis. . Oleh sebab itu. (2) pendekatan analitis. Lebih lanjut. dan (5) pendekatan didaktis (Aminudin 1995). kepekaan emosi dan perasaan itu bukan hanya berhubungan dengan kegiatan penghayatan dan pemahaman nilai-nilai keindahan. 4.1 Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang menggugah perasaan pembaca yang dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan yang lucu dan menarik. yakni jika pembaca semakin sering dan akrab dengan kegiatan membaca karya sastra. (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. Brooks membedakan adanya dua level. (4) pendekatan sosiopsikologis. Hal itu disebabkan adanya (1) perbedaan tujuan dan apa yang diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya. melainkan juga berhubungan dengan usaha pemahaman kandungan makna yang umumnya bersifat konotatif. sedangkan kegiatan menggauli karya sastra sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. 4 Pendekatan dalam Mengapresiasi Karya Sastra Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan dalam mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. yakni level objektif yang berhubungan dengan respons intelektual dan level subjektif yang berhubungan dengan respons emosional. dalam kegiatan apresiasi karya sastra.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-7 Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah.

Dalam pelaksanaannya. dan (5) berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan.5-8 Apresiasi Bahasa Indonesia Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. dan (3) setiap elemen dapat dibicarakan secara terpisah tetapi pada akhirnya setiap elemen harus disikapi sebagai satu kesatuan. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan analitis adalah bahwa (1) karya sastra dibentuk oleh elemen-elemen tertentu. misalnya ragam humor. 4. . cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ideidenya. sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya. Untuk menemukan dan menikmati karya sastra yang mengandung kelucuan. pembaca tentunya harus memilih karya sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. sarkasme.2 Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan. satirik. (2) bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu. melalui pendekatan ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) adakah unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. (3) bagaimana wujud keindahan itu setelah digambarkan pengarangnya. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra yang dibaca. (2) setiap elemen dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. atau komedi. (4) bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu. elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur intrinsik sehingga membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.

4. (3) memahami mekanisme hubungan antarunsur intrinsiknya. penerapan pendekatan analitis selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) unsur-unsur apakah yang membangun karya yang saya baca ini. Adapun secara konkret langkah-langkah yang harus ditempuh adalah (1) membaca teks secara keseluruhan. (2) bagaimana unsur-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangnya. pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna suatu karya sastra. maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat karya sastra diwujudkan. (4) menganalisis fungsi setiap unsur dalam rangka mewujudkan karya sastra. 4. kehidupan masyarakat. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan historis adalah adanya anggapan bahwa karya sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya. Selain itu. (2) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang dibacanya. . latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya prosa fiksi yang dibaca. dan (4) bagaimana cara memahaminya. (3) bagaimana peran setiap unsur dan bagaimana hubungan antarunsurnya.4 Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya.3 Pendekatan Historis Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-9 Dalam pelaksanaannya. serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.

yakni pendekatan yang satu digunakan secara bersamaan dengan pendekatan yang lain. Dalam pelaksanaannya. . dan (3) penerapan pendekatan secara eklektik sesuai dengan konpleksitas aspek maupun keragaman karakteristik karya sastra itu sendiri. (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakap. kita dapat menyimpulkan nilai-nilai apa yang terkandung di dalam karya sastra yang kita hadapi. komentar. dan bagaimana hubungan antara karya sastra dengan zamannya. bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya. penerapan pendekatan didaktis dilakukan melalui upaya memahami satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu karya sastra yang disarikan dari paparan gagasan pengarang yang berupa tuturan ekspresif. maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis. lakuan. melalui pendekatan ini kita berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa karya itu diciptakan. Gagasan. Dari pemahaman tersebut.5-10 Apresiasi Bahasa Indonesia Dalam pelaksanaannya. tanggapan. Demikianlah berbagai pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra. tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. atau bahkan salah. dialog. filosofis. berbagai pendekatan itu pada umumnya digunakan secara eklektik. 4. maupun agamis. Dalam pelaksanaannya.5 Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis berusaha menemukan dan memahami gagasan. Adapun alasannya adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan. maupun deskripsi peristiwa dari pengarang.

dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra. Untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. RANGKUMAN Apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. (3) pendekatan historis. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan/lisan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-11 F. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. Pendekatanpendekatan tersebut sebaiknya digunakan secara eklektik. dan (5) pendekatan didaktis. Apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. . yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan. kepekaan pikiran kritis. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. penghargaan. (2) pendekatan analitis. (4) pendekatan sosiopsikologis.

B. Hal itu disebabkan prosa (yang untuk pembicaraan selanjutnya disebut prosa fiksi) merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. jenis. dan drama. jenis. dan unsur prosa serta praktik mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Hakikat Prosa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). URAIAN MATERI 1. jenis. E. Mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. C. puisi. INDIKATOR 1. yang berarti cerita rekaan (cerkan) atau “khayalan”. DESKRIPSI Penyajian konsep dasar prosa yang meliputi pengertian ahakikat. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. serta mampu mengapresiasi prosa. dan unsur pembangun prosa serta mampu mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Dengan kata lain. khayalan. puisi. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya . Menjelaskan hakikat. MENGAPRESIASI PROSA A. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa.BAB II. dan unsur prosa 2. prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar prosa yang meliputi hakikat.

kontemplasi. 'dunia' dalam prosa fiksi dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa faktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi. prosa fiksi bukan sekadar hasil kerja lamunan. kebenaran dalam prosa fiksi tidak sama dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. dirinya sendiri. tokoh. Oleh karena itu. Meskipun demikian. Ia merupakan hasil dialog. Dengan demikian. peristiwa. diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif. dan latar yang semuanya tentu saja bersifat imajinatif. hidup dan kehidupan. prosa fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. akan tetapi semua itu berjalan dengan sistem dan koherensinya sendiri. sesama. dan Tuhan. menurut Alterbern dan Lewis. Jika dibandingkan dengan karya nonfiksi. Sebagai karya imajinatif. Prosa fiksi menampilkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. Prosa fiksi menawarkan sebuah dunia yang dibangun melalui cerita. Walaupun berupa khayalan. dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. . dan tempat yang disebut-sebut di dalam prosa fiksi bersifat imajinatif. Dengan demikian. prosa fiksi merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dapat dikatakan bahwa dunia dalam prosa fiksi merupakan 'dunia lain' di samping kenyataan. peristiwa.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-13 dalam dunia nyata. tokoh. sedangkan di dalam karya nonfiksi bersifat faktual. prosa fiksi. meskipun dalam beberapa aspek menunjukkan kesamaan.

di antaranya adalah mite. terjadinya maut. dan bertempat di dunia seperti yang kita . hubungan kekerabatan. Cerita rakyat dikenal dan diceritakan dalam kalangan masyarakat. Di dalam tradisi lisan terdapat berbagai jenis cerita rakyat. Oleh karena sifatnya yang demikian. terjadinya pada masa yang belum begitu lampau. pengarang cerita rakyat pada umumnya tidak dikenal serta ceritanya sangat mudah berubah dari waktu ke waktu. Mite juga mengisahkan petualangan. atau mkakhluk setengah dewa.5-14 Apresiasi Bahasa Indonesia 2. percintaan. legenda. berbeda dengan mite. Peristiwa terjadi didunia lain. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. dan dongeng. Mite ditokohi oleh para dewa. dunia. kegenda bersifat keduniawian. atau di dunia yang bukan seperti yang kt akenal sekarang dan terjadi di masa lampau. dibacakan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga cerita itu dirasakan sebagai milik bersama. Prosa Fiksi Lama Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. bentuk topografi. legenda adalah cerita rakyat yang dianggaps ebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. manusia pertama. dan gejala alam. Contoh mite adalah cerita Dewi Sri dari Jawa dan Mado-Mado dari Pulau Nias. Hanya saja. Jenis Prosa Fiksi Menurut sejarah perkembangannya. a. Seperti halnya mite. Mite pada umumnya mengisahkan alam semesta. 1) Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang sejak belum terdapat tradisi tulisan. bentuk khas binatang. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita. atau kisah perang para dewa.

Contoh legenda adalah kisah terhadinya Rawa Pening. dan (d) hikayat yang mendapat pengaruh Arab. berisikan pelajaran (moral) atau sindiran. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. dan seraingkali dibantu oleh makhlukmakhluk ajaib. (b) hikayat yang mendapat pengaruh dari jawa. walaupun banyak yang juga melukiskan kebenaran. Kancil dan Buaya. Hikayat umumnya menceritakan riwayat ajaib tentang putera dan puteri raja. nabi-nabi Islam. dan Bawang Merah Bawang Putih. Meskipun hikayat sebenarnya bentuk asli kesusasteraan Indonesia. Legenda ditokohi manusia. di dalamnya bercampur aduk antara lukisan Melayu asli dan dewa-dewa Hindu yang menjelma. walaupun ada kalanya mempunyai sifat yang luar biasa. dan cerita Batu Belah. Contoh dongeng adalah Timun Emas. pada perkembangannya kemudian tercampur dan terjalin dengan ceritacerita asing. dan sebagainya. hikayat dapat dibedakan menjadi (a) hikayat asli Melayu. (d) hikayat yanag mendapat pengaruh dari Persia. Prosa Fiksi Baru . 2) Hikayat Hikayat adalah bentuk cerita fiksi yang lain dalam kesusasteraan lama. sejarah. Dongeng biasanya diceritakan untuk hiburan. misalnya dongengdongeng binatang. misalnya Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Raja-Raja Pasai. kepercayaan Hindu. asal mula terjadinya nama Banyu Wangi. (c) hikayat yang mendapat pengaruh Hindu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-15 kenal sekarang. misalnya Hikayat Perang Pandawa Lima dan Hikayat Sang Boma. Berdasarkan asal ceritanya. Tangkuban Perahu. misalnya Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar. b. misalnya Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Damar Wulan. misalnya Hikayat Srang Manyang dan Hikayat Malim Deman.

2) Cerita Pendek . yaitu novel avontur. baik dilihat dari segi teknik berceritanya maupun isi yang diungkapkan pengarang. ukuran luas disini tidak mutlak sifatnya. dan latar yang beragam pula. suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada cerita rekaan yang lain. dalam novel dimungkinkan adanya degresi. Degresi atau lanturan adalah masuknya masalah yang tidak begitu integral dalam cerita yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. Penggolongan lain dilakukan oleh Mochtar Lubis yang membagi novel menjadi 6 jenis. di Indonesia juga dikenal istilah roman. Sebenarnya kedua bentuk cerita itu pada hakikatnya sama. suasana cerita yang beragam. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks. kemudian dicari-cari perbedaannya. prosa fiksi baru dibagi menjadi dua jenis yaitu novel dan cerpen. dan kolektif. tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya. Di samping itu ada yang membagi novel menjadi dua. politik. (4) novel anak-anak. dan ketidakhadirannya tidak akan mengganggu keutuhan cerita. (2) novel sejarah.5-16 Apresiasi Bahasa Indonesia Secara garis besar. (5) novel politik. karakter yang banyak. psikologis. 1) Novel Dalam arti luas. Tetapi. sosial. Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang mendominasi novel yang ditulisnya. Karena keluasannya. novel dibedakan menjadi (1) novel bertendens. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang juga berbeda. (6) novel psikologis. Di samping novel. (3) novel adat. novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. ditektif. dan (7) novel percintaan. yakni cerpen. yakni novel serius dan novel populer yang masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri.

cerpen hanya mempunyai efek tunggal. dalam cerpen tidak mungkin muncul degresi atau lanturan sebagaimana yang biasa terjadi dalam novel. Cerpen hanya memusatkan perhatian pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita. Yang perlu diingat adalah bahwa dalam kesingkatannya. Dengan demikian. sedangkan unsur isi adalah sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu. Ruang lingkup permasalahan yang diungkapkan di dalam cerpen adalah sebagian kecil dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. yakni fakta cerita. Unsur Pembangun Prosa Fiksi Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. alur. Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita. karakter. serta gaya (bahasa). Alur . kepaduan merupakan syarat utama sebuah cerpen. Oleh karena itu. Predikat pendek di sini bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu. Cerpen mempunyai kecenderungan berukuran pendek dan pekat. dan tema cerita. dan latar yang terbatas. sarana cerita. Pembagian lain dikemukakan oleh Stanton (1965). a.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-17 Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. dan tidak kompleks. Sarana cerita itu meliputi unsur judul. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur. sudut pandang. Dalam kesingkatannya. tidak beragam. Ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi tiga bagian. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan lewat bentuk karya itu. atau sedikitnya tokoh yang terdapat di dalamnya. 3. tokoh. dan latar. cerpen merupakan karya sastra yang lengkap dan selesai sebagai suatu bentuk karya rekaan.

Peristiwa dalam prosa fiksi dapat disusun dengan mengikuti garis lurus. bulat. yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh. Peristiwa A merupakan awal cerita. dari konflik kecil sampai konflik yang besar. yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa. alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu. Jadi. dalam alur akan dijumpai puncak-puncak konflik. alur selalu menampilkan konflik-konflik. Tahap awal biasanya disebut tahap perkenalan. Dalam tahap tengah inilah klimaks dimunculkan. Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. Bahkan. Adapun tahap akhir atau peleraian menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. konflik eksternal. Tahap tengah atau pertikaian menampilkan peningkatan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal. berupa pengenalan tentang waktu dan tempat terjadinya peristiwa dan pengenalan tokoh cerita. Dengan kata lain. dapat pula berupa konflik eksternal. misalnya. bagian ini menunjukkan bagaimanakah akhir sebuah cerita yang penyelesaiannya bisa bersifat tertutup dan bisa juga terbuka. Peristiwa-peristiwa yang jalin menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut alur. Pada tahap awal cerita konflik sedikit demi sedikit mulai dimunculkan. yaitu konflik antara tokoh dengan hal lain di luar dirinya. misalnya antara manusia dengan manusia lain. dan utuh. diikuti oleh peristiwa B yang . atau kedua-duanya sekaligus.5-18 Apresiasi Bahasa Indonesia Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. atau manusia dengan Tuhan. Konflik-konflik itu dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri). manusia dengan alam. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal.

atau benda yang diinsankan. pengarang memiliki kebebasan kreativitas. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. dan ketidaktentuan (suspense). tiba-tiba pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu. Kaidah yang dimaksud meliputi masalah kemasukakalan (plausibility). pembaca dibawa kembali ke inti cerita. misalnya dalam Tinjaulah Dunia Sana karya Maria Amin. melainkan dari peristiwa akhir kemudian baru dikisahkan peristiwa yang mendahuluinya. yaitu (1) tokoh sentral atau tokoh utama dan (2) tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). b. dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. meskipun dapat juga berwujud binatang. Contoh cerita yang menggunakan susunan seperti itu adalah Atheis karya Achdiat Kartamiharja.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-19 merupakan inti cerita. Dalam membaca urutan cerita yang demikian pembaca seolah-olah diajak untuk mengenang peristiwa masa lalu. Dalam membentuk alur tertentu. Urutan seperti itu dinamakan alur sorot baik. ada semacam ketentuan atau kaidah yang perlu dipertimbangkan. dan berakhir dengan peristiwa C sebagai penutup cerita. Tokoh pada umumnya berwujud manusia. Tokoh sentral atau tokoh utama yang disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan . Ketika sedang berada pada peristiwa pokok. Ada pula prosa fiksi yang disusun sebaliknya. Namun demikian. Melalui cara itu. Peristiwa tidak disusun secara urut dari peristiwa awal sampai peristiwa akhir. Urutan peristiwa seperti itu disebut alur lurus. Setelah kenangan itu habis. tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua. kejutan (surprise). pembaca langsung diajak masuk ke dalam peristiwa pokok. Tokoh dan Penokohan Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. pertama. Cara yang lain adalah dengan menggabungkan dua cara di atas.

yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. Agar manusia yang perikehidupannya diceritakan itu lebih jelas bagi pembaca. dantokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) ialah tokoh yang tidak sentral dalam cerita. perlu bagi pembaca untuk menentukan tokoh sentralnya. Biasanya tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita. Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita dijumpai adanya tokoh datar/sederhana/pipih yang wataknya tidak berkembang dan tokoh bulat/kompleks/ bundar yang wataknya berkembang dan kompleks sehingga terlihat kelemahan dan kelebihannya dan dapat dibedakan dari watak tokoh lain. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh itulah yang disebut penokohan.5-20 Apresiasi Bahasa Indonesia cerita itu ada. Jelasnya. Bagaimana kita pembaca mengenali watak tokoh-tokoh cerita? Ada beberapa cara yang dapat membawa pembaca sampai pada sebuah simpulan tentang watak tokoh. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya. antara lain dengan mencermati: . Peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadina perubahan sikap terhadap diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap cerita tersebut. Yang termasuk tokoh bawahan misalnya tokoh andalan. yang berhasil mengisinya dengan darah dan daging akan dengan sendirinya meyakinkan kebenaran ceritanya. Yang ingin diungkapkan pengarang melalui cerkan adalah manusia dan kehidupannya. (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. pengarang berusaha menyajikan sosok tokoh cerita itu di hadapan pembaca. tokoh utama atau tokoh sentral suatu prosa fiksi dapat ditentukan dengan paling tidak tiga cara. Karena sebuah prosa fiksi biasanya melibatkan beberapa tokoh.

2. Situasi kritis di sini tidak perlu mengandung bahaya. latar meliputi penggambaran (1) lokasi geografis. petunjuk. sukunya. 7. sampai pada rincian sebuah ruangan. pemandangan. tetapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. wanita atau pria. 6. pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan. sabar. apa yang diperbuatnya. tempat. Secara terinci. latar meliputi segala keterangan. tindakan-tindakannya. ucapan-ucapannya. Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah cara penting untuk menggambarkan watak tokoh. dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita. terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. pikiran-pikirannya. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita. dan baik hati. dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita disebut latar atau setting. ciri-ciri fisiknya yang dapat menunjukkan watak tokoh yang bersangkutan. waktu. dan sebagainya. kita dapat mengenali apakah ia orang tua. bentuk tubuhnya. Latar Cerita merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu di suatu tempat dan dalam suasana tertentu. (2) waktu terjadinya . Penulis sering membuat deskripsi tentang bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya: tentang cara berpakaiannya. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. misalnya pengarang menjelaskan bahwa tokoh A adalah orang yang jujur. 3. pengacuan yang berkaitan dengan tempat. 5. orang berbudi halus atau kasar. 4. penggambaran fisik tokoh.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-21 1. Jadi. Dalam hal ini penulis memberitahukan panjang lebar watak tokoh secara langsung. penerangan langsung. Waktu. orang dengan pendidikan rendah atau tinggi. gambaran latar atau lingkungan tempat tinggal tokoh. c.

Dengan demikian. yaitu bangunan. cara hidup. dan sebagainya. dan keagungan Tuhan yang akan diungkap pengarang melalui cerita tersebut. Dalam prosa fiksi. dan atau tema tertentu. dapat dikatakan bahwa latar bukan sekadar background cerita. dan kemanusiaan. Dari latar wilayah tertentu harus dihasilkan watak tertentu. Karena itu. untuk memperkenalkan adat istiadat suatu daerah. Sebaliknya. latar hendaknya mempunyai fungsi untuk menggarap alur. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual. melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai. dan (3) lingkungan agama. dan penokohan. dapat berbicara soal-soal khusus seperti pelarian. pengkhianatan. atau menunjukkan sifat-sifat manusia pada suatu saat di suatu tempat. sejarahnya.5-22 Apresiasi Bahasa Indonesia peristiwa. misalnya. d. cinta kasih. artinya hanya sekadar memberi petunjuk bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi di suatu tempat pada waktu dan suasana tertentu. latar kota Jakarta menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu: suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang yang menyebabkan orang mudah merasa terasing. dendam. Sudut Pandang . tema. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. Kegunaan latar biasanya bukan semata-mata sebagai petunjuk kapan dan di mana cerita itu terjadi. latar yang hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat. disebut latar netral. Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik (material). moral. misalnya nilai kebenaran. Cerita dengan latar perang. intelektual. daerah. suasana tertentu. biasanya pengarang tidak akan sembarangan dalam menentukan latar cerita. patriotisme. Adapun Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya. sosial. musim terjadinya. dan emosional para tokoh cerita. adat kebiasaan. Misalnya dalam cerpen "Jakarta".

Sudut pandang dibagi menjadi dua. pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya. sering kita jumpai prosa fiksi yang menggunakan sudut pandang campuran. yang juga disebut pencerita "Akuan". bahkan mampu mengungkap pikiran. Di samping jenis-jenis sudut pandang di atas. Orang Ketiga Mahatahu apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita. Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Utama atau Akuan-Sertaan. Orang Ketiga Terbatas apabila pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar. yakni sudut pandang Orang Pertama (Pencerita Akuan) dan sudut pandang Orang Ketiga (Pencerita Diaan). tradisi. Seperti dalang. Dengan demikian. latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-23 Sudut pandang atau point of vieuw merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. Dalam sudut pandang Orang Pertama. misalnya. atau menyebut nama tokoh. tindakan. pencerita berada di luar cerita. teknik. atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Dalam sudut pandang Orang Ketiga. Dalam kisahannya pencerita mengacu kepada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti Orang Ketiga (ia. Akan tetapi mulai bagian kedua. dia). pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi. dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Sudut Pandang Orang Ketiga memiliki dua kemungkinan. Ronggeng . sedangkan apabila pencerita menjadi tokoh bawahan disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Bawahan atau Akuan-Taksertaan. Yang kedua. Yang pertama. tatanan sampai mitos sejarahnya. Bagian pertama novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang Diaan Serba Tahu. Ahmad Tohari mendongeng tentang Dukuh Paruk. dari alam.

Ia tidak dapat menduga dalam-dalam pikiran dan sikap tokoh lain. Cerita tersaji melalui mulut tokoh Aku. pencerita tidak dapat memperkenalkan apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat lain. dan pembaca. perubahan sudut pandang dalam novel itu juga berkaitan dengan perubahan karakter tokoh Rasus. yakni Rasus. sudut pandang Orang Pertama cocok untuk cerita dengan kecenderungan psikologis. “Aku” secara langsung dan dengan bebas dapat emnyatakan sikap. perubahan sudut pandang diaan ke akuan mengisyaratkan adanya sebuah kesan “meninggalkan” negeri dongeng. ceritanya menjadi sangat padu. Apabila digunakan sudut pandang diaan serba-tahu. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Berdasarkan kekurangan dan kelebihannya itu. setiap sudut pandang ada kelebihan dan kekurangannya. Apabila digunakan sudut pandang diaan terbatas. tetapi tentang tokoh lain ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. Tetapi karena ia harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu sudut. Di samping itu. dari pola pemikiran tradisional menuju ke pemikiran yang modern. pikiran. ceritanya menjadi lebih bersifat objektif. relevansinya dengan sifat cerita. dia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi. Di lain pihak. bahkan . penggunaan sudut pandang Orang Ketiga dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak dalam waktu yang bersamaan. dan perasaannya sendiri kepada pembaca. dan kemudian pembaca semakin dekat dengan peristiwa yang disajikan dalam cerita. Ditinjau dari penangkapan dan pemahaman cerita oleh pembaca. Sudut pandang Orang Pertama cepat membina keakraban antara cerita dan pembaca. tetapi ada keterbatasan karena sudut pandangnya bersifat sepihak. Perubahan sudut pandang dalam sebuah prosa fiksi biasanya memiliki nilai-nilai tertentu. Di samping itu.5-24 Apresiasi Bahasa Indonesia Dukuh Paruk disajikan dengan menggunakan sudut pandang Akuan Sertaan.

Dalam artian ini. Seorang pengarang selalu menyajikan halhal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan. gramatikal. Secara ringkas. gaya pengarang adalah suarasuara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya. yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya. dapat dikatakan bahwa menganalisis gaya sebuah cerita rekaan berarti menganalisis wujud verbal karya sastra itu sendiri.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-25 dapat menembusi pikiran dan perasaan tokoh. Ia dapat berkomentar dan memberikan penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya. dan penyiasatan struktur. kalimat. Oleh karena itu. Berdasarkan pengertian gaya sebagaimana tersebut di atas. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya. . keindahan. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lain. kelompok kata. Unsur leksikal menyangkut diksi. semua pengarang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri. unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi unsur leksikal. Secara sederhana. e. Gaya dan Nada Gaya merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. dan ungkapan yang menentukan keberhasilan. dan sarana retorika. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata. sering dikatakan bahwa gaya adalah oranngnya. gaya dapat didefinisikan sebagai cara pemakaian bahasa yang khas oleh seorang pengarang. penggunaan sudut pandang diaan serba tahu bertentangan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Akan tetapi kelemahannya. bahasa kias.

f. dan sebagainya. sementara kita sebagai pembaca baru memahami tema setelah kita selesai memahami unsur-unsur pembangun yang menjadi media pemaparan tersebut. tragis.5-26 Apresiasi Bahasa Indonesia Yang dimaksud sarana retorika adalah penggunaan berbagai bentuk kebahasaan untuk memperjelas dan memperindah pengungkapan sehingga dihasilkan wacana yang efektif dan khas. Suasana cerita dapat berkisar pada suasana yang bersemangat. Oleh karena itu. Nada yang sering disamakan dengan istilah suasana adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. Meskipun demikian. . serta menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. romantis. untuk memahami tema kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembangunnya. mencekam. Salah satu fungsi gaya yang penting adalah sumbangannya untuk mencapai tone atau nada dalam prosa fiksi. religius. menegangkan. tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita. ide. Ia terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. menyimpulkan makna yang dikandungnya. Tema dan Amanat Tema merupakan gagasan. wajar. Pengarang bisa hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan tanpa memberikan jalan keluarnya. Tema bisa saja hanya berwujud hasil pengamatan pengarang terhadap kehidupan. tema tidak perlu selalu berwujud ajaran moral. menjijikkan. atau bahkan hanya hasil pengamatannya saja. mengharukan. kesimpulannya. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. melankolis. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. atau pikiran utama yang mendasari sebuah cerita rekaan. Jadi.

menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok yang satuan peristiwa. b) Amanat/ Nilai/Pesan Moral Unsur lain yang dapat diperoleh sewaktu berusaha memahami tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. 6. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lain yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam cerita. apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas karena tema sebenarnya merupakan pandalaman dan kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal. keberadaan tema tidak dirumuskan dalam satu atau dua kalimat secara eksplisit. pokok pikiran. 7. 3. Tema dalam hal ini inklusif di dalam cerita. melainkan tersebar di balik keseluruhan unsur cerita. 5. memahami peristiwanya. serta tahapan ditampilkannya. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut . memahami alur ceritanya. memahami latar prosa fiksi yang dibaca. 4. perlu diperhatikan beberapa langkah berikut secara cermat: 1. 2. 8. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta merumuskannya dalam satu atau dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya. Meskipun demikian.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-27 Brooks (1975) mengungkapkan bahwa dalam mengapresiasi tema suatu cerita. Dalam upaya pemahaman tema cerita. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam cerita yang dibaca.

5-28 Apresiasi Bahasa Indonesia akan dapat dinemukan nilai-nilai yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaaan serta hidup kehidupan. Prosa fiksi itu harus dibaca dengan sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Semua kata dan kalimat harus benar-benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi pekerti. Pada awal pernikahan. ia marah dan minta cerai karena tidak mau dimadu. dengan masyarakat dan lingkungannya. dan Preti. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerkan itulah yang sering disebut amanat. 4. Rima. dan dengan Tuhan. Kehidupan Rani membaik walaupun tanpa suami. Meskipun demikian. misalnya. Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja. Hal ini membuat Ramelan menjadi pendiam dan selingkuh dengan gadis lain yang bernama Laksmi yang tidak lain adalah langganan menjahit Rani. hidup mereka berkecukupan. Contoh Apresiasi Novel Pelabuhan Hati Karya Titis Basino dengan Pendekatan Analitik Pelabuhan Hati mengisahkan sebuah keluarga yaitu Ramelan beserta istrinya Rani. Untuk menopang hidupnya Rani kemudian membuka tempat kos dan menerima jahitan. dan keempat anak mereka Raja. Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi dapat secara tersurat maupun secara tersirat. Jenis dan wujud pesan moral/ nilai dapat mencakupi seluruh persoalan hidup dan kehidupan yang meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. hidup mereka serba kekurangan. Nora. hidup mereka bahagia. Perubahan ini membuat Rani menjadi cerewet dan selalu ingin mengatur. Untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Ketika Rani mengetahui. Setelah Ramelan mendapat pekerjaan dan proyek. . Yang dimaksud nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.

Sebagai wanita sekaligus istri ia juga menyadari kelemahannya yaitu cerewet dan suka mengatur sehingga suaminya berpaling pada gadis lain. Ia percaya bahwa wanita bukan makhluk yang lemah. “Ramelan selalu mengiyakan tuntutanku. Ramelan kesepian dan ingin kembali pada Rani.” Walaupun sudah bercerai. Aku perlu berkumpul dengan anakanak. tetapi Rani menolak. Dia kini tambah pendiam. “Suratnya selalu mengatakan ingin menemuiku. Rani sebagai tokoh utama memiliki sikap yang keras.” “Dia tidak peduli soal-soal kecil. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut. itulah cela yang tidak disukai laki-laki.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-29 Perkawinan Ramelan dan Laksmi tidak membuahkan anak. kemudian bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga dalam sepuluh tahun. Dia tidak cerewet. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. tegas. Cerewet. Peristiwa berlanjut dengan pernikahan Ramelan dan Laksmi yang tidak . Dan aku tidak menyadari selama ini. Ia telah berusaha bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak bergantung pada laki-laki. tidak pernah mencela atau menegur.” (PH) Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Dia sangat menyayangi keluarga. “Aku ingin kembali ke rumah ini. Memang membosankan berdekatan dengan perempuan nyiyir dan sok tahu urusan laki-laki. pendiam. dimulai dari kehidupan awal Ramelan dan Rani sampai punya empat anak. istri dan anak-anaknya. dan aku bertambah cerewet. Yang dimaksud Laksmi. dan mandiri. Ramelan jatuh sakit dan akhirnya meninggal di pangkuan Rani. Ramelan masih peduli terhadap istrinya. Bubarkan semua yang ada di sini.” “Ini uang.” (PH) Ramelan adalah seorang laki-laki atau suami yang baik.

dan latar. mandiri. LATIHAN/SOAL . Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa wanita sebenarnya bukan makhluk yang lemah. sarana cerita yang meliputi judul. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. di rumah sakit Yayasan Kristen Jakarta. Rumah Sakit Petambunan.” “Aku membaca surat Yasin. dan tema cerita. G. Ramelan merasa kesepian. Karena itu. jadilah wanita yang tegar. sudut pandang. tokoh. khayalan. sedangkan prosa fiksi baru meliputi novel dan cerpen.” “Aku terpana. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. yaitu di rumah Rani. “Aku sibuk mengatur rumah baruku.5-30 Apresiasi Bahasa Indonesia bahagia karena tidak punya anak. Diam dan mengawasi mereka berdua. kuat. rumah Laksmi di Mampang. dan tidak selalu bergantung pada laki-laki.” “Aku inginkan ada kolam ikan. Novel ini berlatar di kota Jakarta. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguhsungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata.” (PH) Adapun tema novel Pelabuhan Hati ini adalah ketegaran seorang wanita dalam menghadapi cobaan hidup. F. Unsur pembangun prosa fiksi yaitu fakta cerita yang meliputi alur. Menurut sejarah perkembangannya. Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. kemudian jatuh sakit dan meninggal. RANGKUMAN Prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. serta gaya (bahasa).

Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. Cukup panggil calak. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu. tukang khitan. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. Dengan demikian. Bahkan bisa lebih banyak. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan. Kemudian tak uasah nanggap wayang atau ketoprak. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah. atau apa saja asal ada kasetnya. Daroji. yang belum sembuh karena dikhitan kemarin. lagu-lagu ngangdut atau kasidahan. untuk waktu sehari semalam penuh. kini sudah mulai menagih. ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Perhitungannya ternyata meleset. Anaknya. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Ia tidak pakai acara macem-macem.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-31 Bacalah cerpen berikut dengan saksama kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Tapi mana bisa. . melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. dengan bayaran dua ribu rupiah. pada acara khitanan anaknya ini. Yang diundang tak usah banyak-banyak. ludruk. Cukup kerabat-kerabat terdekat. beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. tetapi terutama orangorang yang dulu pernah mengundanfgnya berhajat. malah rugi. Cobalah pikir.

Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu.sekarang Cuma ngasih Rp100. Kang Dasrip misuh-misuh. “Kau kira berapa sewan utnuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. “Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji. dia masih merasa kurang kaya …!” .” kaata istrinya lagi.5-32 Apresiasi Bahasa Indonesia Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Ngomongnya saja Tebu Rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita. tapi dia belum pernah merasa puas. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar. Yang dulu ia kasih beras sekilo. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Tak usah bingung. padahal ikut makan dan minum. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha. uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya. ya! Dia itu takut sama atasannya. pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. Kang. dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tak berani membantah. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu..-. Yang dulu ia buwuhi Rp200. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa.” “Usaha apa!” “Soal sewan tebu itu misalnya.” Tertawa Kang Dsrip mengeras. Apa tak kurang ajar. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya.” kata istri Kang Dasrip. sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewannya. “Kau kira lurah kita itu pahlawan. “Sudahlah. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” Kang Dasrip tertawa kecut.

Tapi tentu saja ini sia-sia. “Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Kang Dasrip naik pitam. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Nak …!” ujarnya. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu. ributlah orang desa. ada yang memaki-maki.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-33 “Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih. Daroji menangis. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp200. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. Ketika surat itu selesai diantarnya.kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. kecuali nama yang memalukan. “Radionya dicopet di pasar. Mei 1992) .. “Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Ada yang tertawa. Bahkan lebih dari itu.-“ tulisnya. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya. “Memalukan desa kita!” Kecam mereka. (Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Istrinya ketakutan.

Sudut pandang apakah yang digunakan dalam cerpen tersebut? g. Terangkan konflik yang dialami tokoh dan cara mengatasi konflik itu1 d. Adakah fungsi latar yang lain. Jelaskan hubungan antarperistiwa pokok dalam cerita itu! c. bagaimana gaya penceritaannya? Kemukakan dengan bukti yang mendukung pendapat Anda! i. Uraikan watak tokoh Kang Dasrip dan anaknya disertai data yang mendukung! e. di samping sebagai penanda waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita itu? Jika ada. Sebutkan peristiwa-peristiwa pokok dalam cerpen Kang Dasrip“ tersebut! b. Apakah tema dan amanat cerita tersebut? Uraikan disertai data yang mendukung! . jelaskan disertai data yang mendukung! f. Menurut Anda.5-34 Apresiasi Bahasa Indonesia PERTANYAAN a. Bagaimana peran pencerita (narator) dalam penggambaran watak tokoh? Jelaskan! h.

.

BAB III. serta mampu mengapresiasi prosa. Menjelaskan hakikat dan unsur puisi 2. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. E. MENGAPRESIASI PUISI A. B. dan unsur puisi serta praktik mengepresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. dan drama. C. URAIAN MATERI 1. pengarang tidak menjelaskan secara rinci apa . INDIKATOR 1. Berbeda dengan prosa. puisi bersifat konsentris dan intensif. puisi. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. Hakikat Puisi Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. puisi. Artinya. Mengapresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi. DESKRIPSI Penyajian konsep puisi yang meliputi hakikat. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar puisi yang meliputi hakikat dan unsur pembangun puisi serta mampu mengapresiasi puisi dalam berbagai kegiatan berbahasa. atau pemusatan dan pemadatan. jenis.

serta tipografi. Hal itu dilakukan bukan sebatas pada masalah yang disampaikan melainkan juga pada cara penyampaiannya. majas. penyair memilih kata dengan mempertimbangkan makna dan daya sugestinya. Penafsiran atau interpretasi terhadap puisi adalah pemberian makna terhadap teks puisi. perasaan. Berdasarkan hal tersebut. dan keindahan puisi. Unsur-unsur Pembangun Puisi Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. pembaca harus menafsirkan puisi tersebut. a. dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mempertimbangkan aspek maknanya. pesan. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. seorang pembaca harus memahami unsur-unsur pembangun puisi. nada dan suasana. Diksi Diksi atau pilihan kata digunakan untuk (1)mendapatkan kepuitisan dan nilai estetis. untuk memahami makna. Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. komposisi bunyi . serta amanat (Waluyo 1991). tetapi juga pengaruh “rasa” yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. Pemberian makna itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna. pengimajian.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-35 yang ingin diungkapkannya. melainkan hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian pokok atau penting. Oleh karena puisi merupakan dunia simbol. 3. yaitu memahami makna. Agar dapat menafsirkan puisi dengan baik. pesan. versifikasi (rima dan irama). Akibat adanya intensifikasi tersebut.dan (2) mengekspresikan pengalaman puisi secara padat dan intens. dan keindahan puisi. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. Struktur fisik meliputi diksi. bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. kata konkret.

b. untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan. kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya. Dengan penggunaan kata-kata konkret. pembaca seolah-olah melihat. yakni secara tidak langsung . Imaji yang ditimbulkan oleh penggunaan kata-kata itu dapat berupa imaji penglihatan (serupa dara dibalik tirai). Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. Kata-katanya juga dipilih yang puitis sehingga memperoleh efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya. d. imaji penciuman (udara berbau tembaga). kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. dan imaji pencecapan (rasa pahit di mulut). imaji pendengaran (haram gemerincing genta rebana). Majas Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. pembaca akan terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. dan kedudukan kata itu dalam konteks secara keseluruhan. kata-kata harus diperkonkret. mendengar. Dengan demikian. Artinya. c. artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Pengimajian ditandai oleh penggunaan kata-kata yang konkret dan khas.5-36 Apresiasi Bahasa Indonesia dalam rima dan irama. imaji perabaan (cubit biar sakit). Pengimajian/ Pencitraan Pengimajinasian atau pencitraan adalah kata atau susunan katakata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris. yakni pengalaman yang dapat ditangkap melalui pancaindera. penyair menulis: hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan riang. atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji atau daya bayang pembaca.

(2) alasan penyair memilih majas tersebut. aliterasi. lambang bunyi. Analisis terhadap majas dalam puisi dapat dilakukan dengan menanyakan (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi. Kiasan adalah pembandingan sesuatu hal dengan hal lain. d. rima awal. dan lambang suasana. rima akhir. dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas tersebut. Wujudnya berupa kiasan dan lambang. e. Adapun lambang adalah penggantian sesuatu hal dengan hal lain. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. ditulis . Baris-baris puisi Sutardji “Tragedi Sihka dan Winka”.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-37 mengungkapkan makna. nada dan suasana puisi tercipta lebih nyata dan lebih dapat menimbulkan kesan pada benak pembaca. dan rima sempurna. Tipografi dan Enjambemen Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. tetapi mungkin juga sengaja dimanfaatkan untuk mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan. Termasuk jenis rima. Rima mempunyai peranan yang sangat penting dalam puisi karena hal tersebut berkaitan dengan nada dan suasana puisi. Penggunaan tipografi oleh penyair mungkin dimaksudkan sekadar untuk keindahan indrawi. metafora. dan personifikasi. baik kiasan maupun lambang. misalnya asonansi. misalnya perbandingan. misalnya lambang warna. misalnya. digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana puisi menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. Dengan bantuan unsur rima. Termasuk ke dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata dalam puisi. Majas. lambang benda.

Enjambemen dimaksudkan untuk memberikan penekanan atau penonjolan. atau pemberontakan. Tema puisi sangat luas menyangkut hubungan antara manusia dengan diri sendiri. atau bersikap lugas. Sebagai contoh ada tema ketuhanan yang menunjukkan pengalaman religi penyair. Adapun enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi dan hubungan antarbaris dalam puisi tersebut. dengan alam. dan tema percintaan yang melukiskan cinta dan kasih sayang. tema kebangsaan yang melukiskan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. sesuai dengan makna puisi. f. Wujudnya berupa pemisahan bagian kalimat (kata/kelompok kata) dan pemindahan bagian kalimat itu ke larik berikutnya. gembira. dengan binatang. Nada dan Suasana Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca. tema sosial yang melukiskan kondisi masyarakat yang lebih merupakan protes sosial. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut. mengejek. suasana adalah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. dengan manusia lain. Atau dengan kata lain. Enjambemen dapat pula dimanfaatkan untuk mengaburkan makna sehingga menyebabkan puisi menjadi multitafsir.5-38 Apresiasi Bahasa Indonesia berbentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan. enjembemen ini perlu memperoleh perhatian karena akan sangat menentukan makna puisi. . apakah dia bersikap menggurui. dan dengan Tuhan. menyindir. seperti haru. sedih. Tema Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair di dalam puisinya. menasihati. iba. g. Dealam pemaknaan puisi.

anak-anakku Selain buku-buku dan sedikit ilmu Sumber pengabdian kepadamu. yaitu (a) memahami judul. Amanat bersifat subjektif. (b) memahami latar. Amanat (Pesan) Amanat adalah maksud. yakni berdasarkan interpretasi pembaca. Amanat dapat diketahui dengan mengacu pada tema cerita. Langkah Menafsirkan Puisi Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam menafsirkan makna puisi. Demikian seterusnya. 5. Contoh Apresiasi terhadap Puisi “Dari Seorang Guru kepada MuridMuridnya” Karya Hartoyo Andangjaya dengan Pendekatan Analitik Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati bagi pembacanya. (f) memahami tipografi dan enjambemen. h. (e) memahami bait dan baris. anak-anakku Kursi-kursi tua yang di sana . 4.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-39 Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku Aku takut. (d) memahami majas. imbauan. (c) memahami kata ganti. atau pesan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. Nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. dan (g) memahami totalitas makna dan amanat puisi (Depdiknas 2004).

Tetapi semua kesederhanaan dan kekurangannya itu tidak pernah diceritakan kepada murid-muridnya. Dia malu seandainya ada murid yang berkunjung ke rumahnya. Kekayaan yang dimiliki hanyalah buku-buka dan sedikit ilmu sebagai sumber pengabdian kepada murid-muridnya. sedang menatap . a. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari dan tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Bunyi u. bahkan ia juga tidak pernah mengeluh. suasana khusus. anak-anakku Engkau terlalu muda Engkau terlalu bersih dari dosa Untuk mengenal ini semua Puisi ini menceritakan kehidupan guru sekitar tahun 60-an yang serba kekurangan. jendela yang tak pernah diganti kainnya.5-40 Apresiasi Bahasa Indonesia Dan meja tulis sederhana Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya Semua padamu akan bercerita Tentang hidupku di rumah tangga Ah. Dalam puisi ini terdapat imaji penglihatan : kursi-kursi tua. Unsur bunyi berperan penting dalam puisi ini untuk memperdalam ucapan dan menimbulkan rasa. Justru ia selalu berdoa agar murid-muridnya sukses dan tidak mengalami nasib jelek seperti dirinya. mendominasi bait pertama dan kedua. Puisi ini termasuk puisi transparan karena bahan yang digunakan mudah dipahami. tentang ini tak pernah aku bercerita Depan kelas. meja tulis sederhana. seperti pada bait pertama dan kedua. karena rumah dan perabotannya jelek dan kuno. sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagikuKarena kutahu.

seorang guru janganlah pernah mengeluh dan tetaplah mengabdikan diri untuk anak didik. Zawawi Imron berikut? Jelaskan alasannya! 4. Amanat yang disampaikan pengarang adalah walaupun hidup serba kekurangan. Bahasa kias terdapat pada: horison yang selalu biru bagiku. Jelaskan unsur-unsur puisi! 3. Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. F. Puisi transparan tidak banyak menggunakan simbol-simbol dan kata kias sehingga mudah dipahami. G. simbol. Pendekatan apa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi puisi “Ibu” karya D. nada dan suasana. Tema puisi ini adalah keprihatinan terhadap nasib guru. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. dan tipografi. Puisi prismatis adalah puisi yang sarat dengan kata kias.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-41 wajah-wajahmu remaja. dan lambang. Adapun nada puisi tidak bersifat menggurui. majas. sedangkan suasana puisi mengharukan. RANGKUMAN Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. Struktur fisik meliputi diksi. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. versifikasi. Apresiasilah puisi berikut dengan menggunakan pendekatan analitik! Ibu . LATIHAN/SOAL 1. Puisi dibedakan menjadi puisi transparan/diaphan dan puisi prismatis. Jelaskan ciri-ciri puisi! 2. pengimajian. serta amanat.

daunan pun gugur bersama ranting Hanya mataair airmatamu ibu. Zawawi Imron Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau Sumur-sumur kering.5-42 Apresiasi Bahasa Indonesia D. yang kan kusebut paling dahulu Lantaran aku tahu Engkau ibu dan aku anakmu Bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal . yang tetap lancar mengalir Bila aku merantau Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar Ibu adalah gua pertapaanku Dan ibulah yang meletakkanku di sini Saat bunga kembang menyemerbak bau sayazng Ibu menunjuk ke langit. mutiara dan kembang laut semua bagiku Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan Namamu ibu. menebar pukat dan melempar sauh Lokan-lokan. kemudian ke bumi Aku mengangguk meskipun kurang mengerti Bila kasihmu ibarat samudra Sempit lautan teduh Tempatku mandi. mencuci lumut pada diri Tempatku berlayar.

bidadari yang berselendang bianglala Sesekali datang padaku Menyuruhku menulis langit biru Dengan sajakku .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-43 Ibulah itu.

drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh.BAB IV. E. drama memunyai karakter khusus. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar drama yang meliputi hakikat drama unsur pembangun drama dan mampu mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. amanat. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa B. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. MENGAPRESIASI DRAMA A. alur. URAIAN MATERI 1. latar. Hakikat Drama Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. DESKRIPSI Penyajian konsep drama yang meliputi hakikat dan unsur drama serta praktik mengepresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. Mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. Menjelaskan hakikat dan unsur-unsur drama 2. tema. Sebagai sebuah genre sastra. . Sebagai sebuah karya. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. C. INDIKATOR 1.

Ada yang berkedudukan sebagai protagonis. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa di dalam drama. Konflik merupakan penggerak cerita. Ada yang bersifat penting (mayor) dan ada yang tidak penting (minor). dialog dapat menciptakan serta melukiskan suasana. dialog merupakan wadah untuk menyampaikan informasi informasi. fakta. Biasanya kepadanya pembaca berempati. sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara tokoh dengan sesuatu yang lain. misalnya. yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita. Sifat dan kedudukan tokoh di dalam drama bermacam-macam. serta dialog (Waluyo 2003. a. protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat di dalam kesukarankesukaran. Konflik internal adalah konflik antara seseorang dengan dirinya sendiri. Sebagai sebuah pertunjukan. amanat. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal dan dapat pula bersifat eksternal. Unsur-Unsur Drama Unsur drama dalam dimensi sastra meliputi tokoh dan penokohan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-45 serta dialog. yakni naskah. alur. Dialog juga berfungsi memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. latar. Hakikat drama adalah tikaian atau konflik. . Asmara 1983). Karena perannya itu. Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. atau konflik antara tokoh dengan lingkungannya. Di sisi lain. Dialog merupakan sarana primer drama. tema (premise). pementasan. konflik antartokoh. dan ide-ide utama. dan penonton. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. 2. Dilihat dari sisi pengarang.

klimaks/krisis. atau latarnya. penampilan fisik. b. dan apa yang dipikirkan. seperti melawan takdir. yang disebut peran pembantu. Pada kenyataannya. terdapat bagian pemaparan (eksposisi) yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami cerita selanjutnya. di dalam Dengan . Ciri-ciri tersebut dapat diketahui melalui tindakan atau lakuan. yaitu: insiden permulaan. dan sosiologis. berakhir pulalah lakon drama. antara manusia dengan keadaan yang mengelilinginya. pada dasarnya alur drama tersusun menurut garis lakon (dramatic line). penanjakan laku (rising action). ujaran (dialog). penurunan laku (falling action). Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita. atau nasib. Menurut Hudson (dalam Asmara 1983). Mungkin itu pertentangan antara pribadi-pribadi yang berlawanan.5-46 Apresiasi Bahasa Indonesia Lawan protagonis adalah antagonis yang berperan sebagai penghalang bagi protagonis. perasaan. dan keputusan (catastrope). Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan protagonis atau antagonis. Oleh karena itu. Di dalam drama tokoh-tokoh cerita digambarkan memiliki ciri-ciri fisik. Alur Lakon drama selalu mengandung konflik atau pertentanganpertentangan di dalam suatu kehidupan. dan dirasakan tentang dirinya atau diri orang lain. Tokoh lain adalah tokoh tritagonis yang menjadi peran penengah antara protagonis dan antagonis. psikologis. masalah yang timbul. Pertentangan antara perasaan-perasaan di luar manusia. misalnya tokohnya. penyelesaian konflik itu. pikiran. antara kemauan yang berlawanan. sebelum insiden awal. Dengan dimulainya suatu konflik berarti pula mulainya suatu lakon drama yang sebenarnya. Konflik itu saling berbentrokan sehingga terjadilah suatu rentetan peristiwa yang kemudian membentuk drama.

. Pencarian amanat identik dengan cara pencarian tema. komplikasi. Permasalahan itu dapat muncul melalui perilaku para tokoh. gambaran tokoh. tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. Amanat di dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. tingkah laku tokoh. tempat. Latar konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret. latar yang abstrak akan berhubungan dengan peristiwa dan tokoh yang abstrak. Petunjuk mengenai latar itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang. atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut. Tema (Premise) dan Amanat Tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa. d. Secara langsung latar berhubungan dengan tokoh dan alur. Latar harus menunjang alur dan penokohan. terdapat banyak peristiwa yang masing-=masing mengemban permasalahan. kecenderungan. dan suasana terjadinya peristiwa di dalam drama. c. Adapun amanat adalah opini. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang. dan latar. Sebaliknya. Dalam sebuah drama. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan. perilaku tokoh. Oleh sebab itu amanat juga merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa. klimaks. dan latar drama.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-47 srtuktur dramatik Aristoteles disebutkan bahwa struktur alur drama itu meliputi eksposisi. Oleh sebab itu. dan dialog para tokohnya. Latar Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu. resolusi. penokohan. yang terkait dengan latar. dan konklusi.

Dia menanyakan keberadaan . Seperti remaja lainnya. Dialog dalam drama harus memenuhi dua hal. jika seorang tokoh berada pada situasi. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa fungsi dialog dalam drama antara lain adalah: (a) mempertinggi nilai gerak. Contoh Apresiasi Teks Drama berjudul “Ayah Dua Laki-Laki” dengan Pendekatan Analitik Drama ini menceritakan sebuah keluarga petani yang miskin dan sederhana. mau menerima kenyataan. dia mau sekolah kalau dibelikan sepeda motor. dan (3) menggambarkan alur cerita. Ayah memiliki dua orang anak laki-laki yang perangainya sangat berbeda. Latar terjadi di rumahnya yang sangat sederhana pada pagi hari sekitar pukul 10 ketika ayah pulang dari sawah. ia pergi bekerja sebagai tukang parkir pada malam hari. Sebaliknya Bandar. Peristiwa dimulai ketika ayah tiba di rumah sepulang dari sawah. suasana. Kedua.5-48 Apresiasi Bahasa Indonesia e. Ia mau membantu ayahnya di rumah. Penggunaan bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh. dan peran yang berbeda. penggunaan bahasa terlihat pada dialog merupakan situasi bahasa utama. dialog harus mencerminkan apa yang telah terjadi dan juga mencerminkan pikiran serta perasaan para tokoh. Artinya. adiknya. emosi. Oleh sebab itu. dialog harus lebih teratur daripada percakapan sehari-hari. terang. Pertama. (b) menggambarkan karakter tokoh. dan latar cerita. Alur yang digunakan adalah alur lurus. Sakri anak sulungnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang serba kekurangan itu. dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak. dialog harus baik dan bernilai tinggi. Tidak boleh ada kata-kata yang tidak perlu. dan menuju sasaran (to the point). Artinya. Di samping bersekolah. 3. penggunaan bahasanya juga berbeda. Dia malu memakai sepeda. Bahasa/Dialog Di dalam sebuah drama. harus jelas.

dan tempe goreng. sebagaimana terlihat pada kutipan berikut. berpikiran sederhana. Bandar berangkat sekolah. Kerja pada malam hari banyak resikonya. hati-hati. karena sepulang sekolah saya langsung kerja. ingin hidup senang dan suka menuntut. “Pak. “Pak. Perhatikan kutipan berikut. Klimaks terjadi pada waktu ayah berhadapan dengan Sakri. Perhatikan kutipan berikut! “Ooo ngambek to.” Sakri adalah anak yang malas. selalu berusaha keras dan pekerja keras. “Kamu sudah makan? Apa kakakmu sudah pulang sekolah? “Ya. seperti terlihat pada kutipan berikut. Apa kalau tidak pakai motor tidak bisa pintar? Lalu tidak lulus? ‘Jadi bapak tidak mau membelikan motor? (Si ayah pergi meninggalkan Sakri) Ayah adalah sosok yang yang baik.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-49 Sakri kepada Bandar yang waktu itu sedang menyiapkan masakan sebelum berangkat ke sekolah siang hari. Ternyata Sakri sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena menuntut dibelikan motor. selalu memperhatikan anak-anaknya. lesu rasanya. Yang berakhir dengan kepergian Ayah Sakri.” “Aku mau sekolah. pulang agak malam. baik.” .” Bandar adalah anak yang berbakti pada orang tua. tetapi aku perlu motor. sayang. Aku tidak bisa. Konfilk pun muncul. dan adil.” “Bapak mau makan? Aku masak kacang panjang sambel pete.

apresiasilah dengan menggunakan pendekatan analitik! Kemudian ORANG TERASING Aji Sudarmadjie Mukhsin Para Pelaku: 1.5-50 Apresiasi Bahasa Indonesia Tema drama ini adalah tanpa kerja keras. Isteri 2. Seorang anak hendaknya berbakti kepada orang tua. latar. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. amanat. cita-cita tak akan tercapai. Adapun amanat yang ingin disampaikan adalah berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Jelaskan pengertian drama sebagai karya dalam dua dimensi! 2. tema. Anak laki-laki hendaknya bertanggung jawab dalam hidupnya. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. serta dialog. Sebagai sebuah pertunjukan. Suami . pementasan. Bacalah naskah drama “Orang Terasing “berikut. yakni naskah. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. Sebagai sebuah karya. drama mempunyai karakter khusus. LATIHAN/SOAL 1. Jelaskan unsur-unsur drama dalam dimensi sastra! 3. RANGKUMAN Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. F. dan penonton. alur. Sebagai sebuah genre sastra. G. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung.

Kamu orang baik-baik. Ini bisa menolong malam nanti kalau kedinginan. Jangan membawa anak itu keluar. Isteri : “Sepotong roti. Moga-moga Tuhan memberkahinya. 6. Isteri : “Oh. karena udara terlalu lembab. 4.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-51 Panggung menggambarkan sebuah kamar yang reot.” Suami : “Kalau begitu. dan kau bagaimana?” 3. Dan kalau saja mereka mamu memegangi kemudian merasakan detak darahku. aku orang kecil. suamiku. 8. Di dalamnya terdapat sebuah dipan dan dua buah kursi yang sudah rusak pula. Suami : “Oh. Isteri : (Mengharap) “Banyakkah hasil yang kauterima hari ini?” Suami : “Bah. Suami : “Ya.” 11. supaya jangan membawa anak itu keluar. Sepotong nasihat. seperempat rupiah pun tak dapat. Tetapi hanya untuknya. maksudku selain dari roti itu. 7. Suami : “Bagus. 2. Istirahatlah. Bisakah kau membikinkan api?” 13.” Suami : “Tak ada yang lain? Ah. tapi aku tak berani.” Isteri : “Ada.” 10. Isteri : ”Buat apa?” 14. Isteri : “(Mengambil lembaran surat kabar yang usang) Ini. Suami : “(Tak memperhatikan) Ada kertas?” 15. benar. 9. Suasana kemiskinanlah yang tampil di situ. (Membuka suratkabar itu) Surat kabar Anu atau entah apa . Padahal aku juga ingin menjelaskan kepada mereka. pastilah mereka akan tahu … bahwa aku lapar. Jangan mengemis.” 12. 1.” Suami : “Terima kasih. mereka selalu memberikan nasihat. Apa yang diberikannya? 5.” 16. kosong sama sekali. kau terlalu lemah. Isteri : “Ada seorang wanita muda memberi makan kepada kita. masih ada simpanan untuk besok pagi?” Isteri : “Masih.

sehingga habis seluruhnya harta kekayaan simpanan kita. ya. Apakah masih ada tembakau di dalam pipaku? Aku jadi ingat seorang polisi yang mengusirku dari trotoar jalan. Oh. menghindari mobil. berpuluh orang macam kita hanya bisa memperhatikan saja.” 24. Semua yang terjadi atas kita ini adalah nasib. Ah. mengeluarkan sepeda motornya. Mereka yang keluar dengan perasaan bahagia.” 20. misalnya memanggil becak. Penyakitku itulah yang menyebabkan malapetaka ini. aku terpaksa menghindari mereka. kala itu orang-orang sedang keluar dari gedung pertunjukan. Isteri : “Bukan. “Jangan mengemis!” Itu yang kuperoleh hari ini. dan orang-orang kaya itu. Dan kesalahankulah waktu firma tempatku bekerja tempo hari itu bangkrut? Karena aku yang terlalu jujur?” 23.” 19. Suami : “(Tak memperhatikan) “Berjam-jam aku berdiri di lapangan. Betama menderitanya dirimu. Isteri : “Tapi apakah kau mempunyai kesalahan padanya” 22. sambil berkata lapar. Suami : “(Menggeleng) Tidak. memberiku segenggam tembakau sambil berkata. Dengan harapan untuk mendapat uang. “ (Menyalakan korek api) 17. membersihkan sepatunya. memberitahukan bahwa kita adalah bangsa yang berbahagia. Isteri : “Kasihan. atau disuruh membersihkan mobil-mobil mereka. tetapi siasia.5-52 Apresiasi Bahasa Indonesia itu namanya. Bagaimana denga Nyonya Sumarti?” . Suami : “Dan aku akan kautinggalkan? Kau tidak akan berbuat semacam … Oh. ya. Ketika rintik-rintik hujan datang. seharusnya aku mati saja. Isteri : “Jangan dihabiskan. Suami : “Jangan kuatir.” 18. aku mengharap untuk disuruh apa saja. Satu ini pun pasti sudah bisa.” 21.

Suami : “Ya. Isteri : “Suamiku …” 36. “ 42. Isteri : “Meskipun Cuma seratus rupiah seharinya. Mungkin baru kali ini terjadi padaku. Tapi baiklah. Suami : “Kau …” 43. biar dipakainya tempat ini. Isteri : “(Berdiri terduduk) 38. Suami : “Kenapa?” 39. bekerja beberapa tahun pula setelah bertemu dengan kemiskinan. Isteri : “Suamiku …” 32.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-53 25. karena kita harus mencari bahan sendiri.” 26. Suami : “Dompet?” 41. Suami : “Berapa banyak?” 27. dan aku pun yakin bahwa aku pun bisa membuatnya. kenapa?” 37.” 31. Isteri : “Sebenarnya dia pun sangat miskin. Isteri : “Ya. kukira tinggal mengerjakan begitu saja. Isteri : “Bukankah kita juga sudah berusaha?” 34. nyetanya tidak ada yang datang. Dan dia malah berbaik kepada kita.” 44. tetapi dia bilang.” 30.” 29. Suami : “Ya … 33. dan belum pernah satu pekerjaan pun yang kita tolak. Suami : “Menemukan di jalan?” . Nanti kita pasti akan segera bisa mendapat uang setiap harinya. Isteri : “Ini. Isteri :”Aku menemukannya.” (Memperlihatkan dompet) 40.” 28. seperti kita. Suami : “Haruskah begitu? Ah. kenapa harus kita tolak?” 35. Suami : Seratusrupiah seharinya sudah cukup besar buat kita. kita diajak belajar membuat bungkus korak api. dikejar lapar. Suami : “Ya. seorang bertahun-tahun sekolah. Sekarang secara kebetulan sekali ada pekerjaan yang datang. Isteri : “Sebenarnya tidak seratus persis.

jika ada kesempatan. Waktu mengambil uang di dalam dompet. Isteri : “Tidak ada yang mendorongnya. aku tak berani. Kemudian datanglah seorang wanita tua membeli surat kabar. Wanita tua itu menaruh dompet di dekat jariku. Dan aku sendiri pun tak bisa lari cepat karena menggendong anak itu. Suami : “Tak seorang pun mengikutimu?” 51. . Gelangnya emas. Suami : “Dompet itu kaubawa kabur?” 49. Kupikir wanita tua itu pasti tidak akan merasa kehilangan karena ia amat kaya. dia tak memperhatikan.” 59. Suami : “Aku tidak mengira kalaupada akhirnya kita berbuat begini. Isteri : “Belum. kejujuran tidak menolong kita. Setelah dia pergi. Suami : “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan ini semua?” 53. Isteri : “Ya. Isteri : “Kita harus berbuat sesuatu. Waktu aku menyentuhnya. Suami : “Kau sendiri belum membukanya?” 57. Suami : “Jalannya bagaimana?” 47.” 56.” 52.” 50. Isteri : “Begitu kira-kira jalannya. aku pun pergi dan kemudian sadar aku telah berada di jalanan sambil membawa dompet itu.” 48.” 58. Isteri : “Tidak. ditaruhnya dompet itu di dekat tanganku.5-54 Apresiasi Bahasa Indonesia 45. aku bergegas ke setasiun dan berdiri di dekat kios buku sambil menunjukkan gambar-gambar kepada anak-anak kita.” 54.” 46. Bagaimana kejadian selanjutnya? Aku sendiri tidak mengerti karena tahu-tahu aku telah berada di jalanan kembali … sambil membawa dompet itu. Isteri : “Waktu hujan turun. Isteri : “Aku belum membukanya. Suami : “Berapa banyak uang di dalamnya?” 55.

Suami : “Benar. Isteri : “Itu jam tiga siang tadi. Isteri : “Kita tidak akan kelaparan seperti sekarang.” 72.” 65. Isteri : “Hati-hati.” 66.” 64. 68. bagaimana nanti apabila ada orang yang mau memberi kepada kita dengan layak barulah dompet ini kukembalikan kepada pemiliknya. Suami : “Mana api?” (Menerima dan merokok) 71. Suami : “Ya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-55 cincinnya pun emas. Berapa banyak isinya?” 60. Isteri : “Nanti kita bisa membeli pakaian untuknya.” 76. nanti anak kita itu terbangun. Kau tak akan batuk sepanjang malam. berat. jangan berteriak keras-keras. tapi yang menjadi beban sekarang adalah anak kita.” 62.” 61. Suami : “Ya. dan barangkali apabila pakaianmu lebih sempurna. memang mereka menertawakan aku selama ini. Isteri : “Baru saja terpikir. kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan. dan tak mungkin orang lain akan menemukan kita di sini.” 74.” 67.” 69.” 73. dia merasa lapar. Isteri : “He!” .” 70. Isteri : “Kasihan anak itu. Suami : “Tadi kau bilang sudah makan. Dan uang di dalamnya tak mungkin akan berbicara. Suami : “Kenapa kau sendiri tak membukanya? 63. Suami : “Ya. Isteri : “Cepat buka. dan mengapa pula tidak kau …” 75. Isteri : “Dan sebenarnya aku pun malu berjalan di jalan besar memakai pakaian seperti ini. Kelihatannya berat. Suami : “Tapi akhirnya kita terbiasa juga. Suami : “Membelikan anak pencuri?” 77.

. Suami : “Aku tidak tahu bagaimana mendengar kejadian-kejadian di atas tadi. Suami : “Mungkin juga. Ayolah kita buka isinya. Isteri : “Di mana?” 90.” 92. tak ada seorang pun yang peduli. Isteri : “Kau tolol. Isteri : “Kau berikan dompet itu kepada polisi?” 86. Suami : “Baru kali inilah aku di dalam hidup takut kepada polisi. lapar. kenapa kaulakukan itu?” 84. Isteri : “Jangan berprasangka yang bukan-bukan. Isteri : “Aku mengira akan dipakainya uang itu untuk dirinya sendiri.5-56 Apresiasi Bahasa Indonesia 78. Suami : “Ya. Isteri : “Kau memilih dia untuk terus kelaparan?” 100. Isteri : “Ai . aku tak mau kalau anak kita disebut sebagai anak pencuri.” (Ketika akan membuka suami berlari keluar) 83.” 96.” 99. Suami : “Aku kira bagaimanapun juga memang begitu.” 89. kumal. Suami : “kau talah menemukannya.. dengan kejujuranmu apakah yang telah kauperoleh salama ini? Kemiskinan dan kelaparan. Kita hampir setahun menderita semacam ini. Suami : “Kurang enak didengar. Suami : “Soalnya anak kita. Suami : “Di stasiun.” 93. dan tempat kita di petak ini.” 87. Suami : “Ada polisi di jalanan?” 81. Isteri : “Apakah itu lebih jelek daripada anak jembel seperti ini?” 98.” 97. Suami : “Aku sendiri tidak tahu. Isteri : “Dengan kepicikanmu.” 94.” 79. Isteri : “Ya … ya … lekas!” 80. aku katakan pula bahwa aku belum membukanya. 82. Isteri : “Apa katamu kepada mereka?” 88.” 85. kurus. Suami : “Adikku.” 95. tapi ah persetan.” 91.

” 104. Mreka memperlakukan aku seperti anjing. bukan kau yang salah. Aku pengecut. Suami : “(Tak mempedulikan) Aku bisa membeli pakaian. aku yang tolol. uang yang telah berada di tangan kita. kenapa tidak? Bagaimanapun akhirnya harus kita alamu.” 116.” 113. tetapi aku. Isteri : “Mereka pasti akan memisahkan kita. Apa artinya semua. Aku sangat mencintaimu… 110. Isteri : “Dengan para pengemis lain?” 106. Kau katakan juga di mana kita tinggal?” . Isteri : “Jangan.” 115. mengapa aku harus mempedulikannya? Kalau ini manusia. Suami : “Aku tak menginginkan kau dimasukkan ke penjara. Isteri : “Benar. Tetapi telah kukembalikan karena kejujuranku. 107.” 112. Suami : “Ya. bisa meninggalkan kehidupan macam begini. Suami : “Tapi anak kita pasti mendapat jatah makanan.” 109. Isteri : “Kau takut?” 102. uang yang sangat kita butuhkan … Kau sangat kucintai. Suami : “Kau maafkan aku kan? Karena aku talah mengembalikan dompet itu? 111.” 103. Suami : “Kita punya uang di dalam dompet itu. Betapa tololnya aku.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-57 101.” 108. rupanya karena kelaparan itulah yang menyebabkan aku tak menguasai diri.” 105. Isteri : “Aku akan masuk ke liang kubur poengemis. seperti yang sudhsudah.” 117. dan siapa tahu ini hanya cobaan. Isteri : “Dalam penggabungan itu mereka akan memisahkan kita. Suami : “Bukan. Isteri : “Suamiku …” 114. tapi ah. yang bisa menyenangkan anakku. Suami : “Bagaimana kalau kita menggabung diri. Isteri : “Huss. Nanti anak kita bangun.

” 128. Suami : “Benar. Suami : “Ya.” 130. Suami : “Benar. Baiknya kita metunggu saja. tetapi jika kau memanggilnya … mereka selalu menghindar. Isteri : “Kau pernah berpikir demikian juga?” 124. Isteri : “Sudah lewat sekarang. Suami : “Aneh. Isteri : “Kau juga pernah bertemu dengan kawan-kawanmu. Suami : “Berpikir demikian? Jangan.5-58 Apresiasi Bahasa Indonesia 118. agar kematian itu cepat datang … Kenapa tidak sekarang saja mati?” 119. 123. Isteri : “Apa? Kita berjalan lagi?” 126. Suami : “Semoga aku besok bertemu dengan seorang kawan yang pernah mengenalku. sebaiknya kita berpikir saja. Yah. Dan aku girang atas tindakanmu.” 129. Andai aku jadi mengambil uang itu … 121. Aku tak pernah menginginkan yang lebih bagus. kecuali sekadar makan untuk kita ternyata sia-sia. Isteri : “Kita sudah tidak punya kawan lagi. Dan bagaimana caranya supaya besok kita dapat rejeki ?” 127. Itu pikiran jelek. bagaimana kita besok kembali berjalan menyelusuri jalan itu lagi. Tetapi besok pagi aku akans egera menyelusuri kembali jalan-jalan setelah batukku kembali datang. Dan di hadapan-Nya nanti akan aku katakan bahwa orangs ekitar kita tidak mengizinkan kita untuk hidup lebih lama. jangan kita bicara soal kematian. Suami : “Jangan.” . keran sudah tidak ada lagi tempat untuk kita. karena nanti apabila kita menghadap Tuhan tangan kita bersih. memang.” 125. Isteri : “Mati?!” 120.” 122.

” 142. 144. Suami : “Benar. Mereka tidak mempercayaiku lagi. Di tempat orang kaya diusir dan di tempat orang miskin pengemis yang jujur. Isteri : “Jadi engkau tidak mau?” 138.” 133. Suami : “Jangan kau ucapkan itu. senantiasa aku diusir. Suami : “”Hai!” (Memegangi tangan isterinya) 135. selama ini aku telah berusaha menjadi isteri yang baik. dan Tuhan pasti akan lebih baik daripada orang-orang disekitar kita ini. biar bunuh aku.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-59 131. Isteri : “Kau pernah memperhatikan bagaimana mereka mencibirkan cicir terhadap kita yang terlalu jujur? Sekarang kita akan masuk ke sana. di mana-mana diasingkan. sebaiknya kita mati saja. kita akan mati bersama-sama …” 136. Mereka membenciku. da kandang orang miskin yang sejawat maupun di gedung-gedung mewah milik orang kaya. Kalau toh mereka mau membunuh.” 139. ibu yang baik. Kita tidak boleh kalah dengan kemiskinan. . Suami : “Ini usaha kita terakhir. kau tanpa batuk-batuk. Suami : “Tidak. Suami : “Beginilah … kemiskinan-kemiskinan. Isteri : “Nah. Isteri : “Aku tidak mau. Meskipun kita telah berantakan.” 141. di mana kita bisa tidur nyenyak.” 132. hingga membuat terkejut keduanya. (Suara tangis bayi dari dalam.” 134. Suami : “Tidak!” 137. Suami : “Bukankah hal ini justru akan lebih baik?” 143. Isteri : “Bukankah kau pernah memasukinya?” 140. Sebaiknya kita bergabung saja dengan teman-teman yang miskin. jangan anak isteriku. Tidak kuat. dan yang lebih utama lagi aku mencintaimu. Isteri : “Aku sangat gembira. dan juga anak kita. tetapi aku tidak berpisah dengan kau. Si isteri masuk) 145. Isteri : “Aku sudah tidak tahan lagi.

5-60 Apresiasi Bahasa Indonesia .

S. Semarang: Rumah Indonesia. 1985. Sudjiman. Yogyakarta: Rahmanto. Cerita Rekaan dan Drama. 1999. 2004. Pengantar Apresiasi Puisi. Kellet.E. 1983. . S.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. 1976. Baribin. Rachmat Djoko. Teori Gadjahmada University Press. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. (Ed. Apresiasi Prosa Fiksi. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. London: The Epwort Press. Harianto. Nurgiyantoro. Jakarta: Proyek Penataran Guru. 1995. Surakarta: Widya Duta. Jakarta: Grasindo. B. Panuti.1993. Raminah. 1993. S. 1998. Suharianto. Adhy. Semarang: Rumah Indonesia. 2005a. Suminto A. Yogyakarta: Nur Cahaya. Dramaturgi. Drama: Karya Dua Dimensi.). Semarang: IKIP Semarang Press. Bandung: Angkasa. Suharianto. Memahami dan Menikmati Cerita Rekaan. Asmara. 1981.S. Sayuti. Burhan. Pengkajian Fiksi. Hasanuddin W. Jakarta: Direktorat PLP. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rumadi. Suharianto. 1996. Bandung: Sinar Baru Algesindo. E. Jakarta: Pustaka Jaya. Apresiasi Drama. The Apreciation of Literature. 1996. Dasar-Dasar Teori Sastra. “Pengembangan Kemampuan Membaca Sastra”. Harymawan. 1988. Depdiknas. Pradopo. Yogyakarta: Pengkajian Puisi. A. Gadjahmada University Press. Jakarta: UT. 2005b. 1991. dan P. Kumpulan Drama Remaja. Memahami Cerita Rekaan.

Yogyakarta: Hanindito . Herman J.5-62 Apresiasi Bahasa Indonesia Waluyo. Drama. 2003. Teori dan Apresiasi Puisi. Herman J. 1991. Jakarta: Erlangga. Teori dan Pengajarannya. Waluyo.

BUKU AJAR PEMBELAJARAN INOVATIF .

siswa. dan bertindak mempengaruhi siswa mendidik dirinya sendiri. dapat merancang silabus. andragogik. dan kondisi setempat. Tampaknya para ahli sepakat bahwa strategi instruksional berke-naan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional. serta menga-nut paham konstruktivisme dalam menyikapi dan pengembangan ilmu penge-tahuan teknologi dan seni. Untuk dapat melakukannya itu secara profesional tentu saja guru dituntut menguasai ilmu mendidik dan mengajar. cara pengorganisasian materi (urutan). Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi guru. ilmu-ilmu kemanusiaan khusus-nya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. mengua-sai kurikulum yang berlaku. Sebagai guru tentunya Anda mengharapkan agar siswa dapat mengeks-plorasi dunia. didaktik. Strategi instruksional (pembelajaran) merupakan perpaduan dari urutan kegiatan (metode. langkah-langkah. sintakmatik). Filsafat Pancasila. Kinerja kependidikan Indonesia dilandasi filsafat pendidikan. pedagogik. Guru berperan mem-bimbing. guru seyogianya dapat menciptakan teori-teori pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. prinsip belajar dan prinsip pembelajaran. dapat merancang dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang efektif dan efisien Perlu disadari hakikat strategi pembelajaran berbeda dengan kahikat model pembelajaran. alat dan .PENDAHULUAN Guru merupakan salah satu unsur pendidikan yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Berdasarkan paradigma tersebut. dan selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri. metodik. mengembang-kan rasa percaya diri. Di kelas dan di luar kelas. mengarahkan agar hasil eksplorasi itu bermanfaat bagi dirinya. dapat meran-cang dan melaksanakan pedoman kinerja peran guru di lapangan (di kelas dan di luar kelas) yang sesuai dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu didik dan mengajar di-bangun di atas paradigma didik yang benar. situasi. memfasilitasi. guru perlu menguasai kebijakan kependidikan mikro.

2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menje-laskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu.. bahkan tempat tertentu.6-2 Pembelajaran Inovatif media. menarik. alokasi tertentu. Melalui buku ajar ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji . Dalam paparan seterusnya akan jelas terlihat pada contoh-contoh model yang dikemukakan. (huruf miring tambahan penulis) Bila kedua penjelasan teresbut saja dibandingkan. sarana tertentu. dalam Suparman. Mata pelatihan pembelajaran inovatif merupakan pelatihan yang meli-batkan Anda dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan lebih efektif. terjala. Tujuan yang perlu dicapai suatu strategi adalah standar kompetensi. tematik. dsb. Tentu saja tataran konseptual ini berdasarkan landasan para-digma didik yang jelas dan taat asas. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. dan menyenangkan. mengesankan. penulis sependapat bahwa strategi berada dalam tataran konseptual. “Model” strategi yang sudah dikenal seperti Quantum Teaching. sedangkan model pembelajaran berada dalam tataran operasional. portofolio. Akan tetapi “model pembelajaran” perlu diperhatikan urutan dan langkah-langkah tertentu. merupakan rancangan yang dapat berlaku umum bagi berbagai bidang studi. komprehensif. JAIKEM. kompe-tensi tertentu. serta alokasi waktu. terpadu. Bahkan Dick dan Carey (1985. sedangkan tujuan yang dicapai model ada-lah kompetensi dasar. Berbeda dengan hakikat model pembela-jaran yang dapat dikutip sebagai berikut. Winataputra (2001: 3) menulis bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual (operasional) yang melu-kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman (contoh) bagi para perancang pembelajaran dan para mengajar dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”.

penguasaan materi pelajaran dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan prasyarat untuk merancang model pembelajaran inovatif. Pembelajaran Kuantum (Boby dePorte) dan JAIKEM (Jajaki. kreatif. dan konteks. Anda dapat merancang strategi dan model-model pembelajaran inovatif yang tepat. Dengan demi-kian. . Dengan buku ajar ini Anda akan dengan mudah memahami hakikat pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif yang dapat dilaksanakan di kelas Anda. khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Setelah Anda mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda memiliki standar kompetensi merancang model pembelajaran inovatif bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan strategi JAIKEM atau strategi PORTOFOLIO dengan indi-kator keberhasilan Anda mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. situasi. Oleh karena itu. setelah mengikuti pelatihan ini Anda akan dapat mencapai standar kom-petensi. Kreatif. Dalam bahasan ini akan dikaji rasional. Ino-vatif. dan Menyenangkan).Pembelajaran Inovatif 6-3 hakikat pembelajaran yang inovatif. Pemahaman terhadap konsep dan karakteristik strategi dan model terse-but sangat penting bagi guru bahasa Indonesia pada era sekarang yang syarat dengan tuntutan dan arus informasi yang mengglobal. merancang model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk dapat melaksanakan-nya di sekolah secara efektif. Dengan menguasai materi ajar dalam kurikulum dan silabus. Efektif. serta karakteristik siswa tertentu. Aktif. Penguasaan konsep pembelajaran inovatif akan sangat membantu Anda dalam mengelola pembelajaran. pengertian. dan tujuan pembela-jaran inovatif serta karakteristik starategi pembelajaran inovatif seperti strategi portofolio. karena Anda akan mampu menyiapkan berbagai pengalaman belajar yang sesuai de-ngan bahan ajar. kondisi. inovatif. dan menyenangkan itu.

Apa yang diperoleh anak-anak di sekolah. sebagian hanya hapalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. f) Anda dapat merancang Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk disimulasikan. e) Anda dapat mengkritisi contoh model-model pembelajaran yang disajikan dan yang tidak disajikan. sementara keter-kaiatan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah. mencakup rasional. Rasional Apa yang kita amati di sekolah dan sekitarnya adalah kehambaran proses pembelajaran dan kelemahan hasil pembelajaran sebagai output dan hasil pen-didikan alumni peserta didik sebagai outcome dalam menerapkan pengetahuan. pengertian. Aktif. sikap. dan pengamalan yang diperlajari untuk mengatasi per-soalan sehari-hari. keterampilan. dan tujuan. c) Anda dapat menjelaskan hakikat model pembelajarn inovatif bahasa Indo-nesia. Inovatif. g) Anda dapat melakukan evaluasi diri menerapkan kriteria penilaian mengajar URAIAN MATERI 1. Kreatif.6-4 Pembelajaran Inovatif a) Anda dapat menjelaskan kembali dibutuhkannya penguasaan Strategi dan Model Pembelajaran yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran. dan Menyenangkan) dan strategi Portofolio. dan antara penge-tahuan dengan pengamalannya belum . b) Anda dapat menjelaskan karakteristik strategi pembelajaran JAIKEM (Jajaki. Nilai didik yang sangat pendik dalam pembentukan karakter bangsa hampir disebut gagal. Efektif. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. d) Anda dapat menerapkan karakteristik umum dalam model pembelajaran yang Anda rancang.

melainkan dunia sumberdaya insani yang membutuhkan berbagai upaya yang tidak ringan. Diyakini dengan upaya pela-tihan ini mutu kinerja dan tanggungjawab guru makin baik. Oleh karena itu. Dunia pendidikan bukan dunia bisnis. alat dan media. pendidik. Padahal model pembelajaran adalah milik dan buatan setiap guru yang mengajar. arah pembelajaran pada kurikulum 2006 ditekankan pada penguasaan kompetensi. Hakikat Strategi Pembelajaran Strategi instruksional merupakan sistem perpaduan dari urutan kegi-atan cara pengorganisasian materi. sumberdaya insani paripurna. setiap orang tua. karena pembaharuan dan perbaikan kependidikan yang berdimensi karakter bangsa dan superkompleks ini diyakini tidak semudah membangun jalan tol dan memperbaiki gedung bertingkat. Namun kompetensi yang komprehensif. bahkan cuma meniru model pembelajaran negara lain. siswa. dalam Suparman. Tugas guru sekarang adalah meningkatkan mutu kinerja pembelajaran sekaligus meningkatkan mutu hasil pendidikan. yang menjadi misi pendidikan nasional belum menyentuh apalagi menjiwai dunia pendidikan tingkat operasional. dan itulah tugas guru. dan pemerintah pengelola kependidikan. Walaupun demikian kiranya dapat dimaklumi. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan.Pembelajaran Inovatif 6-5 mereka dikuasai. serta alokasi waktu. a. Buktinya kita masih meng-import dan mengadopsi. Kekayaan model pembelajaran rupanya masih miskin di Indonesia. Itulah rasional mengapa model pembelajaran menjadi perhatian utama kita. 2. Tataran konseptual ini berdasarkan pendekatan tertentu. Strategi Pembelajaran. dan pelatihan inilah tugasnya. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponenkomponen umum dalam program instruksional dan prosedur- . Penguasaan akan model pembelajaran rupaya perlu ditingkatkan. Dick dan Carey (1985.

karakter proses pembelajarannya mengumpulkan doku-men bukti proses dan hasil . siswa perlu aktif proaktif. komunikatif. b. Pendekatan itu aksionatis (menurut Anthony. melakukan evaluasi diri wajib dilakukan.6-6 Pembelajaran Inovatif prosedur utama yang memandu kegiatan untuk mencapai hasil belajar. mengembangkan berbagai bukti tersebut. portofolio. Maka strategi bersifat pendekatan. tidak boleh tidak. 1975). Strategi merupakan suatu keputusan strategis berdasarkan komponen dan prosedur umum. jaikem. Misalnya strategi kuantum. wajib dilakukan kegiatan menjajaki atau biasa dikenal sebagai apersepsi. dsb. kegiatan guru dan siswa kreatif. kognitif. misalnya filsafat behaviorisme dan konstruktivisme. Jika tidak maka bukan strategi yang dimaksud. manasuka. holistik. memiliki karakter dasar pembelajaran yang dilakukan bersifat simphonis. Strategi menggambarkan prosedur umum dan jenis kegiatan umum untuk mencapai kompetensi mana saja. mendoku-mentasikan segala bukti proses dan hasil belajar. perlu dilakukan. tematik. Demikian juga jika menerapkan Strategi Kuantum. Oleh karena itu tidak perlu dibantah. Berdasarkan paham itu. atomistik. untuk peningkatan kompetensi secara efektif. Strategi juga dapat merupakan karakter dasar proses pembelajaran yang menonjol. namun berdasar-kan filsafat pendidikan yang sedang berlaku. Strategi tidak berdasarkan standar kompetensi tertentu Suatu strategi berlaku umum dan tidak mempunyai batas waktu. pendirian. proses interaksi yang inovatif. dan dalam situasi yang menyenangkan. Keputusan-keputusan strategis diten-tukan dalam upaya merancang strategi pembelajaran tertentu menjadi suatu “model strategi”. Strategi portofolio. bagaimana karakteristiknya. dikenal pendekatan kuantum. maka siswa aktif baik di kelas maupun di luar kelas. Jika diputuskan menerapkan Strategi Portofolio. Jika diputuskan menerapkan strategi Jaikem. kontekstual.

dan membaca. dkk. Begitulah hakikat paham konstruktivisme dalam dimensi pendidikan (Schwandt. Oleh karena itu kegiatan tersebut dinamakan strategi portofolio. 2001). Oleh karena itu dikatakan model pembelajaran. serta mengeks-plorasi dirinya. menulis. karena walaupun ada empat aspek kemahiran berbahasa. di-antaranya model-model pencapaian konsep. 1997. dan nilai. alias kelompok ragam strategi kognitif. 3. Ketika kita membantu siswa memperoleh pengetahuan. pembelajaran perlu dilakukan tidak terpisah-pisah. Panen. Oleh karena itu masalahnya adalah bagai-mana guru bertindak mempengaruhi siswa agar dapat mendidik dirinya sendiri. Model Pembelajaran Inovatif a. Strategi JAIKEM merupakan singkatan dari karakter kegiatan pokok. Pertanyaan berikutnya adalah dalam aspek apa atau unsur mana suatu model dinilai inovatif? Nanti akan terlihat pada karakteristik umum suatu model. belajar mandiri. 1994. dan Suparno. Apabila suatu program itu bergan-tung kepada kompetensi tertentu disebut suatu model pembelajaran. Rasional Pembelajaran Inovatif Model belajar adalah model mengajar (Joyce. keterampilan. . berbi-cara.Pembelajaran Inovatif 6-7 belajar. baik melalui pengetahuan dan keteranpilan yang diperoleh. Berbagai model pembelajaran diturunkan berdasarkan paham konstruk-tivisme. Salah satu rumpun model yang dikemukakan Joyce (200) adalah ragam pengolahan informasi. Sesungguhnya keluaran jangka panjang (outcome) yang terpenting sangat boleh jadi (may be) peningkatan kemampuan belajar. maupun melalui penga-laman belajar melalui sekolah. cara berpikir. atau jalan sendiri. ide. 2000:6). menyimak. guru juga membimbing mereka bagaimana belajar tentang hal itu. Disebut pendekatan atau strategi pembelajaran integratif.

baik yang dilaku-kan guru maupun siswa. dan siap berperan serta dalam proses pembel-ajaran. dalam inti penyajian. dan (3c) penutup. Namun langkah khusus dalam setiap langkah umum itu masih belum disadari benar kebutuhannya. (4) sistem sosial. (3) Sintakmatik atau langkah-langkah pembelajaran. (5) sistem interaksi. (7) dampak instruksional dan dampak pengiring. Karakristik umum model pembelajaran Setiap model pembelajaran selalu memiliki unsur-unsur (1) identitas mata pelajaran. Oleh karena itu hakikat dan makna pembukaan adalah . bahkan sudah menjadi tradisi. (3a2) mempunyai bayangan awal tentang apa yang akan dipelajari dan (3a3) harapan bahwa kompetensi akan tercapai. (2) tujuan dan asumsi. Biasanya siswa tertarik kepada (3a1) permasalahan. (3) sintakmatik. Kelak dapat diketahui apabila kompetensi baru tidak tercapai berarti ada kekeliruan atau kelemahan dalam menetapkan asumsi dan tujuannya. Langka-langkah khusus dalam pembu-kaan. pertemuan ke berapa. Asumsi merupakan penjelasan pengetahuan prerekuisit apa yang telah dikuasai dan perubahan yang diinginkan akan dapat tercapai. yaitu (3a) pembukaan. dan indikator keberhasilan belajar. (2) Tujuan dan asumsinya. (1) Identitas mata pelajaran. yang mendasari dan menjadi titik tolak perancangan model. pokok dan subpokok bahasan. dan dalam langkah penutup. (3b) inti penyajian. kelas dan waktu. (6) sistem pendukung. Untuk itu melalui pembukaan yang tepat siswa perlu terangsang dan siap menyerap informasi. Langkah umum suatu model sudah baku. sering diabaikan. Pembelajaran perlu bertolak dari dasar kompetensi dan pengetahuan yang sudah dikuasai untuk berubah menjadi kompetensi yang diharapkan. Hakikat dan makna pembukaan adalah menciptakan suasana mental siswa agar siswa siap berkonsentrasi dan berminat mengikuti proses pem-belajaran. yang terdiri dari nama mata pelajaran.6-8 Pembelajaran Inovatif b. standar kompetensi dan kompetensi dasar.

siswa. serta kiat-kiat interaksinya bisa beragam dan bervariasi. (3b4) dilakukannya pelatihan. guru lain. Hakikat dan makna (3c) penutup proses pembelajaran adalah terja-dinya pemantapan kesan akan kompetensi yang baru saja dibahas. Kreativitas yang inovatif asal tidak monoton dapat dilakukan. dan ling-kungan keluarga. dan (3b5) pemberian umpan balik. Hakikat dan makna (3b) sajian inti adalah terjadinya transaksi informasi antara informasi lama dan baru dalam diri siswa. dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. Untuk itu dilakukan (3c1) menulis refleksi. (4) Sistem Sosial. teknik-tekniknya dan alat dan medianya. Dalam proses ini terjadi pengembangan dan pengendapan ilmu pengetahuan atau kete-rampilan dan sikap. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. lingkungan masyarakat: tokoh masyarakat. (3c2) pemberian umpan balik umum. Bagaimana jenis prosesnya. Kegiatan apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah haki-kat dan fungsinya. dan mengingatkan kembali kompetensi yang perlu dicapai. dan (3c3) petunjuk tindak lanjut.Pembelajaran Inovatif 6-9 menciptakan kesiapan siswa untuk berpartisipasi. alat dan medianya. asal tidak monoton apapun dapat dilakukan. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. teknik-tekniknya. (3b2) memperhatikan prinsip prerekuisit. Kreativitas yang inovatif. serta kiat-kiat interaksinya dapat beragam dan berva-riasi. teknik-teknik-nya dan alat dan medianya. Namun persyaratan agar proses transaksi itu terjadi perlu (3b1) memperhatikan prinsip-prinsip dan teori-teori pembelajaran. men-deskripsikan garis besar lingkup sub-subpokok bahasan. atau disebut juga berbagai unsur lingkungan seperti hubungan guru. Bagaimana jenis prosesnya. (3b3) dilakukan pemberian dan pembahasan contoh. urutan logis bahan ajar misalnya silabus yang sesuai dengan hasil analisis instruksional. dalam proses pembukaan perlu dibahas masalah berkenaan dengan topik bahasan. Bagaimana guru merancang . dan kiat-kiat interaksinya bisa saja beragam dan bervariasi. tetangga. Bagaimana jenis prosesnya.

serta bagaimana guru memotivasi agar siswa menyempurnakan catatan dan melakukan belajar mandiri. Bagaimana pula guru mengundang anak jalanan untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. Guru merancang agar siswa melakukan kegiatan belajar dalam menerapkan kemahiran wawancara dengan tokoh masyarakat. Yang terakhir dan terpenting dalam proses pendidikan adalah (7) dampak pengiring atau “nurture effect” selain dampak instruk-sional yang telah ditetapkan dan diketahui keberhasilannya melalui proses interaksi dan ulangan atau ujian. tergantung pada teknik dan kiat guru melakukannya. menghargai pendapat orang lain dalam proses diskusi . Misalnya bagaimana kemahiran berbicara yang menerapkan model anjangsana belajar. seperti toleransi. Bagaimana peran guru dan siswa serta unsur-unsur pendidikan yang terlibat diatur merupakan prestasi guru tersebut. dibahas. maupun penutup. Bagaimana bahan ajar ditampilkan. (6) Sistem pendukung. dipertanyakan. dan dijadikan alat pembentukkan dan pembinaan karakter peserta didik. bagaimana umpan balik dan kuis disampaikan untuk menguji pencapaian kompetensi. alat. Misalnya model pembelajaran laboratoris perlu menggunakan laboratorium dan lainnya yang ada di laboratorium itu.6-10 Pembelajaran Inovatif hubungan interaktir ini merupakan prestasi tersendiri. atau anak-anak panti asuhan. berdiskusi. Semua itu dideskripsikan sebagai sistem interaksi. Model wisata membutuhkan alat transportasi. Tanyajawab. media pembelajaran. Semuanya diatur dalam suatu model tsb. Dalam proses demikian apakah peran guru dan dukungan sekolah. Dsb. serta berbagai evaluasi diri siswa dikerjakan. anjang sana akademik. dan bagaimana refleksi seharusnya ditulis. penyajian. (5) Sistem reaksi (interaksi) terjadi baik pada proses pembukaan. Dampak pengiring adalah nilai yang me-nunjukkan terbinanya mentalitas. wawancara. Pendukung ini dirancang berdasarkan kebutuhan khusus. Setiap model selalu membutuhkan sarana. dan apa saja dapat dilakukan.

c. Standar Isi kurikulum pendidikan berupa daftar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD). Desain dirancang berdasarkan hasil analisis instruksional kurikulum. suatu sistem pemikiran. Suatu model pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan kompetensi (SK-KD) dan isi bahan ajar. percaya diri dalam kegiatan evaluasi diri. atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). silabus. pengembangan rasa ingin tahu melalui proses “model anjang sana belajar”. Struktur pemikiran tentang model dituangkan dalam bentuk desain yang biasa disebut Rancangan Pembelajaran (RP). Desain Instruksional Model . kebiasaan mawas diri. Wujud Model Pembelajaran (c1) Model Kesederhanaan Pembelajaran Pembelajaran (Inovatif) hanyalah istilah suatu “konsep”.Pembelajaran Inovatif 6-11 kelompok. Analisis Instruksional kurikulum dalam arti analisis standar isi pendi-dikan. pengembangan kecermatan dan keteli-tian dalam proses tugas mengedit karya tulis peserta didik setelah dialami-nya proses pembela-jaran dengan penyelenggaraan “model kontes editing”. atau apalah namanya. Hakikat-nya adalah pedoman pelaksanaan praktek mengajar. Model desain rancangan itu dapat dilihat seperti berikut. atau KTSP.

2. umpan balik c. uraian konsep f. perasaan. serta santun Identitas matapelajaran Satuan Acara Pembelajaran Kegiatan: URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL Pembukaan Membahas/mempertanyakan: Penyajian Penutup a. dan penolakan pendapat Indikator Keberhasilan : 1. Rancangan hanya memberi peluang kepada guru untuk . 2. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : pikiran. tindak lanjut dialog MODEL: DISKUSI KELOMPOK TEKNIK MEDIA WAKTU OHP Rancangan 5’ Bagi kelompok Penjelasan Diskusi kelompok Laporan hasil Diskusi hasil Penyimpulan Kerja individual menulis refleksi Penugasan OHP Artikel materi diskusi 5’ 25’ 45’ Lembar refleksi 10’ (c2) Bentuk interaksi kreatif dan inovatif di setiap unsur proses Di bagian manakah ciri inovatifnya suatu model? Dalam rancangan diterapkan. Guru terlebih dahulu pada pertemuan sebe-lumnya menyiapkan dan membagikan naskah materi yang akan didiskusikan agar siswa menyiapkan diri membaca naskah itu. Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. dan penolakan pendapat . sanggahan.6-12 Pembelajaran Inovatif Bidang Studi Standar Kompetensi Pokok bahasan Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia : Mengemukakan pikiran. Deskripsi singkat c. perasaan. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : 1. contoh g. dst Membahas/melakukan/memberi: a. pelatihan d. setiap langkah proses. melainkan dalam pro-ses. dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti dan alasan . Siswa dapat membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. Menyampaikan persetujuan. Uraian konsep b. sanggahan. Permasalahan/relevansi b. umpan balik e. refleksi b. sanggahan. serta santun Subpokok Bahasan : persetujuan. contoh c. telah dikemukakan lang-kah-langkah (sintakmatik). Siswa dapat menyampaikan persetujuan. Kompetensi Membahas/melakukan/memberi: a. seperti hanya terlihat langkah terlihat pada dan pada unsur teknik-teknik rancangan yang yang Inovasinya tidak sederhana itu.

4. kecerdikan. Dibutuhkan kemahiran. 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family) Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memehami dunia dengan cara menggali masalah dan dan mengorganisasikan mengupayakan data. yakni: 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family). mengamati proses diskusi. Winataputra (2001). Udin S. Kelompok Model Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar kependidikan di bidang itu. jalan merasakan adanya . memberi petunjuk tentang proses diskusi.Pembelajaran Inovatif 6-13 menciptakan suasana belajar yang inovatif. Selanjutnya dalam bahan ajar ini disampaikan kutipan jenis model pembelajaran inovatif. proses diskusi (dalam SAP menyam-paikan tujuan/kompetensi. Kelompok Model Sosial (The Social Family). lengkap namun terpilih dari sumber Bruce Joyce (2000). Kelompok Model Sistem Perilaku (The Behavioral System Family). Kelompok dan Contoh Model Pembelajaran Inovatif a. kelompok dan kreativitas contoh guru mengelola tadi). dan Atwi Suparman (2001). memberi saran bagaimana bergilirannya bicara. Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori. 2) 3) 4) Kelompok Model Personal (The Personal Family).

6-14 Pembelajaran Inovatif pemecahannya. dan melihat dunia dari sudut pandangannya yang juga unik yang meru-pakan hasil dari pengalaman dan kedudukannya. bekerja. Secara umum banyak dari model pengolahan informasi ini yang dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia. dan mem-bentuk keluarga secara bersama-sama. . menitikberatkan pada Beberapa kelompok dan memberikan ke-pada para guru sejumlah konsep. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah: Model a) b) c) d) e) f) g) Pencapaian Konsep (Concept Attainment) Berpikir Induktif (Inductive Thinking) Latihan Penelitian (Inquiry Trainging) Pemandu Awal (Advance Organizers) Memorisasi (Memorization) Pengembangan Intelek (Developing Intellect). dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. dan Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry) 2) Kelompok Model Personal (Personal Models) Disadari bahwa kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu. sebagian lagi pem-bentukan konsep pengetesan hipotesis. Proses pendidikan sengaja diusahakan agar memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik memikul tanggung jawab untuk pendi-dikan. Pengertian umum meru-pakan hasil kesepakatan individu yang harus hidup. sengaja dirancang untuk mem-perkuat kemampuan intelektual umum. dan sebagian lainnya memu-satkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau selfhood dari individu. serta mengembangkan model dalam bahasa untuk ini mengungkapkannya. Beberapa model. Manusia mengembangkan kepribadian yang unik.

sinergy dapat memberikan keuntungan. Bermain Peran (Role Playing). Kelompok model ini meliputi sejumlah model. David serta Roder Johnson dan kawan-kawan (1974. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry). . hal ini tidaklah berarti bisa dipakai begitu saja. Yang harus dicatat ialah. Namun demikian. ternyata belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. seperti berikut.Pembelajaran Inovatif 6-15 Kelompok Model Personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif. 1981). Dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan meng-himpun tenaga atau energy secara bersama yang kemudian disebut synergy (Joyce dan Weil: 1986). a) b) c) Investigasi Kelompok (Group Investigation). model-model pembelajaran ini a) b) c) d) Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching) Sinektiks (Synectics Model) Latihan Kesadaran (Awareness Training). Hasilnya cukup meyakinkan. Robert Shavin (1983) telah berkerja sama dengan para guru untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan cooperative rewards atau hadiah yang diberikan atas suatu kerjasama. Kelompok Model Sosial ini dirancang untuk me-manfaatkan fenomena kerjasama. dan struktur tugas kerja-sama (cooperative task structure) dalam suatu kegiatan kelompok. sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. 3) Kelompok Model Sosial (Social Models) Diakui bahwa kerjasama merupakan suatu fenomena kehidupan ber-masyarakat. Termasuk ke dalam kelompok ini. dan oleh karena itu pula model-model sosial merupakan bagian penting dari proses pembelajaran secara keseluruhan. dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). Model ini telah banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakuannya.

Yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu: a) b) c) d) e) Belajar Tuntas (Mastery Learning). Oleh karena itu. mengembangkan keterampilan kinestetik dan sosial. Model ini dikenal pula sebagai model Modifikasi Perilaku atau Behavioral Modification. menghilangkan rasa cemas dan cara santai. belajar Kontrol Diri (Learning Self Control). model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi atau overt behavior. dan Latihan Asertif (Assertive Training) . dan Sibernetika atau Cybernetics. bagaimana belajar membaca dan menghitung. Dasar pemikiran dari kelompok model ini ialah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self-correcting communication systems yang memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development). para ahli psikologis. seperti Skinner (1953) telah mempelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat memberikan kemudahan terhadap hilangnya rasa takut pada diri seseorang. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). sosial dan fisik yang perlu bagi seorang pilot datau astronout. dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomuni-kasikan keberhasilan. Kelompok Model Sistem Perilaku (Behavioral System) Dasar teoritik dari kelompok model ini ialah teori-teori belajar sosial atau social learning theories.6-16 Pembelajaran Inovatif d) e) 4) Latihan Laboratoris (Laboratory Training). Dengan berdasar pada konsep bagaimana seseorang memberikan res-pons terhadap tugas dan umpan balik. dan mempelajari keterampilan intelektual. Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy. dan Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry).

dan Model Simulasi. Contoh atau eksemplar adalah gambaran atau bentuk nyata dari kon-sep itu. 1) MODEL PENCAPAIAN KONSEP Tujuan dan Asumsi Setiap konsep memiliki empat elemen yaitu. manusia. b. Model Investigasi Kelompok. sayur-mayur. ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial. Model Sinektiks. Model Latihan Penelitian. Contohnya. mahluk hidup. . Model Kontrol Diri. atau pengalaman. pemerintah. contohnya. dapat diaplikasikan di tingkat pendidikan dasar 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Model Pencapaian Konsep. Bukan contoh atau noneksemplar. Contoh Model Pembelajaran Berikut disampaikan beberapa Model Pembelajaran Pilihan sebagai contoh yang diperkirakan dapat dimanfaatkan di sekolah. Namun hakikatnya pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah menengah bahkan.Pembelajaran Inovatif 6-17 Beberapa model dari semua kelompok model itu dibahas pada uraian bagian selanjutnya untuk diterapkan dalam bidang kajian yang relevan. Model Jurisprudensial Model Latihan Laboratoris. Nama ialah istilah yang dipakai untuk suatu kategori benda. dalam batas-batas tertentu. Model Pertemuam Kelas. dan kerajaan. Model Penelitian Sosial. penduduk. Contoh-contoh ini merupakan kutipan dan adaptasi dari sumber yang sudah tersebar secara nasional sebagai materi pelatihan dosen di perguruan tinggi. ialah gambaran atau bentuk nyata yang tidak sesuai dengan konsep itu. dan nilai dari ciri-ciri terse-but. biana-tang. contoh atau eksem-plar. nama. feno-mena.

Tahap Kedua: Mengetes Pencapaian Konsep (1) Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label de-ngan menyatakan ya atau bukan. Sedangkan. dan tempat tinggal yang tetap. pendidikan. Misalnya untuk contoh konsep ke-luarga. Ahmad yang hidup sendirian adalah bukan contoh atau contoh negatif dari konsep keluarga. karena banyak keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri saja. . semua anak telah membentuk keluarga baru. misalnya keluarga baru. Atribut yang tidak esensial ialah ciri-ciri lain yang melengkapi gambaran konsep. keadaan rumah. tingkat kesejahteraan. Tahap pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep (1) (2) (3) (4) Pengajar menyajikan contoh yang sudah diberi label. yang sekalipun memiliki anak. yang apabila ciri itu tidak terdapat dalam suatu contoh positif tidak mengurangi makna dari konsep itu. (hal 11) Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan negatif. Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri esensial. Ibu abdulleah sebagai ibu rumah tangga. atau keluarga senior. Nilai atribut ialah kualitas dari setiap atribut. Misalnya. Atribut esensial ialah ciri-ciri utama yang memberikan gambaran sosok utuh suatu konsep. Siswa membuat dan mengetes hipotesis. atribut esensial dari konsep keluarga ialah adanya orang tua (ayah dan ibu atau salah satu untuk keluarga orang tua tunggal). Sintakmatik Model Pencapaian Konsep memiliki tiga tahap kegiatan.6-18 Pembelajaran Inovatif keluarga Pak Haji Abdullah yang terdiri dari Haji Abdullah sebagai Kepala keluarga. adanya anak bukan atribut esensial. mata pencaharian. dan usiaperkawinan merupakan nilai dan atribut keluarga. Suryadi dan Suryani putra/putrinya sebagai anggota keluarga merupakan contoh atau contoh positif dari konsep Keluarga. Misalnya.

Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. mereka akan dapat bertukar pikiran dan . Pengajar melakukan pengendalian terhadap aktivitas. Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai. Prinsip Reaksi (1) (2) (3) (4) Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat diskusidiskusi yang berlangsung. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan mahasiswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis.Pembelajaran Inovatif 6-19 (2) Pengajar menegaskan hipotesis. Pusatkan perhatian para siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik. Bila siswa sudah dapat berpikir semakin kompleks. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan duga-an yang satu dari yang lainnya. Tahap Ketiga: Menganalisis Strategi Berpikir (1) (2) (3) Siswa mengungkapkan pemikirannya. Interaksi antar mahasiswa digalakkan oleh peng-ajar. Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep. namun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. dan menyatakan kem-bali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. nama konsep.

Umumnya manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampat Instruksional model ini adalah penguasaan akan hakikat konsep. 2) MODEL PELATIHAN PENELITIAN Tujuan dan Asumsi Latihan Penelitian (Inquiry Training) bertolak dari kepercayaan bahwa perkembangan sesorang agar mandiri. Yang diharapkan ialah agar siswa dapat mempertanyakan. memberikan arah khusus sehingga mereka akan dapat mela-kukan eksplorasi itu dengan semangat dan dengan penuh kesungguhan. memiliki perhatian besar untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. toleransi terhadap ketidaktentuan. mengapa suatu peristiwa terjadi. karena itu model latihan penelitian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi. menuntut metode yang dapat mem-beri kemudahan bagi para siswa untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. Dengan situasi yang penuh teka-teki ini secara alami siswa akan terdorong untuk memecahkan teka-teki itu. Dampak pengiring model ini adalah kepekaan terhadap penalaran logis. Dengan cara ini diyakini bahwa para mahasiswa dapat menjadi semakin sadar akan proses penelitian yang dilakukannya dan pada saat itu secara . dan kesadaran akan pilihan pandangan. Dengan model ini Suchman. konsep-konsep yang spesifik.6-20 Pembelajaran Inovatif bekerjasama dalam membuat unit-unit data. dan penalaran induksi. Latihan penelitian dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh pertanyaan. Penguasaan tentang strategi pembentukan konsep. dan menelitinya dengan cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis. seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari contoh-contoh lainnya.

Yang paling penting. Mereka akan menjadi sadar tentang dan bekajar mengenai strategi berpikir yang dimilikinya. dan menghargai berbagai alternatif penjelasan mengenai sesuatu hal. Pada dasarnya model ini mengikuti teori Suchman sebagai berikut. (1) (2) (3) (4) Secara alami siswa akan mencari sesuatu segera setelah dihadapkan pada masalah. Sintakmatik Model ini memiliki 5 tahap seperti berikut: (Joyce & Weil 1986: 61) Tahap Pertama: Menghadapkan Masalah (1) (2) Menjelaskan prosedur penelitian Menyajikan situasi yang saling bertentangan atau berbeda Tahap Kedua: Mencari dan Mengkaji Data (1) (2) Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi. demikian menurut Suchman sebagai pengembang model ini. menyajikan kepada siswa suatu sikap bahwa “pengetahuan itu bersifat tentatif” artinya selalu terbuka untuk dikaji secara terus menerus. dan Penelitian yang bersifat kerjasama akan memperkaya proses berpikir dan membantu siswa untuk belajar tentang sifat tentatif dari pengeta-huan. Tahap Ketiga : Mengkaji Data dan Eksperimentasi (1) Mengisolasi variabel yang sesuai . Strategi baru dapat diajarkan secara langsung melengkapi strategi yang telah dimilikinya. Memeriksa tampilnya masalah.Pembelajaran Inovatif 6-21 langsung dapat diajarkan cara melakukan prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. sifat selalu berkembang dari pengetahuan.

Dalam konteks ini pengajar dan siswa seyogyanya berpartisipasi atas dasar persamaan derajat dalam menghadapi suatu ide. Merumuskan dan Menjelaskan. . tunjukkan kepada siswa dengan jelas. Prinsip Pengelolaan / Reaksi (1) (2) (3) (4) Pertanyaan yang diajukan harus diungkapkan dengan jelas sehingga dapat dijawab siswa. Interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. Lingkungan intelektual juga ditan-dai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan. Jika ada butir persoalan yang tidak sahih. Mintalah siswa untuk merumuskan pertanyaan yang kurang tepat. Akan tetapi. misalnya dengan cara menunjukkan kepada siswa teori mana yang memerlukan percobaan. tetap diperhatikan bahwa prinsip dan norma yang dikandung dalam model ini ialah kerjasama. Gunakan bahasa yang baik untuk melakukan proses penelitian. Tahap Kelima: Menganalisis Proses Penelitian Dilakukan dengan cara menganalisis strategi penelitian untuk men-dapatkan prosedur yang lebih efektif. Tahap Keempat : Mengorganisasikan.6-22 Pembelajaran Inovatif (2) Merumuskan hipotesis sebab akibat. kebebasan intelektual. dan kesamaan derajat. Dilakukan dengan cara merumuskan cara-cara atau aturan untuk menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya. Sistem Sosial Model Latihan Penelitian dapat diorganisasikan secara lebih terstruk-tur di mana pengajar mengendalikan keseluruhan proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus ditempuh.

dan terlatihnya semangat kreatif. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah materi yang dapat dikonfrontasikan pengajar yang mengerti proses intelektual dan strategi penelitian. (1) Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah memahami strategi untuk penulisan karya ilmiah. Berikan dorongan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan ten-tang teori dan selanjutnya memberikan dukungan untuk melakukan perumusan generalisasi. Gordon menitikberatkan kreativitas seba-gai salah satu bagian dari . otonom dalam berpikir. Hampir semua orang setiap hari bergulat dengan masalah yang menuntut kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan. Dampak pengiring dari model ini adalah meningkatnya kemandirian. dan sumber bahan yang mampu memberikan permasa-lahan melakukan penelitian. Berikan dorongan dan kemudahan bagi siswa untuk melakukan interaksi di antara mereka. terlatihnya keterampilan proses.Pembelajaran Inovatif 6-23 (5) (6) Cobalah berikan suasana kebebasan intelektual dengan cara tidak menilai teori yang diajukan siswa. terhadap ketidakpastian. toleransi yang menantang bagi siswa untuk 3) MODEL SINEKTIKS Tujuan dan Asumsi Gordon dalam Joyce dan Weil (1986: 164-165) mendasarkan model sinektik ini pada empat ide yang menentang pandangan lama tentang kreativitas.

mengekspresikan sesuatu secara kreatif. (4) Penemuan yang kreatif dari indifidu dan kelompok pada dasarnya serupa.6-24 Pembelajaran Inovatif pekerjaan dan waktu senggang sehari-hari. karena ia sangat mungkin untuk melatih seseorang secara lagsung sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya. Pengembangan kreativitas ini dapat dilakukan dalam suasana pendidikan formal. Kegiatan metaporis ber-tujuan menyajikan perbedaan konseptual antara diri mahasiswa de-ngan obyek yang dihadapi atau meteri yang dipelajari. Gordon percaya bahwa seseorang dapat memahami inti proses kreatif dan ia akan dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara bebas sebagai anggota masyarakat. dan memiliki wawasan sosial. (3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya. menunjukkan empathy. 1986: 166_168). Misalnya de-ngan cara meminta mengandaikan sisrem tubuhnya sebagai jaringan transportasi. Indifidu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam bentuk yang serupa. Di samping itu ditekankan pula makna ide-ide yang dapat diperkuat me-lalui aktivitas yang kreatif dengan cara melihat sesuatu lebih luas. Analogi personal dilakukan oleh para mahasiswa Pada saat mereka meletakan diri . (2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. Diya-kini bahwa proses berpikir mencipta dalam kiat atau seni erat sekali hubungannya dengan proses berpikir dalam ilmu. Inti dari model sinektiks ialah aktivitas metapora yang meliputi analogi personal. Ia dapat dipaparkan. analogi langsung dan konflik yang dipadatkan (Joyce dan Weil. Oleh karena itu model ini dirancang untuk meningkatkan kemam-puan seseorang dalam memecahkan masalah.

misalnya” sangat galak atau sangat ramah” Sintakmatik Model sinektiks ini memiliki enam tahap: Tahap pertama: Deskripsi Kondisi saat ini Pengajar meminta mahasiswa untuk memaparkan atau mendiskripsi-kan situasi yang ia amati saat ini. Misalkan dengan cara menggadaikan dirinya sebuah mobil.Pembelajaran Inovatif 6-25 pada obyek yang sedang dibandingkan. Dalam analogi personal ini terdapat empat tahap: (1) (2) (3) (4) Mendiskripsikan fakta mengenai orang pertama’ Mengidentifikasi orang pertamadengan perasaan. dan memilih salah satu. Tahap keempat: konflik yang dipadatkan Siswa mengambil apa yang dipaparkan atau didiskripsikan pada tahap kedua dan ketiga. sedangkan yang dimaksud dengan konflik yang di padatkan. Fungsi dari proses ini ialah untuk mentransposekan sesuatu keadaan nyata pada keadaanyang lain dalam rangka memperoleh pandangan baru atau masalah baru. Mengidentifikasi diri pada obyek hidup. ialah cara mengkontraskan dua ide dengan memberi label sinkat biasanya dengan hanya dua kata.dan Mengidentifikasikan diri pada obyek yang tidak hidup Analogi langsung merupakan perbandingan sederhana antara dua obyek atau konsep. Tahap ketiga:Analogi personal Siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan yang dianalo-gikan pada tahap sebelumnya. . Tahap kedua: Proses analogi langsung Siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian. kemudian membuat beberapa konflik yang dipa-datkan. kemudian memilih salah satu untuk diekplorasi lebih jauh.

di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan urutan dan membimbing mekanisme interaksi belajar. pengajar harus dapat menerima respon siswa agar mereka merasa bahwa dalam kegiatan metaporis itu tidak dicampuri oleh pihak luar dirinya.6-26 Pembelajaran Inovatif Tahap kelima: Analogi langsung Siswa mengemukakan dsan memilih analogi langsung yang lain ber-dasarkan pada konflik yang dipadatkan. Walaupun demikian. . Sistem Sosial Model ini terstruktur sedang. Dengan demikian. keseluruhan proses sinektiks itu akan dapat berjalan sesuai dengan jalan pikiran dan ide yang melatarbelanginya. saat kegiatan metaporis para mahasiswa tetap memi-liki kebebasan dalam diskusi yang tebuka dan tanpa akhir atau open-ended Prinsip Pengelolaan/reaksi Pengajar mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh pola berpikir yang reguler dan ia mencoba untuk menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon. Ada kalanya pengajar harus menggunakan teknik yang tidak rasional untuk mendorong siswa yang enggan melibatkan diri dalam proses metaporis. Pengajar juga membantu mahasiswa untuk mengkonseptualisasikan proses mental. Tahap keenam: Pengujian kembali tugas awal Pengajar mengarahkan siswa untuk kembali kepada tugas awal atau masalah dan menggunakan analogi yang terakhir atau keseluruhan proses sinektis. Perlu diperhatikan agar jangan sampai terjadi analis yang bersifat premature atau terlalu dini atau lahir sebelum waktunya. Dalam keseluruhan proses.

berdasarkan konsep terapi dalam perubahan peri-laku. Asumsi yang kedua. berupa ruangan yang lebih besaryang memungkinkan terciptnya lingkungan yang kreaktif melalui aktifitas yang bervariasi. Dalam kelas rasa cinta tercer-min dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. untuk mencapai keberhasilan. Diyakini sekolah gagal bukan dalam me-nampilkan profil akademis tetapi dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan. sedangkan dampak pengiringnya adalah keutuhan dan produktivitas kelompok. Metode terapi yang bersifat tradisional sering tidak realistis sebagai akibat perilaku tidak berfungsi. Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok.Pembelajaran Inovatif 6-27 Sistem pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini ialah adanya pengajar yang kompeten menjadi pemimpin dalam prosis sinektiks kadang-kala diperlukan pula sejumlah alat dan bahan atau tempat untuk membuat model analogi yang bersifatfisik. Kelas yang perlu diperhatikan. kapasitas kreatif dalam bidang studi. konstruktif. Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki dan harga diri. 205) mengajukan pemikiran bahwa pada umumnya masalah kemanusiaan merupakan kegagalan dari fungsi sosial dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar untuk dicintai dan dihargai. Dampak instrusional dan pengiring Dampak instrusional model ini adalah siswa memiliki kapasitas ke-kreatifan umum. Glasser . 4) MODEL PERTEMUAN KELAS Tujuan dan asumsi Glasser dalam Joyce dan Weil (1986.

Membangun iklim keterlibatan (1) (2) Mendorong siswa agar berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri. dicintai. apa yang bertanggung jawab dan mana yang benar. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul Mengidentifikasi norma sosial. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap (Joyce danWeil 1986: 210) Tahap pertama.6-28 Pembelajaran Inovatif mencoba berusaha untuk memper-baiki penampilan dan memenuhi kebutuhan dengan cara membantu orang lain mengenai apa yang nyata. Tahap kedua: Menyajikan masalah untuk didiskusikan (1) (2) (3) (4) Siswa dan atau pengajar membawa isu atau masalah Memaparkan masalah secara utuh. Tujuan terapi ini ialah meningkatkan kemampuan untuk memenuhi komitmen pada perubahan perilaku. dan memiliki identitas. Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai. Mahasiswa bersepakat tentang pilihanya itu Tahap kelima: Membuat komentar secara umum Tahap Keenam: Tindak Lanjut Perilaku Tahap ketiga. Cara ini juga untuk memenuhi kebu-tuhan emosional orang lain untuk merasa berharga. Mengidentifikasi nilai yang ada di balaik masalah perilaku dan norma sosial. Membuat keputusan nilai personal . siswa membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki Tahap keempat: Mengidentifikasi Pilihan Tindakan (1) (2) Mahasiswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku.

Kepemimpinan. yakni tanggung jawab untuk membimbing interaksi mela-lui tahap tahap tersebut terletak pada tangan pengajar. dan pada saat yang bersamaan ia mampu membimbing kelompok menuju penilaian perilaku komitment dan tindak lanjut dari perilaku itu. tidaklah menentukan. (3) Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada. Apa yang dikemukakan oleh pengajar pada saat mendengarkan pemaparan kajian nilai. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Perilaku Pengajar dibimbing oleh tiga prinsip: (1) Prinsip melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat. mahasiswa menguji efektivitas dari komit-men dan perilaku baru itu. Walaupun demikiam diharapkan pula siswa dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi setelah mengalami beberapa aktivitas. Walaupun tanggung jawab ada pada tangan pengajar. Ia juga harus mampu untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak bersifat defensif atau selalu bertahan diri. . pengajar harus dapat mene-rima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa. Sistem Sosial Model Pertemuan Kelas ini diorganisasikan secara terstruktur sedang.Pembelajaran Inovatif 6-29 Setelah periode tertentu. menarik. (2) Dengan melalui sikap tidak menentukan. keputusan moral terletak pada siswa. dan hubungan yang peka antara siswa dan pengajar. Sistem Pendukung Yang diperlukam untuk melaksanakan model ini ialah pengajar yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dalam diskusi. personal.

Investigasi Kelompok Investigation mengambil model yang berlaku dalam masyarakat. 5) MODEL INVESTIGASI KELOMPOK Tujuan dan Asumsi Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehi-dupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. yang di dalamnya memiliki tata tertib.6-30 Pembelajaran Inovatif Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah pencapaian tujuan dan eva-luasi. menurut Joyce danWeil (1986: 228) suasana kelas meru-pakan analogi dari kehidupan masyarakat. terutama menganai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serang-kaian kesepakatan sosial. pengajar seyogianya Model berusaha Pembelajaran untuk menciptakan suasana atau yang Group memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. dan budaya kelas. sedangkan dampak pengiringnya adalah tercapainya kemandirian dan pengarahan diri. yakni standard hidup dan pengaharapan yang tumbuh dalam suasana kelas. Dalam kerangka itu. Untuk kepentingan praktis model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah siswa mempelajari pengetahuan . serta terbinanya keterbukaan dan keutuhan. Berkenaan dengan hal itu. siswa berusaha untuk memelihara cara hidup yang berkembang di situ.

Tahap Kedua: Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang problematis. Dinamika kelom-pok menunjuk pada suasana yang menggambarkan sekelompok individu saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama. yaitu penelitian atau inquiry. Sintakmatik Model Investigasi Kelompok ini memiliki enam tahapan kegiatan. Hal-hal tersebut merupakan dasar dari model investigasi kelompok. Dalam interaksi ini melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta saling tukar peng-alaman melalui proses saling berargumentasi. Tahap Pertama: Siswa dihadapkan dengan situasi yang problematis. dan dinamika belajar kelompok atau dynamics of the learning group.Pembelajaran Inovatif 6-31 akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. pengetahuan atau knowledge. Tahap Ketiga: . Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. Yang dimaksud dengan penelitian ialah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah. Masalah itu sendiri dapat timbul dari siswa atau diberikan oleh pengajar. menuntut prosedur dan persyaratan yang sudah tertentu. Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama. sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Yang dimaksud dengan pengetahuan ialah pengalaman yang tidak dibawa lahir tapi diperoleh oleh individu melalui dan dari pengalamannya secara langsung maupun tidak langsung. Untuk memecahkan masalah ini.

Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab perta-nyaan. (3) Tahap pemaknaan secara perseorangan. (2) Tahap pengelolaan kelas. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. dan pemberi kritik yang bersahabat. Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap pemecahan masalah. Tahap Keenam: Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities. Pengajar dan siswa memiliki status yang sama menghadapi masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. pengajar lebih berperan sebagai konselor. dan apa . Tahap Kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian kelompok itu. Sistem Sosial Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model ini bersifat demokratis yang ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Di dalam kelas yang menerapkan model Investigasi Kelompok.6-32 Pembelajaran Inovatif Siswa merumuskan tugas-tugas belajar atau learning tasks dan mengorga-nisasikannya untuk membangun suatu proses penelitian. Dengan demikian suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur. konsultan. Tahap Keempat: Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok. apa yang menjadi hakikat masalah. Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus.

peningkatan kemampuan meneliti secara disiplin. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional misalnya tercapainya kesepakatan atas pandang-an tentang pengetahuan. Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan.Pembelajaran Inovatif 6-33 yang menjadi fokus masalah. kemerdekaan sebagai pela-jar. menghormati hak asasi manusia. sedangkan kelompok tahap untuk pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya. Perpustakaan diusahakan untuk cukup memiliki sumber informasi yang komprehensif dengan alat bantu mengajar atau media yang relatif memadai pula. mempero-leh bagaimana informasi mengorga-nisasikan itu. Dasar pemikiran model ini . dan apa yang membe-dakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Joyce dan Weil. sedangkan dam-pak pengiringnya adalah dorasakannya kehangatan dan keterikatan antar-manusia. informasi apa saja yang diperlukan. tercapainya proses dan keteraturan kelompok yang efektif. dan komitmen terhadap keberagaman 6) MODEL PENELTIAN JURISPRUDENSIAL Tujuan dan Asumsi Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986: 260-267) model ini me-miliki sejumlah karakteristik. 1986: 234) Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. komitmen terhadap penelitian sosial.

setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik mela-kukan kesepakatan dengan orang lain. (1) Mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada dilingkungan negaranya. konflik ideologi atau keagamaan. tentu saja harus disesuikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa. dan (3) Menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya. Sintakmatik Model Jurisprudensial ini memiliki enam tahap (Joyce & Weil 1986: 268). Yang tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik rasial dan etnis. keamanan pribadi. kesejahteraan dan keamanan nasional.6-34 Pembelajaran Inovatif ialah konsepsi ten-tang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain. pendidikan. hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. Setiap warga negar harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengam-bil contoh masalah sosial yang paling tepat. Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif. yang pada hakekatnya berkenaan dengan konsep keadilan. (2) Memiliki seperngkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam men-jernihkan dan memecahkan masalah nilai. Lingkup dan tingkat kerumitan dari masing-masing bidang kajian tersebut. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut diperlukan tiga kemampuan. konflik antargolongan ekonomi kesehatan. Tahap Pertama: Orientasi terhadap Kasus .

dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa. Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih. (2) Mahasiswa meluruskan posisinya. Tahap kelima: Menjernihkan dan menguji Posisi (1) Mahasiswa menyatakan posisinya dan memberikan rasional mengenai posisinya itu.Pembelajaran Inovatif 6-35 (1) (2) (1) (2) (3) (4) Pengajar memperkenalkan bahan-bahan. Kemudian menyatakan edudukannya dalam konflik nilai itu dan dalam hbungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu. Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan. Menjernihkan konflik nilai dengan melakuakn proses analogi. Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi Siswa memilih suatu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan. Menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya. Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan konflik nilai. . Pengajar mereviu data yang tersedia. Tahap Keempat: Mengekplorasi contoh-contoh dan pola argumentasi (1) (2) (3) (4) Menetapkan titik di mana terihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh. Tahap Keenam: Mengetes Asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskannya. Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya.

6-36 Pembelajaran Inovatif (1) (2) Mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya. Secara umum. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Reaksi pengajar. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis. kekhususan. terutama yang terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui atau menyetujui. Seyogyanya . Untuk dapat memerankan hal tersebut. pengejar memulai mem-buka tahapan dan bergerak dari tahap ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. Menetapkan konsekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dari konsekuensi itu. Setelah mahasiswa mengalami satu kali proses jurisprudensial. cara memberikan atau pertanyaan mengenai relevansi. diharapkan masing-masing akan dapat melakukanya tanpa bantuan dari orang lain. pengajar harus dapat mengantisipasi nilai yang diajukan oleh siswa dan berkenaan dengan hal itu pengajar harus siap untuk menantang dan melacaknya lebih jauh. Sistem Pendukung Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumbersumber dokumen yang relevan dengan masalah. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa. dan kejelasan secara definitif. keumuman. reaksi ter-hadap komentar siswa dengan keajegan. Sistem Sosial Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang terstruktur rendah sampai pada yang terstruktur ketat.

atau yang memang sukar diperoleh oleh mahasiswa. pemahaman lebih luas tentang fakta masalah sosial. memberi dan menerima ban-tuan. dan pengarahan sendiri. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model dalam Jurisprudensial Dampak ini memiliki dampak adalah instruksional meningkatnya kemampuan mengasumsikan peranan orang lain. Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka. seperti tingkat usia siswa. 7) MODEL LATIHAN LARATORIS Tujuan dan Asumsi Model ini bertolak dari konsep T-Group Experience yang menitik-beratkan pada proses intrapersonal. dinamika kelompok. Proses interpersonal memusatkan perhatian pada dinamika hubungan antar individu yang berupa hubungan mempengaruhi. interpersonal. Lebih jauh ditegaskan oleh Joyce & Weil (1986: 279-283) bahwa proses intrapersonal memberi tekanan pada tujuan yang akan dicapai yaitu pegetahuan sendiri (selfknowledge). khususnya dengan cara memper-oleh umpan balik dari orang lain merupakan tugas belajar atau learning task. dan kemampuan berdialog. kepemimpinan. pengiringnya kemampuan untuk berparti-sipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial. dan lingkungan berlajar. komunikasi. terbinanya rasa empati dan wawasan pluralistik. umpan balik. kekuasaan dan kontrol. Di dalam menerapkan model ini perlu diperhati-kan hal-hal. penyelesaian konflik.Pembelajaran Inovatif 6-37 disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus yang aktual. Tujuannya ialah untukl mengerti . Memperoleh wawasan terhadap perilaku dan reaksi seseorang.

menuju perilaku yang baru. Sintakmatik Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Yang terakhir. Ketiga. Biasanya Struktur T-Group merupakan struktur yang utama. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini. Model ini memiliki empat elemen dasar. orientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kelompok. kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. para anggota kelompok dan pelatih seyogianya melaksanakan peranan sebagai pengamat yang terlibat atau participant observer. merubah sikap. dan memungkinkan siswa mem-berikan respon terhadap keadaan itu yang pada akhirnya dilakukan dengan pengarahan. Kedua. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk tiap-tiap tahap utama. Pertama. data yang menjadi bahan analisis adalah pengalaman dan umpan balik yang diperoleh mahasiswa pada saat mereka belajar bersama. Di sini keka-buran situasi menimbulkan ketegangan. Kesemua tujuan iotu akan dicapai dengan cara meningkatkan kesadaran. situasi yang kurang bertujuan.6-38 Pembelajaran Inovatif kondisi dan kemudahan atau hambatan terhadap berfungsinya kelompok. seperti diuraikan dalam . Tahapan kegi-atan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri.

Peduli terhadap orang lain dan kerjasama mengatasi masalah umum. terarah. Tahap Ketergantungan Hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok 1. Pemecahan masalah (munculnya keinginnan untuk memanfaatkan waktu lebih baik. Saling ketergantungan. munculnya dua kelompok yang berbeda keinginan). sadar akan tanggapan terhadap orang lain) Sistem Sosial Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan dan keterlibatan lebih banyak. perasaan positif). Di dalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka. dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalamT-Group ini. evaluasi keterlibatan. jujur. dan bersifat mendukung. penghargaan terhadap pelatih. sikap. dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri. 3.14 TAHAP PENGEMBANGAN T-GROUP I. pemberi contoh. rasa percaya dan kerjasama. Kontra ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan.Pembelajaran Inovatif 6-39 Tabel 3. Di sini. dan sebagai mediator atau perantara. serta rasa takut diserang) 6.Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin) 2. 4. . Prinsip Pengelolaan/Reaksi Pelatih. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok. bersemangat belajar yang tinggi. Pemikatan (solidaritas kelompok. pengenalan terhadap bermacam-macam. 5. namun masih tetap dalam batas yang dapat ditoleransi. struktur tidaklah tampak. mau dan mampu memberi dan menerima umopan balik.) II. anggota kelompok. yakni sebagai: pengamat yang terlibat. pengajar sebagai pelatih menjelaskan ahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok.

dan Penggunaan fakta sebagai bukti. luasnya wawasan atas perilaku interpersonal. Penekanan pada hipotesis sebagai fokus utama. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut: (1) Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terha-dap masalah dan dapat merumuskannya yang akan menjadi pusat penelitian. . toleran terhadap kebi-nekaan. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional adalah tercapainya kemam-puan mengatasi perubahan. 8) MODEL PENELITIAN SOSIAL Tujuan dan Asumsi Menurut Massialas dan Cox dalam Joyce dan Weil (1986: 294) suasana kelas yang bersifat reflektif memiliki tiga karakteristik utama : (1) (2) (3) Aspek sosial kelas dan keterbukaan dalam diskusi. situasi kelas. Model ini dapat dilaksana-kan dalam situasi kelembagaan. dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari. (2) (3) Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian. kemampuan bersepakat dan ekspresi diri. sedang-kan dampak pengiringnya adalah kemampuan beradaptasi terhadap peru-bahan.6-40 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan dan paling utama ialah penga-jar/pelatih yang berpengalaman dalam model ini. dan lapang dada atas hakikat afektif dari respon manusia.

Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih. Siswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemam-puan dalam penelitian. Pengajar meng-ambil inisiatif untuk meneliti dan memandu siswa dari tahap lainnya. Akibat dari tugas tersebut. dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Sistem Sosial Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. dan instruktur. dan ia harus memikul tanggung jawab untuk meng-ikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam keseluruhan tahap. pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif yang membantu siswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. Merumuskan generalisasi. . pengarah. konselor. mem-perbaiki proses belajar membuat dan melaksanakan rencana. (5) (6) Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis.Pembelajaran Inovatif 6-41 (4) Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian. pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang bertugas membentu siswa untuk menjernihkan kedudukannya. logika yang nalar. objektif. Pengajar ber-tugas membantu siswa dalam penggunaan bahasa yang jelas. pengertian tentang asumsi. yaitu pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang lebih luas.

Orang yang membangun hubungan konti-ngensi antara stimulus dan respon ini harus menydari akan adanya respon yang memang diinginkan dan tidak diinginkan. dan tindakan sosial. merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pad saat-saat tertentu setelah munculnya respon.6-42 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama. Ciri yang paling esensial ialah hubungn antara respon dan stimulus yang diberi penguatan. dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. 9) MODEL KONTROL DIRI Tujuan dan Asumsi Pada teoretisi perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan pengu-atan. Ling-kungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik. Kondisi ini disebut Contingent atau tergantung pada. Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. dan komitmen terhadap peningkatan mutu sumber daya. Di samping itu juga harus . pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam meng-atasi masalah kehidupan. sedangkan efek pengiringnya penghargaan terhadap hak asasi manusia. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal adalah penjagaan terhadap permasalahan sosial. sumber kepustakaan yang tak terbatas. Pengelolaal ketergantungan pada atau contingency management yang menjadi inti dari model Kontrol Diri.

Termasuk dalam tujuan ini adalah kelanggengan atau “durability” dari perilaku. atau mengacungkan ibu jari. dan melahirkan respon. sosial. Tujuan utama dari program pengelolaan kontinginsi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku ke dalam situasi yang lain.Pembelajaran Inovatif 6-43 disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik di bawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan. dan keterampilan mengelola diri. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau maladaptive behavior. Sintakmatik Model ini memiliki lima tahap (Joyce & Weil 1986: 347) seperti berikut: Tahap Pertama: Perumusan Perilaku Akhir . Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak belakang dari prinsip Operant Conditioning. Penguatan dianggap negatif bila yang diberi-kan itu mengurangi suasana yang ada. Penguatan dapat bersifat material. dan sebagai model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keteramplan yang baru. keterampilan sosial. Penguatan positif ialah tanggapan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana. sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis. Dalam prinsip ini diharapkan dapat diberi penguatan yang terlibat peranan reinforces yaitu yang dapat mempertinggi respon. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional. Respon yang positif maupun negatif. seperti dengan tersenyum. dan aktivitas. seperti rasa takut atau rasa cemas. Model ini terutama.

(3) Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir. Demikian juga dalam pola dan jadwal pemberian . (3) Mengembangkan rencana untuk mengukur dan mencatat perilaku Tahap Kedua: Mengkaji Perilaku Mengamati. hakikat dan konteks dari perilaku itu. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan. dalam arti sam-bil berjalan dapat ditumbuhkan. Tahap Ketiga: Merumuskan Kontingensi (1) Membuat keputusan mengenai lingkungan. (2) Memilih sarana penguat atau reinforces dan pola pemberian penguatan. dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu. (2) Memberikan pengantar bagi mahasiswa. mengukur dan mengembali-kan para program kontingensi. Sistem Sosial Sistem sosial yang perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur.6-44 Pembelajaran Inovatif (1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran. (2) Merumuskan secara khusus perilaku akhir. (3) Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan. Pengajar berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. (2) Membangun kembali kondisi yang lama. Tahap Keempat: Melembagakan Program (1) Menata lingkungan. Tahap Kelima: Mengevaluasi Program (1) Mengukur respon yang diharapkan.

Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi ke situasi. mahasiswa. perilaku dan keterampilan personal. respons emosional. dalm model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memer-lukan sarana pendukung. Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. seperti dengan mematikan televisi sedang-kan perilaku yang diinginkan seyogyanya . Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal model ini adalah pengetahuan dan keterampilan akademik. Hal ini dapat dilakukan secara fisik.Pembelajaran Inovatif 6-45 penguatan. dan tetap ajeg. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini. memer-lukan perencanaan dan alat yang lebih memadai. dikuatkan. perilaku dan keterampilan sosial. perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. Pengajar yang mengem-bangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat. Sedang program yang bersifat kompleks. Secara umum. terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. Per-bedaannnya. pengajar dapat melakukan kesempatan dengan Prinsip Pengelolaan/Reaksi Prinsip pengelolaan atau reaksi pengajar terhadap mahasiswa di da-sarkan pada prinsip “operant conditioning” dan pengelolaan kontingensi. sabar. keterampilan pengelolaan diri.

(3) Membangun kemauan untuk berpartisipasi. (3) Membuat program tertulis. Tahap Keempat: Memantau dan Memperbaiki Program (1) Melibatkan mahasiswa dalam program. (3) Melakuakn pengukuran. dan (4) Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan. mencatat kendali rangsangan. dan memberikan respon yang menantang. Tahap Kedua: membangun landasan Berpijak (1) Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus. (2) Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model Kontrol diri ini. Sintakmatik Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce & Weil 1986: 363) Tahap Pertama: Memperkenalkan Prinsip Perilaku (1) Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan. . Dalam membang-kitkan rangsangan. memberi pe-nguatan. (2) Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang.6-46 Pembelajaran Inovatif yang sedang ditonton. dapat digunakan respon yang saling berbeda atau bertentangan dengan peikiran. (2) Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri. (2) Melakukan pertemuan periodik dengan guru/pelatih untuk mereviu kemajuan dan memperbaiki program. jika memang diperlukan. Tahap Ketiga: Menyusun Program Kontrol Diri (1) Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat.

(2) menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan. mungkin sebagian dilaku-kan secata mandiri. Berkembangnya harga diri dan keyakinan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini pengajar memiliki peranan yang menentukan dalam keseluruhan program. Sistem Pendukung Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus. Dari kegiatan-kegiatan itu. dan menguasai metode untuk mem-bangun kontrol diri. Secara terinci.Pembelajaran Inovatif 6-47 Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. (3) menjamin tersusunnya rencana yang realistik. Yang harus dicatat. mengurangi perilaku yang salah. pada akhirnya mehasiswa yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan. (4) membantu mahasiswa dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu. . sebagian lagi secara bersama. ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan pengajar dan siswa. Dampak pengi-ringnya adalah berkembangnya kesadaran tentang kontrol diri. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah meningkatkan perilaku sa-saran. rasa rendah diri dan kendala lingkungan seseorang. Walaupun pengajar memiliki peranan dalam mengambil inisiatif. dan memiliki pandangan perilaku. dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya: (1) memberi semangat kepada mahasiswa.

Model Simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang diana-logikan dengan proses sibernetika itu.6-48 Pembelajaran Inovatif 10) MODEL SIMULASI Tujuan dan Asumsi Simulasi sebagai model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan. Gerakan dan perilakunya itu disesuaikan dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Bertolak dari prinsip itu. dalam proses simulasi itu dilakukan dengan meng-gunakan simulator. individu memodifikasi perilakunya sesuai dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Para ahli psikologi sibernetika ini menafsirkan manusia sebagai sistem kendali yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan sendiri melalui mekanisme umpan balik. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan gerakan sensorinya menjadi dasar dari penerimaan umpan balik itu. Sintakmatik Model ini memiliki tahap sebagai berikut (Joyce dan Weil 1986: 378). Misalnya. dan berperilaku nyata. . Tahap Pertama : Orientasi (1) Menyajikan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia memiliki pola gerakan seperti berpikir. Para ahli psikologi sibernetika membuat analogi antara manusia dengan mesin dan mengkonseptualisasi-kan siswa sebagai sistem umpan balik yang mengatur dan mengontrol sendiri. berperilaku simbolik. Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dan gerakannya yang dianggap kompleks sengaja dikontrol. Dalam suatu situasi yang khusus.

Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional Melanjutkan permainan/simulasi. pencatatan. Menganalisis proses. Menghubungkan prose simulasi dengan isi pelajaran. Memberikan rinkasan mengenai kesulitan-kesuliatan dan wawasan para peserta. dan tujuan yang akan dicapai. Menilai dan merancang kembali simulasi. langkah. Karena itu. Tahap keempat: Pemantapan atau Debriefeing (1) (2) (3) (4) (5) (6) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. Memperoleh umpoan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terha-dap performan si pemeran. (2) (3) Menugaskan para pemeran dalam simulasi. Tahap Ketiga: Proses simulasi (1) (2) (3) (4) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. bentuk keputusan yang harus dibuat. Mencoba secara singkat suatu episode. peranan. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. Tahap Kedua: Latihan Bagi Peserta (1) Membuat skenario yang berisi aturan. Sistem Sosial Di dalam simulasi pengajar harus dengan sengaja memilih jenis ke-giatan dan mengatur mahasiswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. model ini . Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.Pembelajaran Inovatif 6-49 (2) (3) Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan.

berkembangnya kesa-daran dan kesempatan. empati. Dampak pengiring nya adalah berpikir kritis dalam mengambil keputusan. Dalam keselutuhan proses simulasi. tentu sangat murah. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini. mulai dari yang paling sederhana dan murah. pengajar bertugas dan ber-tanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjuk-kan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator. Dampak Instruksional dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional model ini adalah memiliki keterampilan dan penguasaan konsep. dan mengetahui pengetahui pengeta-huan tentang politik dan sistem ekonomi. ke yang paling kompleks dan mahal. Namun demikian kerjasama antar peserta sangat diperhatikan. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari mahasiswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini. Misalnya bila saran yang digunakan berupa simulator elektronik. dan berani mengha-dapi konsekuensi. pengajar bertugas untuk lebih dulu mendorong pengertian dan penafsiran para mahasiswa terhadap isi dan makna dari simulasi itu.6-50 Pembelajaran Inovatif termasuk model yang terstruktur. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah kelereng atau kartu. . Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi. Dalam hal ini. kesadaran tentang efektivitas. tentu hal ini memerlukan biaya yang besar.

yag bertolak dari teori psikologi tertentu.Pembelajaran Inovatif 6-51 Beberapa Model Pembelajaran Yang Bersifat Umum Model pembelajaran yang disajikan pada bagian sebelumnya meru-pakan kerangka konseptual dan operasional pengelolaan proses belajar. Artinya. Ada dua kelompok model yang dapat kita kaji: (1) Model Pengorganisasian Pertemuan dapat digunakan baik dalam situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interaksi pembelajaran formal. Model ini ternyata lebih efektif dan efisien dalam proses kognitif dan keterampilan berbicara dalam belajar bahasa Indonesia di berbagai tingkat. Selain itu model ini modelmodel diskusi kelompok berlaku secara umum. sebagian dari model-model itu dapat dipakai dalam rangka proses pembelajaran dengan menyesuaikannya terhadap konteks pembelajaran. Kedua kelompok model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Model-model Pengorganisasian Pertemuan Model-model Pengorganisasian Pertemuan dikembangkan oleh Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) seperti digam-barkan sebagai berikut. (2) Model Diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam interaksi pembelajaran kelompok secara bervariasi. Pada bagian ini akan disajikan model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum dan tidak secara khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu. dan sebagian dapat dipakai dalam rangka pertemuan di luar proses situasi . khusus disampaikan model pembalajaran diskusi kelompok saja. dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Dengan demikiam model tersebut akan dapat digunakan lebih bebas. Model-model Diskusi kelompok Dalam bagian ini.

yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (6) Ide-ide yang muncul tidak diberi kritik atau tanggapan. . (3) Waktu pertemuan berkisar antara 2-15 menit. (3) Waktu pertemuan berkisar dari pertemuan singkat beberapa menit sampai pertemuan panjang beberapa jam. (5) Kelompok mendiskusikan secara singkat masalah tertentu. (1) Jumlah anggota kelompok bersifat luwes. Khusus untuk suasana pendidikan formal yang menitikberatkan pada proses pembelajaran. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan tingkat kerumitan kasuis. (5) Para peserta diminta untuk mengemukakan ide sebanyak mungkin dalam waktu yang berkelanjutan menuju pemecahan masalah. (3) Para peserta dihadapkan kepada suasana problematik.6-52 Pembelajaran Inovatif pendidikan formal. (b) Model Buzz Group tau kelompok Bebas. (4) Biasanya digunakan sebagai langkah awal membuat keputusan atau memecahkan masalah. (c) Model Case Study atau Studi kasus. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 2-6 peserta. Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) mengembangkan 13 model dengan masing-masing karakteristik sebagai berikut: (a) Model Kelompok Curah Pendapat atau Brainstorming Group yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok yang terdiri dari 3-12 peserta. (4) Biasanya digunakan sebagai strategi dalam kelompok. (2) Tidak memerlukan pimpinan penuh. (2) Tidak memerlukan pemimpinan yang penuh.

(3) Topik dan arah diskusi dikendalikan oleh peserta sendiri. . (3) Topik diskusi.Pembelajaran Inovatif 6-53 (4) Para peserta dituntut untuk berbagai evaluasi terhadap kasus dan memberi jalan melakukan tindakan. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok disusun dengan membentuk tapal kuda menghadap Tutor/Guru. (d) Model Crosses-Over atau Kelompok Silang Pendapat. (2) Waktu pertemuan disesuaikan dengan jam pertemuan yang tersedia. (5) Orang tersebut selanjutnya menyumbangkan berbagai ide dan pengalaman dalam kelompok baru itu. didefinisikan dan didiskusikan secara singkat dalam kelompok. (6) Prosedur perpindahan anggota berlangsung sampai di dalam kelompok itu hanya tinggal seorang anggota yang asli. (e) Model Free Group Discussion atau Diskusi Kelompok Bebas. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri 4-12 peserta. (2) Waktu pertemuan bervariasi namun tetap konsisten dengan waktu yang tersedia bagi kelompok besar. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok besar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang besar-nya sebanyak akar (√) dari jumlah keseluruhan. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit dan berlangsung beberapa kali. (f) Model Horse Shoe group atau kelompok Tapal Kuda. (4) Salah seorang dari setiap kelompok pada saaat tertentu berpindak ke kelompok lain.

(h) Model Role Play atau Bermain Peran. (3) Membahas makalah yang disajikan. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok bervariasi. .6-54 Pembelajaran Inovatif (3) Biasanya digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan peserta dalam kelas besar. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan peran yang harus dimainkan. (i) Model Seminar Group atau Kelompok Seminar. (3) Para peserta mencoba sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana yang interaktif. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 5-15 orang. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 4-12 orang. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan lama pertemuan yang tersedia. (j) Model Simulation atau Simulasi. (4) Penyaji makalah dipilih dari anggota kelompok. (4) Para peserta dapat mempersiapkan laporan dengan menggu-nakan media visual seperti transparansi. (3) Para peserta dihadapkan kepada tugas dan pekerjaan untuk memenuhi sesuatu atau memecahkan masalah. (2) Waktu pertemuan sesuai dengan yang tersedia. (4) Bentuk Tapal Kuda dapat dipakai dalam model ini. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel. (g) Model Problem-Centered Group atau kelompok Terpusat pada Masalah.

(4) Para peserta diminta mengandalkan peran tertentu dan bertindak sesuai dengan aturan tertentu. (4) Setiap kelompok diminta mencari informasi yang relevan dan membuat laporan bersama untuk ditanggapi kelompok lain. yang memiliki ciri-ciri : (1) Kelompok terdiri dari 7-14 orang. (k) Model Syndicate Group atau Kelompok Sindikat. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel tapi tidak lebih dari 6 orang.Pembelajaran Inovatif 6-55 (3) Para peserta dihadapkan kepada model kehidupan nyata. (l) Model T-Group atau Kelompok T. (2) Waktu pertemuan 45 menit atau lebih. Orang yang pandai berbahasa artinya orang yang pandai berbicara. (3) Setiap kelompok diberi atau memilih suatu tugas. dan keuntungan model diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat menengah dapat disampaikan . (2) Waktu pertemuan biasanya beberapa jam perhari untuk bebe-rapa minggu. (m) Model Tutorial atau Bimbingan Belajar. 1. Berbahasa adalah berbicara. Sesuai dengan hakikat belajar bahasa. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 3-15 orang. (3) Teknik kelompok Terapetik digunakan di mana individu dalam setiap kelompok mendiskusikan dan menganalisis hubungannya satu dengan yang lain. (2) Waktu pertemuan bervariasi mulai dari hanya 1 jam. (3) Diskusi digunakan untuk Kekuatan sebagai berikut. berlangsung beberapa bulan atau lebih.

membandingkan. terlaihnya kemampuan menahan diri. meningkatnya kecerdasan. dan terlatihnya pembelajaran bahasa yang terintegratif. bicara. 5. toleransi. memilah. . 2. meng-hargai pemikiran dan pendapat penutur lain.6-56 Pembelajaran Inovatif Pandai menu-lis. yang relevan dengan kebutuhannya. memilih. demokratis. menghargai pendapat orang lain. mencocokan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Sambil berbicara pembicara dalam diskusi perlu penyimak respons pendengar lain. 4. Simpulan: Nilai didik yang dapat dikembangkan melalui model diskusi kelompok itu adalah kesantunan. Berbicara dengan kontrol diri. membedakan. Pembicara perlu menahan diri untuk tidak melakukan kasantunan monopoli bicara. Pembicara perlu menahan diri bila aspek emosi terusik. Penyimak terus menerus berpikir untuk menyaring informasi yang manarik perhatiannya. Aspek pendidikan nilai dalam diskusi kelompok dapat dikembangkan. Pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai mendengarkan. sikap toleran bila ada penda-pat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. menulis yang diperlukan sebagai catatan untuk dibicarakan. membaca. kareka penyimak mencoba mela-kukan analisis: menghubungkan. bahkan menulis teks bahan berbicara. dan menyimak tidak biasa disebut pandai berbahasa. Dalam proses diskusi setiap peserta berperan juga sebagai pendengar bah-kan penyimak. Artinya seorang pembicara yang baik seharusnya juga pandai menyimak. yang penting. Pelatihan berdiskusi dalam pembelajaran bahasa dimulai dengan membaca sumber bahan yang akan didiskusikan. Oleh karena itu model diskusi kelompok merupa-kan pembelajaran bahasa terintegratif. Penyimak Pembicara perlu perlu memperhatikan memperhatikan bersabar pembicaraan peserta diskusi lain. 3. Kema-hiran berpikir penyimak dikembangkan.

tata dan norma berdskusi Hari kedua: c. Laporannya bentuk tertulis b. alat perekam 15’ Instrumen/kriteria 15’ penilaian evaluasi diri 15’ 15’ 15’ 15’ . toleran. Membahas pengelompokan. Mengecek persiapan yang telah dirancang pada pertemujan sebelumnya. keteram-pilan ujaran. Membahas proses kegiatan yang terinci d. Pandai bicara dapat meningkatk an kesejahtera an c. b. kepribadian demokratis. santun verbal dan nonverbal. Diperlukan penguasan bahan pembicaraan. Dilakukan proses diskusi sesuai Rancangan. intonasi. santun. intonasi. Membahas tujuan. toleran. Sumber : Tokoh-tokoh yang mengubah dunia Waktu : 2 x 2 x 45” Pertemuan Langkahlangkah Pendahuluan a. dan empatik ter-capai dengan baik dilakukan secara spontan Hari pertama: a.Pembelajaran Inovatif 6-57 Contoh Model Pembelajaran Diskusi Kelompok Standar Kompetensi 10 : Berbicara: mengungkapkan pikiran. Berlatih praktek sampai kompetensi ujaran. pengorganisasian kelompok e. informasi dan pengalaman melalui kegiatan membaca dan menanggapi cerita Kompetensi Dasar : Menceritakan tokoh idola para penemu ilmu pengetahuan dengan mengemukakan identitas dan keungulan tokoh dan alasan mengidolakannya. dan empatik d. sumber yang telah disiapkan siswa Transparensi dan pelengkapnya 10’ dan 5’ : 3-4 Uraian Materi Media Waktu Kegiatan Inti Catatan hasil 15’ persiapan. perasan. sikap demokratis. Membahas program diskusi kelompok tentang tokoh penting dan mendiskusikan kriteria penilaian berbicara.

Kesan-kesan dan kritik atas proses kegiatan b. Simpulan karakteristik tokoh pada umumnya d. Informasi baru tentang tokohtokoh c. Tanggapan terhadap laporan kelompok k. Dilakukan diskusi simpulan hasil diskusi h. Evaluasi oleh anggota kelompok lain l. Dilakukan pengamatan evaluatif dan umpan g. Menulis refleksi Penutup a. Menulis refleksi 15’ 10’ Lembar simpulan 15 dan lembar refleksi . Tindak lanjut untuk memperluas wawasan e.6-58 Pembelajaran Inovatif topik f. Evaluasi diri setiap anggota kelompok i. Melaporkan hasil diskusi kelompok j.

BUKU AJAR PENILAIAN PEMBELAJARAN .

BAB I. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. 1) Memaparkan konsep dasar penilaian kelas 2) Memaparkan manfaat penilaian kelas 3) Memaparkan fungsi penilaian kelas 4) Memaparkan kriteria penilaian kelas 5) Memaparkan prinsip-prinsip penilaian kelas 6) Menjelaskan ranah penilaian kelas 7) Menjelaskan tata cara pelaksanaan penilaian kelas. A. Kriteria penilaian kelas 5. Ranah penilaian kelas . Manfaat penilaian kelas 3. Fungsi penilaian kelas 4. 1. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Bacalah. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. pahamilah. dan praktikanlah. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. B. Prinsip-prinsip penilaian kelas 6. KONSEP DASAR DAN PRINSIP PENILAIAN KELAS Selamat datang. C. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan konsep dasar dan prinsip penilaian kelasl. Konsep dasar penilaian kelas 2. Anda tengah memasuki wilayah bahan ajar pelatihan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan dinilai.7-2 Penilaian Pembelajaran 7. pengolahan. 1. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. informasi penyusunan sejumlah alat penilaian. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan perencanaan. Jadi. D. penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum kompetensi. Konsep Dasar Penilaian Kelas Pada kurikulum baru (KTSP) penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian kelas. . Oleh sebab itu. Pelaksanaan penilaian kelas. yang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis melalui bukti menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik. dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Dari proses ini. Untuk itu. diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi.

kegiatan. Manfaat Penilaian Kelas Pelaksanaan penilaian kelas tgerdapat beberapa manfaat yang dapat diambil. b. penilaian sikap. tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. e. baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. penilaian tertulis (paper and pencil test). Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. dan sumber belajar yang digunakan. c. penilaian proyek. penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio). Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya.Penilaian Pembelajaran 7-3 dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. seperti penilaian unjuk kerja (performance). d. Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut: a. Dengan demikian. pendekatan. Penilaian hasil belajar. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan kompetensi. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru. Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. dan kelemahannya dalam proses pencapaian . dan penilaian diri. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode. 2. tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara. penilaian produk.

e.7-4 Penilaian Pembelajaran f. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan. pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan). Validitas Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Keenam kriteria itu dipaparkan sebagai berikut. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan. b. baik untuk pemilihan program. Fungsi Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki beberapa fungsi. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik. membuat keputusan tentang langkah berikutnya. Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut: a. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbagkan konsep penilaian kelas yang baik digunakan 3. c. 4. Kriteria Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki kriteria sebagai dasar acuan kualitas. a. . d. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.

Objektivitas Penilaian dikatakan objektif kalau penilaian itu menilaia apa yang seharusnya dinilai. tolong menolong. . Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan atau tulis. b. c. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. terencana. Untuk itu. pengambilan keputusan dalam kelompok. Misalnya guru menilai dengan proyek kelas IX semester 2 untuk kompetensi dasar mempraktikkan perencanaan dasar-dasar kegiatan menjelajah alam bebas serta nilai kerja sama. Jika menggunakan tes pratek atau unjuk kerja penilaian tidak valid. Terfokus pada kompetensi Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi. bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan). berkesinambungan. Keseluruhan/Komprehensif Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik. Penilaian itu harus dilaksanakan secara obyektif. dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. penilaian harus adil. d. e. guru ingin menilai kompetensi dasar kelas IX semester 2: Memahami berbagai bahaya bencana alam. penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misal.Penilaian Pembelajaran 7-5 Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur. dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor. toleransi. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas. penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan).

portofolio. e. Dalam melaksanakan penilaian. g. 5. dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian. unjuk kerja. ulangan tengah semester. dan ulangan kenaikan kelas.7-6 Penilaian Pembelajaran f. Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. d. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. b. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. kemajuan. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah . Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. ulangan akhir semester. c. produk. guru sebaiknya: a. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis. observasi atau lainnya. Prinsip Penilaian Kelas Dalam pelaksanaan penilaian kelas harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian. dan pengamatan tingkah laku. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. f. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. proyek. lisan. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses. Mendidik Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.

dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian. . Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap. tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta kompetensi secara utuh yang merefleksikan tetapi pengetahuan. 6. sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).Penilaian Pembelajaran 7-7 menyelesaikan beberapa kompetensi dasar. Agar penilaian objektif. (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya). Ranah Penilaian Kelas Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yang berbasis kompetensi didik. Dengan kata lain. satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun). Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar. dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran. keterampilan. Indikator tersebut menjadi acuan dalam merancang penilaian. Kurikulum tersebut memuat sejumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran. kurikulum tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah berorientasi pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan.

dan mendeskripsikan.7-8 Penilaian Pembelajaran 7. kompetensi dasar. ciri-ciri. menyimpulkan. dan 3) penetapan teknik penilaian. Indikator pencapaian kompetensi. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi. membedakan. dijadikan acuan dalam merancang penilaian. mempraktikkan. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi. mendemonstrasikan. Penetapan Indikator Pencapaian kompetensi Indikator merupakan ukuran. seperti: mengidentifikasi. yang menjadi bagian dari silabus. karakteristik. 2) pemetaan standar kompetensi. pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. dan indikator. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar yang terkait. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. a. menghitung. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. menceritakan kembali. Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kelas Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Berikut contoh penetapan indikator mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs .

Berikut diberikan contoh pemetaan standar kompetensi. kompetensi dasar. Pemetaan Indikator Standar Kompetensi. dan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian. indikator.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat • : dikembangkan oleh guru b. .Penilaian Pembelajaran 7-9 Standar Kompetensi Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar Indikator pencapaian* 1. dan teknik penilaian. Kompetensi Dasar.1 Menyimpul-kan Mampu menuliskan isi berita yang dibacakan dalam pokok-pokok berita yang didengarkan beberapa kalimat Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1.

7-10 Penilaian Pembelajaran

Standar Kompeten si

Kompete nsi Dasar

Indikator

KK M

Teknik Penilaian Pe Port rfo Pr Pr o Tes rm od oy Foli en uk ek o t V

Memahami 1.1 wacana Menyi lisan m-pulmelalui kan isi berita kegiatan yang mendengar kan berita dibaca kan dalam bebera pa kalimat

Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

75

70

v

c. Penetapan Teknik Penilaian Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh: • • • Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja (performance). Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis. Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan maka teknik penilaiannya adalah proyek.

E. Rangkuman Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu.

Penilaian Pembelajaran 7-11

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian kelas, di antaranya untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Selain itu, ada beberapa fungsi penilaian kelas di antaranya menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan, yaitu validitas, reliabilitas, terfokus pada kompetensi, keseluruhan/Komprehensif, objektivitas, dan mendidik Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Di antaranya dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya 1) memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu dan 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani,

olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui 1) Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2) Ulangan, dan/atau

penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yangberbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran.

7-12 Penilaian Pembelajaran

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi, 2) pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, dan 3) penetapan teknik penilaian.

F. Latihan Soal Jawablah Pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Kemukakan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian kelas! 2. Kemukakan dan jelaskan manfaat penilaian kelas! 3. Kemukakan dan jelaskan fungsi penilaian kelas! 4. Coba Anda kemukakan dan jelaskan kriteria penilaian kelas! 5. Coba jelaskan prinsip-prinsip penilaian kelas! 6. Jelaskan ranah yang dinilai dalam penilaian kelas! 7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan penilaian kelas!

BAB II. TEKNIK-TEKNIK DAN RANAH PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dapat diperoleh guru manakala guru memahami makna dan fungsi teknik-teknik penilaiannya. Karena itu, bagianl ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting tentang teknik-teknik penilaian, seperti teknik-teknik penilaian dan ranah penilaian

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan teknik-teknik dan ranah penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui

pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. a. Memaparkan dan menerapkan teknik-teknik penilaian bahasa dan sastra Indonesia b. Memaparkan ranah-ranah penilaian

C. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut, berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. 1. Teknik-teknik penilaian 2. Ranah penilaian tersebut tergambarkan sebagai

7-14 Penilaian Pembelajaran

D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

1. Teknik-teknik Penilaian Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Beragam teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikatorindikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

a. Penilaian Unjuk Kerja Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian unjuk kerja. 1) Pengertian Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Dalam 2) teknik

Penilaian Pembelajaran 7-15

penilaian mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti berbicara/menceritakan

sesuatu. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan penilaian unjuk kerja perlu

mempertimbangkan hal-hal berikut Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. 2) Teknik Penilaian Unjuk Kerja Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk dilakukan

menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya

pengamatan atau observasi praktik berbicara yang beragam, seperti: lafal, intonasi, kelancaran, keberanian, dll. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen (1) daftar cek, (2) skala penilaian. ( 1) Daftar Cek (Check-list) Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik

7-16 Penilaian Pembelajaran

mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak

memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Perhatikan contoh Check list berikut.

Format Penilaian Berbicara Nama peserta didik: ________ No. 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Pilihan kata 5. Dll Skor yang dicapai Skor maksimum Keterangan: Baik mendapat skor 1 Tidak baik mendapat skor 0 (2) Skala Penilaian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Baik Tidak baik

memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum memiliki pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih

Penilaian Pembelajaran 7-17

dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Berikut ini diberikan contoh Rating Scale. Format Penilaian Berbicara Nama Siswa: ________ N o 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Dll. 5. Jumlah Skor Maksimum Keterangan penilaian: 1 = tidak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Jika seorang siswa memperoleh skor 25-32 dapat ditetapkan sangat kompeten 2) Jika seorang siswa memperoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten 3) Jika seorang siswa memperoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten 4) Jika seorang siswa memperoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten b. Penilaian Sikap Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian sikap. 2) teknik Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Nilai 1 2 3 4

7-18 Penilaian Pembelajaran

a) Pengertian Penilain Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah

kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

adalah sebagai berikut. • Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. • Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi,

Penilaian Pembelajaran 7-19

metodologi,

dan

teknik

pembelajaran

yang

digunakan.

Proses

pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah peningkatan

pemakaian ejaan dan tata tulis. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus kesalahan ejaan dan tata tulis tertentu (kegiatan cermat berbahasa). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program cermat berbahasa. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan pemakaian bahasa yang salah. • Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi menggunakan perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan catatan khusus tentang kejadian-kejadian

buku

Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadian .7-20 Penilaian Pembelajaran berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian: BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK Mata Pelajaran Kelas Nama Guru : ___________________ : ___________________ : ___________________ Tahun Pelajaran : ___________________ SMP INSAN MULIA SEMARANG 2007 Contoh isi Buku Catatan Harian : No. Berikut contoh format buku catatan harian.

selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. 2. . Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku c. Contoh Format Penilaian Sikap dalam Praktik Berbicara: Perilaku Semangat BeriniPenuh Berlatih Nilai Keterangan siatif Perhatian intensif 1 2 2 3 3 3 3 2 9 10 Kurang Sedang No. 3.. Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. Misalnya. Nama Ahmad Mualimah .Penilaian Pembelajaran 7-21 Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif.. Catatan dalam lembaran buku tersebut.. 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = amat baik b. Selain itu. 1. Berikut contoh format Penilaian Sikap. Catatan: a. Keterangan diisi dengan kriteria berikut Nilai 18-20 berarti amat baik Nilai 14-17 berarti baik Nilai 10-13 berarti sedang Nilai 6-9 berarti kurang Nilai 0-5 berarti sangat kurang (2) Pertanyaan langsung Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal.

.......... No Deskripsi perilaku awal ........ Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/sikap yang diamati: Nama peserta didik: ..... guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.. peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah...... 1 2 3 4 .... atau hal yang menjadi objek sikap.. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap.. semester. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.. khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. keadaan....7-22 Penilaian Pembelajaran bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Ketuntasan Hasil Belajar Minimal mata pelajaran penjaskes"... peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Prestasi Bahasa Indonesia di Sekolah" yang dicapai akhir-akhir ini... Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah. Misalnya......Hari/Tgl. semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut... Capaian ST T R S R Deskripsi perubahan Pertemuan . Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan.. (3) Laporan pribadi Melalui penggunaan teknik ini di sekolah.. kelas.

Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku ST = perubahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah b. Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari: 1) pertanyaan langsung 2) Laporan pribadi 3) Buku Catatan Harian c. dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi (2) jawaban singkat atau pendek . tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda.Penilaian Pembelajaran 7-23 Keterangan: a. yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda (2) dua pilihan (benar-salah. 1) Pengertian Penilaian Tertulis Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. menggambar. yaitu: a) memilih jawaban. dan lain sebagainya. ya-tidak) (3) menjodohkan (4) sebab-akibat b) mensuplai jawaban. Penilaian Tertulis Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian tertulis yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian tertulis. 2) Teknik Penilaian Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban. mewarnai.

misalnya mengemukakan pendapat. maka peserta didik akan menerka. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. berpikir logis. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran. dan menyimpulkan. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan cakupan materi yang luas. a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. Selain itu. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat.7-24 Penilaian Pembelajaran (3) uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. tes memilih jawaban benarsalah. . pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. isian singkat. Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri. memahami. kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas. Karena itu. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya. menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah.

Penilaian Pembelajaran 7-25 b) materi. . d) bahasa.. dan penyajian data. 3.. . . kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum. c) konstruksi.. semakin tinggi perolehan skor. pengolahan. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Penilaian Proyek Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian proyek yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian proyek. misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi.. Cara Penskoran: Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. 1) Pengertian Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. pengumpulan data. d. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. pengorganisasian. Contoh Penilaian Tertulis Mata Pelajaran Kelas/Semester : Bahasa dan Sastra Indonesia : IX/1 Mensuplai jawaban (Bentuk Uraian) 1. Semakin lengkap dan tepat jawaban. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. Ceritakan kembali secara ringkas cerpen Robohnya Surau Kami! 2.

dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. • Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. dan penyiapkan laporan tertulis. proyek dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan kemampuan mengaplikasikan. proses pengerjaan. penyelidikan. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Untuk itu. • Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran.7-26 Penilaian Pembelajaran Penilaian pemahaman. dan . Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. sampai hasil akhir proyek. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. seperti penyusunan disain. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. pengumpulan data. b) Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. analisis data. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. Berikut diberikan dalam penilaian proyek: beberapa contoh kegiatan peserta didik a) penelitian sederhana tentang peningkatan kesegaran jasmani melalui alat modern di rumah.

semakin tinggi perolehan skor. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Proyek : Perkembangan Cerpen Indonesia Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : IX/1 No Aspek * Skor (1 – 5)** 1. . Keakuratan Sumber Data/Informasi c. Laporan Proyek a. Rumusan Judul 2. Sistematika Penulisan b. Analisis Data e. Performans b. Penilaian Produk Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian produk yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian produk. Penarikan Kesimpulan 3. Presentasi / Penguasaan Total Skor Keterangan: * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. e.Penilaian Pembelajaran 7-27 b) Penelitian sederhana tentang perkembangan prestasi olahraga daerah. Pelaksanaan a. Semakin lengkap dan tepat jawaban. Persiapan b. Perencanaan: a. Kuantitas Sumber Data d.

. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian sebagai berikut. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. dan teknik. b) Teknik Penilaian Produk Teknik penilaian produk yang biasanya digunakan adalah cara holistik atau analitik. a) Cara analitik. dan mendesain produk. • Tahap pembuatan produk (proses). seperti: bola. • Tahap persiapan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. • Tahap penilaian produk (appraisal). meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. jaring. dan lain-lain. alat. lapangan. dan mengembangkan gagasan. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. menggali. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan.7-28 Penilaian Pembelajaran a) Pengertian Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. b) Cara holistik.

Kebersihan dan kerapian 3. Persiapan penulisan b. f. Inovasi Total Skor Keterangan: Aspek * Penggunaan Pilihan Kata * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Teknik penulisan c. Bentuk Fisik (Unsur Instrinsik) b. Proses penulisan a. 1) Pengertian Penilain Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu.Penilaian Pembelajaran 7-29 Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Menulis Cerpen : 2 Minggu Kelas : Skor (1 – 5)** Nama Siswa : ______________________ IX/1 No 1. semakin tinggi perolehan skor. Hasil Produk a. Penilaian Portofolio Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian portofolio. Semakin lengkap dan tepat jawaban. . 2. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik.

7-30 Penilaian Pembelajaran hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Dengan demikian. dan terus dapat portofolio memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya. dsb. antara lain: a) Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu buku/ literatur. b) Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah. saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut. sinopsis. antara lain: karangan. resensi laporan penelitian. sendiri. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan d) guru Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan . guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik melakukan perbaikan. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri.

Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan. h) Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. e) Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. 2) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkahlangkah sebagai berikut: a) Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio. tetapi . keterampilan. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan. f) Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. g) Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian. dan minatnya. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.Penilaian Pembelajaran 7-31 Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.

7-32 Penilaian Pembelajaran membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. Contoh. Dengan demikian. antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. serta bagaimana cara memperbaikinya. d) Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut. kelengkapan gagasan. misalnya 2 . f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. dan sistematika penulisan. yaitu: penggunaan tata bahasa. c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di madrasah. Misalnya. e) Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya . Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan tentang olah raga. peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. pemilihan kosa-kata. g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Namun. untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangankarangannya. b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Guru dapat membimbing peserta didik.

h) Bila perlu. Tata bahas a Kos a kata Kelengkap an gagasan Sistemati ka penulisan Ke t Kelas : 2. sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya. Membuat 1/9 resensi buku 30/9 Olahraga 10/1 0 Dst.Penilaian Pembelajaran 7-33 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru.10 atau 0 . . semakin tinggi skor yang diberikan. Jika perlu.100. Catatan: Setiap karya siswa sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Alokasi Waktu : 1 Semester Nama Siswa : _________________ VIII/1 Kriteria Standar No Kompetensi/Ko mpetensi Dasar 1. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik. Menulis karangan Perkembangan Olahraga Daerah Peri ode 30/7 10/8 dst. undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 . Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio.

Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. • Penilaian kompetensi afektif. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. afektif.7-34 Penilaian Pembelajaran g. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. Selanjutnya. • Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik. dan psikomotor. Penilaian Diri (self assessment) Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian diri yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian diri. • Penilaian kompetensi kognitif di kelas. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. misalnya. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. . 1) Pengertian Penilaian Diri Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. 2) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. Oleh karena itu. 4) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. daftar tanda cek. • dapat mendorong. 6) Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian secara acak. 5) Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak. membiasakan. terhadap sampel hasil penilaian yang diambil . dapat berupa pedoman penskoran. untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. b) Teknik Penilaian Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif.Penilaian Pembelajaran 7-35 • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika mereka melakukan penilaian. 3) Merumuskan format penilaian. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian. 1) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai. atau skala penilaian.

Domain Penilaian Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. Dst Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. S. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya.7-36 Penilaian Pembelajaran Contoh Penilaian Diri Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kognitif : 1 Semester Kelas : Nama Siswa : _________________ IX/1 Tanggapa n 1 0 No 1. Kompetensi / K. keterampilan. 2. Dasar Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham 2. Lagi pula. seperti . pengetahuan dan sikap seseorang. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan.

teori. a. Contoh kegiatan belajar: • mengemukakan arti • menamakan (memberi nama) • membuat daftar • menentukan lokasi • mendeskripsikan sesuatu • menceritakan apa yang terjadi . dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. rumus. tahun. konsep. Domain Kognitif TINGKATAN DOMAIN KOGNITIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Evaluasi Sintesis Analisis Penerapan Pemahaman Pengetahuan KEMAMPUAN BERPIKIR (KOGNITIF) Bloom Tingkat I. afektif. nama. dan kesimpulan.Penilaian Pembelajaran 7-37 domain kognitif. peristiwa. Pengetahuan Deskripsi Arti : • Pengetahuan terhadap fakta. definisi. daftar. Berikut ini kan dipaparkan ketiga jabaran domain tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk penilaian yang tepat untuk mata pelajaran penjaskes.

Aplikasi IV.7-38 Penilaian Pembelajaran II. antar konsep. pesawat sederhana III. Sintesis . membandingkan • mengintepretasi data • mendiskripsi dengan kata-kata sendiri • menjelaskan gagasan pokok • menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti : • Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah • Menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan belajar: • menghitung kebutuhan • melakukan percobaan • membuat peta • membuat model • merancang strategi Arti : • Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. dan antar-data. penyelesaian. Pemahaman • menguraikan apa yang terjadi Arti : • Pengertian terhadap hubungan antar-faktor. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Analisis V. Contoh kegiatan belajar: • mengidentifikasi faktor penyebab• merumuskan masalah • mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi • membuat grafik • mengkaji ulang Arti : • Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep • Meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: • membuat desain • mengarang komposisi lagu • menemukan solusi masalah • memprediksi • merancang model mobil-mobilan. dan penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: • mengungkapkan gagasan/pendapat dengan katakata sendiri • membedakan. hubungan sebab-akibat.

Domain Afektif TINGKATAN DOMAIN AFEKTIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Karakterisasi Pengorganisasian Penilaian Pemberian respon Penerimaan KEMAMPUAN BERSIKAP/NILAI (AFEKTIF) Kratwohl.Penilaian Pembelajaran 7-39 VI.dkk . b. bermanfaat-tak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: • mempertahankan pendapat • beradu argumentasi • memilih solusi yang lebih baik • menyusun kriteria penilaian • menyarankan perubahan • menulis laporan • membahas suatu kasus • menyarankan strategi baru. Evaluasi • menciptakan produk baru Arti : • Mempertimbangkan dan menilai benarsalah. baik-buruk.

lebih menyukai. Acuan nilai (Valuing) . atau barang antik • melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran II. Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : • Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli • Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar: • sering mendengarkan musik • senang membaca puisi • senang mengerjakan soal matematika • ingin menonton sesuatu • senang membaca cerita • senang menyanyikan lagu Arti : • Menunjukkan perhatian aktif • Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena • Setuju. Responsi (Responding) III. novel.7-40 Penilaian Pembelajaran Tingkat I. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: • mengapresiasi seni • menghargai peran • menunjukkan keprihatinan • menunjukkan alasan perasaan jengkel • mengoleksi kaset lagu. puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: • mentaati aturan • mengerjakan tugas • mengungkapkan perasaan • menanggapi pendapat • meminta maaf atas kesalahan • mendamaikan orang yang bertengkar • menunjukkan empati • menulis puisi • melakukan renungan • melakukan introspeksi Arti : • Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai •Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti •Tingkatan: menerima. ingin.

berdisiplin diri • mandiri dalam bekerja secara independen • objektif dalam memecahkan masalah • mempertahankan pola hidup sehat • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan • menyarankan pemecahan masalah HAM • menilai kebiasaan konsumsi • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman V. tepat waktu.Penilaian Pembelajaran 7-41 IV.Konseptualisasi suatu nilai Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: • bertanggung jawab terhadap perilaku • menerima kelebihan dan kekurangan pribadi • membuat rancangan hidup masa depan • merefleksi pengalaman dalam hal tertentu • membahas cara melestarikan lingkungan hidup • merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan Arti : • Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter • Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu. diorganisasi secara konsisten. Contoh kegiatan belajar: • rajin. dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu. Karakterisasi (menjadi karakter) . Organisasi HAM • menjelaskan alasan senang membaca novel Arti: • Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam latu sistem. • Menentukan saling hubungan antarnilai • Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana • Tingkatan : .

memegang Contoh kegiatan belajar: • mengupas mangga dengan pisau • memotong dahan bunga • menampilkan ekspresi yang berbeda • meniru gerakan polisi lalu lintas. juru parkir • meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin.7-42 Penilaian Pembelajaran c. Gerakan refleks Deskripsi Arti : • Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak • Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat. Domain Psikomotor TINGKATAN DOMAIN PSIKOMOTOR TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN NATURALISASI MERANGKAIKAN KETEPATAN MENGGUNAKAN MENIRU KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR) Tingkat I. Gerakan dasar (Basic fundamental movements) . mengenggam. berjalan. Arti: • Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik • Gerakan ini terpola dan dapat ditebak II. menunduk. menggerakkan leher dan kepala.

pemain biola. cekatan melalukan gerakan IV. atau mainan • Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola. Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities) V.Penilaian Pembelajaran 7-43 III. menggunting. mendrible bola • melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan • memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang kurannya bervariasi • membaca • melihat terbangnya bola pingpong • melihat gerak pendulun • menggambar simbol geometri • menulis alfabet • mengulangi pola gerak tarian • memukul bola tenis. meluncur. pingpong • membedakan bunyi beragam alat musik • membedakan suara berbagai binatang • mengulangi ritme lagu yang pernah didengar • membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : • Gerak lebih efisien • Berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: • menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu • berlari jauh • mengangkat beban. pemain bola Arti : • Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak •Terampil. menggambar dengan crayon. menarik. kaki. dan perut • menari • melakukan senam • melakukan gerak pesenam. membungkuk. memegang dan melepas objek. menarik-mendorong. berputar mengitari. blok. menggambar. memanjat • Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok. meloncatloncat. Arti: • Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: • menangkap bola. berjalan. merentang. tangkas. Gerakan persepsi (Perceptual abilities) Contoh kegiatan belajar: • Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. Gerakan terampil . memeluk. berlari. melakukan push-ups. kegiatan memperkuat lengan. berputar • Contoh gerakan berpindah: merangkak. mendorong. maju perlahan-lahan.

menari balet. bermain drama (acting) • keterampilan olahraga tingkat tinggi VI. penilaian sikap. melukis. penggunaan portofolio. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik di SMP/MTs. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. penilaian produk. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. Rangkuman Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik.7-44 Penilaian Pembelajaran (Skilled movements) yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar: • melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga • menari. yaitu penilaian unjuk kerja. berdansa • membuat kerajinan tangan • menggergaji • mengetik • bermain piano • memanah • skating • melakukan gerak akrobatik • melakukan koprol yang sulit Arti : • Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan • Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah • Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: • kerja seni yang bermutu (membuat patung. dan penilaian diri. afektif. penilaian tertulis. seperti domain kognitif. melakukan senam tingkat tinggi. Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication) E. penilaian proyek. . Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain.

coba anda diskusikan salah satu bentuk tes pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan materi kesegaran jasmani? Perhatikan pelaksanaan tes tersebut harus menghemat waktu! . Sebutkan salah satu tes keterampilan berbicara yang dapat menghemat waktu pelaksanaannya? 3. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.Penilaian Pembelajaran 7-45 F. Jelaskan teknik-teknik penilaian yang dapat digunakan untuk penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. Dari beberapa tes pengetahuan dan sikap. cara mana yang menurut anda paling cocok buat anda sendiri? 5. Buatlah salah satu bentuk daftar cek yang berisikan skill-skill yang menurut anda layak dikuasai oleh siswa setelah taat kelas IX SMP/MTs? 4. Selain bentuk yang sudah diuraikan di atas.

bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. Konsep memilih teknik dan bentuk penilaian 2. .BAB III. A. Menentukan jenis teknik dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. seperti konsep memilih teknik penilaian dan contoh implementasi pemilihan teknik penilaian. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut 1. 2. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Contoh implementasi pemilihan teknik dan bentuk penilaian. C. Menerapkan jenis teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. PEMILIIHAN TEKNIK PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP/MTS Pembahasan tentang pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTS sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. B. 1. Karena itu.

Penilaian Pembelajaran 7-47 D. Berikut diberikan contoh teknik penilaian yang mungkin dapat digunakan dalam menilai kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP?MTs. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Contoh Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas/Semester : VII/1 : Memahami wacana lisan melalui kegiatan Standar Kompetensi mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1. Dalam memilih teknik penilaian. Lagi pula. hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. Tes 1. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Tulislah simpulan isi berita yang . dan sikap seseorang. Tuliskan objektif pokokpokok berita Nontes: yang tugas didengar harian dari rekaman guru! 2. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci.1 Indikator Materi Pembelajaran Teks Berita •Pokokpokok berita •Simpulan isi berita Menyimp ul-kan isi berita yang dibacaka n dalam beberapa Mampu menyimpulkan kalimat isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen Esai. pengetahuan. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. keterampilan.

tugas Ceritakanla individual h pengalaman yang paling mengesank an dengan menggunak an pilihan Jenis Tagihan Tes Mampu menentukan pokok-pokok cerita Mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif .2 Menulisk an kembali berita yang dibacaka n ke dalam beberapa kalimat Teks Berita •Isi Berita Tes Nontes: tugas harian Esai.7-48 Penilaian Pembelajaran kamu dengarka n dari rekaman guru! 1.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunaka n pilihan kata dan kalimat efektif Indikator Materi Pembelajaran Pengalaman yang mengesankan • Pokokpokok cerita • Cara bercerita Penilaian Bentuk Contoh Instrumen Instrumen 1. objketif Tuliskan kembali berita yang didengar dari rekaman guru ke dalam beberapa kalimat! Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Kelas/Semester : VII/1 Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman Kompetensi Dasar 2. Tulislah Esai po-kokpokok cerita pengalaman yang paling mengesankan! Kinerja Nontes: 2.

Sampaikan pengumuma n dengan intonasi yang tepat serta menggunak an kalimat yang lugas dan sederhana! kinerja Nontes: tugas individual D. Latihan Soal . Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran penjaskes di MA di antaranya unjuk kerja.Penilaian Pembelajaran 7-49 2. Rangkuman Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. Lagi pula. pengetahuan. observasi. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Tulislah pokokpokok pegumuman ! 2. Tes Esai kata dan kalimat efektif! 1. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. dan tes tertulis/lisan/kuis. E. penilaian diri. keterampilan.2 Teks pengumuman Menyampai • Pokokkan pokok cerita pengumum • Cara an dengan Mampu menyampaik intonasi menyampaikan an yang tepat pengumuman pengumuma serta dengan n menggunak intonasi yang an kalimattepat serta kalimat yang lugas menggunakan kalimat yang dan sederhana lugas dan sederhana Mampu menuliskan pokok-pokok pegumuman. dan sikap seseorang.

intonasi. Jelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menilai Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. Perhatikan kompetensi dasar berikut dan tentukan jenis penilaiannya! Kompetensi Dasar Indikator Materi Pembelajaran Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen 5. dan mimik yang tepat 6.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarka n 5.7-50 Penilaian Pembelajaran Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang 6.1 Bercerita dengan urutan yang baik. gestur. lafal. suara.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca .2 Bercerita dengan alat peraga 7.

2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar .1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.Penilaian Pembelajaran 7-51 8.

bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. B. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya.7-52 Penilaian Pembelajaran BAB IV. cara penskoran. PENGOLAHAN. Karena itu. dan cara pelapran informasi hasil belajar. a. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. Memaparkan cara pelaporan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP . A. penskoran. cara penskoran. seperti cara pengumpulan. Memaparkan cara penskoran informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP c. dan cara pelapran informasi hasil belajar. Memaparkan cara pengumpulan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP b. Standar Kompetensi Setelah mempelajari bagian ini peserta diklat PLPG diharapkan mampu mendeskripsikan dan menerapkan cara pengumpulan. PENGUMPULAN. DAN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pengumpulan. dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah/madrasah.

Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. No. Ketujuh materi pokok berikut. Pelaporan informasi hasil belajar D. Pengelolaan informasi hasil belajar 10. Cara Pengumpulan Informasi (Cara Penilaian) 1 2 3 4 5 6 7 Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk kerja Produk Portofolio Observai/pengamatan Jawaban tertulis Jawaban tertulis Tuturan/ucapan Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah laku Aspek yang Dinilai tersebut tergambarkan sebagai . Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut.Penilaian Pembelajaran 7-53 C. Berikut dipaparka beberapa cara pengumpulan informasi hasil belajar. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. 1. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Pengumpulan informasi hasi belajar 9. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. 8. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Pengumpulan informasi hasil belajar Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung.

Data Penilaian Unjuk Kerja Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi. Pengolahan Hasil Penilaian a. ada 8 aspek yang dinilai. menatap kepada hadirin. antara lain: berdiri tegak. skor maksimumnya 8. Dengan demikian. Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 -100). sistematis. Data Penilaian Sikap Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran. maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0.75 x 10 = 7. Apabila seseorang mendapat skor 6. maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar.5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%.5. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. b. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. penyampaian gagasan jelas. Misalnya. Nilai 7. dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato. .7-54 Penilaian Pembelajaran 2. dan sebagainya. peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya.

Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda. dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. dan unjuk kerja peserta didik. yang berkaitan dengan sikap. c. . Selain itu. baik berupa peringatan atau rekomendasi. Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. uraian. Data Penilaian Tertulis Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik. Yang dimaksud dengan kejadian-kejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian. perilaku. atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku. baik positif maupun negatif. menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan. Pada akhir semester. guru mata pelajaran merumuskan sintesis. perilaku. menjodohkan. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. jawaban singkat. guru mata pelajaran dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan. sebagai deskripsi dari sikap. hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol.Penilaian Pembelajaran 7-55 Seperti telah diutarakan sebelumnya. berdasarkan catatancatatan tentang peserta didik yang dimilikinya. benar salah.

karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. dan jawaban singkat. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1. Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar. dibagi skor maksimal. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori. dikali dengan 10.7-56 Penilaian Pembelajaran Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah. Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu . Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. uraian objektif dan uraian non-objektif. Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik. menjodohkan. bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar. Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar.X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah.5. misalnya 0 . Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar -----------------------------.

Data Penilaian Proyek Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahaptahap: perencanaan/persiapan. Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai. Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. d. pengolahan data. . Misalnya. Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. nilai 6. dan penyajian data/laporan. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10. dengan dua angka di belakang koma. Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4.50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut. Berikut tabel yang memuat contoh deskripsi dan penskoran untuk masing-masing tahap. data yang diperoleh dengan masing-masing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot. Dalam menilai setiap tahap. dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran.Penilaian Pembelajaran 7-57 kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. pengumpulan data.

dan tahap penilaian. Informasi tentang data penilaian produk diperoleh dengan menggunakan cara holistik atau cara analitik.4 1. Total Skor Skor 1. Ketepatan menggunakan alat/bahan Ada pengklasifikasian data. tujuan. yaitu mulai dari tahap persiapan. Merumuskan topik. merumuskan tujuan penelitian. tahap pembuatan (produk). yaitu tahap persiapan. memuat kesimpulan dan saran. Data tercatat dengan rapi. daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan. guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. menguraikan cara kerja (langkah-langkah kegiatan) Penulisan laporan sistematis. tempat penelitian. jelas dan lengkap. e. menggunakan bahasa yang komunikatif. perkiraan data yang akan diperoleh. langkah-langkah kerja. Penyajian data lengkap. waktu. jadwal. tahap pembuatan.4 Keterangan: Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh. dan tahap penilaian (appraisal). penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan cara holistik. menuliskan alat dan bahan. Data Penilaian Produk Data penilaian produk diperoleh dari tiga tahap. . guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan.7-58 Penilaian Pembelajaran Tahap Perencanaan/ persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data/ laporan Deskripsi Memuat: topik.4 1. Cara penilaian analitik. bahan/alat.4 1.

(4) ringkasan setiap dokumen. (3) perkembangan dokumen. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru. menentukan alat dan bahan • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan. (2) dokumentasi/data dalam folder. • mendesain produk. Data penilaian Portofolio Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. (5) presentasi dan (6) penampilan. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik.Penilaian Pembelajaran 7-59 Contoh tabel penilaian analitik dan penskorannya Tahap Persiapan Deskripsi Kemampuan merencanakan seperti: • menggali dan mengembangkan gagasan. • Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan/fungsinya. semakin tinggi skor yang diperoleh. • Produk memenuhi kriteria keindahan. Skor 1-10 Pembuatan Produk 1-10 Penilaian produk 1-10 Kriteria penskoran: • menggunakan skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. (2) hasil pekerjaan peserta didik. dan (3) profil perkembangan peserta didik. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio. f. Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi . • semakin baik kemampuan yang ditampilkan. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat.

yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut. kecakapan. ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam melakukan penilaian. Pada taraf awal. guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 – 10 atau 0 . sangat terbuka kemungkinan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. Data Penilaian Diri Data penilaian diri adalah data yang diperoleh dari hasil penilaian tentang kemampuan. karena dua alasan utama. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing. karena peserta didik belum terbiasa dan terlatih. atau penguasaan kompetensi tertentu. Pertama. karena terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai . Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 – 100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai.7-60 Penilaian Pembelajaran peserta didik pada selang waktu tertentu. Kedua. sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan. dikali dengan 10 atau 100. Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja. dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. g. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran.100.

para peserta didik menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik. diinterpresikan.Penilaian Pembelajaran 7-61 yang baik. guru perlu melakukan langkah-langkah telaahan terhadap hasil penilaian diri peserta didik. dikoreksi. Apabila hasil koreksi ulang yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi. 20% untuk ditelaah. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. dan dilakukan penilaian ulang. Namun sekolah dapat . Dua atau tiga kali guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini. Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas. Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipercaya serta dapat dipahami. pada taraf awal. dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru. Kriteria ideal untuk masingmasing indikator lebih besar dari 60%. guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali. objektif. dengan menunjukkan catatan tentang kelemahan-kelemahan yang telah mereka lakukan dalam koreksian pertama. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung. Apabila peserta didik telah terlatih dalam melakukan penilaian diri secara guru. Guru perlu mengambil sampel antara 10% s. dan jujur. Oleh karena itu. Interpretasi Hasil Penilaian dalam Menetapkan Ketuntasan Belajar Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu ke indikator. 3.d.

dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. . Melalui pemeringkatan ini diharapkan sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya. Dengan demikian. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas sama atau lebih dari 50%. Namun. Sebaliknya. dalam hal ini meningkatkan kriteria pencapaian indikator semakin mendekati 100%. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas lebih dari 50%. Hasil penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. 60% atau 70%. misalnya melalui ujian nasional. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya. apakah 50%. apabila nilai indikator dari suatu KD lebih kecil dari kriteria ketuntasan. peserta didik dapat mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. Apabila semua indikator telah tuntas.7-62 Penilaian Pembelajaran menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. dapat dikatakan peserta didik itu belum menuntaskan indikator itu. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar secara berkala.

indikator ke.1 Kriteria Ketuntasa n 75% Nilai peserta didik 60 Ketuntasa n Tidak Tuntas 70% 75 Tuntas Indikator Mampu Menceri menentukan pokokpokok cerita takan pengalam Mampu an yang menceritakan paling pengalaman yang mengesa paling nkan mengesankan dengan menggun dengan menggunakan akan pilihan kata dan pilihan kalimat efektif kata dan kalimat efektif Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa nilai indikator pada kompetensi dasar di atas bervariasi. Kompetensi Dasar 2. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. nilai kompetensi dasar di atas 60 dan 75. Jadi. . Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Jadi.1 belum tuntas. Nilai rata-rata indikator 2: 60 + 75 --------. peserta didik perlu mengikuti remedial untuk indikator tersebut. Rangkuman Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung.5 2 Pada kompetensi dasar di atas.= 67. E.Penilaian Pembelajaran 7-63 Contoh penghitungan nilai kompetensi dasar dan ketuntasan belajar pada suatu mata pelajaran.

Hasil engolahan data ini selanjutnya dilakukan interpretasi. Apabila semua indikator telah tuntas. produk. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. Kriteria ideal untuk tiap-taip indikator lebih besar dari 60%. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. Jelaskan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia peserta didik di SMP? 2. unjuk kerja. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Interpretasi hasil penilaian adalah proses mencocokkan hasil penilaian dengan Kriteria Ketuntasan Minimal. Dengan demikian. 60% atau 70%. . porfolio. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. Namun. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. F. Pengolahan data hasil penilaian disesuaikan dengan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah.7-64 Penilaian Pembelajaran Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. Cara itu antara lain tertulis. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. dan observasi. Jelaskan bagaimana cara pengolahan data cara-cara penilaian berikut ini. apakah 50%. lisan.

Jelaskan apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan KKM! 4. c. penilaian diri 3.Jelaskan bagaimana seorang anak dikatakan telah menuntaskan hasil belajar KD! . tertulis. dan . d. porfolio. b.Penilaian Pembelajaran 7-65 a. observas. g. lisan. e. produk. unjuk kerja. f.

Karena itu. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu memaparkan cara pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut.BAB V. modul ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. 1) Memaparkan cara pemanfaatan penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP 2) Memaparkan cara membuat pelaporan hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP C. B. A. seperti pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. . Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pemanfaatan dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah.

atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. dan (5) penentuan kenaikan kelas. Pemanfaatan hasil penilaian di antaranya sebagai berikut. memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. a) Bagi peserta didik yang memerlukan remedial Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran. 1.Penilaian Pembelajaran 7-67 D. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. guru kelas. bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. Pelaporan hasil belajar Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Misalnya. (4) pelaporan. 1. Pemanfaatan penilaian 2. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi . Pemanfaatan Hasil Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal.

dan memperbaiki program pembelajarannya. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan. strategi pembelajaran yang telah disiapkan. atau mengerjakan tugas mengumpulkan data. agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif. dapat diberikan program akselerasi. program yang telah dirancang. atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran. membuat rangkuman pelajaran. Misalnya. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat. guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum. atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. dan bahan yang telah . b) Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya.7-68 Penilaian Pembelajaran kesempatan untuk belajar sendiri. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai npeserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan. Oleh karena itu. c) Bagi Guru Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas. dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. Salah satu kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan.

Pelaporan hasil belajar hendaknya: • Merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik • Memberikan informasi yang jelas. komite sekolah. Atas dasar itu. d) Bagi Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan Kepala sekolah untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa. dan akurat. laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester. komprehensif. direvisi. tetapi juga di bidang akademik. . Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. di mana peran-serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja. orang tua.Penilaian Pembelajaran 7-69 disiapkan perlu dievaluasi. 2. dan instansi terkait lainnya. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat. masyarakat. Laporan sebagai Akuntabilitas Publik Kurikulum berbasis kompetensi dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. transparansi dan akuntabilitas publik. Pelaporan Hasil Penilain Kelas a. karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat.

makna nilai tunggal seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti apakah anaknya perlu dibantu dalam bidang aritmatika. fisik. geometri. Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik. Bentuk Laporan Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. statistika. Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami). atau hal lain. Isi Laporan Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: • • • • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik. c. misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika. Dipihak anak. ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan.7-70 Penilaian Pembelajaran • Menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar b. Namun. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor). sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya. sosial dan emosional? Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? . aljabar.

yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD. Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif. dalam kurun waktu 1 semester. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak. . Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik. Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. • • • • • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. nilai tugas perseorangan maupun kelompok. d.Penilaian Pembelajaran 7-71 Untuk menjawab pertanyaan tersebut. tes sumatif. informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya. sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik.

.7-72 Penilaian Pembelajaran CONTOH FORMAT REKAP NILAI MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris KELAS/SEMESTER : TAHUN PELAJARAN : Mendengarkan NA NO MA 1 Riri Berbicara Membaca Menulis Kd 2 Kd 3 . N K K K . N Kd 1 d d R d d d R d d d R 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2 Toto * NR = nilai rata-rata KD untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada rapor e. karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik. N R Kd K K .. masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya. Untuk model rapor. Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK.. KD dan Indikator semester bersangkutan. berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Laporan prestasi mata pelajaran... N K K K . Rangkuman Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) ... E. Rapor Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. (Contoh model rapor beserta petunjuk pengisiannya lihat lampiran )..

Jelaskan apa yang dimaksud laparan sebagai akuntabilitas publik! 3. orang tua. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. dan (5) penentuan kenaikan kelas. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah.Penilaian Pembelajaran 7-73 bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. F. dan instansi terkait lainnya. Jelaskan pemanfaatan hasil penilaian penjaskes peserta didik di MA? 2. Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. Bagaimana cara menantukan nilai rapor penjaskes di MA! . komite sekolah. Jelaskan apa saja isi laporan hasil belajar penjaskes di MA! 5. masyarakat. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. Jelaskan bentuk laporan yang idela untuk penjaskes di MA! 4. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. (4) pelaporan.

penafsiran hasil pengukuran. lisan di kelas/ulangan harian. tugas individu. tidak berhenti pada suatu saat. Indikator : karakteristik. tanda-tanda. Evaluasi : kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program. dsb. yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan sehingga mengandung unsur subjektivitas. kemmapuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik dari standar kompetensi. telah memiliki pertanyaan. kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program. Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan. dan perilaku. untuk menunjukkan bahwa peserta didik itu kompetensi dasar tertentu. atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Jenis tagihan: golongan tagihaan menurut klasifikasi menjadi kuis. tugas kelompok. penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Bentuk tes:olongan tes menurut penggolongan menjadi tes pilihan ganda. Asesmen : penilaian. keterampilan. tes uraian. dsb. . Berkesinambungan: berkelanjutan.7-74 Penilaian Pembelajaran Lampiran: GLOSARIUM Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap Analisis : kajian terhadap suatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. ciri-ciri. Kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. perbuatan. Keandalan tes: kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg atau konsisten. tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya.

perkembangan peserta didik itu dalam kemampuan berpikir. .Penilaian Pembelajaran 7-75 Kuis : ulangan singkat atau ujian singkat. pemahaman pesert didik itu atas materi pelajaran. Validitas: kemampuan alat ukur yang mempengaruhi fungsinya sebagai alat ukur. Penilaian :proses menetapkan nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen atau pengukuran. Tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi: kemammpuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran. kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran. alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur. Nilai yang diberikan itu diharapkan dapat mencerminkan kemajuan belajar anak Portofolio: kumpulan hasil karya seorang peserta didik. sejumlah hasil karya seorang peserta didik. Pengujian Pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan. Ujian : proses kualifikasi kemampuan peserta didik pada ranah kognitif dan psikomotor. baik lisan maupun tertulis. Reliabilitas: kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. : pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. dan mengungkapkan sikap peserta didik itu terhadap mata pelajaran tertentu. kemampuan peserta didik itu dalam mengungkapkan gagasan. kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik.

.

Jakarta: Direktorat Pendidikan Menegah Umum. Jakarta: BSNP-Direktorat Pembinaan SMP. 2002. Depdiknas. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU): Pedoman Umum. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Nurgiyantoro. . dan MI. 2004. 2002. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. 2002. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama: Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. 2007. Standar Isi. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD. Burhan. 2001. Jakarta: Direktorat TK-SD. Yogyakarta: BPFE. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas.Penilaian Pembelajaran 7-1 DAFTAR PUSTAKA BSNP. Direktorat Menengah Umum. SDLB. SLB Tingkat Dasar. Direktorat TK-SD. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas. Puskur.

mengetahui keberadaan siswa d. terutama digunakan untuk …. tes pengetahuan d. penilaian diri d. unjuk kerja b. a.. bagian dari proses pembelajaran d. menggunakan orang lain 4. Ada beberpa alternatif alternatif yang dapat digunakan guru untuk menghemat waktu dan lebih bermanfaat bagi para siswa dalam melakukan penilaian di antaranya sebagai berikut kecuali . tes kecermatan berbahasa b. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. observasi c. kecuali . tes sikap 7. Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebagai berikut a. melibatkan orang lain c. untuk mengukur prestasi hasil belajar bisa satu alat penilaian d. Guru dalam melakukan penilaian pembelajaran di kelas. tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap b. mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung b. ada alat penilaian yang secara lengkap mengumpulkan prestasi hasil belajar c. mengetes sendiri dan dengan partner b. a.7-2 Penilaian Pembelajaran A. C atau D! 1. produk 5.. mengatahui kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu c. kecuali … a. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP di antaranya sebagai berikut.. B. mengetahui keberhasilan guru 6. tes keterampilan berbahasa c. Tes Mandiri Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf A. alat penilaian semuanya baik .. a.

Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan sebagai berikut kecuali … a. kebesamaan. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri.. saling menghormati. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . produk 10. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri. produk 8. Untuk mengukur KD Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri.. saling menghormati.. toleransi. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian .. etika. produk 7. etika.. penilaian diri d..Penilaian Pembelajaran 7-3 6.. Observasi c. penilaian diri d. toleransi. toleransi. penilaian diri d. penilaian diri d. saling menghormati. penghargaan guru dan siswa . unjuk kerja b. kebesamaan. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat penilaian . kebesamaan. kebesamaan. a. etika. unjuk kerja b. a. produk 9. perbaikan program dan proses pembelajaran d. unjuk kerja b. etika. pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan c. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri.. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat permainan . observasi c.. a. perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan b. unjuk kerja b. observasi c. toleransi.. a. saling menghormati.. observasi c.

bila hasil belajar yang Anda peroleh ternyata di bawah 80%. Kemmapuan Anda perlu diperkaya dengan melakukan diskusi antarsesama teman sejawat.7-4 Penilaian Pembelajaran B. sebaiknya Anda pelajari kembali bagian-bagian yang belum Anda kuasai dan mantapkanlah untuk mencapai skor kemmapuan di atas 80%.89% = baik 70% . membaca literatur lain. tukarkanlah dengan teman Anda! Setelha itu.100% = baik sekali 80% . umat kokoh. Selamat sukses! Pembelajaran berhasil. Anda telah mencapai kompetensi baik dan diharapkan dapat mengevaluasi hasil belajar penjas di MITs dengan baik. Karena itu. kemudian tentukan hasil belajar Anda dengan rumus berikut. KATA PENUTUP Alhamdulilah Anda telah mempelajari modul ini. koresilah! Hitunglah jawaban Anda yang benar. layak Anda mendapat ucapan selamat untuk sukses! Sebaliknya. semoga upaya Anda mendapat rahmat dan ridho-Nya. (Jumlah jawaban yang benar x 2) Hasil belajar = --------------------------------------------. atau konsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang kompeten. Selamat sukses.79% = cukup < 70% = kurang Apabila hasil belajar Anda mencapai 80% atau lebih. negara maju. siswa mampu. Ini berarti kesuksesan Anda tertunda! C.x 100% 20 Hasil belajar = 90% . TINDAK LANJUT Setelah Anda menyelesaikan soal-soal tes mandiri. .

B 8. B 9. B 10. D . D 5. B 7. A 3. D 6. D 4. A 2.Penilaian Pembelajaran 7-5 KUNCI TES MANDIRI 1.

BUKU AJAR MEDIA PEMBELAJARAN .

tetapi pada saat yang lain konsep dasar kedua istilah itu tidak dapat dipisahkan. Bahkan. Kalau Anda mengamati dalam GBPP kurikulum berbasis kompetensi tentang materi pokok. ada satu lagi istilah yang erat kaitannya dengan materi dan media ini. Kompetensi Dasar Menguasai konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Menghubungkan antara materi. yaitu sumber bahan. D. media. Kedua. Standar Kompetensi Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Anda pertamatama diajak untuk memahami pengertian materi dan media pembelajaran pada umumnya. dalam bahan pelatihan ini Anda diajak untuk membahas materi dan media secara bersamaan karena memang konsep dasar di antara keduanya tidak selalu dapat dipisahkan. Itulah sebabnya dalam perencanaan pembelajaran ketiga istilah itu sering disatukan. Hal ini dapat dilihat pada ulasan berikut. . Pada saat tertentu konsep dasar kedua istilah itu dapat dipisahkan. tampak juga bahwa ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan. Hakikat Media Pembelajaran Dalam pembahasan tentang pengertian istilah. Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Hal ini dilakukan karena konsep dasar materi dan media dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar materi dan media pada umumnya itu. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. dan sumber pembelajaran.Media Pembelajaran 8-1 BAB I. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN A.

media.8-2 Media Pembelajaran Dalam kompetensi dasar membaca memindai ensiklopedi/buku telepon. Pertanyaannya sekarang adalah ensiklopedi dan buku telepon itu materi. misalnya. misalnya. sumber materinya adalah buku paket atau buku-buku lain yang berisi ulasan tentang tumbuhan paku dan medianya adalah contoh tumbuhan paku atau gambar tumbuhan paku. ataukah sumber? Bukankah materi dalam pembelajaran itu adalah teks yang ada dalam ensiklopedi dan buku telepon itu? Bukankah medianya berupa OHP yang digunakan untuk memperbesar teks dalam rangka memberi contoh model membaca memindai atau tabel yang berisi kata dan istilah yang harus dicari dengan membaca memindai itu beserta isian kunci penemuannya? Bukankah media dalam pembelajaran itu berupa “hadiah” yang akan diberikan kepada siswa atau kelompok siswa yang dapat menemukan kata atau istilah yang dicari terlebih dahulu? Bukankah ensiklopedi dan buku telepon itu merupakan sumber materi? Contoh lain dapat Anda lihat dalam kompetensi dasar membaca pemahaman dan mengevaluasi buku yang berisi ilmu pengetahuan populer dengan materi pokok buku ilmu pengetahuan populer. materi pokoknya adalah anatomi tumbuhan paku. materi pokoknya adalah ensiklopedi dan buku telepon. mata pelajaran Biologi. media. Untuk kompetensi dasar siswa mampu menjelaskan anatomi tumbuhan paku. misalnya. dan sumber juga dapat dilihat pada pengertian dan klasifikasi media pembelajaran berikut itu. Tidak dapat dipisahkannya antara materi. Dalam Dictionary of Education dikemukakan bahwa instructional media is devices and other materials which present a . Sementara itu. Bukankah buku ilmu pengetahuan populer itu merupakan sumber bahan/materi? Bukankah materinya adalah teks yang ada dalam buku ilmu pengetahuan populer itu? Bukankah medianya berupa tabel yang kita buat untuk menuliskan ciri pembeda antara buku ilmiah populer dan buku ilmiah atau buku populer yang lain? Hal ini ternyata berbeda dengan.

laboratorium elektronik. video player. Untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya dapat Anda ikuti uraian berikut ini. . dan fasilitas belajar (facilities for learning). media. papan panel. boneka. program radio. laboratorium. sarana pendidikan untuk belajar (educational media for learning). apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori materi pembelajaran. Pertama. buku penunjang. tetapi rambu-rambu pertanyaan berikut kiranya dapat digunakan untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya.Media Pembelajaran 8-3 complete body of information and are largely self-suporting rather than supplementary in the teaching-learning process. Sementara itu. Sarana belajar mencakup tape recorder. OHP. dkk. Media pembelajaran adalah alat atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat menunjang proses belajar mengajar. program TV. dan lain-lain. dan lain-lain. gambar dan lukisan. dari mana materi pembelajaran itu Anda dapatkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori sumber bahan atau sumber materi. dengan alat bantu apa Anda mengajarkan materi itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori media pembelajaran. ruang diskusi. Fasilitas belajar mencakup gedung. (1977) membuat klasifikasi media pembelajaran yang sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning). kliping. studio. kartun. Ketiga. ensiklopedi. dan sumber bahan sulit dipisahkan. Kedua. poster. telepon. Sarana pendidikan untuk belajar mencakup buku teks. Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. dan lain-lain. Meskipun dari pengertian dan klasifikasi di atas tampak bahwa pengertian materi. papan tulis. televisi. perpustakaan. kamera. majalah. globe. tempat bermain. kelas. surat kabar. peta. Brown. radio.

majalah Intisari. Dengan demikian. Pertama. surat kabar Kompas. media adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan. Pada contoh ini. stop watch. dari buku paket. Pertama. dari mana teks berita tersebut Anda peroleh? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dari radio atau dari TV. menurut Bovee (Ena. buku paket. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah arloji atau stop watch dan tabel isian yang berisi nama siswa. dan lama waktu membaca. Berdasar uraian di atas. dari mana teks bacaan tersebut Anda peroleh? Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah dari surat kabar Kompas. Dengan demikian. dan lain-lain merupakan sumber bahan atau sumber materi. Dengan demikian. jumlah kata. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. Dalam hal ini. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. teks bacaan dalam pembelajaran Anda ini adalah materi pembelajaran. Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar mendengarkan dan memahami berita dari radio/televisi. radio dan TV merupakan sumber bahan atau sumber materi. dan tabel isian tersebut dapat Anda kategorikan sebagai media pembelajaran. Kedua. Dengan demikian. Berdasarkan .8-4 Media Pembelajaran Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar membaca cepat 250 kata per menit. Kedua. tape recorder merupakan media pembelajaran. arloji. apa yang Anda ajarkan? Jawabannya adalah teks bacaan. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah teks berita. teks berita dalam pembelajaran Anda ini dapat Anda kategorikan sebagai materi pembelajaran. dari majalah Intisari. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah dengan tape recorder karena teks berita itu Anda bawa ke kelas dalam bentuk rekaman dan akan Anda perdengarkan kepada siswa dengan tape recorder. dan lain-lain. 2004:2).

gambar. video recorder. Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain: buku. kamera. tape recorder. . grafik. video. foto. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. slide (gambar bingkai). televisi dan komputer. film. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran.Media Pembelajaran 8-5 pengertian tersebut maka media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses pembelajaran. kaset.

diharapkan siswa memiliki kompetensi tertentu dalam berbahasa dan bersastra dengan berbagai variasinya. sedangkan kaset rekaman dan tape recorder merupakan media pembelajaran. . dan lain-lain yang dapat Anda gunakan untuk mengajarkan wacana dalam rangka melatih. dan melatih siswa dalam menggunakan bahasa. Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Media pembelajaran pada dasarnya merupakan semua alat bantu yang dimanfaatkan guru dalam rangka mempermudah pembelajaran. Kompetensi Dasar Menguasai kriteria pemilihan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. media pembelajaran Anda dapat berupa kaset rekaman tentang wacana itu dan tape recorder. wacana “model”. diagram.8-6 Media Pembelajaran BAB II. Apabila Anda akan mengadakan pembelajaran agar siswa Anda mempunyai kompetensi dalam menyimak wacana tertentu. Wacana dalam kaset rekaman itu merupakan materi pembelajaran. Dengan berbagai latihan itu. Media dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat pula berupa gambar-gambar. melatih. Indikator Pencapaian Kompetensi menjelaskan Indonesia kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra D. KRITERIA MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA A. Standar Kompetensi Memahami kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B.

binatang. Berkaitan dengan media pembelajaran itu. warna daun. . bentuk daun. media pembelajaran Anda dapat pula berupa objek yang menjadi pijakan pembelajaran. proses pembelajarannya dapat Anda lakukan. Hasil pengamatan itulah yang dituangkan siswa dalam karangannya nanti. dan seterusnya. media pembelajaran Anda dapat berupa tumbuhan. ukuran batang. lalu siswa disuruh membuat karangan seperti model dengan objek yang berupa bunga mawar. hasil pengamatan itu dituangkan dulu dalam tabel atau diagram agar siswa mudah memahaminya dan mudah menuangkannya dalam karangan. dan atau gambar-gambar tentang bunga. Di samping itu.Media Pembelajaran 8-7 Dalam pembelajaran bahasa dan sastra. misalnya bentuk bunga. ukuran bunga. binatang. bentuk batang. kedua siswa Anda ajak mengamati bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. atau benda-benda itu. warna bunga. media lain yang dapat Anda gunakan dapat juga berupa diagram atau tabel kosong yang harus diisi siswa setelah mengamati tumbuhan dan atau gambar bunga mawar itu. pertama-tama siswa Anda ajak untuk mambaca “wacana model”. sebelum dituangkan dalam karangan siswa. Namun. Apabila Anda ingin melatih siswa untuk membuat karangan tentang bunga mawar. media yang Anda gunakan dapat berupa tumbuhan bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. Misalnya. Oleh karena itu. ketika Anda akan membelajarkan wacana tulis agar siswa Anda memiliki kompetensi dasar mampu mengarang. warna batang. ukuran daun. misalnya. misalnya. benda-benda. Media yang berupa diagram dan atau tabel kosong di atas digunakan untuk membantu siswa dalam menuliskan hasil pengamatan terhadap bungan mawar.

(a) Untuk menghindari kesalahpahaman antara pengajar dan siswa. maka media yang tepat adalah media audio (radio. tape recorder). Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling utama. berbicara. . (2) Fungsional Salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. kurangnya minat dan gairah siswa.8-8 Media Pembelajaran (1) Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran (sesuai dengan indikator). (b) Media sebagai penyaji stimulus (informasi. bila tujuan pembelajaran itu agar siswa dapat melafalkan ucapan kata-kata. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalistis. dan menulis dengan berbagai variasinya. berlatih. Dengan media itu. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah komunikasi. Media pembelajaran yang Anda gunakan bukan sekadar sebagai pelengkap proses pembelajaran. sikap. tetapi benar-benar merangsang siswa untuk berlatih. Misalnya. dsb. Di dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif dan efefisien. membaca. dan lain-lain) dan untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. dan berlatih berbahasa dan bersastra. baik dalam sastra maupun non-sastra sesuai dengan fokus pembelajaran saat itu. Fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut ini. siswa Anda berlatih menyimak. ketidaksiapan siswa. sedangkan lainnya merupakan kelengkapannya dari kelengkapan dari kriteria itu. Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar memiliki fungsi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan benar-benar berfungsi untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran.

berarti bahwa Anda sudah melatih siswa untuk menyimak. Apabila hal di atas terjadi. dan kaset rekaman berita dan tape recorder itu benar-benar tersedia. kaset rekaman berita dan tape recorder itu dapat Anda upayakan sehingga pada saat Anda memerlukan media itu. (d) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar konkret. Anda dapat saja menggunakan wacana yang berupa teks bacaan. beserta perangkat pendukungnya (misalnya listrik) tidak tersedia. ketika Anda akan melatih siswa agar siswa Anda memiliki kompetensi dalam menyimak berita dan Anda memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yang berupa kaset rekaman berita dan tape recorder. Seandainya materi dan media itu tidak tersedia.semuanya sudah tersedia. tape recorder. Misalnya. (e) Media dapat membangkitkan motivasi dan minat baru. media itu sudah tersedia atau sudah siap pakai.Media Pembelajaran 8-9 (c) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa karena pengalaman mereka berbeda-beda. menyimak adalah kegiatan berbahasa lisan. Tetapi. Artinya. (3) Tersedia Pertimbangan lain dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah ketersediaan media itu. kaset rekaman berita. Dengan demikian. Anda perlu memikirkan media pembelajaran lain yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran menyimak berita. maka kaset rekaman dan tape recorder itu bukan media pembelajaran yang tepat Anda gunakan saat itu. apabila siswa Anda minta untuk menyimak wacana yang Anda bacakan. Bentuk pembelajarannya dapat berupa Anda bacakan teks itu dan siswa diminta untuk menyimaknya. Misalnya. pada saat Anda perlukan dalam pembelajaran. Yang perlu Anda perhatikan adalah hakikat kompetensi berbahasa yang harus dimiliki siswa. Jika ternyata di sekolah Anda. Misalnya. dan realitas. kalau wacana yang berupa teks bacaan itu .

pada saat tertentu Anda membeli surat kabar. untuk Anda gunakan sebagai media pembelajaran bahasa. (3) memungkinkan terjadinya gangguan aspek non-linguistik lain pada saat guru membacakan wacana itu. Di antara kelemahan itu adalah (1) kualitas suara guru yang membacakan wacana itu belum tentu ideal. Taman dan berbagai pohon besar di sekolah Anda itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. ada surat pembaca. di lingkungan sekolah. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di lingkungan siswa. Dalam surat kabar itu ada berita. Sementara itu. Hal ini dapat dipahami karena membicarakan tentang apa pun melibatkan kemahiran berbahasa dalam proses komunikasi.8-10 Media Pembelajaran Anda berikan kepada siswa. guru kurang dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Bahkan. pembelajaran menyimak secara langsung seperti ini tentu juga memiliki kelemahan. Misalnya. dan lain-lain. misalnya IPA. Hanya saja. kelebihannya adalah Anda memperoleh kepastian bahwa pembelajaran menyimak dengan cara ini dapat Anda lakukan karena sangat mudah dilaksanakan. Oleh karena itu. (2) penerapan unsur suprasegmental dalam pembacaan itu belum tentu tepat. Anda tidak perlu memikirkan media pembelajaran yang mahal yang memang tidak . ada iklan. proses pembelajaran itu bergeser menjadi melatih siswa untuk membaca. Koran yang Anda beli itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. Di sekolah Anda terdapat taman atau pohon besar dengan berbagai jenisnya. Anda dapat meminjam alat peraga mata pelajaran yang lain. dan (4) pada saat membacakan wacana. (4) Murah Media pembelajaran yang Anda gunakan untuk melatih siswa berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal. dan di lingkungan Anda dapat Anda gunakan untuk media pembelajaran bahasa dan sastra.

Untuk dapat memilih dan menentukan media pembelajaran yang menarik. bungkus roti. besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi penggunaan media. . (4) menantang. jika tingkat kerumitan serta kosakata yang digunakan lebih tinggi di atas kemampuan siswa maka media tersebut tidak dapat dipilih. dan (5) variatif.Media Pembelajaran 8-11 dapat Anda dapatkan di sekolah Anda. (2) kesesuaian media pembelajaran itu dengan dunia siswa. slogan di sekolah. maka gambar mati seperti bagan chart atau slide dapat digunakan. bungkus makanan. (6) Ketepatgunaan Jika materi yang dipelajari adalah bagian-bagian yang terpenting dari suatu benda. Artinya. Akan tetapi. (3) baru. setidaknya Anda perlu mempertimbangkan (1) kesesuaian media itu dengan kebutuhan siswa. Bungkus obat. Sedangkan jika yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak. dan lain-lain dapat pula Anda manfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra. (7) Keadaan siswa Sebuah program media tidak mungkin cocok untuk tujuan tertentu. (5) Menarik Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah tingkat kemenarikan. media pembelajaran yang Anda gunakan dalam pembelajaran Anda adalah media yang menarik bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran Anda secara lebih inten. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa yang akan menggunakan media tersebut. maka media film atau video lebih tepat.

8-12 Media Pembelajaran (8) Mutu Teknis Seandainya ada media yang cocok untuk tujuan pembelajaran tetapi ternyata tidak lengkap atau terputus-putus. . maka media itu tidak dapat digunakan karena mutu teknisnya tidak memenuhi syarat.

Media Pembelajaran 8-13 BAB III. Kompetensi Dasar Menjelaskan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Indikator Pencapaian Kompetensi Memilih dan mengembangkan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. . camera. foto. Standar Kompetensi Menerapkan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. film. televisi dan komputer. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. tape recorder. Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. vidio recorder. PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. slide (gambar bingkai). grafik. kaset. video. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. gambar. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain buku.

media proyeksi. Pembuatan Media Grafis dalam Pembelajaran Bahasa Media grafis sering disebut media visual dasar. Poster. Media-media menyampaikan itu sangat membantu tugas kepada pengajar siswa. Kartun dan Komik. dalam Namun materi pembelajaran kendalanya. tidak semua media yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran tersedia. dan media berprograma. Dalam program ini hanya diberikan satu ilustrasi pembuatan media grafik yaitu flip chart. Oleh karena itu. (2) kesatuan. Dalam mendesain media grafis. harus diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: (1) kesederhanaan. (3) penekanan. Flip Chart. media audio-visual (pandang-dengar). media transparansi. 1. seorang pengajar harus bisa merencanakan dan membuat media sendiri. . media grafis. media terdiri atas media audio (dengar). media visual (pandang). tulisan cukup tebal dan mudah dibaca. Kesederhanaan Bahan untuk media grafis harus ringkas. Grafik. jelas dan mudah dipahami. dan (4) keseimbangan. Ada dua jenis media yang sederhana tetapi sangat efektif penggunaannya yaitu media grafis dan media transparansi.8-14 Media Pembelajaran Menurut jenisnya. meliputi Papan Flanel. Papan Buletin. sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting. karena flip chart paling mudah pembuatannya dan paling sering digunakan dalam proses belajar mengajar. A.

Jalinan antarbagian ini dapat dinyatakan dengan batas yang bertumpangan. warna. tekstur dan ruangan. yaitu formal dan informal. Penekanan Dalam media grafis. 4.Media Pembelajaran 8-15 2. garis. diperlukan penekanan pada bagian tertentu untuk dijadikan pusat perhatian. 3. Desain keseimbangan formal apabila ada suatu poros yang membagi visual secara simetris. Penekanan itu dapat dilakukan dalam berbagai cara. bentuk. memberi warna atau ruang pada bagian tertentu. memperjelas. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah jalinan yang harmonis antara bagian-bagian visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan. Keseimbangan . misalnya dengan cara memperbesar.

a. dan ruang.8-16 Media Pembelajaran formal memberikan kesan statis. c. Hal ini dapat memberi kesan dinamis dan biasanya mempunyai daya tarik yang kuat. Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah garis. warna merupakan unsur . Bentuk Suatu bentuk yang aneh akan membangkitkan perhatian khusus kepada yang divisualisasikan. Hal ini sering digunakan dalam mendesain caption dan judul. Desain keseimbangan informal adalah yang tidak simetris. tekstur. Garis Dalam media grafis sebuah garis dapat menghubungkan unsurunsur dan membimbing yang melihatnya kepada suatu unsur tertentu. warna. Warna Untuk kebanyakan visual. b.

Hal ini harus digunakan hati-hati sekali. pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan. Ruang Ruang terbuka di sekeliling unsur visual dan akan mencegah perasaan terlalu berdesakan tatalah ruang yang digunakan dengan cermat agar . Usahakan agar warna tidak terlalu banyak dan berbaur satu dengan yang lain. e. d.Media Pembelajaran 8-17 tambahan yang penting. Pergunakan dua atau tiga warna saja untuk suatu visual. untuk memberikan penekanan. Tekstur Tekstur adalah visual yang dapat bertindak sebagai pengganti perasaan yang menyentuh dan dalam banyak hal dapat digunakan sebagai pengganti warna. Usahakan batas warna dengan jelas.

cellotape. Bahan dan alat yang diperlukan: • Kertas: kertas putih biasa. penggaris. spidol. Untuk di laboratorium flip chart adalah ekonomis dan mudah dibuat. cat plakat. kuas. letter press. standard. kertas bufalo. lem. • Pensil. Selanjutnya bagaimana teknik atau cara pembuatan flip chart yang mempertimbangkan prinsip-prinsip media grafis. ikutilah ilustrasi berikut ini. kertas gambar. . pembolong kertas. Hal tersebut sering digunakan untuk memberikan judul-judul untuk suatu diskusi atau membuat daftar prosedur yang berurutan. tempat cat. B. cutter. Flip chart juga dapat dipergunakan untuk memberikan pembelajaran di depan kelas. Pembuatan Flip Chart Flip chart biasanya berupa gambar di atas sehelai kertas yang tidak mudah sobek. cat air. • Jangka. gunting.8-18 Media Pembelajaran unsur-unsur dalam desain jadi efektif. Sebuah flip chart dengan ukuran 60 X 80 cm biasanya cukup efektif untuk dipakai di depan kelas sebanyak 40 orang.

c. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mengarahkan perhatian. Alat untuk media ini adalah Overhead Proyektor (OHP).Media Pembelajaran 8-19 Cara membuatnya: 1. tetapi cukup dengan menunjuk pada bagian pesan pada transparansi yang ada di . Pembuatan Media Transparansi dalam Pembelajaran Bahasa Media transparansi sebagai media pembelajarana merupakan komunikasi yang sangat potensi dalam kegiatan belajar mengajar. b. Dengan memperhatikan keempat prinsip serta kelima unsur pembuatan media grafis. Kemudian pasangkanlah flip chart yang sudah selesai pada standard dengan terlebih dulu membuat lubang pada flip chart Anda untuk menggantungkannya. buatlah pada kertas pesan yang Anda inginkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Anda tidak perlu membelakangi kelas menuju ke layar. Berikut cara mempergunakan media transparansi dalam proses belajar mengajar. Setelah diperoleh komposisi serta bentuk yang memadai barulah Anda buat pada kertas yang disediakan untuk flip chart. uraikanlah materi pembelajaran yang akan disajikan menjadi beberapa bagian yang penting untuk dipelajari siswa. C. Alat tersebut dapat digunakan dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan gelap. Terlebih dahulu buatlah sketsa dari pesan yang ingin Anda sampaikan. Anda berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan terhadap siswa. 2. 1.

Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan. 2.8-20 Media Pembelajaran hadapan Anda. Pada waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak terproyeksikan . Bayangan penunjuk Anda akan terlihat jelas. transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali dengan alkohol. 3. Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat digunakan untuk menambah catatan pada waktu menjelaskan materi tanpa merusak transparansi aslinya. Pada penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan. Setelah selesai dipergunakan.

Mempergunakan benda tiga dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. kesatuan.Media Pembelajaran 8-21 ke layar karena kertasnya tidak tembus cahaya. serta lima unsur tambahan seperti garis. tekstur. konsep yang sulit dapat diberikan setahap demi setahap selama proses belajar mengajar. yaitu empat prinsip umum seperti kesederhanaan. yaitu transparansi lain yang berisian bagian dari pesan yang akan disampaikan langkah demi langkah. pena transparansi yang permanen c. 4. 5. Dengan memanipulasi bendabenda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan. Bahan dan alat yang diperlukan adalah: a. warna dan ruang. penekanan. dan keseimbangan. Dengan demikian. bentuk. kertas milimeter . kapas dan alkohol d. Mempergunakan Overlays. Sedapat mungkin dalam mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan. transparansi b. Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi sama dengan prinsip-prinsip pembuatan media grafis.

Kelemahan dari program aplikasi Microsoft Powerpoint adalah tidak tersedianya fasilitas untuk menyimpan informasi dari pengguna setelah melakukan eksplorasi pembelajaran. dalam hal ini program microsoft power point. tenaga. keuntungan lainnya adalah sederhananya tampilan ikon-ikon yang kurang lebih sama dengan Microsoft word yang sudah banyak dikenal. Dengan kelemahan ini maka pengguna atau siswa tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara langsung. Untuk mengatasi kelemahan ini. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembuatan multimedia pembelajaran menggunanakan program microsoft powerpoint akan menghemat biaya. Pemanfaatan program aplikasi microsoft powerpoint untuk pembuatan multimedia pembelajaran memiliki keuntungan bagi guru. tersedianya banyak fasilitas aplikasi sehingga pemakai tidak perlu mempelajari bahasa pemrograman komputer. dan video untuk menyampaikan pesan atau informasi. dan pikiran sebab guru tidak harus mempelajari dulu bahasa pemrograman komputer. maka .8-22 Media Pembelajaran D. Dengan demikian kita bisa menggunakan kombinasi tampilan berbagai media yang berbeda seperti teks. Pembuatan Komputer Multimedia Pembelajaran Bahasa Berbasis Dengan bantuan teknologi perangkat komputer maka dapat dihasilkan multimedia pembelajaran yang interaktif. waktu. Dengan kegiatan pembelajaran melalui media interaktif berbasis komputer. bunyi. grafik. Hal ini seperti diungkap Ena (2004:4) bahwa keuntungan terbesar memanfaatkan program aplikasi microsoft powerpoint adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah ada di dalam Microsoft office. dan juga tersedianya fasilitas untuk dihubungkan dengan internet. maka akan dapat memberikan rangsangan bagi siswa untuk mau belajar lebih giat sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulis.

tidak terpaku pada sumber tunggal. menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. berbicara. mendengarkan. Pembelajaran berbagai memberi penekan pada pengintegrasian ketrampilan berbahasa. Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. permainan dan . motivasi. dan pemahaman global. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman. Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee. lebih pribadi. materi yang otentik. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentukbentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. Periode pembelajaran integratif atau dengan kecenderungan komputer yang yang terakhir adalah integratif. 1996). Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan. Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. interaksi yang lebih luas.Media Pembelajaran 8-23 dapat digunakan lembar kertas kerja siswa sehingga guru dapat memantau perkembangan belajar siswa. meningkatkan pembelajaran. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee.

meningkat. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office.8-24 Media Pembelajaran kreativitas. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh . 1. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk kurang dari piranti lunak dan kerasnya. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. ketersediaan piranti lunak dan keras komputer. Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Media pembelajaranpun pengetahuan berkembang pengajar atau karena ahli keterbatasan dan tehnis pengajaran keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram.

Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from . Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan tehnis dan teori. Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Gambar. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. (a) Memasukkan Teks. membaca atau pembelajaran yang lain.Media Pembelajaran 8-25 kebanyakan pemakai komputer. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan.

Ada beberapa jenis background yang ditawarkan. pilih tekstur atau gambar dan tekan apply.8-26 Media Pembelajaran file . Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Fasilitas . Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. yang pertama adalah dengan memberi warna. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. (b) Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color.. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill.. dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan.. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. pilih warna dan tekan apply. Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background. more color dan fill effects. Background akan memperindah tampilan program.. dan from clip art. Fasilitas yang pertama adalah background.

Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Objek bisa melayang dari atas. (c) Membuat Hyperlink Fasilitas pembelajaran ini sangat penting dengan dan sangat mendukung bahasa karena hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. kanan. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. pribadi dan otentik. atau dari sudut. Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. kiri. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. bawah. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. sesudah itu akan muncul dialog . Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings.Media Pembelajaran 8-27 animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda.

Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan. Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran . (b). Membaca Fasilitas memungkinkan menampilkan pembuatan teks materi dalam program aplikasi ini pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah.8-28 Media Pembelajaran box. khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan. (a). Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. 2. Mengembangkan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik.

Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. (c).Media Pembelajaran 8-29 dengan video ataupun audio. Permainan penyapu ranjau (mine . Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya. yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran. Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. (d). Untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slideslide yang berbeda.

Namun. 3. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan. sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. . Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik.8-30 Media Pembelajaran sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata.

setiap kelompok dapat dibagi lagi menjadi subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran sastra. (1) Berdasarkan identifikasi kompetensi dasar dalam Kurikulum KTSP dan materi pembelajaran yang sudah Anda rumuskan. Praktik Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kegiatan 01: Menentukan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Bagilah peserta pelatihan ini menjadi 3 kelompok! Kelompok A bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. Kalau diperlukan. dan kelompok C bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas IX.Media Pembelajaran 8-31 BAB IV. Indikator Pencapaian Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. Standard Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. diskusikan dalam kelompok Anda media pembelajaran yang tepat Anda gunakan dalam membelajarkan siswa dengan materi pembelajaran itu agar siswa memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam . PRAKTIK PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. Kompetensi Dasar Menyajikan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. kelompok B bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII.

medianya.. perencanaan pembelajaran sastra beserta medianya. Kegiatan 02: Membuat Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra (1) Berdasarkan hasil kegiatan (01) dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia dalam pelatihan ini. medianya. sebaiknya ada kelompok yang membuat perencanaan perencanaan perencanaan perencanaan pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran menyimak berbicara membaca menulis beserta beserta beserta beserta medianya. lakukan kegiatan 02 berikut ini.8-32 Media Pembelajaran Kurikulum KTSP! Pertimbangkan kriteria pemilihan media di atas dalam diskusi kelompok Anda! (2) Tuangkan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam kertas manila yang disediakan panitia! Sajikan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam diskusi kelas! Agar setelah mengikuti pelatihan ini Anda mendapatkan pengalaman yang lebih kongkret dan siap Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. medianya. (4) Presentasikan hasil kerja kelompok Anda dalam diskusi kelas! . selanjutnya buatlah media pembelajaran yang sesungguhnya yang siap Anda gunakan untuk mengajar di kelas! (2) Wujudkan tugas untuk Anda tersebut dalam bentuk rencana pembelajaran kompetensi dasar tertentu berdasarkan Kurikulum KTSP dan lengkapilah rencana pembelajaran itu dengan media yang akan Anda gunakan! (3) Dalam kegiatan ini.

(6) Ketepatgunaan.Media Pembelajaran 8-33 E.. (4) murah. (5) menarik. (3) tersedia. Soal Evaluasi Setelah mempelajari dan mengikuti proses pelatihan subbagian bahan pelatihan ini. dan (8) mutu teknis. tidak perlu mahal karena pada dasarnya Anda dapat menggunakan apa saja yang berada di lingkungan tempat Anda mengajar. F. Berilah alasan kebenaran pernyataan ini beserta contohnya! 2. Media pembelajaran yang Anda gunakan harus benar-benar menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda laksanakan. (2) fungsional. dan yang penting bahwa media pembelajaran yang Anda gunakan harus menarik bagi siswa. benar-benar Anda dapatkan pada saat Anda memerlukannya dalam proses pembelajaran. RANGKUMAN Media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. lakukan penilaian diri dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut! 1. Manfaat apa yang Anda peroleh setelah Anda mempelajari media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra? . Media pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda gunakan setidaknya harus memenuhi kriteria: (1) tujuan. Media pembelajaran bahasa dan sastra pada dasarnya semua alat yang Anda gunakan dalam membantu mempermudah pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda lakukan. (7) keadaan siswa. Kemukakan kriteria penggunaan media pembelajaran yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra! Masingmasing berilah penjelasan dan contoh! 3.

Kemukakan pendapat dan atau saran berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia! . Kemukakan contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang sesuai dengan kriteria tersebut! 6. Apakah ketidaksesuaian penggunaan media pembelajaran yang Anda lakukan dengan kriteria penggunaannya seperti yang Anda kemukakan pada butir (4) tersebut Anda sengaja? Berilah penjelasan dan atau alasan! 8.8-34 Media Pembelajaran 4. Kemukakan pula contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut! 7. Apakah kendala yang Anda rasakan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran bahasa dan sastra? Berilah penjelasan! 9. Apakah penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan selama ini sesuai dengan kriteria tersebut? Berilah alasan! 5. Apakah rencana Anda setelah Anda memahami media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya? 10.

Kwuang-wu. 1996.jp/~iteslj/ Norton. James W. Teaching with Media. Prentice Hall.. http:/www. Hunter. Media. S. 1982. dkk. 1983. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. Dwi. Malang: Buku Ajar (Tidak diterbitkan) . The Internet TESL Journal. David H. 1999. Stephen N et al. Saksomo. II. Lee. Educational Psychology. Language Arts Activities for Children. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning.aitech. Depdiknas. Vol. 1986. VI. 1996. Greece. Jakarta: Depdikbud. New York: McGraw-Hill. No. 2000. Oxford University Press: Oxford. No. Hubbard. 12. December 2000. E. Computer as a Mindtools for Schools. A Paper presented at KIPBIPA III. P3G.aitech. 1980.ac. 1996. Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. Jonassen. A Training Course for TEFL. Kemp. 1993. Planning and Producing Audiovisual Materials.N. 1991. Elliot. June 1996. Harper and Row: New York. Davis. an imprint of Macmillan College Publishing Company. and Methods. dan Norton.jp/~iteslj/ Idris. Ben. Nuny S.T. Iowa. Ferrod E. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Draft belum diterbitkan). The Internet TESL Journal. a paper presented at Technology and Education Conference in Athens. Brown and Benchmark: Dubuque. E. Ruseffendi..Media Pembelajaran 8-35 DAFTAR PUSTAKA Brown.ac. AV Instruction. CALL: Its Scope and Limits. 1977. Lawrence.6. New York: Merrill. New Jersey. Vol. http:/www. Peter et al. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. Bandung. 2003. Technology.

V. Social Psychology and Contemporarry Society.ac.G. New York: John Willey and Son. H. Wacana Bahasa Indonesia. 2003. 1976.G. Vol. 1978. .8-36 Media Pembelajaran Sampson. Using Presentation Software to Enhance Language Learning.3. E. Teaching Language as Communication. Widdowson. March 1999. No. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas. Miriam.jp/~iteslj/ Sumadi.aitech. Bahan pelatihan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. 1999. Schocolnik. http:/www. The Internet TESL Journal. Oxford: Oxford University Press.

BUKU AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .

peneliti adalah orang luar yang terpisah dari objek yang diteliti. yakni: (1) emperisme. 1989. dan (4) post-criticalisme/ post-modernisme. 1991. Hanya dengan memahami jenis-jenis penelitian pendidikan terlebih dahulu. McTaggart. (2) interpretivisme. (3) criticalisme. 1. Keempat jenis penelitian pendidikan ini pada hakikatnya menekankan perbedaan tolak pandang dalam melihat hakikat kebenaran (truth) dan hakikat pengetahuan. (b) pengetahuan itu dapat digeneralisasikan. Penelitian ini juga memandang bahwa: (a) pengetahuan itu objektif. 1993). perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai jenisjenis pendekatan dalam penelitian pendidikan kelebihan dengan dan segala kekurangannya. Penelitian-penelitian pendidikan pada dasarnya dapat digolongkan dalam empat kategori (Candy. dan (d) pengetahuan itu dapat dipahami melalui aturan-aturan yang ada. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Untuk action tindakan memahami research kelas classroom (penelitian secara [PTK]) penuh. (c) pengetahuan itu bersifat replicable/ dapat diulang. Keempat penelitian tersebut dapat disarikan sebagai berikut. posisi PTK dan filofofinya dapat ditangkap secara jebih jelas. Penelitian emperisme (emperism research) adalah jenis penelitian yang menekankan metode ilmiah sebagai satu-satunya cara/ metode penghasil pengetahuan.BAB I KERANGKA DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Dalam konsep penelitian emperisme manusia dianggap sebagai objek yang pasif. Dalam penelitian emperisme. Penelitian-penelitian emperisme . Connole.

Untuk memahami masalah-masalah manusia. suatu penelitian harus berorientasi pada hasil (product oriented) agar hasil penelitian tidak sia-sia. Untuk itu. 4. Siapa yang berkuasa (who is on power) dapat mempengaruhi hakikat kebenaran/ realita/ pengetahuan itu sendiri. karena penelitian intepretivisme meyakini bahwa: (a) pengetahuan/fakta/realita itu mengandung unsur-unsur subjektivitas. Penelitian kritis (criticalism research) memandang bahwa pengetahuan itu di samping subjektif juga problematik. penelitian emperisme dipandang tradisional. Penelitian post-critical adalah penelitian yang menekankan bahwa kebenaran/ realita itu sendiri sebenarnya tidak ada. Penelitian intepretivisme (intepretive research). Objek IPA dan peneliti merupakan bagian yang terpisah. nilai-nilai yang tidak dapat dipahami dari luar.9-2 Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan penelitian yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu murni IPA. Penelitian ini mengkritik pendekatan intepretivisme sebagai penelitian yang terlalu menekankan pemahaman daripada hasil (output). yang berarti juga tidak ada satu sekolah pun yang sama persis dengan sekolah lain. (c) pengetahuan itu tidak dapat digeneralisasikan (not generalizable) karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sama persis. Apa yang disebut . 3. 2. Pendekatan penelitian ini menekankan pemahaman yang komprehensif/ mendalam terhadap objek yang diteliti. peneliti harus menjadi insider dari objek yang diteliti. Menurut penelitian ini. Tanpa menjadi insider pemahaman terhadap objek yang diteliti tidak akan sempurna. (b) pengetahuan itu dapat berubah (not fixed). artinya: pengetahuan itu di samping dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan. penelitian ini menekankan aspek pemikiran reflektif/ kritis (reflective thinking) terhadap segala faktor luar yang dapat mempengaruhi kualitas penelitian itu sendiri. ideologi. Menurut pendekatan ini. (d) masalah-masalah pendidikan tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari aturan-aturan yang ada sebab manusia mempunyai motif.

Canada. Masing-masing jenis penelitian merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Penelitian-penelitian jenis ini umumnya mempertanyakan kembali apa yang sudah dianggap benar/ realitas itu sendiri. Keempat jenis penelitian tersebut menegaskan bahwa ada beberapa pendekatan dalam meneropong masalah-masalah pendidikan. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. teori yang selama ini diyakini kebenarannya digugat kembali. pengembangan keahlian mengajar. Dalam literatur berbahasa Inggris PTK sering disebut dengan classroom action research.Penelitian Tindakan Kelas 9-3 realitas itu sendiri hanya sebatas bahasa yang mengungkapkan. Bahkan McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. dan sebagainya. Amerika. Sekalipun demikian. . di kelas sendiri. Setiap pendekatan akan menawarkan hasil yang berbeda dan ’bintik buta’ (blind spot) tersendiri. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri. Dengan melakukan penelitian tindakan. Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. dengan melibatkan siswanya sendiri. Australia. dalil. jenis-jenis pendekatan tersebut menggambarkan revolusi pemikiran manusia terhadap masalah-masalah pendidikan. pengembangan sekolah. guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. Hukum.

guru juga dapat melihat. Berkenaan dengan uraian di atas. Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut (Cohen dan Manion 1980:174). dan dievaluasi. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka. dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelas. Sebaliknya. Berikut ini disajikan beberapa kutipan batasan tersebut. Dengan demikian. perencanaan.9-4 Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. sejumlah batasan tentang penelitian tindakan telah dikemukakan oleh para pakar. guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar. melalui penelitian tindakan kelas guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang lebih efektif dan optimal. Jika dengan penghayatannya itu dapat menyimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti: pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak. umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif.menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional (Elliot 1982:1). merasakan. diagnostik. maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur penelitian tindakan kelas. pelaksanaan. guru dapat membuktikan apakah teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia dimiliki. cara bertanya guru kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berpikir. dan pengaruh-. Seluruh prosesnya --telaah. . pemantauan. serta pemahaman mereka terhadap praktikpraktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart 1988:5-6).

Penelitian Tindakan Kelas 9-5 Penelitian tindakan (action research) adalah jenis pendekatan penelitian criticalism (Priyono 1999:3). Stephen Kemmis (dalam Hopkins. Suyanto (1997). Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan: PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. Dengan demikian. Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas. dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan. serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif. misalnya. 1992) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri. mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas secara profesional. salah satu contoh jenis penelitian criticalism adalah penelitian tindakan itu sendiri. prinsip-prinsip penelitian tindakan sangat diwarnai oleh pendekatan penelitian critical. (b) dilakukan oleh pelaku tindakan . Dengan kata lain. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut.

yakni perencanaan. pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. dan refleksi.9-6 Penelitian Tindakan Kelas PTK bersifat reflektif. observasi. Anda akan terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik. Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut. dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. Anda kemudian dapat mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto. Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian. Artinya. 0leh sebab itu. pelaksanaan tindakan. PTK dilaksanakan dalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap. Dari pemikiran itu. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut. . 1997).

Penelitian Tindakan Kelas 9-7 B. 1. On-the (masalah job yang problem-oriented diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam jawab masalah kewenangan/ peneliti). Kalau peneliti adalah . yang Ini diteliti tanggung berarti adalah masalah-masalah riil yang dihadapi sehari-hari. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS Priyono (1999:3-6) memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut.

(b) siswa/ guru diperlakukan sebagai objek (informan) pasif. Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas). Ada beberapa alasan mengapa penelitian semacam itu tidak membawa pemecahan masalah di kelas: (a) masalah penelitian bukan masalah yang dihadapi guru. yakni: orang yang paling tahu masalah-masalah kelas adalah guru itu sendiri. siswa. Action research menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi itu berkembang (berubah lebih baik). Penelitian-penelitian pemahaman semacam itu hanyalah menghasilkan (understanding) terhadap masalah-masalah pemanfataan laboratorium dan pengaruh metode sosiodrama. Ciri classroom-based action research ini diwarnai oleh pendekatan intepretivisme. karena tidak memecahkan masalah. 1999). Kalau sistem itu sekolah. 1999). Judul-judul penelitian empirisme yang ditulis oleh para mahasiswa strata 1 di bawah ini jelas bukan classroom-based action research: a) Pengaruh Pemanfaatan Laboratorium IPA terhadap Pemahaman Konsep Alat Transpotasi Tumbuhan (Yushriati. 4. 2. . Dengan kata lain. 3. masalah-masalah yang diteliti adalah masalah-masalah kelas/ sekolah yang merupakan bidang tanggung jawab utamanya. penelitian-penelitian empirisme semacam itu tidak memberdayakan guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat memperbaiki kondisi kelas sendiri. komponen-konponen sekolah itu (guru. b) Pengaruh Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Konsep saling Ketergantungan Organisme (Sungkono.9-8 Penelitian Tindakan Kelas seorang guru. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). dan (c) penelitian tidak membawa perubahan kepada siswa/ guru. bukan orang lain (outsiders). Penelitian-penelitian yang hanya menghasilkan pengertian/ pemahaman seperti pada penelitian empirisme dan intepretivisme dianggap tidak meaningfull (bermanfaat).

PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. Konsep ini sangat diwarnai oleh prinsip penelitian critical: penelitian harus menghasilkan produk perubahan (product-oriented). Semua cara ini difokuskan untuk mendapatkan validitas hasil penelitian. 5. observing. Dengan bersandar validitasnya. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) melakukan setiap langkah AR. pada penelitian-penelitian kemampuan inderawi empirism dapat yang hanya dipertanyakan . Cyclic (siklis). and reflecting. Dengan penerapan semua cara koleksi data tersebut. Partisipatory/collaborative. 6.Penelitian Tindakan Kelas 9-9 kepala sekolah. (2) tes. lingkungan kelas/ sekolah) harus berkembang lebih baik. Anda akan berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. demikian. Secara siklus yang pada hakikatnya menggambarkan pemikiran kritis dan reflektif terhadap efek tindakan. dsb. (3) wawancara. Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik). berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti: (1) observasi. (4) kuesioner. Dengan PTK. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto. Dampak suatu tindakan tersebut selalu diikuti secara kritis dan reflektif. Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. 7. konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning. 1997). mengingat kebenaran (realitas) itu di samping subjektif juga problematik. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru. Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). action. apa yang sebenarnya disebut kebenaran/ realita dapat lebih diungkap.

penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas. Kedua. Menurut Suyanto (1997). permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. Dengan demikian. Sebaliknya. Ketiga. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda--dengan melibatkan siswa--Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran. Misalnya. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya.9-10 Penelitian Tindakan Kelas Pada sisi lain. jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan. pengawas. optimal. atau oleh kepala sekolah. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru. Pertama. bukan PTK. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar. Itu hanya merupakan penelitian kelas. atau bahkan oleh guru lain. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. dan fungsional. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. yang . Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. oleh dosen LPTK.

Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. PTK lebih longgar karena analisis datanya tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. Dengan cara itu.Penelitian Tindakan Kelas 9-11 berisi ceritera-ceritera lucu. Bersifat reflektif (A reflective practice made public). PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas. melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam. dan sebagainya. Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas? Memang. Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif. Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators). PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. Oleh sebab itu. a. penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. ia tetap menekankan pada objektivitas. maka penelitian semacam itu adalah PTK. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. yakni dari guru itu sendiri. c. Jadi. Namun sebagai penelitian. Anda . Menurut Hopkins (1992). b. sebagai guru. Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within).

Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian. serta membantu analisis data penelitian. 1. Sebaliknya. menentukan hipotesis tindakan yang baik. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya. sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. Oleh sebab itu. tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. mengembangkan strategi yang dapat diterapkan . Prinsip tersebut sebagai berikut. C. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK.9-12 Penelitian Tindakan Kelas akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. 3. Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan. dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK. Bagimana hasil identifikasi Anda? Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. 2.

serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. Identifikasi dan rumusan hipotesis b. 5. Tidak mengganggu komitmen mengajar. dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Prinsip-Prinsip PTK 1. Meskipun ada kelonggaran.Penelitian Tindakan Kelas 9-13 pada situasi kelasnya. penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan. strategi dapat diterapkan di kelas 4. Artinya. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga. di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik. meyakinkan . Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah. permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu. disosialisasikan kepada teman sejawat. 4. dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah. 2. a. Secara lebih ringkas. Metodologinya andal. 3. Konsisten terhadap prosedur etika 6. Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya. 6. 5. Merupakan masalah guru. prinsip-prinsip PTK dapat dituliskan sebagai berikut. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan. Tidak terlalu menyita waktu.

Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. proses pelatihan terjadi secara hands-on. Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut. Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. Kedua. Ketiga. PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru. kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. PTK mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. Mengapa demikian? Pertama. akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran. apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf). Menurutnya. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. . TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Apabila kita mencermati pengertian PTK. ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK. diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik.9-14 Penelitian Tindakan Kelas D. Dengan PTK. Sebagai guru. tidak dalam situasi artifisial. Dengan kata lain.

Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar. tingkat umurnya. Anda dapat mengembangkan teknik. Itu berarti bahwa Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya. guru. secara ringkas. MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran.. Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan. Di samping itu. maupun Iatar kecerdasannya. PTK merupakan bahan refleksi bagi Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas. Dengan PTK. Pemilihan tujuan yang tepat. . di tempat Anda mengajar. atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk melihat efektivitasnya di kelas. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi. dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK mengembangkan proses akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk belajar mengajar di kelas. Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh di kelas. (3) peningkatan profesionalitas guru. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. latar sosial budayanya. serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai. Untuk itu. baik tingkat kelas. Dengan demikian. Dalam hal manfaat PTK ini. Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran. pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbedabeda. (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. perubahan yang terus-menerus dikembangkannya. materi yang sesuai. metode.Penelitian Tindakan Kelas 9-15 E.

Rasa ikut . misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. tetapi mereka kurgan mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (a) kelompok orang yang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat.9-16 Penelitian Tindakan Kelas F. PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS PENELITIAN TINDAKAN Ada lima persoalan praktis yang perlu diperhatikan dalam penelitian tindakan dan masing-masing akan diuraikan secara singkat di bawah ini. Pemrakarsa penelitian tindakan. peneliti dengan berperan sebagai fasilitator mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti maslah yang telah diidentifikasi oleh para guru. 1. dan (b) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tidak mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. Pemilik penelitian tindakan. dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen). Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi. 2. dibuat merasa ikut memilikinya. sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut. Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator. misalnya situasi belajarmengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan. seperti guru dalam situasi belajar-mengajar. misalnya konsultan. Dalam situasi seperti itu.

rekaman audio.Penelitian Tindakan Kelas 9-17 memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian. namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematis sering timbul karena ada masalah dalam suatu situasi. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. rekaman audio dan video kejadian. 5. rekaman video. semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut merupakan bagian dari dirinya. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan penel. bukan hanya mengingat kembali. Data diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. transkrip wawancara. Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata. Sasaran penelitian tindakan. Fungsi data dalam penelitian tindakan adalah sebagai landasan reflektif. 3. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif. Dengan demikian. Analisis data. Data penelitian tindakan. Oleh karena itu. dan oleh karena .iti merekonstruksi tindakan terkait. pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis. yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. melainkan unbtuk mendokumentasikan amatan dan oleh karena itu menjebatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan. 4. foto dan sebaginya. yang dikumpulkan lewat berbagai teknik. Data dapat berbentuk catatan-catatan. Data penelitian tindakan antara lain berupa semua catatan tentang hasil amatan. Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan.

usaha trianggulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain. Dengan kata lain.9-18 Penelitian Tindakan Kelas itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta lainnya untuk dapan melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. .

perencanaan tindakan. digambarkan sebagai berikut. Dengan demikian. desain AR menurut Tripp (1996). Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan. PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi. REFLEKSI TINDAKAN REFLEKSI TINDAKAN OBSERVASI OBSERVASI . pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi. tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu. SIKLUS I PERENCANAAN SIKLUS II PERENCANAAN dst. analisis dan refleksi. Dengan kata lain. Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal. Sesuai dengan karakteristik dari pelaksanaaan AR yang siklis.BAB II PELAKSANAAN PENEILITIAN TINDAKAN KELAS A. serta-apabila perlu--perencanaan tindak lanjut.

dan M. Prarefleksi Untuk memulai penelitian tindakan kelas. Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut. Anda perlu proses belajar mengajar yang terjadi di dalam merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda. para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar. Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit. Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut.Misalnya: a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas. meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya.9-20 Penelitian Tindakan Kelas Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus AR yang diadaptasi dari Kember. D. b) Dalam pelajaran mengarang. 1. Anda perlu menentukan suatu topik. a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas? b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang? c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca? . tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya. agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas. c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat. Kelly (1992). Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi kelas. tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telah disarankan.

dan (c) perubahan sifat evaluasi. Siapa akan mengerjakan apa. Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang . Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK. 2. materi yang akan diajarakan. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru. Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut. Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum. dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya. peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian. Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan. Pada tahap ini.Penelitian Tindakan Kelas 9-21 Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merkam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. Perencanaan Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan.

dan jurnal. . Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK.9-22 Penelitian Tindakan Kelas cukup rendah dalam keterampilan menulis. Berdasarkan permasalahan tersebut. 3. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini. wawancara. Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan. (3) menyusun rancangan evaluasi. (2) menyusun pedoman observasi. (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi. Tindakan Perlu diingat juga. Jadi. guru benarbenar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan. dalam melaksanakan rencana Anda tersebut. cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas. dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan. peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. sebagai Kelas diciptakan belajar komunitas (learning community) daripada laboratorium tindakan. Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan.

Penelitian Tindakan Kelas 9-23 Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah. siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa. setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. pola pengembangan. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. Pendahuluan Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi. ciri-ciri. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan. Penutup Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan . siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf. Melalui kegiatan ini. Pada tahap terakhir. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. Kegiatan inti Pada kegiatan inti ini. dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. 4. a. Setelah itu. dan pengertian paragraf eksposisi. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. dan kelompok yang lain menanggapinya. siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan. c. Kemudian. Pengamatan Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. Oleh karena itu. b. guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut. Melalui kegiatan ini.

dll. sedang. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. peneliti menguraikan jenisjenis data yang dikumpulkan. hambatan yang dialami oleh guru. jurnal. dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan. dan alat koleksi data (angket. peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan. wawancara. pada langkah ini. Selama penelitian berlangsung. Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif. pesan dan kesan. kesan. dan pesan siswa terhadap materi. cara pengumpulan data. Selain jurnal siswa. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. sosiometri. peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung. peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. Selain menggunakan lembar observasi. peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara. serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara . peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa. dan rendah. Pendek kata.9-24 Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. Melalui lembar observasi. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK. proses pembelajaran.

antusiasme. apa kelebihan/kekurangan. peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi. dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals. Dari catatan-catatan itulah. institutions. disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). responsif. Untuk itulah. kepuasan diri setelah mengajar. guru. dan suasana kelas. mengapa demikian. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti). Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya. Pada tahap ini.) McTaggart (dalam Connle. langkah-langkah penyempurnaan. keinginan tahu. portofolio (catatancatatan tentang hasil/prestasi siswa).Penelitian Tindakan Kelas 9-25 5. kepercayaan diri. dsb. misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi.. guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why). perubahan sikap percaya diri. bagaimana (how). Demikian pula perubahanperubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti. Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. on the one hand. 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah: .. and societies to which the belongs …. seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas. and the other culture of the groups. Suasana perubahan pada atmosfir kelas .

Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. kapan. seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran. perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. suasana kelas yang lebih akrab. setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Sedangkan kata tanya kapan dan mengapa belum digunakan. apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. agar semua dapat .9-26 Penelitian Tindakan Kelas juga disajikan. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. karena bericara lebih cepat daripada menulis. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik. Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. Yang jelas. dsb. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan.63% dari jumlah keseluruhan siswa. di mana. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok. Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas. dari mana.73 dan termasuk dalam kategori cukup. mengapa. Oleh karena itu. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa. Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi. siapa. Dalam indikator membuat daftar pertanyaan. apa. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber. Apa yang terjadi pada suatu siklus. dan bagaimana). penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak. Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. siapa. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan.

Merasakan Adanya Masalah Jika Anda tergolong pemula dalam PTK. Pada siklus I. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. Pada siklus I ini sekitar 42. perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi. pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran.1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran. masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja.Penelitian Tindakan Kelas 9-27 terekam. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri. diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara. Namun demikian. sehingga siswa akan memperhatikan guru. dan 4 siswa sebagai pencatat pokokpokok informasi. Selain itu. 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. mereka cenderung mengobrol dengan temannya. Oleh karena itu. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber. pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab . PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN Ada empat hal yang harus diperhatikan terkait dengan penetapan fokus masalah penelitian. Selain itu. melihat tulisan teman. yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf. Dengan demikian siswa akan lebih aktif.8% yang aktif. dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57. konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus. Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. 1. B. Keempat hal tersebut sebagai berikut.

yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. Dalam proses perenungan itu. . Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran. Merasakan adanya masalah: • • • Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah Jadi. terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional. bukan permasalahan yang disarankan. apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. yang 0leh sebab itu. untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran. Oleh karena itu. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa. permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai guru dalam praktik pembelajaran. Dengan kata lain. serta berpikir balik.9-28 Penelitian Tindakan Kelas pertanyaan tersebut. Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola. mungkin agaak sulit bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas. Anda harus mampu merefleksi. merenung. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran.

Masalah harus riil dan on the job problem oriented. (2) pemecahan masalah tersebut belum mendesak dilaksanakan. Untuk itu. b.Penelitian Tindakan Kelas 9-29 guru. kurikulum. bahan ajar. . tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata adalah masalah-masalah yang problematik. c. sebab penelitian tidak membawa temuan yang bermanfaat. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. beberapa langkah berikut dapat diikuti dengan seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan PTK. Masalah-masalah yang asal-asalan (yang kurgan teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi. Untuk itu. 2. Masalah itu datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri sehari-hari. Masalah itu dilihat/ diamati/ dirasalan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari. dan hasil belajar siswa. artinya masalah tersebut benar-benar ada (dirasakan sebagai masalah. interaksi pembelajaran. a. identifikasi masalah sering merupakan tahap penting dalam pelaksanaan penelitian. bukan datang dari pengamatan orang lain. Oleh sebab itu. Masalah itu juga di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. ldentifikasi Masalah PTK Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian tahap-tahap penelitian. sebab: (1) pemecahan masalah tersebut tidak/kurgan mendapat dukungan literatur/sarana-prasarana/ birokrasi. Kualitas penelitian pun dapat ditentukan oleh kualitas masalah yang diteliti. Sebagaimana disinggung oleh tulisan sebelumnya. artinya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. dan (3) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan.

memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK. dll.9-30 Penelitian Tindakan Kelas pilihlah masalah-masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. (2) resiko apa yang paling jelek bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. Bahkan.melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. Menurut Abimanyu (1995). dapat dilontarkan beberapa pertanyaan berikut: (1) apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak dipecahkan. d. . media pembelajaran. selalu fisibel. Bila dilihat dari sumber daya peneliti (waktu pembelajaran efektif. arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut. Dalam hubungan ini. seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. dan jelas manfaatnya. Untuk itu. tidak semua masalah penelitian yang sudah nyata. dukungan birokrasi. dana. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah-masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan. Dengan kata lain. harus dipilih masalah-masalah yang fisibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung di atas. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini. 3. problematik.) maslah tersebut dapat dipecahkan. Anda sebagai peneliti --secara individu atau bermitra dengan guru lain-. akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti penguasaan operasi matematika. Masalah PTK harus fisibel (dapat dipecahkan/ditangani). seperti kemampuan membaca peta buta. (3) kompetensi mana yang tidak tercapai bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. Untuk asas manfaat. atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar.

e) Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prionitas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah. c) Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable).Penelitian Tindakan Kelas 9-31 a) Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya. jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya. dan operasional. temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK melaksanakannya. Di samping itu. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding). b) Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya. Perumusan Masalah Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. d) Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian. selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas. atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah. keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. untuk juga mencoba 4. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. spesifik. khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai .

Di samping itu. . Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): (1) Keterampilan menulis karangan narasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri Bandar masih rendah.9-32 Penelitian Tindakan Kelas proses dan/atau hasilnya itu direkam. (3) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP N 2 Kudus setalah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kooperatif metode jigsaw? C. penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan. (2) Mayoritas (85%) siswa kelas 5 SD N Sekaran membaca dengan kecepatan di bawah 100 kpm. dalam PTK. Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti. Misalnya. jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I. PERENCANAAN TINDAKAN 1. Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK . Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan Dilihat dari sudut lain. perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya.

tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. c) Diskusi dengan rekan sejawat. alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.Penelitian Tindakan Kelas 9-33 Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal. maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian. akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”. . pakar pendidikan. dan e) Perefleksian pengalaman Anda sebagai guru. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. a) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. a) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. sebagai peneliti. hasil-hasil penelitian yang relevan dengan Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut. Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat. “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah. Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. Sebagai contoh lain. peneliti lain dan sebagainya. b) Pengkajian permasalahan. dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. Dengan kala lain. d) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program.

baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru. yang diambil dari skripsi mahasiswa PBSI. serta keterlaksanaannya. “Keterampilan menulis karangan siswa kelas III SDN 03 Ungaran akan meningkat dan akan terjadi perubahan dalam tingkah laku siswa jika dalam pembelajaranya menggunakan metode stimulasi unik bertematik dan strategi pembelajaran mewnulis karangan secara terbimbing”. FBS UNNES angkatan 2003. d) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikanperbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu. . tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. “Dengan pembelajaran teknik permainan simulasi maka keterampilan menulis hasil wawancara akan meningkat dan tingkah laku siswa pada kelas X. c) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual.9-34 Penelitian Tindakan Kelas b) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan.4 SMA 7 Semarang akan berubah ke arah yang positif”. Di samping itu. kelaikan teknis. Berikut ini contoh rumusan hipotesis tindakan. “Pembelajaran apresiasi pusi dengan media syair lagu serta penayangan video klip dapat emningkatkan kemampuan apresiasi puisi serta akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengapresiasi puisi”.

hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya. Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. apabila diperlukan. Pada gilirannya. Dengan kata lain. beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut. namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif. gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain. kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan. Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya. Menurut Soedarsono (1997). Namun. diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. sebagai aktor PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-35 2. tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal OIeh karena itu. yang paling penting. Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka. untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan. Di pihak . a) Implementasi PTK akan berhasil. selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan.

keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. demi keherhasilan PTK. untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. Dengan kata lain. guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK. sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. Dengan kata lain. Selanjutnya. psikologis dan sosial budaya maupun etik. Dengan kata lain. iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. b) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik. Oleh karena itu. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. c) Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan.9-36 Penelitian Tindakan Kelas lain. d) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan. e) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi. maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4). PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. . selain persyaratan kemampuan. Dengan kata lain. PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.

meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif. seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. dilakukan oleh sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK seorang guru atas prakarsanya sendiri. apa saja yang perlu Anda persiapkan? Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. c) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan. D. guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan. kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut. d) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas.Penelitian Tindakan Kelas 9-37 Selain itu. PELAKSANAAN TINDAKAN DAN OBSERVASI INTERPRESTASI Sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. a) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. Persiapan Tindakan Sebelum PTK dilaksanakan. Sebagai aktor PTK. Itu berarti bahwa . sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. 3. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas.

penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi. para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu. Hal itu juga berarti. fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional). patut dicatat bahwa Hopkins (1992) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK. .9-38 Penelitian Tindakan Kelas observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam. apabila memang kebetulan telah terwujud. seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari. gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. betapapun canggihnya. harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan. Dengan kata lain. bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini. Oleh karena itu. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK. penyelenggaraan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM. dampak perbaikan yang diperoleh. agar tidak menimbulkan kerancuan yang tidak perlu. tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran. kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi. Sebaliknya. Akhirya.

pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi. apabila memang masih ada. Pelaksanaan Tindakan Jika semua tindakan persiapan telah selesai. Artinya. PTK bukan supervisi pengajaran. serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan.Penelitian Tindakan Kelas 9-39 Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL. dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara. meskipun memang mungkin saja dalam PTK juga tergelar dimensi supervisi . Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasiinterpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK. pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi. tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas. dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas. (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan. (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK. skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual. 1. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran.

Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi. pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation). Sebagaimana telah diisyaratkan. . namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu.9-40 Penelitian Tindakan Kelas pengajaran. (ii) ujaran siswa (pupil talk). Sebagaimana diketahui. observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. sebaliknya dalam konteks PTK terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer). dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK . kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk). Dengan kata lain. konteks dan filosofi PTK berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. Dengan kata lain. 2. supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision). observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif. OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi. yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK. Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal. Observasi dan Interpretasi Secara umum.

Apabila yang terakhir ini dilakukan. 1992). Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. Dalam hubungan ini. meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK . mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual. Dalam observasi kesejawatan ini. Diskusi Balikan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.Penelitian Tindakan Kelas 9-41 Sebaliknya. dapat dimanfaatkan secara produktif. melakukan pengamatan secara umum. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL. sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki. maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan. memusatkan perhatian kepada . interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran. Akan tetapi. sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi. terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Sebagai contoh. perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins. 3. agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi.

Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan. sementara. b) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman. d) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir E. materi. kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. c) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat. Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal. dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian guru sebagai aktor tindakan perbaikan. yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data. secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung. diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru. apabila: a) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan guru aktor tindakan perbaikan. ANALISIS DAN REFLEKSI Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum. . Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan.9-42 Penelitian Tindakan Kelas suatu fokus. dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan.

serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji. serta dicermati unsur-unsurnya. serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan. Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagianbagian. secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas. refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis. semut harus makan. ayam harus makan. sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat . Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan. dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Dari banyak pengalaman keseharian. dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. melakukan refleksi.Penelitian Tindakan Kelas 9-43 Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan. Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum. Artinya. Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan. Secara teknis. di samping induksi dan deduksi. ular harus makan. sementara. mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi. dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan. yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman.

Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat dari hal abstrak yang berlaku umum. maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan. Dengan kata lain. atau deduksi. batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan. Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang . Untuk berfikir induktif. pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya. Bagaimana penilaian mutu hasil induksi. dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas. contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup. proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK . sedangkan untuk berfikir deduktif.9-44 Penelitian Tindakan Kelas dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi. seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir. Hanya saja berbeda dan penelitian formal. dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi. dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. Untuk membuatnya menjadi deduksi.1997). dan (ii) karena ular adalah binatang. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. Sebaliknya. untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif. antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. semua binatang harus makan.

kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. mengimplentasikan tindakan baru. pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. Analisis Data Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. 1. menyusun perencanaan baru.Penelitian Tindakan Kelas 9-45 telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. sebaliknya. Namun. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi. meyederhanakan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Dengan kata lain. mengabstraksikan. paparan data. memfokuskan. atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. representasi tabular termasuk dalam format . tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya. mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. Dengan kata lain. 1997). baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru. dan penyimpulan. refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. yaitu deduksi data.

apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. . representasi grafis. Apabila memang masih dipandang perlu. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. dan sebagainya. Refleksi Sebagaimana telah dikemukakan di atas. 2. dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis. Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat. tetapi mengandung pengertian luas. Apabila dicermati. Dengan kata lain.merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. IDENTIFIKASI ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN TINDAK LANJUT Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut.9-46 Penelitian Tindakan Kelas matniks. refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi. refleksi .

ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan. yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK . maka terbuka peluang untuk dampak samping dan tindakan yang mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru.Penelitian Tindakan Kelas 9-47 Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya. Oleh karena itu. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK membahas observasi inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. seorang pelaksana PTK pemikiran tentang sebab-sebab tidak boleh hanya terpaku pada kejadian-kejadian pada fase dan sebelumnya. tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif. refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan direncanakan itu. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. yang hendak ditekankan . Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. dan pada gilirannya. memprakirakan peluang keberhasilan. Akhirnya. di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru.

F. dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak. dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada. perencanaan tindakan. memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang . Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1. maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan. dan analisis-refleksi. observasi dan interpretasi. Di pihak lain. Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan). PERENCANAAN TINDAK LANJUT Sebagaimana telah diisyaratkan. maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau. hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. pelaksanaan tindakan. Namun. Namun. Dengan demikian. jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan. yaitu perumusan masalah. Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya. dan seterusnya. maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu.9-48 Penelitian Tindakan Kelas dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya.

b. deskriptif. Catatan anekdot adalah riwayat tertulis.kelas dalam suasana serius. 1998). c. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa-peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. misalnya dalam situasi belajar-mengajar: . Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot. Catatan lapangan. G. Alat Bantu Observasi Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-49 dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa. Deskripsi akurat ditekankan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Catatan anekdot. guru. PROSEDUR OBSERVASI 1. tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif.Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukan dan katakan” . Seperti halnya catatan anekdot. kecerobohan. Teknik-teknik yang dimaksud sebagai berikut. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai. Deskripsi perilaku ekologis. dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto. longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam suatu jangka waktu. yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. . perilaku kurang perhatian. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. a. perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik untuk memulainya. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. pertengkaran picik. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik. Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. tetapi tawa meledak ….

Gambaran tentang persoalan. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan. dsb. Analisis dokumen. kontak individual dengan siswa. dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat. papan pengumuman guru. dugaan. tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan sejumlah topik. f. pengelompokan kelas. reaksi.Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggungnya. dan perilaku . sekolah atau bagian sekolah. perasaan. memo untuk staf. satu untuk satu kartu. Kartu cuplikan butir. Logs. tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu. edaran untuk orang tua atau karyawan. publikasi siswa atau karyawan. d. Catatan harian mungkin memuat observasi. g. e. papan pengumuman siswa. kualitas pekerjaan siswa. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis. seorang siswa …. dan penjelasan. tes formal dan informal. Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian. penafsiran. Catatan harian. kebijaksanaan. kantor atau bagian kantor. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individu sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. dan atau peraturan.9-50 Penelitian Tindakan Kelas . Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. disiplin. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain. efisiensi penilaian. memo guru atau pejabat. hipotesis. pekerjaan siswa yang dipamerkan. garis besar. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topiktopik seperti pendahuluan pelajaran. Teknik ini mirip dengan catatan harian. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tenbtang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif.

. perasaan. tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambahan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti. atau posisi mereka. Angket terdiri atas pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. korespodensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subjek penelitian. i. Angket. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah. dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat pada atau timbulnya kebosanan dengan aspek tertentu. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahaptahap eksplorasi. Pertanyaan ada dua macam. dan atau tambahan-tambahan rapat staf yang relevan. Menguji coba pertanyaan dengan teman atau cuplikan kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. (b) Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi mana yang paling dekat dengan pendapat. h. kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya. singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat. (a) Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. Portofolio. Pertanyaannya harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). Teknik ini membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu.Penelitian Tindakan Kelas 9-51 seorang siswa. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh. penilaian.

dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. (b) Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subjek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. dalam situasi sekolah. Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subjek penelitian. atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. Teknik ini memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dari pada angket. kategori jadwal dan checklist mungkin menunjuk pada: . Metode ini digunakan untuk apakah individuindividu disukai atau saling menyukai. (c) Terstruktur: Pewawancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaannya. Jadwal dan checklist interaksi. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu. yang pencatatannya dilakukan dengan jarak waktu. l.9-52 Penelitian Tindakan Kelas j. Wawancara dapat: (a) Tak terencana: misalnya. Wawancara. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subjek tertentu ingin bekerja sama. k. atau berdasarkan peristiwa. yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sisiogram yang mencatat hubungan seluruh kelompok. Metode Sosiometrik. tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas. Misalnya. Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat.

Karena daya tarik bagi subjek penelitian. diskusi. Rekaman video. menggambar. Bila ada asisten yang membantu. Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran. berkelakar. foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data. Rekaman pita.Penelitian Tindakan Kelas 9-53 (a) Perilaku verba guru: misalnya. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. duduk dengan siswa yang lamban. menulis. prosesnya mungkin menjadi panjang dari segi waktu. yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. lebih banyak perhatian dapat diberikan reaksi dan perilaku subjek secara perorangan. (d) Perilaku nonverbal siswa: menoleh. Jika transkripsi esktensif diperlukan. bertanya. m. mengerutkan kening. . Foto dan slide. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. menulis. n. seminar. Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/ peristiwa untuk dianalisis kemudian. berdiri dekat siswa yang pandai. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mna perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. (c) Perilaku nonverbal guru: misalnya. memberi isyarat. menulis cepat. o. Subjek-subjek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian. mondar-mandir. dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) analisis yang cermat. (b) Perilaku verbal siswa: misalnya. rapat. menjawab. menangis. tertawa. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. menjelaskan. mendisiplinkan (individu atau kelompok). atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Foto dan slide berguna untuk merekam peristiwa penting. menyela. bertanya. tersenyum. misalnya aspek kegiatan kelas. lokakarya.

Sebagaimana telah dikemukakan. penguasaan. misalnya: sekolah. Sasaran Observasi Dalam PTK. Pertanyaan: Dapatkah dianggap bahwa penelitian tindakan (PT) itu adalah penelitian skala kecil? Jawab: Bukan masalah besar atau kecil yang mencerminkan suatu penelitian itu dapat dianggap PT. 3. beberapa pertanyaan peserta pelatihan PTK menggambarkan tentang isu-isu sentral pelaksanaan PTK. sama seperti pada tindakan pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin. observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya.selama proses pernbelajaran berlangsung. Jadi. 2.9-54 Penelitian Tindakan Kelas p. 1. Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. yang memberi ciri PT itu bukan masalah besar atau . secara bersamaan juga dilakukan pengamatan tentang segala sesuatu yang terjadi --atau tidak terjadi-. organisasi besar. masyarakat dan seterusnya. data yang diperoleh dan observasi itu langsung diinterpr-etasikan maknanya dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah direncanakan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi. Selanjutnya. untuk mendiagnosis kelemahan dsb. Pertanyaan-Pertanyaan tentang PTK Sekalipun Penelitian Tindakan kelas telah diujicobakan dan disosialisasikan pada pelatihan-pelatihan guru. PT pun dapat dilakukan dalam skala yang luas. sebagaimana halnya dalam tindakan pembelajaran umumnya. Pada gilirannya. pada saat dilaksanakannya tindakan. data dan interpretasi hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan refleksi. Alat penilaian dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. Penampilan subjek penelitian pada kegiatan penilaian.

masalah samplingpopulation. Pertanyaan: Ada yang menganggap bahwa PT itu anti statistik. PT bercirikan ”penelitian kritis” (criticalism approaches). Dalam konsep penelitian empiris. dst. yang dapat diberi perlakuan (dibandingkan. Dalam konsep PTK. PT tidak ambisius untuk membuat generalisasi. sebagaimana merupakan fokus penelitian empiris bukan merupakan masalah pokok dalam konsep PT. . yang lain diperlakukan sebagai objek pasif --tidak dapat keuntungan apa-apa (researched). Jadi. bagaimana penjelasannya? Jawab: PT pada dasarnya tidak anti statistik. manusia dianggap sebagai subjek aktif (subjek yang dapat memainkan peran). manusia dianggap sebagai objek pasif. untung/ dapat sesuatu yaitu pemahaman. Pertanyaan: Dapatkah disimpulkan bahwa PT itu sama dengan penelitian eksperimen? Jawab: Tidak bisa. diaduk-aduk supaya homogen. namun karena prinsip PT adalah critical approaches. satu kelompok sebagai kelompok perlakuan. manusia adalah agen of change yang dapat memperbaharui dunia. 3. yang di antara researcher dan researched terdapat jurang pemisah sehingga yang satu. Statistik masih dapat dimanfaatkan dalam penelitian PT. Cara pandang empiris seperti ini ditolak oleh pendekatan critical yang berkeyakinan manusia bukan objek pasif yang dapat dimainkan: satu kelompok sebagai kontrol. Untuk itulah. prinsip-prinsip statistik inferensi (alat generalisasi berdasarkan sampel) seringkali ditinggalkan (tidak dipakai).Penelitian Tindakan Kelas 9-55 kecilnya kelompok. researcher. PT bukan penelitian empiris. Dalam konsep PT.). Buat apa menggeneralisasikan? PT lebih berorientasi pada produk/ perubahan (improvement oriented) daripada sekadar generalisasi. 2. misalnya statistik deskriptif. mengingat di dunia ini tidak ada individu/ sekolah/ organisasi/ komunitas yang sama persis. Penelitian eksperimen adalah satu contoh penelitian empiris.

suatu penelitian langsung dapat disimpulkan sebagai penelitian empiris atau penelitian tindakan. bagaimana penjelasannya? Jawab: Ya. sudah dapat dibaca apakah masalah itu masalah milik peneliti sendiri (on tehe job) atau masalah orang luar (out of job-problem). Masalah PBM lain yang tidak menjadi tanggung jawab guru tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang on the job. Hanya dari masalah yang diteliti saja. Pertanyaan: Bagaimana cara menemukan masalah PT? Jawab: Langkah-langkah berikut dapat dipakai untuk menemukan masalah yang bai. Pertanyaan: Hanya dari identifikasi masalah saja. 5. hanya dari tahapan identifikasi masalah saja. 6. penelitian itu tidak dapat digolongkan sebagai PT. mahasiswa/dosen tersebut. masalah-masalah proses pembelajaran di kelas tempat guru mengajar adalah masalah riil/ nyata yang bersifat on the job problem oriented. masalah untuk PT harus memenuhi kriteria on the job problem oriented. Pertanyaan: Masalah apa yang dapat didekati dengan PT? Jawab: Pada dasarnya setiap masalah dapat dipecahkan oleh pendekatan PT. Kecuali. artinya: masalah itu harus benar-benar riil/ nyata muncul dari dunia tanggung jawabnya. untuk PT oleh guru. Dengan demikian. jika ada seorang dosen/ mahasiswa melakukan penelitian di sekolah tempat guru tersebut mengajar. sekalipun demikian. guru yang mengungkapkan masalah yang ada di kelasnya dengan penggalian yang lebih tajam oleh mahasiswa/dosen.9-56 Penelitian Tindakan Kelas 4. namun berasal dari orang luar (outsider. apabila untuk penggalian masalah yang diteliti terjadi kolaborasi dengan pihak guru. sebab masalah yang diteliti tidak datang dari guru itu sendiri. Sebagi contoh. yaitu: (a) masalah harus nyata (realistis): ada/ dirasakan oleh peneliti sebagai masalah. suatu penelitian sudah dapat digolongkan apakah itu penelitian empiris atau critical (PT). (b) masalah harus problematik (perlu dipecahkan). artinya tidak semua masalah riil itu problematik (harus dipecahkan) sebab: (1) mungkin masalah itu sudah .

meaningfull itu dapat dipecahkan. problematik. dan (3) masalah itu jelas manfaatnya. (b) hasil/data cenderung dikuantitatifkan. belum critical. dan (e) umumnya penelitian empirisme adalah jenis penelitian yang paling mendominasi di Indonesia. guru. yaitu: (a) masih digunakan hanya satu alat koleksi data (angket. sehingga laporan masih terkesan empiris. petunjuk-petunjuk ke araha ini belum disajikan. tidak semua masalah riil. Pertanyaan: Kendala apakah yang sering ditemui pada pelaksanaan PTK? Jawab: Pada umumnya kendala-kendala pelaksanaan PTK adalah: (a) masih lemahnya pemahaman akan prinsip-prinsip PT. (2) tidak cukup waktu. (b) komunikasi/ kolaborasi antara peserta penelitian yang belum optimal: diskusi kadangkala masih didominasi oleh salah satu peserta. lingkungan sekolah. 8. data-data kualitatif yang sebenarnya berbobot belum tersaji.Penelitian Tindakan Kelas 9-57 ada yang membahas. (c) ownership of a problems tidak kuat: rasa handarbeni terhadap suatu problem belum terlihat jelas sehingga keterlibatan dalam setiap langkah penelitian masih sebatas physical involvement belum mental involvement sehingga reflective thinking dari peserta belum menonjol. Pertanyaan: Bagaimana kesan laporan pilot project PTK yang selama ini telah dilaksanakan oleh para guru? Jawab: Warna penelitian empiris masih kental mewarnai laporan PTK. (c) laporan belum menunjukkan perubahan (improvement-oriented) baik pada siswa. tes saja). (d) reflective thinking belum merupakan budaya pikir dan kerja peserta penelitian sehingga catatan-catatan harian (learning logs) belum dimaksimalkan dalam pembuatan laporan. (c) masalah itu harus meaningfull (bila dipecahkan terasa manfaatnya. dan (3) kurang dukungan literatur. karena: (1) mungkin tidak ada alat/ dana. dan (d) masalah itu harus fisibel (artinya dapat dipecahkan). belum menyajikan berbagai cara koleksi data. (2) masalah itu di luar kewenangan/ keahlian/ tanggung jawabnya. . 7. wawancara.

Petunjuk-petunjuk ke arah kemajuan tersebut harus . kemajuan sistem/organisasi kelas/sekolah. 11. justru sebaliknya menggambarkan pemahaman terhadap suatu perlakuan saja. apakah harus menguasai statistik terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus! Seperti telah dijelaskan PT bukan penelitian empiris sehingga PT tidak ambigius membuat generalisasi-generalisasi sehingga untuk inferential statistics tidak harus dikuasai. sehingga manfaat PT langsung dapat dirasakan yaitu adanya perubahan (kemajuan): baik kemajuan diri.9-58 Penelitian Tindakan Kelas sehingga para guru umumnya masih ’berbaju’ empiris saat melakukan PTK. hal inilah yang menyebabkan laporan-laporan PTK belum bisa menggambarkan perubahan/pembaharuan yang terjadi. sehingga peneliti mampu memahami dengan sempurna prinsip-prinsip PT yang berbeda dengan kedua pendekatan tersebut. 12. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses. Pertanyaan: Syarat lain apakah yang diperlukan untuk melaksanakan PT/PTK? Jawab: Yang jelas sebelum melakukan PT/PTK harus memahami prinsip/filosofi PT itu sendiri. kemajuan siswa. 9. perlukah menguasai kedua penelitian jenis penelitian empiricalisme dan intepretivisme terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus menguasai semua. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses (PTK maksudnya). sekalipun demikian descriptive statistics masih dapat dimanfaatkan. susah kiranya menjadi peneliti PT yang sukses. dan kemudian menyenangi/ mempersiapkan diri untuk menjadi agent of change. namun prinsip-prinsip (filosofis) kedua jenis penelitian perlu dipahami. Pertanyaan: Syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang peneliti PT/PTK yang sukses (action researchers)? Jawab: Syarat utama yang harus dimiliki adalah jiwa agen pembaharuan (agen of change): tanpa memiliki jiwa agen pembaharuan. 10.

kendala/ isu lain akan terus dimonitor untuk mendapatkan keyakinan bahwa PTK dapat dipandang sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. dst. Meskipun butuh waktu dan proses. yes man. pemahaman secara tuntas tentang filosofi PT akan mengurangi kebingungan pelaksanaan risen PT di tengah-tengah beberapa kemungkinan pendekatan penelitian yang ada. .) Demikianlah. beberapa isu yang dapat dihimpun. itulah sebabnya menjadi peneliti PT harus seorang yang pemikir reflektif/ kreatif bukan reproduktif (meniru.Penelitian Tindakan Kelas 9-59 dipotret sejak awal/dini.

Bagian Isi Usulan PTK Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian. lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti. dan lembaga tempat peneliti bekerja. tujuan penelitian. jadwal penelitian. nama lengkap dengan gelar. golongan . kontribusi/manfaat. Bagian pengesahan berisi: a) Judul PTK. 2. c) Lokasi penelitian. tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan). yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK. termasuk. nama peneliti. FORMAT USULAN PTK Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting. e) Sumber dana penelitian. dan kategori penelitian. Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan. dan NIP. jabatan fungsional. metode penelitian atau rencana penelitian. bidang ilmu. pendahuluan/latar belakang masalah. pangkat. Bagian Awal Usulan PTK Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar. Berikut ini adalah penjlasan bagian-bagian itu. d) Biaya penelitian. 1. perumusan masalah. 2004). sekolah atau lembaganya. cara pemecahan masalah. daftar pustaka. rencana anggaran penelitian. . b) Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya.BAB III PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti. halaman pengesahan.

Formulasi judul hendaknya singkat. Judul berikut ini merupakan beberapa contoh judul PTK. Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. (a) Dilema Pembelajaran Menyimak Bahasa Inggris pada Siswa Kelas III SMA (b) Pemakaian Bahasa Indonesia Lisan Siswa di Lingkungan SMA Kodia Surakarta (c) Hubungan Kemampuan Pengetahuan tentang Majas dengan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 2 Kudus Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK.Penelitian Tindakan Kelas 9-61 a) Judul Penelitian Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. spesifik. judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK. jelas. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. dan sederhana. . namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal. Dengan kata lain.

9-62 Penelitian Tindakan Kelas

(a) Peningkatan Keterampilan Menulis Hasil Wawancara Melalui Media Majalah Dinding dengan Metode Group Investigation pada Siswa Kelas X SMA Purusatama Semarang (b) Peningkatan Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Penciptaan Suasana Rileks pada Kelas II F Semestrer 1 MAN Rembang Tahun pelajaran 2003/2004 (c) Peningkatan Keterampilan Mengungkapkan Gagasan Secara Lisan dalam Bahasa Indonesia Melalui Metode Probing Question di Kelas 1.6 SMU Negeri 3 Sukoharjo (d) Perangkat Audio Visual sebagai sarana Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Bidang Studi Bahasa Inggris di Kelas 1.2 SMU Gemuh (e) Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA N 7 Semarang (f) Permainan Mencari Harta Karun sebagai Teknik Pembelajaran Membaca Denah, Peta, dan Petunjuk pada Siswa Kelas II D SMP N 3 Kalibagor (g) Peningkatan Menyimak Wawancara Melalui Media Audio Visual dengan Metode Student Teams-Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Kroya Kabupaten Cilacap (h) Strategi Kooperatif sebagai Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berwawancara pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Pancur Kabupaten Rembang (i) Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa dalam Mendeskripsikan Benda dengan Teknik Permainan Terka Gambar pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Trobayan Tahun Pelajaran 2005/2006 (j) Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif Teks Berita pada Siswa Kelas VIII D SMP N 3 Jekulo Kudus (k) Pengenalan Karakter Tokoh dalam VCD Dongeng sebagai Media

Penelitian Tindakan Kelas 9-63

Peningkatan Kemampuan Mendongeng pada Siswa Kelas VII SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan (l) Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Catatan Harian dengan Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X SMA N 1 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (m)Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Anak-anak dengan Menggunakan Metode Simulasi ”Perkampungan Sastra” pada Siswa Kelas V SD Bendanpete 1 Nulumsari Jepara

b) Pendahuluan/Latar Belakang Dalam pendahuluan/latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dari berbagai bahan pustaka yang relevan. Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapat memperkukuh alasan mengangkat permasalahan penelitian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian dalam bagian ini. Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan

lainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi)

9-64 Penelitian Tindakan Kelas

masalah

penelitiannya,

maka

selanjutnya

perlu

diidentifikasi

dan

dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antaranggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. c) Perumusaan Masalah Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benarbenar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

d) Cara Pemecahan Masalah Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil analisis masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang

Penelitian Tindakan Kelas 9-65

dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program

pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemänfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.

e) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

f) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan) Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir

9-66 Penelitian Tindakan Kelas

atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian.Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang yang

menggambarkan

tingkat

keberhasilan

tindakan

diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.

g) Tujuan Penelitian Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini. Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagianbagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang JPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya

ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.

h) Kontribusi/Kemanfaatan Hasil Penelitian Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungani, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas

pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para

Penelitian Tindakan Kelas 9-67

dosen LPTK sebagai pendidik guru., maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi

pengembangan ilmu, teknologi, dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

i) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan secara jelas, demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).

(1) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.

(2) Variabel yang diteliti Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel

tersebut dapat berupa (1) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses

9-68 Penelitian Tindakan Kelas

penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi, siswa, hasil belajar siswa, sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.

(3)

Rencana tindakan Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan

mutu pembelajanan seperti: (a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka

perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolah juga

dikemukakan pada bagian ini. (b) Implementasi tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenanio kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (c) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. (d) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak

Penelitian Tindakan Kelas 9-69

tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

(4) Data dan cara pengumpulan data Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai

kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik),

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang

canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

(5) Indikator kinerja Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam

9-70 Penelitian Tindakan Kelas

bentuk pengurangan (jenis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.

j) Jadwal Penelitian Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang

menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil

penelitian disusun selama 10 bulan.

k) Rencana Anggaran Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut. 1) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan); 2) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari total biaya); 3) Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan; 4) Lain-lain pengeluaran (laporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran. 1) Komponen Pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.

Penelitian Tindakan Kelas 9-71

(a) Persiapan Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. (b) Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. (c) Penyusunan laporan hasil PTK Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sehagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris).

2) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelüaran yang diharapkan.

3) Patokan Pembiayaan Satuan Kegiatan Penelitian (a) Honorarium • Ketua peneliti • Anggota tim penetiti • Tenaga administrasi

1 orang anggota peneliti (dosen . jika Anda ingin mengajukan usulan PTK ke Dikti. yang terdiri atas 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK).9-72 Penelitian Tindakan Kelas Besarnya honoranium bergantung pada sumber pendanaan. Pada sisi lain. buku panduan penyusunan usulan PTK dari Ditjen Dikti (2004) menyebutkan bahwa jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang. (b) Bahan dan peralatan penelitian • Bahan habis pakai • Alat habis • Sewa alat (c) Perjalanan • Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan • Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat • Lumpsum tenmasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan • Monitoning • Konsultasi (d) Laporan penelitian • Penggandaan • Penyusunan artiket • Pengiriman (e) Seminar Seminar Iokal • Konsumsi sesuai dengan harga setempat • Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat Seminar nasional • • Biaya transportasi peserta Biaya akomodasi l) Personalia Penelitian Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian/tugas peran setiap anggota peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.

Hal-hal lain yang dapat mempenjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan juga dapat disertakan dalam usulan penelitian ini. yaitu 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 1 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. 6. NO A KRITERIA Permasalahan INDIKATOR 1. Peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. pelatihan di bidang penelitian yang telah diikuti. Relevansi Permasalahan a. menyangkut identitas. Dipancing dalam diskusi dengan guru e. Pustaka yang ditulis hendaknya benar-benar relevan dan sungguh-sungguh dipergunakan dalam penelitian n) Lampiran dan Lain-lain Bagian ini dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim peneliti. dan pengalaman dalam penelitian termasuk dalam PTK. golongan. riwayat pendidikan. dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Nama peneliti. Disodorkan dari luar b. Olahan penelitian setelah mengumpulkan data d. Rambu-Rambu Penilaian Proposal PTK Berikut ini disampaikan tabel penilaian proposal penelitian tindakan kelas.Penelitian Tindakan Kelas 9-73 LPTK). dan lembaga tempat tugas dirinci sama seperti pada Lembar Pengesahan. baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. Diberikan pilihan oleh dosen dan guru disuruh HASIL PENILAIAN Nilai Bobot NxB 2 2 3 4 2 1 2 . m) Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 2 orang peneliti. Pengalaman dosen sebagai peneliti c. Berawal dari gagasan guru 2. pangkat. Asal Permasalahan b. jabatan.

Kontekstualitas tindakan a. Berawal dari gagasan guru 2. Kurang potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran d. Sangat potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran b. Aspek kognitif. Bertolak dari permasalahan yang diajukan oleh guru 3. Jadwal kegiatan tepat/jelas. asesmen komprehensif B Cara Pemecahan 1. asesmen komprehensif c. Cukup potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran c. Kurang sesuai dengan langkah-langkah PTK d. Cakupan komprehensif. Aspek kognitif. Dipancing melalui diskusi/negoisasi d. tes kognitif konvensional d. Tidak potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran a.9-74 Penelitian Tindakan Kelas memilih c. Dari kepala sekolah/penilik/pejabat lain sebagai pembina b. Cakupan permasalahan a. Dari dosen sebagai peneliti c. Cakupan komprehensif. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup lebih dari satu siklus kegiatan b. tetapi tenaga dan sarana pendukung tidak jelas 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 4 4 3 2 1 1 D Prosedur penelitian 4 3 2 1 4 3 3 E Program kegiatan dan dukungan teknis 1 . Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup satu siklus kegiatan c. Kontekstualitas tindakan a. Jadwal kegiatan jelas/tepat. tes konvensional b. Siklus berikut ditetapkan berdasarkan hasil refleksi C Kemanfaatan hasil a. Pilihan solusi diberikan oleh dosen LPTK dan ditetapkan oleh guru c. Hasil diskusi dengan guru d. Solusi terhadap permasalahan berdasarkan kesepakatan guru dengan dosen LPTK d. Bertolak dari masalah yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Rancangan tindakan a. Dimunculkan oleh guru dalam diskusi 3. Bertolak dari permasalahan yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. demikian juga dengan tenaga dan sarana pendukung b. Tidak sesuai dengan langkah-langkah PTK a.

proses. Komponen-komponen pembiayaan dirinci sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan b. Kesesuaian jumlah biaya a. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara wajar b. Jadwal kegiatan serta sarana dan prasarana tidak sesuai F Kerjasama LPTK Sekolah a. masukan. Jumlah biaya melebihi plafond yang ditetapkan 2. dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25). Jumlah dosen dalam tim jauh lebih banyak d. Kewajaran pembiayaan a. c. Komponen-komponen pembiayaan tidak dirinci sebagaimana mestinya 3. kriteria seleksi yang dilakukan oleh Ditjen Dikti (2004) terhadap usulan PTK mencakup hal-hal sebagai berikut. Komposisi dosen dan guru berimbang tetapi guru tidak berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti c. Cara Pemecahan Masalah (terutamanya: rancangan tindakan. . Jadwal kegiatan kurang tepat/jelas d. Perumusan masalah (terutamanya: asal. dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25). Jumlah biaya sesuai dengan plafond yang ditetapkan b. atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10). Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutamanya: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi. relevansi . Komposisi dosen dan guru berimbang dan guru berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti b. Semua anggota tim peneliti adalah dosen 1.Penelitian Tindakan Kelas 9-75 c. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara tidak wajar/berlebihan 2 1 4 1 3 2 1 3 2 1 G Pembiayaan 3 2 1 1 2 1 Di samping rambu-rambu penilaian di atas. b. a. Rincian komponen-komponen pembiayaan a.

rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian. Prosedur Penelitian (terutamanya: prosedur diagnosis masalah. prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30). perencanaan tindakan. e. prosedur observasi dan evaluasi.9-76 Penelitian Tindakan Kelas d. sarana pendukung pembelajaran yang digunakan. Kegiatan Pendukung (terutamanya: jadwal penelitian. . dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10).

Bagaimana menyusun laponan PTK? Berikut ini akan diuraikan secara garis besar tentang teknik penyusunan laponan PTK. Hal itu sangat bergantung pada tuntutan lembaga dan/atau sponsor yang mendukung dana penelitian tersebut. maupun bahasanya. secara mendasar laporan itu sama dalam hal tuntutan isi. struktur. 1985). serta betapa hebatnya pun kita menghasilkan sebuah penelitian. ISI LAPORAN PTK Pada dasarnya apa yang telah ditulis dalam usulan penelitian akan dimuat lagi dalam laporan penelitian. PENGANTAR Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. penelitian hanya akan mempunyai arti apabila hasilnya dilaporkan secara memadai melalui laponan penelitian (Shah. Bagaimanapun pentingnya teori dan hipotesis. laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. OIeh sebab itu. bagaimana pun telitinya kita membuat rancangan penelitian. Laporan penelitian dapat beragam bentuk atau formatnya. Ia juga merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya. Jika pihak sponsor tidak menetapkan format yang harus diikuti atau penelitian dilaksanakan secara swadana. B. Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. Ia merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. . peneliti dapat memilih atau mengembangkan sendiri format laporan yang akan digunakan. Meski beragam bentuk atau formatnya.BAB V LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A.

adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas. seperti dijelaskan di atas. sesuai dengan namanya. adalah laporan penelitian yang lengkap. rumusan masalah. Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif. (5) hasil-hasil penelitian. ada dua jenis laporan penelitian jika dilihat dari formatnya. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format eksekutif adalah: (1) judul penelitian. Panjang laporan sekitar 10 s. Jenis laporan ini seolah-olah akan dibaca oleh para eksekutif yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca laporan lengkap dari suatu hasil penelitian.d. (4) metode penelitian yang memuat rancangan penelitiqan. dan (7) daftar pustaka. sasaran penelitian. 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda (2 spasi). (2) nama peneliti (ketua dan anggota). Dari sekian macam format laporan PTK akan disajikan satu contoh format laporan PTK berikut ini. memiliki format yang berbeda. dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. Misalnya. sedangkan jenis yang kedua. Karena itu. Para eksekutif dalam membaca suatu laporan penelitian hanya memerlukan butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. dan tujuan penelitian.9-78 Penelitian Tindakan Kelas Dalam perkembangannya yang terakhir. dan prosedur/langkah kerja. yang sudah sangat umum. . (6) simpulan. Laporan penelitian yang lengkap. laporan PTK dari proyek OPF Diknas dan PTK PGSM. Jenis yang pertama laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif (executive summary). laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkas dan dituangkan dalam paragraf-paragraf yang ringkas dan padat. ada bermacam-macam format sesuai dengan pihak sponsor dana. padat. (3) pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian.

Rumusan Masalah 3..... .......... Bab III METODE PENELITIAN 1......... Prosedur Observasi dan Refleksi 5................. .... Latar Belakang Masalah 2.. 2. Paparan Data 2. Manfaat Penelitian Bab II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1......... Setting Penelitian dan Latar belakang Subjek Penelitian 2............ Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4.................... Pembahasan Bab V PENUTUP 1... 3............... Uji Hipotesis 3.... Rancangan Penelitian 3.. Saran/Rekomendasi BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran ......... Prosedur Analisis Data Bab IV HASIL PENELITIAN 1. Tujuan Penelitian 4.... .Penelitian Tindakan Kelas 9-79 BAGIAN AWAL Halaman Judul Abstrak Prakata Daftar Isi BAGIAN UTAMA Bab I PENDAHULUAN 1.... Simpulan 2.....

9-80 Penelitian Tindakan Kelas Keterangan singkat tentang isi dari masing-masing format dari ketiga bagian laporan lengkap penelitian tersebut disajikan berikut ini. daftar singkatan. Terakhir. Abstrak Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. Agak jauh di bawah judul dicantumkan nama tim peneliti (bisa ketua saja atau lengkap ketua dan anggota). singkat. dan (4) daftar isi. Pada halaman judul ini judul penelitian ditulis simetris di bagian atas bidang pengetikan dengan huruf kapital. di bawah nama lembaga atau sponsor dicantumkan tahun selesainya penelitian atau tahun ditulisnya laporan penelitian. 2. Panjang abstrak sebaiknya satu halaman. (3) prakata. jelas. (2) abstrak. terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan. Dengan hanya membaca abstrak seseorang dapat memahami pokok- pokok yang ditulis dalam laporan. melainkan inti sari yang sangat pnting dari hasil penelitian. Abstrak bukanlah ringkasan hasil penelitian. 1. sederhana. pada bagian bawah bidang pengetikan ditulis lembaga yang menyelenggarakan atau menyeponsori penelitian. Halaman Judul Judul penelitian berupa kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti. BAGIAN AWAL Paling sedikit ada empat unsur pokok yang termasuk dalam Bagian Awal dari laporan PTK. daftar gambar. bagian awal ini dapat ditambahkan dengan daftar tabel. daftar lampiran. yaitu: (1) halaman judul. Hal-hal penting tersebut adalah latar . tindakan sebagai upaya pemecahan. di mana dan kapan penelitian akan dilakukan. Akan tetapi jika tidak cukup bisa diperpanjang maksimum sampai dua halaman kertas ukuran kuarto. Sekiranga diperlukan. dan mudah dipahami. Kemudian.

yaitu: (1) pendahuluan. tujuan penelitian. Lazimnya. dan (5) penutup. 4.Penelitian Tindakan Kelas 9-81 belakang masalah. Sub-sub judul yang lebih dari satu peringkat di bawah judul bab tidak perlu dicantumkan karena akan menyebabkan daftar isi menjadi terlalu panjang. Pendahuluan a. Daftar Isi Hal-hal yang dicantumkan dalam daftar isi adalah judul bab dan sub-judul (satu peringkat di bahawa judul bab). (3) metode penelitian. (4) hasil penelitian. (3) hasil penelitian terdahulu (jika ada). (2) argumentasi teoretik tentang tindakan yang dipilik. 3. dan implikasinya. bagian ini bisanya diisi dengan harapan akan kemanfaatan hasil penelitian. bagian utama laporan penelitian tindakan terbagi menjadi lima bagian (yang disebut bab). 1. pelaksanaan penelitian. Selain itu. Prakata Prakata berisi ucapan syukur dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian. dan kesediaan menerima masukan yang datang dari berbagai pihak. Latar Belakang masalah Berisi uraian (1) fakta-fakta yang mendukung yang berasal dari pengamatan peneliti. . (2) kerangka teoretik dan hipotesis tindakan. dan (4) alasan pentingnya penelitian tindakan ini dilakukan. BAGIAN UTAMA Isi bagian utama dari laporan penelitian merupakan inti dari keseluruhan laporan. hasil penelitian.

tindakan inilah yang kemudian dituangkan dalam hipotesis tindakan dalam rangkan pemecahan masalah. dengan tindakan akan terjadi perubahan. sedangkan pada laporan dikemukakan metode yang senyatanya telah dilaksanakan. Artinya yang dilaporkan adalah metode yang telah diterapkan dalam melaksanakan penelitian. Tujuan Penelitian Secara operasional. Rumusan Masalah Berisi uraian yang menjelaskan: (1) kesenjangan antara situasi yang diinginkan dan yang ada dan dapat dipecahkan. (2) rancangan tindakan pembelajaran yang mempunyai landasan konseptual. (2) guru/dosen pelaksana PTK. perencanaan dan pelaksanaan tindakan. perbaikan atau peningkatan. 3. tujuan penelitian berisi pernyataan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh peneliti dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa.9-82 Penelitian Tindakan Kelas b. c. (3) dinyatakan dalam kalimat pertanyaan/pernyataan. prosedur analisis data. prosedur observasi dan refleksi. Metode Penelitian Bab ini berisi hasil pengembangan dari yang telah ditulis dalam usulan penelitian dengan catatan bahwa metode dalam usulan adalah yang akan dilaksanakan. rancangan penelitian. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretik berisi kajian teoretik yang relevan yang mendasari penelitian tindakan. Kata “akan” yang ada dalam usulan tidak boleh ada lagi dalam laporan. Unsur-unsur yang ada pada bagian metode ini adalah: setting penelitian dan latar belakang subjek penelitian. d. bukan yang akan dilaksanakan. . 2. (5) sekolah/LPTK . (4) kalangan guru/dosen pada umumnya. Manfaat Penelitian Berisi manfaat atau sumbangan hasil penelitian khususnya bagi (1) siswa.

dalam daftar pustaka dapat dimuat semua judul tulisan yang dibaca oleh peneliti dan mendasari penulisan naskah. Jika daftar pustaka diartikan referensi (daftar rujukan). pengujian hipotesis. Penutup Bab ini berisi simpulan dan saran/rekomendasi. Pembahasan ini berisi perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian lain atau pengetahuan teore yang relevan. dan pembahasan hasil pengujian hipotesis. baik yang dikutip secara eksplisit pada salah satu bagian di dalam naskah maupun yang tidak. Judul tulisan yang tidak dikutip secara eksplisit dimasukkan dalam daftar karena dibaca dan secara umum ide-idenya dipakai sebagai dasar penulisan. Saran yang didasarkan atas pertimbangan lain di luar simpulan tidak boleh diajukan dalam laporan penelitian. 5. Hasil Penelitian Pada bab ini dilaporkan tentang deskripsi data (perlakuan atau intervensi dan dampak intervensi). Simpulan didasarkan pada hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian.Penelitian Tindakan Kelas 9-83 4. Saran dibatasi hanya yang terkait langsung dengan simpulan. tetapi jika daftar pustaka disamakan artinya dengan bibliografi. Daftar Pustaka Istilah “daftar pustaka” biasanya mempunyai dua arti: (a) referensi dan (b) bibliografi. namun tidak dapat dirujuk secara khusus. . 1. setiap judul tulisan yang dimuat dalam daftar pustaka harus telah dipergunakan sebagai rujukan secara eksplisit dalam naskah laporan. Riwayat hidup (curriculum vitae) peneliti biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. BAGIAN AKHIR Bagian akhir dari laporan penelitian tindakan memuat antara lain daftar pustaka dan lampiran.

isi. Ia harus dikemas secara baik. surat-surat penting dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian. perlu dilampirkan pada laporan. PENUTUP Laporan penelitian merupakan pertanggunjawaban peneliti. menyusun dengan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang laporan penelitian dan harus dikerjakan secara profesional. Misalnya: instrumen penelitian. struktur. Ia harus menata. Lampiran Semua dokumen yang tidak berupa naskah (teks) tetapi dianggap penting untuk mendukung apa yang ditulis pada naskah laporan dan dapat dilacak oleh pembaca dengan mempelajari dokumen tersebut. Oleh sebab itu. Peneliti harus benarbenar mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya benar-benar maksimal. Laporan penelitian tidak dapat dianggap sebagai karya yang dapat dikerjakan sambil lalu. maupun bahasanya. . pedoman observasi. print out hasil analisis data dengan komputer. seperti kuesioner (angket). data asli (mentah). C. daftar cek. peneliti haruslah menyiapkan laporan penelitian dengan baik.9-84 Penelitian Tindakan Kelas 2. baik dari sudut format.

kolaboratif. PTK mengembangkan praksis pembelajaran sedangkan penelitian formal verifikasi dan menemukan pengetahuan yang akan digeneralisasikan. reflektif PTK mempunyai manfaat untuk inovasi kurikulum di tingkat sekolah.BAB V PENUTUP Penelitian pendidikan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi guru di dalam kelas. Oleh sebab itu. dan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan oleh orang di luar dunia pendidikan yang tidak menghayati masalah pendidikan dan penyebaran basil penelitian pendidikan memakan waktu yang lama untuk sampai pada guru. dan pengembangan peningkatan profesionalitas guru. PTK berbeda dengan penelitian formal dalam berbagai cara sebagai berikut. PTK dikerjakan oleh orang dalam (baca guru) sedangkan penelitian formal dikerjakan oleh orang luar yang tidak menghayati masalah di kelas secara mendalam. Sampel PTK khusus sedangkan penelitian formal represertatif . PTK bercirikan perbaikan praksis pembelajaran dari dalam. instrumentasi dan analisisnya tidak harus ketat seperti pada penelitian formal. PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran dengan memanfaatkan pengahayatan guru akan masalah pendidikan dengan cara kotaboratif dan reflektif Penelitian kelas dibatasi sebagai penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional. PTK merupakan alternatif yang sangat tepat untuk menggantikan posisi penelitian formal atau penelitian kelas yang selama ini banyak dikerjakan untuk dapat meningkatkan praksis pembelajaran dari dalam dengan cara kolaboratif dan reflektif. PTK itu metodologinya longgar.

pelaksanaan. Jika hasilnya belum baik. yakni pengamatan. dosen. observasi. Hasilnya kemudian direfleksi oleh guru dibantu oleh teman kolaborasinya. basil penelitian. . Pada saat pelaksanaan itu guru mengadakan observasi yang berupa nontes. begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki praksis pembelajaran. dan refleksi. maka guru barus siap mengadakan revisi terhadap tindakan yang dilakukan dan menetapkan tindakan baru yang kemudian akan dilaksanakan dan diobservasi dan direfleksi. dan terjadilah daur PTK . Tahap selanjutnya guru dengan berkolaborasi bersama teman sejawat. yakni perencanaan. wawancara. dan sebagainya serta dengan tes untuk melihat kemajuan praksis pembelajaran siswa. serta pengalaman mengajarnya. atau kepala sekolah/birokrat pendidikan yang lain membuat rencana tindakan yang dipersiapkan secara matang dan melaksanakannya di dalam kelas. Masalah PTK adalah masalah yang memang benar-benar dirasakan oleh guru dan bukan masalah yang diturunkan dari atasan atau dan pihak dosen. Dengan masalahnya itu guru berupaya untuk mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkan hipotesis tindakan yang dikajinya dan berbagai teori. Begitu seterusnya.9-86 Penelitian Tindakan Kelas PTK dilaksanakan dengan prosedur berdaur.

Jakarta. John. Soli 1998. Research Methodology I: Issues and Methods in Research. dan Wisemen. P. H.d. 1980. Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM tanggal 18—22 Oktober. A Teacher’s Guide to Classroom Research. B. How To Design. 1992. Departemen Pendidikan Nasional. S. Philadephia: Open University Press. Becoming Critical: Education. 1982. L. 1997. Penyusunan Proposal PTK. Format Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas . Smith. and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. 2000. London & Canberra: Croom Helm. L. Elliot. Elliot. 1982. Geelong: Deaking University. 1991. Gelong. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Victoria. David. dan Miller. M. “Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) untuk Tahun Anggaran 2004”. Knowledge. Victoria: Deakin University. Jakarta: Ditjen Dikti. Carr. Balian. FIP IKJP Surabaya. 16 (3) 1 s. J. Action Research for Educational Change. IL. Philadelphia : Open University Press. Australia: Deakin University. 1989. “Alternative Paradigms in Educational Research”. Connole.. Action Research in a School University Partnership. Geelong. 1983. Candy. Australian Educational Researcher. Branson. PTK. Penelitian Tindakan Berbasis Kelas dan Sekolah. J. Johnston. Chicago. 1997. Singaraja. Tisno. & Manion. Cohen.C. Analyze. . Dalam The Action Research Reader. R. AERA. New York: University Press. 1998. Second Edition. D. Hopkins. Research Methods in Education. Hadisubroto.DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. Depdiknas. STKIP. 2004. W. “Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Cobstructs: an Accont of the work of the Ford Teaching Project”. 11. 1993. Edward. and Action Research. S. & Kemmis..

1997. “Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas”. Kember D. Victoria: Deakin University. McNiff. 1997. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. H. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Muhadjir. Suwarsih. Depdikbud. PCP. 1997. Priyono. Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. Moore and J. Kemmis. 1988. 1994. Sumarno. Raka. Kelly. Bandung : IKIP Bandung. Pemantauan dan Evaluasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Caulley. Seri Metodologi Penelitian: Panduan Penelitian Tindakan. 1998. . 1997. Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK). S. Conny R. R. London: Routledge. Using Action Research to Improve Teaching. Andreas. PCP. Semiawan. PPGSM Ditjen Dikti. Natawidjaya. Bogor. The Action Research Planner. Hong Kong: Hong Kong Polytechnic. PPGSM Ditjen Dikti. Orto (eds. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Menyusun Laporan Penelitian. Dirjen Dikti. Madya. tanggal 9 September 1999. 1999. Jakarta: BP3SD. McTaggart. Suyanto. T. 1992. Jakarta: BP3SD. Dirjen Dikti. Desain. Beijing: Beijing Teacher College Press. Makalah pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi Dosen dan Guru. 1985. Jakarta: BP3SD. Noeng. Vimal P. 1991.) Social Science Methodology for Education Inquiry: A Conceptual Overview.9-88 Penelitian Tindakan Kelas Joni. Analisis dan Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta. 1998. Rochman. Action Research: Principles and Practice. Soedarsono. Dirjen Dikti. Rencana. dan McTaggart. ”Appraising Report of Inquiry”. J. Shah. Jakarta BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud. 1997. 3rd ed. Chapter prepared for inclusion in D. dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. dan M. 1991. Tejemahan Muhajir Darwin dari Reporting Research. R. FX. Depdikbud.

. D. 1996. Penelitian Tindakan Kelas. 1999. SCOPE Program. Tripp.Penelitian Tindakan Kelas 9-89 Tim Pelatih Proyek PGSM. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perth: Education Department of Western Australia.

BUKU AJAR PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH .

PENDAHULUAN A. Hal ini mempunyai tujuan agar setelah pelaksanaan matapelajaran ini peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menyusun artikel ilmiah yang siap dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah yang tidak maupun terakreditasi. Buku ajar “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini mempunyai standar kompetensi dasar (1) mengenal penulisan artikel ilmiah. serta praktik penulisan artikel ilmiah. Karena standar kompetensi penelitian tindakan kelas adalah (1) mengenal metode penelitian tindakan kelas. Secara garis besar. . artikel hasil pemikiran. Jelas bahwa kompetensi dasar kedua mata pelajaran ini akan bersngkut paut. (3) menyusun draft proposal penelitian tindakan kelas. buku ajar ini mengantarkan peserta PLPG untuk memahami materi-materi tersebut di atas. artikel hasil penelitian.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 BAB I. (3) mengenal format penulisan artikel ilmiah. Buku ajar ini mempunyai hubungan dengan buku ajar yang terutama adalah penelitian tindakan kelas. pada saat peserta PLPG berkeinginan untuk menuliskan hasil penelitian tindakan kelas ke dalam jurnal penelitian pendidikan. (2) mengenal perbedaan penulisan artikel ilmiah yang konseptual dan yang non konseptual. dan (4) menyusun draft artikel ilmiah. namun demikian peserta juga diminta untuk menyusun draft penulisan artikel ilmiah di bidang kompetensi masingmasing. jenis dan struktur artikel ilmiah. (2) mengenal format laporan penelitian tindakan kelas. format tulisan. Deskripsi Buku Ajar mengenai “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini meliputi materi pembelajaran tentang penulisan artikel ilmiah.

Kompetensi dan Indikator 1.Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil penelitian. 4.9-4 Penulisan Karya Ilmiah B. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil pemikiran konseptual. Hasil draft itu selanjutnya digunakan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ini. menanyakan hal-hal yang belum dipahami. . Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami jenis dan struktur artikel ilmiah. Peserta PLPG aktif berdiskusi dengan pelatih. Saran-saran dari pelatih yang belum dipahami perlu ditanyakan kembali kepada pelatih jika perlu meminta perbandingan dengan artikel yang telah termuat di dalam jurnal. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan enumeratif. 6. Di samping itu. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan esai. Peserta mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyusun draft artikel ilmiah. 2. Petunjuk Pembelajaran Peserta PLPG harus selalu aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas. 7. 5. serta dimintakan pendapat dari pelatih. peserta pelatihan mencermati contoh-contoh yang telah disajikan oleh pelatih dan yang tersaji di dalam buku ajar ini. Kemudian peserta PLPG harus belajar menyusun suatu draft artikel ilmiah yang selaras dengan format yang tersaji di dalam buku ajar ini. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami kriteria penulisan artikel ilmiah. selanjutnya mendiskusikan dengan teman lainnya. C. . 3.

artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal diharapkan memenuhi kriteria sebagai sebuah karya ilmiah. Berbekal pengalaman bapak dan ibu dalam memahami artikel ilmiah. ilmiah populer maupun yang memang benar-benar merupakan karya ilmiah.BAB II. KEGIATAN BELAJAR I JENIS DAN STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH A. Menjelaskan sifat artikel ilmiah. Pertama. Berkaitan uraian di atas. Menjelaskan bentuk. Menjelaskan sikap ilmiah. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar pertama ini. bapak dan ibu sudah sering membaca berbagai artikel. URAIAN MATERI Sesuai dengan namanya. penerbitan ilmiah secara inherent harus menampilkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas karya ilmiah tersebut yang mungkin tidak selalu harus dipenuhi di dalam jenis penerbitan yang lain. walaupun kriteria . bapak dan ibu akan mengkaji bentuk. 3. Sebagai guru. Oleh karena itu. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. Kriteria ini adalah cerminan sifat karya ilmiah yang berupa norma dan nilai yang berakar pada tradisi ilmiah yang diterima secara luas dan diikuti secara sungguh-sungguh oleh para ilmuwan. baik yang bersifat populer. penerbitan ilmiah bersifat objektif. 2. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Karya ilmiah tentu sudah merupakan bacaan yang sangat akrab dengan peserta PLPG. sifat dan struktur karya tulis ilmiah. Menjelaskan perbedaan artikel hasil pemikian konseptual dengan hasil penelitian B. struktur dan sifat-sifat artikel ilmiah 4. artinya isi penerbitan ilmiah hanya dapat dikembangkan dari fenomena yang memang exist.

dan kaidah-kaidah tertentu juga. Walaupun demikian. Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Lain daripada itu. Selanjutnya. Rasional menurut Karl Popper adalah tradisi berpikir kritis para ilmuwan. penerbitan ilmiah juga membawa ciri khas ini yang sekaligus berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik yang berkaitan dengan masalah yang dipersoalkan. dalam menulis artikel ilmiah penulis hendaknya juga tidak mengabaikan komponen sikap ilmiah yang lain seperti menahan diri (reserved). karena jurnal merupakan sarana komunikasi yang berada di garis depan dalam pengembangan IPTEKS. Oleh karena itu. dan sifat-sifat tertentu. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para . dilengkapi dengan keterbukaan dalam menyebutkan sumber bahan yang menjadi rujukannya. lugas. jujur. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. penulisannya harus mengikuti pola. dan tidak menyertakan motif-motif pribadi atau kepentingan- kepantingan tertentu dalam menyampaikan pendapatnya. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. Selain objektif. hati-hati dan tidak over-claiming. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. struktur. juga dipandang sebagai upaya penulis untuk memenuhi etika penulisan ilmiah. teknik. sifat lain karya ilmiah adalah rasional. ia juga mengemban sifat pembaharu dan up-to-date atau tidak ketinggalan jaman.9-2 Penulisan Karya Ilmiah eksistensi fenomena yang menjadi fokus bahasannya dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain. Oleh karena itu. Semua sikap di atas.

1993). Selain itu. b. dan (3) gagasan atau usulan baru (Pringgoadisurjo. d. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2000). resensi dan obituari ini sejalan dengan rekomendasi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. LEMBAR KEGIATAN 1. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. misalnya Journal of Research in Science Teaching yang terbit di Amerika Serikat dan Jurnal Penelitian Kependidikan terbitan Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Malang. Alat tulis. yaitu artikel hasil pemikiran atau artikel non penelitian dan artikel hasil penelitian. (2) pengamatan empirik. C. . Sesuai dengan tujuan penerbitannya. Ada beberapa jurnal yang hanya memuat artikel hasil penelitian. Di dalam tulisan ini pembahasan akan dibatasi pada struktur dan anatomi dua jenis artikel saja yaitu artikel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian. Laptop c. Alat dan Bahan a. seringkali majalah ilmiah juga memuat resensi buku dan obituari. artikel hasi pemikiran. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah. majalah ilmiah pada umumnya memuat salah satu dari hal-hal berikut: (1) kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru. Akan tetapi sebagian jurnal biasanya memuat kedua jenis artikel: hasil pemikiran dan hasil penelitian.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. Dalam praktik halhal tersebut akan diwujudkan atau dimuat di dalam salah satu dari dua bentuk artikel. LCD proyektor. Pemuatan artikel hasil penelitian.

35 menit Metode pemberian tugas dan .2 Presensi peserta pelatihan. Kegiatan Inti 3.9-4 Penulisan Karya Ilmiah 2. 5 menit Curah pendapat.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian sifat artikel ilmiah. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan bentuk. ceramah pemecahan masalah 3. 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran. struktur dan sifat karya tulis ilmiah. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Kegiatan Waktu Metode 2. 2. 1.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. Langkah Kegiatan No.

3. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sikap ilmiah.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. dan struktur artikel ilmiah.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit pendampingan Refleksi .1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. sifat.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat.5 Sharing dalam kelas mengenai sikap ilmiah.3 Fasilitator memberikan ceramah tentang bentuk dan struktur artikel ilmiah 3. Kegiatan Akhir 4.Penulisan Karya Ilmiah 9-5 3. 3. bentuk. 4. 4.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang sikap ilmiah. 4. 3. bentuk. sifat. dan struktur artikel ilmiah.4 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan.

Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. RANGKUMAN Artikel ilmiah mempunyai bentuk. teknik. Oleh karena itu. dan kaidah-kaidah tertentu juga. dan sifat-sifat tertentu. struktur. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai sifat artikel ilmiah. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah.9-6 Penulisan Karya Ilmiah 3. c. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai bentuk. D. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai karakter sikap ilmiah. . b. yang selanjutnya mempunyai kecenderungan positif jika dihadapkan pada kasus plagiariasme misalnya. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. penulisannya harus mengikuti pola. Hasil a. Walaupun demikian. dan struktur karya tulis ilmiah.

kebudayaan c. pendahuluan. obyektif. fakta atau kenyataan b. dan penutup b. Sikap ini sesuai dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada. pendidikan b. simpulan dan saran 4. pendahuluan. abstrak. dan tidak memihak. abstrak. bagian inti. bagian inti. abstrak. Dalam karya tulis ilmiah. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat 1. penutup 3. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. sikap penulis b. kecuali a. rekomendasi penulis d. Substansi suatu karya tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal. panjang tulisan c. pada umumnya menyajikan tentang a. penulis bersikap netral. Bagian penutup suatu karya tulis ilmia. simpulan d. inti (pokok pembahasan). pemulung d. argumentasi . pendahuluan. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya tulis ilmiah. bagian inti. Struktur sajian suatu karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari a.Penulisan Karya Ilmiah 9-7 F. informatika 5. simpulan c. penggunaan bahasa 2. simpulan umum c. kecuali a. Aspek-aspek yang menentukan karakteristik karya tulis. TES FORMATIF 1. rangkuman dan tindak lanjut b. kecuali a. struktur sajian d.

pengaruh obat bius yang menghebohkan 10 . panjang tulisan . Keobyektifan penulis karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat a. daftar pustaka b. memaparkan bidang ilmu tertentu b.9-8 Penulisan Karya Ilmiah c. teori yang diakui kebenarannya d. seseorang dapat mengkaji berbagai aspek tulisan. Di antara judul berikut. pengaruh gizi pada pertumbuhan anak d. abstrak c. lampiran 8. Berikut ini adalah ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah. menggunakan gaya bahasa resmi d. yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah? a. namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen a. impersonal d. disajikan secara sistematis 9. senjata makan tuan b. sistematika tulisan b. kecuali a. baku c. kumbang cantik pengisap madu c. data empirik/hasil penelitian 6. resmi b. merupakan deskripsi suatu kejadian c. daftar tabel d. Komponen suatu karya tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan penulisannya. Untuk membedakan karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah. personal 7. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda adalah a.

Secara umum. inti. Tes Uraian 1. coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal karakteristik karya tulis ilmiah. dan bagian penutup. ragam bahasa yang digunakan d. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah? . Berdasarkan uraian itu. Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan seperti itu? 2. Setelah membaca uraian di atas. struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal.Penulisan Karya Ilmiah 9-9 c. Sebutkan aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. pengarang 2. coba simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah! 3.

bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar kedua ini. Menjelaskan penulisan pembahasan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 7. Menjelaskan penulisan simpulan dan saran karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 5. Menjelaskan penulisan pendahuluan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 4. Menjelaskan penulisan metode karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 2. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar yang kedua ini akan dibahas bagaimana menentukan kelayakan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan serta struktur tulisan konseptual. Menjelaskan abstrak dan kata kunci karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. KEGIATAN BELAJAR II ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN DAN HASIL PENELITIAN A. Berkaitan uraian di atas. Di samping itu akan dibahas juga teknik menulis karya tulis ilmiah atas dasar hasil penelitian. Pembahasan mengenai materi ini akan bermanfaat pada saat bapak dan ibu menulis artikel konseptual. Menjelaskan pembuatan judul karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 3. Menjelaskan penulisan daftar pustaka karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian . 6. 8.BAB III. Menjelaskan penulisan hasil penelitian karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian.

Jadi. mengandung unsur-unsur utama masalah. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini. di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks. apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber. dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang kuat bagi calon pembaca. URAIAN MATERI 1. dan daftar rujukan. artikel hasil pemikiran bukanlah sekadar kolase atu tempelan cuplikan dari sejumlah artikel. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. hasil-hasil penelitian terdahulu. penutup. Salah satu ciri penting judul artikel hasil pemikiran adalah . tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya. Judul Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. bagian inti atau pembahasan. Atikel Hasil Pemikiran Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan. Bagian paling vital dari artikel hasil pemikiran adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas. Artikel hasil pemikiran biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya. dan pikiran baru penulis tentang hal yang dikaji. Sumber-sumber yang dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan. abstrak dan kata kunci. nama penulis. baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. yaitu judul. pendahuluan. Pilihan kata-kata harus tepat. yang dituangkan dalam bentuk tulisan. a.Penulisan Karya Ilmiah 9-11 B. yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya. jelas. jika memang ada.

33. b. dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan. No. hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan disertai tambahan dkk. Jika penulis lebih dari dua orang. Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. analisis. Hal ini penting karena artikel hasil pemkiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi. Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7. Nama Penulis Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis. (dan kawan-kawan).1) Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? (Journal of Research in Science Teaching Vol.) Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciriciri yang diharapkan ditunjukan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif. Nama lembaga tempat penulis bekerja sebagai catatan kaki di halaman pertama. dan analitik. nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. .9-12 Penulisan Karya Ilmiah bersifat ”provokatif”. 1) Repelita IV: A Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. IX No.2. dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu. argumentative. No. argumentasi. dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi. Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi.

A qualitative study is often contrasted with its quantitative counterpart. yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel. can be investigated through qualitative study. Format lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan). Jika dapat diperoleh. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak artikel hasil pemikiran adalah ringkasan dari artikel yang dituangkan secara padat. kata-kata kunci hendaknya diambil dari tresaurus bidang ilmu terkait.Penulisan Karya Ilmiah 9-13 c. Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci. quantitative study. A qualitative study takes several stage in generating theories. Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel. Abstract: Theory Generation through Qualitative Study. Perhatikan contoh abstrak dan kata-kata kunci berikut ini. sehingga (calon) pembaca tertarik untuk meneruskan pembacaannya. These two approaches are more often inappropriately considered as two different schools of thought than as two different tools. for example. bukan komentar atau pengantar penulis. In fact these two approaches serve different purposes. diketik dengan spasi tunggal. Panjang abstrak biasanya sekitar 50-75 kata yang disusun dalam satu paragraf. Business transaction pattern and market characteristic. frequencies. Dengan membaca abstrak diharapkan (calon) pembaca segera memperoleh gambaran umum dari masalah yang dibahas di dalam artikel. tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atau tubuh artikel. Ciri-ciri umum artikel hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini. and other related quantitative values can be more appropriately investigated through quantitative study. theory development . while their tendencies. Key words: qualitative study.

Diharapkan. Dari kajian terhadap berbagai tulisan dan hasil penelitian disebutkan di muka terlihat masih terdapat beberapa hal yang belum jelas benar atau setidak-tidaknya masih menimbulkan keraguan mengenai sebab-sebab menurunnya mutu partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Pendahuluan Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas. Perhatikan tiga segmen bagian pendahuluan dalam contoh di bawah ini. Partisipasi masyarakat merupakan unsur yang paling penting sekali bagi keberhasilan program pendidikan.9-14 Penulisan Karya Ilmiah d. dengan analisis ini kekurangan analisis terdahulu dapat dikurangi dan dapat disusun penjelasan baru yang lebih komprehensif. . Di Amerika Serikat dalam tingkat pendidikan tinggi dikenal apa yang disebut “Land-Grant Universities.”dst... Catatan sejarah pendidikan di negara-negara maju dan dikelompokkelompok masyarakat yang telah berkembang kegiatan pendidikan menunjukan bahwa keadaan dunia pendidikan mereka sekarang ini telah dicapai dengan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan di dalam berbagai bentuk.. Sementara itu penulis-penulis lain lebih memfokus pada faktor-faktor ekonomi. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli yang berkaitan dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan. Dalam artikel-artikel ini akan dibahas kemungkinankemungkinan menurunnya partisipasi masyarakat tersebut berdasarkan analisis ekonomi pendidikan. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem politik yang kurang demokratis dan budaya masyarakat paternalistik telah menyebabkan rendahnya partisipasi. misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan yang terkait dengan artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu.

Science earns its place on the curriculum because there is cultural commitment to the value of the knowledge and the practices by which this body of ideas has been derived. e. Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan. any consideration of the theoretical implementation must start by attempting to resolve the aims and intentions of this cultural practice…(Dari Osborne. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif. analitik. Bagian Inti Isi bagian ini sangat bervariasi. dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis. lazimnya berisi kupasan. keputusan. tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Penggunaan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat. Perhatikan contoh-contoh petikan bagian inti artikel berikut ini. . argumentasi. sejauh mungkin juga berciri komparatif dan menjauhi sikap tertutup dan instruktif.Penulisan Karya Ilmiah 9-15 Di dalam petikan bagian pendahuluan di atas dapat dilihat alur argumentasi yang diikuti penulis untuk menunjukan masih adanya perbedaan pandangan tentang menurunnya partisipasi masyarakat di dalam pengembangan pendidikan. perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. Walaupun demikian. Hence. dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. komparasi. yang membuka kesempatan bagi penulis untuk menampilkan wacana penurunan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dari sudut pandang yang lan. 1996:54). analisis. Tinjauan dari berbagai sudut pandang telah menghasilkan kesimpulan yang beragam.

9-16 Penulisan Karya Ilmiah

Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktik-praktik pendidikan adalah suatu keharusan jika dunia pendidikan Indonesia tidak ingin tertinggal dan kehilangan perannya sebagai wahana untuk menyiapkan generasi masa datang ironisnya, kalangan pendidikan sendiri tidak dengan cepat mengantisipasi, mengembangkan dan mengambil inisiatif inovasi yang diperlukan, walaupun kesadaran akan perlunya perubahanperubahan tertentu sudah secara luas dirasakan. Hesrh dan McKibbin (1983:3) menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak telah menyadari perlunya inovasi…(Dari Ibnu, 1996:2) John Hassard (1993) suggested that, ‘Unlike modern industrial society, where production was the cornerstone, in the post modern society simulation structure and control social affairs. We, at witnesses, are producing simulation whitin discorses. We are fabricating words, not because we are “falsyfaying” data, or “lying” about what we have learned, but because we are constructing truth within a shifting, but always limited discourse.’ (Dari Ropers-Huilman, 1997:5) Di dalam contoh-contoh bagian inti artikel hasil pemikiran di atas dapat dilihat dengan jelas bagian yang paling vital dari jenis artikel ini yaitu posisi atau pendirian penulis, seperti terlihat di dalam kalimatkalimat: (1) Hence, any consideration of the theoretical base of science and its practical implementation must start by…, (2) Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktek-praktek pendidikan, adalah suatu keharusan jika…, (3)…We are fabricating words not because …, or ‘lying’ about…, but…dan seterusnya.

f. Penutup atau Simpulan Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian

sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat dilihat pada berbagai

Penulisan Karya Ilmiah

9-17

artikel jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama: mengakhir diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. Perhatiakan contoh-contoh berikut.

Konsep pemikiran tentang Demokrasi Ekonomi pada prinsipnya adalah khas Indonesia. menurut Dr. M. Hatta dalam konsep Demokrasi Ekonomi berlandaskan pada tiga hal, yaitu: (a) etika sosial yang tersimpul dalam nilai-nilai Pancasila; (b) rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dengan perencanaan ekonomi oleh negara; dan (c) organisasi ekonomi yang mendasarkan azas bersama/koperasi. Isu tentang pelaksanaan Demokrasi Ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia menjadi menarik dan ramai pada era tahun 90-an. Hal tersebut terjadi sebagai reaksi atas permasalahan konglomerasi di Indonesia. Perlu diupayakan hubungan kemitraan yang baik antara pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pada saat ini nampak sudah ada political will dari pemerintah kita terhadap kegiatan ekonomi berskala menengah dan kecil. Namun demikian kemampuan politik saja tidak cukup tanpa disertai keberanian politik. Semangat untuk berpihak pada pengembangan usaha berskala menengah dan kecil perlu terus digalakkan, sehingga tingkat kesejahteraan seluruh msyarakat dapat ditingkatkan. (Dari Supriyanto, 1994:330-331) if, as has been discussed in this article, argumentation has a central role play in science and learning about science, then its current omission is a problem that needs to be seriously addressed. For in the light of our emerging understanding of science as social practice, with rhetoric and argument as a central feature, to continue with current approaches to the teaching of science would be to misrepresent science and its nature. If his pattern is to change, then it seems crucial that any intervention should pay attention not only to ways of enhancing the argument skills of young people, but also improving teachers’ knowledge, awareness, and competence in managing student participation in discussion and argument. Given that, for good or for ill, science and technology have ascended to ascended to a position of cultural dominance, studying the role of

9-18 Penulisan Karya Ilmiah

argument in science offers a means of prying open the black box that is science. Such an effort would seem well advisedboth for science and its relationship with the public, and the public and its relationship with science. (Dari Driver, Newton & Osborne, 2000:309) g. Daftar Rujukan Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten diikuti dalam setiap nomor penelitian.

2. Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian sering merupakan bagian yang paling dominan dari sebuah jurnal. Berbagai jurnal bahkan 100% berisi artikel jenis ini. Jurnal Penelitian Kependidikan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang, misalnya, dan Journal of Research in Science Teaching; termasuk kategori jurnal yang semata-mata memuat hasil penelitian. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau ”pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

Penulisan Karya Ilmiah

9-19

Bagian-bagian artikel hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal adalah judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, bagian pendahuluan, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan.

a. Judul Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan tepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antar variabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Walaupun demikian, harus dijaga agar judul artikel tidak menjadi terlalu panjang. Sebagaimana judul penelitian, judul artikel umumnya terdiri dari 5-15 kata. Berikut adalah beberapa contoh.

Pengaruh Metode Demonstrasi Ber-OHP terhadap Hasil Belajar Membuat Pakaian Siswa SMKK Negeri Malang (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No.1). Undergraduate Science Students’ Images of the Nature of Science (Research presented at the American Educational Research Association Annual Conference, Chicago, 24-28 March 1997). Effect of Knowledge and Persuasion on High-School Students’ Attitudes towards Nuclear Power Plants (Journal of Research in Science Teaching Vol.32, Issue 1).

Jika dibandingkan judul-judul di atas, akan sgera tampak perbedaannya dengan judul artikel hasil pemikiran, terutama dengan terlihatnya variabel-variabel utama yang diteliti seperti yang

diperlihatkan pada judul yang pertama dan ketiga.

9-20 Penulisan Karya Ilmiah

b. Nama Penulis Pedoman penulisan nama penulis untuk artikel hasil pemikiran juga berlaku untuk penulisan artikel hasil penelitian.

c. Abstrak dan Kata Kunci Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan terutama diberikan kepada hasil penelitian. Panjang abstrak lebih kurang sama dengan panjang artikel hasil pemikiran dan juga dilengkapi dengan kata-kata kunci (3-5 buah). Kata-kata kunci menggambarkan ranah masalah yang diteliti. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variable-variabel penelitian dan hubungan antara variable-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari variabelvariabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel.

Contoh abstrak: Abstract: The aim of this study was to asses the readiness of elementary school teachers in mathematic teaching, from the point of view of the teacher mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematic which was devided in to two part, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtained scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The result of the study indicated that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty nine point five percent of the teachers got more than 65 arithmetic, and 69,5% gained scores of more than 65 scores in both geometry and arithmetics. Key words: mathematic teaching, teaching readiness, subject mastery.

Penulisan Karya Ilmiah

9-21

d. Pendahuluan Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk

pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalaha penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitan dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemecahan (fisik) dari satu subbagin ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan dengan penggantian paragraf.

e. Metode Bagian ini menguraikan bagaimana penelitian dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Subsubbagian di atas umumnya (atau sebaiknya) disampaikan dalam format esei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif, misalnya:

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan observasi partisipatori. Peneliti terjun langsung ke dalam keidupan masyarakat desa, ikut serta melakukan berbagai aktivitas sosial sambil mengumpulkan data yang dapat diamati langsung di lapangan atau yang diperoleh dari informan kunci. Pencatatan dilakukan tidak langsung tetapi ditunda sampai peneliti dapat ”mengasingkan diri” dari anggota masyarakat sasaran. Informasi yang diberikan dari informan kunci diuji dengan membandingkannya dengan pendapat nara sumber yang lain. Analisis dengan menggunakan pendekatan... Rancangan eksperimen pretest-posttest control group design digunakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian dipilih secara random dari seluruh siswa kelas 3 kemudian

9-22 Penulisan Karya Ilmiah

secara random pula ditempatkan ke dalam kelompok percobaan dan kelompok control. Data diambil dengan menggunakan tes yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh Lembaga Pengembangan Tes Nasional. Analisis data dilakukan dengan... f. Hasil Penelitian Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan. Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan

penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Grafik dan tabel harus dibahas dalam tubuh artikel tetapi tidak dengan cara pembahasan yang rinci satu per satu. Penyajian hasil yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian

Contoh: Jumlah tulisan dari tiga suku ranah utama yang dimuat di dalam berbagai jurnal, dalam kurun waktu satu sampai empat tahun dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Jumlah Tulisan dari Tiga Suku Ranah Pendidikan Sains yang Dimuat dalam Berbagai Jurnal antara Januari 1994-Juli 1997

Suku ranah Konsep Sci. Literacy Teori & Pengaj. Jumlah ranah Lain-lain 3 suku

1994 7 5 2

1995 7 3 12

1996 13 14 1

1997 6 6 5

Jumlah 32 28 20 80

46

Penulisan Karya Ilmiah

9-23

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa frekuensi pemunculan artikel dari tiga suku ranah tersebut di atas jauh melebihi suku-suku ranah yang lain, yaitu 80:46. hal ini menunjukan bahwa...dst.

g. Pembahasan Bagian ini merupakan bagian terpenting dari artikel hasil penelitian. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian dan menunjukan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, mengintepretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan memunculkan ”teori-teori” baru atau modifikasi teori yang telah ada.

Contoh: Dari temuan penelitian yang diuraikan dalam artikel ini dapat dilihat bahwa berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenakalan remaja yang selama ini diyakini kebenarannya menjadi goyah. Kebenaran dari berbagai hal tersebut ternyata tidak berlaku secara universal tetapi kondisional. Gejala-gejala kenakalan remaja tertentu hanya muncul apabila kondisi lingkungan sosial setempat mendukung akan terjadinya bentuk-bentuk kenalan terkait. Hal ini sesuai dengan teori selektive cases dari Lincoln (1987:13) yang menyatakan bahwa... h. Simpulan dan Saran Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokokpokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian. Saran dapat mengacu kepada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan.

9-24 Penulisan Karya Ilmiah

i. Daftar Rujukan Daftar rujukan ditulis dengan menggunakan pedoman umum yang juga berlaku bagi penulis artikel nonpenelitian.

3. Penutup Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

jurnal

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

Penulisan Karya Ilmiah

9-25

C. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. Alat tulis; b. Laptop c. LCD proyektor; d. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah.

2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode

2.

Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran; 2.2 Presensi peserta pelatihan, jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya, maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali; 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan; 5 menit Curah pendapat, ceramah pemecahan masalah

9-26 Penulisan Karya Ilmiah

2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan artikel ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian. 3. Kegiatan Inti 3.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian; 3.3 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan; 3.4 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual; 3.5 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 4. Kegiatan Akhir Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu, tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian; Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan 10 menit Refleksi 35 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan

Penulisan Karya Ilmiah

9-27

pengalaman setelah dilakukan sharing; Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan

3. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran; b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian;

D. RANGKUMAN Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan jurnal baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

9-28 Penulisan Karya Ilmiah

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

F. TES FORMATIF 1. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat

1.

Artikel dapat dikelompokkan menjadi a. artikel laporan dan artikel rujukan b. artikel konseptual dan artikel teoritis c. artikel hasil telaahan dan artikel teoritis d. artikel hasil laporan dan artikel hasil telaahan

2.

Dari sudut ide, salah satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas tinggi adalah a. kelayakan ide untuk dipublikasikan b. wacana tentang ide yang sedang berkembang c. kesiapan ide untuk didiskusikan d. persamaan persepsi para ahli di bidang yang sama

3.

Tulisan analisis konseptual terdiri dari a. judul, abstrak, data, pembahasan, dan referensi b. judul, abstrak, pendahuluan, diskusi, referensi c. judul pendahuluan, diskusi, kesimpulan referensi

Penulisan Karya Ilmiah

9-29

d. judul, pendahuluan, temuan, pembahasan, referensi 4. Dalam suatu artikel konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam peta pengetahuan dimuat pada bagian a. abstrak b. pendahuluan c. diskusi d. referensi 5. Referensi memuat semua rujukan yang a. pernah dibaca penulis b. perlu dibaca pembaca c. dimuat dalam badan tulisan d. diperlukan dalam pengembangan tulisan 6. Salah satu dari tiga pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini a. apa inti teori/konsep yang dibahas? b. mengapa konsep itu dibahas? c. Apa kesimpulan yang dapat ditarik? d. Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan? 7. Salah satu hal yang harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah a. menjelaskan partisipan b. menulis masalah yang sudah pernah dibahas c. memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel d. melaporkan korelasi yang dibahas dalam penelitian 8. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek a. panjang tulisan b. nada tulisan c. gaya tulisan

telaah unsur-unsur yang terdapat pada artikel itu! . Carilah salah satu artikel hasil penelitian. 10-12 kata c. 8-10 kata b. metode c. Dalam suatu laporan atau artikel hasil penelitian.9-30 Penulisan Karya Ilmiah d. Jelaskan mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel penelitian 2. pendahuluan b. Sebut dan jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian! 3. hasil d. 12-15 kata d. kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian a. bahasa tulisan 9. 15-30 kata 10. Rekomendasi untuk judul adalah a. diskusi 2. Tes Uraian 1.

mengenal format penulisan esay. Penggunaan format esai dalam penulisan artikel jurnal bertujuan untuk menjaga kelancaran pembacaan dan menjamin keutuhan ide yang ingin disampaikan. Bandingkan dua format petikan berikut: . URAIAN MATERI 1. KEGIATAN BELAJAR III PRAKTIK PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH A. Pada kegiatan belajar yang ketiga ini berisi mengenai latihan peserta PLPG dalam menulis karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. 2. dan secara aktif berdialog dengan penulis. Pada kesempatan ini akan dicontohkan beberapa petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan. membuat karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. B. mengenal format penulisan enumeratif. Mengenai Format Tulisan Semua bagian artikel yang dibicarakan di atas ditulis dalam format esai.BAB IV. indikator kegiatan belajar ketiga ini adalah: 1. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar kedua telah disajikan bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah yang bersifat hasil pemikiran dan hasil penelitian. Dengan demikian peserta PLPG diharapkan mempunyai keterampilan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang dapat dikirimkan kepada pengelola jurnal penelitian pendidikan (JIP). Oleh karena itu. 3. Dengan digunakannya format esai diharapkan pembaca memperoleh kesan seolah-olah berkomunikasi langsung.

Petunjuk bagi Penulis Ilmu Pendidikan a. Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitiskritis setara dengan hasil penelitian di bidang filsafat kependidikan. dan seterusnya. b. dan diserahkan dalam bentuk cetakan (print out) komputer sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya. Di dalam hal-hal tertentu format enumeratif boleh digunakan.. dan praktik kependidikan. c. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format . WordPerfect atau MicroSoft Word. teori kependidikan. Naskah diketik spasi ganda pada kertas kuarto sepanjang maksimal 20 halaman. Jika format esai masih dapat digunakan “penandaan” sejumlah elemen dapat dilakukan dengan format esei bernomor. (2)…. terutama apabila penggunaan format enumeratif tersebut benar-benar fungsional dan tidak tepat apabila diganti dengan format esei seperti dalam menyatakan urutan dan jadwal. (3)….9-32 Penulisan Karya Ilmiah Format Enumeratif Sesuai dengan lingkup penyebaran jurnal yang bersangkutan maka record ISSN dilaporkan kepada pihak-pihak berikut: (a) International Serials Data System di Paris untuk jurnal internasional (b) Regional Center for South East Asia bagi wilayah Asia Tenggara. Berkas (file) pada naskah pada disket dibuat dengan program olah kata WordStar. Format Esei Setiap record ISSN dilaporkan kepada internasional Serial Data System yang berkedudukan di Paris. dan (c) PDII-LIPI untuk wilayah Indonesia. seperti (1)…. 2. Untuk kawasan Asia Tenggara dilaporkan melalui Regional Center for South East Asia dan untuk wilayah Indonesia dilaporkan kepada PDII-LIPI.

C. nama penulis (tanpa gelar akademik). Juli 1997. RATA DENGAN TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang. pembahasan. Nomor 2. dan Praktik Kependidikan. Berkeley: McCutchan Publishing Co. kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian.D. nama penulis (tanpa gelar akademik). 1997. Vault..E. abstrak (maksimum 100 kata). Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat.W. masing-masing bagian. penutup atau kesimpulan. 127-137. hasil. D. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. Hanurawan. Miring. kesimpulan dan saran. metode. kata-kata kunci. & Dickson. Anderson. dan tujuan penelitian. V. Rata dengan Tepi Kiri) Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). metode. F. Teori. dan hasil penelitian. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan. abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan. Pandangan Aliran Humanistik tentang Filsafat Pendidikan Orang Dewasa. e. Daftar Rujukan disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. Tahun 24. PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. hlm. Sistematika artikel setara hasil penelitian: judul. disertai judul (heading). Rata dengan tepi Kiri) d. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). bahasan utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul). kata-kata kunci. 1993. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency based Teacher Education. dan tidak menggunakan angka/nomor bagian. .Penulisan Karya Ilmiah 9-33 esai. f. sedikit tinjauan pustaka. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dicetak tebal atau tebal miring).

12 Juli. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di malang Angkataan XIV. dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. h. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah e. g. Pusat Penelitian IKIP MALANG. 200). Artikel berbahasa Inggris menggunakan ragam baku. Penulis yang artikelnya dimuat wajib memberi kontribusi biaya cetak minimal sebesar Rp. tabel. i. rujukan. N. d.00 (dua ratus ribu rupiah) perjudul.9-34 Penulisan Karya Ilmiah Huda. Artikel yang sudah dalam bentuk cetak-coba tidak dapat ditarik kembali oleh penulis. Sebagai imbalannya. Laptop c. LEMBAR KEGIATAN 1. Malang. Kamera digital . Tata cara penyajian kutipan. Alat tulis. Disertasi. b.000. Tesis. Makalah. Artikel berbahasa Indonesia mengikuti aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud. 200. 1991. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. 1987). penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan cetak lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar yang akan diberikan jika kontribusi biaya cetak telah dibayar lunas. Alat dan Bahan a. Pemeriksaan dan penyuntingan cetak-coba dilakukan oleh penyunting dan/atau melibatkan penulis. LCD proyektor. Artikel dan Laporan Penelitian (Universitas Negeri Malang. C.

Fasilitator memberikan 130 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan . Langkah Kegiatan No. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. 2.Penulisan Karya Ilmiah 9-35 2. ceramah pemecahan masalah 3.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan Curah pendapat. Kegiatan Inti Fasilitator memberikan ceramah tentang format penulisan karya tulis ilmiah. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode 2. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2. 2.2 Presensi peserta pelatihan. 2. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. Kegiatan 1.1 Berdoa bersama untuk mengawali 5 menit pembelajaran.

Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual. 4. Kegiatan Akhir 4. Fasilitator memberikan tugas menyusun karya tulis ilmiah baik dalam bentu pemikiran maupun hasil penelitian.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. 4. . Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian. Hasil a. Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit Refleksi 3.9-36 Penulisan Karya Ilmiah ceramah tentang salah satu contoh petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan .1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. 4. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran.

memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka.Penulisan Karya Ilmiah 9-37 b. Artikel (setara hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa subjudul) Subjudul Subjudul Subjudul Penutup (atau Kesimpulan dan Saran) Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja) sesuai dengan kebutuhan . Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian. D. dan masalah/tujuan penelitian) Metode Hasil Pembahasan Kesimpulan dan Saran Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uaraian saja) 2. RANGKUMAN 1. Artikel (hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa sub judul.

Tugas ini sifatnya individual.9-38 Penulisan Karya Ilmiah E. tidak harus terkekang di dalam kelas. Fasilitator memberikan bimbingan dan pendampingan pada saat peserta PLPG menyusun karya tulis ilmiah. . Tugas dapat ditulis menggunakan komputer atau tulis tangan. TES FORMATIF Peserta PLPG ditugasi menyusun karya tulis ilmiah dengan cara memilih salah satunya yaitu hasil pemikiran konseptual atau hasil penelitian. Ruangan bebas.

b 4. b 7. c 2. d . a Kegiatan Belajar 2 1. b 9. a 8. b 6. d 4. b 10. c 8. c 5. a 3. b 2. c 5. c 10. a 7. c 6. a 3. b 9.Penulisan Karya Ilmiah 9-39 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Kegiatan Belajar 1 1.

Ditbinlitabmas Dikti. Ikapindo. LIPI. . Direktorat Profesi Pendidik. Wardani. Depdiknas: Jakarta. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. G. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press): Malang.DAFTAR PUSTAKA Ditbinlitabmas Ditjen Dikti Depdikbud. I. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. Saukah.M.G. Penerbit Universitas Terbuka: Jakarta. dan Kantor Menristek: Jakarta. dan Waseso. 2008.K. Sistematika Penulisan Laporan KTI Online.A. Teknik Menulis Karya Ilmiah. 2000. 2001. 2007. A.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.