Askeb Pada Ibu Nifas Post Vakum Ekstraksi Indikasi Kala II Lama

Diterbitkan Maret 12, 2009 Tugas Kuliah 2 Comments

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Batasan Batasan dari karya tulis dengan judul Asuhan

Kebidanan Pada Ibu Nifas Post Vakum Ekstraksi Indikasi Kala II lama adalah sebagai berikut : 2.1.1 Asuhan Kebidanan Asuhan kebidanan adalah Aktifitas atau intervensi yang dilakukan bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan / permasalahan khususnya dalam bidang KIA – KB (Depkes RI, 1993 : 3). 2.1.2 Nifas Nifas adalah masa sesudah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira – kira 6 minggu (Saifudin AB, 2001 : 122). 2.1.3 Vakum Ekstraksi Vakum Esktraksi adalah merupakan tindakan obstretic yang bertujuan mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengejan ibu dan ekstraksi bayi, dibuat cengkraman dari aplikasi negative (vakum) (Saifudin AB, 2001 : 495). 2.1.4 Kala II Lama Kala II lama adalah persalinan dengan pembukaan seviks lengkap, ibu mengejan tetapi tidak ada kemajuan penurunan (Saifudin AB, 2001 : 185).

2.2 Konsep Dasar Nifas

melaksanakan skrining secara komprehensif.2. nutrisi.1 Perubahan Fisik 1. . sehingga setelah melahirkan ibu sering miksi. merujuk bila terjadi komplikasi.2. keluarga berencana. memastikan klien mendapatkan cukup cairan dan istirahat. infeksi.2. 2001 : 122).4 Perubahan yang terjadi pada Ibu Nifas 2.2.2. perawatan tali pusat. deteksi masalah. 2. tidak ada bau. 2.4. Umum a.1 Pengertian Masa Nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira – kira 6 minggu (Saifudin AB. memastikan klien menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda komplikasi. tidk ada pendarahan. menilai adanya tanda-tanda fibris. pemberian imunisasi kepada bayi. kontaksi. fundus uteri dibawah umbiculus. 2001 : 122). menyusui.2 Tujuan Asuhan Nifas Tujuan asuhan nifas antara lain : menjaga kesehatan ibu dan anak baik fisik maupun psikologis.3 Asuhan Nifas Pada 6 Hari Post Vakum Memastikan involusi uterus berjalan normal. Involusi terjadi karena : (1) Autolysis Yaitu penghancuran jaringan alat-alat uterus yang di absorbsi dankemudian dibuang melalui ginjal . 2001 : 122). mengobatai. cairan dan istirahat. memastikan klien mendapatkan cukup makanan. perawatan bayi sehat (Saifudin AB. 2. Involusi Involusi adalah perubahan dalam prose kembalinya alat-alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. memberi penyluhan tentang perawatan diri. menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari (Saifudin AB. memberikan conseling pada klien mengenai asuhan pada bayi.2.

lanugo dan mekono\um selama dua hari pesca persalinan. (2) Lochia Sanguinnolenta : warna merah. terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan. bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.5 cm setelah 2 minggu menjadi 3. (4) Lochia Alba : warna keputihan 14 hari. 1996 : 12). Macam – macam Lochia . kuning berisi darah dan lender. a. b.4 cm dan akhirnya pulih luka pada jalan lahir. vernix kaseosa. Ketiga Faktor tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi sehingga memberikan dampak terhadap perubahan uterus kandung kemih ovarium. (3) Ischenemia Disebut juga local anemia yaitu kekurangan aliran darah ke uterus yang mengakibatkan jaringan otot mengalami atropi.(2) Aktifitas otot – otot Yaitu kontraksi dan retraksi setelah anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan placenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak keluar. Bekas implantasi uri placental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7.5 cm pada minggu ke 6 diameter 2. keluar cairan seperti nanah berbau busuk. (Muchtar Rustam. (5) Lochia Purulenta : terjadi infeksi. Lochia Lochia adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. 1998 : 115). vagina. yaitu : (1) Lochia Rubra (cruentra) : Berisi darah segar dan sisa selaput ketuban sel-sel desi dua. serviks dan dinding abdeomen (Ibrahim Cristina S. Proses involusi secara normal dapat dilihat pada table berikut : Involusi Tinggi fundus uteri Berat Uterus Bayi baru lahir Uri lahir 1 minggu 2 minggu 6 minggu 8 minggu Setinggi pusat 2 jari bawah pusat Pertengahan pusat syphisis Tidak teraba di atas syphisis Bertambah kecil Sebesar normal 1000 gram 750 gram 500 gram 350 gram 50 gram 30 gram Sumber : Synopsis Obstetri Jilid I. (6) Lhociostatis: lochia keluarnya tidak lancar. (3) Lochia Serosa : warna kuning kecoklatan hari ke 7-14. Ligaman . 1998 : 116).

(4) Setelah persalinan pengaruh sopresi estrogen dan progesterone hilang. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan dan gimnasik pasca persalinan. Pinggirnya tidak rata akibat robekan dalam persalinan. Yaitu setelah selesai kala II persalinan. Lama-lama mulut servix mengecil dan hanya bisa dilalui 2 jari saja. produksi akan lebih sempurna disamping ASI merupakan makanan utama untuk bayi yang baik. c. serviks dan segmen bawah uteri menjadi tipis. maka pembuluh darah mengecil dengan sendirinya. (3) Hypervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam dimana vena kondiolatasi tampak jelas. Perubahan pada organ lain (1) Perubahan pada pembuluh darah rahim. yaitu : (1) Proliferensi jaringan pada kelenjar aviola dan jaringan lemak berambah. Yaitu dimana dalam kehamilan uterus mempunyai lebih banyak pembuluh darah yang besar. Sehingga tidak jarang uterus jauh kebelakang dan menjadi fleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor setelah persalinan. maka timbul pengaruh hormone lactogenis (LH) atau prolaktatin. d. Vagina pada akhir minggu ke – 3 ukuran normal yaitu rugai mulai tampak kembali. bermbah banyak sesudah 23 hari pac\sca persalinan. (3) . (2) Keluarnya cairan susu jolong dari duktus lactifecus disebut kolostrum warna putih kuning susu. (2) Perubahan pada serviks dan vagina. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja. lingkaran intrasi berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervikalis. tetapi setelah persalinan tidak diperlukan lagi. kolaps dan kendor. Lactasi Untuk menghadapi masa lactasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan – perubahan pada kelenjar mammae.– Ligaman Ligaman fasia dan diafragma pelvis yang meregang waktu persalinan setelah bayi lahir secara berangsunr menjadi kecil dan pulih. Disamping itu pengaruh oksitosin menyebabkan epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar. Bila bayi mulai menetek. isapan pada putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris. menyebabkan oksitisin dikeluarkan oleh hypophisis.

Dalam Nifas terbagi 3 phase. Akhirnya mengalami dilatasi urether dalam waktu 2 minggu norma kembali (Ibrahim CH. Bonding and Attachement (ikatan kasih sayang) Terjadi pasa kala IV.2 Perubahan Psikologi Masa transisi pada post partum yang diperhatikan adalah : 1. memperlambat proses involusi uterus dan . Pola istirahat Anjurkan ibu intuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. 2. jalan dan merawat bayinya sendiri. peran suami ikut berpartisipasi dalam proses persalinan.1996 : 34). c. (Hamilton PM. Maka dapat menyesuaikan diri dengan kemandiriannya dalam hubungan keluarganya sedangkan yang dimaksud post partum blues adalah masa nifas ibu yang mengalami kekecewaan sehingga mengganggu nafsu makan dan pola tidur. Phase taking hold Ibu berusaha mandiri dan inisiatif untuk mengatasi fungsi tubuhnya.2. 2. duduk. misalnya buang air besar dan kecil . Phase taking in Yaitu perhatian ibu terhadap kebutuhan dirinya mengkin pasif dan tergantung berlangsung selama 1 – 2 hari. (4) Perubahan pada saluran kencing.5 Kebutuhan Dasar Masa Nifas a. b. yaitu perubahan yang terjadi akibat kandung kencing yang bertambah besar dan relative selama masa nifas maka akan menjadi penuh atau sesudah kencing masih ada urine rasional. masing – masing saling memperhatikan anaknya dan emnciptakan hubungan baru. S. Phase letting go Ibu merasa terpisah dari bayinya dan mendapat peran baru. Yaitu setelah persalian dinding perut longgar karena adanya regangan maka dalam 6 minggu akan pulih kembali.Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen. Phase Honey Moon Adalah phase anak lahir dimana terjadi intimasi dua kontak yang lama antara ibu dan ayah anak.4. yaitu : a. timbul kuran percaya diri untuk melakukan perawatan ini sampai 10 hari lamanya. .2. 2. kontak antara ayah dan ibu tetap dalam ikatan kasih. ibu tidak ingin kontak dengan bayinya tapi bukan berarti tidak memperhatikan hanya informasi saja yang dibutuhkan. 1995 : 293). Kurang istirahat dapat mengurangi produksi asi .

Serviks.5 cm sesudah 2 minggu ♣Sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal. Nadi 4. (3) Minum air putih 3 liter per hari. ♣Bekas implantasi plasenta ♣ Diameternya menjadi 3. uterus dan adneksa 8. Latihan senam 1. Laktasi 6. (2) Makan dengan diet berimbang agar protein. o ♣Berat uterus ♣ Berat uterus gravidus aterm kira-kira 1000 gram.000 unit) untuk bayi melalui asi nya (Saifudin AB dkk. Diameternya mencapai 2. Genitalia interna dan eksterna 2. Genitalia Interna dan Eksterna Alat-alat genitalia interna dan eksterna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Miksi 10. o ♣Fundus uteri ♣Setinggi pusat setelah janin dilahirkan. Mulas 7. Suhu badan pasca persalinan 3. 2001 : 127). 2002 : N – 25). N : 25). (4) Pil zat besi. Pola nutrisi dan gizi (1) Mengkonsumsi tambahan sebesar 500 kalori per hari.6 Perawatan dan hal-hal yang terjadi selama nifas 1. alas tempat tidup dan lingkungan terutama daerah genetalia untuk mencegah infeksi pada bekas episotomi dan jalan lahir. (5) Minum kapsul vit A (200. mineral dan vitamin terpenuhi. 1 minggu . c. Hemokonsentrasi 5. Pola latihan Diskusikan dan latihan senam untuk mengembalikan otot – otot perut dan panggul untuk mengurangi rasa sakit pada punggung. kebersihan mammae penting agar terhindar dari iritasi (Depkes RI. ♣Setinggi 7 cm atas simfisis ossis pubis atau setengah simfisis-pusat pada hari ke-5. b. d. ♣Beratnya menjadi 500 gram.2. ♣Berat uterus normal kira-kira 30 gram.5 cm. (Saifudin AB.memperbanyak pendarahan. Pola Miksi dan Defikasi Pada masa nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh baju. 1998 : 90). untuk menambah kekurangan selama proses persalinan selama 40 hari pasca persalinan.4 cm pada 6 minggu. menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayinya (Saifudin AB. Tidak dapat diraba diatas simfisis ossis pubis setelah 12 hari. o ♣ Merupakan luka kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri yang berdiameter 7. Defekasi 11. ♣Setinggi 2 jari bawah pusat segera setelah plasenta lahir. Lokia 9. 2. yang disebut involusi.

menit. 4. . 2 minggu pasca ♣Serviks agak terbuka seperti persalinan. ♣Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. Hemokonsentrasi ♣Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. ♣ Pada mungkin ada infeksi. masa nifas. fasia. ♣Ligamen. dan dinding vagina partus berangsur-angsur kembali seperti semula. ♣Umumnya suhu badan kembali normal sesudaah 12 jam pertama melahirkan. 3. 2. luka pada vagina dan serviks yang menyebabkan selulitis dan bila berlanjut dapat menimbulkan sepsis. umumnya senyut nadi lebbih labil dibanding suhu badan. Suhu Badan Pasca Persalinan ♣Dapat naik lebih dari 0. otot. diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan rotundum dapat mengendor sehingga pada hari kedua pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. 1 jari tangan pemeriksa hanya dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri setelah 1 minggu. Bila suhu lebih dari 38 derajat selsius. seperti bekas ♣Infeksi dapat timbul dan dapat episiotomi yang telah dijahit. ♣Dapat terjadi pada hari ke 3-15 pasca peersalinan. Beratnya menjadi 40-60 gram setelah 6 minggu pasca persalinan o ♣Pembukaan serviks corong pada pasca persalinan dan konsistensinya lunak. o ♣Endometrium Timbul trombosis. ♣Ligamentum degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah 3 minggu.pasca persalinan. ♣Nadi ♣Nadi umumnya 60-80 denyut per ♣Segera setelah partus dapat terjadi takiikardi. o ♣Luka dan infeksi tidak luas akan sembuh primer. 5. ♣2-3 jari tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri setelah 2 jam pasca persalinan. Laktasi Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan. ♣Beratnya menjadi 300 gram. diafragma pelvis.5 derajat selsiuus dari keadaan normal tetapi tidak lebih dari 39 derajat selsius. o ♣Ligamen.. ♣Luka jalan lahir. ♣Tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri segera setelah melahirkan.

puting harus kering saat menyusui. 4. puting rata dan terlalu kecil atau bayi mengantuk. 2. Abses payudara – Penatalaksanaan yaitu ASI dipompa. Bayi tidak suka menyusui – Keadaan ini dapat disebabkan pancaran ASI terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh. monilia diterapi dan menyusui pada payudara yang tidak lecet. ibu dapat menarik-narik puting susu. – Penatalaksanaan dengan menyusui lebih sering.Umumnya produksi ASI baru terjadi pada hari ke-2 atau 3 pasca persalinan. cairan kuning yang lebih kental daripada air susu. mengandung banyak protein albumin. Bila bayi meninggal. puting diberi lanolin. Puting lecet – Puting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan payudara yang tidak benar dan infeksi monilia. – Ibu harus tetap menyusui agar puting selalu sering tertarik. 6. kemerahan. bingung puting pada bayi yang menyusui diselang-seling dengan susu botol. – Penatalaksanaan dengan melakukan teknik menyusui yang benar. ASI dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesik. – Penatalaksanaan dengan kompres hangat / dingin. laktasi harus dihentikan dengan membalut kedua mammae hingga tertekan atau memberikan bromokriptin hingga hormon laktogenik tertekan. dan nyeri yang biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. kompres hangat. menyusui ditunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa. memijat payudara sebelum menyusui dan menyusui dengan posisi terlentang dan bayi ditaruh diatas . 5. Kesulitan yang dapat terjadi selama masa laktasi ialah : 1. menyusui tidak dihentikan. Mastitis – Payudara tampak edema. globulin dan benda-benda kolostrum. – Pancaran ASI terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih sering. Payudara bengkak – Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI tidak lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih. Puting rata – Sejak hamil. Pada hari pertama keluar kolostrum. diberikan antibiotik dan analgesik. 3. – Bila lecetnya luas. abses diinsisi. pemberian antibiotik dan analgesik.

Lokia ♣Lokia adalah sekret dari kavum uteri dann vagina dalam masa nifas.payudara. ♣Bila ♣Bila serviks tampak hiperemis. 9. Pasien dapat diberikan analgesik atau seedatif. lakukan kauterrisasi kimiawi atau elektrik dan dapat juga dengan bedah beku. keluar lokia alba yangg hanya berupa cairan putih. – Pada bayi dengan bingung puting. biasanya karena involusi uteri. ♣Dengan melakukan mobilisasi secepatnya. tak jarang kesulitan miksi dapat diatasi.. lanugo dan mekonium. tidak ada keganasan. ♣Bila kandung kemih penuh dan tidak bisa miksi sendiri. hindari pemakaian dot botol dan gunakan sendok atau pipet untuk memberikan pengganti ASI. keluar lokia serosa ♣Setelah 2 beerwarna kuning dan tidak mengandung darah. sisa plasenta. lakukan meradang. bila beerbau busuk mungkin terjadi lokiostasis (lokia yang tidak lancar keluar) dan infeksi. usahakan agar bayi terbangun. ♣Biasanya lokia berbau agak amis. 6. pemeriksaan sitologi. dilakukan kateterisasi. uterus dan ad♣neksa ♣Keadaan serviks. sisa verniks kaseosa. ada erosi dan curiga ke arah keganasan. 8. ♣Perasaan mulas sesudah partus akibat konntraksi uterus kadang sangat mengganggu selama 2-3 hari pasca persalinan dan biasanya lebih sering pada multipara dibanding primipara. dapat pula timbul bila masih ada sisa selaput ketuban. uterus. atau gumpalan darah dalam kavum uteri. sel desidua. ♣Hari pertama dan kedua terdapat lokia ruubra atau lokia kruenta. minggu. Mulas ♣ Perasaan mulas lebih terasa saat menyusuui. Serviks. Miksi ♣Miksi harus secepatnya dilakukan sendirii. . terdiri dari darah segar bercampur sisa selaput ketuban. Hari berikutnya keluar lokia sanguinolennta berupa darah bercampur lendir. 7. dapat diberikan tablet ergometrin dan tirah baring untuk menghentikan perdarahan . dan adneksa billa ada perdarahan. – Pada bayi mengantuk yang sudah waktunya diberikan ASI. ♣Setelah 1 minggu. ♣Bila perlu dipasang dauer catheter atau indwelling catheter untuk mengistirahatkan otot-otot kandung kencing.

3.3.1 Pengertian Vakum eksraksi adalah suatu alat untuk persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negative (vakum) pada kepalanya (Wignyo H.3 Indikasi dan Kontra indikasi 1. angkat bokong llalu taruh Duduklah pada kursi. 2.Defekasi ♣Defekasi harus ada dalam 3 hari pasca peersalinan. ♣Lakukan klisma atau berikan laksan perorral. Vakum Ekstraksi merupakan tindakan obtretric yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi dibuat cengkeraman dari aplikasi tenaga negative )vakum).3. perlahan bungkukkann badan sambil tangan berusaha menyentuh tumit.3 Konsep Dasar Vakum Ekstraksi 2. mungkin terjadi febris. 2001 : 495). ♣Dengan posisi yang sama. tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi.2 Tujuan Tujuan Persalinan Vakum Ekstraksi untuk mempercepat kala pengeluaran pada letak kepala. (Saifudin AB . pncak kepala. misalnya : ♣Ibu terlentang lalu kedua kaki ditekuk. kedua tangan ditaruh di atas dan menekan perut. Ibu diharap kembali memeriksakan diri pada 6 minggu pasca persalinan. ♣Bila terjadi obstipasi dan timbul koprosstase hingga skibala tertimbun di rektum. Latihan ♣Latihan senam dapat diberikan hari kedua. muka. Kelainan yang dapat ditemukan selama nifas ialah infeksi nifas. 2. keadaan perineum. )Saifudin AB. Lakukan pernapasan dada lalu pernapasan perut. 2. kandung kemih apakah ada rektokel. perdarahan pasca persalinan dan eklampsia puerpurale. senam ♣Dengan melakukan mobilisasi sedini mungkkin. tonus otot sfingter ani dan adanya fluor albus. Indikasi untuk dilakukan vakum ekstraksi adalah kala II lama dengan presentasi belakang kepala atau verteks. dinding perut apakah ada hernia. ♣Kedua kaki diluruskan dan disilangkan laalu kencangkan otot seperti menahan miksi dan defekasi. 2000 : 8). 2001 : 495). Kontra indikasi vakum ekstraksi adalah mal presentasi (dahi. keadaan payudara dan putingnya. kembali. 10. 2. bokong) dan panggul sempit atau disproporsi kepala . Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaan umum.

5 Konsep Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Post Partum Ekstraksi Indikasi Kala II Lama Asuhan Kebidanan adalah aktifitas atau intervensi yang dilaksanakan oleh Bidan kepada kliennya yang mempunyai kebutuhan / permasalahan khususnya dalam bidang KIA / KB (Depkes RI.1 Pengertian Kala II lama atau persalinan dimana pembukaan serviks lengkap ibu ingin mengedan. kematian janin intra portal. moulage kepala yang hebat. Kelainan – kelainan panggul 3. Pada janin. Ketuban pecah dini 2.4. tetapi tidak ada kemajuan penurunan (Saifudin AB.3. Nekrosis kulit kepala (Wiknyosastro H. Janin besar atau kelainan congenental 6. Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan. 2. Kontraksi baik 8. subgaleal hematoma. anak hidup dan tidak ada gawat janin 6.5 Syarat khusus 1.4. Kelainan letak janin 2. 2. letih suhu badan naik (febris) berkeringat. 2. 1993 : 3). Primitua 7.3. air ketuban mekonium. 2.4 Penangan Kala II lama 1. ekskloriasi kepala. Presentasi kepala 3. 2. Pada Ibu : pendarahan. Tidak kesmpitan panggul 5. kaput succedaneum. oedema serviks. nadi cepat dan meteorisme.2 Penyebab kala II lama 1. Pembukaan lengkap / hamper lengkap 2.4. Cukup bulan 4. Perut gantung. Penurunan Hodge II/III+ (puskesmas Hodge IV) 7. Pimpinan partus uang salah 5. 2001 : 496). Seksio sesaria 2. trauma jalan lahir dan infeks. Pada ibu .)Saifudin AB. Forceps ekstraksi 4.5. 2. 2000 : 87). (Saifudin AB. Bagi janin yang belum mempunyai fungsi hepar belum matur dapat menimbulkan ikterus neonatum yang agak berat.4 Komplikasi Vakum Ekstraksi 1. Partus spontan 2. adanya lingkaran bandi. 2001 : 185).3 Gejala 1. 2001 : 495). Vakum Ekstraksi 3. 2. Embriotomi bila janin mati 6. 2. Kelainan his 4. kental kehijauan dan berbau. grandemulti 8.1 Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal proses asuhan .4 Konsep Dasar Kala II lama 2. Manual aid pada letak sungsang 5. tidak teratur dan negative. cairan ketuban berbau.panggul. Pada janin Denyut jantung janin cepat . chepal haematon. kematian janin dalam kandungan.4. Yaitu : gelisah. oedema vulva.

Pertanyaan – pertanyaan dalam anamnesa Anamnesa Rasional 1. persalinan lalu. Dapat mengenal atau memanggil penderita dan tidak keliru dengan penderita lain (Christina S. Mengganggu kehamilan secara langsung atau tidak (Christina S. Alasan kunjungan saat ini : Kunjungan pertama. kehamilan. yang terdiri dari : o Phase pengumpulan data o Phase pengolahan data o Phase analisa data 2. 1993 : 86).kebidanan. Keluhan utama : berisikan keluhan-keluhan yang dirasakan yang menyebabkan gangguan pada dirinya sehingga dia dating ke pelayanan kesehatan. semua data yang dirasakan dan disampaikan klien kepada bidan (Depkes. suku/bangsa. 1993 : 126) melalui : – Anamnesa / wawancara Anamnesa adalah Tanya jawab antara penderita dengan petugas perawatan tentang sesuatu yang diperlukan (Christina. pekrjaan dan lain-lain. sekarang 1993 : untuk 86). saat lamanya anamnesa. alamat. diabetes mellitus. S . RI. 3. 4. Riwayat kehamilan ini : berisikan riwayat menstruasi.S. 1993 : 84). kunjungan rutin dan keluhan. melahirkan anak kembar. Teridiri dari nama. Dapat membantu membuat ramalan tentang kehamilan (Christina. keluhan hari pertama haid dan keadaan nifas uang lalu. Kemungkinan ada pengaruh keturunan pada janin (Christina .5. Anamnesa keluarga apakah dari keluarga klien ada yang memderita penyakit keturunan misalnya : jiwa. serta menduga kapankah kira-kira anak akan dilahirkan pada meliputi : 1.1. membantu Pertanyaan diagnosa. 4. 2. diabetes mellitus. tuberculosis.1 Data Subyektif Data subyektif adalah data yang diperoleh hanya melalui klien. 1. . 2. 2. Anamnesa umum (biodata) Biodata yang ditanyakan adalah biodata ibu hamil dan suaminya. 1993 : 83). 3. 1993 : 86). Tujuannya untuk mengetahui bagaimana keadaan penderita untuk membantu menetapkan diagnosa dan dapat mengambil tindakan segera. misalnya jantung. Anamnesa kebidanan terdiri dari riwayat kehamilan ini. umur. Penyakit yang pernah dan sedang diderita. kunjungan ulang. agama. haemophili. penyakit cronik lainnya. hipertensi.

alcohol. TBC. warnanya. kapan melahirkan. HIV.5. Riwayat kehamilan. banyaknya. • Pola kebiasaan : perilaku kesehatan. pengguna obat-obatan. konjungtiva • . 1993 : 87). anemia berat. jamu-jamu. pasti / tidak. ditolong siapa. dimana melahirkan. baunya. auskultasi. merokok. Kehamilan persalinannya memperberat penyakitnya. menyapu dll. Bagaimana warnanya bau atau tidak. penyakit kelamin. HPHT.2 Data Obyektif Data obyektif adalah data yang diperoleh dari pemeriksaan klien.yang perlu diketahui adalah sbb. diabetes mellitus. 1993 : 90). Riwayat nifas mencakup penyakit menderita pendarahan penyakit Atau (Christina yang dapat S. siklus. • Pemeriksaan fisik : meliputi ispeksi. bagaimana proses persalinanya. • Muka : kelopak mata. : menarche. operasi dan lain-lain. haid teratur tidaknya. • Pola kehidupan sehari – hari • Pola nutrisi : perubahan makanan yang dialami (ngidam. 4. melahirkan. 5. mencakup kegiatan : pemeriksaan fisik. obstetric.1. panggul dan pemeriksaan dalam. apakah pernah keputihan banyak atau sedikit. malaria. • Pola aktifitas : bekerja boleh ringan tidak melelahkan ibu yang tidak mengganggu kehamilannya. riwayat kehamilan dan persalinan meliputi : apakah pernah hamil. persalinan. Misalnya : masak. palpasi. 10-11 jam per hari. • Pola aktifitas sekesual : aktifitas seksual pada akhir kehamilan dan terakhir dilakukan sebelum impartu. makan sirih dll. nafsu makan berubah). tekanan darah tinggi. Misalnya : Riwayat penyakit yang pernah dan sedang diderita yaitu jantung. apabila klien pernah abortus berapa kali dikiret atau tidak. campak. nifas yang lalu. laboratorium. • Pola eleminasi : perubahan pada waktu BAB / BAK • Pola istirahat : waktu istirahat dan tidur harus lebih dari biasanya. 2. • Pemeriksan umum : pemeriksaan lengkap dari penderita untuk mengetahui keadaan atau kelainan dari penderita (Christina S. lamanaya. gangguan mental. Riwayat dan akan kesehatan klien dan keluarga Apakah klien pernah atau sedang mengganggu dan kehamilan persalinannya.

DS DO 1. warna. • Abdomen : bekas operasi. sedangkan diagnosa kebidanan yang ditegakkan harus didasarkan pada besarnya ancaman keselamatan klien. 2._Kontraksi uterus lembek.– Klien mengeluh pusing dan lemah. • Anus : hemaroid • Ektrimitas : atas odem. rasa nyeri dll. TFU : 3 jari bawah pusat. kontraksi uterus. frekuensinya.3 Antisipasi Masalah Potensial Masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul dan bila tidak segera di tangani dapat mengancam keselamata klien (Depkes. paru-paru.00 Tanggal 3/12/2008. TFU : 2 jari bawah pusat 2. 1.Mulut dan gigi • Kelenjar tiroid : pembesaran kelenjar • Kelenjar getah bening : pembesaran • Dada : jantung.. 2._ Jumlah pendarahan > 500 cc. menyeringai bila ubah posisi tidur. Adanya kontraksi uterus 3. odema.. • Genetalia : vulva vagina. benjolan/tumor. Geraknya terbatas karena ada luka jahitan pirenium. Nyeri pada luka jahitan pirenium 2. Adanya luka jahitan pirenium P2002 post vakum ekstraksi indikasi kala II lama riwayat persalinan yang lalu sc. DS : Klien mengatakan perutnya mules. payudara (pembesaran. Klien mengatakan telah melahirkan anak ke 2 Dengan di vakum / kop pada jam 23. DS / DO Data Dasar Masalah Potensial 1.– Klien mengatakan habis vakum mengeluarkan banyak darah. DS : Klien mengatakan luka jahitan pirenium sakit. semetris. Adanya Lochia 4. putting susu. kebersihan. DO : Klien kesakitan wajahnya menyeringai . jika miring atau pindah posisi. yaitu : NO DATA DASAR DIAGNOSA / MASALAH 1. Kliem Mengatakan sebelum di kop bayi lama tidak lahir. Diagnosa / masalah yang mungkin timbul. varises. 2. 2. bawah odem. klien kesakitan. 2. DS : 1. Pendarahan karena . RI. DO : 1. 1996 : 6). NO. DO : Kontraksi uterus keras. hari ke -1.2 Diagnosa Kebidanan dan Masalah Kebidanan Diagnosa Kebidanan memerlukan adalah masalah bidan kesehatan sesuai klien dengan dan anak yang tindakan kewenangannya. Nyeri rahim karena involusi 4 DS : Klien mengatakan bahwa luka jahitan pirenium nyeri DO : adanya luka jahitan. keluaran. 3.5.5.

kontraksi uterus. 6. Deteksi dini adanya kelainan sehingga dapat menentukan tindakan selanjutnya. Kriteria : 1. 2. TFU serta luka jahitan pirenium. Ajarkan klien didalam melakukan mobilisasi. 3. Lakukan pendekatan pada klien dan jelaskan keadaannya saat ini. Teradi infeksi nifas 2.atonia uteri 2 DS DO Klien mengatakan melem meneteki bayinya. 7. 4. Tanda-tanda vital dalam batas normal : T : 100/60 – 120/80 RR : 16 – 20 x/m N : 76 – 88 x/m S : 36 – 37 C 2. TFU : setinggi pusat atau 1 jari dibawah pusat (hari Ke-1) Hari ke-3 : 3 jari bawah pusat Hari ke 4-5 : 4 jari bawah pusat Hri ke-7 : : kira-kira pertengahan shimpisis pusat 3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera Adanya kesinambungan proses penatalaksanaan antara ibu bayi dengan bidan. Ajarkan klien melakukan vulva hygiene. keras. 3.5. Protein sebagai bahan pembangun sehingga mempercepat penyembuhan luka dan kalori sebagai sumber tenaga. luka jahitan masih basah.5. Menjalin hubungan yang baik 2. Berikan Diet TKTP 1. Bau lochia normal atau tidak busuk 4. bayinya terpisah ada di ruang neonatus. Tidak ada tanda-tanda infeksi luka jahitan pirenium (rubon-kalortumor-dolor.hari ke :1. Kolustrum sudah keluar belum.5 Perencanaan Perencanaan adalah tindakan bidan sebagai lanjutan diagnosa kebidanan yang penyusunannya disesuaikan dengan prioritas masalah yang dihadapi. Preventef tehadap infeksi. Membantu dalam perlemasan otot-otot untuk memperlancar sirkulasi darah dan mempercepat proses involusi. Suhu >38 C. 2.5 C 3 DS DO Ibu mengatakan badannya terasa panas. Suhu : >37. Lakukan perawatan luka jahitan 4. 6. Daerah kotor merupakan sumber inveksi. nyeri panas. Diagnosa : P 2002 Post Vakum ekstraksi indikasi kala II lama riwayat persalinan yang lalu SC. tindakan segera yang mungkin dilakukan tidak ada. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam waktu 6 – 7 hari post vakum tidak terjadi komplikasi nifas. 5. Lakukan kolaborasi dengan dokter tentang . Lakukan observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam : Lochia. fungsio laesa) Intervensi Rasional 1. 5.

Klien mengatakan nyeri berkurang 2. memperlancar sirkulasi dan percepat proses involusi. Masalah : Geraknya terbatas karena nyeri luka jahitan pirenium Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan klien dadat melakukan aktifitasnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. 2. TFU (c) Deteksi dini adanya kelainan. (c) Lakukan observasi lochia. 3. hasil observasi menentukan langkah sekanjutnya. Klien bisa melakuakn aktifitas sendiri. 5. Kriteria : 1. Luka merupakan tempat masuknya kuman. obat analgetika mengurangi rasa nyeri. Kriteria : 1. (2) Ajarkan cara mobilisasi (3) Berikan diet TKTP (1) Dapat termotivasi melakukan mobilisasi (2) Percepat sembuh (3) Daya tahan meningkat. Perlemasan otot akan membantu proses penyembuhan. Masalah . Bimbing untuk melakuakan rileksasi. Preventif terhadap infeksi. Lochia rubra. Kriteria : 1. Menjelaskan pada klien penyebab dan cara mengatasi nyeri. 6. Sebagai fungsi dependen. Klien dapat melakukan aktifitas tanpa bantuan orang lain Intervensi Rasional (1) Jelaskan pada klien fungsi mobilisasi. Sebagai fungsi dependen. 3. 3. obat berfungsi dalam proses penyembuhan. Masalah : Nyeri rahin karena involusi (mules) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam waktu 2 – 4 hari rasa nyeri hilang. After pain atau mules – mules hilang. Intervensi Rasional (a) Jelaskan apa penyebab mules (a) Kooperatif dg tindakan yang diberikan petugas. Kooperatif dengan tindakan yang diberikan. 2. Klien dapat duduk meneteki bayinya 2. Lakukan perawatan luka pirenium dengan prosedur aseptic. Masalah : Nyeri pada luka jahitan pirenium Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam waktu 3 hari diharapkan nyeri berkurang. Relaksasi memudahkan otot bekerja sehingga rasa nyeri berkurang. Intervensi Rasional 1. Lakukan mobilisasi 4. tidak ada fluxus aktif. 2. tidak mengeluh sakit. Lakukan kolaborasi tentang pemberian analgetika. 5. 1. 7. 4.pemberian obat. 6. Wajah klien tidak menyeringai. Lakukan observasi tanda-tanda infeksi pada luka pirenium. (b) Ajarkan mobilisasi (b) Bantu pelemasan otot.

• Kontraksi uterus baik. Observasi tanda-tanda vital atau keadaan umum setiap 4 jam sekali setiap ada keluhan klien. b. Intervensi Rasional 1. • Pengeluaran ASI lancer. 1. 2. 2. Ajarkan pada klien cara vulva higine yang benar. Pendarahan karena atonia uteri Tujuan : Tidak terjadi atonia uteri sehingga dapat menimbulkan pendarahan pada 24 jam post partum. c. 3. Kontraksi dan uterus sebagai lembek. tidak terjadi infeksi nifas. 2. Diskusi tentang kemungkinan timbulnya bendungan ASI. Dapat segera mengambil tindakan jika terjadi kegawat daruratan. Observasi TFU. Kriteria hasil : • TFU sesuai yaitu 1-2 hari dibawah pusat selama 24 jam pertama. Terjadinya bendungan ASI Tujuan : Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan pada hari ke -3 tidak terjadi bendungan ASI. Bimbing klien melakukan perawatan payudara sebelum mandi. Lakukan teknik septic dan antiseptic dalam tindakan perawatan pirenium 1. kontraksi uterus. Pengetahuan yang memadai menimbulkan sikap kooperatif. Intervensi Rasional 1. pengeluaran tanda-tanda lochia. 4. keadaan kandung kencing.Potensial a. Diskusikan dengan klien kemungkinan terjadi pendarahan pada masa nifas. • Tanda – tanda vital dalam batas. Kriteria hasil : • Tidak ada tanda – tanda bendungan ASI (tegang atu nyeri tekan). Ajarkan menilai kondisi uterus dan lochia 3. • Kandung kencing kosong.5 C • Tidak ada tanda-tanda infksi. Pengertian yang baik akan memudahkan kooperatif dalam pencegahan infeksi. penyebab merupakan uteri pendarahan post partum. Pengetahuan yang cukup dapat membantu mengatasi masalahnya sendiri. Intervensi Rasional 1. Tindakan antiseptic dapat mencegah kontaminasi kuman. Bayi menetek merangsang pengeluaran oksitosin yang akan berpengaruh . 4. Perawatan payudara secara teratur proses laktasi lancar. 1. • Tidak ada sub involusi. Terjadi infeksi nifas Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam 67 hari.5 – 37. Kriteria hasil : • Suhu tubuh dalam batas normal 36. atonia 2. 2. • Tidak ada pendarahan aktif pada 24 jam pertama post partum. 2.

tidak pucat. Suhu 36-37 C.7 Evaluasi Evaluasi adalah alat ukur keberhasilan asuhan kebidanan yang telah ditertapkan dalam rencana tindakan. nadi antara 76-88 kali / menit. 2. 5. diastole 60-90 mm Hg. payudara tidak tegang dan tidak nyeri . Berdasarkan evaluasi. Dapat menyangga payudara sehingga tidak nyeri. ahli gizi (Depkes RI. 4. 3.7. Bendugan asi dapat terdeteksi sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya. pernafasan 16-20 kali / menit. 4. Gunaka BH yang menyokong payudara. antara lain : dokter. menerapkan anjuran petugas sehingga nyeri berkurang dan merawat payudara serta melaksanakan vulva hygiene dengan benar.5. Lakukan observasi tanda adanya bendungan asi. langkah selanjutnya adalah membuat catan perkembangan yang mencakup SOAPIE.terhadap pengeluaran ASI. Tetekan bayi segera dan sering. Tidak terjadi penumpukan ASI dalam payudara sehingga tidak terjadi bendungan ASI.7. yaitu : 2. tanda vital dalam batas normal tekanan darah systole 100-140 mmHg.2 Obyektif Keadaan umum Baik. 2.5. 1996 : 8).. 5. 3.5. 2.6 Pelaksanaan Pelaksanaan dalam asuhan kebidanan dilakukan oleh Bidan berdasarkan rencana yindakan yang telah ditetapkan.1 Subyek Klien mengatakan telah mengerti penjelasan petugas. Padal langkah ini Bidan dituntut melakukan langkah mandiri.5. tetapi bila diperlukan sewaktu-waktu bidan harus melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful