P. 1
CERITA RAMAYANA

CERITA RAMAYANA

|Views: 1,966|Likes:
Published by Sofirahma Latifa

More info:

Published by: Sofirahma Latifa on Jan 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

CERITA RAMAYANA

Anggada (Sanskerta: अंगद; Angada) atau Hanggada adalah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah wanara muda yang sangat tangkas dan gesit. Kekuatannya sangat dahsyat, sama seperti ayahnya, yakni Subali. Dalam kitab Ramayana disebutkan bahwa ia dapat melompat sejauh sembilan ratus mil. Anggada dilindungi oleh Rama dan akhirnya membantu Rama, berperang melawan Rahwana merebut kembali Dewi Sita, istri Rama. Anggada juga merupakan nama salah satu putera Laksmana dalam wiracarita Ramayana.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • •

1 Keluarga 2 Petualangan mencari Sita 3 Perang di Alengka 4 Anggada dalam Pewayangan Jawa 5 Lihat pula

[sunting] Keluarga
Ayah Anggada adalah Raja Wanara bernama Subali, ibunya adalah Tara. Anggada memiliki paman bernama Sugriwa, yaitu adik Subali. Subali dan Sugriwa memiliki adik perempuan bernama Anjani. Hanoman adalah putera Anjani, maka Anggada bersaudara sepupu dengan Hanoman. Saat masih muda, Subali tewas karena panah Rama. Setelah itu, Anggada dirawat oleh Sugriwa.

[sunting] Petualangan mencari Sita
Saat Sugriwa mengerahkan ksatria wanara pilihan untuk mencari Dewi Sita, Anggada turut serta bersama para ksatria wanara lainnya seperti Hanoman, Jembawan, Nila, Dwiwida, Gandamadana, dan lain-lain. Mereka menjelajahi wilayah India Selatan, sampai tiba di sebuah gua, kediaman arsitek Mayasura. Setelah menjelajahi gua, Anggada dan para wanara bertemu dengan Swayampraba. Atas bantuannya, Anggada dan para wanara tiba di sebuah pantai. Di pantai tersebut, para wanara bertemu dengan Sempati. Kemudian Anggada menuturkan maksud perjalanannya dan ia meminta bantuan Sempati. Atas petunjuk Sempati, para wanara tahu bahwa Sita masih hidup dan sedang ditawan di Alengka oleh Raja Rahwana.

[sunting] Perang di Alengka
Sebelum peperangan di Alengka meletus, Rama mengutus Anggada agar memberi kepada Rahwana untuk segera menyerahkan Dewi Sita. Setelah mendengar pesan Rama yang panjang lebar, Anggada mohon pamit lalu pergi ke tempat Rahwana. Di hadapan Rahwana, Anggada memperingati agar Sita segera dikembalikan jika tidak ingin peperangan meletus. Rahwana yang keras kepala, tidak menghiraukan peringatan Anggada namun mencoba mengerahkan pasukannya untuk menangkap wanara tersebut. dengan sigap, Anggada melompat ke udara

sehingga ia lolos. Setelah itu, ia merobohkan menara istana. Dengan sekali lompatan, ia terbang kembali ke tempat Rama. Saat pertempuran pertama berlangsung, Anggada bertemu dengan Indrajit, putera Rahwana. Dua prajurit tersebut bertempur dengan jurus-jurus yang mengagumkan. Para wanara bersorak-sorak kegirangan karena kagum dengan ketangguhan Anggada, sebab panah-panah yang dilepaskan Indrajit tidak membuat Anggada gentar. Namun kemudian Indrajit mengalihkan serangannya kepada Rama. Pertempuran pada hari itu pun diakhiri sebab Rama tak berkutik. Setelah Rama pulih kembali, para wanara melanjutkan penyerangannya. Pada pertempuran kedua, Anggada bertemu dengan Bajradamstra. Setelah pertarungan sengit terjadi dalam waktu yang lama, Bajradamstra gugur di tangan Anggada. Ketika peperangan di Alengka usai, Anggada dan para wanara lainnya diundang ke Ayodhya untuk menerima penghargaan atas jasa-jasa mereka karena telah menolong Rama menyelamatkan Sita.

[sunting] Anggada dalam Pewayangan Jawa
Dalam cerita pewayangan Jawa, Anggada yang terkenal sakti diberi gelar Jaya yang berarti unggul oleh Rama, sehingga disebut Jaya Anggada. Di dalam lakon “Anggada Balik”, ia diutus Rama pergi ke Alengka untuk mengukur kekuatan bala tentara Alengka. Karena hasutan Rahwana, yang mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Sri Rama, Anggada kemudian mengamuk dan berbalik akan membunuh Rama. Tetapi Hanoman kemudian dapat menaklukkan dan menginsyafkan serta menyadarkannya. Akhirnya Anggada kembali menyerang Alengka dan berhasil membawa mahkota Rahwana dan dipersembahkan kepada Rama. Dalam pewayangan sering digambarkan sebagai kera berbulu merah.

Nila (Ramayana)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Anila) Langsung ke: navigasi, cari

Nila

Lukisan Nila versi pewayangan Bali Tokoh dalam mitologi Hindu Nama: Nama lain: Aksara Dewanagari: Ejaan Sanskerta: Nila Anila ितल Nīla

Golongan: Asal:

Wanara Kerajaan Kiskenda

Nila (Sanskerta: ितल; Nīla) alias Anila (Sanskerta: अितल; Anīla) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Namanya secara harafiah berarti "nila" atau "biru tua". Nila adalah seekor kera berwarna gelap yang berada di kubu Sri Rama dalam perang melawan Rahwana.

Selama masa petualangan mencari Sita, Nila berperan penting, terutama dalam pembangunan jembatan Situbanda karena struktur jembatan tersebut dirancang oleh Nila. Dalam pertempuran besar di Alengka, Nila bersama para wanara yang lain bertarung mengalahkan para rakshasa. Saat Nila berhadapan dengan Prahasta yang menggunakan senjata gada besi, pertarungan berlangsung dengan sengit karena keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Nila mengangkat sebuah batu yang besar sekali. Batu tersebut kemudian dijatuhkan di atas kepala Prahasta sehingga rakshasa tersebut tewas seketika.

[sunting] Nila dalam pewayangan Jawa

Tokoh Nila dalam versi pewayangan Jawa.

Saat Hanoman menghadap Batara Guru untuk diakui sebagai putranya, Batara Narada tertawa sambil menyindir Batara Guru. Batara Guru yang merasa disindir kemudian mengambil daun nila (sawo kecik) dan dilempar ke punggung Batara Narada. Daun nila tersebut menjadi seekor kera berbadan pendek dan berbulu biru tua yang menempel di punggung Batara Narada. Saat itu Batara Narada yang sangat benci terhadap kera meminta ampun kepada Batara Guru agar kera tersebut lepas dari punggungnya. Kemudian Batara Guru memberi tahu cara melepaskan kera itu dari punggung Batara Narada, yaitu dengan mengakui kera tersebut menjadi anaknya. Akhirnya Batara Narada mau mengakui kera tersebut sebagai putranya. Semua dewa yang hadir di dalam pertemuan tertawa melihat kejadian tersebut. Batara Narada menuntut kepada Batara Guru untuk memerintahkan semua dewa yang lainnya untuk memuja keranya masing-masing saperti yang telah dilakukan Batara Narada. Setelah tujuh hari kemudian akhirnya lahirlah kera-kera pujaan para dewa itu. Adapun kera-kera tersebut antara lain Kapi Sempati pujaan Batara Indra, Kapi Anggeni pujaan Batara Brahma, Kapi Menda, Kapi Baliwisata, dan Kapi Anala pujaan Batara Yamadipati dan sebagainya yang mencapai ratusan ekor. Kera-kera tersebut lalu dikirim ke raja kera di Gua Kiskenda di bawah pimpinan Anila. Di Kerajaan Gua Kiskenda, Anila diangkat menjadi patih sekaligus ahli seni bersama Kapi Nala dan Kapi Anala. Kapi Anila menjadi pahlawan setelah berhasil membunuh Patih Prahasta (patihnya Dasamuka) dari Alengka dengan cara mengadu kepalanya dengan tugu batu yang ada di perbatasan negeri

Alengka (tugu tersebut adalah pujaan Dewi Indrardi yang terkutuk pada peristiwa Cupu Manik). Selain itu, Anila membebaskan Dewi Indrardi dari kutukanny

Dasarata
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari

Dasarata (Sansekerta: दशरथ, IAST: Daśaratha) adalah tokoh dari wiracarita Ramayana, seorang raja putera Aja, keturunan Ikswaku dan berada dalam golongan Raghuwangsa atau Dinasti Surya. Ia adalah ayah Sri Rama dan memerintah di Kerajaan Kosala dengan pusat pemerintahannya di Ayodhya. Ramayana mendeskripsikannya sebagai seorang raja besar lagi pemurah. Angkatan perangnya ditakuti berbagai negara dan tak pernah kalah dalam pertempuran.

Daftar isi
[sembunyikan] • • • • • 1 Masa muda 2 Istri dan keturunan 3 Kehidupan selanjutnya dan kematian 4 Dasarata dalam Kakawin Ramayana 5 Lihat pula

[sunting] Masa muda
Pada saat Dasarata masih muda dan belum menikah, ia suka berburu dan memiliki kemampuan untuk memanah sesuatu dengan tepat hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Di suatu malam, Dasarata berburu ke tengah hutan. Di tepi sungai Sarayu, ia mendengar suara gajah yang sedang minum. Tanpa melihat sasaran ia segera melepaskan anak panahnya. Namun ia terkejut karena tiba-tiba makhluk tersebut mengaduh dengan suara manusia. Saat ia mendekati sasarannya, ia melihat seorang pertapa muda tergeletak tak berdaya. Pemuda tersebut bernama Srawana. Ia mencaci maki Dasarata yang telah tega membunuhnya, dan berkata bahwa kedua orang tuanya yang buta sedang menunggu dirinya membawakan air. Sebelum meninggal, Srawana menyuruh agar Dasarata membawakan air ke hadapan kedua orang tua si pemuda yang buta dan tua renta. Dasarata menjalankan permohonan terakhir tersebut dan menjelaskan kejadian yang terjadi kepada kedua orangtua si pemuda. Dasarata juga meminta ma'af di hadapan mereka. Setelah mendengar penjelasan Dasarata, kedua orang tua tersebut menyuruh Dasarata agar ia mengantar mereka ke tepi sungai untuk meraba jasad puteranya yang tercinta untuk terakhir kalinya. Kemudian, mereka mengadakan upacara pembakaran yang layak bagi puteranya. Karena rasa cintanya, mereka hendak meleburkan diri bersama-sama ke dalam api pembakaran. Sebelum melompat, ayah si pemuda menoleh kepada Dasarata dan berkata bahwa kelak pada

suatu saat, Dasarata akan mati dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh puteranya yang paling dicintai dan paling diharapkan.

[sunting] Istri dan keturunan
Dasarata memiliki tiga permaisuri, yaitu Kosalya, Sumitra, dan Kekayi. Lama setelah pernikahannya, Dasarata belum juga dikaruniai anak. Akhirnya ia mengadakan yadnya (ritual suci) yang dipimpin Resi Srengga. Dari upacara tersebut, Dasarata memperoleh payasam berisi air suci untuk diminum oleh para permaisurinya. Kosalya dan Kekayi minum seteguk, sedangkan Sumitra meminum dua kali sampai habis. Beberapa bulan kemudian, suara tangis bayi menyemarakkan istana. Yang pertama melahirkan putera adalah Kosalya, dan puteranya diberi nama Rama. Yang kedua adalah Kekayi, melahirkan putera mungil yang diberi nama Bharata. Yang ketiga adalah Sumitra, melahirkan putera kembar dan diberi nama Laksmana dan Satrugna.

[sunting] Kehidupan selanjutnya dan kematian
Dasarata yang sudah tua hendak menobatkan Rama sebagai raja, sebab Rama adalah putera sulung sekaligus yang paling diharapkan Dasarata. Namun tindakannya tersebut ditentang oleh permaisurinya yang paling muda, yaitu Kekayi. Atas tuntutan Kekayi, Dasarata membuang Rama ke dalam hutan. Setelah membuang Rama ke tangah hutan, Dasarata membenci Kekayi dan ia tidak sudi lagi jika wanita tersebut mendekatinya. Tak beberapa lama kemudian, Dasarata jatuh sakit. Dalam masa-masa kritisnya, ia bersedih sambil mengenang kembali dosa-dosanya. Ia juga mengungkit kisah masa lalunya yang kelam di waktu muda kepada Kosalya, yaitu membunuh pertapa muda yang kedua orangtuanya buta. Dalam kesedihannya, Dasarata meninggal dunia karena sakit hati.

[sunting] Dasarata dalam Kakawin Ramayana
Kutipan Terjemahan

Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Hana sira Ratu dibya rēngőn, Terkenal di dunia, musuh baginda semua praçāsta ring rāt, musuhnira tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang agama, Prabhu Dasarata gelar Sri Baginda, Daçaratha, nāma tā moli tiada bandingannya Sira ta Triwikrama pita, pinaka bapa, Bhaṭāra Wiṣḥnu mangjanma inakaning bhuwana kabèh, yatra dōnira nimittaning janma. Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.

Cukup berprestasi Sang Dasarata. Ia mahir Guṇa mānta Sang Daçaratha, wruh sira mempelajari Veda dan berbakti kepada para ring Wéda, bhakti ring Déwa, tar malupeng Dewa, tak lupa kepada para leluhur. Ia sayang pitra pūja, māsih ta sirêng swagotra kabèh. kepada seluruh sanak keluarga. Kadi megha manghudanakēn, Bagai mendung mengeluarkan hujan, begitulah padhanira yār wehakēnikang dāna, Sri Baginda ketika bersedekah, orang-orang dināṇdha kṛpaṇa ya winêh, nguni-nguni hina, cacat, dan miskin, semua diberi cinta

dhanghyang dhangārcārya. Mwang satya ta sira mojar, ringanakkēbi towi tar mṛṣā wāda, nguni-nguni yan ri parajana, priyahita sojarnirā tiçaya. Saphala sira rāksakeng rāt, tuwi sira mitra Hyang Indra bhakti têmên, Māhèçwara ta sira lana, Çiwa bhakti ginőng lanā ginawè

kasih. Terlebih lagi kepada para pendeta dan guru. Dan juga Sri Baginda tepat akan ucapan, meski terhadap wanita, beliau tidak pernah berbohong, apalagi terhadap orang lain. Titah Sri Baginda benar-benar terpercaya. Cukup berhasil Sri Baginda sebagai pimpinan, karena Sri Baginda sahabat Sang Hyang Indra yang amat berbakti, juga terhadap Sang Hyang Maheswara, kepada Sang Hyang Çiwa pula diperkuat

Para prajurit ksatria yang bersenjata panah, Ikanang dhanurdhara kabèh, kapwa semua berbakti terhadap Sri Baginda dan ya bhakti ri sira praṇata matwang, kadi tunduk pasrah, seperti menambah jasa Sri mawmata yaça lanā, rupanya nagőng ta Baginda selamanya, memang kenyataannya kīrttinira besar jasa Sri Baginda Jnānanira çuddha mawulan, parārtha gumawe sukānikang bhuwana, sāksātindra sira katon, tuhun haneng bhumi bhedanira Ikang pratāpa dumilah, sukanikang rāt yateka ginawèya, kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde sukanikang rāt Pikiran Sri Baginda bersih laksana bulan, amat tekun Sri Baginda menciptakan kesenangan di dunia, beliau bagaikan Bhatara Indra di mata rakyat, yang berbeda hanya karena beliau berada di dunia fana Amal bakti beliau menyala-nyala, ia cuma berbuat demi kemakmuran negara, bagai api pada perapian, berkobar-kobar menyebabkan dunia senang

Dewi Shinta

Dewi Shinta merupakan tititsan bidadari yang bernama Dewi Sri. Tokoh ini menjadi fokus utama dalam kisah Ramayana. Dewi Shinta merupakan Putra Prabu Riskala di Negara Darawati. Raja Darawati semula hatinya sangat bersedih karena belum juga memiliki putra, ia kemudian berendam di dalam air. Ketika berendam itu, dia melihat dari kejauhan tampaklah ada sinar kemerah-merahan dari sebuah gendaga yang terapung. Prabu Riskala terkejut setelah mengetahui kalau di dalam gendaga itu ada bayi yang sangat jantik jelita, dinamailah dirinya Dewi Shinta. Menurut versi lain Shinta merupakan putra Prabu Janaka di Negara Mantilireja. Shinta merupakan isteri Ramabadra/Ramawijaya dari Negara Ayodya, dari perkawinan itu menghasilkan dua putra yang bernama Lawa (Rawabatlawa) dan Kusa (Ramakusa). Dewi Shinta dilukiskan sebagai sosok wanita yang bertabita halus, dengan posisi muka luruh, bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring) dan bermulut salitan. Ada penggambaran sinom yang terurai di dahinya dengan mahkota gundulan berhias jamang sadasaler, sumping mangara dengan cunduk bintulu (gelapan alit). Rambut ngore gendong, badan putren dengan sampir bermotif kembangan. Ia mengenakan kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, binggel sebagai gelang kaki. Putren ini ditampilkan dengan muka dan badan gemblaeng. Wanda : Rangkung, sedet dan Padasih. Seperti janji Batara Wisnu dengan Dewi Sri, jika telah menitis ke bumi akan selalu berdampingan. Oleh karena itu berdasarkan bisikan dewa bahwa putranya adalah titisan Dewi Sri, maka Prabu Janaka mengadakan sayembara mementang busur. Sayembara itu dimenangkan Ramawijaya/Ramabadra. Kemudian Dewi Shinta diboyong ke Ayodya. Di Ayodya terjadi intrik-intrik yang dilakukan selir, Dewi Kekayi. Dia ingin anaknya menjadi Raja, sehingga dengan daya upaya mengusir Rama. Ketika Ramawijaya, Dewi Sinta, dan Raden Lesmana berada di atas Dandaka, mereka telah dimata-matai oleh Sarpakenaka dan Dasamuka. Keduanya mempunyai akal bulus untuk memisahkan Shinta dari Lesmana dan Rama. Dasamuka memerintahkan Marica untuk menjadi kijangemas. Girang bukan kepalang melihat kijangmas itu menarik Shinta untuk memegangnya, sehingga Ramawijaya mengejarnya. Oleh karena Shinta khawatir dengan keadaan Ramawijaya, maka dia mengutus Lesmana untuk mencarinya. Pada saat Rama dan Lesmana pergi, Dasamuka menyamar jadi pengemis tua, hanya dengan cara inilah dia bisa menembus lingkaran sakti Lesmana. Shinta berhasil diculik Dasamuka dibawa ke Alengka. Di Alengka Dasamuka berdaya upaya agar Dewi Shinta bersedia melayani nafsunya, tetapi berulangkali Dewi Shinta berhasil menolaknya. Sampai pada akhirnya Anoman datang, yang memberi pertolongan. Setelah perang antara Ramawijaya cs melawan Dasamuka cs, Ramawijaya meragukan kesucian Dewi Shinta. Oleh karenanya Dewi Shinta masuk ke lautan api. Atas karunia Batara Endra, maka

Dewi Shinta tidak hangus dan dinyatakan suci.

Dewi Srikandhi

Dewi Wara Srikandi adalah putra Prabu Drupada raja Pancalareja dengan permaisurinya Dewi Gandawati. Ia merupakan istri Arjuna yang mendapat tugas sebagai penjaga keselamatan dan ketentraman kasatriyan Madukara. Dalam perkawinan itu dia tidak mendapatkan putra. Dewi Wara Srikandi memiliki saudara kandung bernama Dewi Drupadi yang menjadi isteri Prabu Puntadewa. Tokoh Putren ini menyukai keprajuritan terutama dalam memainkan senjata panah. Oleh karenanya dia suka diidolakan. Dewi Wara Srikandi dalam penampakannya wayang kulit dilukiskan sebagai tokoh dengan penampilan branyak (lanyap) dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring) dan bermulut salitan. Ia bermahkota gundulan dengan sinom yang menghiasi dahinya mengenakan jamang sadasaler dengan sumping prabangyungyung. sarira weweg (padat berisi) rambut ngore gendrong, mengenakan busana putren dengan smekan gadung mlati, pinjong dengan dodot bermotif semen jrengut seling gurda dan samparan kain panjang bermotif kawung. Tokoh ini banyak memakai atribut seperti kelatbahu dan gelang, tetapi ditampilkan polos. Dewi Wara Srikandi bermuka dan berbadan gembleng, wanda golek, nenes, patrem. Ada kalanya tampil dengan busana prajurit saat menjadi Senapati Agung dalam Perang Baratayudha. Keinginan kuatnya untuk menguasai keahlian keprajuritan telah membuatnya belajar tidak mengenal waktu. Sebagai akibatnya itu hubungan Raden Arjuna dan Dewi Wara Sembadra menjadi renggang. Arjuna jatuh cinta padanya. Sebelum dinikahi Arjuna, Srikandi minta syarat agar dicarikan perempuan yang lebih pandai darinya yang bisa mengunggulinya. Dengan saksi Prabu Kresna Dewi Larasati berhasil mengalahkannya. Oleh karenanya Dewi Srikandhi dijadikan isteri kedua. (Ini mungkin sisi kejelekan dari Srikandi). Dalam Perang Baratayudha, dia diangkat menjadi Senopati Agung yang melawan Resi Bisma.

Dewi Wara Sembadra

Dewi Wara Sembadra adalah putri Prabu Basudewa Raja Mandura dengan Permaisuri Dewi Badraini. Ia memiliki dua saudara laki-laki, yakni Raden Kakrasana atau Prabu Baladewa, dan Raden Narayana atau Prabu Kresna di Dwarawati. Ia menikah dengan Arjuna dan berputra Raden Abimanyu. Dia merupakan titisan Dewi Sri. Wataknya setia, suka menolong, hambeg para marta dan sebagainya. Lahirnya bersamaan dengan Arjuna, kemudian dipertunangkan. Dewi Wara Sembadra memiliki nama lain Dewi Mrenges, Rara Ireng, dan Bratajaya. Ketika ditinggalkan Dewi Sri, dia menjadi sakit-sakitan, tetapi begitu Dewi Sri kembali padanya, Wara Sembadra sembuh. Raden Arjuna sendiri memiliki beberapa isteri, antara lain Dewi Wara Sembadra, Dewi Larasati, Dewi Ulupi, Dewi Srikandi, Dewi Dresanala, Dewi Jiwambang, Dewi Wilutama, Endang Manuhara.

Dewi Drupadi

Dewi Drupadi putri Prabu Drupada Raja Cepala, Ia diperisteri Prabu Puntadewa, Raja Astina, kemudian berputra Raden Pancawala. Dewi Drupadi dilukiskan sebaya wayang kulit dengan karakter luruh, posisi muka tumungkul, dengan mata liyepan, hidung lancip, mulut salitan. Ketika ada di dalam perjamuan makan antara Pandhawa dan Kurawa, hampir saja dia hendak dipermalukan oleh keluarga Kurawa. Hampir saja busananya ditarik sehingga kelihatan tubuhnya, tetapi dengan bantuan Prabu Kresna, busananya menjadi kian tebal, karena ternyata kain yang membungkus badan Dewi Drupadi menjadi panjang, kian panjang, seolah-olah tidak akan ada ujung pangkalnya. Padahal Dewi Drupadi sudah khawatir dengan posisinya saat itu. Akan tetapi rambutnya berhasil diuraikan, sehingga dia bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum bersampokan darah Dursasa

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->