MAKALAH FIQH MUAMALAH

“KERJASAMA ATAS LAHAN PERTANIAN” Dosen Pengampu : Drs. A. Faruk. MA

Oleh Kelompok 12 1. SRI REZEKI 2. ZAKARIA 3. RAMDHANI

FAKULTAS SYARIAH JURUSAN EKONOMI ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SYAIFUDDIN JAMBI 2010

1

dan masyarakat bertambah makmur. Pengertian Musaqah Musaqah ialah pemilik kebun yang memberikan kebunnya kepada tukang kebun agart dipeliharanya. misalnya padi. Telah memberikan kebun beliau kepada penduduk Khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian. "Sesunggubnya Nabi Saw. Mereka akan diberi sebagian dari penghasilannya. dan sebagainya. 2. tetapi tidak dapat memeliharanya. dan penghasilan yang di dapat dari kebun itu dibagi antara keduanya. basil negera pun bertambah banyak. Dari Alm Umar. Yang kita maksud dengan “hasil pertemuan” atau palawija ialah semua tanaman yang hanya berbuah satu kali. jagung. sedangkan yang lain tidak mempunyai kebun." (Riwayat Muslim) B. Akad ini diharuskan (diperbolehkan) oleh agama karena banyak yang membutuhkannya. Memang banyak orang yang mempunyai kebun. Kebun. demikian juga hasil pertahun (palawija) boleh pula diparokan. menurut perjanjian keduanya sewaktu akad.MUSAQAH (PAROAN KEBUN) A. Rukun musaqah 1. menurut hadis yang tersebut di atas. Tanaman ini kita bedakan dengan buah-buahan yang lain karena hukumnya sering berbeda. baik dari buah-buahan ataupun hasil pertahun 1) (palawija). Baik pemilik kebun maupun tukang kebun (yang mengerjakan) keduanya hendaklah orang yang sama-sama berhak ber-tasarruf (membelanjakan) harta keduanya. Maka dengan adanya peraturan ini keduanya dapat hidup dengan baik. 2 . sesudah berbuah satu kali itu pohonnya lalu mati. noleh diparokan. tetapi sanggup bekerja. yaitu semua pohon yang berbuah.

misalnya seperdua. seperti tebu. 4. atau berapa saja asal berdasarkan kesepakatan keduanya pada waktu akad. musaqah diperbolehkan untuk pohon tadah hujan dan diperbolehkan pula untuk pohon-pohon yang perlu disiram. sah pula untuk pohon yang berbuah secara berangsur sedikit demi sedikit. Imam Malik berkata. sepertiga. 3 . Musaqah yang dibolehkan Para ulama berbeda pendapat dalam masalah yang diperbolehkan dalam musaqah. Menurut madzhab.3. Menurut Syafi’iyah. Apabila waktu lamanya musaqah tidak ditentukan akad. seperti dilima. Dlam kitab al-Mughni. misalnya satu tahun. dan pohon-pohon yang serupa dengan itu dan dibolehkan pula untuk pohon-pohon yang berakar tidak kuat. seperti menyiram. dua tahun atau lebih. Hendaklah ditentukan bagian masing-masig (yang punya kebuin dan tukang kebun). Pekerjaan. seperti semangka dalam keadaan pemilik tidak lagi memiliki kemampuan untuk menggarapnya. Menurut Imam Malik musaqah diboehkan untuk semua pohon yang memiliki akar kuat. musaqah diperbolehkan untuk semua pohon yang buahnya dapat dimakan. tin. sekurang-kurangnya kira-kira menurut kebiasaan dalam masa itu kebun sudah mungkin berbuah. zaitu. Imam Abu Dawud berpendapat bahwa yang boleh dimusaqah-kan hanya jurma. yang boleh di-musaqah-kan hanyalah kurma dan anggur saja sedangka menurut Hajfiyah semua pohon yang mempunyai akar ke dasar bumi dapat di-musaqah-kan. seperti terong. merumput dan mengawinkannya. C. pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh tukang kebun ialah smeua pekerjaan yang bersangkutan dengan penjagaan kerusakan dan pekerjaan (perawatan yang berfaedah) untuk buah. maka waktu yang berlaku jatuh hingga pohon itu menghasilkan yang pertama setelah akad. Hendaklah ditentukan masanya. Buah.

Ibnu Munzir. sedangkan benihnya dari petani (orang yang menggarap). sepertiga. Oleh karena itu. baik dari buah-buahan maupun dari hasil pertahunan (Palawija). seperdua. Mukhabarah adalah paroan sawah atau ladang. Hadis itu ada dalam kitab hadis Bukhari dan Muslim. Kadang-kadang sebagian tanah itu berhasil baik. dan Khattabi. Pengertian Muzara’ah yaitu paroan sawah atau lading. Pendapat ini dikuatkan oleh Nawawi. “Sesunggubnya Nabi Saw telah memberikan kebun beliau kepada penduduk Khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilan. sebagian tanah untuk kami dan sebagian untuk mereka yang mengerjakannya. mereka mengambil alasan hadis Ibnu Umar: Dari Ibnu Umar.. Rasulullah Saw melarang paroan dengan cara demikian.” (Riwayat Bukhari) Ulama yang lain berpendapat tidak ada halangan.MUZARAH DAN MUKHABARAH (PAROAN SAWAH ATAU LADANG) A. sepertiga atau lebih atau kurang.” (Riwayat Muslim) 4 . di antaranya: Rafi' bin khadij berkata. Mereka beralasan pada beberapa hadis yang melarang paroan tersebut. "Di antara Ansar yang paling banyak mempunyai tanah adalah kami. maka kami persewakan. Sebagian ulama melarang paroan tanah semacam ini. sedangkan benihnya dari yang punya tanah. atau lebih kurang. seperdua. dan yang lain tidak berhasil.

Adapun hadis yang melarang tadi maksudnya hanya “apabila penghasilan dari sebagian tanah ditentukan mesti kepunyaan salah seorang di antara mereka. Penghasilan yang didapat dari upah tidak wajib dibayar zakatnya. diambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi. Rukun-rukun dan Syarat-syaratnya Menurut Hanafiyah. petani hanya mengambil upah bekerja. perbuatan pekerja. yaitu hams berakal 5 . Kalau benih dari keduanya. hadis tersebut. kalau kita selidiki hasil dari adanya paroan ini terhadap umum. jumlah rukun-rukun Muzara'ah menurut Hanafiyah ada empat. jadi. B. yaitu ijab dan kabul antara pemilik dan pekerja. Secara rinci. Syarat yang bertalian dengan 'aqidain. dan alat-alat untuk menanam Syarat-syaratnya ialah sebagai berikut: 1. persentase bagian masing-masing pun tidak diketahui. zakat diwajibkan atas yang punya tanah karena hakikatnya dialah yang bertanam. pada muzara'ah yang diwajibkan zakat petani penggarap. sedangkan penghasilan dari sewaan tidak wajib dikeluarkan zakatnya.Adapun pada mukjabarah. dalam. yang punya tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya. C. sebab pekerjaan demikian bukanlah dengan cara adil dan Insaf Pendapat ini pun dikuatkan dengan alasan bila dipandang dari segi kemaslahatan dan kebutuhan orang banyak. tanah yang lebih subur. Karena memang kejadian di masa dahulu itu mereka memarokan tanah dengan syarat akan mengambil penghasilan dari sebagian. yaitu tanah. sudah tentu kita akan lekas mengambil keputusan yang sesuai dengan pendapat yang kedua ini. Keadaan inilah yang dilarang oleh junjungan kita Nabi Saw. zakat diwajibkan atas keduanya. . Zakat paroan sawah atau ladang Zakat hasil paroan ini diwajibkan atas orang yang punya benih. Memang. sebab pada hakikatnya dialah yang bertanam. rukun Muzaraah ialah akad.

yang layak untuk ditanami (bertani). tanah.2. b. Dia sanggup untuk berladang dan bertani untuk mencukupi keperluan hidupnya. Bagian antara Amil dan Malik adalah satu dari jenis bamng yang sama. Hal yang berkaitan dengan waktu. yaitu: a. e. b. Tidak disyaratkan bagi salah satunya penambahan yang ma’lum. b. sapi. boleh dilakukan dengan lafazh apa saja yang menunjukkan adanya ijab dan kabul dan bahkan Muzaraah dilafazhkan dengan lafazhIjarah. 6. Waktu tersebut memungkinkan dua belah pihak hidup menurut kebiasaan. syarat-syaratnya ialah: a. kuda. Bagian kedua belah pihak sudah dapat diketahui. D. yaitu disyaratkan adanya penentuan macam apa saja yang akan ditanam 3. yaitu: a. tetapi tidak memiliki tanah. dan lainnya. berupa hewan atau yang lainnya dibebankan kepada lafazh ljarah. Hal yang berhubungan dengan tanah yang akan ditanami. Hal yang berkaitan dengan perolehan hasil dari tanaman. Hikmah Muzaraah dan Mukharabah Manusia banyak yang mempunyai binatang ternak seperti kerbau. Menurut Hanabilah. seperti menanam padi pada waktunya kurang lebih 4 bulan. dan yang lainnya. Syarat yang berkaitan dengan tanaman. Waktu itu memungkinkan untuk menanam tanaman dimaksud. Tanah tersebut dapat diketahui batas-batasnya. Sebaliknya. c. ladang. Hilton Muzara'ah ada satu. Hasil adalah milik bersama. banyak di antara manusia mempunyai sawah. d. 4. yaitu ijab dan kabul. Waktunya telah ditentukan. Bagian masing-masing harus disebutkan jumlahya. 5. c. tetapi ia tidak memiliki binatang untuk 6 . Tanah tersebut dapat ditanami. Hal yang berkaitan dengan alat-alat Muzaraah alat-alat tersebut disyaratkan.

Muazara'ah dan Mukharabah disyari'atkan untuk menghindari adanya pemilikan hewan ternak yang kurang bisa dimanfaatkan karena tidak ada tanah untuk diolah dan menghindari tanah yang juga dibiarkan tidak diproduksikan karena tidak ada yang mengolahnya. Muzara'ah dan Mukharabah terdapat pembagian hasil.mengolah sawah dan ladangnya tersebut atau ia sendiri tidak sempat untuk mengerjakannya. Untuk hal-hal lainnya yang bersifat teknis disesuaikan dengan Syirkah yaitu konsep bekerja sama dalam upaya menyatukan potensi yang ada pada masing-masing pihak dengan tujuan bisa saling menguntungkan. 7 . sehingga banyak tanah yang dibiarkan dan tidak dapat menghasilkan suatu apapun.

1964. Fiqh Islam.DAFTAR PUSTAKA Rasyid. 8 . Sinar Baru. Sulaiman. Jakrta : CV.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful