IV E

S NEGERI SE MA ITA RS

N RA

UN

G

UNNES

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008

BAHASA INDONESIA
(SMA)

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON XII UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2008

REKTOR NEGERISEMARANG UNIVERSITAS SAMBUTAN REKTOR

As s alamu' alailstm Warahmatutlahi Wab arakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur tidak putus selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dzat yang maha tinggi, atas rakhmat dan ilmuNya yang diturunkan kepada umat manusia. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2OO7, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan

pelaksanaan uji melalui portofolio.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan portofolio, bagi peserta yang belum dinyatakan lulus, LP|K Rayon merekomendasikan alternatif : (1) melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (2) mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru ( PLPG ) yang diakhiri dengan ujian. Penyelenggaraan PLPG telah distandardisasikan oleh Konsorsium Sertilikasi Guru ( KSG ) Jakarta dalam bentuk pedoman PLPG secara Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Panitia Sertifikasi Guru ( PSG ) Rayon 12 dalam rangka standardisasi penyelenggaraan PLPG mulai penyediaan tempat, ruang kelas, jumlah jam, sistem penilaian, kualitas instruktur dan ketersediaan bahan ajar. Bahan ajar yang ada di tangan Saudara ini salah satu upaya PSG Rayon 12 dalam memenuhi

standard pelaksanaan PLPG secara nasional untuk itu saya menyambut dengan baik atas terbitnya Bahan Ajar PLPG ini. Sukses PLPG tidak hanya tergantung ketersediaan buku, kualitas instruktur, sarana prasarana yang disediakan namun lebih daripada itu dengan baik sejak adalah kesiapan peserta baik mental maupun fisik, untuk itu harapan saya para peserta PLPG telah menyiapkannya keberangkatannya dari rumah masing-masing. Pada kesempatan ini ijinkan saya, memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dosen/lnstruktur yang telah berkontribusi dan berusaha men)rusun buku ini, agar dapat membantu guru menempuh program PLPG dalam rangka sertihkasi guru. Buku ini menggunakan pilihan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan seksama. Akhirnya kepada khalayak pembaca saya ucapkan selamat menikmati buku ini, semoga dapat memperoleh manfaat yang sebanyakbanyaknya.

Rektor Universitas Negeri Semarang

Sudijono Sastroatmodjo

BUKU AJAR

PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU

PENDAHULUAN
Fakta tentang kualitas guru menunjukkan bahwa sedikitnya 50 persen guru di Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai standardisasi pendidikan nasional (SPN). Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia belum memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar pada pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SMP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan pada bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM guru kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia. Untuk itu, perlu dibangun landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal (Toharudin 2006:1). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Rektor UNJ sebagai berikut. "Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," (Sutjipto dalam Jurnalnet, 16/10/2005). Fakta lain yang diungkap oleh Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Djalal, bahwa sejumlah guru mendapatkan nilai nol untuk materi mata pelajaran yang sesungguhnya mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Fakta itu terungkap berdasarkan ujian kompetensi yang dilakukan terhadap tenaga kependidikan tahun 2004 lalu. Secara nasional, penguasaan materi pelajaran oleh guru ternyata tidak mencapai 50 persen dari seluruh materi keilmuan yang harus menjadi kompetensi guru. Beliau juga mengatakan skor mentah yang diperoleh guru untuk semua jenis pelajaran juga memprihatinkan. Guru PPKN, sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sosiologi, geografi, dan pendidikan seni

1-2

Pengembangan Profesionalitas Guru

hanya mendapatkan skor sekitar 20-an dengan rentang antara 13 hingga 23 dari 40 soal. "Artinya, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 30 hingga 46 untuk skor nilai tertinggi 100," (Tempo Interaktif, 5 Januari 2006). Mengacu pada data kasar kondisi guru saat ini tentulah kita sangat prihatin dengan buruknya kompetensi guru itu. Padahal, memasuki tahun 2006 tuntutan minimal kepada siswa untuk memenuhi syarat kelulusan harus menguasai 42,5 persen. Untuk itu, layak kiranya pada tulisan ini dicari format bagaimanakah seharusnya mengembangkan guru yang profesional?

A. Guru sebagai Profesi Djojonegoro (1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesilaisasi, (2) kemampuan untuk

memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus) yang dimiliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills (1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan/jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Usman (1990:4) mengatakan bahwa guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu: (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-3

pekerjaan yang dilaksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki obyek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan siswanya, dan (8) diakui di masyarakat karena memang diperlukan jasanya di

masyarakat. Pengertian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur terpenting dalam sebuah profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus, untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme adalah guru yang kompeten (memiliki kemampuan) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesi keguruan.

B. Kompetensi Guru Sejalan dengan uraian pengertian kompetensi guru di atas, Sahertian (1990:4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan,

penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang calon guru agar menguasai kompetensi guru dengan mengikuti pendidikan khusus yang

diselenggarakan oleh LPTK. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut: (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan guru menguasai pengetahuan serta keterampilan/keahlian kependidikan dan

pengatahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang

1-4

Pengembangan Profesionalitas Guru

pelaksanaannya pengajar.

berhubungan

dengan

tugas-tugasnya

sebagai

Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru setelah program sarjana atau D4. Kompetensi pribadi meliputi: (1) pengembangan kepribadian, (2) berinteraksi dan berkomunikasi, (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, (4) melaksanakan administrasi sekolah, (5) melaksanakan tulisan sederhana untuk keperluan pengajaran.

1. Kompetensi Profesional Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter). Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b)

penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu

Pengembangan Profesionalitas Guru

1-5

membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman,

penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju. Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.

1-6

Pengembangan Profesionalitas Guru

Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut

perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas

seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat

penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat

meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan

ciri anak didik dan perkembangannya. Kompetensi Paedagogik Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana. guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. Yang perlu diperhatikan di sini adalah. perkembangan fisik dan psikis anak didik. Guru diharapkan memahami sifat-sifat. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar. tingkat pemikiran. meski guru sangat disiplin. karakter. Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-7 rumah. 3. ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. Pertama. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik. tahu ilmu . mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa. mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan. serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa.

Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata. diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya. (4) melaksanakan program pembelajaran. Kedua. guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran.1-8 Pengembangan Profesionalitas Guru psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran. Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata. (2) menguasai bahan pembelajaran. Ketiga. Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan. . maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya. guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. (3) menyusun program pembelajaran. diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran.

(2) memiliki toleransi pada orang lain. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. ruang. Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi. alam. (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik. atau pendekatan multidisiplin. beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong. Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti . 1995). lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman. sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-9 4. Uniknya lagi. Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence). Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain. raga. dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. pribadi. 1998). Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial. bahasa. 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. mungkin beberapa di antaranya menonjol. musik. pendekatan komperehensif. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas. Hanya saja. 1994).

1-10 Pengembangan Profesionalitas Guru karier di masyarakat. (14) kerja sama. baik finansial maupun non finansial.com). misalnya. (13) menerima perbedaan. (3) peran dalam kegiatan kelompok. Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik. bergaul. atau perusahaan. yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. (12) solusi konflik. dan memberi kepada orang lain. (7) kedewasaan dalam bekreasi. (8) berbagi. ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial. dan (15) komunikasi. (11) toleransi. .lifeskills4kids. dapat kita saring dari konsep life skills (www. lembaga. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen. bekerja sama. dan pengendalian diri yang menonjol. (2) melihat peluang. Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu. kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. (6) relawan sosial. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru. (5) kepemimpinan. Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi. (9) berempati. berempati. (4) tanggung jawab sebagai warga. Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. Beberapa dimensi ini. yaitu: (1) kerja tim. (10) kepedulian kepada sesama. menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita.

peserta didik. dan hanya sebagian kecil guru dari sekolah negeri dan sekolah elit yang hidup berkecukupan. karena di tangan para gurulah proses belajar dan mengajar dilaksanakan. baik di dalam dan di luar sekolah dengan menggunakan bahan ajar. dan menjadikan profesi ini menjadi pilihan utama bagi generasi guru berikutnya (Situmorang dan Budyanto 2005:1). serta tidak dapat dipisahkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. Guru. jauh dari cukup sehingga tidak sedikit guru yang mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang ini (hingga disahkan pada 6 Desember 2005) tersirat keinginan Pemerintah untuk memperbaiki wajah suram nasib guru dari sisi kesejahteraan dan profesionalisme. antara lain kesepahaman akan ukuran uji kompetensi guru.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-11 C. Sertifikasi kompetensi guru sebagai tindak lanjut dari UndangUndang ini menyisakan persoalan sebagaimana disampaikan Mendiknas pada media masa pada saat pengesahan Undang-Undang ini.2 juta orang. Jumlah guru di Indonesia saat ini 2. baik yang terdapat di dalam kurikulum nasional maupun kurikulum lokal. dan kurikulum merupakan tiga komponen utama pendidikan. Dari ketiga komponen tersebut. Sejak awal gagasan pembuatan RUU Guru dan Dosen dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk mengangkat martabat guru dalam memajukan pendidikan nasional. Mengandalkan penghasilan dan profesi guru. faktor gurulah yang dinilai sebagai satu faktor yang paling penting dan strategis. . Ketiga komponen ini saling terkait dan saling mempengaruhi. Memimpikan Guru yang Profesional Untuk memperbaiki kualitas pendidikan. pemerintah telah memberikan perhatian khusus dengan merumuskan sebuah UndangUndang yang mengatur profesi guru dan dosen.

mengawali dengan satu pertanyaan menggelitik “what is teacher?”. dibentuk. Cooper. melakukan pembimbingan dan pelatihan. kebijakan.1-12 Pengembangan Profesionalitas Guru Untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif. guru harus memiliki kemampuan profesionalisme yang dapat dihandalkan. guru sebagai profesi yang amat mulia. tetapi harus dibangun. Cooper menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan tetang guru dari aspek pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga profesional. dipupuk dan dikembangkan melalui satu proses. seorang profesional muda. strategi. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat kinerja seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu. Dedi Supriadi dalam bukunya yang bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan (secara amat jelas) tentang makna profesi. Profesional menunjuk dua hal. Misalnya. . Kemampuan profesionalisme yang handal tersebut tidak dibawa sejak lahir oleh calon guru. serta melakukan tulisan dan pengabdian kepada masyarakat. menilai hasil pembelajaran. dan program pembinaan guru di masa lalu perlu dirumuskan kembali (Suparlan 2006:1). yakni orangnya dan kinerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. kebijakan dan program yang tepat. Proses. strategi. tanggung jawab. atau dia bekerja secara profesional. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. profesionalisme. Demikian pula. dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu. James M. profesional. dalam tulisannya bertajuk “The teachers as a Decision Maker”. Sebagai contoh. dan profesionalitas sebagai berikut ini Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian.

Keempat. memiliki organisasi profesi yang.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-13 Sebagai tenaga profesional. Ketiga. Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal. juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotannya menyelenggarakan layanan keahlian yang terbaik yang dapat diberikan (Suparlan. insinyur. Dapat dianalogikan dengan pentingnya hakim dan UndangUndang. Kelima. Guru merupakan tenaga profesional dalam bidang pendidikan dan pengajaran. yang dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun akan dapat dihasilkan keputusan yang baik’. ‘berilah aku hakim dan jaksa yang baik. Westby-Gybson (1965). (2) komitmen. 2004:2). semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi. yang ditandai dengan adanya standar kompetensi tertentu. yakni (1) keahlian. yang menyatakan bahwa. bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik. Pertama. dan (3) keterampilan (Supriadi 1998:96). memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan kompetitiflah seleksi yang secara efektif. dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. Kedua. guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus. sehingga yang dianggap bidang diperbolehkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Dalam dunia yang sedemikian maju. memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan pekerjaan profesional tersebut. adanya pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi tertentu yang berbeda dengan profesi lain. seperti dokter. pemerintah sejak lama telah berupaya untuk merumuskan perangkat standar komptensi guru. di samping melindungi kepentingan anggotanya. maka kaidah itu dapat . termasuk guru. Soerjadi (2001:1-2) menyebutkan beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi. Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik.

Kedua. yang terpenting adalah manusianya. Mendiknas memberikan penegasan bahwa “guru yang utama” (Republika 10 Februari 2003). Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Ketiga. D. maka guru tersebut dapat disebut sebagai tenaga dan pendidik yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya (Supriadi 2003:14). Supriadi mengutip laporan dari Jurnal Educational Leadership edisi Maret 1993. Pertama. aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum. Hal yang sama. misalnya di PGRI dan organisasi profesi lainnya. Artinya. Keempat. Belajar dapat dilakukan di mana saja. mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. Apabila kelima hal tersebut dapat dimiliki oleh guru. dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik’. guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya. Kelima. bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal. Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Standar Pengembangan Karir Guru Mutu pendidikan amat ditentukan oleh kualitas gurunya. tetapi guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh siapa atau alat apa . ‘man behind the gun’. bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. yakni dengan ungkapan bijak ‘berilah aku guru yang baik. guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. guru menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. Untuk menggambarkan guru profesional.1-14 Pengembangan Profesionalitas Guru dianalogikan dengan pentingnya guru. dan belajar dari pengalamannya. Sama dengan manusia dengan senjatanya.

Namun. Untuk membangun pendidikan yang bermutu. LPTK mengalami kesulitan besar ketika dihadapkan kepada masalah kualitas calon mahasiswa kelas dua yang akan dididik menjadi guru. karena melibatkan banyak komponen. ada orang yang berpendapat bahwa antara gaji dan dedikasi tidak dapat dipisahkan. Gaji dan penghargaan guru belum dapat disejajarkan dengan profesi lain. Terjadilah lingkaran setan yang sudah diketahui sebab akibatnya. karena masalah rendahnya mutu calon guru itu lebih disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi guru. Ternyata. guru harus memiliki tiga kualifikasi dasar: (1) menguasai materi atau bahan ajar. (2) antusiasme. yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya. Ketidakmampuan LPTK ternyata memang di luar tanggung jawabnya. Jadi. karena pada akhirnya menyangkut duit atau gaji dan penghargaan. Sebagai salah satu komponen utama pendidikan. mengasyikkan. karena indikasi adanya mutu profesionalisme guru masih rendah. Peningkatan mutu guru merupakan upaya yang amat kompleks.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-15 pun juga. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu. yakni proses dan pembelajaran menyenangkan. selain memang harus dipikirkan dengan sungguhsungguh upaya untuk meningkatkan gaji dan penghargaan kepada . melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembalajaran yang yang berkualitas. Gaji akan mengikuti dedikasi. Banyak orang menganggap bahwa gaji dan penghargaan terhadap guru menjadi penyebab atau causa prima-nya. gaji dan dedikasi terkait erat dengan faktor lain yang bernama kompetensi profesional. dan (3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Mas’ud 2003:194). Pada akhirnya orang mudah menebak. Pekerjaan besar ini mulai dari proses yang menjadi tugas lembaga pendidikan prajabatan yang dikenal dengan LPTK. mencerdaskan. Di samping itu.

and values displayed in the context of task performance”. dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. menjelaskan bahwa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya. Direktorat Tenaga Kependidikan (Dit Tendik). Dua dekade kemudian. . yakni meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru. Sementara itu. sikap. Sejalan dengan definisi tersebut. Apakah yang dimaksud kompetensi? Istilah kompetensi memang bukan barang baru.1-16 Pengembangan Profesionalitas Guru guru. terkenal wacana akademis tentang apa yang disebut sebagai Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi atau Competency-based Training and Education (CBTE). keterampilan. Secara sederhana dapat diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan. skill. tim itu telah dapat menghasilkan rendahnya kompetensi guru. Pada tahun 70-an. Setelah sekitar dua tahun berjalan. Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK. Pada saat itu Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis) Dikdasmen pernah mengeluarkan “buku saku berwarna biru” tentang “sepuluh kompetensi guru”. Bahkan mereka mendambakan adanya satu instrumen atau alat ukur yang akan mereka gunakan dalam melaksanakan skill audit dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi guru di daerah masing-masing. para penyelenggra pendidikan di kabupaten/kota telah menunggu kelahiran kompetensi guru itu. Untuk menjelaskan pengertian tentang kompetensi itulah maka Gronzi (1997) dan Hager (1995) menjelaskan bahwa “An integrated view sees competence as a complex combination of knowledge. keterampilan. nama baru Dikgutentis telah membentuk satu tim Penyusun Kompetensi Guru yang beranggotakan para pakar pendidikan yang tergabung dalam Konsorsium Pendidikan untuk menghasilkan produk kompetensi guru. namun masih ada pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. attitudes.

peningkatan kualitas dan penjenjangan karir guru. yakni (1) pengelolaan pembelajaran. ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi. Direktorat Tendik 2003:5). Standar Kompetensi Guru bermanfaat untuk: (1) menjadi tolok ukur semua pihak yang berkepentingan di bidang pendidikan dalam rangka pembinaan. standar kompetensi guru diartikan sebagai ‘satu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas. (7) penguasaan bahan kajian akademik. (2) pengembangan profesi. kemandirian. 2005). Oleh karena itu. PMPTK. Diten PMPTK. . Standar kompetensi guru SKS memiliki tujuan dan manfaat ganda. (3) penilaian prestasi belajar peserta didik. (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. yaitu: (1) penyusunan rencana pembelajaran. dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan profesinya (Direktorat Profesi Pendidik. kualifikasi. 2005). Ketiga komponen masing-masing terdiri atas dua kemampuan. (6) pemahaman wawasan kependidikan. dan (3) penguasaan akademik. Standar kompetensi guru bertujuan ‘untuk memperoleh acuan baku dalam pengukuran kinerja guru untuk mendapatkan jaminan kualitas proses pembelajaran’ (SKG. keterampilan. Di samping itu. inovasi. (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar. dan jenjang pendidikan’ (Direktorat Profesi Pendidik.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-17 Berdasarkan pengertian tersebut. Ketiga standar kompetensi tersebut dijiwai oleh sikap dan kepribadian yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru sebagai tenaga profesi. Standar kompetensi guru terdiri atas tiga komponen yang saling mengait. (5) pengembangan profesi. (2) meningkatkan kinerja guru dalam bentuk kreativitas.

Mengingat kondisi itulah maka pada tahun 1970-an dan 1980an telah didirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan yang bernama Balai Penataran Guru (BPG). PGPS sering diplesetkan menjadi ‘pinter goblok penghasilan sama’ atau ‘pandai pandir penghasilan sama’. Pelaksanaan kenaikan pangkat guru dengan sistem kredit pun sama. Sedang sebagian besar lainnya mengalami nasib yang tidak menentu. antara lain karena belum ada kejelasan tentang standar pengembangan karir mereka. dan bahkan menjadi tenaga struktural di dinas pendidikan. anggota legeslatif. Pengembangan Karir Guru Pada era sentralisasi pendidikan. dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil) dan ketentuan lain tentang kenaikan pangkat dengan sistem kredit. Dengan kondisi seperti itu.1-18 Pengembangan Profesionalitas Guru E. dengan melibatkan antara direktorat terkait dengan . yang sekarang menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi. Kegiatan itu pada umumnya dirancang oleh direktorat-direktorat di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sekarang LPMP dan P4TK berada di bawah Ditjen PMPTK. Dalam pelaksanaan di lapangan ketentuan tersebut berjalan dengan berbagai penyimpangan. pembinaan guru diatur secara terpusat oleh pemerintah. ada sebagaian kecil guru yang karena kapasitas pribadinya atau karena faktor lainnya dapat berubah atau meningkat karirnya menjadi kepala desa. Region-region penataran telah dibentuk di berbagai kawasan di Indonesia. dan Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk pelbagai mata pelajaran dan bidang keahlian di beberapa daerah di Indonesia. Kepala sekolah sering terpaksa menandatangani usul kenaikan pangkat guru hanya karena faktor ‘kasihan’. Pada tahun 1970-an kegiatan ‘up-grading’ guru mulai gencar dilaksanakan di BPG dan PPPG.

yakni tempat bertemunya para guru berdiskusi atau mengikuti penataran tingkat kabupaten atau sekolah. satu jenjang fungsional bagi guru yang telah menjabat sebagai kepala sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagaian besar dilaksanakan di satu sanggar yang disebut sanggar PKG. . serta melibatkan juga peranan lembaga pendidikan sekolah sebagai on the job training yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan yang ada di regionnya masing-masing. yakni instruktur yang telah diangkat untuk menduduki jabatan sebagai kepala sekolah. guru yang telah ditatar di tingkat provinsi atau nasional dan memperoleh predikat yang sebagai penatar di tingkat kabupaten. yakni guru baru atau guru yang belum pernah mengikuti penataran. atau baru sebatas ditatar di tingkat kecamatan atau sekolah. guru yang telah mengikuti klegiatan diklat TOT (training of trainer) di tingkat pusat atau nasional dan memperoleh predikat sebagai penatar di tingkat provinsi. kecamatan. Selain itu. dan sekolah. yang sistem penyelenggaraan diklatnya dinilai melibatkan elemen pendidikan yang lebih luas. (6) Pengawas sekolah. para guru memiliki wadah pembinaan profesional melalui orgabnisasi yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). guru instruktur yang diberi tugas untuk mengelola Sanggar PKG. sementara para kepala sekolah aktif dalam kegiatan Latihan Kerja Kepala Sekolah (LKKS). (2) guru Inti.Pengembangan Profesionalitas Guru 1-19 lembaga diklat (preservice training) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai lembaga preservice training. Salah satu pola pembinaan guru melalui diklat ini adalah mengikuti pola Pembinaan kegiatan Guru (PKG). (4) pengelola sanggar. (3) instruktur. para guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) guru biasa. Sebagian besar instruktur ini juga telah memperoleh pengalaman dalam mengikuti penataran di luar negeri. (5) kepala sekolah. Melalui pola PKG ini. dan Latihan Kerja Pengawas Sekolah (LKPS) untuk pengawas sekolah.

dan LPTK sebagai mitra kerja. oleh Depdiknas sekarang dikelola oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.1-20 Pengembangan Profesionalitas Guru F. PENUTUP Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. Dinas Pendidikan. Berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut dilaksanakan dengan melibatkan P4TK (PPPG). . LPMP.

Inovation in Education: Reformers and Their Critics. Everett M. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2002. New York: Cross Cultural Approach. 2004. Diffusion of Innovation. Jakarta: Genesindo. Gunawan. Zamroni. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Dirjen Dikti Dir PPTK Depdiknas. Undang-Undang No. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI Program D-II PGSD. Menuju Masyarakat Pembelajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Santoso S. 2004. “Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah”. Ary H. Direktorat Ketenagaan. Suryadi. Akibatnya pada Mutu Pendidikan”. dalam Syarif Ikhwanudin dan Dodo Murtadhlo. 1992. 2002. Jakarta: Depdiknas. 1995. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan. “Status dan Peran Guru. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. John Martin. Studi Kebijakan Pengelolaan Guru Di Era Otonomi Daerah dalam Rangka Peningkatan mutu pendidikan. . New York: The Free Press. Paradigma Pendidikan Masa Depan. 2004. 2005. Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Masa Depan. dalam Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua. 2002.DAFTAR PUSTAKA Chamidi. Jakarta: Grasindo. Pusat Data dan Informasi Pendidikan. Yogyakarta: Bigraf Publishing. Jakarta:Paramadina dan Logos Wacana Ilmu. Rokhman. Penelitian Balitbang dan Lemlit UNNES. Jakarta: Grasindo. 2002. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. Undang-undan No.1995. Safrudin Ismi. Ace dan Dasim Budimansyah. Hamijoyo. 2000. Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. Paul. Suparno. Rich. Fathur dkk. Indra Djati Sidi. Rogers. 2006. Balitbang Depdiknas.

BUKU AJAR MEMBACA PEMAHAMAN .

metode. membaca intensif dapat diklasifikasikan menjadi membaca telaah isi dan telaah bahasa. D.13). Menjelaskan pengertian membaca pemahaman. C. Pengertian Membaca Dalam kajian teori membaca. Berdasarkan cakupan bahan bacaan yang dibaca.BAB I. Deskripsi Penyajian model. B. Indikator 1. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. Uraian Materi 1. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading) (Harras dan Sulistianingsih 1998: 2. 2. Membaca Telaah isi diklasifikasikan . membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). metode. E. KONSEP DASAR MEMBACA PEMAHAMAN A. Standar Kompetensi Menguasai konsep dasar membaca pemahaman. Menjelaskan kiat membaca pemahaman. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . Kompetensi Dasar Memahami konsep dasar membaca pemahaman yang meliputi pengertian membaca pemahaman dan kiat membaca pemahaman. Menurut Broughtton (dalam Tarigan 1990). dan teknik membaca sewaktu membaca intensif dan ekstensif. dan teknik membaca serta penerapan model.

kritis. artikel. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. dan teknik yang sesuai dengan keperluan (Haryadi 2006:5). 2. latihan terus-menerus). pemahaman. Berdasarkan kurikulum 2006. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. paragraf. Membaca telaah bahasa diklasifikasikan menjadi membaca bahasa asing dan sastra. kritik teks sastra. Disamping itu. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. metode. . Membaca ekstensif diklasifikasikan menjadi tiga. dan dangkal. sekilas. dan meningkat (dari yang mudah ditingkatkan ke yang sulit). variatif (berbagai ragam bacaan yang dibaca). Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra. dan buku biografi.2-2 Membaca Pemahaman   menjadi membaca teliti. Kiat Membaca Pemahaman Untuk dapat terampil membaca siswa harus berlatih membaca secara kontinyu (sering latihan. memindai buku. yaitu membaca survai. dan ide. dan memindai grafik. yaitu ektensif dan intensif. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca.

metode. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Membaca Cepat Teks Bacaan Berdasarkan kompetensi dasar yang tercantum di standar isi pada kurikulum 2006. Menerapkan model membaca sewaktu membaca ekstensif. 5.BAB II. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca ekstensif. Indikator 1. 3. dan mampu menerapkan model. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca ekstensif. MEMBACA EKSTENSIF A. Deskripsi Penyajian model. dan teknik membaca serta penerapan model. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. dan teknik membaca. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif. siswa SMA kelas X dituntut untuk dapat . 6. menerapkan kiat B. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. E. Uraian Materi 1. metode. 4. metode. C. D. metode. 2. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. dan teknik membaca sewaktu membaca ekstensif. Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca ekstensif.

selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang telah dimilikinya. metode paragraf dan P2R. Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat symbol grafis seperlunya saja. Siswa Kelas XI dituntut dapat membaca cepat 300 kata/menit menemukan pokok-pokok untuk isi teks. Siswa kelas XII dituntut dapat membaca cepat 300-350 kata/menit untuk menemukan ide pokok.2-4 Membaca Pemahaman   membaca cepat 250 kata/menit berbagai teks bacaan nonsasatra dengan berbagai teknik membaca untuk menemukan ide pokok. Karena kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan. dan teknik) membaca yang tepat dan benar. Model. metode. metode. Untuk dapat memenuhi tuntutan itu. teknik membaca yang dapat dipilih untuk membaca cepat teks nonsastra adalah model membaca atas bawah. Model Membaca Atas Bawah Model membaca yang dapat digunakan adalah model membaca atas bawah (MMAB). dan teknik skimming. MMAB berpandangan bahwa pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaan merupakan unsur sekunder. MMAB dapat dibagankan berikut ini. model membaca ini disebut model membaca atas bawah. a. siswa harus membaca dengan menggunakan kiat (model. Bagan 1 Model Membaca Atas Bawah .

Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya. Pembaca yang sudah terampil dalam membaca akan selalu melangkah langsung menghubungkan kata-kata yang dibaca ke makna tanpa melakukan identifikasi kata-kata yang dibaca secara cermat. titik tersebut tidak bermakna. Titik yang berada di akhir deretan kata-kata yang berbentuk klausa maka titik tersebut berarti atau bermakna sebuah tanda berhenti.  Membaca Pemahaman 2-5 Proses membaca berdasarkan bagan 1 adalah berikut ini. dan atau kalimat pokok). Pembaca tidak memperoleh makna dari simbol-simbol grafis yang dibaca. Pembaca hanya melihat beberapa bagian dari bacaan (kata kunci. Jika titik tersebut berada di dalam peta. titik itu tidak punya makna apa-apa. Lambang-lambang grafis pada dasarnya tidak punya makna apa-apa. Dengan menggunakan MMAB. titik itu diberi interpretasi sebagai lambang huruf. kemudian pembaca memprediksi pemahaman . 3. Jika tidak diberi interpretasi. tetapi pembaca memberikan makna atas simbol-simbol grafis yang dibaca. titik tersebut sebagai tanda atau lambing-lambang. Dalam bahasa Yunani. Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak. Titik tersebut bermakna jika diberi tafsir pembaca. 2. Tranformasi dalam bidang vokabuler (kosa kata) atau sintaksis yang tidak mengubah makna dipandang sebagai hal yang dapat diterima. Contohnya adalah jika pembaca melihat sebuah titik pada kertas. bagian yang penting. 1. Dalam sandi morse. dimaknai sebagai letak sebuah kota. Hal itu terjadi karena pembaca sudah mempunyai pemahaman terhadap bacaan yang dibacanya. pembaca membuat prediksi (prakiraan) terhadap bacaan yang dibacanya. Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan.

berita. Informasi yang dapat bertahan lama di dalam pikiran atau otak pembaca adalah informasi nonvisual. Jika prediksi kurang cermat. Pembaca tidak lagi memfokuskan perhatian . Jika prediksi kurang cermat. pembaca memahami bacaan dan mengantisipasi yang 6paragrafap pada bagian bacaan selanjutnya ketepatan prakiraan dibuat dengan menggunakan stategi konfirmasi. Keduanya saling berhubungan secara timbal balik. Informasi visual akan langsung hilang bersamaan dengan beralihnya pandangan mata ke bagian yang lainnya. kebutuhan akan informasi visual semakin bertambah. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca sewaktu membaca. b. pembaca menggunakan strategi koreksi yang di dalamnya terjadi pemprosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. Tugas mata dalam MMAB hanyalah sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk cahaya dan mengubahnya menjadi 6paragraf syaraf merambat melalui jutaan serabut syaraf 6arag yang kemudian diteruskan ke otak pembaca. walaupun hubungannya tidak dapat digunakan secara jelas atau tidak dapat dijelaskan secara kongkrit. Otak menginterpretasikan apa yang diterimanya ke dalam bentuk pesan. lisan.2-6 Membaca Pemahaman   atau informasi secara menyeluruh yang terdapat pada bacaan. hubungan keduanya dapat dikatakan bahwa semakin banyak informasi nonvisual yang dimiliki dan digunakan pembaca pada waktu membaca maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. pembaca menggunakan strategi konfirmasi. Sebaliknya. Informasi visual dan nonvisual dibutuhkan dalam kegiatan membaca. Secara umum. Dengan menggunakan syarat 6paragrafap dan sintaksis. dan atau informasi dengan memanfaatkan informasi visual. Metode Paragraf Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf.

berkesinambungan. dalam penguasaannya perlu latihan secara kontinyu. Untuk itu. Membaca paragraf merupakan membaca yang paling kompleks dan rumit. yaitu mekanik dan menjadi jalinan yang utuh yang (1) Metode Paragraf secara Mekanik Pada latihan ini. pembaca dituntut dapat merangkaikan ide-ide pokok yang dikandung oleh tiap-tiap paragraf membentuk satu topik bacaan. Dalam metode ini.  Membaca Pemahaman 2-7 pada kalimat demi kalimat. Dalam prakteknya dibutuhkan keterampilan-keterampilan atau kemahirankemahiran yang telah dikuasai dalam metode sebelumnya. konseptual. pembaca menemukan pikiran pokok paragraf atau informasi yang dicari ditengah paragraf. . Latihan metode paragraf dapat dibagi menjadi dua. Misalnya. Di pikiran-pikiran pokok yang ada dalam paragraf samping itu. Latihan metode paragraf secara mekanik dapat dilatihkan dengan bacaan berikut ini. pembaca didorong untuk menghentikan ayunan matanya pada akhir paragraf dan memahami ide-ide atau yang dibaca. Mata menghentikan geraknya pada setiap akhir paragraf. jika ada tujuan tertentu yang berkaitan dengan pemahaman. Boleh saja mata menghentikan kerjanya sebelum akhir paragraf. pembaca dilatih untuk dapat menggerakkan matanya secara tepat dan cepat dalam menatap unsur-unsur yang ada pada paragraf. tetapi memusatkan perhatian atas jalinan kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf. Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa sebuah paragraf merupakan satuan bacaan yang mengandung ide pokok yang ingin disampaikan oleh penulis. dan tekun. Metode paragraf adalah metode yang paling tinggi tingkatannya dalam metode menengah.

Kloroplas ini seperti sebuah kantung kecil yang berisi kantung-kantung pipih lebih kecil yang disebut tilakoid. Molekul-molekul klorofil hijau (sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis) melekat pada tilakoid dengan membentuk jalur-jalur yang teratur. Bagian-bagian renik inilah yang disebut fotosistem. Jadi. yakni fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II). Ketika cahaya matahari menerpa permukaan tilakoid. Begitu pula dengan rumput. Ada dua jenis fotosistem. PS II dari molelul klorofil menjeratnya. Untuk menjelaskannya. tetapi dipantulkan ke mata kita. daun itu tidak berwarna hijau. Akan terlihat. mari kita ambil selembar rumput atau daun apa pun dan potongan kecilnya diperiksa di bawah mikroskop. Cahaya merah diserapnya. PS I mencari cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan klorofil menyerap cahaya tumbuhan. tetapi sebagian besar tembus pandang dan dipenuhi kira-kira 50 – 100 kloroplas. Gelombang cahaya yang ditangkal rumput atau daun tadi justru sangat berharga bagi manusia.Ternyata. . warna hijau yang kita tangkap lewat mata sebenarnya gelombang cahaya yang ditolak tanaman itu.2-8 Membaca Pemahaman   Bacaan 1 Rumput Menolak Gelombang Hijau Kita tentu senang melihat tanaman di sekitar kita dalam keadaan segar dan telihat hijau. sebenarnya hati yang menyejukkan gelombang mata yang dan tidak meneduhkan merupakan dibutuhkan tumbuhan dalam proses pembuatan makanan. (Intisari Juli 2000:101). Mereka merupakan tim dalam proses fotosintesis. hanya cahaya hijau yang tidak digunakan atau diserap.

5. Kalimat yang penting (kalimat utama) bisa dibaca lebih lambat paragraf kalimat penjelas. Kalimat sebagai kalimat penjelas. 3. 4. Gerakan mata dari kalimat satu ke kalimat yang lain menggunakan kecepatan baca yang tidak sama. 2. Gerakkanlah mata Anda mulai dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir pada tiap-tiap paragraf. 1.  Membaca Pemahaman 2-9 Alternatif cara membaca bacaan di atas adalah berikut ini. Berlatihlah terus-menerus pada hari-hari berikutnya. Tataplah satu halaman penuh dari atas sampai bawah atau dari paragraf awal sampai paragraf terakhir. Jika ada tujuan tertentu. Kemahiran membaca dan pengetahuan tentang paragraf diperlukan pada latihan ini. Peran paragraf yang diemban oleh kalimat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut ini. yaitu kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama. 1. Anda biasa saja berhenti sejenak pada akhir sebuah kalimat yang terletak di awal atau ditengah paragraf. Hal tersebut bergantung pada isi masing-masing kalimat. 3. Lakukanlah latihan tersebut selama 2 atau 3 kali. Kalimat sebagai pemuas. Kalimat sebagai kalimat topik atau kalimat utama. Setiap kalimat yang membentuk sebuah paragraf mempunyai peran paragraf. 2. (2) Metode Paragraf secara Konseptual Pada latihan ini pembaca dilatih untuk dapat memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang terdapat dalam sebuah bacaan. Kalimat . 6. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki pembaca adalah struktur paragraf (Harjasujana dan Mulyati 1997:186).

beberapa pedagang langganan petani pekebun kemudian memakai cara lain. Memetiknya harus dalam cuaca kering.2-10 Membaca Pemahaman   pemuas tidak bermanfaat bagi pembaca. Bacaan 2 Bisnis Duku. Ini bisa menghasilkan buah lagi. Cara ini kadang banyak melukai batang tempat menempelnya tangkai tandan buah. Buah dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan buahnya dengan gunting pemangkas kebun. butiran buah dilepas sebutir demi sebutir dari tandanya. Buah yang masih basah akan mudah berjamur. Hasilnya turun! Karena itu. Bisnis Kilat Para pedagang biasanya memborong buah duku dari petani pekebun ketika buah sudah matang komersial. Pakai tangga. Dengan memotong tandan buah dari tangga. Tandanya kulit buah sudah kuning keabu-abuan. Penulis mencantumkan hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan. meskipun dikemas dalam peti kayu beralas 10arag (bekas) yang sudah kering. kemungkinan merusak kuncup bunga yang masing menunggu giliran tumbuh. Itu pun masih harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dijajakan. Biasanya 4 – 5 kali panen sebelum semua buah dari satu pohon habis dipetik. Di tempat pengemasan. karena banyak yang rusak. dan dipilih yang bobotnya 20 – 40 g . ketika buah sudah tidak basah lagi oleh embun pagi. Tujuannya. Bacaan berikut ini dapat digunakan sebagai latihan metode paragraf secara konseptual. agar buah bisa lebih tahan lama kalau dikirim ke tempat jauh. sehingga perbungaan berikutnya tidak normal lagi. bisa dikurangi.

meskipun rasa buahnya masih tetap manis. mereka segera mengemasnya. Dalam 18 jam. buah sudah bertotol-totol hitam. (Intisari Juli 2000:87). Biasanya terpaksa diobral. duku sudah dibongkar di pasar induk Kramatjati Jakarta untuk dijual kepada para agen. Peti dilapisi 11arag bekas atau daun pisang kering yang tebal sebagai peredam benturan. Penampilannya menyebalkan. kulit buah duku cepat ber-totoltotol coklat. Buah pilihan ini dikemas dalam peti kayu yang diberi ventilasi pada semua sisinya. Kalau terbentur-bentur karena peradam dalam pengemasannya kurang tebal. . Mulailah memahami paragraf pertama dengan cara membaca kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Malam itu juga “peti kemas” diangkut dengan truk yang berjalan malam. Itu sebabnya. Kalau teralmbat sampai tidak terjual dalam waktu yang singkat itu. Begitu selesai memborong buah di pohon. Malam harinya. Begitu juga kalau buah sudah keburu dikemas ketika masih agak basah. para pedagang duku harus bekerja cermat. sudah dijual lagi ke para pengecer yang memasarkannya ke konsumen esok harinya.  Membaca Pemahaman 2-11 sebutir saja yang akan dijual. 1. meskipun cepat. dari daerah 11paragrafaph ke Jakarta lewat Trans Sumatra Highway. Semuanya selesai dalam waktu tiga hari. dan peti juga dengan kasar dilempar-lempar ke atas truk. 2. Tahap-tahap alternatif yang dapat digunakan untuk membaca bacaan tersebut adalah sebagai berikut ini. Tataplah satu halaman penuh dari sebuah bacaan dari atas sampai bawah.

pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca. 4. Pada tahap ini. 7. Informasi bersifat pokok atau inti dan bisa juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan. pokok-pokok pikiran. pembaca melanjutkan tahap berikutnya. Lakukanlah memahami paragraf berikutnya seperti tahap nomor 2 dengan memperhatikan tahap nomor 3 dan 4. Berlatihlah terus-menerus di hari-hari berikutnya dengan bacaan yang lainnya. bisa memfokuskan pemahaman terhadap sebuah paragraf. Lakukanlah latihan ini selama 2 atau 3 kali. 5. pembaca bisa hanya . read. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. 2. dan sebagainya.2-12 Membaca Pemahaman   3. Pemahaman atas kalimat utama lebih dipentingkan dari pada pemahaman kalimat penjelas. pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran. relevansi. Jika hanya ingin mengetahui informasi yang pokok. Setelah itu. Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah berikut ini. Jika belum tahu. Pahamilah masing-masing kalimat dalam paragraf itu secara tidak sama. pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau tidak. Metode P2R Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview. Jika memang sudah tahu tentang bacaan. 6. Jika ada tujuan tertentu. 1. c. Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien (Gordon 2006 : 79).

Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa yakin tidak ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya semester 1. pembaca membaca dengan teliti.  Membaca Pemahaman 2-13 membaca secara sepintas (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. . Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. 3. Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. Ketiga tahap dalam metode ini tidak harus digunakan semua secara tertib. jika preview untuk mengenal bacaan. pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca telah mengenal struktur materi bacaan. Pada saat lain. Pada tahap ini. sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan. diusahakan membaca secepat mungkin. Bisa saja. Yang berbeda adalah tujuannya. Bacaan yang bersifat ilmiah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat paragraf. pembaca tidak melakukan read. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan. Walaupun membaca teliti. Hal tersebut bergantung pada situasinya. Jika memang diperlukan. sebaliknya bacaan yang belum dikenal dibaca secara pelan. Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat. ketiga tahap itu digunakan secara tertib. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehigga tidak perlu dibaca.

Untuk mencari ide-ide pokok pembaca tidak diperbolehkan membuang-buang waktu. Kepala susu adalah intisari atau bagian yang banyak mengandung gizi. cepat. Teknik Skimming Skimming berasal dari bahasa Inggris to skim yang berarti mengambil kepala susu atau krim dengan sendok atau menyendok kepala susu. Gelombang ada yang tinggi sekali. Skimming dalam bidang membaca merupakan sebuah istilah salah satu teknik membaca ekstensif. dan selintas (Widyamartaya. sekilas (Tarigan 1994:30). skimming merupakan teknik membaca yang dilaksanakan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien. Ia diharapkan butuh waktu beberapa detik atau menit untuk menskim. yaitu ide-ide pokok. tinggi. Kepala susu merupakan bagian yang mengental yang berada di atas setelah semangkok susu yang dipanaskan didinginkan. Ide pokok tidak selalu diawal paragraf. Gerak mata pada membaca dengan teknik skimming bisa diibaratkan gelombang air laut. Kecepatan gelombang bergantung dari daya dorong paragraf daya dorong dari dalam laut. Gelombang air laut bergerak menyapu setiap bagian laut dan pantai yang dilaluinya. Gerak mata dalam membaca dengan teknik skimming mempunyai gerak mata yang cepat dan bentuk yang tinggi. sedang atau rendah. Kecepatan . Hal yang dicari adalah hal-hal yang pokok atau penting. Berdasarkan uraian tersebut.2-14 Membaca Pemahaman   d. Dalam menskim tidak hanya menjelajahi halaman demi halaman secara cepat. diakhir. Gelombang bisa sangat cepat. yaitu bahwa skimming merupakan teknik membaca efisien. Istilah lain dari skimming adalah baca layap (Harjasujana dan Mulyati 1997:64). Hal itu relefan dengan pendapat Soedarso (2004:88). 2004:44). Gelombang mempunyai kecepatan dan bentuk tertentu. tetapi juga ada yang dicari. atau diawal dan diakhir. sedang atau pelan. Gelombang mempunyai bentuk berdasarkan kecepatan gelombang dan hambatan yang dilaluinya. tetapi dapat juga terdapat ditengah.

Kemudian mata bergerak pada kecepatan yang tinggi lagi. Pertamatama mata bergerak pada baris-baris yang mengandung ide pokok dari sebuah paragraf. Ilustrasi dari gerak mata dalam membaca teknik skimming pada pembaca yang masih taraf pemula adalah sebagai berikut. kemudian melompat (skipping). dicetak tebal. dan ditulis dalam kotak. misalnya ditulis miring. Awal mula mata dipersiapkan bergerak secara cepat untuk membaca bagian demi bagian dalam bacaan. dan memperlambat (bahkan boleh berhenti) pada beberapa fakta yang penting yang menunjang ide pokok. Pada saat mata melihat bagian yang penting gerak mata diperlambat untuk memahami bagian penting tersebut. Contoh gerak mata dalam teknik skimming adalah sebagai berikut: . Pembaca dapat mengenal detail penting bacaan berdasarkan tipografi atau tanda-tanda tertentu dalam bacaan.  Membaca Pemahaman 2-15 dan bentuk ayunan mata dalam setiap bagian yang dibaca tidaklah sama bergantung penting tidaknya bagian yang dibaca dan tujuan dalam membaca.

2-16 Membaca Pemahaman   Bacaan 3 Latihan Teknik Skimming .

Pembaca melihat secara sekilas judul-judul buku membaca yang terdapat rak khusus buku-buku membaca. Dengan men-skim buku tersebut. Widyamartaya 2004: 44. dan mengetahui bagian penting. dan Tarigan 1994: 32). Yang dapat diterapkan adalah mengenal bacaan. yaitu mengenal paragraf bacaan. ia bisa saja mengambil buku tersebut untuk membaca sekilas daftar isi buku . bagian penting organisasi bacaan. Misalnya pembaca datang ke toko buku untuk mengetahui buku-buku membaca apa yang terdapat pada toko buku tersebut. dan judul subbab. Soedarsono 2004: 88-89. penyegaran.  Membaca Pemahaman 2-17 1) Tujuan Membaca Skimming Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan. Yang dimaksud topik bacaan adalah judul buku atau artikel. judul-judul bab. Apabila ada buku yang cocok. pembaca tahu judul-judul buku apa saja yang tersedia di toko buku tersebut. mengetahui opini. opini. dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati 1997: 64-65.

Teknik baca layap juga dapat digunakan untuk melihat paragraftopik artikel yang ada pada majalah atau surat kabar. Apabila ya. Bacaan ilmiah biasanya tidak mengandung opini. Pada sebuah bacaan opini belum tentu ada. pembaca bisa saja men-skim semua halaman yang ada pada buku untuk meyakinkan bahwa yang dicari memang betul-betul tidak ada karena ada kemungkinan informasi yang dicari ada di dalam buku. informasi gempa bumi yang terjadi di Yogya. Opini digunakan untuk menggugah pikiran pembaca untuk berfikir kritis sehingga pembaca diharapkan dapat paragraf umpan baliknya yang berupa tanggapan. Skimming dapat diterapkan sewaktu pembaca mencari bahan di perpustakaan. kemudian melihat daftar isi untuk menentukan apakah buku tersebut mengandung pembahasan tentang hal-hal yang dibutuhkan. Jika ada buku-buku yang dibutuhkan. . Misalnya.2-18 Membaca Pemahaman   itu guna mengetahui apakah ada judul bab atau subbab yang diinginkannya. Sewaktu men-skim daftar isi dan tidak menemukan hal-hal yang dicari. Pembaca dapat membaca layap surat kabar yang dibaca untuk mencari informasi yang diinginkan. pikiran atau pendirian. ia mencari atau meminjam buku tersebut. Ia cukup mencari judul artikel yang ada dalam surat kabar yang dibaca secara sekilas tentang gempa yang melanda Yogya. Kadang kala pada sebuah surat kabar memuat artikel yang justru kehadiran opini diwajibkan karena tanpa opini artikel tersebut kurang bermutu sehingga orang yang ingin mengirim artikel untuk kolom itu diharuskan menampilkan opini-opini. bukalah halaman yang mungkin mengandung informasi yang dibutuhkan secara cepat. Opini berarti pendapat. tetapi tidak secara eksplisit tercantum dalam daftar isi. Ia membaca sekilas kartu pparagrafa atau daftar pparagrafa yang ada di pparagrafap mengenai judul buku yang tersedia di perpustakaan tersebut. tetapi bacaan yang bersifat paragraf umumnya ada opininya.

Dalam rangka menemukan informasi yang penting dari sebuah bacaan. Pembaca cukup membaca dengan sekilas dari atas sampai bawah untuk menemukan informasi tertentu yang dicari. Cara yang efektif dan efisien untuk mendapatkannya adalah cukup dengan membaca paragraf awal dan akhir. 1. Tentukan dengan jelas informasi atau fakta yang akan dicari atau buatlah pertanyaan-pertanyaan mengenai informasi yang ada dalam bacaan. Pendapat yang diungkapkan pada akhir bacaan biasanya berupa simpulan.  Membaca Pemahaman 2-19 Artikel semacam ini diminati pembaca yang ingin mencari hal-hal yang bersifat sensasi. Penulis boleh saja menampilkan ringkasan pendapatnya pada akhir bacaan. Artikel yang seperti itu merupakan bacaan yang bersifat deduktif. Tarigan (1990 : 33) paragraf petunjuk sebagai berikut. tempat peristiwa. Semua pendapat yang akan diuraikan berikutnya ditulis pada paragraf awal. . Bacaan yang demikian merupakan bacaan yang bersifat induktif. Setelah mengetahui paragraf-topik bacaan. pembaca tidak perlu membaca keseluruhan bacaan. Paragraf awal sebuah bacaan umumnya mengandung pokokpokok pikiran yang diuraikan pada paragraf berikutnya (paragraf isi). Bacaan tersebut dinamakan bacaan yang bersifat deduktif – induktif. Disamping kedua cara tersebut. jumlah korban. Untuk mengetahui bagian penting dari sebuah bacaan. Informasi yang dicari misalnya adalah nama peristiwa. biasanya pembaca melanjutkan membaca untuk mengetahui pendapat penulis terhadap permasalahan yang dibahas. pembaca hanya melihat secara skimming seluruh bacaan dengan menangkap ide-ide pokok. nama tokoh. pembaca bisa juga menemukan opini pada awal dan akhir bacaan karena penulis artikel menampilkan opini pada awal bacaan dan diulang diakhir bacaan dalam bentuk simpulan. Jika ingin mengetahui bagian penting.

seri atau kalah. 4. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja. sebaiknya pembaca melihat apakah kata kunci tersebut tercantum dalam indeks. misalnya dalam pertandingan sepak bola kata kunci tersebut adalah menang. . Lihatlah setiap halaman dengan cepat hanya untuk tujuan mencari kata kunci atau informasi yang diinginkan. 2) Jenis Teknik Skimming Jenis teknik membaca yang termasuk dalam teknik skimming adalah skipping. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. Bagian bacaan yang tidak penting dilompati atau tidak dihiraukan. Skipping diartikan sebagai teknik baca lompat. Ayunan mata tidak memakai irama yang sama. Jika pada sebuah paragraf hal yang penting terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. Pembaca yang menggunakan teknik ini berarti melakukan ayunan mata dari bagian bacaan yang penting ke bagian bacaan yang lain. Hal tersebut bergantung pada letak atau jarak bagian yang penting dengan bagian penting lainnya. Apabila pembaca mencari informasi dalam sebuah buku. dan previewing. pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat terakhir. Kemungkinan lain dalam membaca dengan skipping adalah pembaca mengayunkan matanya dari kalimat pertama ke kalimat pertama pada paragraf berikutnya. Jika tidak ada. locating. sampling. pokok. dari kalimat akhir ke kalimat akhir pada paragraf berikutnya. Maksudnya adalah membaca melompatlompat dari bagian yang penting. Siapkan kata kunci yang tepat untuk menunjuk informasi yang dibutuhkan. dari kalimat awal ke kalimat tengah pada sebuah halaman. yang dicari atau dibutuhkan ke begian yang penting berikutnya. 3.2-20 Membaca Pemahaman   2. carilah di bawah subjek yang lebih luas.

Adakalanya sebuah paragraf tidak mengandung informasi kunci. Prinsip yang dianut teknik ini adalah membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah bacaan yang dianggap dapat mewakili keseluruhan bacaan. Dalam pengembangan penggunaan teknik ini. pembaca akan mendapatkan gambaran umum sebuah bacaan dengan cepat. Dengan teknik ini.  Membaca Pemahaman 2-21 dari kalimat awal ke kalimat akhir pada sebuah halaman. dan seterusnya. Sampling merupakan teknik membaca bagian tertentu bacaan dengan cepat supaya mendapat gambaran umum dari bacaan yang dibaca. ketiga. Kalimat utama umumnya mengandung informasi kunci yang biasanya terletak pada kalimat pertama dari sebuah paragraf. 3. 2. penggunaan teknik ini dipusatkan pada membaca kalimat pertama setiap paragraf. dari kalimat awal ke kalimat awal pada halaman berikutnya. Maksudnya adalah mata pembaca bergerak secara paragraf. informasi pokok belum tentu berada di setiap paragraf. Pembaca memusatkan pandangan matanya di bagian tengah bacaan dan . Oleh karena itu. dan seterusnya. Bagian-bagian bacaan yang dianggap dapat mewakili bacaan. Informasi kunci belum tentu terdapat pada kalimat pertama. pembaca memperoleh gambaran umum dari bacaan yang dibaca. pembaca tidak hanya terpaku pada kalimat pertama dari setiap paragraf. keempat. Disamping itu. Locating merupakan teknik membaca paragraf. Untuk itu. dalam menerapkan teknik sampling pembaca diberikan keleluasaan untuk membaca bagian-bagian tertentu dari bacaan dengan syarat: 1. yaitu kalimat inti atau kalimat utama. dilaksakan dengan sekilas. yaitu pandangan mata bergerak dari bagian atas ke bawah secara cepat. bagian-bagian yang dibaca mengandung informasi kunci atau pokok. tetapi bisa-bisa saja terdapat pada kalimat kedua.

. Dengan kedua kemampuan itu. pembaca juga memiliki daya melihat sekeliling. Pandangan mata akan tertuju pada informasi tersebut karena selain bidang pandangan paragraf dekat (eye span). tetapi secara paragraf dari kiri ke kanan. Penggunaan teknik locating tidaklah mudah karena materi bacaan tidak ditulis secara paragraf. Kemampuan peripheral vision dapat juga digunakan oleh pembaca pada tiap sampai ujung kalimat yang dengan cepat kembali ke bagian awal baris berikutnya. Dalam tipografi. Hal ini terjadi karena pembaca selain mempunyai kemampuan pandang paragraf dekat yang disebut rentang pandang mata (eye span). Walaupun demikian. kepala kalimat. awal paragraf dibuat untuk membantu menarik perhatian otak dan mata supaya dapat mengenali perbedaan dalam pergatian bagian. Pembaca melihat sisi kanan halaman dan tidak dapat melihat secara jelas yang ada pada sebelah kiri halaman. kata yang di cetak tebal atau miring. Mata pembaca diharuskan bergerak secara diagonal kembali ke kiri untuk membaca garis berikutnya sehingga mata bergerak dengan pola zig-zag. pembaca akan banyak menghabiskan banyak waktu dalam membaca kerena pembaca harus melewati baris-baris yang telah dibaca. kata yang dimulai dengan huruf paragraf. otak pembaca bisa melihatnya dengan jelas sehingga bisa menuntun mata pembaca secara tepat ke awal baris berikutnya.2-22 Membaca Pemahaman   bagian kanan dan kiri tetap dalam jangkauan pandangan mata. juga mempunyai kemampuan pandang sekeliling atau daya melihat sekeliling (peripheral vision). pembaca dapat menggerakkan matanya dari bagian tengah atas ke bagian tengah bawah secara cepat. Kenyataan yang mempersulit penggunaan teknik locating adalah membaca sepintas hanya akan berkerja optimal apabila pembaca telah menenemukan kata atau frase kunci. Seandainya hal tersebut tidak bisa dilakukan.

Teknik ini menggunakan teknik sampling dari sisi pemusatan perhatian pada kalimat pertama setiap paragraf dan memanfaatkan teknik locating dari sisi daya melihat sekeliling. Dengan membaca bagian awal dan atau akhir sebuah paragraf dengan tepat. Teknik juga dapat digunakan untuk menangkap garis besar materi bacaan sebelum pembaca menolak untuk membacanya. zig-zag. Gambar membaca dengan pola Blok adalah berikut ini. . Pola yang dapat diterapkan adalah blok dan horizontal. pembaca memperoleh hal yang primer dan yang sekunder. Blok ini bentuknya adalah paragraf. Kalau hal tersebut dilakukan dapat menghemat waktu yang banyak. blok. Pola blok merupakan pola membaca dengan cara mata berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. Pembaca mendapatkan ide-ide pokok atau informasi inti dan sekaligus bisa menemukan hal-hal yang diperlukan untuk mendukung ide pokok. Pengunaan teknik ini adalah pembaca membaca kalimat pertama pada setiap paragraf dan pembaca menggunakan kemampuan daya melihat sekeliling pada kalimat-kalimat yang lain dari setiap paragrafnya. Penggabungan kedua teknik tersebut digunakan untuk menerima atau mengenali pokokpokok pikiran yang penting dengan cepat. dan paragrafaph (Harjasujana dan Mulyati 1997:168-169). Pola Membaca Cepat Pola membaca yang digunakan dalam teknik lanjutan adalah pola paragraph diagonal. Jadi.  Membaca Pemahaman 2-23 Previewing merupakan gabungan dari teknik sampling dan locating. Atau dengan kata lain. pembaca akan dapat menerka isi 23paragrafaph tersebut. spiral. disamping menemukan ide pokok. pembaca dapat memperoleh hal-hal yang diinginkan lainnya.

dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Yang dapat dilakukan oleh siswa SMA untuk mencapai tujuan itu adalah membaca dengan model membaca model .2-24 Membaca Pemahaman   Gambar 1 Pola Blok Pola horizontal merupakan pola membaca dengan cara mata meluncur dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. kecepatannya harus cepat kilat karena pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. siswa kelas X dituntut untuk dapat membaca berbagai ragam wacana untuk merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. Pola membaca horizontal dapat digambar sebagai berikut: Gambar 2 Pola Horisontal 2. Membaca Memindai Buku Dalam standas isi pada kurikulum 2006.

teknik scanning. Untuk itu. proses MMTB dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. a. metode SQ3R. mudah atau tidak pokok dan ada bagian yang belum dikenal. ortografis. paragraf.  Membaca Pemahaman 2-25 atas bawah (lihat hal 4) atau model membaca timbal balik.4) dan vertical. yaitu mulai dengan paragraf atau makna. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan. . Jika dibagankan. pembaca tidak bisa menerapkan salah satu model membaca yang sudah ada. dan leksikon bekerja secara serempak untuk memahami (mentransfer) informasi yang disampaikan penulis. melainkan proses paragraf balik yang bersifat simultan. pembaca dituntun tidak hanya memakai salah satu model membaca tersebut. Pembaca menggunanakan MMBA dan MMAB secara bergantian. sulit atau pokok. Model Membaca Timbal Balik Sebuah bacaan kadangkala ada bagian yang sudah dikenal. Membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-berlanjut.1. Oleh karena itu. MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan. Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca yang meliputi sintaksis. MMTB adalah berikut ini. Disamping itu. dan pola blok (lihat 2. yaitu MMBA atau MMAB. Sistem atau cara kerja membaca seperti itu dinamakan MMTB. Penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis (informasi visual) dan informasi nonvisual (informasi yang sudah dimiliki oleh pembaca). tetapi mengkombinasikan kedua model tersebut dalam proses membaca. Pengetahuan pembaca pada setiap bagian bacaan juga kadangkala berbeda. Ada bagian bacaan yang sudah sesuai dengan pengetahuan pembaca dan ada yang belum sesuai dengan pengetahuan sehingga pembaca tidak bisa menerapkan MMBA atau MMAB saja. Pada peringkat ini bank data bekerja secara simultan.

paragraf. Tampubolon (1990:170) 26paragraf nama metode SQ3R dengan istilah surtabaku yang merupakan akronim dari survai. dan tahun terbit. dan bagian akhir. b. mengkaji. dan ulang. Bagian-bagian buku yang disurvai adalah bagian awal. meneliti.2-26 Membaca Pemahaman   Bagan 2 Model Membaca Timbal Balik Metode yang dapat diterapka untuk membaca buku untuk merangkum isi buku dalam beberapa kalimat adalah metode PQ3R. pengarang. Mula-mula metode ini dikembangkan oleh Robinson pada tahun 1946. Bagian awal (preliminaries) yang disurvai meliputi halaman judul. kata pengarang. bagian isi. yaitu survai. Pada halaman judul yang disurvai adalah judul buku. baca. Metode ini dibuat untuk kepentingan membaca bacaan yang berupa buku untuk kepentingan belajar. Metode SQ3R Metode SQ3R merupakan metode membaca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap. Penjelasan dari kelima tahap dalam SQ3R adalah sebagai berikut Survai adalah meninjau. recite dan review (Tarigan 1990:54). daftar gambar. dan abstrak (bila ada). daftar isi. dan cara membaca bagian-bagian tertentu dari sebuah buku. question. Penerapannya adalah berikut ini. Bagian isi yang disurvai meliputi judul . reading. daftar paragraf. paragraf. penerbit. tempat terbit.

Jika tidak melakukan survai. Anatomi buku merupakan bagian-bagian dari sebuah buku yang umumnya meliputi bagian pendahuluan. dan indeks (bila ada). dan sari. Buku yang bermutu baik akan mengandung bagian-bagian buku yang lengkap. pembaca tidak perlu meneruskan ke tahap berikutnya. grafik. . Bagian-bagian buku yang disurvai dibaca dengan teknik baca layap (skimming. dan paragraf (bila ada). Bagian isi dari sebuah buku yang baik adalah terdapat bab.  Membaca Pemahaman 2-27 tiap bab. pembaca tidak akan bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi buku. dan penutup. bagan. daftar gambar. sub-sub bab. mengandung informasiinformasi yang dibutuhkan atau tidak. pembaca akan meneruskan kegiatan membacanya pada tahap berikutnya. Survai juga digunakan untuk mengetahui mutu buku. dan indeks. Tahap mensurvai buku diperlukan untuk tahap berikutnya. diagram. Jika jawabannya ya. daftar pustaka. Tujuan dilakukannya survai adalah untuk mengetahui anatomi buku.) yaitu membaca secepat mungkin halaman demi halaman. Jika jawabannya tidak. dan gambaran umum isi buku. Cara mensurvai bagian-bagian tersebut adalah dengan membuka-buka bagian-bagian tersebut secara cepat dan menyeluruh dalam sekali pandang. Survai dilakukan dalam waktu beberapa menit saja dan merupakan kegiatan awal dari penerapan metode ini. subjudul. kata pengantar. daftar pustaka. Tujuan lain dari mensurvai adalah untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara cepat. daftar paragraf. Bagian akhir buku yang disurvai meliputi simpulan. Dalam waktu yang singkat pembaca sudah dapat mengetahui buku yang disurvai itu cocok atau tidak. ringkasan yang tersusun secara sistematis. mutu buku. Bagian awal dari sebuah buku yang lengkap terdiri atas halaman judul. daftar isi. Bagian akhir dari sebuah buku yang bermutu meliputi simpulan. isi.

3. pertanyaan-pertanyaan itu dicatat supaya pembaca tidak lupa dan tidak membebani pembaca untuk selalu mengingat-ingat pertanyaan sehingga dapat mengganggu konsentrasi pada waktu membaca. 3. ada buku yang berjudul Membaca Efektif dan Efisien. 2. Umumnya.2-28 Membaca Pemahaman   Questioin (bertanya) merupakan tahap kedua dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca menyusun pertanyaanpertanyaan. Manfaat melakukan question bagi pembaca sebelum membaca adalah sebagai berikut. 5. 2. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan memotivasi pembaca untuk membaca dengan sungguh-sungguh karena sudah tahu target yang ingin dicapai. Pertanyaan dibuat berdasarkan perkiraan-perkiraan pembaca sewaktu melakukan survai. Pertanyaan-Pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pikiran pembaca pada bagian-bagian tertentu dari bacaan yang dibaca. 4. Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul karena keinginan atau hasrat pembaca untuk mengetahui mengenai sesuatu hal yang diperkirakan terdapat dalam bacaan. Kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah berikut ini. Sebaiknya. Pembaca dikondisikan berpikir kritis atas bacaan yang . Misalnya. pertanyaan-pertanyaan menanyakan mengenai halhal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. 1. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan mengarahkan pembaca untuk menemukan isi bacaan pada waktu pembaca melakukan tahap reading. 6. 1. Apakah yang dimaksud membaca yang efektif ? Apakah yang dimaksud membaca yang efisien? Apakah yang dimaksud membaca yang efektif dan efisien? Bagaimana caranya membaca efektif? Bagaimana caranya membaca efisien? Apa manfaat membaca efektif dan efisien? Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat atau dihafal.

Kecepatan baca disesuaikan dengan tujuan membaca dan bacaan. Pembaca tidak hanya menerima informasi yang disampaikan penulis. Tahap sebelumnya (survai end question) dipersiapkan untuk melakukan tahap ini.  Membaca Pemahaman 2-29 dibaca. dan bagian bacaan yang mudah dibaca . pikiran-pikiran pokok yang terdapat dalam bacaan. dan simpulan yang dibuat penulis. Jika belum yakin. Jika diperlukan. bagian bacaan yang sedang dibaca kecepatan sedang. Bagian bacaan yang sukar akan dibaca dengan lambat. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dari metode ini. Kedua tahap sesudahnya (recite end review) merupakan tindak lanjut dari tahap ini. Untuk memperlancar proses membaca. pembaca tidak harus melakukan kecepatan baca yang sama. pembaca boleh meragukan apa yang dikatakan penulis sambil mencari sumbersumber lainnya yang dapat meyakinkan pembaca atau bahkan pembaca tambah ragu atau tidak yakin tentang apa yang ditulis penulis. Apa yang telah dirintis pada kedua tahap sebelumnya akan direalisasikan pada tahap reading. Dalam membaca. Reading (membaca) merupakan tahap ketiga dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk membaca bacaan. Pembaca biasanya membaca dengan teliti sambil mencari jawaban dari pertanyaan pada tahap question. Pada tahap ini. pembaca bisa membuat catatan tentang hal-hal yang penting yang telah ditemukannya atau pembaca cukup berupa menggarisbawahi hal-hal yang penting pada buku. pembaca melakukan kegiatan membaca secara menyeluruh. pembaca memfokuskan pada kata-kata kunci. Kecepatan baca bidang cepat jika yang ingin diperoleh hanya hal-hal tertentu saja atau hal-hal yang penting dan kecepatan baca lambat (diperlambat) jika yang diinginkan adalah mengetahui semua isi yang ada pada bacaan. yaitu membaca bab demi bab dan bagian demi bagian bab.

2-30 Membaca Pemahaman   dengan kecepatan yang tinggi. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa kesulitan bagianbagian bacaan tidak sama. Gaya (model) yang ditawarkan ada dua. Dari dua jenis membaca itu. pembaca buku termasuk di dalam jenis membaca dalam hati. . pembaca harus pandai memilih model membaca yang diterapkan. Dengan cara seperti itu. Membaca ekstensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami informasi-informasi yang penting atau pokok yang terdapat pada bacaan dengan cara membaca secara sepintas. gaya membaca atas bawah untuk membaca bacaan yang mudah atau sedang. Keberagaman pilihan teknik membaca dapat dibaca pada bab IV. dan jenis membaca yang dipraktekkan. gaya membaca bawah atas untuk membaca bacaan yang sulit atau belum dikenal. teknik close reading dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitan bacaan tinggi atau sedang. Teknik skimming dipilih jika bagian bacaan yang dibaca tingkat kesulitannya mudah. Model membaca ini menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan cara yang tidak sama pada setiap bagian bacaan. Membaca intensif merupakan jenis membaca yang bertujuan untuk memahami semua informasi yang ada dalam bacaan. Membaca dalam hati dapat diklasifikasi menjadi dua. Kedua gaya diterapkan bersama-sama pada waktu membaca. dengan cara membaca secara teliti. pembaca melakukan membaca secara fleksibel. Pilihan teknik membaca juga didasarkan atas tingkat kesulitan bagian-bagian bacaan. Pertama. membaca buku termasuk di dalam membaca intensif. yaitu membaca intensif dan ekstensif. Menurut Tarigan (1990:12). teknik membaca yang digunakan. Dengan fleksibilitas baca. Model membaca yang cocok untuk membaca secara fleksibel adalah model membaca campuran. baik yang paling atau pokok maupun yang detail. Kedua.

. Pembaca yang belum mahir lebih baik melakukan recite tiap subbab. bacaan yang sedang merecitenya setelah selesai membaca setiap bab. pembaca tidak boleh membuka-buka buku yang telah dibaca. Tahap ini dilakukan apabila pembaca sudah merasa yakin bahwa pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap question bisa dijawab dan dapat menceritakan dengan benar mengenai bacaan yang telah dibacanya. Pembaca dalam menceritakan kembali harus sudah hafal mengenai isi bacaan. dan pembaca yang sudah mahir melakukan recite setelah selesai membaca semua bab. Pada tahap ini. ada yang selesai tiap-tiap bab. Bacaan yang sulit merecitenya setelah selesai membaca pada setiap subbab. Hal tersebut diperbolehkan supaya tidak mengganggu tahap berikutnya (review). bacaan yang sedang setelah selesai per bab. Recite menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca. dan bacaan yang panjang setelah selesai per subbab. dan bacaan yang mudah mericetenya setelah selesai membaca semua bab. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca bagian yang terlupakan.  Membaca Pemahaman 2-31 Recite (menceritakan kembali) merupakan tahap keempat dari metode SQ3R yang berupa kegiatan membaca untuk menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri. dan ada juga yang setelah selesai tiaptiap subbab. Tingkat kesulitan dan panjang-pendeknya bacaan menjadi menjadi pertimbangan dalam melakukan recite. pembaca yang sudah cukup mahir disarankan merecite tiap bab. kebiasaan. Ada pembaca yag biasa menceritakan kembali isi bacaan setelah selesai semua bab dibaca. per bab atau setelah bacaan selesai dibaca. tingkat kesulitan bacaan. Tahap ini dapat dilakukan per subbab. Pertimbangan yang dijadikan dasar adalah kemahiran yang dimiliki pembaca. Bacaan yang pendek menceritakan kembalinya setelah selesai membaca semua. Ada kemungkinan pembaca lupa tentang sesuatu hal yang akan diceritakan. dan panjang pendeknya bacaan.

2. Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang. bukan lisan. Pembaca bisa saja menceritakan kembali hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh guru atau dosen waktu ujian dan ditanya teman-temannya sewaktu diskusi. pembaca yang belum berhasil adalah pembaca yang tidak dapat bercerita secara cermat. tetapi dapat dikembangkan. keteraturan. Menceritakan kembali isi bacaan (buku) tidak harus hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuat pada tahap question. 3. sedangkan meninjau ulang merupakan kegiatan untuk melihat-lihat bagian-bagian bacaan secara secepat kilat. padat. Pembaca yang telah berhasil adalah pembaca yang dapat bercerita secara cermat. dan kedalaman dalam menceritakan kembali isi buku. dan rinci.2-32 Membaca Pemahaman   Sebaiknya. Ikhtisar dibuat secara singkat. (Harjasujana dan Mulyati 1997:212). Membaca ulang merupakan kegiatan membaca untuk mengulang membaca bacaan yang telah dibaca secara teliti. teratur. recite dilakukan secara tulis (tertulis). Bagian yang . Sebaliknya. 1. misalnya sambil membaca atau sambil membuka-buka kembali halaman buku. tahap ini merupakan tahap evaluasi. Ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata pembaca sendiri. dan jelas yang mencakup butir-butir penting isi bacaan. Ikhtisar dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain. Review (meninjau kembali) merupakan tahap akhir dari metode SQ3R yang berupa kegiatan pembaca untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami. Ikhtisar dibuat berdasarkan rambu-rambu berikut ini. luas atau banyaknya informasi yang telah dicerna melalui kegiatan membaca. Recite tertulis dapat berupa ikhtisar. Pembaca dievaluasi seberapa jauh. dan rinci. Bagi pembaca. teratur. Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatan.

diagram.  Membaca Pemahaman 2-33 ditinjau ulang misalnya judul. kutipan lengkap bagian informasi atau pernyataan yang dipandang penting dengan disertai keterangan sumber otentik (tahun terbit dan halaman). benar-tidaknya kelebihan dan informasi-informasi disampaikan kelemahan buku yang dibaca. Tahap ini berguna dalam membantu pembaca mengingat-ingat dan mengeluarkannya pada waktu ujian. dan penerbit. judul buku. Kelima tahap dalam SQ3R dilaksanakan secara sistematis mulai dari survai sampai dengan review. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan metode SQ3R ada lima. Informasi-informasi yang didapat dari buku secara bertahap. review bermanfaat untuk mengecek barangkali ada hal-hal yang penting terlewati. 4. tahun terbit. Agar hasil baca dari metode SQ3R terpelihara dengan baik. Pada tahap ini. perlu ditulis dalam kartu baca. tempat terbit. pembaca yang sudah mahir tidak sekedar merasa yakin telah menguasai semua isi yang ada dalam buku. Meninjau kembali bacaan diperlukan untuk menyegarkan kembali ingatan atas informasi-informasi yang telah diperoleh pada waktu membaca. Disamping itu. gambar. Pertama. ringkasan mengenai pokok-pokok penting isi bacaan dengan bahasa pembaca sendiri. 2. pembaca dilatih membaca secara sistematis. Kedua. subjudul. nama pengarang. dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada buku. tetapi pembaca juga merenungkan yang dan memikirkan penulis. membaca akan . 33arag atau judul bacaan. Nama lain kartu baca menurut Tampubolon (1990:173) adalah kartu rangkuman pokok bacaan studi. Hal-hal yang dicatat dalam kartu baca adalah sebagai berikut: 1. 3. kritik dan saran yang bisa disampaikan untuk menyempurnakan buku yang dibaca.

tahap-tahap penggunaan. pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah buku yang dihadapinya sesuai dengan yang diperlukan atau tidak. Pembaca dapat mengetahui hal tersebut setelah selesai melakukan survai. Buku yang dihadapi untuk dibaca adalah buku yang berjudul Membaca 2 karangan Harjasujana dan Mulyati. Jika buku tersebut diperlukan. Untuk mencapai tujuan. Pengaturan tempo membaca tiap-tiap bagian bacaan tidak selalu harus sama. Tempo baca akan diperlambat jika membaca halhal yang belum diketahuinya atau bacaannya sulit. Contohnya adalah jika pembaca diberi tugas mencari pengertian metode SQ3R. Keefektifan pembaca membaca membaca dapat dilihat secara dari efektif dan efisien. Kelima. pembaca diberi kesempatan untuk membaca secara fleksibel. Sub-sub bab pada bab VIII berjudul pengertian. pembaca melakukan serangkaian tahapan yaitu . dan manfaat menggunakan SQ3R. Buku tersebut disurvai pada daftar isi. Pembaca akan mempercepat tempo bacanya jika membaca hal-hal yang sudah diketahui atau bacaannya mudah. Jika buku itu tidak diperlukan. kegiatan tercapainya membaca sesuai dengan tujuan.2-34 Membaca Pemahaman   memperoleh pemahaman yang komprehensif dan tahan lama. Dari hasil survai tersebut pembaca dapat menentukan bahwa buku itu diperlukan sehingga pembaca melakukan tahap berikutnya. Tujuan yang ingin dicapai dalam membaca buku dituangkan dalam bentuk pertanyaan. pembaca akan beralih pada bacaan lain yang sesuai kebutuhannya. Pemahaman yang diperoleh akan tahan lama tersimpan di dalam otak karena diperoleh dengan menggunakan cara yang bertahap. Keempat. Ketiga. tahap-tahap. pembaca akan meneruskan membacanya. dan manfaat SQ3R. Semua bagian-bagian buku dibaca mulai dari halaman judul sampai daftar pustaka atau indeks. Dalam daftar isi terdapat judul bab metode SQ3R pada bab VIII.

. Scanning merupakan teknik membaca sekilas cepat. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. Kedua paragraf dilakukan sekilas dan teliti. pembaca perlu memperhatikan hal-hal berikut ini. Di samping itu. Pembaca sudah mempunyai tahap-tahap yang pasti dan persiapan yang mantap untuk membaca sehingga akan mempercepat proses membaca buku.  Membaca Pemahaman 2-35 reading. 1. Pembaca tidak akan mengulang bacaan yang telah dibaca. 3. pembaca melaju dengan penuh keyakinan. recide. Teknik Scanning Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas atau teknik baca tatap. Tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan informasi tertentu dan atau fakta khusus. Untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus. Teknik scanning terjadi dua proses. Prinsip membaca scanning adalah cepat menemukan informasi untuk mencari informasi tertentu atau fakta khusus pembaca. Setelah yang dicari ditemukan. 4. 2. dan review sehingga tujuan baca akan bisa tercapai dengan baik. Waktu baca dari sebuah buku dengan metode SQ3R 35paragrafap cepat. pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh atau memahami informasi atau fakta yang dicari. tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Harjasujana dan Mulyati 1997:65 dan Tarigan 1994:31). Keefisien membaca dilihat dari sisi waktu yang dibutuhkan dalam membaca. Dalam penggunaannya. c. yaitu proses mencari atau menemukan dan proses memperoleh informasi atau fakta. pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memperhatikan atau membaca bagian-bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari.

3. . memilih acara paragraf. mencari nomor telefon. Pembaca disarankan mengetahui kata-kata kunci atau frasefrase kunci yang menjadi petunjuk. Yang dapat diterapkan adalah menemukan topik tertentu dan mencari entri pada indeks. seorang penulis memerlukan sumber. menemukan kata di kamus. seperti anak panah yang langsung meluncur dari bagian tengah busur ke sasaran yang dituju oleh pemanah.2-36 Membaca Pemahaman   1. antara lain menemukan topik tertentu. tetapi sebanyak mungkin. Dalam kehidupan sehari-hari teknik scanning digunakan dengan tujuan. ilustrasi atau 36arag yang berhubungan dengan informasi atu fakta yang dicari. Dalam rangka menulis sebuah artikel. Pembaca seyogyanya mengenai organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk menafsirkan letak informasi terentu atau fakta khusus. grafik. Untuk itu. makalah atau buku. 4. dengan pola S atau zig-zag. Sumber yang diperlukan tidak hanya satu. 2. Dalam menulis karya ilmiah semakin banyak sumber yang diacu dan sumbernya bermutu mempunyai nilai tersendiri karena salah satu paragraf dalam menilai sebuah tulisan ilmiah adalah dari sumber yang dipakai. Pembaca memperlambat kecepatan bacanya jika sudah menemukan informasi atau fakta yang dicari untuk meyakinkan kebenaran mengenai hal yang dicari. Pembaca menggerakkan matanya secara sistematis dan cepat. dan mencari entri pada indeks (Soedarso 2004: 90-96). Jika ada. Pembaca dapat mempermudah atau mempercepat mencari lewat daftar-daftar isi dan atau indeks 5. pembaca lebih baik melihat gambar. 6.

pembaca dapat men-scan halaman berikutnya atau pada surat kabar yang lain. tetapi cukup men-scan (menemukan) melalaui daftar isi. gambar. 2. indeks. Pembaca membuka halaman dari paragraf yang telah ditemukan dan men-scannya. dan gambar. Untuk mencari paragraf. Untuk mencarinya pembaca tidak perlu membaca semua bagian buku. Karena tidak ada daftar isi. pembaca cukup men-scan halaman demi halaman. Tahap yang dapat dilakukan dalam men-scan buku untuk menemukan paragraf tertentu adalah sebagai berikut: 1. grafik. Pembaca membuka halaman yang ditemukan pada tahap 3. bagan. Pembaca yang mengenal surat kabar tersebut bisa lebih cepat dalam menemukan hal yang dicari karena ia sudah tahu kira-kira pada halaman berapa paragraftersebut dibahas. Indeks merupakan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan yang tersusun menurut abjad yang memuat informasi mengenai halaman. paragraf-topik tertentu dapat dicari dari surat kabar. pembaca berhenti pada halaman tersebut dan melakukan membaca secara biasa dengan tujuan memperoleh informasi. 4. Apabila ditemukan paragraf yang dicari. Topik yang dicari bisa saja terdapat pada beberapa bab. pembaca juga tidak perlu membaca semua bagian yang ada pada surat kabar. dan atau grafik. kata atau istilah yang ada di dalam . Selain dari buku. Untuk melengkapi pencarian paragraf. Pembaca dituntut dapat mencarinya dan memperolehnya dengan cepat sehingga dapat mencari paragraftopik tersebut dari buku yang lain. Pembaca men-scan daftar isi untuk mencari paragraf tertentu. Setelah itu. 3. Topik-topik tersebut dicari dari buku atau sumber yang lainnya. pembaca dapat juga men-scan daftar indeks.  Membaca Pemahaman 2-37 penulis terlebih dahulu dituntut untuk mencari dan mempelajari paragraf-topik yang relevan dengan pembahasan yang akan dibuat.

Cobalah cari melalui daftar isi. Apabila buku yang dibaca tidak memiliki indeks. jumlah penduduk. Pola Vertikal Pola paragraf merupakan pola membaca dengan cara bola mata bergerak meluncur secara paragraf dari atas ke bawah. Indeks sangat berguna bagi pembaca pada waktu ingin mencari istilah dan uraiannya secara cepat. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu kata kuncinya adalah sensus. Pembaca harus mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk. dapat melakukan tahap-tahap berikut ini. 3. lambatkanlah kecepatan membaca untuk memahami kata atau istilah yang dicari. Indeks terdapat pada bagian akhir dari sebuah buku. Bukalah halaman yang memuat indeks. d. pemukiman. Tentukanlah istilah atau kata yang ingin dicari dalam indeks. 1. tidak semua buku terdapat indeks. 2.2-38 Membaca Pemahaman   buku. 2. 3. 1. ilustrasi. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan . Setelah menemukannya. Lihat juga gambar. demografi. Namun. Untuk dapat mencari istilah atau kata pada indeks secara cepat pembaca dapat menggunakan teknik scanning dengan tahap-tahap sebagai berikut. Carilah istilah atau kata tersebut pada indeks dengan gerakan mata secara sistematis dan cepat. Kenali organisasi tulisan dan struktur tulisan untuk memperkirakan letak jawaban. dan lain-lain. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan indeks atau mungkin penulis tidak tahu mengenai indeks. paragraf yang berhubungan dengan kata yang dicari. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman atau melewati batas pandang yang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. grafik.

Pada saat merasa ada hal-hal yang penting (kata kunci. Pembaca menerapkan pola ini dengan cara pandangan mata diarahkan dari bagian atas ke bagian bawah secara cepat. siswa kelas X dituntut untuk dapat merangkum seluruh isi informasi grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai. kecepatan secara otomatis diperlambat. teknik scanning. siswa dapat menggunakan model membaca atas bawah (lihat 2. gerak mata dengan pola paragraf adalah berikut ini.1. Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca paragraf. Untuk dapat terampil memindai grafik. dan reading (Depdikbud 2004:4-5). grafik atau diagram. Metode tersebut digunakan apabila pembaca tidak memiliki tujuan khusus sewaktu membaca paragraf. Membaca Memindai Grafik Dalam standar isi pada kurikulum 2006. grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai. question.1).3 dan 2. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman berikutnya. definisi.2.4). Gambar 3 Pola Vertikal 3.  Membaca Pemahaman 2-39 bantuan telunjuk tangan kiri. Apabila digambarkan.2. rumus atau hal yang dicari). Penerapak metode S2QR adalah berikut ini. metode S2QR. dan pola vertical (lihat 2. kemudian apabila dirasa sudah dimengerti. seek. sehingga pembaca . kecepatan ditingkatkan beberapa kali.

Hal-hal pokok yang perlu disurvai adalah judul paragraf dan subjudul. sehingga ia tidak merasa perlu mencermati seluruh paparan yang ada pada paragraf. Pembaca yang tidak sedang studi membaca paragraf untuk tujuan khusus. misalnya sumber data paragraf. Pembaca yang sedang studi membaca paragraf dengan tahap survai. Setelah informasi didapat yang perlu dilakukan adalah mencari informasi tambahan jika ada. 3. Pembaca harus meresapi judul yang disurvai karena judul merupakan ringkasan yang padat tentang informasi yang disampaikan penulis dalam bentuk paragraf. Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam paragraf.2-40 Membaca Pemahaman   dapat membaca secara cermat dan menyeluruh. Informasi tambahan berupa keterangan yang tidak mungkin dimasukkan di dalam paragraf. dan angka-angka. Setelah menemukannya pembaca langsung membaca pada bacaan yang lain. seek. Question adalah kegiatan pembaca membuat pertanyaan tentang isi paragraf atau tujuan membaca paragraf. dan reading. Informasi yang ingin disampaikan secara rinci dalam bentuk paragraf umumnya berupa urutan tahun. membaca paragraf biasanya bertujuan untuk mencari informasi yang tertuang dalam paragraf. Informasi apa saja yang ada dalam paragraf merupakan pertanyaan . Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada di luar kolom paragraf. question. 2. Informasi tersebut bisa dicari pada bagian kolom dan baris pada paragraf. Hal yang dianggap perlu atau yang diinginkan biasanya adalah hal-hal yang bersifat menonjol. sehingga tidak perlu melakukan tahap S2QR. Manfaat mensurvai judul adalah untuk memahami pesan secara utuh dan menyeluruh. Pembaca langsung mencari hal-hal yang diinginkan. Jika tidak ada tujuan khusus. persentase. 1.

misalnya. Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question. Walaupun demikian.  Membaca Pemahaman 2-41 pokok tentang isi paragraf. Pembaca dalam kegiatanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan pada tahap 3. pembaca harus melakukan tahap reading. Reading adalah kegiatan membaca paragraf secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari. Berapa angka tertinggi? Kelompok mana yang paling baik? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu. pembaca tidak hanya terpancang pada menemukan jawaban-jawaban tersebut. 4. Pertanyaan yang lain bisa saja dibuat dengan cara mengubah judul menjadi pertanyaan. . Ia bisa saja menemukan informasiinformasi yang lainnya.

Menjelaskan metode membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif.BAB III. Menerapkan metode membaca sewaktu membaca intensif. D. metode. metode. Menerapkan teknik membaca sewaktu membaca intensif. 5. 2. Menjelaskan model membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Indikator 1. Kompetensi Dasar Memahami kiat membaca yang meliputi model. Standar Kompetensi Menguasai kiat membaca dan mampu membaca sewaktu membaca intensif. 6. Deskripsi Penyajian model. dan teknik membaca sewaktu membaca intensif. metode. dan teknik membaca. metode. 4. 3. Membaca Intensif Pemahaman Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. C. E. Menerapkan model membaca sewaktu membaca intensif. dan mampu menerapkan model. MEMBACA INTENSIF A. dan teknik membaca serta penerapan model. menerapkan kiat B. Menjelaskan teknik membaca yang dapat diterapkan dalam membaca intensif. Uraian Materi 1. siswa kelas X dituntut untuk dapat mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik .

Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menganalisis unsur intrisik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan. . a. metode kalimat. sedangkan struktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peran sampingan (sekunder). Dalam membaca. Siswa kelas XI dituntut untuk dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat. dan teknik close reading. Apabila dibagankan model membaca bawah atas adalah berikut. Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. Pembaca bergantung sekali pada bacaan. Karena paragraf atau cara kerja berawal dan bergantung pada bacaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas. Model Membaca Bawah Atas Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau battom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan. kiatnya adalah menggunakan model membaca bawah atas. Siswa kelas XII dituntut untuk dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. pembaca melakukan penyandian kembali paragraf-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. paragraf membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas. Untuk dapat terampil membaca intensif seperti tuntutan di atas.  Membaca Pemahaman 2-43 sastra Melayu klasik dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik.

proses membaca diawali dari bawah. yaitu bacaan. Membaca pada hakikatnya merupakan proses penerjemahan dan dekod. Pemahaman tersebut mencakup dua hal. pemahaman maksud dan tujuan pengarang secara paragraf. Setelah itu. Berita-berita yang diterima pembaca mengandung informasi yang dibutuhkan atau dicarinya. Dekoding tidak hanya terjadi pada proses membaca. 2. dan kalimat secara eksplisit. kemudian pembaca melakukan penyandian kembali 44paragraf-simbol tertulis. tetapi juga pada proses menyimak. pemahaman makna leksikal.2-44 Membaca Pemahaman   Bagan 4 Model Membaca Bawah Atas Berdasarkan bagan 3. tetapi juga penerjemahan paragraf grafis ke bentuk pemahaman (psikis). Dekoding merupakan proses pengubahan tanda-tanda grafis menjadi berita yang bermakna bagi pembaca. Bacaan merangsang atau menstimulus mata. Penerjemahan tidak hanya diartikan sebagai penerjemahan paragraf grafis ke bentuk lisan (fisik). Dekoding pada pembaca terjadi pada komunikasi tulis. gramatikal. yaitu : 1. . hasil penyandian kembali dikirim ke otak untuk dipahami. sedangkan paragraf pada menyimak terjadi pada komunikasi lisan.

  Membaca Pemahaman 2-45 b. Sewaktu mengayunkan pandangan mata pembaca dituntut memahami bacaan kalimat yang dibaca. Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat. Dengan demikian. tetapi pada setiap akhir kalimat. pembaca akan dapat menangkap makna kalimat dengan mudah dalam waktu yang paragraf singkat. Latihan membaca dengan metode ini dapat dibagi menjadi dua. Kata dan frase dipandang sebagai paragraf kalimat pembentuk ide. Jika demikian. . yaitu mekanik dan konseptual. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat. mata lebih dapat leluasa bergerak secara cepat. pembaca mengayunkan matanya lebih jauh lagi paragraf membaca frase. Pembaca hanya diperbolehkan mengadakan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. Pembaca mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya. Untuk itu. pembaca perlu latihan yang serius dan terencana. Pembaca akan lebih dapat menghemat waktu baca sebab paragraf tidak lagi berhenti pada satuan-satuan frase atau kata. yaitu menerapkan beberapa kemahiran yang sudah didapat dalam latihan sebelumnya. Metode Kalimat Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang ada dalam bacaan. Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. Di samping itu. Untuk mencapai hal tersebut tidak mudah karena metode kalimat merupakan membaca yang kompleks.

Membaca kalimat lebih cepat 3 atau 4 kali membaca frase. Pertama. Untuk mencapai kemahiran itu. Keuntungan membaca kalimat secara mekanik ada tiga. dan tekun. tetapi .2-46 Membaca Pemahaman   (1) Metode Kalimat secara Mekanik Secara mekanik. Hentian sementara dilakukan lebih jauh dibandingkan pada membaca frase. Serta merta. pembaca melakukan lompatan pandangan mata dari kalimat ke kalimat berikutnya. Pembaca dikondisikan dapat membaca kalimat demi kalimat. Anda adalah pribadi khusus. Dibandingkan dengan membaca frase. Kesulitan komunikasi selagi mereka mulai ke luar dari keluarga. Latihan membaca kalimat secara mekanik dapat dilakukan dengan bacaan berikut ini. pembaca perlu berlatih secara kontinyu. Kedua. sekali pandang mata sudah dapat memandang satu kalimat. Ketiga. Tanpa latihan seperti itu. Apabila diperhatikan dalam satu paragraf mata hanya bergerak atau melompat beberapa kali saja (4 sampai 5 kali). sulit rasanya kemahiran dapat dicapai karena membacanya semakin rumit. mata tidak mudah lelah karena mata tidak sering melakukan lompatan-lompatan. dan dunia kerja. memasuki dunia sekolah. pembaca lebih cepat selesai dalam membaca dibandingkan membaca frase. dalam wawancara pekerjaan Anda harus tampil sebagai orang pribadi sekaligus sebagai komoditi. dilihat dari cara kerja mata. pembaca melakukan hentian bisa mencapai kurang lebih 12 sampai dengan 20 kali pada setiap pparagrafafnya. Mata lebih didorong untuk melakukan lompatan yang jauh dan mata didorong untuk mempunyai pandangan yang lebar. Bacaan 4 Pentingnya Komunikasi Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan. teratur.

2. Anda sebagai calon karyawan menjadi sungguh-sungguh sadar akan pentingnya keterampilan komunikasi dasar dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. Cara memahami metode frase digunakan sebagai dasar dalam . (2) Metode Kalimat secara Konseptual Secara konseptual. 5. 4. Mata tidak boleh berhenti sebelum kalimat selesai atau Anda boleh berhenti pada tanda titik atau 47arag. Tataplah bacaan di atas dengan pandangan yang lebar.  Membaca Pemahaman 2-47 Anda sedang mencoba menjual keterampilan. Mulailah pandangan mata terfokus pada kalimat pertama. Tahap-tahap berikut ini dapat digunakan sebagai paragraf dalam latihan membaca bacaan di atas. Ulangilah latihan sampai empat atau lima kali sambil meningkatkan kecepatan gerak mata. 6. membaca melakukan usaha untuk memahami atau menafsirkan makna yang terkandung dalam masingmasing kalimat dan merangkaikannya menjadi makna yang utuh. setiap situasi kerja menuntut berbagai kemampuan berbicara yang luwes. . Keterampilan Anda kepada seseorang yang membutuhkannya. Betapa pun wawancara pekerjaan itu bisa dijadikan contoh pentingnya komunikasi dalam bisnis. Namun. 1. paragraf. atau perintah (. 3. Dalam tatap muka dengan manajer personalia. !) sebagai tanda batas antarkalimat. ? . Berlatih pada hari-hari berikutnya sampai Anda mempunyai kemahiran membaca kalimat demi kalimat secara mekanik. pemerintahan. dan profesi. yaitu sekali pandang semua bacaan terlihat. Ayunkan pandangan mata beralih ke kalimat berikutnya secara perlahan-lahan. pendidikan.

Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. surat kabar.2-48 Membaca Pemahaman   melakukan latihan ini. Pembaca dapat melakukan latihan membaca secara konseptual dengan bacaan berikut ini. paragraf-pamplet. tuntutan memilihkan bahan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. . Untuk pengajaran membaca. 1. Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. Tetaplah bacaan itu dengan sekali pandang. Masalahnya. majalah. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. Dalam kenyatan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terkait oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. buku ilmiah. dan lain-lain. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. Bacaan 5 Bahan Ajar Membaca Sebagai seorang guru. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macan bahan ajar yang ada. guru bidang studi apapun. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk dikonsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan paragraf kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Alternatif latihan metode kalimat secara konseptual pada bacaan tersebut adalah sebagai berikut.

Berlatihlah pada hari-hari berikutnya sampai mahir. 3. Ulangilah latihan ini 2 atau 3 kali sambil meningkatkan daya pemahaman terhadap bacaan. Dengan teknik ini. 2. menangkap. 4. Nurhadi (2004:57) paragraf nama membaca literal. yaitu: 1. Pembaca menerapkan keterampilan pemahaman pada tingkat yang rendah (dasar). Pembaca hanya menerima (memahami) apa yang ada pada tulisan. c. Pembaca tidak diperbolehkan memahami frase demi frase. 2. Pembaca memahami organisasi. 3. Pembaca hanya menangkap informasi-informasi yang terletak secara jelas dalam bacaan. hubungan ide-ide bawahan dan ide-ide utama. Pembaca hanya memahami makna secara tersurat. Menurut Farr dan Roser (1979:359) yang dapat dilakukan oleh pembaca dengan menggunakan teknik ini ada dua. . Pembaca merangkaikan informasi yang baru diperoleh ke dalam suatu kerangka yang telah ada. Ciri-ciri pembaca yang menggunakan teknik close reading adalah sebagai berikut: 1. pembaca mengenal. Informasi secara eksplisit terdapat dalam baris-baris.  Membaca Pemahaman 2-49 2. Teknik Close Reading Close reading (membaca teliti atau membaca cermat) adalah teknik membaca yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan (Tarigan 1994:33). tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi (paragraf) atau makna dibalik baris-baris. dan memahami informasi-informasi yang terdapat dalam bacaan secara tersurat (eksplisit). Pembaca tinggal menangkap maknamakna tersebut. Pahamilah kalimat demi kalimat secara perlahan-lahan.

Tujuan khusus meliputi: 1. Pembaca harus sudah mempunyai keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membaca dengan teknik close reading. 3. Pembaca hanya mengingat-ingat informasi yang ada dalam bacaan. tentang hal yang ada pada bacaan. Tujuan yang diinginkan oleh pembaca pada umumnya adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan. Pembaca mempunyai tujuan dalam membaca yang dirancang sebelum melakukan kegiatan membaca. 3. di mana. menemukan urutan atau susunan organisasi cerita yang ada dalam bacaan. Pembaca menerapkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca dengan teknik ini secara bertingkat sesuai tingkatan keterampilan yang dibutuhkan atau sesuai urutan keterampilan. Agar dapat berhasil dalam menggunakan teknik ini. pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut ini. 1. yaitu tentang siapa.2-50 Membaca Pemahaman   4. menemukan rincian atas fakta-fakta yang terjadi dalam bacaan. Tujuan yang lain selain tujuan umum adalah tujuan khusus. Teknik ini perlu dilatihkan terutama untuk pembaca yang sedang belajar karena teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk membaca telaah atau membaca studi. halhal yang diperoleh bersifat paragraf. memperoleh ide-ide pokok yang ada pada bacaan. Pembaca membaca bacaan yang mengandung informasi-informasi yang diperlukan pelajar untuk . Dengan teknik ini. 5. memperoleh informasi (ide) lain atau tambahan yang ada dalam bacaan. 2. Pembaca tidak berpikir kritis dalam menerima informasi yang ada pada bacaan. 2. apa. 4.

Menurutnya. memahami (menjawab) apa. siapa. Model. 5. menyatakan kembali paragraf perbandingan. metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu. 9. a) Metode GPID Metode GPID diusulkan oleh Merrit. dan teknik yang dapat digunakan untuk membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. siswa kelas X dituntut dapat menganalisis keterakaitan unsut paragraf suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari. menangkap paragraf perbandingan.4. 2.1). Teknik close reading melatihkan kemahiran pembaca dalam hal: 1. memahami makna frase. menyatakan kembali paragraf sebab akibat. 6. memahami makna kalimat. 12. kapan. memahami makna kata.  Membaca Pemahaman 2-51 memperoleh dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. metode. . memahami makna paragraf. menyatakan kembali paragraf urutan. Siswa kelas XI dituntut dapat membandingkan paragraf-paragraf dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan dengan hikayat. metode GPID. dan dimana. menangkap paragraf sebab akibat. 8. memahami makna paragraf detail. 10. 4. menangkap paragraf urutan. 11. Siswa kelas XII dituntut dapat menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode. 7. dan teknik retensi. . Membaca Intensif Kritis Teks Sastra Dalam standar isi pada kurikulum 2006. 3. 2.

1. pembaca akan termotivasi untuk melakukan kegiatan membaca sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya yang maksimal. Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. Dengan cara seperti itu. memusatkan perhatian. Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut. latar belakang. dimaksud atau apa tujuan membaca. kendala. 3. dan merumuskan maksud atau tujuan. dan apa manfaat membaca. Pelaksanaan membaca sudah dengan teknik dan pola baca yang . plans. pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. Plans dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan maksud pilihan bagian-bagian yang dibaca. Goall adalah apa yang diharapkan. implementation. Sewaktu membaca pembaca sudah tahu hal-hal yang akan dicari dalam bacaan sehingga bisa membaca lebih efektif. perincian maksud yang lebih khusus. Pada tahap ini. 2. dan penyusunan pola membaca. dan development (Yap 1978:114115).2-52 Membaca Pemahaman   paragraph. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca. Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan. Pembaca sudah mempunyai arah yang jelas. Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut. Implementation adalah pelaksanaan membaca. Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan. Hal tersebut berguna sebagai pedoman apa yang dilakukan selanjutnya. bagian-bagian yang akan dibaca. Pembaca terlebih dahulu menentukan untuk apa ia membaca. Goall dapat dilakukan dengan cara membatasi perhatian. apa yang ingin dicapai. dan rencanarencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk paragraf tanda atau catatan).

  Membaca Pemahaman 2-53 direncanakan sehingga pembaca tidak akan membuang-buang waktu dan tidak akan kehilangan pemahaman yang sudah direncanakan.Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah tercapai. dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai. Setelah dinilai secara keseluruhan. Pembaca mengevaluasi dengan cara mengecek apakah informasi yang diinginkan pada tahap paragraph sudah didapat. ataukah pada tahap implementation. pembaca bisa menghentikan kegiatan bacanya atau membaca bacaan yang lainnya. Ia juga tidak akan membaca hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tujuan membaca. tahap plans. Pembaca tidak lagi membaca tanpa arah dan tanpa tujuan. Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan. berarti kegiatan membaca telah berhasil. . dapat ditarik simpulan apakah kegiatan baca berhasil atau tidak. Jika belum. Hal tersebut bergantung pada di mana letak ketidakbehasilan dalam membaca: apakah pada tahap paragraph. berarti kegiatan membaca belum berhasil. Dalam mengevaluasi rencana. apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncanakan. Jika tidak berhasil. pembaca mengecek apakah ia telah melakukan kegiatan membaca sesuai rencana. pembaca disarankan melakukan kegiatan membaca lagi atau pembaca dapat mengubah tujuan (rencana) baca yang telah disusun. Jika sudah berhasil. 4. Jika sudah. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kegiatan baca secara keseluruhan. Jika sudah berarti rencana telah berjalan dengan baik dan jika belum berarti rencana belum berjalan dengan baik.

Kemudian pembaca mendiskusikan tentang apa-apa yang telah dibacanya dengan temannya yang sudah membaca atau mengetahui .2-54 Membaca Pemahaman   b) Teknik Retensi Sesudah informasi atau isi yang ada dalam bacaan dihafal. Teknik tersebut dinamakan teknik retensi. dan tes (Wainwraught 2006: 5758). Hal tersebut bisa dilakukan dengan dua teknik. menulis informasi. Kata retensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyimpanan. diskusi. yaitu repetesi. yang perlu dikerjakan berikutnya oleh pembaca adalah menyimpan hafalan atau ingatan supaya sewaktu hafalan tersebut digunakan segera atau cepat muncul. misalnya mengenai emansipasi wanita. Teknik retensi ada lima. Pertama. pembaca membaca bacaan. Misalnya. Teknik diskusi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan oleh pembaca dengan bertukar pikiran kepada orang lain tentang informasi yang telah diperolehnya dari bacaan. pembaca yang tidak dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes kesulitan mengingat kembali apa yang telah dihafal atau bahkan lupa sama sekali tentang informasi yang telah dihafal. Untuk membantu pembaca menyimpan hafalan dengan baik diperlukan teknik membaca secara khusus. pembaca ditanya sewaktu ujian tentang hal-hal yang telah dibacanya (menceritakan kembali isi bacaan atau menjawab mengenai informasi yang ada dalam bacaan). menggunakan informasi. Sebaliknya. Pembaca mengungkapkan pendapatnya mengenai sesuatu berdasarkan hasil membaca. Yang diterapkan adalah diskusi dan menggunakan informasi. Seorang pembaca yang dapat menyimpan hafalan dengan baik maka sewaktu tes segera dapat ingat kembali tentang apa-apa yang telah diingatnya. Teknik retensi dibuat untuk membantu pembaca untuk menyimpan ingatan tentang informasi yang ada dalam bacaan dan sewaktu dibutuhkan siap untuk dipanggil atau dimunculkan.

Salah satu caranya adalah dengan mempraktekkan resep masakan padang dari buku resep masakan. kurang lengkap atau orang lain menemukan hal-hal yang terlewatkan oleh pembaca. Jika sebuah informasi yang didapat selalu digunakan. Dalam berdiskusi. dalam situasi apa pun informasi itu akan digunakan selalu cepat teringat atau muncul. penjaja paragraf menelepon dengan tanpa membaca karena sudah hafal. penjaja paragraf menelepon agen itu dengan membaca nomor telepon. pembaca dapat menambah informasi yang telah didapat dengan menyesuaikan atau memodifikasi ingatan yang telah diperoleh dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. Kapan pun.  Membaca Pemahaman 2-55 tentang hal tersebut. kemudian pada suatu kesempatan (lain waktu). seorang ibu yang mempunyai suami dari Padang yang suka masakan padang. Biasanya teknik ini dilakukan pada waktu pembaca sedang studi. Misalnya. Untuk kali pertama. Sebaliknya. Untuk memperkuat retensi bisa juga dilakukan atau dipraktekkan secara terus. teknik diskusi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.menerus. Misalnya. jika pendapat pembaca tidak benar. pembaca berdiskusi dengan orang lain tentang sesuatu hal yang telah dibaca. Jadi. pembaca membaca sebuah bacaan (misalnya tentang bencana alam). . Teknik menggunakan informasi merupakan teknik retensi yang dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh dari bacaan. informasi tersebut tidak akan hilang bahkan akan selalu setia dalam ingatan. Tiap hari si penjaja paragraf selalu menelepon agen tersebut untuk pesan paragraf. pembaca menggunakan informasi yang telah didapat. Untuk menyenangkan suaminya. Setelah berkali-kali digunakan. Apabila dalam berdiskusi pendapatnya benar atau orang lain setuju maka akan memperkuat retensi. nomor telepon agen surat kabar. Kedua. si ibu tersebut berusaha dapat memasak masakan padang.

4.4. dan teknik yang dapat dipilih untuk digunakan dalam membaca adalah model membaca bawah atas (lihat 2. metode kalimat dan atau paragraf (lihat2.3).1). dan teknik retensi (lihat 2.3).5. siswa kelas XI dituntut untuk membedakan fakta dan opini pada editoral dengan membaca intensif dan siswa kelas XII dituntut untuk menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif.2). deduksi dengan membaca intensif.2-56 Membaca Pemahaman   Awal mula. metode pparagrafaf (lihat 2. si ibu memasak sambil membaca. e) Membaca Intensif Buku Biografi Dalam standar isi pada kurikulum 2006. sisiwa dituntut untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam buku biografi.2 dan 2. sisiwa kelas X dituntut dapat menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif. Model.1). dan teknik. dan teknik yang dapat dipilih adalah model membaca bawah atas (lihat 2. .2). Siswa kelas XII dapat menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi. Model.1.4. Setelah dilakukan berulang-ulang. metode. dan teknik retensi (lihat 2. c) Membaca Intensif Pparagrafaf Dalam standar isi pada kurikulum 206.1). dan teknik yang dipilih untuk digunakan adalah model membaca bawah atas (lihat 2.5.1.4. Untuk memenuhi tuntutan tersebut model. metode.4. d) Membaca Intensif Artikel Dalam standar isi pada kurikulum 2006. metode. si ibu itu sudah tidak perlu membaca lagi karena sudah hafal.2) dan PQRST. metode kalimat (lihat 2.

question. Nurhadi (2005:131) menerjemahkan paragraph menjadi ringkasan. Pembuatan ringkasan bisa saja dibuat per subbab jika memang menurut pembaca lebih baik seperti itu atau ada kekawatiran kalau satu bab tidak bisa membuatnya karena sudah lupa. dan tes (Widyamartaya 2004:63). Ringkasan dibuat oleh pembaca setelah selesai membaca satu bab dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh tidak hilang (lupa). Tahap preview. yaitu dalam hal tahap-tahap yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai.  Membaca Pemahaman 2-57 (a) Metode PQRST PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya. Hal-hal yang ditulis dalam kegiatan meringkas adalah informasi-informasi yang telah diperoleh sesuai dengan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question dan tujuan lain yang ingin diringkas. read. Walaupun bersinonim. . kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan. dan read pada metode SQ3R. sedangkan Willy (1996:198 dalam Tarigan 1994:35) mengartikan paragraph menjadi ikhtisar. yaitu preview. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada paragraf berikut ini. dan read pada metode ini bersinonim dengan tahap survai. question. Yang tidak bersinonim adalah tahap paragraph dan tes. Ringkasan bersinonim dengan ikhtisar. question. paragraph.

Pembaca menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada akhir sebuah bab atau akhir buku. Apakah pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca.2-58 Membaca Pemahaman   Tabel Perbedaan Ringkasan dan Iktisar (Nurhadi 2004:138) Tes (uji periksa) merupakan tahap terakhir dari metode SQRST yang berwujud kegiatan pembaca untuk menguji seberapa banyak penguasaan terhadap buku yang telah dibaca. 1. Pembaca memeriksa (menguji) rangkuman yang telah dibuatnya. Cara yang digunakan untuk menguji penguasaan isi buku ada empat. . Apakah rangkuman itu sudah sesuai dengan isi bacaan atau belum dan sudah benarkah rangkuman yang dibuatnya. 2.

Berdasarkan arti tersebut. Teknik ini telah digunakan sebagai teknik mengingat sejak tahun 500 SM. kemudian menyusun urutan atau rute perjalanan untuk melakukan perjalanan dalam menelusuri tempat tersebut. 4. Keberhasilan penggunaan SQRST dapat dilihat dari hasil tahap tes. Sebaliknya. dua. cara kerja pembaca adalah dengan membayangkan tempat atau bangunan yang telah dikenal. (b) Teknik Loci Teknik loci merupakan teknik mengingat yang mula-mula digunakan untuk mengingat bahan pidato yang akan disampaikan. pembaca membuat asosiasi antara pokok pikiran atau informasi pokok yang ingin diingat dengan suatu tempat yang dikenal. Dengan cara seperti itu. Keempat cara tersebut bisa dipilih satu. dan atau membuat ringkasan sesuai dengan isi bacaan dari sebuah buku. Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab atau tidak oleh pembaca. tiga atau empat cara sekaligus. Apakah pembaca dapat menceritakan isi bacaan atau tidak. Pada setiap tempat (bagian bangunan). Penerapan metode ini dikatakan berhasil jika pembaca dapat menceritakan kembali isi bacaan. tidak dapat menjawab pertanyaan. metode ini tidak berhasil diterapkan apabila pembaca tidak dapat menceritakan kembali isi bacaan.  Membaca Pemahaman 2-59 3. dapat menjawab pertanyaan. Modifikasi dari teknik ini dalam membaca adalah mengingat-ingat bahan bacaan yang akan disampaikan oleh pembaca. Loci berasal dari bahasa latin yang berarti tempat-tempat. Pembaca menceritakan kembali tentang isi bacaan yang telah diperoleh. dan atau membuat rangkuman sesuai dengan isi bacaan dari yang dibaca. pembaca akan dapat mengingat . Pembaca menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada tahap question.

informasi penting. dan proses. Salah satu tujuan mereview adalah untuk memperkuat ingatan. Dalam bacaan sastra digunakan untuk mengingat nama-nama tempat kejadian dengan cara mengasosiasikan tempat-tempat dalam cerita dengan tempattempat yang telah dikenal. Teknik ini dapat digunakan oleh pembaca dalam membaca bacaan sastra. kejadian. yaitu bagian yang perlu dihafal lagi. (c) Teknik Repetisi Teknik repetisi merupakan jenis teknik yang digunakan pembaca dengan mengulang bacaan yang sudah dibaca. berita. . Bagian bacaan yang tidak perlu (sudah dihafal) dilewati dan bagian bacaan yang ingin diretensi dibaca secara sepintas. Dalam metode SQ3R. dibaca Pembaca dengan mengasosiasikan kejadian-kejadian mengurutkan tempat kejadian yang telah dikenal atau dialami oleh pembaca. teknik ini dapat diterapkan pada tahap review.2-60 Membaca Pemahaman   pokok-pokok pikiran bacaan dalam urutan tempat atau kejadian yang benar. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat informasi yang telah dihafal sehingga mudah untuk diingat kembali. Yang direpetisi tidaklah semua bagian bacaan. Pembaca dapat membaca dengan kecepatan yang tinggi. Bacaan yang isinya tentang prosa juga dapat digunakan dengan teknik ini dengan mengasosiasikan prosa yang dibaca dengan tempat-tempat yang telah dikenal. Pembaca juga tidak membaca dengan cara yang sama sewaktu membaca bacaan kali pertama. Pada tahap review pembaca hanya membolik-balik halaman yang telah dibaca secara cepat. tetapi bagian tertentu atau hal tertentu saja. kata kunci dan hal-hal lain yang dianggap penting. Membaca bacaan berita dapat menggunakan teknik ini dengan mengasosiasikan isi berita dengan tempat yang sesuai dengan berita yang yang dibaca.

pembaca akan terbantu untuk mengingat kembali nomor itu sehingga sewaktu menghubungi tidak lupa lagi. (e) Teknik Tes Teknik tes merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mengecek (mengetes) informasi-informasi yang telah dihafal pembaca. Menulis informasi yang telah diterima bisa memperkuat ingatan dan memudahkan untuk mengingat kembali (memanggil kembali) informasi yang telah diingat sewaktu dibutuhkan.  Membaca Pemahaman 2-61 (d) Teknik Menulis Informasi Teknik menulis informasi merupakan jenis teknik retensi yang dilakukan dengan mencatat informasi yang telah didapat dari kegiatan membaca. yaitu informal dan formal. pembaca bisa mengulang membaca bacaan dengan cara yang sesuai dan tepat sampai pembaca ingat kembali. Jika ada informasi yang terlupakan. pembaca dituntut mencari dan menyimpan informasi dengan baik. pembaca sudah lupa. Hal-hal yang diringkas adalah informasi yang penting atau yang dibutuhkan oleh pembaca. pembaca mengingat informasi tentang nomor telepon UNNES di buku telepon atau di surat kabar. Dengan adanya tes. yaitu yang mengetes adalah pembaca. Informasi-informasi yang telah diperoleh dari membaca diringkas di dalam bentuk catatan. pembaca melakukan teknik ini dengan meringkas atau merangkumnya. bukan orang lain. Sewaktu mau menghubungi nomor tersebut. Pembaca menutup . Pembaca dituntut mengingat apa-apa yang telah dibaca. Misalnya. Untuk mengatasinya pembaca membaca lagi sambil mencatat nomor itu. Teknik tes digunakan untuk memastikan apakah informasi yang telah diperoleh dapat diingat kembali. Dengan mencatat. Tes informal dilakukan oleh pembaca sendiri. Teknik tes dapat dilaksanakan dengan dua jenis. Jika yang dibaca merupakan sebuah bacaan.

Yang diceritakan adalah hal-hal yang penting atau pokok. Pembaca bercerita dalam hati. Informasi itu harus memiliki relevansi. Jika ada yang lupa. siswa adalah close . Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengetes pemahaman prosedur. Pembaca dites untuk menceritakan kembali bacaan yang telah dibaca. dan umpan balik (Wainwright 2006: 55-57) Kita akan terbantu mengingat sesuatu jika informasi tersebut memiliki arti tertentu bagi kita. kita mengingat begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat yang bisa digunakan untuk bermain tebak-tebakan di pub atau bermain Trival Pursuit. Teknik tes informal relevan dengan tahap recite dalam metode SQ3R. atensi. namun sebenarnya kita lebih banyak mengingat informasi yang berguna. visualisasi. Tujuannya adalah apakah siswa dapat menguasai informasi-informasi dari bacaan berita yang telah dibaca atau belum. Disamping dengan kelima teknik ini. kemudian mengingat-ingat kembali informasi-informasi yang telah didapat. minat. organisasi. Jika sudah ingat semua. Misalnya. retensi dapat diperkuat dengan memilih bacaan yang memiliki arti. Setelah itu. asosiasi. pembaca disarankan membuka lagi bagian bacaan yang dilupakan. pembaca dapat menghentikan kegiatan membacanya atau membaca bagian lainnya. Oleh karena itu. Teknik tes formal dilakukan berdasarkan permintaan atau perintah orang lain. Apakah ia bisa ingat atau tidak. Memang. pertama-tama kita harus tahu benar arti informasi tersebut bagi kita dan bagaimana kita akan memanfaatkannya. seorang guru menyuruh siswa membaca pemahaman sebuah bacaan berita di surat kabar.2-62 Membaca Pemahaman   bacaan. Teknik ini umumnya dilakukan dalam pembelajaran. siswa disuruh menceritakan kembali berita yang telah dibaca atau menjawab pertanyaan tentang isi berita tersebut.

Dengan demikian. Demokrasi bisa kita visualisasikan sebagai kertas suara yang dimasukkan ke dalam kotak suara.  Membaca Pemahaman 2-63 Informasi lebih mudah diingat jika memiliki pola organisasi. yaitu suatu sruktur. Kita harus mencari asosiasi yang mudah diingat sehubungan dengan apa yang ingin kita ingat dan apa yang sudah kita ingat. Pemetaan pikiran bisa dimanfaatkan sebagai tahap penghubung antara materi bacaan yang disajikan serampangan dan rencana yang terperinci. Mereka mengetahui tata letak pasar swalayan di daerah mereka dan memisah-misahkannya menjadi beberapa area. Sering kali. tindakan ini akan memperkuat kesan yang ditimbulkan informasi tersebut. Jika pola ini tidak mudah dikenali. karena penulis suka menyajikan gagasan-gagasan dengan cara yang logis dan teratur. asosiasi-asosiasi tersebut bisa kita hubungkan untuk menghasilkan suatu pola. Keadilan sering kali divisualisasikan sebagai timbangan. Banyak orang yang mengingat daftar belanjaan dengan cara seperti ini. Setelah mengelompokkan pokok-pokok pikiran yang serupa ke dalam peta pikiran. Selanjutnya. . selanjutnya kita hanya perlu mencari urutan yang sesuai untuk kita. Jika kita dapat melihat hal-hal tersebut dalam mata pikiran kita kemudian menambahi informasi tersebut dengan serangkaian gambar. Konsep-konsep abstrak pun bisa kita visualisasikan. proses tersebut diulangi lagi agar sesuai dengan pola yang baru. Visualisasi membantu kita mengingat berbagai hal. Jika paragraf itu mengubah tata letaknya. Kemudian barang kebutuhan mereka disusun untuk menimbulkan asosiasi dengan area-area tersebut. mereka menghasilkan pola berupa sejenis pera rute dalam paragraf yang mempersempit kemungkinan mereka kembali ke area yang sama lebih dari sekali dalam setiap kunjungan. pola semacam ini mudah dikenal. kita harus mencari cara untuk mengorganisasinya sendiri.

Jangan lupa untuk mengeceknya kembali agar tidak ada informasi penting yang tertinggal. Cara termudah untuk mengatasi hal ini adalah. F. pilihlah waktu dan tempat yang menurut pengalaman bisa mempermudah Anda melakukannya. Dengan motivasi. Retensi yang efektif membutuhkan konsentrasi. Walaupun tidak seallu berhasil. ketika anda dimungkinkan melakukannya.2-64 Membaca Pemahaman   Sering kali kita tidak bisa mengingat sesuatu karena kita kurang paragraf perhatian. didukung kondisi yang paragraf tenang. Kita akan berusaha untuk mengingatnya. manfaatkanlah semaksimal mungkin. Sebagian besar orang menganggap pagi hari lebih efektif dimanfaatkan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi. kita bisa mendapatkan umpan balik yang sangat penting ini. meskipun tidak sampai membuat kita mengerutkan dahi yang hanya akan membuat kening kita sakit. Rangkuman Membaca pemahaman bersinonim dengan membaca dalam hati(silent reading). Kita perlu mengecek apakah kita benar-benar mengingat apa yang ingin kita ingat. saat Anda harus memberhentikan sesuatu dan berkonsentrasi. Membaca pemahaman adalah membaca yang dilaksanakan dengan tanpa mengeluarkan bersuara ( yang terlibat hanyalah mata dan otak ) dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan. Umpan balik sangatlah penting. Anda bisa terbantu jika memiliki tingkat minat yang tinggi terhadap suatu subjek serta punya motivasi yang kuat untuk mengingatnya. Dengan penghafal. Perpustakaan atau ruang wawancara tanpa jendela biasanya merupakan lokasi siap pakai yang dapat Anda manfaatkan. paragraf-topik yang tidak menarik pun bisa menjadi lebih mudah diingat. Tentukan paragraf yang jelas mengapa Anda harus mengingat sesuatu. Berdasarkan cakupan bahan bacaan .

pparagrafaf. 8. pembelajaran membaca di SMA menggunakan dua jenis membaca. metode. 6. metode paragraf dan P2R. Model membaca bawah atas. 1. artikel. 7. dan teknik retensi digunakan untuk membaca kritis teks sastra. metode kalimat dan paragraf.  Membaca Pemahaman 2-65 yang dibaca. 4. memindai buku. dan teknik retensi digunakan untuk membaca artikel. kritis teks sastra. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai grafik. metode GPID. Model membaca atas bawah. Untuk dapat membaca intensif dan ekstensif secara efektif dan efisien. dan memindai grafik. Membaca intensif meliputi membaca intensif pemahaman teks sastra. dan teknik skimming pola blok dan horizontal digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra. Model membaca timbal balik. metode kalimat. Kiat membaca adalah strategi memilih dan menggunakan model. metode paragraf dan PQRST. Model membaca bawah atas. 2. teknik loci dan retensi digunakan untuk membaca buku biografi. Model membaca bawah atas. teknik retensi digunakan untuk membaca paragraf. 3. Model membaca bawah atas. yaitu membaca intensif (intensive reading) dan ekstensif (extensive reading). Model membaca atas bawah. dan buku biografi. Berdasarkan kurikulum 2006. metode kalimat. metode SQ3R. Model membaca bawah atas. sewaktu membaca siswa harus menggunakan kiat membaca atau retorika membaca. teknik close reading digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra. dan teknik scanning pola vertical digunakan untuk membaca memindai buku. yaitu ektensif dan intensif. metode S2QR. membaca pemahaman dapat diklasifikasikan menjadi dua . Kiat membaca yang digunakan untuk membaca ekstentif dan intensif di SMA adalah berikut ini. 5. dan teknik yang sesuai dengan keperluan. . Membaca ekstensif meliputi membaca cepat teks nonsastra.

Model . metode. metode. metode. metode. Model . Model . Model .2-66 Membaca Pemahaman   G. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai grafik? menerapkannya! 4. Model . dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca kritis teks sastra? menerapkannya! 6. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan digunakan untuk membaca pemahaman teks sastra? cara menerapkannya! 5. metode. dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca artikel? Jelaskan cara menerapkannya! 8. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca buku biografi? menerapkannya! . LatihanSoal 1. metode. Model . dan teknik membaca apakah yang dapat digunakan untuk membaca cepat teks nonsastra? Jelaskan cara menerapkannya! 2. dan teknik membaca apakah yang dapat Jelaskan cara digunakan untuk membaca memindai buku? menerapkannya! 3. metode. Model . Model . digunakan untuk dan teknik membaca apakah yang dapat membaca pparagrafaf? Jelaskan cara menerapkannya! 7.

Ferr. . Bandung : Angkasa Bandung. Membaca 2. Semarang: Rumah Indonesia. Bandung: Angkasa Bandung. Widyamartoyo. Seni Membaca untuk Studi. Harras. Membaca Efektif. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tampubolon. Waingwright. 2004. 2006. New York: Harcourt Brace Javanovich. Province: Rhode Island. Kholid A. Terjemahan Heru Sutrisno. Teaching a Child to Read. 1978. 1994. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tarigan. Retorika Membaca: Model. Henry Guntur. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. A. 1998. 1997. Harjasujana. Membaca : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nurhadi. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2006. Membaca Cepat dan Efektif: Teori dan Latihan. Skimming and Scanning. Standar Isi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ahkmad Slamet dan Yeti Mulyati. 1979. Manfaatkan Teknik-teknik Teruji untuk Membaca lebih Cepat dan Mengingat secara Maksimal. 2001. Tarigan. Speed Reading Better Recoding. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. dan Teknik. Nurhadi. Gordon. Henry Guntur.P. Metode. 2005. 2004. 2004. D. Edward B. Bandung : Angkasa Bandung. 1990. dan Lilis Sulistianingsih. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Yogyakarta: Kanisius. Haryadi. Soedarso. Roger dan Nancy Roser. Membaca 1. 1990. 2006. Fry.

1978. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya. Yap. . 2 (109-118). “Some Apects of Reading”. Relc Journal. 1989. No. Sumaryono. Athur.2-68 Membaca Pemahaman   Wiryodijoyo. Vol J.

BUKU AJAR MEMBACA PUISI .

pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Oleh karena itu. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. Pembaca puisi. Dengan konsep dasar puisi semacam itu. Jadi. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. pada umumnya puisi bersifat lirik. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak .MEMBACA PUISI A. Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. Sebagai penghubung. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. Oleh karena itu.

Kegiatan membaca yang dimaksud dalam istilah “seni baca puisi” haruslah dipahami bahwa kegiatan tersebut dilakukan di depan audiens atau penonton. dalam kedudukan ini ibaratnya sebagai seorang perantara atau penghubung. Pembaca puisi. Hakikat Seni Baca Puisi Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya. Dengan kegiatan tersebut dimaksudkan apa yang dimaksudkan dan dirasakan oleh si penulis puisi dikuasai oleh pembaca. membaca puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk “mengabadikan” pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. Sebagai penghubung. Melalui kegiatan tersebut pembaca bermaksud mengajak . Membaca dalam konsep baca puisi haruslah dipahami sebagai upaya memahami dan merasakan segala yang terdapat di dalam suatu puisi. Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu. Jadi. Oleh karena itu. pembaca puisi dengan sendirinya harus mengenal terlebih dahulu isi puisi dan siapa yang akan mendengarkan atau menonton. pada umumnya puisi bersifat lirik. membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya “menyampaikan” apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penulis puisi kepada pendengar atau penonton. meskipun tetap ada juga yang berupa cerita. Dengan konsep dasar puisi semacam itu.3-2 Membaca Puisi MEMBACA PUISI A. yaitu menghubungkan antara penulis puisi dan penikmat (penonton atau pendengar) puisi. keberhasilan pembacaan puisi dapat diukur dengan seberapa jauh apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi sampai kepada pendengar atau penonton.

Istilah baca puisi merupakan terjemahan dari poetry reading (Amerika). Dengan demikian. Dalam tradisi di Indonesia. pada praktiknya pembaca puisi “membawa” teks. seni baca puisi hakikatnya merupakan “seni tontonan”. yaitu baca puisi dan deklamasi. deklamasi dipahami sebagai penyampaian puisi yang menitikberatkan pada lepasnya teks ketika deklamator menyampaikan puisinya. Deklamasi Di Indonesia selain istilah seni baca puisi orang juga mengenal istilah deklamasi. Sebagai seni “audio-visual” seni baca puisi dituntut enak didengar dan enak dilihat. Istilah baca puisi baru muncul sekitar tahun 1960-an (Suharianto 1981:52). memang berasal dari bahasa yang berbeda. meskipun . Dalam seni baca puisi.Membaca Puisi 3-3 pendengar atau penontonnya “memahami dan merasakan” apa yang dibacanya tersebut. Karena deklamator tidak membawa teks maka aktivitas di panggung dititikberatkan pada gerak tubuh dan vokal. Agar enak dilihat berarti “semua gerak yang dihasilkan oleh anggota tubuh” si pembaca puisi harus juga benar dan indah. Dengan kata lain. Namun. Agar enak didengar berarti “semua yang dihasilkan oleh alat ucap” si pembaca harus benar dan indah. Istilah baca puisi berasal dari bahasa Inggris. Seni baca puisi adalah seni “audio-visual” (Suharianto 2001:2). sedangkan deklamasi diartikan sebagai “menyampaikan” puisi. sebenarnya secara substansial antara deklamasi dan baca puisi tidak berbeda. Inilah yang menyebabkan orang “membedakan” antara baca puisi dan deklamasi. Istilah deklamasi lebih dulu dikenal masyarakat dibandingkan dengan istilah baca puisi. kedua istilah tersebut. sedangkan istilah deklamasi berasal dari bahasa Belanda. Dalam bahasa aslinya baca puisi diartikan sebagai “membaca” puisi. yaitu ketika WS Rendra memperkenalkannya. Varian Baca Puisi 1. B. Sebab dalam praktiknya.

Wujud konkret musikalisasi puisi dapat berupa pembacaan puisi dengan cara dilagukan. orang yang membedakan antara deklamasi dan baca puisi mendasarkan anggapannya pada “kebiasaan” pembawanya. Yang dimaksud dengan penyertaan instrumen di sini. penyertaan musik (instrumen) dalam pembacaan puisi. misalnya. Tentu saja dalam hal ini pengertian membaca merupakan pengertian dalam arti luas. Musikalisasi berbeda dengan baca puisi yang diiringi musik. dalam musikalisasi puisi. Jika dikaji lebih jauh. musikalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk memusikkan dan atau melagukan puisi. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi merupakan upaya memusikkan puisi atau menggabungkan antara seni baca puisi dan seni musik. Oleh karena itu. yakni melihat teks. . yakni lepas teks dan membawa teks. bukan pengertian leksikal. pembicaraan dalam buku ini. kesan kesedihan itu dapat dimunculkan oleh musik. Berangkat dari konsep tersebut. Namun. keberadaan musik hanya sebagai pelengkap. musik merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan.3-4 Membaca Puisi membawa teks. Materi dasar seni baca puisi adalah puisi itu sendiri. Musik. sebenarnya makna yang terkandung dalam konsep “membaca” tidak sesempit yang banyak diartikan orang. Tanpa melihat teks pun upaya untuk menyampaikan dengan memahami sebuah teks sebenarnya dapat dikategorikan sebagai aktivitas membaca. antara baca puisi dan deklamasi dalam praktiknya tidak berbeda. baik mengenai konsep maupun dalam cara atau teknik penyampaian tidak dibedakan. 2. sedangkan materi dasar seni musik adalah lagu dan instrumen. Dengan demikian. banyak juga pembaca puisi yang sebenarnya hafal puisi tersebut. Dalam pembacaan puisi yang diiringi musik. Jika nada puisi itu gembira. Dengan demikian. atau gabungan keduanya. jika puisi yang dibaca bernada sedih. baik yang berupa lagu maupun yang berupa instrumen merupakan satu kesatuan dengan puisi.

Bedasarkan hakikat drama tersebut. Yang dimaksud dengan pendramaan puisi di sini adalah mendialogkan puisi. jika biasanya dalam seni baca puisi. tetapi sudah kita “mainkan” sebagai seni teater. Sinematisasi Puisi Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata sinema? Film? Tentu sebuah tontonan di layar yang gambarnya tidak diambil . dalam dramatisasi puisi diubah dalam bentuk dialog dengan menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakternya. tidak sekadar kita dialogkan. 4. Puisi dalam hal ini tidak sekadar kita baca. Unsur yang paling menonjol dalam teater adalah unsur act atau gerak. dengan pengubahan menjadi dramatisasi puisi. Dalam pengertian sempit. teater tergolong seni pertunjukan yang kompleks. Dengan demikian. musik. Dengan demikian. Tidak ada drama yang tidak menyertakan dialog di dalamnya. teaterikalisasi puisi—meneaterkan puisi-pada dasarnya merupakan peng-gerak-an puisi. Ciri khas drama adalah adanya dialog. seni musik. puisi hanya dibaca oleh satu orang atau dua orang secara bergantian. dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai bentuk pendramaan puisi. Semua unsur seni tersebut melebur menjadi satu dalam teater. jika semula puisi bersifat monolog. 5. Dalam kondisi demikian. keberadaan musik tidak sekadar menjadi pelengkap tetapi benar-benar menyatu dengan puisi untuk menampilkan suasana tertentu. 3. seni gerak.Membaca Puisi 3-5 suasana kegembiraan dapat dihadirkan oleh musik. Dalam teater ada seni sastra. dan seni rupa. dan sebagainya. puisi diubah menjadi dialog. Teaterikalisasi Puisi Dibandingkan dengan seni yang lain. olah tubuh. di dalamnya sudah ada unsur akting. Istilah sederhananya adalah mendramakan puisi. Dramatisasi Puisi Dramatisasi puisi merupakan penggabungan seni puisi dan seni drama. Oleh karena itu.

dalam memilih . Kita tentu pernah merasakan betapa “tidak enaknya” mendengar orang menyanyi tetapi lagu yang dipilihnya tidak sesuai dengan karakter suaranya. maka gangguan atau "kecelakaan" itu juga akan tampak. Dalam pengeditan itu. dan situasi pembacaan. Jika kita menonton pertunjukan teater atau pembacaan puisi. Hal yang sama juga dapat terjadi pada pembacaan puisi. Namun. Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. dengan demikian. ada gambar yang dibalik waktu pemunculannya. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pembaca. Kalau kita sebagai calon pembaca. kita akan melihat proses permainan atau pembacaan itu berlangsung dari awal sampai akhir dengan plus minusnya. bisa jadi ada gambar yang dihilangkan. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi. Pembacaan puisi diformat dalam bentuk film atau sinema. sehingga proses pengambilan gambar dan pengeditan juga dilakukan sebelum pementasan atau pertunjukan dilakukan. Sinematisasi puisi berangkat dari konsep tersebut. calon pendengar. dan jika perlu ada pengulanagan pengambilan gambar.3-6 Membaca Puisi secara langsung tetapi merupakan hasil pengeditan. Artinya. Memilih Puisi Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. C. jika dalam proses pementasan atau pembacaan itu terjadi gangguan atau "kecelakaan". hal seperti ini tentu saja tidak akan terjadi dalam sinema atau film karena proses pengambilan gambar dapat dilakukan kapan saja dan pengeditan gambar memungkinkan menghilangkan gangguan atau "kecelakaan" itu. yaitu calon pembaca. Dalam film. gambar ditampilkan setelah melalui proses pemilihan dan pengeditan. Persiapan Baca Puisi 1.

sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. Namun. Pendidikan akan menentukan tingkat kesulitan puisi yang harus kita baca. pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda. Bagi pendengar golongan pertama. akan sesuai kita baca di hadapan pendengar yang agamanya sama. Usia pendengar . tetapi bagi pendengar golongan kedua memandang pebacaan puisi “hanya” sebatas hiburan. akan semakin teliti kita dalam memilih puisi. yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. misalnya. jika pendengar agamanya berbeda. Oleh karena itu. Yang dimaksud kemampuan di dalamnya termasuk keuatan fisik dan suara. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi. Puisi-puisi keagamaan. Tentu saja dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan mungkin bisa memuaskan seluruh pendengar. Agama juga berpengaruh pada pemilihan isi puisi. kemampuan memahami. isi puisi dan panjang pendeknya puisi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan pendengar. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. puisi yang harus kita pilih adalah puisi yang tidak memihak salah satu agama. setidaknya. menikmati pembacaan puisi tidak sekadar sebagai hiburan. Secara umum pembaca dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah siapa calon pendengar. Jika perlu disesuaikan dengan keinginan dan kesenangan kita. Semakin banyak kita mengetahui pendengar.Membaca Puisi 3-7 puisi harus kita sesuaikan dengan kemampuan kita. dan kemampuan mengekspresikan. Hal lain yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pendengar antara lain masalah pendidikan. semakin tinggi pula kemampuan mencerna puisi. Sebaliknya. agama. Dengan demikian. sebagian besar pendengar “senang” mendengarkan pembacaan puisi kita. Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pendengar? Kita dapat menyebutkannya selengkap mungkin. Semakin tinggi tingkat pendidikannya. dan usia.

Tempat yang tertutup atau terbuka akan memengaruhi pemilihan puisi. Hal ini dimaksudkan agar “daya jangkau” pembacaan puisi tersebut sampai kepada seluruh pendengar. Dibandingkan dengan tempat tertutup. tempat terbuka jauh lebih susah dikendalikan. kita tentu akan dengan mudah memilih puisi mana yang cocok untuk dibaca dalam ulang tahun perkawinan. atau pengukuhan guru besar. dalam menentukan puisi kita juga harus memahami situasi pembacaan. berat-ringannya isi uisi. . semakin ringan isi puisi yang harus kita siapkan. Selain calon pembaca dan pendengar. kematian. untuk jenis pembaca umum. Kita dapat membedakan suasana atas suasaana sedih. Oleh karena itu. gembira. atau serius.3-8 Membaca Puisi berpengaruh pada penentuan panjang pendeknya puisi. semakin pendek puisi yang harus kita siapkan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi--di mana tempatnya. Semakin rendah usia pendengar. Suasana akan menentukan pemilihan isi puisi. dan serius. akan sangat melelahkan pendengar. Untuk tempat yang terbuka. dan semakin sederhana bahasa puisi yang digunakan. puisi yang sesuai untuk dibaca adalah puisi yang tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sederhana. Meskipun tidak dijelaskan di sini. siang atau malam hari. dan sebagainya. gembira. Ketiganya membutuhkan corak puisi yang berbeda. Selain suara pembaca puisi harus bersaing dengan suara alam–angin atau suara-suara lain—pandangan pendengar juga tidak hanya tertuju kepada pembaca karena ada alternatif yang lain. Demikian juga dengan puisi yang bahasanya susah dicerna. dan sederhana-tidak sederhananya bahasa puisi. tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih: terbuka atau tertutup. dalam suasana sedih. Puisi yang panjang akan melelahkan pendengar. Dengan memerhatikan tiga hal tersebut. Ketiganya membutuhkan jenis puisi yang berbeda. di luar atau di dalam ruangan.

(4) Bersifa teaterikal. kesan terhadap sesuatu. Belum lagi kalau pembacaannya bersifat monoton. atau apa pun bentuknya. Kita dapat mengira-ira sendiri panjang pendeknya puisi tersebut berkaitan dengan tempat pembacaan dan pendengar. namun juga tidak terlalu panjang. Syarat terakhir adalah isi puisi harus disesuaikan dengan pendengar.Membaca Puisi 3-9 kita dapat memilih puisi yang memenuhi syarat berikut. (2) Bersifat melodius. pembacaan ternyata sudah berakhir. Panjang pendeknya puisi menjadi pertimbangan khusus dalam memilih puisi. namun ada pula puisi yang susah kita maknai dengan gerakan tubuh. (3) Bahasanya sederhana. (5) Isinya sesuai dengan pendengar dan situasi. Oleh karena itu. misalnya. (1) Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Puisi yang terlalu pendek tidak akan memperlihatkan isi puisi yang jelas dan tidak akan mampu mengondisikan pendengar pada pembacaan puisi. Dalam pembacaan puisi dibutuhkan juga gerakan tubuh. Istilah sederhananya. Jika pendengarnya anak-anak. kejenuhan pendengar akan terlihat. Yang diaksud dengan isi puisi di sini adalah apa saja yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembaca puisi. Pesan. kesan. Syarat yang kedua bersifat melodius. tentu puisi yang kita pilih akan lebih pendek jika dibandingkan dengan mahasiswa. . Gerakan tubuh ini disesuaikan dengan puisi. Arti bersifat melodius adalah jika dibaca puisi tersebut akan memunculkan nada dan irama “yang enak” didengar. Sebaliknya. nilai atau yang lain itu harus disesuaikan dengan pendengar pembacaan puisi. puisi yang terlalu panjang akan melelahkan pendengar. nilai-niai. puisi yang kita pilih haruslah tidak terlalu pendek. Ada puisi yang secara mudah memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh kita ketika kita harus membacanya. apakah itu berupa amanat. ketika pendengar baru akan merasakan puisi itu. Syarat berikutnya adalah bersifat teaterikal.

nada dan suasana puisi yang bersangkutan. pembacaan puisi yang kita lakukan tidak akan sempurna. serta dapat menentukan irama dan lagu yang tepat pada puisi yang akan dibacanya. Memahami Puisi Sebelum membaca puisi. yang dengan demikian tidak secara langsung menyampaikan sesuatu tadi: pengalaman. dan gagasan kepada pembacanya. . keinginan. Maksud langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca. manusia lain. dan sebagainya. Kesemua itu telah diramu dengan perasaan dan pikiran penyair yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk puisi. Pemahaman puisi dapat dilakukan dengan cara membuat parafrase puisi terlebih dahulu. kecuali harus memahami cara mengucapkan lambang-lambang bahasa puisi bersangkutan pembaca puisi dituntut dapat menjadikan puisi yang akan dibacanya itu sebagai “miliknya” sendiri. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan ketika berhadapan dengan Tuhan. Kata-kata yang digunakan dalam puisi adalah kata-kata kias atau pelambang. perlulah kita membedah puisi tersebut dengan maksud untuk memahami puisi yang dimaksud. Pada hakikatnya puisi merupakan sebuah media yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan sesuatu kepada pembaca. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar maksud atau arti puisi yang akan dibaca. dan bisa juga hasil pengembaraan imajinasi penyair. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. Oleh karena itu. terlebih dahulu kita harus memahami isi puisi tersebut. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman-pengalaman penyair. gagasan atau ide atau keinginan-keinginan tertentu dari penyair. Jika pemahaman kita terhadap puisi salah.3-10 Membaca Puisi 2. alam sekitar. Salah satu ciri puisi yang cukup menonjol adalah bersifat konsentrif. Dengan kata lain.

pelatihan olah tubuh. pelatihan konsentrasi.Membaca Puisi 3-11 Hal ini menjadikan pembaca tidak bisa secara langsung sesuatu dari puisi tersebut. Salah satu cara untuk membantu usaha tersebut adalah dengan membuat parafrase terlebih dahulu. Pelatihan tidak langsung adalah pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung atau memperkaya kemampuan membaca puisi. Semakin lama masa kita berlatih secara tidak langsung. Inti pelatihan pernafasan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengatur pernafasannya sehingga vokal menjadi lebih jelas. Pelatihan Baca Puisi a. dan pelatihan ekspresi. menangkap Oleh karena hal-hal tersebutlah maka untuk memahami sebuah puisi dibutuhkan cara khusus yang terutama dapat memudahkan pembaca memahami kata-kata kias dan maksud-maksud yang tersembunyi dalam puisi. Oleh karena itu. . 3. Pelatihan pernafasan merupakan pelatihan dasar yang bertujuan untuk memberikan kemampuan mengatur nafas—menarik dan mengeluarkan nafas—agar tidak mengganggu ucapan dan memperkuat stamina pembaca puisi. Ada dua jenis pelatihan secara tidak langsung. dialog menjadi lebih lancar. Pelatihan Tidak Langsung Pelatihan tidak langsung dimaksudkan sebagai pelatihan yang tidak berhadapan secara langsung dengan puisi yang akan dibaca. akan semakin tinggi pula modal kita dalam membaca puisi. Bentuk pelatihan semacam ini tentu saja masih dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa bentuk lain. (1) Pelatihan Dasar Ada beberapa macam bentuk pelatihan dasar. yaitu pelatihan dasar dan pengayaan. dan stamina pembacaan menjadi semakin kuat. pelatihan ini dapat dilaksanakan jauh sebelum kita membaca puisi. secara teoretis. pelatihan vokal. yaitu pelatihan pernafasan.

Tugas seorang pembaca puisi adalah menyatukan dirinya sendiri dengan puisi yang dibacanya. serta seluruh anggota tubuhnya dan kemudian mampu memerintahkannya untuk berlaku sesuai dengan isi puisi yang akan dibacanya. Olah tubuh menyangkut pelatihan bagaimaan supaya anggota tubuh seorang pembaca puisi menjadi lentur dan selalu mendukung penampilan. Pelatihan vokal bertujuan untuk menciptakan vokal yang baik sehingga seorang pembaca puisi memiliki kemampuan mengucapkan kata-kata dengan jelas. Lebih jauh. Dalam konsentrasi ini seorang pembaca puisi harus mampu menundukkan panca-indranya. Gerakan anggota tubuh harus selalu selaras dengan isi puisi. pikirannya.3-12 Membaca Puisi Yang dekat dengan pelatihan pernafasan adalah pelatihan konsentrasi. Dalam sebuah permainan pemusatan pikiran menjadi amat penting keberadaannya karena tanpa pemusatan pikiran permainan tidak akan berjalan dengan sempurna. Jenis pelatihan dasar yang terakhir adalah pelatihan ekspresi Ekspresi adalah kemampuan seorang pembaca puisi dalam menampilkan ekspresi wajah sesuai dengan susasana puisi yang dibaca. pelatihan vokal juga bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan seorang pembaca puisi dalam menyampaikan puisi. yang dapat digolongkan ke dalam pelatihan tidak langsung adalah pengayaan. mampu menguasai panggung dengan suaranya. Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi dengan cara mengadakan pelatihan olah tubuh. Oleh karena inti pelatihan konsentrasi ada pada kemampuan memusatkan perhatian. juga harus selaras dengan kondisi panggung. dalam hal ini menyangkut intonasi dan aksentuasi. dan mempunyai kekuatan untuk bermain sampai pembacaan selesai tanpa kehabisan suara. uraturatnya. Untuk mampu menyatu dengan puisi yang dibacanya diperlukan konsentrasi yang kuat. (2) Pengayaan Selain pelatihan dasar. Pengayaan dalam hal ini diartikan . maka istilah lain yang sering digunakan adalah pemusatan pikiran.

akhirnya tanpa disadari tidak sengaja kita telah hafal lagu tersebut. Melalui ativitas “menonton” orang membaca puisi kita akan mengenal bagaimana cara membaca puisi. unsur apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai pembacaan puisi yang baik dan yang tidak baik. Ketika kita membaca buku ini. Namun. Kita bisa menempuh cara ini dengan bertanya atau berdiskusi dengan orang lain yang kita pandang mampu dalam membaca puisi. pengayaan juga dapat kita lakukan dengan membaca teori baca puisi. baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Kondisi seperti ini tergolong pelatihan secara langsung. baik secara teoretis maupun secara praktis. Semakin sering kita menonton pembacaan puisi. apa saja yang diperlukan dalam membaca puisi. Meskipun kita “merasa” tidak mampu membaca puisi. Barangkali kita sering secara tidak sadar hafal baris-baris lagu tertentu. Selain dengan menonton pembacaan puisi. persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum kita membaca puisi. dan sebagainya. akhirnya kita pun dapat “menirukan” membaca puisi. kita secara teoretis akan mengetahui bagaimana cara membaca puisi. tidak . Cara lain untuk pengayaan adalah dengan berdialog atau mengikuti seminar-seminar.Membaca Puisi 3-13 sebagai upaya. Kita tidak pernah secara sengaja menghafalkan lagu tersebut. Melalui aktivitas membaca buku ini atau buku-buku lain yang sejenis. Dalam hal membaca puisi peristiwa semacam ini juga sering terjadi. karena hampir tiap hari kita mendengar lagu tersebut. apa yang kita lakukan ini tergolong sebagai pengayaan. semakin kaya pula pemahaman kita tentang cara membaca puisi. Melalui dialog atau tanya jawab dengan narasumber kita bisa menggali informasi-infirmasi yang kita butuhkan dalam pembacaan puisi. untuk memperkaya pemahaman atau keterampilan kita dalam membaca puisi. namun karena kita sering mendengar orang membaca puisi. misalnya.

tidak ada yang berkata-kata. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. karena ia tak berani lagi. yang jauh. kematian itu. Ia melihat peta. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. karena angin pada kemuning. pelatihan langsung berarti pelatihan dengan cara kita menaiki secara langsung sepeda yang dimaksud. Pelatihan Langsung Pelatihan langsung adalah pelatihan dengan cara menghadapi teks yang akan dibaca secara langsung. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti. Jika diibaratkan sebagai pelatihan naik sepeda. nasib. .3-14 Membaca Puisi b. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. Tapi di antara mereka berdua. (1) Membuat Baris Pembacaan Ketika berhadapan langsung dengan puisi. Ada beberapa tahapan dalam pelatihan secara langsung. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. Perhatikan puisi berikut ini.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Oleh karena itu. Yang dimaksud dengan baris pembacaan adalah baris . kaulupakan wajahku. Kelengkapan makna barisbaris tersebut ada pada baris-baris berikutnya. Perhatikan baris kedua dan baris ketiga pada bait pertama dan baris pertama pada bait ketiga puisi tersebut seperti berikut ini. Berkaitan dengan hal tersebut. seperti dulu. abai daam waktu. langkah-langkah dalam berlatih harus dimulai dari penafsiran akan baris-baris tersebut. yaitu dengan baris dan bait yang tetap. Baris dan bait tersebut masih membutuhkan interpretasi untuk dibaca. Lewat remang dan kunang-kunang.. ……………………………………………………………………. tinggallah. Menghadapi puisi seperti itu tentu dengan mudah kita akan mendapatkan baris-baris yang jika kita baca tidak akan utuh maknanya.. makna puisi tidak akan muncul. Bulan pun lamban dalam angin. kulupakan wajahmu. Oleh karena itu. Ia dengar resah kuda serta langkah …………………………………………………………………………. karena angin pada kemuning. langkah awal dalam berhadapan dengan puisi adalah mengubah baris-baris puisi tersebut ke dalam barisbaris pembacaan. adikku. Puisi tersebut ditulis sesuai dengan aslinya. jika kita membaca puisi dengan memenggal per baris seperti itu. pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti.Membaca Puisi 3-15 Anjasmara. Bukankah akan sangat janggal jika kita membaca baris-baris puisi tersebut secara sepotong-sepotong? Mengapa bisa demikian? Yya. karena kita membaca secara tidak lengkap. Sebab bila esok ………………………………………………………………………….

Ia melihat peta. ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba. Lalu ia ucapkan perpisahan itu. seperti dulu. adikku. jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut. abai dalam waktu. karena ia tak berani lagi. nasib. karena angin pada kemuning. Lewat remang dan kunang-kunang. kematian itu. perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. . tinggallah. tidak ada yang berkata-kata. Anjasmara. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.3-16 Membaca Puisi puisi yang kita buat sendiri—bukan oleh penyair—yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara. Bulan pun lamban dalam angin. kaulupakan wajahku. kulupakan wajahmu. Tapi di antara mereka berdua. Dengan model puisi “Asmaradana” seperti tersebut di atas.

Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas. ASMARADANA Ia dengar kepak sayap kelelawar / dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning // Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati / ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh // Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata // Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu// Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan // Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis // Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara / ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba / karena ia tak berani lagi // Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu // . Sebagai bahan pelatihan. Oleh karena itu. setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan. berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad.Membaca Puisi 3-17 (2) Membuat Pemenggalan Pembacaan Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan.

3-18 Membaca Puisi Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu // Lewat remang dan kunang-kunang / kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu // (3) Mencari suasana puisi Ada puisi yang bersuasana sedih. atau yang lain. kata atau baris yang digunakan antara lain. Ada puisi yang diksinya condong pada suasana tertentu. kematian. misalnya. Seperti puisi "Aku" karya Chairil Anwar. semangat. muncul dalam puisi tersebut. hilang pedih peri. Suasana kesedihan atau paling tidak kesepian. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang . dan semacamnya. Apakah kita akan membaca puisi dengan semangat menyala-nyala. antara lain ditentukan oleh suasana puisi tadi. atau yang lain. misalnya. baris-baris puisi. Suasana puisi ini merupakan kunci dalam melafalkan puisi. pemahaman terhadap suasana puisi menjadi penting. variasi intonasi (tidak monoton). (4) Melafalkan puisi Melafalkan puisi. ada yang bersuasana gembira. riang gembira. perlu juga kita perhatikan kejelasan ucapan. Cara mencari suasana puisi dapat melalui diksi yang digunakan. perpisahan. marah. muncul kata resah kuda. atau isi puisi yang ada. berlari. Kata atau baris tersebut mengisyaratkan suasana semangat. Bagaimana cara kita harus membaca puisi antara lain ditentukan oleh suasana puisi. dan kesesuaian lagu yang kita pilih dengan isi atau maksud puisi. pelan melankolis. Selain itu. Karena itu. ditentukan oleh suasana puisi. Dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Muhamad. mau hidup seribu tahun lagi. (5) Menjiwai puisi Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. atau lebih luas mengintonasikan puisi.

Yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah kesiapan pembaca dan kesiapan pendengar. gaya apa pun yang . Kalau pendengarnya orang yang tidak menyukai puisi. Membaca Puisi di Panggung Membaca puisi di panggung berarti mempraktikkan hasil pelatihan. dapat juga dengan gaya tertentu. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh. Karena itu. D. Namun kalau pendengarnya orang yang menyenangi puisi. jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Konsentrasi menjadi kata kunci dalam pelaksanaan teknik muncul. Judul puisi dapat kita baca secara konvensional. cara memegang teks. seyogyanya kita memakai gaya konvensional. serta ekspresi akan mengikutinya. Dengan demikian kita tidak akan overacting.Membaca Puisi 3-19 benar. Prinsip memegang teks yang paling penting adalah tidak menutupi wajah dan tidak mengganggu gerakan pada saat membaca puisi. cara membaca judul. keberhasilan pembacaan puisi di panggung juga akan ditentukan oleh hasil pelatihan itu sendiri. pandangan mata. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi di panggung adalah teknik muncul. misalnya "Aku karya Chairil Anwar". misalnya "Chairil Anwar dalam goresan penanya: Aku". Pilihan model pembacaan ini ditentukan oleh pendengarnya. dan blocking. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud. penghayatan penuh harus kita lakukan. Dengan demikian. Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Teknik muncul adalah cara kali pertama kita muncul di panggung. karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi.

tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri. yaitu penghayatan. maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. terlebih dahulu kita harus memahaminya. Karena itu. Meskipun begitu. Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. Pandangan mata juga harus kita jaga. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi. vokal. Yang terakhir adalah masalah blocking. E. Jika. dan penampilan. sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi. Penghayatan Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. misalnya. Paling tidak dalam langkah ini kita harus mampu menangkap apa makna yang terkandung dalam puisi itu. dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama. Dalam membaca puisi sesungguhnya kita sedang berdialog dengan pembaca. Aspek Penilaian Baca Puisi Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi. 1. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Meskipun ketiga komponen tersebut samasama penting. apa makna . namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting.3-20 Membaca Puisi kita gunakan tidak masalah. jangan pula kita menatap mata pendengar atau penonton. mata kita tidak boleh menjauhi pendengar. Panggung harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga posisi kita di panggung menjadi "enak" dilihat oleh penonton. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi. Oleh karena itu.

misalnya. Meskipun ia mengecup rambutnya . kita Tanpa dapat mengetahui mungkin menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. Perempuan itu terisak. Meskipun ia mengecup rambutnya (Dongeng Sebelum Tidur. Perempuan itu terisak. sebagai berikut. kita tidak akan dapat memenggal secara tepat baris-baris puisi “Dongeng Sebelum Tidur” itu menjadi. pendengar bagaimana atau penonton. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut. (1) pemenggalan. Pemahaman itu pula yang akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari baris puisi menjadi bagian-bagian pembacaan.Membaca Puisi 3-21 simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu. dan bagaimana suasananya. (2) nada dan intonasi. Perhatikan petikan puisi berikut ini. Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam tiga hal berikut. Goenawan Mohamad) Tanpa memahami isi puisi tersebut. ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin. yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya. Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair “sesuatu” kepada itu. (3) ekspresi.

Ketiga tekanan tersebut dapat digunakan untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada puisi yang kita baca. dan suasana santai atau main-main dalam puisi. Ekspresi secara sempit dapat terlihat pada wajah. Tekanan tempo menyangkut cepat-lambatnya pembacaan puisi. Variasi tersebut ditentukan oleh corak puisi. dan mempertinggi atau memperendah pembacaan. Suasana-suasana tersebut harus dimunculkan dalam pembacaan puisi secara tepat. ahal penting yang harus kita perhatikan adalah masalah tekanan atau aksentuasi. Tekanan dinamik menyangkut lemah-kerasnya pembacaan puisi. Kita bisa memberikan tekanan pada puisi dengan cara mempercepat atau memperlambat pembacaan. tekanan tempo. Berkaitan dengan intonasi. Tekanan nada menyangkut tinggi-rendahnya pembacaan puisi. intonasi harus dalam secara bervariasi. Intonasi digunakan keras-lemah. dan tekanan dinamik. Selain suasana sedih dan semangat. kita tentu masih bisa menjumpai suasana gembira. Dari seluruh . tetapi juga berhubungan dengan pemaknaan baris-baris puisi. aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang kita baca yang harus memdapatkan penekanan. suasana serius atau sungguh-sungguh. Jika intonasi menyangkut tekanan nada. Melalui pemahaman pula kita dapat mengekspresikan puisi secara tepat. Dengan dan cepat-lambat. Melalui pemenggalan itulah pendengar atau penonton akan lebih mudah memahami puisi yang kita baca.3-22 Membaca Puisi Pemenggalan dalam pembacaan puisi tidak sekadar berhubungan dengan pengambilan nafas. Melalui pemahaman puisi kita juga dapat menentukan intonasi atau lagu dalam pembacaan puisi. demikian pembacaan tersebut tidak bersifat datar-datar saja atau bersifat monoton. memperkeras atau memperlemah pembacaan. Melalui pemenggalan itu pula larik-larik puisi dapat sampai kepada pendengar atau penonton secara sistematis. Harus ada variasi. tinggi-rendah.

tinggi. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan. jika kita membaca puisi dengan suara tinggi dan tempo yang cepat. atau kecil. kunci ekspresi sebenarnya ada pada mata. besar. Perhatikan bait kelima puisi “Pembuka” di atas. Mata kemarahan. Namun. (3) ketahanan. Akan sangat terlihat orang yang membaca puisi mempunyai penghayatan yang tinggi atau tidak telihat pada matanya. mata kesedihan. Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu . Ketika kita membaca puisi dengan lambat.Membaca Puisi 3-23 anggota tubuh manusia. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. harus kita ekspresikan secara maksimal sesuai dengan isi atau suasana puisi. b. atau yang lain. kejelasan ucapan benar-benar harus dijaga karena bisa terlewatkan. Vokal Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini. dan (4) kelancaran. Warna suara berat. yaitu: (1) kejelasan ucapan. kejelasan ucapan mungkin akan lebih terlihat. Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. (2) jeda.

Pada kondisi tersebut. c. ketahanan sangat dibutuhkan. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. kejelasan ucapan harus dijaga. Penampilan Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalanpersoalan: teknik muncul. biasanya pengucapan katakata atau baris-baris puisi tidak lancar. masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan. Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi . Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama.3-24 Membaca Puisi Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Bait tersebut menghendaki pembacaan yang cepat dan tinggi. Selain kejelasan ucapan. Selain itu. menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang. (2) gerakan tubuh. kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. (3) cara berpakaian. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. Terutama untuk puisi panjang. (1) blocking dan pemanfaatan setting.

bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. itulah persoalan blocking. maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi. kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton. apakah kita harus berjalan-jalan.Membaca Puisi 3-25 dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. begitu kita berdiri di panggung. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. berdiri. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. itu semua merupakan persoalan blocking. Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Dalam sebuah dialog. atau gabungan keduanya. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. Sebaliknya. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan. berdiri di satu tempat saja. apakah kita harus duduk. atau campuran keduanya. suasana dialogis tidak akan tercipta. sebelum membaca puisi. membelakangi. Dalam pembacaan puisi juga demikian. Oleh karena itu. . kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. Pendek kata. Apakah kita harus menghadap penonton. sebelum puisi kita baca. blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Secara teoretis. Secara umum ada dua jenis blocking. pada saat pertama kita muncul di panggung. yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. atau campuran keduanya.

Artinya. Gerakan tubuh seharusnya kita biarkan muncul sendiri sebagai akibat adanya penghayatan pada puisi. Dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Masing-masing orang mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu. puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Jika model panggung sudah dibuat demikian. gerakan tubuh dalam pembacaan puisi tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Oleh karena itu. misalnya. Banyak orang menduga bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi harus disiapkan atau dilatih secara khusus seperti halnya gerakan pada penari latar pertunjukan musik. tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. pembaca puisi mengucapkan baris: Lihatlah . atau pemanfaatan benda-benda atau apa pun bentuknya yang ada di panggung. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis.3-26 Membaca Puisi Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. Gerakan tubuh dalam hal ini merupakan perwujudan ekspresi atas penghayatan pembaca pada puisi yang dibacanya. Ketika . Blocking juga berkaitan dengan pemanfaatan setting. Hal ketiga yang harus kita perhatikan berkaitan dengan penampilan adalah masalah gerakan tubuh. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad. Dalam pertunjukan secara khusus. panggung didesain sedemikian rupa sehingga memuncculkan nilai artistik. Ukuran baik-tidaknya gerakan tubuh dalam pembacaan puisi adalah kesesuaian dengan jiwa puisi. Ketika kita berada di panggung. ada pula yang menghendaki blocking dinamis. kita tidak bisa lepas dari bentuk panggung dan segala peralatan yang ada di panggung. tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis. Sebaliknya. pembaca puisi tidak bisa lepas begitu saja dengan model panggung. misalnya. pembaca puisi harus menyesuaikan diri—atau bahkan memanfaatkan—dengan panggung dan segala peralatan yang ada di panggung.

Karena itu. Ketiga komponen pembacaan puisi tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai kriteria penilaian pembacaan puisi.Membaca Puisi 3-27 Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan masing-masing orang akan berbeda dalam menggerakkan tangan atau anggota tubuhnya. . . dan penampilannya baik. pakaian harus sejalan dengan isi puisi. juga akan selaras dengan kebiasaan atau cara pembaca puisi mengekspresikan puisi tersebut. ukuran baik-tidaknya dalam pembacaan puisi dapat dilihat dari ketiga komponen tersebut. Yang lebih baik. Meskipun tidak terlalu penting. Bagaimana sebaiknya kita berpakaian ketika menghadap Tuhan? Tentu bukan pakaian yang terbuka. ketika kita harus membaca puisi “Pembuka” karya Emha Ainun Nadjib. vokal. Yang terpenting. Isi puisi tersebut adalah dialog antara manusia dan Tuhan. jangan sampai kita menggunakan pakaian yang mengganggu pembacaan puisi. Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan tubuh dalam pembacaan puisi selain selaras dengan jiwa puisi. Sebagai contoh. Pembacaan puisi yang baik adalah pembacaan puisi yang penghayatan. misalnya. tentu akan menjadi tidak tepat kalau pakaian kita terbuka. masalah pakaian juga perlu kita perhatikan dalam pembacaan puisi. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal berpakaian.

Rizanur. Boulton. Herman J. S. Depdikbud. Muslim. Mukh. Bandung: Pustaka Waluyo. Suharianto. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. Masalah Penyutradaraan. Abdul Azis. 2001. Banjarbaru: Dewan Kesenian Daerah. 1995. 2008. 1979. Jakarta: Erlangga. S. Teori dan Apresiasi Puisi. 1981. Pelatihan. Bahan Pelatihan Baca Puisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. Sekilas Mengenai Seni Baca Puisi. Tahapan dalam Pelatihan Membaca Puisi. Prima. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Rendra. Surakarta: Widyaduta. London: Routledge and Keagan Paul. Richard. Mukh. Seni Baca Puisi (Persiapan. 26-31 Mei 2001. Gani. Modal Dasar bagi Calon Aktor. 2001. 26-31 Mei 2001. Doyin. Suharianto. 2001.DAFTAR PUSTAKA Boleslavsky. Bahan Pelatihan Baca Pusisi yang diselenggarakan oleh LPS&B pada tanggal 23 Maret 2001. S. Seni Teater. 2001. Pengajaran Apresiasi Puisi. Surakarta: Widya Duta. Marjorie. 1981. Semarang: Bandungan Institute. Dasar-Dasar Dramaturgi. Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani). . Suharianto. Materi Pelatihan bagi Pelatih Teater se-Jawa Tengah di Magelang. 1982. 1979. Doyin. dan Penilaian). Mukh. 1981. Jakarta: Pustaka Jaya. Jakarta: P3G Hanindawan. Japy. Tentang Bermain Drama. Doyin. The Anatomy of Poetry. Tambayong. 2001. Jakarta: Pustaka Jaya. Pengantar Apresiasi Puisi.

mereka yang aku tak pernah berani mengadilinya Amin. mereka yang aku tak sanggup memanggilnya ke Mahkamah Pengadilan resmi Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. mereka yang selalu memperkosa hak-hakku sebagai seorang hakim yang selalu melumpuhkan rasa keadilan dalam kalbuku Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu. inilah doaku sebagai seorang hakim Tuhanku: Engkau panggillah segera ke Mahkamah PengadilanMu.Membaca Puisi 3-29 Pelatihan: Bacalah puisi berikut dengan benar! DOA SEORANG HAKIM PENSIUNAN DI JAMAN PENJAJAHAN Leon Agusta Tuhan Masih sudikah engkau mendengarkan aku? Setelah aku hukum mereka yang aku yakin tidak bersalah Setelah aku bebaskan mereka yang aku yakin mereka telah bersalah Setelah aku bebaskan diriku yang mengabaikan rasa keadilan Hambamu ini sungguh tak berdaya. oh Tuhan Betapapun aku mendengar hati nuraniku terus menjerit PadaMu aku tak bersembunyi Engkaulah Yang Mahatahu derita dan kebimbanganku Setelah doa bagiku sendiri selesai Akhirnya. PEMBUKA .

Gusti Inilah tawananMu Tak berani menengadahkan muka Mripat kami yang terbuka Telah lama menjadi buta Sebab telah menyia-nyiakan dirinya Dengan hanya menatap Hal-hal yang maya Gusti Kami berkumpul di sini Untuk mengukur keterbatasan kami sendiri Melontarkan beratus kata Seperti buih-buih Agar melayang ke udara Dihisap kembali oleh telinga agungMu Dan tinggal jiwa kami termangu-mangu di sini Menunggu tetesan-tetesan firmanMu Yang membeningkan hidup kami . kami tak kuasa. malam ini pun Kami tak berada di mana-mana Melainkan di hadapanMu Tapi kami sering lupa Sebab mengalahkan musuh-musuhMu Yang kecil saja.3-30 Membaca Puisi Emha Ainun Nadjib Gusti Seperti kapan saja.

Membaca Puisi 3-31 Gusti Kami pasrah sepasrah-pasrahnya Kami telanjang setelanjang-telanjangnya Kami syukuri apapun Karena rahasiamu agung Tak ada apa-apa yang penting Dalam hidup yang sejenak ini Kecuali berlomba lari Untuk melihat telapak kaki siapa Yang paling dahulu menginjak Halaman rumahMu Gusti Lihatlah Mulut kami fasih Otak kami cerdik seperti setan Jiwa kami luwes Bersujud bagai malaikat-malaikatMu Namun saksikan Adakah hidup kami mampu begitu? Langkah kami yang mantap dan dungu Hasil-hasil kami yang gagah dan semu Arah mata kami yang bingung dan tertipu Mampukah melunasi hutang kami Atas penciptaanMu? Gusti Masa depan kami sendiri kami bakar Tapi engkau terlampau sabar Peradaban kami semakin hina .

3-32 Membaca Puisi Tapi engkau terlalu bijaksana Kelakuan kami semakin nakal Tapi engkau mahakebal Nafsu kami semain rakus Tapi rakhmatmu tak kunjung putus Kemanusiaan kami semakin dangkal Sehingga engkau pun semakin mahal Gusti Kamilah pesakitan Yang tak berwajah lagi Kaki dan tangan ini Kami ikat sendiri Hukum atau ampuni kami Mohon segeralah Hampir kami tak tahan Menunggu dan menanti SAAT HUJAN DATANG Mukh Doyin Mama. Malam ini taklagi kulihat kunang-kunang Yang dengan cahaya tubuhnya Berputar-putar di depan rumah Mungkinkah mereka kedinginan Karena hujan terus-menerus berjatuhan Ataukah karena halaman rumah ini Yang tak lagi mampu menyalakan cahayanya .

memang Tak ada rintih. memang Tapi kegelapan ini Jauh lebih menusuk hati Ketimbang tangis dan rintihan para dewa Mama. mama Tak ada tangis. Tersenyumlah Agar kunang-kunang dan rembulan Tak lagi tenggelam dalam kegelapan malam .Membaca Puisi 3-33 Angin masih saja berhembus Membawa suara-suara burung malam Yang terbatuk-batuk karena hujan Membawa riak-riak gelombang laut Yang keruh karena hujan Membawa kesunyian malam Yang beku karena hujan Lihatlah. mama Bulan di atas pun tak lagi tampak Langit yang hitam pekat Telah mengurungnya Adakah yang bias dikerjakan dewa-dewa di atas sana Dalam gulita seperti ini.

BUKU AJAR MENULIS RESENSI BUKU .

Dalam bahasa Belanda. menimbang. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA 1. MENULIS RESENSI BUKU DI SMA A. KOMPETENSI DASAR Menguasai hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA. (d) menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit. 2) mengapa ia menulis buku itu?. STANDAR KOMPETENSI Memahami hakikat dan dasar-dasar menulis resensi buku di SMA B. 3) apa pertanyaannya?.BAB I. membahas. dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian. (b) mengajak pembaca untuk memikirkan. 5) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang . atau mengkritik buku. yaitu mengulas buku. Hakikat Resensi Menurut Samad (1997:1) resensi berasal dari bahasa Latin. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama. seperti: 1) siapa pengarangnya?. Pembuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan. mengungkapkan kembali isi buku. C. atau menilai. (c) memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. yaitu “revidere” atau “recensere” yang artinya melihat kembali. yaitu: (a) memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku. sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “review”. merenungkan. 4) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?. resensi buku dikenal dengan “recensie”.

Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. Sedangkan menurut Keraf (2001:274) resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. c) . di samping nilai informasi. Jadi. seorang penulis resensi buku ingin membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu. maksudnya resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca (tentu saja setelah mereka membeli). Dengan kata lain. Istilah yang lain yang sering dipakai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan. b) memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga penilaian itu diketahui khalayak. Resensi berarti pertimbangan atau pembicaraan. Sedangkan menurut Djuharie dan Suherli (2005:21) resensi merupakan salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara memberikan komentar secara objektif. sebuah resensi juga seringkali mengandung nilai advertensi. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. bedah. Oleh karena itu. atau ulasan buku (Sayuti 2002:13). resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. (e) untuk pembaca yang membaca resensi agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku atau jika tidak ada waktu untuk membaca buku maka dapat membaca resensi tersebut (Samad 1997:2). Sayuti juga menjelaskan bahwa buku yang diresensi biasanya merupakan buku terbitan baru. Tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut: a) menimbang agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang membutuhkannya. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni.4-2 Menulis Resensi Buku dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?.

Dasar-Dasar Resensi Pada saat membuat resensi. Berdasarkan pendapat di atas. penokohan. d) menghargai keunggulan dari suatu penulisan buku atau penyajian pentas. setting (untuk pementasan) dengan bahan yang ditulisnya atau sajian pementasan. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. f) memberikan pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra (untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku. yaitu: a) peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu.Menulis Resensi Buku 4-3 melihat kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian karakteristik tokoh. orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain. resensi yang dimuat di surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. d) peresensi memahami . dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi. Atas dasar itu. e) mengungkapkan kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan atau alur pementasan. b) peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. tingkat pendidikan. dan sebagainya. Sedangkan tujuan resensi adalah memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang terungkap dalam buku atau hasil karya dan memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Samad (1997:2-3) menyebutkan dasar-dasar resensi ada empat. resentator harus menguasai dan mengetahui bahan yang akan diresensi. c) peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera. dari kalangan macam apa asalnya. 2.

peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju. Singkatnya. Setiap media cetak mempunyai identitas.4-4 Menulis Resensi Buku karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca. Menurut Keraf (2001:274) seorang resentator harus memperhatikan dua faktor dalam memberikan penilaian atau pertimbangan secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku. resentator harus memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhi dalam membuat resensi itu. termasuk visi dan misi. dan majalah (ilmiah. Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu. . ilmiah populer. bagaimana selera mereka. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. majalah ekonomi tidak menampilkan resensi buku tentang kimia. atau hiburan). kedua. Dengan demikian. yaitu kewajibannya terhadap para pembaca dan bagaimana penilaiannya atas buku tersebut. Sebuah resensi harus dibuat dengan memperhatikan kualitas pembacanya. Pembaca dalam hal ini adalah semua langganan majalah atau media massa yang memuat resensi itu. kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam yang bagaimana yang disukai oleh redaksi. penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang aslinya. jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. dan bagaimana tingkat pendidikan mereka. Jenis buku yang dimuat pastilah buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. seperti surat kabar (nasional atau daerah). Untuk itu resentator harus menganalisis bagaimana pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu. resentator harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi itu. Apakah tujuan itu betul-betul terealisasi dalam seluruh buku. Misalnya. Dengan menilai kaitan antara tujuan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. Demikian pula. dua faktor tersebut yaitu: pertama.. Begitu juga dengan majalah teknik atau filsafat. Selain itu.

Di samping nilai informasi. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjai sasarannya. e) peresensi harus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapar dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya oleh pembaca. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. Oleh karena itu. tegas dan tandas. sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca.Menulis Resensi Buku 4-5 Djuharie dan Suherli (2005:23) juga menguraikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi. Buku yang diresensi biasanya merupakan terbitan baru. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. c) peresensi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi. yaitu: a) peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan sepenuhnya sikap subjektifitas. d) peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resentator dengan penulis buku tersebut. Resensi buku biasanya dimuat dalam surat kabar atau majalah. sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. Misalnya. resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. Menurut Samad (1997:4) bahasa resensi biasanya singkat. tulisan yang runtun . Maksudnya. b) peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi. padat. yaitu dengan cara mengetahiu dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya tersebut. f) peresensi harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi.

dan enak dibaca. dan tidak terlalu banyak coretan. Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: a) isi peranyaan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan). b) organisasi atau kerangka buku. Ada tiga pola tulisan resensi buku. menjabarkan. c) bahasa. singkat mudah ditangkap. menarik. Bila perlu bagianbagian yang mendukung uraian dikutip. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca.4-6 Menulis Resensi Buku kalimatnya. e) membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis. d) kesalahan cetak. f) menilai. dan mengulas. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. mencakup kesan peresensi terhadap buku. penyajian tulisan resensi bersifat padat. Untuk itu. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. ejaannya benar. Sebuah bulu biasanya menyajikan banyak persoalan. . terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku (Samad 1997:5-6). yaitu meringkas. perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat. atau bekas hapusan. Di samping itu. tidak berpanjang lebar (bertele-tele). baik karya pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain.

reputasi dan prestasinya. c) Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data. d) Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi. KOMPETENSI DASAR Menguasai langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi C. dan teliti. Kemudian siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. a) Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. b) Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif. cermat. format hingga harga nya berapa. tebal (jumlah bab dan halaman). Langkah-Langkah Menulis Resensi Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. disertai deskripsi isi buku. buku atau karya apa saja yang pernah ditulis hingga mengapa ia sampai menulis buku itu.BAB II. STANDAR KOMPETENSI Memahami langkah-langkah meresensi buku sesuai dengan unsurunsur pembangun resensi B. Setelah itu. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. latar belakang pendidikannya bagaimana. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mempraktikkan langkah-langkah menulis resensi buku sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya 1. Penjajakan ini dimulai dari tema buku yang diresensi. penjajakan tentang pengarang buku tersebut: namanya siapa. LANGKAH-LANGKAH MERESENSI BUKU A. kapan dan di mana diterbitkan. .

Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan perensensi setelah mencermati buku yang bersangkutan. dan bagaimana hubungan antar kalimat serta pilihan kata yang dipergunakan). Untuk itu. apakah hubungan itu harmonis. Judul resensi ini yang pertama dibaca. Sekalipun buku yang diresensi itu bagus dan penyajian tulisannya memenuhi syarat. jelas. Unsur-Unsur Pembangun Resensi Buku Adapun unsur-unsur pembangun resensi buku antara lain sebagai berikut. pasti juga akan mengecewakan pembacanya. a) Membuat judul resensi Judul resensi berarti wajah resensi itu sendiri. Demikian pula judul yang mentereng. bagaimana sistematikanya. bagaimana penyajian datanya. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). dan pencetakannya). judul hendaknya menarik perhatian dan mencerminkan isi resensi. bagaimana tata wajah. 2. jika judulnya kurang menarik. dengan isi pernyataan hambar dan tidak relevan. Judul yang menarik berarti merangsang keinginan orang untuk segera membacanya. bagaimana kerapian dan kebersihan. tidak menutup kemungkinan kalau resensi tersebut tidak dibaca orang. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. (3) bahasa (bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan. dan bagaimana dinamikanya). (4) aspek teknis (bagaimana tata letak. f) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasardasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya. (2) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. bagaimana analisisnya. Cara merumuskan judul resensi . bagaimana srtuktur kalimatnya.4-8 Menulis Resensi Buku e) Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi: (1) organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain.

dan prestasi apa saja yang diperoleh. dan 6) harga buku (jika diperlukan). akan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi pernyataan resensi. menggunakan kalimat aktif.Menulis Resensi Buku 4-9 dengan membuat sinopsis dan memahami inti resensi. 4) tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa). Kalau pengarang buku mempunyai ciri khas atau sosok yang menarik. b) Menyusun data buku Data buku disusun sebagai berikut: 1) judul buku (jika buku itu termasuk buku terjemahan maka judul aslinya harus dituliskan). mencerminkan isi pernyataan resensi secara akurat. seperti untuk menegaskan kata. Selain itu. apakah relevan atau mendukung jika pembukaan . dan kabur. 2) pengarang. dirumuskan sesingkat-singkatnya. Namun perkenalan pengarang itu cukup singkat saja. atau penyunting seperti yang tertera pada buku. kapan dan di mana diterbitkan) . editor. judul resensi harus menarik perhatian dan menimbulkan keingintahuan pembaca. 3) memaparkan kekhasan atau sosok pengarang. c) Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dalam meresensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini: 1) memperkenalkan siapa pengarangnya. peresensi dapat memulai dengan pembukaan yang memaparkan kekhasan atau sosok pengarang buku itu.. tidak bertele-tele. bagaimana latar belakang pendidikannya. dan menghindari perulangan kata. kalau ada ditulis juga penerjemah. Dengan demikian. kecuali kalau fungsinya benar-benar penting. terutama yang berkaitan dengan topik buku itu. 2) membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis. 3) penerbit (siapa penerbit yang menerbitkan buku itu. 5) tebal buku (jumlah bab dan halaman). baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lainnya. Alasan menggunakan cara itu pun juga harus kuat. karyanya berbentuk apa saja. karena yang lebih penting justru masalah yang dibahas dalam buku itu.

Ulasan itu pun bisa juga dipertegas dengan kutipan yang tepat. 7) mengungkapkan kesan terhadap buku. Kedua. Pertama. Tujuannya. 6) mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku. Ada dua hal yang perlu diperhatikan peresensi. 4) memaparkan keunikan buku. 5) merumuskan tema buku. 8) memperkenalkan penerbit. d) Tubuh atau isi pernyataan resensi buku Tubuh atau isi pernyataan resensi buku biasanya memuat hal-hal berikut ini: 1) sinopsis atau ringkasan isi buku secara singkat. Peresensi tidak cukup hanya membaca buku yang diresensinya. 2) ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya. menuliskan jumlah bab buku tanpa pembahasan. 4) kelemahan buku. dan 10) membuka dialog. terlebih lagi jika dihubungkan dengan topik buku itu. Pertama. berilah alasan (penyebab) mengenai keleamhan buku. 6) organisasi atau kerangka penulisan . 3) keunggulan buku. tetapi juga buku-buku lain yang membahas topik yang sama. Keunikan itu dapat dilihat dari segisegi yang ada pada buku itu jarang ada atau langka dimiliki buku sejenisnya. Gambaran umum yang dipaparkan dalam sinopsis perlu diulas agar lebih jelas dan berbobot. Tujuannya. Ada dua cara merumuskan kerangka buku. Tubuh resensi akan kelihatan lebih baik jika menyertakan keunggulan- keunggulan buku. Alenia pembuka juga dapat diawali dengan mendeskripsikan keunikankeunikan yang dimiliki buku tersebut. 9) mengajukan pertanyaan. sertakan juga keunggulan buku. 5) rumusan kerangka buku. Kedua. agar pembaca mendapat pemahaman yang utuh terhadap buku itu.. peresensi mengetahui kelebihan-kelebihan buku yang diresensi tersebut. jelas dan kronologis. kelemahan buku hendaknya dipaparkan secara proposional. menuliskan jumlah bab buku dengan uraian seperlunya.4-10 Menulis Resensi Buku dibuka dengan mendeskripsikan keunikan pengarang. Sinopsis ini mengemukakan pokok isi buku secara garis besar. memberi gambaran global mengenai apa yang akan dipapatkan pada tubuh resensi. padat. Dengan cara ini.

Penjelasan mengenai bahasa buku dapat disampaiakan dengan cara langsung mengatakannya. jelas. Barulah dikatakan kesalahan cetak atau kualitas cetakan yang kurang bagus. dan bagaimana dinamikanya).Menulis Resensi Buku 4-11 (bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain. bagaimana analisisnya. 8) tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit). seraya menyarakan perbaikan kepada penerbit. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat menggangu pembaca. 7) isi pernyataan (bagaimana bobot idenya. e) Penutup resensi buku. apakah hubungan itu harmonis. bagaimana penyajian datanya. Penilaian terhadap buku juga mencakup masalah teknis. bagaimana sistematikanya. Jadi. dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. dan bagaimana kreativitas pemikirannya). terutama cetakannya. seperti bahasa sederhana. Bagian penutup. . dapat dirumuskan dengan dua cara. secara langsung menyebutkan halaman yang salah cetak atau kualitas cetakan yang kurang baik. dan 9) adanya kesalahan cetak. seperti pewajahan (layout) dan kebersihan. pertama. untuk menyatakan kualitas atau kesalahan cetak. biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. Bahasa yang baik. dinilai dari struktur kalimat. yaitu. dan pilihan kata yang digunakan. hubungan antarkalimat. dan mudah dipahami. jelas. atau menggambarkan kekhasan bahasa pengarang. sebelumnya dikemukakan dahulu hal-hal yang berkaitan dengan kelebihan buku. Kedua.

STANDAR KOMPETENSI Terampil menulis resensi buku B. baik buku maupun film. Atiqul Haque . a.BAB III. PELATIHAN A. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Menulis resensi buku sesuai dengan langkah-langkah dan unsur-unsur pembangunnya 1. Hasil resensi buku banyak muncul dalam media cetakan. khususnya surat kabar dan majalah. Bacalah resensi berikut! Judul Buku : Wajah Peradaban (Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam) Penulis : M. Sebuah majalah—yang biasanya terbit mingguan—banyak sekali menampilkan karya resensi. Pelatihan-1 Pelatihan dilaksanakan secara individu dengan mengikuti tahaptahap berikut. Pelatihan Meresensi Buku Pelatihan ini akan membawa Anda berproses untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan berupa resensi buku. Sebuah surat kabar yang terbit pada hari Minggu pada umumnya menampilkan kolom resensi buku dengan berbagai macam nama kolomnya. KOMPETENSI DASAR Mempraktikan langkah-langkah menulis resensi buku yang sesuai dengan unsur-unsur pembangunnya C.

Kini Islam hendak bangkit kembali. Spanyol. pahlawan-pahlawan yang hadir di televisi. Wilayah kekuasaan Islam saat itu telah mencapai sebagian besar Eropa. Ke mana kisahnya kini? Cerita kehebatan para pahlawan Muslim saat ini hanya menjadi nostalgia belaka. berbagai upaya untuk kebangkitan Islam itu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. seperti Turki. Anak-anak itu tentu tidak akan tahu siapa Ibnu Sina. Salah satu di antaranya adalah melalui penerbitan buku-buku. yang merupakan pahlawan-pahlawan Islam di masa atau era keemasan Islam. Padahal. Itulah zaman kebesaran Islam. yaitu dari abad ke-1 sampai abad ke-7. Meski demikian. sejak disyiarkan Rasulullah SAW sampai sekitar abad ke-7. Roger Graudy. Melainkan. dan Andalusia. Ibnu Rusyd. Maskman. Ibnu Taymiya. atau Ibnu Khaldun. yang banyak membukakan wawasan tentang peradaban Islam di era keemasan itu. atau Viper. II . kisah itu merupakan gambaran tentang wajah peradaban pada masa keemasan Islam. memandang peradaban Islam sebagai pewaris ketiga di samping peradaban Greko Romawi. seperti Power Ranger. Sehingga tidak heran kalau seorang filosof Prancis. Januari 1998 : 148 halaman I SIAPA yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita sekarang? Jawabannya tentu bukan Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar Sidiq. Cordoba. Mac Gyver. Banyak diakui. Saat ini kita seakan telah terbelenggu dengan konstruksi peradaban yang diciptakan oleh bangsa Barat. namun—tidak perlu dipungkiri—untuk melakukan hal itu sangat sulit.Menulis Resensi Buku 4-13 Editor Penerbit Cetakan Tebal : Cecep Syamsul Hari : Zaman Wacana Mulia Bandung : Cetakan I. peradaban itu mengantarkan Islam pada masa kejayaannya.

Mereka adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. dan tidak pernah lelah melakukannya. tetapi juga terhadap bangsa Barat. Tidak hanya itu. yang banyak muncul sekarang ini. Gairah para pahlawan Islam untuk mencari ilmu juga dilandasi oleh semangat untuk menyiarkan ajaran Islam. dalam edisi Wajah Peradaban ini terbagi menjadi lima bagian. Syah Waylillah. Dari Musafir ke Musafir. dan Matsnawi . Pengetahuan dan Kekuasaan. tahun 1995. menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia. Yang patut diteladani oleh kita adalah semangatnya dalam mencari ilmu tidak pernah menyerah. Mereka tidak hanya memiliki akses terhadap Islam itu sendiri. Menghidupkan Kembali Ilmu Agama. Mereka juga adalah inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu. Dalam edisi bahasa Inggris. Paling tidak. tidak dilakukan pemilahan menurut bagian-bagian tertentu.4-14 Menulis Resensi Buku Buku ini dapat memenuhi harapan di atas. hingga politikus seperti Ibnu Taimiyah. al-Thabari. dan Ibnu Khaldun selalu merasa kehausan akan ilmu sehingga mereka harus menjadi musafir. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari ilmu belaka. tidak sedikit ilmuwan Barat yang menjadi murid pemikir-pemikir Islam seperti al-Gazhali. Buku ini berjudul asli The Moslem Heroes of The World. Namun. mulai dari sosiolog. Al-Bukhari. penyair. Kontribusi mereka sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan sekarang ini. yaitu: Lautan Pengetahuan. ini terbukti dengan diakuinya Ibnu Rusyd sebagai Bapak Filsafat Barat. Bahkan. yang diterbitkan TaHa Publisher London. Buku ini memperkenalkan sejumlah pahlawan Muslim dalam berbagai bidang. al-Biruni. dan memberinya inspirasi jihad dalam menegakkan kebenaran. guru besar. ia juga menjadi orang pertama yang menaburkan benih negara Islam merdeka di kalangan kaum Muslim India. misalnya. dokter.

Jadi. (iii) apa tujuan yang ingin dicapai dengan teks itu. c. Apa sebenarnya yang sudah Anda lakukan itu? Sejatinya. dan (iv) mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan (surat kabar atau majalah). . Akan tetapi. III Sayangnya. Pelatihan-2 Tugas dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut: (i) unsurunsur apa saja yang dikemukakan oleh penulis dalam teks yang Anda baca itu. Buku ini lebih cenderung untuk konsumsi orang dewasa. (ii) apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. 2003:81—85) b. Selamat membaca. Pembagian ini akan memudahkan pembaca lebih paham tentang tokoh-tokoh yang diceritakan. Tiap-tiap anggota dalam kelompoknya mempunyai tugas yang tidak sama. khususnya ibu-ibu. tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. Anda melakukan tahap-tahap secara induktif dalam rangka memahami hakikat dan pengertian resensi buku. Buatlah rumusan pengertian resensi buku dengan menjawab “apa pengertian resensi buku”.Menulis Resensi Buku 4-15 Cahaya. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. (Sumber: Romli. tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. orang tua. buku ini sangat layak dibaca para pendidik. karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris. maka bahasanya pun tidak cukup layak dikonsumsi anak-anak. sebagai referensi dalam memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya.

Pelatihan-3 a. Anda sudah melakukan langkah-langkah tersebut. Apa hakikatnya yang sudah Anda lakukan secara individu dan kelompok itu? Sejatinya. Buku ini diangkat dari naskah disertasi yang dipertahankan terhadap sanggahan para penguji di hadapan Sidang Ujian Disertasi Tahap II Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 12 Desember 2001 dan mengalami pengubahan penyajian jika dibanding dengan naskah disertasi yang asli. Selanjutnya. d. dari kumpulan jawaban itu. Bacalah resensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Pertanyaan untuk anggota-2: apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Bagian 1 dan 2 berupa pengantar ke arah bahasa politik dan “pisau analisis” yang .4-16 Menulis Resensi Buku a. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” pada bagian berikut. susunlah menjadi satu paragraf utuh yang memiliki kesatuan dan kepaduan. Dalam tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dan secara berkelompok. khususnya dalam sistematikanya. Jawablah secara tertulis pertanyaan-pertanyaan berikut. b. Pertanyaan untuk anggota-4: apa persamaan dan perbedaan teks yang dibaca dengan teks resensi yang berasal dari surat kabar. Anda melakukan tahap-tahap dalam rangka memahami pengertian resensi. Hasil akhir hakikatnya adalah hasil kelompok. Teks yang Anda baca adalah karya resensi buku yang muncul di majalah. Pertanyaan untuk anggota-1: apa saja yang dikemukakan dalam teks yang Anda baca itu. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok menjadi satu. baik konteks lokal (konteks situasi) maupun konteks global (konteks budaya dan ideologi). Pertanyaan untuk anggota-3: mengapa teks seperti itu dimunculkan dalam media cetakan. c. Yang dipaparkan dalam buku ini ialah karakteristik bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam wacana politik—khususnya pasca Orde Baru—beserta konteks penggunaannya.

interogatif..A. saran. modus kalimat (deklaratif.A. yang telah memberikan dana bantuan bagi penelitian disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. M. bentuk pasif dan negatif. modalitas (relasional dan ekspresif). Jakarta. dan struktur teks (konvensi interaksional dan penataan teks). M. Hariyono. saya ingin menyampaikan terima kasih yang setulustulusnya kepada Penerbit Wedatama Widya Sastra (WWS) yang telah mengupayakan penerbitan hasil penelitian ini dalam bentuk buku. Akhirnya. Kepada Prof. Prof. Diterbitkannya karya tulis ini memungkinkan apa yang saya paparkan dalam disertasi yang konsumennya bersifat amat terbatas dapat diinformasikan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. (penguji tamu dari Universitas Gadjah Mada). Oleh karena itu. (penguji bidang studi) ucapan terima kasih yang tulus sudah sepantasnya penulis sampaikan.d. Imam Syafi’ie.D. 12. Karakteristik bahasa politik pasca Orde Baru dipaparkan pada bagian 3 s. dan hiponimi). Ph. dan Dr. M. Saran dan pertanyaan yang Bapak ajukan pada ujian disertasi amat membantu penyempurnaan karya tulis ini. M. Abdul Wahab. strategi kehadiran diri (kita. Willem Mantja (penguji bidang pendidikan). Suparno yang telah memberikan bimbingan selama proses pembuatan disertasi. (alm. yang telah membangun “jembatan” antara . leksikalisasi. M. sinonimi. Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Prof.). sepatutnyalah disampaikan harapan bahwa tulisan ini akan memperoleh tanggapan. Soepomo Poedjosoedarmo. relasi makna (antonimi. Ph.Pd.A. Juga kepada Drs. Monica Djoehana D.D. dan imperatif). M.Pd. Bagian 13 berupa paparan eksplanasi kritis mengapa sebuah bentuk bahasa dipilih dan dikedepankan serta mengapa bentuk bahasa ditinggalkan dan dikemudiankan. Prof. Oka. Dr. Dr. metafora. kami. ketransitifan.D... dan nomina tertentu). bahkan kritik yang dapat saya manfaatkan untuk memperbaikinya. Ah. Ph. saya. Soeseno Kartomihardjo.Menulis Resensi Buku 4-17 relevan untuk membedah fenomena wacana politik Indonesia. Dr.A. Prof. Rofi’uddin. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yayasan Darma Aji Bakti. Dr.. dan Prof. yakni pola klasifikasi.

Diskusikan hasil rumusan Anda dengan anggota dalam satu kelompok. ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya sudah seharusnya penulis sampaikan. Bacalah tulisan “Sekapur Sirih” dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH ------------------------------------------------------------------------------v FENOMENA BAHASA POLITIK INDONESIA -----------------------------------------1 Bahasa Politik ----------------------------------------------------------------------------------1 Mengapa Bahasa Politik ---------------------------------------------------------------------3 Bahasa. Rumuskan jawaban Anda dalam satu paragraf singkat. Apakah terdapat perbedaan yang mencolok dari tiap-tiap kelompok? Pelatihan-4 a. A. yang dipaparkan berikut ini. Rumuskan apa tujuan penulis atau pengarang buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dapat diketahui dari bab “Sekapur Sirih” di atas.4-18 Menulis Resensi Buku penulis dan penerbit. Hasil diskusi sebaiknya dirumuskan sebagai hasil kelompok. Komunikasi. b. diskusikan hasil rumusan kelompok ke dalam diskusi kelas. b.S. Bacalah daftar isi dari buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso. Selanjutnya. dan Politik ----------------------------------------------------------6 Rambu-Rambu Orwell -----------------------------------------------------------------------9 Beberapa Kajian Bahasa Politik Indonesia Sebelumnya --------------------------10 Catatan Akhir ---------------------------------------------------------------------------------24 “PISAU BEDAH” YANG RELEVAN: Menggali Ideologi dengan Analisis Wacana Kritis ----------------------------------25 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------25 Teori Kritis: Teori sebagai Praksis dan Emansipatif --------------------------------26 Linguistik Fungsional-Sistemik Halliday: Bahasa sebagai Semiotik Sosial ---29 . c.

dan Imperatif ---------------------------------------------------175 .168 MODUS KALIMAT DALAM WACANA POLITIK: Deklaratif. dan Hiponimi ------------------------------------------------------114 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------114 Antonimi --------------------------------------------------------------------------------------114 Sinonimi --------------------------------------------------------------------------------------119 Hiponimi --------------------------------------------------------------------------------------122 METAFORA DALAM WACANA POLITIK -------------------------------------------128 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------128 Metafora Nominatif ------------------------------------------------------------------------129 Metafora Predikatif ------------------------------------------------------------------------134 Metafora Kalimat ---------------------------------------------------------------------------136 KETRANSITIFAN DALAM WACANA POLITIK ------------------------------------140 Pengertian Ketransitifan ------------------------------------------------------------------140 Proses Material -----------------------------------------------------------------------------141 Proses Mental atau Proses Proyeksi -------------------------------------------------155 Proses Relasi atau Proses Menjadi ---------------------------------------------------157 BENTUK PASIF DAN NEGATIF DALAM WACANA POLITIK -----------------161 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Pasif ---------------------------------------------------------------------------------161 Bentuk Negatif ----------------------------------------------------------------------------. Interogatif.Menulis Resensi Buku 4-19 Kajian Bahasa dengan Paradigma Kritis ----------------------------------------------36 Analisis Wacana Kritis: Tiga Dimensi Wacana secara Simultan ----------------47 POLA KLASIFIKASI DALAM WACANA POLITIK -----------------------------------70 Pola Klasifikasi -------------------------------------------------------------------------------70 Kosakata Pengklasifikasi ------------------------------------------------------------------70 LEKSIKALISASI DALAM WACANA POLITIK ----------------------------------------91 Pengantar -------------------------------------------------------------------------------------91 Kosakata Utama yang Pertama Muncul -----------------------------------------------91 Perkembangan Lanjut Kosakata Utama -----------------------------------------------93 Leksikalisasi dari Berbagai Bidang Kehidupan -------------------------------------100 Leksikalisasi Khusus ----------------------------------------------------------------------107 RELASI MAKNA DALAM WACANA POLITIK: Antonimi. Sinonimi.

190 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------190 Modalitas Relasional --------------------------------------------------------------------.205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Saya” -----------------------------------------------207 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kami” ---------------------------------------------.175 Kalimat Interogatif ------------------------------------------------------------------------. Rumusan Anda ditujukan kepada khalayak pembaca.246 Perspektif dalam Pilihan Gramatika ---------------------------------------------------250 Perspektif dalam Pilihan Struktur Teks -----------------------------------------------253 DAFTAR PUSTAKA -----------------------------------------------------------------------256 c. .205 Strategi Kehadiran Diri dengan “Kita” -----------------------------------------------.179 Kalimat Imperatif -------------------------------------------------------------------------.175 Kalimat Deklaratif ------------------------------------------------------------------------.211 STRUKTUR TEKS POLITIK: Konvensi Interaksional dan Penataan Teks -214 Pengantar ------------------------------------------------------------------------------------214 Konvensi Interaksional -------------------------------------------------------------------214 Pengurutan Teks ---------------------------------------------------------------------------238 PERSPEKTIF DALAM WACANA POLITIK: Sebuah Eksplanasi Kritis-----.201 STRATEGI KEHADIRAN DIRI DALAM WACANA POLITIK: Kita.245 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------. Saya.4-20 Menulis Resensi Buku Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------.190 Modalitas Ekspresif ----------------------------------------------------------------------. rumuskan tujuan Anda membuat resensi. Kami.185 MODALITAS DALAM WACANA POLITIK: Relasional dan Ekspresif ------. dan Nomina Tertentu --------------------------------------------.245 Perspektif dalam Pilihan Kosakata --------------------------------------------------.205 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------. Setelah membaca dua teks di atas.209 Strategi Kehadiran Diri dengan Pronomina Tertentu ---------------------------.

Ada gejala “proses institusional” dan “proses sosiokultural” penggunaan bahasa dalam dunia politik di Indonesia. Bacalah teks pertama—berupa sampul buku--berikut! Bahasa Politik Pasca Orde Baru Anang Santoso Penerbit WEDATAMA WIDYA SASTRA Jakarta. ISBN 979—3258—04—7 . Hal ini antara lain terjadi karena perbedaan perspektif para elite politik atas suatu masalah. terutama yang bersangkut paut dengan penggunaan bahasa.Menulis Resensi Buku 4-21 Pelatihan-5 a. Bacalah teks kedua—berupa catatan penerbit--berikut! Buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru ini diangkat dari disertasi berjudul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik Era Pasca Orde Baru. Hasil temuan dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pelaku politik dan pejabat pemerintahan di negeri ini untuk menyusun strategi perjuangan politiknya. Maret 2003 b. Penelitian ini antara lain menjawab pertanyaan “mengapa elite politik memilih dan mengistimewakan serta mengabaikan dan tidak menggunakan satuan bahasa tertentu?”. suatu penelitian “jargon” dan “bahasa” politik yang digunakan oleh para pejabat dan politikus seputar Pemilihan Umum di Indonesia tahun 1999.

Bacalah teks “pendahuluan” resensi berikut! Teks ini pernah muncul dalam sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Timur. Tugas anggota-3: Bacalah sekali lagi teks “Catatan Penerbit” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! d. Gabungkan jawaban tiap-tiap anggota kelompok ke dalam satu jawaban kelompok yang akan menjadi bahan diskusi kelas. Tugas anggota-2: Bacalah sekali lagi teks “Daftar Isi” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! c. Tugas anggota-1: Bacalah sekali lagi teks “Sekapur Sirih” buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! Identifikasi bidang ilmu yang relevan yang harus dimiliki peresensi dalam meresensi buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru karangan Anang Santoso! b. Maret 2003 Tebal: ix + 273 halaman . Identifikasi karakteristik. Diskusikan jawaban-jawaban itu dalam diskusi kelompok! e. Jakarta Cetakan: Pertama. Judul Buku: Bahasa Politik Pasca Orde Baru Penulis: Anang Santoso Penerbit: Wedatama Widya Sastra. dan tingkat pemahaman (kadar intelektualitas) dari konsumen buku Bahasa Politik Pasca Orde Baru yang dibidik oleh penerbit. Pelatihan-6 a. selera.4-22 Menulis Resensi Buku c. Pelatihan-7 a.

Bacalah bagian buku—bagian halaman judul—yakni bagian yang menggunakan halaman huruf kecil angka romawi. yang tidak hanya membahas pemikiran dan aksi politik mereka berdua. b. c. buku ini berasal dari tesis S-2 penulisnya (Dedy Djamaluddin Malik) yang telah diubah secara populer dan menjelma menjadi buku ini. kalau Zaman penerbit buku ini. Identifikasikan identitas buku yang selayaknya disampaikan kepada khalayak pembacanya. Cak Nur. Dari materi dan metode penulisan. a. dan Kang Jalal—begitu mereka biasa dipanggil oleh para . dan Jalaludin Rakhmat. Pelatihan-8: a. dedengkot Paramadina. pentolan Muthahhari. Pilihlah salah satu buku yang akan diresensi yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Pelatihan-9: a. Maklum. Mas Amien. tetapi juga ditambah dengan Nurcholish Madjid. dan mau tidak mau. Informasikan bagian identitas buku itu kepada khalayak menjadi bagian pendahuluan dari sebuah resensi. Identifikasi persamaan dan perbedaan antara jawaban Anda dengan jawaban yang lain. buku ini lebih komprehensif. Ketika umat sedang “bingung” dengan fenomena sosial politik yang terjadi belakangan ini. Diskusikan hasil identifikasi yang Anda buat dengan teman lainnya. Bacalah teks “isi” sebuah resensi berikut! Kalau dua tahun lalu terbit sebuah buku yang mengungkap soal strategi perjuangan umat model Abdurrahman Wahid dan Amien Rais—dan sempat menghebohkan itu. menjagokan buku ini sebagai “anak sulung” terbitan tahun pertamanya.Menulis Resensi Buku 4-23 b. maka pada permulaan 1998 ini terbit sebuah buku. keempat tokoh itu: Gus Dur. Tak salah.

4-24 Menulis Resensi Buku pengagum maupun perjalanan bangsa ini. Kendati demikian. Tak terkecuali dengan buku ini. Namun. Dan. situasi pun kemudian berubah. Atau. Atau. setelah sebelumnya menelurkan jargon “Islam yes. misalnya. meminjam istilah pengamat politik almarhum Alfian. Lantaran pemikiran-pemikiran atau lebih tepatnya “sejarah pemikiran” seorang tokoh. seperti yang sudah disinggung di muka. inilah yang dimaksud dengan “Teori Gelang Karet”. masing-masing tokoh itu mempunyai umat yang tidak terbilang sedikit. Kemudian Cak Nur yang makin intens membina kelas menengah Muslim di metropolitan. agaknya pemerintah tidak berani untuk bertindak gegabah. Namun. Kita ambil kasus buku tentang Gus Gur dan Mas Amien. Yang satu dianggap mewakili arus bawah dan yang satu lagi arus atas. sekeras apa pun mereka bicara. Lain ketika yang bertindak itu Sri Bintang Pamungkas. justru di sinilah kesulitan bagi pengamat untuk secara benar me-metakan mereka dalam sebuah posisi yang tetap. setelah sebelumnya dengan Mbak Mega. umatnya—pun terkait dengan proses dialektika Suara Gus Dur yang mulai melemah ketika runtang-runtung dengan Mbak Tutut. suatu saat mulur dan pada saat lain mengkeret. maka suatu saat akan bergeser ke kiri. Inilah realitas politik. Kang Jalal yang kontroversial sebagai “Agen Syiah” dan secara menghanyutkan tekun mendalami dunia tasawuf bersama keluarga mantan Wakil Presiden Soedharmono. semua itu hanyalah timbangan sementara. Ketika pendulum sedang bergeser ke kanan. Sampai-sampai majalah Ummat menganugerahinya sebagai “Tokoh 1997”. Partai Islam no” itu. buku ini pun sedikit banyak merekam dinamika pemikiran mereka. belum lama buku itu terbit. Lantas Mas Amien yang kian meninggi volume suaranya sejak kasus Busang dan suksesi— yang membuatnya terdepak dari ICMI—sampai kesediannya dicalonkan sebagai presiden. . Belum lagi. tak pernah berhenti secara final. Dan. Semua fakta itu tidak bisa diabaikan kalau kita berbicara tentang Islam dan Indonesia. menurut Mohammad Sobary dalam kata pengantarnya pada buku ini. Sehingga. penulis telah berupaya keras untuk menganalisis sepak terjang mereka dari sejarah biografi pemikiran mereka berempat.

Dari buku ini juga terungkap. Untuk membimbing Anda. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Islam yang diusung keempat tokoh itu adalah Islam yang lebih toleran dan terbuka. keempatnya tidak sekali pun terlintas untuk membentuk negara Islam. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-6: adakah ulasan perbandingan dengan buku lain yang temanya sejenis. Jika ada. Untuk selanjutnya Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota enam orang. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Hadangan banyak mengganjal mereka. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah ulasan tentang tema atau judul. Namun demikian. Lantaran. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah informasi tentang tujuan penulisan buku. tapi yang diperjuangkan mereka adalah demokratisasi. yakni suatu era di mana orientasi perjuangan umat Islam tidak lagi…dst. Merekalah tokoh intelektual Muslim paling menonjol dalam kelahiran “Zaman Baru Islam Indonesia”. bukan berarti langkah mereka mulus-mulus saja. kemunculan keempat tokoh dalam waktu yang tidak beda berselang itu. c. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah paparan singkat tentang isi buku atau gambaran secara keseluruhan terhadap isi buku. Sumber: Romli (2003:79—81) b. Identifikasikan apa saja yang ingin dikemukakan peresensi dalam bagian “isi” yang dipaparkan di atas. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah informasi tentang latar belakang penulisan. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah ulasan tentang gaya penulisan. dan adakah ulasan perbandingan dengan buku lain dari pengarang yang sama. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing.Menulis Resensi Buku 4-25 Sebenarnya. rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Jika ada. Jika ada. . dimungkinkan dengan berubahnya pandangan pemerintah terhadap Islam. Jika ada. Mulai dari telepon gelap sampai ucapan yang mengkafirkan mereka.

Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil dari kelompok penyaji. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Hasil rumusan itu adalah bagian “isi” untuk resensi menurut kelompok Anda sendiri. Tugas anggota-2: menulis paparan isi buku secara singkat atau gambaran isi buku secara keseluruhan. Hasilnya dirumuskan menjadi sebuah rumusan yang berupa jawaban dari kelompok. yakni halaman 1 sampai dengan halaman daftar pustaka atau daftar rujukan. e.4-26 Menulis Resensi Buku d. d. Setiap kelompok menyampaikan hasil rumusannya dalam diskusi kelas. Bacalah teks “penutup” sebuah resensi berikut! . Tugas anggota-3: merumuskan latar belakang penulisan buku yang diresensi. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi enam orang. c. Pelatihan-11: a. Tugas anggota-4: merumuskan tujuan penulisan buku yang diresensi. Pelatihan-10: a. b. Jawaban setiap anggota kelompok tersebut selanjutnya didiiskusikan di dalam kelompok masing-masing. membandingkan. Tugas anggota-5: memberikan ulasan tentang gaya penulisan yang digunakan penulis buku. Gabungkan jawaban setiap individu itu ke dalam teks yang padu. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Bacalah bagian isi buku. dan mengulas buku dengan tema yang sejenis & membandingkan serta mengulas buku lain yang dihasilkan pengarang yang sama. Tugas anggota-1: memberikan ulasan tentang judul atau tema buku. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Tugas anggota-6: menuliskan.

salah satu tokoh dalam buku ini. Apalagi. Untuk membimbing Anda. berkaitan dengan isu suksesi dan aksi politiknya menyatakan siap menjadi presiden. ikutilah pertanyaan-pertanyaan berikut. rumuskan penilaian itu menurut bahasa Anda sendiri. Anda masih bekerja dalam kelompok masing-masing. khususnya di Indonesia. Sumber: Romli (2003:81—82) b. is perlu reediting. buku ini layak kita ucapi selamat datang. pengeditan buku ini tampak dilakukan tergesa-gesa. tengah menjadi newsmaker dewasa ini.Menulis Resensi Buku 4-27 Materi dalam buku ini cukup komprehensif. Jika ada. Jika ada. Amien Rais. Bagi kaum muda Muslim. ada pertimbangannya. Pertanyaan untuk anggota-2: adakah penilaian kelebihan dan kelemahan buku. Jika ada. Pertanyaan untuk anggota-4: adakah pertimbangan kepada pembaca agar membaca atau membeli. Pertanyaan untuk anggota-5: adakah saran- . utamanya bagi mereka yang selama ini dibuat “bingung” oleh aksi dan pemikiran keempat tokoh tersebut. atau sebaliknya. Namun demikian. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Sehingga. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Dengan referensi buku ini. kata-kata jenuh dan mubazir. Pertanyaan untuk anggota-3: adakah kritik atau saran kepada penulis. kita pun bisa memprediksi gebrakan apa lagi yang akan dibuat dan mengerti jika suatu saat sang tokoh kita ini tiba-tiba “berubah”. apalagi yang tergerak untuk meneruskan perjuangan mereka dalam kerangka penegakan ajaran Islam. apa kritik atau saran itu. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. Sayangnya. apa kelebihan dan kelemannya. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. buku ini tetaplah penting untuk dibaca dan dimiliki. Pertanyaan untuk anggota-1: adakah penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. Masih ditemukan di sana-sini kalimat yang kurang tertib menurut kaidah EYD. Jika ada. Karenanya. sehingga mengurangi kenikmatan membaca. telah teruji secara ilmiah dan aktual. buku ini dapat menjadi referensi utama bagi penentuan strategi dakwah masa depan.

Pelatihan-12: a. atau tidak. c. . dari bagian awal sampai akhir. Jika ada. Pada tahap ini Anda harus bekerja dalam kelompok dengan anggota berisi lima orang. Hasil ini masih perlu dikomunikasikan kepada kelompok lain. Tugas anggota-3: memberikan saran dan kritik kepada penulis tentang kekurangan yang ada. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Ini adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Hasil kelompok itu selanjutnya diinformasikan kepada kelompok lainnya melalui forum diskusi kelas. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu. d. Hasilnya ditata ke dalam sebuah teks yang padu. Pilihlah salah satu buku yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Bacalah bagian buku secara keseluruhan. Tugas anggota-5: memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki. Hasil rumusan itu adalah bagian “penutup” resensi menurut kelompok Anda sendiri. Tugas ang-gota-2: memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan buku. Rumuskan ulasan Anda secara individu ke dalam bentuk tulisan.4-28 Menulis Resensi Buku saran perbaikan bagi penerbitnya. d. Tugas anggota-4: memberikan saran dan kritik kepada penerbit demi penyempurnaan pe-nerbitan. Gabungkan jawaban setiap individu itu menjadi satu jawaban kelompok. c. e. Tugas anggota-1: memberikan penilaian terhadap kualitas buku secara keseluruhan. b. Rumuskan menurut bahasa Anda sendiri. apa saran-saran perbaikannya.

BUKU AJAR APRESIASI SASTRA INDONESIA .

C. puisi. INDIKATOR 1. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. KONSEP DASAR APRESIASI SASTRA A. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. E. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra 2. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. puisi. penghargaan. Menjelaskan berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. DESKRIPSI Penyajian teori apresiasi sastra yang meliputi meliputi pengertian apresiasi sastra. kepekaan pikiran kritis. Menjelaskan bekal awal pengapresiasi sastra 3. bekal awal pengapresiasi sastra. . KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar apresiasi sastra yang meliputi pengertian apresiasi sastra. kegiatan langsung dan tak langsung dalam apresiasi sastra. B. URAIAN MATERI Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian.BAB I. bekal awal pengapresiasi sastra. D. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. serta mampu mengapresiasi prosa. dan drama. dan pendekatan dalam apresiasi sastra. Menjelaskan perbedaan antara kegiatan langsung dan taklangsung dalam apresiasi sastra 4.

Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik. dan unsur-unsur di luar teks sastra itu sendiri. yakni (1) aspek kognitif. dan (2) aspek evaluatif. maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran karya sastra. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. apresiasi melibatkan tiga unsur inti. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sastra. unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya . Unsur intrinsik yang bersifat objektif itu. apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin serta (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Selain itu. aspek tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna yang tersurat. (2) aspek emotif. Oleh karena itu. sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi. Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses. menikmati. Dalam konteks yang lebih luas. atau unsur intrinsik karya sastra. Unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif tersebut berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra. dan menilai karya sastra yang dibaca.5-2 Apresiasi Bahasa Indonesia Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. latar proses kreatif penciptaan. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unnsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Pada sisi lain.misalnya. memahami. Adapun unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang. 1 Pengertian Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Anda harus memahami konsep dasar apresiasi sebagaimana yang diuraikan berikut ini. atau unsur ekstrinsik karya sastra.

Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur signifikan tertentu. tekun membaca buku. tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi tersebut. Dari pendapat itu juga disimpulkan . Effendi (1982) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. Bagaimana penyimpulan makna yang dipaparkan lewat cara penampilan pelaku serta penataan setting yang terpapar secara sugestif tersebut tentu saja sangat ditentukan oleh kepekaan pembaca yang pada dasarnya dibentuk oleh endapan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. duduk di nite club sendirian tengah malam. keterlibatan unsur penilaian dalam unsur ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator yang telah mampu merespons karya sastra yang telah dibaca sampai pada tahap pemahaman dan penghayatan. Dengan kata lain. sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian. serta sejumlah ragam penilaian utama yang tidak harus hadir dalam serbuah karya kritik. Sebagai contoh. tentu mampu memberikan penilaian. dirinya. penghargaan. Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan terhadap penilaian baik buruk. pelaku wanita yang tampil dengan pupur tebal di tengah malam duduk sendirian di sebuah nite club akan memberikan sugesti makna yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelaku wanita yang tampil dengan jernih. mampu menghayati kualitas ragam hidup demikian. tengah malam duduk sendirian di kamarnya. Misalnya. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. indah tidak indah. sesuai-tidak sesuai. secara imajinatif. misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. kepekaan pikiran kritis.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-3 memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. pembaca yang telah memahami karakter pelaku yang tampil dengan pupur tebal.

Kegiatan apresiasi karya sastra selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. Kegiatan apresiasi karya sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra. serta mempelajari sejarah sastra. 2. mempelajari buku-buku maupun esai yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra.5-4 Apresiasi Bahasa Indonesia bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab sikap dengan teks sastra yang serta diapresiasinya. puisi. serta mengevaluasi karya sastra. membaca artikel yang berhubungan dengan sastra baik di majalah maupun koran. sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung. menikmati. maupun drama. memahami. baik yang berupa prosa. kegiatan dalam rangka kemampuan . menumbuhkan sungguh-sungguh. melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara kongkret. melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya. Kegiatan membaca karya sastra secara langsung itu dapat terwujud dalam perilaku membaca/mendengarkan. Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati karya sastra secara langsung. Kegiatan Langsung dan Tak Langsung dalam Mengapresiasi Karya sastra Dari uraian pengertian apresiasi sastra sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. Kegiatan itu disebut sebagai apresiasi sastra secara tidak langsung karena pada akhirnya selain dapat mengembangkan pengetahuan seseorang tersebut juga akan meningkatkan tentang sastra.

kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperanan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra. Dengan demikian. Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa karya sastra. .Apresiasi Bahasa Indonesia 5-5 mengapresiasi suatu karya sastra. media tulisan/lisan. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguhsungguh dan berulang-ulang kepekaan sehingga dan dapat perasaan melatih dalam dan rangka mengembangkan pikiran mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan atau lisan. 3 Bekal Awal Pengapresiasi Karya Sastra E. Kellet mengungkapkan bahwa pada saat membaca suatu karya sastra. ia selalu berusaha menciptakan sikap serius. Penumbuhan sikap serius dalam membaca karya sastra itu terjadi karena karya sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya. politik. karya sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. filsafat. Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut akan tergambar lewat media kebahasaan. dan struktur wacana. Sementara pada sisi lain. tetapi dengan suasana batin riang. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan. juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontempelasi batin. maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini.E.

sastra sebagai salah satu cabang seni. Dari keseluruhan uraian tersebut dapat diambil simpulan bahwa karya sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks. baik lewat penghayatan atas kehidupan secara intensif-kontemplatif. antara lain (1) unsur keindahan. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat di dalam karya sastra. (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan. maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. serta berbagai kompleksitas masalah kehidupan. filsafat. politik. dan (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik karya sastra itu sendiri sebagai suatu teks. Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu salah satunya ditandai oleh adanya unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. . sebagai bacaan. Terdapatnya berbagai unsur karya sastra sebagaimana tersebut mengimplikasikan bahwa untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. misalnya buku filsafat dan psikologi. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra. tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text karena teks sastra bagaimana pun memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya.5-6 Apresiasi Bahasa Indonesia Dengan demikian. Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut sebagai bekal awal karena untuk mampu mengapresiasi karya sastra seseorang harus secara terus menerus menggauli karya sastra. lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics. (3) media pemaparan baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya.

di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. Lebih lanjut. dalam kegiatan apresiasi karya sastra. dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana. Brooks membedakan adanya dua level. kepekaan emosi dan perasaan itu bukan hanya berhubungan dengan kegiatan penghayatan dan pemahaman nilai-nilai keindahan.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-7 Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah. yakni level objektif yang berhubungan dengan respons intelektual dan level subjektif yang berhubungan dengan respons emosional. 4 Pendekatan dalam Mengapresiasi Karya Sastra Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan dalam mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. sedangkan kegiatan menggauli karya sastra sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. . dan (5) pendekatan didaktis (Aminudin 1995). Oleh sebab itu. (3) pendekatan historis. (4) pendekatan sosiopsikologis. (2) pendekatan analitis. yakni jika pembaca semakin sering dan akrab dengan kegiatan membaca karya sastra.1 Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang menggugah perasaan pembaca yang dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan yang lucu dan menarik. melainkan juga berhubungan dengan usaha pemahaman kandungan makna yang umumnya bersifat konotatif. 4. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. Hal itu disebabkan adanya (1) perbedaan tujuan dan apa yang diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya.

(3) bagaimana wujud keindahan itu setelah digambarkan pengarangnya. Dalam pelaksanaannya. (4) bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu. 4. dan (5) berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan. (2) setiap elemen dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra yang dibaca. dan (3) setiap elemen dapat dibicarakan secara terpisah tetapi pada akhirnya setiap elemen harus disikapi sebagai satu kesatuan. Untuk menemukan dan menikmati karya sastra yang mengandung kelucuan. satirik. sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya.5-8 Apresiasi Bahasa Indonesia Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. misalnya ragam humor.2 Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan. elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap unsur intrinsik sehingga membangun keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya. (2) bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu. atau komedi. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan analitis adalah bahwa (1) karya sastra dibentuk oleh elemen-elemen tertentu. melalui pendekatan ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) adakah unsur keindahan dalam karya sastra yang dibaca. pembaca tentunya harus memilih karya sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ideidenya. . sarkasme.

serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman. maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat karya sastra diwujudkan. Selain itu. 4. (4) menganalisis fungsi setiap unsur dalam rangka mewujudkan karya sastra.3 Pendekatan Historis Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang. (2) bagaimana unsur-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangnya. Prinsip dasar yang melatarbelakangi pendekatan historis adalah adanya anggapan bahwa karya sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya. . (3) bagaimana peran setiap unsur dan bagaimana hubungan antarunsurnya.4 Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya. Adapun secara konkret langkah-langkah yang harus ditempuh adalah (1) membaca teks secara keseluruhan. pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna suatu karya sastra. dan (4) bagaimana cara memahaminya. 4. penerapan pendekatan analitis selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang (1) unsur-unsur apakah yang membangun karya yang saya baca ini. latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya prosa fiksi yang dibaca. kehidupan masyarakat. (2) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang dibacanya. (3) memahami mekanisme hubungan antarunsur intrinsiknya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-9 Dalam pelaksanaannya.

maupun agamis.5-10 Apresiasi Bahasa Indonesia Dalam pelaksanaannya. berbagai pendekatan itu pada umumnya digunakan secara eklektik. Dalam pelaksanaannya. dan bagaimana hubungan antara karya sastra dengan zamannya. Gagasan. maupun deskripsi peristiwa dari pengarang. tanggapan.5 Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis berusaha menemukan dan memahami gagasan. kita dapat menyimpulkan nilai-nilai apa yang terkandung di dalam karya sastra yang kita hadapi. komentar. bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya. maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis. filosofis. Demikianlah berbagai pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra. tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakap. sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. Adapun alasannya adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan. melalui pendekatan ini kita berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa karya itu diciptakan. . lakuan. Dalam pelaksanaannya. Dari pemahaman tersebut. yakni pendekatan yang satu digunakan secara bersamaan dengan pendekatan yang lain. atau bahkan salah. penerapan pendekatan didaktis dilakukan melalui upaya memahami satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu karya sastra yang disarikan dari paparan gagasan pengarang yang berupa tuturan ekspresif. dan (3) penerapan pendekatan secara eklektik sesuai dengan konpleksitas aspek maupun keragaman karakteristik karya sastra itu sendiri. dialog. 4.

Untuk mengapresiasi karya sastra diperlukan bekal awal. kepekaan pikiran kritis. Apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Pendekatanpendekatan tersebut sebaiknya digunakan secara eklektik. yakni (1) kepekaan emosi atau perasaan. . penghargaan. dan (5) pendekatan didaktis.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-11 F. (2) pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan. (2) pendekatan analitis. dan (3) pemahaman terhadap aspek kebahasaan dan unsur-unsur intrinsik karya sastra. Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi. (3) pendekatan historis. di dalam mengapresiasi karya sastra pembaca antara lain dapat menggunakan (1) pendekatan emotif. RANGKUMAN Apresiasi sastra adalah kegiatan meggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. (4) pendekatan sosiopsikologis. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Kedua bentuk kegiatan itu perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu karya sastra yang dipaparkan lewat media tulisan/lisan.

Dengan kata lain. yang berarti cerita rekaan (cerkan) atau “khayalan”. B. DESKRIPSI Penyajian konsep dasar prosa yang meliputi pengertian ahakikat. Mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. E. dan unsur prosa 2. dan drama. dan unsur prosa serta praktik mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa.BAB II. khayalan. C. jenis. Hal itu disebabkan prosa (yang untuk pembicaraan selanjutnya disebut prosa fiksi) merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. puisi. jenis. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar prosa yang meliputi hakikat. INDIKATOR 1. Menjelaskan hakikat. MENGAPRESIASI PROSA A. dan unsur pembangun prosa serta mampu mengapresiasi prosa dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. URAIAN MATERI 1. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. serta mampu mengapresiasi prosa. Hakikat Prosa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya . puisi. prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan. jenis.

Sebagai karya imajinatif. Jika dibandingkan dengan karya nonfiksi. kontemplasi. tokoh. dan latar yang semuanya tentu saja bersifat imajinatif. Walaupun berupa khayalan. sedangkan di dalam karya nonfiksi bersifat faktual. Ia merupakan hasil dialog. Prosa fiksi menawarkan sebuah dunia yang dibangun melalui cerita. peristiwa. peristiwa. sesama. diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif. Prosa fiksi menampilkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. prosa fiksi merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. meskipun dalam beberapa aspek menunjukkan kesamaan. menurut Alterbern dan Lewis.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-13 dalam dunia nyata. Meskipun demikian. 'dunia' dalam prosa fiksi dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa faktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi. prosa fiksi bukan sekadar hasil kerja lamunan. . dan tempat yang disebut-sebut di dalam prosa fiksi bersifat imajinatif. akan tetapi semua itu berjalan dengan sistem dan koherensinya sendiri. prosa fiksi. Dengan demikian. dirinya sendiri. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. hidup dan kehidupan. Dapat dikatakan bahwa dunia dalam prosa fiksi merupakan 'dunia lain' di samping kenyataan. tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. dan Tuhan. dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. tokoh. Dengan demikian. Oleh karena itu. prosa fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. kebenaran dalam prosa fiksi tidak sama dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh mite adalah cerita Dewi Sri dari Jawa dan Mado-Mado dari Pulau Nias. pengarang cerita rakyat pada umumnya tidak dikenal serta ceritanya sangat mudah berubah dari waktu ke waktu. Mite ditokohi oleh para dewa. 1) Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang sejak belum terdapat tradisi tulisan. legenda adalah cerita rakyat yang dianggaps ebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Seperti halnya mite. atau kisah perang para dewa. terjadinya pada masa yang belum begitu lampau. Oleh karena sifatnya yang demikian. berbeda dengan mite. legenda.5-14 Apresiasi Bahasa Indonesia 2. Mite juga mengisahkan petualangan. a. atau di dunia yang bukan seperti yang kt akenal sekarang dan terjadi di masa lampau. di antaranya adalah mite. dan gejala alam. Hanya saja. atau mkakhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi didunia lain. Mite pada umumnya mengisahkan alam semesta. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua. terjadinya maut. percintaan. hubungan kekerabatan. bentuk topografi. dibacakan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga cerita itu dirasakan sebagai milik bersama. Di dalam tradisi lisan terdapat berbagai jenis cerita rakyat. kegenda bersifat keduniawian. dan bertempat di dunia seperti yang kita . bentuk khas binatang. Prosa Fiksi Lama Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. Cerita rakyat dikenal dan diceritakan dalam kalangan masyarakat. dunia. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita. dan dongeng. Jenis Prosa Fiksi Menurut sejarah perkembangannya. manusia pertama.

Prosa Fiksi Baru . (d) hikayat yanag mendapat pengaruh dari Persia. misalnya Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Damar Wulan. Contoh legenda adalah kisah terhadinya Rawa Pening. dan Bawang Merah Bawang Putih. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. hikayat dapat dibedakan menjadi (a) hikayat asli Melayu. misalnya Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar. berisikan pelajaran (moral) atau sindiran. sejarah. Berdasarkan asal ceritanya. dan sebagainya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-15 kenal sekarang. asal mula terjadinya nama Banyu Wangi. kepercayaan Hindu. nabi-nabi Islam. dan seraingkali dibantu oleh makhlukmakhluk ajaib. 2) Hikayat Hikayat adalah bentuk cerita fiksi yang lain dalam kesusasteraan lama. misalnya Hikayat Srang Manyang dan Hikayat Malim Deman. (c) hikayat yang mendapat pengaruh Hindu. misalnya dongengdongeng binatang. misalnya Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Raja-Raja Pasai. Tangkuban Perahu. Hikayat umumnya menceritakan riwayat ajaib tentang putera dan puteri raja. Dongeng biasanya diceritakan untuk hiburan. dan cerita Batu Belah. walaupun banyak yang juga melukiskan kebenaran. misalnya Hikayat Perang Pandawa Lima dan Hikayat Sang Boma. Contoh dongeng adalah Timun Emas. di dalamnya bercampur aduk antara lukisan Melayu asli dan dewa-dewa Hindu yang menjelma. walaupun ada kalanya mempunyai sifat yang luar biasa. (b) hikayat yang mendapat pengaruh dari jawa. b. dan (d) hikayat yang mendapat pengaruh Arab. Kancil dan Buaya. Legenda ditokohi manusia. Meskipun hikayat sebenarnya bentuk asli kesusasteraan Indonesia. pada perkembangannya kemudian tercampur dan terjalin dengan ceritacerita asing.

yakni novel serius dan novel populer yang masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri. novel dibedakan menjadi (1) novel bertendens. (5) novel politik. dan ketidakhadirannya tidak akan mengganggu keutuhan cerita. Berdasarkan isi dan tujuan serta maksud pengarang yang mendominasi novel yang ditulisnya. dalam novel dimungkinkan adanya degresi. novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks. Karena keluasannya. ditektif. 2) Cerita Pendek . yaitu novel avontur. (4) novel anak-anak. karakter yang banyak. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang juga berbeda. dan kolektif. Degresi atau lanturan adalah masuknya masalah yang tidak begitu integral dalam cerita yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. Sebenarnya kedua bentuk cerita itu pada hakikatnya sama. baik dilihat dari segi teknik berceritanya maupun isi yang diungkapkan pengarang. psikologis. prosa fiksi baru dibagi menjadi dua jenis yaitu novel dan cerpen. (6) novel psikologis. yakni cerpen. di Indonesia juga dikenal istilah roman. tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya. ukuran luas disini tidak mutlak sifatnya. (2) novel sejarah. suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada cerita rekaan yang lain. kemudian dicari-cari perbedaannya. dan latar yang beragam pula. (3) novel adat. sosial. dan (7) novel percintaan. Di samping itu ada yang membagi novel menjadi dua. politik. Penggolongan lain dilakukan oleh Mochtar Lubis yang membagi novel menjadi 6 jenis. Tetapi.5-16 Apresiasi Bahasa Indonesia Secara garis besar. Di samping novel. suasana cerita yang beragam. 1) Novel Dalam arti luas.

Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita. 3. Dengan demikian. sarana cerita. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. Ruang lingkup permasalahan yang diungkapkan di dalam cerpen adalah sebagian kecil dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. dan latar. dan tema cerita. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur. Ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi tiga bagian. yakni fakta cerita. Alur . Cerpen mempunyai kecenderungan berukuran pendek dan pekat. Sarana cerita itu meliputi unsur judul. tokoh. Oleh karena itu. alur. Unsur Pembangun Prosa Fiksi Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. atau sedikitnya tokoh yang terdapat di dalamnya. Cerpen hanya memusatkan perhatian pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol yang menjadi pokok cerita. a. dan latar yang terbatas. sedangkan unsur isi adalah sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu. sudut pandang. cerpen hanya mempunyai efek tunggal. dalam cerpen tidak mungkin muncul degresi atau lanturan sebagaimana yang biasa terjadi dalam novel. dan tidak kompleks. serta gaya (bahasa). Predikat pendek di sini bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu. cerpen merupakan karya sastra yang lengkap dan selesai sebagai suatu bentuk karya rekaan. kepaduan merupakan syarat utama sebuah cerpen. Dalam kesingkatannya. karakter. tidak beragam. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan lewat bentuk karya itu. Pembagian lain dikemukakan oleh Stanton (1965). Yang perlu diingat adalah bahwa dalam kesingkatannya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-17 Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek.

Jadi. Peristiwa A merupakan awal cerita. atau kedua-duanya sekaligus. manusia dengan alam. dapat pula berupa konflik eksternal. yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh. Pada tahap awal cerita konflik sedikit demi sedikit mulai dimunculkan. Tahap ini umumnya berisi sejumlah informasi penting sehubungan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya. Peristiwa-peristiwa yang jalin menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut alur. berupa pengenalan tentang waktu dan tempat terjadinya peristiwa dan pengenalan tokoh cerita. Tahap awal biasanya disebut tahap perkenalan. alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu. bulat.5-18 Apresiasi Bahasa Indonesia Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. dari konflik kecil sampai konflik yang besar. Bahkan. Konflik-konflik itu dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri). Adapun tahap akhir atau peleraian menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. dan utuh. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal. Dengan kata lain. yaitu konflik antara tokoh dengan hal lain di luar dirinya. Dalam tahap tengah inilah klimaks dimunculkan. diikuti oleh peristiwa B yang . alur selalu menampilkan konflik-konflik. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa. yaitu ketika konflik telah mencapai intensitas tertinggi. misalnya. Tahap tengah atau pertikaian menampilkan peningkatan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal. dalam alur akan dijumpai puncak-puncak konflik. misalnya antara manusia dengan manusia lain. konflik eksternal. atau manusia dengan Tuhan. bagian ini menunjukkan bagaimanakah akhir sebuah cerita yang penyelesaiannya bisa bersifat tertutup dan bisa juga terbuka. Peristiwa dalam prosa fiksi dapat disusun dengan mengikuti garis lurus.

pertama. kejutan (surprise). Peristiwa tidak disusun secara urut dari peristiwa awal sampai peristiwa akhir.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-19 merupakan inti cerita. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. dan berangsur-angsur diajak mengikuti peristiwa berikutnya untuk menuju peristiwa akhir. meskipun dapat juga berwujud binatang. atau benda yang diinsankan. pengarang memiliki kebebasan kreativitas. Namun demikian. Ada pula prosa fiksi yang disusun sebaliknya. Tokoh sentral atau tokoh utama yang disebut juga pelaku pokok ialah pelaku yang perikehidupannya menjadi pokok cerita atau yang menyebabkan . Cara yang lain adalah dengan menggabungkan dua cara di atas. ada semacam ketentuan atau kaidah yang perlu dipertimbangkan. tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua. misalnya dalam Tinjaulah Dunia Sana karya Maria Amin. pembaca dibawa kembali ke inti cerita. pembaca langsung diajak masuk ke dalam peristiwa pokok. Kaidah yang dimaksud meliputi masalah kemasukakalan (plausibility). Melalui cara itu. dan berakhir dengan peristiwa C sebagai penutup cerita. melainkan dari peristiwa akhir kemudian baru dikisahkan peristiwa yang mendahuluinya. Dalam membaca urutan cerita yang demikian pembaca seolah-olah diajak untuk mengenang peristiwa masa lalu. tiba-tiba pembaca dibawa mengenang peristiwa masa lalu. Contoh cerita yang menggunakan susunan seperti itu adalah Atheis karya Achdiat Kartamiharja. Urutan seperti itu dinamakan alur sorot baik. dan ketidaktentuan (suspense). Tokoh pada umumnya berwujud manusia. Setelah kenangan itu habis. yaitu (1) tokoh sentral atau tokoh utama dan (2) tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Ketika sedang berada pada peristiwa pokok. Urutan peristiwa seperti itu disebut alur lurus. Tokoh dan Penokohan Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. b. Dalam membentuk alur tertentu.

Biasanya tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita. perlu bagi pembaca untuk menentukan tokoh sentralnya. tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita dijumpai adanya tokoh datar/sederhana/pipih yang wataknya tidak berkembang dan tokoh bulat/kompleks/ bundar yang wataknya berkembang dan kompleks sehingga terlihat kelemahan dan kelebihannya dan dapat dibedakan dari watak tokoh lain. Jelasnya. dantokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan) ialah tokoh yang tidak sentral dalam cerita. Peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadina perubahan sikap terhadap diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap cerita tersebut. dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Karena sebuah prosa fiksi biasanya melibatkan beberapa tokoh.5-20 Apresiasi Bahasa Indonesia cerita itu ada. tokoh utama atau tokoh sentral suatu prosa fiksi dapat ditentukan dengan paling tidak tiga cara. antara lain dengan mencermati: . Yang ingin diungkapkan pengarang melalui cerkan adalah manusia dan kehidupannya. Yang termasuk tokoh bawahan misalnya tokoh andalan. yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. Bagaimana kita pembaca mengenali watak tokoh-tokoh cerita? Ada beberapa cara yang dapat membawa pembaca sampai pada sebuah simpulan tentang watak tokoh. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh itulah yang disebut penokohan. pengarang berusaha menyajikan sosok tokoh cerita itu di hadapan pembaca. yang berhasil mengisinya dengan darah dan daging akan dengan sendirinya meyakinkan kebenaran ceritanya. Agar manusia yang perikehidupannya diceritakan itu lebih jelas bagi pembaca.

gambaran latar atau lingkungan tempat tinggal tokoh. Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah cara penting untuk menggambarkan watak tokoh. apa yang diperbuatnya. terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. dan baik hati. misalnya pengarang menjelaskan bahwa tokoh A adalah orang yang jujur. (2) waktu terjadinya . orang dengan pendidikan rendah atau tinggi. tempat. Waktu. dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita. sabar. 5. 6. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. ciri-ciri fisiknya yang dapat menunjukkan watak tokoh yang bersangkutan. sampai pada rincian sebuah ruangan. penerangan langsung. petunjuk. tetapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita disebut latar atau setting. latar meliputi penggambaran (1) lokasi geografis. 2. pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan. ucapan-ucapannya. dan sebagainya. Situasi kritis di sini tidak perlu mengandung bahaya. c. Latar Cerita merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu di suatu tempat dan dalam suasana tertentu. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita. orang berbudi halus atau kasar. Penulis sering membuat deskripsi tentang bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya: tentang cara berpakaiannya. waktu. tindakan-tindakannya. pemandangan. Jadi. 4. sukunya. penggambaran fisik tokoh. wanita atau pria. kita dapat mengenali apakah ia orang tua.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-21 1. 7. 3. Secara terinci. Dalam hal ini penulis memberitahukan panjang lebar watak tokoh secara langsung. latar meliputi segala keterangan. pengacuan yang berkaitan dengan tempat. pikiran-pikirannya. bentuk tubuhnya.

Karena itu. Dari latar wilayah tertentu harus dihasilkan watak tertentu. Kegunaan latar biasanya bukan semata-mata sebagai petunjuk kapan dan di mana cerita itu terjadi. dan penokohan. dapat berbicara soal-soal khusus seperti pelarian. Dalam prosa fiksi.5-22 Apresiasi Bahasa Indonesia peristiwa. yaitu bangunan. cinta kasih. daerah. Misalnya dalam cerpen "Jakarta". bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. suasana tertentu. sejarahnya. sosial. tema. melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai. Sebaliknya. pengkhianatan. biasanya pengarang tidak akan sembarangan dalam menentukan latar cerita. Dengan demikian. moral. misalnya nilai kebenaran. cara hidup. misalnya. dan (3) lingkungan agama. artinya hanya sekadar memberi petunjuk bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi di suatu tempat pada waktu dan suasana tertentu. dapat dikatakan bahwa latar bukan sekadar background cerita. adat kebiasaan. intelektual. musim terjadinya. Cerita dengan latar perang. d. dan keagungan Tuhan yang akan diungkap pengarang melalui cerita tersebut. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual. dendam. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. untuk memperkenalkan adat istiadat suatu daerah. Adapun Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya. Sudut Pandang . disebut latar netral. atau menunjukkan sifat-sifat manusia pada suatu saat di suatu tempat. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat. patriotisme. dan kemanusiaan. latar hendaknya mempunyai fungsi untuk menggarap alur. Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik (material). latar yang hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. dan sebagainya. latar kota Jakarta menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu: suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang yang menyebabkan orang mudah merasa terasing. dan atau tema tertentu. dan emosional para tokoh cerita.

Yang kedua. tradisi. Ronggeng . sedangkan apabila pencerita menjadi tokoh bawahan disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Bawahan atau Akuan-Taksertaan. Dalam sudut pandang Orang Ketiga. latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Akan tetapi mulai bagian kedua. Seperti dalang. misalnya. Dengan demikian. teknik. Yang pertama. Dalam kisahannya pencerita mengacu kepada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti Orang Ketiga (ia. tindakan. yakni sudut pandang Orang Pertama (Pencerita Akuan) dan sudut pandang Orang Ketiga (Pencerita Diaan). atau menyebut nama tokoh. sering kita jumpai prosa fiksi yang menggunakan sudut pandang campuran. Bagian pertama novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang Diaan Serba Tahu. dari alam. Ahmad Tohari mendongeng tentang Dukuh Paruk. atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang dibagi menjadi dua. Orang Ketiga Terbatas apabila pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar. Di samping jenis-jenis sudut pandang di atas. Sudut Pandang Orang Ketiga memiliki dua kemungkinan. Apabila dalam cerita itu pencerita bertindak sebagai tokoh utama disebut sudut pandang Orang Pertama Tokoh Utama atau Akuan-Sertaan. bahkan mampu mengungkap pikiran. pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi. dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. pencerita sebagai salah satu tokoh dalam cerita dalam berkisah mengacu pada dirinya sendiri dengan sebutan aku atau saya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-23 Sudut pandang atau point of vieuw merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. tatanan sampai mitos sejarahnya. pencerita berada di luar cerita. Orang Ketiga Mahatahu apabila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerita. Dalam sudut pandang Orang Pertama. dia). yang juga disebut pencerita "Akuan".

Apabila digunakan sudut pandang diaan terbatas. dan perasaannya sendiri kepada pembaca. dari pola pemikiran tradisional menuju ke pemikiran yang modern. tetapi ada keterbatasan karena sudut pandangnya bersifat sepihak. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk. dan pembaca. tetapi tentang tokoh lain ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. perubahan sudut pandang dalam novel itu juga berkaitan dengan perubahan karakter tokoh Rasus. Apabila digunakan sudut pandang diaan serba-tahu. Cerita tersaji melalui mulut tokoh Aku. Di samping itu. Perubahan sudut pandang dalam sebuah prosa fiksi biasanya memiliki nilai-nilai tertentu. dan kemudian pembaca semakin dekat dengan peristiwa yang disajikan dalam cerita. relevansinya dengan sifat cerita. penggunaan sudut pandang Orang Ketiga dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak dalam waktu yang bersamaan. ceritanya menjadi lebih bersifat objektif. ceritanya menjadi sangat padu. “Aku” secara langsung dan dengan bebas dapat emnyatakan sikap. Ditinjau dari penangkapan dan pemahaman cerita oleh pembaca. perubahan sudut pandang diaan ke akuan mengisyaratkan adanya sebuah kesan “meninggalkan” negeri dongeng. setiap sudut pandang ada kelebihan dan kekurangannya. bahkan . yakni Rasus. Tetapi karena ia harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu sudut. Sudut pandang Orang Pertama cepat membina keakraban antara cerita dan pembaca. pencerita tidak dapat memperkenalkan apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat lain. Berdasarkan kekurangan dan kelebihannya itu. pikiran. dia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi. Ia tidak dapat menduga dalam-dalam pikiran dan sikap tokoh lain. Di samping itu. sudut pandang Orang Pertama cocok untuk cerita dengan kecenderungan psikologis.5-24 Apresiasi Bahasa Indonesia Dukuh Paruk disajikan dengan menggunakan sudut pandang Akuan Sertaan. Di lain pihak.

semua pengarang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri. kelompok kata. dapat dikatakan bahwa menganalisis gaya sebuah cerita rekaan berarti menganalisis wujud verbal karya sastra itu sendiri. Berdasarkan pengertian gaya sebagaimana tersebut di atas. gaya pengarang adalah suarasuara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-25 dapat menembusi pikiran dan perasaan tokoh. sering dikatakan bahwa gaya adalah oranngnya. . Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lain. unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi unsur leksikal. Secara sederhana. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan. Oleh karena itu. dan ungkapan yang menentukan keberhasilan. gaya dapat didefinisikan sebagai cara pemakaian bahasa yang khas oleh seorang pengarang. Seorang pengarang selalu menyajikan halhal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. gramatikal. yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. dan sarana retorika. dan penyiasatan struktur. dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya. Akan tetapi kelemahannya. kalimat. Dalam artian ini. keindahan. Secara ringkas. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata. Ia dapat berkomentar dan memberikan penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya. Gaya dan Nada Gaya merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. penggunaan sudut pandang diaan serba tahu bertentangan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. e. bahasa kias. Unsur leksikal menyangkut diksi.

. wajar. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. Nada yang sering disamakan dengan istilah suasana adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. Pengarang bisa hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan tanpa memberikan jalan keluarnya. serta menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. mengharukan. Meskipun demikian. f. Tema dan Amanat Tema merupakan gagasan. Jadi. sementara kita sebagai pembaca baru memahami tema setelah kita selesai memahami unsur-unsur pembangun yang menjadi media pemaparan tersebut. romantis. menegangkan. melankolis. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. kesimpulannya. atau bahkan hanya hasil pengamatannya saja. tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita. Tema bisa saja hanya berwujud hasil pengamatan pengarang terhadap kehidupan. religius. atau pikiran utama yang mendasari sebuah cerita rekaan. menjijikkan. Ia terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. ide. tema tidak perlu selalu berwujud ajaran moral. mencekam. tragis. dan sebagainya. Suasana cerita dapat berkisar pada suasana yang bersemangat. untuk memahami tema kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembangunnya.5-26 Apresiasi Bahasa Indonesia Yang dimaksud sarana retorika adalah penggunaan berbagai bentuk kebahasaan untuk memperjelas dan memperindah pengungkapan sehingga dihasilkan wacana yang efektif dan khas. menyimpulkan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu. Salah satu fungsi gaya yang penting adalah sumbangannya untuk mencapai tone atau nada dalam prosa fiksi.

pokok pikiran. 7. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut . mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. 8. memahami peristiwanya. menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok yang satuan peristiwa. Dalam upaya pemahaman tema cerita. apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas karena tema sebenarnya merupakan pandalaman dan kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal. memahami alur ceritanya. perlu diperhatikan beberapa langkah berikut secara cermat: 1. Tema dalam hal ini inklusif di dalam cerita. melainkan tersebar di balik keseluruhan unsur cerita. b) Amanat/ Nilai/Pesan Moral Unsur lain yang dapat diperoleh sewaktu berusaha memahami tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. 6. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lain yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam cerita. keberadaan tema tidak dirumuskan dalam satu atau dua kalimat secara eksplisit. Meskipun demikian. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam cerita yang dibaca. serta tahapan ditampilkannya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-27 Brooks (1975) mengungkapkan bahwa dalam mengapresiasi tema suatu cerita. 2. memahami latar prosa fiksi yang dibaca. 4. 5. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta merumuskannya dalam satu atau dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya. 3.

hidup mereka bahagia. Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi dapat secara tersurat maupun secara tersirat. misalnya. dan dengan Tuhan. ia marah dan minta cerai karena tidak mau dimadu. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerkan itulah yang sering disebut amanat. Pada awal pernikahan.5-28 Apresiasi Bahasa Indonesia akan dapat dinemukan nilai-nilai yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaaan serta hidup kehidupan. Prosa fiksi itu harus dibaca dengan sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja. Nora. Kehidupan Rani membaik walaupun tanpa suami. Untuk menopang hidupnya Rani kemudian membuka tempat kos dan menerima jahitan. dan Preti. hidup mereka serba kekurangan. . dengan masyarakat dan lingkungannya. Yang dimaksud nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Contoh Apresiasi Novel Pelabuhan Hati Karya Titis Basino dengan Pendekatan Analitik Pelabuhan Hati mengisahkan sebuah keluarga yaitu Ramelan beserta istrinya Rani. Meskipun demikian. Perubahan ini membuat Rani menjadi cerewet dan selalu ingin mengatur. Untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Jenis dan wujud pesan moral/ nilai dapat mencakupi seluruh persoalan hidup dan kehidupan yang meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. 4. Rima. Setelah Ramelan mendapat pekerjaan dan proyek. Ketika Rani mengetahui. Semua kata dan kalimat harus benar-benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi pekerti. dan keempat anak mereka Raja. hidup mereka berkecukupan. Hal ini membuat Ramelan menjadi pendiam dan selingkuh dengan gadis lain yang bernama Laksmi yang tidak lain adalah langganan menjahit Rani.

Aku perlu berkumpul dengan anakanak. “Suratnya selalu mengatakan ingin menemuiku. itulah cela yang tidak disukai laki-laki. Sebagai wanita sekaligus istri ia juga menyadari kelemahannya yaitu cerewet dan suka mengatur sehingga suaminya berpaling pada gadis lain.” (PH) Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Ia telah berusaha bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak bergantung pada laki-laki. dan mandiri.” (PH) Ramelan adalah seorang laki-laki atau suami yang baik. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Rani sebagai tokoh utama memiliki sikap yang keras. dan aku bertambah cerewet. dimulai dari kehidupan awal Ramelan dan Rani sampai punya empat anak. “Aku ingin kembali ke rumah ini.” Walaupun sudah bercerai. Dia kini tambah pendiam. Dia sangat menyayangi keluarga. Cerewet. Dan aku tidak menyadari selama ini. tegas. tetapi Rani menolak. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut. Ramelan jatuh sakit dan akhirnya meninggal di pangkuan Rani. Bubarkan semua yang ada di sini. Dia tidak cerewet. Ramelan kesepian dan ingin kembali pada Rani.” “Dia tidak peduli soal-soal kecil. pendiam. Memang membosankan berdekatan dengan perempuan nyiyir dan sok tahu urusan laki-laki.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-29 Perkawinan Ramelan dan Laksmi tidak membuahkan anak. istri dan anak-anaknya. tidak pernah mencela atau menegur. Peristiwa berlanjut dengan pernikahan Ramelan dan Laksmi yang tidak . “Ramelan selalu mengiyakan tuntutanku. Ramelan masih peduli terhadap istrinya. Yang dimaksud Laksmi. kemudian bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga dalam sepuluh tahun.” “Ini uang. Ia percaya bahwa wanita bukan makhluk yang lemah.

” “Aku terpana. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. jadilah wanita yang tegar. F. dan tidak selalu bergantung pada laki-laki. yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. “Aku sibuk mengatur rumah baruku. di rumah sakit Yayasan Kristen Jakarta. sarana cerita yang meliputi judul. yaitu di rumah Rani. LATIHAN/SOAL . rumah Laksmi di Mampang. Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa wanita sebenarnya bukan makhluk yang lemah. Menurut sejarah perkembangannya. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Novel ini berlatar di kota Jakarta. Ramelan merasa kesepian.5-30 Apresiasi Bahasa Indonesia bahagia karena tidak punya anak. Yang termasuk prosa fiksi lama antara lain cerita rakyat dan hikayat. Diam dan mengawasi mereka berdua. sudut pandang. mandiri. Unsur pembangun prosa fiksi yaitu fakta cerita yang meliputi alur. dan tema cerita. khayalan. serta gaya (bahasa). dan latar.” “Aku inginkan ada kolam ikan. kuat. atau sesuatu yang tidak terjadi sungguhsungguh sehingga ia tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. Rumah Sakit Petambunan. tokoh. kemudian jatuh sakit dan meninggal. prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua.” “Aku membaca surat Yasin. G. RANGKUMAN Prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan.” (PH) Adapun tema novel Pelabuhan Hati ini adalah ketegaran seorang wanita dalam menghadapi cobaan hidup. sedangkan prosa fiksi baru meliputi novel dan cerpen. Karena itu.

Perhitungannya ternyata meleset. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan. yang belum sembuh karena dikhitan kemarin. dengan bayaran dua ribu rupiah. Dengan demikian. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Daroji. malah rugi. Kemudian tak uasah nanggap wayang atau ketoprak. . ludruk. beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Cobalah pikir. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini. tetapi terutama orangorang yang dulu pernah mengundanfgnya berhajat. Tapi mana bisa. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. untuk waktu sehari semalam penuh. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Anaknya. lagu-lagu ngangdut atau kasidahan. pada acara khitanan anaknya ini. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Cukup panggil calak. makan minum dan jajan-jajan serta rokok. ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Ia tidak pakai acara macem-macem. Bahkan bisa lebih banyak.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-31 Bacalah cerpen berikut dengan saksama kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah. kini sudah mulai menagih. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek. tukang khitan. melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. Cukup kerabat-kerabat terdekat. atau apa saja asal ada kasetnya. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini.

Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewannya. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa.” Kang Dasrip tertawa kecut. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. “Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.. “Kau kira lurah kita itu pahlawan. ya! Dia itu takut sama atasannya. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tak berani membantah. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar.” Tertawa Kang Dsrip mengeras. “Kau kira berapa sewan utnuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Ngomongnya saja Tebu Rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita. dia masih merasa kurang kaya …!” . “Sudahlah. padahal ikut makan dan minum. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha. uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya.” kata istri Kang Dasrip. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. Tak usah bingung. Apa tak kurang ajar.” kaata istrinya lagi. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa.5-32 Apresiasi Bahasa Indonesia Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp200.-. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu.” “Usaha apa!” “Soal sewan tebu itu misalnya. Yang dulu ia kasih beras sekilo.sekarang Cuma ngasih Rp100. sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo. tapi dia belum pernah merasa puas. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana. Kang. Kang Dasrip misuh-misuh.

Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Ketika surat itu selesai diantarnya. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. Ada yang tertawa. Bahkan lebih dari itu. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu. “Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. ada yang memaki-maki. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-33 “Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih. Kang Dasrip naik pitam. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Istrinya ketakutan. “Memalukan desa kita!” Kecam mereka. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. kecuali nama yang memalukan. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya. (Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya. “Radionya dicopet di pasar. Tapi tentu saja ini sia-sia. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Nak …!” ujarnya. ributlah orang desa. “Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip.kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp200. Daroji menangis. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam.-“ tulisnya. Mei 1992) . Ia mengambil sisa-sisa surat undangan. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya..

5-34 Apresiasi Bahasa Indonesia PERTANYAAN a. Apakah tema dan amanat cerita tersebut? Uraikan disertai data yang mendukung! . Sebutkan peristiwa-peristiwa pokok dalam cerpen Kang Dasrip“ tersebut! b. Adakah fungsi latar yang lain. Jelaskan hubungan antarperistiwa pokok dalam cerita itu! c. Menurut Anda. jelaskan disertai data yang mendukung! f. Terangkan konflik yang dialami tokoh dan cara mengatasi konflik itu1 d. di samping sebagai penanda waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita itu? Jika ada. Bagaimana peran pencerita (narator) dalam penggambaran watak tokoh? Jelaskan! h. Sudut pandang apakah yang digunakan dalam cerpen tersebut? g. Uraikan watak tokoh Kang Dasrip dan anaknya disertai data yang mendukung! e. bagaimana gaya penceritaannya? Kemukakan dengan bukti yang mendukung pendapat Anda! i.

.

dan unsur puisi serta praktik mengepresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. jenis. pengarang tidak menjelaskan secara rinci apa . Artinya. serta mampu mengapresiasi prosa. C. Berbeda dengan prosa. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Menguasai konsep dasar apresiasi sastra dan konsep dasar prosa. B. URAIAN MATERI 1. dan drama. Mengapresiasi puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D.BAB III. Hakikat Puisi Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. INDIKATOR 1. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar puisi yang meliputi hakikat dan unsur pembangun puisi serta mampu mengapresiasi puisi dalam berbagai kegiatan berbahasa. puisi bersifat konsentris dan intensif. dan drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. puisi. atau pemusatan dan pemadatan. Menjelaskan hakikat dan unsur puisi 2. DESKRIPSI Penyajian konsep puisi yang meliputi hakikat. puisi. E. MENGAPRESIASI PUISI A.

bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. Diksi Diksi atau pilihan kata digunakan untuk (1)mendapatkan kepuitisan dan nilai estetis. pembaca harus menafsirkan puisi tersebut. pesan. dan keindahan puisi. dan keindahan puisi. serta tipografi. untuk memahami makna. pesan. penyair memilih kata dengan mempertimbangkan makna dan daya sugestinya. Unsur-unsur Pembangun Puisi Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. perasaan. versifikasi (rima dan irama). 3. seorang pembaca harus memahami unsur-unsur pembangun puisi. Struktur fisik meliputi diksi. nada dan suasana. komposisi bunyi . Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. Akibat adanya intensifikasi tersebut. kata konkret. Penafsiran atau interpretasi terhadap puisi adalah pemberian makna terhadap teks puisi. majas.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-35 yang ingin diungkapkannya. Agar dapat menafsirkan puisi dengan baik. serta amanat (Waluyo 1991). pengimajian. yaitu memahami makna. melainkan hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian pokok atau penting. Oleh karena puisi merupakan dunia simbol. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin.dan (2) mengekspresikan pengalaman puisi secara padat dan intens. Pemberian makna itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna. dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mempertimbangkan aspek maknanya. a. Hal itu dilakukan bukan sebatas pada masalah yang disampaikan melainkan juga pada cara penyampaiannya. tetapi juga pengaruh “rasa” yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. Berdasarkan hal tersebut.

b. Dengan penggunaan kata-kata konkret. Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji atau daya bayang pembaca. yakni secara tidak langsung . Artinya. Kata-katanya juga dipilih yang puitis sehingga memperoleh efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengimajian/ Pencitraan Pengimajinasian atau pencitraan adalah kata atau susunan katakata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris. yakni pengalaman yang dapat ditangkap melalui pancaindera. Pengimajian ditandai oleh penggunaan kata-kata yang konkret dan khas. kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. dan imaji pencecapan (rasa pahit di mulut). Majas Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa. imaji perabaan (cubit biar sakit). Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. pembaca seolah-olah melihat. d. kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya.5-36 Apresiasi Bahasa Indonesia dalam rima dan irama. imaji penciuman (udara berbau tembaga). atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. Dengan demikian. c. untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan. Misalnya. imaji pendengaran (haram gemerincing genta rebana). penyair menulis: hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan riang. Imaji yang ditimbulkan oleh penggunaan kata-kata itu dapat berupa imaji penglihatan (serupa dara dibalik tirai). kata-kata harus diperkonkret. artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. pembaca akan terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. dan kedudukan kata itu dalam konteks secara keseluruhan. mendengar.

Termasuk jenis rima. Kiasan adalah pembandingan sesuatu hal dengan hal lain. lambang benda. Baris-baris puisi Sutardji “Tragedi Sihka dan Winka”. Tipografi dan Enjambemen Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. lambang bunyi. Termasuk ke dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata dalam puisi. misalnya. metafora. baik kiasan maupun lambang. misalnya perbandingan. e. Rima mempunyai peranan yang sangat penting dalam puisi karena hal tersebut berkaitan dengan nada dan suasana puisi. misalnya asonansi. rima akhir. dan lambang suasana. dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas tersebut. (2) alasan penyair memilih majas tersebut. Penggunaan tipografi oleh penyair mungkin dimaksudkan sekadar untuk keindahan indrawi. dan personifikasi. aliterasi. nada dan suasana puisi tercipta lebih nyata dan lebih dapat menimbulkan kesan pada benak pembaca. tetapi mungkin juga sengaja dimanfaatkan untuk mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan. misalnya lambang warna. rima awal. Wujudnya berupa kiasan dan lambang. d. Majas. Adapun lambang adalah penggantian sesuatu hal dengan hal lain.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-37 mengungkapkan makna. ditulis . Analisis terhadap majas dalam puisi dapat dilakukan dengan menanyakan (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi. digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana puisi menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. Dengan bantuan unsur rima. dan rima sempurna.

dengan binatang. Enjambemen dimaksudkan untuk memberikan penekanan atau penonjolan. sesuai dengan makna puisi. tema sosial yang melukiskan kondisi masyarakat yang lebih merupakan protes sosial. Nada dan Suasana Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca. sedih. gembira. dan dengan Tuhan. Atau dengan kata lain. Enjambemen dapat pula dimanfaatkan untuk mengaburkan makna sehingga menyebabkan puisi menjadi multitafsir. hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Tema Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair di dalam puisinya.5-38 Apresiasi Bahasa Indonesia berbentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan. . iba. Sebagai contoh ada tema ketuhanan yang menunjukkan pengalaman religi penyair. mengejek. enjembemen ini perlu memperoleh perhatian karena akan sangat menentukan makna puisi. Wujudnya berupa pemisahan bagian kalimat (kata/kelompok kata) dan pemindahan bagian kalimat itu ke larik berikutnya. Tema puisi sangat luas menyangkut hubungan antara manusia dengan diri sendiri. dengan manusia lain. dan tema percintaan yang melukiskan cinta dan kasih sayang. seperti haru. f. Dealam pemaknaan puisi. menyindir. atau bersikap lugas. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut. tema kebangsaan yang melukiskan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. suasana adalah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. dengan alam. g. apakah dia bersikap menggurui. atau pemberontakan. menasihati. Adapun enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi dan hubungan antarbaris dalam puisi tersebut.

yakni berdasarkan interpretasi pembaca. 5. (b) memahami latar. (f) memahami tipografi dan enjambemen. yaitu (a) memahami judul. anak-anakku Kursi-kursi tua yang di sana . Amanat (Pesan) Amanat adalah maksud. Nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. (c) memahami kata ganti. Contoh Apresiasi terhadap Puisi “Dari Seorang Guru kepada MuridMuridnya” Karya Hartoyo Andangjaya dengan Pendekatan Analitik Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati bagi pembacanya. anak-anakku Selain buku-buku dan sedikit ilmu Sumber pengabdian kepadamu. 4. Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku Aku takut. Amanat bersifat subjektif. Amanat dapat diketahui dengan mengacu pada tema cerita. (d) memahami majas. atau pesan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. Demikian seterusnya. h. Langkah Menafsirkan Puisi Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam menafsirkan makna puisi.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-39 Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. dan (g) memahami totalitas makna dan amanat puisi (Depdiknas 2004). imbauan. (e) memahami bait dan baris.

meja tulis sederhana. Bunyi u. Tetapi semua kesederhanaan dan kekurangannya itu tidak pernah diceritakan kepada murid-muridnya. a. jendela yang tak pernah diganti kainnya.5-40 Apresiasi Bahasa Indonesia Dan meja tulis sederhana Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya Semua padamu akan bercerita Tentang hidupku di rumah tangga Ah. mendominasi bait pertama dan kedua. tentang ini tak pernah aku bercerita Depan kelas. Unsur bunyi berperan penting dalam puisi ini untuk memperdalam ucapan dan menimbulkan rasa. karena rumah dan perabotannya jelek dan kuno. Kekayaan yang dimiliki hanyalah buku-buka dan sedikit ilmu sebagai sumber pengabdian kepada murid-muridnya. Puisi ini termasuk puisi transparan karena bahan yang digunakan mudah dipahami. bahkan ia juga tidak pernah mengeluh. sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagikuKarena kutahu. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari dan tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Justru ia selalu berdoa agar murid-muridnya sukses dan tidak mengalami nasib jelek seperti dirinya. seperti pada bait pertama dan kedua. suasana khusus. sedang menatap . Dalam puisi ini terdapat imaji penglihatan : kursi-kursi tua. Dia malu seandainya ada murid yang berkunjung ke rumahnya. anak-anakku Engkau terlalu muda Engkau terlalu bersih dari dosa Untuk mengenal ini semua Puisi ini menceritakan kehidupan guru sekitar tahun 60-an yang serba kekurangan.

Puisi transparan tidak banyak menggunakan simbol-simbol dan kata kias sehingga mudah dipahami. Jelaskan ciri-ciri puisi! 2. Bahasa kias terdapat pada: horison yang selalu biru bagiku. RANGKUMAN Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonstruksikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batinnya. Puisi prismatis adalah puisi yang sarat dengan kata kias. Puisi dibedakan menjadi puisi transparan/diaphan dan puisi prismatis. seorang guru janganlah pernah mengeluh dan tetaplah mengabdikan diri untuk anak didik. F. dan lambang. nada dan suasana. G. majas. Puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh beberapa unsur. sedangkan suasana puisi mengharukan. Adapun struktur batin puisi meliputi unsur tema. serta amanat. Pendekatan apa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi puisi “Ibu” karya D. Struktur fisik meliputi diksi. Tema puisi ini adalah keprihatinan terhadap nasib guru.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-41 wajah-wajahmu remaja. Amanat yang disampaikan pengarang adalah walaupun hidup serba kekurangan. dan tipografi. Struktur puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. LATIHAN/SOAL 1. simbol. Zawawi Imron berikut? Jelaskan alasannya! 4. Adapun nada puisi tidak bersifat menggurui. Jelaskan unsur-unsur puisi! 3. pengimajian. Apresiasilah puisi berikut dengan menggunakan pendekatan analitik! Ibu . versifikasi.

yang kan kusebut paling dahulu Lantaran aku tahu Engkau ibu dan aku anakmu Bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal . kemudian ke bumi Aku mengangguk meskipun kurang mengerti Bila kasihmu ibarat samudra Sempit lautan teduh Tempatku mandi. mencuci lumut pada diri Tempatku berlayar. yang tetap lancar mengalir Bila aku merantau Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar Ibu adalah gua pertapaanku Dan ibulah yang meletakkanku di sini Saat bunga kembang menyemerbak bau sayazng Ibu menunjuk ke langit. daunan pun gugur bersama ranting Hanya mataair airmatamu ibu. Zawawi Imron Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau Sumur-sumur kering.5-42 Apresiasi Bahasa Indonesia D. mutiara dan kembang laut semua bagiku Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan Namamu ibu. menebar pukat dan melempar sauh Lokan-lokan.

Apresiasi Bahasa Indonesia 5-43 Ibulah itu. bidadari yang berselendang bianglala Sesekali datang padaku Menyuruhku menulis langit biru Dengan sajakku .

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa B. Sebagai sebuah karya. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. DESKRIPSI Penyajian konsep drama yang meliputi hakikat dan unsur drama serta praktik mengepresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. tema. Mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa D. KOMPETENSI DASAR Memahami konsep dasar drama yang meliputi hakikat drama unsur pembangun drama dan mampu mengapresiasi drama dalam berbagai bentuk melalui berbagai kegiatan berbahasa. MENGAPRESIASI DRAMA A. latar. drama memunyai karakter khusus. Sebagai sebuah genre sastra. URAIAN MATERI 1. alur. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. C.BAB IV. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. Hakikat Drama Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. INDIKATOR 1. E. amanat. . Menjelaskan hakikat dan unsur-unsur drama 2.

Hakikat drama adalah tikaian atau konflik. Sebagai sebuah pertunjukan. dan ide-ide utama. atau konflik antara tokoh dengan lingkungannya.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-45 serta dialog. konflik antartokoh. dialog merupakan wadah untuk menyampaikan informasi informasi. latar. pementasan. sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara tokoh dengan sesuatu yang lain. dialog dapat menciptakan serta melukiskan suasana. tema (premise). Dilihat dari sisi pengarang. Unsur-Unsur Drama Unsur drama dalam dimensi sastra meliputi tokoh dan penokohan. serta dialog (Waluyo 2003. Konflik merupakan penggerak cerita. Dialog juga berfungsi memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. 2. . Ada yang bersifat penting (mayor) dan ada yang tidak penting (minor). Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal dan dapat pula bersifat eksternal. Biasanya kepadanya pembaca berempati. Asmara 1983). Konflik internal adalah konflik antara seseorang dengan dirinya sendiri. protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat di dalam kesukarankesukaran. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa di dalam drama. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. a. Karena perannya itu. dan penonton. Ada yang berkedudukan sebagai protagonis. yakni naskah. misalnya. alur. Dialog merupakan sarana primer drama. Sifat dan kedudukan tokoh di dalam drama bermacam-macam. Di sisi lain. yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita. fakta. amanat.

ujaran (dialog). penampilan fisik. di dalam Dengan . Konflik itu saling berbentrokan sehingga terjadilah suatu rentetan peristiwa yang kemudian membentuk drama. atau latarnya. seperti melawan takdir. Pertentangan antara perasaan-perasaan di luar manusia. Mungkin itu pertentangan antara pribadi-pribadi yang berlawanan. terdapat bagian pemaparan (eksposisi) yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami cerita selanjutnya. penanjakan laku (rising action). Ciri-ciri tersebut dapat diketahui melalui tindakan atau lakuan. pada dasarnya alur drama tersusun menurut garis lakon (dramatic line). pikiran. klimaks/krisis. dan apa yang dipikirkan. antara manusia dengan keadaan yang mengelilinginya. b. Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita. perasaan. antara kemauan yang berlawanan. psikologis. berakhir pulalah lakon drama. Di dalam drama tokoh-tokoh cerita digambarkan memiliki ciri-ciri fisik. dan sosiologis. penurunan laku (falling action). misalnya tokohnya. yang disebut peran pembantu. masalah yang timbul. Menurut Hudson (dalam Asmara 1983). Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan protagonis atau antagonis. Dengan dimulainya suatu konflik berarti pula mulainya suatu lakon drama yang sebenarnya. penyelesaian konflik itu. Tokoh lain adalah tokoh tritagonis yang menjadi peran penengah antara protagonis dan antagonis. Oleh karena itu. dan dirasakan tentang dirinya atau diri orang lain.5-46 Apresiasi Bahasa Indonesia Lawan protagonis adalah antagonis yang berperan sebagai penghalang bagi protagonis. dan keputusan (catastrope). Alur Lakon drama selalu mengandung konflik atau pertentanganpertentangan di dalam suatu kehidupan. Pada kenyataannya. yaitu: insiden permulaan. sebelum insiden awal. atau nasib.

perilaku tokoh. penokohan. komplikasi. c. Secara langsung latar berhubungan dengan tokoh dan alur. Permasalahan itu dapat muncul melalui perilaku para tokoh. Oleh sebab itu amanat juga merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa. Latar Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu. dan latar.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-47 srtuktur dramatik Aristoteles disebutkan bahwa struktur alur drama itu meliputi eksposisi. yang terkait dengan latar. dan dialog para tokohnya. tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. gambaran tokoh. latar yang abstrak akan berhubungan dengan peristiwa dan tokoh yang abstrak. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang. tingkah laku tokoh. Oleh sebab itu. tempat. resolusi. terdapat banyak peristiwa yang masing-=masing mengemban permasalahan. Sebaliknya. dan konklusi. Dalam sebuah drama. Adapun amanat adalah opini. atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. klimaks. Petunjuk mengenai latar itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang. . Tema (Premise) dan Amanat Tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa. Pencarian amanat identik dengan cara pencarian tema. tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut. Latar harus menunjang alur dan penokohan. dan suasana terjadinya peristiwa di dalam drama. Amanat di dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. dan latar drama. d. Latar konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret. kecenderungan.

harus jelas. terang. mau menerima kenyataan. Sakri anak sulungnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang serba kekurangan itu. dialog harus baik dan bernilai tinggi. Kedua. Penggunaan bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh. dan (3) menggambarkan alur cerita. Sebaliknya Bandar. (b) menggambarkan karakter tokoh. Dialog dalam drama harus memenuhi dua hal. ia pergi bekerja sebagai tukang parkir pada malam hari. Di samping bersekolah. dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak. Pertama. jika seorang tokoh berada pada situasi. Tidak boleh ada kata-kata yang tidak perlu. Ia mau membantu ayahnya di rumah. Dia menanyakan keberadaan . Seperti remaja lainnya. emosi. dan latar cerita. penggunaan bahasa terlihat pada dialog merupakan situasi bahasa utama. Contoh Apresiasi Teks Drama berjudul “Ayah Dua Laki-Laki” dengan Pendekatan Analitik Drama ini menceritakan sebuah keluarga petani yang miskin dan sederhana.5-48 Apresiasi Bahasa Indonesia e. dialog harus lebih teratur daripada percakapan sehari-hari. Alur yang digunakan adalah alur lurus. Latar terjadi di rumahnya yang sangat sederhana pada pagi hari sekitar pukul 10 ketika ayah pulang dari sawah. Oleh sebab itu. adiknya. Bahasa/Dialog Di dalam sebuah drama. dan menuju sasaran (to the point). suasana. dan peran yang berbeda. Ayah memiliki dua orang anak laki-laki yang perangainya sangat berbeda. dialog harus mencerminkan apa yang telah terjadi dan juga mencerminkan pikiran serta perasaan para tokoh. Dia malu memakai sepeda. penggunaan bahasanya juga berbeda. 3. Peristiwa dimulai ketika ayah tiba di rumah sepulang dari sawah. Artinya. dia mau sekolah kalau dibelikan sepeda motor. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa fungsi dialog dalam drama antara lain adalah: (a) mempertinggi nilai gerak. Artinya.

sebagaimana terlihat pada kutipan berikut. Perhatikan kutipan berikut! “Ooo ngambek to. Bandar berangkat sekolah.” “Aku mau sekolah. tetapi aku perlu motor. “Pak. karena sepulang sekolah saya langsung kerja. Konfilk pun muncul. selalu memperhatikan anak-anaknya. “Pak. hati-hati.” “Bapak mau makan? Aku masak kacang panjang sambel pete. dan tempe goreng. berpikiran sederhana. dan adil. Ternyata Sakri sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena menuntut dibelikan motor.” . Kerja pada malam hari banyak resikonya. pulang agak malam. Klimaks terjadi pada waktu ayah berhadapan dengan Sakri. ingin hidup senang dan suka menuntut. seperti terlihat pada kutipan berikut. lesu rasanya. Yang berakhir dengan kepergian Ayah Sakri. Perhatikan kutipan berikut. baik.” Sakri adalah anak yang malas. “Kamu sudah makan? Apa kakakmu sudah pulang sekolah? “Ya. Aku tidak bisa.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-49 Sakri kepada Bandar yang waktu itu sedang menyiapkan masakan sebelum berangkat ke sekolah siang hari. sayang. Apa kalau tidak pakai motor tidak bisa pintar? Lalu tidak lulus? ‘Jadi bapak tidak mau membelikan motor? (Si ayah pergi meninggalkan Sakri) Ayah adalah sosok yang yang baik. selalu berusaha keras dan pekerja keras.” Bandar adalah anak yang berbakti pada orang tua.

apresiasilah dengan menggunakan pendekatan analitik! Kemudian ORANG TERASING Aji Sudarmadjie Mukhsin Para Pelaku: 1. Suami . alur. Sebagai sebuah pertunjukan. amanat. yakni naskah. yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. Adapun amanat yang ingin disampaikan adalah berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. tema. serta dialog. Anak laki-laki hendaknya bertanggung jawab dalam hidupnya. cita-cita tak akan tercapai. drama dibangun oleh unsur-unsur tokoh. drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan. dan penonton. latar.5-50 Apresiasi Bahasa Indonesia Tema drama ini adalah tanpa kerja keras. drama mempunyai karakter khusus. Sebagai sebuah genre sastra. Seorang anak hendaknya berbakti kepada orang tua. F. Jelaskan unsur-unsur drama dalam dimensi sastra! 3. Isteri 2. LATIHAN/SOAL 1. G. dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. Bacalah naskah drama “Orang Terasing “berikut. Sebagai sebuah karya. pementasan. RANGKUMAN Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog. Jelaskan pengertian drama sebagai karya dalam dua dimensi! 2.

dan kau bagaimana?” 3. Padahal aku juga ingin menjelaskan kepada mereka.” Suami : “Tak ada yang lain? Ah. (Membuka suratkabar itu) Surat kabar Anu atau entah apa . 8. Isteri : (Mengharap) “Banyakkah hasil yang kauterima hari ini?” Suami : “Bah. karena udara terlalu lembab. Jangan mengemis. tapi aku tak berani.” Suami : “Terima kasih. Suami : “Ya. 7. Kamu orang baik-baik. Bisakah kau membikinkan api?” 13. 4. Suasana kemiskinanlah yang tampil di situ.” 10. kau terlalu lemah. Isteri : “Oh. Di dalamnya terdapat sebuah dipan dan dua buah kursi yang sudah rusak pula. Istirahatlah. 2. benar. masih ada simpanan untuk besok pagi?” Isteri : “Masih. Isteri : ”Buat apa?” 14. aku orang kecil. Isteri : “(Mengambil lembaran surat kabar yang usang) Ini. pastilah mereka akan tahu … bahwa aku lapar. Apa yang diberikannya? 5. maksudku selain dari roti itu. Dan kalau saja mereka mamu memegangi kemudian merasakan detak darahku. Ini bisa menolong malam nanti kalau kedinginan. seperempat rupiah pun tak dapat. Suami : “Oh. Isteri : “Sepotong roti. Suami : “(Tak memperhatikan) Ada kertas?” 15. supaya jangan membawa anak itu keluar. 9. Tetapi hanya untuknya. Suami : “Bagus. kosong sama sekali.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-51 Panggung menggambarkan sebuah kamar yang reot.” 12.” Suami : “Kalau begitu. Isteri : “Ada seorang wanita muda memberi makan kepada kita.” Isteri : “Ada. Moga-moga Tuhan memberkahinya. Jangan membawa anak itu keluar.” 16. suamiku. Sepotong nasihat. 1.” 11. mereka selalu memberikan nasihat. 6.

” 24.” 19. aku mengharap untuk disuruh apa saja. tetapi siasia. seharusnya aku mati saja. Suami : “Dan aku akan kautinggalkan? Kau tidak akan berbuat semacam … Oh. Isteri : “Jangan dihabiskan. Oh. aku terpaksa menghindari mereka. Mereka yang keluar dengan perasaan bahagia. menghindari mobil. kala itu orang-orang sedang keluar dari gedung pertunjukan.” 20. Dan kesalahankulah waktu firma tempatku bekerja tempo hari itu bangkrut? Karena aku yang terlalu jujur?” 23. ya. Ketika rintik-rintik hujan datang. memberitahukan bahwa kita adalah bangsa yang berbahagia. Ah. Suami : “Jangan kuatir. Semua yang terjadi atas kita ini adalah nasib. memberiku segenggam tembakau sambil berkata. ya. Bagaimana denga Nyonya Sumarti?” . misalnya memanggil becak. Isteri : “Kasihan. Suami : “(Menggeleng) Tidak.” 18.” 21. “ (Menyalakan korek api) 17. Apakah masih ada tembakau di dalam pipaku? Aku jadi ingat seorang polisi yang mengusirku dari trotoar jalan. “Jangan mengemis!” Itu yang kuperoleh hari ini. dan orang-orang kaya itu. atau disuruh membersihkan mobil-mobil mereka. Satu ini pun pasti sudah bisa. Isteri : “Bukan.5-52 Apresiasi Bahasa Indonesia itu namanya. Dengan harapan untuk mendapat uang. Penyakitku itulah yang menyebabkan malapetaka ini. mengeluarkan sepeda motornya. Suami : “(Tak memperhatikan) “Berjam-jam aku berdiri di lapangan. berpuluh orang macam kita hanya bisa memperhatikan saja. Isteri : “Tapi apakah kau mempunyai kesalahan padanya” 22. sambil berkata lapar. Betama menderitanya dirimu. sehingga habis seluruhnya harta kekayaan simpanan kita. membersihkan sepatunya.

” 44.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-53 25.” 28.” (Memperlihatkan dompet) 40. kita diajak belajar membuat bungkus korak api. biar dipakainya tempat ini. Isteri : “Suamiku …” 32. kenapa?” 37. Suami : “Haruskah begitu? Ah. kukira tinggal mengerjakan begitu saja. Nanti kita pasti akan segera bisa mendapat uang setiap harinya. Suami : “Ya. Suami : “Ya … 33. Dan dia malah berbaik kepada kita. Suami : Seratusrupiah seharinya sudah cukup besar buat kita. Isteri : “(Berdiri terduduk) 38. Tapi baiklah. nyetanya tidak ada yang datang. Suami : “Berapa banyak?” 27. dan aku pun yakin bahwa aku pun bisa membuatnya. Isteri : “Sebenarnya dia pun sangat miskin.” 31. seorang bertahun-tahun sekolah. Suami : “Menemukan di jalan?” . Suami : “Ya. Sekarang secara kebetulan sekali ada pekerjaan yang datang.” 30. Isteri : “Suamiku …” 36. karena kita harus mencari bahan sendiri. “ 42.” 29. Suami : “Dompet?” 41. seperti kita. bekerja beberapa tahun pula setelah bertemu dengan kemiskinan. Suami : “Kenapa?” 39.” 26. Isteri : “Ini. Isteri : “Meskipun Cuma seratus rupiah seharinya. kenapa harus kita tolak?” 35. Isteri : “Ya. Isteri : “Sebenarnya tidak seratus persis. Mungkin baru kali ini terjadi padaku. Suami : “Kau …” 43. Isteri :”Aku menemukannya. tetapi dia bilang. dikejar lapar. dan belum pernah satu pekerjaan pun yang kita tolak. Isteri : “Bukankah kita juga sudah berusaha?” 34.

aku bergegas ke setasiun dan berdiri di dekat kios buku sambil menunjukkan gambar-gambar kepada anak-anak kita. Isteri : “Belum. jika ada kesempatan.” 50. . Kemudian datanglah seorang wanita tua membeli surat kabar. dia tak memperhatikan. Isteri : “Kita harus berbuat sesuatu.” 56. kejujuran tidak menolong kita. Isteri : “Waktu hujan turun. Gelangnya emas. Suami : “Aku tidak mengira kalaupada akhirnya kita berbuat begini. Dan aku sendiri pun tak bisa lari cepat karena menggendong anak itu.” 54. ditaruhnya dompet itu di dekat tanganku. Suami : “Apakah yang mendorong dirimu untuk melakukan ini semua?” 53. Suami : “Berapa banyak uang di dalamnya?” 55. Isteri : “Ya. Isteri : “Tidak ada yang mendorongnya. Waktu aku menyentuhnya. Kupikir wanita tua itu pasti tidak akan merasa kehilangan karena ia amat kaya. Suami : “Jalannya bagaimana?” 47.” 48.5-54 Apresiasi Bahasa Indonesia 45. Isteri : “Begitu kira-kira jalannya.” 58. Suami : “Tak seorang pun mengikutimu?” 51. Setelah dia pergi. aku pun pergi dan kemudian sadar aku telah berada di jalanan sambil membawa dompet itu. Suami : “Kau sendiri belum membukanya?” 57. Isteri : “Tidak. Suami : “Dompet itu kaubawa kabur?” 49. Wanita tua itu menaruh dompet di dekat jariku.” 52. aku tak berani. Bagaimana kejadian selanjutnya? Aku sendiri tidak mengerti karena tahu-tahu aku telah berada di jalanan kembali … sambil membawa dompet itu. Isteri : “Aku belum membukanya.” 59.” 46. Waktu mengambil uang di dalam dompet.

dan tak mungkin orang lain akan menemukan kita di sini. Suami : “Tadi kau bilang sudah makan.” 74. Isteri : “Cepat buka. Suami : “Tapi akhirnya kita terbiasa juga. Isteri : “Nanti kita bisa membeli pakaian untuknya. memang mereka menertawakan aku selama ini.” 62.” 66.” 61. kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan. Suami : “Kenapa kau sendiri tak membukanya? 63. Dan uang di dalamnya tak mungkin akan berbicara. Isteri : “Itu jam tiga siang tadi.” 67. Suami : “Ya.” 64. Suami : “Membelikan anak pencuri?” 77. Isteri : “He!” .” 76. tapi yang menjadi beban sekarang adalah anak kita. Suami : “Benar.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-55 cincinnya pun emas. Isteri : “Kita tidak akan kelaparan seperti sekarang. nanti anak kita itu terbangun. dan barangkali apabila pakaianmu lebih sempurna. dan mengapa pula tidak kau …” 75. 68. bagaimana nanti apabila ada orang yang mau memberi kepada kita dengan layak barulah dompet ini kukembalikan kepada pemiliknya. Isteri : “Baru saja terpikir. Isteri : “Dan sebenarnya aku pun malu berjalan di jalan besar memakai pakaian seperti ini.” 69. Isteri : “Kasihan anak itu.” 72. Kau tak akan batuk sepanjang malam. dia merasa lapar. Suami : “Mana api?” (Menerima dan merokok) 71. Kelihatannya berat. Suami : “Ya. berat. Berapa banyak isinya?” 60. Suami : “Ya. Isteri : “Hati-hati.” 70. jangan berteriak keras-keras.” 65.” 73.

kumal.” 97.” 79. kurus. Suami : “Kurang enak didengar.” 85. Isteri : “Kau tolol. Isteri : “Kau memilih dia untuk terus kelaparan?” 100. Suami : “Baru kali inilah aku di dalam hidup takut kepada polisi. Suami : “Ada polisi di jalanan?” 81.” 89. Ayolah kita buka isinya. Suami : “Soalnya anak kita. aku katakan pula bahwa aku belum membukanya. Suami : “Aku sendiri tidak tahu..” 91.” (Ketika akan membuka suami berlari keluar) 83. kenapa kaulakukan itu?” 84. 82. dan tempat kita di petak ini. Suami : “Aku kira bagaimanapun juga memang begitu. Suami : “Di stasiun. Isteri : “Dengan kepicikanmu.” 94. Isteri : “Apakah itu lebih jelek daripada anak jembel seperti ini?” 98. tak ada seorang pun yang peduli. Isteri : “Jangan berprasangka yang bukan-bukan.” 96. Isteri : “Apa katamu kepada mereka?” 88.” 99. Isteri : “Ai . aku tak mau kalau anak kita disebut sebagai anak pencuri. Isteri : “Di mana?” 90. Suami : “kau talah menemukannya. Kita hampir setahun menderita semacam ini. Suami : “Ya. . lapar. Suami : “Aku tidak tahu bagaimana mendengar kejadian-kejadian di atas tadi.5-56 Apresiasi Bahasa Indonesia 78.” 95.” 87.” 93. Isteri : “Aku mengira akan dipakainya uang itu untuk dirinya sendiri. dengan kejujuranmu apakah yang telah kauperoleh salama ini? Kemiskinan dan kelaparan.” 92. tapi ah persetan. Suami : “Adikku. Isteri : “Kau berikan dompet itu kepada polisi?” 86. Suami : “Mungkin juga. Isteri : “Ya … ya … lekas!” 80.

Suami : “Bukan.” 105. dan siapa tahu ini hanya cobaan. Kau katakan juga di mana kita tinggal?” . Isteri : “Kau takut?” 102. Aku pengecut.” 109. 107.” 115. Suami : “Kita punya uang di dalam dompet itu. Tetapi telah kukembalikan karena kejujuranku. yang bisa menyenangkan anakku. Isteri : “Suamiku …” 114.” 103. uang yang telah berada di tangan kita. Isteri : “Aku akan masuk ke liang kubur poengemis. Isteri : “Jangan. Aku sangat mencintaimu… 110. uang yang sangat kita butuhkan … Kau sangat kucintai. seperti yang sudhsudah. bisa meninggalkan kehidupan macam begini. Isteri : “Dalam penggabungan itu mereka akan memisahkan kita. Suami : “Kau maafkan aku kan? Karena aku talah mengembalikan dompet itu? 111. Suami : “(Tak mempedulikan) Aku bisa membeli pakaian. Isteri : “Dengan para pengemis lain?” 106.” 112.” 117. Suami : “Aku tak menginginkan kau dimasukkan ke penjara. Isteri : “Mereka pasti akan memisahkan kita. Mreka memperlakukan aku seperti anjing. tetapi aku. kenapa tidak? Bagaimanapun akhirnya harus kita alamu. Betapa tololnya aku.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-57 101. Suami : “Tapi anak kita pasti mendapat jatah makanan.” 108. mengapa aku harus mempedulikannya? Kalau ini manusia. Isteri : “Benar. Nanti anak kita bangun. Isteri : “Huss. bukan kau yang salah. Suami : “Bagaimana kalau kita menggabung diri. Suami : “Ya. tapi ah. aku yang tolol. Apa artinya semua.” 104.” 113. rupanya karena kelaparan itulah yang menyebabkan aku tak menguasai diri.” 116.

bagaimana kita besok kembali berjalan menyelusuri jalan itu lagi. Suami : “Ya.” . Isteri : “Mati?!” 120. kecuali sekadar makan untuk kita ternyata sia-sia. Isteri : “Sudah lewat sekarang. Dan bagaimana caranya supaya besok kita dapat rejeki ?” 127. tetapi jika kau memanggilnya … mereka selalu menghindar. Itu pikiran jelek. Baiknya kita metunggu saja. Aku tak pernah menginginkan yang lebih bagus. memang. Isteri : “Kita sudah tidak punya kawan lagi.” 128.5-58 Apresiasi Bahasa Indonesia 118. Yah. Andai aku jadi mengambil uang itu … 121. Isteri : “Kau pernah berpikir demikian juga?” 124.” 122.” 130. Suami : “Benar. Isteri : “Kau juga pernah bertemu dengan kawan-kawanmu. 123. Suami : “Aneh. sebaiknya kita berpikir saja. Suami : “Jangan. Isteri : “Apa? Kita berjalan lagi?” 126. karena nanti apabila kita menghadap Tuhan tangan kita bersih. Suami : “Semoga aku besok bertemu dengan seorang kawan yang pernah mengenalku. Tetapi besok pagi aku akans egera menyelusuri kembali jalan-jalan setelah batukku kembali datang. Dan di hadapan-Nya nanti akan aku katakan bahwa orangs ekitar kita tidak mengizinkan kita untuk hidup lebih lama. Suami : “Berpikir demikian? Jangan. agar kematian itu cepat datang … Kenapa tidak sekarang saja mati?” 119. keran sudah tidak ada lagi tempat untuk kita.” 129.” 125. jangan kita bicara soal kematian. Suami : “Benar. Dan aku girang atas tindakanmu.

kau tanpa batuk-batuk. dan juga anak kita. di mana-mana diasingkan. da kandang orang miskin yang sejawat maupun di gedung-gedung mewah milik orang kaya. Isteri : “Jadi engkau tidak mau?” 138. 144. Suami : “Tidak. Suami : “Jangan kau ucapkan itu. . Suami : “Ini usaha kita terakhir. Isteri : “Kau pernah memperhatikan bagaimana mereka mencibirkan cicir terhadap kita yang terlalu jujur? Sekarang kita akan masuk ke sana. Isteri : “Aku tidak mau. Suami : “Beginilah … kemiskinan-kemiskinan. (Suara tangis bayi dari dalam. Isteri : “Nah.” 142. kita akan mati bersama-sama …” 136. di mana kita bisa tidur nyenyak. Mereka tidak mempercayaiku lagi.” 141.” 133. Suami : “”Hai!” (Memegangi tangan isterinya) 135. dan yang lebih utama lagi aku mencintaimu. Si isteri masuk) 145.” 139. Isteri : “Aku sangat gembira. dan Tuhan pasti akan lebih baik daripada orang-orang disekitar kita ini. Suami : “Tidak!” 137. Mereka membenciku. senantiasa aku diusir. biar bunuh aku.” 132. Isteri : “Aku sudah tidak tahan lagi. Meskipun kita telah berantakan. jangan anak isteriku. ibu yang baik. Kalau toh mereka mau membunuh.” 134. Sebaiknya kita bergabung saja dengan teman-teman yang miskin. hingga membuat terkejut keduanya. selama ini aku telah berusaha menjadi isteri yang baik.Apresiasi Bahasa Indonesia 5-59 131. Suami : “Benar. Kita tidak boleh kalah dengan kemiskinan. Tidak kuat. sebaiknya kita mati saja. tetapi aku tidak berpisah dengan kau. Isteri : “Bukankah kau pernah memasukinya?” 140. Di tempat orang kaya diusir dan di tempat orang miskin pengemis yang jujur. Suami : “Bukankah hal ini justru akan lebih baik?” 143.

5-60 Apresiasi Bahasa Indonesia .

Kellet. Suharianto. 1981. E. 2005b. Semarang: Rumah Indonesia. “Pengembangan Kemampuan Membaca Sastra”. Semarang: Rumah Indonesia. dan P. The Apreciation of Literature. Dramaturgi. 1983. 1995. (Ed. Memahami Cerita Rekaan. Rachmat Djoko. Jakarta: Grasindo. Burhan. Bandung: Angkasa. London: The Epwort Press. Jakarta: Pustaka Jaya. Harianto. S. Pengkajian Fiksi. S. Apresiasi Prosa Fiksi. B. 2004. Jakarta: Direktorat PLP. Harymawan. Sudjiman. Sayuti. Yogyakarta: Pengkajian Puisi. A. Baribin. Cerita Rekaan dan Drama. Dasar-Dasar Teori Sastra.). Semarang: IKIP Semarang Press.E. Yogyakarta: Nur Cahaya. Hasanuddin W. Teori Gadjahmada University Press. 1996. Asmara. Yogyakarta: Rahmanto. Apresiasi Drama. S. 1985. 1993. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Kumpulan Drama Remaja. 1999. Panuti. Gadjahmada University Press. Surakarta: Widya Duta. Pengantar Apresiasi Puisi. 1991. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pradopo. Rumadi. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. Raminah. 1998. Jakarta: Proyek Penataran Guru. 2005a.1993. Jakarta: UT. Depdiknas. 1988. Memahami dan Menikmati Cerita Rekaan. 1976. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP. Adhy. Drama: Karya Dua Dimensi. . Suharianto. Suharianto. Nurgiyantoro. Suminto A.S. 1996.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin.

Herman J. 1991. Jakarta: Erlangga. Herman J. Yogyakarta: Hanindito . Teori dan Pengajarannya. 2003. Drama.5-62 Apresiasi Bahasa Indonesia Waluyo. Waluyo. Teori dan Apresiasi Puisi.

BUKU AJAR PEMBELAJARAN INOVATIF .

Strategi instruksional (pembelajaran) merupakan perpaduan dari urutan kegiatan (metode. siswa. dan kondisi setempat. guru perlu menguasai kebijakan kependidikan mikro. Guru berperan mem-bimbing. Berdasarkan paradigma tersebut. pedagogik. mengua-sai kurikulum yang berlaku. cara pengorganisasian materi (urutan). prinsip belajar dan prinsip pembelajaran. dan bertindak mempengaruhi siswa mendidik dirinya sendiri. Di kelas dan di luar kelas. serta menga-nut paham konstruktivisme dalam menyikapi dan pengembangan ilmu penge-tahuan teknologi dan seni. ilmu-ilmu kemanusiaan khusus-nya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. situasi. Tampaknya para ahli sepakat bahwa strategi instruksional berke-naan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional. didaktik. Sebagai guru tentunya Anda mengharapkan agar siswa dapat mengeks-plorasi dunia. mengembang-kan rasa percaya diri. sintakmatik). memfasilitasi. andragogik.PENDAHULUAN Guru merupakan salah satu unsur pendidikan yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Filsafat Pancasila. Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi guru. guru seyogianya dapat menciptakan teori-teori pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. Untuk dapat melakukannya itu secara profesional tentu saja guru dituntut menguasai ilmu mendidik dan mengajar. alat dan . dan selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri. dapat merancang silabus. dapat merancang dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang efektif dan efisien Perlu disadari hakikat strategi pembelajaran berbeda dengan kahikat model pembelajaran. Kinerja kependidikan Indonesia dilandasi filsafat pendidikan. Ilmu-ilmu didik dan mengajar di-bangun di atas paradigma didik yang benar. mengarahkan agar hasil eksplorasi itu bermanfaat bagi dirinya. dapat meran-cang dan melaksanakan pedoman kinerja peran guru di lapangan (di kelas dan di luar kelas) yang sesuai dengan kebutuhan. langkah-langkah. metodik.

kompe-tensi tertentu. dan menyenangkan. mengesankan. “Model” strategi yang sudah dikenal seperti Quantum Teaching. Tujuan yang perlu dicapai suatu strategi adalah standar kompetensi. terjala. Melalui buku ajar ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji . merupakan rancangan yang dapat berlaku umum bagi berbagai bidang studi. alokasi tertentu. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan.6-2 Pembelajaran Inovatif media. bahkan tempat tertentu. tematik. sarana tertentu. sedangkan tujuan yang dicapai model ada-lah kompetensi dasar. menarik. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menje-laskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu. dalam Suparman. Winataputra (2001: 3) menulis bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual (operasional) yang melu-kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman (contoh) bagi para perancang pembelajaran dan para mengajar dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”.. komprehensif. Dalam paparan seterusnya akan jelas terlihat pada contoh-contoh model yang dikemukakan. penulis sependapat bahwa strategi berada dalam tataran konseptual. serta alokasi waktu. portofolio. (huruf miring tambahan penulis) Bila kedua penjelasan teresbut saja dibandingkan. JAIKEM. Tentu saja tataran konseptual ini berdasarkan landasan para-digma didik yang jelas dan taat asas. terpadu. Bahkan Dick dan Carey (1985. Akan tetapi “model pembelajaran” perlu diperhatikan urutan dan langkah-langkah tertentu. dsb. sedangkan model pembelajaran berada dalam tataran operasional. Mata pelatihan pembelajaran inovatif merupakan pelatihan yang meli-batkan Anda dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan lebih efektif. Berbeda dengan hakikat model pembela-jaran yang dapat dikutip sebagai berikut.

dan konteks. dan menyenangkan itu. kreatif. merancang model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk dapat melaksanakan-nya di sekolah secara efektif. dan Menyenangkan). Dengan menguasai materi ajar dalam kurikulum dan silabus. Dengan demi-kian. situasi. Penguasaan konsep pembelajaran inovatif akan sangat membantu Anda dalam mengelola pembelajaran.Pembelajaran Inovatif 6-3 hakikat pembelajaran yang inovatif. Aktif. Dengan buku ajar ini Anda akan dengan mudah memahami hakikat pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif yang dapat dilaksanakan di kelas Anda. pengertian. . inovatif. Dalam bahasan ini akan dikaji rasional. dan tujuan pembela-jaran inovatif serta karakteristik starategi pembelajaran inovatif seperti strategi portofolio. Pemahaman terhadap konsep dan karakteristik strategi dan model terse-but sangat penting bagi guru bahasa Indonesia pada era sekarang yang syarat dengan tuntutan dan arus informasi yang mengglobal. Setelah Anda mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda memiliki standar kompetensi merancang model pembelajaran inovatif bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan strategi JAIKEM atau strategi PORTOFOLIO dengan indi-kator keberhasilan Anda mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. Ino-vatif. setelah mengikuti pelatihan ini Anda akan dapat mencapai standar kom-petensi. Anda dapat merancang strategi dan model-model pembelajaran inovatif yang tepat. Pembelajaran Kuantum (Boby dePorte) dan JAIKEM (Jajaki. penguasaan materi pelajaran dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan prasyarat untuk merancang model pembelajaran inovatif. serta karakteristik siswa tertentu. Efektif. Oleh karena itu. khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. kondisi. Kreatif. karena Anda akan mampu menyiapkan berbagai pengalaman belajar yang sesuai de-ngan bahan ajar.

Rasional Apa yang kita amati di sekolah dan sekitarnya adalah kehambaran proses pembelajaran dan kelemahan hasil pembelajaran sebagai output dan hasil pen-didikan alumni peserta didik sebagai outcome dalam menerapkan pengetahuan. d) Anda dapat menerapkan karakteristik umum dalam model pembelajaran yang Anda rancang. sementara keter-kaiatan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah. b) Anda dapat menjelaskan karakteristik strategi pembelajaran JAIKEM (Jajaki. dan pengamalan yang diperlajari untuk mengatasi per-soalan sehari-hari. sebagian hanya hapalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. Kreatif. mencakup rasional. keterampilan. Efektif. Aktif. g) Anda dapat melakukan evaluasi diri menerapkan kriteria penilaian mengajar URAIAN MATERI 1. dan tujuan. Apa yang diperoleh anak-anak di sekolah. pengertian. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. c) Anda dapat menjelaskan hakikat model pembelajarn inovatif bahasa Indo-nesia. dan Menyenangkan) dan strategi Portofolio. f) Anda dapat merancang Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk disimulasikan.6-4 Pembelajaran Inovatif a) Anda dapat menjelaskan kembali dibutuhkannya penguasaan Strategi dan Model Pembelajaran yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran. sikap. Inovatif. dan antara penge-tahuan dengan pengamalannya belum . Nilai didik yang sangat pendik dalam pembentukan karakter bangsa hampir disebut gagal. e) Anda dapat mengkritisi contoh model-model pembelajaran yang disajikan dan yang tidak disajikan.

arah pembelajaran pada kurikulum 2006 ditekankan pada penguasaan kompetensi. Hakikat Strategi Pembelajaran Strategi instruksional merupakan sistem perpaduan dari urutan kegi-atan cara pengorganisasian materi. bahkan cuma meniru model pembelajaran negara lain. Strategi Pembelajaran. dalam Suparman. 2. karena pembaharuan dan perbaikan kependidikan yang berdimensi karakter bangsa dan superkompleks ini diyakini tidak semudah membangun jalan tol dan memperbaiki gedung bertingkat. pendidik. Penguasaan akan model pembelajaran rupaya perlu ditingkatkan. Buktinya kita masih meng-import dan mengadopsi. dan pemerintah pengelola kependidikan. setiap orang tua. melainkan dunia sumberdaya insani yang membutuhkan berbagai upaya yang tidak ringan. Tataran konseptual ini berdasarkan pendekatan tertentu. alat dan media. serta alokasi waktu. Padahal model pembelajaran adalah milik dan buatan setiap guru yang mengajar. 2001: 165) menyatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponenkomponen umum dalam program instruksional dan prosedur- . Kekayaan model pembelajaran rupanya masih miskin di Indonesia. yang menjadi misi pendidikan nasional belum menyentuh apalagi menjiwai dunia pendidikan tingkat operasional. Diyakini dengan upaya pela-tihan ini mutu kinerja dan tanggungjawab guru makin baik. Dick dan Carey (1985. dan pelatihan inilah tugasnya. a.Pembelajaran Inovatif 6-5 mereka dikuasai. untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Namun kompetensi yang komprehensif. Itulah rasional mengapa model pembelajaran menjadi perhatian utama kita. Oleh karena itu. Tugas guru sekarang adalah meningkatkan mutu kinerja pembelajaran sekaligus meningkatkan mutu hasil pendidikan. dan itulah tugas guru. siswa. Dunia pendidikan bukan dunia bisnis. sumberdaya insani paripurna. Walaupun demikian kiranya dapat dimaklumi.

proses interaksi yang inovatif. Misalnya strategi kuantum. namun berdasar-kan filsafat pendidikan yang sedang berlaku. Strategi merupakan suatu keputusan strategis berdasarkan komponen dan prosedur umum. dikenal pendekatan kuantum. komunikatif. dsb. 1975). maka siswa aktif baik di kelas maupun di luar kelas. untuk peningkatan kompetensi secara efektif. Pendekatan itu aksionatis (menurut Anthony. Oleh karena itu tidak perlu dibantah. dan dalam situasi yang menyenangkan. kontekstual. Strategi portofolio. Jika tidak maka bukan strategi yang dimaksud. siswa perlu aktif proaktif. Demikian juga jika menerapkan Strategi Kuantum.6-6 Pembelajaran Inovatif prosedur utama yang memandu kegiatan untuk mencapai hasil belajar. karakter proses pembelajarannya mengumpulkan doku-men bukti proses dan hasil . kognitif. atomistik. perlu dilakukan. tematik. b. Keputusan-keputusan strategis diten-tukan dalam upaya merancang strategi pembelajaran tertentu menjadi suatu “model strategi”. tidak boleh tidak. Strategi menggambarkan prosedur umum dan jenis kegiatan umum untuk mencapai kompetensi mana saja. mengembangkan berbagai bukti tersebut. holistik. Strategi juga dapat merupakan karakter dasar proses pembelajaran yang menonjol. Berdasarkan paham itu. manasuka. memiliki karakter dasar pembelajaran yang dilakukan bersifat simphonis. misalnya filsafat behaviorisme dan konstruktivisme. Maka strategi bersifat pendekatan. mendoku-mentasikan segala bukti proses dan hasil belajar. jaikem. kegiatan guru dan siswa kreatif. wajib dilakukan kegiatan menjajaki atau biasa dikenal sebagai apersepsi. Jika diputuskan menerapkan strategi Jaikem. bagaimana karakteristiknya. portofolio. pendirian. Strategi tidak berdasarkan standar kompetensi tertentu Suatu strategi berlaku umum dan tidak mempunyai batas waktu. melakukan evaluasi diri wajib dilakukan. Jika diputuskan menerapkan Strategi Portofolio.

2001). karena walaupun ada empat aspek kemahiran berbahasa. 3. Model Pembelajaran Inovatif a. guru juga membimbing mereka bagaimana belajar tentang hal itu. Pertanyaan berikutnya adalah dalam aspek apa atau unsur mana suatu model dinilai inovatif? Nanti akan terlihat pada karakteristik umum suatu model. baik melalui pengetahuan dan keteranpilan yang diperoleh. di-antaranya model-model pencapaian konsep. Oleh karena itu masalahnya adalah bagai-mana guru bertindak mempengaruhi siswa agar dapat mendidik dirinya sendiri. cara berpikir. alias kelompok ragam strategi kognitif. ide.Pembelajaran Inovatif 6-7 belajar. Rasional Pembelajaran Inovatif Model belajar adalah model mengajar (Joyce. menulis. keterampilan. Berbagai model pembelajaran diturunkan berdasarkan paham konstruk-tivisme. Strategi JAIKEM merupakan singkatan dari karakter kegiatan pokok. Salah satu rumpun model yang dikemukakan Joyce (200) adalah ragam pengolahan informasi. atau jalan sendiri. Disebut pendekatan atau strategi pembelajaran integratif. dan membaca. dan nilai. Apabila suatu program itu bergan-tung kepada kompetensi tertentu disebut suatu model pembelajaran. Oleh karena itu dikatakan model pembelajaran. serta mengeks-plorasi dirinya. menyimak. Sesungguhnya keluaran jangka panjang (outcome) yang terpenting sangat boleh jadi (may be) peningkatan kemampuan belajar. Ketika kita membantu siswa memperoleh pengetahuan. 1997. belajar mandiri. berbi-cara. pembelajaran perlu dilakukan tidak terpisah-pisah. . Panen. Begitulah hakikat paham konstruktivisme dalam dimensi pendidikan (Schwandt. Oleh karena itu kegiatan tersebut dinamakan strategi portofolio. dkk. 1994. 2000:6). maupun melalui penga-laman belajar melalui sekolah. dan Suparno.

(7) dampak instruksional dan dampak pengiring. pokok dan subpokok bahasan. (3) sintakmatik. (4) sistem sosial. kelas dan waktu. (5) sistem interaksi. dalam inti penyajian. Untuk itu melalui pembukaan yang tepat siswa perlu terangsang dan siap menyerap informasi. baik yang dilaku-kan guru maupun siswa. (6) sistem pendukung. dan dalam langkah penutup. bahkan sudah menjadi tradisi. (2) tujuan dan asumsi. Biasanya siswa tertarik kepada (3a1) permasalahan. Namun langkah khusus dalam setiap langkah umum itu masih belum disadari benar kebutuhannya. yang terdiri dari nama mata pelajaran. Kelak dapat diketahui apabila kompetensi baru tidak tercapai berarti ada kekeliruan atau kelemahan dalam menetapkan asumsi dan tujuannya. (3a2) mempunyai bayangan awal tentang apa yang akan dipelajari dan (3a3) harapan bahwa kompetensi akan tercapai. Langka-langkah khusus dalam pembu-kaan. (3) Sintakmatik atau langkah-langkah pembelajaran. yaitu (3a) pembukaan. pertemuan ke berapa. Langkah umum suatu model sudah baku. (3b) inti penyajian. dan indikator keberhasilan belajar. Karakristik umum model pembelajaran Setiap model pembelajaran selalu memiliki unsur-unsur (1) identitas mata pelajaran. Oleh karena itu hakikat dan makna pembukaan adalah . dan siap berperan serta dalam proses pembel-ajaran. dan (3c) penutup.6-8 Pembelajaran Inovatif b. Hakikat dan makna pembukaan adalah menciptakan suasana mental siswa agar siswa siap berkonsentrasi dan berminat mengikuti proses pem-belajaran. (2) Tujuan dan asumsinya. standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran perlu bertolak dari dasar kompetensi dan pengetahuan yang sudah dikuasai untuk berubah menjadi kompetensi yang diharapkan. (1) Identitas mata pelajaran. yang mendasari dan menjadi titik tolak perancangan model. sering diabaikan. Asumsi merupakan penjelasan pengetahuan prerekuisit apa yang telah dikuasai dan perubahan yang diinginkan akan dapat tercapai.

(4) Sistem Sosial. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. Apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah hakikat dan fungsinya. men-deskripsikan garis besar lingkup sub-subpokok bahasan. Bagaimana jenis prosesnya. asal tidak monoton apapun dapat dilakukan. (3b4) dilakukannya pelatihan. Kreativitas yang inovatif asal tidak monoton dapat dilakukan. Kegiatan apapun dapat dilakukan apabila dasarnya adalah haki-kat dan fungsinya. Bagaimana jenis prosesnya. dan (3c3) petunjuk tindak lanjut. dan (3b5) pemberian umpan balik. Hakikat dan makna (3c) penutup proses pembelajaran adalah terja-dinya pemantapan kesan akan kompetensi yang baru saja dibahas. serta kiat-kiat interaksinya dapat beragam dan berva-riasi. siswa. guru lain. dan kiat-kiat interaksinya bisa saja beragam dan bervariasi. dalam proses pembukaan perlu dibahas masalah berkenaan dengan topik bahasan. (3b2) memperhatikan prinsip prerekuisit. Bagaimana guru merancang . Kreativitas yang inovatif. tetangga. dan mengingatkan kembali kompetensi yang perlu dicapai. teknik-tekniknya. teknik-tekniknya dan alat dan medianya. (3c2) pemberian umpan balik umum. Dalam proses ini terjadi pengembangan dan pengendapan ilmu pengetahuan atau kete-rampilan dan sikap. serta kiat-kiat interaksinya bisa beragam dan bervariasi. dan ling-kungan keluarga. teknik-teknik-nya dan alat dan medianya. atau disebut juga berbagai unsur lingkungan seperti hubungan guru. dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah. urutan logis bahan ajar misalnya silabus yang sesuai dengan hasil analisis instruksional. Bagaimana jenis prosesnya. (3b3) dilakukan pemberian dan pembahasan contoh.Pembelajaran Inovatif 6-9 menciptakan kesiapan siswa untuk berpartisipasi. lingkungan masyarakat: tokoh masyarakat. Untuk itu dilakukan (3c1) menulis refleksi. Namun persyaratan agar proses transaksi itu terjadi perlu (3b1) memperhatikan prinsip-prinsip dan teori-teori pembelajaran. alat dan medianya. Hakikat dan makna (3b) sajian inti adalah terjadinya transaksi informasi antara informasi lama dan baru dalam diri siswa.

Dalam proses demikian apakah peran guru dan dukungan sekolah. wawancara. Dsb. Tanyajawab. serta berbagai evaluasi diri siswa dikerjakan. anjang sana akademik. media pembelajaran. Misalnya model pembelajaran laboratoris perlu menggunakan laboratorium dan lainnya yang ada di laboratorium itu. dan bagaimana refleksi seharusnya ditulis. (6) Sistem pendukung. Setiap model selalu membutuhkan sarana. Bagaimana pula guru mengundang anak jalanan untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. maupun penutup. Model wisata membutuhkan alat transportasi. Semuanya diatur dalam suatu model tsb. dibahas. dan apa saja dapat dilakukan. (5) Sistem reaksi (interaksi) terjadi baik pada proses pembukaan. dipertanyakan. Misalnya bagaimana kemahiran berbicara yang menerapkan model anjangsana belajar. Dampak pengiring adalah nilai yang me-nunjukkan terbinanya mentalitas. penyajian. Pendukung ini dirancang berdasarkan kebutuhan khusus. berdiskusi. seperti toleransi. dan dijadikan alat pembentukkan dan pembinaan karakter peserta didik. serta bagaimana guru memotivasi agar siswa menyempurnakan catatan dan melakukan belajar mandiri. Yang terakhir dan terpenting dalam proses pendidikan adalah (7) dampak pengiring atau “nurture effect” selain dampak instruk-sional yang telah ditetapkan dan diketahui keberhasilannya melalui proses interaksi dan ulangan atau ujian.6-10 Pembelajaran Inovatif hubungan interaktir ini merupakan prestasi tersendiri. alat. Bagaimana bahan ajar ditampilkan. menghargai pendapat orang lain dalam proses diskusi . atau anak-anak panti asuhan. Bagaimana peran guru dan siswa serta unsur-unsur pendidikan yang terlibat diatur merupakan prestasi guru tersebut. Semua itu dideskripsikan sebagai sistem interaksi. Guru merancang agar siswa melakukan kegiatan belajar dalam menerapkan kemahiran wawancara dengan tokoh masyarakat. tergantung pada teknik dan kiat guru melakukannya. bagaimana umpan balik dan kuis disampaikan untuk menguji pencapaian kompetensi.

Model desain rancangan itu dapat dilihat seperti berikut. Desain Instruksional Model . suatu sistem pemikiran. percaya diri dalam kegiatan evaluasi diri. Struktur pemikiran tentang model dituangkan dalam bentuk desain yang biasa disebut Rancangan Pembelajaran (RP). Hakikat-nya adalah pedoman pelaksanaan praktek mengajar. Suatu model pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan kompetensi (SK-KD) dan isi bahan ajar.Pembelajaran Inovatif 6-11 kelompok. c. Analisis Instruksional kurikulum dalam arti analisis standar isi pendi-dikan. atau KTSP. pengembangan kecermatan dan keteli-tian dalam proses tugas mengedit karya tulis peserta didik setelah dialami-nya proses pembela-jaran dengan penyelenggaraan “model kontes editing”. silabus. pengembangan rasa ingin tahu melalui proses “model anjang sana belajar”. Wujud Model Pembelajaran (c1) Model Kesederhanaan Pembelajaran Pembelajaran (Inovatif) hanyalah istilah suatu “konsep”. Standar Isi kurikulum pendidikan berupa daftar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD). atau apalah namanya. Desain dirancang berdasarkan hasil analisis instruksional kurikulum. kebiasaan mawas diri. atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP).

informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : pikiran. Rancangan hanya memberi peluang kepada guru untuk . sanggahan. contoh c. Menyampaikan persetujuan. uraian konsep f.2. setiap langkah proses. dan penolakan pendapat Indikator Keberhasilan : 1. sanggahan. perasaan. Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar. dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti dan alasan . refleksi b. contoh g. tindak lanjut dialog MODEL: DISKUSI KELOMPOK TEKNIK MEDIA WAKTU OHP Rancangan 5’ Bagi kelompok Penjelasan Diskusi kelompok Laporan hasil Diskusi hasil Penyimpulan Kerja individual menulis refleksi Penugasan OHP Artikel materi diskusi 5’ 25’ 45’ Lembar refleksi 10’ (c2) Bentuk interaksi kreatif dan inovatif di setiap unsur proses Di bagian manakah ciri inovatifnya suatu model? Dalam rancangan diterapkan. Guru terlebih dahulu pada pertemuan sebe-lumnya menyiapkan dan membagikan naskah materi yang akan didiskusikan agar siswa menyiapkan diri membaca naskah itu. umpan balik e. melainkan dalam pro-ses. sanggahan. pelatihan d. Siswa dapat menyampaikan persetujuan. Kompetensi Membahas/melakukan/memberi: a. serta santun Identitas matapelajaran Satuan Acara Pembelajaran Kegiatan: URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL Pembukaan Membahas/mempertanyakan: Penyajian Penutup a. Uraian konsep b. serta santun Subpokok Bahasan : persetujuan. umpan balik c. informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler : 1. dst Membahas/melakukan/memberi: a. Permasalahan/relevansi b. telah dikemukakan lang-kah-langkah (sintakmatik). seperti hanya terlihat langkah terlihat pada dan pada unsur teknik-teknik rancangan yang yang Inovasinya tidak sederhana itu. Siswa dapat membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar.6-12 Pembelajaran Inovatif Bidang Studi Standar Kompetensi Pokok bahasan Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia : Mengemukakan pikiran. perasaan. dan penolakan pendapat . 2. Deskripsi singkat c.

dan Atwi Suparman (2001). Selanjutnya dalam bahan ajar ini disampaikan kutipan jenis model pembelajaran inovatif. 4. Kelompok Model Sosial (The Social Family). Kelompok Model Sistem Perilaku (The Behavioral System Family). yakni: 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family). Udin S.Pembelajaran Inovatif 6-13 menciptakan suasana belajar yang inovatif. proses diskusi (dalam SAP menyam-paikan tujuan/kompetensi. kelompok dan kreativitas contoh guru mengelola tadi). Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori. jalan merasakan adanya . lengkap namun terpilih dari sumber Bruce Joyce (2000). 1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Family) Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memehami dunia dengan cara menggali masalah dan dan mengorganisasikan mengupayakan data. Dibutuhkan kemahiran. Winataputra (2001). Kelompok dan Contoh Model Pembelajaran Inovatif a. Kelompok Model Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar kependidikan di bidang itu. mengamati proses diskusi. 2) 3) 4) Kelompok Model Personal (The Personal Family). memberi petunjuk tentang proses diskusi. kecerdikan. memberi saran bagaimana bergilirannya bicara.

dan sebagian lainnya memu-satkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. . Manusia mengembangkan kepribadian yang unik. Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau selfhood dari individu. serta mengembangkan model dalam bahasa untuk ini mengungkapkannya. menitikberatkan pada Beberapa kelompok dan memberikan ke-pada para guru sejumlah konsep. sebagian lagi pem-bentukan konsep pengetesan hipotesis. Proses pendidikan sengaja diusahakan agar memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik memikul tanggung jawab untuk pendi-dikan. dan melihat dunia dari sudut pandangannya yang juga unik yang meru-pakan hasil dari pengalaman dan kedudukannya. Beberapa model. dan mem-bentuk keluarga secara bersama-sama. sengaja dirancang untuk mem-perkuat kemampuan intelektual umum.6-14 Pembelajaran Inovatif pemecahannya. Secara umum banyak dari model pengolahan informasi ini yang dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia. bekerja. Pengertian umum meru-pakan hasil kesepakatan individu yang harus hidup. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah: Model a) b) c) d) e) f) g) Pencapaian Konsep (Concept Attainment) Berpikir Induktif (Inductive Thinking) Latihan Penelitian (Inquiry Trainging) Pemandu Awal (Advance Organizers) Memorisasi (Memorization) Pengembangan Intelek (Developing Intellect). dan Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry) 2) Kelompok Model Personal (Personal Models) Disadari bahwa kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu.

sinergy dapat memberikan keuntungan. Termasuk ke dalam kelompok ini. dan oleh karena itu pula model-model sosial merupakan bagian penting dari proses pembelajaran secara keseluruhan. a) b) c) Investigasi Kelompok (Group Investigation). 3) Kelompok Model Sosial (Social Models) Diakui bahwa kerjasama merupakan suatu fenomena kehidupan ber-masyarakat. Kelompok model ini meliputi sejumlah model. Namun demikian. hal ini tidaklah berarti bisa dipakai begitu saja. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry). Robert Shavin (1983) telah berkerja sama dengan para guru untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan cooperative rewards atau hadiah yang diberikan atas suatu kerjasama. Hasilnya cukup meyakinkan. 1981). Model ini telah banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakuannya. Kelompok Model Sosial ini dirancang untuk me-manfaatkan fenomena kerjasama. model-model pembelajaran ini a) b) c) d) Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching) Sinektiks (Synectics Model) Latihan Kesadaran (Awareness Training). sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. dan struktur tugas kerja-sama (cooperative task structure) dalam suatu kegiatan kelompok. ternyata belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. Bermain Peran (Role Playing). dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). . Dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan meng-himpun tenaga atau energy secara bersama yang kemudian disebut synergy (Joyce dan Weil: 1986). Yang harus dicatat ialah. seperti berikut.Pembelajaran Inovatif 6-15 Kelompok Model Personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif. David serta Roder Johnson dan kawan-kawan (1974.

seperti Skinner (1953) telah mempelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat memberikan kemudahan terhadap hilangnya rasa takut pada diri seseorang. bagaimana belajar membaca dan menghitung. Dengan berdasar pada konsep bagaimana seseorang memberikan res-pons terhadap tugas dan umpan balik. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development).6-16 Pembelajaran Inovatif d) e) 4) Latihan Laboratoris (Laboratory Training). Oleh karena itu. Kelompok Model Sistem Perilaku (Behavioral System) Dasar teoritik dari kelompok model ini ialah teori-teori belajar sosial atau social learning theories. para ahli psikologis. dan Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry). Model ini dikenal pula sebagai model Modifikasi Perilaku atau Behavioral Modification. belajar Kontrol Diri (Learning Self Control). menghilangkan rasa cemas dan cara santai. Dasar pemikiran dari kelompok model ini ialah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self-correcting communication systems yang memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. sosial dan fisik yang perlu bagi seorang pilot datau astronout. Yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu: a) b) c) d) e) Belajar Tuntas (Mastery Learning). model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi atau overt behavior. Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy. dan mempelajari keterampilan intelektual. dan Sibernetika atau Cybernetics. dan Latihan Asertif (Assertive Training) . dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomuni-kasikan keberhasilan. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). mengembangkan keterampilan kinestetik dan sosial.

Contoh atau eksemplar adalah gambaran atau bentuk nyata dari kon-sep itu. sayur-mayur. Contoh Model Pembelajaran Berikut disampaikan beberapa Model Pembelajaran Pilihan sebagai contoh yang diperkirakan dapat dimanfaatkan di sekolah. Model Latihan Penelitian. contoh atau eksem-plar. b. Namun hakikatnya pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah menengah bahkan. dapat diaplikasikan di tingkat pendidikan dasar 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Model Pencapaian Konsep. . dan kerajaan. Model Pertemuam Kelas. Model Penelitian Sosial. nama. Nama ialah istilah yang dipakai untuk suatu kategori benda. Model Sinektiks. penduduk. ialah gambaran atau bentuk nyata yang tidak sesuai dengan konsep itu. manusia. feno-mena. Contohnya. mahluk hidup. contohnya. dalam batas-batas tertentu. dan nilai dari ciri-ciri terse-but. dan Model Simulasi. Model Kontrol Diri.Pembelajaran Inovatif 6-17 Beberapa model dari semua kelompok model itu dibahas pada uraian bagian selanjutnya untuk diterapkan dalam bidang kajian yang relevan. Model Jurisprudensial Model Latihan Laboratoris. Bukan contoh atau noneksemplar. atau pengalaman. Model Investigasi Kelompok. ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial. 1) MODEL PENCAPAIAN KONSEP Tujuan dan Asumsi Setiap konsep memiliki empat elemen yaitu. pemerintah. Contoh-contoh ini merupakan kutipan dan adaptasi dari sumber yang sudah tersebar secara nasional sebagai materi pelatihan dosen di perguruan tinggi. biana-tang.

dan tempat tinggal yang tetap. tingkat kesejahteraan. adanya anak bukan atribut esensial. atribut esensial dari konsep keluarga ialah adanya orang tua (ayah dan ibu atau salah satu untuk keluarga orang tua tunggal). Sedangkan. Atribut esensial ialah ciri-ciri utama yang memberikan gambaran sosok utuh suatu konsep. Atribut yang tidak esensial ialah ciri-ciri lain yang melengkapi gambaran konsep. Ahmad yang hidup sendirian adalah bukan contoh atau contoh negatif dari konsep keluarga. Misalnya untuk contoh konsep ke-luarga. dan usiaperkawinan merupakan nilai dan atribut keluarga. Ibu abdulleah sebagai ibu rumah tangga. Misalnya. yang sekalipun memiliki anak. semua anak telah membentuk keluarga baru. Tahap Kedua: Mengetes Pencapaian Konsep (1) Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label de-ngan menyatakan ya atau bukan. pendidikan. keadaan rumah. Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri esensial. karena banyak keluarga yang hanya terdiri dari suami dan isteri saja. misalnya keluarga baru.6-18 Pembelajaran Inovatif keluarga Pak Haji Abdullah yang terdiri dari Haji Abdullah sebagai Kepala keluarga. Nilai atribut ialah kualitas dari setiap atribut. Suryadi dan Suryani putra/putrinya sebagai anggota keluarga merupakan contoh atau contoh positif dari konsep Keluarga. . Misalnya. Sintakmatik Model Pencapaian Konsep memiliki tiga tahap kegiatan. yang apabila ciri itu tidak terdapat dalam suatu contoh positif tidak mengurangi makna dari konsep itu. Tahap pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep (1) (2) (3) (4) Pengajar menyajikan contoh yang sudah diberi label. (hal 11) Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan negatif. mata pencaharian. Siswa membuat dan mengetes hipotesis. atau keluarga senior.

Interaksi antar mahasiswa digalakkan oleh peng-ajar. Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis. Bila siswa sudah dapat berpikir semakin kompleks. Prinsip Reaksi (1) (2) (3) (4) Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat diskusidiskusi yang berlangsung. Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep. Pusatkan perhatian para siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik. nama konsep. Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. dan menyatakan kem-bali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. Tahap Ketiga: Menganalisis Strategi Berpikir (1) (2) (3) Siswa mengungkapkan pemikirannya. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan mahasiswa akan lebih memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran.Pembelajaran Inovatif 6-19 (2) Pengajar menegaskan hipotesis. Berikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan duga-an yang satu dari yang lainnya. Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat. namun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. mereka akan dapat bertukar pikiran dan . Berikan bantuan kepada para siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai. Pengajar melakukan pengendalian terhadap aktivitas.

konsep-konsep yang spesifik.6-20 Pembelajaran Inovatif bekerjasama dalam membuat unit-unit data. menuntut metode yang dapat mem-beri kemudahan bagi para siswa untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari contoh-contoh lainnya. Dengan situasi yang penuh teka-teki ini secara alami siswa akan terdorong untuk memecahkan teka-teki itu. toleransi terhadap ketidaktentuan. dan menelitinya dengan cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis. memiliki perhatian besar untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. dan penalaran induksi. memberikan arah khusus sehingga mereka akan dapat mela-kukan eksplorasi itu dengan semangat dan dengan penuh kesungguhan. Yang diharapkan ialah agar siswa dapat mempertanyakan. Umumnya manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. dan kesadaran akan pilihan pandangan. karena itu model latihan penelitian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi. Penguasaan tentang strategi pembentukan konsep. Dampak pengiring model ini adalah kepekaan terhadap penalaran logis. 2) MODEL PELATIHAN PENELITIAN Tujuan dan Asumsi Latihan Penelitian (Inquiry Training) bertolak dari kepercayaan bahwa perkembangan sesorang agar mandiri. Dampak Instruksional dan Pengiring Dampat Instruksional model ini adalah penguasaan akan hakikat konsep. Dengan cara ini diyakini bahwa para mahasiswa dapat menjadi semakin sadar akan proses penelitian yang dilakukannya dan pada saat itu secara . Latihan penelitian dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh pertanyaan. mengapa suatu peristiwa terjadi. Dengan model ini Suchman.

Tahap Ketiga : Mengkaji Data dan Eksperimentasi (1) Mengisolasi variabel yang sesuai . (1) (2) (3) (4) Secara alami siswa akan mencari sesuatu segera setelah dihadapkan pada masalah. Mereka akan menjadi sadar tentang dan bekajar mengenai strategi berpikir yang dimilikinya. Yang paling penting. Memeriksa tampilnya masalah. sifat selalu berkembang dari pengetahuan.Pembelajaran Inovatif 6-21 langsung dapat diajarkan cara melakukan prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung melengkapi strategi yang telah dimilikinya. Sintakmatik Model ini memiliki 5 tahap seperti berikut: (Joyce & Weil 1986: 61) Tahap Pertama: Menghadapkan Masalah (1) (2) Menjelaskan prosedur penelitian Menyajikan situasi yang saling bertentangan atau berbeda Tahap Kedua: Mencari dan Mengkaji Data (1) (2) Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi. demikian menurut Suchman sebagai pengembang model ini. dan menghargai berbagai alternatif penjelasan mengenai sesuatu hal. Pada dasarnya model ini mengikuti teori Suchman sebagai berikut. dan Penelitian yang bersifat kerjasama akan memperkaya proses berpikir dan membantu siswa untuk belajar tentang sifat tentatif dari pengeta-huan. menyajikan kepada siswa suatu sikap bahwa “pengetahuan itu bersifat tentatif” artinya selalu terbuka untuk dikaji secara terus menerus.

Dalam konteks ini pengajar dan siswa seyogyanya berpartisipasi atas dasar persamaan derajat dalam menghadapi suatu ide. tetap diperhatikan bahwa prinsip dan norma yang dikandung dalam model ini ialah kerjasama. Tahap Kelima: Menganalisis Proses Penelitian Dilakukan dengan cara menganalisis strategi penelitian untuk men-dapatkan prosedur yang lebih efektif. Sistem Sosial Model Latihan Penelitian dapat diorganisasikan secara lebih terstruk-tur di mana pengajar mengendalikan keseluruhan proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus ditempuh. Interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. kebebasan intelektual. dan kesamaan derajat. Jika ada butir persoalan yang tidak sahih. Prinsip Pengelolaan / Reaksi (1) (2) (3) (4) Pertanyaan yang diajukan harus diungkapkan dengan jelas sehingga dapat dijawab siswa. Tahap Keempat : Mengorganisasikan. Lingkungan intelektual juga ditan-dai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan. Merumuskan dan Menjelaskan. Dilakukan dengan cara merumuskan cara-cara atau aturan untuk menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya.6-22 Pembelajaran Inovatif (2) Merumuskan hipotesis sebab akibat. Mintalah siswa untuk merumuskan pertanyaan yang kurang tepat. tunjukkan kepada siswa dengan jelas. misalnya dengan cara menunjukkan kepada siswa teori mana yang memerlukan percobaan. Gunakan bahasa yang baik untuk melakukan proses penelitian. Akan tetapi. .

Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah memahami strategi untuk penulisan karya ilmiah. Gordon menitikberatkan kreativitas seba-gai salah satu bagian dari . dan terlatihnya semangat kreatif. otonom dalam berpikir. terlatihnya keterampilan proses. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah materi yang dapat dikonfrontasikan pengajar yang mengerti proses intelektual dan strategi penelitian. Berikan dorongan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan ten-tang teori dan selanjutnya memberikan dukungan untuk melakukan perumusan generalisasi. toleransi yang menantang bagi siswa untuk 3) MODEL SINEKTIKS Tujuan dan Asumsi Gordon dalam Joyce dan Weil (1986: 164-165) mendasarkan model sinektik ini pada empat ide yang menentang pandangan lama tentang kreativitas. Dampak pengiring dari model ini adalah meningkatnya kemandirian.Pembelajaran Inovatif 6-23 (5) (6) Cobalah berikan suasana kebebasan intelektual dengan cara tidak menilai teori yang diajukan siswa. (1) Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Berikan dorongan dan kemudahan bagi siswa untuk melakukan interaksi di antara mereka. Hampir semua orang setiap hari bergulat dengan masalah yang menuntut kreativitas dalam berbagai bidang kehidupan. dan sumber bahan yang mampu memberikan permasa-lahan melakukan penelitian. terhadap ketidakpastian.

(2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. analogi langsung dan konflik yang dipadatkan (Joyce dan Weil. dan memiliki wawasan sosial. Inti dari model sinektiks ialah aktivitas metapora yang meliputi analogi personal. (4) Penemuan yang kreatif dari indifidu dan kelompok pada dasarnya serupa. Pengembangan kreativitas ini dapat dilakukan dalam suasana pendidikan formal. Gordon percaya bahwa seseorang dapat memahami inti proses kreatif dan ia akan dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara bebas sebagai anggota masyarakat. Diya-kini bahwa proses berpikir mencipta dalam kiat atau seni erat sekali hubungannya dengan proses berpikir dalam ilmu. Analogi personal dilakukan oleh para mahasiswa Pada saat mereka meletakan diri . Ia dapat dipaparkan. Kegiatan metaporis ber-tujuan menyajikan perbedaan konseptual antara diri mahasiswa de-ngan obyek yang dihadapi atau meteri yang dipelajari. (3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya. Oleh karena itu model ini dirancang untuk meningkatkan kemam-puan seseorang dalam memecahkan masalah. mengekspresikan sesuatu secara kreatif. Misalnya de-ngan cara meminta mengandaikan sisrem tubuhnya sebagai jaringan transportasi. Di samping itu ditekankan pula makna ide-ide yang dapat diperkuat me-lalui aktivitas yang kreatif dengan cara melihat sesuatu lebih luas. menunjukkan empathy. Indifidu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam bentuk yang serupa. karena ia sangat mungkin untuk melatih seseorang secara lagsung sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya. 1986: 166_168).6-24 Pembelajaran Inovatif pekerjaan dan waktu senggang sehari-hari.

. misalnya” sangat galak atau sangat ramah” Sintakmatik Model sinektiks ini memiliki enam tahap: Tahap pertama: Deskripsi Kondisi saat ini Pengajar meminta mahasiswa untuk memaparkan atau mendiskripsi-kan situasi yang ia amati saat ini. Dalam analogi personal ini terdapat empat tahap: (1) (2) (3) (4) Mendiskripsikan fakta mengenai orang pertama’ Mengidentifikasi orang pertamadengan perasaan. kemudian memilih salah satu untuk diekplorasi lebih jauh.dan Mengidentifikasikan diri pada obyek yang tidak hidup Analogi langsung merupakan perbandingan sederhana antara dua obyek atau konsep. Misalkan dengan cara menggadaikan dirinya sebuah mobil. Tahap kedua: Proses analogi langsung Siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian. dan memilih salah satu. sedangkan yang dimaksud dengan konflik yang di padatkan. Fungsi dari proses ini ialah untuk mentransposekan sesuatu keadaan nyata pada keadaanyang lain dalam rangka memperoleh pandangan baru atau masalah baru. Mengidentifikasi diri pada obyek hidup. kemudian membuat beberapa konflik yang dipa-datkan. Tahap ketiga:Analogi personal Siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan yang dianalo-gikan pada tahap sebelumnya. ialah cara mengkontraskan dua ide dengan memberi label sinkat biasanya dengan hanya dua kata.Pembelajaran Inovatif 6-25 pada obyek yang sedang dibandingkan. Tahap keempat: konflik yang dipadatkan Siswa mengambil apa yang dipaparkan atau didiskripsikan pada tahap kedua dan ketiga.

Sistem Sosial Model ini terstruktur sedang. Perlu diperhatikan agar jangan sampai terjadi analis yang bersifat premature atau terlalu dini atau lahir sebelum waktunya. Pengajar juga membantu mahasiswa untuk mengkonseptualisasikan proses mental. . Tahap keenam: Pengujian kembali tugas awal Pengajar mengarahkan siswa untuk kembali kepada tugas awal atau masalah dan menggunakan analogi yang terakhir atau keseluruhan proses sinektis. di mana pengajar mengambil inisiatif menetapkan urutan dan membimbing mekanisme interaksi belajar. pengajar harus dapat menerima respon siswa agar mereka merasa bahwa dalam kegiatan metaporis itu tidak dicampuri oleh pihak luar dirinya. saat kegiatan metaporis para mahasiswa tetap memi-liki kebebasan dalam diskusi yang tebuka dan tanpa akhir atau open-ended Prinsip Pengelolaan/reaksi Pengajar mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh pola berpikir yang reguler dan ia mencoba untuk menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon. Walaupun demikian. Dalam keseluruhan proses. Ada kalanya pengajar harus menggunakan teknik yang tidak rasional untuk mendorong siswa yang enggan melibatkan diri dalam proses metaporis. keseluruhan proses sinektiks itu akan dapat berjalan sesuai dengan jalan pikiran dan ide yang melatarbelanginya. Dengan demikian.6-26 Pembelajaran Inovatif Tahap kelima: Analogi langsung Siswa mengemukakan dsan memilih analogi langsung yang lain ber-dasarkan pada konflik yang dipadatkan.

Metode terapi yang bersifat tradisional sering tidak realistis sebagai akibat perilaku tidak berfungsi. berupa ruangan yang lebih besaryang memungkinkan terciptnya lingkungan yang kreaktif melalui aktifitas yang bervariasi. untuk mencapai keberhasilan. berdasarkan konsep terapi dalam perubahan peri-laku. 4) MODEL PERTEMUAN KELAS Tujuan dan asumsi Glasser dalam Joyce dan Weil (1986. Kelas yang perlu diperhatikan. Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok. Asumsi yang kedua. sedangkan dampak pengiringnya adalah keutuhan dan produktivitas kelompok. konstruktif. Dalam kelas rasa cinta tercer-min dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki dan harga diri. Diyakini sekolah gagal bukan dalam me-nampilkan profil akademis tetapi dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan. kapasitas kreatif dalam bidang studi.Pembelajaran Inovatif 6-27 Sistem pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini ialah adanya pengajar yang kompeten menjadi pemimpin dalam prosis sinektiks kadang-kala diperlukan pula sejumlah alat dan bahan atau tempat untuk membuat model analogi yang bersifatfisik. Glasser . Dampak instrusional dan pengiring Dampak instrusional model ini adalah siswa memiliki kapasitas ke-kreatifan umum. 205) mengajukan pemikiran bahwa pada umumnya masalah kemanusiaan merupakan kegagalan dari fungsi sosial dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar untuk dicintai dan dihargai.

Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai. siswa membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki Tahap keempat: Mengidentifikasi Pilihan Tindakan (1) (2) Mahasiswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku. Membuat keputusan nilai personal . Tujuan terapi ini ialah meningkatkan kemampuan untuk memenuhi komitmen pada perubahan perilaku. Tahap kedua: Menyajikan masalah untuk didiskusikan (1) (2) (3) (4) Siswa dan atau pengajar membawa isu atau masalah Memaparkan masalah secara utuh. dan memiliki identitas. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap (Joyce danWeil 1986: 210) Tahap pertama. Cara ini juga untuk memenuhi kebu-tuhan emosional orang lain untuk merasa berharga.6-28 Pembelajaran Inovatif mencoba berusaha untuk memper-baiki penampilan dan memenuhi kebutuhan dengan cara membantu orang lain mengenai apa yang nyata. apa yang bertanggung jawab dan mana yang benar. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul Mengidentifikasi norma sosial. Mengidentifikasi nilai yang ada di balaik masalah perilaku dan norma sosial. Membangun iklim keterlibatan (1) (2) Mendorong siswa agar berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri. Mahasiswa bersepakat tentang pilihanya itu Tahap kelima: Membuat komentar secara umum Tahap Keenam: Tindak Lanjut Perilaku Tahap ketiga. dicintai.

Pembelajaran Inovatif 6-29 Setelah periode tertentu. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Perilaku Pengajar dibimbing oleh tiga prinsip: (1) Prinsip melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat. mahasiswa menguji efektivitas dari komit-men dan perilaku baru itu. yakni tanggung jawab untuk membimbing interaksi mela-lui tahap tahap tersebut terletak pada tangan pengajar. Sistem Pendukung Yang diperlukam untuk melaksanakan model ini ialah pengajar yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dalam diskusi. . dan hubungan yang peka antara siswa dan pengajar. (2) Dengan melalui sikap tidak menentukan. Apa yang dikemukakan oleh pengajar pada saat mendengarkan pemaparan kajian nilai. pengajar harus dapat mene-rima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa. personal. Walaupun demikiam diharapkan pula siswa dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi setelah mengalami beberapa aktivitas. Sistem Sosial Model Pertemuan Kelas ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. tidaklah menentukan. Walaupun tanggung jawab ada pada tangan pengajar. (3) Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada. menarik. Kepemimpinan. keputusan moral terletak pada siswa. dan pada saat yang bersamaan ia mampu membimbing kelompok menuju penilaian perilaku komitment dan tindak lanjut dari perilaku itu. Ia juga harus mampu untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak bersifat defensif atau selalu bertahan diri.

Berkenaan dengan hal itu. menurut Joyce danWeil (1986: 228) suasana kelas meru-pakan analogi dari kehidupan masyarakat. yakni standard hidup dan pengaharapan yang tumbuh dalam suasana kelas. dan budaya kelas. 5) MODEL INVESTIGASI KELOMPOK Tujuan dan Asumsi Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehi-dupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. siswa berusaha untuk memelihara cara hidup yang berkembang di situ. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. yang di dalamnya memiliki tata tertib.6-30 Pembelajaran Inovatif Dampak Instruksional dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah pencapaian tujuan dan eva-luasi. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah siswa mempelajari pengetahuan . pengajar seyogianya Model berusaha Pembelajaran untuk menciptakan suasana atau yang Group memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu. serta terbinanya keterbukaan dan keutuhan. Untuk kepentingan praktis model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut. Dalam kerangka itu. sedangkan dampak pengiringnya adalah tercapainya kemandirian dan pengarahan diri. Investigasi Kelompok Investigation mengambil model yang berlaku dalam masyarakat. terutama menganai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serang-kaian kesepakatan sosial.

Masalah itu sendiri dapat timbul dari siswa atau diberikan oleh pengajar. Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama. Tahap Kedua: Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang problematis. Tahap Pertama: Siswa dihadapkan dengan situasi yang problematis. Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. pengetahuan atau knowledge. sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Dalam interaksi ini melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta saling tukar peng-alaman melalui proses saling berargumentasi. Yang dimaksud dengan penelitian ialah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah.Pembelajaran Inovatif 6-31 akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. Hal-hal tersebut merupakan dasar dari model investigasi kelompok. Untuk memecahkan masalah ini. menuntut prosedur dan persyaratan yang sudah tertentu. Sintakmatik Model Investigasi Kelompok ini memiliki enam tahapan kegiatan. Yang dimaksud dengan pengetahuan ialah pengalaman yang tidak dibawa lahir tapi diperoleh oleh individu melalui dan dari pengalamannya secara langsung maupun tidak langsung. Tahap Ketiga: . yaitu penelitian atau inquiry. Dinamika kelom-pok menunjuk pada suasana yang menggambarkan sekelompok individu saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama. dan dinamika belajar kelompok atau dynamics of the learning group.

Pengajar dan siswa memiliki status yang sama menghadapi masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab perta-nyaan. Iklim kelas ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan atau konsensus. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin bertolak dari pengarahan minimal dari pengajar. dan pemberi kritik yang bersahabat. pengajar lebih berperan sebagai konselor. Sistem Sosial Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model ini bersifat demokratis yang ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Tahap Keempat: Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok. konsultan. dan apa .6-32 Pembelajaran Inovatif Siswa merumuskan tugas-tugas belajar atau learning tasks dan mengorga-nisasikannya untuk membangun suatu proses penelitian. (3) Tahap pemaknaan secara perseorangan. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Di dalam kelas yang menerapkan model Investigasi Kelompok. Dengan demikian suasana kelas akan terasa tak begitu terstruktur. Tahap Kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian kelompok itu. Dalam kerangka ini pengajar seyogyanya membimbing dan mengarahkan kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap pemecahan masalah. apa yang menjadi hakikat masalah. Tahap Keenam: Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities. (2) Tahap pengelolaan kelas.

dan komitmen terhadap keberagaman 6) MODEL PENELTIAN JURISPRUDENSIAL Tujuan dan Asumsi Sebagaimana dijelaskan oleh Joyce dan Weil (1986: 260-267) model ini me-miliki sejumlah karakteristik. dan apa yang membe-dakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut (Thelen dalam Joyce dan Weil. menghormati hak asasi manusia. Perpustakaan diusahakan untuk cukup memiliki sumber informasi yang komprehensif dengan alat bantu mengajar atau media yang relatif memadai pula. tercapainya proses dan keteraturan kelompok yang efektif. Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan. Dasar pemikiran model ini . komitmen terhadap penelitian sosial. 1986: 234) Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan mahasiswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok.Pembelajaran Inovatif 6-33 yang menjadi fokus masalah. mempero-leh bagaimana informasi mengorga-nisasikan itu. kemerdekaan sebagai pela-jar. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional misalnya tercapainya kesepakatan atas pandang-an tentang pengetahuan. sedangkan kelompok tahap untuk pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya. informasi apa saja yang diperlukan. sedangkan dam-pak pengiringnya adalah dorasakannya kehangatan dan keterikatan antar-manusia. peningkatan kemampuan meneliti secara disiplin.

pendidikan. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut diperlukan tiga kemampuan. Tahap Pertama: Orientasi terhadap Kasus . setiap warga negara perlu mempunyai kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik mela-kukan kesepakatan dengan orang lain. Lingkup dan tingkat kerumitan dari masing-masing bidang kajian tersebut. (2) Memiliki seperngkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam men-jernihkan dan memecahkan masalah nilai. konflik ideologi atau keagamaan. Yang tepat digunakan sebagai bidang kajian dalam model ini ialah: konflik rasial dan etnis. Sintakmatik Model Jurisprudensial ini memiliki enam tahap (Joyce & Weil 1986: 268). yang pada hakekatnya berkenaan dengan konsep keadilan. dan (3) Menguasai atau memiliki pengetahuan tentang masalah politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya. Setiap warga negar harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengam-bil contoh masalah sosial yang paling tepat.6-34 Pembelajaran Inovatif ialah konsepsi ten-tang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hukum saling bertentangan satu dengan yang lain. keamanan pribadi. kesejahteraan dan keamanan nasional. Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif. (1) Mengenal dengan baik nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada dilingkungan negaranya. hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. tentu saja harus disesuikan dengan tingkat usia dan lingkungan siswa. konflik antargolongan ekonomi kesehatan.

dan kemudian menguji sejumlah situasi yang serupa. . Tahap Keempat: Mengekplorasi contoh-contoh dan pola argumentasi (1) (2) (3) (4) Menetapkan titik di mana terihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang diperoleh. Siswa mensintesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi Siswa memilih suatu isu kebijakan pemerintah untuk didiskusikan. Menjernihkan konflik nilai dengan melakuakn proses analogi. Tahap kelima: Menjernihkan dan menguji Posisi (1) Mahasiswa menyatakan posisinya dan memberikan rasional mengenai posisinya itu.Pembelajaran Inovatif 6-35 (1) (2) (1) (2) (3) (4) Pengajar memperkenalkan bahan-bahan. (2) Mahasiswa meluruskan posisinya. Tahap Keenam: Mengetes Asumsi Faktual yang melatarbelakangi posisi yang diluluskannya. Siswa mengenali fakta yang melatarbelakangi isu dan pertanyaan yang didefinisikan. Kemudian menyatakan edudukannya dalam konflik nilai itu dan dalam hbungannya dengan konsekuensi dari kedudukan itu. Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan konflik nilai. Menetapkan prioritas dengan cara membandingkan nilai yang satu dengan yang lain dan mendemonstrasikan kekurangannya. Tahap Kedua: Mengidentifikasi Isu atau Kasus Tahap Ketiga: Menetapkan Posisi Siswa menimbang-nimbang posisi atau kedudukannya. Pengajar mereviu data yang tersedia. Membuktikan konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari posisi yang dipilih.

keumuman. Sistem Sosial Struktur dari model ini bervariasi mulai dari yang terstruktur rendah sampai pada yang terstruktur ketat. terutama yang terjadi pada tahap keempat dan kelima tidak bersifat evaluatif dan tidak menyetujui atau menyetujui. Secara umum. diharapkan masing-masing akan dapat melakukanya tanpa bantuan dari orang lain. pengajar harus dapat mengantisipasi nilai yang diajukan oleh siswa dan berkenaan dengan hal itu pengajar harus siap untuk menantang dan melacaknya lebih jauh. Seyogyanya . cara memberikan atau pertanyaan mengenai relevansi. pengejar memulai mem-buka tahapan dan bergerak dari tahap ke tahap yang lainnya tergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk setiap tahapan. Peranan pengajar dalam model ini lebih mendekati pada metode dialog gaya Socrates yang memiliki ciri dialektis. Setelah mahasiswa mengalami satu kali proses jurisprudensial. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Reaksi pengajar. reaksi ter-hadap komentar siswa dengan keajegan.6-36 Pembelajaran Inovatif (1) (2) Mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya. Apa yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini hanyalah berupa. kekhususan. Sistem Pendukung Bahan utama yang diperlukan dalam model ini adalah sumbersumber dokumen yang relevan dengan masalah. dan kejelasan secara definitif. Untuk dapat memerankan hal tersebut. Menetapkan konsekuensi yang diperkirakan dan menguji kesahihan faktual dari konsekuensi itu.

Di dalam menerapkan model ini perlu diperhati-kan hal-hal. dinamika kelompok. seperti tingkat usia siswa. terbinanya rasa empati dan wawasan pluralistik.Pembelajaran Inovatif 6-37 disediakan sumber-sumber yang dipublikasikan secara resmi mengenai kasus-kasus yang aktual. memberi dan menerima ban-tuan. dan pengarahan sendiri. atau yang memang sukar diperoleh oleh mahasiswa. penyelesaian konflik. kepemimpinan. dan kemampuan berdialog. komunikasi. khususnya dengan cara memper-oleh umpan balik dari orang lain merupakan tugas belajar atau learning task. Tujuannya ialah untukl mengerti . Dampak Instruksioal dan Pengiring Model dalam Jurisprudensial Dampak ini memiliki dampak adalah instruksional meningkatnya kemampuan mengasumsikan peranan orang lain. umpan balik. dan lingkungan berlajar. Memperoleh wawasan terhadap perilaku dan reaksi seseorang. Atau dapat pula pengajar mengembangkan dengan cara merangkum informasi mengenai kasus-kasus dari berbagai sumber informasi yang sangat langka. kekuasaan dan kontrol. pemahaman lebih luas tentang fakta masalah sosial. Proses interpersonal memusatkan perhatian pada dinamika hubungan antar individu yang berupa hubungan mempengaruhi. Lebih jauh ditegaskan oleh Joyce & Weil (1986: 279-283) bahwa proses intrapersonal memberi tekanan pada tujuan yang akan dicapai yaitu pegetahuan sendiri (selfknowledge). pengiringnya kemampuan untuk berparti-sipasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan sosial. interpersonal. 7) MODEL LATIHAN LARATORIS Tujuan dan Asumsi Model ini bertolak dari konsep T-Group Experience yang menitik-beratkan pada proses intrapersonal.

Yang terakhir. data yang menjadi bahan analisis adalah pengalaman dan umpan balik yang diperoleh mahasiswa pada saat mereka belajar bersama. para anggota kelompok dan pelatih seyogianya melaksanakan peranan sebagai pengamat yang terlibat atau participant observer. situasi yang kurang bertujuan. dan memungkinkan siswa mem-berikan respon terhadap keadaan itu yang pada akhirnya dilakukan dengan pengarahan. Model ini memiliki empat elemen dasar. kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. Tahapan kegi-atan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri. Sintakmatik Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Pertama. orientasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kelompok. Ketiga. seperti diuraikan dalam . Kesemua tujuan iotu akan dicapai dengan cara meningkatkan kesadaran. Kedua. Di sini keka-buran situasi menimbulkan ketegangan. Biasanya Struktur T-Group merupakan struktur yang utama. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk tiap-tiap tahap utama. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini. merubah sikap.6-38 Pembelajaran Inovatif kondisi dan kemudahan atau hambatan terhadap berfungsinya kelompok. menuju perilaku yang baru.

namun masih tetap dalam batas yang dapat ditoleransi. terarah. sikap. dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalamT-Group ini. pengajar sebagai pelatih menjelaskan ahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok. Di dalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka.Pembelajaran Inovatif 6-39 Tabel 3. 5. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama. pemberi contoh. Pemecahan masalah (munculnya keinginnan untuk memanfaatkan waktu lebih baik. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Pelatih. dan sebagai mediator atau perantara. 4. jujur. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok. dan bersifat mendukung. perasaan positif). bersemangat belajar yang tinggi. Tahap Ketergantungan Hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok 1. Di sini. penghargaan terhadap pelatih. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan dan keterlibatan lebih banyak. Kontra ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan.Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin) 2. Saling ketergantungan. dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri.14 TAHAP PENGEMBANGAN T-GROUP I. 3. evaluasi keterlibatan. Peduli terhadap orang lain dan kerjasama mengatasi masalah umum. mau dan mampu memberi dan menerima umopan balik. . sadar akan tanggapan terhadap orang lain) Sistem Sosial Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan. munculnya dua kelompok yang berbeda keinginan). Pemikatan (solidaritas kelompok. rasa percaya dan kerjasama. struktur tidaklah tampak.) II. yakni sebagai: pengamat yang terlibat. pengenalan terhadap bermacam-macam. anggota kelompok. serta rasa takut diserang) 6.

dan Penggunaan fakta sebagai bukti. kemampuan bersepakat dan ekspresi diri. . luasnya wawasan atas perilaku interpersonal.6-40 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana pendukung yang diperlukan dan paling utama ialah penga-jar/pelatih yang berpengalaman dalam model ini. 8) MODEL PENELITIAN SOSIAL Tujuan dan Asumsi Menurut Massialas dan Cox dalam Joyce dan Weil (1986: 294) suasana kelas yang bersifat reflektif memiliki tiga karakteristik utama : (1) (2) (3) Aspek sosial kelas dan keterbukaan dalam diskusi. toleran terhadap kebi-nekaan. sedang-kan dampak pengiringnya adalah kemampuan beradaptasi terhadap peru-bahan. dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis. (2) (3) Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian. dan lapang dada atas hakikat afektif dari respon manusia. Sintakmatik Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut: (1) Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terha-dap masalah dan dapat merumuskannya yang akan menjadi pusat penelitian. situasi kelas. Model ini dapat dilaksana-kan dalam situasi kelembagaan. Dampak Instruksioal dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional adalah tercapainya kemam-puan mengatasi perubahan. Penekanan pada hipotesis sebagai fokus utama.

pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang bertugas membentu siswa untuk menjernihkan kedudukannya. objektif. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam keseluruhan tahap. Pengajar ber-tugas membantu siswa dalam penggunaan bahasa yang jelas. dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. konselor. Siswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemam-puan dalam penelitian. Sistem Sosial Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. pengarah. mem-perbaiki proses belajar membuat dan melaksanakan rencana.Pembelajaran Inovatif 6-41 (4) Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian. logika yang nalar. Pengajar meng-ambil inisiatif untuk meneliti dan memandu siswa dari tahap lainnya. pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif yang membantu siswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. . yaitu pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang lebih luas. pengertian tentang asumsi. (5) (6) Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis. Merumuskan generalisasi. Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih. dan ia harus memikul tanggung jawab untuk meng-ikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir. dan instruktur. Akibat dari tugas tersebut.

Orang yang membangun hubungan konti-ngensi antara stimulus dan respon ini harus menydari akan adanya respon yang memang diinginkan dan tidak diinginkan. Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. sumber kepustakaan yang tak terbatas. dan tindakan sosial. Ling-kungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik. dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. Pengelolaal ketergantungan pada atau contingency management yang menjadi inti dari model Kontrol Diri. 9) MODEL KONTROL DIRI Tujuan dan Asumsi Pada teoretisi perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan pengu-atan. dan komitmen terhadap peningkatan mutu sumber daya. sedangkan efek pengiringnya penghargaan terhadap hak asasi manusia. merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pad saat-saat tertentu setelah munculnya respon. pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam meng-atasi masalah kehidupan. Di samping itu juga harus . Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal adalah penjagaan terhadap permasalahan sosial. Kondisi ini disebut Contingent atau tergantung pada.6-42 Pembelajaran Inovatif Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama. Ciri yang paling esensial ialah hubungn antara respon dan stimulus yang diberi penguatan.

seperti rasa takut atau rasa cemas. Tujuan utama dari program pengelolaan kontinginsi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku ke dalam situasi yang lain. Sintakmatik Model ini memiliki lima tahap (Joyce & Weil 1986: 347) seperti berikut: Tahap Pertama: Perumusan Perilaku Akhir . dan aktivitas. seperti dengan tersenyum. Dalam prinsip ini diharapkan dapat diberi penguatan yang terlibat peranan reinforces yaitu yang dapat mempertinggi respon. Model ini terutama. dan sebagai model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keteramplan yang baru. Penguatan dianggap negatif bila yang diberi-kan itu mengurangi suasana yang ada. Termasuk dalam tujuan ini adalah kelanggengan atau “durability” dari perilaku. dan melahirkan respon. Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak belakang dari prinsip Operant Conditioning. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau maladaptive behavior. sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis. keterampilan sosial. sosial. Penguatan dapat bersifat material. Penguatan positif ialah tanggapan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana. dan keterampilan mengelola diri.Pembelajaran Inovatif 6-43 disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting. atau mengacungkan ibu jari. Respon yang positif maupun negatif. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik di bawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan.

dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu. Tahap Ketiga: Merumuskan Kontingensi (1) Membuat keputusan mengenai lingkungan. Tahap Kelima: Mengevaluasi Program (1) Mengukur respon yang diharapkan. Tahap Keempat: Melembagakan Program (1) Menata lingkungan. (2) Membangun kembali kondisi yang lama. Pengajar berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. (3) Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir.6-44 Pembelajaran Inovatif (1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan. (3) Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan. Demikian juga dalam pola dan jadwal pemberian . mengukur dan mengembali-kan para program kontingensi. Sistem Sosial Sistem sosial yang perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur. (3) Mengembangkan rencana untuk mengukur dan mencatat perilaku Tahap Kedua: Mengkaji Perilaku Mengamati. (2) Memberikan pengantar bagi mahasiswa. (2) Memilih sarana penguat atau reinforces dan pola pemberian penguatan. hakikat dan konteks dari perilaku itu. (2) Merumuskan secara khusus perilaku akhir. dalam arti sam-bil berjalan dapat ditumbuhkan.

respons emosional. perilaku dan keterampilan sosial.Pembelajaran Inovatif 6-45 penguatan. dan tetap ajeg. Per-bedaannnya. perilaku dan keterampilan personal. mahasiswa. sabar. Hal ini dapat dilakukan secara fisik. seperti dengan mematikan televisi sedang-kan perilaku yang diinginkan seyogyanya . dalm model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan. Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini. pengajar dapat melakukan kesempatan dengan Prinsip Pengelolaan/Reaksi Prinsip pengelolaan atau reaksi pengajar terhadap mahasiswa di da-sarkan pada prinsip “operant conditioning” dan pengelolaan kontingensi. Pengajar yang mengem-bangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat. Sedang program yang bersifat kompleks. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi ke situasi. dikuatkan. terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak Instruksioal model ini adalah pengetahuan dan keterampilan akademik. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memer-lukan sarana pendukung. memer-lukan perencanaan dan alat yang lebih memadai. perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. Secara umum. keterampilan pengelolaan diri.

(2) Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri. dan memberikan respon yang menantang. Tahap Kedua: membangun landasan Berpijak (1) Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus. (2) Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. Tahap Keempat: Memantau dan Memperbaiki Program (1) Melibatkan mahasiswa dalam program. (3) Melakuakn pengukuran. Sintakmatik Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce & Weil 1986: 363) Tahap Pertama: Memperkenalkan Prinsip Perilaku (1) Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan. (2) Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. mencatat kendali rangsangan. Dalam membang-kitkan rangsangan. Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model Kontrol diri ini. (2) Melakukan pertemuan periodik dengan guru/pelatih untuk mereviu kemajuan dan memperbaiki program. dapat digunakan respon yang saling berbeda atau bertentangan dengan peikiran. dan (4) Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan. jika memang diperlukan. memberi pe-nguatan. Tahap Ketiga: Menyusun Program Kontrol Diri (1) Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat. . (3) Membangun kemauan untuk berpartisipasi. (3) Membuat program tertulis.6-46 Pembelajaran Inovatif yang sedang ditonton.

mengurangi perilaku yang salah. (3) menjamin tersusunnya rencana yang realistik. Dampak Instruksioal dan Pengiring Dampak instruksional model ini adalah meningkatkan perilaku sa-saran. sebagian lagi secara bersama. mungkin sebagian dilaku-kan secata mandiri. Berkembangnya harga diri dan keyakinan. . pada akhirnya mehasiswa yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan. dapat dikemukakan bahwa pengajar seyogyanya: (1) memberi semangat kepada mahasiswa. (4) membantu mahasiswa dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu. rasa rendah diri dan kendala lingkungan seseorang. Yang harus dicatat. Walaupun pengajar memiliki peranan dalam mengambil inisiatif. Secara terinci. Dampak pengi-ringnya adalah berkembangnya kesadaran tentang kontrol diri.Pembelajaran Inovatif 6-47 Sistem Sosial Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. dan memiliki pandangan perilaku. Dari kegiatan-kegiatan itu. dan menguasai metode untuk mem-bangun kontrol diri. (2) menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan. Sistem Pendukung Model ini tidak menuntut sarana pendukung yang sangat khusus. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini pengajar memiliki peranan yang menentukan dalam keseluruhan program. ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan pengajar dan siswa.

Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia memiliki pola gerakan seperti berpikir. Bertolak dari prinsip itu. Para ahli psikologi sibernetika membuat analogi antara manusia dengan mesin dan mengkonseptualisasi-kan siswa sebagai sistem umpan balik yang mengatur dan mengontrol sendiri. . individu memodifikasi perilakunya sesuai dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Gerakan dan perilakunya itu disesuaikan dengan umpan balik yang diterima dari lingkungannya. Model Simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang diana-logikan dengan proses sibernetika itu. Sintakmatik Model ini memiliki tahap sebagai berikut (Joyce dan Weil 1986: 378). Tahap Pertama : Orientasi (1) Menyajikan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. dalam proses simulasi itu dilakukan dengan meng-gunakan simulator.6-48 Pembelajaran Inovatif 10) MODEL SIMULASI Tujuan dan Asumsi Simulasi sebagai model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan. Para ahli psikologi sibernetika ini menafsirkan manusia sebagai sistem kendali yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan sendiri melalui mekanisme umpan balik. dan berperilaku nyata. berperilaku simbolik. Dalam suatu situasi yang khusus. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan gerakan sensorinya menjadi dasar dari penerimaan umpan balik itu. Misalnya. Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dan gerakannya yang dianggap kompleks sengaja dikontrol.

Tahap Ketiga: Proses simulasi (1) (2) (3) (4) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. Menghubungkan prose simulasi dengan isi pelajaran. model ini . bentuk keputusan yang harus dibuat. Tahap Kedua: Latihan Bagi Peserta (1) Membuat skenario yang berisi aturan.Pembelajaran Inovatif 6-49 (2) (3) Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan. pencatatan. Memberikan rinkasan mengenai kesulitan-kesuliatan dan wawasan para peserta. langkah. dan tujuan yang akan dicapai. Tahap keempat: Pemantapan atau Debriefeing (1) (2) (3) (4) (5) (6) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. Mencoba secara singkat suatu episode. Menilai dan merancang kembali simulasi. Menganalisis proses. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. Sistem Sosial Di dalam simulasi pengajar harus dengan sengaja memilih jenis ke-giatan dan mengatur mahasiswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi. Karena itu. Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional Melanjutkan permainan/simulasi. peranan. (2) (3) Menugaskan para pemeran dalam simulasi. Memperoleh umpoan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terha-dap performan si pemeran.

kesadaran tentang efektivitas. Dampak pengiring nya adalah berpikir kritis dalam mengambil keputusan. dan berani mengha-dapi konsekuensi. mulai dari yang paling sederhana dan murah. Dampak Instruksional dan Pengiring Model ini memiliki dampak instruksional model ini adalah memiliki keterampilan dan penguasaan konsep. Sistem Pendukung Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi. pengajar bertugas untuk lebih dulu mendorong pengertian dan penafsiran para mahasiswa terhadap isi dan makna dari simulasi itu. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari mahasiswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini. empati. Dalam hal ini. ke yang paling kompleks dan mahal. pengajar bertugas dan ber-tanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjuk-kan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. dan mengetahui pengetahui pengeta-huan tentang politik dan sistem ekonomi. tentu sangat murah. Misalnya bila saran yang digunakan berupa simulator elektronik. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah kelereng atau kartu. berkembangnya kesa-daran dan kesempatan. tentu hal ini memerlukan biaya yang besar. pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator.6-50 Pembelajaran Inovatif termasuk model yang terstruktur. Prinsip Pengelolaan/Reaksi Dalam model ini. . Namun demikian kerjasama antar peserta sangat diperhatikan. Dalam keselutuhan proses simulasi.

sebagian dari model-model itu dapat dipakai dalam rangka proses pembelajaran dengan menyesuaikannya terhadap konteks pembelajaran. Pada bagian ini akan disajikan model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum dan tidak secara khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu. dan sebagian dapat dipakai dalam rangka pertemuan di luar proses situasi . Artinya. yag bertolak dari teori psikologi tertentu.Pembelajaran Inovatif 6-51 Beberapa Model Pembelajaran Yang Bersifat Umum Model pembelajaran yang disajikan pada bagian sebelumnya meru-pakan kerangka konseptual dan operasional pengelolaan proses belajar. Selain itu model ini modelmodel diskusi kelompok berlaku secara umum. Ada dua kelompok model yang dapat kita kaji: (1) Model Pengorganisasian Pertemuan dapat digunakan baik dalam situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interaksi pembelajaran formal. khusus disampaikan model pembalajaran diskusi kelompok saja. Kedua kelompok model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Model-model Pengorganisasian Pertemuan Model-model Pengorganisasian Pertemuan dikembangkan oleh Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) seperti digam-barkan sebagai berikut. Model ini ternyata lebih efektif dan efisien dalam proses kognitif dan keterampilan berbicara dalam belajar bahasa Indonesia di berbagai tingkat. (2) Model Diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam interaksi pembelajaran kelompok secara bervariasi. dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model-model Diskusi kelompok Dalam bagian ini. Dengan demikiam model tersebut akan dapat digunakan lebih bebas.

Khusus untuk suasana pendidikan formal yang menitikberatkan pada proses pembelajaran. (4) Biasanya digunakan sebagai langkah awal membuat keputusan atau memecahkan masalah. (1) Jumlah anggota kelompok bersifat luwes. . (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan tingkat kerumitan kasuis. (2) Tidak memerlukan pemimpinan yang penuh. (6) Ide-ide yang muncul tidak diberi kritik atau tanggapan. Center for Advancement of Teaching Macquarie University (1978) mengembangkan 13 model dengan masing-masing karakteristik sebagai berikut: (a) Model Kelompok Curah Pendapat atau Brainstorming Group yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok yang terdiri dari 3-12 peserta. (3) Waktu pertemuan berkisar dari pertemuan singkat beberapa menit sampai pertemuan panjang beberapa jam. (3) Para peserta dihadapkan kepada suasana problematik. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (c) Model Case Study atau Studi kasus. (5) Para peserta diminta untuk mengemukakan ide sebanyak mungkin dalam waktu yang berkelanjutan menuju pemecahan masalah. (5) Kelompok mendiskusikan secara singkat masalah tertentu. (4) Biasanya digunakan sebagai strategi dalam kelompok. (3) Waktu pertemuan berkisar antara 2-15 menit. (2) Tidak memerlukan pimpinan penuh. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 2-6 peserta.6-52 Pembelajaran Inovatif pendidikan formal. (b) Model Buzz Group tau kelompok Bebas.

(f) Model Horse Shoe group atau kelompok Tapal Kuda. (e) Model Free Group Discussion atau Diskusi Kelompok Bebas. (d) Model Crosses-Over atau Kelompok Silang Pendapat. (3) Topik dan arah diskusi dikendalikan oleh peserta sendiri. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri 4-12 peserta. . didefinisikan dan didiskusikan secara singkat dalam kelompok. (5) Orang tersebut selanjutnya menyumbangkan berbagai ide dan pengalaman dalam kelompok baru itu. (4) Salah seorang dari setiap kelompok pada saaat tertentu berpindak ke kelompok lain. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok disusun dengan membentuk tapal kuda menghadap Tutor/Guru. (3) Topik diskusi. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok besar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang besar-nya sebanyak akar (√) dari jumlah keseluruhan.Pembelajaran Inovatif 6-53 (4) Para peserta dituntut untuk berbagai evaluasi terhadap kasus dan memberi jalan melakukan tindakan. (2) Waktu pertemuan disesuaikan dengan jam pertemuan yang tersedia. (6) Prosedur perpindahan anggota berlangsung sampai di dalam kelompok itu hanya tinggal seorang anggota yang asli. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit dan berlangsung beberapa kali. (2) Waktu pertemuan bervariasi namun tetap konsisten dengan waktu yang tersedia bagi kelompok besar.

yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 5-15 orang. (g) Model Problem-Centered Group atau kelompok Terpusat pada Masalah. (3) Para peserta mencoba sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana yang interaktif. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan lama pertemuan yang tersedia.6-54 Pembelajaran Inovatif (3) Biasanya digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan peserta dalam kelas besar. . yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 4-12 orang. (2) Waktu pertemuan sesuai dengan yang tersedia. (3) Para peserta dihadapkan kepada tugas dan pekerjaan untuk memenuhi sesuatu atau memecahkan masalah. (3) Membahas makalah yang disajikan. (j) Model Simulation atau Simulasi. (4) Bentuk Tapal Kuda dapat dipakai dalam model ini. (4) Penyaji makalah dipilih dari anggota kelompok. (2) Waktu pertemuan lebih dari 45 menit. (2) Waktu pertemuan bervariasi sesuai dengan peran yang harus dimainkan. (4) Para peserta dapat mempersiapkan laporan dengan menggu-nakan media visual seperti transparansi. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok bervariasi. (h) Model Role Play atau Bermain Peran. (i) Model Seminar Group atau Kelompok Seminar.

(3) Diskusi digunakan untuk Kekuatan sebagai berikut. (3) Setiap kelompok diberi atau memilih suatu tugas. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Kelompok terdiri dari 3-15 orang. (2) Waktu pertemuan 45 menit atau lebih. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Jumlah anggota kelompok fleksibel tapi tidak lebih dari 6 orang. 1. (4) Setiap kelompok diminta mencari informasi yang relevan dan membuat laporan bersama untuk ditanggapi kelompok lain. (m) Model Tutorial atau Bimbingan Belajar. (k) Model Syndicate Group atau Kelompok Sindikat. dan keuntungan model diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat menengah dapat disampaikan . (3) Teknik kelompok Terapetik digunakan di mana individu dalam setiap kelompok mendiskusikan dan menganalisis hubungannya satu dengan yang lain. Berbahasa adalah berbicara. (2) Waktu pertemuan bervariasi mulai dari hanya 1 jam. Sesuai dengan hakikat belajar bahasa. berlangsung beberapa bulan atau lebih. Orang yang pandai berbahasa artinya orang yang pandai berbicara. yang memiliki ciri-ciri : (1) Kelompok terdiri dari 7-14 orang.Pembelajaran Inovatif 6-55 (3) Para peserta dihadapkan kepada model kehidupan nyata. (2) Waktu pertemuan biasanya beberapa jam perhari untuk bebe-rapa minggu. (4) Para peserta diminta mengandalkan peran tertentu dan bertindak sesuai dengan aturan tertentu. (l) Model T-Group atau Kelompok T.

meningkatnya kecerdasan. Pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai mendengarkan. membaca. bicara. . 2. 3. dan menyimak tidak biasa disebut pandai berbahasa. mencocokan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Artinya seorang pembicara yang baik seharusnya juga pandai menyimak. menulis yang diperlukan sebagai catatan untuk dibicarakan. Kema-hiran berpikir penyimak dikembangkan. Oleh karena itu model diskusi kelompok merupa-kan pembelajaran bahasa terintegratif. Aspek pendidikan nilai dalam diskusi kelompok dapat dikembangkan. sikap toleran bila ada penda-pat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Berbicara dengan kontrol diri. memilah. Pembicara perlu menahan diri bila aspek emosi terusik. memilih. Penyimak Pembicara perlu perlu memperhatikan memperhatikan bersabar pembicaraan peserta diskusi lain. menghargai pendapat orang lain. meng-hargai pemikiran dan pendapat penutur lain. yang relevan dengan kebutuhannya. Dalam proses diskusi setiap peserta berperan juga sebagai pendengar bah-kan penyimak. membedakan. toleransi. Pelatihan berdiskusi dalam pembelajaran bahasa dimulai dengan membaca sumber bahan yang akan didiskusikan. Simpulan: Nilai didik yang dapat dikembangkan melalui model diskusi kelompok itu adalah kesantunan. demokratis. Pembicara perlu menahan diri untuk tidak melakukan kasantunan monopoli bicara. 5. bahkan menulis teks bahan berbicara. membandingkan. 4. yang penting. dan terlatihnya pembelajaran bahasa yang terintegratif. Sambil berbicara pembicara dalam diskusi perlu penyimak respons pendengar lain.6-56 Pembelajaran Inovatif Pandai menu-lis. Penyimak terus menerus berpikir untuk menyaring informasi yang manarik perhatiannya. terlaihnya kemampuan menahan diri. kareka penyimak mencoba mela-kukan analisis: menghubungkan.

sumber yang telah disiapkan siswa Transparensi dan pelengkapnya 10’ dan 5’ : 3-4 Uraian Materi Media Waktu Kegiatan Inti Catatan hasil 15’ persiapan. Membahas program diskusi kelompok tentang tokoh penting dan mendiskusikan kriteria penilaian berbicara. b. santun. dan empatik d. Membahas proses kegiatan yang terinci d. Berlatih praktek sampai kompetensi ujaran. pengorganisasian kelompok e. intonasi. Pandai bicara dapat meningkatk an kesejahtera an c. Diperlukan penguasan bahan pembicaraan. alat perekam 15’ Instrumen/kriteria 15’ penilaian evaluasi diri 15’ 15’ 15’ 15’ . santun verbal dan nonverbal. Sumber : Tokoh-tokoh yang mengubah dunia Waktu : 2 x 2 x 45” Pertemuan Langkahlangkah Pendahuluan a.Pembelajaran Inovatif 6-57 Contoh Model Pembelajaran Diskusi Kelompok Standar Kompetensi 10 : Berbicara: mengungkapkan pikiran. intonasi. informasi dan pengalaman melalui kegiatan membaca dan menanggapi cerita Kompetensi Dasar : Menceritakan tokoh idola para penemu ilmu pengetahuan dengan mengemukakan identitas dan keungulan tokoh dan alasan mengidolakannya. Dilakukan proses diskusi sesuai Rancangan. Mengecek persiapan yang telah dirancang pada pertemujan sebelumnya. sikap demokratis. toleran. toleran. Membahas tujuan. kepribadian demokratis. Laporannya bentuk tertulis b. perasan. keteram-pilan ujaran. Membahas pengelompokan. dan empatik ter-capai dengan baik dilakukan secara spontan Hari pertama: a. tata dan norma berdskusi Hari kedua: c.

Tindak lanjut untuk memperluas wawasan e.6-58 Pembelajaran Inovatif topik f. Menulis refleksi Penutup a. Kesan-kesan dan kritik atas proses kegiatan b. Dilakukan diskusi simpulan hasil diskusi h. Evaluasi oleh anggota kelompok lain l. Simpulan karakteristik tokoh pada umumnya d. Informasi baru tentang tokohtokoh c. Tanggapan terhadap laporan kelompok k. Menulis refleksi 15’ 10’ Lembar simpulan 15 dan lembar refleksi . Dilakukan pengamatan evaluatif dan umpan g. Evaluasi diri setiap anggota kelompok i. Melaporkan hasil diskusi kelompok j.

BUKU AJAR PENILAIAN PEMBELAJARAN .

C. A. pahamilah. B. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Anda tengah memasuki wilayah bahan ajar pelatihan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Ranah penilaian kelas . Konsep dasar penilaian kelas 2. Fungsi penilaian kelas 4. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan konsep dasar dan prinsip penilaian kelasl. dan praktikanlah. 1) Memaparkan konsep dasar penilaian kelas 2) Memaparkan manfaat penilaian kelas 3) Memaparkan fungsi penilaian kelas 4) Memaparkan kriteria penilaian kelas 5) Memaparkan prinsip-prinsip penilaian kelas 6) Menjelaskan ranah penilaian kelas 7) Menjelaskan tata cara pelaksanaan penilaian kelas.BAB I. KONSEP DASAR DAN PRINSIP PENILAIAN KELAS Selamat datang. Kriteria penilaian kelas 5. Bacalah. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. Manfaat penilaian kelas 3. 1. Prinsip-prinsip penilaian kelas 6.

Untuk itu. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. pengolahan. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan perencanaan. Oleh sebab itu. D. Dari proses ini. diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi. penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum kompetensi. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan dinilai. dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Konsep Dasar Penilaian Kelas Pada kurikulum baru (KTSP) penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian kelas.7-2 Penilaian Pembelajaran 7. Pelaksanaan penilaian kelas. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan. . informasi penyusunan sejumlah alat penilaian. 1. Jadi. diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. yang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis melalui bukti menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik.

tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. Penilaian hasil belajar. dan kelemahannya dalam proses pencapaian . peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru. e. Manfaat Penilaian Kelas Pelaksanaan penilaian kelas tgerdapat beberapa manfaat yang dapat diambil. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode. Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. dan sumber belajar yang digunakan. seperti penilaian unjuk kerja (performance). Dengan demikian. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan kompetensi. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. kegiatan.Penilaian Pembelajaran 7-3 dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. dan penilaian diri. b. penilaian tertulis (paper and pencil test). baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara. penilaian produk. d. pendekatan. penilaian sikap. Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut: a. 2. penilaian proyek. c. penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio). tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya.

b. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan. e. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik. Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut: a. c. membuat keputusan tentang langkah berikutnya. Kriteria Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki kriteria sebagai dasar acuan kualitas. baik untuk pemilihan program.7-4 Penilaian Pembelajaran f. Keenam kriteria itu dipaparkan sebagai berikut. a. pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan). Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya. 4. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbagkan konsep penilaian kelas yang baik digunakan 3. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan. Fungsi Penilaian Kelas Penilain kelas memiliki beberapa fungsi. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya. Validitas Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. . d.

pengambilan keputusan dalam kelompok. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Objektivitas Penilaian dikatakan objektif kalau penilaian itu menilaia apa yang seharusnya dinilai. . e. c. penilaian harus adil. Untuk itu.Penilaian Pembelajaran 7-5 Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur. dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor. toleransi. Misalnya guru menilai dengan proyek kelas IX semester 2 untuk kompetensi dasar mempraktikkan perencanaan dasar-dasar kegiatan menjelajah alam bebas serta nilai kerja sama. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Terfokus pada kompetensi Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi. guru ingin menilai kompetensi dasar kelas IX semester 2: Memahami berbagai bahaya bencana alam. penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan). Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas. berkesinambungan. terencana. tolong menolong. penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan). Jika menggunakan tes pratek atau unjuk kerja penilaian tidak valid. Keseluruhan/Komprehensif Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan atau tulis. dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. b. Penilaian itu harus dilaksanakan secara obyektif. d. Misal.

Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. b. dan ulangan kenaikan kelas.7-6 Penilaian Pembelajaran f. proyek. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah . Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. kemajuan. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis. observasi atau lainnya. Mendidik Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. ulangan tengah semester. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. c. d. Prinsip Penilaian Kelas Dalam pelaksanaan penilaian kelas harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian. Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. lisan. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. produk. Melakukan penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses. f. unjuk kerja. dan pengamatan tingkah laku. dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. ulangan akhir semester. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis. portofolio. g. 5. Dalam melaksanakan penilaian. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. guru sebaiknya: a. e.

Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap.Penilaian Pembelajaran 7-7 menyelesaikan beberapa kompetensi dasar. dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian. keterampilan. tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta kompetensi secara utuh yang merefleksikan tetapi pengetahuan. Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum tersebut memuat sejumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran. Indikator tersebut menjadi acuan dalam merancang penilaian. satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun). sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran. Ranah Penilaian Kelas Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yang berbasis kompetensi didik. . 6. Agar penilaian objektif. Dengan kata lain. (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya). Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar. kurikulum tersebut menuntut proses pembelajaran di sekolah berorientasi pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan.

Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar yang terkait. karakteristik. Indikator pencapaian kompetensi. Penetapan Indikator Pencapaian kompetensi Indikator merupakan ukuran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. mendemonstrasikan. 2) pemetaan standar kompetensi. dan mendeskripsikan. a. Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kelas Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas.7-8 Penilaian Pembelajaran 7. ciri-ciri. mempraktikkan. dan indikator. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. membedakan. seperti: mengidentifikasi. menceritakan kembali. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi. dijadikan acuan dalam merancang penilaian. yang menjadi bagian dari silabus. pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi. kompetensi dasar. menyimpulkan. Berikut contoh penetapan indikator mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs . dan 3) penetapan teknik penilaian. menghitung.

Pemetaan Indikator Standar Kompetensi.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat • : dikembangkan oleh guru b.1 Menyimpul-kan Mampu menuliskan isi berita yang dibacakan dalam pokok-pokok berita yang didengarkan beberapa kalimat Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1. dan teknik penilaian. indikator. dan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian. Kompetensi Dasar. kompetensi dasar. . Berikut diberikan contoh pemetaan standar kompetensi.Penilaian Pembelajaran 7-9 Standar Kompetensi Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar Indikator pencapaian* 1.

7-10 Penilaian Pembelajaran

Standar Kompeten si

Kompete nsi Dasar

Indikator

KK M

Teknik Penilaian Pe Port rfo Pr Pr o Tes rm od oy Foli en uk ek o t V

Memahami 1.1 wacana Menyi lisan m-pulmelalui kan isi berita kegiatan yang mendengar kan berita dibaca kan dalam bebera pa kalimat

Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Mampu menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat

75

70

v

c. Penetapan Teknik Penilaian Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh: • • • Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja (performance). Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis. Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan maka teknik penilaiannya adalah proyek.

E. Rangkuman Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu.

Penilaian Pembelajaran 7-11

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian kelas, di antaranya untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Selain itu, ada beberapa fungsi penilaian kelas di antaranya menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. Ada 6 kriteria penilaian kelas yang dijadikan acuan, yaitu validitas, reliabilitas, terfokus pada kompetensi, keseluruhan/Komprehensif, objektivitas, dan mendidik Ada beberapa prinsip penilaian kelas yang harus diperhatikan guru. Di antaranya dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya 1) memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu dan 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani,

olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui 1) Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2) Ulangan, dan/atau

penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Penilaian dalam Kurikulum saat ini (KTSP)-yangberbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masingmasing mata pelajaran.

7-12 Penilaian Pembelajaran

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian kelas. Adapun langkah-langkah itu di antaranya 1) penetapan indikator pencapaian kompetensi, 2) pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, dan 3) penetapan teknik penilaian.

F. Latihan Soal Jawablah Pertanyaan berikut secara singkat dan jelas! 1. Kemukakan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian kelas! 2. Kemukakan dan jelaskan manfaat penilaian kelas! 3. Kemukakan dan jelaskan fungsi penilaian kelas! 4. Coba Anda kemukakan dan jelaskan kriteria penilaian kelas! 5. Coba jelaskan prinsip-prinsip penilaian kelas! 6. Jelaskan ranah yang dinilai dalam penilaian kelas! 7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan penilaian kelas!

BAB II. TEKNIK-TEKNIK DAN RANAH PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dapat diperoleh guru manakala guru memahami makna dan fungsi teknik-teknik penilaiannya. Karena itu, bagianl ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting tentang teknik-teknik penilaian, seperti teknik-teknik penilaian dan ranah penilaian

A. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan teknik-teknik dan ranah penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui

pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. a. Memaparkan dan menerapkan teknik-teknik penilaian bahasa dan sastra Indonesia b. Memaparkan ranah-ranah penilaian

C. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut, berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Ketujuh materi pokok berikut. 1. Teknik-teknik penilaian 2. Ranah penilaian tersebut tergambarkan sebagai

7-14 Penilaian Pembelajaran

D. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.

1. Teknik-teknik Penilaian Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. Beragam teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikatorindikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

a. Penilaian Unjuk Kerja Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian unjuk kerja. 1) Pengertian Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Dalam 2) teknik

Penilaian Pembelajaran 7-15

penilaian mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti berbicara/menceritakan

sesuatu. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan penilaian unjuk kerja perlu

mempertimbangkan hal-hal berikut Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. 2) Teknik Penilaian Unjuk Kerja Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk dilakukan

menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya

pengamatan atau observasi praktik berbicara yang beragam, seperti: lafal, intonasi, kelancaran, keberanian, dll. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen (1) daftar cek, (2) skala penilaian. ( 1) Daftar Cek (Check-list) Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik

7-16 Penilaian Pembelajaran

mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak

memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamatitidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Perhatikan contoh Check list berikut.

Format Penilaian Berbicara Nama peserta didik: ________ No. 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Pilihan kata 5. Dll Skor yang dicapai Skor maksimum Keterangan: Baik mendapat skor 1 Tidak baik mendapat skor 0 (2) Skala Penilaian (Rating Scale) Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Baik Tidak baik

memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum memiliki pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih

Penilaian Pembelajaran 7-17

dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Berikut ini diberikan contoh Rating Scale. Format Penilaian Berbicara Nama Siswa: ________ N o 1. Lafal 2. Intonasi 3. Kelancaran 4. Dll. 5. Jumlah Skor Maksimum Keterangan penilaian: 1 = tidak kompeten 2 = cukup kompeten 3 = kompeten 4 = sangat kompeten Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Jika seorang siswa memperoleh skor 25-32 dapat ditetapkan sangat kompeten 2) Jika seorang siswa memperoleh skor 21-25 dapat ditetapkan kompeten 3) Jika seorang siswa memperoleh skor 16-20 dapat ditetapkan cukup kompeten 4) Jika seorang siswa memperoleh skor 0-15 dapat ditetapkan tidak kompeten b. Penilaian Sikap Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan penilaian sikap. 2) teknik Aspek Yang Dinilai Kelas: _____ Nilai 1 2 3 4

7-18 Penilaian Pembelajaran

a) Pengertian Penilain Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah

kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

adalah sebagai berikut. • Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. • Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi,

Penilaian Pembelajaran 7-19

metodologi,

dan

teknik

pembelajaran

yang

digunakan.

Proses

pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah peningkatan

pemakaian ejaan dan tata tulis. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus kesalahan ejaan dan tata tulis tertentu (kegiatan cermat berbahasa). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program cermat berbahasa. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan pemakaian bahasa yang salah. • Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi menggunakan perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan catatan khusus tentang kejadian-kejadian

buku

Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadian . Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian: BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK Mata Pelajaran Kelas Nama Guru : ___________________ : ___________________ : ___________________ Tahun Pelajaran : ___________________ SMP INSAN MULIA SEMARANG 2007 Contoh isi Buku Catatan Harian : No. Berikut contoh format buku catatan harian.7-20 Penilaian Pembelajaran berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.

Penilaian Pembelajaran 7-21 Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif.. 1 = sangat kurang 2 = kurang 3 = sedang 4 = baik 5 = amat baik b.. Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. Selain itu. Catatan: a. 2. . Keterangan diisi dengan kriteria berikut Nilai 18-20 berarti amat baik Nilai 14-17 berarti baik Nilai 10-13 berarti sedang Nilai 6-9 berarti kurang Nilai 0-5 berarti sangat kurang (2) Pertanyaan langsung Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Nama Ahmad Mualimah . Catatan dalam lembaran buku tersebut. 1. Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku c. Berikut contoh format Penilaian Sikap.. Misalnya. 3. Contoh Format Penilaian Sikap dalam Praktik Berbicara: Perilaku Semangat BeriniPenuh Berlatih Nilai Keterangan siatif Perhatian intensif 1 2 2 3 3 3 3 2 9 10 Kurang Sedang No.

. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah.... kelas.....7-22 Penilaian Pembelajaran bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Ketuntasan Hasil Belajar Minimal mata pelajaran penjaskes".... atau hal yang menjadi objek sikap. peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Prestasi Bahasa Indonesia di Sekolah" yang dicapai akhir-akhir ini.. semester.....Hari/Tgl...... peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah. Misalnya. No Deskripsi perilaku awal .. 1 2 3 4 . (3) Laporan pribadi Melalui penggunaan teknik ini di sekolah.. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.... keadaan... Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/sikap yang diamati: Nama peserta didik: ... Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan.... guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.... semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut...... khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia...... Capaian ST T R S R Deskripsi perubahan Pertemuan ....

Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku ST = perubahan sangat tinggi T = perubahan tinggi R = perubahan rendah SR = perubahan sangat rendah b. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban. dan lain sebagainya. tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. 2) Teknik Penilaian Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis. Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari: 1) pertanyaan langsung 2) Laporan pribadi 3) Buku Catatan Harian c. yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda (2) dua pilihan (benar-salah. menggambar. yaitu: a) memilih jawaban. 1) Pengertian Penilaian Tertulis Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. ya-tidak) (3) menjodohkan (4) sebab-akibat b) mensuplai jawaban. dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi (2) jawaban singkat atau pendek . mewarnai. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.Penilaian Pembelajaran 7-23 Keterangan: a. Penilaian Tertulis Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian tertulis yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian tertulis.

maka peserta didik akan menerka. menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. a) Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diuji. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi.7-24 Penilaian Pembelajaran (3) uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya. kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas. tes memilih jawaban benarsalah. berpikir logis. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan cakupan materi yang luas. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. . Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri. dan menyimpulkan. isian singkat. pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. Selain itu. misalnya mengemukakan pendapat. tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. memahami. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Karena itu.

. d. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. 3. Cara Penskoran: Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan.. c) konstruksi. kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. . Penilaian Proyek Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian proyek yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian proyek. d) bahasa.Penilaian Pembelajaran 7-25 b) materi. pengumpulan data. 1) Pengertian Penilaian Proyek Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. pengolahan... Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. dan penyajian data. semakin tinggi perolehan skor. .. pengorganisasian. Contoh Penilaian Tertulis Mata Pelajaran Kelas/Semester : Bahasa dan Sastra Indonesia : IX/1 Mensuplai jawaban (Bentuk Uraian) 1. Semakin lengkap dan tepat jawaban. misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi. Ceritakan kembali secara ringkas cerpen Robohnya Surau Kami! 2.

dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. analisis data. • Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. b) Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. seperti penyusunan disain. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.7-26 Penilaian Pembelajaran Penilaian pemahaman. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut. pengumpulan data. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. dan penyiapkan laporan tertulis. proses pengerjaan. • Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. Untuk itu. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Berikut diberikan dalam penilaian proyek: beberapa contoh kegiatan peserta didik a) penelitian sederhana tentang peningkatan kesegaran jasmani melalui alat modern di rumah. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. penyelidikan. sampai hasil akhir proyek. proyek dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan kemampuan mengaplikasikan. dan . • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.

Pelaksanaan a. Rumusan Judul 2. Keakuratan Sumber Data/Informasi c. . e. Sistematika Penulisan b. Semakin lengkap dan tepat jawaban. Presentasi / Penguasaan Total Skor Keterangan: * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Laporan Proyek a. Penarikan Kesimpulan 3. Performans b. Analisis Data e. Penilaian Produk Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian produk yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian produk. Kuantitas Sumber Data d. Persiapan b. Perencanaan: a. semakin tinggi perolehan skor. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Proyek : Perkembangan Cerpen Indonesia Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : IX/1 No Aspek * Skor (1 – 5)** 1.Penilaian Pembelajaran 7-27 b) Penelitian sederhana tentang perkembangan prestasi olahraga daerah.

lapangan. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan.7-28 Penilaian Pembelajaran a) Pengertian Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. b) Cara holistik. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. dan mendesain produk. a) Cara analitik. alat. b) Teknik Penilaian Produk Teknik penilaian produk yang biasanya digunakan adalah cara holistik atau analitik. menggali. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. seperti: bola. • Tahap persiapan. • Tahap pembuatan produk (proses). • Tahap penilaian produk (appraisal). yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. dan teknik. dan mengembangkan gagasan. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian sebagai berikut. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. jaring. dan lain-lain. .

Penilaian Portofolio Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian unjuk kerja yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian portofolio. f. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Inovasi Total Skor Keterangan: Aspek * Penggunaan Pilihan Kata * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Proses penulisan a. Persiapan penulisan b.Penilaian Pembelajaran 7-29 Contoh Penilaian Produk Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Menulis Cerpen : 2 Minggu Kelas : Skor (1 – 5)** Nama Siswa : ______________________ IX/1 No 1. Semakin lengkap dan tepat jawaban. semakin tinggi perolehan skor. 2. Kebersihan dan kerapian 3. Bentuk Fisik (Unsur Instrinsik) b. Teknik penulisan c. Hasil Produk a. . 1) Pengertian Penilain Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu.

b) Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya. c) Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan d) guru Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan . Berdasarkan informasi perkembangan tersebut. sendiri. antara lain: karangan.7-30 Penilaian Pembelajaran hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. resensi laporan penelitian. dan terus dapat portofolio memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Dengan demikian. antara lain: a) Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu buku/ literatur. guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik melakukan perbaikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. sinopsis. dsb.

Proses ini tidak akan terjadi secara spontan.Penilaian Pembelajaran 7-31 Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. dan minatnya. tetapi . tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian. tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. f) Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. keterampilan. 2) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkahlangkah sebagai berikut: a) Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio. g) Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. e) Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan. h) Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran.

f) Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. d) Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. e) Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya . antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan. Misalnya. untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangankarangannya. g) Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. b) Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. yaitu: penggunaan tata bahasa. peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan tentang olah raga. serta bagaimana cara memperbaikinya. pemilihan kosa-kata. dan sistematika penulisan. Guru dapat membimbing peserta didik. misalnya 2 . Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik.7-32 Penilaian Pembelajaran membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. c) Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di madrasah. Dengan demikian. bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut. kelengkapan gagasan. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. Namun. Contoh. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda.

h) Bila perlu. Jika perlu. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai.100. Catatan: Setiap karya siswa sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Membuat 1/9 resensi buku 30/9 Olahraga 10/1 0 Dst. Tata bahas a Kos a kata Kelengkap an gagasan Sistemati ka penulisan Ke t Kelas : 2. jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya. undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio. Menulis karangan Perkembangan Olahraga Daerah Peri ode 30/7 10/8 dst. semakin tinggi skor yang diberikan. .10 atau 0 . Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Alokasi Waktu : 1 Semester Nama Siswa : _________________ VIII/1 Kriteria Standar No Kompetensi/Ko mpetensi Dasar 1.Penilaian Pembelajaran 7-33 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 . Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik.

afektif. . peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. 1) Pengertian Penilaian Diri Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. misalnya. • Penilaian kompetensi kognitif di kelas. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. Penilaian Diri (self assessment) Hal ikhwal berkaitan dengan penilaian diri yang akan dipaparkan pada bagian berikut meliputi 1) pengetian dan 2) teknik penilaian diri. dan psikomotor.7-34 Penilaian Pembelajaran g. Selanjutnya. • Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain: • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. • Penilaian kompetensi afektif. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang.

membiasakan. 5) Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak. untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. daftar tanda cek. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.Penilaian Pembelajaran 7-35 • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika mereka melakukan penilaian. 2) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. • dapat mendorong. terhadap sampel hasil penilaian yang diambil . atau skala penilaian. dapat berupa pedoman penskoran. 6) Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian secara acak. 4) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. b) Teknik Penilaian Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. 3) Merumuskan format penilaian. Oleh karena itu. 1) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.

Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran. interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Dst Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya. Domain Penilaian Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian.7-36 Penilaian Pembelajaran Contoh Penilaian Diri Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kognitif : 1 Semester Kelas : Nama Siswa : _________________ IX/1 Tanggapa n 1 0 No 1. keterampilan. seperti . karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. pengetahuan dan sikap seseorang. Dasar Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham 2. Kompetensi / K. S. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Lagi pula. 2.

tahun. Domain Kognitif TINGKATAN DOMAIN KOGNITIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Evaluasi Sintesis Analisis Penerapan Pemahaman Pengetahuan KEMAMPUAN BERPIKIR (KOGNITIF) Bloom Tingkat I. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. Berikut ini kan dipaparkan ketiga jabaran domain tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk penilaian yang tepat untuk mata pelajaran penjaskes. a. rumus. konsep. daftar. definisi. nama. dan kesimpulan. Pengetahuan Deskripsi Arti : • Pengetahuan terhadap fakta. peristiwa. Contoh kegiatan belajar: • mengemukakan arti • menamakan (memberi nama) • membuat daftar • menentukan lokasi • mendeskripsikan sesuatu • menceritakan apa yang terjadi . teori.Penilaian Pembelajaran 7-37 domain kognitif. afektif.

antar konsep. Pemahaman • menguraikan apa yang terjadi Arti : • Pengertian terhadap hubungan antar-faktor. Sintesis . pesawat sederhana III. Analisis V. dan antar-data.7-38 Penilaian Pembelajaran II. hubungan sebab-akibat. dan penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: • mengungkapkan gagasan/pendapat dengan katakata sendiri • membedakan. penyelesaian. membandingkan • mengintepretasi data • mendiskripsi dengan kata-kata sendiri • menjelaskan gagasan pokok • menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti : • Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah • Menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan belajar: • menghitung kebutuhan • melakukan percobaan • membuat peta • membuat model • merancang strategi Arti : • Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Aplikasi IV. Contoh kegiatan belajar: • mengidentifikasi faktor penyebab• merumuskan masalah • mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi • membuat grafik • mengkaji ulang Arti : • Menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep • Meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: • membuat desain • mengarang komposisi lagu • menemukan solusi masalah • memprediksi • merancang model mobil-mobilan.

baik-buruk. Evaluasi • menciptakan produk baru Arti : • Mempertimbangkan dan menilai benarsalah.Penilaian Pembelajaran 7-39 VI. Domain Afektif TINGKATAN DOMAIN AFEKTIF TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN Karakterisasi Pengorganisasian Penilaian Pemberian respon Penerimaan KEMAMPUAN BERSIKAP/NILAI (AFEKTIF) Kratwohl. bermanfaat-tak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: • mempertahankan pendapat • beradu argumentasi • memilih solusi yang lebih baik • menyusun kriteria penilaian • menyarankan perubahan • menulis laporan • membahas suatu kasus • menyarankan strategi baru.dkk . b.

Responsi (Responding) III. Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : • Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli • Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar: • sering mendengarkan musik • senang membaca puisi • senang mengerjakan soal matematika • ingin menonton sesuatu • senang membaca cerita • senang menyanyikan lagu Arti : • Menunjukkan perhatian aktif • Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena • Setuju. lebih menyukai. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: • mengapresiasi seni • menghargai peran • menunjukkan keprihatinan • menunjukkan alasan perasaan jengkel • mengoleksi kaset lagu. ingin. atau barang antik • melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran II. novel. Acuan nilai (Valuing) . puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: • mentaati aturan • mengerjakan tugas • mengungkapkan perasaan • menanggapi pendapat • meminta maaf atas kesalahan • mendamaikan orang yang bertengkar • menunjukkan empati • menulis puisi • melakukan renungan • melakukan introspeksi Arti : • Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai •Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti •Tingkatan: menerima.7-40 Penilaian Pembelajaran Tingkat I.

berdisiplin diri • mandiri dalam bekerja secara independen • objektif dalam memecahkan masalah • mempertahankan pola hidup sehat • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan • menyarankan pemecahan masalah HAM • menilai kebiasaan konsumsi • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman V. dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu. Karakterisasi (menjadi karakter) . Organisasi HAM • menjelaskan alasan senang membaca novel Arti: • Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam latu sistem.Penilaian Pembelajaran 7-41 IV. diorganisasi secara konsisten. • Menentukan saling hubungan antarnilai • Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana • Tingkatan : . tepat waktu.Konseptualisasi suatu nilai Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: • bertanggung jawab terhadap perilaku • menerima kelebihan dan kekurangan pribadi • membuat rancangan hidup masa depan • merefleksi pengalaman dalam hal tertentu • membahas cara melestarikan lingkungan hidup • merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan Arti : • Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter • Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu. Contoh kegiatan belajar: • rajin.

memegang Contoh kegiatan belajar: • mengupas mangga dengan pisau • memotong dahan bunga • menampilkan ekspresi yang berbeda • meniru gerakan polisi lalu lintas.7-42 Penilaian Pembelajaran c. menunduk. berjalan. Gerakan dasar (Basic fundamental movements) . mengenggam. Gerakan refleks Deskripsi Arti : • Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak • Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat. Domain Psikomotor TINGKATAN DOMAIN PSIKOMOTOR TAKSONOMI KOMPETENSI PEMBELAJARAN NATURALISASI MERANGKAIKAN KETEPATAN MENGGUNAKAN MENIRU KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR) Tingkat I. juru parkir • meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin. Arti: • Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik • Gerakan ini terpola dan dapat ditebak II. menggerakkan leher dan kepala.

pemain biola. Arti: • Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: • menangkap bola. kegiatan memperkuat lengan. maju perlahan-lahan. Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities) V. kaki. menarik-mendorong. memegang dan melepas objek. memeluk. mendorong. menggambar. blok. melakukan push-ups. meluncur. meloncatloncat. berjalan. berlari. tangkas. atau mainan • Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola. berputar mengitari. memanjat • Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok. mendrible bola • melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan • memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang kurannya bervariasi • membaca • melihat terbangnya bola pingpong • melihat gerak pendulun • menggambar simbol geometri • menulis alfabet • mengulangi pola gerak tarian • memukul bola tenis. pingpong • membedakan bunyi beragam alat musik • membedakan suara berbagai binatang • mengulangi ritme lagu yang pernah didengar • membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : • Gerak lebih efisien • Berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: • menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu • berlari jauh • mengangkat beban. Gerakan persepsi (Perceptual abilities) Contoh kegiatan belajar: • Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. membungkuk. pemain bola Arti : • Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak •Terampil. menarik. menggambar dengan crayon. Gerakan terampil . menggunting. dan perut • menari • melakukan senam • melakukan gerak pesenam. cekatan melalukan gerakan IV. merentang. berputar • Contoh gerakan berpindah: merangkak.Penilaian Pembelajaran 7-43 III.

Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication) E. seperti domain kognitif.7-44 Penilaian Pembelajaran (Skilled movements) yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar: • melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga • menari. penilaian proyek. yaitu penilaian unjuk kerja. afektif. dan penilaian diri. melakukan senam tingkat tinggi. penggunaan portofolio. Hasil penilaian diharapkan dapat menghasilakn rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam berbagai ranah/domain. berdansa • membuat kerajinan tangan • menggergaji • mengetik • bermain piano • memanah • skating • melakukan gerak akrobatik • melakukan koprol yang sulit Arti : • Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan • Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah • Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: • kerja seni yang bermutu (membuat patung. dan psikomotor sehingga hasil penilaian dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap. . Rangkuman Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terhadap peserta didik. menari balet. bermain drama (acting) • keterampilan olahraga tingkat tinggi VI. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar penjaskes peserta didik di SMP/MTs. melukis. penilaian tertulis. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan berbagai jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkatan pencapaian. penilaian sikap. penilaian produk.

coba anda diskusikan salah satu bentuk tes pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan materi kesegaran jasmani? Perhatikan pelaksanaan tes tersebut harus menghemat waktu! . Dari beberapa tes pengetahuan dan sikap. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.Penilaian Pembelajaran 7-45 F. Jelaskan teknik-teknik penilaian yang dapat digunakan untuk penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2. Buatlah salah satu bentuk daftar cek yang berisikan skill-skill yang menurut anda layak dikuasai oleh siswa setelah taat kelas IX SMP/MTs? 4. Selain bentuk yang sudah diuraikan di atas. cara mana yang menurut anda paling cocok buat anda sendiri? 5. Sebutkan salah satu tes keterampilan berbicara yang dapat menghemat waktu pelaksanaannya? 3.

Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Contoh implementasi pemilihan teknik dan bentuk penilaian. Menerapkan jenis teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. C. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu mendeskripsikan dan menerapkan pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP.BAB III. . A. B. Menentukan jenis teknik dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs. Konsep memilih teknik dan bentuk penilaian 2. 2. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. PEMILIIHAN TEKNIK PENILAIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP/MTS Pembahasan tentang pemilihan teknik penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTS sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Karena itu. seperti konsep memilih teknik penilaian dan contoh implementasi pemilihan teknik penilaian. 1. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut 1. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting.

hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap. Dalam memilih teknik penilaian. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Lagi pula. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Tes 1.Penilaian Pembelajaran 7-47 D. Contoh Pengembangan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas/Semester : VII/1 : Memahami wacana lisan melalui kegiatan Standar Kompetensi mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1. Tuliskan objektif pokokpokok berita Nontes: yang tugas didengar harian dari rekaman guru! 2. Tulislah simpulan isi berita yang . dan sikap seseorang. pengetahuan. Berikut diberikan contoh teknik penilaian yang mungkin dapat digunakan dalam menilai kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP?MTs. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut.1 Indikator Materi Pembelajaran Teks Berita •Pokokpokok berita •Simpulan isi berita Menyimp ul-kan isi berita yang dibacaka n dalam beberapa Mampu menyimpulkan kalimat isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat Mampu menuliskan pokok-pokok berita yang didengarkan Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen Esai. keterampilan.

objketif Tuliskan kembali berita yang didengar dari rekaman guru ke dalam beberapa kalimat! Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat Kelas/Semester : VII/1 Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman Kompetensi Dasar 2. tugas Ceritakanla individual h pengalaman yang paling mengesank an dengan menggunak an pilihan Jenis Tagihan Tes Mampu menentukan pokok-pokok cerita Mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif . Tulislah Esai po-kokpokok cerita pengalaman yang paling mengesankan! Kinerja Nontes: 2.7-48 Penilaian Pembelajaran kamu dengarka n dari rekaman guru! 1.2 Menulisk an kembali berita yang dibacaka n ke dalam beberapa kalimat Teks Berita •Isi Berita Tes Nontes: tugas harian Esai.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunaka n pilihan kata dan kalimat efektif Indikator Materi Pembelajaran Pengalaman yang mengesankan • Pokokpokok cerita • Cara bercerita Penilaian Bentuk Contoh Instrumen Instrumen 1.

pengetahuan. Tes Esai kata dan kalimat efektif! 1. penilaian diri. observasi. dan tes tertulis/lisan/kuis. E. Lagi pula. Tulislah pokokpokok pegumuman ! 2.2 Teks pengumuman Menyampai • Pokokkan pokok cerita pengumum • Cara an dengan Mampu menyampaik intonasi menyampaikan an yang tepat pengumuman pengumuma serta dengan n menggunak intonasi yang an kalimattepat serta kalimat yang lugas menggunakan kalimat yang dan sederhana lugas dan sederhana Mampu menuliskan pokok-pokok pegumuman.Penilaian Pembelajaran 7-49 2. interpretasi hasil penilaian tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang diperolehnya. Sampaikan pengumuma n dengan intonasi yang tepat serta menggunak an kalimat yang lugas dan sederhana! kinerja Nontes: tugas individual D. keterampilan. dan sikap seseorang. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran penjaskes di MA di antaranya unjuk kerja. Alat penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan. Latihan Soal . Rangkuman Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap.

dan mimik yang tepat 6. intonasi.1 Bercerita dengan urutan yang baik.2 Bercerita dengan alat peraga 7. lafal. suara. Perhatikan kompetensi dasar berikut dan tentukan jenis penilaiannya! Kompetensi Dasar Indikator Materi Pembelajaran Penilaian Jenis Bentuk Contoh Tagihan Instrumen Instrumen 5.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca .7-50 Penilaian Pembelajaran Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang 6. gestur.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7. Jelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menilai Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/MTs! 2.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarka n 5.

2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar .Penilaian Pembelajaran 7-51 8.1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.

cara penskoran. DAN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pengumpulan.7-52 Penilaian Pembelajaran BAB IV. A. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. Karena itu. PENGUMPULAN. bagian ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. Standar Kompetensi Setelah mempelajari bagian ini peserta diklat PLPG diharapkan mampu mendeskripsikan dan menerapkan cara pengumpulan. seperti cara pengumpulan. cara penskoran. dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah/madrasah. B. Memaparkan cara pengumpulan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP b. penskoran. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. PENGOLAHAN. Memaparkan cara penskoran informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP c. dan cara pelapran informasi hasil belajar. Memaparkan cara pelaporan informasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP . a. dan cara pelapran informasi hasil belajar.

Pelaporan informasi hasil belajar D. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa.Penilaian Pembelajaran 7-53 C. Ketujuh materi pokok berikut. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. No. Pengumpulan informasi hasi belajar 9. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut. Pengelolaan informasi hasil belajar 10. Berikut dipaparka beberapa cara pengumpulan informasi hasil belajar. Pengumpulan informasi hasil belajar Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. 8. 1. Cara Pengumpulan Informasi (Cara Penilaian) 1 2 3 4 5 6 7 Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk kerja Produk Portofolio Observai/pengamatan Jawaban tertulis Jawaban tertulis Tuturan/ucapan Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah laku Aspek yang Dinilai tersebut tergambarkan sebagai .

penyampaian gagasan jelas. antara lain: berdiri tegak. Data Penilaian Unjuk Kerja Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi. Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%. dan sebagainya. menatap kepada hadirin. Dengan demikian. ada 8 aspek yang dinilai.7-54 Penilaian Pembelajaran 2.75 x 10 = 7. maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0. sistematis. skor maksimumnya 8. . dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato. Apabila seseorang mendapat skor 6. Misalnya. maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar.5. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 -100). b. peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya. Nilai 7. Pengolahan Hasil Penilaian a.5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. Data Penilaian Sikap Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran.

Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda. jawaban singkat. c. Data Penilaian Tertulis Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik. baik positif maupun negatif. benar salah. baik berupa peringatan atau rekomendasi. hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor. Pada akhir semester.Penilaian Pembelajaran 7-55 Seperti telah diutarakan sebelumnya. yang berkaitan dengan sikap. . Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. dan unjuk kerja peserta didik. guru mata pelajaran dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan. Selain itu. guru mata pelajaran merumuskan sintesis. berdasarkan catatancatatan tentang peserta didik yang dimilikinya. dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. sebagai deskripsi dari sikap. atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. perilaku. perilaku. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku. menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan. menjodohkan. uraian. Yang dimaksud dengan kejadian-kejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian.

7-56 Penilaian Pembelajaran Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah. bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti.X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah. menjodohkan. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. uraian objektif dan uraian non-objektif. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri. dan jawaban singkat. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu. dikali dengan 10. dibagi skor maksimal. Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar -----------------------------. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1. Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu . Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif. misalnya 0 .5. Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar. Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar.

dengan dua angka di belakang koma. Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. data yang diperoleh dengan masing-masing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot. Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. pengolahan data. dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban.50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut. dan penyajian data/laporan. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran. Berikut tabel yang memuat contoh deskripsi dan penskoran untuk masing-masing tahap. Dalam menilai setiap tahap. Data Penilaian Proyek Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahaptahap: perencanaan/persiapan. . guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. pengumpulan data. d. nilai 6. Misalnya. Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16.Penilaian Pembelajaran 7-57 kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai.

Dengan cara holistik. yaitu tahap persiapan.4 1. penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian. langkah-langkah kerja. tahap pembuatan (produk). tempat penelitian. jadwal.4 1. memuat kesimpulan dan saran. daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan.4 Keterangan: Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh. tujuan. waktu. guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. jelas dan lengkap.4 1. menggunakan bahasa yang komunikatif. Total Skor Skor 1. guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan. e. yaitu mulai dari tahap persiapan. Ketepatan menggunakan alat/bahan Ada pengklasifikasian data. dan tahap penilaian (appraisal). Data tercatat dengan rapi. merumuskan tujuan penelitian. menuliskan alat dan bahan. . menguraikan cara kerja (langkah-langkah kegiatan) Penulisan laporan sistematis. Penyajian data lengkap. Cara penilaian analitik. perkiraan data yang akan diperoleh. tahap pembuatan. bahan/alat.7-58 Penilaian Pembelajaran Tahap Perencanaan/ persiapan Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data/ laporan Deskripsi Memuat: topik. Data Penilaian Produk Data penilaian produk diperoleh dari tiga tahap. Merumuskan topik. dan tahap penilaian. Informasi tentang data penilaian produk diperoleh dengan menggunakan cara holistik atau cara analitik.

• mendesain produk. • semakin baik kemampuan yang ditampilkan. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat. f.Penilaian Pembelajaran 7-59 Contoh tabel penilaian analitik dan penskorannya Tahap Persiapan Deskripsi Kemampuan merencanakan seperti: • menggali dan mengembangkan gagasan. Skor 1-10 Pembuatan Produk 1-10 Penilaian produk 1-10 Kriteria penskoran: • menggunakan skala skor 0 – 10 atau 1 – 100. (4) ringkasan setiap dokumen. (3) perkembangan dokumen. dan (3) profil perkembangan peserta didik. (2) hasil pekerjaan peserta didik. Data penilaian Portofolio Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. • Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan/fungsinya. • Produk memenuhi kriteria keindahan. (2) dokumentasi/data dalam folder. (5) presentasi dan (6) penampilan. • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik. Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi . Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru. menentukan alat dan bahan • Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan. semakin tinggi skor yang diperoleh. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio.

guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 – 10 atau 0 . Pada taraf awal. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. karena dua alasan utama. dikali dengan 10 atau 100. g. hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan. Pertama. Data Penilaian Diri Data penilaian diri adalah data yang diperoleh dari hasil penilaian tentang kemampuan. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut. dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. karena peserta didik belum terbiasa dan terlatih.7-60 Penilaian Pembelajaran peserta didik pada selang waktu tertentu. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 – 100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai. atau penguasaan kompetensi tertentu. Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja. sangat terbuka kemungkinan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. Kedua. kecakapan. karena terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai . ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam melakukan penilaian. sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.100.

Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas.d. dikoreksi. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%.Penilaian Pembelajaran 7-61 yang baik. Interpretasi Hasil Penilaian dalam Menetapkan Ketuntasan Belajar Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu ke indikator. Guru perlu mengambil sampel antara 10% s. Kriteria ideal untuk masingmasing indikator lebih besar dari 60%. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung. dengan menunjukkan catatan tentang kelemahan-kelemahan yang telah mereka lakukan dalam koreksian pertama. Dua atau tiga kali guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini. dan dilakukan penilaian ulang. 20% untuk ditelaah. dan jujur. diinterpresikan. Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipercaya serta dapat dipahami. Apabila hasil koreksi ulang yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi. dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru. guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali. objektif. guru perlu melakukan langkah-langkah telaahan terhadap hasil penilaian diri peserta didik. para peserta didik menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik. Oleh karena itu. Namun sekolah dapat . Apabila peserta didik telah terlatih dalam melakukan penilaian diri secara guru. pada taraf awal. 3.

Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas lebih dari 50%. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. 60% atau 70%. apakah 50%. Melalui pemeringkatan ini diharapkan sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya.7-62 Penilaian Pembelajaran menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. . Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas sama atau lebih dari 50%. Sebaliknya. Namun. apabila nilai indikator dari suatu KD lebih kecil dari kriteria ketuntasan. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar secara berkala. Dengan demikian. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. Apabila semua indikator telah tuntas. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. Hasil penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). peserta didik dapat mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas. misalnya melalui ujian nasional. dalam hal ini meningkatkan kriteria pencapaian indikator semakin mendekati 100%. dapat dikatakan peserta didik itu belum menuntaskan indikator itu.

Penilaian Pembelajaran 7-63 Contoh penghitungan nilai kompetensi dasar dan ketuntasan belajar pada suatu mata pelajaran. . peserta didik perlu mengikuti remedial untuk indikator tersebut. Rangkuman Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Jadi. indikator ke. Jadi. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu.1 Kriteria Ketuntasa n 75% Nilai peserta didik 60 Ketuntasa n Tidak Tuntas 70% 75 Tuntas Indikator Mampu Menceri menentukan pokokpokok cerita takan pengalam Mampu an yang menceritakan paling pengalaman yang mengesa paling nkan mengesankan dengan menggun dengan menggunakan akan pilihan kata dan pilihan kalimat efektif kata dan kalimat efektif Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa nilai indikator pada kompetensi dasar di atas bervariasi. nilai kompetensi dasar di atas 60 dan 75. Nilai rata-rata indikator 2: 60 + 75 --------. Kompetensi Dasar 2.= 67. E.5 2 Pada kompetensi dasar di atas.1 belum tuntas.

Dengan demikian. porfolio. produk. dapat dikatakan bahwa peserta didik itu telah menuntaskan indikator itu. kompleksitas indikator dan daya dukung guru serta ketersediaan sarana dan prasarana. Pengolahan data hasil penilaian disesuaikan dengan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar. Interpretasi hasil penilaian adalah proses mencocokkan hasil penilaian dengan Kriteria Ketuntasan Minimal. Apabila nilai peserta didik untuk indikator pencapaian sama atau lebih besar dari kriteria ketuntasan. apakah 50%. dan observasi. Jelaskan bagaimana cara pengolahan data cara-cara penilaian berikut ini. sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator. Apabila semua indikator telah tuntas. peserta didik dapat diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran. . 60% atau 70%. Cara itu antara lain tertulis. unjuk kerja. baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun yang berkaitan dengan hasil belajar. Hasil engolahan data ini selanjutnya dilakukan interpretasi. Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator dalam suatu kompetensi dasar (KD) ditetapkan antara 0% – 100%. Penetapan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah.7-64 Penilaian Pembelajaran Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar siswa. lisan. Jelaskan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia peserta didik di SMP? 2. F. Kriteria ideal untuk tiap-taip indikator lebih besar dari 60%. Namun. dapat dikatakan peserta didik telah menguasai KD bersangkutan. seperti tingkat kemampuan akademis peserta didik. Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1.

d. tertulis. lisan. penilaian diri 3. b. f.Jelaskan bagaimana seorang anak dikatakan telah menuntaskan hasil belajar KD! . e. dan . unjuk kerja.Jelaskan apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan KKM! 4. observas. c.Penilaian Pembelajaran 7-65 a. g. porfolio. produk.

1) Memaparkan cara pemanfaatan penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP 2) Memaparkan cara membuat pelaporan hasil belajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP C. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik manakala guru memahami makna dan fungsinya. . seperti pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai melalui pembahasan kegiatan belajar ini dideskripsikan sebagai berikut. Karena itu. Ketujuh materi pokok tersebut tergambarkan sebagai berikut. B. Standar Kompetensi Standar Kompetensi yang harus dikuasai peserta PLPG adalah mampu memaparkan cara pemanfaatan hasil penilaian dan pelaporan hasil penilaian. Deskripsi Singkat Untuk mencapai ketujuh kompetensi dasar tersebut. PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN Pembahasan tentang pemanfaatan dan pelaporan informasi hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sangat diperlukan sebagai dasar pemahaman evaluasi di sekolah. modul ini memaparkan beberapa pokok bahasan penting. A.BAB V. berikut ini dibahas tujuh materi pokok yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut.

Penilaian Pembelajaran 7-67 D. Misalnya. Uraian materi tiap pokok materi dipaparkan sebagai berikut. Pemanfaatan penilaian 2. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. 1. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi . 1. bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. Pemanfaatan hasil penilaian di antaranya sebagai berikut. Pelaporan hasil belajar Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran. guru kelas. a) Bagi peserta didik yang memerlukan remedial Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi. Uraian Materi Uraian materi berusaha mendeskripsikan pokok-pokok materi lebih rinci. Pemanfaatan Hasil Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. (4) pelaporan. dan (5) penentuan kenaikan kelas. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya.

Salah satu kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan. dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. Oleh karena itu. atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas. kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif.7-68 Penilaian Pembelajaran kesempatan untuk belajar sendiri. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai npeserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. strategi pembelajaran yang telah disiapkan. agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. atau mengerjakan tugas mengumpulkan data. guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum. program yang telah dirancang. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat. latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. Misalnya. b) Bagi peserta didik yang memerlukan pengayaan Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya. c) Bagi Guru Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. dan memperbaiki program pembelajarannya. dapat diberikan program akselerasi. dan bahan yang telah . membuat rangkuman pelajaran.

di mana peran-serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja. Pelaporan Hasil Penilain Kelas a. . Pelaporan hasil belajar hendaknya: • Merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik • Memberikan informasi yang jelas. dan akurat. laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. d) Bagi Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan Kepala sekolah untuk menilai kinerja guru dan tingkat keberhasilan siswa. orang tua. atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. masyarakat. direvisi. komite sekolah. dan instansi terkait lainnya. Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat. tetapi juga di bidang akademik. 2. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah.Penilaian Pembelajaran 7-69 disiapkan perlu dievaluasi. karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat. Atas dasar itu. transparansi dan akuntabilitas publik. komprehensif. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester. Laporan sebagai Akuntabilitas Publik Kurikulum berbasis kompetensi dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah.

aljabar. Isi Laporan Pada umumnya orang tua menginginkan jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: • • • • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik. sosial dan emosional? Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? .7-70 Penilaian Pembelajaran • Menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar b. fisik. sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya. ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan. Bentuk Laporan Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. makna nilai tunggal seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. c. misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika. Laporan harus disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami). Namun. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor). atau hal lain. Dipihak anak. statistika. Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik. geometri. Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti apakah anaknya perlu dibantu dalam bidang aritmatika.

Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik. tes sumatif. yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD. informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya.Penilaian Pembelajaran 7-71 Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik. nilai tugas perseorangan maupun kelompok. Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. . • • • • • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami. hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. dalam kurun waktu 1 semester. sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. d. Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif. Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak.

N Kd 1 d d R d d d R d d d R 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2 Toto * NR = nilai rata-rata KD untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada rapor e. berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Laporan prestasi mata pelajaran. masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya..7-72 Penilaian Pembelajaran CONTOH FORMAT REKAP NILAI MATA PELAJARAN : Bahasa Inggris KELAS/SEMESTER : TAHUN PELAJARAN : Mendengarkan NA NO MA 1 Riri Berbicara Membaca Menulis Kd 2 Kd 3 . (Contoh model rapor beserta petunjuk pengisiannya lihat lampiran ).. Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK.. karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). Rapor Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester... KD dan Indikator semester bersangkutan.. E. Rangkuman Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) .. N K K K . Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik. N R Kd K K . Untuk model rapor. N K K K ..

Latihan Soal Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut! Jawablah dengan singkat dan jelas! 1. orang tua. komite sekolah. Jelaskan pemanfaatan hasil penilaian penjaskes peserta didik di MA? 2. dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. (4) pelaporan.Penilaian Pembelajaran 7-73 bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan. (3) perbaikan program dan proses pembelajaran. Jelaskan apa saja isi laporan hasil belajar penjaskes di MA! 5. F. Jelaskan apa yang dimaksud laparan sebagai akuntabilitas publik! 3. Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik. dan (5) penentuan kenaikan kelas. dan instansi terkait lainnya. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah. Bagaimana cara menantukan nilai rapor penjaskes di MA! . Jelaskan bentuk laporan yang idela untuk penjaskes di MA! 4. (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan. masyarakat.

Evaluasi : kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program.7-74 Penilaian Pembelajaran Lampiran: GLOSARIUM Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap Analisis : kajian terhadap suatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. tugas kelompok. keterampilan. penafsiran hasil pengukuran. kemmapuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik dari standar kompetensi. kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program. lisan di kelas/ulangan harian. Asesmen : penilaian. atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. dan perilaku. Keandalan tes: kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg atau konsisten. perbuatan. telah memiliki pertanyaan. tugas individu. tidak berhenti pada suatu saat. . tes uraian. Kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan. yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan sehingga mengandung unsur subjektivitas. untuk menunjukkan bahwa peserta didik itu kompetensi dasar tertentu. Jenis tagihan: golongan tagihaan menurut klasifikasi menjadi kuis. penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Bentuk tes:olongan tes menurut penggolongan menjadi tes pilihan ganda. ciri-ciri. Berkesinambungan: berkelanjutan. dsb. tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya. Indikator : karakteristik. tanda-tanda. dsb.

Reliabilitas: kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. Pengujian Pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. dan mengungkapkan sikap peserta didik itu terhadap mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi: kemammpuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran. Tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. sejumlah hasil karya seorang peserta didik. Nilai yang diberikan itu diharapkan dapat mencerminkan kemajuan belajar anak Portofolio: kumpulan hasil karya seorang peserta didik. alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur. pemahaman pesert didik itu atas materi pelajaran. . laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan. perkembangan peserta didik itu dalam kemampuan berpikir. : pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. Ujian : proses kualifikasi kemampuan peserta didik pada ranah kognitif dan psikomotor. kemampuan peserta didik itu dalam mengungkapkan gagasan. kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik. Penilaian :proses menetapkan nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen atau pengukuran. baik lisan maupun tertulis. kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran.Penilaian Pembelajaran 7-75 Kuis : ulangan singkat atau ujian singkat. Validitas: kemampuan alat ukur yang mempengaruhi fungsinya sebagai alat ukur.

.

Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. dan MI.Penilaian Pembelajaran 7-1 DAFTAR PUSTAKA BSNP. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama: Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. 2001. Direktorat Menengah Umum. 2007. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menegah Umum. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU): Pedoman Umum. Jakarta: BSNP-Direktorat Pembinaan SMP. Nurgiyantoro. 2004. Burhan. SLB Tingkat Dasar. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD. Depdiknas. Puskur. . Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas. Standar Isi. Jakarta: Direktorat TK-SD. SDLB. Yogyakarta: BPFE. Direktorat TK-SD. 2002. 2002. 2002.

Guru dalam melakukan penilaian pembelajaran di kelas. penilaian diri d. alat penilaian semuanya baik .. mengetes sendiri dan dengan partner b. tes sikap 7.7-2 Penilaian Pembelajaran A. bagian dari proses pembelajaran d. observasi c. Tes Mandiri Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf A.. C atau D! 1. mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung b. Alat penilaian untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP di antaranya sebagai berikut.. terutama digunakan untuk …. mengetahui keberhasilan guru 6. tes keterampilan berbahasa c. Untuk menilai standar kompetensi dan kompetensi dasar ada hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebagai berikut a. melibatkan orang lain c. mengetahui keberadaan siswa d. ada alat penilaian yang secara lengkap mengumpulkan prestasi hasil belajar c. menggunakan orang lain 4. B. Ada beberpa alternatif alternatif yang dapat digunakan guru untuk menghemat waktu dan lebih bermanfaat bagi para siswa dalam melakukan penilaian di antaranya sebagai berikut kecuali . a. tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa secara lengkap b. kecuali . a. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus penilaian pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. tes kecermatan berbahasa b. kecuali … a. tes pengetahuan d. untuk mengukur prestasi hasil belajar bisa satu alat penilaian d. produk 5. mengatahui kemajuan belajar peserta didik dipantau dari waktu ke waktu c. unjuk kerja b.. a.

dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . dan demokrasi lebih cocok digunakan alat penilaian . a.. etika.. a. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri. toleransi. toleransi. unjuk kerja b. etika. kebesamaan. unjuk kerja b. kebesamaan. unjuk kerja b.. perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan b.. saling menghormati.. unjuk kerja b. produk 10. saling menghormati. Untuk mengukur KD Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri. saling menghormati. a. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri. Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan sebagai berikut kecuali … a. penilaian diri d. penghargaan guru dan siswa . etika. penilaian diri d. Untuk menilai KD Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri. observasi c. penilaian diri d.. a. Observasi c. perbaikan program dan proses pembelajaran d. observasi c.. kebesamaan. dan demokrasi lebih cocok menggunakan alat penilaian . etika. produk 7. penilaian diri d. kebesamaan... toleransi.Penilaian Pembelajaran 7-3 6. dan demokrasi lebih cocok digunakan alat permainan . pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan c.. saling menghormati. toleransi.. produk 8. produk 9. observasi c.

kemudian tentukan hasil belajar Anda dengan rumus berikut. Anda telah mencapai kompetensi baik dan diharapkan dapat mengevaluasi hasil belajar penjas di MITs dengan baik.100% = baik sekali 80% . . sebaiknya Anda pelajari kembali bagian-bagian yang belum Anda kuasai dan mantapkanlah untuk mencapai skor kemmapuan di atas 80%.x 100% 20 Hasil belajar = 90% . Kemmapuan Anda perlu diperkaya dengan melakukan diskusi antarsesama teman sejawat. (Jumlah jawaban yang benar x 2) Hasil belajar = --------------------------------------------. KATA PENUTUP Alhamdulilah Anda telah mempelajari modul ini. TINDAK LANJUT Setelah Anda menyelesaikan soal-soal tes mandiri.79% = cukup < 70% = kurang Apabila hasil belajar Anda mencapai 80% atau lebih. Selamat sukses! Pembelajaran berhasil. semoga upaya Anda mendapat rahmat dan ridho-Nya. umat kokoh.89% = baik 70% . membaca literatur lain. Selamat sukses. koresilah! Hitunglah jawaban Anda yang benar. bila hasil belajar yang Anda peroleh ternyata di bawah 80%.7-4 Penilaian Pembelajaran B. Ini berarti kesuksesan Anda tertunda! C. siswa mampu. Karena itu. atau konsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang kompeten. layak Anda mendapat ucapan selamat untuk sukses! Sebaliknya. negara maju. tukarkanlah dengan teman Anda! Setelha itu.

D 5. B 10. D 6. B 9. B 7. A 2. B 8.Penilaian Pembelajaran 7-5 KUNCI TES MANDIRI 1. D . D 4. A 3.

BUKU AJAR MEDIA PEMBELAJARAN .

Bahkan.Media Pembelajaran 8-1 BAB I. Menghubungkan antara materi. Kalau Anda mengamati dalam GBPP kurikulum berbasis kompetensi tentang materi pokok. Kedua. ada satu lagi istilah yang erat kaitannya dengan materi dan media ini. dalam bahan pelatihan ini Anda diajak untuk membahas materi dan media secara bersamaan karena memang konsep dasar di antara keduanya tidak selalu dapat dipisahkan. KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN A. tetapi pada saat yang lain konsep dasar kedua istilah itu tidak dapat dipisahkan. Pada saat tertentu konsep dasar kedua istilah itu dapat dipisahkan. D. media. Anda pertamatama diajak untuk memahami pengertian materi dan media pembelajaran pada umumnya. Hal ini dilakukan karena konsep dasar materi dan media dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konsep dasar materi dan media pada umumnya itu. Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Hal ini dapat dilihat pada ulasan berikut. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. tampak juga bahwa ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan. Kompetensi Dasar Menguasai konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. Standar Kompetensi Memahami konsep media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Itulah sebabnya dalam perencanaan pembelajaran ketiga istilah itu sering disatukan. . Hakikat Media Pembelajaran Dalam pembahasan tentang pengertian istilah. yaitu sumber bahan. dan sumber pembelajaran.

materi pokoknya adalah anatomi tumbuhan paku. mata pelajaran Biologi. sumber materinya adalah buku paket atau buku-buku lain yang berisi ulasan tentang tumbuhan paku dan medianya adalah contoh tumbuhan paku atau gambar tumbuhan paku. Bukankah buku ilmu pengetahuan populer itu merupakan sumber bahan/materi? Bukankah materinya adalah teks yang ada dalam buku ilmu pengetahuan populer itu? Bukankah medianya berupa tabel yang kita buat untuk menuliskan ciri pembeda antara buku ilmiah populer dan buku ilmiah atau buku populer yang lain? Hal ini ternyata berbeda dengan. media. misalnya. materi pokoknya adalah ensiklopedi dan buku telepon. Sementara itu. Pertanyaannya sekarang adalah ensiklopedi dan buku telepon itu materi. media. misalnya. misalnya. ataukah sumber? Bukankah materi dalam pembelajaran itu adalah teks yang ada dalam ensiklopedi dan buku telepon itu? Bukankah medianya berupa OHP yang digunakan untuk memperbesar teks dalam rangka memberi contoh model membaca memindai atau tabel yang berisi kata dan istilah yang harus dicari dengan membaca memindai itu beserta isian kunci penemuannya? Bukankah media dalam pembelajaran itu berupa “hadiah” yang akan diberikan kepada siswa atau kelompok siswa yang dapat menemukan kata atau istilah yang dicari terlebih dahulu? Bukankah ensiklopedi dan buku telepon itu merupakan sumber materi? Contoh lain dapat Anda lihat dalam kompetensi dasar membaca pemahaman dan mengevaluasi buku yang berisi ilmu pengetahuan populer dengan materi pokok buku ilmu pengetahuan populer. Untuk kompetensi dasar siswa mampu menjelaskan anatomi tumbuhan paku. Tidak dapat dipisahkannya antara materi. Dalam Dictionary of Education dikemukakan bahwa instructional media is devices and other materials which present a .8-2 Media Pembelajaran Dalam kompetensi dasar membaca memindai ensiklopedi/buku telepon. dan sumber juga dapat dilihat pada pengertian dan klasifikasi media pembelajaran berikut itu.

Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (software) dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. program radio. laboratorium. dengan alat bantu apa Anda mengajarkan materi itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat menunjang proses belajar mengajar. Pertama. telepon. dan lain-lain. dan sumber bahan sulit dipisahkan. Kedua. poster. ensiklopedi. program TV. laboratorium elektronik. Sarana pendidikan untuk belajar mencakup buku teks. gambar dan lukisan. papan panel. dan lain-lain. ruang diskusi. dan lain-lain. dari mana materi pembelajaran itu Anda dapatkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori sumber bahan atau sumber materi. radio. globe. papan tulis. tempat bermain. Untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya dapat Anda ikuti uraian berikut ini. sarana pendidikan untuk belajar (educational media for learning). televisi. kelas. . Sarana belajar mencakup tape recorder. peta. Brown. Fasilitas belajar mencakup gedung. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat Anda masukkan dalam kategori materi pembelajaran. boneka. kamera. OHP. dan fasilitas belajar (facilities for learning). video player. Ketiga. kartun. (1977) membuat klasifikasi media pembelajaran yang sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning). majalah. media. surat kabar.Media Pembelajaran 8-3 complete body of information and are largely self-suporting rather than supplementary in the teaching-learning process. Meskipun dari pengertian dan klasifikasi di atas tampak bahwa pengertian materi. kliping. perpustakaan. buku penunjang. dkk. tetapi rambu-rambu pertanyaan berikut kiranya dapat digunakan untuk memperjelas perbedaan konsep ketiganya. studio. Sementara itu.

Pertama. apa yang Anda ajarkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah teks berita. tape recorder merupakan media pembelajaran. Dengan demikian. Kedua. media adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan. arloji. Dengan demikian. radio dan TV merupakan sumber bahan atau sumber materi. Dengan demikian. teks bacaan dalam pembelajaran Anda ini adalah materi pembelajaran. dan lama waktu membaca. Berdasarkan . gunakan ketiga pertanyaan tersebut. jumlah kata. buku paket. Pertama. Pada contoh ini. Dalam hal ini. Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar mendengarkan dan memahami berita dari radio/televisi. dari buku paket. gunakan ketiga pertanyaan tersebut. 2004:2). Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah arloji atau stop watch dan tabel isian yang berisi nama siswa. Dengan alat apa Anda mengajarkan materi tersebut agar siswa memiliki kompetensi dasar itu? Mungkin jawabannya adalah dengan tape recorder karena teks berita itu Anda bawa ke kelas dalam bentuk rekaman dan akan Anda perdengarkan kepada siswa dengan tape recorder. surat kabar Kompas. majalah Intisari. dari majalah Intisari.8-4 Media Pembelajaran Ketika Anda akan mengajar dengan kompetensi dasar membaca cepat 250 kata per menit. Dengan demikian. Kedua. dari mana teks berita tersebut Anda peroleh? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dari radio atau dari TV. apa yang Anda ajarkan? Jawabannya adalah teks bacaan. teks berita dalam pembelajaran Anda ini dapat Anda kategorikan sebagai materi pembelajaran. stop watch. dari mana teks bacaan tersebut Anda peroleh? Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah dari surat kabar Kompas. dan tabel isian tersebut dapat Anda kategorikan sebagai media pembelajaran. Berdasar uraian di atas. dan lain-lain merupakan sumber bahan atau sumber materi. dan lain-lain. menurut Bovee (Ena.

Media Pembelajaran 8-5 pengertian tersebut maka media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses pembelajaran. foto. film. slide (gambar bingkai). video. gambar. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. video recorder. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. . Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. televisi dan komputer. kamera. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain: buku. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. kaset. grafik. tape recorder.

8-6 Media Pembelajaran BAB II. Kompetensi Dasar Menguasai kriteria pemilihan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C. dan melatih siswa dalam menggunakan bahasa. Apabila Anda akan mengadakan pembelajaran agar siswa Anda mempunyai kompetensi dalam menyimak wacana tertentu. media pembelajaran Anda dapat berupa kaset rekaman tentang wacana itu dan tape recorder. diagram. Wacana dalam kaset rekaman itu merupakan materi pembelajaran. KRITERIA MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA A. Standar Kompetensi Memahami kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Media pembelajaran pada dasarnya merupakan semua alat bantu yang dimanfaatkan guru dalam rangka mempermudah pembelajaran. dan lain-lain yang dapat Anda gunakan untuk mengajarkan wacana dalam rangka melatih. diharapkan siswa memiliki kompetensi tertentu dalam berbahasa dan bersastra dengan berbagai variasinya. Media dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat pula berupa gambar-gambar. wacana “model”. sedangkan kaset rekaman dan tape recorder merupakan media pembelajaran. Indikator Pencapaian Kompetensi menjelaskan Indonesia kriteria media pembelajaran Bahasa dan Sastra D. melatih. . Dengan berbagai latihan itu.

atau benda-benda itu. proses pembelajarannya dapat Anda lakukan. Berkaitan dengan media pembelajaran itu. ukuran bunga. media lain yang dapat Anda gunakan dapat juga berupa diagram atau tabel kosong yang harus diisi siswa setelah mengamati tumbuhan dan atau gambar bunga mawar itu. lalu siswa disuruh membuat karangan seperti model dengan objek yang berupa bunga mawar. bentuk daun. binatang. ukuran batang. Apabila Anda ingin melatih siswa untuk membuat karangan tentang bunga mawar. misalnya. warna bunga. dan atau gambar-gambar tentang bunga. dan seterusnya. ketika Anda akan membelajarkan wacana tulis agar siswa Anda memiliki kompetensi dasar mampu mengarang. media pembelajaran Anda dapat berupa tumbuhan. Hasil pengamatan itulah yang dituangkan siswa dalam karangannya nanti. pertama-tama siswa Anda ajak untuk mambaca “wacana model”. hasil pengamatan itu dituangkan dulu dalam tabel atau diagram agar siswa mudah memahaminya dan mudah menuangkannya dalam karangan. media yang Anda gunakan dapat berupa tumbuhan bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. media pembelajaran Anda dapat pula berupa objek yang menjadi pijakan pembelajaran. berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. warna daun. misalnya. Misalnya. ukuran daun. benda-benda. sebelum dituangkan dalam karangan siswa. kedua siswa Anda ajak mengamati bunga mawar dan atau gambar bunga mawar. Namun. binatang.Media Pembelajaran 8-7 Dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Media yang berupa diagram dan atau tabel kosong di atas digunakan untuk membantu siswa dalam menuliskan hasil pengamatan terhadap bungan mawar. bentuk batang. warna batang. . Oleh karena itu. misalnya bentuk bunga. Di samping itu.

Media pembelajaran yang Anda gunakan bukan sekadar sebagai pelengkap proses pembelajaran. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah komunikasi. maka media yang tepat adalah media audio (radio. dan berlatih berbahasa dan bersastra. dan lain-lain) dan untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. . sedangkan lainnya merupakan kelengkapannya dari kelengkapan dari kriteria itu. tetapi benar-benar merangsang siswa untuk berlatih. berlatih. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalistis. membaca. (a) Untuk menghindari kesalahpahaman antara pengajar dan siswa. (2) Fungsional Salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan dalam memilih dan menentukan penggunaan media pembelajaran adalah kefungsionalan media tersebut. dsb. kurangnya minat dan gairah siswa. tape recorder). sikap. (b) Media sebagai penyaji stimulus (informasi. Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling utama. Misalnya.8-8 Media Pembelajaran (1) Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran (sesuai dengan indikator). Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang benar-benar memiliki fungsi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan benar-benar berfungsi untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. baik dalam sastra maupun non-sastra sesuai dengan fokus pembelajaran saat itu. berbicara. dan menulis dengan berbagai variasinya. bila tujuan pembelajaran itu agar siswa dapat melafalkan ucapan kata-kata. siswa Anda berlatih menyimak. Fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut ini. ketidaksiapan siswa. Di dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif dan efefisien. Dengan media itu.

semuanya sudah tersedia. menyimak adalah kegiatan berbahasa lisan. kalau wacana yang berupa teks bacaan itu . maka kaset rekaman dan tape recorder itu bukan media pembelajaran yang tepat Anda gunakan saat itu. Yang perlu Anda perhatikan adalah hakikat kompetensi berbahasa yang harus dimiliki siswa. Tetapi. media itu sudah tersedia atau sudah siap pakai. kaset rekaman berita. (e) Media dapat membangkitkan motivasi dan minat baru. Misalnya. Artinya. Misalnya. pada saat Anda perlukan dalam pembelajaran.Media Pembelajaran 8-9 (c) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa karena pengalaman mereka berbeda-beda. (d) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar konkret. berarti bahwa Anda sudah melatih siswa untuk menyimak. beserta perangkat pendukungnya (misalnya listrik) tidak tersedia. Seandainya materi dan media itu tidak tersedia. Misalnya. ketika Anda akan melatih siswa agar siswa Anda memiliki kompetensi dalam menyimak berita dan Anda memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yang berupa kaset rekaman berita dan tape recorder. dan kaset rekaman berita dan tape recorder itu benar-benar tersedia. apabila siswa Anda minta untuk menyimak wacana yang Anda bacakan. kaset rekaman berita dan tape recorder itu dapat Anda upayakan sehingga pada saat Anda memerlukan media itu. tape recorder. Apabila hal di atas terjadi. Jika ternyata di sekolah Anda. Dengan demikian. (3) Tersedia Pertimbangan lain dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah ketersediaan media itu. Anda perlu memikirkan media pembelajaran lain yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran menyimak berita. Bentuk pembelajarannya dapat berupa Anda bacakan teks itu dan siswa diminta untuk menyimaknya. Anda dapat saja menggunakan wacana yang berupa teks bacaan. dan realitas.

Taman dan berbagai pohon besar di sekolah Anda itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. Di sekolah Anda terdapat taman atau pohon besar dengan berbagai jenisnya. guru kurang dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. ada surat pembaca. Koran yang Anda beli itu dapat Anda gunakan sebagai media pembelajaran. Misalnya. Anda dapat meminjam alat peraga mata pelajaran yang lain. ada iklan. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di lingkungan siswa. untuk Anda gunakan sebagai media pembelajaran bahasa. pembelajaran menyimak secara langsung seperti ini tentu juga memiliki kelemahan. Bahkan. (2) penerapan unsur suprasegmental dalam pembacaan itu belum tentu tepat. Dalam surat kabar itu ada berita. di lingkungan sekolah. (4) Murah Media pembelajaran yang Anda gunakan untuk melatih siswa berbahasa dan bersastra tidak harus yang mahal. misalnya IPA. dan di lingkungan Anda dapat Anda gunakan untuk media pembelajaran bahasa dan sastra. pada saat tertentu Anda membeli surat kabar. proses pembelajaran itu bergeser menjadi melatih siswa untuk membaca. Hanya saja. Hal ini dapat dipahami karena membicarakan tentang apa pun melibatkan kemahiran berbahasa dalam proses komunikasi. kelebihannya adalah Anda memperoleh kepastian bahwa pembelajaran menyimak dengan cara ini dapat Anda lakukan karena sangat mudah dilaksanakan.8-10 Media Pembelajaran Anda berikan kepada siswa. dan lain-lain. Sementara itu. Oleh karena itu. Di antara kelemahan itu adalah (1) kualitas suara guru yang membacakan wacana itu belum tentu ideal. (3) memungkinkan terjadinya gangguan aspek non-linguistik lain pada saat guru membacakan wacana itu. dan (4) pada saat membacakan wacana. Anda tidak perlu memikirkan media pembelajaran yang mahal yang memang tidak .

Artinya. (2) kesesuaian media pembelajaran itu dengan dunia siswa. slogan di sekolah. besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi penggunaan media. media pembelajaran yang Anda gunakan dalam pembelajaran Anda adalah media yang menarik bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran Anda secara lebih inten. dan lain-lain dapat pula Anda manfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra. bungkus roti. Bungkus obat. (3) baru. bungkus makanan.Media Pembelajaran 8-11 dapat Anda dapatkan di sekolah Anda. Untuk dapat memilih dan menentukan media pembelajaran yang menarik. maka media film atau video lebih tepat. dan (5) variatif. (5) Menarik Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan dan penentuan media pembelajaran adalah tingkat kemenarikan. (7) Keadaan siswa Sebuah program media tidak mungkin cocok untuk tujuan tertentu. Sedangkan jika yang dipelajari adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak. jika tingkat kerumitan serta kosakata yang digunakan lebih tinggi di atas kemampuan siswa maka media tersebut tidak dapat dipilih. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa yang akan menggunakan media tersebut. maka gambar mati seperti bagan chart atau slide dapat digunakan. (4) menantang. setidaknya Anda perlu mempertimbangkan (1) kesesuaian media itu dengan kebutuhan siswa. . (6) Ketepatgunaan Jika materi yang dipelajari adalah bagian-bagian yang terpenting dari suatu benda. Akan tetapi.

8-12 Media Pembelajaran (8) Mutu Teknis Seandainya ada media yang cocok untuk tujuan pembelajaran tetapi ternyata tidak lengkap atau terputus-putus. . maka media itu tidak dapat digunakan karena mutu teknisnya tidak memenuhi syarat.

Media Pembelajaran 8-13 BAB III. vidio recorder. Pemilihan dan Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Hamalik (1996:46) mengemukakan pemakaian media pembelajaran dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Penggunanaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keaktifan pembelajaran dan penyampaian pesan dari isi pembelajaran. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. slide (gambar bingkai). grafik. televisi dan komputer. film. PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. foto. Sementara itu Gagne dan Briggs (1995:74) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri antara lain buku. gambar. kaset. video. Indikator Pencapaian Kompetensi Memilih dan mengembangkan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. tape recorder. . Standar Kompetensi Menerapkan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. camera. Kompetensi Dasar Menjelaskan pemilihan dan pengembangan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C.

media terdiri atas media audio (dengar). Kesederhanaan Bahan untuk media grafis harus ringkas. meliputi Papan Flanel. (3) penekanan. . Papan Buletin. seorang pengajar harus bisa merencanakan dan membuat media sendiri. Dalam program ini hanya diberikan satu ilustrasi pembuatan media grafik yaitu flip chart. dan media berprograma. A. media audio-visual (pandang-dengar). Pembuatan Media Grafis dalam Pembelajaran Bahasa Media grafis sering disebut media visual dasar. tidak semua media yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran tersedia. sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting. Flip Chart. Dalam mendesain media grafis. media visual (pandang). 1. media transparansi. jelas dan mudah dipahami. tulisan cukup tebal dan mudah dibaca. Grafik. harus diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: (1) kesederhanaan. Media-media menyampaikan itu sangat membantu tugas kepada pengajar siswa. karena flip chart paling mudah pembuatannya dan paling sering digunakan dalam proses belajar mengajar. media proyeksi. (2) kesatuan.8-14 Media Pembelajaran Menurut jenisnya. Poster. Ada dua jenis media yang sederhana tetapi sangat efektif penggunaannya yaitu media grafis dan media transparansi. Oleh karena itu. dalam Namun materi pembelajaran kendalanya. dan (4) keseimbangan. Kartun dan Komik. media grafis.

Desain keseimbangan formal apabila ada suatu poros yang membagi visual secara simetris. Jalinan antarbagian ini dapat dinyatakan dengan batas yang bertumpangan. Penekanan Dalam media grafis. Keseimbangan . 4. memperjelas. misalnya dengan cara memperbesar. warna. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan. yaitu formal dan informal. bentuk. Penekanan itu dapat dilakukan dalam berbagai cara.Media Pembelajaran 8-15 2. memberi warna atau ruang pada bagian tertentu. Kesatuan Yang dimaksud dengan kesatuan adalah jalinan yang harmonis antara bagian-bagian visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. diperlukan penekanan pada bagian tertentu untuk dijadikan pusat perhatian. tekstur dan ruangan. 3. dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah. garis.

tekstur. warna. Hal ini sering digunakan dalam mendesain caption dan judul. Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah garis. a. dan ruang.8-16 Media Pembelajaran formal memberikan kesan statis. b. warna merupakan unsur . Garis Dalam media grafis sebuah garis dapat menghubungkan unsurunsur dan membimbing yang melihatnya kepada suatu unsur tertentu. Warna Untuk kebanyakan visual. Hal ini dapat memberi kesan dinamis dan biasanya mempunyai daya tarik yang kuat. Bentuk Suatu bentuk yang aneh akan membangkitkan perhatian khusus kepada yang divisualisasikan. Desain keseimbangan informal adalah yang tidak simetris. c.

Hal ini harus digunakan hati-hati sekali. Usahakan batas warna dengan jelas. pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan. Pergunakan dua atau tiga warna saja untuk suatu visual. Usahakan agar warna tidak terlalu banyak dan berbaur satu dengan yang lain. Ruang Ruang terbuka di sekeliling unsur visual dan akan mencegah perasaan terlalu berdesakan tatalah ruang yang digunakan dengan cermat agar . untuk memberikan penekanan.Media Pembelajaran 8-17 tambahan yang penting. Tekstur Tekstur adalah visual yang dapat bertindak sebagai pengganti perasaan yang menyentuh dan dalam banyak hal dapat digunakan sebagai pengganti warna. d. e.

tempat cat. Selanjutnya bagaimana teknik atau cara pembuatan flip chart yang mempertimbangkan prinsip-prinsip media grafis. cellotape. cat air. Bahan dan alat yang diperlukan: • Kertas: kertas putih biasa. B. Pembuatan Flip Chart Flip chart biasanya berupa gambar di atas sehelai kertas yang tidak mudah sobek. • Jangka. letter press. kertas gambar. Sebuah flip chart dengan ukuran 60 X 80 cm biasanya cukup efektif untuk dipakai di depan kelas sebanyak 40 orang. kertas bufalo. ikutilah ilustrasi berikut ini. Untuk di laboratorium flip chart adalah ekonomis dan mudah dibuat. spidol. pembolong kertas. Hal tersebut sering digunakan untuk memberikan judul-judul untuk suatu diskusi atau membuat daftar prosedur yang berurutan. lem. cutter. cat plakat. • Pensil. kuas.8-18 Media Pembelajaran unsur-unsur dalam desain jadi efektif. standard. penggaris. Flip chart juga dapat dipergunakan untuk memberikan pembelajaran di depan kelas. . gunting.

Kemudian pasangkanlah flip chart yang sudah selesai pada standard dengan terlebih dulu membuat lubang pada flip chart Anda untuk menggantungkannya. buatlah pada kertas pesan yang Anda inginkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mengarahkan perhatian. Dengan memperhatikan keempat prinsip serta kelima unsur pembuatan media grafis. 2. tetapi cukup dengan menunjuk pada bagian pesan pada transparansi yang ada di .Media Pembelajaran 8-19 Cara membuatnya: 1. Pembuatan Media Transparansi dalam Pembelajaran Bahasa Media transparansi sebagai media pembelajarana merupakan komunikasi yang sangat potensi dalam kegiatan belajar mengajar. c. C. Alat untuk media ini adalah Overhead Proyektor (OHP). uraikanlah materi pembelajaran yang akan disajikan menjadi beberapa bagian yang penting untuk dipelajari siswa. Anda berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan terhadap siswa. b. Setelah diperoleh komposisi serta bentuk yang memadai barulah Anda buat pada kertas yang disediakan untuk flip chart. Alat tersebut dapat digunakan dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan gelap. 1. Berikut cara mempergunakan media transparansi dalam proses belajar mengajar. Terlebih dahulu buatlah sketsa dari pesan yang ingin Anda sampaikan. Anda tidak perlu membelakangi kelas menuju ke layar.

Setelah selesai dipergunakan. Pada waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak terproyeksikan .8-20 Media Pembelajaran hadapan Anda. Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat digunakan untuk menambah catatan pada waktu menjelaskan materi tanpa merusak transparansi aslinya. transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali dengan alkohol. Pada penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan. 2. Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan. Bayangan penunjuk Anda akan terlihat jelas. 3.

yaitu empat prinsip umum seperti kesederhanaan. kertas milimeter . 5. Dengan memanipulasi bendabenda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan. 4. dan keseimbangan. Bahan dan alat yang diperlukan adalah: a. serta lima unsur tambahan seperti garis.Media Pembelajaran 8-21 ke layar karena kertasnya tidak tembus cahaya. yaitu transparansi lain yang berisian bagian dari pesan yang akan disampaikan langkah demi langkah. penekanan. transparansi b. Mempergunakan Overlays. Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi sama dengan prinsip-prinsip pembuatan media grafis. bentuk. Mempergunakan benda tiga dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. kesatuan. warna dan ruang. konsep yang sulit dapat diberikan setahap demi setahap selama proses belajar mengajar. Sedapat mungkin dalam mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan. Dengan demikian. pena transparansi yang permanen c. tekstur. kapas dan alkohol d.

Untuk mengatasi kelemahan ini. Dengan kegiatan pembelajaran melalui media interaktif berbasis komputer. waktu. dan pikiran sebab guru tidak harus mempelajari dulu bahasa pemrograman komputer. dalam hal ini program microsoft power point. Pembuatan Komputer Multimedia Pembelajaran Bahasa Berbasis Dengan bantuan teknologi perangkat komputer maka dapat dihasilkan multimedia pembelajaran yang interaktif. maka akan dapat memberikan rangsangan bagi siswa untuk mau belajar lebih giat sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulis. grafik. Kelemahan dari program aplikasi Microsoft Powerpoint adalah tidak tersedianya fasilitas untuk menyimpan informasi dari pengguna setelah melakukan eksplorasi pembelajaran.8-22 Media Pembelajaran D. tenaga. dan video untuk menyampaikan pesan atau informasi. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembuatan multimedia pembelajaran menggunanakan program microsoft powerpoint akan menghemat biaya. tersedianya banyak fasilitas aplikasi sehingga pemakai tidak perlu mempelajari bahasa pemrograman komputer. maka . Dengan demikian kita bisa menggunakan kombinasi tampilan berbagai media yang berbeda seperti teks. keuntungan lainnya adalah sederhananya tampilan ikon-ikon yang kurang lebih sama dengan Microsoft word yang sudah banyak dikenal. bunyi. dan juga tersedianya fasilitas untuk dihubungkan dengan internet. Dengan kelemahan ini maka pengguna atau siswa tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara langsung. Hal ini seperti diungkap Ena (2004:4) bahwa keuntungan terbesar memanfaatkan program aplikasi microsoft powerpoint adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah ada di dalam Microsoft office. Pemanfaatan program aplikasi microsoft powerpoint untuk pembuatan multimedia pembelajaran memiliki keuntungan bagi guru.

Media Pembelajaran 8-23 dapat digunakan lembar kertas kerja siswa sehingga guru dapat memantau perkembangan belajar siswa. Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. motivasi. Periode pembelajaran integratif atau dengan kecenderungan komputer yang yang terakhir adalah integratif. berbicara. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. Pembelajaran berbagai memberi penekan pada pengintegrasian ketrampilan berbahasa. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. 1996). Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. tidak terpaku pada sumber tunggal. Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee. mendengarkan. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentukbentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. permainan dan . 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman. menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. interaksi yang lebih luas. materi yang otentik. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan. lebih pribadi. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee. meningkatkan pembelajaran. dan pemahaman global.

keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. meningkat. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh . Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. ketersediaan piranti lunak dan keras komputer. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana. Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Media pembelajaranpun pengetahuan berkembang pengajar atau karena ahli keterbatasan dan tehnis pengajaran keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. 1. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk kurang dari piranti lunak dan kerasnya.8-24 Media Pembelajaran kreativitas.

Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Gambar. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from . Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana.Media Pembelajaran 8-25 kebanyakan pemakai komputer. membaca atau pembelajaran yang lain. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. (a) Memasukkan Teks. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan tehnis dan teori. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet.

. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Fasilitas yang pertama adalah background. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects. Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. yang pertama adalah dengan memberi warna. Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. pilih warna dan tekan apply. apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color. dan from clip art. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background. pilih tekstur atau gambar dan tekan apply. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds..8-26 Media Pembelajaran file . Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply. Background akan memperindah tampilan program. more color dan fill effects. Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan. Fasilitas .. (b) Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill.. yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri.

Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. pribadi dan otentik. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. atau dari sudut. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Objek bisa melayang dari atas. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. bawah. sesudah itu akan muncul dialog . kanan. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. kiri.Media Pembelajaran 8-27 animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. (c) Membuat Hyperlink Fasilitas pembelajaran ini sangat penting dengan dan sangat mendukung bahasa karena hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas.

khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan.8-28 Media Pembelajaran box. (a). kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Mengembangkan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. Membaca Fasilitas memungkinkan menampilkan pembuatan teks materi dalam program aplikasi ini pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran . (b). Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. 2. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik. Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik.

(d). Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan. Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Permainan penyapu ranjau (mine .Media Pembelajaran 8-29 dengan video ataupun audio. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slideslide yang berbeda. (c). Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya.

Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Namun. 3. .8-30 Media Pembelajaran sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan.

kelompok B bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. setiap kelompok dapat dibagi lagi menjadi subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan subkelompok yang bertugas merumuskan media pembelajaran sastra. PRAKTIK PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN A. Praktik Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kegiatan 01: Menentukan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Bagilah peserta pelatihan ini menjadi 3 kelompok! Kelompok A bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas VII. Kalau diperlukan. (1) Berdasarkan identifikasi kompetensi dasar dalam Kurikulum KTSP dan materi pembelajaran yang sudah Anda rumuskan. Kompetensi Dasar Menyajikan media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia C.Media Pembelajaran 8-31 BAB IV. diskusikan dalam kelompok Anda media pembelajaran yang tepat Anda gunakan dalam membelajarkan siswa dengan materi pembelajaran itu agar siswa memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam . Standard Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia B. Indikator Pencapaian Kompetensi Memproduksi media pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia D. dan kelompok C bertugas merumuskan media pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas IX.

8-32 Media Pembelajaran Kurikulum KTSP! Pertimbangkan kriteria pemilihan media di atas dalam diskusi kelompok Anda! (2) Tuangkan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam kertas manila yang disediakan panitia! Sajikan hasil pekerjaan kelompok Anda dalam diskusi kelas! Agar setelah mengikuti pelatihan ini Anda mendapatkan pengalaman yang lebih kongkret dan siap Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kegiatan 02: Membuat Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra (1) Berdasarkan hasil kegiatan (01) dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia dalam pelatihan ini.. perencanaan pembelajaran sastra beserta medianya. selanjutnya buatlah media pembelajaran yang sesungguhnya yang siap Anda gunakan untuk mengajar di kelas! (2) Wujudkan tugas untuk Anda tersebut dalam bentuk rencana pembelajaran kompetensi dasar tertentu berdasarkan Kurikulum KTSP dan lengkapilah rencana pembelajaran itu dengan media yang akan Anda gunakan! (3) Dalam kegiatan ini. medianya. lakukan kegiatan 02 berikut ini. medianya. (4) Presentasikan hasil kerja kelompok Anda dalam diskusi kelas! . medianya. sebaiknya ada kelompok yang membuat perencanaan perencanaan perencanaan perencanaan pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran menyimak berbicara membaca menulis beserta beserta beserta beserta medianya.

Manfaat apa yang Anda peroleh setelah Anda mempelajari media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra? .Media Pembelajaran 8-33 E. (3) tersedia. lakukan penilaian diri dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut! 1. Media pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda gunakan setidaknya harus memenuhi kriteria: (1) tujuan. F. (7) keadaan siswa. dan (8) mutu teknis. Media pembelajaran yang Anda gunakan harus benar-benar menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda laksanakan. (2) fungsional. Media pembelajaran bahasa dan sastra pada dasarnya semua alat yang Anda gunakan dalam membantu mempermudah pembelajaran bahasa dan sastra yang Anda lakukan. Soal Evaluasi Setelah mempelajari dan mengikuti proses pelatihan subbagian bahan pelatihan ini. Kemukakan kriteria penggunaan media pembelajaran yang dapat Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra! Masingmasing berilah penjelasan dan contoh! 3. (5) menarik. (6) Ketepatgunaan. dan yang penting bahwa media pembelajaran yang Anda gunakan harus menarik bagi siswa. benar-benar Anda dapatkan pada saat Anda memerlukannya dalam proses pembelajaran. Berilah alasan kebenaran pernyataan ini beserta contohnya! 2. (4) murah. RANGKUMAN Media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada dasarnya adalah segala sesuatu yang Anda gunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. tidak perlu mahal karena pada dasarnya Anda dapat menggunakan apa saja yang berada di lingkungan tempat Anda mengajar..

Kemukakan pula contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut! 7. Apakah rencana Anda setelah Anda memahami media pembelajaran bahasa dan sastra serta kriteria penggunaannya? 10.8-34 Media Pembelajaran 4. Apakah kendala yang Anda rasakan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran bahasa dan sastra? Berilah penjelasan! 9. Apakah ketidaksesuaian penggunaan media pembelajaran yang Anda lakukan dengan kriteria penggunaannya seperti yang Anda kemukakan pada butir (4) tersebut Anda sengaja? Berilah penjelasan dan atau alasan! 8. Kemukakan pendapat dan atau saran berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia! . Apakah penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan selama ini sesuai dengan kriteria tersebut? Berilah alasan! 5. Kemukakan contoh penggunaan media pembelajaran yang telah Anda lakukan yang sesuai dengan kriteria tersebut! 6.

http:/www. New York: Merrill. No. 1996. Dwi. Media.ac. dkk. Saksomo.aitech. Malang: Buku Ajar (Tidak diterbitkan) . A Paper presented at KIPBIPA III. Brown and Benchmark: Dubuque. Depdiknas. Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. an imprint of Macmillan College Publishing Company.Media Pembelajaran 8-35 DAFTAR PUSTAKA Brown. Hubbard. 1991. Prentice Hall. VI. Greece. Jakarta: Depdikbud. 1996. E. http:/www.T. 1996. Kwuang-wu. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. Hunter.jp/~iteslj/ Norton. 2000. Planning and Producing Audiovisual Materials. Educational Psychology. No. Stephen N et al. and Methods.ac. Harper and Row: New York. 1977. David H. 2003. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA.N. 1980. P3G. New Jersey. Ruseffendi. 1983. E. A Training Course for TEFL. Oxford University Press: Oxford.6. The Internet TESL Journal. Language Arts Activities for Children. James W.aitech. Teaching with Media. June 1996. 12. a paper presented at Technology and Education Conference in Athens. dan Norton.jp/~iteslj/ Idris. Jonassen.. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Draft belum diterbitkan). Ben. S. AV Instruction. II. Nuny S. CALL: Its Scope and Limits. 1999. Vol. 1982. 1993. Lee. Lawrence. Iowa. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. The Internet TESL Journal. Bandung. Ferrod E. Computer as a Mindtools for Schools. Technology. Vol. 1986.. New York: McGraw-Hill. December 2000. Peter et al. Davis. Kemp. Elliot.

Schocolnik. H. 1976. 2003. The Internet TESL Journal.jp/~iteslj/ Sumadi.G. 1999.3. Social Psychology and Contemporarry Society. http:/www. Using Presentation Software to Enhance Language Learning. V. Vol.ac. Wacana Bahasa Indonesia. New York: John Willey and Son. March 1999. Widdowson. E. Oxford: Oxford University Press. 1978. Bahan pelatihan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas. . Miriam.G.8-36 Media Pembelajaran Sampson. Teaching Language as Communication.aitech. No.

BUKU AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .

Penelitian emperisme (emperism research) adalah jenis penelitian yang menekankan metode ilmiah sebagai satu-satunya cara/ metode penghasil pengetahuan. (b) pengetahuan itu dapat digeneralisasikan. (c) pengetahuan itu bersifat replicable/ dapat diulang. Penelitian ini juga memandang bahwa: (a) pengetahuan itu objektif. dan (4) post-criticalisme/ post-modernisme. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Untuk action tindakan memahami research kelas classroom (penelitian secara [PTK]) penuh. peneliti adalah orang luar yang terpisah dari objek yang diteliti. Keempat jenis penelitian pendidikan ini pada hakikatnya menekankan perbedaan tolak pandang dalam melihat hakikat kebenaran (truth) dan hakikat pengetahuan. McTaggart. (2) interpretivisme.BAB I KERANGKA DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. yakni: (1) emperisme. 1993). Penelitian-penelitian emperisme . dan (d) pengetahuan itu dapat dipahami melalui aturan-aturan yang ada. 1989. Penelitian-penelitian pendidikan pada dasarnya dapat digolongkan dalam empat kategori (Candy. Hanya dengan memahami jenis-jenis penelitian pendidikan terlebih dahulu. perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai jenisjenis pendekatan dalam penelitian pendidikan kelebihan dengan dan segala kekurangannya. Connole. posisi PTK dan filofofinya dapat ditangkap secara jebih jelas. Keempat penelitian tersebut dapat disarikan sebagai berikut. Dalam konsep penelitian emperisme manusia dianggap sebagai objek yang pasif. Dalam penelitian emperisme. (3) criticalisme. 1991. 1.

penelitian ini menekankan aspek pemikiran reflektif/ kritis (reflective thinking) terhadap segala faktor luar yang dapat mempengaruhi kualitas penelitian itu sendiri. peneliti harus menjadi insider dari objek yang diteliti. Untuk itu. Menurut pendekatan ini. Untuk memahami masalah-masalah manusia. Objek IPA dan peneliti merupakan bagian yang terpisah. Apa yang disebut . (b) pengetahuan itu dapat berubah (not fixed). suatu penelitian harus berorientasi pada hasil (product oriented) agar hasil penelitian tidak sia-sia. yang berarti juga tidak ada satu sekolah pun yang sama persis dengan sekolah lain. (c) pengetahuan itu tidak dapat digeneralisasikan (not generalizable) karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sama persis. Menurut penelitian ini. penelitian emperisme dipandang tradisional.9-2 Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan penelitian yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu murni IPA. Penelitian kritis (criticalism research) memandang bahwa pengetahuan itu di samping subjektif juga problematik. ideologi. Pendekatan penelitian ini menekankan pemahaman yang komprehensif/ mendalam terhadap objek yang diteliti. Penelitian intepretivisme (intepretive research). Penelitian ini mengkritik pendekatan intepretivisme sebagai penelitian yang terlalu menekankan pemahaman daripada hasil (output). Siapa yang berkuasa (who is on power) dapat mempengaruhi hakikat kebenaran/ realita/ pengetahuan itu sendiri. 3. artinya: pengetahuan itu di samping dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan. 4. karena penelitian intepretivisme meyakini bahwa: (a) pengetahuan/fakta/realita itu mengandung unsur-unsur subjektivitas. (d) masalah-masalah pendidikan tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari aturan-aturan yang ada sebab manusia mempunyai motif. nilai-nilai yang tidak dapat dipahami dari luar. Penelitian post-critical adalah penelitian yang menekankan bahwa kebenaran/ realita itu sendiri sebenarnya tidak ada. 2. Tanpa menjadi insider pemahaman terhadap objek yang diteliti tidak akan sempurna.

Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. dalil. pengembangan keahlian mengajar. Keempat jenis penelitian tersebut menegaskan bahwa ada beberapa pendekatan dalam meneropong masalah-masalah pendidikan. Hukum. Amerika. . dengan melibatkan siswanya sendiri. melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan. Bahkan McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum. Australia. di kelas sendiri. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. Dalam literatur berbahasa Inggris PTK sering disebut dengan classroom action research. jenis-jenis pendekatan tersebut menggambarkan revolusi pemikiran manusia terhadap masalah-masalah pendidikan. Sekalipun demikian. Penelitian-penelitian jenis ini umumnya mempertanyakan kembali apa yang sudah dianggap benar/ realitas itu sendiri. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri. Setiap pendekatan akan menawarkan hasil yang berbeda dan ’bintik buta’ (blind spot) tersendiri. Masing-masing jenis penelitian merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. teori yang selama ini diyakini kebenarannya digugat kembali. Dengan melakukan penelitian tindakan. Canada. pengembangan sekolah.Penelitian Tindakan Kelas 9-3 realitas itu sendiri hanya sebatas bahasa yang mengungkapkan. dan sebagainya.

diagnostik. Jika dengan penghayatannya itu dapat menyimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti: pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak. Berikut ini disajikan beberapa kutipan batasan tersebut. . Kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka. Dengan demikian. pelaksanaan. dan dievaluasi. Berkenaan dengan uraian di atas. guru dapat membuktikan apakah teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia dimiliki.9-4 Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan. perencanaan. cara bertanya guru kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berpikir. dan pengaruh-. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelas. serta pemahaman mereka terhadap praktikpraktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart 1988:5-6). melalui penelitian tindakan kelas guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang lebih efektif dan optimal. Sebaliknya. dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. merasakan. Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut (Cohen dan Manion 1980:174). umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif. pemantauan. guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar.menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional (Elliot 1982:1). sejumlah batasan tentang penelitian tindakan telah dikemukakan oleh para pakar. maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur penelitian tindakan kelas. guru juga dapat melihat. Seluruh prosesnya --telaah.

serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. 1992) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri. (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut. Suyanto (1997). dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif. Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan: PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. salah satu contoh jenis penelitian criticalism adalah penelitian tindakan itu sendiri. prinsip-prinsip penelitian tindakan sangat diwarnai oleh pendekatan penelitian critical. Dengan demikian. Dengan kata lain. dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-5 Penelitian tindakan (action research) adalah jenis pendekatan penelitian criticalism (Priyono 1999:3). misalnya. Stephen Kemmis (dalam Hopkins. mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas secara profesional. Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas. (b) dilakukan oleh pelaku tindakan .

Anda akan terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik. PTK dilaksanakan dalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap. dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. Anda kemudian dapat mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut. Dari pemikiran itu. dan refleksi. 0leh sebab itu. 1997). pelaksanaan tindakan. . Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian. Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut. yakni perencanaan. observasi. Artinya.9-6 Penelitian Tindakan Kelas PTK bersifat reflektif.

On-the (masalah job yang problem-oriented diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam jawab masalah kewenangan/ peneliti). Kalau peneliti adalah .Penelitian Tindakan Kelas 9-7 B. 1. yang Ini diteliti tanggung berarti adalah masalah-masalah riil yang dihadapi sehari-hari. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS Priyono (1999:3-6) memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut.

karena tidak memecahkan masalah. siswa. 3. Penelitian-penelitian yang hanya menghasilkan pengertian/ pemahaman seperti pada penelitian empirisme dan intepretivisme dianggap tidak meaningfull (bermanfaat). 2. (b) siswa/ guru diperlakukan sebagai objek (informan) pasif. dan (c) penelitian tidak membawa perubahan kepada siswa/ guru. Judul-judul penelitian empirisme yang ditulis oleh para mahasiswa strata 1 di bawah ini jelas bukan classroom-based action research: a) Pengaruh Pemanfaatan Laboratorium IPA terhadap Pemahaman Konsep Alat Transpotasi Tumbuhan (Yushriati. Kalau sistem itu sekolah. 1999). Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas). komponen-konponen sekolah itu (guru. Action research menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi itu berkembang (berubah lebih baik). Dengan kata lain. penelitian-penelitian empirisme semacam itu tidak memberdayakan guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat memperbaiki kondisi kelas sendiri. 1999). masalah-masalah yang diteliti adalah masalah-masalah kelas/ sekolah yang merupakan bidang tanggung jawab utamanya. b) Pengaruh Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Konsep saling Ketergantungan Organisme (Sungkono.9-8 Penelitian Tindakan Kelas seorang guru. . Penelitian-penelitian pemahaman semacam itu hanyalah menghasilkan (understanding) terhadap masalah-masalah pemanfataan laboratorium dan pengaruh metode sosiodrama. bukan orang lain (outsiders). yakni: orang yang paling tahu masalah-masalah kelas adalah guru itu sendiri. Ada beberapa alasan mengapa penelitian semacam itu tidak membawa pemecahan masalah di kelas: (a) masalah penelitian bukan masalah yang dihadapi guru. Ciri classroom-based action research ini diwarnai oleh pendekatan intepretivisme. 4.

Partisipatory/collaborative.Penelitian Tindakan Kelas 9-9 kepala sekolah. and reflecting. Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). lingkungan kelas/ sekolah) harus berkembang lebih baik. 1997). demikian. Dengan penerapan semua cara koleksi data tersebut. Dampak suatu tindakan tersebut selalu diikuti secara kritis dan reflektif. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) melakukan setiap langkah AR. 5. action. apa yang sebenarnya disebut kebenaran/ realita dapat lebih diungkap. 6. Secara siklus yang pada hakikatnya menggambarkan pemikiran kritis dan reflektif terhadap efek tindakan. 7. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto. pada penelitian-penelitian kemampuan inderawi empirism dapat yang hanya dipertanyakan . mengingat kebenaran (realitas) itu di samping subjektif juga problematik. Konsep ini sangat diwarnai oleh prinsip penelitian critical: penelitian harus menghasilkan produk perubahan (product-oriented). (3) wawancara. (2) tes. observing. Semua cara ini difokuskan untuk mendapatkan validitas hasil penelitian. Dengan bersandar validitasnya. konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning. dsb. berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti: (1) observasi. PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. Anda akan berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. Cyclic (siklis). Dengan PTK. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik). (4) kuesioner.

Ketiga. permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. optimal. penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas. Kedua. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda--dengan melibatkan siswa--Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran. atau bahkan oleh guru lain. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. Sebaliknya. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut.9-10 Penelitian Tindakan Kelas Pada sisi lain. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan. jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. atau oleh kepala sekolah. bukan PTK. dan fungsional. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien. pengawas. misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Pertama. Itu hanya merupakan penelitian kelas. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. oleh dosen LPTK. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. Dengan demikian. Menurut Suyanto (1997). Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru. yang . Misalnya.

upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam. c. Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within). maka penelitian semacam itu adalah PTK. Anda . sebagai guru. Jadi. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat. a. Dengan cara itu.Penelitian Tindakan Kelas 9-11 berisi ceritera-ceritera lucu. Oleh sebab itu. penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru. yakni dari guru itu sendiri. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. Bersifat reflektif (A reflective practice made public). Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif. PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas. Menurut Hopkins (1992). Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas? Memang. Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators). PTK lebih longgar karena analisis datanya tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. ia tetap menekankan pada objektivitas. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. b. Namun sebagai penelitian. PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. dan sebagainya.

Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan. 3.9-12 Penelitian Tindakan Kelas akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. mengembangkan strategi yang dapat diterapkan . 2. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya. Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian. Sebaliknya. PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK. menentukan hipotesis tindakan yang baik. dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. serta membantu analisis data penelitian. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk merumuskan masalah yang tepat. Bagimana hasil identifikasi Anda? Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. C. Oleh sebab itu. Prinsip tersebut sebagai berikut. 1. sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh.

Penelitian Tindakan Kelas 9-13 pada situasi kelasnya. a. Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah. Meskipun ada kelonggaran. 5. strategi dapat diterapkan di kelas 4. 2. penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. Artinya. Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Metodologinya andal. Identifikasi dan rumusan hipotesis b. dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah. Secara lebih ringkas. Konsisten terhadap prosedur etika 6. permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu. 5. disosialisasikan kepada teman sejawat. Tidak mengganggu komitmen mengajar. melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan. Tidak terlalu menyita waktu. prinsip-prinsip PTK dapat dituliskan sebagai berikut. 4. Merupakan masalah guru. Prinsip-Prinsip PTK 1. serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. 3. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga. 6. di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik. Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya. dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. meyakinkan .

Sebagai guru. ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK. Dengan PTK. apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf). yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru. akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran. proses pelatihan terjadi secara hands-on. kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Apabila kita mencermati pengertian PTK. Kedua. Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. . Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. Dengan kata lain. diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik. tidak dalam situasi artifisial. Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. Mengapa demikian? Pertama.9-14 Penelitian Tindakan Kelas D. Menurutnya. PTK mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. Ketiga.

Dengan PTK. Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan. . Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbedabeda. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. Anda dapat mengembangkan teknik. maupun Iatar kecerdasannya. di tempat Anda mengajar. Di samping itu. latar sosial budayanya. Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh di kelas. Dalam hal manfaat PTK ini. Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran. Dengan demikian. metode. Untuk itu. serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai. (3) peningkatan profesionalitas guru. atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk melihat efektivitasnya di kelas. pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. Pemilihan tujuan yang tepat. PTK merupakan bahan refleksi bagi Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas. (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. materi yang sesuai. Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar. dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri.Penelitian Tindakan Kelas 9-15 E. MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi. baik tingkat kelas. guru. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK mengembangkan proses akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk belajar mengajar di kelas. tingkat umurnya. secara ringkas. Itu berarti bahwa Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya.. perubahan yang terus-menerus dikembangkannya.

misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. 2. Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat. seperti guru dalam situasi belajar-mengajar. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. Rasa ikut . dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen). PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS PENELITIAN TINDAKAN Ada lima persoalan praktis yang perlu diperhatikan dalam penelitian tindakan dan masing-masing akan diuraikan secara singkat di bawah ini. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan. misalnya situasi belajarmengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. 1. Pemilik penelitian tindakan. peneliti dengan berperan sebagai fasilitator mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti maslah yang telah diidentifikasi oleh para guru. Pemrakarsa penelitian tindakan. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (a) kelompok orang yang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait. Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi. misalnya konsultan. Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tidak mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. dan (b) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator. tetapi mereka kurgan mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi. dibuat merasa ikut memilikinya. sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut.9-16 Penelitian Tindakan Kelas F. Dalam situasi seperti itu.

rekaman video. 5. dan oleh karena . Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. Data dapat berbentuk catatan-catatan. transkrip wawancara. rekaman audio. Oleh karena itu. Persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. 3. bukan hanya mengingat kembali. namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematis sering timbul karena ada masalah dalam suatu situasi.iti merekonstruksi tindakan terkait. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan penel. yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Data penelitian tindakan antara lain berupa semua catatan tentang hasil amatan. Data penelitian tindakan. pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis. Fungsi data dalam penelitian tindakan adalah sebagai landasan reflektif. foto dan sebaginya. Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah. rekaman audio dan video kejadian. Dengan demikian. Sasaran penelitian tindakan. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. melainkan unbtuk mendokumentasikan amatan dan oleh karena itu menjebatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan. Data diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut merupakan bagian dari dirinya. yang dikumpulkan lewat berbagai teknik. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata. Analisis data.Penelitian Tindakan Kelas 9-17 memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian. 4.

.9-18 Penelitian Tindakan Kelas itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta lainnya untuk dapan melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. usaha trianggulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain. Dengan kata lain.

pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi. Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan. SIKLUS I PERENCANAAN SIKLUS II PERENCANAAN dst. Sesuai dengan karakteristik dari pelaksanaaan AR yang siklis. Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal. Dengan kata lain. desain AR menurut Tripp (1996). PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi. serta-apabila perlu--perencanaan tindak lanjut. perencanaan tindakan. tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.BAB II PELAKSANAAN PENEILITIAN TINDAKAN KELAS A. misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu. REFLEKSI TINDAKAN REFLEKSI TINDAKAN OBSERVASI OBSERVASI . digambarkan sebagai berikut. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. Dengan demikian. analisis dan refleksi.

Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi kelas. Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut.Misalnya: a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas. Anda perlu menentukan suatu topik. c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat. a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas? b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang? c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca? . Anda perlu proses belajar mengajar yang terjadi di dalam merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda. Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas. dan M. 1. Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut. tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya. b) Dalam pelajaran mengarang. Prarefleksi Untuk memulai penelitian tindakan kelas. Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit. meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya. agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telah disarankan. para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar. D.9-20 Penelitian Tindakan Kelas Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus AR yang diadaptasi dari Kember. Kelly (1992).

Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. materi yang akan diajarakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-21 Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. 2. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut. Siapa akan mengerjakan apa. dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merkam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru. Perencanaan Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan. dan (c) perubahan sifat evaluasi. Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan. Pada tahap ini. peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian. Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum. Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang .

dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi. 3. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan. dalam melaksanakan rencana Anda tersebut. cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan. guru benarbenar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan. jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan. Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. Jadi.9-22 Penelitian Tindakan Kelas cukup rendah dalam keterampilan menulis. (2) menyusun pedoman observasi. (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi. peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini. Tindakan Perlu diingat juga. Berdasarkan permasalahan tersebut. wawancara. (3) menyusun rancangan evaluasi. . Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. dan jurnal. Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. sebagai Kelas diciptakan belajar komunitas (learning community) daripada laboratorium tindakan. namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas.

Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf.Penelitian Tindakan Kelas 9-23 Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah. Melalui kegiatan ini. 4. siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. dan pengertian paragraf eksposisi. siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. Kegiatan inti Pada kegiatan inti ini. Oleh karena itu. setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan. guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan . dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. pola pengembangan. Setelah itu. siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf. Pengamatan Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu. Kemudian. a. c. Pada tahap terakhir. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi. b. Penutup Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. Pendahuluan Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Melalui kegiatan ini. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi. dan kelompok yang lain menanggapinya. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut. ciri-ciri.

9-24 Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara . dan alat koleksi data (angket. peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung. peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. sedang. peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. peneliti menguraikan jenisjenis data yang dikumpulkan. Selain menggunakan lembar observasi. sosiometri. dan pesan siswa terhadap materi. Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif. cara pengumpulan data. dan rendah. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. Selama penelitian berlangsung.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga. peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa. Melalui lembar observasi. Selain jurnal siswa. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara. dll. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi. pesan dan kesan. Pendek kata. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK. wawancara. proses pembelajaran. peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. jurnal. peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. kesan. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. pada langkah ini. hambatan yang dialami oleh guru. Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya.

bagaimana (how). dan suasana kelas. responsif. guru. antusiasme. and the other culture of the groups.Penelitian Tindakan Kelas 9-25 5. Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi. perubahan sikap percaya diri. peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah: .. apa kelebihan/kekurangan. dsb. keinginan tahu. and societies to which the belongs …. Dari catatan-catatan itulah. misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi. Refleksi Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa.. Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. mengapa demikian. dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. langkah-langkah penyempurnaan. portofolio (catatancatatan tentang hasil/prestasi siswa).) McTaggart (dalam Connle. seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas. kepuasan diri setelah mengajar. Untuk itulah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti). parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals. Pada tahap ini. institutions. kepercayaan diri. disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). Demikian pula perubahanperubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya. guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why). on the one hand. Suasana perubahan pada atmosfir kelas .

Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa.9-26 Penelitian Tindakan Kelas juga disajikan. dan bagaimana). Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup.63% dari jumlah keseluruhan siswa. siapa. Sedangkan kata tanya kapan dan mengapa belum digunakan. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan. Oleh karena itu. mengapa. setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. agar semua dapat . Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik. siapa. Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. dsb. Dalam indikator membuat daftar pertanyaan. Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi. Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas. dari mana. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya. di mana. suasana kelas yang lebih akrab. Yang jelas. kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup.73 dan termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber. perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok. penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak. apa. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok. kapan. karena bericara lebih cepat daripada menulis. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan. Apa yang terjadi pada suatu siklus.

Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran.1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran.8% yang aktif. Merasakan Adanya Masalah Jika Anda tergolong pemula dalam PTK. diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri. 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab . Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. sehingga siswa akan memperhatikan guru. melihat tulisan teman. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. Keempat hal tersebut sebagai berikut. konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus. Pada siklus I ini sekitar 42. Oleh karena itu. dan 4 siswa sebagai pencatat pokokpokok informasi. Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber. Dengan demikian siswa akan lebih aktif. ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57. Namun demikian. mereka cenderung mengobrol dengan temannya. 1. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf. dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. Pada siklus I. berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara. dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. Selain itu. B. perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi. PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN Ada empat hal yang harus diperhatikan terkait dengan penetapan fokus masalah penelitian. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja. Selain itu.Penelitian Tindakan Kelas 9-27 terekam.

Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola.9-28 Penelitian Tindakan Kelas pertanyaan tersebut. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran. Dengan kata lain. yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. Merasakan adanya masalah: • • • Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah Jadi. yang 0leh sebab itu. Oleh karena itu. mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional. bukan permasalahan yang disarankan. untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran. merenung. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa. permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai guru dalam praktik pembelajaran. Dalam proses perenungan itu. terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran. serta berpikir balik. Anda harus mampu merefleksi. . mungkin agaak sulit bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas.

Masalah itu dilihat/ diamati/ dirasalan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari. Masalah itu juga di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. Untuk itu. Masalah harus riil dan on the job problem oriented.Penelitian Tindakan Kelas 9-29 guru. artinya masalah tersebut benar-benar ada (dirasakan sebagai masalah. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. (2) pemecahan masalah tersebut belum mendesak dilaksanakan. Untuk itu. artinya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. b. 2. Kualitas penelitian pun dapat ditentukan oleh kualitas masalah yang diteliti. Masalah itu datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri sehari-hari. Sebagaimana disinggung oleh tulisan sebelumnya. dan (3) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan. interaksi pembelajaran. . bahan ajar. Masalah-masalah yang asal-asalan (yang kurgan teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi. dan hasil belajar siswa. bukan datang dari pengamatan orang lain. Oleh sebab itu. sebab penelitian tidak membawa temuan yang bermanfaat. Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata adalah masalah-masalah yang problematik. kurikulum. tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. a. c. identifikasi masalah sering merupakan tahap penting dalam pelaksanaan penelitian. ldentifikasi Masalah PTK Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian tahap-tahap penelitian. Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). sebab: (1) pemecahan masalah tersebut tidak/kurgan mendapat dukungan literatur/sarana-prasarana/ birokrasi. beberapa langkah berikut dapat diikuti dengan seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan PTK.

harus dipilih masalah-masalah yang fisibel dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung di atas. dana. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah-masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan. memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK. d. media pembelajaran. seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. selalu fisibel. (2) resiko apa yang paling jelek bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. Untuk asas manfaat. seperti kemampuan membaca peta buta. atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar. problematik. akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti penguasaan operasi matematika. (3) kompetensi mana yang tidak tercapai bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini. Menurut Abimanyu (1995).) maslah tersebut dapat dipecahkan. dapat dilontarkan beberapa pertanyaan berikut: (1) apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak dipecahkan. dan jelas manfaatnya. Bila dilihat dari sumber daya peneliti (waktu pembelajaran efektif. . dll. Bahkan. Masalah PTK harus fisibel (dapat dipecahkan/ditangani). Dalam hubungan ini. tidak semua masalah penelitian yang sudah nyata. Dengan kata lain. dukungan birokrasi.melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan.9-30 Penelitian Tindakan Kelas pilihlah masalah-masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. Untuk itu. arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut. Anda sebagai peneliti --secara individu atau bermitra dengan guru lain-. 3.

keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. d) Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian. dan operasional. c) Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable). atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah. selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas. spesifik. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding). temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK melaksanakannya. b) Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya. Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. Di samping itu. e) Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prionitas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah. Perumusan Masalah Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.Penelitian Tindakan Kelas 9-31 a) Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya. khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai . untuk juga mencoba 4.

PERENCANAAN TINDAKAN 1. . Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti. alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan. jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan. dalam PTK. penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. Di samping itu. Misalnya. Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK . Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): (1) Keterampilan menulis karangan narasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri Bandar masih rendah. perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya. Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan Dilihat dari sudut lain. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I.9-32 Penelitian Tindakan Kelas proses dan/atau hasilnya itu direkam. (3) Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP N 2 Kudus setalah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kooperatif metode jigsaw? C. (2) Mayoritas (85%) siswa kelas 5 SD N Sekaran membaca dengan kecepatan di bawah 100 kpm.

dan e) Perefleksian pengalaman Anda sebagai guru. peneliti lain dan sebagainya. b) Pengkajian permasalahan. c) Diskusi dengan rekan sejawat. a) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan.Penelitian Tindakan Kelas 9-33 Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal. akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”. Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. hasil-hasil penelitian yang relevan dengan Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut. Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat. . d) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah. Dengan kala lain. Sebagai contoh lain. sebagai peneliti. a) Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. pakar pendidikan. maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian.

“Dengan pembelajaran teknik permainan simulasi maka keterampilan menulis hasil wawancara akan meningkat dan tingkah laku siswa pada kelas X.4 SMA 7 Semarang akan berubah ke arah yang positif”. kelaikan teknis. . “Pembelajaran apresiasi pusi dengan media syair lagu serta penayangan video klip dapat emningkatkan kemampuan apresiasi puisi serta akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengapresiasi puisi”. c) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual. baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru.9-34 Penelitian Tindakan Kelas b) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan. Di samping itu. Berikut ini contoh rumusan hipotesis tindakan. FBS UNNES angkatan 2003. yang diambil dari skripsi mahasiswa PBSI. serta keterlaksanaannya. d) Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikanperbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu. tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. “Keterampilan menulis karangan siswa kelas III SDN 03 Ungaran akan meningkat dan akan terjadi perubahan dalam tingkah laku siswa jika dalam pembelajaranya menggunakan metode stimulasi unik bertematik dan strategi pembelajaran mewnulis karangan secara terbimbing”.

Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. sebagai aktor PTK. kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. Dengan kata lain. tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal OIeh karena itu. apabila diperlukan. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-35 2. yang paling penting. Pada gilirannya. beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut. untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan. Menurut Soedarsono (1997). selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif. gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain. Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. Namun. Di pihak . Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka. hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. a) Implementasi PTK akan berhasil. diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya. Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya.

PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa. sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. selain persyaratan kemampuan. maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4). Selanjutnya. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. c) Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan. Dengan kata lain. Dengan kata lain. Oleh karena itu. iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. d) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan. sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. e) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi. demi keherhasilan PTK. PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. . psikologis dan sosial budaya maupun etik. dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK. keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah.9-36 Penelitian Tindakan Kelas lain. b) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik. Dengan kata lain. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan statusquo. Dengan kata lain.

Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif. Itu berarti bahwa . Sebagai aktor PTK. Persiapan Tindakan Sebelum PTK dilaksanakan.Penelitian Tindakan Kelas 9-37 Selain itu. d) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. a) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. dilakukan oleh sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK seorang guru atas prakarsanya sendiri. PELAKSANAAN TINDAKAN DAN OBSERVASI INTERPRESTASI Sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu. sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut. 3. c) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan. apa saja yang perlu Anda persiapkan? Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. D. b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas. guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan.

melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional). Oleh karena itu. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK. kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi. penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi. Sebaliknya. Dengan kata lain. fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran. para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu. gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. patut dicatat bahwa Hopkins (1992) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK. dampak perbaikan yang diperoleh. . seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaran sehari-hari. harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan. betapapun canggihnya. agar tidak menimbulkan kerancuan yang tidak perlu. Hal itu juga berarti. apabila memang kebetulan telah terwujud. Akhirya. bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini.9-38 Penelitian Tindakan Kelas observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam. penyelenggaraan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM.

Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasiinterpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK. Pelaksanaan Tindakan Jika semua tindakan persiapan telah selesai. dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran. Artinya. dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas. pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi. 1. (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan. PTK bukan supervisi pengajaran.Penelitian Tindakan Kelas 9-39 Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL. pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi. tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas. meskipun memang mungkin saja dalam PTK juga tergelar dimensi supervisi . skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual. apabila memang masih ada. (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK. serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan.

2. OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi. Sebagaimana telah diisyaratkan. berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif. Dengan kata lain. observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. sebaliknya dalam konteks PTK terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer). supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision). (ii) ujaran siswa (pupil talk). konteks dan filosofi PTK berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. Observasi dan Interpretasi Secara umum. . dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK . yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK. Sebagaimana diketahui. Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi. Dengan kata lain. observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk).9-40 Penelitian Tindakan Kelas pengajaran. namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu. Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal. pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation).

3. Diskusi Balikan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. memusatkan perhatian kepada . Dalam hubungan ini. Sebagai contoh. dapat dimanfaatkan secara produktif. ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. Dalam observasi kesejawatan ini. perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins. mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual. 1992). maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan. Akan tetapi. meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK .Penelitian Tindakan Kelas 9-41 Sebaliknya. agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki. interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran. terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. Apabila yang terakhir ini dilakukan. Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi. sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL. melakukan pengamatan secara umum.

9-42 Penelitian Tindakan Kelas suatu fokus. kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. apabila: a) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi. sementara. Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan. b) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan guru aktor tindakan perbaikan. dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan. diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru. c) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat. d) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir E. Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal. ANALISIS DAN REFLEKSI Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum. materi. . dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan. dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian guru sebagai aktor tindakan perbaikan. secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan. yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data.

serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan. di samping induksi dan deduksi. Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK. Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya. Artinya. mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan. sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi. ular harus makan. Dari banyak pengalaman keseharian. dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan. yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas. refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis. semut harus makan. ayam harus makan. Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum.Penelitian Tindakan Kelas 9-43 Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan. Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan. serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat . sementara. melakukan refleksi. dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. Secara teknis. serta dicermati unsur-unsurnya. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagianbagian.

batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan. semua binatang harus makan. Sebaliknya. untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif.9-44 Penelitian Tindakan Kelas dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan. proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK . atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. Untuk membuatnya menjadi deduksi. Bagaimana penilaian mutu hasil induksi. atau deduksi. sedangkan untuk berfikir deduktif. dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. Dengan kata lain. dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir.1997). yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. Hanya saja berbeda dan penelitian formal. yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup. antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat dari hal abstrak yang berlaku umum. pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya. dan (ii) karena ular adalah binatang. Untuk berfikir induktif. Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang . dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi.

sebaliknya. 1997). Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi. mengimplentasikan tindakan baru. kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. memfokuskan. refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. dan penyimpulan. Dengan kata lain. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif.Penelitian Tindakan Kelas 9-45 telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. paparan data. Analisis Data Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. menyusun perencanaan baru. tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya. yaitu deduksi data. baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru. Namun. meyederhanakan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. mengabstraksikan. Dengan kata lain. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. 1. representasi tabular termasuk dalam format .

dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis. Dengan kata lain. dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut.merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Apabila memang masih dipandang perlu. IDENTIFIKASI ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN TINDAK LANJUT Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Apabila dicermati. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan. tetapi mengandung pengertian luas. Refleksi Sebagaimana telah dikemukakan di atas. refleksi . Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat. 2. apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. representasi grafis. dan sebagainya. refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi.9-46 Penelitian Tindakan Kelas matniks. .

yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK . Oleh karena itu. seorang pelaksana PTK pemikiran tentang sebab-sebab tidak boleh hanya terpaku pada kejadian-kejadian pada fase dan sebelumnya. tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif.Penelitian Tindakan Kelas 9-47 Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya. ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan. Akhirnya. maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru. di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. memprakirakan peluang keberhasilan. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK membahas observasi inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. maka terbuka peluang untuk dampak samping dan tindakan yang mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru. namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan direncanakan itu. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. yang hendak ditekankan . dan pada gilirannya.

dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak. pelaksanaan tindakan. hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu. PERENCANAAN TINDAK LANJUT Sebagaimana telah diisyaratkan. yaitu perumusan masalah. jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan. Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan). observasi dan interpretasi. maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau. memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang . Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. Namun. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan. F. maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. dan analisis-refleksi. Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya. dan seterusnya.9-48 Penelitian Tindakan Kelas dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya. dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada. Dengan demikian. Di pihak lain. Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1. maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. perencanaan tindakan. Namun.

Catatan lapangan. longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam suatu jangka waktu. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. pertengkaran picik. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Catatan anekdot. Alat Bantu Observasi Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai. G. a. Catatan anekdot adalah riwayat tertulis. c. b.kelas dalam suasana serius. perilaku kurang perhatian. 1998). yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa-peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. kecerobohan. perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik untuk memulainya. misalnya dalam situasi belajar-mengajar: . Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot.Penelitian Tindakan Kelas 9-49 dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa. Seperti halnya catatan anekdot. Teknik-teknik yang dimaksud sebagai berikut. PROSEDUR OBSERVASI 1.Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukan dan katakan” . Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Deskripsi perilaku ekologis. guru. dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik. Deskripsi akurat ditekankan untuk menghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu. tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. . deskriptif. tetapi tawa meledak ….

efisiensi penilaian. Teknik ini mirip dengan catatan harian. pekerjaan siswa yang dipamerkan. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain. hipotesis. kebijaksanaan. disiplin. seorang siswa …. tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan sejumlah topik. Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. papan pengumuman siswa. kantor atau bagian kantor. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tenbtang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif. dsb. tes formal dan informal. garis besar. penafsiran. pengelompokan kelas. kontak individual dengan siswa. sekolah atau bagian sekolah. Logs. e. edaran untuk orang tua atau karyawan. Catatan harian mungkin memuat observasi.Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggungnya. dugaan. memo guru atau pejabat. tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu. d. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individu sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. satu untuk satu kartu. f.9-50 Penelitian Tindakan Kelas . Kartu cuplikan butir. Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian. perasaan. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topiktopik seperti pendahuluan pelajaran. papan pengumuman guru. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan. dan penjelasan. Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis. Catatan harian. memo untuk staf. Analisis dokumen. reaksi. dan perilaku . dan atau peraturan. publikasi siswa atau karyawan. kualitas pekerjaan siswa. Gambaran tentang persoalan. g. dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat.

penilaian. Pertanyaannya harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). (b) Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi mana yang paling dekat dengan pendapat. Menguji coba pertanyaan dengan teman atau cuplikan kecil responden akan meningkatkan kualitasnya.Penelitian Tindakan Kelas 9-51 seorang siswa. perasaan. h. i. Angket terdiri atas pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. . kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Portofolio. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahaptahap eksplorasi. dan atau tambahan-tambahan rapat staf yang relevan. Teknik ini membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh. Pertanyaan ada dua macam. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah. (a) Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Portofolio mungkin memuat hal-hal seperti tambahan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti. dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat pada atau timbulnya kebosanan dengan aspek tertentu. korespodensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subjek penelitian. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya. atau posisi mereka. Angket. singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat.

Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas. tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu. Metode ini digunakan untuk apakah individuindividu disukai atau saling menyukai. dalam situasi sekolah. Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sisiogram yang mencatat hubungan seluruh kelompok. Misalnya. yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. Wawancara dapat: (a) Tak terencana: misalnya. k. kategori jadwal dan checklist mungkin menunjuk pada: . Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. Wawancara. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subjek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subjek tertentu ingin bekerja sama. (b) Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara. omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subjek penelitian. Jadwal dan checklist interaksi. yang pencatatannya dilakukan dengan jarak waktu. Metode Sosiometrik. Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. l.9-52 Penelitian Tindakan Kelas j. (c) Terstruktur: Pewawancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaannya. atau berdasarkan peristiwa. Teknik ini memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dari pada angket.

Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/ peristiwa untuk dianalisis kemudian. menjawab. Rekaman video. Jika transkripsi esktensif diperlukan. (d) Perilaku nonverbal siswa: menoleh. m. Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran. . (b) Perilaku verbal siswa: misalnya. seminar. rapat. Subjek-subjek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian. Karena daya tarik bagi subjek penelitian. Foto dan slide. Foto dan slide berguna untuk merekam peristiwa penting. Bila ada asisten yang membantu. mondar-mandir. mengerutkan kening. berkelakar. mendisiplinkan (individu atau kelompok). duduk dengan siswa yang lamban. misalnya aspek kegiatan kelas. menjelaskan. tertawa. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. menulis. memberi isyarat. o. foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data. berdiri dekat siswa yang pandai. dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) analisis yang cermat. yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. menangis. bertanya. Rekaman pita. menyela. prosesnya mungkin menjadi panjang dari segi waktu. diskusi. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mna perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. n. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. lokakarya. tersenyum. lebih banyak perhatian dapat diberikan reaksi dan perilaku subjek secara perorangan. atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. menulis. bertanya. menulis cepat.Penelitian Tindakan Kelas 9-53 (a) Perilaku verba guru: misalnya. menggambar. (c) Perilaku nonverbal guru: misalnya.

3. sama seperti pada tindakan pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin. data yang diperoleh dan observasi itu langsung diinterpr-etasikan maknanya dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah direncanakan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. pada saat dilaksanakannya tindakan. 2. 1. data dan interpretasi hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan refleksi. Pada gilirannya. Selanjutnya. sebagaimana halnya dalam tindakan pembelajaran umumnya. Sebagaimana telah dikemukakan. Pertanyaan-Pertanyaan tentang PTK Sekalipun Penelitian Tindakan kelas telah diujicobakan dan disosialisasikan pada pelatihan-pelatihan guru. misalnya: sekolah.9-54 Penelitian Tindakan Kelas p. Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi. organisasi besar. Sasaran Observasi Dalam PTK. untuk mendiagnosis kelemahan dsb. Alat penilaian dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. penguasaan. masyarakat dan seterusnya. PT pun dapat dilakukan dalam skala yang luas. beberapa pertanyaan peserta pelatihan PTK menggambarkan tentang isu-isu sentral pelaksanaan PTK. Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Penampilan subjek penelitian pada kegiatan penilaian. yang memberi ciri PT itu bukan masalah besar atau . secara bersamaan juga dilakukan pengamatan tentang segala sesuatu yang terjadi --atau tidak terjadi-.selama proses pernbelajaran berlangsung. observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya. Jadi. Pertanyaan: Dapatkah dianggap bahwa penelitian tindakan (PT) itu adalah penelitian skala kecil? Jawab: Bukan masalah besar atau kecil yang mencerminkan suatu penelitian itu dapat dianggap PT.

yang lain diperlakukan sebagai objek pasif --tidak dapat keuntungan apa-apa (researched). manusia dianggap sebagai subjek aktif (subjek yang dapat memainkan peran). dst.Penelitian Tindakan Kelas 9-55 kecilnya kelompok. diaduk-aduk supaya homogen. Pertanyaan: Ada yang menganggap bahwa PT itu anti statistik. prinsip-prinsip statistik inferensi (alat generalisasi berdasarkan sampel) seringkali ditinggalkan (tidak dipakai). mengingat di dunia ini tidak ada individu/ sekolah/ organisasi/ komunitas yang sama persis.). satu kelompok sebagai kelompok perlakuan. Dalam konsep penelitian empiris. . Pertanyaan: Dapatkah disimpulkan bahwa PT itu sama dengan penelitian eksperimen? Jawab: Tidak bisa. 3. Dalam konsep PTK. Statistik masih dapat dimanfaatkan dalam penelitian PT. researcher. yang di antara researcher dan researched terdapat jurang pemisah sehingga yang satu. PT tidak ambisius untuk membuat generalisasi. manusia dianggap sebagai objek pasif. Cara pandang empiris seperti ini ditolak oleh pendekatan critical yang berkeyakinan manusia bukan objek pasif yang dapat dimainkan: satu kelompok sebagai kontrol. Buat apa menggeneralisasikan? PT lebih berorientasi pada produk/ perubahan (improvement oriented) daripada sekadar generalisasi. untung/ dapat sesuatu yaitu pemahaman. Penelitian eksperimen adalah satu contoh penelitian empiris. bagaimana penjelasannya? Jawab: PT pada dasarnya tidak anti statistik. manusia adalah agen of change yang dapat memperbaharui dunia. misalnya statistik deskriptif. yang dapat diberi perlakuan (dibandingkan. namun karena prinsip PT adalah critical approaches. Untuk itulah. Jadi. 2. PT bercirikan ”penelitian kritis” (criticalism approaches). sebagaimana merupakan fokus penelitian empiris bukan merupakan masalah pokok dalam konsep PT. PT bukan penelitian empiris. masalah samplingpopulation. Dalam konsep PT.

yaitu: (a) masalah harus nyata (realistis): ada/ dirasakan oleh peneliti sebagai masalah. suatu penelitian sudah dapat digolongkan apakah itu penelitian empiris atau critical (PT). untuk PT oleh guru. Hanya dari masalah yang diteliti saja. sebab masalah yang diteliti tidak datang dari guru itu sendiri. sekalipun demikian. artinya: masalah itu harus benar-benar riil/ nyata muncul dari dunia tanggung jawabnya. apabila untuk penggalian masalah yang diteliti terjadi kolaborasi dengan pihak guru. Pertanyaan: Hanya dari identifikasi masalah saja. namun berasal dari orang luar (outsider. 6. hanya dari tahapan identifikasi masalah saja. sudah dapat dibaca apakah masalah itu masalah milik peneliti sendiri (on tehe job) atau masalah orang luar (out of job-problem). Pertanyaan: Masalah apa yang dapat didekati dengan PT? Jawab: Pada dasarnya setiap masalah dapat dipecahkan oleh pendekatan PT. bagaimana penjelasannya? Jawab: Ya. Masalah PBM lain yang tidak menjadi tanggung jawab guru tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang on the job. masalah untuk PT harus memenuhi kriteria on the job problem oriented. (b) masalah harus problematik (perlu dipecahkan). penelitian itu tidak dapat digolongkan sebagai PT. jika ada seorang dosen/ mahasiswa melakukan penelitian di sekolah tempat guru tersebut mengajar. suatu penelitian langsung dapat disimpulkan sebagai penelitian empiris atau penelitian tindakan. Dengan demikian.9-56 Penelitian Tindakan Kelas 4. mahasiswa/dosen tersebut. Kecuali. artinya tidak semua masalah riil itu problematik (harus dipecahkan) sebab: (1) mungkin masalah itu sudah . Pertanyaan: Bagaimana cara menemukan masalah PT? Jawab: Langkah-langkah berikut dapat dipakai untuk menemukan masalah yang bai. guru yang mengungkapkan masalah yang ada di kelasnya dengan penggalian yang lebih tajam oleh mahasiswa/dosen. 5. masalah-masalah proses pembelajaran di kelas tempat guru mengajar adalah masalah riil/ nyata yang bersifat on the job problem oriented. Sebagi contoh.

tidak semua masalah riil. tes saja). . belum menyajikan berbagai cara koleksi data. 7. (d) reflective thinking belum merupakan budaya pikir dan kerja peserta penelitian sehingga catatan-catatan harian (learning logs) belum dimaksimalkan dalam pembuatan laporan. (b) komunikasi/ kolaborasi antara peserta penelitian yang belum optimal: diskusi kadangkala masih didominasi oleh salah satu peserta. (c) laporan belum menunjukkan perubahan (improvement-oriented) baik pada siswa. (2) masalah itu di luar kewenangan/ keahlian/ tanggung jawabnya.Penelitian Tindakan Kelas 9-57 ada yang membahas. belum critical. guru. lingkungan sekolah. karena: (1) mungkin tidak ada alat/ dana. (b) hasil/data cenderung dikuantitatifkan. dan (3) masalah itu jelas manfaatnya. wawancara. data-data kualitatif yang sebenarnya berbobot belum tersaji. 8. Pertanyaan: Kendala apakah yang sering ditemui pada pelaksanaan PTK? Jawab: Pada umumnya kendala-kendala pelaksanaan PTK adalah: (a) masih lemahnya pemahaman akan prinsip-prinsip PT. problematik. petunjuk-petunjuk ke araha ini belum disajikan. dan (3) kurang dukungan literatur. (c) ownership of a problems tidak kuat: rasa handarbeni terhadap suatu problem belum terlihat jelas sehingga keterlibatan dalam setiap langkah penelitian masih sebatas physical involvement belum mental involvement sehingga reflective thinking dari peserta belum menonjol. sehingga laporan masih terkesan empiris. dan (d) masalah itu harus fisibel (artinya dapat dipecahkan). meaningfull itu dapat dipecahkan. (2) tidak cukup waktu. yaitu: (a) masih digunakan hanya satu alat koleksi data (angket. (c) masalah itu harus meaningfull (bila dipecahkan terasa manfaatnya. Pertanyaan: Bagaimana kesan laporan pilot project PTK yang selama ini telah dilaksanakan oleh para guru? Jawab: Warna penelitian empiris masih kental mewarnai laporan PTK. dan (e) umumnya penelitian empirisme adalah jenis penelitian yang paling mendominasi di Indonesia.

Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses (PTK maksudnya). apakah harus menguasai statistik terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus! Seperti telah dijelaskan PT bukan penelitian empiris sehingga PT tidak ambigius membuat generalisasi-generalisasi sehingga untuk inferential statistics tidak harus dikuasai. Pertanyaan: Untuk menjadi peneliti PT yang sukses. sehingga manfaat PT langsung dapat dirasakan yaitu adanya perubahan (kemajuan): baik kemajuan diri. justru sebaliknya menggambarkan pemahaman terhadap suatu perlakuan saja. 12. 10. namun prinsip-prinsip (filosofis) kedua jenis penelitian perlu dipahami. Petunjuk-petunjuk ke arah kemajuan tersebut harus . Pertanyaan: Syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang peneliti PT/PTK yang sukses (action researchers)? Jawab: Syarat utama yang harus dimiliki adalah jiwa agen pembaharuan (agen of change): tanpa memiliki jiwa agen pembaharuan. hal inilah yang menyebabkan laporan-laporan PTK belum bisa menggambarkan perubahan/pembaharuan yang terjadi. kemajuan siswa. 9. Pertanyaan: Syarat lain apakah yang diperlukan untuk melaksanakan PT/PTK? Jawab: Yang jelas sebelum melakukan PT/PTK harus memahami prinsip/filosofi PT itu sendiri.9-58 Penelitian Tindakan Kelas sehingga para guru umumnya masih ’berbaju’ empiris saat melakukan PTK. dan kemudian menyenangi/ mempersiapkan diri untuk menjadi agent of change. sekalipun demikian descriptive statistics masih dapat dimanfaatkan. susah kiranya menjadi peneliti PT yang sukses. perlukah menguasai kedua penelitian jenis penelitian empiricalisme dan intepretivisme terlebih dahulu? Jawab: Tidak harus menguasai semua. sehingga peneliti mampu memahami dengan sempurna prinsip-prinsip PT yang berbeda dengan kedua pendekatan tersebut. kemajuan sistem/organisasi kelas/sekolah. 11.

itulah sebabnya menjadi peneliti PT harus seorang yang pemikir reflektif/ kreatif bukan reproduktif (meniru. .) Demikianlah. yes man. pemahaman secara tuntas tentang filosofi PT akan mengurangi kebingungan pelaksanaan risen PT di tengah-tengah beberapa kemungkinan pendekatan penelitian yang ada. kendala/ isu lain akan terus dimonitor untuk mendapatkan keyakinan bahwa PTK dapat dipandang sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. beberapa isu yang dapat dihimpun. dst.Penelitian Tindakan Kelas 9-59 dipotret sejak awal/dini. Meskipun butuh waktu dan proses.

1. dan NIP. cara pemecahan masalah. dan kategori penelitian. e) Sumber dana penelitian. Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti. FORMAT USULAN PTK Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting. pendahuluan/latar belakang masalah. dan lembaga tempat peneliti bekerja. nama peneliti. c) Lokasi penelitian. tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan). perumusan masalah. sekolah atau lembaganya. termasuk. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan. Berikut ini adalah penjlasan bagian-bagian itu. jadwal penelitian. 2004). kontribusi/manfaat. Bagian pengesahan berisi: a) Judul PTK. b) Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya. Bagian Isi Usulan PTK Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian. jabatan fungsional. bidang ilmu. daftar pustaka. 2. lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti. . yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK. Bagian Awal Usulan PTK Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar. golongan . nama lengkap dengan gelar. metode penelitian atau rencana penelitian. rencana anggaran penelitian. tujuan penelitian.BAB III PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. pangkat. halaman pengesahan. d) Biaya penelitian.

(a) Dilema Pembelajaran Menyimak Bahasa Inggris pada Siswa Kelas III SMA (b) Pemakaian Bahasa Indonesia Lisan Siswa di Lingkungan SMA Kodia Surakarta (c) Hubungan Kemampuan Pengetahuan tentang Majas dengan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 2 Kudus Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK. judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK. Dengan kata lain. Judul berikut ini merupakan beberapa contoh judul PTK. . namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal. jelas. Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. Formulasi judul hendaknya singkat. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. dan sederhana.Penelitian Tindakan Kelas 9-61 a) Judul Penelitian Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. spesifik.

9-62 Penelitian Tindakan Kelas

(a) Peningkatan Keterampilan Menulis Hasil Wawancara Melalui Media Majalah Dinding dengan Metode Group Investigation pada Siswa Kelas X SMA Purusatama Semarang (b) Peningkatan Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Penciptaan Suasana Rileks pada Kelas II F Semestrer 1 MAN Rembang Tahun pelajaran 2003/2004 (c) Peningkatan Keterampilan Mengungkapkan Gagasan Secara Lisan dalam Bahasa Indonesia Melalui Metode Probing Question di Kelas 1.6 SMU Negeri 3 Sukoharjo (d) Perangkat Audio Visual sebagai sarana Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Bidang Studi Bahasa Inggris di Kelas 1.2 SMU Gemuh (e) Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA N 7 Semarang (f) Permainan Mencari Harta Karun sebagai Teknik Pembelajaran Membaca Denah, Peta, dan Petunjuk pada Siswa Kelas II D SMP N 3 Kalibagor (g) Peningkatan Menyimak Wawancara Melalui Media Audio Visual dengan Metode Student Teams-Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Kroya Kabupaten Cilacap (h) Strategi Kooperatif sebagai Salah Satu Alternatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berwawancara pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Pancur Kabupaten Rembang (i) Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa dalam Mendeskripsikan Benda dengan Teknik Permainan Terka Gambar pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Trobayan Tahun Pelajaran 2005/2006 (j) Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif Teks Berita pada Siswa Kelas VIII D SMP N 3 Jekulo Kudus (k) Pengenalan Karakter Tokoh dalam VCD Dongeng sebagai Media

Penelitian Tindakan Kelas 9-63

Peningkatan Kemampuan Mendongeng pada Siswa Kelas VII SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan (l) Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Catatan Harian dengan Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X SMA N 1 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2005/2006 (m)Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Anak-anak dengan Menggunakan Metode Simulasi ”Perkampungan Sastra” pada Siswa Kelas V SD Bendanpete 1 Nulumsari Jepara

b) Pendahuluan/Latar Belakang Dalam pendahuluan/latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dari berbagai bahan pustaka yang relevan. Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapat memperkukuh alasan mengangkat permasalahan penelitian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian dalam bagian ini. Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan

lainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi)

9-64 Penelitian Tindakan Kelas

masalah

penelitiannya,

maka

selanjutnya

perlu

diidentifikasi

dan

dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antaranggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. c) Perumusaan Masalah Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benarbenar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

d) Cara Pemecahan Masalah Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil analisis masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang

Penelitian Tindakan Kelas 9-65

dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program

pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemänfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.

e) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

f) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan) Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif--dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir

9-66 Penelitian Tindakan Kelas

atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian.Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang yang

menggambarkan

tingkat

keberhasilan

tindakan

diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.

g) Tujuan Penelitian Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini. Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagianbagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang JPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya

ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.

h) Kontribusi/Kemanfaatan Hasil Penelitian Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungani, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas

pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para

Penelitian Tindakan Kelas 9-67

dosen LPTK sebagai pendidik guru., maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi

pengembangan ilmu, teknologi, dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

i) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan secara jelas, demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).

(1) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.

(2) Variabel yang diteliti Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel

tersebut dapat berupa (1) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses

9-68 Penelitian Tindakan Kelas

penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi, siswa, hasil belajar siswa, sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.

(3)

Rencana tindakan Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan

mutu pembelajanan seperti: (a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka

perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolah juga

dikemukakan pada bagian ini. (b) Implementasi tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenanio kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. (c) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. (d) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak

Penelitian Tindakan Kelas 9-69

tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

(4) Data dan cara pengumpulan data Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai

kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik),

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang

canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

(5) Indikator kinerja Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam

9-70 Penelitian Tindakan Kelas

bentuk pengurangan (jenis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.

j) Jadwal Penelitian Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang

menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil

penelitian disusun selama 10 bulan.

k) Rencana Anggaran Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk setiap usulan maksimum Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut. 1) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan); 2) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari total biaya); 3) Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan; 4) Lain-lain pengeluaran (laporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran. 1) Komponen Pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.

Penelitian Tindakan Kelas 9-71

(a) Persiapan Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya. (b) Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya. (c) Penyusunan laporan hasil PTK Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sehagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris).

2) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelüaran yang diharapkan.

3) Patokan Pembiayaan Satuan Kegiatan Penelitian (a) Honorarium • Ketua peneliti • Anggota tim penetiti • Tenaga administrasi

1 orang anggota peneliti (dosen . jika Anda ingin mengajukan usulan PTK ke Dikti.9-72 Penelitian Tindakan Kelas Besarnya honoranium bergantung pada sumber pendanaan. Pada sisi lain. yang terdiri atas 1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK). (b) Bahan dan peralatan penelitian • Bahan habis pakai • Alat habis • Sewa alat (c) Perjalanan • Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan • Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat • Lumpsum tenmasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan • Monitoning • Konsultasi (d) Laporan penelitian • Penggandaan • Penyusunan artiket • Pengiriman (e) Seminar Seminar Iokal • Konsumsi sesuai dengan harga setempat • Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat Seminar nasional • • Biaya transportasi peserta Biaya akomodasi l) Personalia Penelitian Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian/tugas peran setiap anggota peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. buku panduan penyusunan usulan PTK dari Ditjen Dikti (2004) menyebutkan bahwa jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang.

Penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan oleh 2 orang peneliti. dan lembaga tempat tugas dirinci sama seperti pada Lembar Pengesahan. Diberikan pilihan oleh dosen dan guru disuruh HASIL PENILAIAN Nilai Bobot NxB 2 2 3 4 2 1 2 . Pustaka yang ditulis hendaknya benar-benar relevan dan sungguh-sungguh dipergunakan dalam penelitian n) Lampiran dan Lain-lain Bagian ini dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim peneliti. Hal-hal lain yang dapat mempenjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan juga dapat disertakan dalam usulan penelitian ini. riwayat pendidikan. 6.Penelitian Tindakan Kelas 9-73 LPTK). baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. NO A KRITERIA Permasalahan INDIKATOR 1. yaitu 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen LPTK) dan 1 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. pelatihan di bidang penelitian yang telah diikuti. Dipancing dalam diskusi dengan guru e. Nama peneliti. Asal Permasalahan b. jabatan. dan 3 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Rambu-Rambu Penilaian Proposal PTK Berikut ini disampaikan tabel penilaian proposal penelitian tindakan kelas. Peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. golongan. Relevansi Permasalahan a. Olahan penelitian setelah mengumpulkan data d. Pengalaman dosen sebagai peneliti c. menyangkut identitas. m) Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. dan pengalaman dalam penelitian termasuk dalam PTK. Disodorkan dari luar b. pangkat. Berawal dari gagasan guru 2.

Cakupan komprehensif.9-74 Penelitian Tindakan Kelas memilih c. Bertolak dari permasalahan yang diajukan oleh guru 3. Pilihan solusi diberikan oleh dosen LPTK dan ditetapkan oleh guru c. Dari dosen sebagai peneliti c. Dipancing melalui diskusi/negoisasi d. tes kognitif konvensional d. Dimunculkan oleh guru dalam diskusi 3. Dari kepala sekolah/penilik/pejabat lain sebagai pembina b. Kurang sesuai dengan langkah-langkah PTK d. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup lebih dari satu siklus kegiatan b. Cakupan permasalahan a. tes konvensional b. Jadwal kegiatan jelas/tepat. Sesuai dengan langkah-langkah PTK dan mencakup satu siklus kegiatan c. Siklus berikut ditetapkan berdasarkan hasil refleksi C Kemanfaatan hasil a. Cukup potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran c. Hasil diskusi dengan guru d. demikian juga dengan tenaga dan sarana pendukung b. Bertolak dari masalah yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. asesmen komprehensif B Cara Pemecahan 1. Aspek kognitif. Bertolak dari permasalahan yang ditetapkan oleh dosen LPTK b. Berawal dari gagasan guru 2. Kontekstualitas tindakan a. Kurang potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran d. Kontekstualitas tindakan a. Cakupan komprehensif. Solusi terhadap permasalahan berdasarkan kesepakatan guru dengan dosen LPTK d. Jadwal kegiatan tepat/jelas. Sangat potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran b. Aspek kognitif. Rancangan tindakan a. Tidak sesuai dengan langkah-langkah PTK a. asesmen komprehensif c. tetapi tenaga dan sarana pendukung tidak jelas 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 2 3 4 2 1 4 4 3 2 1 1 D Prosedur penelitian 4 3 2 1 4 3 3 E Program kegiatan dan dukungan teknis 1 . Tidak potensial untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran a.

dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25). Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara tidak wajar/berlebihan 2 1 4 1 3 2 1 3 2 1 G Pembiayaan 3 2 1 1 2 1 Di samping rambu-rambu penilaian di atas. atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10). b. c. Cara Pemecahan Masalah (terutamanya: rancangan tindakan. Kewajaran pembiayaan a. Komponen-komponen pembiayaan tidak dirinci sebagaimana mestinya 3. Jumlah biaya melebihi plafond yang ditetapkan 2. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutamanya: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi. Besaran-besaran kebutuhan biaya dialokasikan secara wajar b. Kesesuaian jumlah biaya a. . masukan. Komposisi dosen dan guru berimbang tetapi guru tidak berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti c. kriteria seleksi yang dilakukan oleh Ditjen Dikti (2004) terhadap usulan PTK mencakup hal-hal sebagai berikut. Jumlah dosen dalam tim jauh lebih banyak d. Jadwal kegiatan serta sarana dan prasarana tidak sesuai F Kerjasama LPTK Sekolah a. relevansi . Komponen-komponen pembiayaan dirinci sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan b. a. Semua anggota tim peneliti adalah dosen 1. Rincian komponen-komponen pembiayaan a. Jadwal kegiatan kurang tepat/jelas d. Perumusan masalah (terutamanya: asal. Jumlah biaya sesuai dengan plafond yang ditetapkan b. proses. dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25).Penelitian Tindakan Kelas 9-75 c. Komposisi dosen dan guru berimbang dan guru berperan sebagai atau sekretaris/wakil ketua tim peneliti b.

prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30). prosedur observasi dan evaluasi.9-76 Penelitian Tindakan Kelas d. sarana pendukung pembelajaran yang digunakan. rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian. e. perencanaan tindakan. . dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10). Kegiatan Pendukung (terutamanya: jadwal penelitian. Prosedur Penelitian (terutamanya: prosedur diagnosis masalah.

laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. peneliti dapat memilih atau mengembangkan sendiri format laporan yang akan digunakan. Ia juga merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya.BAB V LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Meski beragam bentuk atau formatnya. Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. PENGANTAR Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Hal itu sangat bergantung pada tuntutan lembaga dan/atau sponsor yang mendukung dana penelitian tersebut. Ia merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. bagaimana pun telitinya kita membuat rancangan penelitian. penelitian hanya akan mempunyai arti apabila hasilnya dilaporkan secara memadai melalui laponan penelitian (Shah. secara mendasar laporan itu sama dalam hal tuntutan isi. Bagaimanapun pentingnya teori dan hipotesis. . Bagaimana menyusun laponan PTK? Berikut ini akan diuraikan secara garis besar tentang teknik penyusunan laponan PTK. struktur. ISI LAPORAN PTK Pada dasarnya apa yang telah ditulis dalam usulan penelitian akan dimuat lagi dalam laporan penelitian. Jika pihak sponsor tidak menetapkan format yang harus diikuti atau penelitian dilaksanakan secara swadana. B. 1985). OIeh sebab itu. maupun bahasanya. serta betapa hebatnya pun kita menghasilkan sebuah penelitian. Laporan penelitian dapat beragam bentuk atau formatnya.

memiliki format yang berbeda. laporan PTK dari proyek OPF Diknas dan PTK PGSM. dan tujuan penelitian. (6) simpulan. Panjang laporan sekitar 10 s. (3) pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian. adalah laporan penelitian yang lengkap. padat. laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkas dan dituangkan dalam paragraf-paragraf yang ringkas dan padat. Karena itu. Dari sekian macam format laporan PTK akan disajikan satu contoh format laporan PTK berikut ini. Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif. Para eksekutif dalam membaca suatu laporan penelitian hanya memerlukan butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. Jenis yang pertama laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif (executive summary). seperti dijelaskan di atas. sedangkan jenis yang kedua. (4) metode penelitian yang memuat rancangan penelitiqan. adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas. Jenis laporan ini seolah-olah akan dibaca oleh para eksekutif yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca laporan lengkap dari suatu hasil penelitian. Misalnya. rumusan masalah.9-78 Penelitian Tindakan Kelas Dalam perkembangannya yang terakhir.d. dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda (2 spasi). (5) hasil-hasil penelitian. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format eksekutif adalah: (1) judul penelitian. Laporan penelitian yang lengkap. sesuai dengan namanya. yang sudah sangat umum. (2) nama peneliti (ketua dan anggota). . dan prosedur/langkah kerja. ada dua jenis laporan penelitian jika dilihat dari formatnya. sasaran penelitian. ada bermacam-macam format sesuai dengan pihak sponsor dana. dan (7) daftar pustaka.

........ Simpulan 2............... Uji Hipotesis 3.... 2.......... ... Rumusan Masalah 3... Pembahasan Bab V PENUTUP 1.... Prosedur Analisis Data Bab IV HASIL PENELITIAN 1.............. Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4..Penelitian Tindakan Kelas 9-79 BAGIAN AWAL Halaman Judul Abstrak Prakata Daftar Isi BAGIAN UTAMA Bab I PENDAHULUAN 1........................ Rancangan Penelitian 3.. .. ... Prosedur Observasi dan Refleksi 5. Bab III METODE PENELITIAN 1. Paparan Data 2. Tujuan Penelitian 4............. Saran/Rekomendasi BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran ........... 3... Manfaat Penelitian Bab II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1..... Latar Belakang Masalah 2.. Setting Penelitian dan Latar belakang Subjek Penelitian 2.......

Akan tetapi jika tidak cukup bisa diperpanjang maksimum sampai dua halaman kertas ukuran kuarto. Abstrak bukanlah ringkasan hasil penelitian. dan (4) daftar isi. Agak jauh di bawah judul dicantumkan nama tim peneliti (bisa ketua saja atau lengkap ketua dan anggota). BAGIAN AWAL Paling sedikit ada empat unsur pokok yang termasuk dalam Bagian Awal dari laporan PTK.9-80 Penelitian Tindakan Kelas Keterangan singkat tentang isi dari masing-masing format dari ketiga bagian laporan lengkap penelitian tersebut disajikan berikut ini. Hal-hal penting tersebut adalah latar . melainkan inti sari yang sangat pnting dari hasil penelitian. Dengan hanya membaca abstrak seseorang dapat memahami pokok- pokok yang ditulis dalam laporan. daftar gambar. pada bagian bawah bidang pengetikan ditulis lembaga yang menyelenggarakan atau menyeponsori penelitian. daftar lampiran. Kemudian. terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan. tindakan sebagai upaya pemecahan. Panjang abstrak sebaiknya satu halaman. yaitu: (1) halaman judul. Sekiranga diperlukan. daftar singkatan. (2) abstrak. bagian awal ini dapat ditambahkan dengan daftar tabel. Pada halaman judul ini judul penelitian ditulis simetris di bagian atas bidang pengetikan dengan huruf kapital. di bawah nama lembaga atau sponsor dicantumkan tahun selesainya penelitian atau tahun ditulisnya laporan penelitian. dan mudah dipahami. singkat. sederhana. (3) prakata. Abstrak Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. 2. di mana dan kapan penelitian akan dilakukan. Halaman Judul Judul penelitian berupa kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti. jelas. Terakhir. 1.

(2) argumentasi teoretik tentang tindakan yang dipilik. 1. tujuan penelitian. Pendahuluan a. dan (5) penutup. bagian utama laporan penelitian tindakan terbagi menjadi lima bagian (yang disebut bab). Sub-sub judul yang lebih dari satu peringkat di bawah judul bab tidak perlu dicantumkan karena akan menyebabkan daftar isi menjadi terlalu panjang. dan implikasinya. 3. (4) hasil penelitian. . dan kesediaan menerima masukan yang datang dari berbagai pihak. Lazimnya. bagian ini bisanya diisi dengan harapan akan kemanfaatan hasil penelitian. yaitu: (1) pendahuluan. Daftar Isi Hal-hal yang dicantumkan dalam daftar isi adalah judul bab dan sub-judul (satu peringkat di bahawa judul bab). hasil penelitian. 4. Latar Belakang masalah Berisi uraian (1) fakta-fakta yang mendukung yang berasal dari pengamatan peneliti. BAGIAN UTAMA Isi bagian utama dari laporan penelitian merupakan inti dari keseluruhan laporan. (2) kerangka teoretik dan hipotesis tindakan. Prakata Prakata berisi ucapan syukur dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian. pelaksanaan penelitian. (3) hasil penelitian terdahulu (jika ada). Selain itu. dan (4) alasan pentingnya penelitian tindakan ini dilakukan.Penelitian Tindakan Kelas 9-81 belakang masalah. (3) metode penelitian.

tujuan penelitian berisi pernyataan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh peneliti dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa. c. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretik berisi kajian teoretik yang relevan yang mendasari penelitian tindakan. rancangan penelitian. (4) kalangan guru/dosen pada umumnya. Artinya yang dilaporkan adalah metode yang telah diterapkan dalam melaksanakan penelitian. Unsur-unsur yang ada pada bagian metode ini adalah: setting penelitian dan latar belakang subjek penelitian. tindakan inilah yang kemudian dituangkan dalam hipotesis tindakan dalam rangkan pemecahan masalah. Manfaat Penelitian Berisi manfaat atau sumbangan hasil penelitian khususnya bagi (1) siswa. Tujuan Penelitian Secara operasional. d. Metode Penelitian Bab ini berisi hasil pengembangan dari yang telah ditulis dalam usulan penelitian dengan catatan bahwa metode dalam usulan adalah yang akan dilaksanakan. (2) guru/dosen pelaksana PTK. perbaikan atau peningkatan. prosedur observasi dan refleksi. 2. sedangkan pada laporan dikemukakan metode yang senyatanya telah dilaksanakan. Rumusan Masalah Berisi uraian yang menjelaskan: (1) kesenjangan antara situasi yang diinginkan dan yang ada dan dapat dipecahkan.9-82 Penelitian Tindakan Kelas b. 3. (2) rancangan tindakan pembelajaran yang mempunyai landasan konseptual. perencanaan dan pelaksanaan tindakan. (5) sekolah/LPTK . bukan yang akan dilaksanakan. . prosedur analisis data. (3) dinyatakan dalam kalimat pertanyaan/pernyataan. dengan tindakan akan terjadi perubahan. Kata “akan” yang ada dalam usulan tidak boleh ada lagi dalam laporan.

Penutup Bab ini berisi simpulan dan saran/rekomendasi. baik yang dikutip secara eksplisit pada salah satu bagian di dalam naskah maupun yang tidak. tetapi jika daftar pustaka disamakan artinya dengan bibliografi. setiap judul tulisan yang dimuat dalam daftar pustaka harus telah dipergunakan sebagai rujukan secara eksplisit dalam naskah laporan. Saran dibatasi hanya yang terkait langsung dengan simpulan. Hasil Penelitian Pada bab ini dilaporkan tentang deskripsi data (perlakuan atau intervensi dan dampak intervensi). Daftar Pustaka Istilah “daftar pustaka” biasanya mempunyai dua arti: (a) referensi dan (b) bibliografi. Saran yang didasarkan atas pertimbangan lain di luar simpulan tidak boleh diajukan dalam laporan penelitian. namun tidak dapat dirujuk secara khusus. dan pembahasan hasil pengujian hipotesis. Riwayat hidup (curriculum vitae) peneliti biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. 5. BAGIAN AKHIR Bagian akhir dari laporan penelitian tindakan memuat antara lain daftar pustaka dan lampiran. Pembahasan ini berisi perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian lain atau pengetahuan teore yang relevan. . Simpulan didasarkan pada hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. 1.Penelitian Tindakan Kelas 9-83 4. pengujian hipotesis. Judul tulisan yang tidak dikutip secara eksplisit dimasukkan dalam daftar karena dibaca dan secara umum ide-idenya dipakai sebagai dasar penulisan. dalam daftar pustaka dapat dimuat semua judul tulisan yang dibaca oleh peneliti dan mendasari penulisan naskah. Jika daftar pustaka diartikan referensi (daftar rujukan).

Lampiran Semua dokumen yang tidak berupa naskah (teks) tetapi dianggap penting untuk mendukung apa yang ditulis pada naskah laporan dan dapat dilacak oleh pembaca dengan mempelajari dokumen tersebut. PENUTUP Laporan penelitian merupakan pertanggunjawaban peneliti. Oleh sebab itu. perlu dilampirkan pada laporan. Ia harus menata. peneliti haruslah menyiapkan laporan penelitian dengan baik.9-84 Penelitian Tindakan Kelas 2. C. pedoman observasi. Peneliti harus benarbenar mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya benar-benar maksimal. Ia harus dikemas secara baik. Misalnya: instrumen penelitian. seperti kuesioner (angket). . Laporan penelitian tidak dapat dianggap sebagai karya yang dapat dikerjakan sambil lalu. daftar cek. surat-surat penting dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian. isi. data asli (mentah). menyusun dengan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang laporan penelitian dan harus dikerjakan secara profesional. struktur. print out hasil analisis data dengan komputer. maupun bahasanya. baik dari sudut format.

PTK dikerjakan oleh orang dalam (baca guru) sedangkan penelitian formal dikerjakan oleh orang luar yang tidak menghayati masalah di kelas secara mendalam. PTK bercirikan perbaikan praksis pembelajaran dari dalam. PTK mengembangkan praksis pembelajaran sedangkan penelitian formal verifikasi dan menemukan pengetahuan yang akan digeneralisasikan. Oleh sebab itu. instrumentasi dan analisisnya tidak harus ketat seperti pada penelitian formal. reflektif PTK mempunyai manfaat untuk inovasi kurikulum di tingkat sekolah. Penelitian ini dilakukan oleh orang di luar dunia pendidikan yang tidak menghayati masalah pendidikan dan penyebaran basil penelitian pendidikan memakan waktu yang lama untuk sampai pada guru. dan pengembangan peningkatan profesionalitas guru.BAB V PENUTUP Penelitian pendidikan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi guru di dalam kelas. kolaboratif. PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran dengan memanfaatkan pengahayatan guru akan masalah pendidikan dengan cara kotaboratif dan reflektif Penelitian kelas dibatasi sebagai penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Sampel PTK khusus sedangkan penelitian formal represertatif . PTK itu metodologinya longgar. dan pembelajaran. PTK merupakan alternatif yang sangat tepat untuk menggantikan posisi penelitian formal atau penelitian kelas yang selama ini banyak dikerjakan untuk dapat meningkatkan praksis pembelajaran dari dalam dengan cara kolaboratif dan reflektif. PTK berbeda dengan penelitian formal dalam berbagai cara sebagai berikut.

begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki praksis pembelajaran. maka guru barus siap mengadakan revisi terhadap tindakan yang dilakukan dan menetapkan tindakan baru yang kemudian akan dilaksanakan dan diobservasi dan direfleksi. . Tahap selanjutnya guru dengan berkolaborasi bersama teman sejawat. dan terjadilah daur PTK . atau kepala sekolah/birokrat pendidikan yang lain membuat rencana tindakan yang dipersiapkan secara matang dan melaksanakannya di dalam kelas. Masalah PTK adalah masalah yang memang benar-benar dirasakan oleh guru dan bukan masalah yang diturunkan dari atasan atau dan pihak dosen. Hasilnya kemudian direfleksi oleh guru dibantu oleh teman kolaborasinya. basil penelitian. yakni perencanaan. dan refleksi. dan sebagainya serta dengan tes untuk melihat kemajuan praksis pembelajaran siswa. pelaksanaan. Jika hasilnya belum baik. serta pengalaman mengajarnya. Pada saat pelaksanaan itu guru mengadakan observasi yang berupa nontes. dosen.9-86 Penelitian Tindakan Kelas PTK dilaksanakan dengan prosedur berdaur. wawancara. Begitu seterusnya. observasi. yakni pengamatan. Dengan masalahnya itu guru berupaya untuk mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkan hipotesis tindakan yang dikajinya dan berbagai teori.

Action Research for Educational Change. W. Research Methods in Education. 16 (3) 1 s. dan Wisemen. Penelitian Tindakan Berbasis Kelas dan Sekolah. FIP IKJP Surabaya. J.. & Manion. STKIP. 2004. Analyze. Hadisubroto. & Kemmis. Becoming Critical: Education. Departemen Pendidikan Nasional. PTK. Connole. 1997. Geelong. “Alternative Paradigms in Educational Research”. A Teacher’s Guide to Classroom Research.d. S. . D. 1998. IL.DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. L. S. Depdiknas. Jakarta: Ditjen Dikti. 11. Australian Educational Researcher. H. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Balian. 1983. AERA. Victoria. David. 2000. Johnston. Carr. Candy. Jakarta. and Action Research. Smith. 1989. John. Cohen. L. and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. “Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) untuk Tahun Anggaran 2004”. Gelong. Dalam The Action Research Reader. Action Research in a School University Partnership. P. R. 1991. B. 1992. Singaraja. Elliot. Penyusunan Proposal PTK. 1993. Soli 1998. Philadephia: Open University Press. Elliot. 1982. Tisno. 1982.. Philadelphia : Open University Press. Geelong: Deaking University. Australia: Deakin University. Chicago. 1997. London & Canberra: Croom Helm. M. Branson. Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM tanggal 18—22 Oktober. Hopkins. How To Design. 1980. Victoria: Deakin University. Knowledge. dan Miller. “Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Cobstructs: an Accont of the work of the Ford Teaching Project”.C. Edward. Research Methodology I: Issues and Methods in Research. Second Edition. J. New York: University Press. Format Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas .

3rd ed. Muhadjir. Action Research: Principles and Practice. Jakarta: BP3SD. Kelly. Natawidjaya. 1997. dan McTaggart. Sumarno. The Action Research Planner. Hong Kong: Hong Kong Polytechnic. dan M. Raka. 1998. tanggal 9 September 1999. Beijing: Beijing Teacher College Press. 1985. T. 1997. Using Action Research to Improve Teaching. Kember D. S. 1998. Jakarta BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud. Conny R. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Jakarta: BP3SD. Soedarsono. Chapter prepared for inclusion in D. Andreas. Jakarta: BP3SD. Rencana. R. Depdikbud. PCP. Dirjen Dikti. Menyusun Laporan Penelitian. Priyono. Seri Metodologi Penelitian: Panduan Penelitian Tindakan. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). J. Makalah pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas bagi Dosen dan Guru. FX. PPGSM Ditjen Dikti. 1997. 1997. . PPGSM Ditjen Dikti. 1999. Analisis dan Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Shah. McNiff. Depdikbud. Vimal P. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Kemmis. dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. 1988. PCP. ”Appraising Report of Inquiry”. Dirjen Dikti.) Social Science Methodology for Education Inquiry: A Conceptual Overview. Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK).9-88 Penelitian Tindakan Kelas Joni. Suwarsih. London: Routledge. Victoria: Deakin University. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta. Orto (eds. Rochman. 1992. McTaggart. R. Bandung : IKIP Bandung. Dirjen Dikti. 1991. Pemantauan dan Evaluasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. 1991. H. 1997. Caulley. Bogor. Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. Suyanto. Tejemahan Muhajir Darwin dari Reporting Research. Noeng. 1994. Moore and J. Desain. Semiawan. Madya. “Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas”.

D. Perth: Education Department of Western Australia. 1996.Penelitian Tindakan Kelas 9-89 Tim Pelatih Proyek PGSM. Penelitian Tindakan Kelas. Tripp. SCOPE Program. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. . 1999.

BUKU AJAR PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH .

Karena standar kompetensi penelitian tindakan kelas adalah (1) mengenal metode penelitian tindakan kelas. pada saat peserta PLPG berkeinginan untuk menuliskan hasil penelitian tindakan kelas ke dalam jurnal penelitian pendidikan. artikel hasil pemikiran. namun demikian peserta juga diminta untuk menyusun draft penulisan artikel ilmiah di bidang kompetensi masingmasing. Jelas bahwa kompetensi dasar kedua mata pelajaran ini akan bersngkut paut. jenis dan struktur artikel ilmiah. format tulisan. (3) mengenal format penulisan artikel ilmiah. serta praktik penulisan artikel ilmiah. (3) menyusun draft proposal penelitian tindakan kelas. Secara garis besar. Hal ini mempunyai tujuan agar setelah pelaksanaan matapelajaran ini peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menyusun artikel ilmiah yang siap dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah yang tidak maupun terakreditasi. Buku ajar “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini mempunyai standar kompetensi dasar (1) mengenal penulisan artikel ilmiah. Deskripsi Buku Ajar mengenai “Penulisan Karya Tulis Ilmiah” ini meliputi materi pembelajaran tentang penulisan artikel ilmiah. (2) mengenal perbedaan penulisan artikel ilmiah yang konseptual dan yang non konseptual. . dan (4) menyusun draft artikel ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 BAB I. artikel hasil penelitian. buku ajar ini mengantarkan peserta PLPG untuk memahami materi-materi tersebut di atas. Buku ajar ini mempunyai hubungan dengan buku ajar yang terutama adalah penelitian tindakan kelas. PENDAHULUAN A. (2) mengenal format laporan penelitian tindakan kelas.

C. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami kriteria penulisan artikel ilmiah. Hasil draft itu selanjutnya digunakan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ini. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami jenis dan struktur artikel ilmiah. . . Kompetensi dan Indikator 1. 6.9-4 Penulisan Karya Ilmiah B. Kemudian peserta PLPG harus belajar menyusun suatu draft artikel ilmiah yang selaras dengan format yang tersaji di dalam buku ajar ini. Petunjuk Pembelajaran Peserta PLPG harus selalu aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas. 3. 5. Saran-saran dari pelatih yang belum dipahami perlu ditanyakan kembali kepada pelatih jika perlu meminta perbandingan dengan artikel yang telah termuat di dalam jurnal. 7. 2. Di samping itu. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan esai. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil pemikiran konseptual. Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami format penulisan enumeratif. selanjutnya mendiskusikan dengan teman lainnya. menanyakan hal-hal yang belum dipahami. 4. Peserta mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyusun draft artikel ilmiah. serta dimintakan pendapat dari pelatih.Peserta mempunyai kemampuan dalam memahami artikel penulisan hasil penelitian. Peserta PLPG aktif berdiskusi dengan pelatih. peserta pelatihan mencermati contoh-contoh yang telah disajikan oleh pelatih dan yang tersaji di dalam buku ajar ini.

bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. 2. artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal diharapkan memenuhi kriteria sebagai sebuah karya ilmiah. Kriteria ini adalah cerminan sifat karya ilmiah yang berupa norma dan nilai yang berakar pada tradisi ilmiah yang diterima secara luas dan diikuti secara sungguh-sungguh oleh para ilmuwan. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Karya ilmiah tentu sudah merupakan bacaan yang sangat akrab dengan peserta PLPG. URAIAN MATERI Sesuai dengan namanya. Menjelaskan perbedaan artikel hasil pemikian konseptual dengan hasil penelitian B. Oleh karena itu. Sebagai guru. 3. penerbitan ilmiah bersifat objektif. Menjelaskan sikap ilmiah. sifat dan struktur karya tulis ilmiah. Berkaitan uraian di atas. bapak dan ibu sudah sering membaca berbagai artikel. ilmiah populer maupun yang memang benar-benar merupakan karya ilmiah. penerbitan ilmiah secara inherent harus menampilkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas karya ilmiah tersebut yang mungkin tidak selalu harus dipenuhi di dalam jenis penerbitan yang lain. bapak dan ibu akan mengkaji bentuk. artinya isi penerbitan ilmiah hanya dapat dikembangkan dari fenomena yang memang exist. KEGIATAN BELAJAR I JENIS DAN STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH A. walaupun kriteria . Menjelaskan bentuk. Pertama. struktur dan sifat-sifat artikel ilmiah 4. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar pertama ini. baik yang bersifat populer. Berbekal pengalaman bapak dan ibu dalam memahami artikel ilmiah.BAB II. Menjelaskan sifat artikel ilmiah.

Selain objektif. karena jurnal merupakan sarana komunikasi yang berada di garis depan dalam pengembangan IPTEKS. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. Semua sikap di atas. hati-hati dan tidak over-claiming. dilengkapi dengan keterbukaan dalam menyebutkan sumber bahan yang menjadi rujukannya. Oleh karena itu. Walaupun demikian. lugas. jujur. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan. Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Rasional menurut Karl Popper adalah tradisi berpikir kritis para ilmuwan. juga dipandang sebagai upaya penulis untuk memenuhi etika penulisan ilmiah.9-2 Penulisan Karya Ilmiah eksistensi fenomena yang menjadi fokus bahasannya dapat berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain. dan kaidah-kaidah tertentu juga. penulisannya harus mengikuti pola. dalam menulis artikel ilmiah penulis hendaknya juga tidak mengabaikan komponen sikap ilmiah yang lain seperti menahan diri (reserved). Oleh karena itu. dan sifat-sifat tertentu. Lain daripada itu. dan tidak menyertakan motif-motif pribadi atau kepentingan- kepantingan tertentu dalam menyampaikan pendapatnya. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para . Selanjutnya. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. struktur. penerbitan ilmiah juga membawa ciri khas ini yang sekaligus berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik yang berkaitan dengan masalah yang dipersoalkan. ia juga mengemban sifat pembaharu dan up-to-date atau tidak ketinggalan jaman. sifat lain karya ilmiah adalah rasional. teknik.

Laptop c. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2000). C. misalnya Journal of Research in Science Teaching yang terbit di Amerika Serikat dan Jurnal Penelitian Kependidikan terbitan Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Malang. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. b.Penulisan Karya Ilmiah 9-3 ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. 1993). Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah. artikel hasi pemikiran. Selain itu. d. resensi dan obituari ini sejalan dengan rekomendasi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. majalah ilmiah pada umumnya memuat salah satu dari hal-hal berikut: (1) kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru. LCD proyektor. Alat tulis. Sesuai dengan tujuan penerbitannya. (2) pengamatan empirik. Pemuatan artikel hasil penelitian. seringkali majalah ilmiah juga memuat resensi buku dan obituari. Ada beberapa jurnal yang hanya memuat artikel hasil penelitian. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. yaitu artikel hasil pemikiran atau artikel non penelitian dan artikel hasil penelitian. . Akan tetapi sebagian jurnal biasanya memuat kedua jenis artikel: hasil pemikiran dan hasil penelitian. dan (3) gagasan atau usulan baru (Pringgoadisurjo. Dalam praktik halhal tersebut akan diwujudkan atau dimuat di dalam salah satu dari dua bentuk artikel. Di dalam tulisan ini pembahasan akan dibatasi pada struktur dan anatomi dua jenis artikel saja yaitu artikel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian.

9-4 Penulisan Karya Ilmiah 2. 5 menit Curah pendapat. Kegiatan Inti 3. struktur dan sifat karya tulis ilmiah. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Kegiatan Waktu Metode 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian sifat artikel ilmiah. 1. 2. 2. ceramah pemecahan masalah 3. 2. 35 menit Metode pemberian tugas dan .4 Selanjutnya fasilitator menyajikan bentuk. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya.2 Presensi peserta pelatihan. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. Langkah Kegiatan No.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran.

2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. 3. 4.5 Sharing dalam kelas mengenai sikap ilmiah. 4.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit pendampingan Refleksi .6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. Kegiatan Akhir 4.Penulisan Karya Ilmiah 9-5 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang sikap ilmiah. bentuk. sifat. sifat. bentuk. 3. 4.3 Fasilitator memberikan ceramah tentang bentuk dan struktur artikel ilmiah 3. dan struktur artikel ilmiah. dan struktur artikel ilmiah.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu.4 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan. 3. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sikap ilmiah.

Hasil a. b. setiap majalah ilmiah biasanya memiliki gaya selingkung yang berusaha dipertahankan konsistensinya sebagai penciri dan kriteria kualitas teknik dan penampilan majalah yang bersangkutan.9-6 Penulisan Karya Ilmiah 3. yang selanjutnya mempunyai kecenderungan positif jika dihadapkan pada kasus plagiariasme misalnya. Walaupun demikian. Sementara itu kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah diharapkan diikuti oleh para penulis artikel sebagaimana sikap ilmiah diharapkan diikuti oleh para ilmuwan atau kode etik profesi oleh para profesional dalam bidangnya masing-masing. Dalam perspektif tertentu pemenuhan kaidah-kaidah penulisan artikel ilmiah ini dapat dipandang sebagai etika yang harus dipenuhi oleh para penulis artikel. teknik. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai karakter sikap ilmiah. RANGKUMAN Artikel ilmiah mempunyai bentuk. Oleh karena itu. tetapi biasanya semuanya masih mengikuti semua pedoman yang berlaku secara umum. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai bentuk. dan kaidah-kaidah tertentu juga. Gaya selingkung itu secara rinci mungkin berbeda antara satu majalah ilmiah dan majalah ilmiah yang lain. struktur. dan sifat-sifat tertentu. D. dan struktur karya tulis ilmiah. penulisannya harus mengikuti pola. Pola dan teknik penulisan artikel ilmiah ini relatif konsisten diikuti oleh penerbitan ilmiah pada umumnya yang biasa dikenal sebagai jurnal atau majalah ilmiah. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai sifat artikel ilmiah. c. .

simpulan c. kecuali a. pendidikan b. pendahuluan. bagian inti. rekomendasi penulis d. obyektif. sikap penulis b. bagian inti. dan penutup b. inti (pokok pembahasan). panjang tulisan c. pada umumnya menyajikan tentang a. argumentasi . kecuali a. abstrak. pendahuluan. penulis bersikap netral. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. dan tidak memihak. Aspek-aspek yang menentukan karakteristik karya tulis. simpulan d. informatika 5. pendahuluan. Sikap ini sesuai dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada. rangkuman dan tindak lanjut b.Penulisan Karya Ilmiah 9-7 F. Struktur sajian suatu karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari a. simpulan dan saran 4. Substansi suatu karya tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal. bagian inti. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya tulis ilmiah. kecuali a. kebudayaan c. abstrak. struktur sajian d. fakta atau kenyataan b. penggunaan bahasa 2. simpulan umum c. Dalam karya tulis ilmiah. abstrak. penutup 3. pemulung d. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat 1. Bagian penutup suatu karya tulis ilmia. TES FORMATIF 1.

panjang tulisan . teori yang diakui kebenarannya d. impersonal d. resmi b. sistematika tulisan b. disajikan secara sistematis 9. menggunakan gaya bahasa resmi d. yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah? a. Untuk membedakan karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah. memaparkan bidang ilmu tertentu b. kumbang cantik pengisap madu c. Komponen suatu karya tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan penulisannya. Di antara judul berikut.9-8 Penulisan Karya Ilmiah c. pengaruh obat bius yang menghebohkan 10 . senjata makan tuan b. personal 7. Keobyektifan penulis karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat a. lampiran 8. baku c. merupakan deskripsi suatu kejadian c. daftar tabel d. daftar pustaka b. abstrak c. seseorang dapat mengkaji berbagai aspek tulisan. namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen a. Berikut ini adalah ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah. kecuali a. pengaruh gizi pada pertumbuhan anak d. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda adalah a. data empirik/hasil penelitian 6.

Sebutkan aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah? . Tes Uraian 1. Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan seperti itu? 2.Penulisan Karya Ilmiah 9-9 c. dan bagian penutup. Berdasarkan uraian itu. Secara umum. Setelah membaca uraian di atas. coba simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah! 3. pengarang 2. coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal karakteristik karya tulis ilmiah. inti. ragam bahasa yang digunakan d. struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal.

Menjelaskan penulisan hasil penelitian karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. 6. KEGIATAN BELAJAR II ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN DAN HASIL PENELITIAN A. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar yang kedua ini akan dibahas bagaimana menentukan kelayakan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan serta struktur tulisan konseptual. Menjelaskan penulisan pendahuluan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 4. Pembahasan mengenai materi ini akan bermanfaat pada saat bapak dan ibu menulis artikel konseptual. Menjelaskan pembuatan judul karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan pembahasan karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian 7. bapak dan ibu diharapkan mempunyai kemampuan dalam: 1. Menjelaskan penulisan simpulan dan saran karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan abstrak dan kata kunci karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian. Menjelaskan penulisan daftar pustaka karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian . Berkaitan uraian di atas. 8. 5. 2. Di samping itu akan dibahas juga teknik menulis karya tulis ilmiah atas dasar hasil penelitian. 3. Menjelaskan penulisan metode karya tulis yang bersifat konseptual maupun atas dasar hasil penelitian.BAB III. maka setelah menyelesaikan kegiatan berlajar kedua ini.

yang dituangkan dalam bentuk tulisan. tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya. dan pikiran baru penulis tentang hal yang dikaji. Atikel Hasil Pemikiran Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan. Salah satu ciri penting judul artikel hasil pemikiran adalah . Jadi. URAIAN MATERI 1. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. nama penulis. Bagian paling vital dari artikel hasil pemikiran adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas. Artikel hasil pemikiran biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok. dan daftar rujukan. Sumber-sumber yang dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan. Pilihan kata-kata harus tepat. Judul Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. jelas. di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks. yaitu judul. mengandung unsur-unsur utama masalah. penutup. artikel hasil pemikiran bukanlah sekadar kolase atu tempelan cuplikan dari sejumlah artikel. bagian inti atau pembahasan. jika memang ada. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini. pendahuluan.Penulisan Karya Ilmiah 9-11 B. yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya. dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang kuat bagi calon pembaca. abstrak dan kata kunci. hasil-hasil penelitian terdahulu. a. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya. apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber. baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya.

Nama Penulis Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis. 1) Repelita IV: A Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan disertai tambahan dkk. dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi. dan analitik.2. Jika penulis lebih dari dua orang. No. No. Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi. (dan kawan-kawan). Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. 33. argumentative. Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7. dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan.) Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciriciri yang diharapkan ditunjukan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif. dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu. . argumentasi. IX No. Nama lembaga tempat penulis bekerja sebagai catatan kaki di halaman pertama.1) Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? (Journal of Research in Science Teaching Vol. Hal ini penting karena artikel hasil pemkiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi.9-12 Penulisan Karya Ilmiah bersifat ”provokatif”. b. analisis.

bukan komentar atau pengantar penulis. A qualitative study takes several stage in generating theories. In fact these two approaches serve different purposes. quantitative study. tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atau tubuh artikel. Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel. Ciri-ciri umum artikel hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini. A qualitative study is often contrasted with its quantitative counterpart. and other related quantitative values can be more appropriately investigated through quantitative study. for example. Format lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan). theory development . sehingga (calon) pembaca tertarik untuk meneruskan pembacaannya. Business transaction pattern and market characteristic. diketik dengan spasi tunggal. kata-kata kunci hendaknya diambil dari tresaurus bidang ilmu terkait. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak artikel hasil pemikiran adalah ringkasan dari artikel yang dituangkan secara padat. Abstract: Theory Generation through Qualitative Study.Penulisan Karya Ilmiah 9-13 c. Key words: qualitative study. Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci. These two approaches are more often inappropriately considered as two different schools of thought than as two different tools. Jika dapat diperoleh. Perhatikan contoh abstrak dan kata-kata kunci berikut ini. Panjang abstrak biasanya sekitar 50-75 kata yang disusun dalam satu paragraf. frequencies. can be investigated through qualitative study. Dengan membaca abstrak diharapkan (calon) pembaca segera memperoleh gambaran umum dari masalah yang dibahas di dalam artikel. while their tendencies. yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel.

. Dalam artikel-artikel ini akan dibahas kemungkinankemungkinan menurunnya partisipasi masyarakat tersebut berdasarkan analisis ekonomi pendidikan. Diharapkan. Catatan sejarah pendidikan di negara-negara maju dan dikelompokkelompok masyarakat yang telah berkembang kegiatan pendidikan menunjukan bahwa keadaan dunia pendidikan mereka sekarang ini telah dicapai dengan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan di dalam berbagai bentuk.9-14 Penulisan Karya Ilmiah d. Sementara itu penulis-penulis lain lebih memfokus pada faktor-faktor ekonomi. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan. Perhatikan tiga segmen bagian pendahuluan dalam contoh di bawah ini.”dst. Dari kajian terhadap berbagai tulisan dan hasil penelitian disebutkan di muka terlihat masih terdapat beberapa hal yang belum jelas benar atau setidak-tidaknya masih menimbulkan keraguan mengenai sebab-sebab menurunnya mutu partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.. . misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan yang terkait dengan artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu.. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli yang berkaitan dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.. Partisipasi masyarakat merupakan unsur yang paling penting sekali bagi keberhasilan program pendidikan. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem politik yang kurang demokratis dan budaya masyarakat paternalistik telah menyebabkan rendahnya partisipasi. Di Amerika Serikat dalam tingkat pendidikan tinggi dikenal apa yang disebut “Land-Grant Universities. dengan analisis ini kekurangan analisis terdahulu dapat dikurangi dan dapat disusun penjelasan baru yang lebih komprehensif. Pendahuluan Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas.

lazimnya berisi kupasan. argumentasi. perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. yang membuka kesempatan bagi penulis untuk menampilkan wacana penurunan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dari sudut pandang yang lan. 1996:54). . Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan. keputusan. sejauh mungkin juga berciri komparatif dan menjauhi sikap tertutup dan instruktif. Science earns its place on the curriculum because there is cultural commitment to the value of the knowledge and the practices by which this body of ideas has been derived. komparasi. Tinjauan dari berbagai sudut pandang telah menghasilkan kesimpulan yang beragam. tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. analisis. dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis. Bagian Inti Isi bagian ini sangat bervariasi. any consideration of the theoretical implementation must start by attempting to resolve the aims and intentions of this cultural practice…(Dari Osborne. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif.Penulisan Karya Ilmiah 9-15 Di dalam petikan bagian pendahuluan di atas dapat dilihat alur argumentasi yang diikuti penulis untuk menunjukan masih adanya perbedaan pandangan tentang menurunnya partisipasi masyarakat di dalam pengembangan pendidikan. Perhatikan contoh-contoh petikan bagian inti artikel berikut ini. Penggunaan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat. analitik. dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. Hence. Walaupun demikian. e.

9-16 Penulisan Karya Ilmiah

Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktik-praktik pendidikan adalah suatu keharusan jika dunia pendidikan Indonesia tidak ingin tertinggal dan kehilangan perannya sebagai wahana untuk menyiapkan generasi masa datang ironisnya, kalangan pendidikan sendiri tidak dengan cepat mengantisipasi, mengembangkan dan mengambil inisiatif inovasi yang diperlukan, walaupun kesadaran akan perlunya perubahanperubahan tertentu sudah secara luas dirasakan. Hesrh dan McKibbin (1983:3) menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak telah menyadari perlunya inovasi…(Dari Ibnu, 1996:2) John Hassard (1993) suggested that, ‘Unlike modern industrial society, where production was the cornerstone, in the post modern society simulation structure and control social affairs. We, at witnesses, are producing simulation whitin discorses. We are fabricating words, not because we are “falsyfaying” data, or “lying” about what we have learned, but because we are constructing truth within a shifting, but always limited discourse.’ (Dari Ropers-Huilman, 1997:5) Di dalam contoh-contoh bagian inti artikel hasil pemikiran di atas dapat dilihat dengan jelas bagian yang paling vital dari jenis artikel ini yaitu posisi atau pendirian penulis, seperti terlihat di dalam kalimatkalimat: (1) Hence, any consideration of the theoretical base of science and its practical implementation must start by…, (2) Dalam situasi yang dicontohkan di atas perubahan atau penyesuaian paradigma dan praktek-praktek pendidikan, adalah suatu keharusan jika…, (3)…We are fabricating words not because …, or ‘lying’ about…, but…dan seterusnya.

f. Penutup atau Simpulan Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian

sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat dilihat pada berbagai

Penulisan Karya Ilmiah

9-17

artikel jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama: mengakhir diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. Perhatiakan contoh-contoh berikut.

Konsep pemikiran tentang Demokrasi Ekonomi pada prinsipnya adalah khas Indonesia. menurut Dr. M. Hatta dalam konsep Demokrasi Ekonomi berlandaskan pada tiga hal, yaitu: (a) etika sosial yang tersimpul dalam nilai-nilai Pancasila; (b) rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dengan perencanaan ekonomi oleh negara; dan (c) organisasi ekonomi yang mendasarkan azas bersama/koperasi. Isu tentang pelaksanaan Demokrasi Ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia menjadi menarik dan ramai pada era tahun 90-an. Hal tersebut terjadi sebagai reaksi atas permasalahan konglomerasi di Indonesia. Perlu diupayakan hubungan kemitraan yang baik antara pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pada saat ini nampak sudah ada political will dari pemerintah kita terhadap kegiatan ekonomi berskala menengah dan kecil. Namun demikian kemampuan politik saja tidak cukup tanpa disertai keberanian politik. Semangat untuk berpihak pada pengembangan usaha berskala menengah dan kecil perlu terus digalakkan, sehingga tingkat kesejahteraan seluruh msyarakat dapat ditingkatkan. (Dari Supriyanto, 1994:330-331) if, as has been discussed in this article, argumentation has a central role play in science and learning about science, then its current omission is a problem that needs to be seriously addressed. For in the light of our emerging understanding of science as social practice, with rhetoric and argument as a central feature, to continue with current approaches to the teaching of science would be to misrepresent science and its nature. If his pattern is to change, then it seems crucial that any intervention should pay attention not only to ways of enhancing the argument skills of young people, but also improving teachers’ knowledge, awareness, and competence in managing student participation in discussion and argument. Given that, for good or for ill, science and technology have ascended to ascended to a position of cultural dominance, studying the role of

9-18 Penulisan Karya Ilmiah

argument in science offers a means of prying open the black box that is science. Such an effort would seem well advisedboth for science and its relationship with the public, and the public and its relationship with science. (Dari Driver, Newton & Osborne, 2000:309) g. Daftar Rujukan Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten diikuti dalam setiap nomor penelitian.

2. Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian sering merupakan bagian yang paling dominan dari sebuah jurnal. Berbagai jurnal bahkan 100% berisi artikel jenis ini. Jurnal Penelitian Kependidikan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang, misalnya, dan Journal of Research in Science Teaching; termasuk kategori jurnal yang semata-mata memuat hasil penelitian. Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau ”pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

Penulisan Karya Ilmiah

9-19

Bagian-bagian artikel hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal adalah judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, bagian pendahuluan, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan.

a. Judul Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan tepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antar variabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel. Walaupun demikian, harus dijaga agar judul artikel tidak menjadi terlalu panjang. Sebagaimana judul penelitian, judul artikel umumnya terdiri dari 5-15 kata. Berikut adalah beberapa contoh.

Pengaruh Metode Demonstrasi Ber-OHP terhadap Hasil Belajar Membuat Pakaian Siswa SMKK Negeri Malang (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No.1). Undergraduate Science Students’ Images of the Nature of Science (Research presented at the American Educational Research Association Annual Conference, Chicago, 24-28 March 1997). Effect of Knowledge and Persuasion on High-School Students’ Attitudes towards Nuclear Power Plants (Journal of Research in Science Teaching Vol.32, Issue 1).

Jika dibandingkan judul-judul di atas, akan sgera tampak perbedaannya dengan judul artikel hasil pemikiran, terutama dengan terlihatnya variabel-variabel utama yang diteliti seperti yang

diperlihatkan pada judul yang pertama dan ketiga.

9-20 Penulisan Karya Ilmiah

b. Nama Penulis Pedoman penulisan nama penulis untuk artikel hasil pemikiran juga berlaku untuk penulisan artikel hasil penelitian.

c. Abstrak dan Kata Kunci Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan terutama diberikan kepada hasil penelitian. Panjang abstrak lebih kurang sama dengan panjang artikel hasil pemikiran dan juga dilengkapi dengan kata-kata kunci (3-5 buah). Kata-kata kunci menggambarkan ranah masalah yang diteliti. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variable-variabel penelitian dan hubungan antara variable-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari variabelvariabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel.

Contoh abstrak: Abstract: The aim of this study was to asses the readiness of elementary school teachers in mathematic teaching, from the point of view of the teacher mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematic which was devided in to two part, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtained scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The result of the study indicated that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty nine point five percent of the teachers got more than 65 arithmetic, and 69,5% gained scores of more than 65 scores in both geometry and arithmetics. Key words: mathematic teaching, teaching readiness, subject mastery.

Penulisan Karya Ilmiah

9-21

d. Pendahuluan Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk

pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalaha penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitan dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemecahan (fisik) dari satu subbagin ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan dengan penggantian paragraf.

e. Metode Bagian ini menguraikan bagaimana penelitian dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data. Subsubbagian di atas umumnya (atau sebaiknya) disampaikan dalam format esei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif, misalnya:

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan observasi partisipatori. Peneliti terjun langsung ke dalam keidupan masyarakat desa, ikut serta melakukan berbagai aktivitas sosial sambil mengumpulkan data yang dapat diamati langsung di lapangan atau yang diperoleh dari informan kunci. Pencatatan dilakukan tidak langsung tetapi ditunda sampai peneliti dapat ”mengasingkan diri” dari anggota masyarakat sasaran. Informasi yang diberikan dari informan kunci diuji dengan membandingkannya dengan pendapat nara sumber yang lain. Analisis dengan menggunakan pendekatan... Rancangan eksperimen pretest-posttest control group design digunakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian dipilih secara random dari seluruh siswa kelas 3 kemudian

9-22 Penulisan Karya Ilmiah

secara random pula ditempatkan ke dalam kelompok percobaan dan kelompok control. Data diambil dengan menggunakan tes yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh Lembaga Pengembangan Tes Nasional. Analisis data dilakukan dengan... f. Hasil Penelitian Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Pengujian hipotesis dan penggunaan statistik tidak termasuk yang disajikan. Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan

penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Grafik dan tabel harus dibahas dalam tubuh artikel tetapi tidak dengan cara pembahasan yang rinci satu per satu. Penyajian hasil yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian

Contoh: Jumlah tulisan dari tiga suku ranah utama yang dimuat di dalam berbagai jurnal, dalam kurun waktu satu sampai empat tahun dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Jumlah Tulisan dari Tiga Suku Ranah Pendidikan Sains yang Dimuat dalam Berbagai Jurnal antara Januari 1994-Juli 1997

Suku ranah Konsep Sci. Literacy Teori & Pengaj. Jumlah ranah Lain-lain 3 suku

1994 7 5 2

1995 7 3 12

1996 13 14 1

1997 6 6 5

Jumlah 32 28 20 80

46

Penulisan Karya Ilmiah

9-23

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa frekuensi pemunculan artikel dari tiga suku ranah tersebut di atas jauh melebihi suku-suku ranah yang lain, yaitu 80:46. hal ini menunjukan bahwa...dst.

g. Pembahasan Bagian ini merupakan bagian terpenting dari artikel hasil penelitian. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian dan menunjukan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, mengintepretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan memunculkan ”teori-teori” baru atau modifikasi teori yang telah ada.

Contoh: Dari temuan penelitian yang diuraikan dalam artikel ini dapat dilihat bahwa berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kenakalan remaja yang selama ini diyakini kebenarannya menjadi goyah. Kebenaran dari berbagai hal tersebut ternyata tidak berlaku secara universal tetapi kondisional. Gejala-gejala kenakalan remaja tertentu hanya muncul apabila kondisi lingkungan sosial setempat mendukung akan terjadinya bentuk-bentuk kenalan terkait. Hal ini sesuai dengan teori selektive cases dari Lincoln (1987:13) yang menyatakan bahwa... h. Simpulan dan Saran Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokokpokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian. Saran dapat mengacu kepada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan.

9-24 Penulisan Karya Ilmiah

i. Daftar Rujukan Daftar rujukan ditulis dengan menggunakan pedoman umum yang juga berlaku bagi penulis artikel nonpenelitian.

3. Penutup Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

jurnal

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

Penulisan Karya Ilmiah

9-25

C. LEMBAR KEGIATAN 1. Alat dan Bahan a. Alat tulis; b. Laptop c. LCD proyektor; d. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah.

2. Langkah Kegiatan No. Kegiatan 1. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode

2.

Kegiatan Awal/Pendahuluan 2.1 Berdoa bersama untuk mengawali pembelajaran; 2.2 Presensi peserta pelatihan, jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya, maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali; 2.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan; 5 menit Curah pendapat, ceramah pemecahan masalah

9-26 Penulisan Karya Ilmiah

2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan artikel ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian. 3. Kegiatan Inti 3.1 Fasilitator memberikan ceramah tentang pengertian penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual 3.2 Fasilitator memberikan ceramah tentang penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian; 3.3 Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan; 3.4 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual; 3.5 Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian 3.6 Fasilitator menekankan kembali kesimpulan yang tepat. 4. Kegiatan Akhir Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu, tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian; Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan 10 menit Refleksi 35 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan

Penulisan Karya Ilmiah

9-27

pengalaman setelah dilakukan sharing; Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan

3. Hasil a. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil pemikiran; b. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam menjelaskan kembali secara terurai mengenai penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian;

D. RANGKUMAN Perbedaan dasar antara artilkel hasil pemikiran dan artikel hasil penelitian terletak pada bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan dituangkan ke dalam artikel. Bahan dasar artikel hasil pemikiran adalah hasil kajian atau analisis penulis atas suatu masalah. Bagian terpenting dari artikel jenis ini adalah pendirian penulis tentang masalah yang dibahas dan diharapkan memicu wahana baru mengenai masalah tersebut. Artikel hasil penelitian, dilain pihak, dikembangkan dari laporan teknis penelitian dengan tujuan utama untuk memperluas penyebarannya dan secara akumulatif dengan hasil penelitian peneliti-peneliti lain dalam memperkaya khasanah

pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Perbedaan isi kedua jenis artikel memerlukan struktur dan sistematika penulisan yang berbeda untuk menjamin kelancaran dan keparipurnaan komunikasi. Walaupun demikian, dipandang tidak perlu dikembangkan sehingga aturan-aturan yang terlalu mengikat dan jurnal baku, dapat

gaya

selingkung

masing-masing

9-28 Penulisan Karya Ilmiah

terakomodasikan dengan baik di dalam struktur dan sistematika penulisan yang disepakati. Satu hal yang harus diupayakan oleh penulis, baik untuk artikel hasil pemikiran ataupun artikel hasil penelitian, adalah tercapainya maksud penulisan artikel tersebut, yaitu komunikasi yang efektif dan efisien tetapi tetap mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Selain itu, kaidah-kaidah komunikasi ilmiah yang lain seperti objektif, jujur, rasional, kritis, up to date, dan tidak arogan hendaknya juga diusahakan sekuat tenaga untuk dapat dipenuhi oleh penulis.

F. TES FORMATIF 1. Tes Obyektif Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat

1.

Artikel dapat dikelompokkan menjadi a. artikel laporan dan artikel rujukan b. artikel konseptual dan artikel teoritis c. artikel hasil telaahan dan artikel teoritis d. artikel hasil laporan dan artikel hasil telaahan

2.

Dari sudut ide, salah satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas tinggi adalah a. kelayakan ide untuk dipublikasikan b. wacana tentang ide yang sedang berkembang c. kesiapan ide untuk didiskusikan d. persamaan persepsi para ahli di bidang yang sama

3.

Tulisan analisis konseptual terdiri dari a. judul, abstrak, data, pembahasan, dan referensi b. judul, abstrak, pendahuluan, diskusi, referensi c. judul pendahuluan, diskusi, kesimpulan referensi

Penulisan Karya Ilmiah

9-29

d. judul, pendahuluan, temuan, pembahasan, referensi 4. Dalam suatu artikel konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam peta pengetahuan dimuat pada bagian a. abstrak b. pendahuluan c. diskusi d. referensi 5. Referensi memuat semua rujukan yang a. pernah dibaca penulis b. perlu dibaca pembaca c. dimuat dalam badan tulisan d. diperlukan dalam pengembangan tulisan 6. Salah satu dari tiga pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini a. apa inti teori/konsep yang dibahas? b. mengapa konsep itu dibahas? c. Apa kesimpulan yang dapat ditarik? d. Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan? 7. Salah satu hal yang harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah a. menjelaskan partisipan b. menulis masalah yang sudah pernah dibahas c. memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel d. melaporkan korelasi yang dibahas dalam penelitian 8. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek a. panjang tulisan b. nada tulisan c. gaya tulisan

Carilah salah satu artikel hasil penelitian. bahasa tulisan 9. diskusi 2. Tes Uraian 1. Rekomendasi untuk judul adalah a. metode c. telaah unsur-unsur yang terdapat pada artikel itu! . Jelaskan mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel penelitian 2. 15-30 kata 10.9-30 Penulisan Karya Ilmiah d. hasil d. pendahuluan b. Sebut dan jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian! 3. Dalam suatu laporan atau artikel hasil penelitian. kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian a. 12-15 kata d. 8-10 kata b. 10-12 kata c.

B. Mengenai Format Tulisan Semua bagian artikel yang dibicarakan di atas ditulis dalam format esai. URAIAN MATERI 1. KEGIATAN BELAJAR III PRAKTIK PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH A. Pada kesempatan ini akan dicontohkan beberapa petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan. mengenal format penulisan esay. Dengan demikian peserta PLPG diharapkan mempunyai keterampilan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang dapat dikirimkan kepada pengelola jurnal penelitian pendidikan (JIP). 2. dan secara aktif berdialog dengan penulis. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Pada kegiatan belajar kedua telah disajikan bagaimana teknik menulis karya tulis ilmiah yang bersifat hasil pemikiran dan hasil penelitian. 3. indikator kegiatan belajar ketiga ini adalah: 1. Pada kegiatan belajar yang ketiga ini berisi mengenai latihan peserta PLPG dalam menulis karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian. Oleh karena itu. Penggunaan format esai dalam penulisan artikel jurnal bertujuan untuk menjaga kelancaran pembacaan dan menjamin keutuhan ide yang ingin disampaikan.BAB IV. Dengan digunakannya format esai diharapkan pembaca memperoleh kesan seolah-olah berkomunikasi langsung. mengenal format penulisan enumeratif. Bandingkan dua format petikan berikut: . membuat karya tulis ilmiah baik yang bersifat hasil pemikiran maupun hasil penelitian.

Untuk kawasan Asia Tenggara dilaporkan melalui Regional Center for South East Asia dan untuk wilayah Indonesia dilaporkan kepada PDII-LIPI.9-32 Penulisan Karya Ilmiah Format Enumeratif Sesuai dengan lingkup penyebaran jurnal yang bersangkutan maka record ISSN dilaporkan kepada pihak-pihak berikut: (a) International Serials Data System di Paris untuk jurnal internasional (b) Regional Center for South East Asia bagi wilayah Asia Tenggara. dan seterusnya. (2)…. seperti (1)…. c. dan diserahkan dalam bentuk cetakan (print out) komputer sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya. Di dalam hal-hal tertentu format enumeratif boleh digunakan. Naskah diketik spasi ganda pada kertas kuarto sepanjang maksimal 20 halaman. Format Esei Setiap record ISSN dilaporkan kepada internasional Serial Data System yang berkedudukan di Paris. Jika format esai masih dapat digunakan “penandaan” sejumlah elemen dapat dilakukan dengan format esei bernomor. dan (c) PDII-LIPI untuk wilayah Indonesia. Berkas (file) pada naskah pada disket dibuat dengan program olah kata WordStar. b. (3)…. teori kependidikan. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format . Petunjuk bagi Penulis Ilmu Pendidikan a. Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitiskritis setara dengan hasil penelitian di bidang filsafat kependidikan.. dan praktik kependidikan. WordPerfect atau MicroSoft Word. 2. terutama apabila penggunaan format enumeratif tersebut benar-benar fungsional dan tidak tepat apabila diganti dengan format esei seperti dalam menyatakan urutan dan jadwal.

pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang. Juli 1997.W. 1997. . pembahasan. Tahun 24.D.. masing-masing bagian. Vault. kesimpulan dan saran. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency based Teacher Education. PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. abstrak (maksimum 100 kata). 1993. Anderson. Rata dengan Tepi Kiri) Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. 127-137. pendahuluan (tanpa sub judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan. Hanurawan. Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat.E. Nomor 2. abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan. RATA DENGAN TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. f. C. bahasan utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul). nama penulis (tanpa gelar akademik). e. kata-kata kunci. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). Sistematika artikel hasil penelitian: judul. F. D. nama penulis (tanpa gelar akademik). disertai judul (heading). dan tidak menggunakan angka/nomor bagian. kata-kata kunci. daftar rujukan (berisi pustaka yang dirujuk saja). Pandangan Aliran Humanistik tentang Filsafat Pendidikan Orang Dewasa. metode. Daftar Rujukan disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. dan hasil penelitian. kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. Sistematika artikel setara hasil penelitian: judul. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dicetak tebal atau tebal miring). hasil. sedikit tinjauan pustaka. dan Praktik Kependidikan. Teori. Miring. Rata dengan tepi Kiri) d. penutup atau kesimpulan.Penulisan Karya Ilmiah 9-33 esai. & Dickson. dan tujuan penelitian. hlm. V. metode. Berkeley: McCutchan Publishing Co.

12 Juli. Artikel yang sudah dalam bentuk cetak-coba tidak dapat ditarik kembali oleh penulis. Pemeriksaan dan penyuntingan cetak-coba dilakukan oleh penyunting dan/atau melibatkan penulis. Artikel berbahasa Indonesia mengikuti aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud. dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. Pusat Penelitian IKIP MALANG. LEMBAR KEGIATAN 1. C. Artikel dan Laporan Penelitian (Universitas Negeri Malang. 1987). Laptop c. Tata cara penyajian kutipan. Makalah. Buku teks tentang teknik menulis karya ilmiah e. Malang. rujukan. Tesis. 200). Kamera digital . penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan cetak lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar yang akan diberikan jika kontribusi biaya cetak telah dibayar lunas. Artikel berbahasa Inggris menggunakan ragam baku.9-34 Penulisan Karya Ilmiah Huda. Disertasi. i.00 (dua ratus ribu rupiah) perjudul. 1991. d. tabel. Penulis yang artikelnya dimuat wajib memberi kontribusi biaya cetak minimal sebesar Rp. N. 200. b. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di malang Angkataan XIV. h. Sebagai imbalannya. Alat dan Bahan a.000. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. Alat tulis. LCD proyektor. g.

1 Berdoa bersama untuk mengawali 5 menit pembelajaran. Langkah Kegiatan No. 2.4 Selanjutnya fasilitator menyajikan petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan Curah pendapat. Fasilitator perlu melakukan persiapan yaitu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran 5 menit Mempersiapkan alat dan bahan Waktu Metode 2. 2. ceramah pemecahan masalah 3. Kegiatan 1.3 Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan. jika ada yang tidak masuk karena sakit misalnya. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai. maka peserta diajak berdoa kembali agar teman yang sakit dapat segera sembuh dan berkumpul untuk bersekolah kembali. Kegiatan Inti Fasilitator memberikan ceramah tentang format penulisan karya tulis ilmiah.Penulisan Karya Ilmiah 9-35 2. 2.2 Presensi peserta pelatihan. Kegiatan Awal/Pendahuluan 2. Fasilitator memberikan 130 menit Metode pemberian tugas dan pendampingan .

9-36 Penulisan Karya Ilmiah ceramah tentang salah satu contoh petunjuk bagi penulis ilmu pendidikan . 4. Fasilitator memberikan tugas menyusun karya tulis ilmiah baik dalam bentu pemikiran maupun hasil penelitian. Fasilitator berdiskusi dengan peserta pelatihan.3 Berdoa bersama-sama sebagai menutup pelatihan 10 menit Refleksi 3. . 4. Hasil a. Kegiatan Akhir 4. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil penelitian. Sharing dalam kelas mengenai karya tulis ilmiah hasil pemikiran konseptual. Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil pemikiran.1 Fasilitator bersama-sama dengan peserta mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. 4.2 Fasilitator memberi kesempatan peserta untuk mengungkapkan pengalaman setelah dilakukan sharing. tentang beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.

Peserta PLPG mempunyai kemampuan dalam dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian. Artikel (setara hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa subjudul) Subjudul Subjudul Subjudul Penutup (atau Kesimpulan dan Saran) Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja) sesuai dengan kebutuhan . memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka. D.Penulisan Karya Ilmiah 9-37 b. Artikel (hasil penelitian) memuat: Judul Nama Penulis Abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Kata-kata kunci Pendahuluan (tanpa sub judul. RANGKUMAN 1. dan masalah/tujuan penelitian) Metode Hasil Pembahasan Kesimpulan dan Saran Daftar Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uaraian saja) 2.

Ruangan bebas. tidak harus terkekang di dalam kelas. Tugas ini sifatnya individual. TES FORMATIF Peserta PLPG ditugasi menyusun karya tulis ilmiah dengan cara memilih salah satunya yaitu hasil pemikiran konseptual atau hasil penelitian. .9-38 Penulisan Karya Ilmiah E. Fasilitator memberikan bimbingan dan pendampingan pada saat peserta PLPG menyusun karya tulis ilmiah. Tugas dapat ditulis menggunakan komputer atau tulis tangan.

b 10. c 8.Penulisan Karya Ilmiah 9-39 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Kegiatan Belajar 1 1. c 5. c 10. b 6. a 7. a 3. c 5. d 4. a 3. b 9. b 2. c 2. b 4. d . a Kegiatan Belajar 2 1. b 7. c 6. a 8. b 9.

2000. . Teknik Menulis Karya Ilmiah.DAFTAR PUSTAKA Ditbinlitabmas Ditjen Dikti Depdikbud. Wardani. Depdiknas: Jakarta. A. 2001.K. dan Kantor Menristek: Jakarta. 2007. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press): Malang.G. Ikapindo. G. 2008. Sistematika Penulisan Laporan KTI Online. Ditbinlitabmas Dikti. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. Direktorat Profesi Pendidik. Penerbit Universitas Terbuka: Jakarta.M. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. LIPI. Saukah. I.A. dan Waseso.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful