HUBUNGAN ANTARA ASI EKSKLUSIF DENGAN PERTUMBUHAN BAYI BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Tidak disangsikan lagi Air Susu Ibu (ASI) sebagai makanan terbaik untuk bayi merupakan pemberian Allah SWT yang tidak akan dapat ditiru oleh para ahli di bidang makanan bayi manapun. Air Susu Ibu mengandung nutrien (zat gizi) yang cukup dan bernilai biologi tinggi. Disamping itu juga mengandung zat kekebalan (imunologi) yang sangat dibutuhkan bayi untuk melawan beberapa penyakit (Rahmawati, 1998). Menyusui merupakan proses alamiah, namun sering ibu -ibu tidak berhasil menyusui atau menghentikan menyusui lebih dini dari yang semestinya. Banyak penelitian yang telah membuktikan kelebihan ASI yang diduga memiliki kandungan gizi, nutrisi, dan antibodi yang lengka p. Salah satu penelitian yang di lakukan di 6 negara berkembang membuktikan, bayi usia 0 ± 2 bulan yang tidak mendapatkan ASI ekslusif lebih rentan terkena infeksi pencernaan hingga 400% (Tim RBBP Wihdatul µUmmah, 2008). Menyusui bayi berlama -lama sering dilakukan para ibu dengan maksud dan tujuan beragam. Seperti dilaporkan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood , metode ´short breastfeed ´ di nilai lebih bermanfaat daripada menyusui hanya menuruti bayi. Kesimpulan ini diambil peneliti asal Bradford yang memantau aktivitas 36 ibu yang memberi ASI ekslusif. Peneliti menemukan, pemberian ASI secara teratur hingga maksimal 10 menit untuk setiap sesi menghasilkan peningkatan berat badan signifikan serta rata -rata menyusui yang lebih tinggi. Namun begitu, p ara bidan di Inggris berpendapat bahwa metode µshort breastfeed´ ini tidak akan dapat diterapkan pada semua ibu menyusui. Penelitian yang dipimpin Dr. Anne Walshaw, mencatat bahwa rendahnya penambahan berat badan bayi dengan metode ´baby-led´ merupakan fakta yang banyak terjadi. Untuk itulah, para dokter di Bradford merekrut 36 ibu untuk dilibatkan dalam riset. Setengah dari partisipan diinstruksikan menyusui ketikabayi meminta dan menawarkannya lagi jika bayi masih menunjukkan tanda -tanda lapar. Setengah partisipan lainnya diinstruksikan menyusui maksimal 10 menit dan setiap sesi bisa berjarak tiga jam pada siang hari dan bila perlu boleh dilakukan di malam hari. Riset menunjukkan, kurang dari 50 persen bayi pada kelompok yang mendapat metode ´baby-led´ masih menyusui setelah sekitar 3 bulan. Sementara bayi yang mengikuti metode tradisional prosentasenya mencapai tiga perempat. Selain itu, bayi di kelompok ´baby-led´ dan yang menyusui lebih dari 10 menit setelah sesi pertama, keduanya mencatat penambahan ber at yang kurang baik dalam usia enam hingga delapan pekan. Peneliti mengindikasikan, metode ´baby-led´ dapat mengganggu sistem tubuh ibu dalam memproduksi ASI. Para ibu memerlukan hormon oksitosin yang berfungsi memacu sejenis ketenangan atau refleks, yang menyebabkan air susu beredar dari sel -sel payudara melalui pembuluh hingga puting payudara. Jika bayi tetap menyusui dalam waktu lama, produksi oksitosin akan terhambat. Peneliti juga menjelaskan, jika bayi tidak mendapat ASI susulan atau second breast, payudara ibu akan penuh pada setiap kali menyusui. Selain itu tubuh akan menghasilkan protein yang akan menghentikan produksi susu, sehingga hal ini akan mengganggu proses pemberian ASI selama berjam -jam bahkan berharihari(dechacare, 2008). Namun banyak ibu yang tidak mau memberikan ASI secara eksklusif dengan alasan ibu merasa bahwa ASI tidak cukup atau tidak keluar pada hari -hari pertama kelahiran bayi, ibu bekerja, adanya perasaan cemas dengan merasa ASI kurang cukup, dan adanya hambatan dari anggota kelu arga dan masyarakat sekitar. Pemberian ASI eksklusif dapat mempercepat penurunan angka kematian bayi dan sekaligus meningkatkan status gizi balita yang pada akhirnya akan meningkatkan status gizi masyarakat menuju tercapainya kualitas sumber daya manusia y ang memadai (Departemen Kesehatan RI, 2005). Masalah pelaksanaan ASI eksklusif masih memprihatinkan. Data dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu -ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya baru mencapai 47% s edangkan dalam Repelita VI ditargetkan 80%. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Repelita VI tersebut, masih banyak upaya yang harus dilakukan. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI termasuk ASI eksklusif sebenarnya telah memadai. Hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya GNPP -ASI (Gerakan

Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu) oleh Presiden Republik Indonesia pada hari ibu tanggal 22 Desember 1990 (Departemen Kesehatan RI, 2005 ). Oleh karena itu perlu dilakukan upaya menyukseskan peningkatan penggunaan ASI secara lebih sungguh -sungguh dan berkesinambungan. Penyusuan secara eksklusif ini dapat dicapai bila seluruh rumah sakit, rumah sakit bersalin dan tempat-tempat pelayanan ibu bersalin lainnya telah melaksanakan rawat gabung. Usaha yang terus menerus untuk memasyarakatkan penyusuan dini dan rawat gabung diharapkan dapat menunjang tercapainya 100% penyusuan eksklusif untuk bayi Indonesia. Sayangnya perilaku menyusui bayi sendiri dianggap sebagian orang sebagai suatu tingkah laku yang tradisional sehingga sedikit demi sedikit ditinggalkan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kemajuan di negara -negara industri yang memperkenalkan susu formula untuk bayi yang mempunyai manfaat yang sama de ngan ASI dan pada posyandu di kalurahan Kadipiro sudah banyak bayi yang diberikan susu formula dikarenakan ibu bekerja. Sehingga keadaan ini memungkinkan status gizi bayi akan mengalami hambatan dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI secara eksklusif. B. Rumusan Masalah Berdasarkan kenyataan dan harapan yang telah dijelaskan pada latar belakang penelitian ini, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan pertumbuhan bayi ? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah yang diteliti, maka secara spesifik tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan pertumbuhan bayi. D. Keaslian Penelitian Menurut Yekti Widodo (2003) dari Pusat Pene litian dan Pengembangan Gizi dan Makanan melakukan penelitian dengan judul ³Pertumbuhan Bayi Usia 0 ± 4 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping ASI . Pada masyarakat pedesaan di Indonesia, jenis MPASI yang umum diberikan kepada bayi sebelum usia 4 bulan adalah pisang (57,3%). Di samping itu, akibat rendahnya sanitasi dan higiene MPASI memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroba sehingga meningkatkan risiko atau infeksi yang lain pada bayi. Apabila bayi sudah terkena infeksi maka pertum buhan bayi juga akan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan pertumbuhan bayi usia 0 ± 4 bulan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif dan bayi yang diberi MPASI sebelum usia 4 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan pertumbuhan bayi. Perbedaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dimana pada penelitian sebelumnya, data yang di ambil jangka waktu 2 minggu serta usia sampel yang digunakan sampai berusia 4 bulan saja. Di samping itu, data diambil dengan hanya menyebarkan kuisioner dan pada tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan yaitu hanya mencari perbedaan pertumbuhan bayi yang menggunakan ASI eksklusif dengan yang tidak eksklusif sedangkan pada pene litian yang dilakukan saat ini adalah data diambil dengan menyebarkan kuisioner dan melihat grafik pada KMS dan tujuan akhir dari penelitian adalah tidak hanya mencari perbedaan pertumbuhan bayi yang menggunakan ASI eksklusif dan non eksklusif tetapi menambahkan apakah ASI eksklusif tersebut berhubungan dengan baik tidaknya pertumbuhan bayi yaitu dengan cara mencari sebab-sebab bagaimana ASI eksklusif tersebut bisa menyebabkan bayi tumbuh dengan baik. E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu kedokteran pada umumnya dan ilmu kesehatan anak pada khususnya, terutama mengenai pemberian ASI eksklusif dengan pertumbuhan bayi. 2. Manfaat Praktis a. Untuk mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir dinamis sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.
 

penyakit infeksi dan kecerdasan anak seperti halnya karena serangan penyakit tertentu. 2001:4). yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.816. 2003: 42) Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo.66 % pada tahun 2005 (Dinkes Kabupaten Wonosobo.679 anak (2. yaitu kelompok masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi. vitamin. dan kasus gizi kurang menurun menjadi 8. dimana jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut. termasuk di dalamnya keadaan gizi masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan pada umumnya (Suhardjo.b. Apabila hal ini dibiarkan tentunya balita sulit sekali berkembang.dkk.1. maka tubuh harus dipenuhi kebutuhan zat-zat gizinya.89% dan 0.85 %. Oleh karena itu untuk memperoleh energi serta dapat melakukan kegiatan fisiknya sehari-hari. Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi. 1994: 2). Selain itu pantangan makan juga termasuk didalamnya.27% adalah balita dari desa Purwojati. tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga besar tersebut. KVA (Kurang Vit A). Berdasarkan data Puskesmas Kertek I tahun 2005 yang meliputi 13 desa.tercatat gizi kurang pada tahun 2004 sebanyak 18. Dimana pada tahun 2004 kasus gizi buruk sebanyak 0. dan kurang zat besi (Anemia Gizi Besi). 1985: 54) melaporkan bahwa gizi kurang dan infeksi merupakan masalah kesehatan yang penting pada anak-anak. Gizi kurang dan infeksi kedua-duanya dapat bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan sanitasi buruk. Puffer dan Seranno (dalam Sri Kardjati.63 % dan bertambah menjadi 1. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Adapun jumlah keseluruhan balita anak petani yang mengalami gizi kurang sebanyak 1. hal ini juga dapat menjadi kendala dalam memperbaiki pola pemberian makanan terhadap anggota keluarga dengan makanan yang bergizi (Suhardjo. 1.486 anak (79. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani (63. Desa yang status gizi buruknya paling tinggi adalah Desa Purwojati. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah garis gizi cukup (BPS. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA PETANI DI DESA PURWOJATI KECAMATAN KERTEK KABUPATEN WONOSOBO BAB I PENDAHULUAN 1. Faktor yang lainnya yaitu kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan seharihari. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil judul Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita pada Keluarga Petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo . mineral dan karbohidrat (G Kartasapoetra dan Marsetyo.77 %. di Desa Purwojati terdapat balita dari keluarga petani dengan status gizi buruk . dari jumlah tersebut yang ditimbang di Posyandu sebanyak 70. Rendahnya pendapatan mungkin disebabkan karena menganggur atau karena susahnya memperoleh lapangan kerja. 2003 : 88). Besarnya keluarga juga termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita. penggarap dan sebagainya) dalam penyediaan makanan keluarga banyak yang tidak memanfaatkan bahan makanan yang bergizi.09%). yaitu air. LATAR BELAKANG MASALAH Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Akibat dari kurang gizi ini kerentanan terhadap penyakit-penyakit infeksi dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian balita (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. yaitu berkaitan dengan kesehatan anak. Gizi kurang dan gizi buruk pada balita berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Data yang diperoleh dari Puskesmas I Kertek jumlah petani yang mempunyai balita sebanyak 35. maka balita termasuk dalam golongan masyarakat kelompok rentan gizi. tahun 2005). 2003: 3).575. dkk. dkk (1994 : 7) pendapatan yang rendah menyebabkan orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan. Dengan demikian jelaslah masalah gizi merupakan masalah bersama dan semua keluarga harus bertindak atau berbuat untuk melakukan perbaikan gizi (Sajogyo. Arah kebijaksanan pembangunan bidang kesehatan adalah untuk mempertinggi derajat kesehatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita banyak sekali diantaranya adalah pendapatan atau anggaran belanja keluarga. 2003: 72). dkk.08%. Di Jawa Tengah tahun 2003 menunjukkan data jumlah balita sejumlah 2. Berlainan dengan faktor pendapatan ternyata ada penduduk atau masyarakat yang berpendapatan cukup dan lebih dari cukup (baik di kota maupun di desa. seperti petani pemilik tanah.03 %) dan anak balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. Selain itu juga diketahui infeksi menghambat reaksi Imunologis yang normal dengan menghasilkan sumber-sumber energi dan protein di tubuh Balita masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Kurang yodium (Gondok Endemik). dengan rincian yang naik berat badannya sebanyak 1. dan dari jumlah total penderita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Kertek I 9. pertumbuhan anak. menurut Sajogya. Zat-zat makanan yang diperlukan itu dapat dikelompokkan menjadi 6 macam. lemak.2 PERMASALAHAN Berdasarkan data dari Puskesmas Kertek I tahun 2005.499. dimana sikap yang tidak menyukai suatu makanan tertentu untuk dikonsumsi.58% adalah balita desa Purwojati (Puskesmas Kertek I. protein. Secara umum terdapat 4 masalah gizi pada balita di Indonesia yaitu KEP (Kekurangan Energi Protein). Untuk dapat dimanfaatkan bagi pihak -pihak yang membutuhkan pokok bahasan yang dikaji dengan disertai pertanggungjawaban secara ilmiah.1986:31).73 % pada tahun 2005.96% mengalami gizi buruk (BPS dan Puskesmas Kertek I tahun 2006).34 %). tahun 2005). Menurut profil BPS Kabupaten Wonosobo Kecamatan Kertek tahun 2005 jumlah penduduk Desa Purwojati sebanyak 3767 jiwa dengan 940 kepala keluarga. Secara tidak langsung gizi kurang dan gizi buruk dapat menyebabkan anak balita mengalami defisiensi zat gizi yang dapat berakibat panjang. Dari jumlah total penderita gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Kertek I 27. Sedangkan untuk kasus gizi buruk masih perlu diperhatikan. sedangkan pada saat ini mereka sedang mengalami proses pertumbuhan yang relatif pesat (Soegeng Santoso dan Anne Lies. hal ini disebabkan oleh faktor lain.

serta dapat menyampaikan pada masyarakat tentang cara-cara untuk meningkatkan status gizi balita agarlebih baik.3. Dengan dipublikasikan skripsi ini diharapkan masyarakat mempunyai pengetahuan gizi yang baik. 3) Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. 1.2. Adakah hubungan antara besarnya keluarga dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 5. Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Adakah hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 2. Adakah hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 4.2 Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita pada keluarga petani di desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo.96 % dan gizi kurang sebanyak 1. mengingat status gizi merupakan sumber daya yang unggul.sebanyak 0.2. Bagi Kader Posyandu Sebagai sumbangan pemikiran dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang memiliki balita. tentang program pendidikan gizi kepada masyarakat khususnya ibu-ibu untuk memperhatikan status gizi balitanya. b. 6) Untuk mengetahui hubungan antara pantangan makan balita dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. 2. 3. Bagi Masyarakat a. 8) Untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu gizi. 4) Untuk mengetahui hubungan antara besarnya keluarga dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. 2) Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo.1. Adakah hubungan antara pantangan makan balita dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 7. Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 3. Adakah hubungan antara status pekerjaan ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 6. Permasalahan Umum Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 1.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita keluarga petani di desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. sehingga berusaha untuk selalu meningkatkan status gizi keluarga terutama pada balitanya. Permasalahan Khusus 1. 1. Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi status gizi balita dan dapat memacu diri untuk berusaha untuk meningkatkan status gizi balitanya.4 MANFAAT PENELITIAN 1.89 %.3 TUJUAN PENELITIAN 1. 4.2. 5) Untuk mengetahui hubungan antara status pekerjaan ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. Adakah hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 8. Bagi Petugas Kesehatan dan Pemerintah Sebagai referensi untuk dapat memberikan informasi.3. Adakah hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ? 1. . 7) Untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful