P. 1
Makalah Direct Broadcast Satellite (DBS) 1

Makalah Direct Broadcast Satellite (DBS) 1

|Views: 1,574|Likes:
Published by erico septiahari
MAKALAH KOMUNIKASI SATELIT DIRECT BROADCAST SATELLITE (DBS)

Disusun oleh : KELOMPOK 5 Maharani (D306018) Andris Rismana (D306017) Panca Nugroho (D306016) Di sunting ulang oleh : fiber_optik0@yahoo.co.id Balikpapan 2011

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA PURWOKERTO 2009

A. Televisi Berlangganan (PAY TV) Televisi berlangganan adalah istilah yang digunakan pada jasa penyiaran televisi yang dilakukan khusus untuk pemirsa yang bersedia membayar (berl
MAKALAH KOMUNIKASI SATELIT DIRECT BROADCAST SATELLITE (DBS)

Disusun oleh : KELOMPOK 5 Maharani (D306018) Andris Rismana (D306017) Panca Nugroho (D306016) Di sunting ulang oleh : fiber_optik0@yahoo.co.id Balikpapan 2011

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA PURWOKERTO 2009

A. Televisi Berlangganan (PAY TV) Televisi berlangganan adalah istilah yang digunakan pada jasa penyiaran televisi yang dilakukan khusus untuk pemirsa yang bersedia membayar (berl

More info:

Published by: erico septiahari on Jan 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

MAKALAH KOMUNIKASI SATELIT DIRECT BROADCAST SATELLITE (DBS

)

Disusun oleh : KELOMPOK 5 Maharani (D306018) Andris Rismana (D306017) Panca Nugroho (D306016) Di sunting ulang oleh : fiber_optik0@yahoo.co.id Balikpapan 2011

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA PURWOKERTO 2009

A. Televisi Berlangganan (PAY TV) Televisi berlangganan adalah istilah yang digunakan pada jasa penyiaran televisi yang dilakukan khusus untuk pemirsa yang bersedia membayar (berlangganan) secara berkala. Jasa ini biasanya disediakan dengan menggunakan kabel digital ataupun analog dan satelit. Namun akhir-akhir ini metode-metode digital mendunia lainnya mulai meningkat penggunaannya. Dibeberapa negara seperti di Perancis dan Amerika sinyal-sinyal analog terkode juga mulai diperkenalkan senagai salah satu cara berlangganan. Di Indonesia televisi berlangganan yang pertama kali hadir adalah Indovision, yang berdiri pada 8 Agustus 1988 [1]. Indovison juga dikenal sebagai televisi berlangganan yang pertama kali menggunakan satelit penyiaran langsung (Direct Broadcast Satellite (DBS)). 1. Sejarah Istilah pay tv (televisi berlangganan) bagi sebagian penduduk yang bermukim di kota besar tentunya tidak asing lagi. Perkembangan pay tv di Indonesia sendiri tidak dapat dipisahkan dari kemunculannya yang pertama pertama kali. Televisi berlangganan mengalami perkembanngan yang panjang, sama halnya dengan televisi konvensional. Dimulai saat Zenith meneliti kemungkinan adanya televisi berlangganan ketika televisi sendiri masih dalam tahap penelitian dan pengembangan. Akhirnya pada tahun 1940an Zenith-lah yang memperkenalkan sebuah sistem televisi berlangganan yang diberi nama Phonevision (mdr 0815). Phonevision ini memberikan layanan bagi konsumen yang menginginkan pemutaran film-film hanya dengan pemesanan melalui telepon. Pada pola televisi berlangganan semacam ini, sistem kabel menjadi sarana paling penting pada proses penyiaran program

televisi berlangganan sebelum ditemukannya sistem yang lebih cangggih, yaitu satelit. Mengapa perkembangan awal dari televisi berlangganan sering diidentikkan dengan tv kabel? Hal ini bermula pada tahun 1948 ketika warga Pennsylvania, AS kesulitan menerima siaran televisi karena terhalang perbukitan. Untuk mengatasi masalah ini, warga setempat memasang antenna untuk menangkap sinyal UHF yang dipakai dalam penyiaran program kemudian menarik kabel dari antenna tersebut dan memasangnya ke rumahrumah. Pada tahun 1972, HBO (Home Box Office) muncul dan memikat hati banyak kalangan, dan tentu saja dengan kemunculannya ini mata rantai televisi berlangganan makin kuat. Belum lagi tuntutan dan kebutuhan akan hiburan yang makin besar, membuat satelit pada era 1980-an menjadi primadona bagi perkembangan televisi berlangganan selanjutnya, sebut saja sistem DBS (Direct Broadcast Satellite) yang banyak diaplikasikan di berbagai negara. Sejarah dan perkembangan televisi berlangganan di Amerika memberikan peluang bagi terbukanya lahan komersial ini di wilayah lain seperti Eropa, Asia, dan Australia. Untuk kawasan regional Asia, Jepang pada tahun 1984 memperkenalkan sistem DBS (Direct Broadcast Satellite) yang pada akhirnya dipakai dalam industri televisi berlangganan.

2. Perkembangannya di Indonesia Seiring dengan reformasi teknologi yang terus bergulir dan merambah banyak aspek kehidupan global, Indonesia pun tak lepas dari imbas dan gejolak teknologi tersebut. TV berbayar ini menawarkan sistem PPV (Pay per View) yang ditawarkan melalui kabel atau DBS. Dengan sistem PPV ini,

pelanggan harus menunggu sampai progam siaran yang mereka inginkan diudarakan baik oleh kabel maupun DBS. Salah satu penyedia layanan televisi berlangganan Indonesia, Indovision mengklaim dirinya sebagai perusahaan televisi berlangganan pertama yang mengaplikasikan sistem DBS dengan menggunakan satelit Palapa C-2 sejak pertama berdiri pada bulan Agustus 1988. Sembilan tahun kemudian (1997), Indovision meluncurkan satelit barunya yakni IndoStar 1 atau yang lebih dikenal dengan satelit Cakrawarta1 yang digunakan sampai sekarang.

3. Media Satelit Media lain yang juga sangat menarik dalam industri televisi berlangganan adalah satelit. Pangsa pasar yang besar di Indonesia, yakni Indovision, Astro dan Telkomvision. a. Indovision Telah dibahas sebelumnya bahwa Indovision yang telah mengklaim sebagai penyedia layanan televisi berlangganan pertama di Indonesia dengan sistem DBS, memulai operasi dengan satelit Palapa C-2 sampai akhirnya menggunakan perangkat S-Band melalui satelit Indostar1 (Cakrawarta 1). S-Band banyak digunakan untuk keperluan militer. Dengan beroperasi pada frekuensi 2-4 GHz, S-Band cocok diaplikasikan untuk wilayah Indonesia yang tropis. Namun, frekuensi tersebut berpotensi terkena gangguan jika dilewati transmisi wifi yang menggunakan frekuensi 2,4 GHz.

b.

Astro Nusantara Astro Nusantara beroperasi dengan menggunakan metode transmisi KuBand melalui satelit Measat-2 milik Malaysia. Metode transmisi KuBand beroperasi pada level frekuensi 12-14 GHz. Satelit yang menggunakan transmisi Ku-Band, memiliki keuntungan antara lain, mampu menaikkan kekuatan sinyal downlink. Di sisi lain, Ku-Band juga memiliki kelemahan karena berpotensi tekena interferensi sinyal akibat hujan maupun salju, sehingga tak jarang, jika cuaca buruk (medung atau hujan) siaran astro sering terganggu.

c.

Telkomvision PT.Telekomunikasi Inodenesia Tbk. (Telkom) menawarkan dua pilhan sekaligus, TV berbayar melaui media satelit (Direct To Home) serta TV Kabel (Digital CATV Broadband) dengan nama Telkomvision. Untuk layanan satelit di kota-kota besar, Telkom turut menyediakan akses Internet yang diberi nama Telkom Speedy. TelkomVision ini menggunakan frekuensi transmisi satelit C-Band yang beroperasi pada level 4-6 GHz. Penggunaan frekuensi satelit C-Band ternyata memiliki kemampuan terbatas dalam menghindari interferensi sistem gelombang mikro dan terrestrial.

4. Proses Penyiaran Mekanisme penyiaran satelit untuk televisi berlangganan umumnya sama, dimulai ketika provider memancarkan siarannya ke satelit (uplink) lalu kemudian sinyal tersebut ditransfer/dikirim lagi menuju ke bumi (downlink).

Di Indonesia kita bisa mengakses channel-channel dari AS, Jepang, Inggris dan sebagainya. Lantas bagaimana mekanisme penyiarannya? Siaran tersebut pertama kali dipancarkan dari tempat dimana produksi siaran dilakukan, kemudian dipancarkan kembali melalui satelit di Indonesia sampai akhirnya pemirsa bisa menikmati ratusan tayangan dari berbagai negara di dunia. Siaran dari satelit provider tersebut dapat diterima pelanggan yang telah dilengkapi alat bernama decoder. Dengan menggunakan media penyaluran satelit, suatu program televisi dapat dinikmati sejauh pemirsa memiliki akses untuk menangkap sinyal uplink satelit induk. Selain itu, yang menarik dari sistem berlangganan program tv dengan menggunakan satelit adalah adanya pengacakan sinyal (scramble). Artinya, sinyal yang dikirim oleh satelit diacak terlebih dulu, sehingga hanya orang yang memiliki decoder saja yang dapat mengakses program siaran tersebut.

5. Alat Penangkap Sinyal Satelit Untuk mengakses beberapa bahkan sampai ratusan channel televisi, kita harus memiliki alat-alat penangkap sinyal satelit. Beberapa Peralatan tersebut antara lain : o Satellite dish (Out Door Unit) : komponen ini berbentuk seperti antenna parabola dengan diameter sekitar 60-180 centimeter. o Decoder : Dekoder merupakan alat yang berfungsi mengakses layanan seperti penggantian channel. o Smart card : berguna untuk mengakses sistem.

6. Lembaga Penyiaran Berlangganan di Indonesia Di Indonesia, industri tv berlangganan beroperasi dengan menggunakan media penyaluran yang beragam, mulai dari satelit, kabel, dan terrestrial. Namun, hanya media penyiaran melalui satelit dan kabel saja yang memiliki pangsa pasar yang besar. Berikut beberapa Lembaga Media penyiaran yang ada di Indonesia beserta media penyalurannya :
• • • • •

PT.MNC Sky Vision (Indovision), satelit PT.Triutama Kominakom (Visicom), satelit PT.Direct Vision (Astro),Satelit PT.Global Mega Wisata Mandiri internasional (Global Vision), satelit PT.Globalcom Internasional (Globalcom),Satelit

B. Direct Broadcast Satellite (DBS) Direct Broadcasting Satellite atau yang disingkat dengan DBS merupakan salah satu kegiatan manusia dibidang teknologi keruangangkasaan. DBS dapat menyebarluaskan informasi secara cepat. Teknologi DBS menggunakan satelit untuk menangkap sinyal yang dipancarkan oleh satu stasiun bumi dan memantulkan kembali untuk diterima secara langsung oleh masyarakat. Dalam pengoperasian DBS perlu adanya pengaturan hukum. Baik pengaturan dalam Hukum Internasional maupun pengaturan DBS dalam Hukum Nasional. Hukum Internasional yang terkait dengan pengaturan DBS adalah Space Treaty 1967, dan Resolusi Majelis Umum PBB No. 37/92 Tahun 1982. Sedangkan Hukum Nasional yang terkait mengenai pengaturan tentang DBS adalah UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, PP No. 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan

Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, PP No. 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan, dan PP No. 49 Tahun 2005 tentang Pedoman Kegiatan Peliputan Lembaga Penyiaran Asing.

Direct Broadcast Satellite (DBS) merupakan sebuah kelas satelit yang mampu memberikan pelayanan komunikasi baru. DBS dilengkapi dengan K-band dan mempu mengantikan media konvensional dengan mengirimkan program langsung kepada konsumen, tanpa perantara saluran televisi. Ada dua konsep penting mengenai DBS: ukuran dish dan pilihan-pilihan program. DBS menggunakan dish yang kecil yang murah, mudah dipindah-pindah dan diatur. Selain itu perusahaan DBS mampu memberikan berbagai program seperti film dan olah raga kepada pelanggan sebaik TV. Perkembangan DBS yang pesat membuat DBS meluncurkan generasi barunya yaitu DirecTV. DirecTV menggunakan teknologi digital sehingga mampu memberikan pelayanan yang efisien dan komprehensif kepada pelanggan. DirecTV menggunakan satelit

dengan Ku-band yang mengrimkan 100 channel digital. Kita dapat menonton film atau tayangan lainnya dalam DirecTV dengan sistem pembayaran pay per view (PPV) dengan harga standar dan bersaing dengan TV kabel. DBS menggunakan piringan berukuran 18 hingga 21 inci untuk menerima sinyal siaran TV digital pada bandwidth 12 Mbps. Secara meningkat operator DBS juga menawarkan akses internet, tetapi dengan bandwidth yang jauh lebih rendah. Sebagai contoh Hughes Network System menawarkan akses internet via satelit pada 400 Kbps, tetapi terdapat beberapa kelemahan. Untuk mengakses internet dengan teknologi satelit, kita memerlukan piringan satelit dan kartu modem satelit, dan tambahan lainnya adalah biaya langganannya lebih mahal dua kali daripada layanan yang berbasis di darat. Fungsi satelit pada TV Broadcasting : 1. lokal 2. transmisi point-to-point liputan/siaran langsung ke studio (alternatively, from one studio to another studio) 3. lokal 4. distribusi point-to-multipoint program cable TV dan/atau jaringan TV langsung dari studio ke customer (i.e., DTH-Direct To Home) distribusi point-to-multipoint program cable TV dari studio ke cable TV distribusi point-to-multipoint program TV dari studio ke stasiun broadcast

a. Direct to home (DTH) satellite Broadcasting System DTH disebut juga direct broadcast satellite, menggunakan alokasi baik BSS, sesuai kegunaannya, atau FSS sebagai salah satu dari sejumlah aplikasi yang mungkin. System DTH dirancang untuk

mentransmisikan program TV hiburan ke terminal bumi penerima rumah. Ini merupakan perluasan distribusi TV melalui satelit, memanfaatkan keuntungan teknologi wilayah cakupan dan penyedia layanan tunggal. Perusahaan satelit, yang ingin mendapat pasar yang lebih besar memperkenalkan piringan satelit berdiameter 18 inci untuk kebutuhan rumah tangga (Direct Broadcast Satellite/DBS). Piringan-piringan ini menerima transmisi dari ratusan kanal dari sinyal siaran NTSC yang dikode secara digital ke kotak-kotak yang diset digital-ke-analog baik secara nasional maupun internasional.

b. DTH Architecture

Keberhasilan DTH-DBS dipengaruhi oleh factor-faktor : 1. ukuran antenna RX; makin kecil ukuran antenna, makin mudah diinstal dan murah. Dewasa ini ukuran antena TVRO berkisar antara 35 cm – 80 cm. Dan harga sekitar $100 (1 jt) termasuk set top box. 2. 3. user/TV 4. jumlah transponder yang bisa dibawa oleh satelit meningkat (umumnya sekitar 32 transponder) 5. jumlah kanal per transponder umumnya 2 kanal TV analog dan 10 kanal TV digital. Dengan teknik kompresi yang makin baik, jumlah kanal TV digital bisa ditingkatkan. peralatan simple dan mudah dioperasikan satu antena Rx bisa digunakan bersama-sama (sharing) untuk beberapa

C. Perkembangan Teknologi DBS Komunikasi satelit akan memainkan peranan yang sangat penting dalam infrastruktur informasi global dalam menyediakan pelayanan-pelayanan global, personal, dan mobile, melalui akses langsung atau bergabung dengan sistem komunikasi terrestrial melalui apa yang disebut sebagai gateways. Dengan kemajuan teknologi pemroses digital berkecepatan tinggi untuk video

menggunakan teknologi kompresi video digital (digital video compression), transmisi radio menghadapi perubahan dalam berbagai aspek industri penyiaran (broadcasting). Perusahaan-perusahaan komunikasi global cenderung untuk mencari berbagai kesempatan bisnis komunikasi satelit guna menyediakan cakupan telekomunikasi penuh skala global. Diantara proyek-proyek yang sekarang sedang berjalan antara lain: Iridium, Teledesic, Globalstar, Odyssey, ICO. Sedang proyek-proyek yang berskala regional antara lain seperti : ACeS dan AMPT. Kesempatan-kesempatan lain dalam bisnis satelit adalah menyediakan pendistribusian video skala global secara penuh, komunikasi-komunikasi data berkecepatan tinggi, dan Internet berkecepatan tinggi. Pasar pendistribusian video atau satelit penyiaran langsung (DBS, direct broadcasting satellite) tumbuh dengan sangat pesat. Di Amerika pelanggan sistem DBS akan meningkat dari 2 juta sampai sekitar 4 juta. Trend dan pertumbuhan pasar DBS di Amerika secara otomatis akan mempengaruhi pasar global. Sebaliknya penggunaan Internet telah tumbuh secara dramatis hanya dalam waktu 2 tahun terakhir ini. Keterbatasan lebar pita (bandwidth) masih merupakan masalah utama. Penundaan-penundaan dan gangguan-gangguan yang sering membuat frustasi merupakan masalah umum yang sering timbul, dan pemanfaatan satelit diharapkan dapat membantu mengatasi hal tersebut.

Teknologi satelit saat ini menjadi sangat menarik bagi para pelaku bisnis telekomunikasi baik yang berskala global maupun yang berskala regional. Dalam teknologi satelit, semakin tinggi kemampuan yang dimiliki, semakin rendah biaya yang dikeluarkan, dan meningkatnya permintaan-permintaan pelanggan telah menciptakan berbagai kesempatan baru yang luar biasa. Pada akhirnya celah orbit (orbital slot) dan pita-pita frekuensi pada GEO, MEO, maupun LEO menjadi aset yang sangat berharga. Koordinasi frekuensi antara para operator menjadi sangat sulit dilakukan dan hal ini akan menjadi ancaman yang membahayakan bagi bisnis satelit itu sendiri.

Penerapan DBS dimungkinkan dengan turunnya harga perangkat penerima, yang fungsinya identik dengan TVRO, sampai dapat dijangkau oleh khalayak penerima siaran. Perkembangan teknologi di bidang satelit merupakan satu dari beberapa hal yang mengakibatkan menurunnya harga perangkat penerima. Sehingga, disamping kelebihan-kelebihan dasar yang dimilikinya, dengan kenyataan ini, DBS mampu bersaing dengan metode siaran lain seperti TV kabel. Sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi satelit dan teknologi penyiaran, yang didukung oleh komponen dan pemrosesan sinyal, teknologi DBS juga mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan ini meliputi antara lain: o o semakin bagus o o teknologi komponen yang semakin murah kinerja dari pemrosesan dan kompresi sinyal digital daya pancar satelit yang semaki kuat kinerja dari low noise block (amplifier dan converter) yang

Berkat daya pancar dari satelit yang lebih kuat, radiasi yang kita terima akan lebih kuat, sehingga untuk mendapatkan daya yang sama dibutuhkan faktor penguat antena yang lebih kecil. Kebutuhan faktor penguat pada antena yang lebih kecil berpengaruh pada konstruksi reflektor, dimana dibutuhkan reflektor parabolik yang berdiameter lebih kecil. Di sisi lain, performance dari noise block yang semakin bagus mengakibatkan penerima lebih sensitif, sehingga dibutuhkan daya yang lebih kecil lagi untuk mendapatkan kualitas penerimaan yang sama. Diameter antena yang dibutuhkan juga menjadi lebih kecil lagi. Bahkan, dimungkinkan penggunaan antena datar berisi dipole array. Mengingat bahwa harga antena pada unit penerima merupakan komponen yang penting dari harga keseluruhan unit, harga unit penerima akan sangat terpengaruh oleh harga antena. Jadi, harga unit penerima akan turun dengan adanya dua faktor di atas. Di samping itu, perkembangan teknologi komponen telah memungkinkan pembuatan komponen yang lebih murah, yang tentu saja akan mengakibatkan harga keseluruhan unit menjadi lebih murah. DBS sebagai satu pelayanan yang memanfaatkan kemajuan teknologi di bidang elektronika juga tidak luput dari dampak revolusi besar-besaran yang terjadi di bidang elektronika akhir-akhir ini. Banyaknya keuntungan yang ditawarkan oleh pengguanaan teknologi digital dibandingkan dengan teknologi analog juga dimanfaatkan oleh DBS ini. Sehingga pelayanan DBS pun beralih dari analog ke digital. Keuntungan yang nyata dari penggunaan pemrosesan sinyal digital adalah kompresi sinyal video, yang memungkinkan penggunaan satu transponder standard (24 MHz) untuk mentransmisikan 3 sampai 8 (rata-rata 6) saluran siaran.

Selain antena parabolik, DBS juga membutuhkan converter. Alat ini berfungsi mengubah frekuensi gelombang pancaran satelit, menjadi frekuensi gelombang yang bisa ditangkap pesawat televisi. Bila satelit menggunakan frekuensi dengan orde gigahertz, frekuensi yang bisa ditangkap pesawat televisi hanya berorde megahertz (106). Pada satelit konvensional, converter itu dimiliki stasiun bumi. Stasiun inilah yang menangkap gelombang dari satelit, mengubahnya menjadi gelombang televisi (ultra high frequency atau very high frequency), kemudian memancarkannya. Pada DBS, converter pada antena parabolik langsung mengubah frekuensi, dan melalui kabel menghubungkannya dengan pesawat televisi. Sistem DBS tertentu dilengkapi dengan komputer. Alat ini melakukan kontrol terhadap langganan yang alpa membayar. Sampai batas waktu yang sudah ditetapkan, komputer ini secara otomatis menghapus pulsa sinkronisasi, yang menampilkan dan mengatur gambar di layar televisi. Untuk pemilik siaran, DBS lebih menguntungkan. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun stasiun bumi (SB), tak lagi diperlukan. Jangkauan juga akan semakin luas, sebab tidak lagi tergantung pada SB. Kini, dengan sekitar 150 SB, TVRI baru menjangkau 20% sampai 25% wilayah IndonesiaT. Indonusa Telemedia (Telkom Vision), Kabel dan satelit menjangkau seluruh wilayah RI diperlukan sekitar 1.500 SB plus pemancar. Bila harga per unit Rp 150 juta, maka biaya untuk 1.500 unit menjadi Rp 225 milyar. Jumlah ini masih ditambah dengan biaya perawatan (5% dari investasi) dan pembulatan, sehingga seluruhnya akan menjadi Rp 240 milyar. Dengan DBS, stasiun bumi dan stasiun-stasiun pemancar akan hilang, biaya perawatan juga tidak diperlukan. Yang harus menguras kocek lebih banyak adalah pemirsa. Terutama untuk membeli antena parabolik mini berikut converternya.

Untuk antena piringan berdiameter kurang dari satu meter, diperlukan sekitar Rp 500 ribu Jepang konon sedang merancang produksi massal antena parabolik ini, sehingga harganya bisa ditekan antara Rp 100 ribu dan Rp 200 ribu. Potensi DBS makin menarik perhatian ketika Kanada mengorbitkan Anik-C melalui pesawat ulang-alik Challenger, bersamaan dengan peluncuran Palapa B-1 kita. Inilah satelit pertama yang benar-benar mempunyai kemampuan untuk siaran langsung ke rumah-rumah. Negara lain yang berambisi menggunakan DBS ialah Jepang, Luksemburg, Swiss, Amerika Serikat, Australia, dan India. Dua tahun lagi, Luksemburg dan Swiss akan meluncurkan Luxsa dan Telsat. Di kawasan Asia, Jepang paling galak mengembangkan teknologi DBS. Sejak 1972 negeri ini melakukan percobaan Broadcasting Satellite for Experimental Purpose (BSE). April 1978, dengan roket Delta 2914 NASA dari Tanjung Canaveral, Florida, Amerika Serikat, Badan Pengembangan Ruang Angkasa Nasional Jepang (NASDA) meluncurkan BS-I yan dinilai sangat berhasil. Sukses ini mendorong Jepang memastikan penerapan sistem DBS tahun depan. Penyiaran melalui DBS dapat menimbulkan peleburan atau spill over di kawasan negara lain. Hal ini dapat menyulitkan hubungan antarbangsa, khususnya dikhawatirkan dapat berakibat negatif bagi negara-negara berkembang.

Kemudian karena spektrum frekuensi yang menjadi kandidat penyelenggaraan broadband wireless mendatang sudah digunakan oleh pengguna eksisting untuk komunikasi satelit, maka dari pihak penyelenggara satelit selanjutnya

membeberkan peranan satelit Indonesia dalam pembangunan ICT di Indonesia. Penyelenggara satelit tetap berkeinginan untuk mempertahankan spektrum frekuensi untuk komunikasi satelit dan orbital Indonesia harus dipertahankan dan

dioptimalkan. Menurut ASSI, frekuensi C dan Ext-C sangat diminati, sehingga: tidak mungkin sharing frekuensi antara satelit dan terestrial karena pada prakteknya dilapangan banyak sekali gangguan interferensi akibat out of band emission. Satelit mempunyai arti strategis bagi Indonesia dalam proses penyebaran informasi dan pelayanan publik ke seluruh pelosok negara. Frekuensi satelit tidak dimungkinkan di-share dengan frekuensi terestrial. Operator satelit meyakini bahwa band frekuensi S, C, Ext. C adalah frekuensi yang paling reliable untuk kawasan tropis seperti Indonesia. Band 2.5 GHz yang telah ditetapkan oleh ITU untuk layanan Direct Broadcasting Satellite (DBS) dan sangat cocok dengan kondisi Indonesia serta dapat digunakan untuk membendung derasnya pengaruh budaya asing negatif melalui media broadcasting. Band 3.5 GHz yang telah ditetapkan ITU untuk layanan FSS (Fixed satellite Services), sangat cocok dengan kondisi Indonesia, sudah banyak digunakan oleh operator Indonesia dan Luar Negeri serta masih punya potensi penambahan transponder; dan proteksi sumber daya pendukung satelit, terutama slot orbit dan alokasi frekuensi menjadi keharusan dan tanggung jawab bersama. Pada akhirnya, saran-saran dari ASSI adalah sebagai berikut: o o o frekuensi satelit tidak di share dengan frekuensi terestrial; SK Dirjen 119/2000 perlu ditinjau ulang; pemerintah mengalokasikan frekuensi BWA di luar

frekuensi satelit sehingga satelit dan BWA dapat berkembang bersama dan dapat digunakan untuk mengisi kebutuhan teknologi di daerah terpencil;

o

kandidat frekuensi BWA di band 2.3 GHz dan 5.8 GHz;

dan pemerintah harus melihat visi luar angkasa sebagai visi super jangka panjang dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Alokasi spektrum dan layanan komunikasi menurut ITU-R

Kelebihan dan kekurangan sistem DBS adalah sebagai berikut. Kelebihan : 1. Dapat menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh sistem komunikasi biasa. 2. Penguatan untuk antena penerima parabola yang ada di bumi cukup kecil, sehingga bisa menggunakan antena parabola dengan diameter relatif kecil. 3. DBS tidak memerlukan pemancar ulang melalui media transmisi sekunder seperti transmitter terrestrial atau jaringan distribusi kabel. 4. DBS mampu menghindari efek ”spill over” (peluberan), karena DBS dapat mempersempit daerah cakupan (misalnya negara tertentu).

5.

Dengan sistem DBS dimungkinkan pengadaan siaran televisi dengan tingkat ketajaman tinggi (HDTV), karena mempunyai lebar pita yang besar.

6.

Harga sistem penerima DBS masih lebih murah dibanding dengan TVRO.

Kekurangan : 1. Karena sifat penyiaran yang terpusat, maka DBS tidak bisa mengakomodir siaran-siaran regional atau daerah. 2. Harga penerima DBS masih lebih mahal dibanding penerima TV biasa (rebroadcast). 3. Karena daya pancar yang dibutuhkan cukup besar, maka sistem DBS memerlukan biaya investasi yang cukup besar pula.

REFERENSI

http://tiga-rubi.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6&Itemid=1 http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/teknik-komunikasi/vsat http://siposanonline.web.id/2008/12/03/application-communication-satellite/ http://www.stttelkom.ac.id/staf/SIO/PENGAJARAN/siskomsat/N=BAB%20XII %20Pengembangan%20Mutakhir-REV1.pdf http://www.stekpi.ac.id/skin/Modul%20Komputer%20& %20eBusiness/TELEMATIKA8.pdf http://www.elektroindonesia.com/elektro/assi0400.html http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php? view=article&catid=11%3Asistemkomunikasi&id=300%3Adirecttohomedthuntuktvb roadcastviasatelit&option=com_content&Itemid=15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->